KONSEP REMAJA YATIM PIATU TENTANG KELUARGA (Studi Etnografi di Panti Asuhan) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Gratis

0
0
85
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KONSEP REMAJA YATIM PIATU TENTANG KELUARGA (Studi Etnografi di Panti Asuhan) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling DisusunOleh: Aneke Ardiana Adiwinata NIM: 101114012 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KONSEP REMAJA YATIM PIATU TENTANG KELUARGA (Studi Etnografi di Panti Asuhan) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling DisusunOleh: Aneke Ardiana Adiwinata NIM: 101114012 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO “Jika tidak ada hari kemarin, maka tak tercipta hari ini.” “Kebahagiaanmu tidak ditentukan oleh orang lain, tapi oleh dirimu sendiri. Apa yang kamu lakukan hari ini, tentukan kebahagiaan di masa depanmu.” “Orang sukses takkan pernah mengeluh bagaimana kalau akan gagal, namun berusaha bagaimana untuk berhasil.” iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK KONSEP REMAJA YATIM PIATU TENTANG KELUARGA (Studi Etnografi di Panti Asuhan) Aneke Ardiana Adiwinata Universitas Sanata Dharma 2014 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep remaja yatim piatu tentang keluarga. Penelitian ini dilakukan disebuah Panti Asuhan di Kulon Progo, Yogyakarta. Subjek penelitian adalah dua remaja yatim piatu, subjek pertama kelas VIII berusia 14 tahun dan subjek kedua kelas IV berusia 13 tahun. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan metode etnografi yaitu live in selama 1 bulan di panti asuhan. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah mereduksi data ke dalam verbatim, menggolongan verbatim kedalam aspek, melakukan coding pada verbatim, dan memasukan teori dari hasil analisis data. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa: Konsep yang dimiliki kedua remaja yatim piatu mengalami perbedaan, tergantung bagaimana pengalaman yang mereka dapatkan. Subjek pertama yang dahulu pernah merasakan tinggal dengan kedua orang tuanya dapat menjelaskan, menggambarkan, memberi contoh, dan mengetahui persamaan dari konsep tentang keluarga. Subjek kedua yang tidak pernah merasakan kehadiran kedua orang tuanya hanya dapat menjelaskan dan menggambarkan konsep tentang keluarga bahkan ada satu konsep yang tergantikan karena perolehan hasil belajarnya. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABTRACT THE CONCEPT OF ORPHANS TEENAGER ABOUT FAMILY (Ethnographic Studies in Orphanage) Aneke Ardiana Adiwinata Sanata Dharma University 2014 The aims of the study is to identify the concept of orphaned teenager about family. This research was conducted in an orphanage in Kulon Progo, Yogyakarta. The subject of this study were two teenage orphan, the first subject was class VIII aged 14 years old and the second subject was class IV aged 13 years old. This study includes qualitative research with ethnographic methods, namely: live in for 1 month in an orphanage. Research instruments such as interview guidelines and observation. Technique analysis data which used is to reduce the data into verbatim, verbatim classify into aspects, coding the verbatim, and include the theory of data analysis. The reserach showed that: The concept of those teenagers of orphans are different, depends on how the experience they get. The first subject who had experience living with her parents could explain, illustrate, and find out the similarities of the concept of family. The second subject who never felt the existence of his parents coud only explain and illustrate the concept of family whoever there is one concept which has been replaced due to the acquisition of learning outcomes. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala berkat yang di limpahkan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi. Skripsi ini merupakan tugas akhir dalam masa studi di jenjang Universitas. Melalui penulisan skripsi, penulis mendapatkan banyak pembelajaran serta pengalaman baru selama prosesnya. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan terselesaikan dan berjalan dengan baik tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak yang telah dengan setia mendampingi penulis. Oleh karena itu secara khusus penulis mengucapkan terimakasih secara tulus kepada: 1. Dr. Gendon Barus, M.Si selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling yang telah memberikan ijin penelitian dan dukungan selama penyelesaian skripsi. 2. Juster Donal Sinaga, M.Pd selaku Wakil Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling yang telah bersedia membantu dalam persiapan menjelang ujian skripsi. 3. Drs. Robertus Budi Sarwono, M.A sebagai dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, pikiran, dan dukungan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi. 4. Dosen-dosen bimbingan dam konseling yang telah mendampingi peneliti selama menjalankan studi. 5. Pimpinan dan Pamong Panti Asuhan yang telah mengijinkan untuk ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI melakukan Penelitian. 6. Kedua Subjek yang telah bersedia menjadi subjek penelitian. 7. Kedua orangtuaku, Stefanus Widiarto dan Vincencia Wiwik Yuniarti yang telah memberi dukungan baik doa, semangat dan materi demi terselesainya skripsi ini. 8. Deviartanti Adiwinata, S.E yang telah memberikan dukungan doa dan perhatian dalam penulisan skripsi ini. 9. Mas Moko yang telah membantu dalam kelengkapan administrasi. 10. Sahabatku Made yang telah memberikan banyak usulan mengenai penelitian ini. 11. Sahabatku Rima dan Erni yang telah mengajarkan tentang teknik-teknik dalam penulisan skripsi ini. 12. Sahabatku Al yang telah memberikan dukungan dan doa dalam penulisan skripsi ini. 13. Sahabat seperjuanganku Diana, Peny, Aap, Fe, Chika, Agung yang telah memberikan banyak usul dan saran dalam skripsi ini. 14. Seluruh teman-teman angkatan 2010 yang telah mendukung dan memberi usulan dalam penyelesaian skripsi ini. Yogyakarta, 21 Oktober 2014 Aneke Ardiana Adiwinata x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ............................. ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...................................................... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK .................................................... vi ABSTRAK ................................................................................................. vii ABSTRACT ............................................................................................... viii KATA PENGANTAR ................................................................................ ix DAFTAR ISI .............................................................................................. xi DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xvi BAB I: PENDAHULUAN .......................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah .............................................................. 1 B. Rumusan Masalah ........................................................................ 3 C. Tujuan Penelitian ......................................................................... 3 D. Manfaat Penelitian ....................................................................... 4 E. Definisi Operasional Variabel ...................................................... 4 BAB II: KAJIAN PUSTAKA ..................................................................... 5 A. Konsep ........................................................................................ 5 1. Pengertian Konsep ................................................................... 5 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Perolehan Konsep .................................................................... 6 3. Memahami Konsep .................................................................. 7 5. Konsep menurut Piaget ............................................................ 7 6. Konsep Keluarga ..................................................................... 10 B. Keluarga ...................................................................................... 11 1. Pengertian Keluarga.................................................................. 11 2. Fungsi Keluarga........................................................................ 11 a. Fungsi reproduksi.................................................................. 11 b. Fungsi ekonomi .................................................................... 12 c. Fungsi sosialisasi .................................................................. 12 d. Fungsi perawatan kesehatan .................................................. 12 e. Fungsi afektif ........................................................................ 12 G. Remaja Yatim Piatu ..................................................................... 13 1. Pengertian Remaja .................................................................. 13 2. Ciri-ciri masa remaja .............................................................. 13 a. Masa remaja sebagai periode yang penting ....................... 13 b. Masa remaja sebagai periode yang peralihan ..................... 14 c. Masa remaja periode perubahan ......................................... 14 d. Masa remaja sebagai usia bermasalah ................................ 15 e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas...................... 15 f. Anggapan stereotip budaya ................................................ 15 g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik .................. 16 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa ....................... 16 3. Tugas perkembangan masa remaja .......................................... 16 a. Memiliki kemampuan mengontrol diri seperti orang dewasa ................................................................................ 17 b. Memperoleh kebebasan ...................................................... 17 c. Bergaul dengan teman lawan jenis ...................................... 17 d. Mengembangkan keterampilan-keterampilan baru ............. 18 e. Memiliki citra diri yang realitas .......................................... 18 4. Yatim Piatu ............................................................................. 18 D. Konsep Remaja Yatim Piatu tentang Keluarga ............................. 19 BAB III: METODE PENELITIAN ............................................................. 21 A. Desain Penelitian ......................................................................... 21 B. Subyek Penelitian ........................................................................ 22 C. Setting Penelitian ......................................................................... 22 D. Alat Pengumpul Data ................................................................... 24 1. Wawancara .............................................................................. 24 a. Tujuan yang eksplisit ............................................................ 25 b. Penjelasan etnografis ........................................................... 25 c. Pertanyaan etnografis ........................................................... 25 2. Observasi ................................................................................. 28 3. Anekdota/ Catatan .................................................................... 28 a. Catatan deskriptif .................................................................. 28 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. Catatan reflektif.................................................................. 29 4. Kode (Cooding) ...................................................................... 29 a. Catatan awal ....................................................................... 30 b. Catatan lanjut ..................................................................... 30 c. Penulisan transkrip dan pemberian kode ............................. 30 d. Membuat Kode ................................................................... 31 E. Validitas Data ............................................................................ 32 F. Teknik Analisis Data ................................................................. 33 BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 34 A. Subjek 1...................................................................................... 34 1. Penghimpunan data subjek ...................................................... 34 a. Deskripsi umum kasus ........................................................ 34 b. Analisis .............................................................................. 35 B. Subjek 2 ....................................................................................... 42 1. Penghimpunan data subjek ...................................................... 42 a. Deskripsi umum kasus....................................................... 42 b. Analisis ............................................................................. 42 C. Konsep tentang Keluarga Subjek 1 dan Subjek 2 .......................... 49 a. Fungsi reproduksi ................................................................... 49 b. Fungsi ekonomi ...................................................................... 51 c. Fungsi sosialisasi .................................................................... 54 d.Fungsi perawatan kesehatan ..................................................... 56 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI e. Fungsi afektif .......................................................................... 58 BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 61 A. Kesimpulan ................................................................................. 61 B. Saran-saran ................................................................................. 62 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 63 LAMPIRAN xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1: Surat Ijin Penelitian Lampiran 2: Contoh Verbatim Subjek 1 dan Subjek 2 Lampiran 3: Contoh Verbatim dengan Karyawan xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN Bab ini memaparkan latar belakang masalah konsep remaja yatim piatu tentang keluarga, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional. Rumusan masalah dalam penelitian ini, memaparkan konsep remaja yatim piatu tentang keluarga. Tujuan penelitian ini ialah memahami konsep remaja yatim piatu tentang keluarga. Penelitian ini memiliki manfaat untuk menjelaskan konsep remaja yatim piatu terhadap keluarga. Definisi operasional variabel terdiri dari konsep, keluarga, remaja, dan yatim piatu. A. Latar Belakang Keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak, yang setiap anggotanya saling terikat satu sama lain. Masing-masing anggota keluarga memiliki keterikatan dalam bentuk hak dan kewajiban yang sesuai dengan perannya. Menurut Ivey, Simek-Morgan (dalam Kertamuda, 2009: 46) keluarga merupakan suatu sistem dimana didalamnya terdapat hubungan yang spesifik, aturan-aturan, dan peran-peran, dari masing-masing anggota yang memiliki keunikan tersendiri. Lingkungan keluarga merupakan suatu tempat dimana anak berinteraksi sosial dengan orang tua yang paling lama, sehingga upaya pencegahan terhadap perilaku dan sikap yang kurang baik pada masa perkembangan anak difokuskan pada keluarga kemudian sekolah. Keluarga adalah dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan mempunyai ikatan 1

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 darah, pernikahan, atau pengadopsian serta tinggal secara bersama-sama (dalam Kertamuda, 2009: 46). Pada saat ini, tidak semua anak memiliki keluarga yang utuh. Banyak anak memiliki nasib yang kurang beruntung, terutama remaja yang memiliki status yatim piatu atau tidak memiliki kedua orang tua. Penelitian yang dilakukan di Indonesia oleh organisasi kemanusiaan Save the Children yang bekerjasama dengan UNICEF pada akhir tahun 2009, menemukan sekitar 6% dari lima ratus ribu anak berada dalam pengasuhan rumah yatim piatu. Sedangkan 94% anak yang benar-benar yatim piatu menjadi penghuni panti. Setiap anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan memiliki konsep yang berbeda tentang keluarga. Hal itu dapat disebabkan karena mereka diasuh oleh orang tua angkat atau pamong panti, bukan kedua orang tua kandung. Peneliti selama sebulan melakukan Program Pengembangan Lapangan Komunitas, tepatnya di sebuah Panti Asuhan. Peneliti melihat kedua anak yatim piatu tersebut saat ditanya tentang keluarga mengalami kebingungan, terdengar nada suara mereka yang tidak jelas dan terputus-putus saat menjawab. Bahkan mereka sempat kurang percaya diri. Terlihat mereka selalu menunduk saat di tanya tentang keluarga karena alasan takut salah saat menjawab. Mereka terkadang juga merasa iri dengan teman-teman satu panti asuhan yang masih memiliki keluarga utuh. Misalnya, saat liburan sebagian besar anak panti asuhan

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 yang tidak berstatus yatim piatu dijemput oleh kedua orang tuanya sedangkan mereka tetap tinggal di panti asuhan. Timbulnya gejala-gejala yang kurang sesuai yang muncul dalam nonverbal pada kedua remaja yatim piatu saat ditanya mengenai keluarganya membuat peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana konsep yang dimiliki anak yatim piatu tentang keluarga. Masing-masing anak yatim piatu akan memiliki konsep yang berbeda mengenai keluarga sesuai dengan pengalaman yang mereka alami. Pengalaman anak yang diterlantarkan oleh orang tuanya akan berbeda dengan pengalaman anak yang kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Selain hal tersebut, penelitian ini memiliki manfaat untuk kehidupannya. Contohnya, memberi gambaran pada remaja yatim piatu yang tidak memiliki keluarga yang utuh untuk berkeluarga nantinya. Remaja yatim piatu memiliki pemikiran yang positif terhadap sebuah keluarga walaupun tidak memiliki keluarga yang utuh, dan remaja yatim piatu memiliki konsep yang baik terhadap relasi saat nantinya berkeluarga. B. Rumusan Masalah Masalah yang akan dijawab dengan penelitian ini dirumuskan : Bagaimana konsep remaja yatim piatu tentang keluarga? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini memiliki tujuan untuk: Mengetahui konsep remaja yatim piatu tentang keluarga.

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teroritis: Penelitian ini memberikan sumbangan bagi peningkatan dan mengembangkan ilmu yang berkaitan dengan konsep remaja yatim piatu yang tinggal di panti asuhan tentang keluarga. 2. Manfaat praktis: a. Bagi Pamong Panti Asuhan: Menyadari konsep remaja yatim piatu tentang keluarga, sehingga lebih mengetahui cara yang tepat untuk mendampingi anak-anak yatim piatu yang berada di panti. b. Bagi Subjek: Mengetahui konsep tentang keluarga, sehingga subjek lebih memahami mengenai keluarga walaupun subjek tidak tinggal bersama dengan keluarga intinya E. Definisi Operasional Variabel 1. Konsep Keluarga: paham atau tafsiran tentang sebuah sistem sosial yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang memiliki suatu keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. 2. Remaja: perkembangan manusia pada rentan usia sebelas sampai empatbelas tahun. 3. Yatim piatu: seseorang anak yang tidak memiliki keluarga yang utuh karena disebabkan oleh beberapa hal yaitu kedua orang tua meninggal dunia dan anak yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya di panti asuhan.

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab ini disajikan kajian ilmiah tentang konsep anak yatim piatu tentang keluarga yang terdiri dari: pengertian konsep, pembentukan konsep, memahami konsep, konsep menurut Piaget, konsep keluarga. Keluarga yang terdiri dari: pengertian keluarga, peran keluarga, fungsi keluarga. Remaja yatim piatu yang terdiri dari: Pengertian remaja, ciri-ciri remaja, tugas perkembangan remaja, dan pengertian yatim piatu. Pengertian konsep Remaja Yatim Piatu tentang Keluarga. A. Konsep 1. Pengertian Konsep Konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu objek, kejadian, kegiatan, atau hubungan yang mempunyai atribut yang sama. Konsep terbentuk atas abstraksi-abstraksi yang berdasarkan pengalaman seseorang, menurut Rosser (dalam Dahar, 2011: 46). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2011), konsep adalah ide atau pengertian yang dibuat menjadi abstrak dari peristiwa konkret. Berdasarkan penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa konsep merupakan pemikiran yang sebelumnya telah dimiliki. Dengan hasil pemikiran tersebut akan terbentuk sebuah pemahaman dan tafsiran. Pemahaman dan tafsiran tersebut didapatkan oleh suatu konsep. 5

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 2. Perolehan Konsep Konsep dapat diperoleh melalui dua cara, yaitu pembentukan konsep dan asimilasi konsep. Pembentukan konsep diperoleh sebelum anak masuk sekolah. Asimilasi konsep merupakan cara utama untuk memperoleh konsep selama dan sesudah disekolah. Banyak konsep yang diperoleh dan berkembang semasa kecil, tetapi konsep-konsep itu mengalami modifikasi atau perubahan yang disebabkan karena pengalaman-pengalaman kita. Anakanak memperoleh konsep-konsep seperti: meja, kursi dan lain-lain, konsep semacam ini diperoleh melalui proses pembentukan konsep. Pembentukan konsep merupakan suatu bentuk belajar penemuan (discovery learning), paling sedikit dalam bentuk primitif yang melibatkan proses-proses psikologi seperti analisis deskriminatif, abstraksi, deferensiasi, pembentukan hipotesis, pengujian dan generalisasi (Dahar, 2011: 64). Anak-anak, setelah masuk sekolah diharapkan belajar banyak konsep melalui proses asimilasi konsep. Dalam proses asimilasi anak-anak diberi nama konsep dan atribut dari konsep itu. Ini berarti bahwa mereka akan belajar arti konseptual baru dengan memperoleh penyajian atribut-atribut kriteria dari konsep, kemudian mereka akan menghubungkan atribut-atribut ini dengan gagasan-gagasan relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif mereka, guna memperoleh definisi formal dari konsep-konsep itu. Suatu

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 definisi formal dari kata, menunjukkan kesamaan-kesamaan dengan konsep itu, dan membedakan konsep itu dari konsep-konsep lain (Dahar, 2011: 65). 3. Memahami Konsep Menurut Klausmeier (dalam Dahar, 2011), tingkat pemahaman konsep dibagi menjadi empat kriteria, yaitu: 1) tingkat konkret, 2) tingkat identitas, 3) tingkat klasifikasi, 4) tingkat formal. Tingkat konkret dicapai apabila orang dapat menjelaskan benda tersebut dengan memperlihatkan benda dan dapat membedakan benda-benda dari stimulus-stimulus yang ada dilingkungannya. Tingkat identitas ini, seseorang akan mengenal objek sesudah selang waktu, bila orang tersebut mempunyai orientasi ruang yang berbeda dengan objek itu, bila objek itu ditentukan melalui suatu cara indra yang berbeda. Tingkat klasifikasi telah dicapai apabila mengenal persamaan dari dua contoh yang berbeda dari kelas yang sama. Tingkat formal telah dicapai apabila dapat menentukan atribut-atribut yang membatasi konsep,dengan memberi nama, mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memberi contoh verbal ataupun nonverbal. 4. Konsep menurut Piaget Pada diri setiap orang memiliki skema. Skema adalah mental seseorang di mana ia secara intelektual beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Skema merupakan rangkaian proses dalam sistem kesadaran seseorang dan tak dapat

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 dilihat,oleh karena itu skema dapat juga disebut sebagai suatu konsep atau kategori dalam pikiran seseorang. Semakin seseorang bertambah dewasa, maka skema yang dimiliki seseorang semakin bertambah banyak, karena seseorang akan semakin banyak mendapatkan pengalamannya dan berkontak dengan lingkungannya (Suparno: 2000). Skema bertambah dan berubah seseuai dengan apa yang telah ditemukan dan dilihat oleh seseorang mengenai objek tersebut berdasarkan pengalamanya. Pertambahan dan perubahan skema tersebut dapat disebut sebagai asimilasi dan akomodasi (Suparno: 2000). Asimilasi merupakan proses kognitif di mana seseorang mengintegrasikan presepsi, konsep, atau pengalaman baru kedalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi tidak menyebabkan perubahan skema tetapi menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan yang baru ke dalam skema yang sudah dimiliki sebelumnya. Misalnya, seorang anak memiliki konsep mengenai lembu.dalam pikiran anak tersebut, ada skema konsep megenai lembu itu binatang berkaki empat, berwarna putih, dan makan rumput. Skema tersebut muncul saat pertama kali anak tersebut melihat lembu setelah anak tersebut berhadapan dengan berbagai pengalaman, maka melihat lembu sebagai hewan yang berkaki empat, berwarna putih atau kelabu, makan rumput, dan dapat menarik gerobak (Suparno: 2000).

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 Akomodasi dapat terjadi bahwa dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman yang baru, seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru ini dengan skema yang telah dimiliki. Hal ini terjadi karena pengalaman yang baru itu sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Pada keadaan seperti ini, dapat membentuk skema baru yang dapat cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Maka, akomodasi dapat diartikan sebagi pembentukan skema yang baru atau mengubah skema yang lama. Misalnya, pemikiran seseorang anak bahwa benda yang memiliki masa lebih berat maka akan jatuh terlebih dahulu, tetapi saat di suatu laboratorium anak tersebut melakukan percobaan di suatu ruangan hampa udara dan ternyata benda dengan masa yang lebih berat dan lebih ringan akan terjatuh secara besamaan, dengan adanya kejadian tersebut anak tersebut merubah skema yang telah dimiliki dengan skema yang baru (Suparno: 2000). Menurut Piaget, proses asimilasi dan akomodasi ini terus berlagsung dalam diri seseorang, maka dalam perkembangan kognitif diperlukan kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Proses itu disebut ekuilibrium, yaitu pengaturan diri mekanisme yang perlu untuk mengatur kesetimbangan proses asimilasi dan akomodasi. Disekuilibrium adalah keadaan tidak setimbang antara asimilasi dan akomodasi. Ekuilibrasi adalah proses bergerak dari keadaan disekuilibrium ke ekuilibrium. Proses tersebut

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 berjalan terus dalam diri seseorang melalui asimilasi dan akomodasi. Ekuilibrasi membuat seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya (skema) (Suparno 2000). 5. Konsep keluarga Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, (2011), konsep adalah rancangan dan paham yang telah ada dalam pikiran seseorang. Santrock (2002: 257) mengemukakan keluarga sebagai suatu sistem yang terdiri atas individu-individu yang berinteraksi yang saling bersosialisasi dan saling mengatur. Konsep keluarga merupakan sebuah pandangan yang telah dimiliki seseorang tetang keluarga. Pemahaman tersebut dapat berubah atau bertambah sesuai dengan pengalaman kehidupan seseorang untuk memahami sebuah keluarga. Pada dasarnya keluarga merupakan sebuah sistem terkecil dalam masyarakat yang di dalamnya saling terlibat atau ketergantungan. Sehingga konsep keluarga adalah pemahaman sebuah sistem terkecil dalam masyarakat, tetapi pemahaman tersebut dapat berubah ataupun bertambah sesuai dengan pengalaman yang seseorang hadapi.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 B. Keluarga 1. Pengertian keluarga Menurut Suparlan dkk (1990:98) keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu, anak-anak yang merupakan tiang pokok masyarakat, yang ada hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara sesama anggota keluarga dan masyarakat: lembaga pertama dari individu yang terkait oleh norma-norma tertentu dan juga berbagai kebutuhan jasmani maupun rohani serta sosial. Santrock (2002: 257) mengatakan/ menuliskan keluarga sebagai suatu sistem yang terdiri atas individu-individu yang berinteraksi yang saling bersosialisasi dan saling mengatur. Menurut (Ahmad, 1991: 239) keluarga adalah kelompok primer yang paling penting di dalam masyarakat. Keluarga memberikan pengaruh yang menentukan pada pembentukan watak dan kepribadian anak; dan menjadi unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. 2. Fungsi Keluarga Terdapat lima fungsi keluarga (Marilyn. M. Friedman, 1998: 286): a. Fungsi reproduksi yaitu keluarga berfungsi untuk kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 b. Fungsi ekonomi yaitu merupakan fungsi untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga. c. Fungsi sosialisasi yaitu keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi dimana sosialisasi ini merupakan suatu proses yang berlangsung seumur hidup bagi individu yang secara kontinu dapat mengubah perilaku sebagai respon terhadap situasi yang terpola secara sosial yang mereka alami. d. Fungsi perawatan kesehatan yaitu keluarga mempunyai fungsi melaksanakan praktek asuhan keperawatan untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat anggota keluarga yang sakit. e. Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan kebahagiaan keluarga, keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga timbul karena fungsi afeksi tidak terpenuhi. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, yang mana setiap anggota keluarga saling berhubungan antara satu dan lainnya. Agar tercipta hubungan keluarga yang solid dan seimbang maka perlu adanya fungsi keluarga. Fungsi keluarga digunakan sebagai aspek dalam penelitian ini. Hal ini dikarenakan terciptanya keluarga yang solid dan seimbang dapat dilihat dari bagaimana keluarga tersebut menjalankan fungsi keluarga. Berdasarkan fungsi keluarga yang dimiliki, dapat dilihat bagaimana peran masing-masing anggota keluarga dalam menjalankan fungsi keluarga. Penelitian ini memberikan

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 gambaran mengenai konsep remaja yatim piatu tentang keluarga dari sisi fungsi keluarga yang mereka miliki saat ini. C. Remaja Yatim Piatu 1. Pengertian Remaja Remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan pada tingkat yang sama (Hurlock, 1980: 206). Remaja sebagai periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa, atau masa usia belasan tahun, atau seseorang yang menunjukkan tingkah laku tertentu seperti susah diatur, mudah terangsang perasaannya, dan sebagainya. Bahwa remaja sebagai sebuah tahapan dalam kehidupan seseorang yang berada di antara tahap kanak-kanak dengan tahap dewasa. 2. Ciri-ciri Masa Remaja Ciri-ciri masa remaja menurut Hurlock, (1980:207): a. Masa remaja sebagai periode yang penting. Anak muda pada usia 12- 16 tahun, merupakan tahun yang penuh kejadian yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan fisik merupakan hal yang penting karena perkembangan fisik yang cepat disertai dengan cepatnya perkembangan mental terutama pada awal masa remaja. Perkembangan fisik pada remaja mengakibatkan seorang remaja perlu melakukan penyesuaian mental dan

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 membentuk sikap, nilai dan minat yang baru dalam melakukan kegiatannya. b. Masa remaja sebagai periode peralihan. Peralihan tidak berarti lepas dari kejadian atau peristiwa yang terjadi sebelumnya, melainkan berkembang dari satu tahap perkembangan ketahap perkembangan berikutnya. Artinya yang telah terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekas pada masa sekarang dan yang akan datang. Kadang perlu disadari bahwa apa yang telah terjadi pada masa anak akan meninggalkan bekas da mempengaruhi masa remaja. c. Masa remaja sebagai periode perubahan. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Ada tiga perubahan yang sama yang hampir bersifat universal, yaitu: 1) Meningginya emosi yang intesitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. 2) Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial, menimbulkan masalah baru. 3) Sebagian besar remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Mereka sering takut bertanggung jawab akan akibatnya dan meragukan kemampuan mereka untuk dapat mengatasi tanggung jawab tersebut.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 d. Masa remaja sebagai usia bermasalah. Masalah remaja sering menjadi masalah yang sulit di atasi, baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan karena: 1) Sepanjang masa kanak-kanak masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. 2) Para remaja merasa diri mandiri sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru. e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas. Seperti dijelaskan Erikson (Hurlock, 1980:207) identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, dan apa peranannya dalam masyarakat. Remaja mempertanyakan apakah ia seorang anak atau orang dewasa; apakah ia mampu percaya diri; apakah ia akan berhasil atau gagal. f. Anggapan stereotip budaya. Bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya, cenderung berperilaku merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus memimbing dan mengawasi kehidupan remaja. Keyakinan bahwa orang dewasa mempunyai pandangan buruk tentang remaja membuat peralihan remaja ke masa dewasa menjadi sulit. Hal diatas menimbulkan pertentangan antara remaja dengan orang tua, sehingga

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 orang tua dan remaja terjadi jarak yang menghalangi anak untuk meminta bantuan orang tua apabila menemui masalah. g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik. Remaja melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya terlebih daam cita-cita. Cita-cita yang tidak realistik ini, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga dan teman-temannya, dan menyebabkan meningginya emosi remaja. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri. h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa. Remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status menggunakan dewasa, yaitu obat-obatan dan merokok, terlibat minum-minuman perbuatan seks. keras, Mereka menganggap bahwa apabila melakukan kegiatan seperti yang dilakukan orang dewasa, remaja akan dianggap dewasa dan dapat diterima oleh lingkungan tempat tinggalnya. 3. Tugas Perkembangan Masa Remaja Pada setiap tahap perkembangan dalam kehidupan manusia ada sejumlah tugas perkembangan yang harus dilalui. Dan tugas perkembangan pada masa remaja itu menuntut adanya perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku. Havighurts (Willis, 1981:8) mendefinisikan tugas perkembangan

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 adalah suatu tugas yang timbul pada periode tertentu dalam kehidupan individu, jika tugas perkembangan itu berhasil akan menimbulak kebahagiaan individu, sebaliknya jika tugas itu gagal akan menimbulkan kesulitan baginya pada masa mendatang. Tugas perkembangan remaja menurut Wattenberg (Mappiare, 1982:106) sebagai berikut: a. Memiliki kemampuan mengontrol diri sendiri seperti orang dewasa. Ketika memasuki masa remaja seorang remaja diharapkan dapat mengontrol dirinya sendiri. Tugas perkembangan ini timbul karena remaja sudah dianggap seperti orang dewasa yang umumnya mampu mengontrol dirinya. Kemampuan dalam mengontrol dirinya membuat dia diterima oleh lingkungannya. b. Memperoleh kebebasan. Memperoleh kebebasan termasuk salah satu diantaranya tugas perkembangan yang penting bagi remaja. Remaja diharapkan belajar dan berlatih membuat rencana, bebas membuat alternatif pilihan, dan bebas melaksanakan pilihan-pilihannya itu dengan bertanggung jawab. Remaja diharapkan dapat melepaskan diri dari ketergantungannya pada orang tua atau orang dewasa lainnya secara berangsur-angsur. c. Bergaul dengan teman lawan jenis. Di dalam hati remaja mulai muncul rasa tertarik dengan lawan jenisnya. Pada mulanya mereka merasa ragu dan malu untuk bergaul lebih

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 dekat dengan lawan jenisnya, tetapi lama-kelamaan mereka terbiasa bahkan ada yang lebih banyak bergaul dengan lawan jenisnya. d. Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan baru. Remaja diharapkan mulai belajar mengembangkan ketrampilanketrampilan baru yang sesuai dengan tuntutan hidup dan pergaulannya dalam masa dewasa kelak. Ketrampilan-ketrampilan baru itu tidak saja menyangkut apa yang dituntut pada bidang pekerjaan, melainkan juga bersangkutan dengan ketrampilan dalam kehidupan berkeluarga. Remaja perempuan misalnya dapat melakukan latihan mengatur meja makan, memasak, mencuci dan sebagainya. Remaja lelaki dapat membantu membresihkan halaman, mengepel lantai dan sebagainya. e. Memiliki citra diri yang realistis. Remaja diharapkan dapat member penilaian terhadap dirinya secara apa adanya. Mereka diharapkan dapat mengukur kelebihan dan kekurangannya dan dapat menerima diri apa adanya, memelihara dan memanfaatkannya secara positif. Remaja juga diharapkan memiliki gambaran diri secara realistis dan bukan lagi berdasarkan fantasi seperti yang pernah mereka alami semasa anak-anak. 4. Yatim Piatu Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995), yatim piatu adalah keadaan dimana tidak ada lagi orang tua (ayah dan ibu) dikarenakan meninggal dunia atau tidak diketahui keberadaannya. Salah satunya adalah remaja yatim piatu.

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Remaja yatim piatu dapat diartikan bahwa, seorang remaja yang dalam kehidupannya tidak merasakan adanya kehadiran orang tua (ayah dan ibu). Orang tua adalah orang yang dapat diandalkan anak dalam memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologisnya, sumber kasih sayang dan penerimaan, sumber bimbingan, orang yang dapat diharapkan bantuannya dalam memcahkan masalah yang dihadapi dalam setiap penyesuaian kehidupan, perangsang kemampuan untuk mencapai keberhasilan di sekolah dan kehidupan sosial serta menjadi sumber persahabatan sampai anak cukup besar untuk mendapatkan teman atau menjadi sahabat baginya (Santrock, 2011). D. Konsep Remaja Yatim Piatu tentang Keluarga Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (2011), konsep adalah rancangan dan paham yang telah ada dalam pikiran seseorang. Remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan pada tingkat yang sama (Hurlock, 1980: 206). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995), yatim piatu adalah keadaan dimana tidak ada lagi orang tua (ayah dan ibu) dikarenakan meninggal dunia atau tidak diketahui keberadaannya. Santrock (2002: 257) keluarga sebagai suatu sistem yang terdiri atas individuindividu yang berinteraksi yang saling bersosialisasi dan saling mengatur.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Pemahaman yang dimiliki remaja yatim piatu terhadap sistem terkecil yang saling bergantungan dapat berubah ataupun bertambah sesuai dengan pengalaman dan respon yang dimiliki remaja yatim piatu tersebut. Terutama remaja yang tinggal di dalam panti asuhan yang membuat remaja yatim piatu tersebut memiliki pengalaman dan rangsangan yang berbeda.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Menurut Dezin dan Licoln (dalam Tohirin, 2012: 2) penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar ilmiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Salah satu penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan metode etnografis. Metode etnografi memusatkan usahanya untuk menemukan bagaimana berbagai masyarakat (kelompok orang) mengorganisasikan kebiasaan dalam pikiran mereka dan kemudian menggunakan kebiasaan tersebut dalam kehidupan (Spardley, 2007: xii). Menurut Bogdan & Biklen (dalam Ahmad, 2014: 50), metode etnografi adalah studi tentang bagaimana anak panti asuhan memahami dan menjalani kehidupan keseharian mereka, serta menemukan caracara untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan tersebut. Tugas peneliti etnografis adalah menyelidiki bagaimana cara anak panti asuhan menerapkan aturan/ kaidah-kaidah abstrak dan pengertian akal sehat dalam berbagai situasi sehingga tindakan tersebut kelihatan rutin, dapat diterangkan, dan tidak meragukan Bogdan & Biklen (dalam Ahmad, 2014: 50). Melalui pengertian dan tugas dari metode etnografi, penelitian ini berusaha untuk memberi gambaran dengan menyelidiki, menggali, menganalisa, dan memahami konsep remaja yatim 21

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 piatu terhadap keluarga yang berada di panti asuhan dengan melakukan penelitian lapangan. B. Subyek Penelitian Subjek Penelitian terdiri dari 2 remaja yang berada di sebuah panti asuhan. Subjek pertama siswa kelas IV Sekolah Dasar yang berumur 13 tahun berstatus yatim piatu. Sejak lahir subjek, oleh seseorang dititipkan di sebuah penampungan. Ciri fisik subjek adalah tinggi badan ± 150 cm, rambut lurus, dan mata bulat. Subjek yang kedua siswa kelas VIII SMP berumur 14 tahun yang berstatus anak yatim piatu. Ayah subjek meninggal saat subjek masih kecil dan ibu subjek meninggal pada saat subjek kelas VII SMP , maka oleh salah satu anggota keluarganya, anak ini dimasukan ke panti asuhan. Ciri fisik subjek yaitu tinggi badan ± 152 cm, rambut lurus, dan bibir tebal. C. Setting Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di sebuah panti asuhan di daerah Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian dilakukan selama satu bulan dari bulan 21 Mei 2014 sampai bulan 21 Juni 2014 dengan mengikuti kegiatan subjek dan peneliti tinggal bersama subjek (live in). Di panti asuhan tersebut terdapat beberapa anak yang berstatus yatim piatu, tetapi peneliti hanya mengambil sampel dua subjek saja karena mereka berdua yang menarik peneliti untuk menjadi subjek penelitian. Peneliti melakukan penggalian data dengan metode observasi dan wawancara saat subjek sedang tidak mengikuti kegiatan rutin.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Lingkungan sekitar subjek merupakan lingkungan yang cukup nyaman dan baik untuk kelangsungan kehidupan subjek. Subjek saat berada di panti asuhan diasuh oleh dua pamong panti asuhan. Pamong pertama bertugas sebagai pimpinan panti asuhan yang mengurus bagian administrasi dan megasuh anak-anak yang berada di panti asuhan, sedangkan pamong yang kedua bertugas untuk mengasuh anak-nak panti. Subjek setiap harinya wajib mengikuti kegiatan yang telah terjadwal mulai dari bangun pagi hingga saat tidur malam. Saat ada acara gereja atau tamu dari luar panti subjek juga diwajibkan untuk mengikuti acara tersebut. Subjek saat di panti di berikan beberapa fasilitas seerti ruang belajar, lapangan untuk sepak bola, lapangan badminton, kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang doa, ruang makan, dan ruang musik. Berikut adalah jadwal penelitian selama peneliti bertemu dengan kedua subjek serta melakukan trianggulasi dengan kedua karyawan: Tabel 1. Agenda pertemuan peneliti dengan subjek dan kedua karyawan NO TANGGAL PERTEMUAN KETERANGAN TEMPAT 1 22 Mei 2014 Bertemu dengan kedua subjek untuk menjelaskan penelitian yang dilakukan peneliti dan observasi. Di ruang doa. 2 24 Mei 2014 Mencari informasi tetang latar belakang subyek dan gambaran subjek selama di panti asuhan. Di ruang administrasi. 3 29 Mei 2014 Memberikan lembar pertanyaan kepada subjek Di ruang doa.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 seputar keluarga. 4 6 Juni 2014 Wawancara dengan subjek untuk mendalami jawaban lembar pertanyaan seputar keluarga. Di ruang doa. 5 11 Juni 2014 Mencari informasi mengenai subjek dengan pimpinan panti, karyawan, dan salah satu keluarga subyek. Di ruang administrasi, dan lapangan panti asuhan. 6 20 Juni 2014 Wawancara dengan subyek seputar konsep subjek tentang keluarga. Di ruang doa. D. Alat Pengumpulan Data Penulis menggunakan beberapa metode dalam usaha untuk memperoleh data dan informasi tersebut, antara lain: 1. Wawancara Wawancara adalah data verbal yang diperoleh melalui percakapn atau tanya jawab (Tohirin, 2012: 63). Wawancara dilakukan untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu atau makna subjektif yang muncul. Esterberg (dalam Sugiyono, 2010: 317) menyatakan bahwa wawancara merupakan hatinya penelitian sosial. Bila melihat jurnal dalam ilmu sosial, maka akan menemui semua penelitian sosial yang didasarkan pada interview, baik yang dasar maupun mendalam. Wawancara etnografi adalah sebagai serangkaian percakapan persahabatan yang di dalamnya peneliti secara perlahan memasukkan

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 beberapa unsur baru guna membantu subyek memberikan jawaban sebagai seorang subyek (Spradley, 2006: 85). Ada tiga unsur etnografis yang terpenting, yaitu tujuan yang eksplisit, penjelasan, dan pertanyaan yang bersifat etnologi (Spradley, 2006: 85-87): a. Tujuan yang eksplisit Wawancara pada etnografis melibatkan tujuan dan arah. Pada saat wawancara dalam studi etnografi selayaknya memiliki arah dan tujuan yang jelas, maka jika pada saat subjek diwawancarai menuju arah dan tujuan yang tidak jelas peneliti wajib memperjelas. b. Penjelasan etnografis Pertemuan pertama sampai wawancara yang terakhir, peneliti secara berulang-ulang harus memberi penjelasan kepada subyek, karena pada akhirnya peneliti mempelajari kebiasaan subyek, maka subyek memiliki kesempatan untuk belajar mengenai beberapa hal. c. Pertanyaan etnografis Tiga tipe utama dalam pernyataan etnografis dan fungsinya: 1) Pertanyaan deskriptif Tipe pertanyaan ini memungkinakan seseorang untuk mengumpulkan suatu sampel yang terjadi di dalam bahasa subjek. 2) Pertanyaan Struktural

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pertanyaan jenis ini memungkinkan 26 peneliti untuk menemukan subjek mengenai domain unsur-unsur dasar dalam kebiasaan subjek. Pertanyaan ini untuk menemukan bagaimana subjek mengorganisir pengetahuan mereka. 3) Pertanyaan Kontras Pertanyaan kontras memungkinkan peneliti menemukan dimensi makna yang dipakai oleh subjek untuk membedakan berbagai objek dan peristiwa dalam dunia subjek. Berikut ini akan dijabarkan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan aspek-aspek fungsi keluarga: Tabel 2. Pertanyaan Wawancara No 1 Aspek Fungsi reproduksi Pertanyaan 1. Bagaimana pendapat anda mengenai tentang kenyaman anda sebagai seorang laki-laki? 2. Bagaimana pendapat anda tentang seorang perempuan? 2 Fungsi ekonomi 1. Bagaimana pendapat anda ketika kamu dibelikan baju baru? 2. Bagaimana pendapat anda ketika kamu diberi uang jajan? 3 Fungsi sosialisasi 1. Bagaimana pendapat anda tentang kebiasaan anda yang dilakukan saat di rumah? 2. Bagaimana menurut anda jika tugas rumah diselesaikan namun, dengan cara harus diperingatkan oleh orang tua terlebih dahulu? 4 Fungsi perawatan 1. Bagaimana pendapat anda ketika mengetahui jika ada anggota keluarga anda yang sedang sakit?

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 kesehatan 2. Bagaimana pendapat anda ketika anda sedang sakit dirawat oleh kedua orang tua anda? Fungsi Afektif 1. Bagaimana perasaan anda ketika anda sedang bersama dengan ibu anda? 27 2. Bagaimana perasaan anda ketika anda sedang berada dengan ayah anda? 3. Bagaimana perasaan anda ketika anda sedang berada dengan kakak dan adik anda? Berdasarkan pertanyaan tersebut peneliti merasa perlu fokus terhadap aspek fungsi reproduksi dan fungsi sosialisasi. Peneliti mengalami kesulitan dalam menggali informasi mengenai fungsi reproduksi karena subjek dinilai belum sungguh-sungguh memahami tentang fungsi reproduksi. Aspek sosialisasi dimaksudkan oleh peniliti untuk mendapatkan gambaran mengenai relasi sosial subjek dengan keluarganya saat berada di rumah. Peneliti melihat aspek fungsi reproduksi dari sisi fungsi seksualitas subjek, karena kesiapan seseorang untuk mencapai fungsi reproduksi berawal dari terbentuknya fungsi seksualitas yang subjek miliki. Berdasarkan pertanyaan yang disampaikan peneliti kepada subjek tentang aspek sosialisasi, peneliti menyimpulkan bahwa kebiasaan yang dilakukan di rumah dapat menggambarkan bagaimana subjek berkomunikasi dengan keluarganya. Kebiasaan subjek yang hanya sibuk dengan kepetingan dirinya sendiri dapat menyebabkan sosialisasi yang dimiliki subjek kurang baik. Berdasarkan pertanyaan kedua tentang aspek fungsi sosialisasi, peneliti menemukan bahwa kebiasaan subjek saat diminta untuk mengerjakan pekerjaan rumah dapat mencerminkan bagaimana kemampuan subjek dalam berinteraksi dengan orang tuanya.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 2. Observasi Nasution (dalam Sugiyono, 2010: 310) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar ilmu pengetahuan. Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Data itu dikumpulkan dan sering dengan bantuan berbagai alat yang sangat canggih, sehingga benda-benda yang sangat kecil (proton dan elektron) maupun yang sangat jauh (benda runag angkasa) dapat diobservasi dengan jelas. Marshall (dalam Sugiyono, 2010: 310) mengatakan bahwa melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut. Observasi dilakukan untuk melihat keadaan fisik subjek serta konsep tentang keluarga. Observasi dilangsungkan selama wawancara dengan mencatat hasil observasi. 3. Anekdota/ catatan Pada umumnya catatan lapangan itu terdiri dari dua bagian, yaitu catatan deskriptif dan catatan reflektif. a. Catatan Deskriptif Catatan deskriptif/ gambar rinci tentang lokasi, situasi, kejadian/ peristiwa atau apa pun yang diamati peneliti dan hasil-hasil pembicaraan/ wawancara yang ditulis apa adanya, sesuai dengan kenyataan. Sedapat mungkin diusahakan tidak ada penilaian, ungkapan perasaan, dan pendapat pribadi, yang dilihat, didengar, dibau, disentuh peneliti, itulah yang dideskripsikannya, (dalam Putra, 2011:122).

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 b. Catatan Reflektif Catatan reflektif menggambarkan realitas apa adanya dan sependapat mungkin bebas dari pendapat perasaan pribadi si peneliti. Pada catatan reflektif peneliti bebas memberikan tanggapannya baik logis maupun etis. Peneltiti boleh menanggapi yang dilihat, didengar, dan dirasakannya. Peneliti diberi kebebasan dalam pendeskripsiannya, (dalam Putra, 2011:123). Catatan/ anekdota didapatkan pada saat peneliti melakukan wawancara dan pengobservsian terhadap subjek pada saat subjek menjalankan aktifitas sehari-hari dalam panti asuhan. Catatan yang digunakan berupa catatan deskriptif. Dengan melihat keadaan yang sebenarnya dari pihak subjek tanpa adanya tanggapan dari peneliti. 4. Kode (Cooding) Kode menurut Miles dan Huberman (dalam Ahmad, 2014: 209), adalah etiket atau label untuk menandai unit-unit makna pada informasi deskriptif atau inferensial yang disetujui selama suatu kajian. Menurut Ahmad (2014: 210), pengkodean data adalah pekerjaan yang berat dari penumpukan data mentah ke dalam tumpukan yang dapat dikelola. Pembuatan kode merupakan tahapan terpenting pada penelitian kualitatif, maka langkahnya harus dilakukan secara disiplin. Berikut aplikasi pembuatan kode (cooding):

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 a. Catatan Awal Catatan awal adalah hasil pengumpulan data selama peneliti berada di lapangan. Menurut Spradley (dalam Ahmad, 2014: 220) disebut sebagai catatan singkat, yakni catatan yang dibuat saat itu (pada saat peneliti sedang mengobservasi dan wawancara). Saat peneliti melakukan pencatatan, biasanya di tulis dengan singkatansingkatan agar dapat mengejar informasi dari subjek, sehingga perlu diperhatikan dengan memberi tanda pada singkatansingkatan yang di tulis oleh peneliti. b. Catatan Lanjut Menurut spradley (dalam Ahmad, 2014: 221) catatan ini disebut sebagai catatan yang diperluas, yakni catatan yang dibuat segera mungkin setelah melakukan observasi dan wawancara di lapangan. Peneliti menyempurnakan catatan awal dengan pembetulan hurufhuruf atau singkatan-singkatan yang digunakan, sehingga kalimat tersebut lebih terlihat komunikatif. c. Penulisan Transkrip dan Pemberian Kode Crewell (dalam Ahmad, 2014: 223), mengemukakan bahwa penghimpunan data lapangan peneliti menghimpun teks atau katakata melalui wawancara dengan subjek atau dengan menulis catatan selama observasi. Prosedur yang paling lengkap adalah memiliki seluruh wawancara dan semua catatan lapangan yang ditranskripkan. Transkripsi adalah proses mengubah rekaman

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 audiotape atau catatan lapangan ke dalam data teks. Peneltiti biasanya memindah hasil rekaman audiotape ke dalam komputer atau menggunakan tulis tangan dahulu lalu memindahkan kedalam komputer. Proses pemberian kode terhadap data ( informasi) atau teks, yaitu dengan mengetik atau mengkopi dari teks yang sudah diketik dalam komputer. Formatnya dengan membuat tabel yang berisi kolom nomor baris dan kolom data teks. Nomor baris menunjukkan tentang posisi kutipan informasi (data). Nomor baris memiliki fungsi mempermudah bagi peneliti atau orang lain untuk menelusuri posisi informasi (data) dalam transkrip. d. Membuat Kode Tahap ini merupakan tahap akhir dari pengkodean. Peneliti memenggal teks dari tumpukan teks yang sangat banyak dan dipindahkan /diletakkan pada unsur-unsur kategori atau klarifikasi tertentu sesuai dengan fokus penelitian. Peneliti, pada tahapan ini membuat format kategori data, sehingga peneliti mudah untuk mengetahui teks-teks tertentu yang diperlukan untuk kepetingan analisis. Menurut Silverman (dalam Ahmad, 2014: 228), kategorikategori digunakan dengan cara yang terstandar, sehingga peneliti lain pun dapat mengkategorikan dengan cara yang sama.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 E. Validasi Data Validasi data menggunakan triangulasi. Menurut Lexy (dalam Tohirin 2012: 76) Triangulasi adalah membandingkan dan meninjau kembali tingkat kepercayaan suatu informasi yang telah diperoleh melalui orang yang berbeda. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan kebenaran data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moleong, 2004:330). Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data. Triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif, Denzin (dalam Moleong, 2004). Validasi data dengan menggunakan trianggulasi mendapatkan informasi dari pihak-pihak lain yang berkaitan dengan konsep remaja yatim piatu tentang keluarga. Informasi didapatkan melalui wawancara dengan pimpinan panti asuhan, pamong panti asuhan, karyawan panti, teman subjek, serta datadata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari subjek. F. Teknik Analisis Data Analisis data merupakan suatu pencarian pola-pola dalam data, yaitu perilaku yang muncul, objek-objek, atau badan pengetahuan, (Neuman dalam Ahmad, 2014: 229). Menurut Bogdan & Biklen (dalam Ahmad, 2014: 230) analisis data merupakan suatu proses penyelidikan dan pengaturan secara sistematis transkrip wawancara, catatan lapangan, dan material-material lain. Prosedur analisis data kualitatif menurut Patton (dalam Ahmad, 2014: 230), meliputi mengorganisasikan data dengan kasus-kasus spesifik yang

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 memungkinkan studi yang mendalam tentang kasus-kasus ini. Kasus dapat berupa individual, program, institusi, atau kelompok. Alur analisis data: Data Verbatim Penggolongan n Analisis data menurut: T 1. Aspek Fungsi Keluarga: E a. O b. Fungsi Ekonom i R c. I Fungsi Reproduksi Fungsi Sosialisasi d. Fungsi Peraw atan Kesehatan e. Fungsi Afektif Coding

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan. Terdiri dari tempat pelaksanaan penelitian. Jadwal pertemuan dengan subjek. Data tentang subjek. Pembahasan mengenai konsep remaja yatim piatu tentang keluarga pada subjek 1 dan subjek 2. A. Subjek 1 1. Penghimpunan Data Subjek a. Deskripsi Umum Kasus Nama : John (nama samaran) Tempat Tanggal Lahir : Semarang, 6 Desember 2000 Asal Daerah : Semarang Jenis Kelamin : Laki-laki Usia : 14 tahun Agama : Katolik Alamat : Semarang 34

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Anak ke- : 2 dari 3 bersaudara Pendidikan Terakhir : SD Sekolah : SMP Cita-cita : Peneliti Fosil Hobby : Berenang Penampilan Fisik : Tinggi badan ± 152cm, berat badan ± 45kg, kulit sawo matang, rambut pendek tebal lurus, bentuk wajah lancip, mata bulat, bibir tebal, hidung pesek. Penampilan Psikis : Ramah, terbuka, banyak bicara, peduli. Sumber Informasi : Subjek, pimpinan panti, karyawan b. Analisis 1) Latar Belakang Kehidupan Keluarga Interaksi sosial yang paling lama terdapat pada lingkungan keluarga. Keluarga merupakan suatu sistem yang terdiri atas individuindividu yang berinterkasi, bersosialisasi, dan saling mengatur dalam Santrock (2002: 257). Adanya data-data lapangan, John termasuk anak yang bersyukur dengan keluarganya.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Peneliti: “John, menurutmu keluarga tuh apa ta?” Subjek: “ keluarga itu merupakan anugrah yang diberikan oleh Tuhan pada kita untuk mengasuh dan merawat anak-anaknya supaya bisa menjadi orang yang dapat dipercaya. (W/S1/PERSPART/001-005) John saat di tanya tentang ayahnya dia menjawab dengan menundukkan kepalanya dan mengeluarkan keringat yang lumayan banyak, karena menurut John ayahnya sudah lama meninggal dan itu saat John masih kecil jadi John kurang mengingat kebersamaan dengan ayahnya, walaupun John hanya merasakan sebentar kebersamaan dengan ayahnya tetapi John sangat menyayangi dan bersyukur memiliki ayah. Peneliti : “Kalau mbak boleh tau, sosok ayah menurutmu tuh kayak apa sih?” Subjek : “Ayah tu ya, kepala keluarga dan selalu menjalin cinta di dalam keluarganya.” Peneliti : “Kamu deket sama ayahmu?” Subjek: “engga sih mbak, karena ayah meninggal waktu aku kecil tapi yang paling aku inget itu ketika aku jatuh ayah yang gendong nolongin aku terus bawa aku ke rumah sakit. Rasanya seneng banget mbak.” (W/S1/PERS-PART/006-016) Berdasarkan dari hasil wawancara, dengan karyawan panti. Ibu subjek merupakan seorang pedagang yang berasal dari Semarang, dahulu John sempat tinggal bersama ibunya hingga John kelas VII SMP. Ketika John kelas VII SMP ibunya meninggal karena sakit jantung. John lebih banyak menceritakan tentang ibunya karena bagi

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 John ibunya merupakan wanita yang hebat dan luar biasa yang telah mebesarkan anak-anaknya sendiri tanpa ayah John. Ibu John juga selalu memberi kebutuhan John walaupun John tidak berasal dari keluarga yang mampu. John sangat sayang kepada ibunya. Peneliti : Sekarang mbak nanya ke kamu, kalau sosok ibu menurutmu gimana?” Subjek : Ibu itu bagiku harta yang takkan aku lupakan. Walaupun orang tuaku udah gak ada, ibu lah yang merawat sampai sekarang ini.” Peneliti : “kamu deket ya sama ibumu?” Subjek: “ iya mbak, soalnya ibu udah kasih perhatian aku sama sayang sama aku. Aku seneng dulu waktu ibu pas meluk aku rasanya seneng sama nyaman banget mbak.” (W/S1/PERSPART/017-025) Berdasarkan daftar nama penghuni panti asuhan dan hasil wawancara dengan karyawan panti. Kakak John juga merupakan anak panti asuhan. Kakak John sekarang bersekolah di sebuah SMK di Muntilan. Kakak John beberapa kali terlibat dengan kasus-kasus, sehingga John kurang merespon kakaknya, walaupun demikian John tetap menyayangi kakaknya. Peneliti : “kalau kakak itu menurutmu apa?” Subjek :” kakak tuh orang yang lebih tua dariku.” Peneltiti : “kamu sayang sama kakakmu?” Subjek : “ sayang mbak, walapun dia nakal.” (W/S1/PERSPART/026-028)

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Adik John saat ini tinggal di Semarang dengan budhenya. Saat ini adik John bersekolah di TK yang berlokasi di Semarang. John sangat sayang dengan adiknya karena menurut John adiknya mirip dengan ibunya. Pada saat John di tanya dari anggota keluarga yang paling ingin ditemui saat ini ialah adiknya. Peneliti : “ kalau adik itu menurutmu apa?” Subjek : “kalau adik bagiku orang yang lebih muda di banding dariku aku juga manyayangi adikku seperti sayang orang tua.” (W/S1/PERS-PART/029-032) Peneliti : “ kenapa kamu menyayangi adikmu seperti menyayangi orang tuamu.” Subjek: “ karena adik ku mirip banget sama ibu jadinya aku sayang adikku.” (W/S1/ALAS-PART/033-034) 2) Lingkungan Fisik, Sosio- Ekonomi dan Sosio Kultural Lingkungan fisik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi diri individu. Lingkungan panti asuhan yang di tempati subjek saat ini memiliki kebersihan yang cukup serta beberapa fasilitas yang ada pada panti yang digunakan untuk kebutuhan anak-anak panti. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan John. John merasakan lingkungan fisiknya saat saat ini merasa kurang nyaman tetapi bagaimana pun itu John harus tinggal di lingkungan fisik panti asuhan tersebut. John ingin sekali untuk tinggal di Semarang bersama dengan

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 adik dan keluarga yang ada di Semarang tetapi demi pendidikan John, maka John tinggal di panti asuhan. Peneliti: “ apa kamu merasa nyaman tinggal di panti asuhan?” Subjek:” ya.. gimana ya mbak nyaman ga nyaman. Aku kan tinggal di sini biar aku bisa melanjutkan sekolahku, sebetulnya aku pengen tinggal bersama dengan adik ku di Semarang. (W/S1/ALAS-PART/035-041) Lingkungan fisik subjek yang berada di panti asuhan berpengaruh terhadap keadaan ekonomi subjek. Subjek sendiri tidak tinggal bersama kedua orang tuanya melainkan bersama dengan penghuni panti asuhan yang diasuh oleh pimpinan dan pamong panti asuhan, sehingga uang jajan subjek di dapatkan dari pimpinan panti pada saat subjek terlibat dalam acara-acara tertentu. Tetapi sehari-hari subjek di beri uang jajan oleh salah satu anggota keluarganya yang bekerja sebagai karyawan di panti, agar subjek tetap bisa jajan seperti temanteman yang lainnya. Karyawan 1: “ John memang sering saya beri uang jajan karena saya kasihan kalau liat John ga jajan, kadang John suka ngomong ke saya kalau laper apalagi habis pulang sekolah. Tapi kadangkadang uang jajan John habis buat menraktir teman-temannya dan John memang sering nabung tapi kalau pas balik ke Semarang dia lagi-lagi menraktir teman-temannya di rumah dan menraktir adik dan kakaknya.” (W/T/PERS-PART/026-032) Sosio kultural yang berada pada lingkungan subjek terdapat berbagai aturan dan berbagai tugas yang harus dilaksanakan dan

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 dilakukan oleh subjek, sehingga subjek harus melakukan semua yang terdapat pada aturan dan tugas di panti. Peraturan dan tugas di panti asuhan di buat untuk membuat setiap anak panti menjadi lebih displin dan tidak malas-malasan. Saat di tanya tentang aturan dan tugas di panti subjek menjawab berat menjalaninya tetapi semua harus dilakukan supaya saya dapat belajar. 3) Pertumbuhan Jasmani dan Riwayat Kesehatan John tumbuh secara normal. Ia tidak memiliki penyakit yang di dideritanya, hanya beberapa kali John sakit panas, pusing batuk, mual saat cuaca-cuaca terntentu. Nafsu makan John juga terlihat baik-baik saja sesuai dengan tahap perkembangan fisiknya saat ini. 4) Perkembangan kognitif Berdasarkan hasil rapot, pada saat John di semester I kelas VIII nilai John lumayan baik. Dari tigabelas mata pelajaran, John memiliki nilai tuntas dari batas KKM sebanyak sembilan mata pelajaran dan yang tidak tuntas sebanyak empat mata pelajaraan yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan PKK. Nilai John tertinggi John terdapat pada dua mata pelajaran yaitu Pendidikan Jasmani dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Selama John bersekolah di Jogja atau di Semarang, John tidak pernah mengalami

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 tinggal kelas atau tidak naik kelas. Berikut kutipan wawancara dengan John. Peneliti: “Bagaimana dengan prestasimu saat di sekolah? John: “hehehe.. ya lumayan mbak” (W/S1/PERS-PART/039-041) 5) Perkembangan Sosial dan Status Sosial Saat Ini John merupakan anak yang mudah untuk bersosialiasi tetapi dengan teman-teman tertentu saja. Saat peneliti bertanya dengan teman satu kelas subjek mengenai teman dekat subjek saat di kelas tenyata subjek hanya bergaul dengan teman-teman satu panti yang dengan subjek. Saat di panti pun subjek hanya bermain dengan teman-teman yang di bawah usianya, sering kali melihat subjek berlari-lari, bermain-main, dan bercandaan dengan teman yang usianya di bawahnya, hanya beberapa kali peneliti melihat subjek bermain dengan teman sebayanya. Karyawan 1: “ John pernah saya tanya mbak.. kok kowe sering dolanan karo cah-cah SD ta. Kata dia, lha aku nek dolanan karo kanca-kancaku sing SMP kie sering di ece pendek, tapi nek karo cah SD ora.. gitu mbak katanya.. (W/T/PERS-PART/037-046) (“John pernah saya tanya mbak.. kok kamu sering main dengan anak-anak SD. Kata dia, lha aku kalau main sama temen-teman yang SMP sering di hina pendek, tapi kalau sama anak SD tidak.. gitu mbak katanya..)

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 6) Ciri-ciri Kepribadian John merupakan anak yang sopan, ramah, dan banyak bicara tetapi John hanya bergaul dengan teman tertentu saja, tetapi subjek memiliki kepedulian terhadap teman-temannya terbukti saat subjek mendapatkan uang jajan subjek selalu membelikan teman-temannya makanan. Subjek juga menerima dirinya dengan baik walaupun subjek sendiri merasa dirinya memiliki kekurangan. Subjek: “ Aku seneng kok mbak sama diriku sekarang walaupun aku pendek tapi aku bisa melakukan apa yang orang lain ga bisa karena aku ngelakuinnya dari hati mbak.” (W/S1/PERSPART/050-054) B. Subjek 2 1. Penghimpunan Data Subjek a. Deskripsi Umum Kasus Nama : Ino (nama samaran) Tempat Tanggal Lahir : Yogyakarta, 23 September 2001 Asal Daerah : Yogyakarta Jenis Kelamin : Laki-laki Usia : 13 Agama : Katolik

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Alamat : Yogyakarta Anak ke- :1 Pendidikan Terakhir : TK Pekerjaan/ Sekolah : SD Cita-cita : Pemain sepak bola Hobby : Bermain sepak bola Penampilan Fisik : Tinggi badan ± 150cm, berat badan ± 45kg, kulit gelap, rambut pendek tebal lurus, bentuk wajah bulat, mata bulat, bibir sedang, hidung pesek. Penampilan Psikis : Ramah, pendiam, kurang mudah untuk berkonsentrasi. Sumber Informasi : Subjek, pimpinan panti, karyawan. b. Analisis 1) Latar Belakang kehidupan Keluarga Keluarga merupakan suatu sistem di mana di dalamnya terdapat hubungan yang spesifik, aturan-aturan, dan peran-peran, dari masing-masing anggota yang memiliki keunikan tersendiri menurut, Ivey, Simek-Morgan (dalam Kertamudu, 2099: 46). Berdasarkan data-

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 data dan wawancara yang dilakukan dengan Ino, bahwa Ino memahami sebuah keluarga yang utuh, dihadiri oleh seluruh anggota keluarga. Berikut kutipan wawancara dengan Ino. Peneliti: “ Ino, menurutmu keluarga itu apa?” Subjek: “kebersamaan mbak.. kumpul bareng, ya.. kalau pas doa sama pas makan mbak buat suasana jadi nyaman.” (W/S2/PERS-PART/001-004) Ayah dan Ibu Ino merupakan saudara kandung, karena status ayah ibunya yang memiliki hubungan sedarah, maka saat Ino kecil diterlantarkan di daerah Kulon Progo. Ino kemudian dititipkan oleh seseorang disebuah yayasan di Yogyakarta. Ino sendiri tidak pernah melihat dan merasakan kasih sayang dari ayahnya. Saat ditanya mengenai ayahnya, Ino menjawabnya dengan singkat dan berpikir lama sekali sambil tatapannya melihat ke segala arah. Ino sendiri menjawab ayah merupakan seseorang yang memiliki peran yang tanggung jawab pada sebuah keluarganya. Peneliti: “ Kalau mbak boleh tau, ayah menurutmu apa?” Subjek: “ Yang mengurus kita waktu kecil, membimbing dan menjaga dalam keluarga.” (W/S2/PERS-PART/005-007) Saat melahirkan Ino, ibu Ino berstatus mahasiswa yang sedang kuliah di suatu Universitas Yogyakarta. Ibu Ino tidak menginginkan orang tuanya mengetahui jika dirinya hamil degan kakak kandungnya, sehingga Ibu Ino menelantarkan Ino di daerah Kulon Progo. Hingga

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 saat ini Ino tidak pernah melihat dan merasakan kasih sayang ibunya. Saat di tanya tentang ibunya Ino menjawab dengan bingung dengan berpikir lama serta pandangannya yang melihat berbagai arah. Ino menjawab bahwa ibu merupakan seseorang yang memiliki tugas untuk melahirkan dan merawatnya sampai anak-anaknya bertumbuh dewasa. Peneliti: “kalau ibu menurut pemahamanmu apa Ino?” Subjek: “ Ibu yang telah melahirkan kita semua, menjaga sampai besar.” (W/S2/PERS-PART/008-010) Berdasarkan hasil wawancara Ino kurang memahami mengenai kehadiran adik dan kakak karena Ino sendiri tidak mengetahui keluarga kandungnya. Ino hanya melihat hubungan kakak dan adik saat di panti asuhan, karena beberapa temannya di panti asuhan ada yang berstatus kakak dan adik. Maka saat ditanya tentang kakak dan adik Ino hanya menjawab dengan singkat. Ino sendiri memahami kakak dan adik hanya sekedar teman untuk bermain, dengan bermain Ino dapat menemukan kesenangannya. Peneliti: “Apa yang kamu ketahui tentang kakak dan adik?” Subjek: “bermain bersama membuat seru.” (W/S2/PERSPART/011-013) 2) Lingkungan Fisik, Sosio-Ekonomi, dan Sosio Kultural Lingkungan fisik yang di tinggali subjek tepatnya di panti asuhan saat ini merupakan lingkungan fisik yang lumayan bersih dan

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 di dalamnya terapat fasilitas yang mencukupi kebutuhan subjek. Subjek dengan lingkungannya saat ini sudah merasa seperti rumahnya sehingga subjek menemukan kenyaman dalam diri subjek untuk tinggal di lingkungan yang di tempati subjek saat ini. Peneliti: “apa kamu merasa nyaman tinggal di panti?” Subjek: “ ya nyaman mbak.” (W/S2/PERS-PART/014-015) Peneliti: “Kenapa?” Subjek: “ya karena di sini aku banyak temen udah aku anggep keluarga.” (W/S2/ALAS-PART/016-018) Ino tinggal di lingkungan panti asuhan, sehingga mempegaruhi keadaan sosio-ekonomi. Ino jarang di beri uang jajan, hanya pada saat ada acara tertentu saja Ino di berikan uang jajan, setiap harinya Ino tidak pernah di berikan uang jajan. Tetapi kebutuhan sehari-hari Ino sudah di berikan oleh pihak panti asuhan. Peneliti: “Apakah Ino sering mendapatkan uang jajan dari Bruder?” Subjek: “Gak pernah mbak, ya Cuma kalau pas ada acara aja kayak dulu pas sekolah ngadain wisata di luar sekolah baru bruder ngasih.” (W/S2/PERS-PART/019-023) Sosio kultural yang berada dipanti sesuai dengan aturan, tata tertib dan tugas-tugas yang diberikan. Subjek merasa terkadang berat menjalani aturan, tata tertib, dan tugas yang ada di panti asuhan tetapi

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 subjek tetap menjalaninya dengan ikhlas karena memang sudah menjadi tanggung jawabnya. 3) Pertumbuhan Jasmani dan Riwayat Kesehatan Pertumbuhan jasmani Ino berkembang secara normal sesuai dengan tahap perkembangannya. Ino tidak memiliki penyakit apapun. Hanya sakit pusing, panas, batuk, pilek yang pernah Ino rasakan. Nafsu makan Ino cukup baik terbukti saat peneliti melihat Ino makan Ino mengambil dengan jumlah yang banyak melebih teman-teman satu mejanya 4) Perkembangan Kognitif Berdasarkan hasil rapot Ino di semester I kelas IV dari sepuluh mata pelajaran Ino memiliki nilai yang tuntas sesuai dengan batas KKM sebanyak tujuh mata pelajaran, sedangkan nilai yang tidak tuntas ada tiga mata pelajaran yaitu matematika, IPA, Bahasa Jawa, dan Bahasa Inggris. Nilai Ino yang paling tertinggi ada pada dua mata pelajaran yaitu Seni Budaya dan Pendidikan Jasmani. Perkembangan Kognitif Ino tergolong lumayan sesuai dengan hasil rapot kelas IV di semster I, tetapi saat dahulu Ino kelas II pernah tidak naik kelas atau tinggal kelas. Berikut kutipan wawancara dengan Ino. Peneliti: “Bagaimana prestasimu di sekolah?”

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Subjek: “ya lumayan mbak.” Peneliti: “ tapi kamu selalu naik kelas kan?” Subjek: “Dulu pernah sekali ndak naik mbak waktu kelas II.” (W/S2/PERS-PART/024-027) 5) Perkembangan Sosial dan Status Sosial Saat Ini Ino merupakan anak yang tidak banyak bicara. Tetapi saat dengan teman-temannya Ino mampu berkomunikasi dengan baik. Ino memiliki banyak teman walaupun Ino sendiri memiliki teman dekat yang selalu bermain bersamanya. Hubungan Ino dengan teman sebayanya cukup baik, Ino dapat bermain, bercanda, dan berkomunikasi sesuai dengan tahap perkembangannya. Saat di tanya mengenai teman-temannya yang berada di panti Ino sangat senang karena kesehariannya Ino selalu bermain dengan mereka. Ino sudah menanggap teman-temannya dipanti asuhan sebagai keluarga. Sehingga Ino merasa nyaman saat dengan mereka. Peneliti: “Bagaimana hubunganmu dengan teman-teman mu di panti saat ini?” Subjek: “Baik mbak, seneng kalau pas bermain dengan mereka.” (W/S2/PERS-PART/028-030) 6) Ciri-ciri kepribadian Ino adalah anak yang tidak banyak bicara, ramah, susah untuk berkonsentrasi terbukti saat Ino di wawancari terkadang Ino melamun

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 dan bahkan menjawab yang tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Saat di tanya mengenai dirinya Ino menjawab bahwa ia kurang nyaman dengan dirinya karena menurutnya dirinya dahulu pernah melaukan kesalahan yang membuatnya dirinya sekarang malu dan kurang percaya diri. Subjek: “kurang nyaman sama mbak.. karena sering berantem sama dulu aku pernah kena masalah yang berat tapi ya udah lah mbak itu dulu.” (W/S2/PERS-PART/031-035) C. Konsep tentang Keluarga Subjek 1 dan Subjek 2 1. Fungsi Reproduksi Salah satu fungsi dalam keluarga adalah reproduksi. Fungsi ini memiliki tujuan untuk menambah keturunan dan menambah sumber daya manusia dalam sebuah keluarga. Pada diri remaja yatim piatu yang selama ini tidak tinggal bersama dengan keluarga kandungnya sendiri, memiliki konsep yang berbeda dengan konsep masyrakat pada umumnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan kedua subjek, mereka memiliki jawaban yang berbeda. Pada fungsi reproduksi dikhususkan bagaimana subjek memahami dirinya sebagai laki-laki dan bagaimana konsep subjek terhadap seorang perempuan. John menerima dan mensyukuri dirinya dengan baik, artinya John menerima dirinya apa adanya sebagai seorang laki-laki. Dan John memaknai perempuan sebagai seseorang yang memiliki perbedaan tugas dengan dirinya sebagai laki-laki. Artinya John memiliki konsep bahwa

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 perpempuan itu memiliki peranan yang berbeda dengan seorang laki-laki. Hal ini dapat dilihat pada kutipan wawancara berikut: Peneliti: Bagaimana pendapatmu tentang kenyamanmu sebagai seorang laki-laki? John: “ aku bangga mbak jadi laki-laki.. soalnya aku nyaman dengan diriku, ya.. walupun aku pendek gini mbak.. (W/S1/PERS-PART/053057) Peneliti: Bagaimana pendapatmu tentang seorang perempuan? John: : “ perempuan ya mbak.. hmmm.. apa ya mbak.. perempuan itu beda tugas mbak sama laki-laki.. tugasnya tuh ngerawat anak-anaknya mbak.. (W/S1/PERS-PART/058-062) Konsep yang dimiliki John mengenai fungsi reproduksi keluarga, memiliki pemahaman yang baik dan sesuai dengan dirinya. John menerima dirinya dengan baik dan memberi penilaian perempuan dengan membedakan tugasnya. Konsep yang dimiliki John termasuk dalam tingkat konkret, karena John mampu menjelaskan pendapat tetang dirinya dan pendapat tetang seseorang perempuan, salah satu contohnya dengan menyebutkan tugas perempuan. Menurut, Klausmeier (dalam Dahar, 2011: 50) untuk mencapai tingkat konkret apabila orang itu mengenal suatu objek yang telah dihadapinya. Dengan dimikian John dapat memilki fungsi seksualitas yang normal dengan penerimaannya sehingga akan berpengaruh pula terhadap fungsi reproduksi dalam keluarga. Saat wawancara dengan Ino, ia menjawab bahwa kurang nyaman dengan keadaan dirinya sebagai seorang laki-laki. Artinya subjek merasa

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 bahwa dirinya sebagai laki-laki kurang membuat merasakan kenyaman dan tidak membuatnya pecaya diri. Ino saat si tanya mengenai perempuan memiliki pandangan bahwa perempuan itu memiliki kesaaman dengan lakilaki. Artinya Ino melihat perempuan itu sebagai makhluk yang sama dengan laki-laki. Ino: “kurang nyaman sama mbak.. karena sering berantem sama dulu aku pernah kena masalah yang berat tapi ya udah lah mbak itu dulu.” (W/S2/PERS-PART/031-035) Ino: “perempuan… hmmm.. ya sama mbak sama kayak laki-laki punya tugas yang sama.. (W/S2/PERS-PART/036-039) Konsep Ino mengenai fungsi reproduksi keluarga, kurang dapat dapahami dengan baik. Ino kurang memahami apa saja yang menjadi peran perempuan maupun laki-laki. Ino juga kurang nyaman terhadap dirinya sebagai laki-laki, karena proses belajar yang Ino hadapi maka Ino merasakan ketidak nyamanan tersebut, sehingga menimbulkan perubahan konsep. Pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru ini dengan skema yang telah dimiliki. Hal ini terjadi karena pengalaman baru itu sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada, pernyataan tersebut dapat disebut dengan akomodasi (Suparno: 2000). 2. Fungsi Ekonomi Fungsi ekonomi dalam keluarga memiliki salah satu fungsi yang penting. Segala kebutuhan dalam keluarga dapat terpenuhi karena adanya pemasukan ekonomi. Pada fungsi ekonomi ini peneliti bertanya kepada subjek

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 mengenai bagaimana ketika mereka diberi uang jajan dan barang seperti pakaian oleh keluarganya. John saat ditanya menegenai hal tersebut merasakan kesenangan, artinya John merasa bahwa dirinya masih diperhatikan oleh keluarganya walapun keluarga intinya telah tiada. Peneliti: Bagaimana menurutmu ketika kamu dibelikan baju baru? John: ”dulu tuh pernah mbak di beliin budhe baju.. soalnya mereka tuh sayang terus perhatian sama aku mbak. (W/S1/ALAS-PART/063-067) Peneliti: Bagaimana pendapatmu ketika kamu diberi uang jajan? John: “ aku suka dikasih uang buat jajan sama budhe, tante, sama keluargaku yang lainnya juga mbak.. ya karena itu tadi mbak mereka sayang dan perhatian sama aku.. (W/S1/ALAS-PART/068-073) Karyawan 1: “ John memang sering saya beri uang jajan karena saya kasihan kalau liat John ga jajan, kadang John suka ngomong ke saya kalau laper apalagi habis pulang sekolah. Tapi kadang-kadang uang jajan John habis buat menraktir teman-temannya dan John memang sering nabung tapi kalau pas balik ke Semarang dia lagi-lagi menraktir teman-temannya di rumah dan menraktir adik dan kakaknya.” (W/T/PERS-PART/026-032) Konsep John mengenai fungsi ekonomi keluarga didapat dari pengalaman John saat dahulu pernah diberi uang saku dan dibelikan baju oleh budhe dan tantenya. Kedua hal tersebut menimbulkan perasaan senang pada diri John, sehingga John memiliki pikiran bahwa keluarganya sayang dan memberi perhatian padanya. John mampu menyebutkan persamaan yaitu merasa senang, berpikir bahwa dirinya disayang dan diperhatikan keluarganya, dari contoh saat dibelikan baju dan diberi uang jajan, dari objek yang sama yaitu fungsi ekonomi, sehingga konsep John mengenai fungsi

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 ekonomi pada tahap tingkat kualifikasi. Tingkat kualifikasi merupakan tingkat seseorang mengenal perasaan dari sua contoh yang berbeda dati objek yang sama (Dahar: 2011). Jawaban Ino saat ditanya dengan pertanyaan yang sama. Ino menjawab bahwa dirinya senang jika diberikan uang dan pakaian oleh keluarganya. Artinya Ino sangat senang jika Ino diberi uang dan pakaian oleh keluarga terutama keluarga intinya, walaupun sampai saat ini Ino memang tidak pernah mendapatkannya. Berikut kutipan wawancara dengan Ino. Ino: “Aku ndak pernah dibeliin baju kok mbak.. tapi kalau aku dibeliin baju ya mesti seneng mbak.. kayak disayang mbak aku jadinya..” (W/S2/PERS-PART/040-044) Ino: “Aku juga ndak pernah di kasih uang jajan.. ya kalau sama bruder tuh kadang-kadang kalau pas ada acara dari sekolah wisata keluar itu mbak.. aku sih seneng-seneng aja mbak kalau di kasih..” (W/S2/PERS-PART/045-050) Konsep Ino terhadap fungsi ekonomi keluarga,memang kurang ia rasakan secara nyata, tetapi saat Ino ditanya pendapatnya saat dibelikan baju dan diberi uang jajan, Ino menjawab senang dan berpikir dirinya disayang oleh keluarga saat ditanya mengenai dibelikan baju oleh keluarganya, tapi saat ditanya jika dirinya diberikan uang jajan Ino hanya menjawab senang. Konsep yang dimiliki Ino saat dibelikan baju dan diberi uang jajan tidak dapat dijelaskan secara rinci, karena pengalaman Ino yang selama ini tidak pernah dibelikan pakaian dan diberi uang jajan oleh keluarganya tapi Ino mampu menjelaskan bagaimana perasaan dan pikirannya kalau dirinya dibelikan baju

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 dan diberi uang jajan. Konsep yang dimiliki Ino terdapat pencapain tingkat konkret, dimana seseorang dapat mengenal dan menjelaskan suatu objek yang dihadapinya (Dahar: 2011). 3. Fungsi Sosialisai Sosialisasi dalam keluarga memiliki peran yang memberikan sebuah hubungan yang positif atau pun negatif. Seseorang tanpa bersosialisasi tidak dapat menjalin relasi termasuk relasi dengan keluarga. Pertanyaan yang diutarakan oleh kedua subjek mengenai kebiasaan yang dilakukan saat di rumah dan mengenai konsep subjek menegani tugas rumah yang dengan cara diperingatkan oleh orang tua. Kedua subjek menjawab bahwa kebiasaan mereka saat dirumah kurang dilandasi kesadaran dalam diri dan mereka lebih sering memilih untuk bermain daripada membantu kedua orang tua mereka. Artinya mereka tidak berinisiatif dalam membantu orang tua mereka. Berikut kutipan wawancara dengan kedua subjek. Peneliti: Bagaimana pendapatmu tentang kebiasaanmu yang dilakukan saat di rumah? John: “Aku kalau di rumah ya cuma main, nonton tv, kadang bantu orang tua, kadang ya bantu budhe juga mbak, tapi semua kadangkadang mbak. Hehehehe...” (W/S1/PERS-PART/074-078) Peneliti: Bagaimana menurutmu jika tugas rumah dilaksanakan dengan cara diperingatkan oleh orang tua dahulu? John: “aku sih seringnya di suruh mbak, kadang suka malas mbak soalnya.” (W/S1/PERS-PART/079-083)

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Ino: “ya bantu-bantu bersih-bersih mbak..(W/S2/PERS-PART/051053)” Ino: “seringnya di suruh mbak..” (W/S2/PERS-PART/054-057) Subjek pertama yaitu John, memiliki konsep terhadap sosialisai sesuai dengan apa yang menjadi pengalamannya dahulu dan sekarang. Saat John dahulu tinggal bersama orang tuanya dan sekarang saat John pergi ke Semarang tepatnya di rumah budhenya. Perilaku malas membantu tugas rumah dan kebiasaan John yang hanya main, menonton tv saat dirumah samasama John tunjukan, baik dahulu saat John saat bersama dengan orang tuanya atau pun sekarang ini bersama dengan budhenya, karena tidak ada kesadaran dalam diri John. Konsep sosialisasi yang dimiliki John merupakan tingkat klasifikasi yaitu tingkat seseorang dapat menyebutkan persamaan dari contoh yang berbeda dari objek yang sama (Dahar: 2011). John dapat menyebutkan perasamaan perasaan dan kegiatan yang sama saat dahulu tinggal dengan orang tuanya ataupun sekarang saat tinggal dengan budhenya. Sedangkan subjek kedua yang bernama Ino memiliki konsep tentang fungsi sosialisai saat dirumah ialah dengan membantu bersih-bersih dan disuruh saat melaksanakan tugas rumah. Jawaban yang diutarakan Ino tersebut berdasarkan pengalaman Ino saat di panti saja karena selama ini Ino tidak pernah pulang ke rumah atau ke yayasan saat dulu Ino dititipkan. Berikut kutipan wawancara dengan salah satu karyawan panti. Peneliti: “Mas.. Si Ino kae kie ra tau balik omah pa?”

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 (“Mas, Si Ino itu tidak pernah pulang kerumah pa?”) Karyawan 2: “Ra tau lah.. arep balik ndi wong ra nduwe omah ket awal kan ya mung dititipne..” (W/K/PERS-PART/001-003) (“Ya gak pernah lah.. mau pulang kemana kan dari awal ga punya rumah, cuma dititpin..) Ino dapat menjelaskan fungsi sosialiasi dengan menjelaskan tugas-tugas saat dirumah tetapi Ino tidak dapat menggambarkan secara nyata bagaimana tugas tersebut dilaksankan dan saat orang tuanya menyuruhnya untuk melaksanakan tugas rumah tersebut, karena konsep Ino hanya dimiliki saat Ino di panti saja. Pemahaman konsep Ino tehadap fungsi sosialisasi berada pada tingkat konkret karena Ino hanya dapat menjelaskan saja. Tingkat konkret dapat dicapai bila seseorang dapat menjelaskan dan mengenal suatu objek yang telah dihadapinya. 4. Fungsi Perawatan Kesehatan Keluarga memiliki fungsi sebagai pencegahan dan perawatan kesehatan dalam keluarga. Keluarga bertanggung jawab atas kesehatan fisik maupun psikis setiap anggota keluarga. Saat kedua subjek ditanya mengenai kesehatan keluarga dan ketika dirinya sedang dirawat oleh keluarga. Kedua subjek memiliki kepedulian terhadap perawatan kesehatan keluarga mereka karena bagi mereka kesehatan keluarga merupakan hal yang terpenting dan ketika mereka sakit dirawat oleh keluarganya mereka merasakan adanya perhatian dari keluarga , sehingga mereka merasakan kenyaman dari keluarga.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Berikut kutipan wawancara mengenai fungsi perawatan keluarga dengan kedua subjek. Peneliti:”Bagaimana menurutmu John ketika melihat salah satu anggota keluargamu sakit?” John: “Sedih, karena mereka harus merasakan sakit mbak.. ya mungkin aku cuma bisa doain..” (W/S1/PERS-PART/084-087) Peneliti: Kalau pas kamu sakit terus kamu di rawat kedua orang tuamu, bagaimana menurutmu?” John: “Seneng mbak soalnya mereka sayang aku, njaga aku, ngrawat aku.. (W/S1/PERS-PART/088-091) Peneliti: Ino.. mbak mau tanya kalau ada salah satu anggota keluargamu yang sakit, bagaimana menurutmu? Ino: “ya.. Sedih mbak kalau keluarga sakit soalnya butuh biaya banyak.. aku sih cuma doain aja..” (W/S2/PERS-PART/058-061) Peneliti:”Sekarang kalau Ino yang sakit terus dirawat sama kedua orang tuamu, bagaimana menurutmu?” Ino: “Seneng mbak.. soalnya dirawat sama dijaga..” (W/S2/PERSPART/062-064) Sesuai dengan kutipan wawancara yang ada di atas bahwa kedua subjek memiliki konsep yang sama yaitu sama-sama memiliki tanggung jawab dengan cara mendoakan, saat ada anggota keluarga sedang tidak sehat. Kedua subjek juga sama-sama merasakan kesedihan saat salah satu anggota keluarganya sedang sakit dan jika kedua subjek yang sedang merasakan sakit kedua subjek juga merasa senang saat dirawat oleh keluarganya, sehingga mereka berpikir bahwa mereka disayang, dijaga, dan dirawat oleh orang tuanya. Konsep yang dimiliki kedua subjek sama-sama dapat mereka jelaskan

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 sesuai dengan fungsi perawatan kesehatan pada keluarga, maka konsep yang dimiliki kedua subjek termasuk pada tingkat konkret. Tingkat konkret ialah tingkat pencapaian konsep seseorang dengan menjelaskan dan mengenal objek yang dihadapinya (Dahar: 2011). 5. Fungsi Afektif Kelekatan, kebahagian, dan keritakan menjadi salah satu bagian dari fungsi dari keluarga. Adanya fungsi tersebut dapat melihat keadaan keluarga tersebut. Hal ini dapat menjadi sebuah kekuatan dalam keluarga. Pertanyaan yang diberikan kedua subjek berkaitan dengan kelekatan kedua subjek dengan kedua orang tuanya dan dengan kakak atau adiknya. John saat ditanya menjawab bahwa dirinya sangat senang saat berada dengan keluarganya, John meraskan kenyaman dengan mereka sehingga John senang ketika ada kehadiran mereka. Berikut kutiapan wawancara dengan John. Peneliti:” John, mbak mau tanya, bagaimana menurutmu ketika kamu berada dekat ibumu?” John: “ya mestinya nyaman mbak ketika sama ibu.. apalagi dulu pas dipeluk sama ibu..” (W/S1/PERS-PART/092-095) Peneliti:”Kalau menurutmu?” berada dekat dengan ayahmu, bagaimana John: “Nyaman juga mbak.. walaupun aku cuma sebentar ketemu bapak tapi aku paling inget ketika aku jatuh di gendong sama bapak terus di bawa ke rumah sakit, aku seneng mbak..” (W/S1/PERSPART/096-101) Peneliti:”Nah.. kalau lagi berada dekat kakak dan adikmu menurutmu gimana?”

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 John: “Ya nyaman juga mbak.. apalagi pas aku main sama jajan bareng mereka.. (W/S1/PERS-PART/102-105) Berdasarkan wawancara yang telah dilaksanakan dengan John. Konsep John terhadap kelekatan dan kebahagian dengan keluarganya berdasarkan pengalaman masa lalu John yang pada saat dahulu pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Saat ditanya mengenai keberadaan ayah, ibu, kakak, dan adiknya, John merasakan kenyaman. John juga dapat memberikan contoh pengalaman menyenangkan yang John rasakan saat keberadaan dengan ayah,ibu, kakak, dan adiknya. Konsep yang dimiliki John merupakan tingkat klasifikasi karena John mampu memberikan contoh terhadap objeknya serta mampu mengidentifikasi kesamaan perasaan saat berada didekat ayah,ibu, kakak, dan adiknya. Tingkat klasifikasi didapat saat seseorang dapat menyebutkan persamaan dua contoh yang berbeda dan dari objek yang sama serta mampu mengklasifikasikan contoh dari objek tersebut (Dahar: 2011). Pengalaman Ino saat ditanya mengeani kelekatan dengan keluarga. Ino menjawab bahwa Ino tidak pernah merasakan hal tersebut, walaupun Ino tidak pernah mengalami hal tersebut Ino tetap mencintai kedua orang tuanya dan kakak serta adiknya. Artinya ini tetap menyayangi keluarganya walaupun Ino sendiri tidak pernah merasakan kehadiran mereka sejak Ino masih kecil hingga saat ini. Berikut kutipan wawancara dengan Ino.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Ino:”aku ndak pernah ketemu sama ibu mbak tapi besok kalau aku dah gede pengen nyari ibu tapi kalau dah ketemu ibu ga akan aku nyusahin ibu pengen bahagiain ibu..” (W/S2/PERS-PART/065-070) Ino: “Aku juga ndak pernah ketemu bapak mbak.. tapi aku juga pengen ketemu, kalau dah ketemu aku juga gak mau nyusahin bapak kok mbak..” (W/S2/PERS-PART/071-075) Ino: “Seneng.. kalau bisa main sama mereka..” (W/S2/PERSPART/076-078) Ino memiliki Konsep kelekatan dan kenyaman Ino terhadap keluarga kurang terdriskripsikan secara jelas dan kurang terlihat bagaimana perasaan Ino terhadap keluarganya. Karena Ino sudah sejak kecil tidak pernah melihat keluarga kandungnya sendiri. Padahal menurut Klausmeier (dalam Dahar, 2011), tingkat pemahaman konsep dibagi menjadi empat kriteria, yaitu: tingkat konkret, tingkat identitas, tingkat klasifikasi, tingkat formal. Tingkat konkret dicapai apabila orang dapat menjelaskan benda tersebut dengan memperlihatkan benda dan dapat membedakan benda-benda dari stimulusstimulus yang ada dilingkungannya. Tingkat identitas ini, seseorang akan mengenal objek sesudah selang waktu, bila orang tersebut mempunyai orientasi ruang yang berbeda dengan objek itu, bila objek itu ditentukan melalui suatu cara indra yang berbeda. Tingkat klasifikasi telah dicapai apabila mengenal persamaan dari dua contoh yang berbeda dari kelas yang sama. Tingkat formal telah dicapai apabila dapat menentukan atribut-atribut yang membatasi konsep.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini dipaparkan kesimpulan dan saran. Bagian kesimpulan memaparkan keseluruhan hasil penelitian. Bagian saran memuat masukan bagi peneliti lain supaya dapat melakukan penelitian yang jauh lebih baik dari penelitian ini. A. Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini ialah, remaja yatim piatu memiliki konsep tentang keluarga. Konsep tersebut, dimiliki oleh remaja berdasarkan pengalaman dan kejadian-kejadian yang berkesan pada masa sebelumnya yang dialami oleh masing-masing pribadi. Pengalaman tersebut memiliki pengaruh yang besar terhadap konsep kedua subjek tentang keluarga. Pada hasil penelitian yang dilaksanakan dengan kedua subjek dan pembahasan yang telah di paparkan. Subjek pertama yang dahulu pernah merasakan tinggal dengan kedua orang tuanya dapat menjelaskan, menggambarkan, memberi contoh, dan mengetahui persamaan dari konsep tentang keluarga. Subjek kedua yang tidak pernah merasakan kehadiran kedua orang tuanya hanya dapat menjelaskan dan menggambarkan konsep tentang keluarga bahkan ada satu konsep yang tergantikan karena perolehan hasil belajarnya. Walaupun dengan masa lalunya kedua subjek yang pernah 61

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 merasakan kehadiran orang tua atau belum pernah sama sekali merasakan, mereka tetap sama-sama menyayangi orang tuanya, dan memiliki sebuah citacita untuk selalu membuat bangga kedua orang tuanya. B. Saran Berikut ini dikemukakan saran bagi peneliti lain agar memperoleh hasil penelitian yang lebih baik: 1. Membangun hubungan dengan baik dan relasi yang dekat agar subjek merasa nyaman dengan peneliti. 2. Menunjukkan penerimaan yang baik melalui komunikasi non-verbal atas setiap pernyataan yang diutarakan subjek. 3. Memiliki sikap empati terhadap setiap peristiwa yang dimaknai oleh subjek. 4. Peneliti harus membuat pertanyaan terlebih dahulu dan membuat agenda pertemuan secara rutin. Tentunya berdasarkan kesepakatan antara peneliti dengan subjek. 5. Peneliti harus memiliki kesiapan hati, waktu, dan tenaga untuk melakukan penelitian terutama dalam mencari informasi dari sumber-sumber yang telah ditentukan. 6. Memiliki kreatifitas dalam menghadapi hambatan-hambatan yang ada, atau situasi yang terjadi di luar perkiraan peneliti. 7. Lebih terbuka terhadap semua informasi.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Ahmad, A. 1991. Psikologi Sosial. Jakarta: PT Rineka Cipta. Ahmad, R. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Baron, R. A. & Dohn Byne. 2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Penerbit Erlangga. Budiono. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Srikandi. Dagun, S. M. 1990. Psikologi Keluarga: Peran Ayah dalam Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta Dahar, R. W. 2011. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga. Emzir. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif & Kuantitatif. Jakarta: Rajawali Pers. Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga. Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Edisi Kedua). (1995). Jakarta: Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Edisi Keempat). (2011). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Kertamuda, F. E. 2009. Konseling Pernikahan untuk Keluarga Indonesia. Jakarta: Salemba Humanika. Mappiare. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional. Marilyn. M. F. (1998), Keperawatan Keluarga Teori dan Praktek, Edisi 3, Jakarta, EGC. Moleong, L. J. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Rosda. Poerwarwadarminta, W.J.S. 2011. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Putra, N. 2011. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Indeks. Santrock, J. W. 2002. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup (edisi kelima: jilid II). Jakarta: Penerbit Erlangga. Santrock, J. W. 2011. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup (edisi ketiga belas: jilid I). Jakarta: Penerbit Erlangga. Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alpabeta. 63

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Suharman. 2005. Psikologi Kognitif (Edisi Revisi). Surabaya: Srikandi. Suparno, P. 2000. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. Syparlan, Y. B dkk. 1990. Kamus Istilah Kependudukan dan KB. Jakarta: Kanisius Spradley, J. P. 2007. Metode Etnografi. (Terjemahan Misbah Zulfa Elizabeth). Yogyakarta: Tiara Wacana. (Buku asli diterbitkan tahun 1997) Tohirin. 2012. Metode Penelitian Kualitatif dalam Pendidikan dan Bimbingan Konseling. Jakarta: Rajawali Pers. Willis, S. S. 1981. Problema Remaja dan Pemecahannya. Bandung: Angkasa. 64

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Informan: John (nama samaran) S1 67 Tanggal: 6 Juni 2014 Peneliti: Aneke Tempat: Ruang doa NOMOR URUT DATA TEKS 001 Apa yang kamu ketahui tentang keluarga? 002 Keluarga itu merupakan anugrah yang 003 diberikan oleh Tuhan pada kita, untuk 004 mengasuh dan merawat anak-anaknya 005 supaya bisa menjadi orang yang dapat dipercaya (PERS-PART). Nama: Ino (nama samaran) S2 Tanggal: 6 Juni 2014 Peneliti: Aneke Tempat: Ruang Doa NOMOR URUT DATA TEKS 001 Apa yang kamu ketahui tentang keluarga? 002 Kebersamaan mbak. Kumpul bareng. Ya 003 kalau pas doa sama pas makan mbak buat 004 suasana jadi nyaman (nada suara terbatabata, padangan kemana-mana) (PERSPART).

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Informan: Karyawan (nama samaran) T 68 Tanggal: 11 Juni 2014 Peneliti: Aneke Tempat: Ruang Administrasi NOMOR URUT DATA TEKS 014 Kalau menurut Ibu, John sendiri anak yang 015 kaya apa bu? 016 “Yang jelas saya bangga banget sama 017 John.. dia dewasa banget.. mau prihatin 018 dengan keadaanya dia gak pernah nuntut 019 apa-apa dan dia juga untungnya nurut sama saya mbak..”(PERS-PART).

(86)

Dokumen baru

Download (85 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
26
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi
0
0
147
SEBAGAI SUATU STUDI KASUS Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan Konseling
0
0
93
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
224
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
114
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi
0
0
217
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi
0
0
190
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Prog ram Studi Bimbingan dan Konseling
0
0
104
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Program Studi Pendidikan Fisika
0
0
90
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Bimbingan dan Konseling Program Studi Bimbingan dan Konseling
0
0
88
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi
0
0
130
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
148
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
135
Show more