PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA AYAH DAN IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTIS DI YOGYAKARTA

Gratis

0
0
113
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA AYAH DAN IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTIS DI YOGYAKARTA Skripsi Diajukan sebagai salah satu syarat meraih gelar Sarjana Psikologi pada Fakultas Psikologi Universitas Sanata DharmaYogyakarta Disusun Oleh : Florentina Dyani Anindyasari 119114030 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSETUJUA}I PEMBIMBING PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANITAIIA AYAH DAN IBU YANG MEMILIKI ANAK A{"]TIS DI YOGYAKARTA n\ 4ip t t? 0 ry {If .eb A It0u @ t ) %(#,L \ q v mg: Tanggal:23 FtB Ratri Sunar Astuti, S.Psi, M.Si 2019

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA AYAH DAN IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTIS DI YOGYAKARTA Oleh: Florentina Dyani Anindyasari Tangan Pengnji I Penguji 2 Dr. Penguji 3 Dr. Yogyakarta, 2 I FEB 20l Fakultas Psikolosi Universitas Sanata Dharma 72 UzT:'y'i \"'3;.,^"9,",-*ili 111 g

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4:6) Never complain about what happened today, just accept it and enjoy. Life is about change, sometimes painful, sometimes beautiful, but most of the time is both. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28) iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Puji syukur kepada Tuhan Allah Atas berkat yang telah diberikan kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini saya persembahkan kepada Kedua orangtua saya, Papa Wayang dan Mama Etik, yang selalu memberikan semangat dan doa kepada saya. Kakak saya, Devi dan adik saya, Nadia, yang keduanya selalu memberikan motivasi bagi saya ketika saya berkeluh kesah. Anak saya, Michael Alvaro, terima kasih sudah membantu dan mendukung mama untuk menyelesaikan skripsi ini. Seluruh dosen dan staff Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, yang telah memberikan banyak pengalaman hidup dan ilmu yang sangat berharga. Teman-teman Psikologi yang turut memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran selama berkuliah di Sanata Dharma. v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERI\YATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat hasil karya atau bagian dari karya oranglain, kecuali yang telah saya sebutkan dalam kutipan dan dalam daftar pustaka sebagaimana layaknya hasil karya ilmiah. Yogyakarta, 2 Agustus 2018 Penulis Florentina vl Anindvasari

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA AYAH DAN IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTIS DI YOGYAKARTA Florentina Dyani Anindyasari ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaaan kecemasan yang dirasakan oleh pasangan suami istri yang memiliki anak dengan gangguan autis. Subjek penelitian ini adalah pasangan suami istri yang memiliki anak autis di Yogyakarta. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 61 pasang suami istri. Peneliti memiliki hipotesis bahwa terdapat perbedaan kecemasan antara ayah dan ibu yang memiliki anak dengan gangguan autis. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan Skala Kecemasan. Skala kecemasan tersebut telah divalidasi oleh professional judgement yang dilakukan oleh pembimbing skripsi, diseleksi item dan diuji reliabilitasnya. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik Mann Whitney U dari program SPSS for Windows versi 16.0 Menurut perhitungan mean ayah dan ibu, didapati mean ayah lebih rendah daripada mean ibu, yaitu 87,85246 > 100,1803. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kecemasan yang dirasakan oleh ayah dan ibu. Ibu memiliki kecemasan yang lebih tinggi daripada ayah. Kata Kunci : anak autis, kecemasan, orangtua, ayah dan ibu vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI THE DIFFERENCES OF ANXIETY LEVEL BETWEEN FATHER AND MOTHER WHO HAVE AUTISM CHILDREN IN YOGYAKARTA Florentina Dyani Anindyasari ABSTRACT This research aims to observe the differences anxiety by couples who have children with autism disorders. The subjects of this study are married couples who have children with autism in Yogyakarta. The subjects are about 61 couples husband and wife. Researchers have hypothesized that there are differences in anxiety between father and mother who have children with autism disorder. Data of this research revealed by using anxiety scale. The scale of anxiety has been validated by professional judgment conducted by thesis supervisor, selected item and tested its reliability. The data were analyzed using Mann Whitney U technique from SPSS for Windows version 16.0. Based on the mean father and mother calculation, the father mean is lower than the mother mean, that is 87,85246 > 100,1803. Based on the results of data analysis can be concluded that there are differences in anxiety felt by the father and mother. Mother has a higher anxiety than father. Keywords: autism child, anxiety, parents, father and mother viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertandatangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Florentina Dyani Anindyasari NIM : 119114030 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul : PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANTARA AYAH DAN IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTIS DI YOGYAKARTA Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustaakn Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya di internet atau media lain untuk keperluan akademis tanpa perlu meminta izin ataupun member kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Dengan demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 2 Agustus 2018 Yang menyatakan, W Florentina Dyani Anindyasari IX I royalty

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat serta penyertaan yang selalu saya terima sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi saya dengan judul Perbedaan Tingkat Kecemasan Antara Ayah dan Ibu yang Memiliki Anak Autis di Yogyakarta dengan lancar dan suskses. Kelancaran dan kesuksesan saya dalam mengerjakan skripsi bukan semata-mata atas kerja keras saya, namun ada juga banyak pihak yang selalu membantu saya dal am menghadapi kesulitan dan rintangan yang saya alami. Oleh karena itu saya mengucapkan banyak rasa terima kasih kepada: 1. Ibu Dr. Titik Kristiyani, M.Psi selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 2. Ibu Monica Eviandaru M., Ph.D. selaku Kepala Prodi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3. Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si. selaku Dosen Pembimbing Skripsi saya. Terima kasih atas bimbingan ibu yang senantiasa selalu sabar dalam mengajarkan saya langkah-langkah untuk melakukan penelitian sehingga saya dapat menemukan fenomena masalah, metode dan melakukan analisis dalam sebuah penelitian. 4. CB. Herly Sapto Adji dan Widyaningsih T selaku orang tua saya yang amat saya cintai. Terima kasih atas segala dukungan yang telah diberikan kepada saya sampai saat ini, atas kesabarannya menghadapi saya yang manja dan malas. Terima kasih juga atas segala kasih sayang dan kepedulian kepada saya, serta doa yang tiada henti untuk saya. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Nindyana Carissa Devi dan Rosalia Nadya Narulita, selaku kakak dan adik kandung saya, serta saudara-saudara sepupu saya yang saya cintai. Terima kasih telah memberikan dukungan kepada saya tanpa henti. Saya tahu kadang saya menyebalkan dan iseng dengan tingkah saya, namun kalian tetap sayang dan peduli kepada saya. 6. Michael Alvaro Christian P. selaku anak kesayangan saya. Terima kasih karena telah mengerti dan memberikan waktu untuk mama sehingga mama dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. 7. Seluruh Dosen Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih atas Ilmu Psikologi dan pembelajaran hidup yang luar biasa yang telah kalian berikan, sehingga membuat saya semakin selalu berkembang setiap waktunya. 8. Seluruh Staff Karyawan Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih atas usaha yang diberikan, sehingga saya dapat menyelesaikan segala urusan administrasi dengan lancar selama kuliah di Psikologi. 9. Arif W, Ika, Vero, Betrik, Ria, dan semua teman-teman saya, terima kasih karena selalu ada untuk saya. Selalu memberikan nasihat dan masukan yang membangun sehingga saya merasa tidak malas dan berhasil menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas hari-hari yang menyenangkan semasa kuliah. Terima kasih juga atas segala bantan dan dukungan yang telah kalian berikan kepada saya. Terima kasih atas segala kesabarannya menghadapi saya yang iseng, suka manja, egois, dan labil. Terima kasih sudah menjadi teman seperjuangan sampai saat xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ini. Walaupun kita sempat jauh karena gak sekelas, tapi pada akhirnya tetap bersama lagi sampai sekarang. 10. Teman-teman Psikologi Angkatan 2011 yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, kalian semua sungguh luar biasa. Terima kasih atas kebersamaan dan hari-hari yag menyenangkan. Terima kasih atas segala bentuk bantuan yang kalian berikan kepada saya, sehingga saya dapat melalui perkuliahan dengan lancar. Semoga kita semua sukses selalu dan semoga komunikasi kita tetap terjalin meskipun berbeda benua sekalipun. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan. 11. Teman-teman lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Terima kasih atas pengalaman hidup luar biasa yang telah kalian berikan. Terima kasih atas dukungan serta bantuan kalian selama ini. xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI Halaman Judul …….………………………………………………………… i Halaman Persetujuan Pembimbing …….………………………………….. ii Halaman Pengesahan ………………………………………………………. iii Halaman Motto ……………………………………………………………… iv Halaman Persembahan ……………………………………………………… v Pernyataan Keaslian Karya ……………………………………………….. vi Abstrak ……………………………………………………………………….. vii Abstract ………………………………………………………………………. viii Halaman Persetujuan Publikasi Karya …………………………………… ix Kata Pengantar ……………………………………………………………… x Daftar Isi ……………………………………………………………………... xiii Daftar Tabel ………………………………………………………………….. xvii Daftar Lampiran …………………………………………………………….. xix BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1 A. Latar Belakang Masalah …………………………………………… 1 B. Rumusan Masalah ………………………………………………….. 6 C. Tujuan Penelitian ………………………………………………….. 6 D. Manfaat Penelitian ………………………………………………… 7 LANDASAN TEORI ……………………………………………. 8 BAB II A. Kecemasan ………………………………………………………... xiii 8

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Definisi Kecemasan ………………………………………………... 8 2. Ciri-ciri Orang Yang Mengalami Kecemasan …………………….. 9 3. Penyebab Kecemasan ……………………………………………… 13 B. Ayah dan Ibu ………………………………………………………… 15 1. Peran Ayah dan Ibu ………………………………………………... 15 a. Peran Ayah ……………………………………………………….. 16 b. Peran Ibu …………………………………………………………. 16 2. Dinamika Psikologis Ayah dan Ibu ………………………………... 17 C. Autis …………………………………………………………………. 21 1. Definisi Autis ………………………………………………………. 21 2. Gejala Autis ……………………………………………………….. 22 D. Perbedaan Kecemasan Ayah dan Ibu yang Memiliki Anak Autis ……. 24 E. Kerangka Berpikir …………………………………………………….. 28 F. Hipotesis ………………………………………………………………. 28 BAB III METODE PENELITIAN ……………………………………… 29 A. Jenis Penelitian ………………………………………………………. 29 B. Variabel Penelitian …………………………………………………... 29 C. Definisi Operasional Variabel Penelitian ……………………………. 29 1. Jenis Kelamin ……………………………………………………. 29 2. Kecemasan …………………………………………………………. 30 D. Subjek Penelitian ……………………………………………………. xiv 31

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI E. Metode Pengumpulan Data ………………………………………….. 31 F. Alat Pengumpul Data ….……………………………………………. 33 1. Validitas ……………………………………………………………. 33 2. Reliabilitas …………………………………………………………. 33 3. Seleksi Item ………………………………………………………... 34 G. Metode Analisis Data ………………………………………………... 36 1. Uji Asumsi …………………………………………………………. 36 a. Uji Normalitas ………………………………………………… 36 b. Uji Homogenitas ..……………………………………………... 37 2. Uji Hipotesis ……………………………………………………….. 37 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………………… 38 A. Persiapan Penelitian …………………………………………………. 38 B. Pelaksanaan Penelitian ………………………………………………. 38 C. Deskripsi Subjek Penelitian …………………………………………. 39 D. Analisis Data ………………………………………………………… 43 1. Mean Teoritik dan Mean Empirik …………………………………. 43 2. Angka Kecemasan Ayah dan Ibu ………………………………….. 44 3. Uji Asumsi …………………………………………………………. 46 a. Uji Normalitas ………………………………………………… 46 b. Uji Homogenitas ………………………………………………. 47 4. Uji Hipotesis ……………………………………………………….. 47 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI E. Pembahasan ………………………………………………………….. 49 KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………….. 56 A. Kesimpulan ………………………………………………………….. 56 B. Saran ………………………………………………………………… 56 BAB V DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 58 LAMPIRAN ..................................................................................................... 62 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1 : Blue Print Skala Kecemasan ………………………………… 32 Tabel 2 : Distribusi Skala Kecemasan Setelah Seleksi Item …………. 35 Tabel 3 : Distribusi Skala Kecemasan Setelah Uji Coba ……………… 36 Tabel 4 : Deskripsi Subjek Ayah dan Ibu Berdasarkan Usia ………… 39 Tabel 5 : Deskrpsi Subjek Ayah dan Ibu Berdasarkan Pendidikan Terakhir ……………………………………………………... Tabel 6 : Deskripsi Subjek Berdasarkan Jumlah Anak yang Menderita Autis dalam Satu Keluarga ……………………………………. Tabel 7 40 41 : Deskripsi Subjek Berdasarkan Usia Anak Autis dalam Satu Keluarga ………………………………………………………. 42 Tabel 8 : Deskripsi Subjek Berdasarkan Usia Anak Terdeteksi Autis ….. 42 Tabel 9 : Deskripsi Mean Teoritik dan Mean Empirik …………………. 43 Tabel 10 : Perhitungan Mean Kecemasan Ayah dan Ibu Berdasarkan Rentang Usia Anak Autis ……………………………………... 44 Tabel 11 : Perhitungan Mean Kecemasan Ayah dan Ibu Berdasarkan Jumlah Anak Autis dalam Satu Keluarga ……………………... 45 Tabel 12 : Perhitungan Mean Kecemasan Ayah Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir …………………………………………... 45 Tabel 13 : Perhitungan Mean Kecemasan Ibu Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir ………………………………………….. 45 Tabel 14 : Tabel Hasil Uji Normalitas ……………………………………. 46 Tabel 15 : Tabel Hasil Uji Homogenitas …………………………………. 47 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 16 : Tabel Hasil Uji Mann Whitney U …………………………… xviii 48

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Skala Kecemasan Sebelum Uji Coba ………………………. 63 Lampiran 2. Skala Kecemasan Setelah Uji Coba ……………………….... 69 Lampiran 3. Data Hasil Penelitian ……………………………………….. 74 Lampiran 4. Hasil Amalisis Data ………………………………………… 91 xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap orangtua selalu mendambakan buah hati yang terlahir normal secara jasmani dan rohani. Sejak dalam kandungan, ibu berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kondisi fisik dan psikisnya agar anaknya dapat terlahir dengan kondisi yang normal dan sehat. Beberapa anak dilahirkan ke dunia dapat mengalami kelainan tertentu, salah satu diantaranya adalah gangguan autis (Ariesta, 2016). Autis merupakan suatu kondisi dimana anak mengalami gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya abnormalitas dan/atau hendaya perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun, dan dengan ciri fungsi yang abnormal dalam tiga bidang yaitu interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang (Departemen Kesehatan RI, 1993). Anak dengan gangguan autis tampak layaknya anak normal pada umumnya di usia 1-2 tahun. Sehingga orangtua seringkali terlambat menyadari adanya keterlambatan pada kemampuan berbahasa dan ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain (Handoyo, dikutip dari Merianto, 2016). Perkembangan komunikasi pada anak autis berbeda satu sama lain. Beberapa diantaranya memiliki kemampuan verbal yang jelas, adapula 1

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 yang sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata (Maulana, 2014). Anak autis lebih senang untuk menyendiri dan cenderung menghindari kontak mata dengan orang lain, tidak senang bergaul atau bermain bersama teman-temannya, dan mereka memiliki kesenangan serta caranya sendiri dalam bermain. Permainan mereka sederhana dan kurang kreatif jika dibandingkan dengan anak normal (Maulana, 2014). Isu anak autis di Indonesia muncul sekitar tahun 1990. Autis mulai dikenal secara luas sejak tahun 2000. Seorang psikiater di Jakarta mengatakan bahwa jumlah pasien yang didiagnosa sebagai anak dengan gangguan autis dalam setahun tidak lebih dari 5 orang, sebelum tahun 1990. Kini autis berkembang sangat pesat (Yuwono, 2012). Maulana (2014) mengemukakan bahwa autis sendiri terjadi pada 5 dari setiap 10.000 kelahiran, dimana jumlah penderita laki-lakinya empat kali lebih besar jika dibandingkan dengan penderita wanita. Berdasarkan data bahwa angka penderita autis terus mengalami peningkatan, maka peran orangtua dalam pengasuhan anak autisme sangatlah penting untuk perkembangan perilaku anak. Orangtua yang memiliki anak autisme tentunya memiliki pola pengasuhan yang berbeda dengan anak yang normal. Orangtua harus memberikan perhatian dan pengawasan yang lebih dari biasanya agar dapat mengembangkan diri dan kepribadian anak autisme itu sendiri. Selain itu, orangtua pasti akan rela berkorban demi tumbuh kembang anaknya yang autis, misalnya dengan

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 keluar dari pekerjaan supaya bisa mendampingi anaknya yang autis (Widyatmoko, 2008). Berdasarkan penelitian dari Davis & Carter (2008, dikutip dari Fitriani & Ambarini, 2013) orangtua yang memiliki anak autis memiliki tingkat stress yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan orangtua yang memiliki anak dengan disabilitas lainnya. Orangtua yang memiliki anak autis dihadapkan pada berbagai macam permasalahan. Salah satunya adalah permasalahan dari diri anak dengan autisme itu sendiri. Masalah perilaku, misalnya tantrum, repetitif, dan agresif. Tantangan yang lainnya adalah kesulitan regulasi diri pada anak autis sehingga menyebabkan anak memiliki emosi yang negatif (Tomanik, 1993, dikutip dari Pisula, 2011). Selain kedua hal tersebut, ada pula tantangan berupa gangguan komunikasi dalah mengasuh anak yang autis. (Welenski, 2006, dikutip dari Pisula, 2011). Orangtua dengan anak autis juga dihadapkan pada situasi yang tidak mudah (Ginanjar, dikutip dari Yuwono, 2012). Masalah pertama yang timbul adalah masalah mengenai diagnosis autis. Orangtua yang mengetahui anaknya didiagnosis mengalami gangguan autis akan merasa terkejut dan tidak percaya. Mereka akan sesegera mungkin mencari informasi mengenai gangguan autis. Setelah didiagnosis mengalami gangguan autis, orangtua akan dihadapkan dengan permasalah

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 perkembangan anak, dimana anak akan mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Permasalahan yang dihadapi oleh orangtua tidak luput juga dari masalah sosial, seperti keluarga besar dan masyarakat sekitar. Tanggapan setiap orang akan berbeda-beda mengenai anak dengan autisme, ada yang bisa memahami, ada pula yang memandang anak autis dengan sebelah mata (Ginanjar, dikutip dari Yuwono, 2012). Orangtua yang memiliki anak autis pun dihadapkan dengan masalah finansial. Kebutuhan anak untuk mengikuti terapi tidaklah murah. Ratusan bahkan jutaan rupiah perlu dikeluarkan untuk melakukan terapi demi kesembuhan anak (Ginanjar, dikutip dari Yuwono, 2012). Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh orangtua tentu akan menimbulkan perasaan cemas. Kecemasan yang dialami oleh orangtua sering kali memiliki dampak bagi anggota keluarga, terutama anak. Kecemasan tersebut akan mempengaruhi keberlangsungan hidup dan fungsi individu, sehingga perlu untuk dihilangkan (Fitriani & Ambarini, 2013). Pada umumnya, kecemasan yang dirasakan oleh orangtua lebih kepada perasaan cemas akan perkembangan dan kesembuhan anaknya yang menderita autis. Selain itu, orangtua juga merasa cemas akan mengalami kesulitan menemukan sekolah dan pekerjaan yang bersedia menerima kondisi anak anaknya kelak. Kecemasan yang dialami orangtua yang mempunyai anak autis juga terkait dengan kesulitan anak untuk

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 bersosialisasi dengan lingkungannya dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan (Ariesta, 2016). Penelitian yang dilakukan oleh Jeniu, Widodo, dan Widiani (2017) menyatakan bahwa pengetahuan yang dimiliki orangtua sangat berpengaruh bagi kecemasan orangtua. Semakin tinggi pendidikan orangtua, maka tingkat kecemasan yang dirasakan orangtua semakin rendah. Kecemasan yang dirasakan orangtua mengarah kepada keberhasilan pendidikan anak. Hal tersebut terjadi karena orangtua sadar mengenai keterbatasan anak mereka (Hasanah, 2017). Pengetahuan orangtua mengenai autis sangat menentukan penerimaan diri orangtua terhadap anak yang mengalami gangguan autis (Rachmayanti, 2007). Orangtua yang memiliki anak autis juga sangat membutuhkan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Dukungan sosial yang diterima dari lingkungan sekitar dapat mengurangi perasaan cemas yang dirasakan oleh orangtua (Wahyuningjati, 2015). Orangtua, dalam hal ini ayah dan ibu, tentu saja memiliki perbedaan dalam hal kecemasan memiliki anak autis. Ayah yang berjenis kelamin laki-laki tentu berbeda dengan ibu yang berjenis kelamin perempuan. Cahyani, Wiyono, dan Ardiyani (2017) telah melakukan penelitian mengenai perbedaan kecemasan antara laki-laki dan perempuan. Penelitian tersebut menyatakan bahwa pada umumnya perempuan lebih rentan mengalami kecemasan. Kecemasan tersebut terjadi karena suatu

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 pengalaman baru yang terjadi dalam kehidupannya tidak selalu menyenangkan. Pada dasarnya kecemasan bersifat subjektif, sehingga pengalaman yang dialami oleh perempuan belum tentu dapat dirasakan oleh laki-laki. Perempuan lebih cenderung mudah dipengaruhi oleh tekanan dari lingkungan, sensitif, dan mudah menangis. Berbeda dengan laki-laki yang lebih aktif, rileks dan eksploratif (Cahyani, Wiyono, dan Ardiyani, 2017). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ratnasari dan Suleeman (2017), laki-laki dan perempuan memiliki regulasi emosi yang berbeda. Perempuan memiliki kecenderungan untuk larut dalam emosi dan kemudian mengekspresikannya. Sedangkan laki-laki cenderung menekan emosinya dan melupakan pengalaman emosi. Gambaran mengenai emosi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan menyebabkan adanya pula perbedaan kecemasan yang dialami oleh laki-laki dan perempuan. Selain itu, peran sebagai ayah dan ibu dapat menyebabkan kecemasan berlebih pada ibu, karena ibu memiliki banyak peran yang harus dijalankan. Berbeda dengan ayah yang berperan sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Disisi lain, beberapa orangtua, baik itu ayah atau ibu, merasa baik-baik saja ketika dihadapkan dengan peristiwa serupa. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dan membukitkan bagaimanakah perbedaan tingkat kecemasan antara ayah dan ibu yang memiliki anak autis. Kecemasan

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang diangkat oleh peneliti adalah: “Apakah terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara ayah dan ibu yang memiliki anak autis?” C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kecemasan yang dialami oleh ayah dan ibu yang memiliki anak autis. D. Manfaat Penelitian Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, manfaat yang diharapkan adalah : 1. Manfaat Teoretik Memberikan informasi mengenai perbedaan kecemasan yang dialami oleh ayah dan ibu yang memiliki anak autis sehingga dapat menambah wawasan pengetahuan psikologi pada umumnya dan khususnya pada psikologi klinis. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu para orangtua untuk melakukan refleksi dan evaluasi mengenai perbedaan kecemasan yang dialami. Sehingga diharapkan dapat menemukan solusi untuk mengurangi kecemasan yang dialaminya.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Kecemasan 1. Definisi Kecemasan Kecemasan merupakan suatu keadaan emosi yang menentang atau tidak menyenangkan yang meliputi interpretasi subjektif dan “arousal” atau rangsangan fisiologis (Ollendick, dalam Clerq, 1994). Jadi, kecemasan dikonseptualisasikan sebagai reaksi emosional yang umum dan nampaknya tidak berhubungan dengan keadaan atau stimulus tertentu, namun muncul tanpa sebab yang jelas (Clerq, 1994). Maramis (dalam Hasanah, 2017) mengungkapkan bahwa kecemasan merupakan salah satu unsur emosi yang terjadi pada individu dalam kehidupannya, karena suatu pengalaman baru yang dijumpai oleh individu dalam kehidupannya. Kecemasan berupa ketegangan, rasa tidak aman, khawatir, yang timbul akibat merasa akan terjadi suatu hal yang tidak menyenangkan. Kecemasan digambarkan sebagai state anxiety atau trait anxiety. State anxiety adalah reaksi sementara emosi yang timbul pada situasi tertentu, yang dirasakan sebagai ancaman. Trait anxiety menunjuk pada ciri atau sifat seseorang yang cukup stabil yang mengarahkan 8

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 seseorang untuk menginterpretasikan suatu keadaan sebagai ancaman (Cattell dan Scheier; Spielberger; dalam Clerq, 1994). Trait anxiety disebut dengan kecemasan kronis (Spielberger, dalam Clerq, 1994). Kartono (2011) menyatakan kecemasan merupakan perasaan campuran ketakutan dan keprihatinan mengenai masa-masa mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut. Menurut Freud (Boeree, 1997; Hall dan Lindzey, 1993), kecemasan merupakan perasaan yang timbul akibat terjadinya konflik antara „id‟ dan „superego‟ yang ingin menguasai „ego‟. Konflik ini akan mengakibatkan munculnya perasaan terancam dan terjepit, yang dinamakan kecemasan. Kecemasan merupakan pertanda atau peringatan akan suatu bahaya yang akan terjadi. Jika yang bersangkutan tidak melakukan tindakan yang tepat, maka bahaya itu akan meningkat sampai „ego‟ berhasil dikalahkan. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan merupakan salah satu unsur emosi yang terjadi karena suatu pengalaman baru yang dijumpai oleh individu dalam kehidupannya. Kecemasan berupa ketegangan, rasa tidak aman, khawatir, yang timbul akibat merasa akan terjadi suatu hal yang tidak menyenangkan. 2. Ciri-ciri orang yang mengalami kecemasan Menurut Supratiknya (2000), orang yang kecemasan akan menunjukkan simtom-simtom sebagai berikut: mengalami

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 a. Senantiasa diliputi ketegangan, rasa was-was, dan keresahan yang bersifat tidak menentu. b. Terlalu peka (mudah tersinggung) dalam pergaulan, dan sering merasa tidak mampu, minder, depresi dan serba sedih. c. Sulit untuk berkonsentrasi dan mengambil keputusan, serba takut salah. d. Rasa tegang menjadikan yang bersangkutan selalu bersikap teganglamban, bereaksi secara berlebihan terhadap rangsangan yang datang secara tiba-tiba atau yang tidak diharapkan, dan selalu melakukan gerakan-gerakan neurotik tertentu, seperti mematah-matahkan buku jari, mendeham dan sebagainya. e. Sering mengeluh bahwa ototnya tegang, khususnya pada bagian leher dan sekitar bahu atas, mengalami diare ringan yang kronik, sering buang air kecil, dan mengalami gangguan tidur berupa insomnia dan mimpi buruk. f. Mengeluarkan banyak keringat dan telapak tangannya sering basah. g. Sering berdebar-debar dan tekanan darahnya tinggi. h. Sering mengalami gangguan pernafasan dan berdebar-debar tanpa sebab yang jelas. i. Sering mengalami “anxiety attacks” atau tiba-tiba merasa cemas tanpa ada pemicu yang jelas. Gejalanya dapat berupa berdebar-debar, sulit bernafas, berkeringat, pingsan, badan terasa dingin, atau sakit perut.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 Hawari (dalam Tsuraya, 2013) mengemukakan bahwa beberapa simtom kecemasan yang sering dialami oleh individu yaitu: (1) memandang diri rendah, (2) sulit untuk merasa senang atau pemurung, (3) mudah menangis, (4) tidak percaya dengan diri sendiri, (5) mudah tegang dan gelisah, (6) menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan, (7) jantung sering berdebar-debar, (8) mulut terasa kering, dan (9) merasa takut mati. Menurut Langgulung (1986), kecemasan akan tampak dalam segi fisiologis dan psikologis. Ditinjau dari segi fisiologis, tubuh akan menunjukkan reaksi-reaksi tertentu. Adanya peningkatan emosi atau perasaan cemas, maka satu atau lebih organ akan meningkatkan fungsinya, yaitu peningkatan asam lambung selama kecemasan atau meningkatnya detak jantung, serta merasa ingin buang air atau sekresi keringat yang berlebihan. Dari segi psikologis, biasanya disertai dengan reaksi fisiologis misalnya adanya perasaan tegang, bingung, dan perasaan yang tidak menentu, merasa terancam, tidak berdaya, rendah diri, kurang percaya diri, tidak dapat memusatkan perhatian, juga seringkali tidak dapat mengontrol gerakan-gerakan. Selain itu, reaksi psikologis dapat berupa peningkatan dorongan untuk berperilaku efektif. Hurlock (1996) mengungkapkan bahwa tanda-tanda munculnya kecemasan adalah perasaan khawatir, gelisah, kurang percaya diri, merasa

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 tidak mampu, tidak sanggup menyelesaikan masalah, rendah diri, dan perasaan-perasaan lainnya yang tidak menyenangkan. Mahler (dalam Prastiti, 2005) mengemukakan bahwa kecemasan memiliki tiga komponen reaksi, antara lain: a. Komponen emosional, yaitu reaksi terhadap kecemasan yang berhubungan dengan perasaan individu terhadap suatu hal secara tidak sadar dan disertai ketakutan yang mendalam. Misalnya: terus menerus khawatir, gelisah, mudah tersinggung, tidak sabar dan sering mengeluh. b. Komponen kognitif, yaitu reaksi terhadap kecemasan berhubungan dengan perasaan khawatir individu yang terhadap konsekuensi yang mungkin terjadi. Apabila tingkat kekhawatiran tinggi, maka hal tersebut dapat mengakibatkan sulitnya berkonsentrasi, mudah lupa dan mudah panik. c. Komponen fisik, yaitu reaksi terhadap kecemasan yang berhubungan dengan reaksi tubuh. Misalnya: berkeringat secara berlebihan walaupun udara tidak panas, jantung berdebar secara cepat, tangan atau kaki terasa dingin, gangguan pencernaan, mulut dan tenggorokan akan terasa kering, muka terlihat pucat, frekuensi buang air kecil meningkat, dan susah tidur. Selain itu, individu yang cemas juga akan mudah terkejut dan merasa tegang.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kecemasan akan tampak dalam segi fisiologis dan psikologis. Segi fisiologis akan menunjukkan reaksi tubuh tertentu, yaitu: peningkatan asam lambung, meningkatnya detak jantung, merasa ingin buang air dan sekresi keringat yang berlebihan. Dari segi psikologis, biasanya disertai dengan reaksi fisiologis, yaitu: adanya perasaan tegang, bingung dan perasaan yang tidak menentu, merasa terancam, kurang percaya diri, serta tidak dapat memusatkan perhatian. 3. Penyebab kecemasan Menurut Supratiknya (2000), ada beberapa sebab munculnya kecemasan, antara lain: a. Modeling, yaitu mencontoh orangtua yang memiliki sifat tegang dan pencemas. b. Tidak mampu mengendalikan dorongan-dorongan yang dapat “membahayakan” atau mengancam ego, misalnya: rasa bermusuhan terhadap seseorang, dorongan-dorongan seks, dan sebagainya. Perasaan dan dorongan semacam itu akan direpresikan. c. Membuat keputusan-keputusan yang menimbulkan kecemasan. d. Munculnya kembali trauma psikologis yang pernah dialami di masa lalu. Selain itu, Kartono (2000) juga menjelaskan ada beberapa penyebab kecemasan, yaitu:

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 a. Ketakutan dan kecemasan terus menerus, yang disebabkan oleh kesusahan dan kegagalan yang bertubi-tubi. b. Represi terhadap macam-macam masalah emosional, akan tetapi tidak bisa berlangsung secara sempurna. c. Ada kecenderungan akan harga diri yang terhalang. d. Dorongan-dorongan seksual yang tidak mendapat kepuasan dan terhambat, sehingga mengakibatkan timbulnya banyak konflik batin. Menurut Collins (dalam Krismawarti, 2010), ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan kecemasan, antara lain: (1) ancaman, baik berupa ancaman terhadap tubuh, jiwa atau psikisnya ataupun eksistensinya; (2) konflik, yaitu adanya dua keinginan yang saling bertolak belakang; (3) ketakutan, yaitu takut akan suatu kegagalan; dan (4) kebutuhan yang tidak terpenuhi. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kecemasan disebabkan oleh adanya ancaman, konflik, ketakutan, dan kebutuhan yang tidak terpenuhi. Orangtua yang memiliki anak autisme memiliki kecemasan akan masa depan anak mereka, seperti kesembuhan anak, keberhasilan pendidikan anak, masalah pubertas pada anak, pekerjaan anak, dan kemandirian anak. Orangtua merasa khawatir dan bingung akan masa depan anaknya, biaya finansial yang dikeluarkan juga

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 merupakan kecemasan yang dialami oleh para orangtua yang memiliki anak autisme (Ariesta, 2016; Hasanah, 2017; Tussofa, 2015). B. Ayah dan ibu 1. Peran ayah dan ibu Ayah dan ibu biasa disebut dengan orangtua. Orangtua identik dengan orang yang membimbing anak dalam lingkungan keluarga. Orangtua memiliki peranan yang penting dalam kehidupan pertama anak. Sebab anak mulai bergaul untuk pertama kalinya dalam lingkungan keluarganya sendiri dan anak mulai mengenal lingkungan di luar keluarganya dari lingkungan keluarga sendiri. Menurut Hasbullah (dalam Pancawati, 2013), orang tua harus dapat membantu dan mendukung terhadap segala usaha yang dilakukan oleh anaknya serta dapat memberikan pendidikan informal guna membantu pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut serta untuk mengikuti atau melanjutkan pendidikan pada program pendidikan formal di sekolah. Orangtua mendidik anak, agar anak tersebut memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang benar dan baik, penampilan, disiplin dan kebebasan (Merianto, 2016). Dalam hal ini, ayah dan ibu memiliki perannya masing-masing dalam keluarga. Peran tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 a. Peran ayah Gunarsa (2001) menjelaskan peran ayah secara umum sebagai pencari nafkah untuk keluarga. Ayah juga memiliki peran sebagai suami, pendidik anak, dan sebagai pelindung keluarga. Santrock (2002) mengemukakan bahwa ayah berperan sebagai (1) penanggungjawab akan pengajaran nilai-nilai moral, (2) sebagai model maskulinitas pada anaknya, (3) mengontrol dan mendisiplinkan anak, dan (4) aktif dalam mengasuh dan memelihara anak. b. Peran ibu Menurut Gunarsa (2001), ibu memiliki banyak peran bagi keluarga, yaitu: (1) memenuhi kebutuhan fisiologis dan psikologis, (2) merawat dan mengurus keluarga, (3) sebagai pendidik yang mampu mengatur dan mengendalikan anak, (4) sebagai contoh dan teladan, (5) sebagai orang yang memberikan rangsangan dan pembelajaran bagi anak, dan (7) sebagai istri. Sedangkan Kartono dan Kartini (1992) menjelaskan bahwa seorang ibu harus mampu untuk mendidik dan menciptakan iklim psikis yang gembira, bahagia dan bebas sehingga suasana rumah menjadi semarak dan memberikan rasa aman dan penuh kasih sayang.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 2. Dinamika psikologis sebagai ayah dan ibu Ayah dan ibu yang memiliki anak autisme memang dihadapkan dalam situasi yang tidak mudah. Kehadiran anak yang menyandang autisme dalam keluarga memberikan dampak yang besar untuk keluarga itu sendiri. Sejak anak mulai didiagnosa menyandang autisme, orangtua akan mengalami pergolakan dalam diri masing-masing. Tidak jarang orangtua yang saling menyalahkan satu sama lain atas masa lalu mereka, atau suami yang menyalahkan istri karena melahirkan anak dengan kondisi yang demikian (Yuwono, 2012). Perkembangan fisik anak autisme pada umumnya sama dengan anak seusianya. Lain halnya dengan perkembangan motorik, kognitif dan sosialnya. Pada usia awal 1-5 tahun, anak normal pada umumnya sudah memiliki ketertarikan dengan benda-benda di sekitarnya. Misalnya dengan melakukan trial and error dalam bermain dengan permainan menjodohkan bentuk. Balita beberapa kali mencoba untuk memasangkan benda ke lubang yang memiliki bentuk sama. Maka setelah beberapa kali percobaan akhirnya berhasil (Papalia, Olds, dan Feldman, 2008) . Namun pada anak autisme, tidak demikian. Anak autisme cenderung melakukan hal-hal yang diulang-ulang. Anak dengan gangguan autisme juga cenderung lebih agresif daripada anak normal. Perilaku agresif yang ditunjukkan oleh anak autisme terkadang berlebihan dan penyebabnya terkesan sangat sederhana (bagi kita) (Yuwono, 2012).

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Beberapa riset menunjukkan bahwa orangtua yang memiliki anak autisme cenderung cemas akan kemampuan berbahasa dan sosial. Kemampuan berbahasa dan sosial anak normal sangat berbeda dengan anak autisme. Anak normal pada umunya sudah dapat berbahasa dengan baik pada usia sekitar 5 tahun ke atas. Dengan kemampuan berbahasa yang baik, maka anak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Lain halnya dengan anak autisme yang cenderung menutup diri dan tidak tertarik dengan orang lain (Yuwono, 2012). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak autisme yang memasuki masa remaja memiliki tingkat agresifitas yang tinggi. Mereka sangat tempramen dan emosional serta menunjukkan beberapa perilaku seksual (Widyasti, 2009). Pada usia remaja, anak umumnya sudah memasuki masa pubertas, dimana kemampuan seksual anak sudah matang. Pada anak perempuan ditandai dengan menstruasi dan anak lakilaki ditandai dengan mimpi basah. Remaja normal memiliki kemampuan untuk mengatasi hal tersebut dengan tepat. Lain halnya dengan anak autisme yang belum paham mengenai apa itu menstruasi dan mimpi basah. Menurut Ginanjar (dalam Yuwono, 2012), masalah yang dihadapi oleh orangtua yang memiliki anak autisme adalah sebagai berikut:

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 a. Saat menerima diagnosis anak. Ketika ayah dan ibu mengetahui hasil diagnosis, mereka akan merasa terkejut dan tidak percaya. Beberapa diantaranya akan menolak diagnosis dan tidak memperbolehkan melakukan terapi, atau sebaliknya, sesegera mungkin mencari terapi yang cepat agar mempercepat proses penyembuhan anaknya. b. Gangguan kesehatan anak. Gangguan kesehatan ini akan memerlukan perhatian dan finansial yang besar. Ayah dan ibu merasa stress dalam menghadapi kebutuhan perhatian dan financial tersebut. Beberapa ibu bahkan rela untuk berhenti bekerja supaya dapat memenuhi kebutuhan perhatian untuk anaknya. c. Menghadapi keluarga besar dan masyarakat. Tidak jarang orangtua bertengkar atas kondisi anaknya yang demikian. Terkadang orangtua merasa malu dan tertekan terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga orangtua menyembunyikan anaknya dari masyarakat sekitar. Selain itu, perlakuan masyarakat yang tidak tepat juga akan menambah beban orangtua. Hal tersebut akan meningkatkan stress pada keluarga. d. Masalah perkawinan. Banyak perkawinan yang menghadapi krisis karena pasangan suami istri tidak memiliki kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah yang baik.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 e. Anak autisme yang memasuki masa sekolah/remaja. Kebutuhan dan perubahan aspek biologis, akademis dan tuntutan sosial akan semakin kompleks. Hal tersebut akan membuat orangtua merasa terbebani akan tanggungjawabnya. Keterbatasan anak autisme dalam beradaptasi dan bersosialisasi akan memunculkan emosi tersendiri. Berdasarkan hasil penelitian dan literature oleh TEACCH (Treatment and Education of Autismetic and Related Communication Handicapped Children) di Departement of Psychiatry di University of North Carolina School of Medicine (dalam Yuwono, 2012), orangtua yang memiliki anak autisme sangat rentan akan stress dan depresi. Selain itu, keadaan yang tidak sesuai dengan harapan akan menyebabkan orangtua menjadi cemas dan semakin tertekan. Menurut hasil penelitian, ada sepuluh hal yang dapat mempengaruhinya, yaitu: (1) diagnosa yang membingungkan, (2) masa perkembangan anak yang tidak biasa, (3) ketidak pastian perkembangan anak, (4) komunikasi sosial yang tidak normal, (5) fisik anak yang tidak normal, (6) perilaku anak di tempat umum, (7) pengaruh genetik, (8) hubungan professional, (9) terapi-terapi yang belum menjamin kesembuhan anak, dan (10) dukungan terapisterapis.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 C. Autisme 1. Definisi autisme Kata autisme berasal dari bahasa Yunani, “autos” yang berarti “self” atau diri sendiri. Istilah autisme pertama kali digunakan pada tahun 1906 oleh seorang psikiater Swiss, Eugen Bleuler, untuk merujuk pada gaya berpikir yang aneh pada penderita skizofrenia. Cara berpikir autistik adalah kecenderungan untuk memandang diri sendiri sebgai pusat dari dunia, dan percaya bahwa kejadian-kejadian eksternal mengacu pada diri sendiri. Pada tahun 1943, psikiater lain, Leo Kanner, menerapkan diagnosis “autisme infantil awal” kepada sekelompok anak yang terganggu yang tampaknya tidak dapat berhubungan dengan orang lain, seolah-olah mereka hidup dalam dunia mereka sendiri. (Nevid, Rathus, & Greene. 2005). Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan pervasif yang ditandai dengan kegagalan untuk berhubungan dengan orang lain, terbatasnya kemampuan berbahasa, perilaku motorik yang terganggu, gangguan intelektual, dan tidak menyukai perubahan dalam lingkungan (Nevid, Rathus, & Greene. 2005). Gangguan autisme terjadi pada anak berusia kurang dari tiga tahun. Gangguan ini merupakan gangguan perkembangan anak yang ditandai dengan ketidakmampuan individu untuk berkomunikasi dan terhubung secara emosional dengan orang lain (Halgin, 2011).

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 Berdasarkan uraian di atas, autisme merupakan suatu gangguan yang ditandai dengan kegagalan berhubungan dengan orang lain, terbatasnya kemampuan berbahasa, perilaku motorik yang terganggu, gangguan intelektual, dan tidak menyukai perubahan dalam lingkungan. 2. Gejala autisme Seorang penyandang autisme lebih senang menyendiri, dan tidak ingin berhubungan dengan dunia luar. Mereka juga cenderung memiliki kesulitan dalam hal berkomunikasi dengan orang lain, selain itu juga memiliki perilaku yang stereotip (Nevid, Rathus, & Greene. 2005). Menurut Prasetyono (dalam Merianto, 2016), anak autis memiliki gambaran unik dan karakter yang berbeda dari anak lainnya. Karakteristik itu antara lain: a. Anak sangat selektif terhadap rangsangan, sehingga kemampuan anak menangkap isyarat yang berasal dari lingkungan sangat terbatas. b. Kurang motivasi. Anak tidak hanya asyik sendiri, namun cenderung tidak termotivasi untuk menjelajahi lingkungan baru atau memperluas lingkup perhatian mereka. c. Memiliki respon stimulasi diri tinggi. Anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk merangsang diri sendiri, misalnya bertepuk tangan, mengepak-ngepakkan tangan, dan memandangi jari jemari, sehingga kegiatan tersebut tidak produktif.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Autisme didiagnosis dengan menggunakan parameter triad of impairments, yaitu tiga area kesulitan belajar dan berkomunikasi seorang anak yang tampak dalam perkembangan anak tersebut sebelum dia berusia tiga tahun (Christie, Newson, Prevezer, dan Chandler, 2009). Ketiga area yang dimaksud antara lain: a. Kesulitan Berbahasa dan Berkomunikasi Area ini meliputi kemampuan anak untuk memahami segala bentuk bahasa dan komunikasi. Bukan hanya bahasa lisan yang terpengaruh, tetapi juga gesture (gerak isyarat), ekspresi wajah, dan segala bentuk bahasa tubuh. Anak penyandang autisme memiliki kemampuan pragmatis yang sangat rendah, dan ketika mereka memasuki tahap awal bicara, mereka hampir selalu memberikan “label” untuk hal apapun yang mereka lihat atau inginkan dan mengulang apa yang mereka dengar dari orang lain, seringkali tanpa arti, dan bukan melibatkan diri dalam berdialog dengan orang lain. b. Kesulitan dalam Interaksi Sosial dan Pemahaman terhadap Sekitarnya Kesulitan bersosialisasi pada anak autisme lebih disebabkan oleh kurangnya “pemahaman sosial” dan bukan “ketertarikan sosial”. Beberapa anak tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain, terutama dalam hal bermain, walaupun mereka tidak tahu

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 bagaimana melakukan permainan itu dengan benar. Selain itu, kesulitan anak dalam berinteraksi dengan sekitarnya disebabkan oleh kurangnya rasa empati sosial, sehingga anak sulit memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang lain. Ciri lain adalah tidak adanya kontak mata dengan orang lain. Anak autisme mengalami kesulitan untuk fokus pada sesuatu. c. Kurangnya fleksibilitas dalam berpikir dan bertingkah laku. Aspek ini muncul sesuai dengan perkembangan usianya. Mereka senang menirukan gerakan tertentu, tertarik akan pola-pola tertentu atau bersikeras melakukan kegiatan rutinnya. Jika mereka tidak mendapat apa yang mereka inginkan, maka mereka akan menjadi sangat marah dan panik. Berdasarkan uraian di atas, anak dengan gangguan autisme memiliki ciri sebagai berikut: tidak mampu menjalin hubungan dengan orang lain, tidak mampu berkomunikasi dengan baik, cenderung hidup dalam dunianya sendiri, dan tidak mampu mengendalikan dorongan yang dirasakan. D. Perbedaan kecemasan ayah dan ibu yang memiliki anak autisme Menurut Gunarsa (1991), perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan dalam beberapa aspek. Perempuan memiliki aspek-aspek emosionalitas, rasio, dan suasana hati yang terintegrasi menjadi suatu kesatuan sehingga logika berpikir perempuan lebih didasarkan kepada ketiga

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 hal tersebut. Oleh karena itu, ketika perempuan berpikir, maka akan melibatkan perasaan dan suasana hatinya. Hal tersebut menyebabkan perempuan kesulitan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang dialaminya. Lain halnya dengan laki-laki. Laki-laki lebih menunjukkan batasan antara pikiran, rasio, dan emosionalitas. Jalan pikiran laki-laki cenderung tidak dikuasai oleh emosi, perasaan maupun suasana hati, sehingga laki-laki lebih memiliki inisiatif, keras, dan tegas. Perempuan lebih sulit menyelesaikan masalah sehingga dapat memicu timbulnya kecemasan berlebihan dalam dirinya. Sedangkan laki-laki tidak mudah mengalami kecemasan karena tidak melibatkan perasaan dan suasana hatinya dalam menyelesaikan suatu masalah. Menurut Daradjat (1996), kecemasan dapat dipengaruhi oleh jenis kelamin. Perempuan pada dasarnya memiliki sifat yang feminin, peduli dan perhatian. Perempuan cenderung melibatkan rasa emosional dan menganggap bahwa penerimaan dari lingkungan sangat dibutuhkan. Berbeda dengan lakilaki. Laki-laki memiliki sifat yang maskulin, cenderung lebih memikirkan pencapaian tujuan, sehingga kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Selain itu, Dewi (2010) juga mengungkapkan bahwa perempuan memiliki kecemasan berlebih dibandingkan dengan laki-laki. Hal tersebut disebabkan karena laki-laki memiliki sifat yang lebih rileks dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, berbeda dengan perempuan yang lebih sensitif dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Perempuan cenderung kurang berani mengambil risiko

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 ketika berhadapan dengan lingkungan dan sangat dipengaruhi oleh tekanan dari lingkungan sekitarnya. Hal tersebut berbeda dengan laki-laki yang lebih berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya, sehingga laki-laki kurang rentan terhadap kecemasan. Berdasarkan hasil penelitian dan literature oleh TEACCH (Treatment and Education of Autismetic and Related Communication Handicapped Children) di Departement of Psychiatry di University of North Carolina School of Medicine (dalam Yuwono, 2012), orangtua yang memiliki anak autisme sangat rentan akan stress dan depresi. Selain itu, keadaan yang tidak sesuai dengan harapan akan menyebabkan orangtua menjadi cemas dan semakin tertekan. Selain itu, Merianto (2016) mengemukakan bahwa orangtua dengan anak autisme memiliki banyak tantangan dalam hidupnya. Pertama dalah penolakan, baik itu berasal dari diri sendiri, maupun dari lingkungan. Kedua, besarnya biaya financial yang harus dikeluarkan untuk pengobatan anaknya. Dan ketiga, masih terbatasnya klinik terapi atau lembaga pendidikan yang menerima anak dengan gangguan autisme. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kondisi yang terjadi dalam diri anak autisme dapat membuat orangtua merasa cemas. Ayah dan ibu memiliki kecemasan yang berbeda satu sama lain. Menurut Gunarsa (2001), seorang ibu memiliki kedekatan yang lebih dengan anak, karena pada hakikatnya ibu memiliki peran untuk merawat dan mengurus keluarga. Biasanya perempuan berpikir sesuai dengan suasana hati dan emosi, sehingga

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 perempuan akan lebih mudah cemas dibandingkan dengan laki-laki. Seorang ibu akan memiliki lebih banyak waktu dengan anak dibandingkan dengan ayah. Ayah pada umumnya tidak memiliki banyak waktu dengan anak karena harus bekerja mencari nafkah. Sehingga hal tersebut akan mempengaruhi kecemasan ayah terhadap anaknya.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 E. Kerangka berpikir Kecemasan Ayah dan Ibu yang memiliki anak autisme Anak Autisme Anak yang mengalami suatu gangguan perkembangan dan ditandai dengan kegagalan untuk berhubungan dengan orang lain, terbatasnya kemampuan berbahasa, perilaku motorik yang terganggu, gangguan intelektual, dan tidak menyukai perubahan dalam lingkungan. Membutuhkan perhatian dan penanganan khusus. IBU AYAH Perempuan berpikir, dengan melibatkan perasaan dan suasana hati. Laki-laki cenderung berpikir dengan keras, lebih memiliki inisiatif, dan tegas. (Gunarsa, 1991) (Gunarsa, 1991) Perempuan Laki-laki Cenderung lebih cemas Kurang merasa cemas F. Hipotesis Berdasarkan teori di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada perbedaan kecemasan antara ayah dan ibu yang memiliki anak autisme.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis penelitian Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriptif memiliki tujuan untuk menganalisis data sampai pada taraf deskriptif dalam menganalisis dan menyajikan data agar terlihat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan, serta menggambarkan secara sistematik mengenai populasi atau suatu bidang tertentu (Azwar, 2001). Metode penelitian ini digunakan untuk menjelaskan perbedaan kecemasan ayah dan ibu yang memiliki anak autis. B. Variabel penelitian Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah sebagai berikut: Variabel Bebas : Jenis Kelamin Variabel Terikat : Kecemasan C. Definisi operasional variabel penelitian 1. Jenis kelamin Jenis kelamin yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ayah berjenis kelamin laki-laki dan ibu berjenis kelamin perempuan. 29

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 Dimana ayah dan ibu merupakan pasangan suami istri yang memiliki anak dengan gangguan autis. 2. Kecemasan Kecemasan merupakan salah satu unsur emosi yang terjadi karena suatu pengalaman baru yang dijumpai oleh individu dalam kehidupannya. Kecemasan berupa ketegangan, rasa tidak aman, khawatir, yang timbul akibat merasa akan terjadi suatu hal yang tidak menyenangkan. Kecemasan disebabkan oleh adanya ancaman, konflik, ketakutan, dan kebutuhan yang tidak terpenuhi. Kecemasan akan tampak dalam segi fisiologis dan psikologis. Segi fisiologis akan menunjukkan reaksi tubuh tertentu, yaitu: peningkatan asam lambung, meningkatnya detak jantung, merasa ingin buang air dan sekresi keringat yang berlebihan. Dari segi psikologis, biasanya disertai dengan reaksi fisiologis, yaitu: adanya perasaan tegang, bingung atau perasaan yang tidak menentu, merasa terancam, tidak berdaya, kurang percaya diri, dan tidak dapat memusatkan perhatian. Dalam penelitian ini, kecemasan yang dirasakan oleh ayah dan ibu yang memiliki anak autis akan diukur dengan menggunakan skala kecemasan. Skala kecemasan yang digunakan adalah Skala Likert, yaitu suatu skala yang meminta persetujuan subjek dari pernyataan-pernyataan yang disediakan. Semakin tinggi skor menunjukkan tingkat kecemasan yang semakin tinggi.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 D. Subjek penelitian Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasangan suami istri yang memiliki anak autis yang berada di Yogyakarta. Teknik pengambilan sampling dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling atau sampling bertujuan. Untuk mengetahui data pribadi masing-masing subjek maka disediakan isian mengenai biodata responden (seperti jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, jumlah anak yang menderita autis, usia anak, dan usia anak terdeteksi autis). E. Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penyebaran skala, yaitu: skala kecemasan ayah dan ibu yang memiliki anak autis. Pengisian skala merupakan suatu metode pengumpulan data yang berdasar pada respon tertulis dari subjek terhadap sejumlah pertanyaan yang telah disusun sebelumnya (Hadi, 2004). Metode penskalaan yang digunakan adalah Skala Likert, yaitu suatu skala yang meminta persetujuan subjek dari pernyataan yang disediakan (Azwar, 2011). Skala Likert yang digunakan dalam penelitian ini memiliki 4 pilihan jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Skala yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah skala kecemasan yang dilihat dari aspek fisiologis dan psikologis. Item-item dalam skala terbagi menjadi dua, yaitu (1) item favorable yang sesuai

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 dengan variabel, dan (2) item unfavorable yang tidak sesuai dengan variabel. Berikut ini disajikan tabel distribusi item-item skala kecemasan ayah dan ibu yang memiliki anak autis: Tabel 1 Blue Print Skala Kecemasan No. 1 2 Aspek Fisiologis Psikologis Nomor Item Favorable Unfavorable Total Presentase 40% 1, 3, 10, 19, 2, 9, 11, 23, 20 24, 37, 38, 25, 28, 31, 35, item 41, 47, 49 40, 45 5, 6, 8, 12, 4, 7, 13, 16, 30 14, 15, 17, 18, 22, 29, 32, item 20, 21, 26, 34, 39, 42, 43, 27, 30, 33, 44, 48, 50 60% 36, 46 Jumlah 25 item 25 item 50 100% item Skor yang diberikan pada masing-masing item tentu berbeda, tergantung pada jawaban subjek. Untuk pernyataan yang favorable, jawaban sangat sesuai mendapatkan skor 4, sesuai mendapatkan skor 3, tidak sesuai mendapatkan skor 2, dan sangat tidak sesuai mendapatkan skor 1. Sebaliknya, untuk item yang bersifat unfavorable, jawaban sangat sesuai mendapatkan skor 1, sesuai mendapatkan skor 2, tidak sesuai mendapatkan skor 3, dan sangat tidak sesuai mendapatkan skor 4.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 F. Alat pengumpul data 1. Validitas Azwar (2011) mengatakan bahwa validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Berdasarkan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini maka validitas yang digunakan adalah validitas isi. Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi melalui pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau professional judgement (Azwar, 2003). Aspek isi tes yang perlu dievaluasi meliputi (1) sufficiency, yaitu apakah isi tes tersebut memadai; (2) clarity atau kejelasan, yaitu apakah ranah yang dituliskan sesuai dengan yang akan diukur dan tidak tercampur dengan ranah yang lainnya; (3) relevance atau relevansi, yaitu apakah ranahnya sesuai dengan apa yang akan diukur; (4) kesesuaian antara item-item dengan tugas-tugas yang dpakai sebagai stimulus dalam tes tersebut dengn definisi konstruk yang terwakili oleh ranah isi spesifik yang hendak diukur; (5) ada tidaknya bias dan (6) kemungkinan terjadinya varian yang tidak relevan dengan konstruk dan kurang memadainya keterwakilan konstruk yang hendak diukur (Supratiknya, 2014). 2. Reliabilitas Azwar (2003) menyatakan bahwa reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 dan ability. Reliabilitas merupakan tingkat konsistensi dalam suatu pengukuran. Sehingga pengukuran tersebut dapat dipercaya (Azwar, 2003). Dalam aplikasinya, reliabilitas dinyatakan dalam koefisien reliabilitas (rxx) berada pada rentang angka 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi nilai koefisien reliabilitasnya (mendekati angka 1,00), maka semakin tinggi kepercayaan terhadap hasil alat ukur. Reliabilitas alat penelitian ini diukur dengan menggunakan program komputer SPSS for Windows versi 16.0. Hasil koefisien reliabilitas yang diperoleh adalah 0,975. Hal tersebut mengindikasikan bahwa alat ukur yang berupa skala tentang kecemasan ini dapat dipercaya. 3. Seleksi item Item-item yang telah disusun kemudian direview dan diseleksi ulang untu kemudian direvisi lagi. Tujuan dilakukannya seleksi item adalah untuk melihat sejauhmana kualitas dari item yang dituliskan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyeleksi item adalah: (1) ketepatan item, (2) relevansinya dengan tabel spesifikasi, (3) penggunaan kalimat yang efektif, (4) tata bahasa dan ejaan, dan (5) pilihan kata (Supratiknya, 2014). Setelah melakukan uji coba, maka diperlukan analisis item. Analisis item digunakan untuk melihat apakah item-item tersebut memiliki kualitas yang baik atau buruk. Untuk itu diperlukan penghitungan koefisien korelasi item-total. Pengujian dilakukan

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 dengan cara menghitung korelasi item-total dengan menggunakan batasan 0,30 yang berarti item dengan nilai di atas 0,30 dianggap baik, sedangkan item dengan skor di bawah 0,30 merupakan item yang buruk atau gugur (Azwar, 2003). Untuk menguji reliabilitas dari setiap item dalam skala kecemasan ini, peneliti melakukan analisis statistik dengan menggunakan program komputer SPSS for Windows versi 16.0 dengan taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil analisis, dari 50 item skala kecemasan dengan 60 subjek penelitian diperoleh korelasi itemtotal berkisar antara -0,550 hingga 0,954. Setelah dilakukan seleksi, didapati 10 item yang gugur dan 40 item yang lolos seleksi. Item yang lolos memiliki korelasi antara 0,333 hingga 0,954. Berikut disajikan tabel spesifikasi untuk item yang lolos dan yang gugur: Tabel 2 Tabel Distribusi Skala Kecemasan setelah seleksi item Nomor Item No. Aspek Favorable Unfavorable 1 2 Fisiologis Psikologis 1, 3, (10), 19, 2, 9, 11, 23, 24, 37, (38), 25, 28, (31), 41, 47, (49) 35, 40, (45) 5, 6, 8, 12, 14, (4), 7, 13, 16, (15), (17), 20, 18, 22, 29, 32, 21, 26, 27, 30, 34, (39), 42, 33, 36, 46 43, 44, (48), Total Presentas e 20 item 40% 30 item 60% 50 item 100% 50 Jumlah 25 item 25 item Keterangan tabel : (…) = item yang gugur

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 Tabel 3 Tabel Distribusi Skala Kecemasan setelah uji coba Nomor Item No. Aspek Favorable Unfavorable 1 Fisiologis 1, 3, 19, 24, 2, 9, 11, 23, 37, 41, 47 25, 28, 35, Total Presentase 15 item 40% 25 item 60% 40 item 100% 40 2 Psikologis 5, 6, 8, 12, 14, 7, 13, 16, 18, 20, 21, 26, 27, 22, 29, 32, 30, 33, 36, 46 34, 42, 43, 44, 50 Jumlah 20 item 20 item G. Metode analisis data 1. Uji asumsi Sebelum penghitungan uji hipotesis, maka diperlukan uji asumsi untuk melihat apakah data yang diperoleh memenuhi syarat penggunaan analisis uji-t atau tidak. Selain itu, uji asumsi dilakukan supaya kesimpulan yang dihasilkan tidak menyimpang. Uji asumsi yang dilakukan meliputi: a. Uji normalitas Uji normalitas merupakan metode dalam statistika yang digunakan untuk melihat apakah data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS for Windows versi 16.0. Pada uji normalitas, data dianggap memiliki sebaran normal jika

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 memiliki nilai p > 0,05 dan dianggap tidak memiliki sebaran normal jika nilai p < 0,05 (Santosa, 2010). b. Uji homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah populasi homogen sehingga sampel yang diambil mewakili keseluruhan populasi. Uji homogenitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS for Windows versi 16.0. 2. Uji hipotesis Uji hipotesis digunakan untuk mencari tahu apakah terdapat perbedaan kecemasan antara ayah dan ibu yang memiliki anak autis. Maka metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah. semua penghitungan dilakukan dengan program komputer SPSS for Windows versi 16.0.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Persiapan Penelitian Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan uji coba skala terlebih dahulu mengenai kecemasan orangtua yang memiliki anak autis. Dalam membuat skala, peneliti menentukan indikator kecemasan berdasarkan teori yang telah ditentukan sebelumnya. Setelah indikator kecemasan tersusun, kemudian peneliti menuliskan item-item pernyataan yang sesuai dengan indikator. Peneliti menuliskan 50 pernyataan yang sudah sesuai dengan indikator dan sudah divalidasi oleh expert judgement. Skala tersebut kemudian disebar kepada 30 orangtua dari anak autis di Sekolah Lanjutan Autis Fredofios Yogyakarta. B. Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai dari tanggal 21 April 2018 sampai dengan 12 Mei 2018 dengan menyebarkan skala. Skala diberikan secara langsung kepada subjek. Peneliti mendatangi beberapa sekolah autis di Yogyakarta untuk menyebarkan skala bagi orangtua siswa. Beberapa sekolah menolak untuk membantu peneliti dalam melakukan penelitian. Pihak sekolah beralasan bahwa sebelumnya ada beberapa mahasiswa yang juga mengadakan penelitian dengan cara membagikan angket kepada orangtua siswa. Namun orangtua siswa dirasa kurang kooperatif karena 38

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 banyak angket yang tidak kembali lagi. Oleh karena itu, peneliti menemui subjek secara langsung. Skala yang dibagikan kepada subjek kemudian dibawa pulang untuk diisi, kemudian dikembalikan kepada peneliti pada hari berikutnya. C. Deskripsi Subjek Penelitian Subjek yang diperoleh dalam penelitian ini sebanyak 61 pasang suami istri (112 orang), dengan 6 subjek try out terpakai. Setelah itu, dilakukan pengukuran berdasarkan data demografik subjek yaitu: usia, pendidikan terakhir, jumlah anak autis, usia anak autis, dan usia anak terdeteksi autis. Namun ada beberapa subjek yang tidak mengisi dengan lengkap, sehingga menghasilkan data sebagai berikut: Pertama, peneliti mendiskripsikan data subjek berdasarkan usia subjek penelitian. Berikut tabel deskripsi subjek berdasarkan usia: Tabel 4 Deskripsi Subjek Ayah dan Ibu Berdasarkan Usia Rentang Usia 30 - 39 tahun 40 - 49 tahun 50 - 59 tahun ≥ 60 tahun TOTAL Ayah Jumlah Presentase 8 13,11 % 15 24,60 % 33 54,10 % 5 8,19 % 61 100 % Ibu Jumlah 12 34 15 0 61 Presentase 19,67 % 55,73 % 24,60 % 0 100% Hasil tabel di atas menunjukkan bahwa dalam penelitian ini usia ayah pada rentang usia 50 – 59 tahun memiliki presentase tertinggi, dengan jumlah subjek sebanyak 33 orang. Jumlah subjek pada rentang usia

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 40 – 49 tahun sebanyak 15 orang. Jumlah subjek pada rentang usia 30 – 39 tahun sebanyak 8 orang. Dan usia subjek yang lebih dari 60 tahun sebanyak 5 orang. Usia ibu pada rentang usia 40 – 49 tahun memiliki presentase tertinggi, dengan jumlah subjek sebanyak 34 orang. Jumlah subjek pada rentang usia 50 – 59 tahun sebanyak 15 orang. Jumlah subjek pada rentang usia 30 – 39 tahun sebanyak 12 orang. Dan tidak ada subjek ibu dengan usia lebih dari 60 tahun. Deksripsi subjek berdasarkan tingkat pendidikan terakhir dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5 Deskripsi Subjek Ayah dan Ibu Berdasarkan Pendidikan Terakhir Ibu Ayah Pendidikan Terakhir Jumlah Presentase Jumlah Presentase SMA / SMK D3 S1 S2 Tidak Diketahui TOTAL 4 9 35 11 2 61 6,55 % 14,75 % 57,37 % 18,03 % 3,30 % 100% 6 15 34 3 3 61 9,83 % 24,58 % 55,73 % 4,93 % 4,93 % 100% Hasil tabel di atas menunjukkan bahwa dalam penelitian ini tingkat pendidikan terakhir ayah yang memiliki presentase tertinggi adalah S1, dengan jumlah subjek sebanyak 35 orang. Jumlah subjek pada tingkat pendidikan terakhir S2 sebanyak 11 orang. Jumlah subjek pada tingkat pendidikan terakhir D3 sebanyak 9 orang. Tingkat pendidikan terakhir

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 SMA / SMK sebanyak 4 orang. Dan subjek ayah yang tidak menjawab sebanyak 2 orang. Tingkat pendidikan terakhir ibu yang memiliki presentase tertinggi adalah S1, dengan jumlah subjek sebanyak 34 orang. Jumlah subjek pada tingkat pendidikan terakhir D3 sebanyak 15 orang. Jumlah subjek pada tingkat pendidikan terakhir SMA / SMK sebanyak 6 orang. Subjek ibu dengan tingkat pendidikan terakhir S2 sebanyak 3 orang. Dan 3 orang lainnya tidak menjawab tingkat pendidikan terakhirnya. Ketiga, peneliti mendiskripsikan subjek berdasarkan jumlah anak yang autis. Berikut adalah tabel deskripsi subjek berdasarkan jumlah anak yang autis dalam satu keluarga: Tabel 6 Deskripsi Subjek Berdasarkan Jumlah Anak yang Menderita Autis dalam Satu Keluarga Jumlah Anak Jumlah Presentase Autis 1 57 93,44 % 2 4 6,56 % TOTAL 61 100 % Hasil dari deskripsi di atas menunjukkan bahwa subjek rata-rata hanya memiliki 1 anak yang menderita autis, yaitu sebanyak 57 pasangan suami istri. Sementara subjek yang memiliki 2 anak autis sebanyak 4 pasangan suami istri. Keempat, peneliti mendeskripsikan subjek berdasarkan usia anak autis. Berikut adalah tabel deskripsi subjek berdasarkan usia anak autis:

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Tabel 7 Deskripsi Subjek Berdasarkan Usia Anak Autis dalam Satu Keluarga Usia Jumlah Presentase Anak Autis 1 - 5 tahun 19 29,23 % 6 - 10 tahun 30 46,15 % ≥ 11 tahun 16 24,62 % TOTAL 65 100% Hasil deskripsi menunjukkan bahwa subjek paling banyak memiliki anak autis dengan rentang usia 6 – 10 tahun, yaitu sebanyak 30 anak. Rentang usia anak autis 1 – 5 tahun sebanyak 19 anak. Rentang usia anak autis di atas 11 tahun sebanyak 16 anak. Kelima, peneliti mendiskripsikan subjek berdasarkan usia anak terdeteksi autis. Berikut adalah tabel deskripsi subjek berdasarkan usia anak terdeteksi autis: Tabel 8 Deskripsi Subjek Berdasarkan Usia Anak Terdeteksi Autis Usia Anak Jumlah Presentase Terdeteksi 1 tahun 5 8,19 % 2 tahun 35 57,37 % 3 tahun 14 22,95 % 4 tahun 2 3,30 % Tidak Diketahui 5 8,19 % TOTAL 61 100%

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Hasil deskripsi menunjukkan bahwa anak terdeteksi autis paling banyak pada usia 2 tahun, yakni sebanyak 35 anak. Anak terdeteksi autis pada usia 3 tahun sebanyak 14 anak. Anak terdeteksi autis pada usia 1 tahun sebanyak 5 anak. Sedangkan anak yang terdeteksi autis pada usia 4 tahun sebanyak 2 anak. Dan subjek yang tidak memberikan jawaban sebanyak 5 orang. D. Analisis Data Semua data yang terkumpul dilakukan pengujian dengan menggunakan program komputer SPSS for Windows versi 16.0 untuk melakukan penghitungan mean teoritik dan mean empirik, angka kecemasan ayah dan ibu, uji asumsi, dan uji hipotesis. 1. Mean Teoritik dan Mean Empirik Hasil penghitungan mean kecemasan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Tabel 9 Deskripsi Mean Teoritik dan Mean Empirik Empirik Statistik Teoritik Ayah Ibu 112 61 61 N 160 111 121 Xmax 40 58 70 Xmin 100 87.85246 100.1803 Mean 11.33 14.4428022 9.573415 SD Mean teoritik yang dimaksud diatas adalah rata-rata dari skor skala kecemasan. Hal tersebut diperoleh dari angka yang

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 menjadi titik tengah alat ukur penelitian. Sedangkan mean empirik merupakan rata-rata dari hasil penelitian. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa mean empirik ayah lebih rendah daripada mean teoritik, yaitu sebesar 87,85246. Sedangkan mean empirik ibu lebih tinggi daripada mean teoritik, yaitu sebesar 100,1803. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kelompok subjek ayah cenderung memilih jawaban dengan kategori skor yang rendah, sedangkan ibu cenderung memilih jawaban dengan kategori skor tinggi. Oleh karena itu, kelompok subjek ibu memiliki kecemasan berlebih jika dibandingkan dengan kelompok subjek ayah. 2. Angka Kecemasan Ayah dan Ibu Berdasarkan data yang diperoleh, maka angka kecemasan ayah dan ibu dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu: a. Rentang Usia Hasil perhitungan angka kecemasan ayah dan ibu yang memiliki anak autis berdasarkan rentang usia anak adalah sebagai berikut: Tabel 10 Perhitungan Mean Kecemasan Ayah dan Ibu Berdasarkan Rentang Usia Anak Autis Usia Anak Jumlah Anak 1-5 tahun 6 -10 tahun 19 26 Ayah Kecemasan Mean 1702 89,57 2186 84,07 Ibu Kecemasan Mean 1884 99,15 2662 102,38

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 ≥ 11 tahun 19 1761 92,68 1884 99,15 b. Jumlah Anak Autis Hasil perhitungan angka kecemasan ayah dan ibu yang memiliki anak autis berdasarkan jumlah anak autis dalam satu keluarga adalah sebagai berikut: Tabel 11 Perhitungan Mean Kecemasan Ayah dan Ibu Berdasarkan Jumlah Anak Autis dalam Satu Keluarga Jumlah Anak Autis Jumlah 1 2 57 4 Ayah Kecemasan Mean 4986 87,47 373 93,25 Ibu Kecemasan Mean 5702 100,03 409 102,25 c. Pendidikan Terakhir Hasil perhitungan angka kecemasan ayah dan ibu yang memiliki anak autis berdasarkan tingkat pendidikan terakhir adalah sebagai berikut: Tabel 12 Perhitungan Mean Kecemasan Ayah Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir Tingkat Angka Mean Jumlah Pendidikan Kecemasan Kecemasan Terakhir SMA/SMK 4 367 91.75 D3 9 724 80.44 S1 35 3144 89.82 S2 11 942 85.63 Tidak Diketahui 2 182 91

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Tabel 13 Perhitungan Mean Kecemasan Ibu Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir Tingkat Angka Mean Jumlah Pendidikan Kecemasan Kecemasan Terakhir SMA/SMK 6 639 106,5 D3 15 1522 101,46 S1 34 3331 97,97 S2 3 308 102,66 Tidak Diketahui 3 311 103,66 3. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah data yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari populasi normal atau tidak. Data akan dianggap memiliki sebaran yang normal jika memiliki nilai p > 0,05. Sedangkan jika data memiliki nilai p < 0,05 maka data dianggap tidak memiliki sebaran yang normal (Santoso, 2010). Berikut adalah hasil uji normalitas yang telah dilakukan oleh peneliti: Tabel 14 Tabel Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Kecemasan N Normal Parameters 122 a Mean Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute 94.02 13.682 .276

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 Positive .155 Negative -.276 Kolmogorov-Smirnov Z 3.044 Asymp. Sig. (2-tailed) .000 Berdasarkan tabel diatas, hasil uji normalitas dengan menggunakan metode One Sample Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan bahwa data memiliki nilai signifikansi 0,000 atau nilai lebih kecil dari 0,05 (p<0,05). Sehingga dapat dikatakan bahwa data tidak memiliki sebaran yang normal. b. Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah populasi homogen sehingga sampel yang diambil mewakili keseluruhan populasi. Uji homogenitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS for Windows versi 16.0. Berikut adalah hasil uji normalitas yang telah dilakukan oleh peneliti: Tabel 15 Tabel Hasil Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variances Kecemasan Levene Statistic df1 df2 Sig. 19.200 1 120 .000

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Berdasarkan tabel diatas, hasil uji homogenitas dengan menggunakan metode One Way Anova menunjukkan bahwa data memiliki nilai signifikansi 0,000 atau nilai lebih kecil dari 0,05 (p<0,05). Sehingga dapat dikatakan bahwa data tidak homogen atau dengan kata lain varian dari dua kelompok populasi data adalah tidak sama. 4. Uji Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada perbedaan kecemasan antara ayah dan ibu yang memiliki anak autis. Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data Mann Whitney U Test. Uji Mann Whitney U memiliki fungsi yang sama dengan uji Independent Sample T-Test. Analisis Mann Whitney U termasuk ke dalam teknik analisis nonparametrik, dan digunakan ketika didapati data dengan sebaran yang tidak normal (Duwi, 2012). Berikut adalah tabel hasil uji hipotesis dengan menggunakan teknik analisis statistik Mann Whitney U Test: Tabel 16 Tabel Hasil Uji Mann Whitney U Mann Whitney Test Kecemasan Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) 987.000 2878.000 -4.544 .000

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 Mann Whitney Test Kecemasan Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) 987.000 2878.000 -4.544 .000 Dalam analisis statistik Mann Whitney U, apabila nilai signifikansi memiliki nilai kurang dari 0,05 (p < 0,05) maka terdapat perbedaan di antara kedua kelompoknya. Dan jika nilai signifikansi melebihi 0,05 (p > 0,05) maka tidak terdapat perbedaan di antara kedua kelompoknya. Dalam penelitian ini, didapati nilai signifikansi pada kecemasan sebesar 0.000. Hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis diterima, yaitu terdapat perbedaan kecemasan antara ayah dan ibu yang memiliki anak autis.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 E. Pembahasan Ditinjau dari hasil penghitungan mean empirik, dapat diketahui bahwa mean empirik ayah lebih rendah daripada mean teoritik, yaitu sebesar 87,85246. Sedangkan mean empirik ibu lebih tinggi daripada mean teoritik, yaitu sebesar 100,1803. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kelompok subjek ayah cenderung memilih jawaban dengan kategori skor yang rendah, sedangkan ibu cenderung memilih jawaban dengan kategori skor tinggi. Oleh karena itu, kelompok subjek ibu memiliki kecemasan berlebih jika dibandingkan dengan kelompok subjek ayah. Dalam uji hipotesis, didapati nilai signifikansi pada kecemasan sebesar 0.000 (p<0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis penelitian diterima, yaitu terdapat perbedaan kecemasan antara ayah dan ibu yang memiliki anak autis. Berdasarkan hasil penghitungan mean dalam penelitian ini, ibu memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi daripada ayah. Hal tersebut berkaitan dengan perbedaan gender antara laki-laki dengan perempuan. Perempuan memiliki aspek-aspek emosionalitas, rasio, dan suasana hati yang terintegrasi menjadi suatu kesatuan sehingga logika berpikir perempuan lebih didasarkan kepada ketiga hal tersebut. Oleh karena itu, ketika perempuan berpikir, maka akan melibatkan perasaan dan suasana hatinya. Hal tersebut menyebabkan perempuan kesulitan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang dialaminya, sehingga dapat

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 memicu timbulnya kecemasan berlebihan dalam dirinya (Gunarsa, 1991). Selain itu, perempuan cenderung lebih sensitif dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Perempuan kurang berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungan dan sangat dipengaruhi oleh tekanan dari lingkungan sekitarnya. Sehingga perempuan lebih rentan mengalami kecemasan (Dewi, 2010). Selain berkaitan dengan perbedaan gender, kecemasan ibu juga erat kaitannya dengan peran ibu sebagai pengasuh dan perawat anak sejak lahir. Menurut Gunarsa (2001), ibu memiliki banyak peran bagi keluarga, antara lain: memenuhi kebutuhan fisiologis dan psikologis, merawat dan mengurus keluarga, sebagai pendidik yang mampu mengatur dan mengendalikan anak, sebagai contoh dan teladan, sebagai orang yang memberikan rangsangan dan pembelajaran bagi anak, dan sebagai istri. Sedangkan Kartono dan Kartini (1992) menjelaskan bahwa seorang ibu harus mampu untuk mendidik dan menciptakan iklim psikis yang gembira, bahagia dan bebas sehingga suasana rumah menjadi semarak dan memberikan rasa aman dan penuh kasih sayang. Begitu banyaknya peran ibu sehingga tanggung jawab yang ditanggung seorang ibu sangatlah besar. semakin besar tanggung jawab yang harus dipenuhi, maka semakin besar pula kecemasan yang akan dihadapi oleh seorang ibu. Berbeda dengan perempuan. Laki-laki lebih menunjukkan batasan antara pikiran, rasio, dan emosionalitas. Jalan pikiran laki-laki

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 cenderung tidak dikuasai oleh emosi, perasaan maupun suasana hati, sehingga laki-laki lebih memiliki inisiatif, keras, dan tegas (Gunarsa, 1991). Selain itu, laki-laki memiliki sifat yang maskulin, cenderung lebih memikirkan pencapaian tujuan, sehingga kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya (Daradjat,1996). Menurut Dewi (2010), laki-laki memiliki sifat yang lebih rileks dalam menghadapi kehidupan sehari-hari dan lebih berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya, sehingga laki-laki kurang rentan terhadap kecemasan. Oleh sebab itu, benar adanya bahwa perempuan memiliki kecemasan yang lebih jika dibandingkan dengan laki-laki. Berdasarkan perhitungan mean kecemasan pada ayah dan ibu yang dilihat dari beberapa aspek, tampak adanya perbedaan kecemasan antara ayah dan ibu yang memiliki anak autis. Ayah merasa lebih cemas ketika memiliki anak autis yang berusia lebih dari 11 tahun. Hal tersebut berkaitan dengan tumbuh kembang anak autis yang memasuki fase remaja. Masa remaja adalah masa dimana anak mengalami pubertas. Pubertas berarti kematangan alat-alat reproduksi pada perempuan maupun laki-laki. Widyasti (2009) mengungkapkan bahwa anak autis yang memasuki usia remaja memiliki tingkat agresifitas yang tinggi, sangat emosional dan tidak memahami tindakan yang tepat untuk mengatasi menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. Namun mereka menunjukkan perilaku-perilaku seksual seperti memegang alat kelamin. Orangtua

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 kesulitan untuk memberikan pengertian kepada anak mengenai perkembangan tersebut. Ibu merasa lebih cemas ketika anak memasuki rentang usia 6 – 10 tahun. Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan anak pada usia anakanak tersebut. Anak pada usia tersebut sudah waktunya memasuki masa sekolah. Sekolah akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada anak sebagai individu dan sebagai makhluk sosial. Anak diajarkan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan kognitif, motorik serta sosialnya (Kartono & Kartini, 1986). Pada umunya, anak autis susah untuk mengembangkan kemampuannya karena terbatas pada kesulitan anak berkomunikasi dengan orang lain. Anak autis cenderung kesulitan untuk menyampaikan dan menerima pesan (Yuwono, 2012). Sehingga hal tersebut sangat berpengaruh dalam perkembangan anak. Ibu cemas ketika anak tidak mampu untuk mengikuti pelajaran dengan baik di sekolah. Dilihat dari jumlah anak yang autis berdasarkan nilai mean, tampak ayah dan ibu yang memiliki dua anak autis cenderung merasa lebih cemas jika dibandingkan dengan ayah dan ibu yang hanya memiliki satu anak autis. Hal tersebut berkaitan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai orangtua. Merawat dan mengasuh anak dengan gangguan autis bukanlah perkara yang mudah. Banyak masalah yang bisa saja terjadi di dalam keluarga yang memiliki anak dengan gangguan autis. Memiliki dua anak autis berarti memiliki beban dua kali lipat daripada merawat satu

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 anak autis. Semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh orangtua. Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir ayah dan ibu yang dilihat dari nilai mean, tingkat pendidikan SMA/SMK memiliki angka kecemasan yang tinggi. Hal tersebut berkaitan dengan banyak sedikitnya ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh setiap orang. Pengetahuan yang dimiliki orangtua sangat berpengaruh bagi kecemasan orangtua. Semakin tinggi pendidikan orangtua, maka tingkat kecemasan yang dirasakan orangtua rendah (Jeniu, Widodo, dan Widiani, 2017). Ayah dan ibu yang memiliki anak autis memang dihadapkan dalam situasi yang tidak mudah. Kehadiran anak yang menyandang autis dalam keluarga memberikan dampak yang besar untuk keluarga. Ketika anak mulai didiagnosa menyandang autis, orangtua akan mengalami pergolakan dalam diri masing-masing. Seringkali orangtua yang saling menyalahkan satu sama lain atas kehadiran anak dengan kondisi yang tidak diinginkan (Yuwono, 2012). Ginanjar (dalam Yuwono, 2012) mengatakan bahwa ada beberapa masalah yang dihadapi oleh orangtua yang memiliki anak autis. Masalah pertama, yaitu pada saat menerima diagnosis anak. Ayah dan ibu yang mengetahui hasil diagnosis dari dokter akan merasa terkejut dan tidak percaya. Beberapa diantaranya akan menolak diagnosis dan tidak memperbolehkan melakukan terapi, atau sebaliknya, sesegera mungkin

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 mencari terapi yang cepat agar mempercepat proses penyembuhan anaknya. Masalah kedua, berkaitan dengan gangguan kesehatan anak. Gangguan kesehatan yang dialami anak akan memerlukan perhatian dan finansial yang tidak sedikit. Ayah dan ibu akan merasa stress dalam menghadapi kebutuhan perhatian dan finansial tersebut. Beberapa ibu bahkan rela untuk berhenti bekerja supaya dapat memenuhi kebutuhan perhatian untuk anaknya. Masalah ketiga adalah menghadapi keluarga besar dan masyarakat sekitar. Orangtua akan lebih sering bertengkar atas kondisi anaknya yang menderita autis. Terkadang orangtua merasa malu dan tertekan terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga orangtua menyembunyikan anaknya dari masyarakat sekitar. Selain itu, perlakuan masyarakat yang tidak tepat juga akan menambah beban orangtua. Hal tersebut akan meningkatkan stress pada keluarga. Masalah keempat adalah masalah perkawinan. Banyak perkawinan yang menghadapi krisis karena pasangan suami istri tidak memiliki kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah yang baik. Dan masalah kelima adalah anak autis yang memasuki masa sekolah/remaja. Kebutuhan dan perubahan aspek biologis, akademis dan tuntutan sosial akan semakin kompleks. Hal tersebut akan membuat orangtua merasa terbebani akan tanggungjawabnya. Keterbatasan anak autis dalam beradaptasi dan bersosialisasi akan memunculkan emosi tersendiri.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 Berdasarkan wawancara singkat kepada beberapa subjek, kecemasan yang dihadapi beberapa orangtua terkait dengan keadaan anak mereka yang autis adalah kecemasan mengenai pergaulan sosial dan masa remaja pada anak. Anak yang menderita autis memiliki kesulitan untuk berbahasa dan berkomunikasi. Hal tersebut menyebabkan anak autis tidak mampu untuk berinteraksi dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Anak dengan gangguan autis tidak mampu memahami keadaan sosial di lingkungan sekitar karena kurangnya rasa empati sosial. Sehingga anak tidak mampu memahami apa yang sedang dirasakan oleh orang lain. (Christie, Newson, Prevezer, dan Chandler, 2009).

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, peneliti memiliki kesimpulan bahwa terdapat perbedaan kecemasan antara ayah dan ibu yang memiliki anak autis. Ibu lebih merasa cemas daripada ayah. B. Saran 1. Bagi orangtua yang memiliki anak autis Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa ibu memiliki kecemasan yang lebih tinggi, maka diharapkan ibu dapat mengurangi kecemasan yang dirasakan. 2. Bagi Masyarakat sekitar yang dekat dengan anak autis Hasil penelitian ini diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat sekitar agar semakin memahami dan mengerti keadaan pasangan suami isteri yang memiliki anak autis. Orangtua yang memiliki anak autis cenderung lebih cemas jika dibandingkan orangtua yang memiliki anak normal, terutama ibu yang lebih rentan mengalami kecemasan. Ibu memiliki perasaan yang lebih sensitif dan feminine, sehingga hendaknya masyarakat sekitar dapat memberikan dukungan dan menguatkan orangtua, terlebih ibu, yang memiliki anak autis. Misalnya dengan tidak menyinggung perasaan ibu atau dengan memberikan perhatian pada anak autis. 56

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 3. Bagi Peneliti selanjutnya Kekurangan dalam penelitian ini adalah kurangnya jumlah subjek yang memadai, sehingga hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan subjek try out terpakai sebanyak 6 orang. Bagi peneliti lainnya yang akan melakukan penelitian kurang lebih yang serupa, diharapkan agar lebih banyak lagi mengambil subjek. Selain itu, penelitian ini terlalu luas pembahasannya, sehingga tidak dapat menjelaskan secara detail. Bagi peneliti selanjutnya, lebih baik membuat penelitian yang lebih spesifik, misalkan diberikan batasan usia anak dan jenis kelamin anak.

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Ariesta, A. (2016). Kecemasan orangtua terhadap karier anak berkebutuhan khusus. E-Journal Bimbingan dan Konseling. Edisi 4 Tahun Ke-5 Azwar, S. (2001). Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Azwar, S. (2003). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Boeree, C.G. (1997). Personality theories: malacak kepribadian anda bersama psikolog dunia. (InyiakRidwan Muzir, Penerjemah). Yogyakarta: Prismashopie Cahyani, E.P.N., Wiyono, J., & Ardiyani, V.M. (2017). Perbedaan tingkat kecemasan pada penderita hipertensi lansia laki-laki dan perempuan di kelurahan merjosari kecaqmatan lowokwaru malang. Nursing News. 2 (1), 165-173 Christie P., Newson E., Prevezer W., & Chandler S. (2009). Langkah awal berinteraksi dengan anak autis. Terjemahan. Jakarta: Gramedia Clerq, L.D. (1994). Tingkah laku abnormal dari sudut pandang perkembangan. Jakarta: Grasindo Daradjat, Z. (1996). Kesehatan mental. Jakarta: Gunung Agung Departemen Kesehatan RI. (1993). Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di indonesia (ppdgj). edisi iii. Dirjen Pelayanan Medis RI. Jakarta. Dewi, M. A. T. P. (2010). Perbedaan kecemasan menghadapi ujian nasional (un) antara siswa laki-laki dan siswa perempuan di sma. (Skripsi, Universitas Sanata Dharma, 2010). Diakses dari https://repository.usd.ac.id/28901/ Durand, V.M. & Barlow, D.H. (2007). Intisari psikologi abnormal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Fitriani, A. & Ambarini, T. K. (2013). Hubungan antara hardiness dengan tingkat stress pengasuhan pada ibu dengan anak autis. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental. 2 (2) 58

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Gunarsa, S.D. (2001). Psikologi praktis: anak, remaja dan keluarga. Jakarta: BPK Gunung Mulia Gunarsa, S.D. & Gunarsa, Y.S.D. (1991). Psikologi untuk muda mudi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia Hadi, S. (2004). Statistik, Jilid 2. Yogyakarta: Andi Offset Halgin, R. P. & Whitnourne, S. K. (2011). Psikologi abnormal (perspektif klinis pada gangguan psikologis). Jakarta: Salemba Humanika Hall, C.S., & Lindzey, G. (1993). Teori-teori psikodinamik (klinis). Editor: Supratiknya, A. Yogyakarta: Kanisius. Hasanah, U. (2017). Self control dan penerimaan orangtua terhadap tingkat kecemasan orangtua pada keberhasilan pendidikan anak autis. Journal Annafs 2 (1) Hurlock, E. B. (1996). Psikologi perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan, Terjemahan. Jakarta: Erlangga Indahwati, D. (2013). Terapi bermain untuk melatih konsentrasi pada anak yang mengalami gangguan autis. Procedia Studi Kasus dan Intervensi Psikologi 2013. 3 (1), 41-45 Jeniu, E., Widodo, D., & Widiani, E. (2017). Hubungan pengetahuan tentang autisme dengan tingkat kecemasan orangtua yang memiliki anak autisme di sekolah luar biasa bhakti luhur malang. Nursing News. 2 (2) Kartono, K. (1986). Psikologi Anak. Bandung: PT. Alumni Kartono, K. (1992). Psikologi wanita: mengenal wanita sebagai ibu dan nenek (jilid 2). Bandung: Mandar Maju Kartono, K. (2000). Hygiene mental. Bandung: Mandar Maju Kartono, K. (2011). Kamus lengkap psikologi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada Krismawarti, C.S. (2010). Perbedaan kecemasan siswa dalam menghadapi pelajaran matematika antara siswa laki-laki dan perempuan. (Skripsi,

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Universitas Sanata Dharma, https://repository.usd.ac.id/28917/ 2010). Diakses dari Langgulung, H. (1986). Teori-teori kesehatan mental. Jakarta: Al.Husna Maulana, M. (2014). Anak autis: mendidik anak autis dan gangguan mental lain menuju anak cerdas dan sehat. Yogyakarta: Katahati Merianto, R.W. (2016). Peran orangtua dalam menangani anak autis (studi kasus 4 keluarga anak autis di kota pekanbaru). JOM Fisipol. 3 (1) Nevid, J.S., Rathus, S.A., & Greene, B. (2005). Psikologi abnormal (edisi 6). Jakarta: Erlangga Purnomo, B.C. (2007). Perbedaan kecemasan menghadapi pensiun antara pria dan wanita di rumah sakit pusat angkatan darat gatot soebroto jakarta. (Skripsi, Universitas Sanata Dharma, 2007). Diakses dari https://repository.usd.ac.id/29935/ Pancawati, R. (2013). Penerimaan diri dan dukungan orangtua terhadap anak autis. eJorunal Psikologi. 1 (1) 38-47 Papalia, D.E., Olds, S.W., dan Feldman, R.D. (2008). Human development (psikologi perkembangan) bagian I-IV Edisi 9. Jakarta: Kencana Papalia, D.E., Olds, S.W., dan Feldman, R.D. (2008). Human development (psikologi perkembangan) bagian V-IX Edisi 9. Jakarta: Kencana Prastiti, H. (2005). Studi deskriptif kecemasan dalam mennghadapi masa pension pada guru sd di kelurahan sardonoharjo kecamatan ngaglik sleman yogyakarta. (Skripsi, Universitas Kristen Satya Wacana, 2005). Diakses dari https://repository.uksw.edu/bitstream/123456789/13195/1/ Rachmayanti, S., Zulkaida, A. (2007). Penerimaan diri orangtua terhadap anak autisme dan peranannya dalam terapi autisme. Jurnal Psikologi 1 (1) Santrock, J.W. (2002). Life-span development. New York: Brown and Benchmark Publisher Santoso, A. (2010). Statistik untuk psikologi dari blog menjadi buku. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Supratiknya, A. (2000). Mengenal perilaku abnormal. Yogyakarta: Kanisius Supratiknya, A. (2014). Pengukuran psikologis. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Tempo, Co. (2013). Anak autis ada di sekeliling kita. Diambil dari https://gaya.tempo.co/read/news/2013/04/09/174472198/anak-autis-adadi-sekeliling-kita Tsuraya, I. (2013). Kecemasan pada orangtua yang memiliki anak terlambat bicara (speech delay) di rsud dr. m. ashari pemalang. (Skripsi, Universitas Negeri Semarang, 2013). Diakses dari https://journal.unnes.ac.id/ sju/index.php/dcp/article/view/2574 Utari, D. (2012). Gambaran tingkat kecemasan pada warga binaan wanita menjelang bebas di lembaga pemasyarakatan wanita klas ii a bandung. Students e-Journal, 1 (1), 33. Wahyuningjati, N.D. (2015). Hubungan antara dukungan sosial dengan penerimaan diri ibu yang mempunyai anak retardasi mental. (Skripsi, Universitas Kristen Satya Wacana, 2015). Diakses dari https://repository.uksw.edu/bitstream/123456789/9301/2/ . Widyasti, F.T. (2009). Seksualitas remaja autis pada masa puber. Jurnal Universitas Diponegoro. Diakses dari https://eprints.undip.ac.id/10958/1/jurnal.pdf Yuwono, J. (2012). Memahami anak autistik (kajian teoritik dan empirik). Bandung: Alfabeta

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 62

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1. Skala kecemasan sebelum uji coba 63

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Yogyakarta, Maret 2018 Dengan Hormat, Saya mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Sehubungan dengan itu, ditengah-tengah kesibukan Bapak dan Ibu sekalian, ijinkanlah saya memohon kesediaannya untuk meluangkan waktu sejenak guna mengisi skala ini. Skala ini semata-mata untuk kepentingan ilmiah saja, oleh karena itu jawaban yang sungguh-sungguh dan apa adanya sesuai dengan keadaan, perasaan dan pikiran Bapak dan Ibu sangat diperlukan. Setiap jawaban yang Bapak dan Ibu berikan adalah benar, oleh karena itu tidak perlu ragu dalam menjawab. Perlu diketahui bahwa semua jawaban yang Bapak dan Ibu berikan akan dijamin kerahasiaannya. Atas bantuan dan kerjasamanya, saya ucapkan terima kasih. Hormat saya, (Florentina Dyani Anindyasari) Sebelum memulai mengerjakan, Bapak dan Ibu dimohon untuk mengisi identitas terlebih dahulu dan kemudian membaca petunjuk yang ada. Jenis Kelamin :L/P Usia : ……… tahun Pendidikan Terakhir : …………………………………… Jumlah Anak yang menderita autis : ……… orang Usia anak yang menderita autis : …………………………………… Pada usia berapa putra/putri Bapak/Ibu terdeteksi autis? …………………………………………………………………………………… 64

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Petunjuk Pengerjaan : Bacalah setiap pernyataan dengan teliti dan seksama, kemudian berikan jawaban dengan memberikan tanda ( ) pada salah satu pilihan jawaban yang tersedia. Tidak ada jawaban yang salah. Semua jawaban yang diberikan adalah benar. Oleh karena itu, berikan jawaban sesuai dengan keadaan diri anda sendiri. Pilihan jawaban yang tersedia adalah : SS Apabila pernyataan tersebut Sangat Sesuai dengan keadaan yang anda rasakan S Apabila pernyataan tersebut Sesuai dengan keadaan yang anda rasakan TS Apabila pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan keadaan yang anda rasakan STS Apabila pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan keadaan yang anda rasakan Selamat Mengerjakan  No. 1. PERNYATAAN STS TS S SS Perut saya sering terasa sakit secara tiba-tiba ketika mengingat kondisi anak saya. 2. Detak jantung saya tetap normal ketika ada yang bertanya mengenai anak saya. 3. Tangan dan kaki saya selalu berkeringat ketika membicarakan anak saya 4. Saya dapat bermain dan bercanda dengan anak saya dengan santai. 65

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Saya merasa malu ketika ada yang menanyakan kondisi anak saya. 6. Saya merasa tidak mampu untuk memikirkan masa depan anak saya. 7. Saya tetap lancar mengerjakan pekerjaan saya walaupun selalu kepikiran masa depan anak saya. 8. Saya merasa orang lain menatap anak saya dengan pandangan yang meremehkan. 9. Lambung dan organ pencernaan saya sehat-sehat saja dan tidak bermasalah. 10. Jantung saya terasa berdebar lebih cepat ketika memikirkan masa depan anak saya. 11. Saya merasa tidak ada masalah dengan pencernaan saya. 12. Ketika ada orang lain yang berkomentar mengenai anak saya, maka saya akan merasa gugup dan khawatir. 13. Saya optimis akan kesembuhan anak saya. 14. Saya ingin anak saya berada di rumah saja dan tidak bertemu dengan orang lain. 15. Ketika anak saya melakukan suatu hal berulangulang, saya tidak dapat melakukan pekerjaan saya dengan baik. 16. Saya merasa lingkungan sekitar saya dapat menerima anak saya. 17. Saya sering merasa kebingungan dan panik ketika ada yang menanyakan tentang kondisi anak saya. 18. Saya merasa santai dengan tingkah laku anak saya. 19. Saya sering merasakan telapak tangan dan kaki saya basah meskipun udara tidak panas. 20. Saya merasa orang lain lebih beruntung dari saya yang memiliki anak autis. 66

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21. Ketika hendak melakukan sesuatu dan secara tibatiba teringat akan anak saya, saya sering lupa akan berbuat apa. 22. Saya merasa tidak perlu khawatir dengan masa depan anak saya. 23. Saya tidak pernah merasakan sakit pada ulu hati pada saat memikirkan anak saya. 24. Ketika ada yang membicarakan mengenai autis, perut saya terasa mulas. 25. Tangan dan kaki saya tidak mengeluarkan keringat yang berlebihan ketika ada yang membicarakan anak saya. 26. Saya merasa was-was ketika ada orang yang membicarakan tentang gangguan autis. 27. Saya bingung bagaimana saya dapat membiayai perawatan untuk anak saya. 28. Saya jarang mengalami pusing ketika memikirkan anak saya. 29. Saya bangga pada anak saya meskipun anak saya tidak seperti anak pada umumnya. 30. Saya tidak ingin ada orang yang tahu tentang kondisi anak saya. 31. Frekuensi buang air saya tetap normal walaupun saya memikirkan keadaan anak saya. 32. Saya merasa santai dan rileks saat menceritakan mengenai anak saya. 33. Saya tidak suka orang lain menjelek-jelekkan keluarga saya. 34. Saya percaya bahwa anak saya akan membawa keberuntungan bagi saya. 35. Tangan dan kaki saya tidak pernah berkeringat dan berada pada suhu normal. 67

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36. Saya sering merasa bingung dan tidak mampu untuk merawat anak saya. 37. Saya merasa mual ketika mengingat anak saya. 38. Saya merasa ingin buang air kecil ketika ada orang yang membicarakan mengenai anak saya. 39. Saya merasa aka nada jalan untuk membiayai perawatan anak saya. 40. Saya tidak mengalami diare walaupun terlalu memikirkan anak saya. 41. Kepala saya sering terasa pusing secara tiba-tiba ketika terpikir mengenai anak saya. 42. Saya tidak merasa kecewa dengan kondisi anak saya saat ini. 43. Saya merasa saya lebih mampu untuk merawat anak autis dibandingkan dengan orang lain. 44. Saya tetap mengajak anak saya untuk menikmati kehidupan di luar suasana rumah. 45. Frekuensi buang air saya normal dan tidak berlebihan. 46. Saya menyingkir ketika ada orang yang membicarakan mengenai autis. 47. Setiap bangun tidur dan melihat anak saya, saya merasakan mulas pada perut. 48. Saya selalu fokus dalam mencari penghasilan untuk mengobatan anak saya. 49. Saya merasa ingin buang air terus menerus ketika memikirkan masa depan anak saya. 50. Saya ingin anak saya tetap bermain dengan teman sebayanya. 68

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. Skala kecemasan setelah uji coba 69

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Yogyakarta, April 2018 Dengan Hormat, Saya mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Sehubungan dengan itu, ditengah-tengah kesibukan Bapak dan Ibu sekalian, ijinkanlah saya memohon kesediaannya untuk meluangkan waktu sejenak guna mengisi skala ini. Skala ini semata-mata untuk kepentingan ilmiah saja, oleh karena itu jawaban yang sungguh-sungguh dan apa adanya sesuai dengan keadaan, perasaan dan pikiran Bapak dan Ibu sangat diperlukan. Setiap jawaban yang Bapak dan Ibu berikan adalah benar, oleh karena itu tidak perlu ragu dalam menjawab. Perlu diketahui bahwa semua jawaban yang Bapak dan Ibu berikan akan dijamin kerahasiaannya. Atas bantuan dan kerjasamanya, saya ucapkan terima kasih. Hormat saya, (Florentina Dyani Anindyasari) Sebelum memulai mengerjakan, Bapak dan Ibu dimohon untuk mengisi identitas terlebih dahulu dan kemudian membaca petunjuk yang ada. Jenis Kelamin :L/P Usia : ……… tahun Pendidikan Terakhir : ………………………………… Jumlah Anak yang menderita autis : ……… orang Usia anak yang menderita autis : ………………………………… Pada usia berapa putra/putri Bapak/Ibu terdeteksi autis? ………………………………………………………………………………… 70

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Petunjuk Pengerjaan : Bacalah setiap pernyataan dengan teliti dan seksama, kemudian berikan jawaban dengan memberikan tanda ( ) pada salah satu pilihan jawaban yang tersedia. Tidak ada jawaban yang salah. Semua jawaban yang diberikan adalah benar. Oleh karena itu, berikan jawaban sesuai dengan keadaan diri anda sendiri. Pilihan jawaban yang tersedia adalah : SS Apabila pernyataan tersebut Sangat Sesuai dengan keadaan yang anda rasakan S Apabila pernyataan tersebut Sesuai dengan keadaan yang anda rasakan TS Apabila pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan keadaan yang anda rasakan STS Apabila pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan keadaan yang anda rasakan Selamat Mengerjakan  No. 1. PERNYATAAN STS TS S SS Perut saya sering terasa sakit secara tiba-tiba ketika mengingat kondisi anak saya. 2. Detak jantung saya tetap normal ketika ada yang bertanya mengenai anak saya. 3. Tangan dan kaki saya selalu berkeringat ketika membicarakan anak saya 4. Saya merasa malu ketika ada yang menanyakan kondisi anak saya. 5. Saya merasa tidak mampu untuk memikirkan masa depan anak saya. 6. Saya tetap lancar mengerjakan pekerjaan saya walaupun selalu kepikiran masa depan anak saya. 7. Saya merasa orang lain menatap anak saya dengan pandangan yang meremehkan. 71

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. Lambung dan organ pencernaan saya sehat-sehat saja dan tidak bermasalah. 9. Saya merasa tidak ada masalah dengan pencernaan saya. 10. Ketika ada orang lain yang berkomentar mengenai anak saya, maka saya akan merasa gugup dan khawatir. 11. Saya optimis akan kesembuhan anak saya. 12. Saya ingin anak saya berada di rumah saja dan tidak bertemu dengan orang lain. 13. Saya merasa lingkungan sekitar saya dapat menerima anak saya. 14. Saya merasa santai dengan tingkah laku anak saya. 15. Saya sering merasakan telapak tangan dan kaki saya basah meskipun udara tidak panas. 16. Saya merasa orang lain lebih beruntung dari saya yang memiliki anak autis. 17. Ketika hendak melakukan sesuatu dan secara tiba-tiba teringat akan anak saya, saya sering lupa akan berbuat apa. 18. Saya merasa tidak perlu khawatir dengan masa depan anak saya. 19. Saya tidak pernah merasakan sakit pada ulu hati pada saat memikirkan anak saya. 20. Ketika ada yang membicarakan mengenai autis, perut saya terasa mulas. 21. Tangan dan kaki saya tidak mengeluarkan keringat yang berlebihan ketika ada yang membicarakan anak saya. 22. Saya merasa was-was ketika ada orang yang membicarakan tentang gangguan autis. 23. Saya bingung bagaimana saya dapat membiayai 72

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perawatan untuk anak saya. 24. Saya jarang mengalami pusing ketika memikirkan anak saya. 25. Saya bangga pada anak saya meskipun anak saya tidak seperti anak pada umumnya. 26. Saya tidak ingin ada orang yang tahu tentang kondisi anak saya. 27. Saya merasa santai dan rileks saat menceritakan mengenai anak saya. 28. Saya tidak suka orang lain menjelek-jelekkan keluarga saya. 29. Saya percaya bahwa anak saya akan membawa keberuntungan bagi saya. 30. Tangan dan kaki saya tidak pernah berkeringat dan berada pada suhu normal. 31. Saya sering merasa bingung dan tidak mampu untuk merawat anak saya. 32. Saya merasa mual ketika mengingat anak saya. 33. Saya tidak mengalami diare walaupun terlalu memikirkan anak saya. 34. Kepala saya sering terasa pusing secara tiba-tiba ketika terpikir mengenai anak saya. 35. Saya tidak merasa kecewa dengan kondisi anak saya saat ini. 36. Saya merasa saya lebih mampu untuk merawat anak autis dibandingkan dengan orang lain. 37. Saya tetap mengajak anak saya untuk menikmati kehidupan di luar suasana rumah. 38. Saya menyingkir ketika ada orang yang membicarakan mengenai autis. 39. Setiap bangun tidur dan melihat anak saya, saya merasakan mulas pada perut. 40. Saya ingin anak saya tetap bermain dengan teman sebayanya. 73

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. Data hasil penelitian subjek 74

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SUBJEK L1 L2 L3 L4 L5 L6 L7 L8 L9 L10 L11 L12 L13 L14 L15 L16 L17 L18 L19 L20 L21 L22 L23 L24 L25 L26 L27 L28 L29 L30 L31 ITEM 1 2 3 1 3 1 2 2 2 2 1 2 2 3 2 2 2 1 2 2 1 2 3 3 2 4 3 2 2 2 1 3 ITEM 2 2 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 1 2 3 3 2 4 3 2 2 2 2 3 ITEM 3 2 2 2 3 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 1 2 1 2 ITEM 4 2 2 2 3 1 4 4 1 3 1 2 2 2 4 2 4 1 4 4 4 4 2 2 4 1 2 4 4 2 1 2 ITEM 5 3 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 4 3 2 2 3 2 3 ITEM 6 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 ITEM 7 3 3 2 3 2 3 4 2 3 2 3 2 3 4 3 4 2 4 4 4 3 3 3 4 4 3 4 3 3 2 3 ITEM 8 2 3 1 3 2 2 1 2 1 2 1 1 3 1 2 1 2 1 1 1 2 3 3 1 4 3 1 2 2 2 3 ITEM 9 2 3 1 3 2 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 1 2 3 3 2 4 3 2 2 2 2 3 ITEM 10 4 4 2 3 2 1 1 1 1 2 1 1 4 1 4 1 2 1 1 1 1 4 4 1 4 4 1 1 4 2 4 75

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ITEM 11 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 3 2 2 ITEM 12 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 ITEM 13 3 2 2 3 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 3 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 3 1 2 ITEM 14 3 3 2 3 2 1 1 1 1 2 1 1 3 1 3 1 2 1 1 1 1 3 3 1 4 3 1 1 3 2 3 ITEM 15 2 2 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 1 2 1 2 ITEM 16 3 3 2 3 2 4 4 1 3 2 2 1 3 4 3 4 2 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 3 2 3 ITEM 17 3 3 2 2 2 1 1 1 1 2 1 2 3 1 3 1 2 1 1 1 1 3 3 1 4 3 1 1 3 2 3 ITEM 18 3 4 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 4 2 3 2 2 2 2 1 2 4 4 2 4 4 2 2 3 2 4 ITEM 19 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 ITEM 20 2 2 1 3 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 76 ITEM 21 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ITEM 22 3 3 2 3 1 2 2 2 2 1 2 2 3 2 3 2 1 2 2 1 2 3 3 2 4 3 2 2 3 1 3 ITEM 23 3 4 2 3 2 4 4 1 3 2 2 1 4 4 3 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 2 4 ITEM 24 2 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 1 2 3 3 2 4 3 2 2 2 2 3 ITEM 25 3 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 4 3 2 2 3 2 3 ITEM 26 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 ITEM 27 3 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 4 3 2 2 3 2 3 ITEM 28 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 4 4 3 ITEM 29 2 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 1 2 3 3 2 4 3 2 2 2 2 3 ITEM 30 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 ITEM 31 3 4 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 4 2 3 2 2 2 2 1 2 4 4 2 4 4 2 2 3 2 4 77 ITEM 32 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ITEM 33 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 ITEM 34 3 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 4 3 2 2 3 2 3 ITEM 35 3 3 2 3 2 1 4 4 3 2 2 1 3 4 3 4 2 4 4 4 1 3 3 4 4 3 4 1 3 2 3 ITEM 36 3 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 2 1 2 3 3 2 4 3 2 2 3 2 3 ITEM 37 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 1 1 1 2 ITEM 38 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 3 2 2 ITEM 39 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 ITEM 40 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 TOTAL 100 106 71 111 70 82 85 76 80 70 75 73 106 85 100 85 70 85 85 58 82 106 106 85 106 106 85 82 100 70 106 78

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SUBJEK L32 L33 L34 L35 L36 L37 L38 L39 L40 L41 L42 L43 L44 L45 L46 L47 L48 L49 L50 L51 L52 L53 L54 L55 L56 L57 L58 L59 L60 L61 ITEM 1 2 2 2 3 2 2 2 1 4 1 3 2 2 2 2 2 2 2 4 1 3 2 4 3 1 2 2 1 2 3 ITEM 2 2 2 2 3 2 2 2 1 4 2 3 2 2 2 2 2 2 2 4 2 3 2 4 3 2 2 2 1 2 3 ITEM 3 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 2 ITEM 4 4 4 4 2 4 4 4 4 1 1 2 2 4 4 4 4 2 4 1 1 2 4 1 2 1 2 4 4 4 2 ITEM 5 2 2 2 3 2 2 2 1 4 2 3 3 2 2 2 2 3 2 4 2 3 2 4 3 2 3 2 1 2 3 ITEM 6 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 ITEM 7 4 3 4 3 4 4 3 4 4 2 3 3 4 4 3 4 3 4 4 2 3 4 4 3 2 3 4 4 3 3 ITEM 8 1 2 1 3 1 1 2 1 4 2 3 2 1 1 2 1 2 1 4 2 3 1 4 3 2 2 1 1 2 3 ITEM 9 2 2 2 3 2 2 2 1 4 2 3 2 2 2 2 2 2 2 4 2 3 2 4 3 2 2 2 1 2 3 ITEM 10 1 1 1 4 1 1 1 1 4 2 4 4 1 1 1 1 4 1 4 2 4 1 4 4 2 4 1 1 1 4 79

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ITEM 11 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 3 2 2 2 2 3 2 1 2 2 2 1 2 2 3 2 1 2 2 ITEM 12 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 2 2 1 2 2 ITEM 13 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 3 2 2 2 2 3 2 1 1 2 2 1 2 1 3 2 1 2 2 ITEM 14 1 1 1 3 1 1 1 1 4 2 3 3 1 1 1 1 3 1 4 2 3 1 4 3 2 3 1 1 1 3 ITEM 15 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 2 ITEM 16 4 4 4 3 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 2 3 4 4 3 2 3 4 4 4 3 ITEM 17 1 1 1 3 1 1 1 1 4 2 3 3 1 1 1 1 3 1 4 2 3 1 4 3 2 3 1 1 1 3 ITEM 18 2 2 2 4 2 2 2 1 4 2 4 3 2 2 2 2 3 2 4 2 4 2 4 4 2 3 2 1 2 4 ITEM 19 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 ITEM 20 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 2 2 1 2 2 80 ITEM 21 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ITEM 22 2 2 2 3 2 2 2 1 4 1 3 3 2 2 2 2 3 2 4 1 3 2 4 3 1 3 2 1 2 3 ITEM 23 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 3 4 4 4 4 3 4 4 2 4 4 4 4 2 3 4 4 4 4 ITEM 24 2 2 2 3 2 2 2 1 4 2 3 2 2 2 2 2 2 2 4 2 3 2 4 3 2 2 2 1 2 3 ITEM 25 2 2 2 3 2 2 2 1 4 2 3 3 2 2 2 2 3 2 4 2 3 2 4 3 2 3 2 1 2 3 ITEM 26 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 2 2 1 2 2 ITEM 27 2 2 2 3 2 2 2 1 4 2 3 3 2 2 2 2 3 2 4 2 3 2 4 3 2 3 2 1 2 3 ITEM 28 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 3 ITEM 29 2 2 2 3 2 2 2 1 4 2 3 2 2 2 2 2 2 2 4 2 3 2 4 3 2 2 2 1 2 3 ITEM 30 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 ITEM 31 2 2 2 4 2 2 2 1 4 2 4 3 2 2 2 2 3 2 4 2 4 2 4 4 2 3 2 1 2 4 81 ITEM 32 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ITEM 33 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 ITEM 34 2 2 2 3 2 2 2 1 4 2 3 3 2 2 2 2 3 2 4 2 3 2 4 3 2 3 2 1 2 3 ITEM 35 4 1 4 3 4 4 1 4 4 2 3 3 4 4 1 4 3 4 4 2 3 4 4 3 2 3 4 4 1 3 ITEM 36 2 2 2 3 2 2 2 1 4 2 3 3 2 2 2 2 3 2 4 2 3 2 4 3 2 3 2 1 2 3 ITEM 37 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 2 ITEM 38 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 3 2 2 2 2 3 2 1 2 2 2 1 2 2 3 2 1 2 2 ITEM 39 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 2 2 1 2 2 ITEM 40 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 2 2 1 2 2 TOTAL 85 82 85 106 85 85 82 58 106 70 106 100 85 85 82 85 100 85 106 70 106 85 106 106 70 100 85 58 82 106 JUMLAH 5359 RATARATA 87.85245902 82

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SUBJEK P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13 P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 P21 P22 P23 P24 P25 P26 P27 P28 P29 P30 P31 ITEM 1 3 2 4 3 3 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 3 4 3 2 3 2 2 2 2 3 4 2 2 1 3 3 ITEM 2 2 2 4 3 4 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 3 4 3 2 3 2 2 2 2 3 4 2 2 2 4 4 ITEM 3 2 2 1 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 1 1 1 1 ITEM 4 3 2 1 2 1 2 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 4 2 2 2 2 1 2 4 1 1 1 ITEM 5 3 3 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 3 3 3 4 3 2 2 3 3 ITEM 6 3 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 ITEM 7 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 4 2 3 3 ITEM 8 3 2 4 3 4 2 3 3 1 2 3 2 2 2 3 3 4 3 2 3 1 2 2 2 3 4 2 1 2 4 4 ITEM 9 3 2 4 3 4 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 3 4 3 2 3 2 2 2 2 3 4 2 2 2 4 4 ITEM 10 4 4 4 4 4 4 4 3 1 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 3 1 4 4 4 4 4 4 1 2 4 4 83

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ITEM 11 3 3 1 2 2 3 2 2 2 3 2 3 3 3 2 2 1 2 3 2 2 3 3 3 2 1 3 2 2 2 2 ITEM 12 3 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 1 1 ITEM 13 3 3 1 2 2 3 2 2 2 3 2 3 3 3 2 2 1 2 3 2 2 3 3 3 2 1 3 2 1 2 2 ITEM 14 ITEM 15 3 2 3 2 4 1 3 2 4 1 3 2 3 2 3 2 1 1 3 2 3 2 3 2 3 2 3 2 3 2 3 2 4 1 3 2 3 2 3 2 1 1 3 2 3 2 3 2 3 2 4 1 3 2 1 1 2 1 4 1 4 1 ITEM 16 4 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 4 2 3 3 ITEM 17 3 3 4 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 1 3 3 3 3 4 3 1 2 3 3 ITEM 18 3 3 4 4 4 3 4 3 2 3 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 2 3 3 3 4 4 3 2 2 4 4 ITEM 19 3 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 ITEM 20 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 1 1 84 ITEM 21 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ITEM 22 4 3 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 3 3 3 4 3 2 1 3 3 ITEM 23 3 3 4 4 4 3 4 3 4 3 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 4 3 4 2 4 4 ITEM 24 4 2 4 3 4 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 3 4 3 2 3 2 2 2 2 3 4 2 2 2 4 4 ITEM 25 3 3 4 3 4 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 3 3 3 4 3 2 2 4 4 ITEM 26 4 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 1 1 ITEM 27 4 3 4 3 4 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 3 3 3 4 3 2 2 4 4 ITEM 28 3 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4 4 4 3 3 4 3 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 3 ITEM 29 3 2 4 3 4 2 3 3 2 2 3 2 2 2 3 3 4 3 2 3 2 2 2 2 3 4 2 2 2 4 4 ITEM 30 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 ITEM 31 4 3 4 4 4 3 4 3 2 3 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 2 3 3 3 4 4 3 2 2 4 4 85

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ITEM 32 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 1 ITEM 33 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 ITEM 34 4 3 4 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 3 3 3 4 3 2 2 3 3 ITEM 35 4 3 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 4 2 4 4 ITEM 36 3 3 4 3 4 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 3 3 3 4 3 2 2 4 4 ITEM 37 2 1 1 2 2 1 2 2 1 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 ITEM 38 4 3 1 2 1 3 2 2 2 3 2 3 3 3 2 2 1 2 3 2 2 3 3 3 2 1 3 2 2 1 1 ITEM 39 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 1 1 ITEM 40 TOTAL 121 100 106 106 107 100 106 102 85 100 106 100 100 100 106 102 106 102 100 102 85 100 100 100 106 106 100 85 70 107 107 3 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 86

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SUBJEK P32 P33 P34 P35 P36 P37 P38 P39 P40 P41 P42 P43 P44 P45 P46 P47 P48 P49 P50 P51 P52 P53 P54 P55 P56 P57 P58 P59 P60 P61 ITEM 1 2 3 2 2 3 3 2 4 2 3 2 3 3 3 1 4 3 2 3 3 3 4 4 1 2 2 3 2 4 2 ITEM 2 2 3 2 2 4 4 2 4 2 4 2 3 3 4 2 3 3 2 4 3 3 3 4 2 2 2 3 2 4 2 ITEM 3 2 2 2 2 1 1 2 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 1 1 2 ITEM 4 2 2 2 2 1 1 2 1 4 1 4 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 4 1 2 ITEM 5 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 2 3 3 3 2 4 3 3 3 3 3 4 4 2 3 3 3 2 4 3 ITEM 6 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 2 ITEM 7 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 3 3 3 3 4 4 2 3 3 3 4 4 3 ITEM 8 2 3 2 2 4 4 2 4 1 4 1 3 3 4 2 3 3 2 4 3 3 3 4 2 2 2 3 1 4 2 ITEM 9 2 3 2 2 4 4 2 4 2 4 2 3 3 4 2 3 3 2 4 3 3 3 4 2 2 2 3 2 4 2 ITEM 10 4 4 4 4 4 4 4 4 1 4 1 4 4 4 2 4 4 4 4 3 3 4 4 2 4 4 3 1 4 4 87

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ITEM 11 3 2 3 3 2 2 3 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 3 2 2 2 1 1 2 3 3 2 2 1 3 ITEM 12 2 2 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 2 ITEM 13 3 2 3 3 2 2 3 1 2 2 2 2 2 2 1 1 2 3 2 2 2 1 1 1 3 3 2 2 1 3 ITEM ITEM 15 14 3 2 3 2 3 2 3 2 4 1 4 1 3 2 4 1 1 1 4 1 1 1 3 2 3 2 4 1 2 1 3 2 3 2 3 2 4 1 3 2 3 2 3 2 4 1 2 1 3 2 3 2 3 2 1 1 4 1 3 2 ITEM 16 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 3 3 3 2 4 3 3 3 3 3 4 4 2 3 3 3 4 4 3 ITEM 17 3 3 3 3 3 3 3 4 1 3 1 3 3 3 2 4 3 3 3 3 3 4 4 2 3 3 3 1 4 3 ITEM 18 3 4 3 3 4 4 3 4 2 4 2 4 4 4 2 4 4 3 4 3 3 4 4 2 3 3 3 2 4 3 ITEM 19 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 2 ITEM 20 2 2 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 2 88 ITEM 21 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 2

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ITEM 22 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 2 3 3 3 1 4 3 3 3 3 3 4 4 1 3 3 3 2 4 3 ITEM 23 3 4 3 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 3 4 3 3 4 4 2 3 3 3 4 4 3 ITEM 24 2 3 2 2 4 4 2 4 2 4 2 3 3 4 2 3 3 2 4 3 3 3 4 2 2 2 3 2 4 2 ITEM 25 3 3 3 3 4 4 3 4 2 4 2 3 3 4 2 3 3 3 4 3 3 3 4 2 3 3 3 2 4 3 ITEM 26 2 2 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 2 ITEM 27 3 3 3 3 4 4 3 4 2 4 2 3 3 4 2 3 3 3 4 3 3 3 4 2 3 3 3 2 4 3 ITEM 28 4 3 4 4 3 3 4 4 4 3 4 3 3 3 4 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 ITEM 29 2 3 2 2 4 4 2 4 2 4 2 3 3 4 2 3 3 2 4 3 3 3 4 2 2 2 3 2 4 2 ITEM 30 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 2 ITEM 31 3 4 3 3 4 4 3 4 2 4 2 4 4 4 2 4 4 3 4 3 3 4 4 2 3 3 3 2 4 3 89

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ITEM 32 2 2 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 2 ITEM 33 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 2 ITEM 34 3 3 3 3 3 3 3 4 2 3 2 3 3 3 2 4 3 3 3 3 3 4 4 2 3 3 3 2 4 3 ITEM 35 3 3 3 3 4 4 3 4 4 4 4 3 3 4 2 3 3 3 4 3 3 3 4 2 3 3 3 4 4 3 ITEM 36 3 3 3 3 4 4 3 4 2 4 2 3 3 4 2 3 3 3 4 3 3 3 4 2 3 3 3 2 4 3 ITEM 37 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 1 2 2 2 1 1 2 1 2 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 ITEM 38 3 2 3 3 1 1 3 1 2 1 2 2 2 1 2 2 2 3 1 2 2 2 1 2 3 3 2 2 1 3 ITEM 39 2 2 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 2 ITEM 40 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 1 2 TOTAL 100 106 100 100 107 107 100 106 85 107 85 106 106 107 70 105 106 100 107 102 102 105 106 70 100 100 102 85 106 100 JUMLAH 6111 RATARATA 100.1803279 90

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. Hasil Analisis Data 91

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HASIL PENGHITUNGAN UJI NORMALITAS NPar Tests One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Kecemasan N 122 Normal Parameters a Mean 94.02 Std. Deviation Most Extreme Differences 13.682 Absolute .276 Positive .155 Negative -.276 Kolmogorov-Smirnov Z 3.044 Asymp. Sig. (2-tailed) .000 a. Test distribution is Normal. HASIL PENGHITUNGAN UJI HOMOGENITAS Test of Homogeneity of Variances Kecemasan Levene Statistic df1 19.200 df2 1 Sig. 120 .000 HASIL PENGHITUNGAN UJI HIPOTESIS Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Frequencies Jenis_K elamin Kecemasan N Ayah 61 Ibu 61 92

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Frequencies Jenis_K elamin Kecemasan N Ayah 61 Ibu 61 Total 122 a Test Statistics Kecemasan Most Extreme Differences Absolute .492 Positive .492 Negative .000 Kolmogorov-Smirnov Z 2.716 Asymp. Sig. (2-tailed) .000 a. Grouping Variable: Jenis_Kelamin Mann-Whitney Test Ranks Jenis_K elamin Kecemasan N Mean Rank Sum of Ranks Ayah 61 47.18 2878.00 Ibu 61 75.82 4625.00 Total 122 a Test Statistics Kecemasan Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) 987.000 2878.000 -4.544 .000 a. Grouping Variable: Jenis_Kelamin 93

(114)

Dokumen baru

Download (113 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN DALAM PROSES MENYUSUI ANTARA IBU PRIMIPARA DAN MULTIPARA DI RSUD KOTA SURAKARTA
1
6
56
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL SUAMI DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU YANG MEMILIKI ANAK RETARDASI MENTAL DI SLBN 2 PADANG.
0
2
12
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KUALITAS HIDUP IBU YANG MEMILIKI ANAK RETARDASI MENTAL DI SLB WACANA ASIH PADANG TAHUN 2014.
0
3
14
HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DAN DUKUNGAN EMOSI DENGAN PENERIMAAN PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTIS DI SLB NEGERI SEMARANG.
0
0
18
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL SUAMI DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU YANG MEMILIKI ANAK RETARDASI MENTAL DI SLBN 2 PADANG - Repositori Universitas Andalas
0
1
1
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL SUAMI DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU YANG MEMILIKI ANAK RETARDASI MENTAL DI SLBN 2 PADANG - Repositori Universitas Andalas
0
0
2
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL SUAMI DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU YANG MEMILIKI ANAK RETARDASI MENTAL DI SLBN 2 PADANG - Repositori Universitas Andalas
1
4
9
PENERIMAAN AYAH YANG MEMILIKI ANAK AUTIS.
0
1
113
PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN IBU PRIMIGRA
0
1
5
HUBUNGAN ANTARA KETERLIBATAN AYAH DALAM MENGASUH ANAK DENGAN TINGKAT STRES PENGASUHAN PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK RETARDASI MENTAL DI SLB YAYASAN WIDYA BAKTI SEMARANG
0
0
32
HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN STRES PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTIS DI SLB AUTIS DI SURAKARTA SKRIPSI
0
0
144
TINGKAT KECEMASAN IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTIS USIA 6-7 TAHUN DI SEKOLAH LUAR BIASA SEMESTA MOJOKERTO
0
0
6
PERBEDAAN TINGKAT KESEPIAN LANJUT USIA YANG MEMILIKI PASANGAN HIDUP DAN YANG TIDAK MEMILIKI PASANGAN HIDUP DI DUSUN KRAGILAN KELURAHAN TAMANAN BANGUNTAPAN BANTUL YOGYAKARTA
0
0
14
PENERIMAAN IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTIS DITINJAU DARI DUKUNGAN SUAMI - Unika Repository
0
0
14
PERBEDAAN KECEMASAN ANTARA AYAH DAN IBU YANG MEMILIKI ANAK AUTIS Skripsi
0
5
106
Show more