BAB II LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu yang Relevan - Dian Ambang Atmadi BAB II

Gratis

0
0
15
5 months ago
Preview
Full text

BAB II LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu yang Relevan Untuk membedakan p

  enelitian yang berjudul “Problematika Sosial pada teks drama Sidang Susila karya Ayu Utami s ebuah Kajian Sosiologi Sastra” dengan penelitian yang telah ada sebelumnya, maka penulis meninjau beberapa penelitian relevan yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Penelitian tersebut antara lain: 1.

   Problematika Sosial Remaja dalam Kumpulan Cerpen Bukan Karena

Aku Tak Cinta Karya Eko Sri Rahayu dan Saran Penerapannya Sebagai

Pengajaran Sastra di SMA

  Arifin Hanif Abidin adalah mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Penelitiannya yang berjudul Problematika Sosial Remaja dalam Kumpulan Cerpen Bukan

  

Karena Aku Tak Cinta Karya Eko Sri Rahayu dan Saran Penerapannya Sebagai

  Pengajaran Sastra di SMA. Dalam penelitianya membahas problematika sosial yang berhubungan dengan remaja di dalam keluarga, sekolah dan di masyarakat terutama yang berhubungan dengan permasalahan sosial. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi sastra yaitu menganalisis teks untuk mengetahui strukturnya, kemudian dipergunakan memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang terdapat di luar karya sastra.

  Persamaan penelitian ini dengan penelitian di atas adalah sama-sama membahas kondisi sosial dalam karya sastra dengan pendekatan sosiologi sastra

  5 yang menganalisis teks untuk mengetahui strukturnya, kemudian dipergunakan memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang terdapat di luar karya sastra.Sedangkan perbedaanya adalah objek yang digunakan berbeda, Penelitian di atas menggunakan cerpen sebagai objeknya sedangkan penelitian ini menggunakan teks drama sebagai objeknya. Jadi keunggulan penelitian ini terdapat pada objeknya, karena teks drama lebih terperinci dalam daripada cerpen dalam menceritakan peristiwa sehingga gambaran keadaan sosial lebih detil.

2. Dimensi Sosial Politik dalam Buku Puisi Renungan Kloset Karya Rieke Diah Pitaloka (Kajian Sosiologi).

  Endah Sawitri adalah mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Penelitiannya yang berjudul Dimensi Sosial Politik dalam Buku Puisi Renungan Kloset Karya Rieke Diah Pitaloka (Kajian Sosiologi). Dalam penelitianya membahas masalah politik yang berkaitan dengan pelanggaran HAM di Indonesia. Pendekatan yang dipergunakan adalah pendekatan sosiologi sastra dengan cara menganalisis teks untuk mengetahui strukturnya (unsur instrinsik), kemudian dipergunakan memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang terdapat di luar karya sastra (sosial).

  Persamaan penelitian ini dengan diatas adalah sama-sama membahas kondisi sosial dalam karya sastra dengan pendekatan sosiologi sastra yang menganalisis teks untuk mengetahui strukturnya, kemudian dipergunakan memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang terdapat di luar karya sastra.

  Sedangkan perbedaanya adalah objek yang digunakan berbeda, penelitian diatas menggunakan puisi sebagai objeknya sedangkan penelitian ini menggunakan teks drama sebagai objeknya. Jadi keunggulan penelitian ini terdapat dalam objeknya, karena teks drama lebih mudah dipahami dan terperici daripada puisi dalam menceritakan peristiwa, sehingga gambaran keadaan sosial lebih detil. Penelitian ini berusaha untuk mengungkap problematika sosial yang terdapat dalam teks drama Sidang Susila karya Ayu Utami. Penelitian ini mengkaji problematika sosial yang mencakup probematika sosial aspek biologis, aspek sosial budaya, aspek ekonomi dan aspek psikologi yang ditinjau dari sosiologi sastra. Berdasarkan kenyataan tersebut dan juga sepanjang pengetahuan penulis, maka dapat dikemukakan bahwa problematika sosial teks drama Sidang Susila karya Ayu Utami belum pernah dianalisis secara khusus dengan tinjauan sosiologi sastra. Dengan demikian orisinilitas yang dilakukan ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

B. Sosiologi Sastra

  Menurut Hartoko (2004: 89) sosiologi sastra adalah cabang ilmu sastra adalah cabang ilmu sastra yang mempelajari sastra dalam hubungannya dengan kenyataan sosial mencakup pengertian kompleks pengarang dan pembaca (produksi dan resepsi) serta sosiologi sastra (aspek-aspek sosial dalam teks sastra).

  Pritin Sorokin dalam Soekanto (2001: 19) mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari :

  1. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gerak masyarakat dengan politik)

  2. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala-gejala non sosial (gejala geografis, biologis)

  3. Ciri-ciri umum semua jenis gejala sosial.

  Karya sastra sebagai wujud kehidupan manusia yang berusaha merekan semua yang terjadi dalam masyarakat dan berusaha untuk mengungkapkan proses sosial. Sedang proses sosial itu dipelajari oleh ilmu sosiologi. Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif. Penelitian ini banyak diminati oelh peneliti yang ingin melihat sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat. Kehidupan sosial akan memicu lahirnya karya sastra. Sastra adalah ekspresi kehidupan manusia yang tak lepas dari akar masyarakat. Dengan demikian, meskipun sosiologi dan sastra dalah dua hal yang berbeda namun dapat saling melengkapi.

  Sejalan akan hal tersebut, Kurniawan (2012: 12) menjelaskan bahwa pendekatan sosiologi sastra tetap berpusat pada karya sastra yang digunakan sebagai data utama untuk memaknai pandangan dunia pengarang, semangat zaman, kondisi sosial masyarakat. Jadi analisis sosiologi sastra banyak digunakan dalam karya sastra sebagai sumber dari segala sesuatu kejadian yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang ditulis oleh seorang pengarang.

  Sosiologi sastra berkembang dengan pesat sejak penelitian-penelitian dengan memanfaatkan teori strukturalisme dianggap mengalami kemunduran.

  Analisis strukturalisme dianggap mengabaikan relevansi masyarakat yang merupakan asal-usulnya. Dipicu oleh kesadaran bahwa karya sastra harus difungsikan sama dengan aspek-aspek kebudayaan lain maka dilakukanlah pengembalian karya sastra di tengah-tengah masyarakat, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan sistem komunikasi secara keseluruhan.

  Menurut Ratna (2003: 2) ada sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan dalam rangka menemukan objektivitas hubungan antara karya sastra dengan masyarakat, antara lain:

  1. Pemahaman terhadap karya sastra dengan pertimbangan aspek kemasyarakatanya.

  2. Pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya.

  3. Pemahaman terhadap karya sastra sekaligus dengan hubunganya dengan masyarakat yang melatarbelakangi.

  4. Sosiologi sastra adalah hubungan dua arah (dialektik) antara sastra dengan masyarakat.

  5. Sosiologi sastra berusaha menemukan kualitas interdependensi antara sastra dengan masyarakat.

  Dan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra tidak terlepas dari manusia dan masyarakat yang bertumpu pada karya sastra sebagai objek yang dibicarakan. Lebih lanjut Ratna (2011: 332-333) mengemukakan bahwa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat sebagai berikut:

  1. Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, sedangkan ketiga subjek tersebut adalah anggota masyarakat.

  2. Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, yang pada giliranya juga difungsikan oleh masyarakat.

  3. Medium karya sastra, baik lisan maupun tulisan, dipinjam melalui kompetensi masyarakat, yang dengan sendirinya telah mengandung masalah-masalah kemasyarakatan .

  4. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat-istiadat, dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetika, etik, bahkan logika. Mesyarakat jelas sangat berkepentingan terhadap ketiga aspek tersebut.

  5. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya sastra.

  Tujuan dari sosiologi sastra adalah mengingatkan pemahaman terhadap sastra dalam kaitannya dengan masyarakat, menjelaskan bahwa rekaan tidak berlawanan dengan kenyataan (Ratna, 2003: 11). Dalam hal ini karya sastra dikonstruksikan secara imajinatif, tetapi kerangka imajinatifnya tidak bisa dipahami di luar kerangka empirisnya dan karya sastra bukan semata-mata merupakan gejala individual tetapi gejala sosial.

  Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antara sastra, sastrawan, dan masyarakat sangat penting karena sosiologi sastra tidak hanya membicarakan karya sastra itu sendiri melainkan hubungan masyarakat dan lingkungannya sertakebudayaan yang menghasilkanya.Keberadaan karya sastra tidak terlepas dari adanya hubungan timbal balik antara pengarang, masyarakat, dan pembaca.Hubungan tersebut menjadi dasar pembagian sosiologi sastra oleh Rene Wellek dan Austi Warren, serta Ian Watt.

  Pembagian jenis sosiologi sastra tersebut, hampir mirip dengan apa yang dilakukan Ian Watt dalam esainya

  “Literarure an Society”. (Damono, 2002:4).

  Ian Watt, membedakan antara sosiologi sastra yang mengkaji :

  1. Konteks sosial pengarang yang berhubungan antara posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dengan masyarakat pembaca. Termasuk faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi pengarang sebagai perseorangan selain mempengaruhi karya sastra.

  2. Sastra sebagai cermin masyarakat, sastra cerminan masyarakat dapat dipahami untuk dipahami untuk mengetahui sampai sejauh mana karya sastra dapat mencerminkan keadaan masyarakat ketika karya sastra itu ditulis, sejauh mana gambaran pribadi pengarang mempengaruhi gambaran masyarakat atau fakta sosial yang ingin disampaikan, dan sejauh mana karya sastra yang digunakan pengarang dapat dianggap mewakili masyarakat.

  3. Fungsi sosial sastra, fungsi sosial sastra untuk mengetahui sampai berapa jauh karya sastra berfungsi sebagai perombak, sejauh mana karya sastra berhasil sebagai penghibur dan sejauh mana nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial.

  Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa sosiologi sastra dapat meneliti melalui tiga perspektif. Pertama, perspektif teks sastra, artinya peneliti menganalisisnya sebagai sebuah refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya. Kedua, perspektif biologis yaitu peneliti menganalisis dari sisi pengarang. Perspektif ini berhubungan dengan kehidupan pengarang dan latar kehidupan sosial, budayanya. Ketiga, perspektif reseptif yaitu peneliti menganilisis penerimaan masyarakat terhadap teks sastra.

  Sosiologi karya sastra itu sendiri lebih memperoleh tempat dalam penelitian sastra, karena sumber-sumber yang dijadikan acuan mencari keterkaitan antara permasalahan dalam karya sastra dengan permasalahan masyarakat lebih mudah diperoleh. Di samping itu, permasalahan yang diangkat dalam karya sastra biasanya masih relevan dalam kehidupan masyarakat.

C. Definisi Drama

  Menurut Hasanuddin (2009: 8) drama merupakan suatu genre yang ditulis dalam bentuk dialog dengan tujuan untuk dipentaskan sebagai seni pertunjukan.

  Dalam drama seseorang senantiasa bersama dengan yang lain. Baik dengan orang yang tingkat pengetahuannya setaraf dengannya, ataupun dengan yang lebih rendah lagi.Suasana begini menyebabkan drama disebut sebagai suatu collective

  art, seni kolektif. Artinya bahwa melakukan kegiatan drama tak mungkin

  ditempuh sendirian, tanpa bersama-sama dengan orang lain. Seseorang dengan yang lain saling bergantung.

  Menurut Harymawan (1993: 1) drama adalah kualitas komunikasi, situasi,

  

action, (segala apa yang terlihat dalam pentas) yang menimbulkan perhatian,

  kehebatan, (exciting), dan ketegangan pada pendengar/penonton. Dari definisi para pakar di atas drama dapat diartikan sebagai suatu karya sastra yang dipentaskan melalui perwujudan seni panggung atau pertujukan yang di dalamnya terdapat dialog untuk berkomunikasi. Hal itu bertujuan untuk menafsirkan maksud dari penulis yang kemudian diluapkan dalam bentuk seni peran baik sendiri maupun bersama-sama dengan karakter masing-masing.

D. Problematika Sosial

  Problema sosial adalah usaha meneliti gejala-gejala abnormal dalam masyarakat, dengan maksud memperbaikinya bahkan untuk menghilangkannya.

  Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam usaha memperbaikinya, merupakan bagian dari pekerjaan sosial. Menurut Kartono (2011: 2) problema sosial adalah situasi sosial yang dianggap oleh sebagian warga masyarakat sebagai mengganggu, tidak dikehendaki, berbahaya dan merugikan orang. Problema sosial hanya terbatas pada usaha untuk menemukan dan menelaah apa saja yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Jadi yang dimaksud dengan problema sosial adalah suatu permasalahan yang timbul dalam masyarakat yang disebabkan oleh tuntunan- tuntunan kehidupan yang sulit dicapai baik dari segi ekonomis, sosial, psikologis, dan kebudayaan.

  Munculnya problematika sosial karena adanya kekurangan dan penyimpangan terhadap norma-norma dalam masyarakat. Problema sosial yang terjadi dalam masyarakat diklasifikasikan menjadi empat kategori: (1) Ekonomi, antara lain: kemiskinan, pengangguran dan sebagainya, (2) Problema yang berasal dari faktor biologis, (3) Problema yang berasal dari faktor psikologis, misalnya bunuh diri, ketidakharmonisan dan sebagainya, (4) Problema yang berasal dari faktor kebudayaan, persoalan, keagamaan, dan sebagainya (Soekanto, 2009:315).

1. Problema sosial dalam aspek biologis

  Menurut Wilis (2008: 32) kebutuhan biologis disebut juga motive atau drive. Kebutuhan biologis sering juga disebut Physicological atau Biological Motivation. Pengertian kebutuhan atau motive adalah segala yang mendorong makhluk (manusia dan binatang) untuk bertingkah laku mencapai sesuatu yang diinginkan atau dituju. Kebutuhan biologis ialah motif yang berasal daripada dorongan-dorongan biologis. Motif ini sudah dibawa sejak lahir, jadi tanpa dipelajari. Boleh dikatakan bahwa motif biologis sama-sama dimiliki oleh semua makhluk Allah seperti lapar, haus, bernafas, mengantuk, dorongan seks. Motif biologis diperinci menjadi dua yaitu motif makan, motif minum, bernafas, istirahat, kemudian yang kedua dorongan seks. Hal inilah yang menjadi sumber terjadinya problema sosial biologis.

2. Problema sosial dalam aspek budaya

  Sebagaimana diketahui bahwa kebudayaan adalah hasil cipta, karsa, dan rasa manusia karena kebudayaan mengalami perubahan dan perkembangannya sejalan dengan perkembangan manusia itu. perkembangan tersebut dimaksudkan untuk kepentingan manusia sendiri karena kebudayaan diciptakan oleh dan untuk manusia. Perkembangan kebudayaan terhadap dinamika kehidupan seseorang bersifat kompleks dan memiliki eksistensi dan berkesinambungan dan juga menjadi warisan sosial. Seseorang mampu mempengaruhi kebudayaan dan memberikan peluang untuk terjadinya perubahan kebudayaan. Perkembangan zaman mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala bidang, termasuk dalam hal kebudayaan.

  Mau tidak mau kebudayaan yang dianut suatu kelompok sosial akan bergeser. Cepat atau lambat pergeseran ini akan menimbulkan konflik antara kelompok-kelompok yang menghendaki perubahan dengan kelompok-kelompok yang tidak menghendaki perubahan suatu komunitas dalam kelompok sosial bisa saja menginginkan adanya perubahan dalam kebudayaan yang mereka anut, dengan alasan sudah tidak sesuai lagi dengan zaman yang mereka hadapi saat ini.

  Namun perubahan kebudayaan ini kadang kala disalahartikan menjadi suatu penyimpang kebudayaan. Interpretasi ini mengambil dasar pada adanya budaya- budaya baru yang tumbuh dalam komunitas mereka yang bertentangan dengan keyakinan mereka sebagai penganut kebudayaan tradisional selama turun temurun. (Setiadi: 40)

  Hal yang terpenting dalam proses pengembangan kebudayaan adalah dengan adanya control atau kendali terhadap perilaku regular (yang tampak) yang ditampilkan oleh para penganut kebudayaan. Karena tidak jarang perilaku yang ditampilkan sangat bertolak belakang dengan budaya yang dianut di dalam kelompok sosialnya. Yang diperlukan di sini adalah kontrol sosial yang ada di masyarakat, yang menjadi suatu “cambuk” bagi komunitas yang menganut kebudayaan tersebut. Sehingga mereka dapat memilah-milah, mana kebudayaan yang sesuai dan mana kebudayaan yang tidak sesuai.

  Beberapa problematika sosial budaya yaitu hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan system kepercayaan, hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan persepsi atau sudut pandang, hambatan budaya berkaitan dengan faktor psikologi atau kejiwaan, masyarakat yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar, sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal baru, sikap etnosentrisme, dan perkembangan IPTEK sebagai hasil kebudayaan.

3. Problematika sosial dalam aspek ekonomi

  Sumber-sumber problematika sosial memang sulit diklasifikasikan dalam faktor tertentu. Hal ini dikarenakan suatu masalah dapat digolongkan lebih dari satu kategori. Kesesuaian antara nilai-nilai sosial dengan kenyataan serta tindakan sosial, merupakan suatu permasalahan yang suatu waktu dapat bersamaan terjadi di tempat lain. Sebab memang dalam kehidupan di masyarakat hal yang sama dialami dan dihadapi dalam masyarakat pada kemiskinan.

  Menurut Soekanto (2009: 319) seorang dianggap miskin karena tidak sanggup antara lain memelihara dirinya yang sesuai dengan taraf kehidupan kelompok, kejahatan yang dapat disebabkan dari berbagai tekanan, ketidakharmonisan keluarga, seperti anggota keluarga yang tidak lengkap dari perceraian, masalah generasi muda, kaum muda tengah mengalami masa transisi dalam masyarakat yang disesuaikan dengan nilai-nilai. Peperangan merupakan suatu bentuk pertentangan pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat seperti alkoholisme, masalah kependudukan, masalah lingkungan hidup. Tidak menutup kemungkinan timbulnya problema-problema sosial dari sumber lain, seperti halnya perubahan sosial.

  Problema-problema sosial yang telah ada dikemukakan di atas barulah sebagian kecil dari berbagai permasalaha-permasalahan yang biasa terjadi dalam masyarakat. Persoalan di atas baru mencakup pada aspek ekonomi berupa kemiskinan dan perbedaan kelas sosial. Persoalan sosial dalam masyarakat sangat beragam dan manusia tidak bisa lepas dari adanya masalah. Memang setiap hidup dan kehidupan selalu ada saja permasalahan yang selalu menyertai, karena masalah memang bagian dari dari kehidupan. Namun setiap masalah pasti ada jalan keluar dan pemecahannya.

  Masalah sosial merupakan masalah kita bersama, perlu menyatukan pemikiran dan solusi pemecahannya. Contoh problema sosial ekonomi antara lain: perbedaan kelas sosial dan kesenjangan sosial. Perbedaan kelas sosial adalah perbedaan kelompok manusia yang menempati lapisan sosial berdasarkan kriteria ekonomi. Sedangkan kesenjangan sosial adalah suatu keadaan ketidakseimbangan sosial dalam masyarakat yang menjadikan perbedaan yang sangat mencolok.

  Biasanya timbul ketidakpedulian terhadap sesama dikarenakan adanya kesenjangan yang terlalu mencolok antara si kaya dan si miskin.

4. Problema sosial dalam aspek psikologis

  Psikologi merupakan ilmu yang berkaitan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada perilaku; ilmu pengetahuan tentang gejala dan kehiatan jiwa (Moeliono Ed), 2007 : 1109). Psikologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang objek studinya adalah manusia karena psyche atau mengandung pengertian jiwa. Dengan demikian psikologi mengandung

  psycho makna ilmu pengetahuan tentang jiwa.

  Setiap perasaan yang dirasakan manusia timbul dari kejiwaan. Begitu juga dengan tindakan-tindakan yang dilakukan di dalam kehidupannya. Dengan kata lain, ada situasi kejiwaan yang mempengaruhi perasaan atau tindakan manusia. Perasaan dan tindakan tersebut misalnya curiga, nakal, iri, dan membunuh. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.

  a. Curiga

  Curiga merupakan problema sosial dalam aspek psikologis. Curiga adalah perasaan di mana seseorang merasakan ketidakpercayaan atau memiliki perasaan ragu-ragu terhadap orang lain. Hal ini sejalan dengan pendapat Poerwadarminta (2007: 252) yang mengatakan bahwa curiga merupakan perasaan kurang atau tidak percaya terhadap seseorang karena takut ia akan berbuat jahat. Artinya, orang yang merasa curiga adalah orang yang kurang percaya atau yakin terhadap perilaku atau pernyataan seseorang karena takut sesuatu yang buruk akan terjadi.

  Orang yang curiga biasanya menyelidiki apakah ada motif tersembunyi atau tidak atas perilaku atau pernyataan seorang.

  b. Nakal Nakal merupakan problema social yang masuk ke dalam aspek psikologis.

  Nakal adalah suatu tindakan buruk yang dilakukan seseorang kepada orang lain. Hal ini sejalan dengan pendapat Poerwadarminta (2007: 792) yang mengatakan bahwa nakal adalah sutu tindakan kurang baik atau tindakan buruk. Artinya, perbuatan nakal merupakan perbuatan yang menganggu orang lain. Tindakan buruk tersebut bermacam-macam misalnya, mengejek orang lain, menjailili orang lain, tidak sopan terhadap orang lain, dan sebagainya. Tindakan nakal atau buruk ini merupakan tindakan yang muncul atas dorongan kejiwaan pada diri manusia.

  Ada banyak motif dalam setiap kenakalan yang dilakukan seseorang, seperti mencari perhatian, sengaja mencari masalah, dan lain sebagainya.

  c. Iri

  Perasaan iri masuk ke dalam aspek psikologis. Sebab, iri merupakan sebuah perasaan yang lahir dari dorongan kejiwaan seseorang. Perasaan iri merupakan perasaan kurang suka atau senang terhadap kebahagiaan atau keberuntungan orang lain. Hal ini sejalan dengan pendapat Poerwadarminta (2007: 452) yang mengatakan bahwa iri merupakan perasaan kurang senang terhadap

  Keberuntungan yang didapatkan oleh orang lain. Artinya, orang yang memiliki perasaan iri tidak akan merasakan keadilan di dalam hidupnya dan biasanya orang tersebut akan diam-diam membenci keberuntungan orang lain.

  d. Membunuh

  Membunuh merupakan tindakan yang lahir dari dorongan psikis atau kejiwaan manusia. Tindakan ini salah satunya dilakukan atas perasaan kebencian atau ketidaksukaan seseorang terhadap orang lain secara berlebihan. Menurut Poerwadarminta (2007: 194) tindakan membunuh merupakan tindakan mematikan orang lain. Artinya, tujuan dari melakukan pembunuhan adalah untuk mematikan orang lain yang tidak disukainya. Tindakan pembunuhan ini dapat dilakukan secara individu atau secara komplotan dan terencana ataupun tanpa rencana tergantung bagaimana situasinya. Orang-orang yang melakukan pembunuhan terhadap orang lain biasanya adalah orang-orang yang benar-benar sudah tidak bisa mengontrol emosi tingkat tingginya atau dapat dikatakan lepas kesadaran.

Dokumen baru

Download (15 Halaman)
Gratis

Tags