Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat spray dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15 - USD Repository

89 

Full text

(1)

PENGARUH PROPORSI DRUG LOAD TERHADAP DISOLUSI DISPERSI PADAT SPRAY DRIED ISOLAT EKSTRAK RIMPANG KUNYIT

(Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh: Eka Permatasari NIM: 078114020

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh: Eka Permatasari NIM: 078114020

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

If you can't fly then run, if you can't run then

walk, if you can't walk then crawl, but

whatever you do you have to keep moving

forward

Martin Luther King Jr.

Kasih ibu

adalah bahan bakar

yang memungkinkan

manusia bisa melakukan hal yang luar biasa

Merion C. Garretty

(6)

v Nama : Eka Pematasari Nomor Mahasiswa : 07 8114 020

Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

PENGARUH PROPORSI DRUG LOAD TERHADAP DISOLUSI DISPERSI PADAT SPRAY DRIED ISOLAT EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada

Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya ataupun memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenamya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal: 21 Februari 2011

Yang menyatakan

(7)
(8)

vii

rahmat-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “

Selama perkuliahan, penelitian, dan penyusunan skripsi, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak berupa bimbingan, sarana, dukungan, semangat, doa, kritik dan saran. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

Pengaruh Proporsi Drug Load Terhadap Disolusi Dispersi Padat Spray Dried Isolat Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma Domestica C-95)-Hpmc E-15”.

1. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Dewi Setyaningsih, M.Sc., Apt. selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah banyak memberikan waktu, bimbingan, nasehat, solusi, masukan, motivasi, ilmu, pengetahuan baru, semangat kepada penulis, dan menanggung biaya selama penulis melakukan penelitian.

3. Lucia Wiwid Wijayanti, M.Si. selaku Dosen Pembimbing Pendamping yang telah banyak memberikan waktu, bimbingan, nasehat, solusi, masukan, motivasi, ilmu, pengetahuan baru, dan semangat kepada penulis.

(9)

viii

5. Dr. C.J. Soegihardjo, Apt. selaku Dosen Penguji yang telah bersedia untuk meluangkan waktu guna menguji, memberikan bimbingan, masukan, kritik, saran kepada penulis.

6. Prof. Dr. Sudibyo Martono, M.S., Apt. Atas pemberian eksklusif kurkumin standar, bimbingan, dan bantuannya selama skripsi.

7. PT Colorcon Asia PacificPvt.Ltd. Singapore atas pemberian bahan HPMC E-15.

8. Segenap dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan bimbingan selama kuliah dan penyusunan skripsi.

9. Mas Bimo, Pak Mus, Mai Iswandi, Mas Agung, Mas Wagiran, Mas Kunto, Mas Parlan, Mas Sigit, Mas Ottok, Pak Parjiman, Mas Heru, Mas Yuono, Pak Timbul dan segenap satpam atas bantuannya dalam kemudahan dan kelancaran melakukan skripsi.

10. Pak Bambang, Mas Sigit, Mas Faris, dan Mas Jink atas bantuan, kerja sama dan pengetahuan baru yang diberikan selama melakukan skripsi di Laboratorium Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi di Universitas Gadjah Mada.

11. Mas Dwi, Pak Mukimin, dan Mas Narto atas bantuannya selama ini.

(10)

ix

14. Segenap keluargaku di Jogja, yaitu teman-teman di kost. Terima kasih atas kebersamaan dan semangat yang kalian berikan.

15. Teman-teman satu angakatan, angkatan 2007 baik minat FST maupun FKK, KKN XL kelompok 25 untuk kebersamaan dan semangatnya selama ini baik dalam suka maupun duka yang telah dilewati.

16. Kepada segenap teman-temanku yang jauh disana, terimakasih atas dukungan dan semangat yang diberikan selama ini.

17. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas semua bantuan yang telah diberikan kepada penulis.

Penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan akan skripsi ini karena keterbatasan akan kemampuan dan pengetahuan penulis. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak yang membaca.

(11)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...……… i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………. ii

HALAMAN PENGESAHAN ………... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ………. LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ………. iv v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………. vi

PRAKATA ………... vii

DAFTAR ISI ………... x

DAFTAR TABEL ………... xiii

DAFTAR GAMBAR ……….. xiv

DAFTAR LAMPIRAN ………... xv

INTISARI ……… xvi

ABSTRACT ……….. xvii

BAB I. PENGANTAR ……….... 1

A.Latar Belakang ………... 1

1. Perumusan masalah ………... 3

2. Keaslian penelitian ………... 3

3. Manfaat penelitian ………... 3

B.Tujuan Penelitian ………... 4

(12)

xi F. Spektrofotometer UV/VIS ... G. Uji disolusi ... H. Validasi metode ... I. Landasan teori ... BAB III. METODE PENELITIAN ……… 15

A.Jenis dan Rancangan Penelitian ………... 15

B.Variabel Penelitian ………... 15

C.Definisi Operasional ………... 15

D.Bahan Penelitian ………... 16

E. Alat Penelitian ………... 17

F. Tata Cara Penelitian ………... 17

(13)

xii

4. Validasi metode………... 18

G.Analisis Hasil ………... 21

BAB IV. PEMBAHASAN ……….. 22

A.Pembuatan dispersi padat ………... 22

B.Pembuatan campuran fisik ………... 23

C.Pembuatan larutan baku ... 23

D.Penetapan panjang gelombang maksimum ... E. Validasi metode ... F. Uji disolusi ... 25 25 29 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ………. 35

A. Kesimpulan ………... 35

B.Saran ………... 35

DAFTAR PUSTAKA ………. 36

LAMPIRAN ……… 39

(14)

xiii

Tabel II. Elemen-elemen data yang dibutuhkan untuk uji validasi .... 13 Tabel III. Proporsi drug load ………...

Proporsi drug load ………... 17 22 Tabel IV. Pengukuran kurva baku ………... 24 Tabel V. Linearitas... ... 26 Tabel VI.

Tabel VII. Tabel VIII.

Nilai r ………... Nilai recovery... Nilai presisi ...

26 27 27 Tabel IX. Nilai presisi dari recovery ………... 27 Tabel X.

Tabel XI.

Kurva baku ... Korelasi proporsi drug load dengan persen kurkumin terdisolusi pada waktu 60 menit...

(15)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kurkumin ………...……... 5

Gambar 2. Hasil degradasi kurkumin dalam larutan ……... 6

Gambar 3. Kunyit (Curcuma domestica) ...………. 7

Gambar 4. Struktur HPMC ………...………... 9

Gambar 5. Kurva baku ……... 24

Gambar 6. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 0,66%... 30

Gambar 7. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 1%... 31

Gambar 8. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 2%... 31 Gambar 9.

Gambar 10.

Persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada dispersi padat... Kurva proporsi drug load vs disolusi ...

(16)

xv

(Curcuma domestica C-95) ………...…………... 39 Lampiran 2. Pernytaan jaminan keaslian bahan kurkumin standar hasil

sintesis... 40 Lampiran 3. Scan λ maksimum... 41 Lampiran 4. Kurva baku dan validasi... 45 Lampiran 5. Perhitungan penimbangan dispersi padat dan campuran

(17)

xvi

INTISARI

Kurkumin merupakan senyawa turunan fenolik dari hasil isolasi rimpang tanaman kunyit (Curcuma domestica Rhizome)

Penelitian ini berisi bagaimana drug load berpengaruh dalam meningkatkan disolusi kurkumin yang dibuat menjadi bentuk dispersi padat. Pembuatan dispersi padatan amorphous dapat meningkatkan laju disolusi obat yang kelarutannya rendah. Penambahan pembawa (HPMC E-15) dengan drug load yang semakin kecil dalam pembuatan dispersi padat menggunakan teknik spray driying dapat meningkatkan kelarutan dari kurkumin yang dilihat dari meningkatnya disolusi dari kurkumin.

yang memiliki efek farmakologi sebagai antiinflamasi dan antioksidan, anti inflamasi, anti bakteri, dan antikanker. Selain itu, kurkumin memiliki kelarutan yang rendah pada air, pH asam atau pH netral karena nilai log P kurkumin yang kecil yaitu 2,56 dan mudah terdegradasi pada pH alkali saat penggunaan farmasetik. Sehingga hal ini berpengaruh terhadap bioavailabilitas dari kurkumin.

Setelah dibandingkan dengan campuran fisik, terjadi peningkatan yang tidak signifikan disolusi kurkumin dari dispersi padat. Secara statistik tidak ada korelasi yang bermakna antara peningkatan drug load dengan disolusi kurkumin dengan nilai sig >0,05.

(18)

xvii

Curcumin is a derivate of phenolic that isolated from rhizomes of turmeric (Curcuma domestica Rhizome), which has pharmacology effect as an anti-inflamatory, anti-bacterial, anti-cancer. Curcumin has low solubility in water, acidic pH or neutral pH because log P value of curcumin that small is 2,56 and easily degraded at alkali pH when pharmaceutical use. So this effect on the bioavailability of curcumin.

This study includes how the drug load can increase the dissolution of curcumin that was made into the solid disperse. Preparation of amorphous solid disperse can increase dissolutioun rate of low solubility drug. Addition of carrier (HPMC E-15) with the smallers drug load use the spray drying technique can increase solubility of curcumin that can see from increase the dissolution of curcumin.

After compared with physical mixture, occur increase not significant of dissolution the solid disperse. Statistically, there is a no correlation between drug load increase with dissolution of curcumin with sig value >0,05.

Keyword : isolate turmeric extract, solid disperse, spray dried, HPMC E-15, drug load, VIS spectrophotometer

(19)

1

BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang

Kurkumin merupakan senyawa turunan fenolik dari hasil isolasi rimpang tanaman kunyit (Curcuma domestica Rhizome

Tetapi kurkumin praktis tidak larut dalam air pada kondisi pH asam maupun netral. Kurkumin tidak terabsorbsi sempurna dengan bioavailabilitas oral sekitar 60% (Kaewnopparat, dkk., 2009). Kurkumin memiliki kelarutan yang rendah pada air pada pH asam atau pH netral karena kurkumin memiliki nilai log P yang kecil yaitu 2,56. Sehingga hal ini menurunkan bioavailabilitas dari kurkumin.

) yang mengandung desmetoksikurkumin, kurkumin (sebanyak 60% (Parinussa dan Timotius, 2010)) dan bisdesmetoksikurkumin, yang ketiganya sering disebut sebagai kurkuminoid. Rimpang tanaman kunyit sering digunakan untuk antikoagulan, antiedemik, menurunkan tekanan darah, obat malaria, obat cacing, obat sakit perut, memperbanyak ASI, stimulan, mengobati keseleo, memar dan rematik. Kurkumin juga dapat berfungsi sebagai antiinflamasi, antioksidan, anti bakteri, dan antikanker (Kaewnopparat, dkk., 2009).

(20)

Metode pembuatan dispersi padat paling sering dilakukan untuk meningkatkan kelarutan dan kecepatan disolusi (Malviya, dkk., 2010). Selain itu metode ini dapat mendispersikan satu atau banyak bagian zat aktif pada pembawa atau matriks yang inert, yang disiapkan dengan cara dilarutkan (Rajarajan, Baby, Ramesh, dan Singh, 2009). Beberapa macam metode dalam pembuatan dispersi padat antara lain dengan vacuum drying, spray drying, fusion method, liofilisasi,

dan super critical fluid technology (Sharma dan Joshi, 2007).

Pembuatan dispersi padatan dilakukan dengan cara menambahkan bahan pembawa dan serbuk kunyit yang sesuai dengan proporsi drug load. Drug load

yang semakin meningkat dengan penambahan pembawa polisakarida akan menyebabkan laju disolusi berjalan lambat. Adanya fenomena ini menandakan kristalisasi dari obat yang tidak terkontrol terjadi karena adanya supersaturasi. Pembuatan dispersi padatan amorphous dapat meningkatkan laju disolusi obat yang kelarutannya rendah (Srinarong, Kouwen, Visser, Hinirichs, dan Frijilink, 2009).

Bahan pembawa yang digunakan adalah Hydroxypropylmethylcellulose

(HPMC) E-15 yang merupakan polimer semisintetik yang bersifat inert dan biasa digunakan sebagai agen penggranul (Greatvista, 2010). HPMC merupakan polisakarida berantai panjang (19%-30% gugus metoksi (-OCH3) dan 3%-12%

gugus hidroksipropil (-OCH2CHOHCH3)) yang dapat membantu meningkatkan

(21)

3

1. Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang muncul dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana pengaruh proporsi drug load

pembawa terhadap disolusi dari kurkumin dengan pembentukan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15?

2. Keaslian penelitian

Sejauh pengetahuan penulis belum ada penelitian mengenai uji disolusi dan pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma

domestica C-95)-HPMC E-15 menggunakan metode spray drying dengan

pengaruh proporsi drug load. Penelitian mengenai HPMC E-15 yang sudah pernah ada adalah Study of Drug Release from Pellets Coated with Surelease

Containing Hydroxypropylmethylcellulose (Sadeghi, Ford, Rubinstein,

Rajabi, 2001).

3. Manfaat penelitian

a. Manfaat teoritis.

b.

Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi mengenai cara peningkatan disolusi kurkumin dengan pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15.

Manfaat metodologis.

c.

Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi mengenai metode yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu obat.

(22)

B.Tujuan Penelitian

(23)

5

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A.Kurkumin

Kurkumin (1,7-bis-(4-hydroxy-3-methoxyphenyl)-1,6-heptadiene

-3,5-dione) adalah senyawa turunan fenolik dari hasil isolasi rimpang tanaman kunyit

(Curcuma domestica Rhizome

Kurkumin praktis tidak larut dalam air pada kondisi pH asam maupun netral. Kurkumin tidak terabsorbsi sempurna, dengan bioavailabilitas oral sekitar 60% (Kaewnopparat, dkk., 2009).

). Senyawa tersebut memiliki 2 gugus vinilguaiacol

(karbonil tak jenuh) yang saling dihubungkan dengan rantai alfa beta diketon (Prasetyo, 2010). Senyawa tersebut memiliki efek farmakologi sebagai anti inflamasi, anti bakteri, dan antikanker. (Kaewnopparat, dkk., 2009).

OCH3

OH

H3CO

HO

O O

Log P: 2,56

Gambar 1. Kurkumin

(Anonim a, 2010).

(24)

Gambar 2. Hasil degradasi kurkumin dalam larutan (Wang, Pan, Chang, Hsieh, dan Lin, 1997)

B. Serbuk kunyit

Rimpang kunyit (Curcuma domestica Rhizome) berbentuk bulat panjang dan bercabang-cabang, tumbuh dengan baik di tanah yang tata pengairannya baik, kulitnya kuning muda dan berdaging kuning (Riwan, 2008).

Rimpang kunyit mengandung bahan-bahan seperti minyak atsiri,

zingiberence, turmeron, camphor, curcumene, dan zat pewarna yang mengandung

(25)

7

Kurkumin dapat berfungsi sebagai antiinflamasi dan antioksidan (Masuda et al., 1993). Menurut Supriadi, kurkumin juga berkhasiat mematikan kuman dan menghilangkan rasa kembung karena dinding empedu dirangsang lebih giat untuk mengeluarkan cairan pemecah lemak. Minyak atsiri pada kunyit dapat bermanfaat untuk mengurangi gerakan usus yang kuat sehingga mampu mengobati diare. Selain itu, juga bisa digunakan untuk meredakan batuk dan antikejang.

Kurkumin praktis tidak larut dalam air pada kondisi pH asam maupun netral. Kurkumin tidak terabsorbsi sempurna, dengan bioavailabilitas oral sekitar 60% (Kaewnopparat, dkk., 2009).

Gambar 3. Kunyit (Curcuma domestica) (Anonim b, 2010)

C.Dispersi Padat

1. Pengertian

(26)

2. Penggunaan dispersi padat

Dispersi padat sering digunakan untuk meningkatkan laju disolusi dari obat dengan kelarutan yang rendah (Srinarong, dkk., 2009).

3. Mekanisme

Mekanisme dari dispersi padat :

a. Meningkatkan kebasaan obat melalui kontak langsung obat dengan matriks hidrofilik

b. Konsentrasi jenuh pada partikel kecil lebih besar dibandingkan pada partikel besar

c. Meningkatkan luas permukaan

d. Obat memiliki energi yang tinggi pada tingkat amorphous

dibandingkan tingkat kristalin, pada konsentrasi jenuh (Waard, Hinrichs, Visser, Bologna, dan Frijlink, 2008).

D.HPMC E-15

Hydroxypropylmethylcellulose (HPMC) merupakan polimer semisintetik

yang bersifat inert dan biasa digunakan sebagai agen penggranul dan bahan tambahan untuk obat controlled release (Ishikawa, Watanabe, Takayama, Endo, dan Matsumoto, 2000). HPMC terdiri dari 19%-30% gugus metoksi (-OCH3) dan

3%-12% gugus hidroksipropil (-OCH2CHOHCH3).

Memiliki ciri-ciri 1.

:

(27)

9

2. Ukuran Partikel: di atas 98,5% efisiensi partikel melewati ukuran mesh 100 dan 100% di 80 mesh

Larut dalam air dan beberapa pelarut organik. Kelarutan bervariasi dengan viskositas, semakin rendah viskositas memiliki kelarutan yang tinggi. HPMC yang berbeda berbeda dalam beberapa sifat dan kelarutan dalam air tidak dipengaruhi oleh

5.

pH.

HPMC memiliki karakteristik lainnya seperti stabilitas pH, retensi air, membentuk properti film yang sangat baik dan menyebarkan yang baik dan kekuasaan

Tabel I. HPMC E-15 (Alfakimia, 2010) adhesi (Greatvista, 2010).

Sr

1 Description White powder White powder

8 Hydroxypropoxy

(Percent)

About 8.2% 8.3%

(28)

E.Spray Drying

Metode pengeringan spray drying merupakan metode pengeringan yang paling banyak digunakan dalam industri terutama industri makanan. Metode ini mampu menghasilkan produk dalam bentuk bubuk atau serbuk dari bahan-bahan seperti susu dan buah buahan (Rohman, 2008).

F. Spektrofotometri UV-VIS

Spektrofotometri UV/VIS adalah alat yang mempunyai dua sumber cahaya (sinar ultra ungu dan sinar tampak). Masing-masing sumber cahaya dipergunakan untuk penentuan kandungan aromatik dan senyawa anionik dalam sampel (Lemigas, 2010).

Untuk sampel yang berupa larutan perlu diperhatikan beberapa persyaratan pelarut yang dipakai, yaitu :

1) Pelarut tidak mengandung sistem ikatan rangkap terkonjugasi pada struktur molekulnya dan tidak berwarna

2) Tidak terjadi interaksi dengan molekul senyawa yang dianalisis, dan 3) Kemurnian atau derajat analisis harus tinggi (Mulja, 1995).

(29)

11

Pergeseran serapan ke arah panjang gelombang yang lebih pendek disebabkan substitusi atau pengaruh pelarut, yaitu pergeseran hipsokromik disertai efek hipokromik (penurunan intensitas serapan) (Sastroamidjoyo, 1991).

G.Uji Disolusi

Disolusi didefinisikan sebagai suatu proses melarutnya zat kimia atau senyawa obat dari sediaan padat ke dalam suatu medium tertentu.

Banyak cara untuk mengukur hasil kecepatan pelarutan suatu zat atau sediaan, antara lain dengan metode sebagai berikut:

1. Metode Wagner

Metode ini dapat menghitung tetapan kecepatan pelarutan (k) dengan berdasarkan pada asumsi bahwa kondisi percobaan dalam keadaan sink, proses pelarutan mengikuti orde satu, luas permukaan spesifik turun secara eksponensial terhadap waktu.

2. Metode klasik

(30)

3. Jumlah zat aktif yang melarut pada waktu tertentu, misalnya C30 adalah dalam waktu 30 menit zat aktif yang melarut sebanyak x mg atau x mg/ml (Shargel dan Yu, 1999)

H.Validasi Metode Analisis

Validasi metode menurut USP dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis bersifat akurat, spesifik, reprodusibel, dan tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis. Secara singkat, validasi merupakan aksi konfirmasi bahwa metode analisis yang akan digunakan sesuai dengan tujuan yang diinginkan (Rohman, 2009).

Kategori yang terdapat dalam USP dan ICH : 1. Kategori I

Metode untuk kuantifikasi komponen mayor dalam produk ruahan API, termasuk senyawa-senyawa pengawet dalam produk akhir obat, diklasifikasikan dalam kategori I. Metode uji dan keseragaman kandungan masuk dalam kategori ini.

Analisis sekelumit ini tidak diisyaratkan pada uji keseragaman kandungan ini, karenanya penentuan LOD dan LOQ dalam uji ini tidaklah penting (Rohman, 2009).

2. Kategori II

Metode kategori II ditujukan untuk menentukan pengotor/ pengganggu

(impurities) dalam ruahan obat (bulk), produk-produk degradasi dalam

(31)

13

ini lebih lanjut dibagi menjadi 2 yaitu ke dalam uji kuantitatif dan uji batas

(limit test) (Rohman, 2009).

3. Kategori III

Metode-metode yang digunakan untuk menentukan karakteristik kinerja produk akhir jatuh pada kategori III. Uji disolusi (tidak termasuk pengukurannya) dan uji-uji pelepasan obat merupakan contoh metode yang masuk kategori ini (Rohman, 2009).

Tabel II. Elemen-elemen data yang dibutuhkan untuk uji validasi(Rohman, 2009)

Parameter Kinerja Analisis

Pengujian kategori I

Pengujian kategori II Uji kategori III

Kuantitatif Uji Batas

Akurasi Ya Ya * *

*mungkin dibutuhkan, tergantung pada uji spesifiknya

I. Landasan Teori

(32)

Hydroxypropylmethylcellulose (HPMC) merupakan polimer semisintetik yang bersifat inert yang biasa digunakan sebagai agen penggranul. Alat yang digunakan untuk membuat dispersi padat dalam penelitian ini adalah spray drier

yang memiliki prinsip kerja, yaitu mengubah bahan yang ingin dikeringkan ke dalam bentuk butiran-butiran air dengan cara diuapkan menggunakan atomizer. Air dari bahan kemudian di kontakan dengan udara panas yang menyebabkan air dalam bentuk tetesan-tetesan mengering dan berubah menjadi serbuk. Kemudian terjadi proses pemisahan antara uap panas dengan serbuk dilakukan dengan

cyclone

Setelah itu dilakukan uji disolusi menggunakan alat uji disolusi. Metode uji disolusi yang dilakukan adalah dengan metode klasik. Metode ini mengukur jumlah zat aktif yang terlarut hanya pada waktu tertentu.

atau penyaring. Setelah di pisahkan, serbuk kemudian diturunkan suhunya sesuai dengan kebutuhan produksi.

Spektrofotometer UV/VIS merupakan alat yang memiliki dua sumber cahaya. Dengan pengukuran menggunakan spektrofotometer visibel, dapat dilakukan pengukuran kecepatan disolusi kurkumin.

J. Hipotesis

(33)

15

BAB III

METODE PENELITIAN

A.Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental dengan melakukan percobaan dan tidak ada manipulasi. Peneliti melakukan penambahan pembawa dalam pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit

(Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15 guna mempengaruhi disolusinya.

B.Variabel

1. Variabel bebas

Proporsi drug load yang digunakan

2. Variabel tergantung

Persen kurkumin yang terdisolusi

3. Variabel pengacau

a. Variabel pengacau terkendali. b.

Intensitas cahaya selama penyimpanan Variabel pengacau tak terkendali. Suhu dan kelembaban ruangan

C.Definisi Operasional

1. Dispersi padat adalah mendispersikan satu atau banyak bagian zat aktif pada pembawa atau matriks yang inert, yang disiapkan dengan cara dilarutkan.

2. Spray dried adalah alat yang digunakan untuk mengeringkan dengan cara

(34)

dengan cara diuapkan menggunakan atomizer. Air dari bahan yang telah berbentuk tetesan-tetesan tersebut kemudian di kontakan dengan udara panas. Peristiwa pengontakkan ini menyebabkan air dalam bentuk tetesan-tetesan tersebut mengering dan berubah menjadi serbuk. Selanjutnya proses pemisahan antara uap panas dengan serbuk dilakukan dengan cyclone

3. Disolusi didefinisikan sebagai suatu proses melarutnya zat kimia atau senyawa obat dari sediaan padat ke dalam suatu medium tertentu.

atau penyaring. Setelah di pisahkan, serbuk kemudian kembali diturunkan suhunya sesuai dengan kebutuhan produksi.

4. Spektrofotometer UV-VIS adalah alat yang mempunyai dua sumber cahaya (sinar ultra ungu dan sinar tampak). Masing-masing sumber cahaya dipergunakan untuk penentuan kandungan aromatik dan senyawa anionik dalam sampel.

D.Bahan – bahan Penelitian

(35)

17

E.Alat – alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas (Pyrex-Germany), timbangan analitik (OHAUS carat series), micropipete (Socorex, Propette), desikator, mortir, stamper, Spray dried (LabPlant-London), Spektrofotometer UV-VIS merk Perkin Elmer, alat uji disolusi (Sotax), magnetic

stirer (Labinco BV-Netherlands), ph indikator universal (Merc).

F. Tata cara Penelitian

1. Pembuatan dispersi padat ekstrak rimpang kunyit

Dispersi padat ekstrak rimpang kunyit : HPMC E-15 dan ekstrak rimpang kunyit ditambahkan sesuai dengan persen drug load 2%, 1%, 0.66% dibuat dengan metode spray drying. Serbuk ekstrak rimpang kunyit sebanyak 350,8772 mg dilarutkan dalam 250 ml etanol 70% lalu ditambahkan larutan HPMC E-15 sesuai dengan dengan persen drug load 2%, 1%, 0,66% . Pelarut dihilangkan dengan teknik Spray drying dengan operating parameter sebagai berikut: suhu inlet, 110o C; suhu exhaust 68 o C; feed rate 4 ml/ min; tekanan udara atomisasi 2 kg/cm2

Tabel III. Proporsi drug load

dan aspirasi -280 mmWC.

HPMC E-15-pembawa dispersi padatan

HPMC E-15 (g) Kurkumin(mg) Drug load (%mg/ml)

2 40 2

4 40 1

(36)

2. Pembuatan campuran fisik

Campuran fisik dibuat dengan mencampurkan serbuk ekstrak rimpang kunyit dan HPMC E-15, yang masing-masing telah diayak sebelumnya dengan ayakan no. mesh 60. Jumlah serbuk ekstrak kunyit dan HPMC E-15 yang dicampurkan dihitung berdasarkan jumlah dispersi padat yang diperoleh tiap replikasinya. Pencampuran kedua serbuk dilakukan dengan mortir dan stamper sehingga homogen.

3. Uji disolusi

Disolusi dispersi padat dan campuran fisik diukur menggunakan peralatan disolusi. Media disolusi terdiri dari 900 ml cairan lambung buatan tanpa pepsin pH lebih kurang 1,2. Paddle akan berputar dengan kecepatan 50±1 rpm dan pada suhu 37±0,5°C. Setiap 5, 10, 20, 30, 45, 60, 90, 120, 150, dan 180 menit, cuplikan sebanyak 5 ml diambil dan disaring, medium disolusi diganti dengan 5 ml medium disolusi yang baru setelah pengambilan sampel. Kurkumin dalam cuplikan diukur dengan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang maksimum. Konsentrasi kurkumin dihitung dan dinyatakan sebagai persentase kurkumin terlarut.

4. Validasi metode

a.

Sebanyak 10,0 mg serbuk kurkumin ditimbang lebih kurang seksama, masukkan ke dalam labu ukur 25,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Simpan dalam wadah terlindung cahaya

(37)

19

b. Larutan intermediet

Larutan stok kurkumin diambil sebanyak 1,0 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Larutan intermediet dibuat sebanyak 3 kali.

c. Penentuan panjang gelombang maksimum (λmaks

Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4; 0,8; 1,2 ml dan masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Pengukuran panjang gelombang maksimum dilakukan pada λ 300-600 nm, sebanyak 3 kali.

Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali. Panjang gelombang dicari yang memberikan serapan maksimum dan memberikan profil kurva yang mirip.

)

d. Pembuatan kurva baku

Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,6 ml; 0,8 ml; 1,0 ml dan 1,2 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Kelima larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum. Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dihitung dengan regresi linier sehingga diperoleh persamaan kurva baku kurkumin.

e. Penetapan parameter akurasi (recovery)

Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,8 ml; dan 1,2 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Ketiga larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum. Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali.

Cara perhitungannya adalah sebagai berikut.

% recovery = kadar terukur

(38)

f. Penetapan parameter presisi (koefisien variasi)

Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,8 ml; dan 1,2 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Ketiga larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum. Replikasi dilakukan sebanyak tiga kali. Serapan yang diperoleh dimasukkan ke dalam persamaan kurva baku untuk mengetahui kadar terukur, kemudian hitung standar deviasi. Data yang diperoleh dimasukkan ke dalam rumus berikut.

KV = SD

x

� x 100%

Keterangan :

SD = standar deviasi x� = kadar rata-rata KV = koefisien variasi

g. Penetapan parameter linearitas

(39)

21

G.Analisis Hasil

1. Analisis validasi metode

Validasi metode yang digunakan berdasarkan parameter berikut. a. Akurasi

Akurasi metode analisis dinyatakan sebagai recovery dan dihitung dengan rumus berikut.

% recovery = kadar terukur

kadar terhitung x 100%

Recovery untuk analit sampel 0.0001 % adalah 80% - 110% (Harmita). b. Presisi

Presisi dinyatakan dengan koefisien variasi, dengan rumus:

CV = 𝑆𝑆𝑆𝑆

𝑥𝑥̅ x 100%

Metode ini dikatakan baik bila nilai CV yang diperoleh < 2,5%. Semakin kecil nilai CV, presisi metode yang digunakan semakin baik.

c. Linearitas

Parameter linearitas dilihat dari nilai koefisien korelasi (r) hasil pengukuran larutan seri baku kurkumin. Metode dikatakan memiliki linearitas yang baik bila r > 0,99.

2. Analisis statistik penetapan kadar kurkumin terlarut

(40)

22

A.Pembuatan Dispersi Padat

Dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95

)-HPMC E-15 dibuat dengan mencampurkan ekstrak rimpang kunyit dengan sejumlah HPMC E-15 sesuai dengan proporsi drug load yang tertera dalam tabel.

Tabel III. Proporsi drug load

HPMC E-15-pembawa dispersi padatan

HPMC E-15 (g) Kurkumin(mg) Drug load (%mg/ml)

2 40 2

4 40 1

6 40 0.66

Serbuk ekstrak rimpang kunyit sebanyak 350,8772 mg dilarutkan dalam 250 ml etanol 70% dan HPMC E-15 sebanyak 2g, 4g, dan 6g (sesuai tabel di atas) dilarutkan dalam 100 ml etanol 70%. Setelah masing-masing dilarutkan, kedua larutan dicampur dan di homogenkan. Setelah itu campuran larutan tersebut dibuat menjadi dispersi padatan menggunakan teknik spray drying.

Serbuk isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95) yang digunakan dalam penelitian ini adalah serbuk ektrak rimpang kunyit yang berasal dari PT Phytochemindo Reksa memiliki kandungan kurkuminoid sebanyak 97.20% yang tercantum dalam Certificate of Analysis.

(41)

23

dimasukkan ke dalam kapsul cangkang 00 dan disimpan lagi ke dalam desikator selama 24 jam sebelum di uji disolusi.

B.Pembuatan Campuran Fisik

Campuran fisik dibuat dari hasil perhitungan hasil dispersi padat yang dimasukkan ke dalam kapsul dibandingkan dengan jumlah dispersi padat yang dihasilkan kemudian jumlah pembawa dan serbuk kunyit yang didapat, ditimbang dan dicampur homogen. Kemudian diberikan perlakuan yang sama seperti perlakuan pada dispersi padatan sebelum akhirnya dimasukkan ke kapsul dan di uji disolusi.

Jumlah pembawa dan serbuk ekstrak rimpang kunyit yang dicampurkan didapat dengan menghitung terlebih dahulu jumlah kurkumin yang ada dalam dispersi padat. Kemudian dihitung berapa jumlah kurkumin yang diambil, baru setelah itu dapat diketahui berapa serbuk kunyit dan pembawa yang ditimbang.

C.Pembuatan Larutan Baku

(42)

y = 152,3990x - 0,017

0 0.001 0.002 0.003 0.004 0.005

a

Hasil pengukuran untuk seri larutan baku dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel IV. Pengukuran kurva baku

I II III Kemudian dipilih kurva baku yang memiliki nilai r > 0,99 untuk uji disolusi (Rohman, 2009). Akhirnya dipilih seri larutan baku repetisi I dengan persamaan kurva baku y = 152,3990 x – 0,017 dan nilai r = 0,9981.

(43)

25

D.Penetapan Panjang Gelombang Kurkumin

Penetapan panjang gelombang maksimum dilakukan agar dapat diketahui pada panjang gelombang berapa kurkumin memberikan serapan maksimum, sehingga dapat menunjukkan senstifitas yang baik dan memberikan hasil yang baik saat dilakukan pengukuran ulang menggunakan panjang gelombang tersebut.

Penetapan panjang gelombang maksimum dilakukan dengan mengukur larutan seri baku kurkumin 1,584. 10-3, 3,168. 10-3 , dan 4,752. 10-3 mg/ml sebanyak 3 kali. Kemudian dilihat pada panjang gelombang berapa absorbansi maksimum paling banyak dimunculkan, maka panjang gelombang tersebut yang dijadikan sebagai panjang gelombang maksimum dari kurkumin dan digunakan untuk pengukuran berikutnya.dan dari hasil pengukuran didapat panjang gelombang maksimum kurkumin yaitu 421,6 nm. Selain itu, juga dipilih λ 421 nm, karena menurut Kaewnopparat (2009), kurkumin terdeteminasi pada λ 4 21 nm untuk simulasi di dalam cairan lambung buatan tanpa pepsin.

E.Validasi Metode

Validasi metode dilakukan dengan melakukan pengukuran beberapa parameter validasi yang diperlukan, antara lain :

1. Linearitas

(44)

nilai absorbansi vs kadar seri baku. Lalu dipilih nilai r yang paling baik yang digunakan untuk kurva baku.

Tabel V. Linearitas

Kadar (mg/ml) Absorbansi (A)

1,58 x 10-3 0,236 0,9981 dan persamaan kurva baku y= 152,3990 x – 0,017. Nilai r terhitung baik karena menurut Rohman (2009), untuk uji disolusi r > 0,99.

Tabel VI. Nilai r (Rohman, 2009)

uji Level* Kisaran** Kriteria keberterimaan

pengujian 5 50% - 150% r > 0,999; intersep -y > 2,0%

disolusi 5-8 10% - 150% r > 0,99; intersep -y > 5,0%

pengotor 5 LOQ – 2% r > 0,98

2. Akurasi

Akurasi dibuat dengan mengukur larutan seri baku 1,584.10-3, 3,168.10-3, dan 4,752.10-3

% recovery = kadar terukur

kadar terhitung x 100%

mg/ml sebanyak 3 kali. Kemudian kadarnya dihitung dengan memasukkan nilai absorbansi ke dalam persamaan kurva baku. Dan masing-masing seri kurva baku dihitung recovery-nya dengan rumus :

(45)

27

Tabel VII. Nilai recovery (Anonim, 2004)

% Active/impurity content Acceptable mean recovery

≥ 10

Recovery ketiga seri baku diatas terhitung baik karena recovery untuk

analit sampel dengan analit pada matrik sampel 0,1-1 adalah 80-120%. ketiga seri pada konsentrasi rendah ,tengah, dan tinggi yang diuji, masuk ke dalam

range yang tercantum dalam sumber.

3. Presisi

Presisi dihitung dengan melihat nilai CV dari recovery. Presisi yang baik bila nilai CV < 2%, tetapi menurut Guideline (2004), CV juga bergantung dari kadar analit sampelnya. Pada pengukuran ini, kadar analit sampel yaitu >0,1% atau dalam range 0,1 – 1,0%, maka untuk nilai CV yang diacu adalah <10%..

Tabel VIII. Nilai presisi (Anonim, 2004)

Component measured in sample Precision

>10.0% ≤ 2%

1.0 up to 10.0% ≤ 5%

0.1 up to 1.0% ≤ 10%

< 0.1% ≤ 20%

Tabel IX. Nilai presisi dari recovery

Recovery (%) SD CV(%)

96,52 7,19 7,44

93,48 4,85 5,19

98,41 1,39 1,42

Dari ketiga nilai CV yang di dapat, ketiganya masuk ke dalam range

(46)

4. LOD

LOD merupakan Limit of Detection, dimana ini merupakan kadar terkecil yang dapat diukur dalam pengukuran kadar. Bila kadar yang akan di ukur berada di bawah LOD, kadar tersebut tidak dapat terdeteksi. LOD diukur

menggunakan rumus 3 𝑥𝑥𝑆𝑆𝑆𝑆

𝑏𝑏 (Harmita, 2004).

Tabel X. Kurva baku

A = - 0,017

dari perhitungan LOD di atas, diketahui bahwa LOD sebesar 2,4649 x 10 mg/ml

-5

mg/ml. Jadi, untuk pembuatan dispersi padat dan campuran fisik yang dilakukan, jumlah kurkumin yang terkandung di dalamnya sudah berada di atas LOD. Sehingga kadar kurkumin hasil disolusi dapat terukur menggunakan metode ini.

(47)

29

F. Uji Disolusi

Uji disolusi dilakukan dengan mendisolusikan dispersi padat dan campuran fisik ke dalam medium disolusi, yaitu cairan lambung buatan tanpa pepsin. Cairan lambung buatan tanpa pepsin dibuat dengan cara melarutkan 2,0 g natrium klorida P dalam 7,0 ml asam klorida P dan air secukupnya hingga 1000 ml. Larutan mempunyai pH lebih kurang 1,2 (Depkes, 1995).

Kemudian medium disolusi dimasukkan ke alat uji disolusi sebanyak 900 ml dengan pengaturan kecepatan putar paddle 50 rpm dan suhu 37°C. Cuplikan di ambil setiap 5, 10, 20, 30, 45, 60, 90, 120, 150, dan 180 menit.

Setiap pengambilan cuplikan pada menit yang ditentukan, cuplikan diambil sebanyak 5 ml dan setelah itu ditambahkan 5 ml medium disolusi ke dalam alat uji disolusi. Cuplikan yang telah diambil diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer Visibel dengan panjang gelombang 421,6 nm.

Pengukuran kadar kurkumin dilakukan dengan mengukur kadar dari dispersi padat dan campuran fisik yang di disolusi kemudian diukur kadarnya menggunakan spektrofotometri visibel.

(48)

0

kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu

drug load 0,66%

DP CF homogen (Waard, dkk., 2008). Selain itu dengan meningkatnya drug load dengan pembawa polisakarida akan menurunkan laju disolusi (Srinarong, dkk., 2009).

Gambar 6. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 0,6%

Dilihat dari kurva di atas, maka dapat dikatakan bahwa peningkatan kelarutan antara dispersi padat dan campuran fisik pada proporsi drug load 0,66% memberikan peningkatan yang signifikan walaupun hanya sedikit. Hal ini dapat dilihat dari nilai SD antara dispersi padat dan campuran fisik yang tidak saling berhimpitan, sehingga hal ini menunjukkan bahwa penyebaran data antara dispersi padat dan campuran fisik tidak saling berhimpitan.

(49)

31

kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu

drug load 1%

kurva persen kurkumin disolusi vs waktu

drug load 2%

DP

CF

Gambar 7. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 1%

Dari hasil pengukuran yang terlihat pada kurva, dispersi padat tidak meningkatkan kelarutan yang signifikan bila dibandingkan dengan campuran fisik pada proporsi drug load 1%. Hal ini tampak dari adanya nilai SD yang berhimpitan pada kurva. Nilai SD yang berhimpitan ini menunjukkan penyebaran data yang saling berhimpitan yang menunjukkan tidak adanya sigifikansi data peningkatan kelarutan antara dispersi padat dan campuran fisik.

Dilakukan pula analisis statistik untuk melihat perbandingan antara campurn fisik dengan dispersi padat. Dari hasil uji statistik tersebut dapat dikatakan bahwa antara campuran fisik dan dispersi padat tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Maka terjadi peningkatan kelarutan yang tidak signifikan antara dispersi padat dengan campuran fisik.

(50)

Dari hasil pengukuran dan yang tercantum dalam kurva menunjukkan bahwa dispersi padat pada proporsi drug load tidak menunjukkan adanya peningkatan disolusi kurkumin bila dibandingkan dengan campuran fisik. Hal ini dapat dilihat dari adanya nilai SD yang berhimpitan pada kurva. Nilai SD yang berhimpitan ini menunjukkan bahwa penyebaran data antara dispersi padatan dan campuran fisik saling berhimpitan, maka kenaikan disolusi yang ada dianggap tidak signifikan.

Dilakukan pula analisis statistik untuk melihat perbandingan antara campurn fisik dengan dispersi padat. Dari hasil uji statistik tersebut dapat dikatakan bahwa antara campuran fisik dan dispersi padat tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Maka terjadi peningkatan kelarutan yang tidak signifikan antara dispersi padat dengan campuran fisik.

Gambar 9. Persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada dispersi padat

Sesuai dengan teori dengan meningkatnya drug load dengan pembawa polisakarida akan menurunkan laju disolusi (Srinarong, dkk., 2009), maka dari

0

kurva persen terdisolusi vs waktu campuran fisik

dispersi padat drug load 2%

dispersi padat drug load 1%

(51)

33

hasil pengukuran dispersi padat semua proporsi drug load, semakin meningkatnya proporsi drug load maka disolusi kurkumin pun akan semakin menurun atau rendah, begitu pula sebaliknya, semakin rendah proporsi drug load, maka akan semakin meningkatkan disolusi. Setelah itu, dilihat hubungan korelasi antara proporsi drug load dengan persen kurkumin terdisolusi pada D60.

Untuk uji normalitas yang digunakan adalah Shapiro-Wilk, karena data yang diuji jumlahnya kurang dari 50. Karena salah satu faktor memiliki nilai p<0,05, maka distribusi dikatakan tidak normal. Kemudian untuk hubungan korelasi yang dipilih menggunakan Spearman karena data distribusi tidak normal.

Tabel XI. Korelasi proporsi drug load dengan persen kurkumin terdisolusi pada waktu 60 menit

Spearman's rho drugload Correlation Coefficient 1,000 -,632

Sig. (2-tailed) . ,068

N 9 9

persenkurkuminterdisolusi_6

0menit

Correlation Coefficient -,632 1,000

Sig. (2-tailed) ,068 .

N 9 9

(52)

uji korelasi erat kaitannya dengan uji regresi, maka dilakukan pula uji regresi linearitas.

Gambar 10. Kurva persen proporsi drug load vs disolusi

Dari data regresi linier di dapat persamaan y = -1,042x + 4,258, dengan nilai ANOVA > 0,05, maka persamaan di atas tidak layak digunakan untuk meramalkan pengaruh antara proporsi drug load dengan disolusi.. Selain itu, nilai adjustifed R square 0,352 menunjukkan bahwa drug load mempengaruhi disolusi sebesar 35,2% dan 64,8% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.

y = -1,042x + 4,258

(53)

35

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dispersi padat yang dibuat lebih meningkatkan kelarutan bila dibandingkan dengan campuran fisik pada proporsi drug load yang sama. Tetapi secara statistik tidak ada korelasi yang bermakna dengan adanya peningkatan proporsi drug load yang akan mempengaruhi disolusi dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit(Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15.

B.Saran

1. HPMC E-15 tidak dapat digunakan untuk pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit(Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15.

(54)

36

Anonim, 2010, Penerapan Nanotechnology Dalam Bidang Formulasi Sediaan

Obat

Anonim, 2004, Guidelines for the Validation of Analytical Methods Active Constituent, Agricultular and Veterinary Chemical Products, Australian

Pesticides & Veterinary Medicines Authority, 1-9.

Anonim a ed=1t:429,r:1,s:0, diakses tanggal 28 Desember 2011.

Anonim b, 2010, 0&ved=1t:429,r:0,s:0, diakses tanggal 28 Desember 2011.

Anonim c, 2010,

id&biw=1024&bih=466&gbv=2&tbs=isch:1&tbnid=Xmwp9DDcm4fdwM: &imgrefurl=http://felowa.com/hpmc.htm&imgurl=http://felowa.com/images /hpmc.gif&ei=qBNCTcTsJYjOrQedt9X6Dw&zoom=1&w=301&h=129&ia ct=hc&oei=qBNCTcTsJYjOrQedt9X6Dw&esq=1&page=1&tbnh=89&tbn w=208&start=0&ndsp=8&ved=1t:429,r:6,s:0, diakses tanggal 28 Desember 2011.

(55)

37

Greatvista, 2010, Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC),

Ghaste, R.P., Dhanyakumar, D. S., Shah,R. R., dan Ghodke, D. S., 2009, Solid

disperse : An Overview

Hadi, 2007, Spektrofotometri UV/VIS,

tanggal 21 November 2010.

Harmita, 2004, Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya,

Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol.I, No.3, Desmber, 117-135.

Lemigas, 2010, UV/VIS Spektrofotometer,

21 November 2010.

Kaewnopparat, N., Kaewnopparat, S., Jangwang, A., Maneenaun, D., Chuchome, T., dan Panichayupakaranant, P., 2009, Increased solubility, Dissolution and Physicochemical Studies of Curcumin-Polyvinylpyrrolidone K-30 Solid Dispensions, World Academy of Science, Enginering and Technology 55, 229. Malviya, R., Srivastava, P., Bansal, M., dan Sharma, P. K., 2010, Improvement of

Dissolution Behavior of Paracetamol Using Solid Dispertion Technique,

International Journal of Pharmaceutical Science and Research, 1, 95-99.

Mulja,M. S., 1995, Analisis Instrumental, Airlangga University Press, Surabaya,pp.22, 28, 48.

Parinussa, T. M. S. dan Timotius, K. H., 2010, Pengaruh Penambahan Asam Terhadap Aktivitas Antioksidan Kurkumin, BSS, 194(1), 1-6.

Presetyo, Y., 2010, Manfaat Kunyit Sebagai Obat Antikanker,

Rajarajan, S. , Baby,B., Ramesh, K., dan ,Singh, D., 2009, Preparation And Evaluation of Ternary Mixing Itraconnazole Dispersi padatons by Spray Drying Method, Karnataka College of Pharmacy, India, 22.

Riwan, 2008, Kunyit (Curcuma domestica),

(56)

Rohman, S., 2008, Teknologi Pengeringan Bahan Makanan, diakses tanggal 27 Desember 2010.

Sadeghi, F., Ford, J. L., Rubinstein, M. H., Rajabi-Siahboomi, A. R., 2001, Study of Drug Release from Pellets Coated with Surelease Containing

Hydroxypropylmethylcellulose,

tanggal 27 Desember 2010.

Sastroamijoyo, H., 1991, Spektroskopi, UGM Press, Yogyakarta, pp. 23.

Shargel, L. dan Yu, A., 1999, Applied Biopharmaceutics & Pharmacokinetics, fourth edition, Medical Publishing Division, Vic Graw-Hill, pp.132.

Sharma, D. K. Dan Joshi, S. B., 2007, Solubility Enhancement Strategis for Poorly Water-Soluble Drugs in Solid Dispertion: A Review, Asian Journal of

Pharmaceutics,1 (1), 9-19.

Srinarong, P., Kouwen, S., Visser., M. K., Hinrichs, W. L. J., dan Frinjlink, H. W., 2009, Effect of drug-carrier Interaction on the Dissolution Behavior of Solid Dispertion Tablets, Department of Pharmaceutical Technology and

Biopharmacy, University of Groningen, The Netherlands, 1-9.

Tonnesen, H.H., Karlsen , J. 1985, Studies on curcumin and curcuminoid . IV . Kinetics of curcumin degradation in aqueous solution, Z. Lebensm. Unters.

Forch. 180, 402-404.

Waard,H., Hinrichs, W. L. J., Visser, M. R., Bologna,C., dan FrijlinkH. W., 2008, Unexpected Differences in Dissolution Behavior of Tablets Prepared from Solid Dispersions with a Surfactant Physically Mixed or Incorporated,

International Journal of Pharmaceutics, 66-73.

(57)

39

(58)

Lampiran 2. Pernyataan Jaminan Keaslian Bahan Kurkumin Standar Hasil

(59)

41

Lampiran 3. Scanλ maksimum

(60)
(61)
(62)
(63)

45

Lampiran 4. Kurva baku dan validasi

Pembuatan kurva baku kurkumin 1. Pembuatan larutan stok kurkumin

a. Penimbangan kurkumin baku

berat kertas = 0,1332 g berat kertas + zat = 0,1433 g berat kerta + sisa = 0,1334 g

berat zat = 0,0990 g = 9,9 mg

Kurkumin dilarutkan dengan methanol p.a lalu di add methanol p.a hingga 25 ml. Konsentrasi larutan stok kurkumin = 9,9 mg / 25 ml = 0,3960 mg / ml

2. Pembuatan larutan intermediet kurkumin

1 ml larutan stok kurkumin di pipet , di add dengan methanol p.a 10,0 ml Konsentrasi larutan intermediet kurkumin = 0,3960 mg/ml x 1,0 ml / 10,0 ml

= 0,0396 mg/ml 3. Pembuatan seri larutan baku kurkumin

Seri 1 0,4 ml

= 0,0396 mg/ml x 0,4 ml / 10,0 ml = 1,584. 10-3 mg/ml

Seri 2 0.6 ml

(64)

Seri 3 0.8 ml

Larutan intermediet 1

A = - 0,017

Larutan intermediet II

(65)

47

Larutan intermediet III

A = - 0,04

0,205 1,4567·10-3 91,96 0,207 1,4698·10-3 92,79

Tengah 0,461 3,1365·10-3 99,00 93,48 % 5,19

0,425 2,9003·10-3 91,55 0,417 2,8478·10-3 89,89

Tinggi 0,705 4,7376·10-3 99,70 98,41 % 1,42

0,685 4,6063·10-3 96,93 0,697 4,6851·10-3 98,59

(66)

Intermediet I = 2,8478 .10−3

Lampiran 5. Perhitungan penimbangan dispersi padat dan campuran fisik

Contoh perhitungan formulasi untuk dispersi padatan

(67)

49 Berat aluminium foil + serbuk kunyit = 1,6449 g Berat aluminium foil + sisa = 0,2416 g

Contoh perhitungan formulasi untuk campuran fisik

Drug load 2% , Replikasi 1

Persen kehilangan = 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑗𝑗𝑏𝑏𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 −𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑗𝑗𝑑𝑑𝑗𝑗𝑑𝑑

𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑗𝑗𝑏𝑏𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 x 100 %

= (8,0004 𝑔𝑔+1,4036 𝑔𝑔)− 0,8929 𝑔𝑔

(8,0004 𝑔𝑔+1,4036 𝑔𝑔) x 100 % = 90,51 %

Jumlah serbuk kunyit yang ada dalam hasil spray

= jumlah serbuk kunyit yang ditimbang - jumlah serbuk kunyit yang hilang = 1,4036 g – (1,4036 g x 90,51 %)

(68)

= 0,1342 g = 134,2 mg

Jumlah kurkumin yang ada = jumlah serbuk kunyit yang ada x 97,20 % x 60 % = 134,2 mg x 97,20 % x 60 %

= 78,26544 mg

Jumlah kurkumin yang ada dalam tiap formula = 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑘𝑘𝑗𝑗𝑘𝑘𝑘𝑘𝑗𝑗𝑗𝑗𝑑𝑑𝑦𝑦 𝑑𝑑𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑗𝑗𝑎𝑎𝑑𝑑𝑗𝑗𝑎𝑎𝑑𝑑𝑘𝑘𝑗𝑗𝑦𝑦

𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑏𝑏𝑗𝑗𝑦𝑦𝑦𝑦𝑗𝑗𝑘𝑘𝑦𝑦𝑦𝑦𝑗𝑗 𝑓𝑓𝑓𝑓𝑘𝑘𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑏𝑏𝑗𝑗𝑗𝑗𝑑𝑑

= 78,26544 𝑗𝑗𝑔𝑔

4 = 19,56636 mg ≈ 19,5664 mg

Jumlah serbuk yang dimasukan dalam kapsul sebanyak 190 mg Jumlah kurkumin dalam 190 mg

= 190 𝑗𝑗𝑔𝑔

𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑎𝑎𝑠𝑠𝑘𝑘𝑏𝑏𝑗𝑗𝑘𝑘 𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑ℎ𝑗𝑗𝑎𝑎𝑑𝑑𝑗𝑗𝑘𝑘𝑗𝑗𝑦𝑦 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑗𝑗𝑑𝑑 𝑓𝑓𝑓𝑓𝑘𝑘𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 x jumlah kurkumin dalam tiap formula

= 190 𝑗𝑗𝑔𝑔

223,225 𝑗𝑗𝑔𝑔 x 19,5664 = 16,6541 mg

Jumlah serbuk kunyit yang harus ditimbang

= jumlah serbuk kunyit dalam 190 mg : 97,20 % : 60 % = 16,6541 mg : 97,20 % : 60 %

= 28,5562 mg

Jumlah pembawa yang ditambahkan = 190 mg – jumlah serbuk kunyit ditimbang = 190 mg – 28,5562 mg

= 161,4438 mg

Jadi untuk physical mixture, serbuk kunyit yang ditimbang sebanyak 28,5562 mg dan HPMC E15 sebanyak 161,4438 mg.

Drug load 2% , Replikasi 2

Persen kehilangan = 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑗𝑗𝑏𝑏𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 −𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑗𝑗𝑑𝑑𝑗𝑗𝑑𝑑

𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑗𝑗𝑏𝑏𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 x 100 %

= (8,0965 𝑔𝑔+1,4032 𝑔𝑔)− 1,1743 𝑔𝑔

(8,0965 𝑔𝑔+1,4032 𝑔𝑔) x 100 % = 87,64 %

Jumlah serbuk kunyit yang ada dalam hasil spray

= jumlah serbuk kunyit yang ditimbang - jumlah serbuk kunyit yang hilang = 1,4032 g – (1,4032 g x 87,64 %)

(69)

51

= 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑘𝑘𝑗𝑗𝑘𝑘𝑘𝑘𝑗𝑗𝑗𝑗𝑑𝑑𝑦𝑦 𝑑𝑑𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑗𝑗𝑎𝑎𝑑𝑑𝑗𝑗𝑎𝑎𝑑𝑑𝑘𝑘𝑗𝑗𝑦𝑦

𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑏𝑏𝑗𝑗𝑦𝑦𝑦𝑦𝑗𝑗𝑘𝑘𝑦𝑦𝑦𝑦𝑗𝑗 𝑓𝑓𝑓𝑓𝑘𝑘𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑏𝑏𝑗𝑗𝑗𝑗𝑑𝑑

= 101,12688 𝑗𝑗𝑔𝑔

4 = 25,28172 mg ≈ 25,2817 mg

Jumlah serbuk yang dimasukan dalam kapsul sebanyak 190 mg Jumlah kurkumin dalam 190 mg

= 190 𝑗𝑗𝑔𝑔

𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑎𝑎𝑠𝑠𝑘𝑘𝑏𝑏𝑗𝑗𝑘𝑘 𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑ℎ𝑗𝑗𝑎𝑎𝑑𝑑𝑗𝑗𝑘𝑘𝑗𝑗𝑦𝑦 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑗𝑗𝑑𝑑 𝑓𝑓𝑓𝑓𝑘𝑘𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 x jumlah kurkumin dalam tiap formula

= 190 𝑗𝑗𝑔𝑔

293,575 𝑗𝑗𝑔𝑔 x 25,2817 = 16,3622 mg

Jumlah serbuk kunyit yang harus ditimbang

= jumlah serbuk kunyit dalam 190 mg : 97,20 % : 60 % = 16,3622 mg : 97,20 % : 60 %

= 28,0559 mg

Jumlah pembawa yang ditambahkan = 190 mg – jumlah serbuk kunyit ditimbang = 190 mg – 28,0559 mg

= 161,9441 mg

Jadi untuk physical mixture, serbuk kunyit yang ditimbang sebanyak 28,0559 mg dan HPMC E15 sebanyak 161,9441 mg.

Drug load 2% , Replikasi 3

Persen kehilangan = 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑗𝑗𝑏𝑏𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 −𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑗𝑗𝑑𝑑𝑗𝑗𝑑𝑑

𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑗𝑗𝑏𝑏𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 x 100 %

= (8,0008 𝑔𝑔+1,4033 𝑔𝑔)− 0,794 𝑔𝑔

(8,0008 𝑔𝑔+1,4033 𝑔𝑔) x 100 % = 91,56%

Jumlah serbuk kunyit yang ada dalam hasil spray

= jumlah serbuk kunyit yang ditimbang - jumlah serbuk kunyit yang hilang = 1,4033 g – (1,4033 g x 91,56 %)

Jumlah kurkumin yang ada dalam tiap formula = 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑘𝑘𝑗𝑗𝑘𝑘𝑘𝑘𝑗𝑗𝑗𝑗𝑑𝑑𝑦𝑦 𝑑𝑑𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑗𝑗𝑎𝑎𝑑𝑑𝑗𝑗𝑎𝑎𝑑𝑑𝑘𝑘𝑗𝑗𝑦𝑦

𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑏𝑏𝑗𝑗𝑦𝑦𝑦𝑦𝑗𝑗𝑘𝑘𝑦𝑦𝑦𝑦𝑗𝑗 𝑓𝑓𝑓𝑓𝑘𝑘𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑏𝑏𝑗𝑗𝑗𝑗𝑑𝑑

= 69,05088 𝑗𝑗𝑔𝑔

4 = 17,26272 mg ≈ 17,2627 mg

(70)

= 190 𝑗𝑗𝑔𝑔

𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 ℎ𝑎𝑎𝑠𝑠𝑘𝑘𝑏𝑏𝑗𝑗𝑘𝑘 𝑦𝑦𝑗𝑗𝑦𝑦𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑ℎ𝑗𝑗𝑎𝑎𝑑𝑑𝑗𝑗𝑘𝑘𝑗𝑗𝑦𝑦 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑗𝑗𝑑𝑑 𝑓𝑓𝑓𝑓𝑘𝑘𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 x jumlah kurkumin dalam tiap formula

= 190 𝑗𝑗𝑔𝑔

198,5 𝑗𝑗𝑔𝑔 x 17,2627 = 16,5235 mg

Jumlah serbuk kunyit yang harus ditimbang

= jumlah serbuk kunyit dalam 190 mg : 97,20 % : 60 % = 16,5235 mg : 97,20 % : 60 %

= 28,3325 mg

Jumlah pembawa yang ditambahkan = 190 mg – jumlah serbuk kunyit ditimbang = 190 mg – 28,3325 mg

= 161,6675 mg

Jadi untuk physical mixture, serbuk kunyit yang ditimbang sebanyak 28,3325 mg dan HPMC E15 sebanyak 161,6675 mg.

Nb : untuk penimbangan drug load 4% dan 6% sama

Kadar terukur

Persamaan kurva baku y = 152,3990 x – 0,017

Contoh perhitungannya 5 menit, absorbansi = 0,024 0,024 = 152,3990 x – 0,017

absorbansi Kadar terukur

(71)

53

Menit Drug load 2%, replikasi 2

absorbansi Kadar terukur

5 0,007 1,5748 x 10-4

absorbansi Kadar

terukur

absorbansi Kadar terukur

5 0,022 2,5591 x 10-4

absorbansi Kadar terukur

5 0,026 2,8215 x 10-4

absorbansi Kadar terukur

(72)

Lampiran 6. Hasil pengukuran kadar dispersi padat dan campuran fisik

Drug load 2%

Dispersi padat, replikasi 1

menit absorbansi kadar terukur

absorbansi Kadar terukur

5 0,022 2,5591 x 10-4

absorbansi Kadar terukur

5 0,024 2,6903 x 10-4

absorbansi Kadar terukur

(73)

55

Dispersi padat, replikasi 2

menit absorbansi kadar terukur

Dispersi padat, replikasi 3

Campuran fisik, replikasi 1

menit absorbansi kadar terukur

(74)

0

kurva persen kurkumin disolusi vs waktu

drug load 2%

DP

CF

Campuran fisik, replikasi 2

menit absorbansi kadar terukur

Campuran fisik, replikasi3

(75)

57

Drug load 1%

Dispersi padat 2%

menit absorbansi kadar terukur

Dispersi padat, replikasi 2

menit absorbansi kadar terukur

Dispersi padat, replikasi 3

(76)

180 0,021 0,000249345 0,001246727 0,2244 2,51

Campuran fisik, replikasi 1

menit absorbansi kadar terukur

Campuran fisik, replikasi 2

menit absorbansi kadar terukur

Campuran fisik, replikasi 3

(77)

59

kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu

drug load 1%

DP

CF

Drug load 0,66%

Dispersi padat, replikasi 1

menit absorbansi kadar terukur

Dispersi padat, replikasi 2

(78)

Dispersi padat, replikasi 3

menit absorbansi kadar terukur

Campuran fisik, replikasi 1

menit absorbansi kadar terukur

5 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

10 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

20 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

30 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

45 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

60 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

90 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

120 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

150 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

180 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

Campuran fisik, replikasi 2

menit absorbansi kadar terukur

5 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

10 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

20 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

30 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

45 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

60 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

90 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

120 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

150 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

(79)

61

kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu

drug load 0,66%

DP

CF

Campuran fisik, replikasi 3

menit absorbansi kadar terukur

5 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

10 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

20 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

30 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

45 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

60 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

90 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

120 0,003 0,000131234 0,000656172 0,118111011 1,93

150 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

180 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

0

kurva persen terdisolusi vs waktu campuran fisik

dispersi padat drug load 2%

dispersi padat drug load 1%

(80)

Lampiran 7. Data Normalitas, Uji Komparatif, SPSS, Spearman

Proporsi drug load

Statistics

Std. Deviation ,60324

Variance ,364

Skewness ,633

Std. Error of Skewness ,717

Kurtosis -1,714

Std. Error of Kurtosis 1,400

Minimum ,66

Maximum 2,00

a. Multiple modes exist. The smallest value is

shown

drugload

Frequency Percent Valid Percent

(81)

63

Persen kurkumin terdisolusi

Statistics

Std. Deviation ,95599

Variance ,914

Skewness -,081

Std. Error of Skewness ,717

Kurtosis 1,210

Std. Error of Kurtosis 1,400

Minimum 1,22

Maximum 4,63

a. Multiple modes exist. The smallest value is

shown

persenkurkuminterdisolusi_60menit

Frequency Percent Valid Percent

(82)

Lampiran data Uji T tidak berpasangan

Drug load 0,66%

menit nilai p

signifikan atau tidak

5 0,002 signifikan 10 0,012 signifikan 20 0,002 signifikan 30 0,004 signifikan 45 0,004 signifikan 60 0,008 signifikan 90 0,046 signifikan 120 0,027 signifikan 150 0,230 tidak

(83)

65

Lampiran data SPSS korelatif, Spearman

(84)

Descriptives

Statistic Std. Error

drugload Mean 1,2200 ,20108

95% Confidence Interval for

Mean

Lower Bound ,7563

Upper Bound 1,6837

5% Trimmed Mean 1,2078

Median 1,0000

Variance ,364

Std. Deviation ,60324

Minimum ,66

Maximum 2,00

Range 1,34

Interquartile Range 1,34

Skewness ,633 ,717

Kurtosis -1,714 1,400

persenkurkuminterdisolusi_

60menit

Mean 2,9867 ,31866

95% Confidence Interval for

Mean

Lower Bound 2,2518

Upper Bound 3,7215

5% Trimmed Mean 2,9935

Median 3,0700

Variance ,914

Std. Deviation ,95599

Minimum 1,22

Maximum 4,63

Range 3,41

Interquartile Range 1,05

Skewness -,081 ,717

Kurtosis 1,210 1,400

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

drugload ,309 9 ,013 ,761 9 ,007

persenkurkuminterdisolusi_

60menit

(85)

67

a. Lilliefors Significance Correction

(86)

Correlations

drugload

persenkurkumin

terdisolusi_60m

enit

Spearman's rho drugload Correlation Coefficient 1,000 -,632

Sig. (2-tailed) . ,068

N 9 9

persenkurkuminterdisolusi_6

0menit

Correlation Coefficient -,632 1,000

Sig. (2-tailed) ,068 .

(87)

69

Model Summaryb

Model

R R Square

Adjusted R

Square

Std. Error of the

Estimate Durbin-Watson

1 ,658a ,433 ,352 ,48575 ,795

a. Predictors: (Constant), persenkurkuminterdisolusi_60menit

b. Dependent Variable: drugload

ANOVA

Model

b

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 1,260 1 1,260 5,338 ,054a

Residual 1,652 7 ,236

Total 2,911 8

a. Predictors: (Constant), persenkurkuminterdisolusi_60menit

(88)

Lampiran 8. Dokumentasi

Alat uji disolusi Spektrofotometer UV/Vis

(89)

71

BIOGRAFI PENULIS

Gambar

Gambar 1. Kurkumin
Gambar 1 Kurkumin . View in document p.23
Gambar 2. Hasil degradasi kurkumin dalam larutan (Wang, Pan, Chang, Hsieh, dan
Gambar 2 Hasil degradasi kurkumin dalam larutan Wang Pan Chang Hsieh dan . View in document p.24
Gambar 3. Kunyit (Curcuma domestica)   (Anonim b, 2010)
Gambar 3 Kunyit Curcuma domestica Anonim b 2010 . View in document p.25
Tabel I. HPMC E-15 (Alfakimia, 2010)
Tabel I HPMC E 15 Alfakimia 2010 . View in document p.27
Tabel II. Elemen-elemen data yang dibutuhkan untuk uji validasi(Rohman, 2009)
Tabel II Elemen elemen data yang dibutuhkan untuk uji validasi Rohman 2009 . View in document p.31
Tabel III. Proporsi drug load
Tabel III Proporsi drug load . View in document p.35
Tabel III. Proporsi drug load
Tabel III Proporsi drug load . View in document p.40
Tabel IV. Pengukuran kurva baku
Tabel IV Pengukuran kurva baku . View in document p.42
Gambar 5. Kurva baku
Gambar 5 Kurva baku . View in document p.42
Tabel VI. Nilai r
Tabel VI Nilai r . View in document p.44
Tabel V. Linearitas
Tabel V Linearitas . View in document p.44
Tabel IX. Nilai presisi dari recovery
Tabel IX Nilai presisi dari recovery. View in document p.45
Tabel VII. Nilai recovery (Anonim, 2004)
Tabel VII Nilai recovery Anonim 2004 . View in document p.45
Tabel VIII. Nilai presisi (Anonim, 2004)
Tabel VIII Nilai presisi Anonim 2004 . View in document p.45
Gambar 6. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 0,6%
Gambar 6 Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 0 6 . View in document p.48
Gambar 8. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 2%
Gambar 8 Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 2 . View in document p.49
Gambar 7. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 1%
Gambar 7 Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 1 . View in document p.49
Gambar 9. Persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada dispersi padat
Gambar 9 Persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada dispersi padat . View in document p.50
Tabel XI. Korelasi proporsi drug load dengan persen kurkumin terdisolusi pada waktu 60 menit
Tabel XI Korelasi proporsi drug load dengan persen kurkumin terdisolusi pada waktu 60 menit . View in document p.51
Gambar 10. Kurva persen proporsi drug load vs disolusi
Gambar 10 Kurva persen proporsi drug load vs disolusi . View in document p.52

Referensi

Memperbarui...

Download now (89 pages)