Pengaruh lama dan suhu sterilisasi panas basah terhadap viskositas dan daya sebar sediaan emulgel anti-acne ekstrak kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) - USD Repository

Gratis

0
0
94
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH LAMA DAN SUHU STERILISASI PANAS BASAH TERHADAP VISKOSITAS DAN DAYA SEBAR SEDIAAN EMULGEL ANTI-ACNE EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi Oleh: Rosiana Cahyono NIM: 108114179 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH LAMA DAN SUHU STERILISASI PANAS BASAH TERHADAP VISKOSITAS DAN DAYA SEBAR SEDIAAN EMULGEL ANTI-ACNE EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi Oleh: Rosiana Cahyono NIM: 108114179 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN “The trouble is, you think you have time” –Buddha“If you have the motivation, I don’t think anything in this world is impossible. First, you have to start moving. If you move, something will start” –Kaito Kid, Kamen Rider Diend- “If I wish for it, fate will always be my ally” -Tendou Souji, Kamen Rider Kabuto- Karya kecilku ini kupersembahkan untuk : Papa, Mama, Mak Ricardo Kenny Chandra, S.Farm Bapak/Ibu dosen dan staff pengajar Fakultas Farmasi USD Sahabat-sahabatku tersayang Serta Almamaterku iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya yang diberikan sehingga penyusunan skripsi yang berjudul “PENGARUH LAMA DAN SUHU STERILISASI PANAS BASAH TERHADAP VISKOSITAS DAN DAYA SEBAR SEDIAAN EMULGEL ANTI-ACNE EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.)” dapat dilaksanakan dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) di Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Papa, Mama dan Mak tercinta yang selalu memberi doa, dukungan dan semangat kepada penulis selama proses penyusunan skripsi. 2. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. 3. C.M. Ratna Rini Nastiti, M.Pharm., Apt., selaku Ketua Program Studi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 4. Dr. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, masukan, pengarahan serta motivasi dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. C.M. Ratna Rini Nastiti, M.Pharm., Apt. sebagai dosen penguji yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun selama proses pembuatan skripsi. 6. Melania Perwitasari, M.Sc., Apt. sebagai dosen penguji yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun selama proses pembuatan skripsi. 7. Enade Perdana Istyastono, Ph.D., Apt., yang telah memberikan masukan dan saran kepada penulis. 8. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. 9. Mas Agung, Pak Musrifin, Pak Mukminin, Mas Bimo dan seluruh laboran serta Mas Darto yang telah membantu peneliti pada proses pelaksanaan penelitian di laboratorium. 10. Kristin Yunita dan Vivian, teman seperjuangan yang saling memberi dukungan serta motivasi dalam menyelesaikan penelitan dan penyusunan skripsi. 11. Ricardo Kenny Chandra, S.Farm., atas dukungan, semangat, doa, kesabaran dan masukan yang selalu diberikan kepada penulis selama proses penelitian dan penyusunan skripsi. 12. Sahabatku Anggun, Stien, Neno, Nover, Kezia atas kebersamaanya selama ini. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13. Teman-teman FST B 2010 atas kebersamaan, canda tawa, dan pengalaman berharganya untuk penulis selama menjalani kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. 14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu dalam proses penyusunan skripsi ini. Akhir kata, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini mengingat keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis.Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak.Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Penulis Rosiana Cahyono ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ……………………………………………………… i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………………………… ii HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………….. iii HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………………... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA …………………………………... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ……………………….. vi PRAKATA ……………………………………………………………….... vii DAFTAR ISI ………………………………………………………………. x DAFTAR TABEL …………………………………………………………. xiii DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………… xiv DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………. xv INTISARI ………………………………………………………………..... xvi ABSTRACT ……………………………………………………………….. xvii BAB I. PENGANTAR …………………………………………………….. 1 A. Latar Belakang …………………………………………………….. 1 1. Permasalahan ……………………………………................... 3 2. Keaslian Penelitian ………………………………………….. 3 3. Manfaat Penelitian …………………………………………... 4 B. Tujuan Penelitian ………………………………………………….. 4 1. Tujuan Umum ………………………………………………... 4 x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Tujuan Khusus ………………………………………………... 5 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA …………………………………….. 6 A. Jerawat …………………………………………………………….. 6 B. Manggis …………………………………………………………… 7 C. Emulgel ……………………………………………………………. 8 D. Bahan Formulasi …………………………………………………... 9 E. Sterilisasi …………………………………………………………... 13 F. Uji Sifat Fisis ……………………………………………………… 14 G. Landasan Teori ……………………………………………………. 15 H. Hipotesis …………………………………………………………... 16 BAB III. METODE PENELITIAN ……………………………………….. 17 A. Jenis dan Rancangan Penelitian …………………………………… 17 B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ……………………... 17 1. Variabel penelitian …………………………………………….. 17 2. Definisi operasional …………………………………………… 17 C. Alat Penelitian ……………………………………………………... 18 D. Bahan ……………………………………………………………… 19 E. Tata Cara Penelitian ……………………………………………….. 19 1. Verifikasi ekstrak kulit manggis dan bakteri Staphylococcus epidermidis……………………………………………………………. 19 2. Formula ………………………………………………………... 19 3. Pembuatan emulgel ……………………………………………. 20 4. Uji sterilitas ……………………………………………………. 22 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Evaluasi sediaan emulgel …………………………………….... 23 F. Analisis Hasil ……………………………………………………… 24 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………………. 25 A. Identifikasi dan Verifikasi Kulit Manggis ………………………... 25 B. Pembuatan Emulgel Ekstrak Kulit Manggis ………………………. 26 C. Uji pH ……………………………………………………………... 32 D. Sterilisasi Emulgel Ekstrak Kulit Manggis ….…………………….. 32 E. Uji Sterilitas Emulgel Ekstrak Kulit Manggis ..…………………… 34 F. Uji Sifat Fisis Emulgel Ekstrak Kulit Manggis …………………… 37 1. Pengamatan Warna Emulgel …………………………………... 38 2. Uji Viskositas dan Daya Sebar ………………………………... 39 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………….. 44 A. Kesimpulan ………………………………………………………... 44 B. Saran ………………………………………………………………. 44 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………... 45 LAMPIRAN ……………………………………………………………….. 47 BIOGRAFI PENULIS …………………………………………………….. xii 76

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Formula emulgel acuan ……………………………………... 20 Tabel II. Formula emulgel yang telah dimodifikasi (100 g emulgel) … 20 Tabel III. Variasi suhu dan lama sterilisasi pada metode sterilisasi panas basah ………………………………………………….. 22 Tabel IV. Hasil zona hambat orientasi konsentrasi ekstrak kulit buah manggis ……………………………………………………... Tabel V. 29 Klasifikasi aktivitasi antibakteri berdasarkan diameter zona hambat ………………………………………………………. 29 Tabel VI. Hasil uji sterilisasi emulgel ekstrak kulit manggis ………….. 37 Tabel VII. Nilai viskositas emulgel anti-acne ekstrak kulit manggis …... Tabel VIII. Nilai daya sebar emulgel anti-acne ekstrak kulit manggis ….. 42 xiii 41

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Struktur alfa mangostin ……………………………………... 7 Gambar 2. Hasil identifikasi KLT ekstrak kulit manggis……………….. 26 Gambar 3. Hasil uji pH emulgel ektrak kulit manggis …………………. 32 Gambar 4. Hasil uji sterilisasi emulgel ekstrak kulit manggis ………….. 36 Gambar 5. Sediaan emulgel sebelum proses sterilisasi ………………… Gambar 6. Sediaan emulgel setelah mengalami proses sterilisasi ……… 39 xiv 38

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Certificate of analysis dry extract …………………………… 48 Lampiran 2. Material safety data sheet mangosteen PE ………………… 49 Lampiran 3. Hasil orientasi konsentrasi ekstrak kulit manggis pada emulgel …………………………………………………… 51 Lampiran 4. Penampakan emulgel anti-acne ekstrak kulit manggis sebelum dan sesudah sterilisasi …………………………... 52 Lampiran 5. Penampakan emulgel anti-acne ekstrak kulit manggis yang dioles pada kulit ……………………………………. 59 Lampiran 6. Hasil uji sterilitas emulgel anti-acne ekstrak kulit manggis 60 Lampiran 7. Hasil analisis statistik data viskositas dan daya sebar emulgel anti-acne ekstrak kulit manggis menggunakan R . xv 65

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Emulgel ekstrak kulit manggis merupakan suatu sediaan yang dapat digunakan sebagai obat jerawat. Sediaan yang digunakan untuk mengobati jerawat harus terjamin sterilitasnya karena jerawat dapat dikategorikan sebagai luka terbuka. Proses sterilisasi yang yang melibatkan panas seperti proses sterilisasi panas basah dapat mempengaruhi sifat fisik sediaan emulgel dimana sifat fisik sediaan dapat mempengaruhi penerimaan pasien terhadap sediaan tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat pengaruh suhu dan lama sterilisasi panas basah terhadap viskositas dan daya sebar emulgel ekstrak kulit manggis. Emulgel ekstrak kulit manggis disterlisasi dengan variasi suhu dan lama sterilisasi tertentu dan selanjutnya diuji sterilitasnya. Nilai viskositas dan daya sebar emulgel diukur 48 jam setelah proses pembuatan dan 48 jam setelah proses sterilisasi. Data yang didapatkan dianalisis secara statistik menggunakan R 3.0.1 untuk melihat adanya pengaruh suhu dan lama sterilisasi panas basah terhadap viskositas dan daya sebar emulgel ekstrak kulit manggis. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan nilai viskositas dan daya sebar emulgel sebelum dan sesudah proses sterilisasi, namun pada saat sterilisasi tidak terdapat pengaruh suhu dan lama sterilisasi terhadap viskositas dan daya sebar emulgel ekstrak kulit manggis. Kata kunci : Emulgel, ekstrak kulit manggis, sterilisasi, daya sebar, viskositas xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Emulgel with mangosteen pericarp extract is a preaparation which could be used as anti acne. Anti-acne preparation should be sterlized to ensure their sterility because ance could be categorized as an open wound. Sterilization process which involve heat such as steam sterilization could affect physical properties of emulgel. Physical properties could affect aceptibility to the patient. The aim of this research was to examine the effect of temperature and duration of steam sterilization on the viscosity and spreadability of emulgel. Emulgel was sterlized with multiple sterilization temperature and duration then followed by sterility test. The value of viscosity and spreadability of emulgel measured 48 hours after preparation process and 48 hours after sterilization process. The acquired data then statically analyzed with R 3.0.1 to examine the effect of of temperature and duration of steam sterilization to viscosity and spreadabilty of emulgel. The result showed that there was a difference between the value of viscosity and spreadability before and after sterilization process, but there is no effect of temperature and duration during steam sterilization on the viscosity and spreadability of emulgel with mangosteen pericarp extract. Keywords : Emulgel, mangosteen pericarp extract, sterilization, spreadbility, viscosity xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. LATAR BELAKANG Wajah merupakan salah satu bagian tubuh yang penting dan membutuhkan perlindungan agar selalu tetap bersih. Tidak hanya bagi kaum wanita, kebersihan wajah bagi kamu pria juga penting adanya untuk menjaga penampilan. Salah satu penyakit kulit yang kerap ditemui dan dapat mengganggu penampilan wajah adalah jerawat. Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acnes telah dikenal sebagai bakteri penyebab utama terbentuknya jerawat. Bakteri tersebut memiliki kemampuan untuk mensintesis lipase. Lipase ini akan mendegradasi sebum trigliserida menjadi asam lemak bebas, yang mana hal ini akan memicu respon inflamasi (Sukatta, Rughtaworn, Pitpiangchan, Dilokkunanant, 2008). Oleh karena itu dibutuhkan anti-acne yang berguna untuk mengatasi jerawat sehingga penampilan wajah dapat selalu terjaga. Buah manggis dikenal sebagai buah dengan kandungan yang memiliki banyak manfaat. Buah yang sering dijuluki “Queen of Fruits” mengandung lebih dari 40 jenis senyawa xanthone dan paling banyak ditemukan pada kulit manggis (Subroto, 2008). Salah satu derivat xanthone yang paling banyak ditemukan pada kulit manggis adalah alfa mangostin yang memiliki aktifitas antimikroba untuk bakteri gram positif (Koh, Qiu, Zou, Lakshminarayanan, Li, Zhou, et al., 2012). Alfa mangostin sebagai derivat xanthone yang berperan utama dalam aktivitas antibakteri memiliki kelarutan yang rendah di air (Larson, Lorch, 1

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Pridgeon, Becnel, Clark, Lan, 2010). Oleh karena itu, ekstrak kulit manggis diformulasikan dalam emulsi tipe m/a yang ditambahkan dengan gelling agent sebagai peningkat stabilitas. Ketika sediaan emulsi dikombinasikan dengan gel akan membentuk suatu sediaan baru yang disebut dengan emulgel. Sediaan emulgel dapat meningkatkan acceptability pengguna karena memberikan sensasi dingin dan tidak meninggalkan kesan greasy saat penggunaannya (Singla, Saini, Joshi, Rana, 2012). Jerawat dapat dikategorikan sebagai luka terbuka, oleh karena itu sediaan yang digunakan untuk mengobati jerawat harus terjamin sterilitasnya (Benson and Watkinson, 2012). Salah satu teknik sterilisasi yang sering digunakan yaitu sterilisasi panas basah dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121o C selama 15 menit (Ansel, Popovich, 2009). Pada teknik sterilisasi terdapat suhu sterilisasi dan lama sterilisasi yang menjadi faktor kritis, karena suhu dan lama sterilisasi dapat mempengaruhi efektifitas dari alfa mangostin. Salah satu karakteristik alfa mangostin yang terkait dengan faktor kritis pada teknik sterilisasi yaitu melting point alfa mangostin antara 180-182o C (Ghazali et al., 2010). Tidak hanya itu, suhu dan lama sterilisasi dapat mempengaruhi sifat fisik sediaan yaitu viskositas dan daya sebar sediaan. Sterilisasi dengan panas dapat mempengaruhi reologi dari sediaan berpolimer seperti emulgel (Bindal, Narsimhan, Hem, Kulshreshtha, 2003).

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 1. Permasalahan Bagaimana pengaruh suhu dan lama sterilisasi metode panas basah terhadap viskositas dan daya sebar emulgel ekstrak kulit buah manggis? 2. Keaslian Penelitian Sejauh pengetahuan peneliti, penelitian mengenai “Pengaruh Lama dan Suhu Sterilisasi Panas Basah terhadap Viskositas dan Daya Sebar Sediaan Emulgel Antiacne Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)” belum pernah dilakukan. Terdapat penelitian terkait mengenai ekstrak kulit manggis sebagai anti acne yaitu Somantri (2012), “Formulasi sediaan gel ekstrak etanol kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan uji aktivitas terhadap bakteri penyebab jerawat”, pada penelitian tersebut dibuat tiga formula dengan variasi bahan pembentuk gel (carbomer dan HPMC) dan konsentrasi basis gel (carbomer dan HPMC). Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah formula kedua dengan basis carbomer 1% memiliki zona hambat luas terhadap Staphylococcus aureus yaitu 13 mm dan memiliki sifat fisik yang paling baik. Penelitian serupa lainnya yaitu oleh Sukatta et al., (2008), “Development of Mangosteen Anti-Acne Gel” mengenai optimasi formula gel anti-acne dengan ekstrak mangostin menggunakan desain faktorial. Hasil dari penelitian tersebut adalah gel dengan konsentrasi carbopol ultrez 10 0,5 % dan ekstrak kulit manggis 0,5 % memiliki zona hambat yang paling besar dalam

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 menghambat bakteri penyebab jerawat. Zona hambat yang dihasilkan pada Staphylococcus epidermidis adalah 10 mm. 3. Manfaat Penelitian a. Manfaat teoretis Hasil penelitian diharapkan memberikan informasi ilmiah mengenai pengaruh suhu dan lama sterilisasi metode panas basah terhadap viskositas dan daya sebar emulgel ekstrak kulit buah manggis. b. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam proses sterilasi emulgel ekstrak kulit buah manggis. c. Manfaat metodologis Diharapkan pada penelitian ini didapatkan hasil sediaan emulgel ekstrak kulit manggis yang steril, dapat memenuhi persyaratan viskositas dan daya sebar yang dapat diterima oleh konsumen. B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama sterilisasi metode panas basah terhadap viskositas dan daya sebar emulgel ekstrak kulit buah manggis.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh suhu dan lama sterilisasi metode panas basah terhadap viskositas dan daya sebar emulgel ekstrak kulit buah manggis.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Jerawat Jerawat adalah kondisi abnormal kulit akibat gangguan berlebihan produksi kelenjar minyak (sebaceous gland) yang menyebabkan penyumbatan saluran folikel rambut dan pori-pori kulit. Peradangan pada kulit terjadi jika kelenjar minyak memproduksi minyak kulit (sebum) secara berlebihan sehingga terjadi penyumbatan pada saluran kelenjar minyak (Harmanto, 2006) Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis telah dikenal sebagai bakteri penyebab utama tumbuhnya jerawat. Tidak hanya kedua bakteri tersebut, Staphylococcus aureus juga memiliki kemampuan untuk mensintesis lipase yang mendegradasi sebum trigliserida menjadi asam lemak bebas dimana kondisi tersebut akan memicu respon inflamasi (Sukatta et al., 2008). Staphylococcus epidermidis adalah bakteri aerob dan bersifat gram positif dan umumnya berada pada kulit. Sedangkan propionibacterium acnes adalah bakteri anaerob yang bersifat gram positif. Bakteri ini berada pada kelenjar sebaseus pada kulit dan memproduksi asam lemak bebas diantara kelenjar sebaseus yang mana dapat menyebabkan terjadinya iritasi pada dinding follicular dan menginduksi terjadinya inflamasi yang mengarah pada infeksi kutan (Schaechter, 2009). 6

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 B. Manggis Buah manggis mengandung senyawa aktif seperti vitamin, katekin (antioksidan) dan polisakarida. Selain itu, buah manggis juga mengandung xanthone yang telah terbukti secara ilmiah memiliki beragam manfaat. Khasiat xanthone antara lain sebagai anti-aging, antioksidan, cardio-protective, mencegah osteoporosis, antijamur, antivirus dan anti bakteri. Dalam buah manggis terdapat 40 xanthone yang beberapa diantaranya adalah alfa mangostin, gamma mangostin, beta mangostin dan garcinone E. Senyawa aktif xanthone dapat ditemukan di seluruh bagian buah manggis dimana kandungan tertinggi berada dalam kulitnya (pericarp) (Subroto, 2008). Alfa mangostin memiliki warna kuning dengan melting point 180-182o C (Ghazali et al., 2010). Alfa mangostin merupakan salah satu komponen utama pada xanthone. Pada beberapa penelitian ditunjukkan bahwa alfa mangostin memiliki aktivitas anti bakteri paling besar dibandingkan dengan beta mangostin, garcinone, mangostanol dan gartinin (Kaomongkolgit, Jamdee, Chaisomboon, 2009). Gambar 1. Struktur alfa mangostin

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 Menurut Potihirat, Chomnawang, Gritsanapan (2008), ekstrak etanol kulit manggis dengan kadar alfa mangostin sebesar 18,03% b/b memiliki KHM dan KBM sebesar 7,81 µg/ml dan 62,50 µg/ml untuk S. epidermidis. Sedangkan KHM dan KBM untuk P. acnes adalah 7,81 µg/ml dan 15,63 µg/ml. C. Emulgel Sediaan emulsi dapat berupa campuran air dan minyak dengan sistem minyak dalam air maupun air dalam minyak. Emulsi dengan sistem minyak dalam air digunakan untuk menjebak obat yang bersifat lipofil, dimana obat yang bersifat hidrofil akan terjebak dalam emulsi sistem air dalam minyak. (Singla et al., 2012). Gel merupakan sediaan yang terbentuk dari cairan yang tidak dapat bergerak karena adanya tegangan permukaan antara cairan tersebut dengan jaringan yang terbentuk oleh gelling agent. Gel memiliki kelebihan dapat melepaskan obat lebih cepat daripada salep dan krim, tidak lengket, mudah dicuci, larut dalam air, akan tetapi gel tidak dapat bercampur dengan obat yang bersifat hidrofob (Chirag, Tyagi, Gupta, Sharma, Prajapati, Potdar, 2013). Keterbatasan sediaan gel dapat diatasi dengan menggabungkan sediaan gel dengan emulsi. Dengan menggabungkan sediaan emulsi dan gel maka terbentuk sediaan emulgel yang memiliki kelebihan-kelebihan antara lain, dapat bercampur dengan obat yang bersifat hidrofob, memiliki stabilitas yang lebih baik dibandingkan dengan serbuk, krim dan salep, tidak lengket, mudah dibersihkan dan mudah diaplikasikan (Chirag et al., 2013).

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 D. Bahan Formulasi 1. Emulsifying agent Emulsifying agent merupakan surfaktan yang dapat mengurangi tegangan permukaan antara minyak dan air, sehingga energi permukaan dapat berkurang melalui pembentukan droplet. Setiap surfaktan memiliki nilai HLB yang berbeda-beda. Surfaktan dengan nilai HLB tinggi digunakan untuk meningkatkan kelarutan minyak pada medium air. Bagian lipofil dari surfaktan akan menjebak minyak ke dalam bagian lipofil dari misel. Sedangkan bagian hidrofil dari surfaktan akan mengelilingi droplet minyak (Allen,2002). Surfaktan yang dikombinasikan dengan surfaktan lain dapat menghasilkan emulsi yang lebih stabil daripada emulsi dengan surfaktan tunggal. Kombinasi surfaktan membutuhkan rasio dan proporsi yang tepat sehingga didapatkan nilai HLB yang sesuai (Allen, 2002). a. Polyoxyethylene Sorbitan Fatty Acid Ester (Tween 20) Tween 20 merupakan surfaktan non ionik yang banyak digunakan sebagai emulsifying agent pada preparasi emulsi minyak dalam air. Tween 20 yang dikombinasikan dengan emulsifying agent lain digunakan pada konsentrasi antara 1-10%. Tween 20 memiliki bau yang khas dan pada suhu 25o C memiliki warna kuning. Nilai HLB dari tween 20 adalah 16,7 (Rowe, Sheskey, Quinn, 2009).

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 b. Sorbitan Esters (Span 20) Tween 20 merupakan surfaktan non ionik yang umumnya digunakan sebagai emulsifying agent pada preparasi krim, emulsi dan salep untuk sediaan topikal. Span biasanya dikombinasikan dengan tween menggunakan perbandingan tertentu untuk menghasilkan emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Konsentrasi span yang digunakan sebagai emulsifying agent pada emulsi minyak dalam air ketika dikombinasikan dengan emulsifying agent lain yaitu 1-10%. Nilai HLB dari Span 20 adalah 4,7 (Rowe et al., 2009). 2. Gelling agent Karbopol merupakan polimer sintetis dari asam akrilat yang mana membentuk crosslinked dengan alil sukrosa atau alil eter dari pentaeritritol. Karbopol mengandung antara 52% dan 68% gugus asam karboksilat (COOH). Karbopol memiliki fungsi antara lain sebagai emulsifying agent, gelling agent dan stabilizing agent. Konsentrasi karbopol yang digunakan sebagai gelling agent pada sediaan yaitu antara 0,5-2%. Karbopol akan mengalami dekomposisi ketika dipanaskan pada suhu 260o C selama 30 menit. Gel dapat disterilisasi menggunakan autoklaf dengan sedikit perubahan pada viskositas atau pH (Rowe et al., 2009). Penambahan air pada karbopol menyebabkan polimer membesar pada media air dan membentuk jaringan gel. Dengan adanya penambahan amin organik sebagai agen netralisasi memungkinkan karbopol menjadi lebih kental (viscous) (Islam, Hornedo, Ciotti, Ackermann, 2004).

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 3. Triethanolamin Triethanolamin merupakan alkalizing agent yang dapat digunakan sebagai pembentuk karbopol. Karbopol menjadi akan lebih kental ketika dinetralisasi pada ph 6-11. Karbopol dapat dinetralisasi menggunakan amin organik seperti triethanolamin (Rowe et al., 2009). 4. Parafin Cair Parafin cair atau bisa disebut dengan mineral oil digunakan sebagai fase minyak. Pada emulsi minyak dalam air digunakan sebagai emollient sedangkan pada formulasi kapsul dan tablet digunakan sebagai lubrikan. Konsentrasi parafin cair yang dipakai pada sediaan emulsi topikal antara 132%. Parafin cair dapat disterilisasi dengan metode panas kering (Rowe et al., 2009). 5. Propilen Glikol Propilen glikol dapat digunakan sebagai humektan pada sediaan topikal dengan konsentrasi yang digunakan yaitu kurang lebih 15%. Fungsi lain dari propilen glikol yaitu disinfektan, pengawet dan solvent. Pada sediaan topikal, propilen glikol dapat dikategorikan sebagai iritan rendah. Propilen glikol yang berbentuk larutan dapat disterilisasi menggunakan autoklaf (Rowe et al., 2009). 6. Pengawet Metil paraben digunakan sebagai pengawet antimikroba pada sediaan topikal dengan konsentrasi antara 0,02-0,3%. Aktivitas antimikroba pada metil paraben dapat bekerja pada pH 4-8. Larutan metil paraben pada pH 3-6 dapat

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 120oC selama 20 menit tanpa mengalami dekomposisi (Rowe et al., 2009). Propil paraben digunakan secara luas sebagai antimikroba pada kosmetik, makanan dan formulasi farmasetika. Konsentrasi yang digunakan paraben pada sediaan topikal yaitu antara 0,01-0,6%. Aktivitas propil paraben dapat meningkat dengan penggunaan kombinasi dengan pengawet lain seperti metil paraben. Penggunaan campuran paraben sering digunakan pada formulasi topikal dan oral. Larutan propil paraben pada pH 3-6 dapat disterilisasi menggunakan autoklaf tanpa mengalami dekomposisi (Rowe et al., 2009). 7. Alkohol Alkohol digunakan secara luas pada formulasi farmasetika dan kosmetik. Alkohol umumnya digunakan sebagai pelarut, selain itu dapat juga digunakan sebagai desinfektan dan pengawet antimikroba. Konsentrasi alkohol yang digunakan sebagai pelarut pada sediaan topikal yaitu antara 6090%. Larutan alkohol dapat disterilisasi menggunakan autoklaf atau menggunkan metode filtrasi (Rowe et al., 2009). 8. Aquadest Aquadest memiliki sifat berupa cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa. Aquadest atau air suling dibuat dengan proses penyulingan. Penyimpannya pada wadah yang tertutup baik (Dirjen POM, 1979).

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 E. Sterilisasi Sterilisasi merupakan pendestruksian seluruh organisme hidup termasuk spora. Pemilihan metode sterilisasi sediaan farmasetika didasarkan pada bahan sediaan dan preparasinya. Terlepas dari metode yang digunakan, sediaan farmasetika harus lulus uji sterilitas untuk membuktikan efektifitas dari sediaan tersebut. Terdapat lima metode sterilisasi yang digunakan untuk produk farmasetika yaitu sterilisasi panas basah, sterilisasi panas kering, filtrasi, sterilisasi gas dan sterilisasi radiasi (Ansel et al., 2009). Sterilisasi panas basah dapat dilakukan dengan menggunakan autoklaf. Banyak produk farmasetika tidak tahan panas sehingga tidak dapat disterilisasi menggunakan metode panas kering yang biasanya membutuhkan suhu sekitar 170o C. Ketika pemanasan dilakukan di bawah kondisi atmosfer, suhu yang dicapai tidak dapat lebih dari 100o C, sehingga peningkatan tekanan dibutuhkan untuk dapat mencapai suhu lebih dari 100o C. Tekanan hanya dibutuhkan untuk meningkatkan suhu sistem namun tidak membantu mempengaruhi proses pembunuhan mikroorganisme, yang mempengaruhi proses pembunuhan mikroorganisme adalah suhu. Pada umumnya sterilisasi panas basah dilakukan pada suhu 121o C (Ansel et al., 2009). Sediaan topikal semisolid yang bertujuan untuk mengobati luka terbuka atau luka bakar, produk sekali pakai, harus berbentuk sediaan steril. Metode sterilisasi yang digunakan tergantung pada jenis sediaan, komposisi bahan dan

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 jenis wadah. Uji sterilitas perlu dilakukan pada wadah untuk menguji kerapatan wadah dalam melindungi sediaan steril (Benson et al., 2012). Penambahan polimer pada sediaan steril digunakan untuk meningkatkan viskositas dan stabilitasnya. Sediaan steril baik semisolid maupun cairan dengan viskositas tinggi tidak dapat disterilisasi secara filtrasi, melainkan menggunakan metode sterilisasi panas. Namun, sterilisasi dengan panas dapat mempengaruhi reologi dari sediaan berpolimer. Adanya pemanasan dapat menurunkan viskositas dari sediaan (Bindal et al., 2003). F. Uji sifat fisis Viskositas adalah suatu pernyataan pertahanan dari suatu cairan untuk mengalir, semakin tinggi viskositas akan semakin besar tahanannya. Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasinya dibagi menjadi dua yaitu, sistem Newton dan sistem non-Newton. Tipe alir plastis, pseudoplastis, dan dilatan termasuk dalam sitem non-Newton (Martin, Swarbick dan Cammarata, 1983). Daya sebar adalah kemampuan dari suatu sediaan untuk menyebar di tempat aplikasi. Besarnya daya sebar bergantung pada viskositas sediaan. Dengan meningkatnya viskositas sediaan maka waktu retensi sediaan pada tempat aplikasi juga meningkat, namun kemampuan menyebar sediaan tersebut akan menurun. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya sebar yaitu viskositas sediaan, lama tekanan dan temperatur tempat aksi (Garg, Aggarwagal, Garg dan Singla, 2002).

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Salah satu uji yang digunakan untuk menguji daya sebar adalah parallelplate method. Parallel-plate method merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk mengukur daya sebar suatu sediaan semisolid. Kelebihan metode ini adalah sederhana. Namun metode ini memiliki kekurangan yaitu kurang presisi dan pembacaan data yang subyektif (Garg et al., 2002). G. Landasan Teori Manggis mengandung xanthone yang telah terbukti secara ilmiah memiliki beragam manfaat. Salah satu khasiat xanthone adalah sebagai anti bakteri dan alfa mangostin merupakan salah satu komponen utama pada xanthone yang memiliki aktivitas anti bakteri paling besar. Berdasarkan khasiatnya sebagai anti bakteri, ekstrak kulit manggis dapat diformulasikan sebagai sediaan anti jerawat yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Alfa mangostin memiliki kelarutan yang rendah di air sehingga cocok dibuat dalam bentuk sediaan emulgel dengan tipe emulsi o/w, selain itu adanya gelling agent dapat meningkatkan stabilitas sediaan. Emulgel merupakan sediaan topikal gabungan dari dua sistem yaitu sistem emulsi di dalam sistem gel. Sistem emulsi ini menggunakan emulsifying agent tween 20 dan span 20 dimana merupakan surfaktan non ionik dan menggunakan Karbopol 940 sebagai gelling agent. Kelebihan emulgel antara lain, dapat bercampur dengan obat yang bersifat hidrofob, mudah dibersihkan, mudah diaplikasikan dan lebih stabil dibandingkan serbuk, krim dan salep.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 Sediaan topikal semisolid yang ditujukkan untuk mengobati luka terbuka atau luka bakar harus berbentuk sediaan steril. Salah satu metode yang digunakan untuk sterilisasi adalah metode panas basah dengan mengggunakan autoklaf. Sterilisasi dengan panas dapat mempengaruhi reologi dari sediaan berpolimer yang ditandai dengan penurunan viskositas sediaan tersebut. H. Hipotesis Suhu dan lama sterilisasi metode panas basah berpengaruh terhadap viskositas dan daya sebar emulgel ekstrak kulit buah manggis.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian eksperimental murni karena adanya perlakuan khusus pada setiap subyek uji (emulgel ekstrak kulit manggis) dengan rancangan acak lengkap pola searah. B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel penelitian a. Variabel bebas. Variabel bebas pada penelitian ini adalah suhu dan lama proses sterilisasi menggunakan autoklaf. b. Variabel tergantung. Variabel tergantung pada penelitian ini adalah viskositas dan daya sebar emulgel ekstrak kulit manggis. c. Variabel pengacau terkendali. Variabel pengacau terkendali pada penelitian ini adalah keaseptisan kerja, formula sediaan, jenis dan ukuran mixer, suhu pencampuran. d. Variabel pengacau tak terkendali. Variabel pengacau tak terkendali pada penelitian ini adalah suhu ruangan pada saat proses pembuatan emulgel. 2. Definisi operasional a. Ekstrak kulit manggis adalah ekstrak yang dibuat dari kulit manggis dimana terdapat kandungan alfa mangostin diatas 25%. 17

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 b. Emulgel ekstrak kulit manggis adalah sediaan topikal semisolid hasil emulsifikasi Tween 20 dan Span 20 sebagai emulsifying agent dan karbopol 940 sebagai gelling agent dengan penambahan ekstrak kulit manggis 3% pada 100 gram sediaan untuk mengobati jerawat yang dibuat sesuai dengan prosedur pada penelitian ini. c. Steril merupakan kondisi bebas dari bakteri. d. Sterilisasi adalah usaha penghilangan jasad renik dari suatu benda atau bahan tertentu. e. Sterilisasi panas basah merupakan salah satu metode sterilisasi yang menggunakan uap air panas, dengan menggunakan autoklaf. f. Lama sterilisasi merupakan durasi dilakukannya sterilisasi sediaan dalam suhu dan tekanan yang tetap. g. Suhu sterilisasi merupakan suhu yang digunakan selama sterilisasi sediaan dilakukan. h. Viskositas adalah tahanan emulgel untuk mengalir. i. Daya sebar adalah kemampuan emulgel untuk menyebar pada permukaan tertentu setelah pemberian tekanan. C. Alat Penelitian Alat-alat gelas (beaker glass, kaca pengaduk, erlenmeyer), mortir, neraca digital, waterbath, pipet ukur, cawan petri, tabung reaksi, mixer merk Philip modifikasi (Elecsa,USD), viscotester seri VT 04 (RION-JAPAN), stopwatch, alat pengukur daya sebar, mistar, jarum ose, autoklaf, inkubator, hot plate, stirrer.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 D. Bahan Ekstrak kering kulit buah manggis yang diperoleh dari PT. Borobudur, Karbopol 940 sebagai gelling agent, paraffin cair, Tween 20 dan Span 20 (kualitas farmasetis) sebagai emulsifying agent, propilen glikol, metil paraben, propil paraben, aquadest, media nutrient agar (NA) (Oxoid), R 3.0.1. E. Tata Cara Penelitian 1. Verifikasi ekstrak kulit manggis dan bakteri Staphylococcus epidermidis a. Identifikasi bahan Ekstrak kulit manggis yang diperoleh dari PT. Borobudur telah diuji identitasnya dan dibuktikan dengan Certficate of Analysis. b. Verifikasi alfa mangostin Pemeriksaan kandungan alfa mangostin pada ekstrak kulit manggis dilakukan secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Ekstrak kulit manggis yang telah dilarutkan pada etil asetat dan standar alfa mangostin sebagai pembanding ditotolkan pada fase diam silica gel 60F254. Fase gerak yang digunakan campuran kloroform : etil asetat : methanol (28 : 3,5 : 1,75) (Yuliani, 2013). Setelah elusi selesai, hasil elusi dicek pada panjang gelombang 254nm. 2. Formula Formula yang digunakan untuk pembuatan emulgel antiacne ekstrak kulit manggis mengacu pada Optimation of Chlorphensin Emulgel Formulation (Magdy, 2004) dengan formula sebagai berikut :

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Tabel I. Formula emulgel acuan Bahan Emulgel Chlorphenesin Karbopol 940 Liquid parafin Tween 20 Span 20 Propylene glycol Etanol Metyl paraben Propyl paraben Purified water to Satuan (g) 0,5 1 5 0,6 0,9 5 2,5 0,03 0,01 100 Dilakukan modifikasi dengan mengganti zat aktif dan beberapa eksipiennya. Formula hasil modifikasi adalah sebagai berikut : Tabel II. Formula emulgel yang telah dimodifikasi (100 g emulgel) Bahan Emulgel Ekstrak kulit manggis Paraffin cair Karbopol 940 Tween 20 Span 20 Propilen glikol Metil paraben Propil paraben Etanol 70% TEA Aquadest Satuan (g) 3 5 1 1 1,5 5 0,03 0,01 7,5 1,5 74,5 3. Pembuatan emulgel a. Pembuatan dispersi Karbopol 940 Karbopol didispersikan sedikit demi sedikit dalam 60 mL aquadest dan didiamkan selama 24 jam.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 b. Pencampuran ekstrak kulit manggis dengan etanol Ekstrak yang telah ditimbang kemudian dilarutkan dalam etanol 70% sebanyak 7,5 gram. c. Pembuatan emulgel Fase minyak dibuat dengan mencampur paraffin cair, span 20 dan ekstrak kulit buah manggis yang telah dilarutkan dalam etanol. Fase air dibuat dengan melarutkan propil paraben dan metil paraben ke dalam propilen glikol. Setelah larut, selanjutnya ditambahkan tween 20 ke dalam fase air. Fase air dan fase minyak dipanaskan secara terpisah pada waterbath dengan menggunakan suhu antara 70-80o C. Selanjutnya, fase minyak dimasukkan ke dalam fase air dan dicampur menggunakan mixer dengan kecepatan 300 rpm selama 10 menit. Emulsi yang sudah terbentuk selanjutnya dicampurkan dengan karbopol 940 yang sudah dikembangkan dan ditambah dengan aquadest. Bahan tersebut dicampur menggunakan mixer dengan kecepatan 300 rpm selama 10 menit. Kemudian Trietanolamin (TEA) ditambahkan ke dalam campuran dan diaduk kembali menggunakan mixer dengan kecepatan 300 rpm selama 5 menit. d. Sterilisasi panas basah Emulgel yang telah dibuat kemudian dimasukkan ke dalam beaker glass, ditutup menggunakan aluminium foil dan direkatkan. Emulgel dimasukkan ke dalam autoklaf, autoklaf ditutup dengan rapat. Suhu dan lama proses sterilisasi diatur dengan variasi sebagai berikut :

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 Tabel III. Variasi suhu dan lama sterilisasi pada metode sterilisasi panas basah Suhu Sterilisasi (oC) 110 115 121 127 Lama sterilisasi (menit) 5; 10; 15; 20; 25 5; 10; 15; 20; 25 5; 10; 15; 20; 25 5; 10; 15; 20; 25 4. Uji sterilitas a. Pembuatan media Media yang digunakan untuk uji sterilitas adalah nutrient agar (NA). Untuk 1 L media, ditimbang 28 gram NA. NA yang sudah ditimbang sesuai dengan kebutuhan kemudian dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer dan dicampurkan ke akuades. Media dipanaskan diatas hot plate magnetic stirrer hingga diperoleh larutan berwarna kuning jernih. Media NA dituangkan dalam tabung reaksi dengan volume 15 mL. Media disterilkan dengan autoklaf selama 15 menit pada suhu 121o C. Setelah media NA disterilkan selanjutnya dituang ke cawan petri dan dibiarkan hingga memadat. b. Uji sterilitas Uji sterilitas dilakukan dengan menyiapkan emulgel ekstrak kulit manggis. Ose dipanaskan dari pangkal ke ujung hingga membara. Emulgel diambil sebanyak 1 ose, selanjutnya ose digoreskan pada permukan NA dalam cawan petri secara zig-zag. Cawan petri dilapisi dengan menggunakan plastic wrap hingga rapat kemudian diinkubasikan terbalik

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 pada suhu kamar selama 24 jam. Hasil yang diperoleh diamati dan dibandingkan dengan kontrol kontaminasi media dan kontrol emulgel tanpa sterilisasi. 5. Evaluasi sediaan emulgel a. Uji pH emulgel Pengukuran pH ini menggunakan indikator universal, yaitu dengan memasukan indikator pH universal (ph strips) ke dalam emulgel ekstrak kulit manggis yang telah dibuat. Nilai pH yang diinginkan berada pada rentang pH yang tidak mengiritasi kulit yaitu antara 4-6,5. b. Uji sifat fisik emulgel 1. Uji viskositas Pengukuran viskositas menggunakan alat Viscotester Rion seri VT 04 dengan cara sediaan emulgel ditimbang sebanyak 100 gram, dimasukkan ke dalam gelas stainless steel kemudian dipasang pada portable viscotester. Viscotester dinyalakan dan diamati angka yang ditunjukkan oleh jarum pada layar. Nilai viskositas diperoleh jika jarum sudah konstan pada nilai tertentu. Pengujian viskositas dilakukan dalam dua periode yaitu 48 jam setelah emulgel selesai dibuat dan 48 jam setelah proses sterilisasi. Dilakukan replikasi sebanyak tiga kali untuk tiap formula. 2. Uji daya sebar Pengukuran daya sebar dilakukan 48 jam setelah pembuatan dan 48 jam setelah proses sterilisasi. Sediaan emulgel ditimbang seberat 1

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 gram dan diletakkan di tengah kaca bulat berskala. Di atas emulgel diletakkan kaca bulat lain dan ditambah beban hingga berat kaca dan pemberat adalah 125 gram (Garg et al., 2002), selanjutnya didiamkan selama 1 menit kemudian dicatat penyebarannya. Dilakukan replikasi sebanyak 3 kali untuk tiap formula. F. Analisis Hasil Data yang terkumpul adalah data uji viskositas dan uji daya sebar 48 jam setelah pembuatan, serta uji viskositas dan daya sebar 48 jam setelah proses sterilisasi. Untuk melihat signifikansi pengaruh suhu dan lama sterilasi terhadap viskositas dan daya sebar, dilakukan uji ANAVA. Data dianalisis dengan uji Saphiro-Wilk untuk melihat kenormalan distribusi data dan uji kesamaan variansi Levene’s test untuk melihat kesamaan varians. Jika data sesuai dengan kriteria uji statistik parametrik, maka analisis dilanjutkan dengan pengujian signifikansi menggunakan ANAVA. Jika hasil yang didapat menunjukkan adanya perbedaan signifikan, maka analisis dilanjutkan dengan uji posthoc menggunakan uji Tukey. Jika data tidak memenuhi kriteria uji statistik parametrik, maka analisis data menggunakan Kruskal-Wallis dengan post-hoc Wilcoxon. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat R 3.0.1.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identifikasi dan Verifikasi Ekstrak Kulit Manggis Pada penelitian ini digunakan ekstrak kulit manggis yang berasal dari PT. Borobudur, Semarang. Ekstrak kulit manggis yang digunakan berupa ekstrak kering yang telah diidentifikasi dan dibuktikan dengan Certificate of Analysis (CoA) (Lampiran 1). Sebelum ekstrak kulit manggis digunakan, perlu dilakukan verifikasi untuk memastikan kebenaran identitas dari ekstrak tersebut. Verifikasi yang dilakukan berupa KLT (Kromatografi Lapis Tipis) dengan pembanding standar alfa mangosteen. Pembanding yang digunakan berupa standar alfa mangostin karena alfa mangostin merupakan salah satu senyawa khas yang hanya terdapat pada buah manggis. Fase diam yang digunakan berupa silica gel 60F254 yang dapat berfluoresensi pada panjang gelombang 254 nm, sedangkan fase gerak yang digunakan berupa kloroform : etil asetat : metanol (28 : 3.5 : 1.75). Hasil yang didapatkan adalah Rf standar 0,46 dan Rf ekstrak 0,47. Hal ini menunjukkan Rf yang dimiliki ekstrak mirip dengan Rf pembanding alfa mangostin. Jadi, berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit manggis yang berasal dari PT. Borobudur Semarang adalah benar ekstrak kulit manggis. 25

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 a b c d e Keterangan : a dan b = hasil elusi standar alfa mangostin c, d dan e = hasil elusi ekstrak Gambar 2. Hasil identifikasi KLT ekstrak kulit manggis B. Pembuatan Emulgel Ekstrak Kulit Manggis Kandungan xanthone dalam buah manggis terbukti memiliki sifat sebagai antibakteri. Alfa mangostin merupakan kandungan utama pada xanthone dan memiliki sifat anti bakteri yang paling besar dibandingkan dengan beta mangostin, garcinone, mangostanol dan gartinin (Kaomongkolgit et al., 2009). Pada penelitian Pothitirat et al., dikatakan bahwa ekstrak etanol kulit manggis memiliki KHM dan KBM sebesar 7,81 µg/ml dan 62,50 µg/ml untuk S. epidermidis (Pothitirat et al., 2009). Penelitian tersebut dapat memperkuat bukti bahwa ekstrak kulit manggis memiliki sifat antibakteri dan dapat diformulasikan sebagai sediaan obat jerawat. Pemilihan sediaan emulgel dengan emulsi tipe o/w didasarkan pada kelarutan zat aktif yang digunakan. Zat aktif yang digunakan merupakan alfa mangostin yang memiliki kelarutan rendah pada air, namun dapat larut pada etanol dan eter (Nadkarni, nadkarni, 1999). Oleh karena itu, dibuat sistem emulsi minyak dalam air dimana zat aktif dapat masuk pada fase dalam yaitu fase minyak

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 dan dikelilingi oleh fase luar yaitu fase air. Penambahan etanol pada formulasi digunakan untuk melarutkan ekstrak kulit buah manggis kemudian alfa mangostin akan dipartisi ke minyak, sehingga zat aktif dapat masuk ke dalam fase minyak. Selain itu, pemilihan sediaan bergantung pada fungsi dari sediaan tersebut. Apabila sediaan obat jerawat yang dibuat berupa emulsi tipe w/o dengan fase luar berupa minyak maka sediaan tersebut dapat memperparah keadaan jerawat pengguna, karena penggunaan minyak yang berlebihan dapat bersifat komedogenik. Penambahan gelling agent pada sediaan emulsi dapat memberikan rasa dingin yang dapat meningkatkan acceptability pengguna (Chirag et al., 2013). Alasan lain pemilihan sediaan emulgel yang tidak kalah penting yaitu warna yang dihasilkan oleh sediaan emulgel dimana warna sediaan erat hubungannya dengan tingkat penerimaan pasien. Ekstrak yang digunakan peneliti merupakan ekstrak kulit manggis yang mempunyai warna kecoklatan, namun dengan basis emulgel yang berwarna putih maka warna coklat dari ekstrak kulit manggis dapat tersamarkan dan sediaan menjadi berwarna lebih menarik. Sediaan emulgel dengan warna yang lebih menarik diharapkan dapat meningkatkan penerimaan pasien terhadap emulgel anti-acne ekstrak kulit buah manggis. Formula yang digunakan pada penelitian ini merupakan formula modifikasi dari formula (Magdy, 2004). Modifikasi yang dilakukan adalah penambahan jumlah tween 20, span 20 dan etanol. Modifikasi dilakukan dengan tujuan mendapatkan HLB emulsi dan karakter fisik emulgel sesuai dengan yang

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 diinginkan. Jumlah tween 20, span 20 dan etanol yang digunakan pada formula acuan yaitu 0,6; 0,9; 2,5 sedangkan pada formula modifikasi digunakan 1; 1,5; 7,5 tiap 100 gram sediaan emulgel. Fungsi dari setiap bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu tween 20 dan span 20 sebagai emulsifying agent, karbopol 940 sebagai gelling agent, triethanolamin (TEA) berfungsi sebagai agen penetralisasi karbopol, paraffin cair sebagai emollient, propilen glikol sebagai humektan, metil paraben dan propil paraben sebagai pengawet, etanol sebagai pelarut ekstrak dan aquadest sebagai fase air. Penggunaan etanol 70% untuk melarutkan ekstrak kulit buah manggis berdasarkan pada pelarut yang digunakan saat ekstraksi kulit buah manggis, pelarut yang digunakan dapat dilihat pada lampiran CoA ekstrak kulit buah manggis (Lampiran 1.) Emollient dan humektan memiliki fungsi sebagai pelembab yang dapat menjaga kelembapan kulit, namun emollient dan humektan memiliki mekanisme yang berbeda. Mekanisme humektan dalam menjaga kelembaban yaitu dengan membentuk gugus hidrogen dengan air yang terdapat pada lingkungan. Emollient yang merupakan jenis minyak dapat melapisi rongga-rongga di antara stratum corneum, sehingga kandungan air yang berada di dalam kulit tidak dapat keluar. Emollient yang digunakan peneliti pada formulasi bersifat non-komedogenik, sehingga pengunaan emollient pada sediaan tidak akan memperparah keadaan jerawat pengguna. Penggunaan kombinasi dua pengawet yaitu metil paraben dan propil paraben bertujuan untuk meningkatkan aktivitas anti bakteri dari pengawet. Metil

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 paraben dan propil paraben yang digunakan pada sediaan konsentrasinya tidak melebihi 0,01% sehingga tidak mempengaruhi efisiensi dari karbopol (Allen, 2002). Penggunaan bobot ekstrak sebanyak 3 gram pada 100 gram sediaan emulgel didasarkan pada orientasi yang telah peneliti lakukan sebelumnya. Orientasi yang dilakukan berupa uji antimikroba dari tiap konsentrasi ekstrak yang sudah diformulasikan pada emulgel. Uji antimikroba yang digunakan menggunakan metode sumuran dimana media yang digunakan merupakan media MHA (Mueller-Hinton Agar) dan bakteri yang digunakan adalah Staphylococcus epidermidis. Konsentrasi ekstrak yang peneliti gunakan pada orientasi yaitu 1%, 2%, 4% dan 8% dengan hasil zona hambat sebagai berikut, Tabel IV. Hasil zona hambat orientasi konsentrasi ekstrak kulit buah manggis Konsentrasi ekstrak 1% 2% 4% 8% Replikasi 1 (mm) 6 7,25 9,25 13,25 Replikasi 2 (mm) 3,25 5,75 8,25 8,5 Replikasi 3 (mm) 3 5 7,75 7,75 Rata-rata (mm) 4,1 ± 1,66 6 ± 1,15 8,42 ± 0,75 9,83 ± 2,98 Berdasarkan Suryawiria (cit., Zahro dan Agustini, 2013), aktivitas antibakteri berdasarkan zona hambatnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut, Tabel V. Klasifikasi aktivitas antibakteri berdasarkan diameter zona hambat Aktivitas antibakteri Lemah Sedang Kuat Sangat kuat Diameter zona hambat (mm) <5 5-10 10-20 >20

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Pada Tabel IV, dapat dilihat bahwa zona hambat semakin besar seiring dengan meningkatnya penambahan ekstrak pada emulgel. Namun, pemilihan konsentrasi ekstrak juga didasarkan pada penampilan sediaan karena penampilan sediaan dapat berpengaruh pada penerimaan pasien. Penampilan sediaan tiap konsentrasi dapat dilihat pada lampiran 3, dan dapat disimpulkan bahwa dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak yang ditambahkan, warna emulgel akan semakin gelap dan emulgel menjadi semakin kental. Oleh karena itu, konsentrasi ekstrak 4% dan 8% tidak peneliti pilih karena penampilannya yang kurang menarik. Emulgel dengan konsentrasi ekstrak 1% juga tidak dipilih peneliti karena zona hambat yang dihasilkan masih termasuk dalam kategori lemah. Konsentrasi ekstrak yang dipilih peneliti adalah 3% karena diharapkan zona hambat yang didapatkan lebih besar daripada emulgel dengan konsentrasi ekstrak 2%, selain itu menurut peneliti penampilan emulgel dengan konsentrasi 3% masih menarik. Pembuatan emulgel dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap emulsifikasi dan penambahan gelling agent. Tahap emulsifikasi diawali dengan pembuatan fase minyak dan fase air. Masing-masing fase dipanaskan secara terpisah menggunakan waterbath pada suhu antara 70-80o C. Selanjutnya fase minyak dimasukkan ke dalam fase air dan dicampur menggunakan mixer dengan kecepatan 300 rpm selama 10 menit. Tahap selanjutnya setelah emulsi terbentuk yaitu tahap penambahan gelling agent. Karbopol 940 yang sebelumnya sudah dikembangkan ditambahkan ke dalam emulsi dan dicampur menggunakan mixer dengan kecepatan 300 rpm selama 10 menit. Kemudian TEA ditambahkan ke dalam campuran dan diaduk

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 kembali menggunakan mixer selama 5 menit dengan kecepatan 300 rpm. TEA merupakan amin organik yang dapat berfungsi sebagai agen netralisasi. Sebelum mengalami proses netralisasi, karbopol berada dalam bentuk tak terionkan dan memiliki pH sekitar 3. Pada pH ini, karbopol memiliki sifat yang fleksibel struktur random coil (Pena, 1989). Dengan penambahan amin organik seperti TEA, gugus karboksilat pada karbopol akan ternetralisasi menjadi garam. Kemudian gugus karboksilat yang terionisasi akan memiliki muatan negatif sehingga akan terbentuk gaya tolak-menolak antar gugus karboksilat. Gaya tolak menolak tersebut mengakibatkan swelling dan thickening dari struktur karbopol (Abdullah et al., 2013). Penggunaan dua tipe emulsifying agent pada penelitian ini memiliki prinsip kerja sebagai berikut, bagian hidrokarbon dari molekul span berada dalam droplet minyak dan bagian lainnya berada dalam fase air. Kepala sorbitan yang besar pada molekul span mencegah ekor hidrokarbon bergabung rapat dalam fase minyak. Ketika tween ditambahkan, ekor hidrokarbon dari tween akan berada dalam droplet minyak dan rantai polioksietilennya berada dalam fase air bersama dengan cincin sorbitan. Rantai hidrokarbon tween yang berada dalam droplet minyak akan berada di antara rantai hidrokarbon span dan penyusunan ini menghasilkan gaya tarik menarik Van der Waals yang efektif. Sehingga, lapisan antarmuka menjadi lebih kuat dan stabilitas dari emulsi o/w meningkat (Martin et al., 1993).

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 C. Uji pH pH suatu sediaan topikal merupakan salah satu hal yang penting, karena pH yang terlalu asam dapat mengiritasi kulit penggunanya. Rentang pH yang baik untuk kulit normal antara 4-6,5 (Baranoski and Ayello, 2008). Pengecekkan pH emulgel dilakukan sebelum dan sesudah sterilisasi dan pH yang dihasilkan tetap sama yaitu pH berkisar antara 5-6. Selain itu, pada rentang pH tersebut memiliki viskositas yang optimal (Pena, 1989). Gambar 3. Hasil uji pH sediaan emulgel ekstrak kulit manggis D. Sterilisasi Emulgel Ekstrak Kulit Manggis Luka terbuka melibatkan kerusakan internal maupun eksternal pada jaringan kulit (Roddick, 2012). Adanya kerusakan jaringan yang terjadi pada jerawat yang salah satunya diakibatkan oleh peningkatan jumlah sebum, sehingga jerawat dapat dikategorikan sebagai luka terbuka (Fabbrocini et al., 2010). Sediaan topikal semisolid yang bertujuan untuk mengobati luka terbuka harus dalam bentuk sediaan steril (Benson et al., 2012). Apabila tidak dilakukan

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 sterilisasi untuk sediaan luka terbuka maka bisa terjadi infeksi yang dapat memperparah luka karena adanya kontaminasi dari sediaan. Sehingga perlu dilakukan sterilisasi pada sediaan emulgel ekstrak kulit manggis untuk menjamin sterilitasnya. Sterilisasi merupakan pendestruksian seluruh organisme hidup dan termasuk spora. Terdapat lima metode sterilisasi yang biasa digunakan untuk produk farmasetika yaitu sterilisasi panas basah, sterilisasi panas kering, filtrasi, sterilisasi gas dan sterilisasi radiasi (Ansel et al., 2009). Pada penelitian ini metode sterilisasi yang dipilih yaitu metode sterilisasi panas basah dengan menggunakan autoklaf. Pemilihan metode didasarkan pada karakteristik dari ekstrak kulit manggis dan bahan-bahan yang digunakan dalam formulasi. Salah satu kandungan dalam ekstrak kulit manggis yaitu beta mangostin, memiliki melting point 162-163o C, sedangkan alfa mangostin memiliki melting point 180-182o C (Ghazali et al., 2010). Metode sterilisasi panas kering biasanya menggunakan suhu antara 160o atau 170o C selama tidak kurang dari 2 jam, sedangkan metode panas basah menggunakan suhu dan waktu yang lebih rendah dibandingkan dengan metode panas kering. Beta mangostin memiliki efek sinergis dengan alfa mangostin, sehingga penggunaan metode panas kering dengan suhu di atas melting point beta mangostin dapat memungkinkan terjadinya perubahan bentuk kristal dan atau perubahan efektifitas yang dapat mempengaruhi efektifitas sediaan sebagai anti jerawat. Prinsip dari sterilisasi panas basah menggunakan autoklaf yaitu adanya lembab menyebabkan terjadinya denaturasi dan koagulasi protein esensial pada

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 organisme. Adanya peningkatan tekanan menyebabkan suhu dapat meningkat dengan cepat, namun adanya perubahan tekanan tidak mempengaruhi mekanisme destruksi dari mikroorganisme. Mekanisme destruksi mikroorganisme hanya dipengaruhi oleh suhu. Kelebihan metode ini dibandingkan dengan metode panas kering adalah adanya lembab yang dapat membunuh bakteri lebih efektif , membutuhkan waktu yang lebih cepat dan suhu yang lebih rendah. Namun kekurangan dari metode ini adalah metode ini tidak dapat digunakan untuk sterilisasi bahan maupun sediaan yang tidak dapat ditembus oleh lembab atau yang dapat rusak karena adanya lembab (Ansel et al., 2009). Pemilihan suhu sterilisasi didasarkan pada ketersediaan alat yang digunakan, sehingga dipilih suhu 110o C, 115o C, 121o C dan 127 o C. Terdapat lima variasi waktu yang digunakan yaitu 5, 10, 15, 20 dan 25 menit. Variasi waktu tersebut dianggap peneliti masih termasuk waktu yang efisien dimana sterilisasi autoklaf biasanya dilakukan selama 15 menit dengan suhu 121o C, selain itu pemanasan yang terlalu lama dikhawatirkan dapat mempengaruhi efektifitas dari sediaan. E. Uji Sterilitas Emulgel Ekstrak Kulit Manggis Sediaan yang telah mengalami proses sterilasi perlu dilakukan uji sterilitas untuk menjamin sterilitas sediaan tersebut. Berdasarkan WHO, terdapat dua metode uji sterilitas yaitu metode filtrasi menggunakan membran dan metode inokulasi langsung. Metode filtrasi menggunakan membran digunakan untuk sediaan yang berbentuk cairan, sedangkan metode inokulasi langsung digunakan untuk sediaan yang berbentuk krim dan salep. Pada penelitian ini, metode yang

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 digunakan adalah metode inokulasi langsung dimana sediaan emulgel langsung diinokulasikan pada media. Digunakan metode inokulasi langsung karena bentuk sediaan berupa emulgel sehingga metode filtrasi tidak dapat digunakan (WHO, 2012). Cawan petri yang akan digunakan dicuci terlebih dahulu selanjutnya dikeringkan dan dibungkus menggunakan kertas payung, kemudian dimasukkan ke dalam oven pada suhu 60o C selama lebih dari 24 jam. Tujuan sterilisasi cawan petri adalah meminimalkan adanya kontaminan pada peralatan uji sterilitas. Menurut WHO, media yang digunakan sebagai media uji sterilitas yaitu fluid thioglycollate medium dan soya-bean casein digest karena media tersebut cukup sensitif untuk menggambarkan adanya kontaminasi bakteri. Namun, pada penelitian ini media yang digunakan untuk uji sterilitas adalah Nutrient Agar karena NA merupakan broad spectrum media dimana mengandung nutrient yang cukup untuk pertumbuhan bakteri pada umumnya dan sering digunakan sebagai media kultur, sehingga media NA sudah dapat menggambarkan sterilitas suatu sediaan uji terhadap bakteri (Taylor, 2001). Uji sterilitas dilakukan dengan menginokulasikan 1 ose emulgel pada media NA secara zig-zag. Sebelum ose digunakan, ose dipanaskan dulu agar steril. Pemanasan dilakukan dengan memijarkan ose pada api bunsen. Setiap akan membuka dan menutup cawan petri, cawan petri dilalukan pada api bunsen untuk menghindari adanya kontaminan. Uji sterilisasi dilakukan dalam LAF (Laminar Air Flow) dan secara aseptis yaitu dikerjakan dengan jarak 15-30 cm dari api

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 bunsen, hal tersebut dilakukan untuk menghindari adanya kontaminan yang dapat membuat hasil penelitian menjadi bias. Kontrol kontaminasi media diperlukan dalam uji sterilitas untuk menjamin tidak ada kontaminan pada media uji, sehingga dapat dipastikan apabila terdapat pertumbuhan bakteri hasil tersebut benar-benar berasal dari sediaan uji. Selain kontrol kontaminasi, kontrol sediaan tanpa sterilisasi juga perlu dilakukan untuk digunakan sebagai pembanding sterilitas. a b c d e f g Keterangan : lingkaran merah menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri pada media Gambar 4. Hasil uji sterilisasi emulgel pada suhu 121o C selama a. 5 menit, b. 10 menit, c. 15 menit, d. 20 menit, e. 25 menit, f. kontrol emulgel tanpa sterilisasi, g. kontrol kontaminasi media

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Tabel VI. Hasil uji sterilisasi emulgel ekstrak kulit manggis Perlakuan Suhu sterilisasi 110oC 115 oC 121 oC 127 oC 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 + + + + + + + + + + + + 5 + + + + + + - - - - - 10 + + + - - - - - - - - 15 - - - - - - - - - - - 20 - - - - - - - - - - - 25 Keterangan : + : adanya pertumbuhan bakteri Lama sterilisasi (menit) - : tidak ada pertumbuhan bakteri Hasil pada Tabel VI, menunjukkan bahwa pada keempat suhu dengan pemanasan 20 dan 25 menit tidak ada pertumbuhan bakteri, sedangkan pada suhu 121o C dan 127 o C dengan pemanasan di atas 10 menit sudah menunjukkan tidak ada pertumbuhan bakteri. Dengan tidak adanya pertumbuhan bakteri berarti emulgel ekstrak kulit manggis sudah steril. Perbandingan sterilitas emulgel tanpa sterilisasi dan emulgel dengan sterilisasi pada suhu 121o C dapat dilihat pada Gambar 4. Pada Gambar 4, terlihat bahwa emulgel tanpa sterilisasi dapat ditumbuhi oleh bakteri, hasil tersebut menunjukkan bahwa sediaan emulgel yang tidak disterilisasi dapat terkontaminasi bakteri. Hasil kontrol kontaminasi media yang dapat dilihat pada Gambar 4 menunjukkan media tidak ditumbuhi oleh kontaminan. F. Uji Sifat Fisis Emulgel Ekstrak Kulit Manggis Pengamatan sifat fisik emulgel ekstrak emulgel kulit manggis yang meliputi uji viskositas dan uji daya sebar perlu dilakukan karena hal tersebut merupakan parameter yang mempengaruhi penerimaan pasien terhadap suatu

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 sediaan. Adanya proses sterilisasi panas basah dapat mengubah struktur polimer pada sediaan emulgel. Adanya pemanasan pada proses sterilisasi dapat menurunkan viskositas dari sediaan (Bindal et al., 2003). Besarnya daya sebar bergantung pada besarnya viskositas suatu sediaan. Dengan menurunnya nilai viskositas, kemampuan menyebar sediaan akan meningkat namun waktu retensi sediaan pada tempat aplikasi akan mengalami penurunan (Garg et al., 2002). 1. Pengamatan warna emulgel Pengamatan penampilan fisik merupakan pengamatan pertama yang dilakukan untuk melihat apakah terdapat perbedaan warna dan bentuk pada emulgel yang belum mengalami proses sterilisasi dan yang sudah mengalami proses sterilisasi. Pengamatan warna dan bentuk sediaan perlu dilakukan karena warna dan bentuk sediaan dapat mempengaruhi penerimaan pasien terhadap sediaan tersebut. Gambar 5. Sediaan emulgel sebelum proses sterilisasi

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Pada Gambar 6, terlihat bahwa tidak terdapat perubahan warna emulgel ekstrak kulit manggis setelah proses sterilisasi suhu tertinggi yaitu 127o C pada menit ke lima sampai menit ke 25. Selain itu, warna emulgel sebelum proses sterilisasi dibandingkan dengan warna emulgel setelah proses sterilisasi dan tidak terdapat perbedaan warna pada emulgel tersebut (Gambar 5 dan Gambar 6). a b d c e Gambar 6. Sediaan emulgel setelah mengalami proses sterilisasi pada suhu 127o C selama a. 5 menit, b. 10 menit, c. 15 menit, d. 20 menit, e. 25 menit 2. Uji viskositas dan daya sebar Viskositas merupakan suatu pernyataaan tahanan suatu cairan untuk mengalir. Semakin tinggi viskositas maka sediaan tersebut semakin kental, namun semakin rendah viskositas maka sediaan tersebut semakin encer (Martin et al., 1983).

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Pengecekkan viskositas dilakukan sebelum dan setelah proses sterilisasi yaitu 48 jam setelah pembuatan emulgel dan 48 jam setelah proses sterilisasi. Hal tersebut dilakukan agar nilai viskositas yang diperoleh tidak terpengaruh gaya geser yang diberikan selama pembuatan emulgel dan tidak terpengaruh pemanasan akibat proses sterilisasi. Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan alat viscotester Rion-Japan seri VT-04. Emulgel ditimbang sebanyak 100 gram dan dimasukkan ke dalam gelas stainless steel. Setelah penimbangan, emulgel didiamkan terlebih dahulu selama kurang lebih 5 menit agar pengukuran viskositas tidak terpengaruh adanya gaya geser pada saat penimbangan emulgel. Pemilihan nomor rotor yang digunakan bergantung pada kekentalan sediaan yang akan diteliti viskositasnya. Semakin kental sediaan, nomor rotor yang digunakan semakin tinggi. Pada penelitian ini, nomor rotor yang digunakan adalah nomor dua. Nilai viskositas yang didapatkan dalam satuan dPas. Viscotester jenis ini memiliki kelebihan yaitu mudah digunakan dan praktis. Namun, kekurangan dari viscotester ini adalah pembacaan skala viskositas yang subjektif. Hasil pengukuran viskositas sediaan emulgel sebelum dan sesudah sterilisasi tertera pada Tabel VII,

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Tabel VII. Nilai viskositas emulgel anti-acne ekstrak kulit manggis (dPa.s) Lama Steri lisasi (menit) 15 20 25 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 a 225 240 200 200 220 200 210 220 200 220 230 210 220 210 230 b 210 240 200 190 200 200 200 200 180 200 220 200 190 210 210 15 0 0 10 20 0 10 20 20 20 10 10 30 0 20 Selisih Rata-rata ± SD 115 10 1 Suhu Sterilisasi (oC) 110 5 5,00 ± 0 10,00 ± 10,00 16,67 ± 5,77 13,33 ± 5,77 16,67 ± 15,28 a 210 260 230 210 240 240 230 210 240 240 240 250 230 230 250 b 210 250 230 210 230 240 210 210 240 210 240 240 230 230 240 Selisih 0 10 0 0 10 0 20 0 0 30 0 10 0 0 10 Rata-rata ± SD 3,33 ± 5,77 3,33 ± 5,77 6,67 ± 11,55 13,33 ± 15,28 3,33 ± 5,77 a 240 220 200 210 225 210 210 220 220 210 220 225 220 230 220 b 240 210 190 200 225 210 210 220 210 210 210 210 220 210 210 Selisih 0 10 10 10 0 0 0 0 10 0 10 15 0 20 10 Rata-rata ± SD 6,67 ± 11,55 121 127 3,33 ± 5,77 3,33 ± 5,77 8,33 ± 7,64 10,00 ± 10,00 a 210 220 220 230 220 210 210 210 240 210 220 220 220 240 210 b 200 210 220 210 210 210 210 210 220 210 220 210 220 220 200 10 10 0 20 10 0 0 0 20 0 0 10 0 20 10 Selisih Rata-rata ± SD 6,67 ± 5,77 10,00 ± 10,00 6,67 ± 11,55 3,33 ± 5,77 10,00 ± 10,00 Keterangan : a = Nilai viskositas sebelum sterilisasi b = Nilai viskositas setelah sterilisasi Daya sebar adalah kemampuan dari suatu sediaan untuk menyebar di tempat aplikasi (Garg et al., 2002). Pengukuran daya sebar bertujuan untuk melihat besarnya diameter penyebaran emulgel saat diaplikasikan. Metode pengukuran daya sebar yang digunakan pada penelitian ini adalah parallel plate method. Metode ini merupakan metode yang paling banyak digunakan karena metode ini sederhana. Namun, kekurangan metode ini adalah pembacaan data yang subyektif (Garg et al., 2002).

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Pengukuran daya sebar dilakukan 48 jam setelah pembuatan emulgel dan 48 jam setelah proses sterilisasi (Garg et al., 2002). Hal ini dilakukan dengan tujuan agar hasil yang didapatkan tidak terpengaruh gaya geser yang diberikan saat pembuatan emulgel serta adanya pemanasan akibat proses sterilisasi. Tabel VIII. Nilai daya sebar emulgel anti-acne ekstrak kulit manggis (cm) Lama Steri lisasi (menit) 5 10 1 2 a 4,2 3,8 4 b 4,3 4,3 0,1 0,5 Suhu Sterilisasi (oC) 110 Selisih Rata-rata ± SD 3 1 15 2 3 1 4 3,9 3.9 3.9 4,1 4 4 3.9 0,1 0 0,1 0 0,23 ± 0,23 0,03 ±0,06 20 2 3 1 2 4 3.8 3.8 3.8 4.1 4.1 4 4 0.2 0.1 0.2 0.2 0,17 ± 0,06 25 3 1 2 3 4 3.9 3.8 3.9 3.8 4.1 4 4 3.9 0 0.1 0.1 0.2 0 0,10 ± 0,10 0,10 ± 0,10 a 3,9 3,7 3,9 3,9 3,8 3.7 4 3.7 3.7 3.8 3.8 3.5 3.8 3.7 3.8 b 3,9 3,8 4 4 3,8 3.9 4 3.7 3.9 3.8 4 3.8 3.8 3.8 3.8 Selisih 0 0,1 0,1 0,1 0 0.2 0 0 0.2 0 0.2 0.3 0 0.1 0 Rata-rata ± SD 0,07 ± 0,06 115 0,10 ± 0,10 0,07 ± 0,12 0,17 ± 0,15 0,03 ± 0,06 a 3,7 3,8 3,8 3,8 3,8 3.6 3.7 3.6 3.7 3.6 3.8 3.8 3.6 3.7 3.6 b 3,8 3,8 4 3,9 3,8 3.7 3.8 3.8 3.7 3.9 3.8 3.9 3.7 3.8 3.8 0,1 0 0,2 0,1 0 0.1 0.1 0.2 0 0.3 0 0.1 0.1 0.1 0.2 121 Selisih Rata-rata ± SD 0,10 ± 0,10 0,07 ± 0,06 0,10 ± 0,10 0,13 ± 0,15 0,13 ± 0,06 a 3,8 3,8 3,7 3,9 3,9 3.8 3.7 3.8 3.7 3.9 3.8 3.7 3.8 3.8 3.9 b 3,8 4 3,8 3,9 3,9 3.9 3.8 3.9 3.9 4 3.8 3.8 3.8 3.8 4.1 Selisih 0 0,2 0,1 0 0 0.1 0.1 0.1 0.2 0.1 0 0.1 0 0 0.2 Rata-rata ± SD 0,10 ± 0,10 127 0,03 ± 0,06 0,13 ± 0,06 0,07 ± 0,06 0,07 ± 0,06 Keterangan : a = Nilai viskositas sebelum sterilisasi b = Nilai viskositas setelah sterilisasi Pada tabel VII dan tabel VIII dapat dilihat adanya pergeseran viskositas dan daya sebar emulgel sebelum dan sesudah sterilisasi. Hal ini

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 dapat terjadi dikarenakan adanya pemberian panas pada sterilisasi yang mengakibatkan ikatan antar monomer merenggang atau putus sehingga viskositas sediaan mengalami penurunan. Pemutusan ikatan monomer gelling agent diperkirakan hanya terjadi pada rantai samping (side chain) bukan pada backbone, karena tidak terjadi pemisahan fase emulgel namun terjadi pergeseran nilai viskositas dan daya sebar setelah proses sterilisasi. Walaupun terdapat pergeseran, namun seluruh nilai viskositas dan daya sebar sediaan setelah proses sterilisasi masih termasuk dalam range viskositas yang dikehendaki peneliti yaitu antara 200-300 dPa.s dengan daya sebar antara 3-5 cm. Nilai viskositas dan daya sebar emulgel sebelum sterilisasi dan sesudah sterilisasi dihitung selisihnya sehingga didapatkan nilai selisihnya pada tabel VII dan tabel VIII. Nilai selisih tersebut kemudian dianalisis menggunakan ANOVA. Hasil uji statistik dapat dilihat pada Lampiran 7, dimana hasil tersebut menunjukkan suhu dan lama sterilisasi panas basah tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap viskositas dan daya sebar sediaan, karena pada suhu 110o C sudah terjadi perenggangan atau pemutusan ikatan antar monomer gelling agent. Oleh karena itu, adanya penambahan lama dan suhu sterilisasi diatas 110o C tidak memberikan perbedaan yang signifikan pada viskositas dan daya sebar.

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan tidak terdapat perubahan viskositas dan daya sebar yang signifikan terhadap variasi suhu dan lama sterilisasi yang diberikan. Sterilisasi sediaan dapat dilakukan pada suhu 115o C selama 20 menit untuk mendapatkan sediaan emulgel anti-acne ekstrak kulit buah manggis yang steril. B. Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat peneliti berikan, antara lain 1. Perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh sterilisasi panas basah terhadap efektifitas sediaan sebagai anti jerawat. 2. Perlu dilakukan penelitian pengaruh sterilisasi dengan metode lain seperti sterilisasi gas atau radiasi. 3. Perlu dilakukan uji stabilitas sediaan dalam penyimpanan. 4. Perlu dilakukan uji sterilitas emulgel anti-acne ekstrak kulit buah manggis terhadap fungi. 44

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Abdullah, G.Z., Abdulkarim, M.F., Mallikarjun, C., Mahdi, E.S., Basri, M., Sattar, M.A., Noor, A.M., 2013, Carbopol 934,940 and Ultrez 10 as Viscosity Modifiers of Palm Olein Esters Based Nano-Scaled Emulsion Containing Ibuprofen, J.Pharm. Sci, 26 (1), pp. 78. Allen, Jr., 2002, The Art, Science, and Technology of Pharmaceutical Compounding, American Pharmaceutical Association, Washington, pp. 268269, 304. Ansel, H.C., Popovich, N.G., 2009, Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery System¸Lea and Febiger, Philadelphia, pp. 262-263. Baranoski, S., dan Ayello, E.A., 2008, Wound Care Essentials : Practice Principle, Lippincott Williams and Willkins, Philladelphia, 97 (8),pp. 51. Benson, H.A.E., Watkinson, A.C., 2012, Transdermal and Topical Drug Delivery Principles and Practice, John Wiley&Sons, Inc., Canada, pp 283. Bindal, A., Narsimhan, G., Hem, S.L., Kulshreshtha, A., 2003, Effect of Steam Sterilization on the Rheology of the Polymer Solutions, Pharmaceutical Development and Technology, 8 (13),pp. 219-220. Chirag, P., Tyagi, S., Gupta, A.K., Sharma, P., Prajapati, P.M., Potdar, M.B., 2013, Emulgel : A Combination of Emulsion and Gel, Journal of Drug Discovery and Theurapeutics, 3 (1), pp. 72-74. DepKes, 1979, Farmakope Indonesia, edisi ketiga, Depkes RI, Jakarta, pp. 96. Fabbrocini G., Annuziata, M.C., Arco, V., Vita, De Vita, V., Lodi, G., Mauriello, M.C., Pastore, F., Monfrecola, G., 2010, Acne Scars : Pathogenesis, Classification and Treatment, Dermatology Reasearch and Practice, 2010, pp. 1-2. Garg, A., Aggarwal, D., Garg, S., and Singla, A. K., 2002, Spreading of Semisolid Formulations, Pharmaceutical Technology, pp. 84-102. Ghazali, S.A.I.S.M., Lian, G.E.C., Ghani, K.D.A., 2010, Chemical Constituent from Roots of Garcinia Mangostana (Linn.), International Journal Chemistry, 2 (1),pp. 135. Harmanto, N., 2006, Herbal untuk Keluarga Ibu Sehat dan Cantik dengan Herbal, PT. Media Elex Komputindo, Jakarta, pp. 25-26. Islam, M.T., Hornedo, N.R., Ciotti, S., Ackermann, C., Rheological Characterization of Topical Carbomer Gels Neutralized to Different pH, Pharmaceutical Research, 21 (7),pp. 1192-1193. Kaomongkolgit, R., Jamdee, K., Chaisomboon, N., 2009, Antifungal Activity of Alpha-Mangostin against Candida albicans, Journal of Oral Science, 51 (3), pp. 401-402. Koh, J.J., Qiu, S., Zou, H., Lakshminarayanan, R., Li, J., Zhou, X., et al., 2012, Rapid Bactericidal Action of Alpha-Mangostin against MRSA as An Outcome of Membrane Targeting, Elsevier, 1828 (2013), pp. 835. 45

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Larson, R.T., Lorch, J.M., Pridgeon, J.W., Becnel, J.J., Clark, G.G., Lan, Q., 2010, The Biological Activity of Alpha-Mangostin, a Larvicidal Botanic Mosquito Sterol Carrier Protein-2 Inhibitor, Journal Med. Entomol, 47 (2), pp. 255. Magdy, 2004, Optimization of Chlorphenesin Emulgel Formulation, The American Association of Pharmaceutical Scientist Journal, 6 (3), pp. 2. Martin, A., Swarbrick, J., and Cammarata, A., 1993, Physical Pharmacy, 3rd ed., Lea&Febriger, Philadelphia, pp. 1077-1151. Nadkarni K.M., Nadkarni, A.K., Indian Materia Medica, Vol. 1, Popular Prakashan Private Ltd., Bombay, pp. 564. Pena, L.E., 1989, Gel Dosage Forms : Theory, Formulation, and Processing, The Upjohn Company, Michigan, pp. 383-384. Pothitirat, W., Chomnawang, M.T., Gritsanapan, 2009, Anti-Acne-Inducing Bacterial Activity of Mangosteen Fruit Rind Extracts, Medicinal Principles and Practice, 19 (4), pp. 285. Roddick, J., 2012, Open Wound, Health Line, http://www.healthline.com/health/open-wound#Overview, diakses tanggal 19 April 2014. Rowe, R.C., Sheskey, P.J., Quinn, M.E., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients¸Pharmaceutical Press, USA, pp. 17, 112, 441-442, 445-446, 550551, 592-593, 596, 675-678. Schaechter, M., 2009, Encyclopedia of Microbiology, edisi ketiga, Elsevier Inc., USA, pp. 735-738. Singla, V., Saini, S., Joshi, B., Rana, A.C., 2012, Emulgel : A New Platform for Topical Drug Delivery, International Journal of Pharma and Bio Sciences, 3 (1), pp. 485-486. Subroto, M. A., 2008, Real Food True Health, PT. Agromedia Pustaka, Jakarta, pp. 73-74. Sukatta, Rugthaworn, Pitpiangchan dan Dilokkunanant, 2008, Development of Mangosteen Anti-Acne Gel, Kasetsart J (Nat Sci), 19, pp. 163-164. Taylor, J., 2001, Microorganisms and Biotechnology, Nelson Thomes Ltd, United Kingdom, pp. 38. WHO, 2012, The International Pharmacopoeia, 4th edition, pp. 1-5. Yuliani, S.H., 2013, Pengembangan Sediaan Transdermal Mangostin Ekstrak Manggis (Garcinia mangostana L.) : Studi Absorpsi Perkutan Mangostin secara In Vitro, Laporan Penelitian Internal, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Lampiran 1. Certificate of Analysis Dry Extract

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Lampiran 2. Material Safety Data Sheet Mangosteen PE

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Lampiran 3. Hasil orientasi konsentrasi ekstrak kulit manggis pada emulgel

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Lampiran 4. Penampakan emulgel anti-acne ekstrak kulit manggis sebelum dan setelah sterilisasi Suhu 110o C selama 5 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi Suhu 110 o C selama 10 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi Suhu 110 o C selama 15 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Suhu 110 o C selama 20 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi Suhu 110 o C selama 25 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi Suhu 115 o C selama 5 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Suhu 115 o C selama 10 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi Suhu 115 o C selama 15 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi Suhu 115 o C selama 20 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Suhu 115 o C selama 25 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi Suhu 121 o C selama 5 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi Suhu 121 o C selama 10 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Suhu 121 o C selama 15 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi Suhu 121 o C selama 20 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi Suhu 121 o C selama 25 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Suhu 127 o C selama 5 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi Suhu 127 o C selama 10 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi Suhu 127 o C selama 15 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Suhu 127 o C selama 20 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi Suhu 127 o C selama 25 menit Sebelum sterilisasi Sesudah sterilisasi

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Lampiran 5. Penampakan emulgel anti-acne ekstrak kulit manggis yang dioles pada kulit Keterangan = lingkaran merah merupakan area kulit yang diolesi emulgel

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Lampiran 6. Hasil uji sterilitas emulgel anti-acne ekstrak kulit manggis Kontrol kontaminasi media Kontrol emulgel tanpa sterilisasi Keterangan = lingkaran merah menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Hasil uji sterilitas emugel dengan sterilisasi autoklaf pada suhu 110o C 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit Keterangan = lingkaran merah menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Hasil uji sterilitas emugel dengan sterilisasi autoklaf pada suhu 115o C 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit Keterangan = lingkaran merah menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Hasil uji sterilitas emugel dengan sterilisasi autoklaf pada suhu 121o C 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit Keterangan = lingkaran merah menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Hasil uji sterilitas emugel dengan sterilisasi autoklaf pada suhu 127o C 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit Keterangan = lingkaran merah menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Lampiran 7. Hasil analisis statistik data viskositas dan daya sebar emulgel anti-acne ekstrak kulit manggis menggunakan R Uji Pengaruh Suhu dan Lama Waktu Sterilisasi i. Viskositas a. Uji normalitas (p-value) Suhu dan 5 10 waktu 110 o C 2,2e-16 1 o 115 C 2,2e-16 2,2e-16 121 o C 2,2e-16 2,2e-16 o 127 C 2,2e-16 1 15 20 25 2,2e-16 2,2e-16 2,2e-16 2,2e-16 2,2e-16 0,6369 0,6369 2,2e-16 0,6369 2,2e-16 1 1 Keterangan : Kuning = data terdistribusi tidak normal Karena data yang terdistiribusi tidak normal, digunakan uji statistik non parametrik yaitu uji Kruskal-wallis. - Hasil uji Kruskal-Wallis a. Hasil uji selisih viskositas tiap suhu dengan variasi lama waktu sterilisasi (5,10, 15, 20, 25 menit) Nilai P variasi suhu Suhu Hasil 110 o C 0,5128 115 o C 0,8038 121 o C 0,6938 o 127 C 0,8442 b. Hasil uji selisih viskositas tiap waktu dengan variasi suhu sterilisasi (110, 115, 121, 127o C) Nilai P variasi waktu waktu Hasil 5 menit 0,8847 10 menit 0,5817 15 menit 0,3229 20 menit 0,4588 25 menit 0,557

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 ii. Daya sebar a. Uji normalitas (p-value) Suhu dan 5 10 waktu 110 o C p-value < p-value < 2,2e-16 2,2e-16 o 115 C p-value < p-value = 1 2,2e-16 o 121 C p-value = p-value < 1 2,2e-16 o 127 C p-value = p-value < 1 2,2e-16 15 20 25 p-value < 2,2e-16 p-value < 2,2e-16 p-value = 1 p-value < 2,2e-16 p-value = 1 p-value = 0,6369 p-value = 0,6369 p-value < 2,2e-16 p-value = 1 p-value < 2,2e-16 p-value < 2,2e-16 p-value < 2,2e-16 Keterangan : Kuning = data terdistribusi tidak normal Karena terdapat data yang terdistribusi tidak normal, digunakan uji statistik non parametrik yaitu uji Kruskal-wallis. b. Hasil uji kruskal-wallis  Hasil uji selisih daya sebar tiap suhu sterilisasi dengan variasi lama sterilisasi (5, 10, 15, 20 25 menit) Nilai P variasi suhu Suhu Hasil o 110 C 0,3392 115 o C 0,6747 o 121 C 0,8935 o 127 C 0,5537  Hasil uji selisih daya sebar tiap lama sterilisasi dengan variasi suhu sterilisasi (110, 115, 121, 127o C) Nilai P variasi waktu waktu Hasil 5 menit 0,6776 10 menit 0,6373 15 menit 0,5499 20 menit 0,8147 25 menit 0,4618

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Uji Pengaruh Suhu dan Lama Waktu Sterilisasi i. DAYA SEBAR 1. Uji normalitas a. Suhu 110o C

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 b. Suhu 115 o C c. Suhu 121 o C

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 d. Suhu 127 o C

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 2. Uji kruskal-wallis a. Beda selisih daya sebar tiap suhu sterilisasi dengan variasi lama sterilisasi  Suhu 110 o C  Suhu 115 o C  Suhu 121 o C  Suhu 127 o C b. Beda selisih daya sebar tiap lama sterilisasi dengan variasi suhu sterilisasi  5 menit

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 ii.  10 menit  15 menit  20 menit  25 menit VISKOSITAS 1. Uji Normalitas a. Suhu 110 o C

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 b. Suhu 115 o C

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 c. Suhu 121 o C

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 d. Suhu 127 o C 2. Uji Kruskal-wallis a. Beda selisih viskositas tiap suhu sterilisasi dengan variasi lama sterilisasi  Suhu 110 o C  Suhu 115 o C  Suhu 121 o C

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75  Suhu 127 o C b. Beda selisih viskositas tiap lama sterilisasi dengan variasi suhu sterilisasi  5 menit  10 menit  15 menit  20 menit  25 menit

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 BIOGRAFI PENULIS Penulis skripsi dengan judul “Pengaruh Lama dan Suhu Sterilisasi Panas Basah terhadap Viskositas dan Daya Sebar Sediaan Emulgel Anti-Acne Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)” memiliki nama lengkap Rosiana Cahyono. Penulis lahir di Purwokerto pada tanggal 13 November 1992 dari pasangan Andriyanto dan Liddya sebagai anak tunggal. Pendidikan formal yang ditempuh penulis dimulai dari TK Santa Maria (1996-1998), SD Santa Maria (19982004), SMP Susteran (2004-2007), dan melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1 Purwokerto (2007-2010). Pada tahun 2010 penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis pernah menjadi sie. Humas seminar HIV AIDS (2011), sie. Humas seminar nasional diabetes (2011) serta sebagai anggota pengabdian masyarakat universitas Sanata Dharma (2011).

(95)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Respon anatomi struktur sekretori getah kuning, morfologi, dan fisiologi buah manggis (garcinia mangostana l.) Terhadap aplikasi kalsium secara eksternal
3
13
108
Pengaruh lingkungan (sifat fisik dan kimia tanah serta Iklim) terhadap cemaran getah kuning buah manggis (garcinia mangostana l.)
0
4
1
Optimasi parafin cair sebagai emolien dan gliserol sebagai humektan dalam sediaan krim ekstrak kulit buah manggis (garcinia mangostana L.) serta uji aktivitas antioksidan.
10
38
116
Uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksana, fraksi kloroform, dan fraksi etanol kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) terhadap escherichia coli resisten amoksisilin.
0
2
8
Pengaruh suhu dan lama sterilisasi metode panas basah dan panas kering terhadap viskositas dan daya sebar basis gel alginat.
0
7
136
Uji aktivitas antibakteri fraksi n heksana, fraksi kloroform, dan fraksi etanol kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) terhadap escherichia coli resisten amoksisilin
0
0
6
validasi metode analisis penetapan kadar A-mangostin pada gel ekstrak kulit buah manggis (garcinia mangostana L.) dengan KLT spektrodensitometer.
0
4
37
Optimasi sediaan pelembab ekstrak kering kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dengan kombinasi asam stearat dan trietanolamin sebagai emulgator - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
18
Formulasi sediaan pelembab ekstrak kering kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) dalam bentuk sediaan krim. - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
15
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Formulasi sediaan pelembab ekstrak kering kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) dalam bentuk sediaan krim. - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
8
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN - Formulasi sediaan pelembab ekstrak kering kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) dalam bentuk sediaan krim. - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
12
Formulasi emulgel anti acne ekstrak kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) : pengaruh kecepatan putar pada proses pencampuran terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik - USD Repository
0
0
171
Pengaruh konsentrasi ekstrak kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan emulgel - USD Repository
1
1
125
Uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksana, kloroform, dan etanol kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) terhadap staphylococcus aureus resisten amoksisilin - USD Repository
0
0
141
Pengaruh konsentrasi propilen glikol sebagai humektan terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel ekstrak kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) - USD Repository
0
0
120
Show more