Persepsi guru dan siswa terhadap alat peraga matematika berbasis Montessori kelas IC SD Kanisius Sengkan Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
121
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS MONTESSORI KELAS IC SD KANISIUS SENGKAN YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Felicia Sinta Ardianingsih 101134109 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 0

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1 PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS MONTESSORI KELAS IC SD KANISIUS SENGKAN YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Felicia Sinta Ardianingsih 101134109 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI i SKRIPSI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada: 1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan berkat untuk setiap langkah saya 2. Kedua orangtua tercinta, Benedictus Purwoharsanto dan Yohana Francisca Susanti yang telah setia memberi bimbingan dan dukungan sampai saat ini. 3. Adik-adik saya, Yohanes Babtista David Raharditya dan Alexandra Prisca Widyaningsih yang telah mendukung saya selama ini. 4. Semua saudara yang telah banyak membantu dan mendukung saya selama ini. 5. Sahabat dan teman-teman yang mendukung dan selalu memberikan doa selama ini. 6. Almamater Universitas Sanata Dharma.

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iv HALAMAN MOTTO Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan padaku (Filipi 4:13) Keep Moving Forward (Disney) Life is like riding bicycle. To keep your balance, you must keep moving. (Albert Einstein)

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang sudah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 18 Juni 2014 Penulis, Felicia Sinta Ardianingsih

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Felicia Sinta Ardianingsih NIM : 101134109 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul : Persepsi Guru Dan Siswa Terhadap Alat Peraga Matematika Berbasis Montessori Kelas IC Sd Kanisius Sengkan Yogyakarta Beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada Universitas Sanata Dharma untuk menyimpan, mengalihkan, dalam bentuk media lain, mengolahnya pengkalan data, mendistribusikannya secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media cetak lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya atau memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 18 Juni 2014 Yang menyatakan, Felicia Sinta Ardianingsih

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vii ABSTRAK Ardianingsih, Felicia Sinta. (2014). Persepsi guru dan siswa terhadap alat peraga matematika berbasis Montessori di kelas IC SD Kanisius Sengkan Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. Kata kunci: persepsi, alat peraga Montessori, guru kelas IC, siswa kelas IC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa dan guru atas alat peraga matematika berbasis Montessori yang bernama Papan Titik dalam pembelajaran yang ada di kelas. Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif fenomenologi. Subjek pada penelitian ini adalah 3 subjek yang diambil darikelas IC dan guru kelas IC. Penelitian ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian tentang alat peraga Montessori yang terdiri penelitian Research and Development yang bertugas untuk membuat alat, penelitian kuasi eksperimen yang bertugas untuk mengimplementasikan didalam pembelajaran, penelitian penelitian survey yang bertugas untuk mengevaluasi alat peraga secara kuantitatif dan kualitatif yang bertugas untuk mengevaluasi alat secara kualitatif. Instrumen penelitian pada penelitian ini adalah peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara dan observasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dimulai dengan menuliskan transkrip data yang diperoleh, pengkodean pada data yang telah ditranskrip dan yang terakhir adalah pengolahan data tersebut hingga menghasilkan kesimpulan.. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) guru mempunyai persepsi positif tentang alat peraga papan titik, guru bependapat bahwa alat peraga mampu untuk membantu guru menyampaikan materi dan menjadi motivasi belajar pada siswa. 2) Ketiga siswa mempunyai persepsi positif tentang alat peraga papan titik. Siswa beranggapan bahwa alat peraga membantu dalam menyelesaikan soal dan dengan menggunakan alat tersebut, belajar menjadi lebih mengasyikkan.

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI viii ABSTRACT Ardianingsih, Felicia Sinta. 2014. Teacher and students’s perception of mathematic visual aid instrument of Montessori in IC’s Classrooms Kanisius Sengkan Elementary School Yogyakarta. Yogyakarta: Faculty of Teacher Training and Education of Sanata Dharma University. The purpose of this research is to know the perception of the teacher and students about Dot Board - Mathematic visual aid instrument of Montessori in the learning process in the classroom. The type of this research is descriptive qualitative research. The subjects of the research are 3 students and teacher of IC. This research is the one of the research combinations about Mathematic visual aid instrument of Montessori. The combinations are RnD research that makes the instrument, quasi-experiment research that implements the visual aid instrument in the classroom, quantitative research is to evaluate the visual aid instrument in a quantitative perspective and qualitative research is to evaluate the visual aid instrument in a qualitative perspective. The research’s instrument is the researcher. The data accumulation technique of this research is interview and observation. The data analysis of this research are start with do the transcript, give the data with the code, and data processing until the researcher find the conclusion. The results of this research showed that 1) the teacher had a positive perception about dot board, a visual aid instrument, she thought that this visual aid instrument could help the teacher to explain the materials easily and became a learning motivation to students. 2) All of student had a positive perception about the dot board, a visual aid instrument. The students thought that this visual aid instrument could help them to do the exercise and make make an interesting learning. Key words: Perception, Mathematic Visual Aid Instrument of Montessori, Teacher, and students

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ix KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas limpahan berkat dan karunia-Nya sehingga skripsi yang berjudul Persepsi Guru dan Siswa Terhadap Alat Peraga Matematika Berbasis Montessori Kelas IC SD Kanisius Yogyakarta dapat peneliti selesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar. Peneliti menyadari penulisan skripsi ini tidak akan berhasil tanpa bimbingan, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena itu, perkenankan peneliti menyampaikan ucapan terima kasih dengan setulus hati kepada: 1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 2. G. Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Kaprodi PGSD sekaligus dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan kepada peneliti mulai dari awal hingga skripsi ini selesai. 3. E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D sekalu Wakaprodi PGSD. 4. Irine Kurniastuti, S.Psi., M.Psi selaku dosen pembimbing II yang sangat sabar dalam membimbing dan membantu peneliti dalam menyusun skripsi ini. 5. M. Sri Wartini selaku Kepala Sekolah SD Kanisius Sengkan yang telah memberikan ijin penelitian kepada peneliti untuk mengadakan penelitian di sekolah. 6. Astuti selaku guru kelas IC SD Kanisius Sengkan yang telah memberikan ijin, bantuan dan partisipasi dalam pelaksanaan penelitian ini. 7. Tiga siswa IC SD Kanisius Sengkan yang telah berpartisipasi dalam penelitian. 8. Kedua orang tua saya, Benedictus Purwoharsanto dan Yohana Fransisca Susanti yang telah senantiasa memberikan dukungan materi maupun moril kepada peneliti. 9. Adik-adik saya, Yohanes Babtista David Raharditya dan Alexandra Prisca Widyaningsih yang telah memberikan doa dan membantu menuliskan transkrip wawancara.

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI x 10. Teman terdekat saya, Penata, Elisabet, Romana, Regina, Seli dan Mas Yudi yang telah memberi bantuan, masukan, semangat dan menemani saya ketika saya mulai lelah mengerjakan. 11. Teman-teman payung Pani, Maria, Ucik, Heni, Meta dan Muchtar yang saling mendukung dalam penyelesaian skripsi ini. 12. Teman-teman PPL SD Kanisius Sengkan Nisa, Windi, Mila, Maria, Bertha dan Putri yang memberikan bantuan saat penelitian berlangsung 13. Teman-teman PGSD angkatan 2010 kelas C yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama penelitian berlangsung. 14. Segenap pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, terima kasih atas semua bantuan dan dukungan doa selama ini. demi tercapainya perbaikan skripsi yang lebih sempurna. Semoga skripsi ini bermanfaat secara khusus bagi pembaca dan secara umum bagi perkembangan alat peraga pendidikan. Terima kasih. Yogyakarta, 18 Juni 2014 Penulis, Felicia Sinta Ardianingsih

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xi DAFTAR ISI HALAMAN PERSETUJUAN...........................................Error! Bookmark not defined. HALAMAN PENGESAHAN............................................Error! Bookmark not defined. HALAMAN MOTTO ........................................................................................................ iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................................. v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN .................................................................. vi PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ...................... vi ABSTRAK ........................................................................................................................ vii ABSTRACT..................................................................................................................... viii KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ix DAFTAR ISI...................................................................................................................... xi DAFTAR BAGAN DAN TABEL ................................................................................... xiv DAFTAR FOTO ............................................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah ........................................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................. 3 1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................................. 4 1.4 Manfaat Penelitian................................................................................................. 4 1.5 Definisi Operasional.............................................................................................. 4 BAB II KAJIAN ................................................................................................................ 6 2.1 Kajian Pustaka ....................................................................................................... 6 2.1.1 Pengertian persepsi .......................................................................................... 6 2.1.1.1 Faktor yang mempengaruhi persepsi ....................................................... 7 2.1.1.2 Peta konsep persepsi ................................................................................ 8 2.1.2 Metode Montessori .......................................................................................... 8 2.1.2.1 Sejarah Montessori .................................................................................. 8 2.1.2.2 Ciri-ciri pembelajaran dengan metode Montessori.................................. 9 2.1.2.3 Tahap perkembangan anak menurut Montesori .................................... 10 2.1.3 Alat Peraga Berbasis Montessori ................................................................... 11 2.1.3.1 Pengertian alat peraga ............................................................................ 11 2.1.3.2 Karakteristik alat peraga berbasis Montessori ....................................... 12 2.1.3.3 Alat peraga Montessori untuk pembelajaran Matematika ..................... 14

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xii 2.1.4 Hasil Penelitian yang relevan ........................................................................ 15 2.1.4.1 Penelitian yang berkaitan dengan Persepsi ............................................ 15 2.4.1.2 Penelitian yang berkaitan dengan pengurangan dan penjumlahan dalam matematika kelas I ................................................................................ 16 2.1.4.3 Penelitian yang berkaitan dengan alat peraga berbasis Montessori ....... 16 2.1.5 Peta Literatur ................................................................................................. 18 2.2 Kerangka Pikir .................................................................................................... 19 BAB III METODE PENELITIAN ................................................................................... 20 3.1 Jenis Penelitian .................................................................................................... 20 3.2 Setting Penelitian ................................................................................................ 21 3.3 Desain Penelitian ................................................................................................. 22 3.3.1 Observasi ....................................................................................................... 24 3.3.2 Tahap perencanaan ........................................................................................ 24 3.3.3 Menyusun fokus penelitian (hal yang digali dari obyek)............................... 24 3.3.4 Melakukan pengambilan data (pelaksanaan observasi dan wawancara) ....... 24 3.3.5 Melakukan pencatatan terhadap hasil-hasil yang telah diperoleh dalam pengambilan data. ......................................................................................... 24 3.3.6 Melakukan analisis data ................................................................................. 24 3.4 Teknik Pengumpulan Data .................................................................................. 27 3.4.1 Wawancara .................................................................................................... 27 3.4.2 Observasi ....................................................................................................... 28 3.5 Instrumen Penelitian............................................................................................ 29 3.6 Kredibilitas dan Transferabilitas ......................................................................... 30 3.6.1 Kredibilitas .................................................................................................... 31 3.6.2 Transferabilitas .............................................................................................. 32 3.7 Teknik Analisis Data ........................................................................................... 32 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................................. 35 4.1 Deskripsi Subjek dan Lokasi Penelitian .............................................................. 35 4.2 Proses pembelajaran sebelum Implementasi alat peraga Montessori.................. 38 4.2.1 Pandangan Subjek dalam menggunakan alat peraga sebelum implementasi Alat peraga Montessori ................................................................................... 38 4.2.2 Kefamiliaran dan Pengalaman Siswa dalam menggunakan Alat peraga sebelum implementasi alat peraga Montessori. .............................................. 40 4.3 Pengalaman siswa menggunakan alat peraga Montessori ................................... 41 4.3.1 Hal yang dirasakan subjek saat menggunakan alat peraga Montessori. ........ 42

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xiii 4.3.2 Manfaat dan Kendala penggunaan alat Montessori dalam pembelajaran. ..... 45 4.3.3 Kemunculan 5 karakteristik alat peraga Montessori ...................................... 48 4.5 Pembahasan ......................................................................................................... 50 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN............................................................................ 54 5.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 54 5.2 Keterbatasan Penelitian ....................................................................................... 54 5.3 Saran.................................................................................................................... 55 DAFTAR REFERENSI .................................................................................................... 57 DAFTAR RIWAYAT HIDUP........................................................................................ 102

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xiv DAFTAR BAGAN DAN TABEL Bagan 2.1 Bagan Persepsi yang dikutip dari Walgito Bagan 2.3 Bagan Persepsi yang telah dimodifikasi Bagan 2.2 Peta konsep persepsi Bagan 3.1 Desain Penelitian menurut Patton Bagan 3.2 Bagan prosedur penelitian dengan modifikasi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xv DAFTAR FOTO Gambar 4.1 Ruang kelas IC tampak dari depan ...................................... 37 Gambar 4.2 Ruang kelas IC tampak dari depan ...................................... 38 Gambar 4.3 Ruang kelas IC tampak dari belakang ................................. 38 Gambar 4.4 Siswa mengerjakan soal menggunakan alat ........................ 41 Gambar 4.5 Siswa menaruh titik pada papan .......................................... 42

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xvi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Tabel Perencanaan Observasi Sosio Kultur........................ 61 Lampiran 2. Tabel Perencanaan Observasi Implementasi Alat Peraga Montessori di Kelas ............................................................................ 61 Lampiran 3. Panduan Wawancara Guru Sebelum Implementasi Alat Peraga ......................................................................................... 61 Lampiran 4. Panduan Wawancara Siswa Sebelum Implementasi Alat Peraga ......................................................................................... 62 Lampiran 5. Panduan Wawancara Guru Setelah Pengimplementasian Alat ..................................................................................................... 62 Lampiran 6. Panduan Wawancara Siswa Setelah Implementasi Alat Peraga ......................................................................................... 62 Lampiran 7. Tabel Panduan Observasi Sosio Kultur Kelas IC dan Pembelajaran sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori .......................................................................................... 63 Lampiran 8. Hasil Observasi Sosio Kultur dan Proses Pembelajaran di kelas IC SD Kanisius Sengkan Yogyakarta ................................... 63 Lampiran 9. Verbatim video observasi pengimplementasian alat Peraga hari pertama ........................................................................................ 64 Lampiran 10. Verbatim Video Observasi Pengimplementasian Alat Peraga Hari pertama ........................................................................... 65 Lampiran 11. Verbatim Video Observasi Pengimplementasian Alat Peraga Hari Kedua.............................................................................. 68 Lampiran 12. Verbatim Video Observasi Pengimplementasian Alat Peraga Hari Kedua.............................................................................. 69 Lampiran 13. Verbatim Video Observasi Pengimplementasian Alat Peraga Hari Ketiga ............................................................................. 70 Lampiran 14. Verbatim Video Observasi Pengimplementasian Alat Peraga Hari Ketiga ............................................................................. 71 Lampiran 15. Transkrip Wawancara Guru Sebelum Implementasian Alat Peraga ......................................................................................... 72 Lampiran 16. Verbatim Wawancara Siswa Sebelum Implementasian

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xvii Alat Peraga ......................................................................................... 77 Lampiran 17. Verbatim Wawancara Siswa Sebelum Implementasian Alat Peraga ......................................................................................... 79 Lampiran 18. Verbatim Wawancara Siswa Sebelum Implementasian Alat Peraga ......................................................................................... 82 Lampiran 19. Verbatim Wawancara Guru Setelah Implementasian Alat Peraga ......................................................................................... 82 Lampiran 20. Verbatim Wawancara Siswa Setelah Implementasian Alat Peraga ......................................................................................... 88 Lampiran 21. Verbatim Wawancara Siswa Setelah Implementasian Alat Peraga ......................................................................................... 90 Lampiran 22. Verbatim Wawancara Siswa Setelah Implementasian Alat Peraga ......................................................................................... 91 Lampiran 23. Tabel Pengelompokan Data Berkode Berdasarkan Tema........................................................................................................ 94 Lampiran 24. Foto Penelitian .................................................................. 97 Lampiran 25. Surat Ijin Penelitian .......................................................... 100 Lampiran 26. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ................ 101

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) adalah sebuah langkah awal pembelajaran benar-benar dimulai. Tahap pengenalan terhadap pembelajaran biasanya telah dikenalkan pada tahap sebelumnya yaitu tahap prasekolah atau taman kanak-kanak. Pembelajaran yang dialami siswa di SD harusnya dapat dicerna, dipahami dan dipraktikkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Halhal yang dialami siswa ketika belajar di dalam kelas akan berdampak pada pola pikir siswa. Pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna akan membuat konsep yang dipelajari oleh siswa semakin dapat melekat pada pikiran siswa. Dalam rangka memfasilitasi siswa dalam belajar, guru berlomba-lomba untuk mengadakan pembelajaran inovatif. Dalam rangka mencapai hal tersebut guru perlu pendukung proses pembelajaran yang biasa dinamakan media atau alat peraga. Alat peraga atau media pembelajaran merupakan syarat standar sarana prasarana di sekolah. Menurut pasal 42 PP nomor 19 Tahun 2005 Bab VII menerangkan bahwa setiap satuan pendidikan diwajibkan untuk memiliki peralatan pendidikan seperti alat peraga yang lengkap untuk menunjang proses pembelajaran. Namun, pada hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti sebelum pengimplementasian alat peraga didalam kelas yang menjadi tempat observasi tidak tampak adanya alat peraga bahkan dalam pembelajaran tersebut guru tidak tampak menggunakan alat peraga. Selain menjadi kewajiban sekolah untuk menyediakan alat peraga, terdapat pendapat para ahli pendidikan tentang pentingnya alat peraga dalam sebuah pembelajaran. Dalam tahap perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Piaget, terdapat tahap Operasional Konkret yang terjadi di usia 7 hingga 11 tahun. Santrock dalam bukunya Psikologi Pendikan berpendapat bahwa tahap kognitif operasional konkret, anak usia 7 hingga 11 tahun akan dapat melakukan penalaran jika anak tersebut sudah mengalami hal konkret (2014: 49). Guru kelas IC yang menjadi salah satu responden pada penelitian ini mengungkapkan bahwa alat peraga adalah alat peraga dalam pembelajaran akan membantu siswa untuk menalar dengan menggunakan benda konkret. Kontak langsung dengan alat peraga konkret dalam pembelajaran 1 akan membantu siswa dalam

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 memvisualisasikan konsep sebuah materi yang sedang mereka pelajari. Rukmi (2013) melakukan penelitian tentang pengembangan alat peraga dan ditemukan bahwa ada peningkatan prestasi siswa setelah belajar menggunakan alat peraga yang telah ia kembangkan. Sama halnya dengan Rukmi yang menjalankan penelitian pengembangan alat, Wijayanti (2013) juga melakukan hal serupa. Wijayanti melakukan penelitian terkait dengan alat peraga yang diujicobakan pada siswa kelas I. Hasil pada kedua penelitian tersebut menandakan bahwa alat peraga yang diuji cobakan membawa peningkatan hasil belajar pada siswa yang mengikuti uji coba tersebut. Namun demikian, tidak semua alat yang dikembangkan dan digunakan dalam pembelajaran dapat membantu untuk meningkatkan hasil belajar. Hal tersebut yang memacu para peneliti lain untuk melakukan pengembangan alat peraga sehingga alat peraga yang mereka buat benar-benar membantu siswa untuk meningkatkan hasil belajar. Pengembangan alat yang telah banyak dilakukan peneliti pengembangan alat belum satupun yang melihat secara mendalam atau melihat hal yang benarbenar terjadi di dalam diri individu yang menggunakan alat tersebut. Contohnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Hassanuddin yang dilakukan pada tahun 2013. Penelitian yang ia lakukan dievaluasi dari perolehan nilai yang didapat dari hasil tes yang dilakukan setelah adanya eksperimen dengan alat yang ia gunakan. Padahal mengungkap pengalaman individu dalam menggunakan alat peraga dapat memberikan refleksi yang berguna bagi pengembangan alat peraga selanjutnya. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengungkap persepsi seseorang yang terkait dengan penggunaan alat peraga itu sendiri. Penelitian tentang persepsi dibutuhkan sebagai sebuah refleksi para peneliti pengembangan alat peraga tentang alat yang telah mereka buat bukan sekedar dalam hal peningkatan hasil belajar. Walgito (2002) menyatakan bahwa persepsi adalah hal yang muncul dari sebuah pengindraan yang diterima oleh indra individu tersebut. Kemudian Davidoff (Walgito, 2004) mengemukakan dengan persepsi, individu akan dapat menyadari keadaan sekitar dan keadaan yang ada dalam dirinya sehingga akan menimbulkan respon yang berbeda pada setiap individu. Terdapat 3 hal yang mempengaruhi pembentukan sebuah persepsi dalam diri individu (Walgito, 2004) yaitu (1) obyek yang dipersepsi, (2) alat indra, syaraf dan pusat

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 susunan syaraf dan (3) perhatian. Selain itu, persepsi juga berkaitan erat dengan sikap kecenderungan untuk melakukan sesuatu. Persepsi yang biasanya dipengaruhi oleh pengalaman dan pemikiran seseorang. Dalam hal ini, pengalaman menggunakan alat peraga yang mungkin dipengaruhi oleh sikap seseorang terhadap penggunaan alat tersebut dan bagaimana intensi seseorang dalam menggunakan alat tersebut di kemudian hari. Pada penelitian ini akan dibahas tentang bagaimana persepsi guru dan siswa terhadap alat peraga Montessori yang digunakan di kelas 1 yang bernama papan titik. Penelitian tentang persepsi yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian yang merupakan serangkaian penelitian yang ingin menguji alat peraga. Penelitian persepsi ini berjalan setelah penelitian pengembangan alat peraga Montessori yang menggunakan uji terbatas sebagai subjek penelitian. Penelitian persepsi ini dilakukan bersamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti eksperimen yang menggunakan alat yang telah diujikan secara terbatas sebelumnya. Maria Montessori adalah seorang berkebangsaan Itali yang melakukan penelitian tentang anak berkebutuhan khusus di Pinggiran Itali. Alat yang ia menciptakan adalah modifikasi dari alat yang dibuat oleh Jean-Marc Gaspard dan Edouard Seguin yang dirancang untuk digunakan oleh penyandang tuna grahita. Banyak jenis alat yang telah berhasil membantu anak berhasil dalam belajar bukan hanya di Italy, namun juga di Indonesia. Melalui alat peraga tersebut, peneliti ingin mengetahui lebih dalam bagaimana perasaan dan pandangan siswa dan guru tentang alat peraga Montessori yang digunakan dalam pembelajaran di kelas. Terkhusus karena alat peraga ini didesain dengan karakteristik khusus yaitu auto-education, auto-correction, menarik, bergradasi dan kontekstual. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana Persepsi Guru Terhadap Alat Peraga Matematika Papan Titik Berbasis Montessori? 2. Bagaimana Persepsi Siswa Terhadap Alat Peraga Matematika Papan Titik Berbasis Montessori?

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru dan siswa terhadap alat peraga Papan Titik berbasis Montessori yang digunakan dalam pembelajaran matematika di kelas IC SD Kanisius Sengkan tahun pelajaran 2013/2014 1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat melihat persepsi siswa dan guru pada alat peraga Papan Titik berbasis Montessori. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti Dari penelitian ini, diharapkan peneliti mendapatkan pengalaman bagaiman meneliti tentang kelebihan dan kekurangan sebuah alat peraga dan dampaknya pada siswa dan guru melalui mengetahui persepsi siswa dan guru terkait dengan alat peraga tersebut. b. Bagi guru Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh guru sebagai wawasan dalam mengadakan alat peraga pada pembelajaran selanjutnya c. Bagi Siswa Diharapkan dengan penelitian ini, siswa menjadi memiliki pengetahuan yang lebih tentang bagaimana cara menggunakan alat peraga papan titik berbasis Montessori. 1.5 Definisi Operasional 1. Persepsi adalah sebuah pemikiran atau perasaan yang muncul pada seseorang dimana seseorang setelah proses interaksi dengan suatu benda hingga menimbulkan respon tersendiri dari individu tersebut. Persepsi dalam penelitian ini adalah pandangan seseorang yang yang muncul dari pengalaman menggunakan alat peraga sehingga terlihat dari sikap dan perilaku yang muncul. 2. Alat peraga adalah sebuah alat yang digunakan dalam pembelajaran yang mampu membantu siswa dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran semakin terserap siswa dengan baik. Alat peraga yang

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 digunakan dalam pembelajaran ini adalah papan titik. Papan titik ini adalah alat yang berasal dari Metode Montessori. Papan titik adalah sebuah alat peraga yang terbuat dari kayu yang berbentuk balok-balok kecil yang mempunyai sebuah papan jika ingin digunakan. 3. Materi operasi bilangan bulat (penjumlahan dan pengurangan) terdapat pada materi pembelajaran matematika. Pada implementasi yang dilakukan menggunakan materi bilangan 1 hingga 99. 4. Catatan anekdot adalah sebuah catatan yang dibuat oleh seseorang dengan cara menuliskan semua kejadian yang dialami oleh subjek yang sedang diobservasi.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pengertian persepsi Lugo dan Hershey dalam Cahyani (2006: 24) berpendapat bahwa persepsi adalah sebuah aktivitas untuk merasakan, mengerti, menginterpretasi dan mengapresiasi sebuah obyek baik secara fisik maupun sosial melalui rangsangan panca indra yang sebelumnya terdapat stimulus fisik maupun sosial yang dikembangkan oleh lingkungan. Sedangkan Kuppuswamy dalam Cahyani (2006: 24) mengemukakan bahwa persepsi adalah sebuah rangkaian seseorang mengobservasi dan mengidentifikasi obyek serta peristiwa atau berbagai karakteristik yang dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu yang menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang merupakan bagian dari kehidupannya. Mendukung pendapat kedua ahli diatas, Walgito (2002) berpendapat bahwa persepsi sendiri muncul dari sebuah pengindraan. Pengindraan sendiri bermakna sebagai proses individu menerima stimulus melalui alat-alat indra yang ia miliki. Davidoff mengemukakan bahwa melalui persepsi tersebut seseorang akan mampu menyadari keadaan sekitarnya dan keadaan dalam dirinya. Stimulus yang ia terima akan menjadikan respon yang berbeda dalam setiap individu. hal tersebut disebabkan oleh persepsi sendiri akan timbul akibat perasaan, kemampuan berpikir seseorang, dan pengalaman yang berbeda dalam setiap individu (Bimo Walgito, 2004: 89). Bimo Walgito (2003: 116) mengusung sebuah proses terjadinya persepsi. Proses terjadinya persepsi tersebut yaitu: Keyakinan Proses Belajar Pengalaman Pengetahuan Persepsi Objek sikap Kepribadian Kognisi Evaluasi Afeksi Senang/tak senang Sikap Faktor lingkungan yang berpengaruh Bertindak Bagan 2.1 Bagan Persepsi yang dikutip dari Walgito (2003:116) 6

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 Peneliti memodifikasi bagan yang dikemukakan Walgito sehingga sesuai dengan pemikiran peneliti, bagan tersebut adalah Keyakinan Proses Belajar Pengalaman Persepsi Pengetahuan Senang/ tidak senang Objek sikap Evaluasi Sikap Senang/tak senang Tindakan Bagan 2.3 Bagan Persepsi yang telah dimodifikasi Dari bagan diatas dapat dilihat bagaimana persepsi muncul. Persepsi muncul dipengaruhi oleh keyakinan, proses belajar, pengalaman, pengetahuan serta objek sikap. Dalam penelitian ini, yang menjadi objek adalah alat peraga Montessori. Objek sikap sendiri dipengaruhi oleh adanya evaluasi dan perasaan senang dan tidak senang yang kemudian akan memunculkan tindakan atas subyek yang mempersepsi objek. Dari berbagai pendapat tentang persepsi yang ada di atas, dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan sebuah rangkaian proses yang melibatkan keyakinan, proses belajar, pengalaman, pengetahuan serta objek sikap kemudian memunculkan respon yang terlihat sebagai tindakan. 2.1.1.1 Faktor yang mempengaruhi persepsi Munculnya persepsi seseorang akan didorong oleh faktor tertentu. Faktor tersebut dapat berupa hal yang berasal dari dalam diri seseorang dan ada yang berasal dari luar seseorang. Bimo Walgito mengungkap terdapat faktor yang berperan dalam pembentukan persepsi dalam diri individu (Bimo Walgito, 2004: 89), yaitu: a. Obyek yang dipersepsi Obyek yang dilihat oleh indivudu akan menimbulkan stimulis yang nantinya akan membentuk persepsi dalam diri individu tersebut.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 b. Alat indra, syaraf, dan pusat susunan syaraf Alat indra, syaraf dan pusat susunan syaraf adalah hal yang penting dalam pembentukan persepsi. Komponen yang ada tersebut membantu individu dalam menerima stimulus yang nantinya akan membentuk respon dalam diri individu. c. Perhatian Perhatian untuk terbentuknya sebuah persepsi harus ada perhatian yang terpusat pada obyek yang sehingga akan menimbulkan stimulus yang berbeda pada setiap individu dari diri individu. 2.1.1.2 Peta konsep persepsi Dalam berbagai kajian teori tentang persepsi, ditemukan bahwa persepsi merupakan sebuah rangkaian proses yang dilalui oleh subjek. Dibawah ini digambarkan bagaimana peneliti mendapatkan rangkuman pengertian persepsi. Lugo dan Hersley (1981): Persepsi adalah aktivitas merasakan, mengerti, meninterpretasi dan mengapresiasi sebuah obyek Kuppuswamu (1979): Rangkaian mengobservasi dan mengidentifiasi obyek yang bagian dari sebuah kehidupan. Walgito (2002): Hal yang muncul daripenerimaan stimulus oleh alat-alat indra Davidoff : Setelah mempunyai persepsi maka seseorang akan menyadari lingkungan dan keadaan diri Persepsi merupakan sebuah rangkaian proses dimana subjek tersebut mengobservasi dan mengidentifikasi sebuah obyek yang ada yang kemudian akan menimbulkan respon dalam individu tersebut. Bagan 2.2 Peta konsep persepsi Dalam penelitian ini, persepsi yang dimaksudu untuk diteliti adalah persepsi subjek tentang alat peraga yang akan diimplementasikan. Persepsi yang muncul pada subjek yang berinteraksi dengan alat peraga tersebut akan mempengaruhi perilaku, pandangan dan perasaan subjek terhadap alat peraga yang digunakan. 2.1.2 Metode Montessori 2.1.2.1 Sejarah Montessori Maria Montessori, wanita yang terlahir di Chiaravalle, Italia Utara 1870. Ia adalah putri dari Alessandro Montessori dan Renilde Stoppani. Ayah Montessori

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 adalah seorang yang berpendidikan dan ibunya adalah seorang yang mampu mendorong Montessori untuk menggapai cita-citanya. Saat Montessori dilahirkan, Itali masih mengalami tingkat buta huruf yang tinggi. Maka, keluarga Montessori pindah ke Roma untuk memberikan pendidikan terbaik untuk Montessori (Magini, 2013: 7). Montessori mendapatkan pendidikan yang sangat layak di Roma. Pendidikan dasar hingga SMA, Montessori mengenyam pendidikan teknik dan kemudian ia melanjutkan studinya di sekolah medis. Montessori adalah satusatunya siswa perempuan di kelasnya. Saat ia studi medis, ia bekerja sebagai asisten dokter yang menangani orang-orang dengan gangguan jiwa dan cacat mental. Pekerjaan tersebut sangat mempengaruhi hidup Montessori, sehingga ia tertarik untuk melakukan penelitian tentang anak-anak dan kebutuhannya terutama pada anak yang menyandang tuna grahita (Crain, 2007: 98). Penelitian tersebut terus berlanjut dan semakin berfokus pada anak-anak yang memiliki keterbelakangan mental. Tokoh yang sangat menginspirasi Montessori untuk melakukan penelitian ini adalah Jean-Marc Gaspard Itard dan muridnya Edouard Seguin. Seguin adalah tokoh yang merancang pembelajaran untuk para penyandang tuna grahita dengan aktivitas fisik yang menggunakan panca indra untuk mengaktifkan syaraf yang lemah (Magini, 2013: 26). Pada 6 Januari 1907 Montessori bersama Edorado Talamo, seorang penanggung jawab proyek pengelolaan lingkungan San Lorenzo mendirikan Casa dei Bambini yang berkonsep tempat penitipan anak. Dalam rumah penitipan anak tersebut terdapat banyak alat-alat yang dapat digunakan anak untuk belajar. Alatalat yang ada di rumah tersebut juga sangat baik karena alat tersebut merupakan alat yang didaktis. Montessori berhasil dengan Casa dei Bambini dan membuat ia memperoleh Nobel Perdamaian sebanyak tiga kali. Montessori meninggal pada tahun 1952 di Holland, Belanda (Mooney, 2000: 22) 2.1.2.2 Ciri-ciri pembelajaran dengan metode Montessori Pembelajaran metode Montessori sangat dekat dengan metode inquiri dan konstruktivis. Ketiga metode tersebut memfokuskan pembelajaran dengan menemukan sendiri dan membangun konsep dalam diri siswa secara mendalam. Dalam Inquiry in Montessori yang dikarang oleh Carol R. Rinke dan kawan-

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 kawan berpendapat bahwa kelas yang dipengaruhi oleh model Montessori dan Konstruktivis akan memberikan kesempatan pada siswa untuk bereksplorasi, memanipulasi dan menggunakan alat sesuai dengan kemampuan mereka (Rinke, Carol R. dan kawan-kawan, Springer:2012). Carol juga menambahkan bahwa metode Montessori dan Inkuiri adalah pembelajaran yang sama-sama mendorong siswa untuk tertarik tentang dunia dan alam, keduanya merupakan metode yang berbasis student-centered yang menjadikan guru hanya sebagai fasiltator, konteks kedua metode ini adalah komunitas dan kerjasama dan keduanya secara langsung dan tidak langsung menggambarkan pendekatan konstruktivis yang mana pembelajaran muncul dari interaksi dari siswa dan lingkungan (Rinke, 2012). 2.1.2.3 Tahap perkembangan anak menurut Montesori Sebagai seorang pemerhati anak, Montessori merumuskan tahap-tahap perkembngan anak. Menurut Montessori, terdapat 3 tahap perkembangan anak sesuai dengan umur yatu umur 0-6 tahun, 6-12 tahun dan 12-18 tahun (Montessori, 2008: xii). Karakteristik setiap perkembangannya adalah : a. Tahap 0 – 6 tahun Tahap ini disebut dengan tahap periode sensitif. Pada periode ini anak mengalami masa dimana ia mudah sekali untuk mengingat apapun yang terdapat dilingkungannya. Keberhasilan kecerdasan anak pada masa ini akan sangat berpegaruh pada tahap perkembangan berikutnya. b. Tahap 6 – 12 tahun Perkembangan anak pada tahap ini, anak mengalami masa yang sangat sensitif pada logika dan pembenaran, imajinasi, rasa berkelompok, pengenalan budaya dan kekuatan fisik yang berkembang sangat pesat. c. Tahap 12 – 18 tahun Pada fase ini, fisik anak akan mengalami kematangan. Kematangan fisik ini melandasi pencarian model ideal yang nantinya akan diikuti anak. Jiwa anak akan berkembang bebas pada fase ini. Anak akan mencari lingkup sosial yang ideal baginya. Dalam lingkup sosial yang dipilih, anak akan mencari dan menemukan nilai spiritualitas yang akan dijadikan sebagai landasan hidup si anak tersebut.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa tahap perkembangan yang dialami anak akan semakin dipengaruhi oleh lingkungannya. Siswa SD yang berada dalam tahap perkembangan kedua, akan mengalami periode sensitif pada logika, imajinasi, rasa berkelompok dan pengenalan budaya. Maka, dalam proses pembelajaran, guru harus mempertimbangkan ciri-ciri pada periode ini dan menyajikan materi sesuai dengan tahap perkembangan anak didiknya. Metode yang digunakan harus sesuai dengan tahap perkembangan dan mendukung logika, imajinasi, rasa berkelompok dan pengenalan budaya sehingga anak mampu berkembang secara maksimal. Untuk mewujudkan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan belajar siswa, maka dalam pembelajaran baiknya didukung oleh alat peraha yang mendorong proses berpikir yang mencakup logika, imajinasi, rasa berkelompok dan pengenalan budaya dalam diri anak. 2.1.3 Alat Peraga Berbasis Montessori 2.1.3.1 Pengertian alat peraga Alat peraga, adalah 2 kata yang saling terkait dan sangat berpengaruh dalam sebuah pembelajaran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, alat sendiri berarti alat yang digunakan untuk mengerjakan sesuatu dan peraga berarti alat atau media pengajaran untuk memperagakan materi pelajaran. Dari kedua kata tersebut dapat disimpulkan bahwa alat peraga merupakan alat yang digunakan untuk memperagakan materi dalam sebuah pembelajaran. Anitah (2010: 4) mengungkapkan makna dari alat peraga, yaitu sarana yang digunakan untuk membawa pesan kepada penerima pesan. Dalam rangka mendukung apa yang telah diungkapkan Anitah, Sudono (2010: 14) mengungkapkan bahwa alat peraga adalah alat yang berfungsi untuk memberikan keterangan dalam sebuah mata pelajaran yang terjadi dalam sebuah proses pembelajaran tertentu. Sedikit berbeda dengan Anitah dan Sudono, Munandi (2010:37-38) menunjukkan bahwa fungsi dari alat peraga sendiri adalah untuk sumber belajar yang menuntun pembelajar untuk dapat mencapai konsep pembelajaran yang telah dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Dari keempat penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa alat peraga merupakan alat yang digunakan oleh guru dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dalam sebuah proses pembelajaran. Kemudian, Kustandi dan Sutjipto

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 (2011) mengungkap bahwa terdapat manfaat umum adanya alat peraga sebagai alat bantu mengajar, yaitu a. Penyajian materi semakin jelas Melalui alat peraga, materi-materi yang abstrak akan berubah menjadi hal yang konkret sehingga materi yang disampaikan menjadi lebih mudah diserap oleh siswa. b. Meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak Melalui alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran di kelas, siswa menjadi fokus menggunakan alat peraga tersebut untuk belajar. c. Mengatasi keterbatasan indera, ruang dan waktu Alat peraga yang digunakan diharapkan dapat meminimalkan keterbatasan indera, ruang dan waktu sehingga semua siswa dapat belajar dan menyerap pembelajaran secara maksimal. d. Memberi kesamaan pengalaman pada siswa Adanya alat peraga, siswa diharapkan mendapatkan kesamaan belajar yang sama, baik secara alat maupun materi. 2.1.3.2 Karakteristik alat peraga berbasis Montessori Alat peraga yang dirancang Montessori adalah rancangan yang sangat detil sehingga anak dapat menggunakan alat itu sendiri (Lillard, 1997: 11). Lillard menyebutkan bahwa alat tersebut terdapat hal-hal yang selalu diperhatikan agar mampu mengembangkan pikiran matematika (1997: 137). Jika menggunakan alat tersebut, anak mampu untuk menjelajahi pikiran sehingga mampu untuk memahami perintah, urutan, dan memiliki kemampuan untuk menempatkan apa yang ia ketahui sampai menemukan hal baru sendiri. Unsur yang diperhatikan dalam setiap alat Montessori adalah membangun kemandirian anak, memiliki nilai seni, memiliki tanggung jawab dan bangga terhadap alat peraga yang ia miliki. Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa alat peraga Montessori merupakan alat peraga yang tak hanya mendidik anak dalam hal akademis. Alat peraga tersebut juga melatih anak dalam hal non-akademis seperti sikap. Alat peraga Montessori juga dirancang untuk mengembangkan pikiran anak tentang matematika.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Montessori berhasil memodifikasi alat-alat yang telah dibuat oleh Itard dan Seguin sehingga alat-alat tersebut selalu didaktis dan terdapat pengendali kesalahan yang telah diujicoba pada anak-anak tuna grahita (Magini, 2013 : 48). Terdapat karakteristik dalam setiap alat yang telah dimodifikasi Montessori (Montessori, 1964: 168). Karakteristik tersebut adalah : a. Auto – Education Alat yang telah dimodifikasi oleh Montessori akan mengandung pembelajaran tentang berat, bentuk, tekstur, pola dan sebagainya. Melalui alat-alat tersebut, anak tidak akan menganggap dirinya sedang dalam proses belajar. Anak akan menganggap ia sedang bermain (Montessori, 1964). Adanya berat, bentuk, tekstur, pola yang berbeda disetiap alatnya akan menarik perhatian anak untuk menggunakannya bukan hanya untuk satu kali, namun untuk berulang kali. b. Bergradasi Setiap alat yang telah dimodifikasi mempunyai gradasi dalam bentuk serta warna. Gradasi ini sengaja dibuat untuk mengenalkan dan melatih penglihatan anak untuk melihat perbedaan dimensi antar alat (Montessori, 1964). c. Menarik Alat peraga yang dimodifikasi sangat menarik perhatian anak dari bentuknya, warna, tekstur pola dan sebagainya. Peletakan alat-alat tersebut juga dirancang oleh Montessori. Peletakkan yang ada disekeliling kelas dan mudah dijangkau anak (Magini, 2013) akan mudah untuk dimainkan anak. d. Auto – corection Auto – corection yang dimaksud dalam alat peraga Montessori adalah alat yang mempunyai pengendali kesalahan. Anak akan mengetahui dengan sendirinya jika ia melakukan kesalahan dalam bermain tanpa harus diberitahu oleh gurunya, ia juga akan tahu jika hal yang telah ia lakukan adalah benar (Montessori, 1964) e. Kontekstual Montessori mengemukakan dalam prinsip pendidikan yang ia usung bahwa belajar seharusnya disesuaikan dengan konteks lingkungan dimana anak berada (Lilliard, 2005). Selain itu, Johnson dalam Komalasari (2013:7) berpendapat bahwa terdapat 9 karakteristik ppembelajaran kontekstual. Salah satu karakteristik yang disebutkan oleh Johnson bahwa dalam pembelajaran

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 kontekstual siswa mampu belajar semakin bermakna karena siswa belajar sambil melakukan (learning by doing). Alat peraga tersebut siswa mampu untuk belajar dengan menggunakan alat tersebut. 2.1.3.3 Alat peraga Montessori untuk pembelajaran Matematika Heruman (2008) mengemukakan pendapatnya bahwa pembelajaran matematika di SD bertujuan untuk melatih siswa untuk dapat menggunakan konsep matematika untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan yang telah dikemukakan oleh Heruman, guru membutuhkan tahap-tahap pembelajaran sehingga siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran. Guru membutuhkan acuan penekanan tahap yang perlu diperhatikan dalam setiap pembelajaran matematika (Heruman, 2008: 3). Penekanan tersebut yaitu: a. Penanaman Konsep Dasar Penekanan penanaman konsep ini terjadi saat siswa akan mempelajari sebuah konsep baru dalam matematika. Penanaman konsep ini dapat dilakukan dengan melakukan pengenalan dengan konsep baru tersebut. b. Pemahaman Konsep Tahap ini adalah penekanan setelah penanaman konsep yang harus dilakukan guru. Pemahaman konsep sendiri terdiri dari dua bagian (Heruman, 2008) yaitu kelanjutan dari penanaman konsep yang sebelumnya telah dilakukan dan pemahaman konsep yang telah ditanamkan siswa di waktu yang berbeda. c. Pembinaan Keterampilan Tahap ini adalah tahap setelah penanaman konsep dasar dan pemahaman konsep dalam diri siswa. Pada tahap ini, pembelajaran bertujuan untuk siswa lebih terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika. Sehingga siswa semakin matang dalam menggunakan konsep matematika dalam kehidaupan sehari-hari. Menanggapi kebutuhan ini, dikembangkanlah alat peraga papan titik. Alat peraga ini adalah adalah alat peraga matematika berbasis Montessori sebagai terobosan untuk mengajarkan konsep matematika pada siswa dan mendidik siswa untuk menjadi seorang pembelajar yang mandiri. Papan titik ini di desain dengan lubang-lubang dan bulatan-bulatan untuk membangun pemahaman siswa melalui

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 hal konkret. Penanaman konsep secara konkret ini didasarkan oleh karakteristik perkembangan yang kemukakan oleh Montessori. Sesuai yang telah dituliskan sebelumnya, anak usia 0 hingga 6 tahun berada diperiode sensitif dimana anak mudah sekali mengingat hal-hal yang terdapat dilingkungannya. Alat peraga papan titik ini digunakan untuk belajar penjumlahan dan pengurangan angka. Alat ini cocok digunakan untuk materi penjumlahan dan pengurangan dua angka yang terdapat pada kurikulum KTSP dan dipelajari siswa yang berada di kelas 1. Materi ini diambil dari SK 4 yaitu “Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah” dan KD 4.4 yaitu “Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka”. dalam materi ini, siswa akan mampu menguasai operasi hitung penjumlahan dan pengurangan yang terdiri dari penjumlahan dan pengurangan 1 angka dan 1 angka, 2 angka dan 1 angka dan 2 angka dan 2 angka. 2.1.4 Hasil Penelitian yang relevan 2.1.4.1 Penelitian yang berkaitan dengan Persepsi Penelitian yang relevan yang diambil oleh peneliti sebagai penelitian yang relevan terkait dengan persepsi adalah penelitian yang dilakukan oleh Perdanawati (2010) dan Chairunisa (2001). Peneliti mengambil dua penelitian tersebut sebagai peneleitian yang relevan karena kedua peneltian tersebut adalah penelitian yang dilakukan pada pelaku proses pembelajaran walaupun tingkat usia subjek berbeda dengan usia subjek yang digunakan pada penelitian ini. Penelitian yang berkaitan dengan persepsi sebelumnya dilakukan oleh Herlina Perdanawati tentang komparasi persepsi siswa tentang kualitas pembelajaran IPS yang menggunakan sumber belajar dengan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Surakarta pada tahun pelajaran 2009/2010. Penelitian tersebut menghasilkan data yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang positif serta signifikan pada siswa yang mempunyai persepsi positif dan negatif pada kualitas pembelajaran IPS serta terdapat perbedaan yang terlihat pada prestasi belajar siswa. Penelitian yang kedua yang berkaitan dengan Persepsi adalah penelitian yang dilakukan Chairunnisa pada tahun 2001 dengan judul Persepsi Siswa terhadap Metode Pembelajaran Guru dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia di SMK Al-Hidayah Ciputat. Penelitian tersebut menggunakan sampel sebanyak 30 siswa

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 yang kemudian peneliti menyebarkan angket kepada 30 siswa tersebut dengan 20 butir pertanyaan. Hasil dari penelitian ini disebutkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara persepsi terhadap metode pembelajaran serta pada hasil belajar Bahasa Indonesia. 2.4.1.2 Penelitian yang berkaitan dengan pengurangan dan penjumlahan dalam matematika kelas I Penelitian yang berkaitan dengan alat peraga atau media yang digunakan dalam pembelajaran matematika adalah penelitian yang dilakukan oleh Hasanuddin pada tahun 2013. Jenis penelitian yang dilakukan oleh Hasaniuddin adalah penelitian tindakan kelas. Dalam penelitian, peneliti menggunakan alat peraga atau media yang berupa kantong bilangan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SD N 16 Mempawah Hilir. Siswa yang dijadikan subjek penelitian adalah siswa kelas I yang berjumlah 25 siswa. Hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa terdapat peningkatan prestasi atau hasil belajar. pada siklus pertama terlihat nilai siswa hanya mempunyai rata-rata 54,00, pada siklus kedua menjadi 67,60 dan pada siklus ahkir yaitu siklus ketiga menjadi 82,00 Penelitian yag kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Wijayanti (2013). Ia memodifikasi alat peraga berbasis Montessori yang kemudian diterapkan di kelas I SD Krekah Yogyakarta. Hasil penelitian tersebut menunjukkan alat peraga yang digunakan dapat meningkatkan prestasi belajar sebesar 73,44%. 2.1.4.3 Penelitian yang berkaitan dengan alat peraga berbasis Montessori Penelitian yang terkait dengan alat peraga berbasis Montessori dilakukan oleh Putri pada tahun 2013. Penelitian yang dilakukan Putri adalah penelitian yang berjenis Research and Development. Putri mengembangkan alat berbasis Montessori yang kemudian diujikan pada kelas III SDN Tamanan I Yogyakarta. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Putri menyebutkan bahwa alat yang dibuat untuk digunakan dalam penelitian mempunyai kualitas yang sangat baik berdasarkan pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, guru kelas III SDN Tamanan I dan siswa kelas IIIA SDN Tamanan I. Penelitian yang selanjutnya adalah penelitian Research and Development yang dilakukan oleh Pratiwi (2013). Penelitian ini mengembangkan alat berbasis

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 Montessori yang kemudian diujikan pada siswa kelas IVA SDN Tamanan 1 Yogyakarta. Sama dengan penelitian sebelumnya, penelitian yang dilakukan Pratiwi menunjukkan hasil yang sangat baik. Alat peraga yang dibuat mendapatkan katagori sangat baik oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, guru kelas IV SDN Tamanan I dan beberapa kelompok siswa kelas IVA. Enam penelitian diatas adalah penelitian menjadi acuan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Kedua penelitian persepsi ini adalah penelitian yang memberi pengetahuan bagi peneliti untuk mengetahui terbentuknya persepsi dalam diri siswa saat belajar dengan menggunakan sebuah metode penelitian tertentu. Penelitian matematika dengan menggunakan alat peraga akan membantu peneliti untuk mengetahui pengaruh adanya penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika. Penelitian alat peraga Montessori adalah penelitian yang berkaitan erat dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti sehinggadengan penelitian ini, peneliti mendapat pengetahuan tentang metode Montessori dan alat peraganya. Melalui penelitian tersebut memberikan pengetahuan dasar yang selanjutnya menjadi motivasi bagi peneliti untuk meneliti tentang persepsi mengenai alat peraga yang ada dalam metode Montessori. Keenam penelitian tersebut terangkum dalam peta literatur.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 2.1.5 Peta Literatur Persepsi Herlina Perdanawati (2010): Komparasi persepsi tentang kualitas pembelajaran IPS yang menggunakan sumber belajar dengan prestasi belajar. Chairunnisa (2001): Persepsi Siswa Terhadap Metode Pembelajaran Guru dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Alat Peraga dalam Matematika Alat Peraga Montessori Hasanuddin (2013): Penggunaan media kantong pada pembelajaran matematika tentang pengurangan untuk meningkatkan hasil belajar. Mukti Sari Putri (2013): Pengembangan alat peraha ala Montessori untuk keterampilan geometri. Theresia Kristi Panca Wujaya (2013): Pengembangan alat peraga penjumlajan dan pengurangan ala Montessori. Esterlita Pratiwi (2013): Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika. Yang perlu diteliti: Persepsi Guru dan Siswa Terhadap Alat Peraga Papan Titik Berbasis Montessori Gambar 2.1 Peta Literatur

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 2.2 Kerangka Pikir Pendidikan di SD memang sebaiknya menggunakan alat peraga sebagai sesuatu yang konkret untuk membantu siswa memahami materi pelajaran. Hal itu dibuktikan oleh teori Piaget yang mengungkapkan bahwa seseorang yang berusia 7 hingga 8 tahun mengalami fase pertumbuhan operasional konkret dimana dalam fase tersebut seseorang akan lebih memmahami hal yang ia pelajari jika hal tersebut adalah hal yang konkret. Kebutuhan siswa dan keinginan guru untuk membantu siswa memahami pelajaran maka guru banyak berinovasi mengadakan sebuah pembelajaran dengan menggunakan alat peraga. Banyak alat peraga yang telah dimodifikasi bahkan diciptakan guru untuk mrwujudkan hal tersebut. Salah satu alat peraga yang dianggap mampu untuk membantu siswa dalam belajar khususnya dalam pelajaran mateematika adalah alat peraga Montessori. Alat peraga Montessori adalah alat peraga yang telah dimodifikasi oleh Maria Montessori untuk membantu anak tak mampu yang menyandang tunagrahita di pinggir kota Itali. Alat peraga Montessori adalah alat peraga yang mempunyai ciri khusus, yaitu 1) menarik, 2) bergradasi, 3) auto-correction, 4) auto-education, dan 5) kontekstual. Alat peraga Montessori dan alat peraga lainnya telah banyak diteliti untuk melihat pengaruh terhadap nilai. Namun penelitian tersebut belum ada yang membahas tentang bagaimana alat peraga itu mempengaruhi perasaan, pemikiran dan perilaku siswa. Penelitian yang dapat mencakup hal tersebut adalah penelitian persepsi. Lindsay dan Norman mengungkapkan bahwa persepsi sendiri adalah sebuah proses menginterpretasi dan mengorganisasi apa yang dihadapi untuk memperoleh sebuah arti (Healthadmin). Arti yang datang dari proses tersebut dapat dilihat dari sikap dan perilaku seseorang itu sendiri. Sebuah sikap yang dimunculkan seseorang terdapat 3 unsur, yaitu 1) perasaan, 2) pemikiran, dan 3) perilaku. Melalu penelitian ini, peneliti akan melihat proses pembelajaran yang menggunakan alat peraga Montessori dan melihat bagaimana alat peraga tersebut dapat mempengaruhi subyek secara perasaan, pemikiran dan perilakunya. Pentingnya ketiga hal tersebut nantinya dapat membantu pengembangan alat peraga yang selajutnya sehingga alat peraga yang diciptakan akan lebih bermakna bagi pengguna alat peraga itu sendiri.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualiatif. Menurut Bodgad dan Taylor dalam Moleong (2010:4) berpendapat bahwa metode kualtitatif adalah sebuah prosedur penelitian yang hasil akhirnya berupa data deskriptif yang merupakan hasil pencatatan penulis, kata-kata lisan seseorang dan perilaku yang telah diamati. Untuk mendukung pernyataan yang dikemukakan oleh Bodgad dan Taylor, David William mengemukakan pendapatnya tentang penelitian kualtitatif. Menurut David William (Moleong: 2010: 4) penelitian kualitatif adalah pengumpulan data secara ilmiah dan pengumpulan data secara alamiah juga. Selanjutnya, Denzin dan Lincoln dalam Poerwandari (1998: 9) mengutarakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang mempunyai latar belakang ilmiah untuk mengkaji atau menafsirkan fenomena dan dengan menggunakan metode yang ada. Jane Richie mengemukakan penelitian kualitatif adalah menyajikan hal yang terdapat dalam dunia sosial dan bagaimana cara pandang dunia terkait dengan konsep, perilaku persepsi dan persoalan tentang manusia yang diteliti. Creswell dalam bukunya Research Design : Qualitaive And Quantitative Approaches berpendapat bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk memahami masalah-masalah manusia dan sosial secara menyeluruh, berbentuk kata-kata, melaporkan pandangan yang detail dan dilakukan dengan latar atau setting yang alamiah. Melalui 5 tokoh yang telah disebutkan pendapatnya tentang penelitian kualitatif dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang mencoba untuk menyajikan hal yang ada terdapat di dunia sosial dengan menggunakan metode ilmiah yang ada secara detail dengan menggunakan kata-kata. Jenis penelitian kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif fenomenologi. Creswell (2012: 20) mengungkapkan bahwa penelitian yang penelitinya meneliti pengalaman manusia terhadap sebuah fenomena tertentu. Moustakas dalam Creswell (2012:21) menyebutkan bahwa dalam penelitian fenomenologi peneliti diharuskan untuk meneliti secara langsung 20

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 agar mendapatkan pola perlaku yang maknanya. Menurut Jonathan A. Smith (2009: 62) gagasan utama fenomenologi adalah ide tentang intensionalitas. Intensionalitas sendiri berarti semua tindakan yang dilakukan oleh subyek merupakan kesadaran yang diarahkan terhadap sebuah objek sehingga tindakan tersebut akan lebih dari tindakan yang biasa. Pada penelitian ini peneliti melakukan observasi dan wawancara terhadap subjek yang telah menggunakan sebuah objek yaitu alat peraga Montessori itu sendiri. Suasana pembelajaran yang ada di kelas dideskripsikan sesuai dengan keadaan yang berlangsung, begitu juga dengan hasil wawancara yang dituliskan secara rinci. Pendeskripsian data dalam kualitaif adalah melalui kata-kata dari peneliti yang dapat menggambarkan kondisi yang terjadi pada obyek yang terjadi. Metode pengumpulan data yang biasanya digunakan (Moleong, 2010 : 5) untuk penelitian kualitatif adalah berupa wawancara, pengamatan secara langsung dan pemanfaatan dokumen-dokumen yang ada. Pada saat wawancara dilakukan, hal yang akan menjadikan peneliti kaya akan data adalah pertanyaan dengan menggunakan apa, mengapa, dan bagaimana sehingga peneliti dapat menemukan pola yang terjadi pada obyek penelitiannya. 3.2 Setting Penelitian Penelitian ini diadakan di Sekolah Dasar Kanisius Sengkan Km. 9 Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Alasan pemilihan SD ini sebagai tempat untuk melaksanakan penelitian ini adalah SD Kanisius Sengkan merupakan SD yang sama untuk penelitian eksperimen. Seperti yang telah dijelaskan diatas, penelitian kualitatif ini adalah bagian dari serangkaian penelitian terkait tentang pengujian alat peraga matematika berbasis Montessori. Maka, subjek pada penelitian kualitatif ini adalah beberapa subjek yang sama dalam penelitian eksperimen. Jumlah subjek penelitian ini adalah 4 subjek yang terdiri dari 3 siswa kelas IC dan guru kelas IC. Peneliti mengguunakan 4 orang tersebut sebagai subjek karena keempat subjek tersebut mengenal dan menggunakan alat peraga berbasis Montessori dalam pembelajaran. Siswa yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa yang mempunyai prestasi sedang hingga tinggi. Berdasarkan dialog kecil antara guru dan peneliti sebelum penelitian, ketiga siswa yang diambil untuk menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa yang memiliki ranking 15 besar. Dua siswa diantara mereka masuk dalam 10 besar.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 3.3 Desain Penelitian Langkah yang dilalui peneliti dalam penelitian kualitatif ini adalah a. Menyusun kerangka penelitian. Dalam langkah ini, peneliti merancang sebuah langkah dasar yang menjadi penduan peneliti dalam melakukan penelitian ini sehingga penelitian ini dapat dipertanggung jawabkan. Dari langkah ini, peneliti mengetahui arah pemikiran, alur penelitian, alasan peneliti melakukan penelitian dan desain penelitian yang dilakukan oleh penelitian untuk mengambil data. b. Menyusun fokus penelitian dan perumusan masalah penelitian Dalam tahap ini peneliti melihat fokus penelitian dan merumuskan masalah untuk menjadi acuan dalam melakukan pengambilan data. c. Melakukan pengambilan data Dalam tahap ini, peneliti melakukan pengambilan data. Data yang diambil adalah data dari wawancara dan observasi yang dilakukan saat pembelajaran dalam kelas berlangsung. d. Melakukan pencatatan hasil data yang diperoleh. Pada tahap ini, peneliti melakukan pencatatan data yang telah diperoleh dari hasil wawancara dan hasil obsevasi. e. Pengolahan data. Dalam tahap ini, peneliti melakukan pengolahan data yang diperoleh agar menjadi data yang sistematis, rapi dan lengkap f. Melakukan analisis data Tahap ini dilakukan setelah adanya pengolahan data. Analisis data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis sehingga pada akhirnya mendapatkan hasil penelitian yang sesuai dengan harapan. Desain peneltian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian yang dikemukakan oleh Patton tahun 1990 dalam Mc. Millan (2001:400). Berikut adalah bagan desain penelitian kualitatif ang dikemukakan oleh Patton.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Studi awal Analisis Simpulan hasil peneltian, rekomendasi, dalil-dalil Tahap perencanaan Pelaksanaan (observasi interview, dokumen) Mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian Temuan MODEL HIPOTETIK PERSONALISA SI NILAI BELA GHAM Pengecekan keabsahan data Bagan 3.1 Desain Penelitian menurut Patton (Mc. Millan, 2001: 400) Desain diatas dimodifikasi oleh peneliti agar sesuai dengan desain penelitian yang diinginkan oleh peneliti. Berikut adalah bagan desain penelitian yang telah dimodifikasi oleh peneliti dari bagan yang dikemukakan oleh Patton. 3Observasi Tahap perencanaan \ Mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian Analisis Pelaksanaan (observasi interview, dokumen) Temuan Pengecekan keabsahan data Bagan 3.2 Bagan prosedur penelitian (Patton, 1990 dalam McMillan, 2001: 400) dengan modifikasi.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 Berdasarkan bagan yang ada di atas, penelitian ini melalui beberapa tahap, yaitu: 3.3.1 Observasi Tahap awal yang dilakukan peneliti adalah observasi sebelum. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui kondisi tempat yang dijadikan penelitian. Observasi ini juga dijadikan sebagai ajang pencarian subjek penelitian yang diinginkan. 3.3.2 Tahap perencanaan Pada tahap ini, peneliti menyiapkan segala persiapan sebelum diadakannya penelitian. Dalam tahap ini, diketahui dasar pemikiran dari peneliti, alur pemikiran yang digunakan oleh peneliti, dan alasan peneliti melakukan penelitian dengan desain yang telah disusun untuk pengambilan data. 3.3.3 Menyusun fokus penelitian (hal yang digali dari obyek) Penyusunan fokus ini dilakukan oleh peneliti untuk mengarahkan secara spesifik apa yang menjadi tujuan penelitian sehingga apa yangdigali atau diketahui dari obyek telah disusun secara terstruktur. 3.3.4 Melakukan pengambilan data (pelaksanaan observasi dan wawancara) Pengambilan data dilakukan oleh peneliti sesuai prosedur yang telah direncanakan oleh peneliti. Peneliti menggunakan wawancara dan observasi secara langsung untuk mengetahui data yang menjadi tujuan penelitian. 3.3.5 Melakukan pencatatan terhadap hasil-hasil yang telah diperoleh dalam pengambilan data. Pada tahap ini, peneliti menuliskan semua data yang telah didapat dari observasi dan wawancara. Catatan-catatan lapangan dan data yang diambil secara digital dituliskan dalam bentuk transkrip. Hal tersebut dilakukan untuk persiapan tahap analisis data. Data ini disusun menjadi data yang memiliki urutan sistematis. 3.3.6 Melakukan analisis data Data yang telah diurutkan dianalisis berdasarkan cara analisis data yang telah ditentukan sebelumnya oleh peneliti. Data dianalisis yang

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 kemudian dari data tersebut penelitia mampu melihat persepsi subjek penelitian terhadap alat peraga.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 Dibawah ini adalah tabel Perencanaan Observasi yang dilakukan dalam penelitian. Tabel 3.3 Tabel Perencanaan Observasi yang dilakukan dalam penelitian No. 1. Kegiatan Tujuan Subjek Observasi kondisi sosio Untuk mengetahui kondisi Guru kultural dan proses sosial sekolah dan proses Siswa pembelajaran di kelas pembelajaran yang Objek Ruang kelas Observasi I ketika Untuk mengetahui proses pelaksanaan eksperimen siswa dan guru Guru: siswa Ruang kelas Ruang kelas menggunkan alat peraga di hari 1 3. Observasi II ketika Untuk mengetahui proses Guru pelaksanaan eksperimen siswa dan guru Siswa menggunkan alat peraga di hari 2 4. Observasi III ketika Untuk mengetahui proses pelaksanaan eksperimen siswa dan guru menggunkan alat peraga di hari 3 Anekdotal rekord dilakukan guru dan siswa 2. Jenis observasi

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 3.4 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah catatan anekdot tematik. Supratiknya (2012: 47) catatana anekdot adalah deskripsi atau catatan rekaman tentang peristiwa yang berlangsung didalam situasi alamiah . Melaui menggunakan catatan anekdot maka peneliti menuliskan semua kejadian penting yang terjadi tak terbatas dengan 1 obyek. Catatan anekdot tematik adalah catatan yang dicatat oleh peneliti secara naratif sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Pada penelitian ini, tema yang digunakan adalah perilaku guru dan siswa terhadap penggunaan alat peraga. Disini peneliti juga menggunakan pedoman observasi sehingga peneliti mampu untuk membedakan antara fenomena mana yang penting yang terjadi disaat observasi berlangsung. Peneliti menggunakan wawancara dan pengamatan atau observasi secara langsung kepada obyek dalam pengumpulan data yang utama. 3.4.1 Wawancara Wawancara yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara semi terstruktur dan observasi yang digunakan menggunakan catatan anekdot untuk mencatat hal yang terjadi pada obyek. Sudijono (2012) menyatakan bahwa wawancara adalah sebuah cara untuk mengumpulkan data yang dilakukan dengan melakukan tanya jawab secara lisan, langsung dan sepihak dengan pertanyaan yang mengarah pada tujuan yang telah ditentukan. Untuk memperkuat pendapat yang disebutkan oleh Sidjiono, Poerwandari (1998) berpendapat bahwa wawancara adalah sebuah usaha yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara lisan untuk mendapatkan informasi dari sumber informasi. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara yang mendalam untuk mengetahui persepsi guru dan siswa terhadap alat peraga Montessori. Maka, peneliti harus melakukan wawancara secara mendalam agar dapat mengetahui semua hal terkait dengan penelitian secara mendetail. Sebelum wawancara dilakukan, peneliti terlebih dahulu menentukan butir-butir pokok yang akan diketahui dari

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 obyek. Wawancara semi terstruktur yang digunakan oleh peneliti menggunakan petunjuk atau bulir pokok yang menjadi acuan dalam wawancara. Namun peneliti tidak hanya mengandalkan pertanyaan yang telah disusun melalui butir-butir pokok. Pertanyaan yang akan ditanyakan oleh peneliti dalam wawancara dapat berkembang seiring dengan jalannya wawancara sehingga peneliti akan mendapatkan data yang sangat kaya. Wawancara akan dilakukan pada guru dan siswa yang telah menggunakan alat peraga Montessori dalam pembelajaran. Hal yang akan dilakukan peneliti sebelum melakukan wawancara yaitu: a. Menghubungi guru dan 3 siswa dari kelas IC. b. Melakukan kesepakatan terkait tentang waktu wawancara Wawancara ini dilakukan sebanyak 2 kali kepada masing-masing subjek penelitian yang terdiri dari 1 kali wawancara sebelum dilakukan eksperimen dan setelah dilakukan eksperimen. Wawancara dilakukan di ruang kelas IC dan ruang SD Kanisius Sengkan. Wawancara yang dilakuka oleh peneliti menggunakan bantuan perekam suara atau perekam video dan catatan-catatan peribadi peneliti. Terdapat beberapa tahapan wawancara yaitu menyusun poin-poin pertanyaan yang akan ditanyakkan sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Poin pertanyaan tersebut akan bekembang menjad pertanyaan sesuai dengan jalannya wawancara mengingat wawancara yang dilakukan pada penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur. Poin dan tema wawancara dapat dilihat pada lampiran 3 sampai 6. 3.4.2 Observasi Observasi menurut Sudijono (2012 : 76) adalah cara menghimpun data yang dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung kepada obyek dan melakukan catatan secara sistematis terkait dengan kejadian-kejadian yang sedang dijadikan sasaran pengamatan. Sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh Sudijono, peneliti melakukan observasi tersebut saat obyek menggunakan alat peraga Montessori dalam pembelajaran di kelas. Observasi dilakukan sebelum penelitian dan saat pengimplementasi alat peraga berlangsung Semua observasi berjumlah 4 kali observasi yang terdiri dari 1 kali sebelum penelitian dan 3 kali saat penelitian. Semua observasi dilakukan pada kelas yang diberi perlakuan pembelajaran dengan

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 menggunakan alat dari Montessori yang dilakukan oleh penelitian Eksperimen. Peneliti menggunakan observasi sebagai salah satu cara untuk mengumpulkan data dengan observasi, peneliti mampu melihat apapun yang terjadi pada subjek untuk mengetahui lebih jauh aktivitas-akttivitas yang terjadi pada subjek. Patton dalam Poerwandari (2007: 136) mengutarakan bahwa terdapat beberapa kelebihan menggunakan observasi, yaitu: a. Peneliti mampu memahami secara lebih dalam tentang konteks yang sedang terjadi terkait dengan penelitian. b. Adanya observasi membuat peneliti mampu untuk bersifat terbuka dan dapat berpikir sejalan dengan apa yang ditemukan dan bukan karena pandangan awal yang dimiliki oleh peneliti sehingga mempengaruhi pada hasil penelitian c. Peneliti mampu melihat hal-hal yang tidak sadar dilakukan oleh subjek . d. Peneliti dapat menemukan data yang tidak diungkapkan oleh subjek dalam wawancara. Dalam penelitian ini, peneliti turut serta dalam kegiatan pembelajaran saat pengimplementasi alat peraga berlangsung. Jenis observer ini adalah jenis observer yang berperan serta secara lengkap (Moleong, 2010: 176) dimana dalam mengobservasi, peneliti juga menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran yang dilakukan oleh para subjek. 3.5 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Peneliti telah mempunyai pengalaman yang cukup untuk melakukan penelitian ini. Peneliti telah lama berkecimpung dalam dunia belajar dan pembelajaran yang ada di kelas. Peneliti telah mempunyai kefamiliaran dengan para subjek. Peneliti telah melalui banyak hal. Pengalaman berkecimpung dengan bidang ke SD an sudah dialami peneliti sejak awal masa kuliah di program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar atau PGSD. Salah satu program studi yang ada di Universitas Sanata Dharma ini telah merancang banyak program untuk para mahasiswanya. Pada semester 2, peneliti yang merupakan mahasiswa prodi PGSD, telah menjalani program untuk mengajar

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 pramuka bagi siswa SD. Sebelum peneliti mengajar pramuka, peneliti diberi kesempatan untuk mengikuti kursus mahir dasar pramuka sehingga pantas untuk mengajar pramuka. Peneliti pada semester 3 dibekali pengalaman untuk mengajar bimbingan belajar bagi kelas atas Sekolah dasar. Begitu juga pada semester 4, peneliti mengajar bimbingan belajar bagi siswa kelas bawah Sekolah Dasar. Pada semester 5, peneliti mengikuti program pengakraban lingkungan 1 atau Probaling 1. Pada probaling 1 ini peneliti melaksanakan pengakraban atau magang kepada guru kelas. peneliti diberi kesempatan untuk lebih dekat dengan siswa dan seluruh elemen pengajaran mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Kemudian pada semester 6, peneliti melakukan program pengakraban lingkungan 2 atau Probaling 2. Perbedaan probaling 1 dan 2 ini yaitu pada probaling 2 ini penliti melakukan magang pada kepala sekolah. Pada probaling 2 ini, peneliti belajar segala hal yang dilakukan oleh kepala sekolah. Dengan banyaknya pengalaman sebelumnya, peneliti selanjutnya dapat melaksanaan PPL dalam rangka mendekatkan diri lebih dekat lagi dengan Sekolah dasar. Peneliti juga mempunyai pengalaman mengikuti wokshop alat peraga Maria Montessori yang diadakan oleh Universitas Sanata Dharma. Sedangkan dalam pengalaman mengobservasi dan melakukan wawancara mendalam, peneliti sebelum mengadakan penelitian telah banyak berlatih untuk mengobservasi video dan latihan wawancara dengan teman sepenelitian. Hal tersebut membantu peneliti untuk berlatih mengamati apa yang ada dalam video serta mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam saat penelitian. 3.6 Kredibilitas dan Transferabilitas Dalam penelitian kualitatif, validitas diganti dengan kredibilitas. Lincoln dan Guba dalam Poerwandari (2007: 206) menjelaskan bahwa prinsip validitas yang biasanya digunakan peneliti tidak cocok dengan prinsip penelitian kualitatif yang membahas tentang fenomena sosial. Menurut Moleong (2010: 324) terdapat 4 kriteria untuk menguji keabsahan sebuah penelitian kualitatif hingga datanya dapat dilihat kualitasnya, yaitu kepercayaan (credibility), keteralihan (transferaility), kebergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability). Namun pada

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 penelitian ini, peneliti hanya menggunakan dua kriteria, yaitu (1) kredibilitas dan (2) transferabilitas. 3.6.1 Kredibilitas Sebuah penelitian kualitatif dapat dikatakan kredibel apabila peneliti kualitatif tersebut dapat menggali masalah yang sedang diteliti terkait dengan setting penelitian, proses, dan pola interaksi yang ada dalam penelitian (Poerwandari, 2007: 207). Galian masalah yang dideskripsikan oleh peneliti kualitatif harus mencakup kompleksitas yang terjadi pada semua aspek dan interaksinya yang kemudian menjadi tolak ukur kredibilitas data sebuah penelitian kualitatif. Dalam rangka untuk mendapatkan data yang kredibel, peneliti mencari data sedalam dan seluas mungkin mengenai persepsi subjek dalam penelitian ini. Peneliti menuliskan semua data yang diperoleh dari subjek baik dari data observasi atau data wawancara. Observasi yang dilakukan sesuai dengan poin observasi yang mencakup hal-hal yang ingin peneliti ketahui dari subjek. Sama halnya dengan wawancara. Agar data yang didapatkan mendalam, maka semua hal yang ada pada suubyek dituliskan. Dalam rangka meningkatkan kredibilitas data, peneliti menggunakan tringangulasi data. Cresswell (2012: 286) mengungkapkan bahwa mentriangulasi adalah memeriksa bukti yang berasal dari sumber-sumber yang ada sehingga bukti yang ada memperkuat kredibilitas penelitian ini. sumber data yang digunakan dalam triangulasi penelitian ini adalah data wawancara, data dari video observasi dan data catatan pribadi yang dibuat oleh peneliti ketika penelitian berlangsung. Peneliti mencatat segala hal tentang subjek secara rinci dan tidak akan membedakan antar subjek. Catatan tersebut dapat berupa catatan tertulis yang merupakan catatan lapangan, video yang merekam kegiatan yang dilakukan oleh subjek, serta foto-foto kegiatan yang dilakukan oleh subjek. Kemudian penelitimenuliskan semua data yang telah ada di lapangan menjadi bentuk transkrip. Transkrip tersebut dibedakan menjadi transkrip kegiatan pembelajaran saat pengimplementasian alat peraga dan transkrip wawancara.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 3.6.2 Transferabilitas Transferbilitas adalah istilah yang diusulkan Lincoln dan Guba dalam Poerwandari (2007: 2011). Kedua ahli tersebut berpendapat bahwa istilah tersebut adalah isilah yang paling tepat untuk dipakai untuk menggantikan konsep generalisasi dalam penelitian kualitatif. Data yang dikatakan mempunyai tingkat transferabilitas tinggi apabila data yang ditemukan dalam sebuah kelompok mampu untuk diaplikasikan pada kelompok lain (Poerwandari, 2007: 212). Pengaplikasihan hasil temuan penelitian kualitatif hanya dapat dilakukan jika terdapat beberapa kesamaan dengan kelompok yang diteliti. Penemuan yang ditemukan oleh peneliti pada penelitian ini dapat diaplikasian atau dipakai untuk mengukur subjek lain yang mempunyai kesamaan, seperti kesamaan kualitas sekolah, kesamaan proses belajar, kesamaan karakteristik siswa, dan kesamaan latar belakang subjek. Jika salah satu subjek diuji, maka dengan adanya data yang mempunyai transferabilitas data tersebut mampu untuk mewakili subjek lain yang mempunyai kesamaan-kesamaan tersendiri. Peneliti berusaha untuk data yang diperoleh mempunyai transferabilitas yang tinggi. Namun peneliti tidak bisa menjamin data mempunyai transferabilitas tinggi karena hal yang diteliti dalam penelitian ini adalah hal yang terkait dengan persesi subjek terhadap alat peraga. Subjek yang diteliti mempunyai persepsi yang berbeda sesuai dengan perasaan, pandangan dan pengalaman subjek dengan alat peraga Montessori. 3.7 Teknik Analisis Data Penelitian mengolah data yang telah didapatkan dimulai dengan mengorganisasi data yang telah didapatkan dan kemudian dilakukan koding pada data tersebut. Pengorganisasian data yang diperoleh mempunyai 3 tujuan (Highlen dan Finley dalam Poerwandari, 1998), yaitu a. Memeperoleh kualitas data yang lebih baik b. Mendokumentasikan analisis yang telah dilakukan c. Menyimpan data dan analisis yang berkaitan dengan penyelenggaraan penelitian Pengorganisasian memisahkan data-data sehingga penyusunan datalebih sistematis. Setelah adanya pemisahan data, data kemudian diberi kode. Gunawan (2013: 241 menyatakan bahwa manfaat pemberian kode pada data adalah merinci, menyusun

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 konsep dan membahas kembali semua data yang telah didapatkan dengan cara baru. Pemberian kode dalam data yang telah dipisahkan tersebut dimaksudkan untuk memudahkan peneliti dalam melakukan pengolahan data. Menurut Supratiknya (2010: 113) terdapat tiga tahap dalam menganalisis data kualitatif, yaitu: a. Tahap pengkodean. Dalam tahap ini, peneliti memberikan kode pada data. Dalam tahap ini terdapat 3 tahap, yaitu 1) transkrip verbatim atau kata demi-kata dari hasil wawancara kemudian ditulis kembali dalam format data yang berbentuk tabel yang berbentuk 3 kolom, 2) memberikan nomor pada data yang telah dipindah ke dalam kolom secara urut dan berkelanjutan sesuai dengan baris, dan 3) pemberian nama yang jelas pada setiap data tersebut. b. Tahap Analisis Tematik Pada tahap ini, peneliti menemukan kata kunci yang ada didalam data baik data observasi maupun data wawancara. Menurut Supratiknya (2010: 115) tahap pemberian kata kunci dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara deduktif dan induktif. Pencarian kata kunci deduktif adalah pencarian kata kunci berdasarkan teori yang telah ditentukan sebelumnya. Pada pencarian kata kunci induktif, peneleliti belum menentukan kata kunci apapun saat membaca data. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan pencarian kata kunci secara deduktif dimana kata kunci tersebut telah ada saat membaca data mentah. Pengelompokan data yag telah dikoding sesuai dengan karakteristiknya memudahkan peneliti untuk mengolah data. c. Interpretasi Tahap ini merupakan tahap memahami data yang telah diberi kata kunci secara lebih mendalam. Data yang telah diinterpretasi ditulis dalam sub bab hasil penelitian dan pembahasan. Pengkodean yang dilakukan oleh peneliti menggunakan katagori-katagori tertentu tergantung pada karakteristik pada data yang muncul. Menurut Poerwandari (2007: 171) peneliti diberi kebebasan dalam menentukan car pengkodingan yang dianggap

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 peneliti sendiri paling efektif pada data yang diperoleh.. Kode-kode yang diberikan data yang telah ditrankrip sesuai dengan fenomena yang muncul dari subjek. Kode tersebut dikelompokkan berdasarkan karaketeristik dari persepsi dan alat peraga yang digunakan. Contoh kode yang digunakan dalam penelitian ini adalah W1/B17-18/GK maka bukti tersebut dapat dilihat di verbatim wawancara pertama (W1), baris 17 sampai 18 (B17-18) dan subjeknya (guru kelas atau GK). Contoh lainnya adalah OH1/b66-68/GK yang berarti observas hari pertama (OH1), baris 66 sampai 68 (B6668) dan subjeknya. Peneliti melihat kejadian dalam observasi dan jawaban atas wawancara yang dilakukan yang serupa menjadi sebuah kata kunci atau label. Kata kunci yang telah ditemukan dalam data selanjutnya dibahas danditemukan sebuah kesimpulannya.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan ditulis hasil penelitian dan pembahasan dari data yang telah diperoleh dari penelitian ini. Dalam hasil penelitian, peneliti akan menunjukkan data yang telah diperoleh baik dari observasi sebelum dan saat pengimplementasian alat peraga serta wawancara sebelum dan sesudah pengimplementasian alat peraga. 4.1 Deskripsi Subjek dan Lokasi Penelitian Subjek penelitian ini terdiri dari 4 orang. 4 orang tersebut terdiri dari 1 guru kelas yaitu guru kelas IC dan 3 orang siswa yang berasal pada kelas IC. Subjek dari penelitian ini adalah guru kelas I C dan 3 siswa kelas I C. Pemilihan siswa yang dijadikan subjek penelitian berdasarkan karakteristik siswa yang aktif di kelas dan mempunyai prestasi sedang hingga tinggi. Siswa B adalah siswa perempuan yang mempunyai perawakan besar. saat berada di kelas, B sangat aktif dalam pembelajaran baik bertanya maupun menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Ia adalah salah satu siswa banyak berbicara di kelas. Jika ada waktu luang di dalam kelas, maka ia akan langsung mengajar teman sebangkunya. Dari hasil pengamatan di kelas sebelum adanya pembelajaran dengan alat peraga, ia terlihat cepat bosan dalam pembelajaran. Setelah ia selesai mengerjakan semuah tugas yang diberikan oleh guru, ia akan mulai mengajak teman sebangkunya untuk berbicara. Namun jika teman sebangkunya belum selesai dalam mengerjakan, ia akan langsung memberikan jawaban atas tugas tersebut sesuai dengan jawaban yang telah ia kerjakan. Dalam wawancara juga ia mengaku bahwa ia tidak teliti dalam mengerjakan soal. Ia ingin cepat selesai sehingga menyebabkan pekerjaan yang ia kerjakan tidak semuanya benar. Siswa C adalah siswa laki-laki yang mempunyai tubuh besar dan tinggi. Dari hasil pengamatan yang dilakukan sebelum dilakukan pemeblajaran dengan alat peraga, ia kelas ia tidak terlalu aktif untuk bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan guru secara lisan. Ia lebih banyak diam namun anggota tubuhnya selalu bergerak-gerak. Saat diwawancarai, ia juga tidak banyak menjelaskan jawaban yang telah diajukan. Siswa A adalah siswa yang tubuhnya paling kecil diantara siswa A dan siswa B. ia adalah siswa yang aktif dalam pembelajaran. Ia juga dikenal sebagai 35

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 anak yang yang banyak berbicara. Namun ketika ia telah selesai mengerjakan tugas yang diberikan, ia akan membantu temannya mengerjakan soal tanpa memberikan jawaban. Dari hasil wawancara sebelum, A adalah siswa yang lebih suka belajar menggunakan media papan tulis. Guru kelas yang menjadi subjek adalah salah satu guru yang telah mempunyai banyak pengalaman mengajar di SD. Dari hasil wawancara yang dilakukan Guru ini telah mempunyai pengalaman mengajar selama 27 tahun. Dalam mengajar terutama saat mengajar di kelas rendah, beliau biasa menggunakan alat-alat yang ada disekitar siswa untuk membantu siswa untuk membantu siswa mencapai konsep sebuah pembelajaran yang dilengkapi dengan metode ceramah yang dilakukan. Dalam kelas ini para siswa dimungkinkan untuk berproses belajar bersama guru. “…Kelas ini adalah kelas yang tak terlihat adanya sampah berserakan. Kebersihan kelas ini terjaga karena guru selalu mengingatkan siswa untuk tetap menjaga kebersihan dalam kelas. Dalam kelas 1C ini terdapat tempelan yang menempel di sepanjang dinding kelas…” (OSK/B2529/IC) Kenyamanan kelas itu dapat dikatakan sebagai faktor pendukung proses pembelajaran yang baik dalam sebuah pembelajaran. Guru juga sangat menghargai hasil karya siswa. Hal itu terbukti bahwa pada dinding kelas terdapat tempelan foto siswa berserta keluarganya yang sebelumnya telah dihias oleh siswa. “Tempelan itu berupa foto siswa dengan keluarganya.” (OSK/B29/IC) Selain foto, yang menggantung pada tembok kelas ini adalah papan tulis, papan yang berisi visi dan misi dan hasil karya siswa. Dalam kelas yang digunakan untuk terjadinya proses pemebelajaran, tidak terdapat alat peraga yang tertempel. Berikut adalah foto kondisi kelas IC.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Gambar 4.1 Ruang kelas IC tampak dari depan Gambar 4.2 Ruang kelas IC tampak dari depan Gambar 4.3 Ruang kelas IC tampak dari belakang Berdasarkan gambar diatas, tampak kelas IC tidak ada sampah yang bercecer. Foto diatas diambil saat setelah pembelajaran selesai. Di dinding tampak adanya tempelan yang berupa karya siswa. Dari 2 kali observasi yang dilakukan oleh peneliti, guru belum nampak menggunakan alat peraga saat mengajar. “Proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru adalah proses belajar dengan menggunakan metode ceramah dan pembelajaran berbasis konteks.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Guru biasa menggunakan cerita konkret sebagai pengantar sebuah pembelajaran mengingat pembelajaran di kelas bawah adalah pembelajaran tematik” (OP/B1-5/IC) Namun, tidak adanya alat peraga di kelas bukan berarti kelas ini sama sekali tidak menggunakan alat peraga. Guru kelas 1C mengungkap bahwa beliau menggunakan alat peraga yang berasal dari benda-benda yang ada di sekitar. Hal tersebut didukung oleh data wawancara yang dilakukan pada guru kelas. “kita membawa alat2 sehingga anak2 mengerti. Misalnya dengan batu, satu batu ditambah 2 batu” (W1/B157-161/GK) Berbeda dengan kelas IC, kelas IB di kelasnya terdapat beberapa alat peraga yang ditempel maupun diletakkan di lemari. Pada observasi yang dilakukan di kelas IB, guru sering membawa alat peraga yang dibawanya. Alat peraga yang dibawa guru seperti karton yang telah diberi warna dan angka saat hari tersebut menjelaskan materi tentang bilangan loncat. Dari 13 kelas yang ada di SD ini, yang terlihat menggunakan alat peraga pada saat observasi berlangsung hanya beberapa kelas saja. Pendapat siswa tentang adanya alat peraga pun berbeda-beda mengenai alat peraga. Hal itu didukung oleh hasil wawancara siswa yang menjadi obyek penelitian ini. Dua siswa dari 3 siswa yang menjadi subjek mengaku bahwa ia lebih menyukai menggunakan media papan tulis daripada menggunakan alat peraga yang dibawa oleh guru. “Lebih seneng pake papan tulis” (W1/B36/S1) “Pilih yang ditulis di papan tulis” (W1/B26/S3) 4.2 Proses pembelajaran sebelum Implementasi alat peraga Montessori 4.2.1 Pandangan Subjek dalam menggunakan alat peraga sebelum implementasi Alat peraga Montessori Alat peraga yang berfungsi sebagai pengantar pembelajar untuk memahami materi pembelajaran dapat dipandang berbeda pada setiap orang. Begitu juga dengan guru Ic yang menjadi subjek pada penellitian inil. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori, guru berpendapat bahwa siswa lebih mudah belajar matematika daripada belajar mata pelajaran lain. “…Jadi anak-anak itu lebih gampang belajar matematika daripada membaca dan menulis.” (W1/ B135-138/GK)

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Hal yang membuat guru mempunyai pandangan seperti diatas adalah guru menganggap bahwa matematika adalah pembelajaran yang konkret. Sesuai dengan usia siswa kelas I yang berada di tahap operasional konkret yang membutuhkan hal konkret untuk mampu menyerap apa yang ia pelajari. Guru menjelaskan bahwa melalui benda di sekitar beliau bisa membantu siswa lebih mengerti tentang pembelajaran (W1/B103-105/GK). Guru juga memberikan contoh pelajaran matematika khususnya penjumlahan dan pengurangan dapat lebih mudah jika menggunakan alat sederhana yang berasal dari benda di sekitar siswa. “…misalnya penjumlahan, kita membawa alat2 sehingga anak2 mengerti. Misalnya dengan batu, satu batu ditambah 2 batu.” (W1/B157-167/GK) Pendapat guru ini berbanding terbalik pada 2 pendapat siswa tentang kemudahan siswa belajar jika menggunakan alat peraga. Ketika siswa A ditanya terkait dengan minat belajar siswa saat menggunakan benda konkret, siswa A menjawab bahwa ia lebih senang menggunakan media papan tulis. “Lebih Seneng pake papan tulis” (W1/B36/S1) A juga mengungkap mengapa ia tidak senang menggunakan benda-benda konkret. Kemudian peneliti menanyakan alasan kepada siswa mengapa ia tidak menyukai belajar dengan menggunakan alat peraga. “ Soalnya ga usah gambar” (W1/B49/S1) Melalui kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa A tidak menyukai menggunakan alat selain media papan tulis karena ia harus bekerja ulang yaitu menggambarkan benda konkret yang digunakan dalam bukunya. Melalui media papan tulis, A tidak harus menuliskan dua kali dan A menjadi lebih cepat dalam mengerjakan. Siswa C juga menyatakan bahwa ia juga lebih suka belajar matematika menggunakan media papan tulis saat ditanya mengenai perbandingan belajar dengan menggunakan papan tulis dan alat peraga. “Pakai papan tulis” (W1/B16/S3) Seperti pada pendapat siswa A, siswa C juga lebih menyukai pembelajaran dengan menggunakan alat peraga. Perbedaan dari siswa A dan C ini adalah siswa C tidak menyatakan bahwa ia tidak menyukai alat peraga. Namun siwa C memilih menggunakan media papan tulis daripada menggunakan benda konkret.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 “Pilih yang ditulis di papan tulis” (W1/B26/S3) C juga menyatakan bahwa dengan menggunakan media papan tulis, pembelajaran khususnya operasi bilangan bulat menjadi lebih gampang (W1/B30/S3). Berbeda dengan kedua siswa sebelumnya, siswa B menyatakan bahwa ia senang belajar dengan menggunakan benda konkret. Saat diberikan pilihan belajar dengan menggunakan jari atau batu, ia langsung memilih untuk menggunakan batu (W1/B33/S2). Saat B belajar dirumah, B mengaku bahwa ia belajar matematika khususnya untuk menghitung penjumlahan dan pengurangan menggunakan permen yang telah disediakan oleh orangtuanya “pakai permen-permen” (W1/B78/S2) “permen-permen payung itu untuk dihitung” (W1/B83/S2) Alasan yang diungkapkan B atas jawaban dari pertanyaan mengapa tidak suka menggunakan jari atau media papan tulis adalah bahwa jika menggunakan jari atau media papan tulis, ia harus menghitung dengan menggunakan jari tangan dan kaki yang jumlahnya terbatas (W1/B60-62/S2). 4.2.2 Kefamiliaran dan Pengalaman Siswa dalam menggunakan Alat peraga sebelum implementasi alat peraga Montessori. Dari observasi yang dilakukan sebelum adanya implementasi alat peraga Montessori, diketahui bahwa kelas IC ini jarang menggunakan alat peraga untuk membantu siswa dalam belajar bahkan dalam kelaspun tidak alat peraga yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Minimnya penggunaan alat peraga dalam kelas membuat siswa kurang mengenal adanya alat membantunya dalam belajar. hal itu dibuktikan dalam wawancara yang dilakukan pada siswa yang menjadi subjek. Sesuai dengan yang telah disebutkan sebelumnya, C lebih memilih belajar dengan menggunakan media papan tulis daripada menggunakan batu (W1/B26/S3). Bahkan dalam wawancara dengan siswa A, diketahui bahwa ia sama sekali tidak menyukai belajar dengan menggunakan alat peraga (W1/B32/S1). Saat belajar dirumahpun ia menggunakan papan tulis untuk membantu dalam belajar. Namun, siswa B menyatakan bahwa ia senang dengan menggunakan benda yang ada di sekitar (batu) daripada menggunakan papan tulis dan jari (W1/B33/S2). Ia beranggapan bahwa dengan menggunakan batu akan menjadi lebih mudah dalam belajar jika dibandingkan belajar dengan menggunakan papan

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 tulis dan jari. C mengungkapkan bahwa dengan menggunakan jari, ia lebih kesulitan karena jumlah jari yang terbatas (W1/B60-62/S2). Jika siswa B belajar di rumah, siswa B juga menggunakan permen yang telah disediakan oleh ibunya sebagai alat bantu dalam belajar (W1/B77/S2). 4.3 Pengalaman siswa menggunakan alat peraga Montessori Para subjek yang terdiri dari guru kelas IC dan 3 siswa berkesempatan menggunakan alat peraga Montessori dalam pembelajara matematika selama 3 kali pertemuan. Saat guru kelas diwawancarai sebelum pengimplementasian mengaku tertarik menggunakan alat peraga tersebut (W1/B133/GK). Maka saat hari pertama, guru terlihat bersemangat saat membawa alat-alat tersebut kedalam kelas dibantu dengan para peneliti. Siswa saat guru masuk membawa alat peraga langsung bertanya-tanya dan terlihat mereka ingin menggunakannya. Setelah guru doa, salam dan sapa pada siswa, guru menjelaskan apa yang beliau bawa dan menjelaskannya kepada siswa. Selanjutnya guru membagikan alat peraga pada setip kelompok yang terdiri dari 4 orang yang telah dibentuk sebelumnya. Tiga siswa yang menjadi subjek penelitian sengaja diatur agar mereka duduk dalam satu kelompok. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah pengamatan terhadap subjek. Saat kelompok yang berisi siswa yang menjadi subjek menerima alat peraga, A, B dan C langsung memegang alat. A kemudian membuka kotak yang berisi titik. Perilaku mereka yang langsung memegang, membuka atau berinteraksi dengan alat bukan hanya terjadi pada hari pertama. Berikut adalah foto siswa yang menjadi subjek penelitian saat mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga. Gambar 4.4 Siswa mengerjakan soal menggunakan alat

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Gambar 4.5 Siswa menaruh titik pada papan Hari kedua dan ketiga mereka melakukan hal yang sama. Mereka sangat aktif dalam mengerjakan dengan manggunakan alat. “A menghitung dengan bantuan alat” Namun ada sedikit perbedaan, pada hari terakhir, A tidak berangkat sekolah karena sakit. Hal tersebut menunjukan bahwa alat peraga Montessori mempunyai daya tarik tersendiri pada siswa sehingga siswa berbuat atau berperilaku seperti itu. Siswa nampak pada observasi hari pertama bahwa siswa terlihat langsung mencoba alat peraga selagi guru masih membagi alat peraga ke kelompok lain (OS/B10-12/H1). Keinginan siswa untuk menggunakan alat tersebut juga tampak dari data wawancara pada siswa setelah adanya pengimplementasian alat peraga. “Seneng tapi kemarin yang pakai alat terakhir aku ga berangkat, padahal pengen belajar lagi pakai alat” (W2/B7-10/S1) Siswa A mengaku masih ingin untuk menggunakan alat peraga saat telah selesai. Siswa B mengungkapkan alasan ia menyenangi alat peraga tersebut. “Jadi lebih gampang” (W2/B7/S2) 4.3.1 Hal yang dirasakan subjek saat menggunakan alat peraga Montessori. Banyak hal yang dirasakan subjek saat menggunakan alat peraga Montessori. Perasaan-perasaan yang muncul sat menggunakan alat peraga ini dapat dilihat dari hasil obserbavasi dan hasil wawancara. Hasil wawancara setelah implementasian alat peraga Montessori juga dapat menjadi bukti bahwa alat peraga Montessori adalah alat peraga yang menarik. Saat mereka bertiga ditanya

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 apakah alat itu menarik, maka semua jawaban mereka membenarkan bahwa alat tersebut menarik “Bagus, aku pengen langsung mainan” (W2/B2-3/S1) “Seneng” (W2/B2/S2) “Bagus” (W2/B9/S3) Ketertarikan siswa terhadap alat peraga tersebut juga terlihat dalam observasi siswa saat adanya pengimplementasian alat peraga. “Saat diberi alat peraga tampak A langsung membuka kotak yang berisi titik dan C langsung memegang papan” (OS/B8-10/H1) Siswa A tidak menyadari bahwa ketika ia menggunakan alat itu, ia belajar. mereka tampak sangat antusias. Hal itu terlihat saat ekspresi siswa saat guru membawa alat pertama kali. Mereka langsung bertanya-tanya apa alat yang dibawa guru dan ingin segera mencoba alat peraga tersebut. begitu juga hal yang diungkapkan guru pada wawancara terkait dengan antusias siswa. “Antusias siswa saat menggunakan alat” (W2/B38/GK) Peneliti ingin menggali lebih lanjut mengenai alasan mereka tertarik pada alat tersebut. A tidak menyebutkan alasan yang jelas mengenai mengapa ia tertarik pada alat peraga tersebut, namun ia mengatakan bahwa ia sangat menyesal tidak dapat masuk pada hari terakhir padahal ia sangat ingin menggunakan alat peraga tersebut (W2/B6-8/S1). Kemudian B menyatakan bahwa ia sangat tertarik pada alat karena ia merasakan bahwa dengan menggunakan alat, menghitung sebuah pengurangan dan penjumlahan terasa lebih mudah (W2/B8/S2). Kedua pendapat siswa tersebut sejalan dengan pendapat siswa C, ia menyatakan bahwa ia senang menggunakan alat tersebut karena menurut C bentuk dari alat sendiri bagus dan menghitung jadi lebih mudah. Hal itu dibuktikan dengan kecepatan siswa menjawab soal yang diberikan oleh guru saat pembelajaran berlangsung. Dalam waktu yang hanya 2 menit, siswa mampu untuk menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru. C senang dan bersemangat dalam mengerjakan soal yang diberikan karena alat tersebut sangat menarik. “Kerena bentuknya” (W2/b18/S3) “Seneng karena alatnya bagus” (W2/b31/S3) “Mudah” (W2/B35/S3)

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 Guru dalam wawancara setelah implementasi juga memperkuat pendapat subjek lain yang menyatakan bahwa alat tersebut menarik “ … alatnya menarik…” (W2/B9/GK) Guru juga menegaskan bahwa alat yang dibawa seperti sebuah mainan baru yang ternyata adalah sebuah alat peraga pembelajaran. Dengan alat tersebut siswa dapat belajar sambil bermain dengan alat tersebut (W2/B12-16/GK). Siswa seperti tidak terasa belajar saat belajar dengan menggunakan alat peraga tersebut. Dalam wawancara guru juga menyebutkan bahwa siswa menjadi pantang menyerah dan ingin terus mencoba hingga jawaban siswa benar (W2/B188-189/GK). Ketika siswa telah selesai mengerjakan soal yang diberikan oleh guru, siswa tetap belajar dengan menggunakan alat. “Setelah selesai dan masih ada waktu, mereka bertiga bermain soal-soalan dengan menggunakan alat.” (OS/B62-64/H2) Hal itu juga diperkuat dengan data hasil observasi yang telah dilakukan selama pengimplementasian alat peraga di kelas. Siswa tampak bersemangat dalam menggunakan alat mulai dari mengambil titik, meletakkannya dalam papan dan kemudian menghitungnya hingga mereka mendapatkan jawaban yang sesuai. Bahkan pada pertemuan ketiga, B sempat terlihat mengulang-ngulang menghitung titik yang ada di papan untuk memastikan bahwa jawaban yang ia peroleh benar. “Kan kalo pake alat, kotak-kotak kecilnya itu dihitung” (W2/b34-35/S2) Hal tersebut diungkapkan B ketika ditanya mengapa ia lebih tertarik dan lebih pantang menyerah dalam mengerjakan soal. Diperkuat dengan wawancara yang dilakukan dengan siswa C. “Jadi lebih mudeng dan gampang ngitungnya” (W2/B7-/S3) Guru juga berpendapat salah satu poin penting mengapa siswa tertarik mengerjakan karena warna yang ada dalam alat tersebut. “… untuk anak kelas rendah itu kan tetap memilih pada warna-warna yang menarik…” (W2/B155-156/GK) Hal tersebut diungkapkan guru ketika ditanya mengenai warna yang ada. Hal tersebut dapat menjadi satu poin yang membat siswa menjadi ingin terus mencoba menggunakan alat. Mengingat siswa di kelas IC ini jarang sekali dihadapkan dengan alat peraga. Hal tersebut dapat menjadi poin dimana karakteristik yang

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 ditonjolkan pada penelitian adalah bahwa alat Montessori kontekstual, menarik dan auto-education tercapai. Ketertarikan siswa pada alat akan membuat siswa ingin terus mencoba alat tersebut dan hal tersebut akan menjadikan siswa sebagai pembelajar yang mandiri. Guru berpendapat bahwa kemandirian belajar siswa melalui alat tersebut (W2/B99-103/GK) bukan hanya dapat dilihat dalam pembelajaran kelas satu. Guru mengungkapkan bahwa alat tersebut dapat digunakan pada materi lain dan kelas lain. “…bisa untuk menjelaskan bentuk benda misalnya menjelaskan bentuk bangun” (W2/B112-114/GK) Ungkapan tersebut muncul dari guru saat guru ditanya mengenai materi lain yang dapat menggunakan alat tersebut. “Bisa, untuk perkalian mbak” (W2/B143/GK) Hal tersebut yang diungkapkan oleh guru saat ditanya mengenai materi di kelas lain yang mana yang dapat menggunakan alat peraga tersebut. Diketahui bahwa perkalian adalah materi matematika kelas IV. Saat guru ditanya mengenai apakah alat tersebut memiliki sesuatu yang membuat siswa mengetahui kesalahannya tanpa bantuan guru. “Ada, waktu itu dengan adanya kartu siswa dapat menjawab dan mencocokkan sendiri tanpa bantuan guru” (W2/B210-212/GK) Kutiapn wawancara diatas termasuk kedalam karakteristik alat peraga Montessori yaitu Auto-Correction. Hal tersebut juga dapat dilihat pada hasil observasi pada hari ketiga. Siswa diberi kesempatan oleh guru untuk saling memberi soal pada teman satu kelompok. Kelompok yang terdapat siswa subjek penelitian melihat soal dan kemudian mencoba mengerjakannya dengan menggunakan alat. Saat mereka menemukan jawaban dan mencocokkannya dan jawaban mereka benar, mereka langsung mencoba lagi untuk mengerjakan soal. 4.3.2 Manfaat dan Kendala penggunaan alat Montessori dalam pembelajaran. Adanya alat peraga Montessori dalam pembelajaran ini tentu diharapkan akan membawa banyak manfaat. Guru dan siswa subjek penelitian merasakan adanya manfaat dari penggunaan alat peraga Montessori. Dalam wawancara pada

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 guru setelah penggunaan alat, guru mengungkapkan manfaat yang ada saat pembelajaran menggunakan alat peraga Montessori. “Anak – anak lebih mudah untuk menemukan jawabanya” (W2/B2324/GK) “Karena anak anak terlibat langsung mbak , jadi anak anak praktek secara langsung memegang alat itu mengunakan alat itu serta menemukan jawaban dengan alat itu secara benar” (W2/B25-28/GK) Guru merasa bahwa siswa menjadi lebih mudah belajar menggunakan alat peraga daripada tidak menggunakan alat peraga. Bukan hanya guru kelas yang merasakan manfaat dari penggunaan alat peraga ini, ketiga siswa yang menjadi subjek juga merasakan manfaatnya. “Membantu, ngitungnya jadi lebih gampang” (W2/B9/S1) “jadi lebih gampang” (W2/B8/S2) “Lebih gampang karena bisa menghitung sesuai alat” (W2/b43-44/S3) “jadi lebih mudeng dan gampang ngitungnya” (W2/b7/S3) Ungkapan-ungkapan dari siswa diatas didapatkan saat ketiga siswa menyatakan bahwa alat tersebut sangat membantu dalam proses belajar. Mereka berpendapat dengan menggunakan alat tesebut, belajar menghitung menjadi lebih mudah karena pada saat menghitung mereka dibantu dengan alat peraga. Bahkan siswa A yang tadinya tidak suka belajar menggunakan alat, ia menjadi senang menggunakan alat. Ia telah membuktikan dengan adanya alat, belajar menjadi lebih mudah. Mereka bertiga sangat senang belajar dengan menggunakan alat tersebut. Mereka juga mengungkapkan bahwa mereka ingin belajar lagi dengan menggunakan alat tersebut. Bukan hanya manfaat yang dibawa oleh alat peraga Montessori ini. Namun terdapat kendala yang ada dalam penggunaan alat tersebut. Guru mengungkapkan bahwa terdapat beberapa kekurangan yang ada dalam alat ini. “Akan lebih membutuhkan waktu yang lama daripada tidak menggunakan alat”( W2/B85-86/GK) Peneliti kemudian bertanya alasan mengapa guru mengungkapkan hal tersbut. Kemudian guru menjelaskan sebagai berikut:

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 “Karena mereka harus menggunakan alat itu, jadi misalnya berhitung mereka mengitung satu-satu menggunakan alat.” Sebagai solusi, guru menyarankan untuk penggunaan alat peraga tersebut harus benar-benar mengelola waktu dengan baik (W2/B123/124/GK). Selain masalah diatas, guru mengungkapkan bahwa adanya kesalahan pada jawaban yang ada dalam kartu soal (W2/B209-210/GK) sehingga siswa terkecoh dengan jawaban yang ada pada kartu soal tersebut. Melalui hal tersbeut kemudian peneliti bertanya apakah guru akan menggunakan alatnya kembali. Dengan cepat guru mengatakan bahwa ia akan senang sekali menggunakan alat peraga tersebut. namun guru mengungkapkan kendala selanjutnya. “Misalnya saja alatnya dipasarkan itu pasti sangat mahal dan tidak mungkin sekolah untuk mengadakan alat seperti itu untuk digunakan di kelas karena uangnya sangat terbatas” (W2/B92-98/GK) Kendala tersebut yang menjadikan guru sedikit ragu apakah beliau dapat menggunakan alat tersebut lagi atau tidak. Selain guru, Siswa A juga mengungkapkan kendala saat menggunakan alat tersebut. “…tapi aku sering ngitung pake jari. Alatnya cuma satu terus uda dipake sama temen” (W2/B20-21/S1) “…daripada lama ngerjain bareng, mending pake jari aja” (W2/23-24/S1) Siswa A merasa bahwa alat tersebut menjadi kurang aktif dipakai oleh seluruh siswa dalam kelompok. Hal tersebut terlihat di hari pertama yang diobservasi oleh peneliti. “A mulai menghitung soal yang diberikan oleh guru dengan menggunakan jari sedangkan B dan C tetap mengerjakan soal dengan menggunakan alat” (OS/B53-55/H1) A ingin menggunakan alat tersebut, namun dari kendala di atas, A lebih sering menggunakan jari saat menghitung. Saat itu terjadi perbincangan kecil yang terjadi antara salah satu peneliti dengan siswa A. “Ketika ditanya oleh salah satu peneliti yang ada di kelas itu mengapa ia tidak ikut menggunakan alat tersebut, A menjawab tidak apa-apa sambil tersenyum dan memperhatikan B dan C kembali.” (OS/B48-51/H1)

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Ia tidak sabar jika harus menunggu giliran untuk menggunakan alat tersebut. Saat ditanya apabila masing-masing siswa diberikan 1 alat untuk mengerjakan, maka ia akan memilih menggunakan alat daripada menggunakan jari (W2/B25/S1). 4.3.3 Kemunculan 5 karakteristik alat peraga Montessori Kemanfaatan alat peraga tersebut bukan hanya dilihat dari pemikiran siswa yang terungkap diatas, namun manfaat alat peraga tersebut dapat terungkap dari karakteristik-karakteristik yang ada pada alat peraga tersebut. Terdapat lima karakteristik yang terkandung dalam alat peraga Montessori. Karakteristik itu adalah menarik, auto-education, auto-correction, bergradasi dan kontekstual. Pada karakteristik yang pertama yaitu menarik, para subjek menyatakan bahwa alat peraga Montessori adalah lat peraga yang menarik. Hal tersebut tampak pada hasil observasi yang dilakukan peneliti saat pengimplementasian alat peraga berlangsung. “Selama hampir 3 menit, mereka bermain sesuka kelompok mereka saat guru masih sibuk membagi alat peraga pada kelompok lain” (OS/B1012/H1) Ketertarikan para subjek tidak hanya terlihat pada observasi. Pada saat wawancara subjek juga memperlihatkan kesenangan mereka melalui jawaban mereka. “alatnya menarik” (W2/B46-47/GK) “ Bagus, aku pengen langsung mainan” (W2/B2-3/S1) Guru dalam hal ini juga mengungkapkan bahwa warna-warna yang ada dalam penelitian ini sangat menarik sehingga dapat membuat siswa ingin mencoba (W2/B82/GK dan W2/B141-143/GK). Ciri kedua, auto-education, menjadi salah satu keunggulan dari alat peraga Montessori. Keunggulan tersebut juga dirasakan oleh guru kelas. Alat tersebtut dapat membantu siswa memisahkan antara titik satuan dan titik puluhan ” Bisa memisah-misahkan jadi antara puluhan dan satuan” (W1/B235237/GK) Guru melihat bahwa alat tersebut mampu untuk memberi penjelasan pada siswa mana titik yang merupakan puluhan dan mana titik yang merupakan satuan. Hal tersebut dibuktikan dengan data wawancara yang dilakukan setelah adanya pengimplementasian alat peraga.

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 “Mereka kan nanti bisa mengerti oo satuan ternyata disini di depan eh di belakang dan puluhan di depan (menunjuk dari kanan ke kiri).” (W1/B242-246/GK) Selain itu, guru yang menjadi subjek mengungkapkan bahwa alat tersebut terdapat jawabannya dibalik kartu sehingga dapat langsung mencocokan jawaban dari soal yang diberikan. “Ada, siswa jadi langsung bisa mencocokkan” (W2/B256-258/GK) Siswa juga menyadari bahwa dengan alat tersebut, siswa menjadi dapat langsung mencocokkan jawaban. “Bisa, kan jawabannya untuk mencocokkan” (W2/b85-86/S2) Karakter khusus pada alat peraga Montessori, bergradasi, terlihat dari wawancara guru yang dilakukan baik sebelum pengimplementasian alat peraga dan setelah pengimplementasian alat peraga. Guru berpendapat bahwa alat peraga tersebut mampu untuk menjelaskan materi lain selain materi penjumlahan bilangan bulat. “disamping untuk penjumlahan kita dapat menjelaskan ini tentang bentuk nanti kalo ada yang segitiga oo ini segitiga itu kayak ini, segi empat kayak ini” (W1/B262-267/GK) “misalnya saja digunakan untuk menjelaskan bentuk. Lha itu kan masuh pelajaran ipa , misalnya untuk menjelaskan benda yang mudah bergerak dan sulit untuk bergerak . Kalo yang bulet kita glindingkan ternyata lebih cepat dari yang segitiga” (W1/B263-271/GK) Guru berpendapat bahwa alat peraga tersebut mampu untuk menjelaskan materi lain selain penjumlahan bilangan bulat yaitu mengenal bangun ruang dan benda mudah bergerak dan tidak mudah bergerak yang ada pada materi kelas I. Beliau juga berpendapat bahwa alat tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan materi perkalian yang ada di kelas empat. “Bisa, untuk perkalian” (W2/B166-169/GK) Berbeda dengan pendapat guru, siswa hanya menangkap adanya gradasi warna yang ada di alat peraga tersebut. “Warnanya” (W2/B71/S3)

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Karakter auto-correction, guru berpendapat bahwa alat peraga tersebut dapat mengurangi tingkat kesalahan pada jawaban siswa. “mengurangi kekeliruan dan keraguan dalam anak” (W2/B9/GK) Siswa juga merasakan adanya poin aut-correction ada pada alat tersebut. “Bisa, kan jawabannya untuk mencocokkan” (W2/B85-86/S2) Jawaban yang ada di balik kartu soal membantu siswa dalam menemukan jawaban sehingga tak perlu bertanya pada guru untuk mengetahui apakah jawaban yang ia jawab itu benar. Pada karakteristik yang terakhir, kontekstual, disini alat peraga dinilai guru sebagai poin yang baik untuk sebuh alat peraga. Guru berpendapat dengan alat tersebut, siswa dapat menemukan jawaban yang bernar dengan benda konkret yaitu alat peraga itu sendiri. “Anak anak secara kongkrit menemukan jawaban yang benar” (W2/B5759/GK) Siswa berpendapat hal yang sama. Siswa mengaku lebih mudah dalam menghitung angka-angka yang menjadi soal tersebut karena dibantu oleh titik-titik pada alat peraga. “Lebih gampang karena bisa menghitung sesuai alat karena lebih gampang aja ngitungnya” (W2/B107-108/S3) Siswa juga mengungkapkan perbedaan menghitung dengan menggunakan alat peraga dan jari. “Karena ngitungnya ga pake tangan, kalo pake jari kan Cuma 10, kalo pakai alat kan banyak” (W2/B16-19/S2) 4.5 Pembahasan Guru yang menjadi subjek pada penelitian ini nampak menyukai alat peraga Papan Titik. Perasaan tersebut terlihat pada hasil observasi dan hasil wawancara. Perilaku yang muncul pada guru merupakan cermin dari perasaan dan pandangan guru sendiri terhadap alat tersebut. HP. Soetjipto pada buku Psikologi Sosial II menyebutkan bahwa seseorang akan mengubah sikap sebagai respon atas hal yang terjadi (HP. Soetjipto, 2007: Bab IV hal 149). Saat berlangsungnya kegiatan pemebelajaran menggunakan alat peraga, guru tidak nampak sekalipun mengeluh. Guru sangat bersemangat dalam menjelaskan dan melihat siswa

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 berproses belajar dengan menggunakan alat tersebut. Guru berpendapat bahwa alat peraga tersebut adalah alat yang tepat untuk dialikasikan. Dan hal itu terdapat pada wawancara kedua pada guru yang belangsung setelah pengimplementasian alat peraga berlangsung. Wawancara tersebutmenyatakan bahwa alat peraga papan titik cocok diterapkan dalam pembelajaran di SD (W2/B17-19/GK). Persepsi positif guru yang kemudian mendorong guru untuk menyukai alat tersebut datang dari karakteristik-karakteristik yang melekat pada alat peraga Montessori. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, alat peraga Montessori mempunyai 5 karakteristik pada alat peraganya. Karakteristik itu adalah menarik, bergradasi, auto-education, auto-correction, dan kontekstual. Dari karakteristik tersebut, guru beranggapan bahwa siswa lebih mampu untuk mengerjakan soal yang diberikan dibandingkan saat tidak menggunakan alat perahga. Seperti yang tercermin pada wawancara, guru merasa bahwa alat peraga mampu untuk membantu dan mempermudah siswa dalam mengerjakan soal. Melihat siswanya mempunyai kemajuan dalam belajar, guru menjadi sangat bersemangat pada setiap proses pembelajaran yang menggunakan alat peraga. Pada pembelajaran guru tidak tampak sedikitpun mengeluh. Namun, guru menemukan bahwa siswa tetap masih harus dibantu atau dibimbing pada saat menggunakan alat agar tidak salah dalam menggunakan alat. Guru beranggapan bahwa alat tersebut belum bisa dilepas begitu saja pada anak. Dalam wawancara guru juga menyebutkan bahwa ia sangat ingin menggunakan alat peraga tersebut diluar kepentingan penelitian ini. Keinginan guru untuk terus menggunakan alat peraga ini berbenturan dengan kendala yang membuat guru berpikir ulang untuk menggunakan alat tersebut. Beliau berpendapat bahwa jika belajar dengan alat tersebut akan memakan waktu lebih lama. Sehingga tidak mungkin jika setiap pembelajaran matematika yang materinya penjumlahan dan pengurangan menggunakan alat peraga tersebut. Guruu dalam wawancara telah memaparkan sedikit solusi untuk masalah waktu. Guru berpendapat bahwa sebaiknya alat peraga ini digunakan bergantian dengan metode pembelajaran lainnya. Selain masalah waktu, hal lain yang membuat guru berpikir ulang terhadap penggunaan alat tersebut adalah keterbatasan sekolah untuk mengadakan alat peraga tersebut.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Siswa yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa yang berusia 7 hingga 8 tahun. Menurut Piaget, siswa yang menjadi subjek tersebut berada di tahap operasional konkret. Anak yang berada di tahap operasional konkret yang pda tahap ini anak akan mampu menyerap materi pembelajaran jika materi tersebut merupakan dibungkus dalam hal yang nyata. Alat peraga merupakan salah satu cara untuk mewujudkan pembelajaran nyata yang akan mengantar materi menjadi sebuah materi yang konkret pada siswa. Hal tersebut terbukti pada penelitian ini. Ketiga siswa yang menjadi subjek penelitian ini menampakan perilaku senang terhadap alat peraga ini. Terbukti dari hasil observasi saat pelaksanaan pembelajaran menggunakan alat tersebut, anak sangat bersemangat dalam menggunakan alat. Dari hasil wawancarapun terlihat bahwa mereka bertiga menyukai alat peraga tersebut. Mereka senang dan tertaril belajar dengan menggunakan alat tersebut bahkan saat pertama kali melihat alat tersebut dibawa guru kedalam kelas. Perasaan senang pada siswa A pada alat juga terungkap dari wawancara. A juga sangat kecewa karena ia tidak berangkat saat proses pembelajaran terakhir pengimplementasian. Kekecewaan A disebabkan bahwa ia tak dapat mengikuti pembelajaran yang menggunakan alat peraga. Siswa A merasa tidak mau ketinggalan pembelajaran yang menggunakan alat peraga karena dengan menggunakan alat tersebut, belajar menjadi lebih seru (W2/B18/S1). Senang pada alat tersebut bukan hanya diungkapkan oleh A, siswa B dan C juga menyebutkan bahwa ia senang menggunakan alat tersebut. Siswa B mengungkapkan bahwa belajar dengan menggunakan alat adalah sesuatu yang mengasyikkan. Hal iitu juga terlihat pada observasi hari kedua yang mana B terlihat masih asyik menggunakan alat tersebut saat teman lain telah mulai menghitung dengan menggunakan jari. Siswa B menyukai alat tersebut karena bentuk dan manfaat alat tersebut. Ia merasa sangat terbantu dalam belajar saat menggunakan alat tersebut. Namun, dari perasaan dan pemikiran yang positif yang telah diungkapkan oleh ketiga siswa diatas, terdapat sebuah pemikiran yang negatif yang diungkapkan oleh siswa A. Memang siswa A mengatakan bahwa ia menyukai alat tersebut, namun kendala membuatnya tidak terlalu berpartisipasi aktif dalam

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 menggunakan alat peraga tersebut (W2/B20-21/S1). Dari hasl observasi terlihat bahwa ia tidak terlalu ambil bagian karena alat yang ada dala kelompoknya telah dipegang atau dikendalikan oleh siswa B dan C. Hal itu membuat A mengalah dan memilih untuk tidak terlalu ambil pusing dengan alat tersebut. A mengungkapkan bahwa jika ia mendapatkan alat tersebut sendiri, maka ia akan menggunakannya, mengingat bahwa sebenarnya A menyukai alat tersebut.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa 5.1.1 Persepsi guru terhadap alat peraga berbasis Montessori adalah sebagai berikut: Guru mempuyai persepsi yang positif terhadap alat peraga. Menurut guru, alat peraga Montessori ini adalah alat peraga yang pas digunakan untuk pembelajaran di kelas satu. Siswa kelas 1 membutuhkan hal konkret untuk membantu menyerap materi. alat peraga merupakan hal yang konkret untuk digukan dan dari beberapa karakteristiknya membuat siswa dapat belajar bukan hanya tentang materi, namun juga hal yang lain. Guru melihat bahwa alat peraga Montessori mampu untuk menahan siswa lebih lama untuk duduk dan belajar matematika. Siswa terus mencoba menggunakan alat tersebut dalam rangka menemukan jawaban dari soal. Siswa menjadi lebih berkonsentrasi untuk belajar saat menggunakan alat peraga Montessori ini. Bahkan guru ingin terus menggunakannya, namun terdapat kendala untuk mewujudkannya. Kendala tersebut adalah masalah biaya untuk menggandakan alat peraga tersebut dan waktu pembelajaran yang terbatas. 5.1.1 Persepsi siswa terhadap alat peraga Montessori adalah sebagai berikut. a. Persepsi siswa A: alat peraga ini adalah alat peraga yang bagus. A ingin terus menggunakannya dalam pembelajaran. Alat peraga ini membantu A dalam mengerjakan soal mennjadi lebih mudah. b. Persepsi siswa B: alat peraga ini adalah alat yang bagus. B menganggap bahwa belajar dengan menggunakan alat peraga ini sangat seru sehingga B ingin terus menggunakannya dalam belajar. Alat ini juga membantu siswa belajar sehingga ia menjadi lebih sering benar dalam mengerjakan soal. c. Persepsi siswa C: alat peraga ini adalah alat yang bagus. B menganggap bentuk dari alat ini bagus dan alat peraga ini membantu dalam belajar. 5.2 Keterbatasan Penelitian Keterbatasan penelitian ini adalah 54

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 a. Keterbatasan Peneliti sebagai instrumen penelitian Peneliti tidak dapat melakukan observasi secara lebih detil karena banyaknya subjek yang ada di penelitian ini. Selain itu pada saat melakukan observasi implementasi alat peraga, peneliti harus membagi perhatian untuk membantu peneliti eksperimen yang berada di kelas dan jam yang sama. b. Alat peraga Montessori adalah alat peraga yang mahal sehingga dalam penelitian ini, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. c. Komponen alat peraga khususnya kartu soal dan jawaban, terdapat beberapa jawaban yang tidak tepat dengan soal yang ada dibaliknya sehingga membuat siswa bingung saat ingin mencocokkan jawaban dengan menggunakan kartu tersebut. 5.3 Saran Dengan melihat hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti memberikan saran yang dapat menjadi koreksi atau bahan pertimbangan dalam pengadaan alat peraga. Saran tersebut adalah: a. Bagi guru kelas i. Guru kelas diharapkan lebih banyak menggunakan alat peraga saat pembelajaran. ii. Guru kelas diharapkan terus berusaha untuk memberikan pembelajaran yang konkret kepada siswa agar siswa mampu menyerap materi yang sedang mereka pelajari. b. Bagi peneliti selanjutnya i. Peneliti Pengembangan Alat Peraga Sebaiknya peneliti pengembangan alat harus mempertimbangkan biaya pengadaan alat peraga. Hal ini disebabkan oleh jika biaya itu lebih minim, maka sekolah yang menjadi tempat penelitian tidak terlalu berat dalam biaya saat ingin menggandaannya dan dipakai dalam pembelajaran di kelas. ii. Peneliti Eksperimen Sebaiknya peneliti eksperimen yang telah menggandakan untuk pengaplikasian alat peraga di dalam kelas, benar-benar mencoba alat

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 peraga tersebut sehingga tidak ada satupun komponen dari alat itu yang salah. iii. Peneliti Kualitatif Sebaiknya peneliti melakukan observadsi terhadap kehidupan sehari-hari subjek, interaksi subjek terhadap lingkungan sekolah dan rumah agar data yang didapat lebih banyak.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 DAFTAR REFERENSI Ball, A. L., & Washburn, S. G. (Nov/Des 2001; 74, 3). Teaching Student to think : practical application bloom’s taxonomy. ProQuest Agriculture Journals , hal. 16. Burgin, M.B. (2007). Penelitian kualitatif: komunikasi, ekonomi, kebijakan publik, dan ilmu sosial lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Cahyani, B. (2006). Hubungan antara persepsi terhadap gaya kepemimpinan transaksional-tramsformasional dan internalitas locus of control dengan intensi turnover pada agen penjualan asuransi pt. Asuransi jiwa jaminan 1962 regional jawa tengah. Tesis. Yogyakarta: Program studi Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Chairunnisa. (2011). Persepsi siswa terhadap model pembelajaran guru dan hasil beljar bahasa indonesia di smk al-hidayat ciputat. Skripsi. Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah da Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah. Crain, W. (2007). Teori Pengembangan, Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Creswell, J. (2007). Research design pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Depdiknas. (2007). Kurikulum tingkat satuan pendidikan. Jakarta: departemen pendidikan nasional. Hasanuddin. (2013). Penggunaan media kantong bilangan pada pembelajaran matematika tentang pengurangan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas i sekolah dasar negeri 16 mempawah hilir. Skripsi. Pontianak: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura, Pontianak. Herdiansyah, H. (2013). wawancara, observasi dan focus group sebagai instrumen penggalian data kualitatif. Depok: PT. Rajagravindo Persada. Lillard, A. (2006). Evaluating montessori education. AAAS Journal. Education Forum 313. Diakses dari www.sciencemag.org/cgi/content/full/313/5795/1893/DCI .

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Lillard, A. S. (2005). Montessori: the science behind the genius work. New York: Oxford University Press. Lillard, P. P. (1997). Montessori in the classroom. New York: Schocken Books. Magini, A. P. (2013). Sejarah pendekatan montessori. Yogyakarta: Kanisius. Moleong, L. J. (2002). Metodologi penleitian kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset. Montessori, M. (2008). The absorbent mind. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Montessori, M. (2002). The montessori method. New York: Dover Publication. Perdanawati, H. (2010). Studi Komparasi antara persepsi siswa tentang kualitas pembelajaran ips dan intesitas penggunaan sumber belajar dengan prestasi belajar ips pada siswa kelas viii smp negeri 2 surakarta tahun pelajaran 2009/2010. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Poerwandari, E. (1998). Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukura dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Universitas Indonesia. Pratiwi, E. (2013). Pengembangan alat peraga montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas iv sd tamanan i yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. Putri, M. S. (2013). Pengembangan alat peraga ala montessori untuk pengembangan keterampilan geometri matematika kelas iii sd tamanan i yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. Rinke, C. R. (2012). Opportunities for inquiry science in montessori classrooms: learning from a culture of interest, comunication, and explanation. Springer: Res Sci Educ , DOI 10.1007/s111165-012-9319-9. Russefendi, E. (1979). Dasar-dasar matematika modern untuk guru. Bandung: Tarsito. Soetjipto, H. (2007). Psikologi sosial ii. Buku Tidak Terbit.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Sugiyono. (2008). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan rnd. Bandung: Alfabeta. Supratiknya, A. (2012). Penilaian hasil belajar dengan teknik nontes. Yogyakarta: Penerbit USD Suprijono, A. (2011). Cooperative learning teori dan aplikasi paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Trianto. (2008). Mendesain pembelajaran kontekstual (contextual teaching adn learning) di kelas. Jakarta: Cerdas Pustaka Publisher. Walgito, B. (2004). Pengantar psikologi. Yogyakarta: Andi Offset. Wijayanti, T. K. (2013). Pengembangan Alat Peraga Penjumlahan dan Pengurangan ala Montessori untuk Siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Univeristas Sanata Dharma.

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 LAMPIRAN

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Lampiran 1. Tabel Perencanaan Observasi Sosio Kultur No. 1. Kegiatan Tujuan Subjek Observasi kondisi Untuk mengetahui kondisi Guru sosio kultural dan sosial sekolah dan proses Siswa proses pembelajaran yang pembelajaran di dilakukan guru dan siswa Objek Ruang kelas Jenis observasi Anecdotal record kelas Lampiran 2. Tabel Perencanaan Observasi Implementasi Alat Peraga Montessori di Kelas No Kegiatan Tujuan Subjek Objek Jenis observasi 1. Observasi I Untuk mengetahui proses Guru dan ketika siswa dan guru menggunkan siswa pelaksanaan alat peraga di hari 1 Ruang kelas Catatan Anekdot eksperimen 2. Observasi II Untuk mengetahui proses Guru dan ketika siswa dan guru menggunkan Siswa pelaksanaan alat peraga di hari 2 Ruang kelas Catatan Anekdot eksperimen 3 Observasi III Untuk mengetahui proses Guru dan ketika siswa dan guru menggunkan siswa pelaksanaan alat peraga di hari 3 Ruang Kelas Catatan Anekdot eksperimen Lampiran 3. Panduan Wawancara Guru Sebelum Implementasi Alat Peraga No. Poin Pertanyaan 1. Pengalaman mengajar 2. Perbedaan mengajar kelas bawah dan kelas atas 3. Pengalaman menggunakan alat peraga 4. Pengalaman mengajar matematika 5. Ketertarikan pada alat peraga Montessori.

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Lampiran 4. Panduan Wawancara Siswa Sebelum Implementasi Alat Peraga No. Poin Pertanyaan 1. Kehidupan sehari-hari 2. Pengalaman belajar di kelas 3. Pengalaman belajar matematika 4. Cara belajar matematika Lampiran 5. Panduan Wawancara Guru Setelah Pengimplementasian Alat Peraga No 1 Karakteristik Persepsi Fokus Pertanyaan Pemikiran dan perasaan subjek terhadap alat peraga berbasis Montessori 2 Auto-education Pemahaman konsep setelah menggunakan alat peraga berbasis Montessori Membantu siswa atau mempersulit siswa dalam belajar Kemampuan siswa dalam mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori 3 Menarik Ketertarikan siswa dengan bentuk alat peraga berbasis Montessori Ketertarikan siswa terhadap cara menggunakan alat peraga berbasis Montessori 4 Bergradasi Dapat digunakan untuk semua siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 Ukuran yang ada pada alat 5 Auto- Correction Alat tersebut dapat membantu siswa dalam menemukan kesalahan yang dilakukan dan memperbaiki dengan sendirinya Alat peraga mempunyai kunci jawaban 6 Kontekstual Alat dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang dikenal atau dekat dengan kehidupan siswa Lampiran 6. Panduan Wawancara Siswa Setelah Implementasi Alat Peraga No 1 Karakteristik Persepsi 2 Auto-education Fokus Pertanyaan Pemikiran dan perasaan subjek terhadap alat peraga berbasis Montessori Pemahaman konsep setelah menggunakan alat peraga berbasis Montessori Membantu atau membuat siswa bingung terhadap materi yang diajarkan Kemampuan siswa dalam mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 3 Menarik 4 Bergradasi 5 Auto- Correction 6 Kontekstual Ketertarikan siswa dengan bentuk alat peraga berbasis Montessori Ketertarikan siswa terhadap cara menggunakan alat peraga berbasis Montessori Ukuran yang ada pada alat Alat tersebut dapat membantu siswa dalam menemukan kesalahan yang dilakukan dan memperbaikidengan sendirinya Alat peraga mempunyai kunci jawaban Alat dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang dikenal atau dekat dengan kehidupan siswa Lampiran 7. Tabel Panduan Observasi Sosio Kultur Kelas IC dan Pembelajaran sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori No. Tujuan Subjek Hal yang Keterangan diamati 1. Untuk mengetahui Guru dan Kondisi kondisi sosial Siswa kelas Untuk mengetahui Guru dan Proses proses siswa Belajar sekolah 2. pembelajaran yang mengajar ada di kelas Lampiran 8. Hasil Observasi Sosio Kultur dan Proses Pembelajaran di kelas IC SD Kanisius Sengkan Yogyakarta Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Hasil Observasi Sosio Kultur SD Kanisius Sengkan adalah sebuah SD yang terletak di Jalan Kaliurang Km. 7,8 Depok, Sleman Yogyakarta. Lingkungan SD Kanisius Sengkan terletak di tengah pasar Colombo Yogyakarta. SD Kanisius Sengkan dibagi menjadi 2 bagian yaitu SD Induk dan SD Anak. SD Induk berisi kelas 4 samapai kelas 6 dan SD anak berisi kelas 1 hingga kelas 3. Selisih jarak antara SD Induk dan SD Anak adalah 100 meter. SD Anak atau SD yang berisi siswa kelas bawah terletak di kompleks TK dan SD Kanisius Sengkan. Kelas Ic terletak di lantai 1 dekat dengan tangga yang menuju ke kelas 2. Halaman sekolah yang ada di SD Anak belum terpasang cornblock sehingga halaman masih berupa tanah. Jika terjadi hujan, halaman sekolah akan becek dan berair. Di depan kelas 1c terdapat pohon rambutan dan tempat duduk untuk orang tua siswa yang menunggu siswa. Tepat di samping pintu masuk kelas, terdapat beberapa rak sepatu yang digunakan siswa untuk menaruh sepatu. Siswa kelas 1c yang berada di dalam kelas wajib melepas sepatu. Melepas sepatu dalam kelas bertujuan untuk menjaga kebersihan kelas. kelas Koding

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 ini mempunyai banyak jendela dan ventilasi udara yang membuat udara di kelas ini tetap segar. Ketika memasuki ruang kelas, peneliti langsung melihat sebuah kelas biasa yang terdapat kursi dan meja siswa yang berderet menghadap ke papan tulis dan sebuah meja dan kursi untuk duduk guru. Dibalik pintu kelas, terdapat ala-alat kebersihan yang digunakan siswa untuk membersihkan kelas. Kelas ini adalah kelas yang tak terlihat adanya sampah berserakan. Kebersihan kelas ini terjaga karena guru selalu mengingatkan siswa untuk tetap menjaga kebersihan dalam kelas. Dalam kelas 1C ini terdapat tempelan yang menempel di sepanjang dinding kelas. Tempelan itu berupa foto siswa dengan keluarganya. Peneliti tertarik pada sebuah lemari yang ada di belakang kelas. lemari itu berisi perlengkapan menggosok gigi milik siswa, sandal jepit siswa dan buku tulis maupun lks yang dikumpulkan baik yang telah dikoreksi atau yang belum dikoreksi. Di kelas ini tidak nampak alat peraga yang biasa digunakan guru dalam pembelajaran. Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Hasil Observasi Pembelajaran di kelas Proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru adalah proses belajar dengan menggunakan metode ceramah dan pembelajaran berbasis konteks. Guru biasa menggunakan cerita konkret sebagai pengantar sebuah pembelajaran mengingat pembelajaran di kelas bawah adalah pembelajaran tematik. Guru sangat pandai untuk menarik perhatian siswa melalui tepuk atau jargon yang telah biasa digunakan. Siswa di kelas ini cenderung aktif untuk bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. terdapat beberapa anak yang sering menunjuk diri untuk mengerjakan di depan kelas saat guru memberikan sebuah soal. Siswa-siswa langsung bersorak senang ketika soal yang mereka jawab benar. Namun terdapat beberapa siswa yang kurang dalam hal pelajaran yang tampak diam. Siswa yang kurang tersebut rata-rata duduk di bangku paling depan. Ketika siswa masih bersorak, guru OSK/B25-29/IC Koding OP/B1-5/IC Lampiran 9. Verbatim video observasi pengimplementasian alat peraga hari pertama Verbatim Video Observasi Guru Hari 1 Hari/tanggal: Senin, 24 Februari 2014 Baris Hasil observasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Guru memasuki kelas bersama dengan mahasiswa peneliti yang meneliti di kelas ic. Guru dibantu dengan mahasiswa membawa alat peraga yang digunakan. Guru terlihat semangat dan senang akan menggunakan alat tersebut. Awalnya guru menjelaskan tentang apa yang akan dipelajari oleh siswa pada siang itu. Guru menjelaskan bahwa siswa bersama guru akan belajar penjumlahan dan pengurangan dengan menggunakan alat peraga. Guru kemudian menjelaskan bahwa siswa akan dibagi dalam kelompok kecil yang berisi 4 orang siswa dan masing-masing kelompok Koding Semangat dan perasaan senang guru terhadap alat peraga (OH1/b3-4/GK)

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 akan mendapatkan alat peraga. Guru mulai menjelaskan bentuk dari papan yang berbentuk persegi panjang. Selanjutnya guru beralih untuk menjelaskan titiknya. Guru menjelaskan bahwa setiap warna titik melambangkan nilai yang berbeda mulai dari satuan hingga ribuan. Guru bertanya pada siswa satuan itu terdapat angka berapa saja dan ribuan itu yang angka nolnya ada berapa. Guru kemudian menuliskan angka 11 di papan tulis dan bertanya pada siswa yang mana yang merupakan puluhan dan mana yang merupakan satuan dengan bertanya pada isswa. Guru juga menjabarkan bahwa 11 adalah 10 + 1. Guru memberikan 1 contoh lagi yaitu angka 1 untuk dijabarkan di papan tulis. Selanjutnya guru menjelaskan bahwa warna biru akan bernilai 1 satuan dan merah akan bernilai 1 puluhan atau 10. Guru mulai menjelaskan bagaimana pengaplikasian titik berwarna tersebut dalam papan. Guru memberikan contoh angka 25 yang kemudian dijabarkan dan kemudian dirubah menjadi titik warna. Guru bertanya pada siswa jika 20 titik merah adal berapa dan 5 itu ada berapa titik biru. Guru mengingatkan lagi bahwa merah adalah titik yang melambangkan 1 puluhan dan biru adalah melambangkan 1 satuan. Guru juga menjelaskan ada wana lainnya namun tidak digunakan di pelajaran hari tersebut. Setelah itu, guru mulai menjelaskan cara menghitung dengan menggunakan alat peraga pertama guru menaruh titik sejumlah angka yang akan dikurangi, kemudian guru menambah dengan menambagkan titik pada papan sesuai dengan soal. Kemudian guru meghitung lagi berapa titik merah dan biru yang selanjutnya dituliskan di papan. Hal tersebut terjadi juga saat guru menjelaskan tentang bagaimana mengurangi dengan menggunakan alat, namun saat guru menjelaskan pengurangan, guru mengambil titik pada papan yang berarti mengurangi titik. Setelah selesai menjelaskan, guru membagi siswa dalam kelompok dan meminta siswa menggabungkan meja yang akan digunakan belajar dalam kelompok. Setelah semuanya siap, guru dibantu mahasiswa membagikan alat peraga kepada setiap kelompok yang ada di kelas. Guru menjelaskan bahwa siswa harus mampu berbagi alat peraga pada teman sekelompoknya. Guru kembali menarik perhatian siswa agar berfokus pada guru terlebih dahulu. Guru mulai memberikan soal pada siswa dan siswa diminta untuk mengerjakan dengan bantuan menggunakan alat peraga tersebut. Guru mengingatkan agar angka dijabarkan terlebih dahulu kemudian baru diubah menjadi titik yang diletakkan di dalam papan. Guru mengecek cara pengerjaan siswa dengan cara berkunjung pada setiap kelompok yang ada di dalam kelas. Setelah menunggu untuk beberapa menit, guru mengajak siswa untuk menghitung mundur dan kemudian mencocokkan jawaban dari soal tersebut. Saat mencocokkan, guru memulai dengan menghitung titik merah yang dilanjutkan dengan menuliskannya di bawah papan. Kemudian dilanjutkan dengan menghitung titik biru. Guru kemudian menuliskan jawaban di papan. Guru memberikan soal kedua dan beliau berputar mengunjungi siswa perkelompok. Setelah siswa selesai mengerjakan soal nomor 2, guru mencocokkan dengan bertanya jawab dengan Semangat guru (OH1/b66-68/GK)

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 siswa. Hal tersebut terjadi lagi untuk 10 soal penjumlahan dan kemudian dilanjutkan dengan soal pengurangan. Guru kembali menekankan bagaimana cara menggunakan alat untul mengitung pengurangan. Guru mulai memberikan soal dan beliau berputar berkunjung ke masing-masing kelompok untuk memastikan siswa benar dalam menggunakan alat peraga. Guru sangat bersemangat dan tidak tampak sedikitpun mengeluh. Setelah beberapa menit guru mencocokkan dengan menghitung mundur terlebih dahulu dan selanjutnya jawaban ditulis di papan tulis.Raut muka guru terlihat sangat senang mengetahui siswanya banyak yang menjawab dengan benar. Guru juga memuji siswa yang menjawab dengan benar. Guru memberikan 10 soal pengurangan dan prosesnya sama seperti sebelumnya. Setelah selesai, guru mulai memberikan beberapa soal yang harus dikerjakan siswa tanpa bantuan alat peraga dan di tulis pada sebuah kertas. Guru kembali berkeliling untuk mengecek pekerjan siswa. Setelah semua siswa selesai mengerjakan, guru meminta siswa mengumpulkkan kertas soal yang telah diisi dengan jawaban dan meminta siswa untuk bersiap-siap pulang. Perasaan senang dan alat membantu siswa (OH1/b74-75/GK) Lampiran 10. Verbatim Video Observasi Pengimplementasian Alat Peraga Hari pertama Verbatim Video Observasi Siswa Pengimplementasian Alat Peraga Hari/tanggal: Senin, 24 Februari 2014 Baris Hasil observasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Saat guru memasuki kelas dengan membawa alat dan siswa langsung maju dan menghampiri guru yang membawa alat peraga. saat guru menjelaskan, siswa sangat tertarik untuk memperhatikan guru terutama 3 siswa yang menjadi subjek di penelitian ini. Ketiga siswa sangat memperhatikan. Mereka tampak tertarik pada alat peraga yang digunakan guru dalam menjelaskan. Setelah guru selesai menjelaskan, siswa yang menjadi subjek dikumpulkan dalam satu kelompok. Saat diberi alat peraga tampak A langsung membuka kotak yang berisi titik dan C langsung memegang papan. Selama hampir 3 menit, mereka bermain sesuka kelompok mereka saat guru masih sibuk membagi alat peraga pada kelompok lain. Siswa C dan B tampak langsung mempraktikkan contoh soal yang sebelumnya telah di berikan saat menjelaskan pada papan titik yang ada di depan mereka sedangkan A memperhatikan C dan B. Mereka mengutak-atik titik yang ada di papan dan di kotak. A bersamaan dengan memperhatikan B dan C memperagakan alat peraga, ia membenarkan siswa C yang salah dalam menaruh jumlah kotak dalam papan dan kemudian b membenarkan dengan mengambil kembali titik yang telah diletakkan C di papan kedalam kotak tempat titik. Dan ketika mereka benar dalam peragaan tersebut mereka bersorak senang. Setelah mengetahui cara menggunakan alat peraga tersebut, siswa A ingin mencoba namun tidak diperbolehkan oleh C. Kemudian siswa A mengalah dan kembali duduk dan memperhatikan Koding Tertarik ingin segera menggunakan alat OS/B10-12/H1 Hambatan siswa dalam menggunakan alat OS/B24-26/H1

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 penjelasan guru dan dan siswa B dan C yang sedang memperagakan. Setelah 1 lagi contoh soal yang diberikan oleh guru selesai diperagakan, siswa A kembali meminjam alat peraga yang ada di siswa B dan C. Namun siswa B dan C tidak memberikannya. Siswa A kemudian diam dan kembali duduk. Siswa A terlihat cemberut kearah B dan C. Hal tersebut tak berlangsung lama, setelah itu siswa A memperhatikan guru dan siswa A kembali ceria lagi. Setelah beberapa soal, guru memberikan soal dan kemudian dituliskan di buku masing-masing siswa yang dikerjakan dengan menggunakan alat peraga. Setelah menuliskan soal yang dibacakan guru, siswa B dan C kembali memegang alat peraga dan mulai untuk menggunakannya. A yang ada di depan B dan C memperhatikan mereka mengerjakan. A nampak tidak ikut dalam menggunakan alat peraga. saat B dan C selesai dengan menggunakan alat peraga dan menuliskan jawabannya di buku, A ikut menuliskan jawabannya di buku. Ketika guru mencocokkan soal tersebut dan jawaban mereka bertiga benar, ketiga siswa langsung bersorak senang. Saat dikunjungi guru, ketiga siswa memperlihatkan jawaban mereka yang benar. Setelah soal kedua dituliskan siswa, siswa B dan C mulai untuk menggunakan alat peraga untuk menghitung soal. Siswa A kembali diam dan hanya memperhatikan alat peraga. Ketika ditanya oleh salah satu peneliti yang ada di kelas itu mengapa ia tidak ikut menggunakan alat tersebut, A menjawab tidak apa-apa sambil tersenyum dan memperhatikan B dan C kembali. Setelah kedua soal A memperhatikan B dan C mengerjakan soal, siswa A mulai menghitung soal yang diberikan oleh guru dengan menggunakan jari sedangkan B dan C tetap mengerjakan soal dengan menggunakan alat. Setelah 10 soal yang diberikan guru dan dikerjakan dengan manggunakan alat, guru meminta siswa untuk mengerjakan tanpa menggunakan alat. Siswa B tampak melihat jawaban C dan menuliskan jawaban tersebut di kertasnya. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, hanya beberapa soal saja B melihat jawaban C. A tampak selesai paling awal daripada B dan C. Saat sudah selesai, ketiga siswa mengumpulkan hasil pekerjaanya kepada guru. Perasaan siswa saat menggunakan alat peraga OS/B48-51/H1 Perilaku siswa dalam saat pengimplementasian alat peraga OS/B53-55/H1 Lampiran 11. Verbatim Video Observasi Pengimplementasian Alat Peraga Hari Kedua Verbatim Video Observasi Hari Kedua Hari/ Tanggal: Rabu, 26 Februari 2014 Baris 1 2 3 4 5 6 7 Hasil Observasi Eksperimen hari kedua berlangsung setelah istirahat. Setelah guru mengucapkan salam, guru mulai menjelaskan apa yang akan dilakukan hari ini. Beliau menjelaskan bahwa hari ini akan belajar seperti hari Senin yang lalu yaitu belajar menggunakan alat peraga. Suasana kelas saat itu masih ribut sehingga guru mengajak siswa untuk tepuk rapi dan tepuk lainnya untuk membuat kelas kondusif untuk belajar. Guru Koding

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 juga membuat perjanjian agar siswa tetap fokus selama pembelajaran berlangsung. Setelah itu, guru membagi siswa dalam kelompok dan guru membantu siswa menata menja yang akan digunakan siswa belajar dalam kelompok. Setelah semua tertata, guru menjelaskan bahwa kerja sama dalam kelompok hari tersebut akan masuk nilai sehingga siswa diharapka untuk dapat menjalin kerjasama selama pembelajaran. Untuk beberapa menit setelahnya, guru menjelaskan ulang pada siswa bagaimana menggunakan alat peraga untuk mengingatkan siswa kembali tentang bagaimana menggunakan alat peraga itu sendiri. Topik kali ini guru menitik beratkan pada penggunaan alat untuk membantu mengitung pengurangan. Guru tidak lupa menjelaskan bahwa warna-warna yang ada pada titik melambangkan nilai yang berbeda. Setelah menjelaskan, guru dibantu dengan mahasiswa mulai membagikan alat peraga. Setelah semua kelompok mendapatkan alat, guru menjelaskan bahwa 1 soal mempunyai batas waktu 1 menit. Saat guru selesai memberikan soal pertama, guru berputar untuk mengunjungi siswa perkelompok untuk melihat proses siswa mengerjakan dengan menggunakan alat. Ia juga memberikan koreksi seperti siswa diminta untuk mengitung lagi jika guru menemukan terdapat kesalahan pada siswa. Setelah sekitar 2 menit, guru berada di depan kelas kembali untuk mencocockkan. Pada saat soal ketiga, sebelum guru mencocokkan, guru mengajak siswa untuk menghitung mundur. Memberikan soal, berputar mengunjungi siswa perkelompok, menghitung mundur saat ingin mencocokkan hingga memberikan soal kembali terjadi secara terus menerus untuk 10 soal. Setelah itu, guru meminta siswa untuk mengeluarkan buku tulis untuk menuliskan beberapa soal yang didiktekan guru yang harus dikerjakan siswa dengan bantuan alat peraga. Setalah selesai, guru meminta siswa untuk mula mengerjakan dan guru berputar kembali untuk mengunjungi kelompok dan memastikan kelompok yang dikunjungi benar dalam mengerjakan soal baik secara cara menggunakan alat dan jawabannya. Saat 1 soal sudah selesai, guru mengajak siswa menghitung mudur dan kemudian mencocokkannya. Hal itu berlaku pada 20 soal selanjutnya. Setelah 20 soal dikerjakan oleh siswa dan dicocokkan, guru memberikan soal yang dicetak dalam selembar kertas untuk nanti dikumpulkan kembali pada guru. setelah itu, guru kembali berputar utuk mengunjungi kelompok. Pada kelompok terakhir yang berada paling dekat dengan meja guru, guru duduk bersama kelompok tersebut. Guru membimbing bebberapa siswa yang ada dikelompok tersebut yang belum bisa mengerjakan atau kesulitan dalam mengerjakan. Setelah sekitar 25 menit, guru meminta sisa mengumpulkan soal yang telah dijawab siswa. Sambil menunggu siswa mengumpulkan, guru tetap berada pada kelompok yang sama dan masih membimbing satu siswa yang belum bisa mengerjakan. Setelah semuanya selesai dan soal dikumpulkan, guru mengajak siswa untuk melakukan tepuk rapu dan kemudian guru mengingatkan siswa bagaimana cara menghitung dengan menggunakan jari. Guru memberikan soal yang ditulis dibuku siswa untuk siswa kerjakan dengan bantuan

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 66 67 jari. Guru kembali berputar pada kelompok-kelompok dan setelah dirasa semuanya selesai, guru duduk di kursi guru dan siswa maju satu persatu untuk dikoreksi dan dinilai pekerjaannya. Setelah prises tersebut selesai, guru meminta siswa untuk berkemas dan bersiap untuk pulang. Lampiran 12. Verbatim Video Observasi Pengimplementasian Alat Peraga Hari Kedua Verbatim Video Observasi Hari Kedua Hari/ Tanggal: Rabu, 26 Februari 2014 Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Hasil Observasi Saat guru meminta isswa menghitung dari 20, S dan A tampak terlibat dalam perbincangan dan R sibuk bermain benda yang ada dalam tempat pensilnya. Ketika sudah mulai menghitung, S, A dan R mulai ikut menghitung . S dan A menghitung dengan semangat namun R menghitung dengan menyangga dagu. S dab A memperhatikan saat guru menerangkan bagaimana menggunakan alat, R memperhatikan namun dengan mengetuk-ngetuk meja. Saat guru mengatakan bahwa akan belajar tentang pengurangan, R berkata bahwa pengurangan itu gampang kepada A. Sesaat, A dan S sibuk sendiri dan kurang memperhatikan. A dan S kembali memperhatikan penjelasan guru sat guru mulai menaruh titik pada papan. Saat guru masih menjelaskan, R membuat perjanjian atau pembagian tugas. Ia akan menghitung titik yang telah ada di papan, S kan menaruh titik pada papan sesuai dengan soal dan A akan menuliskan di bawah papan. S juga ikut mengatur namun R tidak setuju dengan pendapat S. Saat alat telah berada dihadapan mereka, R dan A langsung memegang alat dan S melihat A. R mulai mulai membagikan tugas seperti perjanjian sebelumnya. Setelah kotak berisi titik ada, A langsung membuka dan R meminta untuk diberika pada S. S memegang kotak pemberian A dan A memegang spidol. S membuka kotak yang berisi titik. Saat guru memberi tahu bahwa 1 soal akan dikerjakan dalam 1 menit, maka S, A dan R langsung berteriak kaget. Saat guru telah menyebutkan soal nomor 1, S langsung mengambil titik yang ada di kotak dan meletakkan di papan. A dan R menata kembali titik yang telah diletakkan S. R mengembalikan beberapa titik biru yang telah diletakkan S karena kelebian. R mulai menghitung pengurangan sesuai soal dan A menuliskan di bawah papan. Guru sesaat kemudian langsung mencocokkan dan A, R dan S bersorak karena jawabannya benar. A menghapus tulisan yang ada di papan dan S mengembalikan titik yang ada di papan kedalam kotak. Setalh mengetahui soal seanjutnya, S langsung meletakkan titik pada papan dan A serta R menatanya. S memperhatikan A dan R yang sedang menata. Kemudian R mengitung sesuai soal dan A kembali menuliskannya di papan dan mereka kembali bersorak ketika jawaban mereka benar. R mengembalikan kepada S titik yang ada di papan. Hal tersebut terjadi untuk 5 Koding

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 soal. Kemudian guru meminta mengambil buku tulis, dan mereka bertiga kembali duduk dan menulis soal lalu mengerjakannya. Saat guru membacakan soal, R menaruh titik pada papan sedangkan A dan S berebut ingin menulis di papan. S memperhatikan R yang sedang meletakkan titik dan A melihat ke arah lain. A menulis angka. Pada soal berikutnya S mengerjakan soal dengan menggunakan jarisedang A dan R mengerjakan dengan menggunakan alat. R dan A masih sibuk mengerjakan dengan menggunakan alat saat S selesai mengerjakan semua soal. Saat teman lain ingin mencoba alat, R kembali menariknya untuk dipakai. Setelah beberapa meni, guru mencocokkan da mereka bertiga bersorak gembira karena jawaban mereka benar. Setelah selesai, A, R dan S mendapat soal yag ada dalam kertas. S dari awal menghitung dengan menggunakan jari sedang A dan R menghitung dengan menggunakan alat untuk 3 soal dan soal berikutnya mereka kerjakan dengan menghitung menggunakan jari. Untuk beberapa soal di tengah, A tidak menghitung, ia hanya menunggu jawaban dari R. Hal itu terjadi tidak terjadi hanya sekali namun untuk beberapa kali. Setalelah beberapa nomor melihat pekerjaan R, A mencoba menghitung sendiri dengan menggunakan hari. S selesai paling awal dan dikumpulkan pada guru. sesaat kemudian disusul oleh A dan R yang mengumpulkan pekerjaannya. Setelah selesai dan masih ada waktu, mereka bertiga bermain soal-soalan dengan menggunakan alat. Setelah beberapa menit, siswa diminta untuk mengumpulkan alat. A mengumpulkan kotak, S mengumpulkan Spidol dan R mengumpulkan alat. Siswa tetap ingin belajar menggunakan alat (OS/B62-64/H2) Lampiran 13. Verbatim Video Observasi Pengimplementasian Alat Peraga Hari Ketiga Verbatim Video Observasi Guru Hari Ketiga Hari/ Tanggal: Senin, 3 Maret 2014 Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Hasil Observasi Hari terakhir, guru memulai pembelajaran matematika pada har itu dengan memberikan soal yang ada di kartu soal perderet dan kemudian dicocokkan. Soal tersebut ditulis siswa dalam buku. Guru mengingatkan jika siswa salah, siswa diminta untuk mencoret nomornya di buku. Saat guru merikan soal ketigam guru berkata waktunya akan lebih cepat dan kemudian langsung mencocokkannya. Setelah beberapa soal yang terdiri dari soal pengurangan dan penjumlahan, siswa diminya kembli dalam kelompok yang dalam kelompok tersebut terdapat 1 guru atau pendamping. Guru dibantu mahasiswa menata kursi yang ada. Guru meminta R untuk pindah kelompok dengan kelompok yang terdapat subjek penelitian. Guru memberikan instruksi agar semua siswa pegang soal dan guru meminta siswa menyendirikan atau memisahkan soal penjumlahan dan pengurangan yang sebelumnya diterima siswa dalam keadaan tercampur. Setelah selesai, guru mengunjungi perkelompok untuk memastikan kartu soal dipisahkan dengan benar. Guru mencari kelompok Koding

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 yang belum mendapatkan pembimbing, setelah dapat, guru duduk bersama kelompok dan mulai memberikan soal. Guru memberikan beberapa soal penjumlahan secara langsung yang ditulis oleh siswa di buku. Setelah membacakan 5 soal, guru membimbung siswa mengerjakan soal menggunakan alat. Guru mengarahkan bagaimana cara menggunakan alat dengan benar. Setelah 5 soal selesai dikerjakan siswa di kelompok tersebut, guru mulai mencocokkan dengan membuka kartu soal yang telah dilengkapi dengan jawaban dan mengingatkan siswa agar mencoret nomor yang salah. Setelah soal penjumlahan selesai guru memberikan soal pengurangan dan guru kembali membimbing siswa dalam mengerjakan. Setelah siswa dalam kelompok selesai mengerjakan, guru kembali mencocokkan dengan membuka kartu soal. Lama kelamaan guru hanya melihat dan memperhatikan siswa mengerjakan sendiri menggunakan alat yang sebelumnya telah dibacakan. Guru secara perlahan melepas siswa agar siswa dapat mengerjakan sendiri. Setelah mencocokkan jawaban, guru meminta siswa untuk bermain soal-soalan sendiri. Setelah beberapa menit, guru memberkan soal evaluasi yang ada dalam sebuah kertas. Guru kembali berputar untuk mengecek siswa dalam mengerjakan. Pada sebuah kelompok yang guru kunjungi, guru menemukan siswa yang belum bisa mengejakan soal. Guru duduk disitu dan membimbing siswa tersebut secara perseorangan. Guru sempat berkata kepada salah satu mahasiswa bahwa anak tersebut kurang dalam matematika. Setelah selesai, guru meminta bantuan mahasiswa untuk mengumpulkan soal evaluasi dan setelah semua dikumpulkan, guru meminta siswa untuk berkemas dan bersiap-siap pulang. Lampiran 14. Verbatim Video Observasi Pengimplementasian Alat Peraga Hari Ketiga Verbatim Video Observasi Hari Siswa Ketiga Hari/ Tanggal: Senin, 3 Maret 2014 Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Hasil Observasi Saat guru telah memberikan alat, A dan R mengangkat lat dan membukanya. Kemudian R mulai melihat soal. Saat guru meminta siswa memegang soal memisahkan kartu soal, R mengangkat soal dan mulai untuk memisahkan soal dan bekerja sama dengan A. Setelah selesai, A dan R mulai membuka buku, Saat guru mulai memperlihatkan soal pertama, A dan R langsung menuliskannya pada buku. R langsung menghitung dengan menggunakan jari. A mencoba mengerjakan dengan bantian alat peraga. Sembari menunggu A mengerjakan soal, R memperhatikan A mengerjakan soal dengan menggunakan alat. Saat A salah mengerjakan, R mengingatkan bahwa A kelebihan dalam menaruh titik biru di papan. A tidak bisa maka A dibantu guru untuk membenarkan. Saat guru mencocokkan, A masih membenarkan pekerjaannya. Saat masuk kedalam soal kedua, A dan R kembali menuliskannya di buku dan R langsung menghitung dengan Koding Siswa mengerjakan

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 18 19 20 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 menggunakan jari sedangkan A menghitung dengan bantuan alat. Sesaat setelah A selesai mengerjakan dengan menggunakan soal, guru mulai mencocokkan dan mereka berdua bersorak gembira karena jawaban mereka benar. Hal tersebut terjadi lagi untuk 25 soal berikutnya. Setelah 25 soal dari kartu soal dan dicocokkan, A dan R mengerjakan soal evaluasi. R mengerjakan soal dengan menghitung dengan jari sedangkan A untuk beberapa soal mengerjakan dengan menggunakan alat. Sesekali A mengulang penghitungan dan setelah dirasa benar, ia menuliskan jawaban pada lembar evaluasi. A sempat melihat jawaban R dan menuliskan di lembar evaluasinya. R diam saja saat tahu bahwa A melihat pekerjaannya. Guru mengingatkan A untuk bekerja sendiri. Setelah semuanya selesai, R terlebih dahulu mengumpulkan soal evaluasi dan beberapa menit kemudian baru A mengumpulkan. Sesaat kemudian, R dan A mulai berkemas untuk pulang. dengan menggunakan alat peraga OS/b17-18/H3 Lampiran 15. Verbatim Wawancara Guru Sebelum Implementasian Alat Peraga Subjek : Guru Kelas Tempat : Perpustakaan SD Kanisius Sengkan No. Pertanyaan 1 s -Selamat pagi Bu, 2 -Saya minta ijin untuk 3 melakukan sedikit 4 wawancara dengan ibu 5 terkait dengan pembelajaran 6 matematika di kelas ibu. Eee 7 yang pertama, ibu sudah 8 berapa lama mengajar? 9 -Ya , SD sengkan dan semuanya 10 11 12 13 - kemudian yang 18 tahun 14 itu dimana? 15 - OOO begitu, di kanisius 16 juga? 17 18 19 20 21 22 23 24 -lalu, eee sudah mengajar di 25 kelas berapa saja? 26 27 28 -ooo ya, ini kelas 3nya 29 dimana? 30 - berapa tahun bu? 31 Jawaban Pagi Saya mengajar di SD K sengkan atau dimana? kalo dari awal, saya telah 27 tahun, tapi di SD k Sengkan. Di SD kanisius aja, di SD Kanisius udah 7 tahun kalo di SD k sengkan 2 tahun ini. Jalan 2 tahun Saya di Jakarta enggak, di yayasan untuk awal di jakarta , saya di TK, kemudian kepala sekolah, terus pindah ke sini di kelas 1 eh kelas 3 pertama, di jogja kelas 3 satu tahun, terus kelas 1 di wirobrajan itu 5 tahun Kintelan, terus di SD kanisius padokan, itu kelas 4 Satu tahun eee 2 tahun dan kemudian sekarang di sengkan kelas 3 satu tahun dan kelas 1 satu tahun Hehehe, kalo sukanya e.e kita menghadapi benda hidup, maksdunya anak2 (W1/B8-9/GK) Pengalaman mengajar (W1/B11-12/GK) Pengalaman mengajar

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 -Suka dukanya ibu menjadi seorang guru -kalo dukanya? - o kalo , sikap anak yang A B C kira-kira sikap yang seperti apa -waktu ibu sudah ada di kelas 3, kelas 4, dan waktu pertama kali ibu mendapat kelas 1 rasanya gimana bu? -Kemudian seumpamanya berkembang, penalaran dan fisiknya berkembang dan pikiran kita juga berkembang tentang cara menghadiapi anak2 yang bermacam2 karakternya satu dengan yang lain, jadi kita semakin berkembang menemukan ide2 bagaimana menghadapi subjek. Kalo ditanya kesedihan ya ketika bertemu anak yang bandel, yang nakal,kita juga harus menyesuaikan dengan aturan2 yang ada baik dari pemerintah maupun yayasan, yang terkadang eee ga menetap, maksudnya berubah2 misalnya 1 tahun ini kurikulumnya harus gantiganti. Itu yang merupakan apa ya, yang harus menyesuaikan dan iya tantangan. duka ya itu tadi, menghadapi kurikurikulum yang baru ya kita harus menyesuaikan lagi. Yang pertama itu yang bandel, yang keluarga broken home, itu kan lain-lain karakternya. Terus anak yang pendiam, pendiam itu maksudnya belum tentu anak yang pendiam itu pintar. Ada juga yang pendiam itu bodoh eh bukan bodoh, tapi kurang jadi kita harus pandai2untuk mencari cara bagaimana mengkomunikasikan materi tersebut. Bingung mbak, karena menghadapi anak2kecil, perubahan dari TK ke SD, TK itu kan masih fase bermain ya sedang di SD sudah disodorkan dengan berbagai macam buku paket yang menuntut anak untuk dapat membaca dan menulis serta berhitung. Bagi anak yang belum bisa, itu yang merupakan suatu pr bagi guru. Bagaimana caranya agar anak itu dapat membaca dan menulis untuk kelas 1 itu, jadi agak sedikit bingung. Eee kalo untuk awal-awal

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 126 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 tidak bisa membaca, tidak bisa menulis, diapakan atau diberi apa gitu? -selanjutnya bu, apa bedanya mengajar dikelas 1 dan kelas yang lain? -terkait dengan pelajaran matematika, itu kan berhitung. Apakah ada tantangan tersendiri? -kira2 alasanya kenapa? kelas satu itu harus pengenalan huruf, yang a b c d e itu yang harus kita kenalkan pada mereka semua lha nanti ketauannya mereka sudah bisa membaca ya itu kita letakkan ke posisi yang belakang kalo saya. Posisi duduk yang dibelakang. Sendangkan anak2 yang belum bisa, itu saya kasih depan, yang lebih dekat dengan guru yang nantinya bisa terpantau untuk menulis dan membacannya. Yang sudah bisa kita lepas makanya duduknya dibelakang. Yang didepan kan lebih terpantau secara terus menerus. Terus yang kedua kita kasih les tambahan setelah pulang sekolah khusu untuk menulis dan membaca itu di semster 1, seminggu 2 x satu jam. Maksudnya sama2 kelas satu ? Kalo di kelas 3 itu yang jelas perbedaannya ya sudah bisa baca tulis jadi sudah mengerti, ya kalo kelas satu ya itu tadi. Belum bisa baca dan tulis, maksud dari kalimat tersebut kan belum mengerti, jadi harus di drill. Kalo kelas 3 kan kita hanya menambah pengetahuan, menambah caracara, misal matematika, caracara menemukan jawaban dari soal. Kalo kelas 1 belum itu mbak Untuk kelas 1 ya? Untuk pembelajaran matematika itu anak-anak lebih paham daripada membaca karena ada di kelas satu ada anak yang tidak bisa membaca dan menulis tapi untuk matematika itu dia jago. Jadi anak-anak itu lebih gampang belajar matematika daripada membaca dan menulis. Eee mungkin karena anu ya mbak, untuk membaca dan menulis itu satu rangkaian jadi anak2 kan misalnya untuk huruf itu kan macam2. Kalo angka kan terbatas angka 1 – 10 itu lebih mudah dibanding menghafal a b c d. itu aja baru Pandangan guru terhadap alat peraga non montessori (W1/B135-138/GK)

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 -dalam pelajaran matematika itu metode yang digunakan itu ? - berarti kontekstual gitu ya bu ya -ooo…seumpamanya bu, dalam satu pembelajaran misalnya materinya apa, dan contoh pengguunaan alat2 yang ibu bawa itu bagaimana? -jadi anak mendemonstrasi sendiri - sebelum ibu mengetahui alat yang berbagai macam itum apakah ibu mengetahui terdapat alat berbasis Montessori? - Bertha? -bu Irine? -Jadi ibu sebelumnya belum mengetahui ada alat itu ya? - setelalah mengetahui ada alat tersebut apakah ibu ingin menggunakannya dikelas? -mengapa? - sebelumnya pernah menggunkan alat itu? huruf, belum kata belum kalimat, itu kan lebih sulit. Kalo matematika kan mereka lebih suka karena konkret to. Satu tambah satu itu jelas bisa. kalo untuk matematika, dari awal itu dengan benda2 yang ada disekitarnya. He’e, untuk misalnya penjumlahan, kita membawa alat2 sehingga anak2 mengerti. Misalnya dengan batu, satu batu ditambah 2 batu Kita mempraktikkan terlebih dahulu di depan anak2 dan anak2 memperhatikan dan setelah itu kita buat kelompok misalnya satu kelompk 2 anak, 3 anak setelah itu anak mencaoba seperti apa yang telah dipraktekkan sebelumnya He’e nanti mereka menemukan sendiri jawaban dari soal saya mengetahui dari ibu siapa itu namanya? Saya lupa Matematika adalah pembelajaran yang konkret (W1/B149-151/GK) Pembelajaran dengan menggunakan alat (W1/B157-161/GK) Matematika adalah pembelajaran yang konkret (W1/b171-173/GK) ooo.. bukan, yang dosen kesini itu lho Nah itu, kemarin mengenalkan kepada kami mengenai alat itu, tapi hanya mengenalkan pada para guru, jadi belum guru ke murid hanya untuk pengenalan pada alat. Hanya sepengetahuan itu saja taunya Belum Jelas sangat ingin menggunakannya Mungkin jika nanti digunakan dalam kelas, kemudian semua anak pengen mencoba dan merasa tertarik. Karena baru to mbak. Belum, kami hanya dikenalkan. Untuk menggunakan belum. Kami mencoba tapi belum dikenalkan kepada anak Sama mbak persis Menarik W1/B190-191/GK

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 - alat yang dipake waktu bu irine menjelaskan itu apa ya - sama? Papan titik namanya? - ooo.. - ooo pake perkalian.. he’e Cuma waktu itu kami dikenalkan di kelas besar yaitu perkalian He’e, tapi kalo ini kan akan dipakai kelas 1. Waduh, waktu itu gimana yaa, kami hanya mencoba perkelompok to mbak. Pertama memang penambaha, penjumlahan, pengurangan. Yang perkalian itu sama mbak Cuma tandanya - oo ya perkalian, jadi yang nanti konsepnya atau cara menggunakan dengan alat itu yang bagaimana - oo ya, jika alat itu digunakan secara besar2an, semua anak menggunakan itu, pengaruhnya kira2 apa? Iya mbak, penjumlahan bersusun. Gimana ya mbak, seumpamanya 4 x 3 ya 3nya 4x gitu Ya anak semakin tau to mbak yang jelas anak yang kurang tadi dia semakin memahami, anak semakin paham dan mengerti tentang penjumlahan, operasi hitung. Meskipun nanti pada kalo dilepas, anak nanti sudah bisa o yang ini puluhan dan ini satuan - jadi semakin tahu konsep , kemudian keuntungan dari alat montessori yang dsudah dikenalkan bu irin itu apa Untuk keuntungan kayaknya nganu ya, bisa memisah2kan jadi antara puluhan dan satuan itu kan letaknya berbeda jadi enggak sama atau jadi satu, dan warnanya juga berbeda jadi mungkin anak akan lebih paham. Mereka kan nanti bisa mengerti oo satuan ternyata disini di depan eh di belakang dan puluhan di depan (menunjuk dari kanan ke kiri). Tidak akan mungkin to puluhan diletakkan di belakang gitu Mungkin pembedaan warna ya mbak, membedakan warna jadi membedakan anak itu buta warna atau enggak. Jadi misalnya ayo ambil biru dan kemudian dia ambil merah kan . yang kedua keterampilan -iya bu, seumpamanya kan alatnya membantu secara apa ya ee kognitif anak dalam matematika , adakah skil lain yang ga termasuk pelajaran yang dapat dipelajari anak -keterampilan yang seperti apa Ee itu kan dibentuk bulat2, kemudian anak mengetahui bulat itu ternyata kayak gini disamping untuk penjumlahan Auto-Education (W1/b235-237/GK) Bergradasi (W1/B240-242/GK) Auto-Education (W1/B242-246/GK) Bergradasi

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 263 264 265 266 267 268 269 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 293 284 285 286 287 288 289 290 -seumpamanya apakah alat ini dapat membuat anak menjadi disiplin? -kira2 alat itu bisa bias kelas ga ya bu, seumpamanya bias kelas ittu kan alat tersebut penjumlahan apakah bisa digunakan di materi lain di kelas lain dengan modifikasi mungkin -Itu kalo seumpamanya alat itu begini2 cara kerjanya, nah mungkin jika di kelas laini di gunakan cara kerjanya di bedakan atau beda -ini kan masih di kelas satu ya bu ya, seumpamanya digunakan di kelas lain ? -pertanyaannya sudah habis bu, heheheh - terimakasih atas waktunya, besok mungkin setelah eksperimen saya akan begini lagi kita dapat menjelaskan ini tentang bentuk nanti kalo ada yang segitiga oo ini segitiga itu kayak ini, segi empat kayak ini Bisa juga sih seumpamanya kita membatasi waktu seumpamanya di beri waktu saat tambah2an. Anak2 nanti akan menemukan dari soal tersebut dengan alat itu, jawabannya. Eeee Bisa mbak, itu tadi juga bisa, misalnya saja digunakan untuk menjelaskan bentuk. Lha itu kan masuh pelajaran ipa , misalnya untuk menjelaskan benda yang mudah bergerak dan sulit untuk bergerak . kalo yang bulet kita glindingkan ternyata lebih cepat dari yang segitiga. Modifikasi dari alat tersebut. Ya bisa saja tergantung itu tadi untuk operasi hitung perkalian, bisa sekali . Misalnya kita menjelaskan 3 x 4 itu bilangan yang dikalikan tiga berapa kali. Nanti jadi penjumlahan 3 ditambah 3 ditambah 3 ditambah 3 sampai empat kali nha itu itu untuk kelas besar. Untuk gerak benda juga masih untuk kelas besar. Misal statis tidak statis Ya sudah hehehe (W1/B262-267/GK) Bergradasi W1/B263-271/GK Begradasi W1/B273-275/GK Iya gapapa, kita liat hasilnya di anak2 Lampiran 16. Verbatim Wawancara Siswa Sebelum Implementasian Alat Peraga Subjek : Siswa A atau siswa 1 Tempat : Perpustakaan SD Kanisius Sengkan

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 53 54 55 56 Pertanyaan -Halo Selamat Siang -Nama lengkapnya siapa? -Sofia siapa? -oke, Adek suka pelajaran matematika ga? -Sukanya kenapa? -Apa hayo? -Lho kok ga tau? Ya maksudnya sukanya karena Sofie nilainya bagus, atau suka karena Sofie suka itung-itungan, atau gimana? - Hehehe seneng gimana? - Oooo.. seneng?Seneng menghitung iya? Ho’o? Oke.. Terus abis itu eee waktu apa namanya adek pelajaran matematika, suka pake benda-benda, bola, atau apa gitu? -Enggak? Terus kira2 Sofi bisa mengerjakan enggak? - Bisa? Oooo… seumpamanya ibu Bu tutik pake em umpamanya penjumlahan ya, penjumlahan puluhan sama satuan, Nha itu kalau bu tutik pake batu atau benda lain? -Bukan, seumpamanya pake batu atau bola gitu lebih seneng yang mana? -Seneng pake papan tulis daripada benda-benda? Iya? Kenapa? - Ga dipindah anak ya.. maksdnya ga dipindah anakanak? - ooo, Seumpama pake alat kira-kira seumpama bu tutik bawa 5 permen terus nanti penjumlahan sama 23 permen gitu, lebih seneng yang ditulis di papan tulis atau yang ditulis yang di permen-permen? -Ditulis di papan tulis? Kenapa? - Papan Tulis? Ooo iyaa.. terus kalo ee pelajaran matematika suka ngantuk enggak? - ga ngantuk? Kenapa? Sofi seneng? Jawaban Siang Sofia Sofia Riyadi Suka Koding Eeee sukanya apa yaa Ya ga tau juga Ya karenaaa… emmm, ya karena seneng aja Ya seneng aja, seneng yang ada kayak puluhan sama satuan gitu seneng Geleng-geleng (Mengangguk) Papan tulis Lebih Seneng pake papan tulis Perasaan siswa terhadap alat peraga (W1/B36/S1) Iya, apa namanya, yaaa, ga dipindah anak-anak gitu misalnya 4 gitu ya, ini 5 gitu nha yang dari 4 itu dipindah ke 5 gitu lho Ditulis di papan tulis Soalnya ga usah gambar Geleng-geleng He’ee.. tapi nggambar ya pernah ngantuk Pemikiran terhadap alat peraga sebelum penelitian (W1/B50/S1)

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 89 90 - oo.. gambar pernah ngantuK? Lha kenapa? Karena apa ngantuknya? - ooo.. tidur jam berapa? -Lho ko ga tau. Biasanya kalau tidur malem karena apa? - Biasaya kalau tidur malem karena apa? -Nonton tv? - enggak? Terus apa? - Belajar dirumah? Sama siapa? Ngantuknya karena tidurnya kemaleman - Sebentarr.. sebentar yaaaa, ee terus kalo belajar dirumah gimana caranya, pakai apa? Pake sempoa ga? Hitung pake apa? - Hitung pake tangan? -Lebih Mudah hitung pake tangan atau seumpamanya pake lidi 10? hitung pake tangan - OO, gitu? Berarti sofi seneng matematika,kemudian eee sofi eee lebih seneng pake yang pake papan tulis ya daripada pakai alat Terimakasih ya sofi Gat tau Ha? Emmm Enggak.. Belajar Sama mama, sama papa, Ini selesainya kapan? Iya Nanti, enggak, nanti tapi kalau aku uda kayak 8 ditambah 15 ya tinggal ditambah aja pake hitung susun, 8nya tambah 5 terus ada sisanya ditaruh di depan. Angguk-angguk iya Lampiran 17. Verbatim Wawancara Siswa Sebelum Implementasian Alat Peraga Subjek : Siswa B atau siswa 2 Tempat : Ruang Kelas 1 C No. Pertanyaan 1 s - Namanya siapa? 2 -Panjangnya? 3 - Oke, Angelyn rumahnya 4 dimana? 5 - Di sengkan? Deket ya? Oke 6 dirumah sama siapa aja? 7 8 - Oke. Kalo dirumah belajar 9 sama siapa? 10 - sama ibuk? Diajarinya 11 gimana? 12 - kalo ada PR diajarin enggak 13 - Enggak? Dikerjakan 14 sendiri? Jawaban Angelin Chatarina Angelyn Prameswari Wardhani Di sengkan Ayah, simbah, mama, adik sepupu sama adik kandungku sama ibuk eeee Enggak sama adek Enggak Koding

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 - oo.. sama adik. Okee.. angelyn suka belajar matematika enggak? -Kenapa? -Susahnya kenapa? - Soalnya nilainya jelek. Kenapa? Ga ngerti materinya atau gimana? - pelajarannya ga ngerti? - woo lha pinter berarti. Eee kalo seumpamanya kan tambah-tambahan to, kalo engelyn ngitungnya pake tangan atau gimana? - gimana contohnya? Umpanya ini 5 + 7 gimana? Kan menyimpan. 5 tambah 7 gimana? -Kok 11? Coba di itung lagi. -Berarti ga teliti yaaa? - Ga teliti, oke, sumpamanya angelyn ngitungnya pake umpamanya pake batu, angelyn ngitung batunya nha sama ngitung pake tangan lebih gampang yang pake batu atau yang pake tangan? -Kenapa? Karena apa? - ooo, kalo ada gambarnya, berarti bisa dihitung satu2 ya - berarti harus ada bendanya yaa? - oke, seumpamanya kalo hitungannya ditulis dipapan tulis gimana? Kalo hitungannya ditulis di papan tulis biasa atau enggak? - kayak gitu seumpamanya (menunjuk soal yang masih ada di papan tulis), ngitungnya gimana? - pake jari juga? Tapi lebih seneng pake jari atau pake benda2? - dua duanya suka? lebih gampang yang mana? - suka pake gambar, karena apa? -terus seumpamanya kalo ga boleh pake tangan, lebih suka ngitung dikertas atau ngitung pake alat2? - dikertas? Gimana caranya menghitung? Seumpanya ini Susah Susahnya karena nilainya banyak yang jelek Nggak ngerti aja Iya, tapi tadi dapet 100 Pake tangan 11 Eehh 12 deng Hehehe iya Batu karena kalo apa namanya, seneng kalo ada gambarnya iya iya bisa pake jari juga dua-duanya suka eeeee, suka pake gambar karena kalo pake gambar ga usah gerak2, kalo lebih dari 10 harus pake kaki, males aku dikertas kan pake susun. Ini depannya 0. ini 7 dikurangi 5 itu 2

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 (memberikan soal). Seumpamanya ada pertanyaan 17 – 12 itu gimana? -Lalu? - dari depan ya? Oke -kalo ada pr matematika, mengerjainnya sama mama atau enggak? -ajarinnya pake sempoa, pake tangan, pake batu-batu, pake permen-permen atau gimana? -pake permen? Jadinya digambar gitu? - ooo.. punya permen sendiri? - oo permen payung yaaa.. oke. Jadi harus ada bendanya? Makasih ya angelin yaa. Terimakasih waktunya Kadang-kadang pake permen-permen Cara siswa belajar (W1/B78/S2) enggak. Punya permen sendiri permen-permen payung itu untuk dihitung Iya Sama-sama Cara siswa belajar (W1/B85-86/S2) Lampiran 18. Verbatim Wawancara Siswa Sebelum Implementasian Alat Peraga Subjek : Siswa C atau siswa 3 Tempat : Ruang Kelas 1 C No. Pertanyaan 1 s - Oke, namanya siapa? 2 - Ryan siapa? 3 - Ignatius Adrian Reswara. 4 Oke, Rian suka pelajaran 5 matematika enggak? - Sukanya kenapa? 6 - Sukanya kenapa nak? 7 - Ooo. Sukanya tambah8 tambahan. Suka berhitungn 9 ya.. 10 11 - Ibu? Ibunya guru po? - Ooo.. ibu dirumah. Kalo 12 Rian belajar setiap jam 13 berapa? 14 - sampai jam? 15 16 - o sampai jam 8. Oke, kalo dikelas,dikelas itu eeee Rian 17 suka belajar matematika 18 kan? Lebih suka yang pakai 19 alat-alat seumpamanya bu 20 tutik bawa batu untuk 21 dihitung atau lidi untuk 22 dihitung atau ditulis di 23 papan tulis? 24 25 - Lha kenapa? 26 - Kalo seumpamanya yang seumpamanya yang pakai 27 Jawaban Ryan Ignatius Adrian Reswara Suka Koding Emmmmm Sukanya tambah-tambahan Angguk2 Sama ibu Enggak. Ibu dirumah jam 7. Sampai jam 8 Pakai papan tulis ditulis pilih yang ditulis di papan tulis Pemikiran terhadap alat peraga sebelum penelitian (W1/B16/S3) Pemikiran terhadap alat peraga sebelum

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 alat itu ditulis, gimana, kamu milih yang mana - Lha kenapa? - lebih gampang? Ooo.. oke, kalo seumpamanya tidak ditulis, terus gimana - Susah enggak? - susah? Berarti harus ditulis di buku? - Oke, eee terus seumpamanya ibu punya sebuah alat, seumpamanya ibu punya sebuah alat terus Rian belajarnya pakai alat itu, Rian suka enggak? - ada warnanya, ada benda2nya itu suka? - kenapa sukanya? Katanya tadi suka yang ditulis - Semua suka? Terus seumpamanya ee kalo, ditulisnya banyak banget, Rian tetep suka? -Kenapa? - Kenapa? Seumpamanya ditulis dari atas sampai bawah, suka enggak? -Coba kalo berhitung gimana, seumpama eeee 20 + 5 berapa? -kok bisa? Hitungnya bagaimana - Pakai jari gimana? Contohnya? - lebih seneng ngitung pakai jari gini, atau pake papan tulis? - pakai jari, oke, seumpamanya nanti ada batu 25 dan ditambah batu 25 lebih suka yang mana sama yang ditulis di papan tulis? - Ha? Yang pake batu atau yang ditulis di papan tulis? - gimana? - suka yang mana? - semuanya suka? Okeee.. Terimakasih ya Rian penelitian (W1/B26/S3) eeee lebih gampang (diam) Susah Angguk2 Emmmmm Suka Semua suka eeeeeee (diam) Eeeeee 25 Pake jari 20 (menyiapkan 5 jari kemudian yang sudah dihitung ditekuk) 21, 22, 23, 24, 25 Pake jari Ini Eeee Eeeeeee suka yang semuanya. Sama-sama Lampiran 19. Verbatim Wawancara Guru Setelah Implementasian Alat Peraga Subjek : Guru Kelas Tempat : Perpustakaan SD Kanisius Sengkan

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 No. Pertanyaan 1 s - selamat pagi bu tutik 2 - terimakasih karena telah menyiapkan waktu yang 3 banyak untuk saya 4 - langsung saja ya bu ya , 5 yang pertama . bagaimana 6 perasaan ibuk setelah melihat 7 kegiatan pembelajaran yang 8 dilakukan dengan alat yang 9 10 berbasis Montessori 11 - bagaimana kok biasa 12 menarik konsentarasi? 13 14 15 16 - bagaimana pandangan ibu 17 setelah melihat kegiatan 18 pembelajaran 19 20 21 22 23 kenapa bisa begitu ? 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 -mungkin ada hal – hal apa 42 gitu yang membuat kok ini 43 anaknya langsung bisa 44 langsung ketemu gitu lho ada 45 suatu hal apa atau menurut 46 ibu ada perubahan yang 47 dialami siswa melalui 48 kegiatan pembelajaran 49 50 51 52 53 - mungkin karena hal hal 53 kongkrit kali ya bu ya 54 55 56 Jawaban Koding Pagi Gapapa Ee bagi kami sangat terbantu terlebih bagi anak – anak yang eee daya tangkapnya masih kurang dengan alat itu jadi semua anak, satu menambah konsentrasi belajar yang kedua alatnya menarik sehingga mengurangi kekeliruan dan keraguan dalam anak. Karena anak-anak usianya kan masih bermain , usia bermain , otomatis anak-anak e... sangat senang apabila diajak bermain dengan peralatan jadi mereka belajar sambil bermain konsepnya Menurut saya dengan adanya cara pembelajaran Montessori itu pas untuk diterapkan terutama bagi anak-anak di kelas rendah jadi anak anak mengerti bagai mana cara untuk memecahkan suatu soal yang mengalami menggunakan peralatan yang telah disediakan , anak – anak lebih mudah untuk menemukan jawabanya Karena anak anak terlibat langsung mbak , jadi anak anak praktek secara langsung memegang alat itu mengunakan alat itu serta menemukan jawaban dengan alat itu secara benar Yang pertama cara guru itu menarik perhatian E .. pada anak mengenai alat tersebut , yang kedua langkahlangkah nya dan membuat yang pertama sekali anak anak penasaran ingin mencoba nha setelah penasaran anak – anak mencoba dan anak – anak dan menemukan dan penasaran mencoba dan ahkirnya menemukan O, ada mbak jadi anak anak memang mengalami perubahan dengan didikan …. Ternyata mudah mengunakan alat dari pada tidak menggunakan alat Menarik W2/B11/GK Auto-Correction W2/B9/GK Belajar sambil bermain (W2/B16-22/GK) Pemikiran Positif (W2/B24-26/GK) Pemikiran Positif (W2/B42/GK) Menarik (W2/B46-47/GK) Pemikiran Positif (W2/b54-56/GK)

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 - selanjutnya e… menurut ibuk alat yang digunakan digunakan siswa bagaimana sih?seumpamanya kayak apa ya perasaan ibu sendiri terhadap alat itu kok bisa langsung percaya bahwa eee ibu tadi juga mengayakan bahwa kok bisa terbantu, nha itu bagaimana? - selanjutnya apakah siswa eh apakah dengan alat peraga tersebut siswa dapat menemukan konsep secara mandiri . - jadi harus tetap dibimbing - berarti secara teknikal ya bu ya - kemudian bu, eeee apakah alat itu memberi kemudahan belajar - Setelahnya ya bu berarti dari hasil post test - kira2 bu seumpamanya apakah ee siswa itu mempunyai e terlihat kesulitan saat menggunakan alat? - kemudian apakah siswa Iya, anak anak secara kongkrit menemukan jawaban yang benar memang memang benar gitu ya mbak ya Karena melihat antusias anak, yang pertama antusias anak, seperti yang saya katakan sejak awal tadi, anak yang mempunyai daya dong rendah itu pun akhirnya mereka bisa untuk menemukan jawaban dari soal itu dengan menggunakan alat. Sedangkan waktu di tes tidak menggunakan alat e itu tidak bisa. Jadi alat itu saya katakan memang sangat membantu ya itu tadi, kalo anak yang sudah bisa mungkin itu tidak menambah masalah hanya menambah wawasan, ya tapi bagi anak yang tidak bisa ya memang alat itu sangat membantu. Eee kalo untuk kelas satu, itu tetap harus terbimbing. Menemukan konsepnya itu masih tetap terbimbimbing sama guru pengampunya. Jadi kalo menemukan sendiri, saya rasa belum ya, karena kita masih membimbing anak. Karena kelas satu itu masih tetap terbimbing. Tapi dengan alat itu anak menjadi mengerti oo caranya begini jadi dari tahap satu ke tahap dua sampai yang menemukan itu bisa. Ya, Kalo seandainya kita tidak terbimbing, itu kan anak2 bisa salah ambil. Misalnya meletakkan puluhan kurang apa gitu. Ya Jelas, alat itu sangat memberikan kemudahan belajar untuk anak terutama seperti yang saya katakan tadi pada anak2 yang kurang tanpa menggunakan alat. Kalo saya lihat, tidak ya mbak. He’e, dari hasil posttes anak Kontekstual (W2/B57-59/GK) Antusias siswa saat menggunakan alat (W2/B61/GK) Pemikiran positif (W2/b72-73/GK)

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 126 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 dapat mengerjakan soal dengan menggunakan bantuan alat itu? - lebih matang secara konsep bu? - kenapa bu lebih lama? Karena apa? -ooo iya bu, kemudian apakah ibu tertarik dengan fisik alat peraga tersebut? -o iya bu, ketertarikan ibu dari apa sih? Dilihat dari apanya? -Jadi lebih tertarik pada pemahaman konsep. Seumpamanya secara fisik seumpamananya dari bentuk, warna dan tekstur -bisa menjelaskan materi lain ya bu? bisa mengerjakan semua soal dengan benar Ya tentunya ada ya mbak, saya amati bagi anak yang seperti tadi kurang, untuk awalnya kesulitan ya yaitu belum bisa eee masih bingung untuk membedakan antara puluhan, satuan, tapi setelah dijelaskan dan praktik langsung juga akhirnya bisa Bisa, kalau pengamatan saya kemarin itu anak2 dengan benar mengerjakan soal he’e, akan lebih membutuhkan waktu yang lama daripada tidak menggunakan alat Karena mereka harus menggunakan alat itu, jadi misalnya berhitung mereka mengitung satu-satu menggunakan alat. Kalo tidak menggunakan alat mereka akan awangan itu an lebih cepat tapi untuk kebenarannya lebih baik jika menggunakan alat. kalo saya sangat tertarik dengan alat itu tapi karena keterbatasan pengadaan alat itu misalnya saja alatnya dipasarkan itu pasti sangat mahal dan tidak mungkin seklah untuk mengadakan alat seperti itu untuk digunakan di kelas karena uangnya sangat terbatas Ee dengan hanya diberi penjelasan nanti anak bisa untuk mencoba sendiri kita tinggal mengadakan penjelasan pertama yag nanti akan dilanjutkan dengan pembuatan soal apapun, anak bisa menjawabnya sendiri Saya klebih tertaik dari bentuknya Gimana ya.. eee karena selain untuk menemukan ee misalnya penjumlahan dan pengurangan dari bentunya saja istilahnya sistemnya ganda, bisa untuk menjelaskan bentuk benda misalnya menjelaskan bentuk bangun He’e ada keterkaitan untuk materi lain misalnya untuk kubus, balok, itu yang bulat Hambatan (W2/B130-132/GK) Menarik (W2/B82/GK) Hambatan (W2/b145-151/GK) Auto-Education (W2/B152-159/GK) Gradasi (W2/B166-169/GK)

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 -selanjutnya ibu, ee setelah siswa menggunakan alat tersebut apakah ada perubahan pandangan tentang alat tersebut? - seumpamanya? Setelah anak2 kan kemarin telah banyak menggunakan alat itu. Apakah pandangan ibu yang semula tertarik itu menjdi lebih tertarik atau malah menjadi wah kok ribet ya malahan - oke, apakah anak-anak sangat tertarik dengan alat itu? - menurut ibu, khususnya dengan alat yang kemarin itu bisa digunakan dengan materi lain? -itu kan untuk kelas 1 juga ya bu ya, seumpamanya jika digunakan seumpamanya kelas 2, 3, 4, 5, 6 itu apakah bisa? -contohnya seumpamanya digunakan untuk perkalian itu gimana bu? - bagaimana warna-warna yang ada? bentuk tabung itu kan bisa diwarna2 Maksudnya? kalo saya ya tetep tertarik namun kita harus mengatur waktu, tidak setiap saat bisa menggunakan alat , jadi bergantian anak-anak sangat tertarik dengan alat itu, istilahnya tidak ada anak yang bermain diluar anak iitu saat mengerjakan soal. Mereka semua dapat bekerja sama dengan baik. Jadi tidak ada yang ngalamun, semuanya menghadap alat, semuanya mencoba e saya rasa bisa tapi hanya untuk menjelaskan tentang ipa yaitu tentang benda-benda. Misalnya untuk benda padat, benda yang mudah bergerak, itu kan ada bentuk bangun. Bahasa indonesia ya misalnya untuk menjelaskan untuk menulis ini bentuk apa, kubus, nha gitu Bisa, untuk perkalian mbak Masukan (W2/B180-182 /GK) Gradasi (W2/B198-199/GK) Gradasi (W2/B207/GK) Bisa Ya misalnya puluhan kita kalikan dengan satuan 20 x 5, kita ambil 20 lha trus nani konsepnya juga sudah lain. Trs nanti kita bikin kunci, hasilnya kan sudah lain. Karena di alat itu kan uda ada ribuan, puluhan dan satuan Ya kemarin itu warnaya menarik karena berwarna terang. Merah biru itu kan warna terang untuk anak kelas rendah itu kan tetap memilih pada warna-warna yang Menarik (W2/B141-143/GK)

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 - dalam montessori itu kan setiap warna mewakili angka. Apakah warna itu anak akan lebih ingat o kalo warna orange itu ternyata untuk satuan kalo biru itu untuk puluhan - kalo dari ukurannya bu, seumpamanya dari alat yang terlalu kecil menarik Kalo kita pa ya memberikan konsep kepada anak biru itu misalnya puluhan, merah itu untuk satuan nha mereka juga akan tertanam konsepnya misalkan digunakan secara permanen dan tidak berubah angkanya. Jadi warna tetap kalo saya pas kok mbak ukuranya - kenapa bu? karena apa ya, mungkin karena ukurannya sudah pas. Mungkin nanti kalo terlalu besar nanti saat memindah2kan terlalu besar dan akan menimbulkan kesulitan he’e, itu kan uda cukuplah untuk tangan anak kecil - ee selanjutnya bu, apakah alat tersebut terdapat pemantau kesalahan ? - Misalnya anak dengan menggunakan itu itu ada pemantau kesalahannya. Oo bisa mengerti o ternyata aku menghitungnya pakai alat ini salah jadinya nanti langsung akan mencoba alat itu lagi Ya kalo kesalahan itu tergantung dengan konsentrasi anak saat mengerjakan misalnya kalo anak itu kalo puluhan harusnya mengambil merah, atau merah diletakkan ditempat yang puluhan terus mereka mengambil merah yang seharusnya satuan kan nanti jadi salah, akhirnya nanti enggak pas dengan hasile. Itu memang butuh konsentrasi Ya tadi, itu semua tergantung dengan konsetrasi anak saat mengerjakan. - Berarti tetap ada - apakah siswa dengan alat tersebut menjadi lebih pantang menyerah - apakah keunikan yang muncul dari siswa dalam Iya. Kan sudah dibedakan antara puluhan dan satuan ya jelas, mereka kalo sudah menghadapi alat otomatis mereka akan sangat tertarik o ternyata saya salah lalu bisa mengambil lagi samapai dia menemukan konsepnya Kalo saya mengamati kemarin itu, anu sama karena memang kami menjelaskannya itu sama untuk mungkin setalah tidak menggunakan alat, dia mempunyai konsep lain. Banyak benda misalnya dalam Menarik (W2/B256-258/GK)

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 293 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 mengerjakan alat, apakah ada yang nyleneh dari anak atau kok caranya beda penghitungan, kan itu menggunakan terus dilepas tidak menggunakan alat. Itu ada yang persis sama, ada yang lain. Yang lain itu misalnya untuk pengurangan itu kan harus latihan dulu menggunakan alat, dulu kan dengan menggunakan tangan lalu kita hitung maju. Umpamanya 10 dikurangi 8, 10 yang digenggam. Tapi ada juga yang menggunakan 10nya yang dilipat. Kan anak-anak itu kan ada yang menghitung maju ada yang mengitung mundur maksudnya? -apakah alat itu mempunyai kunci jawaban Ada, siswa jadi langsung bisa mencocokkan tapi di kartu kemarin juga masih ada yang jawabannya salah. Itu tergantung apa ya, itu tergantung dari alat tersebut kebenaran kuncinya harus tepat. Misalnya 10 + 5 ya memang seharusnya 15. Kalo jawabnnya salah kan jadinya anaknya bingung lho kok ini salah jawabannya Ya jelas to mbak. Misalnya saja lemari, kursi , meja itu kan semua dari kayu mbak kalo yang ada di kelas -apakah alat yang digunakan atau bahan bakunya itu dekat dengan siswa misalnya anak kenal anak dari kayu Auto-Correction W2/B287/GK Kritik W2/B287-289/GK Kontekstual W2/B297/GK Lampiran 20. Verbatim Wawancara Siswa Setelah Implementasian Alat Peraga Subjek : Siswa A atau Siswa 1 Tempat : Perpustakaan SD Kanisius Sengkan No. Pertanyaan 1 s - halo selamat siang 2 - oke, gimana sih alat peraga 3 yang kemarin digunakan 4 5 - bagusnya gimana? 6 - ya dari apanya 7 - oke, perasaanmu gimana sat 8 belajar menggunakan 9 10 11 12 - oo ya besok ya, ibu bilang 13 sama bu Tutik. Lalu, alat itu 14 membantu atau malah bikin Jawaban Siang Bagus, aku pengen langsung mainan Bagus aja Semuanya Seneng tapi kemarin yang pakai alat terakhir aku ga berangkat, padahal pengen belajar lagi pakai alat membantu, ngitungnya jadi lebih gampang Koding Menarik W2/B2-3/S1 Tertarik W2/B7-10/S1 Membantu dalam belajar W2/B12-13/S1

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 bingung? - Dulu katanya lebih seneng yang ditulis di papan tulis, kok sekarang jari gitu? - oke, kok bisa gampang ngitungnya gimana to dek? - lha kenapa kok seneng menghitung? - waktu kamu belajar pake alat, bisa menjawab semua pertanyaan ga? - lho kan harus berbagi - seumpamanya dikasih alat satu satu, kamu akan mengerjakan pakai alat atau pake jari - cara menggunakannya gimana to dek kok kamu pengen menggunakan alat? - lha terus? - oke, alatnya nya kekecilan ga kemarin - kemarin mengerjakan soalnya bener semua ga? - pernah ga salah ngitung, - ow ya ya, kalo ga dikembaliin tau ga kalo salah? -berarti adek kurang teliti ya? - oke, adek tau ga alat kemarin terbuat dari apa? - itu lho, alatnya kemarin itu terbuat dari apa? Bikinnya pakai apa? - oow, kayu itu berasal darimana to dek? - oow, dirumah adek ada pohon enggak? - o ya? Adek suka durian? - oke, benda lain yang pake kayu buatnya itu ada apa aja yang ada di rumah? - ooo oke.. ini sudah selesai. Terimakasih ya Ya seneng aja sama alatnya, bagus alatnya Kan alatnya ditaruh di kotak yang panjang itu, terus diitung lagi. Aku seneng menghitung Ya seneng aja, seru gitu Bisa, tapi aku sering ngitung pake jari. Alatnya cuma satu terus uda dipake sama temen Enggak ah, daripada lama ngerjain bareng, mending pake jari aja. pake alat. Ya diambil dulu kotak yang kecil kecil itu, kan yang merah puluhan yang biru satuan. Ya kan ada soalnya, kotakkotaknya dipisah merah sama biru. Terus diitung Enggak, bisa dipengang banyak dulu sebelum ditaruh di papan Bener pernah, kotak kecil yang biru, kan diitung lagi sama temen, terus dikembaliin ke aku. Enggak Hehehehe, iya Hehehe iya. eee Kayu Pohon Eemm ada, pohon kelengkeng sama durian. Kemarin duriannya berbuah Suka Kursi, tempat tidur sama pintu uda to? Iya deh sama-sama Perasaan senang W2/B22/S1 Kendala W2/B24-26/S1 Kendala W2/B28-30/S1 Kendala W2/B31/S1

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Lampiran 21. Verbatim Wawancara Siswa Setelah Implementasian Alat Peraga Subjek : Siswa B atau Siswa 2 Tempat : Perpustakaan SD Kanisius Sengkan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Pertanyaan - halo selamat siang - kemarin waktu belajar pakai alat itu gimana perasaannya? -kenapa? -kenapa kok bisa seru? -lha kenapa kalau pakai jari? -kalau pakai jari sulit, oke, setelah belajar rasanya gimana? Jadi gampang atau jadi gimana? - kenapa jadi lebih gampang, kenapa? -oke, apakah alat itu membantumu untuk belajar? -karena? -lha kenapa? -oow kurang gitu kalao pake jari gitu? - Lebih mudah pakai alatalat atau enggak? - kalo awangan atau membayangkan gitu bisa ga? Seumpamanya 31 tambah 51 gitu, Cuma dibayangkan aja, ga pake jari , ga pake alat bisa ga? -oke, pas adek pake alatnya itu caranya susah ga to dek? - Enggak, karena apa -Jadi lebih mudah ga kalau pakai alat? -karena? -kok bisa? -oke, kalau setelah belajar pake alat, jadi tambah mudeng atau tambah bingung? - kenapa? -gini, caranya gmana to dek pengerjaannya? Seumpamanya ada soal seperti ini 30 + 11, ni kalo pakai alat ngitungnya Jawaban Selamat siang Seneng Karena seru Ga pakai jari Kalo pakai jari sulit Jadi lebih gampang Koding Peraasaan Senang W2/b2/S2 Perasaan Senang W2/b4/S2 Membantu dalam belajar W2/B7/S2 Eem, karena ga usah ngitung lagi pakai jari Iya Karena jadi lebih gampang aja Karena ngitungnya ga pake tangan, kalo pake jari kan Cuma 10, kalo pakai alat kan banyak Iya Kontekstual W2/b16-19/S2 enggak, kalo bersusun bisa (menggelengkan kepala) Karena ga usah diitung lagi pakai jari (menganggukkan kepala) Ngitungnya langsung pakai alatnya Kan kalo pake alat, kotakkotak kecilnya itu dihitung tambah mudah karena lebih mudah belajar Ya tinggal ambil yang 30 dulu kotaknya baru ditambah yang 11. Ambil birunya satu sama merahnya satu Kontekstual W2/b30-31/S2 Kontekstual W2/b32-33/S2 Seneng Perasaan Senang W2/b47/S2 Pengen mainan Iya gitu, (menggambar di kertas)

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 51 52 53 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 gimana? - kemudian waktu kamu pertama kali pakai alat rasanya gimana? Seneng Asyik aja belajar pake itu - oke, tertarik ga waktu guru pertama kali membawa alat? - karena apa? - oke, menyenangkan ga sih? Iya - kenapa? Asik kok kalo belajar, ga bosen - bentuknya gimana? - bentuknya terlalu kecil atau enggak? - papanya adek kuat ga ngangkatnya? - bisa nggak kemarin mengerjakan? Bener semua ga? - kalo seumpamanya belajar pakai alat itu, adek langsung bisa tau ga kalo ada yang salah? -kalo seumpamanya waktu salah, adek berusaha memperbaiki tidak? - apakah ada kunci jawabannya? Bentuknya kotak Enggak, malah gampang bawanya kan ada kotaknya Kuat -oke, kamu dapat menjawab semua pertanyaan ga dari guru? -kalau tanpa ada soal yang dibaliknya ada jawabannya, kamu bisa mengerjakan enggak? -Oke, besok suatu saat Bu Tutik ingin menggunakan alat lagi, adek pengen ga? -oke, adek tau ga sih alat itu dibuat dari apa? - itu lho alatnya dibuat dari apa bahan bakunya dari apa? - kayu itu berasal dari apa? - kira-kira dirumahnya adek ada pohon apa aja? -Oke, benda dirumah yang pake kayu apa? Bisa Perasaan senang W2/B53/S2 Iya Bisa tapi ada yang salah Enggak, harus diitung lagi Auto-correction (W2/B71/S3) iya ada di kertas yang putih itu, tapi jawabannya ada yang salah yang pengurangan Bisa, kan jawabannya untuk mencocokkan Auto-Correction W2/b85-86/S2 pengen kan seru Perasaan Senang W2/b89/S2 ha? Kayu Pohon Rambutan, mangga Kontekstual W2/b78/S2 Kontekstual W2/b81/S2 Lemari, meja, terus tangga. Lampiran 22. Verbatim Wawancara Siswa Setelah Implementasian Alat Peraga Subjek : Siswa C atau Siswa 3

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Tempat No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 53 54 : Perpustakaan SD Kanisius Sengkan Pertanyaan -Halo Selamat Siang -Kemarin uda belajar matematika to pake alat. Namanya apa alatnya? - Nama alatnya apa? - Ya sudah, namanya papan titik. Menurut Rian, alat peraga itu gimana sih? - Gimana? Bagus atau jelek atau gimana? - oo bagus ya. Bagusnya kenapa dek? - karena apa? Ini ga ulangan kok, jawabannya ga dinilai. Karena apa dek? Menurut adek kenpaa kok bisa bilang bagus? - Bagusnya darimana? Apakah dari bentuknya atau dari warnanya atau karena baru atau karena apa? -bentuknya gimana sih dek? Kok bisa dibilang bagus? - kenapa suka kotak? - kenapa? - oke, ya udah, seneng ga sih belajar pakai alat iitu? - Kenapa kok seneng? -Kenapa deka? Senengnya karena apa? - bagusnya gimana dek? -Dengan alat tersebut, adek bisa bermain atau bekerja apa saja? - Berhitung ya? Berhitungnya menjadi lebih mudah atau lebih sulit? -oke lebih mudah. Kenapa bisa begitu? - karena pakai alat? Kenapa alatnya bisa membantu? Caranya gimana? - gimana dek? Caranya kemarin gimana to dek? - Oow begitu. Menurut adek, lebih gampang menghitung dengan menggunakan jari atau menggunakan alat? - kenapa? - kenapa menghitung pakai jarinya lebih susah? -o iya benar, jarinya Cuma 10. Lha kalau pakai alay gimana? Jawaban Koding Siang (diam) (diam) Ya Bagus Perasaan Senang W2/b9/S3 (diam) (diam dan senyum) Kerena bentuknya Perasaan Senang W2/b18/S3 Kotak karena eemmm (diam) Seneng Emmmmm Eemm seneng karena alatnya bagus. Berhitung Mudah Perasaan Senang W2/b31-32/S3 Mempermudah belajar W2/B36/S3 Karena pakai alat (diam) Lebih gampang karena bisa menghitung sesuai alat pakai alat (diam) karena jarinya Cuma 10 alatnya banyak kotak-kotak kecilnya. Kontekstual W2/b43-44/S3

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 -Oke, susah ga sih dek belajar pakai alat itu? - karena? -lebih gampang? Karena bisa menghitung lebih banyak gitu? -Oke, sekarang pertanyaannya lebih mudah menggunakan alat atau ditulis di papan tulis? -pakai alat ya? Kenapa gitu? Yang paling adek suka dari alat itu apa sebenarnya? - Menghitungnya gimana to? - Kenapa lebih gampang? Alasannya apa? - apanya yang dibedakan? - ooowh oke. Alat itu membantu tidak dalam belajar? - kenapa? - oke, waktu belajar menggunakan alat, kan adek lebih mudeng, seumpamanya nanti belajar tidka pakai alat, adek masih mudeng enggak? Jadi setelah pakai alat kerjainnya ga boleh pakai alat. Gimana? - seumpamanya gini, hari selasa, bu Tutik menjelaskan dengan penggunakan papan tulis. Kemudian hari selasa, bu Tutik dibantu Bu Bertha dan Bu Sinta memberikan alat yang kayak kemarin. Nha pada akhir pelajaran samasama dikasih soal, jadi lebih gampang yang mana? Setelah pakai alat atau setelah pakai papan tulis? -kenapa bisa gitu? Jadi kalau setelah pakai alat, terus ga pakai alat lagi, bisa enggak mengerjakannya? - Oke, tadi R kan bilang pakai mana saja bisa, nha sebenarnya yang lebih gampang dan lebih mudeng yang mana? Pakai alat atau pake papan tulis? - karena? -Karena apa si? Yang membuat lebih gampang itu karena apa? - oke, adek bisa menjawab pertanyaan dari guru tidak? - ceritanya gimana sih dek? Enggak Lebih gampang (mengangguk) Perasaan alat membantu belajar W2/b57/S3 Pakai alat cara menghitungnya emmm, lebih gampang karena dibedakan Warnanya sama tempatnya. Membantu Bergradasi W2/b71/S3 jadi lebih mudeng dan gampang ngitungnya Emmm Perasaan alat membantu W2/b75-76/S3 Lebih gampang yang pakai alat. Bisa pakai alat emmm (diam) karena lebih gampang aja ngitungnya bisa ya ambil sepuluh dulu, kan Kontektual W2/b107-108/S3

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 126 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 Kok bisa? Gini ibu punyai soal ini 10 + 5, kalo kerjain pakai alat gimana? - oow oke, kalo pake alat itu nambah bingung ga dek? - kenapa? - Ow, terus setelah dikasih penjelasan bingung lagi enggak? - adek merasa tertarik ga waktu liat alat untuk pertama kalinya? - karena apa? - bagus apanya? - bentuknya kotak itu kan kecil-kecil dek, itu kekecilan ga? -kenapa? -Berarti mudah dipegang gitu ya? - Adek suka ga dengan tekniknya yang ada di alat? - karena apa? -Kemarin bener semua ga waktu mengerjakan soal, - pernah salah menghitung ga? - karena apa? - terus kok tau kalo salah? - ow oke, kartu soalnya kemarin bagus ga dek? - bagusnya kenapa? -kenapa? - oww iya to? Ya ya ya kalo kartu soalnya ga ada jawabnnya, adek bisa mengerjakan dengan benar ga? - oke, adek tahu ga alat itu dibuatnya pakai apa? - kayu berasal darimana to dek? - di rumah adek ada pohon ga? -ow oke, selain alat kemarin, di sekitar adek, benda apa aja yang terbuat dari kayu? merahnya satu terus satuan atau yang wana biru diambil 5 kotak, terus diitung Bingung Karena belum tau waktu pertamanya Enggak tertarik Kontektual W2/b98/S3 karena bagus bentuk sama warnanya enggak kok, Menarik W2/b127/S3 kalo bawa banyak kan cukup tangannya, ga pada jatuh (mengangguk) Suka Karena jadi lebih gampang bener tapi ga tau kalo yang dikumpulin ga tau Pernah Kurang teliti Diitung lagi bagus eemm bisa liat jawaban, tapi kemarin jawabannya ada yang salah Bisa, tapi ga bisa langsung mencocokkan Kayu Perasaan Senang W2/b135/S3 Perasaan Membantu W2/b137/S3 Mendorong untuk pantang menyerah W2/b143/S3 Auto-Correction W2/b147-148/S3 Auto-Correction W2/b149-150/S3 Kontekstual W2/b153/S3 Kontekstual W2/b155/S3 Pohon ada, mangga meja, lemari, kursi Lampiran 23. Tabel Pengelompokkan Data Berkode Berdasarkan Tema Tema Pandangan dan No 1. Data Jadi anak-anak itu lebih gampang belajar Kode W1/B135-138/GK

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 perasaan responden terhadap alat peraga sebelum pengimplementasian alat peraga 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Perasaan senang dan pemikiran positif responden saat menggunakan alat peraga 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. matematika daripada membaca dan menulis. Kalo matematika kan mereka lebih suka karena konkret to. Satu tambah satu itu jelas bisa. Kita membawa alat2 sehingga anak-anak mengerti. Misalnya dengan batu, satu batu ditambah dua batu He’e nanti mereka menemukan sendiri jawaban dari soal Lebih Seneng pake papan tulis Soalnya ga usah gambar pake permen-permen permen-permen payung itu untuk dihitung Pakai papan tulis pilih yang ditulis di papan tulis Guru terlihat semangat dan senang akan menggunakan alat tersebut Raut muka guru terlihat sangat senang mengetahui siswanya banyak yang menjawab dengan benar Ketika ditanya oleh salah satu peneliti yang ada di kelas itu mengapa ia tidak ikut menggunakan alat tersebut, A menjawab tidak apa-apa sambil tersenyum dan memperhatikan B dan C kembali Setelah selesai dan masih ada waktu, mereka bertiga bermain soal-soalan dengan menggunakan alat Karena anak-anak usianya kan masih bermain , usia bermain, otomatis anak-anak e... sangat senang apabila diajak bermain dengan peralatan jadi mereka belajar sambil bermain konsepnya. cara pembelajaran Montessori itu pas untuk diterapkan terutama bagi anak-anak menarik perhatian Ternyata mudah mengunakan alat dari pada tidak menggunakan alat Karena melihat antusias anak Jadi alat itu saya katakan memang sangat membantu ya membantu, ngitungnya jadi lebih gampang Ya seneng aja, seru gitu Seneng Karena seru Jadi lebih gampang Seneng Asyik aja belajar pake itu pengen kan seru Bagus Kerena bentuknya Eemm seneng karena alatnya bagus Mudah Lebih gampang jadi lebih mudeng dan gampang ngitungnya Karena jadi lebih gampang W1/B149-151/GK W1/B157-161/GK W1/B171-173/GK W1/B36/S1 W1/B50/S1 W1/B78/S2 W1/B85-86/S2 W1/B16/S3 W1/B26/S3 OH1/b3-4/GK OH1/b74-75/GK OS/B48-51/H1 OS/B62-64/H2 W2/B16-22/GK W2/B24-26/GK W2/B42/GK W2/b54-56/GK W2/B61/GK W2/b72-73/GK W2/B12-13/S1 W2/B22/S1 W2/b2/S2 W2/b4/S2 W2/B7/S2 W2/b47/S2 W2/B53/S2 W2/b89/S2 W2/b9/S3 W2/b18/S3 W2/b31-32/S3 W2/B36/S3 W2/b57/S3 W2/b75-76/S3 W2/b137/S3 W2/b143/S3 W2/b147-148/S3

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 28. Perilaku yang muncul saat implementasi alat peraga 1. 2. 3. Menarik 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9 10. Auto-education 1. 2. 3. 4. Auto-correction 1. 2. Bergradasi 1. 2. 3. 4. 5. Diitung lagi Bisa liat jawaban, tapi kemarin jawabannya ada yang salah Bisa, tapi ga bisa langsung mencocokkan Guru kembali menekankan bagaimana cara menggunakan alat untul mengitung pengurangan A mulai menghitung soal yang diberikan oleh guru dengan menggunakan jari sedangkan B dan C tetap mengerjakan soal dengan menggunakan alat. A menghitung dengan bantuan alat Sesaat mereka bermain sesuka kelompok mereka saat guru masih sibuk membagi alat peraga pada kelompok lain Jelas sangat ingin menggunakannya alatnya menarik anak anak penasaran ingin mencoba saya sangat tertarik Untuk anak kelas rendah itu kan tetap memilih pada warna-warna yang menarik Bagus, aku pengen langsung mainan Seneng tapi kemarin yang pakai alat terakhir aku ga berangkat, padahal pengen belajar lagi pakai alat bentuk sama warnanya Mereka kalo sudah menghadapi alat otomatis mereka akan sangat tertarik W2/b149-150/S3 Bisa memisah-misahkan jadi antara puluhan dan satuan Mereka kan nanti bisa mengerti oo satuan ternyata disini di depan eh di belakang dan puluhan di depan (menunjuk dari kanan ke kiri). hanya diberi penjelasan nanti anak bisa untuk mencoba sendiri kita tinggal mengadakan penjelasan pertama yag nanti akan dilanjutkan dengan pembuatan soal apapun, anak bisa menjawabnya sendiri Ada, siswa jadi langsung bisa mencocokkan mengurangi kekeliruan dan keraguan dalam anak Bisa, kan jawabannya untuk mencocokkan warnanya juga berbeda jadi mungkin anak akan lebih paham disamping untuk penjumlahan kita dapat menjelaskan ini tentang bentuk nanti kalo ada yang segitiga oo ini segitiga itu kayak ini, segi empat kayak ini misalnya saja digunakan untuk menjelaskan bentuk. Lha itu kan masuh pelajaran ipa , misalnya untuk menjelaskan benda yang mudah bergerak dan sulit untuk bergerak . kalo yang bulet kita glindingkan ternyata lebih cepat dari yang segitiga Ya bisa saja tergantung itu tadi untuk operasi hitung perkalian, bisa sekali W1/b235-237/GK OH1/b66-68/GK OS/B53-55/H1 OS/b17-18/H3 OS/B10-12/H1 W1/B190-191/GK W2/B11/GK W2/B46-47/GK W2/B82/GK W2/B141-143/GK W2/B2-3/S1 W2/B7-10/S1 W2/B198-199/GK W1/B242-246/GK W2/B152159/GK) W2/B256-258/GK W2/B9/GK W2/b85-86/S2 W1/B240-242/GK W1/B262-267/GK W1/B263-271/GK W1/B273-275/GK W1/B273-275/GK

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 6. 7. 8. 9. Kontekstual 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Hambatan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bisa untuk menjelaskan bentuk benda misalnya menjelaskan bentuk bangun Bisa, untuk perkalian Ya jelas to mbak. Misalnya saja lemari, kursi , meja itu kan semua dari kayu mbak kalo yang ada di kelas Warnanya sama tempatnya. Anak anak secara kongkrit menemukan jawaban yang benar Karena ngitungnya ga pake tangan, kalo pake jari kan Cuma 10, kalo pakai alat kan banyak Ngitungnya langsung pakai alatnya Kan kalo pake alat, kotak-kotak kecilnya itu dihitung Alat terbuat dari kayu Lebih gampang karena bisa menghitung sesuai alat karena lebih gampang aja ngitungnya Terbuat dari kayu Kemudian siswa A mengalah dan kembali duduk dan memperhatikan penjelasan guru dan dan siswa B dan C yang sedang memperagakan akan lebih membutuhkan waktu yang lama daripada tidak menggunakan alat misalnya saja alatnya dipasarkan itu pasti sangat mahal dan tidak mungkin seklah untuk mengadakan alat seperti itu untuk digunakan di kelas karena uangnya sangat terbatas kartu kemarin juga masih ada yang jawabannya salah tapi aku sering ngitung pake jari. Alatnya cuma satu terus uda dipake sama temen daripada lama ngerjain bareng, mending pake jari aja. W2/B166-169/GK W2/B287/GK W2/b71/S3 W2/B57-59/GK W2/b16-19/S2 W2/b30-31/S2 W2/b32-33/S2 W2/b78/S2 W2/b43-44/S3 W2/b107-108/S3 W2/b153/S3 OS/B24-26/H1 W2/B130-132/GK W2/b145-151/GK W2/B287-289/GK W2/B24-26/S1 W2/B28-30/S1 Lampiran 24. Foto Penelitian Siswa A, B dan C memperhatikan guru yang menjelaskan.

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 Siswa meletakkan titik di papan. Siswa A memperhatikan B dan C yang sedang mengerjakan. Guru memberikan bimbingan saat siswa mengerjakan soal.

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Siswa B dan C mengerjakan soal evaluasi pada hari ke tiga. Guru memberikan soal dengan menggunakan kartu soal.

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Lampiran 25. Surat Ijin Penelitian

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 Lampiran 26. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Felicia Sinta Ardianingsih lahir di Aileu (Timur Leste) pada tanggal 21 Juli 1992. Penulis adalah anak pertama dari3 bersaudara, dari pasangan Benedictus Purwoharsanto dan Yohana Fransisca Susanti. Penulis memulai pendidikannya di TK Bernadeth Soubirus pada tahun 1996-1996. Pendidikan penulis dilanjutkan di SD Negeri Aimutin. Setelah 1 tahun di SD Negeri Aimutin, Timor Leste, penulis pindah ke Pulau Jawa dan melajutkan sekolah di SD Pangudi Luhur Muntilan dan lulus pada tahun 2004. Pendidikan menengah pertama dilalui di SMP Kanisius Muntilan pada tahun 2004 hingga 2007. Setelah lulus dari sekolah menengah pertama, penulis melanjutkan sekolah menengah atasnya di SMA Negeri 1 Muntilan dan lulus pada tahun 2010. Pendidikan penulis berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Penulis melanjukan sekolah strata satu di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

(122)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Implementasi alat peraga pembagian berbasis metode Montessori pada pembelajaran matematika materi pembagian kelas II SD Kanisius Kenalan Magelang.
4
14
253
Persepsi guru dan siswa terhadap alat peraga bilangan pecahan berbasis metode Montesssori.
0
11
151
Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
0
0
150
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
1
1
133
Pengembangan alat peraga ala Montessori untuk keterampilan geometri matematika kelas III SDN Tamanan I Yogyakarta - USD Repository
0
0
132
Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta - USD Repository
0
0
136
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
292
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
381
Pengembangan alat peraga matematika untuk pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
178
Peningkatan prestasi belajar mengukur luas daerah persegi dan persegi panjang dengan alat peraga persegi satuan pada siswa kelas III SD Kanisius Sengkan Yogyakarta - USD Repository
0
0
274
Pengembangan alat peraga matematika untuk penjumlahan dan pengurangan berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
189
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
286
Tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
300
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
156
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
363
Show more