Analisia ketidakefektifan penggunaan kalimat pada abstrak skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan 2017 - USD Repository

Gratis

0
0
154
1 month ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ANALISIS KETIDAKEFEKTIFAN PENGGUNAAN KALIMAT PADA ABSTRAK SKRIPSI MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS SANATA DHARMA LULUSAN TAHUN 2017 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Oleh Emilinda Oktaviani Jehamin NIM: 141224077 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Kupersembahkan skripsi ini untuk  Tuhan Yang Maha Esa yang sudah memberikan berkat dan rahmat-Nya sehingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik.  Kedua orang tua tercinta, Bapa Agustinus Jehamin dan Mama Matilde Heriberta Muina serta ketiga adik saya Reginardus Leven Jehamin, Fridolin Jesika Jehamin, Maryano Beatus Joho yang selalu memberikan dukungan dan Doa kepada saya.  Dosen pembimbing dan penguji yang sudah meluangkan waktunya untuk membimbing dan menuntun saya sampai skripsi ini selesai. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO Dia Memberi Kekuatan kepada yang Lelah dan Menambah Semangat kepada yang Tidak Berdaya (Yesaya 3:16) Melebur dalam Gelap Tanpa Harus Lenyap, Merengkuh Rasa Takut Tanpa Harus Surut, Bangun dari Ilusi Namun, Tak Memilih Pergi v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 31 Januari 2019 Penulis Emilinda Oktaviani Jehami vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPERLUAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Emilinda Oktaviani Jehamin Nomor Mahasiswa : 141224077 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: ANALISIS KETIDAKEFEKTIFAN PENGGUNAAN KALIMAT PADA ABSTRAK SKRIPSI MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS SANATA DHARMA LULUSAN TAHUN 2017 Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 31 Januari 2019 Yang menyatakan Emilinda Oktaviani Jehamin vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Jehamin,Emilinda Oktaviani.2019. Analisis Ketidakefektifan Penggunaan Kalimat pada Abstrak Skripsi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Lulusan Tahun 2017.Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penelitian ini mengkaji tentang penyimpangan-penyimpangan pengggunaan kalimat efektif pada abstrak skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyimpangan penggunaan kalimat yang tidak efektif pada abstrak skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah abstrak skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca dan catat. Analisis data menggunakan teknik inventarisasi, teknik identifikasi, teknik klasifikasi, dan teknik paparan. Hasil penelitian menunjukkan data yang dikumpulkan berjumlah 23 berupa kalimat-kalimat yang tidak efektif dalam skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. Kalimatkalimat tersebut meliputi tiga belas kalimat yang menyimpang dari prinsip kalimat efektif yaitu prinsip kehematan, lima kalimat yang menyimpang dari prinsip kalimat efektif yaitu prinsip kecermatan, dua kalimat yang menyimpang dari prinsip kesepadanan struktur, dan tiga kalimat yang menyimpang dari prinsip kelogisan makna. Penyimpangan-penyimpakan tersebut karena, para mahasiswa belum memahami bagaimana penggunaan kalimat yang efektif dalam penulisan karya ilmiah. Selain itu, tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut tenang kalimat efektif cukup rendah Kata kunci: Kalimat efektif, abstrak skripsi, prinsip kalimat efektif viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Jehamin, Emilinda Oktaviani. 2019. Analysis of the Ineffectiveness of Using Sentences in the Thesis Abstract of Students of History Education Program Sanata Dharma University Graduates in 2017.Thesis. Yogyakarta: Indonesia Language and Literature Education Study Program This study examines errors is the use of the effective sentences in the thesis abstract of 2017 graduate student of Sanata Dharma university’s history education program. The purpose of this study is to describe ineffective sentences in the abstract of the year old sanata dharma university history education students 2017. This type of research is qualitative research. The subject of this study is the abstract of the thesis of the student of the history education program of sanata dharma university in 2017. The instruments in the study are self research data collection. Techniques using note-talking, techniques and reading data analysis using, techniques of inventory identification, techniques for classification, techniques and exposure techniques. The results of this study indicate 23 collected data in the form of sentence sentences that are ineffective in the student thesis of the history education program of Sanata Dharma university graduates in 2017. The sentences includes thirteen sentences that deviate from the principle of effective sentences, namely of the principle of truth five sentences deviating from the principle of effective sentences is the principle of accuracy of two sentences that deviates from the principle of comparability of structure and three sentences that deviate from the principle of logic of meaning These deviations is because the students did not yet understand how to use effective sentences in writing scientific papers. In addition, the level of knowledge possessed by students about effective sentences is quite low. Key words: Effective Sentence, Thesis Abstract, Effective Sentence Principles ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur dan terima kasih kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan anugerah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini sesuai dengan yang diharapkan. Selama penyusunan laporan ini, penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada 1. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo S.Pd., M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang sudah memberikan banyak dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 2. Ibu Rishe Purnama Dewi,S.Pd.,M.Hum., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma dan dosen pembimbing yang sudah banyak memberikan dukungan, dan meluangkan waktunya dalam membantu penulis menyelesaikan skripsi ini, serta telah banyak membantu memberikan bimbingan, kritikan serta saran kepada penulis dalam penulisan skripsi ini 3. Bapak Danang Satria Nugraha, S.S,M.A., selaku trianggulator dan Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 4. Seluruh dosen PBSI yang dengan segenap hati memberikan ilmu pengetahuan kepada peneliti agar nantinya ilmu dapat berguna bagi peneliti agar mampu menjadi guru yang cerdas, humanis dan profesional. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Orang tua tercinta Bapa Agus Jehamin dan mama Matilde Heriberta Muina yang telah memberikan segala fasilitas, dana, dukungan doa demi terselesaikannya skripsi ini. 6. Adik saya tercinta Reginaldus Leven Jehamin ,Fridolin Jesika Jehamin, Mariyano Beatus Joho yang selalu memberikan dukungan dan motivasi sehingga peneliti menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. 7. Sahabat saya (Margareta Novera, Maria Yosefina Elsi Jehaduk, Natalia Kadus, Emili Defialar Paskalin Luntar, Klementini Pleumatis Rana, Maria Eudoksia Suryani Din ) yang sudah membantu, memberikan dukungan dan doa untuk kelancaran skripsi ini. 8. Teman-teman Pendidikan PBSI, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan, semangat, bantuan, dan menyumbangkan saran demi kelancaran skripsi ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan yang berlipat atas semua bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis merasa bahagia dengan terselesaikannya penyusunan skripsi ini, namun penulis juga menyadari masih banyak kekurangan yang dihadapi dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan skripsi ini. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Akhir kata, penulis berharap skripsi ini bermanfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca. Penulis Emilinda Oktaviani Jehamin xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN............................................................................ iv MOTTO .................................................................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ............... vii ABSTRAK.............................................................................................................. viii ABSTRACT ............................................................................................................ ix KATA PENGANTAR ........................................................................................... x DAFTAR ISI .......................................................................................................... xi Bab I Pendahuluan .................................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang..................................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 4 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................................ 4 1.4 Manfaat Penelitian. .............................................................................................. 5 1.4.1 Manfaat Teoritis ............................................................................................. 5 1.4.2 Manfaat Praktis .............................................................................................. 5 1.5 Batasan Istilah ..................................................................................................... 6 1.6 Sistematika Penulisan .......................................................................................... 6 Bab II Landasan Teori .............................................................................................. 8 2.1 Penelitian yang Relevan ...................................................................................... 8 2.2 Kajian Teori ......................................................................................................... 9 2.2.1 Ragam Bahasa ................................................................................................ 9 2.2.2 Ragam Bahasa Ilmiah .................................................................................. 11 2.2.3 Kalimat..……………………………………………………………………12 2.2.4 Unsur-unsur Kalimat .................................................................................... 14 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2.4.1 Subjek.................................................................................................... 14 2.2.4.2 Predikat ................................................................................................. 15 2.2.4.3 Objek ..................................................................................................... 15 2.2.4.4 Pelengkap .............................................................................................. 16 2.2.4.5 Keterangan ............................................................................................ 17 2.2.5 Kalimat Efektif ............................................................................................. 17 2.2.6 Pinsip-prinsip Kalimat Efektif ..................................................................... 18 2.2.7 Faktor Penyebab Ketidakefektifan Kalimat ................................................. 42 2.2.7.1 Kontaminasi atau Kerancuan ................................................................ 43 2.2.7.2 Pleonasme ............................................................................................. 48 2.2.7.3 Ambiguitas ............................................................................................ 51 2.2.7.4 Ketidakjelasan Unsur Inti Kalimat ........................................................ 51 2.2.7.5 Kemubaziran Preposisi dan Kata .......................................................... 53 2.2.7.6 Kesalahan Nalar .................................................................................... 55 2.2.7.7 Ketidaktepatan Bentuk Kata ................................................................. 57 2.2.7.8 Ketidaktepatan Makna Kata .................................................................. 57 2.2.7.9 Pengaruh Bahasa Daerah....................................................................... 58 2.2.7.10 Pengaruh Bahasa Asing ...................................................................... 59 2.2.8 Abstrak Skripsi ............................................................................................ 59 2.3 Kerangka Berpikir ............................................................................................ 62 Bab III Metodologi Penelitian ............................................................................... 64 3.1 Jenis Penelitian .................................................................................................. 64 3.2 Sumber dan Data Penelitian. ............................................................................. 65 3.3 Instrument Penelitian ......................................................................................... 65 3.4 Teknik Pengumpulan Data ................................................................................ 66 3.5 Teknik Analisis Data ........................................................................................ 67 3.6 Triangulasi ......................................................................................................... 68 Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan ............................................................. 70 4.1 Deskripsi Data ................................................................................................. 70 4.2 Hasil Analisis Data dan Pembahasan ............................................................... 71 4.2.1 Kesepadanan Struktur ................................................................................. 72 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.1.1 Ketidakjelasan Predikat ........................................................................ 72 4.2.1.2 Penggunaan Konjungsi Kurang Tepat ................................................. 73 4.2.2 Kecermatan .................................................................................................. 74 4.2.2.1 Kesalahan Penulisan Ejaan ................................................................... 75 4.2.2.2 Penggunaan Tanda Baca ....................................................................... 78 4.2.3 Kehematan.................................................................................................... 80 4.2.4 Kelogisan Makna ......................................................................................... 83 Bab V Penutup ........................................................................................................ 86 5.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 86 5.2 Saran…………….. ............................................................................................ 87 Daftar Pustaka…………….. ................................................................................. 89 Daftar Lampiran …………….. ............................................................................ 91 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa merupakan alat komunikasi yang berupa sistem lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dan objek atau konsep yang diwakili kumpulan kata atau kosakata (Mulyati, 2016: 2). Bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem yaitu, seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya (Widjono, 2007:14-15). Manusia membutuhkan bahasa sebagai media untuk berkomunikasi. Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi paling penting untuk mempersatukan seluruh masyarakat Indonesia sehingga, dalam berkomunikasi penutur dan lawan tutur harus jelas dalam menyampaikan isi informasi, sehingga informasi yang disampaikan dapat dipahami. Oleh karena itu, perlu mengetahui bagaimana menggunakan kalimat yang benar dan baik dalam komunikasi verbal dan tulis. Dalam menggunakan komunikasi yang bersifat tulis, penggunaan kalimat yang efektif mutlak harus dipahami, salah satunya adalah penggunaan kalimat pada karya ilmiah. Kemahiran berbahasa Indonesia bagi mahasiswa Indonesia tercermin dalam tatapikir, tataucap, tatatulis, dan tatalaku berbahasa Indonesia dalam konteks 1

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 ilmiah dan akademis. Oleh karena itu, bahasa Indonesia masuk ke dalam kelompok mata kuliah pengembangan kepribadian mahasiswa yang kelak sebagai insan terpelajar akan terjun ke dalam kancah kehidupan berbangasa dan bernegara. Hal ini karena, mahasiswa diharapkan kelak dapat menyebar pemikiran dan ilmunya, mereka diberi kesempatan melahirkan karya tulis ilmiah dalam berbagai bentuk, dan menyajikannya dalam forum ilmiah. Tujuan pembelajaran menulis karya ilmiah bagi seorang mahasiswa adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir logis, bernalar, kepentingan emosional, serta meningkatkan kepekaan dan kemauan mahasiswa untuk memahami dan meminati karya ilmiah. Karya ilmih juga sebagai tugas dan syarat seorang mahasiswa untuk memperoleh gelar sarjana yaitu dalam bentuk skripsi. Sebuah karya ilmiah disusun dengan memanfaatkan bahasa tulis. Kalimat dalam karya ilmiah hendaknya menggunakan bahasa Indonesia yang baku. Penggunaan bahasa Indonesia baku dalam karya ilmiah hendaknya tidak terlepas dari hakikat sebuah karya ilmiah yang merupakan bagian dari karya keilmuan. Berbicara karya ilmiah tentu erat hubungannya dengan mahasiswa. Mahasiswa sebagai seorang terpelajar tidak akan terlepas dari kegiatan menulis karya ilmiah baik dalam bentuk paper, makalah, proposal, dan terakhir dalam bentuk laporan akhir yaitu skripsi. Karya ilmiah dari seorang mahasiswa sebagai wujud pengembangan ilmu pengetahuan yang memanfaatkan bahasa tulisan, karya ilmiah mempunyai manfaat dan arti penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, karya ilmiah tersebut perlu diinformasikan. Untuk menginformasikan, bahasa tulis pada kaya ilmiah harus ditulis dengan komposisi yang benar

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 sehingga pembaca dapat memahami informasi yang disampaikan penulis melalui tulisannya. Pada kenyataannya, masih banyak mahasiswa yang belum mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal ini dibuktikan dengan adanya penggunaan bahasa Indonesia yang tidak tepat dalam penulisan abstrak skripsi mahasiswa, contohnya penggunaan kata bertujuan untuk yang memiliki makna yang sama. Dalam penyusunan karya ilmiah terutama skripsi, masih banyak mahasiswa yang belum mampu menggunakan kalimat yang efektif, sehingga informasi yang disampaikan kurang dimengerti atau dipahami oleh pembaca. Kesalahan-kesalahan penyusunan kalimat dalam skripsi menunjukan bahwa bahasa Indonesia terkadang tidak digunakan dengan baik dan benar. Program studi pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma merupakan pendidikan formal. Penyusunan karya ilmiah yaitu skripsi merupakan salah satu persyaratan yang harus ditempuh untuk memperoleh gelar sarjana. Dalam menyusun skripsi, penggunaan kalimat efektif harus diperhatikan. Menurut Arifin dan Junaiyah (2008:74), kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Dalam penulisan karya ilmiah berupa skripsi, kemampuan berbahasa Indonesia sangat diperlukan, sehingga dalam menulis karya ilmiah laporan hasil penelitian berupa skripsi tersebut dapat disampaikan dan dimengerti dengan baik oleh para pembaca. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mengembangkan penelitian dengan judul Analisis Ketidakefektifan Penggunaan Kalimat pada

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Abstrak Skripsi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Lulusan 2017. 1.2 Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah yaitu. 1. Apa sajakah wujud kebahasaan yang menyimpang prinsip-prinsip kalimat efektif dalam abstrak skripsi mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah lulusan tahun 2017 Universitas Sanata Dharma? 2. Jenis penyimpangan apa saja yang terdapat pada abstrak skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017? 3. Apa sajakah faktor-faktor penyebab ketidakefektifan sebuah kalimat? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah. 1. Untuk mengetahui penyimpangan-penyimpangan apa saja yang terdapat dalam abstrak skripsi mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. 2. Untuk mengetahui jenis penyimpangan apa saja yang terdapat dalam abstrak skripsi mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. 3. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja penyebab ketidakefektifan kalimat.

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 1.4 Manfaat Penelitian Dengan diadakan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut. 1.4.1 Manfaat Teoretis 1. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber acuan untuk penelitian lebih lanjut mengenai kalimat efektif dalam skripsi mahasiswa. 2. Penelitian ini juga bermanfaat untuk memberikan penjelasan secara teoretis yang berkaitan dengan masalah penelitian. Teori-teori tersebut dijadikan sebagai landasan atau titik acuan bagi penjelasan masalah penelitian, sehingga sangat perlulah penjelasan teori-teori tersebut untuk menambah pengetahuan dan pemahaman pembaca tentang kalimat efektif. 1.4.2 Manfaat praktis 1. Bagi program studi pendidikan Bahasa Indonesia Peneliti diharapkan dapat menambah informasi mengenai penggunaan kalimat efektif dalam karya ilmiah khususnya skripsi. 2. Bagi program studi pendidikan sejarah Peneriti diharapkan dapat memberi informasi mengenai penggunaan kalimat efektif dalam penulisan skripsi. 3. Bagi peneliti sendiri Peneliti diharapkan mampu menambah wawasan mengenai kalimat efektif.

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 1.5 Batasan Istilah 1. Kalimat Kalimat adalah bagian terkecil suatu ujaran yang dapat mengungkapkan pikiran atau gagasan dan dapat berdiri sendiri. 2. Kalimat Efektif Kalimat efektif adalah kalimat yang jelas, padat, yang dapat mengungkapkan gagasan penutur dan minimal memiliki subjek dan predikat. 3. Abstrak Skripsi Abstrak merupakan uraian atau ikhtisar singkat, namun lengkap dari karya tulis ilmiah yang memuat permasalahan, tujuan, metode penelitian, hasil, dan kesimpulan. Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. 1.6 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan akan mempermudah dan mengarahkan hasil penelitian agar tidak menyimpang dari pembahasan yang akan diteliti. Sistematika menjadikan penulisan hasil penelitian menjadi lebih terarah, jelas, mendetail, dan sistematis. Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini tersusun atas lima bab. Kelima bab itu adalah sebagai berikut. Bab pertama merupakan pendahuluan. Bab ini mencakup latar belakang masalah, pembatasan masalah, batasan istilah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. Selanjutnya adalah landasan teori, yakni teori yang secara langsung berhubungan dengan masalah yang hendak diteliti dan dikaji sebagai landasan atau acuan dalam penelitian ini

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 yakni melalui pendekatan pragmatik. Kerangka berpikir berisi cara kerja yang dilakukan oleh penulis untuk menyelesaikan permasalahan yang akan diteliti. Bab ketiga adalah metode penelitian. Bab ini terdiri atas jenis penelitian, sumber data dan data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan teknik penyajian hasil analisis data. Bab keempat adalah analisis data. Bab ini menjabarkan analisis terhadap data-data yang menjadi objek penelitian berdasarkan data yang tersedia. Dari analisis ini, akan didapatkan hasil penelitian yang akan menjawab permasalahan yang telah dirumuskan dalam bab pertama. Bab kelima merupakan simpulan. Bab ini berisi simpulan dari hasil penelitian dan dilanjutkan dengan saran dari penulis yang berhubungan dengan proses penelitian yang telah diselesaikan.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Penelitian yang Relevan Dari berbagai tulisan yang sudah peneliti telusuri, peneliti menemukan penelitian yang relevan yaitu penelitian Dewi Susanti berjudul Penggunaan Kalimat Efektif dalam Karangan Argumentasi pada Siswa Kelas X-IPA 1 SMA Cyber Media Tahun Pelajaran 2010\2011. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian dari Dewi Susanti adalah objek penelitian. Pada penelitian Dewi Susanti objeknya adalah karangan argumentasi, sedangkan pada penelitian ini objeknya adalah abstrak skripsi mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. Dalam penelitian Dewi Susanti, lebih menegaskan pada penggunaan kalimat efektif dalam karangan argumentasi, sementara pada penelitian saya lebih menganalisis kesalahan penggunaan kalimat efektif dalam abstrak skripsi mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. Penelitian yang relevan yang kedua adalah penelitian dari Rini Setianingrum yang berjudul Penggunaan Kalimat Efektif dalam Karangan Argumentasi ”Pemilihan Anggota Legislatif dari Kalangan Selebritas” Siswa Kelas X SMK Triguna Utama Ciputat. Perbedaan penelitian Rini Setianinggrum dengan penelitian ini adalah pada penelitian Rini Setianingrum objek penelitian adalah karangan argumentasi siswa, sementara pada penelitian ini objeknya adalah skripsi mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah lulusan tahun 2017. 8

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 Dari dua penelitian yang relevan di atas, yang menjadi persamaan adalah kedua penelitian tersebut dan penelitian ini sama-sama menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sementara itu, yang menjadi perbedaan mendasarnya adalah objek penelitian yakni kedua penelitian tersebut menggunakan karangan argumentasi sementara, pada penelitian ini objeknya adalah abstrak skripsi mahasiswa program studi pendidikan sejarah lulusan tahun 2017. 2.2 Kajian Teori 2.2.1 Ragam bahasa Bahasa Indonesia memiliki ragam bahasa yang tidak sedikit jumlahnya. Perkembangan pemakaian bahasa Indonesia dalam pemakaian kontenporer seperti yang terjadi sekarang ini sepertinya justru semakin memperjelas bahwa bahasa Indonesia ternyata bermanifestasi dalam rupa-rupa bentuk kesalahan. Sudah menjadi kodratnya bahwa, sebuah bahasa termasuk bahasa Indonesia yang digunakan oleh berbagai etnis (suku bangsa) yang berbeda serta digunakan secara luas untuk berbagai keperluan dan kegiatan, sehingga bahasa Indonesia menjadi banyak ragamnya. Ragam bahasa dibagi atas ragam bahasa berdasarkan waktu, ragam bahasa berdasarkan medianya, ragam bahasa berdasarkan pesan komunikasi (Rahardi 2009:13-14). Bahasa yang digunakan dalam bidang tertentu disebut ragam. Jadi, ada ragam bahasa jurnalistik, ada ragam bahasa kesusutraan, ragam bahasa hukum, ragam bahasa militer, ragam bahasa ilmiah, dan sebagainya (Chaer 2011:2). Bahasa dapat diartikan sebagai variasi bahasa dalam penggunaanya.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 Ragam bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah dan ragam bahasa non ilmiah (Nugraheni 2017:7). Menurut Ramlan (2008: 4), ragam bahasa dibagi menjadi ragam bahasa percakapan, ragam bahasa tulis, ragam bahasa kedaerahan, ragam bahasa santai, ragam bahasa lawak, ragam bahasa sastra, ragam bahasa resmi, dan ragam bahasa ilmu. Ragam bahasa percakapan ialah bahasa Indonesia yang digunakan dalam percakapan, baik percakapan di lingkungan keluarga, lingkungan jual beli di pasar, lingkungan pekerjaan, dan sebagainya. Ragam bahasa tulis adalah pembicara (dalam hal ini penulis) dan kawan bicara (dalam hal ini pembaca) tidak bersemuka, tidak berada dalam situasi. Ragam bahasa kedaerahan adalah dimana bahasa daerah itu lebih dahulu dipelajari dan dikuasai dari pada bahasa Indonesia. Itu sebabnya, penduduk Indonesia pada umumnya termasuk dwibahasawan dalam arti, mereka menggunakan dua bahasa yaitu bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Ragam bahasa santai adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi santai dan bertujuan menimbulkan suasana santai. Ragam bahasa lawak adalah ragam bahasa yang digunakan orang untuk menimbulkan suasana lucu, untuk menimbulkan tawa pada pendengarnya, khususnya ragam bahasa yang dipakai oleh para pelawak pada waktu mereka melawak. Ragam bahasa sastra yaitu mengungkapkan pengalaman jiwa pengarangnya, agar dapat dinikmati atau dihayati oleh pembaca. Ragam bahasa resmi adalah ragam bahasa yang digunakan dalam suasana resmi. Ragam bahasa ilmu yaitu ragam bahasa digunakan dalam bahasa baku.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 Kridalaksana (1984:165 dalam Nasucha, dkk, 2009:12), mengemukakan bahwa, ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaiannya yang dibedakan menurut topik, hubungan pelaku, dan medium pembicaraan. Jadi, ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian yang timbul menurut situasi dan fungsi yang memungkinkan adanya variasi tersebut. Dari pemaparan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa ragam bahasa adalah varian bahasa yang digunakan dalam situasi tertentu. Ragam bahasa terdiri atas banyak jenisnya dan digunakan sesuai dengan situasi tertentu. Di Indonesia ragam bahasa atau varian bahasa memiliki jumlah yang tidak sedikit diantaranya ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa jurnalistik, ragam bahasa lawak, ragam bahasa sastra, ragam bahasa santai, ragam bahasa resmi, yang digunakan sesuai situasi dan fungsi secara luas untuk berbagai keperluan dan kegiatan. 2.2.2 Ragam Bahasa Ilmiah Dalam dunia pendidikan biasanya ragam bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa ilmiah, contohnya dalam penulisan hasil penelitian atau penulisan suatu skripsi ragam bahasa yang digunakan adalah bahasa ilmiah. Menurut Chaer (2011:8), bahasa Indonesia ragam ilmiah digunakan untuk melaporkan atau mengkomunikasikan hasil kegiatan ilmiah yang dilakukan dalam suatu penelitian ilmiah. Bahasa Indonesia ragam ilmiah (selanjutnya disebut bahasa ilmiah) digunakan untuk melaporkan atau mengkomunikasikan hasil kegiatan ilmiah yang dilakukan dalam suatu penelitian ilmiah.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 Menurut Nugraheni (2017:11), bahasa ilmiah merupakan ragam bahasa yang disusun dengan menggunakan ejaan bahasa Indonesia dan digunakan untuk kepentingan ilmiah. Bahasa yang digunakan dalam bahasa ilmiah adalah bahasa pasif, yaitu bahasa yang mengungkapkan bahwa penulis hanya berperan sebagai media penyampai maksud dan bukan sebagai pelaku. Menurut Widjono (2007:26), ragam bahasa ilmiah adalah verba yang efektif, efesien, baik, dan benar. Ragam bahasa ilmiah lazim digunakan untuk mengkomunikasikan proses kegiatan dan hasil penalaran ilmiah. Dari beberapa pengertian yang dipaparkan oleh para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa ragam bahasa ilmiah adalah ragam bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah, disusun menggunakan ejaan bahasa Indonesia dan sering digunakan dalam melaporkan kegiatan atau mengkomunikasikan kegiatan ilmiah. Dalam dunia pendidikan biasanya ragam bahasa ilimiah digunakan dalam penulisan skripsi, tesis dan disertasi. Ragam bahasa ilmiah juga digunakan untuk melaporkan suatu hasil penelitian. 2.2.3 Kalimat Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara aktual ataupun potensia terdiri dari klausa (Arifin dan Junaiyah, 2009:5). Kalimat dibangun oleh sebuah klausa (kalau kalimat tunggal), atau oleh sejumlah klausa (kalau kalimat majemuk) yang diberi intonasi final (Chaer, 2011:22). Kalimat adalah satuan ujaran yang mengungkapkan gagasan, perasaan atau pikiran yang relatif lengkap.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 Jika disampaikan secara tertulis diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik berupa kalimat bertita, tanda tanya berupa kalimat tanya, tanda seru berupa kalimat perintah. Jika disampaikan secara lisan ditandai dengan intonasi tinggi dan rendahnya suara, dan ekspresi (Santoso dan Muhamad, 2016: 89). Menurut Bahtiar dan Fatimah ( 2014:53), kalimat adalah bagian terkecil ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran utuh secara ketatabahasaan. Kalimat ialah bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang berdiri sendiri dan yang menyatakan makna lengkap. Dalam bahasa tulis biasanya diawali dengan huruf besar (kapital) dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru. Dalam bahasa lisan, kalimat dituturkan dengan pola lagu kalimat atau intonasi tertentu. Menurut Nungraheni (2017:80), kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap. Dari pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah satuan bahasa yang dapat mengungkapkan pikiran atau gagasan dan dapat berdiri sendiri. Kalimat bisa disampaikan secara lisan dan tertulis. Jika disampaikan secara tulisan, sebuah kalimat harus diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca yaitu tanda titik, tanda seru jika kalimat perintah dan tanda tanya jika kalimat tanya. Akan tetapi, jika kalimat disampaikan secara lisan, kalimat dituturkan dengan lagu kalimat atau intonasi.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 2.2.4 Unsur-unsur Kalimat Ibarat sebuah bangunan rumah yang terdiri dari sejumlah komponen dan unsur yang membanggn atau membentuk rumah itu, sosok kalimat juga dapat hadir karena terbangun dari unsur-unsur pembangun kalimat itu. Tanpa unsur pembangun yang jelas sebuah kalimat tidak dapat terwujud dengan benar dan baik. Berikut ini dipaparkan satu per satu unsur-unsur pembentuk kalimat yang dirujuk dari teori Rahardi (2010:77). 2.2.4.1 Subjek Dalam kalimat, subjek tidak selalu terdapat di depan subjek. Adakalanya, subjek itu terletak di belakang predikat terutama sekali kalimat yang berdietesis pasif. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengetahui keberadaan subjek kalimat. Petama, pada umumnya subjek berbentuk nomina dengan mempergunaakan pertanyaan, siapa + yang + predikat apabila subjek itu adalah subjek orang atau apa + yang + predikat bilamana menjadi subjek itu bukan orang. Kedua, subjek sebuah kalimat dapa ditemukan dari ciri-ciri ketarifannya. Adapun yang dimaksud dengan ketarifan adalah kepastian. Bentuk-bentuk kebahasaan tertentu yang belum pasti sifatnya harus dibuat pasif atau tarif dengan cara menambahkan kata itu atau tersebut. Bentuk kebahasaan seperti tulisan, karangan bersifat tidak pasti, maka untuk menjadi subjek harus tarif menjadi tulisan itu, karangan tersebut, tulisan tersebut, karangan ini. Ketiga, adanya penghubung pewatas yang kemudian diikuti keterangan subjek itu. Contohnya Ranu sedang menyiram tanaman

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Pada kalimat di atas Ranu subjek, menyiram predikat, tanaman objek. Subjek pada kalimat tersebut berbentu nomina. Jika dinegasikan kalimat tersebut menjadi tanaman sedang disiram Ranu. Yang dikenai perbuatan adalah tanaman. Tanaman subjek, disiram predikat, ranu objek. 2.2.4.2 Predikat Predikat memiliki karakter yang sama dengan subjek. Akan tetapi, kejatian sebuah subjek menjadi jelas juga karena ada subjek kalimat. Cara paling mudah untuk mengidentifikasi predikat kalimat adalah dengan menggunakan formula pertanyaan bagaimana atau mengapa atau predikat kalimat yang berupa kata kerja dan sifat dapat dinegasikan dengan kata tidak. Akan tetapi, jika predikat kalimat itu nomina atau kalimat benda, penegasian itu dilakukan dengan menggunakan bukan. Contohnya Ibu tidak memasak nasi. ibu subjek, memasak predikat, nasi objek. Predikat biasanya dinegasikan dengan kata tidak. Apabila predikat berbentuk nomina, maka menggunakan negasi bukan. Contohnya Bandung bukan ibu kota provinsi Jawa Barat. Bandung subjek, ibu kota provinsi predikat, Jawa Barat objek. Kalimat di atas dinegasikan dengan kata bukan karena menggunakan subjek berbentuk nomina. 2.2.4.3 Objek Objek kalimat berlawanan dengan subjek kalimat. Tempatnya juga pasti berlawanan di dalam kalimat. Objek kalimat hanya dimungkinkan hadir apabila predikat kalimat tersebut merupakan verba atau kata kerja yang sifatnya aktif transitif. Dengan demikian, dapat dikatakan pula bahwa objek kalimat itu tidak akan hadir di dalam kalimat apabila dengan verba untransitiv. Jadi, objek kalimat

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 adalah bahwa bentuk kebahasaan itu selalu terletak langsung di belakan predikat kalimat. Ciri selanjutya dari objek kalimat adalah bentuk kebahasaan itu menjadi sumber di dalam kalimat pasif. Contohnya Saya makan sebuah apel. Saya subjek, makan predikat, sebuah apel objek. Subjek pada kalimat tersebut berbentuk verba dan menggunakan kata kerja transitif yaitu kata kerja yang diikuti oleh objek. 2.2.4.4 Pelengkap Pelengkap merupakan salah satu unsur yang penting dalam sebuah struktur kalimat. Pelengkap tidak sama dengan objek kalimat. Dalam kalimat pasif, pelengkap tidak dapat menempati fungsi subjek. Pada posisi yang sama, objek dapat menempatinya. Contohnya Adik diberikan sepatu baru oleh ibu. Adik subjek, diberikan predikat, sepatu baru objek, oleh ibu pelengkap. Jika dipasifkan, pelengkap tidak bisa menduduki sebagai subjek. Contohnya Sepatu baru akan dibelikan adik oleh ibu. Sepatu baru subjek, akan dibelikan predikat, adik objek , oleh ibu pelengkap. 2.2.4.5 Keterangan Keterangan adalah unsur kalimat yang Subjek, predikat, objek, dan sifatnya tidak wajib hadir. pelengkap yang sifatnya wajib hadir. Ciri dari keterangan yaitu didahului atau diawali oleh preposisi atau kata depan, keterangan itu tidak terikat posisi. Keterangan dapat berada di depan kalimat, di akhir kalimat, bahkan di tengah kalimat. Contohnya Ibu mencuci baju dengan mesin cuci. Ibu subjek, mencuci predikat, baju objek, mesin cuci keterangan.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 2.2.5 Kalimat efektif Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menyampaikan pesan kepada pembaca persis seperti yang ingin disampaikan penulis (Chaer, 2011:63). Menurut Arifin dan Zunaiyah (2009:74), kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis kalimat. Menurut Santoso dan Muhamad (2016:99), kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulis secara tepat, sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Menurut Nugraheni (2017: 86), kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki satu gagasan yang pokok. Unsur-unsurnya minimal terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat efektif didefinisikan sebagai kalimat yang memiliki kemampuan untuk mengungkapkan gagasan penutur, sehingga pendengar atau pembaca dapat memahami gagasan yang dimaksud oleh penutur. Menurut Widjono (2008: 160-161), kalimat efektif adalah kalimat yang padat, jelas, lengkap, dan dapat menyampaikan informasi secara tepat. Kalimat dikatakan singkat karena hanya menggunakan unsur yang diperlukan saja. Setiap unsur kalimat benar-benar berfungsi. sifat padat mengandung makna syarat dengan informasi yang terkandung di dalamnya. Dengan sifat ini, tidak terjadi pengulangan-pengulangan pengungkapan. Sifat jelas ditandai dengan kejelasan struktur kalimat dan makna yang terkandung di dalamnya. Kalimat efektif dapat mengkomunikasikan pikiran atau perasaan penulis atau pembicara kepada pembaca atau pendengar secara tepat. Dengan kalimat efektif, komunikasi penulis

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 dan pembaca atau pembicara tidak akan menghadapi keraguan, salah komunikasi, salah informasi, atau salah pengertian. Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis. Kalimat efektif minimal terdiri atas S+P yang disusun hendaknya memiliki kelengkapan struktur (Ngalimun, dkk, 2013: 47-48). Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakaian secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula. Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat memenuhi kriteria kejalasan, sesuai dengan kaidah, dan enak dibaca (Bahtiar dan Fatimah, 2014: 57). Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki satu gagasan pokok dan mampu memunculkan gagasan kepada pembaca atau pendengar sesuai yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis dengan jelas, tepat, padat, dan minimal memiliki subjek dan predikat. 2.2.6 Pinsip-prinsip Kalimat Efekif Pembentukan sebuah kalimat efektif tidak hanya dibentuk secara acak tanpa mempergunakan prinsip pembentukan kalimat efektif sebagai pedeoman pembentukannya. Dalam prinsip pembentukan kalimat efektif ini, Chaer (2010:63) membagi empat prinsip kalimat efektif yaitu prinsip ide pokok pada induk kalimat, tanpa penumpukan ide, bentuk yang sejajar, dan penekanan atau penegasan. Prinsip-prinsip kalimat tersebut akan dipaparkan sebagai berikut ini.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 a. Ide Pokok Pada Induk Kalimat Ide pokok (atau gagasan pokok, pikiran pokok) harus ditempatkan pada induk kalimat, bukan pada anak kalimat. Anak kalimat biasanya hanya memberikan keterangan waktu (keterangan sebab, atau keterangan lainnya). Perhatikan kalimat berikut ini. 1. Jaksa ditangkap petugas KPK ketika sedang menerima uang suap dari pengecara terdakwa. 2. Jaksa itu sedang menerima uang suap dari pengecara terdakwa ketika ditangkap petugas KPK. Ide pokok pada kalimat (1) adalah “jaksa itu ditangkap petugas KPK”, yang berada pada induk kalimat atau klausa utama,“ketika sedang menerima uang suap dari pengecara terdakwa” adalah anak kalimat atau klausa dari bawahnya. Sebaliknya, ide pokok pada kalimat (2) adalah” jaksa itu sedang menerima uang suap dari pengecara terdakwa”, yang berada pada induk kalimat atau klausa utamanya. “ketika ditangkap petugas KPK” adalah anak kalimat atau klausa bawahnya. b. Tanpa Penumpukan Ide (Pikiran) Hindari penumpukan ide atau pikiran pada sebuah kalimat yang panjang dan penuh dengan anak kalimat atau berbagai keterangan tambahan. Contohnya sebagaimana diwartakan dalam situasi Isykarima.Com, aksi apel siaga yang diikuti oleh berbagai elemen ini bertujuan menyatuhkan visi ormas islam, meningkatkan semangat pejuang yang kini kian memudar, serta menyatuhkan kaum muslimah untuk melawan The Real Terrorist in this World, yaitu Israel,

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 yang belum lama ini secara berutal menyerang dari udara dan laut rombongan aktifis kemanusiaan Fredom Flotilla dari 50 negara, yang menggunakan kapal Mavia Marmar di perairan internasional, sehingga menyebabkan sejumlah aktifis dan jurnalis menjadi korban kebiadaban mereka. Kalimat di atas sukar atau agak sukar dipahami karena di dalam banyak sekali terdapat ide atau pokok pikiran. Untuk memudahkan memahami kalimat di atas sudah seharusnya kalimat tersebut dipenggal menjadi beberapa kalimat yang lebih singkat. Umpamanya kalimat di atas dengan sedikit memodifikasi dapat dipenggal menjadi empat buah kalimat yaitu sebagaimana diwartakan dalam situasi Isykarima. Com, aksi apel siaga yang diikuti oleh berbagai elemen ini bertujuan menyatuhkan visi ormas Islam, meningkatkan semangat perjuangan yang kini kian memudar. Disamping itu juga, untuk menyatuhkan kaum muslimah untuk melawan The Real Terrorist in this World, yaitu Israel. Seperti kita ketahui, Israel belum lama ini secara berutal menyerang dari laut dan udara rombongan aktifis kemanusian Fredom Flotilla dari 50 negara yang menggunakan kapal Mavi Marmara di perairan internasional. Akibat serangan itu, sejumlah aktifis dan jurnalis menjadi korban kebiadaban mereka. c. Bentuk yang Sejajar (paralel) Bentuk sejajar adalah penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sama dalam susunan serial. Bila suatu ide (gagasan) dalam sebuah kalimat dinyatakan dengan kata benda (misalnya bentuk pe-an atau ke-an), maka ide atau gagasan lain yang sederajat harus dengan kata benda juga yang pe-an, atau ke-an. Demikian ide (gagasan) yang dinyatakan dengan kata kerja misalnya bentuk me-, bentu di-

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 maka ide lain yang sederajat juga harus dinyatakan dengan kata kerja bentuk meatau bentuk di-. Kesejajaran dapat memberi kejelasan kalimat secara keseluruhan. Simak contoh berikut “Mula-mula para buruh wanita memetik daun teh itu, lalu dibawa dan menyetorkannya ke pabrik, kemudian daun-daun teh itu dikeringkan dengan menjemurnya, dan selanjutnya ialah diolah menjadi daun teh yang siap dipakai”. Kesejajaran pada kalimat di atas tidak ada karena ide gagasan yang sederajat ada yang dinyatakan dengan kata kerja berawalan me-, yaitu kata memetik, menyetor, dan menjemur. Akan tetapi, ada pula dengan kata kerja berawalan di-, yaitu dibawa, dikeringkan, dan diolah. Kalimat itu akan menjadi efektif dan mudah dipahami kalau semua ide (gagasan) itu dinyatakan dengan kata kerja berawalan di-. Tentu saja dengan sedikit modifikasi. Simak kalimat berikut dengan hasil refisi “Mula-mula daun teh itu dipetik oleh para buruh wanita lalu, dibawa dan disetorkan ke pabrik kemudian, daun teh itu dikeringkan dengan dijemur selanjutnya, diolah menjadi daun teh yang siap dipakai d. Penekanan atau Penegasan Setiap kalimat berisi ide (gagasan) pokok. Lalu inti dari ide itu ingin ditekankan atau ditonjokan. Penekanan atau penegasan dalam tulisan dapat dilakukan dengan cara antara lain sebagai berikut ini. 1. Menempatkan pada awal kalimat bagian yang ingin ditekankan atau ditonjolkan. Simak contoh berikut ini.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 a) Pakar itu berpendapat, salah satu indikator yang menunjukan tidak efesiennya. Pertamina adalah rasio yang masih timpang antara jumlah pegawai pertamina dengan produktif minyak. b) Salah satu indikator yang menunjukan tidak efesiennya pertamina, menurut pendapat pakar iti adalah rasio yang masih timpang antara jumlah pegawai pertamina dengan produksi minyak. Pada kalimat (a) dan (b) di atas, sesungguhnya mempunyai informasi yang sama, yaitu tentang tidak efesien perusahan Negara yang bernama Pertamina. Namun, ide atau gagasan yang dipentinkan, ditekankan atau ditonjolkan tidak sama. Pada kalimat (a) yang dipentingkan adalah yang menyatakan pendapat itu, yaitu pakar itu. Pada kalimat (b) yang dipentingkan adalah salah satu indikator yang membuat ketimpangan itu. 2. Penekanan atau penegasan untuk mencapai kalimat yang efektif dapat pula dilakukan dengan membuat urutan yang logis. Maksudnya, membuat urutan ide atau gagasan yang makin lama makin penting. Jadi, ide atau gagasan yang penting dapat pada bagian terakhir. Simak contoh berikut ini. a) Telekomunikasi cepat vital untuk mempersatukan keamanan, mobilitas, dan pembangunan. b) Telekomunikasi cepat vital untuk keamanan mobilitas, pembangunan, dan persatuan. Bagian yang penting pada kalimat (a) adalah pembangunan karena diletakan deretan akhir, sedangkan pada kalimat (b) adalah persatuan.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 3. Penegasan kalimat yang dapat dilakukan dengan mengulangi kata atau frase yang dianggap penting. Simak contoh berikut ini. a) Pembangunan dilihat sebagai proses yang rumit dan mempunyai banyak dimensi ekonomi, tetapi juga dimensi politik, dimensi sosial, dan dimensi budaya. b) Inilah yang disebut arus pembangunan yang satu harus dapat membangkitkan arus-arus pembangunan yang lain, dan arus-arus itu lebih baik terarah jika ada koordinasi, ada pengarahan yang jelas. Selain keempat prinsip di atas, Rahardi (2010:93) membagi tujuh prinsip kalimat efektif yang dijadikan pedoman yaitu prinsip kesepadanan bentuk atau kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan, kecermatan, kelogisan, dan kepaduan makna. Prinsip-prinsip tersebut akan dipaparkan sebagai berikut ini. a. Kesepadanan Bentuk atau Kesepadanan Struktur Adapun yang dimaksud dengan prinsip kesepadanan struktur adalah adanya keseimbangan antar ide atau pikiran yang dimiliki oleh seseorang dengan bentuk kalimat atau struktur kalimat yang digunakan. Prinsip kesepadanan struktur diantaranya terlihat dari. 1. Adanya kejelasan subjek 2. Tidak adanya subjek ganda 3. Tidak adanya kesalahan dalam pemanfataan konjungsi intrakalimat dan konjungsi antarkalimat 4. Adanya kejelasan predikat.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 Kejelasan subjek dapat dijamin dari tidak ditempatkannya preposisi atau kata depan di depan subjek kalimat. Kejelasan predikat dijamin tidak adanya „yang‟ di depan predikat. Subjek ganda lazimnya terjadi karena orang tidak benar-benar paham dengan esensi dan fungsi subjek dalam kalimat. Kesalahan penempatan konjungsi lazimnya juga disebab tidak pahamnya seseorang akan hakikat konjungsi intrakalimat dan konjungsi antarkalimat dalam sebuah kalimat majemuk. b. Keparalelan Bentuk Keparalelan bentuk adalah kesejajaran antara kesamaan bentuk atau jenis kata yang digunakan di dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama dalam kontruksi beruntun menggunakan verba, bentuk yang kedua dan ketiga juga harus menggunakan verba. Demikian juga kalau bentuk yang pertama menggunakan ajektiva, maka bentuk yang kedua dan seterusnya juga harus menggunakan ajektiva. c. Ketegasan Makna Ketegasan makna yaitu bahwa perlakuan penonjolan pada gagasan pokok kalimat tersebut. Dengan kata lain, gagasan yang hendak ditonjolkan itu harus diletakan pada posisi depan pada sebuah kalimat. d. Kehematan Kalimat efektif adalah kalimat yang hemat, kalimat yang tidak berbelit-belit, kalimat yang tidak rumit, dan sulit untuk memahaminya. Jadi, sebuah kalimat itu tidak harus panjang atau berbelit-belit yang penting ide pokok dalam kalimat tersebut harus ditonjolkan.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 e. Kecermatan Kecermatan adalah kehati-hatian dalam menyusun kalimat dan bentuk-bentuk kebahasaan yang, lain sehingga hasilnya tidak akan menimbulkan tafsiran ganda. Kecermatan dapat berupa penggunaan tanda baca yang tepat dan penulisan ejaan yang benar. f. Kepaduan Kalimat efektif dalam bahasa Indonesia juga harus memiliki ciri kepaduan makna. Adapun yang dimaksud dengan „padu‟ adalah „bersatu‟. Dengan demikian, dapat dikatakan pula bahwa bentuk kebahasaan yang „padu‟ adalah bentuk kebahasaan yang tidak terpecah-pecah atau bentuk kebahasaan yang bersatu makna. g. Kelogisan Makna Kelogisan makna sangat berkaitan dengan nalar, sehingga dapat dikatakan pula bahwa kalimat yang logis itu sesungguhnya adalah kalimat yang bernalar. Secara lebih khusus lagi dapat dikatakan bahwa kalimat yang logis atau kalimat yang bernalar itu adalah kalimat yang ide atau gagasan sejalan dengan akal dan nalar yang benar dan berlaku universal.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 Selain kedua ahli di atas, Bahtiar, dan Fatimah (2014: 59-64) mengatakan kalimat yang dikatakan efektif jika memenuhi prinsip-prinsip yaitu prinsip kepaduan, keparalelan, ketegasan, kehematan, kecermatan, kepaduan, dan kelogisan. a. Kesepadanan Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran gagasan dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan artinya hubungan timbal balik antara subjek dengan predikat, antara predikat dan objek, serta keterangan-keterangan yang menjelaskan unsur-unsur kalimat. Setiap kalimat yang baik harus jelas memperhatikan kesatuan gagasan. Kesatuan gagasan berarti kalimat tersebut harus utuh dan mempunyai satu ide pokok. Jika kalimat itu utuh dan terdapat satu ide pokok, maka kalimat tersebut telah memenuhi ciri sebagai kalimat yang memiliki kesepadanan dan kesatuan gagasan. Kesepadanan mempunyai beberapa ciri sebagai berikut ini. 1. Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat yang jelas. Kejelasan suatu subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek. Contohnya sebagai berikut. a) Bagi semua siswa sekolah harus membayar iuran bulanan. ( salah) b) Semua siswa sekolah ini harus membayar iuran bulana. ( Benar) Penggunaan kata bagi pada kalimat (a) menimbulkan kalimat tersebut menjadi tidak efektif. Ada baiknya, kata bagi tersebut dihilangkan.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 Tidak terdapat subjek yang ganda. Contohnya sebagai berikut ini. 1. Penyusunan laporan itu saya kurang jelas. 2. Soal itu saya kurang jelas. 2. Kata penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal. Contohnya sebagai berikut ini. a) Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. b) Kakaknya membeli sepeda motor Yamaha. Sedangkan dia membeli sepeda motor Honda. Pada kalimat di atas, penggunaan konjungsi sedangkan dan sehingga tidak benar. Konjungsi sedangkan dan sehingga adalah konjungsi antarkalimat bukan konjungsi intrakalimat. Jadi, penggunaan konjungsi antarkalimat di awal kalimat sangat tidak tepat. Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, ubahlah kalimat itu dengan kalimat majemuk dan kedua, gantilah ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, sebagai berikut ini. Kami datang agak terlambat, sehingga tidak dapat mengikuti acara pertama. Atau Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama. Kakaknya membeli sepeda motor Yamaha. Akan tetapi, dia membeli sepeda motor Honda.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 3. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang. Penggunaan kata yang mendahului predikat menimbulkan perluasan subjek, sehingga kalimat tersebut tidak efektif. a) Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. b) Sekolah kami di depan bioskop Gunting b. Keparalelan Keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Keparalelan atau kesejajaran bertalian dengan hubungan antara unsur-unsur kalimat, misalnya antara kata dengan kata, frasa dengan frasa dalam sebuah kalimat. Hubungan tersebut harus jelas dan logis. Kesejajaran membantu kesejajaran dalam unsur gramatikal dengan mempertahankan bagian-bagian yang sederajat dalam konstruksi yang sama. Struktur gramatikal yang baik bukan merupakan tujuan dalam komunikasi. Namun, sekedar merupakan suatu alat untuk merangkaikan sebuah pikiran atau maksud dengan sejelas-jelasnya. Contohnya sebagai berikut ini. 1. Harga minyak dibekukan atau dinaikan secara luwes. Kalimat di atas tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terjadi dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu Harga minyak dibekukan atau dinaikan secara luwes. 2. Tahap terakhir menyelesaikan gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerang, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang. Kalimat di atas tidak memiliki kesejajaran karena

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata, pengecatan, memasang, pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baku kalau diubah menjadi predikat yang nominal, sebagai berikut. Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerang, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang. c. Ketegasan Ketegasan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Inti pikiran yang terkandung dalam tiap kalimat (gagasan utama) haruslah dibedakan dari sebuah kata yang dipentingkan. Kata yang penting harus mendapatkan tekanan atau harus lebih ditonjolkan dari unsur-unsur yang lain. Penekanan juga dapat dimunculkan dari bagian yang terpenting dalam kalimat dengan menempatkan bagian tersebut pada awal atau akhir kalimat. Ada beberapa contoh untuk membentuk penekanan dalam kalimat sebagai berikut ini. 1. Meletakan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat) Contohnya Presiden mengharapkan, agar rakyat membangun bangsa dan Negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Penekananya pada kalimat tersebut ialah Presiden mengharapkan. 2. Membuat urutan kata yang bertahap. Contohnya berikut ini. Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak yatim. Seharusnya, bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak yatim.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 3. Melakukan pengulangan kata (repetisi). Contohnya berikut ini. Saya suka budi pekerti mereka, saya suka akan sikap mereka. Pengulangan pada kalimat tersebut adalah saya suka. 4. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan. Contohnya Anak itu tidak bodoh dan malas, tetapi pintar dan rajin. Pertentangan pada kalimat tersebut adalah bodoh dan malas bertentangan dengan pintar dan rajin. 5. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan). Contohnya berikut ini. Saudaralah yang harus bertanggung jawa. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan partikel lah pada kata saudaralah, sehingga penekanan pada kalimat tersebut adalah saudaralah. d. Kehematan Kehematan di sini artinya tidak selalu yang hemat kata-kata, yang pendek bentuknya, pasti bersifat efektif. Kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kalimat efektif harus memperhatikan kehematan kata yang digunakan, sehingga tidak ada kata yang mubazir atau tidak terpakai. Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut ini. 1. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek Contohnya jika penumpang berbeda namanya dengan tiket, penumpang batal berangkat. Seharusnya jika berbeda namanya dengan tiket, penumpang batal berangkat.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 2. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinate pada hiponim kata. Contohnya Pada hari kamis tanggal 25 Januari 2007 Direktur PT Renata Kanaratih Jaya yang berbendera warna merah kuning, dan hijau meresmikan berdirinya perusahaan yang memproduksi lampu neon. Semua orang mengetahui bahwa kamis adalah nama hari jadi, tidak perlu kita tulis hari. Begitu pula pada ungkapan 25 Januari 2007 dan merah, kuning, dan hijau, lampu neon. Jadi, sebelum kata-kata tersebut, tidak perlu didahului kata tanggal, warna, dan lampu. Pada kamis, 25 januari 2007, Direktur PT.Pelangi Renata Kanaratih Jaya, yang berbendera merah, kuning, dan hijau, meresmikan berdirinya perusahaan yang memproduksi neon. 3. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat. Kata naik bersinonim dengan ke atas Kata turun bersinonim dengan ke bawah Kata hanya bersinonim dengan kata saja Kata sejak bersinonim dengan kata dari Contohnya a. Dia hanya membawa badannya saja. b. Sejak dari pagi ia termenung. Kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi 1) Dia hanya membawa badannya. 2) Sejak pagi ia termenung.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 4. Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan katakata yang berbentuk jamak. Misalnya e. Bentuk Tidak Baku Bentuk Baku Para tamu-tamu Para tamu Beberapa orang-orang beberapa orang Para hadirin Hadirin Kecermatan Prinsip kecermatan berarti cermat dengan tepat menggunakan diksi. Kecermatan sangat diperlukan dalam membuat suatu kalima dengan cara menyusun kalimat dengan penuh kehati-hatian, sehingga hasilnya tidak akan menimbulkan tafsiran ganda. Contohnya berikut ini. 1. Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah. Kalimat tersebut memiliki makna ganda, yaitu siapa yang terkenal mahasiswa atau perguruan tinggi. 2. Yang diceritakan menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri. Kalimat tersebut terdapat pemilihan dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan dan menceritakan. Kalimat itu dapat diubah menjadi yang diceritakan ialah putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri. f. Kepaduan Kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu, sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah. Kepaduan (koherensi) adalah adanya hubungan yang padu (koheren) antarunsur kalimat. Kepaduan antarunsur kalimat

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 jelas sekali akan sangat berpengaruh terhadap makna atau maksud sebuah kalimat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kalimat efektif itu salah satunya harus memenuhi kepaduan bentuk dan kepaduan makna. Sebuah kalimat akan dikatakan padu apabila tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris. Kalimat yang bertele-tele biasanya sama sekali tidak dapat digunakan untuk menyampaikan gagasan atau ide yang tepat, padat, pendek, dan akurat. Misalnya, kalau dengan kata “rapat” saja cukup jelas, kenapa harus dibuat bentuk “menyelengarakan rapat” atau “mengadakan rapat”. Demikian pula kalau dengan bentuk “menembak”, kenapa harus diungkapkan dengan bentuk “melemparkan peluru”. g. Kelogisan Kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Kelogisan kalimat adalah kemampuan sebuah kalimat untuk menyatakan sesuatu sesuai dengan logika. Kelogisan kalimat berhubungan dengan penalaran. Kalimat yang logis berarti kalimat yang nalar. Contoh berikut ini. 1. Waktu dan tempat kami persilahkan 2. Untuk mempersingkat waktu kita teruskan saja 3. Taufik hidayat meraih juara pertama Indonesia Terbuka Kalimat di atas tidak logis (tidak masuk akal). Supaya menjadi kalimat yang logis, kalimat tersebut diperbaiki sebagai berikut. a. Bapak menteri kami persilahkan

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 b. Untuk menghemat waktu, kita teruskan saja acara ini c. Taufik Hidayat meraih gelar juara pertama Indonesia Terbuka. Adapun menurut Ngalimun, dkk, (2013: 48), sebuah kalimat dikatakan tidak efektif apabila memenuhi prinsip-prinsip yaitu pengunaan dua kata yang sama artinya dalam sebuah kalimat, penggunaan kata berlebihan yang menganggu struktur kalimat, kalimat tak selesai, penggunaan kata dengan struktur dan ejaan yang tidak baku, penggunaan kata daripada yang tidak tepat, pemilihan kata yang tidak tepat, kalimat ambigu yang dapat menimbulkan salah arti, pengulangan kata yang tidak perlu, dan kata “kalau” yang dipakai secara salah. Berikut ini akan dipaparkan satu per satu. a. Penggunaan dua kata yang sama artinya dalam sebuah kalimat Penggunaan dua kata yang memiliki makna atau arti yang sama menimbulkan ketidakefektifan sebuah kalimat. Jika memiliki dua kata yang maknanya sama digunakan secara bersamaan, ada baiknya kata tersebut digunakan salah satunya saja. Contohnya berikut ini. 1. Sejak dari usia delapan tahun ia telah ditinggal ayahnya (tidak efektif). Sejak usia delapan tahun ia telah ditinggal ayahnya (efektif). 2. Hal ini disebabkan karena perilakunya sendiri yang kurang menyenangkan (tidak efektif). Hal ini disebabkan perilakunya sendiri yang kurang menyenangkan (efektif).

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 Pengguaan kata dari pada kalimat pereta memiliki arti yang sama dengan kata sejak. Jadi, ada baiknya digunakan salah satunya saja. Pada kalimat kedua kata disebabkan dan karena memiliki arti yang sama. Jadi, ada baiknya digunakan salah satu saja. b. Penggunaan kata berlebihan yang menganggu struktur kalimat Jika penggunaan kata yang berlebihan dalam sebuah kalimat menimbulkan kalimat tersebut menjadi tidak efektif, ada baiknya kalimat tersebut tidak digunakan. Apabila kalimat tersebut digunakan, kalimat tersebut menjadi tidak efektif. Contohnya berikut ini. 1. Menurut berita yang saya dengar mengambarkan bahwa kurikulum agar segera diubah (tidak efektif). Berita yang saya dengar mengambarkan bahwa kurikulum akan segera diubah atau menurut berita yang saya dengan kurikulum akan segera diubah (efektif). 2. Kepada yang bersalah harus dijatuhi hukuman setimpal ( tidak efektif). Yang bersalah harus dijatuhi hukuman setimpal (efektif). Penggunaan agar pada kalimat (1) menimbulkan kalimat tersebut menjadi tidak efektif. penggunaan konjungsi agar pada kalimat tersebut menimbulkan kalimat tersebut tidak jelas. c. Penggunaan imbuhan yang kacau Penggunaan imbuhan yang kacau menimbulkan kalimat tersebut menjadi tidak efektif. Penggunaan imbuhan dalam sebuah kalimat sangatlah penting. Jadi,

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 penggunaan imbuhan dalam sebuah kalimat harus disesuaikan dengan struktur kalimat. Contohnya berikut ini. 1. Yang meminjam buku di perpustakaan harap dikembalikan (tidak efektif). Yang meminjam buku di perpustakaan harap dikembalikan (efektif). 2. Ia diperingati oleh kepada sekolah agar tidak mengulai perbuatannya ( tidak efektif). Ia diperingatkan oleh kepala sekolah agar tidak mengulangi perbuatannya (efektif). Penggunaan imbuhan dalam kata diperingati sangatlah tidak tepat dan tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, awalan di- dan akhiran kan- merupakan imbuhan yang benar, maka penggunaan kata diperingatkan sangatlah efektif. d. Kalimat tak selesai Kalimat yang tak selesai menimbulkan makna yang kurang tepat bagi si pembaca atau pendengar. Contohnya berikut ini. 1. Manusia secara kodrati merupakan mahluk sosial yang selalu ingin berinteraksi (tidak efektif) Manusia secara kodrati merupakan mahluk sosial, selalu ingin berinteraksi (efektif). 2. Rumah yang besar yang terbakar itu (tidak efektif). Rumah yang besar itu terbakar (efektif).

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 Penggunaan kata yang pada kalimat pertama tidak tepat. kata yang menyatakan bagian kalimat yang berikutnya menjelaskan kata yang di depan. Jadi, kata yang pada contoh kalimat nomor satu tidak perlu digunakan karena kata yang hanya untuk memperjelaskan kalimat yang di depan. Oleh karena itu, kata yang tidak perlu digunakan. Pada kalimat nomor 2 kalimat tersebut merupakan kalimat yang tidak selesai, sehingga menimbulkan makna yang kurang tepat. e. Penggunaan kata dengan struktur dan ejaan yang tidak baku Dalam sebuah kalimat, jika ditulis dengan ejaan yang kurang tepat atau benar, maka makna yang disampaikan oleh penulis atau pembicara kepada pembaca atau pendengar akan kabur atau tidak jelas. Contohnya berikut ini. 1. Pertemuan itu berhasil menolerkan ide-ide cemerlang (tidak efektif). Pertemuan itu telah menolerkan ide-ide cemerlang (efektif). 2. Gereja itu dilelo oleh para rohaniwan secara professional (tidak efektif). Gereja itu dikelola oleh para rohaniwan secara professional (efektif) Pada kalimat pertama kata berhasil memiliki maka mendatangkan hasil artinya masih dalam proses atau belum ada hasilnya, sedangkan kata telah berarti sudah dilaksanakan atau sudah ada hasilnya. Pada kalimat nomor dua, dalam KBBI tidak ada kata dilelo tetapi yang ada adalah dikelola. f. Penggunaan tidak tepat kata di mana dan yang mana Kata di mana dan yang mana merupakan dua kata yang memiliki makna yang berbeda. Kata di mana merupakan kata tanya yang menunjukan tempat,

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 sedangkan kata yang mana merupakan kata tanya yang menunjukan benda atau orang. Contohnya berikut ini. 1. Saya menyukainya di mana sifat-sifatnya sangat baik (tidak efektif). Saya menyukainya karena sifat-sifatnya sangat baik (efektif). 2. Rumah sakit di mana orang-orang mencari kesembuhan harus selalu bersih (tidak efektif). Rumah sakit tempat orang-orang mencari kesembuhan harus selalu bersih (efektif). Pada kalimat nomor satu, kata di mana menunjukan tempat, bukan menunjukan sifat. Jadi, penggunaan kata di mana sangatlah tidak tepat. Pada kalimat nomor dua penggunaan kata di mana sangat tidak tepat, kata di mana hanya digunakan untuk kalimat tanya, bukan digunakan untuk menjelaskan. g. Penggunaan kata daripada yang tidak tepat Menurut KBBI (2008:319) kata daripada menunjukan makna perbandingan. Penggunaan kata daripada dalam sebuah kalimat harus dilihat dari bentuk kalimat tersebut. Apabila menggunakan bentuk kalimat perbandingan, maka bisa digunakan kata daripada. Contohnya berikut ini. 1. Seorang daripada pembantunya pulang ke kampung kemarin (tidak efektif). Seorang di antara pembantunya pulang ke kampung kemari (efektif). 2. Tendangan daripada Bambang Pamungkas berhasil mematahkan perlawanan musuh (tidak efektif).

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Tendangan Bambang Pamungkas berhasil mematahkan perlawanan musuh (efektif). Penggunaan kata daripada pada kalimat pertama menunjukan kata perbandingan, sehingga menimbulkan kalimat tersebut menjadi tidak efektif. Penggunaan kata di antara menunjukan salah satu dari pembantu, sehingga kalimat tersebut menjadi efektif. Pada kalimat nomor dua, penggunaan kata daripada menimbulkan kalimat tersebut menjadi tidak efektif. Kata daripada menunjukan kata perbandingan. Jadi, jika menggunakan kata daripada kalimat tersebut menjadi tidak efektif, ada baiknya kata daripada tidak digunakan. h. Pemilihan kata yang tidak tepat Dalam penulisan sebuah kalimat efektif, pemilihan kata yang tepat sangatlah penting. Apabila menggunakan kata yang tidak tepat, maka makna yang ingin disampaikan oleh penulis atau pembicara kepada pembaca atau pendengar tidak tersampaikan dengan benar sesuai yang diinginkan oleh pembaca atau pendengar. 1. Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan waktu untuk berbincang-bincang dengan masyarakat (tidak efektif). Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan masyarakat. 2. Bukunya ada di saya (tidak efektif). Bukunya ada pada saya (efektif). Pada kalimat pertama penggunaan kata menyempatkan waktu sangat tidak tepat. Kata waktu bukan merupakan benda hidup. Kata waktu menunjukan kata benda. Jadi, dapat diganti menggunakan kata menyempatkan diri. Pada kalimat

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 nomor dua, kata di menunjukan buku itu ada di saya, tetapi belum bisa di pastikan atau belum benar ada pada saya akan tetapi, penggunaan kata pada saya menunjukan benar-benar ada pada saya. i. Kalimat ambigu yang dapat menimbulkan salah arti Sebuah kalimat harus memiliki makna atau arti yang tepat. Jika, makna dari kalimat tersebut tidak jelas atau ambiguitas, pesan yang ingin disampaikan oleh penulis atau pembicara tidak dapat dipahami dengan baik oleh pembaca atau pendengar. Contohnya berikut ini. 1. Usulan itu merupakan suatu perkembangan yang menggembirakan untuk memulai pembicaraan damai antara komunis dan pemerintah yang gagal (tidak efektif). Usulan ini merupakan suatu perkembangan yang mengembirakan untuk memulai kembali pembicaraan damai yang gagal antara pihak komunis dan pemerintah (efektif). 2. Sopir Bus Santoso yang masuk jurang melarikan diri (tidak efektif). Bus santoso masuk jurang. Sopirnya melarikan diri (efektif). Pada kalimat nomor satu menimbulkan salah pengertian. Siapa yang gagal? Pemerintah atau pembicara damai yang pernah dilakukan. Pada kalimat nomor dua dapat menimbulkan salah pengertian. Siapa/apa yang dimaksud Santoso? Nama sopir atau nama bus? Yang masuk jurang busnya atau sopirnya?

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 j. Pengulangan kata yang tidak perlu Pengulangan kata yang tidak perlu menimbulkan kata tersebut menjadi mubazir. Jadi, kata yang tidak perlu digunakan dalam sebuah kalimat dihindarkan. Contohnya berikut ini. 1. Dalam setahun ini berhasil menerbitkan 5 judul buku setahun (tidak efektif). Dalam setahun ini berhasil menerbitkan 5 judul buku (efektif). 2. Film ini menceritakan perseteruan antara dua kelompok yang saling menjatuhkan, yaitu perseteruan antara kelompok Tang Peng Liang dan kelompok Khong Guang yang saling menjatuhkan (tidak efektif). film ini menceritakan perseteruan antara kelompok Tan Peng Liang dan Kelompok Khong Guan yang saling menjatuhkan (efektif). Pada kalimat pertama kata setahun sudah digunakan pada awal kalimat. Jadi, tidak perlu digunakan lagi. Pada kalimat nomor penggunaan kata perseteruan sudah digunakan pada awal kalimat. Jadi, tidak perlu digunakan lagi. k. Kata “kalau” yang dipakai secara salah Kata “kalau” merupakan kata penghubung. Jika digunakan secara tidak tepat, kalimat tersebut menjadi tidak efektif. Contohnya berikut ini. 1. Dokter itu mengatakan kalau penyakin AIDS sangat berbahaya (tidak efektif) dokter itu mengatakan bahwa penyakit AIDS sangat berbahaya (efektif). 2. Siapa yang dapat memastikan kalau kehidupan anak pasti lebih baik daripada orang tuanya (tidak efektif).

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Siapa yang dapat memastikan bahwa kehidupan anak pasti lebih baik daripada orang tuanya (efektif). Pada kalimat nomor satu, penggunaan kata kalau pada kalimat tersebut sebenarnya tidak perlu digunakan karena kalimat tersebut bukan menyatakan syarat melainkan memberitahukan bahwa penyakit AIDS itu sangat berbahaya. Pada kalimat kedua, kata kalau menunjukan belum pasti apakah kehidupan anak lebih baik daripada orang tua. Dari pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pembentukan sebuah kalimat efektif tidak hanya dibentuk secara acak tanpa mempergunakan prinsip pembentukan kalimat efektif sebagai pedoman pembentukannya. Dalam penulisan sebuah kalimat efektif, prinsip yang harus diperhatikan adalah kesepadanan struktur, kehematan, kelogisan makna, kepaduan, dan kelogisan. 2.2.7 Faktor Penyebab Ketidakefektifan Kalimat kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula. Jika suatu kalimat tidak disampaikan secara tempat, maka pembaca atau pendengar tidak akan memahami maksud yang telah disampaikan oleh penutur. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak orang atau penutut yang hendak menyampaikan pesan tetapi tidak menggunakan kalimat yang baik dan benar, sehingga pesan yang disampaikan tidak dipahami oleh pendengar atau pembaca. Suatu kalimat dikatakan tidak efektif disebabkan beberapa faktor. (Putrayasa, 2014:101), mengatakan faktor penyebab ketidakefektifan kalimat sebagai berikut ini.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 2.2.7.1 Kontaminasi atau Kerancuan Kontaminasi adalah suatu gejala bahasa yang dalam bahasa Indonesia istilahkan dengan kerancuan. Rancu artinya “kacau”. Jadi, kerancuan artinya “kekacauan”, yang dirancu ialah susunan, perserangkaian, dan penggabungan. Dua hal yang masing-masing berdiri sendiri disatukan dalam satu perserangkaian baru yang tidak berpasangan atau berpadanan. Hasilnya ialah kerancuan. Alwi (2003 dalam Putrayasa 2014:101), mengatakan bahwa, rancu dalam bahasa Indonesia berarti “kacau”. Sejalan dengan itu, kalimat yang rancu berarti kalimat yang kacau atau kalimat yang susunanya tidak beraturan, sehingga informasinya sulit dipahami. Jika dilihat dari segi penataa gagasan maka, kerancuan sebuah kalimat dapat terjadi karena dua gagasan digabung ke dalam satu pengungkapan. Sementara itu, jika dilihat dari segi strukturnya, kerancuan itu timbul karena pengabungan dua struktur kalimat dalam satu struktur. Gejala kontaminasi ini dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu. 1. Kontaminasi kalimat 2. Kontaminasi susunan kata 3. Kontaminasi bentuk kata (Badudu, 1993) dalam (Pureayasa, 2014: 102) Ketiga hal tersebut akan dipaparkan satu per satu berikut ini. a. Kontaminasi Kalimat Pada umumnya kalimat yang rancu dapat kita kembalikan pada dua kalimat asal yang bentuk strukturnya. Demikian juga dengan susunan kata dalam suatu frasa yang rancu. Gejala kontaminasi itu timbul karena dua kemungkinan, yaitu sebagai berikut.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 1) Orang kurang menguasai penggunaan bahasa yang tepat, baik dalam menyusun kalimat atau frasa maupun dalam menggunakan beberapa imbuhan sekaligus untuk membentuk kata. 2) Kontaminasi terjadi tidak dengan sengaja karena ketika seseorang akan menuliskan atau mengucapkan sesuatu, dua pengertian atau dua bentuk yang sejajar timbul sekaligus dalam pikirannya, sehingga yang dilahirkannya sebagian diambilnya dari yang pertama, tetapi bagian yang lain diambilnya dari yang kedua. Gabungan ini melahirkan susunan yang kacau. Tabel 2.1 kalimat Rancu dan Kalimat Asal No 1 2 3 4 5 Kalimat Rancu Dalam Bahasa Indonesia tidak mengenal konjugasi Kalimat Asal Bahasa Indonesia tidak mengenal konjugasi. Dalam bahasa Indonesia tidak dikenal konjugasi Kepada yang merasa Yang kehilangan Hp harap kehilangan Hp harap datang datang ke kantor tata usaha. di kantor tata usaha Kepada yang kehilangan Hp diberitahukan supaya datang mengambilnya di kantor tata usaha. Besok sore di stadion Mayor Besok sore di stadion Mayor Metra akan bertanding Metra bertanding kesebelasan antara Persibu melawan Persibu melawan kesebelasan Perseden. Perseden. Besok sore di stadion Mayor Metra akan diadakan pertandingan antara Persibu dan Perseden. Murid –murid dilarang tidak a. Murid-murid dilarang boleh merokok merokok b. Murid-murid tidak boleh merokok. Menurut para pakar sejarah Menurut pakar sejarah, candi menyatakan bahwa, candi Borobudur dibangun pada masa Borobudur dibangun pada kerajaan Syailendra.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 masa kerajaan Syailendra Meskipun perusahaan itu belum terkenal, tetapi produksinya banyak dibutuhkan orang. 6 Pakar sejarah menyatakan bahwa candi Borobudur dibangun pada masa kerajaan Syailendra Meskipun perusahaan itu belum terkenal, produksinya banyak dibutuhkan orang. Perusahaan itu belum terkenal, tetapi produksinya banyak dibutuhkan orang. b. Kontaminasi Kata Sebagai contoh, yang paling sering kita jumpai dalam bahsa sehari hari ialah kata berulang kali dan sering kali. Kata-kata ini terjadi dari kata berulangulang dan berkali-kali. Perhatikan contoh berikut! Telah berulang-ulang kunasehati, tetapi tidak juga berubah kelakuannya (= telah berkali-kali ). Kata seringkali kontaminasi dari sering dan banyak kali atau kerap kali atau acap kali. Selain dari kontaminasi, tampak pula gejala „pleonasme‟ karena sering artinya banyak kali. Jadi, sering kali berarti banyak kali-kali atau kerap kalikali. Ucapan jangan boleh seperti dalam kalimat, “jangan boleh dai pergi!” dirancukan dari jangan biarkan dan tidak boleh. Begitu juga kata belum usah dirancukan dari belum boleh atau belum dapat dengan tidak usah atau tak usaha c. Kontaminasi Bentukan Kata Adakalalanya kita lihat bentukan kata dengan beberapa imbuhan (afiks) sekaligus yang memperlihatkan gejala kontaminasi. Misalnya, kata dipelajarkan dalam kalimat, “di sekolah kami dipelajarkan beberapa

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 kepandaian wanita”. Kata dipelajarkan dalam kalimat tersebut jelas dirancukan bentuk diajarkan dengan dipelajari. Bentukan yang tepat untuk kalimat tersebut ialah diajarkan sehingga kalimat yang benar adalah di sekolah kami diajarkan beberapa kepandaian wanita. Kontaminasi yang lain adalah dipertinggikan. Masing-masing mempunyai arti khusus dipertinggikan = dijadikan lebih tinggi, ditinggikan = dijadikan tinggi, dibuat jadi tinggi yang tadinya rendah. Jadi, kalau awalan per dan akhiran kan digabukan dalam bentukan ini menjadi dipertinggikan, maka arti khusus dipertinggikan tidak jelas. Dengan kata dasar sifat, hanya kata dasar banyak yang mempunyai bentuk diperbanyak dan diperbanyakkan. Diperbanyak berarti ditambah lebih banyak dan diperbanyakkan berarti dikalikan. Bentuk mengenyampingkan juga salah. Kata dasar kata bentukan ini kesamping diberi awalan me- dan akhiran kan-. Jadi, me + ke samping + kan menjadi mengesampingkan karena hanya fonem /k/ pada awal kata ke samping yang luluh menjadi bunyi sengau / ng/.,/s/ pada kata samping tidak perlu diluluhkan. Perhatikan contoh berikut ini. - Disamping-kan - Di-kesamping-kan - menyampingkan - mengesampingkan Jadi, bentukan mengenyampingkan adalah bentuk rancu dari bentukbentuk menyampingkan dan mengesampingkan. Bentukan kontaminasi seperti contoh tersebut dapat dihindari apabila kita tahu benar bagaimana bentuk yang semestinya dan tahu benar mengapa bentuk-bentuk yang seperti itu salah. Di samping ketiga kontaminasi tersebut, terdapat juga kontaminasi bentuk kalimat aktif dan pasif. Contohnya Minggu yang lalu di sekolah kami mengadakan pertandingan olahraga. Kalimat tersebut dipandang sebagai perancuan kalimat

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 aktif dan pasif. Ada beberapa cara untuk membentukan kalimat rancu tersebut. Kalimat rancu tersebut harus kita kembalikan pada keadaan sebelum terjadi kerancuan. Karena kerancuan tersebut kerancuan aktif dan pasif, maka kalimat tersebut dapat dibetulkan menjadi kalimat aktif atau menjadi kalimat pasif. Membentukan kalimat rancu menjadi kalimat aktif ialah dengan jalan menghilangkan kata depan, sehingga menjadi “minggu yang lalu sekolah kami mengadakan pertandingan olahraga.” Kalimat tersebut dapat dibentukan menjadi kalimat pasif. Kata kerja aktif dalam kalimat tersebut harus diubah menjadi kata kerja pasif, sedangkan kata depanya tidak perlu dihilangkan, sehingga menjadi “minggu yang lalu di sekolah kami diadakan pertandingan olahraga”. Contoh lain dapat kita lihat pada kalimat berikut Pencopet itu berhasil dibekuk oleh polisi. Jika kalimat tersebut kita uraikan, akan kita lihat sebagai berikut Pencopet itu : subjek kalimat Berhasil dibekuk : predikat Polisi : keterangan pelaku. Berdasarkan kalimat di atas, kita dapat membentuk pertanyaan predikat kalimat tersebut. Siapa yang berhasil dibekuk? Jawabanya pencopet. Kita bertanya lagi berhasilkah pencopet itu? Orang yang berhasil ialah orang yang berusaha, atau orang yang melakukan suatu pekerjaan. Apakah yang dikerjakan oleh pencopet itu? Pencopet yang akan ditangkap karena usahanya melarikan diri, barulah kita katakan pencopet itu berhasil tetapi, melepaskan diri dari tangkapan polisi.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Dibertanya lagi siapakah yang berusaha membekuk pencopet itu? Jawabnya polisi. Jadi, kalau kita katakan polisi berhasil membekuk pencopet itu, maka kalimat itu merupakan kalimat yang logis. Berdasarkan kalimat tersebut, bahwa pencopet itu berhasil dibekuk oleh polisi adalah bentuk kalimat hasil ubahan kalimat dengan predikat kata kerja berawalan –me. Kalimat ini tidak dapat diubah bentuknya menjadi kalimat yang disebut kalimat pasif. Kalimat yang diubah itu bukan kalimat aktif namanya, sehingga tidak dapat diubah bentuknya menjadi kalimat dengan bentuk kata kerja berawalan –di. Kalimat yang dapat kita ubah bentuknya ialah kalimat predikatnya benar-benar terdiri atas kata kerja aktif transitif tanpa keterangan di depannya. Kalimat polisi membekuk poncopet itu dapat kita ubah menjadi kalimat pasif pencopet itu dibekuk oleh polisi. Kalimat yang memiliki predikat kembar, komponen kedua kata kerja berawalan me- dan komponen pertamanya berupa kata keterangan pada kata kerja berawalan me- itu, tidak dapat kita sebut kalimat aktif. Kata-kata keterangan itu antara lain suka, ingin, mau, senang, berhasil, dan berhak. Jika kalimat itu diubah bentuk, sehingga kata kerjanya menjadi kata kerja berawalan di-maka hasilnya ialah turuna yang tidak logis. 2.2.7.2 Pleonasme Pleonasme berarti pemakaian kata-kata berlebihan.Penampilannya bermacam-macam. Ada penggunaan dua kata yang searti yang sebenarnya tidak perlu karena menggunakan salah satu diantara kedua kata itu sudah cukup. Ada penggunaan unsur yang berlebihan karena pengaruh bahasa asing, misalnya

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 pengaruh apa yang disebut concord atau agreement dalam bahasa. Ada pula kelebihan penggunaan unsur itu karena ketidaktahuan si pemakai bahasa. (Badudu, 1993 dalam Putrayasa, 2014:106), menegaskan bahwa gejala pleonasme timbul karen beberapa kemungkinan, antara lain. 1. Pembicara tidak sadar, bahwa apa yang diucapkan itu mengandung sifatberlebih-lebihan. Jadi, dibuat dengan tidak sengaja. 2. Dibuat bukan karena tidak sengaja, melainkan karena tidak tahu bahwa kata-kata yang digunakannya mengungkapkan pengertian yang berlebih-lebihan. 3. Dibuat dengan sengaja sebagai salah satu bentuk gaya bahasa untuk memberikan tekanan pada arti (intensitas). Berikut ini adalah beberapa contoh gejala pleonasme a) Di dalam satu frasa terdapat dua atau lebih kata searti, misalnya. 1) Pada zaman dahulu kala banyak orang menyembah berhala. (zaman=kala sebenarnya cukup pada zaman dahulu, atau dahulu kala) 2) Mulai dari waktu itu ia jera berjudu. (mulai=dari, jadi, mulai waktu atau dari waktu) 3) Sejak dari kecil ia sakit-sakitan. ( Sejak=dari, sejak kecil=dari kecil) b) Kata yang kedua sebenarnya tidak perlu lagi karena pengertian yang terkandung pada kata itu sudah terkandung pada kata yang mendahuluinya.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 Contohnya naik ke atas, turun ke bawah, mundur ke belakang, maju ke depan, melihat dengan mata kepala, menendang dengan kaki. c) Bentuk jamak dinyatakan dua kali 1) Para guru-guru sedang rapat. 2) Presiden mengunjungi beberapa Negara-negara sahabat. 3) Semua murid-murid sayang dan hormat kepadanya. 4) Di ruang itu dipamerkan lima puluh buah lukisan-lukisan. Kata-kata seperti para, beberapa, dan semua mengandung pengertian jamak. Oleh karena itu, kata benda yang mengikuti kata-kata tersebut tidak perlu lagi dijamakkan dengan perulangan. Lima pulih buah lukisan sudah memberikian pengertian bahwa lukisan itu banyak karena jumlah yang disebutkan lebih dari satu. Jadi, tidak perlu lagi kata lukisan diulang untuk menyatakan jamak. Bentuk itu dipengaruhi oleh bahasa Belanda atau Inggris karena dalam bahasa-bahasa itu selalu ada „concord’ (persesuaian bentuk antara bilangan yang menyatakan jumlah dan bendanya), misalnya one child (seorang anak) dan five children (lima orang anak). Persesuaian bentuk seperti iu disebut „nomina concord’. Dalam bahasa Indonesia kata benda tidak dinyatakan dalam bentuk jamak. Dalam bahasa Indonesia, kata-kata bentuk jamak dipakai dengan makna tunggal seperti berikut. a) Semoga arwah beliau mendapat tempat di sisi Tuhan. b) Haji M.Noor seorang ulama yang disegani di kampungnya. 2.2.7.3 Ambiguitas Kalimat yang memenuhi ketentuan tata bahasa, tetapi menimbulkan tafsiran ganda tidak termasuk kalimat efektif. Perhatikan contoh berikut.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 1. Tahun ini SPP mahasiswa baru dinaikan 2. Rumah sang jutawan yang aneh itu akan segera dijual Kedua kalimat tersebut mengandung makna ambigu. Kata baru pada kalimat pertama menerangkan kata mahasiswa atau kata dinaikan. Jika menerangkan mahasiswa, tanda hubung dapat digunakan untuk menghindari salah satu tafsir, dan jika kata baru menerangkan dinaikan kalimat perbaikannya adalah: 1 a) tahun ini SPP mahasiswa-baru dinaikan 1 b) SPP mahasiswa tahun ini baru dinaikan. Frase yang aneh pada kalimat nomo (2) menerangkan kata rumah atau frase sang jutawan? Jika yang aneh menerangkan rumah, kata yang dapat dihilangkan dan kata aneh didekatkan pada kata rumah, lalu ditambah kata milik di antara aneh dan sang jutawan. Sementara itu, jika aneh itu menerangkan sang jutawan, kata yang dapat dihilangkan sehingga makna kalimat tersebut menjadi lebih jelas. Kalimat perbaikannya menjadi: 2 a) rumah aneh milik sang jutawan itu akan segera dijual. 2 b) rumah sang jutawan aneh itu akan segera dijual. 2.2.7.4 Ketidakjelasan Unsur Inti Kalimat Suatu kalimat yang baik memang harus mengandung unsur-unsur yang lengkap. Dalam hal ini, kedua kelengkapan unsur kalimat itu sekutang-kurangnya harus memenuhi dua hal, yaitu subjek dan predikat. Jika predikat kalimat itu berupa kata kerja transitif, unsur kalimat yang disebut objek juga harus hadir. Unsur lain yakni keterangan, kehadiranya bersifat sekunder atau tidak terlalu pentingkan. Perhatikan contoh berikut ini.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 1. Pembangunan itu untuk menyejahterakan rakyat Subjek Keterangan 2. Bagi mahasiswa yang akan mengikuti ujian harus Keterangan melunasi uang SPP Predikat Objek Secara sekilas, kedua kalimat tersebut tidak menyiratkan adanya kekurangan, namun jika diperhatikan secara cermat, tampaknya dalam kalimat (1) tidak terdapat unsur predikat, sedangkan pada kalimat (2) tidak terdapat subjek. Kelompok kata pembangunan itu pada kalimat (1) merupakan subjek dan sisanya merupakan keterangan, sedangkan pada kalimat (2) kelompok kata bagi para mahasiswa yang akan mengikuti ujian merupakan keterangan dan bagian lainnya berupa predikat dan objek. Berdasarkan unsur-unsurnya, kalimat (1) berpola SKet, sedangkan kalimat (2) tidak ada unsur subjek. Agar kalimat tersebut menjadi lengkap, kalimat (1) data kita tambah dengan unsur predikat, misalnya bertujuan sehingga kalimat (1) itu menjadi pembangunan itu bertujuan (untuk) menyejahterakan masyrakat. Pada kalimat (2), unsur keterangan yaitu, bagi para mahasiswa yang akan mengikuti ujian, sebenarnya dapat diubah menjadi subjek dengan cara menghilangkan kata bagi. Dengan cara itu, kalimat (2) dapat diperbaiki menjadi para mahasiswa yang akan mengikuti ujian harus melinasi SPP. Berdasarkan perbaikan tersebut, kalimat perbaikan (1) dan (2) dibagi atas unsur-unsurnya sebagai berikut ini. 1. Pembangunan itu menyejahterakan masyarakat Subjek Predikat Objek 2. Para mahasiswa yang akan mengikuti ujians harus melunasi uang SPP Subjek Predikat Objek

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pola kalimat (1) dan (2) adalah SP-O. 2.2.7.5 Kemubaziran Preposisi dan Kata Ketidakefektifan kalimat sering disebabkan oleh pemakaian kata depan (preposisi) yang tidak perlu. Misalnya kata depan dari. Pemakaian kata depan dari dipengaruhi oleh bahasa Belanda dan hubungan posesif. Misalnya,”het huis van mijn oom.” Ini diterjemahkan menjadi “rumah dari paman saya.” Berdasarkan pengaruh dari bahasa Belanda itulah banyak muncul pemakaian kalimat seperti berikut. 1. Anak dari pak Bagus menjadi polisi. 2. Sepeda dari adik rusak berat karena ditabrak mobil. 3. Kaki dari meja itu patah. Berdasarkan struktur bahasa Indonesia, kalimat-kalimat tersebut diperbaiki menjadi a. Anak pak Bagus menjadi polisi b. Sepeda adik rusak berat karena ditabrak mobil c. Kaki meja itu patah. kemubaziran kata depan (preposisi) mengakibatkan ketidakefektifan kalimat. Keefektifan dalam penggunaan bahasa, selain dapat dicapai melalui pemilihan kata yang tepat, dapat dilakukan menghindari pemakaian kata yang mubazir. Kata mubazir yang dimaksud di sini adalah kata yang kehadirannya tidak terlalu diperlukan, sehingga jika dihilangkan tidak menganggu informasi

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 yang disampaikan. Kata yang mubazir diakibatkan antara lain oleh penggunaan kata yang bersinonim secara bersama-sama. Misalnya. 1) Kita perlu menjaga kesehatan agar supaya terhindar dari penyakit. 2) Bank Sumitomo adalah merupakan salah satu bank terbesar di Jepang. Kata agar dan supaya dan merupakan, serta, pada contoh di atas sebenarnya merupakan kata yang bersinonim. Dari segi keefektifan berbahasa, pemakaian kata yang bersinonim secara bersama-sama dapat menyebabkan salah satu kata itu mubazir. Oleh karena itu, agar tidak mubazir dan bahasa yang digunakan juga menjadi efektif, sebaiknya salah satu kata itu saja yang digunakan. Dari contoh di atas dapat diubah menjadi a) Kita perlu menjaga kesehatan agar/ supaya terhindar dari penyakit. b) Bank Sumitono adalah/merupakan salah satu bank terbesar di Jepang. Berbeda dengan itu, unsur yang merupakan bagian dari ungkapan tetap yang sudah dianggap padu, seperti sesuai dengan, seiring dengan, terdiri atas, terbuat dari dan bergantung pada hendaknya tidak dihilangkan hanya demi keefektifan bahasa. Oleh karena itu, bagian-bagian dari ungkapan itu hendaknya ditulis secara lengkap, misalnya. 1. Kegiatan itu tidak sesuai dengan rencana induk yang telah disepakati. 2. Cepat atau lambatnya penyelesaian itu bergantung pada kebijakan pimpinan.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 3. Kelompok itu terdiri atas lima orang putra dan tiga orang putri. Ketidakefektifan kalimat sering juga terjadi disebabkan ketidaktepatan pemakaian di sebagai awalan dan di sebagai kata depan. Terlepas dari hubungannya dengan bentuk lain, di memang bersifat ambivalen. Artinya, dua kemungkinan fungsi, yaitu sebagai kata depan (preposisi) dan sebagai awalan. Sebagai awalan, di-merupakan morfem terikat secara morfologis, artinya suatu morfem atau bentuk baru mempunyai arti yang pasif apabila telah dihubungkan dengan morfem lain sehingga membentuk suatu kata. Sebagai awalan, selanjutnya di- harus ditulis serangkai/bersambung dengan kata yang mengikutinya, dan berfungsi sebagai pembentuk kata pasif. Sementara itu, di sebagai kata depan merupakan orfem terikat secara sintaksis, artinya suatu morfem atau bentuk baru mempunyai arti yang pasif apabila dihubungkan dengan morfem lain sehingga membentuk kelompok kata atau kalimat. Selanjutnya sebagai kata depan, di harus ditulis secara terpisah dengan kata yang mengikutinya dan berfungsi sebagai kata yang menyatakan keterangan tempat atau keterangan waktu tidak tentu. 2.2.7.6 Kesalahan Nalar Nalar menentukan apakah kalimat ya +- +-ng tuturkan adalah kalimat yang logis atau tidak. Nalar ialah aktivitas yang memu + -ngkinkan seseorang berpikir logis. Pikiran yang logis ialah pikiran yang masuk + -akal yang berterima. Contoh salah nalar dapat dilihat pada kalimat-kalimat berikut. 1. Hadirin yang kami hormati. Kita tiba sekarang pada acara be+-rikut yaitu sambutan bapak bupati. Waktu dan tempat kami persilahk+-an. 2. Pengemudi mobil tangki premix siap diajukan ke penga+-dilan.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 Jika diperhatikan dengan cermat bagian ketiga kalimat nomor (1) Waktu dan tempat kami persilahkan, jelas kalimat ini tidak +- logis. Apakah yang dipersilahkan dalam kalimat itu? Waktu dan tempat? +- Dapatkah waktu dan tempat itu berdiri, lalu berjalan menuju mimbar tem +-pat berbicara? Bukan yang dipersilahkan itu bapak bupati yang beroleh +- giliran untuk memberikan sambutan? Mengapa bukan bapak bupati itu yang+- dipersilahkan, melainkan waktu dan tempat? Dengan semikian kalimat no +- (1) dapat diperbaiki sebagai menjadi (Hadirin yang kami hormati. Kita +- tiba sekarang pada acara berikut yaitu sambuatan bapak bupati. Bapak bu+-pati kami persilahkan. ) Berdasarkan kalimat nom+-or (2) tersebut, kita bertanya, ”siapa yang siapa? Pengemudi mobil tangki itukah +-, atau pengadilan?”. Pengemudi mobil tangki itu adalah orang yang melangg +- ar aturan lalu lintas. Dia menunggu nasibnya ditentukan oleh pengadilan. +- Dia tidak harus menyiapkan pengaduan terhadap dirinya sendiri ke pengadil+-an. Yang akan mengajukan perkara itu ke pengadilan adalah jaksa setelah ia +- menerima laporan lengkap dari pihak polisi dengan bukti-bukti yang lengkap +- tentang pelanggaran yang telah dilakukan oleh si pengemudi. Di hadapan ha +- kim di pengadilan, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya at +- au kesalahan yang ditunduhkan kepadanya. Oleh karena itu, kalimat terseb +- ut diubah menjadi sebagai pengemudi mobiltangki premix akan segera diaj +- ukan ke pengadilan. Pemakaian kata siapa dalam kalimat (2) menyebab +- kan kalimat tersebut tidak nalar.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 2.2.7.7 Ketidaktepatan Bentuk +- Kata Seperti kita ketahui bahwa, awalan pe- tidak mendapat bunyi apabila diletakan pada kata dasar berkon + sonsn /i/ atau /r/. Namun, dewasa ini banyak kita jumpai bentuk kata yang men +- yimpang (tidak tepat) dari aturan yang ada, misalnya. 1. Pengrusak +- 2. Pengluas +- 3. Perlaw +- atan 4. Peng +- rawatan 5. Pe +- nglawatan 6. +- Perletakan. Bentuk seperti itu timbul karena pengaru bahasa Jawa. Dalam bahasa (dialek) +- Jawa ada bentuk ngrusak, ngrawat. Kalau kita sejajarkan dengan bentuk kata kerjanya, maka dari kata kerja meletakan lahir bentuk kata benda abstraknya +-peletakan bukan perletakan. Jadi, seharusnya peletakan batu pertama (bagi pembangunan sebuah gedung) bukan perletakan batu pertama. 2.2.7.8 Ketidaktepatan Makna Kata Jika sebuah kata tidak dipahami maknanya, pemakaiannya mungkin tidak akan tepat. Hal ini akan menimbulkan keganjilan, kekaburan, dan salah tafsir. Berikut ini akan diperbaiki beberapa contoh kata yang sering dipakai secara tidak tepat. Kata kilah disamakan dengan kata kata atau ujar, sehingga berkilah dianggap sama dengan berkata atau berujar dan kilahnya dianggap sama dengan katanya atau ujarnya. Hal ini terlihat dalam wacana berikut.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 1. Kemarin Ria diberikan baju baru oleh Raminra, kakaknya. Dengan senang hati dia menerimanya. ”terima kasih”, kilahnya kepada Raminra. Jika kita membuka (KBBI), akan kita temukan kata kilah dengan makna tipu daya atau dalih. Jadi, pemakaian seperti pada contoh diatas tidak tepat. Berkilah artinya mencari-cari alas an untuk membantah pendapat orang lain. 2. Dalam pertandingan semalam penampilannya begitu buruk, sehingga dia mengalami kekalahan telak. Atas kekalahannya dia berkilah bahwa suhu udara sangat rendah, sehingga gerakan tumuhnya terhambat. Dari contoh di atas suhu udara dijadikan alasan untuk menolak adanya pendapat yang lain. Kata berdalih merupakan sinonim berkilah. Berdalih artinya „mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatan. Contohnya Padmini ingin menjual sepedanya untuk membayar utang. Kepada ibunya dia berdalih bahwa sepedanya itu sudah tidak baik lagi jalannya. 2.2.7.9 Pengaruh Bahasa Daerah Banyak kata dari bahasa daerah masuk ke dalam bahasa Indonesia, memperkaya perbendaharaan kata-katanya. Kata-kata, seperti heboh, becus, lumayan, mendingan, gagasan, gembleng, ganyang, cemooh, semarak, bobot, macet, seret, awet, sumber, dan melempem, semua berasal dari bahasa daerah. Kata-kata bahasa daerah yang sudah serap ke dalam bahasa Indonesia tampaknya tidak menjadi masalah jika digunakan dalam pemakaian bahasa sehari-

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 hari. Akan tetapi, bahasa daerah yang belum berterima dalam bahasa Indonesia inilah yang perlu dihindari penggunaannya agar tidak menimbulkan kemacetan dan berkomunikasi sehingga infoprmasi yang disampaikan menjadi tidak efektif. 2.2.7.10 Pengaruh Bahasa Asing Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia tidak terlepas dari pengaruh bahasa lain seperti bahasa daerah atau bahasa asing. Pengaruh tersebut disatu sisi dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia, tetapi di sisi lain dapat juga menganggu kaidah tata bahasa Indonesia, sehingga menimbulkan ketidakefektifan kalimat. Salah satu contoh yang dapat memperkaya kekasan bahasa Indonesia ialah masuknya kata-kata tertentu yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Kata piker, saleh, dongkrak, kursi, dan fakultas misalnya merupakan kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang sekarang tidak terasa sebagai kata-kata yang berasal dari bahasa asing. 2.2.8 Abstrak Skripsi Mahasiswa melakukan kegiatan atau penerapan keterampilan menulis dalam seluruh proses pembelajarannya selama di perguruan tinggi. Pada setiap semester, mereka harus menulis makalah untuk sebagian besar matakuliah yang harus mereka tempuh. Pada akhir proses pembelajaran, mereka juga harus menulis skripsi, tesis, atau disertasi yang didahului dengan penulisan proposal. Karya ilmiah adalah hasil pemikiran ilmiah seseorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan,

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 teknologi, dan seni yang diperoleh melalui kepustakaan, kumpulan pengalaman, penelitian, dan pengetahuan orang lain sebelumnya (Dwiloko 2005:2 dalam Wahyudi 2009:53). karya ilmiah adalah hasil pemikiran ilmiah pada suatu disiplin ilmu tertentu yang disusun secara sistematis, ilmiah, logis, benar, bertanggung jawab, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar (Pateda 2005:2 dalam Wahyudi 2009:53). Jadi, karya ilmiah ditulis bukan sekedar untuk mempertanggungjawabkan penggunaan sumber daya penelitian (uang, bahan, dan alat), tetapi juga untuk mempertanggungjawabkan penulisan karya ilmiah tersebut secara teknik dan materi. Dalam penulisan karya ilmiah terlebih khusus penulisan skripsi, penulisan abstrak skripsi sangatlah penting. Abstrak merupakan uraian atau ikhtisar singkat, namun lengkap dari karya tulis ilmiah yang memuat permasalahan, tujuan, metode penelitian, hasil, dan kesimpulan. Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, masing-masing tidak lebih dari tiga ratus kata dan dilengkapi dengan tiga kata kunci utama. Abstrak juga biasanya tidak lebih dari tiga paragraf. Adapun manfaat abstrak adalah untuk memudahkan pembaca mengerti secara cepat isi dari sebuah karya tulis ilmiah, sehingga bisa untuk memutuskan apakah perlu membaca lebih lanjut atau tidak. Melalui abstrak juga bisa mengetahui kata kunci utama yang dibahas. Dari pemaparan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa karya ilmiah adalah hasil pemikiran ilmiah seseorang yang ingin mengembangkan suatu disiplin ilmu berdasarkan hasil suatu penelitian bukan berdasarkan hasil rekaan atau rekayasa dan dipertanggungjawabkan dengan menggunakan bahasa ilmiah

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 yang baik dan benar. Dalam penulisan karya ilmiah terutama skripsi, penulisan abstrak sangatlah penting. Abstrak untuk memudahkan pembaca mengerti secara cepat isi dari sebuah karya tulis ilmiah, sehingga bisa untuk memutuskan apakah perlu membaca lebih lanjut atau tidak.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 2.3 Kerangka Berpikir Prinsip-prinsip kalimat efektif 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kesepadanan struktur Keparalelan bentuk Kelogisan Kehematan Kepaduan makna Kecermatan Kalimat efektif Faktor penyebab ketidakefektifan kalimat 1. kerancuan 2. Pleonasme 3. keambiguitas 4. kemubaziran preposisi dan kata 5. tidak jelas unsur inti kalimat 6. kesalahan nalar 7. ketidaktepatan bentuk+kata 8. ketidak tepatan makna kata 9. pengaruh bahasa daerah 10. pengaruh bahasa asing kalimat Unsur-unsur kalimat 1. 2. 3. 4. 5. Subjek Objek Predikat Keterangan pelengkap Dari bagan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebuah kalimat itu harus efektif. Keefektifan sebuah kalimat harus memenuhi prinsip-prinsip kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, kelogisan, kehematan, kepaduan makna dan kecermatan. Akan tetapi, masih banyak penggunaan kalimat yang kurang efektif terutama pada penulisan karya ilmiah. Sebuah kalimat tidak efektif disebabkan oleh beberapa faktor-faktor yaitu: kerancuan, Pleonasme, keambiguitas,

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 kemubaziran preposisi dan kata, tidak jelas unsur inti kalimat, kesalahan nalar, ketidaktepatan bentuk+kata, ketidak tepatan makna kata, pengaruh bahasa daerah, dan pengaruh bahasa asing. Sebuah kalimat dikatakan kalimat yang efektif dan utuh apabila kalimat tersebut memenuhi unsur-unsur dalam sebuah kalimat yaitu : subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam bab ini akan dipaparkan mengenai metode penelitian. Hal-hal yang berkaitan dengan metode penelitian meliputi (1) jenis penelitian, (2) subjek penelitian, (3) metode dan teknik pengumpulan data, (4) instrument penelitian, (5) teknik analisi data, (6) triangulasi. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian deskriptif adalah data yang dikumpulkan berupa kaata-kata, gambar, dan bukan angka. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara,catatan lapangan, foto, videotape, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya (Moleong.2008:11). Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif kualitatif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati (Bogdan dan Taylor, 1993:30 dalam Prastowo, 2014:22). Berdasarkan kedua pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena apa adanya dengan menggunakan kata-kata yang dilakukan oleh peneliti dengan mengumpulkan data ilmiah atau alami. 64

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 3.2 Sumber dan Data Penelitian. Sumber data dalam penelitian ini yakni sumber data tertulis. Sumber data tertulis dapat dibagi atas sumber buku dan majalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi (Moleong, 2014:158). Sumber data dimaksudkanan untuk mendapatkan data terperinci dan komprehensif yang menyangkut objek yang diteliti. Dalam penelitian kualitatif, data yang dikumpulkan berupa data deskriptif, misalnya dokumen pribadi, catatan lapangan, tindakan responden, dokumen, dan lain-lain (Prastowo, 2104:43). Data utama dalam penelitian kualitatif ialah katakata, dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain (Lofland, 1984:47 dalam Moleong, 2014: 157). Dalam penelitian ini sumber data yang digunakan adalah abstrak skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kalimat-kalimat dalam abstrak skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Lulusan Tahun 2017 yang menyimpang dari prinsip kalimat efektif. 3.3 Instrumen Penelitian Dalam penelitian deskriptif, peneliti bertindak sebagai instrumen sementara. (Prastowo, 2014:43). Instrumen penelitian adalah alat penelitian karena ia menjadi segalanya dari keseluruhan proses penelitian. Namun, instrumen penelitian yang dimaksudkan disini adalah alat pengumpulan data seperti tes pada penelitian

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 kuantitatif (Moleong, 2014: 168). Dengan kata lain, instrumen penelitian adalah semua alat yang digunakan untuk mengumpulkan data, mengolah, dan menjajikan data secara sistematis dan objektif guna memecahkan sebuah masalah. Dalam penelitian ini peneliti sendiri merupakan instrumen penelitian. Peneliti merupakan perencana, pelaksanaan pengumpulan data, analisis, penafsiran data dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian yaitu jenis kesalahan kalimat efektif yang terdapat pada abstrak skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. Instrumen lain yang digunakan peneliti dalam penelitian ini yakni alat tulis dan laptop untuk memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti tidak membuat instrumen sendiri karena sudah ada data tertulis, yaitu skripsi. Sumber data tertulis yaitu abstrak skripsi makasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. 3.4 Teknik Pengumpulan Data Pengumumpulan data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan menggunakan teknik kondisi yang alami, sumber data primer, dan lebih banyak pada teknik observasi berperan serta, wawancara mendalam, dan dokumentasi (Gony dan Almansur, 2012:168). Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah teknik baca dan catat. Dalam hal ini peneliti menggunakan skripsi-skripsi mahasiswa program studi pendidikan Sejarah lulusan 2017 Universitas Sanata Dharma. Setelah itu, peneliti membaca skripsi-skripsi tersebut untuk mencari penyimpangan-

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 penyimpangan yang terjadi terkait penggunaan kalimat efektif. Kemudian, datadata yang menunjukan penyimpangan dicatat untuk dianalisis. 3.5 Teknik Analisis Data Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satu yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang diceritakan kepada orang lain (Bogdan dan Biklen, 1982 dalam Moleong, 2008: 248). Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2008: 280). Analisis adalah pencarian atau pelacakan pola-pola. Analisis data adalah sebuah kegiatan untuk mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode atau tanda dan mengkategorikannya sehingga diperoleh satu temuan berdasarkan fokus atau masalah yang ingin dijawab. Analisis data kualitatif adalah pengujian sistematik dari sesuatu untuk menetapkan bagian-bagiannya, hubungan antar bagian, dan hubungan antar keseluruhannya. Teknik analisis data yang digunakan peneliti juga menggunakan teknik analisis data kualitatif, setelah data terkumpulkan langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah menganalisis data yang sudah ada (Spradley, 1980 dalam Gunawan, 2013:210). Pada bagian teknik analisis data menggunakan teknik analisis data menurut Pranowo (2009), yaitu teknik inventarisasi, teknik identifikasi, teknik klasifikasi,

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 dan teknik paparan. Pertama, teknik iventarisasi, peneliti mengumpulkan dan mencatat data mengenai kalimat tidak efektif dalam abstrak skripsi mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. Kedua, teknik identifikasi, peneliti mengidentifikasi data berdasarkan jenis-jenis penyimpangan kalimat efektif. Ketiga, teknik klasifikasi, pada tahap ini peneliti mengklasifikasi setiap kalimat berdasarkan jenis penyimpangan kalimat dalam abstrak skripsi mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. Keempat, teknik paparan, pada tahap ini peneliti data yang telah diklasifikasi dipaparkan apa adanya dalam bentuk deskripsi. Adapun langkah- langkah untuk menganalisis data dalam penelitian ini sebagai berikut. 1. Peneliti mengumpulkan kalimat-kalimat yang menyimpang dari prinsipprinsip kalimat efektif. 2. Peneliti memasukan kalimat-kalimat ke dalam tabulasi dan analisis data yang berisi data kesalahan kalimat, jenis kesalahan, dan pembetulan kalimat. 3. Peneliti membuat triangulasi dan mengkonfirmasi pada ahli. 4. Peneliti mendeskripsi data dan melakukan pembahasan. 5. Peneliti menyimpulkan hasil pembahasan. 3.6 Triangulasi Dalam penelitian ini saya sebagai peneliti memohon bantuan dari Bapak Danang Satria Nugraha,S.S,M.A., sebagai triangulator data penelitian. Penelitian

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 ini juga menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Peneliti telah smelakukan penelitian selama 2 minggu dan mendapatkan data berupa kesalahan penggunaan kalimat efektif dalam abstrak skripsi mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi uraian (1) deskripsi data dan (2) hasil analisis data dan pembahasan. Pada bagian deskripsi data, penulis mendeskripsikan data-data yang diperoleh dari penelitian. Hasil penelitian berisi hal-hal yang ditemukan oleh peneliti saat meneliti. Selanjutnya, bagian pembahasan berisi hasil analisis data berdasarkan setiap subkategorinya. Kedua hal tersebut akan dipaparkan lebih lanjut sebagai berikut ini. 4.1 Deskripsi Data Data penelitian ini berupa kalimat-kalimat dalam abstrak skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. Kalimat-kalimat yang digunakan sebagai data adalah kalimat-kalimat yang menyimpang prinsip keefektifan kalimat berdasarkan teori Rahardi. Data penelitian yang diperoleh kemudian digolongkan berdasarkan prinsip-prinsip kalimat efektif yakni, kesepadanan struktur, kelogisan makna, kecermatan, dan kehematan. Penyimpangan-penyimpangan terhadap wujud kebahasaan itu meliputi penyimpangan prinsip kesepadanan struktur, penyimpangan prinsip kecermatan, penyimpangan prinsip kelogisan makna, dan penyimpangan prinsip kehematan.. Dari prinsip kesepadanan struktur peneliti menemukan dua jenis bentuk kesalahan yaitu ketidakjelasan predikat dan penggunaan konjungsi yang kurang tepat. Pada 70

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 prinsip kecermatan, peneliti menemukan dua jenis bentuk kesalahan yaitu kesalahan penulisan ejaan dan penggunaan tanda baca. Pada prinsip kehematan peneliti menemukan dua jenis kesalahan yaitu penggunaan kata yang memiliki makna yang sama. Pada prinsip kelogisan makna peneliti menemukan ada tiga bentuk kalimat yang tidak logis. Dari keempat prinsip-prinsip kalimat efektif tersebut, penyimpanganpenyimpangan yang sering muncul pada abstrak skripsi mahasiswa mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017 adalah jenis penyimpangan pada prinsip kehematan. 4.2 Hasil Analisis Data dan Pembahasan Analisis hasil penelitian ini disajikan berdasarkan teori-teori kalimat efektif. Data-data pada bagian sebelumnya telah dideskripsikan akan dibahas lebih mendalam pada subbab ini. Data akan dibahas sesuai dengan rumusan masalah yang sudah ditentukan. Peneliti akan membahas mengenai penyimpanganpenyimpangan terhadap prinsip-prinsip keefektifan kalimat berdasarkan teori Rahardi (2009:93). Seperti yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, peneliti menemukan penyimpangan-penyimpangan terhadap prinsip kesepadanan struktur, prinsip kecermatan, prinsip kelogisan makna, dan prinsip kehematan. Pada subbab ini, akan dijabarkan penyimpangan-penyimpangan tersebut secara mendalam.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 4.2.1 Kesepadanan Struktur Kesepadanan struktur menunjukan adanya keseimbangan antara gagasan dan struktur bahasa yang digunakan. Hal ini dapat terlihat dari adanya subjek dan predikat, tidak ada subjek ganda, tidak ada konjungsi dalam kalimat tunggal, dan tidak ada kata yang sebelum predikat. Dari hasil penelitian, peneliti menemukan adanya bentuk kalimat yang menyimpang dari prinsip kesepadanan struktur. Penyimpangan-penyimpangan tersebut adalah sebagai berikut ini. 4.2.1.1 Ketidakjelasan Predikat Predikat merupakan salah satu unsur pokok kalimat. Oleh karena itu, selain subjek, unsur predikat harus ada dalam sebuah kalimat. Namun, berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan masih ada kalimat yang tidak memiliki unsur predikat yang jelas. Berikut ini disajikan contoh kalimatnya. (1) Sempel yang digunakan yaitu 89 responden Kalimat di atas kurang tepat, karena predikat kalimat tersebut tidak jelas atau kabur. Penyebab kekaburan predikat pada kalimat di atas adalah adanya kata yang yang mendahului predikat. Penggunaan kata yang yang mendahului predikat kurang tepat. Kata yang mendahului predikat mengakibatkan kalimat kelimat tersebut kurang efektif. Hal ini berdasarkan teori Rahardi (2010:94) mengatakan bahwa, kata yang tidak boleh berada di depan predikat. Oleh karena itu, sebaiknya kata yang sebelum predikat harus ditinggalkan. Bentuk efektif dari kalimat di atas adalah sebagai berikut ini. Sempel dalam penelitian ini adalah 89 responden

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 kalimat di atas sudah efektif, dimana pada kalimat di atas tidak terdapat kata yang sebelum predikat, sehingga kalimat predikat pada kalimat di atas cukup jelas yaitu sample (subjek ), dalam penelitian ini (predikat), 89 responden (objek). 4.2.1.2 Penggunaan Konjungsi Kurang Tepat Konjungsi dibagi atas konjungsi antarkalimat, konjungsi intrakalimat. Konjungsi antarkalimat adalah kata penghubung yang menghubungkan ide pada kalimat yang satu dengan ide pada kalimat lainnya. Konjungsi antarkalimat biasanya terletak diawal kalimat, karena berfungsi untuk menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Konjungsi antarkalimat diantaranya konjungsi namun, dengan demikian, akan tetapi, oleh karena itu, maka, selain itu, dan maka dari itu. Konjungsi intrakalimat adalah kata penghubung yang digunakan untuk menghubungkan dua satuan bahasa, misalnya klausa dengan klausa. Konjungsi intrakalimat diantaranya tetapi, sehingga, dan, sedangkan, padahal, serta, dan bahkan. Berdasarkan data penelitian peneliti menemukan adanya penyimpangan penggunaan konjungsi intrakalimat yaitu penggunaan konjungsi sedangkan yang kurang tepat, sehingga menimbulkan ketidakefektifan pada kalimat tersebut. Penyimpangan tersebut akan dijabarkan sebagai berikut ini. (1) Sedangkan siswa yang memenuhi KKM pada keadaan awal yaitu 27,02% Penggunaan konjungsi sedangkan pada kalimat di atas sama sekali tidak benar. Pada kalimat di atas penggunaan konjungsi sedangkan digunakan diawal

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 kalimat. Berdasarkan teori Rahardi (2009:56), konjungsi sedangkan merupakan konjungsi antarkalimat, bukan konjungsi intrakalimat. Oleh karena itu, penggunaan konjungsi sedangkan untuk mengawali kalimat tidak tepat. Adapun pemakaian bentuk efektif yang benar dari kalimat di atas adalah sebagai berikut ini. Akan tetapi, siswa yang memenuhi KKM pada keadaan awal yaitu 27,02% Penggunaan konjungsi akan tetapi menggantikan konjungsi sedangkan pada kalimat di atas sangatlah tepat, sehingga menimbulkan kalimat tersebut menjadi efektif. Konjungsi akan tetapi merupakan konjungsi antar kalimat, yaitu konjungsi yang digunakan pada awal kalimat. 4.2.2 Kecermatan Peneliti menemukan adanya penyimpangan-penyimpangan terhadap prinsip kecermatan. Penyimpangan-penyimpangan itu meliputi kesalahan penulisan ejaan dan penggunaan tanda baca. Dalam sebuah karya ilmiah penggunaan ejaan harus diperhatikan sesuai dengan PUEBI. Selain penulisan kalimat, penggunaan tanda baca juga harus diperhatikan. Misalnya, penggunaan tanda baca koma setelah kata konjungsi, tandan baca titi mengahiri sebuah kalimat, tanda tanya apabila kalimat tersebut merupakan kalimat pertanyaan dan tanda seru jika kalimat tersebut merupakan kalimat perintah. Akan tetapi, dalam skripsi makasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah terdapat kesalahan penulisan ejaan dan tanda baca. Kesalahan-kesalahan tersebut meliputi penulisan

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 ejaan subjek, objek, diperoleh, dan penggunaan tanda baca yang tidak benar. Kesalahan kesalah tersebut akan dipaparkan berikut ini. 4.2.2.1 Kesalahan Penulisan Ejaan Berdasarkan data penelitian, peneliti menemukan adanya penyimpangan dalam penulisan atau ejaan. Bentuk penyimpangan tersebut akan dipaparkan sebagai berikut ini. (1) Pada keadaan awal di peroleh 6 siswa (18,7%) dengan rata-rata nilai 68 Kalimat di atas bukanlah sebuah kalimat yang efektif. kalimat di atas penyimpang dari prinsip keefektifan dari sebuah kalimat yaitu prinsi kecermatan. Pada kalimat di atas, penulisan kata diperoleh pada kalimat di atas sama sekali tidak tepat yaitu penulisan kata di dan peroleh ditulis secara terpisah. Kata di pada kalimat tersebut bukan merupakan kata depan. Penulisan yang benar yaitu diperoleh. Kata diperoleh seharusnya ditulis sambung. Kata di ditulis secara terpisah apabila kata di merujuk pada kata depan, jika bukan merupakan kata depan dan di merupakan gabungan kata, maka kata di ditulis secara sambung. Penulisan kata di pada penulisan kalimat diatas menyimpang dari aturan yang berlaku dalam ejaan bahasa Indonesia. Bentuk keefektifan dari kalimat di atas adalah sebagai berikut ini. Pada keadaan awal diperoleh 6 siswa (18,7%) dengan rata-rata nilai 68

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 Kalimat di atas menjadi menjadi sebuah kalimat yang efektif. Penulisan kalimat diperoleh pada kalimat di atas ditulis secara sabung bukan ditulis terpisah. Hal ini merujuk pada pedoman PUEBI bahwa, kata yang ditulis secara terpisah itu kata depan seperti di, ke, dan dari ditulis secara terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. (2) Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPS 2 SMA Negeri 10 Yogyakarta berjumlah 25 siswa Sebuah kalimat dikatakan efektif apabila kalimat tersebut harus memperhatikan ejaan yang benar. Apabila dalam sebuah kalimat, penulisan ejaan kurang tepat, maka kalimat tersebut tidak dikategorikan sebagai kalimat yang efektif. kalimat di atas bukan merupakan kalimat yeng efektif. pada kalimat di atas terdapat penyimpangan dari syarat kefektifan sebuah kalimat yaitu kecermatan. Pada kalimat di atas terdapat kesalahan dalam penulisan ejaan. Penulisan kata subjek pada kalimat di atas kurang tepat, sehingga menimbulkan ketidakefektifan pada kalimat tersebut. Penulisan kata subjek pada kalimat di atas adalah subyek bukan subjek. Hal ini menimbulkan kalimat tersebut tidak efektif. Jadi, dapat disimpulkan kalimat di atas bukanlah kalimat yang efektif. Penulisan yang tepat pada kalimat di atas, sehingga kalimat tersebut menjadi efektif adalah sebagai berikut ini.

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPS 2 SMA Negeri 10 Yogyakarta berjumlah 25 siswa Kalimat di atas merupakan hasi perbaikan kalimat yang tidak efektif menjadi kalimat kalimat yang efektif. Pada kalimat diatas, Penulisan sudah tepat sehingga, kalimat tersebut menjadi efektif. Hal ini merujuk pada KBBI yakni penulisan kata subjek yang benar adalah subjek bukan subyek. Penulisan kata subjek bukan menggunakan huruh Y, melainkan menggunakan huruf J. (3) Obyek dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa, prestasi belajar, dan model pembelajaran tipe picture and picture. Sama halnya pada kalimat nomor dua, kalimat nomor tiga juga bukan merupakan kalimat yang efektif. Kalimat yang efektif adalah kalimat yang penulisan ejaan harus benar dan tepat. Akan tetapi, pada kalimat diatas terdapat kesalahan penulisan ejaan, sehingga menimbulkan ketidakefektifan sebuah kalimat. Pada kalimat di atas, terdapat kesalahan penulisan ejaan. Penulisan kata objek pada kalimat diatas tidak tepat, sehingga kalimat tersebut tidak efektif. Penulisan kata objek pada kalimat di atas adalah obyek bukan objek. Jadi, dapat disimpulkan kalimat di atas adalah kalimat yang tidak efektif. Adapun bentuk keefektifan dari kalimat di atas adalah sebagai berikut ini. Objek dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa, prestasi belajar, dan model pembelajaran tipe picture and picture.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Kalimat di atas menjadi sebuah kalimat yang efektif. Penulisan ejaan objek pada kalimat di atas sudah tepat. Hal ini merujuk pada KBBI yakni dalam penulisan ejaah objek yang benar adalah objek bukan obyek. Penulisan ejaan objek bukan menggunakan huruf Y melainkan menggunakan huruf J. Jadi, dapat disimpulkan bahwa penulisan yang tepat dalam penulisan ejaan objek adalah objek. 4.2.2.2 Penggunaan Tanda Baca Dalam sebuah kalimat efektif, penggunaan tanda baca sangatlah penting. Tanda baca dibagi atas tanda titik, tanda koma, tanda titik koma, tanda titik dua, tanda penghubung, tanda pisah, tanda tanya, tanda seru, tanda ellipsis, tanda petik, tanda petik tunggal, tanda kurung, tanda kurung siku, tanda garis miring, tanda penyingkat atau apostrof. Tanda baca tersebut digunakan berdasarkan fungsinya masing-masing. Berdasarkan data penelitian, peneliti menemukan adanya penyimpangan dalam penggunaan tanda baca. Bentuk penyimpangan tersebut akan dipaparkan sebagai berikut ini. (1) Namun karena belum mendapatkan pengakuan penuh dari Belanda, perjuangan Mohammad Hatta masih terus berlanjut hingga tahun 1949. Selain penulisan ejaan yang benar, kalimat yang efektif juga harus memperhatikan tanda baca. Kalimat di atas bukanlah sebuah kalimat yang efektif. Pada kalimat di atas tidak terdapat tanda baca koma (,) setelah penggunaan konjungsi namun. Kalimat di atas dikatakan sebagai kalimat yang efektif apabila terdapat penggunaan tanda baca yang tepat yaitu penggunaan tanda baca koma (,)

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 setelah penggunaan konjungsi. Adapun bentuk efektif dari kalimat di atas adalah sebagai berikut ini. Namun, karena belum mendapatkan pengakuan penuh dari Belanda, perjuangan Mohammad Hatta masih terus berlanjut hingga tahun 1949. Kalimat di atas menjadi sebuah kalimat yang efektif. Pada kalimat di atas terdapat penggunaan tanda baca koma (,) setelah kata konjungsi. Hal ini merujuk pada PUEBI yakni tanda baca koma (,) digunakan atau dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubung dengan itu, namun, dan meskipun begitu. (2) Selain itu aspek lain yang mendorongnya menjadi seorang yang nasionalis adalah ajaran-ajaran dari pastor Van Lith Kalimat nomor dua juga merupakan kalimat yang kurang efektif. seperti halnya dengan kalimat nomor satu, kalimat nomor dua juga tidak terdapat penggunaan tanda baca setelah penggunaan konjungsi yang menimbulkan kalimat tersebut kurang efektif. Sebuah kalimat dikatakan efektif, apabila kalimat tersebut harus memperhatikan tanda baca. Akan tetapi, dalam penelitian ini peneliti menemukan ketidakefektifan kalimat yaitu kalimat tersebut tidak menggunakan tanda baca setelah menggunaan konjungsi. Adapun bentuk yang efektif dari kalimat di atas adalah sebagai berikut ini.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Selain itu, aspek lain yang mendorongnya menjadi seorang yang nasionalis adalah ajaran-ajaran dari pastor Van Lith Kalimat di atas dikatakan sebagai kalimat efektif, karena pada kalimat tersebut terdapat penggunaan tanda baca setelah penggunaan konjungsi selain itu. Hal ini merujuk pada PUEBI yakni tanda baca koma (,) digunakan atau dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubung dengan itu, namun, dan meskipun begitu. Jadi, dapat disimpulkan sebuah kalimat dikatakan efektif idak hanya dilihat dari unsur-unsur kalimat tersebut misalnya kesepadanan struktur dari kalimat tersebut, tetapi juga kalimat tersebut harus memperhatikan penggunaan tanda baca, baik tanda baca koma, tanda baca titi, tanda baca seru, tanda baca tanya, tanda baca penghubung, tanda baca pemisah, tanda baca kurung, tanda baca kurung siku, tanda baca titik koma, tanda baca titik dua, tanda baca elipsisi, tanda baca petik dan tanda baca penyingkat atau apostrof. 4.2.3 Kehematan Peneliti menemukan adanya penyimpangan-penyimpangan terhadap prinsip-prinsip kehematan kata. Penyimpangan-penyimpang tersebut yaitu penggunaan kata yang memiliki makna yang sama yakni kata bertujuan untuk yang menimbulkan ketidakefektifan dalam sebuah kalimat. Pada abstrak skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, terdapat penggunaan kalimat-kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu kata

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 bertujuan untuk, sehingga kalimat –kalimat tersebut tidak efektif. Dalam KKBI (2008), kata bertujuan untuk memiliki makna yang sama, sehingga kalimat tersebut tidak bisa digunakan secara bersamaan. Kalimat yang efektif adalah kalimat yang tidak menggunakan kalimat yang memiliki makna sama. Apabila sebuah kalimat menggunakan kata yang tidak memiliki makna yang sama, kalimat tersebut dikategorikan sebuah kalimat yang efektifan. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan adanya penggunaan kata yang memiliki makna yang sama dalam sebuah kaimat yang menimbulkan kalimat tersebut tidak efektif. Adapun kalimat tersebut adalah sebagai berikut ini. (1) Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan penilaian belajar siswa setelah menerapkan model pembelajaran Example Non-Example (2) Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan (1) Motivasi belajar sejarah siswa selama penerapan model pembelajaran kooperatif, dan (2) prestasi belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran Mind Mapping (3) Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media komik sejarah bermuatan pendidikan karakter dalam materi pendidikan dan pergerakan nasional yang layak digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar sejarah siswa SMA Kalimat-kalimat di atas merupakan bentuk kalimat tidak efektif karena menggunakan kata yang memiliki kesamaan makna secara bersamaan. Dalam sebuah kalimat penggunaan kata yang memiliki makna yang sama tidak diperboleh. Apabila dalam sebuah kalimat masih ada menggunakan kata yang

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 memiliki makna sama, kalimat tersebut tidak dikategorikan sebagai kalimat yang efektif. Pada kalimat di atas, terdapat penggunaan kata yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan dan untuk. Hal ini merujuk pada KBBI (2008), kata tujuan dan untuk sama-sama memiliki makna yang sama. Karena keduanya memiliki makna yang sama, sebaiknya pilih salah satu saja agar tidak terjadi pemborosan kata. Adapun pemakaian bentuk yang efektif dari kalimat-kalimat di atas sebagai berikut ini. (1) Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan penilaian belajar siswa setelah menerapkan model pembelajaran Example Non-Example (2) Penelitian ini bertujuan meningkatkan (1) Motivasi belajar sejarah siswa selama penerapan model pembelajaran kooperatif, dan (2) prestasi belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran Mind Mapping (3) Penelitian ini bertujuan mengembangkan media komik sejarah bermuatan pendidikan karakter dalam materi pendidikan dan pergerakan nasional yang layak digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar sejarah siswa SMA Kalimat-kalimat di atas adalah kalimat yang sudah efektif. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengunaan dua bentuk kata yang memiliki makna yang sama dalam sebuah kalimat, dapat menimbulkan kalimat tersebut menjadi kalimat yang tidak efektif.

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 4.2.4 Kelogisan Makna Pengertian kalimat yang logis adalah kalimat yang ide atau gagasannya sesuai dengan akal dan nalar yang benar serta berlaku umum. Dengan kata lain, kalimat yang logis adalah kalimat yang bernalar. Kelogisan makna dalam sebuah kalimat efektif sangatlah penting. Sebuah kalimat tidak dikategorikan sebagai kalimat yang efektif apabila kalimat tersebut menyimpang dari prinsip kelogisan makna. Apabila suatu kalimat tidak logis dapat menimbulkan makna yang kurang logis juga. Berdasarkan data penelitian, peneliti menemukan kalimat-kalimat yang tidak logis. Contoh kalimat yang tidak logis akan dijabarkan sebagai berikut ini. (1) Pengumpulan data dilakukan dengan cara kuesioner dan wawancara Kalimat tersebut menjadi tidak logis sehingga, menimbulkan makna yang kurang tepat. Pada kalimat tersebut, penggunaan kata cara wawancara kurang kuesioner dan logis atau tepat. Hal ini menimbulkan kerancuan bagi pembaca. Suatu kalimat dikatakan kalimat yang efektif apabila kalimat tersebut bernalar atau logis. Bentuk keefektifan dari kalimat tersebut adalah sebagai berikut ini. Teknik pengumpulan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dan wawancara. Kalimat di atas menjadi logis dan memiliki makna yang tepat. Penggunaan kata teknik pada kalimat di atas menimbulkan makna bahwa dalam penelitian

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 tersebut teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti menggunakan kuesioner dan wawancara. (2) Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis produksi film propaganda di Indonesia yang terjadi sejak zaman colonial hingga Orde Baru Pada kalimat kedua, penggunaan kata makalah kurang tepat yang dapat menimbulkan ketidak logisan makna. Hal tersebut menimbulkan kerancuan bagi pembaca. Penulisan makalah pada sutu abstrak skripsi menimbulkan makna yang tidak logis. Penulisan abstrak hanya terdapat pada penulisan karya ilmiah skripsi, tesis dan disetasi, tidak terdapat pada penulisan karya ilmiah makalah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa jika suatu makalah terdapat penulisan abstrak, makalah tersebut sangatlah tidak tepat, atau sebaliknya jika dalam penulisan abstrak suatu karya ilmiah misalnya skripsi, tesis dan disertasi penulisan penelitian diganti dengan penulisan makalah, maka penulisan tersebut kurang tepat karena karya ilmiah makalah dan karya ilmiah skripsi, tesis, dan disertasi sangatlah berbeda. (3) Penulisan makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan dua permasalahan pokok, yaitu (1) Lattar belakang kehidupan Mohammad Hatta,dan (2) Peran mohammad Hatta dalam perjuangan nkemerdekaan Indonesia Kalimat di atas terdapat kesamaan dengan kalimat nomor dua. Pada kalimat di atas terdapat penggunaan kata makalah pada penulisan abstrak skripsi yang

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 menimbulkan ketidaklogisan makna. Kalimat tersebut menimbulkan kerancuan bagi pembaca. Penulisan kata makalah dalam penulisan sebuah abstrak skripsi sangatlah tidak tepat. Dalam penulisan abstrak skripsi tidak boleh diganti dengan menggunakan kata penulisan makalah, karena makalah dengan skripsi itu sangatlah berbeda. Adapun bentuk yang efektif dari kalimat di atas adalah sebagai berikut ini. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dua permasalahan pokok, yaitu (1) Lattar belakang kehidupan Mohammad Hatta, dan (2) Peran mohammad Hatta dalam perjuangan nkemerdekaan Indonesia Penulisan makalah pada kalimat di atas diganti dengan kalimat penelitian, sehingga kalimat tersebut menjadi logis dan bernalar. Suatu kalimat dituntut agar kalimat tersebut logis, sehingga memiliki makna yang tepat. Kalimat yang memiliki makna yang logis menimbulkan pesan yang disampaikan dalam kalimat tersebut dapat dimengerti oleh pembaca atau pendengar.

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 BAB V PENUTUP Bab ini terdiri dari dua bagian yaitu kesimpulan dan saran. Kesimpulan berisi rangkuman keseluruhan dari penelitian ini. Sementara itu, saran berisi halhal yang perlu diperhatikan untuk peneliti lanjutan. Berikut ini akan dipaparkan dari kedua hal tersebut. 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data bab IV, peneliti menemukan adanya penyimpangan-penyimpangan prinsip kalimat efektif dalam abstrak skripsi mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017. Penyimpangan-penyimpangan tersebut adalah tiga belas kalimat yang penyimpangan prinsip kehematan, dua kalimat yang menyimpang prinsip kesepadanan struktur, tiga kalimat yang menyimpang prinsip kelogisan makna, dan lima kalimat yang menyimpang prinsip kecermatan. Penyimpangan prinsip kehematan meliputi penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama. Penyimpangan prinsip kesepadanan struktur meliputi ketidakjelasan predikat dan penggunaan konjungsi yang kurang tepat. Ketidakjelasan predikat terjadi karena adanya penggunaan kata yang yang mendahului predikat. Penyimpangan penggunaan konjungsi meliputi penyimpangan penggunaan konjungsi antarkalimat. Penyimpangan prinsip kecermatan meliputi penggunaan tanda baca dan kesalahan penulisan ejaan. Penyimpangan prinsip kelogisan tersebut tidak bernalar atau tidak logis. makna terjadi karena kalimat

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Penyimpangan-penyimpakan tersebut menunjukan bahwa kemampuan menggunakan berbahasa Indonesia dalam penulisan abstrak skripsi mahasiswa program studi Pendikan Sejarah Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2017 cukup rendah. Hal ini disebabkan oleh, Para mahasiswa belum memahami bagaimana penggnaan kalimat yang benar dalam penlisan karya ilmiah. Selain itu, tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut tenang kalimat efekif sangalah rendah 5.2 Saran Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, peneliti memiliki beberapa saran bagi peneliti lain yang akan melanjutkan penelitian ini. 1. Mahasiswa Peneliti menemukan banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam penggunaan bahasa Indonesia terutama dalam penulisan skripsi. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan dapat mengetahui penyimpanganpenyimpangan yang sering terjadi, sehingga dalam penulisan skripsi mahasiswa dapat menghindari penyimpangan tersebut. 2. Pengajar Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak terlepas dari peran pengajar baik guru maupun dosen. Dengan penelitian ini, pengajar dapat mengetahui penyimpangan-penyimpangan yang ada pada skripsi mahasiswa, sehingga dapat diperbaiki dan menghindari penyimpangan-

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 penyimpangan tersebut. Selain itu, dalam proses pembelajaran, pengajar harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 3. Peneliti lainnya Penelitian ini masih banyak kekurangan dan hanya mengkaji skripsi mahasiswa dalam satu program studi saja. Sebaiknya, peneliti lanjutan dapat diperluaskan lagi misalnya dari jenjang pendidikan lainya.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 DAFTAR PUSTAKA Arifin, Zaenal dan Junaiyah. 2009. Sintaksis. Jakarta: PT Gramedia Bahtira, Ahmad dan Fatimah. 2014. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Bogor : IN Media Chaer, Abdul. 2011. Ragam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka cipta Depertemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Ghony, Djunaidi dan Almansur. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: AR-RUZZ Media Gunawan, Imam. 2016. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Jakarta: PT.Bumi Aksara Mulyati. 2016. Terampil Berbahasa Indonesia. Jakarta: Prenadamedia Group Ngalimun dan Noor Alfulaila. 2014. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta : Aswa Pressindo Ngalimun, dkk. 2013. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Aswa Persindo Nugraheni. 2017. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Berbasis Pembelajaran Aktif. Jakarta: Kencana Prastowo. 2014. Memahami Metode-metode Penelitian. Jogjakarta: AR-RUZZ Media Rahardi, Kunjana. 2009. Penyuntingan Bahasa Indonesia untuk Karang Mengarang. Yogyakarta: Erlangga Rahardi, Kunjana. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Penerbit Erlangga Ramlan. 2009. Kalimat, Konjungsi, dan Preposisi Bahasa Indonesia dalam Penulisan Karangan Ilmiah. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma Santoso, Puji dan Muhamad Jruko. 2016. Mahir Berbahasa Indonesia Baik, Benar, dan Santun. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Wahyudi, dkk. 2009. Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Ilmiah. Yogyakarta: Media Perkasa Perum Gunung Sepu

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Widjono. 2008. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta : PT Grasindo Wiyanto. 2004. Terampil Menulis Paragraf. Jakarta: PT.Gramedia Widiasarana Indonesia

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 LAMPIRAN Table 1 Penyimpangan Prinsip Kesepadanan Struktur

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 No Kalimat yang Salah 1 Sedangkan, siswa Pada kalimat tersebut, yang memenuhi KKN terdapat kesalahan pada keadaan awal penggunaan konjungsi yaitu 27% sedangkan. Konjungsi sedangkan adalah konjungsi antarkalimat bukan kunjungsi intrakalimat. 2 Sempel yang digunakan yaitu 89 responden Deskripsi Kesalahan Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang sebelum predikat, sehingga menimbulkan ketidakjelasan predikat. Perbaikan Akan tetapi, siswa yang memenuhi KKN pada keadaan awal yaitu 27%. Penggunaan konjungsi akan tetapi pada kalimat tersebut sangat tepat, karena konjungsi tetapi merupakan konjungsi intrakalimat. Selain konjungsi akan tetapi konjungsi intakalimat juga cukup banyak diantaranya oleh karena itu,namun, dengan demikian dan masih banyak lagi. Sempel dalam penelitian ini adalah 89 responden. Penghilangan kata yang pada kalimat tersebut menimbulkan kejelasan predikat. Table 2 Penyimpangan Pada Prinsip Kecermatan ` No Kalimat yang Deskripsi kesalahan Perbaikan Salah 1 Pada keadaan awal di peroleh 6 siswa (18,7%) dengan rata-rata nilai 68 Pada kalimat tersebut terdapat kesalahan penulisan diperoleh. Penulisan diperoleh pada kalimat tersebut ditulis secara terpisah. Penulisan tersebut salah, karena kata di pada kalimat tersebut bukan merupakan kata depan. Pada keadaan awal diperoleh 6 siswa (18,7%) dengan rata-rata nilai 68. Penulisan yang tepat pada kata diperoleh seharusnya disambung, bukan dipisah.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 Penulisan kata subjek pada kalimat tersebut kurang tepat. pada kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) penulisan kata subjek yang benar adalah subjek bukan subyek. Obyek dalam Penulisan kata objek penelitian ini adalah pada kalimat tersebut motivasi belajar kurang tepat. pada siswa, prestasi kamus besar bahasa belajar, dan model Indonesia (KBBI) pembelajaran tipe penulisan kata objek picture and picture. yang benar adalah objek bukan objek. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPS 2 SMA Negeri 10 Yogyakarta berjumlah 25 siswa 4 Namun karena belum mendapatkan pengakuan penuh dari Belanda, perjuangan Mohammad Hatta masih terus berlanjut hingga tahun 1949. Pada kalimat tersebut tidak efektif karena tidak ada tanda baca yaitu tanda baca koma setelah kata pengkubung atau konjungsi namun. Merujuk pada EYD penggunaan tanda baca koma digunakan setelah kata konjungsi atau kalimat peghubung. 5 Selain itu aspek lain yang mendorongnya menjadi seorang yang nasionalis adalah ajaran-ajaran dari pastor Van Lith Sama halnya dengan kalimat nomor empat, kalimat ini juga tidak dikatakan sebagai kalimat yang efektif. Pada kalimat tersebut tidak efektif karena tidak ada tanda baca yaitu tanda baca koma setelah kata Adapun bentuk efektif dari kalimat tersebut adalah Namun, karena belum mendapatkan pengakuan penuh dari Belanda, perjuangan Mohammad Hatta masih terus berlanjut hingga tahun 1949. Kalimat tersebut dikatakan sebagai kalimat karena menggunakan tanda baca koma setelah penggunaan konjungsi atau kata penghubung. Adapun bentuk yang efektif dari kalimat tersebut adalah Selain itu, aspek lain yang mendorongnya menjadi seorang yang nasionalis adalah ajaran-ajaran dari pastor Van Lith. 2 3 Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPS 2 SMA Negeri 10 Yogyakarta berjumlah 25 siswa Objek dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa, prestasi belajar, dan model pembelajaran tipe picture and picture. Kalimat tersebut

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 pengkubung atau konjungsi namun. Merujuk pada EYD penggunaan tanda baca koma digunakan setelah kata konjungsi atau kalimat peghubung. dikatakan sebagai kalimat efektif karena penggunaan tanda baca koma yang tepat setelah kata penghubung atau konjungsi. Table 3 Penyimpangan Pada Prinsip Kehematan No Kalimat yang Salah 1 Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan penilaian belajar siswa setelah menerapkan model pembelajaran Example Non-Example 2 Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan (1) Motivasi belajar sejarah siswa selama penerapan model pembelajaran kooperatif, dan (2) prestasi belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran Mind Maping Deskripsi Kesalahan Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan untuk. Dalam KBBI kata tujuan dan untuk memiliki makna yang sama. Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan untuk. Dalam KBBI kata tujuan dan untuk memiliki makna yang sama. Perbaikan Kalimat tersebut menjadi kalimat yang efektif apabila menggunakan salah satu kalimat sehingga, kalimat tersebut menjadi efektif yakni Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan penilaian belajar siswa setelah menerapkan model pembelajaran Example NonExample Kalimat tersebut dapat dikatakan sebagai kalimat yang efektif apabila kalimat tersebut menggunakan satu kalimat yang memiliki makna yang sama. Bentuk keefektifan dari kalimat tersebut adalah Penelitian ini bertujuan

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 meningkatkan (1) Motivasi belajar sejarah siswa selama penerapan model pembelajaran kooperatif, dan (2) prestasi belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran Mind Maping 3 Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media komik sejarah bermuatan pendidikan karakter dalam materi pendidikan dan pergerakan nasional yang layak digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar sejarah siswa SMA Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan untuk. Dalam KBBI kata tujuan dan untuk memiliki makna yang sama. 4 Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar sejarah siswa dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Picture and Picture Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan untuk. Dalam KBBI kata tujuan dan untuk memiliki makna Kalimat tersebut menjadi kalimat yang efektif apabila menggunakan salah satu kalimat sehingga, kalimat tersebut menjadi efektif yakni Penelitian ini bertujuan mengembangkan media komik sejarah bermuatan pendidikan karakter dalam materi pendidikan dan pergerakan nasional yang layak digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar sejarah siswa SMA Adapun bentuk yang efektif dari kalimat tersebut adalah Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar sejarah siswa dalam penerapan model

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 yang sama. 5 Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Presepsi guru terhadap evaluasi pembelajaran sejarah dalam kurikulum 2013, dan (2) Presepsi siswa terhadap evaluasi pembelajaran sejarah dalam kurikulum 2013 Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan untuk. Dalam KBBI kata tujuan dan untuk memiliki makna yang sama. 6 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Adanya tidaknya pengaruh latar belakang ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar sejarah mahasiswa, (2) Ada tidaknya pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar sejarah, dan (3) Ada tidaknya pengaruh secara bersama antara latar belakang ekonomi orang tua dan motivasi belajar mahasiswa terhadap prestasiprestasi belajar sejarah Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan untuk. Dalam KBBI kata tujuan dan untuk memiliki makna yang sama. pembelajaran kooperatif tipe Picture and Picture Kalimat yang efektif adalah kalimat yang tidak menggunakan kalimat yang memiliki makna yang sama. Adapun bentuk efektif dari kalimat tersebut adalah Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) Presepsi guru terhadap evaluasi pembelajaran sejarah dalam kurikulum 2013, dan (2) Presepsi siswa terhadap evaluasi pembelajaran sejarah dalam kurikulum 2013. Penggunaan dua kata yang memiliki makna yang sama menimbulkan kalimat tersebut tidak efektif. Dalam prinsip sebuah kalimat efektif tidak boleh menggunakan kata yang memiliki makna yang sama. Adapun bentuk efektif dari kalimat tersebut adalah Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) Adanya tidaknya

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 mahasiswa. 7 Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis tiga permasalahan pokok, yaitu (1) latar belakang I.J.Kasimo mengembangkan nasionalisme pada zaman colonial, (2) Proses yang dilalui I.J.Kasimo dalam mengembngkan nasionalisme pasa zaman colonial, dan (3) Sumbangan pemikiran I.J.Kasimo dari nasionalisme yang dimilikinya bagi masyrakat Indonesia Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan untuk. Dalam KBBI kata tujuan dan untuk memiliki makna yang sama. pengaruh latar belakang ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar sejarah mahasiswa, (2) Ada tidaknya pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar sejarah, dan (3) Ada tidaknya pengaruh secara bersama antara latar belakang ekonomi orang tua dan motivasi belajar mahasiswa terhadap prestasi-prestasi belajar sejarah mahasiswa. Kalimat efektif adalah kalimat yang tidak menggunakan dua kata yang memiliki makna yang sama. Penggunaan dua kata yang memiliki makna yang sama menim bulkan ketidakefektifan sebuah kalimat. Adapun bentuk keefektifan dari kalimat tersebut adalah Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis tiga permasalahan pokok, yaitu (1) latar belakang I.J.Kasimo mengembangkan nasionalisme pada zaman colonial, (2)

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 8 Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan (1) Minat belajar sejarah siswa selama penerapan model pembelajaran Talking Stick, dan (2) prestasi belajar sejarah siswa setelah penerapan model pembelajaran Talking Stick Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan untuk. Dalam KBBI kata tujuan dan untuk memiliki makna yang sama 9 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Presepsi ssiswa tentang penggunaan media pembelajaran sejarah, (2) presepsi belajar sejarah siswa, dan (3) hubungan antara presepsi siswa tentang penggunaan media Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan untuk. Dalam KBBI kata tujuan dan untuk Proses yang dilalui I.J.Kasimo dalam mengembngkan nasionalisme pasa zaman colonial, dan (3) Sumbangan pemikiran I.J.Kasimo dari nasionalisme yang dimilikinya bagi masyrakat Indonesia Kalimat tersebut menjadi kalimat yang efektif apabila menggunakan salah satu kalimat sehingga, kalimat tersebut menjadi efektif yakni Penelitian ini bertujuan meningkatkan (1) Minat belajar sejarah siswa selama penerapan model pembelajaran Talking Stick, dan (2) prestasi belajar sejarah siswa setelah penerapan model pembelajaran Talking Stick Kalimat tersebut bukan merupakan kalimat yang efektif. pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kata yang memiliki makna yang sama. Adapun bentuk

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 10 pembelajaran sejarah dengan prestasi belajar siswa. memiliki makna yang sama Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, (1) Ada tidaknya pengaruh motivasi terhadap minat menjadi gu ru sejarah,(2) ada tidaknya pengaruh prestasi belajar terhadap minat menjadi guru sejarah, dan (3) ada tindaknya pengaruh secara bersama antara motivasi dan prestasi belajar terhadap minat menjadi guru sejarah. Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan untuk. Dalam KBBI kata tujuan dan untuk memiliki makna yang sama keefektifan dari kalimat tersebut adalah Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) Presepsi ssiswa tentang penggunaan media pembelajaran sejarah, (2) presepsi belajar sejarah siswa, dan (3) hubungan antara presepsi siswa tentang penggunaan media pembelajaran sejarah dengan prestasi belajar siswa. Penggunaan kata yang memiliki makna yang sama mengakibatkan kalimat tersebut tidak efektif. Adapun bentuk efektif dari kalimat tersebut adalah Penelitian ini bertujuan mengetahui, (1) Ada tidaknya pengaruh motivasi terhadap minat menjadi gu ru sejarah,(2) ada tidaknya pengaruh prestasi belajar terhadap minat menjadi guru sejarah, dan (3) ada tindaknya pengaruh secara bersama antara motivasi dan prestasi belajar terhadap minat menjadi guru

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 11 Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media komik sejarah yang bermuatan pendidikan karakter dalam materi penduduk Jepang di Indonesia yang layak digunakan untuk siswa SMA Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan untuk. Dalam KBBI kata tujuan dan untuk memiliki makna yang sama 12 Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media komik sejarah bermuatan pendidikan karakter yang layak digunakan untuk siswa SMA pada materi respon bangsa Indonesia terhadam imprealisme dan kolonialisme Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan untuk. Dalam KBBI kata tujuan dan untuk memiliki makna yang sama sejarah. Kalimat efektif adalah kalimat yang tidak menggunakan kalimat yang memiliki makna yang sama. Bentuk keefektifan dari kalimat tersebut adalah Penelitian ini bertujuan mengembangkan media komik sejarah yang bermuatan pendidikan karakter dalam materi penduduk Jepang di Indonesia yang layak digunakan untuk siswa SMA Penggunaan dua kata yang memiliki makna yang sama menimbulkan kalimat tersebut tidak efektif. Dalam prinsip sebuah kalimat efektif tidak boleh menggunakan kata yang memiliki makna yang sama. Adapun bentuk efektif dari kalimat tersebut adalah Penelitian ini bertujuan mengembangkan media komik sejarah bermuatan pendidikan karakter yang layak digunakan untuk siswa SMA pada materi respon bangsa Indonesia

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 terhadam imprealisme dan kolonialisme Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan (1) Motivasi belajar sejarah siswa selama penerapan model pembelajaran kooperatif, (2) prestasi belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran Mind Mapping 13 Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kalimat yang memiliki makna yang sama yaitu bertujuan untuk. Dalam KBBI kata tujuan dan untuk memiliki makna yang sama Kalimat yang efektif adalah kalimat yang tidak menggunakan kalimat yang memiliki makna yang sama. Adapun bentuk efektif dari kalimat tersebut adalah Penelitian ini bertujuan meningkatkan (1) Motivasi belajar sejarah siswa selama penerapan model pembelajaran kooperatif, dan (2) prestasi belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran Mind Mapping . Table 4 Penyimpangan yang terdapat pada prinsip kelogisan makna No Kalimat yang Salah Deskripsi Kesalahan Perbaikan 1 Pengumpulan data dilakukan dengan cara kuesioner dan wawancara Kalimat tersebut tidak efektif. Penggunaan kata cara pada kalimat tersebut kurang tepat sehingga menimbulkan ketidaklogisan makna. Penggunaan kata cara menimbulkan makna yang tidak logis untuk Kalimat tersebut menjadi kalimat efektif yang menimbulkan makna yang logis yakni Instrument dalam penelitian ini

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 kalimat kuesioner dan wawancara. 2 Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis produksi film propaganda di Indonesia yang terjadi sejak zaman colonial hingga Orde Baru 3 Penulisan makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan dua permasalahan pokok, yaitu (1) Lattar belakang kehidupan Mohammad Hatta,dan menggunakan kuesioner dan wawancara kalimat tersebut tidak Kalimat tersebut efektif. Pada kalimat menjadi kalimat tersebut terdapat yang efektif penggunaan kata apabila kata makalah mengantikan makalah diganti kata penelitian dalam dengan kata penulisan sebuah penelitian. skripsi. Penggunaan Dalam penulisan kata makalah dalam abstrak skripsi tidak ada penulisan sebuah skripsi sangatlah tidak penggunaan kata tepat, apalagi penulisan makal. Maka makalah terdapat pada penulisan yang tepat sehingga abstrak skrpsi. menimbulkan Penulisan abstrak makna yang hanya ada pada karya ilmiah tesis, skripsi dan logis adalah Penelitian ini disertasi, tidak ada bertujuan dalam karya ilmiah mendeskripsikan makalah. Penggunaan dan kata makalah pada menganalisis abstrak skripsi menimbulkan tersebut produksi film propaganda di ketidaklogisan makna Indonesia yang terjadi sejak zaman kolonial hingga Orde Baru Kalimat tersebut tidak efektif. Pada kalimat tersebut terdapat penggunaan kata makalah yang kurang tepat sehingga, menimbukan ketidaklogisan makna. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dua permasalahan pokok, yaitu (1) Lattar belakang kehidupan

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 (2) Peran mohammad Hatta dalam perjuangan nkemerdekaan Indonesia Pada penulisan skripsi terutama pada abstrak skripsi penulisan kata makalah kurang tepat. penulisan kata makalah pada abstrak skripsi menimbulkan makna yang kurang tepat. Penulisan abstrak hanya terdapat pada karya ilmiah skripsi, tesis dan disertasi. Mohammad Hatta,dan (2) Peran mohammad Hatta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139 BIOGRAFI PENULIS Emilinda Oktaviani Jehamin, lahir di Ngalo Manggrai Flores NTT, 30 Oktober 1996. Mengenyam pendidikan di SDI Golo Kompol Nusa Tenggara Timur pada tahun 2002-2008, kemudian ia melanjutkan studinya di SMPK Sadar Ranggu Nusa Tenggara Timur pada tahun 2008-2011. Sekolah Menengah Atas ditempuhnya pada tahun 2011-2014 di SMAK Sanctissima Trinitas Ranggu Nusa Tenggara Timur dan melanjutkan studinya pada Program S1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta pada tahun 2014 dan menamatkan studinya pada tahun 2019 dengan menyelesaikan tugas akhirnya berjudul “Analisis Penggunaan Kalimat Efektif Pada Abstrak Skripsi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Lulusan Tahun 2017”.

(155)

Dokumen baru

Download (154 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis penggunaan konjungtor pada latar belakang skripsi mahasiswa program studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma angkatan 2010 lulusan tahun 2015.
0
0
2
Pemakaian kalimat efektif dalam skripsi mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lulusan tahun 2013 sebagai wahana pemartabatan bahasa.
0
1
237
Pemakaian kalimat efektif dalam skripsi mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lulusan tahun 2012/2013 sebagai wahana pemartabatan bahasa.
0
3
257
Jenis kesalahan berbahasa dalam penggunaan imbuhan bahasa indonesia pada tugas akhir mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2013.
0
3
175
Pemakaian kalimat efektif dalam skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2013 sebagai wahana pemartabatan bahasa.
0
1
227
Analisis penggunaan konjungtor pada latar belakang skripsi mahasiswa program studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma angkatan 2010 lulusan tahun 2015
0
19
277
Studi deskriptif motivasi berorganisasi pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
133
Analisis kesalahan struktur kalimat pada latar belakang masalah skripsi mahasiswa program studi Pendidikan Ekonomi lulusan tahun 2008 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
152
Efikasi diri pada mahasiswa psikologi Universitas Sanata Dharma yang sedang mengerjakan skripsi - USD Repository
0
0
103
Kesalahan ejaan dalam abstrak skripsi mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta tahun 2008-2009 - USD Repository
0
0
119
Kesalahan ejaan dalam abstrak skripsi mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta tahun 2008-2009 - USD Repository
0
0
119
Kontribusi konsep diri dan persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru terhadap minat menjadi guru sejarah pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
209
Diksi dalam abstrak skripsi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, tahun 2008 - USD Repository
0
0
215
Analisis kualitas lulusan Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Sanata Dharma tahun yudisium 2009-2013 - USD Repository
0
0
157
Kepuasan mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma terhadap kualitas pelayanan dosen (studi kasus pada mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma angkatan 2015-2017) - USD Repository
0
0
149
Show more