Sumbangan katekese keluarga terhadap peningkatan kesadaran akan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus Weleri - USD Repository

Gratis

0
0
146
4 days ago
Preview
Full text

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

SUMBANGAN KATEKESE KELUARGA

TERHADAP PENINGKATAN KESADARAN AKAN PERAN PENTING

ORANG TUA BAGI PENDIDIKAN IMAN ANAK

DI LINGKUNGAN SANTO YUSUF GEMUH PAROKI

ST. MARTINUS WELERI

S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh:

  Niken Pratiwi NIM: 071124001

  

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada kedua orangtuaku, kakak, dan umat di Lingkungan Santo Yusuf Paroki St. Martinus Weleri yang telah memberi dukungan untuk menyelesaikan skripsi ini

  .

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  MOTTO

  “Di mana hati diletakkan, di situ proses belajar dan maju mulai” (Y. B. Mangunwijaya)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRAK

  Judul skripsi ini adalah “SUMBANGAN KATEKESE KELUARGA

  

TERHADAP PENINGKATAN KESADARAN AKAN PERAN PENTING

ORANG TUA BAGI PENDIDIKAN IMAN ANAK DI LINGKUNGAN SANTO

YUSUF GEMUH PAROKI ST. MARTINUS WELERI . Penulisan skripsi ini

  berawal dari keprihatinan penulis terhadap kurangnya peran orang tua dalam pendidikan iman bagi anak-anak di dalam keluarga di lingkungan Santo Yusuf. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan dari penulis, kurangnya peran orang tua dalam pendidikan iman di dalam keluarga dikarenakan kurangnya kesadaran dari orang tua tentang pentingnya pendampingan iman di dalam keluarga terhadap perkembangan iman anak. Kurangnya kesadaran timbul dari permasalahan- permasalahan yang ada antara lain kepercayaan yang berlebihan dari orang tua terhadap pendidikan anak-anak mereka kepada sekolah, kurangnya waktu untuk berkumpul bersama keluarga karena orang tua sibuk bekerja, serta kurangnya pengetahuan tentang ajaran agama yang mengakibatkan pendidikan iman anak di dalam keluarga kurang diperhatikan sehingga iman anak tidak berkembang dan rentan terhadap pengaruh negatif.

  Dalam skripsi ini penulis menggunakan studi pustaka dari para ahli untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang ada. Selain studi pustaka, penulis juga mengadakan penelitian untuk memahami permasalahan yang ada serta mencari tahu apa yang menjadi harapan para orang tua untuk meningkatkan peran mereka sebagai pendidik.

  Dari studi pustaka penulis menemukan katekese model Shared Christian

  

Praxis (SCP) yang sesuai dengan keprihatinan dan harapan para orang tua di

  lingkungan Santo Yusuf Gemuh yang dapat membantu mereka dalam menghayati dan menjalankan tugas mereka sebagai pendidik iman di dalam keluarga. Melalui katekese model SCP, orang tua dibantu untuk merefleksikan tugas dan peranannya secara terus menerus sampai pada suatu tindakan konkret.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRACT

  This thesis entitled “CONTRIBUTION OF CATECHESIS FAMILY TO

  INCREASE AWARENESS OF SIGNIFICANT ROLE OF EDUCATION FOR PARENTS OF FAITH CHILD IN THE SAINT JOSEPH GEMUH DISTRICT ST. MARTIN WELERI PARISH”. The background of this thesis began from the author’s thoughtfulness towards the lack of parents role in the faith education for children in the St. Joseph district. Based on the experiences and observations, the lack of the parents role in education of faith in the family was because of the lack of parents awareness about the importance of faith nurturing in the family. The lack of awareness arose from the problems was about the axcessive confidence to the school towards the education of their children, the lack of quality time among the family members because they were too busy to work, and the lack of knowledge about religion that made their children’s education of faith doesn’t develop and very susceptible towards the negative effect.

  In this thesis the author uses literature from the experts to find the answers to existing problems. In addition to literature, the authors also conducted research to understand the existing problems and to find out what the expectations of parents to enhance their role as educators.

  From the literature study, authors found Shared Christian Praxis (SCP) catechetical model in accordance with the concerns and expectations of the parents in the St. Joseph Gemuh district that can help them to live and carry out their duties as a educators of faith education in the family. Through Shared Christian Praxis (SCP) catechetical model, parents are helped to reflect on the tasks and roles continually come to a concrete action.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebab karena kasihNyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul SUMBANGAN KATEKESE KELUARGA TERHADAP PENINGKATAN KESADARAN AKAN PERAN PENTING ORANG TUA BAGI PENDIDIKAN IMAN ANAK DI LINGKUNGAN SANTO YUSUF GEMUH PAROKI ST. MARTINUS WELERI. Selama proses penulisan dan penyusunan karya tulis ini, penulis merasakan rahmat kasih dan kebaikan Allah melalui uluran tangan banyak pihak, terutama dari: 1.

  Drs. FX. Heryatno W. W., S.J., M.Ed. selaku Kaprodi IPPAK Universitas Sanata Dharma sekaligus dosen pembimbing utama yang selalu mendampingi, membantu, membimbing dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  2. Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd selaku dosen penguji yang telah mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  3. P. Banyu Dewa HS, S.Ag, M.Si selaku dosen penguji yang telah berkenan mendampingi dan membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  4. Segenap staf dosen dan seluruh staf karyawan prodi IPPAK Universitas Sanata Dharma yang secara tidak langsung selalu memberikan dorongan kepada penulis.

  5. Keluarga tercinta: bapak, ibu, dan kakak yang selalu mendoakan dan memberikan dorongan bagi penulis dalam menyelesaikan studi.

  6. Teman-teman angkatan 2007, 2008, dan 2009 yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................ iv MOTTO. .................................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI...................................................... vii ABSTRAK ................................................................................................................ viii

  

ABSTRACT ................................................................................................................ ix

  KATA PENGANTAR ............................................................................................... x DAFTAR ISI ............................................................................................................. xii DAFTAR SINGKATAN ........................................................................................... xvi BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................

  1 A.

  1 Latar Belakang ...........................................................................................

  B.

  4 Rumusan Masalah ......................................................................................

  C.

  4 Tujuan Penulisan ........................................................................................

  D.

  5 Metode Penulisan .......................................................................................

  E.

  5 Sistematika Penulisan .................................................................................

  BAB II. KATEKESE KELUARGA DAN PERANANNYA BAGI PENDIDIKAN IMAN ANAK ..............................................................................................

  7 A.

  8 Katekese Keluarga ......................................................................................

  1.

  8 Pengertian Katekese Pada Umumnya...................................................

  2. Pengertian Keluarga.............................................................................. 11 3.

  Pengertian Katekese Keluarga............................................................... 12 4. Tujuan Katekese Keluarga..................................................................... 14 5. Sasaran Katekese Keluarga................................................................... 16 6. Kekhasan Katekese Keluarga................................................................ 17

  B.

  Pendidikan Iman Anak ............................................................................... 18 1.

  Pengertian Pendidikan Iman Anak ....................................................... 18 2. Tujuan Pendidikan Iman Anak ............................................................. 20 3. Pendidikan Iman dalam Keluarga ........................................................ 22 4. Faktor-faktor Perkembangan Iman Anak ............................................. 24 a.

  Faktor Pendukung Perkembangan Iman Anak............................... 24 b. Faktor Penghambat Perkembangan Iman Anak............................. 27 5. Usaha-usaha dalam Membantu Perkembangan Iman Anak.................. 29 C. Peranan Katekese Keluarga terhadap Pendidikan Iman Anak ................... 33 D.

  Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Iman Anak .................................... 36

  BAB III. PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN IMAN ANAK DI LINGKUNGAN SANTO YUSUF GEMUH ...................................... . 39 A. Paroki St. Martinus Weleri ......................................................................... . 39 1. Sejarah Paroki St. Martinus Weleri........................................................ 39 2. Profil Paroki St. Martinus Weleri........................................................... 40 3. Situasi Umat Paroki St. Martinus Weleri............................................... 43 B. Gambaran Umum Lingkungan Santo Yusuf Gemuh................................... 44 1. Letak dan Batas-Batas Geografis Lingkungan Santo Yusuf Gemuh ... 44 2. Kegiatan umat di Lingkungan Santo Yusuf Gemuh............................. 45 3. Situasi Sosial Kemasyarakatan Umat Lingkungan Santo Yusuf Gemuh 46 4. Situasi Ekonomi Umat Lingkungan Santo Yusuf Gemuh …………… 47 C. Penelitian Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Iman Anak di Lingkungan Santo Yusuf Gemuh ...........................................................

  47 1. Latar Belakang Penelitian..................................................................... 47 2.

  Tujuan Penelitian …………………………………………. ................ 49 3. Jenis Penelitian……….. ....................................................................... 50 4. Instrumen Penelitian ............................................................................. 50 5. Responden Penelitian............................................................................. 50 6. Waktu, Tempat, dan Pelaksanaan Penelitian......................................... 51 7. Variabel Penelitian................................................................................. 51 D. Laporan dan Pembahasan Hasil Penelitian ................................................. 52

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  1. Kuesioner Tertutup…………………………………… ....................... 52 a.

  Identitas Responden....................................................................... 52 b.

  Sejauh mana Peran Orang Tua dalam Pendidikan Iman Anak Sudah Terwujud.............................................................................

  53 c. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Orang Tua Berperan Dalam Pendidikan Iman Anak.......................................................

  62 d. Usulan Katekese yang Diharapkan Umat Meningkatkan Peran Orang Tua dalam Pendidikan Iman Anak......................................

  69 2. Kuesioner Terbuka…………………………. ...................................... 76 a.

  Sejauh mana peran orang tua dalam pendidikan iman anak sudah terwujud ..............................................................................

  76 b. Faktor-faktor pendukung dan penghambat orang tua berperan dalam pendidikan iman anak .........................................................

  78 c. Harapan umat dalam rangka meningkatkan peran mereka sebagai pendidik iman ....................................................................

  80 E. kesimpulan .................................................................................................. 82

  BAB IV. USAHA MENINGKATKAN KESADARAN AKAN PERAN PENTING ORANG TUA BAGI PENDIDIKAN IMAN ANAK DI LINGKUNGAN SANTO YUSUF GEMUH PAROKI ST. MARTINUS WELERI .......................................................................

  85 A. Katekese keluarga Model Shared Christian Praxis Sebagai Salah Satu

  Bentuk Pendampingan Iman dalam Meningkatkan Peran Orang Tua Sebagai Pendidik Iman .............................................................................

  85 1. Komponen SCP.................................................................................... 85 2.

  Langkah-langkah Katekese Model SCP............................................... 86 B. Usulan Program Katekese Keluarga bagi Orang Tua dalam

  Rangka Meningkatkan Kesadaran akan Peran Penting Orang Tua bagi Pendidikan Iman Anak di Lingkungan Santo Yusuf Gemuh ............

  89 1. Latar Belakang Program Katekese Keluarga....................................... 89 2. Alasan Penyusunan Program................................................................ 90 3.

  Rumusan Tema dan Tujuan program Katekese Keluarga.................... 91 4. Gambaran Pelaksanaan Program.......................................................... 93

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  5. Matriks Program Katekese Keluarga................................................... 94 C. Contoh Persiapan Katekese Keluarga ........................................................ 98

  BAB V. PENUTUP ................................................................................................... 110 A. Kesimpulan ............................................................................................... 110 B. Saran ........................................................................................................ 112 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 113 LAMPIRAN .............................................................................................................. 115 Lampiran 1: Surat Penelitian kepada Pastor Paroki St. Martinus Weleri .................. (1) Lampiran 2: Surat Penelitian kepada Ketua Lingkungan Santo Yusuf Gemuh ........ (2) Lampiran 3: Surat Pernyataan Penelitian kepada Dosen Pembimbing Skripsi ......... (3) Lampiran 4: Contoh Hasil Penelitian ........................................................................ (4) Lampiran 5: Cergam “aku sibuk” .............................................................................. (14)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  DAFTAR SINGKATAN A.

  Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci

  

Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat

  Dipersembahkan kepada Umat Katolik oleh Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, h. 8.

  B.

  Singkatan Lain FC : Familiaris Consortio, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang Keluarga Kristiani, 22 November 1981.

  CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II kepada para uskup, klerus dan segenap umat beriman, tentang katekese masa kini, 16 Oktober 1979. St : Santo

  PIA : Pendidikan Iman Anak KWI : Konferensi Waligereja Indonesia PKKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia SCP : Shared Christian Praxsis Dkk : Dan kawan-kawan Dsb : Dan Sebagainya KK : Kepala Keluarga Km : Kilo Meter

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  TK : Taman Kanak-kanak SD : Sekolah Dasar SMP : Sekolah Menengah Pertama SMA : Sekolah Menengah Atas CU : Credit Union WKRI : Wanita Katolik Republik Indonesia OMK : Orang muda Katolik PANTURA : Pantai Utara Dll : Dan Lain-lain PNS : Pegawai Negeri Sipil MB : Madah Bakti

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada umumnya setiap orang tua menginginkan anak-anaknya tumbuh

  dengan baik dalam berbagai faktor seperti fisik, budi pekerti, pergaulan, psikologis, maupun iman mereka. Di zaman sekarang perkembangan dan kemajuan teknologi semakin pesat. Banyak dampak negatif yang ditimbulkan, salah satunya menyebabkan iman anak dalam hidup sehari-hari menjadi semakin kabur. Pendidikan iman anak harus ditanamkan sejak dini karena keluarga merupakan tempat diselenggarakan pendidikan dasar bagi anak. Prasetya (2008:18) menegaskan bahwa pendidikan iman sejak dini sangat menentukan keberadaan dan kehidupan anak-anak mereka di masa depan, baik yang menyangkut kehidupan sosial, kehidupan beriman, maupun kehidupan pribadinya. Dan di sini peran orang tua sangat penting, karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak, maka terikat kewajiban amat berat untuk mendidik anak mereka. Oleh karena itu orangtualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang pertama dan utama (FC, art. 36). Iman anak tidak akan berkembang tanpa adanya bimbingan dan pendampingan dari orang tua. Dalam hal ini Egong (1983:16) mengatakan:

  Orang tua tetap mempunyai tugas utama dan mulia untuk membimbing anak-anaknya lewat kehidupan dan pergaulan sehari-hari, sebab iman mulai dibangun dalam keluarga. Maka peranan orang tua sangat penting. Keluarga sebagai tempat orang mulai menghayati iman, tempat orang berkomunikasi iman.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dalam kutipan di atas, Egong menegaskan bahwa orang tua memiliki tugas yang sangat penting yakni menjadi guru bagi anak-anak mereka. Dengan bimbingan dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak akan terbantu untuk menumbuhkembangkan iman dengan cara yang menyenangkan dan bermakna karena orang tua mengajari anak dengan keteladanan bukan dengan teori. Melalui komunikasi iman yang dilakukan oleh orang tua dalam kehidupan sehari-hari, anak- anak dibimbing dan diarahkan untuk semakin mengenal Allah Sang pencipta bumi dan segala isinya. Dengan begitu anak belajar bersyukur atas apa yang telah ia miliki dan belajar menghargai dan mengasihi orang lain. Oleh karena itu peran orang tua sangat penting dengan memberikan teladan bagi anak-anak mereka dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan teladan dari orang tua, anak dapat melihat dan belajar secara konkret.

  Keprihatinan yang sering dijumpai ialah kurangnya kepedulian orang tua terhadap pendidikan iman anak-anaknya. Sebagian besar orang tua lebih mengutamakan segi intelektual dan pendidikan formal di sekolah. Karena kesibukan orang tua, pendidikan iman dalam keluarga kurang diperhatikan. Akibatnya identitas dan iman kekatolikan anak-anak baik dalam keluarga, sekolah, Gereja dan masyarakat tidak berkembang dan akan semakin hilang. Padahal iman Kristiani tidak diperoleh secara otomatis setelah kita dibaptis, melainkan berkembang secara terus menerus melalui hidup di tengah keluarga, umat dan masyarakat. Akibat terlalu sibuk dengan hal-hal duniawi, keluarga-keluarga Kristiani mulai mengalami pudarnya iman kepada Allah, serbuan berbagai ideologi yang melawan nilai-nilai luhur hidup berkeluarga, dan berkurangnya kadar etika sosial. Semuanya terlibat membentuk

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (Tjandrawati, 2012:6). Selain itu, karena beratnya tantangan yang dihadapi oleh keluarga saat ini, banyak keluarga yang mengalami penurunan tujuan dari kehidupan perkawinan mereka yakni kehidupan cinta kasih sebagai suami istri (Jose Tacain, 2012:13). Menurunnya cinta kasih sebagai suami istri tentu mempengaruhi kehidupan anak-anak mereka. Orang tua kurang memberi perhatian terhadap hak dan kebutuhan anak serta melupakan kewajiban mereka sebagai pendidik yang bertanggung jawab atas pendidikan anak dalam keluarga yang merupakan pondasi dan bekal bagi anak dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

  Situasi yang semacam itu dialami oleh sebagian besar orang tua pada jaman sekarang. Penulis merasa prihatin setelah melihat situasi beberapa orang tua di lingkungan Santo Yusuf Gemuh yang banyak memiliki masalah dalam mendidik iman anak-anak di tengah keluarga. Beberapa masalah yang ada sebagian besar karena orang tua kurang memiliki waktu bersama anak-anak. Mereka sibuk bekerja, mencari penghasilan tambahan selain pemasukan pokok, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan lain sebagainya. Selain itu penulis juga menemukan masalah nikah beda agama dan beda Gereja yang mengakibatkan terbengkalainya pendidikan iman bagi anak mereka. Masalah tersebut semakin mengkhawatirkan karena pihak yang Katolik adalah kepala rumah tangga yang selalu sibuk mencari nafkah untuk keluarganya sedangkan istrinya yang non Katolik sedang dalam tahap inisiasi calon baptis. Sebagian besar orang tua hanya mengajarkan doa-doa pokok kepada anak- anak mereka. Sedangkan untuk masalah perkembangan iman, para orang tua menyerahkan kepada sekolah dan guru sekolah minggu.

  Setelah melihat keprihatinan di atas, menurut penulis katekese keluarga

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pendidikan iman anak dalam keluarga. Melalui katekese keluarga, para orang tua diharapkan semakin menyadari tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik agar kehidupan anak-anak mereka dapat seimbang baik segi rohani maupun jasmani. Dengan melihat kenyataan di atas, penulis bermaksud membantu umat di lingkungan Santo Yusuf Gemuh dengan menyumbangkan pemikiran melalui katekese keluarga agar umat semakin menyadari dan menghayati arti pentingnya pendidikan iman anak dalam keluarga.

  B. Rumusan Masalah 1.

  Apa itu katekese keluarga dan apa peranannya untuk pendidikan iman anak? 2. Sejauh mana orang tua di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus

  Weleri sudah mewujudkan peran mereka dalam pendidikan iman anak mereka? 3. Seberapa besar sumbangan katekese keluarga untuk meningkatkan kesadaran orang tua dalam pendidikan iman anak mereka?

  C. Tujuan Penulisan 1.

  Agar keluarga-keluarga Kristiani di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St.

  Martinus Weleri dapat memahami dan menghayati arti pentingnya katekese keluarga dalam usaha meningkatkan kesadaran akan peran orang tua bagi pendidikan iman anak.

2. Mengetahui sejauh mana para orang tua di lingkungan Santo Yusuf Gemuh

  Paroki St. Martinus Weleri menjalankan peran mereka dalam mendidik iman anak-anak mereka.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3. Memberi sumbangan pemikiran dalam usaha meningkatkan kesadaran akan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus Weleri.

  D. Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah deskriptif analitis.

  Melalui metode deskriptif analitis ini, penulis mencoba menemukan masalah serta kondisi peran orang tua dalam pendidikan iman anak di lingkungan Santo Yusuf Gemuh. Kemudian penulis memberikan sumbangan pemikiran melalui katekese keluarga yang dapat meningkatkan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus Weleri.

  E. Sistematika Penulisan

  Penulisan skripsi berjudul “Sumbangan Katekese Keluarga terhadap

  Peningkatan Kesadaran akan Peran Penting Orang Tua bagi Pendidikan Iman Anak di Lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus Weleri ” ini terbagi menjadi lima bab. Uraian singkat sebagai berikut:

  Bab I berupa pendahuluan yang berisi tentang latar belakang, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab II akan menguraikan tentang pengertian katekese pada umumnya, pengertian keluarga, pengertian katekese keluarga, tujuan katekese keluarga, sasaran, dan kekhasan dari katekese keluarga. Selain itu, bab II juga menguraikan tentang pengertian dan tujuan pendidikan iman anak, pendidikan iman anak dalam keluarga,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  perkembangan iman anak, dan usaha-usaha dalam membantu perkembangan iman anak, serta menguraikan peranan katekese keluarga terhadap pendidikan iman anak.

  Bab III menggambarkan mengenai situasi orang tua di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus Weleri. Bab III ini menguraikan tentang gambaran umum situasi dan peranan orang tua dalam pendidikan iman anak di lingkungan Santo Yusuf, serta penelitian, pembahasan, dan kesimpulan mengenai peranan orang tua dalam pendidikan iman anak di lingkungan Santo Yusuf Gemuh.

  Bab IV berisi tentang usaha meningkatkan kesadaran akan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus Weleri dengan memberikan program katekese keluarga dan contoh persiapan katekese keluarga. Bab V berisi kesimpulan dari seluruh rangkaian bab yang sudah diuraikan serta saran dari penulis.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  BAB II KATEKESE KELUARGA DAN PERANANNYA BAGI PENDIDIKAN IMAN ANAK Bab II ini secara khusus menguraikan topik-topik tentang katekese keluarga dan peranannya bagi pendidikan iman anak secara teoritis menurut bahan- bahan kepustakaan untuk memberikan gambaran mengenai apa itu katekese keluarga serta peranannya bagi pendidikan iman anak. Katekese keluarga membantu para orang tua agar semakin menyadari pentingnya pendidikan iman dalam keluarga dan memberikan inspirasi mengenai tugasnya sebagai pendidik yang utama agar anak memiliki pondasi dan bekal dalam menyiapkan diri menghadapi pengaruh-pengaruh modernisasi ketika hidup di tengah masyarakat dan Gereja yang menjadi inti dari bab II ini.

  Bab II ini terdiri dari tiga bagian yaitu katekese keluarga, pendidikan iman anak, dan peranan katekese keluarga terhadap pendidikan iman anak. Dalam setiap bagian diuraikan beberapa topik menurut bahan-bahan kepustakaan. Bagian pertama membahas mengenai katekese keluarga. Dalam bagian ini, ada 6 (enam) topik yang dibahas di antaranya mengenai pengertian katekese pada umumnya, pengertian keluarga, pengertian katekese keluarga dan tujuan, sasaran, serta kekhasan dari katekese keluarga. Bagian 2 (dua) membahas mengenai pendidikan iman anak.

  Bagian ini terdiri dari 5 (lima) topik antara lain mengenai pengertian pendidikan iman anak, tujuan pendidikan iman anak, pendidikan iman dalam keluarga, faktor- faktor yang mempengaruhi perkembangan dan penghambat perkembangan iman anak, serta usaha-usaha dalam memperkembangkan iman anak. Sedangkan bagian 3

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (tiga) membahas mengenai peranan katekese keluarga bagi pendidikan iman anak.

  Bagian ini menguraikan tentang bagaimana katekese keluarga memberikan kontribusi dalam membantu keluarga-keluarga Kristiani khususnya para orang tua untuk lebih memperhatikan pendidikan iman bagi anak-anak mereka di dalam keluarga.

A. Katekese Keluarga

  Bagian ini akan membahas mengenai pengertian katekese pada umumnya, pengertian keluarga, pengertian katekese keluarga serta tujuan, sasaran, dan kekhasan katekese keluarga. Katekese keluarga merupakan salah satu bentuk dari katekese umat yang bertujuan membantu keluarga-keluarga Kristiani dengan memberikan inspirasi untuk mengatasi permasalahan mereka dalam pendidikan iman untuk anak-anak. Melalui katekese keluarga inilah para orang tua disadarkan kembali mengenai tugas dan kewajibannya dalam melindungi dan memelihara setiap anggota keluarga dalam hidup Gereja dan masyarakat.

1. Pengertian Katekese Pada Umumnya

  Dalam dokumen CT (1979 art 1), paus Yohanes Paulus II mengemukakan bahwa katekese adalah usaha dari pihak Gereja untuk membantu umat mengimani bahwa Yesus itu Putera Allah, supaya dengan beriman mereka beroleh kehidupan dalam nama-Nya. Dalam dokumen tersebut, katekese menjadi salah satu sarana pewartaan bagi Gereja dimana seluruh hidup Yesuslah yang diwartakan untuk membantu umat agar semakin percaya dan mengantar umat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dipahami sebagai pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki hidup Kristen. Dalam hal ini, katekese dipahami sebagai pembinaan hidup orang Kristen sesuai ajaran Kristiani baik dalam lingkup lingkungan maupun paroki secara sistematis dan terorganisir menuju ke arah kedewasaan iman yang sempurna dalam Kristus.

  Menurut Huber (1979:20), katekese ialah usaha saling menolong terus- menerus dari setiap orang untuk mengartikan dan mendalami hidup pribadi ataupun hidup bersama menurut pola Kristus menuju kepada hidup Kristiani dewasa. Dari pengertian tersebut, katekese diartikan sebagai usaha untuk membantu sesama orang Kristiani secara terus menerus dalam mengartikan dan menghayati hidup pribadi maupun hidup bersama dengan saling memberi peneguhan iman kepada Kristus agar iman Kristiani semakin dewasa dari hari ke hari.

  Katekese dipahami sebagai komunikasi iman dengan tujuan meningkatkan hidup beriman baik secara pribadi maupun bersama. Sebagai hasil dari sidang PKKI II, Huber (1981: 18) merumuskan pengertian katekese sebagai berikut:

  Katekese adalah komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antar anggota jemaat atau kelompok sebagai kesaksian untuk saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna.

  Menurut Huber, katekese merupakan komunikasi iman antar umat. Dimana seluruh anggota jemaat saling berdialog untuk memberikan kesaksian mengenai pengalaman iman agar masing-masing anggota dapat saling meneguhkan dan memperkembangkan imannya semakin sempurna dalam Kristus.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Katekese menekankan pentingnya peran umat dalam prosesnya karena katekese juga tanggung jawab setiap umat yang telah masuk dalam persekutuan dengan Kristus melalui pembaptisan. Katekese dapat menjadi sarana bagi umat untuk mengolah pengalaman menjadi kesaksian akan kasih Kristus yang telah mereka rasakan sehingga dapat saling meneguhkan satu sama lain. Dalam kerangka komunikasi iman, yang menjadi titik tolak dalam katekese ialah pengalaman hidup orang beriman yang sungguh menghayati imannya di tengah-tengah pergulatan hidup sehari-hari (Heryatno, 2010:1). Dalam pengertian tersebut, umat menjadi subyek dalam katekese dimana umatlah yang menjadi pusat dari proses katekese yang bersaksi atas imannnya akan Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

  Dalam Kitab Suci terutama pada: Luk 1:4, katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman agar seorang kristen semakin dewasa dalam iman.

  . Dalam pengertian tersebut dikatakan bahwa melalui katekese, orang Kristiani dituntun untuk hidup sesuai dengan ajaran Kristiani sehingga dapat menemukan pengharapan akan kasih yang mereka rindukan melalui firman dalam Kitab Suci yang mereka dalami bersama. Firman yang tertulis dalam Kitab Suci dapat menjadi bahan refleksi bagi umat untuk melihat dalam kehidupan mereka masing-masing sehingga diharapkan dapat membawa perubahan dalam kehidupan mereka dan menjadikan firman sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan baik di masyarakat maupun di Gereja.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Pengertian Keluarga Keluarga merupakan pondasi pembangunan Gereja dan masyarakat.

  Karena keluarga adalah lingkungan pertama-tempat iman dibentuk. Dalam keluargalah tempat iman dibesarkan dan mulai merekah, sehingga iman akan semakin hidup dan aktif dalam tindakan sehari-hari. Menurut Paus Yohanes Paulus

  II, keluarga adalah sekolah pertama dan mendasar untuk hidup bermasyarakat sebagai persekutuan cinta kasih yang membimbingnya dan mempertumbuhkannya (1994:74). Dari pengertian tersebut, setiap anggota keluarga belajar nilai-nilai sosial secara konkret dalam pengalaman hidup bersama, berbagi rasa, saling menghormati dengan penuh cinta kasih untuk mempersiapkan anak-anak dalam memasuki lingkungan masyarakat.

  Keluarga dapat memainkan peran fundamental, karena keluarga adalah sel vital yang paling kecil dari masyarakat yang mempunyai pengaruh paling kuat pada tingkah laku manusia (Eiuswa, 2011:10). Dalam keluargalah berbagai faktor seperti pengetahuan, sosial, budaya, moral, pengembangan kepribadian dan rohani mulai dibina dan diajarkan oleh para orang tua untuk anak-anaknya. Kehidupan dalam keluarga menjadi penentu tingkah laku setiap anggotanya dalam hidup bermasyarakat karena apa yang diajarkan dalam hidup keluarga, itulah yang diterapkan dalam tindakan nyata.

  Menurut Budyapranata, keluarga adalah tempat pembentukan manusia atau tempat memanusiakan manusia (1979:6). Dalam keluarga, setiap anggota keluarga saling membantu dalam mengembangkan pribadi satu sama lain dalam hubungan persaudaraan yang erat. Dengan menghormati dan memupuk martabat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  nyaman dan merasa memiliki arti sebagai seorang pribadi yang utuh dengan merasakan cinta kasih dari anggota keluarga.

  Cinta kasih merupakan landasan yang paling utama dalam keluarga agar semua anggota keluarga dapat mengalami kerukunan dalam hidup. Dalam hal ini KWI (2011:10) mengatakan:

  Keluarga adalah komunitas pertama dan asal mula keberadaan setiap manusia dan merupakan ”persekutuan pribadi-pribadi” (Communio

  Personarum ) yang hidupnya berdasarkan dan bersumber pada cinta

  kasih. Kasih sejati dalam keluarga adalah kasih yang membuahkan kebaikan bagi semua anggota keluarga. Dalam keluargalah awal mula manusia membentuk persekutuan pribadi- pribadi yakni seorang suami dengan istri, antara orang tua dan anak-anaknya, serta antara anak-anak itu sendiri. Setiap pribadi mewujudkan cinta kasih kepada semua anggota keluarga melalui tindakan konkret untuk mewujudkan kedamaian, keharmonisan, dan kebahagiaan hidup keluarga.

  Sedangkan menurut Gilarso, keluarga adalah Gereja mini yang berarti persekutuan dasar iman dan tempat persemaian iman sejati (2002:13). Dari pengertian tersebut, dalam keluarga iman berkembang dan dihayati sehingga dapat menjadi dasar dalam bersikap/bertingkah laku dalam hidup sehari-hari agar tercipta kedamaian, kerukunan, persaudaraan dalam keluarga. Dengan menciptakan kedamaian dalam keluarga yang berdasarkan penghayatan iman, Tuhan hadir di tengah-tengah keluarga untuk memberikan rahmat-Nya.

3. Pengertian Katekese Keluarga

  Katekese keluarga lahir dari krisis yang dialami oleh keluarga-keluarga

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dan sudah menjadi salah satu kewajiban Gereja untuk memberikan pendampingan dalam mewujudkan hidup keluarga kristiani yang lebih baik. Egong (1983:25) mengemukakan bahwa:

  Katekese keluarga adalah katekese yang diselenggarakan di paroki untuk para orang tua dan yang sekaligus menjadi katekese dari orang tua kepada anak-anak mereka dalam lingkup keluarga. Dalam arti yang paling khas, katekese keluarga merupakan segala sesuatu yang terjadi di rumah antara orang tua dengan anak-anak dalam komunikasi iman.

  Katekese keluarga diselenggarakan di paroki sebagai bentuk tanggapan atas keprihatinan Gereja mengenai keluarga-keluarga yang sekarang ini tidak lagi menjadi tempat pendidikan iman bagi anak-anak. Katekese keluarga ingin membantu orang tua dalam menciptakan suasana pendidikan iman bagi anak-anaknya melalui dialog atau komunikasi iman dalam hidup sehari-hari. Oleh karena itu, melalui katekese keluarga para orang tua dapat menyadari tugas dan tanggung jawabnya dalam hidup berkeluarga terutama dalam mendidik anak-anak mereka sehubungan dengan hidup dalam Gereja dan masyarakat.

  Menurut Dwi Wuryani, katekese keluarga merupakan aspek dari katekese umat yang biasa dipakai untuk menggambarkan bentuk katekese dewasa yang ditujukan kepada orang tua untuk menolong mereka dalam pendidikan iman anak- anak mereka (1994:70). Katekese keluarga merupakan salah satu bagian dari katekese umat sebagai bentuk pendampingan bagi para orang tua untuk mengingatkan kembali tugas dan kewajiban mereka dan menolong mereka dalam memberikan pendidikan bagi anak-anak dengan benar dan menyenangkan terutama dalam hal nilai-nilai kemanusiaan dan nilai iman Katolik untuk mempersiapkan anak-anak dalam hidup di tengah Gereja dan masyarakat. Dalam hal ini, Gabriella

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (1991:14) memiliki pemikiran yang sama bahwa katekese keluarga adalah suatu bentuk katekese umat yang merupakan bentuk kerja sama antara sejumlah keluarga yang sedang bertumbuh dalam iman dan menghadapi tugas yang sama yaitu mendidik iman anak-anak. Dari pengertian di atas, nampaknya semakin jelas bahwa katekese keluarga merupakan salah satu bentuk kepedulian Gereja terhadap pendidikan iman dalam keluarga sebagai sarana pembelajaran bagi para orang tua untuk semakin memperkaya nilai-nilai rohani dalam keluarga dan relasi antar anggota keluarga. Oleh karena itu Gereja mengambil bagian dalam pembinaan bagi keluarga Kristiani karena keluarga bukan suatu komunitas biasa tetapi suatu tempat persemaian dan sekolah iman; bahwa dalam keluarga iman serta pengungkapannya diperkenalkan, diajarkan dan dihayati (Wignyasumarta, 2000:36).

4. Tujuan Katekese Keluarga

  Pesatnya perkembangan teknologi berakibat banyak bagi perkembangan pribadi manusia. Gereja dan para orang tua mulai khawatir tentang perkembangan kepribadian anak-anak jika pendidikan iman dalam keluarga tidak diperhatikan. Oleh karena itu, sebagai salah satu aspek dari katekese umat, katekese keluarga ingin memberikan kontribusi kepada keluarga-keluarga Kristiani dalam upaya membentuk keluarga yang hidup berdasar terang Kristus. Menurut Gabriella (1991:1), tujuan dari katekese kaluarga yakni:

  Katekese keluarga ingin memberikan inspirasi kepada para orang tua dan mendorong mereka untuk menciptakan kesempatan dalam hidup keluarga, untuk bersama seluruh anggota keluarga berbincang-bincang, dan sharing pengalaman hidup nyata dengan sorotan terang INJIL, guna menyimak makna untuk hidup yang lebih manusiawi dan lebih menjawab maksud dan tujuan manusia diciptakan, yakni untuk memuji dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Kutipan di atas mengemukakan bahwa katekese keluarga ingin memberikan inspirasi kepada keluarga-keluarga Kristiani khususnya orang tua agar terdorong untuk menciptakan kesempatan dengan memberikan perhatian dan waktu untuk berbincang-bincang dan sharing dengan seluruh anggota keluarga mengenai pengalaman sehari-hari yang direfleksikan dengan bacaan dari Kitab Suci. Dengan sharing pengalaman hidup yang direfleksikan sesuai dengan bacaan dari Kitab Suci, seluruh anggota keluarga dapat memahami makna dari pengalaman-pengalaman hidup yang telah dilalui dan memahami maksud dan tujuan manusia diciptakan yakni agar manusia dapat memuji dan memuliakan Allah dengan hidup dengan penuh cinta kasih kepada sesama dan ikut mengemban tugas dalam memperkembangkan Gereja dan masyarakat.

  Menurut Egong, katekese keluarga ingin mengusahakan suatu dialog yang timbal balik antara semua anggota keluarga, sehingga masing-masing anggota keluarga menyadari, menumbuhkan, memperkembangkan, dan saling meneguhkan imannya (1983:24). Melalui katekese keluarga, relasi antar anggota keluarga sebagai sebuah keluarga Kristiani dan sebagai pribadi yang hidup di tengah masyarakat menjadi semakin erat dengan menghadirkan cinta kasih Allah dalam tindakan konkret melalui komunikasi iman dan semangat cinta kasih. Katekese keluarga diharapkan membawa dampak bagi setiap anggota keluarga agar semakin menyadari dan memperkembangkan iman dengan saling terbuka satu sama lain. Dengan keterbukaan yang dilandasi kepercayaan, masing-masing anggota keluarga dapat saling memperkaya dan meneguhkan iman dalam realitas sehari-hari. Dan dengan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  adanya dialog, orang tua dapat lebih mudah menuntun dan membina iman anak-anak mereka secara terus menerus.

  Menurut Dwi Wuryani, tujuan dari katekese keluarga adalah untuk meyakinkan orang tua bahwa mereka adalah pengajar hidup dalam keluarga, yaitu pengajar mengenai hidup dan iman di dalam keluarga mereka masing-masing (1994:72). Tuhan mengamanatkan kepada orang tua untuk membimbing keluarganya menuju proses kedewasaan (Bonaventura, 2011:3). Oleh karena itu melalui katekese keluarga, para orang tua diingatkan kembali bahwa merekalah yang sepenuhnya bertanggung jawab dalam memberikan teladan pengajaran mengenai rohani dan hidup dalam masyarakat.

5. Sasaran Katekese Keluarga

  Dalam upaya mencapai tujuan yang diharapkan, katekis dan keluarga- keluarga perlu menentukan sasaran yang ingin dicapai agar proses dari katekese keluarga semakin jelas. Menurut Dwi Wuryani (1994:72), yang menjadi sasaran dari katekese keluarga adalah: a.

  Kelompok suami-isteri (bapak-ibu yang bertanggung jawab langsung pada anak- anaknya, kepada Tuhan, negara, dan masyarakat sekitarnya).

  b.

  Semua anggota keluarga (ayah-ibu-anak) dan semua sanak saudara yang seiman dan tinggal serumah.

  c.

  Kaum kerabat, sanak, saudara, yang berkumpul pada suatu kesempatan sehubungan dengan tradisi atau suatu peringatan.

  Kelompok-kelompok di atas menjadi sasaran dalam katekese keluarga karena merekalah pelaku kehidupan yang memiliki visi dan misi yang sama

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  keterkaitan hubungan atau relasi yang memiliki tugas untuk saling membantu dan memperkembangkan pribadi satu sama lain.

6. Kekhasan Katekese Keluarga

  Meskipun katekese keluarga merupakan bagian dari katekese umat, tetapi katekese keluarga memiliki kekhasan tersendiri untuk membedakan katekese keluarga dengan katekese yang lainnya. Kekhasan tersebut antara lain: a.

  Katekese keluarga bertujuan meyakinkan para orang tua bahwa dirinya merupakan pengajar hidup, artinya orang tua menjadi pengajar tentang hidup dan iman dalam keluarga masing-masing (Dwi Wuryani, 1994:73).

  b.

  Katekese keluarga bukan sebagai pengganti pelajaran agama di sekolah dan paroki. Katekese keluarga mempunyai hubungan dengan katekese lainnya, dalam arti bahwa katekese keluarga mau memperlihatkan bahwa komunikasi iman dalam keluarga merupakan dasar dan bantuan dari katekese yang lain.

  Dengan kata lain dalam rangka pendidikan iman anak dibutuhkan kerjasama antara orang tua, guru agama di sekolah dan pastor, katekis dan umat di wilayah/paroki (Egong,1983:26).

  c.

  Katekese keluarga bukan suatu penataran atau diskusi mengenai persoalan iman.

  Katekese keluarga mau menolong orang tua untuk dapat mengambil keputusan yang tepat mengenai arti dan tujuan hidup dalam terang iman (Dwi Wuryani, 1994:73).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pendidikan Iman Anak B.

1. Pengertian Pendidikan Iman Anak

  Pendidikan dapat dikatakan sebagai usaha bersama dalam proses terpadu- terorganisir untuk membantu manusia mengembangkan dan menyiapkan diri guna mengambil tempat semestinya dalam pengembangan masyarakat dan dirinya di hadapan Sang Pencipta (Setyakarjana, 1997:1). Dengan menerima pengajaran, manusia berproses untuk menjadi pribadi yang berguna dalam hidup di tengah masyarakat. Dengan terus belajar, manusia dapat mengembangkan kecerdasan, keterampilan, akal budi yang sudah dimiliki dan kemudian ikut bertanggung jawab membantu dalam tugas pengembangan masyarakat. Dengan begitu manusia dapat mengembangkan diri dalam menjalin relasi yang harmonis dengan sesama dan Sang Pencipta.

  Pendidikan yang sangat mendasar adalah pendidikan Iman. Ia menjadi dasar bagi seluruh proses pendidikan berikutnya. Menurut Adisusanto, pendidikan iman adalah suatu usaha yang berarti atau relevan untuk membantu umat beriman menuju ke kedewasaannya secara paripurna (1997:1). Pendidikan iman tidak hanya menyampaikan pengetahuan iman, tetapi juga membentuk sikap iman.

  Terlebih mengenai pendidikan iman anak, perlu perhatian khusus terutama dari orang tua. Iman berakar dalam ajaran yang kokoh. Orang tidak bisa percaya tanpa mengetahui apa yang ia percayai. Maka anak-anak harus tahu ajaran Kristiani agar sampai pada iman yang benar. Dan orang tualah yang harus memenuhi kebutuhan dan hak anak dalam mendapat pengajaran. Menurut Adisusanto, pendidikan iman bersifat menyeluruh mencakup semua aspek iman, yaitu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang berkembang dalam hidup berimannya tidak hanya tahu akan apa yang diimaninya, tetapi juga merayakan dalam hidup sakramentil dan menghayatinya dalam hidup sehari-hari. Iman yang sampai pada tahap penghayatan yang sempurna, tidak berkembang dengan sendirinya melainkan dengan bantuan berbagai sarana, orang-orang terdekat, lembaga, dan lain-lain.

  Iman tanpa pengolahan secara terus menerus akan menjadi lemah dan rentan terhadap krisis terutama bagi anak-anak. Oleh karena itu perlu adanya pendampingan sebagai wujud kepedulian dan kesadaran akan pentingnya pendidikan iman pada anak usia dini demi perkembangan iman mereka. Menurut Suhardiyanto (2008:1), Pendidikan Iman Anak adalah segala kegiatan apapun, dalam lingkup manapun yang dilakukan demi perkembangan iman anak, baik dalam lingkup keluarga maupun dalam lingkup paroki. Pendampingan dari orang tua adalah dasar berkembangnya iman anak karena orang tua memiliki otoritas terbesar sebagai pendidik. Selain itu orang tua adalah pendidik yang pertama dan paling utama (FC art. 36). Oleh karena itu orang tua harus mengarahkan anak menuju kedewasaan dengan memberikan bimbingan rohani secara konkret dalam hidup sehari-hari. Dengan pendampingan secara terus menerus baik dalam keluarga maupun dalam sekolah atau paroki, iman anak akan semakin berkembang dan merekah. Anak mulai mengetahui artinya mempercayai dan menemukan pribadi-pribadi Bapa, Putera, dan Roh Kudus yang dipercayainya (Cooke, 1972:6). Anak mengetahui imannya sebagai seorang Kristen dan mulai dewasa dalam imannya dengan meyakini bahwa Allah sungguh ada dan Yesus sebagai putera-Nya sungguh hidup dan Roh Kudus ada bersamanya karena ia merasakan cinta dan kasih Allah kepadanya. Dalam hal ini

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  usaha manusia untuk menciptakan suasana hidup beriman anak sedemikian rupa, hingga membantu dan mempermudah perkembangan iman anak.

  Pendidikan iman anak sebagai salah satu usaha untuk membantu dan mempermudah perkembangan iman anak yang bertujuan membimbing anak secara sadar berdasarkan kehidupan konkret anak menuju kedewasaan imannya. Oleh karena itu pendidikan iman anak harus dimulai sedini mungkin-sejak lahir dan terus menerus sampai anak menjadi dewasa (Wignyasumarta, 2000:148). Pendidikan iman dimulai sejak anak lahir bila memungkinkan dibawa ke Gereja untuk dibaptis.

  Pembaptisan bagaikan benih yang ditanam dan kemudian akan tumbuh dan berbuah kemudian hari. Pertumbuhan iman tergantung dari orang tua dalam membimbing iman anak-anak mereka. Oleh karena itu, pendidikan iman yang diberikan kepada anak sejak dini akan menjadi dasar atau pondasi dan bekal bagi anak dalam mempersiapkan diri menghadapi kehidupan dalam masyarakat. Dan pendidikan iman harus dilakukan secara terus menerus agar anak semakin mengenal Bapa, Putera dan Roh Kudus, menghayati iman yang sudah ia pilih dan memahami arti hidup serta tujuan manusia diciptakan untuk ikut ambil bagian dalam pengembangan masyarakat dan hidup harmonis dengan sesama manusia dan seluruh ciptaan-Nya.

2. Tujuan Pendidikan Iman Anak

  Iman tidak akan berkembang dan semakin hilang jika tidak ada pendampingan dan pengajaran sejak dini. Melalui pendidikan Kristiani, anak dihantar pada perjumpaan dengan Pribadi Yesus Kristus (Setyakarjana, 1997:2). Pendidikan iman anak mengarah pada pemahaman anak akan Allah yang penuh

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang mengasihi setiap orang yang datang kepada-Nya. Tujuan dari pendidikan iman itu sendiri yakni menumbuhkan sikap beriman dalam diri anak-anak (KWI, 2011:30).

  Dengan sikap beriman, anak-anak siap menyambut kasih Allah dan membalasnya, serta secara aktif ambil bagian dalam hidup Gereja. Oleh karena itu, anak-anak perlu dibimbing sejak dini secara bertahap, sesuai dengan tahap perkembangan kepribadiannya, sehingga mereka semakin menghayati dan mengembangkan kurnia iman yang telah mereka terima. Dengan demikian, anak yang memperoleh pendidikan iman sejak dini, akan membekas dalam sanubarinya. Ibarat kain yang dicelup dalam pewarna dan dibiarkan berhari-hari didalamnya, tidak akan ada pori- pori sekecil apapun yang tidak terwarnai. Oleh karena itu pendidikan iman semenjak kecil akan sangat berpengaruh dalam kehidupan anak selanjutnya.

  Sedangkan Suhardiyanto (2008:5) mengemukakan bahwa tujuan utama pendidikan iman anak adalah agar anak-anak peserta PIA memiliki sikap dan wawasan iman Kristiani, bangga atasnya, serta mampu pula mengungkapkan dan mewujudkan imannya sesuai usia mereka. Selain menanamkan pemahaman mengenai Allah yang penuh kasih, anak juga diajarkan mengenai sikap penuh cinta kasih dalam hidup sehari-hari terhadap sesama dan orang lain yang mencerminkan sikap orang Kristiani. Selain itu anak juga dibekali dengan pengetahuan tentang ajaran, peraturan, dan lain sebagainya dalam lingkup agama yang nantinya diharapkan anak merasa bangga bahwa ia dicintai dan mencintai orang lain serta mengungkapkannya dalam wujud tindakan dalam hidup sehari-hari sesuai dengan usia mereka. Anak-anak diperkenalkan dengan Allah sebagai Sang pencipta atas

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  segala sesuatu yang ia dapatkan dari Tuhan. Selain itu juga anak-anak diberi pemahaman bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan memiliki martabat dan derajat yang sama sehingga melalui pemahaman tersebut, anak-anak belajar menghargai orang lain sebagai wujud cinta kasih kepada Tuhan.

  Dapat disimpulkan bahwa pendidikan iman anak bertujuan terwujudnya aspek pewartaan, perayaan, dan kesaksian. Dalam hal ini Goretti (1999:82) mengemukakan beberapa tujuan pendidikan iman sebagai berikut: a.

  Menyiapkan situasi lingkungan yang baik bagi anak-anak yang sedang berkembang.

  b.

  Meningkatkan serta memperdalam pengetahuan agama yang diarahkan ke penghayatan iman yang nyata sesuai dengan perkembangannya di usia tertentu (5-13 tahun).

  c.

  Mempersiapkan anak untuk menerima komuni pertama.

  d.

  Meningkatkan serta memperdalam penghayatan anak terhadap liturgi Gereja.

  e.

  Meningkatkan sifat satria, harga-menghargai pribadi orang lain.

  f.

  Memupuk harga diri yang sehat dan wajar. Kritis dalam menanggapi sesuatu serta menilai tinggi hak hidup setiap makhluk.

3. Pendidikan Iman dalam Keluarga

  Sebagai bagian dari Gereja, keluarga-keluarga Kristiani berkewajiban untuk mengusahakan agar anak-anak memiliki iman yang terwujud dalam penghayatan hidup. Oleh karena itu, perlu sekali adanya pembinaan bagi anak-anak sejak usia dini demi tercapainya kedewasaan iman dalam keluarga. Dan keluarga perlu menyadari bahwa kunci pendidikan iman sepenuhnya ada dalam keluarga. Menurut Gabriella (1991:10), pendidikan iman dalam keluarga tidak mengikuti suatu program pasti dan baku seperti model katekese sekolah, tetapi mulai dengan dasar

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  iman keluarga dan bertumbuh seterusnya. Dalam pengertian tersebut, pendidikan iman bukan diartikan sebagai sebuah pendidikan formal tetapi pendidikan spontan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga dengan dialog, bercengkrama dll. Kesadaran akan Tuhan dalam keluarga bagi anak-anak usia dini terjadi dalam peristiwa sehari-hari biasa. Dalam peristiwa sehari-hari inilah anak mulai mengenal Tuhan dan merasakan kasih-Nya. Dengan begitu iman akan berkembang dan tumbuh subur dari hari ke hari.

  Proses pendidikan dalam keluarga bagi anak-anak merupakan proses mentransfer nilai-nilai yang diajarkan kepadanya. Melalui pendidikan dalam keluarga, anak belajar mengenal yang baik dan yang buruk, yang salah dan yang benar, dsb. Dan dari situlah hati nurani anak mulai dibina dan terbentuk. Agar iman anak dapat terus bertumbuh, orang tua perlu memberikan pelajaran dan pendampingan. Menurut Gabriella (1991:12), hal-hal yang perlu dipelajari anak tentang iman dalam keluarga adalah sebagai berikut:

  a. Anak belajar percaya Proses pertama pendidikan anak dimulai dengan proses penyesuaian diri anak dengan kebiasaan hidup keluarga dan masyarakat sekitar. Yang penting dalam proses ini adalah perbuatan iman yang disaksikan karena keluarga yang beriman sejati kepada Kristus akan tertanam cara hidup sebagai pengikut Kristus dalam diri anak. Oleh karena itu, tahap ini dapat dikatakan sebagai tahap evangelisasi pertama. Dan anggota keluarga harus mendampingi anak dalam mengkaji nilai iman dari cerita Kitab Suci atau peristiwa gerejani.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Kehidupan dalam keluarga yang penuh kasih sayang, rasa hangat, kebaikan dan simpati, akan membuat anak bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik. Anak belajar mengenal kasih Allah dari pengalaman kasih yang dialaminya dari orang tua dan keluarga. Pengalaman kasih merupakan titik pangkal penerimaan diri sebagaimana dia adanya dan sebagai usaha menghayati cinta kepada sesama. Banyak mengalami kebaikan dan cinta kasih dalam keluarga merupakan persemaian pemahaman cinta Allah dan cinta sesama yang dipelajari anak dalam hidup selanjutnya.

  c.

  Anak belajar hidup sebagai orang Katolik Dalam keluarga, anak sudah belajar hidup sebagai orang Katolik sebelum masuk sekolah di mana di sana dia akan berada bersama keluarga Gereja. Hidup sebagai orang Katolik dipelajari oleh anak dari kegiatan-kegiatan keagamaan yang ada di dalam keluarga, lingkungan dan paroki. Misalnya anak diajari doa-doa sesuai ajaran Katolik, diajak dalam pertemuan keagamaan di lingkungan, ke Gereja pada hari minggu dan hari besar lainnya, dll.

4. Faktor-faktor Perkembangan Iman Anak a.

  Faktor Pendukung Perkembangan Iman Anak Dalam usaha membina iman anak demi berkembangnya iman menuju kedewasaan, kita perlu memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh secara dominan dalam perkembangan anak, yakni: keluarga, sekolah, teman sebaya dan kemajuan teknologi, khususnya media (Banyu Dewa, 2008:9).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dalam keluarga, anak harus dihantar untuk menjalin relasi dengan Tuhan melalui suatu peristiwa maupun sarana yang ia temukan. Hal tersebut dikarenakan bahwa perkembangan iman seseorang dipengaruhi oleh suatu pengalaman mengalami kehadiran Allah secara langsung dalam hidupnya (Allen, 1982:20). Bila anak-anak secara teratur dipupuk dalam iman melalui doa serta pengajaran Alkitab dalam keluarga yang penuh kasih, dan hidup dalam lingkungan Kristen yang membangun, kemungkinan besar mereka akan bertemu dengan Allah yang hidup dan imannya berkembang secara mendalam dan mantab.

  Menurut Gabriella (1991:11), kesadaran akan Tuhan dalam keluarga timbul melalui rutinitas harian. Demikian pula iman, semua terjadi dalam kesaksian hidup harian, dan di situlah anak mengenal Allah. Iman berkembang dan disuburkan dari hari ke hari secara tidak dirumuskan. Secara jelas dikatakan oleh Gabriella, bahwa untuk menyadari kasih Allah tidak melulu terjadi dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Justru dalam rutinitas sehari-harilah anak dapat mengenal Allah dengan merasakan kasih Allah secara nyata dalam kesehariannya. Dengan begitu, dari hari ke hari iman akan semakin bertumbuh dengan sendirinya.

  Dalam faktor di sekolah, anak usia sekolah dasar merupakan masa pertumbuhan fisik, intelek, sosial dan rohani karena anak-anak usia sekolah memiliki kemampuan untuk menyerap segala informasi yang ia dapatkan dengan sangat cepat. Menurut Gabriella (1991:15), sekolah sebagai tempat pembudayaan manusia dari sudut katekese/pelajaran agama merupakan wadah pembudayaan hidup yang dijiwai semangat Injil. Pelajaran agama, katekese dan berbagai kegiatan perayaan iman yang terjadi di sekolah menjadi kesempatan bagi anak untuk mengkaji nilai-nilai Kristiani.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  hal termasuk dalam hal rohani. Melalui pelajaran agama, anak belajar untuk mengetahui dan ikut ambil bagian dalam kegiatan rohani agar kehidupan rohani atau imannya semakin terarah dan berkembang.

  Teman sebaya merupakan orang yang paling dekat dengan anak-anak setelah orang tua. Bermain, bercanda, bercengkrama dengan teman sebaya merupakan rutinitas wajib bagi anak-anak. Melakukan kegiatan dengan teman sebaya, memberi sumbangan besar bagi perkembangan anak. Melalui hubungan sosialnya dengan orang lain, hati nurani mulai menunjukkan perkembangan menuju kedewasaan. Pengertian akan dosa dan pengampunan bertumbuh serta peraturan- peraturan mulai menjadi penting dalam upacara-upacara ibadah, juga dalam permainan. Anak sudah dapat membedakan antara Allah dan orang tua mungkin juga dapat membedakan antara Allah Bapa dan Tuhan Yesus. Anak usia sekolah mulai menggunakan konsep abstrak untuk menggambarkan Allah (Allen, 1982:42).

  Kemajuan teknologi, khususnya media membawa pengaruh bagi perkembangan anak dalam berbagai faktor baik positif atau negatif. Pola hidup masyarakat saat ini sangat maju dan serba canggih. Anak-anak turut dimanjakan dengan berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagai sarana pengganti mainan dan teman bermain, media elektronik maupun cetak nampaknya memiliki daya pikat terhadap anak-anak di jaman sekarang. Menurut Endang Ekowarni dkk, kehadiran televisi maupun media massa lain dalam kehidupan anak merupakan bagian dari sistem sosial, di mana anak tumbuh dan berkembang di dalamnya (2003:25). Dari media elektronik maupun media yang lain, selain pengetahuan atau hiburan, anak juga dapat mengakses segala hal yang ingin diketahui sehingga anak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pengaruh positif saja, tetapi juga ada pengaruh negatif yang ditimbulkan. Untuk meminimalisir dampak negatif yang dapat ditimbulkan, dalam menggunakan media elektronik atau media yang lain, orang tua perlu mendampingi anak dengan memilah program atau informasi yang berkualitas dan bermanfaat bagi anak. Demikian halnya dengan iman, kemajuan teknologi dapat membantu anak dalam belajar mengenal Allah melalui tayangan-tayangan yang dapat merangsang kepekaan sosial, menambah pengetahuan tentang tradisi Gereja dan ajaran-ajaran Kristiani dsb, karena iman tumbuh melalui penglihatan dan pendengaran.

  b.

  Faktor Penghambat Perkembangan Iman Anak Anak-anak sangat sensitif terhadap hal-hal yang ada atau yang terjadi di sekitarnya. Keluarga, lingkungan dan kehidupan sosialnya dapat berpegaruh bagi perkembangan moral, sosial, psikologi, dan rohani anak (Hurlock, 1988:216). Anak- anak dikelilingi oleh orang tua, saudara, nenek, kakek dan lainnya. Suasana atau keadaan yang ada sangat mempengaruhi apalagi jika anak tengah berada dalam keadaan orang tua yang telah pecah. Selain itu anak-anak juga dipengaruhi oleh pandangan-pandangan dan sikap hidup mereka yang dapat membawa dampak pada relasi anak dengan pribadi yang ada di sekitarnya dan juga relasi anak dengan Tuhan (Setyakarjana, 1997:7). Anak yang berada dalam situasi keluarga yang bermasalah akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan baik moral, psikologi, kepribadian, sosial, dan rohani anak. Karena dengan melihat dan merasakan secara langsung suasana atau keadaan keluarga yang carut marut, hal itu akan membebani anak karena terbawa dalam kehidupan si anak itu sendiri. Oleh karena itu kestabilan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  karena anak belajar dari cara hidup orang tuanya. Orang tua yang memiliki cara hidup sebagai seorang Kristiani dalam keluarga, minat anak akan tumbuh dengan sendirinya mengenai unsur-unsur agama yang ia lihat dari orang tuanya.

  Pada masa kanak-kanak, ada dorongan yang kuat untuk bergaul dengan orang lain dan ingin diterima oleh orang lain (Hurlock, 1988:251). Pada anak usia sekolah, anak-anak tertarik dalam menjalin relasi dengan orang lain terutama teman sebaya. Umumnya orang-orang mengikuti perkembangan tuntutan sosial agar dapat diterima dalam kelompok mereka. Menurut Hurlock (1988:251), penyesuaian diri terhadap tuntutan sosial memang memiliki banyak manfaat yang positif seperti belajar hidup bermasyarakat dengan orang lain, kemampuan berbicara semakin berkembang dan pengetahuan umumnya semakin luas dan sebagainya. Akan tetapi, tuntutan sosial yang sedemikian rupa berkembangnya seiring perkembangan jaman juga membawa dampak buruk bagi perkembangan rohani anak-anak. Anak-anak mudah terpengaruh oleh teman sebayanya. Apalagi jika mereka terpengaruh pada teman sebaya yang kurang minat bahkan mungkin sama sekali tidak berminat pada hal-hal rohani. Iman yang semula sudah mulai berkembang, perlahan-lahan akan semakin merosot. Setiap krisis yang dialami pada masa anak-anak bisa memberikan peluang bagi timbulnya krisis rohani (Allen, 1982:14). Krisis bisa terjadi karena unsur dari luar dan dari dalam diri anak itu sendiri. Krisis hidup seperti masalah uang, putus persahabatan, keluarga dll. Sedangkan krisis dari dalam diri lebih ke unsur kurangnya kepercayaan diri yang dapat membahayakan perkembangan iman anak.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

5. Usaha-usaha Dalam Membantu Perkembangan Iman Anak

  Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anak akan belajar dari apa yang ada dan apa yang ditemui di lingkungan sekitarnya. Tingkah laku, cara berbuat dan berbicara akan ditiru oleh anak (Hasbullah, 1999:28). Oleh karena itu orang tua sudah semestinya menciptakan suasana yang kondusif (mendukung) dan memberikan teladan bagi pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Masa kanak-kanak merupakan masa yang amat penting dan menentukan bagi perkembangan rohani anak, bahkan menjadi dasar bagi iman kepercayaannya pada masa dewasa. Iman dikomunikasikan dengan cara yang berbeda-beda, pada tahap yang berbeda-beda pula, sesuai dengan perkembangan individu. Oleh karena itu, peran orang tua sangatlah penting dalam memperkembangkan iman anak. Sebagai langkah awal, orang tua perlu memberikan kasih dan perhatian kepada anak. Karena kasih itu konsisten sehingga anak-anak akan merasa aman dan terlindung (Allen, 1982:12).

  Dengan merasakan kasih dari orang tua, anak memiliki pandangan bahwa Tuhan itu pengasih dan akan merasa bahwa ia didengarkan dan diperhatikan. Para orang tua dan pengasuh lainnya mempersiapkan anak itu bagi perkembangan rohaninya dengan menciptakan lingkungan yang penuh kasih yang mendapat kekuatan serta kestabilan (kemantapan) dari iman mereka sendiri (Allen, 1982:26). Kasih orang tua merupakan elemen dasar dan sumber yang menentukan kualitas peran orang tua sebagai pendidik. Suasana kasih harus ada di dalam rumah, agar orang tua dapat mendidik anak-anak dengan baik. Maka para orang tua harus menciptakan suasana rumah yang penuh kasih dan penghormatan kepada Tuhan dan sesama.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Menurut Hurlock (1989:133): untuk membuat anak kecil mengerti tentang agama, konsep keagamaan diajarkan dalam bahasa sehari-hari dan dengan contoh dari kehidupan sehari-hari. Dengan demikian konsep-konsep menjadi konkret dan realistis. Anak belajar berpikir tentang Tuhan, surga, neraka, malaikat, dan iblis dalam bentuk gambar yang mereka lihat atau cerita yang mereka dengar. Anak-anak belum bisa diajak berpikir terlalu teologis. Dalam menanamkan pendidikan iman, anak-anak lebih tertarik diajarkan mengenai pengetahuan ajaran dan tradisi Gereja melalui gambar, contoh dalam kehidupan sehari-hari, peraturan-peraturan, serta mengenai dosa dan pengampunan. Dalam usaha menerapkan aspek iman dalam diri anak, perlu diketahui bahwa iman merupakan tindakan pengetahuan yang disempurnakan melalui gerakan kehendak dan pengaruh rahmat. Anak-anak perlu ditanamkan mengenai pengalaman akan Allah. Dimana dalam setiap peristiwa dan segala sesuatu yang didapat merupakan rahmat dari Tuhan, untuk itu anak diajari untuk selalu berterimakasih dan bersyukur kepada Tuhan. Tindakan pengetahuan itu pun mengikuti tahap perkembangan iman sesuai umur; berkembang sedikit demi sedikit dan tentunya secara berkesinambungan (Goretti, 1999:4). Dalam memberikan bimbingan kepada anak sebagai usaha memperkenalkan dan menunjukkan kasih Allah kepada anak dalam dirinya untuk mengajarkan kepadanya agar selalu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepadanya, orang tua perlu menyesuaikan dengan tahap perkembangan anak.

  Sebagai contoh, pada usia memasuki taman kanak-kanak, biasanya anak akan cenderung berperilaku untuk memenuhi kepuasan dirinya (Drost, dkk, 2003:21).

  Kepuasan diri seperti ingin makan makanan yang enak atau mendapatkan perhatian

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  orang tua dapat memenuhi kebutuhan mereka. Oleh karena itu orang tua perlu mengajarkan anak untuk mensyukuri hidup (Drost, dkk, 2003:20). Mengajari anak untuk bersyukur setelah mendapatkan sesuatu yang diinginkan merupakan suatu usaha untuk memberikan pemahaman dan pengertian pada anak bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita harus bekerja keras dan berusaha agar apa yang kita inginkan dapat terpenuhi. Selain itu, orang tua perlu memberikan pemahaman kepada anak bahwa segala sesuatu yang dimiliki merupakan rahmat yang diberikan oleh Tuhan melalui orang tuanya. Dengan belajar bersyukur, anak dapat menghargai setiap usaha orang tua dalam memenuhi kebutuhannya serta dapat memahami bahwa ia telah mengalami cinta kasih Allah secara nyata dalam rupa terpenuhinya keinginan baik benda maupun perhatian dengan begitu kerohanian anak berkembang pada saat ia menjawab panggilan Allah yang bekerja di dalam hidupnya (Allen, 1982:26).

  Pada anak-anak mendekati usia sekolah dasar (usia delapan dan sembilan tahun) mereka memperlihatkan bukan hanya hati nurani yang sedang bertumbuh, melainkan juga pengertian yang bertumbuh tentang pengampunan atas suatu kesalahan (Allen, 1982:45). Kombinasi hati nurani yang telah berkembang dengan rasa bersalah pada saat membuat kesalahan, membuat anak menggambarkan Allah sebagai seseorang yang bisa diajak bicara bila kita melakukan perbuatan yang salah.

  Anak usia sekolah dasar mulai berhubungan dengan Allah secara pribadi melalui doa spontan yang berupa permohonan kepada Allah untuk menolong dirinya, atau berterimakasih atas hal-hal yang sudah ia dapatkan.

  Doa adalah nafas iman. Maka jika kita ingin menanamkan iman kepada anak-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mengajari saja, kita perlu berdoa bersama- sama dengan mereka. Dalam setiap keadaan, baik susah ataupun senang di dalam keluarga, kita perlu berdoa. Dalam keadaan bersuka cita kita mengucap syukur kepada Tuhan; dan dalam keadaan berduka, kesulitan, sakit, kita memohon pertolongan-Nya. Firman Tuhan mengajarkan, “… nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”

  Dengan doa, orang tua dapat membimbing anak-anaknya mulai peduli terhadap orang lain dengan mendoakan orang-orang yang sedang kesusahan. Sebagai contoh: pada saat Ani sedang menonton televisi bersama dengan ibunya, mereka melihat berita tentang kelaparan yang melanda masyarakat di salah satu bagian di negara Afrika. Komentar yang terucap dari mulut Ani adalah “kasihan”. Keadaan ini dapat dimanfaatkan oleh orang tua untuk mengajak anaknya berdoa kepada Tuhan, mendoakan masyarakat di salah satu bagian di negara Afrika agar diberi rejeki dan rahmat agar mereka tidak kelaparan lagi. Selain rasa peduli/empati mulai berkembang dalam diri anak, anak juga belajar bersyukur atas apa yang sudah ia miliki, dan membuat anak peka terhadap kesulitan orang lain serta dalam doa-doanya menjadi lebih mementingkan orang lain karena anak-anak bertambah sadar akan keadaan di sekitarnya dan sudah menaruh lebih banyak perhatian pada dunia pada saat ia menjelang usia remaja (Allen, 1982: 48).

  Di samping penting bagi pertumbuhan iman anak, doa keluarga juga memegang peran yang penting untuk mempersatukan keluarga, bersama keluarga untuk memupuk kerukunan dan menumbuhkan kehidupan rohani dalam keluarga.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  melaksakan hal ini, firman Allah digenapi dalam keluarga itu, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah- tengah mereka” (Mat 18:19- 20).

C. Peranan Katekese Keluarga Terhadap Pendidikan Iman Anak

  Katekese keluarga diperlukan karena keluarga adalah wadah pertama di mana anak yang dilahirkan ke dunia hidup dan belajar mengenal Allah dalam perkembangannya menjadi manusia utuh (Gabriella, 1991:1). Keluargalah tempat pertama anak belajar berbagai pengetahuan, etika sosial, dan lain sebagainya serta belajar mengenal Allah dalam hidup sehari-hari seiring pertumbuhan dan perkembangannya. Perkembangan iman merupakan kebutuhan yang harus dimulai dari keluarga dan lingkungan. Oleh karena itu, dasar-dasar untuk iman tidak hanya ditanamkan dalam diri anak itu saja, tetapi juga dalam diri orang tuanya sementara mereka bertumbuh dalam hubungan mereka satu sama lain dan dengan Allah (Allen, 1982:26). Oleh karena itu, kebutuhan rohani orang tua harus diberi prioritas karena iman orang tua menunjang kepercayaan yang timbul dalam diri anak. Orang tua harus mengkomunikasikan suatu pengertian akan makna dalam cara mereka membimbing anak-anak (Allen, 1982:26 dan 89). Pendampingan dan pembinaan sangat diperlukan bagi para orang tua agar tugas mereka menjadi semakin jelas dan semakin terang. Pendampingan keluarga itu sendiri berarti mendampingi keluarga secara menyeluruh dalam segala situasinya yang harus disesuaikan dengan kondisi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mendampingi tanpa membedakan apakah keluarga itu bermasalah atau tidak. Karena keluarga yang sedang berada dalam kondisi “khusus”, akan didampingi secara khusus. Sedangkan keluarga yang berada dalam kondisi biasa, pendampingan didasarkan pada usia perkawinan mereka demi terciptanya keutuhan hidup berkeluarga dan pendidikan anak dalam keluarga. Ada berbagai bentuk pendampingan bagi keluarga-keluarga Kristiani, dan katekese keluarga merupakan salah satu sarana bagi orang tua dalam mewujudkan tanggung jawabnya sebagai pengajar iman yang pertama kepada anak-anaknya. Dilihat dari kekhasannya, katekese keluarga bukan menggantikan katekese yang lainnya. Justru katekese keluarga ingin memperlihatkan bahwa komunikasi iman dalam keluarga merupakan dasar bagi katekese yang lainnya (Egong,1983:27). Melalui katekese keluarga orang tua disadarkan mengenai pentingnya menanamkan nilai-nilai iman kepada anak sebagai antisipasi akan krisis yang dapat membahayakan iman anak-anak mereka. Oleh karena itu katekese keluarga membantu orang tua untuk peka terhadap kebutuhan rohani anak sesuai dengan tahap perkembangan iman anak.

  Suatu masa yang sering menentukan sekali ialah masa kanak-kanak menerima unsur-unsur pertama katekese dari orang tuanya dan lingkungan keluarga (Catechesi Tradendae art. 36). Pada masa kanak-kanak, anak diajak dan diajari untuk mengenal Allah melalui doa-doa singkat, mendengar sabda. Dengan begitu anak- anak dilatih untuk berdialog dengan Allah. Dengan menerima katekese dalam lingkup keluarga sejak dini, anak-anak akan merasa lebih nyaman dan dapat membekas dalam diri anak bahkan menjadi pondasi bagi anak dalam menghadapi kehidupan di Gereja dan masyarakat.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Melalui katekese keluarga, orang tua diingatkan kembali mengenai tujuan perkawinan yang salah satunya mengenai pendidikan anak. Dalam Kitab Hukum Kanonik, kan. 1136 jelas tercantum bahwa orang tua mempunyai kewajiban sangat berat dan hak primer untuk sekuat tenaga mengusahakan pendidikan anak, baik fisik, sosial dan kultural, maupun moral dan religius. Orang tua sebagai orang yang telah menyalurkan kehidupan kepada anak, berkewajiban mengusahakan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak sebagai manusia yang utuh. Agar kebutuhan anak terutama kebutuhuan tentang pendidikan iman dalam keluarga terpenuhi, nampaknya orang tua perlu mengetahui dan mewujudkannya mengenai pendidikan iman di dalam keluarga.

  Pola dasar dari katekese keluarga itu sendiri yakni mengikat kerjasama antar keluarga yang bahu-membahu berusaha membina iman anak dan keluarga seluruhnya (Gabriella,1991:14). Kerjasama antar keluarga dimaksudkan sebagai usaha untuk saling membantu dalam menghayati iman mereka, dan semakin menyadari tugasnya sebagai orang tua dan dapat menciptakan kesempatan untuk berkomunikasi iman dengan anak-anak mereka di rumah. Bekerja bahu-membahu antar keluarga merupakan situasi yang berbeda dan menyenangkan sehingga peluang berhasilnya pendidikan iman dalam keluarga sangat besar.

  Menurut Gabriella (1991:19-22), katekese keluarga yang terjadi secara jelas dan berkala akan menumbuhkan kemampuan dalam merefleksikan pengalaman pribadi dengan kacamata iman. Kritis terhadap diri dan permasalahan hidup akan menghantar anak kepada sikap mau mencari dan mendengar apa yang Tuhan kehendaki dalam situasi nyata dalam hidupnya. Proses katekese keluarga yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  seluruh anggota keluarga dalam merefleksikan pengalaman hidup melalui kacamata iman. Dengan merefleksikan kembali pengalaman hidup dan mau mendengar apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah di balik peristiwa dalam kehidupan, akan menumbuhkan semangat untuk selalu mendengar Allah yang mengarahkan anak melalui rencana-Nya dalam hidup nyata.

D. Peranan orang tua dalam pendidikan iman anak

  Mendidik iman anak seperti menanam benih di ladang yang masih kosong. Orang tua dan anak, ibarat petani dan tanamannya. Baik buruknya tanaman sangat ditentukan oleh perlakuan si penanam. Jika ia memilih dan menyiapkan ladang subur untuk benihnya, lalu senantiasa menyiraminya dengan air yang bersih (tidak tercemar), ditambah dengan perawatan yang teratur, tanamannya pun akan tumbuh subur. Apalagi kalau rumput dan gulma senantiasa disiangi, hama disemprot, dan pupuk ditabur, maka akan semakin kokoh dan kuatlah tanaman itu. Sebaliknya, jika petani memilih dan menyiapkan ladang gersang untuk bibitnya, menanamnya pun asal-asalan, rumput dan gulma tak pernah disiangi, jarang disirami, maka tanamanpun akan tumbuh meradang, mungkin layu, lalu hilang.

  Orang tua berkewajiban mengusahakan hal-hal yang terbaik bagi kebutuhan dan kepentingan pertumbuhan anak dengan memberi perhatian pada aspek-aspek kehidupan secara menyeluruh yang meliputi aspek-aspek jasmani, rohani dan sosial (KWI, 2010:59). Orang tualah yang berkewajiban mengusahakan dan memenuhi kebutuhan dan kepentingan anak dengan memberikan seluruh perhatian secara maksimal pada aspek-aspek kehidupan anak baik jasmani, rohani

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, orang tua perlu memperhatikan masa terpenting dalam perkembangan anak yang berpengaruh bagi kehidupannya dimasa yang akan datang. Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Itulah masa-masa di mana perkembangan fisik, mental maupun spiritual mulai terbentuk karena itu disebut sebagai masa emas anak (golden age). Orang tua hendaknya memanfaatkan masa-masa emas anak untuk memberikan pendidikan yang baik bagi anak (Timothy, 2012:6). Pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama dalam kehidupannya sangat menentukan perkembangan fisik, mental dan spiritualnya. Oleh karena itu, orang tua penting menyadari bahwa hubungan dan cara memberi pendidikan kepada anak akan membawa pengaruh yang besar bagi perkembangan anak. Dengan memanfaatkan masa-masa emas anak, orang tua dapat memaksimalkan perkembangan anak ke arah yang lebih baik salah satunya dengan membangun dialog dan suasana kehidupan keluarga yang nyaman, dengan sendirinya anak akan membangun hubungannya secara emosional dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan, serta dengan Tuhan.

  Menjadi orang tua yang bertanggung jawab dan dapat memberikan bekal pendidikan untuk anaknya memang tidaklah mudah. Dalam mempersiapkan masa depan anak, orang tua perlu menyediakan waktu dan terlibat secara penuh dalam mendidik anak- anaknya di rumah. Dalam memberikan pendidikan iman, orang tua dapat mengenalkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari misalnya dengan membacakan kisah penciptaan dengan menggunakan sarana-sarana yang ada di sekitar.

  Menurut Goretti (1999:10), orang tua dapat menerangkan kepada anak maksud dari suatu perbuatan yang penuh arti. Prakarsa orang tua akan sangat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sederhana mengapa ayah dan ibu berdoa, menjelaskan mengapa ayah dan ibu meminta maaf setelah bertengkar, menerangkan mengapa ayah dan ibu berterima kasih kepada Tuhan karena mendapatkan pekerjaan, menceritakan mengapa ayah dan ibu membuat gua kecil menjelang perayaan Natal, menjelaskan mengapa ayah dan ibu membuat tanda salib dan memasang salib, semuanya merupakan saat-saat yang memungkinkan anak untuk masuk ke jalan yang menjumpakan anak dengan Tuhan.

  Dalam keluarga, begitu anak dilahirkan, seluruh keluarga khususnya orang tua menjadi pendidik iman. Merekalah orang pertama yang mengajarkan bahasa ibu, norma dan cara hidup mereka. Merekalah penyaksi iman yang pertama bagi anak. Iman akan Allah, pengalaman iman akan Allah menjadi satu dalam seluruh penghayatan iman keluarga dalam hal visi dan pandangan Kristiani. Menurut Gabriella (1991:12), orang tua mengarahkan anaknya kepada hidup sebagai orang yang beriman seperti mereka. Proses pertama pendidikan iman anak dimulai dengan proses menyampaikan nilai-nilai kehidupan dalam diri anak dan membantu anak untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan hidup keluarga dan masyarakat sekitar dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam hal iman, yang terpenting bukanlah mengajarkan iman kita sendiri, tetapi mendampingi anak dalam menemukan dan merefleksikan nilai iman dari cerita kitab suci, pengalaman sehari-hari atau peristiwa gerejani.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB III PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN IMAN ANAK DI LINGKUNGAN SANTO YUSUF GEMUH Relasi antara orang tua dan anak harus bersifat personal dan fungsional

  (Allen, 1982:26). Para orang tua harus mengenali kebutuhan dan kesulitan yang dialami oleh anak-anak mereka. Tugas orang tua tidak hanya memberikan dan memenuhi kebutuhan anak yang kelihatan tetapi juga memenuhi kebutuhan yang tidak kelihatan seperti kasih sayang dan perhatian. Dalam bab III ini, penulis akan menggambarkan tentang sejauh mana peran orang tua di lingkungan Santo Yusuf Gemuh paroki St. Martinus Weleri dan mencari tahu faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat bagi orang tua dalam menjalankan tugasnya serta mencari tahu apa yang menjadi harapan mereka untuk meningkatkan peran orang tua dan menemukan usulan program katekese keluarga yang tepat sebagai usaha untuk meningkatkan peran orang tua dalam pendidikan iman anak.

A. Paroki St. Martinus Weleri

  (uraian mengenai Paroki St. Martinus Weleri, penulis menggunakan referensi dari Siswarjono, 2012).

1. Sejarah Paroki St. Martinus Weleri

  Wilayah Weleri secara resmi dijadikan sebagai stasi dari paroki Gedangan pada tahun 1953. Romo Sutopanitro yang pada waktu itu memimpin paroki Gedangan banyak berperan dalam perkembangan umat di Weleri. Dalam kunjungannya, Romo Sutopanitro mengajar agama di keluarga-keluarga dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  merayakan misa. Jumlah umat yang bertambah banyak menimbulkan suatu kebutuhan baru yakni kebutuhan akan adanya tempat ibadat. Dengan bantuan dari berbagai pihak dan jasa dari Romo Knetsch yang pada waktu itu berkarya di Weleri, berdirilah Gereja Katolik Weleri yang kurang lebih bisa menampung 400 umat.

  Dibangunnya Gereja Katolik di Weleri memberikan kemungkinan bagi umat di Weleri untuk membentuk paroki tersendiri. Tahap demi tahap Gereja Weleri memisahkan diri secara administratif dari paroki Gedangan dan membentuk paroki tersendiri dengan pelindung Santo Martinus pada tanggal 17 Februari 1954.

  Setelah Weleri melepaskan diri dari paroki Gedangan dan membentuk paroki tersendiri yang berpusat di Weleri dan Gereja Weleri dijadikan pusat paroki Weleri, para umat yang letaknya cukup jauh dari paroki Weleri merasa jauh dari pusat paroki dan akhirnya wilayah bagian timur yaitu Kendal dan Kaliwungu serta Sukorejo yang merupakan wilayah bagian selatan, memisahkan diri dari paroki Weleri dan menjadi paroki tersendiri.

  2. Profil Paroki St. Martinus Weleri Paroki St. Martinus Weleri terletak sekitar 18 Km sebelah barat kota

  Kendal dan berbatasan langsung dengan kabupaten Batang. Paroki Weleri memiliki umat 1.060 jiwa yang meliputi 5 kecamatan yang masuk dalam wilayah teritorial paroki Weleri.

  a.

  Sebelah Utara: Lingkungan St. Petrus-Tawang masuk wilayah kecamatan Rawasari berjarak sekitar 3 Km dari paroki dan mempunyai umat 8 KK.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  b.

  Sebelah Timur: Terdiri dari 2 lingkungan yaitu lingkungan SPM Bunda Penolong-

  Cepiring masuk kecamatan Cepiring berjarak sekitar 12 Km dari paroki, memiliki jumlah umat 20 KK dan lingkungan Santo Yusuf-Gemuh masuk kecamatan Gemuh berjarak sekitar 8 Km dari paroki, memiliki jumlah umat 29 KK.

  c.

  Sebelah Barat: Lingkungan St. Antonius-Sambongsari yang antara lain sebagian umat masuk wilayah kecamatan Gringsing kabupaten Batang, berjarak sekitar 2 Km dari paroki dan memiliki jumlah umat 47 KK.

  d.

  Sebelah Selatan: Lingkungan St. Yusuf - Besokor berjarak 3 Km dari paroki dan memiliki jumlah umat 22 KK.

  1) Lingkungan lain yang berada dalam kota Weleri di antaranya:

  a) Lingkungan St. Maria-Weleri memiliki jumlah umat 40 KK.

  b) Lingkungan St. Yohanes-Nawangsari memiliki jumlah umat 43 KK.

  c) Lingkungan St. Ignatius-Penaruban memiliki jumlah umat 30 KK.

  d) Lingkungan St. Christopurus-Penyangkringan memiliki jumlah umat 60

  KK. Lingkungan ini mengalami pemekaran menjadi 2 lingkungan yakni lingkungan St. Christopurus atas dan lingkungan St. Chritopurus bawah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  2) Sekolah-sekolah Katolik yang berada di wilayah Paroki St. Martinus Weleri antara lain: a)

  TK Sanjaya Padma di Weleri berdiri pada tahun 1956 diprakarsai oleh Rm. PC. Sutopanitro, SJ.

  b) TK St. Theresia di Besokor

  c) SD Kanisius Brana di Weleri berdiri pada tahun 1950

  d) SMP Kanisius Budhi Murni di Weleri berdiri pada tahun 1963

  e) SMU Theresiana di Weleri berdiri pada tahun 1974

  Di Paroki St. Martinus Weleri terdapat 1 (satu) konggregasi yaitu Abdi Kristus yang berada di Besokor. Seperti paroki-paroki yang lain, di paroki St.

  Martinus Weleri juga terdapat kelompok-kelompok kategorial seperti pasukris, PDKK, WKRI, OMK, paguyuban guru Katolik dan kelompok CU (Credit Union).

  Sejak Paroki St. Martinus Weleri berdiri sampai sekarang, banyak perkembangan yang dialami salah satunya dalam usaha pengembangan umat.

  Perkembangan yang telah dicapai oleh paroki tidak lepas dari jasa-jasa para Romo yang bertugas dari awal perjuangan wilayah Weleri menjadi paroki tersendiri pada tahun 1954 sampai sekarang. Berikut romo-romo yang pernah bertugas di paroki St. Martinus Weleri antara lain:

  Tahun Pastor

  1954-1963 Petrus Chrisologus Sutopanitro, SJ 1963-1968 Sebastianus Hardoparmoko, SJ 1969 Fredericus Knetsch, SJ 1969-1972 Constantinus Harsosuwito, SJ 1973 Al. Pradjasuto, SJ

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  1973-1974 Gerbrandus Schoonhoff, SJ 1974-1975

  C. Widayaputranto, SJ 1975-1976 Julianus Sunarko, SJ 1977-1980 Chistophorus Dureau, SJ 1981-1984 Antonius Lamers, SJ 1985-1990 Tarcisius Widyana, SJ 1990-1991 Yoshepus Wiharjono, SJ 1991-1996 FX. Widyatmaka, SJ 1996-2005 JB. Suyitno, SJ 2003-2004 FX. Arko Sudiono, SJ 2006-2009 Antonius Dadang Hermawan, Pr 2006-2012 BYL. Subagio Atmodiharjo, Pr 2009-2012 Petrus Tri Margana, Pr 2012 Raymundus Sugihartanto, Pr

  2012 Simon Atas Wahyudi, Pr

3 Situasi Umat Paroki St. Martinus Weleri

  Umat paroki St. Martinus Weleri sebagian besar merupakan warga pendatang dan didominasi etnis Tionghoa. Mereka berlatar belakang sebagai pedagang (pengusaha) yang berada di lingkungan-lingkungan dalam kota sekitar 30 %, pegawai negeri/swasta (sebagian besar guru) 45 %, 25 % lainnya adalah karyawan swasta, buruh tani dan buruh lepas. Situasi geografis kota Weleri yang merupakan daerah pegunungan dan terletak di wilayah PANTURA (pantai utara), memberikan tantangan tersendiri bagi umat karena jarak dan medan antar lingkungan yang cukup jauh dan kondisi jalan yang rusak dan berliku, membuat umat sering absen dalam pertemuan-pertemuan rutin terlebih pada malam hari dan musim

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  membawa dampak bagi perkembangan iman umat dan dampak konkret yang sekarang ini masih menjadi keprihatinan adalah banyak terjadi nikah beda agama dan kawin campur bahkan banyak juga yang pindah agama.

  Kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung dalam dunia pendidikan mengakibatkan jumlah kaum muda yang aktif di paroki St. Martinus Weleri sangat sedikit. Hal itu dikarenakan banyak kaum muda yang studi di luar kota dan jarang pulang. Meskipun kaum muda di paroki St. Martinus tidak begitu banyak, tetapi banyak kegiatan yang dilaksanakan dan diikuti oleh para kaum muda misalnya pertemuan rutin OMK, kepanitian dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di paroki,

  week end rohani OMK antar paroki dll.

  Meskipun aktivitas umat sangat tinggi, tetapi mereka tidak melupakan tugas dan tanggungjawab mereka sebagai orang Katolik. Hal ini sangat nampak ketika umat terlibat dalam berbagai kegiatan yang sudah terjadwal pada agenda masing-masing lingkungan maupun paroki. Contohnya seperti tugas koor antar lingkungan, kegiatan doa di lingkungan dan di paroki, ulang tahun paroki, natal, misa imlek dll, semua umat saling bekerjasama dan terlibat dalam pembagian tugas.

  B. Gambaran Umum Lingkungan Santo Yusuf

  (uraian mengenai lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus Weleri, penulis menggunakan referensi dari Siswarjono, 2012 dan observasi aktisipatif).

1. Letak dan Batas-Batas Geografis Lingkungan Santo Yusuf Gemuh

  Lingkungan Santo Yusuf Gemuh merupakan lingkungan paling timur yang berjarak 8 km dari paroki dan berbatasan langsung dengan lingkungan Santa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Maria Bunda Penolong Cepiring dan lingkungan Pegandon Paroki St. Antonius Padua Kendal.

2. Kegiatan umat di Lingkungan Santo Yusuf Gemuh

  Umat lingkungan Santo Yusuf berjumlah 61 orang (29 orang tua, 22 kaum muda dan 10 anak-anak) dan menyebar di 8 (delapan) desa. Jarak rumah antar umat lingkungan Santo Yusuf yang berjauhan tidak menyurutkan umat di lingkungan ini untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan. Kegiatan- kegiatan rutin umat lingkungan Santo Yusuf Gemuh antara lain seperti: a.

  Misa lingkungan (diadakan satu bulan sekali di rumah umat secara bergilir).

  b.

  Natal lingkungan (biasanya diadakan pada pertengahan bulan Januari sekitar tanggal 11-20).

  c.

  Ziarah bersama (diadakan satu tahun sekali).

  d.

  Rapat pengurus lingkungan (diadakan setiap dua minggu sekali di rumah ketua lingkungan).

  e.

  Pendalaman iman/doa bersama (diadakan pada masa-masa perayaan bulan liturgi).

  f.

  Latihan koor, lingkungan Santo Yusuf Gemuh memiliki kelompok koor yang terdiri dari para orang tua dan rutin berlatih satu bulan sekali dan satu minggu sekali jika bertugas.

  Umat lingkungan Santo Yusuf tidak memiliki tempat khusus yang bisa digunakan untuk kegiatan lingkungan. Tetapi tempat yang biasa digunakan untuk mengadakan acara lingkungan seperti natalan bersama dll, umat biasa meminjam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pengurus lingkungan atau kegiatan lingkungan yang tidak memerlukan ruang yang besar, umat biasanya berkumpul di rumah-rumah umat secara bergilir atau di rumah ketua lingkungan.

  OMK (Orang Muda Katolik) di lingkungan Santo Yusuf Gemuh yang berjumlah 22 orang, sebagian besar sedang menempuh studi di luar kota Weleri sehingga tidak banyak kegiatan yang dilakukan oleh OMK. Adapun kegiatan yang dilakukan oleh OMK lingkungan Santo Yusuf seperti membuat Gua pada saat natal, panitia natal lingkungan, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di Gereja seperti HUT paroki St. Martinus dan kegiatan OMK se-paroki.

  Meskipun sebagian besar umat lingkungan Santo Yusuf berprofesi sebagai guru, di lingkungan Santo Yusuf tidak ada sekolah minggu dan pendidikan iman hanya terlaksana di dalam keluarga. Pelajaran agama untuk inisiasi persiapan calon baptis atau sakramen yang lainnya, diberikan oleh salah satu umat yang berprofesi sebagai guru agama dan ketua lingkungan.

3. Situasi Sosial Kemasyarakatan Umat Lingkungan Santo Yusuf Gemuh

  Masyarakat desa Gemuh dan sekitarnya sebagian besar merupakan umat beragama Muslim yang sangat taat. Meskipun sebagai warga minoritas, umat Katolik di lingkungan Santo Yusuf Gemuh sangat menjaga hubungan baik antar warga. Hal ini terbukti bahwa sebagian besar umat lingkungan Santo Yusuf Gemuh memiliki jabatan penting dalam kepengurusan di tingkat rt, rw, perangkat desa dan kabupaten. Selain aktif di lingkungan, umat Katolik lingkungan Santo Yusuf Gemuh juga aktif dalam kegiatan di masyarakat. Hal itu disadari bersama-sama oleh umat Katolik demi menjaga hubungan yang baik satu sama lain untuk menciptakan kedamaian bersama.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

4. Situasi Ekonomi Umat Lingkungan Santo Yusuf

  Situasi ekonomi umat lingkungan Santo Yusuf terdiri dari dua tingkat yaitu menengah dan menengah ke bawah. Umat yang perekonomiannya menengah, sebagian besar bekerja sebagai PNS (guru) dan pegawai serta wiraswasta. Sedangkan umat yang ekonomi kalangan menengah ke bawah, bekerja sebagai buruh, pedagang, dan pensiunan.

C. Penelitian Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Iman Anak di Lingkungan Santo Yusuf Gemuh.

1. Latar Belakang Penelitian

  Kebanyakan orang Katolik percaya bahwa keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama bagi semua anak, terutama mereka yang mempunyai orang tua sendiri. Sayang, kepercayaan tersebut sering kali tidak diimbangi dan ditindaklanjuti dengan usaha mereka dalam mendidik anak-anak mereka di rumah. Tidak sedikit orang tua yang hanya mampu memberikan pendidikan jasmani dan intelektual kepada anak-anak. Mereka tidak mampu memberikan pendidikan rohani, moral dan sosial kepada anak-anak mereka sendiri. Salah satu yang barangkali mendorong mereka berbuat demikian ialah terlalu besarnya kepercayaan mereka kepada para guru di sekolah dan kepada para pemimpin Gereja di paroki.

  Dari pengamatan dan hasil wawancara terhadap beberapa OMK dan anak-anak yang dilakukan oleh penulis, kurangnya peran para orang tua dalam pendidikan iman anak bagi anak-anak mereka menjadi permasalahan konkret yang terjadi di lingkungan Santo Yusuf Gemuh. Latar belakang pekerjaan umat di

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  lingkungan Santo Yusuf yang sebagian besar merupakan pegawai dan PNS serta memiliki pekerjaan sampingan, membuat para orang tua sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga kurang memperhatikan dan terlibat langsung dalam mendampingi anak khususnya perkembangan iman mereka. Selain faktor tersebut, kurangnya pengetahuan mengenai ajaran agama, mengetahui kebutuhan anak, dan pengetahuan mengenai pentingnya pendidikan iman anak dalam keluarga yang berpengaruh bagi perkembangan karakter serta relasi anak terhadap sesama dan Tuhan, dialami oleh para orang tua. Umumnya para orang tua hanya memotivasi anak-anak mereka untuk selalu mengikuti sekolah minggu dan memfasilitasi anak dengan berbagai buku seperti buku doa, buku cerita, Kitab Suci bergambar dll tanpa penjelasan dan pendampingan lebih lanjut dari orang tua. Meskipun demikian, tidak semua orang tua di lingkungan Santo Yusuf Gemuh seperti yang disebutkan di atas, walaupun hanya ada satu atau dua keluarga yang memiliki perhatian terhadap perkembangan iman anak mereka.

  Beberapa permasalahan dapat penulis angkat, misalnya ada sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang terdiri dari ayah, ibu, nenek, dan empat orang anak yang masih usia sekolah. Suami-istri ini tidak memiliki pekerjaan tetap tetapi mereka memiliki usaha sendiri di rumah dengan membuka bengkel mobil yang bisa dikatakan dapat mencukupi kebutuhan mereka. Usaha yang mereka geluti ini banyak menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Rutinitas sehari-hari pun tidak menentu dan tidak terjadwal dengan baik. Terkadang mereka bekerja sampai sore bahkan sampai malam hari. Akibatnya, suami-istri ini jarang memiliki kesempatan untuk makan, ke Gereja, berdoa dan bercengkrama bersama dengan anggota keluarga yang lain.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  hanya memberikan fasilitas yang dibutuhkan oleh anak-anak mereka tanpa adanya pendampingan atau perhatian akan kebutuhan anak yang paling mendasar yaitu perhatian dan keterlibatan dari orang tua. Akibatnya hubungan antara orang tua dan anak kurang dekat dan anak-anak cenderung memiliki sifat pendiam.

  Disadari atau tidak, anak-anak tidak bisa berkembang dengan sendirinya. Mereka memerlukan bantuan dari orang lain terutama orang yang paling dekat dengan mereka yaitu orang tua. Orang tua harus terlibat secara langsung dalam pendampingan anak-anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi dunia luar. Untuk itu, melalui penelitian ini, penulis ingin mengetahui sejauh mana orang tua berperan dalam pendidikan iman anak mereka dan memberikan sumbangan pemikiran agar orang tua semakin menyadari tentang pentingnya peran mereka dalam pendidikan iman anak-anak mereka.

2. Tujuan Penelitian a.

  Mengetahui sejauh mana para orang tua di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus Weleri telah menjalankan peran mereka dalam mendidik iman anak-anak.

  b.

  Mengetahui faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat orang tua dalam menjalankan perannya sebagai pendidik iman.

  c.

  Mengetahui harapan umat untuk meningkatkan kesadaran akan peran penting orang tua dalam pendidikan iman anak di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus Weleri.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Penelitian kualitatif sendiri merupakan jenis penelitian dimana data berupa kalimat atau kata yang dideskripsikan secara verbal. Metode deskriptif analitis ini sendiri merupakan metode yang menganalisis suatu data yang ditinjau dari dua hal yakni kenyataan dan ketentuan yang ada (Suharsimi Arikunto, 1997:230).

  4. Instrumen Penelitian Untuk memperoleh data, penulis menggunakan instrumen kuesioner dengan rating scale. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Sedangkan rating scale (skala bertingkat) adalah sebuah pernyataan yang diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan-tingkatan misalnya mulai dari sangat setuju sampai ke sangat tidak setuju (Suharsimi Arikunto, 1997: 128). Jenis kuesioner yang digunakan yakni kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban, sehingga responden hanya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih. Sedangkan kuesioner terbuka memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri (Suharsimi Arikunto, 1997: 128-129).

  5. Responden Penelitian Responden dalam penelitian ini adalah keluarga Kristiani yang aktif

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  orang. Dari populasi yang ada, diambil 30 orang sebagai responden. Penulis memilih 30 orang responden yang terdiri dari 15 anak-anak dengan kriteria untuk anak minimal usia sekolah menengah pertama dan 15 orang tua yang memiliki anak. Pendapat dua kelompok responden tersebut diharapkan dapat representatif atau dapat mewakili semua umat lingkungan Santo Yusuf Gemuh tentang peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak. Penulis menggunakan teknik purposive sample untuk menentukan responden. Purposive sampel dilakukan dengan cara mengambil subyek bukan didasarkan atas strata, random, atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu (Suharsimi Arikunto, 1997:117).

  6. Waktu, Tempat, dan Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Santo Yusuf Gemuh pada bulan November tahun 2012. Angket disebarkan pada saat pertemuan rutin lingkungan.

  7. Variabel Penelitian Variabel adalah gejala yang bervariasi (Suharsimi Arikunto, 1997:94).

  Gejala yang bervariasi misalnya jenis kelamin, karena jenis kelamin mempunyai variasi: laki-laki-perempuan. Gejala adalah objek penelitian, sehingga variabel adalah objek penelitian yang bervariasi.

  Berkaitan dengan judul skripsi yang diambil, penulis mengelompokkan variabel yang tercakup dalam penelitian ke dalam tabel berikut:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Kisi-Kisi Kuesioner Penelitian No.

  No Item Variabel

  I II Jumlah

  1. Peran orang tua dalam 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 1 dan 2

  11 pendidikan iman anak sudah 8, dan 9 terwujud

  2. Faktor-faktor pendukung dan 10, 11, 12, 13, 3 dan 4

  10 penghambat orang tua berperan 14, 15, 16, dan dalam pendidikan iman anak

  17

  3. Usulan katekese/pendalaman 18, 19, 20, 21, 5 dan 6

  9 iman yang diharapkan umat 22, 23, dan 24 untuk meningkatkan peran orang tua dalam pendidikan iman anak

  Jumlah item pernyataan

  30 D.

   Laporan dan Pembahasan Hasil Penelitian 1.

  Kuesioner Tertutup Hasil penelitian dari 30 responden yang terdiri dari 15 responden orang tua dan 15 responden anak-anak tertera pada tabel berikut ini: a.

  Identitas Responden Tabel 1 : Identitas Responden

  (N=30)

  No Pernyataan Jumlah % (X) (X/N × 100)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  1. Anggota Keluarga: a. 4 13,3 % Bapak b. 11 36,7 % Ibu c. 15 50 % Anak

  2. Orang Tua berusia: a. 3 10 % 30 tahun b. 6 20 % 40 tahun c. 6 20 % 50 tahun

  3. Anak Berusia: a. 5 16,7 % 13-14 tahun b. 10 33,3 % 15-20 tahun

  Dalam tabel 1 dapat dilihat jumlah responden yaitu 30 orang terdiri dari Bapak, ibu dan anak. Jumlah responden dibagi dua dengan jumlah 15 responden untuk orang tua dan 15 responden untuk anak. Orang tua dibagi menjadi 2 golongan yaitu bapak dan ibu dengan kriteria orang tua yang memiliki anak usia sekolah. Jumlah responden bapak sebanyak 4 orang dengan jumlah prosentase 13,3 % sedangkan jumlah responden ibu sebanyak 11 orang dengan jumlah prosentase 36,7 %. Jumlah responden anak sebanyak 15 orang dengan jumlah prosentase 50 %. Dari data yang masuk pada tabel 1, diketahui bahwa responden rata-rata berusia 41-50 tahun ke atas sebanyak 12 orang dengan jumlah prosentase 40 %.

  Dari data di atas, jumlah rata-rata responden anak-anak berusia tahun 15- 20 tahun sebanyak 10 orang dengan jumlah prosentase 33,3 %.

  b.

  Sejauh mana peran orang tua dalam pendidikan iman anak sudah terwujud Tabel 2 :

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (N=30)

  No Pernyataan Jumlah %

  1. Seluruh anggota keluarga berdoa, membaca dan membahas makna bacaan Kitab Suci bersama.

  a. 2 6,7 % Selalu b. 4 13,3 %

  Sering c. 11 36,7 % Kadang-kadang d. 10 33,3 %

  Pernah e. 3 10 % Tidak Pernah

  2. Seluruh anggota keluarga saling memberikan dukungan satu sama lain.

  a. 17 56,7 % Selalu b. 10 33,3 %

  Sering c. 3 10 % Kadang-kadang d.

  • Pernah e.
  • Tidak Pernah

  3. Orang tua mendukung anak aktif dalam kegiatan di Gereja.

  a. 24 80 % Selalu b. 2 6,7 %

  Sering c. Kadang-kadang

  • d.

  4 13,3 % Pernah e.

  • Tidak Pernah

  4. Orang tua mendamping anak dalam proses persiapan inisiasi penerimaan sakramen.

  a. 13 43,3 % Selalu b. 2 6,7 %

  Sering

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  7

  c.

  Kadang-kadang d.

  Pernah e. Tidak Pernah

  8

  • 26,7 % 23,3 %
  • 5. Orang tua mengajak anak untuk sharing tentang pengalamannya.

  a.

  Pernah e. Tidak Pernah

  3

  26

  Pernah e. Tidak Pernah

  Sering c. Kadang-kadang d.

  Selalu b.

  a.

  26,7 %

  8

  6

  8

  8

  Sering c. Kadang-kadang d.

  Selalu b.

  Selalu b.

  a.

  3,3 %

  1 16,7 % 26,7 % 43,3 % 10 %

  3

  13

  8

  5

  Pernah e. Tidak Pernah

  Sering c. Kadang-kadang d.

  6. Orang tua mengajarkan anak tentang doa dan ajaran agama katolik di rumah.

  • 26,7 % 26,7 % 20 %
  • 7. Orang tua mengajarkan anak untuk menghargai dan menghormati teman atau orang lain yang beragama lain.
  • 1
  • 3,3 %
  • 86,7 % 10 %
  • 8. Orang tua mengajarkan anak untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas apa yang sudah dimiliki.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  a.

  Selalu b.

  Sering c. Kadang-kadang d.

  Pernah e. Tidak Pernah

  27

  1

  1

  1

  3,3 % 3,3 % 3,3 %

  • 90 %
  • 9. Orang tua menjelaskan arti dan makna perayaan-perayaan dalam agama katolik seperti pekan suci, paskah, natal dll kepada anak.

  a.

  Sering c. Kadang-kadang d.

  Pernah e. Tidak Pernah

  7

  3

  5

  9

  6 23,3 % 10 % 16,7 % 30 %

  20 % Pada item no 1, dari 30 orang responden hanya 11 orang responden dengan jumlah prosentase 36,7 % menyatakan bahwa seluruh anggota keluarga

  (ayah, ibu, dan anak) kadang-kadang berdoa, membaca dan membahas makna bacaan Kitab Suci bersama. Dan 10 orang responden dengan jumlah prosentase 33,3 % menyatakan pernah berdoa, membaca dan membahas makna bacaan Kitab Suci bersama. Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa sebagian besar keluarga belum dapat menyempatkan waktu untuk berdoa, membaca dan membahas makna bacaan dari kitab suci bersama-sama. Data di atas sesuai dengan pengamatan penulis bahwa berdoa, membaca dan membahas makna bacaan kitab suci belum menjadi suatu kegiatan yang rutin dilaksanakan dalam keluarga di lingkungan Santo Yusuf Gemuh. Hal tersebut terjadi karena kegiatan tersebut seringkali tergeser oleh kegiatan dan tugas-tugas rutin yang selalu menyita waktu. Padahal kegiatan tersebut seharusnya

  Selalu b.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menjadi sebuah rutinitas dalam keluarga terutama bagi para orang tua agar dalam menjalani kehidupan sehari-hari selalu mendapatkan rahmat dan bimbingan dari Tuhan dalam mencapai kehidupan yang harmonis sebagai keluarga Kristiani. Tetapi rata-rata keluarga Kristiani mengalami masalah yang sama yakni masalah membagi waktu dan niat yang kurang kuat. Dari data di atas, dari 30 orang responden selain 11 orang yang menyatakan kadang-kadang dan 10 orang responden menyatakan bahwa seluruh anggota keluarga pernah berdoa, membaca dan membahas makna bacaan kitab suci, sisanya yakni 2 orang responden dengan jumlah prosentase 6,7 % menyatakan bahwa seluruh anggota keluarga selalu berdoa, membaca dan membahas makna bacaan Kitab Suci dan 4 orang responden dengan jumlah prosentase 13,3 % menyatakan sering. Dari data tersebut, hanya sebagian kecil keluarga yang secara rutin berdoa, membaca dan membahas makna bacaan kitab suci secara bersama- sama.

  Pada item no 2, dari 30 orang responden sebanyak 17 orang responden dengan prosentase 56,7 % menyatakan bahwa seluruh anggota keluarga (ayah, ibu, dan anak) selalu memberikan dukungan satu sama lain dan 10 orang responden dengan jumlah prosentase 33,3 % menyatakan bahwa mereka sering memberikan dukungan satu sama lain kepada anggota keluarga. Dari data tersebut diketahui bahwa relasi antar anggota keluarga di lingkungan Santo Yusuf Gemuh cukup baik karena seluruh anggota keluarga saling mendukung satu sama lain yang merupakan modal utama untuk menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik bagi keluarga. Sedangkan sisanya yakni 3 orang responden dengan jumlah prosentase 10 % menyatakan hanya kadang-kadang saja seluruh anggota keluarga memberi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  merupakan hal yang sudah seharusnya dilakukan dalam keluarga. Data menunjukkan adanya 3 responden yang menyatakan hanya kadang-kadang saja seluruh anggota keluarga memberikan dukungan satu sama lain merupakan salah satu dampak dari kurangnya keterbukaan antar anggota keluarga yang dialami oleh sebagian keluarga.

  Pada item no 3, sebanyak 24 orang responden dengan jumlah prosentase 80 % menyatakan bahwa orang tua selalu mendukung anak aktif dalam kegiatan di Gereja dari 30 orang responden. Data tersebut sesuai dengan fakta yang diamati oleh penulis bahwa orang tua selalu mendukung anak-anaknya terlibat dan aktif dalam kegiatan di Gereja. Melihat pergaulan anak jaman sekarang, orang tua sudah cukup khawatir kalau anak-anak mereka salah jalan. Oleh karena itu orang tua sangat mendukung anak-anak aktif dalam kegiatan di Gereja dari pada melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat karena selain iman anak yang berkembang, pergaulan, pengetahuan, dan pengalaman mereka juga berkembang ke arah yang positif. Dan sisanya yang berjumlah 4 orang dengan prosentase 13,3 % menyatakan bahwa orang tua pernah mendukung anak aktif dalam kegiatan Gereja. Jumlah prosentase tersebut dinyatakan oleh responden anak-anak. Hal ini dapat dipahami karena ada beberapa orang tua yang menikah beda agama. Tentunya situasi tersebut berpengaruh terhadap pendidikan iman anak karena perhatian dan pendampingan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak di rumah sangatlah kurang. Dan hal tersebut dapat mengakibatkan tidak berkembangnya iman anak bahkan iman dan identitas Kristianinya akan semakin kabur jika tidak ada pendampingan serta perhatian dari orang tua.

  Pada item no 4, 13 orang responden dengan jumlah prosentase 43,3 %

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  penerimaan sakramen inisiasi dan 2 orang dengan jumlah prosentase 6,7 % menyatakan sering. Selain itu, ada 8 responden dengan jumlah prosentase 26,7 % menyatakan hanya kadang-kadang saja dan 7 orang dengan jumlah prosentase 23,3 % menyatakan bahwa orang tua pernah mendampingi anak dalam proses persiapan penerimaan sakramen inisiasi. Data tersebut menunjukkan adanya suatu perbandingan jumlah orang tua yang terlibat dan mendampingi anak dalam proses persiapan penerimaan sakramen inisiasi dan orang tua yang kurang memberikan pendampingan kepada anak mereka selama proses penerimaan sakramen inisiasi dan menyerahkan semuanya kepada guru agama atau katekis. Dalam pengamatan penulis, pendampingan proses persiapan penerimaan sakramen sebagian besar dilakukan oleh guru agama atau katekis. Pendampingan yang dilakukan oleh orang tua di rumah biasanya seperti mengajari doa-doa dan memberitahu tata cara saat menerima sakramen.

  Pada item no 5, 13 orang responden dengan jumlah prosentase 43,3 % menyatakan bahwa kadang-kadang orang tua mengajak anak untuk sharing tentang pengalamannya. Dan ada 3 orang responden dengan jumlah prosentase 10 % menyatakan bahwa dalam keluarga orang tua hanya pernah mengajak anak untuk sharing pengalamannya. Bahkan ada 1 orang responden dengan dengan jumlah prosentase 3,3 menyatakan sama sekali tidak pernah. Pernyataan tersebut sesuai dengan pengamatan penulis bahwa keterbukaan antar anggota keluarga di lingkungan Santo Yusuf Gemuh masih kurang. Menurut penulis, hal tersebut disebabkan karena anak merasa kurang nyaman dan memiliki pandangan yang berbeda dengan orang tua mereka. Selain itu, orang tua terlalu sibuk dengan tugas dan pekerjaannya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tabel 2 pada item no 5 juga menunjukkan bahwa ada 5 orang responden dengan jumlah prosentase 16,7 % menyatakan orang tua selalu mengajak anak untuk sharing pengalamannya dan ada 8 orang responden dengan jumlah prosentase 26,7 % menyatakan bahwa orang tua sering mengajak anaknya sharing tentang pengalamannya.

  Pada item no 6, sebanyak 8 orang dengan jumlah prosentase 26,7 % menyatakan bahwa orang tua mengajarkan anak tentang doa dan ajaran agama Katolik di rumah dan ada 6 orang yang menyatakan bahwa kadang-kadang orang tua mengajarkan doa dan ajaran agama Katolik di rumah. Dari data di atas, dapat dilihat bahwa hanya sebagian dari orang tua yang selalu mengajarkan kepada anak tentang doa dan ajaran agama Katolik di rumah. Menurut penulis, anak memang pasti mendapatkan pengajaran tentang doa dan ajaran Katolik di sekolah. Tetapi alangkah bagusnya kalau orang tua mengajarkan doa-doa kepada anak dengan cara mengajak mereka berdoa setiap malam dan juga memberitahu dan mengajarkan ajaran Katolik kepada anak dengan cara yang menyenangkan misalnya dengan menggunakan sarana atau fasilitas yang ada di rumah.

  Pada item no 7, sebanyak 26 orang responden dengan jumlah prosentase 86,7 % menyatakan bahwa orang tua selalu mengajarkan kepada anak untuk menghargai dan menghormati teman atau orang lain yang beragama lain. Kenyataan di atas menunjukkan bahwa orang tua mengajarkan kepada anak hidup harmonis dengan sesama dengan menghargai dan menghormati orang lain. Menurut penulis, hal ini adalah pelajaran yang paling dasar dan yang paling penting yang harus diajarkan oleh orang tua dalam keluarga. Karena kita hidup bersama dengan orang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  untuk menghormati orang lain. Tetapi dari 30 responden, ada 1 orang dengan jumlah prosentase 3,3 % menyatakan bahwa orang tua pernah mengajarkan kepada anak untuk menghargai dan menghormati teman yang bergamaa lain. Menurut penulis, orang tua hanya beberapakali mengajarkan kepada anaknya untuk menghormati orang lain yang berbeda agama hanya pada saat seperti hari besar agama lain.

  Pada item no 8, 27 orang responden dengan jumlah prosentase 90 % menyatakan bahwa orang tua mengajarkan kepada anak untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas apa yang sudah dimiliki. Dari pernyataan di atas, orang tua mengajarkan kepada anak untuk selalu bersyukur sekaligus mengajarkan tentang kasih Tuhan kepada umatNya. Menurut penulis, dengan mengajari anak bersyukur kepada Tuhan atas apa yang sudah dimiliki anak akan belajar untuk selalu mengingat Tuhan dalam senang maupun susah. Tetapi ada 1 orang responden anak yang menyatakan bahwa orang tua pernah mengajarkan anak untuk bersyukur kepada Tuhan atas apa yang sudah dimiliki. Menurut penulis, orang tua pastinya ingin selalu mengingatkan anaknya untuk bersyukur kepada Tuhan setelah ia mendapatkan sesuatu. Tetapi karena kurangnya komunikasi dan kurangnya intensitas berkumpul dengan seluruh anggota keluarga, pendidikan iman bagi anak kurang diperhatikan.

  Pada item no 9, 9 orang responden menyatakan bahwa orang tua pernah menjelaskan arti dan makna perayaan-perayaan dalam agama Katolik seperti pekan suci, paskah, natal dll kepada anak dengan jumlah prosentase 30 % dan 5 orang yang menyatakan kadang-kadang. Dari data di atas, orang tua hanya beberapakali menjelaskan arti dan makna perayaan-perayaan dalam agama Katolik kepada anak. Bahkan dari 30 responden, ada 6 orang dengan jumlah prosentase 20 % menyatakan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  agama Katolik. Menurut penulis, kenyataan di atas mengakibatkan anak tidak mengerti tentang arti dan makna perayaan-perayaan dalam agama Katolik yang ia rayakan selama ini apalagi bagi anak-anak yang sekolah di sekolah negeri dan jarang mengikuti kegiatan-kegiatan di Gereja. Hal tersebut disebabkan karena orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tugas-tugasnya dan bahkan orang tua juga kurang mengetahui arti dan makna perayaan-perayaan dalam agama Katolik. Tetapi ada 7 orang responden dengan jumlah prosentase 23,3 % menyatakan bahwa orang tua selalu menjelaskan arti dan makna perayaan-perayaan dalam agama Katolik dan 3 orang dengan jumlah prosentase 10 % menyatakan sering. Dari data tersebut, dapat dikatakan bahwa nampaknya tidak semua orang tua melupakan tugas dan tanggung jawabnya untuk mendidik anak. Tetapi dalam kenyataannya, orang tua masih sering melupakan tugasnya untuk mendidik anak mereka salah satunya dengan menjelaskan arti dan makna perayaan-perayaan dalam agama Katolik.

  c.

  Faktor-faktor pendukung dan penghambat orang tua berperan dalam pendidikan iman anak.

  Tabel 3 : Faktor-faktor pendukung dan penghambat orang tua berperan dalam pendidikan iman anak.

  (N=30)

  

No Pernyataan Jumlah %

  10. Seluruh anggota keluarga setiap minggu pergi Gereja.

  a.

  10 33,3 % Selalu b.

  6 20 % Sering c.

  13 43,3 % Kadang-kadang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  e.

  • Tidak Pernah

  11. Seluruh anggota keluarga menonton televisi dan berkumpul bersama.

  a.

  5 16,7 % Selalu b.

  8 26,7 % Sering c.

  16 53,3 % Kadang-kadang d.

  1 3,3 % Pernah e.

  Tidak Pernah

  12. Setiap anggota keluarga saling terbuka satu sama lain dalam berbagai hal.

  a.

  7 23,3 % Selalu b.

  5 16,7 % Sering c.

  15 50 % Kadang-kadang d.

  2 6,7 % Pernah e.

  1 3,3 % Tidak Pernah

  13. Saling memberikan perhatian ketika ada yang sedang mengalami kesulitan.

  a.

  14 46,7 % Selalu b.

  10 33,3 % Sering c.

  5 16,7 % Kadang-kadang d.

  1 3,3 % Pernah

  • e.
  • 14. Relasi antar anggota keluarga kurang harmonis.

  Tidak Pernah

  a.

  • Selalu b.
  • Sering c.

  9 30 % Kadang-kadang d.

  16 53,3 % Pernah e.

  5 16,7 % Tidak Pernah

  15. Anak memiliki banyak kegiatan dan jarang ada di rumah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  a.

  3 10 % Selalu b.

  4 13,3 % Sering c.

  18 60 % Kadang-kadang d.

  1 3,3 % Pernah e.

  4 13,3 % Tidak Pernah

  16. Anak lebih suka bermain dengan teman sebaya dari pada berkumpul bersama anggota keluarga di rumah a.

  2 6,7 % Selalu b.

  6 20 % Sering c.

  15 50 % Kadang-kadang d.

  4 13,3 % Pernah e.

  3 10 % Tidak Pernah

  17. Orang tua setiap hari sibuk bekerja sehingga tidak memiliki waktu berkumpul bersama keluarga.

  a.

  4 13,3 % Selalu b.

  5 16,7 % Sering c.

  12 40 % Kadang-kadang d.

  7 23,3 % Pernah e.

  2 6,7 % Tidak Pernah

  Pada item no 10, sebanyak 13 orang responden dengan jumlah prosentase 43,3 % menyatakan bahwa kadang-kadang seluruh anggota keluarga setiap minggu pergi Gereja bersama dan ada 1 responden yang menyatakan bahwa seluruh anggota keluarga pernah pergi ke Gereja bersama setiap minggu. Pernyataan dari responden di atas sesuai dengan situasi keluarga yang ada di lingkungan Santo Yusuf bahwa seluruh anggota keluarga jarang pergi ke Gereja secara bersama-sama. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar anak-anak sekolah di luar kota sehingga jarang berada di

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  rumah dan memiliki kegiatan sendiri ketika pulang ke rumah. Selain data tersebut, ada 10 orang responden dengan jumlah prosentase 33,3 % menyatakan bahwa seluruh anggota keluarga selalu pergi ke Gereja setiap minggu bersama-sama dan 6 orang dengan jumlah prosentase 20 % menyatakan sering. Menurut pemahaman penulis dari data tersebut orang tua rutin pergi ke Gereja setiap minggu bersama dengan anaknya yang masih kecil atau masih usia sekolah dasar atau menengah pertama. Dari pengamatan penulis, sebagian besar kaum muda lebih menyukai pergi ke Gereja bersama teman-temannya dan bahkan lebih suka pergi ke Gereja di paroki lain.

  Pada item no 11, 16 orang responden menyatakan bahwa kadang-kadang seluruh anggota keluarga menonton televisi dan berkumpul bersama dengan jumlah prosentase 53,3 % dan hanya 1 orang dengan jumlah prosentase 3,3 % yang menyatakan pernah menonton televisi dan berkumpul bersama anggota keluarga.

  Dari pernyataan yang diperoleh, sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka jarang menonton televisi dan berkumpul bersama di rumah. Dari pengamatan penulis, hal ini biasanya dikarenakan para orang tua yang sudah lelah setelah seharian bekerja dan pada malam harinya langsung istirahat. Sedangkan anak-anak pada malam hari lebih suka nonton tv atau bermain game di dalam kamar. Selain itu, masih ada 5 orang responden dengan jumlah prosentase 16,7 % menyatakan bahwa mereka selalu menonton televisi dan berkumpul bersama dengan seluruh anggota keluarga dan ada 8 orang yang menyatakan sering. Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa masih ada beberapa keluarga yang menyempatkan waktu untuk menonton televisi bersama meskipun hanya sebentar dan tidak setiap hari.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pada item no 12, sebanyak 15 orang responden dengan jumlah prosentase 50 % menyatakan bahwa kadang-kadang setiap anggota keluarga saling terbuka satu sama lain dalam berbagai hal, 2 orang dengan jumlah prosentase 6,7 % menyatakan pernah, dan 1 orang dengan jumlah prosentase 3,3 % menyatakan bahwa setiap anggota keluarga tidak pernah terbuka satu sama lainnya. Dari data tersebut, setiap anggota keluarga masih kurang terbuka satu sama lain. Menurut pemahaman penulis, hal tersebut terjadi karena setiap anggota keluarga masih ada rasa kurang percaya satu sama lain atau merasa tidak nyaman dan tidak satu pikiran karena berbeda generasi. Tetapi ada 7 orang responden dengan jumlah prosentase 23,3 % menyatakan bahwa setiap anggota keluarga selalu terbuka satu sama lain dan 5 orang responden dengan jumlah prosentase 16,7 % menyatakan bahwa antar anggota keluarga sering terbuka satu sama lain. Dari pemahaman penulis, adanya keterbukaan dalam keluarga terjadi antara orang tua dan anak terutama anak usia sekolah dasar. Anak usia sekolah dasar lebih suka bercerita tentang pengalamannya kepada orang tua mereka karena mereka merasa aman jika bercerita kepada orang tua mereka.

  Menceritakan pengalaman yang dialami merupakan salah satu bentuk anak mencari perhatian dari orang tua mereka.

  Pada item no 13, 14 orang responden dengan jumlah prosentase 46,7 % menyatakan bahwa anggota keluarga selalu memberikan perhatian ketika ada yang sedang mengalami suatu permasalahan dan 10 orang dengan jumlah prosentase 33,3 % menyatakan sering. Data di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa setiap anggota keluarga memberikan perhatian ketika ada yang sedang mengalami suatu permasalahan dan hal itu berarti antar anggota keluarga

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  16,7 % menyatakan bahwa anggota keluarga kadang-kadang memberikan perhatian ketika ada yang mengalami kesulitan dan 1 orang dengan jumlah prosentase 3,3 % menyatakan pernah. Menurut penulis, perhatian merupakan ungkapan kasih sayang kepada orang yang kita sayangi yang biasanya diungkapkan dalam bentuk suatu tindakan dan perkataan. Tetapi terkadang masih ada anggota keluarga yang malu untuk mengungkapkan perhatiannya kepada anggota keluarga yang lain.

  Pada item no 14, sebanyak 16 orang responden dengan jumlah prosentase 53,3 % menyatakan bahwa relasi antar anggota keluarga pernah kurang harmonis dan 9 orang dengan jumlah prosentase 30 % menyatakan kadang-kadang saja relasi antar anggota keluarga kurang harmonis. Dari data yang diperoleh, relasi antar anggota keluarga tidak selalu harmonis. Menurut penulis, dalam keluarga hal tersebut merupakan suatu hal yang wajar karena setiap manusia memiliki perbedaan dalam cara pandang, pemikiran, pendapat, dan lain hal. Selain pernyataan di atas, 5 responden yang lain menyatakan bahwa relasi antar anggota keluarga selalu harmonis. Menurut penulis, hal tersebut merupakan suatu bentuk representatif responden mengenai keadaan yang seharusnya dengan kenyataan yang ada.

  Pada item no 15, 18 orang responden dengan jumlah prosentase 60 % menyatakan bahwa kadang-kadang anak memiliki banyak kegiatan dan jarang ada di rumah dan 4 orang responden yang lain dengan jumlah prosentase 13,3 % menyatakan anak sering memiliki banyak kegiatan dan jarang berada di rumah. dari data di atas, anak-anak terkadang memiliki banyak kegiatan baik kegiatan dan membuatnya jarang berada di rumah. Menurut penulis, hal tersebut masih dapat dikatakan wajar terutama bagi anak usia sekolah menengah pertama dan menengah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mengeksplor diri mereka dalam berbagai kegiatan yang terkadang menyita waktu mereka. Selain data di atas, ada 3 responden dengan jumlah prosentase 10 % menyatakan bahwa anak selalu memiliki banyak kegiatan dan jarang ada di rumah dan 4 responden yang lain menyatakan bahwa anak tidak pernah memiliki kegiatan dan selalu berada di rumah. menurut penulis, hal tersebut merupakan pernyataan yang bertolak belakang tetapi memiliki masalah yang sama yakni adanya sesuatu yang salah dengan diri anak tersebut baik dari segi situasi yang ada di rumah, lingkungan sekitar dan pergaulannya. Terutama bagi anak usia sekolah menengah pertama dan menengah atas masih memerlukan bimbingan dari orang tua karena usia tersebut merupakan usia yang rawan bagi anak terutama bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan rohaninya.

  Pada item no 16, sebanyak 15 orang responden menyatakan bahwa kadang- kadang anak lebih suka bermain dengan teman sebaya dari pada berkumpul bersama anggota keluarga di rumah dengan jumlah prosentase 50 % dan 4 responden dengan jumlah prosentase 13,3 % menyatakan pernah. Dari data pernyataan yang sudah disebutkan, anak-anak terkadang lebih suka bermain bersama teman sebaya mereka dari pada berada di rumah bersama anggota keluarga. Anak-anak usia sekolah yang sudah memiliki teman akrab pastilah lebih suka bermain dengan teman yang sebaya dengan mereka karena dianggap lebih nyaman dan lebih nyambung untuk diajak bicara dibandingkan berkumpul bersama anggota keluarga yang lain di rumah. Sedangkan responden yang lainnya menyatakan bahwa anak lebih suka bermain dengan teman sebaya dari pada berada di rumah bersama anggota keluarga yang lain sebanyak 2 orang dengan jumlah prosentase 6,7 % dan 6 orang dengan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pada item no 17, sebanyak 12 orang responden menyatakan bahwa kadang-kadang orang tua sibuk bekerja sehingga tidak memiliki waktu berkumpul bersama keluarga dengan jumlah prosentase 40 % dan 7 orang dengan jumlah prosentase 23,3 % menyatakan pernah. Berdasarkan data tersebut, bahwa orang tua terkadang jarang berkumpul bersama dengan keluarga karena sibuk bekerja. Itu artinya antar anggota keluarga jarang ada dialog dan bercengkrama bersama. Dan ada 4 orang dengan jumlah prosentase 13,3 % menyatakan bahwa oraang tua selalu sibuk bekerja dan jarang berkumpul dengan anggota keluarga yang lain serta 5 orang dengan jumlah prosentase 16,7 % menyatakan sering. Sibuk bekerja dan menyelesaikan pekerjaan yang sudah menjadi tugas mereka, membuat orang tua kurang mendampingi anak secara intens karena waktu yang seharusnya digunakan untuk berkumpul bersama keluarga digunakan untuk bekerja dan menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda. Tetapi dari 30 orang responden, ada 2 orang yang menyatakan orang tua tidak pernah terlalu sibuk bekerja sehingga memiliki waktu berkumpul bersama dengan keluarga.

  d.

  Usulan katekese/pendalaman iman yang diharapkan umat meningkatkan peran orang tua dalam pendidikan iman anak.

  Tabel 4 : Usulan katekese/pendalaman iman yang diharapkan umat untuk meningkatkan peran orang tua dalam pendidikan iman anak

  (N=30)

  No. Pernyataan Jumlah %

  18. Orang tua mengikuti pendalaman

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  iman dan doa bersama di lingkungan a. 6 20 %

  Selalu b. 5 16,7 % Sering c. 12 40 %

  Kadang-kadang d. 4 13,3 % Pernah e. 3 10 %

  Tidak Pernah

  19. Katekese atau pendalaman iman bertitik tolak dari pengalaman sehari-hari a. 14 46,7 %

  Selalu b. 6 20 % Sering c. 6 20 %

  Kadang-kadang d. 3 10 % Pernah e. 1 3,3 %

  Tidak Pernah

  20. Katekese atau pendalaman iman membuat anda lebih dekat dengan Tuhan a. 25 83,3 %

  Selalu b. 2 6,7 % Sering c. 2 6,7 %

  Kadang-kadang d. 1 3,3 % Pernah

  • 21. Katekese atau pendalaman iman memberikan motivasi untuk lebih bersikap positif a.
  • e.

  Tidak Pernah

  22 73,3 % Selalu b. 5 16,7 %

  Sering c. 2 6,7 % Kadang-kadang d. 1 3,3 %

  Pernah

  • e.

  Tidak Pernah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  22. Katekese atau pendalaman iman membawa pengaruh positif bagi kehidupan anda a. 17 56,7 %

  Selalu b. 9 30 % Sering c. 3 10 %

  Kadang-kadang d. 1 3,3 % Pernah e. - -

  Tidak Pernah

  23. Katekese atau pendalaman iman membantu keluarga Kristiani dalam mempererat relasi antar anggota keluarga a. 16 53,3 %

  Selalu b. 9 30 % Sering c. 3 10 %

  Kadang-kadang d. 2 6,7 % Pernah e.

  • Tidak Pernah

  24. Katekese atau pendalaman iman memberi kesadaran akan tugas dan tanggung jawab dalam hidup sehari-hari a. 13 43,3 %

  Selalu b. 8 26,7 % Sering c. 7 23,3 %

  Kadang-kadang d. 2 6,7 % Pernah e. - -

  Tidak Pernah Pada item no 18, sebanyak 12 orang responden dengan jumlah prosentase 40 % menyatakan bahwa kadang-kadang orang tua mengikuti pendalaman iman dan doa bersama di lingkungan dan 4 orang responden dengan jumlah prosentase 13,3 %

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menyatakan orang tua hanya pernah mengikuti pendalaman iman dan doa di lingkungan. Dari data tersebut, orang tua tidak selalu mengikuti pendalaman iman dan doa di lingkungan. Menurut penulis, hal tersebut dikarenakan banyak orang tua yang memiliki kesibukan terhadap pekerjaan dan tugas-tugas mereka yang terkadang membuat mereka lupa akan tugas dan tanggung jawab mereka terhadap keluarga dan sebagai orang Kristiani. Bahkan ada 3 orang dengan jumlah prosentasi 10 % menyatakan bahwa orang tua tidak pernah mengikuti pendalaman iman dan doa di lingkungan. Padahal pendalaman iman dapat menambah pengetahuan dan dapat membuat mereka semakin percaya kepada Tuhan serta diteguhkan dari pengalaman- pengalaman orang lain. Tetapi selain data yang disebutkan di atas, ada 6 orang responden dengan jumlah prosentase 20 % menyatakan bahwa orang tua selalu mengikuti pendalaman iman dan doa lingkungan dan 5 orang dengan jumlah prosentase 16,7 % menyatakan sering.

  Pada item no 19, 14 orang responden dengan jumlah prosentase 46,7 % menyatakan bahwa katekese atau pendalaman iman selalu bertitik tolak dari pengalaman sehari-hari dan 6 orang dengan jumlah prosentase 20 % menyatakan sering. Dari pernyataan tersebut, dapat dilihat bahwa pendalaman iman selalu bertitik tolak dari pengalaman sehari-hari. Karena pendalaman iman dengan bertitik tolak dari pengalaman sehari-hari sangat membantu umat dalam memahami makna dari bacaan kitab suci. Selain itu, ada 6 orang dengan jumlah prosentase 20 % menyatakan bahwa pendalaman iman kadang-kadang bertitik tolak dari pengalaman sehari-hari dan 3 orang dengan jumlah prosentase 10 % menyatakan pernah. Dari 30 responden, sebagian kecil menyatakan pendalaman iman terkadang bertitik tolak dari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pengalaman hidup sehari-hari. Dilihat dari jumlah pernyataan responden, pendalaman iman sebagian besar bertitik tolak dari pengalaman sehari-hari.

  Pada item no 20, sebanyak 25 orang responden menyatakan bahwa katekese atau pendalaman iman membuat responden lebih dekat dengan Tuhan dengan jumlah prosentase 83,3 % dan 2 responden dengan jumlah prosentase 6,7 % menyatakan sering. Dari fakta yang disebutkan di atas, hampir semua responden menyatakan bahwa katekese atau pendalaman iman membuat responden lebih dekat dengan Tuhan karena tujuan diadakannnya pendalaman iman sejatinya ingin mendekatkan umat dengan Tuhan. Dari pemahaman penulis, pendalaman iman membantu umat untuk semakin percaya dan semakin mencintai Tuhan dalam segala peristiwa sehari-hari. Oleh karena itu banyak pendalaman iman yang diadakan di lingkungan-lingkungan bertitik tolak dari pengalaman umat sehari-hari. Selain itu 2 orang dengan jumlah prosentase 6,7 % menyatakan bahwa pendalaman iman membuat mereka kadang-kadang merasa lebih dekat dengan Tuhan dan 1 orang dengan jumlah prosentase 3,3 % menyatakan pernah. Dari 30 responden, hanya sebagian kecil saja yang merasa bahwa pendalaman iman tidak selalu membuat mereka lebih dekat dengan Tuhan. Hal ini berarti sebagian besar umat mengalami manfaat dengan mengikuti pendalaman iman.

  Pada item no 21, 22 orang responden menyatakan bahwa katekese atau pendalaman iman memberikan motivasi untuk selalu bersikap positif dengan jumlah prosentase 73,3 % dan 5 orang dengan jumlah prosentase 16,7 % menyatakan bahwa pendalaman iman sering memberikan mereka motivasi untuk bersikap positif. Dari jumlah pernyataan yang disebutkan di atas, sebagian besar responden merasakan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  selalu memberikan motivasi kepada responden untuk bersikap positif dalam hidup sehari-hari. Dan 2 orang dengan jumlah prosentase 6,7 % menyatakan bahwa kadang-kadang pendalaman iman memberikan mereka motivasi untuk bersikap positif dalam hidup. Sedangkan 1 orang menyatakan hanya pernah mengalami pendalaman iman memberikan motivasi kepada dirinya untuk bersikap positif. Akan sangat membantu kalau pendalaman iman dapat memberikan motivasi bagi umat untuk bersikap positif dalam mencapai hidup yang harmonis dengan sesama dan semua ciptaan-Nya misalnya umat merasa termotivasi untuk menjalin relasi kembali dengan orang yang ikatan relasinya sempat terputus setelah mengikuti pendalaman iman karena tema yang dibahas sesuai dengan yang dialami.

  Pada item no 22, sebanyak 17 orang responden menyatakan bahwa katekese atau pendalaman iman selalu membawa pengaruh positif bagi kehidupan responden dengan jumlah prosentase 56,7 % dan 9 orang dengan jumlah prosentase 30 % menyatakan sering. Dilihat dari jumlah dan prosentase pernyataan responden, katekese telah memberi dampak kepada umat. Pengaruh yang dirasakan umat merupakan kelanjutan dari apa yang diperoleh umat pada item no 21. Motivasi untuk bersikap positif membawa pengaruh bagi umat itu sendiri. Dengan memiliki motivasi untuk bersikap positif, motivasi tersebut akan menjadi sugesti dalam diri umat untuk selalu bejalar bersikap positif. Dengan begitu umat akan lebih terbantu dalam mengontrol emosi dan pikirannya.

  Pada item no 23, sebanyak 16 orang dengan jumlah prosentase 53,3 % menyatakan bahwa katekese atau pendalaman iman selalu membantu mereka dalam mempererat relasi antar anggota keluarga dan 9 orang dengan jumlah prosentase 30

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  anggota keluarga. Dari data di atas, dari 30 responden sebagian besar keluarga di lingkungan Santo Yusuf merasa relasi antar anggota keluarga menjadi semakin erat melalui pendalaman iman atau katekese. Menurut penulis, pendalaman iman dapat membantu mempererat relasi antar anggota keluarga karena tema dan tujuan yang bertitik tolak dari permasalahan yang ada di sekitar dapat membantu umat. Kesadaran untuk menjalin relasi yang baik dengan orang lain terutama keluarga sendiri dapat terjadi apabila umat menghayati dan memaknai pendalaman iman yang diikuti yang pada akhirnya akan menghasilkan kesadaran untuk memperbaiki apa yang salah dan mempertahankan serta meningkatkan yang benar.

  Pada item no 24, sebanyak 13 orang dengan jumlah prosentase 43,3 % dari 30 responden menyatakan bahwa katekese atau pendalaman iman selalu memberi kesadaran akan tugas dan tanggungjawab dalam hidup sehari-hari. Dan 8 orang dengan jumlah prosentase 26,7 % menyatakan bahwa pendalaman iman atau katekese sering kali membuat mereka sadar akan tugas dan tanggungjawab mereka. Dari data di atas, dapat dilihat bahwa katekese memberi kontribusi dengan membantu umat menyadari akan tugas dan tanggungjawabnya baik dalam keluarga, lingkungan masyarakat dan Gereja kepada sebagian besar umat di lingkungan Santo Yusuf Gemuh. Sedangkan sisanya yakni 7 orang dengan jumlah prosentase 23,3 % menyatakan bahwa mereka hanya kadang-kadang menyadari kesadaran akan tugas dan tanggung jawab mereka dan 2 orang dengan jumlah prosentase 6,7 % menyatakan pernah menyadari kesadaran akan tugas dan tanggung jawab mereka dalam hidup sehari-hari setelah mengikuti pendalaman iman atau katekese. Hal itu berarti masih ada umat yang belum menemukan dan merasakan makna positif dari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mereka dalam hidup baik sebagai orang tua, anak, warga Gereja maupun warga masyarakat. Jumlah responden yang menyatakan bahwa katekese atau pendalaman iman selalu memberikan mereka kesadaran akan tugas dan tanggungjawab mereka sehari-hari lebih besar dari pada jumlah pernyataan yang lainnya. Menurut penulis, dari data yang sudah dibahas di atas kontras dengan pengamatan yang diungkapkan penulis di bagian latar belakang penelitian dan data pada tabel 2 dan tabel 3 mengenai tugas dan tanggungjawab orang tua khususnya yang berkaitan dengan pendidikan iman dan tugas dan tanggungjawab anak sebagai orang Kristiani.

2. Kuesioner Terbuka a.

  Sejauh mana peran orang tua dalam pendidikan iman anak sudah terwujud Pada item no 1, semua orang tua dari 15 responden sangat setuju bahwa keadaan yang ada dalam keluarga berpengaruh bagi perkembangan iman anak.

  Sebagian besar berpendapat bahwa masalah dalam keluarga akan berpengaruh bagi anak. Oleh karena itu, anak harus selalu diperhatikan dengan tidak memperlihatkan masalah keluarga kepada anak dan memberi pengertian tentang apa yang terjadi. Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk menjaga keharmonisan dalam keluarga karena keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi anak untuk memulai belajar segala hal karena anak belajar dari apa yang ia lihat. Selain itu, ada juga responden yang menyatakan bahwa keadaan ekonomi dalam keluarga berpengaruh bagi perkembangan iman anak. Ekonomi keluarga yang kurang mencukupi kebutuhan keluarga akan membawa pengaruh bagi anak terutama kepercayaan diri untuk bergaul. Ekonomi keluarga yang kurang bisa mencukupi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  segi iman tetapi juga dari segi psikologis dan kepribadian. Penting untuk selalu menanamkan pengertian kepada anak mengenai situasi ekonomi keluarga bukan membicarakan masalah ekonomi di depan anak. Karena dengan menanamkan pengertian bahwa orang tua bekerja mencari uang untuk memenuhi keperluan hidup termasuk memenuhi kebutuhan anak-anak, maka anak akan belajar menghargai kerja keras orang tuanya dengan rajin belajar agar kerja keras orang tua tidak sia-sia dan membantu orang tua di rumah.

  Pada item no 2, sebagian besar responden membina iman anak-anak mereka dengan mengajak dan mengingatkan untuk selalu berdoa sebelum memulai segala aktivitas, mengajak doa rosario, mengikuti kegiatan-kegiatan baik di Gereja maupun di lingkungan serta mengikuti misa di Gereja setiap minggu. Selain itu, sebagian orang tua mendidik anak agar selalu berkata jujur dan menghormati orang lain, mendampingi anak menonton televisi, menyanyikan lagu dari Madah Bakti, membaca Kitab Suci, dan mengajarkan kepada anak agar selalu bersyukur kepada Tuhan. Kegiatan pembinaan tersebut hanya 5 dari 15 orang responden yang melaksanakan dalam keluarga. Menurut penulis, pendampingan dan pembinaan iman bagi anak-anak dalam keluarga masih kurang diperhatikan oleh sebagian besar orang tua karena mereka kurang terlibat secara maksimal dalam memberikan pendampingan bagi pendidikan iman anak-anak mereka. Sebagian besar orang tua hanya mengajak dan mengingatkan anak-anaknya untuk selalu berdoa dan mengikuti kegiatan-kegiatan di Gereja maupun di lingkungan. Tetapi hal ini dimengerti oleh penulis karena keterbatasan orang tua dalam segi waktu, pikiran, pengetahuan, dan materi. Dan pada dasarnya orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anak-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  anak mereka tetapi karena keterbatasan-keterbatasan tersebut, iman anak jadi tidak bisa berkembang semaksimal mungkin.

  b.

  Faktor-faktor pendukung dan penghambat orang tua berperan dalam pendidikan iman anak Pada item no 3, faktor-faktor yang mendukung orang tua dalam pendidikan iman anak antara lain: Faktor yang mendukung dari anak yakni anak sekolah di sekolah Katolik, anak memiliki kebiasaan berdoa sebelum memulai aktivitas, anak bertanggungjawab, anak memiliki tingkah laku yang baik, dan anak memiliki banyak teman sesama Katolik karena sekolah di sekolah Katolik. Dari pernyataan tesebut, faktor-faktor yang mendukung dari diri anak itu sendiri dapat mendukung orang tua untuk berperan dalam pendidikan iman anak dalam keluarga karena dengan anak sekolah di sekolah Katolik, pengetahuan dasar mengenai ajaran agama Katolik dll sudah dipelajari oleh anak di sekolah sehingga orang tua dapat membantunya untuk memahami kembali apa yang sudah diajarkan di sekolah dengan buku-buku yang sudah ditetapkan oleh sekolah sebagai buku bahan belajar. Dengan anak memiliki tanggungjawab, orang tua dapat memanfaatkannya untuk mendukung dan mengajari anak untuk membantu Gereja dengan mengikuti kegiatan-kegiatan di Gereja dan di lingkungan dan memberikan pengertian bahwa orang Kristiani kalau sudah dibaptis maka mendapat tanggung jawab untuk mengemban tugas membantu dalam mengembangkan Gereja. Dengan anak memiliki tingkah laku yang baik, orang tua dapat memanfaatkan itu untuk mengajari anak belajar menghargai dan menghormati orang lain serta belajar berbagi kepada teman dan sesama yang berkekurangan. Dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dengan anak memiliki teman sesama Katolik, orang tua dapat memberi dorongan dan motivasi kepada anak agar anak dapat semakin terlibat dalam berbagai kegiatan dan organisasi-organisasi yang ada. Dengan begitu iman yang sudah mulai tertanam dalam diri anak tidak hilang karena salah pergaulan. Menurut penulis, dengan memanfaatkan faktor-faktor tersebut orang tua dapat mencari dan menemukan cara yang efektif yang dapat membantu anak dalam belajar sehingga anak berkembang dengan maksimal.

  Selain dari faktor dari anak, orang tua juga dapat memanfaatkan faktor- faktor yang mendukung mereka mewujudkan pendidikan iman dalam keluarga antara lain: orang tua dapat mengajari dan membimbing anak-anaknya untuk belajar dan ikut berdoa bersama dengan orang tua karena mereka memiliki kebiasaan berdoa sebelum memulai aktivitas. Selain itu orang tua juga dapat membuat jadwal rutin berdoa di rumah bersama dengan anggota keluarga yang lain. Orang tua juga dapat mengajari anak untuk bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan dan mengajari serta membimbing anak untuk menghargai segala sesuatu yang ia miliki seperti belajar tepat waktu dll dan tentunnya dengan dampingan dan contoh dari orang tua karena mereka memiliki disiplin dalam hidup. Faktor pendukung yang paling penting dari orang tua adalah adanya keinginan dan harapan agar anak dapat menjadi seorang Kristiani yang sejati. Dengan terus mengingat keinginan serta harapan tersebut, orang tua akan termotivasi dan memiliki sugesti dalam dirinya untuk selalu semangat dan pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan dan hambatan dalam mendidik anak.

  Faktor lain: sebagian besar keluarga memiliki sarana-sarana seperti buku-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tua dapat memanfaatkanya untuk memberikan pendidikan misalnya mengenai siapa itu Yesus, para nabi, ajaran Gereja Katolik, bagaimana menjadi putra dan putri Altar dll dengan menggunakan sarana yang ada sehingga anak dapat lebih terbantu dalam memahami apa yang telah diajarkan kepadanya.

  Pada item no 4, faktor-faktor yang menghambat peran orang tua dalam pendidikan iman anak antara lain: Faktor dari anak yakni anak lebih suka bermain dengan teman sebaya dari pada berada di rumah, anak suka menonton televisi saat jam doa, anak hobi bermain komputer, anak memiliki motivasi yang lemah dalam hal belajar, sebagian anak sekolah di sekolah negeri yang kekurangan guru agama Katolik sehingga anak tidak mendapatkan pelajaran agama, anak banyak memiliki teman yang beragama muslim bagi yang sekolah di sekolah negeri.

  Faktor dari orang tua yakni kurangnya pengetahuan tentang ajaran agama Katolik dan pekerjaan orang tua yang menyita waktu. Dan faktor yang lain yakni lingkungan tempat tinggal yang mayoritas warganya beragama Muslim.

  c.

  Harapan umat dalam rangka meningkatkan peran mereka sebagai pendidik iman.

  Pada item no 5, harapan dari responden untuk meningkatkan peran orang tua dalam pendidikan iman anak antara lain: Adanya sharing pengalaman dari para orang tua mengenai pendidikan iman anak yang dilaksanakan dalam keluarga. Hal ini menjadi harapan karena orang tua kurang mengetahui cara yang tepat dalam mendidik anak. Dengan diadakannya sharing antar orang tua, mereka dapat saling bertukar informasi, pengalaman, pengetahuan, menemukan masalah dan mencari solusi dari masalah tersebut

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  bersama-sama. Dengan begitu para orang tua dapat semakin diperkaya untuk menjalankan tugasnya dalam mendidik anak-anak mereka dengan cara yang tepat dan efektif.

  Diadakan pendalaman iman anak di lingkungan agar anak memperoleh pembinaan iman selain yang diperoleh dalam keluarga serta diadakan pendalaman iman khususnya yang membahas tentang tema keluarga agar dapat meningkatkan peran orang tua dalam pendidikan iman anak. Selain itu harapan agar orang tua dapat saling belajar menjadi teladan yang baik bagi putra-putrinya dengan terlibat dalam berbagai kegiatan yang positif yang diadakan di Gereja, lingkungan dan masyarakat.

  Pada item no 6, hampir semua responden setuju bahwa katekese dipandang sebagai usaha yang tepat untuk meningkatkan peran orang tua dalam pendidikan iman anak. Karena katekese atau pendalaman iman sangat bermanfaat bagi keluarga terutama bagi orang tua agar dapat memberikan kesadaran akan tugas dan kewajiban dalam membimbing anak dalam hidup bermasyarakat dan menggereja. Selain itu, pendalaman iman juga memberikan inspirasi dan pengetahuan baru bagi orang tua mengenai cara untuk memberikan pendidikan yang tepat kepada anak. Dengan materi yang tepat, orang tua dapat terbantu untuk memperdalam iman dan panggilan mereka sebagai orang tua. Dengan begitu orang tua dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dengan melakukan hal-hal yang positif.

  Refleksi dari penulis setelah melihat data yang didapatkan bahwa ada banyak faktor-faktor penghambat yang melatarbelakangi kurangnya peran orang tua dalam pendidikan iman anak dalam keluarga. Kurangnya peran orang tua sebagai pendidik iman bukan saja dikarenakan faktor-faktor yang menghambat mereka dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  memanfaatkan dan memaksimalkan faktor-faktor yang mendukung mereka dalam memberikan pendidikan iman bagi anak-anak mereka. Tetapi para orang tua menyadari bahwa peranan orang tua sebagai pendidik iman dalam keluarga sangat penting dalam membantu anak agar berkembang secara terus menerus. Hal itu terlihat dari harapan-harapan para orang tua untuk meningkatkan peran mereka sebagai pendidik iman.

  Dengan melihat harapan umat untuk meningkatkan peran mereka sebagai pendidik iman, sebagai seorang calon katekis penulis disadarkan bahwa penulis juga ikut bertanggungjawab membantu para orang tua mewujudkan harapan- harapan mereka. Dengan membantu memberikan sumbangan pemikiran melalui program katekese keluarga, penulis berharap agar umat semakin terbantu untuk menemukan inspirasi untuk meningkatkan peran mereka dalam memberikan pendidikan iman bagi anak-anak.

  E.

  Kesimpulan Dari data yang sudah dibahas, kegiatan pendidikan iman dalam keluarga di lingkungan Santo Yusuf Gemuh paroki Santo Martinus Weleri belum sepenuhnya terlaksana dan belum maksimal. Dari data yang ada, banyak yang tidak sesuai dengan kenyataan dan pengamatan penulis. Sebagian data mengenai sejauhmana peran orang tua dalam pendidikan iman anak yang diisi oleh responden dalam kuesioner tertutup merupakan data yang seharusnya dan bukan yang seadanya.

  Faktor-faktor yang menjadi pendukung orang tua dalam pendidikan iman anak yakni faktor dari anak itu sendiri antara lain sebagian anak sekolah di sekolah Katolik, anak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  memiliki tingkah laku yang baik, dan anak memiliki banyak teman sesama Katolik karena sekolah di sekolah Katolik. Sedangkan faktor dari orang tua sendiri antara lain orang tua memiliki kebiasaan berdoa sebelum memulai aktivitas, orang tua memiliki disiplin dalam hidup, harapan dan keinginan agar anak dapat hidup sesuai dengan ajaran Kristiani sangat tinggi, dan faktor sarana dan fasilitas. Sebagian besar para orang tua mengalami hambatan yang sama yakni faktor dari anak antara lain anak lebih suka bermain dengan teman sebaya dari pada berada di rumah, anak suka menonton televisi saat jam doa, anak hobi bermain komputer, anak memiliki motivasi yang lemah dalam hal belajar, sebagian anak sekolah di sekolah negeri yang kekurangan guru agama Katolik sehingga anak tidak mendapatkan pelajaran agama, pergaulan anak dengan teman sebaya yang seiman sangat kurang dan cenderung tertutup, faktor dari orang tua yakni kurangnya pengetahuan tentang ajaran agama Katolik dan pekerjaan orang tua yang menyita waktu dan faktor lingkungan tempat tinggal yang mayoritas warganya beragama Muslim.

  Oleh karena itu harapan dari orang tua yakni diadakannya kegiatan seperti pendalaman iman atau sharing pengalaman bagi para orang tua agar orang tua mendapatkan pengetahuan, inspirasi dan masukan/saran dari orang lain. Selain itu, orang tua juga mengharapkan diadakannya pendidikan iman anak di lingkungan paling tidak satu bulan sekali agar anak mendapatkan pembinaan iman selain pendidikan dalam keluarga. Dengan begitu anak memiliki kegiatan yang positif dibandingkan menjalankan kegiatan yang tidak bermanfaat.

  Kesimpulan dari penelitian ini akan menjadi titik tolak dalam penyusunan program katekese dalam upaya meningkatkan peran orang tua dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

BAB IV

USAHA MENINGKATKAN KESADARAN

AKAN PERAN PENTING ORANG TUA BAGI PENDIDIKAN IMAN ANAK

DI LINGKUNGAN SANTO YUSUF GEMUH

PAROKI ST. MARTINUS WELERI

Pada bab IV ini penulis akan memaparkan suatu model katekese dalam

  rangka membantu meningkatkan kesadaran orang tua dalam peranannya terhadap pendidikan iman anak dalam keluarga di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki Santo Martinus Weleri. Model katekese yang penulis rasa cocok adalah katekese model Shared Christian Praxis karena dengan model ini, orang tua dapat saling bertukar pengalaman, memperoleh wawasan, di samping itu peserta juga dibantu menemukan inspirasi dalam menentukan tindakan yang tepat untuk mendidik iman anak-anak mereka. Bab IV ini merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis kepada keluarga-keluarga Kristiani di Lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki Santo Martinus Weleri dengan memberikan sumbangan pemikiran melalui program katekese dengan model Shared Christian Praxis. Pada bab ini penulis akan membahas mengenai katekese model Shared Christian Praxis, di antaranya mengenai pengertian dan langkah-langkah dalam proses katekese model

  

Shared Christian Praxis. Kemudian penulis akan mengusulkan 4 tema program

  katekese serta menunjukkan contoh persiapan katekese model Shared Christian Praxis yang akan dilaksanakan ± 2 (dua) bulan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

A. Katekese Keluarga Model Shared Christian Praxis Sebagai Salah Satu Bentuk Pendampingan Iman dalam Meningkatkan Peran Orang Tua Sebagai Pendidik Iman.

  Katekese model Shared Christian Praxis merupakan katekese yang bertitik tolak dari pengalaman hidup peserta. Dengan bertolak pada pengalaman peserta sehari-hari, katekese model Shared Christian Praxis ini diharapkan dapat membantu peserta dalam menjalankan tugas dan peranannya dalam mendidik anak- anak mereka.

1. Komponen Shared Christian Praxis

  Menurut Thomas H. Groome yang bukunya disadur oleh Heryatno Wono Wulung (1997: 2-4), komponen dari katekese model Shared Christian Praxis terdiri dari:

  a.

   Shared

  Istilah shared menunjuk pengertian komunikasi iman yang timbal balik antar peserta, sikap partisipasi aktif dan kritis, terbuka pada kedalaman diri serta kehadiran sesama maupun rahmat Tuhan. Istilah ini juga menekankan proses katekese yang menggarisbawahi aspek dialog, kebersamaan, keterlibatan, dan solidaritas

  . Dalam “sharing”, semua peserta diharapkan secara terbuka siap mendengar dengan hati dan berkomunikasi dengan kebebasan hati. Dalam “sharing” juga terkandung hubungan antara pengalaman hidup peserta dengan tradisi dan visi Kristiani.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  b.

   Christian Christian menunjuk salah satu komponen penting SCP yaitu

  mengusahakan agar kekayaan iman Kristiani makin terjangkau, dekat dan relevan untuk kehidupan peserta pada zaman sekarang. Dengan begitu kekayaan iman Gereja diharapkan dapat berkembang menjadi pengalaman iman jemaat. Komponen ini menekankan pengalaman hidup umat Kristiani sepanjang sejarah (tradisi) dan visi Gereja yaitu terwujudnya nilai-nilai kerajaan Allah. Tradisi Kristiani mengungkapkan realitas iman jemaat Kristiani yang hidup dan sungguh dihidupi.

  Dalam konteks ini tradisi perlu dipahami sebagai perjumpaan antara rahmat Allah dalam Kristus dan tanggapan manusia. Baik tradisi maupun visi Kristiani sama-sama mengutamakan nilai-nilai kerajaan Allah yang betul-betul dihidupi dan terus diusahakan.

  c.

   Praxis Praxis mengacu pada tindakan manusia yang memiliki tujuan untuk

  tercapainya suatu transformasi hidup di mana di dalamnya terdapat suatu kesatuan antara teori dan praktek yaitu kreativitas, antara kesadaran historis dan refleksi kristis yaitu keterlibatan baru.

2. Langkah-langkah Katekese Model SCP

  Menurut Sumarno (2005: 19-22) langkah-langkah SCP dapat dijabarkan sebagai berikut: a.

  Langkah 0: Pemusatan Aktivitas.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Bagian ini bertujuan untuk mendorong umat menemukan topik pertemuan yang bertolak dari kehidupan konkrit peserta yang selanjutnya menjadi tema dasar pertemuan. Dengan demikian tema dasar sungguh-sungguh mencerminkan pokok-pokok hidup, keprihatinan, permasalahan, dan kebutuhan mereka.

  b.

  Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual.

  Langkah pertama ini membantu peserta mengungkapkan pengalaman hidup faktual yang sesuai dengan kenyataan. Isi dari langkah I ini adalah pengalaman peserta atau kehidupan dan permasalahan yang ada di sekitar peserta. Dan sharing adalah salah satu cara yang dipakai oleh peserta untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya.

  c.

  Langkah II: Refleksi Kritis Atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual.

  Langkah II ini bertujuan untuk memperdalam sharing pengalaman peserta melalui refleksi kristis sehingga peserta menemukan inti dari pengalamannya demi perkembangan hidup beriman yang lebih baik. Refleksi pada langkah ini menyatukan tiga mata waktu yaitu refleksi pengalaman masa lampau, pengalaman masa sekarang dan pengalaman masa yang akan datang.

  d.

  Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau.

  Langkah ini bertujuan mengkomunikasikan nilai-nilai Tradisi dan visi Kristiani agar lebih terjangkau dan lebih mengena untuk kehidupan peserta yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Kristiani mengungkapkan pewahyuan diri dan kehendak Allah yang memuncak dalam misteri hidup dan karya Yesus Kristus serta mengungkapkan tanggapan manusia atas pewahyuan tersebut.

  e.

  Langkah IV: Interpretasi Dialektis Antara Tradisi dan Visi Peserta dengan Tradisi dan Visi Kristiani.

  Langkah ini mengajak peserta berdasar nilai Tradisi dan visi Kristiani peserta untuk sampai pada pemaknaan akan nilai hidup, sikap-sikap pribadi yang tidak baik akan dihilangkan, dan nilai-nilai hidup yang baru akan dikembangkan. Peserta secara aktif dan kreatif mempribadikan nilai-nilai Kristiani dengan cara memperteguh identitas kekristenan yang sudah diyakini. Langkah ini juga bertujuan untuk menekankan interpretasi yang dialektis antara tradisi dan visi peserta dengan nilai tradisi dan visi Kristiani. Interpretasi tersebut dapat melahirkan kesadaran, sikap-sikap, dan niat-niat baru sebagai jemaat Kristiani yang memperjuangkan terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah-tengah hidup mereka.

  f.

  Langkah V: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia Ini.

  Langkah ini mengajak peserta agar sampai pada keputusan baru yang mengarah pada aksi konkrit yang dipahami sebagai tanggapan jemaat terhadap pewahyuan Allah. Dengan kata lain langkah ini bertujuan untuk mendorong peserta pada keterlibatan baru dengan jalan mengusahakan metanoia; pertobatan pribadi dan sosial yang berkelanjutan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  B.

  

Usulan Program Katekese Keluarga bagi Orang Tua dalam Rangka

Meningkatkan Kesadaran akan Peran Penting Orang Tua bagi Pendidikan Iman Anak di Lingkungan Santo Yusuf Gemuh.

1. Latar Belakang Program Katekese Keluarga

  Pendidikan iman anak dalam keluarga sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu pendidikan iman anak dalam keluarga perlu dilakukan secara terus menerus agar anak-anak tidak tersesat dan memiliki bekal atau pondasi dalam menjalani hidup sehari-hari di tengah masyarakat. Orang tua sebagai pendidik paling utama memiliki tugas dan tanggungjawab untuk mendidik dan merawat anak-anak mereka. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting karena dapat menentukan baik dan buruknya perkembangan anak dalam berbagai faktor di masa depan. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, diketahui bahwa sebagian besar keluarga Kristiani di lingkungan Santo Yusuf Paroki Santo Martinus menyatakan bahwa pendidikan iman anak dalam keluarga belum terwujud sepenuhnya di dalam keluarga mereka. Dari hasil penelitian, kurangnya peran orang tua dalam pendidikan iman disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan mengenai ajaran agama dan cara yang tepat dalam mendidik iman anak-anak mereka.

  Melihat permasalahan yang ada, penulis memilih katekese keluarga sebagai usulan program untuk membantu para orang tua dalam mewujudkan harapan mereka untuk meningkatkan peranan mereka dalam memberikan pendidikan iman bagi anak-anak di dalam keluarga. Usulan program ini merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian dalam bab sebelumnya. Penulis memilih katekese keluarga karena katekese keluarga bertitik tolak dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  keluarga-keluarga dan kemudian menanggapi permasalahan tersebut berdasarkan pengalaman dan harta kekayaan Gereja untuk membantu orang tua dalam melaksanakan kewajiban dan tugasnya terhadap anak dan sebagai keluarga Kristiani. Melalui usulan program ini, para orang tua diharapkan dapat saling belajar dari pengalaman dan dari harta kekayaan Gereja untuk meningkatkan peran mereka dalam mendidik anak-anak mereka sesuai dengan ajaran dan kehendak Tuhan.

2. Alasan Penyusunan Program

  Katekese merupakan sarana bagi umat Kristiani untuk dapat saling berdialog satu sama lain dan berdialog dengan Tuhan. Selain dapat bertukar pengalaman iman, katekese juga dapat membantu umat untuk belajar peduli kepada sesama dan orang lain serta mempererat relasi mereka dengan Allah dengan merefleksikan pengalaman sehari-hari. Kemudian peserta dapat memaknai pengalaman-pengalaman tersebut dalam rangka mengambil sikap iman yang konkrit serta mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan usaha menghayati dan mendalami iman mereka sendiri, mereka juga memperoleh pandangan dan wawasan yang lebih jelas mengenai tugas dan tanggungjawab mereka sebagai orang tua bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, penulis merasa tertarik untuk mengadakan kegiatan pendampingan iman umat melalui kegiatan katekese model SCP agar orang tua semakin diperkaya dan diteguhkan. Dengan begitu orang tua dapat langsung terlibat dalam memberikan pendidikan iman Kristiani kepada anak- anaknya dalam keluarga.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

3. Rumusan Tema dan Tujuan program Katekese Keluarga

  Berikut disampaikan tema umum, tujuan tema umum, tema-tema program, penjabaran tema-tema program, dan tujuan tema-tema program sebagai usulan program katekese model SCP: Tema umum : Orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama Tujuan umum : Membantu orang tua di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki

  Santo Martinus Weleri agar lebih menyadari dan menghayati peran mereka sebagai pendidik yang pertama dan utama di dalam keluarga bagi perkembangan iman anak-anaknya.

  • : Tanggungjawab orang tua sebagai pendidik iman di dalam

  Tema I keluarga Penjabaran Tema: Tema ini dimaksudkan untuk menguraikan tugas-tugas orang tua di dalam keluarga sebagai pendidik iman agar para orang tua mengetahui dan menjalankan apa yang sudah menjadi tanggungjawab mereka sebagai orang tua.

  Tujuan : Orang tua menyadari bahwa pendidikan iman anak dalam keluarga merupakan tanggung jawab orang tua sehingga mereka mampu menjalankan kewajiban mereka sebagai pendidik iman bagi anak-anak.

  : Pendidikan nilai-nilai luhur dalam kehidupan di dalam keluarga Tema II

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Penjabaran Tema: Tema ini dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai kepada anak di dalam keluarga dengan memberikan contoh konkret dan pemahaman serta membangun suasana yang kondusif dalam menerapkan pendidikan nilai dalam keluarga.

  Tujuan : Tema ini bertujuan untuk membangun dan mengembangkan pendidikan anak di dalam keluarga.

  • Penjabaran Tema: Tema ini dimaksudkan untuk menanamkan dan mewujudkan nilai-nilai cinta kasih kepada anggota keluarga, sesama manusia dan sesama ciptaan dalam keluarga dengan bertitik tolak dari kasih Allah kepada manusia

  : Keluarga sebagai komunitas cinta kasih Tema III

  Tujuan : Tema ini bertujuan untuk membantu orang tua agar mereka semakin mengembangkan keluarga yang berlandaskan kasih dan iman.

  • Penjabaran Tema: Tema ini dimaksudkan untuk memberikan contoh konkret dan pemahaman kepada orang tua berdasar cinta kasih pada yang diperintahkan dan diajarkan oleh Allah Tujuan : Tema ini bertujuan untuk membantu orang tua agar dapat menjadi teladan bagi anak-anak mereka di dalam keluarga

  : Menjadi teladan di dalam keluarga Tema IV

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  4. Gambaran Pelaksanaan Program Keempat tema yang diusulkan akan diselenggarakan dalam jangka waktu 2 (dua) bulan dengan jumlah pertemuan 4 (empat) kali pertemuan. Program ini akan dilaksanakan pada awal bulan Mei 2013 sampai dengan akhir bulan Juni tahun 2013. Kegiatan katekese ini diselenggarakan pada bulan tersebut karena bulan Mei sampai dengan bulan Juni merupakan masa yang tepat sesudah perayaan Paskah sehingga tidak mengganggu jadwal kegiatan pada masa pra Paskah. Setiap pertemuan diselenggarakan dalam waktu kurang lebih 2 jam di salah satu rumah umat di Lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki Santo Martinus Weleri secara bergiliran. Pelaksana dari program ini adalah penulis sendiri yang juga merupakan salah satu umat Lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki Santo Martinus Weleri dan dibantu ketua lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus Weleri.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  94

5. Matriks Program Katekese Keluarga

  No Tema Tujuan Judul Pertemuan

  Tujuan Pertemuan

  Materi Metode Sarana Sumber Bahan

  1. Tanggungjawab orang tua sebagai pendidik iman

  Orang tua menyadari bahwa pendidikan iman anak dalam keluarga merupakan tanggung jawab orang tua

  Keluarga merupakan tempat pendidikan dasar bagi anak

  Membantu peserta untuk semakin mengetahui pentingnya peranan keluarga bagi anak

  Tanggungjawab orang tua

  Tema Umum : Orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama Tujuan Umum : Membantu orang tua agar lebih menyadari dan menghayati peranannya sebagai pendidik yang pertama dan utama yang memiliki tanggungjawab terhadap pendidikan anak.

  • Sharing -
  • Buku Madah Bakti -
  • Informasi -
  • Cergam “aku sibuk”
  • Teks KS

  Lukas Lembaga Biblika Indonesia.

  (1982).

  Tafsir Injil Lukas .

  Yogyakarta : Kanisius.

  Teks KS

  Tanya Jawab

  Refleksi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  95

  2:22-34, (39-40)

  • Salib 2.

  Lilin dan

  Pendidikan Membangun dan

  • nilai-nilai
  • mengembangkan luhur peserta untuk kehidupan Madah Biblika Refleksi luhur dalam pendidikan anak di kehidupan semakin manusiawi Bakti Indonesia.
  • Nilai-nilai Membantu

  Lembaga - Nilai-nilai Sharing Buku

  • kehidupan di
  • dalam keluarga mengembang - - (1982).

  Informasi

  Membangun Tanya Teks KS dalam keluarga kan suasana Jawab - Tafsir Injil Gambar- pendidikan gambar Yohanes . bagi anak pendidik Yogyakarta: dengan nilai- an dalam Kanisius. nilai keluarga Hal 86 kehidupan di dalam keluarga

  3. Keluarga Membantu

  • peserta Membangun Membantu

  Lembaga Kasih kepada - Informasi - Buku

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  96

  sebagai komunitas cinta kasih agar semakin mengembangkan keluarga yang berlandaskan kasih dan iman cinta kasih dalam keluarga peserta agar semakin mengembang kan nilai-nilai cinta kasih di dalam keluarga orang tua

  Sharing

  • Kasih kepada saudara
  • Diskusi Madah Bakti -
  • Kasih kepada sesama manusia
  • Kasih kepada sesama ciptaan Tuhan -
  • Video animasi kontemp latif “our duty”
  • Laptop Biblika Indonesia. (1982).

  Tafsir Injil Yohanes

  . Yogyakarta: Kanisius.

  4. Menjadi teladan di dalam keluarga

  Menjadi teladan di dalam

  Membantu peserta untuk semakin

  • Mengikuti Allah -
  • Informasi -
  • Diskusi -

  Teladan di

  Sharing

  Kitab Suci (Injil Yoh 1:6-8, 19-

  Lembaga Biblika Indonesia.

  Teks KS Yoh 2:1- 11 dan Kej 1:26-28; 2:18-24

  Membantu peserta menjadi teladan bagi anak-anak mereka di

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dalam keluarga keluarga menghayati tugas dan panggilan sebagai orang tua tengah keluarga 28)

  Tafsir Injil Yohanes .

  • Video “children see children do”

  Yogyakarta: Kanisius.

  97

  • Laptop (1982).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

C. Contoh Persiapan Katekese Keluarga 1.

  Identitas Pertemuan

  a. : Tanggungjawab orang tua sebagai pendidik iman Tema

  b. : Orang tua menyadari bahwa pendidikan iman anak Tujuan dalam keluarga merupakan tanggung jawab orang tua.

  c.

  Judul Pertemuan : Keluarga merupakan tempat pendidikan dasar bagi anak

  d. : ± 20 orang Peserta

  e. : Salah satu rumah umat di lingkungan Santo Yusuf Tempat

  Gemuh paroki St. Martinus Weleri

  f. : - Hari/Tgl

  g. : 18.00

  • – 19.30 Waktu

  h. : Shared Christian Praxis Model i. : - Sharing

  Metode Refleksi

  • Informasi -

  Tanya Jawab

  • j. : - Buku Madah Bakti Sarana Cergam “aku sibuk”
  • Teks/Kitab Suci -
  • k.

  Lilin dan Salib

  Sumber Bahan : - Lembaga Biblika Indonesia. (1982). Tafsir Injil Lukas.

  Yogyakarta: Kanisius. Hal 86

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Pemikiran Dasar

  Pada kenyataannya, mayoritas orang tua tidak memiliki rencana dan strategi dalam memberi pendidikan rohani kepada anak-anak mereka sehingga kebutuhan rohani anak menjadi terbengkalai. Keterbatasan waktu untuk berkumpul bersama anggota keluarga bukanlah satu-satunya masalah yang membuat pembinaan iman dalam keluarga masih kurang memadai. Kurangnya pembina dan pembinaan bagi orang tua membuat kurangnya pengetahuan dalam menemukan dan menerapkan cara membina iman anak secara maksimal. Padahal orang tua memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membimbing anak-anak agar mereka dapat menghadapi situasi lingkungan di luar rumah sehingga tidak mudah terpengaruh dan terjerumus ke dalam pergaulan yang salah. Tugas dan tanggungjawab tersebut sudah diberikan kepada orang tua sejak mereka mengucapkan janji perkawinan. Peranan orang tua dapat menjadi teladan konkret bagi anak dalam mengenal, mencintai dan menjadi.

  Injil Lukas 2:22-34, 39-40 mengisahkan Yusuf dan Maria yang membawa Yesus ke Bait Allah dan menjalankan hukum Taurat sesuai dengan apa yang diperintahkan kepada-Nya sehingga Yesus menjadi bertambah besar dan kuat karena beroleh kasih karunia dari Allah. Yusuf dan Maria seperti orang tua pada umumnya, mereka membimbing Yesus semakin dekat dengan Allah dengan menjalankan apa yang diperintahkan sebagaimana yang telah tertulis dalam hukum taurat

  Maka dalam pertemuan ini, orang tua dapat belajar dari apa yang sudah diteladankan oleh Yusuf dan Maria dalam menjalankan tanggungjawab sebagai orang tua yang berusaha membimbing anaknya agar semakin dekat dengan Tuhan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dengan begitu anak-anak memiliki pondasi dan bekal hidup sebagai seorang Kristiani dalam hidup sehari-hari.

3. Pengembangan Langkah-Langkah a.

  Pembukaan 1)

  Pengantar Bapak dan ibu yang terkasih dalam Kristus, marilah kita bersyukur kepada Tuhan karena berkat penyertaan-Nya kita dapat berkumpul di sini untuk bersama-sama belajar menjadi keluarga Kristiani yang kuat dan taat sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus dengan meneladan apa yang diajarkan oleh Yusuf dan Maria kepada Yesus. Yusuf dan Maria menjalankan tugas mereka sebagai orang tua dengan membawa Yesus ke Bait Allah dan memperkenalkan hukum Taurat kepada Yesus. Hal membawa Yesus ke Bait Allah tidak diharuskan dalam hukum Tuhan selama orang tua membayar denda yang sudah ditetapkan. Tetapi Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Yerusalem untuk dipersembahkan kepada Allah. Sejak sakramen perkawinan, para orang tua sudah menerima tanggungjawab dalam hal memberikan pendidikan dan segala kebutuhan anak termasuk kebutuhan rohani anak. pertanyaan bagi kita semua, apakah tugas tersebut sudah sepenuhnya dijalankan?, menjadi orang tua adalah suatu panggilan yang harus dijalankan dengan sepenuh hati agar segala tugas dan tanggungjawab dalam membina sebuah keluarga Kristiani dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan perintah-Nya.

  2) Lagu Pembukaan : MB 223

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3) Doa Pembuka

  Allah Bapa yang maha pengasih, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah mengumpulkan kami di sini untuk bersama-sama belajar meneladan apa yang sudah diajarkan oleh Yusuf dan Maria sebagai orang tua dari Tuhan kami Yesus Kristus. Bimbinglah kami agar dapat membimbing putra dan putri kami sesuai dengan jalan dan kehendak-Mu. Semua ini kami serahkan lewat perantaraan putra- Mu, Tuhan dan juru selamat kami. Amin b.

  Langkah I : pengungkapan pengalaman hidup peserta

1) Mendalami sebuah cergam yang berjudul “aku sibuk”.

  2) Mengungkapkan kembali isi cergam: Pendamping meminta kepada peserta untuk mengungkapkan kembali isi dalam cergam tersebut.

  3) Intisari Cergam : Cergam berjudul “aku sibuk” mengisahkan tentang situasi yang ada dalam sebuah keluarga. Situasi dimana orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan masing-masing sehingga anak kurang mendapat perhatian dan bimbingan dari orang tua. Kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan dan kebutuhan anak mengakibatkan si anak menjadi salah pergaulan dan salah jalan.

  Cergam tersebut juga memperlihatkan suatu hubungan yang kurang harmonis antara suami dan istri serta antara orang tua dan anak karena tidak adanya komunikasi.

  Orang tua yang jarang berada di rumah menjadi penyebab kurangnya komunikasi dalam keluarga tersebut sehingga relasi antar anggota keluarga menjadi tidak harmonis.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  4) Pengungkapan pengalaman : Peserta diajak untuk mendalami cerita tersebut dengan tuntunan beberapa pertanyaan sebagai berikut: a) Apa yang mau disampaikan oleh cergam tersebut kepada anda semua sebagai orang tua? b) Bagaimana pengalaman bapak dan ibu sendiri sebagai orang tua?

  5) Arah Rangkuman: Isi cergam tersebut menunjukkan situasi yang mungkin terjadi dalam keluarga Kristiani. Keluarga merupakan tempat utama dan pertama bagi anak belajar sesuatu hal dan orang tua yang menjadi guru bagi anak dalam keluarga. Jika pendidikan dan pendampingan dalam keluarga saja tidak didapatkan oleh anak, maka akan dengan mudah pengaruh dari luar masuk dalam diri dan pribadi anak. Dengan begitu bukan saja identitas Kristiani yang hilang dari diri anak tetapi moral anak juga akan terpengaruh. Orang tua harus peka dan sigap dalam melihat dan menghadapi ancaman yang ada di lingkungan luar untuk mengantisipasi hal tersebut. Cergam yang berjudul “aku sibuk” mengingatkan para orang tua akan tugas dan tanggungjawab terhadap anak dan keluarga. Orang tua diingatkan untuk semakin menyadari bahwa anak-anak membutuhkan bimbingan dan dampingan dari orang tua. Anak-anak tidak bisa berjalan dengan benar tanpa arahan dan bimbingan dari orang tua. Oleh karena itu orang tua harus selalu peka terhadap pengaruh negatif yang dapat mengancam perkembangan anak dengan memberikan pendampingan secara terus menerus. Orang tua bertanggungjawab memberikan pendidikan kepada anak bahkan sejak anak lahir sampai anak itu kuat dan siap dalam menghadapi lingkungan luar. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran dari para orang tua betapa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pentingnya peran mereka dalam memberikan pendampingan dan pendidikan kepada anak. Apabila orang tua bersikap acuh tak acuh terhadap pendidikan dan kebutuhan anak, maka anak akan terjerumus dan terpengaruh dalam pergaulan yang salah. Saling pengertian, komunikasi, saling menghargai dan mencintai adalah kunci untuk menanamkan benih-benih positif dalam keluarga. Hal-hal yang sepele dalam keluarga yang justru menjadi penentu hubungan dan situasi dalam keluarga sering dilupakan.

  Dalam kehidupan keluarga-keluarga Kristiani juga banyak yang mengalami situasi yang hampir sama. Pada kenyataannya memang tidak mudah untuk mendidik anak dan menerapkan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan positif dalam keluarga. Semua itu dibutuhkan keterlibatan seluruh anggota keluarga terutama orang tua yang pertama-tama harus memberikan teladan kepada anak dalam kehidupan keluarga agar anak mendapatkan bimbingan dan bekal untuk menghadapi lingkungan di luar keluarganya.

  c.

  Langkah II: Mendalami Ungkapan Pengalaman hidup Peserta 1) Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman atau cerita di atas dengan dibantu pertanyaan sebagai berikut: a)

  Mengapa anak di dalam cergam “aku sibuk” dapat terjerumus ke dalam pergaulan yang salah? b) Bagaimana cara mengatasi agar anak-anak tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah?

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  2) Arah Rangkuman Cergam “aku sibuk” menunjukkan bahwa anak-anak sangat mudah terpengaruh sehingga ia mudah masuk ke dalam pergaulan yang salah apalagi anak usia remaja yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Hal tersebut dapat terjadi jika orang tua kurang peduli bahkan sama sekali tidak peduli terhadap pedidikan dan kebutuhan anak. kesibukan orang tua terhadap pekerjaan dan kegiatannya adalah salah satu penyebab terbengkalainya pendidikan di dalam keluarga dan kebutuhan anak. akibat yang dapat ditimbulkan antara lain relasi kurang harmonis, intensitas pertemuan antar anggota keluarga sangat kurang, anak kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tua dan lain sebagainya. Oleh karena itu sebagai orang tua alangkah baiknya kalau kita dapat mengatur waktu sehingga tugas dan kewajiban sebagai orang tua dapat terpenuhi. Selain itu, penting juga bagi keluarga-keluarga untuk menanamkan nilai-nilai positif seperti cinta kasih, saling menghargai, jujur, setia, menyayangi, saling memaafkan dll di dalam keluarga sejak dini agar relasi di dalam keluaga semakin harmonis dan hak serta kebutuhan anak tetap terpenuhi.

  d.

  Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani 1)

  Salah seorang peserta dimohon untuk membacakan perikop langsung dari Kitab Suci, Injil Lukas 2:22-35, 39-40.

  Yesus disunat dan diserahkan kepada Tuhan – Simeon dan Hana

  22

  dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka

  23

  membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkanNya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Taurat: “ semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon, ia seorang yang benar dan saleh

  26

  yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia

  27

  melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tuaNya untuk melakukan

  28

  kepadaNya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatangNya sambil memuji Allah, katanya:

  29

  “sekarang, Tuhan, biarlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai

  30

  dengan firmanMu. Sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu,

  31

  32

  yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu,

33 Dan bapa serta ibuNya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang

  Israel.”

34 Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu:

  “sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak

  35

  orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati

39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum banyak orang”.

  40 Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.

  Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padaNya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  2) Peserta diberi waktu sebentar untuk hening sejenak sambil secara pribadi merenungkan dan menanggapi pembacaan kitab suci dengan dibantu beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  a) Ayat mana yang menunjukkan Yusuf dan Maria menjalankan tugas mereka sebagai orang tua? b)

  Sikap yang bagaimana yang ingin ditunjukkan oleh Yusuf dan Maria sebagai orang tua? 3)

  Peserta diajak untuk menafsirkan isi dari bacaan Kitab Suci pada Injil Lukas 2: 22-35, 39-40, dan menghubungkan dengan tanggapan peserta dalam hubungannya dengan tema dan tujuan sebagai berikut:

  Ayat 22, 23 dan 24 berbicara tentang Yusuf dan Maria yang membawa Yesus ke Bait Allah. Dalam hukum Taurat, anak sulung laki-laki dianggap milik Allah dan ia harus dikuduskan. Dalam upacara pentahiran, hukum tidak mengharuskan anak dibawa serta tetapi dapat ditebus dengan membayar ke Bait Suci.

  Tetapi Yusuf dan Maria membawa Yesus karena upacara pentahiran merupakan upacara penyucian. Upacara tersebut diiringi dengan persembahan kurban dan mereka mempersembahkan sepasang burung tekukur dan dua ekor anak merpati seperti apa yang tertulis dalam hukum Tuhan bagi orang yang miskin. Pada ayat 34, Simeon memberkati Yusuf dan Maria karena Allah mengikutsertakan mereka dalam karyaNya. Dalam ayat ini Simeon mengatakan bahwa karya Yesus akan menimbulkan dua hal yang saling bertentangan. Dua hal tersebut menjadi suatu hubungan Yesus dengan kalangan bangsa Yahudi dan menjadi suatu tanda

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ayat 39 dan 40, setelah semua ritual selesai dilakukan, Yesus menjadi semakin kuat dan besar karena ia telah dipersatukan dengan BapaNya dan kabar tentang Yesus telah menyebar ke seluruh kota.

  e.

  Langkah IV : Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Hidup Konkrit Peserta 1)

  Pengantar Dari bacaan tadi kita telah mengetahui bahwa Yusuf dan Maria membawa Yesus kepada Allah. Mereka memperkenalkan tradisi yang sudah tertulis oleh hukum Taurat dan membawaNya ke Bait Allah untuk diserahkan kepada Allah. Mereka menjalankan apa yang sudah menjadi tanggungjawab mereka sebagai orang tua. Dalam hidup sehari-hari pun, bapak dan ibu sebagai orang tua dapat menerapkan apa yang dilakukan oleh Yusuf dan Maria lewat nilai-nilai positif yang dapat bapak dan ibu terapkan dalam keluarga yang diawali lewat kata-kata, sikap, dan perbuatan agar relasi antar anggota keluarga dan dengan Allah dapat terwujud dalam kehidupan keluarga bapak dan ibu.

  2) Sebagai bahan refleksi kita agar kita semakin mampu menghayati tugas dan tanggungjawab sebagai orang tua, marilah kita mencoba merenungkan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini :

  • semakin disadarkan dan diteguhkan dalam menjalani panggilan sebagai orang tua?

  Berdasarkan sikap Yusuf dan Maria, apa yang membuat bapak dan ibu

  3) Saat hening untuk merefleksikan sejenak pertanyaan tersebut, dan peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan hasil renungannya tersebut

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  4) Arah Rangkuman penerapan pada situasi peserta:

  Yusuf dan Maria telah menunjukkan dan memberikan teladan bahwa sebagai orang tua mereka memperkenalkan tradisi hukum yang mereka anut dan tetap berpegang teguh pada apa yang harus mereka lakukan walaupun tidak diharuskan. Sikap Yusuf dan Maria yang sabar dan ikhlas merupakan perwujudan dari panggilan mereka sebagai orang tua dari anak yang telah dikuduskan oleh Allah sejak Ia masih dalam kandungan.

  f.

  Langkah V : Mengusahakan Suatu Aksi Konkret 1)

  Pengantar Bapak dan ibu yang terkasih dalam Kristus, dari awal kita sudah belajar dari cerita bergambar yang berjudul “aku sibuk”. Dari cergam tersebut, kita belajar mengenai pentingnya peran orang tua dalam mendampingi dan memberikan pendidikan kepada anak dalam keluarga. Cergam tersebut memperlihatkan akibat jika orang tua tidak peduli terhadap pendidikan anaknya sendiri dalam keluarga dan ketidak harmonisan relasi antara suami dan istri serta antara orang tua dan anak. anak sangat rentang dan mudah terhadap keadaan di lingkungan yang ada disekitarnya. Oleh karena itu orang tua perlu waspada dan peka terhadap pergaulan dan kebutuhan anak. kita juga belajar dan dapat meneladani sikap Yusuf dan Maria yang dengan sepenuh hati dan rasa tanggungjawab menjalankan tugas panggilan mereka sebagai orang tua. Kita telah bersama-sama menyadari bahwa sebagai orang tua kita memiliki tugas dan tanggungjawab yang penting dalam menjaga dan melindungi anggota keluarga terutama anak-anak dari pengaruh buruk dan memiliki tanggungjawab yang besar dalam memberikan pendidikan iman dan pendidikan yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  lainnya dalam keluarga agar anak dapat berkembang dengan maksimal dan kuat dalam menghadapi lingkungan di luar keluarga. Semoga kita semakin meningkatkan kesadaran ini dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh dalam hidup nyata. Marilah sekarang kita memikirkan niat dan tindakan apa yang perlu kita buat agar kita semakin mampu menjalani tugas dan tanggungjawab kita sebagai orang tua.

  2) Mengambil keputusan baru berupa rencana konkret yang bisa diwujudkan dalam hidup nyata sebagai buah konkret dari proses SCP dari awal hingga akhir.

  Peserta diberi pertanyaan panduan untuk membantu membantu membuat niat- niat.

  • Pendampingan seperti apa yang akan bapak dan ibu laksanakan selanjutnya dalam keluarga?

  3) Pendamping mengajak peserta untuk mendiskusikan keputusan bersama sebagai sikap konkrit yang bisa langsung diwujudkan.

  g.

  Penutup 1)

  Setelah merumuskan niat pribadi dan bersama, peserta diajak untuk menyanyikan lagu: MB No. 191 2)

  Doa Permohonan: Di awali oleh pendamping yang menghubungkan dengan tema dan tujuan pertemuan, dan selanjutnya mempersilahkan peserta untuk mengungkapkan doa- doa permohonan secara spontan, doa permohonan diakhiri dengan doa Bapa Kami dan doa penutup oleh peserta.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   BAB V PENUTUP Pada bab V ini, penulis akan menyampaikan kesimpulan dan saran sebagai akhir dari karya tulis ini. A. Kesimpulan Orang tua di lingkungan Santo Yusuf Gemuh paroki Santo Martinus Weleri masih belum sepenuhnya menjalankan peran mereka dalam memberikan

  pendidikan iman kepada anak-anak mereka. Pendidikan iman anak yang terlaksana dalam keluarga-keluarga di lingkungan Santo Yusuf masih belum maksimal.

  Sebagian besar orang tua hanya memberikan dorongan untuk aktif dalam organisasi dan kegiatan-kegiatan Gereja tanpa ada tindak lanjut atau pendampingan secara terus menerus. Pendidikan iman memang diajarkan oleh para orang tua tetapi hanya sebatas “kalau ditanya baru dijawab” karena orang tua masih terpaku pada pemahaman bahwa anak-anak sudah mendapatkan pelajaran agama di sekolah. Padahal dengan pendampingan orang tua dalam pendidikan iman anak-anak dapat menjadi titik awal untuk menanamkan benih-benih atau nilai-nilai positif di dalam keluarga yang dapat membantu dalam membentuk kepribadian anak.

  Sebagian besar para orang tua di lingkungan Santo Yusuf Gemuh menghadapi faktor pendukung dan penghambat yang sama dalam menjalankan perannya dalam pendidikan iman anak-anak mereka. Faktor yang menjadi pendukung bagi para orang tua dalam menjalankan peranannya dalam pendidikan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  berdoa sebelum memulai aktivitas, anak bertanggungjawab atas dirinya, anak memiliki tingkah laku yang baik, dan anak memiliki banyak teman sesama Katolik karena sekolah di sekolah Katolik. Selain itu, orang tua juga diuntungkan karena memiliki kedisiplinan dan adanya sarana dan fasilitas yang memadai. Dengan faktor-faktor pendukung ini orang tua dipermudah dalam menjalankan peranannya dalam pendidikan iman anak sejak dini.

  Tetapi kesadaran akan pentingnya peranan orang tua dalam pendidikan iman anak belum sepenuhnya dimiliki oleh para orang tua. Karena kurangnya kesadaran itulah, muncul berbagai masalah sekaligus penghambat bagi para orang tua menjalankan peranannya dalam pendidikan iman anak. Penghambat yang dimiliki oleh sebagian besar orang tua adalah kurangnya waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Kesibukan para orang tua mengakibatkan relasi dan komunikasi antar anggota keluarga menjadi berkurang serta tidak adanya keterbukaan antar anggota keluarga. Selain itu anak lebih suka bermain dengan teman sebaya dari pada berada di rumah, anak suka menonton televisi saat jam doa, anak hobi bermain komputer, anak memiliki motivasi yang lemah dalam hal belajar, sebagian anak sekolah di sekolah negeri yang kekurangan guru agama Katolik sehingga anak tidak mendapatkan pelajaran agama. Selain itu, orang tua juga mengakui bahwa pengetahuan tentang ajaran agama Katolik masih kurang dan pekerjaan orang tua yang menyita waktu serta faktor lingkungan tempat tinggal yang mayoritas warganya beragama muslim.

  Maka dari itu penulis mengusulkan kegiatan pendampingan katekese dengan model Shared Christian Praxis (SCP) dengan tujuan agar para orang tua

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  semakin menyadari pentingnya peran mereka dalam memberikan pendidikan iman bagi anak-anak.

B. Saran

  Melihat kebutuhan pendampingan iman bagi anak-anak cukup tinggi, penulis menyarankan diadakan sekolah minggu di lingkungan Santo Yusuf agar anak-anak memiliki kegiatan yang positif yang dapat membantu perkembangan imannya. Selain itu, Para orang tua juga sangat memerlukan pendampingan iman lebih lanjut dalam meningkatkan kesadaran akan peranannya dalam pendidikan iman anak di dalam keluarga. Penulis menyarankan diadakannya kegiatan rekoleksi bagi keluarga yang bertemakan peran orang tua di dalam keluarga agar para orang tua dapat lebih menyadari dan menghayati tugas dan tanggungjawabnya dalam memberikan pendidikan dan pendampingan iman bagi anak-anak secara terus menerus di dalam keluarga. Dengan diadakannya rekoleksi bagi pasutri, diharapkan rekoleksi tersebut dapat membantu orang tua dalam mendalami dan menghayati tugas panggilan mereka sebagai orang tua serta dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam cara mendidik anak dengan mengundang pembicara atau narasumber yang ahli dalam bidang ini. Selain itu perlu diadakan pelatihan/kaderisasi bagi para katekis di paroki-paroki dengan tema mengenai tugas dan tanggungjawab orang tua agar para katekis semakin memiliki kemampuan dan wawasan dalam mendampingi pasutri Kristiani. Agar rekoleksi keluarga dan kaderisasi katekis dapat terealisasi, perlu adanya koordinasi dan kerjasama dari pengurus lingkungan dan reksa pastoral yang menangani bidang tersebut serta

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR PUSTAKA

  Drost, S.J. J.I.G.M. (2003). Perilaku Anak Usia Dini. Yogyakarta: Kanisius. Egong, Albertine, Sr, OSU. (1983). Katekese Keluarga. Seri Pastoral 85.

  Kuliah Pendidikan Agama Katolik III untuk Mahasiswa Semester VII,

  Sanata Dharma Yogyakarta. Manuskrip Groome, Thomas H. (1997). Shared Christian Praxis: Suatu Model Berkatekese. (F.X. Heryatno Wono Wulung, Penyadur). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat. (Buku asli diterbitkan 1991). Hasbullah. (1999). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Heryatno Wono Wulung, FX. (2010). Pendidikan Agama Katolik III. Diktat Mata

  Gabriella, Sr, Prr., dkk. (1991). Katekese Keluarga. Jakarta: LUCEAT. Gilarso, T, Drs, SJ. (2002). Membangun Keluarga Kristiani. Yogyakarta: Kanisius. Goretti Sugiarti, M., Sr, AK. (1999). Pendampingan Iman Anak. FIPA-Universitas

  Eminyan, Maurice., SJ. (2001). Teologi Keluarga. Yogyakarta: Kanisius. Endang Ekowarni, Dr, Psi. Dkk. (2003). Perilaku Anak Usia Dini. Yogyakarta: Kanisius.

  Yogyakarta:Pusat Pastoral. Eiuswa Filipus, Pr. (2012). Keluarga, Fondasi Dasar Pembangunan Gereja dan Masyarakat . Kana. 02 Tahun VII - Februari 2012. 34.

  Adisusanto, FX, SJ. (1997). Pendidikan Iman Dalam Lingkup Sekolah. Catatan Kuliah (1980-1992). Kateketik Pendidikan Dasar (dikumpulkan oleh J.S.

  Setyakarjana, SJ). Yogyakarta: Pusat Kateketik.

  Yogyakarta: Publikasi-Publikasi Puskat. Dwi Wuryani. (1994). Katekese Keluarga Sebagai Upaya Meningkatkan Peranan

  Yogyakarta-KAS. Cooke, Bernard, S.J. (1972). Iman dan Keluarga-Keluarga Kristen. Seri Puskat 99.

  Bonaventura. (2011). Keluarga dan Pembangunan. Kana. 03 Tahun 06 - Maret 2011. 3. Budyapranata, Al., Pr, dkk. (1979). Pembinaan Persiapan Berkeluarga. (kumpulan bahan pembinaan berkeluarga). Delegatus Komunikasi Sosial.

  Kuliah Pendidikan Iman Anak untuk Mahasiswa Semester III, Program Studi Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Manuskrip.

  Allen Shelly, Judith. (1982). Kebutuhan Rohani Anak. Bandung: Yayasan Kalam Hidup. Banyu Dewa, P., HS, S.AG, M.SI (2008). Pendidikan Iman Anak. Diktat Mata

  

Alkitab Deuterokanonika . (1976). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia dan Lembaga

Biblika Indonesia.

  Orang Tua Dalam Pendidikan Iman Anak Dalam Keluarga Di Lingkungan St. Yosep Benedictus Paroki Kotabaru Yogyakarta . Skripsi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Program Studi Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Manuskrip. Huber, Th., SJ. (1979). Arah Katekese Di Indonesia ???. Yogyakarta: Kanisius.

  (1981). Katekese Umat. Yogyakarta: Kanisius. Hurlock, Elizabeth, B. (1988). Perkembangan Anak Jilid I. Jakarta: Erlangga.

  (1988). Perkembangan Anak Jilid II. Jakarta: Erlangga. Jose Tacain. (2012). Prioritas Bagi Kehidupan Keluarga. Kana. 04 Tahun VII-April 2012. 13.

  Kitab Hukum Kanonik, (2006). Edisi Resmi Gereja, Bogor: Grafika Mardi Yuana.

  KWI. (2011). Pedoman Pastoral Keluarga. Jakarta. Obor. Konferensi Waligereja Indonesia.

  

Pedoman Penulisan Skripsi . (2006). Yogyakarta: Program Studi Ilmu Pendidikan

Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, FKIP USD. Pendidikan-Imanaccessed on July 5, 2012.

Pengertian_dasar_dan_prinsip_katekese.

accessed on July 5, 2012.

Peran-orang-tua-dalam-pembinaan-iman-anak.

  Prasetya, L. (2008). Dasar-Dasar Pendampingan Iman Anak. Yogyakarta: Kanisius. Setyakarjana, J.S., SJ. (1997). Pendidikan Iman Anak Di Dalam Keluarga. Catatan Kuliah 1980-1992 Kateketik Pendidikan Dasar (dikumpulkan oleh J.S.

  Setyakarjana, SJ). Yogyakarta: Pusat Kateketik. Siswarjono. (2012). Paroki St. Martinus Weleri. Weleri. Manuskrip. Suhardiyanto, H. J, Drs, SJ. (2008). Pendidikan Iman Anak. Diktat Mata Kuliah

  Pendidikan Iman Anak untuk Mahasiswa Semester III, Program Studi Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Manuskrip.

  Suharsimi Arikunto, Prof., Dr. (1997). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Sumarno Ds., M. (2005). Praktek Pengalaman lapangan Pendidikan Agama Katolik.

  Diktat Mata Kuliah Praktek Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik untuk Mahasiswa Semester VII. Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Manuskrip.

  Timothy Wibowo, S., Psi, C. Ht. (2012). Membangun Karakter Sejak Pendidikan Anak Usia Dini . Kana. 05 Tahun VII-Mei 2012. 06-07. Tjandrawati Francine, M., Sr, SPM. (2012). Keluarga Baik. HIDUP. 03 Tahun ke-66.

  11. Wilkerson, David. (1880). Keluarga Kristen. Semarang: Yayasan Persekutuan Betania. Wignyasumarta, Ign., MSF, dkk. (2000). Panduan Rekoleksi Keluarga. Yogyakarta: Kanisius. Yohanes Paulus II. (1979). Catechesi Tradendae, (R. Hardawiryana, SJ, Penerjemah).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (1994). Familiaris Consortio, Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern: (A. Widyamartaya, Penerjemah). Dokumentasi dan Penerangan KWI. (Dokumen Asli Diterbitkan 22 November 1981).

  

LAMPIRAN

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 1 : Surat Ijin Penelitian Kepada Romo Paroki St. Martinus Weleri (1)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 2 : Surat Ijin Penelitian Kepada Ketua Lingkungan Santo Yusuf Gemuh (2)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 3 : Surat Pernyataan Pelaksanaan Penelitian (3)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 4 : Contoh Hasil Penelitian (4)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (5)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (6)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (7)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (8)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (9)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (10)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (11)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (12)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (13)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 5 : Cergam “aku sibuk” (14)

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (146 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Katekese keluarga untuk meningkatkan kesadaran akan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Carolus Borromius Margomulyo Paroki Santo Yoseph Medari Yogyakarta.
1
19
209
Fungsi komunikasi orangtua terhadap pembentukan karakter dan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki Administratif Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta.
1
17
162
Upaya peningkatan tanggungjawab keluarga Katolik di Paroki Santo Petrus Pekalongan terhadap pendidikan iman anak.
0
4
153
Deskripsi pendidikan iman anak dalam keluarga bagi perkembangan iman anak di Stasi Maria Putri Murni Sejati Cisantana, Paroki Kristus Raja Cigugur, Keuskupan Bandung.
1
17
153
Upaya peningkatan hidup rohani keluarga kristiani di Lingkungan Santo Paulus Maguwoharjo Paroki Marganingsih Yogyakarta melalui katekese keluarga.
0
1
150
Sumbangan katekese keluarga terhadap peningkatan kesadaran akan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Yusuf Gemuh Paroki St. Martinus Weleri.
1
7
148
Katekese keluarga untuk meningkatkan kesadaran akan peran penting orang tua bagi pendidikan iman anak di lingkungan Santo Carolus Borromius Margomulyo Paroki Santo Yoseph Medari Yogyakarta
0
15
207
Fungsi komunikasi orangtua terhadap pembentukan karakter dan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki Administratif Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta
0
11
160
Bimbingan orang tua terhadap perkembangan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki St. Yusup Bintaran Yogyakarta - USD Repository
0
1
132
Pengaruh Ibadat Taize terhadap perkembangan iman kaum muda di Paroki Santo Yakobus, Bantul - USD Repository
0
0
110
Peranan kunjungan keluarga dalam upaya untuk meningkatkan iman keluarga Katolik di Stasi St. Paulus Pringgolayan Paroki St. Yusup Bintaran Yogyakarta - USD Repository
0
0
157
Peranan pendampingan persiapan baptisan bayi/anak sebagai upaya membina kesadaran orang tua dalam pendidikan iman anak di Paroki St. Aloysius Gonzaga Mlati - USD Repository
0
0
122
Peran pendampingan orang tua dalam sekolah minggu terhadap perilaku iman anak di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi - USD Repository
0
0
182
Upaya meningkatkan pelaksanaan peranan orang tua dalam pendidikan iman anak dalam keluarga di Kring Santo Yohanes Paroki Santo Mikael Gombong Keuskupan Purwokerto - USD Repository
0
0
134
Peranan kebiasaan religius orangtua bagi pendidikan iman anak dalam keluarga di lingkungan ST. Monika Paroki Wates - USD Repository
0
0
145
Show more