etika dalam kemanusiaan dan kehidupan

Gratis

1
1
10
2 months ago
Preview
Full text

  Media massa memiliki peran yang penting untuk menampilkan peristiwa, seseorang, organisasi atau kepentingan menjadi dominan dan menonjol di masyarakat. Dengan berpendapat bahwa kebebasan berekspresi adalah hak, seorang jurnalis mengartikulasikan profesinya berdasarkan filosofi ini. Ia berpendapat bahwa kebebasan pers merupakan cerminan kebebasan berekspresi. Meskipun argumen ini kelihatanya benar, kenyataanya, hal ini tidak dapat diimplementasikan tanpa perkecualian dan tujuan tertentu.Kebebasan pers dapat disalahgunakan dan menjadi salah satu instrumen bagi penyalahgunaan kekuatan. Oleh karena itu, setiap jurnalis harus menjalankan kewajiban profesionalnya berdasarkan pada kode etik dan profesi. Penelitian ini menggunaan metode analisis isi, dengan memfokuskan pada berita-berita televisi yang melakukan pelanggaran terhadap moral dan etika jurnalistik. Hasilnya menunjukkan bahwa dari berita-berita televisi yang ada, bentuk pelanggaran moral dan etik tersebutmencakup bias (tidak netral dan objektif), tidak menghargai narasumber, provokatif, tidak konsisten,mengembangkan opini berdasarkan pada persepsi sendiri dan manipulative.1 Sejarah telah membutikan bahwa kemampuan media massa dalam melakukan rekonstruksi sosial, membentuk opini dan mengarahkan tertentu sangat luar biasa. Siaran dan pemberitaan tentang suatu kejadian, yang kemudian berkembang menjadi gerakan massa, baik yang berupa dukungan maupun penolakan, yang terjadi akhir-akhir ini, merupakan bukti nyata atas kemampuan media massa dimaksud. Gejala demikian, sebenarnya, bukan Sesuatu yang baru. Sejak ditemukan mesin cetak, dimana jangkauan dan sebaran informasisemakin luas dan mudah, media massa menunjukkan kekuatan dan kemampuan dalam mempengaruhi opini publik. Kekuatan dan kemampuan tersebut berkembang seiring dengan pengakuan hak politik publik dalam proses berbangsa dan bernegara yang disebut “demokrasi”.Pada satu sisi, media memfasilitasi publik dalam menyampaikan ide, pendapat, kritik dan kontrol sosial bagi penyelenggaraan negara, pada sisi lain, fenomena tersebut merupakan pengakuan politik, khususnya dalam memberikan perlindungan atau “hak” bagi publik untuk terlibat dalam proses penyelenggaraan Negara/ pemerintahan secara aktif, tentu saja sesuai dengan status dan fungsinya masing-masing.Warga negara diberikan hak dan kebebasan untuk menyampaikan informasi,dan ide secara terbuka. Karena sifatnya yang terbuka dan, dengan jangkauan yang sangat luas, dalam waktu yang hampir bersamaan, maka tidak jarang penyampaian ide tersebut bisa berkembang menjadi pemicu munculnya opini publik. Opini yang apabila diarahkan pada satu titik, dan didasarkan pada kepentingan politik tertentu, akan berubah menjadi gerakan masa yang luar biasa kuatnya. Letak kekuatan dan kemampuan media massa dalam membentuk dan mengarahkan opini publik menjadi kekuatan politik yang maha dahsyat. Aplikasi teknologi informasi dalam industri/siaran media massa, mampu melipatgandakan pengaruh dan kekuatan dalam membentuk dan mengarahkan opini publik.2 Karakter demikian bisa dilihat dari sifat informasinya yang bisa diakses, direspon dan dimanipulasi secara instan, hanya dalam hitungan detik. Jangkauan dan aksesibilitasnya tidak mengenal jarak dan waktu yang menyebabkan media massa sulit dikontrol pengaruhnya. Dalam hal ini urgensi pengaturan terhadap penggunaan media massa sebagai sarana demokrasi. Pengaturan bukan dalam rangkamengurangi dan membatasi kebebasan akan tetapi lebih diarahkan untuk mengurangi dampak negatif yang bisa ditimbulkan akibat pelaksanaan kebebasan pers.Kebebasan merupakan hak azasi manusia yang dibawa sejak lahir. Kata lahir itu sendiri bermakna “bebas”, artinya “lepas dari ...”. Sejak manusia mengenal peradaban sampai sekarang. Meskipun demikian, bebas atau kebebasan merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan. Kebebasan tidak akan muncul atau didapat tanpa adanya usaha. Setiap manusia harus berjuang dan melakukan segala upaya untuk mendapatkan “kebebasan” sebagaimana yang mereka kehendaki.Setiap orang tentu memiliki cara danstrategi tersendiri dalam upaya mewujudkan kebebasan. Dalam upaya tersebut tidak jarang terjadi singgungan kepentingan antara orang satu dengan yang lain sehingga diperlukan kompromi di antara pihak-pihak yang sedang mengusahakan kebebasan untuk menciptakan apa yang disebut dengan harmonisasi perbedaan kepentingan. Dialektika ini memunculkan norma, aturan, tatanilai yang dalam dunia profesi disebut code of conduct.Sebaliknya, apabila dalam usaha tersebut tidak terjadi kompromi di antara pihak-pihak yang terlibat, maka munculah konflik kepentingan yang mengarah pada penjajahan, pengekangan, intervensi, dan pengaturan kebebasan seseorang oleh seseorang, kelompok oleh seseorang atau rakyat oleh pemerintah. Disini terjadi pemaksaan proses harmonisasi kepentingan dimana ada pihak yang dipaksamengikuti kepentingan pihak lain.Proses harmonisasi kepentingan yang memunculkan code of conduct harus diupayakan2atas dasar kesadaran penuh di antara pihakpihak yang terlibat, dan harus ada kesediaan masing-masing untuk melepaskan sebagian kepentingannya demi pihak lain, sehingga masing-masing pihak mempunyai dan mengembangkan kontrol pribadi yang sangat kuat. Konsep, kriteria dan atribut yang mendorong munculnya proses harmonisasi inilah yang oleh peneliti disebut “Etika Moral” dalam konteks penelitian ini. Sedangkan bentuk atau ujud dari pemaksaan harmonisasi kepentingan, peneliti sebut sebagai peraturan perundangan-undangan termasuk di dalamnya kode etik jurnalistik. Ada dua bentuk etika dalam profesi jurnalistik, yaitu: personal code of conduct (etika moral) and general code of conduct (kode etikjurnalistik, undang-undang, dan seterusnya), sebagaimana dijelaskan dalam dokumen NSPA (National Scholastic Press Association: 2009), tentang etika, yang sekaligus mencerminkan indikator mana yang masuk ranah personal code of coduct dan mana yang masuk lingkup general

character. An ethical person is a person of good characterwho strivesto make “right” choices. Those “right” choices are self-determined by each individual. Ultimately, ethics is voluntary conduct that is self-enforced. (Kata etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu “etos”, yang berarti karakter atau sifat. Orang yang beretika adalah orang mempunyai karakter atau sifat yang baik yang memungkinkan orang tersebut mampu melakukan pilihan yang “baik atau tepat”. Pilihan-pilihan yang baik/tepat tersebut ditentukan sendiri oleh masig-masing individu. Oleh karena itu, etika terjadi karena dorongan dari dalam diri manusia).

  BAB I PENDAHULUAN

  1.1 Latar Belakang Masalah Media televisi pada hakikatnya merupakan suatu sistem komunikasi yang menggunakan suatu rangkaian gambar elektonik yang dipancarkan secara cepat, berurutan, dan diiringgi dengan media unsur audio. Walaupun demikian, pengertian ini harus dibedakan dengan media film yang merupakan rangkaian gambar yang diproyeksikan dengan kecepatan 24 bingkai perdetik sehingga gambar tampak hidup. Setiap gambar dari rangkaian tersebut dengan mudah dapat kita kenali dengan mata telanjang. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita tidak bisa terlepas dari yang namanya televisi. Salah satu alat elektronik yang sekarang sudah seperti kebutuhan primer bagi manusia.Sehingga, tidak melihat televisi sehari saja kita mungkin sudah ketinggalan banyak informasi. Selain itu, televise juga tentunya mempunyai dampak positif dan negative bagi kehidupan. Oleh karena itu, penulis menyusun makalah yang berjudul ‘ Televisi dalam Kehidupan Manusia ‘ ini.

  1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu :

  a. Apa yang dimaksud dengan televisi ? c. Bagaimana sejarah perkembangan televisi hingga sekarang ?

  d. Apa dampak positif dan negative dari televisi ?

  e. Bagaimana cara mengatasi dampak negative dari adanya televisi ?

  1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu : a. Untuk mengetahui pengertian televisi.

  b. Untuk mengetahui penemu televise.

  c. Untuk mengetahui sejarah perkembangan televisi.

  d. Untuk mengetahui dampak ppositif dan negative dari televisi.

  e. Untuk mengetahui cara mengurangi dampak negative dari televisi.

  f. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Aplikasi Komputer 1 yang diberikan oleh Ibu Norhafizah S.T, M. Pd.

  1.4 Metode Pengumpulan Data Adapun metode yang penulis gunakan adalah metode studi kepustakaan, yaitu penulis meminjam buku di perpustakaan dan mencari tambahan materi di internet.

  BAB II TELEVISI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

  2.1 Pengertian Televisi Televisi merupakan sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel atau ruang. Sistem ini menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan suara ke dalam gelombang elektronik dan

  Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang digunakan untuk memancarkan dan menerima siaran gambar bergerak, baik itu yang monokrom (“hitam putih”) maupun warna, biasanya dilengkapi oleh suara. “Televisi” juga dapat diartikan sebagai kotak televisi, rangkaian televisi atau pancaran televisi.

  Kata “televisi” merupakan gabungan dari kata tele ( τῆλε , “jauh”) dari bahasa Yunani dan visio (“penglihatan”) dari bahasa Latin. Sehingga televisi dapat diartikan sebagai telekomunikasi yang dapat dilihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia ‘televisi’ secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi. (http://google.com//)

  2.2 Penemu Televisi Televisi pertama kali ditemukan oleh John Lodie Baird asal Skotlandia, yang melakukan demo TV pertama untuk publik di Soho, London tahun 1926. Sepuluh tahun kemudian terdapat seratus set TV di seluruh dunia. Ini sekitar satu milyar TV di seluruh dunia, dengan Cina memiliki TV terbanyak,sekitar 200 juta. Di Amerika, setahun ditayangkan sekitar 20 iklan TV. Gambar 1 John Lodie Baird

  2.3 Perkembangan Televisi Dalam penemuan televisi, terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun perusahaan. Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun. Adapun perkembangan televisi, yaitu :

  1. Televisi Mekanik Mungkin susah untuk dipercaya. Namun, penemuan cakram metal kecil berputar dengan banyak lubang didalamnya yang ditemukan oleh seorang mahasiswa di Berlin-Jerman, 23 tahun, Paul Nipkow [1883], merupakan cikal bakal lahirnya televisi.

  Kemudian, pada tahun Pada thun 1875, George Carey menciptakan Selenium Camera yang digambarkan dapat membuat seseorang melihat gelombang listrik. Belakangan, Eugen Goldstein menyebut tembakan gelombang sinar dalam tabung

  Gambar 2 Selenium Camera Pada tahun 1884-Paul Nipkov, Ilmuwan Jerman, berhasil mengirim gambar elektronik menggunakan kepingan logam yang disebut Teleskop Elektrik dengan resolusi 18 garis. Gambar 3 Teleskop Elektrik Pada tahun 1888, Freidrich Reinitzer, ahli botani Austria, menemukan cairan kristal (liquid crystals), yang kelak menjadi bahan baku pembuatan LCD. Namun LCD baru dikembangkan sebagai layar 60 tahun kemudian. Gambar 4 Cairan Kristal Pada tahun 1923, Vladimir Kosma Zworykin, mendaftarkan paten atas namanya untuk penemuannya, kinescope, televisi tabung pertama di dunia. Setahun kemudian, dia menyelesaikan studi doktornya di Universitas Pittsburgh. Vladimir lahir di Rusia, 30 Juli 1889. Dia menyempurnakan tabung katoda yang dinamakan kinescope. Temuannya mengembangkan teknologi yang dimiliki CRT. Keterbukaan Zworykin pada kritik, membuatnya menemukan penemuan baru lagi. Sebuah kamera tabung. Ini melengkapi teknologi televisi tabung penemuannya. Penemuan itu dinamakannya iconoscope, berasal dari bahasa Yunani, icon yang berarti citra dan scope yang berarti mengamati. Ia meninggal karena usia tua pada 29 Juli 1982. Dialah yang kemudian sebagai Sang Penemu Televisi. (1889-1982). Gambar 5 Kineskope Pada tahun 1925, John Logie Baird asal skotlandia menunjukkan transmisi dari gambar bayangan hitam bergerak di London. Dia juga yang menemukan sistem video recording untuk pertama kalinya. Pada tahun 1927, Philo T Farnsworth ilmuwan asal Utah, Amerika Serikat mengembangkan televisi modern pertama saat berusia 21 tahun. Gagasannya tentang image dissector tube menjadi dasar kerja televisi. Gambar 6 Televisi Modern Pertama Pada tahun 1979, Para Ilmuwan dari perusahaan Kodak berhasil menciptakan tampilan jenis baru organic light emitting diode (OLED). Sejak itu, mereka terus mengembangkan jenis televisi OLED. Sementara itu, Walter Spear dan Peter Le Comber membuat display warna LCD dari bahan thin film transfer yang ringan.

  2. TV elektronik Baik Farnsworth, maupun Zworykin, bekerja terpisah, dan keduanya berhasil dalam membuat kemajuan bagi TV secara komersial dengan biaya yang sangat terjangkau. Di tahun 1935, keduanya mulai memancarkan siaran dengan menggunakan sistem elektronik.

  Pada tahun 1939, RCA dan Zworykin siap untuk program reguler televisinya, dan mereka mempromosikan secara besar-besaran pada World Fair di New York. Antusias masyarakat yang begitu besar, menyebabkan the National Television Standards Committee [NTSC], 1941, memutuskan sudah saatnya untuk distandarisasikan sistem transmisi siaran televisi di Amerika. Lima bulan kemudian, seluruh stasiun televisi Amerika yang berjumlah 22 buah itu, sudah mengkonversikan sistemnya kedalam standard elektronik baru.

  Gambar 7 Televisi

  3. TV BERWARNA CBS sudah lebih dahulu membangun sistem warnanya beberapa tahun sebelum rivalnya, RCA. Tetapi sistem mereka tidak kompatibel dengan kebanyakan TV hitam putih diseluruh negara. CBS mengeluarkan banyak sekali biaya untuk sistem warna mereka, harus menyadari bahwa pekerjaan mereka berakhir sia-sia. RCA, yang belajar dari

  7

  2.5 Cara Mengurangi Dampak Negatif Televisi Melihat manfaat di atas, tidak ada salahnya jika orangtua menjadikan televisi sebagai sahabat untuk anak. Namun ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak negatif televisi dan memaksimalkan manfaatnya, yaitu :

  1. Perhatikan penempatan televisi. Jangan berikan anak televisi khusus di kamarnya. Taruh televisi di tempat yang anak tetap bisa diawasi dan didampingi saat menonton.

  2. Batasi waktu anak menonton televisi, cukup 1-2 jam sehari.

  3. Dampingi anak saat menonton televisi.

  4. Seleksi acara yang ditontonnya

  5. Seleksi perannya. Jangan sampai Anda malah menjadikan televisi sebagai babysitter.

  6. Pastikan selalu ada alternatif kegiatan selain menonton televisi. Misalnya saja, bermain sepeda, puzzle, berkebun, dan lain-lain.

  7. Orangtua harus memberi contoh pada anak. Contohnya, ketika baru pulang kerja, jangan langsung duduk di depan televisi berjam-jam.

  Bashori. 2007. Ilmu perbandingan agama (suatu pengantar).Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri Malang. Malang.

  Bertens, K. Etika. 2007. PT. Gramedia Utama.Jakarta.

  Departemen Pendidikan Nasional. 2008.Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Ke Empat.Jakarta.

  Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 1. 1988. PT. Cipta Adi Pustaka. Jakarta. Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 10. 1990. PT. Cipta Adi Pustaka. Jakarta.

  Fuady, Munir. 2013.Teori-Teori Besar dalam Hukum.Kencana. Jakarta.

  Kansil, C.S.T. 1989. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Balai Pustaka.

  Jakarta. Muhaimin, dkk. 2005. Kawasan dan Wawasan Studi Islam. Kencana. Jakarta.

  Marzuki, Peter Mahmud. 2009. Pengantar Ilmu Hukum. Kencana. Jakarta.

  Rifyal ka’bah. 2004.Menegakkan Syariat Islam di Indonesia.Jakarta.

  9

Dokumen baru