Validasi efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai di 10 SMP di Indonesia - USD Repository

Gratis

0
0
210
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA YANG ORANG TUANYA PEGAWAI DAN NON PEGAWAI DI 10 SMP DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Bimbingan dan Konseling Oleh: Elfrida Prisma Muwa 151114004 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkaraperkara besar.” Lukas 16:10 “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Matius 14:27 iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya skripsi ini saya persembahkan kepada: Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan kekuatan dan kesetian serta yang selalu menyertaiku selama proses penyelesaian penulisan skripsi. Kedua orangtuaku Bapak Yohanes Don Bosco, dan ibu Karolina Kara yang selalu mendukung, memotivasi dan mendoakanku. Kakak Len Alfin More laru dan ketiga adik-adikku yang selalu mendukung, memotivasi, dan mendoakanku. v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA YANG ORANG TUANYA PEGAWAI DAN NON PEGAWAI DI 10 SMP DI INDONESIA Elfrida Prisma Muwa Universitas Sanata Dharma 2019 Penelitian ini bertujuan: 1) menghasilkan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter; 2) mengukur kualitas soal-soal tes yang dihasilkan; 3) menganalisis efektitivitas soal tes tersebut menurut penilaian siswa pada 10 SMP di Indonesia; 4) mengukur capaian hasil pendidikan karakter siswa dengan menggunakan soal tes tersebut pada 10 SMP di Indonesia; 5) menganalisis perbedaan penilaian siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai terhadap efektivitas penggunaan soal tes yang dikembangkan tersebut; 6) mengukur perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai berdasarkan penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang dikembangkan dalam penelitian ini. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development). Subjek penelitian adalah siswa kelas VII dan VIII pada 10 SMP di Indonesia yang berjumlah 660 siswa. Objek penelitian ini adalah soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter dan kuesioner validasi efektivitas. Teknik uji kualitas butir soal tes menggunakan pendekatan analisis faktor konfirmatori, perbedaan penilaian siswa terhadap efektivitas penggunaan soal pada siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai dianalisis dengan teknik Chi-Square dan perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai dengan teknik Independent Sample t Test. Hasil penelitian: 1) Dihasilkan 88 butir soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. 2) kualitas soal tes yang dikembangkan menunjukkan bahwa 81 butir soal tes valid dan reliabel dengan teknik Alpha Cronback 0,933 (baik). 3) menurut penilaian siswa produk soal tersebut sangat efektif 4) hasil pendidikan karakter dengan menggunakan produk soal tes tersebut diperoleh data 51,2 % siswa dalam kategori baik dan 48,8 % siswa dalam kategori cukup baik. 5) siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai menilai tidak terdapat perbedaan dalam 32 item kualitas efektivitas, artinya soal tes tersebut efektif digunakan pada siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai 6) Terdapat perbedaan hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya non pegawai dan siswa yang orang tuanya pegawai. Kata kunci: validasi, efektivitas, pendidikan, karakter, siswa, orang tua, pegawai dan non pegawai. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE EFFECTIVENESS VALIDATION OF THE CHARACTER MOVIE BASED CHARACTER EDUCATION ASSESSMENT TEST USAGE ON STUDENTS IN RELATION WITH THEIR PARENTS’ EMPLOYMENTS STATUS IN 10 SMP (JUNIOR HIGH SCHOOL) IN INDONESIA Elfrida Prisma Muwa Sanata Dharma University 2019 This study was aimed to: 1) produce an assessment test of character movie-based character education result; 2) measure the quality of the produced test items; 3) analyze the effectiveness of the test according to students in 10 junior high schools in Indonesia; 4) measure the character education achievement using the assessment test in 10 junior high schools in Indonesia; 5) analyze the assessment differences of students in relation with their parents’ employment status towards the effectiveness of the developed test items; 6) measure the difference of students achievement on character education in relation with their parents’ employment status based on the usage of character moviebased character education assessment test that being developed. The type of this research was research and development study. The research subjects were students of class VII and VIII in 10 junior high schools in Indonesia with total subjects were 660 students. The object of this research was character movie-based character education result assessment test. Data collection instrument used in this study was the character movie-based character education results assessment test and effectiveness validation questionnaire. The quality test technique used for the test itemswas a confirmatory factor analysis approach, the difference in students’ assessment in relation with their parents’ employment status was measured using Chi-Square technique and the differences in the students’ achievement on character education in relation with their parents’ employment status was measured using the Independent Sample T Test technique. The results of the study were: 1) 88 items of character movie-based character education result assessment test were obtained. 2) the quality test on character test items shows that 81 test questions were valid and the reliability of the items were 0.933 (good) using Alpha Cronbach technique. 3) according to the students’ assessment towards the assessment test, the test was considered as very effective. 4) character education achievement that tested using the test showed that there were 51.2% students were in the good character category and 48.8% students were in the quite good character. 5) according to the students’ assessment in relation with their parents’ employment status, there were 32 items effectivity, it means that the assessment test of the character moviebased character education result was effectively used by students in relation with their parents’ employment status. 6) There were differences in the results of character education of students in relation with their parents’ employment status. Keywords: validation, effectiveness, education, character, students, parents, employees and non-employees. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih atas segala kasih dan karunianya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul “Validasi Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada Siswa yang Orang Tuanya Pegawai dan Non Pegawai di 10 SMP di Indonesia” Selama penulisan tugas akhir ini, peneliti menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu, mendukung dan membimbing peneliti. Oleh karena itu, peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada : 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Dr. Gendon Barus, M.Si. selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling, dan dosen pembimbing yang selalu memberikan semangat dan motivasi untuk terus berjuang dalam mengerjakan skripsi ini. 3. Juster Donal Sinaga, M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling. 4. Para Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling: Ibu Hayu, Ibu Indah, Ibu Reta, Ibu Retno, Pak Sinurat, Pak Agus, Pak Rian. 5. Mas Moko, yang selalu setia memberikan pelayanan administrasi di Sekretariat Program Studi Bimbingan dan Konseling. 6. Kepala Sekolah, Bapak dan Ibu Guru, para Siswa-siswi SMP N 3 Wates Kulon Progo atas perannya dalam penelitian ini. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL. ..................................................................................................i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN. ................................................................................ iii HALAMAN MOTTO. ............................................................................................. iv HALAMAN PERSEMBAHAN. ............................................................................... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA. ......................................... vi HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI. ........................ vii ABSTRAK ............................................................................................................... viii ABSTRACT .................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ............................................................................................... x DAFTAR ISI ............................................................................................................ xii DAFTAR TABEL .......................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR. ............................................................................................ xvii DAFTAR LAMPIRAN. ....................................................................................... xviii BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1 A. Latar Belakang masalah................................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah. ........................................................................................ 7 C. Pembatasan Masalah atau Fokus Penelitian Masalah.................................... 8 D. Rumusan Masalah. ........................................................................................... 9 E. Tujuan Penelitian. .......................................................................................... 10 F. Manfaat Penelitian. ........................................................................................ 10 1. Manfaat Teoritis....................................................................................... 10 2. Manfaat Praktis. ....................................................................................... 11 G. Definisi Istilah. ............................................................................................... 12 BAB II KAJIAN PUSTAKA . ................................................................................14 A. Hakikat Pendidikan Karakter di Sekolah. .................................................... 14 1. Pengertian Karakter. ................................................................................ 14 2. Pengertian Pendidikan Karakter ............................................................. 15 3. Tujuan, Fungsi, dan Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter .................... 16 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Nilai-nilai Karakter Utama yang dikembangkan dalam Pendidikan .... 19 5. Nilai-nilai Karakter untuk SMP ................................................................ 22 B. Hakikat Evaluasi, Asesmen, danTes. ............................................................ 26 1. Pengertian Evaluasi, Asesmen, dan Tes. ................................................ 26 2. Tujuan dan Fungsi Asesmen ................................................................... 28 3. Ruang Lingkup Asesmen ........................................................................ 29 4. Prinsip-prinsip Asesmen ................................................................. 30 5. Jenis-Jenis Asesmen ................................................................................ 32 6. Teknik-teknik Asesmen........................................................................... 35 7. Tes sebagai Teknik Asesmen .................................................................. 37 C. Asesmen Pendidikan Karakter. ..................................................................... 38 1. Pengertian Asesmen Pendidikan Karakter ............................................. 38 2. Manfaat Asesmen Pendidikan Karakter ................................................. 38 3. Teknik-teknik Asesmen Pendidikan Karakter ....................................... 39 4. Kekuatan dan Kelemahan Tes ................................................................ 40 5. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Penggunaan Tes dalam Pendidikan Karakter .............................................................................. 43 6. Hambatan-hambatan dan Kesulitan asesmen Pendidikan Karakter di Indonesia .............................................................................. 50 D. Media Film Dalam Pendidikan Karakter...................................................... 54 1. Karakteristik Media Film Karakter......................................................... 54 2. Kekuatan-kekuatan Media Film dalam Pendidikan Karakter ............... 56 3. Prinsip-prinsip Penggunaan Media Film dalam Pendidikan Karakter .......................................................................................... 56 4. Film sebagai Media Asesmen ................................................................. 57 5. Film sebagai Media Tes hasil Pendidikan Karakter ............................ 58 E. Hakikat Pegawai dan Non Pegawai .............................................................. 60 1. Pengertian Pegawai. ................................................................................ 60 2. Karakter Individu Pegawai ......................................................................... 60 3. Karakteristik pekerjaan Pegawai ................................................................ 61 4. Pengertian Non Pegawai ........................................................................... 61 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Karakteristik Wirausahawan Model Gooffery ........................................... 63 2. Orang Tua sebagai Pengaruh Pendidikan Karakter Anak............................ 63 A. Kajian Penalitian yang Relevan. ................................................................... 64 B. Kerangka Pikir. .............................................................................................. 65 C. Hipotesis Penelitian ........................................................................................ 67 BAB III METODE PENELITIAN .. .....................................................................68 A. Model Penelitian dan Pengembangan ......................................................... 68 B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan ..................................................... 69 1. Revisi Oprasional Produk ...................................................................... 73 2. Uji Lapangan Produk ............................................................................. 74 C. Uji Coba Produk ........................................................................................... 75 1. Desain Uji Coba ..................................................................................... 75 2. Tempat penelitian ................................................................................... 75 3. Subjek Uji Coba Produk ........................................................................... 76 4. Objek penelitian ...................................................................................... 77 5. Waktu penelitian ..................................................................................... 77 D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ................................................. 78 1.Teknik Pengumpulan Data ..................................................................... 78 2. Instrumen Pengumpulan Data .................................................................. 79 E. TeknikAnalisis Data ..................................................................................... 82 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ..................................... 92 A. Hasil Penelitian .............................................................................................. 92 B. Pembahasan .................................................................................................. 115 BAB V PENUTUP ....................................................................................... 124 A. Kesimpulan................................................................................................... 124 B. Keterbatasan Penelitian ............................................................................... 126 C. Saran ............................................................................................................ 127 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 128 LAMPIRAN ............................................................................................................ 132 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1Tempat Penelitian ............................................................................... 75 Tabel 3.2 Subjek Uji Coba Penelitian ................................................................ 76 Tabel 3.3 Waktu Penelitian................................................................................ 77 Tabel 3.4 Konstruk Soal Tes Asesmen hasil Pendidikan Karakter ..................... 81 Tabel 3.5 Kategori Koefisien Reliabilitas Guilford (1956) ............................... 87 Tabel 3.6 Norma Kategorisasi PAP Tipe 1 ........................................................ 88 Tabel 3.7 Norma Kategorisasi ........................................................................... 89 Tabel 4.1 Contoh Soal Tes Karakter .................................................................. 94 Tabel 4.2 Hasil Analisis Faktor Variabel 1 ....................................................... 95 Tabel 4.3 Total Variance Explained ................................................................ 95 Tabel 4.4 Rotated Component Matrix ............................................................. 95 Tabel 4.5 Hasil Analisis Faktor Variabel 2 & 3 ............................................... 96 Tabel 4.6 Total Variance Explained ............................................................... 96 Tabel 4.7 Rotated Component Matrix ............................................................. 98 Tabel 4.8 Hasil Analisis Faktor Variabel 4 Tabel 4.9 Total Variance Explained .................................................. 100 ............................................................. 100 Tabel 4.10 Rotated Component Matrix ........................................................... 101 Tabel 4.11 Hasil Analisis Faktor Variabel 5 .................................................. 101 Tabel 4.12 Total Variance Explained ............................................................. 102 Tabel 4.13 Rotated Component Matrix ........................................................... 102 Tabel 4.14 Case Processing Summary .......................................................... 103 Tabel 4.15 Reliability Statistics .................................................................... 103 Tabel 4.16 Rekapitulasi hasil Efektivitas ......................................................... 104 Tabel 4.17 Rekapitulasi hasil Efektivitas ...................................................... 106 Tabel 4.18 Rumus Norma Tiga Kategorisasi ................................................... 107 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.19 Tabel Pengkategorisasian ............................................................ 108 Tabel 4.20 Capaian Hasil Pendidikan Karakter ............................................... 109 Tabel 4.21 Perbedaan Penilaian Siswa ............................................................ 110 Tabel 4.22 Perbedaan Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa .................... 113 Tabel 4.23 Independent Samples Test ........................................................... 114 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Kerangka Pikir ............................................................................ 66 Gambar 3.1 Bangka Prosedur Pengembangan Menurut Borg and Gall ............. 72 Gambar 3.2 Capaian Hasil Pendidikan Karakter .............................................. 89 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Tabulasi Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen ................... 132 Lampiran 2 Tabulasi Capaian Hasil Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter .......................................................... 142 Lampiran 3 Tabulasi Validasi dan Reliabilitas ............................................. 155 Lampiran 4 Efektivitas Penilaian Siswa yang Orang tuanya Pegawai dan Non Pegawai ......................................................................... 159 Lampiran 5 Lembar Jawab ........................................................................... 182 Lampiran 6 Lembar Penilaian Siswa ............................................................. 183 Lampiran 7 Surat Ijin Penelitian .................................................................... 184 Lampiran 8 Surat Kesedian Mitra .................................................................. 185 Lampiran 9 Surat Keterangan Sudah Melaksanakan Penelitian ...................... 186 Lampiran 10 Absensi .................................................................................... 187 Lampiran 11 Dokumentasi .......................................................................... 191 Lampiran 12 DVD Soal Tes Asesmen ........................................................... 192 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dipaparkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi istilah. Paparan bersifat singkat, ringkas dan padat. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan karakter di sekolah, khususnya di SMP bukan lagi menjadi hal baru. Sejak tahun 2010 sistem pendidikan karakter sudah digerakkan, bahkan di setiap mata pelajaran guru diminta untuk memasukan nilai-nilai karakter di dalamnya. Meskipun demikian, masih banyak kasus yang berkaitan dengan karakter buruk, contohnya kasus guru yang di-bully oleh para siswanya di Kendal (2018), dan kasus siswa yang membunuh gurunya di SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang (2018). Melihat kasus yang ada, maka muncul pertanyaan-pertanyaan dibenak peneliti, sejauh mana sistem pendidikan karakter yang ditanamkan di sekolah? Adakah evaluasi dan asesmen dari sistem pendidikan karakter yang diterapkan? Seperti apa sistem evaluasi dan asesmen itu? Seberapa efektifkah sistem evaluasi dan asesmen yang digunakan? Sistem evaluasi dan asesmen mengenai pendidikan karakter masih jarang dibicarakan. Sistem evaluasi dan asesmen yang saat ini dilakukan di sekolah-sekolah dirasa masih belum mampu mengukur karakter siswa. Bahkan, model evaluasi atau asesmen pendidikan karakter yang digunakan masih 1

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 memiliki kekurangan, salah satunya adalah sistem poin. Hal ini didukung oleh pendapat yang diungkapkan Barus (2016) bahwa: Penerapan sistem poin yang berasumsi bahwa pelanggaran pelanggaran ‘kejahatan’ siswa harus dihitung, dicatat, dan ditakar sangat tidak berakar dan tidak memanusiakan. Mengambil pandangan yang sepenuhnya negatif pada anak dengan menganggap bahwa anak dilahirkan berdosa dan jahat dan bahwa adalah tugas pendidikan untuk memperbaiki ini melalui hukuman dan melatih ketaatan, merupakan langkah awal kekeliruan dalam penerapan sistem poin. Selain sistem poin, model evaluasi dan asesmen yang umum digunakan dirasa memiliki kekurangan, dan subjektivitas, diantaranya: observasi, skala sikap, dan wawancara. Kelemahan observasi adalah tidak dapat dilakukan terhadap beberapa situasi atau beberapa peserta didik sekaligus. Hasil observasi pada suatu kejadian tidak dapat diulang pada waktu lain, untuk mendapatkan gambaran menyeluruh dan ketepatan hasil. Observasi perlu dilakukan beberapa kali sehingga memerlukan waktu yang panjang, penafsiran terhadap hasil observasi sering kali bersifat subjektif. Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan beberapa orang pengamat, sikap observer, jarak waktu yang panjang antara situasi dengan situasi yang diamati, dan objektivitas pencatatan akan sangat mempengaruhi validitas hasil observasi. Model wawancara juga memiliki kekurangan seperti, membutuhkan waktu lama dan lebih banyak tenaga, membutuhkan keahlian yang memadai untuk melakukan wawancara. Memerlukan pendidikan dan latihan khusus dalam waktu tertentu untuk menjadi pewawancara yang baik, dan hasil

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 wawancara akan menjadi bias bila terbentuk prasangka atau streotip, sehingga hasilnya menjadi tidak objektif. Selain model evaluasi dan asesmen yang masih memiliki kekurangan, ada berbagai hambatan yang dialami sekolah dan guru untuk melakukan asesmen dan evaluasi pendidikan karakter. Hambatan yang dimaksud antara lain belum tersedianya instrumen yang cukup, sarana dan prasana yang masih perlu pernyempurnaan, kemampuan sumber daya yang masih terbatas, jumlah siswa yang banyak, keterbatasan waktu, keterbatasan kemampuan untuk mengamati peserta didik dengan jumlah yang banyak, keterbatasan guru untuk menentukan alat yang tepat dalam menilai pendidikan karakter siswa. Kekurangan dan hambatan-hambatan yang ditemukan, akan mempengaruhi guru dalam menilai karakter peserta didik. Oleh sebab itu, jika kekurangan dan hambatan tersebut tidak di atasi maka penilaian dengan caracara di atas akan menghasilkan sistem like and dislike, karena guru hanya melihat dari cover-nya saja, tidak sampai pada tindakan atau karakter peserta didik. Belum lagi jika penilaian semacam itu dikaitan dengan berbagai faktor seperti status sosial ekonomi orang tua, tempat tinggal siswa, latar belakang pendidikan orang tua dan status pekerjaan orang. Akibatnya banyak kesalahan dalam menilai karakter peserta didik. Latar belakang status pekerjaan orang tua akan mempengaruhi karakter anaknya. Peserta didik yang orang tuanya pegawai seharusnya berkarakter baik, karena pegawai memiliki karakteristik tertentu seperti yang diungkapkan kepala BKN Bima Harian Wibisima, (2018) bahwa sedikitnya terdapat empat

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 karakter yang harus dimiliki oleh seorang pegawai: 1) karakter inovatif dan kreatif, 2) lincah dan fleksibel, 3) kegigihan dan ketekunan dan yang 4) kerja tim dan kerja sama. Namun, bukan berarti bahwa peserta didik yang orang tuanya non pegawai tidak memiliki karakter yang baik. Bisa jadi peserta didik yang orang tuanya non pegawai, misalnya wiraswasta atau wirausaha justru lebih berkarakter baik. Hal ini dapat dilihat dari karakteristik wiraswasta/wirausaha seperti memiliki karakter inovatif, kreatif, disiplin dan memiliki daya juang. Dengan begitu, maka karakter anak sama dengan karakter yang dimiliki orang tuanya. Hal ini tidak dapat dipungkuri, karena karakter peserta didik tidak hanya terbentuk di sekolah melainkan sudah ada sejak mereka di rumah bersama dengan orang tuanya. Berkaitan dengan hal itu, maka sistem evaluasi pendidikan karakter yang sudah ada penting diiskusikan, diteliti, dan dikembangkan. Untuk melakukan evaluasi dibutuhkan proses asesmen dan hasil tes. Pemerolehan hasil tes membutuhkan suatu alat pendukung berupa alat tes atau alat ukur yang tepat, agar dapat mengetahui sejauh mana pendidikan karakter berjalan secara efektif di sekolah. Jangan sampai pendidikan karakter hanya berada pada pemahaman kognitif peserta didik saja tanpa ada aksi nyata. Maka melalui penelitian yang panjang, Tim Peneliti Sosial, Humaniora, dan Pendidikan (PSHP) Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma (Barus, 2017) merancang suatu model asesmen hasil pendidikan karakter dalam bentuk tes berbasis film. Barus (2017) menegaskan model pendidikan Karakter di SMP Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 Pendekatan Experiential Learning telah dikembangkan melalui penelitian Stranas tahun 2014-2016, namun model penilaiannya belum dikembangkan. Tim penelitian pengembangan model asesmen hasil pendidikan karakter tahun 2017 telah berhasil menyusun 440 soal tes asesmen hasil pendidikan karakter dan dalam pengujian terbatas ternyata valid, reliabilitasnya sangat bagus, memiliki daya beda yang baik, dan memiliki tingkat kesukaran yang berdiferensiasi. Soal-soal yang dikembangkan sudah memberikan bukti cukup baik, namun pengujian kualitas dan efektivitasnya perlu dilanjutkan dan diuji pada wilayah yang lebih luas. Sesuai dengan tahapan penelitian pengembangan (R & D) model Borg and Gall (2003), proses penelitian pengembangan ini perlu dilanjutkan pada tahapan 7 & 8 yaitu revisi produk operasional dan uji lapangan produk. Dengan target dapat menghasilkan produk berupa model asesmen hasil pendidikan karakter di SMP berbasis media film karakter. Produk ini diharapkan dapat digunakan guru mata pelajaran dan khususnya guru BK dalam melaksanakan asesmen hasil pendidikan karakter yang lebih efektif, objektif, valid, praktis, dan berkeadilan di SMP. Media film dipilih dalam tes ini karena film lebih efektif menstimulasikan aspek sikap, afeksi, akomodasi, dan perilaku berkarakter, sehingga siswa dapat menginternalisasi karakter tokoh model yang ditonton. Dengan demikian, tes berbasis film dipandang lebih sesuai, lebih mudah dipahami dan diminati para siswa SMP karena menggambarkan situasi yang mengandung dilema moral, pertentangan nilai dan klasifikasi nilai

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 dibandingkan dengan pengukuran metode lainnya. Sesuai dengan kekuatan film menurut Kustandi & Sutjipto (2013) bahwa film dapat menyajikan suatu proses dengan lebih efektif dibandingkan dengan media lain, film dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari peserta didik ketika membaca, berdiskusi, dan praktik. Film ini berdurasi ± 2 menit yang memvisualisasikan dilema moral, berdasarkan film tersebut siswa diminta untuk menjawab soalsoal yang menyertainya. Penggunaan asesmen berbasis film dirasa efektif karena film dapat menyentuh dilema moral remaja. Hal tersebut semakin didukung dengan adanya nilai-nilai karakter yang sesuai dengan peserta didik SMP, dengan demikian peserta didik dapat secara nyata merasakan dan memahami dilema moral yang ada pada film tersebut. Sehingga penilaian bukan hanya pada peserta didik yang bermasalah, namun semua peserta didik yang ada di sekolah. Oleh sebab itu, tidak akan ada penilaian yang subjektivitas (like and dislike) dan tidak ada lagi hasil observasi yang dapat ditutupi atau direkayasa oleh guru. Berdasarkan telaah kebutuhan di atas, peneliti bersama tim penelitian Satranas Institusi (diketuai Dr. G. Barus, M.Si) pada kesempatan ini ingin melanjutkan tahapan penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang sudah terlebih dahulu di dilakukan oleh Tim Penelitian Sosial, Humaniora, dan Pendidikan (PSHP) Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma (2017) sampai pada tahap ke 6. Oleh sebab itu, peneliti melanjutkan pengujian produk tahap ke 7 dan 8, yaitu Revisi

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 Produk Operasional dan Uji Lapangan Produk dengan mengangkat judul “Validasi Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada Siswa yang Orang Tuanya Pegawai dan Non Pegawai Pada 10 SMP di Indonesia.” B. Identifikasi Masalah Berangkat dari latar belakang di atas, peneliti menemukan beberapa masalah yang teridentifikasi sebagai berikut: 1. Keterbatasan guru untuk melakukan penilaian pendidikan karakter dan penilaian yang dirasa masih subyektif. 2. Metode evaluasi pendidikan karakter hanya terbatas pada skala sikap, observasi, wawancara, dan sistem poin. 3. Dalam penilaian karakter siswa ditemukan banyak ketidakjujuran dan ketidakberkeadilan, yang hanya menerapkan sistem mengira-ngira saja dan besar kemungkinan mengandung unsur subjektivitas yang tinggi atau like and dislike. 4. Sampai sekarang pelaksanaan pendidikan karakter, terutama di SMP masih berada dalam tahap pengetahuan atau kognitif dan belum sampai pada tahap aktualisasi kehidupan sehari-hari. 5. Guru-guru belum mengenal cara-cara lain untuk mengukur karakter peserta didik dan belum ada model pengukuran berbasis film karakter. 6. Pemerintah belum menetapkan model penilaian atau evaluasi standar yang dapat mengukur tentang seberapa dalam peserta didik dapat menginternalisasi penerapan pendidikan karakter yang ada di sekolah.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 7. Sistem dan teknik penilain pendidikan karakter di SMP belum efektif dalam mengkaji karakter peserta didik. 8. Belum diketahui secara pasti soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film yang dihasilkan oleh peneliti sebelumya efektif atau tidak diterapkan di sekolah dengan sampel yang lebih luas. 9. Penggunaan soal tes berbasis film belum diketahui efektivitasnya dalam memperlihatkan penilaian karakter siswa di lihat dari latar belakang pekerjaan orangtua yang pegawai dan non pegawai. C. Pembatasan Masalah atau Fokus Penelitian Masalah Berdasarkan identifikasi masalah dan mengingat adanya keterbatasan penelitian maka fokus kajian diarahkan untuk menjawab masalah-masalah pada butir 8 dan 9. Fokus penelitian ini diarahkan pada tahapan pengembangan dan uji penggunaan alat tes dan evaluasi efektivitas soal tes pendidikan karakter siswa berbasis film pada wilayah yang lebih luas dengan karaktersistik sampel (peserta didik yang orang tuanya pegawai dan non pegawai).

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 D. Rumusan Masalah Sesuai dengan latar belakang masalah dan pembatasan masalah di atas, maka masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. Seperti apa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yg diujikembangkan pada 10 SMP di Indonseia? 2. Seberapa baik kualitas soal-soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujicobakan pada 10 SMP di Indonesia berdasarkan nilai validasi dan reliabilitas? 3. Seberapa efektif soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter berdasarkan penilaian siswa pada 10 SMP di Indonesia? 4. Seperti apa capaian hasil pendidikan karakter siswa yang diukur dengan menggunakan soal tes yang dikembangkan pada 10 SMP di Indonesia? 5. Apakah terdapat perbedaan hasil penilaian siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia? 6. Apakah terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai dengan menggunakan produk soal tes tersebut?

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 E. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah 1. Menghasilkan soal tes asesmen pendidikan karakter. 2. Mengukur seberapa baik kualitas soal-soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film yang dikembangkan berdasarkan nilai validitas dan reliabilitas. 3. Menganalisis efektivitas soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. 4. Mengukur capaian hasil pendidikan karakter dari soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. 5. Memperoleh informasi mengenai perbedaan penilaian siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai berdasarkan penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. 6. Memperoleh informasi mengenai perbedaan hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai berdasarkan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. F. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat untuk berbagai pihak, baik itu manfaat secara teoritis maupun secara praktis. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan informasi dan pengetahuan dalam bidang asesmen hasil pendidikan karakter,

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 memberikan informasi tentang efektivitas model soal tes asesmen berbasis film karakter, khususnya yang diujicobakan pada 10 SMP di Indonesia. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Pemerintah Penelitian ini memberikan sumbangan mengenai evaluasi atau penilaian pengukuran pendidikan karakter menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Selain itu penelitian ini juga dilaksanakan dalam rangka untuk menemukan model alternatif sistem penilaian dan pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia. b. Bagi sekolah dan guru Penelitian ini memberikan sumbangan yang baik dalam penilaian pendidikan karakter. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi tolak ukur yang dapat digunakan sekolah untuk mengetahui, memahami, dan melaksanakan penilaian hasil pendidikan karakter melalui soal tes asesmen berbasis media film. c. Bagi siswa Kandungan isi soal tes yang diujicobakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan dan menginspirasi siswa untuk merefleksikan karakternya sehingga termotivsi dalam kehidupan sehari-hari. d. Bagi peneliti Peneliti dapat mengetahui efektivitas model asesmen pendidikan karakter melalui soal tes berbasis film karakter. Selain itu, peneliti juga

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 berkesempatan untuk mengaplikasikan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis media film di sekolah. e. Bagi peneliti lain Prosedur penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti lain sebagai refrensi dalam mengembangkan penelitian dengan model pendidikan karakter di sekolah. G. Definisi Istilah Untuk menyamakan persepsi terkait istilah-istilah judul penelitian ini, didefinisikan beberapa istilah sebagai berikut: 1. Efektivitas adalah suatu keadaan atau kondisi untuk mengukur kegiatan tertentu apakah dapat berhasil sesuai dengan target yang telah ditentukan atau tidak. Target tersebut dapat dilihat melalui kuantitas, kualitas, dan waktu pelaksanaan kegiataan, dimana semakin tinggi presentase target yang dicapai maka efektivitasnya juga akan semakin tinggi. 2. Soal tes adalah seperangkat pernyataan atau pertanyaan yang berbentuk pilihan ganda yang berkaitan dengan dilema moral dan memuat beberapa pertanyaan seputar pendidikan karakter untuk mengukur perilaku secara objektif. 3. Asesmen hasil adalah proses untuk mengetahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang ditetapkan. 4. Pendidikan karakter adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh lembaga sekolah melalui guru yang memiliki tujuan untuk membentuk karakter

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 pribadi siswa secara otentik dan mengarah pada perilaku atau karakter yang baik demi kemajuan penerus bangsa. 5. Media film adalah potongan-potongan video yang berkaitan dengan dilema moral pada kebanyakan anak SMP dan dapat mengukur tentang sejauh mana peserta didik menginternalisasi video tersebut dalam kehidupannya. 6. Siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai adalah sebagai variabel yang menjadi tolok ukur dalam penggunaan soal tes asesmen berbasis film karakter. 7. Siswa yang orang tuanya pegawai dalam penelitian ini adalah siswa yang orang tuanya bekerja sebagai PNS, pegawai swasta, karyawan tetap maupun tidak tetap. 8. Siswa yang orang tuanya non pegawai adalah siswa yang orang tuanya bekerja sebagai wiraswasta atau wirausaha, petani dan buruh.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini berisi landasan teori yang dijadikan dasar untuk membangun kerangka konseptual. Berdasarkan judul penelitian, maka dalam bab ini peneliti akan mengemukakan beberapa konsep yang berhubungan dengan variabel penelitian, yaitu hakikat pendidikan karakter di sekolah, hakikat evaluasi, asesmen dan tes, hakikat asesmen pendidikan karakter di sekolah, media film dalam pendidikan karakter, hakikat pegawai dan non pegawai, kajian penelitian yang relevan, kerangka pikir dan hipotesis penelitian. A. Hakikat Pendidikan Karakter di Sekolah 1. Pengertian Karakter Scerenko (Samani & Hariyanto, 2011: 41) mendefinisikan bahwa karakter sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan kompleksitas mental dari seseorang, suatu kelompok atau bangsa. Sedangkan, Berkowitz (Doni Koesoema, 2012: 25) mendefinisikan karakter sebagai “sekumpulan ciri-ciri (characteristics) psikologis yang memengaruhi kemampuan dan kecondongan pribadi agar dapat berfungsi secara moral.” Ia juga mengatakan bahwa segala hal yang menumbuhkan kehidupan psikologis siswa secara sehat dan dewasa merupakan bentuk nyata dari pendidikan karakter. 14

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Samani & Hariyanto (2011: 41) mengungkapkan karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, adat istiadat, dan estetika. Sementara itu, menurut Pritchard (Doni Koesoema, 2012: 27) karakter adalah “a compex set of relatively persistent qualities of the individual person, and the term has a definite positive connotation when it is used in discussions of moral education.”Artinya, karakter merupakan sekumpulan kualitas moral yang relative stabil dalam diri seseorang. Karakter ini memiliki konotasi positif ketika diterapkan dalam diskusi moral. Beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan cerminan dari kepribadian secara utuh dari seseorang: mentalitas, sikap, cara berpikir, dan perilaku berdasarkan norma-norma agama, budaya, adat istiadat sehingga seseorang berusaha melakukan hal yang baik dalam bentuk nyata di kehidupan sehari-hari. 2. Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Kevin Ryan dan Bohlin (dalam Fathurrohman, dkk; 2013) pendidikan karakter adalah upaya sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilainilai etis. Kemudian ia menambahkan, karakter mulia meliputi pengetahuan tentang kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 kebaikan, lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan. Karakter mengacu kepada serangkaian pengetahuan, sikap dan motivasi. Ramli (dalam Fathurrohman, dkk; 2013) memaparkan pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik. Berdasarkan beberapa pengertian pendidikan karakter menurut ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter usaha membantu siswa untuk memahami, peduli, bertindak dengan mengoptimalkan potensi siswa yang disertai dengan kesadaran, emosi, dan motivasinya. Tujuannya untuk membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik. 3. Tujuan, Fungsi dan Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter a. Tujuan pendidikan karakter Pendidikan karakter diselenggarakan untuk mewujudkan manusia yang berakhlak mulia dan bermoral baik sehingga kelangsungan hidup dan perkembangan manusia dapat dijaga dan dipelihara. Lickona (2012) menjelaskan bahwa pendidikan karakter mengharapkan peserta didik semakin mampu menilai, peduli dan bertindak sesuai dengan kebenaran yang diyakini. Artinya pendidikan karakter menjadi bekal bagi peserta didik dalam menggapai persoalan yang terjadi di masyarakat dengan prinsip nilai-nilai yang diyakini kebenarannya.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Kemendiknas (2010:3) mengatakan bahwa pendidikan karakter bertujuan mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu Pancasila, meliputi: 1) Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik. 2) Membangun bangsa yang berkarakter Pancasila. 3) Mengembangkan potensi warga negara agar memiliki sifat percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia. b. Fungsi pendidikan karakter Menurut Fathurrohman, dkk (2013: 97) fungsi pendidikan karakter adalah: 1) Pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi prilaku yang baik bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan karakter dan karakter bangsa. 2) Perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat. 3) Penyaring: untuk menyaring karakter-karakter bangsa sendiri dan karakter bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter dan karakter bangsa.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 c. Prinsip-prinsip pendidikan karakter Menurut Direktorat pembinaan SMP (Fathurrohman, 2013: 145146). Pendidikan karakter harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter. 2) Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku. 3) Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter. 4) Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian. 5) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik. 6) Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang, yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses. 7) Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri para peserta didik. 8) Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama. 9) Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter. 10) Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 11) Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter. 4. Nilai-nilai Karakter Utama yang Dikembangkan dalam Pendidikan Berdasarkan Pusat Kurikulum Balitbang Diknas (Suparno, 2015) terdapat 18 nilai karakter yang perlu dikembangkan untuk peserta didik. Kedelapan belas nilai beserta deskripsi untuk masing-masing nilai dijelaskan sebagai berikut. a. Nilai religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.b. Jujur Perilaku yang dilaksanakan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. c. Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, gender, jenis kelamin, pendapat, sikap dan tindakan oranglain yang bereda dari dirinya. d. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 e. Kerja keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. f. Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari esuatu yang telah dimiliki. g. Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada oang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. h. Demokratis Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. i. Rasa ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar. j. Semangat kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 k. Cinta tanah air Cara berpikir, bersikap, dan berbuat pada diri seseorang yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, serta penghargaan tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. l. Menghargai prestasi Sikap dan tindakan mendorong diri untuk menghasilkan sesuatu berguna bagi masyarakat, serta menghormati keberhasilan orang lain. m. Bersahabat/komunikatif Tindakan yang memperhatikan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. n. Cinta damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. o. Gemar membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. p. Peduli lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegh kerusakan pada lingkungan alam disekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 q. Peduli sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan tanpa melihat pengkotakan sosial. Baik agama, budaya, gender, jenis kelamin, dan status sosial. r. Tanggung jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas serta kewajiban yang seharusnya dilakukan. 5. Nilai-nilai Karakter untuk SMP Berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi 80 butir nilai karakter yang dikelompokkan menjadi lima, yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan (1) Tuhan Yang Maha Esa, (2) diri sendiri, (3) sesama manusia, dan (4) lingkungan, serta (5) kebangsaan. Namun demikian, penanaman kedelapanpuluh nilai tersebut merupakan hal yang sangat sulit. Oleh karena itu, pada tingkat SMP dipilih 20 nilai karakter utama yang disajikan dari butir-butir SKL (Standar Kompetensi Lulusan) SMP (Permen Diknas nomor 23 tahun 2006) dan SK/KD (Permen Diknas nomor 22 tahun 2006). Berikut adalah daftar nilai utama yang dimaksud dan diskripsi ringkasnya. 1. Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan (Religius) Pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 2. Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri: a. Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain. b. Bertanggung jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME. c. Bergaya hidup sehat Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. d. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. e. Kerja keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 f. Percaya diri Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya. g. Berjiwa wirausaha Sikap dan perilaku yang mandiri dan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya. h. Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif Berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki. i. Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. j. Ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. k. Cinta ilmu Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 3. Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama. a. Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain. Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain. b. Patuh pada aturan-aturan sosial. Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum. c. Menghargai karya dan prestasi orang lain. Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain. d. Santun Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang. e. Demokratis Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. 4. Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 5. Nilai kebangsaan cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. a. Nasionalisme, cara berfikir bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya. b. Menghargai keberagaman, sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama. B. Hakikat Evaluasi, Asesmen dan Tes 1. Pengertian Evaluasi, Asesmen dan Tes a. Pengertian Evaluasi Evaluasi adalah penilaian keseluruhan program pendidikan termasuk perencanaan suatu program substansi pendidikan termasuk kurikulum dan penilaian (assesment) dan pelaksanaannya, pengadaan dan peningkatan kemampuan guru, pengelolaan (management) pendidikan, dan reformasi pendidikan secara keseluruhan. Menurut Kumano (2001) evaluasi merupakan penilaian terhadap data yang dikumpulkan melalui kegiatan asesmen. Sementara itu menurut Calongesi (1995) evaluasi adalah suatu keputusan tentang nilai berdasarkan hasil pengukuran. Sejalan dengan pengertian tersebut, Zainul dan Nasution (2001) menyatakan bahwa evaluasi dapat dinyatakan sebagai suatu proses pengambilan keputusan dengan menggunakan

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes. Berdasarkan pengertian evaluasi dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah proses penilaian untuk mendapatkan hasil dari suatu objek yang dievaluasi. b. Pengertian Asesmen (Penilaian) Menurut Lin dan Gronlund (Uno dan Satria, 2012), asesmen (penilaian) merupakan suatu istilah umum yang meliputi tentang belajar siswa (observasi, rata-rata pelaksanaan tes tertulis) dan format penilaian kemajuan belajar. Selain itu, asesmen didefinisikan sebagai sebuah proses yang ditempuh untuk mendapatkan informasi yang digunakan dalam rangka membuat keputusan-keputusan mengenai para siswa, kurikulum, program-program, dan kebijakan pendidikan, metode atau istrumen pendidikan lainnya oleh suatu badan, lembaga, organisasi atau institusi resmi yang menyelenggrakan suatu aktivitas tertentu (Uno dan Satria, 2012). Penilaian adalah suatu proses untuk mengetahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditetapkan. Penilaian dapat dilakukan secara tepat jika tersedia data yang berkaitan dengan objek penilaian. Untuk memperoleh data tersebut diperlukan alat penilaian yang berupa pengukuran. Penilaian dan pengukuran merupakan dua kegiatan yang saling berkaitan. Dengan demikian, penilaian sangat membutuhkan data

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 yang diperoleh dari pengukuran. Tanpa adanya data yang berupa informasi itu hampir tak mungkin dilakukan kegiatan penilaian yang berupa pemberian pertimbangan terhadap suatu hal. c. Pengertian Tes Tes adalah suatu cara untuk melakukan penilaian yang berbentuk tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa untuk mendapatkan data tentang nilai dan prestasi siswa tersebut yang dapat dibandingkan dengan yang dicapai kawan-kawannya atau nilai standar yang ditetapkan (Nurkancana dan Sumartana, 1983). Dengan demikian, tes merupakan suatu bentuk pemberian tugas atau pertanyaan yang harus dikerjakan oleh siswa yang sedang dites. Jawaban yang diberikan siswa terhadap pertanyaan-pertanyaan itu dianggap sebagai informasi terpercaya yang mencerminkan kemampuannya. Informasi tersebut dinyatakan sebagai masukan yang penting untuk mempertimbangkan siswa. 2. Tujuan dan Fungsi Asesmen a. Tujuan Asesmen Tujuan asesmen dilakukan menurut Sumardi & Sunaryo (2006) adalah: 1) Memperoleh data yang relevan, objektif, akurat dan komprehensif tentang kondisi anak saat ini. 2) Mengetahui profil anak secara utuh terutama permasalahan dan hambatan belajar yang dihadapi, potensi yang dimiliki, kebutuhankebutuhan khususnya, dibutuhkan anak. serta daya dukung lingkungan yang

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 3) Menentukan layanan yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan khususnya dan memonitor kemampuannya. b. Fungsi Asesmen Menurut Nana Sudjana, (Jihad & Haris 2013:56) penilaian (asesmen) berfungsi sebagai: 1) Alat unuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional. Dengan fungsi ini maka penilaian harus mengacu kepada tujuantujuan instruksional. 2) Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar. Perbaikan dapat dilakukan dalam hal tujuan instruksional, kegiatan belajar siswa, strategi mengajar guru. 3) Dasar dalam menyusun kemajuan siswa kepada orang tuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan kecakapan belajar siswa dalam bentuk nilai-nilai prestasi belajar mengajar. 3. Ruang Lingkup Asesmen Uno, Hamzah, dan Satria Koni (2012:17) menjelaskan isi model penilaian kelas meliputi konsep dasar penilaian kelas, teknik penilaian, langkah-langkah pelaksanaan penilaian, pengolahan hasil penilaian serta pemanfaatan dan pelaporan hasil penilaian. Dalam konsep penilaian, dijelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian, manfaat penilaian, fungsi penilaian, dan rambu-rambu penilaian. Teknik penilaian akan menjelaskan berbagai cara dan alat penilaian.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 4. Prinsip-Prinsip Asesmen Menurut Depdiknas, (2004 dan 2006) ada enam prinsip dasar penilaian berbasis kelas yang harus dipedomani guru saat melakukan asesmen. Prinsip – prinsip tersebut antara lain: a. Validitas Validitas dalam asesmen mempunyai pengertian bahwa dalam melakukan penilaian harus “menilai apa yang seharusnya dinilai dan alat penilaian yang digunakan sesuai dengan apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi”. b. Reliabilitas Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Penilaian yang ajeg (reliable) memungkinkan perbandingan yang reliable, menjamin konsistensi, dan kepercayaan. c. Terfokus pada kompetensi Penilaian harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan), bukan pada penguasaan materi (pengetahuan). d. Komprehensif Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh mencakup seluruh ranah yang tertuang pada setiap kompetensi dasar dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 kompetensi atau kemampuan siswa sehingga tergambar profil kemampuan siswa. e. Objektivitas Proses penilaian yang dilakukan harus dilaksanakan secara obyektif. Artinya, penilaian harus adil, terencana, berkesinambungan, menggunakan bahasa yang dapat dipahami siswa, dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pembuatan keputusan atau pemberian angka (skor). f. Mendidik Penilaian dapat memberikan sumbangan positif bagi peningkatan pencapaian hasil belajar peserta didik, dimana hasil penilaian dapat memberikan umpan balik dan motivasi kepada peserta didik untuk lebih giat belajar. Menurut Jihad & Haris (2008: 63) sistem penilaian dalam pembelajaran, baik pada penilaian berkelanjutan maupun penilaian akhir, hendaknya dikembangkan berdasarkan sejumlah prinsip sebagai berikut: a. Menyeluruh, artinya penguasaan kompetensi dalam mata pelajaran hendaknya menyeluruh, baik menyangkut standar kompetensi, kemampuan dasar serta keseluruhan indikator ketercapaian, baik menyangkut dominan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap, perilaku, dan nilai), serta psikomotor (keterampilan), maupun menyangkut evaluasi proses dan hasil belajar.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 b. Berkelanjutan, artinya penilaian seharusnya direncanakan dan dilakukan secara terus menerus guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar siswa sebagai dampak langsung (dampak instruksional/pembelajaran) maupun dampak tindak langsung (dampak pengiring/nurturan effect) dari proses pembelajaran. c. Berorientasi pada indikator ketercapaian, artinya sistem penilaian dalam pembelajaran harus mengacu pada indikator ketercapaian yang sudah ditetapkan berdasarkan kemampuan dasar/kemampuan minimal dan standar kompetensinya. d. Sesuai dengan pengalaman belajar, artinya sistem penilaian dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan pengalaman belajarnya. 5. Jenis-jenis Asesmen Menurut Uno dan Koni (2012) jenis-jenis asesmen dilaksanakan dalam berbagai teknik, seperti: penilaian kinerja (performance), penilaian sikap, dan penilaian tertulis (paper and pencil test, penilaian proyek, dan penilaian diri/self assessment). Sedangkan menurut Subali (2016) berdasarkan ragam jenis asesmen dibedakan menjadi empat, yaitu: a. Asesmen penempatan. Asesmen ini dilakukan berdasarkan hasil pengukuran terhadap masing-masing peserta didik sebelum menempuh program pengajaran. Tujuannya yaitu untuk mengetahui penguasaan kemampuan prasyarat masing-masing peserta didik yang diperlukan dalam proses pembelajaran

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 yang akan diselenggarakan bila diperlukan adanya kemampuan yang ditargetkan. b. Asesmen formatif Asesmen ini dilakukan berdasarkan hasil pengukuran terhadap masing-masing peserta didik selama menempuh kegiatan pembelajaran. Tujuannya untuk mengetahui apakah setiap peserta didik melaju dengan baik selama proses pembelajarannya sampai akhir program sehingga kegiatan belajar selanjutnya menjadi lebih efektif dan efisien. c. Asesmen sumatif Asesmen ini dilakukan terhadap masing-masing peserta didik setelah selesai menempuh suatu program pembelajaran. Tujuannya untuk menentukan nilai akhir masing-masing peserta didik yang menempuh suatu program pembelajaran untuk selanjutnya dapat ditetapkan apakah seorang peserta didik dinyatakan berhasil atau gagal. Jika berhasil peserta didik tersebut akan diberi sertifikat karena telah menguasai kecakapan atau keterampilan tertentu yang ditargetkan dalam program pembelajaran yang dirancang. d. Asesmen konfirmatori Asesmen ini dilakukan terhadap masing-masing orang yang ingin dinilai tanpa dilakukan dengan kegiatan pembelajaran yang ditempuh. Asesmen konfirmatori dilaksanakan melalui pengukuran yang menggunakan instrumen yang sahih dan handal. Dalam hal kegiatan pembelajaran, asesmen konfirmatori dapat dilakukan oleh pihak

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 eksternal. Pemerintah menerapkan ujian nasional untuk menetapkan setiap peserta didik untuk dinyatakan lulus dan tidak lulus dalam menguasai kompetensi yang diterapkan. Menurut Prijowuntato (2016: 60-66) alat yang dapat digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi siswa dapat dibedakan menjadi dua yaitu tes dan non tes. a. Tes Bentuk tes yang digunakan untuk mengevaluasi peserta didik dapat berupa; pilihan ganda, uraian objektif, uraian non objektif/uraian bebas, jawaban singkat/isian singkat, menjodohkan, performans/unjuk kinerja, portofolio. Bentuk tes digunakan apabila sifat suatu objek yang diukur menyangkut tingkah laku yang berhubungan dengan apa yang diketahui, dipahami atau proses psikis lainnya yang tidak dipahami dengan indera. Tingkat berpikir yang digunakan dalam mengerjakan tes harus mencakup mulai dari yang rendah sampai yang tinggi, dengan proporsi yang sebanding sesuai jenjang pendidikan. Bentuk tes yang digunakan di sekolah dapat dikategorikan menjadi dua yaitu tes objektif dan tes non objektif. Objektif di sini dilihat dari sistem penskorannya, yaitu siapa yang memeriksa lembar jawaban tes akan menghasilkan skor yang sama. Tes non objektif adalah tes yang sistem penskorannya dipengaruhi oleh pemberi skor. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tes objektif adalah tes yang

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 sistem penskorannya objektif sedangkan non objektif sistem penskorannya dipengaruhi oleh subjektivitas pemberi skor. b. Non tes Bentuk non tes yang digunakan untuk mengevaluasi peserta didik dapat berupa; observasi, catatan anekdot, daftar cek, skala nilai, kuesioner, wawancara. Bentuk non tes digunakan apabila perubahan tingkah laku yang dapat diamati dengan indera dan bersifat konkret. Konsekuensi dari pengukuran menggunakan bentuk non tes sangat bergantung pada situasi di mana perubahan tingkah laku individu itu muncul atau menggejala. Oleh karenanya, situasi pengukuran yang seragam sukar dipersiapkan. Suatu pengukuran dengan alat pengukuran non tes terjadi dalam situasi yang kurang distandarisasi, seperti waktu pengukuran yang dapat tidak sama atau seragam bagi semua siswa. 6. Teknik-teknik Asesmen Teknik yang biasanya digunakan untuk mengukur/mengevaluasi hasil ketercapaian siswa adalah menggunakan teknik tes dan teknik nontes. Menurut Jihad & Haris (2008: 68) jenis alat penilaian teknik tes yaitu: a. Tes tertulis, merupakan tes atau soal yang diselesaikan siswa secara tertulis. Tes tertulis ini terdiri atas bentuk objektif dan bentuk uraian. Bentuk objektif meliputi pilihan ganda, isian, benar salah, menjodohkan, serta jawaban singkat sedangkan bentuk uraian meliputi uraian terbatas dan uraian singkat.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 b. Tes lisan, yang merupakan sekumpulan tes atau soal atau tugas pertanyaan yang diberikan kepada siswa dan dilaksanakan dengan cara tanya jawab. c. Tes perbuatan, merupakan tugas yang pada umumnya berupa kegiatan praktek atau melakukan kegiatan yang mengukur ketrampilan. Jihad & Haris (2008: 68) juga mengungkapkan secara rinci mengenai teknis penilaian siswa dapat dilakukan dengan cara ulangan harian, tugas kelompok, kuis, ulangan blok, pertanyaan lisan, dan juga tugas individu. Depdiknas, 2001 (Jihad & Haris, 2008: 69) juga mengatakan bahwa penilaian non-tes merupakan prosedur yang dilalui untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik minat, sifat, dan kepribadian. Melalui: a. Pengamatan, yakni alat penilaian yang pengisiannya dilakukan oleh guru atas dasar pengamatan terhadap perilaku siswa, baik secara perorangan maupun kelompok, di kelas maupun di luar kelas; b. Skala sikap, yaitu alat penilaian yang digunakan untuk mengungkap sikap siswa melalui pengerjaan tugas tertulis dengan soal-soal yang lebih mengukur daya nalar atau pendapat siswa; c. Angket, yaitu alat penilaian yang meyajikan tugas-tugas atau mengerjakan dengan cara tertulis; d. Catatan harian, yaitu suatu catatan mengenai perilaku siswa yang dipandang mempunyai kaitan dengan perkembangan pribadinya;

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 e. Daftar cek, yaitu suatu daftar yang dipergunakan untuk mengecek terhadap perilaku siswa telah sesuai dengan yang diharapkan atau belum. Sukardi (2014: 104) mengatakan bahwa tes dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tes normative dan tes kriterion. Suatu tes dikatakan sebagai tes normative apabila evaluator dalam mengevaluasi bisa membandingkan hasil penilaian individu antara satu individu dengan individu lainnya dalam penyelenggaraan tes yang sama. Suatu tes dikatakan kriterion jika para evaluator dalam pengukuran terhadap subjek atau objek yang dievaluasi atas dasar apa yang telah dia perbuat sesuai dengan kapasitasnya tanpa membandingkan dengan orang lain. 7. Tes sebagai Teknik Asesmen Sukardi (2014: 92) mengatakan bahwa tes atau testing merupakan prosedur sistematis yang direncanakan oleh evaluator guna membandingkan antar perilaku yang dievaluasi. Tes atau testing berisi item atau butir soal yang akan diberikan kepada peserta yang mengikuti tes. Ia juga mengatakan bahwa item atau butir soal, yaitu bagian terkecil dari suatu tes yang memuat satu fakta atau konsep yang diungkapkan melalui pertanyaan atau pernyataan yang dapat diisolasi untuk pengamatan dan pengambilan keputusan. Tes sebagai teknik asesmen dapat meyediakan informasi-informasi objektif yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penentuan keputusan yang harus diambil pendidik terhadap proses dan hasil belajar.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 Tes ini dilakukan sebelum, saat, dan akhir pembelajaran, sehingga bergulir tanpa henti (dynamic assesment). C. Hakikat Asesmen Pendidikan Karakter di Sekolah 1. Pengertian Asesmen Pendidikan Karakter Albertus (2015) menegaskan penilaian pendidikan karakter pada hakikatnya adalah evaluasi atas proses pembelajaran secara terus menerus dari individu untuk menghayati peran dan kebebasannya bersama orang lain dalam sebuah lingkungan sekolah demi pertumbuhan integritas moralnya sebagai manusia. Hanya individu yang terbuka pada pengalaman diri dengan yang lain mampu menentukan apakah dirinya telah menjadi manusia berkarakter atau bukan. 2. Manfaat Asesmen Pendidikan Karakter Penilaian merupakan kegiatan untuk menentukan pencapaian hasil pembelajaran yang dapat dikategorikan menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Setiap peserta didik memiliki tiga ranah tesebut, hanya kedalamannya tidak sama. Penilaian pada ranah afektif, seperti ranah lainnya memerlukan data yang bisa berupa kuantitatif atau kualitatif. Karakter yang baik melibatkan pemahaman, perhatian, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai etika. Pendekatan yang holistik terhadap pengembangan karakter oleh karenannya peserta didik mengembangkan kognitif, emosi, dan aspek perilaku dari kehidupan moral. Peserta didik berkembang untuk memahami nilai-nilai karakter dengan mempelajari,

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 mendiskusikannya, mengamati model perilaku, dan memecahkan masalah yang mencakup nilai-nilai tersebut. Asesmen pendidikan karakter bermanfaat untuk pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. 3. Teknik-teknik Asesmen Pendidikan Karakter Airasian (2000) mengatakan metode asesmen dibedakan menjadi tiga yaitu teknik tertulis (paper-pencil techniques), teknik observasi (observation techniques), dan teknik pertanyaan lisan (oral questioning techniques). Teknik tertulis (paper-pencil techniques) mengacu kepada metode asesmen dimana siswa menuliskan responnya terhadap pertanyaanpertanyaan atau masalah-masalah. Observasi adalah suatu proses melihat atau mendengar individu melakukan suatu aktivitas (observasi proses) atau untuk menilai suatu produk (observasi produk). Sedangkan teknik pertanyaan lisan adalah metode asesmen dengan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada individu. Menurut Strange (2004) metode asesmen pendidikan karakter dapat dibedakan atas asesmen kuantitatif (quantitative assessment) dan asesmen kualitatif (qualitative assessment). Asesmen kuantitatif dapat berbentuk: rubric asesmen diri sendiri (self assessment rubric), tes tertulis (paper and pencil test), skala bertingkat asesmen karakter (character assessment rating scale). Sementara itu, asesmen kualitatif dapat berupa: jurnal siswa, paper, dan unjuk kerja.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 4. Kekuatan dan Kelemahan Tes Permasalahan yang ditemukan adalah bahwa guru mengalami kesulitan karena pengamatan didasarkan pada prinsip-prinsip yang masih abstrak dan belum diuraikan dalam definisi-definisi operasional dan indikator-indikator. Guru mengatakan bahwa yang dinilai adalah keterlibatan di kelas dan kepedulian kepada teman, tetapi belum sampai pada apa indikatornya. Dalam bahasa sehari-hari, apa yang dilakukan guru adalah “nilai mengira-ngira” sesuai dengan apa yang dilihat ketika di dalam kelas. Besar kemungkinan guru salah menilai atau menilai dengan subjektivitas yang sangat tinggi berdasarkan like and dislike. Hal itu sangat merugikan siswa. Dalam pelajaran Character Building, hal terpenting untuk dilakukan adalah observasi. Namun, observasi memiliki problem, yaitu subjektivitas yang tinggi. Permasalahan utama dengan observasi adalah ketiadaan objektivitas oleh pengamatnya (Johnson dan Johnson 2002: 117). Arikunto (2003) menegaskan tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Tes objektif terdapat kelemahan dan kelebihan, sebagai berikut. a. Kelebihan tes objektif, yaitu. 1) Lebih respektif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat di hindari campur tangan unsur-unsur subjektif baik dari segi peserta didik maupun segi guru yang memeriksa. 2) Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 3) Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain. 4) Dalam pemeriksaan tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi. 5) Untuk menjawab tes objektif tidak banyak memakai waktu. 6) Reliabilitinya lebih tinggi kalau dibandingkan dengan tes essay, karena penilainya bersifat objektif. 7) Validitas tes objektif lebih tinggi dari tes essay, karena samplingnya lebih luas. 8) Pemberian nilai dan cara menilai tes objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus. 9) Tes objektif tidak memperdulikan penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan. b. Kelemahan tes objektif 1) Persiapan untuk menyusun jauh lebih sulit dari pada tes essay karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang lain. 2) Soal-soal cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi. 3) Banyak kesempatan untuk main untung-untungan. 4) Kerjasama antar peserta didik pada waktu mengerjakan sol tes lebih terbuka. 5) Peserta didik sering menerka-nerka dalam memberikan jawaban, karena belum menguasai bahan pelajaran tersebut.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 6) Tes sampling yang diajukan kepada peserta didik cukup banyak dan hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk menjawabnya. 7) Tidak biasa megajak peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi. 8) Banyak memakan biaya, karena lembaran item-item tes harus sebanyak jumlah pengikut tes. Beberapa bentuk tes objektif yaitu salah-benar (true-false), pilihan ganda (multiple choice), isian (completion), jawaban singkat (short answer), dan menjodohkan (matching). Masing-masing bentuk tes objektif mempunyai kelebihan dan kelemahan. Salah satu bentuk tes objektif yaitu pilihan ganda mempunyai kelebihan dan kelemahan sebagai berikut. a. Kelebihan 1) Hasil belajar yang sederhana sampai yang komplek dapat diukur. 2) Terstruktur dan petunjuknya jelas. 3) Alternatif jawaban yang salah dapat memberikan informasi diagnostik. 4) Tidak dimungkinkan untuk menerka jawaban. 5) Penilaian mudah, objektif, dan dapat dipercaya. b. Kelemahan 1) Proses penyusunanya membutuhkan waktu yang lama. 2) Sulit menemukan pengacau.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 3) Kurang efektif mengukur beberapa tipe pemecahan masalah, kemampuan untuk mengorganisir dan mengekspresikan ide. 4) Nilai dapat dipengaruhi dengan kemampuan baca. 5. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Penggunaan Tes dalam Pendidikan Karakter Untuk mendapatkan instrumen tes yang baik diperlukan sejumlah langkah pengembangan atau langkah umum konstruksi tes. Menurut Azwar (2014:14-20) awal kerja penyusunan atau pengembangan suatu alat tes dimulai dari: a. Identifikasi tujuan ukur Identifikasi tujuan ukur yaitu memilih suatu definisi, mengenali dan memahami dengan seksama teori yang mendasari konstruk atribut yang hendak diukur. b. Pembatasan domain ukur Pembatasan domain dilakukan dengan cara menguraikan konstruk teoritik atribut yang diukur menjadi beberapa rumusan dimensi atau aspek yang lebih jelas, agar menunjang validitas isi skala. c. Oprasionalisasi aspek Operasionalisasi aspek diperlukan agar membentuk keperilakuan yang hendak diukur dapat lebih konkret sehingga penulis item akan lebih memahami benar arah respon yang harus diungkap dari subjek. Operasionalisasi dirumuskan dalam bentuk indikator keperilakuan. Himpunan indikator-indikator kemudian dituangkan dalam kisi-kisi atau

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 blue print dan dilengkapi dengan spesifikasi skala, sebagai acuan bagi penulisan item. Sebelum penulisan item perancang perlu menetapkan format stimulus yang hendak digunakan, format ini erat kaitanya dengan metode pengskalaannya. d. Penulisan item Pada tahap awal penulisan item, item dibuat dalam jumlah yang lebih banyak daripada jumlah yang direncanakan dalam spesifikasi skala, yaitu sekitar tiga kali lipat dari jumlah item yang digunakan dalam bentuk final. Tujuannya agar nanti penyusun skala tidak kehabisan item akibat gugurnya item-item yang tidak memenuhi syarat. e. Review penulisan item Review pertama harus dilakukan oleh penulis item sendiri, yaitu dengan mengecek ulang setiap item sendiri, apakah telah sesuai dengan indikator prilaku yang hendak diungkap. Setelah itu review dapat dilakukan oleh orang yang berkompeten atau ahli. Semua item yang tidak sesuai dengan kaidah atau spesifikasi blue print harus diperbaiki, dan hanya item-item yang diyakini berfungsi dengan baik oleh ahli (expert judgmen), yang dapat diloloskan untuk uji empirik. f. Uji coba bahasa (evaluasi kualitatif) Kumpulan item yang telah direview kemudian dievaluasi secara kualitatif, dengan mengujicobakan pada sekelompok kecil responden untuk mengetahui apakah kalimat yang digunakan sudah tepat dan mudah dipahami oleh responden sesuai dengan apa yang diinginkan oleh

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 penulis item. Pertanyaan-pertanyaan dari responden mengenai kata-kata dalam item menandakan bahwa kalimat dalam item masih kurang komunikatif dan memerlukan perbaikan. g. Field tes (evaluasi kuantitatif) Evaluasi terhadap fungsi item biasa dikenal dengan analisis item. Analisis item merupakan proses pengujian item secara kuantitatif guna mengetahui apakah item memenuhi syarat psikometrik untuk disertakan sebagai bagian dari skala. Parameter item yang diuji adalah daya beda item atau daya diskriminasi item. h. Seleksi item Pada tahap ini item-item yang tidak memenuhi syarat psikometrik tidak akan digunakan atau akan diperbaiki lebih dahulu sebelum dapat digunakan. Sebaliknya item-item yang memenuhi syarat psikometrik dengan sendirinya akan digunakan dalam skala. i. Validasi konstruk Validasi skala merupakan proses yang berkelanjutan, tetapi pada skala yang digunakan secara terbatas umumnya hanya melalui validasi isi yang dilakukan oleh ahli (expert judgment) namun sebenarnya semua skala harus teruji konstruknya. Skala yang sudah sesuai secara isi tetap perlu diuji secara empirik apakah konstruk yang digunakan dari teori sudah didukung dengan data.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 j. Kompilasi final Format final skala dirakit dalam tampilan yang menarik namun tetap memudahkan responden untuk membaca dan menjawabnya. Dalam bentuk final, skala dilengkapi dengan petunjuk soal dan lembar jawab. Ukuran tulisan pada skala perlu disesuaikan agar tidak ada kata yang tertinggal atau tidak terbaca. Menurut Fernandes dan Soeharto (Suswandi, 2010: 57) ada sembilan langkah dalam pengembangan insrumen tes antara lain: a. Membuat spesifikasi tujuan (penjelasan tentang pengetahuan, keterampilan, atau tingkah laku yang akan diditeksi). b. Menerjemahkan tujuan-tujuan tes dalam istilah-istilah yang operasional (tes harus mencerminkan isi dan tujuan dalam keadaan operasional dan sesuai dengan kepentingannya. c. Merumuskan tujuan dalam kata-taka yang mengambarkan tingkah laku (observable dan measurable). d. Merencanakan tes (berapa jumlah butir tes, bagaimana bentuk tes, dsb). e. Menulis butir-butir tes dengan format yang dikehendaki. f. Melakukan uji coba butir-butir tes dan menganalisisnya. g. Menyetel tes yang sudah final. h. Standarisasi (proses pengembangan alat kontrol: petunjuk pengerjaan, waktu pengerjaan, prosedur dan standar penilaian).

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 i. Memberi atribut pada skor-skor tes (menjelaskan indeks validitas dan reliabilitas). Sementara itu, menurut Surapranata (Suwandi, 2010: 59-64) prinsip-prinsip pengembangan dan penggunaan tes meliputi: a. Penentuan tujuan Tahap awal yang sangat penting dalam pengembangan tes adalah menentukan tujuan. Secara umum tes antara lain dikembangkan untuk kepentingan penempatan yang terdiri atas pre tes kesiapan dan pre tes penempatan, formatif, diagnostik, dan sumatif. b. Pemilihan soal Pemilihan soal merupakan salah satu langkah penting untuk dapat menghasilkan tes yang baik. Pemilihan soal dari 440 butir soal yang valid akan dipilih 88 butir untuk dikembangkan. c. Review dan revisi soal Riview dan revisi soal pada prinsipnya adalah upaya untuk memperoleh informasi mengenai sejauh mana suatu soal telah berfungsi secara efektif dan telah memenuhi kaidah yang telah ditetapkan, misalnya kaidah konstruksi, bahasa, dan penulisan soal. Review dan revisi idealnya dilakukan oleh orang lain (bukan si penulis soal) yang terdiri atas suatu tim penelaah yang terdiri atas ahli-ahli materi, pengukuran dan bahasa.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 d. Uji coba dan analisis Uji coba soal pada prinsipnya adalah upaya untuk mendapatkan informasi yang empirik mengenai seberapa baik sebuah soal dapat mengukur apa yang hendak diukur. Informasi empirik tersebut pada umumnya menyangkut segala hal yang dapat mempengaruhi validitas soal seperti aspek-aspek keterbacaan soal, tingkat kesulitan soal, pola jawaban, tingkat daya pembeda, pengaruh budaya, dan sebagainya. Dari hasil uji coba akan diketahui apakah suatu soal “lebih berfungsi”. Hasil uji coba tersebut selanjutnya dianalisis dengan teknik yang telah ditentukan. e. Perakitan soal Soal-soal yang baik, hasil dari uji coba dapat dirakit sesuai dengan kebutuhan tes. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perakitan antara lain; penyebaran soal, penyebaran tingkat kesulitan soal, daya pembeda atau validitas soal penyebaran jawaban, dan lay out tes. f. Penyajian tes Hal yang perlu diperhatikan dalam penyajian tes ini adalah administrasi penyajian tes yang antara lain meliputi: petunjuk pengerjaan, cara menjawab, alokasi waktu yang disediakan, ruangan, tempat duduk peserta didik, dan pengawasan.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 g. Penskoran Penskoran atau pemeriksaan atas jawaban peserta didik dan pemberian angka dilakukan dalam rangka mendapatkan informasi kuantitatif dari masing-masing peserta didik. Peskoran harus dilakukan secara objektif. h. Pelaporan hasil tes Setelah tes digunakan dan dilakukan penskoran, hasilnya dilaporkan. Pelaporan dapat diberikan kepada peserta didik yang bersangkutan, orang tua peserta didik, kepala sekolah, dan pihakpihak yang berkepentingan. i. Pemanfaatan hasil tes Hasil pengukuran yang diperoleh melalui tes berguna sesuai dengan tujuan dilakukannya tes. Informasi hasil pengukuran dapat dimanfaatkan untuk perbaikan atau penyempurnaan sistem, proses atau kegiatan belajar mengajar, maupun sebagai data untuk mengambil keputusan atau menentukan kebijakan selanjutnya. Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip pengembangan dan penggunaan tes harus memiliki langkah-langkah; seperti menentukan tujuan dari alat tes yang akan dibuat, merancang tes (membuat kisi-kisi, merancang butir-butir tes, format tes, menulis soal tes), mereview dan merevisi soal tes yang akan digunakan, setelah itu melakukan uji coba dan analisis, soal tes hasil analisis selanjutnya dirakit menjadi

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 soal-soal tes yang memiliki kriteria baik, dan diberikan kepada peserta didik. Setelah itu dilakukan penskoran dari hasil jawaban peserta didik, hasil penskoran lalu diberikan kepada peserta didik dan pihak-pihak yang berkepentingan agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dan menentukan kebijakan. 6. Hambatan-Hambatan dan Kesulitan Asesmen Pendidikan Karakter di Indonesia. Menurut Barus, dkk (2017: 47) Hambatan-hambatan dan kesulitankesulitan Asesmen Pendidikan Karakter di Indonesia, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: a. Kesadaran para guru tentang pentingnya asesmen pendidikan sangat tinggi, namun kesadaran tersebut belum diikuti dengan langkah konkrit dalam perencanaan dan pelaksanaannya. b. Para guru mengaku ada perencanaan dan pelaksanaan yang rutin dari pihak sekolah tentang asesmen pendidikan karakter, namun sebagian besar tidak sampai pada tahapan pelaksanaan asesmen yang prosedural. Kebanyakan mereka terhenti pada merencanakan tetapi tidak sampai pada tahap implementasi dan analisis hasil. c. Sedikit sekali guru yang membaca dan memahami isi Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMP (Direktur Pembinaan SMP, Kemendiknas, 2010) yang disosialisasikan pemerintah. Sebagian besar mereka mengaku bahwa nilai karakter terpilih hanya sekedar tertempel pada RPP, namun sulit dilaksanakan dan dinilai.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 d. Sebagaian besar guru mengandalkan teknik observasi dalam mengakes karakter siswa, namun pelasanaannya belum mengikuti prosedur yang benar, misalnya tanpa pencatatan data, sporadic, tidak rutin, berbasis perilaku negative (pelanggaran tata tertib). e. Meski sebagaian besar guru mengandalkan observasi sebagai cara penilaian karakter siswa yang paling sering digunakan, meski mereka mengakui banyak kelemahan dari penggunaan observasi itu. f. Sebagain besar guru pada 10 SMP dari berbagai kota di Indonesia mengaku di sekolah mereka ada perencanaan pendidikan karakter yang operasional. Mereka juga mengaku dilibatkan dalam membuat perencanaan itu, namun hanya sedikit sekali guru yang merasa mampu melaksanakan rencana ini. g. Sebagian besar (hampir 71%) guru mengaku kurang berhasil atau “gagal” mendaratkan perencanaan itu dengan hasil yang baik. h. Sekolah-sekolah swasta memiliki keragaman dan lebih kaya dalam variasi kegiatan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah ketimbang sekolah-sekolah negeri. i. Kehadiran Guru BK di sekolah-sekolah negeri belum difungsikan secara optimal sebagai saluran pendidikan karakter, sementara itu pada sekolahsekolah swasta guru BK diberi jam bimbingan masuk kelas yang dapat digunakan sebagai sarana dan kesempatan memberikan “Bimbingan Karakter” bagi semua siswa di kelas.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 j. Banyak guru di SMP negeri maupun swasta memilih kegiatan keagamaan sebagai muatan kegiatan pendidikan karakter, namun sedikit sekali (hanya 6 orang) guru yang merasakan adanya peningkatan kesadaran siswa bertaqwa, berdoa, dan beribadah sebagai indikasi keberhasilan pendidikan karakter. k. Sementara itu, kantin kejujuran sebagai sebuah gerakan yang menggelegar pada tahun 2010 bersamaan dengan masa pencanangan pendidikan karakter di sekolah, kini kehilangan momen, mulai terlupakan. l. Banyak indikasi keberhasilan karakter yang dapat ditunjukkan para guru dalam survey ini, namun lebih banyak lagi noda hitam keprihatinan yang menandai ketidakberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Masih banyak siswa berperilaku buruk, kurang sopan, melanggar peraturan/tata tertib, kurang jujur, tidak disiplin, masih ada siswa yang suka bolos, bersikap brutal dan menentang guru, putus sekolah karena kawin di usia dini, bahkan ada yang melakukan klitih merupakan sinyal ketidakberhasilan pendidikan karakter di SMP. m. Jadi, maraknya perkelahian antarsiswa, mengganasnya perilaku bullying dan “klitih”, makin menggilanya perilaku sex bebas dan aborsi di kalangan remaja, bisa jadi merupakan sinyal “gagalnya” pendidikan karakter di sekolah dan keluarga. n. Sebagian besar guru mengaku telah melaksanakan asesmen pendidikan karakter secara rutin, namun pelasanaannya sebagian besar masih sebatas

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 perencanaan, angan-angan. Hanya sedikit guru yang mengakui telah sampai pada tahap menghimpun, mengolah, dan menginterpretasi hasil penilaian tersebut. o. Pengakuan mereka telah melaksanakan asesmen pendidikan karakter secara rutin ternyata terbantahkan ketika pada bagian lain mereka mengakui bahwa frekuensi pelaksanaannya tidak menentu, tergantung kebijakan sekolah. Ditemukan inkonsistensi responsi mereka. Artinya, pelaksanaan asesmen hasil pendidikan karakter pada 10 SMP yang diteliti belum seperti yang diharapkan, masih terabaikan, belum dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip asesmen afektif yang benar. p. Hanya sedikit guru yang dapat merumuskan secara tepat tujuan asesmen pendidikan karakter, sementara sisanya (70%) merumuskan tujuan asesmen campur aduk dengan tujuan pendidikan karakter itu sendiri. q. Sabagian guru menjelaskan bahwa perancangan asesmen pendidikan karakter diserahkan kepada satu tim kerja, sementara sisanya mengaku tanggung jawab itu diserahkan kepada masing-masing guru dan sebagian besar guru mengakui tiada hasil/sulit melakukannya. r. Fakta di atas menunjukkan bahwa asesmen pendidikan karakter di SMP belum terlaksana secara baik dan masih menemukan banyak kendala. Meskipun demikian, penilaian karakter siswa yang diperoleh dengan cara-cara seadanya dan belum teruji kehandalan serta diragukan validitas/objektivitasnya seperti itu diakui oleh 76,5% reponden hasilnya digunakan sebagai penentu keputusan kenaikan kelas siswa. Jangan-

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 jangan cara kerja semacam ini tidak mendidik, mengorbankan siswa, dan mengaburkan visi-misi serta tujuan pendidikan karakter yang sesungguhnya. D. Media Film dalam Pendidikan Karakter 1. Karakteristik Media Film Karakter Arsyad (2003:48) mengatakan film atau gambar hidup merupakan gambar-gambar dalam frame. Frame-frame tersebut diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar tersebut hidup. Film bergerak dengan cepat dan bergantian sehingga memberikan visual yang kontinu. Film adalah serangkaian gambar yang diproyeksikan ke layar pada kecepatan tertentu sehingga menjadikan urutan tingkatan yang berjalan sehingga mengambarkan pergerakan yang tampak normal. Film dapat digunakan sebagai alat audio visual untuk pelajaran, penerangan, atau penyuluhan. Banyak hal-hal yang dapat dijelaskan melalui film antara lain tentang proses terjadi di dalam tubuh kita, proses yang terjadi dalam suatu industri, kejadian yang terjadi di alam, tata cara kehidupan di negara asing, berbagai industri dan pertambangan, mengajarkan suatu ketrampilan, dan sejarah kehidupan orang-orang besar. Jadi, film adalah gambar atau frame yang diproyeksikan kedalam audio visual yang dapat digunakan untuk materi pembelajaran dan dapat mendokumentasikan kejadian-kejadian yang ada di sekitar. Kustandi dan Sutjipto (2013:64) mengatakan film atau gambar hidup merupakan gambar-gambar dalam frame. Frame-frame tersebut

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar tersebut hidup. Film bergerak dengan cepat dan bergantian sehingga memberikan visual yang kontinu. Film adalah serangkaian gambar yang diproyeksikan ke layar pada kecepatan tertentu sehingga menjadikan urutan tingkatan yang berjalan sehingga mengambarkan pergerakan yang tampak normal. Selain itu, menurut Undang-undang No 8 Tahun 1992 tentang perfilman bahwa film adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan atau bahan hasil penemuan teknologi lannya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses yang lain, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditanyangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik, dan/atau yang lain. Film merupakan media visual yang dapat digunakan untuk media pembelajaran dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan karakter. Film membawa makna khusus untuk menanamkan nilai-nilai yang bermoral dapat membentuk suatu kepribadian seseorang, khususnya remaja pada zaman sekarang. Film juga dapat membius untuk mempengaruhi para penonton, seperti membuat penonton menangis, tersenyum, ataupun terharu dalam hitungan detik saja. Oleh sebab itu, film yang bertemakan pendidikan karakter harus diperhatikan penggunaan sebagai media pembelajaran yang

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 kedepannya menjadi suatu sarana serta prasarana pembentukan kepribadian bangsa. 2. Kekuatan-kekuatan Media Film dalam Asesmen Pendidikan Karakter Menurut Kustandi & Sutjipto (2013) keuntungan menggunakan media film sebagai berikut: a. Film dapat menyajikan suatu proses dengan lebih efektif dibandingkan dengan media lain. b. Film dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari peserta didik ketika membaca, berdiskusi, dan praktik. Film merupakan pengganti alam sekitar, bahkan dapat menunjukkan objek secara normal yang tidak dapat dilihat, seperti cara kerja jantung berdenyut. c. Film memungkinkan adanya pengamatan yang baik terhadap suatu keadaan/peristiwa yang berbahaya jika dilihat secara langsung. d. Film berguna mengajarkan keterampilan, karena memungkinkan adanya pengulangan, sehingga keterampilan mampu dipelajari secara berulangulang. e. Film dapat menyajikan peristiwa kepada kelompok besar, kecil, heterogen maupun perorangan. 3. Prinsip-prinsip Penggunaan Media Film dalam Pendidikan Karakter Guna mengetahui keberhasilan dalam pembelajaran penanaman nilainilai karakter diperlukan instrumen penilaian yang sesuai dengan tujuannya, dengan cara membandingkan perilaku anak dengan standar (indikator) karakter yang ditetapkan. Sebelum itu, perlu diketahui langkah

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 pengembangan instrumen penilaian tersebut. Menurut Gronlund (Suwandi, 2010) ada enam langkah pengembangan instrumen tes sebagai berikut: a. Menentukan tujuan tes b. Mengidentifikasi hasil belajar yang dimaksudkan c. Merumuskan hasil belajar yang umum dengan istilah yag khusus d. Menetapkan garis-garis besar isi mata pelajaran e. Mempersiapkan tabel spesifikasi f. Menggunakan tabel spesifikasi dalam mempersiapkan tes 4. Film sebagai Media Asesmen Peran film sebagai media asesmen menjadi salah satu manfaat untuk proses penilaian pendidikan karakter. Pemilihan media asesmen harus didasarkan pada kriteria penilaian yang objektif. Kriteria penilaian yang objektif dapat melalui film karena film sifatnya konkret (realistis) yang dapat menunjukkan pokok masalah sesungguhnya sehingga peserta didik dapat dibawa ke peristiwa tersebut. Film juga bermanfaat terutama untuk mengembangkan pikiran, konsetrasi, menambah daya ingat, menumbuhkan minat dan motivasi belajar. Sadiman (1989) mengungkapkan bahwa film terbukti secara signifikan lebih baik dari media yang lain dalam hal mengingat dan mampu mempengaruhi emosi para peserta didik. Apapun jenis atau temanya, film selalu meninggalkan pesan moral kepada masyarakat yang dapat diserap dengan mudah karena film menyajikan pesan tersebut secara nyata. Gambar hidup yang ditampilkan di film memberi dampak yang berbeda dari untaian

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 kata-kata dalam sebuah buku. Mencerna sebuah film dapat dikatakan lebih mudah daripada mencerna sebuah tulisan. Maka sebetulnya film sangat strategis dijadikan media komunikasi bagi masyarakat banyak terutama sebagai media penyampaian pesan untuk melestarikan suatu budaya. 5. Film sebagai Media Tes Hasil Pendidikan Karakter Dalam perkembangannya film bisa digunakan untuk media pendidikan, berikut adalah 12 jenis film yang bisa digunakan untuk media pendidikan atau pembelajaran menurut Mc. Clusky 2006 (dalam Wrastari, Aryani T. & Firmansyah, Rico A. 2014: 45): a. Narrative Film: film yang menggunakan narasi pada saat ditayangkan. b. Dramatic Film: film yang memadukan drama teatrikal, yang biasanya digunakan untuk pelajaran drama atau bahasa Indonesia. c. Discoursive Film : film yang dibuat beberapa serial dengan topik yang saling berhubungan satu sama lainnya. d. Evidental Film: ini adalah film tentang ilmu pengetahuan yang terekam secara natural. Biasanya ditayangkan di televisi, contohnya antara lain Discovery Channel. e. Factual Film: hampir sama dengan discoursive film, bedanya lebih sistematis setiap episodenya. f. Emulative Film: ini adalah film yang biasanya digunakan untuk pelatihan-pelatihan perang yang intinya adalah agar penonton bisa meniru apa yang ditayangkan di film.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 g. Problematic Film: film yang dibuat untuk mengasah kemampuan kognitif dan membuat penonton berpikir lebih kritis. h. Incentive Film: bisa disebut film dokumenter, dimana diharapkan penonton melakukan sesuatu pada fenomena yang terjadi setelah melihat film ini. i. Rhytmic Film: Film sejenis video art yang digunakan untuk merangsang kemampuan estetika penontonnya. j. Theraputic Film: Film yang digunakan untuk membantu proses terapi k. Drill Film: Dalam film ini penonton akan berpartisipasi melakukan kegiatan yang ditayangkan di dalam film. l. Participative Film: hampir mirip dengan drill film bedanya adalah film ini lebih ke arah apresiasi daripada instruksional. Ke-12 jenis film itu adalah jenis-jenis film yang dapat digunakan sebagai media belajar. Dalam penelitian ini penulis menggunakan incentive film dimana menurut Mc Clusky (1948 dalam Elliot, 2006) incentive film adalah sebuah film yang sengaja dibuat berbasiskan masalah kehidupan sehari-hari dan dilema moral, dimana film tersebut diharapkan bisa menstimulasi penontonnya untuk mengungkapkan pendapat.

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 E. Hakikat Pegawai dan Non Pegawai 1. Pengertian Pegawai Menurut Soedaryono (Tata Laksana Kantor, 200:6) pegawai adalah “seseorang yang melakukan penghidupan dengan bekerja dalam kesatuan organisasi baik kesatuan pemerintah maupun kesatuan kerja swasta”. Menurut Robbins (Perilaku Organisasi, edisi 10 :2006) pegawai adalah “orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja baik tertulis maupun tidak tertulis, untuk melaksanakan suatu pekerjaan dalam jabatan atau kegiatan tertentu yang ditetapkan oleh pemberi kerja”. Pegawai adalah mereka yang bekerja pada suatu badan usaha, atau perusahaan, baik swasta maupun pemerintah, dan diberikan imbalan kerja sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, baik yang bersifat harian, mingguan, maupun bulanan (Siswanto, 1987: 10). Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pegawai adalah seseorang yang berkerja pada kesatuan organisasi, badan usaha baik pemerintah maupun swasta, baik sebagai pegawai tetap maupun tidak, yang diberikan imbalan kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, untuk melaksanakan suatu pekerjaan dalam jabatan yang ditetapkan oleh pemberi kerja dan semua dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. 2. Karakteristik Individu Pegawai Individu memiliki karakteristik atau ciri khas yang berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan individu mempengaruhi seseorang dalam berperilaku, tak terkecuali pada saat berada di lingkungan kerja. Wulan

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 (2010) mengatakan bahwa karakteristik individu adalah faktor dalam diri individu seperti pengetahuan yang telah dimiliki, sikap, keyakinan, motivasi, konsep diri, dan perilaku. Morrow (dalam Prayitno 2015) mengatakan komitmen organisasi dipengaruhi oleh karakter personal (individu) yang mencakup usia, masa kerja, pendidikan dan jenis kelamin. 3. Karakteristik Pekerjaan Pegawai Robbins (2003:53) mengatakan bahwa karakteristik pekerjaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja pegawai atau karyawan. Karakteristik pekerjaan menentukan kesusaian orang dengan suatu bidang pekerjaan tertentu dan memungkinkan seseorang untuk lebih berhasil dalam bidang yang di tekuninya, sehingga akan lebih termotivasi dan terpuaskan serta lebih produktif. 4. Pengertian Non Pegawai Menurut badan pendidikan dan pelatihan keuangan kementerian keuangan yang dimaksud dengan Non Pegawai adalah orang pribadi yang menerima atau memperoleh penghasilan dari pemberi kerja sehubungan dengan ikatan kerja tidak tetap, misalnya artis yang menerima atau memperoleh honorarium dari pemberi kerja. Lebih lanjut dalam Pasal 3 huruf c Peraturan Menteri Keuangan nomor 252/PMK.03/2008 diatur bahwa yang merupakan bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan, antara lain meliputi:

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 a.Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, aktuaris, petani, dan wiraswasta. b. Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis dan seniman lainnya. c. Olahragawan. d. Penasihat, pengajar, pelatihan, penceramah, penyuluh, dan moderator. e. Pengarang, peneliti, dan penerjemah. f. Pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik, komputer dan sistem aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi dan sosial serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan. g. Agen iklan. h. Pengawas atau pengelola proyek. i. Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara. 1) Petugas penjaja barang dagangan 2) Petugas dinas luar asuransi 3) Distributor perusahan multilevel marketing atau direct selling dan kegiatan sejenis lainnya.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 5. Karakteristik Non Pegawai (wirausahawan) Model Gooffrey Gooffrey G Meredith (dalam Rusdiana, 2018) mengemukakan ciri dan watak wirausahawan, seperti berikut 1) Percaya diri, dengan watak keyakinan, kemandirian, individualitas, dan optimisme 2) Berorientasikan tugas dan hasil, dengan watak kebutuhan prestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik, dan memiliki inisiatif 3) Pengambil risiko dengan watak memiliki kemampuan mengambil risiko dan suka pada tantangan 4) Kepemimpinan dengan watak bertingkah laku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, senang menerima kritik dan saran yang membangun 5) Keorisinalan dengan watak memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serta bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas 6) Berorientasi pada masa depan dengan watak persepsi dan memiliki cara pandang/cara pikir yang berorientasi pada masa depan 7) Jujur dan tekun dengan watak memiliki keyakinan bahwa hidup sama dengan kerja. 6. Orang Tua sebagai Pengaruh Pendidikan Karakter Anak Suparno, Paul (2015: 65) mengatakan orang tua adalah pendidik karakter utama anak-anak. Sejak lahir anak belajar bersikap dan belajar karakter tertentu dari orang tua mereka. Bahkan, secara psikologis ada yang mengatakan bahwa sejak dalam kandungan, anak sudah belajar bersikap dari orang tuanya, terutama dari ibu yang mengandungnya. Anakanak yang hidup dalam suasana keluarga yang penuh kasih, saling membantu, saling menerima, berkembang menjadi orang yang mudah

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 bergaul dengan orang lain dan mudah menerima orang lain, serta mudah bekerja sama dengan orang lain. Anak yang setiap kali melihat kedua orang tuanya biasa belajar dan suka membaca, banyak yang juga meniru suka belajar dan membaca. Anak yang hidup dalam suasa keluarga yang jujur, tekun bekerja, dan menghargai pendapat yang ada, terbantu juga berkarakter tekun, jujur, dan mudah menerima perbedaan. Demikian jelas bahwa suasa keluarga menjadi sangat penting bagi perkembangan karakter anak. F. Kajian Penelitian yang Relevan Penelitian yang terkait dengan validasi efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada SMP berdasarkan latar belakang status pekerjaan orangtua yang pegawai dan non pegawai masih sedikit untuk dijadikan sebagai sumber hasil penelitian yang relevan. Berikut ini merupakan beberapa hasil penelitian yang relevan yang bersangkutan dengan pendidikan karakter berbasis film. Penelitian yang dilakukan oleh: 1) Yustinus Dasilva Moron, (2017) dengan judul “Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Kreatif dan Karakter Inovatif berbasis Film Karakter di SMP.” 2) Ni Nyoman Diastrimarina “Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Daya Juang dan Karakter Kerja Keras berbasis Film Karakter di SMP.” 3) Inggried Putri Mandasari “Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Kedisiplinan dan Karakter Kemandirian berbasis

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Film Karakter di SMP.” Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang berawal dari adanya potensi dan masalah terkait dengan pendidikan karakter dan masalah penilaian karakter dari pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah. Relevansi dari penelitian ini dengan penelitian yang dikembangkan oleh peneliti ialah, memiliki kesamaan dalam prosedur pengembanganya yaitu menggunakan (R&D) dan memiliki media penilaian karakter yaitu menggunakan media film karakter. G. Kerangka Pikir Model soal tes asesmen hasil pendidikan karakter yang efektif belum banyak tersedia di SMP. Kalaupun ada, pendidikan karakter yang teriintegrasi dari kurikulum dan implementasi pada sekolah secara khusus pada jenjang SMP, dimana sekolah hanya mampu menilai secara kognitif saja dan belum sampai pada tahap afeksinya. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan soal tes dari 22 karakter yang ada melalui media film yang di dalamnya bermuatan dilema moral yang berkaitan dengan ke-22 karakter tersebut. Melalui media film yang bermuatan dilema moral tersebut, dapat memunculkan bayangan peserta didik terhadap kebiasaan yang mereka lakukan apabila melihat kembali film yang berkaitan dengan kebiasaan kehidupan sehari-hari dan mempermudah guru untuk menilai hasil pendidikan karakter yang telah diaplikasikan kepada peserta didik karena dengan adanya media ini guru hanya perlu menayangkan film karakter dan pilihan jawaban yang tersusun secara degradasi.

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER Dianalisis Kualitatif kuantitatif Kesesuai Karakter Validasi Bahasa Reliabilitas Konstruksi Keefektivitas Soal Tes Distribusi Jenjang Ranah Kognitif dan Efeksi Capaian Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Gambar 2.1 Kerangka Pikir Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 H. Hipotesis Penelitian Dalam penelitian ini peneliti memiliki hipotesis yang digunakan sebagai acuan dalam menjawab rumusan masalah yang di uji kebenarannya. Hipotesis yang diajukan dalam permasalahan ini ialah sebagai berikut: 1) Ho : Tidak terdapat perbedaan hasil penilaian siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai terhadap efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Ha :Terdapat perbedaan hasil penilaian siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai terhadap efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. 2) Ho :Tidak terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai terhadap penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia. Ha :Terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai terhadap penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia.

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini dipaparkan model penelitian dan pengembangan, prosedur penelitian dan pengembangan, uji coba produk, teknik dan instrumen pengumpulan data dan teknik analisis data. A. Model Penelitian dan Pengembangan Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa inggrisnya Research and Development atau disingkat (R & D). Menurut Sugiyono, (2013: 297) R & D adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Menurut Syaodih, (Putra, 2008: 66) penelitian R & D adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggung jawabkan. Sedangkan menurut Putra (2015: 67) R & D didefinisikan sebagai metode penelitian yang secara sengaja, sistemis, bertujuan untuk mencari temukan, merumuskan, memperbaiki, mengembangkan, menghasilkan, menguji keefektifan produk, model, metode, dan jasa, prosedur tertentu yang lebih unggul, baru, efektif, efisien, produktif, dan bermakna. Dapat disimpulkan dari penjelasan para ahli tersebut bahwa Research and Development merupakan jenis penelitian yang menghasilkan dan mengembangkan suatu produk tertentu dengan cara yang sistematis. Penelitian ini disebut penelitian pengembangan, karena peneliti mengembangkan suatu produk berupa Prototipe Pengembangan Soal Tes 68

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Hasil Asesmen Pendidikan Karakter Berbasis Media Film untuk jenjang SMP. B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan Prosedur pengembangan ini menggunakan tahapan penelitian Research and Development model Borg and Gall 2003 (dalam Sugiyono 2017). Langkah-langkah R & D oleh Borg & Gall terdapat 10 langkah, yaitu: 1. Research and information collection (penelitian dan pengumpulan informasi) Sebagai penelitian awal terkait dengan produk pendidikan yang akan dikembangkan, termasuk dalam langkah ini antara lain studi literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, pengukuran kebutuhan, penelitian dalam skala kecil, dan persiapan untuk merumuskan kerangka kerja penelitian. 2. Planning (membuat perencanaan) Pada tahap ini hal yang perlu dilakukan adalah menyusun rencana penelitian yang meliputi merumuskan kecakapan dan keahlian yang berkaitan dengan permasalahan, menentukan tujuan yang akan dicapai pada setiap tahapan, desain atau langkah-langkah penelitian dan jika mungkin/diperlukan melaksanakan studi kelayakan secara terbatas. 3. Develop Preliminary form of Product (mengembangkan bentuk awal produk) Pada tahap ini yang perlu dilakukan adalah mengembangkan bentuk permulaan dari produk yang akan dihasilkan, termasuk dalam

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 langkah ini persiapan komponen pendukung, menyiapkan pedoman dan buku petunjuk, dan melakukan evaluasi terhadap kelayakan alat-alat pendukung (misalnya pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran, dan instrumen evaluasi). 4. Preliminary Field Testing (uji lapangan awal) Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan uji coba lapangan awal dalam skala terbatas, dengan melibatkan 1 sampai dengan 3 sekolah, dengan jumlah 6-12 subyek, pada langkah ini pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi, atau angket. 5. Main Product Revision (revisi produk utama) Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan terhadap produk awal yang dihasilkan uji coba awal, perbaikan ini sangat mungkin dilakukan lebih dari satu kali sesuai dengan hasil yang ditunjukkan dalam uji coba terbatas sampai diperoleh draft produk utama yang siap diuji coba lebih luas. 6. Main Field Testing (uji lapangan untuk produk utama) Pada tahap ini uji coba utama melibatkan khalayak lebih luas, yaitu 5 sampai 15 sekolah, dengan jumlah subyek 30 sampai dengan 100 orang, pengumpulan data dilakukan sebelum dan sesudah penerapan uji coba, hasil yang diperoleh dari uji coba ini adalah sebagai hasil evaluasi terhadap pencapaian hasil uji coba produk yang dibandingkan terhadap

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 pencapaian kelompok control, dengan demikian pada umumnya langkah ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen. 7. Operational Product Revision (revisi produk operasional) Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan/penyempurnaan terhadap hasil uji coba lebih luas, sehingga produk yang dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang siap divalidasi. 8. Operational Field Testing (uji lapangan terhadap produk) Langkah uji validasi terhadap model operasional yang telah dihasilkan, dilaksanakan pada 10 sampai dengan 30 sekolah, melibatkan 40 sampai dengan 200 subyek, pengujian ini dilakukan melalui angket, wawancara, observasi dan analisis hasilnya, tujuan langkah ini adalah untuk menentukan apakah desain model yang dikembangkan sudah dapat dipakai di sekolah tanpa harus dilakukan pengarahan atau pendampingan oleh peneliti/pengembang model. 9. Final Product Revision (revisi produk final) Pada langkah ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan akhir terhadap model yang dikembangkan agar menghasilkan produk akhir. 10. Disemination and Implementation (diseminasi dan implementasi) Langkah ini merupakan langkah menyebarluaskan produk/model yang dikembangkan kepada khalayak/masyarakat luas, langkah ini adalah mengkomunikasikan dan mensosialisasikan produk, baik dalam bentuk

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 seminar hasil penelitian, publikasi pada jurnal, maupun pemaparan kepada stakeholders yang terkait dengan produk tersebut. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan menurut Borg and Gall (2003) ditunjukkan pada bagan berikut: Penelitian dan Pengumpulan informasi Uji Lapangan terhadap Produk Revisi Produk Final Perencanaan Mengembangkan Bentuk Awal Produk Uji Lapangan Awal Revisi Produk Operasional Uji Lapangan Produk Utama Revisi Produk Utama Dimensi dan Implementasi Gambar 3.1 Bagan Prosedur Penelitian dan Pengembangan menurut Borg and Gall (2003) Tim penelitian sebelumnya pada tahun 2017 telah menganalisis pelaksanaan penelitian ini dari tahap 1 sampai pada tahap ke 6. Langkahlangkah yang telah dilalui seperti penelitian dan pengumpulan informasi, perencanaan, mengembangkan bentuk awal produk, uji lapangan awal, revisi produk utama dan uji lapangan produk utama. Maka dari itu, telah dihasilkan 440 butir soal tes yang diuji secara parsial. Tim penelitian pada tahun 2018 melanjutkan langkah-langkah selanjutnya yaitu pada tahap 7 dan 8 yaitu revisi produk operasional dan uji lapangan produk pada populasi subjek yang lebih luas.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 1. Revisi Produk Operasional Revisi produk dilakukan, terhadap soal-soal tes hasil uji pemakaian produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada tahap awal yang ditemukan memiliki kekurangan maupun kelemahan. Pada tahap revisi produk operasional ini, digunakan beberapa kriteria atau syarat yang harus dipenuhi dan diperbaiki dari produk yang dihasilkan pada tahap awal, seperti: a. Dilakukan filterisasi soal dari 440 item menjadi 88 item. b. Potongan film pendek harus menampilkan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai karakter yang dirumuskan oleh Kemendiknas (2010). c. Potongan film didukung oleh pemain film yang notabene anak SMP, karena subjek penelitian merupakan siswa SMP. d. Film merupakan film Indonesia dan berbahasa Indonesia yang bertujuan memudahkan siswa untuk memahami dan menjawab soal tes karakter. e. Kalimat dan tanda baca dalam soal harus sesuai dengan EYD (ejaan yang disempurnakan). EYD yang jelas dapat membantu siswa memahami maksud dari soal dan jawaban yang ada di dalam soal tes karakter. f. Durasi setiap soal ± 2 menit. Durasi tersebut dirasa cukup dengan bentuk soal yang sederhana dan jawaban yang bergradasi, sehingga siswa tidak terlalu lama dalam mengerjakan sebanyak 88 soal. g. Kecocokan soal dengan potongan video. Setiap soal harus cocok dengan potongan video yang ditayangkan, hal ini bertujuan agar nilai-nilai karakter yang ada didalam soal dan film dapat dipahami oleh siswa.

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 h. Kejelasan suara dan kejernihan film. Suara yang jelas serta film yang jernih sangat membantu siswa untuk memahami apa yang mereka lihat dan dengar dari soal tes. Pada tanggal 17 Maret 2018 tim pengembangan melakukan revisi produk dengan menyortir soal tes karakter dari 440 karakter disortir menjadi 88 soal, masing-masing karakter di ambil 4 soal tes yang memenuhi syarat-syarat seperti yang telah disebutkan di atas, sehingga menjadi 88 soal tes asesmen berbasis film karakter. 2. Uji Lapangan Produk Pada tahap ini peneliti melakukan uji lapangan terhadap produk soal yang dihasilkan dari tahapan filterisasi dan revisi kepada peserta didik. Pengujian dilakukan dengan eksperimen lapangan pada 10 SMP di beberapa kota di Indonesia. Hal ini diperlukan karena terkadang apa yang telah dikonsepkan belum tentu sesuai dengan kenyataan dilapangan. Pengujian dilakukan dengan mengaplikasikan penggunaan produk 88 soal tes kepada peserta didik sebagai analisis validasi efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film pada 10 SMP di Indonesia, yaitu: 1) SMP Fransiskus Tanjungkarang, Lampung; 2) SMP St. Aloysius Turi, 3) Yogyakarta SMP N 1 Yogyakarta; 4) SMP Raden Fatah Cimanggu; 5) SMP N 3 Wates; 6) SMP N 31 Purworejo; 7) SMP N 2 Barusjahe, Medan; 8) SMP Maria Padang; 9) SMP Pangudi Luhur Wedi, Klaten; 10) SMP N 2 Playen Gunungkidul, Yogyakarta. Tujuan dari uji lapangan produk ini adalah untuk mengetahui apakah Soal Tes Asesmen Hasil

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang sudah melalui tahap revisi, memiliki kualitas yang baik dan efektif digunakan sebagai alat tes untuk mengukur karakter siswa SMP di 10 sekolah tersebut. C. Uji Coba Produk 1. Desain Uji Coba Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data, mengetahui kualitas dan efektivitas soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter yang telah dibuat oleh tim peneliti. Data dari hasil uji coba produk digunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan produk soal tes asesmen berbasis film karakter. Uji coba produk juga melihat sejauh mana produk yang dibuat dapat mencapai sasaran dan tujuan. 2. Tempat Penelitian dan Subjek Uji Coba Produk a. Tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada 10 SMP di Indonesia, yaitu: No Tabel 3.1 Tempat Penelitian Nama Sekolah Alamat 1 SMP Fransiskus karang Tanjung Jalan Mangga 1, Pasir gintung, Tanjung karang Pusat, Lampung, 35113 2 SMP St. Aloysius Turi Donokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta, 55551 3 SMP N 1 Yogyakarta Cik Di Tiro, No. 29, Yogyakarta, 55225

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 4 SMP Raden Fatah Cimanggu Jalan Raya Genteng, Kec. Cimanggu, Kab. Cilacap, 53256 5 SMP N 3 Wates Jalan Purworejo Km.07, Sogan, Wates, KulonProgo 6 SMP N 31 Purworejo Jalan Brigjend Katamso 24, Purworejo, 54114 7 SMP N 2 Barusjahe Desa Sinaman, Kec. Barusjahe, Kab. Karo, Medan, Sumatra Utara, 22172 8 SMP Maria Jalan Gereja, no. 39, Padang, Sumatra Barat 9 SMP Pangudi Luhur Wedi Desa Karangrejo, Pandes, Wedi, Glodogan, Klaten Sel., Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57426 10 SMP N 2 Playen Gading II, Gading, Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta 55861 b. Subjek penelitian Subjek uji coba penggunaan produk penelitian ini adalah peserta didik kelas VII dan VIII tahun ajaran 2017/2018 pada 10 SMP di Indonesia. Berikut adalah jumlah subjek penelitian masing-masing sekolah: No 1 2 3 Sekolah SMP Fransiskus Tanjungkarang SMP Raden Fatah Cimanggu SMP Santo Aloyius Turi Tabel 3.2 Subjek Penelitian Kelas VII Kelas VIII 31 siswa 34 siswa Jumlah 65 siswa 35 siswa 31 siswa 66 siswa 20 siswa 43 siswa 63 siswa

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 4 5 6 7 8 9 10 SMP N 3 Wates SMP N 31 Purworejo SMP Negeri 1 Yogyakarta SMP Negeri 2 Barusjahe SMP Maria SMP Pangudi Luhur Wedi SMP N 2 Playen 35 siswa 30 siswa 35 siswa 31 siswa 70 siswa 61 siswa 31 siswa 32 siswa 63 siswa 37 siswa 32 siswa 69 siswa 35 siswa 35 siswa 35 siswa 35 siswa 70 siswa 70 siswa 31 siswa 32 siswa 63 siswa 660 siswa c. Objek penelitian Objek penelitian ini adalah soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter untuk peserta didik SMP kelas VII dan VIII. d. Waktu penelitian Pengumpulan data implementasi produk penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2018 pada 10 SMP di Indonesia dengan rincian jadwal sebagai berikut: No Tabel 3.3 Waktu Penelitian Nama Sekolah Tanjung Alamat 1 SMP Fransiskus karang 24 April 2018 2 SMP St. Aloysius Turi 21 April 2018 3 SMP N 1 Yogyakarta 18 dan19 April 2018 4 SMP Raden Fatah Cimanggu 17 April 2018 5 SMP N 3 Wates 20 April 2018

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 6 SMP N 31 Purworejo 8 Mei 2018 7 SMP N 2 Barusjahe 28 April 2018 8 SMP Maria 23 dan 24 April 2018 9 SMP Pangudi Luhur Wedi 19 April 2018 10 SMP N 2 Playen 8 Mei 2018 D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data Menurut Zuriah, (2007:171) penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan ialah tes berbentuk pilihan ganda dan kuesioner. Tes pilihan ganda dengan skala deskriptor oleh Subali, (2011: 83) didefinisikan sebagai suatu skala yang mendukung objek yang diukur pada urutan yang berjenjang/berperingkat seperti halnya skala likert, tetapi kedudukan objek pada jenjang tersebut sesuai dengan deskriptor yang muncul. Skala deskriptor bertingkat menggunakan alternatif-alternatif jawaban dalam soal tes disusun secara bertingkat (vertikal) dengan skor acak. Teknik pengumpulan data berupa tes pilihan ganda berskala deskriptor yang digunakan dalam penelitian adalah soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter berjumlah 88 soal, tes inilah yang diujicobakan penggunaannya dalam penelitian ini. Cara pengerjaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter dilakukan dengan dua tahapan. Tahap pertama peserta didik diminta untuk mengerjakan soal

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 nomor 1 sampai 44 dan tahap kedua peserta didik diminta melanjutkan mengerjakan soal nomor 45 sampai 88. Setelah peserta didik mengerjakan soal tes ini selanjutnya peserta didik diminta unutk mengerjakan lembar kuesioner validasi efektivitas penggunaan produk sebanyak 35 item. Kuesioner validasi efektivitas dikembangkan oleh tim peneliti, bertujuan agar mengetahui efektivitas model asesmen yang dikembangkan. 2. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data hasil penelitian (Zuriah, 2007: 168). Ada dua macam instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes asesmen hasil pendidikan karakter yang dikembangkan dalam penelitian ini, berupa tes pilihan berganda (multiple choice) dengan menggunakan skala jenjang dan kuesioner validasi siswa terhadap efektivitas model asesmen yang dikembangkan. Kuesioner validasi efektivitas produk penelitian yang digunakan berbentuk pernyataan checklist menggunakan skala Guttman. Pada sub bab ini dijelaskan karakteristik kedua instrumen yang digunakan : a. Kuesioner Validasi Efektivitas Produk. Kuesioner validasi efektivitas soal tes, menurut penilaian siswa berbentuk pernyataan checklist menggunakan skala Guttman. Sugiyono, (2016: 111) menjelaskan bahwa skala pengukuran dengan tipe ini, memberikan jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak”; “benar-salah”; “pernah-tidak pernah”; positif-negatif”; dan setuju-tidak setuju”. Data yang diperoleh dapat berupa data interval dan data rasio. Skala Guttman

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 yang digunakan dalam validasi efektivitas penggunaan soal tes karakter, tujuannya untuk melihat efektivitas penggunaan soal tes yang dibuat berdasarkan penilaian siswa. b. Soal Tes Hasil Pendidikan Karakter Menurut Sudjana (2010: 35) alat penilaian hasil belajar dapat digolongkan dalam dua jenis yaitu tes uraian dan tes objektif. Dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes objektif. Tes objektif berupa pilihan berganda (multiple choice) dengan menggunakan skala berjenjang. Tes diberikan kepada siswa yang berbeda tingkatan (kelas VII dan kelas VIII), dalam waktu yang sama, bertujuan untuk mendapatkan data yang diperlukan. Model soal tes yang diujikembangkan dalam penelitian di susun berbasis cuplikan video yang menggambarkan perilaku berkarakter. Karakter-karakter yang dimunculkan berlandaskan pada nilai-nilai karakter untuk anak SMP berdasarkan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) SMP (Permen Diknas nomor 23 tahun 2006) dan SK/KD (Permen Diknas nomor 22 tahun 2006) yang dikelompokkan menjadi lima faktor. Soal tes ini dikemas dalam bentuk video dengan tampilan pertanyaan dan pilihan jawaban, sehingga siswa tidak lagi membaca dalam bentuk lembaran. Tes dalam penelitian ini bersifat tertutup, karena potongan film yang dibuat berupa pertanyaan soal dan terdiri dari 4 alternatif jawaban yang bergradasi, nilainya mulai dari 1 hingga 4.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 Tabel 3. 4 Konstruk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Golongan FaktorVariabel IndikatorVariabel Item Soal Karakter Faktor 1: Nilai karakter dalam Religius 65, 66, 67, 68 hubungannya dengan Tuhan Faktor 2: Karakter dalam Jujur hubungannya dengan diri Tanggung jawab sendiri Kreatif Inovatif Daya juang Kerja keras Disiplin Mandiri Rasa ingin tahu Faktor 3: Nilai karakter dalam Menghargai hubungannya dengan sesama. prestasi Demokratis Rendah hati Kepemimpinan Memaafkan Peduli sosial Bersahabat Cinta damai Faktor 4: Nilai karakter dalam Peduli lingkungan hubungannya dengan lingkungan. Faktor 5: Nilai kebangsaan Nasionalisme Toleransi Cinta tanah air 17, 18, 19, 20 21, 22, 23, 24 25, 26, 27, 28 29, 30, 31, 32 37, 38, 39, 40 33, 34, 35, 36 41, 42,43, 44 45, 46, 47, 48 1, 2, 3, 4 5, 6, 7, 8 57, 58, 59, 60 49, 50, 51, 52 61, 62, 63, 64 53, 54, 55, 56 9, 10, 11, 12 81, 82, 83, 84 85, 86, 87, 88 13, 14, 15, 16 77, 78, 79, 80 69, 70, 71, 72 73, 74, 75, 76

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 E. Teknik Analisis Data Sugiyono (2010) mengatakan bahwa teknik analisis data diarahkan untuk menjawab rumusan masalah. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada rumusan masalah. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan poin-poin tujuan penelitian. 1. Gambaran Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang di Analisis dengan Teknik Deskriptif Kualitatif. . Produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis fim karakter ini dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Teknik deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menjelaskan proses revisi produk operasional dan uji lapangan terhadap produk pada tahap ke 7 dan 8 dalam tahap R & D. 2. Analisis Kualitas Soal-soal Tes Asesmen Hasil Penilaian Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diuji Cobakan pada 10 SMP di Indonesia Guna mengetahui kualitas (validitas dan realibilitas) soal tes asesmen hasil penilaian pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujicobakan pada 10 SMP di Indonesia, maka peneliti menggunakan teknik analisis faktor konfirmatori. a. Validitas Menurut Anastasia (Surapranata, 2004: 50) validatas adalah suatu tingkatan yang menyatakan bahwa suatu alat ukur telah sesuai dengan

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 apa yang di ukur. Gronlund (Surapranata, 2004: 50) mengatakan bahwa validitas berkaitan dengan hasil suatu alat ukur, menunjukkan tingkatan dan bersifat khusus sesuai dengan tujuan pengukuran yang akan dilakukan. Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validatas isi dan validitas konstruk. Priyatno (2014) uji validitas adalah suatu variabel dinyatakan valid dan dapat dianalisis lebih lanjut apabila memenuhi kriteria yang menyatakan bahwa angka KMO (Keiser-Mayer-Olkin) MSA (Measures of Sampling Adequacy) pada kolom KMO and Berlett’s Test harus lebih besar atau sama dengan 0,500. Sedangkan, tingkat probabilitas (sig) harus lebih kecil atau sama dengan 5% (0,05). Kemudian untuk mengetahui tiap item valid atau tidak dapat dilihat dari nilai MSA pada kolom Anti Mage Correlation’s. Nilai MSA di atas 0,5 menunjukkan bahwa item valid dan dapat dianalisis lebih lanjut. 1. Validitas isi Guion (Surapranata, 2004: 51) mengatakan validitas isi sangat bergantung kepada dua hal yaitu tes itu sendiri dan proses yang mempengaruhi dalam merespon tes. Salah satu cara untuk memperoleh validitas isi adalah dengan melihat soal-soal yang membentuk tes itu. Jika keseluruhan soal nampak mengukur apa yang seharusnya tes itu gunakan, tidak diragukan lagi bahwa validitas isi sudah terpenuhi.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 2. Validasi Konstruk Konstruk adalah sesuatu yang berkaitan dengan fenomena dan objek yang abstrak, tetapi gejalanya dapat diamati dan diukur. Validasi konstruk mengandung arti bahwa suatu alat ukur dikatakan valid apabila telah cocok dengan kontruksi teoritik dimana tes itu dibuat. Dengan kata lain tes dikatakan memiliki validasi konstruksi apabila soal-soalnya mengukur setiap aspek. Uji validasi item dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan program SPSS, yaitu dengan melihat hasil hitung dari analisis faktor. Yamin & Kurniawan (2009) menjelaskan bahwa analisis faktor merupakan salah satu keluarga analisis multivariat yang bertujuan untuk meringkas atau mereduksi variabel amatan secara keseluruhan menjadi beberapa variabel atau dimensi baru, akan tetapi variabel atau dimensi baru yang terbentuk tetap mampu mempresentasikan variabel utama. Analisis faktor mempunyai dua pendekatan utama, yaitu exporatory faktor analysis dan confirmatory faktor analysis. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan confirmatory faktor analysis. Menurut Yamin & Kurniawan (2009) Confirmatory faktor analysis digunakan apabila faktor yang akan terbentuk telah ditetapkan terlebih dahulu. Analisis faktor konfirmatoris merupakan teknik pengujian validitas yang lebih

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 canggih untuk menguji apakah konsep-konsep teoritis penelitian telah terbukti direfleksikan oleh indikator-indikator yang ada. Keterangan: = koefisien korelasi = koefisien korelasi parsial b. Reliabilitas Azwar (2012) menjelaskan bahwa reliabilitas merupakan suatu pengukuran yang mampu menghasilkan data yang memiliki tingkat reliabilitas tinggi maka disebut sebagai yang reliabel. Supriyadi Edy (2014) mengatakan bahwa uji realibilitas adalah mengetahui konsisten atau keteraturan hasil pengukuran suatu instrumen apabila instrumen tersebut digunakan lagi sebagai alat ukur suatu objek atau responden. Patton (Budiastuti & Bandur, 2018) menegaskan bahwa reliabilitas merupakan faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan para peneliti kualititif dalam mendesain, menganalisis, dan melaporkan hasil penelitian kuantitatif. Dia juga menjelaskan bahwa reliabilitas tidak dapat dipisahkan dari validitas karena validitas penelitian akan melahirkan reliabilitas penelitian. Validitas yang baik dapat menghasilkan reliabilitas penelitian yang baik.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Priyatno (2014) uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui keajegan atau konsistensi alat ukur yang biasannya menggunakan kuesioner. Yang artinya alat ukur tersebut akan mendapatkan pengukuran yang tetap konsisten jika pengukuran diulangi kembali. Metode yang sering digunakan dalam penelitian untuk mengukur skala rentang adalah Cronbach Alpha. Uji reliabilitas merupakan kelanjuatan dari validitas, dimana item yang valid saja. Untuk menentukan apakah instrumen reliabel atau tidak menggunakan batasan 0,6. Menurut Sekaran (Priyatno, 2014), reliabilitas kurang dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima dan di atas 0,8 adalah baik. Guna melihat reliabilitas, peneliti menggunakan rumus sebagai berikut: ) keterangan: k = jumlah item/belahan = jumlah varian belahan dalam tes = varian skor total (Cronbach)

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Tabel 3.5 Kategori Koefisien Reliabilitas Guilford (1956) Kategori Koefisien Korelasi Sangat Tinggi 0,08
(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Pem = Keterangan: Pem = Persentase capaian skor Jumlah jawaban setiap item N = Jumlah responden Tabel 3.6 Kategorisasi PAP Tipe 1 Kategori Presentase 90% - 100% Sangat Efektif 80% - 89% Efektif 65% - 79% Cukup Efektif 55% - 64% Kurang Efektif 55% Tidak Efektif 4. Analisis data Capaian Hasil Pendidikan Karakter yang diukur dengan Soal Tes Asesmen hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada 10 SMP di Indonesia yang Dianalisis dengan Teknik Deskriptif Kuantitatif Untuk melihat capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter, peneliti menggunakan rumus norma kategorisasi Azwar (2012).

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 Gambar 3.2 Capaian Hasil Pendidikan Karakter Tabel 3.7 Norma Kategorisasi Capaian Skor Kategorisasi Skor µ +1σ
(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Maka, dengan rumus norma tiga kategorisasi, peneliti dapat melihat capaian hasil pendidikan karakter peserta didik pada 10 SMP di Indonesia dengan menggunakan pengolahan SPSS. 5. Analisis data Perbedaan Penilaian Siswa Terhadap Validasi Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Dilihat dari Siswa yang Orang Tuanya Pegawai dan Non Pegawai. Untuk melihat adanya perbedaan penilaian siswa terhadap validasi efektivitas penggunaan soal tes asesmen dari siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai, peneliti menggunakan perhitungan Chi-Square pada SPSS. Chi-Square digunakan untuk menaksir apakah ada perbedaan yang signifikan ataukah tidak antara frekuensi yang diobservasi dalam sampel dengan frekuensi yang diharapkan dalam populasi. Oleh sebab itu, peneliti menggunakan rumus: = Keterangan: N = Jumlah subjek a, b, c, dan d= frekuensi tiap-tiap sel dalam tabel 2x2.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 6. Analisis data perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia dilihat dari siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai. Untuk melihat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia dari siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai, peneliti menggunakan perhitungan Independent Sample T-Test pada SPSS. Independent Sample T-Test ini digunakan untuk membandingkan dua kelompok mean dari dua sampel yang berbeda (independent). Adapun perhitungan manual atau perhitungan matematik yang dapat digunakan, sebagai berikut: T= V= n1 + n2 – 2 Keterangan X1 = Rata-rata Variabel Pegawai X2 = Rata-rata Variabel Non Pegawai α 1= Alpha Pegawai α 2= Alpha Non Pegawai SP= Simpangan Baku n 1= Jumlah Sampel Pegawai n 2= Jumlah Sampel Non Pegawai

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini dipaparkan hasil-hasil penelitian dan pengembangan serta pembahasan. Struktur paparan hasil penelitian mengikuti urutan rumusan masalah yang dirumuskan pada bab I. Dengan cara ini dimaksudkan pertanyaanpertanyaan penelitian dijawab secara berurutan. A. Hasil Penelitian 1. Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang diujikembangkan dalam Penelitian ini. Sebagaimana yang telah dipaparkan pada bab III metedologi penelitian pendidikan mengenai prosedur model penelitian pengembangan Borg dan Gall 1998 (dalam Sugiyono, 2017) menyatakan bahwa “penelitian dan pengembangan merupakan proses/metode yang digunakan untuk memvalidasi dan mengembangkan produk”. Langkah-langkah Research and Development menurut Borg and Gall (2003) yang ditempuh pada penelitian ini yaitu pada tahap 7 Operational Product Revision (revisi produk operasional) dan tahap 8 Operational Field Testing (uji lapangan terhadap produk). Pada tahapan ini peneliti telah melakukan revisi produk dan ujicoba produk pada 10 sekolah yang ada di Indonesia. Tahap revisi produk yang telah peneliti lakukan adalah memilih potongan film pendek yang menampilkan karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, 92

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab; memilah potongan film yang notabene adalah anak SMP (sesuai dengan umur subjek); mensortir film yang berbahasa Indonesia dan berasal dari Indonesia; mengedit kalimat dan tanda baca dalam soal sesuai dengan EYD; mengedit durasi setiap soal yaitu ± 2 menit; mencocokan soal dengan potongan video; mengedit kejelasan suara: dan memilih kejernihan film. Setelah melakukan revisi produk operasional maka terdapat 88 soal tes asesmen yang terseleksi dari 440 butir soal tes yang telah dikembangan oleh tahun sebelumnya. Selanjutnya, 88 butir soal tes asesmen hasil pendidikan karakter diujicobakan secara empirik di lapangan seperti yang telah dijelaskan pada bab 3. Bentuk fisik 88 soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis fim karakter telah didokumentasikan pada sebuah dvd, dvd terlampir pada lampiran 12. Produk final soal tes yang dikembangkan peneliti bersama tim merupakan hak otoritas pengembang. Berikut ini disajikan satu contoh soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Hasil penelitian merupakan hak otoritas pengembang, peneliti hanya mencantumkan salah satu contoh soal. Bagi pihak yang membutuhkan soal tes asesmen tersebut dapat menghubungi Dr. Gendon Barus, M.Si (bardon.usd@gmail.com).

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Tabel 4.1 Contoh Soal Tes Karakter Kreatif No soal 36. Soal Link: https://www.youtube.com/watch?v=HA9VPFECqxM Kamu adalah pribadi yang memiliki keterampilan meperinci objek, benda atau gagasan sehingga menjadi lebih menarik. Apabila kamu diminta untuk membuat pistol air seperti dalam film tadi, langkah apa yang kamu lakukan terlebih dahulu dengan bahan-bahan yang sudah ada, menjadi pistol air? a. Merangkai semua bahan menjadi satu-membuat model pistol-membuat kerangka gagang. b. Membuat kerangka gagang- membuat model pistol yang dinginkan- merangkai semua bahan menjadi satu dengan gagang pistol. c. Membuat model pistol yang dinginkan -merangkai semua bahan menjadi satu dengan gagang -membentuk gagang pistol. d. Membuat model pistol yang dinginkan -membuat kerangka gagang -merangkai semua bahan yang ada menjadi satu dengan gagang pistol. 2. Kualitas Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada 10 SMP di Indonesia Sebagaimana yang dipaparkan pada bab III, untuk menguji kualitas soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter dalam penelitian ini (validitas dan reliabilitas) Confirmatory Faktor Analysis (CFA). digunakan pendekatan

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 a. Validitas Soal Tes Karakter Uji validitas menurut model Confirmatory Faktor Analysis (CFA) Tabel 4.2 Hasil Analisis Faktor Variabel 1 Factor Analysis KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square Df Sig. .502 36.020 6 .000 Tabel 4.3 Total Variance Explained Extraction Sums of Squared Loadings Rotation Sums of Squared Loadings % of Cumulative % of % Variance Component Total Variance Total Cumulative % 1 1.232 30.788 30.788 1.175 29.369 29.369 2 1.066 26.653 57.441 1.123 28.072 57.441 Extraction Method: Principal Component Analysis. Tabel 4.4 Rotated Component Matrix Rotated Component Matrixa Component 1 f1.65 2 .664 f1.66 .823 f1.67 .662 f1.68 .784 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 3 iterations.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Nilai KMO-MSA yaitu 0,502 sehingga nilai KMO-MSA lebih besar dari 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga instrumen penelitian ini layak digunakan. Tabel rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk faktor. Begitu pula pada faktor selanjutnya, dimana nilai factor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam faktor yang sama. Dari hasil di atas, keempat item berada pada variable 1 memiliki factor loading di atas 0,5 sehingga item pada tabel 4.4 valid semua dan membentuk 2 faktor dimana faktor pertama terdiri dari item 65 dan 68 sedangkan faktor kedua terdiri dari item 66 dan 67. Tabel 4.5 Hasil AnalisisFaktorVariabel 2 dan Variabel 3 Factor Analysis KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square Df Sig. .954 19133.516 2278 .000 Tabel 4.6 Total Variance Explained 3 Extraction Sums of Squared Rotation Sums of Squared Loadings Loadings Initial Eigenvalues % of Cumulative % of Cumulative % of Cumula % % Total Variance Total Variance Total Variance tive % 15.37 22.610 22.610 15.375 22.610 22.610 12.54 18.453 18.453 5 8 9.204 13.536 36.146 9.204 13.536 36.146 12.03 17.692 36.146 1 1.989 2.925 39.070 4 1.779 2.616 41.686 5 1.449 2.132 43.817 6 1.181 1.736 45.554 7 1.116 1.641 47.195 8 1.039 1.529 48.723 9 1.025 1.507 50.230 Component 1 2

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 10 .994 1.462 51.692 11 .976 1.435 53.126 12 .949 1.396 54.522 13 .935 1.376 55.898 14 .927 1.364 57.261 15 .897 1.319 58.580 16 .867 1.276 59.856 17 .851 1.251 61.107 18 .844 1.242 62.348 19 .806 1.185 63.533 20 .788 1.159 64.692 21 .782 1.150 65.842 22 .777 1.142 66.985 23 .770 1.132 68.117 24 .754 1.109 69.226 25 .719 1.057 70.283 26 .704 1.035 71.319 27 .701 1.030 72.349 28 .693 1.019 73.368 29 .669 .984 74.352 30 .654 .962 75.313 31 .647 .952 76.265 32 .642 .944 77.209 33 .627 .923 78.132 34 .616 .905 79.037 35 .603 .887 79.923 36 .591 .870 80.793 37 .585 .861 81.654 38 .558 .820 82.474 39 .554 .815 83.290 40 .541 .796 84.086 41 .537 .789 84.875 42 .520 .764 85.640 43 .514 .756 86.395 44 .506 .744 87.139 45 .473 .695 87.834 46 .462 .679 88.514 47 .452 .665 89.179 48 .450 .662 89.841 49 .435 .640 90.480 50 .429 .631 91.111 51 .420 .618 91.729

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 52 .412 .605 92.334 53 .408 .601 92.935 54 .387 .569 93.504 55 .378 .557 94.061 56 .374 .549 94.610 57 .371 .546 95.156 58 .354 .520 95.676 59 .344 .506 96.182 60 .330 .486 96.668 61 .326 .480 97.148 62 .317 .466 97.614 63 .307 .451 98.065 64 .291 .429 98.493 65 .277 .407 98.900 66 .263 .387 99.287 67 .247 .363 99.650 68 .238 .350 100.000 Extraction Method: Principal Component Analysis. Tabel 4.7 Rotated Component Matrixa Component 1 2 f2.1 .720 f2.2 .621 f2.3 .577 f2.4 .658 f2.17 .601 f2.18 .509 f2.19 .666 f2.20 .595 f2.21 .577 f2.22 .602 f2.23 .605 f2.24 .634 f2.25 .659 f2.26 .566 f2.27 .671 f2.28 .524 f2.29 .621 f2.30 .600 f2.31 .555 f2.32 .647

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 f2.33 .503 f2.34 f2.35 .586 f2.36 .560 f2.37 .556 f2.38 .584 f2.39 f2.40 .525 f2.41 .504 f2.42 .551 f2.43 .556 f2.44 .520 f2.45 .542 f2.46 .531 f2.47 .654 f2.48 .590 f3.5 .819 f3.6 .545 f3.7 .639 f3.8 .710 f3.9 .716 f3.10 .632 f3.11 f3.12 .584 f3.49 .606 f3.50 .612 f3.51 .546 f3.52 .620 f3.53 .617 f3.54 .526 f3.55 .501 f3.56 .576 f3.57 .684 f3.58 .505 f3.59 .578 f3.60 .569 f3.61 .614 f3.62 .727 f3.63 .633 f3.64 .656 f3.81 .624 f3.82 .575

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 f3.83 .556 f3.84 f3.85 f3.86 .690 f3.87 .548 f3.88 .574 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 3 iterations. Nilai KMO-MSA yaitu 0,954 sehingga nilai KMO-MSA lebih besar dari 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga instrument penelitian ini layak digunakan. Tabel rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk faktor. Begitu pula pada faktor selanjutnya, dimana nilai faktor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam faktor yang sama. Hasil di atas diperoleh 5 item tidak valid pada variable 2 dan 3 item tidak valid pada variable 3. Tabel 4.8 Hasil Analisis Faktor Variabel 4 Factor Analysis KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square Df Sig. .502 20.878 6 .002 Tabel 4.9 Total Variance Explained Extraction Sums of Squared Rotation Sums of Squared Loadings Loadings % of Cumulative % of Cumulative Component Total Variance % Total Variance % 1 1.152 28.811 28.811 1.134 28.352 28.352 2 1.095 27.371 56.182 1.113 27.829 56.182 Extraction Method: Principal Component Analysis.

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Tabel 4.10 Rotated Component Matrixa Component 1 2 f4.13 .704 f4.14 .731 f4.15 -.715 f4.16 .707 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 3 iterations. Nilai KMO-MSA yaitu 0,502 sehingga nilai KMO-MSA lebih besar dari 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga instrumen penelitian ini layak digunakan. Tabel rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk faktor. Begitu pula pada faktor selanjutnya, dimana nilai factor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam faktor yang sama. Hasil di atas menunjukkan keempat item pada variable 4 memiliki factor loading di atas 0,5 sehingga seluruh item valid dan membentuk 2 faktor dimana faktor pertama terdiri dari item 15 dan 16 sedangkan faktor kedua terdiri dari item 13 dan 14. Tabel 4.11 Hasil AnalisisFaktorVariabel 5 Factor Analysis KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square Df Sig. .758 693.702 66 .000

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Tabel 4.12 Total Variance Explained Extraction Sums of Squared Loadings Rotation Sums of Squared Loadings % of Cumulative % of % Component Total Variance Total Variance Cumulative % 1 2.562 21.348 21.348 2.089 17.407 17.407 2 1.275 10.623 31.971 1.454 12.115 29.522 3 1.133 9.440 41.411 1.427 11.889 41.411 Extraction Method: Principal Component Analysis. Tabel 4.13 Rotated Component Matrixa Component 2 1 f5.69 .641 f5.70 .635 f5.71 .652 f5.72 .630 3 f5.73 .592 f5.74 .560 f5.75 f5.76 .553 f5.77 .533 f5.78 .580 f5.79 f5.80 .684 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 5 iterations. Nilai KMO-MSA yaitu 0,758 sehingga nilai KMO-MSA lebih besar dari 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga instrumen penelitian ini layak digunakan. Tabel rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk faktor. Begitu pula pada faktor selanjutnya, dimana nilai factor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam faktor yang sama. Hasil di atas menunjukkan 7 item pada variable 5 memiliki factor loading

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 di atas 0,5 sehingga ke 7 item valid dan membentuk 3 faktor dimana faktor pertama terdiri dari item 69, 70, 71, 72 sedangkan faktor kedua terdiri dari item 73, 74, 76 dan faktor ketiga terdiri dari item 77, 78, 80. Pada variable 5 ini terdapat 2 item tidak valid. b. Reliabilitas Soal Tes Hasil Pendidikan Karakter Tabel 4.14 Case Processing Summary N Cases Valid % 660 100.0 0 0.0 660 100.0 a Excluded Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Tabel 4.15 Reliability Statistics Cronbach's Alpha .933 N of Items 88 Tabel 4.14 menjelaskan tentang jumlah data yang valid untuk diproses dan data yang dikeluarkan serta persentasenya. Dapat diketahui bahwa data atau case yang valid berjumlah 660 dengan presentase 100% dan tidak ada data yang dikeluarkan. Tabel 4.15 adalah hasil dari analisis reliabilitas dengan teknik Cronbach Alpha. Dapat diketahui nilai Cronbach Alpha adalah 0.933. Menurut Sekaran (1992), reliabilitas kurang dari 0.6 adalah kurang baik, sedangkan 0.7 dapat diterima dan di atas 0.8 adalah baik.

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 3. Nilai Validasi Efektivitas Penggunaan Produk Menurut Penilaian Siswa. Untuk mengukur nilai-nilai efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang dikembangkan dalam penelitian ini, kepada siswa diberikan skala perseptual. Berikut ini adalah data hasil penilaian siswa terhadap penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film, dapat dilihat pada tabel 4.16. Tabel 4.16 Rekapitulasi Hasil Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada 10 SMP di Indonesia (N=660) Tida Ya k No Pernyataan % F F 1 Menarik dan asyik 631 29 2 Menyenangkan dan menghibur Sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri Menyadarkan saya untuk memperbaiki perilaku 617 43 652 8 652 8 Membuka mata hati/nuraniku Mendorong tekad/keberanian berbuat lebih baik Menyadarkanku bahwak ku pernah berbuat salah Membuatku merasa malu pada diri sendiri 637 23 642 18 636 24 444 216 Menumbuhkan rasa diri berharga Menyadarkan diriku bahwa aku punya kelemahan/kekurangan diri Membuatku merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan sekelilingku Sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik 602 58 642 18 586 74 644 16 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 95.6% 93.5% 98.8% 98.8% 96.5% 97.3% 96.4% 67.3% 91.2% 97.3% 88.8% 97.6%

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 Menimbulkan rasa menyesal dalam diriku terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan Menumbuhkan keinginan menolong orang lain 598 62 90.6% 644 16 97.6% 646 14 97.9% 16 Menumbuhkan rasa bersyukur Menantang diri untuk bertobat dari perilaku buruk 589 71 89.2% 17 Membosankan dan melelahkan 141 519 78,3% 18 Soal-soalnya sangat berat dan sulit 92 568 86,1% 19 Soalnya terlalu panjang dan rumit Mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab Membangkitkan kesadaran menghargai teman Menumbuhkan rasa kemanusiaan dan empati pada orang lain Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan Menumbuhkan ketaatan terhadap norma/peraturan Membangkitkan keinginan berusaha/gigih/berdaya juang Sangat baik/cocok/tepat untuk mengukur karakter siswa Beberapa potongan film tidak nyambung dengan pertanyaan & opsi jawaban Menumbuhkan keinginan berbagi/rela berkorban Mendorong siswa lebih disiplin/berperilaku baik/tertib pada aturan Waktu mengerjakan tes ini terburu-buru dan terlalu singkat/kurang waktu Tes ini merupakan cara menilai karakterku (siswa) secara jujur dan adil Tes ini bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa Tes ini jika dilakukan secara berulang dapat menolong siswa untuk lebih sadar berperilaku dan membangun karakter yang lebih baik 174 486 73,7% 635 25 96.2% 649 11 98.3% 643 17 97.4% 640 20 97% 645 15 97.7% 646 14 97.9% 629 31 95.3% 1 659 99,85% 625 35 94.7% 633 27 95.9% 211 449 68,1% 640 20 97% 595 65 90.2% 617 43 13 14 15 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 93.5%

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 Tes ini kurang bermanfaat bahkan 90.16% 65 595 membuang-buang waktuku (siswa) Dalam menjawab soal tes ini siswa 52.2% 35 316 344 mungkin kurang jujur sesuai nuraninya Keterangan: Pernyataan nomor 17,18, 19, 27, 30, 34, 35 merupakan pernyataan negatif. 34 Berdasarkan tabel 4.16 terdapat 35 item pernyataan, dari 35 item ada 28 item positif dan 7 item pernyataan negatif. Dari 35 item terdapat 27 item yang masuk ke dalam kriteria (Sangat Efektif) 90%-100%, 3 item masuk dalam kriteria (Efektif) 80%-89%, 4 item masuk dalam kriteria (Cukup Efektif) <80%, dan 1 item masuk dalam kriteria (Kurang Efektif) <55%-64%. Tabel 4.17 Rekapitulasi Hasil Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa Pada 10 SMP Di Indonesia (N=660) Kategori presentase Banyak Nomor Item Item Sangat Efektif 90%-100% 27 1,2,3,4,5,6,7,9,10,12,13,14,15, 20,21,22,23,24,25,26,27,28,29, 31,32,33,34 Efektif 80%-90% 3 11,16,18 Cukup Efektif <80% 4 8,30,19,17 Kurang Efektif 55%-64% 1 35 Tidak Efektif <55% 0 0 Dari hasil data di atas sudah terbukti bahwa penilaian siswa mengenai soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter adalah sangat efektif.

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 4. Capaian Hasil Pendidikan Karakter yang diukur dengan Menggunakan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada 10 SMP di Indonesia. Guna mengukur capaian hasil pendidikan karakter dengan menggunakan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP yang ada di Indonesia, maka peneliti memberikan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter kepada siswa. Setiap soal tes berbasis film karakter berdurasi 2 menit. Pilihan jawaban disajikan bergradasi, sehingga tidak ada jawaban benar dan salah. Jawaban yang dipilih siswa adalah jawaban yang menurutnya paling sesuai dengan dirinya. Hasil pendidikan karakter tersebut dihitung menggunakan norma kategorisasi Azwar, sebagai berikut ini: Tabel 4.18 Rumus Norma Tiga Kategorisasi Kurang Baik X < M – 1SD Cukup Baik M – 1SD < X < M + 1SD Baik M + 1SD < X Melalui rumus norma tiga kategorisasi tersebut, dapat di cari skorskor mana saja yang termasuk dalam kategori kurang baik, cukup baik, maupun baik. Oleh sebab itu, sebelum masuk ke SPSS, peneliti mencari skor-skor tersebut terlebih dahulu sebagai berikut:

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 X maks = jumlah soal asesmen x nilai terbesar. = 88 x 4 = 352 X min = jumlah soal asesmen x nilai terkecil = 88 x 1 = 88 Simpangan baku/SD = Mean/X = Kategori Kurang Baik Cukup Baik Baik Tabel 4.19 Pengkategorisasian Rumus Pengkategorisasian M – 1SD < 176 < 220 X M– 176 ≤ 220 <264 1SD < X < M + 1SD X
(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Tabel 4.20 Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa ordinal Capain Hasil Baik Cukup Baik Total Cumulative Frequency Percent Valid Percent 338 51,2 51,2 51,2 322 48,8 48,8 100,0 660 100,0 100,0 Percent Dari tabel di atas diketahui bahwa dari 660 siswa yang mengerjakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter, terdapat 338 siswa (51,2%) yang memiliki karakter dengan kategori baik. 322 siswa (48,8%) yang termasuk memiliki karakter dengan kategorisasi cukup baik dan tidak ada hasil yang menunjukkan karakter siswa dengan kategori tidak baik. Maka, hasil pendidikan karakter yang diukur menggunakan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter dari 660 siswa pada 10 SMP di Indonesia, ada 338 siswa yang masuk dalam kategori karakter baik dan 322 siswa masuk dalam kategori karakter cukup baik serta tidak ada siswa yang masuk dalam kategori kurang baik.

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 5. Perbedaan Penilaian Siswa yang Status Pekerjaan Orang Tuanya Pegawai dan Non Pegawai Terhadap Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter di Indonesia. Untuk melihat apakah terdapat perbedaan penilaian dari siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai terhadap efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter, maka peneliti memberikan 1 lembar kertas penilaian kepada siswa setelah mereka selesai mengerjakan soal tes. Lembar efektivitas siswa berisi 35 pernyataan mengenai penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Data menunjukkan bahwa jumlah siswa yang orang tuanya pegawai berjumlah 215 dan siswa yang orang tuanya non pegawai berjumlah 445. Tabel 4.21 Perbedaan Penilaian Siswa yang Orang tuanya Pegawai (P) dan Non Pegawai (NP) terhadap Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter. Presentase (%) No Pernyataan Sig NP P 0.065 97% 93% 1 Menarik dan asyik 2 Menyenangkan dan menghibur Sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri Menyadarkan saya untuk memperbaiki perilaku 0.019 95% 90% 0.646 99% 99% 0.646 99% 99% Membuka mata hati/nuraniku Mendorong tekad/keberanian lebih baik 0.013 98% 94% 0.276 98% 96% 3 4 5 6 berbuat

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Menyadarkanku bahwak ku pernah berbuat salah Membuatku merasa malu pada diri sendiri 0.333 97% 95% 0.203 69% 64% 0.880 91% 92% 0.446 98% 97% 0.198 90% 87% 0.241 98% 97% 0.425 91% 89% 0.334 98% 97% 0.747 Menumbuhkan rasa bersyukur Menantang diri untuk bertobat dari 0.972 perilaku buruk (TIDAK) Membosankan dan (TIDAK) 0.304 melelahkan Soal-soalnya sangat (TIDAK) berat dan 0.095 (TIDAK) sulit Soalnya (TIAK) terlalu panjang dan 0.102 (TIDAK) rumit Mendorong/menumbuhkan keberanian 0.093 bertanggungjawab Membangkitkan kesadaran menghargai 0.787 teman Menumbuhkan rasa kemanusiaan dan 0.778 empati pada orang lain Mempererat rasa 0..463 persaudaraan/persahabatan Menumbuhkan ketaatan terhadap 0.535 norma/peraturan Membangkitkan keinginan 0.160 berusaha/gigih/berdaya juang Sangat baik/cocok/tepat untuk mengukur 0.126 karakter siswa Beberapa potongan film tidak nyambung 0.487 dengan pertanyaan & opsi jawaban Menumbuhkan keinginan berbagi/rela 0.554 berkorban 98% 98% 89% 89% 20% 24% 16% 11% 28% 22% 97% 94% 98% 98% 97% 98% 97% 98% 98% 97% 98% 97% 96% 93% 0% 0% 95% 94% Menumbuhkan rasa diri berharga Menyadarkan diriku bahwa aku punya kelemahan/kekurangan diri Membuatku merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan sekelilingku Sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik Menimbulkan rasa menyesal dalam diriku terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan Menumbuhkan keinginan menolong orang lain

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 Mendorong siswa lebih 95% disiplin/berperilaku baik/tertib pada 0.355 96% 29 aturan Waktu mengerjakan tes ini (TIDAK) 28% terburu-buru dan (TIDAK) terlalu 0.168 34% 30 singkat/kurang waktu Tes ini merupakan cara menilai 97% 0.803 97% 31 karakterku (siswa) secara jujur dan adil Tes ini bagus dilakukan di akhir tiap 84% 0.000 93% 32 semester untuk menilai karakter siswa Tes ini jika dilakukan secara berulang dapat menolong siswa untuk lebih sadar 92% 0.314 94% berperilaku dan membangun karakter 33 yang lebih baik Tes ini (TIDAK) bermanfaat bahkan 7% 0.085 11% 34 membuang-buang waktuku (siswa) Dalam menjawab soal tes ini siswa 47% 0.876 48% 35 mungkin (TIDAK) jujur sesuai nuraninya Keterangan:Pernytaan nomor 17, 18, 19, 27, 30, 34 dan 35 awalnya merupakan pernyataan negatif, hasil presentase yang dimasudkan ke dalam item negatif adalah hasil presentase jawaban tidak. Tabel 4.21 menunjukkan bahwa ada 3 item efektivitas penilaian siswa dari kedua golongan yang signifikan, yaitu item no 2, 5 dan 32 menunjukkan bahwa ada perbedaan penilaian siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai dalam hal menilai produk soal tes ini sebagai tes yang bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa, menyenang dan menghibur dan membuka mata hati/ nurani. Siswa yang orang tuanya non pegawai menilai ketiga poin efektivitas itu lebih tinggi daripada siswa yang orang tuanya pegawai. Selain ke 3 item efektivitas itu, data menunjukkan bahwa penilaian siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai tidak terdapat perbedaan signifikan dalam menilai efektivitas soal tes asesmen hasil pendidikan karakter. Artinya penilaian yang diberikan dari siswa yang orang tuanya

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 pegawai maupun non pegawai tidak ada perbedaan terhadap nilai efektivitas yang dikandung dalam penggunaan soal tes tersebut. Siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai sama-sama merasa menarik dan asyik, menyenangkan dan menghibur, sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri, menumbuhkan rasa bersyukur, mendorong siswa lebih disiplin/berperilaku baik/tertib pada aturan, mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab, sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik dan perasaan-perasaan positif lainnya. 6. Perbedaan Capaian Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada Status Pekerjaan Orangtua pada 10 SMP di Indonesia. Untuk melihat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter, peneliti memberikan produk berupa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter kepada siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai. Perbedaan capaian hasil tersebut dapat diperoleh melalui perhitungan SPSS dan dapat dilihat hasilnya sebagai berikut. Tabel 4.22 Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa yang orang tuanya Pegawai dan Non Pegawai Group Statistics VAR00001 NON PEGAWAI PEGAWAI 445 Mean 265.08 Std. Deviation 12.647 Std. Error Mean .600 215 260.16 15.241 1.039 N

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 Pada tabel 4.22 menunjukkan adanya perbedaan nilai mean pada siswa yang orang tuanya non pegawai yaitu 265,08 dan siswa yang orang tuanya pegawai 260,16. Akan tetapi, selisihnya hanya sedikit yaitu 4,92. Artinya siswa yang orang tuanya non pegawai mencapai skor penilaian hasil pendidikan karakter lebih baik dari pada siswa yang orang tuanya pegawai, walaupun selisihnya sangat tipis. Tabel 4.23 Independent Samples Test Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances Equal variances assumed Equal variances not assumed F 5.181 Sig. .023 t-test for Equality of Means t 4.376 4.103 95% Confidence Interval of the Difference 658 Sig. (2tailed) .000 Mean Differ ence 4.923 Std. Error Differ ence 1.125 Lower 2.714 Upper 7.132 360.838 .000 4.923 1.200 2.563 7.282 df Tabel Independent Samples Test, menunjukkan bahwa Sig (2-taild) =0,000. Apabila P < 0,05, maka hasilnya signifikan atau dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai. Perhitungan yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai. Dari hasil perhitungan, menunjukkan jika H0 pada hipotesis sementara ditolak dan Ha

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 diterima. Artinya terdapat perbedaan hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai yang diukur berdasarkan penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. B. Pembahasan 1. Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang d iujikembangkan. Hasil revisi produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter menghasilkan 88 soal tes asesmen dari 440 soal tes. Soal tes asesmen hasil revisi produk berupa potongan-potongan film pendek yang menampilkan karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, nasionalisme, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, inovatif, daya juang, rendah hati, memaafkan, dan kepemimpinan. Selain itu produk hasil revisi soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter menggunakan subjek siswa SMP, yang berasal dari Indonesia dan berbahasa Indonesia. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai karakter yang ditanamkan untuk siswa SMP, berdasarkan SKL SMP (Permen Diknas nomor 23 tahun 2006) dan SK/KD (Permen Diknas nomor 22 tahun 2006). Nilai-nilai karakter utama yang dimaksud yaitu sebagai berikut: 1) Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan (Religius); pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 agamanya. 2) Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri: jujur, bertanggung jawab, bergaya hidup sehat, disiplin, kerja keras, percaya diri, berjiwa wirausaha, berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif. Mandiri, ingin tahu dan cinta ilmu. 3) Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama; sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain, patuh pada aturan-aturan sosial, menghargai karya dan prestasi orang lain, santun, dan demokratis. 4) Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. 5) Nilai kebangsaan cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya; nasionalisme dan menghargai keberagaman. Oleh sebab itu, produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter hasil revisi sesuai dengan nilainilai karakter yang ditanamkan di SMP dan tepat digunakan untuk siswa SMP karena subjek dalam film karakter ini adalah siswa SMP. 2. Kualitas Soal-Soal Tes Asesmen Hasil Penelitian Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Yang diUjicobakan pada 10 SMP di Indonesia. Hasil uji kualitas (validitas dan reliabilitas) soal tes hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujicobakan pada peserta didik pada 10 SMP di Indonesia menggunakan bantuan program SPSS dengan pendekatan analisis faktor konfirmatori. Data yang diperoleh dari hasil

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 hitung validasi seluruh item soal tes karakter menunjukkan bahwa soal tes karakter berbasis film karakter baik. Hasil membuktikan bahwa terdapat 81 soal tes karakter dari 88 soal yang valid dan 7 soal tes yang tidak valid. 81 soal tes dianggap valid karena pada kolom KMO dan Barlett’s Test lebih besar atau sama dengan 0,500 dan signya lebih kecil atau sama dengan 0,05. Selanjutnya, nilai reliabilitas soal tes karakter ditetapkan berdasarkan nilai reliability oleh Sekaran (Priyatno, 2014). Dari hasil hitung reliabilitas diketahui bahwa reliabilitas soal karakter adalah 0,933 (baik). Artinya 81 soal tes karakter dapat dipercaya, konsisten atau stabil, produktif dan ajeg. Azwar (2012) menyebutkan reliabel apabila suatu pengukuran mampu menghasilkan data yang memiliki tingkat reliabilitas tinggi. Oleh sebab itu, kualitas soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter baik dan dapat dipercaya. 3. Nilai Validasi Efektivitas Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter menurut Penilaian Siswa pada 10 SMP di Indonesia. Produk soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter juga mendapatkan penilaian dari siswa. Data yang diperoleh dari hasil penilaian siswa mengenai soal tes asesmen ini sangat efektif. Hal ini terbukti karena banyak siswa yang mengalami perasaan-perasaan positif di dalam dirinya, seperti: merasa asyik dan menarik, senang dan terhibur, menyadari kualitas diri, menyadarkan diri untuk memperbaiki perilaku, membuka mata hati/ nurani, mendorong tekad dan keberanian berbuat baik,

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 menyadarkan diri bahwa pernah berbuat salah, menumbuhkan rasa diri berharga, menumbuhkan rasa bersyukur, menumbuhkan keinginan berbagi/rela berkorban, menumbuhkan keinginan menolong orang lain, mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab dan perasanperasaan positif lainnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Sadiman (1989) yang mengatakan bahwa film terbukti secara signifikan lebih baik dari media lain dalam hal mengingat dan mampu mempengaruhi emosi siswa. Film mampu meninggalkan pesan moral kepada setiap orang yang menonton dan dapat diserap dengan mudah karena film menyajikan pesan secara nyata. Gambar hidup yang ditampilkan di film memberi dampak yang berbeda dari untaian kata-kata dalam sebuah buku. Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter sangat efektif. 4. Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa yang diukur menggunakan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada 10 SMP di Indonesia. Capaian hasil pendidikan karakter berdasarkan penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 660 siswa menunjukkan bahwa skornya adalah baik dan cukup baik. Siswa yang masuk dalam kategori karakter baik berjumlah 338 dan siswa yang masuk dalam kategori karakter cukup baik berjumlah 322, dan dari hasil penggunaan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 tidak ada siswa yang masuk ke dalam kategori karakter kurang baik. Dari hasil capaian pendidikan karakter tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter yang ditanamkan pada 10 SMP di Indonesia berhasil diaktualisasikan oleh siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Kevin Ryan dan Bohlin (dalam Fathurrohman, dkk: 2013) yang menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah upaya sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis. Kemudian ia menambahkan, karakter mulia meliputi pengetahuan tentang kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan, lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan. 5. Perbedaan Penilaian Siswa yang Orang Tuanya Pegawai dan Non Pegawai terhadap Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada 10 SMP di Indonesia. Hasil penilaian siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai terhadap penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter menunjukkan adanya perbedaan pada 3 item efektivitas yaitu pada nomor 2, 5 dan 32. Siswa yang orang tuanya non pegawai lebih merasa bahwa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter, menyenangkan dan menghibur, membuka mata hati/nurani dan bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa dibanding siswa yang orang tuanya pegawai.

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 Selain itu 32 item efektivitas menunjukkan bahwa penilaian siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai terhadap penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter tidak terdapat perbedaan. Berdasarkan data penelitian, siswa yang orang tuanya non pegawai memiliki penilaian yang sama dengan siswa yang orang tuanya pegawai. Siswa yang orang tuanya non pegawai dan siswa yang orang tuanya pegawai sama-sama merasa menarik dan asyik, sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri, sadar untuk memperbaiki perilaku, mendorong tekad/keberanian berbuat lebih baik, menyadarkanku bahwa pernah berbuat salah, membuat siswa merasa malu pada dirinya sendiri, menumbuhkan rasa diri berharga, menyadarkan diri bahwa ia punya kelemahan/kekurangan, membuatku merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan sekelilingku, sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik, menimbulkan rasa menyesal dalam diriku terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan, menumbuhkan keinginan menolong orang lain, menumbuhkan rasa bersyukur, menantang diri untuk bertobat dari perilaku buruk, mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab dan merasakan hal-hal posistif lainnya sesuai dengan item validasi efektivitas siswa. Hasil ini membuktikan bahwa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter mampu dirasakan oleh siswa yang orang tuanya non pegawai dan siswa yang orang tuanya pegawai, karena dari film karakter tersebut mampu menjelaskan peristiwa atau kejadian yang sering

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 mereka alami baik di sekolah maupun dirumah. Hal ini sejalan dengan pendapat Kustandi & Sutjipto (2013) mengenai keuntungan menggunakan media film yaitu film dapat menyajikan suatu proses dengan lebih efektif dibandingkan dengan media lain, film memungkinkan adanya pengamatan yang baik terhadap suatu keadaan/peristiwa yang berbahaya jika dilihat secara langsung dan film dapat menyajikan peristiwa kepada kelompok besar, kecil, heterogen maupun perorangan. Sadiman (1989) mengungkapkan bahwa film terbukti secara signifikan lebih baik dari media yang lain dalam hal mengingat dan mampu mempengaruhi emosi para peserta didik. Apapun jenis atau temanya, film selalu meninggalkan pesan moral kepada penonton yang dapat diserap dengan mudah karena film menyajikan pesan secara nyata. Oleh sebab itu, berdasarkan pembahasan dan pendapat ahli mengenai media film dapat disimpulkan bahwa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter efektif digunakan untuk siswa dari latar belakang pekerjaan pegawai dan non pegawai karena media film dapat menyajikan peristiwa kepada kelompok besar, kecil, heterogen maupun perorangan.

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 6. Perbedaan Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa yang Orang Tuanya Pegawai dan Non Pegawai berdasarkan Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada 10 SMP di Indonesia. Capaian hasil pendidikan karakter siswa pada 10 sekolah yang orang tuanya pegawai dan non pegawai yaitu terdapat perbedaan. Hasil menunjukkan bahwa pendidikan karakter siswa yang orang tuanya non pegawai lebih baik dibanding hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya pegawai. Hal ini berkaitan dengan peran orang tua, kondisi dan suasana keluarga yang ikut mempengaruhi pendidikan karakter anak. Orang tua yang mengahabiskan waktunya dengan urusan di luar rumah, rutinitas kantor, aktivitas organisasi membuat anak dididik dengan emosi yang tinggi atau anak diabaikan dengan diberi sebuah gadget yang canggih untuk menemani mereka. Maka tidak heren jika banyak anak yang terjerumus kedalam kasus-kasus yang bertentangan dengan nilai-nilai atau karakter. Sejalan dengan pembahasan di atas, Suparno, Paul (2015: 65) mengatakan bahwa orang tua adalah pendidik karakter utama anak-anak. Sejak lahir anak belajar bersikap dan belajar karakter tertentu dari orang tua mereka. Anak-anak yang hidup dalam suasana keluarga yang penuh kasih, saling membantu, saling menerima, berkembang menjadi orang yang mudah bergaul dengan orang lain dan mudah menerima orang lain, serta mudah bekerja sama dengan orang lain. Sebaliknya anak yang hidup dalam suasa keluarga yang penuh dengan kesibukan, komunikasi yang kurang, dan

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 terabaikan berkembang menjadi orang yang tidak peduli atau kurang peka terhadap diri dan sosialnya. Dengan demikian jelas bahwa suasana dan peran keluarga menjadi sangat penting bagi perkembangan karakter anak. Selain sekolah orang tuanya juga diharapkan aktif dalam membentuk karakter anak, karena anak lebih lama berada di lingkungan keluarga dibandingkan dengan lingkungan sekolah.

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP Bab ini menguraikan kesimpulan, keterbatasan dan saran berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan. A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, peneliti dapat menyimpulkan menjadi beberapa hal yaitu: 1. Telah dihasilkan produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang memuat 81 butir soal tes valid setelah melalui proses perevisian produk dan ujicoba produk di lapangan, pada 10 SMP di Indonesia. Produk soal tes yang dihasilkan didokumentasikan dalam produk berupa DVD. 2. Berdasarkan nilai validitas dan reliabilitas yang dihitung menggunakan analisis faktor konfirmatori, dari 88 butir Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter tersebut diperoleh 81 butir soal valid, dan dengan indeks Alpha Cronbach sebesar 0,933 artinya soal tes ini sangat valid dan sangat terpercaya serta mampu mengukur hasil pendidikan karakter siswa. 3. Berdasarkan hasil penilaian dari siswa diperoleh data bahwa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter ini sangat efektif. Siswa yang mengerjakan soal tes ini mampu mengalami perasaan-perasaan positif yang ada di dalam dirinya ketika mengerjakan soal tes ini, sehingga 124

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 siswa merasakan, hal-hal sebagai berikut: asyik dan menarik dalam diri siswa, senang dan terhibur, menyadari kualitas diri, menyadarkan diri siswa untuk memperbaiki perilaku, membuka mata hati/nurani siswa, mendorong tekad dan keberanian berbuat baik, menyadarkan siswa bahwa pernah berbuat salah, dan perasaan-perasaan positif lainnya. Dapat dikatakan produk ini diterima oleh siswa dan mampu mengukur pengaktualisasian pendidikan karakter siswa di sekolah. 4. Berdasarkan capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia terdapat 51,2% (338) siswa yang capaian hasil pendidikan karakternya baik dan 48,8% ( 322) siswa yang masuk dalam kategori cukup baik. Artinya, hampir separuh dari seluruh siswa yang diteliti, capaian hasil pendidikan karakter belum optimal. 5. Tidak terdapat perbedaan penilaian siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai terhadap 32 butir efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia, hanya ada 3 butir efektivitas perbedaan penilaian siswa dari kedua golongan. Artinya soal tes ini dapat digunakan pada siswa di kedua golongan tersebut. Siswa yang orang tuanya non pegawai dan siswa yang orang tuanya pegawai sama-sama merasa menarik dan asyik, sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri, sadar untuk memperbaiki perilaku, dan merasakan hal-hal posistif lainnya sesuai dengan item validasi efektivitas penggunaan soal tes ini.

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 6. Terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia, pada siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai. Perbedaan nilai rata-rata menunjukkan capaian hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya non pegawai lebih baik dibandingkan pada siswa yang orang tuanya pegawai. B. Keterbatasan Penelitian Pelaksanaan penelitian soa tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia, sudah dirancang secara konseptual, sistematik, dan telah mengikuti aturan prosedural. Tim PSHP telah mengupayakan produk ini agar mendapatkan hasil yang optimal, sehingga menjadi sebuah produk soal tes hasil pendidikan karakter yang mumpuni. Akan tetapi penelitian ini masih banyak kekurangan dan perlu perbaikan oleh tim selanjutnya. Berikut beberapa catatan dari keterbatasan penelitian ini: 1. Kurangnya fasilitas pendukung seperti ruangan yang sempit dan LCD yang kurang memadai, sehingga dalam pengerjaan siswa merasa kurang nyaman dan mempengaruhi kinerja siswa dalam mengerjakan soal. 2. Kesulitan peneliti dalam tahap perevisian produk soal tes yang rumit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. 3. Pelaksanaan penelitian berbarengan dengan libur ujian nasional, sehingga banyak siswa yang tidak masuk sekolah/absen.

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 C. Saran Berikut ini adalah beberapa saran yang dapat peneliti paparkan guna pengembangan produk soal tes asesmen agar menjadi lebih baik. 1. Bagi Pemerintah Peneliti menyarankan kepada pemerintah untuk melanjutkan pengembangan produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter ini agar menjadi lebih baik. Pemerintah juga dapat menetapkan produk ini sebagai salah satu alat ukur untuk mengetahui hasil pendidikan karakter pada diri siswa. 2. Bagi Guru BK Produk ini dapat digunakan sebagai alat ukur/penilaian karakter yang lebih objektif, efektif, valid, praktis, dan berkeadilan pada jenjang SMP. Guru BK juga harus mempersiapkan ice break agar siswa kembali bersemangat setelah menyelesaikan soal tes ini. 3. Bagi Peneliti Lain Penelitian ini dapat digunakan sebagai patokan dalam membuat produk soal tes agar lebih baik lagi. Akan tetapi, produk ini perlu adanya pengembangan agar siswa tidak merasa lelah saat mengerjakan soal tes. Sehingga, produk asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter dapat menjadi lebih optimal sebagai alat ukur.

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Adisusilo, Sutarjo. (2014). Pembelajaran Nila-Karakter. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Albertus, Doni Koesoema. (2012). Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. Yogyakarta: Kanisius. Albertus, Doni Koesoema. (2015). Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo. Airasian, Peter and L. R. Gay. (2000). Educational research: Competence for analysis an application (6th ed.). New Jersey: Merrill Prentice Hall. Arikunto, Suharsimi. (2003). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Asmawi Zainul & Noehi Nasution. (2001). Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Dirjen Dikti. Azhar Arsyad. (2003). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Azwar, Saifuddin. (2012). Reliabilitas dan Validitas (edisi 4). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, Saifuddin. (2014). Penyususnan skala psikologi (edisi 2). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Barus, Gendon. (2017). The Implementation of Assessment Character Education Result in Secondary School. Advances in Social Science, Education, and Humanities Research, Volume 188. Calongesi, J. S. (1995). Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Bandung: ITB Depdiknas. (2004). Kerangka Dasar Kurikulum 2004. Jakarta. Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Kerangka Dasar. Jakarta: Pusat Kurikulum. Fathurrohman, Pupuh., AA Suryana., Fenny Fitriani. (2013). Pengembangan pendidikan karakter. Bandung: PT Refika Aditama. Guilford, J.P. (1956). Fundamental Statistics in Psychology and Education. 3rd ed. Tokyo: Mc. Graw-Hill Kogakusha Company.Ltd. 128

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129 Jihad, Asep & Haris, Abdul. (2008). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo. Jihad, Asep & Haris. (2013). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo. Johnson, David. W dan Roger T. Johnson. (2002). Meaningful Assesment: A Manageable and Cooperative Process. Boston: Allyn and Bacon. Kemendiknas. (2010). Peraturan Pemerintah Nomor 17 Pasal 17 ayat 3 Tahun 2010. Tentang Pengelolaan Penyelengaraan Pendidikan. Kumano, Y. (2001). Authentic Assessment and Portofolio Assessment-Its Theory and Practice. Japan: Shizuoka University. Kustandi, Cecep & Sutjipto, Bambang. (2013). Media Pembelajaran: Manual dan Digital Edisi Kedua. Bogor: Ghalia Indonesia. Koesoema, Doni. (2012). Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. Yogyakarta: Kanisius. Lickona, Thomas. (2012). Mendidik untuk Membentuk Karakter. Jakarta: Bumi Aksara. Mulyasa E. (2004). Aanalisis, Validitas, Reliabilitas dan Interpretasi Hasil Tes. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nana Sudjana. (2010). Dasar-dasar Proses Belajar. Bandung: Sinar Baru. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 252/PMK.03/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan Pajak atas Penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan orang pribadi. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Bandung. Permendiknas No.23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Bandung. Poerwanti, E. (2001). Evaluasi Pembelajaran, Modul Akta mengajar. UMM Press. Prayitno. (2005). Perilaku Organisasi. Jakarta:Rajawali Press. Prayitno dan Manullang Belferik. (2011). Pendidikan Karakter dalam Pembangunan Bangsa. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130 Prijowuntato, Widanarto. S. (2016). Evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Sanata Dharma university Press. Priyatno, Duwi. (2014). SPSS 22 Pengolah Data Terpraktis. Yogyakarta: ANDI Robbins, Stephen P. (2006). Perilaku Organisasi. Edisi kesepuluh. Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia. Robbins, Stephen P. (2003). Perilaku Organisasi, Jilid 2. Jakarta: PT. Indeks Kelompok Gramedia. Rusdiana, A. H (2018). Kewirausahaan Teori dan Praktik. Bandung: Pustaka Setia. Sadiman, Arif. (1989). Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatan. Jakarta:Rajawali. Sadiman, Arif S. (2011). Media Pendidikan. Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Samani, Muchlas & Hariyanto.(2011). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. Santoso, Singgih. (2017). Statistik Multivariat dengan SPSS. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Siswanto. (1987). Manajemen Tenaga Kerja Indonesia. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Soedaryono.(2000). Tata Laksana Kantor. Jakarta: Bumi Aksara. Subali, Bambang. (2010). Buku Evaluasi Remidiasi. FMIPA UNY: Yogyakarta Subali, Bambang. (2016). Prinsip Asesmen dan Evaluasi Pembelajaran Edisi Kedua. Yogyakarta: UNY Press. Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.CV. Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitataif dan Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kebijakan. Bandung: Alfabeta.

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131 Sukardi. (2014). Evaluasi Program Pendidikan Dan Kepelatihan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Sumardi & Sunaryo. (2006). Intervensi Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta Depdiknas Dirjen Dikti Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan dan Tenaga Perguruan Tinggi. Suparno, Paul. (2015). Pendidikan karakter di sekolah: Sebuah Pengantar Umum. Yogyakarta:Kanisius. Supriyadi, Edy. (2014). SPSS+Amos. Jakarta: In Media. Surapranata. (2004). Analisis, Validitas, Reliabilitas dan Interpretasi Hasil Tes. Bandung: Rosda. Suryana. (2001). Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat. Suswandi, Sarwiji. (2010). Model assesment dalam pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka & FKIP UNS. Undang-Undang No 8 Tahun 1992 Tentang Perfilman. Uno, Hamzah B. & Koni, Satria. (2012). Assesment Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Wayan Nurkancana & Sumartana. (1983). Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasiona. Wijandi, Soesarsono. (1988). Pengantar Kewiraswastaan. Bandung : Sinar Baru. Wrastari, Aryani T. & Firmansyah, Rico A. (2014). “Pengaruh Penggunaan Film sebagai Media Belajar terhadap Pencapaian Higher Order Thinking Skill pada Mahasiswa Fakultas Psikologi UNAIR”.Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental.03. (1). http://journal.unair.ac.id/download-fullpapersjpkkb65e5e6f32full.pdfdi unggah pada tanggal 4 juni 2018. Yamin, Sofyan & Heri Kurniawan. (2009). SPSS Complete, Jakarta: Salemba Empat. Zainul & Nasution. (2001). Penilaian Hasil belajar. Jakarta: Dirjen Dikti. Zuriah Nurul. (2007). Metode penelitian sosial dan pendidikan. Jakarta : PT Bumi Aksara.

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 Lampiran 1 Tabulasi Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142 Lampiran 2 Tabulasi Capaian Hasil Penggunaan Soal Tes Hasil Pendidikan Karakter

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 155 Lampiran 3 Tabulasi Validasi dan Reliabilitas

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 157

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 158

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 159 Lampiran 4 Hasil Perhitungan Efektivitas Penilaian Siswa yang Orang Tuanya Pegawai dan Non Pegawai terhadap Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film VAR00001 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00002 TIDAK YA Total NON PEGAWAI 15 3% PEGAWAI 14 7% 29 430 97% 201 93% 631 445 Total 215 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio b Value 3,404a df 1 Asymp. Sig. (2sided) .065 2.698 1 .101 3.212 1 .073 Exact Sig. (2-sided) Fisher's Exact Test N of Valid Cases Exact Sig. (1sided) .071 .053 660 VAR00002 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00003 TIDAK YA Total NON PEGAWAI 22 5% PEGAWAI 21 10% 43 423 95% 194 90% 617 445 215 Total 660

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 160 Chi-Square Tests 4.774 1 .029 5.226 1 .022 Value a 5,538 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .019 b Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1sided) .027 N of Valid Cases .016 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 14,01. b. Computed only for a 2x2 table VAR00003 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00004 TIDAK NON PEGAWAI 6 1% PEGAWAI 2 1% 8 439 99% 213 99% 652 YA Total 445 Total 215 660 Chi-Square Tests .006 1 .936 .222 1 .638 Value a ,212 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .646 b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test N of Valid Cases b. Computed only for a 2x2 table df Exact Sig. (2-sided) 1.000 660 Exact Sig. (1sided) .486

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 161 VAR00004 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00005 TIDAK NON PEGAWAI 6 1% 2 1% 8 439 99% 213 99% 652 YA Total PEGAWAI 445 Total 215 660 Chi-Square Tests .006 1 .936 .222 1 .638 Value a ,212 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2-sided) .646 b Likelihood Ratio df Exact Sig. (2-sided) Fisher's Exact Test Exact Sig. (1sided) 1.000 N of Valid Cases .486 660 a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,61. b. Computed only for a 2x2 table VAR00005 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00006 TIDAK YA Total NON PEGAWAI 10 2% PEGAWAI 13 6% 23 435 98% 202 94% 637 445 215 Total 660

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 162 Chi-Square Tests 5.143 1 .023 5.770 1 .016 Value a 6,221 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2-sided) .013 b Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) .021 N of Valid Cases .014 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7,49. b. Computed only for a 2x2 table VAR00006 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00007 TIDAK YA Total NON PEGAWAI 10 2% 8 4% 18 435 98% 207 96% 642 PEGAWAI 445 Total 215 660 Chi-Square Tests Likelihood Ratio 1 .696 1 .404 1.131 1 .288 Value a 1,187 Pearson Chi-Square Continuity Correction Asymp. Sig. (2sided) .276 b Fisher's Exact Test N of Valid Cases df Exact Sig. (2-sided) .310 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,86. b. Computed only for a 2x2 table Exact Sig. (1sided) .200

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 163 VAR00007 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 Total VAR00008 TIDAK YA Total NON PEGAWAI 14 431 3% PEGAW AI 10 5% 24 97% 205 95% 636 445 215 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correctionb Likelihood Ratio 1 Asymp. Sig. (2-sided) .333 .557 1 .456 .902 1 .342 Value a ,937 df Fisher's Exact Test N of Valid Cases Exact Sig. (2-sided) .376 Exact Sig. (1-sided) .225 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7,82. b. Computed only for a 2x2 table VAR00008 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00009 TIDAK YA Total NON PEGAWAI 138 307 445 31% PEGAW AI 77 36% 215 69% 137 64% 444 214 Total 659

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 164 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2-sided) .203 1.406 1 .236 1.611 1 .204 Value a 1,624 b Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) .215 N of Valid Cases .118 659 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 69,82. b. Computed only for a 2x2 table VAR0009 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00010 TIDAK NON PEGAWAI 39 9% PEGAWAI 18 8% 57 406 91% 196 92% 602 YA Total 445 Total 214 659 Chi-Square Tests 1 Asymp. Sig. (2sided) .880 Continuity Correctionb .000 1 .998 Likelihood Ratio .023 1 .880 Pearson Chi-Square Value a ,023 Fisher's Exact Test N of Valid Cases df Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1sided) 1.000 659 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 18,51. b. Computed only for a 2x2 table .505

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 165 VAR00010 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00011 TIDAK NON PEGAWAI 10 2% PEGAWAI 7 3% 17 434 98% 208 97% 642 YA Total 444 Total 215 659 Chi-Square Tests .250 1 .617 .559 1 .455 Value a ,581 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .446 b Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test N of Valid Cases Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1sided) .442 .301 659 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,55. b. Computed only for a 2x2 table VAR00011 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00012 TIDAK YA Total NON PEGAWAI 45 10% PEGAWAI 29 13% 74 400 90% 186 87% 586 445 215 Total 660

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 166 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2-sided) .198 1.338 1 .247 1.616 1 .204 Value a 1,660 b Likelihood Ratio df Exact Sig. (2-sided) Fisher's Exact Test Exact Sig. (1sided) .236 N of Valid Cases .124 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 24,11. b. Computed only for a 2x2 table VAR00012 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00013 TIDAK NON PEGAWAI 8 2% PEGAWAI 7 3% Total 15 436 98% 208 97% 644 YA Total 444 215 659 Chi-Square Tests .801 1 .371 1.303 1 .254 Value a 1,377 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .241 b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test N of Valid Cases df Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1sided) .269 659 a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,89. b. Computed only for a 2x2 table .184

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 167 VAR00013 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00014 TIDAK NON PEGAWAI 39 9% PEGAWAI 23 11% Total 62 406 91% 192 89% 598 YA Total 445 215 660 Chi-Square Tests .430 1 .512 .624 1 .429 Value a ,637 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .425 b Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test N of Valid Cases Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) .477 .254 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 20,20. b. Computed only for a 2x2 table VAR00014 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 NON PEGAWAI VAR00015 TIDAK YA Total 9 2% PEGAWAI 7 3% Total 16 436 98% 208 97% 644 445 215 660

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 168 Chi-Square Tests .484 1 .487 .890 1 .345 Value a ,932 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .334 b Likelihood Ratio df Exact Sig. (2-sided) Fisher's Exact Test Exact Sig. (1sided) .418 N of Valid Cases .239 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,21. b. Computed only for a 2x2 table VAR00015 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00016 TIDAK NON PEGAWAI 10 2% PEGAWAI 4 2% Total 14 435 98% 211 98% 646 YA Total 445 215 660 Chi-Square Tests 1 .001 1 .972 .107 1 .744 Value ,104a Pearson Chi-Square Continuity Correction Asymp. Sig. (2sided) .747 b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test N of Valid Cases df Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) 1.000 660 a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,56. b. Computed only for a 2x2 table .499

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 169 VAR00016 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00017 TIDAK NON PEGAWAI 48 11% PEGAWAI 23 11% Total 71 397 89% 192 89% 589 YA Total 445 215 660 Chi-Square Tests 0.000 1 1.000 .001 1 .972 Value a ,001 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2-sided) .972 b Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1sided) 1.000 N of Valid Cases .544 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 23,13. b. Computed only for a 2x2 table VAR00017 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00018 YA TIDAK Total NON PEGAWAI 355 80% PEGAWAI 164 76% Total 519 90 20% 51 24% 141 445 215 660

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 170 Chi-Square Tests .857 1 .355 1.041 1 .308 Value a 1,055 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2-sided) .304 b Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2-sided) .312 N of Valid Cases Exact Sig. (1sided) .177 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 45,93. b. Computed only for a 2x2 table VAR00018 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00019 YA NON PEGAWAI 376 84% PEGAWAI 192 89% Total 568 69 16% 23 11% 92 TIDAK Total 445 215 660 Chi-Square Tests 2.407 1 .121 2.906 1 .088 Value a 2,793 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2-sided) .095 b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test N of Valid Cases df Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1sided) .119 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 29,97. b. Computed only for a 2x2 table .058

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 171 VAR00019 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00020 YA NON PEGAWAI 319 72% 126 28% TIDAK Total 445 PEGAWAI 167 78% Total 486 48 22% 174 215 660 Chi-Square Tests 2.379 1 .123 2.730 1 .098 Value a 2,678 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .102 b Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) .110 N of Valid Cases .061 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 56,68. b. Computed only for a 2x2 table VAR00020 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00021 TIDAK YA Total NON PEGAWAI 13 3% PEGAWAI 12 6% 25 432 97% 203 94% 635 445 215 Total 660

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 172 Chi-Square Tests 2.132 1 .144 2.656 1 .103 Value a 2,815 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2-sided) .093 b Likelihood Ratio df Exact Sig. (2sided) Fisher's Exact Test Exact Sig. (1-sided) .126 N of Valid Cases .075 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,14. b. Computed only for a 2x2 table VAR00021 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00022 TIDAK NON PEGAWAI 7 2% 4 2% 11 438 98% 211 98% 649 YA Total PEGAWAI 445 Total 215 660 Chi-Square Tests 0.000 1 1.000 .072 1 .789 Value a ,073 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .787 b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test N of Valid Cases df Exact Sig. (2-sided) .755 Exact Sig. (1sided) .506 660 a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3,58. b. Computed only for a 2x2 table

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 173 VAR00022 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00023 TIDAK NON PEGAWAI 12 3% PEGAWAI 5 2% 17 433 97% 210 98% 643 YA Total 445 Total 215 660 Chi-Square Tests .000 1 .984 .081 1 .776 Value a ,080 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2-sided) .778 b Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1-sided) 1.000 N of Valid Cases .504 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,54. b. Computed only for a 2x2 table VAR00023 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00024 TIDAK YA Total NON PEGAWAI 15 3% 5 2% 20 430 97% 210 98% 640 PEGAWAI 445 Total 215 660 Chi-Square Tests Likelihood Ratio .242 1 .623 .564 1 .453 Value a ,539 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .463 b df Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1sided)

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 174 Fisher's Exact Test .629 N of Valid Cases .319 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6,52. b. Computed only for a 2x2 table VAR00024 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00025 TIDAK NON PEGAWAI 9 2% PEGAWAI 6 3% 15 436 98% 209 97% 645 YA Total 445 Total 215 660 Chi-Square Tests .117 1 .732 .373 1 .542 Value a ,385 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .535 b Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1sided) .581 N of Valid Cases .356 660 a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,89. b. Computed only for a 2x2 table VAR00025 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00026 TIDAK YA Total NON PEGAWAI 7 2% PEGAWAI 7 3% 14 438 98% 208 97% 646 445 215 Total 660

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 175 Chi-Square Tests 1.250 1 .264 1.855 1 .173 Value a 1,977 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .160 b Likelihood Ratio df Exact Sig. (2-sided) Fisher's Exact Test Exact Sig. (1sided) .247 N of Valid Cases .133 660 a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,56. b. Computed only for a 2x2 table VAR00026 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00027 TIDAK NON PEGAWAI 17 4% PEGAWAI 14 7% 31 428 96% 201 93% 629 YA Total 445 Total 215 660 Chi-Square Tests 1.783 1 .182 2.233 1 .135 Value a 2,346 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .126 b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test N of Valid Cases df Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1sided) .168 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10,10. b. Computed only for a 2x2 table .093

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 176 VAR00027 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00028 YA NON PEGAWAI 444 100% 1 0% TIDAK Total PEGAWAI 215 100% 0 0% 445 Total 659 1 215 660 Chi-Square Tests 0.000 1 1.000 .789 1 .374 Value a ,484 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2-sided) .487 b Likelihood Ratio df Fisher's Exact Test Exact Sig. (2-sided) 1.000 N of Valid Cases Exact Sig. (1sided) .674 660 a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is ,33. b. Computed only for a 2x2 table VAR00028 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00029 TIDAK YA Total NON PEGAWAI 22 5% PEGAWAI 13 6% 35 423 95% 202 94% 625 445 215 Total 660

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 177 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correction Value a ,351 df 1 Asymp. Sig. (2-sided) .554 .166 1 .684 .344 1 .558 b Likelihood Ratio Exact Sig. (2-sided) Fisher's Exact Test Exact Sig. (1-sided) .580 N of Valid Cases .336 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 11,40. b. Computed only for a 2x2 table VAR00029 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00030 TIDAK NON PEGAWAI 16 4% PEGAWAI 11 5% 27 429 96% 204 95% 633 YA Total 445 Total 215 660 Chi-Square Tests .511 1 .475 .825 1 .364 Value ,854a Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2-sided) .355 b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test N of Valid Cases df Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1-sided) .403 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,80. b. Computed only for a 2x2 table .234

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178 VAR00030 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00031 YA TIDAK Total NON PEGAWAI 295 66% 150 34% 445 PEGAWAI 154 72% Total 449 61 28% 211 215 660 Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio 1 Asymp. Sig. (2-sided) .168 1.660 1 .198 1.919 1 .166 Value a 1,898 b df Exact Sig. (2-sided) Fisher's Exact Test N of Valid Cases Exact Sig. (1-sided) .182 .098 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 68,73. b. Computed only for a 2x2 table VAR00031 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00032 TIDAK YA Total NON PEGAWAI 14 3% PEGAWAI 6 3% 20 431 97% 209 97% 640 445 215 Total 660

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179 Chi-Square Tests .000 1 .994 .063 1 .802 Value a ,062 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .803 b Likelihood Ratio df Exact Sig. (2-sided) Fisher's Exact Test Exact Sig. (1sided) 1.000 N of Valid Cases .508 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6,52. b. Computed only for a 2x2 table VAR00032 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00033 TIDAK NON PEGAWAI 31 7% PEGAWAI 34 16% 65 414 93% 181 84% 595 YA Total 445 Total 215 660 Chi-Square Tests Likelihood Ratio 11.804 1 .001 12.010 1 .001 Value a 12,781 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2-sided) .000 b Fisher's Exact Test N of Valid Cases df Exact Sig. (2sided) Exact Sig. (1-sided) .001 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 21,17. b. Computed only for a 2x2 table .000

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180 VAR00033 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00034 TIDAK NON PEGAWAI 26 6% PEGAWAI 17 8% 43 419 94% 198 92% 617 YA Total 445 Total 215 660 Chi-Square Tests .704 1 .402 .984 1 .321 Value a 1,014 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .314 b Likelihood Ratio df Exact Sig. (2-sided) Fisher's Exact Test Exact Sig. (1sided) .317 N of Valid Cases .199 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 14,01. b. Computed only for a 2x2 table VAR00034 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00035 YA TIDAK Total NON PEGAWAI 395 89% PEGAWAI 200 93% Total 595 50 11% 15 7% 65 445 215 660

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 181 Chi-Square Tests 2.502 1 .114 3.128 1 .077 Value a 2,962 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2sided) .085 b Likelihood Ratio df Exact Sig. (2-sided) Fisher's Exact Test .095 N of Valid Cases Exact Sig. (1sided) .054 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 21,17. b. Computed only for a 2x2 table VAR00035 * VAR00001 Crosstab Count VAR00001 VAR00036 YA NON PEGAWAI 231 52% PEGAWAI 113 53% Total 344 214 48% 102 47% 316 TIDAK Total 445 215 660 Chi-Square Tests .005 1 .942 .024 1 .876 Value a ,024 Pearson Chi-Square Continuity Correction 1 Asymp. Sig. (2-sided) .876 b Likelihood Ratio Fisher's Exact Test N of Valid Cases df Exact Sig. (2sided) .934 Exact Sig. (1-sided) .471 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 102,94. b. Computed only for a 2x2 table

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182 Lampiran 5 Lembar Jawab

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183 Lampran 6 Lembar Penilaian Siswa

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 184 Lampiran 7 Surat Ijin Penelitian

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 185 Lampiran 8 SURAT KESEDIAN MITRA

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186 Lampiran 9 Surat Keterangan Sudah Melaksanakan Penelitian

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 187 Lampiran 10 ABSENSI PRESENSI KELAS VII

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 189 PRESENSI KELAS VIII

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 190

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 191 Lampiran 11 DOKUMENTASI

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192 Lampiran 12 DVD Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter

(211)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa : studi evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa tahun ajaran 2014/2015 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus pendidikan karakte.
0
1
251
Hasil pendidikan karakter pada siswa SMP (analisis evaluatif hasil pendidikan karakter terintegrasi ditinjau dari jenis kelamin pada siswa SMP Negeri 6 Surakarta tahun ajaran 2013/2014 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus.
0
2
171
Hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa SMP (analisis evaluatif hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa berdasarkan urutan kelahiran di SMP Negeri 13 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus dan mo
0
0
175
Hasil pendidikan karakter terintegrasi di smp (studi evaluatif ketercapaian hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa kelas VII dan Kelas VIII di SMP Negeri 13 Yogyakarta dan SMP Negeri 6 Surakarta tahun ajaran 2013/2014 serta implikasinya terhada
0
0
207
Peningkatan karakter ksatria melalui pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning.(penelitian tindakan Bimbingan dan Konseling pada siswa kelas V
0
0
179
Pembuatan film pendek untuk pendidikan karakter anak berbasis animasi 3D cover
0
0
14
jurnal pendidikan karakte strategi pendidikan karakter di pt melalui afl berbasis hots widihastuti
0
1
19
pembinaan karakter siswa berbasis pendidikan agama di sd dan smp diy jjurnal kependidikan vol 41 no
0
0
16
63 pembinaan karakter siswa berbasis pa di smp di diy
0
0
16
pendidikan karakter bangsa di smk
0
0
38
pelatihan implementasi bk yang berbasis kepada pembentukan dan pengembangan karakter siswa
0
0
1
pengumuman revisi hasil seleksi pegawai non pns
0
0
1
Sikap orang-tua terhadap pendidikan karakter di Sekolah Kristen Shekinah Temanggung - USD Repository
0
0
114
Implementasi program penguatan pendidikan karakter berbasis masyarakat di Sekolah Dasar se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman - USD Repository
0
0
192
Validasi efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada siswa SMP Negeri dan SMP Swasta yang berbeda di sepuluh SMP di Indonesia - USD Repository
0
1
197
Show more