Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat spray dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15 - USD Repository

Gratis

0
0
89
3 months ago
Preview
Full text

  PENGARUH PROPORSI DRUG LOAD TERHADAP DISOLUSI DISPERSI PADAT SPRAY DRIED ISOLAT EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15 SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

  Program Studi Farmasi Oleh:

  Eka Permatasari NIM: 078114020

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2011

  

PENGARUH PROPORSI DRUG LOAD TERHADAP DISOLUSI DISPERSI

PADAT SPRAY DRIED ISOLAT EKSTRAK RIMPANG KUNYIT

(Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

  Program Studi Farmasi Oleh:

  Eka Permatasari NIM: 078114020

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2011

  

If you can't fly then run, if you can't run then

walk, if you can't walk then crawl, but

whatever you do you have to keep moving

forward

  Martin Luther King Jr.

  

Kasih ibu

adalah bahan bakar

yang memungkinkan

manusia bisa melakukan hal yang luar biasa

  

Merion C. Garretty

Karya ini kupersembahkan untuk Tuhan

  Mama, papa koko, phopho tercinta Sahabat, teman Almamaterku

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Eka Pematasari Nomor Mahasiswa : 07 8114 020

  Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: PENGARUH PROPORSI DRUG LOAD TERHADAP DISOLUSI DISPERSI PADAT SPRAY DRIED ISOLAT EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcuma

  domestica C-95 )-HPMC E-15

  beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya ataupun memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenamya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 21 Februari 2011 Yang menyatakan (Eka Permatasari)

  

PRAKATA

  Puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “

  Selama perkuliahan, penelitian, dan penyusunan skripsi, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak berupa bimbingan, sarana, dukungan, semangat, doa, kritik dan saran. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  Pengaruh Proporsi Drug Load Terhadap Disolusi Dispersi Padat Spray Dried Isolat Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma Domestica C-95)-Hpmc E-15”.

1. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Dewi Setyaningsih, M.Sc., Apt. selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah banyak memberikan waktu, bimbingan, nasehat, solusi, masukan, motivasi, ilmu, pengetahuan baru, semangat kepada penulis, dan menanggung biaya selama penulis melakukan penelitian.

  3. Lucia Wiwid Wijayanti, M.Si. selaku Dosen Pembimbing Pendamping yang telah banyak memberikan waktu, bimbingan, nasehat, solusi, masukan, motivasi, ilmu, pengetahuan baru, dan semangat kepada penulis.

  4. Rini Dwiastuti, M.Sc., Apt. selaku Dosen Penguji yang telah bersedia untuk meluangkan waktu guna menguji, memberikan bimbingan, masukan, kritik, saran kepada penulis.

  5. Dr. C.J. Soegihardjo, Apt. selaku Dosen Penguji yang telah bersedia untuk meluangkan waktu guna menguji, memberikan bimbingan, masukan, kritik, saran kepada penulis.

  6. Prof. Dr. Sudibyo Martono, M.S., Apt. Atas pemberian eksklusif kurkumin standar, bimbingan, dan bantuannya selama skripsi.

  7. PT Colorcon Asia PacificPvt.Ltd. Singapore atas pemberian bahan HPMC E- 15.

  8. Segenap dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan bimbingan selama kuliah dan penyusunan skripsi.

  9. Mas Bimo, Pak Mus, Mai Iswandi, Mas Agung, Mas Wagiran, Mas Kunto, Mas Parlan, Mas Sigit, Mas Ottok, Pak Parjiman, Mas Heru, Mas Yuono, Pak Timbul dan segenap satpam atas bantuannya dalam kemudahan dan kelancaran melakukan skripsi.

  10. Pak Bambang, Mas Sigit, Mas Faris, dan Mas Jink atas bantuan, kerja sama dan pengetahuan baru yang diberikan selama melakukan skripsi di Laboratorium Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi di Universitas Gadjah Mada.

  11. Mas Dwi, Pak Mukimin, dan Mas Narto atas bantuannya selama ini.

  12. Evina, Oki Christina, Reka Sudi, teman-teman satu bimbingan, dan teman seperjuangan saat di lab. Terima kasih atas dukungan, dan atas semangat dan kebersamaannya.

  13. Lia Natalia Setiomulyo, I Gusti Ngurah Agung Windra Wartana Putra, dan Benny Nugroho yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

  14. Segenap keluargaku di Jogja, yaitu teman-teman di kost. Terima kasih atas kebersamaan dan semangat yang kalian berikan.

  15. Teman-teman satu angakatan, angkatan 2007 baik minat FST maupun FKK, KKN XL kelompok 25 untuk kebersamaan dan semangatnya selama ini baik dalam suka maupun duka yang telah dilewati.

  16. Kepada segenap teman-temanku yang jauh disana, terimakasih atas dukungan dan semangat yang diberikan selama ini.

  17. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas semua bantuan yang telah diberikan kepada penulis.

  Penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan akan skripsi ini karena keterbatasan akan kemampuan dan pengetahuan penulis. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak yang membaca.

  Penulis

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ...…………………………………………………… i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING …………………………. ii HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………..... iii HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………………. iv LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA

  ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ………………………. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA …………………………………. vi PRAKATA ……………………………………………………………...... vii DAFTAR ISI ……………………………………………………………... x DAFTAR TABEL ………………………………………………………... xiii DAFTAR GAMBAR …………………………………………………….. xiv DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………... xv

  INTISARI ………………………………………………………………… xvi

  

ABSTRACT ……………………………………………………………….. xvii

BAB I. PENGANTAR …………………………………………………....

  1 A.

  1 Latar Belakang ……………………………………………...................

  1.

  3 Perumusan masalah ………………………………………………...

  2.

  3 Keaslian penelitian ………………………………………................

  3.

  3 Manfaat penelitian ……………………………………….................

  B.

  4 Tujuan Penelitian ……………………………………………...............

  BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA …………………………………..

  5

  A.

  5 Kurkumin ………………………………………………….……….....

  B.

  6 Serbuk kunyit………………………………………………….............

  C.

  7 Dispersi padat ........................................................................................

  1.

  7 Pengertian ……………………………………………......................

  2.

  8 Penggunaan ………………………………………….......................

  3.

  8 Mekanisme ........................................................................................

  D.

  8 HPMC ....................................................................................................

  E.

  10 Spray Drying ..........................................................................................

  F.

  10 Spektrofotometer UV/VIS .....................................................................

  G.

  11 Uji disolusi .............................................................................................

  H.

  12 Validasi metode .....................................................................................

  I.

  13 Landasan teori ........................................................................................ J.

  14 Hipotesis ................................................................................................

  BAB III. METODE PENELITIAN ………………………………………

  15 A.

  15 Jenis dan Rancangan Penelitian …………………………….................

  B.

  15 Variabel Penelitian ………………………………………….................

  C.

  15 Definisi Operasional …………………………………………..............

  D.

  16 Bahan Penelitian ……………………………………............................

  E.

  17 Alat Penelitian ………………………………………….......................

  F.

  17 Tata Cara Penelitian …………………………………………...............

  1.

  17 Pembuatan dispersi padat kurkumin ….............................................

  2.

  17 Pembuatan campuran fisik ................................................................

  3.

  18 Uji disolusi …………………………................................................

  4.

  18 Validasi metode…………….............................................................

  G.

  21 Analisis Hasil ……………………………………………….................

  BAB IV. PEMBAHASAN ………………………………………………..

  22 A.

  22 Pembuatan dispersi padat ………..........................................................

  B.

  23 Pembuatan campuran fisik …………….................................................

  C.

  23 Pembuatan larutan baku .........................................................................

  D.

  25 Penetapan panjang gelombang maksimum ............................................

  E.

  25 Validasi metode .....................................................................................

  F.

  29 Uji disolusi .............................................................................................

  BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………….

  35 A.

  35 Kesimpulan …………………………………………………................

  B.

  35 Saran ………………………………………………………….............. DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….

  36 LAMPIRAN ………………………………………………………………

  39 BIOGRAFI PENULIS ……………………………………………………

  71

  

DAFTAR TABEL

Tabel I. HPMC E-15 …………………………………………….....

  9 Tabel II. Elemen-elemen data yang dibutuhkan untuk uji validasi ....

  13 Tabel III. Proporsi drug load ……………...........................................

  Proporsi drug load ……………...........................................

  17

  22 Tabel IV. Pengukuran kurva baku ………............................................ 24 Tabel V. Linearitas... ........................................................................... 26 Tabel VI.

  Tabel VII. Tabel VIII.

  Nilai r ……………................................................................ Nilai recovery........................................................................ Nilai presisi ...........................................................................

  26

  27

  27 Tabel IX. Nilai presisi dari recovery ………........................................ 27 Tabel X.

  Tabel XI.

  Kurva baku ........................................................................... Korelasi proporsi drug load dengan persen kurkumin terdisolusi pada waktu 60 menit............................................

  28

  33

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kurkumin ………………………......……..........................

  5 Gambar 2. Hasil degradasi kurkumin dalam larutan ……....................

  6 Gambar 3. Kunyit (Curcuma domestica) ........……………………….

  7 Gambar 4. Struktur HPMC ………......…………………....................

  9 Gambar 5. Kurva baku …….................................................................

  24 Gambar 6. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 0,66%.............................................................................

  30 Gambar 7. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 1%..................................................................................

  31 Gambar 8. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 2%..................................................................................

  31 Gambar 9. Persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada dispersi padat...

  32 Gambar 10. Kurva proporsi drug load vs disolusi ...................................

  34

  DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1. Certificate of Analysis isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95) …………….....………….......

  39 Lampiran 2. Pernytaan jaminan keaslian bahan kurkumin standar hasil sintesis.................................................................................

  40 Lampiran 3. Scan λ maksimum............................................................... 41 Lampiran 4. Kurva baku dan validasi.....................................................

  45 Lampiran 5. Perhitungan penimbangan dispersi padat dan campuran fisik …................................................................................

  48 Lampiran 6. Hasil pengukuran kadar dispersi padat dan campuran fisik

  54 Lampiran 7. Data Normalitas, Uji Komparatif, SPSS, Spearman...........

  62 Lampiran 8. Dokumentasi........................................................................ 70

  

INTISARI

  Kurkumin merupakan senyawa turunan fenolik dari hasil isolasi rimpang tanaman kunyit (Curcuma domestica Rhizome) yang memiliki efek farmakologi sebagai antiinflamasi dan antioksidan, anti inflamasi, anti bakteri, dan antikanker. Selain itu, kurkumin memiliki kelarutan yang rendah pada air, pH asam atau pH netral karena nilai log P kurkumin yang kecil yaitu 2,56 dan mudah terdegradasi pada pH alkali saat penggunaan farmasetik. Sehingga hal ini berpengaruh terhadap bioavailabilitas dari kurkumin.

  Penelitian ini berisi bagaimana drug load berpengaruh dalam meningkatkan disolusi kurkumin yang dibuat menjadi bentuk dispersi padat. Pembuatan dispersi padatan amorphous dapat meningkatkan laju disolusi obat yang kelarutannya rendah. Penambahan pembawa (HPMC E-15) dengan drug

  

load yang semakin kecil dalam pembuatan dispersi padat menggunakan teknik

spray driying dapat meningkatkan kelarutan dari kurkumin yang dilihat dari

  meningkatnya disolusi dari kurkumin.

  Setelah dibandingkan dengan campuran fisik, terjadi peningkatan yang tidak signifikan disolusi kurkumin dari dispersi padat. Secara statistik tidak ada korelasi yang bermakna antara peningkatan drug load dengan disolusi kurkumin dengan nilai sig >0,05.

  

Kata Kunci : isolat ekstrak kunyit, dispersi padat, spray dried, HPMC E-15, drug

load , spektrofotometer VIS

  

ABSTRACT

  Curcumin is a derivate of phenolic that isolated from rhizomes of turmeric (Curcuma domestica Rhizome), which has pharmacology effect as an anti-inflamatory, anti-bacterial, anti-cancer. Curcumin has low solubility in water, acidic pH or neutral pH because log P value of curcumin that small is 2,56 and easily degraded at alkali pH when pharmaceutical use. So this effect on the bioavailability of curcumin.

  This study includes how the drug load can increase the dissolution of curcumin that was made into the solid disperse. Preparation of amorphous solid disperse can increase dissolutioun rate of low solubility drug. Addition of carrier (HPMC E-15) with the smallers drug load use the spray drying technique can increase solubility of curcumin that can see from increase the dissolution of curcumin.

  After compared with physical mixture, occur increase not significant of dissolution the solid disperse. Statistically, there is a no correlation between drug load increase with dissolution of curcumin with sig value >0,05.

  

Keyword : isolate turmeric extract, solid disperse, spray dried, HPMC E-15, drug

  load, VIS spectrophotometer

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Kurkumin merupakan senyawa turunan fenolik dari hasil isolasi rimpang

  tanaman kunyit (Curcuma domestica Rhizome ) yang mengandung desmetoksikurkumin, kurkumin (sebanyak 60% (Parinussa dan Timotius, 2010)) dan bisdesmetoksikurkumin, yang ketiganya sering disebut sebagai kurkuminoid. Rimpang tanaman kunyit sering digunakan untuk antikoagulan, antiedemik, menurunkan tekanan darah, obat malaria, obat cacing, obat sakit perut, memperbanyak ASI, stimulan, mengobati keseleo, memar dan rematik. Kurkumin juga dapat berfungsi sebagai antiinflamasi, antioksidan, anti bakteri, dan antikanker (Kaewnopparat, dkk., 2009).

  Tetapi kurkumin praktis tidak larut dalam air pada kondisi pH asam maupun netral. Kurkumin tidak terabsorbsi sempurna dengan bioavailabilitas oral sekitar 60% (Kaewnopparat, dkk., 2009). Kurkumin memiliki kelarutan yang rendah pada air pada pH asam atau pH netral karena kurkumin memiliki nilai log P yang kecil yaitu 2,56. Sehingga hal ini menurunkan bioavailabilitas dari kurkumin.

  Cara untuk meningkatkan kelarutan kurkumin antara lain dengan membuat dispersi padatan, pembentukan garam, pelarutan, nanopartikel, dan penguapan pelarut. Metode yang dipilih dalam penelitian kali ini adalah pembuatan dispersi padatan.

  Metode pembuatan dispersi padat paling sering dilakukan untuk meningkatkan kelarutan dan kecepatan disolusi (Malviya, dkk., 2010). Selain itu metode ini dapat mendispersikan satu atau banyak bagian zat aktif pada pembawa atau matriks yang inert, yang disiapkan dengan cara dilarutkan (Rajarajan, Baby, Ramesh, dan Singh, 2009). Beberapa macam metode dalam pembuatan dispersi padat antara lain dengan vacuum drying, spray drying, fusion method, liofilisasi, dan super critical fluid technology (Sharma dan Joshi, 2007).

  Pembuatan dispersi padatan dilakukan dengan cara menambahkan bahan pembawa dan serbuk kunyit yang sesuai dengan proporsi drug load. Drug load yang semakin meningkat dengan penambahan pembawa polisakarida akan menyebabkan laju disolusi berjalan lambat. Adanya fenomena ini menandakan kristalisasi dari obat yang tidak terkontrol terjadi karena adanya supersaturasi. Pembuatan dispersi padatan amorphous dapat meningkatkan laju disolusi obat yang kelarutannya rendah (Srinarong, Kouwen, Visser, Hinirichs, dan Frijilink, 2009).

  Bahan pembawa yang digunakan adalah Hydroxypropylmethylcellulose (HPMC) E-15 yang merupakan polimer semisintetik yang bersifat inert dan biasa digunakan sebagai agen penggranul (Greatvista, 2010). HPMC merupakan polisakarida berantai panjang (19%-30% gugus metoksi (-OCH

  3 ) dan 3%-12%

  gugus hidroksipropil (-OCH CHOHCH )) yang dapat membantu meningkatkan

  2

  

3

kelarutan dalam air.

  1. Perumusan masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang muncul dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana pengaruh proporsi drug load pembawa terhadap disolusi dari kurkumin dengan pembentukan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15?

  2. Keaslian penelitian

  Sejauh pengetahuan penulis belum ada penelitian mengenai uji disolusi dan pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma

  

domestica C-95 )-HPMC E-15 menggunakan metode spray drying dengan

  pengaruh proporsi drug load. Penelitian mengenai HPMC E-15 yang sudah pernah ada adalah Study of Drug Release from Pellets Coated with Surelease

  Containing Hydroxypropylmethylcellulose (Sadeghi, Ford, Rubinstein, Rajabi, 2001).

  3. Manfaat penelitian a. Manfaat teoritis.

  b.

  Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi mengenai cara peningkatan disolusi kurkumin dengan pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C- 95 )-HPMC E-15.

  Manfaat metodologis.

  c.

  Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi mengenai metode yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu obat. Manfaat praktis. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif formulasi obat-obat lipofilik.

  B.

  

Tujuan Penelitian

  Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi kurkumin setelah pembentukan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95 )-HPMC E-15.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Kurkumin Kurkumin (1,7-bis-(4-hydroxy-3-methoxyphenyl)-1,6-heptadiene-3,5-

  

dione ) adalah senyawa turunan fenolik dari hasil isolasi rimpang tanaman kunyit

  (Curcuma domestica Rhizome ). Senyawa tersebut memiliki 2 gugus vinilguaiacol (karbonil tak jenuh) yang saling dihubungkan dengan rantai alfa beta diketon (Prasetyo, 2010). Senyawa tersebut memiliki efek farmakologi sebagai anti inflamasi, anti bakteri, dan antikanker. (Kaewnopparat, dkk., 2009).

  Kurkumin praktis tidak larut dalam air pada kondisi pH asam maupun netral. Kurkumin tidak terabsorbsi sempurna, dengan bioavailabilitas oral sekitar 60% (Kaewnopparat, dkk., 2009).

  O O HO OH H CO 3 OCH 3 Log P: 2,56

  Gambar 1. Kurkumin (Anonim a, 2010).

  Kurkumin memiliki stabilitas yang baik pada pH asam, sedangkan pada pH basa, kurkumin mudah mengalami dekomposisi atau degradasi (Tonnesen dan Karlsen , 1985).

  

Gambar 2. Hasil degradasi kurkumin dalam larutan (Wang, Pan, Chang, Hsieh, dan

  Lin, 1997) B.

   Serbuk kunyit

  Rimpang kunyit (Curcuma domestica Rhizome) berbentuk bulat panjang dan bercabang-cabang, tumbuh dengan baik di tanah yang tata pengairannya baik, kulitnya kuning muda dan berdaging kuning (Riwan, 2008).

  Rimpang kunyit mengandung bahan-bahan seperti minyak atsiri,

  

zingiberence, turmeron, camphor, curcumene , dan zat pewarna yang mengandung

  alkaloid kurkumin. Kurkumin adalah zat warna kuning yang dikandung oleh kunyit, memiliki aktifitas biologis berspektrum luas (Riwan, 2008).

  Kurkumin dapat berfungsi sebagai antiinflamasi dan antioksidan (Masuda et al., 1993). Menurut Supriadi, kurkumin juga berkhasiat mematikan kuman dan menghilangkan rasa kembung karena dinding empedu dirangsang lebih giat untuk mengeluarkan cairan pemecah lemak. Minyak atsiri pada kunyit dapat bermanfaat untuk mengurangi gerakan usus yang kuat sehingga mampu mengobati diare. Selain itu, juga bisa digunakan untuk meredakan batuk dan antikejang.

  Kurkumin praktis tidak larut dalam air pada kondisi pH asam maupun netral. Kurkumin tidak terabsorbsi sempurna, dengan bioavailabilitas oral sekitar 60% (Kaewnopparat, dkk., 2009).

  Gambar 3. Kunyit (Curcuma domestica)

  (Anonim b, 2010)

C. Dispersi Padat

1. Pengertian

  Metode dispersi padat ini mendispersikan satu atau banyak bagian zat aktif pada pembawa atau matriks yang inert, yang disiapkan dengan cara dilarutkan (Rajarajan dkk., 2009).

  2. Penggunaan dispersi padat

  Dispersi padat sering digunakan untuk meningkatkan laju disolusi dari obat dengan kelarutan yang rendah (Srinarong, dkk., 2009).

  3. Mekanisme

  Mekanisme dari dispersi padat :

  a. Meningkatkan kebasaan obat melalui kontak langsung obat dengan matriks hidrofilik b. Konsentrasi jenuh pada partikel kecil lebih besar dibandingkan pada partikel besar c. Meningkatkan luas permukaan

  d. Obat memiliki energi yang tinggi pada tingkat amorphous dibandingkan tingkat kristalin, pada konsentrasi jenuh (Waard, Hinrichs, Visser, Bologna, dan Frijlink, 2008).

D. HPMC E-15

  Hydroxypropylmethylcellulose (HPMC) merupakan polimer semisintetik

  yang bersifat inert dan biasa digunakan sebagai agen penggranul dan bahan tambahan untuk obat controlled release (Ishikawa, Watanabe, Takayama, Endo, dan Matsumoto, 2000). HPMC terdiri dari 19%-30% gugus metoksi (-OCH

  3 ) dan 3%-12% gugus hidroksipropil (-OCH CHOHCH ).

  2

  3 Memiliki ciri-ciri : 1. Penampilan: serbuk putih.

  2. Ukuran Partikel: di atas 98,5% efisiensi partikel melewati ukuran mesh 100 dan 100% di 80 mesh

  2 Apparent viscosity (2%, w/w in water) 12 - 18 cps 14.10 cps

  8 Hydroxypropoxy (Percent) About 8.2% 8.3%

  7 Methoxy (Percent) About 23.7% 23.8%

  6 Heavy metals <0.001% <0.001%

  5 Arsenic <3.0 ppm <3.0 ppm

  4 Residue on ignition <1.0% 0.80%

  3 Loss on drying <10% 2.60%

  1 Description White powder White powder

  3.

  Tests Specifications Results

  Sr no.

  Tabel I. HPMC E-15 (Alfakimia, 2010) adhesi (Greatvista, 2010).

  HPMC memiliki karakteristik lainnya seperti stabilitas pH, retensi air, membentuk properti film yang sangat baik dan menyebarkan yang baik dan kekuasaan

  5. pH.

  280-300. Larut dalam air dan beberapa pelarut organik. Kelarutan bervariasi dengan viskositas, semakin rendah viskositas memiliki kelarutan yang tinggi. HPMC yang berbeda berbeda dalam beberapa sifat dan kelarutan dalam air tidak dipengaruhi oleh

  . Suhu karbonisasi: 4.

  Gambar 4. Struktur HPMC (Anonim c, 2010)

  E.

  

Spray Drying

  Metode pengeringan spray drying merupakan metode pengeringan yang paling banyak digunakan dalam industri terutama industri makanan. Metode ini mampu menghasilkan produk dalam bentuk bubuk atau serbuk dari bahan-bahan seperti susu dan buah buahan (Rohman, 2008).

F. Spektrofotometri UV-VIS

  Spektrofotometri UV/VIS adalah alat yang mempunyai dua sumber cahaya (sinar ultra ungu dan sinar tampak). Masing-masing sumber cahaya dipergunakan untuk penentuan kandungan aromatik dan senyawa anionik dalam sampel (Lemigas, 2010).

  Untuk sampel yang berupa larutan perlu diperhatikan beberapa persyaratan pelarut yang dipakai, yaitu : 1) Pelarut tidak mengandung sistem ikatan rangkap terkonjugasi pada struktur molekulnya dan tidak berwarna 2) Tidak terjadi interaksi dengan molekul senyawa yang dianalisis, dan 3) Kemurnian atau derajat analisis harus tinggi (Mulja, 1995).

  Pada umunya, pelarut yang sering dipakai adalah air, etanol, sikloheksan, dan isopropanol. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam masalah pemilihan pelarut adalah polaritas pelarut yang dipakai, karena akan berpengaruh terhadap pergeseran spektrum molekul yang dianalisis (Mulja, 1995).

  Pergeseran serapan ke arah panjang gelombang yang lebih pendek disebabkan substitusi atau pengaruh pelarut, yaitu pergeseran hipsokromik disertai efek hipokromik (penurunan intensitas serapan) (Sastroamidjoyo, 1991).

G. Uji Disolusi

  Disolusi didefinisikan sebagai suatu proses melarutnya zat kimia atau senyawa obat dari sediaan padat ke dalam suatu medium tertentu.

  Banyak cara untuk mengukur hasil kecepatan pelarutan suatu zat atau sediaan, antara lain dengan metode sebagai berikut:

  1. Metode Wagner Metode ini dapat menghitung tetapan kecepatan pelarutan (k) dengan berdasarkan pada asumsi bahwa kondisi percobaan dalam keadaan sink, proses pelarutan mengikuti orde satu, luas permukaan spesifik turun secara eksponensial terhadap waktu.

  2. Metode klasik Metode ini menunjukkan jumlah zat aktif yang terlarut pada waktu t, yang kemudian dikenal dengan T20, T50, T90 dan sebagainya. Metode ini hanya menyebutkan satu titik saja, sehingga proses yang terjadi di luar (sebelum dan sesudah) titik tersebut tidak diketahui. Titik tersebut menyatakan jumlah zat aktif yang terlarut pada waktu tertentu (Hadi, 2007). Misalnya bisa dilihat nilai T80, dimana itu menunjukkan waktu yang diperlukan untuk melarutkan80% zat aktif (Waard, Hinrichs, Visser, Bologna, dan Frijlink, 2008).

  3. Jumlah zat aktif yang melarut pada waktu tertentu, misalnya C30 adalah dalam waktu 30 menit zat aktif yang melarut sebanyak x mg atau x mg/ml (Shargel dan Yu, 1999)

H. Validasi Metode Analisis

  Validasi metode menurut USP dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis bersifat akurat, spesifik, reprodusibel, dan tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis. Secara singkat, validasi merupakan aksi konfirmasi bahwa metode analisis yang akan digunakan sesuai dengan tujuan yang diinginkan (Rohman, 2009).

  Kategori yang terdapat dalam USP dan ICH :

  1. Kategori I Metode untuk kuantifikasi komponen mayor dalam produk ruahan API, termasuk senyawa-senyawa pengawet dalam produk akhir obat, diklasifikasikan dalam kategori I. Metode uji dan keseragaman kandungan masuk dalam kategori ini.

  Analisis sekelumit ini tidak diisyaratkan pada uji keseragaman kandungan ini, karenanya penentuan LOD dan LOQ dalam uji ini tidaklah penting (Rohman, 2009).

  2. Kategori II Metode kategori II ditujukan untuk menentukan pengotor/ pengganggu

  (impurities) dalam ruahan obat (bulk), produk-produk degradasi dalam produk akhir obat atau dalam proses pembersihan (cleanng process). Metode ini lebih lanjut dibagi menjadi 2 yaitu ke dalam uji kuantitatif dan uji batas (limit test) (Rohman, 2009).

  3. Kategori III Metode-metode yang digunakan untuk menentukan karakteristik kinerja produk akhir jatuh pada kategori III. Uji disolusi (tidak termasuk pengukurannya) dan uji-uji pelepasan obat merupakan contoh metode yang masuk kategori ini (Rohman, 2009).

  Tabel II. Elemen-elemen data yang dibutuhkan untuk uji validasi(Rohman, 2009)

  Parameter Pengujian Pengujian kategori II Uji kategori Kinerja kategori I

  III

  Kuantitatif Uji Batas

  Analisis

  • Akurasi Ya Ya

  Presisi Ya Ya Tidak Ya

  • Spesifisitas Ya Ya Ya

  LOD Tidak * Tidak Ya

  • LOQ Tidak Ya Tidak * Linieritas Ya Ya Tidak

  Kisaran Ya Ya * * (range) Ruggedness Ya ya Ya Ya

  • *mungkin dibutuhkan, tergantung pada uji spesifiknya I.

   Landasan Teori

  Kurkumin merupakan senyawa turunan fenolik yang didapat dari hasil isolasi rimpang tanaman kunyit (Curcuma domestica Rhizome). Kurkumin bermanfaat sebagai obat anti inflamasi, anti bakteri, dan antikanker. Kurkumin dibuat menjadi bentuk dispersi padat dengan mendispersikan bagian serbuk kunyit yang ditambahkan dengan pembawa yaitu HPMC E-15 untuk mempengaruhi laju

  Hydroxypropylmethylcellulose (HPMC) merupakan polimer semisintetik

  yang bersifat inert yang biasa digunakan sebagai agen penggranul. Alat yang digunakan untuk membuat dispersi padat dalam penelitian ini adalah spray drier yang memiliki prinsip kerja, yaitu mengubah bahan yang ingin dikeringkan ke dalam bentuk butiran-butiran air dengan cara diuapkan menggunakan atomizer.

  Air dari bahan kemudian di kontakan dengan udara panas yang menyebabkan air dalam bentuk tetesan-tetesan mengering dan berubah menjadi serbuk. Kemudian terjadi proses pemisahan antara uap panas dengan serbuk dilakukan dengan

  

cyclone atau penyaring. Setelah di pisahkan, serbuk kemudian diturunkan suhunya

sesuai dengan kebutuhan produksi.

  Setelah itu dilakukan uji disolusi menggunakan alat uji disolusi. Metode uji disolusi yang dilakukan adalah dengan metode klasik. Metode ini mengukur jumlah zat aktif yang terlarut hanya pada waktu tertentu.

  Spektrofotometer UV/VIS merupakan alat yang memiliki dua sumber cahaya. Dengan pengukuran menggunakan spektrofotometer visibel, dapat dilakukan pengukuran kecepatan disolusi kurkumin.

  J.

  

Hipotesis

  Dengan adanya pengaruh proporsi drug load pembawa dalam pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-HPMC E- 15 dapat meningkatkan disolusi kurkumin.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental dengan

  melakukan percobaan dan tidak ada manipulasi. Peneliti melakukan penambahan pembawa dalam pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15 guna mempengaruhi disolusinya.

B. Variabel 1.

   Variabel bebas

  Proporsi drug load yang digunakan 2.

   Variabel tergantung

  Persen kurkumin yang terdisolusi

3. Variabel pengacau

  a. Variabel pengacau terkendali. Intensitas cahaya selama penyimpanan

  b. Variabel pengacau tak terkendali. Suhu dan kelembaban ruangan

C. Definisi Operasional 1.

   Dispersi padat adalah mendispersikan satu atau banyak bagian zat aktif pada pembawa atau matriks yang inert, yang disiapkan dengan cara dilarutkan.

2. Spray dried adalah alat yang digunakan untuk mengeringkan dengan cara

  bahan yang ingin dikeringkan, diubah ke dalam bentuk butiran-butiran air dengan cara diuapkan menggunakan atomizer. Air dari bahan yang telah berbentuk tetesan-tetesan tersebut kemudian di kontakan dengan udara panas.

  Peristiwa pengontakkan ini menyebabkan air dalam bentuk tetesan-tetesan tersebut mengering dan berubah menjadi serbuk. Selanjutnya proses pemisahan antara uap panas dengan serbuk dilakukan dengan cyclone atau penyaring. Setelah di pisahkan, serbuk kemudian kembali diturunkan suhunya sesuai dengan kebutuhan produksi.

  3. Disolusi didefinisikan sebagai suatu proses melarutnya zat kimia atau senyawa obat dari sediaan padat ke dalam suatu medium tertentu.

  4. Spektrofotometer UV-VIS adalah alat yang mempunyai dua sumber cahaya (sinar ultra ungu dan sinar tampak). Masing-masing sumber cahaya dipergunakan untuk penentuan kandungan aromatik dan senyawa anionik dalam sampel.

D. Bahan – bahan Penelitian

  Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kurkumin standar (pemberian ekslusif dari Prof. Dr. Sudibyo Martono, M.S., Apt.), serbuk ekstrak rimpang kunyit (dari PT Phytochemindo Reksa), HPMC E-15 (dari PT Colorcon Asia PacificPvt.Ltd. Singapore), kapsul cangkang keras gelatin No.00 (PT Brataco Chemica), metanol p.a. (E. Merck), etanol 70%, asam klorida pekat dan aquades (PT Brataco-Yogyakarta).

  E.

  

Alat – alat Penelitian

  Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas (Pyrex- Germany), timbangan analitik (OHAUS carat series), micropipete (Socorex, Propette), desikator, mortir, stamper, Spray dried (LabPlant-London), Spektrofotometer UV-VIS merk Perkin Elmer, alat uji disolusi (Sotax), magnetic stirer (Labinco BV-Netherlands), ph indikator universal (Merc).

  F.

  

Tata cara Penelitian

1. Pembuatan dispersi padat ekstrak rimpang kunyit

  Dispersi padat ekstrak rimpang kunyit : HPMC E-15 dan ekstrak rimpang kunyit ditambahkan sesuai dengan persen drug load 2%, 1%, 0.66% dibuat dengan metode spray drying. Serbuk ekstrak rimpang kunyit sebanyak 350,8772 mg dilarutkan dalam 250 ml etanol 70% lalu ditambahkan larutan HPMC E-15 sesuai dengan dengan persen drug load 2%, 1%, 0,66% . Pelarut dihilangkan dengan teknik Spray drying dengan operating parameter sebagai berikut: suhu

  o o

  inlet, 110 C; suhu exhaust 68 C; feed rate 4 ml/ min; tekanan udara atomisasi 2

  2 kg/cm dan aspirasi -280 mmWC.

  Tabel III. Proporsi drug load

  

HPMC E-15-pembawa dispersi padatan

HPMC E-15 (g) Kurkumin(mg) Drug load (%mg/ml)

  2

  

40

  2

  4

  

40

  1

  6

  

40

  0.66

  2. Pembuatan campuran fisik

  Campuran fisik dibuat dengan mencampurkan serbuk ekstrak rimpang kunyit dan HPMC E-15, yang masing-masing telah diayak sebelumnya dengan ayakan no. mesh 60. Jumlah serbuk ekstrak kunyit dan HPMC E-15 yang dicampurkan dihitung berdasarkan jumlah dispersi padat yang diperoleh tiap replikasinya. Pencampuran kedua serbuk dilakukan dengan mortir dan stamper sehingga homogen.

  3. Uji disolusi

  Disolusi dispersi padat dan campuran fisik diukur menggunakan peralatan disolusi. Media disolusi terdiri dari 900 ml cairan lambung buatan tanpa pepsin pH lebih kurang 1,2. Paddle akan berputar dengan kecepatan 50±1 rpm dan pada suhu 37±0,5°C. Setiap 5, 10, 20, 30, 45, 60, 90, 120, 150, dan 180 menit, cuplikan sebanyak 5 ml diambil dan disaring, medium disolusi diganti dengan 5 ml medium disolusi yang baru setelah pengambilan sampel. Kurkumin dalam cuplikan diukur dengan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang maksimum. Konsentrasi kurkumin dihitung dan dinyatakan sebagai persentase kurkumin terlarut.

  4. Validasi metode

  a. Larutan stok kurkumin Sebanyak 10,0 mg serbuk kurkumin ditimbang lebih kurang seksama, masukkan ke dalam labu ukur 25,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Simpan dalam wadah terlindung cahaya b. Larutan intermediet Larutan stok kurkumin diambil sebanyak 1,0 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Larutan intermediet dibuat sebanyak 3 kali.

  c.

  )

  maks

  Penentuan panjang gelombang maksimum (λ Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4; 0,8; 1,2 ml dan masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Pengukuran panjang gelombang maksimum dilakukan pada λ 300-600 nm, sebanyak 3 kali. Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali. Panjang gelombang dicari yang memberikan serapan maksimum dan memberikan profil kurva yang mirip.

  d. Pembuatan kurva baku Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,6 ml; 0,8 ml; 1,0 ml dan

  1,2 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Kelima larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum. Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dihitung dengan regresi linier sehingga diperoleh persamaan kurva baku kurkumin.

  e. Penetapan parameter akurasi (recovery) Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,8 ml; dan 1,2 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Ketiga larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum. Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali.

  Cara perhitungannya adalah sebagai berikut.

  kadar terukur

  % recovery = x 100%

  kadar terhitung f. Penetapan parameter presisi (koefisien variasi) Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,8 ml; dan 1,2 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Ketiga larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum. Replikasi dilakukan sebanyak tiga kali. Serapan yang diperoleh dimasukkan ke dalam persamaan kurva baku untuk mengetahui kadar terukur, kemudian hitung standar deviasi. Data yang diperoleh dimasukkan ke dalam rumus berikut.

  SD

  KV = x 100%

  x �

  Keterangan : SD = standar deviasi x = kadar rata-rata � KV = koefisien variasi

  g. Penetapan parameter linearitas Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,6 ml; 0,8 ml; 1,0 ml dan

  1,2 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Kelima larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum. Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali. Hitung nilai linearitas serapan dan konsentrasi baku kurkumin dengan menggunakan regresi linier. Persyaratan data linearitas yang dapat diterima jika memenuhi nilai koefisien korelasi r > 0,99 (Rohman, 2009).

  G.

  

Analisis Hasil

  1. Analisis validasi metode Validasi metode yang digunakan berdasarkan parameter berikut.

  a. Akurasi Akurasi metode analisis dinyatakan sebagai recovery dan dihitung dengan rumus berikut.

  kadar terukur

  % recovery = x 100%

  kadar terhitung Recovery untuk analit sampel 0.0001 % adalah 80% - 110% (Harmita).

  b. Presisi Presisi dinyatakan dengan koefisien variasi, dengan rumus:

  CV = x 100%

  ̅

  Metode ini dikatakan baik bila nilai CV yang diperoleh < 2,5%. Semakin kecil nilai CV, presisi metode yang digunakan semakin baik.

  c. Linearitas Parameter linearitas dilihat dari nilai koefisien korelasi (r) hasil pengukuran larutan seri baku kurkumin. Metode dikatakan memiliki linearitas yang baik bila r > 0,99.

  2. Analisis statistik penetapan kadar kurkumin terlarut Data uji disolusi kurkumin dibuat dalam bentuk kurva hubungan antara jumlah persentase pelepasan kurkumin terhadap waktu. Kemudian dilihat korelasinya menggunakan koefisien korelasi Spearman dan regresi linier dengan taraf kepercayaan 95%.

  

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pembuatan Dispersi Padat

Dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)- HPMC E-15 dibuat dengan mencampurkan ekstrak rimpang kunyit dengan sejumlah HPMC E-15 sesuai dengan proporsi drug load yang tertera dalam tabel. Tabel III. Proporsi drug load HPMC E-15-pembawa dispersi padatan HPMC E-15 (g) Kurkumin(mg) Drug load (%mg/ml)

  2

  40

  2

  4

  40

  1

  6

  40

  0.66 Serbuk ekstrak rimpang kunyit sebanyak 350,8772 mg dilarutkan dalam

  250 ml etanol 70% dan HPMC E-15 sebanyak 2g, 4g, dan 6g (sesuai tabel di atas) dilarutkan dalam 100 ml etanol 70%. Setelah masing-masing dilarutkan, kedua larutan dicampur dan di homogenkan. Setelah itu campuran larutan tersebut dibuat menjadi dispersi padatan menggunakan teknik spray drying.

  Serbuk isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95) yang digunakan dalam penelitian ini adalah serbuk ektrak rimpang kunyit yang berasal dari PT Phytochemindo Reksa memiliki kandungan kurkuminoid sebanyak 97.20% yang tercantum dalam Certificate of Analysis.

  Setelah dispersi padatan dihasilkan, dispersi padatan tersebut dibungkus dengan aluminium foil dan disimpan dalam desikator selama 24 jam kemudian dimasukkan ke dalam kapsul cangkang 00 dan disimpan lagi ke dalam desikator selama 24 jam sebelum di uji disolusi.

B. Pembuatan Campuran Fisik

  Campuran fisik dibuat dari hasil perhitungan hasil dispersi padat yang dimasukkan ke dalam kapsul dibandingkan dengan jumlah dispersi padat yang dihasilkan kemudian jumlah pembawa dan serbuk kunyit yang didapat, ditimbang dan dicampur homogen. Kemudian diberikan perlakuan yang sama seperti perlakuan pada dispersi padatan sebelum akhirnya dimasukkan ke kapsul dan di uji disolusi.

  Jumlah pembawa dan serbuk ekstrak rimpang kunyit yang dicampurkan didapat dengan menghitung terlebih dahulu jumlah kurkumin yang ada dalam dispersi padat. Kemudian dihitung berapa jumlah kurkumin yang diambil, baru setelah itu dapat diketahui berapa serbuk kunyit dan pembawa yang ditimbang.

  C.

  

Pembuatan Larutan Baku

  Larutan baku kurkumin didapat dengan membuat larutan seri baku

  • 3 -3 -3 -3 -3

  kurkumin, yaitu 1,584. 10 , 2,376. 10 , 3,168. 10 , 3,960. 10 , dan 4,752. 10 mg/ml. Pemilihan seri kurva baku ini adalah agar absorbansi yang dihasilkan dari seri kurva baku ini berada di antara rentang 0,2 sampai 0,8, dimana bila absorbansi berada di antara rentang ini, kurva baku diharapkan dapat menunjukkan validitasnya.

  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • -3

  • 3

  0,705 mg/ml 4,752. 10

  0,461 mg/ml 3,168. 10

  0,425 mg/ml 3,168. 10

  0,427 mg/ml 3,960. 10

  0,598 mg/ml 3,960. 10

  0,589 mg/ml 3,960. 10

  0,560 mg/ml 4,752. 10

  0,685 mg/ml 4,752. 10

  0,382 mg/ml 2,376. 10

  0,697 mg/ml A = - 0,017 B = 152,3990 r= 0,9981 y= Bx + a = 152,3990 x – 0,017

  A = - 9,6 .10 B = 147,3485

  r = 0,9878 y= Bx + a = 147,3485 x – 9,6.10

  A = - 0,04

  B = 152,3990 r = 0,9966 y = Bx + a = 152,3990 x – 0,04

  Kemudian dipilih kurva baku yang memiliki nilai r > 0,99 untuk uji disolusi (Rohman, 2009). Akhirnya dipilih seri larutan baku repetisi I dengan persamaan kurva baku y = 152,3990 x – 0,017 dan nilai r = 0,9981.

  0,333 mg/ml 3,168. 10

  0,329 mg/ml 2,376. 10

  y = 152,3990x - 0,017 r = 0,9981

  III Konsentrasi (mg/ml)

  0.2

  0.4

  0.6

  0.8 0.001 0.002 0.003 0.004 0.005 a b so rb a n si kadar (mg/ml) kurva baku

  Hasil pengukuran untuk seri larutan baku dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel IV. Pengukuran kurva baku

  I II

  Absorbansi (A)

  0,207 mg/ml 2,376. 10

  Konsentrasi (mg/ml)

  Absorbansi (A)

  Konsentrasi (mg/ml)

  Absorbansi (A)

  1,584. 10

  0,236 mg/ml 1,584. 10

  0,205 mg/ml 1,584. 10

  

Gambar 5. Kurva baku

  D.

  

Penetapan Panjang Gelombang Kurkumin

  Penetapan panjang gelombang maksimum dilakukan agar dapat diketahui pada panjang gelombang berapa kurkumin memberikan serapan maksimum, sehingga dapat menunjukkan senstifitas yang baik dan memberikan hasil yang baik saat dilakukan pengukuran ulang menggunakan panjang gelombang tersebut.

  Penetapan panjang gelombang maksimum dilakukan dengan mengukur

  • 3 -3 -3

  larutan seri baku kurkumin 1,584. 10 , 3,168. 10 , dan 4,752. 10 mg/ml sebanyak 3 kali. Kemudian dilihat pada panjang gelombang berapa absorbansi maksimum paling banyak dimunculkan, maka panjang gelombang tersebut yang dijadikan sebagai panjang gelombang maksimum dari kurkumin dan digunakan untuk pengukuran berikutnya.dan dari hasil pengukuran didapat panjang gelombang maksimum kurkumin yaitu 421,6 nm. Selain itu, juga dipilih λ 421 nm, karena menurut Kaewnopparat (2009), kurkumin terdeteminasi pad a λ 4 21 nm untuk simulasi di dalam cairan lambung buatan tanpa pepsin.

  E.

  

Validasi Metode

  Validasi metode dilakukan dengan melakukan pengukuran beberapa parameter validasi yang diperlukan, antara lain :

  1. Linearitas Linearitas dilakukan dengan mengukur larutan seri baku kurkumin lima

  • 3 -3 -3 -3 konsentrasi, yaitu 1,584. 10 , 2,376. 10 , 3,168. 10 , 3,960. 10 , dan 4,752.
  • 3

  10 mg/ml sebanyak 3 kali. Kemudian di hitung nilai r dengan memasukkan nilai absorbansi vs kadar seri baku. Lalu dipilih nilai r yang paling baik yang digunakan untuk kurva baku.

  Tabel V. Linearitas

  

Kadar (mg/ml) Absorbansi (A)

  • -3

  1,58 x 10 0,236

  • -3

  0,329

  2,376 x 10 -3 3,138 x 10 0,461

  • -3

  3,96 x 10 0,598

  • -3

  4,752 x 10 0,705

  Dari kurva baku di atas, didapat nilai A = -0,017 ; B = 152,3990 dan r = 0,9981 dan persamaan kurva baku y= 152,3990 x – 0,017. Nilai r terhitung baik karena menurut Rohman (2009), untuk uji disolusi r > 0,99.

  Tabel VI. Nilai r (Rohman, 2009)

  uji Level* Kisaran** Kriteria keberterimaan

  5 50% - 150% r > 0,999; intersep -y > 2,0%

  pengujian disolusi 5-8 10% - 150% r > 0,99; intersep -y > 5,0% pengotor

  5 LOQ – 2% r > 0,98

  2. Akurasi

  • 3 -3

  Akurasi dibuat dengan mengukur larutan seri baku 1,584.10 , 3,168.10 ,

  • 3

  dan 4,752.10 mg/ml sebanyak 3 kali. Kemudian kadarnya dihitung dengan memasukkan nilai absorbansi ke dalam persamaan kurva baku. Dan masing- masing seri kurva baku dihitung recovery-nya dengan rumus :

  kadar terukur

  % recovery = x 100%

  kadar terhitung

  • 3

  Hasil dari perhitungan recovery untuk larutan seri baku 1,584. 10 mg/ml

  • -3

  adalah 96,52%; untuk seri 3,168. 10 mg/ml adalah 93,48% ; dan untuk seri

  • 3 4,752. 10 mg/ml adalah 98,41%.

  Tabel VII. Nilai recovery (Anonim, 2004)

  % Active/impurity content Acceptable mean recovery ≥ 10 ≥ 1 0.1 – 1 < 0.1 98 –102% 90 –110% 80 – 120% 75 – 125% Recovery ketiga seri baku diatas terhitung baik karena recovery untuk

  analit sampel dengan analit pada matrik sampel 0,1-1 adalah 80-120%. ketiga seri pada konsentrasi rendah ,tengah, dan tinggi yang diuji, masuk ke dalam

  range yang tercantum dalam sumber.

  3. Presisi Presisi dihitung dengan melihat nilai CV dari recovery. Presisi yang baik bila nilai CV < 2%, tetapi menurut Guideline (2004), CV juga bergantung dari kadar analit sampelnya. Pada pengukuran ini, kadar analit sampel yaitu >0,1% atau dalam range 0,1 – 1,0%, maka untuk nilai CV yang diacu adalah <10%..

  Tabel VIII. Nilai presisi (Anonim, 2004)

  Component measured in sample Precision >10.0% ≤ 2% 1.0 up to 10.0% ≤ 5% 0.1 up to 1.0%

  ≤ 10% < 0.1% ≤ 20%

  Tabel IX. Nilai presisi dari recovery

  Recovery (%) SD CV(%) 96,52 7,19 7,44 93,48 4,85 5,19 98,41

  1,39 1,42

  Dari ketiga nilai CV yang di dapat, ketiganya masuk ke dalam range yang tercantum dalam sumber. Semua berada di bawah 10%, sehingga bisa

  4. LOD LOD merupakan Limit of Detection, dimana ini merupakan kadar terkecil yang dapat diukur dalam pengukuran kadar. Bila kadar yang akan di ukur berada di bawah LOD, kadar tersebut tidak dapat terdeteksi. LOD diukur

  3 menggunakan rumus (Harmita, 2004).

  Tabel X. Kurva baku

  Konsentrasi ( mg/ml) Absorbansi

  • -3

    1,584. 10 mg/ml 0,236 A

    -3

  0,329 A 2,376. 10 mg/ml

  • -3

    3,168. 10 mg/ml 0,461 A

    -3

    3,960. 10 mg/ml 0,598 A

    -3

    4,752. 10 mg/ml 0,705 A

  A = - 0,017 B = 152,3990 r = 0,9981 y = Bx + a = 152,3990 x - 0,017

  • 3

  SD = 1,2522 x 10

3 LOD =

  3 1,2522 x 10−3

  =

  152,3990 -5 2,4649 x 10

  = mg/ml

  • 5

  dari perhitungan LOD di atas, diketahui bahwa LOD sebesar 2,4649 x 10 mg/ml. Jadi, untuk pembuatan dispersi padat dan campuran fisik yang dilakukan, jumlah kurkumin yang terkandung di dalamnya sudah berada di atas LOD. Sehingga kadar kurkumin hasil disolusi dapat terukur menggunakan metode ini.

  F.

  

Uji Disolusi

  Uji disolusi dilakukan dengan mendisolusikan dispersi padat dan campuran fisik ke dalam medium disolusi, yaitu cairan lambung buatan tanpa pepsin. Cairan lambung buatan tanpa pepsin dibuat dengan cara melarutkan 2,0 g natrium klorida P dalam 7,0 ml asam klorida P dan air secukupnya hingga 1000 ml. Larutan mempunyai pH lebih kurang 1,2 (Depkes, 1995).

  Kemudian medium disolusi dimasukkan ke alat uji disolusi sebanyak 900 ml dengan pengaturan kecepatan putar paddle 50 rpm dan suhu 37°C. Cuplikan di ambil setiap 5, 10, 20, 30, 45, 60, 90, 120, 150, dan 180 menit.

  Setiap pengambilan cuplikan pada menit yang ditentukan, cuplikan diambil sebanyak 5 ml dan setelah itu ditambahkan 5 ml medium disolusi ke dalam alat uji disolusi. Cuplikan yang telah diambil diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer Visibel dengan panjang gelombang 421,6 nm.

  Pengukuran kadar kurkumin dilakukan dengan mengukur kadar dari dispersi padat dan campuran fisik yang di disolusi kemudian diukur kadarnya menggunakan spektrofotometri visibel.

  Setelah mendapat kadar kurkumin dilihat persen jumlah kurkumin yang terdisolusi pada tiap waktupengambilan cuplikan pada tiap proporsi drug load.

  Kemudian antara dispersi padat dan campuran fisik, dibandingkan mana yang lebih meningkatkan disolusi. Menurut teori, dispersi padat yang memiliki ukuran partikel yang lebih kecil dan homogen dapat meningkatkan laju disolusi lebih baik daripada campuran fisik yang memiliki ukuran partikel lebih besar dan kurang homogen (Waard, dkk., 2008). Selain itu dengan meningkatnya drug load dengan pembawa polisakarida akan menurunkan laju disolusi (Srinarong, dkk., 2009).

  kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu drug load 0,66% si lu o

  10 is

  8 rd e

  6 t n )

  4 mi

  DP (%

  2 u rk u

  CF k

  50 100 150 200 n e rs e waktu (menit) p

  

Gambar 6. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 0,6%

  Dilihat dari kurva di atas, maka dapat dikatakan bahwa peningkatan kelarutan antara dispersi padat dan campuran fisik pada proporsi drug load 0,66% memberikan peningkatan yang signifikan walaupun hanya sedikit. Hal ini dapat dilihat dari nilai SD antara dispersi padat dan campuran fisik yang tidak saling berhimpitan, sehingga hal ini menunjukkan bahwa penyebaran data antara dispersi padat dan campuran fisik tidak saling berhimpitan.

  Dilakukan pula analisis statistik untuk melihat perbandingan antara campurn fisik dengan dispersi padat. Dari hasil uji statistik tersebut dapat dikatakan bahwa antara campuran fisik dan dispersi padat tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Maka terjadi peningkatan kelarutan yang tidak signifikan antara dispersi padat dengan campuran fisik.

  kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu drug load 1% si lu o

  10 is

  8 rd e t

  6 n )

  4 mi (% u

  DP

  2 rk u

  CF k n e

  50 100 150 200 rs e p waktu (menit)

  

Gambar 7. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 1%

  Dari hasil pengukuran yang terlihat pada kurva, dispersi padat tidak meningkatkan kelarutan yang signifikan bila dibandingkan dengan campuran fisik pada proporsi drug load 1%. Hal ini tampak dari adanya nilai SD yang berhimpitan pada kurva. Nilai SD yang berhimpitan ini menunjukkan penyebaran data yang saling berhimpitan yang menunjukkan tidak adanya sigifikansi data peningkatan kelarutan antara dispersi padat dan campuran fisik.

  Dilakukan pula analisis statistik untuk melihat perbandingan antara campurn fisik dengan dispersi padat. Dari hasil uji statistik tersebut dapat dikatakan bahwa antara campuran fisik dan dispersi padat tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Maka terjadi peningkatan kelarutan yang tidak signifikan antara dispersi padat dengan campuran fisik.

  kurva persen kurkumin disolusi vs waktu drug load 2%

  ) in m (%

  10 ku si

  8 lu

  6 n kur iso

  4 se

  DP rd

  2 er p te

  CF 50 100 150 200 waktu (menit)

  

Gambar 8. Kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada drug load 2%

  Dari hasil pengukuran dan yang tercantum dalam kurva menunjukkan bahwa dispersi padat pada proporsi drug load tidak menunjukkan adanya peningkatan disolusi kurkumin bila dibandingkan dengan campuran fisik. Hal ini dapat dilihat dari adanya nilai SD yang berhimpitan pada kurva. Nilai SD yang berhimpitan ini menunjukkan bahwa penyebaran data antara dispersi padatan dan campuran fisik saling berhimpitan, maka kenaikan disolusi yang ada dianggap tidak signifikan.

  Dilakukan pula analisis statistik untuk melihat perbandingan antara campurn fisik dengan dispersi padat. Dari hasil uji statistik tersebut dapat dikatakan bahwa antara campuran fisik dan dispersi padat tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Maka terjadi peningkatan kelarutan yang tidak signifikan antara dispersi padat dengan campuran fisik.

  

kurva persen terdisolusi vs waktu

campuran fisik

  5 ) (% i

  4 us ol dispersi padat drug

  3 rdis load 2% e t

  2 in dispersi padat drug um load 1%

  1 urk dispersi padat 0,66% n k e rs

  50 100 150 200 pe waktu (menit)

  

Gambar 9. Persen kurkumin terdisolusi vs waktu pada dispersi padat

  Sesuai dengan teori dengan meningkatnya drug load dengan pembawa polisakarida akan menurunkan laju disolusi (Srinarong, dkk., 2009), maka dari hasil pengukuran dispersi padat semua proporsi drug load, semakin meningkatnya proporsi drug load maka disolusi kurkumin pun akan semakin menurun atau rendah, begitu pula sebaliknya, semakin rendah proporsi drug load, maka akan semakin meningkatkan disolusi. Setelah itu, dilihat hubungan korelasi antara proporsi drug load dengan persen kurkumin terdisolusi pada D60.

  Untuk uji normalitas yang digunakan adalah Shapiro-Wilk, karena data yang diuji jumlahnya kurang dari 50. Karena salah satu faktor memiliki nilai p<0,05, maka distribusi dikatakan tidak normal. Kemudian untuk hubungan korelasi yang dipilih menggunakan Spearman karena data distribusi tidak normal.

  Tabel XI. Korelasi proporsi drug load dengan persen kurkumin terdisolusi pada waktu 60 menit

  

Correlations

persenkurkumin terdisolusi_60m drugload enit

Spearman's rho drugload Correlation Coefficient 1,000 -,632

  Sig. (2-tailed) . ,068 N

  9

  9 persenkurkuminterdisolusi_6 Correlation Coefficient -,632 1,000 0menit Sig. (2-tailed) ,068 .

  N

  9

  9 Dari data di atas, pada waktu 60 menit, secara statistik menunjukkan

  bahwa ada tidak ada korelasi yang bermakna antara proporsi drug load dengan persen kurkumin yang terlarut pada waktu 60 menit dilihat dari nilai sig yang >0,05 tetapi memiliki hubungan berlawanan arah, dimana semakin meningkatnya proporsi drug load maka semakin menurun disolusi pada waktu 60 menit. Hal ini dilihat dari nilai minus yang dihasilkan. Selain di uji dengan korelasi Spearman, uji korelasi erat kaitannya dengan uji regresi, maka dilakukan pula uji regresi linearitas.

  kurva proporsi drug load vs disolusi

  30 min u rk u

  20 k

  y = -1,042x + 4,258

  si lu o is

  10 d n e rs e p

  0.5

  1

  1.5

  2

  2.5

  drug load

  

Gambar 10. Kurva persen proporsi drug load vs disolusi

  Dari data regresi linier di dapat persamaan y = -1,042x + 4,258, dengan nilai ANOVA > 0,05, maka persamaan di atas tidak layak digunakan untuk meramalkan pengaruh antara proporsi drug load dengan disolusi.. Selain itu, nilai adjustifed R square 0,352 menunjukkan bahwa drug load mempengaruhi disolusi sebesar 35,2% dan 64,8% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dispersi padat yang dibuat lebih meningkatkan kelarutan bila

  dibandingkan dengan campuran fisik pada proporsi drug load yang sama. Tetapi secara statistik tidak ada korelasi yang bermakna dengan adanya peningkatan proporsi drug load yang akan mempengaruhi disolusi dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit(Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15.

  B. Saran

  1. HPMC E-15 tidak dapat digunakan untuk pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit(Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15.

  2. Dapat digunakan instrument pengukuran yang lebih teliti, misanya HPLC.

  

Daftar Pustaka

  Alfakimia, 2010, COA of Hydroxy Propyl MethylCellulose HPMC E15 LV, akses tanggal 27 Desember 2010.

  Anonim, 2010, Penerapan Nanotechnology Dalam Bidang Formulasi Sediaan Obat akses tanggal 17 April 2010. Anonim, 2004, Guidelines for the Validation of Analytical Methods Active

  Constituent, Agricultular and Veterinary Chemical Products, Australian Pesticides & Veterinary Medicines Authority , 1-9. Anonim a

  &hl=id&biw=1024&bih=466&gbv=2&tbs=isch:1&tbnid=RcnBZmNuWhe

  81M:&imgrefurl=http://www.websters-online-dictionary.org/definition/ TURMERIC&imgurl=http://www.websters-online-dictionary.org/images/ wiki/wikipedia/commons/4/49/Curcumin_keto_form.png&ei=tRJCTb_0D8 HTrQej1cTwDw&zoom=1&w=275&h=106&iact=hc&oei=tRJCTb_0D8H TrQej1cTwDw&esq=1&page=1&tbnh=84&tbnw=217&start=0&ndsp=8&v ed=1t:429,r:1,s:0, diakses tanggal 28 Desember 2011.

  Anonim b, 2010, &biw=1024&bih=466&gbv=2&tbs=isch:1&tbnid=Yw6Zhqpu8RWg8M:&i mgrefurl=http://tipsnya-info.blogspot.com/2010/05/manfaat-kunyit-bagi- kesehatan.html&imgurl=http://2.bp.blogspot.com/_13Y3XcwK08I/S9- gbN9kF1I/AAAAAAAAAzY/precVV7jjJw/s1600/kunyit.jpg&ei=CRlCTZf DNs7NrQexrJ3sDw&zoom=1&w=583&h=647&iact=hc&oei=CRlCTZfDN s7NrQexrJ3sDw&esq=1&page=1&tbnh=134&tbnw=121&start=0&ndsp=1 0&ved=1t:429,r:0,s:0, diakses tanggal 28 Desember 2011.

  Anonim

  c, 2010, id&biw=1024&bih=466&gbv=2&tbs=isch:1&tbnid=Xmwp9DDcm4fdwM: &imgrefurl=http://felowa.com/hpmc.htm&imgurl=http://felowa.com/images /hpmc.gif&ei=qBNCTcTsJYjOrQedt9X6Dw&zoom=1&w=301&h=129&ia ct=hc&oei=qBNCTcTsJYjOrQedt9X6Dw&esq=1&page=1&tbnh=89&tbn w=208&start=0&ndsp=8&ved=1t:429,r:6,s:0, diakses tanggal 28 Desember 2011.

  Depkes, 1995, Farmakope Indonesia edisi IV, 1143, Depkes RI, Jakarta.

  Greatvista, 2010, Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC), kases tanggal 27 Desember 2010. Ghaste, R.P., Dhanyakumar, D. S., Shah,R. R., dan Ghodke, D. S., 2009, Solid

  disperse : An Overview akses tanggal 21 November 2010.

  Hadi, 2007, Spektrofotometri UV/VIS, akses tanggal 21 November 2010. Harmita, 2004, Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya, Majalah Ilmu Kefarmasian , Vol.I, No.3, Desmber, 117-135.

  Lemigas, 2010, UV/VIS Spektrofotometer, akses tanggal

  21 November 2010. Kaewnopparat, N., Kaewnopparat, S., Jangwang, A., Maneenaun, D., Chuchome,

  T., dan Panichayupakaranant, P., 2009, Increased solubility, Dissolution and Physicochemical Studies of Curcumin-Polyvinylpyrrolidone K-30 Solid Dispensions, World Academy of Science, Enginering and Technology 55, 229.

  Malviya, R., Srivastava, P., Bansal, M., dan Sharma, P. K., 2010, Improvement of Dissolution Behavior of Paracetamol Using Solid Dispertion Technique, International Journal of Pharmaceutical Science and Research , 1, 95-99.

  Mulja,M. S., 1995, Analisis Instrumental, Airlangga University Press, Surabaya,pp.22, 28, 48. Parinussa, T. M. S. dan Timotius, K. H., 2010, Pengaruh Penambahan Asam Terhadap Aktivitas Antioksidan Kurkumin, BSS, 194(1), 1-6. Presetyo, Y., 2010, Manfaat Kunyit Sebagai Obat Antikanker, kases tanggal 21 November 2010. Rajarajan, S. , Baby,B., Ramesh, K., dan ,Singh, D., 2009, Preparation And

  Evaluation of Ternary Mixing Itraconnazole Dispersi padatons by Spray Drying Method, Karnataka College of Pharmacy, India, 22. Riwan, 2008, Kunyit (Curcuma domestica),

  akses tanggal 27 Desember 2010. Rohman, A., 2009, Kromatografi untuk Analisis Obat, Graha Ilmu, Yogyakarta, pp.1, 3, 217, 223-233. Rohman, S., 2008, Teknologi Pengeringan Bahan Makanan, diakses tanggal 27 Desember 2010. Sadeghi, F., Ford, J. L., Rubinstein, M. H., Rajabi-Siahboomi, A. R., 2001, Study

  of Drug Release from Pellets Coated with Surelease Containing Hydroxypropylmethylcellulose ,

  akses tanggal 27 Desember 2010. Sastroamijoyo, H., 1991, Spektroskopi, UGM Press, Yogyakarta, pp. 23. Shargel, L. dan Yu, A., 1999, Applied Biopharmaceutics & Pharmacokinetics, fourth edition, Medical Publishing Division, Vic Graw-Hill, pp.132. Sharma, D. K. Dan Joshi, S. B., 2007, Solubility Enhancement Strategis for

  Poorly Water-Soluble Drugs in Solid Dispertion: A Review, Asian Journal of Pharmaceutics ,1 (1), 9-19. Srinarong, P., Kouwen, S., Visser., M. K., Hinrichs, W. L. J., dan Frinjlink, H.

  W., 2009, Effect of drug-carrier Interaction on the Dissolution Behavior of Solid Dispertion Tablets, Department of Pharmaceutical Technology and Biopharmacy, University of Groningen, The Netherlands , 1-9.

  Tonnesen, H.H., Karlsen , J. 1985, Studies on curcumin and curcuminoid . IV .

  Kinetics of curcumin degradation in aqueous solution, Z. Lebensm. Unters.

  Forch . 180, 402-404.

  Waard,H., Hinrichs, W. L. J., Visser, M. R., Bologna,C., dan FrijlinkH. W., 2008, Unexpected Differences in Dissolution Behavior of Tablets Prepared from Solid Dispersions with a Surfactant Physically Mixed or Incorporated, International Journal of Pharmaceutics , 66-73.

  Wang, Y.J., Pan, M.H., Chang, A.L., Hsieh, C.Y. dan Lin, J.K., 1997, Stability of Curcumin in Buffer Solutions and Characterization of Its Degradation Products, J. Pharmaceut. Biomed. Anal., 15, 1867-1876.

  

Lampiran 1. Certificate of Analysis isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma

domestica C-95)

  

Lampiran 2. Pernyataan Jaminan Keaslian Bahan Kurkumin Standar Hasil

Sintesis

  Lampiran 3. Scan λ maksimum

  Intermediet I

  Intermediet II

  Intermediet III

  Lampiran 4. Kurva baku dan validasi

  Pembuatan kurva baku kurkumin

  1. Pembuatan larutan stok kurkumin

  a. Penimbangan kurkumin baku berat kertas = 0,1332 g berat kertas + zat = 0,1433 g berat kerta + sisa = 0,1334 g berat zat = 0,0990 g = 9,9 mg Kurkumin dilarutkan dengan methanol p.a lalu di add methanol p.a hingga 25 ml.

  Konsentrasi larutan stok kurkumin = 9,9 mg / 25 ml = 0,3960 mg / ml

  2. Pembuatan larutan intermediet kurkumin 1 ml larutan stok kurkumin di pipet , di add dengan methanol p.a 10,0 ml Konsentrasi larutan intermediet kurkumin = 0,3960 mg/ml x 1,0 ml / 10,0 ml

  = 0,0396 mg/ml

  3. Pembuatan seri larutan baku kurkumin Seri 1 0,4 ml = 0,0396 mg/ml x 0,4 ml / 10,0 ml = 1,584. 10

  • 3

  mg/ml Seri 2 0.6 ml = 0,0396 mg/ml x 0,6 ml / 10,0 ml = 2,376. 10

  • 3

  mg/ml

  • 3
  • 3
  • 3

  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3

  mg/ml 0,589 A 4,752. 10

  mg/ml 0,425 A 3,960. 10

  mg/ml 0,382 A 3,168. 10

  mg/ml 0,205 A 2,376. 10

  1,584. 10

  λ Konsentrasi ( mg/ml) Absorbansi 421 nm

  mg/ml 0,705 A

  mg/ml 0,598 A 4,752. 10

  mg/ml 0,461 A 3,960. 10

  mg/ml 0,236 A 2,376. 10

  mg/ml 0,329 A 3,168. 10

  1,584. 10

  λ Konsentrasi ( mg/ml) Absorbansi 421 nm

  r = 0,9878 y= 147,3485 x – 9,6.10

  Larutan intermediet II A = - 9,6 .10 B = 147,3485

  A = - 0,017 B = 152,3990 r= 0,9981 y= Bx + a = 152,3990 x - 0,017

  mg/ml Larutan intermediet 1

  mg/ml Seri 5 1,2 ml = 0,0396 mg/ml x 0,6 ml / 10,0 ml = 4,752. 10

  mg/ml Seri 4 1,0 ml = 0,0396 mg/ml x 0,6 ml / 10,0 ml = 3,960. 10

  Seri 3 0.8 ml = 0,0396 mg/ml x 0,6 ml / 10,0 ml = 3,168. 10

  mg/ml 0,685 A Larutan intermediet III A = - 0,04

  Konsentrasi ( mg/ml) Absorbansi λ

  • 3

  B = 152,3990 1,584. 10 mg/ml 0,207 A

   421

  r = 0,9966

  nm

  • 3

  2,376. 10 mg/ml 0,333 A y = 152,3990 x –

  • 3

  0,04 3,168. 10 mg/ml 0,417 A

  • 3

  3,960. 10 mg/ml 0,560 A

  • 3

  4,752. 10 mg/ml 0,697 A SD = 0,0016

3 LOD =

  3 0,0016

  =

  152 ,3990

  • 5

  = 3,23295 x 10 mg/ml

  Recovery

  Absorbansi Kadar Recovery Rata-Rata CV (%)

  (mg/ml) (%) recovery

  • 3

  Rendah 0,236 1,6601·10 104,80 96,52 % 7,44

  • 3

  0,205 1,4567·10 91,96

  • 3

  0,207 1,4698·10 92,79

  • 3

  Tengah 0,461 3,1365·10 99,00 93,48 % 5,19

  • 3

  0,425 2,9003·10 91,55

  • 3

  0,417 2,8478·10 89,89

  • 3

  0,705 4,7376·10 99,70 98,41 % 1,42

  Tinggi

  • 3

  0,685 4,6063·10 96,93

  • 3

  0,697 4,6851·10 98,59 Perhitungan recovery

  • Rendah

  −3 1,6601 .10

  Intermediet I = x 100% = 104,80 %

  −3 1,584.10

  −3 1,4567 .10

  Intermediet I = x 100% = 91,96 %

  −3 1,584.10

  −3 1,4698.10

  Intermediet I = x 100% = 92,79 %

  −3 1,584.10

  • Tengah

  −3 3,1365 .10

  Intermediet I = x 100% = 99,00 %

  −3 3,168.10

  −3 2,9003.10

  Intermediet I = x 100% = 91,55 %

  −3 3,168.10

  −3 2,8478 .10

  Intermediet I = x 100% = 89,89 %

  −3 3,168.10

  • Tinggi

  −3 4,7376 .10

  Intermediet I = x 100% = 99,70 %

  −3 4,752.10

  −3 4,6063 .10

  Intermediet I = x 100% = 96,93 %

  −3 4,752.10

  −3 4,6851 .10

  Intermediet I = x 100% = 98,59 %

  −3 4,752.10

  Lampiran 5. Perhitungan penimbangan dispersi padat dan campuran fisik

  Contoh perhitungan formulasi untuk dispersi padatan

  Drug load 2% , Replikasi 1

  HPMC E15 Berat aluminium foil = 0,4732 g Berat aluminium foil + HPMC E15 = 8,4838 g Berat aluminium foil + sisa = 0,4834 g Berat HPMC E15 = 8,0004 g Serbuk kunyit Berat aluminium foil = 0,2966 g Berat aluminium foil + serbuk kunyit = 1,7012 g Berat aluminium foil + sisa = 0,2976 g Berat serbuk kunyit = 1,4036 g Hasil Berat aluminium foil = 0,4670 g Berat aluminium foil + isi = 1,3599 g Berat isi = 0,8929 g

  

0,8929

  Berat isi per kapsul = = 0,223225 g = 223,225 mg

  4 Drug load 2% , Replikasi 2

  HPMC E15 Berat aluminium foil = 0,4118 g Berat aluminium foil + HPMC E15 = 8,5174 g Berat aluminium foil + sisa = 0,4209 g Berat HPMC E15 = 8,0965 g Serbuk kunyit Berat aluminium foil = 0,4068 g Berat aluminium foil + serbuk kunyit = 1,8118 g

  Berat serbuk kunyit = 1,4032 g Hasil Berat aluminium foil = 0,4822 g Berat aluminium foil + isi = 1,6565 g Berat isi = 1,1743 g

  1,1743

  Berat isi per kapsul = = 0,293575 g = 293,575 mg

  4 Drug load 2% , Replikasi 3

  HPMC E15 Berat aluminium foil = 0,3543 g Berat aluminium foil + HPMC E15 = 8,3632 g Berat aluminium foil + sisa = 0,3624 g Berat HPMC E15 = 8,0008 g Serbuk kunyit Berat aluminium foil = 0,2403 g Berat aluminium foil + serbuk kunyit = 1,6449 g Berat aluminium foil + sisa = 0,2416 g Berat serbuk kunyit = 1,4033 g Hasil Berat aluminium foil = 0,3792 g Berat aluminium foil + isi = 1,1732 g Berat isi = 0,7940 g

  0,7940

  Berat isi per kapsul = = 0,1985 g = 198,5 mg

  4 Nb : untuk penimbangan drug load 4% dan 6% sama

  Contoh perhitungan formulasi untuk campuran fisik

  Drug load 2% , Replikasi 1 ℎ − ℎ

  Persen kehilangan = x 100 %

  ℎ (8,0004

  • +1,4036 )− 0,8929

  = x 100 % = 90,51 %

  (8,0004

  • +1,4036 )

  Jumlah serbuk kunyit yang ada dalam hasil spray = jumlah serbuk kunyit yang ditimbang - jumlah serbuk kunyit yang hilang = 1,4036 g – (1,4036 g x 90,51 %)

  = 0,1342 g = 134,2 mg Jumlah kurkumin yang ada = jumlah serbuk kunyit yang ada x 97,20 % x 60 %

  = 134,2 mg x 97,20 % x 60 % = 78,26544 mg

  Jumlah kurkumin yang ada dalam tiap formula

  ℎ ℎ

  =

  ℎ 78,26544

  = = 19,56636 mg ≈ 19,5664 mg

4 Jumlah serbuk yang dimasukan dalam kapsul sebanyak 190 mg

  Jumlah kurkumin dalam 190 mg

  190

  = x jumlah kurkumin dalam tiap formula

  ℎ ℎ 190

  = x 19,5664 = 16,6541 mg

  223,225

  Jumlah serbuk kunyit yang harus ditimbang = jumlah serbuk kunyit dalam 190 mg : 97,20 % : 60 % = 16,6541 mg : 97,20 % : 60 % = 28,5562 mg Jumlah pembawa yang ditambahkan = 190 mg – jumlah serbuk kunyit ditimbang

  = 190 mg – 28,5562 mg = 161,4438 mg

  Jadi untuk physical mixture, serbuk kunyit yang ditimbang sebanyak 28,5562 mg dan HPMC E15 sebanyak 161,4438 mg.

  Drug load 2% , Replikasi 2 ℎ − ℎ

  Persen kehilangan = x 100 %

  ℎ (8,0965

  • +1,4032 )− 1,1743

  = x 100 % = 87,64 %

  (8,0965

  • +1,4032 )

  Jumlah serbuk kunyit yang ada dalam hasil spray = jumlah serbuk kunyit yang ditimbang - jumlah serbuk kunyit yang hilang = 1,4032 g – (1,4032 g x 87,64 %) = 1,4032 g – 1,2298 g = 0,1734 g = 173,4 mg Jumlah kurkumin yang ada = jumlah serbuk kunyit yang ada x 97,20 % x 60 %

  = 173,4 mg x 97,20 % x 60 % = 101,12688 mg

  ℎ ℎ

  =

  ℎ 101,12688

  = = 25,28172 mg ≈ 25,2817 mg

4 Jumlah serbuk yang dimasukan dalam kapsul sebanyak 190 mg

  Jumlah kurkumin dalam 190 mg

  190

  = x jumlah kurkumin dalam tiap formula

  ℎ ℎ 190

  = x 25,2817 = 16,3622 mg

  293,575

  Jumlah serbuk kunyit yang harus ditimbang = jumlah serbuk kunyit dalam 190 mg : 97,20 % : 60 % = 16,3622 mg : 97,20 % : 60 % = 28,0559 mg Jumlah pembawa yang ditambahkan = 190 mg – jumlah serbuk kunyit ditimbang

  = 190 mg – 28,0559 mg = 161,9441 mg

  Jadi untuk physical mixture, serbuk kunyit yang ditimbang sebanyak 28,0559 mg dan HPMC E15 sebanyak 161,9441 mg.

  Drug load 2% , Replikasi 3 ℎ − ℎ

  Persen kehilangan = x 100 %

  ℎ (8,0008

  • +1,4033 )− 0,794

  = x 100 % = 91,56%

  (8,0008

  • +1,4033 )

  Jumlah serbuk kunyit yang ada dalam hasil spray = jumlah serbuk kunyit yang ditimbang - jumlah serbuk kunyit yang hilang = 1,4033 g – (1,4033 g x 91,56 %) = 1,4033 g – 1,2849 g = 0,1184 g = 118,4 mg Jumlah kurkumin yang ada = jumlah serbuk kunyit yang ada x 97,20 % x 60 %

  = 118,4 mg x 97,20 % x 60 % = 69,05088 mg

  Jumlah kurkumin yang ada dalam tiap formula

  ℎ ℎ

  =

  ℎ 69,05088

  = = 17,26272 mg ≈ 17,2627 mg

4 Jumlah serbuk yang dimasukan dalam kapsul sebanyak 190 mg

  190

  = x jumlah kurkumin dalam tiap formula

  ℎ ℎ 190

  = x 17,2627 = 16,5235 mg

  198,5

  Jumlah serbuk kunyit yang harus ditimbang = jumlah serbuk kunyit dalam 190 mg : 97,20 % : 60 % = 16,5235 mg : 97,20 % : 60 % = 28,3325 mg Jumlah pembawa yang ditambahkan = 190 mg – jumlah serbuk kunyit ditimbang

  = 190 mg – 28,3325 mg = 161,6675 mg

  Jadi untuk physical mixture, serbuk kunyit yang ditimbang sebanyak 28,3325 mg dan HPMC E15 sebanyak 161,6675 mg. Nb : untuk penimbangan drug load 4% dan 6% sama Kadar terukur Persamaan kurva baku y = 152,3990 x – 0,017 Contoh perhitungannya 5 menit, absorbansi = 0,024 0,024 = 152,3990 x – 0,017 0,024 + 0,017 = 152,3990 x 0,031 = 152,3990 x

  0,031

  x =

  152,3990

  • 3

  x = 2,6903 x 10

  Drug load 2%, replikasi 1 Menit absorbansi Kadar terukur

  • -4 5 0,024 2,6903 x 10 -4 10 0,028 2,9528x 10 -4 20 0,060 5,0525 x 10 -4 30 0,090 7,0210 x 10 -4 45 0,037 3,5433 x 10 -4 60 0,070 5,7087 x 10 -4 90 0,051 4,4620 x 10 -4 120 0,052 4,5276 x 10 -4 150 0,052 4,5276 x 10 -4 180 0,071 5,7743x 10
  • Menit Drug load 2%, replikasi 2 absorbansi Kadar terukur 5 0,007 1,5748 x 10
    • -4 10 0,000 1,1155 x 10 -4 20 0,028 2,9528 x 10 -4 30 0,011 1,8373 x 10 -4 45 0,021 2,4935 x 10 -4 60 0,053 4,5932 x 10 -4 90 0,060 5,0525 x 10 -4 120 0,007 1,5748 x 10 -4 150 0,013 1,9685 x 10 -4 180 0,030 3,0840 x 10 -4 Menit

      Drug load 2%, replikasi 3 absorbansi Kadar terukur

      5 0,020 2,4278 x 10 -4 10 0,017 2,2310 x 10

    • -4 20 0,013 1,9685 x 10 -4 30 0,012 1,9029 x 10 -4 45 0,019 2,3622 x 10 -4 60 0,017 2,2310 x 10 -4 90 0,021 2,4935 x 10 -4 120 0,024 2,6903 x 10 -4 150 0,019 2,3622 x 10 -4 180 0,031 3,1496 x 10 -4 Menit

      Drug load 4%, replikasi 1 absorbansi Kadar terukur 5 0,022 2,5591 x 10

    • -4 10 0,025 2,7559 x 10 -4 20 0,015 2,0998 x 10 -4 30 0,033 3,2809 x 10 -4 45 0,027 2,8872 x 10 -4 60 0,030 3,0840 x 10 -4 90 0,054 4,6588 x 10 -4 120 0,031 3,1496 x 10 -4 150 0,031 3,1496 x 10 -4 180 0,030 3,0840 x 10 -4 Menit

      Drug load 4%, replikasi 3 absorbansi Kadar terukur 5 0,026 2,8215 x 10

    • -4 10 0,032 3,2152 x 10 -4 20 0,018 2,2966 x 10 -4 30 0,021 2,4935 x 10 -4 45 0,022 2,5591x 10 -4 60 0,020 2,4278 x 10 -4 90 0,031 3,1496 x 10 -4 120 0,024 2,6903 x 10 -4 150 0,021 2,4935 x 10 -4 180 0,021 2,4935 x 10 -4 Menit

      Drug load 4%, replikasi 2 absorbansi Kadar terukur 5 0,038 3,6089 x 10

    • -4 10 0,014 2,0341 x 10 -4 20 0,023 2,6247 x 10 -4 30 0,024 2,6903 x 10 -4 45 0,023 2,6247 x 10 -4 60 0,026 2,8215 x 10 -4 90 0,023 2,6247 x 10 -4 120 0,030 3,0840 x 10 -4 150 0,038 3,6089 x 10 -4 180 0,033 3,2809 x 10 -4
    •   Drug load 6%, replikasi 1 Menit

        Drug load 6%, replikasi 2 Menit absorbansi Kadar terukur

      • -4 absorbansi Kadar terukur 5 0,022 2,5591 x 10 -4
      • -4 5 0,024 2,6903 x 10 10 0,024 2,6903 x 10 -4
      • -4 10 0,016 2,1654 x 10 20 0,023 2,6247 x 10 -4
      • -4 20 0,022 2,5591 x 10 30 0,029 3,0184 x 10 -4
      • -4 30 0,030 3,0840 x 10 45 0,029 3,0184x 10 -4
      • -4 45 0,024 2,6903x 10 60 0,029 3,0184 x 10 -4
      • -4 60 0,021 2,4935 x 10 90 0,028 2,9528 x 10 -4
      • -4 90 0,024 2,6903 x 10 120 0,038 3,6089 x 10 -4 120 0,021 2,4935 x 10 -4 150 0,043 3,9370 x 10 -4 150 0,028 2,9528 x 10 -4 180 0,040 3,7401 x 10
      • -4 180 0,029 3,0184 x 10

        Drug load 6%, replikasi 3 Menit absorbansi Kadar terukur

      • -4 5 0,028 2,9528 x 10 -4 10 0,021 2,4935 x 10 -4 20 0,019 2,3622 x 10 -4 30 0,018 2,2966 x 10 -4 45 0,025 2,7559 x 10 -4 60 0,024 2,6903 x 10 -4 90 0,030 3,0840 x 10 -4 120 0,024 2,6903 x 10 -4 150 0,027 2,8872 x 10 -4 180 0,030 3,0840 x 10

        Lampiran 6. Hasil pengukuran kadar dispersi padat dan campuran fisik Drug load 2%

        Dispersi padat, replikasi 1

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi 5 0,024 0,000269031 0,001345153 0,2421 1,45 10 0,028 0,000295278 0,001476388 0,2657 1,60

        20 0,060 0,000505253 0,002526263 0,4547 2,73

        30 0,090 0,000702104 0,003510522 0,6319 3,79

        45 0,037 0,000354333 0,001771665 0,3189 1,91

        60 0,070 0,00057087 0,002854349 0,5138 3,09

        90 0,051 0,000446197 0,002230986 0,4016 2,41 120 0,052 0,000452759 0,002263794 0,4075 2,45 150

        0,052 0,000452759 0,002263794 0,4075 2,45 180 0,071 0,000577432 0,002887158 0,5197 3,12 Dispersi padat, replikasi 2

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi 5 0,007 0,000157481 0,000787407 0,1417 0,87 10 0,000 0,000111549 0,000557746 0,1004 0,61

        20 0,028 0,000295278 0,001476388 0,2657 1,62

        30 0,011 0,000183728 0,000918641 0,1654 1,01

        45 0,021 0,000249345 0,001246727 0,2244 1,37

        60 0,053 0,000459321 0,002296603 0,4134 2,53

        90 0,060 0,000505253 0,002526263 0,4547 2,78 120 0,007 0,000157481 0,000787407 0,1417 0,87 150

        0,013 0,000196852 0,000984258 0,1772 1,08 180 0,030 0,000308401 0,001542005 0,2776 1,70

        Dispersi padat, replikasi 3

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi

        5 0,020 0,000242784 0,001213919 0,2185 1,32

        10 0,017 0,000223099 0,001115493 0,2008 1,22

        20 0,013 0,000196852 0,000984258 0,1772 1,07

        30 0,012 0,00019029 0,00095145 0,1713 1,04 45 0,019 0,000236222 0,00118111 0,2126 1,29 60 0,017 0,000223099 0,001115493 0,2008 1,22 90 0,021 0,000249345 0,001246727 0,2244 1,36

        

      120 0,024 0,000269031 0,001345153 0,2421 1,47

      150 0,019 0,000236222 0,00118111 0,2126 1,29

      180

        0,031 0,000314963 0,001574813 0,2835 1,72

        Campuran fisik, replikasi 1

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi

      5 0,003 0,000131234 0,000656172 0,1181 0,71

      10 0,003 0,000131234 0,000656172 0,1181 0,71

        

      20 0,017 0,000223099 0,001115493 0,2008 1,21

        30 0,011 0,000183728 0,000918641 0,1654 0,99

        

      45 0,029 0,000301839 0,001509196 0,2717 1,63

      60 0,012 0,00019029 0,00095145 0,1713 1,03

      90 0,013 0,000196852 0,000984258 0,1772 1,06

      120

        0,010 0,000177167 0,000885833 0,1594 0,96

      150 0,015 0,000209975 0,001049876 0,1890 1,13

      180 0,031 0,000314963 0,001574813 0,2835 1,70 Campuran fisik, replikasi 2

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi

      5 0,003 0,000131234 0,000656172 0,1181 0,72

      10 0,006 0,00015092 0,000754598 0,1358 0,83

        

      20 0,020 0,000242784 0,001213919 0,2185 1,34

      30 0,022 0,000255907 0,001279536 0,2303 1,41

      45 0,012 0,00019029 0,00095145 0,1713 1,05

        60 0,012 0,00019029 0,00095145 0,1713 1,05

        90 0,014 0,000203413 0,001017067 0,1831 1,12

        120 0,007 0,000157481 0,000787407 0,1417 0,87

        

      150 0,006 0,00015092 0,000754598 0,1358 0,83

      180 0,033 0,000328086 0,001640431 0,2953 1,80

        Campuran fisik, replikasi3

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi

        5 0,001 0,000118111 0,000590555 0,1063 0,64

        10 0,007 0,000157481 0,000787407 0,1417 0,86 20 0,006 0,00015092 0,000754598 0,1358 0,82

        30 0,008 0,000164043 0,000820215 0,1476 0,89

        45 0,007 0,000157481 0,000787407 0,1417 0,86 60 0,010 0,000177167 0,000885833 0,1594 0,96 90 0,012 0,00019029 0,00095145 0,1713 1,04 120 0,011 0,000183728 0,000918641 0,1654 1,00

        150 0,011 0,000183728 0,000918641 0,1654 1,00

        180 0,016 0,000216537 0,001082684 0,1949 1,18 kurva persen kurkumin disolusi vs waktu ) drug load 2% in m (%

        10 ku si

        8 lu

        6 n kur iso

        4 se rd

        DP

        2 er p te

        CF 50 100 150 200 waktu (menit)

        Drug load 1%

        Dispersi padat 2%

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi 5 0,022 0,000255907 0,001279536 0,2303 2,58 10 0,025 0,000275592 0,001377962 0,2480 2,78

        20 0,015 0,000209975 0,001049876 0,1890 2,12 30 0,033 0,000328086 0,001640431 0,2953 3,31 45 0,027 0,000288716 0,001443579 0,2598 2,91

        60 0,030 0,000308401 0,001542005 0,2776 3,11

        90 0,054 0,000465882 0,002329412 0,4193 4,69

        120 0,031 0,000314963 0,001574813 0,2835 3,17

        150 0,031 0,000314963 0,001574813 0,2835 3,17

        180 0,030 0,000308401 0,001542005 0,2776 3,11

        Dispersi padat, replikasi 2

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi 5 0,038 0,000360895 0,001804474 0,3248 3,63

      10 0,014 0,000203413 0,001017067 0,1831 2,05

        20 0,023 0,000262469 0,001312345 0,2362 2,64

        30 0,024 0,000269031 0,001345153 0,2421 2,71

        45 0,023 0,000262469 0,001312345 0,2362 2,64

        60 0,026 0,000282154 0,00141077 0,2539 2,84

        90 0,023 0,000262469 0,001312345 0,2362 2,64

        120 0,030 0,000308401 0,001542005 0,2776 3,11

        150 0,038 0,000360895 0,001804474 0,3248 3,63

        

      180 0,033 0,000328086 0,001640431 0,2953 3,30

        Dispersi padat, replikasi 3

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi 5 0,026 0,000282154 0,00141077 0,2539 2,84

        10 0,032 0,000321524 0,001607622 0,2894 3,23

        20 0,018 0,00022966 0,001148301 0,2067 2,31

        30 0,021 0,000249345 0,001246727 0,2244 2,51

        45 0,022 0,000255907 0,001279536 0,2303 2,57 60 0,020 0,000242784 0,001213919 0,2185 2,44 90 0,031 0,000314963 0,001574813 0,2835 3,16 120

        0,024 0,000269031 0,001345153 0,2421 2,70

      150 0,021 0,000249345 0,001246727 0,2244 2,51

        

      180 0,021 0,000249345 0,001246727 0,2244 2,51

        Campuran fisik, replikasi 1

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi 5 0,004 0,000137796 0,000688981 0,1240 1,39

        10 0,010 0,000177167 0,000885833 0,1594 1,79

        

      20 0,007 0,000157481 0,000787407 0,1417 1,59

      30 0,010 0,000177167 0,000885833 0,1594 1,79

        45 0,009 0,000170605 0,000853024 0,1535 1,72

        

      60 0,011 0,000183728 0,000918641 0,1654 1,85

        90 0,010 0,000177167 0,000885833 0,1594 1,79

        

      120 0,014 0,000203413 0,001017067 0,1831 2,05

      150 0,014 0,000203413 0,001017067 0,1831 2,05

      180

        0,020 0,000242784 0,001213919 0,2185 2,45

        Campuran fisik, replikasi 2

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi

        5 0,000 0,000111549 0,000557746 0,1004 1,12

        10 0,000 0,000111549 0,000557746 0,1004 1,12

        20 0,000 0,000111549 0,000557746 0,1004 1,12

        30 0,000 0,000111549 0,000557746 0,1004 1,12 45 0,000 0,000111549 0,000557746 0,1004 1,12

        60 0,001 0,000118111 0,000590555 0,1063 1,19

        90 0,005 0,000144358 0,00072179 0,1299 1,45 120 0,011 0,000183728 0,000918641 0,1654 1,85 150 0,005 0,000144358 0,00072179 0,1299 1,45 180 0,016 0,000216537 0,001082684 0,1949 2,18

        Campuran fisik, replikasi 3

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi

      5 0,000 0,000111549 0,000557746 0,1004 1,12

      10 0,000 0,000111549 0,000557746 0,1004 1,12

        20 0,000 0,000111549 0,000557746 0,1004 1,12

        30 0,000 0,000111549 0,000557746 0,1004 1,12

        

      45 0,000 0,000111549 0,000557746 0,1004 1,12

      60 0,008 0,000164043 0,000820215 0,1476 1,65

        90 0,011 0,000183728 0,000918641 0,1654 1,85

        

      120 0,006 0,00015092 0,000754598 0,1358 1,52

      150 0,002 0,000124673 0,000623364 0,1122 1,25

      180 0,010 0,000177167 0,000885833 0,1594 1,78

        2

        0,038 0,000360895 0,001804474 0,3248 5,53

      150 0,043 0,000393703 0,001968517 0,3543 6,03

      180 0,040 0,000374018 0,001870091 0,3366 5,73

        120 0,021 0,000249345 0,001246727 0,2244 3,07

        30 0,030 0,000308401 0,001542005 0,2776 3,80 45 0,024 0,000269031 0,001345153 0,2421 3,31 60 0,021 0,000249345 0,001246727 0,2244 3,07 90 0,024 0,000269031 0,001345153 0,2421 3,31

        20 0,022 0,000255907 0,001279536 0,2303 3,15

        10 0,016 0,000216537 0,001082684 0,1949 2,67

        5 0,024 0,000269031 0,001345153 0,2421 3,31

        menit absorbansi kadar terukur

      kadar kurkumin

      dalam 5ml kadar kurkumin dalam 900ml % terdisolusi

        Dispersi padat, replikasi 2

        

      45 0,029 0,000301839 0,001509196 0,2717 4,63

      60 0,029 0,000301839 0,001509196 0,2717 4,63

      90 0,028 0,000295278 0,001476388 0,2657 4,53

      120

        4

        30 0,029 0,000301839 0,001509196 0,2717 4,63

        5 0,022 0,000255907 0,001279536 0,2303 3,92

      10 0,024 0,000269031 0,001345153 0,2421 4,12

      20 0,023 0,000262469 0,001312345 0,2362 4,02

        menit absorbansi kadar terukur

      kadar kurkumin

      dalam 5ml kadar kurkumin dalam 900ml % terdisolusi

        Dispersi padat, replikasi 1

        DP CF Drug load 0,66%

        10 50 100 150 200 p e rs e n k u rk u mi n t e rd is o lu si (% ) waktu (menit) kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu drug load 1%

        8

        6

        150 0,028 0,000295278 0,001476388 0,2657 3,64 180 0,029 0,000301839 0,001509196 0,2717 3,72 Dispersi padat, replikasi 3

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi 5 0,028 0,000295278 0,001476388 0,2657 4,33

        10 0,021 0,000249345 0,001246727 0,2244 3,66

        20 0,019 0,000236222 0,00118111 0,2126 3,47

        30 0,018 0,00022966 0,001148301 0,2067 3,37

        45 0,025 0,000275592 0,001377962 0,2480 4,04

        60 0,024 0,000269031 0,001345153 0,2421 3,95

        90 0,030 0,000308401 0,001542005 0,2776 4,53

        120 0,024 0,000269031 0,001345153 0,2421 3,95

        

      150 0,027 0,000288716 0,001443579 0,2598 4,24

      180 0,030 0,000308401 0,001542005 0,2776 4,53

        Campuran fisik, replikasi 1

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi 5 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

        10 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

        20 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71 30 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71 45 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71 60 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

        90 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

        120 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

        150 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

        180 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,71

        Campuran fisik, replikasi 2

        menit absorbansi kadar kadar kurkumin kadar kurkumin % terukur dalam 5ml dalam 900ml terdisolusi

        5 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

        10 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

        20 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

        30 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

        45 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

        60 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

        90 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

        120 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

        150 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

        180 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,37

        2

        45 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

        4

        3

        2

        1

        150 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64 180 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

        120 0,003 0,000131234 0,000656172 0,118111011 1,93

        90 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

        60 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

        30 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

        4

        20 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

        10 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

        5 0,000 0,000111549 0,000557746 0,10039436 1,64

        menit absorbansi kadar terukur

      kadar kurkumin

      dalam 5ml kadar kurkumin dalam 900ml % terdisolusi

        Campuran fisik, replikasi 3

        DP CF

        10 50 100 150 200 p e rs e n k u rk u mi n t e rd is o lu si (% ) waktu (menit)

      kurva persen kurkumin terdisolusi vs waktu

      drug load 0,66%

        8

        6

        5 50 100 150 200 pe rs e n k urk um in t e rdis ol us i (% ) waktu (menit) kurva persen terdisolusi vs waktu campuran fisik dispersi padat drug load 2% dispersi padat drug load 1% dispersi padat 0,66%

        Lampiran 7. Data Normalitas, Uji Komparatif, SPSS, Spearman

        Proporsi drug load

        Statistics drugload N Valid

        9 Missing Mean 1,2200 Median 1,0000 a Mode ,66 Std. Deviation ,60324 Variance ,364 Skewness ,633 Std. Error of Skewness ,717 Kurtosis -1,714 Std. Error of Kurtosis 1,400 Minimum ,66 Maximum 2,00 a. Multiple modes exist. The smallest value is shown drugload

        Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid ,66 3 33,3 33,3 33,3 1,00

        3 33,3 33,3 66,7 2,00 3 33,3 33,3 100,0 Total 9 100,0 100,0 Persen kurkumin terdisolusi

        Statistics persenkurkuminterdisolusi_60menit N Valid

        9 Missing Mean 2,9867 Median 3,0700 Mode 1,22 a Std. Deviation ,95599

        Variance ,914 Skewness -,081 Std. Error of Skewness ,717 Kurtosis 1,210 Std. Error of Kurtosis 1,400 Minimum 1,22 Maximum 4,63

        a. Multiple modes exist. The smallest value is shown persenkurkuminterdisolusi_60menit

        Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid 1,22

        1 11,1 11,1 11,1 2,44 1 11,1 11,1 22,2 2,53 1 11,1 11,1 33,3 2,84 1 11,1 11,1 44,4 3,07 1 11,1 11,1 55,6 3,09 1 11,1 11,1 66,7 3,11 1 11,1 11,1 77,8 3,95 1 11,1 11,1 88,9 4,63 1 11,1 11,1 100,0 Total 9 100,0 100,0 Lampiran data Uji T tidak berpasangan

        Drug load 0,66% menit nilai p signifikan atau tidak 5 0,002 signifikan

        10 0,012 signifikan 20 0,002 signifikan 30 0,004 signifikan 45 0,004 signifikan 60 0,008 signifikan 90 0,046 signifikan

        120 0,027 signifikan 150 0,230 tidak 180 0,006 signifikan

        Drug load 1% menit nilai p signifikan atau tidak 5 0,046 signifikan

        10 0,046 signifikan 20 0,046 signifikan 30 0,046 signifikan 45 0,046 signifikan 60 0,011 signifikan 90 0,046 signifikan

        120 0,005 signifikan 150 0,020 signifikan 180 0,053 tidak

        Drug load 2% menit nilai p signifikan atau tidak 5 0,094 tidak

        10 0,305 tidak 20 0,253 tidak 30 0,275 tidak 45 0,320 tidak 60 0,117 tidak 90 0,120 tidak

        120 0,230 tidak 150 0,281 tidak 180 0,376 tidak

        Lampiran data SPSS korelatif, Spearman

        

      Case Processing Summary

      Cases Valid Missing Total

        N Percent N Percent N Percent drugload 9 100,0% ,0% 9 100,0% persenkurkuminterdisolusi_

        60menit 9 100,0% ,0% 9 100,0%

        

      Descriptives

      Statistic Std. Error drugload Mean

        1,2200 ,20108 95% Confidence Interval for Lower Bound ,7563 Mean Upper Bound 1,6837 5% Trimmed Mean 1,2078 Median 1,0000 Variance

        ,364 Std. Deviation ,60324 Minimum

        ,66 Maximum 2,00 Range

        1,34 Interquartile Range 1,34 Skewness ,633 ,717 Kurtosis -1,714 1,400 persenkurkuminterdisolusi_ Mean

        2,9867 ,31866 60menit 95% Confidence Interval for Lower Bound 2,2518 Mean

        Upper Bound 3,7215 5% Trimmed Mean 2,9935 Median 3,0700 Variance

        ,914 Std. Deviation ,95599 Minimum

        1,22 Maximum 4,63 Range

        3,41 Interquartile Range 1,05 Skewness -,081 ,717 Kurtosis

        1,210 1,400 Tests of Normality a

        Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig. * drugload ,309 9 ,013 ,761 9 ,007 persenkurkuminterdisolusi_ ,226

        9 ,200 ,950 9 ,692

      a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance.

        

      Correlations

      persenkurkumin terdisolusi_60m drugload enit

      Spearman's rho drugload Correlation Coefficient 1,000 -,632

        Sig. (2-tailed) . ,068 N

        9

        9 persenkurkuminterdisolusi_6 Correlation Coefficient -,632 1,000 0menit Sig. (2-tailed) ,068 .

        N

        9

        9

        b Model Summary Model Adjusted R Std. Error of the R R Square Square Estimate Durbin-Watson a 1 ,658 ,433 ,352 ,48575 ,795 a. Predictors: (Constant), persenkurkuminterdisolusi_60menit

        b. Dependent Variable: drugload b ANOVA Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. a

        1 Regression 1,260 1 1,260 5,338 ,054 Residual 1,652 7 ,236 Total 2,911

        8

        a. Predictors: (Constant), persenkurkuminterdisolusi_60menit

        b. Dependent Variable: drugload

        Lampiran 8. Dokumentasi Alat uji disolusi Spektrofotometer UV/Vis Kapsul dispersi padat

        

      BIOGRAFI PENULIS

      Penulis memiliki nama lengkap Eka Permatasari.

        Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara yang lahir di Jakarta tanggal 24 Agustus 1989. Penulis menempuh pendidikan formal di TK Strada Santa Maria 2 Tangerang pada tahun 1993-1995 , SD Strada Santo Aloysius 1 Tangerang pada tahun 1995-2001, SMP Strada Santa Maria 1 Tangerang pada tahun 2001- 2004, SMA Strada Santo Thomas Aquino Tangerang pada tahun 2004-2007. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya di Universitas Sanata Dharma Fakultas Farmasi pada tahun 2007. Penulis pernah menjadi asisten praktikum Farmakognosi Fitokimia II juga pernah mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang berjudul Perbandingan Daya Antioksidan Kelopak Bunga Rosella Dalam Sediaan Sirup Air Seduhan Langsung Dengan MetodeDeoksiribosa dan Penetapan Kadar Pemutih (Kaporit) Dalam Beras Yang Dijual di Pasar Kranggan Yogyakarta Dengan Metode Atomic AbsorptionSpektrofotometri (ASS), kegiatan Inisiasi Sanata Dharma (INSADHA) pada tahun 2008 dan 2009, acara Pengambilan Sumpah/Janji Apoteker Angkatan

        XVIII tahun 2010.

Dokumen baru

Download (89 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh rasio polivinil pirolidon K30 / Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap disolusi kurkumin.
2
7
60
Pengaruh rasio poloxamer 407/Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap disolusi kurkumin.
0
2
64
Pengaruh formulasi ekstrak kunyit dalam sistem dispersi padat manitol terhadap disolusi kurkumin.
0
3
46
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) dengan spray drying.
2
6
96
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Hydroxypropyl Methycellulose (HPMC) dengan spray drying.
0
2
87
Pengaruh rasio polivinil pirolidon K30 Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap disolusi kurkumin
1
2
58
Pengaruh rasio poloxamer 407 Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap disolusi kurkumin
2
2
62
Pengaruh formulasi ekstrak kunyit dalam sistem dispersi padat manitol terhadap disolusi kurkumin
0
0
44
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam polivinil pirolidon dengan vaccum rotary evaporator.
1
3
90
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Hydroxypropyl Methycellulose (HPMC) dengan spray drying
1
3
85
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) dengan spray drying
0
2
94
Uji daya inhibisi ekstrak etanol rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.) terhadap 3-hidroksi-3-metilglutaril-KoA reduktase - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
15
Uji daya inhibisi ekstrak etanol rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.) terhadap 3-hidroksi-3-metilglutaril-KoA reduktase - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
9
Standarisasi ekstrak rimpang kunyit [curcuma domestica val.] - USD Repository
0
2
88
Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat spray dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma donestica C 95)-HPMC E-5 - USD Repository
0
0
118
Show more