BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Laporan Keuangan a. Pengertian Laporan Keuangan - 222014117 BAB II SAMPAI BAB TERAKHIR

Gratis

0
1
64
4 months ago
Preview
Full text

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori

1. Laporan Keuangan a. Pengertian Laporan Keuangan

  Menurut Suwardjono (2014: 1) menyatakan, bahwa laporan keuangan adalah struktur dan proses yang menggambarkan bagaimana informasi keuangan disediakan dan dilaporkan untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan yang pada gilirannya akan membantu pencapaian tujuan ekonomik dan sosial negara.

  Hery (2016: 3) menyatakan, bahwa laporan keuangan (financial

  statement ) merupakan produk akhir dari serangkaian proses pencatatan dan

  pengikhtisaran data transaksi bisnis. Seorang akuntan diharapkan mampu untuk mengorganisir seeluruh data akuntansi hingga laporan keuangan dan bahkan harus dapat menginterprestasikan serta menganalisis laporan keuangan yang dibuatnya.

  Irham (2014: 31) menyatakan, bahwa laporan keuangan merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan, dan lebih jauh informasi tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran kinerja keuangan perusahaan tersebut. kinerja keuangan yang bertujuan memberikan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam perusahaan tersebut.

b. Tujuan Laporan Keuangan

  Memahami latar belakang penyusunan dan penyajian laporan keuangan merupakan langkah yang sangat penting sebelum menganalisa laporan keuangan tersebut, bahkan mengetahui tujuan daripada laporan keuangan tersebut menjadi proses yang sangat penting. Adapun tujuan dari laporan keuangan itu menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) melalui PSAK No.1 (Sofyan, 2011: 125) adalah: 1)

  Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. 2)

  Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.

  3) Untuk menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen

  (stewardship) atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi.

  Sofyan (2011: 70) menyatakan, tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

  Hery (2017: 68) menyatakan, bahwa tujuan laporan keuangan adalah: 1)

  Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber daya ekonomi dan kewajiban perusahaan.

  2) Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba.

  3) Memungkinkan untuk menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.

  4) Memberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan aset dan kewajiban.

  5) Mengungkapkan informasi yang relevan lainnya yang dibutuhkan oleh para pemakai laporan.

  Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu

c. Pemakai Laporan Keuangan

  Setelah data transaksi dicatat ke dalam jurnal dan diposting ke dalam buku besar (ledger), laporan akuntansi disiapkan untuk memberikan informasi yang berguna bagi para pemakai laporan (users), terutama sebagai dasar pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan kelak.

  Informasi akuntansi yang dibutuhkan oleh para pengguna laporan keuangan sangat berbeda-beda (bervariasi) tergantung pada jenis keputusan yang hendak diambil. Menurut Hery (2016: 2) menyatakan, bahwa para pengguna informasi akuntansi ini dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu pemakai internal (internal users) dan pemakai eksternal (external users ).

  Termasuk dalam kategori pemakai internal, antara lain: 1) Direktur dan Manajer Keuangan

  Untuk menentukan mampu tidaknya perusahaan dalam melunasi utangnya secara tepat waktu kepada kreditor (bankir, supplier) maka mereka membutuhkan informasi akuntansi mengenai besarnya uang kas yang tersedia di perusahaan pada saat menjelang jatuh temponya pinjaman/utang. 2) Direktur Operasional dan Manajer Pemasaran

  Untuk menentukan efektif tidaknya saluran distribusi produk maupun aktivitas pemasaran yang telah dilakukan perusahaan maka mereka

  3) Manajer dan Supervisor Produksi Mereka membutuhkan informasi akuntansi biaya untuk menentukan besarnya harga pokok produksi, yang pada akhirnya juga sebagai dasar untuk menetapkan harga jual produk per unit.

  Termasuk dalam kategori pemaki eksternal, antara lain: 1) Investor (penanam modal)

  Informasi akuntansi investee (penerima modal) untuk mengambil keputusan dalam hal membeli atau melepas saham investasinya. Hal ini, investor perlu secara cermat dan hati-hati dalam menanggapi setiap perkembangan kondisi kesehatan keuangan investee.

  2) Kreditor Informasi akuntansi debitor untuk mengevaluasi besarnya tingkat risiko dari pemberian kredit atau pinjaman uang.

  3) Pemerintah Laporan keuangan perusahaan (wajib pajak) dalam hal perhitungan dan penetapan besarnya pajak penghasilan yang harus disetor ke kas negara.

  4) Badan Pengawas Pasar Modal Mewajibkan emiten untuk melampirkan laporan keuangan secara rutin kepada BAPEPAM. Hal ini, pihak BAPEPAM sangat berkepentingan terhadap kinerja keuangan emiten dengan tujuan melindungi para investor.

  5) Ekonom, Praktis, dan Analis Informasi akuntansi untuk memprediksi situasi perekonomian, menentukan besarnya tingkat inflasi, pertumbuhan pendapatan nasional, dan lain sebagainya.

d. Jenis-jenis Laporan Keuangan

  Menurut PSAK No.1 disebutkan tentang penyajian laporan keuangan yang terdiri dari struktur laporan keuangan, dan persyaratan isi laporan keuangan. Jenis-jenis laporan keuangan terdiri atas: 1)

  Laporan Posisi Keuangan Kemampuan perusahaan untuk membayar hutang tepat waktu dan bagaimana kemampuannya dalam menghasilkan modal akan ditampilkan di laporan posisi keuangan. Terdapat tiga elemen yang ada di dalam laporan posisi keuangan seperti aset, liabilitas, dan ekuitas. Aset merupakan sumber daya yang dimiliki perusahaan yang diasumsikan dapat memberikan keuntungan ekonomi di masa depan.

  2) Laporan Laba Rugi

  Terdapat dua komponen dalam laporan laba rugi yaitu, pemasukan dan pengeluaran. Pemasukan merupakan jumlah dari apa yang dihasilkan oleh perusahaan selama periode tertentu. Misalnya penjualan, penerimaan dividen, dan lainnya. Pengeluaran merupakan jumlah yang

  3) Laporan Perubahan Ekuitas

  Laporan perubahan ekuitas memberikan gambaran mengenai besarnya saldo modal perusahaan yang dipengaruhi laba dan rugi pada suatu periode tertentu. Laporan perubahan ekuitas menunjukkan perubahan yang timbul dari jumlah total laba rugi dan pendapatan. Disamping itu, perusahaan juga perlu menyajikan jumlah dividen yang diatribusikan kepada pemilik saham serta nilainya per saham.

  4) Laporan Arus Kas

  Laporan arus kas merupakan perputaran kas yang dibagi kedalam tiga kategori yaitu arus kas operasi, arus kas investasi, dan arus kas pendanaan. Laporan arus kas memberikan dasar pengguna laporan keuangan untuk menilai bagaimana kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas. 5)

  Catatan atas Laporan Keuangan Catatan atas laporan keuangan menyajikan penjelasan dari laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan perubahan modal dan laporan arus kas perusahaan serta informasi yang berubungan dengan kegiatan operasional perusahaan.

e. PenyajianLaporan Keuangan

  Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.1 (2018) menyatakan,

  1) Laporan Posisi Keuangan Informasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan mencakup penyajian jumlah pos-pos, sebagai berikut: (a)

  Aset tetap (b) Properti investasi (c)

  Aset tak berwujud (d) Aset keuangan (e)

  Investasi yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas (f)

  Persediaan (g) Piutang dagang dan piutang lain (h) Kas dan setara kas (i)

  Total aset (j)

  Utang dagang dan utang lain (k) Provisi (l)

  Liabilitas keuangan (m)

  Liabilitas dan aset untuk pajak kini sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46: Pajak Penghasilan

  (n) Liabilitas dan aset pajak tangguhan (o) Liabilitas yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifisikan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58 (p) Kepentingan non pengendali, disajikan sebagai bagian dari ekuitas

  2) Laporan laba rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain Laporan laba rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain menyajikan, sebagai tambahan atas bagian laba rugi dan penghasilan komprehensif lain: (a)

  Laba rugi (b)

  Total penghasilan komprehensif lain (c)

  Penghasilan komprehensif untuk periode berjalan, yaitu total labarugi dan penghasilan komprehensif lain.

  3) Laporan perubahan ekuitas Informasi yang disajikan dalam laporan perubahan ekuitas, sebagai berikut: (a)

  Total penghasilan komprehensif selama periode berjalan, yang menunjukkan secara tersendiri jumlah total yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan non pengendali

  (b) Untuk setiap komponen ekuitas, dampak penerapan retrospektif atau penyajian kembali secara retrospektifsesuai dengan PSAK 25

  (c) Untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat pada awal dan akhir periode.

  4) Laporan arus kas

  5) Catatan atas Laporan Keuangan (a) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi spesifik (b) Mengungkapkan informasi yang disyaratkan oleh SAK yang tidak disajikan di bagian manapun dalam laporan keuangan (c) Menyediakan informasi yang tidak disajikan di bagian manapun dalam laporan keuangan, tetapi informasi tersebut relevan untuk memahami laporan keuangan.

2. Laporan Arus Kas

a. Pengertian Kas dan Setara Kas

  Menurut Sofyan (2011: 259) maksud kas dalam laporan ini adalah kas yang bersifat jangka pendek, dan surat-surat berharga yang sangat lancar yang memenuhi syarat: 1) Setiap saat dapat ditukar menjadi kas 2) Tanggal jatuh temponya sangat dekat, kecil risiko perubahan nilai yang disebabkan perubahan terhadap bunga (investasi yang jatuh tempo maksimal tiga bulan.

  Selain kas, dalam laporan arus kas juga dinyatakan tentang setara kas. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam PSAK No.2, kas terdiri dari saldo kas, rekening giro, aset setara kas, investasi yang sangat jangka pendek bukan untuk dimaksudkan ke dalam investasi atau tujuan lain. Pos ini harus segera dapat diubah menjadi kas dalam jumlah yang telah diketahui tanpa perubahan nilai yang signifikan. Misalnya investasi surat berharga (saham/obligasi) yang akan segera dijual.

  Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa kas merupakan pos aktiva dalam neraca yang paling likuid, maksunya dapat dengan digunakan sebagai alat pertukaran dan menunjukkan daya beli secara umum, dimana dalam berbagai bentuk dinyatakan dengan nilai sekarang yang jelas dan dapat ditetapkan.

b. Pengertian Laporan Arus Kas

  Cara untuk mengetahui arus kas masuk dan arus kas keluar dapat dilihat dari laporan arus kas suatu perusahaan. Menurut Hery (2017: 215) menyatakan, bahwa laporan arus kas dalam laporan yang melaporkan arus kas masuk maupun arus kas keluar perusahaan selama periode yang memberikan inormasi yang berguna mengenai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dari aktivitas operasi, melakukan investasi, melunasi kewajiban dan membayar deviden.

  Sofyan (2011:258) menyatakan, bahwa laporan arus kas adalah laporan yang menyatakan fakta dalam indikator akuntansi keuangan tanpa harus ada taksiran atau pertimbangan subjektif dari akuntansi pada suatu

  Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa laporan arus kas merupakan laporan keuangan yang disajikan perusahaan.

  Laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih satu perusahaan, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan perusahaan mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam rangka adaptasi perubahan kondisi dan peluang.

c. Tujuan Laporan Arus Kas

  Laporan arus kas dalam suatu perusahaan disajikan dengan tujuan untuk menyediakan informasi keuangan bagi pihak yang berkepentingan seperti manajemen, kreditur, dan investor khususnya informasi mengenai kas perusahaan pada periode tertentu. Informasi kas tersebut berupa arus kas masuk dan arus kas keluar serta kas bersih atau selisih antara arus kas masuk dan arus kas keluar dalam beberapa aktivitas perusahaan, seperti aktivitas operasi perusahaan, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan.

  Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam PSAK No. 2 (Sofyan, 2011: 259) menyatakan tujuan laporan arus kas adalah: 1)

  Informasi tentang arus kas suatu perusahaan, berguna bagi para pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan menilai kebutuhan

  2) Informasi yang disediakan dalam daftar arus kas berkaitan dengan laporan keuangan sehingga dapat membantu para pemakai laporan keuangan dalam hal berikut ini:

  a) Menentukan kemampuan perusahaan dalam hal menghasilkan arus kas yang positif di masa depan.

  b) Mengetahui alasan perbedaan antara laba bersih dengan penerimaan dan pembayaran kas.

  c) Menentukan pengaruh terhadap posisi keuangan perusahaan, baik transaksi kasnya maupun transaksi investasi non kas dan transaksi pembiayaan selama periode tertentu.

  d) Untuk mengevaluasi kebutuhan manajemen.

d. Pengelompokan dalam Laporan Arus Kas

  Menurut Sofyan (2011: 260) laporan ini penerimaan dan pengeluaran kas dikelompokkan dari sumber sebagai berikut:

1) Arus Kas dari Kegiatan Operasi

  Kegiatan yang termasuk dalam kelompok ini adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan, seluruh transaksi dan peristiwa-peristiwa lain yang tidak dapat dianggap sebagai kegiatan investasi atau pembiayaan. Kegiatan ini biasanya mencakup kegiatan umumnya adalah pengaruh kas dari transaksi dan peristiwa lainnya yang ikut dalam menentukan laba.

  Contoh arus kas masuk dari kegiatan operasi adalah sebagai berikut:

  a) Penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa termasuk penerimaan dari piutang akibat penjualan, baik jangka panjang atau jangka pendek.

  b) Penerimaan dari bunga pinjaman atas penerimaan dari surat berharga lainnya seperti bunga atau dividen.

  c) Semua penerimaan yang bukan berasal dari sebagian yang sudah dimasukkan dalam kelompok investasi pembiayaan, seperti jumlah uang yang diterima dari tuntutan di pengadilan, klaim asuransi, kecuali yang berhubungan dengan kegiatan investasi dan pembiayaan seperti kerusakan gedung, pengembalian dana dari supplier (refund).

  Contoh arus kas keluar dari kegiatan operasi adalah sebagai berikut:

  a) Pembayaran kas untuk membeli bahan yang akan digunakan untuk produksi atau untuk dijual, termasuk pembayaran utang jangka pendek atau jangka panjang kepada supplier barang tadi.

  b) Pembayaran kas kepada supplier lain dan pegawai untuk kegitan selain barang dan jasa.

  c) Pembayaran kas kepada pemerintah untuk pajak, kewajiban lainnya, denda, dan lain-lain. e) Seluruh pembayaran kas yang tidak berasal dari transaksi investasi atau pembiayaan seperti pembayaran tuntutan di pengadilan, pengembalian dana kepada langganan, dan sumbangan.

2) Arus Kas dari Kegitan Pembiayaan/Pendanaan

  Kegiatan yang termasuk kegiatan pembiayaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman jangka panjang perusahaan, berupa kegiatan mendapatkan sumber-sumber dana dari pemilik dengan memberikan prospek penghasilan dari sumber dana tersebut, meminjam dan membayar utang kembali atau melakukan pinjaman jangka panjang untuk membayar utang tertentu.

  Contoh arus kas masuk dari kegiatan pembiayaan adalah sebagai berikut: a) Penerimaan dan pengeluaran surat berharga dalam bentuk ekuitas.

  b) Penerimaan dan pengeluaran obligasi, hipotek, wesel, dan pinjaman jangka pendek lainnya.

  Contoh arus kas keluar dari kegiatan pembiyaan adalah sebagai berikut: a) Pembayaran dividen dan pembayaran bunga kepada pemilik akibat adanya surat berharga saham (equity) tadi. c) Pembayaran utang kepada kreditor termasuk utang yang sudah diperpanjang.

3) Arus Kas dari Kegiatan Investasi

  Kegiatan yang termasuk dalam arus kas kegiatan investasi adalah perolehan dan pelepasan aktiva jangka panjang baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas, antara lain menerima dan menagih pinjaman, utang, surat berharga, atau modal, aktiva tetap dan aktiva produktif lainnya yang digunakan dalam proses produksi.

  Contoh arus kas masuk dari kegiatan investasi adalah sebagai berikut: a) Penerimaan pinjaman luar baik yang baru maupun yang sudah lama.

  b) Penjualan saham baik saham sendiri maupun saham dalam bentuk investasi.

  c) Penerimaan dari penjualan aktiva tetap dan aktiva produktif dan tidak berwujud lainnya.

  Contoh arus kas keluar dari kegiatan investasi adalah sebagai berikut: a) Pembayaran utang perusahaan dan pembelian kembali surat utang perusahaan. c) Perolehan aktiva tetap dan aktiva produktif lainnya. Pengertian perolehan disini termasuk harga pembelian dan capital expenditure.

e. Isi dan Bentuk Laporan Arus Kas

  Penyusunan Laporan Aru Kas dalam PSAK No. 2 yang dapat dipergunakan perusahaan terdapat dua metode untuk menyajikan laporan arus kas yaitu metode langsung dan metode tidak langung. Kedua metode tersebut mendatangkan jumlah sub-total yang sama untuk kegiatan operasi, kegiatan investasi, kegitan pembelajaan, dan arus kas bersih selama periode tertentu. Metode tersebut berbeda hanya dalam cara menunjukkan arus kas dari kegiatan operasi. Metode langsung menggolongkan berbagai kategori utama dari kegiatan operasi. Sistem akuntansi perusahaan dirancang untuk akuntansi dengan dasar akrual dan bukannya untuk akuntansi dengan dasar kas.

  Sofyan (2011: 261) menyatakan, bahwa bentuk laporan arus kas terbagi menjadi 2, yaitu: 1)

  Direct Method (Metode Langsung) Dalam metode ini pelaporan arus kas dilakukan dengan cara melaporkan kelompok-kelompok penerimaan kas dan pengeluaran kas dari kegiatan operasi secara lengkap (gross), dan baru dilanjutkan dengan kegiatan investasi dan pembiayaan.

  Dalam metode ini net incomedisesuaikan dengan menghitung, sebagai berikut: a)

  Pengaruh transaksi yang masih belum direalisasi dari arus kas masuk dan arus kas keluar dari transaksi yamg lalu.

  b) Pengaruh perkiraan yang terdapat dalam kelompok investasi dan pembiayaan yang tidak mempengaruhi kas.

  Penyusunan laporan dengan menggunakan metode tidak langsung diawali dengan laba bersih tersebut sehingga diperoleh arus kas dari aktivitas operasi. Metode langsung lebih mudah untuk dimengerti, dan memberikan informasi yang lebih banyak untuk mengambil keputusan.

  Dengan memahami bagaimana cara mendapatkan arus kas dengan menggunakan metode langsung, anda akan mempelajari suatu hal yang penting, yaitu bagaimana cara menentukan pengaruh kas dari setiap transaksi usaha. Hal ini merupakan keahlian yang penting yang dapat dipergunakan dalam menganalisis laporan keuangan, karena dalam akuntansi yang disusun dengan dasar akrual, pengaruh transaksi terhadap kas sering tersembunyi. Lalu, setelah memiliki dasar yang cukup kuat dalam analisis arus kas, akan lebih mudah bagi untuk memahami metode tidak langsung.

  Berdasarkan perbedaan penggunaan kedua metode ini bukan bertujuan untuk memanipulasi data keuangan dari perusahaan, melainkan masing. Metode tidak langsung lebih banyak digunakan oleh perusahaan, karena lebih mudah diterapkan dan juga lebih mudah merekonsiliasikan perbedaan antara laba bersih dan arus kas bersih yang dihasilkan oleh aktivitas operasi. Sedangkan metode langsung lebih banyak digunakan oleh para pemakai laporan keuangan terutama para bankir yang akan memberikan pinjaman karena lebih mencerminkan pemasukan dan pengeluaran kas secara langsung. Pemilihan metode langsung dan metode tidak langsung ini hanya mempengaruhi kepada aktivitas operasi saja.

3. Kinerja Keuangan

  Kinerja keuangan melihat pada laporan keuangan yang dimiliki oleh perusahaan yang bersangkutan dan itu tercermin dari informasi yang diperoleh dari laporan posisi keuangan, laba komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

a. Pengertian Kinerja Keuangan

  Irham (2014: 2) menyatakan, bahwa kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Membuat suatu laporan keuangan yang telah memenuhi standar ketentuan dalam SAK (Standar Akuntansi Keuangan) atau GAAP (Generally Accepted Accounting Principle) dan lainnya.

b. Pengukuran dan Analisis Kinerja Keuangan

  Hery (2016: 25) menyatakan, bahwa pengukuran kinerja keuangan dilakukan bersamaan dengan proses analisis. Analisis kinerja keuangan merupakan suatu proses pengkajian kinerja keuangan secara kritis, yang meliputi peninjauan data keuangan, perhitungan, pengukuran, interprestasi, dan pemberian solusi terhadap masalah keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu. Kinerja keuangan dapat dinilai dengan menggunakan beberapa alat analisis. Berdasarkan tekniknya, analisis kinerja keuangan dapat dibedakan menjadi 9 macam, yaitu: 1) Analisis Perbandingan Laporan Keuangan, merupakan teknik analisis dengan cara membandingkan laporan keuangan dari dua periode atau lebih untuk menunjukkan perubahan dalam jumlah (absolut) maupun dalam persentase (relatif).

  2) Analisis Tren, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui tendensi keadaan keuangan dan kinerja perusahaan, apakah menunjukkan kenaikan atau penurunan. 3) Analisis Persentase per Komponen (common size), merupakan teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui persentase masing-masing komponen aset terhadap total aset, persentase masing-masing komponen utang dan modal terhadap total passiva (total aset), persentase masing-masing komponen laporan laba rugi terhadap

  4) Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui besarnya sumber dan penggunaan modal kerja selama dua periode waktu yang dibandingkan. 5) Analisis Sumber dan Penggunaan Kas, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui kondisi kas dan perubahan kas pada suatu periode waktu tertentu. 6) Analisis Rasio Keuangan, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan di antara pos tertentu dalam neraca maupun laporan laba rugi. 7) Analisis Perubahan Laba Kotor, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui posisi laba kotor dari satu periode ke periode berikutnya, serta sebab-sebab terjadinya perubahan laba kotor tersebut.

  8) Analisis Titik Impas, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui tingkat penjualan yang harus dicapai agar perusahaan tidak mengalami kerugian. 9) Analisis Kredit, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk menilai layak tidaknya suatu permohonan kredit debitor kepada kreditor, seperti bank.

  

4. Analisis RasioArus Kas Operasi Untuk Mengukur Kinerja Keuangan

Perbankan

  Laporan arus kas dapat mempertinggi kemampuan untuk mengevaluasi prestasi dan kesehatan keuangan perusahaan karena laporan ini menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kualitas laba, sumber-sumber kas dari operasi, bagaimana pembayaran kembali hutang dilakukan dan ketergantungan pada pembiayaan dari luar. Format laporan arus kas dibagi atas sumber dan penggunaannya. Sumber kas terdiri dari atas sumber-sumber dari operasi (source fromoperation), sumber-sumber pembiayaan (source from

  ), dan sumber-sumber lainnya (source from of cash)sesuai dengan

  financial

  FASB No. 95, sumber dan penggunaan kas secara luas mencakup kas dan setara kas.

  Sumber dari operasi merupakan unsur utama dari laporan tersebut untuk mempertegas pentingnya laba bersih perusahaan sebagai sumber utama arus kas jangka panjang. Sumber dari operasi dibagi atas penyesuaian transional seperti penyusutan, pajak, amortisasi goodwill dan transaksi nonkas lainnya, serta sumber lain dari operasi yang mencakup penjualan dan perlengkapan atau pengurangan dalam persediaan, piutang, dan pos-pos yang dibayar dimuka. Setiap kenaikan dalam hutang dagang dan unsur hutang jangka pendek lainnya dimasukkan pada bagian pembiayaan.

  Sumber-sumber dari pembiayaan dilakukan perbedaan antara unsur- lancar dalam neraca. Sumber-sumber lainnya memisahkan sumber-sumber arus kas yang berasal dari luar kegiatan operasi normal perusahaan dan meliputi klasifikasi akuntansi seperti pos-pos luar biasa, operasi yang tidak kontinyu, penjualan surat berharga jangka panjang. Penggunaan dalam operasi meliputi misalkan kenaikan dalam persediaan piutang dan pembelian dalam perlengkapan. Penggunaan sumber pembiayaan juga dipisahkan menjadi pembiayaan lancar dan tidak lancar. Hery (2017: 246) menyatakan, bahwa data laporan arus kas dapat digunakan untuk menghitung rasio tertentu yang menggambarkan kekuatan keuangan perusahaan. Analisis laporan arus kas ini menggunakan komponen laporan arus kas dan juga komponen neraca serta laporan laba rugi sebagai alat analisis rasio. Rasio laporan arus kas dimaksud terdiri atas:

a. Rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar

  Rasio ini menunjukkan kemampuan arus kas operasi perusahaan dalam melunasi kewajiban lancarnya. Rasio ini dihitung sebagai hasil bagi antara arus kas operasi dengan total kewajiban lancar. Rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar =

  Perusahaan yang memiliki rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar di bawah 1 berarti bahwa perusahaan tersebut tidak mampu melunasi kewajiban lancarnya dengan menggunakan arus kas operasi saja.

  b. Rasio arus kas operasi terhadap bunga

  Karena pembayaran bunga harus dilakukan dengan menggunakan kas, maka diperlukan suatu rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar bunga pinjaman kepada kreditor, yang di mana dananya bersumber dari arus kas operasi perusahaan. Rasio yang dimaksud adalah rasio arus kas operasi terhadap bunga. Rasio ini dihitung sebagai hasil bagi antara arus kas operasi ditambah kas yang dibayarkan untuk bunga dan pajak dengan kas dibayarkan untuk bunga. Rasio arus kas operasi terhadap bunga =

  Arus kas operasi sebelum bunga dan pajak (Arus Kas Operasi + Bunga + Pajak) digunakan sebagai unsur pembilang dalam rumus di atas karena bunga dibayar dari arus kas operasi sebelum pengurangan pajak dilakukan. Rasio yang tinggi menunjukkan bahwa arus kas operasi perusahaan memiliki kemampuan yang baik untuk menutup biaya bunga sehingga kemungkinan perusahaan untuk tidak mampu membayar bunga menjadi sangat kecil.

  c. Rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal

  Rasio ini digunakan untuk mengukur arus kas operasi yang tersedia arus kas operasi dengan kas yang dibayarkan untuk pengeluaran modal, seperti pembelian aset tetap, akuisisi bisnis, dan aktivitas investasi lainnya.

  Rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal = Rasio yang tinggi menunjukkan kemampuan yang tinggi pula dari arus kas operasi perusahaan dalam membiayai pengeluaran modal

  (pembelian tambahan aset tetap, melakukan investasi, ataupun akuisisi). Rasio yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan harus mencari pendanaan eksternal (seperti melalui pinjaman dari kreditor atau pun tambahan dana dari investor) untuk membiayai ekspansi atau perluasan usahanya.

d. Rasio arus kas operasi terhadap total utang

  Rasio yang menunjukkan kemampuan arus kas operasi perusahaan dalam melunasi seluruh kewajibannya, baik kewajiban lancar maupun kewajiban jangka panjang. Rasio ini dihitung sebagai hasil bagi antara arus kas operasi dengan total utang.

  Rasio arus kas operasi terhadap total utang = Rasio yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan yang kurang baik dalam membayar semua kewajibannya

e. Rasio arus kas operasi terhadap laba bersih

  Rasio arus kas operasi terhadap laba bersih menunjukkan seberapa jauh penyesuaian dan asumsi akuntansi akrual mempengaruhi perhitungan laba bersih. Rasio ini dihitung sebagai hasil bagi antara arus kas operasi dengan laba bersih.

  Rasio aru kas operasi terhadap laba bersih

  =

  Umumnya, rasio arus kas operasi terhadap laba bersih memiliki nilai di atas 1 karena adanya non cash expenses (beban-beban yang tidak memerlukan pengeluaran kas), seperti beban penyusutan, beban amortisasi, dan beban piutang tak tertagih yang sifatnya mengurangi laba bersih namun tidak berdampak terhadap arus kas operasi. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan perusahaan semakin baik, meskipun dengan jumlah laba bersih yang kecil sebagai akibat besarnya beban non kas.

B. Penelitian Sebelumnya

  Penelitian yang dilakukan oleh Sri Mulyani (2013) dengan judul Analisis Rasio Arus Kas Sebagai Alat Pengukur Kinerja Keuangan Perusahaan. STIE Pariwisata Semarang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Persamaan dengan penelitian ini sama-sama efektivitas organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Analisis kinerja keuangan khususnya dengan menggunakan laporan arus kas perusahaan agar dapat membantu dalam pengambilan keputusan atau penyusunan kebijakan untuk masa yang akan datang demi terciptanya peningkatan hasil dari kinerja keuangan perusahaan.

  Penelitian yang dilakukan oleh Rando Riski (2016) dengan judul Analisis Arus Kas Bersih Operasi Sebagai Alat Pengukur Kinerja Keuangan Pada Industri Rokok di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2012-2015. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan menilai kinerja keuangan berdasarkan analisis rasio arus kas pada PT. PLN (Persero) Suluttenggo. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Persamaan dengan penelitian ini sama-sama menggunakan rasio arus kas operasi. Perbedaannya terletak pada lokasi penelitian pada industri rokokdi Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ke empat perusahaan industri rokok yang terdaftar di BEI, perusahaan PT. Hanjaya Mandala Sampoerna yang mempunyai kinerja keuangan yang baik untuk tahun 2012 hingga tahun 2014 dilihat dari hasil ke lima rasio yang ada adalah rasio arus kas operasi, rasio cakupan kas terhadap bunga, rasio pengeluaran modal, rasio total utang dan rasio arus kas terhadap laba bersih mempunyai nilai rasio yang lebih tinggi dibandingkan dengan ke tiga perusahaan sesama industri. Selama tahun 2015 PT. Wismilak Inti Makmur mempunyai kinerja yang baik dilihat dari nilai tiap rasio lebih tinggi dari ke empat perusahaan, perusahaan industri rokok adalah PT. Bentoel Internasional Investama di akibatkan nilai arus kas operasi perusahaan.

  Penelitian yang dilakukan oleh Megi Warongan (2014) dengan judul Analisis Rasio Arus Kas Dalam Menilai Kinerja Keuangan Pada PT. PLN (Persero) Suluttenggo. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan menilai kinerja keuangan berdasarkan analisis rasio arus kas pada PT. PLN (Persero) Suluttenggo. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Persamaan dengan penelitian ini sama-sama menggunakan rasio arus kas operasi. Perbedaannya terletak pada lokasi penelitian pada PT. PLN (Persero) Suluttenggo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio arus kas operasi yang telah dilakukan pada PT. PLN (Persero) wilayah Suluttenggo selama tahun 2014-2016, maka diperoleh hasil adalah rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar dapat dikatakan perusahaan tidak mampu melunasi kewajiban lancarnya hanya dengan menggunakan arus kas operasi. Rasio arus kas operasi terhadap bunga menunjukkan PT. PLN (Persero) wilayah Suluttenggo tidak harus menjual aktiva, karena arus kas dalam aktivitas operasi yang teredia mampu membayar biaya bunga. Rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal menunjukkanPT. PLN (Persero) wilayah Suluttenggo memiliki kemampuan cukup baik dalam membiayai pengeluaran modal. Rasio arus kas operasi terhadap total utang menunjukkanPT. PLN (Persero) wilayah Suluttenggo tidak memiliki kemampuan yang baik dalam membayar semua dapat dikatakan semakin baik, karena selama tahun 2014-2016 memiliki rasio arus kas operasi terhadap laba bersih yang berada diatas satu walaupun menurun setiap tahunnya.

  Berdasarkan penelitian-penelitian yang sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut:

  

Tabel II.1

Persamaan dan Perbedaan

  N o Judul, Nama Peneliti, Tahun Persamaan Perbedaan

  1. Analisis Rasio Arus Kas Sebagai Alat Pengukur Kinerja Keuangan Perusahaan. STIE Pariwisata Semarang. Sri Mulyani. 2013

  Mengukur kinerja perusahaan dengan menganalisis rasio arus kas operasi

  Menggunakan rumus menurut Tulasi (2006) rasio arus kas terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu:

  1. Efficiency ratio

  2. Suffiency ratio

  2. Analisis Arus Kas Bersih Operasi Sebagai Alat Pengukur Kinerja Keuangan Pada Industri Rokok di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2012-2015. Rando Riski. 2016

  Mengukur kinerja perusahaan dengan menganalisis rasio arus kas operasi

  Bedanya terletak pada lokasi penelitian yaitu Pada Industri Rokok di Bursa Efek Indonesia

  3. Analisis Rasio Arus Kas Dalam Menilai Kinerja Keuangan Pada PT. PLN (Persero) Suluttenggo. Megi Warongan. 2014

  Mengukur kinerja perusahaan dengan menganalisis rasio arus kas operasi

  Bedanya terletak pada lokasi penelitian yaitu PT. PLN (Persero) Suluttenggo

  Sumber: Peneliti, 2018

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Menurut Sugiyono (2016: 53-55) menyatakan, bahwa jenis-jenis penelitian

  dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tujuan, metode tingkat eksplansi, analisis dan jenis data, yaitu:

  1. Penelitian Deskriptif Penelitian Deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih independen tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain.

  2. Penelitian Komparatif Penelitian Komparatif adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan, disini variabelnya masih sama dengan penelitian variabel mandiri tetapi untuk sampel yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda.

  3. Penelitian Asosiatif Penelitian Asosiatif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini mempunyai tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian deskriptif dan komparatif. Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala. dengan cara mengumpulkan, mencatat, mengklarifikasikan dan menganalisis data yang dikumpulkan secara akurat sehingga dapat dianalisis sesuai pokok pembahasan.

  B. Lokasi Penelitian

  Peneliti memperoleh data yang diperoleh guna terwujudnya penulisan penelitian ini melalui situs website www.idx.co.id.

  C. Operasionalisasi Variabel

  Operasionalisasi Variabel yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:

  

Tabel III.1

Operasionalisasi Variabel

Variabel Penelitian Sub Variabel Definisi Indikator

  Rasio Arus Kas OperasiUnt uk Mengukur Kinerja Keuangan

  Rasio Arus Kas Operasi terhadap Kewajiban Lancar

  Rasio ini menunjukkan kemampuan arus kas operasi perusahaan dalam melunasi kewajiban lancarnya.

  • Arus Kas Operasi -Kewajiban

  Lancar Rasio Arus Kas Operasi Terhadap Bunga

  Bunga harus dilakukan dengan menggunakan kas, maka diperlukan suatu rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar bunga pinjaman kepada kreditor, yang di mana dananya bersumber dari arus kas operasi perusahaan.

  • Arus Kas Operasi - Pajak - Bunga Rasio Arus Kas Operasi terhadap Pengeluaran Modal Rasio ini digunakan untuk mengukur arus kas operasi yang tersedia untuk pengeluaran investasi.
  • Arus Kas Operasi -Pengeluaran

  Modal Rasio Arus Kas Operasi terhadap Total Utang

  Rasio yang menunjukkan kemampuan arus kas operasi perusahaan dalam melunasi seluruh kewajibannya, baik kewajiban lancar maupun kewajiban jangka panjang.

  • Arus Kas Operasi -Total Utang Rasio Arus Kas Operasi terhadap Laba Bersih Rasio arus kas operasi terhadap laba bersih menunjukkan seberapa jauh penyesuaian dan asumsi akuntansi akrual mempengaruhi perhitungan laba bersih.
  • Arus Kas Operasi - Laba Bersih

D. Populasi dan Sampel

  1. Populasi

  Menurut V. Wiratna (2014: 65) menyatakan, bahwa populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti dan ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah perbankan swasta nasional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2017. Perusahaan perbankan swasta nasional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia berjumlah 35 bank.

  2. Sampel

  Menurut V. Wiratna (2014: 65) menyatakan bahwa, sampel adalah bagian dari sejumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang digunakan untuk penelitian. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah

  . Adapun kriteria pengambilan sampel dalam penelitian ini

  purposive sampling

  adalah sebagai berikut:

  1. Perbankan Swasta Nasional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017.

  2. Perbankan Swasta Nasional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia secara tidak konsisten mempublikasikan laporan keuangan lengkap periode 2013- 2017.

  3. Perbankan Swasta Nasional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia secara tidak konsisten mempublikasikan laporan keuangan secara terus menerus dari periode 2013-2017.

  4. Perbankan Swasta Nasional yang tidak memiliki laba bersih selama periode berjalan.

  Tabel III.2 Hasil Seleksi Sampel KETERANGAN JUMLAH

  Perbankan Swasta Nasional yang terdaftar di Bursa Efek

  35 Indonesia periode 2013-2017 Perbankan Swasta Nasional yang terdaftar di Bursa Efek (10) IndonesiaIndonesia secara tidak konsisten mempublikasikan laporan keuangan lengkap periode 2013-2017 Perbankan Swasta Nasional yang terdaftar di Bursa Efek (10) Indonesia Indonesia secara tidak konsisten mempublikasikan laporan keuangan secara terus menerus dari periode 2013-2017 Perbankan Swasta Nasional yang tidak memiliki laba bersih (10) selama periode berjalan Total observasi (data) selama 5 tahun periode penelitian

  5 Sumber: www.idx.co.id, 2018 Berdasarkan kriteria pengolahan data tersebut maka peneliti memperoleh sampel penelitian adalah sebanyak 5 perusahaan perbankan swasta nasional selama periode 2013-2017.

  Tabel III.3 Sampel Penelitian No. Kode Perusahaan Nama Perusahaan

  1 BBKP Bank Bukopin, Tbk

  2 BNGA Bank CIMB Niaga, Tbk

  3 BDMN Bank Danamon Indonesia, Tbk

  4 MEGA Bank Mega, Tbk

  E. Data yang Diperlukan

  Menurut Suliyanto (2016:131) jenis data dibagi menjadi 2 yaitu data primer dan data skunder:

  1. Data Primer Data yamg diperoleh langsung dari responden atau data yang terjadi di lapangan penelitian.

  2. Data Sekunder Data yang telah ada dari pihak lain dan disajikan oleh pihak pengumpul data atau orang lain.

  Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada.

  F. Metode Pengumpulan Data

  Menurut Sugiyono (2016: 137) menyatakan, bahwa dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data dapat dilakukan, sebagai berikut:

  1. Interview (Wawancara) Interview merupakan teknik pengumpulan data dalam metode survei yang menggunakan pertanyaan secara lisan kepada subyek penelitian.

  2. Kuesioner (Angket) Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara

  3. Observasi (Pengamatan) Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti.

  4. Dokumentasi Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.

  Berdasarkan penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi. Metode ini mengumpulkan data dari laporan keuangan perbankan swasta nasional tahun 2013-2017 melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id) serta mempelajari literatur yang berkaitan dengan permasalahan penelitian baik media cetak maupun elektronik.

G. Analisis Data dan Teknik Analisis

1. Analisis Data

  Menurut Sugiyono (2016: 206) menyatakan, bahwa analisis data dalam penelitian dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu: a) Analisis Kualitatif

  Analisis kualitatif yaitu suatu metode analisis dengan menggunakan data yang berbentuk kata, kalimat, skema dan gambar.

  b) Analisis Kuantitatif Analisis kuantitatif yaitu suatu metode analisis dengan menggunakan data

  Metode analisis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dan kuantitatif akan dijelaskan dengan menggunakan kalimat-kalimat berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan yang berupa laporan keuangan perbankan swasta nasional tahun 2013-2017.

2. Teknik Analisis

  Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan rumus rasio arus kas operasi adalah sebagai berikut: a) Rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar

  =

  b) Rasio arus kas operasi terhadap bunga =

  c) Rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal =

  d) Rasio arus kas operasi terhadap total utang =

  e) Rasio aru kas operasi terhadap laba bersih

  =

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Sejarah Perusahaan Perbankan Swasta Nasional di Indonesia

a. PT. Bank Bukopin, Tbk

  PT. Bank Bukopin, Tbk didirikan di Republik Indonesia pada tanggal 10 Juli 1970 dengan nama Bank Umum Koperasi Indonesia disingkat (Bukopin) yang disahkan sebagai badan hukum berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Koperasi No. 13/Dirjen/Kop/70 dan didaftarkan dalam Daftar Umum Direktorat Jenderal Koperasi No. 8251 pada tanggal yang sama. Bank mulai melakukan usaha komersial sebagai bank umum koperasi di Indonesia sejak tanggal 16 Maret 1971. Rapat Khusus Anggota Bank, yang dinyatakan dengan akta notaris No. 4 tanggal 2 Desember 1992 dari Notaris Muhani Salim, S.H., para anggota menyetujui untuk mengubah status badan hukum Bank dari koperasi menjadi perseroan terbatas.

  Anggaran Dasar Bank telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu dan perubahan terakhir dinyatakan dengan akta notaris No. 41 tanggal 28 Mei 2015 dari Notaris Isyana Wisnuwardhani Sadjarwo, SH, MH. Perubahan ini telah diterima oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Bukopin, Tbk pada tanggal 31 Desember 2017 memiliki jumlah karyawan Bank adalah 5.656 karyawan.

  Susunan Dewan Komisaris, Direksi Bank dan Komite Audit pada tanggal 31 Desember 2017 adalah, sebagai berikut:

  1) Dewan Komisaris:

  Komisaris Utama : Karya Budiana Komisaris : Deddy SA. Kodir Komisaris : Muhammad Rachmat Kaimuddin Komisaris : Luky Alfirman Komisaris Independen : Margustienny Komisaris Independen :Parikesit Suprapto Komisaris Independen : Mulia Panusunan Nasution

  2) Direksi:

  Direktur Utama : Glen Glenardi Direktur Keuangan : Eko Rachmansyah Gindo Direktur Retail : Heri Purwanto Direktur Pelayanan dan Operasi : Setiawan Sudarmaji Direktur Komersial : Mikrowa Kirana Direktur Pengembangan Bisnis : Adhi Brahmantya Direktur Manajemen Risiko : Irlan Suud

3) Komite Audit:

  Ketua : Margustienny Anggota : Deddy SA. Kodir Anggota : Eddy Rizal Anggota : Eddy Hutarso Anggota : Arzul Andaliza

b. PT. Bank CIMB Niaga, Tbk

  PT. Bank CIMB Niaga, Tbk didirikan menurut hukum yang berlaku di Indonesia, berdasarkan akta pendirian perusahaan No. 90 yang dibuat dihadapan Raden Meester Soewandi, notaris di Jakarta pada tanggal 26 September 1955 dan diubah dengan akta dari notaris yang sama No. 9 pada tanggal 4 November 1955. Akta-akta pendirian disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia (Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia).

  Anggaran Dasar Bank CIMB Niaga telah mengalami beberapa kali perubahan, berdasarkan akta No. 22 pada tanggal 21 April 2014 yang dibuat di hadapan Notaris Himawan Sutanto, S.H., mengenai perubahan Pasal 3 ayat 2, Pasal 14 ayat 2, Pasal 14 ayat 4, Pasal 17 ayat 3, dan Pasal 17 ayat 5, dimana perubahan tersebut diseujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia tanggal 29 April 2014. Kantor pusat CIMB

  Susunan Dewan Komisaris, Direksi Bank dan Komite Audit pada tanggal 31 Desember 2017 adalah, sebagai berikut:

  1) Dewan Komisaris:

  Komisaris Utama : Dato’ Sri Nazir Razak

  Wakil Komisaris Utama : Glenn Muhammad Komisaris : Surya Yusuf Komisaris Independen : Zulkifli M. Ali Komisaris Independen : Primoehadi Notowidigdo Komisaris Independen : Armida Salsiah Alisjahbana Komisaris Independen : Jeffrey Kairupan Komisaris : David Richard Thomas Komisaris : Ahmad Zulqarnain Onn Komisaris : Tengku Zafrul

  2) Direksi:

  Direktur Utama : Tigor M. Siahaan Direktur Keuangan : Wan Razly Abdullah Direktur Operasional : Rita Mas Oen Direktur Kredit : Megawati Sutanto Direktur Manajemen Risiko : Vera Handajani Direktur Pasar Modal : John Simon Direktur Perbankan Consumer : Lani Darmawan

  Direktur Kepatuhan dan Hukum : Fransiska Oei Direktur Perbankan Bisnis : Rahardja Alihamzah

3) Komite Audit:

  Ketua : Zulkifli M. Ali Anggota : Jeffrey Kairupan Anggota : Mawar I.R. Napitupulu Anggota : Yap Tjay Soen

c. PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk

  PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk berkedudukan di Jakarta, didirikan pada tanggal 16 Juli 1956 berdasarkan akta notaris Meester Raden Soedja, S.H. No.134. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. J.A.5/40/8 tanggal 24 April 1957. Bank memperoleh izin usaha sebagai bank umum, bank devisa, dan bank yang melakukan kegiatan berdasarkan prinsip Syariah masing- masing berdasrakan surat keputusan Menteri Keuangan No. 161259/U.M.II tanggal 30 September 1958.

  Anggaran Dasar Bank telah mengalami beberapa kali perubahan, dalam Anggaran Dasar Bank yang tidak diubah yang dicantumkan dalam Akta No. 8 tanggal 12 April 2017, yang dibuat oleh notaris P. Sutrisno A. Tampubolon, S.H., M.Kn, di Jakarta. Kantor pusat Bank berlokasi di

  Susunan Dewan Komisaris, Direksi Bank dan Komite Audit pada tanggal 31 Desember 2017 adalah, sebagai berikut:

  1) Dewan Komisaris:

  Komisaris Utama : Ng Kee Choe Wakil Komisaris Utama : Johanes Berchmanns Kristiadi Komisaris : Pudjosukanto Komisaris Independen : Manggi Taruna Habir Komisaris : Ernest Wong Yuen Weng Komisaris Independen : Made Sukada

  2) Direksi:

  Direktur Utama : Sng Seow Wah Wakil Direktur Utama : Muliadi Rahardja Direktur : Herry Hykmanto Direktur : Satinder Pal Singh Direktur : Michellina Laksmi Direktur : Adnan Qayum Khan Direktur : Heriyanto Agung Putra Direktur (Independen) : Rita Mirasari

  3) Komite Audit:

  Ketua : Made Sukada Anggota (Independen) : Angela Simatupang

d. PT. Bank Mega, Tbk

  PT. Bank Mega, Tbk didirikan di negara Republik Indonesia dengan nama PT. Bank Karman berdasarkan akta pendirian tanggal 15 April 1969 No. 32 yang kemudian diubah dengan akta tanggal 26 November 1969, kedua akta tersebut dibuat oleh notaris Mr. Oe Siang Djie, di Surabaya.

  Bank mulai beroperasi secara komersial sejak tahun 1969 di Surabaya. Nama Bank berubah menjadi PT. Mega Bank d pada tahun 1992 dan pada tanggal 17 Januari 2000 berubah lagi menjadi PT. Bank Mega, Tbk.

  Anggaran Dasar Bank telah mengalami beberapa kali perubahan, perubahan terakhir dilakukan dengan akta notaris Dharma Akhyuzi, S.H., No. 21 tanggal 27 Mei 2015. Kantor pusat Bank berlokasi di Menara Bank Mega Jl. Kapten Tendean 12-14A, Jakarta.

  Susunan Dewan Komisaris, Direksi Bank dan Komite Audit pada tanggal 31 Desember 2017 adalah, sebagai berikut:

  1) Dewan Komisaris:

  Komisaris Utama : Chairul Tanjung Komisaris : Yungky Setiawan Komisaris : Darmadi Sutanto Komisaris Independen : Achjadi Ranuwisastra Komisaris Independen : Lambock V. Nahattands

  2) Direksi:

  Direktur : Martin Mulwanto Direktur Risiko : Indivara Erni Direktur Operasi : YB. Hariantono Direktur Sumber Daya Manusia : Yuni Lastianto Direktur Pendanaan : Lay Diza Larentie Direktur : Wiweko Probojakti

3) Komite Audit:

  Ketua : Achjadi Ranuwisastra Anggota : Iramady Irdja Anggota : Adrial Salam

e. PT. Bank Sinarmas, Tbk

  PT. Bank Sinarmas, Tbk didirikan pada tahun 1989 dengan nama PT. Bank Shinta Indonesia, berdasarkan akta No. 52 tanggal 18 Agustus 1989 dari Buniarti Tjandra, S.H., notaris di Jakarta dan telah diubah dengan akta No. 91 tanggal 15 September 1989. Perusahaan berganti nama menjadi PT. Bank Sinarmas pada tanggal 26 Januari 2007. Perubahan nama tersebut diseujui melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perusahaan yang didokumentasikan dalam akta No. 1 tanggal 21 November 2006.

  Berdasarkan akta No. 1 tanggal 8 Oktober 2009 dari Endang Saritomo Utari, S.H., notaris di Jakarta, terdapat perubahan Anggaran Dasar Surat Keputusan No. AHU-AH.01.10-22484 tanggal 11 Desember 2009. Kantor pusat beralamat di Sinarmas Land Plaza, Menara I, Jln. M.H. Thamrin No. 51, Jakarta.

  Susunan Dewan Komisaris, Direksi Bank dan Komite Audit pada tanggal 31 Desember 2017 adalah, sebagai berikut:

  1) Dewan Komisaris:

  Komisaris Utama : Tjendrawati Widjaja Komisaris Independen : Sammy Kristamuljana Komisaris Independen :Rusmin

  2) Direksi:

  Direktur Utama : Frenky Tirtowijoyo Direktur Independen : Rusmin Salis Teguh Hartono Direktur Independen : Hanafi Himawan Direktur : Halim Direktur : Loa Johnny Mailoa Direktur : Soejanto Soetjijo

  3) Komite Audit:

  Ketua : Rusmin Anggota : Ketut Sanjaya Anggota : Rusli Prakasa

B. Pembahasan Hasil Penelitian

  Penelitian ini berjudul “Analisis Rasio Arus Kas Operasi Untuk

  Mengukur Kinerja Keuangan Perbankan Swasta Nasional yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja

  keuangan perusahaan diukur dengan menggunakan rasio arus kas operasi pada Perbankan Swasta Nasional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2013-2017. Penelitian dilakukan pada perusahaan perbankan swasta nasional yang terdaftar di BEI adalah PT. Bank Bukopin, PT. Bank CIMB Niaga, PT. Bank Danamon Indonesia, PT. Bank Mega, dan PT. Bank Sinarmas.

  Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data berupa laporan keuangan perbankan swasta nasional dari tahun 2013-2017 yang didapat melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id). Kemudian menganalisisnya dengan teknik analisis kuantitatif dan kualitatif.

  Menurut Hery (2017: 246) menyatakan, bahwa data laporan arus kas dapat digunakan untuk menghitung rasio tertentu yang menggambarkan kekuatan keuangan perusahaan. Analisis laporan arus kas ini menggunakan komponen laporan arus kas dan juga komponen neraca serta laporan laba rugi sebagai alat analisis rasio. Rasio laporan arus kas dimaksud terdiri atas:

1. Rasio Arus Kas Operasi terhadap Kewajiban Lancar

  Salah satu contoh perhitungan rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar pada perbankan swasta nasional PT. Bank Bukopin, Tbk dapat diperoleh rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar BBKP pada tahun 2013 adalah, sebagai berikut: Rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar =

  = Rp -0,015

  

Tabel IV.1

Perhitungan Rasio Arus Kas Operasi terhadap Kewajiban Lancar

  (dalam jutaan Rupiah)

  No Kode Perusahaan Tahun

Arus Kas

Operasi

  Kewajiban Lancar Rasio

  1 BBKP 2013 (939.659) 62.566.137 (0,015) 2014 3.435.304 71.517.226 0,048 2015 476.581 84.939.990 0,005 2016 2.711.779 93.515.961 0,028 2017 (1.572.849) 96.393.053 (0,016)

  2 BNGA 2013 4.574.347 190.017.153 0,024 2014 (1.897.644) 201.744.374 (0,009) 2015 6.755.174 207.200.091 0,032 2016 3.291.332 204.384.540 0,016 2017 2.129.300 227.757.677 0,009

  3 BDMN 2013 3.672.508 156.140.004 0,023 2014 5.500.443 146.546.709 0,037 2015 8.994.609 147.403.332 0,061 2016 (1.964.879) 131.168.836 (0,014) 2017 3.748.625 130.976.525 0,028

  4 MEGA 2013 14.723.423 59.528.196 0,247 2014 (2.343.791) 58.847.372 (0,039) 2015 (4.802.414) 56.168.031 (0,085) 2016 2.802.265 57.801.747 0,048 2017 5.356.123 68.754.808 0,077

  5 BSIM 2013 (35.610) 14.582.016 (0,002) 2014 324.116 17.946.345 0,018 2015 2.014.021 23.980.428 0,083 2016 751.080 26.446.782 0,028 2017 (807.980) 25.159.689 (0,032)

  Sumber: Data Olahan, 2019 tahunnya berbeda. Rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar pada BBKP mengalami penurunan dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut mengakibatkan BBKP belum memiliki kemampuan dalam melunasi kewajiban lancarnya dengan menggunakan arus kas operasi, karena memiliki nilai yang berada di bawah standar 1 setiap tahunnya.

  Rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar pada BNGA mengalami penurunan dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut mengakibatkan BNGA belum memiliki kemampuan dalam melunasi kewajiban lancarnya dengan menggunakan arus kas operasi, karena memiliki nilai yang berada di bawah standar 1 setiap tahunnya.

  Rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar pada BDMN mengalami fluktuasi dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut mengakibatkan BDMN belum memiliki kemampuan dalam melunasi kewajiban lancarnya dengan menggunakan arus kas operasi, karena memiliki nilai yang berada di bawah standar 1 setiap tahunnya.

  Rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar pada MEGA mengalami fluktuasi dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut mengakibatkan MEGA belum memiliki kemampuan dalam melunasi kewajiban lancarnya dengan menggunakan arus kas operasi dikategorikan belum baik, karena memiliki nilai yang berada di bawah standar 1 setiap tahunnya.

  Rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar pada BSIM dengan menggunakan arus kas operasi, karena memiliki nilai yang berada di bawah standar 1 setiap tahunnya. Jadi, diketahui juga dari rata-rata ke lima perusahaan perbankan swasta nasional tersebut dikategorikan belum baik dalam melunasi kewajiban lancarnya. Perusahaan yang memiliki rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar dibawah 1 berarti bahwa perusahaan tersebut tidak mampu melunasi kewajiban lancarnya dengan menggunakan arus kas operasi saja.

  Cara untuk meningkatkan rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar dapat dilakukan dengan cara meningkatkan jumlah arus kas operasi seperti penerimaan dari nasabah, penerimaan bunga, penerimaan lain-lain dan penerimaan tersebut disertai dengan tidak meningkatnya pembayaran kepada karyawan, dan pembayaran kas untuk aktivitas operasi.

2. Rasio Arus Kas Operasi terhadap Bunga

  Salah satu contoh perhitungan rasio arus kas operasi terhadap bunga pada perbankan swasta nasional PT. Bank Bukopin, Tbk (BBKP) pada tahun 2013 dengan arus kas operasi bersih adalah Rp -939.659, bunga Rp 5.962.892, dan pajak senilai Rp 210.619 sehingga dari data tersebut dapat diperoleh rasio arus kas operasi terhadap bunga BBKP pada tahun 2013 adalah, sebagai berikut: Rasio arus kas operasi terhadap bunga 

   Rp0,87

  

Tabel IV.2

Perhitungan Rasio Arus Kas Operasi terhadap Bunga

  (dalam jutaan Rupiah)

  N o Kode Perusahaan Tahun Arus Kas Operasi Bunga Pajak Rasio

  1 BBKP 2013 (939.659) 5.962.892 210.619 0,87 2014 3.435.304 7.005.568 235.872 1,55 2015 476.581 7.619.275 232.880 1,09 2016 2.711.779 8.883.440 300.521 1,33 2017 (1.572.849) 9.123.620 165.782 0,84

  2 BNGA 2013 4.574.347 20.530.420 1.474.039 1,29 2014 (1.897.644) 22.189.092 1.010.967 0,96 2015 6.755.174 24.055.270 272.129 1,29 2016 3.291.332 23.297.874 546.888 1,16 2017 2.129.300 22.474.578 883.991 1,13

  3 BDMN 2013 3.672.508 16.496.612 1.561.180 1,31 2014 5.500.443 13.091.755 1.322.196 1,52 2015 8.994.609 11.293.640 1.924.029 1,96 2016 (1.964.879) 10.456.769 1.629.724 0,96 2017 3.748.625 11.757.800 1.742.941 1,46

  4 MEGA 2013 14.723.423 4.779.525 96.730 4,10 2014 (2.343.791) 5.890.539 82.160 0,61 2015 (4.802.414) 6.541.776 123.792 0,28 2016 2.802.265 6.159.198 393.274 1,51 2017 5.356.123 6.423.840 409.310 1,89

  5 BSIM 2013 (35.610) 1.624.847 26.807 1,00 2014 324.116 2.150.472 33.754 1,16 2015 2.014.021 2.053.733 20.566 2,00 2016 751.080 2.558.043 41.891 1,30 2017 (807.980) 2.790.701 134.601 0,75

  Sumber: Data Olahan, 2019

  Berdasarkan tabel IV.2 menunjukkan bahwa rasio arus kas operasi terhadap bunga pada perusahaan perbankan swasta nasional setiap tahunnya berbeda. Rasio arus kas operasi terhadap bunga pada BBKP mengalami bersumber dari arus kas operasi perusahaan dikategorikan sudah baik. Hal ini dikarenakan kemampuan ini bisa dinilai dengan rasio yang dimiliki setiap tahunnya berada di atas 1.

  Rasio arus kas operasi terhadap bunga pada BNGA mengalami fluktuasi dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut menunjukkan BNGA dinilai mampu untuk membayar pinjaman kepada kreditor, yang di mana dananya bersumber dari arus kas operasi perusahaan. Hal ini dikarenakan kemampuan ini bisa dinilai dengan rasio yang dimiliki setiap tahunnya berada di atas 1.

  Rasio arus kas operasi terhadap bunga pada BDMN mengalami peningakatan dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut menunjukkan BDMN dinilai mampu untuk membayar pinjaman kepada kreditor, yang di mana dananya bersumber dari arus kas operasi perusahaan. Hal ini dikarenakan kemampuan ini bisa dinilai dengan rasio yang dimiliki setiap tahunnya berada di atas 1.

  Rasio arus kas operasi terhadap bunga pada MEGA mengalami fluktuasi dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut menunjukkan MEGA dinilai mampu untuk membayar pinjaman kepada kreditor, yang di mana dananya bersumber dari arus kas operasi perusahaan. Hal ini dikarenakan kemampuan ini bisa dinilai dengan rasio yang dimiliki setiap tahunnya berada di atas 1.

  Rasio arus kas operasi terhadap bunga pada BSIM mengalami fluktuasi dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut menunjukkan BSIM dinilai mampu untuk dengan rasio yang dimiliki setiap tahunnya berada di atas 1.Jadi, diketahui juga dari rata-rata ke lima perusahaan perbankan swasta nasional tersebut dikategorikan baik, karena memiliki nilai di atas 1. Perusahaan dengan rasio yang tinggi menunjukkan bahwa arus kas operasi perusahaan memiliki kemampuan yang baik untuk menutup biaya bunga sehingga kemungkinan perusahaan untuk tidak mampu membayar bunga menjadi sangat kecil.

3. Rasio Arus Kas Operasi terhadap Pengeluaran Modal

  Salah satu contoh perhitungan rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal pada perbankan swasta nasional PT. Bank Bukopin, Tbk (BBKP) pada tahun 2013 dengan arus kas operasi bersih adalah Rp -939.659 dengan pengeluaran modal senilai Rp -698.342 sehingga dari data tersebut dapat diperoleh rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal BBKP pada tahun 2013 adalah, sebagai berikut: Rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal =

  = Rp 1,34

  

Tabel IV.3

Perhitungan Rasio Arus KasOperasi terhadap Pengeluaran Modal

  (dalam jutaan Rupiah)

  No Kode Perusahaan Tahun Arus Kas Operasi Pengeluaran Modal Rasio

  1 BBKP 2013 (939.659) (698.342) 1,34 2014 3.435.304 2.649.024 1,29 2015 476.581 (816.414) (0,58) 2016 2.711.779 (3.813.511) (0,71) 2017 (1.572.849) 1.360.280 (1,15)

  2 BNGA 2013 4.574.347 6.341.492 0,72 2014 (1.897.644) (3.147.109) 0,60 2015 6.755.174 (2.271.096) (2,97) 2016 3.291.332 (4.071.426) (0,80) 2017 2.129.300 (8.946.122) (0,23)

  3 BDMN 2013 3.672.508 (2.606.566) 1,40 2014 5.500.443 (1.965.659) (2,79) 2015 8.994.609 2.757.297 3,26 2016 (1.964.879) 12.658.168 (0,15) 2017 3.748.625 3.189.178 1,17

  4 MEGA 2013 14.723.423 (9.471.517) (1,55) 2014 (2.343.791) 1.333.488 (1,75) 2015 (4.802.414) 1.542.056 (3,11) 2016 2.802.265 1.494.745 1,87 2017 5.356.123 1.700.054 3,15

  5 BSIM 2013 (35.610) (104.846) 0,33 2014 324.116 (104.951) (3,08) 2015 2.014.021 (215.585) (9,34) 2016 751.080 (106.172) (7,07) 2017 (807.980) (210.980) 3,82

  Sumber: Data Olahan, 2019

  Berdasarkan tabel IV.3 menunjukkan bahwa rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal pada perusahaan perbankan swasta nasional setiap tahunnya berbeda. Rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal pada BBKP mengalami penurunan dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut

  Rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal pada BNGA mengalami penurunan dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut mengakibatkan BNGA dinilai belum mampu dalam membiayai pengeluaran modal yang dikategorikan kurang baik, karena memiliki nilai di bawah 1 dan bernilai negatif.

  Rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal pada BDMN mengalami fluktuasi dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut mengakibatkan BDMN dinilai belum mampu dalam membiayai pengeluaran modal yang dikategorikan kurang baik, karena memiliki nilai di bawah 1.

  Rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal pada MEGA mengalami peningakatan dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut mengakibatkan MEGA dinilai belum mampu dalam membiayai pengeluaran modal yang dikategorikan kurang baik, karena memiliki nilai di bawah 1 dan bernilai negatif.

  Rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal pada BSIM mengalami fluktuasi dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut mengakibatkan BSIM dinilai belum mampu dalam membiayai pengeluaran modal yang dikategorikan kurang baik, karena memiliki nilai di bawah 1 dan bernilai negatif. Jadi, diketahui juga dari rata-rata ke lima perusahaan perbankan swasta nasional tersebut dikategorikan belum baik, karena masih dibawah standar 1 dan terdapat perusahaan perbankan yang bernilai negatif. Rasio yang tinggi melakukan investasi, ataupun akuisisi). Rasio yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan harus mencari pendanaan eksternal (seperti melalui pinjaman dari kreditor atau pun tambahan dana dari investor) untuk membiayai ekspansi atau perluasan usahanya.

4. Rasio Arus Kas Operasi terhadap Total Utang

  Salah satu contoh perhitungan rasio arus kas operasi terhadap total utang pada perbankan swasta nasional PT. Bank Bukopin, Tbk (BBKP) pada tahun 2013 dengan arus kas operasi bersih adalah Rp -939.659 dengan total utang senilai Rp 63.244.294 sehingga dari data tersebut dapat diperoleh rasio arus kas operasi terhadap total utang BBKP pada tahun 2013 adalah, sebagai berikut: Rasio arus kas operasi terhadap total utang =

  = Rp -0,01

  

Tabel IV.4

Perhitungan Rasio Arus KasOperasi terhadap Total Utang

  (dalam jutaan Rupiah)

  No Kode Perusahaan Tahun Arus Kas

Operasi

Total Utang Rasio

  1 BBKP 2013 (939.659) 63.244.294 (0,01) 2014 3.435.304 72.229.788 0,04 2015 476.581 86.831.323 0,005 2016 2.711.779 95.868.070 0,02 2017 (1.572.849) 99.684.047 (0,01)

  2 BNGA 2013 4.574.347 192.979.722 0,02 2014 (1.897.644) 204.714.729 (0,009) 2015 6.755.174 210.169.865 0,03 2016 3.291.332 207.364.106 0,01 2017 2.129.300 229.354.449 0,009

  3 BDMN 2013 3.672.508 152.684.365 0,02 2014 5.500.443 162.691.069 0,03 2015 8.994.609 153.842.563 0,05 2016 (1.964.879) 138.058.549 (0,01) 2017 3.748.625 139.084.940 0,02

  4 MEGA 2013 14.723.423 60.357.193 0,24 2014 (2.343.791) 59.691.216 (0,03) 2015 (4.802.414) 56.707.975 (0,08) 2016 2.802.265 58.266.001 0,04 2017 5.356.123 69.232.393 0,07

  5 BSIM 2013 (35.610) 14.693.195 (0,002) 2014 324.116 18.099.067 0,01 2015 2.014.021 24.199.077 0,08 2016 751.080 26.717.304 0,02 2017 (807.980) 25.559.894 (0,03)

  Sumber: Data Olahan, 2019

  Berdasarkan tabel IV.4 menunjukkan bahwa rasio arus kas operasi terhadap total utang pada perusahaan perbankan swasta nasional setiap tahunnya berbeda. Rasio arus kas operasi terhadap total utang pada BBKP mengalami penurunan dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut mengakibatkan Hal ini dikarenakan kemampuan ini bisa dinilai dengan rasio berada di bawah 1 setiap tahunnya.

  Rasio arus kas operasi terhadap total utang pada BNGA mengalami fluktuasi dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut mengakibatkan BNGA tidak mampu dalam membayar semua kewajibannya dengan menggunakan arus kas yang berasal dari aktivitas normal operasi perusahaan. Hal ini dikarenakan kemampuan ini bisa dinilai dengan rasio berada di bawah 1 setiap tahunnya.

  Rasio arus kas operasi terhadap total utang pada BDMN mengalami fluktuasi dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut mengakibatkan BDMN tidak mampu dalam membayar semua kewajibannya dengan menggunakan arus kas yang berasal dari aktivitas normal operasi perusahaan. Hal ini dikarenakan kemampuan ini bisa dinilai dengan rasio berada di bawah 1 setiap tahunnya.

  Rasio arus kas operasi terhadap total utang pada MEGA mengalami peningkatan dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut mengakibatkan tidak mampu dalam membayar semua kewajibannya dengan menggunakan arus kas yang berasal dari aktivitas normal operasi perusahaan.

  Rasio arus kas operasi terhadap total utang pada BSIM mengalami penurunan dari tahun 2013-2017. Hasil tersebut mengakibatkan tidak mampu dalam membayar semua kewajibannya dengan menggunakan arus kas yang berasal dari aktivitas normal operasi perusahaan. Hal ini dikarenakan kemampuan ini bisa dinilai dengan rasio berada di bawah 1 setiap tahunnya. Rasio yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan yang kurang baik dalam membayar semua kewajibannya dengan menggunakan arus kas yang berasal dari aktivitas normal operasi perusahaan.

  Cara untuk meningkatkan rasio arus kas operasi terhadap total utang pada perbankan swasta nasional tersebut dengan cara memastikan jangka waktu dalam membayar semua kewajibannya dengan disertai meningkatnya arus kas operasi.

5. Rasio Arus Kas Operasi terhadap Laba Bersih

  Salah satu contoh perhitungan rasio arus kas operasi terhadap laba bersih pada perbankan swasta nasional PT. Bank Bukopin, Tbk (BBKP) pada tahun 2013 dengan arus kas operasi bersih adalah Rp -939.659 dengan laba bersih senilai Rp 934.622 sehingga dari data tersebut dapat diperoleh rasio arus kas operasi terhadap laba bersih BBKP pada tahun 2013 adalah, sebagai berikut: Rasio aru kas operasi terhadap laba bersih

  

  Rp -1,0

  

  Tabel IV.5 Perhitungan Rasio Arus KasOperasi terhadap Laba Bersih

  (dalam jutaan Rupiah)

  No Kode Perusahaan Tahun

Arus Kas

Operasi

  Laba Bersih Rasio

  1 BBKP 2013 (939.659) 934.622 (1,0) 2014 3.435.304 726.808 4,7 2015 476.581 964.307 0,4 2016 2.711.779 176.496 15,3 2017 (1.572.849) 135.901 (11,5)

  2 BNGA 2013 4.574.347 4.296.151 1,0 2014 (1.897.644) 2.343.840 (0,8) 2015 6.755.174 4.027.885 1,6 2016 3.291.332 2.081.717 1,5 2017 2.129.300 2.977.738 0,7

  3 BDMN 2013 3.672.508 4.159.320 0,8 2014 5.500.443 2.682.662 2,0 2015 8.994.609 2.469.157 3,6 2016 (1.964.879) 2.792.722 (0,7) 2017 3.748.625 3.828.097 0,9

  4 MEGA 2013 14.723.423 1.524.780 9,6 2014 (2.343.791) 599.238 (3,9) 2015 (4.802.414) 1.052.771 (4,5) 2016 2.802.265 1.158.000 2,4 2017 5.356.123 1.300.043 4,1

  5 BSIM 2013 (35.610) 221.100 (0,1) 2014 324.116 154.932 2,0 2015 2.014.021 685.153 2,9 2016 751.080 370.651 2,0 2017 (807.980) 318.923 (2,5)

  Sumber: Data Olahan, 2019

  Berdasarkan tabel IV.5 menunjukkan bahwa rasio arus kas operasi terhadap laba bersih pada perusahaan perbankan swasta nasional setiap tahunnya berbeda. Rasio arus kas operasi terhadap total laba bersih pada BBKP mengalami penurunan. Berdasarkan rata-rata rasio BBKP dari tahun akuntansi dalam mempengaruhi laba perusahaan dikategorikan baik, karena memiliki nilai di atas 1.

  Rasio arus kas operasi terhadap laba bersih pada BNGA mengalami penurunan. Berdasarkan rata-rata rasio BNGA dari tahun 2013-2017 dikategorikan kurang baik, karena memiliki nilai di bawah 1.

  Rasio arus kas operasi terhadap laba bersih pada BDMN mengalami fluktuasi. Berdasarkan rata-rata rasio BDMN memiliki kinerja perusahaan dalam penyesuaian dan asumsi akuntansi dalam mempengaruhi laba perusahaan dikategorikan baik, karena memiliki nilai di atas 1.

  Rasio arus kas operasi terhadap laba bersih pada MEGA mengalami peningakatan dari tahun 2013-2017. Berdasarkan rata-rata rasio MEGA dari tahun 2013-2017 memiliki kinerja perusahaan dalam penyesuaian dan asumsi akuntansi dalam mempengaruhi laba perusahaan dikategorikan baik, karena memiliki nilai di atas 1.

  Rasio arus kas operasi terhadap laba bersih pada BSIM mengalami penurunan dari tahun 2013-2017. Berdasarkan rata-rata rasio BSIM dari tahun 2013-2017 dikategorikan kurang baik, karena memiliki nilai di bawah 1. Jadi, diketahui juga dari rata-rata ke lima perusahaan perbankan swasta nasional tersebut yang memiliki nilai di atas 1 adalah PT. Bank Bukopin, Tbk dan PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk serta PT. Bank Mega, Tbk dikategorikan baik. Kemudian perusahaan perbankan yang memilki nilai di bawah 1 adalah PT. atas 1 karena adanya non cash expenses (beban-beban yang tidak memerlukan pengeluaran kas), seperti beban penyusutan, beban amortisasi, dan beban piutang tak tertagih yang sifatnya mengurangi laba bersih namun tidak berdampak terhadap arus kas operasi. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan perusahaan semakin baik, meskipun dengan jumlah laba bersih yang kecil sebagai akibat besarnya beban non kas.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan pada

  bab sebelumnya, maka penulis dapat mengambil kesimpulan dari kinerja keuangan perusahaan diukur dengan menggunakan rasio arus kas operasi pada Perbankan Swasta Nasional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013 sampai tahun 2017 dilihat dari ke 5 rasio yang ada yaitu, rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar, rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal, rasio arus kas operasi terhadap total utang bahwa dari ke lima perusahaan tersebut dikategorikan kurang baik. Selanjutnya,dari rasio arus kas operasi terhadap bunga bahwa dari ke lima perusahaan perbankan swasta nasional tersebut dikategorikan baik.Kemudian, dari rasio arus kas operasi terhadap laba bersih bahwa dari ke lima perusahaan perbankan swasta nasional yang memiliki kinerja yang dikategorikan baik adalah PT. Bank Bukopin, Tbk dan PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk serta PT. Bank Mega, Tbk. Sedangkan perusahaan yang memiliki kinerja dikategorikan kurang baik adalah PT. Bank CIMB Niaga, Tbk dan PT.

  Bank Sinarmas, Tbk.

B. Saran

  1. Bagi perusahaan perbankan swasta nasional, sebaiknya lebih ditingkatkan kinerja keuangannya dari sisi rasio seperti rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar, rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal, dan rasio arus kas operasi terhadap total utang.

  2. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan pada saat untuk menganalisis kinerja keuangan perbankan swasta nasional sehingga lebih memperdalam ilmu terkait analisis kinerja keuangan dengan menggunakan rasio arus kas operasi.

Dokumen baru

Download (64 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Pengertian Media Pembelajaran - BAB II KAJIAN PUSTAKA
0
2
23
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) - Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara
0
0
30
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Analisis Laporan Keuangan 2.1.1.1 Pengertian Analisis Laporan keuangan - Pengaruh Pertumbuhan Rasio Keuangan Terhadap Pertumbuhan Laba pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Perio
0
0
21
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Laporan Keuangan Pemerintah (LKP) - Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga Satuan Kerja Mitra KPPN Medan II
0
0
31
BAB II LANDASAN TEORITIS A. Tinjauan Teoritis 1. Rasio Keuangan a. Pengertian Rasio Keuangan - Peranan Analisis Laporan Keuangan Dalam Mempertimbangkan Permohonan Kredit Pada PT. Bank Rakyat Indonesia Cabang Medan Iskandar Muda
0
0
17
9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Laporan Keuangan
0
0
20
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Model Pembelajaran a. Pengertian Model Pembelajaran - BAB II RANI
0
0
21
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Manajemen Risiko 1. Pengertian Manajemen Risiko - 5. BAB II KAJIAN PUSTAKA
0
0
29
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Belajar - 11 BAB II NEW
0
1
17
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Laporan Keuangan 1. Pengertian Laporan Keuangan - ANALISIS LAPORAN KEUANGAN BMT ASSALAM DEMAK BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK (SAK ETAP) TAHUN 2015-2016. - STAIN Kudus Repository
0
0
25
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Pustaka 1. Pengertian Kurikulum - FILE 5 BAB II
0
0
17
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Tradisi, Pernikahan, Mabang Handak, Suku, Kayu Agung, Ogan Komering Ilir. - 352014018 BAB I SAMPAI BAB TERAKHIR
0
0
51
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Tori 1. Sistem Pengendalian Intern a. Pengertian Sistem Pengendalian Intern - 222014096 BAB II SAMPAI BAB V
0
0
55
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS A. Landasan Teori - 212014121 BAB II SAMPAI BAB TERAKHIR
0
0
70
2. Pengertian Meningkatkan - 352014017 BAB II SAMPAI BAB TERAKHIR
0
0
114
Show more