Gagasan Semaoen tentang Partai Komunis Indonesia dalam novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen : kajian sosiologi sastra - USD Repository

Gratis

0
0
101
4 months ago
Preview
Full text

  

GAGASAN SEMAOEN

TENTANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA

DALAM NOVEL HIKAYAT KADIROEN KARYA SEMAOEN

KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

  Oleh

  

Dimas Rizky Chrisnanda

NIM : 054114006

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2009

  

GAGASAN SEMAOEN

TENTANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA

DALAM NOVEL HIKAYAT KADIROEN KARYA SEMAOEN

KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

  Oleh

  

Dimas Rizky Chrisnanda

NIM : 054114006

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2009

  

P E R S E M B A H A N

Sang Hyang Bapa, Gusti, dan Bunda Maria. Nafas ini mengalir tanpa-

Nya; memberi suasana merdeka yang dicari.

  

Keluargaku; Bpk. Djum dan Ibu Chris. Memang sudah sendiri, tetapi

semaian pupuk membuat pohon semakin kuat bukan?

Kekasih hati, Fransiska Firlana. Mata ini membelalak kedewasaan.

Bersama atas nama peristiwa. Bagiku, kau tetap segitiga kehidupan

yang selalu hadir…trimakasih Jeng…trimakasih Gusti

  

Setiap apa dan siapa yang pernah hadir. Ini bagian ”hutang” yang

masih terus kan terbayar.

  

Motto

Me nya tuka n ka ta d a n p ikira n d a la m tind a ka n a d a la h

b ukti ya ng te re ka m d a n te rliha t o le h ma ta .

Ing a t! Tia p o ra ng me mp e rha tika n g e ra k-g e rik ke ma na

la ng ka h p e rg i.

  

Kita tid a k se nd iri…

  Surat Pernyataan Keaslian

  Dengan ini saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi berjudul “Gagasan Semaoen tentang Partai Komunis Indonesia dalam Novel Hikayat

  Kadiroen Karya Semaoen Kajian Sosiologi Sastra” ini tidak memuat karya

  atau bagian dari orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagai layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 28 September 2009 Penulis,

  (Dimas Rizky Ch.) LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertandatangan di bawah ini, saya mahasiswa Sanata Dharma: Nama : Dimas Rizky Chrisnanda NIM : 054114006

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

  

GAGASAN SEMAOEN TENTANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA

DALAM NOVEL HIKAYAT KADIROEN KARYA SEMAOEN KAJIAN

SOSIOLOGI SASTRA, beserta perangkat yang diperlukan.

  Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lainnya untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya ataupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Dengan pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 28 September 2009 Yang menyatakan, Dimas Rizky Chrisnanda

  

ABSTRAK

  Chrisnanda, Dimas Rizky. 2009. Gagasan Semaoen Tentang Partai Komunis

  Indonesia Dalam Novel Hikayat Kadiroen Karya Semaoen Kajian Sosiologi Sastra. Skripsi Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan

  Sastra Indonesia, Fakultas Sastra. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.

  Pergerakan menjadi sumbu utama bangsa Indonesia untuk keluar dari penjajahan kolonial Belanda. Ajakan dan dorongan untuk berkumpul bersama dalam pergerakan menjadi pegangan bagi para intelektual untuk mengkritisi keadaan yang terjadi di masyarakat. Semaoen sebagai salah satu pemuda intelektual pada era 1920an, juga menyatakan hal serupa dalam novelnya

  

Hikayat Kadiroen . Hal yang kemudian dijadikan bahan penelitian untuk

  menangkap tujuan penelitian, yaitu menganalisis dan mendeskripsikan gagasan Semaoen tentang Partai Komunis Indonesia dalam novel yang dikarangnya. Metode penelitian deskripsi analisis digunakan dalam penelitian ini, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah struktural dan sosiologi sastra.

  Politik yang diterapkan pemerintah Belanda, telah membentuk sedemikian rupa kondisi masyarakat di Hindia. Kebijakan-kebijakan yang merugikan rakyat Hindia mau tidak mau membuka kesadaran agar rakyat harus merdeka. Berkumpul dalam wadah pergerakan adalah salah satunya. Itulah yang diceritakan Semaoen melalui tokoh Kadiroen yang tertarik bergabung bersama Partai Komunis. Secara sadar, Kadiroen lebih memilih menanggalkan pangkatnya dan memilih sebagai seorang penulis yang menjadi alat perjuangannya kemudian.

  Adapun gagasan Semaoen tentang Partai Komunis Indonesia yang diungkapkan melalui tokoh Kadiroen dalam novel ini adalah gagasan PKI sebagai pembangun kesadaran baru dan faktor penghambat cita-cita bangsa yang merdeka dari sudut pandang PKI, yang meliputi faktor kekuasaan dan faktor kaum bermodal. Sebagai pembangun kesadaran baru, PKI berusaha menyadarkan rakyat Hindia bahwa dengan menjadi pintar, kuat dan berkuasa maka rakyat dapat hidup merdeka. Caranya yaitu dengan rukun bersatu atau mendirikan perkumpulan. Atas kesadaran itulah Kadiroen akhirnya bergabung bersama Partai Komunis sebagai penulis dan meninggalkan pekerjaannya sebagai pejabat pemerintah. Hal ini sekaligus ajakan untuk rakyat Hindia bergabung bersama PKI yang mencita-citakan bangsanya yang merdeka.

  Cita-cita tersebut bukanlah tanpa hambatan. Kekuasaan yang dipegang pemerintah kolonial Belanda, hanya digunakan untuk kepentingan sendiri. Pengalaman Kadiroen terhadap atasannya yang semena-mena terhadap rakyat membuatnya semakin yakin bahwa rakyat tidak akan merdeka jika terus hidup seperti itu. Kadiroen menyadari kekuasaan yang seharusnya digunakan untuk melindungi rakyat, sudah tidak berlaku lagi. Tidak hanya itu, kekuasan pun telah digunakan untuk melindungi para kaum bermodal agar mereka memperoleh keuntungan maksimal. Rakyat hanya dijadikan pekerja murah agar dapat meminimalkan pengeluaran, sekaligus dijadikan konsumen yang membuat mereka semakin menderita. Kedua faktor inilah yang dinilai oleh Semaoen sebagai penghambat cita-cita bangsa yang merdeka yang tertuang dalam novelnya.

  ABSTRACT

  Chrisnanda, Dimas Rizky. 2009. The Idea of Semaoen on Indonesian

  Communist Party in Semaoen’s Hikayat Kadiroen. A Literary Sociological Approach. A Thesis. Indonesian Letters Study

  Programme, Indonesian Letters Department, Faculty Of Letters, Sanata Dharma University. Yogyakarta.

  A Movement has been a main course of Indonesian in their struggle for independence under the Dutch colonization. The Invitation and encouragement to make a group of movement are the principles that used by the intellectuals to criticize the situation on the society. Semaoen as the intellectual youth in the 1920s said the same point in his novel, Hikayat Kadiroen. The object that is taken as the research material is the processes of analysis and describing the idea of Semaoen on Indonesian Communist Party in his Novel. The method of description analysis research is use in this study and a structural and literature sociology were used as the approach.

  The politic system that applied by the Dutch has created certain condition of people in Indies. The harmful decisions give nothing but the people’s awakening to be independent. Gathering in the group of movement is one of the ways of struggling. This was the point that Semaoen written about. It was told through the character of Kadiroen who exited to join the Communist Party. Kadiroen consciously abandoned his profession and became a writer which functioned as a tool of his next struggling.

  The idea of Semaoen on Indonesian Communist Party which was told through the character of Kadiroen in the novel is the idea of the party as the builder of a new consciousness. Based on the point of view of the party there are obstacle factors of the independent country’ hope. There are the power factor, and wealth class factor. As the builder of new consciousness the party tried to awake the people of Indies that by living in high intellectual quality, strong and powerful condition the people could live independently. To achieve those conditions the people should live peacefully united or by assembling a gathering. Based on this awareness Kadiroen became the member of the communist party as a writer and left his employment where he was a government officer. This point is also an invitation for the people of Indies to join the Indonesian Communist Party who dreamed for its independent country.

  This dream is not in the easy path. The power of controlling was in the side of the Dutch and it was used for their own benefits. Kadiroen’s experience of seen his employer who has a full authority on the people makes him became more convince that the people will never reach their independence if continually living in such condition. Kadiroen realized that the power to protect the people is no longer exist. The power also has been used to protect the wealth class in order to make them able to produce a maximum profit. The people were treated as a cheap worker to decrease the payment and they also were made as consumers which resulted in their sufferer life. These two factors, according to Semaoen, are the obstacle of the dream of an independent nation as revealed in his novel.

KATA PENGANTAR

  Ungkapan syukur kepada Gusti patut diucapkan setelah terselesaikannya penelitian ini. Walaupun begitu, penelitian ini tidak secara utuh dikatakan selesai karena adanya kekurangan dalam penulisan penelitian ini. Untuk itu, kritik dan saran akan sangat diperlukan agar penelitian ini menjadi cukup sempurna. Terhadap segala pihak yang membantu dalam tersusunnya penelitian ini, peneliti mengucapkan banyak terima kasih, di antaranya yaitu:

  1. S.E. Peni. Adji, S. S., M. Hum dosen pembimbing I sebagai tempat berkeluh dalam ketidaktahuan peneliti.

  2. Drs. B. Rahmanto, M. Hum, semoga bapak tidak kaget esok hari.

  3. Dra. Fr. Tjandrasih Adji, M. Hum sebagai dosen pembimbing angkatan 2005. Tenang, itu yang tergambar tentang ibu.

  4. Segenap dosen Fakultas Sastra Drs. Hery Antono, M. Hum., Drs. P. Ari Subagyo, M. Hum., Dr. I. Praptomo Baryadi, M. Hum., Drs. Yosef Yapi Taum, M. Hum., dan Drs. F.X. Santosa.

  5. Segala pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

  Penulis berharap penelitian ini dapat berguna bagi masyarakat sastra, tidak terkecuali masyarakat awam sekalipun. Jika terjadi kesalahan dalam penulisan, baik sengaja maupun tidak sengaja, penulis mengucapkan mohon maaf. Akhir kata, selamat membaca. Terima kasih.

  Penulis

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL....................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................ ii HALAMAN PENGESAHAN......................................................................... iii PERSEMBAHAN ........................................................................................... iv MOTTO …………………………………………………………………… v SURAT PERNYATAAN KEASLIAN........................................................... vi LEMBAR PERSETUJUAN.………………………………………………. vii ABSTRAK ...................................................................................................... viii

  

ABSTRACT ………………………………………………………………… x

  KATA PENGANTAR..................................................................................... xii DAFTAR ISI ................................................................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN .............................................................................

  1 1. 1 Latar Belakang ..........................................................................

  1 1. 2 Rumusan Masalah ......................................................................

  5 1. 3 Tujuan Penelitian .......................................................................

  6 1. 4 Manfaat Penelitian .....................................................................

  6 1. 5 Tinjauan Pustaka .......................................................................

  7 1. 6 Landasan Teori ……….……………………………………...

  8 1. 7 Metode Penelitian .………………………………………

  12 1. 8 Sistematika Penyajian .………………………………………

  13

  BAB II KONDISI SOSIAL MASYARAKAT INDONESIA SEBELUM TERBENTUKNYA PARTAI KOMUNIS INDONESIA (PKI) ...

  14

  2.1

  14 Pengantar ....................................................................................

  2.2 Keadaan Sosial Masyarakat Indonesia Sebelum Masuknya Sneevliet ke Hindia ...................................................................

  16

  2.3 Keadaan Sosial Masyarakat Indonesia Sesudah Masuknya Sneevliet ke Hindia ..................................................................

  21 2.4 Media Massa Sebagai Alat Perjuangan ………………...……..

  25

  2.5 Rangkuman……………………………………………………

  27 BAB III TOKOH DAN PENOKOHAN ........................................................

  29 3. 1 Pengantar ....................................................................................

  29 3. 2 Kadiroen......................................................................................

  31 3.3 Tjitro.............................................................................................

  47

  3.4 Rangkuman………………………………………………………

  52 BAB IV GAGASAN SEMAOEN TENTANG PARTAI KOMUNIS

  INDONESIA (PKI) DALAM NOVEL HIKAYAT KADIROEN KARYA SEMAOEN ......................................................................

  57 4. 1 Pengantar ...................................................................................

  57

  4.2 Gagasan Semaoen tentang PKI sebagai Pembangun Kesadaran Baru .........................................................................

  58

  4.3 Faktor Penghambat Cita-Cita Bangsa yang Merdeka Berdasarkan Sudut Pandang PKI ..............................................

  67 4. 3. 1 Faktor Penguasa…… ………………………………….

  68

  4. 3. 2 Faktor Kaum Bermodal ………….…………………….

  72 4.5 Rangkuman…………………………………………………….

  75 BAB V PENUTUP .........................................................................................

  78 5. 1 Kesimpulan ...............................................................................

  78 5. 2 Saran ..........................................................................................

  82 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………..

  83 BIODATA PENULIS….……………………………………………….….

  85

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Lahirnya karya sastra memang tidak dapat dipisahkan dari

  pengarangnya. Dari situ, pengarang berupaya menuliskan ide-idenya untuk kemudian dibaca oleh masyarakat. Ide-ide tersebut bisa berasal dari latar belakang kehidupan sang pengarang sendiri; mulai dari keluarga, lingkungan, kehidupan masyarakat, gagasan-gagasannya, dan sebagainya. Tidak heran jika dalam bentuk karya sastra ditemukan suatu gagasan yang mencerminkan sikap berpolitiknya seseorang.

  Salah satu dari karya sastra itu adalah novel yang berjudul Hikayat

  Kadiroen karya Semaoen. Pada saat menulis novel ini, Semaoen telah

  terpengaruh paham komunis dan mencatatkan dirinya bersama organisasi Sarekat Islam (SI), bahkan menjabat sebagai ketua SI di kota Semarang. Pada akhirnya, ia menjabat sebagai ketua Partai Komunis Indonesia untuk pertama kalinya.

  Paham komunis masuk pertama kali ke Hindia dibawa oleh Josephus Franciscus M. Sneevliet pada tahun 1913. Setahun berikutnya, ia mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV) di Semarang. Dipilihnya kota Semarang karena sejak tahun 1905 kota tersebut dikenal sebagai kota perdagangan dan industri sehingga dirasa mudah untuk mendapat anggota dalam jumlah banyak. Hal ini juga sejalan dengan tujuan didirikannya organisasi tersebut yaitu untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda (Cahyono, 2003: xxiii), selain karena Sneevliet bekerja menggantikan posisi temannya. Guna mendapat anggota dan menguatkan jaringan, Sneevliet merasa perlu untuk mengajak kaum bumiputera, salah satunya adalah Semaoen. Ia dipilih karena dianggap sebagai pemuda yang cerdas, ulung dan pemberani (Muljana, 1986: 1).

  Semaoen pada saat itu menjabat sebagai ketua Sarekat Islam (SI) untuk kota Semarang. Sneevliet menanamkan paham komunis pada Semaoen dengan mudah karena sama-sama berada di Semarang. Semaoen yang juga sudah mulai mengenal komunis, ikut bergabung bersama ISDV yang salah satunya dibentuk Sneevliet (Cahyono, 2003: xxiii). Kedudukan Semaoen dalam jajaran SI membuatnya dengan mudah memperoleh massa untuk ikut dalam gerakan

  ISDV. Hal ini menjadi semakin lebih mudah karena belum adanya aturan organisasi mengenai kerangkapan anggota di organisasi lainnya.

  Gelagat Sneevliet dengan propaganda komunisnya, tercium oleh pemerintah Hindia Belanda. Ia pun diadili dan diusir dari Hindia Belanda.

  Tampuk kepemimpinan ISDV kini dipegang oleh Semaoen. Pada tanggal 23 Mei 1920 Semaoen mengganti ISDV dengan Partai Komunis Hindia.

  Pencantuman ‘Hindia’ sendiri dilakukan melalui kongres istimewa setelah sebelumnya Sneevliet mengajukan usul agar ISDV menjadi bagian dari komintern Rusia yang salah satu syaratnya adalah memakai nama terang partai komunis beserta nama negaranya (Gie, 1990: 54). Selang tujuh bulan kemudian, diubah lagi menjadi Partai Komunis Indonesia dengan ketuanya adalah Semaoen sendiri.

  Setahun sesudahnya, sadar bahwa posisinya yang tidak aman oleh karena kegiatan politiknya, Semaoen pun lebih memilih untuk mengasingkan diri ke Rusia. Ketua PKI selanjutnya dipegang oleh Tan Malaka. Pada saat itu ada desakan dari anggota SI yang tidak terpengaruh PKI, agar ada disiplin partai yang tidak memperbolehkan keanggotaan rangkap. Karena opsi itu pulalah SI yang berafiliasi dengan PKI memisahkan diri dan mengidentifikasikan diri dengan nama SI Merah pada Februari 1923 (Kartodirdjo, Sartono, dkk, 1977: 210,211).

  Berawal dari runtutan peristiwa yang terjadi di sekitar diri Semaoen, maka karya sastra yang dihasilkannya menjadi bagian dari dirinya pula. Tidak hanya dalam gerakan, novel Hikayat Kadiroen juga menunjukkan bagaimana komunisme sudah melekat pada dirinya.

  Novel ini ditulis Semaoen pada tahun 1919. Karya tersebut ditulis ketika Semaoen dipenjara karena persdelict (delik pers). Pemerintah Hindia Belanda mempunyai hak untuk menangkap siapa saja yang melawan maupun mengkritik jalannya pemerintahan, termasuk bagi seorang penulis di koran.

  Menulis melalui surat kabar seperti suatu “kewajiban” bagi orang-orang pergerakan pada saat itu. Sebagai tindakan ofensive pemerintah, maka pemimpin-pemimpin pergerakan banyak yang mendekam di penjara karena terkena delik pers. Semaoen adalah salah satunya. Tidak heran Semaoen dalam pengantarnya menuliskan seperti kutipan berikut.

  (1) Moega-moegalah tjerita yang saja toelis dengan aer mata kesengsara-an dalam pendjara itoe bisa djadi senangnya orang banjak, jaitoe semoea pembatja dan rajat (Semaoen, 2000; ix).

  Setahun kemudian, ia mengubah seperlunya novel tersebut untuk dimuat dalam koran Sinar-Hindia. Atas dasar situasi yang terjadi di sekitar diri Semaoen-lah yang menjadi alasan peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang gagasan Semaoen tentang PKI dalam novel Hikayat Kadiroen.

  Gagasan tentang paham komunis secara implisit terekam jelas dalam novel tersebut. Bisa dikatakan, hal tersebut mendominasi dan menjadi masalah bagi tokoh utama dalam novel yakni Kadiroen. Diceritakan, saat menjadi patih di kota S, di distriknya sedang ada propaganda Partai Komunis (PK) oleh Tjitro. Kontroversi yang ditimbulkan oleh propaganda ini, membuat Kadiroen ingin mengerti segala sesuatu tentang gerakan PK. Propaganda itu ternyata berhasil menarik perhatian Kadiroen; ia menaruh hati pada gerakan ini.

  (2) “… ia mendengar keterangan Tjitro dan perasaannya terbuka, sepertinya dalam hati ia melihat cahaya bintang yang sangat baik…” (Semaoen, 1920 :144).

  Ketertarikan Kadiroen akan gerakan PK juga menimbulkan rasa gundah pada dirinya. Ia harus memilih di antara pekerjaan yang disukainya atau mengikuti gerakan komunis.

  Tokoh Tjitro di sini ternyata mempunyai andil yang cukup besar. Walaupun tokoh Tjitro merupakan tokoh yang hanya diceritakan ulang oleh Kadiroen, tetapi ia menjadi penting karena ia berperan mewakili perkumpulan komunis saat vergadering. Secara utuh dalam novel, Tjitro berperan sebagai akan mengkajinya dengan kajian struktural, yaitu unsur tokoh dan penokohan. Pengkajian ini digunakan untuk mengetahui gagasan pengarang tentang PKI dalam novel Hikayat Kadiroen. Untuk unsur intrinsik yang lain tidak dibahas karena sudah terkandung dalam penggambaran tokoh dan penokohan yang akan dibahas.

  Gagasan pengarang pada novel ini timbul sebagai akibat realitas sosial yang ada pada masa itu. Soe Hok Gie (1990: 6) melihat beberapa faktor sosial tersebut, yaitu faktor agraria, Volksraad dan Indie Weerbaar, wabah pes dan presdelict Sneevliet.

  Oleh karena adanya hubungan antara sastra dan masyarakat, maka novel ini akan dikaji dengan menggunakan kajian Sosiologi Sastra. Sosiologi Sastra adalah suatu telaah sastra yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat dan tentang proses sosialnya (Semi 1989:52). Sejalan dengan pendapat Lukacs dalam Taum (1997: 50, 51) yaitu sastra sebagai cermin masyarakat, penelitian ini akan mendeskripsikan dan menganalisis peritiwa yang hadir dalam novel dianggap sebagai gejala masyarakat pada waktu itu. Untuk itulah, sebelum membahas gagasan Semaoen tentang PKI dalam novel Hikayat Kadiroen akan dibahas kondisi sosial masyarakat pada awal terbentuknya PKI.

2. Rumusan Masalah

  Dalam proposal penelitian ini, yang menjadi fokus permasalahan dirumuskan sebagai berikut:

2.1 Bagaimanakah kondisi sosial masyarakat pada awal terbentuknya PKI?

  2.2 Bagaimanakah deskripsi tokoh dan penokohan Kadiroen dan Tjitro dalam novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen?

  2.3 Bagaimanakah gagasan Semaoen tentang PKI dalam novel Hikayat

  Kadiroen karya Semaoen? 3.

   Tujuan Penelitian

  Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk:

  3.1 Mendeskripsikan kondisi sosial masyarakat pada awal terbentuknya PKI.

  3.2 Mendeskripsikan tokoh dan penokohan Kadiroen dan Tjitro dalam novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen.

  3.3 Mendeskripsikan dan menganalisis gagasan Semaoen dalam novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen.

  Pertanyaan-pertanyaan itu muncul berdasarkan uraian dalam latar belakang yang menampakkan beberapa permasalahan sehingga diperlukan pengkajian mendalam.

4. Manfaat Penelitian

4.1 Manfaat Teoritis

  4.1.1 Hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pengkajian karya sastra ditinjau dari Sosiologi Sastra.

4.1.2 Melengkapi perkembangan khazanah sastra dalam hal penelitian novel politik khususnya yang terpengaruh gerakan komunis.

  4.2 Manfaat Praktis

  4.2.1 Memperkenalkan karya sastra yang terpengaruh gerakan komunis kepada masyarakat.

5. Tinjauan Pustaka Kurniawan dalam detik.com (2000) mengulas novel Hikayat Kadiroen.

  Dalam pembahasannya, Kurniawan kurang detail dalam menjelaskan kondisi sosio masyarakat pada waktu itu. Ia juga hanya memaparkan tanpa penjelasan yang jelas dan disertai sinopsis.

  Razif pada members.fortunecity.com menulis tentang novel Hikayat

  Kadiroen yang termasuk dalam kategori sebagai bacaan liar. Menurutnya

  anggapan tentang bacaan liar ini muncul karena bacaan tersebut bersifat menghasut dan memusuhi pemerintah kolonial. Tindak lanjutnya adalah pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan yang bertugas sebagai badan sensor –kelak bernama Balai Pustaka. Razif juga secara detail menerangkan keadaan sosial pada waktu itu terkait dengan maraknya bacaan-bacaan yang dianggap pemerintah menyimpang.

  Skripsi Soe Hok Gie yang kini telah diterbitkan dengan judul Di

  Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang 1917-1920 ,

  menjelaskan tentang Sarekat Islam di Kota Semarang pada saat diketuai oleh Semaoen. Dari paparan Gie, SI yang dipimpim Semaoen mendapat tempat dan hati dari masyarakat pribumi. Hal itu dikarenakan pergantian jajaran kepengurusan yang dilakukan Semaoen dengan menempatkan kalangan buruh dan rakyat kecil, juga faktor-faktor lain yang melingkupinya, yaitu bidang agraria, Volksraad dan Indie Weerbaar, wabah pes, dan persdelict Sneevliet (Gie, 1990: 6).

6. Landasan Teori

  Penelitian ini menggunakan dua teori, yaitu struktural dan Sosiologi Sastra. Teori struktural untuk mengkaji tokoh dan penokohan, sedangkan teori Sosiologi Sastra untuk mengkaji gagasan Semaoen yang timbul karena realitas sosial pada masa itu.

6.1 Teori Struktural

  Teori struktural merupakan sebuah pendekatan yang mengkaji unsur- unsur pembangun karya sastra. Nurgiyantoro (2002: 36) menyebutkan bahwa sebuah karya sastra juga memiliki sifat keotonomiannya, sehingga tidak perlu dikaitkan dengan hal-hal lain di luar karya sastra itu. Berdasarkan keotonomiannya itu, maka ada suatu hubungan timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi antar unsur (intrinsik) sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh. Unsur intrinsik tersebut meliputi tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, dan gaya. Pada penelitian ini, penulis hanya membahas unsur tokoh dan penokohan mengingat pencerminan gagasan pengarang ada pada para tokohnya.

  6.1. 1 Tokoh dan Penokohan Tokoh adalah para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi (Wiyatmi,

  2006: 30). Menurut keterlibatannya dalam cerita, tokoh dibedakan menjadi tokoh utama dan tokoh tambahan. Sayuti via Wiyatmi, menyebut tokoh utama jika memiliki kriteria 3 kriteria, yaitu paling terlibat dengan makna atau tema, paling banyak berhubungan dengan tokoh lain dan paling banyak memerlukan waktu penceritaan. Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit muncul dan kurang penting dalam perkembangan alur cerita (Nurgiyantoro, 2002: 176,177).

  Penokohan menunjuk pada sifat dan sikap tokoh yang ditafsirkan oleh pembaca (Nurgiyantoro, 2002: 165). Penokohan bisa berarti watak dan karakter dari seorang tokoh. Menurut Jones via Nurgiyantoro (Nurgiyantoro, 2002: 165), penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Tokoh dapat diamati dari segi fisiologis, sosiologis, dan psikologis (Wiyatmi, 2006: 30). Unsur-unsur segi fisiologis antara lain terlihat dari usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, dan ciri-ciri muka. Segi sosiologis dapat dilihat dari sosial, pekerjaan, jabatan, peranan di dalam masyarakat, pendidikan, agama, pandangan hidup, ideologi, aktivitas sosial, organisasi, hoby, bangsa, suku, dan keturunan. Unsur mentalitas, ukuran moral, keinginan dan perasaan pribadi, sikap dan kelakuan (temperamen), juga intelektualitas termasuk segi psikologis.

6.2 Sosiologi Sastra

  Soemanto dalam Taum (1997: 48) mengungkapkan bahwa sastra juga dibentuk oleh masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam masyarakatnya, maka ada hubungan saling terkait antara sastra dengan masyarakat atau yang disebut Sosiologi Sastra. Menurut Semi (1989: 52), Sosiologi Sastra merupakan suatu telaah sosial serta tentang proses sosialnya. Karya sastra berangkat dari kenyataan sosiologis masyarakat. Kenyataan yang ada bukanlah kenyataan objektif tetapi kenyataan yang sudah ditafsirkan, kenyataan sebagai konstruksi sosial (Ratna: 2003).

  Menurut Damono, untuk mengkaji karya sastra berdasarkan Sosiologi Sastra, perlu menghubungkan pengalaman tokoh-tokoh ciptaan pengarang itu dengan keadaan sejarah yang merupakan asal-usulnya (1978: 9). George Lukacs menggunakan istilah “cermin” dalam keseluruhan karyanya. Novel tidak hanya mencerminkan realitas tetapi juga sebagai refleksi realitas yang lebih luas dan lengkap. Dapat diartikan juga bahwa karya sastra dianggap sebagai proses yang hidup (Taum, 1997: 50,51). Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dideskripsikan terlebih dahulu peristiwa yang tergambar dalam novel yang dianggap sebagai gejala masyarakat pada waktu itu, yaitu kondisi sosial masyarakat Indonesia sebelum terbentuknya Partai Komunis Indonesia (PKI).

  6.3 Gagasan Menurut Widyamartaya (1990: 9), yang dimaksud gagasan adalah pesan dalam dunia batin seseorang yang hendak disampaikan kepada orang lain. Gagasaan tersebut bisa berupa pengetahuan, pengamatan, pendapat, renungan, pendirian, keinginan, perasaan, emosi dan sebagainya. Dalam segi penyampaian gagasan, terbagi menjadi empat bagian, yaitu penceritaan, pelukisan, pemaparan dan pembahasan. Penceritaan bertujuan untuk menyampaikan gagasan dalam urutan waktu atau dalam rangka waktu dengan maksud menghadirkan di depan mata angan-angan pembaca serentetan peristiwa yang biasanya memuncak pada suatu kejadian utama. Pelukisan atau deskripsi bertujuan menyampaikan gagasan dalam urutan atau rangka ruang dengan maksud untuk menghadirkan di depan mata angan-angan pembaca segala sesuatu yang dilihat, didengar, dicecap, diraba atau dicium pengarang yang biasanya berkisar pada pancaindra. Pemaparan bertujuan untuk memberitahukan atau menerangkan sesuatu berupa fakta atau hasil pemikiran, sedangkan pembahasan bertujuan untuk meyakinkan pembaca tentang kebenaran pendirian atau kesimpulan pengarang.

  Ubaydillah dalam e-psikologi.com menyebut bahwa gagasan merupakan awal dari sebuah proses untuk sampai menjadi suatu bentuk realisasi. Untuk sampai menjadi bentuk realisasinya, ada beberapa tahapan yang harus dilalui, yaitu tindakan, interaksi dan kreasi. Tindakan merupakan bentuk lanjutan dari sebuah gagasan. Hasilnya adalah aktifitas atau kesibukan. Interaksi dibutuhkan agar gagasan dapat berkembang dan menjadi kuat. Dengan interaksi pula maka sebuah gagasan dapat didengar oleh orang lain. Kreasi merupakan hasil akhir dari sebuah gagasan. Kreasi dapat dirasakan manfaatnya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

  Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan gagasan adalah sebuah proses untuk sampai menjadi suatu bentuk realisasi yang ingin disampaikan pengarang kepada masyarakat berupa pendapat yang tertuang dalam karya sastra berupa novel. Oleh karena berupa karya sastra maka masyarakat yang dituju adalah masyarakat pembaca.

7. Metode Penelitian

  7.1 Pendekatan Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural dan Sosiologi

  Sastra. Menurut Semi, pendekatan struktural adalah pendekatan yang membatasi diri pada penelaahan karya itu sendiri. Telaah berdasarkan segi intrinsik meliputi tema, alur, latar, penokohan, dan gaya bahasa (1989: 44, 45). Penelitian ini hanya membahas unsur tokoh dan penokohan.

  Menurut Damono, pengkajian karya sastra berdasarkan sosiologi sastra perlu menghubungkan pengalaman tokoh-tokoh ciptaan pengarang itu dengan keadaan sejarah yang merupakan asal-usulnya (1978: 9). Oleh karena itu, sebelum membahas tokoh dan penokohan, akan dideskripsikan terlebih dahulu keadaan sosial masyarakat Indonesia sebelum terbentuknya Partai Komunis Indonesia.

  7.2 Metode Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Artinya penelitian ini dilakukan dengan cara memaparkan fakta-fakta yang dilanjutkan dengan analisis. Metode ini hanya menguraikan informasi apa adanya sesuai variabel-variabel yang diteliti, namun memberi penjelasan dan pemahaman.

  7.3 Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini bersifat penelitian pustaka. Karena berobjek pada sebuah teks sastra yakni novel, peneliti akan menggali data-data mengenai gagasan

  Semaoen tentang PKI yang ada dalam novel. Selain itu, peneliti akan mengumpulkan data-data dari kepustakaan lain yang terkait dengan topik penelitian. Data-data tersebut kemudian dianalisis berdasarkan kriteria rumusan masalah hingga menemukan jawaban permasalahan. Tahap akhir adalah penyajian hasil analisis data.

7.4 Sumber Data

  Penelitian ini menggunakan sumber data yang berupa novel terbitan Yayasan Bentang Budaya (cetakan pertama, April 2000) dengan penyunting Otto Sukatno Cr. Hikayat Kadiroen karya Semaoen ini awalnya diterbitkan pertama kali di Semarang pada tahun 1920. Berikut data novel secara rinci.

  Judul Novel : Hikayat Kadiroen Pengarang : Semaoen Penerbit Awal : - Tahun Terbit Awal : 1920 Penerbit Sekarang : Yayasan Bentang Budaya Tahun Terbit Sekarang : 2000 8.

   Sistematika Penyajian

  Penelitian ini akan disajikan dalam lima bab. Bab pertama pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian dan sistematika penelitian. Bab dua tentang kondisi sosial masyarakat pada awal terbentuknya PKI. Bab tiga berupa struktur novel menurut tokoh dan penokohan. Bab empat pembahasan gagasan Semaoen tentang PKI dalam kajian Sosiologi Sastra. Bab lima penutup berisi kesimpulan dan saran. Bagian terakhir adalah daftar pustaka.

BAB II KEADAAN SOSIAL MASYARAKAT INDONESIA SEBELUM TERBENTUKNYA PARTAI KOMUNIS INDONESIA (PKI)

2.1 Pengantar

  Pada bab dua ini akan dipaparkan kondisi sosial masyarakat Indonesia sebelum terbentuknya PKI. Hal ini untuk mengungkap latar belakang Semaoen mencita-citakan bangsanya bebas dari pemerintah kolonial Belanda dengan PKI sebagai basisnya. Pada akhirnya, kenyataan sosial masyarakatlah yang membuka kesadaran Semaoen tentang rakyat Indonesia yang hidup penuh kesengsaraan. Hubungan antara kenyataan sosial dan PKI ditulisnya melalui media karya sastra yaitu novel Hikayat Kadiroen.

  Berbicara masalah PKI, tidak dapat dilepaskan oleh seseorang yang bernama Sneevliet. Dia adalah seorang Belanda yang bekerja di Hindia Belanda (Semarang). Sebelumnya, dia adalah seorang anggota Sociaal Democraatische Arbeider Partij (SDAP) yang berhaluan komunis di Belanda.

  Masuknya Sneevliet ke Hindia, membawa serta juga paham yang selama ini dipegangnya. Pada akhirnya, ia mengembangkan paham tersebut dalam sebuah organisasi dan merekrut orang pribumi untuk meneruskannya. Tentunya orang yang diajaknya adalah orang yang mempunyai kedudukan penting dalam situasi masyarakat pada waktu itu, yaitu Semaoen. Hal itu terbukti Semaoen yang berusia kurang dari 20 tahun, telah bergabung dengan organisasi-organisasi seperti Sarekat Islam (SI) cabang Surabaya, Indische

  Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV), Vereeniging voor Spoor-en Tramweg Personeel (VSTV) , SI Semarang (sebagai ketua pada Mei 1917) dan

  Ketua Partai Komunis Indonesia pada 23 Mei 1920 (Semaoen, 2000: vi).

  Begitu berpengaruhnya sosok Sneevliet maka pembahasan dalam bab ini dibagi menjadi dua sub bab, yaitu kondisi masyarakat Indonesia sebelum masuknya Sneevliet ke Hindia dan kondisi masyarakat Indonesia sesudah masuknya Sneevliet ke Hindia. Sub bab terakhir berisikan media sebagai bentuk mengaspirasikan perjuangan.

  Semaoen menulis novel Hikayat Kadiroen ketika dalam penjara karena

  persdelict . Dia tergolong orang yang gigih membela rakyat Hindia yang

  terjajah sehingga tidak bisa menjadi tuan di tanah kelahiran sendiri. Pada usia muda (14 tahun) dia sudah terjun ke dunia politik hingga pada akhirnya ia menjadi ketua Partai Komunis Indonesia untuk pertama kalinya pada tahun 1920.

  Pada bab ini juga terpampang istilah ‘Hindia’ dan ‘Hindia-Belanda’. Pada dasarnya, istilah tersebut digunakan untuk menyebut Indonesia yang belum lahir. Anhar Gonggong menyebutkan bahwa istilah ‘Indonesia’ sendiri secara sah digunakan ketika pembacaan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945 yang memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Istilah ‘Hindia’ lebih merunut pada kondisi geografis yaitu kepulauan Hindia (http://forum.wintersat.com/3437-post1.html), sedangkan Hindia Belanda untuk menyebutkan bahwa Hindia adalah bagian dari pemerintahan Belanda (http://blog.bukukita.com/users/xuchie/?).

  Peneliti menyadari bahwa pengarang termasuk bagian dari masyarakat, gagasan-gagasan yang tercermin dalam karya sastra adalah cerminan dari keadaan sosial masyarakat yang terjadi di sekitar diri pengarang, termasuk pengalaman-pengalaman hidup Semaoen hingga penulisan novel ini di dalam penjara. Pembahasan bab dua ini dilakukan untuk menunjang bab selanjutnya yaitu deskripsi tokoh dan penokohan Kadiroen dan Tjitro serta gagasan Semaoen tentang PKI dalam novel Hikayat Kadiroen.

  

2.2 Keadaan Sosial Masyarakat Indonesia Sebelum Masuknya Sneevliet ke

Hindia

  Sebelum abad IX, peninggalan zaman feodal masih sangat dirasakan oleh masyarakat pribumi. Sistem yang mengharuskan golongan bawah “menghormati” golongan atas ini ternyata mengilhami pemerintah kolonial Belanda untuk melakukan hal yang serupa. Tujuannya adalah agar mereka mendapat rasa hormat dari golongan pribumi. Selain itu, penerapan sistem ini juga mengakibatkan yang kecil semakin kecil dan yang besar semakin besar. Dengan rasa hormat itu, maka masyarakat pribumi menjadi segan pada pemerintah kolonial Belanda.

  Hal lainnya, agar tidak terlalu mencolok sebagai bangsa penjajah, pemerintah kolonial Belanda juga melakukan hubungan erat dengan bangsawan kerajaan. Hal ini semisal ditunjukkan dengan merekrut bupati untuk memerintah di daerah kekuasaanya. Kekuasaan tersebut tidaklah bersifat mutlak, namun tetap berada dalam kendali pemerintah Belanda.

  Bupati-bupati itu ternyata tidak sadar bahwa mereka sedang “disetir” oleh Belanda. Lambat laun, mereka hanya menjadi pegawai pemerintah yang menerima gaji bukan hak akan penguasaan tanah yang selama ini menjadi tradisi. Dengan cara demikian, orang-orang Belanda menduduki kelas sosial tertinggi di masyarakat, yang berpusat pada seorang gubernur jenderal di Batavia (Leirissa, 1985: 9).

  Diterapkannya sistem penyewaan tanah atau landrente ternyata membuat marah para bangsawan pribumi. Puncaknya terjadi pada tahun 1825 yang dikenal dengan dengan perang Jawa. Perang yang dipimpin oleh Diponegoro ini ternyata membuat pihak pemerintah Belanda mengalami kerugian materi yang cukup besar. Untuk mengatasi masalah keuangan tersebut, pihak Belanda mencanangkan sebuah program yang disebut

  

Cultuurstelsel; sebuah program yang mengharuskan penanaman tanaman

  wajib dengan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah (Kartodirdjo, 1993: 15-16).

  Istilah ‘buruh’ sudah mulai dikenal di sini. Setidaknya ada empat kelas yang dapat diklasifikasikan, yaitu: orang yang mempunyai tanah, kebun dan rumah, orang yang tidak mempunyai tanah tetapi memiliki rumah dan kebun, orang yang mempunyai rumah di tanah orang lain dan yang terakhir adalah orang yang tidak memiliki apa-apa (Leirissa, 1985: 10,11). Edi Cahyono menyebutkan bahwa istilah ‘buruh’ sama halnya dengan menyebut petani karena tidak mempunyai sebidang tanah untuk diolah. Mereka lebih dikenal dengan petani gurem atau miskin yang bekerja di perkebunan yang diciptakan oleh pemerintah Hindia-Belanda (2003, xii). Pemogokan-pemogokan oleh buruh juga sudah mulai dikenal. Semisal yang terjadi di Pekalongan Mei 1842 (Cahyono, 2003: x).

  Seiring berjalannya program Cultuurstelsel, perdagangan dan pelayaran pemerintah Belanda mengalami kemajuan pesat. Modal-modal swasta mulai menanamkan sahamnya di tanah Hindia. Perusahaan-perusahaan milik swasta itu mulai bermunculan untuk berinvestasi dan mengelola sumber daya alam Indonesia (Nagazumi, 1989: 13, 14). Setidaknya tercatat ada 9 perusahaan swasta yang terbagi menjadi 3 perusahaan swasta dan 6 bank swasta.

  Bersamaan dengan masuknya modal-modal swasta-liberal, pergolakan- pergolakan oleh buruh kian meningkat. Misalnya pada tahun 1882 ketika buruh dari pabrik gula di Yogyakarta mengadakan pemogokan. Penyebabnya antara lain karena upah, kerja yang terlalu berat, upah tanam yang tidak dibayarkan, dan pengawas yang sering memukuli para pekerja (Cahyono: 2003, xi). Gerakan buruh ini tidak begitu mendapat perhatian dari rekan-rekan buruh di tempat lain karena tidak adanya atau belum adanya suatu wadah yang menghimpun para buruh. Dari alasan yang dikemukan para buruh, dapat dilihat betapa pemerintah kolonial Belanda tidak memperhatikan nasib kaum pribumi. Selain itu, para pemilik pabrik juga tidak memperhatikan kesejahteraan pegawainya dan hanya mementingkan kepentingan industrinya sendiri.

  Terkait soal buruh, memasuki abad XX, pergerakannya sudah mulai teroganisir. Hal ini dikarenakan sudah munculnya wadah-wadah, seperti perserikatan, organisasi, perkumpulan atau semacamnya, untuk menghimpun para buruh. Tercatat setidaknya ada sekitar 12 perserikatan dalam kurun waktu 1897-1913 (Cahyono, 2003: xvi).

  Pada awalnya perserikatan-perserikatan tersebut dibentuk oleh buruh “impor” yang bekerja di Hindia, tetapi lambat laun mereka mengajak juga buruh pribumi untuk bergabung. Ini adalah salah satu faktor yang memicu munculnya perkumpulan yang dibentuk oleh kaum pribumi. Kurang lebih ada 9 perkumpulan yang dibentuk oleh pribumi pada periode 1908-1917. Salah satunya adalah VSTP (Vereeniging Spoor-Traam Personen) yang didirikan pada tanggal 14 November 1908 di Semarang. Di sinilah Semaoen memulai karir politiknya saat umurnya masih 14 tahun (Cahyono, 2003: xviii, xix).

  Faktor lain yang menyebabkan menjamurnya perkumpulan yang dibentuk oleh bumiputera adalah program politik etis yang dibentuk oleh pemerintah Belanda. Pada tahun 1900, industri perkebunan maju pesat. Namun kehidupan rakyat pribumi mengalami kemunduran, ditambah lagi kejadian seperti gagal panen, penyakit ternak dan bencana alam. Tahun 1901, pemerintah kolonial Belanda membentuk suatu panitia untuk menyelidiki sebab-sebab kemunduran itu. Dari penelitian, didapat kesimpulan bahwa perkembangan penduduk lebih cepat daripada makanan dan ternak. Untuk menanggulangi keadaan tersebut, pemerintah kolonial Belanda membuat suatu kebijakan yang disebut politik etis. Politik etis adalah suatu kebijakan pemerintah Belanda yang bertumpu pada suatu ideologi yang beranggapan bahwa masyarakat jajahan dapat disejahterakan hanya jika masyarakat tersebut dimodernisasikan dengan kebudayaan barat (Suwondo, Tirto, dkk, 1995: 18).

  Pada dasarnya, sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah Belanda sudah ada sejak pertengahan abad IX. Awalnya, Belanda berafiliasi dengan para raja untuk membangun yang diperuntukkan bagi anak-anak bangsawan tetapi pada kenyataannya, hanyalah anak-anak keturunan bangsa Eropa saja yang diperkenankan ikut bersekolah. Namun lama-kelamaan, anak para bangsawan pun dapat menikmati pendidikan itu untuk kemudian dijadikan pegawai pemerintah. Pada akhirnya, bangsawan terpelajar ini lebih disukai oleh pemerintah Belanda untuk masuk dalam kursi pemerintahan. Hal ini dikarenakan bangsawan-khususnya dari Jawa, memiliki kecanggihan budaya, mempunyai hubungan dengan pengaruh barat dan kerenggangan sikap tradisional mereka terhadap Islam (Burger dalam Nagazumi, 1989: 29).

  Perkembangan intelektual di tanah Hindia yang kian meningkat, membawa serta pikiran untuk berorganisasi. Setidaknya, hal itu yang dilakukan dengan berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908; sebuah organisasi lingkup daerah khususnya Jawa yang memberikan identitas kepada orang-orang Jawa yang terpelajar untuk memupuk kesadaran berpolitik, berpartisipasi dalam aksi kolektif dan menghayati identitas golongan (Kartodirdjo, 1993: 106). Semangat yang kemudian dilanjutkan dengan adanya organisasi politik di tingkat daerah seperti Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Batak, dan sebagainya.

2.3 Keadaan Sosial Masyarakat Indonesia Sesudah Masuknya Sneevliet ke Hindia

  Dalam semangat pergerakan, gejala lainnya mulai muncul di Hindia, yaitu Sarekat Islam (SI). Semula organisasi ini didirikan oleh pedagang- pedagang batik di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam (SDI). Tujuannya untuk melawan dominasi orang-orang Cina dalam hal perdagangan. Agar diakui pemerintah, dibuatlah suatu anggaran dasar yang diperuntukkan bagi anggotanya. Berdasarkan anggaran dasar yang dibuat, tidak ada hal yang berkaitan dengan politik. Namun, karena terjadi huru-hara yang oleh pemerintah Belanda dituduhkan pada SI, organisasi itu pun akhirnya dibekukan (Noer, 1980: 115). Untuk mengubah citranya di mata pemerintah, anggaran dasarnya pun kembali diubah oleh Oemar Said Tjokroaminoto yang pada tahun 1914 menjadi ketua SI. Perubahan lainnya, dengan membentuk kepengurusan Centraal Sarekat Islam (CSI) pada tanggal 18 Februari 1914.

  Tanggal 18 Maret 1916, pemerintah Belanda mengakui kepengurusan ini (Noer, 1980: 116).

  Konsep nasionalitas dan kemerdekaan terpampang pada kongres nasional pertama di Bandung tahun 1916. SI menyandarkan agama Islam adalah pembuka persamaan derajat manusia, sehingga tidak mengakui suatu golongan berkuasa atas golongan lain. SI menuntut keadilan bagi rakyat bumiputera yang selama ini terjajah, misalnya dengan menuntut perbaikan bidang agraria dan pertanian, menasionalisasi industri, menyangkut kehidupan buruh, dan lain-lain. Kesemuanya ini menjadi program kerja SI yang lebih diperinci pada tahun 1917 (Noer, 1980: 127,129).

  Unsur memberontak SI yang berkurang sebagai akibat duduk di kursi dewan rakyat (volksraad) membawa perpecahan dalam tubuh internal SI.

  Adalah Semaoen yang menolak secara tegas cara SI seperti itu. Semaoen mengatakan bahwa volksraad adalah untuk mengelabui rakyat dan memperoleh untung yang banyak (Noer, 1980: 130).

  Semaoen pada waktu itu memang dikenal sebagai tokoh SI yang radikal. Karir politiknya dimulai saat berumur 14 tahun di VSTP dan pada tahun 1915 menjadi ketua cabang VSTP di Surabaya. Bersamaan pada tahun itu, ia tercatat juga sebagai anggota CSI di tempat yang sama (Cahyono, 2003: xix). Memang pada waktu itu ada kelonggaran dari pemerintah maupun kebijakan organisasi, untuk merangkap di organisasi lainnya (Leirissa, 1985: 52). Semaoen di masa mudanya memang sempat mengenyam bangku pendidikan. Hal ini bukan berarti Semaoen adalah anak priayi, namun karena ia memang terlahir pada zaman politik etis (Shiraishi, 1997: 134). Berkat kecerdasan dan ketajaman otaknya, Semaoen lulus ujian pegawai pamongpraja rendah pada tahun 1912. Kemauan kerasnya untuk belajar walau orang tuanya tidak mampu, telah mengantarkannya mendapat ijasah Komis A; suatu prestasi yang dapat dicapai oleh orang Indonesia di Surabaya pada waktu itu. Dengan ijasah tersebut, sebenarnya Semaoen dapat menjadi pegawai pemerintahan, tetapi hal itu tidak dilakukannya karena melihat kenyataan rakyat Hindia yang tertindas. Ia lalu secara aktif menekuni dunia politik (Moehkardi, 1971: 33, 34).

  Dalam gelanggang politik, keradikalan Semaoen sebenarnya terbangun ketika ia berkenalan dengan Josephus Franciscus M. Sneevliet. Ia adalah seorang anggota Sociaal Demokraatische Arbeider Partij (SDAP), yaitu bentuk awal dari partai komunis di Belanda. Ia diusir dari Belanda karena sering memimpin pemogokan di kalangan buruh. Tahun 1913, ia ke Hindia dan bekerja di Surabaya sebagai wartawan, lalu kembali pindah ke Semarang pada tahun 1913 dan menjadi anggota VSTP. Bersama temannya, ia lalu mendirikan sebuah organisasi yang bernama Indische Sosiaal Demokratische

  

Vereeniging (ISDV) . Di organisasi itulah ia mulai memperkenalkan paham

  sosialisnya (Leirissa, 1985: 52). Lainnya, untuk memperkuat organisasinya, ia mulai mengajak Semaoen yang kemudian pindah ke Semarang untuk bergabung bersama ISDV, sambil menjadi ketua SI cabang di sana.

  Paham sosialis yang sudah bersama Semaoen, pada akhirnya masuk ke dalam tubuh SI. SI, khususnya di Semarang menjadi radikal. Wujud perubahannya yaitu mengganti struktur kepengurusan yang lebih banyak diisi oleh kaum buruh dan rakyat kecil (Gie, 1990: 5). Semaoen yang menjadi ketua di sana, juga memimpin pergerakan-pergerakan rakyat terutama kaum buruh yang diperlakukan semena-mena oleh para pemilik industri. Kenyataan- kenyataan rakyat pribumi yang terwakili di Semarang, membuatnya semakin revolusioner. Hal ini misalnya ditandai dengan pemogokan pada perusahaan mebel karena telah memecat 15 buruh. Pemogokan yang dipimpin langsung oleh Semaoen dan Kadarisman menuntut agar ada pengurangan jam kerja, gaji yang dibayar penuh, dan bagi yang dipecat agar diberi pesangon 3 bulan gaji (Cahyono, 2003: xxiv). Pada akhir 1917 dan awal 1918, Semaoen memimpin pemogokkan di Semarang. Buruh cetak, buruh mesin jahit Singer, buruh bengkel mobil serta menyusul di daerah-daerah lainnya seperti Batavia, Bandung, Surabaya dan lainnya (Shiraishi, 1997: 139, 140). Tidak heran ia lalu bersama Soerjopranoto dikenal sebagai raja mogok.

  Pada dasarnya, perubahan sikap SI ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Belanda maupun kalangan SI sendiri. Belanda tetap mengawasi pertumbuhan SI khususnya SI Semarang. Setidaknya, pada tahun 1919 pemerintah melakukan penangkapan-penangkapan tokoh SI Semarang dengan berbagai alasan. Semaoen adalah salah satu tokoh yang dipenjarakan karena dianggap presdelict. Dari dari kalangan SI sendiri, Semaoen dianggap berbahaya karena tidak menyesuaikan ke-Islaman partai yang selama ini dipegang SI. Sebagai bentuk perlawanan, H.O.S Tjokroaminoto menulis sebuah buku dengan maksud tidak mengikuti ajaran sosialisme karena dalam Islam telah terkandung ajaran sosialisme itu sendiri (Moehkardi, 1971: 33, 34). Sebelumnya, Sneevliet pada tahun 1917 terkena persdelict juga karena artikelnya di koran yang dianggap melecehkan pemerintahan dan penghasutan kepada rakyat. Sneevliet akhirnya bebas dari dakwaan, tetapi ternyata itu adalah siasat pemerintah Belanda untuk “membuangnya” dari Hindia (Gie, 1990: 11). Kursi ISDV pasca ditinggalkan Sneevliet diisi oleh Semaoen. Pada tahun 1920, Semaoen mengubah ISDV menjadi Partai Komunis Hindia dengan ketuanya adalah Semaoen sendiri. Oleh karena adanya aturan dari komunis pusat di Rusia, maka partai itu diubah kembali menjadi Partai Komunis Indonesia, yang disingkat PKI (Gie, 1990: 43).

2.4 Media Massa sebagai Alat Perjuangan

  Terkait persdelict atau delik pers yang diterima Semaoen maupun Sneevliet, adalah hal yang lazim ditemui pada zaman pergerakan 1900-an.

  Sebenarnya perkembangan media massa juga dipengaruhi munculnya pergerakan maupun organisasi nasional. Adalah politik etis yang menjembatani hal itu. Razif mengemukakan bahwa munculnya bacaan-bacaan digunakan untuk mendidik bumiputra yang miskin; miskin karena kemiskinan juga miskin ilmu dan pengetahuan. Lanjutnya Razif mengatakan bahwa dengan surat kabar, rakyat Hindia dapat membentuk kesadaran kolektif untuk membayangkan masa depan yang mereka hadapi (members.fortunecity.com).

  Terhadap maraknya tulisan-tulisan dari kaum bumiputera ini, tentunya pemerintah Belanda tidak tinggal diam. Pada tanggal 15 Maret 1914, pemerintah mengeluarkan peraturan jika ada tulisan yang dianggap menyebarkan permusuhan, kebencian atau penghinaan kepada pemerintah Belanda akan dikenai ketentuan haatzaai Artikelen atau pasal-pasal tentang penanaman benih kebencian dengan hukuman maksimal 10 tahun.

  Selanjutnya, tahun 1918 dilengkapi dengan pasal-pasal yang lebih rinci mengenai bentuk pelanggaran dan sanksi bagi yang melanggarnya (Yuliati,

  1994: 56, 57). Tidak heran jika tokoh-tokoh pergerakan banyak yang terkena aturan ini. Mas Marco misalnya, harus mendekam dalam penjara selama 4 kali karena terkena delik pres. Begitu juga dengan Semaoen. Tulisannya yang berjudul Bala Tentara dan Pertoendjoekan Koeasa tertanggal 15 Maret 1919, dianggap telah menghina pemerintah Belanda. Oleh karena itu, Semaoen dihukum penjara selama 4 bulan sejak tanggal 24 Juli 1919 (Yulati, 1994: 58).

  Tindakan keras pemerintah kolonial tidak hanya dibuktikan dengan peraturan. Cara lainnya, pemerintah membuat surat-surat kabar tandingan yang berusaha mengcounter tulisan-tulisan bumiputra. Terhadap hal ini, Mas Marco misalnya membuat artikel yang dimuat di Sinar Djawa untuk berhati- hati dalam memilih surat kabar; jangan sampai membaca surat kabar yang memihak kaum uang karena dapat menjerumuskan rakyat sendiri (Cahyono, 2003: xxvi). Serupa dengan Marco, Moeso juga mengajak agar rakyat membaca tulisan-tulisan yang dibuat sendiri oleh rakyat yang tertindas juga (Cahyono, 2003: xxvii).

  Fenomena pers di kalangan tokoh pergerakan memang benar-benar difungsikan. Selain sebagai alat penyampaian gagasan, media massa sering juga digunakan sebagai ajang perang gagasan oleh sesama tokoh pergerakan. Perdebatan antara Semaoen dan Mohamad Joesoef ketika Marco ditahan misalnya. Joesoef beranggapan supaya SI tidak perlu ikut ikut campur dan bergabung bersama Komite Kebebasan Pers supaya tetap dapat bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Lain halnya dengan Semaoen yang dengan suara keras menganjurkan SI ikut dalam komite tersebut agar dapat menulis tanpa tekanan pihak Belanda (Yulati, 1994: 58).

2.5 Rangkuman

  Keadaan masyarakat Indonesia pada waktu penjajahan kolonial Belanda tidak datang dengan sendirinya. Ada faktor yang mendukung perubahan itu, misalnya soal kebijakan baru yang ditetapkan pemerintah, pergantian kepemimpinan dan lainnya. Mulai masuknya modal-modal swasta dan munculnya perburuhan, menjadi awal titik pergerakan di mana organisasi diperkenalkan kepada rakyat bumiputra oleh buruh-buruh asing. Selain itu, sistem pendidikan yang semakin berkembang pada masa politik etis, berpengaruh terhadap sendi-sendi keintelektualan para pemuda Indonesia. Tulis-menulis menjadi media pergerakan yang subur guna memperbaiki nasib rakyat yang “miskin”. Sikap pemerintah Belanda dalam menghalau kegiatan tersebut dengan adanya peraturan-peraturan haatzaai Artikelen, ternyata tidak mengurangi niat para tokoh pergerakan untuk terus menulis. Salah satunya adalah Semaoen. Berbekal pengetahuan dan kisah perjalanan hidup yang dimilikinya, Semaoen menulis sebuah novel yang berjudul Hikayat Kadiroen pada tahun 1919 dan terbit pada tahun 1920; sebuah novel yang ditulisnya dalam penjara karena dianggap pemerintah telah menghasut rakyat lewat tulisannya di media massa.

  Tokoh utama novel tersebut adalah Kadiroen. Ia tergolong beruntung karena sebagai rakyat biasa, berhasil mendapatkan pendidikan ala Belanda. Pada puncak karir Kadiroen, ia menjabat sebagai patih di kota S. Pergulatan batin Kadiroen terjadi ketika ia tertarik dengan gerakan komunis di bawah propaganda Tjitro. Pada akhirnya ia lebih memilih untuk bergabung bersama gerakan tersebut karena dinilai lebih mengutamakan perjuangan rakyat untuk keluar dari kesengsaraan kolonial.

BAB III TOKOH DAN PENOKOHAN

3.1 Pengantar

  Tindakan, interaksi dan kreasi sebagai tahapan dari gagasan, akan melingkupi pembahasan pada bab ini yang berpengaruh pada pembahasan bab selanjutnya, yaitu gagasan semaoen tentang PKI dalam novel Hikayat

  Kadiroen. Gagasan tersebut hadir secara implisit melalui tokoh Kadiroen dan

  Tjitro, maka pembahasan bab ini akan dipersempit lagi dengan hanya membahas kedua tokoh tersebut. Unsur-unsur lain, seperti unsur latar maupun alur dalam penelitian ini tidak dibahas karena sudah digambarkan secara tersirat oleh tokoh dan penokohan yang akan dibahas.

  Penyempitan pembahasan tokoh dan penokohan didasarkan pada perubahan watak tokoh utama (Kadiroen) dalam mengambil keputusan menjadi anggota Partai Komunis setelah sebelumnya menjabat sebagai pejabat pemerintahan. Oleh Semaoen, tokoh Kadiroen merupakan tokoh cerminan sekaligus ajakan untuk masyarakat bergabung bersama Partai Komunis.

  Kadiroen merupakan tokoh utama dalam novel ini. Di samping lebih dominan, Kadiroen juga menjadi fokus utama dalam novel ini. Dia juga yang selalu hadir dalam tiap alur ceritanya. Melalui tokoh ini kita dapat melihat bagaimana pengarang menyatakan gagasannya tentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Di dalam cerita, PKI hanya disebut Partai Komunis (PK). Hal ini bisa kita cermati karena sewaktu pembuatan novel, proses penggantian ISDV menjadi PKI belum menyesuaikan komintern atau aturan dari Rusia.

  Semaoen menghadirkan tokoh Kadiroen sebagai pembuka mata pembaca tentang komunisme. Diceritakan bagaimana proses Kadiroen yang pada awalnya “mendua” sebagai pejabat pemerintah sekaligus menjadi anggota PK, tetapi pada akhirnya lebih memilih bergabung bersama PK untuk menjadikan rakyat Hindia keluar dari kenyataan kemiskinan. Tentunya proses ini tidak datang sendiri. Adalah tokoh kedua yang dibahas dalam bab ini yang membuka hati dan pikiran Kadiroen. Tokoh tersebut adalah Tjitro.

  Pencitraan tokoh Tjitro pada novel ini hadir dalam bentuk penceritaan ulang tokoh Kadiroen. Tjitro hadir sebagai propagandator PK di kota S pada saat Kadiroen menjabat sebagai patih. Selain itu, dijelaskan pula siapa Tjitro pada bagian akhir cerita. Penyertaan tokoh-tokoh lainnya dalam analisis tokoh dan penokohan juga tidak tertutup kemungkinan karena watak tokoh satu dengan yang lainnya saling mendukung.

  Semaoen sebagai pengarang novel ini adalah orang yang serba tahu akan tokoh-tokoh yang diciptakan. Dalam pencitraan tokoh penokohan, pengarang tanpa segan-segan menuliskan secara langsung hal-hal mengenai keadaan tokohnya. Kehadiran pengarang sangat jelas pada novel ini. Bukan hanya melalui tokoh, tetapi juga melalui pendapat-pendapatnya juga sapaan langsung kepada pembaca. Misalnya pada kutipan ini.

  (3) Pembaca yang terhormat memang di suatu ketika dalam hidup manusia, ada saat-saat yang menghidupkan jiwa manusia sedemikian luar biasa (Semaoen, 2000: 43).

3.2 Kadiroen

  Kadiroen adalah pemuda berusia 20 tahun. Wajahnya ganteng, kulitnya hitam bersemu merah halus, matanya terbuka lebar dan tajam dalam memandang. Bentuk fisik Kadiroen ini memang ditunjang dari bapaknya yang bekerja sebagai lurah dan ibunya mempunyai gelar Raden Ayu. Kehidupan sosial keluarganya tergolong cukup; cukup secara ekonomi dan cukup secara status sosial. Hal ini karena ayah Kadiroen menjabat sebagai lurah dan Kadiroen bekerja sebagai pejabat pemerintahan. Status demikian membuat Kadiroen digolongkan sebagai seorang priayi pada waktu itu. Untuk masalah pendidikan, Kadiroen cukup beruntung. Bukan karena ia adalah anak seorang lurah, tetapi karena ia disekolahkan oleh seorang tuan kontrolir yang mengadopsinya sebagai anak. Ia lalu disekolahkan di OSVIA (Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren) di Probolinggo. Di sekolahnya, Kadiroen tergolong anak yang pandai, suka belajar dan rajin. Itulah mengapa ia diangkat sebagai anak emas oleh tuan kontrolir. Tidak hanya itu, bahkan ia mempunyai jiwa pemberani dan sanggup beradu fisik. Ia dicintai guru dan dihormati sesama murid.

  Setelah lulus sekolah di OSVIA, ia bekerja sebagai schrijver contoleur selama tiga bulan. Karena kecakapannya dalam bekerja, ia dianggap pantas untuk bekerja sebagai menjadi mantri polisi di Onderdistik Semongan. Di tempat inilah ia menangani kasus pertamanya yang kemudian mempengaruhi kariernya. Ia menangani kasus pencurian kerbau milik Soeket yang hilang ketika ia pergi untuk menjual barang, sedangkan istri dan anaknya sedang sakit. Ketika Soeket melaporkan kerbaunya yang hilang kepada asisten wedono, ia malah dimaki-maki karena dianggap tidak waspada.

  (4)“Kamu amat teledor! Ke mana kamu semalaman pergi? Tidur nyenyak itu saja yang kau bisa. Bayangkan kerbau sebesar itu, dicuri orang kau tidak tahu. Hai pemalas. Sekarang kamu minta tolong sama aku. Apa memang kamu sudah tidak bisa menjaga kerbaumu sendiri. Dasar pemalas!” kata Tuan Asisten Wedono sambil marah besar (Semaoen, 2000: 11,12).

  Pada saat yang bersamaan, tuan administratur kehilangan ayam kesayangannya. Ia meyakini jika ayamnya telah dicuri. Rupanya asisten wedono lebih memilih menangani kasus tersebut ketimbang kasus hilangnya kerbau Soeket. Ia menilai menangani kasus ini lebih terhormat karena dapat melancarkan kariernya. Ia lalu memerintahkan Kadiroen untuk menangani kasus hilangnya kerbau Soeket.

  Sikap asisten wedono ini berkebalikan dengan Kadiroen. Kadiroen tidak habis pikir dengan atasannya tersebut bahwa jelas-jelas harga kerbau lebih mahal daripada harga ayam tetapi karena rakus, ia lebih memilih menangani hilangnya ayam tuan administratur. Ia juga merasa heran mengapa atasannya itu bisa bersikap kasar terhadap orang miskin seperti Soeket. Terhadap Soeket, didorong rasa iba dan karena tanggung jawabnya sebagai mantri polisi, ia berjanji akan menuntaskan perkaranya itu. Di lain sisi, Kadiroen juga berjanji untuk menuntaskan kasus hilangnya ayam tuan administratur. Ia melakukan ini bukan untuk mencari muka dengan tuan administratur, tetapi karena ia meyakini hilangnya ayam tersebut karena dimakan oleh garangan. Penanganan kedua kasus ini menandakan bahwa didorong dengan rasa tanggung jawabnya sebagai seorang mantri polisi, ia berjanji akan menuntaskan kasus ini.

  Kadiroen sangat jeli dalam menuntaskan suatu perkara. Sebagai layaknya mantri polisi, ia melakukan penyelidikan terlebih dahulu. Dalam penyelidikannya, Kadiroen berhasil mengungkap siapa pencuri kerbau Soeket. Mereka adalah komplotan pembuat onar yang sering mencuri dan bermain judi. Analisisnya, mengantarkannya pada beberapa pertanyaan.

  (5) Dalam hatinya ia bertanya-tanya. “Sesudah mencuri dibawa ke mana kiranya kerbau itu? Ke pasar atau ke rumah orang lain untuk dijualkah? Rasanya tidak mungkin. Sebab tidak mudah untuk berbuat hal yang demikian sebab semua penjualan, harus memakai saksi lurah, yang menjelaskan dari mana asal usul kerbau itu dipotong untuk dimakan sendiri? Mustahil, rasanya tidak mungkin, sebab satu orang tidak mungkin makan seekor kerbau jika tak punya hajat. Apa mungkin daging kerbau itu lalu dijual ke pasar? Juga tidak bisa. Karena semua hewan yang dipotong dan dagingnya dijual di pasar, harus mendapat pengesahan dari pegawai Gupermen. Pendek kata, jika hanya seorang pencuri, tidak mudah berbuat bergini. Dan pasti pencuri itu akan cari akal bagaimama mudah mendapatkan uang.” (Semaoen, 2000: 16).

  Kadiroen mempunyai kemampuan beranalisis dengan cermat. Kemampuannya itu dibuktikan dengan kembalinya sang pencuri kepada Soeket untuk meminta tebusan. Kadiroen dengan berani membuntuti pencuri itu sehingga Kadiroen tahu di mana sarang para pencuri tersebut. Sebuah strategi pun disusun untuk menangkap para pencuri tersebut. Ia tahu tidak mungkin menangkapnya hari itu juga karena mereka sedang berkumpul, sedangkan Kadiroen hanya seorang diri. Hingga pada suatu hari, Kadiroen menangkap pencuri tersebut. Namun, pencuri itu melakukan perlawanan ditopang tubuhnya yang kecil dan lincah, membantunya mengalahkan dan menangkap para pencuri tersebut. Betapa kagetnya Kadiroen karena para tersangka itu adalah orang yang mendapat kepecercayaan asisten wedono untuk menyelesaikan perkara hilangnya ayam tuan administratur, termasuk penangkapan Soekari yang ternyata dilandasi perasaan tidak suka para pelaku. Kadiroen selayaknya pemimpin yang bijaksana lalu menasihati para pelaku untuk bertobat pada Tuhan Allah. Kadiroen juga mengajak serta Soeket beserta keluarga untuk berterima kasih pada Tuhan karena kerbaunya dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Kenyataan ini membuktikan bahwa Kadiroen tidak lupa akan kebesaran Tuhan Allah karena melalui kehendak- Nya segala persoalan dapat terselesaikan dengan baik. Ia mempercayai bahwa segala sesuatunya telah diatur oleh Tuhan.

  Sebelumnya, untuk perkara ayam tuan administratur, Kadiroen telah menemukan bukti bahwa seekor garanganlah yang telah mengambilnya, bukan pencuri seperti yang telah dituduhkan oleh tuan administratur juga asisten wedono. Lagi-lagi dengan sigap Kadiroen melakukan penyelidikan untuk membenarkan dugaannya. Dilukiskan oleh pengarang bagaimana ia harus memanjat pohon guna memancing garangan keluar dari sarangnya. Ia tidak segan-segan menggunakan berbagai cara untuk mengungkap kebenaran terlebih pada kasus ini, asisten wedono telah menangkap Soekoer yang dituduh mencuri ayam tuan adminstratur. Kadiroen seperti tidak percaya atas apa yang telah dilontarkan atasannya karena ia yakin bukan pencuri, tetapi seekor garangan lah pelakunya. Walaupun begitu, Kadiroen tidak lantas bersikeras dengan pendapatnya. Ia bahkan memuji atasannya sambil merendahkan diri.

  (6) “O, Tuan, saya senang Tuan sudah dapat menangkap pencurinya. Karena saya masih polisi baru, jadi saya masih harus belajar pada Tuan. Namun saya masih belum yakin, apa benar Soekoer adalah pencurinya? Bagaimana Tuan menangkap serta apa bukti-buktinya?” (Semaoen, 2000: 21).

  Dari kata-kata itu juga sebenarnya Kadiroen ingin memastikan bahwa ia tidak sependapat dengan atasannya. Tetapi ia tidak gegabah untuk melontarkan gagasannya dan lebih bersikap menunggu di saat yang tepat. Buktinya adalah ketika asisten wedono menyuruh petugas lain untuk memukuli Soekoer karena tetap menyangkal, Kadiroen tetap bersabar.

  (7) Melihat penyiksaan semacam itu, darah Kadiroen serasa mendidih. Ia ingin sekali menolong Soekoer. Tetapi ia pikir belum waktunya untuk memberi pelajaran pada Tuan Asisten Wedono (Semaoen, 2000: 27).

  Kesabaran, keberanian dan kecerdikan Kadiroen membuahkan hasil. Kerja kerasnya dalam mengungkap pencurian kerbau Soeket dan hilangnya ayam tuan administratur, telah mengangkat namanya. Tidak lama berselang, ia diangkat menjadi asisten wedono di onderdistrik Gunung Ayu. Kadiroen menerima keputusan tersebut dengan anggapan bahwa segala sesuatunya harus dijalani. Kelak, di sanalah Kadiroen menemukan cintanya.

  Menjabat asisten wedono tidak membuat Kadiroen besar kepala. Rakyat hidup berkecukupan di bawah tangannya. Ini terjadi karena ia memerintah dengan bijaksana dan arif. Segala persoalan berusaha yang demikian membuat dirinya disukai rakyat. Namun ada satu desa (Meloko) yang rakyatnya hidup kekurangan, tetapi sang lurah terkaya di antara lurah yang lain. Tentunya ini membuat sedih Kadiroen. Bahkan digambarkan pengarang jika ia tidak bisa tidur di malam hari. Karena rasa tanggung jawab yang besar, ia kembali melakukan penyelidikan. Tiba suatu pagi, Kadiroen mengunjungi desa itu. Tidak lupa Kadiroen mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah memberikan alam yang indah ini. Dalam perjalanannya juga, ia berpapasan dengan seorang perempuan. Pada pandangan pertamanya itu, Kadiroen ternyata jatuh hati pada gadis yang bernama Ardinah.

  (8) O, Kadiroen tidak bisa melupakan pada keindahan yang begitu menarik jiwanya. Yang mengikat jiwanya sampai sakit, menyenangkan...” (Semaoen, 2000: 44).

  Pengarang tidak sungkan untuk menyatakan perasaan Kadiroen yang dialaminya. Bahkan, dituliskan bahwa Kadiroen juga mempunyai pikiran untuk menikahi Ardinah.

  Dalam urusan asmara, Kadiroen ternyata seorang pemalu. Di samping ia juga terlalu perhitungan dalam segala bidang, termasuk masalah percintaan.

  Ia tidak langsung berkenalan dengan gadis itu. Padahal, dengan kekuasaan yang dimilikinya, tentunya ia dapat dengan mudah untuk berkenalan atau bahkan memperistri seorang gadis. Tetapi hal itu tidak dilakukan Kadiroen. Menurutnya, hal itu sama saja dengan menyelewengkan kekuasaan. Selain itu, Kadiroen ternyata adalah seorang yang “gila” pekerjaan. Ia menyingkirkan percintaan. Namun kali ini, pendapatnya itu dimentahkannya sendiri. Ia benar- benar sedang jatuh cinta.

  Kisah cintanya ternyata tidak berjalan mulus. Ardinah yang sedang bersedih, menceritakan pada Kadiroen bahwa ia telah menikah dengan orang yang tidak disenanginya guna memenuhi permintaan ayahnya yang sedang sekarat. Bukan hanya itu, ternyata Ardinah juga dijadikan selir atau istri kedua. Mendengar bahwa Ardinah telah menikah, Kadiroen merasa hancur hatinya. Pengarang menceritakan bahwa wajah Kadiroen menjadi pucat seketika. Bahkan, ia sempat tidak sadarkan diri dan pingsan beberapa saat.

  (9) ”Ya!” Kata Ardinah pada saat jawaban itu keluar, Kadiroen menjadi pucat wajahnya. Ia seperti tidak melihat apa-apa lagi.

  Semuanya menjadi gelap. Ia merasa tidak bisa hidup lagi. Ia merasakan ada pukulan berat yang menyebabkan pecah hatinya. Maka ia memegang dadanya sambil menjerit dalam hati ”Aduh!” dan badannya hampir jatuh ke tanah kalau Ardinah tidak cepat-cepat menahannya. Kadiroen pingsan beberapa saat (Semaoen, 2000: 55).

  Kejadian itu sangat mengacaukan hati dan pikiran Kadiroen. Di satu sisi, ia belum menuntaskan permasalahan terkait rakyat di Desa Meloko yang miskin dan ditambah juga perasaan cintanya yang sedang hancur. Meskipun begitu, Kadiroen dengan gaya bicaranya yang lemah lembut dan berwibawa, berusaha menenangkan Ardinah yang sedang sedih dan berjanji membantu menyelesaikan perkaranya.

  (10) ”Mbakyu, saya mengucapkan banyak terima kasih. Karena kamu mempercayai saya dan sudah menceritakan hal ini. Kau dengan gagah berani, melupakan kepentinganmu sendiri, dan berusaha untuk menolong orang lain. Kau telah memberikan contoh yang baik kepada saya. Selain itu, saya akan mesti ditolong. Pasal membantu kamu untuk menolong bini tua dari lurah tersebut, sesungguhnya amat sukar urusannya. Saya sekarang belum dapat berusaha. Oleh karena itu, saya minta waktu. Lain hari hal ini saya akan bereskan (Semaoen, 2000: 60). Dari kutipan (9) dan (10) juga dapat kita temui bahwa Kadiroen tidak mau melihat orang menyaksikan kesusahannya. Ia berusaha menutupi keadaan dirinya sendiri yang sedang sakit hatinya. Ia adalah tipikal orang yang tertutup perasaannya.

  Kadiroen merasa telah rusak jiwanya. Oleh karena itu, ia meminta izin untuk cuti selama 14 hari untuk pulang bertemu ayah dan ibunya. Sementara itu, segala permasalahan, kecuali permasalahan Ardinah, ia serahkan kepada asisten wedono. Di sini terlihat bagaimana Kadiroen ingin menentramkan hatinya, tanpa meninggalkan kewajibannya. Nantinya, setelah kembali dari masa cuti, ia diperintahkan untuk menjabat sebagai wedono di distrik Rejo. Ia bersyukur karena menganggap ini sebagai obat luka jiwanya yang sedang sakit. Selain itu, dengan penugasan tersebut, Kadiroen berharap dapat melupakan Ardinahnya.

  Kehidupan rakyat Rejo yang miskin membuat sedih hatinya. Sebelumnya, Kadiroen mendengarkan dengan seksama petuah pendahulunya. Kadiroen menghormatinya karena ia seorang yang baik hati, dan mau memperdulikan nasib rakyat Hindia meskipun ia adalah orang Belanda. Untuk mengatasi kemiskinan itu, Kadiroen membuat beberapa pertanyaan yang harus bisa dijawab oleh rakyatnya sendiri melalui lurah dan beberapa tetua-tetua desa. Oleh karena itu, di tiap-tiap desa, ia mengumpulkan lurah beserta tetua- tetuanya guna mencari jawaban atas pertanyaan yang telah disiapkannya. Kadiroen tahu bahwa orang kecil akan merasa takut bila disuruh menghadap atasannya, maka ia menasihati yang telah datang agar berbicara jujur karena ini semua demi terciptanya masyarakat yang berkecukupan. Sebagai pemimpin baru, ia memang sangat bijak dan ingin menganggap rakyatnya sebagai saudaranya sendiri. Selain itu, pengalamannya dalam memerintah rakyat juga semakin terolah. Kadiroen juga dengan rela datang ke tiap-tiap desa dan mengorbankan waktunya untuk kepentingan orang banyak.

  Setelah mengadakan rapat di tiap-tiap desa, Kadiroen menemukan kesimpulan mengapa rakyatnya hidup sengsara. Ia berpendapat bahwa rakyatnya mudah mengeluarkan uang demi kehormatan, misalnya saja untuk hajat sunatan. Kadiroen menjalankan tugas dan kewajibannya dengan membuat surat kepada para lurah yang berisi pendapatnya. Kadiroen juga meminta para lurah menasihati agar rakyat dapat berhemat. Beberapa hari setelah turunnya surat perintah itu, Kadiroen memeriksa sendiri apakah perintahnya telah dijalankan oleh rakyatnya. Ia pun harus menyamar karena ia paham rakyat kecil tidak akan mau mengaku jika ditanya oleh pembesar karena takut.

  (11) “Dengan pakaian palsu, ia menyamar seperti orang Arab, layaknya seorang mindring yang mengutangkan kain pelakat dan kain kebaya kepada penduduk desa.” (Semaoen, 2000: 81).

  (12) “Sarung, sarung! Sungguh ini sarung yang bagus dan murah.

  Boleh dicicil saban sepasar dan tiga bulan vooldaan. Mindring sarung buat anak-anak yang mau sunat atau boleh dipakai waktu punya hajat atau tayuban...” (Semaoen, 2000: Tampak di sini adalah sosok Kadiroen yang ingin dekat dengan rakyatnya. Ia juga ingin mengetahui secara langsung apa yang sedang terjadi di masyarakatnya apapun caranya. Penyamarannya itu membuahkan hasil. Pendapat Kadiroen supaya rakyat berhemat telah diselewengkan menjadi aturan keras, sehingga siapa yang melanggar akan dikenai hukuman. Terhadap perubahan aturan menjadi keras ini, Kadiroen segera mengumpulkan kembali para lurah dan tetua desa. Ia mengklarifikasi aturan tersebut sehingga rakyat jadi paham aturan yang dibuat itu baik untuk mereka. Pengklarifikasian ini juga dimaksudkan agar nama Kadiroen tidak tercoreng di mata masyarakat.

  Keberpihakan Kadiroen pada rakyat tidak hanya berhenti sampai di situ. Kadiroen bahkan harus cuti selama tiga bulan karena sakit demi mengurusi rakyatnya. Ia dengan rela tidak menghiraukan keadaannya sampai- sampai badannya semakin kurus. Di benak Kadiroen yang hadir hanyalah bagaimana cara menyejahterakan rakyatnya.

  Salah satu wujud perhatiannya kepada rakyat adalah mengajukan laporan-laporan berisi masalah-masalah tentang pengairan, soal sewa tanah, dan permintaan pendirian bank desa dengan bunga murah. Agar usahanya ini berhasil dan didengar atasannya, rupanya Kadiroen harus bersabar dahulu dan mengikuti aturan yang berlaku.

  Kegigihan dan semangat kerja keras Kadiroen telah mengangkatnya menjabat sebagai patih di kota S. Ia dipilih karena kecerdikannya dalam mengurusi rakyat. Dalam menjalankan tugas barunya, Kadiroen mengurusi pemerintahan dengan sungguh-sungguh. Tetapi hal ini berkebalikan dengan bawahannya.

  (13) Sebaliknya, pejabat-pejabat yang ada di bawahnya banyak yang mengomel dan tidak mau membantu dengan hati ikhlas semua maksud Kadiroen yang berguna buat rakyat. Para pejabat itu hampir semuanya mufakat dengan peraturan- peraturan apa adanya sebagaimana zaman dahulu, yang urusannya begitu gampang dan tidak membuat pusing kepala (Semaoen, 2000: 96). Jabatan baru Kadiroen tentu menambah banyak pekerjaan Kadiroen. Oleh karena itu, ia kembali jatuh sakit.

  (14) Mewakili Patih baru dua bulan lamanya, Kadiroen jatuh sakit lagi sebab pekerjaannya terlalu berat. Ia terpaksa meminta cuti lagi sampai dua bulan lamanya. Dan di waktu ia kembali dari cuti dan mengurus lagi pekerjaannya, badannya menjadi sangat kurus. Ia kelihatan lebih tua dari usia yang sebenarnya (Semaoen, 2000: 97).

  Sekembalinya Kadiroen dari cuti, di kota S diadakan rapat besar oleh Partai Komunis (selanjutnya dalam cerita disebut PK) yang sedang menjadi buah bibir baik di pemerintahan maupun masyarakat. Oleh tuan residen, Kadiroen diminta untuk membuat laporan mengenai rapat tersebut; mulai dari jalannya rapat, apa saja yang dibicarakan, siapa dan bagaimana caranya memimpin rapat.

  Rupanya Kadiroen terpikat dengan rapat PK yang memang bertujuan untuk mencari anggota guna membesarkan partai itu. Terdorong rasa kegalauan Kadiroen atas nasib rakyatnya yang tidak kunjung membaik, membuatnya tertarik untuk masuk dalam PK. Menurutnya melalui PK-lah nasib rakyat dapat berubah sehingga rakyat dapat hidup sejahtera.

  (15) Adapun Kadiroen sendiri sewaktu vergadering hatinya berdebar-debar. Ia mendengar keterangan Tjitro dan perasaannya terbuka, sepertinya dalam hati ia melihat cahaya bintang yang sangat baik, menggambarkan maksud dan tujuan perkumpulan P.K” (Semaoen, 2000: 144).

  Pengarang secara analitik mengambarkan suasana hati dan pikiran Kadiroen saat itu. Kini Kadiroen mengerti bahwa caranya dalam menyejahterakan rakyat menggunakan cara kuno sedangkan zaman sudah baru maka caranya pun harus dengan cara baru. Kadiroen sungguh merasa tertarik bergabung bersama PK. Namun, ia juga ingin mempertahankan derajatnya sebagai wakil patih agar dapat dihormati rakyatnya. Kadiroen kini dihadapkan pada dua pilihan.

  Ketika Kadiroen membaca koran, ia keheranan karena salah satu isi beritanya bercerita telah terjadi penghasutan oleh PK. Kadiroen merasa heran karena tujuan rapat kemarin adalah baik untuk mengubah kondisi masyarakat yang selama ini kesusahan. Kenyataannya sekarang adalah bahwa PK telah dimusuhi oleh berbagai pihak. Namun ia tertarik untuk bergabung bersama partai tersebut. Di sisi lain, Kadiroen tetap ingin mempertahankan jabatannya sebagai wakil patih. Ia mempertahankan bukan karena “gila” jabatan, tetapi lebih karena membantu kedua orangtuanya yang sudah tua dalam menghidupi tujuh saudaranya.

  Kadiroen tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan, maka ia meminta nasihat ayahnya. Sang ayah menyarankan agar Kadiroen mengambil jalan tengah, yaitu tidak masuk menjadi anggota namun tetap membantu PK dan tetap menjabat sebagai wakil patih. Terhadap keputusan ini Kadiroen menyetujuinya.

  (16) Kadiroen mengambil jalan tengah, jadi tidak masuk sebagai anggotanya atau ikkut memberikan pertimbangan- pertimbangan dalam vergadering-vergadering P.K. Tetapi, selain membantu dengan uang secara rahasia itu, maka Kadiroen juga turut membantu dengan dengan berusaha memberikan pertimbangan dan pengetahuannya pada organisasi P.K., yaitu dengan menulis dalam surat kabar

  Sinar Ra’jat. Tetapi supaya tidak ada orang yang mengerti

  bahwa ia ikut menulis, maka selamanya ia memakai nama palsu, yaitu Pentjari. Hanya Pemimpin Redaksi Sariman sendiri yang mengetahui rahasia ini (Semaoen, 2000: 157). Dari kutipan di atas, dapat kita ketahui bahwa Kadiroen menuruti nasihat ayahnya. Hal ini juga membuktikan bahwa Kadiroen sangat menghormati ayahnya. Kadiroen tidak mau mengambil keputusan sendiri terkait organisasi P.K. Dengan demikian secara tidak langsung, Kadiroen telah mendapat persetujuan dari ayahnya sehingga membuat lega hatinya juga orang tuanya.

  Suatu saat Kadiroen mendapat delik pers. Tulisannya dianggap menghina pemerintah Belanda. Untuk mempertanggungjawabkan tulisannya, ia bersedia dipanggil oleh pengadilan. Masalah ini memang sudah dipikirkan oleh Kadiroen. Ia merasa orang yang paling bertanggungjawab terhadap berita yang ditulisnya. Ia tidak mau dicap sebagai pengecut oleh pemimpin redaksi koran itu. Lagipula, Kadiroen juga tidak mau bersembunyi dalam pangkat dan jabatannya. Tentunya hal ini mempunyai resiko bahwa nama samaran Kadiroen akan terbongkar sehingga semua orang tahu siapa yang menulis berita itu.

  Kasus ini telah menjadi buah bibir di masyarakat. Kadiroen yang seorang patih, telah dianggap berani untuk terjun dalam dunia pergerakan.

  Ada orang yang menghinanya serta menyarankan agar ia dipecat dari jabatannya. Ada pula yang memberikannya pujian karena telah berani membela rakyat. Bagi yang menghinanya, banyak orang menganggap bahwa Kadiroen sudah menjadi gila dan tidak sanggup lagi menjalankan tugas dan kewajibannya sedangkan bagi yang memujinya, ia dianggap kesatria yang memperhatikan rakyat kecil. Terhadap persoalan ini, Kadiroen tidak ingin memikirkannya. Ia lebih berkosentrasi untuk mengumpulkan bukti-bukti bahwa tulisannya adalah kenyataan.

  Betapa senang hati Kadiroen. Bukan hanya dibebaskan dari tuduhan tetapi setelah dipanggil tuan asisten residen, ia tidak dipecat. Bahkan, dengan catatan bahwa selama tuan asisten residen masih menjabat, Kadiroen akan diperbolehkan untuk menulis, tetapi jika sudah diganti ia ragu apakah penggantinya akan berkelakuan sama atau tidak.

  Kadiroen kini harus berhadapan dengan pengganti tuan asisten residen. Ia sangat tidak setuju dengan keputusan Kadiroen yang tetap menulis di koran. Suatu ketika, tuan asisten residen memanggil Kadiroen untuk memintainya keterangan apakah masih sering menulis atau tidak. Kadiroen yang dengan tenang dan sabar menceritakan bahwa ia masih menulis karena dirasa perlu untuk membantu memajukan rakyat Hindia. Hal ini menunjukkan bahwa Kadiroen sangat mencintai pekerjaan menulisnya ini. Setelah terjadi adu pendapat, tuan asisten akan terus mengawasi tulisan yang dibuat Kadiroen. Kadiroen pun tahu bahwa atasannya itu tidak suka jika ia tetap menulis dan mencari cara untuk menjatuhkannya. Dugaannya itu benar. Kadiroen dipanggil lagi karena tulisannya dinilai telah melecehkan pemerintahan maka ia mengajukan pemecatan Kadiroen pada atasannya. Kadiroen yang merasa tidak bersalah, tetap tenang dan sabar dalam mengahadapi persoalan ini. Tanpa emosi, ia menjelaskan bahwa argumen atasannya itu keliru dan salah paham. Namun tetap saja perkara itu dilaporkan kepada tuan residen sehingga Kadiroen harus menerangkannya kembali.

  Kadiroen memang diliputi keberuntungan. Menurut tuan residen tulisannya itu tidak salah sehingga ia tidak dipecat. Sedangkan tuan asisten residen telah mengundurkan diri dengan hormat karena perkara ini, maka persoalan ini telah selesai. Namun tuan residen memberikan pilihan bagi Kadiroen; tetap menulis dengan pangkat kembali menjadi wedono atau menjabat sebagai patih atau regen tetapi tidak diperkenankan untuk menulis.

  Terhadap pilihan ini Kadiroen memikirkannya dengan baik-baik. Ia tidak mau jika pilihannya itu salah maka pada hari itu juga Kadiroen lebih memilih untuk melepaskan jabatannya dengan hormat agar lebih dapat membantu pergerakan rakyat melalui PK secara total. Ini juga menandakan bahwa jiwa Kadiroen sudah bebas untuk menentukan pilihan. Ia tidak perlu lagi meminta pendapat orang tuanya karena ia meyakini bahwa jalan yang dipilihnya, mendapat restu dari kedua orang tuanya. Kadiroen kini dapat dengan bebas menyuarakan pendapatnya guna memperbaiki kehidupan masyarakat yang selalu ditindas.

  Kadiroen yang sudah lepas dari jabatannya kini bekerja sebagai mede-

  

redacteur koran PK. Ia tinggal dengan Sariman, Hoofd-Redacteur koran PK

yang mempunyai analisis tajam dan luas pandangannya soal jurnalistik.

  Karena alasan tersebut juga ia telah menganggap Sariman sebagai guru. Hal ini menyebabkan terjalinlah suatu hubungan yang akrab antara Kadiroen dan Sariman berserta istrinya.

  Sebagai seorang sahabat, Sariman tentu mengetahui perasaan sedih Kadiroen yang selama ini ditutupinya. Sariman menebak bahwa ini masalah percintaan. Kadiroen merasa kaget atas dugaan sahabatnya itu. Kadiroen bercerita bahwa ia telah jatuh hati kepada seorang wanita yang amat teguh jiwanya, tetapi wanita itu sudah mempunyai suami. Dalam pikiran Kadiroen, ia hanya bisa mencintai sekali saja dalam seumur hidup dan kenyataan bahwa ia tidak bisa beristri sekarang karena Kadiroen merasa ini sudah diatur oleh Allah. Kadiroen lalu menceritakan Ardinah, kekasih sejatinya kepada Sariman.

  Bagian akhir cerita, hanya berkisah soal romantika antara Kadiroen dan Ardinah. Diceritakan bagaimana Kadiroen merasa kaget dan malu atas “cinderamata” yang diberikan Sariman dan istrinya setelah pulang melancong. Tanpa diduga, Sariman membawa serta juga Ardinah. Rupa-rupanya Ardinah juga memendam perasaan cinta dengan Kadiroen. Sebelumnya, perkara Ardinah telah diselesaikannya. Sampai saatnya, Kadiroen meminta persetujuan kedua orang tuanya untuk menikahi Ardinah. Hatinya berdegup kencang karena kedua orang tuanya sedang berembuk menyetujui atau tidak; apakah ibunya yang keturunan bangsawan akan setuju atau tidak. Pada akhirnya kedua orang tua Kadiroen menyetujuinya. Kebahagiaan tak terelakkan Kadiroen dan calon istrinya. Sang ayah mengajak serta seluruhnya yang ada di situ untuk bersujud berterimakasih pada Tuhan. Kisah ini sekaligus yang menjadi penutup novel.

  Ungkapan syukur pada bagian akhir cerita ini sebernarnya lebih ditujukan kepada Kadiroen. Menurut pengarang, inilah “kado” untuk kesatria Kadiroen; kesatria yang pada akhirnya lebih memilih pergerakan rakyat melalui Partai Komunis daripada harus duduk dalam jajaran kepemerintahan.

  Ketotalan Kadiroen ini tentu tidak datang dengan sendiri. Adalah Tjitro yang mempunyai andil dalam membuka pikiran Kadiroen.

3.3 Tjitro

  Tjitro merupakan anak tukang batu yang berkecukupan. Karena itulah ia dapat disekolahkan oleh kedua orangtuanya. Tjitro mempunyai adik yang juga disekolahkan. Ayahnya mempunyai pendirian supaya anak-anaknya maju dan pintar.

  Tjitro mempunyai teman dekat yang bernama Sariman. Karena miskin, Sariman tidak dapat disekolahkan orangtuanya maka sejak kecil, Sariman meminta supaya Tjitro menerangkan kembali apa yang sudah diajarkan gurunya di sekolah tiap harinya. Tjitro tidak mempermasalahkan hal itu. Ia sama sekali tidak merasa keberatan. Karena harus mengajari Sariman belajar, Tjitro menjadi murid yang pandai dan menempati rangking satu di kelasnya.

  Pada umur 10 tahun, Tjitro sudah lulus sekolah dan pada tahun itu juga ia kerja menjadi leering letter zetter di kota G. Adalah pengalaman sahabatnya-Sariman, serta kenyataan bahwa sekolah hanya disediakan bagi mereka anak-anak priayi saja, maka Tjitro dan sahabatnya berjanji untuk membantu rakyat kecil. Guna melancarkan cita-cita itu, Tjitro bekerja di kantor yang buka sampai jam dua siang. Gaji yang didapat digunakannya untuk membeli buku untuk menambah kepintarannya. Tiap sorenya, Tjitro dan Sariman belajar bersama-sama tentang segala pengetahuan. Keniatan mereka ditunjukkan pula dengan membayar seorang guru Belanda yang hanya datang seminggu sekali. Tjitro juga gemar berolahraga. Hal ini dilakukannya untuk menyeimbangkan agar tubuh dan pikiran dapat sejalan. Selain itu, olahraga ini juga digunakan untuk melepaskan kejenuhan saat belajar.

  Tjitro dan Sariman sudah berumur 20 tahun. Bersama adik Tjitro, mereka bertiga masuk menjadi anggota PK di kota G. Tjitro menempati posisi sebagai sekretaris. Karena kepandaiannya, tidak lama berselang ia dipilih untuk menjadi seorang propagandis PK. Kepandaiannya dalam ilmu pengetahuan dibuktikannya pada saat ia menjadi pembicara untuk menerangkan maksud dan kegiatan PK di kota S. Seperti dalam pengantar, kehadiran tokoh Tjitro dalam bagian ini hanyalah bentuk penceritaan ulang yang dilakukan oleh Kadiroen. Dengan ingatannya yang tajam dan kejujurannya, Kadiroen tidak akan melebih-lebihkan atau mengurangkan penceritaan ulang dalam bentuk laporan untuk atasannya ini.

  Pada pembukaan vergadering Tjitro menerangkan maksud dan tujuan P.K.

  (17) “Saudara-saudaraku kaum P.K. dan semua Tuan-Tuan yang hadir pada vergadering ini maksud saya berbicara di sini tidak akan mengajak orang untuk membikin rusuh dan ribut negeri dengan menghasut supaya bikin onar, sebagaimana yang hari kemarin sudah diterangkan dengan jelas oleh surat- surat gula S.H.B. Tetapi maksud saya mau menerangkan maksud dan tujuan pergerakan supaya semua orang mengetahui bahwa P.K hanya berusaha memuliakan rakyat dan negeri Hindia (Semaoen, 2000: 103). Kutipan di atas mengisyaratkan bahwa Tjitro mengetahui jika kehadiran P.K ada yang menyukai dan ada yang tidak. Untuk itu dalam pembukaan

  vergadering , ia menyatakan hal yang demikian.

  Ilmu yang sudah didapatnya, ditularkannya kepada hadirin yang datang. Tjitro menerangkan terlebih dahulu tentang sejarah di Hindia; dimulai dari rakyat yang masih berdiri sendiri-sendiri, kemunculan raja-raja Jawa yang sering memeras rakyat dengan mewajibkan membayar upeti hingga masuknya Belanda yang mengambil keuntungan dari keadaan di Hindia yang sedang dilanda kerusuhan akibat serakahnya kerajaan-kerajaan kecil guna mencari kekuasaan. Tjitro juga mengajak para hadirin untuk menengok ke belakang di mana dulu rakyat dianggapnya merdeka atau merasa hidup ayem-tentrem.

  Tjitro paham betul ilmu sejarah tentang bangsanya. Ia lalu menceritakan sebelum datangnya Belanda, Hindia menjadi titik tolak perdagangan dengan banyaknya saudagar-saudagar asing yang singgah di Hindia. Tapi masyarakat Hindia tidak rukun sehingga dapat dikuasai bangsa asing.

  Pengetahuannya tentang masyarakat juga dibicarakan dalam

  

vergadering ini. Menurutnya, kelas sosial masyarakat telah terbentuk yaitu

  antara pemilik pabrik dan golongan buruh. Pemilik pabrik lebih mementingkan keuntungan semata sehingga tidak memperhatikan golongan buruh. Selanjutnya, Tjitro memberikan solusi yang ditawarkan kepada rakyat yang selalu ditindas oleh kaum bermodal. Solusi ini tentunya adalah perwakilan PK dalam usahanya untuk memakmurkan rakyat Hindia, yaitu pertama rakyat harus rukun bersama-sama untuk berusaha atau berdagang sendiri dengan mendirikan koperasi. Kedua, mendirikan perkumpulan- perkumpulan sesuai bidang kerjanya. Terakhir, yaitu ikut bersama dalam gerakan politik-khususnya Partai Komunis. Tjitro lalu menambahkan bahwa paham komunis adalah baik untuk semua orang

  (18) “Komunisme itu ialah ilmu mengatur pergaulan hidup supaya dalam pergaulan hidup itu orang-orang jangan ada yang bisa memeras satu sama lainnya” (Semaoen, 2000: 127). Begitulah Tjitro yang dengan semangat berbicara kepada orang banyak tentang apa sebenarnya komunisme itu. Dari vergadering ini tampak bahwa

  PK sedang mengusahakan agar rakyat mau ikut bergabung bersama mereka. Semuanya itu tentu terletak pada keberhasilan Tjitro untuk menarik massa. Pada dasarnya, adalah besar tanggungjawab Tjitro sebagai propagandator PK.

  Vergadering itu belum selesai. Selanjutnya, Tjitro juga merumuskan

  pendapat partainya tentang bagaimana selanjutnya menata pemerintahan

  Hindia. Ia menjelaskan bahwa tiap-tiap pekerja mempunyai suatu majelis yang memimpin dan mengatur mereka. Majelis-majelis itu mengadakan rapat dan mengirimkan utusannya dalam majelis kota dan begitu seterusnya hingga majelis negeri adalah majelis tertinggi dan harus ditaati oleh majelis-majelis di bawahnya. Agar para hadirin lebih jelas dan tidak membingungkan, Tjitro membuat bagan-bagan tentang rencana pemerintahan PK.

  Banyak orang yang setuju dari pendapat Tjitro yang mewakili PK. Sambutan hangat dengan tepuk tangan riuh ramai celotehan para hadirin yang hadir. Ketika sesi tanya jawab, beberapa orang dengan vokal menolak rencana PK tersebut. Tjitro yang bertindak sebagai pembicara tidak sedikit pun terpancing emosinya.

  (19) “Sekarang saya mesti menjawab Tuan Soebono. Tuan Soebono memang masih muda, karena itu semangatnya keras sehingga marah pada saya. Ia mengatakan bahwa saya jahat sekali dan menjual bangsa. Tetapi saya tidak sakit hati pada Tuan Soebono. Saya hanya meminta kepada Tuan Soebono memikirkan dengan sabar atas jawaban saya ini” (Semaoen, 2000: 142).

  Begitulah Tjitro yang tidak terpancing emosinya. Sebagai orang yang berbicara di depan orang banyak, ia tentu harus harus menjaga agar hadirin yang datang tidak terpancing juga emosinya. Salah satunya yaitu dengan berbicara sopan kepada orang yang berbeda pendapat.

  Kehadiran Tjitro yang hanya berupa penceritaan ulang oleh tokoh Kadiroen ternyata mempunyai efek besar. Ia sebagai wakil PK merumuskan pedoman tentang rencana strukutural sistem pemerintahan yang berhaluan komunis. Ia sekaligus tokoh yang memberikan pencerahan kepada rakyat yang sadar akan dilemanya sebagai rakyat yang selalu tertindas. Tidak hanya itu, melalui tokoh Tjitro ini pula membuat Kadiroen sebagai patih begitu tertarik untuk bergabung walau pada mulanya ia tetap mendua pada jabatannya.

3.4 Rangkuman

  Pembahasan tokoh dan penokohan Kadiroen merupakan gambaran dari pengembangan tahapan untuk sampai menjadi bentuk realisasi. Tokoh dan penokohan dalam novel, lebih banyak berkaitan dengan seputar pekerjaan Kadiroen. Namun hal tersebut juga menyentuh sisi kepribadian serta pendiriannya sehingga ia dapat memutuskan untuk bergabung bersama PK.

  Dalam hal pendidikan, Kadiroen memperoleh pendidikan Belanda. Ia cukup beruntung karena diangkat anak oleh seorang tuan kontrolir sehingga disekolahkan di OSVIA. Hal tersebut tidak lalu membuatnya menjadi sombong. Justru di tempat itulah Kadiroen melatih kecerdasannya.

  Kasus pertama yang ditangani dalam pekerjaannya sebagai mantri polisi muda, melatih kepekaannya terhadap rakyat kecil. Perlakuan yang didapat Soekoer oleh asisten wedono membuka matanya bahwa rakyat kecil memang harus ditolong. Bekerja bersama asisten wedono juga membuka pengetahuannya dalam menangani rakyat kecil. Penyelesaian perkara Soeker dan Soeket bukan semata-mata untuk mencari muka dengan atasannya, tetapi lebih kepada rasa tanggung jawabnya sebagai mantri polisi muda. Penanganan kedua perkara itu juga menandakan bahwa Kadiroen tidak pilih kasih dalam penyelesaiannya, berbeda dengan asisten wedono yang lebih memilih pekerjaan yang dianggapnya bergengsi.

  Didorong rasa tanggung jawab dan bakat dalam menganalisis serta kecakapannya dalam bertindak menjadi pintu gerbang yang menanjakkan karier Kadiroen. Hal itu terbukti ketika Kadiroen berhasil menyelesaikan perkara Soeket dan Soekoer. Selanjutnya berturut-turut ia naik jabatan menjadi asisten wedono, wedono, dan pengganti patih. Hal ini menandakan bahwa Kadiroen memang dipercaya oleh pemerintah karena mempunyai hasil dari pekerjaannya. Bakatnya dalam menganalisis suatu masalah menjadi kunci dalam penyelesaian suatu perkara.

  Wataknya yang berani dan tidak ragu untuk mengambil tindakan juga dilakukannya dalam menjalankan pekerjaannya. Hal itu tercermin, misalnya, saat Kadiroen harus melawan pencuri kerbau Soekoet dan penyamarannya sebagai orang Arab pada kutipan (19) dan (20). Hal itu juga dilakukannya supaya ia mengetahui sendiri bagaimana keadaan rakyat yang dipimpinnya. Keseriusannya bekerja untuk rakyat juga ditunjukkannya dengan membuat aturan-aturan yang diteruskan kepada pembesar.

  Sikap etos kerja yang diterapkan Kadiroen mau tidak mau berdampak bagi kisah asmaranya. Ia menutup pintunya untuk Ardinah, kekasih hatinya yang tidak kesampaian. Ia berusaha menutup pintu hatinya dalam-dalam agar dapat bekerja dengan konsen untuk keperluan rakyat. Tampaknya ia ingin menyingkirkan segala bentuk kepentingan pribadi untuk kepentingan rakyat, termasuk juga mengabaikan kesehatannya. Beberapa kali Kadiroen harus mengambil cuti karena sedang merasa sakit jiwanya, seperti pada kutipan (14).

  Segala cara ia lakukan agar rakyatnya dapat hidup sejahtera, namun tetap saja tidk bisa mengubah keadaan. Terhadap hal itu, Kadiroen merasakan kesedihan yang mendalam. Bersamaan dengan itu, tampillah tokoh Tjitro saat

  

vergadering Partai Komunis. Keberadaan tokoh ini sangat penting bagi

  kelanjutan cerita ini. Lewat Tjitro-lah Kadiroen menajdi sadar dan tahu mengapa usaha yang dilakukannya tidak membuahkan hasil bagi masyarakatnya. Karena kesadaran itulah Kadiroen lalu bergabung bersama Partai Komunis sebagai penulis lepas surat kabar Sinar Ra’jat dengan nama samaran Pentjari sekaligus menjabat sebagai patih. Bersama Partai Komunis, Kadiroen lalu berusaha mensejahterakan rakyat Hindia.

  Terhadap PK, Kadiroen merasakan kebimbangan yang luar bisa. Di satu sisi ia menganggap bahwa menjadi anggota P.K adalah baik, tetapi di sisi lain ia ingin mempertahankan status sosialnya karena ingat keluarganya. Untuk mengatasi hal ini, Kadiroen tidak mau mengambil keputusan gegabah. Kadiroen lalu meminta nasihat ayahnya. Ini juga menjadi tanda bahwa Kadiroen menghormati dan berbakti pada kedua orangtuanya. Jalan tengah pun diambil. Kadiroen tetap menjabat sebagai patih sekaligus bergabung bersama P.K secara tidak langsung (kutipan (16)).

  Jabatan rangkapnya, mengantarkannya pada suatu masalah. Ia terkena

  

persdelict. Rasa keberuntungan meliputi diri Kadiroen. Ia dinyatakan tidak

  bersalah dan bebas dari hukuman. Namun ia dihadapkan pada pilihan untuk tetap menjabat pejabat pemerintahan atau keluar dan bekerja secara penuh untuk PK. Karena keinginannya untuk mengkonkretkan rakyat yang sejahtera, ia memilih bergabung dan bekerja di koran PK.

  Tokoh Tjitro memang low profile, tetapi menjadi penting bagi Kadiroen. Ia pembuka pikiran Kadiroen atas zaman baru yang sedang dihadapinya. Pekerjaan orang tuanya yang berkecukupan mengantarkan Tjitro mengenyam bangku sekolah. Berdasarkan pengalaman bahwa sekolah hanya digunakan oleh kalangan priayi maka ia bersama sahabatnya berjanji untuk membantu rakyat kecil. Kesadaran untuk menambah pengetahuan dilakukannya dengan menggunakan gaji yang ia dapat untuk membeli buku.

  Berdasarkan pengalaman dan kecerdasannya itulah Tjitro lalu masuk menjadi anggota PK.

  Pada awalnya Tjitro berkerja sebagai sekretaris tetapi tidak lama berselang ia diangkat menjadi propagandator karena dianggap cukup pandai.

  Pengetahuan luasnya tentang sejarah Hindia, berusaha menerangkan pada saat vergadering tentang tujuan maupun maksud dari Partai Komunis.

  Sebagai anggota PK, tentu Tjitro mengetahui segala seluk-beluk organisasi itu. Hal itu dimanfaatkannya utnuk menarik rakyat bergabung bersama PK. Itu sekiranya menjadi tugas Tjitro. Dalam melaksanakan tugasnya, ia dapat memilah emosinya karena banyak pihak juga yang tidak setuju dengan PK. Hal itu terdapat pada kutipan (18). Tjitro dapat mengendalikan jalannya rapat. Tiap pertanyaan maupun kritikan dijawabnya dengan halus. Hal ini membuktikan jika Tjitro memang cakap dalam bertutur kata. Inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Kadiroen. Ia terpikat dengan apa yang diomongkan Tjitro. Walaupun pada awalnya Kadiroen merangkap jabatan sebagai pejabat sekaligus anggota tidak tetap PK, lambat laun Kadiroen dengan suara bulat memilih bergabung bersama PK sebagai penulis. Apa yang menjadi pilihan Kadiroen ini tidak lepas dari peran tokoh Tjitro.

BAB IV GAGASAN SEMAOEN TENTANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA (PKI) DALAM NOVEL HIKAYAT KADIROEN KARYA SEMAOEN

4.1 Pengantar

  Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan gagasan adalah sebuah proses untuk sampai menjadi suatu bentuk realisasi yang ingin disampaikan pengarang kepada masyarakat berupa pendapat yang tertuang dalam karya sastra berupa novel. Oleh karena berupa karya sastra maka masyarakat yang dituju adalah masyarakat pembaca.

  Menurut Ubaydillah, gagasan merupakan sebuah proses untuk sampai menjadi suatu bentuk realisasi. Untuk sampai menjadi bentuk realisasinya, ada beberapa tahapan, yaitu tindakan, interaksi dan kreasi. Karena penelitian ini bersumber pada karya sastra, maka segala tahapan tersebut mengacu pada novel Hikayat Kadiroen, terutama kepada tokoh utama yaitu Kadiroen. Ketiga tahapan tersebut akan melingkupi pembahasan gagasan Semaoen tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam novel Hikayat Kadiroen yang terdiri dari tiga subbab. Bagian pertama membahas gagasan Semaoen tentang PKI sebagai pembangun kesadaran baru. Bagian kedua berisikan faktor penghambat cita-cita bangsa yang merdeka berdasarkan sudut pandang PKI.

  Kedua subbab ini dipilih karena disesuaikan dengan persoalan yang tampak pada bagian tokoh dan penokohan sehingga perlu pengkajian yang lebih

4.2 Gagasan Semaoen tentang PKI sebagai Pembangun Kesadaran Baru

  Sebelum datangnya Sneevliet ke Hindia, pemeritah pada tahun 1901 mencanangkan program politik etis di mana pendidikan menjadi salah satu sorotannya. Segi keintelektualan yang semakin meningkat karena munculnya sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial sebagai bagian dari politik etis, ternyata berpengaruh terhadap pemikiran masyarakat Hindia. Walaupun pada awalnya mereka disekolahkan untuk menjadi pegawai pemerintah kolonial, lambat laun anggapan tersebut berubah ketika proses kesadaran mereka yang terbuka atas nasib rakyat yang diperlakukan tidak adil (Suwondo, Tirto,dkk, 1995: 21-23). Dalam novel Hikayat Kadiroen, tokoh Kadiroen juga diceritakan hal serupa. Memperoleh pendidikan di OSVIA dan setelah lulus, ia bekerja pada pemerintah kolonial. Namun yang berbeda adalah Kadiroen tetap konsisten untuk membela rakyatnya yang tertindas. Ia memakai perangkat kerja yang didapatnya untuk menghubungkannya dengan rakyat.

  Kadiroen memang cukup beruntung karena diangkat anak oleh tuan kontrolir dan disekolahkan di OSVIA. Namun keberuntungan itu tidak lantas membuatnya sombong. Justru, di sekolahnya itulah ia semakin mengasah kemampuannya, baik dalam hal pelajaran dan olahraga. Tidak heran jika dikemudian hari Kadiroen menjadi pekerja yang tangguh dan bijaksana. Hal itu ditunjukkannya, semisal, pada saat ia harus bergulat dulu dengan para pencuri kerbau Soeket setelah sebelumnya ia memikirkan sebuah strategi untuk menangkap gerombolan pencuri tersebut. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa Kadiroen mengaplikasikan hal yang didapatnya semasa di sekolah.

  Hal yang serupa juga dialami oleh pengarangnya. Moehkardi mencatat Semaoen karena kecerdasannya diperkenankan untuk mengikuti ujian pamaong praja tingkat rendah dan lulus dengan hasil yang baik. Tidak hanya itu, Semaoen juga tercatat sebagai pemuda Indonesia pertama yang berhasil memperoleh Komis A di Surabaya. Pada dasarnya Semaoen bisa saja hidup sebagai pejabat pemerintah, tetapi hal itu tidak dilakukannya. Proses kesadaran melihat rakyatnya yang tertindas membuatnya lebih memilih pergerakan politik sebagai jalannya ( 1971: 34). Inilah yang membedakannya dengan Kadiroen. Kadiroen tersadar ketika ia berproses sebagai pejabat pemerintahan, ditambah dengan rapat umum yang dibuat Partai Komunis membuatnya semakin sadar dan pada akhirnya lebih memilih gerakan politik.

  Pada dasarnya, Semaoen secara terang-terangan menuliskan bahwa (20) Kadiroen memang ditakdirkan Tuhan memiliki kebaikan dalam segala hal, melebihi dari yang lain-lain sesamanya

  (Semaoen, 2000: 9). Artinya adalah Kadiroen memang dikarakterkan dari awal menjadi seorang yang tersebut di atas. Terhadap karunia Tuhan itulah kemudian Kadiroen merasa bahwa Soeket memang pantas ditolong. Ia mendapatkan fakta bahwa rakyat yang butuh pertolongan malah disingkirkan. Soeket, seorang miskin yang hanya menggantungkan hidupnya pada seekor kerbau, melapor pada asisten wedono karena kerbaunya telah dicuri, justru mendapat cacian dan makian dari asisten wedono.

  (21) “kamu amat teledor! Ke mana semalaman pergi? Tidur nyenyak saja yang kau bisa. Bayangkan kerbau sebesar itu, dicuri orang kau tidak tahu. Hai pemalas. Sekarang kamu minta tolong sama aku. Apa memang kamu sudah tidak bisa menjaga kerbaumu sendiri. Dasar pemalas!” kata Tuan Asisten Wedono sambil marah besar (Semaoen, 2000: 11).

  Perlakuan dan umpatan kasar yang diterima Soeket ternyata menggugah rasa kebangsaan Kadiroen. Rasa itu muncul seiring munculnya rasa kemanusian terhadap kenyataan bahwa rakyat kecil selalu tertindas oleh kekuasaan. Fakta ini sejalan juga dengan tindakan asisten wedono yang lebih memilih menangani kasus hilangnya ayam tuan kontrolir karena dinilai cukup bergengsi untuk dapat menaikkan jabatan. Inilah awal dimana proses kesadaran Kadiroen mulai terbangun. Kenyataan ini juga sepadan dengan politik pemerintah kolonial yang memakai cara-cara feodal agar rakyat menghormati atasannya sehingga ada rasa takut rakyat yang kemudian menyebabkan rakyat enggan melapor pada pejabat (Nagazumi, 1989: 12).

  Jenjang karir Kadiroen yang semakin menaik, membuat kepekaannya terhadap nasib rakyat semakin terolah. Terhadap rakyat yang dipimpinnya, Kadiroen sangat memperhatikan kesejahteraan mereka. Menurut Kadiroen, jika rakyat sejahtera maka tidak akan ada lagi penyakit masyarakat seperti maling dan sebagainya. Ia sering sekali memberikan nasihat-nasihat kepada rakyatnya. Tidak heran jika Kadiroen dihormati dan disenangi rakyatnya.

  Terhadap kesejahteran, ia akan merasa sangat sedih jika ada rakyatnya yang kekurangan, seperti pada kutipan berikut.

  (22) Kemiskinan penduduk desa tersebutlah yang membikin susah hati Kadiroen. Ia sering tidak tidur, memikirkan bagaimana ia berikhtiar mencari cara guna menyelesaikan masalah tersebut (Semaoen, 2000: 40). Tidak hanya itu. Sewaktu Kadiroen ditugaskan sebagai patih di kota S, ia bahkan harus jatuh sakit karena terlalu banyak mengemban tugas untuk mengurusi persoalan rakyat. Bahkan ia harus mengubur dalam-dalam rasa asmaranya kepada Ardinah yang dinilainya dapat mengganggu konsentrasinya saat bekerja. Harus diakui, Kadiroen merupakan sosok pekerja keras yang menyingkirkan segala bentuk urusan pribadinya, termasuk kesehatan.

  (23) Itulah yang menyusahkan Kadiroen dan memaksanya bekerja siang-malam itu. Mewakili patih baru dua bulan lamanya.

  Dan di waktu ia kembali dari cuti dan mengurus lagi pekerjaannya, badannya menjadi sangat kurus. Ia kelihatan lebih tua dari usia yang sebenarnya (Semaoen, 2000: 97).

  Apa yang dirasakan Kadiroen menyangkut persoalan rakyat, bukan sekadar perasaan belaka yang kemudian didiamkan begitu saja. Ia lalu mencari cara bagaimana setiap persoalan tersebut dapat diselesaikan. Untuk rakyatnya, Kadiroen akan melakukan apa saja secara ikhlas. Bertarung dengan penjahat, datang ke tiap-tiap desa untuk mencari keterangan, mengumpulkan para pejabat desa beserta tetua-tetuanya, membuat voorstel-voorstel untuk kemudian diteruskan kepada pejabat pemerintah, bahkan harus menyamar sebagai orang Arab yang menjual pakaian ia jalani. Hal itu menunjukkan bahwa Kadiroen memang sangat peduli dengan keadaan rakyat. Sebagai orang yang sadar, ia juga lantas berbuat sesuatu atau setidaknya ikut ambil bagian dalam persoalan kemiskinan di daerah kekuasaannya. Dengan demikian ia juga sadar atas pemberian karunia Tuhan bahwa ia memang diwajibkan untuk menjadi penolong di masyarakatnya.

  Apa yang dilakukan Kadiroen ternyata tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Rakyat masih saja berkutat dengan kemiskinan. Kadiroen pun menganalisis keadaan yang terjadi di masyarakatnya seperti pada kutipan berikut.

  (24) Banyaknya penghasilan dan pekerjaan untuk rakyat hampir sama seperti zaman kuno. Ya, sekarang justru lebih banyak jenis pekerjaan. Meskipun begitu, toh rakyat tambah miskin. Apa sebabnya? Kadiroen mengira bahwa rakyat sendiri yang salah. Tentunya rakyat lebih royal ketimbang yang dahulu. Sehingga hasil yang mereka dapat tidak seimbang dengan belanja yang mereka keluarkan. Artinya rakyat mengeluarkan ongkos hidup lebih besar dari pendapatannya. Tetapi umpamanya perkiraan itu betul, apakah sebabnya sehingga rakyat berbuat begitu? Apakah adat mereka yang berubah. Kadiroen mengerti bahwa memang biasanya bumiputera senang kelihatan kaya. Seperti dalam hal mengawinkan anak, membikin keramaian yang tidak kecil ongkosnya, pada Hari Raya 1 Syawal menyalakan mercon atau kembang api dan kesenangan lainnya. Mereka mau mengeluarkan ongkos yang banyak untuk keperluan-keperluan begitu. Sebab kalau tidak begitu, mereka malu pada sahabat-sahabatnya. Umpamanya betul ini adat yang memiskinkan rakyat, toh zaman dahulu adat itu juga ada; mengapa hal yang sama, sekarang menyebabkan miskin? Kadiroen menyangka bahwa royal-nya rakyat bertambah tapi mengapa bertambah? Kadiroen menyangka biasanya tambah royal itu karena terbawa oleh hasil yang didapat rakyat sekarang ini lebih gampang dikeluarkan, lain dari zaman dahulu. Tentang masalah ini Kadiroen mengira karena sekarang rakyat kebanyakan mendapat hasil berupa uang. Sedang dahulu berupa hasil tanah seperti padi, beras, kelapa, jagung, ketela dan sebagainya. Uang sangat enteng dan gampang dikeluarkan. Sebaliknya, hasil tanah sangat berat dan sedikit susah dikeluarkan. Rakyat mencari gampangnya. Itu sudah menjadi kebiasaan banyak manusia. Oleh karena itu, mereka lebih senang menerima hasil uang daripada hasil tanah. Karena umpama ada hasil tanah, mereka lalu lekas menukarkan menjual hasil itu dengan uang. Tetapi kemudahan yang berhubungan dengan uang itu tidak sepadan dengan pengertian dan kepintaran rakyat. Rakyat tidak tahu betul harganya uang. Dan mereka lebih gampang lagi mengeluarkan uangnya. Akhirnya, mereka menjual kerbau, sapi dan sebagainya. Sehingga bertambah lama menjadi bertambah miskin (Semaoen, 2000: 79, 80).

  Analisis yang dilakukan Kadiroen mengantarkan kita pada sebuah fakta, bahwa kondisi sosial rakyat pada kurun waktu 1920-an, telah mengalami perubahan. Dalam perubahan tersebut, uang pada saat itu menjadi segalanya. Menggelontorkan uang memang lebih mudah daripada mendapatkannya. Berdasarkan hal itu, maka dapat kita lihat kesengsaraan bukan hanya akibat perang, namun rakyat sendiri yang mempersulit keadaan mereka.

  Seiring perjalanan karir Kadiroen, masuklah perkumpulan yang menjadi buah bibir masyarakat, yaitu perkumpulan komunis (PK). Adanya

  

vergadering PK yang dipimpin oleh Tjitro, membuat semua orang tahu

tentang segala perihal perkumpulan tersebut.

  (25) Komunisme itu ialah ilmu mengatur pergaulan hidup supaya dalam pergaulan hidup itu orang-orang jangan ada yang bisa memeras satu sama lainnya (Semaoen, 2000: 127). Pada saat itu, vergadering atau rapat umum terbuka merupakan sebuah metode yang bertujuan untuk menarik massa tanpa memandang status sosialnya. Siapa pun dapat terlibat. Berbeda dengan surat kabar yang hanya segelintir orang saja yang terlibat (Soewarsono, 2000: 17). Keampuhannya pun terbukti. Apa yang telah diungkapkan Tjitro cukup berhasil untuk menarik hati ratusan orang yang segera mendaftar menjadi anggotanya. Ketertarikan yang sama juga dialami Kadiroen. Di sinilah proses kesadaran Kadiroen sesungguhnya. Sama dengan apa yang menjadi pilihan Semaoen, Kadiroen pun memilih gerakan politik dengan bergabung bersama Partai Komunis.

  Sebelumnya, Kadiroen memang menyadari bahwa zaman telah berubah begitu juga dengan kehidupan. Namun Kadiroen lupa bahwa ada kepentingan lain yang membuat rakyat tidak bisa lepas dari kemiskinannya. Kepentingan tersebut adalah kepentingan kaum bermodal yang menyelenggarakan proses produksi selama ini maupun para penguasa. Inilah yang belum dilengkapi oleh Gie dalam skripsinya yang telah dibukukan, bahwa kesenjangan antara yang tertindas dan tidak tertindas serta ketidakberpihakan pemerintah kolonial Belanda yang membuat rakyat tidak maju dalam tatanan kehidupan, baik kesehatan, pendidikan dan materi.

  Rasa simpati Kadiroen terhadap gerakan PK bertambah ketika Kadiroen mendapati media massa yang menentang rapat tersebut.

  (26) Baru saja Kadiroen memikirkan hal itu semua, maka ia menerima Surat Kabar S.H.B milik golongan kaum bermodal. Di situ Kadiroen membaca dalam ruangan “Ned

  Indische Telegramen ” dalam bahasa Belanda yang

  menerangkan bahwa hari kemarin di S oleh P.K sudah digerakkan penghasutan pada rakyat. Sedang yang berbicara

  opruier (tukang hasut)-nya adalah Tjitro. Redaksi surat kabar

  itu memberikan pikirannya bahwa sekarang ini sudah saatnya sang opruier Tjitro, penjahat itu, dibuang dan diasingkan di pulau kecil, supaya tidak bisa menghasut lagi (Semaoen, 2000: 145).

  Mas Marco dalam Edi Cahyono menyarankan berhati-hati dalam membaca surat kabar; agar tidak membaca surat kabar yang memihak kaum uang karena dapat menjerumuskan rakyat Hindia (2003; xxvi); hal yang sering terjadi pada tahun 1920an seiring menjamurnya media massa sebagai alat perjuangan.

  Sejalan dengan asumsi itu Semaoen dalam novelnya juga menuliskan bahwa banyak surat kabar yang memuat kabar bohong tentang gerakan rakyat supaya rakyat membencinya, seperti pada kutipan berikut.

  (27) Memang di Hindia banyak surat kabar bukan kepunyaan rakyat, yang selalu memuat kabar-kabar bohong buat merusak gerakan rakyat, untuk mengajak kepada para pembacanyasupaya membenci pergerakan itu, terutama pada para pemuka-pemukanya. (Semaoen, 2000: 145). Dalam vergaderingnya, Partai Komunis mengajak kaum buruh dan rakyat untuk pintar, kuat dan berkuasa. Caranya yaitu dengan rukun bersatu atau mendirikan perkumpulan (Semaoen, 120-121: 2000). Cara inilah yang terlewatkan oleh Kadiroen. Selama ini, ia hanya membuat aturan dari analisisnya maupun memberikan nasihat-nasihat kepada masyarakat, tetapi sektor pendidikan yang rendah menyebabkan hal itu hanya ditelan mentah- mentah oleh masyarakat. Ditambah lagi penyelewengan perintah yang dilakukan bawahan Kadiroen membuat aturan itu menjadi negatif di mata masyarakat. Inilah kenyataan baru yang harus dihadapi Kadiroen. Tidak heran jika Kadiroen pada akhirnya memilih bergabung bersama Partai Komunis sebagai penulis pada harian Sinar Ra’jat. Hal ini juga mengingatkan kita terhadap perubahan Semaoen menjadi radikal ketika berkenalan dengan Sneevliet, sekaligus membenarkan apa yang diungkapkan Razif bahwa munculnya bacaan-bacaan digunakan untuk mendidik bumiputra yang miskin; miskin karena kemiskinan juga miskin ilmu dan pengetahuan. Selanjutnya Razif menuliskan bahwa dengan surat kabar, rakyat Hindia dapat membentuk kesadaran kolektif untuk membayangkan masa depan yang mereka hadapi (members.fortunecity.com).

  Apa yang diinginkan oleh Kadiroen-sebagai penulis, tidak serta merta diacuhakan oleh pemerintah kolonial Belanda. Sebelum munculnya Sneevliet, pemerintah berusaha mengontrol beredarnya bacaan yang ada di masyarakat bersamaan dengan kebijakan politik etis. Aturan yang melarang tulisan-tulisan berbau kritikan terhadap pemerintah memang sengaja dibuat agar rakyat tidak terprovokasi (Suwondo, 1995: 4,5). Hasilnya adalah penangkapan- penangkapan tokoh pergerakan karena dianggap sebagai penghasut. Pemerintah juga dapat membuang orang itu ke luar negeri atau pulau yang terpencil, termasuk Sneevliet yang pada akhirnya dibuang dari Hindia (Gie, 1990: 15). Namun, hal itu tidak terjadi dengan Kadiroen. Pada awalnya Kadiroen masih merangkap jabatan sebagai patih. Ia menulis dengan nama samaran Pentjari. Tetapi ia tekena kasus delik pers yang mengharuskan ia mempertanggung jawabkan tulisannya.

  (28) Persdelict. Ini hari kita poenja Hoofd-Redacteur dipanggil oleh toean djaksa di kantornja dan dibilangi bahwa toean AssistenT Resident menjoeroh ia, djaksa, soepaja menaja matjam-matjam halnja Sinar Ra’jat pada hari kemaren doeloe tanggal 12 Mei, teroetama tentang karangan jang termoeat itoe hari dan jang berkepala: “Diminta sedikit lekas”, dan ditandai oleh Pentjari (Semaoen, 2000: 147). Pada kasus ini, Kadiroen dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari hukuman. Kadiroen pada akhirnya meniatkan jalannya untuk terjun dalam dunia pergerakan rakyat sebagai penulis setelah sebelumnya ia ditawari pangkat yang lebih tinggi namun ditolaknya. Kenyataan ini membuktikan bahwa Kadiroen memuliakan kepentingan orang banyak dan mengesampingkan kepentingan pribadinya dengan pangkat dan jabatannya.

  Perlu diingat, Semaoen menulis novel ini sewaktu ia di penjara karena dakwaan yang sama. Pemerintah Hindia Belanda memang bertindak tegas bagi siapa saja yang dinilai mengganggu atau mengkritik jalannya pemerintahan.

  Jadi, keberanian Kadiroen untuk mengabdikan dirinya sebagai anggota Partai Komunis, merupakan contoh nyata gagasan Semaoen tentang PKI sebagai pembangun kesadaran baru. Semaoen hendak menyadarkan, bahwa Bangsa Hindia seharusnya tidak hidup dengan penderitaan; bahwa rakyat seharusnya merdeka untuk menentukan nasibnya sendiri, dan PKI juga mencita-citakan hal tersebut. Artinya adalah dengan bergabung bersama PKI, niscaya Bangsa Hindia dapat hidup merdeka.

4.3 Faktor Penghambat Cita-cita Bangsa yang Merdeka Berdasarkan Sudut Pandang PKI

  Merdeka yang dimaksud Partai Komunis adalah berhak atas pekerjaan sehingga mudah untuk menentukan cara serta waktu kerjanya (Semaoen, 2000: 108). Dalam hal ini, rakyat bersama buruh bersatu untuk memegang kendali proses-proses produksi yang telah dikuasai pihak bermodal. Untuk merasa merdeka, rakyat harus pintar, kuat dan berkuasa. Caranya seperti pada ketiga kutipan berikut.

  (29) “Jalan yang pertama, rakyat mesti rukun bersatu bersama- sama berusaha atau berdagang sendiri, yaitu dengan jalan mendirikan koperasi (Semaoen, 2000: 122).

  (30) “Mengingat beratnya jalan yang pertama maka ada cara lain yang harus dijalani oleh rakyat dengan melalui jalan yang kedua yaitu perkumpulan pekerja atau bersatu dalam vakbond (Semaoen, 2000: 123)

  (31) “Di sini saya sudah menerangkan dengan singkat dua jalan dan tinggal menerangkan jalan yang ketiga, yaitu pergerakan politik namanya (Semaoen, 2000: 125). Ketiga cara inilah kemudian yang mengilhami Kadiroen untuk selanjutnya bekerja sebagai penulis dalam surat kabar Sinar Ra’jat karena dianggapnya total untuk mengubah keadaan masyarakat yang semakin sengsara.

  Sifat kerja keras Kadiroen dalam memuliakan rakyat memang tidak bisa dipungkiri lagi. Ia bekerja keras agar rakyat keluar dari jeratan kemiskinan. Apa pun usahanya, Kadiroen tetap mengalami kegagalan. Faktor yang menyebabkan kegagalan tersebut, yaitu faktor penguasa dan faktor kaum bermodal.

4.3.1 Faktor Penguasa

  Pada awal Kadiroen bertugas sebagai mantri polisi, ia menemukan atasannya (asisten wedono), melakukan tindakan semena-mena terhadap rakyat kecil, padahal ia adalah seorang asli Hindia. Perbandingan kontras yang dilakukannya adalah dengan menangani kasus hilangnya ayam tuan administratur daripada menangani kasus pencurian kerbau Soeket.

  Dalam menangani kasus tuan administratur, ia memamerkan kemampuan beranalisisnya yang sangat gegabah sehingga tidak tepat. Bahkan dengan cara menyewa penjahat, ia berusaha dengan mudah menyelesaikan perkara tersebut. Alhasil, Soekoer menjadi korban salah tangkap. Untuk mengakui perbuatannya, Soekoer harus menerima siksaan-siksaan dan tidak diberi makan. Tindakan ini semata-mata hanya digunakan oleh asisten wedono agar perkaranya cepat selesai. Dengan selesainya perkara tersebut, tentu ia akan mendapatkan nama baik dan dengan segera pula dapat menaikkan pangkatnya. Berbeda dengan asisten wedono, Kadiroen yang tidak tega melihat perlakuan atasannya terhadap Soekoer, berjanji akan menyelesaikan perkara tersebut walau tidak mendapat perintah dari atasannya itu.

  (32) Ia juga telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menolong Soekoer yang didakwa mencuri ayam (Semaoen, 2000: 26). Kadiroen melakukan hal itu tanpa pamrih sedikit pun. Ia ikhlas melakukan pekerjaan itu berdasarkan rasa tanggung jawabnya sebagai seorang mantri polisi muda. Berbeda dengan asisten wedono yang tidak mau susah dengan pekerjaannya. Hasil tanpa kerja sendiri yang ia perlukan untuk menaikkan pangkatnya. Kekuasaan yang didapatnya telah diselewengkan guna kepentingan sendiri. Pun dengan caci maki yang diterima Soeket oleh asisten wedono semata-mata hanya ingin membuat takut rakyat kecil, sehingga

  

mindstream yang terbangun adalah takut melaporkan suatu perkara kepada

  yang berwajib; suatu mindstream yang berhasil dibangun oleh pemerintah kolonial agar rakyat menjadi segan sehingga para pejabat dapat meluangkan waktunya lebih banyak. Hal ini menunjukkan bahwa pejabat pemerintah tergolong klasifikasi kelas sosial yang tinggi sehingga dapat melakukan apapun kepada rakyat biasa yang dianggap mendapat klasifikasi kelas sosial paling rendah (Leirissa, 1985: 9). Hal ini juga membuktikan bahwa Belanda tidak malu-malu lagi untuk menggunakan cara kekerasan, berbeda pada saat pertama kali mereka datang yang menjalin hubungan baik dengan masyarakat Hindia (Leirissa, 1985: 7)

  Kebesaran pangkat untuk menakut-nakuti rakyat tidak diterapkan Kadiroen. Bekerja bersama asisten wedono cukup menambah pengetahuannya dalam menghadapi rakyat. Kini ia tahu bahwa rakyat akan tutup mulut jika berhadapan dengan penguasa. Selanjutnya, Kadiroen menggunakan pengalaman berharga tersebut untuk berusaha memecahkan persoalan kemiskinan rakyat di Distrik Rejo.

  (33) “Sahabat para lurah dan semua tetua desa yang berkumpul di sini saya mengajak kalian semua untuk musyawarah di sini, tidak untuk mendapatkan keterangan berdusta. Saya mempunyai maksud, memakmurkan orang kecil yang ada di dalam wilayah distrik saya, saya perlu mengetahui lebih dahulu hal ihwal rakyatku. Dan jika saya sudah mengerti, tentulah bisa berusaha guna memakmurkan rakyat semuanya. Kalau rakyat hidupnya susah, tentu saya akan turut susah. Dan karena itu, siapa dari kalian yang saya tanyai sesuatu, jangan takut untuk berterus terang apa adanya. Siapa yang menjawab dusta, maka ia saya pandang rewel dan ingin membikin susah saya. Jelas?” (Semaoen, 2000: 72).

  Dalam kutipan, Kadiroen berusaha meyakinkan rakyatnya agar mau berterus terang. Ia berusaha membalikkan pandangan masyarakat selama ini yang takut bila berbicara terus terang. Dengan begitu, Kadiroen dapat bekerja secara maksimal. Hal itu ditunjukkannya dengan menuliskan nasihat-nasihat untuk kemudian diberitahukan kepada masyarakat.

  Untuk memeriksa dan mengetahui situasi masyarakat setelah turunnya pemberitahuan perihal nasihat-nasihat tersebut, Kadiroen rela menyamar sebagai seorang Arab. Dalam penyamarannya itulah ia menemukan fakta bahwa nasihat-nasihatnya, telah diselewengkan menjadi aturan keras sehingga bagi yang melanggarnya akan dikenai hukuman. Ini menjadi bukti bahwa jajaran di tingkat bawah Kadiroen, tidak mengerti apa yang dikehendaki Kadiroen sehingga terjadi salah tafsir di masyarakat. Mau tidak mau kasus ini membuat nama Kadiroen tercemar di masyarakat dan Kadiroen harus mengklarifikasinya.

  Ketidaktahuan pejabat struktural tersebut tentu menambah masalah kemiskinan rakyat. Seharusnya yang terjadi adalah rakyat dilindungi oleh para penguasa dalam menjalankan kehidupannya. Tetapi yang terjadi adalah rakyat semakin takut dengan para penguasa. Di saat yang bersamaan, para penguasa enggan memperhatikan nasib rakyat. Mereka hanya memikirkan bagaimana cara mendapat keuntungan dari daerah jajahan. Hal itu terbukti ketika Kadiroen mengajukan voorstel-voorstel yang diteruskan kepada pejabat birokrasi pemerintah kolonial Belanda. Tujuannya pun jelas yaitu untuk mensejahterakan rakyat Hindia. Tetapi lagi-lagi Kadiroen harus berhadapan dengan proses birokrasi yang berbelit-belit dan lama.

  (34) Tiba-tiba Kadiroen mendapat jawaban dari atasannya, supaya Kadiroen sabar dan percaya pada Tuan Regen. Ia seorang pejabat di bawah Regen, mesti melaporkan voorstel-voorstel itu pada Patih dan Patih akan menruskan pada Tuan Regen dan akan meneruskan pula pada Tuan Asisten Residen dan seterusnya (Semaoen, 2000: 91).

  (35) “Saya kira dalam dua atau tiga tahun lagi baru bisa diputuskan dan bagaimana keputusannya itu pun saya tidak tahu!” (Semaoen, 2000: 95). Sistem birokrasi tersebut sangat merugikan rakyat Hindia. Di satu sisi,

  Kadiroen ingin segera terjadi perubahan pada rakyat Hindia, tetapi hal itu tidak didorong oleh sikap kooperatif pemerintah. Kadiroen harus menunggu lama untuk sekedar mendapat jawaban dari pemerintah, padahal kondisi rakyat semakin susah.

4.3.2 Faktor Kaum Bermodal

  Sejak pertama kali kaum bermodal datang dengan diawali program

  

Cultuurstelsel , Sneevliet telah memeranginya melalui organisasi ISDV. Hal

  ini juga menjadi salah satu yang diperangi oleh Partai Komunis. Menurut mereka, kaum bermodal telah membuat rakyat semakin menderita. Mereka hanya mementingkan kepentingan sendiri dengan hanya memikirkan bagaimana memperoleh keuntungan yang maksimal. Dalam bagian awal novel

  Hikayat Kadiroen, tidak terlalu tampak bagaimana kaum bermodal

  mempunyai kepentingan tersendiri. Hal ini menjadi salah satu kekurangan Kadiroen dalam menganalisis apa yang terjadi di masyarakat; bahwa dengan jeratan kaum bermodal, rakyat hanya dijadikan pekerja murah dan konsumen barang yang telah dihasilkan (Semaoen, 2000: 120). Hal itu terbukti ketika Kadiroen secara sadar mengakui bahwa zaman telah berubah.

  (36) Adapun Kadiroen sendiri sewaktu terjadi vergadering hatinya berdebar-debar. Ia mendengar keterangan Tjitro dan perasaannya terbuka, sepertinya dalam hati ia melihat bintang yang sangat baik, menggambarkan maksud dan tujuan perkumpulan P.K. Sehabis vergadering, Kadiroen memikirkan semua itu. Ia tidak bisa tidur. Sekarang ia tahu bahwa usahanya itu adalah mengikuti cara kuno. Sedangkan, keadaan rakyat sekarang sudah baru. Jadi, nyatalah jalan yang diusahakannya, ketinggalan dan tidak sesuai zaman lagi (Semaoen, 2000: 144).

  Selama menjalani tugas-tugasnya, Kadiroen tidak membuat pintar rakyat. Kadiroen hanya membuat voorstel-voorstel, memberikan nasihat- nasihat, dan sebagainya. Tanpa ia sadari, cara seperti itu hanya membuat rakyat menjalankan apa yang dikehendaki penguasa. Cara ini dinilai tidak mendidik rakyat supaya menjadi lebih pintar. Dalam Partai Komunis, diajarkan bagaimana supaya rakyat dapat pintar, kuat dan berkuasa.

  (37) “Bagaimana kaum buruh dan rakyat bisa menang ialah dengan jalan mencari kekuatan dan kekuasaan juga. Dengan kepintaran, kekuasaan dan kekuatan, itulah mereka mendapatkan jalan kemenangan. Bagaimana mereka bisa kuat dan berkuasa yaitu dengan rukun bersatu atau mendirikan perkumpulan. Begitulah, maka perkumpulan- perkumpulan di tanah Hindia sekarang ini ada banyak jumlahnya, karena memang sudah sebagaimana yang sudah saya jelaskan. Dengan pendek kata, memang sudah merupakan tuntutan zaman (Semaoen, 2000: 121).

  Cara inilah yang menurut Kadiroen cocok dengan perkembangan zaman yang sudah baru.

  Terkait dengan kaum bermodal, sewaktu Kadiroen menjabat sebagai wakil patih, ia sempat membuat voorstel perihal pabrik tebu (pada kutipan 12).

  (38) a. Supaya kebun tebu milik pabrik mendapatkan pengairan di waktu malam dan sawah milik rakyat mendapatkan pengairan di waktu siang karena rakyat yang miskin keneratan betul bekerja malam buat mengairi sawahnya. Sedang pabrik mempunyai modal batu membayar mandor malam (Semaoen, 2000: 89,90).

  Keberpihakkan pemerintah terhadap kaum bermodal tampak pada kutipan tersebut. Kadiroen hanya memikirkan rakyat kecil yang ingin mendapatkan keadilan perihal saluran irigasi, tetapi dengan dalih dapat merugikan rakyat itu sendiri pemerintah menolak usulan Kadiroen tersebut dan menyerahkannya kepada tuan residen untuk memutuskan perkara tersebut. Gie mencatat bahwa kurun waktu 1916-1920, pemerintah menggalakkan perkebunan tebu (1990:8).

  Itu berarti apa yang dilakukan Kadiroen dengan pengajuan voorsteelnya akan berakhir percuma dan nyatalah bahwa aturan tersebut sudah pasti ditolak oleh atasannya.

  Kenyataan-kenyataan seperti inilah yang meyakini Kadiroen untuk bergabung bersama Partai Komunis. Bekerja sebagai penulis lepas diharapkan Kadiroen dapat membantu rakyatnya hidup sejahtera di samping membesarkan Partai Komunis. Pada awalnya Kadiroen memang merangkap kerja; sebagai patih juga sebagai penulis lepas surat kabar Partai Komunis dengan nama samaran Pentjari. Perjalanan itu tidak dilaluinya dengan mulus.

  Kadiroen terkena persdelict yang mau tidak mau membongkar nama samarannya untuk kemudian disidangkan. Pada kasus ini juga Kadiroen diberikan pilihan untuk melanjutkan karirnya; menjadi patih atau regen, menjadi wedono atau melepaskan diri dari segala jabatan sekaligus priayi dan kembali bersama Partai Komunis sebagai penulis. Tentunya ia menaruh harapan besar melalui Partai Komunis, maka kedua kutipan berikut akan menjelaskan semuanya.

  (39) Oleh karena itu, Kadiroen dengan cepat memutuskan dan memilih: meminta lepas dari pangkat dan jabatan priyayi

  dengan hormat sebab ia mau menjalani perbuatannya sendiri

  yang sesuai dengan cita-cita dan keyakinannya, yang sungguh mulia untuk kepentingan orang banyak (Semaoen, 2000: 176). (40) Ia bisa menuntut cita-citanya bahwa tanah airnya akan merdeka, berdiri sendiri seperti bangsa lainnya, sehingga bangsanya akan bisa dipandang sama dan sederajat dengan bangsa lain (Semaoen, 2000: 176). Jadi, jalan untuk menempuh kemerdekaan sesuai yang diharapkan PKI tidaklah mudah. Faktor penguasa dan kaum bermodal adalah penghambatnya.

  Rakyat yang menderita dan butuh perlindungan hukum, oleh penguasa justru tidak diperhatikan. Mereka justru menjadi alat oleh kaum bermodal untuk melindungi aset-aset yang diperlukan. Dalam hal ini, kekuasaan telah dipelintir oleh pemerintah kolonial Belanda bersama pemilik modal untuk kepentingan mereka sendiri.

4.4 Rangkuman Dalam gagasan terkandung tahapan tindakan, interaksi dan kreasi.

  Ketiga tahapan tersebut digunakan untuk mencapai suatu bentuk realisasi. Kadiroen melewati tahapan-tahapan tersebut untuk kemudian sampai pada bentuk gagasan bangsa yang merdeka. Pengalamannya bersama asisten wedono telah membuatnya tahu bagaimana seharusnya menangani rakyat. Tentunya hal itu adalah permulaan belaka, karena karir Kadiroen yang terus bersinar. Di mata pemerintah, Kadiroen adalah sosok yang pintar dan cerdas.

  Dengan bersinarnya karir Kadiroen, tentu ia juga harus lebih pintar menghadapi rakyat juga bawahannya. Sosok Kadiroen yang bekerja keras diperlihatkannya dengan tidak memperhatikan kepentingannya sendiri. Kisah asmaranya pun ia kubur dalam-dalam. Sisi kesehatan akhirnya menjadi tumbal dalam pekerjaan Kadiroen. Kesemuanya itu dilakukannya hanya untuk kepentingan rakyat semata. Ia menyadari bahwa ia memperoleh karunia Tuhan untuk menolong orang lain. Dengan kecerdasan dan semangatnya itu, ia menjalankan tugas tersebut.

  Apa yang dilakukan Kadiroen tentu tidak berjalan dengan mulus. Permasalahan kemiskinan rakyatnya tidak kunjung mereda. Segala upaya telah dilakukan Kadiroen; memberikan nasihat-nasihat, membuat voorstel-

  

voorstel hingga menyamar ia lakukan. Hasil dari kerja keras Kadiroen tidak

membuahkan hasil; rakyat tetap dalam jalur kemiskinan.

  Partai Komunis hadir dengan memberi nuansa baru dalam kehidupan rakyat Hindia. Sebagai pembangun kesadaran baru, ia mengajarkan agar rakyat pintar, kuat dan berkuasa karena zaman sudah maju. Ajaran itu pun dimaksudkan agar rakyat bisa bebas dari jeratan kemiskinan dan merdeka lahir batin. Hal inilah yang membuat Kadiroen tertarik untuk bergabung bersama Partai Komunis sebagai penulis lepas pada surat kabar Sinar Ra’jat dengan nama samaran Pentjari. Ia menjadi sadar bahwa selama ini, ia tidak mendidik rakyat. Rakyat hanya ”dipaksa untuk menjalankan perintah penguasa” karena rakyat tidak mengerti segala sesuatunya. Kadiroen juga sadar bahwa selama ini usahanya sia-sia karena dibalik kemiskinan rakyat, ada kepentingan pemilik modal yang dengan serakah hanya untuk mencari keuntungan dari produksi yang dikerjakan.

  Untuk mencapai arah tersebut, tentu harus mengalahkan penguasa dan pemilik modal. Penguasa yang seharusnya melindungi rakyat, menjadi penghambat karena ketidakberpihakkan mereka. Bersama dengan pemilik modal, para penguasa hanya menjadikan rakyat sebagai pekerja sekaligus konsumen dari barang-barang yang dihasilkan.

  Perjalanan Kadiroen sebagai penulis lepas membawanya pada kasus

  

presdelict . Bersamaan dengan terbongkarnya siapa Pentjari itu, Kadiroen

  dihadapkan pada pilihan untuk bekerja sebagai pejabat pemerintah atau tetap bergabung besama Partai Komunis. Kenyataan-kenyataan bahwa rakyat harus merdeka akhirnya mengantarkan ia keluar dari jabatannya untuk kemudian secara penuh masuk dalam Partai Komunis.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

  Mulai masuknya modal-modal swasta di tanah Hindia membuka lembaran baru dalam gerakan di Indonesia. Dari situ kemudian muncul istilah perburuhan. Istilah tersebut merupakan representasi dari rakyat Hindia yang miskin. Adalah buruh-buruh imigran yang kemudian mengenalkan kepada buruh bumiputra untuk bersatu dalam wadah organisasi yang setidaknya bertujuan sedikit memperbaiki kehidupan mereka. Bersamaan dengan itu, muncul pula sistem politik etis yang dibuat oleh pemerintah kolonial. Mau tidak mau harus diakui, masuknya politik etis ini membuka pintu pengetahuan rakyat Hindia dalam bidang pendidikan. Kedua faktor tersebut akhirnya saling melengkapi dengan munculnya pergerakan di Indonesia dengan media massa sebagai salah satu alat perjuangannya.

  Semaoen juga dibesarkan pada masa ini. Bakat kepintarannya dan perkenalannya dengan ajaran sosialis komunis oleh Sneevliet menjadikannya besar dikemudian hari. Hal serupa yang juga diterima oleh tokoh Kadiroen. Rupa-rupanya, bukanlah suatu kebetulan Semaoen menciptakan karakter Kadiroen. Berdasarkan hal tersebut maka novel ini bisa dikatakan sebagai bentuk penceritaan ulang kisah Semaoen melalui tokoh Kadiroen.

  Kadiroen digambarkan sebagai tokoh yang sempurna oleh Semaoen. Menerima bakat dari Tuhan untuk digunakan pada rakyat. Untuk itu, ia duduk dalam sistem birokrasi pemerintah Belanda. Pengalamannya untuk menangani rakyat semakin terolah karena Kadiroen tidak segan-segan untuk terjun langsung dalam masyarakat. Kadiroen bukanlah seperti penguasa pada umumnya yang memerintah dengan tangan besi, sebaliknya ia dengan rela menggunakan waktunya untuk rakyat agar hidup berkecukupan sehingga terciptanya ketentraman. Berbekal rasa tanggung jawab yang besar dan bakatnya dalam menganalisis suatu perkara, ia menjalankan pekerjaannya dengan ikhlas. Tentu semuanya ia lakukan untuk rakyat. Wataknya yang berani dan tidak ragu untuk mengambil keputusan membuatnya dengan mudah sampai ke jenjang karier tertinggi dalam hidupnya.

  Berbekal kepribadian yang tangguh tersebut tidak serta merta membuat pendiriannya tangguh. Apa yang dilakukan Kadiroen selalu berbenturan dengan kenyataan di masyarakat. Ia tidak mendapati perubahan yang berarti dalam masyarakatnya. Hingga tibalah rapat umum terbuka tentang Partai Komunis yang menjadi buah bibir di masyarakat. Adalah tokoh Tjitro yang kemudian mempunyai andil dalam pembuka kesadaran tokoh Kadiroen. Kepandaian dan kecerdasan Tjitro memang menggambarkan bahwa Tjitro adalah seorang yang pintar dalam bertutur kata. Inilah yang menjadi pengantar Kadiroen terhadap gerakan PK; Kadiroen terpikat dengan apa yang diutarakan Tjitro tentang PK. Sama halnya seperti yang dialami oleh Semaoen yang bertemu dengan Sneevliet sehingga memantapkan dirinya menjadi ketua Partai Komunis Indonesia.

  Sebagai tindak lanjut rapat tersebut, Kadiroen ingin mengabdikan dirinya dengan menyumbang suara lewat tulisan di media massa. Walaupun pada awalnya ia memilih jalan tengah sebagai anggota tidak tetap PK sekaligus menjabat sebagai wakil patih, namun sikap itu luntur dengan sendirinya. Selanjutnya, atas kesadaran bahwa rakyat Hindia bisa lepas, pintar dan kuat untuk bisa merdeka lahir batin maka Kadiroen secara total terjun dalam dunia gerakan bersama surat kabar Sinar Ra’jat sebagai wartawan.

  Perubahan besar tokoh Kadiroen dalam mengambil keputusan ini kemudian yang mengantarkan kita kepada gagasan Semaoen tentang PKI dalam novel Hikayat Kadiroen. Berdasarkan analisis tokoh dan penokohan tokoh Kadiroen dan Tjitro, penulis mendapati bahwa gagasan tersebut terdiri dari gagasan Semaoen tentang PKI sebagai pembangun kesadaran baru dan faktor penghambat cita-cita bangsa yang merdeka dari sudut pandang PKI.

  Gagasan merupakan sebuah proses menuju bentuk realisasi. Tidak dipungkiri, segala bentuk pergerakan pada umumnya bersepakat dengan Indonesia yang merdeka. Namun yang membedakan adalah cara untuk memperoleh kemerdekaan itu. Semaoen dalam hal ini mencita-citakan bangsanya untuk merdeka dengan sosialisme komunis sebagai jalannya. Tidak heran, novel ini pun juga termasuk bentuk ajakan kepada rakyat Hindia untuk bergabung bersama partai komunis. Sebagai ilmu baru, komunis berusaha menyadarkan rakyat yang telah diperlakukan secara semena-mena oleh pemerintah kolonial Belanda. Hal itu terpampang dalam novel saat Kadiroen menyaksikan vergadering Partai Komunis (PK) oleh Tjitro. Digambarkan bagaimana Kadiroen yang notabene adalah seorang pejabat pemerintahan- patih, tertarik untuk bergabung bersama PK karena ia tersadar bahwa cara yang dilakukan untuk menangani rakyat keliru. Selama ia menjabat, ia tidak pernah untuk mendidik rakyat supaya menjadi pintar, kuat dan berkuasa.

  Kadiroen pun lebih memilih untuk menjadi wartawan dan melepaskan jabatannya.

  Selama menjabat, tidak pernah terpikirkan oleh Kadiroen bahwa segala sesuatunya untuk bisa keluar dari penjajahan, akan terbentur oleh kekuasaan kolonial itu sendiri. Pemerintah dengan kekuasaannya akan berupaya mempertahankan status daerah koloninya agar tidak terusik oleh siapa pun.

  Kadiroen tidak mengikuti pendahulu-pendahulunya dalam memerintah rakyat. Ia menganggap rakyat adalah saudaranya sendiri. Namun, bayang-bayang ketakutan rakyat untuk melapor tetap saja dirasakan Kadiroen. Belum lagi ditambah para pejabat sewaktu menjadi bawahan Kadiroen yang tidak ikhlas dalam menjalankan pekerjaannya. Tampak di sini penguasa yang seharusnya melindungi rakyat, justru berbalik konsep sebagai penguasa yang ditakuti rakyat. Itulah yang coba dikalahkan oleh Kadiroen.

  Selain faktor kekuasaan, adalah kepentingan kaum bermodal sendiri yang dinyatakan dalam novel ini sebagai penghambat cita-cita bangsa yang merdeka. Dalam analisisnya, Kadiroen membuat aturan agar bisa diluluskan atasannya. Hal itu terkait saluran irigasi persawahan yang dinilai merugikan rakyat dan menguntungkan pemilik ladang tebu. Aturan tersebut tidak diluluskan oleh atasan Kadiroen yang menganggap akan merugikan rakyat sendiri.

  Dalam vergaderingnya, PK menganggap bahwa pemilik modallah yang telah menyengsarakan rakyat. Pemerintah juga memihak kepada meraka sehingga rakyat tidak ada yang membela.untuk itulah PK sebenarnya hadir dalam nuansa pergerakan nasional; guna membela rakyatnya yang tertindas oleh bentuk-bentuk penguasaan asing beserta jajaran kepemerintahan yang melindunginya.

5.2 Saran

  Penulis menyadari masih banyak yang bisa dipelajari dari novel Hikayat Kadiroen dan dapat digunakan sebagai bahan penelitian selanjutnya.

  Novel yang tergolong novel politik ini oleh Balai Pustaka tidak dianggap sama sekali. Oleh karena itu, akan sangat menarik jika penelitian selanjutnya mengaitkan antara novel Hikayat Kadiroen dengan Balai Pustaka sebagai badan sensor milik Belanda. Pengkajian tersebut tentu akan menghasilkan suatu tinjauan politis yang menarik.

DAFTAR PUSTAKA

  Kurniawan. 2000. Hikayat Kadiroen: Borjuisme, Komunisme dan Sekeping Romansa Cengeng. http:/ /www.detik.com. Leirissa, R.Z. 1985. Terwujudnya Suatu Gagasan Sejarah Masyarakat Indonesia 1900-19950. Jakarta: CV. Akademika Pressindo. Moehkardi. 1971. “Umur 14 tahun alm. Dr. Semaun Sudah Anggota Sarekat Indonesia”. Intisari, No. 0, Vol. VIII-99, hlm. 33-41. Muljana, Slamet. 1986. Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan 2. Jakarta: Inti Idayu Press. Nagazumi, Akira. 1989. Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908- 1918. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Noer, Deliar. 1980. Gerakan modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES. Nurgiantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

  Cahyono, Edi. 2003. Zaman Bergerak di Hindia Belanda: Mosaik Bacaan Kaoem Pergerakan Tempoe Doeloe. Jakarta: Yayasan Pancur Siwah. Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Gie, Soe Hok. 1990. Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang 1917-1920. Jakarta: Frantz Fanon Foundation. Kartodirjo, Sartono, dkk. 1977. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka.

  • . 1993. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional- Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme Jilid. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

  Ratna, Nyoman Kutha. 2005. Sastra dan Culural Studies. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Razif. 2008. Bacaan Liar: Budaya dan Politik pada Zaman Pergerakan. http://members.fortunecity.com/edicahy/

  Semaoen. 2000. Hikayat Kadiroen: Sebuah Novel. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. Semi, Atar. 1989. Kritik Sastra. Bandung: Penerbit Angkasa Bandung. Shiraishi, Takashi. 1997. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat Di Jawa 1912- 1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Soewarsono, 2000. Berbareng Bergerak: Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaoen. Yogyakarta: LKiS. Suwondo, Tirto, Herry Mardianto, Novi S. Kussuji I. 1995. Karya Sastra

  Indonesia di Luar Penerbitan Balai Pustaka. Yogyakarta: Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah.

  Taum, Yoseph Yapi. 1997. Pengantar Teori Sastra. Ende: Nusa Indah. Ubaydillah, A.N. 2002. Memahami Cara Mewujudkan Suatu Gagasan. http://www.e-psikologi.com/dewasa/161202.htm

  Widyamartaya, A. 1990. Seni Menuangkan Gagasan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Penerbit Pustaka. Yuliati, Dewi. 1994. “Semaoen, Serikat Buruh dan Pers Bumiputera Dalam Pergerakan Kemerdekaan (1914-1923)”. Sejarah, No. 0, Vol. -/5 Juli, hlm.

  45-60. http://blog.bukukita.com/users/xuchie/?postId=5508

BIODATA PENULIS

  Dimas Rizky Chrisnanda lahir di Jakarta tanggal 18 Januari 1987. Mencari “kemegaan” berdasarkan perhitungan Jawa. Merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Memimpikan dunia adil dan sejahtera, tanpa pertikaian. Berkeinginan untuk menjadi seorang wirausahawan, agar menciptakan lapangan pekerjaan baru- agar tidak bergantung pada negara kata seorang teman.

  Memperoleh pendidikan formal dari TK hingga SMA. Untuk nonformal, dilakukan sambil bermain, bercanda, berkumpul dan berdiskusi. Saat ini berupaya optimal lulus jenjang Strata 1 karena tidak sabar menatap apa yang terjadi esok hari.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Konflik sosial tokoh maryam dalam novel Maryam karya Okky Madasari: kajian sosiologi sastra.
5
46
143
Citra pendidikan tokoh utama dalam novel Sali Kisah Seorang Wanita Suku Dani karya Dewi Linggasari dan novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf kajian sosiologi sastra
0
2
258
Nilai feminisme dan pendidikan novel amoi gadis yang menggapai impian karya mya ye: kajian sosiologi sastra Cover
0
0
15
Analisis tokoh mika dalam novel Kapak karya Dewi Linggasari menurut perspektif arketipe Carl Gustav Jung : sebuah kajian psikologi sastra - USD Repository
0
0
76
Tradisi ngayau dalam masyarakat dayak : kajian sastra dan folklor - USD Repository
0
1
114
Pengabdian tokoh kuntara terhadap keluarga dalam novel saksi mata karya Suparto Brata : suatu tinjauan sosiologi sastra - USD Repository
0
0
96
Pandangan-pandangan peran tokoh protagonis perempuan tentang poligami dalam skenario film Berbagi suami karya Nia Dinata : tinjauan sosiologi sastra - USD Repository
0
0
188
Pemikiran kiri dalam novel jejak sang pembangkang karya Frigidanto Agung : tinjauan sosiologi sastra - USD Repository
0
0
155
Sikap pengabdian Yunus terhadap masyarakat dan Tuhan dalam novel Pohon-pohon Sesawi karya Y.B. Mangunwijaya : analisis sosiologi sastra - USD Repository
0
0
90
Citra wanita Bali dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini : tinjauan sosiologi sastra - USD Repository
0
0
82
Kecemasan tokoh Suyono dalam novel sedimen senja karya S.N. Ratmana pendekatan psikologi sastra - USD Repository
0
0
90
Pandangan tokoh-tokoh protagonis dan antagonis terhadap aborsi dalam novel aborsi karya Idayu Kristanti tinjauan sosiologi sastra - USD Repository
0
0
119
Motivasi perpindahan kasta Krahmana-Sudra dalam novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini : tinjauan sosiologi sastra - USD Repository
0
0
129
Citra perempuan dalam novel Sali : kisah seorang wanita suku Dani karya Dwi Linggasari tinjauan sosiologi sastra - USD Repository
0
0
108
Ketidakadilan gender dan sikap perempuan dalam novel Bibir Merah karya Achmad Munif : suatu tinjauan sastra feminis - USD Repository
0
0
97
Show more