Studi deskriptif sikap mahasiswa semester IX program studi bimbingan dan konseling fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2007/2008 terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah - USD Repository

Gratis

0
0
84
5 months ago
Preview
Full text

  STUDI DESKRIPTIF SIKAP MAHASISWA SEMESTER IX PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA TAHUN AKADEMIK 2007/2008

  TERHADAP PEKERJAAN SEBAGAI KONSELOR SEKOLAH Skripsi

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Bimbingan dan Konseling

  

oleh :

  Bangun Parikesit NIM : 021114009

  PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2008 i ii

iii

iv

  

Non Scholae Sed Vitae Discimus

Mengabdi pada Tuhan dan Sesama

maka yang lain akan ditambahkan

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  v

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana selayaknya karya ilmiah.

  ABSTRAK STUDI DESKRIPTIF SIKAP MAHASISWA SEMESTER IX PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA TAHUN AKADEMIK 2007/2008

  TERHADAP PEKERJAAN SEBAGAI KONSELOR SEKOLAH Bangun Parikesit

  UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2008 Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran sikap mahasiswa semester

  IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun ajaran 2007/2008 terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  Jenis penelitian ini adalah penelitian deskripsi dengan metode survei. Peneliti mengungkap sikap terhadap pekerjaan konselor sekolah dengan menggunakan skala sikap dengan skala Likert yang terdiri atas 5 skala. Pengertian sikap didefinisikan sebagai respon global berupa reaksi afeksi, kognisi dan konasi terhadap suatu objek sikap. Obyek sikap pekerjaan sebagai konselor sekolah, yaitu : (1) Sebagai tenaga pendidik yang membantu siswa/helping profesion berupa psiko-pedagogis dalam bidang akademik, pribadi, sosial, dan karir (2) Menyelenggarakan Layanan Bimbingan (3) Menyelenggarakan Layanan Konseling. Subyek penelitian terdiri dari 42 mahasiswa dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2007/2008 semester IX (angkatan 2003). Pengambilan data dilakukan pada tanggal 15-20 Oktober 2007. Sikap mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling dibagi menjadi dua sikap yaitu sikap positif dan sikap negatif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah. Sikap ini dilihat dengan mengkategorikan skor yang diperoleh menjadi 3 kategori yaitu : rendah, sedang dan tinggi.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 40 mahasiswa mendapatkan skor dengan kategori tinggi (Skor 122.6-184) dan 2 mahasiswa termasuk mendapatkan sedang (Skor 61.4-122.6). Hal ini berarti bahwa sikap mahasiswa semester IX (angkatan 2003) Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun ajaran 2007/2008 adalah positif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah. vi

  ABSTRACT A DESCRIPTIVE STUDY ON THE ATTITUDE OF THE SEMESTER IX STUDENTS OF GUIDANCE AND COUNSELING DEPARTMENT THE FACULTY OF EDUCATION DAN TEACHER TRAINING SANATA DARMA UNIVERSITY ACADEMIC YEAR 2007/2008

  TOWARD THE PROFESSION AS A SCHOOL COUNSELOR Bangun Parikesit

  UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2008 This research was aimed to get the description attitude of the semester IX students of Guidance and Counseling Department, The Faculty of Keguruan Dan

  

Ilmu Pendidikan Sanata Darma University Academic Year 2007/2008 toward the

profession as a guidance counselor.

  This descriptive research used a survey method. The writer revealed the attitude of the profession as a school counselor using an attitude scale by means of the Likert’s scale which covered five scales. The term “attitude” was defined as global response which contains affection reaction, cognition, and conation toward the attitude objects. The attitude objects of the profession as a school counselor were: (1) to help students as a psycho-pedagogic helping profession in academicals, personals, society, and carrier (2) to organize a guiding service (3) to organize a counseling service. The respondent consisted of 42 semester IX students of the Guidance and Counseling Department, the Faculty of Keguruan

  

dan Ilmu Pendidikan Sanata Dharma University Academic Year 2007/2008. The

th th

  data were collected from October 15 to October 20 , 2007. The attitude of the Guidance and Counseling Department students was divided into two attitudes, which were positive and negative, toward the profession as a school counselor.

  The attitudes were observed by categorizing the scores into three categories namely low, middle, and high.

  The result of the research showed that forty students obtained high score (122.6-184) and two students obtained middle score (61.4-122.6). It can be concluded that the attitude of the semester IX students of Guidance and Counseling Department, The Faculty of Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Sanata Darma University Academic Year 2007/2008 (year 2003 students) were positive toward the profession as a school counselor. vii

  KATA PENGANTAR Puji syukur disampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa berkat restu dan berkatnya sehingga dapat diselesaikannya penulisan skripsi yang berjudul “Sikap

  Mahasiswa Semester IX Program Studi Bimbingan Dan Konseling Universitas Sanata Dharma Tahun Ajaran 2007/2008 Terhadap Pekerjaan Sebagai Konselor Sekolah.”

  Diucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang mendukung dalam penulisan skripsi ini, terlebih kepada :

  1. Ibu Dra. M.J. Retno Priyani M.Si. selaku pembimbing yang tiada henti-hentinya mendukung dan menyemangati penulis dalam penulisan skripsi ini.

  2. Universitas Sanata Dharma secara khusus Program Studi Bimbingan dan Konseling yang telah menyediakan tempat belajar dan penelitian skripsi.

  3. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2003 dan 2004 karena telah bersedia menjadi subyek penelitian dan menjadi subyek dalam uji coba alat penelitian.

  4. Teman-teman mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2002 yang telah berproses bersama diriku

  5. Keluarga besarku : Ibuku yang ada di surga, Bapak, Mbakyu- mbakyu dan mas, yang tiada hentinya menyemangati penulis.

  6. dr. Retno Jayantri Ketaren yang selalu membakar semangat dan daya juang penulis...Ciaoyou... viii

  7. Sahabatku: Eko”Paethol” dan “Bos” Udin yang sangat setia mendampingi penulis dalam penulisan skripsi ini

  8. Sedulur-sedulur ex-Mertoyudan : Eko”Paethol”, Wisnu “Kenthi”, Triar “Kebo”, Agus “Jampes”, Agus “Tessy”, Andry “Koki”, Seta”M-bud”, Lukas”Teda-tedo”, Satriyo”Jii”, Nayaka”Bireng”, Heru“Cagak”, Catur”Bendhot”, Prayogo, dan semua saudara seperjuanganku..keep on fighting bro...

  9. Untuk Vera dan Rossa yang senantiasa menemani dalam perjalananku.

  Penulis ix

  DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN................................................................................... iii MOTTO .................................................................................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN KARYA ............................................ v ABSTRAK ................................................................................................................ vi

  

ABSTRACT ................................................................................................................ vi

  KATA PENGANTAR .............................................................................................. viii DAFTAR ISI............................................................................................................. x DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................. xiii

BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................ 1 A. Latar Belakang Masalah................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 7 C. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 7 D. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 7 E. Batasan Istilah ............................................................................................... 9 BAB II. KAJIAN PUSTAKA ................................................................................... 10 A. Sikap ............................................................................................................. 10

  1. Pengetian Sikap dan Komponen Sikap ..................................................... 10

  2. Ciri-ciri Sikap............................................................................................ 13

  3. Faktor yang mempengaruhi sikap ............................................................ 14 x

  xi

  4. Pengukuran Sikap ..................................................................................... 16

  B. Konselor Sekolah ........................................................................................... 17

  C. Pekerjaan Sebagai Konselor Sekolah ............................................................. 19

  1. Layanan Bimbingan .................................................................................. 20

  2. Layanan Konseling.................................................................................... 22

  D. Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling................................... 22

  E. Sikap Mahasiswa Semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah... 24

  BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ................................................................ 27 A. Jenis Penelitian.............................................................................................. 27 B. Subyek Penelitian.......................................................................................... 28 C. Alat ............................................................................................................... 28 1. Definisi Operasional ............................................................................... 28 2. Struktur/Kisi-kisi..................................................................................... 30 3. Jenis Kuesioner/Skala ............................................................................. 32 4. Penjelasan Format Pernyataan ................................................................ 32 D. Tehnik Pengumpulan Data............................................................................ 34 1. Validitas Isi ............................................................................................. 34 2. Analisis Item ........................................................................................... 34 3. Reliabilitas .............................................................................................. 36 E. Teknik Analisis Data..................................................................................... 37 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ......................................... 40 A. Hasil Penelitian ............................................................................................. 40

  xii 1. Mean Teoritis .......................................................................................... 40 2.

  Mean empiris ( µ )................................................................................... 40 3. Standar deviasi teoritis (σ ) .................................................................... 40 4. Standar deviasi empiris (σ ) ................................................................... 40 B. Pembahasan................................................................................................... 39 C. Hasil dan Pembahasan Tambahan................................................................. 45

  BAB V. PENUTUP................................................................................................... 48 A. Kesimpulan ................................................................................................... 48 B. Saran.............................................................................................................. 48 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 50 LAMPIRAN ............................................................................................................. 51

  DAFTAR LAMPIRAN

  1. Lampiran 1 Angket Uji Coba ............................................................................. 52

  2. Lampiran 2 Tabel Uji Validitas........................................................................... 58

  3. Lampiran 3 Tabel Uji Reliabilitas ...................................................................... 62

  4. Lampiran 4 Angket Penelitian ........................................................................... 66

  5. Lampiran 5 Tabel responden Penelitian ........................................................... 70

  6. Lampiran 6 Tabel Deskripsi Data Statistik ....................................................... 72 xiii

BAB 1 PENDAHULUAN Dalam bab ini dibahas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah, dan metodologi penelitian. A. Latar Belakang Masalah Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma merupakan program Pendidikan Akademik Sarjana Strata Satu (S1) yang

  menghasilkan konselor sekolah. Menurut Buku Pedoman Dasar Standarisasi Profesi Konseling Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) tahun 2004, Program S1 Bimbingan Konseling bertujuan untuk menciptakan sarjana pendidikan (konselor sekolah) yang memiliki kemampuan dasar profesi sesuai dengan Kompetensi Utama Minimal (KUM) di bidang BK. Secara khusus, kemampuan konselor sekolah diorientasikan pada dasar-dasar keilmuan dan teknologi Bimbingan dan Konseling serta pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir individu dalam keterkaitannya dengan arah praktik layanan Bimbingan dan Konseling terutama dalam setting pendidikan.

  Setiap tahun ajaran baru dibuka pendaftaran untuk para lulusan siswa Sekolah Menengah atau sederajat yang ingin/berminat menjadi konselor sekolah dalam setting pendidikan formal. Seperti proses penerimaan mahasiswa pada umumnya, berbagai seleksi diadakan untuk menjaring calon siswa yang memenuhi standar. Seleksi itu dapat berupa standar akademik

  (nilai Ujian Nasional), pilihan jurusan yang ingin dimasuki oleh calon mahasiswa (minat) dan pertimbangan-pertimbangan yang lainnya.

  Sebuah fenomena menarik terlihat ketika dicermati data dari BAPSI USD (Biro Administrasi Perencanaan Sistem Akademik Universitas Sanata Dharma) tentang pilihan jurusan yang dipilih calon mahasiswa Bimbingan dan Konseling tahun akademik 2003. Dari 258 pendaftar, 49 orang diterima sebagai calon mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Dari ke-49 calon mahasiswa tersebut hanya 19 orang yang memilih Program Studi Bimbingan dan Konseling sebagai pilihan pertama. Sedangkan 30 mahasiswa menjadikan Program Studi Bimbingan dan Konseling sebagai pilihan kedua dan ketiga.

  Program Studi Bimbingan dan Konseling tidak dijadikan pilihan pertama dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan secara umum fenomena tersebut dapat diartikan bahwa minat para calon mahasiswa tersebut untuk menjadi mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma adalah kecil/kurang berminat. Meskipun demikian, proses pendidikan sebagai calon konselor sekolah di Program Studi Bimbingan dan Konseling akhirnya tetap dilaksanakan dengan segala minat dan motivasi dari para mahasiswanya. Berbagai proses pendidikan, pelatihan dan praktek dijalani Mahasiswa BK untuk menyiapkan mereka menjadi konselor sekolah yang profesional.

  Fenomena yang terjadi ini sangat menarik untuk dibahas sebab bagaimanapun Program Studi Bimbingan dan Konseling secara de jure menyelenggarakan pendidikan untuk menyiapkan calon konselor sekolah yang handal dan profesional. Akan tetapi secara de facto, latar belakang dari mahasiswa yang mendaftar dan kuliah kebanyakan tidak berminat untuk mendaftar dan menjadi konselor sekolah.

  Situasi dan kondisi ini tentunya akan mempengaruhi berbagai proses pendidikan dalam program studi Bimbingan dan Konseling. Hal ini tentunya didasarkan atas pemikiran bahwa untuk menghasilkan seorang konselor sekolah yang handal dan profesional hendaknya didasarkan atas minat dan kecintaan terhadap pekerjaan yang akan digelutinya sedangkan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling kebanyakan bukan atas minatnya sendiri. Selain itu perlu digaris-bawahi bahwa profesi konselor sekolah adalah profesi helping profession yang memfokuskan diri pada bantuan psikologis pedagogis bagi siswa agar berkembang secara utuh dan optimal. Sebagai pekerjaan yang bersifat membantu, pekerjaan konselor sekolah akan lebih optimal apabila didasarkan atas minat dan kecintaan terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah itu sendiri (Winkel, 1997).

  Situasi dan kondisi tersebut di atas apabila dibiarkan tanpa ada tidak lanjut secara khusus dari pihak Program Studi Bimbingan dan Konseling akan menjadikan ancaman dalam menghasilkan calon-calon konselor sekolah yang profesional. Maka dari itu berbagai proses pendidikan untuk menghasilkan calon konselor yang profesional dilaksanakan dengan profesional pula yaitu dengan dibekalinya mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling mengenai Psikologi dan Bimbingan dan Konseling sebagai konsep dasar atas tugas, tanggung jawab, dan keterampilan yang harus dimiliki sebagai konselor sekolah. Proses pendidikan dan pelatihan mahasiswa BK tidak berhenti pada teori akan tetapi ditindak lanjuti dengan adanya program Program Lapangan Bimbingan dan Konseling (PLBK) I dan II. Semua pembelajaran dan pengalaman praktek ini dimaksudkan agar mahasiswa semakin memperluas dan memperdalam pemahaman tentang profesi konselor sekolah yang akan digelutinya setelah menyelesaikan studinya.

  Setelah melihat berbagai proses pendidikan tersebut diatas, tentunya muncul sebuah pertanyaan ”Apakah segala proses tersebut cukup untuk mengubah minat mahasiswa terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah?”. Pertanyaan ini muncul karena proses pendidikan tersebut di atas juga memiliki ancaman yaitu pendidikan yang hanya menekankan aspek kognisi (pikiran) dan mengabaikan aspek perasaan (afeksi) dan kehendak (konasi) dalam diri mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling. Peran afeksi dan konasi juga memiliki peranan yang penting dalam menumbuhkan minat terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah. Afeksi yang positif, yaitu : senang, tertarik, dan mendukung secara otomatis akan membuat mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling memiliki kecintaan terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah sehingga afeksi yang positif akan membuat mahasiswa memiliki kehendak yang kuat untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai konselor sekolah yang profesional. Maka dari itu sangat perlu untuk melihat aspek kognisi, afeksi dan konasi dari mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling terhadap pekerjaaan sebagai konselor sekolah. Pembahasan mengenai keadaan kognisi, afeksi dan konasi seseorang terhadap suatu obyek/hal tertentu oleh Berkowitz (Azwar, 1997:4-5) disingkat menjadi pembahasan tentang sikap. Sikap diartikan sebagai respon global reaksi afektif, kognitif dan konatif terhadap suatu obyek. Dengan kata lain pembahasan sikap mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  Pembahasan sikap mahasiswa terhadap pekerjaan terhadap konselor sekolah sangat perlu untuk dilakukan dikarenakan pembahasan ini akan memaparkan sikap (keadaan kognisi, afeksi dan konasi) mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  Peneliti memfokuskan penelitian terhadap sikap mahasiswa terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah dikarenakan sikap merupakan unsur penting bagi seorang (calon) konselor sekolah. Dengan meneliti sikap terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah, dapat diketahui reaksi perasaan, pikiran dan perilaku mahasiswa BK terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah dan terhadap tugas-tugas konselor sekolah itu sendiri. Hasil sikap tersebut mungkin menunjukkan sikap positif atau negatif dari masing-masing mahasiswa BK. Perasaan senang terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah dimiliki mahasiswa BK yang bersikap positif. Sedangkan perasaan tidak senang terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah dimiliki mahasiswa yang bersikap negatif. Hal ini didasarkan atas pengertian sikap sebagai sebuah reaksi perasaan (afeksi) seseorang terhadap suatu objek di mana dengan reaksi afeksi tersebut akan berpengaruh pada pikiran (kognisi) dan kehendak/perilaku (konasi) terhadap objek tersebut. Berkowitz (Azwar, 1997:4-5).

  Mahasiswa semester VII Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma dipilih menjadi subyek penelitian dikarenakan mereka telah mengikuti perkuliahan dan PLBK I dan II sehingga mereka diasumsikan telah memahami dan mampu menjalankan peran, tugas dan tanggung jawab sebagai konselor sekolah dibandingkan dengan mahasiswa semester di bawahnya.

  B.

Rumusan Masalah

  Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat sikap mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma semester IX terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  Secara spesifik masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut: Bagaimana sikap mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling

  Universitas Sanata Dharma semester IX terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah ? C.

Tujuan Penelitian

  Berdasarkan rumusan masalah utama yang telah diuraikan di atas, maka tujuan utama yang hendak dikaji dalam penelitian ini, adalah mendeskripsikan sikap mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah D.

Manfaat Penelitian

  Beberapa manfaat yang diharapkan dari penelitian ini, adalah :

  1. Manfaat Teoritis : Hasil penelitian bisa sebagai bahan masukan mengenai sikap mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  2. Manfaat Praktis : a.

  Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma dapat memperoleh informasi mengenai sikap mahasiswa terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah. Dengan memperoleh informasi yang obyektif dapat dipikirkan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan sikap yang positif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  b.

  Peneliti mengetahui sikap mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang sebenarnya terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  c.

Hasil penelitian akan bermanfaat bagi peneliti untuk mengetahui sikap terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah yang

  berkembang di kalangan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Hal ini penting bagi peneliti karena selama ini peneliti melihat kebanyakan mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma kurang berminat menjadi konselor sekolah (Kebanyakan memilih Program Studi Bimbingan dan Konseling sebagai pilihan selain pilihan pertama).

  d.

  Peneliti sendiri bermaksud menjadikan penelitian dan hasilnya untuk memantapkan pilihan karir peneliti sebagai konselor sekolah kelak.

  E.

  Batasan Operasional 1.

  Sikap didefinisikan sebagai respon global berupa reaksi afeksi, kognisi dan konasi terhadap suatu objek sikap.

  2. Konselor Sekolah adalah orang yang bekerja dalam lingkungan sekolah, yang menerima tanggungjawab untuk menolong semua murid dari dalam sekolah itu dan perhatian utamanya terarah pada perkembangan, kebutuhan-kebutuhan dan problem dari anak sekolah

  3. Konselor sekolah memiliki tugas yang salah satunya untuk memberikan layanan bimbingan langsung kepada murid yang meliputi : layanan bimbingan dan layanan konseling.

  BAB II KAJIAN PUSTAKA Kajian pustaka akan menguraikan tentang pengertian sikap, konselor sekolah, pekerjaan sebagai konselor sekolah, Mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Univesitas Sanata Dharma, pengertian sikap dan sikap mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  A.

Sikap

  1. Pengertian dan Komponen Sikap Menurut Berkowist (Azwar,1997: 4-5) sikap manusia atau singkatnya sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap orang terhadap suatu obyek adalah perasaan mendukung dan memihak (favourable) atau perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavourable). Thurstone (Bimo Walgito, 1994:109) memandang sikap sebagai suatu tingkatan afeksi positif atau negatif yang berhubungan dengan beberapa obyek psikologis.

  Afeksi yang positif yaitu afeksi senang, sedangkan afeksi yang negatif adalah afeksi yang tidak senang. Dengan demikian obyek dapat menimbulkan berbagai macam tingkatan afeksi pada seseorang. Thurstone (Bimo Walgito 1994:109) melihat sikap sebagai tingkatan afeksi saja, belum dikaitkan antara sikap dengan perilaku.

  Azwar (1997:5) mengutip pendapat beberapa ahli antara lain : Chave (1928), Bogardus (1931), La Pieree (1934) dan Gordon Allport (1935) yang melihat sikap sebagai kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek dengan cara tertentu. Kesiapan yang dimaksud merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon. Second & Backam (Azwar,1997:5) mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya.

  Menurut Newcomb (Walgito 1994:110) sikap dipandang dari sudut kognisi dan motivasi. Dari sudut pandang kognisi, sikap dianggap sebagai organisasi kognisi. Dari sudut pandang motivasi sikap dianggap sebagai kesiapan untuk membangun motif. Bimo Walgito (1994:110) juga mengambil pendapat Baron dan Byrne yang menyatakan sikap sebagai kelompok perasaan-perasaan, kepercayaan-kepercayaan dan arah tendensi tingkah laku menuju spesifikasi orang-orang, ide-ide, obyek-obyek, atau kelompok- kelompok. Sikap menjadi perantara antara responnya dan obyek yang bersangkutan. Respon diklasifikasikan dalam tiga macam, yaitu kognitif, respon afeksi, serta respon perilaku atau konatif. Masing-masing klasifikasi respon ini berhubungan dengan ketiga komponen sikap (Azwar, 1997 : 8)

  Tiga komponen yang membentuk sikap, yaitu ;

  a) Komponen kognitif (konseptual), yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsikan obyek sikap.

  b) Komponen afektif (emosional), yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap suatu obyek sikap.

  Rasa senang merupakan hal positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif. Komponen ini menunjukkan arah sikap, yaitu positif atau negatif.

  c) Komponen konatif (perilaku), yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap obyek sikap. Komponen ini menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap obyek sikap (Bimo Walgito, 1994 : 111).

  Walgito (1994: 113-115) berpendapat sikap memiliki ciri-ciri antara lain: a)

  Sikap tidak dibawa dari lahir Manusia pada waktu dilahirkan belum membawa sikap-sikap terhadap suatu obyek karena sikap tidak dibawa sejak individu dilahirkan, melainkan terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan; sikap terbentuk atau dibentuk oleh lingkungan. sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam hubungannya dengan obyek-obyek tertentu, yaitu melalui persepsi terhadap obyek tertentu. Hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan obyek tertentu akan menimbulkan sikap tertentu dari individu terhadap obyek yang bersangkutan.

  c) Sikap dapat tertuju pada suatu obyek saja, tetapi juga dapat tertuju pada sekumpulan obyek

  Bila seseorang mempunyai sikap negatif pada seseorang, ia juga akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan sikap yang negatif pada kelompok yang dimasuki oleh orang yang bersangkutan. Di sini terlihat adanya kecenderungan untuk menggeneralisasikan obyek sikap.

  d) Sikap dapat berlangsung lama atau sebentar Kalau sikap telah terbentuk, sikap itu akan relatif bertahan lama.

  Sikap tersebut akan sulit berubah, dan kalaupun berubah akan memakan waktu yang lama. Demikian pula sebaliknya, apabila sikap belum terlalu mendalam dalam diri seseorang, maka sikap tersebut akan relatif tidak tahan lama dan akan mudah berubah.

  e)

Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi

  Sikap terhadap suatu obyek tertentu akan selalu diikuti oleh perasaan tertentu yang dapat bersifat positif (yang menyenangkan), tetapi juga dapat bersifat negatif (yang tidak menyenangkan) terhadap obyek tersebut. Di samping itu, sikap juga mengandung motivasi, artinya sikap itu mempunyai daya dorong bagi individu untuk berperilaku tertentu terhadap obyek .

  3. Faktor yang mempengaruhi sikap Azwar (11997, 30) berpendapat sikap terbentuk dari adanya interaksi yang dialami oleh individu. Interaksi mengandung arti lebih daripada sekedar adanya kontak dan hubungan antar individu sebagai anggota suatu kelompok. Dalam interaksi tersebut terjadi hubungan yang saling mempengaruhi di antara individu yang satu dengan yang lain lalu terjadi hubungan timbal balik yang turut mempengaruhi pola perilaku masing-masing individu. Dalam interaksi, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap objek psikologisnya. Faktor- faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap antara lain : a.

Pengalaman Pribadi

  Apa yang telah dan sedang dialami oleh seseorang akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayaran seseorang terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan dijadikan salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologis harus dimiliki oleh seseorang. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat.

  b.

  Pengaruh Orang Lain yang Dianggap Penting

  Orang lain di sekitar individu merupakan salah satu di antara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap individu tersebut.

  Seseorang yang dianggap penting, sesorang yang diharapkan persetujuannya bagi setiap gerak dan langkah individu tersebut, seseorang yang tidak ingin dikecewakan atau seseorang yang berarti khusus bagi individu tersebut (significant others) akan banyak mempengarui pembentukan sikap individu terhadap sesuatu. Pada umumnya individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting.

  Menurut Azwar (1997: 90-95) sikap dapat diukur melalui beberapa cara, yaitu : a.

  Observasi langsung.

  Observasi langsung adalah pengukuran yang menggunakan metode observasi perilaku. Objek pengamatan terfokus pada perilaku yang nampak dari seseorang baik itu tidak disengaja tau disengaja. Dengan mengamati perilaku yang nampak dapat diketahui sikap orang tersebut terhadap suatu obyek.

  b.

  Penanyaan langsung.

  Penanyaan langsung dapat dipakai sebagai cara untuk mengetahui sikap seseorang terhadap obyek yang sedang dihadapinya. Asumsi yang mendasari metode penanyaan langsung untuk mengungkap sikap karena individu merupakan orang yang paling tahu mengenai dirinya sendiri sehingga dengan keterusterangan orang akan mengemukakan secara terbuka apa yang dirasakannya.

  c. Pengungkapan langsung.

  Sikap juga dapat diukur dengan pengungkapan langsung secara tertulis oleh orang tersebut. Pengungkapan langsung dengan pernyataan tertulis biasanya responden diberi alternatif jawaban dengan memilih alternatif setuju atau tidak setuju.

  d. Pengukuran terselubung Pengukuran terselubung adalah pengukuran yang tetap menggunakan metode observasi perilaku. Perbedaan pengukuran terselubung dengan observasi langsung terletak pada objek pengamatan yaitu bukan lagi pada perilaku yang tampak yang disadari atau disengaja oleh seseorang melainkan reaksi-reaksi fisiologis yang terjadi di luar kendali orang yang bersangkutan.

  B.

Konselor Sekolah

  Menurut Undang-undang Republik Indonesia mengenai guru dan dosen (Nomor 14 tahun 2005 pasal 1), konselor sekolah merupakan salah satu tenaga pendidik/Guru yaitu pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah Secara khusus, Sukardi (1983 : 52) mengatakan bahwa konselor sekolah adalah tenaga profesional yang mendapat pendidikan khusus bimbingan dan konseling, secara ideal berijazah sarjana dari FIP-IKIP Program Studi Bimbingan Dan Konseling. Tenaga ini disebut ”Full Time

  

Guidance And Counselor” , karena seluruh waktu dan perhatiannya dicurahkan

  pada pelayanan bimbingan dan karena dialah menjadi penyuluh utama di sekolah. Konselor sekolah adalah seorang tenaga professional yang memperoleh pendidikan khusus di perguruan tinggi dan mencurahkan seluruh waktunya pada pelayanan bimbingan (Winkel, 1997 : 184).

  Prayitno (1998:99) mengatakan bahwa konselor sekolah adalah anggota staf yang bekerja secara professional dengan administrator, dan personel penunjang lainnya serta orang tua untuk memungkinkan perkembangan siswa secara total. Partowisastro (1985:53) mendefinisikan konselor sekolah sebagai orang yang bekerja dalam lingkungan sekolah, yang menerima tanggungjawab untuk menolong semua murid dari dalam sekolah itu dan perhatian utamanya terarah pada perkembangan, kebutuhan-kebutuhan dan problem-problem dari anak sekolah.

  Konselor sekolah menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling, sebagai salah satu sub-bidang dari bidang pembinaan siswa sehingga layanan ini memiliki fungsi yang khas bila dibandingkan dengan subbidang yang lainnya. Fungsi yang khas tersebut bersumber pada corak pelayanan bimbingan yang bersifat psikis atau psikologis. Tujuan pelayanan bimbingan ialah supaya sesama manusia mampu mengatur kehidupan sendiri, menjamin perkembangan dirinya sendiri se-optimal mungkin, memikul tanggung jawab sepenuhnya atas arah hidupnya sendiri, serta menggunakan kebebasannya sebagai manusia dewasa dengan berpedoman pada cita-cita yang mewujudkan semua potesi yang baik padanya.(Winkel, 1997, hal 97)

  Menurut Schmidt (dalam Winkel, 1997) alasan pokok di sekolah terdapat konselor sekolah adalah mendampingi siswa agar berkembang menjadi orang yang lebih mampu dan lebih manusiawi. Pekerjaan sebagai konselor sekolah termasuk apa yang disebut Helping Profesion. Secara tegas oleh Winkel (1997) dinyatakan bahwa profesi ini memfokuskan diri pada bantuan psiko-pedagogis kepada siswa agar berkembang secara mandiri dalam bidang karir, personal, sosial dan belajar.

  Segala penjabaran mengenai profil konselor sekolah di atas memungkinkan ditarik suatu benang merah bahwa konselor sekolah adalah salah satu tenaga pendidik yang memfokuskan pada pengembangan siswa agar berkembang secara mandiri dalam bidang karir, pribadi, sosial dan belajar.

  Tenaga pendidik ini memberikan bantuan kepada siswa berupa layanan psiko pedagogis yang tersusun dalam program bimbingan. C.

  Pekerjaan sebagai Konselor Sekolah Winkel (1997) berpendapat konselor sekolah bekerja dalam lingkup dunia pendidikan formal dengan mengadakan sejumlah kegiatan layanan bimbingan dan layanan konseling. Seluruh kegiatan layanan bimbingan diselenggarakan dalam rangka program bimbingan (guidance program) yaitu suatu rangkaian kegiatan layanan bimbingan yang terencana , terorganisasi, dan terkoordinasi selama periode tertentu, misal : satu tahun ajaran. Layanan konseling diselenggarakan menyesuaikan dengan kebutuhan/permasalahan dari siswa.

  Menurut Winkel (1997), tugas konselor sekolah adalah menyelenggarakan layanan bimbingan kepada siswa. Layanan bimbingan adalah bantuan yang diberikan langsung kepada siswa. Layanan bimbingan dapat dibagi atas beberapa jenis bimbingan. Terdapat tiga jenis bimbingan yaitu berdasarkan : a.

  Bentuk bimbingan : menunjuk pada jumlah siswa yang diberi layanan bimbingan. Bentuk bimbingan terbagi atas bimbingan individual atau bimbingan perseorangan bilamana perseorangan bila jumlahnya hanya satu siswa. Akan tetapi apabila jumlah siswa yang dilayani lebih dari satu maka disebut bimbingan kelompok/klasikal/kelas.

  b.

  Sifat Bimbingan menunjuk pada tujuan yang ingin dicapai dalam pelayanan bimbingan. Sifat bimbingan terdiri atas lima sifat yaitu :

  1) Bimbingan Developmental/Perserveratif

  Tujuan bimbingan ini adalah agar siswa supaya perkembangannya berkembang secara optimal.

  2) Bimbingan Pencegahan/Preventif

  Suatu bimbingan yang bertujuan membekali siswa agar siap menghadapi tantangan-tantangan di masa datang dan mencegah timbulnya masalah yang serius. 3)

  Bimbingan penyembuhan/Korektif Suatu bimbingan yang membantu sisiwa mengoreksi perkembangan yang salah jalur.

  c.

Ragam bimbingan menunjuk pada bidang kehidupan tertentu atau aspek perkembangan tertentu yang menjadi fokus perhatian

  pelayanan bimbingan. Dalam kehidupan siswa dibedakan tiga bidang yang dianggap paling penting yaitu : 1) Bimbingan akademik

  Bimbingan akademik adalah bimbingan dalam menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih program studi yang sesuai dan dalam mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan belajar di sekolah.

  2) Bimbingan Pribadi-sosial

  Bimbingan pribadi sosial adalah bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan mengatasi pergumulan- pergumulan dalam hatinya sendiri

  4) Bimbingan karir

  Bimbingan karir adalah bimbingan dalam mempersiapkan siswa menghadapi dunia pekerjaan, memilih lapangan pekerjaan atau profesi tertenrtu serta membekali dirisupaya siap memangku jabatan itu dan dalam menyesiuaikan dengan tuntutan-tuntutan dari lapangan pekerjaan yang akan digelutinya.

  Layanan konseling adalah layanan bantuan yang diberikan konselor sekolah kepada siswa melalui wawancara/pertemuan tatap muka yang dilakukan secara individual lebih-lebih ditujukan bagi siswa yang sedang menghadapi masalah yang belum dapat diselesaikan secara tuntas.

  Layanan ini merupakan layanan inti atau jantung pelayanan bimbingan karena siswa memusatkan perhatiannya pada keadaan dirinya sendiri dan konselor sekolah dapat melayani sesuai dengan kebutuhannya.

  Berdasarkan tugas konselor di atas maka dapat dikatakan bahwa tugas konselor di lembaga pendidikan formal adalah menyelenggarakan layanan bimbingan dan layanan konseling. Layanan bimbingan merupakan layanan bantuan yang diberikan langsung kepada siswa di mana layanan ini berupa bimbingan karir, pribadi-sosial, bimbingan akademik yang diberikan di kelas secara klasikal atau kelompok. Layanan konseling adalah layanan bantuan dengan bertatap muka antara siswa dengan konselor sekolah untuk membantu siswa menyelesaikan permasalahannya yang belum tuntas.

  D.

Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling

  Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Bimbingan Dan Konseling Universitas Sanata Dharma Program Sarjana (S1). Program ini bertujuan untuk menciptakan sarjana yang menguasai SKK (Standar Kompetensi Konselor) sebagai KUM (Kompetensi Utama Minimal) profesi Bimbingan dan Konseling. Secara khusus, kemampuan sarjana Bimbingan Dan Konseling diorientasikan pada dasar-dasar keilmuan dan teknologi Bimbingan dan Konseling serta pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir individu dalam keterkaitannya dengan arah praktik layanan Bimbingan dan Konseling terutama dalam setting pendidikan. (ABKIN, 2005).

  Secara umum kurikulum program pendidikan Sarjana (S1) Bimbingan dan Konseling mengacu pada aturan Peraturan Pemerintah (PP) No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang secara spesifik cakupan kurikulum program pendidikan akademik sarjana (S1) adalah aspek-aspek dasar keilmuan dan pendidikan dan psikologi. Dasar keilmuan itu antara lain :

  1. Ilmu Bimbingan dan Konseling yaitu: Materi Pembelajaran, Dasar- dasar Bimbingan Dan Konseling, Dinamika Kelompok, Dasar-dasar Bimbingan Dan Konseling II, Komunikasi antar Pribadi, Model- model Konseling, Bimbingan dan Konseling Belajar, Organisasi dan Administrasi Bimbingan Dan Konseling , Bimbingan Kelompok, Layanan Konseling diperkuas, Bimbingan dan Konseling Karir I, Penyusunan Alat-alat Bimbingan, Praktik Bimbingan Kelompok, Penelitian Bimbingan Dan Konseling I, Teknik Laboratorium Bimbingan Dan Konseling, Bimbingan dan Konseling Keluarga, Bimbingan dan Konseling karir II, Bimbingan Eksra kurikuler.

  Perkembangan Individu, Perkembangan Individu II, Pemahaman Indivudu I, Psikologi Kognitif, Psikologi Motivasi dan Emosi, Pemahaman Individu II, Psikologi Abnormal, Kesehatan Mental, Studi kasus, Psikologi Konseling.

  3. Ilmu-ilmu yang lain yaitu: Kesehatan Sekolah, Antropobiologi, pengembangan pribadi, sosial, belajar dan karir individu serta arah praktik Bimbingan dan Konseling di sekolah. Substansi komponen SKK dikemas ke dalam sejumlah matakuliah dengan bobot 144- `160. (ABKIN, 2005)

  Mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terdiri atas laki-laki dan perempuan yang berusia antara umur 19th-30th, berasal dari berbagai suku bangsa a.l : jawa, flores, sumatra, batak, cina.

  Mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun akademik 2007-2008 telah menjalani Praktek Lapangan Bimbingan dan Konseling (PLBK ) sebanyak 2 kali, yaitu di SMP dan di SMA. PLBK yang dijalani mahasiswa semester XI selama 5 minggu dengan sistim blok artinya mahasiswa berada di sekolah selama jam kerja.

  E.

Sikap Mahasiswa Semester IX Program Studi Bimbingan Dan Konseling

  Universitas Sanata Dharma Terhadap Pekerjaan Sebagai Konselor Sekolah

  Mahasiswa Semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma adalah mahasiswa yang telah dididik untuk menjadi calon tenaga konselor sekolah. Mereka disiapkan untuk bekerja sebagai tenaga pendidik di dunia pendidikan formal. Sebagai calon konselor sekolah hendaknya mahasiswa mampu bersikap positif atas pekerjaan yang akan digelutinya. Meskipun demikian sikap mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah dapat bermacam-macam. Ada berbagai faktor yang membentuk sikap orang.

  Demikianlah juga, ada banyak faktor yang mempengaruhi sikap mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah. Faktor yang mempengaruhi yaitu :

  1. Pengalaman pribadi Selama PLBK mahasiswa semester IX banyak memperoleh pengalaman pribadi, dengan ada pengalaman tersebut maka mereka mulai memahami perannya sebagai calon konselor sekolah. Karena pengalaman PLBK tersebut mahasiswa semester IX mulai bisa mengambil keputusan untuk bersikap negatif atau positif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  2. Pengaruh orang lain yang dianggap penting Selama PLBK mahasiswa semester IX tidak sendiri, mereka bekerja dalam tim yang telah dibentuk sebelum terjun ke lapangan oleh Koordinator PLBK dan didampingi oleh dosen pembina. Karena bekerja dalam tim mahasiswa banyak memperoleh masukan dari teman-temannya dan dosen pembina PLBK, baik yang sifatnya positif maupun negatif. Jika ada teman dan dosen yang dianggap penting mempengaruhi sikapnya maka mahasiswa tersebut ikut terpengaruh juga untuk mengambil sikap terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  Dengan diperolehnya pengalaman PLBK di SMP maka sikap mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma juga berbeda-beda. Perbedaan ini muncul karena adanya pengalaman pribadi selama PLBK, pengaruh orang lain yang dianggap penting dan pengaruh faktor emosional dari mahasiswa itu sendiri. Karena perbedaan tersebut ada mahasiswa yang mempunyai sikap positif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah dan ada juga yang mempunyai sikap negatif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam bab ini akan dibahas jenis penelitian, subyek penelitian, instrumen penelitian dan teknik analisis data. A. Jenis Penelitian Penelitian bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel gejala atau keadaan, fakta dan keterangan secara aktual. Seperti yang dikatakan oleh Suharsini Arikunto (2002 : 71), penelitian deskriptif tidak bermaksud untuk menguji hipotesis tertentu. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan terhadap variabel mandiri, yaitu tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lain (Sugiyono, 1999 : 6).

  Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah deskriptif kuantitatif (penelitian non-eksperimen), yaitu data penelitian akan dianalisis secara kuantitatif kemudian dikualitatifkan secara deskriptif. Analisis data menggunakan rumus-rumus statistik dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil analisis dan tampilan data tersebut akan diinterpretasikan dalam bentuk narasi yang menunjukkan kualitas dari gejala atau fenomena yang menjadi objek penelitian. B.

Subyek Penelitian

  Penelitian akan dilaksanakan pada mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Deskripsi mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma adalah subyek berjenis kelamin laki-laki dan perempuan yang berusia antara 19 th-30 th. Penelitian ini mengambil semua mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang berjumlah 42 mahasiswa.

  C.

  Alat 1.

  Definisi Operasional Variabel Variabel yang diteliti adalah sikap mahasiswa semester IX

  Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah. Dalam keperluan

  pengukuran dan pengumpulan data, variabel penelitian didefinisikan secara operasional sebagai berikut :

  Sikap mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma dalam penelitian ini adalah respon global

  berupa reaksi afeksi, kognisi dan konasi mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terhadap tugas konselor sekolah yang meliputi antara lain : (1) Sebagai tenaga pendidik yang membantu siswa/helping profesion berupa psiko-pedagogis dalam bidang Akademik, pribadi sosial, dan karir (2) Menyelenggarakan

  Layanan Bimbingan (mengajar di kelas) (3) Menyelenggarakan Layanan Konseling.

  Dalam penelitian ini, pekerjaan konselor sekolah dibatasi hanya pada tugas untuk melayani siswa sebagai salah satu sub-bidang dari pembinaan siswa. Pembatasan ini diasumsikan bahwa mahasiswa BK selama mengikuti program praktek/PLBK lebih terfokuskan pada tugas pelayanan siswa. Tugas-tugas konselor sekolah tersebut dijadikan aspek- aspek dalam penelitian ini dikarenakan tugas-tugas tersebut setidaknya pernah diketahui, dialami dan dijalankan oleh para mahasiswa BK ketika mereka mengikuti proses perkuliahan dan menjalankan program praktek lapangan (PLBK).

  Ketiga aspek pekerjaan sebagai konselor sekolah dijadikan sebagai obyek sikap, karena cukup mewakili secara lengkap mengenai aspek- aspek dari pekerjaan yang meliputi tugas-tugas dan status-status yang dimiliki oleh seorang konselor sekolah.

  Sikap tersebut akan diungkap dengan menggunakan skala sikap. Semakin tinggi skor subyek dalam pernyataan favourable dalam skala sikap berarti semakin positif sikap mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah. Sebaliknya semakin rendah skor subyek dalam skala sikap berarti semakin negatif sikap mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah. Sedangkan pernyataan yang

  Unfavourable semakin tinggi skor subyek berarti sikap mahasiswa semester IX semakin negatif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  Sebaliknya semakin rendah skor subyek berarti sikap mahasiswa semester IX semakin positif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  Struktur/kisi-kisi skala sikap mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah dalam penelitian ini disusun berdasarkan aspek-aspek pekerjaan yaitu aspek tugas membimbing, aspek tugas konseling, aspek status profesional, dan aspek status sosial dan ekonomi. Struktur/kisi skala sikap mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah adalah sebagai berikut :

  Tabel 1.1. Kisi-kisi uji coba skala sikap mahasiswa semester IX Program Studi

  Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah

  Pernyataan sikap ju m

  Pekerjaan sebagai lah konselor sekolah Afeksi Kognisi Konasi

  • 1.

  Profil Konselor sekolah a.

  Sebagai helping profesion b.

  Pendidik yang 1,5,10,15, 21,26,35,

bertugas di 45,55,50, 70,74,77, 2,3,6,9,11, 66,71,75,

  42 20,25,34, 41,46,51, sekolahan. 60,65,68. 80. 78,81,83 30,40. 56,61 c.

  Pendidik yang memberikan bantuan psiko- pedagogis. d. membantu siswa membangun kemandirian dalam belajar, karir, ,pribadi dan sosial.

  2. Menyelenggarakan layanan bimbingan (mengajar di kelas) a. Layanan bimbingan terdiri atas tiga ragam bimbingan : 1.

  Bimbingan karir

  2. Bimbingan akademik

3. 4,7,22,27, 57,64,67, 82,84, 12,19,24, 33,37,39, 54, 62,

Bimbingan

  24 pribadi sosial 36,42,43. 73,79. 14,16. 29,72.

  52.

  69.

  b.

  Metode pemberian layanan bimbingan menggunakan bimbingan klasikal, bimbingan perseorangan.

  3. Menyelenggarakan Layanan Konseling a.

  Sebuah bantuan untuk membantu siswa menghadapi masalah-masalah.

  b.

  Bantuan itu mengusahakan perubahan pada konseli , yang dikehendaki atas kesadaran dan kerelaan sendiri bebas.

  18 c. 8,13,17, 18, 53,63, 76. 49,58,59. 32,44, 48. 23,31. 38,47, 28, Ciri khas konseling

  : Terjadi

  • komunikasi antarpribadi, Pertemuan tatap
  • muka, Diberikan • sejumlah tanggapan yang oleh konselor yang bersifat membantu Total item

  42

  42

  84 Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan kuesioner yang disusun oleh peneliti sendiri dengan menggunakan skala sikap model

  

Likert. Skala sikap ini bertujuan untuk mengukur sikap mahasiswa

  semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah. Penyusunan skala ini menggunakan acuan sikap sebagai sebuah respon reaksi afektif terhadap tiga aspek pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  4. Penjelasan Format Pernyataan : Favourable dan Unfavourable dan cara skoring a.

Format pernyataan

  Item kuesioner terdiri dari pernyataan tentang masing-masing obyek sikap yang dirumuskan dalam pernyataan Favourable atau positif dan pernyataan Unfavourable atau negatif. Ada lima alternatif jawaban yang disediakan yaitu : “sangat setuju” (SS), “Setuju” (S), ,”Netral” (N), “Tidak setuju” (TS), dan “Sangat tidak setuju” (STS)b.

  b. Skoring Skor setiap item dari kuesioner ini adalah sebagai berikut :

  1) Pernyataan Favourable atau positif terhadap obyek sikap respon “sangat setuju” (SS) diberi skor 4, “Setuju” (S) diberi skor 3,”Netral” (N) diberi skor 2, “Tidak setuju”

  (TS) diberi skor 1, dan “Sangat tidak setuju” (STS) diberi skor 0.

  2)

Pernyataan unfavourable atau negatif terhadap obyek sikap, respon “sangat setuju” (SS) diberi skor 0, “Setuju”

  (S), diberi skor 1, ”Netral” (N) diberi skor 2, “Tidak setuju” (TS) diberi skor 3, dan “Sangat tidak setuju” (STS) diberi skor 4. Setiap subyek diminta memilih satu dari lima alternatif jawaban dengan memberi tanda lingkaran (0) dan setiap jawaban akan diberi skor. Skor-skor pada skala adalah jumlah skor jawaban untuk tiap item pada skala pengukuran. Semakin tinggi skor total yang diperoleh subyek pada skala ini artinya sikap mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling semakin positif dan semakin rendah skor total yang diperoleh subyek artinya sikap mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling semakin negatif. Angket yang disusun untuk uji coba alat terlampir pada lampiran 1 (halaman 51).

  5. Validitas Isi Validitas mempunyai arti taraf sampai dimana suatu alat ukur mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Masidjo, 1995: 242).

  Suatu alat ukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang relevan dengan maksud atau tujuan dilakukannya pengukuran. Sebaliknya alat ukur yang menghasilkan data tidak relevan dengan tujuan pengukuran disebut alat ukur yang tidak valid.

  Tipe validitas yang diselidiki dalam penelitian ini adalah validitas isi. Validitas isi bertujuan melihat dua hal: (1) Sampling validity, yaitu sejauh mana item-item merepresentasikan content domain dari atribut yang diukur; (2) Face validity, yaitu sejauh mana item-item secara keseluruhan memberi kesan mengukur atribut yang hendak diukur (Sumanto, 1990:53). Validitas isi hanya bisa diestiminasi lewat Expert

  

judgment (Nurgiantoro, 2002:315). Dalam pelaksanaannya, peneliti

meminta pendapat dosen pembimbing yaitu, dosen pembimbing I.

  6. Analisis item Sebelum kuesioner digunakan untuk penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji coba untuk mengetahui mutu psikometrik kuesioner tersebut.

  Uji coba angket dilakukan pada tanggal 11 September 2007. Subyek uji coba alat adalah mahasiswa semester VII Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma dengan jumlah populasi mahasiswa sebanyak 33 mahasiswa. Setelah dilakukan uji coba kuesioner item-item harus diseleksi dan dibuktikan secara empiris untuk memilih item-item yang memiliki daya beda tinggi. Daya beda item adalah sejauh mana item tersebut mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan tidak memiliki atribut yang diukur. Jadi dalam penelitian ini, item yang berdaya beda tinggi adalah item-item yang mampu membedakan mana subyek yang memiliki sikap positif dan mana subyek yang mempunyai sikap negatif (Azwar, 1999: 59).

  Pengujian daya beda item dilakukan dengan komputasi koefisien korelasi antara distribusi skor item dengan distribusi skor skala itu sendiri.

  Komputasi ini akan mengahasilkan koefisien korelasi item-total (r ix ) yang dikenal dengan daya beda item. Untuk komputasi koefisien korelasi item- total digunakan korelasi product moment dari Pearson (Azwar, 1999: 59). Kriteria pemilihan item berdasarkan batasan r ≥ 0,30. r yang kurang dari

  ix 1x

  0,30 diinterpretasikan memiliki daya diskriminasi rendah sedangkan item yang mencapai minimal 0,30 daya bedanya memuaskan (Azwar, 1999: 65). Penghitungan hasil uji coba menggunakan program SPS (Seri Program Statistik) yang dikembangkan oleh Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardiningsih (2000).

  Dalam penelitian ini item kuesioner skala sikap mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma berjumlah 84 buah. Setelah dilakukan uji coba jumlah item yang gugur berjumlah 38 buah (terlampir pada lampiran 2, halaman 57). Item-item yang dinyatakan tidak gugur berjumlah 46 item yaitu sbb:

  Tabel 1.2. Komposisi item-item yang tidak gugur pada angket ujicoba setelah proses validitas

  Pernyataan sikap ju m

  Pekerjaan sebagai lah

  Afeksi Kognisi Konasi konselor sekolah

  1. Profil Konselor sekolah a.

  Sebagai helping profesion b.

  Pendidik yang bertugas di sekolahan.

  c.

Pendidik yang memberikan 45, 55, 60, 70,74, 2, 3, 9. 35, 46, 71,75

  20 1, 5, 20. bantuan psiko- 68. 77. 51, 61.

  78. pedagogis.

  d. membantu siswa membangun kemandirian dalam belajar, karir, ,pribadi dan sosial.

  2. Menyelenggarakan layanan bimbingan (mengajar di kelas) a. Layanan bimbingan terdiri atas tiga ragam bimbingan :

  1. Bimbingan karir

  2. Bimbingan akademik

4, 22,36, 19, 29,

3. 57,67.

  82.

  69

  12 Bimbingan 42,43.

  72. pribadi sosial b.

  Metode pemberian layanan bimbingan menggunakan bimbingan klasikal, bimbingan perseorangan.

  3. Menyelenggarakan Layanan Konseling a.

  Sebuah bantuan untuk membantu siswa menghadapi masalah-masalah.

  b.

Bantuan itu mengusahakan

  perubahan pada konseli , yang dikehendaki atas 8,13, 53, 63, 76.

  47

  14 49, 58, 59. 32, 48.

  31 kesadaran dan 17, 18. kerelaan sendiri bebas.

  c.

  Ciri khas konseling : Terjadi

  • komunikasi antarpribadi, Pertemuan tatap
  • muka,
  • sejumlah tanggapan yang oleh konselor yang bersifat membantu Total item

Diberikan

  21

  15

  10

  46

  7. Reliabilitas Reliabilitas artinya tingkat keterpercayaan hasil suatu pengukuran

  (Azwar, 1997: 176). Tinggi-rendahnya reliabilitas secara empirik ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas. Semakin tinggi koefisien reliabilitas sebuah alat ukur, maka alat ukur tersebut semakin reliabel.

  Pengujian reliabilitas terhadap hasil ukur skala psikologis dilakukan bila mana item-item yang terpilih lewat prosedur analisis item telah dikompilasikan menjadi satu (Azwar, 1999: 83). Secara teoretis besarnya koefisien reliabilitas berkisar 0 sampai 1,00. Koefisien reliabilitas sebesar 1,00 berarti adanya konsistensi yang sempurna pada alat ukur yang bersangkutan (Azwar, 1997: 178). Pengkajian tingkat reliabilitas skala sikap mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling akan ditempuh dengan pendekatan Alpha Cronbach (Azwar, 1997: 184).

  Reliabilitas yang diperoleh setelah dilakukan uji coba skala sikap mahasiswa Program Studi Binbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma dengan pendekatan Alpha Cronbach, menghasilkan koefisien rtt =

  0,923, dengan status : Andal. Penghitungan reliabilitas menggunakan Program SPS.

  D.

Teknik Pengumpulan Data

  Setelah dilakukan uji coba angket jumlah item pada angket tersebut yang gugur berjumlah 38 buah. Item-item yang dinyatakan tidak gugur bejumlah 46 item. Kemudian disusun angket penelitian dengan kisi-kisi sebagai berikut :

  Tabel 1.3. Kisi-kisi Angket Penelitian Skala Sikap Mahasiswa Semester IX Program

  Studi Bimbingan Dan Konseling Universitas Sanata Dharma Terhadap Pekerjaan Sebagai Konselor Sekolah

  Pernyataan sikap ju m

  Pekerjaan sebagai lah

  Afeksi Kognisi Konasi konselor sekolah

  • 1.

  Profil Konselor sekolah a.

  Sebagai helping profesion b.

  Pendidik yang bertugas di sekolahan.

  c.

  Pendidik yang

memberikan 2, 10,16, 5, 22,

1, 6, 8, 23, 36, 46. 37, 39, 40, 4, 27, 28,

  42

bantuan psiko- 17, 24,

pedagogis.

  d. membantu siswa membangun kemandirian dalam belajar, karir, ,pribadi dan sosial.

  2. Menyelenggarakan layanan bimbingan (mengajar di kelas) c. Layanan bimbingan terdiri atas tiga ragam bimbingan :

  1. Bimbingan karir 2. 19, 20, 29, Bimbingan akademik 32, 34. 25, 42. 45. 7, 14, 31.

  3.

  24 3. Bimbingan pribadi sosial d.

  Metode pemberian layanan bimbingan menggunakan bimbingan klasikal, bimbingan perseorangan.

  3. Menyelenggarakan Layanan Konseling a.

  Sebuah bantuan untuk membantu siswa menghadapi masalah-masalah.

  b.

Bantuan itu mengusahakan

  perubahan pada konseli , yang dikehendaki atas kesadaran dan kerelaan sendiri bebas.

  11, 18, 9, 12, 13,

  18 15, 26, 30. 33. 41.

  35.

  38.

  c.

  Ciri khas konseling 43, 44.

  21. : Terjadi

  • komunikasi antarpribadi, Pertemuan tatap
  • muka, Diberikan • sejumlah tanggapan yang oleh konselor yang bersifat membantu Total item

  42

  42

  84 Pengumpulan data dilakukan terhadap mahasiswa semester IX

  Program Studi Bimbingan dan Konseling sebanyak 42 mahasiswa yang dilaksanakan pada tanggal 15-20 Oktober 2007. E.

  Teknik analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian sikap mahasiswa

  BK semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma tahun ajaran 2007-2008 terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah adalah sebagai berikut :

  1. Mencari skor terendah dan skor tertinggi subyek penelitian.

  2. Mencari Mean teoritis dan Mean Empiris subyek 3.

  Mencari standar deviasi teoritis dan standar deviasi empiris.

  4. Menetapkan norma skala sikap yang ditetapkan dari penghitungan standar deviasi teoritis dan mean teoritis dengan menggolongkan skala sikap menjadi 3 kategori yaitu: rendah, sedang dan tinggi 5.

Mengkategorikan subjek penelitian berdasar skor yang yang diperoleh yang didasarkan atas satuan deviasi empiris dan mean empiris

  Pengkategorian pada penelitian ini digunakan dengan tujuan untuk mengkategorikan skor yang diperoleh subyek penelitian. Jika skor subyek penelitian termasuk kategori tinggi dapat diartikan sikap subyek tersebut positif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah, dan apabila skor subyek tidak terlalu tinggi berarti sikap yang dimiliki adalah sikap biasa (netral) terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah sedangkan apabila skor subyek termasuk kategori rendah dapat diartikan sikap yang dimiliki oleh subyek adalah sikap negatif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  6. Menghitung standar deviasi empiris dan mean empiris berdasarkan perolehan skor subyek penelitian dan mengkategorikan apakah termasuk kategori rendah, sedang atau tinggi.

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil penelitian Skor terendah dalam penelitian ini adalah 0 x 4 = 0 sedangkan skor tertinggi 4 x 46 = 184. Jadi rentangan skor yang diperoleh 0 – 184. Skor maksimal 184 dan skor minimal 0.

  • =

  Mean =

  2 min skor max skor

  2 184 + = 92 2. Mean empiris ( µ ) yang diperoleh 143.619 3.

Standar deviasi teoritis (σ )

  Sd =

  6 Skor min - max Skor =

  • 184 = 30.667 4.

  6

  Standar deviasi empiris (σ ) yang diperoleh 11,605.

  5. Menetapkan norma skala sikap yang terdiri atas 46 aitem dengan menetapkan rentangan minimum dan maksimum. Rentangan skor minimum adalah 46x0=0. Sedangkan rentangan skor maksimum adalah 46x4=184. Satuan deviasi standar teoritis ( σ ) bernilai 30.6, dan mean teoritisnya ( µ ) adalah 92. Menggolongkan skala sikap ke dalam 3 kategori maka keenam satuan deviasi teoritis ( σ ) dibagi ke dalam 3 bagian, menjadi :

  µ σ X < ( −

  1 . ) : Rendah 1 . σ X < µ

  • µ − 1 . σ : Sedang

  ( ) ( )

  µ

  • sehingga dengan harga standar deviasi teoritis ( σ ) = 30.6 maka skala sikap akan menjadi :

  1 . σ

  X : Tinggi

  ( )

  X < 92 −

  1 . ( 30 . 6 ) : (0) X < (61.4) : Rendah [ ]

  X < 92 + 1 .

  30 . 6 : (61.4) X <(122.6) : Sedang [ ( ) ]

  92 + 1 . 30 .

  [ ( ) ]

  61.4 122.6 Sedang

  Rendah Tinggi 6.

  Setelah ditetapkan norma skala sikap seperti di atas, langkah selanjutnya adalah menggolongkan mahasiswa berdasarkan skor yang diperoleh. Berdasarkan hasil skor yang diperoleh mahasiswa sebanyak 40 mahasiswa memperoleh skor di atas 122.6 sedangkan 2 mahasiswa memperoleh skor antara 61.4- 122.6. Penghitungan skor menggunakan program SPS. Berdasarkan hasil skor mahasiswa didapatkan 40 orang mendapatkan skor di atas 122,6. Berdasarkan kategorisasi skala sikap, hasil skor mahasiswa tersebut termasuk kategori tinggi. Dengan demikian sesuai pada teknik analisis data, setiap skor mahasiswa yang termasuk kategori tinggi diartikan bahwa sikap mahasiswa tersebut adalah positif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah. Sedang mahasiswa yang memiliki skor (2 mahasiswa) dengan kategori sedang diartikan sikapnya terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah adalah netral (tidak memiliki sikap).

  B.

  Pembahasan Hasil kategorisasi skor mahasiswa menunjukkan bahwa sebanyak 40 mahasiswa memiliki skor dengan kategori tinggi hal ini berarti sikap mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma positif terhadap kompetensi konselor sekolah. Sikap yang positif ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu :

  Azwar (1997:30) berpendapat bahwa sikap terbentuk melalui pengalaman pribadi, kejadian yang dialami individu akan ikut mempengaruhi penghayatannya terhadap stimulus. Mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma telah menjalani proses perkuliahan selama kurang lebih sembilan semester dan menjalani praktek sebagai konselor dalam PLBK di SMP dan SMU. Melalui pengalaman kuliah, mahasiswa semester IX banyak memperoleh pengalaman pribadi tentang berbagai ilmu dan teori mengenai psikologi dan bimbingan serta profil konselor sekolah yang meliputi tugas dan tanggung jawabnya. Dengan pengalaman praktek PLBK, mahasiswa dapat menjalankan peran, tugas dan tanggung jawab sebagai seorang konselor sekolah. Pengalaman pribadi yang diperoleh antara lain dalam kegiatan: bimbingan klasikal, mengadakan layanan konseling dengan siswa, studi kasus, home visit, survei permasalahan dan kebutuhan siswa, observasi kegiatan-kegiatan bimbingan di sekolah, membuat papan bimbingan, membuat struktur organisasi dan administrasi BK. Pengalaman perkuliahan dan praktek di lapangan dialami mahasiswa dengan perasaan positif (senang dan bahagia).

  Dengan adanya perasaan senang dari mahasiswa yang bersangkutan maka muncul sikap positif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  2. Pengaruh orang lain yang dianggap penting Menurut Azwar(1997:31), sikap terbentuk karena adanya pengaruh orang lain yang dianggap penting. Pola pada umumnya individu cenderung memiliki sikap yang sejalan dengan sikap orang yang dianggapnya penting. Selama perkuliahan dan praktek PLBK, mahasiswa semester IX berada dan berinteraksi di antara para pengajar

  Bimbingan dan Konseling, yakni dosen. Melalui interaksi tersebut mahasiswa memperoleh gambaran konselor sekolah secara nyata. Sikap mahasiswa akan semakin terbentuk dengan adanya beberapa profil dosen yang memiliki kualitas pribadi yang positif (hangat dan terbuka), yang notabene dibutuhkan seorang konselor sekolah karena ini merupakan sebuah helping profesion dan juga kualitas profesional yang tinggi ditunjukkan dengan profesionalitas dan dedikasi. Melalui pengalaman PLBK, mahasiswa berinteraksi dengan para praktisi konselor sekolah.

  Dengan praktek di bawah supervisi praktisi konselor sekolah tentunya akan memberikan pengaruh yang kuat terhadap sikap menjalankan tugas supervisi konselor sekolah akan memberi masukan yang positif mengenai praktek membimbing kepada Mahasiswa. Pemberian masukan yang positif tersebut menjadikan motivasi dan input yang berharga bagi mahasiswa tersebut. Hal ini memungkinkan mahasiswa semakin dikuatkan untuk merasa senang dengan pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  C.

Hasil dan Pembahasan Tambahan

  Disamping hasil pembahasan berdasarkan penghitungan statistik, peneliti menambahkan pembahasan tambahan berdasarkan tabel data hasil penelitian sikap (lampiran 1). Pembahasan ini dirasakan perlu untuk ditambahkan setelah terdapat fenomena yang menarik pada hasil penelitian yang perlu untuk dikritisi dan dibahas lebih lanjut. Fenomena itu muncul setelah melihat secara rinci jawaban-jawaban responden terhadap angket penelitian terutama secara khusus jawaban tidak setuju /d.(TS) atau sangat tidak setuju/e.(STS) untuk pernyataan favourable dan jawaban setuju /b. (S) atau sangat setuju /e.(SS) untuk pernyataan unfavourable sangat jarang ditemui pada jawaban responden.

  Selain itu, fenomena yang cukup menarik adalah jawaban c. (E) atau sikap netral kerap muncul hampir di seluruh jawaban responden. Dengan kata lain frekuensi munculnya jawaban c. (E) lebih banyak dibandingkan dengan jawaban SS dan SS pada pernyataan Unfavourable dan jawaban TS dan STS untuk pernyataan unfavourable. Misal pada item nomor 17 yaitu pernyatan tentnang minat terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  Fenomena tersebut mengandung berbagai makna dan menarik untuk dibahas. Idealisasi pembuatan skala sikap menurut peneliti adalah responden dapat memberikan penilaiannya pada pernyataan-pernyataan yang ada sesuai dengan tingkatan sikap yang dimiliki responden. Apabila ia memiliki sikap yang sangat setuju pada sebuah pernyataan (objek sikap) maka ia akan memilih pilihan setuju (S) atau sangat setuju (SS) akan tetapi apabila responden tidak menyetujui terhadap pernyataan tersebut ia akan memilih pilihan tidak setuju (TS) atau sangat tidak setuju (STS). Sedangkan dalam penelitian ini hal tersebut belum nampak. Banyaknya jawaban netral (N) yang dipilih oleh responden disebabkan kemungkinan-kemungkinan yang perlu diperjelas dan dikritisi lebih lanjut.

  Pertama, pilihan tersebut memang mewakilkan sebuah sikap netral responden pada pernyataan-pernyataan tersebut. Pilihan ini didasarkan atas sikap yang tidak memihak pada pernyataan-pernyataan yang ada dalam item.

  Kedua, dalam beberapa item terdapat kalimat yang sulit dimengerti atan bermakna ganda ”ambigu” sehingga membuat responden merasa kebingungan untuk menentukan sikapnya. Misal Item no 39 : ”Murid merasa tidak suka dengan sosok konselor sekolah”. Kalimta ini agak sulit dipahami oleh responden sebab pernyaaan ini lebih ceenderung pada pada penilaian siswa terhadap konselor sekolah di sekolahnya. Penggunaan kata negatif menggunakan kata ”tidak” dalam item hendaknya digunakan secermat mungkin untuk menghindari kecenderungan responden langsung menolak akan pernyataaan negatif tersebut. Pernyataan negatif hendaknya menggunakan kata negatif yang tidak tegas-tegas menyatakan nilai negatif misal : kata ”tidak suka” diganti dengan kata ”enggan”, dst.

  Ketiga, pilihan jawaban netral (N) tersebut dipilih dimungkinkan karena responden tidak berani menunjukkan sikap yang sebenarnya.

  Responden tidak berani menunjukkan sikap yang sebenarnya pada penelitian ini karena adanya alasan-alasan normatif (sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling seharusnya atau sebaiknya sikapnya tidak negatif). Sehingga jawaban yang diharapkan peneliti berasal dari reaksi perasaan (senang atau tidak senang) terhadap objek sikap (pekerjaan sebagai konselor sekolah) tertutup oleh alasan-alasan normatif yang sebenarnya merupakan buah pemikiran/kognisi. Situasi demikian akhirnya membuat responden lebih memilih jawaban netral (N).

  Hasil dan pembahasan tambahan ini ditambahkan dalam pembahasan hasil penelitian tanpa bermaksud mengurangi atau menyangsikan keilmiahan angket/kuesioner dan penelitian secara keseluruhan. Hasil dan pembahasan tambahan ini terjadi disebabkan oleh berbagai faktor. Pertama, ketika proses pengisian angket, responden masih terikat dengan hal-hal normatif. Sehingga penjelasan peneliti sebelum pengisisan angket untuk meminta responden mengisi dengan jujur dan apa adanya masih kurang kuat untuk kurang mengurangi kadar hal-hal normatif yang ada dalam diri mahasiswa. Kedua hasil ini terjadi karena adanya keterbatasan penelitian deskriptif dengan menggunakan angket/kuesioner. Penggunaan angket/kuesioner membuat responden terbatasi sehingga memungkinkan untuk tidak menampilkan keadaan sesungguhnya.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Kesimpulan ini merupakan jawaban terhadap masalah penelitian

  “Bagaimana sikap mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma semester IX tahun akademik 2007/2008 terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah ?”

  Sikap mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma positif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah. Sikap 42 mahasiswa semester IX Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah mempunyai sikap positif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  B. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini dikemukakan saran sebagai berikut : 1.

Sikap positif terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah sangat penting untuk dimiliki oleh mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Sikap ini dapat

  berkembang apabila situasi selama kuliah senantiasa memberikan masukan yang positif. Maka dari itu bagi pihak-pihak yang terlibat langsung dalam proses menciptakan konselor sekolah (Dosen, tenaga adminsitrasi dan mahasiswa tentunya) hendaknya senantiasa menciptakan situasi dan hubungan yang positif dan menunjukkan profil-profil ke-konseloran sekolah yang peduli dan hati yang besar.

  2. Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma , hasil penelitian ini merupakan salah satu indikator untuk semakin meningkatkan kegiatan pendidikan dalam menghasilkan konselor-konselor sekolah yang handal dan profesional. Program-program pendampingan terhadap mahasiswa BK semester awal (angkatan 2006-2007) yang dilaksanakan Program Studi Bimbingan dan konseling akhir-akhir ini adalah salah satu langkah tepat untuk membangun sikap positif mahasiswa Bimbingan dan Konseling terhadap pekerjaan sebagai konselor sekolah.

  Studi Bimbingan dan Konseling dan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Peneliti menyarankan untuk perlu dilakukan penelitian lanjutan terhadap tema penelitian ini terutama penelitian yang menggunakan metode wawancara dan observasi dikarenakan sikap akan lebih jelas terukur dengan melihat reaksi mahasiswa bimbingan dan konseling dari sisi perasaan (afeksi), pikiran (kognisi) dan kehendak (konasi).

  Daftar Pustaka ABKIN. 2005. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung.

  Azwar, Saifudin. 1997. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Azwar, Saifudin. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Buku Pedoman PLBK PRODI BK USD. 2004. Buku Pedoman PLBK Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta. Masidjo, I. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah.

  Yogyakarta : Kanisius. Manrihu. M.T. 1992. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Bumi Aksara.

  Nurgiyantoro. 2002. Statistik Terapan Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial.

  Yogyakarta. Gadjah Mada University Press. Partowisastro, Koestoer. 1985. Bimbingan Penyuluhan Di Sekolah. Jakarta : Erlangga.

  Prayitno 1998. Profesionalisasi Konseling dan Pendidikan Konselor Sekolah.

  Jakarta : Departemen P dan K. Samana, A. 1994. Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta. Kanisius. Sukardi, Dewa Ketut. 1983. Seri Bimbingan : Organisasi Administrasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah . Surabaya : CV. Rajawali.

  Walgito, Bimo. 1997. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek.

  Yogyakarta : Rineka Cipta. Walgito, Bimo. 1994. Psikologi Sosial. Suatu Pengantar. Yogyakarta : Andi Offset.

  Winkel, W. S. 1997. Bimbingan dan Konseling di Institut Pendidikan. Jakarta : Grasindo. Zunker, Vernon G. 1981. Career Counseling Applied Concepts of Life Planning.

  California : Brooks/Cole Publishing Company.

  1 Kepada Yth. Rekan-rekan Mahasiswa BK USD SemesterVII

  Dalam rangka penelitian skripsi yang bertema “Sikap Mahasiswa BK Semester IX Universitasa Sanata Dharma Terhadap Pekerjaan Konselor Sekolah”, saya meminta kesediaan rekan-rekan untuk berkenan mengisi semua pertanyaan dalam angket/kuesioner ini.

  Kuesioner bukan merupakan tes penilaian terhadap prestasi rekan-rekan, maka dari itu diharapkan agar rekan- rekan bersedia mengisi dan mengerjakan sejujur-jujurnya sesuai dengan keadaan yang dialami dan dirasakan dengan memilih alternatif jawaban yang telah disediakan :

  SS : Apabila Anda SANGAT SETUJU (Ss) Dengan Pernyataan Tersebut

  S : Apabila Anda SETUJU (S) Dengan Pernyataan Tersebut

  E : Apabila Anda Tidak Menentukan Setuju Atau Tidak Setuju Dengan Pernyataan Tersebut. TS : Apabila anda TIDAK SETUJU (TS) Dengan pernyataan Tersebut STS : Apabila anda SANGAT TIDAK SETUJU (STS)

  Dengan Pernyataan Tersebut dengan melingkari jawaban yang huruf. Atas Bantuan dan partisipasi rekan-rekan kami ucapkan banyak terima kasih.

  1. Saya merasa senang membantu siswa yang memiliki masalah belajar a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 2. Konselor sekolah adalah pekerjaan yang membosankan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 3. Saya tidak ingin bekerja yang sifatnya melayani/pelayanan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 4. Berbekal teori dan praktek selama kuliah, saya semakin merasa mantap memberikan bimbingan kelas.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 5. Setelah mengikuti kuliah dan praktek di prodi

  BK,semakin memantapkan saya untuk menjadi konselor sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 6. Menjadi konselor sekolah bukan menjadi tujuan utama saya setelah lulus.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 7. Saya rela menghabiskan tenaga, waktu dan uang untuk memberikan bimbingan kelas yang menarik untuk siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  2 8. Konseling adalah pekerjaan yang menarik bagi saya

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 9. Pekerjaan konselor sekolah lebih rendah daripada guru bidang studi.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 10. Bagi saya memberikan bimbingan belajar kepada siswa merupakan pekerjaan yang sesuai dengan minat saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 11. Masih ada pekerjaan yang lebih berarti dibandingkan dengan menjadi konselor sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 12. Materi bimbingan yang saya berikan cukup saya ambil dari buku paket/pegangan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 13. Saya merasa bersemangat dalam memberikan konseling kepada siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 14. Pekerjaan sebagai konselor sekolah hanyalah pekerjaan admnistrasi.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 15. Saya ingin membantu siswa-siswa di sekolahan agar semakin mengenal kelebihan dirinya a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 16. Menurut saya konselor sekolah hanyalah sebagai polisi sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 17. Saya merasa nyaman ketika memberikan konseling kepada siswa a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 18. Bagi saya, konseling cukup efektif membantu siswa menyelesaikan masalahnya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 19. Saya merasa tidak percaya diri ketika memberikan bimbingan di kelas a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 20. Saya menikmati tugas-tugas sebagai konselor sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 21. Menurut saya, siswa takut terhadap konselor sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 22. Memberikan bimbingan di kelas adalah pekerjaan yang cocok dengan kepribadian saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  3 23. Menurut saya konseling adalah proses untuk menasihati siswa yang bermasalah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 24. Bagi saya memberikan informasi di dalam kelas cukup dengan mengggunakan metode ceramah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 25. konselor sekolah merupakan pekerjaan yang menantang

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 26. Meski saya dididik sebagai calon konselor sekolah, setelah lulus saya tidak akan bekerja di sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 27. Bagi saya tidak menjadi masalah untuk berbicara di depan kelas.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 28. Bila perlu saya akan mencari siswa yang bermasalah untuk mengadakan konseling meskipun mereka tidak mengutarakannya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 29. Bimbingan kelas dari konselor sekolah tidak perlu karena sudah dapat membaca buku psikologi populer, buku pengembangan

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 30.

  Bekerja di lembaga pendidikan formal merupakan panggilan hidup saya a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 31. Program bimbingan di sekolahan hanya membuang- buang waktu konselor sekolah dan siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 32. Saya merasa tidak nyaman ketika memberikan konseling kepada siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 33. Bimbingan di kelas tidak berguna bagi perkembangan siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 34. Membantu siswa menjadi lebih tahu akan dirinya, merupakan kepuasan tersendiri bagi diri saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 35. Menjadi konselor sekolah bukan minat karir/pekerjaan saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 36. Memberi bimbingan belajar merupakan pekerjaan yang menarik bagi saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  4 37. Saya tidak berminat untuk bekerja dengan mengajar/bimbingan di kelas.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 38. Berbagai pendekatan dalam konseling berguna bagi saya ketika memberikan konseling kepada siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 39. Bagi saya memberikan bimbingan kelas kepada siswa adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 40. Membantu siswa mengembangkan dirinya, membahagiakan saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 41. Membantu siswa agar berkembang secara utuh adalah pekerjaan yang kecil tantangannya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 42. Menyiapkan materi-materi bimbingan dengan sungguh- sungguh adalah pekerjaan yang menyenangkan bagi saya a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 43. Dengan senang hati, saya menyediakan waktu di luar jam sekolah untuk memberikan informasi kepada murid- murid.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 44.

  Bagi saya konseling merupakan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 45. Membantu orang lain merupakan prinsip hidup saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 46. Pengalaman di kuliah dan PPL membuat saya tidak ingin menjadi konselor sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 47. Saya merasa percaya diri ketika memberikan layanan konseling kepada siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 48. Menurut saya, pemberian bimbingan dan konseling di sekolahan hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 49. Bagi saya, pemberian konseling untuk siswa adalah pekerjaan yang membuat saya bosan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 50. Bekerja di lembaga pendidikan formal menjadi cita-cita saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  5 51. Pekerjaan sebagai konselor sekolah membuat saya merasa tidak percaya diri a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 52.

  Memberikan bimbingan kelas kepada siswa kurang berguna karena siswa telah mendapatkan banyak informasi dari pergaulan, internet, media masa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 53. Berbagai teori konseling yang saya pelajari semakin memantapkan saya untuk memberikan konseling di sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 54. Bimbingan klasikal oleh konselor sekolah hanya merupakan pekerjaan mengisi jam pelajaran yang kosong.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 55. Saya tergerak membantu siswa ketika sedang kesulitan dalam merencanakan karirnya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 56. Menjadi konselor sekolah lebih banyak menganggurnya dari pada bekerjanya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 57.

  Menyiapkan materi bimbingan karir, dari sumber- sumber materi yang up to date adalah pekerjaan yang saya nikmati.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 58. Teknik-teknik konseling tidak berguna dalam pemberian konseling.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 59. Sikap ramah konselor sekolah tetap akan membuat siswa merasa takut pada sosok konselor sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 60. Melayani siswa di sekolah menjadi pekerjaan yang saya damba-dambakan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 61. Murid merasa tidak suka dengan sosok konselor sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 62. Saya merasa cukup apabila bimbingan kelas diberikan dengan metode ceramah dan mencatat, a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 63.

Bagi saya menyediakan waktu ketika siswa mengutarakan masalahnya dan mendengarkannya adalah

  pekerjaan yang saya sukai.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  6 64. Ketika memberikan bimbingan klasikal saya berusaha menggunakan metode yang menarik sehingga membuat siswa tertarik.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 65. Saya tertarik untuk mengembangkan kepribadian siswa

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 66. Bagi saya pekerjaan konselor merupakan pekerjaan yang memalukan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 67. Ketika menyelenggarakan pemberian informasi saya mengusahakan menggunakan media-media lain ex : media cetak (Poster, pamflet).

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 68. Melayani orang lain adalah prinsip hidup yang saya miliki.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 69. Bimbingan klasikal dengan metode permainan hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 70. Sebagai mahasiswa BK, setelah lulus saya berkeinginan bekerja di sekolahan, a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 71.

  Konselor sekolah adalah pekerjaan yang tidak penting bagi sekolahan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 72. Informasi-informasi yang diberikan dalam bimbingan kelas adalah informasi yang tidak berguna bagi perkembangan siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 73. Saya memiliki kepedulian terhadap perkembangan diri siswa-siswa di sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 74. Ketika lulus dari kuliah saya akan mendaftar menjadi tenaga konselor sekolah a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 75. Saya tidak begitu cocok dengan pekerjaan yang sifatnya pelayanan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 76. memberikan konseling adalah pekerjaan yang membanggakan diri saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 77. Pekerjaan sebagai konselor sungguh menarik bagi saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  78. Citra diri seorang guru BK identik dengan banyak ngomong, suka menasihati, dijauhi siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 79. Melalui bimbingan-bimbingan yang saya berikan kepada siswa akan semakin membuat saya berarti.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 80. Saya memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan formal (sekolah).

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 81. Setelah lulus dari kuliah, lowongan pekerjaan sebagai konselor sekolah bukan prioritas utama untuk saya masuki/lamar.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 82. Konselor sekolah tenaga pendidikan yang sangat penting dalam dunia pendidikan formal (sekolah) a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 83. Dunia pendidikan bukan menjadi minat dan kepeduliaan saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 84.

Menjadi konselor sekolah sesuai dengan minat saya

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  • AMDG++++--------------------------

  7

  1 Kepada Yth. Rekan-rekan Mahasiswa BK USD Semester IX

  Dalam rangka penelitian skripsi yang bertema “Sikap Mahasiswa BK Semester IX Universitasa Sanata Dharma Terhadap Pekerjaan Konselor Sekolah”, saya meminta kesediaan rekan-rekan untuk berkenan mengisi semua pertanyaan dalam angket/kuesioner ini.

  Kuesioner bukan merupakan tes penilaian terhadap prestasi rekan-rekan, maka dari itu diharapkan agar rekan- rekan bersedia mengisi dan mengerjakan sejujur-jujurnya sesuai dengan keadaan yang dialami dan dirasakan dengan memilih alternatif jawaban yang telah disediakan :

  SS : Apabila Anda SANGAT SETUJU (Ss) Dengan Pernyataan Tersebut

  S : Apabila Anda SETUJU (S) Dengan Pernyataan Tersebut

  E : Apabila Anda Tidak Menentukan Setuju Atau Tidak Setuju Dengan Pernyataan Tersebut. TS : Apabila anda TIDAK SETUJU (TS) Dengan pernyataan Tersebut STS : Apabila anda SANGAT TIDAK SETUJU (STS)

  Dengan Pernyataan Tersebut dengan melingkari jawaban yang huruf. Atas Bantuan dan partisipasi rekan-rekan kami ucapkan banyak terima kasih.

  85. Saya merasa senang membantu siswa yang memiliki masalah belajar a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 86. Konselor sekolah adalah pekerjaan yang membosankan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 87. Saya tidak ingin bekerja yang sifatnya melayani/pelayanan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 88. Berbekal teori dan praktek selama kuliah, saya semakin merasa mantap memberikan bimbingan kelas.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 89. Setelah mengikuti kuliah dan praktek di prodi

  BK,semakin memantapkan saya untuk menjadi konselor sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 90. Konseling adalah pekerjaan yang menarik bagi saya

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 91. Pekerjaan konselor sekolah lebih rendah daripada guru bidang studi.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  2 92. Saya merasa bersemangat dalam memberikan konseling kepada siswa.

  Menjadi konselor sekolah bukan minat karir/pekerjaan saya.

  Membantu orang lain merupakan prinsip hidup saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 105.

  Dengan senang hati, saya menyediakan waktu di luar jam sekolah untuk memberikan informasi kepada murid- murid.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 104.

  Menyiapkan materi-materi bimbingan dengan sungguh-sungguh adalah pekerjaan yang menyenangkan bagi saya

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 103.

  Memberi bimbingan belajar merupakan pekerjaan yang menarik bagi saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 102.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 101.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 93. Bagi saya, konseling cukup efektif membantu siswa menyelesaikan masalahnya.

  Saya merasa tidak nyaman ketika memberikan konseling kepada siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 100.

  Program bimbingan di sekolahan hanya membuang- buang waktu konselor sekolah dan siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 99.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 98. Bimbingan kelas dari konselor sekolah tidak perlu karena sudah dapat membaca buku psikologi populer, buku pengembangan

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 97. Bagi saya tidak menjadi masalah untuk berbicara di depan kelas.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 96. Memberikan bimbingan di kelas adalah pekerjaan yang cocok dengan kepribadian saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 94. Saya merasa tidak percaya diri ketika memberikan bimbingan di kelas a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 95. Saya menikmati tugas-tugas sebagai konselor sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  3 106. Pengalaman di kuliah dan PPL membuat saya tidak ingin menjadi konselor sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 114.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  pekerjaan yang saya sukai.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 118.

  Murid merasa tidak suka dengan sosok konselor sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 117.

  Melayani siswa di sekolah menjadi pekerjaan yang saya damba-dambakan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 116.

  Sikap ramah konselor sekolah tetap akan membuat siswa merasa takut pada sosok konselor sekolah.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 115.

  Teknik-teknik konseling tidak berguna dalam pemberian konseling.

  Menyiapkan materi bimbingan karir, dari sumber- sumber materi yang up to date adalah pekerjaan yang saya nikmati.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 107.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 113.

  Saya tergerak membantu siswa ketika sedang kesulitan dalam merencanakan karirnya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 112.

  Berbagai teori konseling yang saya pelajari semakin memantapkan saya untuk memberikan konseling di sekolah.

  Pekerjaan sebagai konselor sekolah membuat saya merasa tidak percaya diri a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 111.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 110.

  Bagi saya, pemberian konseling untuk siswa adalah pekerjaan yang membuat saya bosan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 109.

  Menurut saya, pemberian bimbingan dan konseling di sekolahan hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 108.

  Saya merasa percaya diri ketika memberikan layanan konseling kepada siswa.

Bagi saya menyediakan waktu ketika siswa mengutarakan masalahnya dan mendengarkannya adalah

  119. a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  Ketika menyelenggarakan pemberian informasi saya mengusahakan menggunakan media-media lain ex : media cetak (Poster, pamflet). 126.

  Saya tidak begitu cocok dengan pekerjaan yang a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) sifatnya pelayanan.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 120. Melayani orang lain adalah prinsip hidup yang saya miliki.

  127. memberikan konseling adalah pekerjaan yang a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) membanggakan diri saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 121. Bimbingan klasikal dengan metode permainan hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga. 128.

  Pekerjaan sebagai konselor sungguh menarik bagi saya.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 122. 129. Citra diri seorang guru BK identik dengan banyak

  Sebagai mahasiswa BK, setelah lulus saya ngomong, suka menasihati, dijauhi siswa. berkeinginan bekerja di sekolahan,

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 130. 123.

  Konselor sekolah tenaga pendidikan yang sangat Konselor sekolah adalah pekerjaan yang tidak penting penting dalam dunia pendidikan formal (sekolah) bagi sekolahan. a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS )

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 124.

  Informasi-informasi yang diberikan dalam bimbingan

  • AMDG++++-------------------------- kelas adalah informasi yang tidak berguna bagi perkembangan siswa.

  a. (SS) b. (S) c.(E) d. (TS) e. (STS ) 125.

  Ketika lulus dari kuliah saya akan mendaftar menjadi tenaga konselor sekolah

  4

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Konsep diri mahasiswa : studi deskriptif pada mahasiawa angkatan 2015/2016 program studi bimbingan dan konseling Universitas Sanata Dharma dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan.
0
3
120
Studi kuantitatif deskriptif tentang sikap mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma terhadap pendidikan karakter.
0
0
166
Pengaruh motivasi dan prestasi belajar mahasiswa terhadap kemampuan praktik mengajar : studi kasus mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
0
0
97
Studi tentang tingkat kebiasaan proaktif mahasiswa semester III program studi bimbingan dan konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan tahun 2006.
0
6
106
Evaluasi pelaksanaan mata kuliah program pengalaman lapangan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan : studi kasus mahasiswa program studi Pendidikan Akuntansi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
0
0
2
Deskripsi tingkat kematangan karier mahasiswa semester VIII program studi bimbingan dan konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun akademik 2006/2007 - USD Repository
0
0
121
Masalah-masalah yang dihadapi siswa SMP dan SMA serta penerapan pendekatan konseling oleh mahasiswa angkatan 2002 prodi bimbingan dan konseling Universitas Sanata Dharma dalam program pengalaman lapangan tahun 2005/2006 - USD Repository
0
0
120
Pengaruh motivasi berprestasi dan jenis pekerjaan yang diminati terhadap prestasi akademik mahasiswa : studi kasus mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun angkatan 2004 - USD Repository
0
0
143
Kesalahan ejaan Bahasa Indonesia pada tugas akhir mahasiswa angkatan 2005, program studi pendidikan guru sekolah dasar, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta - USD Repository
0
0
240
Evaluasi pelaksanaan mata kuliah program pengalaman lapangan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan : studi kasus mahasiswa program studi Pendidikan Akuntansi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
1
177
Jiwa kewirausahaan mahasiswa Universitas Sanata Dharma ditinjau dari kultur keluarga, program studi, dan jenis pekerjaan orang tua : studi kasus pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
142
Deskripsi kecerdasan intrapersonal mahasiswa semester tiga program studi bimbingan dan konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma tahun ajaran 2006/2007 dan implikasinya terhadap usulan kegiatan bimbingan untuk meningkatkan
0
0
190
Analisis pengaruh kecerdasan emosional terhadap sikap etis mahasiswa akuntansi : studi kasus pada mahasiswa program studi akuntansi jurusan akuntansi fakultas ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
136
Persepsi mahasiswa semester VI tahun akademik 2006/2007 pada program studi bimbingan dan konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap kompetensinya sebagai calon konselor sekolah - USD Repository
0
0
98
Minat mahasiswa bimbingan dan konseling angkatan 2005 dalam kegiatan pendidikan di program studi bimbingan dan konseling Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
119
Show more