Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Gratis

0
1
148
1 year ago
Preview
Full text

  TINGKAT KECEMASAN PENDERITA HIPERTENSI Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh: Bernadus Yuviadi Nifatantya

NIM : 049114022

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2009

  Karya ini kupersembahkan bagi

‘malaikat-malaikat’ yang selalu mendampingi dan memelukku,

Istri dan Anakku tercinta, Novi dan Ramon…

ORANG YANG DEWASA ADALAH

  

ORANG YANG BERUSAHA MENYENANGI APA YANG DIA LAKUKAN

BUKAN ORANG YANG SELALU MELAKUKAN APA YANG DIA SENANGI

  

ABSTRAK

TINGKAT KECEMASAN PENDERITA HIPERTENSI

Bernadus Yuviadi Nifatantya

Universitas Sanata Dharma

  

Yogyakarta

2009

  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tingginya tingkat kecemasan penderita hipertensi. Penelitian ini juga memaparkan perbedaan tingkat kecemasan berdasarkan jenis kelamin, status pernikahan dan jenis pekerjaan, serta hubungan antara tingkat kecemasan dengan umur, lama menderita, tekanan darah sistolik dan diastolik. Hipertensi diartikan sebagai tekanan darah yang lebih besar atau sama dengan 140/ 90 mmHg.

  Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Skala kecemasan digunakan untuk mengambil data pada 67 orang responden yang didapat secara insidental dari Poliklinik Universitas Sanata Dharma, Poliklinik Universitas Negeri Yogyakarta, Rumah Sakit Panti Rapih, Rumah Sakit Bethesda dan relasi peneliti. Skala kecemasan untuk mengetahui tingkat kecemasan responden dimodifikasi dari

  

Depression Anxiety Stress Scales sub skala Kecemasan milik Lovibond & Lovibond.

  Disamping itu kuesioner juga menjaring karakteristik subjek mulai dari jenis kelamin, status pernikahan, jenis pekerjaan, umur, lama menderita, tekanan darah sistolik dan diastolik pada pemeriksaan terakhir. Statistik deskriptif, uji beda dan uji korelasi digunakan untuk menganalisis data dengan bantuan program SPSS 15 for

  windows .

  Hasil penelitian menunjukkan adanya tingkat kecemasan yang rendah pada penderita hipertensi karena Mean empirik < Mean teoritik (8,33 < 19,5). Tidak ada perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan antara subjek laki-laki dengan perempuan, antara subjek yang sudah menikah dengan belum menikah, serta antara subyek yang tidak bekerja, pegawai swasta, PNS dan pensiun. Ada hubungan signifikan antara tingkat kecemasan dengan umur (r= -0,313; p= 0,010), antara tingkat kecemasan dengan tekanan darah sistolik (r= 0,331; p= 0,006) dan antara tingkat kecemasan dengan tekanan darah diastolik (r= 0,365; p=0,002). Tidak ada hubungan signifikan antara tingkat kecemasan dengan lama menderita (r= 0,034; p= 0,782).

  Kata Kunci: kecemasan, hipertensi, jenis kelamin, status pernikahan, umur, lama menderita, tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik.

  

ABSTRACT

THE ANXIETY LEVEL OF HYPERTENSION PATIENTS

Bernadus Yuviadi Nifatantya

Sanata Dharma University

  

Yogyakarta

2009

The aim of this research’s to study the anxiety level of the hypertension

patients. This research also explained the various level of anxiety based on sex,

marital status and job, and the relationship between the anxiety level and age,

duration of disease, systolic and diastolic blood pressure. Hypertension means when

the blood pressure is more than or equals 140/90 mmHg.

  This research is a quantitative descriptive . Anxiety scales was being used to

collect the data sample from 67 respondents who were incidentally taken from

Sanata Dharma University Policlinic, Yogyakarta State University Policlinic, Panti

Rapih hospital, Bethesda Hospital and from the researcher’s relation. The anxiety

scale to find out the respondent’s anxiety level was taken from modification of

Lovibond and Lovibond’s anxiety sub scale of Depression Anxiety Stress Scales. The

questionnaire was used also to understand the respondents characteristics such as

sex, marital status, job, age, duration of disease, and latest systolic and diastolic

blood pressure. Descriptive statistic, differential test and correlation test were used

to analyze the data with the assistance of SPSS 15 for windows.

  The result showed that there was a low anxiety level of the hypertension

patients. Because Empirical Mean < Theoretical Mean (8,33 < 19,5). There was no

significant difference of anxiety level between male and female respondents; the

married and the single ones; the non working class, private company employees,

civil government officers and pensioners. There was a significant relationship

between anxiety level and age (r= -0,313; p= 0,010), anxiety level and systolic blood

pressure (r= 0,331; p= 0,006) and anxiety level and diastolic blood pressure (r=

0,365; p=0,002). There was no significant relationship between anxiety and duration

of disease (r= 0,034; p= 0,782).

Keywords: anxiety, hypertension, sex, marital status, job, age, duration of disease,

and systolic and diastolic blood pressure

KATA PENGANTAR

  Puji Tuhan untuk semua anugerah, rahmat, bimbingan, dan kasih sayangNya kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Semua yang penulis kerjakan merupakan anugerah dan kemurahanNya semata. Berbagai kendala dan hambatan diyakini penulis sebagai sebuah rencana untuk membuat penulis menjadi lebih baik lagi. Skripsi berjudul “Tingkat Kecemasan Penderita Hipertensi” digunakan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi pada Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan, bimbingan, serta pelayanan yang telah diberikan kepada penulis dengan segala ketulusan dari awal sampai akhir penulisan skripsi ini. Untuk itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Tuhan Yesus Kristus beserta keluargaNya, terima kasih atas rahmatmu yang melimpah..

  2. Ibu A.Tanti Arini, S.Psi., M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah bersabar mengarahkan penulis untuk menyusun penelitian ini.

  3. Aleydia Novi Sastika Krisna Wati (Nopek), my “Lovely Wife”, belahan jiwaku tercinta, terimakasih atas doa, perhatian, cinta, kasih sayang, kesetiaan, kesabaran dan ketulusanmu yang tak pernah luntur…

  4. Constantinus Ardio Ramon Giannofa, my “Little Guardian Angel”, semoga kelak jadi orang yang berani, jujur, dan bertanggung jawab, terimakasih telah mendewasakanku dan membuatku tegar…

  5. Mama, Papa, Mbak Lia, Dek Via, terimakasih atas doa, kesabaran dan dukungannya…

6. Bapak, Ibu, Mas Niko, terimakasih atas doanya…

  7. Keluarga Besar Eyang Harsono (Patangpuluhan), Keluarga Besar Eyang Radi (Klaten), Keluarga Besar Eyang Sumantri (Ngampilan), dan Keluarga Besar Eyang Saptoto (Wiratama) terimakasih atas doa dan dukungannya…

  8. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan bimbingan dan kemudahan dalam segala surat menyurat lebih-lebih surat keterangan masih kuliah.

  9. Ibu Dra. L. Pratidarmanastiti, MS. selaku dosen pembimbing akademik yang senantiasa memberi dukungan, motivasi dan semangat untuk segera menyelesaikan skripsi ini, terimakasih dan semoga cepat sembuh.....

  10. Teman-teman yang sudah membantu menyebarkan kuesioner, Bayu, Japhar, Eya, Shinta, Siska, Arya, Nonop, dll, terima kasih banyak atas bantuannya, besok tak bantu juga deh…

  11. Teman-teman Camp Base (eks De Britto 2004) yang ‘mati suri’, Bege, Budi, Blacky, Gesang, Nonop, Binar dll (maaf tidak bisa menyebutkan satu per satu) terimakasih untuk pertemanan dan dukungannya…

12. Teman-teman Lapen Boyz (eks De Britto 2004) yang selalu ‘ceria’, Zozix,

  Dharma, K-pleh, Dadik, Kebo, Ari Bagong, dll (maaf tidak bisa menyebutkan satu per satu) kapan angkat gelas lagi kawan?? Keep Rock & Roll…

  13. Teman-teman Komunitas Bawah Tangga Psikologi: Michael (†), Cuki, Topik, Yumil, Wisnu, Erol, Japhar, Simin, Alit, Vebri, Dora, Blegux, Thathat, Patje, Pakdedul, Anung, Yoyok, Anang&Vera, Dito, Yumil, Vani, Pristi, Atik, Wilis, Beli Made, Paimun, dll (yang belum kesebut masuk sini ya…), yang sudah menjadi sahabat dan teman selama mempelajari ilmu di kampus…

  14. Teman-teman Tumindak Ngiwo (TN) yang sudah kena gusur, Barjo, Wawan Sapi, Windra, dll, terima kasih bantuan dan dukungannya…

  15. Teman-teman di Patangpuluhan, Lilik, Kodok, Vallone, Bagong, Jati, Bodong, Bayu, dll, kukejar kesuksesan kalian…

  16. Teman-teman KKN, Yoyo, Tesi, Menyun, Cindel, Susuh, dll, ayo ‘ngidul’…

  17. Pembina De Britto Photography Club, Mas Wiwik dan Romo Mardi, terimakasih untuk pengalaman-pengalaman yang berharga serta motivasinya… 18. Bapak Ibu dosen Fakultas Psikologi tercinta yang telah memberi ilmu dan pengetahuan yang luar biasa...

  19. Mas Gandung dan Mbak Nanik yang telah membantu kelancaran administrasi akademik selama ini.

  20. Pak Gi…yang ramah dan murah senyum...

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL..................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBIMBING.................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................. iv HALAMAN MOTTO .................................................................................. v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................. vi ABSTRAK ................................................................................................... vii ABSTRACK ................................................................................................ viii HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ................... ix KATA PENGANTAR ................................................................................. x DAFTAR ISI ................................................................................................ xiv DAFTAR TABEL ........................................................................................ xvii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xix

  BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... 1 A. Latar Belakang Penelitian .................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................ 4 C. Tujuan Penelitian ................................................................. 4 D. Manfaat Penelitian ............................................................... 5 BAB II KAJIAN TEORI ......................................................................... 6 A. Kecemasan ………..........…………………………......... 6 1. Pengertian Kecemasan .................................................... 6

  3. Jenis-jenis Kecemasan.. .................................................. 11

  4. Alat Ukur Kecemasan…………………………………. 12 a.

  Depression Anxiety Stress Scale (DASS)………… 12

  b. Cognitive Somatic Anxiety Questionnaire (CSAQ). 14

  c. Leeds Scales for the Self-Assessment of Anxiety and

  Depression (Leeds SAAD)……………………….. 15

  d. Hospital Anxiety Depression Scale (HADS)……… 16 e.

  Personal Disturbance Scale (sAD)……………….. 16

  f. Positive and Negative Affect Schedule (PANAS)…. 16

  g. Beck Anxiety Inventory (BAI)…………………….. 17 h.

  Spielberg State Trait Anxiety Inventory (STAI)…… 17 i. Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS atau HAS atau HAM-A)……………………………………… 17

  B. Hipertensi………….…..........…………………............... 18

  1. Pengertian……………………………………………… 18 2.

  Klasifikasi Hipertensi...................................................... 20

  3. Penyebab Hipertensi ....................................................... 21 4.

  Penanganan Hipertensi.................................................... 25

  C. Kecemasan pada Penderita Hipertensi……………………. 25

  D. Kerangka Berpikir………………………………………… 28 E.

  Pertanyaan Penelitian……………………………………... 28

  BAB III METODE PENELITIAN ............................................................ 29

  B.

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................... 38 A. Persiapan Penelitian ............................................................. 38

  4. Hasil Penelitian Tambahan……………………………. 46 a.

  3. Kategorisasi Tingkat Kecemasan Penderita Hipertensi.. 43

  Deskripsi Data Penelitian……………………………… 42

  1. Deskripsi Karakteristik Subjek Penelitian…………….. 41 2.

  2. Cara-cara Pelaksanaan Penelitian ................................... 40 C. Hasil Penelitian ..................................................................... 41

  1. Waktu Penelitian ............................................................. 40

  1. Perizinan Penelitian…………………………………… 39 B. Pelaksanaa Penelitian ............................................................ 40

  H. Teknik Analisis Data ............................................................ 35

  Variabel Penelitian ................................................................ 29

  Pengukuran Reliabilitas Alat Tes……………………... 34

  2. Seleksi Item..................................................................... 33 3.

  1. Pengukuran Validitas Alat Tes........................................ 32

  F. Validitas dan Reliabilitas ...................................................... 32

  E. Metode dan Alat Pengumpulan data ................................... 30

  Subjek Penelitian .................................................................. 30

  C. Definisi Operasional ............................................................ 29 D.

  Uji Asumsi ............................................................ 46 i. Uji Normalitas……………………………... 46

  ii.

  Uji Homogenitas (Jenis Kelamin, Status Pernikahan, Jenis Pekerjaan )………. 49 iii. Uji Linearitas (Umur, Lama Menderita,

  Tekanan Darah Sistolik, Tekanan Darah Diastolik…………………………….. 48 b. Uji Beda…………………………………………. 49

  c. Uji Korelasi……………………………………... 51 D. Pembahasan .......................................................................... 51

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 62 A. Kesimpulan ........................................................................... 62 B. Keterbatasan Penelitian……………………………………. 63 C. Saran……………………………………………………….. 63 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 66 LAMPIRAN ................................................................................................. 69

  DAFTAR TABEL

  Tabel 1. Klasifikasi Tingkat Tekanan Darah Menurut WHO dalam Satuan mmHg……………………………………………….. 20 Tabel 2. Klasifikasi Tekanan Darah dan Hipertensi Umur

  ≥ 18 Tahun Menurut JNC VI dalam mmHg…………………………………….. 20

  Tabel 3. Klasifikasi Tekanan Darah dan Hipertensi Umur ≥ 18 Tahun

  Menurut JNC VII dalam mmHg………………………………….... 21 Tabel 4. Blue Print DASS-A......................................................................... 31 Tabel 5. Distribusi item skala kecemasan DASS-A Sebelum Seleksi Item

  (uji coba)…………………………………………………………. 31 Tabel 6. Seleksi item ……………………………………………………... 34 Tabel 7. Distribusi Item Skala Kecemasan DASS-A Setelah Seleksi Item

  (penelitian)………………………………………………………… 34 Tabel 8. Kategorisasi Tingkat Kecemasan……………………………….. 37 Tabel 9. Karakteristik Subjek........................................................................ 41 Tabel 10. Deskripsi Data Penelitian Tingkat Kecemasan............................. 43 Tabel 11. Kategorisasi Tingkat Kecemasan dan Karakteristiknya ............... 44 Tabel 12. Hasil Uji Normalitas ..................................................................... 47 Tabel 13. Hasil Uji Homogenitas.................................................................. 48 Tabel 14. Hasil Uji Linearitas ....................................................................... 49 Tabel 15. Hasil Uji Beda............................................................................... 50

  DAFTAR LAMPIRAN

  LAMPIRAN A. DATA KARAKTERISTIK SUBJEK ….………………. 69 LAMPIRAN B. TABULASI DATA ITEM ……………………………... 73

  1. UJI COBA …………………………………………... 74

  2. PENELITIAN ……………………………………….. 77 LAMPIRAN C. DESKRIPSI KARAKTERISTIK SUBJEK……………. 80 1.

  JENIS KELAMIN……………………………………. 81

  2. STATUS PERNIKAHAN…………………………… 82 3.

  PEKERJAAN………………………………………… 83

  4. UMUR……………………………………………….. 84

  5. LAMA MENDERITA……………………………….. 86 6.

  TEKANAN DARAH SISTOLIK……………………. 88

  7. TEKANAN DARAH DIASTOLIK………………….. 90 LAMPIRAN D. UJI RELIABILITAS…………………………………… 91

  1. UJI COBA…………………………………………… 92

  2. PENELITIAN………………………………………... 93 LAMPIRAN E. DESKRIPSI DATA PENELITIAN…………………….. 94 1.

  TINGKAT KECEMASAN…………………………... 95 2. DESKRIPSI KATEGORISASI TINGKAT

  KECEMASAN……………………………………….. 97 3. DESKRIPSI TIAP KATEGORI……………………... 98

  b.

  KATEGORI RINGAN ……………………………. 100

  c. KATEGORI SEDANG …………………………… 102 d.

  KATEGORI BERAT ……………………………... 104 LAMPIRAN F. UJI ASUMSI …………………………………………… 105

  1. UJI NORMALITAS ………………………………… 106 2.

  UJI HOMOGENITAS ……………………………… 107

  a. JENIS KELAMIN ………………………………. 107 b.

  STATUS PERNIKAHAN ………………………. 107

  c. JENIS PEKERJAAN …………………………… 107

  3. UJI LINIERITAS ………………………………….. 108 a.

  UMUR ………………………………………….. 108

  b. LAMA MENDERITA ………………………….. 108 c.

  TEKANAN DARAH SISTOLIK ………………. 108

  d. TEKANAN DARAH DIASTOLIK ……………. 108 LAMPIRAN G. UJI BEDA …………………………………………… 109 1.

  JENIS KELAMIN ………………………………… 110

  2. STATUS PERNIKAHAN ………………………… 111 3.

  JENIS PEKERJAAN ……………………………… 112 LAMPIRAN H. UJI KORELASI(ANTARA UMUR, LAMA MENDERITA, TEKANAN DARAH SISTOLIK DAN TEKANAN DARAH DIASTOLIK DENGAN TINGKAT KECEMASAN) ……… 114 LAMPIRAN I. INSTRUMEN PENELITIAN…………………………. 115

  1. UJI COBA ………………………………………… 116 2.

  PENELITIAN …………………………………….. 118 LAMPIRAN J. SURAT KETERANGAN TERKAIT PENELITIAN… 120

  1. SURAT PERNYATAN (Prof. dr. J. Hari Kusnanto, Dr. Ph)………………. 121

  2. SURAT KETERANGAN PENELITIAN…..…….. 122 3.

  SURAT IJIN PENELITIAN UNIT PELAYANAN KESEHATAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA……… 123 4. SURAT IJIN PENELITIAN UNIT PELAYANAN KESEHATAN

  UNIVERSITAS SANTA DHARMA……………… 124

  5. SURAT IJIN PENELITIAN RS. PANTI RAPIH………………………………... 125 6.

SURAT IJIN PENELITIAN

  RS. BETHESDA………………………………....... 126 7.

SURAT KETERANGAN SUDAH MELAKUKAN

  PENELITIAN RS. BETHESDA….………..……... 127

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Zaman modern ditandai dengan perubahan cepat di masyarakat dalam segala

  bidang. Perubahan norma dan pola kehidupan di masyarakat terjadi begitu cepat, tidak menentu dan sukar diprediksi, sehingga menimbulkan kebingungan dan frustasi. Perubahan cepat yang terjadi di masyarakat luas maupun di tempat kerja, menuntut dilakukannya adaptasi yang cepat pula. Apabila seseorang tidak bisa beradaptasi dengan cepat akan mengalami kecemasan (Hutapea, 2004).

  Kecemasan diartikan oleh Freud (dalam Faisal, 2006) sebagai perasaan takut atau khawatir yang berasal dari pikiran atau keinginan yang direpresi. Pada akhirnya Faisal (2006) menyimpulkan bahwa kecemasan merupakan respon terhadap situasi yang oleh individu dirasakan sebagai ancaman atau bahaya. Karena eratnya hubungan antara psikis dan fisik, maka Lovibond (dalam Crawford, 2003) menyatakan bahwa kecemasan akan ditandai oleh adanya rangsangan saraf otonom, respon otot rangka, kecemasan situasional, dan perasaan cemas yang subyektif.

  Kecemasan berlarut yang tidak ditanggulangi, secara kumulatif akan merusak tubuh dengan intensitas bervariasi, tergantung dari tingginya kecemasan dan daya tahan seseorang. Kecemasan, stres dan gangguan emosi lain dapat melatarbelakangi atau memperparah penyakit fisik (Sri Rahayu, 2005). National Institute of Health di Amerika Serikat melaporkan bahwa 90% masalah kesehatan ditimbulkan dan

  (locus minoris) dalam ilmu kedokteran, setiap orang memliki titik lemah masing- masing yang akan rentan terganggu terutama bila berada dalam keadaan cemas (Hutapea 2004). Dengan dasar teori ini, kecemasan dapat menimbulkan gangguan yang berbeda-beda untuk setiap orang, mulai dari sakit kepala, sakit punggung, sesak nafas, sakit maag, sampai hipertensi. Hipertensi adalah kondisi kronis yang ditandai dengan meningkatnya tekanan darah sistolik dan diastolik hingga lebih dari 140/90 mmHg (Beevers, 2002).

  Penderita hipertensi semakin meningkat jumlahnya, bahkan 1 dari 4 orang Amerika mengidap penyakit hipertensi (Iwan, 2007). Lebih dari 70% manajer mempunyai masalah kesehatan yang berhubungan dengan stres kerja dan hipertensi merupakan penyakit yang paling sering dialami, yaitu 68,4% (Kaila, 2002). Tidak jauh dengan Amerika, 10 hingga 20% penduduk inggris menderita hipertensi (Beevers, 2002). Di Indonesia pernah dilaporkan oleh Parsudi (dalam Karyono, 1994) bahwa prevalensi penderita hipertensi mencapai 6-15%.

  Banyak penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara hipertensi dan kecemasan, diantaranya Sullivan (1981), Whitehead (1997) dan Paterniti (1999) yang menyatakan adanya korelasi positif yang signifikan antara kecemasan dengan meningkatnya tekanan darah. Siswanto (2002) yang memandang penyakit dari segi psikosomatis, menjelaskan adanya saling pengaruh antara psikis dan fisik, sehingga penyakit fisik (somatis) selalu dipengaruhi oleh faktor psikis dan sosial, dan demikian juga sebaliknya.

  Kecemasan akan melatarbelakangi dan memperparah hipertensi karena pada

  (Angela, 2007). Menurut Canon (dalam Guyton, 1986), kecemasan akan menimbulkan respon “Fight or Flight” (melawan atau lari). Flight merupakan reaksi tubuh untuk melarikan diri, dan di sini terjadi peningkatan sekresi adrenalin ke dalam sirkulasi darah yang akan menyebabkan meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah sistolik, sedangkan fight merupakan reaksi agresif untuk menyerang yang akan menyebabkan sekresi noradrenalin, rennin angiotensin sehingga tekanan darah meningkat baik sistolik maupun diastolik.

  Sama halnya kecemasan dapat menyebabkan hipertensi, sebaliknya hipertensi dapat membuat cemas penderitanya. Santrock (2002) mengemukakan bahwa hipertensi akan memicu kekhawatiran munculnya komplikasi penyakit yang lebih berat, atau bahkan kematian. Pengelolaan hipertensi menuntut penderitanya untuk mengubah gaya hidup, baik baik menyangkut pola makan, pola kerja/ olahraga dan pengelolaan stres. Kekhawatiran dan tuntutan tersebut dapat meningkatkan kecemasan penderita hipertensi.

  Terkait dengan hubungan antara kecemasan dengan hipertensi, Willenz (2002) menyatakan bahwa kecemasan pada penderita hipertensi penting untuk ditanggulangi. Banyak cara dapat dilakukan untuk menanggulangi kecemasan tersebut, baik secara farmakologis maupun non-farmakologis. Apapun cara yang dipilih harus diketahui terlebih dahulu tingkat kecemasan penderita hipertensi (Karyono, 1994). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Frazier (2002), 71,3% dari 783 perawat setuju akan pentingnya assessment tingkat kecemasan penderita hipertensi untuk memudahkan pengamanan. Selebihnya Snaith (1976) mengungkapkan pentingnya mengetahui tingkat kecemasan untuk memutuskan jenis pemberian treatment beserta jangka waktu pemberiannya.

  Sejauh ini peneliti belum menemukan informasi atau penelitian yang mengkaji mengenai tingkat kecemasan penderita hipertensi di Indonesia pada umumnya dan di Yogyakarta pada khususnya. Informasi tersebut sangat dibutuhkan oleh para professional yang terkait dengan penanggulangan kecemasan seperti misalnya psikolog, dokter, terapis fisik, dan lain-lain, untuk menentukan program penanggulangan kecemasan penderita hipertensi. Dari kesenjangan inilah maka peneliti akan melakukan penelitian dengan judul “Tingkat Kecemasan Penderita Hipertensi”.

  B. Rumusan Masalah

  Dari latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “ Bagaimana tingkat kecemasan penderita hipertensi?”

  C. Tujuan Penelitian

  Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditentukan, penelitian ini bertujuan untuk: “ Mendeskripsikan tingkat kecemasan penderita hipertensi.”

D. Manfaat Penelitian

  1. Secara Teoritis Menambah khazanah ilmu, khususnya psikologi kesehatan, yang terkait dengan kecemasan pada penderita hipertensi.

  2. Secara Praktis

  a. Bagi penderita hipertensi: memberikan gambaran mengenai kecemasan yang dialaminya, beserta kaitannya dengan variabel-variabel lain yang ada pada dirinya.

  b. Bagi Dokter dan Tenaga Medis: memberi masukan dalam mempertimbangkan pengelolaan kecemasan pada penderita hipertensi.

  c. Bagi fakultas psikologi terutama bidang psikologi kesehatan: sebagai inspirasi untuk mengembangkan program penanggulangan kecemasan pada umumnya dan untuk penderita hipertensi pada khususnya.

BAB II KAJIAN TEORI A. Kecemasan

1. Pengertian Kecemasan Istilah kecemasan mulai diperbincangkan pada permulaan abad ke 20.

  Pada mulanya Freud (dalam Faisal, 2006) mengartikan kecemasan sebagai transformasi lepasnya ketegangan seksual yang menumpuk melalui sistem saraf otonom. Selanjutnya kecemasan diartikan sebagai perasaan takut atau khawatir yang berasal dari pikiran atau keinginan yang direpresi. Pada akhirnya kecemasan diartikan sebagai suatu respon terhadap situasi yang dirasakan mengancam dan berbahaya. Menurut Johnston (dalam Apollo, 2007) kecemasan merupakan reaksi terhadap adanya ancaman dan hambatan terhadap keinginan pribadi atau perasaan tertekan yang disebabkan oleh perasaan kecewa, rasa tidak puas, rasa tidak aman atas sikap permusuhan dengan orang lain. Selanjutnya menurut Lazarus (dalam Apollo, 2007) kecemasan adalah gangguan komplek disertai dengan perasaan tidak mampu dan tidak menentu sehingga dirasa sangat mengganggu.

  Menurut Faisal (2006) kecemasan merupakan pengalaman yang bersifat subyektif, tidak menyenangkan, tidak menentu, menakutkan dan mengkhawatirkan akan adanya kemungkinan bahaya atau ancaman bahaya, dan sering kali disertai oleh gejala- gejala atau reaksi-reaksi fisik tertentu

  2007) menambahkan bahwa jika seseorang mengalami perasaan gelisah, gugup atau tegang dalam menghadapi situasi yang tidak pasti berarti orang tersebut mengalami kecemasan.

  Pengertian kecemasan menurut Lovibond dan Lovibond (1995) adalah suatu keadaan negatif pada seseorang yang ditandai oleh adanya rangsangan saraf otonom, respon otot rangka, kecemasan situasional dan perasaan cemas yang subyektif (Crawford 2003).

  Dalam penelitian ini alat ukur kecemasan merupakan adaptasi dari Depression Anxiety Stress Scale (DASS) yang disusun oleh Lovibond dan Lovibond (1995), maka pengertian kecemasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah suatu keadaan negatif pada seseorang yang ditandai oleh adanya rangsangan saraf otonom, respon otot rangka, kecemasan situasional dan perasaan cemas yang subyektif.

2. Aspek-aspek Kecemasan

  Aspek kecemasan yang disusun oleh Lovibond dan Lovibond (1995) dianggap sebagai tanda kecemasan, selanjutnya dirinci oleh Crawford (2003) sampai ke indikasinya. Rincian tersebut terurai sebagai berikut: a.

  Rangsangan saraf otonom, diindikasikan dengan meningkatnya aktivitas jantung, berkeringat, mulut kering, sulit bernafas dan sulit menelan.

  b. Respon otot rangka, diindikasikan dengan kondisi lemah lunglai dan gemetar.

  c. Kecemasan situasional, diindikasikan dengan kekhawatiran, kecemasan d.

  Perasaan cemas yang subyektif, diindikasikan dengan perasaan panik, perasaan ngeri, perasaan takut dan merasa akan pingsan Snaith (1976) dalam skala kecemasan Leeds Scales for the Self-

  

Assessment of Anxiety mengindikasikan kecemasan dengan keadaan panik,

  kurang istirahat, ketakutan terhadap tempat luas/ umum, mudah terkejut, jantung berdebar-debar, ketakutan yang berlebihan dan tekanan psikis. Jika dihubungkan dengan aspek kecemasan menurut Lovibond maka indikasi yang dikemukakan oleh Snaith dapat diurai sebagai berikut: a. indikasi jantung berdebar-debar masuk dalam aspek rangsangan saraf otonom.

  b. indikasi kurang istirahat, ketakutan terhadap tempat luas/ umum dan tekanan psikis dapat digolongkan ke dalam aspek kecemasan situasional.

  c. indikasi kecemasan seperti mudah terkejut, ketakutan yang berlebihan dan tekanan psikis dapat digolongkan ke dalam aspek perasaan cemas yang subjektif.

  Jika dibandingkan dengan aspek kecemasan menurut Lovibond, indikasi kecemasan dari Snaith belum mencakup aspek respon otot rangka, dengan kata lain aspek kecemasan Snaith kurang lengkap dan kurang rinci dibanding dengan aspek kecemasan Lovibond.

  Dalam penelitian survey yang dilakukan oleh Frazier dkk (2002) yang ditujukan pada anggota American Association of Critical Care Nurses dipaparkan adanya empat aspek utama indikasi kecemasan, yaitu:

  a. Aspek Fisiologis, diindikasikan dengan meningkatnya tekanan darah dan denyut jantung.

  b.

  Aspek Behavioral, diindikasikan dengan agitation, keluhan ‘cemas’ dan kurang istirahat.

  c.

  Aspek Somatis, diindikasikan dengan sakit dada, nafas pendek dan sulit menelan.

  d. Aspek Psikologis, diindikasikan dengan rasa takut dan marah Jika keempat aspek di atas dihubungkan dengan aspek kecemasan menurut Lovibond terdapat beberapa kesamaan yaitu aspek rangsangan saraf otonom milik Lovibond dan Lovibond mencakup aspek fisiologis dan somatis milik Frazier; sedangkan aspek kecemasan situasional milik Lovibond sesuai dengan aspek behavioral milik Frazier; dan aspek perasaan cemas yang subjektif milik Lovibond sesuai dengan aspek psikologis milik Frazier. Dari perbandingan tersebut maka tampak bahwa aspek respon otot rangka milik Lovibond tidak muncul dalam aspek kecemasan yang disusun oleh Frazier.

  Schwartz (1978) dalam skala kecemasan Cognitive Somatic Anxiety

  

Questionnaire menggolongkan aspek kecemasan dari segi kognitif dan

  somatik. Aspek kognitif ditunjukkan dengan kondisi psikis seseorang, sedangkan aspek somatik ditunjukkan dengan kondisi fisik. Jika dibandingkan

  Schwartz menggolongkan aspek kecemasan secara lebih umum dan Lovibond menggolongkan aspek kecemasan secara lebih khusus, karena aspek kognitif milik Schwartz mencakup aspek kecemasan situasional dan perasaan cemas yang subyektif milik Lovibond, sedangkan aspek somatik mencakup aspek rangsangan saraf otonom dan respon otot rangka milik Lovibond.

  Menurut Bucklew (dalam Sri Rahayu 2005), secara garis besar kecemasan termanifestasi di dalam dua tema besar yaitu reaksi psikologis dan reaksi fisiologis. Reaksi psikologis adalah kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan dan reaksi fisiologis adalah kecemasan yang berwujud sebagai gejala fisik. Keempat aspek kecemasan yang disusun oleh Lovibond dan Lovibond sudah termasuk dalam dua tema besar manifestasi dari kecemasan, dimana aspek saraf otonom dan respon otot rangka tergolong dalam reaksi fisiologis, sedangkan aspek kecemasan situasional dan perasaan cemas yang subyektif tergolong dalam reaksi psikologis.

  Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat bahwa aspek kecemasan menurut Lovibond dan Lovibond sudah mewakili aspek kecemasan menurut Snaith, lebih lengkap daripada aspek kecemasan menurut Frazier, dan lebih rinci dibanding aspek kecemasan menurut Schwartz dan Bucklew. Berdasarkan hal tersebut aspek kecemasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah aspek kecemasan yang disusun oleh Lovibond dan Lovibond, yang terdiri atas rangsangan saraf otonom, respon otot rangka, kecemasan situasional dan perasaan cemas yang subyektif.

3. Jenis-jenis Kecemasan

  Menurut Freud Kecemasan berdasarkan sumbernya dibagi menjadi tiga (dalam Shinta 2006), yaitu:

  a. Kecemasan Neurotik Ketakutan terhadap suatu bahaya yang tidak jelas, berasal dari tidak terkendalinya naluri-naluriyang menyebabkan seseorang melakukan tindakan bisa mendatangkan hukuman bagi dirinya. Kecemasan ini merupakan akibat konflik antara id dengan ego.

  b. Kecemasan Realistik Perasaan yang tidak menyenangkan dan tidak spesifik yang menyangkut tentang bahaya yang ada, kecemasan ini juga dikenal dengan kecemasan obyektif karena taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman atau bahaya yang ada.

  c. Kecemasan Moral Kecemasan yang terjadi akibat adanya konflik antara ego dan superego sehingga terjadi ketakutan terhadap hati nurani sendiri.seseorang yang hati nuraninya berkembang baik, cenderung merasa berdosa apabila melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kode moral yang dimilikinya.

  Berbeda dengan Freud, Lazarus (dalam Dionisius 2003), membagi kecemasan sebagai suatu respon kedalam dua tema besar yaitu: a.

  State Anxiety (Keadaan Cemas) Kecemasan yang timbul jika individu dihadapkan pada situasi tertentu dan gejalanya selalu tetap selama situasi itu ada.

  b.

  Trait Anxiety (Sifat Cemas) Kecemasan yang timbul sebagai suatu yang menetap pada diri individu. Kecemasan ini berhubungan dengan kepribadian individu yang mengalaminya. Berdasarkan penjabaran diatas maka dalam yang dimaksud kecemasan dalam penelitian ini State Anxiety yaitu keadaan cemas pada penderita hipertensi.

4. Alat Ukur Kecemasan

a. Depression Anxiety Stress Scale (DASS)

  DASS disusun oleh Lovibond & Lovibond pada tahun 1995. DASS adalah alat ukur depresi, kecemasan dan stres dengan model self report yang terdiri dari tiga sub bagian, yaitu DASS-Depression (DASS-D), DASS-Anxiety (DASS-A) dan DASS-Stress (DASS-S). Setiap sub bagian pada DASS terdiri dari 14 item pernyataan (item total berjumlah 42).

  Respon dari tiap item dalam DASS menggunakan skala Likert dari 0, 1, 2, hingga 3 (Nieuwenhuijsen 2003). Norma DASS terdiri dari lima golongan, yaitu 0-78 normal; 78-87 ringan; 87-95 sedang; 95-98 berat; 98-100 sangat berat (Crawford 2003).

  Dalam penelitian Lovibond & Lovibond (1995) DASS diberikan pada 717 responden (pelajar). Dalam penelitian ini, DASS dikorelasikan dengan Beck Anxiety Inventory (BAI) dan Beck Depression Inventory (BDI), hasilnya adalah korelasi DASS-A dan BAI adalah 0,81, sedangkan DASS-D dan BDI adalah 0,74. Selebihnya penelitian Antony dkk (1998) menemukan hasil yang sama pada sampel klinis (Crawford 2003). Selanjutnya dalam penelitian Crawford (2003) yang diterapkan pada 1.771 (965 wanita dan 806 laki-laki) sampel non klinis ditemukan adanya korelasi antara DASS-A dan

  

The Personal Disturbance Scale-sub Anxiety (sAD-A) adalah 0,72 dan

  korelasi antara DASS-A dan The Hospital Anxiety and Depression Scale-

  

sub Anxiety (HADS-A) sebesar 0.62 (p<0.001), hasil korelasi antara DASS-

  A dan HADS-A ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Nieuwenhuijsen (2003) yaitu r = 0.66. Selanjutnya dalam penelitian Crawford (2003), korelasi antara DASS-A dan Positive and Negative Affect

  

Schedule sebesar -0.29 untuk sub skala positive affect (PANAS-PA) dan

0.60 untuk sub skala negative affect (PANAS-NA).

  Dalam penelitian Lovibond & Lovibond pada sampel non klinis (N= 2.914) ditemukan bahwa reliabilitas DASS dengan menggunakan Alpha

  

Cronbach adalah 0.91 untuk sub skala depresi; 0.84 untuk sub skala

  kecemasan dan; 0.90 untuk sub skala stres (Crawford 2003). Selebihnya, pada penelitian Crawford (2003) dihasilkan konsistensi internal (reliabilitas) DASS dengan Alpha Cronbach adalah 0.897 pada sub skala kecemasan; penelitan yang dilakukan oleh Nieuwenhuijsen (2003) didapatkan perhitungan statistik khususnya reliabilitas pada tiap sub skala depresi, kecemasan dan stres secara berurutan adalah 0.94; 0.88; 0.93. Dengan demikian baik DASS-D, DASS-A, maupun DASS-S dapat dikatakan valid dan reliabel.

b. Cognitive Somatic Anxiety Questionnaire (CSAQ)

  Skala kecemasan CASQ disusun oleh Schwartz dkk. pada tahun 1978 dengan memandang kecemasan dari segi psikobiologikal. Skala ini diujicobakan pada 77 pekerja. Dalam penelitiannya, mereka mengimplementasikan latihan fisik dan meditasi untuk menurunkan gejala somatik dan kognitif pada kecemasan. CASQ terdiri dari 14 item (7 item kognitif dan 7 item somatik). Skala respon tiap item terdiri dari 5 anchor (1- tidak sama sekali hingga 5- sangat tepat).

  Korelasi antara CSAQ dengan STAI (Spielberg State-Trait

  

Inventory ) adalah 0.67.sedangkan korelasi antara sub skala somatik dan sub

skala kognitif sendiri adalah 0,42.

  Contoh item pernyataan CSAQ: Kognitif: “ Saya merasa susah berkonsentrasi karena pikiran tidak terkontrol ” “ Saya Khawatir secara berlebihan terhadap sesuatu yang tidak perlu

  dicemaskan”

  “ Saya membayangkan hal-hal yang mengerikan “ Somatik “ Jantung saya berdetak lebih cepat “ ” Saya merasa tubuh saya gelisah “ “ Saya mengalami diare

  

c. Leeds Scales for the Self-Assessment of Anxiety and Depression (Leeds

SAAD)

  Leeds SAAD diciptakan oleh Snaith dkk, pada tahun 1976. Leeds SAAD merupakan skala improvisasi (ubahan) dari Wakefield Self

  

Assessment of Depression Inventory , yang juga diciptakan oleh Snaith pada

  tahun 1971, dengan menambah beberapa item. Leeds SAAD terdiri dari 22 item, dengan item no 21 dan 22 diambil dari Anxiety Scale of the Symptom

  Rating Test yang disusun oleh Kellner dan Shefield pada tahun 1973.

  Respon dari tiap item terdiri dari 4 anchor (0- tidak sama sekali; 1- tidak begitu; 2- kadang-kadang; 3- pasti) (Snaith 1976) Korelasi antara Leeds SAAD- sub skala depresi dengan Hamilton

  

Depression Rating Scale sebesar 0.94, sedangkan korelasi antara Leeds

  SAAD- sub skala kecemasan dengan Hamilton Anxiety Rating Scale sebesar 0.90.

  Contoh item Leeds SAAD sub skala kecemasan: “ Saya merasa sangat ketakutan/ panik terhadap sesuatu yang tidak

  beralasan

  “ Saya merasa cemas ketika keluar rumah sendiri

  “ Saya merasa tegang

  d. Hospital Anxiety Depression Scale (HADS)

  HADS diciptakan oleh Zigmond & Snaith pada tahun 1983. Skala ini digunakan untuk mengetahui tingkat depresi dan kecemasan dalam lingkungan non-psikiatris klinis.HADS terdiri dari 14 item (7 item depresi dan 7 item kecemasan). Dalam skal ini responden diminta untuk mendeskripsikan dirinya dengan memilih jawaban yang paling mendekati sesuai keadaan mereka dalam 1 minggu terakhir (Crawford 2003 dan Nieuwenhuijsen 2003). Contoh item pernyataan HADS-A: “ Saya merasa tidak bisa beristirahat seakan harus bergerak “ “ Saya cepat merasa panik “ “ Saya merasa tertekan

  e. Personal Disturbance Scale (sAD)

  Skala ini diambil dari Delusions-Symptoms States Invent (DSSI) yang diciptakan Bedford dan Foulds (1978). Skala ini terdiri dari 14 item (7 item kecemasan dan 7 item depresi) (Crawford 2003).

  f. Positive and Negative Affect Schedule (PANAS)

  PANAS diciptakan oleh Watson dkk. pada tahun 1988. Skala dengan model self report ini berisi mengenai perasaan positif dan negatif dengan jumlah item sebanyak 20 (Crawford 2003)

  g. Beck Anxiety Inventory (BAI)

  BAI dibentuk oleh Aaron T. Beck. Skala ini terdiri dari 21 item kecemasan, tiap item memiliki respon dengan skala 4 poin (dari 0 sampai 3). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Contreras dkk (2004) dihasilkan bahwa reliabilitas BAI sebesar 0,82.

  h. Spielberg State Trait Anxiety Inventory (STAI)

  STAI diciptakan oleh Charles D. Spielberg. Skala ini terdiri dari 40 item total (20 sifat cemas dan 20 keadaan cemas). Seluruh respon tiap item terdiri dari 4 skala likert, yaitu untuk sifat cemas (Trait Anxiety) terdiri dari 1- hampir tidak pernah, 2- kadang-kadang, 3- sering dan 4- selalu sedangkan untuk keadaan cemas (State Anxiety) adalah 1- tidak sama sekali, 2- agak, 3- cenderung begitu, dan 4- sangat tepat

i. Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS atau HAS atau HAM-A)

  HARS disusun oleh Max Hamilton pada tahun 1959. Skala ini terdiri dari 14 item, tiap item memiliki respon dengan skala 5 poin (0-4) (Lipsig,

  

  Berdasarkan uraian berbagai macam alat ukur kecemasan, peneliti memutuskan untuk menggunakan dan mengadaptasi DASS sub skala

  anxiety (kecemasan) sebagai alat ukur tingkat kecemasan penderita

  hipertensi. Selain karena DASS mengandung aspek kecemasan dari Lovibond, juga merupakan alat ukur kecemasan yang paling baru dengan korelasi dan reliabilitas skala yang tinggi. Selebihnya menurut maupun non-klinis, bahkan tepat untuk digunakan dalam penanganan kesehatan. Sebagai alat ukur kecemasan, depresi dan stres, DASS memiliki tingkat pembeda yang cukup tinggi karena sudah memisahkan ketiga faktor tersebut dalam indikator-indikator yang jelas (tidak ambigu).

B. Hipertensi

1. Pengertian

  Hipertensi diartikan sebagai kondisi tekanan darah yang menetap lebih tinggi dari kisaran normal (Althaus, 1997). Beevers (2002) medefinisikan hipertensi sebagai kondisi seseorang dengan tingkat tekanan darah diatas atau sama dengan 140/90 mmHg. Sedikit berbeda dengan Beevers, Eyer serta Gutmann (dalam Karyono 1994), secara garis besar hipertensi didefinisikan sebagai naiknya tekanan darah secara kronis, umumnya di atas 140/95 mmHg.

  Batas atas kisaran normal yang ditetapkan WHO (dalam Tuty, 2006) adalah 140 mmHg untuk tekanan darah sistolik dan 90 mmHg untuk tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik menggambarkan besarnya tekanan cairan darah ke dinding pembuluh darah sewaktu jantung berkontraksi mencurahkan darah dari jantung ke seluruh tubuh, sedangkan tekanan darah diastolik menggambarkan hal yang sama, namun pada saat jantung relaksasi memasukkan darah dari seluruh tubuh ke dalam jantung. Dengan demikian, setiap kali pengukuran tekanan darah dilakukan, dilaporkan dua nilai sebagai tekanan sistolik dan tekanan diastolik (Althaus, 1997)

  Hipertensi adalah salah satu penyakit kardiovaskuler (jantung dan Hipertensi merupakan penyakit permanen atau penyakit yang akan diderita seumur hidup (Hipertensi Baru, hipertensi bukan merupakan penyakit pembunuh utama, namun penyakit ini digolongkan sebagai The Silent Killer (pembunuh diam-diam/pembunuh bisu) karena biasanya tidak menimbulkan gejala-gajala tertentu hingga akhirnya menimbulkan penyakit lain ataupun komplikasi yang dipicu oleh tekanan darah tinggi tersebut, dengan kata lain penyakit ini sulit terdiagnosis sejak awal (Beevers 2002).

  Menurut Beevers (2002), hipertensi patut diwaspadai karena jika arteri yang mengalirkan darah keluar dari jantung harus menahan tekanan yang tinggi selama bertahun-tahun (bagi penderita yang tidak tahu dan tidak berobat), maka pembuluh darah tersebut akan rusak, lapisannya menjadi kasar dan tebal sehingga pada akhirnya menimbulkan penyempitan dan kekakuan dinding pembuluh darah (arteriosklerosis). Maka jika arteri terlalu sempit, darah tidak dapat mengalir dengan lancar, bagian tubuh yang membutuhkan pasokan darah dan oksigen akan terhalang. Pada saat arteri menyempit, terjadi peningkatan kecenderungan darah membeku (thrombosis), yang dapat menyebabkan penyumbatan total pada arteri sehingga bagian tubuh yang sama sekali tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen akan menjadi mati (tidak berfungsi). Selanjutnya dipaparkan bahwa tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu dari tiga faktor resiko utama (penyebab) serangan jantung dan stroke.

2. Klasifikasi Hipertensi

  Menurut Joint National Committee on Detection, Evaluation and

  5 Hipertensi Derajat 2 160-179 100-109

  4 Hipertensi Derajat 1 140-159 90-99

  3 Normal-Tinggi 130-139 85-89

  2 Normal <130 <85

  1 Optimal < 120 <80

  No Klasifikasi Sistolik Diastolik

  TABEL 2 Klasifikasi Tekanan Darah dan Hipertensi Umur ≥ 18 Tahun Menurut JNC VI dalam mmHg

  

Treatment of High Blood Pressure atau JNC, terdapat perbedaan antara JNC VI

dan JNC VII yang terlihat dalam tabel 2 dan tabel 3 berikut (Tuty 2006).

  Pengelompokkan kriteria hipertensi bermacam-macam, namun secara umum kurang lebih sama. World Health Organization atau WHO (dalam Tuty 2006) mengklasifikasikan tingkat tekanan darah dalam satuan mmHg pada tabel 1.

  TABEL 1 Klasifikasi Tingkat Tekanan Darah Menurut WHO dalam Satuan mmHg

  < 90

  7 Hipertensi sistolik terisolasi 140

  6 Hipertensi derajat 3 (berat) ≥180 ≥110

  5 Hipertensi derajat 2 (sedang) 160-179 100-109

  4 Hipertensi derajat 1 (ringan) 140-159 90-99

  3 Normal-tinggi 130-139 85-89

  2 Normal <130 <85

  1 Optimal <120 <80

  No Klasifikasi Sistolik Diastolik

  8 Subkelompok : boderline 140 – 149 < 90 Selanjutnya diterangkan jika tekanan darah sistolik dan diastolik berbeda klasifikasi, maka klasifikasi yang dipakai adalah klasifikasi yang lebih tinggi.

  TABEL 3 Klasifikasi Tekanan Darah dan Hipertensi Umur ≥ 18 tahun Menurut JNC VII dalam mmHg

  No Klasifikasi Sistolik Diastolik

  1 Normal < 120 <80

  2 Prehipertensi 120-139 80-89

  3 Hipertensi Derajat 1 140-159 90-99

  4 HipertensiDerajat

  2 ≥160 ≥100

  Dalam penelitian ini digunakan pengklasifikasian hipertensi ditentukan berdasarkan klasifikasi menurut WHO karena cenderung sama dengan pengklasifikasian hipertensi dalam JNC VI.

3. Penyebab Hipertensi

  Menurut penyebabnya, hipertensi dibedakan menjadi:

  a. Hipertensi Primer (hipertensi esensial), yaitu hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui secara spesifik (Beevers 2002).

  b. Hipertensi Sekunder, yaitu hipertensi yang diakibatkan oleh masalah yang terjadi akibat efek samping pemberian suatu obat, kehamilan, atau gangguan organik lain seperti ginjal dan paru (WHO 1978 dalam Karyono 1994).

  Dalam Beevers (2002) dikatakan bahwa 95 persen kasus hipertensi merupakan hipertensi primer atau esensial dan 5 persen sisanya merupakan hipertensi sekunder.

  Secara umum, dalam Beevers (2002) dan Karyono (1994) dipaparkan bahwa hipertensi disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut: a. Faktor Genetik atau Keturunan Menurut WHO pada tahun 1978 (dalam Karyono, 1994), terdapat empat hal yang dapat dijadikan bukti akan adanya pengaruh faktor keturunan sebagai salah satu faktor penyebab hipertensi, yaitu: 1) Tekanan darah dalam satu keluarga relatif sama.

  2) Pada kembar monozigotik tekanan darahnya cenderung sama satu sama lain dibanding kembar dizigotik.

  3) Antara anak kandung dan adopsi tidak terdapat korrelasi yang bermakna dalam tekanan darahnya.

  4) Terdapat kecenderungan antara saudara dekat dan saudara jauh memiliki tekanan darah yang sama.

  b. Faktor Pola Makan 1) Berat Badan

  Seseorang dengan berat badan berlebihan (tidak disertai tinggi badan) cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibanding dengan orang yang kurus. Hal ini disebabkan karena semakin berat badan seseorang maka semakin besar pula kerja jantung dan pembuluh darah dalam melayani seluruh tubuh (Karyono 1994). 2) Konsumsi Garam

  Konsumsi garam yang tinggi selama bertahun-tahun memungkinkan terjadinya peningkatan tekanan darah karena peningkatan kadar sodium dalam sel-sel otot halus pada dinding arteri dalam sel-sel tersebut, dan akan menyebabkan arteri kecil berkontraksi dan menyempit (Beevers 2002).

  3) Konsumsi Alkohol Semakin banyak konsumsi alkohol maka semakin tinggi tekanan darah di dalam tubuh. Bahkan peminum berat atau alkoholik sangat beresiko mengalami stroke (Beevers 2002). 4) Konsumsi Potasium dan Kalsium

  Potasium banyak terkandung dalam buah-buahan dan sayuran, sedangkan kalsium banyak terkandung dalam susu. Dengan mengonsumsi banyak buah dan sayur maka kecenderungan munculnya hipertensi semakin kecil. Hal ini disebabkan karena sel-sel tubuh bereaksi terhadap kandungan potasium yang tinggi dengan membuang sodium. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan mengkonsumsi kalsium maka tubuh aman dari kemunculan hipertensi. Namun penelitian ini masih menjadi kontroversi (Beevers 2002). 5) Konsumsi Protein

  Kurangnya konsumsi protein akan menyebabkan naiknya tekanan darah. Hal ini diakibatkan karena tingginya masukan protein digunakan untuk mengurangi efek tingginya masukan garam (Karyono 1994).

  6) Konsumsi Air Lunak atau minuman ringan (Soft Drink) Soft Drink menyebabkan kemungkinan terjadinya peningkatan tekanan darah karena dalam soft drink terkandung kadar garam yang cukup tinggi dan kandungan mineral yang rendah (Karyono 1994).

  c. Faktor Olahraga Dalam kenyataanya ketika berolahraga tubuh bekerja lebih keras sehingga tekanan darahpun naik. Namun jika olahraga ini dilakukan dengan teratur maka dapat mempengaruhi menurunnya tekanan darah dibandingkan dengan melakukan olahraga yang cukup melelahkan namun hanya sesekali (tidak teratur). Seseorang yang melakukan olahraga teratur cenderung memiliki pola hidup yang lebih sehat dengan tidak memiliki kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol (Beevers 2002).

  d. Faktor Psikososial (Karyono 1994 dan Beevers 2002) 1) Konflik

  Dalam Karyono (1994) dikatakan bahwa rasa bermusuhan (konflik) atau kondisi neurotik berpengaruh pada perubahan tekanan darah. Hal ini dikemukakan pertama kali oleh Alexander (1939) yang dikutip oleh Prokop dan Bradley (1981). 2) Stres

  Stres cenderung meningkatkan tekanan darah dalam waktu yang relatif singkat. Sebagai contoh ketika seseorang mendengar berita buruk atau tidak menyenangkan dalam waktu singkat tekanan darah dapat

4. Penanganan Hipertensi

  Penanganan hipertensi dibagi menjadi dua bagian besar yaitu penanganan farmakologis dan penanganan nonfarmakologis. Penanganan farmakologis menggunakan obat-obatan untuk mengurangi tekanan darah, yang diberikan oleh dokter. Penanganan nonfarmakologis, biasanya dilakukan dengan cara mengubah pola hidup, diantaranya melalui mengurangi konsumsi garam, mengendalikan berat badan, mengendalikan pengkonsumsian minuman beralkohol, melakukan olahraga, mengkonsumsi suplemen potassium dan kalsium, mengikuti konseling stres, melakukan relaksasi dan melakukan meditasi.

C. Kecemasan pada Penderita Hipertensi

  Ada dua faktor yang paling berpengaruh pada tekanan darah, yaitu curah jantung dan tekanan pembuluh darah tepi. Baik curah jantung maupun tekanan pembuluh darah tepi dipengaruhi oleh aktivitas saraf dan hormon (Althaus 1997).Seperti diketahui sistem saraf terdiri atas sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang, serta berfungsi untuk mengontrol kegiatan seluruh bagian tubuh. Sistem saraf tepi merupakan jaringan saraf yang menghubungkan sistem saraf pusat dengan berbagai bagian tubuh. Sistem saraf tepi berdasarkan fungsinya dibagi menjadi saraf sensorik yang bertugas menyampaikan informasi ke sistem saraf pusat, dan saraf motorik yang bertugas menyampaikan respon gerak ke seluruh tubuh. Saraf dikendalikan (otot rangka), dan saraf otonom yang mengatur gerakan yang tidak bisa dikendalikan (otot jantung, otot dinding pembuluh darah dan otot usus).

  Sistem saraf otonom terdiri atas saraf simpatis dan saraf parasimpatis yang bekerja berlawanan. Apabila saraf simpatis terangsang akan terjadi peningkatan denyut jantung, penyempitan pembuluh darah dan peningkatan tekanan darah. Saraf parasimpatis bertugas mengembalikan respon peningkatan tekanan darah tersebut ke kondisi normal.

  Kecemasan akan merangsang sistem saraf simpatis yang selanjutnya akan merangsang kelenjar anak ginjal (kelenjar adrenal) untuk mengeluarkan hormon adrenalin dan noradrenalin, kortisol dan aldosteron. Zat-zat tersebut akan meningkatkan denyut jantung dan mempersempit pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat (Faisal, 2006). Disamping rangsangan simpatis, kecemasan akan mengurangi pembuatan sel darah putih sehingga daya tahan tubuh terhadap penyakit akan menurun (Frazier, 2002)

  Salan (dalam Faisal 2006) mengatakan bahwa kecemasan menyebabkan terjadinya sekresi adrenalin yang berlebihan sehingga menyebabkan tekanan darah meningkat, akan tetapi pada ketakutan atau kecemasan yang sangat hebat, bisa terjadi reaksi yang dipengaruhi oleh komponen parasimpatis sehingga menyebabkan tekanan darah menurun. Dalam faisal (2006) terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan hubungan antara kecemasan dengan tekanan darah, diantaranya Falker (1978), Knardahl (1988) dan Folkow (1982) menyatakan bahwa peningkatan kecemasan akan meningkatkan tekanan sistolik, sedangkan Steproe (1982) membuktikan pengaruh kecemasan dalam meningkatkan tekanan diastolik.

  Hipertensi berpengaruh terhadap munculnya atau meningkatnya kecemasan pada seseorang. Santrock (2002) dan Beevers (2004) mengemukakan pendapat yang sama bahwa seseorang yang menderita hipertensi harus mengubah gaya hidupnya, seperti melakukan diet, olah raga, menghentikan kebiasaan merokok dan kebiasaan mengkonsumsi alkohol, serta melakukan aktivitas pengelolaan kondisi psikologis. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat menimbulkan komplikasi penyakit lain yang lebih berat, seperti paru- paru, jantung, stroke dan gagal ginjal bahkan berpotensi besar menyebabkan kematian (Santrock 2002). Paksaan untuk mengubah gaya hidup dan kekhawatiran akan munculnya berbagai kompilikasi serta ancaman kematian dapat menimbulkan kecemasan pada penderita hipertensi.

  Pengaruh timbal balik antara kondisi kecemasan dengan kondisi hipertensi merupakan lingkaran setan yang berpotensi memperberat kedua kondisi tersebut.

  Untuk itulah diperlukan usaha untuk memotong alur timbale balik tersebut, baik dengan cara mengelola kecemasan maupun mengelola hipertensi. Untuk memilih cara pengelolaan kecemasan perlu diketahui terlebih dahulu tingginya tingkat kecemasan penderita hipertensi.

  D. Kerangka Berpikir KECEMASAN

  Saraf simpatis terangsang Kelenjar adrenalin terangsang

  Keluar adrenalin, noradrenalin, kortisol, aldosteron

  • Denyut jantung meningkat
  • Pembuluh darah tepi menyempit

  Tekanan darah meningkat

  (HIPERTENSI)

  Khawatir akan komplikasi penyakit yang lebih berat Khawatir akan kematian

  Terpaksa mengubah gaya hidup

  E. Pertanyaan Penelitian

  Berdasar uraian diatas, dapat dibuat pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Berapa rata-rata tingkat kecemasan penderita hipertensi?

  2. Rata-rata tersebut tergolong dalam kategori apa?

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif mencoba mencari deskripsi yang tepat dan cukup dari semua

  aktivitas, objek, proses, dan manusia. Penelitian deskriptif berkaitan dengan pengumpulan fakta, identitas, dan meramalkan hubungan dalam dan antara variabel (Basuki, 2006).

  Berdasar teori di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memberi gambaran tingkat kecemasan penderita hipertensi tanpa membuat kesimpulan yang berlaku secara umum di luar subjek penelitian.

  B. Variabel Penelitian Variabel yang akan diteliti yaitu tingkat kecemasan penderita hipertensi.

  C. Definisi Operasional

  Kecemasan adalah suatu keadaan negatif pada seseorang yang ditandai dengan adanya rangsangan saraf otonom, respon otot rangka, kecemasan situasional dan perasaan cemas yang subyektif. Tingkat kecemasan diukur dengan skala DASS sub skala kecemasan. Tingginya tingkat kecemasan ditunjukkan oleh besarnya nilai total dari skala kecemasan tersebut.

  30 Penderita hipertensi adalah seseorang yang memiliki kondisi tekanan

  darah sistolik yang lebih tinggi atau sama dengan 140 mmHg dan atau diastolik lebih tinggi atau sama dengan 90 mmHg. Tinggi tekanan darah subjek didapat dengan menanyakan langsung kepada penderita hipertensi yang bersangkutan maupun menanyakan pada perawat yang telah mengukur tinggi tekanan darah penderita hipertensi menggunakan alat spygnomanometer.

  D. Subjek Penelitian

  Subjek penelitian adalah 67 orang yang sudah didiagnosa sebagai penderita hipertensi dan didapat dengan tekhnik accidental purposive sampling di poliklinik USD dan UNY serta Rumah Sakit Panti Rapih dan Rumah Sakit Bethesda. Disamping itu subyek penelitian didapat dari relasi peneliti.

  E. Metode dan Alat Pengumpulan Data

  Data dikumpulkan dengan skala kecemasan yang diadaptasi dari

  

Depression Anxiety Stress Scale (DASS) sub skala anxiety (kecemasan) yang

  dibuat oleh Lovibond dan Lovibond (dalam Crawford 2003). Skala terdiri atas 14 pernyataan dengan 4 alternatif jawaban skala Likert dalam bentuk angka, yaitu 0; 1; 2; 3. Secara berurutan pengertian dari setiap respon tersebut adalah tidak pernah; kadang-kadang; sering; hampir setiap hari. Semua pernyataan dalam skala ini merupakan pernyataan favorable, dan untuk lebih jelasnya akan dijabarkan sebagai berikut.

  31 1 : bila dalam satu minggu terakhir subjek kadang-kadang mengalami 2 : bila dalam satu minggu terakhir subjek cukup sering mengalami 3 : bila dalam satu minggu terakhir subjek hampir setiap hari mengalami

  Penjelasan sebaran bobot setiap aspek (blue print) dan juga sebaran item pernyataan dalam skala kecemasan ini akan dijabarkan ke dalam tabel 4 dan tabel 5 berikut ini.

  

TABEL 4

Blue Print DASS-A

No Aspek Jumlah Bobot Pernyataan

  1 Rangsangan Saraf Otonom 5 36 %

  2 Respon Otot Rangka 2 14 %

  3 Kecemasan Situasional

  3 21 %

  4 Perasaan Cemas yang Subjektif 4 29 % To tal

  1

  4 10 0 %

  

TABEL 5

Distribusi Item Skala Kecemasan DASS-A

Sebelum Seleksi Item (uji coba)

No Aspek Nomor Item Jumlah

  1 Rangsangan Saraf Otonom 1; 2; 6; 8; 9

  5

  2 Respon Otot Rangka 3; 14

  2

  3 Kecemasan Situasional 4; 11; 13

  3

  4 Perasaan Cemas yang Subjektif 5; 7; 10; 12

  4 total

  14 Item-item dalam skala kecemasan tersebut untuk selanjutnya diuji cobakan kepada subyek penelitian dan selanjutnya dianalisis. Analisis ini digunakan untuk melihat kelayakan dan kesesuaian tiap item pada penelitian ini. Setiap item yang tidak layak untuk selanjutnya akan digugurkan dan tidak disertakan ke dalam angket penelitian.

  32 F.

   Validitas dan Reliabilitas 1. Pengukuran Validitas Alat Tes

  Validitas adalah taraf kesungguhan dari sebuah instrumen penelitian untuk mengukur secara tepat sesuatu yang ingin diukur (Kerlinger 2006).

  Validitas internal (validitas isi) telah dipertanggungjawabkan oleh Lovibond dan Lovibond dengan menyusun item pernyataan yang meliputi seluruh aspek kecemasan. Validitas eksternal ditunjukkan oleh nilai korelasi antara instrumen tersebut dengan instrumen lain yang sebanding. DASS-A berkorelasi dengan Beck Anxiety Inventory (BAI) sebesar 0,81, dengan The Personal Disturbance

  

Scale-sub Anxiety (sAD-A) sebesar 0,72. Korelasi antara DASS-A dengan The

Hospital Anxiety and Depression Scale- sub Anxiety (HADS-A) sebesar 0.62

  (p<0.001) Adaptasi instrumen DASS-A dilakukan dengan cara menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Terjemahan dilakukan oleh peneliti dibawah bimbingan ahli yaitu A.Tanti Arini, S.Psi., M.Si. (dosen pembimbing) dan Dr. dr. B.M. Wara Kushartanti, MS. Hasil terjemahan bahasa Indonesia diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Inggris oleh ahli yang menguasai secara substansi maupun bahasa (expert judgement) yaitu Prof. dr. J. Hari Kusnanto, Dr.PH.. Akhirnya peneliti dibawah bimbingan ahli membandingkan instrumen DASS-A yang asli dengan terjemahan kembali dalam bahasa Inggris. Beberapa perbedaan dikonsultasikan kembali kepada

  

expert judgement , dan akhirnya didapatkan instrumen adaptasi DASS-A yang

  33 2.

   Seleksi Item

  Proses seleksi item dilakukan sesudah seluruh data terkumpul. Seleksi item digunakan untuk menganalisis dan menyaring item-item yang berkualitas, layak dan sesuai dengan penelitian. Menurut Saifuddin (2005), seleksi item adalah memilih item yang fungsi ukurnya selaras atau sesuai dengan fungsi ukur yang dikehendaki penyusunnya. Prosedur seleksi item dilakukan melalui pengukuran koefisien korelasi setiap item. Hal ini didapatkan dengan cara mengkorelasikan skor item dengan skor item total. Skor koefisien korelasi tiap

  ix

  item dikatakan baik atau layak apabila skor positif dan r >0,25, sebaliknya

  ix

  item yang gugur adalah item yang memilki r < 0,25 dan berbentuk negatif (Saifuddin, 2005). Koefisien item yang dihasilkan mendekati nol menunjukkan bahwa item tersebut tidak memberikan informasi apa-apa dan menjadi item mubazir yang keberadaannya akan mengurangi kualitas tes sehingga lebih baik isien item yang berbentuk negatif dapat diartikan sebagai ketidaksesuaian item dengan item keseluruhan, atau dengan kata lain item tersebut justru merusak reliabilitas skala, maka harus dihilangkan. Proses penghitungan tidak dilakukan secara manual, melainkan dengan bantuan program SPSS versi 15 for Windows.

  Setelah pengukuran koefisien korelasi setiap item dilakukan maka ditemukan bahwa salah satu item tidak memenuhi syarat atau kriteria sebagai item yang berkualitas karena rix dari item tersebut <0,25. Item tersebut adalah item nomer 8 (tabel 6).

  • ) Item no 8 digugurkan karena rix < 0,25

  1 Rangsangan Saraf Otonom 1; 2; 6; 8

  Pada dasarnya reliabilitas adalah tingkat kepercayaan pada suatu alat ukur. Tingkat kepercayaan ini sangat erat hubungannya dengan besar error ( ). Semakin kecil error dalam alat ukur maka tingkat kepercayaan alat ukur tersebut semakin tinggi. Tingginya tingkat kepercayaan menimbulkan efek keajegan, konsistensi atau kestabilan suatu alat ukur, sehingga alat ukur tersebut dapat digunakan dalam waktu yang berbeda

  13 Untuk selanjutnya 13 item inilah yang akan dianalisis.

  4 total

  4 Perasaan Cemas yang Subjektif 5; 7; 9; 11

  3

  3 Kecemasan Situasional 4; 10; 12

  2

  2 Respon Otot Rangka 3; 13

  4

  TABEL 7 Distribusi Item Skala Kecemasan DASS-A Setelah Seleksi Item (penelitian)

No Aspek Nomor Item Jumlah

  34 TABEL 6

Seleksi Item

No Aspek Nomor Item Jumlah

  Dengan menggugurkan salah satu item maka konsekuensi yang harus dilakukan adalah mengatur kembali penomoran atau urutan item dalam skala kecemasan ini. Dalam tabel 7 berikut ini tampak penomoran kembali skala kecemasan.

  4 total 14

  4 Perasaan Cemas yang Subjektif 5; 7; 10; 12

  3

  3 Kecemasan Situasional 4; 11; 13

  2

  2 Respon Otot Rangka 3; 14

  5

  1 Rangsangan Saraf Otonom 1; 2; 6; 8*; 9

3. Pengukuran Reliabilitas Alat Tes

  35 Pengukuran reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan

  pendekatan konsistensi internal yaitu dengan melihat konsistensi antar item dalam alat ukur atau instrumen itu sendiri. Analisis reliabilitasnya dilakukan dengan teknik Alpha Cronbach. Reliabilitas telah dianggap memuaskan bila koefisiennya mendekati 1,00. Dengan koefisien reliabilitas 0,900 berarti perbedaan (variasi) yang tampak pada skor skala tersebut mampu mencerminkan 90% dari variasi yang terjadi pada skor murni kelompok subyek yang bersangkutan, dengan kata lain bahwa 10% dari perbandingan skor yang tampak disebabkan oleh variasi atau kesalahan pengukuran tersebut (Saifudin,2005).

  Reliabilitas DASS-A telah dihitung oleh Lovibond dan Lovibond (1995) sebesar 0,84, sedangkan Crawford (2003) mendapatkan angka 0,897 dan Nieuwenhuijsen (2003) mendapatkan angka sebesar 0,88.

  Perhitungan reliabilitas koefisien Alpha pada skala kecemasan DASS dengan analisa Cronbach’s Alpha menggunakan SPSS versi 15 for Windows.

  Hasil perhitungan reliabilitas skala kecemasan DASS sebelum seleksi item adalah 0,822, sedangkan reliabilitas setelah item no 8 digugurkan naik menjadi 0,830.

G. Teknik Analisis Data

  Metode analisis data yang akan digunakan adalah statistik deskriptif kuantitatif karena data berupa angka-angka. Statistik deskriptif berusaha

  36

  modus, median, variasi kelompok melalui rentang data dan standar deviasi. Mean adalah nilai rata-rata hitung dari suatu kelompok. Modus adalah nilai yang paling sering terjadi atau yang mempunyai frekuensi paling tinggi. Median adalah nilai tengah setelah data diurutkan dari yang terkecil sampai terbesar atau sebaliknya (Kerlinger 2006).

  Mean empirik yang didapat dari penelitian dan dihitung dengan bantuan program SPSS versi 15 for Windows, akan dibandingkan dengan mean teoritik.

  Mean teoritik dihitung dengan cara berikut ini (Saifuddin 2005): 1. : skor paling rendah yang diperoleh subjek pada skala yaitu 0. Skor minimum 2. Skor maksimum : skor paling tinggi yang diperoleh subjek pada skala yaitu 3.

  3. : luas jarak sebaran antara skor maksimum dan skor Range minimum.

  4. Standar Deviasi (SD): luas jarak sebaran yang dibagi dalam 6 satuan standar deviasi.

  5. Mean teoritik (µ) : rata-rata teoritik dari skor maksimum dan minimum.

  Dengan prosedur diatas maka penghitungan skor diatas dapat dijabarkan sebagai berikut, N item=13 Skor minimum teoritik : skala respon terendah × N item

  :

  X

  13 : 0

  Skor maksimum teoritik : skala respon tertinggi × Nitem :

  3 X

  13 : 39

  37

  : 39 – 0 : 39

  Standar Deviasi ( σ) :

  : : 6,5

  Mean teoritik (µ) : :

  : 19,5 Mean Teoritik hasil penghitungan akan digunakan sebagai dasar pembentukan kategorisasi tingkat kecemasan. Perumusan dalam penghitungan kategorisasi tersebut berdasarkan model distribusi normal yang dibagi menjadi 5 kategori tingkat kecemasan, yaitu Normal; Ringan; Sedang; Berat dan; Sangat Berat. Secara jelas pengkategorisasian tampak dalam tabel 8.

  TABEL 8 Kategorisasi Tingkat Kecemasan RUMUS Pemasukan angka Kategori x ≤ (µ - 1,5 )

  (µ - 1,5 ) < x ≤ (µ - 0,5 ) (µ - 0,5 ) < x ≤ (µ + 0,5 ) (µ + 0,5 ) < x ≤ (µ + 1,5 ) (µ + 1,5 ) < x

  x ≤ 6,75

  6,75 < x ≤ 13,25

  13,25 < x ≤ 19,75

  19,75 < x ≤ 26,25

  26,25 < x NORMAL RINGAN SEDANG BERAT SANGAT BERAT

  Tingkat kecemasan kategori normal (tabel 8) diartikan sebagai munculnya reaksi fisiologis dan psikologis dalam kurun waktu 1 minggu, yang mengindikasikan kecemasan namun masih dalam batas wajar, karena seseorang tidak mungkin terbebas sama sekali dari kecemasan. Batas wajar tersebut ditunjukkan dengan angka

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. PERSIAPAN PENELITIAN

1.Perizinan penelitian

  Konsep awal penelitian ini dilakukan dengan cara menyebar kuesioner secara insidental kepada penderita hipertensi, yang dimulai pada awal bulan November 2008. Dengan konsep tersebut peneliti terjun ke lapangan dan ternyata sulit mendapatkan responden, hal ini mungkin disebabkan karena peneliti tidak menemukan organisasi atau tempat tertentu yang beranggotakan penderita hipertensi, khususnya di Yogyakarta. Pada akhirnya peneliti memutuskan untuk mengajukan izin melakukan penelitian di tempat-tempat yang memungkinkan untuk mendapatkan subjek penelitian, dalam hal ini penderita hipertensi. Tempat tersebut adalah poliklinik dan rumah sakit. Hal ini dilakukan dengan harapan peneliti dapat mengumpulkan data dengan cepat.

  Pengajuan izin penelitian ditujukan pada Unit Pelayanan Kesehatan Universitas Sanata Dharma (UPK-USD) di Mrican dan Unit Pelayanan Kesehatan Universitas Negeri Yogyakarta (UPK-UNY) di Karang Malang pada tanggal 12 Desember 2008. Izin pelaksanaan penelitian ini menggunakan surat izin penelitian dengan nomor 122a./D/KP/Psi/USD/XII/2008 yang sudah disahkan oleh Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Izin penelitian tersebut mendapat tanggapan dari UPK-UNY pada tanggal 22 pernyataan tentang diperbolehkannya peneliti untuk melakukan penelitian di tempat tersebut. Surat tanggapan dari UPK-USD yang lebih kurang berisi hal yang sama diterima pada tanggal 8 Januari 2009 dengan nomor 001/BAU- UPK/1/2009. Penyebaran kuesioner pada kedua tempat tersebut dilakukan oleh petugas UPK sehingga peneliti hanya menitipkan kuesioner.

  Izin penelitian pada Rumah Sakit Panti Rapih dan Rumah Sakit Bethesda menggunakan surat izin penelitian resmi yang berbeda dengan surat izin penelitian di kedua poliklinik diatas, yaitu peneliti wajib memberikan surat ijin penelitian yang lebih terstruktur dan menyertakan proposal penelitian. Pada tanggal 18 Desember 2008 peneliti menyerahkan surat izin penelitian yang sudah disahkan oleh Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma dengan nomor 126a./D/KP/Psi/USD/XII/2008 beserta proposal penelitian. Surat tanggapan yang berisi pemberian izin penelitian dari RS Panti Rapih diterima tanggal 3 Januari 2009 dengan nomor RAPIH/UMUM/0109/L.003, sedangkan surat tanggapan dari RS Bethesda yang berisi hal yang sama diterima tanggal 12 Januari 2009 dengan nomor 220/D.137/2009. Prosedur penelitian di kedua Rumah Sakit ini berbeda dengan prosedur di poliklinik, yaitu peneliti harus menyebarkan dan mewancarai sendiri penderita hipertensi pada Divisi Rawat Jalan Penyakit Dalam. Dengan memperhatikan jumlah responden yang telah ditemukan peneliti memutuskan untuk mengakhiri pencarian data pada akhir bulan Januari.

B. PELAKSANAAN PENELITIAN

  1. Waktu Penelitian

  Secara keseluruhan pengambian data dilakukan sejak awal November 2008 hingga akhir Januari 2009. Selama jenjang waktu lebih kurang tiga bulan, peneliti melakukan pengambilan data di tempat-tempat yang berbeda, seperti di rumah-rumah subjek penelitian, di poliklinik UNY dan USD, maupun di Rumah Sakit Panti Rapih dan Bethesda. Peneliti mengambil keputusan untuk menggunakan metode try out terpakai, dengan alasan adanya keterbatasan jumlah responden, waktu, tenaga dan biaya yang dimiliki oleh peneliti. Dalam waktu tiga bulan didapatkan responden sebanyak 67 orang. Pengambilan data di tempat-tempat yang berbeda dan letaknya yang berjauhan, dengan biaya operasional yang cukup tinggi menjadi pertimbangan utama digunakannya metode try out terpakai dalam penelitian ini.

  2. Cara-cara pelaksanaan penelitian

  Prosedur pelaksanaan penelitian ini berbeda-beda tergantung pada tempat penelitian. Pada poliklinik UNY dan USD pengumpulan data tidak dilakukan langsung oleh peneliti, namun dititipkan pada paramedis jaga di tempat tersebut. Pada Rumah Sakit Panti Rapih penelitian diawali dengan pengambilan surat izin penelitian di bagian personalia yang dilanjutkan dengan permohonan izin pada kepala bagian instalasi rawat jalan untuk melakukan penelitian. Pengambilan data dilakukan sendiri oleh peneliti dengan dibantu oleh perawat yang menunjukkan pada peneliti orang-orang yang mengidap hipertensi. Sama halnya pengambilan surat izin penelitian di bagian sekretariat dan selanjutnya menemui kepala bagian Pusmarsa dan kepala bagian Instalasi Penyakit Dalam untuk mengklarifikasi proses pengambilan data. Secara umum proses pengambilan data di RS Bethesda tidak jauh berbeda dengan RS Panti Rapih. Selama proses pengambilan data di beberapa tempat ini berlangsung, secara bersamaan peneliti tetap melakukan pengambilan data secara insidental dengan bantuan informasi dari relasi-relasi peneliti.

C. HASIL PENELITIAN

1. Deskripsi Karakteristik Subjek Penelitian

  Penjabaran frekuensi dan penghitungan mean dari karakteristik atau demografi subjek dilakukan dengan bantuan program SPSS 15 for Windows.

  Karakteristik subjek terdiri dari jenis kelamin, status pernikahan, jenis pekerjaan, umur, lama menderita, tekanan sistolik dan tekanan diastolik.

  Jumlah total subjek penelitian sebanyak 67 orang. Penjabaran singkat mengenai karakteristik subjek dalam penelitian ini akan dituangkan secara ringkas dalam tabel 9 dibawah ini.

  TABEL 9 Karakteristik Subjek Jenis Kelamin

  Status Pernikahan Jenis Pekerjaan

  Jenis f % status f % Jenis f % Umur Lama Menderita Tekanan

  Darah Sistolik Tekanan Darah

  Diastolik TB 11 16,4 Min 21 Min 2 Min 140 Min 90 Laki- laki 40 59,7 Menikah 53 79,1

  PNS 18 26,9 Swa 31 46,3 Maks 81 Maks 432 Maks 190 Maks 110 Peremp uan 27 40,3 Tidak menikah 14 20,9

  Pens 7 10,4 Mean 49,42 Mean 78,24 Mean 153,66 Mean 95,30 Dari tabel 9 dapat dijelaskan bahwa dari 67 orang subjek panelitian ini terdiri dari 40 subjek laki-laki dan 27 subjek perempuan. Subjek laki-laki lebih banyak daripada subjek perempuan dengan prosentase sebesar 59,7% dibanding 40,3%. Dari segi status pernikahan, subjek penelitian terdiri atas 53 orang yang sudah menikah dan 14 orang yang belum menikah, dengan prosentase 79,1% dan 20,9%. Subjek penelitian didominasi oleh subjek yang bekerja sebagai pegawai swasta sebanyak 31 orang (46,3%) dan PNS sebanyak 18 orang (26,9%).

  Berdasarkan tabel diatas dapat katakan bahwa dari 67 subjek penelitian ini rata-rata berumur 49,42 tahun dengan rentang usia antara 21tahun hingga 81 tahun. Rata-rata lama menderita hipertensi pada subjek adalah 78,24 bulan atau 6,5 tahun dengan rentang waktu antara 2 bulan hingga 432 bulan (36 tahun). Ukuran rata-rata tekanan sistolik dalam penelitian ini adalah 153,66 mm/Hg dengan rentang ukuran terendah hingga tertinggi adalah antara 140 mm/Hg hingga 190 mm/Hg. Tekanan diastolik subjek penelitian ini berkisar antara 90 mm/Hg hingga 110 mm/Hg dengan rata-rata sebesar 95,30 mm/Hg.

2. Deskripsi Data Penelitian Deskripsi data penelitian tertuang dalam tabel 10 di bawah ini.

  TABEL 10 Deskripsi Data Penelitian Tingkat Kecemasan Skor Statistik Teoritik Empirik

  N

  67

  ∑

  13 Skor Minimum Skor Maksimum

  39

  20 Range 39

  20 Standar Deviasi 6,5 5,112 Mean 19,5 8,33

  Dari tabel 10 ditunjukkan bahwa secara umum skor empirik lebih rendah dibanding skor teoritik khususnya mean, yaitu Mean

  empirik

  8,33 < Mean

  teoritik 19,5. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum subjek penelitian ini cenderung memiliki tingkat kecemasan yang rendah.

3. Kategorisasi Tingkat Kecemasan Penderita Hipertensi

  Kategorisasi tingkat kecemasan ini dilakukan dengan mengelompokkan subjek dan berdasarkan distribusi normal, dengan kata lain tidak dengan norma kelompok (Saifuddin, 2005). Hal ini menyebabkan besar kemungkinan tidak semua tingkatan kecemasan subjek penelitian tersebar rata ke dalam setiap kelompok kategori yang telah ditetapkan seperti yang terlihat dalam tabel 11 berikut ini.

  Berdasarkan tabel 11 dapat dilihat bahwa 25 orang masuk dalam kategori tingkat kecemasan normal dengan prosentase sebesar 37,3%. Untuk kategori ringan terdiri dari 29 orang subjek penelitian, serta untuk kategori sedang terdiri dari 12 orang. Secara berurutan subjek pada kategori ringan dan sedang memiliki prosentase sebesar 43,3% dan 17,9% dari keseluruhan subjek penelitian. Hanya 1 subjek yang masuk dalam kategori tingkat kecemasan berat.

  Dari kolom jenis kelamin terlihat bahwa dalam kategori normal, jumlah subjek perempuan hampir sama dengan jumlah subjek laki-laki. Pada kategori ringan dan sedang jumlah subjek laki-laki lebih banyak daripada perempuan, hal ini sesuai dengan jumlah subjek laki-laki lebih banyak dalam penelitian ini. Pada kategori berat subjek adalah seorang perempuan.

  Dari kolom status pernikahan terlihat bahwa dalam kategori normal hingga berat subjek yang sudah menikah relatif lebih banyak dibanding dengan yang belum menikah. Hal ini sangat mungkin terjadi karena rata-rata umur subjek dalam penelitian ini adalah 49 tahun, biasanya pada umur ini seseorang sudah menikah.

  Semua jenis pekerjaan terdapat dalam kategori tingkat kecemasan normal, ringan dan sedang. Dalam kategori jenis pekerjaan tersebut, pegawai swasta cenderung lebih banyak dibanding jenis pekerjaan lainnya, bahkan dalam kategori berat subjek bekerja sebagai pegawai swasta.

  Dari tiga kolom di atas (jenis kelamin, status pernikahan dan jenis tiap kelompok, karena pada setiap kategori normal, ringan dan sedang kelompok-kelompok tersebut selalu muncul dengan prosentase yang berbeda- beda. Berdasarkan kemunculan setiap kelompok pada setiap kategori muncul dugaan bahwa setiap kelompok tidak memiliki perbedaan tingkat kecemasan secara signifikan.

  Dari kolom umur, tampak pola tertentu, yaitu umur yang semakin muda disertai tingkat kecemasan yang semakin meningkat, namun rata-rata umur kategori ringan dan sedang relatif sama. Dalam kolom tekanan darah sistolik dan diastolik terlihat bahwa meningkatnya rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik subjek seiring dengan meningkatnya kategori tingkat kecemasan. Pola-pola ini memunculkan dugaan sementara bahwa umur, tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kecemasan penderita hipertensi.

  Berbeda dengan kolom umur, kolom lama menderita tidak memperlihatkan suatu pola tertentu dalam setiap kategori. Setiap kenaikan kategori tidak diiringi perubahan skor lama menderita secara teratur.

  Berdasarkan data-data pola di atas maka akan dilakukan uji statistik untuk membuktikan dan memperkuat dugaan-dugaan sementara yang muncul.

4. Hasil Penelitian Tambahan

a. Uji Asumsi i. Uji Normalitas

  Purbayu (2005) menerangkan bahwa Uji Normalitas adalah yang terdistribusi secara normal merupakan data yang akan mengikuti bentuk distribusi normal, di mana data memusat pada nilai rata-rata dan median. Uji normalitas dilakukan dengan bantuan program SPSS

  15 for Windows , dengan prosedur mencari rasio skewness, rasio kurtosis serta uji signifikansi non-parametrik Kolmogorov-Smirnov.

  Memperoleh nilai rasio skewness dan rasio kurtosis dilakukan dengan cara membagi masing-masing skor skewness dan skor kurtosis dengan skor standar error masing-masing. Jika hasilnya adalah lebih besar dari -2 dan lebih kecil dari 2, maka distribusi variabel tersebut dapat dikatakan normal. Sedangkan jika melalui tes Kolmogorof-Smirnov, suatu variabel terdistribusi secara normal jika signifikansi> 0,05.

  Normalitas variabel-variabel dari penelitian ini tertuang dari tabel berikut.

  TABEL 12 Hasil Uji Normalitas tekanan tekanan lama darah darah tingkat umur menderita sistolik diastolik kecemasan

  N 67

  67

  67

  67

  67 Mean 49,42 78,24 153,66 95,30 8,33 Skewness -0,076 2,341 0,888 1,225 0,427 Std. Error of Skewness 0,293 0,293 0,293 0,293 0,293 Nilai Rasio Skewness -0,259* 7,989 3,030 4,180 1,457* Kurtosis 0,013 5,977 0,044 0,618 -0,637 Std. Error of Kurtosis 0,578 0,578 0,578 0,578 0,578 Nilai Rasio Kurtosis 0,224* 10,340 0,076* 1,069* -1,102* Signifikansi (2 tailed) dg

  0,361* 0,002 0,016 0,000 0,266*

  Kolmogorov-Smirnov

  • ) keterangan: angka yang dipertebal dan digaris bawahi menerangkan distribusi variabel tersebut normal.

  Dari tabel 12 dapat diartikan bahwa variabel umur terbukti terdistribusi secara normal dengan cara-cara uji normalitas manapun, baik rasio skewness, rasio kurtosis serta uji signifikansi non- parametrik Kolmogorov-Smirnov. Sama halnya dengan variabel umur, variabel dependen tingkat kecemasan juga terdistribusi secara normal dengan tiga cara uji normalitas. Untuk variabel tekanan darah sistolik dan diastolik terdistribusi secara normal dengan melihat nilai rasio yang terletak antara -2 dan 2. Satu-satunya variabel yang

  kurtosis tidak terdistribusi secara normal adalah lama menderita.

ii. Uji Homogenitas (Jenis Kelamin, Status pernikahan, Jenis

Pekerjaan)

  Uji homogenitas merupakan uji asumsi yang harus dilakukan sebelum uji beda. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah variabel- variabel yang akan dibedakan tidak memiliki variansi yang berbeda. Uji Homogenitas dilakukan dengan bantuan program SPSS 15 for

  Windows dan menggunakan levene’s test. Data dikatakan homogen

  jika probabilitasnya (sig.) lebih besar dari 0,05. Hasil penghitungan ditampilkan dalam tabel 13 berikut ini.

  TABEL 13 Hasil Uji Homogenitas Variabel Sig

  Jenis Kelamin 0,216* Status Pernikahan 0,615* Jenis Pekerjaan 0,271*

  • ) p>0,05= tidak berbeda / homogen
Dari tabel 13 dapat dikatakan bahwa ketiga variabel yaitu jenis kelamin, status pernikahan dan jenis pekerjaan adalah homogen, sehingga dapat diartikan bahwa sebaran variansi dari data yang akan dibedakan adalah tidak berbeda. Hal ini tampak dari skor signifikansi ketiga variabel tersebut lebih besar dari 0,05.

  iii.

  

Uji Linearitas (Umur, Lama Menderita, Tekanan Darah Sistolik,

Tekanan Darah Diastolik dan Tingkat Kecemasan)

  Uji linearitas dilakukan sebelum mengkorelasikan dua variabel. Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah kedua variabel berhubungan secara linear atau tidak. Uji Linearitas dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan melihat Signifikansi dalam tabel ANOVA, dimana sig<0,05 adalah linear (Cornelius, 2005) dan melihat grafik hubungan antara variabel dependen dan variabel independen (Purbayu, 2005). Untuk penelitian ini uji linearitas dilakukan dengan bantuan program SPSS 15 for Windows dan menggunakan ANOVA table.

  TABEL 14 Hasil Uji Linearitas Variabel Sig

  Umur 0,003* Lama Menderita 0,771 Tekanan Darah Sistolik 0,007* Tekanan Darah Diastolik 0,002*

  • ) p<0,005= linear Dari tabel 14 di atas tampak bahwa hubungan antara tingkat kecemasan dengan umur, tekanan darah sistolik dan tekanan darah
signifikansi tabel anova antara ketiga variabel tersebut dengan tingkat kecemasan yang lebih kecil dari 0,05. Variabel lama menderita tidak berhubungan secara linear dengan tingkat kecemasan karena nilai signifikansi>0,05.

b. Uji Beda

  Uji beda kali ini dilakukan untuk mengetahui ada-tidaknya perbedaan rata-rata tingkat kecemasan antara kelompok laki-laki dan perempuan, antara kelompok subjek yang sudah menikah dan belum menikah, serta antara kelompok subjek yang tidak bekerja, PNS, swasta dan pensiun. Pembedaan menurut jenis kelamin dan status pernikahan menggunakan Uji t, sedangkan pembedaan menurut jenis pekerjaan menggunakan uji anova satu jalur. Untuk penelitian ini uji beda dilakukan dengan bantuan program SPSS 15 for Windows.

  TABEL 15 Hasil Uji Beda Variabel Kategori Mean Beda Sig

  Laki-laki 9,10 1,519 0,134 Jenis Kelamin Perempuan 7,19 1,454 0,152 Menikah 8,32 -0,024 0,981 Status Pernikahan Tidak Menikah 8,36 -0,022 0,983 Tidak Bekerja 9,73 PNS 7,78 Swasta 9,39

  Jenis Pekerjaan Pensiun 7,29

  0,431 0,731 Tabel 15 menunjukkan bahwa tingkat kecemasan menurut jenis kelamin, status pernikahan maupun jenis pekerjaan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, meskipun mean tiap kelompok berbeda-beda.

c. Uji Korelasi

  Uji korelasi dilakukan untuk melihat hubungan dan signifikansinya (taraf signifikansi 0,05) antara umur, lama menderita, tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik dengan tingkat kecemasan. Untuk penelitian ini uji korelasi dilakukan dengan bantuan program SPSS 15 for Windows.

  TABEL 16 Hasil Uji Korelasi Variabel Korelasi Sig

  Umur -0,313 0,010* Lama Menderita 0,034 0,782 Tekanan Darah Sistolik 0,331 0,006* Tekanan Darah Diastolik 0,365 0,002*

  • ) korelasi signifikan pada taraf 5% (0,05)

  Tabel 16 menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara umur, tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik dengan tingkat kecemasan. Lama menderita tidak berkorelasi secara signifikan dengan tingkat kecemasan.

D. PEMBAHASAN

  Rendahnya Mean empirik jika dibandingkan dengan Mean teoritik, yaitu

  empirik teoritik

  M 8,33 < M 19,5, menunjukkan bahwa tingkat kecemasan penderita hipertensi dalam penelitian ini secara umum rendah. Skor mean empirik ini masuk dalam kategorisasi ringan, jadi rata-rata subjek penelitian ini memiliki tingkat kecemasan yang tergolong ringan. Lebih dari itu ditemukan bahwa dari ringan, bahkan diantara seluruh subjek penelitian tidak ada yang tergolong dalam kategori sangat berat.

  Salah satu penyebab rendahnya tingkat kecemasan yang ditemukan dalam penelitian ini terkait dengan rendahnya tingkat hipertensi dari subjek penelitian.

  Sebagian besar subjek penelitian merupakan pasien tetap di poliklinik dan rumah sakit sehingga tekanan darah mereka terkontrol dengan obat. Konsumsi obat yang berlebihan dapat memunculkan efek samping lainnya yang lebih parah (missal pada ginjal dan hati).

  Dengan melihat rendahnya tingkat kecemasan penderita hipertensi tersebut maka kebutuhan penderita hipertensi akan penggunaan obat penenang dapat diminimalisir atau bahkan dihilangkan. Pemikiran ini sejalan dengan Paternity (1999) yaitu bahwa konsumsi obat penenang harus sesuai dengan tingkat kecemasan penderita hipertensi. Seperti diketahui obat penenang sering digunakan untuk meredam atau mengurangi kecemasan penderita hipertensi. Penanggulangan tingkat kecemasan penderita hipertensi yang cenderung rendah (normal-ringan) ini sangat mungkin dialihkan ke dalam penanggulangan non- farmakologis, sehingga mengurangi kemungkinan efek samping dari penanggulangan farmakologis.

  Penanggulangan kecemasan secara non-farmakologis dapat dilakukan dengan lifestyle modification atau perubahan pola hidup melalui beberapa macam cara, yaitu perubahan pola makan (diet), tidak merokok, melakukan olahraga dan mengikuti konseling pengelolaan stress, relaksasi dan meditasi dan kecemasan pada penderita hipertensi memiliki berbagai macam model. Model terbaru dalam relaksasi adalah teknik relaksasi cepat yang cenderung memadukan berbagai model relaksasi secara sederhana namun tidak mengurangi manfaat dalam menanggulangi kondisi fisik dan psikis yang lemah. Teknik relaksasi cepat memiliki beberapa kelebihan, diantaranya cukup mudah dan sederhana, dapat dilakukan diberbagai tempat dan tidak membutuhkan alat bantu tertentu, sehingga dapat menghemat waktu dan biaya penderita hipertensi.

  Dalam penelitian ini jumlah subjek berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dibanding dengan perempuan. Santrock (2002) mengungkapkan bahwa perempuan memiliki daya tahan lebih besar terhadap penyakit ketuaan dibanding laki-laki, karena estrogen yang diproduksi dalam tubuh perempuan membantu untuk melindungi dari arteriosklerosis atau penyempitan pembuluh nadi. Berdasarkan pendapat Santrock (2002) tersebut dapat dipahami apabila jumlah subjek penderita hipertensi laki-laki lebih banyak dalam penelitian ini.

  Dilihat dari rata-rata tingkat kecemasan penderita hipertensi, laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan, namun dengan uji statistik ditunjukkan bahwa perbedaan tingkat kecemasan tersebut tidak signifikan.

  Tidak adanya perbedaan tingkat kecemasan secara signifikan antara penderita hipertensi laki-laki dan perempuan sangat mungkin terjadi akibat dua hal. Pertama, dari segi tugas dan tanggung jawab, laki-laki cenderung memiliki beban yang lebih berat karena wajib menjamin kehidupan keluarga, sedangkan perempuan memiliki kesempatan yang lebih terbuka untuk memilih peranan tugas yang dipikul perempuan cenderung menjadi lebih ringan. Kedua, dari segi karakteristik kepribadian, perempuan cenderung mudah cemas dan lebih terpengaruh pada krisis/ masalah kecil, sedangkan laki-laki memiliki karakter lebih tegar, jarang emosional dan sangat logis (Santrock, 2002). Dari kedua hal tersebut maka baik penderita hipertensi laki-laki maupun perempuan memiliki potensi munculnya kecemasan yang sama di dalam dirinya.

  Subjek dengan status sudah menikah lebih banyak dibanding dengan yang belum menikah dalam penelitian ini. Hal ini sesuai dengan perbandingan subjek berdasarkan status pernikahan dalam kategori tingkat kecemasan normal, ringan dan sedang, bahkan satu-satunya subjek dalam kategori tingkat kecemasan berat berstatus sudah menikah. Perbandingan atau prosentase ini sangat mungkin disebabkan oleh umur rata-rata subjek penelitian sebesar 49,42 tahun. Pada umur ini kebanyakan orang sudah menikah.

  Jika dilihat dari rata-rata tingkat kecemasan, subjek yang belum menikah sedikit lebih tinggi dibanding dengan yang sudah menikah, namun perbedaan ini tidak signifikan secara statistik. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan antara penderita hipertensi yang sudah menikah dan belum menikah.

  Penjelasan berikut ini sejalan dengan kesimpulan di atas, diantaranya seseorang yang belum menikah akan merasa tersingkirkan dan kesepian sedangkan seseorang yang sudah menikah dapat mencari dan berbagi dengan pasangannya ketika menghadapi masalah (Santrock 2002). Dari penjelasan menikah memiliki tingkat kecemasan lebih tinggi, karena tidak ada ‘tempat’ berbagi ketika menghadapi masalah, dalam hal ini penyakit hipertensi.

  Penjelasan lain menyatakan bahwa seseorang yang sudah menikah memiliki tanggung jawab yang lebih terhadap keluarganya, sedangkan seseorang yang belum menikah cenderung bebas dari tanggung jawab terhadap orang lain (Santrock, 2002). Penjelasan ini memunculkan asumsi lain yang berlawanan, yaitu penderita hipertensi yang sudah menikah memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibanding dengan yang belum menikah, karena memilki beban tanggung jawab yang lebih berat. Dari kedua asumsi di atas dapat disimpulkan bahwa penderita hipertensi baik yang sudah menikah ataupun yang belum menikah mempunyai potensi kecemasan yang sebanding.

  Jika diurutkan dari yang terbanyak, subjek penelitian yang menyandang predikat sebagai pegawai swasta berada pada urutan pertama, selanjutnya subjek yang bekerja sebagai PNS berada diurutan kedua, serta subjek yang tidak bekerja dan subjek yang sudah pensiun adalah kelompok ketiga dan keempat dalam penelitian ini. Subjek dengan pekerjaan yang berbeda-beda tersebut tersebar secara merata dalam kategori normal, ringan dan sedang. Dalam kategori berat satu-satunya subjek berprofesi sebagai pegawai swasta.

  Subjek penelitian yang belum bekerja memiliki rata-rata tingkat kecemasan paling tinggi, yang kemudian diikuti oleh pegawai swasta, PNS dan pensiunan namun perbedaan tingkat kecemasan berdasarkan jenis pekerjaan tersebut tidak signifikan secara statistik. Perbedaan kecemasan yang tidak signifikan didukung tanggung jawab yang lebih banyak dan lebih berat dibanding dengan orang yang belum bekerja (Santrock, 2002), maka dapat diasumsikan bahwa penderita hipertensi yang sudah bekerja cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi karena memiliki tugas-tugas yang wajib dikerjakan dan menuntut tanggung jawab dari orang tersebut. Penjelasan lain menyatakan bahwa bekerja dilakukan untuk memenuhi kebutuhan materi atau finansial (Santrock, 2002), maka dari penjelasan tersebut muncul asumsi yang berlawanan yaitu bahwa penderita hipertensi yang belum bekerja kesulitan untuk memenuhi kebutuhan finansialnya (misalnya untuk berobat), sehingga tingkat kecemasannya cenderung lebih tinggi. Berdasarkan kedua asumsi tersebut dapat disimpulkan bahwa kecemasan dapat menyerang penderita hipertensi baik yang sudah bekerja maupun belum bekerja.

  Rata-rata umur subjek penderita hipertensi dalam penelitian ini adalah 49,42 tahun. Hal ini sesuai dengan penelitian Raikkonen (2001) yang menyatakan bahwa hipertensi muncul pada usia paruh baya. Selebihnya Santrock (2002) menyatakan bahwa sejak pertengahan masa dewasa dini perkembangan fisik mulai menurun dan beberapa penyakit kronis mulai tampak pada dewasa madya (tengah) hingga dewasa akhir (usia lanjut) dan hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis tersebut.

  Dilihat dari mean umur tiap kategori tingkat kecemasan, terlihat pola menurun seiring dengan kenaikan kategori tingkat kecemasan, yaitu pada kategori normal mean sebesar 54,84 tahun sedangkan pada kategori sedang kategori berat berumur 28 tahun. Pola penurun mean umur di setiap kenaikan kategori semakin diperkuat dengan uji korelasi antara kedua variabel ini yang menghasilkan nilai r sebesar –0,313 dengan signifikansi 0,010 (sig<0,05). Nilai korelasi negatif ini mengartikan bahwa semakin tua umur subjek maka tingkat kecemasannya semakin kecil, sedangkan semakin rendah umur penderita hipertensi (semakin muda) maka tingkat kecemasannya semakin tinggi.

  Korelasi negatif antara umur dengan tingkat kecemasan mungkin disebabkan karena penderita usia muda, tepatnya masa dewasa dini (awal) yang seharusnya merupakan fase stabilisasi tiba-tiba mengidap penyakit hipertensi maka cenderung akan memiliki tingkat kecemasan yang tinggi. Menurut Santrock (2002) fase stabilisasi yaitu masa untuk seseorang mulai mencari pekerjaan yang paling sesuai, menyesuaikan sistem pernikahan, merawat anak, mengatur keuangan dan membangun keluarga. Seorang penderita hipertensi yang berusia muda akan memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi karena beresiko mengidap penyakit lain yang lebih parah (seperti jantung) sebagai komplikasi dari hipertensi, bahkan beresiko meninggal, sehingga merasa masa depannya terancam baik dalam terganggu masa produktif membangun rumah tangga maupun dalam karirnya.

  Pada umur yang lebih tua yaitu masa dewasa madya, seseorang sudah berada dalam pekerjaan yang mantap serta sudah mampu beradaptasi (Santrock, 2002).

  Dijelaskan pula dalam Santock (2002) bahwa masa dewasa madya dan akhir, kondisi fisik mulai menurun dan mudah terkena berbagai macam penyakit darah, namun hal ini normal terjadi pada usia ini. Dari penjelasan tersebut dapat dipikirkan bahwa penderita hipertensi dalam usia dewasa madya dan dewasa akhir cenderung lebih siap menghadapi resiko mengidap penyakit ini, dari segi stabilitas keadaan dan kemampuan beradaptasi, sehingga tingkat kecemasannya cenderung lebih rendah jika dibandingkan dengan usia yang lebih muda.

  Rata-rata lama subjek menderita hipertensi dalam kategori tingkat kecemasan normal 94,12 bulan (7 tahun 10 bulan), ringan 59,62 bulan (5 tahun), sedang 95,42 bulan (8 tahun). Rata-rata dari kelompok-kelompok kategori tidak membentuk pola tertentu atau acak. Hasil analisis dengan uji korelasi menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara lama menderita dengan tingkat kecemasan sebesar 0,034 dan signifikansi sebesar 0,782. Karena P>0,05 maka lama menderita tidak memiliki hubungan dengan tingkat kecemasan secara signifikan. Belum tentu semakin lama subjek menderita, semakin tinggi pula tingkat kecemasan penderita hipertensi.

  Lama menderita tidak berhubungan secara signifikan dengan tingkat kecemasan dapat diakibatkan beberapa kemungkinan, diantaranya meskipun seorang penderita hipertensi sudah lama mengidap hipertensi jika dapat beradaptasi dengan penyakitnya dan melakukan pola hidup yang baik maka tingkat kecemasannya akan lebih terkontrol dan menjadi tidak berlebihan. Sama halnya dengan pernyataan Santrock (2002) bahwa kebiasaan/ gaya hidup/ pola hidup, seperti mengontrol nutrisi, kalori dan berat badan atau diet, serta mengurangi rokok, dapat memperpanjang usia seseorang meskipun mengidap seseorang akan semakin cemas karena semakin lama mengalami ketakutan- ketakutan munculnya penyakit-penyakit lain yang lebih parah akibat hipertensi.

  Subjek yang belum lama menderita hipertensi juga sangat mungkin mengalami tingkat kecemasan yang tinggi karena belum dapat beradaptasi dengan perubahan pola hidup untuk menanggulangi penyakit yang diderita. Meskipun demikian, kemungkinan lain yang dapat terjadi adalah subjek yang belum lama menderita hipertensi memiliki optimisme tersendiri akan kesembuhan penyakitnya sehingga tingkat kecemasannya cenderung rendah.

  Nilai rata-rata tekanan darah secara keseluruhan dalam penelitian ini adalah

  153,66

  mm/Hg untuk tekanan darah sistolik dan 95,30 mm/Hg untuk tekanan darah diastolik. Berdasarkan pengklasifikasian tingkat tekanan darah menurut WHO (dalam Tuty, 2006), untuk rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik tergolong dalam kategori hipertensi derajat 1 (ringan).

  Dari nilai rata-rata tekanan darah sistolik tiap kategori tingkat kecemasan, terlihat adanya kecenderungan semakin tinggi rata-rata tekanan darah sistolik pada setiap tingkatan kategori, yaitu normal 149 mm/Hg, ringan 154,83 mm/Hg, dan sedang 158,33 mm/Hg. Dapat dilihat bahwa semakin tinggi kategori semakin tinggi pula nilai mean tiap kelompok. Dari uji korelasi terlihat adanya hubungan antara tekanan darah sistolik dan tingkat kecemasan dengan r 0.331 dan signifikansi sebesar 0.006, maka dapat diartikan bahwa, tekanan darah sistolik memiliki hubungan dengan tingkat kecemasan secara signifikan.

  Dari nilai rata-rata tekanan darah diastolik tiap kelompok kategori yaitu dapat dilihat bahwa perbedaan nilai rata-rata tiap kelompok memiliki pola yaitu semakin tinggi kategori semakin tinggi pula tekanan darah diastolik. Dari uji korelasi antara tekanan darah diastolik dan tingkat kecemasan didapatkan nilai r sebesar 0.365 dengan signifikansi sebesar 0.002, maka dapat diartikan bahwa, tekanan darah diastolik memiliki hubungan dengan tingkat kecemasan secara signifikan.

  Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa penelitian sebagai berikut, menurut Sullivan (1981), Whitehead (1997) dan Paternity (1999), baik tekanan darah sistolik maupun diastolik berkorelasi positif secara signifikan dengan tingkat kecemasan penderita hipertensi. Dengan kata lain dapat diinterpretasikan bahwa semakin tinggi tekanan darah diastolik maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan penderita hipertensi.

  Tekanan darah yang tinggi (>140/90 mm/Hg) pada seseorang merupakan penggambaran dari adanya hipertensi pada orang tersebut. Kecemasan mempengaruhi peningkatan tekanan darah dan sebaliknya, tekanan darah yang tinggi mempengaruhi meningkatnya tingkat kecemasan. Kecemasan mempengaruhi terjadinya peningkatan aktivitas saraf simpatetik adrenikortikal yang mengekskresi noradrenalin, kortisol, aldosteron sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik. Jika peningkatan ini berlebihan maka tekanan darah sistolik dan diastolik semakin tinggi dan sering disebut sebagai hipertensi. Di lain pihak hipertensi ini juga mempengaruhi tingkat kecemasan, karena jika seseorang sudah divonis menderita hipertensi hipertensinya (Santrock, 2002 dan Beevers, 2004). Besar kemungkinan penderita hipertensi tersebut akan menderita penyakit-penyakit lain yang lebih berbahaya sebagai komplikasi dari penyakit hipertensinya, seperti jantung, stroke dan gagal ginjal (Lakatta dalam Santrock, 2002). Lebih jauh lagi Santrock (2002) menjelaskan adanya resiko kematian (Santrock, 2002). Akibat-akibat nyata dari penyakit hipertensi tersebut sangat mungkin memunculkan kecemasan pada penderita hipertensi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan:

  1. Secara umum, penderita hipertensi pada penelitian ini mempunyai tingkat kecemasan yang rendah, karena M empirik 8,33 < M teoritik 19,5.

  2. Rata-rata tingkat kecemasan penderita hipertensi laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan, meskipun tidak berbeda secara signifikan.

  3. Rata-rata tingkat kecemasan penderita hipertensi yang belum menikah sedikit lebih tinggi dibanding dengan yang sudah menikah, meskipun tidak berbeda secara signifikan.

  4. Rata-rata tingkat kecemasan penderita hipertensi yang belum bekerja lebih tinggi dibanding penderita hipertensi yang bekerja sebagai pegawai swasta, PNS dan pensiun, meskipun perbedaan tersebut tidak signifikan.

  5. Tingkat kecemasan penderita hipertensi berhubungan terbalik dengan umur. Semakin muda umur penderita hipertensi, semakin tinggi tingkat kecemasannya.

  6. Lama subjek menderita hipertensi tidak berkorelasi secara signifikan dengan tingkat kecemasan.

  7. Tingkat kecemasan penderita hipertensi berhubungan signifikan dengan tekanan darah sistolik dan diastolik.

  B. Keterbatasan Penelitian

  Keterbatasan penelitian ini berkaitan dengan generalisasi hasil penelitian diantaranya adalah:

  1. Subjek penelitian relatif kecil dan didapat secara insidental (non-random) sehingga kurang mewakili populasi.

  2. Subjek penelitian merupakan pasien poliklinik dan rumah sakit, yang telah meminum obat secara rutin, sehingga hanya bisa mewakili penderita hipertensi di populasi yang minum obat.

  3. Skala yang digunakan dalam penelitian ini merupakan adaptasi dari skala kecemasan Depression Anxiety Stress Scales sub scale anxiety (DASS-A) yang disusun oleh Lovibond dan Lovibond dan dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh peneliti dibawah bimbingan ahli. Pemilihan penggunaan skala kecemasan tersebut dilakukan dengan mengkaji perbandingan skala DASS dengan skala kecemasan lain seperti CSAQ, Leeds SAAD, HADS, dll. Meskipun demikian skala kecemasan yang diadaptasi dari DASS kurang spesifik dalam menjabarkan indikator- indikaton aspek psikologis.

  C. Saran

  Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan dan keterbatasan penelitian, maka saran dapat ditujukan pada:

  1. Penderita Hipertensi, Instansi dan Pihak-pihak Terkait (Rumah Sakit,

  Pengukuran tingkat kecemasan penderita hipertensi penting dilakukan sebagai pedoman atau dasar penanggulangan selanjutnya. Tingkat kecemasan yang cenderung rendah atau ringan pada penderita hipertensi sebaiknya diatasi dengan cara non-farmakologis, sehingga dapat mengurangi kemungkinan timbulnya efek samping yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi obat-obatan. Teknik relaksasi cepat dapat menjadi salah satu alternatif untuk menangulangi tingkat kecemasan penderita hipertensi.

  Penanganan kecemasan pada penderita hipertensi pada umur muda harus lebih diperhatikan. Perubahan gaya hidup ke arah sehat terutama dalam pengelolaan kondisi psikologis seperti kecemasan, stres, depresi, dll. harus dimulai seawal mungkin. Kecemasan perlu diatasi untuk mengendalikan sistolik dan diastolik penderita, dan sebaliknya sistolik maupun diastolik penderita perlu diatasi untuk mengendalikan kecemasan.

  2. Peneliti Selanjutnya Penelitian ini hanya bertujuan mengetahui tingkat kecemasan penderita hipertensi, dengan variabel-variabel terbatas yang terkait dengan tingkat kecemasan, sehingga masih banyak variabel terkait lain yang perlu dikaji seperti misalnya obesitas, tipe kepribadian dan pola hidup.

  Penambahan jumlah subjek perlu dilakukan dalam penelitian berikutnya. Alangkah baiknya jika subjek diambil secara random berdasarkan populasi yang ada.

  Pengembangan skala untuk mengukur tingkat kecemasan lebih diperinci pada aspek-aspek psikologis. Indikator-indikator dari aspek psikologis tersebut dapat diperdalam ,dispesifikkan dan diperjelas, sehingga diharapkan dapat memunculkan gejala kecemasan secara psikologis dari subjek penelitian. Penelitian lain yang sangat mungkin dilakukan untuk menindak lanjuti penelitian ini adalah model intervensi psikologis (non- farmakologis) untuk menanggulangi kecemasan penderita hipertensi yang cenderung berkategori rendah. Intervensi psikologis yang dimaksud misalnya konseling kecemasan, relaksasi, meditasi dan hipnosis.

DAFTAR PUSTAKA

  Althaus, R.A. (1997). Health. Illinois: Scott, Foresman Company American Psychologycal Association (2004). Guidelines for Psychologycal Practice with Older Adults. American Psychological Association, 59, No. 4, Mei- Juni

  2004. Angela O.S. (2007). Gambaran Sikap terhadap Hidup Melajang dari Kecemasan akan Ketidakhadiran Pasangan pada Wanita Lajang Berusia di atas 30 tahun.

  Manasa , 1, no. 1, Juni 2007.

  Apolo (2007). Hubungan antara Konsep Diri dengan Kecemasan Berkomunikasi Secara Lisan pada Remaja. Manasa, 1, no. 1, Juni 2007. Basuki, Sulistyo. 2006. Metode Penelitian. Jakarta: Wedatama Widya Satra bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas

  Indonesia. Beevers, D.G. medical editor: Smith, Tony (2002). Tekanan Darah. Jakarta: Dian Rakyat.

  Contreras, S, Fernandes, S (2004). Reliability and Validity of the Beck Depression and Anxiety Inventories in Caucasian Americans and Latinos. Hispanic

  Journal of Behavioral Sciences , 26, No. 4, 446-462

  Crawford, JR, Henry, JD (2003). The Depression Anxiety Stress Scale (DASS): Normative data and latent structure in a large non-clinical sample. British

  Journal of Clinical Psychology 42: 111-131. United Kingdom

  Dionisius, E.W. (2003). Hubungan Antara Kecemasan akan Menghadapi Ujian Lisan pada Akhir Semester dengan Frekuensi Merokok pada Mahasiswa .

  Skripsi Universitas Sanatha Dharma. Eric Priyo P. (2005). Peran Musik sebagai Fasilitas dalam Praktek Dokter Gigi untuk

  Mengurangi Kecemasan Pasien. Dentist Journal, 38. No. 1 Januari 2005: 41– 44, Universitas Airlangga. Faisal Idrus (2006). ANXIETAS DAN HIPERTENSI.

  

  Frazier, SK, Moser, DK, et al (2002). Critical Care Nurses’ Assessment of Patients’ Anxiety: Reliance on Physiological and Behavioral Parameters. American

  67 Guyton, A.C. (1986). Textbook of MEDICAL PHYSIOLOGY Seventh Edition. W.B.

  Saunders Company. Hipertensi Baru. Pmd. (2007)

  

  Hurlock, E.B. (1990). Psikologi Perkembangan- Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan . Jakarta: Erlangga. Hutapea, A.M. (1994). Menuju Gaya Hidup Sehat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Kaila, L.H. (2002). Stress is a Way of Life for Mumbai’s Worker. American

  Psychologycal Association Office of International Affairs , 13, no. 3, Fall 2002.

  Karyono (1994). Efektifitas Relaksasi dalam Menurunkan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Ringan . Tesis. UGM. Kerlinger, F.N. (2006). Diterjemahkan oleh Landung R.S. Asas-Asas PENELITIAN BEHAVIORAL Edisi Ketiga . Gadjah Mada University Press. Lipsig, D, Norman, M (2008). Hamilton Anxiety Rating Scale. www.atlantapsy

  chiatry.com

  Nieuwenhuijsen, K, de Boer, AGEM, et all (2003). The Depression Anxiety Stress Scale (DASS): detecting anxiety disorder and depression in employees absent from work because of mental health problems. Occupational Environment

  Medicine 60 (suppl I): i77- i82.

  Purbayu Budi S. dan Ashari. Analisis Statistik dengan Microsoft Excel dan SPSS.

  Penerbit ANDI. Yogyakarta. 2005. Paternity, S, Alperovitch, A, et all (1999). Anxiety But Not Depression In Associated With Elevated Blood Pressure In a Community Group of French Elderly.

  Psychosomatic Medicine , 61:77-83.

  Saifudin Azwar (2005). Penyusunan Skala Psikologi, cetakan VII. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Santrock, J.W. (2002). Life Span Development- Perkembangan Masa Hidup Ed. 5.

  Jakarta: Erlangga. Schwartz, G.E., Davidson, R.J., Goleman, D.J. (1978). Paterning of Cognitive and

  Somatic Processes in Self-Regulation of Anxiety: Effects of Meditation

  68 Shinta W. (2006). Hubungan antara Kecemasan Menghadapi Penghentian Kontrak

  Kerja dengan Motivasi Berprestasi Karyawan Kontrak di PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Yogyakarta . Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Sanata

  Dharma 2006. Siswanto (2002). Model Psikosomatis dalam Memahami Kesehatan. Psikodimensia 2, no. 3, Mei-Agustus 2002.

  Snaith, RP, Bridge, G.W.K, Hamilton Max (1976). The Leeds Scales for the Self Assessment of Anxiety and Depression. British Journal Psychiatry 128: 156- 165.

  Sri Rahayu D.S. (2005). Dampak Terapi Kecemasan Pemudi yang Hamil di luar Pernikahan melalui Pendekatan Religius di Asrama Karya Tasih Bantul .

  Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma 2005. Sullivan, P, Schoentgen, S, et all (1981). Anxiety, Anger and Neurogenic tone at

  Rest and in Sress in Patients with Primary Hypertension. Hypertension, Nov- Dec; 3 (6 pt 2):11: 199-123

  Suryabrata, Sumadi. 1999. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tuty Kuswardhani (2006). Penatalaksanaan Hipertensi pada Lanjut Usia. Jurnal

Penyakit Dalam , 7, no. 2. Mei 2006, Universitas Udhayana, Denpasar.

Whitehead, WE, Blackwell, B, et all (1997). Anxiety and Anger in Hypertension.

  Journal of Psychosomatic Research , 21, Issue 2, P 383-389.

  Willenz, P. (2002). Family History of Hypertension is Related to Maladaptive Behavioral Responses as Well as Exaggerated Physiological Reactions to Stress. American Psychological Association Journal LAMPIRAN A. DATA KARAKTERISTIK SUBJEK

  70 A. DATA KARAKTERISTIK SUBJEK Subjek Jenis Kelamin Umur (tahun) Status Pernikahan Jenis Pekerjaan Lama Menderita (bulan) Tekanan Darah Sistolik (mm/Hg) Tekanan Darah Diastolik (mm/Hg) Waktu Pengukuran Tekanan Darah Terakhir

  90 Hari tersebut 13 perempuan 50 menikah tidak bekerja 132 190 100 1 minggu sebelumnya

  90 Hari tersebut 23 laki-laki 21 tidak menikah tidak bekerja 6 180 110

  90 1 minggu sebelumnya 22 laki-laki 22 tidak menikah tidak bekerja 54 145

  95 Hari tersebut 21 laki-laki 65 menikah PNS 184 145

  90 Hari tersebut 20 laki-laki 49 tidak menikah karyawan swasta 48 155

  90 Hari tersebut 19 laki-laki 45 tidak menikah karyawan swasta 36 140

  95 Hari tersebut 18 perempuan 43 menikah karyawan swasta 72 150

  90 2 minggu sebelumnya 17 perempuan 51 menikah karyawan swasta 61 160

  95 1 bulan sebelumnya 16 perempuan 77 tidak menikah tidak bekerja 156 160

  14 perempuan 54 menikah karyawan swasta 240 190 110 1 minggu sebelumnya 15 perempuan 75 menikah pensiunan 36 140

  90 Hari tersebut 12 laki-laki 26 tidak menikah tidak bekerja 56 145

  1 laki-laki 52 menikah karyawan swasta 84 150 100 Hari tersebut 2 perempuan 42 menikah karyawan swasta 60 170 110 Hari tersebut 3 laki-laki

  53 menikah PNS 48 140

  53 menikah PNS 84 150 100 Hari tersebut 11 laki-laki

  Hari tersebut 9 perempuan 70 menikah tidak bekerja 360 170 100 2 minggu sebelumnya 10 perempuan

  90 Hari tersebut 8 laki-laki 49 menikah karyawan swasta 15 170 110

  90 Hari tersebut 7 laki-laki 33 menikah karyawan swasta 41 140

  90 Hari tersebut 6 laki-laki 46 menikah karyawan swasta 192 180

  90 3 minggu sebelumnya 5 laki-laki 28 tidak menikah karyawan swasta 7 140

  12 140

  59 menikah karyawan swasta 63 165 105 Hari tersebut 4 laki-laki 24 tidak menikah tidak bekerja

  Hari tersebut

  71

  90 Hari tersebut 39 perempuan 46 menikah karyawan swasta 6 140

  95 2 minggu sebelumnya 52 laki-laki 55 menikah PNS 38 160

  95 2 minggu sebelumnya 50 laki-laki 25 tidak menikah karyawan swasta 27 150 110 1 minggu sebelumnya 51 laki-laki 27 tidak menikah karyawan swasta 17 150

  95 Hari tersebut 49 laki-laki 59 menikah PNS 332 160

  95 Hari tersebut 48 laki-laki 74 menikah pensiunan 276 165

  Hari tersebut 47 laki-laki 60 menikah pensiunan 68 150

  90 Hari tersebut 46 perempuan 52 menikah PNS 39 160 110

  90 Hari tersebut 45 perempuan 46 menikah PNS 36 145

  90 Hari tersebut 44 perempuan 54 menikah PNS 24 140

  95 Hari tersebut 43 laki-laki 56 menikah PNS 36 140

  95 Hari tersebut 42 perempuan 45 menikah PNS 36 145

  90 Hari tersebut 41 perempuan 55 menikah karyawan swasta 96 160

  90 1 minggu sebelumnya 40 laki-laki 37 menikah karyawan swasta 60 145

  90 Hari tersebut 38 perempuan 56 menikah tidak bekerja 432 160

  24 perempuan 51 menikah tidak bekerja 6 140

  90 Hari tersebut 37 perempuan 46 menikah karyawan swasta 5 145

  90 Hari tersebut 36 laki-laki 55 menikah karyawan swasta 6 140

  90 Hari tersebut 35 laki-laki 50 menikah karyawan swasta 25 130

  90 Hari tersebut 34 laki-laki 43 menikah karyawan swasta 48 145

  Hari tersebut 33 perempuan 45 menikah karyawan swasta 24 150

  Hari tersebut 32 laki-laki 44 menikah karyawan swasta 60 140 100

  Hari tersebut 31 laki-laki 48 menikah karyawan swasta 48 145 100

  90 Hari tersebut 30 perempuan 44 menikah karyawan swasta 96 140 100

  90 Hari tersebut 29 perempuan 43 menikah karyawan swasta 2 150

  90 2 minggu sebelumnya 28 perempuan 44 menikah karyawan swasta 96 140

  Hari tersebut 27 laki-laki 23 tidak menikah tidak bekerja 6 140

  90 Hari tersebut 26 perempuan 28 menikah karyawan swasta 15 180 110

  90 Hari tersebut 25 perempuan 35 menikah tidak bekerja 24 145

  95 Hari tersebut

  72

  95 Hari tersebut 61 laki-laki 38 menikah karyawan swasta 12 150 100

  Hari tersebut 67 laki-laki 58 menikah PNS 99 160 100

  95 Hari tersebut 66 laki-laki 61 menikah PNS 50 170 100

  95 2 minggu sebelumnya 65 laki-laki 71 menikah pensiunan 158 165

  95 Hari tersebut 64 laki-laki 50 menikah karyawan swasta 63 155

  90 Hari tersebut 63 perempuan 75 tidak menikah pensiunan 84 140

  Hari tersebut 62 laki-laki 61 menikah pensiunan 42 150

  95 1 minggu sebelumnya 60 laki-laki 49 tidak menikah karyawan swasta 60 140

  53 laki-laki 54 menikah PNS 84 155

  90 1 minggu sebelumnya 59 laki-laki 55 menikah PNS 60 145

  95 Hari tersebut 58 perempuan 81 tidak menikah pensiunan 120 170

  95 Hari tersebut 57 perempuan 52 menikah PNS 74 165

  95 Hari tersebut 56 laki-laki 56 menikah PNS 85 170

  95 Hari tersebut 55 laki-laki 66 menikah PNS 135 165

  95 Hari tersebut 54 laki-laki 51 menikah PNS 85 170

  Hari tersebut

LAMPIRAN B. TABULASI DATA ITEM

B. TABULASI DATA ITEM

1. UJI COBA

  SUBJEK ite m 1 ite m 2 ite m 3 ite m 4 ite m 5 ite m 6 ite m 7 ite m 8 ite m 9 ite m 10 ite m 11 ite m 12 ite m 13 ite m 14 ke c e m a sa n 1 1 0 0 0

  1 1 3 2 0 0 0 3

  1

  1

  2

  1

  2

  2

  2 2 1 17 3 1 1 2 2

  1

  1

  2

  1

  1

  1 2 1 16 4 1 1 0 2

  1

  2

  2

  1 2 0 12 5 1 1 1 0

  1

  1

  1 1 1 8 6 0 0 1 1

  1

  1

  2

  2

  1 1 1 11 7 2 0 1 2

  1

  2

  1

  1

  1

  2 1 1 15 8 0 0 1 1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 1 1 11 9 1 2 1 2

  1

  2

  3

  2 1 1 16 10 2 0 1 0

  1 0 4 11 2 1 1 0

  1

  1

  1 1 8 12 1 2 0 2

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  2 2 1 17 13 0 0 1 1

  1

  1

  1

  2

  1

  2 2 0 12 14 1 2 2 0

  1

  1

  1

  2

  2

  2

  1 2 0 17 15 0 0 0 0 0 0 16 0 0 0 0

  1

  1 0 2 17 1 1 0 1

  1

  1

  1 1 1 8 18 0 1 1 2

  1

  1 1 0 7 19 0 0 0 0

  1

  1

  2

  1 1 0 6 20 0 0 0 0

  1 1 2 21 3 0 0 0

  1 1 5

  74

  22 2 2 1 1

  

1

0 6 39 0 0 0 0

  

1

  1

  

2

2 6 42 1 1 1 1

  1 1 1 7 41 1 0 0 1

  1

  1 0 1 40 1 0 1 1

  1

  1 1 1 10 43 0 0 0 1

  1 1 1 8 37 0 0 0 0

1

1 0 2 38 2 1 1 0

  

1

  1

  

1

1 4 36 1 0 2 0

  1 1 0 8 35 1 0 0 1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 1 1 14

  2

  2

  1

  1

  1

  

2

1 2 8 47 1 0 1 2

  1 0 3 46 1 0 1 0

  1

  2 1 2 11 45 1 1 0 0

  

1

  1

  1 1 1 9 44 1 1 1 1

  1

  

1

  1

  1

  1 1 1 9 33 1 0 1 0 0 2 34 1 0 0 1

  1

  1

  2

  1

  1 1 0 10 26 2 1 2 1

  2

  

2

  1

  

1

1 1 8 24 0 0 0 0 0 0 25 1 1 0 1

  1

  1

  1 1 1 19 23 0 1 1 1

  1

  3

  

2

  1

  1

  1

  1

  

2

  1

  1

  

1

  1

  1

  2 2 0 6 32 1 0 1 0

  1 2 0 4 31 1 0 0 1

  1 0 1 30 0 0 1 0

  1 1 1 12 29 0 0 0 0

  

1

  2

  1

  1

  1

  

2

1 1 8 28 1 1 1 1

  1

  1 2 1 21 27 0 1 2 0

  2

  75

  48 1 1 0 0 1 3 49 1 0 2 0

  1

  2

  2

  1 1 1 13 62 1 1 1 1

  1

  1

  

1

  1

  1

  1

  

1

0 2 61 3 0 0 1

  1

  

1

1 0 6 60 0 0 0 0

  1

  1

  

2

  1

  

1

  

1

1 9 66 3 1 1 2

  

1

1 1 6

  1

  2 1 2 15 67 1 1 0 0

  

1

  1

  1

  1

  1 1 2 16 63 0 0 0 0

  1 1 0 9 65 2 1 2 1

  1

  

2

  1

  1

  1 1 0 3 64 0 1 0 1

  1

  1 1 1 8 59 1 0 0 1

  1

  

2

1 0 6 50 2 1 1 1

  1

  1 1 0 4 53 2 1 2 1

  

1

  1

  1 1 1 11 52 0 0 0 0

  1

  

1

  1

  1

  1 1 1 18 51 1 1 1 1

  1

  2

  

2

  1

  1

  3

  1

  1

  1 2 0 9 58 1 1 1 0

  1

  2

  2

  

1

1 8 57 0 0 1 1

  1

  1

  

1

1 8 56 1 1 2 0

  1

  

2

  1 1 0 9 55 2 1 1 0

  

1

  1

  1

  2 1 0 18 54 0 1 2 1

  2

  2

  76

2. PENELITIAN

  

SUBJE ite m ite m ite m ite m ite m ite m ite m ite m ite m ite m ite m ite m ite m ke c e m a sa

K

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  10

  11

  12 13 n 1 1 0 0 0 1 0 0

  1

  3 2 0 0 0 3

  1

  1

  2 1 2 2

  2

  2

  1

  17 3 1 1 2 2

  1

  1 2 1 1

  1

  2

  1

  16 4 1 1 0 2 1 2 2

  1

  2

  12 5 1 1 1 0 1 1 1 0

  1

  1

  8 6 0 0 1 1 1 1 2 2

  1

  1

  1

  11 7 2 0 1 2

  1

  2 1 1 1

  2

  1

  1

  15 8 0 0 1 1

  1

  1

  1 1 1 1

  1

  1

  1

  11 9 1 2 1 2 1 2 3 0

  2

  1

  1

  16 10 2 0 1 0 1 0 0

  4 11 2 1 1 0

  1

  1 1 0 0

  1

  8 12 1 2 0 2

  1

  2 1 1 1

  2

  2

  1

  16 13 0 0 1 1

  1

  1 1 2 1

  2

  2

  12 14 1 2 2 0

  1

  1

  1 2 2 2

  1

  2

  17 15 0 0 0 0 0 0 16 0 0 0 0

  1 1 0 0

  2 17 1 1 0 1

  1

  1 1 1 0

  1

  8 18 0 1 1 2 1 1 1 0

  7 19 0 0 0 0 1 1 2 1

  1

  6 20 0 0 0 0 1 0 0

  1

  2 21 3 0 0 0 0 0

  1

  4 22 2 2 1 1

  1

  1

  1 2 3 1

  1

  1

  1

  18

  77

  23 0 1 1 1

  6 42 1 1 1 1 1 1 1 1

  1 1 1 0

  1

  1

  10 43 0 0 0 1

  1

  1

  2

  1

  7 41 1 0 0 1 2 0 0

  1

  1 1 0 1

  6 39 0 0 0 0 0 1 1 40 1 0 1 1

  2 38 2 1 1 0 1 1 0 0

  1

  8 37 0 0 0 0 1 0 0

  1

  1

  1

  1 1 2 2

  3

  1

  14 48 1 1 0 0 0 0

  1

  1

  1

  1

  9 44 1 1 1 1 1 1 2 0

  8 47 1 0 1 2

  2

  1

  1 2 0 0

  11 45 1 1 0 0 0 0 2 46 1 0 1 0

  2

  1

  1

  4 36 1 0 2 0 1 1 0 1

  1 1 0 1

  1

  8 28 1 1 1 1

  1

  1

  20 27 0 1 2 0 1 2 0 0

  1

  2

  1 2 2 2

  1

  2

  1

  10 26 2 1 2 1

  1

  1 2 2 1

  7 24 0 0 0 0 0 0 25 1 1 0 1

  1

  1

  1 1 1 0

  1

  1

  8 35 1 0 0 1 1 0 0

  1

  1

  1 1 1 1

  9 33 1 0 1 0 0 0 2 34 1 0 0 1

  1

  1

  1 1 0 1

  1

  1

  4 31 1 0 0 1 2 2 6 32 1 0 1 0

  2

  1 30 0 0 1 0 1 0 0

  12 29 0 0 0 0

1 0 0

  1

  1

  78

  49 1 0 2 0 2 0 1

  16 63 0 0 0 0 1 0 0

  2 61 3 0 0 1

  1

  1 1 1 1

  1

  1

  1

  12 62 1 1 1 1

  2

  2 2 1 1

  1

  1

  2

  1

  1

  2 64 0 1 0 1 1 2 1 1

  1

  8 65 2 1 2 1 1 1 0 0

  1

  9 66 3 1 1 2

  1

  1 1 2 0

  1

  2

  15 67 1 1 0 0 1 1 1 0

  1

  6

  5 60 0 0 0 0 1 1 0 0

  7 59 1 0 0 1 1 1 0 0

  6 50 2 1 1 1

  1 2 2 2

  3

  1 2 2 1

  1

  1

  1

  17 51 1 1 1 1 1 1 1 1

  1

  1

  10 52 0 0 0 0 1 1 1 1

  4 53 2 1 2 1

  1

  1

  2

  1

  1

  18 54 0 1 2 1

  1

  1 1 0 1

  1

  9 55 2 1 1 0 1 1 0 0

  1

  7 56 1 1 2 0 1 1 0 0

  1

  7 57 0 0 1 1 2 1

  2

  7 58 1 1 1 0 1 1 0

  1

  79

LAMPIRAN C. DESKRIPSI KARAKTERISTIK SUBJEK

C. DESKRIPSI KARAKTERISTIK SUBJEK

1. JENIS KELAMIN

  Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent laki-laki

  40 59,7 59,7 59,7 perempuan 27 40,3 40,3 100,0 Valid

  Total

67 100,0 100,0

perempuan laki-laki jenis kelamin

2. STATUS PERNIKAHAN

  Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent tidak menikah

  14 20,9 20,9 20,9 menikah 53 79,1 79,1 100,0 Valid

  Total 67 100,0 100,0 menikah tidak menikah status pernikahan

3. PEKERJAAN

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tidak bekerja 11 16,4 16,4 16,4

  PNS 18 26,9 26,9 43,3 swasta 31 46,3 46,3 89,6 pensiun 7 10,4 10,4 100,0 Total

67 100,0 100,0

pekerjaan PNS pensiun swasta tidak bekerja

  4. UMUR N Valid

  67 Missing Mean 49,42 Std. Error of Mean 1,694 Median 50,00 Mode

  46(a) Std. Deviation 13,867 Variance

  192,308 Skewness

  • ,076 Std. Error of Skewness ,293 Kurtosis

  ,013 Std. Error of Kurtosis ,578 Range

  60 Minimum

  21 Maximum 81 a Multiple modes exist. The smallest value is shown

  Histogram

  12.5

  10.0 y nc

  7.5 ue q Fre

  5.0

  2.5 Mean =49.42 Std. Dev. =13.867

0.0 N =67

  20

  40

  60

  80

umur

  Umur Frequency Percent Valid Percent Cumulative

  Percent

  21 1 1,5 1,5 1,5 22 1 1,5 1,5 3,0 23 1 1,5 1,5 4,5 24 1 1,5 1,5 6,0 25 1 1,5 1,5 7,5 26 1 1,5 1,5 9,0 27 1 1,5 1,5 10,4 28 2 3,0 3,0 13,4 33 1 1,5 1,5 14,9 35 1 1,5 1,5 16,4 37 1 1,5 1,5 17,9 38 1 1,5 1,5 19,4 42 1 1,5 1,5 20,9 43 3 4,5 4,5 25,4 44 3 4,5 4,5 29,9 45 3 4,5 4,5 34,3 46 4 6,0 6,0 40,3 48 1 1,5 1,5 41,8 49 3 4,5 4,5 46,3 50 3 4,5 4,5 50,7 51 3 4,5 4,5 55,2 52 3 4,5 4,5 59,7 53 2 3,0 3,0 62,7 54 3 4,5 4,5 67,2 55 4 6,0 6,0 73,1 56 3 4,5 4,5 77,6 58 1 1,5 1,5 79,1 59 2 3,0 3,0 82,1 60 1 1,5 1,5 83,6 61 2 3,0 3,0 86,6 65 1 1,5 1,5 88,1 66 1 1,5 1,5 89,6 70 1 1,5 1,5 91,0 71 1 1,5 1,5 92,5 74 1 1,5 1,5 94,0 75 2 3,0 3,0 97,0 77 1 1,5 1,5 98,5 81 1 1,5 1,5 100,0

  Valid Total 67 100,0 100,0

5. LAMA MENDERITA

  N Valid

  67 Missing Mean 78,24 Std. Error of Mean

  10,421 Median 56,00 Mode

  6(a) Std. Deviation 85,303 Variance

  7276,609 Skewness 2,341 Std. Error of Skewness

  ,293 Kurtosis 5,977 Std. Error of Kurtosis

  ,578 Range 430 Minimum

  2 Maximum 432 a Multiple modes exist. The smallest value is shown

  Histogram

  25

  20

  15 requency

10 F

  5 Mean =78.24 Std. Dev. =85.303 N =67 100 200 300 400 500

lama menderita

   lama menderita Frequency Percent Valid Percent Cumulative

  Percent

  2 1 1,5 1,5 1,5 5 1 1,5 1,5 3,0 6 5 7,5 7,5 10,4 7 1 1,5 1,5 11,9 12 2 3,0 3,0 14,9 15 2 3,0 3,0 17,9 17 1 1,5 1,5 19,4 24 3 4,5 4,5 23,9 25 1 1,5 1,5 25,4 27 1 1,5 1,5 26,9 36 5 7,5 7,5 34,3 38 1 1,5 1,5 35,8 39 1 1,5 1,5 37,3 41 1 1,5 1,5 38,8 42 1 1,5 1,5 40,3 48 4 6,0 6,0 46,3 50 1 1,5 1,5 47,8 54 1 1,5 1,5 49,3 56 1 1,5 1,5 50,7 60 5 7,5 7,5 58,2 61 1 1,5 1,5 59,7 63 2 3,0 3,0 62,7 68 1 1,5 1,5 64,2 72 1 1,5 1,5 65,7 74 1 1,5 1,5 67,2 84 4 6,0 6,0 73,1 85 2 3,0 3,0 76,1 96 3 4,5 4,5 80,6 99 1 1,5 1,5 82,1 120 1 1,5 1,5 83,6 132 1 1,5 1,5 85,1 135 1 1,5 1,5 86,6 156 1 1,5 1,5 88,1 158 1 1,5 1,5 89,6 184 1 1,5 1,5 91,0 192 1 1,5 1,5 92,5 240 1 1,5 1,5 94,0 276 1 1,5 1,5 95,5 332 1 1,5 1,5 97,0 360 1 1,5 1,5 98,5 432 1 1,5 1,5 100,0

  Valid

6. TEKANAN DARAH SISTOLIK Statistics

  tekanan darah sistolik N Valid

  67 Missing Mean 153,66 Std. Error of Mean

  1,639 Median 150,00 Mode

  140 Std. Deviation 13,416 Variance

  179,986 Skewness ,888 Std. Error of Skewness ,293 Kurtosis ,044 Std. Error of Kurtosis ,578 Range

  50 Minimum 140 Maximum 190 tekanan darah sistolik

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid 140 18 26,9 26,9 26,9

  145 11 16,4 16,4 43,3 150 10 14,9 14,9 58,2 155 3 4,5 4,5 62,7 160 8 11,9 11,9 74,6 165 5 7,5 7,5 82,1 170 7 10,4 10,4 92,5 180 3 4,5 4,5 97,0 190 2 3,0 3,0 100,0 Total 67 100,0 100,0

  15 20 Histogram cy uen 10 eq

  Fr 5 Std. Dev. =13.416 Mean =153.66 N =67 140 160 180 200 tekanan darah sistolik

7. TEKANAN DARAH DIASTOLIK

  N Valid

  67 Missing Mean 95,30 Std. Error of Mean

  ,773 Median 95,00 Mode

  90 Std. Deviation 6,329 Variance 40,061 Skewness

  1,225 Std. Error of Skewness ,293 Kurtosis ,618 Std. Error of Kurtosis ,578 Range

  20 Minimum

  90 Maximum 110 diastolik

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid

  90

29 43,3 43,3 43,3

95

20 29,9 29,9 73,1

100

10 14,9 14,9 88,1

105 1 1,5 1,5 89,6 110 7 10,4 10,4 100,0 Total 67 100,0 100,0

  Histogram

  30

  20 ncy e

10 Frequ

  Mean =95.3 Std. Dev. =6.329

  85

  90 95 100 105 110 115 N =67 diastolik

LAMPIRAN D. UJI RELIABILITAS

D. UJI RELIABILITAS

1. UJI COBA Case Processing Summary

  N % Cases Valid 67 100,0 Excluded(a)

  ,0 Total 67 100,0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  ,822

  14 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted

Corrected

  

Item-Total

Correlation

Cronbach's Alpha if Item

  Deleted item1 7,69 23,976 ,268 ,827 item2 8,04 23,680 ,460 ,810 item3 7,87 23,815 ,354 ,818 item4 7,90 22,156 ,584 ,800 item5 8,37 24,934 ,413 ,815 item6 7,91 23,446 ,477 ,809 item7 8,09 23,295 ,556 ,804 item8 8,33 26,133 ,091 ,830 item9 7,64 23,233 ,460 ,810 item10 7,78 20,813 ,637 ,794 item11 7,99 23,015 ,492 ,808 item12 8,03 22,969 ,495 ,807 item13 8,01 21,773 ,719 ,791 item14 7,93 24,616 ,294 ,821

2. PENELITIAN Case Processing Summary

  N % Cases Valid 67 100,0 Excluded(a)

  ,0 Total 67 100,0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  ,830

  13 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted

Corrected

  

Item-Total

Correlation

Cronbach's Alpha if Item

  Deleted item1 7,43 23,461 ,252 ,837 item2 7,79 23,137 ,446 ,820 item3 7,61 23,150 ,360 ,826 item4 7,64 21,506 ,591 ,808 item5 8,12 24,228 ,431 ,823 item6 7,66 22,835 ,475 ,818 item7 7,84 22,624 ,567 ,812 item8 7,39 22,574 ,467 ,818 item9 7,52 20,223 ,638 ,804 item10 7,73 22,381 ,495 ,816 item11 7,78 22,389 ,489 ,817 item12 7,76 21,124 ,728 ,799 item13 7,67 23,951 ,298 ,829

LAMPIRAN E. DESKRIPSI DATA PENELITIAN

  

E. DESKRIPSI DATA PENELITIAN

1. TINGKAT KECEMASAN Statistics tingkat kecemasan Valid

  67 N Missing Mean 8,33 Median 8,00 Mode

  8 Std. Deviation 5,112 Variance 26,133 Range

  20 Minimum Maximum

  20 tingkat kecemasan

  Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

2 3,0 3,0 3,0

  1

2 3,0 3,0 6,0

2

7 10,4 10,4 16,4

3

2 3,0 3,0 19,4

4

5 7,5 7,5 26,9

5

1 1,5 1,5 28,4

6

6 9,0 9,0 37,3

7

7 10,4 10,4 47,8

8

8 11,9 11,9 59,7

9

4 6,0 6,0 65,7

10

3 4,5 4,5 70,1

11

3 4,5 4,5 74,6

12

4 6,0 6,0 80,6

14

1 1,5 1,5 82,1

15

2 3,0 3,0 85,1

16

4 6,0 6,0 91,0

17

3 4,5 4,5 95,5

18

2 3,0 3,0 98,5

20

1 1,5 1,5 100,0

  Valid Total 67 100,0 100,0

  

Histogram

  8

  6 ncy

  4 reque F

  2 Mean =8.33 Std. Dev. =5.112 N =67

  • 5

  5

  10

  

15

  20

  25 tingkat kecemasan

2. DESKRIPSI KATEGORISASI TINGKAT KECEMASAN Statistics

  KATEGORISASI N Valid

67 Missing

   KATEGORISASI Cumulative

Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid NORMAL 25 37,3 37,3 37,3 RINGAN 29 43,3 43,3 80,6 SEDANG 12 17,9 17,9 98,5 BERAT 1 1,5 1,5 100,0 Total 67 100,0 100,0

  KATEGORISASI

  30

20 Frequency

  10 NORMAL RINGAN SEDANG BERAT KATEGORISASI

3. DESKRIPSI TIAP KATEGORI

a. KATEGORI NORMAL JENIS KELAMIN

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid perempuan 13 52,0 52,0 52,0 laki-laki 12 48,0 48,0 100,0 Total

25 100,0 100,0

STATUS PERNIKAHAN

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tidak menikah 5 20,0 20,0 20,0 menikah 20 80,0 80,0 100,0 Total 25 100,0 100,0

JENIS PEKERJAAN

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tidak bekerja 3 12,0 12,0 12,0

  PNS 7 28,0 28,0 40,0 swasta 12 48,0 48,0 88,0 pensiun 3 12,0 12,0 100,0 Total

25 100,0 100,0

  

Statistics

tekanan tekanan lama darah darah tingkat umur menderita sistolik diastolik kecemasan N Valid

  25

  25

  25

  25

  25 Missing Mean 54,84 94,12 148,60 93,80 3,32 Std. Error of Mean 2,103 21,509 1,838 ,779 ,395 Median 52,00 60,00 145,00 95,00 3,00 Mode

  46(a) 36(a) 140

  90

  2 Std. Deviation 10,515 107,547 9,188 3,894 1,973 Variance 110,557 11566,443 84,417 15,167 3,893 Skewness 1,076 1,982 ,143 ,463 ,044 Std. Error of Skewness ,464 ,464 ,464 ,464 ,464 Kurtosis ,059 3,694 -,905 -1,158 -1,152 Std. Error of Kurtosis ,902 ,902 ,902 ,902 ,902 Range 34 430

  35

  10

  6 Minimum

  43 2 130

  90 Maximum 77 432 165 100 6 a Multiple modes exist. The smallest value is shown

b. KATEGORI RINGAN JENIS KELAMIN

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid perempuan 10 34,5 34,5 34,5 laki-laki 19 65,5 65,5 100,0 Total

29 100,0 100,0

STATUS PERNIKAHAN

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tidak menikah 6 20,7 20,7 20,7 menikah 23 79,3 79,3 100,0 Total 29 100,0 100,0

JENIS PEKERJAAN

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tidak bekerja 5 17,2 17,2 17,2

  PNS 9 31,0 31,0 48,3 swasta 13 44,8 44,8 93,1 pensiun 2 6,9 6,9 100,0 Total

29 100,0 100,0

  

Statistics

tekanan lama tekanan darah darah tingkat umur menderita sistolik diastolik kecemasan N Valid

  

29

  29

  29

  29

  29 Missing Mean 46,38 59,62 154,83 94,66 8,97 Std. Error of Mean 2,583 9,208 2,769 1,162 ,327 Median 49,00 48,00 150,00 95,00 8,00 Mode

  43(a) 6 140

  90

  8 Std. Deviation 13,911 49,584 14,909 6,258 1,762 Variance 193,530 2458,601 222,291 39,163 3,106 Skewness ,156 1,028 ,687 1,547 ,561 Std. Error of Skewness ,434 ,434 ,434 ,434 ,434 Kurtosis

  ,470 ,534 -,616 1,710 -1,031 Std. Error of Kurtosis ,845 ,845 ,845 ,845 ,845 Range

  60 186

  50

  20

  5 Minimum

21

6 140

  90

  7 Maximum 81 192 190 110

  12 a Multiple modes exist. The smallest value is shown

c. KATEGORI SEDANG JENIS KELAMIN

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid perempuan 3 25,0 25,0 25,0 laki-laki 9 75,0 75,0 100,0 Total

12 100,0 100,0

STATUS PERNIKAHAN

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tidak menikah 3 25,0 25,0 25,0 menikah 9 75,0 75,0 100,0 Total 12 100,0 100,0

JENIS PEKERJAAN

  Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid tidak bekerja 3 25,0 25,0 25,0

  PNS 2 16,7 16,7 41,7 swasta 5 41,7 41,7 83,3 pensiun 2 16,7 16,7 100,0 Total

12 100,0 100,0

  

Statistics

tekanan lama tekanan darah darah tingkat umur menderita sistolik diastolik kecemasan N Valid

  

12

  12

  12

  12

  12 Missing Mean 47,25 95,42 158,33 98,75 16,25 Std. Error of Mean 4,848 28,857 4,234 2,394 ,351 Median 54,00 58,00 152,50 97,50 16,00 Mode

  54(a) 27(a) 150(a)

  90

  16 Std. Deviation 16,794 99,965 14,668 8,292 1,215 Variance 282,023 9992,992 215,152 68,750 1,477 Skewness

  • ,425 2,248 ,834 ,332 -,205 Std. Error of Skewness ,637 ,637 ,637 ,637 ,637 Kurtosis -1,485 4,471 ,235 -1,585 -,406 Std. Error of Kurtosis 1,232 1,232 1,232 1,232 1,232 Range

  48 333

  50

  20

  4 Minimum

22

27 140

  90

  14 Maximum 70 360 190 110

  18 a Multiple modes exist. The smallest value is shown

d. KATEGORI BERAT

  

N Jenis Kelamin Status Jenis Umur Lama Tek. Tek. Tingkat

Pernikahan Pekerjaan Menderita Darah Darah kecemasan Sistolik Diastolik

  1 Perempuan Menikah Swasta 28 15 180 110

  20

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
117
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
165
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
92
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
120
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
169
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
123
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
121
Skripsi Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
187
Skripsi Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
115
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
138
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi.) Program Studi Psikologi
0
0
234
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
100
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
84
Show more