Sikap guru terhadap program sertifikasi dalam peningkatan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
111
1 year ago
Preview
Full text

  SIKAP GURU TERHADAP PROGRAM SERTIFIKASI DALAM PENINGKATAN KINERJA GURU Studi Kasus : Guru-guru Sekolah Menengah Atas di Kota Yogyakarta SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Ekonomi Oleh :

  Wayah Efratasario Sabattrinia NIM : 031324032 PROGRAM STUDI PENDIDIK AN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARM A YOGYAKARTA

  

ABSTRAK

SIKAP GURU TERHADAP PROGRAM SERTIFIKASI DALAM

PENINGKATAN KINERJA GURU

  Studi Kasus : Guru-guru Sekolah Menengah Atas di Kota Yogyakarta

  

Wayah Efratasario Sabattrinia

031324032

Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

  

2008

  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1) menganalisis sikap guru terhadap proses sertifikasi dan, 2) menganalisis sikap guru terhadap pencapaian tujuan sertifikasi.

  Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif. Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Atas kota Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan Random Sampling, sampel yang diambil sebanyak 30 sekolah dengan jumlah responden 70 orang guru. Teknik pengumpulan data adalah kuesioner. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan korelasi Product Moment dari Karl Pearson dengan taraf signifikasi 5%. Teknik analisis data menggunakan Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe II.

  Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan: 1) sikap guru terhadap proses sertifikasi adalah sangat baik dan baik dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa 61 orang (87%) guru menyatakan sikap sangat baik dan baik terhadap proses sertifikasi dan, 2) Sikap guru terhadap pencapaian tujuan sertifikasi adalah sangat baik dan baik dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa 55 orang (78%) guru menunjukkan sikap sangat baik dan baik terhadap pencapaian tujuan sertifikasi.

  

ABSTRACT

TEACHER’S ATTITUDE TOWARDS THE PROGRAMME OF

CERTIFYING OF TEACHER’S PERFORMANCE

  A Case Study on Teachers’ of Senior High Schools in Yogyakarta

  Wayah Efratasario Sabattrinia 031324032 Sanata Dharma University Yogyakarta

  2008

  The aims of this reserch are : 1) analyzing the attitude of teachers to the process of certifying of teacher’ s performance and, 2) analyzing the attitude of teachers in attaining the target of certifying of teacher’ s performance. This research is a descriptive research. This research was carried out in Senior High Schools in Yogyakarta. The technique of taking samples was random sampling. The samples were 70 teachers from 30 schools of Senior High Schools. The technique of collecting data is questionnaire. The data of this research was analyzed by using The Correlation of Product Moment from Karl Pearson with 5% signification level. The technique of analyzing the data refered to the evaluation of standart type II.

  Based on the data analysis, it is concluded: 1) the attitude of teachers to words the process of certifying is very good. It can be perceived that 61 teachers (87%) express good attitude and do well the process of certifying, 2) the attitude of teachers in attaining the target of certifying is very good and it indicates that 55 teachers (78%) express good attitude and do well by attaining the target of certifying.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis haturkan kepada Sang Juru Selamat atas segala anugerah dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul

  “ Sikap Guru Terhadap Program Sertifikasi dalam Peningkatan Kinerja Guru “

  . Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa dukungan dan doa dari berbagai pihak yang senantiasa membantu dengan ikhlas dan tidak mengenal lelah, tidak mungkin skripsi ini dapat terselesaikan.

  Penulis menyadari bahwa kebaikan orang-orang di sekitar penulis yang telah memberi bantuan secara langsung maupun secara tidak langsung, baik moril maupun materiil sangat membantu penulis. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

  1. Bapak Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Bapak Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  3. Bapak Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  4. Bapak Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku dosen pembimbing I yang selalu memberikan dorongan semangat, dukungan, masukan, kritikan dan saran kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

  5. Bapak Drs. P.A. Rubiyanto, selaku dosen pembimbing II yang selalu memberikan semangat dan dorongan bagi penulis.

  6. Bapak Yohanes M. V. Mudayen selaku dosen tamu dalam pengujian skripsi yang banyak memberikan saran, masukan, dan kritik yang membangun dalam proses skripsi ini.

  7. Seluruh Guru Sekolah menengah Atas di Kota Yogyakarta yang telah bersedia menjadi responden dalam penelitian penulis.

  8. Segenap Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi yang telah banyak membantu penulis selama masa perkuliahan sampai terselesaikannya penyusunan skripsi ini.

  9. Seluruh Staf Sekretariat Prodi pendidikan Ekonomi (Mbak Titin, Pak Wawik ) yang selalu membantu dalam urusan administrasi penulis.

  10. Kedua orangtua ku tercinta Bapak B.M. Triyono dan Ibu Veronica Ngatira terima kasih untuk doa, nasihat dan bimbingan yang diberikan hingga penulis berhasil hingga saat ini.

  11. Adikku Bernadettha Wayah Yudhis Tyastuti (cepet lulus y yas..cinta emang selalu indah ) dan Yohana Wayah Kusuma Pratiwi yang selalu memberikan semangat.I LOPH U.

  12. Mas KiZ ku pelita hatiku yang selalu mendukungku dan memberikan motivasinya disaat aku jatuh. Makasi yagh...akhirnya aku bisa nyusul juga .

  13. Dewata Club, Diah Ambar Susanti (makasih y nyak,ayo jadi gak bikin PT..mumpung masi muda ) dan Anastasia Aspertiwiyana (you’ re my best...tengkyu y tatia bwt spiritnya,never give up!! )

  14. Teman- teman Prodi Pendidikan Ekonomi: Wisnu, Bona Koko, Hendra (ayo bhe, bimbingan jangan lupa), Heri(^^), Okta, Anang (ayo cr ‘ gawe), Yuyun (ealah bu...gn tho rasanya jadi sarjana), Nining, Urbanus, Pipit, Ningsih, Meyta, Mbak Sandy, Ika, Katrin (Sukses y..jgn lupakan saat-saat kita menunggu bimbingan

  ), Ratna, Asih, Nanik, Rino, Istadi, Lius, Ian, Asti, Andika, Yustina, dan Alex. Terima kasih atas kebersamaan dan persahabatannya.

  15. Teman-teman kos “ Primadona” Sisca, Dewi, Khori, Yohana, Ika, Retno dan Puput. Terima kasih untuk hari- hari yang penuh dengan canda tawa.

  16. Sahabatku Sisca (akhirnya ndun..), Patty (cepet nyusul yagh prend), Ery ‘ cendol’ aprilianti (ojek cantikku yang selalu membantu, semua karena kamu

  ).Terimakasih untuk semua dukungan, bantuan, dan motivasi yang telah diberikan selama penulis menyelesaikan skripsi.

  17. Alumni SMU SEDES SAPIENTIAE Bedono angkatan 2003 yang tidak dapat penulis sebutkan satu- persatu. Terimakasih untuk persahabatan yang tak terpisahkan.

  18. My ‘ eks’ yang selalu memberikan nasihat dan jurus- jurus jitu dalam menjalani hidup. Makasih yak ndut...semua emang diserahkan nasib,wish all the best for u.

  19. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan dorongan, waktu, tenaga, bantuan dan pikirannya kepada penulis.

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................

  i

  

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN............................................................................. iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... iv

MOTTO ............................................................................................................... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................. vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............................................. vii

ABSTRAK .......................................................................................................... viii

  ABSTRACT

  .......................................................................................................... ix

KATA PENGANTAR......................................................................................... x

DAFTAR ISI ....................................................................................................... xiv

DAFTAR GAMBAR......................................................................................... xviii

DAFTAR TABEL ............................................................................................. xix

BAB I. PENDAHULUAN..................................................................................

  1 A. Latar Belakang Masalah ..........................................................................

  1 B. Rumusan Masalah ...................................................................................

  6 C. Tujuan Penelitian ...................................................................................

  6 D. Manfaat Penelitian .................................................................................

  7 BAB II. LANDASAN TEORI ............................................................................

  8 . ....................................................................... A Profesi Guru di Indonesia

  8

  1. Upaya- Upaya yang Dilakukan untuk Meningkatkan ........................................................................

  Profesionalisme Guru 11 .................................................................

  2. Standar Kompetensi Guru

  14 .....................

  3. Peningkatan Profesionalisme Guru dengan Sertifikasi

  16 ...................................................

  C. Program Sertifikasi Guru Di Indonesia

  20 ...............................................

  1. Konsep dan Definisi Sertifikasi Guru

  20 .......................................

  2. Prosedur dan Mekanisme Sertifikasi Guru

  21 .........................................

  3. Pelaksanaan Serifikasi Guru di Indonesia

  24 ...............................................

  D. Sikap Guru terhadap Program Sertifikasi

  26 ...............................................................................

  E. Penelitian Terdahulu 30 ...................................................................................

  F. Kerangka Berpikir

  31 BAB III. METODE PENELITIAN ....................................................................

  33 A . Desain Penelitian. ....................................................................................

  33 B. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................

  33 C. Subjek dan Objek ....................................................................................

  34 D. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ...............................

  34 E. Variabel Penelitian .................................................................................

  35 F. Instrumen Penelitian ...............................................................................

  37 G. Teknik Pengumpulan Data ......................................................................

  38 H. Teknik Analisis Instrumen ......................................................................

  40 I. Teknik Analisis Data ..............................................................................

  42

  BAB IV. GAMBARAN UMUM ..........................................................................

  44 ........................................................

  A. Gambaran Umum Kota Yogyakarta

  44 ..................................................................

  1. Sejarah Kota Yogyakarta

  44 .................................................

  2. Kondisi Geografis Kota Yogyakarta

  45 .............................................................................

  a. Batas Wilayah 45 ................................................

  b. Keadaan Alam dan Luas wilayah

  46 .......................................

  3. Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan

  46 ...................................................................................

  B. Deskripsi Sekolah 47 ...............................................................................

  C. Deskripsi Responden

  48 BAB V. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ..........................................

  51 ...............................................................................

  A. Pengujian Instrumen 51 ...........................................................................

  1. Pengujian Validitas 51 ..................................................................................

  2. Uji Reliabilitas

  53 B. Analisis Data ..........................................................................................

  54 1. Sikap Guru terhadap Proses Sertifikasi .............................................

  54 2. Sikap Guru terhadap Pencapaian Tujuan Sertifikasi .........................

  56 C. Pembahasan .............................................................................................

  56 1. Sikap Guru terhadap Proses Sertifikasi .............................................

  56 2. Sikap Guru terhadap Pencapaian Tujuan Sertifikasi .........................

  59 BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ...........................................................

  61 A. Kesimpulan .............................................................................................

  62 B. Saran ........................................................................................................

  63

  DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................

  65 LAMPIRAN..........................................................................................................

  67

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1 Prosedur Sertifikasi Guru Dalam Jabatan ..................................

  22 Gambar II.2 Skema Sikap ................................................................................

  28

  

DAFTAR TABEL

Tabel III.1 Kisi- Kisi Kuesioner ....................................................................

  38 Tabel III.2 Penilaian Acuan Patokan ............................................................

  43 Tabel IV.1 Daftar Sekolah Responden ..........................................................

  47 Tabel IV.2 Tabel Responden Berdasarkan Usia Responden .........................

  49 Tabel IV.3 Tabel Responden Berdasarkan Masa Kerja ................................

  49 Tabel IV.4 Tabel Responden Berdasarkan Status Kepegawaian ..................

  50 Tabel IV.5 Tabel Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ...................

  50 Tabel V.1 Uji Validitas Sikap Guru Terhadap Proses Sertifikasi ................

  52 Tabel V.2 Uji Validitas Sikap Guru Terhadap Pencapaian Tujuan Sertifikasi ....................................................................................

  53 Tabel V.3 Uji Reliabilitas ............................................................................

  54 Tabel V.4 Sikap Guru Terhadap Proses Sertifikasi .....................................

  55 Tabel V.5 Sikap Guru Terhadap Pencapaian Tujuan Sertifikasi .................

  56

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan selalu menjadi sorotan publik karena bagaimanapun proses

  pendidikan memiliki peran vital dalam pembentukan publik. Pendidikan merupakan tujuan pembangunan yang paling mendasar dimana pendidikan merupakan hal pokok untuk menggapai kehidupan yang memuaskan dan berharga. Oleh karena itu, dinegara manapun pendidikan merupakan hal yang utama dan selalu menjadi sorotan bagi masyarakat. Apabila masyarakat dalam suatu negara mengalami proses pendidikan maka secara otomatis sumberdaya manusia yang ada tentu berkualitas. Pendidikan merupakan alat yang menentukan sekali untuk mencapai kemajuan dalam segala bidang penghidupan, dalam memilih dan membina hidup yang baik, yang sesuai dengan martabat manusia (Joesoef dalam Susilo, 2002). Dari pengertian ini kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan merupakan modal utama suatu bangsa untuk meningkatkan kualitasnya karena dengan adanya pendidikan maka akan muncul sumberdaya baru yang lebih berkualitas. Pentingnya peran suatu pendidikan tidak hanya dialami Indonesia, bahkan negara lain yang lebih maju seperti Jepang pun masih menganggap bahwa pendidikan adalah salah satu hal yang harus didahulukan diatas kepentingan lainnya.

  Menyoroti pendidikan di Indonesia, pendidikan di negara kita ini masih mengalami krisis seperti perahu yang terkena badai. Banyak sekali pembaharuan yang ingin dilakukan tetapi sering kali hanya dilakukan setengah-setengah. Mulai dari zaman orde baru sampai karbinet gotong royong pendidikan di Indonesia memiliki fenomena tersendiri. Gambaran pendidikan di Indonesia memang sangat membutuhkan perhatian. Hal ini dibuktikan dari data penelitian Human Development Index (HDI) yang menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia pada tahun 2004 menempati urutan ke 111 dari 175 negara. Data ini membuktikan bahwa tingkat pendidikan dinegara kita masih tertinggal jauh dari negara lain bahkan dari negara tetangga kita sendiri seperti Singapura yang berada di peringkat 25, Brunei Darusalam pada peringkat 33, Malaysia pada peringkat 58, Thailand pada peringkat 76 atau Filipina pada peringkat 85 (Kompas,2004). Untuk tingkat perguruan tinggi pun, dalam kelompok 20 perguruan tinggi di Asia tenggara hanya dua perguruan tinggi yang berhasil masuk yaitu ITB yang berada pada peringkat 10 dan UGM yang berada pada peringkat 12 (Seputar Indonesia,2007).

  Melihat permasalahan yang ada, pemerintah selaku penyelenggara pendidikan sudah mulai memperbaiki kekurangan yang ada dalam dunia pendidikan di Indonesia, mulai dari adanya dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), penambahan subsidi untuk pendidikan, perbaikan kurikulum dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) ke Kurikulum Tingkat Satuan saat ini sedang dilakukan pemerintah adalah program sertifikasi guru. Pemerintah sedang mencoba memperbaiki mutu pendidikan kita yang akhir- akhir ini sering menjadi sorotan. Program sertifikasi guru dan dosen yang direncanakan oleh pemerintah sudah mulai dijalankan, dimana Undang- Undang no. 14 tahun 2005 tentang Guru dan dosen telah disahkan pada tanggal 30 Desember 2005 (Educare,2006). Undang- Undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang- Undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, dan Peraturan Pemerintah RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan guru adalah pendidik professional untuk itu, guru dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana atau diploma IV (S1/D-IV) yang relevan dan +menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran (Ditjen Dikti , 2007).

  Indonesia bisa belajar dari pengalaman negara India, negara ini memiliki banyak permasalahan baik dalam hal penduduk yang berjumlah lebih dari satu milyar sampai masalah pendidikan karena masih banyak masyarakat yang buta huruf. Namun, mereka masih mempunyai visi yang jelas dalam hal pendidikan. Sekolah mampu menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung dalam belajar seperti penyediaan tenaga pendidik yang ideal, koleksi-koleksi buku, akses internet yang dapat menambah pengetahuan siswa sehingga setiap orang dapat memperoleh pengetahuan sebanyak mungkin. Sedikit bekal yang dimiliki yaitu dalam hal penguasaan teknologi informasi, mampu membawa mereka untuk maju.

  Salah satu hal penting dalam pendidikan adalah guru yang merupakan fasilitator untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Guru memberikan gambaran yang jelas tentang suatu pelajaran baik dengan cara menerangkan, mengajarkannya kepada siswa melalui pengalaman, permainan ataupun dengan cara yang lain. Bantuan dari guru dalam menyampaikan materi membuat siswa menjadi lebih mengerti hal yang dipelajari. Akan tetapi, masih banyak juga guru yang dinyatakan belum layak mengajar yaitu 912.505 orang, terdiri atas 602.217 guru SD, 167.643 orang guru SMP, 75.684 orang guru SMA, dan 63.961 orang guru SMK (Kompas, 2005). Oleh karena itu, di Indonesia masih dibutuhkan sosok guru yang ideal yaitu yang mampu mengajarkan ilmu kepada anak didiknya, mampu memberikan motivasi kepada murid- muridnya dan dapat membangun proses pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa dan guru.

  Profesi guru adalah profesi yang memerlukan keahlian dan keseriusan, namun saat ini citra seorang guru sudah merosot. Kualitas guru yang kurang baik adalah salah satu penyebabnya. Selain itu,gaji yang minim namun tugas yang diemban memerlukan tanggung jawab yang besar membuat masyarakat tidak bercita- cita menjadi guru bahkan profesi guru dijadikan sebagai pilihan terakhir daripada profesi lainnya. Banyak sekolah yang masih kekurangan guru, seperti kejadian di daerah Sulawesi Utara yang terancam kehabisan guru sejak pemerintah memberlakukan otonomi daerah karena guru- guru bersaing untuk masuk ke instansi pemerintah non kependidikan (Basis, 2005). Kualitas pendidik yang berkurang juga. Oleh karena itu pemerintah berusaha memperbaiki keadaan ini dengan membuat program sertifikasi.

  Program sertifikasi yang direncanakan oleh pemerintah sebagai upaya peningkatan mutu guru yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru, diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Bentuk peningkatan kesejahteraan guru berupa pemberian tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok bagi guru yang memliki sertifikat pendidik. Tunjangan tersebut berlaku bagi guru yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS) maupun bagi guru yang berstatus non- pegawai negeri sipil (Ditjen Dikti , 2007) . Adanya program sertifikasi guru dan dosen diharapkan dapat membantu menyelesaikan salah satu permasalahan dalam dunia pendidikan di Indonesia yaitu perbaikan kualitas pendidikan.

  Sikap didefinisikan sebagai kecenderungan merespon sesuatu secara konsisten untuk mendukung atau tidak mendukung dengan memperhatikan suatu objek tertentu. Sikap merupakan sesuatu yang gampang dilihat apabila kita ingin melihat bagaimana respon seseorang terhadap suatu fenomena atau kejadian atau dengan kata lain dari sikap kita dapat mengetahui kecenderungan seseorang terhadap sesuatu.Hal ini juga dapat diterapkan dalam program sertifikasi guru. Pelaksanaan program sertifikasi guru yang saat ini sudah dilakukan merupakan suatu terobosan baru dalam dunia pendidikan. Sesuatu yang baru tentunya banyak mengundang daya tarik bagi dan mengundang adanya sikap dari masyarakat. Salah satu pihak sangat setuju dengan adanya program ini karena diharapkan dapat memberikan angin segar bagi profesi guru itu sendiri. Pihak lain justru berkebalikan, menganggap program ini tidak akan sukses sehingga tunjangan yang akan diberikan itu hanya sekedar iming- iming saja. Namun ada juga pihak yang hanya mengikuti arus saja, yang sekedar mengikuti aturan yang berlaku. Adanya perbedaan sikap ini sangat dirasakan dalam program sertifikasi karena dari sikap masyarakat terutama guru dapat dilihat apakah program ini berhasil atau tidak.

  Penelitian ini meneliti tentang “ Sikap Guru terhadap Program Sertifikasi dalam Peningkatan Kinerja Guru” karena adanya program ini menimbulkan reaksi berbeda- beda dari tiap orang yang terlihat dari sikap mereka terhadap program ini, dari sikap mereka dapat diperoleh gambaran berhasil atau tidaknya pelaksanaan sertifikasi bagi guru.

  B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana sikap guru terhadap proses sertifikasi?

  2. Bagaimana sikap guru terhadap pencapaian tujuan sertifikasi?

  C. Tujuan Penelitian

  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:

  1. Menganalisis sikap guru terhadap adanya proses sertifikasi dalam upaya peningkatan kinerja guru.

D. Manfaat Penelitian

  Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1. Pemerintah dan Dinas Pendidikan Tinggi.

  Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terhadap pelaksanaan Program Sertifikasi Guru dan juga memberikan gambaran dalam mengambil keputusan dalam bidang pendidikan serta dapat menjadi sumber refleksi dan perbaikan akan pelaksanaan Sertifikasi Guru pada pelaksanaan selanjutnya.

  2. Bidang pendidikan.

  Penelitian ini dapat menjadi referensi dan dapat memberikan masukan bagi pihak-pihak yang membutuhkan terutama hal-hal yang berkenaan dengan Sertifikasi Guru.

  3. Mahasiswa.

  Penelitian ini dapat memberikan gambaran dan dapat menjadi bekal dalam berkarya di masa yang akan datang.

  4. Universitas.

  Penelitian ini dapat menjadi sumbangan referensi dan sumber empiris atas sertifikasi guru.

BAB II LANDASAN TEORI A. Profesi Guru Di Indonesia Guru berasal dari bahasa sansekerta, gur-Ú yang berarti mulia, bermutu,

  memiliki kehebatan dan orang yang sangat dihormati. Arti guru yang demikian dalam istilah Jawa dapat diasosiasikan sebagai karakter yang memiliki kehebatan serta menjadi tauladan dan reflektif (Setyowati 2006:10). Pada jaman dahulu, jauh sebelum era globalisasi informasi profesi dan posisi guru konon dihormati seperti para priyayi dalam berbagai upacara dan perayaan. Secara ekonomis, penghasilan guru pada saat itu memadai dan secara psikologis, harga diri dan wibawa mereka juga tinggi sehingga para orangtua pun berterima kasih apabila anak- anaknya dididik oleh guru (Syah, 1997:221). Pada jaman kolonial, kedudukan guru berada setingkat dengan kaum bangsawan. Guru merupakan satu-satunya sumber pengetahuan dan menjadi tempat rujukan bagi semua pihak(www.kompas.com). Secara singkat posisi guru pada saat itu sangat terhormat dan mulia bagi masyarakat dan guru dianggap sebagai orang yang disegani dan pantas untuk ditiru bahkan masyarakat menganggap bahwa profesi guru merupakan salah satu profesi yang diimpikan karena memiliki status sosial yang tinggi .

  Seiring dengan perkembangan jaman untuk masa sekarang pengertian guru sudah berubah. Pengertian guru lebih pada profesi yang mengajarkan ilmu Guru dan Dosen Pasal 1 pengertian guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Guru merupakan sebutan terhormat untuk mereka yang bertugas mendidik siswa. Tugas seorang guru adalah mempersiapkan generasi manusia yang dapat hidup dan berperan aktif dalam masyarakat. (Sanjaya, 2005:144). Dalam menjalankan tugasnya, guru juga mempunyai hak dan kewajiban yaitu:

  a. Hak guru Hak- hak guru terdapat dalam Undang- Undang Guru dan Dosen pasal 14 meliputi : 1) Memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial.

  2) Mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja.

  3) Memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual 4) Memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi 5) Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan.

  6) Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang- undangan.

  7) Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas.

  8) Memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi. 9) Memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan.

  10) Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi; dan atau 11) Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

  b. Kewajiban guru.

  Kewajiban Guru menurut Undang- Undang Nomor 14 Tentang Guru dan Dosen Pasal 20 adalah : 1) Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

  2) Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni. 3) Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran.

  4) Menjunjung tinggi peraturan perundang- undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai- nilai agama dan etika; dan memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

B. Peningkatan Profesionalisme Keguruan

  1. Upaya- Upaya yang Dilakukan untuk Meningkatkan Profesionalisme Guru.

  Pergulatan mengenai peningkatan mutu dan profesionalisme guru pada dasarnya sudah menjadi masalah sejak awal tahun 1960-an. Pada masa itu kondisi pendidikan sangat memprihatinkan karena masih banyak sekali kekurangan baik dalam hal kurangnya buku pelajaran maupun sarana dan prasarana yang tersedia. Hal pertama yang dilakukan pemerintah saat itu adalah dengan mengubah kurikulum sekolah dasar dan sekolah menengah untuk mengantisispasi tuntutan perkembangan jaman. Kurikulum yang bersumber pada mata pelajaran diganti menjadi kurikulum yang bersumber pada kelompok mata pelajaran secara luas (Soeprapto, 2003: 224). Perubahan kurikulum baru terealisasi pada tahun 1975, pada saat itu adanya perubahan kurikulum membuat perlunya penyesuaian dengan penataran bagi guru-guru untuk dapat menyesuaikan diri dengan kurikulum yang baru. Melalui Proyek Pembinaan Pendidikan Dasar (P3D), Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G), yang dilanjutkan dengan Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan (P3TK) (Soeprapto, 2003: 224).

  Upaya- upaya peningkatan profesionalisme guru terus berlangsung dengan tujuan yang sama yaitu lebih meningkatkan lagi kualitas pendidikan di Indonesia. Pada tahun 1990-an berbagai upaya juga dilakukan pemerintah untuk meningkatkan keterampilan mengajar, penguasaan materi ajar serta komitmen dan motivasi guru dalam mengajar. Adapun program- program yang diupayakan pemerintah pada saat itu adalah : program penyetaraan untuk meningkatkan kualifikasi guru, peningkatan kemampuan guru secara khusus melalui penataran, serta program pembinaan dan pengembangan kemampuan professional guru melalui wadah PKG (Pemantapan Kerja Guru), MGMP/BS (Musyawarah Guru Mata Pelajaran/Bidang Studi), KKG/PKG ((Kelompok Kerja Guru/ Pemantapan Kerja Guru), dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (Supriadi dan Faisal, 2001: 263).

  Program penyetaraan untuk meningkatkan kualifikasi guru lebih diprioritaskan untuk guru SD hinggs setara D-II dan SLTP hingga setara D-III yang dimulai sejak tahun 1992/1993. Pelaksanaan program ini bertahap mengingat besarnya jumlah guru yang memerlukan peningkatan kualifikasi. Mengingat besarnya tantangan peningkatan kualifikasi guru tersebut, maka ditempuh berbagai usaha untuk meningkatkan produktivitas dan mutu program ini bekerjasama dengan LPTK di seluruh Indonesia.

  Program lain yang juga dilaksanakan yaitu peningkatan kemampuan guru melalui penataran, dimana pada saat itu banyak sekali kegiatan guru pada tingkat SD hingga SLTA. Persoalan yang dihadapi adalah kurangnya koordinasi antara program- program penataran, mutu penataran yang belum teruji, dan dampak penataran terhadap kinerja guru. Perhatian yang sungguh- sungguh diberikan kepada usaha membenahi materi dan metode penataran agar mempunyai dampak yang nyata terhadap peningkatan kemampuan guru. Pada saat yang sama, dilakukan pemetaan kembali jenis- jenis penataran dengan tujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensinya.

  Program terakhir yang dilaksanakan yaitu pembinaan dan pengembangan kemampuan professional guru melalui wadah PKG (Pemantapan Kerja Guru), MGMP/BS (Musyawarah Guru Mata Pelajaran/Bidang Studi), KKG/PKG (Kelompok Kerja Guru/Pemantapan Kerja Gutu) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS). Melalui wadah ini para guru diarahkan untuk dapat berbagi pengalaman mengenai cara mengajar dan materi ajar sehingga apa yang diperoleh guru di kelompok tersebut dapat diterapkan di kelas. Dibeberapa daerah, pembinaan seperti ini cukup efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengajar guru, namun ditempat lain masih ditemukan kendala yang berkaitan dengan akses guru ke PKG/KKG dan motivasi guru untuk menerapkan apa yang diperoleh di kelas.

  Program- program pembinaan mutu guru memberikan perhatian khusus pada hal- hal yang berkaitan dengan pemanfaatan waktu/ hari praktis yang dialami di sekolah. Di lain pihak, materi- materi yang kurang relevan perlu dilakukan pengkajian yang intensif dan komprehensif terhadap materi pendidikan/pelatihan guru yang dilakukan oleh para ahli dengan melibatkan para guru yang mengetahui permasalahannya.

  2. Standar Kompetensi Guru Kompetensi merupakan kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya (Usman, 1997: 14) sedangkan menurut

  Johson dalam Sanjaya, 2005: 145, kompetensi merupakan perilaku rasional guna mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Pengertian kompetensi guru menurut Undang- Undang Guru dan Dosen merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya.

  Kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan., sebagai patokan dari kompetensi guru adalah standar kompetensi. Standar kompetensi guru adalah suatu ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan berperilaku layaknya seorang guru untuk menduduki jabatan fungsional sesuai bidang tugas, kualifikasi, dan jenjang pendidikan (Madjid, 2005: 6). Seseorang yang dinyatakan kompeten di bidang tertentu adalah seseorang yang menguasai kecakapan kerja atau demikian ia mempunyai wewenang dalam pelayanan sosial di masyarakat. Kecakapan sosial tersebut dijelaskan dalam perbuatan yang bermakna, bernilai sosial dan memenuhi standar (kriteria) tertentu yang diakui atau disahkan oleh kelompok profesinya dan atau warga masyarakat yang dilayaninya atau secara nyata, orang yang kompeten tersebut mampu bekerja di bidangnya secara efektif- efisien. Kadar kompetensi seseorang tidak hanya menunjuk kuantitas tetapi kualitas kerja (Houston dalam Samana, 1994 : 44). Kompetensi sangat perlu dimiliki oleh tiap- tiap guru agar pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

  Untuk menciptakan proses pembelajaran yang ideal, guru harus memiliki kompensi dasar. Menurut Undang- Undang Guru dan Dosen kompetensi yang harus dimiliki oleh guru meliputi kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi pedagogik yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

  Kompetensi professional merupakan kemampuan yang berkenaan dengan penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan substansi isi materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut serta menambah wawasan keilmuan sebagai guru. (Trianto dan Tutik, 2007: 90). Pengertian kompetensi kepribadian (dalam Mulyasa, 2007: 117) adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik. pembelajaran karena kepribadian guru sangat berperan dalam membentuk peserta didik sehingga dengan ajarannya guru dapat membentuk kepribadian siswa yang baik. Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul dengan masyarakat setempat (Mulyasa, 2007:173). Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis (Trianto dan Tutik, 2007: 85) Keempat kompetensi ini diharapkan dapat dilaksanakan oleh guru dalam melaksanakan profesinya baik di sekolah maupun dimasyarakat.

  3. Peningkatan Profesionalisme Guru Dengan Sertifikasi Guru adalah profesi yang pada mulanya oleh masyarakat Indonesia dianggap sebagai profesi yang luhur. Pemberitaan di berbagai media pada akhir- akhir ini membuat citra guru menjadi perbincangan dalam dunia pendidikan Indonesia. Pemberitaan yang muncul mengupas fakta- fakta seputar keadaan guru- guru di Indonesia yaitu seputar kualitas guru di Indonesia yang dirasa masih kurang berkualitas. Kualitas pendidikan di Indonesia rendah sementara guru sebagai ujung tombak semakin berkurang baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kualitas pendidikan yang semakin rendah menjadikan guru sebagai kambing hitam karena guru merupakan sosok yang paling bertanggung jawab dalam proses pembelajaran di kelas. Dari segi kualitas, masyarakat masih merindukan terhadap prinsip dan juga mampu menguasai bidang ilmu yang diajarkan (Kompas, 2006). Namun kenyataannya, kualitas sumberdaya guru di Indonesia masih rendah padahal ilmu pengetahuan merupakan senjata guru dalam mengajar. Selain dari segi kualitas, kuantitas guru juga masih kurang karena masih banyak wilayah di Indonesia yang kekurangan guru, seperti di Pulau Jawa yang seharusnya jumlah guru lebih banyak ternyata masih mengalami kekurangan banyak guru, untuk satu SD yang seharusnya memiliki tujuh guru kenyataannya hanya memiliki dua atau tiga guru (Kompas, 2004). Lain halnya di daerah Papua jumlah tenaga pengajar sangat terbatas sehingga banyak sekolah yang ditutup. Rasio guru di sekolah ini 1: 6,5 satu sekolah hanya terdapat enam atau tujuh guru sehingga masih banyak ditemukan siswa lulusan sekolah dasar atau sekolah menengah pertama yang belum bisa membaca dan menulis (Basis, 2001). Menurut Prihadiartanto (2005) pada tahun 2020 Indonesia akan kehabisan Guru. Kedua permasalahan ini menyebabkan merosotnya citra profesi guru sehingga masih banyak generasi muda yang pandai tidak tertarik dan berminat menjadi guru (Kompas, 2006). Guru merupakan pekerjaan dengan tanggungjawab besar namun gaji yang didapatkan minim.

  Penurunan citra profesi guru menyebabkan masyarakat berfikir dua kali untuk menjadi guru sehingga profesi guru tidak dijadikan pilihan utama (Kompas, 2006). Menurut Supriyoko (www.kompas.com), kualitas kombinasi yang sempurna untuk menghasilkan generasi yang kurang cerdas sehingga perlu adanya peningkatan profesionelisme dalam diri guru sendiri.Profesional dapat berarti cara seseorang untuk menjalankan profesi dengan sebaik- baiknya dan juga sikap seseorang untuk mengembangkan kemampuannya sehingga memiliki keterampilan yang tinggi. Namun, menurut Undang- Undang Guru dan Dosen, professional berarti pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memiliki pendidikan profesi sedangkan guru professional berarti guru yang mampu berubah dari praktik lama untuk menghadapi tantangan professional saat ini (Kompas, 2007) sehingga dalam menjalankan profesinya sehari- hari guru harus mampu dan memiliki kemampuan untuk memberikan dan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada siswa dengan menggunakan cara- cara yang relevan saat ini. Profesionalisme yang dimiliki oleh guru berdampak pada peningkatan mutu guru sendiri sehingga pada akhirnya guru akan lebih berkualitas.

  Upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan profesionalisme guru antara lain dengan meningkatkan kualifikasi dan persyaratan jenjang pendidikan yang lebih tinggi bagi tenaga pengajar mulai dari tingkat persekolahan sampai perguruan tinggi (http://artikel.us/amhasan.html). Kualifikasi akademik yang dimaksud Diploma IV yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran (Kompas, 2007). Upaya lain yaitu dengan program sertifikasi yang diorientasikan kepada guru prajabatan dan guru dalam jabatan. Selain untuk peningkatan profesionalisme, tujuan lain pelaksanaan sertifikasi adalah untuk peningkatan mutu hasil pendidikan dan juga menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional (Kompas, 2007). Proses sertifikasi guru yang merupakan titik awal bagi perbaikan kualitas guru diharapkan dapat menjadi titik awal bagi perbaikan pendidikan Indonesia sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

  Pelaksanaan sertifikasi di Indonesia sendiri memang masih merupakan hal yang baru, tetapi tidak demikian di negara- negara lain seperti Amerika, Jepang, Inggris, dan Australia sementara itu di Denmark baru dimulai pada tahun 2003. Amerika telah terlebih dahulu melakukan uji sertifikasi terhadap guru. Melalui badan independent yang disebut The American Assosiation of Colleges For Teacher Education (AACTE).

  Badan tersebut berwenang menilai dan menentukan ijazah yang dimiliki calon pendidik, layak atau tidak layak untuk diberi lisensi pendidik.

  Jepang sudah memberlakukan sertifikasi guru selama 33 tahun sejak tahun 1974, diyakini pemerintah Jepang bahwa kemajuan bangsanya harus diawali dari dunia pendidikan syaratnya memiliki guru yang berkualitas.

C. Program Sertifikasi Guru Di Indonesia

  1. Konsep Dan Definisi Sertifikasi Guru Istilah sertifikasi dalam makna kamus berarti surat keterangan (sertifikat) dari lembaga berwenang yang diberikan kepada jenis profesi dan sekaligus pernyataan terhadap kelayakan profesi untuk melaksanakan tugas (Trianto dan Tutik, 2007:11).Namun menurut Undang- Undang Guru dan Dosen, sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen, dimana sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga professional. Sertifikat pendidik diharapkan dapat berfungsi sebagai jaminan formal terhadap eksistensi pekerjaan mendidik. Selain itu, adanya sertifikat pendidik diharapkan dapat melindungi kegiatan pendidikan dari tindakan yang tidak bertanggung jawab (Kompas, 2007). Tujuannya adalah untuk mendapatkan guru yang bermutu. (Depdiknas, 2007:1).

  Awal mula pelaksanaan sertifikasi di Indonesia adalah dikarenakan kondisi pendidikan Indonesia yang tertinggal jauh dari negara- negara lain.

  Perbaikan kurikulum sudah perlahan- lahan dilakukan pemerintah, namun itu saja dirasa kurang cukup sehingga perbaikan kualitas guru dilakukan dengan proses sertifikasi yang tujuannya untuk mendapatkan guru yang berkualitas. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pernah mengatakan bahwa “ Sebaik apapun kurikulum jika tidak didukung guru yang berkualitas maka semua akan sia- sia” .(Kompas, 2006).Adanya sertifikasi dianggap telah memiliki kualifikasi dan kompetensi sehingga dengan adanya sertifikasi, kemampuan guru dalam hal mengajar sudah tidak diragukan lagi.

  2. Prosedur dan Mekanisme Pelaksanaan Sertifikasi Guru.

  Pemerintah menggunakan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 sebagai landasan hukum pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan. Pada pelaksanaan program sertifikasi, pihak yang harus disertifikasi adalah tenaga kependidikan karena merekalah yang berkaitan langsung dengan proses pendidikan. Ada dua sasaran yang menjadi tujuan dalam proses sertifikasi : Pertama, mereka para lulusan sarjana pendidikan maupun non kependidikan yang mengiginkan guru sebagai pilihan profesinya. Kedua, para guru dalam jabatannya. Bagi lulusan sarjana pendidikan maupun non kependidikan yang menginginkan guru sebagai pilihan profesinya, sebelum mengikuti proses sertifikasi. Setelah lulus uji kompetensi, maka mereka dikatakan sebagai guru berperspektif profesi. (Trianto dan Tutik, 2007:19). Namun pada saat ini program sertifikasi guru masih diprioritaskan bagi guru dalam jabatan yang dilakukan dalam bentuk portofolio. Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan terhadap dokumen- dokumen yang dimiliki guru sebagai bentuk pengakuan profesionalisme, prestasi, pengabdian dan kemempuan- kemampuannya sebagai guru dan pendidik (Kompas, 2007). Komponen- komponen yang ada dalam portofolio meliputi : 1) kualifikasi perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, 5) penilaian dari atasan dan pengawas, 6) prestasi akademik, 7) karya pengembangan profesi, 8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, 9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, 10) penghargaan yang relevan di bidang pendidikan (Depdiknas, 2007). Selain dengan menggunakan dokumen portofolio, penilaian yang juga dimungkinkan adalah dengan program satu tahuun yang harus diikuti guru. Namun, program ini hanya berlaku untuk guru yang memiliki kemampuan yang lebih

  .

  Gambar II.1 Prosedur Sertifikasi Guru Dalam Jabatan

  Sumber : Departemen pendidikan Nasional. 2007. Hal :3

  Prosedur pelaksanaan dalam proses sertifikasi yaitu guru peserta sertifikasi menyusun dokumen portofolio dengan mengacu pada Pedoman Penyusunan Perangkat Portofolio Sertifikasi Guru lalu dokumen portofolio yang telah disusun diserahkan kepada dinas pendidikan kabupaten/ kota untuk diteruskan kepada LPTK Induk untuk dinilai oleh asesor di rayon tersebut. Hasil penilaian portofolio peserta sertifikasi, bila mencapai skor minimal kelulusan dan dinyatakan lulus akan memperoleh sertifikat pendidik sedangkan yang belum mencapai skor minimal kelulusan akan direkomendasikan oleh LPTK Rayon dengan alternatif : 1) Melakukan kegiatan mandiri untuk melengkapi kekurangan dokumen portofolio.

  2) Mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (Diklat Profesi Guru atau PLPG) yang materinya mencakup empat kompetensi yaitu kepribadian, pedagogic, professional dan sosial. Pelaksanaan PLPG diatur oleh LPTK penyelenggara dengan memperhatikan skor hasil penilaian portofolio dan rambu- rambu yang ditetapkan oleh KSG dengan ketentuan: a) Peserta PLPG yang lulus ujian akan memperoleh sertifikat pendidik.

  b) Peserta yang tidak lulus diberi kesempatan mengikuti ujian ulang sebanyak dua kali dan tenggang waktu sekurang- kurangnya dua minggu.

  Apabila tidak lulus, peserta diserahkan kembali ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota (Depdiknas, 2007;4). Dalam pelaksanaan pengujiannya, guru harus memenuhi persyaratan administrasi yang telah ditetapkan.

  Setelah itu guru mengikuti ujian tulis dan setelah guru diminta untuk mencatat aktivitas- aktivitas yang telah dilakukan dalam bentuk portofolio. Aktivitas tersebut merupakan refleksi dari empat kompetensi dasar guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kompetensi personal dan kompetensi sosial. Guru yang lulus uji sertifikasi, akan mendapat tunjangan yang berasal dari pemerintah.

  3. Pelaksanaan Sertifikasi Guru di Indonesia Pada saat ini, pemerintah sudah mulai melaksanakan program sertifikasi guru bahkan unruk mensukseskan pemerintah juga melakukan banyak sosialisasi di berbagai tempat tetapi masih ada pihak yang merasa informasi mengenai sertifikasi masih sangat tertutup dan soaialisasi masih kurang merata. Adanya kelemahan- kelemahan dalam pelaksanaan sertifikasi bisa dijadikan kesempatan berbagai pihak untuk melakukan kecurangan sehingga pelaksanaanya hanya efektif untuk meningkatkan kesejahteraan sekelompok golongan tetapi tidak meningkatkan kualitas pendidikan.. Praktik kolusi yang masih kental di negara Indonesia merupakan ancaman dalam pelaksanaan sertifikasi guru dari awal pelaksanaan, program sertifikasi sudah dapat menimbulkan kecurangan. Adanya ketidak transparanan dalam mekanisme pelaksana proyek sertifikasi menyebabkan timbulnya praktek suap oleh pejabat dengan memberikan peluang yang lebih besar untuk Perguruan Tinggi yang mampu menyediakan dana untuk memenangi tender proyek sertifikasi (Kompas, 2007). Kecurangan lain dapat terjadi pada saat pelaksanaan yang dapat dijadikan dalam proses sertifikasi guru. Pertama, pada seleksi internal yang dilakukan oleh dinas pendidikan dimana setelah persyaratan kualifikasi akademik dilakukan selanjutnya peserta akan dilihat masa kerja, usia, pengalaman mengajar, pangkat, tugas tambahan, pengalaman mengajar dan prestasi kerjanya. Pada saat ini dimungkinkan adanya praktik “ tolong- menolong“ yang mengandalkan kedekatan pribadi.

  Kedua, pada saat guru mengajar kualifikasi akademik dimana kecurangan yang mungkin terjadi adalah bagaimana guru memperoleh ijazah tanpa harus bekerja keras belajar. Ketiga, dalam memenuhi komponen portofolio yaitu munculnya kegiatan kegiatan pelatihan, seminar, lokakarya, dan rapat kerja fiktif. Keempat, dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yaitu dengan adanya kerjasama antara guru, kepala sekolah dan pengawas. Kelima, keikutsertaan dalam forum- forum ilmiah yang mengakibatkan para guru tiba- tiba aktif dan melakukan berbagai pendekatan pribadi dengan para pengurus forum demi memperoleh selembar bukti fisik. Keenam, keterlibatan dalam organisasi sosial yang menyebabkan banyak guru yang tiba- tiba menjadi RT ataupun RW hanya untuk mendapatkan sertifikat bukan karena pengabdian yang tulus. Ketujuh, pada tahap perhitungan skor. Kemungkinan kecurangan yang terjadi adalah terjadi praktik “ penyuapan” agar memperoleh skor akhir yang memuaskan. Adanya berbagai kecurangan ini bisa membuat kerugian tersendiri bagi pendidikan. Sertifikasi yang diharapkan sebagai media peningkatan kualitas pendidikan hanya akan menjadi sesuatu yang sia- sia.

  Kecurangan dapat terjadi dalam melaksanakan suatu program dan adanya perbaikan memang diperlukan agar pelaksanaan program sertifikasi lebih baik lagi. Menurut Wahab (2007) ada beberapa upaya yang dapat dilakukan, yaitu dari pihak guru, sekolah dan juga pihak asesor. Pihak guru diminta agar meningkatkan wawasan dan pemahamannya terhadap penyelesaian portofolio sehingga isi dokumen dapat dijamin kevalidannya. Pihak sekolah juga dapat membantu jalannya program ini dengan adanya peningkatan kendali kepala sekolah dengan ditingkatkan keterbukaan dalam penentuan rangking calon peserta dan asesor sebagai penilai portofolio perlu meningkatkan kecermatan dan pengendalian terhadap perencanaan, pelaksanaan dan penentuan kelulusan uji sertifikasi portofolio. Upaya- upaya yang dilakukan diharapkan dapat membuat pelaksanaan program sertifikasi dimasa yang akan datang menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itu persiapan yang matang memang diperlukan. Selain itu kejujuran dari masing- masing orang sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan proses sertifikasi.

D. Sikap Guru Terhadap Program Sertifikasi

  Sikap didefinisikan sebagai kecenderungan merespon sesuatu secara konsisten untuk mendukung atau tidak mendukung dengan memperhatikan

  1995: 4 ) mendefinisikan sikap sebagai evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap merupakan situasi mental yang mempengaruhi seseorang dalam memberikan reaksi terhadap stimulus yang datang kepadanya sedangkan Gerungan berpendapat (1998: 149) sikap merupakan kesediaan bereaksi terhadap suatu hal, sehingga sikap dapat didefinisikan sebagai suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang ataupun terhadap suatu situasi yang sedang dihadapi. Elis (dalam Purwanto, 1990: 141) menyatakan bahwa faktor yang berperan penting dalam sikap adalah perasaan atau emosi dan respon atau kecenderungan untuk bereaksi. Ahli lain yaitu Rosenberg dan Hovland (dalam Azwar,1995:7) menyatakan pendapat mengenai tripartite model yang menempatkan ketiga komponen afeksi, kognisi, dan konasi sebagai faktor jenjang pertama dalam suatu model hirarkis. Ketiganya didefinisikan tersendiri dan kemudian dalam abstraksi yang lebih tinggi membentuk konsep sikap sebagai faktor tunggal jenjang kedua.

  Gambar II.2 Skema Sikap

  Variabel independent Variabel Variabel

Yang dapat diukur Intervening dipenden yang

Dapat diukur

  Respon syaraf simpatetik

  AFEK

  Pernyataan lisan tentang afek Respon perseptual

  STIMULI SIKAP KOGNISI

  (Individu, situasi, Pernyataan lisan isyu sosial, tentang kelompok sosial keyakinan dan objek sikap lainnya)

  Tindakan yang tampak

  PERILAKU

  Pernyataan lisan mengenai perilaku

  Sumber: Azwar, Saifudin. 1995. Hal : 7 Sikap seseorang terhadap suatu objek selalu berperanan sebagai perantara antara responsnya dan objek yang bersangkutan. Respon diklasifikasikan dalam tiga macam, yaitu respons kognitif (respon perseptual dan pernyataan mengenai apa yang diyakini), respon afektif (respon syaraf simpatetik dan pernyataan afeksi), serta respon perilaku atau konatif (respon berupa tindakan dan pernyataan mengenai perilaku). Masing- masing klasifikasi respons ini berhubungan dengan ketiga kompenen sikapnya, dan dengan melihat salah satu di antara ketiga bentuk respon maka sikap seseorang sudah dapat diketahui. Namun, deskripsi lengkap mengenai sikap individu harus dilihat

  Sikap bukan merupakan sesuatu yang dibawa sejak lahir melainkan terbentuk melalui pengalaman karena terbentuk melalui pengalaman, berarti sikap merupakan hasil belajar sebab belajar pada dasarnya adalah upaya untuk mendapatkan pengalaman. Sikap terdiri dari tiga komponen, yaitu (Azwar,1995:24):

  1. Komponen kognitif Komponen kognitif mencakup persepsi, pendapat, atau opini dan kepercayaan terhadap obyek, konsep atau peristiwa tertentu. Wujud nyata dari proses kognitif ialah penilaian bahwa sesuatu itu benar atau tidak benar.

  2. Komponen Afektif Komponen afektif menyangkut masalah emosional seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara umum, komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu.

  3. Komponen Perilaku Komponen perilaku atau komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku, maksudnya perilaku seseorang dalam situasi tertentu dan terhadap stimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut.

  Kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual.

  Sikap yang ditujukan seseorang memiliki fungsi yang mungkin berbeda dengan sikap yang ditunjukkan orang lain. Sekurang- kurangnya fungsi sikap dapat dibedakkan menjadi enpat yaitu: 1) Untuk menyatakan penyesuaian, 2) Untuk mempertahankan atau menyembunyikan keadaan diri yang sebenarnya, 3) Untuk menyatakan nilai, 4) Untuk menunjukkan pengetahuan (Steers dalan Depdiknas, 1989: 240). Pada kehidupan sehari- hari sikap tiap orang berbeda- beda terhadap suatu perangsang. Ini disebabkan oleh berbagai faktor yang ada pada indivudu masing- masing seperti adanya perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, intensitas perasaan dan juga situasi lingkungan. Demikian juga sikap seseorang terhadap suatu keadaan yang sama juga tidak selalu sama antara satu dengan yang lain.

E. Penelitian Terdahulu

  Penelitian terdahulu mengenai program sertifikasi dilakukan oleh Paul Suparno yang berjudul “ Sikap Penerimaan, Gagasan, dan Usulan Mahasiswa Pendidikan Fisika Terhadap Program Sertifikasi Guru Fisika . Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa program studi Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma angkatan 2005/2006. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana sikap penerimaan mahasiswa Universitas Sanata Dharma Pendidikan Fisika terhadap program sertifikasi guru? dan juga dari penelitian tentang isi dan sifat program sertifikasi guru fisika yang ingin diselenggarakan oleh program studi Pendidikan Fisika USD? Apakah para mahasiswa mempunyai keinginan untuk mengikuti program program tersebut?. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa kebanyakan mahasiswa pendidikan fisika USD menyetujui dan menerima program sertifikasi guru fisika dan diharapkan bahwa Universitas Sanata Dharma sebagai instansi pendidikan mengadakan program sertifikasi itu sendiri karena dianggap mampu dan mungkin. Selain itu, kebanyakan mahasiswa mengusulkan bahwa dalam program sertifikasi guru fisika ditekankan praktik mengajar dilapangan dan penguasaan bahan fisika SMA dengan cara membahasnya di program sertifikasi tersebut.

F. Kerangka Berfikir

  Sertifikasi guru yang dilaksanakan di Indonesia merupakan proses pemberian sertifikat pada guru atau dosen. Pelaksanaannya sudah dimulai kurang lebih satu tahun sejak Undang- Undang Nomor 14 tentang Guru dan Dosen disahkan. Tujuan dari diadakannya sertifikasi bagi guru adalah Pertama, meningkatkan kualitas dan kompetensi guru; Kedua, meningkatkan kesejahteraan dan jaminan financial secara layak sebagai profesi yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas pendidikan. Pelaksanaan sertifikasi diharapkan dapat diikuti oleh guru- guru di Indonesia, dengan mengikuti program sertifikasi sikap guru terhadap adanya sertifikasi menunjukkan respon yang positif sehingga pelaksanaannya dapat dikatakan berhasil.

  Salah satu tujuan dari dilaksanakannya program sertifikasi bagi guru adalah untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru. Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh guru adalah kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi pedagogik. Sikap positif guru terhadap program sertifikasi mendukung adanya peningkatan hasil kompetensi bagi guru sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan mengikuti program sertifikasi maka guru juga mendukung adanya peningkatan hasil kompetensi keguruan.

  Tanggapan (sikap) Guru Sertifikasi Guru

  Peningkatan Kompetensi

BAB III

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu penelitian dengan

  mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek atau subjek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum (Sugiono,2001:11). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, artinya semua informasi atau data diwujudkan dengan angka dan analisisnya menggunakan analisis statistik. Data- data ini diperoleh dari hasil bertanya kepada responden dalam bentuk kuesioner.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

  Tempat penelitian adalah tempat dimana proses studi yang digunakan untuk memperoleh pemecahan masalah penelitian berlangsung (Sukardi, 2003). Penelitian ini dilaksanakan di SMA kota Yogyakarta baik negeri maupun swasta. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan April 2008. Alasan objektif penulis mengadakan penelitian di kota Yogyakarta adalah kota yang terkenal dengan sebutan “ kota pelajar” sehingga banyak orang ingin memperoleh ilmu di Yogyakarta dan memungkinkan banyaknya program pendidikan disosialisasikan disini selain itu pelaksanaan Program Sertifikasi Guru sudah dilakukan di Yogyakarta. Alasan subjektif penulis mengadakan penelitian di kota Yogyakarta antara lain memudahkan penulis dalam melakukan penelitian sebab lokasi penelitian mudah dijangkau dan lebih dekat dengan tempat tinggal penulis.

  C. Subjek dan Objek

  1. Subjek Subjek menurut Arikunto (2000:116) adalah benda, hal/orang tempat variabel penelitian melekat. Mereka berperan sebagai pemberi informasi yang berhubungan dengan subyek penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah guru- guru SMA kota Yogyakarta.

  2. Objek Objek dalam penelitian ini yaitu sikap guru terhadap program sertifikasi dalam peningkatan kinerja guru.

  D. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel.

  1. Populasi Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian peneliti dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang ditentukan (Zuriah,2006). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru SMA di kotaYogyakarta yang berjumlah 1. 829 orang, terdiri dari 593 orang guru SMA negeri dan 1.236 orang guru SMA swasta.

  2. Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto,

  1996). Sampel dalam penelitian ini adalah guru SMA di kota Yogyakarta yang berjumlah 1.829 orang dan dibagi menjadi dua yaitu guru SMA

  Perhitungan sampel menggunakan Nomogram Harry King dengan kepercayaan sampel 90 % atau kesalahan 10% maka jumlah sampel adalah 3,8% dari populasi. Jadi, 0,038 x 1.829 = 69.5 atau sekitar 70 orang. Perhitungan persen sekolah yang akan dijadikan sampel yaitu sebanyak 22,4% sekolah negeri atau sebanyak 2 sekolah negeri dan 77,5% sekolah swasta atau sebanyak 29 sekolah.

  3. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik

  Random Sampling yaitu pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. Sampel disini mengambil guru SMA baik Negeri maupun Swasta di kota Yogyakarta.

E. Variabel Penelitian

  Variabel penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2001:31). Variabel dalam penelitian ini adalah:

  1. Sikap Guru Terhadap Proses Sertifikasi Terdiri dari empat indikator yaitu:

  a. Sosialisasi program sertifikasi guru yang meliputi: informasi mengenai program sertifikasi, prosedur pengumpulan portofolio, penjelasan prosedur penyusunan dokuman portofolio, criteria penilaian dalam b. Pemilihan guru yang layak untuk disertifikasi meliputi : proses pemilihan guru secara transparan, kualifikasi akademik, criteria guru secara jelas dan proses seleksi internal.

  c. Pengumpulan dokumen portofolio meliputi: penilaian dokumen portofolio, tim penilai dokumen portofolio, criteria penilaian dokumen portofolio.

  d. Penilaian peserta yang lulus dan tidak meliputi: penetapan standar nilai, rekomendasi bagi peserta yang tidak lulus, guru yang mendapat sertifikat.

  2. Sikap Guru Terhadap Pencapaian Tujuan Sertifikasi Terdiri dari empat indikator yaitu:

  a. Kompetensi professional meliputi : penguasaan materi pembelajaran, pengembangan kurikulum, mengembangkan silabus, mengembangkan informasi dan materi pembelajaran.

  b. Kompetensi Pedagogik meliputi : kemampuan guru untuk mengembangkan profesi.

  c. Kompetensi kepribadian meliputi : kepribadian guru yang mantap, berwibawa, stabil, dewasa, disiplin; sosok ideal seorang guru.

  d. Kompetensi sosial : Hubungan guru dengan semua pihak.

F. Instrumen Penelitian

  Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan angket tertutup dimana jawaban atas pertanyaan telah disediakan oleh peneliti sehingga responden cukup menandai salah satu alternative jawaban yang telah tersedia.

  Dari jawaban yang telah diberikan tadi maka peneliti dapat mengetahui ukuran sikap guru atas adanya program sertifikasi. Altenatif jawaban yang diberikan oleh peneliti adalah Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu- ragu (R),Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Untuk kepentingan pengukuran variable digunakan skala Likert. Adapun skala yang diberikan untuk pertanyaan positif adalah sebagai berikut:

  Sangat Setuju (SS) diberi bobot 5 Setuju (S) diberi bobot 4 Ragu- ragu (R) diberi bobot 3 Tidak setuju (TS) diberi bobot 2 Sangat Tidak Setuju (STS) diberi bobot 1

  Sedangkan untuk pernyataan yang negatif diberikan bobot yang sebaliknya yaitu : Sangat Setuju (SS) diberi bobot 1 Setuju (S) diberi bobot 2 Ragu- ragu (R) diberi bobot 3 Tidak setuju (TS) diberi bobot 4

G. Teknik Pengumpulan Data

  1. Kuesioner Kuesioner adalah serangkaian pertanyaan yang diberikan kepada responden untuk kemudian diisi dengan menggunakan pilihan jawaban yang disediakan.

  Peneliti akan mengumpulkan data dengan menggunakan teknik kuesioner yang akan diserahkan kepada responden untuk kemudian diisi dengan menggunakan pilihan jawaban yang telah disediakan

  Tabel III.1 Kisi- Kisi Kuesioner

  No. Variabel Indikator Positif Negatif

  1. Sikap Guru

  a. Sosialisasi program Terhadap sertifikasi guru Proses Informasi mengenai Sertifikasi program sertifikasi.

  1 Prosedur pengumpulan 2 portofolio.

  3 Penjelasan prosedur penyusunan dokumen portofolio.

  4 Kriteria penilaian dalam sertifikasi. Persyaratan

  5 mengikuti sertifikasi.

  b. Pemilihan guru yang

  6 layak untuk disertifikasi.

  7 Proses pemilihan

  8

  9 guru secara transparan.

  10 Kualifikasi akademik. Kriteria guru secara

  11 No. Variabel Indikator Positif Negatif internal.

  c. Pengumpulan dokumen 14,15 portofolio.

  Penilaian dokumen portofolio. Tim penilai dokumen portofolio.

  17

  16 Kriteria penilaian dokumen portofolio. 19,20 d. Penilaian peserta yang

  18 lulus dan tidak. Penetapan standar nilai. Rekomendasi bagi peserta yang tidak lulus. Guru yang mendapatkan sertifikat.

  2. Sikap Guru •

  21 Kompetensi Profesional Terhadap

  Penguasaan materi Pencapaian

  22 pembelajaran Tujuan

  Pengembangan Sertifikasi

  23 kurikulum. 24, 25

  Mengembangkan silabus Mengembangkan informasi dan materi

  27

  26 pembelajaran.

  • Kompetensi Pedagogik

  28,29,30 Pengembangan profesi guru melalui karya dan pelatihan

  31,32,33,34 diluar. Kemampuan dalam pengelolaan pembelajaran.

  35 Kompetensi Kepribadian • Kepribadian guru

  36 yang mantap, berwibawa, stabil,

  38 dewasa, disiplin. Sosok ideal guru No. Variabel Indikator Positif Negatif

  40 • Kompetensi Sosial

  Hubungan guru

  37 terhadap rekan sejawat. Hubungan guru

  39 terhadap masyarakat dan norma- norma yang berlaku.

  Hubungan guru terhadap atasan. Hubungan guru terhadap siswa.

  2. Observasi Yaitu peneliti melakukan observasi secara langsung untuk memperoleh data yang akan di teliti.

H. Teknik Analisis Instrumen

  a. Validitas Instrumen yang valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur (Sugiyono, 2001). Penggunaan validitas akan digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur. Rumus yang akan digunakan adalah rumus korelasi product moment n

  X Y − 1 1

  X Y 1 1

  ( )( )

  r = xy 2 2 2 2 n X − 1 X n Y − Y 1 1 1

  ( ) ( ) { } { } Keterangan: r = Koefisien korelasi antara X dan Y xy X = Skor total tiap item

  Y = Skor total item

  b. Reliabilitas Reliabilitas adalah taraf sampai di mana suatu instrumen dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpul data. Dikatakan dapat dipercaya apabila ukuran yang diperoleh merupakan yang benar dari suatu yang ingin diukur. Untuk menghitung reliabilitas kuesioner, dalam penelitian ini menggunakan rumus Alpha Cronbach dengan taraf signifikasi 5%, yaitu sebagai berikut : 2 S k i

  1 r = − 1 2

  1 k − S

  ( ) i

  Keterangan : ri = Reliabilitas instrument k = mean kuadrat antara subjek 2 S 1 2 = Mean kuadrat kesalahan

  = Varian total S i

  Dengan taraf signifikasi 5% suatu alat ukur dikatakan reliabel, apabila r > r . Hasil perhitungan r dikonsultasikan dengan harga kategori hitung table i nilai r. I . Teknik Analisis Data

  Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan angket tertutup dimana jawaban atas pertanyaan telah disediakan oleh peneliti sehingga responden cukup menandai salah satu alternative jawaban yang telah disediakan. Dari jawaban yang telah diberikan tadi maka peneliti dapat mengetahui sikap guru terhadap program sertifikasi dalam peningkatan kinerja guru. Untuk kepentingan variabel digunakan ukuran skala likert

  1. Variabel Sikap guru terhadap proses sertifikasi Variabel sikap guru terhadap program sertifikasi menggunakan alternatif jawaban Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu- Ragu (R), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).

  2. Variabel sikap guru terhadap pencapaian tujuan sertifikasi Variabel sikap guru terhadap peningkatan hasil kompetensi keguruan menggunakan alternatif jawaban Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Ragu- Ragu (R), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Kemudian data hasil penelitian dianalisis menggunakan Penilaian Acuan

  Patokan (PAP) tipe II (Masidjo, 1995: 157) dengan perhitungan sebagai berikut :

  Tabel III.2 Penilaian Acuan Patokan

  Tingkatan Sikap Gur u K r iter ia

  81%-100% Sangat Baik 66%-80% Baik 56%-65% Cukup Baik 46%-55% Buruk

  Dibawah 46% Sangat Buruk

  

BAB I V

GAM BARAN UM UM A. Gambar an Umum K ota Yogyakar ta

1. Sej ar ah K ota Yogyakar ta

  Kota Yogyakarta adalah salah satu kota yang merupakan bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota Yogyakarta, merupakan sebuah kota yang kaya predikat, baik berasal dari sejarah maupun potensi yang ada, seperti sebagai kota perjuangan, kota kebudayaan, kota pelajar, dan kota pariwisata. Menurut Babad Gianti, Yogyakarta atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa) adalah nama yang diberikan Paku Buwono II (raja Mataram tahun 1719-1727) sebagai pengganti nama pesanggrahan Gartitawati.

  Yogyakarta berarti yogya yang kerta, Yogya yang makmur dan yang paling utama. Sumber lain mengatakan, nama yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanskrit Ayodhya dalam epos Ramayana. Yogyakarta lazim diucapkan Jogja (karta) atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa) dalam penggunaannya sehari-hari. Sebutan kota perjuangan untuk kota ini berkenaan dengan peran Yogyakarta dalam konsistensi perjuangan bangsa Indonesia pada jaman kolonial Belanda, jaman penjajahan Jepang, maupun pada jaman perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Yogyakarta pernah menjadi pusat kerajaan, baik Kerajaan Mataram (Islam), Kesultanan Yogyakarta berkaitan erat dengan peninggalan- peninggalan budaya bernilai tinggi semasa kerajaan-kerajaan tersebut yang sampai kini masih tetap lestari.

  Sebutan ini juga berkaitan dengan banyaknya pusat- pusat seni dan budaya. Sebutan kata Mataram yang banyak digunakan saat ini tidak lain adalah kebanggaan atas kejayaan Kerajaan Mataram (http://students.ukdw.ac.id/~22002471/sejarah2.html).

4. K ondisi Geogr afis K ota Yogyakar ta

a. Batas Wilayah

  Kota Yogyakarta berkedudukan sebagai ibukota Propinsi DIY dan merupakan satu-satunya daerah tingkat II yang berstatus kota disamping 4 daerah tingkat II lainnya yang bersifat kabupaten. Kota Yogyakarta terletak di tengah- tengah Propinsi DIY, dengan batas- batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara : Kabupaten Sleman Sebelah Timur : Kabupaten Bantul dan Sleman Sebelah Selatan : Kabupaten Bantul Sebelah Barat : Kabupaten Bantul dan Sleman

  o

  Wilayah Kota Yogyakarta terbentang antara 110 24’ 19” sampai

  

o o o o o o o

  110 28’ 53” Bujur Timur dan 7

  49 26 sampai 070

  15

  24 Lintang Selatan dengan ketinggian rata-rata 114m diatas permukaan laut.

b. K eadaan Alam dan L uas Wilayah

  Secara garis besar Kota Yogyakarta merupakan dataran rendah dimana dari barat ke timur relatif datar dan dari utara ke selatan memiliki kemiringan ± 1 derajat serta terdapat 3 sungai yang melintasi Kota Yogyakarta yaitu sebelah timur adalah Sungai Gajah Wong, bagian Tengah adalah Sungai Code dan sebelah barat adalah Sungai Winongo.

  Kota Yogyakarta memiliki luas wilayah tersempit dibandingkan 2 dengan daerah tingkat II lainnya yaitu 32,5 Km yang berarti 1,025% 2 dari luas wilayah Propinsi DIY yakni 3.185,80 Km dengan luas 3.250 hektar tersebut terbagi menjadi 14 kecamatan, 45 kelurahan, 617 RW dan 2.531 RT, serta dihuni oleh ± 500.000 jiwa dengan kepadatan rata- rata 15.197 jiwa/Km (http://www.jogja.go.id/index/extra.detail/22/Kondisi-geografis-kota- yogyakarta.html).

3. K ota Yogyakar ta sebagai K ota Pendidikan

  Sebutan Yogyakarta sebagai kota pariwisata menggambarkan potensi propinsi ini dalam kacamata kepariwisataan. Yogyakarta adalah daerah tujuan wisata terbesar setelah Bali, berbagai jenis objek wisata dikembangkan di wilayah ini, seperti wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata pendidikan bahkan yang terbaru, wisata malam. Predikat sebagai kota pelajar berkaitan dengan sejarah dan peran kota ini dalam berkembang dan bertambah seiring dengan semakin banyaknya pendatang di Kota Jogja sebagai calon-calon siswa dan mahasiswa.

  Sekurang- kurangnya terdapat 2 universitas negeri, 15 universitas swasta, 1 institut negeri, 38 akademi, 18 sekolah tinggi, 49 sekolah menengah atas, 31 sekolah menengah kejuruan, 60 sekolah menengah pertama dan tak kurang dari 240 sekolah dasar, baik negeri maupun swasta, tumbuh dan berkembang di Kota Jogja.

B. Deskr ipsi Sekolah

  Jumlah sekolah menengah di kota Yogyakarta adalah 49 sekolah yang terdiri dari 11 SMA Negeri dan 38 SMA Swasta. Peneliti mengambil sampel sebanyak 31 sekolah yang terdiri dari 2 SMA Negeri dan 29 SMA Swasta, dan dengan jumlah responden sebanyak 70 orang. Pengambilan pertimbangan pemilihan sekolah didasarkan atas pertimbangan peneliti sedangkan untuk jumlah responden dengan menggunakan Nomogram Harry King dengan tingkat kesalahan 10 %. Berikut daftar sekolah yang menjadi responden:

  

Tabel I V.1

Daftar Sekolah Responden

No. Nama Sekolah Alamat

  1. SMA Negeri 2 Jl. Bener, Tegalrejo Yogyakarta

  2. SMA Negeri 11 Jl. A.M. Sangaji 2 Yogyakarta

  3. SMA Institut Indonesia Jl. Miliran No.15 Yogyakarta

  4. SMA Stella Duce 1 Jl. Sabirin No. 1 Yogyakarta

  5. SMA Stella Duce 2 Jl. DR. Sutomo No.16 Yogyakarta

  6. SMAK Sang Timur Jl. Batikan No.7 Yogyakarta 7. SMA Taman Madya Jl. Pakuningratan No.

  34A Yogyakarta

  8. SMA Perak Warung Bata Yogyakarta

  9. SMA Berbudi Jl. Imogiri No.210 Yogyakarta

  No. Nama Sekolah Alamat

  24. SMA Pembangunan Jl. Madumurti No. 10 Yogyakarta

  Kuesioner yang disebarkan dalam penelitian ini berjumlah 70 dan dari 70 data yang diperoleh, data responden terdiri dari 40 laki-laki (57%) dan 30 perempuan (43%). Adapun deskripsi responden meliputi deskripsi mengenai usia, masa kerja dan status kepegawaian

  31 SMA Tri Bakti Jl. Veteran Yogyakarta Sumber : Data Primer, 2008, Lampiran IV, Halaman : 81-82

  30. SMA Muhammadyah 5 Jl. Purwodiningratan Yogyakarta

  29. SMA Muhammadyah 4 Jl. Mondorakan No. 51 Yogyakarta

  28. SMA Muhammadyah 3 Jl. Kapt. P. Tendean No. 58 Yogyakarta

  27. SMA Muhammadyah 2 Jl. Kapas No. 7 Yogyakarta

  26. SMA Muhammadyah 1 Jl. Gotong Royong II Yogyakarta

  25. SMA Gajah Mada Jl. Ibu Ruswo Yogyakarta

  23. SMA PIRI 2 Jl. MT Haryono 23 Yogyakarta

  12. SMA BOPKRI 1 Jl. Wardani No. 2 Yogyakarta

  22. SMA PIRI 1 Jl. Kemuning No 14 Yogyakarta

  21. SMA Santa Maria Jl. Prawiradirjan Yogyakarta

  19. SMA IT Abubakar Jl. Veteran No.7 Yogyakarta 20. SMA Mataram Jl. Dalem Mangkubumen Yogyakarta.

  18. SMA Gotong-Royong Jl. Kyai Mojo 148 A Yogyakarta

  17. SMA Budya Wacana Jl. Gayam No. 11 Yogyakarta

  16. SMA Bhineka Tunggal Ika Jl. Poncowinatan No. 16 Yogyakarta

  15. SMA 17’ 1 Jl. Bumijo Yogyakarta

  14. SMA BOPKRI 3 Jl. Kapten. P. Tandean No 55 Yogyakarta

  13. SMA BOPKRI 2 Jl. Jendral Sudirman No.87 Yogyakarta

C. Deskr ipsi Responden

  

Tabel I V.2

Tabel Responden Ber dasar kan Usia Responden

No. USI A FREK UENSI PRESENTASE

  1. Lebih dari 45 tahun 32 46% 2. 36-45 tahun 18 26% 3. 26-35 tahun 18 26%

  4. Kurang dari 25 tahun 2 3%

  • 5. Tidak mengisi

  Jumlah 70 100%

  Sumber: Data Primer, 2008, Lampiran IV, halaman 83-84 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah responden yang berusia lebih dari 45 tahun sebanyak 32 orang (46%), 36-45 tahun sebanyak

  18 orang (26%), 26-35 tahun sebanyak 18 orang (26%) , kurang dari 25 tahun sebanyak 2 orang (3%) sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa responden terbanyak berusia lebih dari 45 tahun.

  

Tabel I V.3

Tabel Responden Ber dasar kan M asa K er j a

No. M ASA K ERJA FREK UENSI PRESENTASE

  1. Lebih dari 40 tahun 0% 2. 30-39 tahun 3 4% 3. 20-29 tahun 26 37% 4. 10-19 tahun 21 30% 5. 0-9 tahun 20 28%

  Jumlah 70 100% Sumber: Data Primer, 2008, Lampiran IV, Halaman 83-84.

  Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah responden yang memiliki masa kerja lebih dari 40 tahun yaitu tidak ada (0%), 30-39 tahun sebanyak 3 orang (4%), 20-29 tahun sebanyak 26 orang (37%), 10-19 tahun sebanyak 21 orang (30%), 0-9 tahun sebanyak 20 orang (28%) sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa responden terbanyak memiliki masa kerja 20-29

  

Tabel I V.4

Tabel Responden Ber dasar kan Status K epegawaian

No. STATUS K EPEGAWAI AN FREK UENSI PRESENTASE

  1. Guru Tidak Tetap 13 19%

  2. Guru Tetap Yayasan 21 30%

  3. Pegawai Negeri 34 48%

  4. Tidak Mengisi 2 3%

  Jumlah 70 100% Sumber: Data Primer, 2008, Lampiran IV, Halaman 83-84.

  Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah responden yang memiliki status kepegawaian sebagai guru tidak tetap sebanyak 13 orang (19%), guru tetap yayasan sebanyak 21 orang (30%), dan pegawai negeri sebanyak 34 orang (48%) sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa responden terbanyak memiliki status kepegawaian pegawai negeri.

  Tabel I V.5 Tabel Responden Ber dasar kan Tingkat Pendidikan No. TI NGK AT PENDI DI K AN FREK UENSI PRESENTASE

  1. S1

  47 67%

  2. D3

  14 20%

  3. D2

  6 9%

  4. Tidak Mengisi

  3 4%

  Jumlah 70 100%

  Sumber: Data Primer, 2008, Lampiran IV, Halaman 83-84 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah responden yang memiliki tingkat pendidikan S1 sebanyak 47 (67%) orang, D3 14 (20%) orang, D2 6 (9%) dan tidak mengisi sebanyak 3 (4%) orang sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa responden terbanyak memiliki tingkat pendidikan S1.

BAB V ANAL I SI S DATA DAN PEM BAHASAN A. Penguj ian I nstr umen Dalam penelitian ini, telah dibagikan kuesioner kepada 70 responden ke 31 Sekolah Menengah Atas di Kota Yogyakarta dan dari 70 kuesioner yang dibagikan semuanya kembali, artinya responrate dari responden adalah 100%. Kemudian dilakukan uji validitas dan reliabilitas untuk mengetahui tingkat validitas dan reliabilitas kuesioner.

  1. Pengujian Validitas Validitas adalah uji yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsinya sebagai alat ukur. Alat ukur yang dipakai dalam penelitian ini adalah kuesioner. Dalam melakukan analisis statistik digunakan bantuan komputer program SPSS (Statistical Program for Social Science) versi 12.0 for

  Untuk mengukur tingkat validitas digunakan rumus Korelasi windows.

  Dari hasil perhitungan r = 0,235. Apabila r > r Product Moment. tabel tabel hitung maka butir instrument dinyatakan tidak valid namun, apabila r < r tabel hitung maka butir instrument dinyatakan valid. Penelitian ini memiliki dua variabel penelitian yaitu: Sikap Guru Terhadap Proses Sertifikasi dan Sikap Guru Terhadap Pencapaian Tujuan Sertifikasi. Tiap Variabel terdiri dari beberapa indikator permasalahan, untuk variabel pertama yaitu Sikap Guru Terhadap Program Sertifikasi terdiri dari: Sosialisasi program sertifikasi guru, Pemilihan Guru yang layak untuk disertifikasi, Pengumpulan dokumen portofolio, dan Penilaian peserta yang lulus dan tidak. Variabel Sikap guru terhadap Proses Sertifikasi digunakan 20 item pertanyaan yang semuanya dinyatakan valid. Uraian variabel Sikap Guru terhadap Proses Sertifikasi sebagai berikut :

  

Tabel V.1

Uj i Validitas Var iabel Sikap Gur u ter hadap Pr oses Ser tifikasi

  No. Butir r hitung r tabel Hasil 1. 0,334 0,235 Valid 2. 0,477 0,235 Valid 3. 0,679 0,235 Valid 4. 0,596 0,235 Valid 5. 0,454 0,235 Valid 6. 0,524 0,235 Valid 7. 0,535 0,235 Valid 8. 0,611 0,235 Valid 9. 0,397 0,235 Valid

  10. 0,302 0,235 Valid 11. 0,460 0,235 Valid 12. 0,390 0,235 Valid 13. 0,365 0,235 Valid 14. 0,425 0,235 Valid 15. 0,687 0,235 Valid 16. 0,381 0,235 Valid 17. 0,374 0,235 Valid 18. 0,263 0,235 Valid 19. 0,386 0,235 Valid 20. 0,577 0,235 Valid

  Sumber : Pengujian Validitas, 2008, Lampiran I, Halaman 68 Variabel yang kedua adalah Sikap Guru Terhadap Pencapaian Tujuan

  Sertifikasi yang terdiri dari 20 pertanyaan dengan empat indikator permasalahan yaitu: Kompetensi Profesional, Kompetensi Pedagogik, validitas butir pertanyaan variabel Sikap Guru Terhadap Pencapaian Tujuan Sertifikasi terdapat pada table dibawah ini :

  Tabel V.2 Hasil Uj i Validitas Var iabel Sikap Gur u Ter hadap Pencapaian Tuj uan Ser tifikasi

  No. Butir r hitung r tabel Hasil 21. 0,605 0,235 Valid 22. 0,627 0,235 Valid 23. 0,536 0,235 Valid 24. 0,643 0,235 Valid 25. 0,345 0,235 Valid 26. 0,549 0,235 Valid 27. 0,715 0,235 Valid 28. 0,750 0,235 Valid 29. 0,286 0,235 Valid 30. 0,432 0,235 Valid 31. 0,424 0,235 Valid 32. 0,322 0,235 Valid 33. 0,501 0,235 Valid 34. 0,442 0,235 Valid 35. 0,429 0,235 Valid 36. 0,504 0,235 Valid 37. 0,582 0,235 Valid 38. 0,505 0,235 Valid 39. 0,404 0,235 Valid 40. 0,312 0,235 Valid Sumber: Pengujian Validitas, 2008, Lampiran I, Halaman 70.

  2. Uji Reliabilitas Reliabilitas menunjuk pada pengertian bahwa suatu instrument dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data. Alat ukur dikatakan reliabel jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan konsisten. Pengukuran terhadap reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach.

  Tabel V.3 Hasil Uj i Reliabilitas

  No. Nama Variabel Kesimpulan

  r tabel

  1. Sikap Guru Terhadap 0,862 0,235 Reliabel Proses Sertifikasi

  2. Sikap Guru Terhadap 0,878 0,235 Reliabel Pencapaian Tujuan Sertifikasi Sumber: Pengujian Reliabilitas, 2008, Lampiran I, Halaman 67 dan 69.

  Tabel diatas menunjukkan angka keandalan masing- masing alat ukur. Nilai- nilai r hitung untuk masing- masing variabel menunjukkan lebih besar dari r table (0,235), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian masing- masing variabel bisa dikatakan reliabel.

B. Analisis Data

  1. Sikap Guru Terhadap Proses Sertifikasi Untuk data sikap guru terhadap proses sertifikasi, skor tertinggi dan terendah yang diharapkan adalah:

  Skor tertinggi yang diharapkan: 5 X 20 = 100 Skor terendah yang diharapkan: 1 X 20 = 20

  Penentuan kategori sikap guru terhadap proses sertifikasi dilakukan berdasarkan Pedoman Penilaian Acuan Patokan tipe 2 (Masidjo,1995:157) dapat ditentukan sebagai berikut:

  81% X 100 = 81 66% X 100 = 66 56% X 100 = 56 46% X 100 = 46 Di bawah 46

  Tabel V.4 Sikap Gur u Ter hadap Pr oses Ser tifikasi I nter val Jumlah Pr esentase K eter angan

  81-100 28 40% Sangat Baik 66-80 33 47% Baik 56-65 7 10% Cukup Baik 46-55 2 3% Buruk

  Dibawah 46 0% Sangat Buruk

  Jumlah

70 100%

  Sumber: Data Primer, 2008,Lampiran III, Halaman 76-77 Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa sikap guru terhadap proses sertifikasi 28 (40%) sangat baik, 33 (47%) baik, 7 (10%) cukup baik, 2 (3%) buruk sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap guru terhadap proses sertifikasi baik.

  2. Sikap Guru Terhadap Pencapaian Tujuan Sertifikasi Untuk data sikap guru terhadap pencapaian tujuan sertifikasi, skor tertinggi dan skor terendah yang diharapkan adalah:

  Skor Tertinggi yang diharapkan: 20 X 5 = 100 Skor terendah yang diharapkan: 20 X 1 = 20

  Penentuan kategori sikap guru terhadap pencapaian tujuan sertifikasi ditentukan dengan Penilaian Acuan Patokan II dan dapat ditentukan

  81% X 100 = 81 66% X 100 = 66 56% X 100 = 56 46% X 100 = 46 Di bawah 46

  

Tabel V. 5

Sikap Gur u Ter hadap Pencapaian Tuj uan Ser tifikasi I nter val Jumlah Pr esentase K eter angan

  81-100 19 27% Sangat Baik 66-80 36 51% Baik 56-65 10 14% Cukup Baik 46-55 5 7% Buruk

  Dibawah 46 0% Sangat Buruk

  Jumlah

  70 100% Sumber: Data Primer, 2008, Lampiran III, Halaman 78-79

  Berdasarkan tabel diatas, sikap guru dalam pencapaian tujuan sertifikasi 19 (27%) sangat baik, 36 (51%) baik, 10 (14%) cukup baik, 5 (7%) buruk sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap guru terhadap pencapaian tujuan sertifikasi baik.

C. Pembahasan

1. Sikap Gur u Ter hadap Pr oses Ser tifikasi

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa 33 (47%) guru menyatakan sikap baik terhadap proses sertifikasi. Namun, 2 (3%) menyatakan sikap buruk terhadap proses sertifikasi. Proses sertifikasi yang dilaksanakan oleh guru meliputi : sosialisasi program sertifikasi guru, pemilihan guru yang layak untuk disertifikasi, pengumpulan dokumen portofolio dan penilaian

  Sosialisasi program sertifikasi banyak membantu guru dalam mendapatkan informasi yang berhubungan dengan program sertifikasi.

  Sosialisasi sertifikasi guru dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Informasi yang didapat oleh guru bisa bermacam- macam yaitu mengenai prosedur pengumpulan portofolio dan penyusunannya, kriteria penilaian dan persyaratan dalam mengikuti sertifikasi. Dengan mengikuti sosialisasi guru diharapkan dapat memiliki informasi yang lebih mengenai sertifikasi seperti : prosedur dan tatacara pendaftaran, prosedur dan tatacara sertifikasi guru dalam jabatan, peranan lembaga- lembaga terkait, syarat mengikuti sertifikasi, prosedur penyusunan dokumen portofolio dan penjelasannya serta jadwal penyerahan dokumen portofolio.

  Pemilihan guru yang layak untuk disertifikasi dilakukan oleh LPTK Rayon. Guru yang mengikuti program sertifikasi akan terseleksi secara transparan. Kualifikasi akademik yang diharapkan untuk guru yang mengikuti sertifikasi adalah S1 dan D3 dan untuk guru tetap di sekolah dibuktikan dengan SK pengangkatan dari lembaga yang berwenang. Selain itu mengingat kuota yang terbatas, maka hal- hal seperti: masa kerja, usia, pangkat, beban mengajar, jabatan, dan prestasi kerja juga dipertimbangkan. Program sertifikasi saat ini hanya diikuti oleh peserta yang berasal dari lulusan pendidikan.

  Pengumpulan dokumen portofolio dilakukan di Dinas Pendidikan yang selanjutnya untuk penilaian portofolio diserahkan kepada LPTK.

  Portofolio merupakan kumpulan hasil karya guru selama mengelola pembelajaran. Portofolio dirasa menjadi sarana yang optimal untuk program sertifikasi karena dokumen ini meliputi semua kompetensi guru selama menjalankan profesinya. Kekurangannya, sangat dimungkinkan adanya kecurangan dari pihak guru sendiri seperti: adanya sertifikat palsu atau bentuk penyuapan, namun kejadian seperti ini diharapkan kecil peluang untuk dilakukan. Penilaian dokumen portofolio dilakukan oleh orang- orang yang kompeten dibidangnya yaitu asesor yang telah dipilih oleh LPTK sehingga guru diharapkan mengumpulkan dokumen portofolio dengan kriteria yang benar.

  Setelah itu tahap terakhir dalam proses sertifikasi adalah penilaian peserta yang lulus atau tidak. Setiap guru mengharapkan akan memperoleh sertifikat pendidik. Standar nilai yang ditetapkan adalah 850. Guru yang lulus akan mendapatkan sertifikat pendidik sebagai pengakuan atau bukti formal terhadap profesi yang dilakukan, selain itu guru yang telah mnedapatkan sertifikat pendidik akan mendapatkan tunjangan profesi.

  Namun, bagi guru yang belum lolos sertifikasi akan diberi kesempatan dengan ketentuan sebagai berikut: mengulang, bagi guru dengan dokumen portofolio yang keasliannya diragukan dan mengikuti diklat profesi guru untuk peserta yang tidak mencapai skor akhir sesuai dengan ketentuan.

  Dengan mendapatkan sertifikat pendidik berarti seorang guru sudah dapat diakui sebagai tenaga pendidik yang professional dan berkualitas.

2. Sikap Gur u Ter hadap Pencapaian Tuj uan Ser tifikasi

  Hasil Penelitian menunjukkan bahwa 36 (51%) guru menunjukkan sikap baik terhadap pencapaian tujuan sertifikasi, namun 5 (7%) guru menunjukkan sikap buruk terhadap pencapaian tujuan sertifikasi. Sertifikasi adalah pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Sertifikat pendidik merupakan bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga professional. Tujuan sertifikasi adalah untuk mendapatkan guru yang bermutu. Guru yang bermutu adalah guru yang menguasai empat kompetensi yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional dan kompetensi sosial.

  Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran.

  Pengembangan kompetensi pedagogik dapat dilakukan dengan cara mengikuti work shop, seminar, lokakarya, pelatihan, mengembangkan kemampuan guru dengan membuat karya ilmiah yang berguna untuk pengembangan profesi dan menulis artikel di koran atau majalah.

  Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantab, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik.

  Kemampuan guru dalam mengolah kepribadian dapat terlihat pada sikap guru pada saat mengajar dikelas. Guru yang baik harus dapat mengontrol emosi dan mampu menghadapi siswa dengan sabar sehingga segala perbuatan yang dilakukan harus sudah difikirkan dengan matang. Dengan demikian, tingkah laku guru yang baik dapat menjadi teladan bagi siswa sebagai anak didik.

  Kompetensi professional merupakan kemampuan yang berkenaan dengan penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan mendalam. Pelaksanaan kompetensi professional bagi guru dalam menjalankan profesinya sehari- hari terlihat dalam membuat Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), membuat administrasi keguruan seperti Program tahunan dan program semester, silabus.

  Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul dengan masyarakat setempat. Sebagai pendidik, guru diharapkan mampu bersosialisasi dengan siapapun, dengan rekan sejawat, masyarakat sekitar, dengan siswa, dan orang tua siswa. Realisasi dari pelaksanaan kompetensi sosial yaitu keterlibatan guru di lingkungan misalnya: dengan menjadi ketua RT/RW, aktif dalam kegiatan keagamaan dengan menjadi takmir atau ketua dewan paroki di gereja, Dharma wanita, posyandu, PKK.

  Pelaksanaan dari keempat kompetensi dinyatakan dalam bentuk bukti fisik seperti piagam penghargaan, sertifikat, dan bukti lain yang nantinya akan dikumpulkan dalam bentuk portofolio. Penilaian dalam bentuk portofolio secara tidak langsung meminta guru untuk lebih aktif lagi dalam mengembangkan profesinya.

BAB VI K ESI M PUL AN DAN SARAN A. K esimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilaksanakan,

  maka didapatkan kesimpulan bahwa:

  1. Sikap guru terhadap proses sertifikasi adalah sangat baik dan baik. Hal ini di buktikan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa 61 (87%) guru menyatakan sikap sangat baik dan baik terhadap proses sertifikasi. Proses sertifikasi merupakan tahap awal yang diikuti guru dalam mengikuti program sertifikasi sehingga dengan mengikuti proses sertifikasi guru akan mendapatkan banyak informasi mengenai proses sertifikasi. Proses sertifikasi meliputi kegiatan sosialisasi sampai pemilihan peserta sertifikasi yang layak untuk disertifikasi.Guru dapat mengikuti sosialisasi yang diadakan dinas pendidikan seperti: adanya seminar dan penyuluhan. Sikap guru yang baik terhadap proses sertifikasi menunjukkan bahwa guru menyetujui program sertifikasi dan menganggap baik program sertifikasi bagi guru.

  2. Sikap guru terhadap pencapaian tujuan sertifikasi adalah sangat baik dan baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 55 (78%) guru menunjukkan sikap sangat baik dan baik terhadap pencapaian tujuan sertifikasi. Pencapaian tujuan sertifikasi ditunjukkan dengan penguasaan empat kompetensi yang dikuasai oleh guru yaitu: Kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi sosial.

  Kompetensi yang dikuasai guru dapat ditunjukkan dengan aktif dilingkungan sosial, mengembangkan kualitas diri dan mengembangkan profesi, menyelesaikan administrasi keguruan. Sikap Guru terhadap pencapaian tujuan sertifikasi menunjukkan bahwa guru memberikan harapan posistif terhadap adanya program sertifikasi dan menganggap bahwa adanya program sertifikasi merupakan peluang untuk mengembangkan profesi.

B. Sar an

  Sehubungan dengan hasil penelitian ini, berikut akan dikemukakan beberapa saran yang dapat diperhatikan oleh para guru bersama para pemegang kebijakan dalam pendidikan dan pihak- pihak yang berminat terhadap masalah ini:

  1. Bagi Dinas Pendidikan

  a. Sosialisasi program sertifikasi yang saat ini sudah dilakukan oleh Dinas Pendidikan hendaknya dapat ditingkatkan sehingga guru mendapatkan lebih banyak informasi mengenai program sertifikasi.

  b. Meningkatkan pengawasan dalam lapangan sehingga kecurangan- kecurangan yang diperkirakan akan terjadi dapat diminimalisir.

  2. Bagi Pemerintah

  a. Program sertifikasi saat ini hanya bisa diikuti oleh guru dengan harus dapat memikirkan nasib guru- guru yang belum bisa mengikuti sertifikasi seperti : menuntaskan program sertifikasi sehingga guru- guru muda dapat segera mengikuti sertifikasi.

  b. Memperhatikan kesejahteraan, hak dan kewajiban guru sehingga guru akan lebih baik dalam menjalankan profesinya.

  3. Bagi Guru

  a. Meningkatkan kompetensi yang dimiliki dengan mengembangkan diri sehingga dapat menjadi guru yang lebih berkualitas.

  b. Bersikap jujur dalam mengikuti program sertifikasi dengan tidak memanipulasi bukti- bukti dalam portofolio sehingga pada akhirnya tujuan akhir untuk meningkatkan kualitas pendidikan dapat terlaksana.

  3. Peneliti lain hendaknya menambah banyaknya responden dalam penelitian ini agar dapat diperoleh gambaran menyeluruh mengenai sertifikasi guru di Yogyakarta.

  

DAFTAR PUSTAK A

Arikunto, Suharsimi. 2000. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

  Jakarta: PT. Rineka Cipta. Azwar, Saifuddin. 1995. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  Depdiknas. 1989. Organisasi Teori, Struktur dan Proses. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Kependidikan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. 2007. Pedoman Sertifikasi Guru dalam

  Jabatan . Departemen Pendidikan Nasional. Gerungan, W. A. 1998. Psikologi Sosial. Bandung: Tarsito.

  

Http://artikel.us/amhasan.html . Pengembangan Profesionalisme Guru diakses

tanggal 3 februari 2008.

  Kompas. 2004 Pendidikan Indonesia Terpuruk di Tengah Kompetisi. Senin, 4 September 2004. Kompas. 2005. Banyak Guru Tidak Layak Mengajar. Sabtu 9 Desember 2005. Madjid, Abdul. 2005. Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Masidjo, Ign. 1995. Penilaian Pelaksanaan PPL oleh Mahasiswa Praktik IKIP

  Sanata Dharma Tahun Akademik 1995/1998 . Yogyakarta: Perpustakaan Sanata Dharma. Mulyasa. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Prihadiartanto, AG. 2005. Hymne Riquiem Guru. Basis Nomor 7-8 Tahun ke 54 Juli- Agustus 2005. Purwanto, Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Rahadi, Kunjana. 2006. Mencari Solusi Problem Sertifikasi Guru dan Dosen.

  Educare Nomor 12/II/Maret 2006 halaman 42-43. Samana. A. 1994. Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanisius. Seputar Indonesia. 2007. Perguruan Tinggi Unggulan Asia Tenggara. Selasa, 19 Maret 2007. Setyowati, Nur, Hajar. 2006. Mengemas Jagat Guru dalam buku Sang Guru Peta

  Ringkas Hubungan Guru- Murid Pelbagai Tradisi . Yogyakarta: EKSPRESI Soeprapto. 2003. Guru di Indonesia Pendidikan, Pelatihan dan Perjuangannya Sejak Jaman Kolonial Hingga Era Reformasi dalam Dedi Supriadi (Ed).

  Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan. Sudibyo, Agus. 2007. Sertifikasi Guru dan Keterbukaan Informasi. Kompas, Kamis 7 September 2007.

  Sugiyono. 2001. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

  Suparsa, Y. 2007. Berbagai Kemungkinan ” Permainan” dalam Sertifikasi.

  Kompas, Senin 17 September 2007 halaman 14. Susilo. 2006. Tenaga Pendidik: Rindu Guru Apik, “ Pinter” , dan “ Pener. 4

  September 2006. Http//www.kompascybermedia.com. Diakses pada tanggal 26 November 2007. Susilo. M. Joko. 2007. Pembodohan Siswa Tersistematis. Yogyakarta: PINUS Syah, Muhibbin. 1997. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Trianto. Tutik. 2007. Sertifikasi Guru dan Upaya Peningkatan Kualifikasi Kompetensi dan Kesejahteraan. Jakarta: Prestasi Pustaka. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tentang Guru dan Dosen, Peraturan Mendiknas Nomor 11 Tahun 2005. 2006. Bandung: Citra umbara. Usman. 1997. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Wahab, Rochmat. 2007. Mencermati Pelaksanaan Sertifikasi Guru. Kompas, 24 September 2007. Zuriah, Nurul. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, Teori dan Aplikasi. Bandung: Bumi Aksara.

  • . 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah dalam Dr.

  Faisal Fadal dan Prof. Dr. Dedi Supriadi (Ed). Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

DAFTAR SEKOLAH RESPONDEN

  17. SMA Budya Wacana Jl. Gayam No. 11 Yogyakarta

  31 SMA Tri Bakti Jl. Veteran Yogyakarta

  30. SMA Muhammadyah 5 Jl. Purwodiningratan Yogyakarta

  29. SMA Muhammadyah 4 Jl. Mondorakan No. 51 Yogyakarta

  28. SMA Muhammadyah 3 Jl. Kapt. P. Tendean No. 58 Yogyakarta

  27. SMA Muhammadyah 2 Jl. Kapas No. 7 Yogyakarta

  26. SMA Muhammadyah 1 Jl. Gotong Royong II Yogyakarta

  25. SMA Gajah Mada Jl. Ibu Ruswo Yogyakarta

  24. SMA Pembangunan Jl. Madumurti No. 10 Yogyakarta

  23. SMA PIRI 2 Jl. MT Haryono 23 Yogyakarta

  22. SMA PIRI 1 Jl. Kemuning No 14 Yogyakarta

  21. SMA Santa Maria Jl. Prawiradirjan Yogyakarta

  19. SMA IT Abubakar Jl. Veteran No.7 Yogyakarta 20. SMA Mataram Jl. Dalem Mangkubumen Yogyakarta.

  18. SMA Gotong-Royong Jl. Kyai Mojo 148 A Yogyakarta

  No. Nama Sekolah Alamat

  1. SMA Negeri 2 Jl. Bener, Tegalrejo Yogyakarta

  15. SMA 17’ 1 Jl. Bumijo Yogyakarta

  14. SMA BOPKRI 3 Jl. Kapten. P. Tandean No 55 Yogyakarta

  13. SMA BOPKRI 2 Jl. Jendral Sudirman No.87 Yogyakarta

  12. SMA BOPKRI 1 Jl. Wardani No. 2 Yogyakarta

  11. SMA Pangudi Luhur Jl. P. Senopati No. 18 Yogyakarta

  10. SMA Marsudi Luhur Jl. Bintaran Kidul Yogyakarta

  9. SMA Berbudi Jl. Imogiri No.210 Yogyakarta

  8. SMA Perak Warung Bata Yogyakarta

  34A Yogyakarta

  6. SMAK Sang Timur Jl. Batikan No.7 Yogyakarta 7. SMA Taman Madya Jl. Pakuningratan No.

  5. SMA Stella Duce 2 Jl. DR. Sutomo No.16 Yogyakarta

  4. SMA Stella Duce 1 Jl. Sabirin No. 1 Yogyakarta

  3. SMA Institut Indonesia Jl. Miliran No.15 Yogyakarta

  2. SMA Negeri 11 Jl. A.M. Sangaji 2 Yogyakarta

  16. SMA Bhineka Tunggal Ika Jl. Poncowinatan No. 16 Yogyakarta

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pemahaman guru terhadap penilaian portofolio sertifikasi guru dalam jabatan : studi kasus pada SD di Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta.
2
18
160
Hubungan kepuasan kerja dengan kinerja guru : studi kasus pada guru-guru di yayasan pendidikan Charitas.
0
1
125
Kesiapan guru dalam menghadapi program sertifikasi guru dalam jabatan.
2
9
202
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta.
1
3
125
Kesiapan guru dalam menghadapi program sertifikasi guru dalam jabatan survey pada guru-guru sekolah menengah kejuruan program akuntansi, dan penjualan di wilayah kabupaten Bantul Yogyakarta.
0
0
130
Sikap guru SMA terhadap program sertifikasi guru : studi kasus pada guru ekonomi dan akuntansi SMA di Kota Yogyakarta.
0
0
156
Persepsi guru terhadap program sertifikasi bagi guru dalam jabatan ditinjau dari tingkat pendidikan, masa kerja, beban mengajar, dan status guru ; studi kasus guru-guru SD, SMP, dan SMA di Kabupaten Sleman.
0
0
203
Pengaruh supervisi kepala sekolah dan kompensasi terhadap kinerja guru : studi kasus guru-guru di sekolah milik Yayasan Xaverius khususnya di Kota Metro, Lampung.
0
2
153
Pemahaman guru terhadap penilaian portofolio sertifikasi guru dalam jabatan studi kasus pada SD di Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta
1
2
158
Hubungan persepsi guru terhadap supervisi klinis dan bantuan supervisor dengan kinerja guru sekolah menengah atas negeri di Kabupaten Magelang.
0
0
14
kinerja guru profesional guru pasca sertifikasi
0
0
11
Kemampuan komunikasi antar pribadi dan motivasi mengajar terhadap kinerja guru sekolah menengah atas Jakarta Timur
0
0
7
Persepsi siswa sekolah menengah atas terhadap perilaku bullying di sekolah : studi kasus di SMA Kolese De Britto dan SMA Stella Duce 2 Yogyakarta - USD Repository
0
0
111
Persepsi siswa terhadap kompetensi mengajar guru akuntansi sekolah menengah kejuruan : studi kasus pada siswa SMK se-Kabupaten Bantul - USD Repository
0
0
136
Persepsi siswa terhadap kompetensi mengajar guru akuntansi sekolah menengah kejuruan : studi kasus pada siswa SMK se-Kabupaten Bantul - USD Repository
0
0
136
Show more