makalah tentang sejarah adat istiadat go

Gratis

0
1
17
1 year ago
Preview
Full text

1. Tari Tradisional Gorontalo - "Tari Dana - Dana"

  

Tari dana-dana adalah tarian tradisi yang berasal dari Provinsi

Gorontalo. Penamaan tari Dana-dana ini berasal dari bahasa daerah yaitu

daya-dayango yang berarti menggerakkan seluruh anggota tubuh sambil

berjalan.

  

Tari dana-dana merupakan tari pergaulan remaja gorontalo. Tarian ini

dilakukan oleh 2 sampai 4 orang laki-laki. Tarian ini dimainkan dengan

gerakan-gerakan yang dinamis dan lincah. Dalam tarian ini seluruh

anggota badan harus bergerak sesuai dengan irama musik. Tarian ini

diiringi oleh alat musik gambus dan rebana serta lagu berisi pantun yang

bertema percintaan atau nasehat-nasehat yang bertemakan kehidupan

remaja. Tarian dana-dana memang menggambarkan sosok remaja yang

energik dengan gairah hidup yang besar, kehidupan dunia remaja dan

keakraban pergaulan remaja.

  

Tarian dana-dana dari Gorontalo ini mulai dikenal seiring dengan

masuknya pengaruh agama Islam ke Gorontalo. Pada tahun 1525 M, Tari

Dana-Dana turut serta menyebarkan dakwah Islam di Gorontalo. Tarian ini

dipentaskan pada saat pesta pernikahan Sultan Amay dan Putri

Owotango. Tarian ini sebenarnya dibawakan secara berpasang-pasangan

antara remaja laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, ketatnya ajaran Islam

pada saat itu tidak mengijinkan laki-laki bisa dengan mudah menyentuh

perempuan yang bukan muhrimnya sehingga tari dana-dana hanya

dibawakan oleh kaum laki-laki saja.

  

Tari Dana-Dana terbagi menjadi dua fungsi yaitu tari penyambutan dan

tari perayaaan. Tari penyambutan biasa ditampilkan pada saat

penyambutan tamu sedangkan tari perayaan sendiri ditampilkan pada

saat perayaan-perayaan hari besar atau perayaan adat. Tari dana-dana

juga memiliki daya pikat tersendiri di bidang pariwisata. Tarian ini juga

seringkali dipentaskan dalam rangkaian acara promosi pariwisata provinsi

Gorontalo.

  Tari Dana-dana salah satu tarian Gorontalo

2. Tari Tradisional Gorontalo - "Tari Polopalo"

  Tari Polopalo dari Gorontalo

Tari Polopalo merupakan tari pergaulan yang berasal dari Provinsi

Gorontalo. Polopalo sendiri merupakan sebuah

ng berasal dari Gorontalo. Alat musik tradisional Polopalo

merupakan alat musik jenis idiofon atau golongan alat musik yang sumber

bunyinya diproleh dari badannya sendiri (M. Soeharto 1992 : 54), Dalam

artian bahwa ketika Polopalo tersebut di pukul atau sebaliknya

memperoleh pukulan, bunyinya akan dihasilkan dari proses bergetarnya

seluruh tubuh Polopalo tersebut.

  

Adapun tarian Polopalu memang menggunakan properti yang berupa alat

musik polopalo tersebut. Tari Tradisional dari Gorontalo ini, pada akhirnya

  

Kedua tarian polo palo tradisional dan modern memiliki beberapa

perbedaan, antara lain jumlah penarinya. Tari polo -" palo tradisional

biasanya dimainkan oleh penari tunggal yang diringi oleh musik yang

dimainkan sendiri atau solo. Selain itu tari polo - palo modern lebih sering

ditampilkan secara berkelompok dengan iringan musik yang sudah

diaransemen.

  

Pada tari polo -" palo tradisional pemukul tidak hanya dimainkan dengan

cara memukulkannya pada alat musik tetapi juga pada bagian anggota

penari khususnya lutut dengan irama yang beraturan. Sedangkan pada

tari polo -" palo modern, pemukul hanya dipukulkan pada alat musiknya,

tidak pada bagian tubuh.

  

PAKAIAN

Keunikan Pakaian Adat Gorontalo

  

Sebagai negara yang memiliki suku bangsa terbanyak di dunia, secara otomatis

indonesia memiliki keanekaraaman budaya kesenian daerah, baik tari, lagu, alat

musik tradisional, adat-istiadat, upacara keagamaan, rumah adat, serta pakaian adat

tradisional yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu. Salah satunya berupa

pakaian adat Gorontalo yang biasa dikenakan pada saat upacara pernikahan,

upacara khitanan, upacara baiat (pembeatan wanita), upacara penyambutan tamu,

maupun upacara adat lainnya.

  Pakaian Adat Gorontalo

  Sumber : http://www.skyscrapercity.com

Pakaian adat Gorontalo umumnya terdiri atas tiga warna yaitu warna ungu, warna

kuning keemasan, dan warna hijau. Sedangkan dalam upacara pernikahan adat

Gorontalo, masyarakat hanya menggunakan empat warna utama, yaitu merah, hijau,

kuning emas, dan ungu.

  Pakaian Adat Gorontalo

Masing-masing warna tersebut dipercaya memiliki arti tertentu yang berkaitan

dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat

Gorontalo. Penggunaan warna merah dalam pakaian adat gorontalo memiliki makna

keberanian dan tanggung jawab, warna hijau sebagai lambang kesuburan,

kesejahteraan, kedamaian, dan kerukunan, warna kuning emas untuk

melambangkan kemuliaan, kesetiaan, kebesaran, dan kejujuran, sementara warna

ungu digunakan sebagai simbol keanggunanan dan kewibawaan. Pakaian Adat Gorontalo

  

Masyarakat Gorontalo umumnya menghindari pengunaan pakaian dengan warna

coklat yang menyerupai unsur tanah, dan lebih memilih warna hitam yang dianggap

sebagai simbol keteguhan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa jika ingin

menggunakan pakaian yang berwarna gelap. Sementara untuk keperluan ibadah

dan melayat, dipilihlah pakaian berwarna putih yang bermakna kesucian atau

kedukaan. Warna biru muda sering kali dikenakan pada saat peringatan 40 hari

duka, sedangkan warna bitu tua biasanya digunakan pada peringatan 100 hari duka

untuk menghormati orang yang telah meningal.

ALAT MUSIK

1. Alat musik tradisional Gorontalo - Polopalo

  

Polopalo adalah alat musik tradisional dari Gorontalo. Alat musik ini terbuat dari

bambu dengan bentuk mirip dengan garputala. Alat musik sejenis dapat pula kita

temui misalnya

Parappasa.

  

Untuk menghasilkan ritme yang unik, pada perkembangannya Polopalo dimodifkasi

sehingga terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan ukurannya. Ada 3 jenis

Polopalo, yaitu yang berukuran besar, sedang, dan kecil. Semakin kecil ukuran

Polopalo, semakin tinggi nada yang dihasilkannya. Selain itu kini Polopalo dibuatkan

sebuah pemukul dari kayu yang dilapisi karet agar mempermudah dan membantu

dalam proses memainkan alat musik Polopalo. Hal ini memberikan dampak, selain

anggota tubuh tidak sakit, bunyi yang dihasilkanpun semakin nyaring.

Alat musik polopalo ini digunakan padayang dikenal

dengan tari polopalo.

2. Alat musik tradisional Gorontalo - Ganda

  

Alat musik ganda Gorontalo adalah sejenis alat musik pukul mirip dengan alat musik gendang

yang telah kita kenal. Alat musik ganda Gorontalo ini terbuat dari kayu dan memiliki dua sisi yang

terbuat dari kulit binatang.

  

SENJATA

Jenis Parang

  

Aliyawo adalah senjata tradisional masyarakat Gorontalo yang digunakan

pada waktu perang panipi oleh para prajurit kerajaan dalam merebut

kekuasaan. Senjata ini dipakai oleh empat kerajaan yakni kerajaan

Limboto, Suwawa, Gorontalo, dan Gowa.

b. Wamilo

  

Wamilo adalah senjata yang umum digunakan oleh masyarakat Gorontalo

dalam aktivitas keseharian terutama untuk bertani. Senjata Wamilo dibuat

dari bahan besi dan memiliki ta’upo (sarung) yang terbuat dari kayu

kuning.

OBJEK UMUM/WISATA

1. Pulau Cinta

  

Bentuk pulaunya yang mirip dengan hati atau love, membuat pulau ini diberi nama

Pulau Cinta. Pulau yang berada di Kabupaten Boalemo ini sepertinya cocok untuk pengantin baru yang ingin bulan madu berdua-duaan. Pulau Cinta mulai populer dan ramai dikunjungi wisatawan setelah Festival Sail Tomini Boalemo pada 2015 lalu. Keindahan panorama pulau kecil dengan pasir putih dan air laut yang tenang telah memikat wisatawan untuk mendatanginya.

Pulau Cinta dikelilingi oleh 15 bangunan cottage yang didesain romantis. Bila kamu

ingin menginap, cottage ini bisa disewa dengan tarif Rp5 juta per malam.

2. Teluk Tomini

  

Teluk Tomini merupakan teluk terbesar di Indonesia, dengan luas kurang lebih 6 juta

hektar. Teluk ini bersinggungan dengan 3 provinsi di Pulau Sulawesi, yaitu Sulawesi

Tengah, Sulawesi Utara dan Gorontalo. Teluk Tomini juga mulai populer menjadi destinasi wisata internasional setelah digelarnya Festival Sail Tomini. Teluk Tomini yang berada tidak jauh dari Bandara Gorontalo, menawarkan pemandangan bawah laut yang menarik.

  

Bila ingin menyelam atau sekedar snorkeling, kamu harus menggunakan kapal dari

pelabuhan di kota Gorontalo menuju ke lokasi penyelaman, sekitar 15 menit

perjalanan. Terkadang di tempat ini, kamu dapat menjumpai ikan hiu paus berenang

di permukaan laut. Kamu pun dapat berenang bersamanya di lautan.

  Wisata Religi Bongo Hipnotis Perwakilan

10 Negara

  :

Gorontalo, CNN Indonesia -- Provinsi Gorontalo memiliki segudang destinasi yang bisa membuat

wisatawan terkagum-kagum. Gorontalo bukan hanya terkenal dengan keindahan alamnya,

melainkan juga pesona adat dan budaya. Salah satunya adalah objek wisata religi Desa Bongo,

Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Selain menampilkan keindahan pesisir Teluk Tomini, kawasan yang sangat terkenal dengan

Walima (perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW) itu terkenal akan nilai-nilai tradisi dan budaya

Gorontalo. Tidak mengherankan, objek wisata itu cocok menjadi untuk berbagai kalangan. Seperti pada Senin (18/10/2017), puluhan perwakilan dari sepuluh negara yang tergabung dalam sekolah pimpinan dan staf Kementerian Luar Negeri (Sesparlu) menyambangi desa wisata religi di Desa Bongo.

  

Taman Wisata Bongo, Gorontalo, Tawarkan Wisata Religi dan

Pemandangan Indah

Desa Bobuho atau yang lebih dikenal dengan nama Taman Wisata Bongo merupakan tempat wisata

religius yang terletak di Kecamatan Batuda’a Pantai, Gorontalo, dengan luas 400 ha. Desa wisata ini

mempunyai banyak nilai sejarah dan merupakan salah satu tempat wisata yang sangat cocok bagi

mereka yang berminat mempelajari dan mengetahui lebih dalam mengenai sejarah dari desa ini.

Tempatnya cukup menarik, karena selain tempatnya yang masih asri, sejuk juga masih dikelilingi oleh

kawasan yang masih hijau, dan sekitarnya tempat pemandangan Teluk Tomini.

Saat ini, Pemerintah Provinsi Gorontalo sedang membangun beberapa asset wisata untuk menarik

pengunjung domestik maupun dari mancanegara. Tempat wisata religi lainnya yang dapat dikunjungi

adalah Masjid Walima Emas yang terletak di puncak bukit. Masjid yang berukuran 10×10 meter ini

memiliki pemandangan yang sangat indah karena langsung dapat menikmati pemandangan laut biru

yang terbentang luas di depannya.

Selain itu, ada Museum Goa dan Museum Batu yang merupakan peninggalan masyarakat leluhur desa

Bongo, dan buku-buku dan foto-foto peninggalan para leluhur yang dapat dilihat di museum tersebut.

Hal lainnya yang dapat dinikmati adalah kebudayaan yang dapat dipelajari baik sejarah maupun

tradisi desa tersebut. Di tempat yang sama, juga terhampar ratusan fosil kayu yang ditata serupa

karya instalasi seni, yang dinamakan sebagai Museum Fosil Kayu.

Tempat wisata ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat, dengan jarak

tempuh hanya sekitar 20 menit dari ibukota Gorontalo. Sepanjang perjalanan, kita dapat memandang

view alam yang masih asri menuju desa Bongo sehingga kita tidak merasa bosan selama perjalanan.

Di sisi kiri dan kanannya dapat kita lihat pemandangan pengunungan, banyak pepohonan yang tinggi-

tinggi.

  

Bagi Anda yang ingin menghabiskan waktu liburan panjang, disarankan ambil lebih dari 2 malam.

Tidak perlu khawatir, karena di daerah ini, Anda bisa tinggal ataupun menginap di sekitar desa itu.

Walaupun dari luar terlihat seperti rumah adat dan rumah warga, tetapi seperti yang dikatakan oleh

orang-orang “ don’t judge a book by it’s cover”, di dalamnya terdapat fasilitas yang cukup memuaskan

dan sangat nyaman. Di sana dihiasi air mancur dan kolam renang, tanpa dipungut biaya, dan

disediakan bagi para wisatawan dan pengunjung. Tidak ada biaya tiket yang perlu Anda keluarkan,

karena sudah dibiayai oleh pemerintah setempat. Sungguh menarik bukan? Jadi, jangan lewatkan

kesempatan mendatangi Taman Wisata Bongo apabila Anda sedang berkunjung ke Gorontalo.

GEDUNG BERSEJARAH

  BENTENG OTANAHA Kompleks Benteng Otanaha yang terletak di atas bukit desa Dempe, Gorontalo merupakan peninggalan bersejarah yang dibangun oleh Portugis pada abad ke 15. Bangunan yang seluruhnya terdiri dari tiga buah benteng (Benteng Otanaha, Benteng Otahiya, dan Benteng Ulupahu) ini dibangun sebagai wujud kerjasama antara Portugis dengan Raja Ilato yang tengah berkuasa pada tahun 1505 – 1585. Dikisahkan, suatu saat kapal orang Portugis singgah di Gorontalo. Perwakilan orang Portugis itu kemudian menemui Raja Ilato dan mewarkan kerjasama untuk memperkuat sistem pertahanan dan keamamanan pemerintah. Sebagai tanda kesepakan, Portugis siap membangun tiga benteng yang terletak di atas bukit. Pada tahun 1525, saat Gorontalo diserang musuh, terkuaklah akal bulus Portugis. Rupanya, upaya pendekatan Portugis dengan Raja Ilato hanyalah strategi untuk menyerang Gorontalo. Pada saat terjadi serangan dari musuh itu, Portugis sama sekali tidak membantu Gorontalo, namun justru mendukung musuh untuk menyerang Gorontalo. Hingga tahun 1585, Gorontalo masih dalam kemelut perang. Salah seorang putra Raja Ilato, yaitu Naha dan istrinya, Ohihiya, memimpin pertempuran dan membuat ketiga benteng Portugis itu sebagai benteng pertahanan. Dalam pertempuran ini Naha dan seorang putranya, Pahu, gugur. Untuk mengenang perjuangan mereka, ketiga benteng ini kemudian dinamai Naha, Pahu, dan Hiya. Sementara itu penambahan kata Ota merupakan bahasa daerah setempat yang berarti Benteng. Sebagai cagar budaya yang harus dijaga kelestariannya, kompleks Benteng Otanaha ini sudah dipugar pada tahun 1978 – 1981. Pemerintah setempat juga membangun anak tangga untuk memudahkan wisatawan menjangkau kompleks benteng. Sedikitnya kita harus mendaki 353 anak tangga untuk mencapai benteng utama, yaitu Benteng Otanaha. Sementara itu untuk mencapai Benteng Otahiya ada sekitar 245 anak tangga dan 59 anak tangga menuju Benteng Ulupahu. Benteng Otanaha merupakan obyek wisata sejarah bangunan peninggalan monumen kuno warisan pada masa lalu dari suku gorontalo dibangun sekitar 1525 letaknya diatas bukit di Kelurahan Dembe I Kecamatan Kota Barat dengan jarak 8 Km dari pusat Kota Gorontalo. Untuk mencapai benteng ini kita harus menapaki anak tangga sebanyak 351 buah dan dan dapat pula melalui jalan melingkar dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Benteng ini yempat perlindungan dan pertahanan Raja-raja Gorontalo ketika melawan kolonial Portugis yang ingin menjajah. Keunikan dari benteng ini bangunanya terbuat dari campuran kapur dan putih burung Aleo. Karena letaknya yang berada dipuncak bukit maka dari benteng ini dapat dilihat pemandangan danau Limboto. Selain benteng Otanaha didekatnya pula dua buah benteng yaitu benteng Otahiya dan Ulupahu. Panorama yang ditawarkan dari Benteng Otanaha adalah panorama Kota Gorontalo dan Danau dan diameter benteng mungkin sekitar 20 meter.Terdapat 3 benteng yang dihubungkan dengan jalan setapak untuk menuju ke setiap benteng.Lokasinya yang berada di atas bukit memang sangat strategis sebagai benteng pertahanan sekaligus menara intai saat jaman perang dulu. BENTENG ORANGE Tempat pembangunan Benteng Orange cukup strategis, dan tersebunyi disebuah bukit sekitar 600 meter dari jalan Trans Sulawesi. Setelah memasuki areal benteng, disana terpampang papan nama benteng yang bertuliskan ‘Cagar Budaya Benteng Orange’ oleh kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Tampak, papan ini itu belum lama terpasang didepan tangga pertama benteng. Untuk menembus benteng, harus meniti 139 anak tangga terbuat dari batu gunung berukuran 1x setengah meter. Setelah melalui tangga ke 78, ditemukan ada sebuah pos penjagaan. Kemudian, ketika mencapai tangga ke 120 ada satu lagi pos penjagaan. Sayangnya, pos jaga tentara Portugis ini sudah rusak, sehingga yang terlihat hanya beton bersegi empat ukuran 2 × 2 meter. Perjalanan belum sampai disitu, untuk memasuki pintu gerbang benteng masih ada 29 anak tangga lagi. Disamping kanan, ada post penjagaan lagi yang ukurannya cukup besar. Meski terlihat kumuh namun masih berdiri kokoh. Tampaknya, pejagaan dulu oleh Portugis sangat ketat. Setiap yang masuk harus diperiksa melalui penjaga pos. Suasana hangat dan sejuk menyambut siapapun yang mengunjungi situs sejarah ini karena areal benteng dipenuhi pohon ketapang yang rimbun. Dari pos induk ini, terlihat satu benteng besar yang kokoh disebelah kiri, dan ada lagi satu pos pengintai dibagian kanan, dengan 45 anak tangga untuk berada dipuncak pos pengintai. Diduga, pos pengintai musuh digunakan oleh Portugis untuk melihat dari jarak jauh kapal-kapal bajak laut atau musuh yang datang menyerang karena dari pos pengintai ini terlihat jelas hamparan laut luas. Di pos pengintai, ada sebuah benteng perlindungan berbentuk bundar dengan ukuran sekitar 10 × 10 meter dan ketebalan dinding hampir setengah meter. Sayangnya, kini benteng yang satu ini sudah tertimbun tanah, dan sudah ditumbuhi rumput liar karena tak dirawat. Untuk memasuki benteng utama, harus melalui satu pos penjagaan kecil. Benteng utama ini konon dibuat untuk menjadi sarang pertahanan seluruh tentara Portugis. Betapa tidak, benteng utama ini berukuran 50 x 40 meter persegi dengan ketebalan dinding 60 centi meter. Dibagian kanan benteng, ada lagi satu ruang terbuka untuk ditempati meriam. 13 anak tangga harus dilalui untuk berada di tempat meriam ini. Dibagian ujung benteng, ada dua ruang. Satu ruang yang langsung mengarah ke laut sebagai tempat meriam dan satunya lagi sebagai ruang pelindung. Menariknya dimasing-masing ruang ini, ada tangga terowongan menuju tempat perlindungan bawah tanah. Dibawah tempat penempatan meriam, ada sebuah tangga menjulur kebawah yang menghubungkan dengan ruang bawah tanah yang terletak dibagian tengah benteng utama ini. Karena, tangga ruang bawah tanah ini sudah tertimbun maka tidak bisa diprediksi berapa luas ruang bawah tanah tersebut. Konon, tempat itu menjadi ruang perlindungan bagi pejabat Portugis juga untuk prajurit jika situasi perang. Sementara, untuk tangga terowongan yang berada bawah tempat perlindungan menuju ke laut. Sayangnya, terowongan ini sudah tertimbun tanah. “Terowongan bawah tanah ini sekitar 100 meter menuju kelaut. Digunakan Portugis untuk memasuki benteng dari arah laut. Menurut Opa Gani warga Sulawesi Tenggara yang sudah 18 tahun menjaga benteng ini menuturkan, nama asli benteng Orange belum diketahui. Namun, ketika bangsa Belanda memasuki daerah Gorut pada abad ke 18, mereka kemudian mengubah benteng peninggalan Portugis dengan nama Orange. “Kenapa dinamakan Benteng Orange, karena saat itu ada beberapa orang Belanda yang bermain volli ball di benteng utama yang saat ini

dan kedua pada tahun 1980 dipugar oleh bagian kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Dan baru-baru ini, dilakukan perbaikan. Itupun hanya beberapa bagian benteng misalnya, pagar benteng serta jalan menuju benteng.

Bulalo La Limutu (Danau Limboto)

LEGENDA

  Dahulu kala di daerah Limboto, Gorontalo, terdapat sebuah mata air yang jernih dan dingin. Mata air ini jarang dijamah oleh manusia karena terletak di tengah-tengah hutan yang lebat. Mata air inilah yang biasa didatangi oleh para bidadari dari kayangan untuk mandi. Mata air ini bernama Tupalo.

  Pada suatu hari turunlah seorang jejaka dari kayangan, ia sangat tampan dan perkasa. Ia bernama Jilumoto, yang artinya "seseorang yang menjelma menjadi manusia". Ketika menyaksikan bidadari yang mandi di Tupalo, ia menyembunyikan sayap salah seorang dari mereka. Ternyata sayap itu milik seorang bidadari yang paling tua di antara yang lainnya yang bernama Mbui Bungale. Saat mengetahui bahwa sayapnya hilang, Mbui Bungale tidak dapat kembali ke kayangan. Selanjutnya ia bertemu dengan Jimuloto, setelah saling berkenalan, Jimuloto mengajaknya untuk menikah dan tinggal di bumi. Akhirnya mereka pun menikah. Mereka kemudian memutuskan untuk mencari tempat tinggal dan lahan untuk bercocok tanam. Akhirnya mereka menjumpai sebuah bukit yang mereka beri nama Hantu lo Ti'opo atau "bukit kapas". Di bukit inilah mereka mengolah tanah dan menanam aneka tanaman yang dapat dimakan. Suatu ketika Mbui Bungale mendapat kiriman dari kayangan, yaitu sesuatu yang disebut Bimelula atau mustika sebesar telur itik. Mbui Bungale mengambil Bimelula itu dan kemudian menyimpannya pada mata air Tupalo, tempat biasanya ia mandi, dan ditutupnya dengan sebuah tolu (tudung). Pada suatu hari ada empat pelancong yang berasal dari bagian Timur tersesat ke tempat itu dan menemukan mata air tersebut. Begitu melihat air yang jernih dan dingin, mereka segera berendam di sana, saat ada di air mereka melihat sebuah tolu terapung-apung di atas air. Mereka penasaran dan berusaha mengambilnya. Namun tiba-tiba terjadi badai dan angin topan di sana, hujan pun turun dengan sangat deras. Dunia menjadi gelap gulita, mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, lalu dengan sekuat tenaga mereka berusaha keluar dari sana dan mencari tempat yang aman.

  Setelah badai reda, hujan pun berhenti. Mereka kembali ke mata air untuk melihat apa yang sedang terjadi. Mereka melihat tudung itu masih terletak di menjauh dari mata air, tetapi mengintip dan ingin tahu siapa pemilik tudung itu. Tak lama kemudian datanglah Mbui Bungale dengan suaminya bermaksud menjemput Bimelula yang tertutup dengan tudung itu. Ketika Mbui Bungale mendekati tudung, ia dihadang oleh empat pelancong yang tak dikenalnya itu. Mereka kemudian berkata, "Wahai kalian berdua, siapakah kalian sebenarnya, untuk maksud apa kalian mendatangi tempat ini?" "Saya Mbui Bungale, dan ini suami saya Jilumoto, kami bermaksud menjemput mustika dalam tudung itu." jawab Mbui Bungale.

  Keempat orang itu dengan lantang menjawab, "Tidak seorangpun yang kami ijinkan menjamah tempat ini, apalagi mengambil barang-barang yang ada di sini, tempat ini adalah milik kami." Mbui Bungale balik bertanya,, "Apa buktinya bahwa tudung itu milik kalian?" "Lihatlah sepah pinang di atasnya, inilah buktinya," jawab salah seorang pelancong itu.

  Mbui Bungale hanya tersenyum dan berkata, "Jika kalian benar menguasai mata air dan tudung itu, cobalah kalian besarkan mata air ini menjadi danau. Kuingatkan kepada kalian bahwa mata air ini diturunkan oleh Yang Maha Kuasa untuk digunakan oleh manusia yang baik budi pekertinya, bukan orang-orang tamak dan rakus. Tanah ini berada dalam lindunganNya, oleh karena itu jalah dan jangan engkau cemarkan. Jika kalian benar-benar pemilik mata air ini, cobalah perluas airnya, silahkan keluarkan ilmu-ilmu kalian." Pertama kali yang memperagakan kesaktiannya adalah orang yang dianggap pemimpin dari mereka berempat. Sambil membentangkan tangannya dengan lantang ia berkata, "Oh, mata air kami! Meluaslah kalian...." demikian pemimpin rombongan itu memperagakan kesaktiannya, tapi tak terjadi apapun di tempat itu. Air tak juga meluas, angin pun tak bergerak. Mbui Bungale kembali tersenyum dan berkata dengan mereka berempat, "Ayo keluarkan kekuatan kalian, buktikan jika mata air ini milik kalian. Atau kalian telah menyerah dan mengaku kalah?" Pemimpin rombongan itu berkata dengan nafas tersengal-sengal, "Jika kamu pemilik tempat ini, maka tunjukkanlah kemampuanmu!" Mbui Bungale kemudian bersedakep dan mengarahkan tangannya ke arah mata air sambil berdoa, "Tuhanku, berikanlah aku kekuatan, Luaskan dan besarkan mata air ini, mata air para bidadari.....membesarlah.....!" Tak lama kemudian terdengar suara air bergemuruh, tanah menggelegar, perlahan- lahan mata air itu melebar dan meluas. Mbui Bungale dalam sekejap telah berada di atas pohon, sementara keempat orang itu terpana kagum melihat keajaiban itu. sebagai milik kalian?" Keempat pelancong itu minta maaf kepada Mbui Bungale dan mempersilahkannya untuk mengambil tudung mustika itu. Mbui Bungale mengambil tudung itu yang setelah dibukanya berisi sebuah telur, dan ajaib saat itu telur tersebut menetas, di dalamnya terdapat seorang bayi perempuan cantik yang konon akan menjadi Raja Limboto. Gadis itu dikenal dengan nama Tulango Hula, yang artinya cahaya bulan. Setelah itu Mbui Bungale berencana membawa bayinya pulang dan mengajak keempat pelancong itu, sejenak ia melayangkan pandangan kembali ke danau, di sana dilihatnya lima biji buah terapung-apung di air, ia mengambil dan mencium buah yang ternyata jeruk itu. Sejak saat itu danau tersebut diberi nama Bulalo Lo limu o tutu yang artinya "danau dari jeruk kayangan", dan dikenal sebagai Danau Limboto.

  

Cerita Rakyat dari Gorontalo : Asal Muasal Tapatopo, Tuladenggi dan Panthungo

Dahulu, seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Raja Tilahunga memerintah di

Kerajaan Bolango. Raja Tilahunga memiliki kegemaran berkelana ke pelosok kerajaan untuk

melihat kehidupan rakyatnya sambil mencari dan membangun lahan-lahan yang subur agar

dapat menjadi mata pencaharian bagi rakyatnya.

  Suatu saat, Raja mengajak beberapa pengawal untuk menemaninya berkelana. Karena perjalanan kali ini cukup jauh, ia meminta para pengawal untuk mempersiapkan segala macam perbekalan don peralatan.

Kemudian, rombongan itu memulai perjalanan pada pagi hari. Menjelang siang, rombongan

raja sampai di sebuah bukit yang pepohonannya tinggi dan rindang. Raja memerintahkan para pengawalnya untuk berhenti dan beristirahat.

  "Tempat ini sangat nyaman, sebaiknya! kita beristirahat sejenak di sini," kata Raja. Para pengawal segera beristirahat di bawah pohon-pohon yang rindang. Beberapa pengawal hendak menyiapkan tempat yang paling nyaman untuk Raja. Namun, raja menolaknya. Ia

ingin bisa berbaur dengan para pengawalnya sebagai teman, karena saat itu mereka bukan

berada di istana.

  Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan. Saat itu, matahari bersinar sangat terik, sehingga perjalanan terasa melelahkan don rombongan ini mulai merasakan lapar dan haus. Di sebuah padang rumput, raja memerintahkan para pengawalnya untuk berhenti. "Sebaiknya, kita berhenti dulu. Kita makan perbekalan kita," perintah raja.

Semua pengawal merasa senang. Mereka pun membuka bekal dan mulai menyantapnya.

Ketika sebagian pengawal dan Raja selesai makan dan mulai merapikan sampah bekas sisa

makanan, beberapa pengawal lain terus saja makan sekenyang-kenyangnya.

  "Lebih baik kalian jangan makan terlalu banyak, sekenyangnya saja. Ingatlah, perjalanan kita masih jauh. Jangan sampai kita kehabisan bekal." kata Raja berusaha mengingatkan pengawal-pengawalnya yang masih makan dengan lahapnya. Seorang pengawal yang bernama Denggi tampak tidak berhenti makan. Bahkan, karena terlalu rakus Ia merampas sisa bekal makanan temannya yang lain yang sengaja menyimpan sisa makanan itu. Terjadilah kegaduhan, apa lagi ternyata ia merampas makanan banyak sekali.

  Raja lalu menasihati Denggi bahwa perbuatannya itu tidak baik. Akhirnya, Denggi mau

mengakui kesalahannya dan minta maaf kepada teman-temannya. Konon, sejak saat itulah

padang rumput itu dinamakan tuladenggi, yang artinya Denggi yang rakus.

Kemudian, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sampailah rombongan kerajaan ini di

sebuah daerah di tepi Danau Limboto. Daerah itu sangat subur. Raja bermaksud membuka

lahan di sana, Ia pun memerintahkan para pengawalnya untuk mendirikan tenda-tenda dan

menyiapkan peralatan untuk membuka lahan.

  

Pengawal raja terkejut ketika mereka menemukan tangkai pegangan peralatan kerja mereka

  

"Cepat usahakan untuk memperbaiki tangkai peralatan berkebun itu," perintah Raja. Tempat

itu lalu dinamai "Panthungo, artinya tangkai pegangan alat berkebun. Mereka lalu menggarap daerah tersebut don menanaminya dengan tanaman palawija. Daerah itu kini menjadi tempat penghasil palawija dan sayur mayur yang sangat subur. Setelah lahan telah selesai digarap dan menghasilkan panen yang banyak, Raja dan

rombongannya memutuskan kembali ke kerajaan. Tujuan Raja untuk membuka lahan-lahan

subur dalam perjalanannya kali ini telah tercapai.

  

Pesan moral dari Cerita Rakyat dari Gorontalo : Asal Usul Nama Daerah adalah pemimpin

harus bersikap ad1l, arif, dan bijaksana, sehingga membawa banyak manfaat bagi orang lain.

Dokumen baru

Tags

Adat Istiadat Pernikahan Di Aceh Makalah Sejarah Tentang Marxisme Sejarah Makalah Sejarah Tentang Munculnya Supersemar Makalah Sejarah Peradaban Islam Tentang Makalah Tentang Sejarah Hukum Acara Makalah Sejarah Tentang Marxisme Hukum Makalah Tentang Sejarah Candi Ti Faktor Sosial Budaya Dan Adat Istiadat Analisis Perbedaan Adat Istiadat Dan Kar Adat Istiadat Dan Kebiasaan Jawa Barat
Show more