KECEMASAN PADA INDIVIDU YANG MENGALAMI PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE II Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Gratis

0
0
119
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI i KECEMASAN PADA INDIVIDU YANG MENGALAMI PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE II Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh : Maria Melisa Kristina Lay Dasilba NIM : 089114147 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iv MOTTO Saat keadaan disekelilingku ada di luar kemampuanku, kuberdiam diri mencari Tuhan. Saat kenyatan di depanku mengecewakan perasaanku, ku menutup mata memandang Tuhan. Doa mengubah segala sesuatu. Seperti mata air di tanggan Tuhan mengalir ke manapun Kau mau, tiada yang mustahil di mata Tuhan. sebab doa mengubah segala sesuatu. Percaya pada diri sendiri, meski saat ini kamu sedang bersedih, karena penyemangat terbesar dalam hidupmu adalah dirimu sendiri. ORA ET LABORA Semangat.............. ^_^ PERSEMBAHAN Semua usahaku ini ku persembahkan untuk kemuliaan Tuhan yang menjadi penopangku Bunda Maria yang menjadi pelindungku Mami Lany dan Papi Hiong yang selalu memberi dukungan semangat dan doa serta bekerja keras membiayai kuliahku Mama Nona dan Papa Fei yang selalu memberikan semangat Ci Linda, Ko Indra, Ko Yohan dan Ongso galuh serta ponakan Rafael tersayang yang sangat ku cintai iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi KECEMASAN PADA INDIVIDU YANG MENGALAMI PEYAKIT DIABETES MELITUS TIPE II Maria Melisa Kristina Lay Dasilba ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala-gejala kecemasan dan cara mengatasi kecemasan pada individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II. Jenis penelitian ini adalah kualitatif fenomenologi untuk mengeksplorasi, mendeskripsikan maupun menginterpretasikan maksud dari suatu fenomena maupun pengalaman personal dan sosial yang dialami oleh subjek penelitian. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 4 orang. Subjek dipilih menggunakan teknik snowball atau bola salju yaitu dilakukan secara berantai dengan meminta informasi pada orang yang telah diwawancarai atau dihubungi sebelumnya, demikian seterusnya yang sesuai dengan kriteria yaitu subjek yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II, minimal 6 bulan, berusia 40-60 tahun, sudah menikah, dan masih memiliki pasangan. Hasil penelitian ini adalah keempat subjek mengalami kecemasan neurotik dan memiliki gejala kecemasan fisik serta gejala kecemasan psikologis. Gejala-gejala kecemasan tersebut dapat diatasi dengan cara relaksasi. Kata kunci : diabetes melitus tipe II, gejala kecemasan, cara mengatasi kecemasan. vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vii ANXIETY IN INDIVIDUALS WITH DIABETES MELLITUS TYPE II Maria Melisa Kristina Lay Dasilba ABSTRACT This study aimed to find out the symptoms of anxiety and how to overcome anxiety in individuals with diabetes mellitus type II. Type of research is qualitative phenomenology that explore, describe and interpret the intent and phenomena as well as personal and social experienced by subjects of research. Subjects in this study were four people. Subjects were selected using snowball technique that are performed in sequence by requestes information on people who have been intervied or contacted before, and so on according criteria of the subject who experienced diabetes mellitus type II at least six months, 40-60 years old, are married, and still has a pair. The results of this study are all of subject, four of them, experienced neurotic anxiety, have physical anxiety and psychological anxiety symptoms. These anxiety symptoms can be overcome with relaxations. Keyword: diabetes mellitus type II, symptoms of anxiety, how to overcome anxiety. vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ix KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan di surga atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik. Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan orang lain. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Tuhan Yesus dan Bunda Maria atas kesehatan, perlindungan dan bimbingan-Nya sampai saat ini sehingga penenulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 2. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Santa Dharma yang memberikan pelajaran berharga selama kuliah. 3. Bapak Prof. Dr. A. Supratiknya, Ph. D. selaku dosen pembimbing skripsi yang selalu memberikan pencerahan dengan saran dan pendapat yang sangat bermanfaat bagi penelitian ini. Terima kasih atas bimbingan, kesabaran, dan diskusi yang mengantarkan pemikiran dan penalaran penulis untuk terus bertumbuh. 4. Ibu Ratri Sunar A., M.Si selaku Kaprodi dan Dewi Soerna Anggreani, M. Si selaku wakaprodi 5. Ibu Agnes Indar Etikawati, S.Psi.,M.Si., selaku dosen pembimbing akademik. 6. Mas Gandung, Bu Nanik, dan Pak Gie, terima kasih atas bantuan yang sudah diberikan selama ini. Mas Doni atas bantuannya dalam peminjaman buku dan jurnal di ruang baca dan Mas Muji atas bantuan dan dukungannya selama ini, terutama pada saat penulis melakukan praktikum. 7. EOS, MLS, MRTH dan ADQ selaku individu dalam penelitian dalam penelitian ini. Terima kasih atas bantuan dan kesediaan kalian untuk berbagi pengalaman dan informasi dengan peneliti. 8. Teman-teman Psikologi 2008: Vista, Ocha, Hesti, Anggit dan semua teman yang namanya tidak bisa disebut satu persatu terima kasih atas semangat dan canda tawa selama kita belajar ilmu jiwa. 9. Ci Lia, Ci manda, Ella ndut, Budi Hartono, dan Erick terima kasih untuk keceriaan kalian, ayoo kita kumpul lagi yuk... 10. Nitha, Ermen, Nancy, Densi, Itin Moron, Idha dan Ipon terima kasih buat dukungan, motivasi dan doa bagi penulis, kalian adalah orang-orang yang ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xi DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................ iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...................................................... v ABSTRAK .................................................................................................... vi ABSTRACT .................................................................................................. vii HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK .................................. viii KATA PENGANTAR .................................................................................. ix DAFTAR ISI ................................................................................................. xi DAFTAR TABEL ........................................................................................ vx DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xvi BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................ 1 A. Latar Belakang ................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .............................................................................. 5 C. Tujuan ................................................................................................ 5 D. Manfaat .............................................................................................. 6 1. Manfaat teoritis ............................................................................ 6 2. Manfaat praktis ............................................................................ 6 BAB II. LANDASAN TEORI ..................................................................... 7 A. Kecemasan ......................................................................................... 7 1. Pengertian Kecemasan ................................................................. 7 xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xii B. 2. Teori Kecemasan ......................................................................... 9 a. Teori psikoanalitik ................................................................. 9 b. Teori interpersonal ................................................................. 9 c. Teori biologi ........................................................................... 10 3. Jenis-jenis Kecemasan ................................................................. 10 a. Kecemasan realitas ................................................................. 10 b. Kecemasan neurotik ............................................................... 11 c. Kecemasan moral ................................................................... 12 4. Gejala-gejala Kecemasan ............................................................. 12 a. Gejala fisiologis ..................................................................... 12 b. Gejala psikologis .................................................................... 12 5. Cara Mengatasi Kecemasan ......................................................... 13 a. Penerimaan diri ...................................................................... 13 b. Relaksasi ................................................................................ 13 c. Psikoterapi .............................................................................. 15 Diabetes Melitus Tipe II .................................................................... 18 1. Pengertian Diabetes Melitus ........................................................ 19 2. Klasifikasi Diabetes Melitus ........................................................ 20 3. Epidemiologi Diabetes Melitus .................................................... 22 4. Gejala-gejala Diabetes Melitus .................................................... 23 5. Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Diabetes Melitus ......... 24 a. Usia ........................................................................................ 24 b. Stress ...................................................................................... 24 c. Pola makan ............................................................................. 24 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xiii C. d. Obesitas atau kegemukan ....................................................... 25 e. Kurangnya berolah raga ......................................................... 25 6. Komplikasi ................................................................................... 25 a. Hiperglekimia ........................................................................ 25 b. Kerusakan ginjal .................................................................... 25 c. Gangren .................................................................................. 26 d. Gangguan penglihatan ........................................................... 26 e. Serangan jantung koroner ...................................................... 26 Kecemasan Pada Individu Yang Mengalami Penyakit Diabetes Melitus Tipe II ................................................................................... 27 Kerangka Penelitian ........................................................................... 34 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ................................................. 35 A. Jenis dan Metode Penelitian ............................................................... 35 B. Fokus Penelitian ................................................................................. 36 C. Subjek Penelitian ............................................................................... 36 1. Kriteria subjek penelitian ............................................................. 36 2. Prosedur pengambilan subjek penelitian ..................................... 37 D. Metode Pengumpulan Data ................................................................ 38 E. Metode Analisis Data ......................................................................... 39 1. Organisasi data ............................................................................. 39 2. Koding (memberi kode) ............................................................... 40 3. Intepretasi ..................................................................................... 40 Pemberian Kredibilitas Data .............................................................. 40 D. F. xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xiv BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................... 42 A. Proses Penelitia .................................................................................. 42 1. Persiapa Penelitian ....................................................................... 42 2. Pelaksanaan Penelitian ................................................................. 43 3. Jadwal Pengambilan Data ............................................................ 44 4. Proses Analisis Data .................................................................... 45 Analisis Subjek .................................................................................. 45 1. Subjek 1 (OES) ............................................................................ 45 2. Subjek 2 (MLS) ............................................................................ 51 3. Subjek 3 (MRTH) ........................................................................ 57 4. Subjek 4 (ADQ) ........................................................................... 63 C. Analisis Antar Subjek ........................................................................ 68 D. Pembahasan ........................................................................................ 69 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 75 A. Kesimpulan ........................................................................................ 75 B. Keterbatasan Penelitian ...................................................................... 76 C. Saran .................................................................................................. 76 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 78 LAMPIRAN .................................................................................................. 81 B. xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xv DAFTAR TABEL Tabel 1. Panduan Wawancara ............................................................................... 39 Tabel 2. Jadwal Pengambilan Data ....................................................................... 44 Tabel 3. Analisis Antar Subjek ............................................................................. 68 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xvi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Pernyataan Persetujuan Wawancara Subjek 1 (OES) ........ Lampiran 2. Biodata Subjek 1 (OES) .............................................................. Lampiran 3. Koding Subjek 1 (OES) .............................................................. Lampiran 4. Surat Pernyataan Persetujuan Wawancara Subjek 2 (MLS) ........ Lampiran 5. Biodata Subjek 2 (MLS) ............................................................. Lampiran 6. Koding Subjek 2 (MLS) .............................................................. Lampiran 7. Surat Pernyataan Persetujuan Wawancara Subjek 3 (MRTH) .... Lampiran 8. Biodata Subjek 3 (MRTH) .......................................................... Lampiran 9. Koding Subjek 3 (MRTH) .......................................................... Lampiran 10. Surat Pernyataan Persetujuan Wawancara Subjek 4 (ADQ) ..... Lampiran 11. Biodata Subjek 4 (ADQ) ........................................................... Lampiran 12. Koding Subjek 4 (ADQ) ............................................................ xvi 81 82 83 87 88 89 93 94 95 97 98 99

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada era perkembangan saat ini banyak orang yang memiliki gaya hidup yang tidak sehat, salah satunya adalah dari pola makan yang dimiliki individu. Hal ini disebabkan karena tuntutan waktu yang mengharuskan individu melakukan aktivitas dengan cepat dan agar lebih efisien individu memilih mengkonsumsi makanan siap saji. Akibat dari pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat tersebut, individu akan lebih mudah mengalami gangguan kesehatan. Salah satu gangguan kesehatan saat ini yang sering kita jumpai adalah penyakit diabetes melitus. Penyakit diabetes melitus dikenal sebagai penyakit kencing manis, yaitu penyakit yang banyak di derita oleh sebagian penduduk Indonesia. Bahkan negara ini memiliki urutan ke empat terbesar di dunia. Pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia telah menjadi 14 juta orang, dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur (Soegondo, 2007). Bahkan resiko kematian pengidap diabetes melitus empat kali lebih besar dibandingkan pada orang yang tidak mengidap penyaki diabetes melitus. Angka menunjukkan penyebab kematian 50% akibat penyakit jantung koroner dan 30% akibat gagal ginjal. Keduanya merupakan komplikasi dari penyakit diabetes melitus. Selain kematian, diabetes melitus juga menyebabkan kecacatan. Menurut WHO (2003) saat ini ada sekitar 230 juta penderita diabetes melitus di seluruh dunia. Angka ini diperkirakan 1

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 meningkat menjadi 350 juta pada tahun 2025. Bisa dikatakan setiap tahun, ada enam juta penyandang diabetes melitus baru di dunia. Bersadarkan fakta diatas maka dapat disimpulkan bahwa diabetes melitus merupakan penyakit yang mematikan dan memerlukan penanganan yang lebih serius dibandingkan penyakit yang lainnya (Anderson, 2004). Penyakit diabetes melitus dapat dikendalikan dengan mengontrol kadar gula dengan cara mengatur asupan dan pembakaran kalori. Penyakit diabetes melitus terjadi pada individu yang mengalami peningkatan gula (glukosa) dalam darah dan mengakibatkan kekurangan insulin atau reseptor insulin yang tidak berfungsi dengan baik (Christyani, 2007). Diabetes melitus memiliki beberapa klasifikasi yaitu : 1. Diabetes melitus tipe I Pada diabetes melitus tipe I, terjadi kerusakan pada sel beta (β) pankreas melalui reaksi yang dinamakan sebagai reaksi autoimun, akibat kerusakan tersebut pankreas gagal untuk menghasilkan hormon insulin (Katzung, 2007). 2. Diabetes melitus tipe II Diabetes melitus tipe II ini pada awalnya, sel tubuh menjadi kurang peka terhadap insulin sehingga dibutuhkan lebih banyak insulin untuk dapat memasukan glukosa atau gula ke dalam sel. Individu dengan kelemahan pada pankreas akan mengalami keterbatasan dalam produksi insulin biasanya disebabkan karena faktor usia (Katzung, 2007).

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 3. Diabetes melitus tipe III Diabetes melitus tipe III yang dikenal dengan diabetes melitus gestasional terjadi pada ibu hamil dan diketahui pada saat kehamilan, disebabkan karena adanya ketidakseimbangan hormon. Diabetes melitus tipe ini beresiko terhadap proses persalinan (Katzung, 2007). Penelitian ini akan membahas mengenai kecemasan pada individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II karena selain merupakan penyakit keturunan, diabetes melitus tipe II merupakan bentuk penyakit diabetes paling umum diseluruh dunia. Selain itu, diabetes melitus tipe II ini merupakan dampak dari gaya hidup yang tidak sehat (tidak ideal). Penyakit diabetes melitus tipe II berbeda dengan penyakit diabetes tipe lainnya. Hal ini dikarenakan diabetes melitus tipe II lebih sering dijumpai pada orang dewasa. Selain itu, diabetes melitus tipe II lebih cenderung disebabkan oleh gangguan fungsi insulin. Gangguan insulin yang terjadi sebenarnya dapat di picu oleh beberapa hal yang kemudian disebut sebagai faktor pemicu diabetes. Faktor pemicu tersebut meliputi gaya hidup yang tidak sehat, obesitas, pola makan yang tidak teratur dan kurang aktifitas fisik atau olahraga. Faktor keturunan bukanlah faktor pemicu utama untuk diabetes melitus tipe II. Sedangkan, diabetes melitus tipe I disebabkan oleh gangguan produksi insulin saja dan diabetes tipe III yang disebut dengan gestasional terjadi pada ibu hamil karena adanya ketidakseimbangan hormon. Penyakit diabetes melitus tipe II juga lebih mudah menyerang mereka yang berusia 40 tahun atau lebih, yaitu pada saat mereka bertambah usia dan mengalami kegemukan.

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Penyakit diabetes melitus tipe II dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Menurut Putra dan Swastini (2009) dalam jurnalnya mengatakan bahwa individu yang mengalami diabetes melitus tipe II ini, akan mengalami kecemasan dalam menghadapi penyakitnya. Kecemasan merupakan respon individu terhadap keadaan yang tidak menyenangkan (penyakitnya) yang mengganggu kehidupannya. Kecemasan yang dihadapi oleh masing-masing individu yang mengalami diabetes melitus tipe II berbeda-beda sesuai dengan kondisi individu tersebut. Individu yang menderita diabetes melitus tipe II sangat beresiko mengalami luka yang tak kunjung sembuh dan beresiko untuk di amputasi. Hilangnya bagian tubuh akibat amputasi yang dialami menimbulkan perasaan cemas yang berkepanjangan karena ketidakmampuan melakukan aktivitas seharihari secara optimal (WHO, 2003). Perasaan cemas yang muncul dalam diri individu disebabkan karena diagnosa penyakit yang dideritanya. Gangguan tersebut dikaitkan dengan ancaman adanya kematian, komplikasi yang timbul karena penyakit diabetes melitus tipe II seperti hipoglikemia yang tak kunjung sembuh (Brunner & Suddarth, 2002). Penelitian yang dilakukan oleh peneliti berdasarkan pengalaman keluarga peneliti ditemukan adanya kecemasan pada individu yang mengalami diabetes melitus tipe II bahkan individu menggunakan insulin secara terus menerus sehingga menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Selain itu, ada berbagai respon emosional yang muncul dari individu seperti perasaan sedih, takut,

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 khawatir, dan cemas akibat penyakit yang dialami individu. Penyakit diabetes individu akan semakin memburuk saat individu dalam keadaan cemas dan masalah emosional ini menyebabkan kadar gula berada dalam keadaan tinggi secara kronis (Mc Quade & Aikman, 1987). Menurut Christyani (2007) subjek diabetes melitus tipe II pada umumnya mengalami cemas terhadap segala hal yang berhubungan dengan diabetes melitus tipe II, misalnya cemas terhadap kadar gula yang tinggi, cemas terhadap komplikasi akibat diabetes dan pada laki-laki cemas terhadap disfungsi seksual. Individu yang mengalami diabetes melitus tipe II akan mengalami cemas karena penyakit ini adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan, memperpendek umur, pengobatannya harus dilakukan seumur hidup, harus melaksanakan diet yang ketat dan hidupnya tidak bebas lagi (Tarno, 2004). B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka identifikasi masalah yang dapat dirumuskan dari penelitian ini adalah : 1. Bagaimana gejala-gejala kecemasan yang muncul pada individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II? 2. Bagaimana individu yang mengalami penyakit diabetes melitus II mengatasi gangguan kecemasannya? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Penelitian ini untuk mengetahui kecemasan pada individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II.

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui gejala-gejala kecemasan yang muncul pada individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II. b. Melihat cara mengatasi kecemasan pada individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam bidang ilmu psikologi (pada umumnya), pada ilmu psikologi kesehatan, dan ilmu psikologi kesehatan mental (pada khususnya). 2. Manfaat Praktis Dapat dijadikan acuan untuk mengenali gejala-gejala yang muncul dan mengatasi kecemasan yang timbul akibat penyakit diabetes melitus tipe II.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 BAB II LANDASAN TEORI A. Kecemasan 1. Pengertian kecemasan Menurut Freud (dalam Semiun, 2005), kecemasan merupakan suatu keadaan perasaan yang tidak menyenangkan yang disertai dengan sensasi fisik yang memperingatkan orang terhadap bahaya yang akan datang. Keadaan yang tidak menyenangkan itu sering sulit menunjuk perasaan dengan tepat, tetapi kecemasan itu sendiri selalu dirasakan. Kecemasan berfungsi sebagai mekanisme yang melindungi ego karena kecemasan memberi sinyal kepada kita bahwa ada bahaya dan kalau tidak dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya itu akan meningkat sampai ego dikalahkan. Freud (dalam Semiun, 2005), mengemukakan gagasan bahwa kecemasan disebabkan oleh perasaan tidak berdaya yang luar biasa. Bila kecemasan meningkat sampai individu merasa kelangsungan hidupnya terancam, maka simtom-simtom neurotik mungkin terbentuk sebagai usaha untuk menghilangkan perasaan emosional. Kecemasan pada dasarnya merupakan pengalaman ketidakberdayaan, seperti perasaan tidak berdaya untuk menangani kebutuhankebutuhan internal, tidak berdaya menanggulangi ancaman-ancaman dari luar dan isyarat-isyarat disintergrasi, dan tidak berdaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Kecemasan adalah suatu perasaan (mood) yang ditandai oleh gejala-gejala seperti ketegangan fisik, dan kekhawatiran tentang masa depan (American 7

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 Psychiatric Association, 1994; Barlow, 2002). Pada manusia, kecemasan bisa jadi berupa perasaan gelisah yang bersifat subjektif, sejumlah perilaku (tampak khawatir dan gelisah, resah), atau respon fisiologis yang bersumber di otak dan tercermin dalam bentuk denyut jantung yang meningkat dan otot yang menegang. Kecemasan merupakan keadaan suasana hati yang berorientasi pada masa yang akan datang, yang ditandai oleh adanya kekhawatiran karena tidak dapat memprediksi atau mengontrol kejadian yang akan datang (Barlow & Craske, 1994). Kecemasan merupakan suatu kondisi yang sering dialami oleh individu dalam kehidupan sehari-hari. Kecemasan merupakan salah satu aspek kepribadian yang menjadi konsep utama dalam beberapa teori kepribadian. Menurut Preist (1987), kecemasan adalah perasaan yang dialami ketika seseorang berpikir tentang sesuatu yang tidak meyenangkan yang akan terjadi dan timbul karena berbagai alasan serta situasi. Pada kecemasan, bahayanya bersifat tidak jelas dan terkadang irasional, misalnya ancaman, adanya hambatan terhadap keinginan pribadi atau perasaanperasaan tertekan yang muncul dalam kesadaran. Hal ini dapat terjadi karena kekecewaan, ketidakpuasan, tidak aman, atau adanya perasaan bermusuhan dengan orang lain. Kecemasan bersifat tidak jelas atau kabur oleh karena itu kecemasan menjadi sangat subjektif, artinya sesuatu yang menimbulkan kecemasan pada diri seseorang belum tentu dapat menimbulkan kecemasan pada orang lain.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 Jadi definisi yang dipakai dalam penelitian ini adalah kecemasan sabagai suasana hati yang ditandai oleh efek negatif dan gejala-gejala ketegangan dimana seseorang mengantisipasi kemungkinan datangnya bahaya atau kemalangan di masa yang akan datang dengan perasaan khawatir. Kecemasan melibatkan perasaan, perilaku, dan respons-respons fisiologis. 2. Teori tentang kecemasan Menurut Stuart dan Sundeen (1998) teori yang telah dikembangkan untuk menjelaskan penyebab kecemasan, antara lain : a. Teori psikoanalitik Dalam pandangan psikoanalitik ansietas atau kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitife seseorang, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi ansietas atau kecemasan meningkatkan ego bahwa adanya bahaya (Freud dalam Semiun, 2005). b. Teori interpersonal Kecemasan terjadi karena ketakutan akan pola interpersonal. Hal ini juga berhubungan dengan trauma pada masa perkembangan atau pertumbuhan seperti kehilangan, perpisahan yang menyebabkan seseorang menjadi tidak berdaya. Individu yang mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah untuk mengalami kecemasan berat dan penolakan interpersonal menyebabkan individu merasa tidak berharga (Stuart & Sundeen, 1998).

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 c. Teori biologi Menurut Kendler, Davis & Kessler (1997) Berdasarkan teori biologi, kontribusi kecil dari banyak gen di wilayah-wilayah kromosom yang berbeda secara kolektif membuat kita mengalami cemas. Kecemasan juga berhubungan dengan sirkuit otak dan sistem neurotransmiter tertentu. Daerah otak yang paling sering berhubungan dengan kecemasan adalah sistem limbik yang bertindak sebagai mediator antara batang otak dan korteks (Charney & Drevets, 2002). Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. Penghambat asam aminobutirik-gamma neroregulator (GABA) dan endorfin juga memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan kecemasan. 3. Jenis-jenis kecemasan Jenis-jenis kecemasan yang dimaksud adalah pembagian kecemasan mengikuti dasar tertentu. Klasifikasi jenis ini merupakan varian dari kecemasan yang muncul dikarenakan ada bahaya yang mengancam. Freud (dalam Semiun, 2005) membagi kecemasan berdasarkan ketergantungan ego pada id, yaitu: a. Kecemasan Realitas Kecemasan ini merupakan kecemasan atau rasa takut akan bahayabahaya nyata di dunia luar, seperti banjir, gempa, runtuhnya gedung-gedung. Kecemasan realitas ini berbeda dengan ketakutan karena tidak menyangkut objek ketakutan yang spesifik.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 b. Kecemasan Neurotik Kecemasan neurotik adalah kecemasan terhadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan yang bisa mendatangkan hukuman baginya. Misalnya menjadi agresif atau hanyut dalam hasrat seksual. Berlandaskan penjelasan diatas, sebab hukuman yang ditakutkan oleh ego individu berasal dari dalam diri ke luar diri individu misalnya kecemasan terhadap kelemahan atau kekurangan yang dimilikinya dan ia berusaha menutupi kelemahan atau kekurangan yang dimilikinya agar tidak diketahui orang lain. Kecemasan neurotik merupakan kecemasan yang berasal dari dalam tubuh individu. Gejala fisiologis yang biasanya menyertai adalah ketegangan otot, kegelisahan, gemetar, detak nadi yang cepat, susah tidur, mudah tersinggung. Daradjat (1983) mengatakan bahwa kecemasan merupakan rasa cemas terhadap penyakit. Bentuk penyakit yang paling sederhana ialah cemas umum, dimana orang merasa cemas yang kurang jelas, tidak tertentu dan tidak ada hubungannya dengan apa-apa. Kecemasan tersebut akan mempengaruhi keseluruhan diri pribadi. Kecemasan neurotik berupa cemas akan benda-benda atau hal-hal tertentu misalnya takut melihat darah, serangga, binatang-binatang kecil, takut tempat tinggi atau orang banyak. Ada pula cemas dalam bentuk ancaman yaitu kecemasan yang menyertai gejalagejala gangguan dan penyakit jiwa.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 c. Kecemasan Moral Kecemasan moral terjadi karena konflik antara ego dan superego. Kecemasan moral juga terjadi bila kita gagal melakukan apa yang dianggap baik atau benar secara moral. Kecemasan moral ini juga merupakan salah satu ketakutan terhadap hati nurani. Kecemasan moral ini juga mempunyai dasar dalam realitas, karena dimasa lampau orang telah mendapatkan hukuman sebagai akibat dari perbuatan yang melanggar moral dan mungkin akan mendapat hukuman lagi. Kecemasan moral merupakan kecemasan yang timbul akibat tekanan superego atas ego individu berhubung individu telah atau sedang melakukan tindakan yang melanggar moral. Kecemasan ini menyatakan diri dari dalam diri dalam bentuk rasa bersalah atau rasa berdosa (Koeswara, 1991). 4. Gejala-gejala kecemasan Gejala adalah tanda-tanda yang menunjukkan adanya keadaan tetentu. Menurut Mustafa Fahmy (1977) gejala-gejala kecemasan dikategorikan dalam dua gejala, yaitu : a. Gejala Fisiologis : tanda-tanda kecemasan yang tampak pada gejala fisik atau pada bagian tubuh individu yang ditandai dengan ujung jari dan tangan dingin, banyak mengeluarkan keringat, nafsu makan hilang, detak jantung cepat, tidur tidak nyenyak, kepala pusing dan pernafasan terganggu. b. Gejala Psikologis : tanda-tanda kecemasan yang tampak pada psikologis inidividu yang berkaitan dengan penderitaan seperti ketakutan yang

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 berlebihan seakan-akan terjadi bahaya atau kecelakaan, tidak mampu memusatkan perhatian, tidak berdaya, tidak percaya diri, serta ingin lari dalam menghadapi suasana kehidupan. 5. Cara Mengatasi Kecemasan Menurut Bruno, 1998 (dalam Christyani, 2007) ada beberapa cara yang untuk mengatasi kecemasan yang muncul dari dalam diri agar hidupnya menjadi lebih baik dan tenang. a. Penerimaan diri Penerimaan diri menurut Hurlock (1973) adalah suatu tingkat kemampuan dan keinginan individu untuk hidup dengan segala karakteristik dirinya. Individu yang dapat menerima dirinya diartikan sebagai individu yang tidak bermasalah dengan dirinya sendiri, yang tidak memiliki beban perasaan terhaap diri sendiri sehingga individu lebih banyak memiliki kesempatan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Individu cenderung ingin sempuran dan ketika individu tersebut gagal memenuhi kriteria pribadi, individu tersebut merasa jijik dengan diri sendiri. Penerimaan diri seharusnya membuat individu mencintai diri sendiri dengan segala kesalahan yang ada dan peduli pada diri sendiri meskipun mempunyai kekurangan. Kekurangan yang dipunyai oleh seseorang adalah termasuk penyakit yang ada di dalam tubuh individu. b. Relaksasi Banyak hal yang dapat individu lakukan untuk mengolah kekhawatiran yang berlebihan, salah satunya adalah dengan metode relaksasi. Metode ini

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 terbukti dapat membuat perasaan seseorang menjadi lebih baik. Ada dua metode relaksasi yang cukup mudah dan murah untuk dilakukannya, yaitu : 1) Olah raga Olah raga secukupnya, diawali dengan berjalan kaki sekitar 15 sampai 20 menit akan membantu individu merasa rileks apalagi bila setelah berolah raga individu duduk di kursi yang nyaman, memejamkan mata, dan melamun sejenak tanpa berupaya mengendalikan arah peristiwaperistiwa mental. Tubuh akan terasa sangat rileks secara otomatis. Berjalan kaki meningkatkan aktivitas bagian sympathetic dari sistem saraf otonom sedangkan duduk dengan mata terpejam secara otomatis menghidupkan kegiatan antagonis dari saraf parasympathetic sistem saraf otonom. Relaksasi akan muncul sesudahnya tanpa usaha yang diakukan secara sadar. Olah raga secukupnya juga membantu pembentukan endorfin, pengirim pesan kimiawi dalam otak yang memberi perasaan sejahtera dalam diri individu. 2) Mandi air hangat Mandi dengan air hangat akan membantu otot-otot rileks secara otomatis karena kehangatan akan memperbesar pembuluh darah sehingga menghasilkan aliran arah yang lebih besar ke seluruh tubuh. Mandi air hangat ini dapat dilakukan dengan mengguyur tubuh dengan air hangat atau berendam dalam air hangat di spa atau bak air hangat tetapi tidak baik juga jika temperatur air hangat terlalu tinggi dan berendam terlalu lama. Individu disarankan tidak meminum minuman keras pada saat berendam

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 dalam bak air hangat karena minuman keras akan menurunkan kesiagaan sedangkan berendam dalam air hangat juga akan menurunkan kesiagaan. c. Psikoterapi Ada beberapa bentuk mengatasi kecemasan melalui pendekatan psikoterapi menurut Jeffry, Spence, dan Beverly (2003), yaitu : 1) Pendekatan psikodinamis Pendekatan psikodinamis ini dirintis oleh Sigmund Freud dalam kerangka kerja psikoanalisis klasi. Dari pendekatan ini, kecemasan merefleksikan energi yang dilekatkan kepada konflik-konflik tak sadar dan usaha ego untuk membiarkannya tetap terepresi. Psikoanalisis tradisional menyadarkan bahwa kecemasan individu merupakan simbolisasi dari konflik dalam (inner conflict) diri individu; dengan adanya simbolisasi ini, ego dapat dibebaskan dari menghabiskan energi untuk melakukan represi. Dengan demikian ego dapat lebih memberi perhatian kepada tugas-tugas yang lebih kreaktif dan memberi peningkatan. Terapis psikodinamis yang lebih modern juga menyadarkan individu mengenai sumber-sumber konflik yang berasal dari dalam. Tetapi, dibandingkan dengan pendekatan yang tradisional, individu lebih menjajaki sumber kecemasan yang berasal dari keadaan hubungan sekarang ini dari pada hubungan-hubungan di masa lalu atau masa lampau, dan mendorong individu untuk mengembangkan tingkah laku yang lebih adaptif. Terapis semacam ini lebih pendek waktu terapinya dan lebih direktif dibandingkan dengan psikoanalisis tradisional. Meskipun terapis-

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 terapis psikodinamik mungkin terbukti membantu dalam menangani gangguan-gangguan kecemasan, bukti empiris ekstensif yang membuktikan efektivitas tidaklah mencukupi (USDHHS, 1999). 2) Pendekatan kognitif Mementingkan berfikir rasional sebagai tujuan terapeutik, menekankan modifikasi atau pengubahan keyakinan irasional yang telah merusak berbagai konsekuensi emosional dan tingkah laku. Atau secara ringkasnya seorang klien didukung untuk menggantikan ide-ide yang tidak rasional dengan ide yang lebih rasional untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam hidupnya (Andi, 2010). Terapi kognitif dari Beck berusaha untuk mengidentifikasi dan mengoreksi keyakinan-keyakinan yang disfungsional atau terdistorsi. Terapis kognitif membantu individu untuk mengenali cacat-cacat logis dalam pemikiran individu dan membantu individu untuk memandang situasi secara rasional. Individu mungkin meminta untuk mengumpulkan bukti-bukti untuk menguji keyakinan individu, yang mungkin akan membawa individu untuk mengubah keyakinan yang ternyata tidak berdasar pada realitas. Terapis juga membantu individu untuk mengembangkan ketrampilan sosial untuk meningkatkan efektivitas interpersonal individu dan mengajari individu bagaimana cara menghadapi penolakan sosial bila itu terjadi tanpa mengkatastrofekannya (Mariam dan Free Fall, 1985, dalam Jeffrey, Spencer, dan Beverly, 2003).

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 3) Pendekatan humanistik Pendekatan humanistik percaya bahwa banyak dari kecemasan yang berasal dari represi sosial diri kita yang sesungguhnya. Kecemasan terjadi bila ketidakselarasan antara inner self seseorang yang sesungguhnya dan kodek sosialnya mendekat ke arah kesadaran. Individu merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, tetapi tidak mampu untuk mangatakan apa itu karena bagian diri yang tidak diakui tidak secara langsung diekspresikan dalam kesadaran. Karena ketidaksetujuan individu lain, individu mungkin gagal mengembangkan bakat mereka dan gagal mengenali perasaan-perasaan yang autentik. Dengan demikian terapisterapis humanistik bertujuan membantu individu untuk memahami dan mengekspresikan bakat-bakat serta perasaan-perasaan individu yang sesungguhnya. Sebagai akibatnya, individu menjadi bebas untuk menemukan dan menerima diri individu yang sesungguhnya, dan tidak bereaksi dengan kecemasan bila perasaan-perasaan individu yang sesungguhnya dan kebutuhan-kebutuhan individu mulai muncul ke permukaan (Mariam dan Free Fall, 1985, dalam Jeffrey, Spencer, dan Beverly, 2003). Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa cara yang dapat digunakan oleh individu diabetes melitus tipe II untuk mengatasi kecemasan yang muncul dari dalam diri agar hidupnya menjadi lebih baik dan lebih tenang. Penerimaan diri individu pada penyakit yang ada dalam diri dan juga mencintai diri dengan segala keberadaannya adalah salah satu cara untuk mengurangi

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 kecemasan. Individu dapat melakukan relaksasi untuk mengatasi kecemasan yang muncul. Relaksasi dapat membuat perasaan seseorang menjadi lebih baik, bahkan tidak membutuhkan biaya yang cukup mahal dengan berolahraga atau mandi air hangat. Mandi dengan air hangat akan membuat otot-otot rileks secara otomatis karena kehangtan akan memperbesar pembuluh darah sehingga menghasilkan aliran darah yang lebih besar ke seluruh tubuh. Selain itu, psikoterapi juga dapat membantu mengatasi kecemasan yang muncul pada individu dan tentu saja memerlukan biaya yang besar dibandingkan dengan metode relaksasi. B. Penyakit Diabetes Melitus Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang berdampak pada produktivitas dan dapat menurunkan Sumber Daya Manusia. Penyakit ini tidak hanya berpengaruh secara individu, tetapi sistem kesehatan suatu Negara. Walaupun belum ada survey nasional, sejalan dengan perubahan gaya hidup termasuk pola makan masyarakat, diperkirakan penderita diabetes melitus ini semakin meningkat, terutama pada kelompok umur dewasa ke atas pada seluruh status sosial ekonomi. Saat ini upaya penanggulangan penyakit diabetes melitus belum menempati skala prioritas utama dalam pelayanan kesehatan, walaupun diketahui dampak negatif yang ditimbulkannya cukup besar antara lain komplikasi kronik pada penyakit jantung kronis, hipertensi, otak, system saraf, hati, mata dan ginjal. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit degeneratif, dimana terjadi gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein serta ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemia) dan dalam urin (glukosuria).

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 1. Pengertian Diabetes Melitus Diabetes melitus adalah penyakit yang hiperglikemia yang ditandai dengan keadaan dengan kegiatan absolut insulin atau penurunan relatif insensitivitas sel terhadap insulin. Diabetes melitus dimengerti masyarakat umum sebagai penyakit metabolik yang ditandai dengan tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut maupun kronik, sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif maupun insulin absolut dalam tubuh. Gangguan primer diabetes melitus terletak pada metabolisme karbohidrat, yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme protein dan lemak. Pengidap diabetes melitus sebagian besar merupakan penyakit keturunan (Guthrie & Guthrie, 2009). Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit yang banyak diderita oleh sebagian penduduk Indonesia. Resiko kematian pengidap diabetes melitus empat kali lebih besar dibandingkan nondiabetik. Angka menunjukkan penyebab kematian 50% akibat jantung koroner dan 30% akibat gagal ginjal. Keduanya merupakan komplikasi dari penyakit diabetes melitus. Selain kematian, diabetes melitus juga menyebabkan kecacatan. Diabetes melitus sendiri didefinisikan sebagai penyakit dimana tubuh pengidapnya tidak bisa mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darahnya. Jadi, pengidap mengalami gangguan metabolisme dari distribusi gula oleh tubuh sehingga tubuh kita tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau tidak mampu menggunakan insulin secara efektif. Akibatnya terjadi kelebihan gula di dalam darah sehingga menjadi racun di

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 dalam tubuh. Sebagian glukosa yang tertahan dalam darah tersebut melimpah ke sistem urine (Anderson, 2004). Diabetes melitus merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan sehingga memerlukan penanganan yang serius. Pengobatan yang dilakukan oleh para pengidap diabetes melitus adalah obat oral, olah raga, diet, serta terapi insulin. Penyakit diabetes melitus juga menyebabkan komplikasi apabila tidak mendapat penanganan yang serius. Komplikasi diabetes melitus tersebut antara lain jantung koroner, gagal ginjal, kebutaan atau amputasi (Soegondo, 2007). Anderson (2004), menyebutkan bahwa jika yang mengidap adalah ibu hamil maka penyakit ini dapat membahayakan baik pada ibu ataupun sang bayi yang akan dilahirkan. 2. Klasifikasi diabetes melitus Dokumen konsensus tahun 1997 oleh American Diabetes Association’s Expert Committee in the Diagnosis and Classification of Diabates Mellitus menjabarkan empat kategori utama diabetes: tipe 1, dengan karateristik ketiadaan insulin absolut; tipe 2, ditandai dengan resistensi insulin disertai efek sekresi insulin. Tipe 3, tipe spesifik lainnya; dan tipe 4, diabetes gestasional atau diabetes yang terjadi pada ibu hamil (Elizabeth, 2009). a. Diabetes Melitus tipe I Diabetes melitus tipe I adalah penyakit hiperglikemia akibat ketiadaan absolut insulin. Sebelumnya, tipe diabetas ini disebut ini sebagai diabetes melitus dependen insulin (IDDM), karena individu pengidap penyakit ini harus mendapat insulin pengganti. Diabetes melitus tipe I

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 biasanya di jumpai pada individu yang tidak gemuk berusia kurang dari 30 tahun, dengan perbadingan laki-laki lebih sedikit dari wanita, karena insidens tipe I dapat timbul pada semua kelompok usia (Elizabeth, 2009). b. Diabetes Melitus tipe II Hiperglekemia yang disebabkan insensitivitas seluler terhadap insulin disebut diabetes melitus tipe 2. Selain itu, terjadi defek sekresi insulin ketidakmampuan pankreas untuk menghasilkan insulin yang cukup untuk mempertahankan glukosa plasma yang normal. Meskipun kadar insulin mungkin sedikit menurun atau berada dalam rentang normal, jumlah insulin tetap rendah sehingga kadar glukosa plasma meningkat. Karena insulin tetap dihasilkan oleh sel-sel beta (β) pankreas, diabetes melitus tipe 2 yang biasanya disebut diabetes melitus tidak tergantung insulin atau NIDDM (noninsulin insulin dependent diabetes melitus), sebenarnya kurang tepat karena banyak individu yang mengidap penyakit diabetes melitus tipe 2, lebih banyak wanita yang mengidap penyakit ini dibandingkan pria. Predisposisi genetik yang kuat dan faktor lingkungan yang nyata dapat menyebabkan diabetes melitus tipe 2 (Elizabeth, 2009). c. Diabetes Melitus tipe III Pada diabetes melitus ini merujuk pada berbagai penyebab spesifik lain untuk peningkatan kadar gula darah, seperti penyakit yang tidak melibatkan pankreas, terapi obat, makan yang berlebihan, gaya hidup yang tidak sehat dan lain-lain (Katzung, 2007).

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 d. Diabetes Melitus tipe IV Diabetes melitus tipe IV atau diabetes gestasional, adalah diabetes yang terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak mengidap diabetes. Meskipun diabetes tipe ini sering membaik setelah bersalin, sekitar 50% wanita pengidap kelainan ini tidak akan kembali ke status nondiabetes setelah kehamilan berakhir. Bahkan, jika membaik setelah persalinan, resiko untuk mengalami diabetes tipe 2 setelah sekitar 5 tahun pada waktu mendatang lebih besar dari pada normal (Elizabeth, 2009). 3. Epidemiologi Diabetes Melitus Epidemiologi mempelajari frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan pada sekelompok manusia serta faktor yang mempengaruhinya. Hal ini berarti bahwa epidemiologi hanya mempelajari penyakit-penyakit menular saja tetapi dalam perkembangan selanjutnya epidemiologi juga mempelajari penyakit-penyakit non infeksi, sehingga epidemiologi dapat diartikan sebagai studi tentang penyebaran penyakit pada manusia di dalam konteks lingkungannya (Beaghole & Kjellstrom, 1993). Berdasarkan bukti epidemiologi terkini, jumlah penderita diabetes melitus di seluruh dunia saat ini mencapai 200 juta, dan diperkirakan meningkat lebih 330 juta pada tahun 2025. Alasan peningkatan ini termasuk meningkatkan angka harapan hidup dan pertumbuhan populasi yang tinggi dua kali lipat disertai peningkatan angka obesitas yang dikaitkan dengan urbanisasi dan ketergantungan terhadap makanan olahan.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Menurut Handayani (2007) saat ini ada sekitar 230 juta pengidap diabetes melitus di seluruh dunia. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi 350 juta pada tahun 2025 bisa dikatakan bahwa setiap tahun, ada enam juta penyandang diabetes melitus baru di dunia. Dari fakta diatas dapat disimpulkan bahwa diabetes melitus merupakan penyakit yang mematikan dan memerlukan penanganan yang lebih serius disbandingkan penyakit yang lainnya. 4. Gejala-gejala diabetes melitus Menurut kamus besar bahasa indonesia gejala merupakan keadaan yang menjadi tanda-tanda akan timbulnya sesuatu. Diabetes melitus sering disebut sebagai the great imitator, karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh serta menimbulkan berbagai macam keluhan dan gejala sangat bervarisasi. Diabetes melitus dapat timbul secara perlahan-lahan sehingga individu tidak menyadari akan adanya perubahan seperti sering marasa haus (polidipsia), sering buang air kecil (poliuria), sering merasa lapar (polifagia), serta berat badan yang menurun. Selain gejala-gejala utama di atas, gejala selanjutnya adalah badan lemah, kurang gairah kerja, mudah mengantuk, timbul kesemutan pada jari tangan dan kaki, gatal-gatal, gairah seks menurun bahkan sampai impotensi, luka yang sulit sembuh, penglihatan kabur, dan keputihan. Terkadang, ada sekelompok orang yang sama sekali tidak mengalami gejala-gejala tersebut, namun penyakit ini baru diketahui secara kebetulan pada waktu check-up atau melakukan pemeriksaan darah.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 5. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya diabetes melitus Menurut Smeltzer & Bare (2002) Penyakit diabetes melitus biasanya disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah : a. Usia Umumnya manusia mengalami perubahan fisiologis yang secara drastis menurun dengan cepat setelah usia 40 tahun. Diabetes melitus sering muncul setelah seseorang memasuki usia rawan tersebut, terutama setelah usia 45 tahun pada mereka yang berat badannya berlebihan, sehingga tubuhnya tidak peka lagi terhadap insulin. b. Stres Stres kronis cenderung membuat seseorang makan makanan yang manis-manis untuk meningkatkan kadar lemak serotonin otak. Serotonin ini mempunyai efek penenang sementara untuk meredakan stresnya. Tetapi gula dan lemak berbahaya bagi mereka yang beresiko mengidap penyakit diabetes melitus. c. Pola makan Makanan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang dibutuhkan oleh tubuh dapat memicu timbulnya diabetes melitus tipe II, hal ini pankreas mempunyai kapasitas disebabkan jumlah atau kadar insulin oleh sel maksimum untuk disekresikan. Oleh karena itu, mengkonsumsi makanan secara berlebihan dan tidak diimbangi oleh sekresi insulin dalam jumlah memadai dapat menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat dan menyebabkan diabetes melitus. Selain itu,

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 pola makan yang serba instan saat ini memang sangat digemari oleh sebagian individu atau masyarakat perkantoran. Pola makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh dapat menjadi penyakit diabetes melitus, misalnya makanan gorengan yang mengandung nilai gizi yang minim. d. Obesitas atau kegemukan Pada orang gemuk aktivitas jaringan lemak dan otot menurun sehingga dapat memicu munculnya diabetes melitus. e. Kurangnya berolah raga atau beraktivitas Kurangnya berolah raga dapat menurunkan sensitifitas sel terhadap insulin sehingga dapat mengakibatkan diabetes melitus. Olah raga dapat dilakukan 3-5 kali seminggu (Waspadji, 2002). 6. Komplikasi pada diabetes melitus Menurut Brunner & Suddarth (2002), komplikasi yang timbul dari penyakit diabetes melitus adalah : a. Hiperglekemia Adalah adanya masukan kalori yang berlebihan, penghentian obat oral maupun insulin yang didahului oleh stres akut. Tanda khas kesadaran menurun disertai dehidrasi besar. b. Kerusakan ginjal Kerusakan gagal ginjal merupakan suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh,

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium di dalam darah atau produksi urine. c. Gangren (infeksi berat pada kaki hingga membusuk) Gangren adalah kematian jaringan tubuh yang paling sering disebabkan oleh kurangnya aliran darah dan infeksi. Kondisi ini dapat menyebabkan amputasi. d. Gangguan penglihatan Penyakit ini dapat mengalami gejala penglihatan kabur yang dapat menyebabkan katarak ataupun gangguan refraksi akibat perubahanperubahan pada lensa oleh hiperglikemia. Hal ini disebabkan oleh kerusakan pada retina karena tidak mendapatkan oksigen (Elizabeth, 2009). e. Serangan jantung koroner Penyakit ini merupakan suatu kondisi jantung yang tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya, karena otot jantung mengalami kerusakan akibat kekurangan oksigen dan penyakit ini merupakan salah satu komplikasi dari penyakit diabetes melitus. Kadar glukosa darah yang tinggi secara terus menerus atau berkepanjangan, dapat menyebabkan komplikasi dari diabetes. Antara lain penyakit jantung, serangan otak (biasanya diikuti dengan kelumpuhan atau stroke), kerusakan pembuluh darah periperal (biasanya mempengaruhi bagian badan sebelah bawah dan kaki). Ditambah lagi yaitu gangguan penglihatan (retinopati); ini dapat menyebabkan buta total, kerusakan ginjal (neporpati) dan

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 kerusakan saraf (neuropati) dimana kerusakan saraf dapat terjadi pada beberapa bagian dari tubuh kita, termasuk jantung, kaki, dan dapat menyebabkan impoten dan kelumpuhan (paralisis) dari perut (Putra & Swastini, 2009). Individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II biasa mengalami berbagai komplikasi jangka panjang jika diabetesnya tidak di kelola dengan baik. Komplikasi yang lebih sering terjadi dan mematikan adalah serangan jantung dan stroke. Kerusakan pada pembuluh darah mata bisa menyebabkan gangguan penglihatan akibat kerusakan pada retina mata. Kelainan fungsi ginjal bisa menyebabkan gagal ginjal sehingga penderita harus menjalani cuci darah. Gangguan pada saraf dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk. Jika satu saraf mengalami kelainan, maka sebuah lengan atau tungkai biasa secara tiba-tiba menjadi lemah. Jika saraf yang menuju ke tangan, tungkai dan kaki mangalami kerusakan, maka dampak yang dirasakan adalah kesemutan atau nyeri seperti terbakar dan kelemahan. Kerusakan pada saraf menyebabkan kulit lebih sering mengalami cedera karena penderita tidak dapat meredakan perubahan tekanan maupun suhu. Berkurangnya aliran darah ke kulit juga bisa menyebabkan ulkus (borok) dan semua penyembuhan luka berjalan lambat. Ulkus di kaki bisa mengalami infeksi serta masa penyembuhannya lama sehingga sebagian tungkai harus diamputasi (Soegondo, 2006). C. Kecemasan Individu Diabetes Melitus Tipe II Diabetes melitus tipe II adalah suatu penyakit dimana kadar glukoasa (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara adekuat, sehingga menyebabkan perubahan dalam

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 hidup menimbulkan berbagai macam komplikasi sehingga membuat individu diabetes melitus tipe II menunjukkan reaksi psikologis yang negatif diantaranya kecemasan yang meningkat (Putra & Swastini, 2009). Penyakit diabetes melitus tipe II sering menjadi kronis sehingga individu cemas dalam menghadapinya. Kecemasan merupakan respon individu terhadap keadaan (penyakit) yang tidak menyenangkan, sehingga mengganggu kehidupan sehari-harinya. Kecemasan yang dihadapi oleh masing-masing individu adalah berbeda-beda sesuai dengan keadaan penyakitnya seperti diabetes melitus tipe II (Stuart & Sundden, 2002). Individu yang mengalami diabetes melitus tipe II pada umumnya menghadapi masalah yang cukup kompleks berkaitan dengan penyakit yang diderita, sehingga dapat dipastikan bahwa segi emosional seorang individu tidak stabil, cepat tersinggung dan marah, sering dalam keadaan gelisah (Kartini Kartono, 1981). Sikap individu yang muncul sebagai akibat dalam menghadapi masalah yang kompleks salah satunya adalah munculnya rasa cemas terhadap segala hal yang berhubungan dengan diabetesnya, misalnya cemas terhadap kadar gula yang tinggi, cemas terhadap komplikasi akibat diabetes, dan sebagainya (Semiardji dalam Christyani, 2007). Manajeman emosional yang kurang baik pada individu justru akan meningkatkan kadar gula darah yang jauh lebih cepat dibandingkan akibat pengonsumsian makanan berkarbohidrat secara berlebihan. Penyakit diabetes individu akan semakin memburuk saat individu dalam keadaan cemas dan masalah emosional ini menyebabkan kadar gula berada dalam keadaan tinggi secara kronis (Mc Quade & Aikman, 1987).

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 Secara interpersonal individu merasa cemas pada perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Cemas juga berhubungan dengan perkembangan trauma seperti perpisahan dan kehilangan yang menimbulkan kelemahan spesifik. Individu yang mengalami penyakit diabetes sangat berisiko terjadinya ulkus atau gangren serta berisiko untuk dilakukan amputasi. Kehilangan bagaian tubuh individu diabetes melitus tipe II tersebut dianggap sebagai ancaman terhadap integritas meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari (Stuart & Sundeen, 2002). Freud (dalam Acocella dan Calhoun, 1990), menyatakan bahwa sumber kecemasan adalah konflik internal yang tidak disadari, ketidakberhasilan mempertahankan dorongan yang tidak disadari (misalnya dorongan seksual dan sifat agresif). Sedangkan Sullivan (dalam Hall dan Lindzey, 1993), megatakan bahwa kecemasan adalah penghayatan tegangan akibat adanya ancaman nyata dibayangkan terhadap keamanan individu. Ancaman-ancaman rasa sakit dan pengrusakan dari luar yang tidak siap ditanggulangi oleh individu akan menimbulkan satu reaksi umum yaitu takut dan diliputi kecemasan (Hall dan Lindzey, 1993). Menurut pendapat para ahli, kecemasan dalam diri individu yang mengalami atau mengidap penyakit diabetes melitus tipe II dipengaruhi oleh situasi pada diri individu yang dirasakan belum siap untuk menghadapi masalah yang pada akhirnya akan menjadi suatu konflik dalam diri individu, adanya ketegangan-ketegangan dalam alat-alat internal dari tubuh, pengaruh dukungan

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 dari orang-orang sekitar individu, terdapat konflik yang menyebabkan individu merasa ditarik ke arah dua perasaan yang berbeda sekaligus dan menimbulkan rasa yang tidak enak, pengaruh lingkungan sekitar individu, dan juga kehilangan orang yang dekat. Komplikasi dari diabetes melitus tipe II itu sendiri juga akan memicu timbulnya kecemasan dalam diri individu. Individu diabetes melitus tipe II rentan terhadap beberapa penyakit yang cukup fatal bagi dirinya. Faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan pada individu yang mengidap penyakit diabetes melitus tipe II ini seringkali menimbulkan gejala-gejala yang tidak logis dan tidak mempunyai argumen yang realitas disebut khayalan atau delusi (Freud, 2003). Berbagai komplikasi dari penyakit diabetes melitus tipe II ini juga menimbulkan kecemasan bagi individu yang mengalami penyakit diabetes dan memunculkan khayalan-khayalan. Khayalan-khayalan yang muncul dalam diri individu biasanya bersumber dari kenyataan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari yang belum terjadi, yang biasanya berasal dari pemikiran-pemikiran yang tidak menarik dari diri individu. Kecemasan yang dialami individu diabetes melitus tipe II ini termasuk kecemasan neurosis. Freud (2003), mengatakan bahwa kecemasan neurosis merupakan kegelisahan yang bersifat umum, suatu kecemasan yang “bebas mengambang” siap untuk menyatuhkan diri pada setiap pemikiran yang tidak sesuai, mempengaruhi pemikiran-pemikiran, membawa pembenaran baginya. Freud menyebut kondisi ini “expectant dread” (rasa takut yag mengandung harapan) atau keinginan yang disertai rasa takut atau kecemasan. Individu yang menderita kecemasan seperti ini selalu mengantisipasi hal terburuk dari semua akibat yang

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 mungkin ada, mengartikan semua kesempatan yang muncul sebagai suatu pertanda buruk, dan menganggap setiap ketidakpastian sebagai hal yang terburuk. Kecemasan neurosis bukanlah ketakutan terhadap insting-insting itu sendiri melainkan ketakutan terhadap hukuman yang mungkin terjadi jika suatu insting dipuaskan. Kecemasan neurosis mempunyai dasar dalam kenyataan. Individu diabetes melitus tipe II pada umumnya mengalami rasa cemas terhadap segala hal yang buruk sejauh itu menyangkut penyakit diabetes (komplikasi jangka panjang) yang belum terjadi dalam diri individu, yang dianggap sebagai hukuman akibat pemuasan insting dalam diri individu. Banyak bukti yang memperlihatkan berulang kali bahwa dalam keadaan cemas, kadar gula darah individu akan meningkat lebih cepat dibandingkan akibat pengkonsumsian makanan secara sembrono. Diabetes melitus tipe II individu akan semakin memburuk saat individu dalam keadaan cemas. Menurut ahli riset, masalah emosional menyebabkan kadar gula berada dalam keadaan tinggi secara kronis. Saat gula darah individu diabates melitus tipe II mulai meningkat, maka akan muncul beberapa gejala yang menandai meningkatnya kadar gula darah dalam tubuh seseorang. Individu sadar satu dari beberapa komplikasi dari penyakit diabetes melitus dan komplikasi tersebut akan membawa indvidu pada kematian. Individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II mengalami cemas, karena penyakit ini adalah penyakit yang menahun dan tidak bisa disembuhkan sama sekali, mempunyai banyak komplikasi dan dapat memperpendek umur, pengobatannya harus dilakukan seumur hidup, harus melaksanakan diet yang ketat dan hidupnya tidak bebas lagi. Sebaliknya cemas itu

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 sendiri dapat mempengaruhi pengendalian gula darah. Cannon mendemonstrasikan bahwa ketakutan dan kecemasan dapat menimbulkan glycosuria pada orang normal (American Psychiatric Association, 1994). Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa kecemasan dalam diri individu disebabkan oleh situasi pada diri individu yang dirasakan belum siap untuk menghadapi masalah yang pada akhirnya akan menjadi suatu konflik dalam diri individu, adanya ketegangan-ketegangan dalam alat-alat internal dari tubuh, pengaruh dukungan dari orang-orang sekitar individu, terdapat konflik yang menyebabkan individu merasa ditarik ke arah dua perasaan yang berbeda sekaligus dan menimbulkan rasa yang tidak enak, pengaruh lingkungan sekitar individu, dan juga kehilangan orang yang dekat. Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kecemasan dalam diri individu yang justru membahayakan bagi kesehatan jangka panjang individu diabetes melitus tipe II itu sendiri karena peningkatan gula darah pada inividu diabetes melitus tipe II akan menimbulkan komplikasi penyakit lain sekaligus juga menimbulkan kecemasan bagi individu diabetes. Kecemasan yang dialami oleh individu diabetes melitus tipe II muncul karena ada khayalan-khayalan yang biasanya bersumber dari kenyatan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari yang belum terjadi, yang biasanya berasal dari pemikiran-pemikiran yang tidak menarik dari diri individu sendiri. Kecemasan yang dialami individu diabetes ini termasuk kecemasan neurosis. Individu yang menderita kecemasan seperti ini selalu mengantisipasi hal terburuk dari semua akibat yang mungkin ada, mengartikan semua kesempatan yang muncul sabagai suatu pertanda buruk, dan menganggap setiap ketidakpastian

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 sebagai hal yang terburuk. Beberapa gejala akan muncul yang menandai meningkatnya kadar gula darah dalam tubuh seseorang, terkhusus seorang indivdu diabetes melitus tipe II. Individu sadar bahwa suatu hari nanti ada kemungkinan akan mengalai salah satu komplikasi dari penyakit diabetes melitus sehingga dapat membawa pada kematian. Masalah emosional juga menyebabkan kadar gula berbeda dalam keadaan tinggi secara kronis dan kecemasan yang berlebihan ini justru akan membawa individu diabetes melitus tipe II pada keadaan yang semakin buruk. Berdasarkan uraian diatas, ada beberapa cara yang dapat digunakanoleh individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II untuk mengatasi kecemasan yang muncul dari dalam dirinya. Hal pertama yang harus dilakukan oleh individu adalah penerimaan diri pada penyakit yang ada dalam diri dan mencintai diri sendiri dengan segala keberadaanya adalah salah satu cara untuk mengatasi kecemasan. Individu juga dapat melakukan relaksasi, karena dapat membuat perasaan seseorang menjadi lebih baik, bahkan tidak membutuhkan biaya yang cukup mahal dengan beroleh raga atau mandi dengan air hangat. Selain itu, psikoterapi juga dapat membantu mengatasi kecemasan yang muncul pada individu dan memerlukan biaya yang sangat besar dibandingkan dengan metode relaksasi. Berdasarkan kerangka penelitian, penelitian ini bertujuan untuk meneliti atau mengetahui gejala-gejala kecemasan yang muncul dan melihat cara mengatasi kecemasan pada individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 D. Kerangka Penelitian Individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II Gejala-gejala : Kecemasan  Gejala fisiologis  Gejala psikologis Jenis-jenis kecemasan :  Kecemasan Realitas  Kecemasan Neurotik  Kecemasan Moral Cara mengatasi kecemasan

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Metode Penelitian Penelitian yang berjudul “kecemasan pada individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II” ini menggunakan jenis pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Pendekatan kualitaitf adalah penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang bersifat deskriptif, seperti transkrip wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video, dan lain sebagainya (Peorwandari, 2005). Pilihan penelitian ini dinilai tepat untuk memenuhi tujuan peneliti, yaitu untuk mengetahui gejala-gejala kecemasan yang muncul serta cara mengatasi kecemasan pada individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II karena penelitian kualitatif berusaha untuk mengeksplorasi, mendeskripsikan maupun menginterpretasikan maksud dari suatu fenomena maupun pengalaman personal dan sosial yang dialami oleh subjek penelitian (Creswell, 2007). Sedangkan metode fenomenologi adalah studi yang mencoba untuk memahami persepsi masyarakat, perspektif dan memahami suatu situasi tertentu (Paul, 2005). Tujuan dari fenomenologis adalah hendak mengungkapkan secara detail bagaimana partisipan memaknai dunia personal dan sosialnya. Fenomenologi juga berusaha untuk mengeksplorasi pengalaman personal serta menekankan pada persepsi atau pendapat personal seorang individu tentang objek atau peristiwa (Smith, 2009). 35

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 B. Fokus Penelitian Pada penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah bagaimana gejala-gejala kecemasan dan bagaimana cara mengatasi kecemasan tersebut. C. Subjek Penelitian 1. Kriteria Subjek Penelitian Pemilihan individu penelitian didasarkan pada ciri tertentu. Dalam penelitian ini subjek penelitiannya adalah penderita diabetes melitus tipe II yang mengidap penyakit tersebut minimal enam bulan. Individu penelitian adalah individu yang berumur dewasa madya yaitu usia 40 sampai 60 tahun karena pada usia tersebut lebih mudah terserang penyakit, sudah menikah, dan yang masih memiliki pasangan baik laki-laki maupun perempuan. Mengambil dewasa madya dengan asumsi bahwa mayoritas jumlah peneliti diabetes melitus tipe II berusia 30 tahun keatas. Sampel dipilih dengan kriteria tertentu, berdasarkan teori atau konstruk operasional sesuai studi-studi sebelumnya atau sesuai dengan tujuan penelitian. Hal ini dilakukan agar sampel sungguh-sungguh mewakili (bersifat representatif terhadap) fenomena yang dipelajari atau diteliti (Creswell, 1998). Adapun kriteria-kriteria yang digunakan peneliti dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut: a. Individu yang mengalami diabetes melitus tipe II. b. Minimal 6 bulan. c. Berusia 40 sampai 60 tahun.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 d. Sudah menikah. e. Masih memiliki pasangan. 2. Prosedur Pengambilan Subjek Penelitian Prosedur pengambilan sampel menggunakan sampel bola salju atau snowball sampling. Pengambilan sampel dilakukan secara berantai dengan meminta informasi pada orang yang telah diwawancarai atau dihubungi sebelumnya, demikian seterusnya. Peneliti bertanya pada individu penelitiannya tentang (calon) individu penelitian atau nara sumber lain yang penting atau harus dihubungi : “Apakah anda mengetahui siapa yang dapat saya hubungi untuk memperoleh informasi tentang individu yang mengalami kecemasan yang disebabkan oleh penyakit diabetes melitus tipe II?” dengan bertanya pada orang yang diwawancara mengenai siapa lagi yang dapat memberikan informasi, rantai semakin lama semakin besar (Poerwandari, 2005). Oleh karena itu jumlah individu yang ditentukan oleh peneliti tidak dibatasi. Hal ini dikarenakan peneliti ingin mendapatkan data yang sangat mendalam dan lengkap. Peneliti akan menghentikan pengambilan data ketika data yang di peroleh sudah dikatakan jenuh. Dikatakan jenuh ketika penambahan individu tidak menambahkan hasil data baru. Prosedur ini dipilih karena peneliti tidak memiliki banyak informasi tentang anggota populasi. Peneliti hanya memiliki satu responden. Dari nama tersebut peneliti akan memperoleh nama-nama lainnya. Prosedur ini biasanya digunakan jika kita meneliti kasus yang sensitif atau rahasia (Bambang & Lina, 2008). Hal ini dikarenakan subjek malu dengan kondisi yang

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 dialaminya terutama pada laki-laki karena cemas terhadap disfungsi seksualnya. D. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, peneliti memiliki fokus penelitian sebagai berikut bagaimana individu yang mengalami diabetes melitus tipe II melihat gejala-gejala kecemasan yang ada dalam diri individu dan bagaimana cara mengatasi kecemasan. Oleh karena itu, metode yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah dengan wawancara. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu (Moleong, 2008). Menurut Banister, dkk (1994 dalam Poerwandari, 2005), wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Peneliti menggunakan metode wawancara mendalam dengan menggunakan teknik semi structured interview. Dalam teknik ini peneliti telah memiliki gambaran mengenai aspek-aspek pengalaman individu yang akan dikaji secara mendalam. Peneliti telah membuat panduan wawancara sebagai acuan. Secara garis besar jalannya wawancara mengikuti pola kerucut, dimana wawancara dimulai dari aspek yang bersifat umum dan diarahkan menjurus ke aspek pengalaman yang bersifat khusus. Sebelum melakukan wawancara peneliti menyusun panduan pertanyaan berdasarkan fokus penelitian. Panduan pertanyaan berjenis pertanyaan yang tidak mengarahkan subjek pada jawaban tertentu :

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Tabel 1 Panduan Wawancara Tema Besar Kecemasan Pertanyaan Tujuan Gejala kecemasan apa yang muncul dari anda? Bagaimana bentuk-bentuk kecemasan yang timbul dalam diri anda? Usaha apa yang dilakukan oleh anda untuk mengatasi rasa cemas tersebut? Faktor-faktor apa yang mempengaruhi munculnya kecemasan dalam diri anda terhadap komplikasi penyakit diabetes melitus tipe II? Untuk mengetahui gejala yang muncul. Untuk mengetahui bentuk-bentuk kecemasan. Untuk mengetahui usaha mengatasi rasa cemas. Untuk mengetahui faktorfaktor kecemasan akibat komplikasi penyakit diabetes melitus tipe II. E. Metode Analisis Data Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilih-milihnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensitesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Bogdan dan Biklen, 1982 dalam Moleong, 2009). Langkah-langkah analisis data dalam penelitian kualitatif ini adalah : 1. Organisasi Data Analisis data dimulai dengan mengorganisasikan data. Data mentah yang diperoleh dari hasil rekaman diubah menjadi bentuk transkrip verbatim. Mentranskripkan wawancara sebaiknya dilakukan setelah wawancara selesai untuk menjaga keaslian data sesuai dengan kondisi yang ada pada diri subjek saat proses wawanvara.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 2. Koding (memberi kode) Setelah melalukan transkrip verbatim, peneliti secara urut melakukan penomoran pada baris-baris transkrip tersebut. Kemudian peneliti memberikan nama untuk masing-masing berkas dengan kode tertentu. Penelitian harus memberikan kode yang mudah diingat. Koding digunakan untuk mengorganisasi data secara lengkap dan mendetail sehingga dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. 3. Intepretasi Setelah pengkodean selesai dilakukan, peneliti melalukan analisis dengan mencari tema dari data yang tersedia. Jika tema telah ditemukan, peneliti akan mengklasifikasikan tema tersebut dengan memberi label, definisi ataupun deskripsi. Dalam proses ini, akan menghasilkan daftar tema. Sedangkan kegunaan tema adalah dapat mendeskripsikan fenomena yang muncul dari hasil penelitian. F. Pemeriksaan Kredibilitas Data Kredibilitas menjadi istilah yang dipilih pada penelitian kualitatif untuk menggantikan konsep validitas pada penelitian kuantitatif. Kredibilitas penelitian kualitatif terletak pada keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan seting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks (Poerwandari, 2005). Peneliti menggunakan metode validitas argumentatif, yaitu presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti dengan baik rasionalnya, serta dapat dibuktikan dengan melihat kembali ke data mentah. Dalam hal ini peneliti melakukan diskusi

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 hasil temuan dengan teman sesama peneliti. Peneliti menyerahkan tabel hasil transformasi potongan verbatim berupa hasil analisis penelitian tentang kecemasan pada individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II pada empat orang teman peneliti. Selanjutnya, teman peneliti melihat apakah tranformasi yang telah peneliti buat sudah sesuai dengan potongan verbatim (data mentah). Jika belum sesuai, teman peneliti berhak untuk memberi masukan kepada peneliti terkait transformasi yang lebih sesuai.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Proses Penelitian 1. Persiapan Penelitian Persiapan yang dilakukan oleh peneliti sebelum melakukan wawancara adalah: a. Peneliti mencari individu yang memiliki kriteria yang sesuai dalam penelitian tersebut. Kriteria individu yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pria dan wanita yang berumur 40-60 tahun, sudah menikah, dan masih memiliki pasangan. Peneliti mendapat bantuan atau informasi dari orang tua dan teman dalam mencari responden. Peneliti menggunakan teknik bola salju (snowball sampling) dalam pengambilan data. Prosedur ini dipilih karena peneliti tidak mendapatkan jumlah individu yang diharapkan. b. Peneliti kemudian memastikan bahwa individu yang peneliti cari sesuai dengan kriteria. Kemudian peneliti meminta kesediaan individu untuk berpartisipasi dalam penelitian. Individu yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah empat orang. Peneliti menjelaskan terlebih dahulu kepada individu mengenai penelitian yang dilakukannya, yaitu dalam penelitian tersebut peneliti ingin mengungkap lebih dalam tentang kecemasan pada individu yang mengalami diabetes melitus tipe II. Lalu memberikan gambaran tentang tujuan penelitian dan menjelaskan bahwa data yang didapatkan dari individu penelitian akan dijamin kerahasiaannya. 42

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 c. Saat melakukan wawancara peneliti menggunakan tape recorder untuk merekam sesi tanya jawab dengan para individu. 2. Pelaksanaan Penelitian Pengumpulan data dilakukan pada pertengahan bulan November 2013 sampai dengan bulan Desember 2013. Jumlah individu penelitian adalah empat orang. Data diperoleh dengan menggunakan metode wawancara. Wawancara dilakukan sebanyak dua kali demi mendapatkan hasil data yang lengkap dan akurat. Sebelum melakukan penelitian, peneliti meminta ijin terlebih dahulu kepada individu untuk merekam hasil wawancara. Selama melakukan wawancara, peneliti menggunakan alat bantu tape recorder yang digunakan untuk merekam hasil wawancara. Peneliti mencatat hasil wawancara terkait latar belakang individu. Hal tersebut dikarenakan individu meminta agar peneliti tidak merekam data terkait latar belakangnya, sehingga peneliti harus mencatat hasilnya. Penelitian menggunakan validitas argumentatif, yaitu presentasi temuan dan kesimpulan yang dapat diikuti dengan baik rasionalnya, serta dapat dibuktikan melalui diskusi dengan teman sesama penelitian. Peneliti menyerahkan tabel hasil transformasi potongan verbatim berupa hasil analisis penelitian tentang kecemasan pada individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II pada empat orang teman peneliti. Selanjutnya, teman peneliti melihat apakah tranformasi yang telah peneliti buat sudah sesuai dengan potongan verbatim (data mentah). Jika belum sesuai, teman peneliti

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 berhak untuk memberi masukan kepada peneliti terkait transformasi yang lebih sesuai. 3. Jadwal Pengambilan Data Tabel 2 Subjek OES MLS Hari/Tanggal Tempat Selasa, 12 Nov Rumah 2013 Subjek Kegiatan Permintaan kesediaan untuk di wawancara, wawancara 1 yang meliputi latar belakang subjek. Selasa, 19 Nov Rumah 2013 Subjek Wawancara 2 meliputi perasaan yang dirasakan responden saat mengetahui mengidap diabetes melitus tipe II, efek yang dirasakan, faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan, gejala kecemasan dan cara mengatasi kecemasan. Permintaan kesediaan untuk di wawancara, wawancara 1 yang meliputi latar belakang subjek. Kamis, 21 Nov Rumah 2013 Subjek Selasa, 26 Nov Rumah 2013 Sakit MRTH Sabtu, 23 Nov Rumah 2013 Subjek Kamis, 28 Nov Rumah 2013 Subjek Wawancara 2 meliputi perasaan yang dirasakan responden saat mengetahui mengidap diabetes melitus tipe II, efek yang dirasakan, faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan, gejala kecemasan dan cara mengatasi kecemasan. Permintaan kesediaan untuk di wawancara, wawancara 1 yang meliputi latar belakang subjek. Wawancara 2 meliputi perasaan yang dirasakan responden saat mengetahui mengidap diabetes melitus tipe II, efek yang dirasakan, faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan, gejala kecemasan dan cara mengatasi kecemasan.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 ADQ Sabtu, 07 Des Rumah 2013 Subjek Permintaan kesediaan untuk di wawancara, wawancara 1 yang meliputi latar belakang subjek. Senin, 09 Des Labotorium Wawancara 2 meliputi perasaan yang 2013 Rumah dirasakan responden saat mengetahui Sakit mengidap diabetes melitus tipe II, efek yang dirasakan, faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan, gejala kecemasan dan cara mengatasi kecemasan. 4. Proses Analisis Data Proses analisis dimulai dengan pengorganisasian data, pemberian kode, intepretasi dan mengambil kesimpulan. Dibawah ini akan dijelaskan secara lebih lanjut : a. Setelah wawancara selesai, peneliti melakukan pemindahan hasil wawancara ke dalam bentuk tulisan sehingga menghasilkan verbatim. b. Kemudian peneliti memberikan nomor pada tiap baris hasil dari wawancara tersebut. B. Analisis Per Subjek 1. Subjek 1 (OES) a. Profil Subjek Subjek pertama dalam penelitian ini adalah seorang laki-laki berusia 43 tahun dengan inisial OES. OES yang lahir tanggal 30 Oktober 1970 ini memiliki tubuh yang tidak begitu gemuk dan berkulit kecoklatan. OES adalah pribadi yang ramah dan senang membantu meskipun pada awal perkenalan OES terkesan pendiam. OES beragama Kristen Protestan. Pekerjaan OES adalah PNS.

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 OES adalah ayah dari 3 orang anak. Saat ini subjek tinggal bersama istrinya dan ketiga anak subjek. Anak pertama sudah bekerja di sebuah perusahaan, anak yang kedua hampir menyelesaikan kuliah di sebuah universitas di luar kota, sedangkan anak ketiga masih sekolah menengah. Istri subjek seorang rumah tangga. Subjek bekerja sebagai pegawai negeri di sebuah kantor. Setiap hari Senin sampai hari Jumat subjek selalu bekerja di kantor dan pulang sampai sore, terkadang sampai malam karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan oleh subjek. Setiap hari Sabtu dan hari Minggu subjek selalu meluangkan waktu untuk keluarganya. b. Hasil Wawancara Pada awal wawancara subjek terkesan seorang yang pendiam dan pemalu. Tetapi setelah subjek dan peneliti berbincang-bincang tentang kehidupan sehari-hari subjek menjadi lebih santai dan lebih terbuka. Subjek mulai santai dan terbuka, bahkan subjek bisa menceritakan banyak hal dengan lancar kepada peneliti. Dari hasil wawancara ada beberapa poin yang dapat menjelaskan hasil tersebut, yaitu : 1) Perasaan awal mengidap penyakit diabetes melitus tipe II Subjek menderita penyakit diabetes melitus tipe II sudah enam bulan sejak didiagnosis atau divonis oleh dokter. Pada mulanya, subjek tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit diabetes melitus tipe II tersebut, karena subjek merasa kurang nyaman dengan kondisi tubuhnya maka subjek melakukan pemeriksaan medis namun pada awal hasil lab subjek tidak mengalami penyakit yang divonis oleh dokter. Pemeriksaan

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 kedua dan ketiga tetap belum divonis penyakit diabetes melitus tipe II tersebut, setelah itu subjek melakukan pemeriksaan lagi yang keempat kalinya ternyata subjek mengidap penyakit diabetes melitus tipe II dan kadar gula dalam darah subjek meningkat mencapai 336 mg/dl sehingga subjek menjadi khawatir. Selain itu, subjek juga mengkonsumsi obat dari dokter selama dua minggu dan mengakibatkan subjek menjadi drop dikarenakan tingkat gula dalam darah yang dimiliki oleh subjek sangat rendah hingga mencapai 60 mg/dl. Saya merasa kurang nyaman dengan perasaan, terus kita melakukan pemeriksaan medis ternyata hasil lab dari medis pemeriksaan awal itu tidak ada penyakit yang divonis oleh dokter, nah disitulah muncul kecemasan. saya kok saya merasa sangat menderita sekali, tapi kok tidak ada penyakit yang saya yang sesuai. yang hasil medis saya alami terus seminggu lagi kita ee pemeriksaan ulang hasil lab keseluruhan tidak juga jadi selama tiga minggu kita pemeriksaan rutin ternyata ada hasilnya saya divonis diabetes yang sangat eee tinggi sekali yaitu berkisar 336 yang menjadi eee kekhawatiran yang sangat mendasar itu ketika konsumsi obat selama dua minggu kurang dua hari kita kontrol lagi ternyata drop sekali menurut dokter karena dari hasil awal tuh 336 menjadi 60 rendah sekali (5-20) Subjek memang merasa aneh dalam dirinya secara fisik. Subjek yang tadinya seorang yang enerjik dan bersemangat, tiba-tiba saja menjadi mudah lelah dan sering mengalami tidak enak badan atau sering meriang seperti badan bergerak sendiri, berkeringatan, panas tinggi, dan sering buang air kecil bahkan badan subjek sampai kurus. Eee badan saya rasa kek sepertinya bergerak sendiri, berkeringat, minta maaf eee buang air kecilnya banyak pada waktu malam hari,dengan saya panas tinggi saya demam (78-81)

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 2) Reaksi subjek pada awal menghadapi penyakit diabetes melitus tipe II Reaksi subjek ketika mengeahui bahwa subjek mengalami penyakit diabetes melitus tip II, subjek dengan spontan langsung mengatasi dengan pengobatan medis. Meskipun subjek langsung mengatasinya namun, pada awalnya subjek merasa kurang nyaman dengan pola makan yang dianjurkan oleh dokter karena pola makan subjek memang porsi yang banyak. Lama kelamaan subjek sudah menjadi terbiasa dengan pola makan tersebut dan akhirnya subjek mengkonsumsi jenis makan yang diajurkan oleh dokter dan subjek rajin mengkonsumsi obat dari dokter. Eee saya spontan saya mengantisi itu dengan eee pengobatan medis. (56) Awalnya saja yang saya rasa eee kurang menyenangkan karena memang porsi makan saya awal awal sebelum derita tuh banyak tapi ketika di vonis diabetes saya jaga pola makan itu jam 7 tepat pasti saya makan pagi. Sampai dengan hari ini ya bersyukur saya masih tetap menjalani jam 12 siang saya makan jam 6 sore saya makan. Berarti sudah sangat teratur? Sangat teratur salama kurang lebih eee satu tahun dua bulan ini. (94-103) 3) Efek-efek yang dirasakan karena mengidap penyakit diabetes melitus tipe II Pada awalnya, penyakit ini terasa tidak terlalu menganggu karena subjek tidak begitu merasa gajala penyakit diabetes melitus tipe II tersebut. Namun dengan penyakit diabetes melitus tipe II yang dialami oleh subjek, subjek merasa bahwa setiap aktivitas yang dilakukan subjek

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 menjadi terhambat, karena subjek di larang oleh dokter untuk melakukan pekerjaan yang berat. Sangat terganggu, eee saya pegawai negri yang golongannya rendah tapi saya punya kepercayaan menjadi salah se aaa ajudan disalah satu pejabat jadi aktivitas saya tuh eee sangat terganggu. (132-136) 4) Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kecemasan dalam diri subjek Subjek selalu khawatir bila tubuhnya mulai menunjukkan tanda- tanda meningkatnya gula dalam darah karena subjek juga sudah divonis mengidap penyakit tiroid (salah satu dari kelenjar endokrin terbesar pada tubuh manusia). Subjek menjadi khawatir dan tampak sekali kecemasan yang muncul dalam diri subjek. Disini nampak sekali kecemasan saya tidak tahu apa penyebab dari penderitaan yang saya alami ini. Tapi yang tadi saya bilang itu yang menjadi kekhawatira saya (36-38) 5) Gejala kecemasan yang muncul dari dalam diri subjek Sebagai kepala rumah tangga, subjek selalu memikirkan seperti apa masa depan anak-anak subjek dan apakah subjek masih bisa menafkai anak dan istri subjek. Ketika subjek memikirkan masa depan anak-anak dan istrinya, subjek merasa cemas dengan kondisi yang dialami oleh subjek sehingga mengakibatkan subjek menjadi gelisah bahkan subjek susah tidur di malam hari, subjek juga tidak bisa tidur siang. Subjek juga merasa terancam sehingga membuat beban penderitaan bagi subjek.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 saya cemas itu bahwa tidak ada sesuatu yang dinyatakan bahwa aaa ancaman dari penyakit ini karena kita orang awam semata mata hanya berfokus pada medis itu (107-110) Aaah memang sangat sangat gelisah saya, malam susah tidur aaa dua bulan kurang dua bulan empat hari saya tidak bisa tidur siang tidur malam karena saya cemas sekali sangat sangat cemas itu yang mengancam saya eee menjadi beban penderitaan (120-125) 6) Usaha untuk mengatasi kecemasan Subjek juga memiliki cara atau usaha-usaha untuk mengatasi kecemasan yang muncul dengan cara subjek bersenang-senang dengan keluarga dan meningkatkan aktivitas meskipun aktivitas tersebut tidak maksimal. Namun, itu sanggat membantu subjek untuk mengatasi munculnya kecemasan. Eehmm saya happy happy dengan keluarga. Eee saya mulai tingkatkan aktivitas saya eee saya mulai bertugas kembali eee biasa walaupun tidak maksimal. (147-151) c. Kesimpulan Terkait dengan kecemasan yang dialami oleh subjek 1 (OES), kecemasan yang muncul bersumber dari dalam diri subjek sendiri. Subjek mengalami penyakit diabetes melitus tipe II sudah enam bulan, sehingga membuat subjek menjadi khawatir. Gejala kecemasan yang muncul dari dalam diri subjek awalnya subjek tidak tahu penyebab dari penderitaan tersebut. Hal ini dikarenakan hasil laboraturium pertama subjek menunjukkan bahwa subjek tidak mengalami penyakit diabetes melitus tipe II, karena subjek merasa kurang nyaman dengan kondisinya subjek memutuskan untuk memeriksa lagi

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 sampe empat kali. Hasil kedau dan ketiga tetap sama bahwa subjek tidak mengalami penyakit tersebut, namun pada hasil lab keempat baru lah tahu bahwa subjek mengalami penyakit diabetes melitus tipe II tersbut sehingga dengan spontan subjek mengatasi penyakit diabetes melitus tipe II tersebut dengan cara mengatur pola makan, meskipun awalnya subjek susah untuk mengatur pola makan tersebut, subjek tetap menjalankan aturan yang dianjurkan oleh dokter. Selain dari penyakit diabetes melitus tipe II tersebut subjek juga memiliki penyakit lain yaitu penyakit tiroid (kelenjar endokrinbesar yang terletak dipangkal leher bagian depan, dibawah lapisan kulit dan otot) sehingga subjek merasa cemas dengan penyakitnya tersebut. Gejala kecemasan yang muncul dalam diri subjek berupa gejala fisik dan gejala psikologis. Gejala kecemasan secara fisik yang dirasakan oleh subjek adalah keringatan, badan panas tinggi, sering buang air kecil, susah tidur. Sedangkan gejala kecemasan secara psikologis berupa gelisah, lemah, dan khawatir. Berdasarkan gejala-gejala kecemasan tersebut, individu mengatasi kecemasan yang muncul dengan mengalihkan rasa cemas tersebut dengan bersenang-senang bersama keluarga dan meningkatkan aktivitas meskipun aktivitas tersebut tidak maksimal. 2. Subjek 2 (MLS) a. Profil Subjek Subjek kedua dalam penelitian ini adalah seorang wanita yang berusia 50 tahun dengan inisial MLS. MLS lahir pada tanggal 8 maret

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 1963 ini memilki tubuh gemuk dan berkulit hitam. MLS adalah pribadi yang ramah dan sopan. MLS beragama kristen protestan. Pekerjaan MLS adalah sebagai PNS. Subjek adalah ibu dari 2 orang anak. Saat ini subjek tinggal bersama suami dan kedua orang anak subjek. Anak pertama subjek, seorang laki-laki yang masih kuliah di Stikom kota kupang-NTT dan anak kedua sbujek juga msih berkuliah di salah satu universitas undana yang berada di kota kupang-NTT. Suami subjek seorang PNS. Setiap harinya subjek dan suami bekerja dan anak-anak subjek pergi kuliah menjalani aktivitas masing-masing. Subjek dan keluarga subjek dapat berkumpul bersama ketika semua aktivitas sudah selesai. Subjek dan keluarga subjek sering sharing tentang kesibukan mereka masing-masing. Selain itu, subjek lebih sering menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga subjek. b. Hasil wawancara Pada awal wawancara pertama berlangsung, suasanan di sekitar rumah subjek cukup tenang sehingga wawancara dapat berjalan dengan baik dan lanar. Pada waktu wawancara yang kedua wawancara di lakukan di rumah sakit, suasana di sekitar rumah sakit agak sedikit ribut namun subjek dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan jelas. Subjek menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dengan sanati dan sering tersenyum. Subjek termasuk seorang yang ramah dan sangat terbuka dalam menceritakan kisah seputar kehidupan subjek.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Subjek menceritakan tentang dirinya dengan lancar dan kehidupannya dengan wajah berseri-seri. Dari hasil wawancara ada beberapa poin yang dapat menjelaskan hasil tersebut, yaitu : 1) Perasaan awal mengidap penyakit diabetes melitus tipe II Subjek sudah 8 tahun menderita penyakit diabetes melitus tipe II. Penyakit ini diketahui ketika mata subjek mulai terganggu bahkan mata subjek kiri dan yang kanan harus dioperasi. Subjek merasa takut karena sudah terjadi komplikasi pada kedua mata subjek dan subjek ingin penyakit diabetes melitus tipe II ini cepat sembuh. Hal ini dikarenakan, subjek dituntut harus melanjutkan keperguruan tinggi S1, karena saat ini subjek hanyalah lulusan D2. Mata kerana sudah semakin ini sudah katarak kiri kanan (15). Dulunya cuma D2 sekarang dituntut untuk S1 (29) Ini sudah dari tahun 2005 febuari, sekarang sudah 8 tahun (51-52). 2) Reaksi subjek yang mengidap diabetes melitus tipe II Reaksi subjek ketika tahu bahwa subjek mengidap penyakit diabetes melitus tipe II ini, subjek melakukan pengontrolan tiap bulan dan pengontrolan pola makan menjadi lebih baik. Subjek mengikuti cara pengontrolan pola makan yang baik dan benar oleh dokter. Tiap bulan harus kontrol supaya cari tahu naik atau turun. (33-34) Kalau pola hidup saya hidup pas-pasan, tapi itu di rumah makan pagi, siang dan sore itu sudah pasti tapi tiap konsumsi tidak sama dengan orang sehat, punya saya nasinya sedikit sayurnya yang banyak (106-109)

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 3) Efek-efek yang dirasakan karena mengidap penyakit diabetes melitus tipe II Subjek tidak merasa terganggu dengan keberadaan penyakit diabetes melitus tipe II ini karena pada awalnya subjek menerima diagnosis dari dokter. Tetapi lama-kelamaan jari-jari subjek sering keram dan subjek menjadi sering buang air kecil. Kondisi fisik subjek tidak lagi sekut sebelum subjek mengidap penyakit diabetes melitus tipe II. Subjek juga merasakan adanya gangguan di bagian mata. Penglihatan subjek sering kunang-kunang atau kabur. subjek tidak menyadari bahwa penglihatan selalu kunang-kunang atau kabur adalah salah satu tandatanda dari penyakit diabetes meltus tipe II. Mata sudah kunang-kunang jadi saya pikir saja kan mata yang terganggu saya ke dokter mata nanti di sana pertama dikasihkan obat terus janji berapa minggu untuk pergi lagi, terus yang ketiga kalinya kok mata tetap terus yang satunya lagi buang air kecil terus-terus ini permisi kadang pake pembalut kalau tidak tidak cepat ke belakang basah sudah dari situ dokter dokter eko dokter mata itu saya rujukan ke rumah sakit umum waktu saya pindah kesini langsung berobat, perikasa dulu periksa lagi jadi dari situ baru tahu bahwa saya aaa derita penyakit diabetes. (1-13). Ini jari keram, mata ini, kan ini harus di operasi, kan sudah tau jelas mata yang ini katarak jadi terakhir harus operasi (91-93). 4) Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kecemasan dalam diri subjek Seiring dengan kehidupan subjek bersama dengan penyakit diabetes melitus tipe II di dalam tubuhnya, subjek sempat menjalin operasi dua kali pada mata subjek. Subjek mulai merasa cemas ketika subjek

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 mengontrol gula dalam darah subjek karen subjek takut gula dalam darahnya naik. Ketika kontrol gula dalam darah tingkat gula dalam darah pernah mencapai 380 mg/dl dan pemeriksaan berikutnya gula dalam darah subjek menurun mencapai 330 mg/dl dan tidak lama setelah hasil pemeriksaan itu diterima oleh subjek, subjek harus menjalani operasi yang kedua pada mata kanan akibat penyakit diabetes melitus tipe II yang diderita subjek yang menyerang saraf mata. Itu kalau datang kontrol terus naik itu saya sudah cemas. (16). saya berobat berobat berobat dari awal ketahuan tuh 380 jadi saya obati selama berapa tahun, tahun 2009 bulan juni gula turun sampe 330. (17-19). 5) Gejala kecemasan yang muncul dari dalam diri subjek Subjek II (MLS) merasakan ketidaknyamanan yang menandakan meningkatnya gula dalam darah di tubuh subjek. Subjek merasa sering buang air kecil, jari keram dan mata kunang-kunang atau kabur. Ketika subjek mengalami tanda-tanda tersebut, subjek segera kontrol ke dokter. Gejala ini cukup sering muncul apabila subjek terlalu berpikir bahwa kenapa harus subjek yang menderita penyakit ini, kenapa bukan orang lain dan karena makanan . Ketika kontrol ke dokter, subjek selalu merasa cemas karena takut gula dalam darah subjek naik sehingga subjek merasa putus asa. Kadang kalau datang kontrol terus naik itu memang rasa sekali takut dia naik tapi kembali ke diri saya naik karena ingat mungkin

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 makan salah ko, kadang-kadang tergantung dari pikiran juga kan, kalau pikiran tenang pasti dia tidak naik tapi pikiran kek agak terganggu otomatis dia naik. (64-68) Itu cemas tuh ada, cemas juga ada, orang lain tidak derita tapi saya kok derita. (112-113). Kadang kek mau putus asa juga tidak. (119-120). 6) Usaha untuk mengatasi kecemasan Ketika subjek merasa semakin resah, subjek biasanya mengatasi kecemasan yang muncul dengan bersenang-senang dan jalan-jalan bersama keluarga dan subjek juga memiliki program jalan sehat tiap dua kali sehari. Ya usaha, senang-senang, jalan-jalan, itu saya di rumah tuh program dua kali. (144-145). c. Kesimpulan Subjek mengalami kecemasan yang disebabkan oleh penyakit diabetes melitus tipe II tersbut. Subjek sudah 8 tahun mengidap penyakit tersebut, sehingga subjek merasa takut untuk menjalani kehidupannya. Selain itu, subjek juga mengontrol pola makannya agar gula dalam darahnya tetap normal. Subjek juga merasa cemas akan komplikasi yang sudah terjadi yaitu gangguan pada mata atau mata katarak, karena gangguan mata subjek bukan satu saja yang sudah menjadi katarak tapi kedua mata subjek, sehingga dokter menyarankan subjek untuk mengoperasi kedua mata subjek secara bergantian, karena kalau kedua

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 mata dioperasi secara bersamaan akan membutuhkan penyembuhan yang sangat lama. Gejala kecemasan yang muncul akibat penyakit diabetes melitus tipe II yang dialami oleh subjek berupa gejala fisik dan gejala psikologis yaitu jari-jari keram, subjek sering buang air kecil, dan subjek juga mengalami takut dan pikiran pada penyakit yang dialami oleh subjek. Subjek mengatasi kecemasan yang muncul dengan cara bersenangsenang untuk menghilangkan pikiran yang menyangkut dengan penyakit subjek, selain itu jalan-jalan atau refresing dengan keluarga subjek dapat mengurangi kecemasan yang muncul, dan subjek juga memiliki program jalan atau oleh raga jalan dua kali sehari. 3. Subjek 3 (MRTH) a. Profil Subjek Subjek ketiga dalam penelitian ini adalah seorang wanita yang berusia 49 tahun dengan inisial MRTH. MRTH lahir pada tanggal 26 Mei 1964 ini memilki tubuh kurus, tinggi dan berkulit kecoklatan. MRTH adalah pribadi yang sopan, cerewet dan murah senyum. MRTH beragama kristen protestan. Pekerjaan MRTH adalah sebagai PNS. Subjek adalah ibu dari 3 orang anak. Suami pertamannya sudah meninggal 6 tahun yang lalu, kemudian subjek menikah lagi. Kini subjek tinggal di rumahnya dengan suami kedua, anak-anak subjek serta menantu dan seorang cucunya. Anak pertama subjek sudah menikah dan memiliki

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 seorang anak, anak kedua dan ketiganya masih kuliah di salah satu kampus di kota kupang-NTT. Keseharian subjek selain bekerja mencari uang untuk anak keduan dan ketigianya, subjek juga sangat memperhatikan cucu subjek. Namun, bukan subjek saja yang mencari uang tapi suami subjek juga membantu mencari kerja. Suami subjek adalah seorang guru di subuah sekolah menengah pertama di kota kupang-NTT. b. Hasil wawancara Saat wawancara berlangsung, suasana di sekitar rumah subjek cukup sepi sehingga mendukung dalam wawancara antara subjek dan peneliti. Subjek juga dapat menjawab pertanyaan peneliti dengan jelas. Subjek selalu tampak tenang setiap kali peneliti datang dan melakukan wawancara. Subjek seorang yang ramah dan keibuan sehingga suasana percakapan dalam wawancara tidak kaku. Dari hasil wawancara ada beberapa poin yang dapat menjelaskan hasil tersebut, yaitu : 1) Perasaan awal mengidap penyakit diabetes melitus tipe II Lima tahun yang lalu, kaki subjek terkena paku dan mengakibatkan kaki subjek terluka, karena luka subjek tidak kunjung sembuh akhirnya subjek memeriksa ke rumah sakit untuk memastikan apakah ada infeksi pada kaki yang luka itu atau tidak. Namun, setelah di rumah sakit dokter menyuruh subjek untuk memeriksa gula darah subjek. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ternyata luka yang dialami subjek tidak kunjung sembuh dikarenakan subjek menderita diabetes melitus tipe II. Seharusnya

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 tingkat gula darah normal pada seseorang yang tidak mengidap penyakit diabetes melitus tipe II adalah 70 sampai 120 mg/dl, tetapi saat itu tingkat gula darah subjek mencapai 400 sampai 425 mg/dl. Subjek mengetahui bahwa dalam sejarah keluarga, penyakit diabetes melitus tipe II ini merupakan penyakit turunan dari keluarga subjek. Meskipun subjek mengetahui bahwa penyakit diabetes melitus tipe II merupakan penyakit turunan, subjek merasa sedih dan mengeluarkan air mata karena subjek tidak menyangka bahwa subjek mengidap penyakit diabetes melitus tipe II tersebut. Selain itu, subjek juga merasa putus asa karena subjek takut meninggalkan anak-anak subjek. Awal mula tuh kaki nih saya punya kaki kena luka kerena kena injak kayu, setelah luka luka nih kok luka terus tidak baik-baik begitu tidak baik tidak pernah sembuh-sembuh, jadi datang ke rumah sakit sampai di rumah sakit dokter periksa habis itu suruh cek gula darah setelah cek gula darah ternyata di nyatakan saya nih penyakit gula karena waktu itu gula 400> 425 disitu dokter kasih bersih luka pkoknya disitu baru tahu kalau saya nih menderita gula darah. (3-12). kalau saya nih kalau mau dibilang keturunan memang kita keturunan penyakit gula darah (15-17). Kalau saya nih dari tahun kalau mau di bilang dari tahun 2009 (20-21). sedih pertama saya datang rumah sakit langsung bilang gula darah air mata keluar terus menangis pasti saya sudah mati, tinggalin anak-anak saya (24-27). 2) Reaksi subjek pada awal mengidap penyakit diabetes melitus tipe II Pada awalnya diri subjek mengetahui bahwa subjek mengidap penyakit diabetes melitus tipe II subjek tidak dapat menerima begitu saja.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Subjek sempat menangis terus menerus dan selalu berpikir kalau subjek akan cepat mati, namun suster menjelaskan bahwa anak muda yang masih remaja saja sudah mengidap penyakit diabetes melitus tipe II dan mereka sampai saat ini masih hidup. Setelah suster menjelaskan pada subjek barulah pikiran subjek terbuka. pikiran menangis sampai ibu suster bujukin bilang banyak gula darah artinya banyk juga umur masih muda tapi dia sudah gula darah, jadi tapi sampai sekarang dia masih hidup (28-31). disitu baru pikiran saya terbuka (32). 3) Efek-efek yang dirasakan karena mengidap penyakit diabetes melitus tipe II Bagi subjek, penyakit diabetes melitus tipe II ini tidak terlalu menyulitkan pekerjaan sehari-hari. Subjek bisa melalukan semua kegiatan hidup subjek berjalan dengan lancar dan tidak terganggu oleh keluhan apapun. Hanya saja subjek akan merasa sakit pada pinggang sehingga membuat subjek agak lelah dan tenaga hilang sehingga membuat subjek mengalami rasa pusing, mata kabur, keringat dingin, kaki dingin bahkan subjek merasakan sesak pada dada sehingga membuat subjek sulit untuk bernafas. Lemah, pusing, mata kabur, pinggangrasa sakit keringat dingin sampai tenaga hilang, dada sesak mau bernafas, kaki dingin (44-47)

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 4) Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kecemasan dalam diri subjek Jika tingkat gula dalam darah subjek meningkat hingga 400 sampai 425 mg/dl, subjek merasakan cemas. Selain itu, subjek juga cemas akan luka yang tidak sembuh-sembuh. Subjek tidak ingin mengidap salah satu dari beberapa komplikasi tersebut dan bisa saja merenggut nyawa subjek. Namun, hasil lab menyatkan bahwa subjek sudah mengalami komplikasi tersebut yaitu ginjal dan mata katarak sehingga subjek menjadi pikiran akan komplikasi tersebut. Mata kabur dan ginjal (49). Tentu cemas, cemas nih karena ini luka sembuh atau tidak, tahu nih sakit kapan bisa sembuh padahal hanya jaga makan saja toh biar bisa sembuh (58-60). 5) Gejala kecemasan yang muncul dari dalam diri subjek Subjek merasakan tidak nyaman dengan kondisi yang dialaminya. Hal ini dikarenakan, subjek sering merasakan sedih bahkan subjek menjadi khawatir dengan penyakit yang dideritanya apalagi subjek sudah memiliki dua komplikasi yang berbeda dan harus selalu mengontrol ke rumah sakit sehingga membuat subjek menjadi cemas. Subjek kadang merasa capek dengan dengan kondisi yang dialaminya itu. Namun, kadang subjek senang berobat karena ketika sampai di rumah sakit subjek mendapat teman yang bisa diajak ngobrol, sehingga subjek dapat melupa sakitnya meskipun hanya dalam hitungan jam saja.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Rasanya capek juga, tapi rasa senang juga berobat karena banyak teman yang bisa diajak bicara. (41-42). Sedih karena penyakit, khawatir mati (64). 6) Usaha untuk mengatasi kecemasan Cara yang dilakukan oleh subjek untuk mengatasi kecemasan yang muncul adalah subjek mengajak keluarga subjek untuk mencari hiburan di luar. Selain itu, subjek juga mencari kesibukan untuk tidak memikirkan penyakit yang dialaminya dengan bercerita dengan teman-teman subjek. Subjek juga menenangkan hatinya dengan membaca Alkitab. Kadang cari hiburan, baca alkitab, cerita dengan teman dan cari kesibukan. (70-71). c. Kesimpulan Berdasarkan hasil wawancara, peneliti dapat menyimpulkan bahwa kecemasan yang muncul dalam diri subjek berasal dari dalam diri subjek sendiri. Subjek mengalami penyakit diabetes melitus tipe II sudah lima tahun lamanya. Oleh karena itu, subjek merasa sedih bahkan putus asa dengan apa yang dirasakan saat ini. Subjek juga mengkhawatirkan dengan luka yang dialaminya karena luka tersebut tidak kunjung sembuh dan subjek takut apabila kakinya harus diamputasi. Subjek merasa putus asa karena sudah terjadi komplikasi pada gangguan mata dan pada ginjal. Gejala kecemasan yang muncul akibat dari penyakit diabetes melitus tipe II berupa gejala fisik dan gejala psikologis yaitu terkadang subjek merasa hilang tenaga apabila subjek terlalu banyak bekerja

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 sehingga mengakibatkan tangan dan kaki subjek menjadi dingin, lemah, dada terasa sesak, mata kabur bahkan subjek pusing. Bersadarkan gejala kecemasan yang ada dan kecemasan yang muncul subjek memiliki usaha untuk mengatasi munculnya kecemasan dengan cara mencari hiburan di luar rumah, pada waktu senggang subjek menyempatkan waktu untuk bercerita dengan teman subjek atau dengan tetangga subjek. subjek juga mencari kesibukan dengan membaca alkitab atau firman Tuhan. 4. Subjek 4 (ADQ) a. Profil Subjek Subjek keempat dalam penelitian ini adalah seorang laki-laki yang berusia 55 tahun dengan inisial ADQ. ADQ lahir pada 16 Juni 1958 ini memilki tubuh gemuk, pendek, berkulit hitam dan berjanggut. ADQ adalah pribadi yang keras namun tetap sopan pada orang lain. ADQ beragama kristen protestan. Pekerjaan ADQ adalah sebagai PNS. Subjek adalah ayah dari 2 orang anak. Subjek bekerja sebagai seeorang PNS dan istri subjek adalah seorang ibu rumah tangga. Anak pertama subjek masih duduk di bangku SMA dan anak kedua subjek masih SMP. Keseharian subjek bekerja dan baru pulang ke rumah sore. Setelah di rumah subjek berkumpul dengan keluarga subjek dan bercertia tentang kesibukan masing-masing. Subjek lebih sering menyakan pada kedua anaknya tentang sekolah mereka, apakah anak-anak subjek mampu menerima pelajaran dari gurunya atau bagaimana. Setiap hari minggu

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 subjek dan keluarga kegereja bersama, karena menurut subjek ketika bersama dengan keluarga subjek lebih menjadi sehat dan semangat. b. Hasil wawancara Pada awal wawancara subjek terkesan sangat antusias untuk menceritakan tentang kehidupan subjek. Awal wawancara dilakukan di rumah subjek. Suasana rumah subjek lumayan tenang sehingga subjek dapat menceritakan kehidupan subjek dengan baik. Wawancara kedua dilakukan di laboraturium rumah sakit, subjek tampak agak khawatir dengan hasil lab. Namun, dalam tahap wawancara subjek menjawab semua pertanyaan dengan baik meskipun dengan suasana yang agak ribut. Dari hasil wawancara ada beberapa poin yang dapat menjelaskan hasil tersebut, yaitu : 1) Perasaan awal mengidap penyakit diabetes melitus tipe II Awalnya subjek pernah di opname di Rumah Sakit Umum Profesor Johanes kupang, setelah itu dokter menyarankan untuk memeriksa lab lengkap dan dari hasil laboraturium yang ada subjek mengidap penyakit diabetes melitus tipe II. Setelah subjek mengetahui penyakit yang dialaminya, subjek merasa takut dan cemas dengan penyakit tersebut. pada tahun 1998, saya di opname di ruamh sakit umum profesor Johanes kupang dan pada saat itu di priksa lab lengkap dan di ketahui bahwa saya menderita penyakit diabetes (3-27). jadi saya merasa takut juga dan cemas begitulah (27).

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 2) Reaksi aawal mengidap penyakit diabetes melitus tipe II Pada awalnya subjek kaget dengan penyakit yang dialaminya, karena subjek pernah mendengar bahwa penyakit diabetes melitus tipe II susah untuk disembuhkan. Ketika dokter menganjurkan untuk diet, subjek merasa berat untuk menjalankannya, hal ini dikarenakan pola makan subjek yang banyak kini harus dikurangi. Lama kelamaan subjek mengikuti anjuran dokter dan mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter, akan tetapi subjek tidak sepenuhnya mengikuti anjuran dokter. Ya saya juga sempat kaget juga ya, kerana sebelumnya saya mendengar bahwa kalau orang yang menderita penyakit diabetes itu sepertinya ya sepertinya ya katnya susah disembuhkan (23-26) saya merasa kek susah ya berat untuk mengikuti ini apa eee anjuran dokter untuk diet ya memang rasanya berat begitu, tapi lama kelamaan ya harus dipatuhi anjuran dokter seperti diet ya segala macam itu, tapi sampai sekarang saya memang mengkonsumsi obat dari dokter tapi saya tiak mengkonsumsi secara teatur (34-40). 3) Efek-efek yang dirasakan karena mengidap penyakit diabetes melitus tipe II Efek yang dirasakan oleh subjek dari penyakit diabetes melitus tipe II ini adalah ketika mengkonsumsi obat resep dokter, karena ketika subjek mengkonsumsi dengan terus badan subjek lebih menjadi lebih lemas dari sebelumnya, bahkan subjek sering pusing, cepat haus dan sering lapar sehingga menghambat aktivitas subjek dalam bekerja. Ya efeknya ya memang kalau kita mengkonsumsi dengan di sesuai dengan aturan yang ada ya pasti rasanya ini badannya rasanya lemah, pusing, cepat haus begitu sering lapar begitu (51-55).

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 4) Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kecemasan dalam diri subjek Subjek disaranakan oleh dokter untuk berdiet agar tetap menjaga kestabilan gula dalam darah, namun subjek terkadang sering melanggar aturan yang dianjurkan oleh dokter. Setelah subjek mengidap penyakit diabetes melitus tipe II, dua tahun kemudian subjek mengalami komplikasi hipertensi atau darah tinggi sehingga subjek menjadi cemas untuk menghadapi kehidupan kedepannya. Subjek sangat berharap agar subjek bisa hidup seperti orang yang normal. Namun, dengan adanya sakit yang dialami subjek bahkan sampai komplikasi subjek tidak merasa terganggu dalam beraktivistas, subjek bekerja seperti biasanya dengan kemampuannya. Namun, ketika subjek sudah merasa lemah dan tiba-tiba badan terasa tidak enak subjek langsung pulang ke rumah untuk beristirahat. setelah saya dinyatakan menderita diabetes mungkin dua tahun kemudia tahun 1990 saya menderita apa hipertensi (57-59). kadang-kadang saya karena apa ya kalau terlalu diet juga kan badan saya lemas jadi kadang-kadang juga ya ada sedikit melanggar aturan begitu, jadi tidak dengan anjuran dokter toh (67-71). saya cemas mengenai kehidupan saya ini, apakah saya bisa hidup normal seperti orang lain yaang tidak mendertia peyakit diabetes atau bagaimana (107-121). tidak begitu mengganggulah, saya bekerja sesuai dengan kemampuan saya kalau memang rasa tiba-tiba badan rasa keringat dingin atau badan lemah saya langsung pulang dan langsung istirahat (124-128). saya takut komplikasi yang lain (134-135).

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 5) Gejala kecemasan yang muncul dari dalam diri subjek Gejala kecemasan yang muncul dalam diri subjek mengakibatkan subjek menjadi takut dengan penyakit yang dialaminya karena komplikasi. Subjek merasa sangat beban dengan penyakit diabetes melitus tipe II tersebut. Gangguan fisik subjek yang dirasakan, badan subjek sering terasa lemah dan kurang sehat. takut dapat serangan penyakit yang lain komplikasi yang lain dan cemas juga (95-97) gangguan fisik sendiri saya rasa badannya saya sepertinya kayak kurang sehat, rasanya badannya lemah saja begitu ya tidak segar (102-105). 6) Usaha untuk mengatasi kecemasan Usaha yang dilakukan oleh subjek agar subjek tidak cemasa dengan cara subjek meminum obat dengan teratur dan berdoa agar diberi kekuatan dari Tuhan supaya subjek tidak cemas dan tidak pikiran. Ya itu hanya satu saja tetap doa minta kekuatan dari Tuhan supaya saya tidak cemas dan tidak pikiran, jangan terlalu cemas pikirkan ini penyakit, berdoa saja dan berusaha minum obat. (141-144). c. Kesimpulan Pada awal subjek mengalami penyakit diabetes melitus tipe II, subjek juga sudah mengalami penyakit hipertensi atau darah tinggi. Ketika subjek masuk rumah sakit lagi, dokter menyarankan subjek untuk memeriksa laboraturium untuk memeriksa diabetes melitus subjek. Dari hasil lab subjek divonis mengidap penyakit diabetes melitus tipe II. Pada saat itu, subjek merasa cemas dan takut karena subjek tahu bahwa penyakit

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 diabetes melitus tipe II tersebut tidak dapat disembuhkan namun hanya dapat dikontrol gula dalam darah agar tetap normal dengan cara menjaga pola makan yang baik dan teratur dan mengikuti anjuran dari dokter. Pada kecemasan yang dialami oleh subjek juga terdapat gejala kecemasan yang muncul seperti seubjek merasa lemah, subjek juga sering merasa haus dan lapar sehingga membuat subjek menjadi sering pusing. Subjek juga merasa takut dengan penyakit yang dialaminya itu. Oleh karena itu, subjek mengatasi munculnya rasa cemas dengan cara tidak memikirkan ha-hal yang membuat gula darah subjek menjadi naik dan subjek juga selalu berdoa pada Tuhan meminta kekuatan untuk menjalani penyakit tersebut. C. Analisis antar subjek Tabel 3 Analisis antar Subjek Subjek Sebujek 1 (OES) Subjek 2 (MLS) Gejala kecemasan Cara mengatasi Memikirkan masa depan Subjek juga memiliki cara atau anak-anaknya, gelisah, usaha-usaha untuk mengatasi susah tidur kecemasan yang muncul dengan cara subjek bersenangsenang dengan keluarga dan meningkatkan aktivitas meskipun aktivitas tersebut tidak maksimal. Namun, itu sanggat membantu subjek untuk mengatasi munculnya kecemasan. Ketidaknyamanan, sering Ketika subjek merasa semakin buang air kecil, jari keram, resah, subjek biasanya mata kunang-kunang, mengatasi kecemasan yang pikiran, takut, dan putus muncul dengan bersenangasa. senang dan jalan-jalan bersama keluarga dan subjek juga

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Subjek 3 (MRTH) Tidak nyaman, sedih, khawatir, merasa capek. Subjek 4 (ADQ) Takut, sangat terbebani dengan penyakitnya, badan merasa lemah dan kurang sehat. memiliki program jalan sehat tiap dua kali sehari. Cara yang dilakukan oleh subjek untuk mengatasi kecemasan yang muncul adalah subjek mengajak keluarga subjek untuk mencari hiburan di luar. Selain itu, subjek juga mencari kesibukan untuk tidak memikirkan penyakit yang dialaminya dengan bercerita dengan teman-teman subjek. Subjek juga menenangkan hatinya dengan membaca Alkitab. Usaha yang dilakukan oleh subjek agar subjek tidak cemasa dengan cara subjek meminum obat dengan teratur dan berdoa agar diberi kekuatan dari Tuhan supaya subjek tidak cemas dan tidak pikiran. D. Pembahasan Berdasarkan hasil wawancara dan pengolahan data didapatkan beberapa hasil dengan judul penelitian kecemasan pada individu yang menglami penyakit diabetes melitus tipe II, maka dapat diuraikan dinamika kecemasan sebagai berikut: 1. Kecemasan pada individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II Para individu diabetes melitus tipe II pada umumnya mengalami rasa cemas terhadap segala hal yang buruk sejauh itu menyangkut penyakit diabetes melitus tipe II (komplikasi jangka panjang) yang belum tentu terjadi dalam diri individu, yang dianggap sebagai hukuman akibat pemuasan dalam diri individu. Komplikasi yang dihadapi oleh individu yang mengalami

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 penyakit diabetes melitus tipe II tidak hanya beresiko amputasi bagian tubuh tertentu saja tapi juga termasuk hiperglekemia, gagal ginjal, gangren, kebutaan, dan jantung koroner. Ketika individu mengetahui kemungkinan munculnya komplikasi, maka individu diabetes akan sering kmerasa cemas menebak-nebak komplikasi yang akan menyerang dirinya. Kecemasan dalam diri individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II dan setiap individu sebenarnya merupakan kecemasan yang tidak nyata atau berdasarkan pikiran yang direkayasa oleh individu itu sendiri. Sering kali pola pikir yang muncul adalah pola pikir yang buruk atau negatif karena para individu merasa terancam dengan keberadaan penyakit diabetes melitus tipe II dalam tubuhnya. Seperti yang dikatakan Prawirohursodo (1994) bahwa rasa cemas sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan, mengelisahkan dan suatu ancaman bahaya yang tidak diketahui oleh individu. Pada akhirnya, kecemasan yang timbul disebabkan dari dalam diri para individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II. Kecemasan yang ada di dalam diri para individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II menyebabkan emosi yang tidak stabil dan berdasarkan penelitian banyak bukti yang memperlihatkan bahwa dalam keadaan cemas, kadar gula dalam darah para individu akan meningkat lebih cepat dibandingkan dengan mengkonsumsi makanan secara sembarangan. Diabetes para individu akan semakin memburuk saat individu dalam keadaan cemas. Semakin besar kecemasan individu yang mengalami penyakit diabetes melitu tipe II atau

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 semakin sering kecemasan itu muncul, gula darah dalam tubuh menjadi sering meningkat. Para individu juga mengalami perasaan takut mati karena anak-anak individu yang baru beranjak dewasa dan emosi yang tidak stabil ketika tubuh mulai menampakkan gejala kecemasan. Individu akan lebih cepat sedih. Perasaan yang dialami oleh individu ini seperti gejala kecemasan yang dikemukakan Freud (2003) mengemukakan gagasan bahwa kecemasan disebabkan oleh perasaan tidak berdaya yang luar biasa. Bila kecemasan meningkat sampai individu merasa kelangsungan hidupnya terancam, maka simtom-simtom neurotik mungkin terbentuk sebagai usaha untuk menghilangkan perasaan emosional. Kecemasan pada dasarnya merupakan pengalaman ketidakberdayaan, seperti perasaan tidak berdaya untuk menangani kebutuhan-kebutuhan internal, tidak berdaya menanggulangi ancaman-ancaman dari luar dan isyarat-isyarat disintergrasi, dan tidak berdaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Kecemasan yang ada pada individu diabetes melitus tipe II termasuk kecemasan neurotik, salah satu jenis kecemasan yang dikemukakan oleh Freud. Hal ini dikarenakan kecemasan neutorik merupakan perasaan umum, dimana seseorang merasa cemas dan kehilangan kepercayaan diri. 2. Gejala-gejala kecemasan yang muncul dalam diri subjek Sumber kecemasan terungkap dalam penelitian ini melalui berbagai gejala yang ditunjukkan oleh keempat individu. Gejala-gejala kecemasan menurut Fahmy (1977), ada dua yaitu gejala fisiologis dan gejala psikologis.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Peneliti mengukapkan dua gejala kecemasan tersebut yang dialami oleh individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II. Gejala fisik yang ditunjukkan oleh para individu adalah rasa haus yang berlebihan, tubuh cepat lelah, kesemutan di beberapa bagian tubuh, kaki dan tangan dingin, sering lapar, pernafasan menjadi sesak. Semua individu memiliki gejala khusus dan gejala ini menjadi sebuah peringatan mulai meningkatnya gula darah subjek. pada akhirnya, ketika gejala fisik khusus tersebut meningkat gula darah dalam tubuh individu akan muncul dan individu akan merasakan kecemasan yang cukup kuat yang dapat dirasakan secara fisik dalam bentuk keluhan somatik, misalnya sesak nafas, sakit kepala, dan keringat dingin. Gejala psikologis yang dialami oleh individu adalah gelisah, takut, khawatir, sedih, putus asa, ketakutan akan masa depan individu sebagai penderita diabetes melitus tipe II, dan juga berbagai emosi yang muncul dalam diri individu yang dapat menyebabkan kadar gula dalam darah tinggi secara kronis bahkan gula individu akan semakin memuruk saat individu dalam keadaan cemas. 3. Usaha-usaha untuk mengatasi kecemasan yang muncul Cara menghadapi kecemasan dengan cara mengurangi kecemasan yang muncul dalam diri individu. Cara termudah yang dapat dilakukan oleh para individu adalah relaksasi. Menurut Bruno, 1998 (dalam Christyani, 2007), banyak hal yang dapat individu lakukan untuk mengolah kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan, salah satunya adalah dengan metode relaksasi. Metode ini terbukti dapat membuat perasaan seseorang menjadi lebih baik. Semua individu dapat melalukan metode tersebut dengan bersenang-senang

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 dengan keluarga, meningkatkan aktivitas, jalan-jalan, mencari hiburan, bercerita dengan teman, tidak pikiran dan semua individu merasa kedamaian dan kehangatan di dalam hati, apalagi bila ditambah dengan berdoa. Beban pikiran yang begitu berat terasa berkurang pada saat subjek berdoa bersama keluarga dan merenungkan ayat-ayat Firman Tuhan karena individu menyadari, merasakan, dan mengakui bahwa ada kekuatan tertinggi yang menaungi kehidupan manusia dan hanya kepada-Nya saja manusia berserah diri dan bergantung. Olah raga juga menjadi salah satu cara yang dilakukan individu untuk mengurangi kegelisahan, kecemasan, dan kekhawatiran individu sekaligus bisa berfungsi sebagai cara untuk rekreasi dan membantu membakar kalori dalam tubuh individu sehingga gula darah individu lebih stabil. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II, baik itu dilakukan oleh individu sendiri maupun melalui orang terdekat yang memberikan dukungan dan perhatian. Tidak perlu biaya yang mahal untuk mengusahakan berkurangnya rasa cemas dalam diri individu, tetapi dampak yang ditimbulkan dari usaha tersebut dapat mengurangi ketegangan dalam diri individu yang terutama. Segala usaha yang dilakukan untuk mengurangi kecemasan dalam diri individu yang mengalami diabetes melitus tipe II akan membantu kestabilan tingkat gula darah dalam diri individu yang pada umumnya mengalami rasa cemasa terhadap segala hal yang buruk sejauh itu menyangkut penyakit diabetes

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 melitus tipe II (komplikais jangka panjang) yang belum tentu terjadi dalam diri individu.

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis penelitian yang terkait dengan kecemasan pada individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II yang diperoleh dari keempat individu dengan beberapa karakter dan rumusan masalah dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Kecemasan yang muncul berasal dari dalam diri individu sendiri. Perasaan cemas timbul apabila tingkat gula darahnya sangat tinggi akan berakibatkan sangat fatal pada diri sendiri. Individu juga merasa takut bahkan putus asa karena penyakit yang dialaminya sudah berakibat komplikasi pada penyakit yang lainnya seperti gangguan pada mata atau mata katarak, karena gangguan pada mata individu bukan hanya satu saja tapi pada kedua mata individu, sehingga dokter menyarankan untuk di operasi secara bergantian. Selain itu, individu merasa khawatir dengan luka yang dialaminya karena luka tersebut tidak kunjung sembuh dan individu takut apabila kakinya harus diamputasi. 2. Peneliti mengungkapkan dua gejala kecemasan tersebut yang dialami oleh individu diabetes melitus tipe II yaitu gejala fisik yang ditunjukkan oleh para individu adalah rasa haus yang berlebihan, tubuh cepat lelah, kesemutan di beberapa bagian tubuh, kaki dan tangan dingin, sering lapar, pernafasan menjadi sesak. Semua individu memiliki gejala khusus dan gejala ini menjadi sebuah peringatan mulai meningkatnya gula darah subjek. pada akhirnya, ketika gejala fisik khusus tersebut meningkat gula darah dalam tubuh individu akan muncul dan individu akan merasakan kecemasan yang cukup kuat yang dapat dirasakan secara fisik dalam bentuk keluhan somatik, misalnya sesak nafas, sakit kepala, dan keringat dingin. Gejala psikologis yang dialami oleh individu adalah gelisah, takut, khawatir, sedih, putus asa, ketakutan akan masa 75

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 depan individu sebagai penderita diabetes melitus tipe II, dan juga berbagai emosi yang muncul dalam diri individu yang dapat menyebabkan kadar gula dalam darah tinggi secara kronis bahkan gula individu akan semakin memburuk saat individu dalam keadaan cemas. 3. Usaha untuk mencegah terjadinya kecemasan dengan cara relaksasi. Relaksasi dengan cara mendengarkan lagu-lagu rohani baik melalui radio, tape, atau CD player menjadi salah satu alternatif yang sangat memberikan kekuatan dan penghiburan ketika rasa cemas dalam diri mulai muncul. Kedamaian dan kehangatan dalam hati dapat dirasakan oleh individu, apalagi bila ditambah dengan berdoa. Beban pikiran yang begitu berat berkurang pada saat individu berdoa bersama anggota keluarga dan merenungkan ayat-ayat Firman Tuhan. Olah raga juga menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kegelisahan, kecemasan dan kekhawatiran sekaligus membantu membakar kalori dalam tubuh sehingga gula darah lebih stabil. Waktu jalan pagi dapat digunakan individu untuk bertamu dengan tetangga dan bercakap-cakap selama beberapa menit. Kesimpulan-kesimpulan di atas sebaiknya dipahami dalam keterbatasan yang ada dalam penelitian ini. B. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini hanya menggunakan satu jenis metode untuk mencapai kredibilitas penelitian yaitu validitas argumentatif yang diperoleh dengan cara diskusi hasil temuan penelitian dengan teman sesama peneliti dengan data mentah yaitu potongan verbatim individu.

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 C. Saran 1. Bagi para individu diabetes melitus tipe II, sangatlah baik mengenali gejala-gejala kecemasan yang timbul dan mampu menangani gejala-gejala tersebut. 2. Bagi pasangan dari penderita diabetes melitus tipe II, sebaiknya terus memberi dukungan positif yang dibutuhkan individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II karena dukungan positif dari orang-orang terdekat bisa membantu mengurangi rasa cemas dan meningkatkan kualitas hidup individu yang mengalami penyakit diabetes melitus tipe II. 3. Bagi anak-anak yang memiliki orang tua pengidap penyakit diabetes melitus tipe II, sebaiknya peduli dan perlu memperhatikan pola hidupnya sehingga bisa memberi motivasi pada penderita dalam menjaga kesehatan tubuh.

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 DAFTAR PUSTAKA Anderson, C. R. (2004). Petunjuk modern kepada kesehatan. Bandung: Indonesia Publishing House. American Psychiatric Association. (1994). DSM-IV Diagnostic and statistical manual. Washington. DC: Penulis. Bambang, P. & Lina, M. J. (2006). Methode research quantitative. Jakarta : PT. King Grafindo Persada. Barlow, D. H. (2002). Psikologi abnormal. Yogyakarta: Pusat Pelajar. Barlow, D. H., & Craske, M. G. (1994). Mastery of your anxiety and panic II. Albany, Ny : Graywind. Beaghole, R. B., & Kjellstrom, T. (1993). Basic epidemiology. Geneva: WHO Brunner, L dan Suddarth, D.. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah (vol 2). Jakarta: EGC. Charney, D. S, & Drevets, W. C. (2002). The neurobiological basis of anxiety disorders. Psychopharmacology: The Fifth Genera-tion of Progress. Philadelphia: Lippincott. Christyani, L. (2007). Kecemasan pasien diabetes. Skripsi yang tidak diterbitkan. Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata, Fakultas Psikologi. Creswell, J.W. (1998). Qualitative inquiry and research design choosing among five traditions. California: Sage Publication, Inc. Creswell, J.W. (2007). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Calhoun, J. F., & Acocella, J. R.(1990). Psychology of adjustment and human relatinship. NewYork: McGraw-Hill,Inc. Daradjat, Z. (1983). Kesehatan mental. Jakarta: PT. Gunung Agung. Elizabeth, J. C. (2009). Handbook of pathophysiology. Jakarta: EGC. Fahmy, M. (1977). Kesehatan jiwa I. Jakarta: Bulan Bintang Jakarta. Freud, S. (2003). Psikoanalisis : A General Introduction to Psychoanalysis. Yogyakarta: IKON Teralitera. Guthrie, D.W. & Guthrie, R.A. (2009). Management of diabetes melitus. New York: Springer Publishing Company LLC. Hall, S. & Lindzey, G. (1993). Teori-teori psikodinamik (klinis). Diterjemahkan oleh : A. Supratiknya. Yogyakarta: Kanisius. 78

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Handayani, M. K. W. (2007). Pengarruh ketorolak intra vena terhadap kadar kreatinin urin enam jam pasca bedah dengan anestesi umum. Artikel Ilmiah yang tidak diterbitkan. Semarang: Universitas Diponegoro, Fakultas Kedokteran. Hurlock, E. B. (1973). Adolescent development, (ed. Ke-4). New York: McGraw-Hill. Jeffry, S. N., Spencer, A. R., & Beeverly, G. (2003). Abnormal psychologyin a changing world. Jakarta: Penerbit Erlangga. Katzung, B, G. (2007). Basic and clinical pharmacology, (ed. Ke-10). New York: Mc Graw Hill. Kartono, K. (1981). Psikologi umum. Bandung: Offset Alumni. Kendler, K. S., Davis, C. G., & Kessler, R. C. (1997). The familial aggregation of common psychiatric and substance use disorder in the National Comorbidity Survey: A family history study. British Journal of Psychiatry. Koeswara, E. (1991). Teori-teori kepribadian (Psikoanalisis-Behaviorme-Humanistik). Bandung: PT. Eresco. Mappiare, Andi. (2010). Pengantar konseling dan psikoterapi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada Moleong, L.J. (2008). Metode penelitian kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Moleong, L.J. (2009). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mc Quade, D. A., & Aikman, A. (1987). Stres. Jakarta: Gramedia. Paul, D. L. (2005). Practical research. New Jersey: Upper Sadle River. Poerwandari, E.K., (2005). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta: LPSP3 Universitas Indonesia. Prawirohusodo. (1994). Rasa nyeri: suatu tinjauan medis. LPM Pengelolaan Rasa Sakit. Bagian Psikologi Klinis Fakultas Psikologi UGM Priest, R. (1987). Stres dan depresi. Edisi 1. Semarang : Dahaya Press. Putra, I Gusti Ngurah, & Swastini, L. P. (2009). Tingkat Kecemasan Pasien Diabetes Melitus (DM) yang Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanjiwani Gianyaar.[serial online]http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/21095761.pdf[14 November 2012]. Semium, Y. (2005). Teori kepribadian dan terapi psikoloanalitik. Yogyakarta: Kanisius. Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah. Volum 2. Edisi 8. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Smith, J. A. (2009). Psikologi kualitatif: panduan praktis metode riset. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Soegondo, S. (2002). Psikologi praktis pengelolaan diabetes melitus tipe II. Jakarta: Perhimpunan Endokrinologi Indonesia. Soegondo, S. (2006). Petunjuk praktis pengelolah diabetes melitus tipe II. Jakarta: Penghimpun Endokrinologi Indonesia. Soegondo, S. (2007). Diabetes, the silent killer. Jakarta: Perhimpunan Endokrinologi Indonesia. Suyono, S. (1999). Penyakit degeneratif dan gizi lebih. Jakarta: LIPI. Stuart, G. W., dan Sundeen, R. (1998). Buku saku keperawatan jiwa. Jakarta: EGC Stuart, G. W., dan Sundeen, R. (2002). Buku Saku Keperawatan, Edisi 3. Jakarta: EGC Sukandar, E. Y., Andrajati, R., Sigit, J. I., Adnyana, I. K., Setiadi, A. P., dan Kusnandar. (2008). ISO farmakoterapi. Jakarta: PT. ISFI Penerbitan. Tarno. (2004). Hubungan antara cemas, depresi dan kadar gula darah serta reduksi urin penderita diabetes melitus.Penelitian Akhir yang tidak diterbitkan. Semarang: Universitas Diponegoro, Fakultas Kedokteran. U.S. Departement of Health and Human Services (USDHHS). (1999a). Mental health: A report of the Surgeon General. Rockville, MD: U.S. Departement of Health Services, Substance Abuse and Mental Health Services Administration, Center for Mental Health Services, National Institutes of Mental Health Services Institute of Mental Health. Waspadji. (2002). Gambaran klinis diabetes melitus. Dalam Buku Ajar ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. WHO. (2003). Fact Related toChronis Disease : Non Communicable Disease Prevention and Health Promotion. Tersedia dalam :< http://www.who.int> (diakses 14 April 2006).

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 LAMPIRAN

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Biodata Subjek 1 Nama : OES Tempat Tanggal Lahir : Kupang, 30 Oktober 1970 Umur : 43 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Kristen Protestan Status Perkawinan : Menikah Pekerjaan : PNS

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Koding subjek 1 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 43 Verbatim Koding Awal Bisakah ibu/bpk menceritkan bagaimana awal ibu/bpk dinyatakan menderita penyakit diabetes melitus tipe II? Awalnya itu saya merasa kurang nyamanlah di perasaan terus kita ada pemeriksaan medisnya Perasaan awal ternyata hasil lab dari medis pemeriksaan awal itu tidak ada penyakit yang di vonis oleh dokter itu nah disitulah muncul kecemasan saya kok saya merasa sangat menderita sekali tapi kok tidak ada penyakit yang saya yang sesuai yang hasil medis saya alami terus seminggu lagi kita ee pemeriksaan ulang hasil lab keseluruhan tidak juga jadi selama tiga minggu kita pemeriksaan rutin ternyata ada hasilnya saya divonis diabetes yang sangat eee tinggi sekali yaitu berkisar 336 yang menjadi eee kekhawatiran yang sangat mendasar itu ketika konsumsi obat selama dua minggu kurang dua hari kita kontrol lagi ternyata drop sekali menurut dokter karena dari hasil awal tuh 336 menjadi 60 rendah sekali terus dokter eee memberikan obat lagi kita kontrol yang keempat kalinya ternyata normal normalnya sampai dengan hari ini yang sudah kontrol yang ke lima hasilnya juga tetap normal. Apakah ada tanda-tanda atau gejala-gejala yang dirasakan? Awalnya tuh saya saring meriang sangat aaa orang timor itu bilang menggigil lah gitu eee tapi tidak seberapa lama merasa meriang itu cuma sekitar 15 menit paling lama lah, lama kelamaan sekitar satu minggu menjelang dua minggu saya drop badan saya dulunya saya kan besar sekali gemuk sakli tapi eee akhirnya turun dari berat idealnya saya tuh 67 kg ketika kita pemeriksaan hasil timbangannya tuh hanya Faktor 49 kg 18 kg ny tidak ada lagi artinya sudah kecemasan turun. Disini nampak sekali kecemasan saya tidak tahu apa penyebab dari penderitaan yang saya alami ini. Persoalannya bahwa medis saja mengatakan itu tidak ada aaa disitulah muncaknya kecemasan saya. Apakah di dalam keluarga ibu/bpk ada riwayat penyakit diabetes melitus tipe II? Analisis Merasa menderita dengan penyakitnya khawatir

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 Eee kalau untuk dalam kalangan keluarga saya mungkin dari kakek atau nenek saya saya tidak tahu tapi dari orang tua saya aaa diantara kami 9 bersaudara baru saya yang alami eee diabetes ini Selama penyakit tersebut, tindakan pengobatan apa saja yang sudah ibu/bpk lakukan? Jenis obat, jangka waktu Apakah ada pengobatan lain selain pengobatan medis? Sekitar eee dua minggu terasa sekali maka kita jalani pemeriksaan medis itu. Iya sebelum saya rasa drop itu. Reaksi Eee saya spontan saya mengantisi itu dengan eee pengobatan medis tapi yang tadi saya bilang itu yang menjadi kekhawatira saya sangat mendasar itu bahwa dua minggu kemudian saya kan dinyatakan ee sehat, bukan dinyatakn sehat dinyatakan eee drop sekali bahwa tidak ada penyakit yang seharusnya saya alami hal itu tuh yang sangat mengkhawatirkan saya. Ya ini sudah termasuk jenis obat jangka panjang seperti aaa medis ini saya jalani semata mata medis ini saya, tapi kalau untuk aaa komsumsi obat luar seperti obat herbal tidak ada semata mata saya fokus pada medis nya. Bagaimana perasaan ibu/bpk harus menjalani berbagai pengobatan tersebut? Saya awalnya memang agak rasa gimana ee cemas sekali tapi ketika hasil lab terakhir itu saya enjoy saja orang timor bilang itu saya biasa-biasa saja saya lego sudah saya menjalani apa yang ada. Perasaan awal Efek-efek apa yang ibu/bpk rasakan ketika mengalami penyakit diabetes melitus tipe II? Eee badan saya rasa kek sepertinya bergerak sendiri , berkeringat, minta maaf eee buang air kecilnya banyak pada waktu malam hari,dengan saya panas tinggi saya demam. Apakah sudah terjadi komplikasi dari penyakit tersebut? Bisakah ibu/bpk Ketika mengetahui penyakit tersebut

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 jelaskan komplikasi seperti apa yang sudah di alami? Eee pemeriksaan minggu ketiga saya dinyatakan juga tiroit. Jadi tiga minggu kemudiannya obat gula yang saya konsumsi aaa sudah dihentikan terus saya jalani sekarang adalah tiroit. Selain tiroi ada lagi komplikasi lain? Belum ada, sementara belum ada. Reaksi Bagaimana pola hidup dan pola makan ibu/bpk setelah mengalami atau mengidap penyakit diabetes melitus tipe II? Pola makan, eee olah raga, tidak ada. Awalnya saja yang saya rasa eee kurang menyenangkan karena memang porsi makan saya awal awal sebelum derita tuh banyak tapi ketika di vonis diabetes saya jaga pola makan itu jam 7 tepat pasti saya makan pagi. Sampai dengan hari ini ya bersyukur saya masih tetap menjalani jam 12 siang saya makan jam 6 sore saya makan. Berarti sudah sangat teratur? Sangat teratur salama kurang lebih eee satu tahun dua bulan Gejala ini. kecemasan Gejala fisik dan Tadikan sudah dari awal mungkin bapak sudah menjelaskan kalau bapak mengalami kecemasan, nah gejala kecemasan??? Ehmm yang saya cemas itu bahwa tidak ada sesuatu yang dinyatakan bahwa aaa ancaman dari penyakit ini karena kita orang awam semata mata hanya berfokus pada medis itu, tapi pemeriksaan awal itu medis nyatakan tidak ada nah itu yang membuat saya jadi eee rasa cemas sekali ini ancaman penderitaan apa yang saya harus tempuh ketika yang pemeriksaan yang ketiga itu baru divonis saya menderita diabetes aaa disitu mulai pudarlah kecemasan saya. Gejala Saya hanya berfokus pada eee penanganan kecemasan medis saja. Bagaimana bentuk-bentuk kecemasan yang timbul dalam diri ibu/bpk? Aaah memang sangat sangat gelisah saya, malam susah tidur aaa dua bulan kurang dua bulan empat hari saya tidak bisa tidur siang tidur malam karena saya cemas sekali sangat sangat cemas itu yang menancam saya eee menjadi beban penderitaan ini lagi tapi ketika itu saya berpikir enjoy aja dan ternyata dengan Tidak begitu mengganggu

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 tidak ada bebanpikiran saya puji Tuhan bisa alami proses kesembuhanbertahap ini. Efek dirasakan Apakah dari bentuk-bentuk kecemasan tersebut membuat aktivitas ibu/bpk terganggu? Sangat terganggu, eee saya pegawai negri yang golongannya rendah tapi saya punya kepercayaan menjadi salah se aaa ajudan disalah satu pejabat jadi aktivitas saya tuh eee sangat terganggu yang Faktor-faktor apa yang mempengaruhi munculnya kecemasan dalam diri ibu/bpk terhadap komplikasi penyakit diabetes Cara melitus tipe II? mengatasi Kalau untuk sementara saya tidak berpikir kecemasan tentang komplikasi nya, saya fokus pada yang kesembuhan saja saya tidak mau eee ada Usaha dilakukan untuk ancaman yang diluar pekiran saya. mencegah Usaha apa yang dilakukan oleh ibu/bpk kecemasan untuk mengatasi rasa cemas tersebut? Eehmm saya happy happy dengan keluarga, selain itu mungkin ada yang lian??? Eee saya mulai tingkatkan aktivitas saya eee saya mulai betugas kembali eee biasa walaupun tidak maksimal karena pimpinan saya juga memahami kondisi saya, jadi saya eee membuat satu aktivitas supaya saya jangan ada ancaman kecemasan itu muncul.

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Biodata Subjek 2 Nama : MLS Tempat Tanggal Lahir : Kupang, 08 Maret 1963 Umur : 51 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Kristen Protestan Status Perkawinan : Menikah Pekerjaan : PNS

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Koding Subjek 2 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Verbatim Bagaimana awal ibu/bapak dinyatakan menderita penyakit diabetes melitu tipe II? Mata sudah kunang-kunang jadi saya pikir saja kan mata yang terganggu saya ke dokter mata nanti di sana pertama dikasihkan obat terus janji berapa minggu untuk pergi lagi, terus yang ketiga kalinya kok mata tetap terus yang satunya lagi buang air kecil terus-terus ini permisi kadang pake pembalut kalau tidak tidak cepat ke belakang basah sudah dari situ dokter dokter eko dokter mata itu saya rujukan ke rumah sakit umum waktu saya pindah kesini langsung berobat, perikasa dulu periksa lagi jadi dari situ baru tahu bahwa saya aaa derita penyakit diabetes. Terus tahun 2005 itu bulan febuari saya jalani jalani jalani jahitkan mata kerana sudah semakin ini sudah katarak kiri kanan nih jadi 2005 2006 2007 2008 2009 bulan itu saya berobat berobat berobat dari awal ketahuan tuh 380 jadi saya obati selama berapa tahun, tahun 2009 bulan juni gula turun sampe 330, dari situ saya operasi mata yang kanan, selesai operasi dokter bilang itu kerena gula harus jaga karena operasi ini harus sembuh jadi makan semuanya harus diatur jadi mata memang tertolong yang kanan tapi yang kiri nanti di operasi lagi karena katak juga, jadi waktu itu dokter kasih waktu 5 tahu, jadi saya itu 5 tahun berarti tahun depan saya bisa operasi yang satu lagi apabila gula sudah turun. Jadi tahun depan mau operasi yang ini cuma kendalanya masih sementara kuliah, sambil mengajar dulunya cuma D2 sekarang dituntut untuk S1, jadi mudah-mudahan tahun sudah selsai jadi bisa operasi kalau tidak mungkin tertunda lagi jadi dari situ saya tiap hari bukan tiap hari tiap bulan gulanya sudah bagus sudah normal tetapi tiap bulan harus kontrol supaya cari tahu naik atau turun. 35 36 37 38 39 Apakah ada tanda-tanda atau gejala-gejala yang dirasakan? Awalnya itu saya kencing terus ini jadi saya pikir ini apa ini penyakit apa sebenarnya jadi ke dokter mata ini yang suruh saya periksa lab. 40 41 42 43 Apakah di dalam keluarga ibu/bpk ada riwayat penyakit diabetes melitus tipe II? Kalau dari keluarga bapak kandung saya meninggal saya masih kecil, tapi adik kandung bapak yang paling Koding Awal Analisis Efek-efek merasa terganggu Perasaan awal Sedih karena berobat Berobat Faktor kecemasan Perasaan awal Reaksi Dituntut untuk melanjutkan ke perguruan tinggi lagi

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 44 45 46 47 48 kecil itu meninggal bulan november baru ketahuan cuma sebulan saja gulanya tinggi sampai jari kelingking kakinya bapak putus dari situ aa baru tahu ooo mungkin turunan itu, tapi bapak kandung saya meninggal artinya meninggal saya masih kecil jadi saya tiak tahu. 49 50 51 52 Kira-kira sudah berapa lama ibu/bpk mengalami atau menderita penyakit diabetes melitus tipe II? Ini sudah dari tahun 2005 febuari, sekarang sudah 8 tahun, Perasaan awal 53 54 55 56 57 58 59 60 Ketika pertama kali divonis mengalami penyakit diabetes melitus tipe II, apa yang ibu/bpk rasakan? Ya namanya manusiakan rasa takut, ini bagaimana eee biar saya bisa keluar dari penderitaan ini tapi datang kontrol ini ya sudah saya jalani saja, kadang saya juga megajar tapi di gereja juga saya selalu berdoa dan di sekolah biasa aja minta dukung teman-teman dalam doa. 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 Ketika ibu/bpk mengetahui atau divonis mengalami penyakit diabetes melitus tipe II, apakah ibu/bpk mengalami kesedihan? Kadang kalau datang kontrol terus naik itu memang Gejala rasa sekali takut dia naik tapi kembali ke diri saya naik kecemasan karena ingat mungkin makan salah ko, kadang-kadang tergantung dari pikiran juga kan, kalau pikiran tenang pasti dia tidak naik tapi pikiran kek agak terganggu otomatis dia naik. Cuma saya sudah ya syukur-syukur dan saya punya anak 3 punya suami, suami juga kerja anak 3 yang pertama sudah sarjana. 72 73 74 75 76 77 78 79 Selama penyakit tersebut, tindakan pengobatan apa saja yang sudah ibu/bpk lakukan? Jenis obat, jangka waktu Apakah ada pengobatan lain selain pengobatan medis? Nah itu pernah saya konsumsi daun alpukat tapi sama saja minum minum kok hasilnya tetap sama jadi biar saja, terus sya sudah tahun tahun pertama sudah masuk.. 80 81 82 83 84 85 86 87 Bagaimana perasaan ibu/bpk harus menjalani berbagai pengobatan tersebut? Kan kalau datang ke dokter cepat pasti saya tidak terlalu ini tapi nunggu lama saya seperti ini, bosan tapi sudah kek ini eee biar sudah saya tunggu saja, contoh kayak hari ini dari pagi saya sudah datang ambil darah pertama saya balik ke sekolah jam 11 tadi baru ambil darah kedua langsung saya tunggu hasil di sini sehingga Ketidaknyam anan

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 87 88 saya tinggalkan sekolah cuma hari ini saja besok tidak lagi 89 90 91 92 93 Efek-efek apa yang ibu/bpk rasakan ketika mengalami penyakit diabetes melitus tipe II? Ini jari keram, mata ini, kan ini harus di operasi, kan Efek-efek sudah tau jelas mata yang ini katarak jadi terakhir harus operasi 94 95 96 97 98 Apakah sudah terjadi komplikasi dari penyakit tersebut? Bisakah ibu/bpk jelaskan komplikasi seperti apa yang sudah di alami? Saya sudah pernah cek jantung itu sudah rongcen, kolesterol juga sudah tapi saya cuma gula saja 99 100 101 102 Usaha apa yang dilakukan oleh ibu/bpk dalam menajaga tingkat gula darah agar tetap normal? Saya biasa jalan sore, kalau pagi tidak bisa karena pagi saya harus siap untuk ke sekolah tapi sore saya jalan 103 104 105 106 107 108 109 Bagaimana pola hidup dan pola makan ibu/bpk setelah mengalami atau mengidap penyakit diabetes melitus tipe II? Kalau pola hidup saya hidup pas-pasan, tapi itu di Reaksi rumah makan pagi, siang dan sore itu sudah pasti tapi tiap konsumsi tidak sama dengan orang sehat, punya saya nasinya sedikit sayurnya yang banyak 110 111 112 113 Apakah ibu/bpk merasa cemas dalam diri ibu/bpk terakait dengan penyakit yang di alami? Itu cemas tuh ada, cemas juga ada, orang lain tidak Gejala kecemasan derita tapi saya kok derita 114 115 116 117 118 119 120 Gejala kecemasan apa yang muncul dari dalam diri ibu/bpk? Itu kalau datang kontrol terus naik itu saya sudah cemas Faktor kecemasan Bagaimana bentuk-bentuk kecemasan yang timbul dalam diri ibu/bpk? Kadang kek mau putus asa juga tidak, setelah lihat iii Gejala kecemasan bagaimana eee tapi ya biar sudah jalani saja 121 122 123 124 125 126 127 Apakah dari bentuk-bentuk kecemasan tersebut membuat aktivitas ibu/bpk terganggu? Tidak, kalau bukan bicara adik nona tapi saya di sekolah untuk masuk sekolah tepat waktu dan setiap hari, biar saya kayak gini tapi saya masih usaha ke sekolah, tidak tidak satu hari full saya absen datang periksa kesehatan saya tetap ke sekolah Kondisi yang memburuk Melakukan pengontrolan kecemasan Pengontrolan Merasa putus asa

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 Faktor-faktor apa yang mempengaruhi munculnya kecemasan dalam diri ibu/bpk terhadap komplikasi penyakit diabetes melitus tipe II? Artinya memang kan saya anak yang pertama kuliah di stikom biayanya lumayan, yang kedua undana, jadi kalau yang di stikom belum selesai kadang minta uang, adiknya yang di undana paling dia minta 100, tapi yang di stikom tidak bisa 100 dia harus dua kali itu, nah klau dalam satu minggu dua tiga kali minta gimana eee cuma itu sudah, sudah begitu tapi tetap layani dia dulu lunasi atasi tangani itu. Kalau biaya sakit saya kan PNS toh kakak jadi intinya saya minta rujukan dari puskesmas lalu kesini saya tidak terlalu biaya kan setiap bulan sudah di putung gaji toh untuk biaya itu. 142 143 144 145 146 Usaha apa yang dilakukan oleh ibu/bpk untuk mengatasi rasa cemas tersebut? yang Cara Ya usaha, senang-senang, jalan-jalan, itu saya di rumah Usaha mengatasi tuh program dua kali, saya ada kendaraan juga jadi dilakukan kecemasan sebulan sekali jalan ke luar kota.

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Biodata subjek 3 Nama : MRTH Tempat Tanggal Lahir : Kupang, 24 Mei 1964 Umur : 50 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Kristen Protestan Status Perkawinan : Menikah Pekerjaan : PNS

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Koding Subjek 3 no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Verbatim Koding Awal Bagaimana awal ibu/bapak dinyatakan menderita penyakit diabetes melitus tipe II? Ooh bisa, awal mula tuh kaki nih saya punya kaki Perasaan awal kena luka kerena kena injak kayu, setelah luka luka nih kok luka terus tidak baik-baik begitu tidak baik tidak pernah sembuh-sembuh, jadi datang ke rumah sakit sampai di rumah sakit dokter periksa habis itu suruh cek gula darah setelah cek gula darah ternyata di nyatakan saya nih penyakit gula karena waktu itu gula 400> 425 disitu dokter kasih bersih luka pkoknya disitu baru tahu kalau saya nih menderita gula darah jadi harus kontrol terus. 13 14 15 16 17 Apakah ada riwayat penyakit diabetes melitus tipe II dalam keluarga? Ooooh... kalau saya nih kalau mau dibilang Perasaan awal keturunan memang kita keturunan penyakit gula darah, kalau mau di lihat mungkin dari mama. 18 19 20 21 Sudah berapa lama mengidap penyakit diabetes melitus tipe II? Kalau saya nih dari tahun kalau mau di bilang dari tahun 2009 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Ketika divonis mengalami penyakit tersebut, bagamana perasaan bapak? Itu terlalu sedih pertama saya datang rumah sakit Perasaan awal langsung bilang gula darah air mata keluar terus menangis pasti saya sudah mati, tinggalin anak-anak saya belum ada kerja masih sekolah itu pikiran menangis sampai ibu suster bujukin bilang Reaksi banyak gula darah artinya banyk juga umur masih muda tapi dia sudah gula darah, jadi tapi sampai sekarang dia masih hidup dua tahun begitu toh disitu baru pikiran saya terbuka ternyata gula darah nih, saya pikir karena gula darah saya langsung mati begitu ternyata dari tahun 2009 sampai sekarang nih belum mati tapi serempet-serempet mati terus. 36 37 38 Tindakan pengobatan apa saja yang dilakukan? Oooh... itu pengobatannya lain pakai getah damar merah, itu sampai luka kering 39 40 Bagaimana perasaan pengobatan tersebut? bapak menjalani Analisis Mengetahui awal penyakit Awal mengetahui penyakit diabetes melitus tipe II

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 41 42 Rasanya capek juga, tapi rasa senang juga berobat Gejala karena banyak teman yang bisa diajak bicara. kecemasan 43 44 45 46 47 Efek-efek apa saja yang dirasakan? Lemah, pusing, mata kabur, pinggangrasa sakit, kadang kalau malam keringat dingin sampai tenaga Efek hilang, dada sesak mau bernafas, kaki dingin, selain penyakit itu saya Cuma berdoa saja. 48 49 Apakah sudah terjadi komplikasi? Mata kabur dan ginjal 50 51 52 Usaha apa yang dilakukan untuk mencegah gulah darahnya tetap normal? Suntik insulin, olah raga obat minum 53 54 55 56 Bagaimana pola hidup dan pola makan setelah mengetahui penyakit tersebut? Kalau pagi bangun makan sayur dan telur, jam 6 sore makan pisang rebus. 57 58 59 60 Apakah meresa cemas dengan penyakit tersebut? Tentu cemas, cemas nih karena ini luka sembuh atau tidak, tahu nih sakit kapan bisa sembuh padahal Faktor hanya jaga makan saja toh biar bisa sembuh kecemasan 61 62 Gejala kecemasan apa ang muncul? Duduk sendiri, pikiran, 63 64 Bentuk kecemasan apa saja yang dirasakan? Sedih karena penyakit, khawatir mati 65 66 67 Faktor kecemasan apa yang muncul dalam diri? Iya itu kalau ada kegiatan kita tidak cemas tapi kalau lagi duduk pasti cemas sangat pengaruh 68 69 70 71 Usaha apa yang dilakukan untuk menjaga kecemasan? Kadang cari hiburan, baca alkitab, cerita dengan Usaha yang Cara teman dan cari kesibukan. dilakukan mencegah kecemasan Faktor kecemasan Tidak nyaman dengan kondisi dari Mengganggu pekerjaan Terjadi komplikasi Gejala kecemasan

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 Biodata subjek 4 Nama : ADQ Tempat Tanggal Lahir : Kupang, 16 Juni 1958 Umur : 56 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Kristen Protestan Status Perkawinan : Menikah Pekerjaan : PNS

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Koding Subjek 4 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Verbatim Koding Awal Bagaimana awal dinyatakan penyakit diabetes melitus tipe II? Ooya , pada tahun 1998, saya di opname di Perasaan awal ruamh sakit umum profesor Johanes kupang dan pada saat itu di priksa lab lengkap dan di ketahui bahwa saya menderita penyakit diabetes Analisis Awal mengetahui penyakit diabetes melitus tipe II Tanda atau gejala yang dirasakan? Memang, ya sebelumnya saya juga belum tahu toh sakit apa ya, memang saya ada rasa seperti cepat haus, cepat lapar, badan sering lemah begitu dan banyak mengeluarkan keringat dan juga sering mengantuk Apakah ada riwayat peyakit tersebut dari keluarga? Kalau dari penyakit yang saya derita ini kebetulan saya punya tante juga menderita diabetes tapi saya juga tidak tahu bahwa ini penyakit keteturunan atau karena pola makan yang salah saya tidak tahu Ketika mengetahui penyakit tersebut apa Reaksi yang dirasakan? Ya saya juga sempat kaget juga ya, kerana sebelumnya saya mendengar bahwa kalau orang yang menderita penyakit diabetes itu sepertinya ya sepertinya ya katanya susah Perasaan awal disembuhkan jadi saya merasa takut juga dan cemas begitulah Tindakan apa sja yang sudah dilakukan? Kalau, ya selama ini saya hanya mengkonsumsi obat dari dokter jadi tidak ada pengobatan dari lain Bagaimana bapak menjalani pengobtan Reaksi tersebut? Ya awalnya saya merasa kek susah ya berat untuk mengikuti ini apa eee anjuran dokter untuk diet ya memang rasanya berat begitu, tapi lama kelamaan ya harus dipatuhi anjuran dokter seperti diet ya segala macam itu, tapi sampai sekarang saya memang mengkonsumsi obat dari dokter tapi saya tiak mengkonsumsi Divonis penyakit tersebut

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 secara teatur begitu aaa karena kadang-adang saya minumsesuai dengan petunjuk dokter badannya saya merasa lemah begitu, nah kalau badan sudah lemah begitu harus minum gula begitu biar dia bisa in, jadi kadang-kadang begitu saya, badan sudah menjadi lemah keringat keluar harus minum teh satu gelas begitu biar ada sedikit ya kondisi jadi agak enak begitu Efek kecemasan Karena mengkonsumsi Efek apa saja yang dirasaakan dari obata dari penyakit tersebut? Ya efeknya ya memang kalau kita dokter mengkonsumsi dengan di sesuai dengan aturan yang ada ya pasti rasanya ini badannya rasanya lemah, pusing, cepat haus begitu sering lapar begitu Faktor Disaran untuk kecemasan diet Apakah sudah terjadi komlikasi? Ooh sudah, jadi setelah saya dinyatakan menderita diabetes mungkin dua tahun kemudia tahun 1990 saya menderita apa hipertensi, sedang hipertensi tapi dalam batas yang msih ringan cepat saya datang ke dokter jadi bisa diatasi begitu Usaha yang dilakukan untuk mencegah Faktor gula darah? Ya kalau gula darah normal saya harus kecemasan mengkonsumsi terus obat supaya bisa normal, cuma kadang-kadang saya karena apa ya kalau terlalu diet juga kan badan saya lemas jadi kadang-kadang juga ya ada sedikit melanggar aturan begitu, jadi tidak dengan anjuran dokter toh Bagaimana dengan pola makan dan pola hidup bapak? Ya kalau untuk makan sih ya kadang-kadang tidak mengikuti anjuran dokter sesuai dengan buku petunjuk itu kadang di suruh makan pagi harus eee apa satu gelas nasi ya kalau saya makan saya minum obat badan rasa lemas jadi saya tidak bisa mengikuti anjuran dokter jadi pagi-pagi saya harus makan nasi itu harus lebih dari dua gelas ya sekitar dua setengah lah supaya saya bisa minumobat kalau tidak nanti kalau saya makan nasi satu gelas saja nanti saya minum obat badan saya lemas

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 pusing nanti saya ya. Apakah bapak mengalami kecemasan? Ya secara manusia pasti kita cemas toh, saya takut dia tiba-tiba ya kita pikir ya saya berpikir usianya kita nih tidak bisa normal seperti orang yang tidak mengalami diabetes kan gitu untuk itu saya serahkan pada Tuhan saja kita tetap berdoa supaya Tuhan tetap meberikan umur panjang Gejala kecemasan Gejala kecemasan apa saja yang muncul? Ya saya takut tiba-tiba dapat apa ya takut dapat serangan penyakit yang lain komplikasi yang lain dan cemas juga, masalah umur masalah umur pas kita sudah menderita penyakit ya dari segi umur tuh tidak ya pasti ya terbatas umurnya kitakan tidak begitu sama dengan orang normal, karena kita punya beban dengan penyakit ini Ya kalau dari gangguan fisik sendiri saya rasa badannya saya sepertinya kayak kurang sehat, rasanya badannya lemah saja begitu ya tidak Faktor segar kecemasan Bentuk kecemasan yang muncul dalam diri? Ya saya cemas mengenai kehidupan saya ini, apakah saya bisa hidup normal seperti orang lain yaang tidak mendertia peyakit diabetes atau bagaimana, secara manusia pasri saya Faktor juga cemas toh kecemasan Apakah dari bentuk kecemasan mengganggu aktivitas? Dari itu ya tidak begitu mengganggulah, saya bekerja sesuai dengan kemampuan saya di kantor, kalau memang rasa tiba-tiba badan rasa keringat dingin atau badan lemah saya langsung pulang dan langsung istirahat, saya minum obat begitu Faktor mempengaruhi kecemasan Faktor apa yang munculnya kecemasan? Ya kalau masalah biaya itu juga, ya salah satu juga masalah ini tapi untungnya saya masih menggunakan askes jadi bisa, tapi saya takut komplikasi yang lain, mungkin bisa kena ke ginjal pikir biayanya kan besar toh jadi saya Gejala fisik

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 141 142 143 144 takut itu nanti, penyakit komplikasi yang perlu Usaha biaya yang besar mencegah keceamasn Usaha apa yang dilakukan untuk mencegah kecemasan ? Ya itu hanya satu saja tetap doa minta kekuatan dari Tuhan supaya saya tidak cemas dan tidak pikiran, jangan terlalu cemas pikirkan ini penyakit, berdoa saja dan berusaha minum obat. Cara mengatasi kecemasan

(120)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
117
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
121
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
138
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
100
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
148
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
112
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
103
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
106
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
143
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
101
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
177
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
99
Show more