Makalah Pendid Bikan Pengajaran Persekolah

 0  0  26  2018-09-16 23:06:20 Report infringing document

  

MAKALAH

DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN

  

Pendidikan, Pengajaran , Persekolahan,

Komponen Pendidikan, Komponen

Pengajaran, dan Komponen

Persekolahan

  

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 2

  SYARIFAH AINI (13-550-0077)

  VINY MAFAZA (13-550-0142) AINUR ROSYIDAH (13-550-0150)

  AINUN ROUDHOTUL KHASANAH (13-550-0154) ANDIKA KAROMAH DEWI (13-550-0169)

PRODI :PENDIDIKAN MATEMATIKA/B/2013

  

UNIVERSITAS PGRI ADI

BUANA SURABAYA

KATA PENGANTAR

  Puji syukur atas kehadirat Allah Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya. Sehingga kami selaku penulis dapat menyelesaikan tugas Pendidikan Pancasila yaitu Makalah tentang Pendidikan, Pengajaran , Persekolahan, Komponen Pendidikan, Komponen Pengajaran, dan Komponen Persekolahandengan baik.

  Makalah ini disusun menggunakan bahasa yang efektif dan mudah dimengerti serta dipahami. Sehingga diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

  Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu tersusunnya makalah ini. Semoga awal baik yang diberikan mendapat balasan dari Allah SWT. Sebagai penulis, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran selalu kami harapkan agar makalah ini dapat lebih bermutu dan bermanfaat. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih.

  Surabaya, 01 April 2014 Penulis

  

DAFTAR ISI

  Kata pengantar..................................................................................................... ...............................................2 Daftar isi.................................................................................................................. ...............................................3

  BAB 1 PENDAHULUAN........................................................................................... ..........................................4

  1.1 latar belakang....................................................................................................... ..................4

  1.2 batasan masalah........................................................................................................ ............4

  1.3 rumusan masalah........................................................................................................ ..........4

  1.4 tujuan dan manfaat......................................................................................................... .....5

  1.5 hasil yang diharapkan.................................................................................................... .....5

  BAB 2 PEMBAHASAN............................................................................................. ..........................................6

  2.1 pendidikan.................................................................................................... ..........................6

  2.2 komponen pendidikan.................................................................................................... ..8

  2.3 pengajaran.................................................................................................... .........................12

  2.4 komponen pengajaran.................................................................................................... .13

  2.5 persekolahan................................................................................................ ........................16

  2.6 komponen persekolahan................................................................................................ .17

  2.7 keterkaitan antara pendidikan, pengajaran, dan persekolahan.................. 18

  BAB 3 PENUTUP..................................................................................................... ..........................................19

  3.1 kesimpulan................................................................................................... .........................19

  3.2 saran............................................................................................................. ............................21 Daftar pustaka......................................................................................................... ..........................................22

BAB 1 PENDAHULUAN

  1.1 LATAR BELAKANG

  Kita sering mendengar ‘pendidikan’, ‘pengajaran, ‘persekolahan’ merupakan suatu keterkaitan yang penting. Kita menganggap, untuk belajar dan mendapatkan pendidikan, orang harus bersekolah. Belajar adalah sekolah, dan sekolah adalah belajar, dan itulah yang disebut pendidikan. Padahal ketiga hal itu tidak selalu dapat dikaitan secara kasual satu dengan lainnya.

  Untuk belajar, orang tidak selalu harus bersekolah. Orang yang bersekolah tidak selalu belajar. Sekolah adalah tempat, lembaga yang mengajari murid di bawah bimbingan guru. Sepintas, orang yang bersekolah pastilah belajar, karena sekolah adalah tempat atau lembaga yang mengajari, dan di sana ada guru yang membimbing proses belajar. Kita lupa, bahwa belajar adalah otonomi individu. Di tempat apapun, dan dengan bimbingan siapapun, orang tidak akan belajar kalau dia tidak berkeinginan belajar. Sebaliknya, di manapun dan dengan atau tanpa bimbingan siapapun, orang tetap bisa belajar kalau dia berkeinginan untuk belajar. Belajar adalah gerak individu, dan sekolah hanyalah fasilitas yang disediakan untuk membantu dan mengarahkan gerak itu.

  Pendidikan bukan hanya perihal persekolahan. Sekolah formal yang berjenjang mulai SD-SMA hanya merupakan salah satu bentuk jalur pendidikan. Sekolah seringkali justru menjadi penghambat/pengekang bagi orang-orang yang mempunyai kemauan dan tenaga sendiri untuk belajar. Education Is NOT the Same as Schooling. Jadi, dalam makalah ini, kita akan mengupas masing-masing pendidikan, pengajaran, dan persekolahan sehingga kita tidak lagi sesat mengartikan ketiganya suatu hubungan dalam proses pendidikan.

  1.2 BATASAN MASALAH

  Peneliti membatasi masalah agar pembahasan makalah yang telah di buat tidak terlalu meluas dan fokus pada judul. Dan masalah yang akan di bahas yaitu tentang pendidikan, pengajaran, persekolah, serta komponen pendidikan, komponen pengajaran, dan komponen persekolahan.

  1.3 RUMUSAN MASALAH

  Berdasarkan latar belakang, berikut beberapa rumusan masalah yang akan kita bahas pada makalah ini : Apakah pendidikan itu ?

  • Bagaimanakah komponen-komponen pendidikan?
  • Apakah pengajaran itu ?  Bagaimanakah komponen-komponen pengajaran?  Apakah persekolahan itu?  Bagaimanakah komponen-komponen persekolahan?
  • Bagaimanakah keterkaitan antara pendidikan, pengajaran, serta
  • persekolahan?

  1.4 TUJUAN dan MANFAAT  Mengetahui apa itu pendidikan.

   Mengetahui komponen-komponen dalam pendidikan.  Mengetahui apa itu pengajaran.  Mengetahui komponen-komponen dalam pengajaran.  Mengetahui apa itu persekolahan.  Mengetahui komponen-komponen dalam persekolahan.

  Mengetahui bagaimana keterkaitan antara pendidikan,

   pengajaran, dan persekolahan .

  1.5 HASIL yang DIHARAPKAN

  Hasil yang diharapkan penulis pada pembaca melalui makalah ini yaitu lebih memahami dan mengerti apa itu pendidikan, pengajaran, persekolahan, beserta komponen-komponennya. Dan di harapkan pula makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca .

BAB II PEMBAHASAN

2.1 PENDIDIKAN a.

  Pengertian pendidikan

  Para ahli pendidikan menemui kesulitan dalam merumuskan definisi pendidikan. Kesulitan itu antara lain disebabkan oleh banyaknya jenis kegiatan serta aspek kepribadian yang dibina dalam kegiatan itu, masing-masing kegiatan tersebut disebut pendidikan .berikut pendapat para ahli pendidikan:

  1. menurut Rupert C. Lodge dalam philosophiy of education menyatakan bahwa dalam pegertian yang luas pendidikan itu menyangkut seluruh pengalaman.

  2. Joe Park merumuskan pendidikan sebagai the art or process of importing or acquiring knowledge and habit through instructional as strudy. Dalam definisi ini ditekankan kegiatan pendidikan diletakkan pada pengajaran ( instruction ) sedangkan segi kepribadian yang dibina adalah aspek kognitif dan kebiasaan.

  3. Theodore mayor greene mengajukan definisi yang sangat umum pendidikan adalah usaha manusia untuk menyiapkan dirinya untuk suatu kehidupan yang bermakna. Dalam definisi ini aspek pendidikan luas sekali.

4. Alfed Nort Whitehead menyusun definisi pandidikan yang

  menekankan segi keterampilan menggunakan pengetahuan sehingga cakupan pendidikan sempit.

   diakses tanggal : 23-maret-2014, pukul: 10.43 WIB)

  Dapat disimpulkan bahwa Pendidikan adalah pembelajaran

pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang

ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran,

pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan

  orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir,

  .

  merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan diakses tanggal 25/03/2014.pukul 18.58WIB).

  Atau: Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras

  

  dengan alam dan masyarakatnya

   tanggal:25/03/2014. Pukul 13.14 WIB)

  Contoh : seorang ayah yang menasehati anaknya ia sadar bahwa pada waktu itu merupakan kesempatan yang tepat untuk memberikan nilai-nilai tertentu pada anak sehingga anak berubah tingkah laku. Seorang guru dalam mengajar murid-muridnya diharuskan telah merumuskan tujuan pengajarannya baik dalam bentuk tujuan

  (pengantar pendidikan bagian 1, universitas instruksional umum maupun khusus. press IKIP Surabaya, 1996: 28) b.Fungsi pendidikan  Pendidikan sebagai proses transformasi budaya.

  sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Yang berarti nilai-nilai kebudayaan mengalami proses transformasi generasi tua ke generasi muda. Yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan, misalnya nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan lain-lain, yang kurang cocok diperbaiki, misalnya tata cara pesta perkawinan, dan yang tidak cocok diganti misalnya pendidikan seks yang dahulu ditabukan sekarang diganti dengan pendidikan seks melalui pendidikan formal.  Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi.

  Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuklah kepribadian perseta didik. Pembentukan pribadi mencakup pembentukan cipta, rasa, dan karsa (kognitif, efektif, dan psikomotor) yang sejalan dengan pengembangan fisik.  Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja

  Pendidikan diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran.  Pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara

  Pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.

  (umar tirtarahardja,2008 : 33-36)

c. Filosofi pendidikan

  Pendidikan biasanya berawal saat seorangtu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan an membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran. Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripadaSaya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya." Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggotaerjalan secara tidak resmi.

2.2 KOMPONEN PENDIDIKAN

   Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem .

  Komponen Pendidikan adalah : Bagian-bagian dari sistem proses pendidikan yang menentukan berhasil atau tidaknya atau ada atau tidaknya proses pendidikan

a. Tujuan Pendidikan

  Sebagai suatu komponen pendidikan, tujuan pendidikan menduduki posisi penting diantara komponen-komponen pendidikan lainnya. Dapat dikatakan bahwa segenap komponen dari seluruh kegiatan pendidikan dilakukan semata-mata terarah kepada atau ditujukan untuk pencapaian tujuan tersebut. Dengan tujuan pendidikan diharapkan terbentuknya manusia yang utuh dengan memperhatikan aspek jasmani dan rohani, aspek diri (individualitas) dan aspek sosial, aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, serta segi serba keterhubungan manusia dengan dirinya (konsentrasi), dengan lingkungan sosial dan alamnya (horizontal), dan

   dengan Tuhannya(vertikal).

diakses tanggal 22/03/2014,pukul: 06.36

WIB).

  Tujuan pendidikan berdasarkan rumusan para ahli:

  1. Tujuan umum Ialah tujuan pendidikan yang bersifat universal dan merumuskan berdasarkan kepada hakekat manusia yaitu “kedewasaan” dalam arti “pribadi yang integral baik segi individualitas” sosialitas dan moralitasnya, atau pribadi yang bertanggung jawab secara individual, sosial dan moral.

  2. Pengkhususan tujuan umum Ialah tujuan pendidikan yang merumuskan berdasar filsafat bangsa atau kebudayaan serta kepentingan bangsa sehingga tercipta tujuan pendidikan nasional suatu bangsa.

  3. Tujuan tak lengkap Ialah tujuan yang berhubungan dengan suatu aspek kepribadian tertentu seperti halnya tujuan pendidikan agama, tujuan pendidikan sosial, tujuan pendidikan moral, tujuan pendidikan jasmani, tujuan pendidikan intelektual, dan sebagainya.

  4. Tujuan sementara Ialah tujuan pendidikan yang sementara dicapai untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, seperti : “anak dibiasakan tidak kencing di tempat tidur agar ia tahu tentang kebersihan”, anak dibiasakan berdisiplin menempatkan barang-barangnya ditempat tertentu atau datang dan berangkat teapt waktunya, agar ia kelak berdisiplin dalam segala hal “atau” lulus SD merupakan tujuan sementara untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih tinggi.

  5. Tujuan insidental Ialah suatu tujuan yang terjadi secara kebetulan. Tujuan ini adalah tujuan pendidikan yang terjadi khusus pada situasi tertentu.

  Contohnya: di waktu orang tua melihat seorang anak mengganggu anak lain maka ia menasehati anak tersebut agar tidak mengganggu.

  6. Tujuan intermediair Ialah tujuan yang merupakan alat untuk mencapai tujuan yang lebih lanjut. Seperti halnya: “menguasai bahasa inggris, agar dapat mempelajari berbagaiilmu pengetahuan yang ditulis dalam bahasa inggris. Atau anak diharapkan dapat menguasai tulis dan baca agar

  (pengantar pendidikan bagian 1, universitas dapat menguasai pelajaran di SD. press IKIP Surabaya, 1996: 31-32)

  Namun pada umumnya, Tujuan umum pendidikan tergantung pada nilai- nilai atau pandangan hidup tertentu. Pandangan hidup yang menjiwai tingkah laku manusia akan menjiwai tingkah laku pendidikan dan sekaligus akan menentukan tujuan pendidikan manusia.

b. Peserta Didik

  Peserta didik sangat menunjang dalam proses pendidikan, dengan perkembangan konsep pendidikan yang tidak hanya terbatas pada usia sekolah saja memberikan konsekuensi pada pengertian peserta didik. Kalau dulu orang mengansumsikan peserta didik terdiri dari anak-anak pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan termasuk juga didalamnya orang dewasa.

  23/03/14 , 6:44)

  à Pemahaman mengenai beberapa hal dari anak/ peserta didik, yaitu: latar belakang budaya peserta didik, tingkat kemampuan peserta didik, hambatan peserta didik, dan penguasaan bahasa peserta didik.

  à Pendidikan harus memperhatikan perbedaan individual, memberikan perhatian khusus pada anak didik yang memiliki kelainan (berkebutuhan khusus), dan penanaman sikap bertanggung jawab kepada peserta didik.

   tanggal 23/03/2014. Pukul:13.40).

  c. pendidik Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah pendidik.

  Terdapat beberapa jenis pendidik dalam konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak terbatas pada pendidikan sekolah saja. Ditinjau dari lembaga pendidikan muncullah beberapa individu yang tergolong pada pendidik. Guru sebgai pendidik dalam lembaga sekolah, orang tua sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga, dan pimpinan masyarakat baik formal maupun informal sebagai pendidik dilingkungan masyarakat. konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang termasuk kategori pendidik adalah 1) orang dewasa, 2) orang tua, 3) guru/pendidik, dan 4) pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin keagamaan.

  1. Orang Dewasa Orang dewasa sebagai pendidik dilandasi oleh sifat umum kepribadian orang dewasa. Yaitu (1) manusia yang memiliki pandangan hidup prinsip hidup yang pasti dan tetap, (2) manusia yang telah memiliki tujuan hidup atau cita-cita hidup tertentu, termasuk cita-cita untuk mendidik, (3) manusia yang cakap mengambil keputusan batin sendiri atau perbuatannya sendiri dan yang akan dipertanggungjawabkan sendiri, (4) manusia yang telah cakap menjadi anggota masyarakat secara konstruktif dan aktif penuh inisiatif, (5) manusia yang telah mencapai umur kronologis paling rendah 18 th, (6) manusia berbudi luhur dan berbadan sehat, (7) manusia yang berani dan cakap hidup berkeluarga, dan (8) manusia yang berkepribadian yang utuh dan bulat.

  2. Orang Tua Kedudukan orang tua sebgai pendidik, merupakan pendidik yang kodrati dalam lingkungan keluarga. Artinya orang tua sebagai pedidik utama dan yang pertama dan berlandaskan pada hubungan cinta-kasih bagi keluarga atau anak yang lahir di lingkungan keluarga mereka.

  Kedudukan orang tua sebagai pendidik sudah berlangsung lama, bahkan sebelum ada orang yang memikirkan tentang pendidikan. Secara umum dapat dikatan bahwa semua orang tua adalah pendidik, namun tidak semua orang tua mampu melaksanakan pendidikan dengan baik. Sebagaimana telah dikemukakan dalam bahasan di atas, bahwa kemampuan untuk menjadi orang tua sama sekali tidak sejajar dengan kemampuan untuk mendidik.

  3. Guru/Pendidik di Sekolah Guru sebagai pendidik disekolah yang secara lagsung maupun tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat untuk melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai pendidik dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan baik persyaratan pribadi maupun persyaratan jabatan. Persyaratan pribadi didasrkan pada ketentuan yang terkait dengan nilai dari tingkah laku yang dianut, kemampuan intelektual, sikap dan emosional. Persyaratan jabatan (profesi) terkait dengan pengetahuan yang dimiliki baik yang berhubungan dengan pesan yangingin disampaikan maupun cara penyampainannya, dan memiliki filsafat pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan.

  4. Pemimpin Masyarakat dan Pemimpin Keagamaan Peran pemimpin masyarakat menjadi pendidik didasarkan pada aktifitas pemimpin dalam mengadakan pembinaan atau bimbingan kepada anggota yang dipimpin. Pemimpin keagaam sebagai pendidik, tampak pada aktifitas pembinaan atau pengembangan sifat kerokhanian manusia, yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.

  d. . Metode Pendidikan

  Dalam interaksi pendidikan tidak terlepas dari metode atau bagaimana pendidikan dilaksanakan. Terdapat beberapa metode yang dilakukan dalam mendidik,yaitu :

  1. Metode Diktatoral Metode ini bersumber dari teori empiris yang menyatakan bahwa perkembangan manusia semata-mata ditentukan oleh faktor luar manusia. Metode ini menimbulkan sikap dictator dan otoriter, pendidik yang menentukan segalanya.

  2. Metode Liberal Bersumber dari pendirian Naturalisme yang berpendapat bahwa perkembangan manusia itu sebagian besar ditentukan oleh kekuatan dari dalam yang secara wajar ada pada diri manusia. Pandangan ini menimbulkan sikap bahwa pendidik jangan terlalu banyak ikut campur terhadap perkembangan anak. Membiarkan anak berkembang sesuai dengan kodratnya secara bebas.

  3. Metode Demokratis Bersumber dari teori konvergen yang mengatakan bahwa perkembangan manusia itu tergantung pada faktor dari dalam dan dari luar. Didalam perkembangan anak kita tidak boleh bersifat menguasai anak, tetapi harus bersifat membimbing perkembangan anak. Disini tampak bahwa pendidik dan anak didik sama-sama penting dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan.

  e. Isi Pendidikan/Materi Pendidikan Isi pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan tujuan pendidikan.

  Untuk mencapai tujuan pendidikan perlu disampaikan kepada peserta didik isi/materi yang biasanya disebut kurikulum dalam pendidikan formal. Macam-macam pendidikan tersebut terdiri dari pendidikan agama, pendidikan social, pendidikan keterampilan, pendidikan jasmani dll.

  f. Lingkungan Pendidikan Lingkungan pendidikan meliputi segala segi kehidupan atau kebudayaan. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pendidikan sebagai gejala kebudayaan, yang tidak membatasi pendidikan pada sekolah saja. Dalam artian yang sederhana lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada di sekeliling anak didik dan komponen- komponen pendidikan yang lain.

g. Alat dan Fasilitas Pendidikan

  Alat dan fasilitas pendidikan sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan, dengan adanya fasilitas-fasilitas pendidikan maka proses pendidikan akan berjalan dengan lancar sehingga tujuan pendidikan akan mudah dicapai. Misalnya laboratorium lengkap dengan alat-alat

   percobaannya, internet dll. diakses tanggal: 25/03/2014.pukul 13.46 WIB).

2.3 PENGAJARAN

  a.Pengertian pengajaran

  1. Pengajaran merupakan cara yang digunakan atau metode yang digunakan dalam pendidikan untuk mengupayakan tercapainya kemandirian serta kematangan mental dari individu lain sehingga dapat survive dalam kompetisi kehidupannya.

2. Menurut Jones A. Majid, (2005:16), Pengajaran adalah suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi peserta didik.

  Dengan kata lain pengajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh para guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar.

   diakses tanggal 25/03/2014. Pukul 19.26WIB)

b. Tujuan pengajaran

  Tujuan dalam proses belajar mengajar merupakan komponen pertama yang harus diterapkan dalam proses pengajaran, berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran. Tujuan ini pada dasarnya merupakan rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki oleh siswa setelah ia menyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar dalam proses pengajaran. Pada hakikatnya, isi tujuan pengajaran adalah hasil belajar yang diharapkan. Pada waktu yang lalu, tujuan pengajaran diartikan sebagai suatu upaya pendidik/guru dalam hubungan dengan tugas-tugasnya membina peserta didik/siswa. Misalnya :

  • Meningkatkan kemampuan baca siswa
  • Melatih keterampilan tangan siswa - Menumbuhkan sifat disiplin dan percaya diri dikalangan siswa. Dewasa ini, tujuan pengajaran lebih diartikan sebagai perilaku hasil belajar yang diharapkan dimiliki siswa-siswa setelah mereka menempuh proses belajar mengajar. Misalnya : 1. Siswa-siswa memiliki kemampuan membaca yang lebih baik.

  2. Siwa-siswa bersikap disiplin dan percaya diri.

  3. Siswa-siswa dapat menuliskan contoh-contoh kalimat dalam Bahasa Arab.

  4. Siswa-siswa dapat memecahkan persamaan kuadrat.

  5. Siswa-siswa gemar membuat kerajinan tangan dari tanah liat. Dari contoh diatas, terlihat bahwa pada waktu yang lalu. Tujuan pengajaran diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan guru, sedangkan dewasa ini tujuan pengajaran lebih diartikan sebagai produk atau hasil yang dicapai oleh siswa. Dengan kata lain, tujuan pengajaran pada waktu yang lalu berpusat pada pendidik/guru .(ilmu dan aplikasi

  pendidikan bagian 2, ilmu pendidikan praktis, 2007: 153)

c. Kegiatan pengajaran Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu.

  Proses pengajaran berlangsung pada tempat tertentu, misalnya terjadi didalam kelas dengan penjadwalan yang ketat, sehingga siswa hanya belajar manakala ada kelas yang telah di desain sedemikian rupa sebagai tempat belajar. Adanya tempat dan waktu yang telah ditentukan, sering proses pengajaran terjadi secara sangat formal, siswa duduk di bangku berjejer, dan guru di depan kelas.

2.4 KOMPONEN PENGAJARAN

  1. Kemahiran induksi

  2. Penerangan

  3. Penyoalan

  4. Variasi ransangan

1. KEMAHIRAN INDUKSI

  Definisi Set Induksi

  Omardin Ashaari (1997) mendefinisikan set induksi adalah proses

   terawal dalam sesuatu pengajaran yang dirancang dengan sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu. Ee Ah Meng (1987) menyatakan set induksi ialah kemahiran yang  berkaitan dengan cara untuk menyediakan pelajar anda bagi mengikuti sesi pengajaran iaitu orientasi prapengajaran.

  Dengan kata lain, Kemahiran set induksi merupakan sesi permulaan sesuatu proses pengajaran. Ia bertujuan supaya murid bersedia belajar dan berfikir sesuatu. Objektif Set Induksi

  Menarik perhatian dan menimbulkan minat murid terhadap

   aktivitas pengajaran yang akan dijalankan. Membina aliran fikiran murid supaya mereka bersedia

   mempelajari sesuatu yang berkaitan. Memotivasikan murid supaya bersedia untuk belajar.

   Mengaitkan pengalaman atau pengetahuan lepas murid dengan isi

   pelajaran baru yang hendak disampaikan. Membantu murid mengikuti pelajaran dengan lebih  mudah dan bermakna.

  Komponen Set Induksi

  a) Menarik perhatian

  b) Mewujudkan motivasi

  c) Membuat perkaitan

  d) Menstruktur

2. PENERANGAN

  Definisi Penerangan Satu kemahiran untuk menceritakan, menjelaskan, • menggambarkan, memindahkan sesuatu perkara yang diketahui kepada orang lain. Penerangan merupakan suatu kemahiran yang digunakan untuk menjelaskan atau menghuraikan sesuatu benda dengan menggunakan contoh atau ilustrasi.

   , diakses tanggal 25/03/2014. pukul 19.55WIB)

  Teknik Memberi Penerangan :

  a) MERANCANG Kenali pasti sasaran, bahan bantu mengajar, pilih kaidah

   mengajar yang sesuai dan susunan ide dengan baik. b) MENEPATI SASARAN

   Kebolehan, kemampuan usia dan pengalaman. Bahan bantu mengajar perlu menepati kumpulan murid.

3. KOMPONEN PENYOALAN

   Merangsang dan mencungkil fikiran murid.

   Menguji pengetahuan dan kefahaman murid.

   Membimbing murid menggunakan kaidah inkuiri-penemuan untuk membuat kesimpulan atau menyelesaikan sesuatu masalah yang kompleks.

   Menarik perhatian murid supaya menumpukan perhatian mereka kepada aktivitas pengajaran guru atau kepada sesuatu penegasan.

   Menilai keberkesanan pengajaran guru dan pencapaian objektif pelajaran.

   Membantu murid mengulangkaji pelajaran untuk menyediakan diri dalam ujian yang akan datang.

   Menjalin perhubungan yang baik diantara guru dengan murid melalui aktivitas soal jawab. c) Sebaran - Soalan ditumpukan lebih kepada satu idea, Soalan divergen.

  Kemahiran menyoal merupakan suatu kemahiran yang amat kompleks. Sekiranya kemahiran ini digunakan dengan berkesan Objektif Penyoalan

   Mengembangkan daya pemikiran murid melalui satu siri soalan yang terancang.

   Melibatkan murid secara aktif dalam aktivitas pengajaran dan pembelajaran. PRINSIP-PRINSIP PENGGUNAAN KEMAHIRAN MENYOAL.

  1. Pembentukan Soalan

  2. Teknik Mengemukakan Soalan 3. Penerimaan Jawapan Murid. KOMPONEN KEMAHIRAN MENYOAL

  a) Penbentukan Soalan

  a) Fokus (Tunggal) – jelas, tepat, ringkas

  b) Fokus (Pelbagai) - Soalan yang ditumpukan kepada satu idea, Soalan konvergen

   Membantu murid mengukuhkan konsep dan kefahaman yang baru dipelajari pada peringkat akhir pelajaran.

  d) Hentian - soalan disebarkan kepada seluruh kelas.

  e) Melayani Jawaban - memberi masa kepada murid memikirkan jawapannya f) Memberi petunjuk menjawab - Memberi pujian, Melengkapkan jawapan, Membaiki jawapan.

  g) Memberi petunjuk menjawab - Memberi petua atau petunjuk untuk membantu murid.

4.VARIASI RANGSANGAN

  

 Perubahan kaidah dan teknik penyampaian guru hendaklah

  dikaitkan dengan tujuan dan isi pelajaran

   Perubahan aktivitas pengajaran haruslah lancar dan dikaitkan

  dengan langkah-langkah penyampaian di antara satu sama lain

   Penggunaan alat bantu mengajar untuk mempelbagaikan pengalihan saluran deria haruslah dirancang dan disampaikan dengan teknik yang berkesan.

  Prinsip Variasi Ransangan

  aktivitas pengajaran yang berbeda dengan langkah penyampaian yang lain.

   Guru harus mengubah rangsangan berdasarkan maklum balas yang didapati daripada pelajarnya. Komponen Variasi Rangsangan

   Komponen perubahan pergerakan langkah guru. Guru bergerak ke kiri dan kanan, belakang dan depan semasa mengajar. Pergerakan langkah guru perlu dilakukan secara perlahan supaya tidak mengganggu P&P dan tumpuan kanak-kanak.

   Komponen perubahan fokus deria murid. Perhatian kanak- kanak akan berubah apabila guru mengubah cara mengajar dengan menggunakan BBM.

   Komponen perubahan pergerakan anggota guru. Guru juga boleh menggunakan bahagian anggota badan yang lain contohnya tangan untuk menegaskan penerangan dan penyampaian.

   Komponen perubahan nada suara guru. Guru tidak hanya

  menggunakan suara yang mendatar tetapi perlu mengubah nada suara mengikut kepentingan bahan pengajaran.

   Komponen perubahan bentuk lisan murid. Kanak-kanak boleh dilibatkan secara lisan contohnya penggunaan bahasa.

   Setiap langkah penyampaian haruslah mengandungi

   fizikal murid seperti lakonan, menulis, dan simulasi.

  Komponen perubahan bentuk fizikal murid. Perubahan bentuk

2.5 PERSEKOLAHAN

  a. DEFINISI PERSEKOLAHAN

  Menurut Daoed Joesoef (www.suarapembaruan.com/23-03- 14/10.20WIB) Persekolahan adalah pembelajaran di sekolah dengan aksentuasi pada penguasaan materi yang diajarkan. Dalam hal ini, peserta didik diwajibkan atau lebih tepatnya dituntut untuk menguasai semua materi yang diberikan guru.

  Sekolah merupakan sebuah lembaga yang didalamnya terjadi proses belajar-mengajar. Dewasa ini, persekolahan hanya berorientasi pada Guru mengajar dan Siswa belajar sebagai respon materi yang diajarkan guru. Kesalahan paling fatal adalah menganggap persekolahan yang mengesampingkan nilai pendidikan adalah pendidikan terbaik bagi anak. Pada kenyataannnya, saat ini persekolahan hanya mementingkan sisi kognitif siswa dan emosi serta psikomotorik siswa pun terabaikan. Padahal proses pendidikan mestinya memerhatikan IQ, EQ, dan SQ secara keseluruhan.

  Dalam persekolahan yang salah, materi yang dapat dikuasai anak didik dianggap sebagai “pengetahuan”. Mereka mengelirukan “informasi” sebagai “pengetahuan”. Anggapan ini menjadi sumber kelemahan persekolahan saat ini. Mengingat “pengetahuan” berarti “kekuatan” bagi pemiliknya, ada kecenderungan sekolah menjejali anak didik dengan sebanyak mungkin mata pelajaran, hingga menjadi beban yang tak sepadan dengan daya tangkap anak didik sesuai dengan usia fisiknya. Pembelajaran yang eksesif ini, terutama terjadi di lingkungan SD. Padahal, tujuan dari pendidikan dasar di SD bukanlah menjejalkan siswa dengan semua yang mungkin diketahui dari berbagai materi yang (bisa) diajarkan, tetapi benar-benar mempelajari apa-apa yang tidak boleh diabaikan dari setiap materi yang diajarkan itu.

  b. TUJUAN PERSEKOLAHAN

  Sebagaimana telah disinggung oleh definisi persekolahan di atas, tujuan pelaksanaan persekolahan ialah anak didik menguasai semua materi yang diajarkan guru, dimana materi tersebut merupakan “informasi” telah disalah artikan sebagai “pengetahuan”. Berangkat dari

  ‘salah arti’ tersebut, maka anak didik dibekali berbagai informasi yang sebenarnya diluar kapasitasnya.

c. FUNGSI DAN MANFAAT PERSEKOLAHAN

  Tuntutan peguasaan materi pada persekolahan dinilai kurang efektif dan keluar dari fungsi sebenarnya. Proses pembelajaran yang semestinya berjalan untuk mempelajari “apa-apa” yang tidak boleh diabaikan dalam setiap materi, menjadi berpusat pada penguasaan anak didik terhadap materi dalam hal menghafal ataupun sekedar mengetahui tanpa mengerti dan memahami materi yang diajarkan.

  Dari pemahaman persekolahan inilah muncul beberapa anak didik yang mulai tertinggal materi di kelas. Mengingat daya tangkap dan daya ingat masing-masing dari mereka berbeda-beda. Manfaat dan fungsional sistem dalam persekolahan ini dapat dipastikan hanya berlaku pada anak didik yang memiliki daya tangkap dan daya ingat tinggi, sedangkan anak didik yang memiliki daya tangkap dan daya ingat rendah cenderung berpikir keras agar dapat mengikuti perkembangan “pengetahuan” (informasi) yang diberikan guru, atau bahkan mereka memilih untuk membenci materi guru tersebut.

2.6 KOMPONEN PERSEKOLAHAN

  Mc Donal (1965: 3 dalam Nana S. Sukmadinata 2010: 5) berpendapat, sistem persekolahan terbentuk atas empat subsistem, yaitu :

  a. Mengajar

  Mengajar merupakan suatu perlakuan professional seorang guru. Dalam mengajarpun ada beberapa teori yang dapat diterapkan.

  b. Belajar

  Belajar merupakan kegiatan atau upaya yang dilakukan oleh siswa sebagai respon terhadap kegiatan mengajar yang diberikan oleh guru. Pada sistem persekolahan, belajar menjadi sesuatu yang orang lain lakukan untuk anak, bukan sebagai bagian dari pengalaman anak itu sendiri untuk belajar bagi dirinya.

  c. Pembelajaran

  Keseluruhan pertautan kegiatan yang memungkinkan dan berkenaan dengan terjadinya interaksi belajar-mengajar disebut pembelajaran.

  d. Kurikulum.

  Kurikulum merupakan suatu acuan terjadinya proses pembelajaran. Sedikitnya 5 tahun sekali kurikulum akan berubah. Kurikulum cenderung mengikuti perkembangan IPTEK sehingga outputnya nanti diharapkan siap ketika telah berada di tengah masyarakat berikut perkembangannya.

  2.7 KETERKAITAN ANTARA PENDIDIKAN, PENGAJARAN, serta PERSEKOLAHAN

  Pengajaran, pendidikan, dan persekolahan adalah perkara yang berbeda. Pendidikan merupakan sistem, sedangkan pengajaran merupakan suatu proses, dan persekolahan merupakan lembaga yang

  

bersifat sebagai fasilitator. Dari pembahasan sebelumnya ada berbagai definisi

yang dapat disimpulkan bahwa ketiga hal tersebut disamakan pengertiannya

sebagai sistem. Hal itu tentu memengaruhi fungsi dari masing-masing

komponen. Mengingat pengertian dari pandangan penulis, ketiganya adalah

hal-hal yang saling berkaitan pada proses terjadinya pendidikan.

  Kegiatan pendidikan, pengajaran, dan persekolahan sangat terkait. Tidak

dapat di pisahkan dari kegiatan peserta didik. Kegiatan-kegiatan tersebut

merupakan kegiatan terpadu yang dalam kehidupan manusia di laksanakan

pada setiap saat dimanapun manusia itu berada dan pada hakekatnya kegiatan-

kegiatan tersebut menjadi usaha manusia untuk memanusiakan manusia itu

sendiri serta membudayakan manusia menjadi manusia yang tinggi

peradabannya, yang maju mengantisipasi masa depannya.

  Dengan kata lain dari ketiga kegiatan tersebut yaitu kegiatan pendidikan,

kegiatan pengajaran, kegiatan penyekolahan diharapkan hasil akhir yang akan

meningkatkan kualitas peserta didik sebagai sumber daya manusia yang

berpotensi.

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

  PENDIDIKAN

  • Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan

  kebiasaan sekelompok orang yang ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.

  Fungsi pendidikan : Pendidikan sebagai proses transformasi budaya.

  Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi. Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja Pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara

KOMPONEN PENDIDIKAN 

  Komponen merupakan bagian dari suatu sistem yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem . Komponen Pendidikan adalah : Bagian-bagian dari sistem proses pendidikan yang menentukan berhasil atau tidaknya atau ada atau tidaknya proses pendidikan Jadi komponen pendidikan adalah :

  a. Tujuan Pendidikan

  b. Peserta Didik

  c. pendidik

  d. Metode Pendidikan

  e. Isi Pendidikan/Materi Pendidikan

  f. Lingkungan Pendidikan

  g. Alat dan Fasilitas Pendidikan PENGAJARAN 

  Pengajaran merupakan cara yang digunakan atau metode yang digunakan dalam pendidikan untuk mengupayakan tercapainya kemandirian serta kematangan mental dari individu lain sehingga dapat survive dalam kompetisi kehidupannya.

  Tujuan pengajaran

  Tujuan pada dasarnya merupakan rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki oleh siswa setelah ia menyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar dalam proses pengajaran. Pada hakikatnya, isi tujuan pengajaran adalah hasil belajar yang diharapkan.

KOMPONEN PENGAJARAN 

  1. Kemahiran induksi

  2. Penerangan

  3. Penyoalan 4. Variasi ransangan.

  PERSEKOLAHAN 

  Persekolahan adalah pembelajaran di sekolah dengan aksentuasi pada penguasaan materi yang diajarkan.

  Tujuan Persekolahan

  tujuan pelaksanaan persekolahan ialah anak didik menguasai semua materi yang diajarkan guru, dimana materi tersebut merupakan “informasi” telah disalah artikan sebagai “pengetahuan”.

  Fungsi Dan Manfaat Persekolahan

  Fungsinya sebagai lembaga yang melaksanakan pendidikan melalui proses pengajaran.

KOMPONEN PERSEKOLAHAN 

   MengajarBelajarPembelajaranKurikulum.

KETERKAITAN ANTARA PENDIDIKAN, PENGAJARAN,

  • serta PERSEKOLAHAN

  Pengajaran, pendidikan, dan persekolahan adalah perkara yang berbeda. Pendidikan merupakan sistem, sedangkan pengajaran merupakan suatu proses, dan persekolahan merupakan lembaga yang

  

bersifat sebagai fasilitator. Kegiatan pendidikan, pengajaran, dan persekolahan

sangat terkait. Tidak dapat di pisahkan dari kegiatan peserta didik. ketiga

  

kegiatan tersebut diharapkan hasil akhir yang akan meningkatkan kualitas

peserta didik sebagai sumber daya manusia yang berpotensi.

3.2 SARAN

  Dalam dunia pendidikan indonesia, terjadi “salah kaprah” pemahaman terhadap pendidikan, pengajaran, dan persekolahan. Dimana kegiatan pengajaran pada persekolahan hanya mementingkan output tanpa memerhatikan proses pendidikan selama kegiatan pengajaran berlangsung. Disini penulis memahami pendidikan, pengajaran, dan persekolahan adalah 3 pilar kesuksesan mencerdasan kehidupan bangsa dan membangun insan berbudi luhur. Apabila ketiga pilar tersebut di pahami dan di implementasikan menjadi satu kesatuan, maka input, proses, maupun output akan mendapat perhatian maksimal. Dengan demikian Pendidikan Indonesia dapat mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun insan berbudi luhur.

  

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

  Jakarta: Balai Pustaka. Tim pengembangan ilmu pendidikan FIP-UPI.2007. Ilmu & Aplikasi

  

Pendidikan Bagian 2 Ilmu Pendidikan Praktis. Jakarta: PT IMPERIAL

BHAKTI UTAMA.

  Tirtarahardja, umar ,dkk. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Renika Cipta.

  

  http://imammalik11.wordpress.com/2013/12/12/komponen-pendidikan

  

  ttp://elisiusjunaidi.blogspot.com/2012/03/perbedaan-pendidikan-dan- h pengajaran.html

  

  

Dokumen baru
Dokumen yang terkait
Tags
Rancangan Pengajaran Tahunan 2013 Pendid

Makalah Pendid Ikan Multikultural Tentang

Makalah Dasar Dasar Pendid Ikan

Makalah Manajemen Pembiayaan Pendid Ikan

Makalah Pendid Ikan Karakter Yusro

Makalah Strategi Belajar Mengajar Pendid

Pengantar Pendidikan Makalah Asas Pendid

Makalah Pengajaran Survai Di Ptb

Makalah Konteks Pengajaran Bahasa Dan Ko

Makalah Pengajaran Bahasa Dalam Perspektif Gender

Makalah Pendid Bikan Pengajaran Persekolah

Gratis

Feedback