KECEMASAN PADA ANAK DARI KELUARGA BERCERAI

Gratis

0
0
169
4 days ago
Preview
Full text

  KECEMASAN PADA ANAK DARI KELUARGA BERCERAI Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh: Margarita Novita Prastiwi NIM : 089114089 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN

  

Jika aku harus bertumbuh, aku harus melepaskan diri dari

masa laluku. Aku harus menyadari bahwa aku adalah aku

yang tunggal dan satu-satunya, seorang pribadi yang

sedang berproses, selalu dan selama-lamanya belajar,

berubah, bertumbuh. Satu-satunya realitas yang penting

adalah siapa aku sekarang ini. Aku sekarang bukan aku

yang dahulu. Aku sekarang belum tentu aku yang akan

datang.

  ~John Powell SJ

  

Penelitian ini aku persembahkan untuk :

Kedua orangtuaku,

Kakakku,

  

Keluargaku,

dan

Sahabat-sahabatku

KECEMASAN PADA ANAK DARI KELUARGA BERCERAI

  

Margarita Novita Prastiwi

ABSTRAK

  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kecemasan yang terjadi pada anak-

anak dari keluarga bercerai. Peneliti menggunakan data dokumen laporan praktikum CAT yang

tersedia di Laboratorium Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Dokumen laporan CAT

tersebut diambil berdasarkan pelaksanaan pengetesan mulai tahun 2005 hingga tahun 2011 dengan

subjek usia enam hingga 11 tahun dan berasal dari keluarga bercerai. Berdasarkan kriteria tersebut,

peneliti mendapatkan sembilan dokumen tes CAT. Dengan menggunakan analisis tematik,

diperoleh hasil bahwa kecemasan yang relatif banyak muncul pada anak-anak dari keluarga

bercerai adalah kecemasan terkait menghadapi kesulitan. Di samping itu juga muncul cukup

banyak kecemasan terkait kesendirian/keterpisahan, dan kecemasan terkait perhatian dan kasih

sayang. Kecemasan-kecemasan tersebut dapat disebabkan oleh perubahan dalam hal kehadiran

orangtua dan kualitas hubungan antara orangtua dengan anak.

  Kata kunci : kecemasan, anak, keluarga bercerai

THE ANXIETY IN CHILDREN FROM DIVORCED FAMILIES

  

Margarita Novita Prastiwi

ABSTRACT

This research was conducted to reveal the anxiety that occurs in children from a divorce

parents. The Researcher used data CAT lab report document that is available at the Laboratory of

the Faculty of Psychology, Sanata Dharma University. The CAT report document is retrieved by

the implementation of testing from 2005 to 2011 with a subject aged six to 11 years and come from

a divorce parents. Based on the criteria, the researcher gets nine CAT test papers. By using

thematic analysis, the anxiety that often emerge in children from divorced families is facing

difficulties related to anxiety. Beside that, there also emerge many anxieties in children concerns

about loneliness / isolation, and anxiety-related to attention and affection. Those anxieties can be

caused by changes in the presence of the parents and the quality of relationship between parents

and children. Keywords: anxiety, children, divorced families.

KATA PENGANTAR

  Pertama-tama saya ucapkan puji syukur kepada Tuhan Yesus atas segala rahmat dan berkahnya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.

  Penulisan skripsi ini menjadi salah satu syarat bagi mahasiswa untuk menyelesaikan studi di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan memperoleh gelar Sarjana Psikologi. Dalam rangka memenuhi syarat tersebut, maka penulis mengangkat judul “KECEMASAN PADA ANAK DARI KELUARGA BERCERAI.

  Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, skripsi ini tidak akan berhasil sebagimana mestinya. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar- besarnya kepada :

  1. Ibu Dr. Christina Siwi Handayani, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Ibu Agnes Indar Etikawati, S.Psi., Psi., M.Si. selaku dosen pembimbing akademik dan pembimbing skripsi, yang dengan sabar membimbing dan teliti memeriksa serta memberi masukan demi kesempurnaan skripsi ini.

  3. Ibu Debri Pristinella, M. Si. dan Ibu M.M. Nimas Eki Suprawati, M. Si., Psi. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan pengetahuan baru bagi saya untuk menjadikan skripsi ini semakin baik.

  4. Ibu Ratri Sunar Astuti, M. Si. selaku Kaprodi Psikologi.

  5. Seluruh dosen dan karyawan yang telah membimbing maupun membantu penulis menuntut ilmu dan berproses di Fakultas Psikologi USD ini. Mas Muji, Mas Donny, Mas Gandung, Bu Nanik, dan Pak Gik terima kasih atas bantuan, motivasi, maupun dukungan selama ini.

  6. Kakak-kakak angkatan yang laporan CAT-nya sudah digunakan dalam penelitian ini. Terima kasih.

  7. Bapak, Ibu, Kakak, dan semua keluargaku yang sudah memberikan dukungan dan doa.

  8. Sahabat-sahabatku tersayang, Intan, Ciput, Oshien, Desy, teman-teman satu bimbingan Vita, Riana, Ayu, Gigi, Stella, dan seluruh sahabatku angkatan 2008 Psikologi USD yang tidak bisa aku sebutin satu per satu. Terima kasih buat dukungan kalian.

  9. Sahabat-sahabatku di Paroki St. Thomas Rasul: Garage Community dan Romo Patricius Hartono, terima kasih atas dukungan kalian. Terima kasih juga buat Mas Dony “Mendon” yang sudah membantu secara teknis.

  Penelitian ini jauh dari sempurna, maka dari itu kritik serta saran sangat peneliti harapkan.

  Yogyakarta, 7 Februari 2013 Penulis,

  Margarita Novita Prastiwi

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING............................ ii

HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN .......................................... iv

  v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................

  

ABSTRAK ...................................................................................................... vi

ABSTRACT .................................................................................................... vii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ............... viii

KATA PENGANTAR .................................................................................... ix

  xi DAFTAR ISI...................................................................................................

  

DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiv

DAFTAR SKEMA ......................................................................................... xv

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xvi

BAB I. PENDAHULUAN ..........................................................................

  1 A. Latar Belakang Masalah ............................................................

  1 B. Rumusan Masalah .....................................................................

  5 C. Tujuan........................................................................................

  5 D. Manfaat ......................................................................................

  5 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................

  6 A. Kecemasan.................................................................................

  6 1. Pengertian Kecemasan.........................................................

  6

  2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Kecemasan .............................................................................................

  6 B. Anak-anak Usia Akhir ...............................................................

  9 C. Perceraian ..................................................................................

  11 1. Pengertian Perceraian ..........................................................

  11 2. Dampak Perceraian Pada Anak ...........................................

  12 D. CAT (Children’s Apperception Test) ........................................

  15 E. Kecemasan Pada Anak dari Keluarga Bercerai .........................

  17 F. Pertanyaan Penelitian ................................................................

  20 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN...................................................

  21 A. Jenis Penelitian ..........................................................................

  21 B. Fokus Penelitian ........................................................................

  21 C. Subjek Penelitian .......................................................................

  22 D. Metode Pengumpulan Data .......................................................

  22 E. Analisis Tematik........................................................................

  23 F. Pemeriksaan Keabsahan Data....................................................

  25

  27 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................

  A. Pelaksanaan Penelitian ..............................................................

  27 B. Hasil Penelitian..........................................................................

  28 C. Pembahasan ...............................................................................

  39 BAB V. PENUTUP ......................................................................................

  44 A. Kesimpulan ................................................................................

  44 B. Saran ..........................................................................................

  44

  DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

  46 LAMPIRAN....................................................................................................

  49

  

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian ...............................................................

  28 Tabel 2. Kategori Jenis Kecemasan .................................................................

  29 Tabel 3. Ringkasan Kecemasan Tiap Subjek ...................................................

  35

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perceraian merupakan hal yang sebenarnya tidak diinginkan dalam

  kehidupan rumah tangga, karena kehidupan perkawinan harus diakhiri dengan suami istri yang berpisah. Melewati krisis akibat perceraian tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena berdampak pada berbagai konsekuensi. Secara hukum perceraian itu sendiri menuntut adanya keputusan tindak lanjut dari kedua belah pihak, yaitu menyangkut penentuan hak asuh anak dan pembagian harta. Harta setelah perceraian yang didapat selama perkawinan merupakan harta bersama, seperti yang tertuang dalam pasal 35 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. Selain mengenai pembagian harta setelah perceraian juga terdapat pembagian hak asuh anak. Hak asuh anak terhadap anak di bawah 12 tahun seringkali diberikan kepada ibu seperti yang tertuang dalam Hukum Kompilasi Islam pasal 105 huruf a. Bagi anak di atas 12 tahun, anak diberikan kebebasan memilih dengan siapa anak tersebut akan tinggal, apakah dengan ibu atau ayahnya. Hal ini dikarenakan ayah atau ibu mempunyai kewajiban yang sama dalam merawat dan mendidik anak, seperti yang tertuang dalam Pasal 41 huruf a Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974.

  Perceraian adalah putusnya hubungan sebagai suami istri atau talak (KBBI Pusat Bahasa, 2008). Ketika suami istri bercerai, maka tugas dan peran sebagai suami dan istri juga berakhir, demikian juga peran sebagai

  Oktaria (2011) berpendapat dalam blognya dengan melihat kasus- kasus yang terjadi di masyarakat bahwa orang tua yang akan bercerai sudah menyiapkan mental untuk hidup berpisah satu sama lain dan pengambilan keputusan juga hanya terjadi pada orangtua tanpa melibatkan anak. Berbeda dengan anak. Anak yang semula tidak mengetahui permasalahan orang tuanya tiba-tiba harus menghadapi situasi orang tua berpisah. Anak harus beradaptasi dengan kondisi orang tua yang semula bertengkar dan kemudian bercerai. Situasi ini dapat menjadi stressor tersendiri bagi anak. Anak yang berhasil beradaptasi tidak akan mengalami masalah dan tidak mengalami kesulitan dalam perkembangannya. Tetapi jika tidak, kondisi psikologis anak akan terganggu. Ketika orang tuanya bertengkar anak menjadi merasa takut, bingung, dan sedih. Selain itu, perceraian juga akan menimbulkan kecemasan, karena anak akan merasa dirinya ditolak, tidak berharga, dan tidak dicintai. Tidak jarang anak merasa menjadi memiliki perasaan bahwa dirinya berbeda dengan anak-anak lain yang orang tuanya tidak bercerai. Anak juga akan merasa cemas akan hidup yang tidak bermakna, karena hidupnya yang semula nyaman dengan kedua orang tua kini tidak lagi. Cemas jika masa depannya yang tanpa sosok ayah atau ibu menjadi berantakan.

  Dibandingkan dampak yang lain, masalah kecemasan pada anak mendapatkan perhatian lebih dan merupakan masalah psikologis yang memiliki prevalensi cukup besar. Menurut Freud (dalam Semiun, 2006), kecemasan adalah suatu keadaan perasaan yang tidak menyenangkan dan disertai dengan sensasi fisik yang memperingatkan orang terhadap bahaya yang akan datang. Freud mengemukakan tiga jenis kecemasan, yaitu kecemasan neurotik, kecemasan moral, dan kecemasan realistik.

  Kecemasan pada anak bisa memburuk seiring waktu (Kendall dalam Suroso, 2011) dan menimbulkan akibat-akibat yang serius pada orang dewasa, seperti gangguan kecemasan berkelanjutan, depresi mayor, keinginan bunuh diri, dan perawatan inap karena gangguan psikiatrik (Achenbach, Alloy, Kelly, et.al dalam Suroso, 2011). Kecemasan itu sendiri mempunyai dampak bagi perkembangan anak atau bagi masa depan anak.

  Menurut Wyman (dalam Jasinski, 2003), anak-anak yang mengalami kecemasan akan memiliki lebih sedikit teman dekat dan tidak terlibat dalam kegiatan seperti teman-temannya. Kecemasan juga dapat mempengaruhi kemampuan anak untuk berkonsentrasi di sekolah atau hadir di sekolah (keterlibatan dalam sekolah) dan kompetensi kognitif anak berkurang. Selain itu juga dapat menyebabkan masalah perilaku (Jasinski, 2003).

  Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perceraian menimbulkan kecemasan bagi anak. Jasinski (2003), menyebutkan bahwa perceraian pada dasarnya diasosiasikan dengan kecemasan anak-anak. Dalam penelitiannya Jasinski melakukan perbandingan tingkat kecemasan antara anak dari keluarga bercerai dan anak dengan orangtua utuh. Tingkat kecemasan anak- anak korban perceraian lebih tinggi daripada anak dengan orangtua utuh. Demikian juga dengan artikel yang ditulis oleh Rodriquez dan Arnold (1998), yang menyebutkan bahwa efek dari perceraian orangtua salah satunya adalah kecemasan. Meskipun demikian, dalam penelitian tersebut tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai jenis-jenis kecemasan yang muncul dan hanya sekedar kecemasan sebagai dampak dari perceraian orangtua.

  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kecemasan apa saja yang dialami oleh anak-anak dari keluarga bercerai. Maka dari itu, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif analisis interpretatif. Analisis interpretatif ini bertujuan mengungkapkan secara detail bagaimana subjek mengalami dunia personal dan sosialnya. Tujuan utama analisis interpretatif yaitu memperoleh makna dari berbagai pengalaman, peristiwa, dan status subjek.

  Pendekatan ini berusaha mengeksplorasi pengalaman personal subjek serta menekankan pada persepsi atau pendapat subjek tentang objek atau peristiwa (Smith, 2009).

  Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil CAT (Children

  Apperception Test). CAT merupakan tes proyektif bercerita (story telling),

  dengan stimulus terdiri dari sepuluh gambar situasi ambigu. Anak diminta untuk bercerita sesuai gambar yang disajikan. Melalui gambar yang disajikan dalam CAT ini, anak dapat memproyeksikan kebutuhan atau dorongan- dorongan, dinamika hubungan interpersonal, konflik, dan kecemasan akan sesuatu (Bellak, 1997). CAT dapat menggali data yang tidak dapat diperoleh melalui metode lain (wawancara dan observasi), karena dapat mengekspresikan ide-ide yang terlalu mengancam bagi anak untuk dibicarakan secara langsung (Wenar & Kerig, 2000).

  B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang penelitian yang sudah peneliti sampaikan di atas, maka peneliti ingin mengetahui apa saja kecemasan yang terjadi pada anak dari keluarga bercerai yang diperoleh dari CAT?

  C. Tujuan

  Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui gambaran kecemasan yang terjadi pada anak dari keluarga bercerai yang diperoleh dari CAT.

  D. Manfaat

  Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan dalam bidang psikologi kepribadian dan psikologi perkembangan anak, khususnya mengenai kecemasan pada anak dari keluarga bercerai

  Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi keluarga-keluarga khususnya keluarga bercerai, psikolog, dan praktisi anak mengenai kecemasan pada anak-anak dari keluarga bercerai.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kecemasan

  1. Pengertian Kecemasan

  Kecemasan adalah keadaan mood yang ditandai dengan ketegangan tubuh, dan khawatir akan bahaya di masa depan atau ketidakberdayaan (Mash & Wolfe, 1999). Menurut Chaplin (2008), kecemasan adalah perasaan campuran berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa-masa mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut.

  Menurut Freud (dalam Semiun, 2006), kecemasan adalah suatu keadaan perasaan yang tidak menyenangkan dan disertai dengan sensasi fisik yang memperingatkan orang terhadap bahaya yang akan datang. Freud mengemukakan bahwa ego menjadi tempat kecemasan dan hanya ego yang dapat menghasilkan dan merasakan kecemasan.

  Maka dapat disimpulkan bahwa kecemasan merupakan keadaan perasaan yang tidak menyenangkan, tertekan, kekhawatiran akan kejadian di masa mendatang.

  2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Kecemasan

  Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kecemasan adalah sebagai berikut: a. Faktor Internal Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari anak itu sendiri, seperti misalnya :

  1) Sensitivitas anak terhadap peristiwa yang berpotensi mengancam.

  Anak yang terlalu sensitif dengan kondisi mengancam akan lebih mengalami kecemasan dibanding dengan anak yang kurang sensitif (Wenar & Kerig, 2000).

  2) Kemampuan anak menghadapi hal-hal yang menakutkan.

  Anak mengalami kecemasan ketika tidak biasa menghadapi hal-hal yang menakutkan (Wenar & Kerig, 2000).

  3) Temperamen Menurut Wenar & Kerig (2000), temperamen yang menyebabkan kecemasan dikenal dengan behavior inhibition.

  Kondisi ini terlihat pada anak yang pemalu, pendiam, penakut, dan menghindari tantangan. Anak dengan behavior inhibition akan meningkatkan resiko kecemasan daripada anak dengan behavior uninhibition.

  b. Faktor Eksternal Faktor eksternal yang mempengaruhi terbentuknya kecemasan yaitu :

  1) Pola asuh orangtua Orangtua yang memiliki pola asuh

  overprotective/overcontrolled dan pola asuh rigid akan membatasi kebebasan anaknya dan orangtua terlalu berharap terhadap anak.

  Hal ini menyebabkan anak merasa tidak diterima oleh orangtuanya dan akan timbul kecemasan pada anak (Mash & Wolfe, 1999). Menurut Hatherington (dalam Bukatko, 2008), orangtua yang bercerai memiliki pola asuh otoriter. Hal ini yang menyebabkan anak mengalami kecemasan karena orangtua menentukan aturan baru yang cukup ketat terhadap anaknya.

2) Attachment

  Anak dengan insecure attachment lebih menunjukkan kecemasan daripada anak dengan secure attachment. Hal ini dikarenakan anak tidak mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan. Anak akan menjadi merasa tidak bebas, tidak aman, dan merasa takut (Wenar & Kerig, 2000).

  c. Faktor Pembelajaran Teori pembelajaran menekankan bahwa ketakutan dan kecemasan dipelajari melalui pengkondisian klasikal dan pengkondisian operan. Dalam pengkondisian klasikal, ketakutan dipelajari karena stimulus tertentu diasosiasikan dengan stimulus yang menakutkan. Sebagai contoh, anak akan merasa ketakutan ketika sedang berada di kamar sendirian dan disertai dengan suara-suara menakutkan. Hal tersebut membuat anak menjadi ketakutan ketika harus berada di kamar sendirian. Prinsip pengkondisian operan yaitu bahwa perilaku yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian reward atau reinforcement. Suatu hal akan dianggap menakutkan, jika terdapat reward otomatis setiap kali anak menghindari objek atau situasi menakutkan. Dengan demikian, melalui proses penguatan negatif, menghindari stimulus menakutkan menjadi respon yang dipelajari, hal ini berfungsi mempertahankan ketakutan anak (Mash & Wolfe, 1999). Sebagai contoh, ketika seorang anak menghindari kesendirian maka akan diberi reward oleh orangtuanya, maka anak akan menghindari kesendirian. Menghindari kesendirian tersebut menjadi respon yang dipelajari dan hal ini akan mempertahankan anak menjadi tetap cemas ketika sendiri.

B. Anak-anak Usia Akhir

  Masa pertengahan dan akhir anak-anak ialah periode perkembangan yang terentang dari usia kira-kira enam hingga 11 tahun, yang kira-kira setara dengan tahun-tahun sekolah dasar. Periode ini kadang-kadang disebut masa- masa sekolah dasar (Santrock, 2002). Menurut Papalia (2009), masa kanak- kanak berada pada usia lima atau enam sampai 11 tahun. Masa sekolah atau pertengahan anak-anak (middle childhood) berada pada usia enam hingga 12 tahun (Havighurst dalam Desmita, 2009). Menurut Bukatko dan Berk (2008), masa pertengahan dan akhir anak-anak berawal pada usia enam hingga 11 tahun.

  Anak usia sekolah mengalami emosi tertentu yang dikendalikan oleh rasa tanggung jawab. Jika anak merasa bersalah maka anak cenderung menebus kesalahan. Selain itu, ketika orangtua atau orang lain menyalahkan atau mengkritik anak, maka anak akan merasa malu yang intens yang dapat menyebabkan penurunan tajam dalam harga diri disertai dengan depresi dan kemarahan (Berk, 2008). Dalam usia ini anak menerima suatu peran yang baru, berinteraksi dan mengembangkan hubungan dengan orang-orang baru yang penting lainnya, mengadopsi kelompok acuan baru, dan mengembangkan standar-standar baru untuk menilai diri mereka sendiri (Santrock, 2002).

  Ketika anak-anak memasuki masa pertengahan dan akhir anak-anak, para orangtua hanya memberi sedikit waktunya untuk mereka. Meskipun demikian, orangtua tetap menjadi pelaku-pelaku sosialisasi yang sangat penting dalam kehidupan anak-anak mereka. Anak dan orangtua membagi pengaturan perilaku, konflik dengan saudara kandung membantu perkembangan keterampilan untuk resolusi konflik, dan persahabatan menjadi semakin dekat (Santrock, 2002).

  Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa rentang usia anak-anak berada pada 6 sampai 11-12 tahun. Pada masa ini, anak-anak secara formal dihadapkan pada dunia yang lebih besar dan budayanya, kontrol diri pada anak juga telah meningkat dengan adanya konflik-konflik yang muncul, baik dengan saudara maupun orang tua. Di samping itu, pada masa ini anak-anak mengalami perkembangan pemahaman diri.

C. Perceraian

1. Pergertian Perceraian

  Menurut KBBI Pusat Bahasa (2008), perceraian adalah putusnya hubungan sebagai suami istri atau talak.

  Menurut Yusuf (2004), perceraian orang tua adalah keadaan keluarga yang tidak harmonis, tidak stabil atau berantakan. Menurut Save (2002), perceraian dalam keluarga manapun merupakan peralihan besar dan penyesuaian utama bagi anak-anak akan mengalami reaksi emosi dan perilaku karena kehilangan satu orang tua.

  Maka dapat disimpulkan bahwa perceraian adalah terputusnya hubungan perkawinan antara suami istri, menyebabkan keluarga tidak harmonis, dan berdampak buruk bagi anak.

  Anak-anak dari keluarga bercerai adalah anak yang berasal dari keluarga dengan orangtua yang tidak dapat menjalankan perannya sebagai suami istri karena telah mengakhiri kehidupan perkawinan.

2. Dampak Perceraian pada Anak

  a. Secara hukum Secara legal formal, perceraian menuntut adanya keputusan tindak lanjut dari kedua belah pihak, yaitu menyangkut penentuan hak asuh anak dan pembagian harta. Harta setelah perceraian yang didapat selama perkawinan merupakan harta bersama. Hal ini seperti yang tertuang dalam pasal 35 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. Di samping itu, hak asuh anak terhadap anak di bawah 12 tahun seringkali diberikan kepada ibu seperti yang tertuang dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 105 huruf a. Meskipun demikian, bagi anak di atas 12 tahun, anak diberikan kebebasan memilih dengan siapa anak tersebut akan tinggal, apakah dengan ibu atau ayahnya. Hal ini dikarenakan ayah atau ibu mempunyai kewajiban yang sama dalam merawat dan mendidik anak, seperti yang tertuang dalam

  Pasal 41 huruf a Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. Menurut KHI, dampak perceraian secara hukum menuntut seorang ayah untuk bertanggung jawab atas kebutuhan dan biaya pemeliharaan anak. Jika tidak demikian maka pengadilan akan menuntut ibu untuk ikut bertanggung jawab atas kebutuhan anak.

  Seorang ayah akan menafkai anaknya hingga dewasa dan dapat mengurus diri (sekitar usia 21 tahun). Dalam jangka waktu tertentu, seorang istri juga dapat meminta nafkah kepada suaminya pasca perceraian. b. Secara psikologis Rumah tangga yang pecah karena perceraian dapat lebih merusak anak dan hubungan keluarga ketimbang rumah tangga yang pecah karena kematian. Terdapat dua alasan untuk hal ini. Periode penyesuaian terhadap perceraian lebih lama dan sulit bagi anak daripada periode penyesuaian yang menyertai kematian orang tua. Hozman dan Froiland (dalam Hurlock, 1989) telah menemukan bahwa kebanyakan anak melalui tahap dalam penyesuaian ini: penolakan terhadap perceraian, kemarahan yang ditujukan pada mereka yang terlibat dalam situasi tersebut, tawar menawar dalam usaha mempersatukan orang tua, depresi dan akhirnya penerimaan perceraian (Hurlock, 1989).

  Perpisahan yang disebabkan perceraian itu serius sebab mereka cenderung membuat anak menjadi berbeda dalam mata kelompok sebaya. Jika anak ditanya di mana orang tuanya atau mengapa mereka mempunyai orang tua baru sebagai pengganti orang tua yang tidak ada, mereka menjadi serba salah dan merasa malu. Di samping itu, mereka mungkin merasa bersalah jika mereka menikmati waktu bersama orang tua yang tidak ada (Hurlock, 1989).

  Perlakuan orang tua kepada anak pasca perceraian biasanya berubah. Hal ini dapat menyebabkan permasalahan pada anak-anak di usia akhir ataupun dewasa kelak. Jika anak-anak mengetahui arti dari perilaku orang tua yang semula menerima anak dan akhirnya menolak dan tidak mencintainya, maka hal ini akan menyebabkan anak menjadi cemas, merasa tidak aman akan sesuatu hal yang mengancam dirinya, dan merasa ditolak (Hurlock, 1989).

  Menurut Save (1990), setiap tingkat usia anak dalam menyesuaikan diri dengan situasi baru ini memperlihatkan cara dan penyelesaian berbeda. Kelompok anak prasekolah pada saat kasus ini terjadi memiliki kecenderungan untuk mempersalahkan diri bila menghadapi masalah dalam hidupnya. Umumnya anak usia kecil itu sering tidak betah, tidak menerima cara hidup baru. Anak tidak akrab dengan orangtuanya. Anak ini sering dibayangi rasa cemas, selalu ingin mencari ketenangan.

  Periode penyesuaian anak yang terburuk yaitu satu tahun setelah perceraian. Anak memperlihatkan karakter yang negatif seperti kebingungan dan ketidakpatuhan. Meskipun demikian, setelah dua tahun perceraian efek tersebut berkurang terutama pada anak perempuan. Di sisi lain, setelah enam tahun, anak laki-laki kembali memperlihatkan ketidakpatuhan, relasi buruk dengan teman sebaya, dan rendahnya harga diri (Hatherington dalam Bukatko, 2008).

  Penyesuaian anak terhadap perceraian sebagian bergantung pada usia atau kematangan anak, gender, temperamen, dan penyesuaian psikososial sebelum perceraian. Anak-anak yang lebih muda cenderung lebih cemas mengenai perceraian, memiliki persepsi yang kurang realistis mengenai penyebabnya, dan menyalahkan diri mereka sendiri. Meskipun demikian, mereka dapat beradaptasi lebih cepat daripada anak yang lebih tua, yang memiliki pemahaman lebih baik mengenai apa yang sedang terjadi. Anak-anak usia sekolah bisa saja takut akan penelantaran dan penolakan. Anak laki-laki umumnya merasa lebih sulit beradaptasi dibandingkan anak perempuan (Bray, Hetherington, Stanley-Hagan, et al. dalam Papalia, 2009). Kebanyakan anak dengan orang tua bercerai menyesuaikan diri dengan cukup baik, tetapi perceraian meningkatkan risiko masalah pada masa remaja atau dewasa, seperti perilaku antisosial. (Kelly & Emery dalam Papalia, 2009).

  Dengan demikian, banyak dampak negatif yang terjadi pada anak-anak akibat perceraian orang tua. Anak-anak merasa berbeda dengan teman sebaya, kesulitan penyesuaian hidup dengan orangtua tunggal, dan adanya kecemasan yang mengikutinya. Kecemasan ini adalah kecemasan anak akan penolakan, ketidaknyamanan, dan kehilangan kasih sayang.

D. CAT (Children’s Apperception Test)

  CAT merupakan tes dengan menggunakan teknik proyektif aperseptif atau disebut juga tes apersepsi. Apersepsi adalah interpretasi yang bermakna atau mempunyai nilai individual yang khas, sehingga apa yang ditangkap sudah merupakan sesuatu yang bermakna individual (meaningfulness) (Prihanto, 1993) .

  CAT merupakan sebuah bentuk tes proyektif yang dirancang untuk memahami dinamika anak-anak dalam menghadapi masalah-masalah dalam perkembangannya. Menurut Bellak (1997), CAT digunakan untuk memahami relasi subjek dengan figur lain dan dorongannya. Gambar-gambar dalam CAT ini dirancang untuk memunculkan respon mengenai masalah makan secara khusus dan masalah oral secara umum, masalah persaingan antar saudara, relasi dengan figur orang tua, fantasi tentang agresi, tentang penerimaan dunia orang dewasa, ketakutan terkait kesendirian di malam hari, dinamika hubungan interpersonal, kumpulan drive, dan pertahanan diri mereka. Selain itu, CAT juga mampu mengungkapkan kecemasan. Ragam kecemasan pada anak-anak menurut Bellak, kecemasan terkait dengan kondisi bahaya fisik, misalnya disakiti oleh oranglain, binatang buas; kecemasan akan hukuman yang kemungkinan dihadapi; kecemasan akan kehilangan atau berkurangnya kasih sayang dari orang tua atau orang sekitar; kecemasan akan penolakan; kecemasan akan situasi kesendirian dan kesepian; dan kecemasan akan berkurangnya atau kehilangan dukungan.

  CAT dibagi menjadi dua, yaitu CAT animal dan CAT-H (CAT- Human). CAT animal berupa kartu dengan tokoh-tokoh binatang, sedangkan CAT-H dengan tokoh manusia. CAT animal biasa diberikan pada anak usia prasekolah, karena anak-anak prasekolah lebih baik dalam merespon gambar dengan tokoh binatang. CAT-H lebih efektif untuk anak usia tujuh hingga 10 tahun terutama dengan IQ tinggi (Bellak, 1997).

  CAT terdiri dari 10 kartu bergambar, baik itu CAT animal maupun CAT-H. Masing-masing kartu terdapat tema-tema tertentu. Tema-tema tersebut antara lain :

  1. Kartu 1 : deprivasi oral

  2. Kartu 2 : permainan, ketakutan akan agresi, simbol masturbasi

  3. Kartu 3 : gender, kebingungan peran, konflik antara kepatuhan dan otonomi

  4. Kartu 4 : persaingan antar saudara, relasi dengan figur ibu

  5. Kartu 5 : mengamati, menduga, kebingungan, keterlibatan emosional anak

  6. Kartu 6 : kecemburuan terhadap kedekatan orangtua, menginginkan otonomi dari orangtua

  7. Kartu 7 : agresifitas dalam hidup anak, ketakutan terhadap agresi

  8. Kartu 8 : hubungan dengan orangtua, relasi ibu dan anaknya

  9. Kartu 9 : ketakutan akan gelap, ditinggalkan sendiri, rasa ingin tahu pada apa yang terjadi di ruangan sebelah

  10. Kartu 10: hukuman, konsep moral anak, toilet training

E. Kecemasan pada Anak dari Keluarga Bercerai

  Perceraian orang tua adalah keadaan keluarga yang tidak harmonis, tidak stabil atau berantakan (Yusuf, 2004). Menurut Save (2002), perceraian dalam keluarga manapun merupakan peralihan besar dan penyesuaian utama bagi anak-anak akan mengalami reaksi emosi dan perilaku karena kehilangan satu orang tua.

  Secara psikologis, anak yang berasal dari keluarga bercerai memperoleh banyak tekanan, karena suasana rumah kurang harmonis. Selain itu, keadaan lingkungan juga mengharuskan anak melakukan penyesuaian diri terhadap perubahan-perubahan. Hal ini dikarenakan tekanan dan keadaan lingkungan sebagai akibat dari perceraian kedua orang tuanya, menyebabkan anak merasa dirinya tidak aman. Padahal, anak pada usia sekolah adalah anak yang merasa takut diejek, takut tercela, takut kehilangan miliknya, takut akan penyakit dan takut akan gagal di sekolah. Rasa tidak aman yang menyelubungi tersebut juga akan menimbulkan perasaan inferior pada anak terhadap kemampuan dan kedudukannya. Anak merasa rendah diri, menjadi takut untuk memperluas pergaulannya dengan teman-temannya (Gunarsa, 2003).

  Menurut Save (1990), setiap tingkat usia anak dalam menyesuaikan diri dengan situasi baru ini memperlihatkan cara dan penyelesaian berbeda.

  Kelompok anak yang belum berusia sekolah pada saat kasus ini terjadi ada kecenderungan untuk mempersalahkan diri bila ia menghadapi masalah dalam hidupnya. Umumnya anak usia kecil itu sering tidak betah, tidak menerima cara hidup baru. Ia tidak akrab dengan orangtuanya. Anak ini sering dibayangi rasa cemas, dan selalu ingin mencari ketenangan.

  Dalam kasus perceraian, kecemasan selalu mengikuti anak yang menjadi korban perceraian orang tua. Kecemasan merupakan sesuatu yang tidak jelas, adanya perasaan gelisah yang disebabkan oleh ketakutan terhadap sesuatu yang tidak diduga akan terjadi, proses emosi yang bercampur baur, yang terjadi ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan (frustasi) dan pertentangan batin. Menurut Singgih (1995), kecemasan merupakan suatu perubahan suasana hati, perubahan di dalam dirinya sendiri yang timbul dari dalam tanpa adanya perangsang dari luar. Istilah kecemasan juga dipakai untuk menunjukkan suatu respons emosional yang tidak menyenangkan. Kecemasan selalu didapatkan pada anak-anak yang mengalami gangguan emosional.

  Dengan demikian, banyak dampak negatif yang terjadi pada anak- anak akibat perceraian orang tua. Anak-anak merasa berbeda dengan teman sebaya, kesulitan penyesuaian hidup dengan orangtua tunggal, dan adanya kecemasan yang mengikutinya. Kecemasan ini adalah kecemasan anak akan penolakan, ketidaknyamanan, dan kehilangan kasih sayang.

  Keluarga Bercerai (perceraian orangtua)

  Dampak secara Hukum :

   Pembagian harta  Penentuan hak Faktor-faktor yang asuh anak mempengaruhi terbentuknya kecemasan :

   Faktor Internal  Faktor Eksternal Dampak Psikologis:  Faktor Pembelajaran Kecemasan, depresi, stress, perasaan ditolak

  Kecemasan : Apa saja kecemasan pada anak dari keluarga dengan orangtua bercerai?

  Skema 1: Kerangka Penelitian: Gambaran Dampak Perceraian Orangtua

F. Pertanyaan Penelitian

  Apa saja kecemasan yang terjadi pada anak dari keluarga bercerai yang diperoleh dari CAT?

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis

  interpretatif. Analisis interpretatif ini bertujuan mengungkapkan secara detail bagaimana subjek mengalami dunia personal dan sosialnya. Tujuan utama analisis interpretatif yaitu memperoleh makna dari berbagai pengalaman, peristiwa, dan status subjek. Pendekatan ini berusaha mengeksplorasi pengalaman personal subjek serta menekankan pada persepsi atau pendapat subjek tentang objek atau peristiwa (Smith, 2009).

  Dalam penelitian ini, peneliti melakukan analisis untuk memperoleh kecemasan akibat dari perceraian orangtua.

B. Fokus Penelitian

  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kecemasan pada anak-anak dari keluarga bercerai yang diperoleh dari CAT. Kecemasan merupakan proses emosi yang bercampur baur, yang terjadi ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan, perasaan gelisah, dan keadaan mental yang tidak enak akan sesuatu yang dibayangkan, dan suatu perubahan suasana hati yang timbul karena adanya rangsangan dari luar yang mengancam.

  Dalam penelitian ini kecemasan dapat ditemukan dari sebagian atau keseluruhan cerita dalam CAT. Dari cerita-cerita CAT dapat ditemukan jenis- jenis kecemasan pada anak-anak, antara lain kecemasan yang berhubungan dengan bahaya fisik, hukuman, takut karena kurangnya atau kehilangan kasih sayang, penolakan, dan kesendirian (kesepian, kurangnya dukungan). Hal ini akan menjadi berharga untuk dicatat dalam konteks pertahanan anak terhadap ketakutan yang dihadapinya (Bellak, 1997).

  C. Subjek Penelitian

  Dalam penelitian ini, subjek yang dipilih berdasarkan kriteria-kriteria tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya dan berdasarkan teori atau konstruk operasional sesuai dengan tujuan penelitian.

  Subjek dalam penelitian ini memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut: a. Subjek berada pada masa pertengahan anak-anak (middle childhood) yaitu usia enam hingga 11 tahun sesuai tahap perkembangan Bukatko dan Berk (2008) b. Subjek merupakan anak dari orang tua yang bercerai.

  c. Perceraian orang tua terjadi dalam masa kehidupan subjek, yaitu ketika subjek sudah lahir.

  D. Metode Pengumpulan Data

  Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode tertulis atau tercetak yang dapat dipakai sebagai bukti keterangan. Dokumen memiliki beberapa kelebihan, antara lain: dokumen merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong; sebagai bukti untuk suatu pengujian; sifatnya alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks (Guba dan Lincoln dalam Moleong, 2009), dan dapat menggali data yang tidak dapat diperoleh melalui metode lain (wawancara dan observasi). Dalam penelitian ini, dokumen yang digunakan sebagai data penelitian meliputi respon CAT dan data latar belakang subjek.

  1. Data Utama : Respon CAT Seperti yang telah dijelaskan di bab sebelumnya, CAT merupakan tes proyektif apersepsi atau tes bercerita (story telling). CAT terdiri dari sepuluh gambar dengan situasi yang tidak terstruktur dan ambigu. Melalui gambar yang disajikan dalam CAT ini, anak dapat memproyeksikan dan akan lebih mudah mengekspresikan kebutuhan, konflik, kecemasan, dan dinamika hubungan interpersonal. Selain itu, menurut Wenar dan Kerig (2000), melalui CAT anak akan lebih mudah mengekspresikan ide-ide yang terlalu mengancam untuk dibicarakan secara langsung.

  Prosedur dalam CAT tersebut, yaitu anak diberikan 10 kartu dengan situasi ambigu, kemudian anak diminta untuk bercerita sesuai gambar yang disajikan. Cerita tersebut meliputi apa yang terjadi, apa yang dipikirkan oleh tokoh, apa yang dirasakan, dan akhir ceritanya seperti apa.

  2. Data Pelengkap : Dokumen latar belakang subjek Selain menggunakan data CAT, peneliti juga menggunakan data latar belakang untuk mendapatkan data secara lebih mendalam dan menyeluruh terkait dengan munculnya kecemasan pada anak. Data latar belakang diperoleh berdasarkan wawancara dan observasi. Latar belakang tersebut meliputi kehidupan intrapersonal subjek (konsep diri subjek) dan kehidupan interpersonal subjek yang meliputi riwayat keluarga, pandangan subjek terhadap orang tua, relasi dengan keluarga dan teman sebaya.

E. Analisis Tematik

  Analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis tematik. Analisis tematik dilakukan dengan melakukan interpretasi terhadap tema-tema yang mengandung kecemasan terkait dengan keluarga. Tahap- tahap analisis tematik tersebut yaitu:

  1. Tema Deskriptif Tema deskriptif merupakan ringkasan cerita yang mempunyai arti untuk menjelaskan psikodinamika subjek. Pada tahap ini cerita subjek yang mengandung arti kecemasan (awal, tengah, dan akhir cerita) diringkas dan dimasukkan ke dalam satu kolom tema deskriptif.

  2. Tema Interpretif Tema interpretif merupakan tema yang dinyatakan dalam kalimat yang bersifat hipotesis untuk digeneralisasikan. Pada tahap ini, cerita dalam tema deskriptif digeneralisasikan menjadi kalimat umum yang mengandung sebab akibat.

  3. Tema Diagnostik Tema diagnostik merupakan pernyataan yang definitif dan sifat hipotesis dihilangkan. Pada tahap ini, peneliti menentukan jenis kecemasan berdasarkan tema deskriptif, tema interpretif, dan latar belakang subjek (Bellak, 1997).

  Dalam penelitian ini, peneliti membatasi analisis tematik pada tema- tema kecemasan dan yang berkaitan dengan keluarga.

F. Pemeriksaan Keabsahan Data

  Keabsahan data dalam penelitian dilakukan dengan mengupayakan dependabilitas penelitian. Menurut Poerwandari (2005), dependabilitas sama dengan reliabilitas dalam penelitian kuantitatif. Dependabilitas dalam penelitian ini diketahui dengan istilah diskursus. Diskursus yaitu sejauh mana dan seintensif apa peneliti mau mendiskusikan temuan dan analisisnya dengan orang lain (Sarantakos dalam Poerwandari, 2005). Diskursus dalam penelitian ini dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut :

  1. Peneliti melakukan analisis tematik terhadap cerita CAT berdasarkan tiga komponen, yaitu tema deskriptif, tema interpretif, dan tema diagnostik.

  2. Peneliti dengan seorang psikolog pembimbing skripsi melakukan diskusi.

  Hal ini untuk memperoleh kesepakatan terhadap interpretasi atau makna kecemasan.

  3. Melakukan pengecekan kembali terhadap tema diagnostik (arti kecemasan) untuk memastikan bahwa tidak terdapat arti kecemasan yang berbeda pada cerita yang sama.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian

  1. Pengumpulan Data

  Peneliti menggunakan data dokumen laporan praktikum atau pemeriksaan dengan CAT yang tersedia di Laboratorium Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Dokumen laporan CAT tersebut diambil berdasarkan pelaksanaan pengetesan mulai tahun 2005 hingga tahun 2011 dengan subjek anak usia enam hingga 11 tahun dan berasal dari keluarga bercerai. Berdasarkan kriteria tersebut, peneliti mendapatkan sembilan dokumen laporan CAT, yaitu delapan buah laporan CAT-H dan satu buah laporan CAT animal. Subjek laki-laki berjumlah lima anak dan empat anak perempuan.

  2. Analisis Data

  Pengolahan data dilakukan dengan melakukan interpretasi atau analisis tematik terhadap cerita-cerita yang mengandung kecemasan.

  Analisis tematik dilakukan dengan mengidentifikasi tema deskriptif, merumuskan tema interpretif, dan menentukan tema diagnostik. Cerita subjek yang mengandung arti kecemasan (awal, tengah, dan akhir cerita) diringkas dan dimasukkan ke dalam satu kolom tema deskriptif.

  Selanjutnya, cerita dalam tema deskriptif digeneralisasikan menjadi kalimat umum yang mengandung sebab akibat. Tahap terakhir peneliti menentukan jenis kecemasan berdasarkan tema deskriptif, tema interpretif, dan latar belakang subjek.

B. Hasil Penelitian

  1 tahun

  2. Kecemasan yang muncul Berdasarkan interpretasi yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut: a. Diperoleh 23 jenis kecemasan dari sembilan subjek.

  (tidak ada informasi)

  9 APP Laki-laki 11 tahun Anak pertama dari tiga bersaudara

  8 NSM Perempuan 10 tahun Anak tunggal 2 tahun

  7 F Perempuan 11 tahun Anak tunggal 3 tahun

  6 TM Laki-laki 7 tahun Anak tunggal (tidak ada informasi)

  1. Deskripsi subjek penelitian Berikut adalah deskripsi masing-masing subjek berdasarkan data latar belakang dalam laporan hasil pemeriksaan CAT :

  Tabel 1. Deskripsi subjek penelitian No. Nama Jenis Kelamin Usia Urutan Kelahiran Usia Perceraian

  4 ASY Perempuan 7 tahun Anak tunggal 1 tahun b. Jenis kecemasan tersebut dikategorikan sesuai makna yang berdekatan.

  4 tahun

  3 ABM Laki-laki 10 tahun Anak ketiga dari empat bersaudara

  (tidak ada informasi)

  2 NL Perempuan 10 tahun Anak kedua dari dua bersaudara

  3 tahun

  1 FCS Laki-laki 11 tahun Anak pertama dari dua bersaudara

  5 MM Laki-laki 10 tahun Anak pertama dari dua bersaudara

  Di bawah ini merupakan tabel kategori jenis kecemasan yang diperoleh:

  1 Kecemasan terkait relasi dalam keluarga

  23. Kecemasan akan hal yang irasional

  2

  22. Kecemasan jika dinilai buruk

  2 Kecemasan terkait penilaian buruk

  2 21. Kecemasan akan kekalahan dari orang lain

  9 20. Kecemasan tidak mendapat bantuan dari orang lain (di luar keluarga)

  2 19. Kecemasan akan bahaya

  18. Kecemasan akan ketidakberdayaan

  1 Kecemasan terkait menghadapi kesulitan

  2 17. Kecemasan tidak dapat mengatasi kesulitan yang dihadapi (jalan keluar)

  1 16. Kecemasan akan hubungan buruk dalam keluarga

  1 15. Kecemasan akan kejadian yang menyedihkan dalam keluarga

  1 14. Kecemasan akan keadaan saudaranya

  13. Kecemasan akan kekerasan ayah

  1 12. Kecemasan akan perlakuan yang tidak baik dari orang tua

  Tabel 2. Kategori Jenis Kecemasan No. Jenis Kecemasan Jumlah Subjek Kategori 1.

  3 11. Kecemasan akan kesepian

  8 10. Kecemasan akan keterpisahan

  9. Kecemasan akan kesendirian

  7 Kecemasan terkait kesendirian/ keterpisahan

  3 8. Kecemasan ditinggalkan

  7. Kecemasan akan orangtua yang tidak bisa membantu / memenuhi keperluan anak

  1 Kecemasan terkait pemenuhan kebutuhan

  4 6. Kecemasan tidak ada yang merawat / menjaga (pemeliharaan)

  6 5. Kecemasan akan kehilangan kasih sayang

  1 4. Kecemasan akan penolakan (karena tidak patuh)

  3. Kecemasan akan diabaikan

  2 Kecemasan terkait perhatian dan kasih sayang

  4 Kecemasan terkait materi 2. Kecemasan akan kehilangan perhatian dari orangtua

  Kecemasan akan kekurangan / kehilangan materi yang dialami keluarga

  1 Kecemasan terkait hal yang irasional Tabel di atas menunjukkan bahwa jenis kecemasan yang selalu muncul di setiap subjek adalah kecemasan terkait menghadapi kesulitan, yaitu kecemasan akan bahaya. Di samping itu juga kecemasan terkait keadaan kesendirian/keterpisahan, yaitu kecemasan ditinggalkan dan kecemasan akan kesendirian. Di sisi lain, kecemasan terkait perhatian dan kasih sayang juga hampir dialami oleh sebagian besar subjek, subjek mengalami kecemasan akan penolakan.

  3. Kecemasan yang muncul dari masing-masing subjek Berikut ini adalah penjelasan mengenai kecemasan pada masing- masing subjek : a. Subjek 1 (FCS)

  Subjek 1 (FCS) yang kini tinggal bersama eyangnya, mengalami kecemasan akan kekurangan/kehilangan materi yang dialami keluarga.

  Kecemasan ini lebih dari sekali muncul dalam cerita FCS. Orang tua FCS bercerai ketika FCS berumur 8 tahun. Mereka bercerai karena ayah FCS tidak memiliki pekerjaan dan tidak dapat menghidupi keluarganya.

  Selain itu, FCS juga memunculkan beragam kecemasan, diantaranya kecemasan terkait perhatian dan kasih sayang, kecemasan terkait pemenuhan kebutuhan, kecemasan terkait kesendirian/keterpisahan, kecemasan terkait relasi dalam keluarga, kecemasan terkait menghadapi kesulitan, dan kecemasan terkait penilaian buruk. b. Subjek 2 (NL) Subjek 2 (NL) memunculkan berbagai jenis kecemasan.

  Kecemasan yang sering muncul dalam ceritanya yaitu kecemasan terkait perhatian dan kasih sayang dan kecemasan terkait menghadapi kesulitan. Semenjak orangtua NL bercerai, relasi dalam keluarga menjadi tidak harmonis. Ayah NL sama sekali tidak pernah menemui NL lagi. Hal ini membuat NL menjadi tergantung pada ibunya. Hubungan dengan kakak kandungnya juga sering diwarnai pertengkaran. Di samping itu, NL juga memunculkan kecemasan terkait pemeliharaan, kecemasan terkait pemenuhan kebutuhan, dan kecemasan terkait kesendirian/keterpisahan.

  c. Subjek 3 (ABM) Dalam cerita ABM muncul beberapa kali kecemasan terkait perhatian dan kasih sayang. Kecemasan terkait perhatian dan kasih sayang muncul karena ABM harus patuh pada peraturan yang ditetapkan oleh ibunya. Ibunya selalu memarahi ABM jika melanggar aturan dari ibunya. Hal itu juga membuat ABM menjadi ketakutan. Bahkan jika tidak patuh atau tidak hormat dengan ibunya maka akan kualat dan tidak memiliki teman. Salah satu aturan yang terdapat dalam keluarganya yaitu bahwa lingkungan harus bersih dan harus tidur siang bagi anak-anak. Selain itu, ABM juga memunculkan kecemasan terkait materi, kecemasan terkait kesendirian/keterpisahan, kecemasan terkait menghadapi kesulitan, dan kecemasan terkait penilaian buruk.

  d. Subjek 4 (ASY) Sebelum orangtuanya bercerai, sering terjadi pertengkaran yang membuat ASY tertekan. Ketika perceraian belum terjadi, ASY sering ditinggal bekerja kedua orangtuanya, sehingga ASY harus dititipkan kepada kakek neneknya. Setelah orangtuanya bercerai, ASY tinggal bersama ibunya. Ayahnya setiap malam menghubungi ASY, namun ASY belum merasa puas. ASY sebenarnya merasa sedih atas perceraian orangtua, namun subjek mengatakan sudah bisa menerima keadaan itu.

  ASY mengalami kecemasan terkait kesendirian/keterpisahan. Selain itu, ASY juga memunculkan kecemasan terkait perhatian dan kasih sayang dan kecemasan terkait menghadapi kesulitan.

  e. Subjek 5 (MM) Subjek 5 (MM) adalah seorang anak laki-laki berusia 10 tahun.

  MM tinggal bersama pakde dan budenya. Pakde dan budenya galak terhadap MM. Bahkan sesekali ketika MM tidak disiplin, maka pakdenya tak segan-segan untuk menyabet MM. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa MM sering memunculkan kecemasan terkait menghadapi kesulitan. Di samping itu, MM juga memunculkan kecemasan terrkait relasi dalam keluarga. Sebelumnya, karena orang tua diterlantarkan oleh orang tuanya. Selain itu, kecemasan yang dimunculkan MM juga terkait materi dan kecemasan terkait kesendirian/keterpisahan.

  f. Subjek 6 (TM) Kehidupan TM bisa dikatakan sedang bermasalah, kedua orangtuanya sedang menyelesaikan masalah perceraian. Semenjak perceraian tersebut, TM tinggal bersama dengan ibunya. TM sangat patuh kepada ibunya, dan tidak lagi berhubungan dengan ayahnya. Dulu ayahnya sering memarahi ibunya. Berdasarkan hasil penelitian, TM hanya sedikit memunculkan kecemasan dalam ceritanya. Kecemasan tersebut adalah kecemasan terkait pemenuhan kebutuhan, kecemasan terkait kesendirian/keterpisahan, dan kecemasan terkait menghadapi kesulitan.

  g. Subjek 7 (F) Sejak orang tuanya bercerai, F tinggal dengan ibunya di rumahnya yang dulu. Ayah F tidak pernah mengurusi F dan ibunya.

  Sejak saat itu, F dan ibunya menjadi sangat tidak suka dengan ayahnya. Selain itu, hidup mereka berubah terutama dalam hal ekonomi, karena ibu F tidak bekerja. Dalam ceritanya, F memunculkan beragam kecemasan, yaitu kecemasan terkait perhatian dan kasih sayang, kecemasan terkait kesendirian/keterpisahan, kecemasan terkait relasi dalam keluarga, kecemasan terkait menghadapi kesulitan, dan kecemasan terkait penilaian buruk.

  h. Subjek 8 (NSM) Orangtua NSM bercerai ketika papanya bekerja di luar negeri.

  NSM oleh papanya dititipkan kepada saudara iparnya dan tidak bersama ibunya. Hal ini dikarenakan ibunya bekerja dan tidak pernah memperhatikan NSM. NSM juga sangat sedih ketika orangtuanya berpisah. Sebenarnya NSM ingin sekali mendamaikan orangtuanya.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa NSM mengalami kecemasan yang cukup beragam, yaitu kecemasan terkait perhatian dan kasih sayang dan kecemasan terkait kesendirian/keterpisahan. Di samping itu, berdasarkan hasil penelitian NSM juga mengalami beberapa kecemasan lain, yaitu kecemasan terkait materi dan kecemasan terkait menghadapi kesulitan. Papa NSM semenjak bekerja di luar negeri, ekonomi keluarga meningkat tapi tidak demikian dengan keharmonisan keluarga. Keharmonisan keluarga justru semakin memburuk. NSM juga mengalami kecemasan terkait relasi dalam keluarga. i. Subjek 9 (APP)

  APP lebih sering memunculkan sedikit kecemasan, yaitu kecemasan terkait kesendirian/keterpisahan dan kecemasan terkait menghadapi kesulitan. Subjek merupakan anak pertama, memiliki adik perempuan dan kakeknya, sedangkan adik laki-lakinya bersama kakek dari ayahnya di Flores. Sebelumnya subjek dan keluarganya tinggal di Jakarta, namun keluarganya kurang harmonis. Subjek mengalami pengalaman kurang menyenangkan tentang ayah dan memiliki trauma tentang pengalaman tersebut. Ayah subjek pergi meninggalkan keluarga dengan tidak bertanggung jawab. Meskipun demikian, ibu memberikan kasih sayang yang cukup kepada subjek.

  Jenis kecemasan, identitas subjek, latar belakang, dan kecemasan yang muncul pada setiap subjek dapat dilihat pada tabel berikut :

  Tabel 3. Ringkasan Kecemasan Tiap Subjek Jenis No. Subjek Kelamin / Latar Belakang Keluarga Kecemasan yang Muncul Usia

  1. FCS Laki-laki / Orangtua subjek bercerai pada 1) Kecemasan terkait materi 11 tahun saat subjek berumur 8 tahun 2) Kecemasan terkait dikarenakan ayah subjek tidak perhatian dan kasih memiliki pekerjaan dan tidak sayang dapat menghidupi 3) Kecemasan terkait keluarga. Kini subjek telah pemenuhan kebutuhan memiliki seorang ayah tiri yang 4) Kecemasan terkait baik hati. Sedangkan ibunya kesendirian/keterpisahan adalah seorang yang tidak suka 5) Kecemasan terkait relasi marah, baik dan sering dalam keluarga mengajaknya berbelanja. 6) Kecemasan terkait Subjek tinggal bersama menghadapi kesulitan eyangnya karena rumah 7) Kecemasan terkait eyangnya lebih dekat dengan penilaian buruk sekolah. Eyangnya sering marah-marah dan sering

mengatai subjek bodoh. Di

rumah subjek sering mengalami

pemalakan yang dilakukan oleh tetangganya yang dikenal

eyangnya sangat nakal. Subjek

merasa dirinya kecil dan lemah

sehingga terpaksa memenuhi

keinginan pemalak. Hal ini membuat eyangnya geram uang dari toko eyangnya.

  

2. NL Perempuan Relasi di dalam keluarga subjek 1) Kecemasan terkait

/ 10 tahun kurang harmonis karena ayah perhatian dan kasih dan ibu subjek telah berpisah sayang beberapa tahun yang lalu. 2) Kecemasan terkait Setelah perpisahan itu, ayah pemeliharaan subjek sama sekali tidak pernah 3) Kecemasan terkait menemui subjek lagi. Hal ini pemenuhan kebutuhan membuat subjek benar-benar 4) Kecemasan terkait tergantung pada ibunya. kesendirian /keterpisahan Meskipun demikian, subjek 5) Kecemasan terkait merasa rindu akan kehadiran menghadapi kesulitan

ayahnya. Hubungan dengan

kakak kandungnya sering

diwarnai pertengkaran, karena

perbedaan pendapat, saling

mengejek, berebut barang atau

makanan, saling memukul dan

lain-lain.

  3. ABM Laki-laki / Saat subjek berusia 6 tahun, 1) Kecemasan terkait materi 10 tahun subjek ditinggal ayahnya yang 2) Kecemasan terkait pergi, dan tidak diketahui perhatian dan kasih keberadaannya hingga kini. sayang Karena tidak ada kepastian 3) Kecemasan terkait hingga bertahun-tahun Ibu kesendirian/keterpisahan kandung subjek memutuskan 4) Kecemasan terkait untuk bercerai. Kini subjek menghadapi kesulitan bersama dua orang kakaknya 5) Kecemasan terkait tinggal bersama budhe dan penilaian buruk

neneknya. Sebelum menikah

lagi subjek diasuh oleh ibunya

sendiri yang berkerja keras

memenuhi kebutuhan subjek

dan kedua kakaknya.Ibu subjek

menikah kembali dan dikaruniai

seorang putra dari ayah tiri

subjek. Meskipun demikian,

setiap hari ibu subjek tetap menengok dan membantu

mempersiapkan sekolah subjek.

Ayah tiri subjek juga cukup

perhatian.

  

4. ASY Perempuan Setelah orang tuanya bercerai 1) Kecemasan terkait

/ 7 tahun setahun yang lalu, subjek perhatian dan kasih tinggal bersama ibunya karena sayang ayahnya bekerja di Malang. 2) Kecemasan terkait Sebelum bercerai sering terjadi kesendirian /keterpisahan pertengkaran yang membuat 3) Kecemasan terkait subjek tertekan. Sebenarnya, menghadapi kesulitan

subjek sangat bersedih atas

perceraian orang tuanya, namun

subjek sekarang bisa menerima

keadaan itu.

5. MM Laki-laki / Selama satu tahun ini subjek 1) Kecemasan terkait materi

  10 tahun dan adik perempuannya diasuh 2) Kecemasan terkait oleh pakde dan budenya. kesendirian/keterpisahan Sedangkan orang tuanya telah 3) Kecemasan terkait relasi bercerai dan hidup terpisah dalam keluarga dengan mereka. Subjek tidak 4) Kecemasan terkait lagi diijinkan bertemu dengan menghadapi kesulitan

ayahnya. Ibu akan mengunjungi

subjek ketika hari raya. Subjek

tidak tau bahwa orang tuanya

telah bercerai. Pakde dan

budenya galak terhadap subjek.

  

6. TM Laki-laki / Ayah dan ibu subjek saat ini 1) Kecemasan terkait

7 tahun telah berstatus bercerai. Subjek pemenuhan kebutuhan diasuh oleh ibu dan sangat 2) Kecemasan terkait patuh kepada ibunya. Relasi kesendirian/keterpisahan subjek dengan ayahnya berjalan 3) Kecemasan terkait biasa saja. Setelah resmi menghadapi kesulitan

bercerai, ayah subjek tinggal di

luar kota, subjek dan ayahnya

jarang berkomunikasi, dan subjek jarang bercerita mengenai ayahnya.

  

7. F Perempuan Subjek adalah anak tunggal dari 1) Kecemasan terkait

/ 11 tahun pasangan yang cukup berada perhatian dan kasih yang sudah bercerai kurang sayang lebih 3 tahun yang lalu. Sejak 2) Kecemasan terkait orang tuanya bercerai, subjek kesendirian/keterpisahan tinggal dengan ibunya di 3) Kecemasan terkait relasi rumahnya yang dulu. Ayah dalam keluarga subjek tidak pernah mengurusi 4) Kecemasan terkait subjek dan ibunya. Ibunya menghadapi kesulitan sangat benci terhadap ayahnya. 5) Kecemasan terkait hal Karena suatu masalah terjadi irasional subjek harus tinggal dengan 6) Kecemasan terkait ayahnya. penilaian buruk

  8. NSM Perempuan Hubungan papa dan mama 1) Kecemasan terkait materi / 10 tahun subjek mulai memburuk pada 2) Kecemasan terkait tahun 2001. Setelah perhatian dan kasih pertengkaran yang panjang, sayang akhirnya papa dan mama subjek 3) Kecemasan terkait memutuskan untuk bercerai. kesendirian/keterpisahan Subjek sendiri baru mengetahui 4) Kecemasan terkait relasi perceraian mereka setelah dalam keluarga proses perceraian selesai. Pada 5) Kecemasan terkait tahun 2004 subjek pindah ke menghadapi kesulitan

rumah budhenya dan tinggal

terpisah dengan orangtuanya,

karena mama subjek pindah ke

Semarang untuk bekerja. Papanya di luar negeri.

Hubungan yang terjalin antara

subjek dengan papanya baik

sekali sementara mama subjek

jarang sekali menghubungi

subjek.

  Dari sembilan subjek ditemukan bahwa komposisi kecemasan yang muncul berbeda satu sama lain. Pada dua subjek (subjek satu dan subjek tujuh) muncul kecemasan yang cukup beragam, yaitu kecemasan terkait materi, perhatian dan kasih sayang, pemenuhan kebutuhan, kesendirian/keterpisahan, relasi dalam keluarga, menghadapi kesulitan, penilaian buruk, dan hal irasional. Subjek dua, subjek tiga, dan subjek delapan memunculkan kecemasan yang terkait materi, perhatian dan kasih sayang, menghadapi kesulitan, dan kesendirian/keterpisahan. Di samping itu, dari ketiga subjek tersebut, salah satunya terdapat kecemasan terkait pemenuhan kebutuhan, relasi dalam keluarga, penilaian buruk, dan pemeliharaan. Pada subjek lima, kecemasan yang muncul yaitu kecemasan terkait materi, kesendirian/keterpisahan, relasi dalam keluarga, dan menghadapi kesulitan. Subjek empat, subjek enam, dan subjek sembilan hanya mengalami kecemasan terkait perhatian dan kasih sayang, pemenuhan kebutuhan, kesendirian/keterpisahan, dan menghadapi kesulitan.

  9. APP Laki-laki / 11 tahun Subjek dan keluarganya tinggal

di Jakarta, namun keluarganya

kurang harmonis. Subjek

mengalami pengalaman kurang

menyenangkan tentang ayah

dan memiliki trauma tentang

pengalaman tersebut. Ayah

subjek pergi meninggalkan

keluarga dengan tidak

bertanggung jawab. Subjek

tinggal bersama ibu dan saudaranya.

  1) Kecemasan terkait kesendirian/keterpisahan 2) Kecemasan terkait menghadapi kesulitan

C. Pembahasan

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap subjek mengalami beberapa kecemasan. Kecemasan-kecemasan ini muncul berkaitan dengan relasi atau keadaan dalam keluarga. Hal ini menegaskan pendapat Wallerstein & Kelly (dalam Bukatko, 2008), bahwa anak-anak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan perceraian orang tua. Dalam penelitian Lazarus (2003), anak-anak yang berasal dari keluarga bercerai juga akan memiliki kecemasan dan mengalami kesulitan dalam penyesuaian. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian tidak diketahui perbedaan respon kecemasan antara anak laki-laki dan perempuan seperti yang dikemukakan oleh Hatherington, dkk (dalam Papalia, 2009).

  Beberapa kecemasan disebabkan oleh masalah kehadiran orangtua. Kecemasan yang dimunculkan oleh semua subjek adalah kecemasan akan menghadapi kesulitan terkait kecemasan akan bahaya. Hal ini berkaitan dengan latar belakang subjek yang mengalami berbagai pengalaman buruk yang dihadapi ketika berada di dalam keluarga maupun dari orang-orang di lingkungannya. Sebagai contoh, subjek lima mengalami kekerasan dari pakde dan budenya. Bahkan ketika subjek tidak menuruti apa yang diinginkan oleh mereka maka subjek akan disabet oleh pakdenya. Hal ini dikarenakan subjek tinggal bersama pakde dan budenya setelah orangtuanya bercerai. Selain itu, subjek satu juga mengalami kecemasan akan bahaya karena subjek sering menemui pemalak yang sering memalaki subjek dan hal ini menyebabkan subjek sering dimarahi oleh neneknya. Subjek tinggal dengan neneknya yang seringkali mengatai subjek anak yang bodoh. Dalam artikel yang ditulis oleh Tomi (2012), seorang anak dengan orangtua bercerai akan mengalami ancaman, ketika orangtua saling berebut hak asuh anak. Kondisi ini bisa membuat orangtua akan melakukan hal-hal yang sebenarnya mengancam keselamatan anak. Sebagai contoh, salah satu orangtua akan melakukan tindakan penculikan atau pemaksaan pada anak agar anak mau mengikuti orangtuanya.

  Beberapa subjek mengalami kecemasan akan kesendirian/keterpisahan. Sebagian besar subjek ketika orangtuanya bercerai ditinggalkan oleh sosok ayah. Beberapa subjek masih berhubungan melalui telepon dengan orangtuanya yang tinggal terpisah dan merasa bahwa hal tersebut tidak cukup baginya. Ada juga orangtua yang benar-benar menelantarkan anak-anaknya dan hanya dititipkan kepada sanak saudaranya yang belum tentu bisa merawat subjek dengan layak. Hal ini seperti yang terjadi pada beberapa subjek yang tinggal bersama ibunya, namun karena ibunya terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan maka subjek menjadi kurang terurus dan dititipkan pada saudara.

  Beberapa subjek juga mengalami beberapa kecemasan yang terkait dengan masalah perhatian dan kasih sayang. Kecemasan terkait perhatian dan kasih sayang yang dialami subjek adalah kecemasan akan penolakan yang dikarenakan ketidakpatuhan terhadap orangtua dan kecemasan akan diabaikan. Menurut Hatherington (dalam Bukatko, 2008), setelah berpisahnya dari suami, seorang istri akan menerapkan pola asuh otoriter. Mereka banyak melakukan larangan untuk anak-anaknya, cenderung menguasai, memperlihatkan sedikit kasih sayang, dan kurang tanggap terhadap anaknya.

  Sebagian besar subjek memiliki aturan yang sangat ketat dalam keluarganya. Hal ini dikarenakan subjek dituntut atau melakukan sesuatu yang terlalu dibatasi oleh orangtua tunggal pasca perceraian, dan juga karena subjek juga tinggal dengan kerabat lain tanpa ada orangtua yang mendampingi. Setelah perceraian, beberapa subjek juga mengalami adanya peraturan-peraturan baru yang ditentukan oleh orangtuanya.

  Beberapa subjek mengalami kecemasan terkait materi. Kecemasan yang muncul adalah kecemasan terkait pemenuhan kebutuhan/pemeliharaan (tidak ada yang merawat/menjaga). Hal ini terlihat dari latar belakang subjek yang menunjukkan bahwa beberapa orangtua subjek bercerai karena permasalahan materi dan juga setelah perceraian mengalami permasalahan terkait materi. Sebagai contoh, orangtua subjek delapan bercerai karena ayahnya mengalami PHK dan akhirnya berangkat ke luar negeri untuk bekerja. Kehidupan ekonomi membaik, tetapi tidak demikian dengan hubungan antara ayah dan ibunya. Setelah perceraian, subjek tinggal dengan kerabatnya karena ayahnya berada di luar negeri dan ibunya juga pergi bekerja. Menurut artikel yang ditulis Pickar (2007), anak-anak dalam keluarga bercerai itu kurang diperhatikan oleh orangtuanya. Hal ini dikarenakan orangtua menghabiskan sedikit waktu dengan anak-anak mereka dan terlalu sibuk dengan urusannya, sebagai contoh dengan lebih banyak bekerja. Orangtua kurang peka dengan kebutuhan anak-anak. Ketika sebelum perceraian orangtua banyak memperhatikan anak-anaknya, namun ketika perceraian terjadi, orangtua sering sibuk dengan urusannya sendiri.

  Kecemasan lainnya yang dialami beberapa subjek adalah kecemasan terkait penilaian buruk, seperti misalnya kecemasan akan kekalahan dari orang lain, dan kecemasan jika dinilai buruk. Kecemasan tersebut menegaskan tanggapan lingkungan terhadap anak yang dikemukakan oleh Gunarsa (2003), yaitu bahwa anak yang berasal dari keluarga bercerai merasakan dirinya tidak aman karena tekanan dan keadaan lingkungan. Anak dipandang berbeda oleh masyarakat dan mengalami diskriminasi sosial dari lingkungannya. Dalam penelitian Jaarsveld (2007), Debord & Firchow menyebutkan bahwa anak usia pertengahan sedang menginginkan menjadi menang, memimpin, dan menjadi yang pertama untuk dihargai. Pada kenyataannya, anak usia sekolah adalah anak yang merasa takut diejek, takut tercela, takut kehilangan miliknya, takut akan penyakit dan takut akan gagal di sekolah.

  Di samping kecemasan terkait kehadiran orangtua, perhatian dan kasih sayang, materi, dan penilaian buruk, beberapa subjek juga mengalami kecemasan terkait relasi dalam keluarga. Dalam artikel Pickar (2007), hal yang menyakitkan jika salah satu atau kedua orangtua mencoba untuk meminta anak di pihak mereka dalam proses perceraian. Dalam hal ini anak mengalami kondisi yang tidak harmonis dalam keluarga. Di sisi lain, subjek mengalami adanya kecemasan akan perlakuan yang tidak baik dari orangtua dan kecemasan akan kekerasan ayah. Sebagai contoh, subjek sembilan mengalami bahwa ayahnya pergi dan tidak bertanggung jawab. Sebelum perceraian berlangsung juga sempat disaksikan oleh anak yang tidak mengetahui duduk persoalannya. Selain itu, orangtua subjek empat juga sering bertengkar di hadapan subjek. Keadaan itu sangat membuat subjek tertekan.

  Dari berbagai kecemasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan-kecemasan yang muncul pada para subjek dapat dikaitkan dengan perubahan situasi dalam keluarga, baik secara kuantitatif, yaitu terkait dengan kehadiran dan secara kualitatif, yaitu terkait dengan perhatian dan kasih sayang, serta relasi dalam keluarga.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Secara umum, anak dari keluarga bercerai memunculkan berbagai

  macam kecemasan. Kecemasan yang relatif banyak muncul adalah kecemasan terkait menghadapi kesulitan, kecemasan terkait kehadiran orangtua, kecemasan terkait perhatian dan kasih sayang, kecemasan terkait materi, dan kecemasan terkait penilaian buruk. Dari berbagai kecemasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecemasan-kecemasan yang muncul pada para subjek dapat dikaitkan dengan perubahan situasi dalam keluarga, baik secara kuantitatif, yaitu terkait dengan kehadiran dan secara kualitatif, yaitu terkait dengan perhatian dan kasih sayang, serta relasi dalam keluarga.

B. Saran

  Dengan mempertimbangkan keterbatasan penelitian di atas, maka dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Bagi peneliti selanjutnya Bagi peneliti selanjutnya, peneliti mengusulkan agar interpretasi dilakukan lebih dari dua orang. Selain itu, pengkategorian kecemasan dalam penelitian ini tidak berdasarkan jenis-jenis kecemasan yang diungkapkan oleh Bellak (1997). Maka dari itu, peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan jenis-jenis kecemasan menurut Bellak dalam melakukan pengkategorian.

  2. Bagi orangtua, khususnya orangtua yang bercerai Kecemasan yang relatif banyak muncul adalah kecemasan terkait dengan kehadiran orangtua dan kualitas hubungan. Dengan demikian diharapkan orangtua yang bercerai tetap memperhatikan atau mempertahankan kehadiran dirinya dalam kehidupan anak dan mempertahankan perhatian dan kasih sayang terhadap anak.

  3. Bagi psikolog dan praktisi anak Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi bagi psikolog atau praktisi anak mengenai ragam kecemasan yang muncul pada anak dari keluarga bercerai, sehingga dapat melakukan penanganan pada anak yang mengalami kecemasan karena perceraian orangtua.

DAFTAR PUSTAKA

  Astuti, Sumarwi. (2009). Kecenderungan anak berperilaku negatif ditinjau dari keharmonisan orangtua. Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial, 29, 93- 114.

  Bellak, L., & Abrams, David M. (1997). The TAT, the CAT, and the SAT in

  clinical use (6 th ed). Boston: Allyn and Bacon.

  Berk, L.E. (2008). Infant and children, (6

  

th

ed). USA: Pearson Education, Inc.

  Bukatko, D. (2008). Child and Adolescent Development: A cronological approach. New York: Houghton Mifflin Company.

  Chaplin, J. P. (2008). Kamus lengkap psikologi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada Daradjat, Zakiah Dr. (1996). Kesehatan mental. Jakarta: Gunung Agung.

  Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, ed 4. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

  Desmita, Dra., M. Si. (2009). Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: Rosda.

  Gunarsa, Singgih D. (2003). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Jakarta: Gunung Mulia.

  Hurlock, Elizabeth B. (1989). Perkembangan anak, Jilid 2 (edisi keenam).

  Jakarta: Erlangga. Jaarsveld, Anna Wilhelmina Van. (2007). Divorce and Children in Middle

  Childhood: Parents’ contribution to minimise the impact. Diakses pada 25

  Oktober 2012 dari http://www.upetd.up.ac.za/thesis/.../etd.../dissertation.pdf Jasinski, F. (2003). The impact of divorce on anxiety in elementary-aged children.

  Diakses pada

  24 Oktober 2012 dari www2.uwstout.edu/content/.../2003jasinskif.pdf

  th

  Kagan, J. and Havemann, E. (1995). Psychology: An introduction (4 ed). New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

  Lazarus, Steven Psy. D. (2003). The Effects of Divorce on Children: How can we

  help. Diakses pada

  10 November 2012 dari http://www.familyresource.com/downloads/slp1.pdf Mash, E., Wolfe D. (1999). Abnormal child psychology. USA: Wadsworth Publishing Company. . Moleong, Lexy J. (2009). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Rosda. Mujahid, A. (2007). Perceraian menurut UU perkawinan. Diakses pada 18

  Oktober 2011 dari http://almanaar.wordpress.com/2007/12/06/perceraian- menurut-uu-perkawinan/ Oktaria, Salma dr. (2011). Health News : Perceraian, solusi terbaikkah?. Diakses pada

  04 Oktober 2011 dari http://www.klikdokter.com/healthnewstopics/read/2011/09/21/554/percera ian--solusi-terbaikah-

  th

  Papalia, Olds, & Feldman. (2009). Human development (10 ed). Jakarta: Salemba Humanika.

  Pickar, Daniel PhD. (2003). Identifying children stress-responses to divorce.

  Diakses pada tanggal

  25 Oktober 2012 dari http://www.danielpickarphd.com/publications/Identifying-Childrens- Stress.pdf

  Poerwandari, Kristi. (2005). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta: LPSP3 UI.

  Prihanto, S. (1993). TAT. Surabaya: Fakultas Psikologi. Rodriquez, H. & Arnold, C. (1998). Children And Divorce: A snapshot. Diakses pada

  10 November 2012 dari http://www.policyarchive.org/handle/10207/bitstreams/17944.pdf Santrock, J.W. (2002). Life-Span Development:Perkembangan masa hidup (edisi kelima). Jakarta: Erlangga.

  Save, M. D. (1990). Psikologi keluarga. Jakarta: Rineka Cipta. __________ (2002). Psikologi keluarga. Jakarta: Cipta Jakarta. (Anggota IKAPI). Semiun, Yustinus OFM. (2006). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius.

  Smith, J. A. (2009). Psikologi Kualitatif: Panduan praktis metode riset.

  Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Tomi, A. (2012). Pemahaman hak asuh anak setelah perceraian terhadap

  perkembangan mental anak. Diakses pada 6 Desember 2012 dari

  https://imadiklus.googlecode.com/files/18%20Agustomi%20Pemahaman %20Hak%20Asuh%20Anak%20Setelah%20Perceraian.pdf

  Utama, A. (2011). Pengertian perceraian. Diakses pada 22 November 2011 dari http://ilmupsikologi.wordpress.com/2011/03/28/pengertian-perceraian/ Wenar, C. and Kerig, P. (2000). Developmental Psychopathology : From infancy

  through adolescence (4 th ed). United States of America : McGraw Hill Inc.

  Yusuf, S. (2004). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Jakarta: Rosda. ________(2010). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Jakarta: Rosda.

  

LAMPIRAN

  Subjek 1

  a. Identitas Subjek Nama : FCS Jenis Kelamin : Laki-laki Tempat, tanggal Lahir : Sleman, 5 November 1999 Usia : 11 tahun Urutan kelahiran : Anak ke-1 dari 2 bersaudara Agama : Islam Tanggal tes : 29 November 2010

  b. Identitas Orangtua Orang Tua

  Keterangan Ayah Ibu Nama NN NN Usia 35 tahun 33 tahun Pendidikan SMA SMP Pekerjaan Wiraswasta Ibu Rumah Tangga Status Pernikahan Cerai Cerai Agama Islam Islam

  c. Latar Belakang Subjek tinggal bersama eyangnya karena rumah eyangnya lebih dekat dengan sekolah. Pada hari sabtu dan minggu subjek pulang ke rumah orangtuanya dan pergi memancing bersama ayah tirinya. Orangtua subjek bercerai pada saat subjek berumur 8 tahun dikarenakan ayah subjek tidak memiliki pekerjaan dan tidak dapat menghidupi keluarga. Menurut subjek ayah tirinya baik dan senang mengajaknya memancing, subjek pernah dibelikan alat pancing dan saking senangnya langsung dipakai untuk memancing. Sedangkan ibunya adalah seorang yang tidak suka marah, baik dan sering mengajaknya berbelanja. Subjek memiliki pandangan bahwa pada adik tirinya. Menurut subjek, eyang adalah seorang yang baik, galak dan suka menasehati. Eyangnya sering marah-marah padanya dan sering mengatai subjek bodoh.

  Di sekolah subjek memiliki beberapa teman dekat. Subjek sangat senang memancing bersama teman-temannya di rumah namun jika mereka sedang sibuk subjek akan pergi memancing sendiri. Subjek adalah seorang yang rajin beribadah, saat sore hari subjek pergi ke masjid untuk belajar membaca Al-Quran atau sering disebut mengaji. Meski pernah memperoleh perlakuan tidak baik dari Ustad, subjek tetap rajin datang untuk mengaji. Pulang mengaji subjek belajar, ketika ada kesulitan memahami mata pelajaran yang sedang dipelajari subjek lebih senang bertanya pada bude yang kebetulan seorang guru dan rumahnya bersebelahan dengan rumah eyangnya. Di rumah subjek sering mengalami “pemalakan” yang dilakukan oleh tetangganya yang dikenal eyangnya sangat nakal. Subjek merasa dirinya kecil dan lemah sehingga terpaksa memenuhi keinginan si “pemalak”. Hal ini membuat eyangnya geram karena subjek jadi suka mencuri uang dari toko eyangnya.

A. LEVEL TEMATIK TIAP KARTU Kartu 1 Cerita:

  

Adik bermain di….ada seorang empat yang adik tiga, yang kakak satu untuk, kalok

adik bertiga…ad…bertiga membawa sendok satu-satu dan membawa mangkok satu-

satu, adik mem…ada tempat makan didapur ada dan meja dan kursi ditempat dapur.

Adik sama kakak sama ibu mau makan dan kakaknya pengen makan untuk makan

adik bertiga sama kakak yang satu mau mikirin makan bersama tidak..tapi tidak jadi

karena mau mikirin makan adik bertiga mau makan, jadi bertiga adik, kakak, ibu dan

kakak yang satu mau mikirin makan bersama trus akhirnya? Adik bertiga sama

kakak yang satu mau mikirin makan bersama.

  Inquiry: masih inget ndak sama gambar ini?ide ceritanya darimana?adik, kakak,kakak lihat adiknya makan, ide ceritanya darimana? Ini adik-adik

  kecil sama kakak mau makan bersama didapur. idenya kamu dapat dari buku

  cerita, denger guru cerita, atau kamu keingetan nonton film apa gitu..karena dari gambar di kertas ini. Maksudnya dari diri sendiri trus kamu certain lagi. Karena tidak dari cerita trus tidak melihat tv. Berarti dari diri sendiri? Iya Asal cerita : pikiran sendiri Tokoh : adik bertiga dan kakak

  Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Adik sama kakak sama Jika ada seorang anak - Kecemasan akan ibu mau makan dan yang ingin makan kekurangan / kakaknya pengen tetapi tidak jadi karena kehilangan materi makan. Kakak yang memikirkan adik- yang dialami satu mau mikirin adiknya. keluarga makan bersama tidak, - Kecemasan akan tapi tidak jadi karena keadaan saudaranya mau mikirin makan adik bertiga.

  Kartu 2 Cerita: Ada anak, simbah (putri), kakeknya sudah dipegang talinya mau tarik tambang dipasir lalu bertarik tambang. Adik dan simbah talinya sedikit ka…kakek talinya panjang untuk memenangkan lomba tarik tambang kakek sama simbah menarik kuat untuk memenangkan lomba di pasir ada penontonnya banyak banget untuk ee…memenangkan lomba jadi adik dan simbah menarik tali yang kencang dan kakek menarik tali yang kenceng untuk untuk memenangkan yang untuk tarik tambang ada yang menang ada yang kalah untuk mempertahankan untuk untuk menang di pasir. Lalu yang menang sapa, yang kalah sapa? Yang menang adik sama simbah yang kalah kakek.

  Inquiry:

  kalo yang ini darimana?dari tidak menonton tv, tidak dari lihat film tapi lihat dari gambar dikertas disini. Tapi disini kan tidak ada tulisananya. Berpikir sendiri, adik sama simbah berlomba tarik tambang.

  Asal cerita : pikiran sendiri Tokoh : eyang dan cucu Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada anak, simbah Jika ada seorang anak Kecemasan akan (putri), kakeknya mau dan neneknya kekalahan dari orang tarik tambang. Untuk berkompetisi dengan lain memenangkan lomba kakeknya, anak dan tarik tambang kakek nenek akhirnya sama simbah menarik menang. kuat. Penontonnya banyak banget. Yang menang adik sama simbah yang kalah kakek.

  Kartu 3 Cerita: A…ada seorang adik sama bapak, yang adik memperhatikan bapak, bapak memperhatikan adik. Adik yang sedang ber..duduk di bawah, bapak sedang duduk di atas. Bapak sambil merokok dan karpet kotor dikotori sama bapak. Adik melihat bapak merokok dan bapak melihat adik diam, bapak mau berdiri memegang tongkat untuk berdiri untuk jalan karena matanya sakit. Adik sama bapak, adik memperhatikan bapak, bapak memperhatikan adik. Kenapa adik memperhatikan

bapak dan bapak memperhatikan adik? Karena bapak merokok di tempat duduk.

  Inquiry:

  kalo yang ini darimana?adik sama bapak, adik memperhatikan bapak, bapak memperhatikan adik. Iya tadi ceritanya seperti itu lalu ceritanya darimana dari diri sendiri atau….diri sendiri

  Asal cerita : pikiran sendiri Tokoh : bapak dan anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada seorang adik Jika ada seorang anak Kecemasan jika dinilai memperhatikan bapak, memandang ayahnya buruk oleh orang lain bapak memperhatikan yang sedang melakukan adik. Adik sedang sesuatu dan melakukan duduk di bawah, bapak kesalahan. sedang duduk di atas.

  Bapak sambil merokok dan karpet kotor dikotori sama bapak. Adik melihat bapak merokok dan bapak melihat adik diam, bapak mau berdiri memegang tongkat untuk berdiri untuk jalan karena matanya sakit.

  Kartu 4 (tidak relevan) Kartu 5 Cerita: Ada seorang…ada tempat tidur ada ruang tidur di kamar ada yang tempat tidunya lebih besar ada tempat tidur yang kecil, ada korden, jendela, pintu sama lampu. Adik sama kakak tidur ditempat yang lebih kecil, bapak dan ibu bertempat lebih besar. Untuk bapak sama ibu tidur ditempat yang lebih besar dan kakak sama..kakak sama adik tidur yang lebih kecil karena bapak sama ibu yang lebih besar dan ibu sama, adik sama kakak tidur yang lebih sempit. Yang dipikirkan kakak sama adik? Tidur bersama-sama ditempat yang lebih besar. Kakak sama adik pengen tidur ditempat yang lebih besar. Iya biar bersama-sama tidurnya sama siapa?bapak, ibu, kakak, adik.trus perasaannya gimana? Kakak sama adik mau Tanya sama ibu tapi ibu ndak ada. Emang ibu kemana? Pergi.

  Inquiry:

  kalo ini?kamu kan cerita kalo adik kakak ini ingin tidur dengan orangtuanya, ide ceritanya darimana?mikir sendiri, dari ide di kertas yang tidak ada tulisannya.

  Ada seorang tidur di kamar yang tempat tidurnya lebih besar dan ada tempat tidur yang kecil. Adik sama kakak tidur ditempat yang lebih kecil, bapak dan ibu di tempat lebih besar. Biar bapak, ibu, kakak, adik. bersama- sama tidurnya. Kakak sama adik mau tanya sama ibu tapi ibu ndak ada. Ibunya pergi.

  Tokoh : kakak dan adik Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Jika ada seorang anak yang ingin bersama orang tua, akhirnya tidak bisa karena ibu tidak ada.

  • Kecemasan ditinggalkan
  • Kecemasan kesendirian

  Kartu 6 Cerita: Ada pohon, trus sama pohon sama tanaman, ada seorang adik, bapak sama ibu. Adik dan ibu dan bapak, ibu dan bapak tidur ditempat pinggir jalan dan adik bermain daun di dimana? di jalan kan ada daun-daun yang kecil-kecil. mereka dijalan ngapain? kalok bapak sama ibu tidur dan adik membersihkan rumput dijalan. Kok tidurnya dijalan? karena ndak punya rumah. trus yang dipikirkan adik, bapak sama ibu? ingin punya rumah. lalu adik itu sapa, sapanya bapak sama ibu? adiknya ibu sama bapak.maksudnya anaknya?iya. trus akhir ceritanya gimana? Bapak, ibu sama adik ingin punya rumah trus akhirnya mereka punya rumah tidak? Tidak. kenapa mereka ndak punya rumah? karena ndak punya uang.

  Inquiry:

  tadi kamu cerita kalo bapak,ibu dan adik tidur dijalan, ide ceritanya kamu dapat dari mana? Mikir sendiri

  Asal cerita : pikiran sendiri

  : orangtua dan anak

  Tokoh Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Adik, ibu dan bapak. Jika ada seorang anak - Kecemasan akan Ibu dan bapak tidur di dan orangtuanya tidak kekurangan / pinggir jalan dan adik memiliki tempat tinggal kehilangan materi bermain daun di jalan. karena tidak punya yang dialami Adik membersihkan uang. keluarga rumput dijalan karena Kecemasan - akan ndak punya rumah. ketidakberdayaan Bapak, ibu sama adik ingin punya rumah tetapi tidak punya uang.

  Kartu 7 Cerita: Ada seorang dua yang kecil ada yang besar ada pepohonan, yang besar baru memasak yang kecil ngganggu yang besar. Lalu ada anak kecil yang me…me…lari karena dikejar sama yang be…besar untuk menyelamatkan diri yang anak kecil lari kencang yang..dan yang besar mau menangkap adiknya tapi adiknya lari kencang dijalan langsung adik..adik berlari kencang yang lebih besar memasak air hangat yang besar ini kenapa ngejar yang kecil?karena yang kecil ganggu yang besar.ooh…kenapa dia ganggu?karena mau ngganggu yang masak ooh…jadi dia jahil?iya.trus yang besar itu siapanya yang kecil?yang besar raksasa yang kecil orang lain.akhir ceritany gimana?yang kecil lari yang besar mau menangkap yang kecil masak.maksudnya apa dia takut, atau gemetar, atau malah senang? malah takut yang kecil.

  Inquiry:

  kamu dapat ide ceritanya darimana?mikir sendiri

  Asal cerita : pikiran sendiri Tokoh : anak yang kecil Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada seorang yang Jika ada seorang anak Kecemasan akan kecil ada yang besar. akan disakiti orang lain bahaya Yang besar baru akhirnya anak lari memasak yang kecil karena takut. ngganggu yang besar. Lalu ada anak kecil yang lari karena dikejar sama yang besar. Yang besar mau menangkap adik tapi adiknya lari kencang dijalan untuk menyelamatkan diri. Yang lebih besar memasak air hangat. Yang kecil takut.

  Kartu 8 Cerita: Ada seorang empat yang kecil adiknya ibunya ini, ini ibunya satu dikorsi dan ada dua putri berceri…bercerita tentang ini….ada kursi, tikar dan ada poto diatas.ibu menyuruh adiknya mengambil minum satu lagi, ibu nyuruh adik ke dapur langsung ibu berbalik kesini dan ibu Tanya,”ada cerita apa ya bu?” ibu bertanya, ”ndak ada apa-apa ya.” lalu ibu berteriak-teriak, ”adik, cepat minumnya ibu sudah tidak tahan lagi” berbalik lagi, ibunya berdua diam aja dan ada foto diatas. Ibu berdua ini siapa? tetangga. trus yang dirasaain apa, adiknya, ibunya, tamunya?ini tamunya bercerita sama ini ibunya nyuruh ngambil minum adiknya untuk ibu.trus akhir ceritanya gimana?tamunya bercerita dan ibu menyuruh adik membuatkan minum.

  Inquiry:

  kalo yang ini?ide ceritanya darimana?mikir sendiri tapi ibu menyuruh adik ambil minum untuk tamu,tamu berbisik-bisik,”ibunya jahat”

  Asal cerita : pikiran sendiri Tokoh : ibu Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada empat orang yang Jika ada seorang ibu Kecemasan akan kecil adiknya, ibunya yang menyuruh anak penolakan satu di kursi dan ada dan anak menaati. dua putri bercerita. Ibu menyuruh adik mengambil minum satu lagi, ibu nyuruh adik ke dapur. Lalu ibu berteriak-teriak kepada adik, disuruh cepat minumannya karena ibu sudah tidak tahan lagi. Tamunya bercerita dan ibu menyuruh adik membuatkan minum.

  Kartu 9 Cerita: Ada seorang di ruang tidur di dalam ada pintu yang terbuka ada adik di dalam adik mau turu (tidur) tapi pintunya terbuka. Ada jendela, ada kaca, ada korden, ada tempat tidur, ada karpet. Adik tidur di atas untuk tidur yang nyenyak tapi pintunya terbuka, adik memanggil-manggil ibu tetapi tidak bisa karena adik sakit kaki, lalu adik memanggil ibu suruh menutup pintunya, adik lalu sama ibu, “makasih ya,bu.” Ibu lalu tanya,”ya” untuk menutup pintunya adik, ibu menutup pintu untuk adik biar tidak diganggu di tidurnya, tempat tidurnya adik. Yang ganggu tu siapa?yang ganggu pintunya. Ooooh…pintunya terbuka trus merasa terganggu? Iya.

  Inquiry:

  tadikan kamu cerita, adik ndak bisa tidur karena pintunya terbuka, ide ceritanya darimana?mikir sendiri sama puny aide untuk menjelaskan adik mau tidur tapi terganggu pintu terbuka.

  Asal cerita : pikiran sendiri Tokoh : adik Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada adik di dalam Jika ada seorang anak - Kecemasan akan ruang tidur mau tidur yang meminta bantuan bahaya tapi pintunya terbuka. ibu untuk melakukan - Kecemasan akan Adik memanggil- sesuatu agar tidak orangtua yang tidak manggil ibu tetapi terganggu. bisa membantu / tidak bisa karena adik memenuhi keperluan sakit kaki, adik anak memanggil ibu suruh menutup pintunya.

  Adik lalu berterima kasih sama ibu. Lalu ibu menutup pintunya adik, biar tidak mengganggu tidurnya.

  Kartu 10 (tidak relevan)

  Subjek 2

  a. Identitas Subjek Nama : NL Jenis Kelamin : Perempuan Tempat & Tanggal lahir : Yogyakarta, 3 Desember 2000 Usia : 10 tahun Urutan kelahiran : Anak ke 2 dari 2 bersaudara Agama : Katolik Tanggal tes : 25 November 2010

  b. Identitas Orangtua Orang Tua

  Keterangan Ayah Ibu

  Nama NN NN Usia 50 tahun 48 tahun Pendidikan SMA D3 Pekerjaan Swasta Ibu Rumah Tangga Status Pernikahan Cerai Cerai Agama Islam Katolik

c. Latar Belakang

  Subjek adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakak laki-lakinya berada di atasnya 2,5 tahun. Relasi di dalam keluarga subjek kurang harmonis karena ayah dan ibu subjek telah berpisah beberapa tahun yang lalu. Setelah perpisahan itu, ayah subjek sama sekali tidak pernah menemui subjek lagi. Hal ini membuat subjek benar-benar tergantung pada figur ibunya. Meskipun demikian, subjek mengungkapkan bahwa dirinya merindukan kehadiran ayahnya. Hubungan dengan kakak kandungnya sering diwarnai pertengkaran karena perbedaan pendapat, saling mengejek, berebut barang atau makanan, saling memukul dan lain-lain. Pertengkaran ini akan berakhir bila salah satunya menangis dan dilerai oleh ibunya.

  Subjek memandang dirinya sebagai orang yang komunikatif, riang, senang bergaul dan suka menolong teman. Di dalam keluarga maupun di dalam pergaulan sehari-hari, subjek sering menjadi narasumber dalam berbagai topik pembicaraan. Pada hari-hari tertentu, subjek juga sering pergi menghabiskan waktu bersama teman-temannya dengan bermain bersama, menonton film, atau makan bersama. Subjek dikenal oleh teman-teman dan orang-orang terdekatnya sebagai pribadi yang komunikatif, setia kawan, dan dapat bekerja dalam kelompok. Hal ini terlihat pada saat subjek terlibat dalam pembicaraan dengan teman-teman atau di dalam keluarga, subjek akan banyak bicara dan mengeluarkan pendapatnya. Apabila subjek telah mengalami kecocokan dalam berteman, maka pertemanan itu akan bertahan lama.

  Subjek termasuk orang yang suka bergaul dengan teman-teman sebayanya, Subjek juga merasa nyaman dengan kebersamaan dengan teman- temannya. Subjek juga tidak mengalami berkenalan dengan orang yang baru karena subjek termasuk orang yang komunikatif sehingga mampu memulai pembicaraan dengan orang yang baru. Oleh karena itu, subjek tidak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain maupun dalam hal penyesuaian diri. Subjek juga tetap menjaga hubungan baik dengan teman- temannya melalui telpon, SMS ataupun internet. Subjek menikmati pergaulannya, baik dengan teman-teman perempuannya maupun dengan teman laki-lakinya.

A. LEVEL TEMATIK TIAP KARTU Kartu 1 Cerita : Ini Mbak Putri punya gambar yang pertama. Bisa diceritain. Jadi, suatu hari ada.

  Pada suatu hari ada sebuah keluarga yang. Eee… Bahagia, rukun. Mereka itu tidak pernah bertengkar. Pada suatu hari, mereka pun mengikuti undian. Dan mereka itu masukkan lagi ke kotak yang mereka, kotak itu yang tadi mereka ambil untuk ada di… Ada.. Keesokan paginya mereka mendapat undangan. Mereka menang undian. Mereka mendapat uang yang sangat banyak. Mereka pun senang. Mereka pindah rumah dari desa ke kota. Nah, orang itu, orang tuanya mereka itu tidak lagi menjadi tukang becak dan ibu rumah tangga. Mereka pun mempunyai pekerjaan. Pekerjaan yang pertama yaitu ayahnya. Ayahnya bekerja di sebuah kantor yang sangat terkenal pada saat itu. Dan yang kedua ibunya. Ibunya bekerja di sebuah salon yang memang hanya untuk artis. Mereka pun tidak pernah bersama-sama lagi. Hidupnya hanya ada pertengkaran, pertengkaran, dan pertengkaran. Mereka pun sudah tidak bisa makan bersama, ke gereja bersama. Pada suatu hari, anak yang pertama, dia, yaitu Doni. Doni pun memikirkan, “ Kapan kita bisa gereja bersama, makan bersama?”. Pada suatu hari, ayah dan ibunya pun tidak pulang terlalu malam. Doni pun mengajak, “Ayah, ibu, ayo kita makan bersama.” Ibu itu pun berbicara,”Tapi kita tidak mempunyai apa-apa.” “Ya sudah, kita ke rumah makan saja Bu.“ Ayah itu berbicara, “Baiklah.” “Iya Bu”, begitu juga kata Doni. Pada akhirnya, mereka pun makan ke rumah makan. Pada akhirnya mereka pun pulang dengan perut yang kenyang dan hati yang senang karena mereka bisa makan bersama seperti dulu lagi. Ok… Eee… Ini, Doni yang mana ya? Ini. Terus, ini siapa ya? Nita. Ini adek apa kakak? Ini anak kedua. Anak kedua. Terus, ini? Itu anak terakhir. Namanya? Namanya Billy. Billy. Ok. Laras lihat gak ini ada gambar ini? Ada. Bisa diceritain gak itu siapa? Itu

ceritanya tuh. Eee… Ayahnya yang senang melihat mereka bisa bersama kembali.

  Inquiry :

  Sekarang kita ulang lagi dari gambar yang pertama. Laras masih inget kan ceritanya? Ini kalau kartu yang pertama, Laras dapat idenya darimana sih? Itu aku tuh pernah. Jadi, aku tuh punya teman. Dia itu selalu. Dulu dia tuh emang ya kaya ya, tapi selalu dimanja. Setelah besar, orang tuanya mulai kerja. Dia pun tidak pernah merasakan kebahagiaan yang dulu lagi.

  Sumber : Pengalaman orang lain Tokoh : Doni (Anak laki-laki) Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada sebuah keluarga Jika ada sebuah keluarga Kecemasan akan - yang bahagia dan yang semula bahagia dan keterpisahan rukun. Mereka pindah rukun lalu tidak pernah Kecemasan akan - rumah dari desa ke bersama-sama lagi, dan kehilangan kota. Mereka tidak anak menginginkan perhatian dari pernah bersama-sama keluarga dapat orangtua lagi. Hidupnya hanya melakukan kegiatan ada pertengkaran. bersama lagi, pada Doni pun memikirkan akhirnya keluarga dapat kapan bisa gereja bersama lagi. bersama dan makan bersama. Pada akhirnya mereka pun bisa makan bersama seperti dulu lagi.

  Kartu 2 (tidak relevan) Kartu 3 Cerita : Kita ke gambar yang ke? Tiga. Ya, ini coba diceritain. Gambar yang ketiga ada seorang yang kaya raya bernama Pak Willy. Dan dia pun memiliki anak yang bernama Liam. Pada suatu ketika, Pak Willy itu pun sedang berpikir bagaimana untuk kelanjutan hidup anak kita yang masih kecil padahal Pak Willy dan istrinya itu sudah tua sekali. Kira-kira umurnya sudah 59 tahun. Sedangkan anaknya baru berumur 8 tahun. Mereka pun bingung. Bagaimana jika kita telah meninggal. Anak kita siapa yang mengurusnya. Bu Willy pun berbicara seperti Pak Willy berbicara, “Tidak usah takut karena kita pasti diberi umur panjang oleh Tuhan Yesus Kristus. Anak kita pun bisa kita hidupi sampai dia menikah.” “Tapi mana mungkin?” Bu Willy pun berbicara,”Apa yang tidak bisa bagi Tuhan?” Pak Willy pun berbicara,”Kita tidak perlu takut karena kita akan diberi umur panjang dan kekuatan untuk merawat anak kita yang masih kecil ini. Kenapa kita takut? Karena. Mengapa kita tidak boleh takut?” Bu Willy itu pun berkata,”Mengapa kita harus takut karena kita pun bisa merawat anak itu karena aku yakin, umurku akan panjang sekali sampai tak terhingga. Anak kita pun bisa mempunyai cucu bagi kita dan mempunyai cicit bagi kita. Eee. Pada akhir ceritanya Pak Willy dan Bu Willy mempunyai umur yang sangat panjang. Umurnya 123 tahun. Anak itu pun sudah mempunyai banyak sekali keturunan. Pak Willy pun berkata,”Bu, apa yang kubilang? Benar kan? Anak kita akan mempunyai umur yang panjang dan keturunan yang banyak. Nah, itu perasaannya gimana? Perasaan Pak Willy pun senang karena dia memiliki keturunan yang banyak dan yakin. Selesai? Lanjut ya… Inquiry :

  Kalau yang ini darimana? Aku ngarang sendiri. Ngarang sendiri? Nggak dapat ide darimana gitu? Sama sekali enggak? Nggak terinspirasi, “Oh, ya dulu aku pernah nih, atau gimana gitu? Nggak? Benar-benar ngarang sendiri? He-eh. Oke.

  Sumber : Imajinasi

  : Pak Willy

  Tokoh Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada seorang yang Jika ada seorang bapak Kecemasan akan - kaya raya bernama khawatir tidak dapat keterpisahan Pak Willy. Dia - mengurus anaknya Kecemasan tidak memiliki anak karena usianya sudah ada yang merawat / bernama Liam. Pada tua, akhirnya dia bisa menjaga suatu ketika, Pak Willy itu berpikir bagaimana untuk kelanjutan hidup anaknya yang masih kecil padahal Pak Willy dan istrinya itu sudah tua sekali. Pada akhirnya Pak Willy dan Bu Willy mempunyai umur yang sangat panjang.

  Perasaan Pak Willy pun senang karena dia memiliki keturunan yang banyak. merawat anaknya.

  Kartu 4 Cerita : Gambar selanjutnya yang keberapa? Empat. Empat. Gambarnya ada seorang ibu-ibu yang menggendong anak dan anaknya yang bersepeda. Suatu hari, hari pun mulai petang. Ibu itu pun ada acara arisan yang rumahnya sangat jauh tapi suaminya pun belum datang jua. Dia terpaksa membawa anak-anaknya untuk pergi arisan. Dia pun tidak mempunyai babysitter karena dia yakin dia bisa merawat anaknya sendiri sampai besok besar. Ibu itu pun kebingungan karena hari sudah petang, cuacanya buruk. Dia pun berusaha bagaimana caranya agar aku bisa merawat, melakukan aktivitasku seperti biasanya dan menjaga anakku. Ibu itu pun kebingungan. Akhirnya, ibu itu menelpon,”Yah, kapan kamu pulang?” “Aku sebentar lagi pulang.” “Ya sudah, aku hanya bisa bilang kalau aku membawa anak-anak kita pergi ke arisan di rumah Ibu Ratna. Ayah itu pun bilang,”Tidak apa-apa asal kalau anak kita tidak nakal saat kau melakukan arisan.” Ibu itu pun menjadi repot karena membawa barang yang banyak sekali tidak seperti biasanya. Anak yang pertama pun dia juga nakal karena dia hampir jatuh karena naik sepedanya ngebut. Ibu itu pun berbicara dengan teriak-teriak, “Rafi, kenapa kamu naik sepedanya terlalu cepat? Ibu ini sulit menjaga adikmu dan kamu. Mendingan kamu pelan-pelan saja.” “Aku tidak mau Bu karena nanti aku telat datang, ketemu teman-temanku.” “Ya sudah, kalau nanti kamu jatuh, ibu tidak mau mengurusimu.” Terus ya sudah anak itu tetap bersepeda dengan cepat dan akhirnya jatuh terluka parah. Ibu itu pun menjadi bertambah repot karena anak itu sangat ngeyel dikasih taunya. Akhirnya, mereka ke UGD. Anak itu pun harus dioperasi, dijahit pada lengannya dan kakinya. Pada akhirnya, Rafi anak yang bandel itu pun menjadi kapok karena dia sudah merasakan bagaimana sakit karena jatuh dari sepeda itu dan harus dijahit pada lengan dan kakinya. Perasaan Rafi pun menjadi aku tidak mau menjadi anak yang nakal. Udah.

  Inquiry : Kalau yang ini? Itu aku dapat cerita dari temanku. Cerita dari teman.

  Sumber : Pengalaman orang lain Tokoh : Seorang ibu Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Seorang ibu Jika ada seorang ibu - Kecemasan menggendong anak dan membawa anak- ditinggalkan anaknya yang satunya anaknya untuk - Kecemasan akan lagi bersepeda. Ibu itu mengikuti aktivitasnya, penolakan ada acara arisan yang salah satu anaknya - Kecemasan tidak rumahnya sangat jauh nakal dan mengalami ada yang merawat tapi suaminya belum kecelakaan, akhirnya atau menjaga datang. Dia terpaksa anak itu menyesal. membawa anak- anaknya. Dia pun berusaha bagaimana caranya agar aku bisa merawat, melakukan aktivitasku seperti biasanya dan menjaga anakku. Anak yang pertama nakal, dia hampir jatuh karena naik sepedanya ngebut. Anak itu akhirnya jatuh terluka parah. Pada akhirnya, Rafi menjadi kapok karena dia sudah merasakan bagaimana sakit karena jatuh.

  Kartu 5 Cerita : Terus kita ke gambar yang ke? Lima. Lima. Gambar yang kelima ini. Coba, gimana ceritanya. Di suatu rumah ada sebuah keluarga kecil yang bahagia. Mereka mempunyai dua anak laki-laki semuanya. Dan ayah ibunya itu pun terpaksa harus meninggalkan anak-anaknya karena ada urusan yang sangat penting dan tidak bisa membawa anaknya. Akhirnya, anak itu pun ditinggal. Dengan perasaan yang takut ditinggal kedua orangtuanya pergi, tetapi apa boleh buat. Pada suatu ketika ada sebuah perampok yang ingin merampok isi semua, semua isi rumahnya. Anak itu pun menangis dengan keras.,”Papa, mama, aku takut.” Nah, mereka pun bersembunyi tapi karena sudah terlambat, mereka pun tertangkap oleh perampok itu. Mereka, perampok itu menyekap kedua anak itu di suatu gudang yang sangat gelap dan kotor, banyak tikusnya dan kecoaknya. Mereka pun disuruh menelpon orang tuanya untuk meminta tebusan. Sebelum itu, orang tua itu pun bingung, kemana anak kita. Apakah bermain? Jika bermain, masa sampai larut malam seperti ini. “Sudahlah, tidak usah bingung”, ayah dari kedua anak itu pun berbicara. Tapi, mereka bermain kemana? Anak-anak di perumahan sini pun sudah mulai tidur dan tidak ada yang bermain kembali. Eee… Oiya, bagaimana kalau kita mencari kedua anak itu. Ya sudah, kita cari. Kita naik mobil saja karena sudah malam. Mereka pun mencari. Anak itu pun menelpon sambil menangis,”Ayah,ibu, kenapa kalian tidak menjemputku di gudang yang gelap dan kotor banyak tikusnya ini?” “Kalian kenapa bisa sampai disitu?” “Kami disekap oleh lima perampok yaitu perampoknya itu kotor, terus hitam, menggunakan baju lengan panjang dan celana panjang.” Perampok itu pun bilang,”Ya, memang kami yang menangkap anak-anak kalian. Sekarang saya ingin kalian ke markas kita, gudang bekas PT KEBERANIAN di Jalan Bangau nomor 22.” Orang tua mereka pun mulai membawa uang mereka yang sangat banyak. Ternyata, uang mereka belum cukup untuk membayar tebusan itu. Mereka pun tidak boleh mengambil anaknya. Setelah mereka, uang mereka. Jam 12 malam pun mereka mengambil uang lagi ke rumah lagi baru dari rumah lagi mereka ke PT KEBERANIAN. Mereka pun cepat-cepat kesana. Akhirnya mereka membawa 100juta untuk membayar. Akhirnya anak itu bisa dibawa kembali bersama keluarga itu. Udah? Inquiry :

  Kalau yang ini? Itu baca buku. Bukunya apa? Itu judulnya menonton TV, tapi kalau ini aku ganti jadinya di kamar sendiri. Ooo... Buku ya? Jadi kalau yang menonton TV dia itu ga mau disuruh ngapa-ngapa. Kalau yang ini anaknya masih kecil-kecil belum bisa ngapa-ngapa.

  Sumber : Membaca buku berjudul “Menonton TV”

  : Anak-anak

  Tokoh Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Di suatu rumah ada Jika ada seorang anak - Kecemasan akan sebuah keluarga kecil ditinggal orangtuanya ditinggalkan yang bahagia. Ayah dan mengalami hal - Kecemasan akan ibunya terpaksa harus buruk, pada akhirnya bahaya meninggalkan anak- anak dapat selamat. - Kecemasan akan anaknya. Pada suatu ketidakberdayaan ketika ada perampok yang ingin merampok semua isi rumahnya. Anak itu pun menangis dengan keras kalau dia takut. Perampok itu menyekap kedua anak itu di gudang. Mereka pun disuruh menelpon orang tuanya untuk meminta tebusan. Orang tua mereka pun mulai membawa uang mereka yang sangat banyak. Akhirnya anak itu bisa dibawa kembali bersama keluarga itu.

  Kartu 6 Cerita : Gambar selanjutnya ya. Gambar keberapa? Enam. Keenam. Ini. Coba, ceritain. Itu gambar anak-anak kemah. Pada suatu hari, hari Jumat tepatnya, anak-anak kemah. Tepatnya anak kelas 6 diberi pengumuman seperti ini : Anak-anak, besok minggu kalian akan kemah sampai hari Rabu. Kalian kemah di Sumber Boyong, tempatnya di Pakem. Kalian pun harus mengikuti tanpa dipungut biaya. Kalian hanya cukup membawa alat mandi, pramuka, kalian minimal membawa dua, pakaian bebas terserah membawa berapa, alat masak, kompor, ember, gayung dan peralatan yang lain. Yang penting kalian harus membawa tenda. Tapi, kalau kalian tidak mempunyai, kalian boleh meminjam sekolah. Anak-anak itu pun berteriak senang sekali karena baru pertama kali mereka kemah. Setelah pulang, mereka pun tanpa dipungut biaya. Alat yang harus dibawa ini: tiap-tiap anak membawa 5 peralatan yang sudah dibagi dengan kelompoknya. Satu anak itu ada yang membawa ember, gayung, kompor dan tenda. Anak itu pun berteriak pada ibunya,”Ibu, mana pancinya, Ibu, mana embernya?” . Sampai ibunya itu pun marah,”Kenapa kamu teriak-teriak, kenapa tidak menghampiri Ibu saja? Ibu ada di kamar. Kamu kan bisa kesini.” “Tapi aku tuh besok Minggu sudah harus kemah dan peralatan yang aku siapkan belum semuanya terpenuhi, jadi aku harus membawa makanan, baju yang banyak, baju pramuka, tongkat, dan lainnya.” Ibu itu pun marah,”Kenapa kalian ini tidak bisa diberitahu ibu, ibu bilang tidak usah teriak-teriak, yang biasa saja.” Akhirnya anak itu pun bilang,”Maaf Bu karena aku tadi sudah membentak-bentak Ibu.” Akhirnya, anak itu pun menyiapkan sendiri dengan mandiri. Akhirnya, mereka kemah dengan bahagia dan pulang dengan senang dan menceritakan pengalamannya di depan kelas. Perasaan mereka pun bahagia sekali karena bisa belajar mandiri, memasak sendiri, mencuci baju sendiri, dan lainnya. Coba, ini diceritain. Siapa aja sih yang disini. Ini tuh ada yang kita ketahui baru satu kelompok. Satu kelompok ini ada tujuh anak yang bernama, yang pertama, Nicholas, Niko, Daniel, Bagas, terus Edi, Ananta dan yang satu lagi Yohan. Yang ini siapa? Yang kita lihat ada tiga anak, Ananta, Yohan dan Daniel. Oke. Jadi mereka satu kelompok gitu ya? Selesai? Udah.

  Inquiry : Kalau yang ini darimana? Ini denger cerita dari kakaknya temanku.

  Sumber : Pengalaman orang lain Tokoh : Seorang anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Pada suatu hari, hari Jika ada anak meminta - Kecemasan akan Jumat tepatnya, anak- bantuan kepada orangtua yang anak kemah. Satu orangtuanya dan orang tidak bisa anak itu ada yang tuanya marah, akhirnya membantu / membawa ember, anak meminta maaf. memenuhi gayung, kompor dan keperluan anak tenda. Anak itu pun - Kecemasan akan berteriak pada ibunya penolakan untuk minta tolong mengambilkan panci dan ember. Ibunya itu pun marah karena ibu bilang tidak usah teriak-teriak. Akhirnya anak itu pun meminta maaf karena sudah membentak- bentak Ibu. Anak itu pun menyiapkan sendiri dengan mandiri. Perasaan mereka pun bahagia sekali karena bisa belajar mandiri.

  Kartu 7 Cerita : Istirahat dulu? Lanjut aja. Capek? Ini gambar yang ketujuh. Itu ada gambar raksasa yang ingin menangkap. Ceritanya timun mas. Pada suatu hari, ada seorang nenek tua yang walaupun umurnya sudah tua sekali, dia sudah bertahun-tahun menikah dengan suaminya belum mempunyai anak jua. Akhirnya mereka pun berdoa kepada Tuhan,”Ya Tuhan, aku hanya meminta satu permintaan, yaitu beri aku karunia berupa anak.” Pada waktu itu mereka berada di sebuah gua, sebuah raksasa yang mendengar. Raksasa itu berkata,”Hai ibu tua, aku akan memberi biji-bijian ini padamu, tanamlah dan nanti jika buah anak itu sudah berumur 17 tahun kau berikan kepadaku. Lalu, ibu tua itu pun berkata, “Iya raksasa, jika sudah berumur 17 tahun, aku akan berikan padamu.” Raksasa itu pun berkata,”Tapi kamu tidak boleh janji ini.” Tujuh belas tahun kemudian, eh, sebelum 17 tahun itu, ibu itu menanam buah tanaman ketimun dan berbuah ketimun yang sangat besar. Ibu itu pun membelahnya. Setelah membelahnya, ibu itu pun mendapat anak perempuan yang dia beri nama timun mas. Setelah 17 tahun kemudian, raksasa itu pun menagih janjinya,”Ibu tua, mana anak yang aku berikan kepadamu?” “Anak itu sedang bermain di hutan bersama teman-temannya.” Raksasa itu mencarinya sampai ketemu. Setelah itu, anak itu bermain di sawah. Anak itu pun dikejar-kejar terus oleh raksasa buto ijo itu. Anak itu pun lalu berlari. Di tengah perjalanan dia ketemu seorang kakek-kakek tua yang berambut putih dan berjenggot putih. “Anak muda, bawalah ini. Ini senjata untuk kamu menghadapi raksasa itu. Yang pertama adalah terasi, yang kedua garam dan yang ketiga pun biji-bijian mentimun.” Anak itu pun berterima kasih lalu kakek tua itu pun ilang. Dia terus berlari. Lalu di tengah perjalanan, dia hampir tertangkap. Dia pun mengeluarkan terasinya. Buto ijo itupun terjebak di dalam Lumpur yang sangat panas dan menghisap. Dia terus berlari sambil menengok ke belakang. Lalu, raksasa itu pun terus mengejarnya. Eee… Setelah dia lalu membuang senjata yang ketiga, eh, yang kedua, biji-bijian ketimun, ada tanaman yang mengikat dia, tetapi raksasa itu berhasil melepaskan dirinya dari tumbuhan itu. Dan yang ketiga, dia sangat terdesak mengeluarkan itu karena raksasa masih mengejarnya. Dia mengeluarkan yang ketiga, garam. Garam ini adalah senjata yang terakhir. Raksasa itu pun tenggelam ke laut yang sangat dalam dan tidak muncul lagi. Dan timun mas itu pun terus berlari sampai ke rumahnya. Dan akhirnya mereka pun bersama kembali. Perasaan timun mas, dia sangat takut karena dikejar-kejar oleh buto ijo yang sangat besar dan mengerikan itu. Terus, yang dipikirin itu apa kira- kira? Timun mas itu tidak ingin bermain di sawah sendirian. Sudah.

  Inquiry :

  Kalau yang ini? Ini dongeng. Cerita dongeng ya? He-eh. Dongeng Timun Mas.

  Sumber : Cerita dongeng Tokoh : Timun Mas

  Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Pada suatu hari, ada Jika ada seorang anak - Kecemasan akan seorang nenek tua yang dikejar raksasa, bahaya umurnya sudah tua akhirnya anak itu - Kecemasan tidak sekali, dia belum selamat setelah mendapat bantuan mempunyai anak jua. mendapat pertolongan dari orang lain Setelah membelah dari orang lain yang ketimun, ibu itu ditemuinya. mendapat anak perempuan yang dia beri nama timun mas. Setelah 17 tahun, raksasa itu pun menagih janjinya. Raksasa itu mencarinya sampai ketemu. Raksasa itu pun tenggelam ke laut yang sangat dalam dan tidak muncul lagi setelah dilempar senjata terakhir. Perasaan timun mas sangat takut karena dikejar oleh buto ijo yang sangat besar dan mengerikan itu.

  Kartu 8 Cerita : Selanjutnya ya. Kartu yang ke? Delapan. Nih gambar yang kedelapan. Ceritanya apa ya? Di sebuah pesta yang sangat megah ada sebuah keluarga yang mengadakan pesta karena anaknya ulang tahun yang kesebelas. Mereka pun senang karena anaknya telah bertumbuh besar. Tidak lagi seperti dulu, anak yang manja, cengeng. Mereka pun mengadakan pesta besar-besaran. Orang-orang yang diundang pun hanya orang- orang yang kaya sekali. Pada saat itu pun mereka yang datang hanya lima keluarga. Mereka pun sedih, mengapa yang datang hanya lima keluarga. Padahal kita mengundang 110 keluarga. Anak itu pun marah-marah, “Ibu, kenapa hanya sedikit sekali yang datang ke pestaku? Aku tidak ingin merayakan pesta lagi. Walaupun merayakan pesta, aku hanya ingin merayakan pesta kecil-kecilan, tidak besar- besaran.” Akhirnya orang tua itu pun kecewa karena mereka sudah mengeluarkan uang yang banyak dan yang datang ke pesta itu hanya sedikit sekali. Anak itu pun menangis terus di kamarnya. Orang tua itu pun mengetuk-ngetuk,”Adek, ayolah keluar dan makan bersama.” Anak itu pun berteriak,”Tidak, aku tidak mau karena aku tidak mau merayakan ulang tahun besar-besaran dan yang diundang hanya orang-orang kaya. Kalau misalnya aku mengadakan pesta, semua keluarga yang ada di dusun kita diundang. Akhirnya di umur yang kedua belas, semua keluarga yang di dusun Kedungrejo diundang dan pestanya itu sangat meriah walaupun hanya sederhana. Perasaan keluarga yang diundang di dusun Kedungrejo adalah senang karena mereka sangat dihargai. Udah. Ini ceritanya siapa yang disini? Ini ibunya si anak yang ulang tahun. Ini anak yang ulang tahun, ini tamunya.

  Inquiry :

  Kalau yang ini? Itu ya, kan pernah ikut pesta, terus aku bikin cerita aja. Jadi, dari pengalaman pesta terus Laras buat sendiri? Iya.

  Sumber : Pengalaman pribadi Tokoh : Seorang anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Di sebuah pesta yang Jika ada seorang anak Kecemasan akan sangat megah ada mengadakan acara kesepian sebuah keluarga yang tetapi tidak sesuai mengadakan pesta dengan harapan, karena anaknya ulang akhirnya mengadakan tahun yang kesebelas. Pada saat itu yang datang hanya lima keluarga. Mereka pun sedih, mengapa yang datang hanya lima keluarga. Akhirnya di umur yang kedua belas, semua keluarga yang di dusun Kedungrejo diundang dan pestanya itu sangat meriah walaupun hanya sederhana. acara lagi.

  Kartu 9 Cerita : Ini gambar yang ke? Sembilan. Sembilan. Bener. Apa ya ceritanya? Ceritanya ada anak yang sendirian di kamar. Di suatu kamar yang sangat lebar, ada anak berumur 5 tahun pun sudah belajar untuk tidur sendiri. Awalnya dia takut, dia sambil menangis. Dia selalu mimpi yang buruk-buruk, seperti didatangi hantu, ada perampok masuk dan sebagainya. Dia pun akhirnya memanggil ibunya jam satu pagi,”Ibu, ibu aku takut tidur sendiri. Ibu menemaniku dulu.” Akhirnya, ibunya pun menemani sampai dia tidur pulas. Paginya, dia pun menceritakan kepada teman-temannya di sekolah, “Coba kalian bayangkan, kalau anak seumur aku disuruh tidur sendiri di kamar yang sangat luas, aku pun takut. Aku bermimpi ada perampok yang masuk ke kamarku untuk menculik aku. Aku didatangi hantu dan sebagainya. Aku pun tidak berani tidur sendiri. Sejak itu aku tidak berani tidur sendiri. Jadinya aku selalu ditemani ibuku. Perasaan anak itu pun sangat takut.

  Inquiry : Kalau yang ini? Itu soalnya pernah ngalamin sendiri, takut.

  Di suatu kamar yang sangat lebar, ada anak berumur 5 tahun sudah belajar untuk tidur sendiri. Awalnya dia takut, dia sambil menangis. Dia selalu mimpi yang buruk- buruk. Dia pun akhirnya memanggil ibunya jam satu pagi. Akhirnya, ibunya pun menemani sampai dia tidur pulas.

  Sumber : Pengalaman pribadi Tokoh : Seorang anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Jika ada seorang anak takut akan bahaya sehingga ibunya menemaninya.

  • Kecemasan akan kesendirian
  • Kecemasan akan bahaya

  Kartu 10 Cerita : Kemudian, ini gambar yang ke? Sepuluh. Sepuluh. Apa ya? Gimana ini ceritanya ya? Ini, coba. Ini ada sebuah orang tua yang memarahi anaknya karena ngompol di celana. Pada suatu hari ada anak berumur 4 tahun yang masih sering ngompol, sering ngompol pada tidur. Ibunya pun mulai marah,”Kenapa kamu ngompol di celana? Jika kamu ingin pipis, kamu harusnya ke toilet, tidak perlu menunggu ibu.” Anak itu pun langsung ibu marahi dan melepas celana, lalu dicebokilah dia. Setelah itu, anak itu pun menangis karena sudah disamblek, dijewer, masih dimarahi. Dia dimarahi ibunya terus. Dia pun tidak ingin mengompol di celananya lagi. Dia pun berjanji tidak akan mengompol di celananya lagi dan dia akan merubah sifat-sifatnya yang buruk lagi dan mencoba hidup mandiri. Perasaan anak itu pun sedih karena selalu dimarahi ibunya terus. Ya, sudah. Sudah? Ok.

  Inquiry :

  Kalau yang ini? Dulu kan pernah pengalaman masa kecil, dah pernah ngompol juga. Hehehe...

  Sumber : Pengalaman pribadi

  : Seorang anak

  Tokoh Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Pada suatu hari ada Jika ada seorang anak Kecemasan akan anak berumur 4 tahun dimarahi karena penolakan dari yang masih sering berperilaku tidak sesuai orangtua ngompol saat tidur. keinginan orang tuanya, Anak itu pun langsung akhirnya dia mengikuti ibu marahi dan keinginan orangtuanya. melepas celana, lalu dicebokilah dia. Perasaan anak itu pun sedih karena selalu dimarahi ibunya terus. Dia pun berjanji tidak akan mengompol di celananya lagi dan dia akan merubah sifat- sifatnya yang buruk lagi dan mencoba hidup mandiri.

  Subjek 3

  a. Identitas Subjek Nama : ABM Jenis Kelamin : Laki-laki Tempat, tanggal Lahir : Yogyakarta, 11 April 2000 Usia : 10 tahun Urutan kelahiran : Anak ke 3 dari 4 bersaudara Agama : Katolik Tanggal tes : 24 November 2010

  b. Identitas Orangtua Orang Tua

  Keterangan Ayah Ibu Nama NN NN Usia 55 tahun 42 tahun Pendidikan SMU SMU Pekerjaan Wiraswasta - Status Pernikahan Cerai Cerai Agama Islam Islam

  c. Latar Belakang Subjek adalah anak ke 3 dari 4 bersaudara. Saat subjek berusia 6 tahun, subjek di tinggal ayahnya yang pergi, dan tidak diketahui keberadaannya hingga kini. Karena tidak ada kepastian hingga bertahun-tahun Ibu kandung subjek memutuskan untuk bercerai dengan ayahnya. Kini subjek bersama dua orang kakaknya tinggal bersama kakak dari ibu kandungnya (budhe) dan neneknya, namun setiap hari ibu subjek tetap menengok dan membantu mempersiapkan sekolah subjek. Ibu subjek menikah kembali dan dikaruniai seorang putra dari ayah tiri subjek. Namun adik tiri subjek tinggal bersama kakak dari ayahnya dan sangat jarang bertemu subjek. Sebelum menikah lagi subjek diasuh oleh ibunya sendiri yang berkerja keras memenuhi kebutuhan subjek dan kedua kakaknya. Ayah tiri subjek cukup perhatian dan turut membantu segala kebutuhan subjek, mulai dari mengantar sekolah, mengerjakan PR dan lain sebagainya.

  Setiap harinya subjek bermain dengan semua temannya, baik yang lebih tua, seumuran atau lebih muda dengannya. Namun bila di rumah ia cenderung sering bermain dengan adik-adiknya, sekalian mengasuh mereka. Subjek lebih sering bermain di lingkungan rumah di bandingkan dengan teman-teman sekolahnya. Subjek termasuk anak yang tidak mudah dipengaruhi, hal ini terlihat keberanian subjek yang sering menolak ajakan temannya untuk langsung bermain sepulang sekolah. Biasanya subjek beralasan capek ketika diajak temannya bermain.

  Orang-orang di sekitarnya dianggap sebagai orang yang baik padanya. Orang tua dianggap sebagai orang tua yang baik, karena telah mencari nafkah, mencintai dan menyayangi dia. Begitupun juga dengan kakak-kakaknya, subjek merasa nyaman dengan kakak-kakaknya karena subjek merasa kakaknya menyayangi dirinya dan saling membantu. Selain sebagai seorang adik subjek juga menjadi seorang kakak, subjek juga sering diminta untuk mengasuh ponakannya. Ia selalu diminta untuk mengajak bermain keponakannya tersebut. Subjek mengungkapkan bahwa semua orang disekitarnya mencintai dia, namun dia mengangap dirinya tetap masih nakal.

  Di dalam keluarga orang yang paling dekat sekaligus subjek takuti ialah sosok ibunya, karena subjek merasa ibunya sangat menyayangi sekaligus tegas pada subjek, setiap kali subjek nakal atau salah ibu subjek marah-marah, hal ini membuat subjek takut. Subjek mengungkapkan bahwa Konsep moral yang diberikan oleh keluarga adalah harus pergi ke gereja setiap hari Minggu, tidak boleh berani dengan orangtua atau menghormati orangtua, tidak boleh sombong, karena akan kualat, tidak punya teman. Sedangkan aturan dalam keluarga yang diketahui subjek lingkungan harus bersih dan harus tidur siang bagi anak-anak.

A. LEVEL TEMATIK TIAP KARTU Kartu 1 : Cerita

  …. ini ada gambar tolong ceritakan ya?…tiga orang anak ini mencari, eh apa itu, dia tiga bersaudara itu sangat lapar, suatu hari dia yang tiga bersaudara itu sangat baik hati dan dia suka menolong, mereka menolong orang miskin siapapun yang sedang kesulitan.. dan suatu hari tiga saudara ini kehabisan makanan dan ketiga anak itu sedih dan ada seorang di depan tiga orang anak itu berada, dia mengasih mangkok besar dan isinya makanan yang banyak, dan dia makan dengan kenyang ketiga saudara itu. Si pemberi makanan itu siapa? Seperti malaikat. Terus perasaanya bagaimana? Senang. Terus akhirnya bagaimana? Ketiga saudara itu makan kenyang dan tidur terlelap.

  Inquiri : Mas rino tadi kan sudah cerita, sekarang mas novi mau Tanya ceritanya mas rino tadi dari mana? Mulai dari ini.. mas rino tadikan cerita tentang 3 bersaudara yang diberi makan oleh malaikat. Ceritanya itu dari mana?

  Dari rumah…oh dari rumah, maksudnya ceritanya mas rino tadi dari

  pengalaman, dari berkhayal, imajinasi, atau dari nonton tivi atau dari mana..? Dari imajinasi semua Sumber: imajinasi Tokoh : tiga saudara

  Tema Diskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Tiga bersaudara itu Jika ada tiga anak Kecemasan akan sangat lapar, sangat bersaudara sedang kekurangan / baik hati dan suka lapar, suatu hari kehilangan materi yang menolong, mereka kehabisan makanan dialami keluarga menolong orang miskin dan kemudian ditolong siapapun yang sedang oleh seseorang. kesulitan. Suatu hari tiga saudara ini kehabisan makanan dan ketiga anak itu sedih. Ada seorang seperti malaikat di depan tiga orang anak itu berada, dia memberi mangkok besar isinya makanan yang banyak. Akhirnya ketiga saudara itu makan kenyang dan tidur terlelap.

  Kartu 2 (tidak relevan) Kartu 3 Cerita : Disini dalam cerita ini ada orang yang sangat kaya, orang kaya ini sangat kaya dan ia begitu sombong dan ia mempunyai anak satu. Dia dengan anaknya tidak bisa damai dan walaupun dia duduk diatas meja anaknya ditaruh di lantai. Perasaannya gemana? Perasaan seorang bayi itu sedih. Terus perasaan orang ini bagaimana? Sombong. Terus akhirnya bagaimana? Anak kecil ini tumbuh menjadi dewasa dan ia menjadi orang yang sukses dan ia tidak sombong seperti ayahnya.

  Inquiri : kalau yang ini dari mana? Khayalan Sumber: khayalan Tokoh : seorang kaya dan anaknya.

  Tema Diskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada orang yang sangat Jika ada seseorang Kecemasan jika kaya, dan begitu yang sombong dan dinilai buruk oleh sombong dan ia mempunyai satu anak, orang lain mempunyai anak satu. akhirnya setelah Dia dengan anaknya dewasa anak tidak tidak bisa damai dan meniru ayahnya. walaupun dia duduk di atas meja anaknya ditaruh di lantai. Perasaan seorang bayi itu sedih. Akhirnya anak kecil ini tumbuh menjadi dewasa dan ia menjadi orang yang sukses dan ia tidak sombong seperti ayahnya.

  Kartu 4 (tidak relevan) Kartu 5 Cerita : Ceritanya dua saudara dan bapak ibu ini sedang makan di rumah, anaknya itu makan dengan lahap dan banyak ibunya juga dan saat selesai makan dua saudara itu tidur dan ayah ibunya sudah tidur tetapi dua saudara itu belum tidur dan saudara itu berkata “kenapa aku tidak bisa tidur?”. “Aku juga” “kita tunggu saja” habis itu lama- kelamaan dia tidak tidur, dan sampai jam 9 malam dia ingin ke kamar mandi. Dua saudara itu diantar satu saudaranya yang satu mengantar saudaranya ke kamar mandi. Dan dia tidak bisa tidur lagi kembali ketempat tidur. Akhirnya jam 12 malam ia tidur. Perasaannya? sedih karena tidak bisa tidur. Koq tidak bisa tidur kenapa?

Ia kecapean mungkin, mungkin apa gitu. Kecapean habis apa? Biasanya lari-lari

  Inquiri : Ini anak tidak bisa tidur, dari? Khayalan…khayalan itu sama dengan imajinasi? He em Sumber: khayalan Tokoh : dua saudara

  Tema Diskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Dua saudara dan bapak Jika ada dua saudara Kecemasan terhadap ibu ini sedang makan di dan orang tuanya penolakan rumah, anak dan ibunya istirahat, tetapi itu makan dengan lahap anaknya sedih karena dan banyak. Selesai tidak dapat melakukan makan dua saudara itu hal yang diharapkan tidur dan ayah ibunya keluarga. sudah tidur. Tetapi dua saudara itu belum tidur. Saudaranya yang satu mengantar saudaranya ke kamar mandi. Akhirnya jam 12 malam ia tidur. Perasaannya sedih karena tidak bisa tidur. Ia tidak bisa tidur karena kecapean setelah lari- lari.

  Kartu 6 Cerita : Ada seorang anak kecil yang suka mengkhayal. Dan setiap ingin tidur dua orang tuanya masih tidur dan ia melihat alas tidurnya, melihat sebuah batang pohon- pohonan dan gunung dania mengkhayal kalau seumpama ini tidur di alam dan ia merasakan sambil tertidur. Lama kelamaan ia tertidur dan mimpi di alam terbuka.

  Perasaannya? senang karena memimpikan alam. Akhirnya? tertidur.

  Inquiri : berkhayal tentang alam? Khayalan Sumber: khayalan Tokoh : seorang anak kecil

  Tema Diskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada seorang anak kecil Jika ada seorang anak Kecemasan akan yang suka mengkhayal kesulitan untuk penolakan setiap ingin tidur. Dua beristirahat, dia orang tuanya masih tidur. berkhayal berada di Ia melihat alas tidurnya, suatu tempat yang melihat sebuah batang membuatnya bahagia, pohon-pohonan dan akhirnya dia tidur. gunung. Ia mengkhayal kalau seumpama ini tidur di alam dan ia merasakan sambil tertidur. Lama kelamaan ia tertidur dan mimpi di alam terbuka. Perasaannya senang karena memimpikan alam. Akhirnya tertidur.

  Kartu 7 Cerita: Ceritanya gini ada seorang anak yang nakal. Anak nakal itu tidak mematuhi orang tuanya, ia biasanya main ke hutan. Tetapi kata ibunya dilarang karena ada raksasa disana. Tetapi anak kecil ini tetap main ke hutan itu. Dan suatu hari dia menemukan sebuah gua. Sebuah gua itu sangat menakutkan.dan dia ingin masuk tetapi sebelum masuk didekatnya ada raksasa besar dan ia ditangkap oleh raksasa itu dan di bawa masuk dan dia ingin melarikan diri tetapi tidak bisa dan dia ditaruh disitu dan dia lari tetapi di dekat pintu gua dia di tangkap lagi dan orang tuanya itu datang untuk menolong dan raksasa itu ingin dibunuh oleh orang tua itu dan warga desa karena menculik anaknya. Dan raksasa itu ternyata jengkel tetapi kejengkelannya itu tidak bisa menghentikan kejengkelan warga desa itu. Dan ia menyerah dan tidak akan mengganggu anak kecil itu dan anak kecil itu di bebaskan kembali. Perasaannya bagaimana? Perasaan anak kecil itu pertama kali dia….perasaannya itu senang- senang sedih dan dia sedih pas ditangkap oleh raksasa itu dan dia senang karena ditolong oleh warga.

  Inquiri: terus yang ini? Dari film Sumber: film Tokoh : seorang anak nakal Tema Diskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada seorang anak yang Jika ada seorang anak Kecemasan akan nakal. Anak nakal itu nakal mengalami bahaya tidak mematuhi orang bahaya, orangtuanya tuanya. Ibunya melarang menolong, dan main ke hutan karena akhirnya anak itu ada raksasa di sana. selamat. Tetapi anak kecil ini tetap main ke hutan itu. Ia ditangkap oleh raksasa itu dan di bawa masuk.

  Orang tuanya datang untuk menolong. Raksasa itu menyerah dan anak kecil itu di bebaskan kembali. Perasaan anak kecil itu senang dan sedih.

  Kartu 8 Cerita : Ada seorang anak kecil. Anak kecil itu mempunyai dua kakak satu laki satu perempuan dan ia sangat disukai oleh ibunya tetapi dua kakaknya tidak menyukai adiknya karena adiknya dimanja oleh ibunya karena itu kakak-kakaknya ingin menyingkirkan adiknya dari rumahnya, dari rumah ibu. Dan adiknya dan kakaknya itu baru di halaman rumah, halaman. Mereka bermain tetapi kakaknya menggendong dan membawanya ke lapangan yang adik kecil ini tidak tahu. Dan kakaknya kembali ke rumah. Ibunya mencari adiknya itu tetapi tidak ketemu. Dan kakaknya juga pura- pura mencari dan tidak ketemu. Pura-pura tidak tahu tetapi saat anak kecil itu melihat rumah itu sepertinya dia tidak ingin masuk karena tidak disukai oleh kakak- kakaknya. Ibunyapun melihatnya dan berkata “kenapa nak tak mau masuk?” “tak papa ibuk” dan akhirnya kakaknya itu juga bilang “tak papa masuklah dik” “benarkah kakak buk?” “iya” ketiga saudara itu..eh kakak-kakaknya itu menyesal atas perbuatannya. Dan semua keluarga itu bahagia selamanya. Perasaannya? Perasaan anak itu senang. Foto yang disitu foto siapa? Foto kakeknya eh foto neneknya, neneknya dimana? Udah meninggal Inquiri : masih ingat cerita ini? Ini dari film. Film apa? film ya film Sumber: film Tokoh : Anak kecil dan saudara

  Tema Diskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan Ada seorang anak kecil.

  • Kecemasan ditinggalkan
  • Kecemasan akan penolakan
  • Kecemasan kehilangan kasih sayang

  Anak kecil itu mempunyai dua kakak satu laki satu perempuan. Dua kakaknya tidak menyukai adiknya. Karena itu kakak-kakaknya ingin menyingkirkan adiknya dari rumahnya. Kakak-kakaknya itu menyesal atas perbuatannya. Dan semua keluarga itu bahagia selamanya.

  Jika ada seorang anak tidak disukai oleh saudara dan dia disingkirkan oleh saudaranya, akhirnya saudaranya menyesal.

  Kartu 9 Cerita: Coba ceritakan mas Rino? Ada seorang anak kecil, anak kecil ini dia tidur tetapi ia melihat pintunya terbuka sendiri dan dia kaget dan dia ingin keluar ingin tahu ada apa disitu, dan ia keluar benar tetapi tidak ada apa-apanya, adik kecil itu menutup lagi pintunya. Tetapi terbuka lagi dan adik itu mengunci pintunya dan tidak terbuka lagi. Dan dia tertidur. Saat dia tertidur dan terbangun di melihat ibu dan ayahnya masih tertidur dan dia keluar membuka pintunya dan melihat jamnya. Jam 6 dan dia bertanya “kenapa ayah dan ibu belum bangun?” dan ia membangunkannya. Akhir ceritanya? Adiknya membangunkan ayahnya dan? Ayahnya bangun dan memperbaiki pintunya. Jam berapa? Jam 6 pagi. Perasaannya? Sedih-sedih senang.

  Inquiri : kalau yang….khayalan Sumber: khayalan

  Tema Diskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada seorang anak kecil sedang tidur. Ia melihat pintunya terbuka sendiri dan dia kaget. Tetapi terbuka lagi dan adik itu mengunci pintunya dan tidak terbuka lagi. Dan dia tertidur. Saat dia terbangun dia melihat ibu dan ayahnya masih tertidur. Dia membangunkan ayah dan ibunya.

  Jika ada seorang anak takut karena situasi tertentu, akhirnya dia meminta bantuan orangtuanya.

  • Kecemasan akan kesendirian
  • Kecemasan akan bahaya

  Kartu 10 Cerita:

Disini ada ibu dan seorang anaknya. Ibu itu sangat baik hati dan mempunyai anak

satu. Anak satu itu padahal nakal, tetapi ibu itu sangat mencintai anaknya. Saat

dimandiin anaknya ingin turun ingin mandi sendiri, ingin main tetapi di bawakan

mainan dan di taruh di dalam kamar mandi, di dalam embernya dan ia masuk dan

main dan saat keluar ia langsung ambil mainan tetapi ibunya memeganginya dan

memakainya baju dan dia boleh main. Perasaannya? Senang dua-duanya. Akhir

ceritanya? Anaknya bermain dengan senang.

  

Inquiri: Terus ini anak yang di mandiin dari mana? Dari

  khayalan…khayalan itu dari mana? dari imajinasi

  Sumber: imajinasi Tokoh : seorang ibu dan anak

  Tema Diskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Disini ada ibu dan Jika ada seorang ibu - Kecemasan seorang anaknya. Ibu sangat baik pada ditinggalkan itu sangat baik hati. anaknya walaupun - Kecemasan akan Anak satu itu nakal, anaknya nakal, kesendirian tetapi ibu itu sangat akhirnya ibu tetap mau - Kecemasan mencintai anaknya. Saat mengurus anaknya. kehilangan kasih dimandikan anak ingin sayang mandi sendiri dan bermain, ibunya membawakan mainan dan di taruh di dalam embernya dan ia masuk dan main. Saat selesai dan ingin keluar ia langsung ambil mainan tetapi ibunya memeganginya dan memakaikan baju, baru boleh main. Perasaannya senang dua-duanya.

  Subjek 4

  a. Identitas Subjek Nama : ASY Jenis Kelamin : Perempuan Tempat, tanggal Lahir : Cilacap, 24 Maret 2002 Usia : 7 tahun Urutan kelahiran : Anak tunggal Agama : Katolik Tanggal tes : 14 November 2009

  b. Identitas Orangtua Orang Tua

  Keterangan Ayah Ibu Nama NN NN Usia 30 tahun 28 tahun Pendidikan S1 SMA Pekerjaan Karyawan swasta Guru Status Pernikahan Cerai Cerai Agama Islam Katolik

  c. Latar Belakang Sejak kecil, subjek tinggal bersama orang tuanya di Jakarta.

  Hubungan subjek dengan orang tuanya sangat dekat. Subjek merupakan anak tunggal sehingga semua keinginan subjek selalu dipenuhi oleh orang tuanya. Walaupun demikian, subjek tidak manja, bahkan subjek cenderung mandiri. Setelah pindah ke Yogyakarta, subjek sering ditinggal oleh orang tuanya untuk bekerja. Jika ibunya bekerja subjek dititipkan pada kakek neneknya, subjek bermain seorang diri. Hubungan subjek dengan kakek dan neneknya sangat dekat. Dalam keluarga, subjek lebih dekat dengan ayahnya. Bagi subjek, ayahnya adalah ayah yang baik. Sebelum orang tuanya berpisah, setelah berpisah dengan ayahnya, subjek merasa sangat kehilangan dan sangat ingin bertemu dengan ayahnya. Walaupun sangat dekat dengan ayahnya, subjek juga menyayangi ibunya. Ibu subjek bekerja setiap hari dan hanya memiliki waktu untuk bermain bersama subjek di akhir pekan. Hubungan subjek dengan teman-teman sekolahnya sangat baik. Subjek termasuk anak yang mudah bergaul. Oleh karena itu, subjek memiliki banyak teman. Subjek juga merupakan anak yang periang dan ramah. Di sekolah, subjek suka menolong temannya. Walaupun demikian, subjek mengakui bahwa terkadang dia suka menjahili teman-temannya.

  Setelah orang tuanya bercerai setahun yang lalu, subjek tinggal bersama ibunya karena ayahnya bekerja di Malang. Setiap malam, ayah subjek selalu meneleponnya, namun subjek belum merasa puas. Subjek tetap ingin bertemu dengan ayahnya. Jika subjek libur sekolah, dia ingin menemui ayahnya di Malang. Sebenarnya, subjek sangat bersedih atas perceraian orang tuanya, namun subjek mengatakan bahwa dirinya bisa menerima keadaan itu. Sebelum orang tuanya bercerai, mereka sering bertengkar di hadapan subjek. Setiap kali orang tuanya bertengkar, ibu subjek selalu menangis sehingga membuat subjek ikut menangis. Keadaan itu sangat membuat subjek tertekan. Sekarang, keadaan orang tua subjek telah membaik dan tidak pernah lagi bertengkar. Walaupun mereka sudah bercerai dan tidak tinggal bersama, mereka tetap bersahabat. Hal inilah yang membuat subjek bisa menerima perceraian kedua orang tuanya tersebut.

A. LEVEL TEMATIK TIAP KARTU Kartu 1 (tidak relevan) Kartu 2 (tidak relevan) Kartu 3 (tidak relevan) Kartu 4 (tidak relevan) Kartu 5 (tidak relevan) Kartu 6 Cerita :

  Nah kalau ini? Ni lagi ngapain ni? Ada berapa orang sih ni? Tiga. Lagi ngapain? Lagi tidur di hutan. Mereka nginep di hutan. Ngapain kok nginep di hutan? Soalnya mereka tersesat. Kok bisa tersesat? Mereka sedang main, abis itu mereka gak tau dia lagi di mana. Ya abis itu mereka tersesat. Abis itu mereka terpaksa tidur di hutan dan tidak bisa menemui rumahnya. Ini perasaannya gimana ni anak-anaknya? Sedih. Sedih. Kenapa kok sedih? Ngga bisa pulang. Terus akhirnya gimana? Terus mereka tidur di situ. Kan bangun-bangun berjalan lagi untuk mencari rumahnya. Terus akhirnya gimana? Ya mereka menemukan rumahnya dan mereka bisa bermain kembali. Akhirnya mereka ketemu rumahnya ya? Mmm yayaya. Ada yang mau diceritain lagi ngga, Yuna? Ngga.

  Inquiry : Dari pikiranku. Yuna pernah ngalamin? Ngga.

  : Fantasi subjek

  Sumber Tokoh : Anak-anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Tiga orang lagi tidur di Jika ada anak tersesat - Kecemasan akan hutan. Mereka nginep di suatu tempat, keterpisahan di hutan. Soalnya akhirnya menemukan - Kecemasan akan mereka tersesat. tempat tinggalnya kesendirian Perasaan anak-anaknya lagi. pulang. Terus mereka tidur di situ. Setelah bangun berjalan lagi untuk mencari rumahnya. Akhirnya mereka menemukan rumahnya dan mereka bisa bermain kembali.

  Kartu 7 Cerita : Kalau yang ini, ceritanya tentang apa? Orang yang mau menculik anak kecil. Mana yang mau menculik? Ini. Terus kenapa kok dia mau menculik? Soalnya ini mainnya maghrib-maghrib. Kan harusnya maghrib-maghrib udah pulang. Jadi dia mau diculik ini. Terus perasaannya gimana? Perasaan yang mana? Ini yang ini gimana perasaannya? Seneng bisa dapet anak kecil. Terus kalau yang ini? Sedih. Dia mau kabur. Mau kabur? Oo gitu… Sebelumnya ini ngapain sih? Ya bermain maghrib- maghrib. Kan maghrib-maghrib gak boleh main. Terus akhirnya gimana? Ya dia ngga mainan sampai maghrib. Terus akhirnya? Dia diculik ma ini. Akhirnya diculik sama ini? Ho oh. Ini mereka di mana sih? Lagi di gua. Oo lagi di goa. Anaknya kok ada di goa? Iya, soalnya dia dibawa sama ini. Oo iya ya lagi diculik sama ini ya, terus dibawa ke goa. Terus ada yang mau diceritain lagi ngga? Ngga.

  Inquiry :

  Ceritanya dari berita. Soalnya anak kecil itu kalau main waktu maghrib bisa diculik, kata ayah.

  Sumber : Berita dan pengalaman subjek Tokoh : Anak

  Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada orang yang mau Jika ada seorang anak Kecemasan akan menculik anak kecil. disakiti oleh orang lain bahaya Soalnya ini mainnya dan akhirnya dibawa ke maghrib-maghrib. Kan suatu tempat. harusnya maghrib- maghrib udah pulang. Jadi dia mau diculik ini. Perasaan anak kecil ini sedih. Dia mau kabur. Dia dibawa ke gua.

  Kartu 8 Cerita : Kalau ini, ceritanya tentang apa? Mmm… Ibu yang sedang berbicara, tetapi anaknya memotong pembicaraannya. Ibunya berbicara sama sapa? Anaknya dulu. Oo terus anaknya memotong pembicaraannya. Terus ibunya gimana? Ibunya bilang, “Jangan mengganggu ibu saat sedang berbicara ya!”. Terus anaknya? Anaknya mematuhi ibunya. Terus perasaannya gimana ni ibunya? Ya biasa saja. Terus kalau anaknya? Anaknya biasa saja. Jadi ini ibu sama anak ya? Terus yang ini siapa? Ini tamunya mereka. Tamunya mereka. Lagi ngapain ini? Lagi berbicara. Sebelumnya ini ngapain sih? Sebelumnya mereka, sama ibunya ini lagi berbicara. Berbicara sama yang? Yang berdua ini, ibunya lagi berbicara. Terus anaknya memotong gitu ya? Terus akhirnya gimana? Terus anaknya ke depan TV untuk menonton TV dan tidak mengganggu ibunya lagi. Terus, ada yang mau diceritain lagi ngga? Ngga.

  Inquiry : Dari aku. Pernah digituin ibu? Pernah.

  : Pengalaman subjek

  Sumber Tokoh : Anak

  Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ibu yang sedang Jika ada seorang anak - Kecemasan akan berbicara, tetapi anaknya mengganggu penolakan memotong orangtuanya, orang - Kecemasan akan pembicaraannya. Ibunya tua menasihati dan kehilangan kasih berbicara sama anaknya akhirnya anak patuh. sayang dulu. Ibunya bilang jangan mengganggu ibu saat sedang berbicara. Terus anaknya mematuhi ibunya. Ini tamunya mereka. Sebelumnya mereka, sama ibunya ini lagi berbicara. Terus anaknya ke depan TV untuk menonton TV dan tidak mengganggu ibunya lagi.

  Kartu 9 Cerita : Kalau yang ini, tentang apa ini ceritanya? Anak yang sedang ditinggal ibunya. Terus sebelumnya itu ngapain dia? Ibunya ini lagi dikeloni sama ini. Ibunya mana sih? Ibunya udah keluar. Abis itu, ini apa namanya, ibunya keluar karna adiknya menangis. Lalu ini ketakutan. Kenapa dia kok takut? Dia kebangun. Kok takut, dia kenapa, Yun? Dia takut sendiri. Oo takut sendirian. Jadi maunya dikeloni sama ibunya, gitu? He eh. Jadi perasaannya gimana ni? Ya sedih. Sedih . Sedih karna? Apa namanya, soalnya dia ditinggal ibunya. Terus akhirnya gimana ini? Ya dia menunggu sampai ibunya datang. Terus akhirnya ibunya datang ngga? Datang. Datang. Oke…ada yang mau diceritain lagi ngga? Ngga.

  Inquiry : Dari temenku. Yuna takut juga kalau sendiri? Takut.

  Sumber : Pengalaman teman subjek dan pengalaman subjek Tokoh : Anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Anak yang sedang Jika ada seorang anak - Kecemasan akan ditinggal ibunya. Ibunya ditinggal oleh ditinggalkan ini lagi dikeloni sama ini. orangtuanya, anak - Kecemasan akan Ibunya udah keluar. Abis takut, akhirnya ibunya keterpisahan itu, ibunya keluar karna datang. - Kecemasan akan adiknya menangis. Lalu kesendirian ini ketakutan karena Dia kebangun dan takut sendiri. Perasaannya sedih. soalnya dia ditinggal ibunya. Akhirnya dia menunggu sampai ibunya datang dan ibunya datang.

  Kartu 10 (tidak relevan)

  Subjek 5

  a. Identitas Subyek Nama : MM Jenis Kelamin : Laki-laki Tempat dan Tanggal Lahir : Cibitung 15 September 1999 Usia : 10 Tahun Urutan kelahiran : Anak ke 1 dari 2 bersaudara Agama : Islam Tanggal tes : 14 November 2009

  b. Identitas Orang Tua Keterangan Ayah Ibu

  Nama NN NN Usia

  37 Tahun

  37 Tahun Pendidikan SMA SMA Pekerjaan Swasta Pegawai salon Status Pernikahan Cerai Cerai Agama Islam Islam

  c. Latar belakang Subjek memandang dirinya sebagai anak yang nakal karena ia adalah anak laki-laki. Subjek merasa dirinya pintar jika ia rajin belajar dan ingin menjadi anak yang baik. Selain itu, subjek memandang dirinya sebagai anak yang pemalu dan kurang populer di lingkungan sekolahnya.

  Selama satu tahun ini subjek dan adik perempuannya diasuh oleh pakde dan budenya. Sedangkan orang tuanya telah bercerai dan hidup terpisah dengan mereka. Ayah subjek kini berada di Jakarta dan Ibu di Surabaya. Subjek tidak lagi diijinkan bertemu dengan ayahnya. Ibu akan mengunjungi subjek ketika hari raya. Subjek tidak tau bahwa orang tuanya telah bercerai. Pakde dan bude mengatakan mereka bekerja di suatu daerah. Subjek ingin orang tuanya kerja di Yogyakarta agar dapat hidup bersama. Subjek masih sering menangis, apalagi ketika dimarahi oleh pakde dan budenya, kadang subjek disabet dengan barang. Menurut subjek Pakde orang yang galak dan suka memarahinya terutama jika ia tidak disiplin dan melupakan sesuatu. Bude menurut subjek juga galak namun tidak segalak pakde. Subjek juga tinggal bersama sepupunya yaitu anak dari pakdenya, Sepupunya seorang mahasiswa jurusan komunikasi yang berusia 21 tahun.

  Walaupun begitu, subjek merasa cukup betah tinggal bersama keluarga pakde. Sebelumnya, karena orang tua yang sering tidak akur dan sering bertengkar, subjek dan adiknya sering diterlantarkan oleh orang tuanya. Bahkan subjek dan adiknya sempat menunda sekolah selama 2 tahun.

A. LEVEL TEMATIK TIAP KARTU Kartu 1 (tidak relevan) Kartu 2 (tidak relevan) Kartu 3 (tidak relevan) Kartu 4 (tidak relevan) Kartu 5 Cerita :

  “Disini ada dua anak-anak sedang tidur.. Tidur di tempat tidur, ibunya tidak ada. Dia ketekutan, ibunya nggak ada.. Karena dia takut akhirnya dia cepat-cepat tidur. (Itu

ibunya kemana Ki? Kira-kira kemana) Lagi cari kayu bakar (Adalagi?) Sudah.”

Inquiry: “(Ini yang dua orang anak ketakutan soalnya ibunya lagi nyari kayu bakar, terus akhirnya karena ketakutan mereka cepat-cepat tidur. Itu sumber ceritanya dari mana?) Ceritanya?. (He’em. Kiki kepikiran cerita itu dari mana?) Inget yang di stasiun itu. (Inget yang di stasiun?) Ho’oh. (Ada anak-anak ketakutan). E suka tidur, suka tidur di stasiun di lantai itu. (Ooh, yang dilantai) He’em.” Sumber : Pengalaman orang lain. Tokoh : Anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Disini ada dua anak Jika ada anak ketakutan - Kecemasan akan sedang tidur. Tidur di karena ditinggal ditinggalkan tempat tidur, ibunya orangtuanya dan - Kecemasan akan tidak ada. Dia akhirnya beristirahat. keterpisahan ketekutan, ibunya nggak ada. Karena dia takut akhirnya dia cepat-cepat tidur. Ibunya sedang mencari kayu bakar.

  Kartu 6 Cerita : “Anak ini tergeletak, sedang tidur di hutan. Mereka kedinginan karena angin, nda punya tempat tidur.. Karena rumah mereka .. hancur.. ditiup angin kencang, dan jadi tidak punya rumah. Hari semakin malam, akhirnya dia tidur di luar. (Perasaannya gimana?) Perasaannya sedih. (Yang sedih yang mana?) Mereka bertiga (Mereka bertiga?) Karena ga punya tempat tinggal. (hm, ok, ada lagi?) Nggak. (Sudah?) Iya.” Inquiry : “(ini yang tadi nggak punya rumah soalnya ketiup angin kencang, ceritanya dari mana?) Ceritanya dari kalo nonton tivi kan nanti suka ada

  angin putting beliung (ooh) Trus rumahnya ketiup.”

  Sumber : Film Tokoh : anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Anak ini tergeletak, Jika ada anak-anak - Kecemasan akan sedang tidur di hutan. tidak memiliki tempat kekurangan / Mereka kedinginan tinggal karena terkena kehilangan materi karena angin, tidak bencana. yang dialami punya tempat tidur keluarga karena rumah mereka - Kecemasan akan hancur ditiup angin bahaya kencang. Hari semakin malam, akhirnya dia tidur di luar. Perasaan mereka sedih. Karena tidak punya tempat tinggal.

  Kartu 7 Cerita : ‘Disini ada raksasa kan, ada anak sedang dikejar-kejar raksasa. Raksasa itu mau mengangkat anak-anaknya, trus anak-anak kabur melarikan diri karena oleh raksasa anak itu, anak-anak.. anaknya mau di apa tu di..masak. Perasaan anak-anak itu ketakutan dan sedih. Raksasanya kesulitan menangkap anak. anak itu. ( Akhir ceritanya gimana?) Akhirnya anak-anak itu kabur ke.. melalui jendela kaca raksasa.

  Raksasa itu tidak takut mencari anak-anaknya lagi. (Adalagi?) Nggak. (Sudah?) Iya.” Inquiry : “(Nah yang raksasa ini tadi yang subjeknya mau dimasak sama raksasa itu. Ceritanya dari mana?) Dari film Tom and Jerry. (Film Tom and Jerry?) He’em.” Sumber : Kartun Tokoh : Anak

  Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Disini ada raksasa dan Jika ada seorang anak Kecemasan akan ada anak sedang akan disakiti oleh orang bahaya dikejar-kejar raksasa. lain dan akhirnya anak Raksasa itu mau melarikan diri. mengangkat anak- anaknya, trus anak-anak kabur melarikan diri karena oleh raksasa anak itu mau dimasak. Perasaan anak-anak itu ketakutan dan sedih. Raksasanya kesulitan menangkap anak. Akhirnya anak-anak itu kabur melalui jendela kaca raksasa. Raksasa itu tidak takut mencari anak-anaknya lagi.

  Kartu 8 Cerita : “Disini ada 4 orang, i.. bapak, ibu, anak dan…neneknya. Neneknya menasehati anaknya biar tidak main lari-lari dan ibunya sedang bisik-bisik sama bapaknya…. Ibunya membisikin bapaknya sambil memegang teh, tehnya itu tumpah… (mm apa ibunya?) Ibunya sedang bisik sama bapak-bapaknya lalu tehnya itu yang dipegang tumpah. (Tumpah?) Dan neneknya mendengar suara kayak gelas.. gelas pecah dan menengok kebelakang. Taunya gelas ibu-ibunya ini yang tumpah, yang tumpah….

  (Trus gimana?) …. Ibunya ini menyumpah.. menyumpah, sedang bisik-bisik agar tidak ketauan neneknya ia sedang merahasiakan sesuatu yang penting… (Yang dipikirkan tokoh-tokohnya apa Ki?) Yang ini menyesal karena telah berbohong, yang neneknya menyesal karena ia tetap tidak mau bercerita. Anaknya dikasihtaunya agar tidak… Jadi perasaannya sangat sedih.. Perasaan bapaknya tidak.. Tidak merasa bersalah. (Mmm, akhir ceritanya gimana Ki?) Akhir ceritanya ibu, bapak, nenek, dan anaknya ini berdamai dan tidak akan melakukan perbuatan itu lagi.” Inquiry : (Ini, yang ada bapaknya, ibu, nenek yang lagi menasehati anaknya trus ibunya numpahin the gitu, ibunya menyesal trus akhirnya mereka baikan.

  Kiki dapet ceritanya dari mana?) Karangan. (Karangan Oke..)

  Sumber : Spontan Tokoh : Ayah, Ibu, Anak, Nenek Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Disini ada 4 orang, Jika ada keluarga saling Kecemasan akan bapak, ibu, anak dan menyembunyikan hubungan buruk neneknya. Neneknya sesuatu dan kurang dalam keluarga menasehati anaknya harmonis, akhirnya biar tidak main lari-lari mereka menyesali dan ibunya sedang perbuatannya. bisik-bisik sama bapaknya sambil memegang teh, tehnya itu tumpah. Dan neneknya mendengar suara kayak gelas pecah dan menengok ke belakang. Ibunya sedang bisik-bisik agar tidak ketauan neneknya. Ia sedang merahasiakan sesuatu yang penting. Yang ini menyesal karena telah berbohong, yang neneknya menyesal karena ia tetap tidak mau bercerita. Jadi perasaannya sangat sedih. Akhirnya ibu, anaknya ini berdamai dan tidak akan melakukan perbuatan itu lagi.

  Kartu 9 Cerita : “Disini sedang ada anak tidur dan pintunya terbuka. Anak itu langsung bangun karena kaget pintunya terbuka angin kencang dan anak itu tidak melihat ibunya dan anak itu menangis sambil memanggil-manggil ibunya. Tau-tau pas ibunya datang melihat pintunya terbuka dan anaknya menangis, ibu itu cepat-cepat menggendongnya langsung mendiamkannya sampai anak itu tertidur lagi. (Perasaan anaknya gimana?) Ketakutan (Ketakutan?) Ketakutan karena ibunya tidak ada.

  (Adalagi?) Dan ibunya tidak akan meninggalkan anaknya lagi kecuali bila anaknya itu. (Kecuali?) Kecuali ngomong sama anaknya dulu kalo ibunya mau pergi. (o ya, adalagi?) sudah.” Inquiry : “( Inget nggak tadi ceritanya apa?) inget. ini wak.. saya pernah kesekolah to

  pas masih kecil umur tuju tahun kelas satu. Itu ditungguin sama tante saya, lalu pas istirahat tante saya nggak ada. Saya nangis, tau-tau pas dateng lagi tantenya beli kelengkeng. (Oh, tantenya lagi pergi beli kelengkeng… Oke).”

  Sumber : Pengalaman pribadi Tokoh : Anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Disini sedang ada anak

  Jika ada seorang anak - Kecemasan akan

  tidur dan pintunya

  ketakutan karena kesendirian

  terbuka. Anak itu

  ditinggal oleh - Kecemasan akan

  langsung bangun karena

  orangtuanya, anak bahaya

  kaget pintunya terbuka dan anginnya kencang.

  meminta bantuan, dan

  Anak itu tidak melihat

  akhirnya orangtuanya

  ibunya dan anak itu datang. menangis sambil memanggil-manggil ibunya. Pas ibunya datang melihat pintunya terbuka dan anaknya menangis, ibu itu cepat-cepat menggendongnya langsung mendiamkannya sampai anak itu tertidur lagi. Perasaannya ketakutan karena ibunya tidak ada. Ibunya tidak akan meninggalkan anaknya lagi kecuali kalau ngomong sama anaknya dulu kalau ibunya mau pergi.

  Kartu 10 (tidak relevan)

  Subjek 6

  a. Identitas Subjek Nama : TM Jenis Kelamin : Laki-laki Tempat, tanggal Lahir : Berastagi, 29 September 1999 Usia : 7 tahun Urutan kelahiran : Anak ke-1 dari 1 bersaudara Agama : Kristen Tanggal tes : 18 November 2006

  b. Identitas Orangtua Orang Tua

  Keterangan Ayah Ibu

  Nama NN NN Usia - 32 tahun Pendidikan SMU SMU Pekerjaan Wiraswasta - Status Pernikahan Cerai Cerai Agama Kristen Kristen

  c. Latar Belakang Subjek Subjek adalah anak satu-satunya dalam keluarganya. Ia lahir di

  Berastagi dan dibesarkan di kota Yogyakarta. Saat ini subjek sedang mengenyam pendidikan di SD Kanisius Demangan Baru Yogyakarta. Prestasi subjek di sekolah dapat dikatakan biasa saja dan tidak ada prestasi yang terlalu menonjol, namun saat ini subjek mempunyai keinginan untuk mengikuti kursus musik. Keinginan tersebut didukung oleh ibu subjek dan saat ini sedang mencari tempat kursus yang sesuai.

  Kehidupan keluarga subjek saat ini dapat dikatakan baru bermasalah, dimana kedua orang tua subjek baru menyelesaikan masalah perceraian di diasuh oleh ibu dan tinggal di daerah Mrican. Subjek sangat dekat dengan ibunya dan sangat perhatian terhadap si ibu. Dilihat dari pola pengasuhan, ibu subjek cukup keras namun demokratis terhadap subjek. Hal ini tampak pada kepatuhan subjek terhadap perkataan ibunya, misalnya jika subjek disuruh untuk belajar, maka subjek segera melaksanakannya. Sikap demokratis ibu subjek tampak ketika mendukung keinginan subjek untuk mengikuti kursus musik. Selain dekat dengan ibu, subjek juga dekat dengan pamannya, adik dari ibu subjek. Relasi subjek dengan ayahnya berjalan biasa saja. Setelah ayah subjek resmi bercerai dan tinggal di luar kota, jarang ada komunikasi antara subjek dengan ayahnya, dan subjek jarang bercerita mengenai ayahnya. Menurut pengakuan subjek, sebelum orang tuanya bercerai, dulu ayahnya sering memarahi ibu subjek. Keseharian subjek biasanya ialah menemani ibu atau pamannya mengantarkan pesanan catering. Selain itu subjek bermain dan belajar.

  Relasi sosial subjek dengan orang-orang di sekitarnya, terutama dengan keluarga tergolong baik. Subjek akan merasa sangat senang jika ada saudara yang berkunjung ke rumah subjek. Apalagi pada saat itu situasinya, orang tua subjek tidak memungkinkan memberikan perhatian kepada subjek karena sibuk dengan permasalahan yang sedang dihadapi, yaitu perceraian, sehingga kehadiran kakek, nenek dan saudara-saudara membuat subjek mendapat perhatian dan sedikit terhibur. Relasi sosial subjek di lingkungan juga tergolong cukup baik, karena karakter subjek yang memang mudah bergaul dan suka bermain-main.

A. LEVEL TEMATIK TIAP KARTU Kartu 1 (tidak relevan) Kartu 2 (tidak relevan) Kartu 3 (tidak relevan) Kartu 4 (tidak relevan) Kartu 5 (tidak relevan) Kartu 6 Cerita:

  Ayah dan ibu sedang tidur. Anaknya bangun untuk segera sekolah. He’e.. untuk mengejar ilmu. Ayah dan ibunya masih tidur. Anaknya gak bisa sekolah soalnya ga ada yang antar. Soalnya bisa terlambat. Itu aja yang aku tau. Gak ada lagi? Cukup? Cukup.

  Sumber : Diberitahu nenek Tokoh : Anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ayah dan ibu sedang Jika ada seorang anak Kecemasan akan tidur. Anaknya bangun akan melakukan orang tua yang tidak untuk segera sekolah. aktivitas tetapi bisa Untuk mengejar ilmu. orangtuanya masih membantu/memenuhi Ayah dan ibunya masih beristirahat, akhirnya keperluan anak tidur. Anaknya gak bisa anak tidak jadi sekolah soalnya tidak melakukan aktivitas. ada yang antar. Soalnya bisa terlambat.

  Kartu 7 (tidak relevan) Kartu 8 (tidak relevan)

  Kartu 9 Cerita: Anak tinggal sendirian, pintunya terbuka. Ha’a.. habis itu, nanti anak berdiri dan pergi. As.. orang tuanya kecewa karena pintunya tidak dikunci, dan anaknya jadi diculik. Dah. Dah? Sumber : Diajari paman Tokoh : Anak

  Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Anak tinggal sendirian, pintunya terbuka. Habis itu, nanti anak berdiri dan pergi. Orang tuanya kecewa karena pintunya tidak dikunci, dan anaknya diculik.

  Jika ada seorang anak di rumah sendiri dengan kondisi rumah tidak aman, akhirnya anak diculik.

  • Kecemasan akan bahaya
  • Kecemasan akan kesendirian

  Kartu 10 (tidak relevan)

  Subjek 7

  a. Identitas Subjek Nama : F Jenis Kelamin : Perempuan Tempat, tanggal Lahir : Yogyakarta, 8 Juni 1995 Usia : 11 tahun Urutan kelahiran : Anak tunggal Agama : Islam Tanggal tes : 14 November 2006

  b. Identitas Orangtua Orang Tua

  Keterangan Ayah Ibu

  Nama NN NN Usia 42 tahun 40 tahun Pendidikan S1 S1 Pekerjaan

  • Pegawai Swasta Status Pernikahan Cerai Cerai Agama Islam Islam

  c. Latar Belakang Subjek adalah anak tunggal dari pasangan yang cukup berada yang sudah bercerai kurang lebih 3 tahun yang lalu. Sejak orang tuanya bercerai, ia tinggal dengan ibunya di rumahnya yang dulu, Pawirotaman. Ayah subjek tidak pernah mengurusi subjek dan ibunya. Sejak saat itu, subjek dan ibunya menjadi sangat tidak suka dengan ayahnya. Selain itu, hidup mereka berubah terutama dalam hal ekonomi, karena ibu subjek tidak bekerja. Pada saat gempa, rumah subjek hancur dan ia harus pindah dan tinggal sementara di rumah kakak ibunya. Padahal ibunya tidak pernah akur dengan kakaknya sehingga subjek juga menjadi sedikit tertekan dan kesulitan menyesuaikan mau mengurusi subjek. Tetapi ibunya tetap tidak mau memaafkan, sehingga subjek menjadi bingung. Di sisi lain, ia sangat senang tetapi kebencian ibunya membuat dia menjadi tetap tidak suka dengan ayahnya dan berusaha memanfaatkan ayahnya sesuai perintah ibunya.

  Setelah kurang lebih 4 bulan tinggal di rumah kakak ibunya, dimana subjek sudah mulai dapat menyesuaikan diri, terjadi suatu masalah. Mereka harus pindah dan juga karena masalah ekonomi yang dialami ibunya, subjek harus tinggal dengan ayahnya. Subjek merasakan sesuatu yang berbeda saat tinggal dengan ayahnya dan mau tidak mau subjek harus menyesuaikan diri lagi. Pada saat dengan ibunya, subjek selalu dituntut untuk menjadi sempurna dalam melakukan semua hal dan selalu dimarahi apabila melakukan kesalahan. Subjek sangat dimanja karena ibunya sangat takut kehilangan subjek. Oleh karena itu, subjek tidak boleh melakukan kegiatan-kegiatan yang menurut ibunya akan membuat kesehatan subjek memburuk karena subjek dari kecil sudah sakit-sakitan dan mengidap penyakit asma. Subjek selalu dianggap tidak bisa melakukan apa-apa dan ibunya merasa karena itulah subjek harus selalu didampingi. Hal-hal itulah yang membuat ibu subjek menjadi berlebihan dalam memperlakukan subjek. Ketika bersama ayahnya, subjek justru disuruh melakukan banyak kegiatan dan tidak perlu khawatir dengan kesehatannya. Ayahnya memberi kepercayaan pada subjek untuk melakukan apa yang diinginkan subjek termasuk untuk mengurus rumah. Dengan ayahnya, subjek harus menjadi mandiri dan karena ayah subjek bekerja, sehingga ia sering ditinggal sendiri.

  Subjek punya hubungan yang sangat baik dengan teman-temannya dan berusaha menjaga hubungan itu. Hanya saja subjek merupakan orang yang cukup tidak suka basa-basi dan keras sehingga ia langsung bilang pada temannya kalau memang dia tidak suka. Hal ini membuat subjek kadang bermasalah dengan temannya. Selain itu, subjek juga belajar dari ibunya yang suka di rumah, sehingga subjek menjadi lebih suka menghabiskan waktu di rumah dan jarang sekali bermain dengan temannya atau tetangganya. Kalaupun bermain dengan temannya, pasti temannya yang bermain ke rumah subjek. Subjek dapat dikatakan sangat jarang bermain ke rumah temannya. Tetapi subjek menjaga hubungan dengan teman-temannya melalui sms.

A. LEVEL TEMATIK TIAP KARTU Kartu 1 (tidak relevan) Kartu 2 Cerita:

  Ini ceritanya kan, pertama pokoknya tuh ee…, misalnya, pake nama nggak misalnya ini sama itu? Ga usah? Terserah. Pokoknya tuh, ya ini ni, dia apa.. ngadain lomba ceritanya tapi yang satu tuh dia tuh curang kok maksudnya satunya ngajak adiknya kan untuk apa lomba tarik tambang. Mereka kan ceritanya janjiannya berdua aja tapi kok yang satu tuh ngajak adiknya. Jadi tuh, sebenarnya yang satu tuh gimana ya pokoknya tuh ya nggak pa-pa sih, tapi tuh ya udah nggak pa-pa lah kita berlomba bareng, tapi adil ya. Ya udah, tapi aku ngajak adikku. Ya udah nggak pa-pa deh terus ya udah akhirnya mereka lomba, tapi sebenarnya yang satu, yang satu sendirian itu, itu tu agak iri soalnya kok curang sih soalnya ngajak apa adiknya, dibantu kayak gini gini gini. Jadi tu dia tuh agak iri sebenernya. Terus akhirnya gimana? Akhirnya, kalau itu sih mungkin akhirnya menang yang ini ya, yang berdua itu sama adiknya. Terus perasaannya gimana? Mungkin perasaan jengkel, iri kan, soalnya kan yang ngajak itu.. he-eh.. dah.

  : Gambar kartu

  Sumber Tokoh : Anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Dia ngadain lomba, Jika ada anak berlomba Kecemasan akan tapi yang satu curang, tetapi tidak adil, kekalahan dari orang karena ngajak adiknya akhirnya kalah. lain untuk lomba tarik tambang. Mereka janjiannya berdua aja tapi kok yang satu ngajak adiknya. Sebenarnya yang satu nggak apa-apa, kita berlomba bareng, tapi adil. Akhirnya mereka lomba, tapi sebenarnya yang satu, yang satu sendirian itu agak iri soalnya kok curang sih soalnya ngajak adiknya. Akhirnya, itu mungkin menang yang berdua itu sama adiknya. Mungkin perasaan jengkel, iri.

  Kartu 3 Cerita: Ini.. ceritanya.. ini bapak-bapak nya tuh pokoknya ceritanya kan dia punya anak tapi tuh orangnya tuh memang sombong bapak-bapaknya tuh, jadi tuh dia tuh orangnya tuh kasar terus pokoknya jahat jadi nggak mau ngurusin anaknya kayak gini gini gini, jadi anaknya tuh nggak dipangku tapi malah disuruh duduk di bawah. Terus apa.. walaupun misalnya anaknya tuh nangis apa ap, pa diem aja, maksudnya pengen makan, pa bilang apa, tapi tuh didiemin bapaknya. Bapaknya tuh malah apa ngrokok, kayak gini gini gini.. terus pokoknya nggak pokoknya tuh acuh tak acuh gitu lho sama anaknya tuh, mikirin diri sendiri, egois, pokoknya nggak sayang sama anaknya. Terus itu tadinya pertamanya gimana, mereka lagi ngapain toh kok jadi kayak gini? Pertamanya tuh kan ceritanya ibunya kan pergi, ibunya pergi to terus.. anu.. pokoknya apa.. tolong jagain ini ya.. pokoknya anak kita ya terus ibunya dah pergi tuh bapaknya malah, anaknya tuh ditinggal di situ sendirian, pertamanya anaknya kan minta.. minta dibuatin susu kan, terus tapi sama bapaknya malah dikasih ke bawah terus bapaknya tuh malah nggak mau bikin susu, malah duduk sendiri, malah ngrokok kayak gini. Terus akhirnya gimana? Ya udah terus akhirnya anaknya nangis kayak gini-gini, terus pokoknya bapaknya nanti bentak-bentak anaknya tapi didiemin aja, tetap didiemin. Bapaknya tetep cuek kayak gitu. Terus waktu itu yang dipikirin bapaknya apa? Yang dipikirin bapaknya tuh cuma mau pergi, foya-foya, terus apa dia tuh.. apa ya dia tuh pokoknya tuh ya.. pokoknya pengen seneng-seneng sendiri nggak mikir anak pokoknya dia tuh males aja, males ngurusin anak. Terus yang dirasain bapaknya? Bapaknya tuh ngerasa risih sama anaknya soalnya tuh pertamanya sih tidak mengharapkan anak itu ceritanya kayak gitu.

  Sumber : Dari TV

  : Anak

  Tokoh Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Bapak ini punya anak Jika ada seorang anak - Kecemasan akan tapi orangnya sombong, tidak diurus oleh diabaikan kasar dan jahat, jadi orangtuanya karena - Kecemasan akan nggak mau ngurusin orangtua tidak kehilangan kasih anaknya. Anaknya mengharapkan sayang nggak dipangku tapi kehadiran anak. - Kecemasan akan malah disuruh duduk di perlakuan yang bawah. Misalnya tidak baik dari anaknya nangis diem orangtua aja, pengen makan atau bilang apa, didiemin bapaknya. Bapaknya malah ngrokok, acuh tak acuh sama anaknya, mikirin diri sendiri, egois, nggak sayang sama anaknya. Ibunya pergi, dan meminta bapak jaga anaknya. Akhirnya anaknya nangis, bapaknya bentak-bentak anaknya. Bapaknya tetep cuek kayak gitu. Yang dipikirin bapaknya cuma mau pergi, foya- foya, pengen seneng- seneng sendiri nggak mikir anak pokoknya dia tuh males ngurusin anak. Bapaknya ngerasa risih sama anaknya soalnya tuh pertamanya sih tidak mengharapkan anak itu.

  Kartu 4 Cerita: Ceritanya.. ini apa ni? Ini coret-coretan apa awan? Terserah kamu mau menceritakan seperti apa. Ini kan ceritanya. Ibu sama anaknya dua lagi jalan-jalan. Ibunya tuh habis belanja kayak gini gini gini, terus tiba-tiba tuh pokoknya ada angin, kayak gini gini gini, terus udah hampir gelap kan, jadi terus ibunya cepet-cepet ngajak pulang gitu lho, soalnya tuh, padahal anaknya yang satu kan pertama mau main-main dulu tapi sama ibunya “ayo cepat, kita harus pulang kayak gini gini gini” terus soalnya ini dah mau apa udah malem terus anginnya udah tambah kenceng kayak gini gini gini. Terus apa ibunya cepet-cepet lari, soalnya juga sebenernya tadi dapet telpon dari rumah suruh cepet-cepet pulang ada kabar buruk di rumah. Ibunya langsung pulang ke rumah terus anaknya ngikutin dari dari apa dari belakang naik sepeda. Sebenernya kan mau ke taman tadi, mau jalan-jalan dulu tapi berhubunga ada keadaan kayak gitu terus anaknya juga ikut aja. Satunya digendong terus satunya naik sepeda. Terus yang dirasain apa? Ya anaknya juga anaknya juga nggak tau kan, anaknya tuh sebenernya marah sama ibunya, kenapa sih kok diajak pulang cepet-cepet kayak gini gini gini tapi ibunya nggak mau ngasih tahu soalnya kan takut apa khawatir sebenernya mungkin di rumah ada apa kayak gini gini gini terus ibunya nggak mau ngas.. nggak mau.. nggak mau ngasih tahu takut anaknya berpikiran apa, terus takut, jadi apa terus gini gini gini jadi cuma bilang, alasan ngajak pulang tuh cuma karena pengen cepet.. apa.. udah malem sama nanti mau ujan.

  Sumber : Pengalaman subjek bersama ibunya Tokoh : Anak dan ibu Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ibu sama dua anaknya Jika ada seorang anak Kecemasan akan lagi jalan-jalan. Ibunya dan orangtuanya sedang bahaya habis belanja, tiba-tiba melakukan aktivitas di ada angin, terus udah luar rumah tetapi ada hampir gelap, jadi bahaya, akhirnya ibunya cepet-cepet orangtua mengajak ngajak pulang, padahal anak pulang. anaknya yang satu mau main-main dulu. Ibunya langsung pulang ke rumah terus anaknya ngikutin dari belakang naik sepeda. Satunya digendong terus satunya naik sepeda. Anaknya sebenernya marah sama ibunya, kenapa kok diajak pulang cepet- cepet, tapi ibunya nggak mau ngasih tahu takut anaknya berpikiran apa, terus takut.

  Kartu 5 Cerita: Ini ceritanya.. kan pokoknya ada bapak ibu punya anak, anaknya dua, itu apa, ceritanya itu ibunya sayang banget sama anaknya tapi berhubungan bapaknya tuh suaminya tuh kan nggak bener, terus bapaknya pergi dari rumah, kayak gitu gitu to, terus ibunya tuh sedih, terus anaknya saat itu terakhir kalinya ia pengen lihat anaknya tuh pokoknya dia tuh ngasih, kan anaknya kembar dua, terus anaknya disayang, udah dirawat semuanya, terus ditidurin di situ, terus ibunya bunuh diri pake bantal terus dia pokoknya udah, dia nyelimutin dirinya sendiri, terus baru nutup pake bantal. Dia udah nggak tahu pokoknya bunuh diri dengan cara kayak gitu biar anaknya juga kan nggak nangis, nggak tahu, jadi dia ditidurin dulu, pokoknya dirawat dulu, habis tidur baru ibunya bisa kayak gitu. Terus sebelum itu terjadi tuh ceritanya kayak apa sih kok sampai dia pengen bunuh diri? Itu kan ceritanya udah lama, pokoknya udah lama tuh suaminya nggak bener kayak gini gini gini, pokoknya mabuk-mabukan, apa gimana, terus mereka bertengkar terus sampai ceritanya tuh dia juga dia punya anaknya tuh sebelum nikah, jadi kan udah ada masalah itu pertamanya. Terus anaknya udah lahir, ya suaminya udah mau tanggung jawab tapi tuh sikap suaminya tetep kasar, tetep kayak gitu, dia tuh dah nggak tahan sebenarnya, jadi pas nyari kesempatan suaminya udah kerja, udah pergi, dia ngurusin anaknya dulu, nidurin anaknya di tempat tidur it terus akhirnya dia itu apa.. bunuh diri sendiri pake bantal tadi di.. anaknya? Anaknya udah nggak tahu, ditidurin dulu biar nggak tahu. Perasaannya sedih banget? Iya sedih banget, pokoknya udah nggak kuat nahan jadi… Sumber : Pengalaman subjek Tokoh : Ibu

  Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada bapak ibu punya Jika ada seorang ibu - Kecemasan akan dua anak. Ibunya sangat sayang kepada kejadian yang sayang sama anaknya anaknya, tetapi menyedihkan tapi suaminya nggak memiliki suami tidak dalam keluarga bener, terus bapaknya bertanggung jawab, - Kecemasan akan pergi dari rumah. akhirnya ibu bunuh diri. kekerasan ayah Ibunya sedih. Terus anaknya disayang, udah dirawat semuanya, terus ditidurin di situ, terus ibunya bunuh diri pake bantal. Itu kan udah lama suaminya nggak bener, mabuk-mabukan, mereka bertengkar terus dia juga punya anaknya sebelum nikah. Terus anaknya udah lahir, suaminya udah mau tanggung jawab tapi tuh sikap suaminya tetep kasar. Jadi pas nyari kesempatan suaminya kerja, udah pergi, dia bunuh diri. Perasaannya sedih banget.

  Kartu 6 Cerita: Ceritanya tuh… ini kan bertiga lagi kemah kan, lagi kemah, ee.. dia tuh jalan-jalan, terus kemah di hutan, terus apa, berdua itu udah tidur, tapi yang satu tuh memang orangnya tuh usil. Terus dia tuh pada saat itu dia tuh dengar suara-suara kayak hantu apa mungkin ya, terus kayak suara nangis apa pa, terus dia tuh keluar, keluar to, terus dia cari-cari apa, daun apa, mungkin ini suara kayak khayalannya dia. Dia tuh mau, tapi setelah dia liat temennya berdua itu tidur, dia malah usil. Dia kan nemu ranting terus mau di apa.. di.. apa.. lemparin ke temen-temennyaitu tapi dia mau ndelik diselimut apa maksudnya sembunyi di selimut gitu lho mbak. Terus yang, habis itu gimana? Terus ceritanya dia nglempar batang tadi sama daun-daun disebulin kayak gitu gitu ke temen-temennya, biar temennya kan takut otomatis to. Takut terus kayak gini gini terus temennya pindah kan dia bisa dapet tempat tidur itu di tenda. Jadi kan tendanya pertama sempit kan, dia kan nggak seneng. Terus dia ketakutan dengar apa di luar gitu, dia keluar, malah punya ide untuk ngusilin temennya. Soalnya dia nemu ranting, terus daun-daun gitu kan terus dia pengen ganggu temennya biar temennya nggak betah di situ terus kan otomatis keluar terus dia bisa tidur di situ. Terus yang dirasain anak itu apa? Pertamanya takut, tapi kan setelah tahu itu perasaannya dia, udah nggak takut malah jadi usil kayak gitu.

  Sumber : Gambar kartu Tokoh : Anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ini bertiga lagi kemah Jika ada seorang anak Kecemasan akan hal di hutan. Berdua itu tidak bisa beristirahat, yang irasional udah tidur, tapi yang mendengar suara aneh, satu memang orangnya akhirnya menakut-nakuti usil. Terus dia pada saat temannya. itu dengar suara-suara kayak hantu, suara nangis, terus dia keluar, dia cari-cari, mungkin ini suara kayak khayalannya dia. Setelah dia liat temennya berdua itu tidur, dia malah usil. Dia menakuti temannya. Kalau temennya takut dan pindah. Dia bisa dapet tempat tidur itu di tenda. Perasaan pertamanya takut, tapi setelah tahu itu perasaannya dia, udah nggak takut malah jadi usil kayak gitu.

  Kartu 7 Cerita: Ini kan ceritanya ada anak kecil, dia suka berpetualang to di hutan kayak gini gini.

  Terus suatu saat ia tu nemuin rumah terus dia tuh masuk, kayak gitu to terus masuk, kok ada suara kayak apa keras banget, apa sih terus dia masuk kesitu, tiba-tiba tuh ada raksasa, ada raksasa tuh lagi tidur di situ ceritanya. Terus diganggu sama anak kecilnya itu, di apa itik-itik, pokoknya dikelitikin kayak gitu, kan terus marah to raksasanya itu terus ngejar-ngejar, ngejar-ngejar, terus anaknya itu mau dijadiin santapannya nanti malam, terus anaknya tuh jerit-jerit, takut, kayak gitu tuh, sampai nangis. Tapi dia tuh nggak bisa pulang soalnya dia kan nggak tahu jalan keluarnya gitu lho, udah di, udah, kan udah malem kan habis itu, jadi kan gelap jadi nggak bisa ketemu jalan keluarnya, terus kayaknya dia tuh sama, sama raksasanya ditangkep, dah mau dimasak tapi tuh dia berhasil lolos soalnya kan dia apa nendang-nendang raksasanya, pokoknya dijiwit, di apa biar dia bisa keluar, terus dia manjat pohon.

  Tapi raksasanya itu pertama nggak tahu kan kalau malem kan dia penglihatannya

nggak begitu jelas. Jadi anaknya nggak ketangkep ya. Anaknya nggak ketangkep.

  Sumber : TV, komik, buku cerita Tokoh : Anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada anak kecil, dia Jika ada seorang anak Kecemasan akan suka berpetualang di akan disakiti orang lain, bahaya hutan. Suatu saat ia akhirnya bisa nemuin rumah terus dia menemukan jalan masuk, tiba-tiba ada keluar. raksasa. Terus diganggu sama anak kecilnya itu. Raksasanya marah terus ngejar-ngejar, terus anaknya itu mau dijadiin santapannya nanti malam, terus anaknya jerit-jerit, takut sampai nangis. Tapi dia nggak bisa pulang soalnya dia nggak tahu jalan keluarnya. Terus dia sama raksasanya ditangkep, dah mau dimasak tapi dia berhasil lolos soalnya dia nendang-nendang raksasanya, dijiwit, biar dia bisa keluar, terus dia manjat pohon. Akhirnya anaknya nggak ketangkep.

  Kartu 8 Cerita: Ceritanya itu kana pa, ceritanya itu ibu-ibu punya anak satu. Tapi waktu, pas siang- siang itu, temennya ibu-ibunya datang, ada tante-tante, gitu, terus apa, ibunya sebenernya dia nggak suka sama anak itu, soalnya itu ibu tiri kan terus apa, bilang sama temen-temennya itu, bahwa ini bukan anakku tapi tuh apa dia cuma nemu di jalan kayak gini gini. Terus mulai temen-temennya kan mulai bisik-bisik kan. Terus o gitu to, gini gini gini, pantesan kok jelek banget kayak gini gini. Terus anaknya tuh disuruh-suruh, di depan temen-temen ibunya gitu. Terus perasaan anaknya gimana?anaknya tuh sedih, terus yaa.. kalau mau marah kan nggak bisa soalnya takut sama ibunya itu. Soalnya bapaknya pas pergi waktu itu, jadi kalau pas bapaknya pergi dia nurutnya sama ibunya. Sama ibunya dibentak-bentak. Ibunya kan jahat. Terus dipikiran anaknya apa? Yang dipikiran anaknya tu pengen bilang sama bapaknya maksudnya udah nggak tahan di situ, nangis, kayak gini gini kan disuruh- suruh to, tapi kalau mau bilang sana bapaknya diancem sama ibunya.

  Sumber : Pengalaman subjek Tokoh : Anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ibu-ibu punya anak Jika ada seorang anak - Kecemasan akan satu. Tapi waktu siang- tidak diurus dan ditinggalkan siang itu, temennya ibu- diperintah oleh ibunya, - Kecemasan akan ibunya datang. Ibunya akhirnya anak penolakan sebenernya nggak suka menuruti. sama anak itu, soalnya itu ibu tiri. Kemudian bilang sama temen- temennya, bahwa ini bukan anakku tapi cuma nemu di jalan. Terus anaknya disuruh- suruh di depan temen- temen ibunya gitu. Anaknya sedih, kalau mau marah nggak bisa soalnya takut sama ibunya. Soalnya bapaknya pas pergi waktu itu, jadi kalau pas bapaknya pergi dia nurutnya sama ibunya. Sama ibunya dibentak- bentak. Ibunya kan jahat. Anaknya pengen bilang sama bapaknya kalau udah nggak tahan di situ, nangis, tapi kalau mau bilang sana bapaknya diancem sama ibunya.

  Kartu 9 Cerita: Ini tu, kan ceritanya, ee.. orang tuanya pergi dinas, pokoknya gini gini. Terus anak apa.. anaknya ditinggal sendiri gitu lho, terus saat itu tu anaknya lagi tidur. Kan ceritanya mau pergi tu nunggu anaknya tidur dulu kan, setelah anaknya tidur bapak ibunya pergi. Dah, tiba-tiba anaknya tuh kebangun setelah bapak ibunya pergi lama. Dia tuh ngeliat pintunya buka sendiri kan tiba-tiba, terus ada apa pertama tuh ada yang nangis, ketuk-ketuk, terus jendelanya buka, terus kordennya gerak-gerak sendiri jadi anaknya tuh mulai bangun terus ngeliatnya kearah pintu terus, gitu lho. Soalnya, mungkin di pintu itu ada apa, makhluk halus kayak gini gini. Anaknya tuh takut tapi kan diem aja to, dia tuh jadi kayak nggak bisa gerak, apa takut, soalnya nggak bisa, dah nggak tahan liatny, kayak gitu, mau teriak sama ibunya tapi kan dah nggak ada, bapak ibunya diteriak-teriakin nggak ada yang datang soalnya kan pergi. Terus akhirnya gimana? Akhirnya, anak itu kan, anak itu takut terus akhirnya pingsan dia karena dia ketakutan, nggak bisa ngomong, dah takut diliatin cewek itu ceritanya, terus dah akhirnya pingsan itu.

  Sumber : Pengalaman subjek

  : Anak

  Tokoh Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Orang tuanya pergi Jika ada seorang anak Kecemasan akan - dinas. Anaknya ditinggal sendiri oleh kesendirian sendiri, - ditinggal orangtuanya, Kecemasan akan anaknya lagi tidur. mengalami kejadian bahaya

  Tiba-tiba anaknya aneh, akhirnya tidak - Kecemasan akan kebangun setelah bapak sadarkan diri. ditinggalkan ibunya pergi lama. Dia ngeliat pintunya buka sendiri dan ada yang nangis, ketuk-ketuk, jendelanya buka, kordennya gerak-gerak sendiri jadi anaknya mulai bangun terus ngeliatnya kearah pintu. Anaknya takut tapi diem, bapak ibunya diteriak-teriakin nggak ada yang datang soalnya pergi. Akhirnya, anak itu takut dan pingsan.

  Kartu 10 Cerita: Ini ceritanya kan, dia punya anak satu itu, anaknya tuh bener-bener nakal pokoknya kayak gitu to. Terus dia tuh disuruh apa-apa nggak mau, disuruh makan nggak mau, apa-apa nggak mau, akhirnya ibunya jengkel, disuruh, waktu itu, saat itu, dia pulang- pulang sepedaan gitu, badannya kotor semua, disuruh mandi nggak mau, malah tidur-tiduran di kamar kan, terus ibunya marah digotong terus dibawa ke kamar mandi terus ditengkurepin, terus dipukul pantatnya kayak gini “kamu tuh nakal, nggak mau apa-apa, nggak mau mandi, terus akhirnya anaknya kan nangis, terus minta maaf nggak mau ngulangin kayak itu lagi. Terus perasaan sama pikirannya apa? Pikirannya anaknya? Ya.. pokoknya anaknya tuh kan jengkel banget to sama ibunya tapi akhirnya menyesal soalnya ibunya bilang “kamu tuh kalau nakal apa sih untungnya, kayak gini gini, terus bapakmu kan udah nggak ada”. Itu kan ceritanya bapaknya udah meninggal, jadi ibunya pengen dia jadi anak yang baik bukan nakal kayak gitu. Akhirnya anaknya tuh minta maaf sama ibunya. Jadi udah..

  : Pengalaman subjek

  Sumber Tokoh : Anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Dia punya anak satu , Jika ada seorang anak - Kecemasan akan anaknya nakal. Terus nakal dan dimarahi oleh penolakan dia disuruh apa-apa ibunya, akhirnya anak - Kecemasan akan nggak mau, disuruh minta maaf. ditinggalkan makan nggak mau, akhirnya ibunya jengkel, saat itu dia pulang-pulang sepedaan, badannya kotor semua, disuruh mandi nggak mau, malah tidur-tiduran di kamar, terus ibunya marah digotong terus dibawa ke kamar mandi terus ditengkurepin, terus dipukul pantatnya. Akhirnya anaknya nangis, terus minta maaf nggak mau ngulangin kayak itu lagi. Bapaknya udah meninggal, jadi ibunya pengen dia jadi anak yang baik bukan nakal kayak gitu.

  Subjek 8

  a. Identitas Subjek Nama : NSM Jenis Kelamin : Perempuan Tempat, tanggal Lahir : Magelang, 10 Maret 1996 Usia : 10 tahun Urutan kelahiran : anak tunggal Agama : Kristen Protestan Tanggal tes : 17 November 2006

  b. Identitas Orangtua Orang Tua

  Keterangan Ayah Ibu Nama NN NN Usia 37 tahun 35 tahun Pendidikan SMA SMA Pekerjaan Wirausaha Wirausaha Status Pernikahan Cerai Cerai Agama Kristen Protestan Kristen Protestan

  c. Latar Belakang Pada akhir tahun 1998, papa subjek mengalami PHK, memutuskan untuk bekerja di Jepang. Hal itu memungkinkan karena papa subjek memiliki keluarga yang membuka restoran masakan Indonesia di Jepang. Keluarga budhe subjek sebenarnya tidak setuju sebab perpisahan suami istri dapat menimbulkan kerenggangan hubungan jika suami istri tersebut tidak mampu menjalin hubungan jarak jauh. Mama subjek sangat mendukung suaminya dan bersikap tegar menghadapi kepergian suaminya. Selama ayah subjek pergi, mama subjek dan subjek tinggal dengan keluarga budhe subjek. Papa subjek sebenarnya memiliki ayah, ibu, kakak dan adik di Magelang namun hubungannya dengan keluarga suaminya tidak akrab. Mereka tinggal di situ selama satu setengah tahun kemudian mama subjek membangun rumah sendiri dan tinggal di sana berdua dengan subjek.

  Keluarga subjek mulai mengalami keadaan ekonomi yang sangat baik sejak papanya bekerja di Jepang, namun tidak demikian halnya dengan kaharmonisan keluarga. Hubungan papa dan mamanya mulai memburuk pada tahun 2001. Subjek merasa sedih dengan keadaan ini dan berusaha mendamaikan kedua orang tuanya tetapi karena jarak memisahkan maka papa dan mamanya mulai hidup mengikuti keinginan masing-masing. Papa subjek sangat memperhatikan subjek dengan menelpon tiap hari dan mengirimi banyak barang dari Jepang, sementara mama subjek kurang merawat dan memperhatikan subjek. Keadaan ini tidak membuat subjek membenci mamanya, ia tetap sayang dan berusaha untuk menjaga nama baik mamaya di depan keluarga budhe dan keluarga papanya. Setelah pertengkaran yang panjang, akhirnya papa dan mama subjek memutuskan untuk bercerai. Subjek sendiri baru mengetahui perceraian mereka setelah proses perceraian selesai.

  Pada tahun 2004 subjek pindah ke rumah budhenya karena perceraian mama dan papanya. Oleh papanya, subjek dititipkan di keluarga tersebut selama ia bekerja di Jepang sebab papanya lebih percaya pada keluarga iparnya dari pada dengan mamanya atau keluarganya sendiri untuk dipercaya mengasuh subjek. Hubungan papa subjek dengan iparnya memang sangat baik. Sementara itu mama subjek pindah ke Semarang untuk bekerja. Hubungan yang terjalin antara subjek dengan papanya baik sekali sementara mama subjek jarang sekali menghubungi subjek. Sesekali subjek ditelpon mamanya dan diajak ke Semarang. Subjek tetap sayang pada mereka dan terus mendoakan supaya mereka bisa kembali sebagai keluarga. Tahun 2005 mama subjek kembali pindah kali ini ke Yogyakarta sampai sekarang.

A. LEVEL TEMATIK TIAP KARTU Kartu 1 Cerita : Emm.. disuatu hari.. emm.. ada tiga anak ayam yang sedang makan di ruang makan .

  em.. mereka sedang ditinggal ibunya pergi. Emm.. ketiga anak ayam itu dengan riang gembira memakan makanan yang sudah disediakan ibunya. Sambil.. e.. berbincang-bincang ketiga anak ayam itu makan, em... saat mereka e.. asik dengan makanan itu mereka memikirkan ibunya, e.. kok ibunya tidak pulang-pulang. E.. jadi mereka khawatir dengan ibunya, tetapi ibunya tidak apa-apa, hanya mereka yang khawatir. Em.. em setelah ketiga anak ayam itu mengkhawatirkan ibunya, ibunya pulang. Ha.. mereka senang karena ibunya tidak apa-apa dan mereka menceritakan apa yang mereka khawatirkan tentang ibunya kepada ibunya. Em.. dan ibunya pun juga a..amm.. ikut makan bersama-sama dengan tiga anak ayam itu. Em.. saat mereka makan e..mereka juga memikirkan ayahnya em.. ayahnya belum pulang dari bekerja. Em..e.. mereka juga khawatir terhadap ayahnya. Mereka takut kalo ayahnya

  e.. terjadi apa-apa. E..tetapi ayahnya tidak apa-apa. E..mereka sangat mengka..mengkhawatirkan ayahnya. Lalu mereka kembali berbicang-bincang dan sampbil makan. E..ketika mereka makan ayahnya pun pulang dan mereka senang karena ayahnya tidak apa-apa. Ayahnya pun ikut makan bersama-sama dengan mereka. keluarga ayam itu makan dengan hati gembira dan senang. Ada lagi yang mau diceritakan? Sudah. Kalo misalnya, Sceivva.. Sceiva paling senang yang mana ini? Yang ini ( menunjuk anak ayam yang agak terpisah dari dua anak ayam yang lain) oh, jadi yang itu? Kenapa? Emang kenapa anak itu? Kayaknya anak bungsu, keliatan lucu, kecil.

  Tokoh utama : tiga anak ayam Sumber cerita : dari khayalan subjek Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Disuatu hari ada tiga Jika ada anak sedang Kecemasan akan anak ayam yang sedang melakukan aktivitas ditinggalkan orangtua makan di ruang makan. bersama tetapi

  Mereka sedang orangtuanya tidak ada, ditinggal ibunya pergi. mereka khawatir, Ketiga anak ayam itu akhirnya orangtuanya dengan riang gembira pulang. memakan makanan yang sudah disediakan ibunya. Saat mereka asik dengan makanan itu mereka memikirkan ibunya, kok ibunya tidak pulang-pulang. Mereka khawatir dengan ibunya, tetapi ibunya tidak apa-apa, hanya mereka yang khawatir. Ibunya pulang. Mereka senang karena ibunya tidak apa-apa dan mereka menceritakan apa yang mereka khawatirkan tentang ibunya kepada ibunya. Saat mereka makan mereka juga memikirkan ayahnya, ayahnya belum pulang dari bekerja. Ayahnya pulang dan mereka senang karena ayahnya tidak apa-apa. Ayahnya pun ikut makan bersama-sama dengan mereka. keluarga ayam itu makan dengan hati gembira dan senang.

  Kartu 2 Cerita : Pada suatu pagi e.. ada dua monyet sedang bermain tali. Ee.. mereka e.. menarik tali itu bersama-sama dan berebutan tali itu. E.. mereka dengan kuatnya menarik tali itu. Si monyet betina tampak marah karena si monyet jantan tidak.. tidak mau memberikan talinya padanya. Jadi si monyet betina pun menarik tali dengan kuat menarik tali itu dari tangan si jantan. E..sampai anak mon..anak kedua monyet itupun ikut membantu si monyet betina. Tetapi walaupun si monyet betina sudah dibanti anaknya e... monyet jantan juga tetap tidak mau memberikan talinya. E.. kedua monyet iru saling marah karena salah satu dari mereka tidak ada yang mau mengalah. Anak monyetnya itupun menangis karena salah satu dari e.. monyet jantan dan monyet betina itu tidak mau mengalah, tetapi monyet jantan dan monyet betinapun tetap gigih untuk..e.. untuk mengambil tali dari lawan mereka. akhirnya monyyet betinapun jengkel karena monyet jantan tidak..tidak mau memberikannya walaupun anak..anak monyet mereka membela si monyet betina.akhirnya si monyet betina mengalah dan talinya dimiliki oleh monyet jantan. Lalu kata si anak mereka e.. ayah dan ibu tidak boleh saling marahan. E.. karena kalo ayah dan ibu saling marah bagaimana dengan aku? Dengan kata-kata anak monyet itu, si monyet jantan itu minta maaff pada si monyet betina. Monyet betina senang karena si monyet jantan mau minta maaf padanya dan monyet betina mau memaafkannya.

  

Tokoh utama : monyet betina yang berebut tali dengan monyet jantan

  : dari khayalan anak sendiri

  Sumber cerita Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Pada suatu pagi ada dua Jika ada orangtua yang - Kecemasan akan monyet sedang bermain tidak rukun, kemudian hubungan buruk tali. Mereka menarik dibujuk oleh anaknya, dalam keluarga tali itu bersama-sama akhirnya orangtua - Kecemasan akan dan berebutan tali itu. rukun kembali. ditinggalkan Si monyet betina tampak marah karena si monyet jantan tidak mau memberikan talinya padanya. Sampai anak kedua monyet itupun ikut membantu si monyet betina. Anak monyetnya itupun menangis karena salah satu dari mereka tidak mau mengalah. Akhirnya si monyet betina mengalah dan talinya dimiliki oleh monyet jantan. Lalu kata si anak mereka ayah dan ibu tidak boleh saling marahan. Karena kalo ayah dan ibu saling marah bagaimana dengan aku? Dengan kata-kata anak monyet itu, si monyet jantan itu minta maaf pada si monyet betina. Monyet betina senang

karena si monyet jantan mau minta maaf padanya dan monyet betina mau memaafkannya.

  Kartu 3 (tidak relevan) Kartu 4 Cerita : Pada suatu pagi em.. induk rubah mengajak anak-anaknya untuk pergi ke pasar membeli sayur-sayuran. E..setelah membeli sayur-sayuran, induk rubah dan anak- anaknya pulang ke rumah. Di perjalanan ketika mereka akan pulang ke rumah mereka, si anak rubah yang jantan ditinggal oleh ibunya karena ibunya kesal melihat anak rubah itu kaena di..saat mereka berbelanja di pasar, anak rubah itu membuat ulah di pasar, jadi e..ulah si anak rubah membuat induk rubah malu dan kesal terhadap anak rubah itu. Jadi adik anak rubah tadi,e.. membisikkan kata-kata pada ibunya,’ Ibu mengapa kakak ditinggal?’ sudah bu, maafkan saja kakak. Dengan begitukan.a.. permasalahan itu selesai dan kalau emm.. kakak membuat ulah lagi baru boleh ibu marah e.. dengan kesal terhadap kakak.’ Tetapi ibu rubah ini tak mau menuruti kata-kata anaknya yang bungsu. Em.. dengan wajah memelas anak rubah tadi mengejar ibunya dengan naik skuter. Anak.. anak rubah tadi em.. hampir.. hampir menangis karena ibunya marah sekali dengan dia. Dia menyesal, dia em.. saat di perjalanan dia mem.. meminta maaf pada ibunya tetapi ibunya tidak menanggapi jadi anak rubah itu sangat sedih. Sesampianya di rumah, ibu-ibu rubah ma..masih kesal terhadap anaknya yang sulung. Anak..anak ibu rubah yang sulung tadi meminta maaf kepada ibunya, tetapi dengan perasaan marah ibunya pun memaafkannyya. Dan permasalahan itupun selesai dan mereka hidup dengan bahagia.

  Tokoh utama : anak rubah jantan yang ditinggalkan ibunya

Sumber cerita : pernah liat gambar di perpus tapi nggak baca ceritanya

  Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Pada suatu pagi induk Jika ada anak - Kecemasan akan rubah mengajak anak- melakukan kesalahan ditinggalkan anaknya untuk pergi ke kepada orang tuanya, - Kecemasan akan pasar membeli sayur- orang tuanya tidak mau penolakan sayuran. Di perjalanan marah, akhirnya anak pulang, si anak rubah menyesali perbuatannya jantan ditinggal oleh dan orang tua ibunya karena kesal memaafkan. melihat anak rubah itu membuat ulah di pasar. Adiknya membujuk ibu, untuk memaafkan kakak. Tetapi ibu rubah ini tak mau menuruti kata-kata anaknya. Anak rubah tadi mengejar ibunya dengan naik skuter. Anak hampir menangis. Dia menyesal dan meminta maaf pada ibunya tetapi ibunya tidak menanggapi. Sesampainya di rumah, akhirnya dengan perasaan marah ibunya pun memaafkannya. Dan permasalahan itupun selesai dan bahagia.

  Kartu 5 Cerita : Pada suatu malam ada sebuah desa e.. yang dihuni oleh em.. banyak keluarga babi.

  Ada satu buah rumah yang dihuni oleh babi-babi yang lucu. E.. ibu anak-anak babi itu menyuruh anak-anaknya tidur. Dikira induk babi-babi tadi anaknya sudah tidur lelap, tetapi anak-anak babi tadi bukannya tidur cepat tapi malah mengobrol. Setelah ayah dan ibu anak babi tadi tidur,emm..si anak babi yang jantan emm..emm.. berbicara kepada anak babi yang betina, ‘em..aku takut kamar kita tidak dihidupin lampunya. Aku tidak bisa tidur kalau lampunya mati. Bagaimana ini?’. Lalu e..anak babi yang betina berkata,’e..e..ya sama aku juga tidak bisa tidur biasanya ayah dan ibu me..menghidupkan lampunya, tetapi mengapa malam ini lampunya dimatikan? Kan ayah dan ibu tau kalau kita tidak bisa tidur tanpa lampu dinyalakan’. Lalu mereka berdua mengeluh tetapi emm..mereka tidak membangunkan ayah dan ibunya supaya lampunya dinyalakan sehingga mereka bisa tidur nyenyak tetapi mereka malah menggerutu sendiri di tempat tidurnya, ‘Bagaimana ini? Aku tetap tidak bisa tidur..em..kalo membangunkan ayah dan ibu aku takut..kalo mereka marah,’kata si anak babi jantan itu. Lalu berkatalah anak babi yang betina,’ ya bagaimana kalo kita coba saja? Kita coba untuk mem..membangunkan ayah ibu supaya lampunya dinyalakan. Kalau begitu kan kita bisa tidur dan besok bangunnya tidak kesiangan. Jadi besok kita bisa sekolah dengan tidak telat’. Lalu setelah berpikir-pikir si anak babi yang jantan tadi masih takut kalau membangunkan ayah dan ibunya karena ia tidak pernah membangunkan ayah dan ibunya sewaktu mereka tidur. Tapi akhirnya anak babi betinapun membangunkan ayah dan ibunya. Anak babi betina itu bilang kalau mereka tidak bisa tidur kalau lampunya dimatikan. Ternyata ayah dan ibunya itu lupa kalau..kalau merka e.. tidak bisa tidur kalau lampunya dimatikan. Jadi setelah lampunya dinyalakan mereka bersua bisa tidur dengan nyenyak. Dan paginya, mereka berangkat ddengan senang hati dan gembira.

  : anak babi betina yang takut tidur dalam gelap

  Tokoh utama Sumber cerita : dari buku cerita tentang babi yang tidak bisa tidur karena

  mikir bohong ama ibunya

  Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Pada suatu malam ada Jika ada anak takut - Kecemasan akan sebuah desa yang karena situasi tertentu, bahaya dihuni oleh banyak akhirnya meminta - Kecemasan akan keluarga babi. Ada satu bantuan orangtuanya kehilangan perhatian buah rumah yang dari orangtua dihuni oleh babi-babi yang lucu. Ibu anak- anak babi itu menyuruh anak-anaknya tidur. Dikira induk babi-babi tadi anaknya sudah tidur lelap, tetapi anak- anak babi tadi bukannya tidur cepat tapi malah mengobrol. Mereka takut jika lampunya tidak dinyalakan. Mereka tidak bisa tidur. Mereka berniat membangunkan ayah ibunya. Tetapi mereka takut kalau orangtuanya marah. Tapi akhirnya anak babi betinapun membangunkan ayah dan ibunya. Ternyata ayah dan ibunya itu lupa kalau mereka tidak dimatikan. Setelah lampunya dinyalakan mereka berdua bisa tidur nyenyak. Dan paginya, mereka berangkat dengan senang hati dan gembira.

  Kartu 6 Cerita : Hegh.. babi lagi?.. suatu hari hiduplah suatu keluarga babi yang beranggotakan ayah, ibu dan anak. emm.. mereka hidup berkesusahan karena..em..di lingkungan mereka tidak ada tumbuhan yang..yang hidup karena pada saat itu adalah musim kemarau. Mereka kelaparan dan anak babi mereka menangis tersedu-sedu karena sangat lapar dan sudah tiga hari mereka belum makan jadi mereka kurus kering. Dan em..mereka pun menangis karena tidak mendapatkan makanan. Emm..em.. mereka belum siap untuk..e.. untuk mati pada hari itu karena mereka merasa pada hari itu em..mereka pasti akan mati karena sudah lama tidak makan. Lalu mereka pun menangis dan.. meminta pertolongan kepada keluaga babi lain. tetapi keluarga babi lain tidak mendengar tangisan merka dan tidak mendengar em..permintaan mereka untuk menolong mereka. lalu mereka sudah pasrah. Anak babi itu sangat sedih karena e..karena mereka tidak mendapatkan makanan dan..dan.. e..ia sangat lapar sekali e..perutnya terasa sakit dan air matanya pun mengalir deras. Ayah dan ibunya pun juga merasakan hal yang sama. Ayah dan ibunya juga merasakan sakit perut dan juga air mata mengalir deras-deras di pipi mereka. em.. mereka tetap meminta pertolongan kepada keluarga babi lain tetapi keluarga babi lain tetap tidak mendengarnya karena suara mereka terlalu kecil dan karena mereka lemah suara mereka menjadi terlalu kecil. Anak babi itu berkata kepada ayah dan ibunya,’ Ayah, ibu aku sangat lapar. Mengapa keluarga babi lain bisa makan minum yang enak-enak sementara em.. kita tidak bisa makan dan minum yang enak-enak?’lalu jawab ibu anak babi itu,’em.. mereka semua bisa makan dan minum yang enak karena di desa em.. tanamannya juga kurus kering dan bagaimana kita mau makan semuanya sudah mati, tanaman-tanaman sudah layu dan mati lalu kita mau makan apa? Lalu anak babi itu menjawab,’ Bagaimana kalau kita berjalan ke desa babi-babi.. keluarga babi- babi yang lain? jadi..e.. kita bisa makan dan minum sepuasnya’. Lalu jawab ibu babi tadi,’em..kita bisa ke sana tetapi apa kamu tidak lelah? Kita kan sedang sangat lemah’. E.. tetapi anak babi itu tetap bersikeras untuk membujuk ayah dan ibunya agar mereka berjalan ke desa keluarga babi yang lain. akhirnya mereka berjalan dengan sangat lambat ke desa keluarga babi yang lain. akhirnya mereka mendapat makan dari keluarga babi yang lain dan mereka pun sudah tidak lemah lagi, mereka sudah kuat dan em.. mereka mendapat sumbangan makanan dari keluarga babi yang lain dan em.. mereka pulang dengan senang hati. Sekarang mereka bisa makan dan minum sepuasnya tanpa harus mencari lagi karena sudah ada sumbangan makanan dri keluarga-keluarga babi yang lain.

  Tokoh utama : anak babi yang kelaparan Sumber cerita

  : khayalan anak

  Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Suatu hari hiduplah suatu keluarga babi yang beranggotakan ayah, ibu dan anak. Mereka hidup berkesusahan karena di lingkungan mereka tidak ada tumbuhan yang hidup karena musim kemarau. Mereka kelaparan dan anak babi menangis tersedu-sedu karena sangat lapar dan sudah

  Jika ada keluarga kekurangan makanan dan meminta bantuan kepada keluarga lain, akhirnya mendapat bantuan.

  • Kecemasan akan kekurangan / kehilangan materi yang dialami keluarga
  • Kecemasan tidak mendapat bantuan dari orang lain
tiga hari mereka belum makan. Mereka belum siap untuk mati. Lalu mereka meminta pertolongan kepada keluaga babi lain. Tetapi keluarga babi lain tidak mendengar tangisan mereka dan tidak mendengar permintaan mereka. Anak babi itu sangat sedih. Ayah dan ibunya pun juga merasakan hal yang sama. Anak babi itu berkata kepada ayah dan ibunya untuk mencari bantuan di tempat lain. Akhirnya mereka mendapat makan dari keluarga babi yang lain. Sekarang mereka bisa makan dan minum sepuasnya tanpa harus mencari lagi karena sudah ada sumbangan makanan.

  Kartu 7 Cerita : Hari itu adalah hari yang paling menakutkan bagi si monyet. Em.. e.. karena itu ia akan diterkam oleh seekor harimau yang ganas. E..ha..dia. e .. tet.. tetapi akhirnya dia bisa selamat dan monyet itu menceritakan kepada keluarganya begini,’ Em.. ayah, ibu, kakakku dan adikku,.. e kemarin adalah hari yang paling menyeramkan bagiku karena kemarin aku akan diterkam oleh harimau yang sangat ganas. Ceritanya dimulai dari.. saat aku berjalan-jalan di taman tiba-tibaada seekor harimau yang ganas akan menerkamnu dan aku langsung melompat di pohon dan bergelantungan di pohon, tetapi harimau iru bisa naik ke atas pohon dan aku sangat ketakutan. Aku hanya bisa bergelantungan di pohon dan aku hanya bisa melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. dan harimau itu juga sangat lincah dan kemana aku pergi harimau itu tau kalau aku ada di situ. Dan harimau itu terus mengejarku walau ada rusa dan kijang yang sedang duduk-duduk disitu. Aku pikir mengapa harimau itu tidak menerkam kijang dan rusa tadi? Tetapi malah mengejarku terus. Ha lalu aku disaat itu berpikir, e.. aku berpikir genius gini e.. aku e.. akan berbicara pada harimau itu,’ he harimau mengapa kau akan menerkamku?’ lalu harimau itu berkata,’ Karena dari badanmu yang gemuk itu dan dagingmu keli.. kelihatan enak untuk dimakan’. Lalu aku bertanya begini pada harimau,’em harimau, kenapa kamu tidak menerkam rusa dan kijang tadi saja? Mereka sedang duduk-duduk dan mereka lebih gemuk daripada aku. Tapi mengapa kamu masih saja akan menerkamku padahal daging dan darahku pun tidak enak untuk kamu makan’. ‘ ha, apa benar daging dan darahmu itu tidak enak untuk aku makan? Si harimau itupun berhasil dibohongi oleh kera itu..e.. dan monyet itupun berhasil untuk lolos dari harimau itu dan akhirnya e.. kera itu selamat dan harimau itu tidak mengejar kera itu lagi tetapi harimau itu malah memakan kijang dan rusa yang sedang duduk-duduk tadi. Monyet itu dan keluarganya senang karena si monyet itu tidak jadi dimakan oleh harimau yang ganas itu. E..dan e.. monyet itu trauma untuk pergi ke taman itu lagi jadi monyet itu tidak pernah pergi ke taman itu lagi.

  Tokoh utama : monyet yang dikejar harimau : dari membaca buku dan dikreasikan sendiri. Sumber cerita

  Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Hari itu adalah hari Jika ada anak sedang Kecemasan akan yang paling terancam bahaya, bahaya menakutkan bagi si kemudian menipu, monyet, karena ia akan akhirnya selamat dari diterkam oleh seekor bahaya. harimau yang ganas. Tetapi akhirnya dia bisa selamat dan monyet itu menceritakan kepada keluarganya bahwa dia sedang berjalan-jalan di taman tiba-tiba ada seekor harimau yang ganas akan menerkamku karena tergiur dengan tubuh monyet yang gemuk. Tetapi monyet berbohong kalau daging dan darahnya tidak enak. Sehingga harimau tertipu dan monyet berhasil lolos.

  Kartu 8 Cerita : Di suatu desa tinggalah suatu keluarga kuda yang.. e.. hidup dengan gembira. E.. pada hari itu..em.. adalah hari minggu dan mereka pun e.. tidak berlibur kemana- mana tetapi mereka hanya di rumah saja. E.. em.. kedua suami istri itu bernama..e..pak horse dan bu horse dan anak-anaknya ada dua yang e.. betina bernama Herlin dan yang jantan bernama Horgen. Mereka menikmati hari libur degan suka cita e... di pagi hari bu Horse sudah membuatkan kopi untuk pak Horse. Pak Horse masih tidur dan kedua anaknya juga masih tidur. Bu horse sudah membuatkan susu untuk anak-anaknya. Lalu pak Horse pun bangun dari tidurnya dan Pak Horse langsung mandi dan setelah itu meminum kopi buatan bu Horse. Setelah pak Horse yang bangun, Herlin pun bangun dan Herlin membangunkan Horgen. Kedua anak pak Hoese dan bu Horse tadi bangun dan mereka langsung mandi. Setelah mereka mandi mereka langsung minum susu dan mereka meminum susu dengan roti tawar yang sudah disiapkan bu Horse. Setelah mereka selesai dengan kegiatan paginya mereka pun berbicang-bincang dan Herlin dan Horgen bermain bersama. Saat Horgen akan mengambil mainan Herlin, Herlin tidak boleh membolehkannya karena Herlin tau kalau Horgen mengambil mainannya pasti mainannya akan dirusak jadi Horgen langsung dimarahi oleh Herlin. Jkamu tidak boleh mengambil mainan kakak, kamu ambil saja mainanmu sendiri. Lalu Horgen bertanya,’Mengapa aku tidak boleh bermain dengan mainan kakak? Kan sama saja. Lalu Herlin menjawab,’ karena kakak tahu kalau.. kalau meminjam mainan kakak kepada kamu pasti kamu akan merusaknya jadi kakak takut kalau mainan kakak dirusak. Lalu Horgen langsung marah dan mengambil mainannya sendiri. Lalu setelah Herlin dan Horgen bermain, Pak Horse dan Bu Horse berbincang-bincang di luar. Bu Horse mengatakan pada pak Horse begini,’ em,, barusan aku melihat anak kita sedang berantem karena Horgen..e.. akan mengambil mainan Herlin dan Herlin tidak membolehkan. E.. aku tidak mau kalau anak kita terus berantem hanya karena masalah mainan,’. Lalu pak Horse menjawab, ‘ Ya itu kan anak-anak kita masih kecil jadi harusnya kamu maklum dong dengan keadaan mereka. ya aku sih tau kalau mereka berantem tidak baik tetapi biarkan sajalah’. ‘ Ayah ini lho kok anak-anak kita berantem dibiarkan saja, bukannya dibilangin malah dibiarkan saja. Nanti mereka terus berantem begitu ayah..hehe..’. lalu Herlin dan Horgen bermain bersama dan Horgen diam-diam megambil mainan Herlin. Tanpa Herlin tau, mainan Herlin sudah dirusak oleh Horgen dan setelah Herlin tahu mainannya dirusak Horgen, Herlin marah besar karena mainan itu baru saja dibelikan oleh ayah dan ibunya. Herlin marah kepada Horgen, ‘ Horgern kamu ini kan sudah kakak bilang jangan mengambil mainan kakak? Coba kalo kakak mengambil mainanmu dan kakak rusak pasti kamu tidak mau kan? Heeh.. padahal kalu liat kan kemarin baru saja ayah dan

tidak tau perasaan kakak, kakaksedih sekali. Begitu marah Herlin..he.. Herlin langsung menangis dan masuk ke kamar. Karena Horgen masih kecil, Horgen tidak tahu apa-apa jadi Horgen pun tanpa menyesal tetap saja bermain. Lalu bu Horse mauk ke dalam rumah untuk melihat keadaan Herlin dan Horgen. Ternyata Horgen merusakkan mainan Herlin yang baru saja ia dan suaminyya belikan untuk Herlin, jadi akhir ceritanya gimana? Sebentar. Masih panjang? Nggak. Lalu bu Horse memarahi Horgen, em.. kan kemarin sudah ibu dan ayah belikan mainan untuk kamu, mengapa kamu mengambil mainan yang ibu dan ayah belikan untuk kakak? Em.. seharusnya kamu bermain dengan mainanmu sendiri’. Lalu setelah Horgen tahu kalo dia salah, dia langsung menyesal dan meminta maaf kepada kakaknya. Dan setelah ayah dan ibu Horgen menasihati Horgen agar tidak mengambil mainan Herlin lagi, Horgen tidak pernah mengambil mainan Herlin lagi dan merekapun hidup bahagia selamanya.

  Tokoh utama : Herlin, kakak perempuan yang mainannya dirusak

  adiknya

  Sumber cerita : dari khayalan anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Di suatu desa tinggalah suatu keluarga kuda yang hidup dengan gembira. Pada hari itu adalah hari minggu dan mereka hanya di rumah saja. Kedua suami istri itu bernama pak horse dan bu horse dan anak- anaknya ada dua yang betina bernama Herlin dan yang jantan bernama Horgen.

  Jika ada anak bertengkar, kemudian dinasihati oleh orangtuanya, akhirnya anak menyesal.

  Kecemasan akan penolakan Setelah mereka selesai dengan kegiatan paginya mereka pun berbicang-bincang dan Herlin dan Horgen bermain bersama. Saat Horgen akan mengambil mainan Herlin, Herlin tidak boleh membolehkannya karena Herlin tau kalau Horgen mengambil mainannya pasti mainannya akan dirusak. Mereka bertengkar. Pak Horse hanya membiarkan saja, bukannya dibilangin. Herlin marah langsung menangis dan masuk ke kamar karena mainannya dirusak. Lalu bu Horse memarahi Horgen. Setelah Horgen tahu kalo dia salah, dia langsung menyesal dan meminta maaf kepada kakaknya.

  Kartu 9 Cerita : Pada suatu malam ada satu keluarga gajah e..sedang menikmati malam. Ayah dan ibu gajah itu menyuruh gajah kecil itu untuk tidur. E.. tetapi gajah kecil itu tidak mau tidur. Ia pun dimarahi oleh ayahnya oleh ayahnya. Em..mere..e..anak gajah itu harus tidur sekarang karena kalau tidak em.. besok ia bangun kesiangan. Em..akhirnya gajah kecil itu masuk ke kamar tetapi ia tidak tidur, melainkan ia hanya mengintip dan melihat TV di depan kamarnya. Ayah dan ibunya tidak tahu kalau gajah kecil itu tidak tidur. Lalu e.. saat ayahnya melihat ke kamar gajah kecil itu, gajah kecil itu berpura-pura tidur lelap padahal ia.. e.. bukan tidur tetapi menonton TV. Setelah ayahnya.. setelah ayahnya melihat TV lagi gajah kecil itu juga ikut melihat TV. Nah.. ee.. terus akhirnya gimana? Saat ayah dan ibunya mau tidur, gajah kecil itu tidak tahu kalo ayah dan ibunya mau tidur karena gajah kecil itu melamun di kamarnya. Dan ibunya melihat bahwa gajah kecil itu tidak tidur dan ibunya memarahi gajah kecil itu. Lalu gajah kecil itu menyesal dan gajah kecil itu tidak mengulangi lagi. Dan besoknya e.. gajah kecil itu bangun kesiangan dan e.. dia terlambat untuk masuk ke sekolah dan jadi gajah kecil itu tidak masuk sekolah pada hari itu karena e.. sudah sangat terlambat untuk sekolah.

  Tokoh utama : seekor gajah kecil yang disuruh tidur Sumber cerita : khayalan anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Pada suatu malam ayah Jika ada anak - Kecemasan akan dan ibu gajah menyuruh melakukan sesuatu penolakan gajah kecil untuk tidur. karena keinginan - Kecemasan akan Tetapi gajah kecil itu orangtuanya, anak tidak kehilangan kasih tidak mau tidur. Ia mematuhi, akhirnya sayang dimarahi oleh ayahnya, anak dimarahi dan karena kalau tidak menyesali besok ia bangun perbuatannya. kesiangan. Akhirnya gajah kecil itu masuk ke kamar tetapi ia tidak tidur, melainkan mengintip dan melihat TV. Lalu saat ayahnya melihat ke kamar gajah kecil itu, gajah kecil itu berpura-pura tidur lelap. Saat ayah dan ibunya mau tidur, gajah kecil itu tidak tahu kalo ayah dan ibunya mau tidur. Ibunya melihat dan memarahinya. Lalu gajah kecil itu menyesal dan gajah kecil itu tidak mengulangi lagi. Dan besoknya gajah kecil itu bangun kesiangan dan dia terlambat untuk masuk ke sekolah dan jadi gajah kecil itu tidak masuk sekolah.

  Kartu 10 Cerita : Em.. pada suatu hari hiduplah induk sapi dan anak sapi. Induk sapi itu menyuruh anak sapi itu untuk mandi tetapi e.. anak sapi tersebut malas untuk mandi. Akhirnya induk sapi tersebut menggendongnya ke kamar mandi dan induk sapi itu memandikan anak sapi itu. Dengan perasaan kesal, anak sapi tadi dalam hatinya marah dengan ibunya. E.. e.. ia merasa ia terlalu dipaksa untuk mandi jadi ia kesal dengan ibunya. Setelah anak sapi itu selesai dimandikan.e.. anak sapi tersebut masih marah dengan ibunya dan ia melamun di kamar. Induk sapi itu tau kalau anaknya masih marah dengan dia karena emm.. induk sapi itu terlalu memaksa untuk anak sapi itu untuk mandi. Induk sapi tau kalau anaknya tidak suka mandi e.. dan anaknya lebih suka bermain lumpur jadi induk sapi tadi menemaninya di kamar. Dan induk sapi tadi minta maaf kepada anaknya dan anaknya bisa memaafkannya. Dan e.. setelah anaknya memaafkan ibunya, anaknya langsung keluar dan bermain lumpur. Ibunya pun jengkel karena setelah dimandikan malah bermain lumpur. Jadi kotor lagi. Setelah itu anak sapi tadi tetap tidak mau mandi lagi. Emm.. ya lalu induk sapi tadi mendiamkan saja anaknya untuk main di lumpur dan besoknya e.. anak sapi tau kalau nanti pasti ibunya menyuruh dia mandi jadi dia mandi sendiri dengan tidak disuruh walaupun setelah mandi, ia bermain di lumpur lagi. Emm tapi induk sapi sangat senang karena anaknya sudah..sudah mau untuk mandi tanpa disuruh. E.. tetapi e.. anak sapi tadi setelah bermain lumpur ia mandi lagi dan induk sapi tadi sangat senang jadi sekarang anak sapi tadi e.. selalu menaati perintah ibunya.

  Tokoh utama : seekor anak sapi yang disuruh mandi ibunya Sumber cerita : khayalan anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Pada suatu hari Jika ada anak tidak - Kecemasan akan hiduplah induk sapi dan menaati keinginan penolakan anak sapi. Induk sapi orang tua, orang tuanya - Kecemasan akan itu menyuruh anak sapi marah, akhirnya anak ditinggalkan untuk mandi tetapi anak mentaati keinginan sapi tersebut malas orang tua. untuk mandi. Akhirnya induk sapi memandikan anaknya. Anak sapi tadi dalam hatinya marah dengan ibunya. Ia merasa terlalu dipaksa untuk mandi. Dan induk sapi tadi minta maaf kepada anaknya dan anaknya bisa memaafkannya. Dan setelah anaknya memaafkan ibunya, anaknya langsung keluar dan bermain lumpur. Ibunya pun jengkel. Setelah itu anak sapi tidak mau mandi lagi. Lalu induk sapi tadi mendiamkan saja anaknya untuk main di lumpur dan besoknya anak sapi mandi sendiri tanpa disuruh. Induk sapi sangat senang, karena anak sapi tadi selalu menaati perintah ibunya.

  Subjek 9

  a. Identitas Subjek Nama : APP Jenis Kelamin : Laki-laki Tempat, tanggal Lahir : Jakarta, 4 Desember 1994 Usia : 11 tahun Urutan kelahiran : Anak pertama dari 3 bersaudara Agama : Katolik Tanggal tes : 25 November 2005

  b. Identitas Orangtua Orang Tua

  Keterangan Ayah Ibu

  Nama NN NN Usia 36 tahun 36 tahun Pendidikan STM STKAT/ SI

  • Pekerjaan Guru Status Pernikahan Cerai Cerai Agama Katolik Katolik

  c. Latar Belakang Subjek merupakan anak pertama, memiliki adik perempuan dan adik laki-laki. Subjek tinggal di daerah Monjali bersama ibu, adik perempuan dan kakeknya, sedangkan adik laki-lakinya bersama kakek dari ayahnya di Flores. Sebelumnya subjek dan keluarganya tinggal di Jakarta, namun keluarganya kurang harmonis. Subjek mengalami pengalaman kurang menyenangkan tentang ayah dan memiliki trauma tentang pengalaman tersebut. Ayah subjek pergi meninggalkan keluarga dengan tidak bertanggung jawab. Ibu memberikan kasih sayang yang cukup kepada subjek. Subjek sangat perhatian kepada adiknya perempuannya.

  Subjek memiliki emosi yang kurang stabil dan mudah tersinggung, hal ini di dorong oleh kondisi keluarga. Subjek mudah tersinggung atas perkataan dan perbuatan orang lain yang tidak sesuai dengan dirinya. Subjek merupakan anak yang keras kepala dan sering melakukan pemberontakan kecil dalam kesehariannya. Selain itu, subjek sulit memaafkan orang lain yang melakukan kesalahan padanya.

A. LEVEL TEMATIK TIAP KARTU Kartu 1 (tidak relevan) Kartu 2 (tidak relevan) Kartu 3 (tidak relevan) Kartu 4 (tidak relevan) Kartu 5 (tidak relevan) Kartu 6 (tidak relevan) Kartu 7 Cerita :

  Kayaknya itu..oh anak tadi kan pergi trus ada nenek tua yang jahat mau nangkap anaknya trus anaknya takut, dia mau pergi tapi nggak bisa anak itu mau dimakan nenek sihir, nenek itu udah ngerebus air untuk makan malam itu mba (ini airnya?) iya mba udah.

  Inquiry:

  Itu cerita..(cerita dari mana?) Hensel. T Cretel..(Hensel T Cretel? Cerita buku ya?) iya..(Gimana ceritanya dibuku itu?) tapi kalo Hensel T Cretel itu anaknya cuman satu orang.

  Tokoh: Anak Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Kayaknya anak tadi Jika ada anak yang akan - Kecemasan akan pergi trus ada nenek tua dicelakai oleh orang bahaya yang jahat mau lain, akhirnya anak - Kecemasan tidak nangkap anaknya trus takut karena tidak dapat mengatasi anaknya takut, dia mau menemukan jalan kesulitan yang pergi tapi nggak bisa. keluar. dihadapi Anak itu mau dimakan nenek sihir, nenek itu udah ngerebus air untuk makan malam.

  Kartu 8 (tidak relevan) Kartu 9 Cerita : Ini itu ada seorang bayi sedang tidur, pintunya sedang terbuka, dia itu belum tidur, pintunya sedang terbuka, dia tuh belum tidur, dia merasa takut karena pintunya terbuka malem-malem,ee.. udah gitu aja mba. (Ketawa) Inquiry:

  ini kayaknya tu itu..apa ya…? Pengalaman. (Pengalaman apa? ceritanya gimana?) aku tuh tidur..nah pintunya itu terbuka semuanya tuh pada nonton TV. Aku sendirian, aku takut trus aku langsung selimutan, langsung tidur. (Kok ga ikut nonton TV? Langsung tidur gitu?) nggak dah ngantuk gitu sih masalahnya.

  Tokoh: Seorang bayi Tema Deskriptif Tema Interpretif Tema Kecemasan

  Ada seorang bayi Jika ada seorang anak - Kecemasan akan sedang tidur, pintunya tidak bisa istirahat bahaya sedang terbuka, dia itu karena situasi tertentu - Kecemasan akan belum tidur dia merasa yang membuatnya kesendirian takut karena pintunya takut. terbuka malem-malem.

  Kartu 10 (tidak relevan)

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (169 Halaman)
Gratis

Tags