HUBUNGAN ANTARA KESTABILAN EMOSI DAN PENERIMAAN DIRI DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA

Gratis

21
66
101
3 years ago
Preview
Full text
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 1 HUBUNGAN ANTARA KESTABILAN EMOSI DAN PENERIMAAN DIRI DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA SKRIPSI Untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Psikologi Program Pendidikan Strata I Psikologi Oleh : Ulva Ulandari G0106094 Pembimbing 1. Dra. Salmah Lilik, M.Si. 2. Rin Widya Agustin, M.Psi. PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011 commit to user i perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 2 commit to user ii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 3 commit to user iii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 4 PERNYATAAN KEASLIAN Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi saya ini, tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengamatan dan pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dipergunakan dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Jika terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan isi pernyataan ini, maka saya bersedia derajat kesarjanaan saya dicabut. Surakarta, Januari 2011 Ulva Ulandari commit to user iv perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 5 MOTTO -orang mdak (Thomas Alva Edison) yakinlah besok kita menjadi pemain, dan berusahalah lusa kita (Penulis) commit to user v enyadari betapa dekatnya perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 6 HALAMAN PERSEMBAHAN Dengan penuh hormat, cinta dan kasih sayang, karya ini kupersembahkan kepada Bapak & Ibuku, sumber Kasih Sayang kakak-kakakku sumber motivasi, teman-temanku, sumber keindahan hidup dan keceriaan, dan almamaterku, batu pijakan untuk melompat lebih tinggi. commit to user vi perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 7 KATA PENGANTAR Puji syukur batas segala limpahan rahmat, nikmat dan hidayah Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai syarat mendapatkan gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Pendidikan Strata I Psikologi dengan Kecemasan Komunikasi Interpersonal pada Rema Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan, dorongan dan doa dari berbagai pihak oleh karena itu penulis mengucapkan terimaksih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. dr. AA. Subiyanto, MS., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Bapak Drs. Hardjono, M.Si., selaku Ketua Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. 3. Bapak Dra. Salmah Lilik, M.Si., selaku pembimbing I atas bimbingan, saran dan kritik yang sangat bemanfaat bagi penyelesaian skripsi ini. 4. Ibu Rin Widya Agustin, M.Psi., selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, saran dan kritik yang sangat bermanfaat bagi penyelesaian skripsi ini. 5. Ibu Dra. Suci Murti Karini, M.Si., selaku penguji I yang telah memberikan waktu dan kritik yang membangun dalam penyelesaian skripsi ini. commit to user vii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 8 6. Bapak Nugraha Arif Karyanta, S.Psi., selaku penguji II, yang telah memberikan waktu dan saran yang sangat bermanfaat bagi penyelesaian skripsi ini. 7. Bapak Drs. Suranto, M.Pd., selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Boyolali yang telah memberikan ijin bagi peneliti sehingga dapat melakukan penelitian di SMA tersebut. 8. Ibu Dra. Sri Maryanti selaku pembimbing lapangan dan seluruh TU SMA N 1 Boyolali, atas waktu dan bantuan yang diberikan kepada peneliti sehingga penelitan menjadi lancar. 9. Seluruh staff Program Studi Psikologi yang telah membantu peneliti dalam mengurus administrasi. 10. Semua siswa siswi SMA N 1 Boyolali yang telah memberikan bantuannya. 11. Bapak, ibu, kakak-kakakku dan mas Dirham, yang telah memberikan do a, dukungan, kasih sayang dan nasihat sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi ini, serta ponakan-ponakan kecilku Refa, Farrel dan Zahra terimakasih atas keceriaan yang diberikan. 12. Terimakasih untuk sahabat-sahabatku (mbak Nuzul, Siti, Putri, Vina, Tanti, Febi) dan teman-teman Psikologi angkatan 2006 yang telah banyak memberikan bantuan dan keceriaannya yang tak bisa terlupakan. Surakarta, 17 Januari 2011 Penulis commit to user viii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 9 ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA KESTABILAN EMOSI DAN PENERIMAAN DIRI DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA Ulva Ulandari G0106094 Kecemasan komunikasi interpersonal merupakan permasalahan yang dapat terjadi dalam kegiatan komunikasi setiap individu, tidak terkecuali pada remaja. Hal ini menyebabkan minimnya partisipasi remaja dalam kegiatan komunikasi dan merupakan kondisi yang tidak kondusif bagi perkembangan sosial pada remaja. Kestabilan emosi dan penerimaan diri merupakan faktor personal yang dimungkinkan dapat mempengaruhi kecemasan komunikasi interpersonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kestabilan emosi dan penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA N 1 Boyolali, diambil dengan teknik cluster random sampling. Data diambil dengan menggunakan Skala Kestabilan Emosi, Skala Penerimaan Diri dan Skala Kecemasan Komunikasi Interpersonal. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis regresi ganda. Analisis data menunjukkan nilai F=32,93; p<0,05 dan nilai R=0,667. Ini berarti ada hubungan kuat dan signifikan antara kestabilan emosi dan penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal. Analisis data juga menunjukkan nilai rx1y=-0,428; p<0,05, artinya ada korelasi negatif yang signifikan antara kestabilan emosi dengan kecemasan komunikasi interpersonal, semakin tinggi kestabilan emosi semakin rendah kecemasan komunikasi interpersonalnya, sebaliknya semakin rendah kestabilan emosi maka semakin tinggi kecemasan komunikasi interpersonalnya. Nilai rx2y=-0,538; p<0,05, artinya ada korelasi negatif yang signifikan antara penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal, semakin tinggi penerimaan diri semakin rendah kecemasan komunikasi interpersonalnya, sebaliknya semakin rendah penerimaan diri maka semakin tinggi kecemasan komunikasi interpersonalnya. Dari hasil tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima. Sumbangan efektif kestabilan emosi dan penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal dapat dilihat dari koefisien determinan (R2)sebesar 0,445 atau 44,5%, terdiri dari sumbangan efektif kestabilan emosi sebesar 16,95% dan sumbangan efektif penerimaan diri sebesar 27,55%. Ini berarti masih terdapat 55,5% faktor lain yang mempengaruhi kecemasan komunikasi interpersonal selain kestabilan emosi dan penerimaan diri. Kata kunci: kestabilan emosi, penerimaan diri dan kecemasan komunikasi interpersonal. commit to user ix perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 10 ABSTRACT THE RELATIONSHIP BETWEEN EMOTIONAL STABILITY AND SELF ACCEPTANCE WITH ANXIETY OF INTERPERSONAL COMMUNICATION IN ADOLESCENTS Ulva Ulandari G0106094 Anxiety of interpersonal communication is a problem that can be occur in the communication activities of each individual, no exception in adolescents. This participation in communication activities and a is causes the lack of condition that not conducive for social development in adolescents. Emotional stability and self acceptance are the personal factors that possible to influence the anxiety of interpersonal communication. This study aimed to find out the correlation between emotional stability and self acceptance with anxiety of interpersonal communication in adolescents. The subject of this study were students from Xth grade of SMA N 1 Boyolali taken by cluster random sampling technique. The data were collected using Emotional Stability Scale, Self Acceptance Scale and Anxiety of Interpersonal Communication Scale. The data were analyzed by multiple regression analyzed technique. Data analize showed that the value of F=32,93; p<0,05 and the value of R=0,667. This means there are strong and significanct correlation between emotional stability and self acceptance with anxiety of interpersonal communication. Data analize also showed the value of rx1y=-0,428; p<0,05, this means there are negative and significant correlation between emotional stability with anxiety of interpersonal communication, the higher of emotional stability the lower his or her anxiety of communication interpersonal and the other way the lower of emotional stability the higher his or her anxiety of interpersonal communication. The value of rx2y = -0,538; p<0,05, this means there are negative and significant correlation between self acceptance with anxiety of interpersonal communication, the higher of self acceptance, the lower his or her anxiety of communication interpersonal and the other way the lower of self acceptance, the higher his or her anxiety of interpersonal communication. From the result we can conclude that the hipothesis of this study received. Effective contribution of emotional stability and self acceptance to the anxiety of interpersonal communication can be seen from the determinant coefficient (R2)=0,445 or 44,5%, consist of effective contibution of emotional stability=16,95% and the effective contribution of self acceptance=27,55%. This means there are still 55,5% of the other factors that influence the anxiety of interpersonal communication in addition to emotional stability and self acceptance. Keywords: emotional stability, self acceptance, anxiety of interpersonal communication commit to user x perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 11 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN ........................................ ........................ ii HALAMAN PENGESAHAN .................................................................. iii PERNYATAAN KEASLIAN ................................................................... iv MOTTO .................................................................................................... v HALAMAN PERSEMBAHAN ............................ .................................. vi KATA PENGANTAR ............................................................................... vii ABSTRAK ................................................................................................. ix ABSTRACT ............................................................................................... x DAFTAR ISI ............................................................................................. xi DAFTAR TABEL ..................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xvii DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xviii BAB I PENDAHULUAN .... ................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1 B. Perumusan Masalah ............................................................. 7 C. Tujuan Penelitian ................................................................. 7 D. Manfaat Penelitian ................................................................ 8 BAB II LANDASAN TEORI ................................................................. 10 A. Kecemasan Komunikasi Interpersonal ................................. 10 1. Pengertian Kecemasan Komunikasi Interpersonal................ 10 commit to user xi perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 12 a. Pengertian Kecemasan ....................................... ......... 10 b. Pengertian Komunikasi Interpersonal ........................... 12 c. Kecemasan Komunikasi Interpersonal ........................... 13 2. Aspek-aspek Kecemasan Komunikasi Interpersonal ........... 15 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan Komunikasi Interpersonal................................................. 17 B. Kestabilan Emosi .................................................................. 21 1. Pengertian Kestabilan Emosi ............................................ 21 2. Aspek-aspek Kestabilan Emosi ........................................ 23 C. Penerimaan Diri ................................................................... 25 1. Pengertian Penerimaan Diri ............................................. 25 2. Aspek-aspek dan Ciri-ciri Penerimaan Diri ...................... 27 3. Proses Terbentuknya Penerimaan Diri ................................ 30 4. Manfaat Penerimaan Diri...................................................... 31 D. Hubungan antara Kestabilan Emosi dan Penerimaan Diri dengan Kecemasan Komunikasi Interpersonal pada Remaja 32 E. Kerangka Pemikiran .............................................................. 36 F. Hipotesis................................................................................ 37 BAB III METODE PENELITIAN ........................................................ 38 A. Identifikasi Variabel Penelitian ............................................. 38 B. Definisi Operasional Variabel Penelitian .............................. 38 C. Populasi, Sampel dan Sampling ............................................ 40 D. Metode Pengumpulan Data ................................................... 41 commit to user xii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 13 E. Validitas dan Reliabilitas ....................................................... 44 F. Metode Analisis Data ............................................................ 45 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Persiapan Penelitian ............................................................... 46 1. Gambaran Umum Tempat Penelitian ............................ 46 2. Persiapan Penelitian ........................................................ 49 3. Pelaksanaan Uji Coba ..................................... ............... 51 4. Uji Validitas dan Reliabilitas .......................... ............... 51 5. Penyusunan Alat Ukur Penelitian ............................... ... 56 B. Pelaksanaan Penelitian ........................................................... 58 1. Penentuan Subjek Penelitian ......................................... 58 2. Pengumpulan Data .......................................................... 59 3. Pelaksanaan Skoring ....................................................... 59 C. Analisis Data dan Interprestasi .............................................. 60 1. Uji Asumsi Dasar ............................................................ 60 2. Uji Asumsi Klasik ........................................................... 62 3. Uji Hipotesis ................................................................... 66 4. Sumbangan Relatif dan Sumbangan Efektif ................... 69 5. Hasil Analisis Deskriptif ................................................. 70 D. Pembahasan ........................................................................... 73 commit to user xiii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 14 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ........................................................................... 80 B. Saran ..................................................................................... 81 DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 83 LAMPIRAN ............................................................................................... 87 commit to user xiv perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 15 DAFTAR TABEL 1. Distribusi Skor Skala................................................................................ .. 41 2. Blue Print Skala Kecemasan Komunikasi Interpersonal ........................... 42 3. Blue Print Skala Kestabilan Emosi ............................................................ 43 4. Blue Print Skala Penerimaan Diri .............................................................. 44 5. Jumlah Siswa SMA N 1 Boyolali ............................................................ .. 49 6. Distribusi Skala Kecemasan Komunikasi Interpersonal yang Valid dan Gugur.. .. 7. Distribusi Skala Kestabilan Emosi yang Valid dan Gugur ....................... 53 8. Distribisi Skala Penerimaan Diri yang Valid dan Gugur.......................... . 54 9. Distribusi Skala Kecemasan Komunikasi Interpersonal untuk Penelitian ....................................................................................... 56 10. Distribusi Skala Kestabilan Emosi untuk Penelitian ................................ 57 11. Distribusi Skala Penerimaan Diri untuk Penelitian .................................. 58 12. Uji Normalitas ......................................................................................... . 60 13. Uji Linieritas ............................................................................................ 61 14. Uji Multikolineraitas ................................................................................ 63 15. Uji Autokorelasi ....................................................................................... 65 16. Hasil Uji F ................................................................................................ 66 17. Hasil Analisis Korelasi Ganda ................................................................. 67 18. Korelasi antara Kestabilan Emosi dengan Kecemasan Komunikasi Interpersonal ................................................. ............................................ commit to user xv 68 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 16 19. Korelasi antara Penerimaan Diri dengan Kecemasan Komunikasi Interpersonal ............................................................................................. 20. Deskripsi Data Penelitian 69 70 21. Kriteria Kategori Skala Kecemasan Komunikasi Interpersonal dan Distribusi Skor Subjek .............................................................................. 71 22. Kriteria Kategori Skala Kestabilan Emosi dan Distribusi Skor Subjek..... 72 23. Kriteria Kategori Skala Penerimaan Diri dan Distribusi Skor Subjek..... . 73 commit to user xvi perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 17 DAFTAR GAMBAR 1. Kerangka Pemikiran ............................................................................... 36 2. Scatterplot ............................................................................................... 64 3. Pengujian Autokorelasi............................................................................ 65 commit to user xvii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 18 DAFTAR LAMPIRAN A. Alat Ukur Penelitian .................................................................................. 87 1. Skala Kecemasan Komunikasi Interpersonal Sebelum Uji Coba ......... 90 2. Skala Kestabilan Emosi Sebelum Uji Coba .......................................... 93 3. Skala Penerimaan Diri Sebelum Uji Coba ............................................ 96 B. Data Uji Coba Skala Penelitian ............................................................... 100 1. Data Uji Coba Skala Kecemasan Komunikasi Interpersonal ............... 101 2. Data Uji Coba Skala Kestabilan Emosi ................................................ 109 3. Data Uji Coba Skala Penerimaan Diri .................................................. 117 C. Uji Daya Beda Aitem & Reliabilitas Skala Penelitian .............................. 125 1. Uji Daya Beda Aitem dan Reliabilitas Skala Kecemasan Komunikasi Interpersonal ......................................................................................... 126 2. Uji Daya Beda Aitem dan Reliabilitas Skala Kestabilan Emosi .......... 128 3. Uji Daya Beda Aitem dan Reliabilitas Skala Penerimaan Diri ............ 130 D. Alat Ukur Penelitian .................................................................................. 132 1. Skala Kecemasan Komunikasi Interpersonal penelitian ....................... 134 2. Skala Kestabilan Emosi ........................................................................ 137 3. Skala Penerimaan Diri .......................................................................... 140 E. Data Penelitian .......................................................................................... 143 1. Data Skala Kecemasan Komunikasi Interpersonal .............................. 144 2. Data Skala Kestabilan Emosi ............................................................... 152 3. Data Skala Penerimaan Diri .................................................................. 160 commit to user xviii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 19 F. Analisis Data Penelitian ............................................................................ 165 1. Hasil Analisis Deskriptif ..................................................................... 166 2. Uji Normalitas ...................................................................................... 166 3. Grafik Normalitas Kecemasan Komunikasi Interpersonal ................... 166 4. Grafik Normalitas Kestabilan Emosi .................................................... 167 5. Grafik Normalitas Penerimaan Diri ...................................................... 167 6. Uji Linieritas ......................................................................................... 168 7. Uji Multikolinearitas ............................................................................. 168 8. Uji Heteroskedastisitas .......................................................................... 169 9. Uji Autokorelasi .................................................................................... 169 10. Uji Hipotesis.......................................................................................... 170 11. Sumbangan Relatif dan Sumbangan Efektif ....................................... 171 G. Surat Ijin Penelitian dan Surat Tanda Bukti Penelitian ............................. 178 H. Dokumentasi .............................................................................................. 182 commit to user xix perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak menjadi dewasa. Pada masa ini remaja bukan lagi seorang anak, namun belum dapat dikatakan dewasa. Tugas perkembangan pada masa ini dipusatkan pada penanggulangan sikap dan pola perilaku yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa. Perkembangan yang dialami remaja ini menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru. Seiring perkembangannya tersebut, remaja mengalami perubahan secara fisik, psikologis, maupun sosial. Dalam hal fisik remaja mengalami perubahan pada tinggi badan, berat badan, proporsi tubuh, organ seks serta ciri-ciri sekunder, yang dipengaruhi oleh seks dan usia kematangan yang banyak menimbulkan keprihatinan bagi remaja laki-laki maupun perempuan karena tidak semua remaja merasa puas dengan perubahan dan kondisi fisiknya (Hurlock, 1993). Secara psikologis remaja mengalami perubahan dalam keadaan emosinya dimana remaja mengalami badai dan topan dalam kehidupan perasaan dan emosinya (Mappiare, 1982). Pada masa ini ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar yang mengakibatkan sebagian besar remaja mengalami perubahan kondisi emosi dari waktu ke waktu. Berkaitan dengan perubahan sosial, remaja cenderung bergabung dan berinteraksi dengan kelompok sosialnya dengan melakukan commit to user 1 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 2 penyesuaian baru terhadap pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, maupun dalam pengelompokkan sosial yang baru (Hurlock, 1993). Dalam pergaulan remaja baik dengan teman sebaya maupun anggota kelompok yang lainnya tersebut terjadi suatu komunikasi. Komunikasi merupakan hal penting bagi remaja, hal itu sejalan dengan salah satu tugas perkembangan yang harus dipenuhi salah satunya dapat memperluas hubungan antar pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan teman sebaya, baik pria maupun wanita (Soetjiningsih, 2007). Kendati komunikasi telah manjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, akan tetapi masih terdapat permasalahan atau hambatan yang timbul salah satunya adalah kecemasan ketika melakukukan komunikasi, tidak terkecuali pada remaja yang berstatus pelajar (Appolo, 2007). Kecemasan dalam komunikasi dikenal dengan berbagai istilah oleh para ahli. Burgoon dan Ruffner (1977) menyebut masalah dalam komunikasi tersebut dengan dengan istilah communication apprehension yaitu istilah yang tepat untuk menggambarkan reaksi negatif dalam bentuk kecemasan yang dialami seseorang dalam pengalaman komunikasinya, baik itu kecemasan berbicara di muka umum maupun kecemasan komunikasi interpersonal. Daly dan McCroskey (1984) menjelaskan kecemasan komunikasi interpersonal sebagai suatu ketakutan atau kecemasan dalam komunikasi baik sedang berlangsung atau akan berlangsung, yang terjadi antar individu atau beberapa individu. Kecemasan komunikasi interpersonal ini terjadi karena kekhawatiran individu pada penilaian oranglain terhadap performancenya, termasuk ketika berkomunikasi interpersonal. Sesuai dengan yang dikemukakan commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 3 Naditch dan Morrisey (dalam Jersild 1978), bahwa kecemasan yang dialami remaja muncul karena ketakutan atau keragu-raguan terhadap penilaian atau evaluasi yang diberikan oleh oranglain pada dirinya. Remaja yang mengalami kecemasan ketika melakukan komunikasi interpersonal, tidak berani untuk berbicara bahkan ketika tidak setuju dengan pendapat yang disampaikan ketidaksetujuannya menjadi orang lain. terhambat Keinginan karena adanya untuk menyatakan ketakutan untuk menyampaikan pendapat (Jersild, 1978). Remaja tersebut merasakan adanya perubahan secara psikis dan fisiologis. Perubahan psikis yang dialami remaja yang cemas antara lain adanya perasaan sangat takut, tidak mampu memusatkan pikiran serta merasa tidak tenang, sedangkan perubahan fisiologis yang terjadi antara lain unjung tangan dan kaki terasa dingin, keluar banyak keringat dan denyut jantung cepat (Daradjat, 1977). Kecemasan yang timbul pada saat melakukan komunikasi interpersonal tersebut pada akhirnya juga menyebabkan remaja berusaha sekecil mungkin dalam berkomunikasi dan hanya berbicara apabila terdesak saja. Apabila kemudian harus berkomunikasi, sering pembicaraannya tidak relevan, sebab pembicaraan yang relevan tentu akan mengundang reaksi orang lain dan akan dituntut untuk berbicara lagi. Remaja akan lebih memilih untuk menghindari situasi komunikasi dan akibat lebih lanjut adalah remaja akan menarik diri dari pergaulan sehingga keterlibatan remaja dalam berkomunikasi menjadi minim atau sedikit (Daly dan McCroskey, 1984). Sebagaimana diketahui, padahal remaja memiliki tugas perkembangan salah satunya mengembangkan interaksi dan commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 4 komunikasi untuk meningkatkan kemampuan dalam berhubungan dengan orang lain. Hal ini untuk mengembangkan ketrampilan sosial yang lebih baik pada remaja (Soesilowindradini,1988). Mencermati dampak dari kecemasan komunikasi interpersonal yang dialami remaja, membawa pemikiran bahwa kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja merupakan masalah yang cukup serius. Banyak penelitian terdahulu baik di Indonesia maupun di negara lain yang berkaitan dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja, diantaranya penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sedikitnya 20% remaja mengalami kecemasan komunikasi yang sangat tinggi, dan 20% lainnya mengalami kecemasan komunikasi yang cukup tinggi (Burgoon dan Ruffner, 1977). Hasil penelitian lain juga dilakukan oleh Croskey, dkk (dalam Rakhmat, 2001) menunjukkan bahwa 10-20% remaja di Amerika Serikat mengalami kecemasan ketika berkomunikasi dengan individu lain. Kecemasan komunikasi interpersonal di Indonesia juga telah diteliti oleh Rilin (dalam Rakhmawati dan Safitri, 2007) menyatakan bahwa 26% dari 86 siswa kelas 2 SMU Muhammadiyah 1 Klaten mengalami kecemasan komunikasi interpersonal yang tinggi. Data dari sahabat Remaja PKBI DIY juga menunjukkan bahwa pada tahun 1997, 19% remaja Yogyakarta meminta layanan karena masalah yang berhubungan dengan komunikasi interpersonal (Rakhmawati dan Febiyanti, 2007). Beberapa hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kecemasan komunikasi interpersonal merupakan masalah yang cukup banyak terjadi pada commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 5 kalangan remaja, baik di Indonesia maupun negara lain. Kecemasan komunikasi pada umumnya terjadi karena individu mengembangkan penilaian negatif terhadap situasi komunikasi dan memperkirakan hasil yang negatif pula dalam komunikasinya (De Vito, 1995). Remaja dimungkinkan tidak mudah mengalami kecemasan komunikasi interpersonal, jika remaja mampu berpikir positif dan optimis, serta dapat bersikap tenang dalam berbagai situasi, termasuk situasi komunikasi. Individu yang memiliki kemapuan tersebut, adalah individu yang memiliki kestabilan emosi. Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat Goleman dkk (dalam Irma, 2003) yang mengungkapkan bahwa individu yang memiliki kestabilan emosi mempunyai adaptabilitas, dalam arti luwes dalam menangani perubahan dan tantangan, mampu berfikir positif dalam segala hal, memiliki rasa harga diri yang tinggi dan optimis. Senada dengan hal tersebut, Darmawan (2008) mengungkapkan kestabilan emosi sebagai kemampuan individu untuk dapat mengendalikan dirinya sendiri dari berbagai situasi dan tidak bertindak emosional karena faktor dari luar dirinya. Costa dan McCrae (dalam MacIntyre, dkk, 1999) menjelaskan bahwa individu dengan kestabilan emosi yang tinggi akan lebih tenang dan merasa aman. Dengan demikian remaja dengan yang memiliki kestabilan emosi akan tidak mudah mengalami kecemasan dalam komunikasi interpersonal. Kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja juga diduga tidak terlepas dari penerimaan diri yang dimiliki remaja. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat McCroskey (dalam Crawford dkk, 2006) bahwa kecemasan commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 6 komunikasi interpersonal terkait dengan beberapa variabel, antara lain harga diri dan masalah penerimaan diri. Penerimaan diri merupakan suatu tingkatan kesadaran mengenai karakteristik pribadi dan adanya keinginan untuk hidup dengan keadaan tersebut (Hurlock, 1974). Menurut Hjelle dan Zeigler (1992) individu yang memiliki penerimaan diri dapat menerima dirinya dengan kelemahan dan keterbatasan yang ada, tidak terbebani oleh rasa bersalah, rasa malu, dan kecemasan. Individu tersebut akan menyadari kelemahan yang dimilikinya itu dan mengetahui kesalahan yang dilakukan sehingga mampu memperbaikinya, serta mampu belajar untuk hidup dengan oranglain. Individu yang memiliki penerimaan diri merasa sebagai seseorang yang bisa diharapkan, namun tidak merasa dirinya sempurna, sebaliknya individu yang kurang memiliki penerimaan diri akan meragukan nilai atau harga dirinya dan cenderung menghindari perhatian yang akan mengungkap kelemahannya. Individu tersebut cenderung menghindar dari perkumpulan, merasa inferior, tidak pernah belajar hidup dengan keadaan dirinya dan merasa kekurangan, kurang tekun, terlalu banyak terjadi konflik dan kecemasan (Cronbach 1954). Berdasarkan uraian diatas dapat dipaparkan bahwa dimungkinkan terdapat keterkaitan antara kestabilan emosi dan penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja. Remaja dengan kestabilan emosi akan mampu mengendalikan emosi dengan tepat dan bersikap tenang dalam berbagai situasi. Selanjutnya, dengan penerimaan diri remaja dapat menyadari kelemahan dan kelebihan yang dimiliki, tidak terbebani oleh rasa bersalah, rasa malu, dan kecemasan. Remaja yang mampu mengendalikan emosi dengan tepat dan mampu commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 7 bersikap tenang, serta tidak terbebani rasa malu dan kecemasan, dimungkinkan tidak akan mudah mengalami kecemasan komunikasi interpersonal. Untuk mengkaji lebih lanjut permasalahan tersebut, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan mengambil judul Kestabilan Emosi dan Penerimaan Diri dengan Kecemasan Komunikasi B. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, maka didapatkan perumusan masalah: 1. Apakah ada hubungan antara kestabilan emosi dan penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja? 2. Apakah ada hubungan antara kestabilan emosi dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja? 3. Apakah ada hubungan antara penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui: 1. Hubungan antara kestabilan emosi dan penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja. 2. Hubungan antara kestabilan emosi dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja. 3. Hubungan antara penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 8 D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian: 1. Manfaat Teoretis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi mengenai kestabilan emosi, penerimaan diri dan kecemasan komunikasi interpersonal dalam pengembangan ilmu psikologi, khususnya psikologi sosial, maupun studi lainnya. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Remaja Memberikan informasi dan masukan mengenai hubungan antara kestabilan emosi dan penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal pada remaja, sehingga remaja diharapkan dapat meningkatkan kestabilan emosi dan penerimaan diri sehingga tidak mudah mengalami kecemasan komunikasi interpersonal. b. Bagi Orang Tua dan Sekolah Memberikan informasi dan masukan mengenai hubungan antara kestabilan emosi dan penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal, sehingga orang tua dapat memberi pengetahuan dan pengarahan yang positif pada anak dalam meningkatkan kestabilan emosi dan penerimaan diri, yang diharapkan nantinya anak tidak mudah mengalami kecemasan komunikasi interpersonal. Serta bagi pihak sekolah, nantinya diharapkan dapat mengadakan program pengembangan kestabilan commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 9 emosi dan penerimaan diri sehingga para siswa tidak mudah mengalami kecemasan komunikasi interpersonal. c. Bagi Peneliti Selanjutnya Penelitian ini diharapkan dapat sebagai masukan dan referensi bagi peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut khususnya berkaitan dengan hubungan antara kestabilan emosi dan penerimaan diri dengan kecemasan komunikasi interpersonal. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 10 BAB II LANDASAN TEORI A. Kecemasan Komunikasi Interpersonal 1. Pengertian Kecemasan Komunikasi Interpersonal a. Pengertian Kecemasan Kecemasan merupakan reaksi individu terhadap hal-hal yang dihadapinya, yang merupakan suatu perasaan yang menyakitkan seperti kegelisahan dan kebingungan. Kecemasan merupakan suatu perasaan khawatir yang dialami seseorang menghadapi suatu situasi yang tidak pasti, dimana situasi tersebut bisa membahayakan diri seseorang atau dapat memberikan perubahan besar dalam hidup seseorang, kecemasan dirasakan sebagai suatu pengalaman yang tidak menyenangkan dan cenderung dihindari (Lazarus, 1969). Menurut Daradjat (1977) kecemasan adalah keadaan yang umum, timbul ketika terjadinya pertentangan antara dorongan-dorongan dan usaha individu untuk menyesuaikan diri. Selanjutnya Semiun (2006) menjelaskan bahwa kecemasan merupakan suatu keadaan tegang yang berhubungan dengan ketakutan, kekhawatiran, perasaan-perasaan bersalah, perasaan tidak aman, dan kebutuhan akan kepastian. Kecemasan pada dasarnya merupakan respon terhadap apa yang akan terjadi (antisipatif) dan faktor dinamik yang mempercepat kecemasan tidak disadari. Tanpa ada sedikit kecemasan sesuai dengan kenyataan, individu mungkin tidak commit to user 10 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 11 akan memperhatikan peristiwa-peristiwa akan datang yang sangat penting bagi perlindungan dirinya, tetapi kecemasan yang tidak wajar (tidak sehat) akan memberatkan individu dan menyebabkan ketidakmampuan dalam memberikan keputusan dan melakukan tindakan. Secara khas terdapat simptom-simptom psikofisiologis seperti misalnya keluar keringat terlalu banyak, kesulitan bernafas, gangguan pada perut, dan denyut jantung sangat cepat. Kecemasan diungkapkan sebagai kondisi tidak memiliki harapan, ketidakpastian, antisipasi, atau variasi lainnya (Zuckerman dan Spielberger, 1976) Pendapat lain disampaikan oleh Chaplin (1999), yang mengemukakan kecemasan adalah perasaan campuran berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa-masa mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut. Menurut Brenneck & Amick (dalam Sudardjo, 1999), kecemasan mempunyai tingkat, taraf atau derajat sehingga tidak semua dikatakan buruk. Tinggi atau rendahnya kecemasan tergantung pada masing-masing individu. Beberapa pengertian para ahli diatas, dapat diketahui bahwa kecemasan merupakan suatu keadaan yang timbul ketika terjadinya pertentangan antara dorongan-dorongan dan usaha individu untuk menyesuaikan diri, berupa perasaan gelisah, kebingungan, kekhawatiran, dan perasaan tidak aman dalam menghadapi masa-masa yang akan terjadi. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 12 b. Pengertian Komunikasi Interpersonal Menurut De Vito (1997) komunikasi interpersonal merupakan penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera. Littlejohn dan Foss (2005) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal merupakan komunikasi antar manusia, biasanya saling berhadapan dan dalam situasi pribadi. Komunikasi interpersonal merupakan interaksi tatap muka antara dua atau beberapa orang, dimana pengirim dapat menyampaikan secara langsung dan penerima pesan dapat menerima dan menanggapi secara langsung pula. Kebanyakan komunikasi interpersonal berbentuk verbal disertai ungkapan-ungkapan non verbal dan dilakukan secara lisan (Hardjana, 2003). Dalam komunikasi interpersonal, sejumlah orang terlibat didalamnya dan berpotensi untuk saling memberikan umpan balik dan berlangsung dalam situasi bertatap muka. Sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Rogers (dalam Liliweri, 1997) komunikasi interpersonal merupakan komunikasi dari mulut ke mulut yang terjadi dalam interaksi tatap muka antara beberapa orang. Dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat diperoleh pengertian komunikasi interpersonal merupakan suatu bentuk pengiriman dan penerimaan pesan antara dua orang atau lebih, yang memberikan dampak atau umpan balik secara langsung. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 13 c. Kecemasan Komunikasi Interpersonal Komunikasi merupakan bagian yang fundamental dalam kehidupan sehari-hari, termasuk komunikasi interpersonal. Kendati demikian, dalam komunikasi interpersonal adakalanya terdapat masalah yang berupa kecemasan ketika melakukan komunikasi. Kecemasan komunikasi interpersonal merupakan kecemasan yang terjadi pada individu yang menyampaikan pesan ataupun individu sebagai penerima pesan, dalam situasi interpersonal. Individu yang mengalami kecemasan komunikasi interpersonal biasanya kurang membuka diri terhadap informasi (Hamilton dalam Snavely, dkk, 1976). Burgoon dan Ruffner (1977) menyebut kecemasan komunikasi dengan dengan istilah communication apprehension yaitu istilah yang tepat untuk menggambarkan reaksi negatif dalam bentuk kecemasan yang dialami seseorang dalam pengalaman komunikasinya, baik itu kecemasan berbicara di muka umum maupun kecemasan komunikasi interpersonal. Daly dan McCroskey (1984) menjelaskan communication apprehension sebagai suatu ketakutan atau kecemasan individu dalam berkomunikasi dengan individu lain, baik yang akan berlangsung atau sedang berlangsung. Kecemasan yang timbul pada saat melakukan komunikasi interpersonal tersebut pada akhirnya menyebabkan remaja menarik diri dari pergaulan sehingga keterlibatan remaja dalam berkomunikasi menjadi minim atau sedikit. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 14 De Vito (1995) menjelaskan bahwa kecemasan komunikasi interpersonal merupakan keadaan cemas dalam interaksi komunikasi, disebabkan karena individu mengembangkan perasaan negatif dan memperkirakan hasil yang negatif pula dalam komunikasinya. Individu merasa bahwa apapun keuntungan yang dihasilkan dari komunikasi tidak lebih penting dari ketakutan yang dialami. Hardjana (2003) mengemukakan kecemasan komunikasi interpersonal sebagai rasa takut, bingung, kacau pikiran, tubuh gemetar, dan rasa demam panggung yang muncul saat berkomunikasi dengan individu lain. Philips (dalam Apollo, 2007) menyebut permasalahan dalam komunikasi dengan istilah reticence, yaitu ketidakmampuan dalam mengikuti diskusi secara aktif, mengembangkan percakapan, menjawab pertanyaan yang diajukan atau pekerjaan yang bukan disebabkan karena kurangnya pengetahuan akan tetapi karena kesulitan dalam menyusun kata-kata dan ketidakmampuan menyampaikan pesan secara sempurna. Berdasarkan beberapa pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan komunikasi interpersonal merupakan suatu keadaan cemas, bingung, atau ketakutan yang dialami individu ketika melakukan interaksi komunikasi dengan individu lain, baik yang sedang berlangsung atau akan berlangsung dikarenakan individu mengembangkan perasaan negatif dan memperkirakan hasil yang negatif pula dalam komunikasinya. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 15 2. Aspek-aspek Kecemasan Komunikasi Interpersonal Burgoon dan Ruffner (1977) menerangkan beberapa aspek kecemasan komunikasi interpersonal. Aspek-aspek tersebut adalah: a. Unwillingness Individu yang mengalami kecemasan komunikasi interpersonal menunjukkan ketidaksediaan untuk berkomunikasi yang ditandai dengan kecemasan, introversi, dan rendahnya frekuensi partisipasi dalam berbagai situasi komunikasi. b. Avoiding Menghindarkan diri untuk berpartisipasi dalam komunikasi karena kecemasan dan pengalaman komunikasi yang tidak menyenangkan. Ditandai dengan tidak adanya penghargaan yang baik terhadap situasi komunikasi dan kurangnya pengenalan situasi komunikasi yang mempengaruhi intimasi dan empati. c. Control Rendahnya kontrol atau pengendalian terhadap situasi komunikasi yang terjadi, meliputi kurangya pengendalian terhadap lingkungan komunikasi yang berbeda dan kurangnya pengendalian terhadap reaksi lawan bicara. Richmond dan McCroskey (dalam Weitten, dkk, 2009) juga mengungkapkan bahwa individu yang mengalami kecemasan komunikasi interpersonal dapat terlihat dari beberapa aspek, yaitu: commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 16 a. Avoidance Individu yang mengalami kecemasan komunikasi interpersonal akan memilih untuk tidak berpartisipasi dalam kesempatan komunikasi. Jika komunikasi terasa tidak nyaman bagi individu tersebut, maka individu cenderung menghindari situasi komunikasi. b. Withdrawal Individu akan menarik diri ketika secara tidak sengaja terlibat dalam situasi komunikasi, dimana individu tersebut tidak dapat keluar dari situasi komunikasi itu, individu lebih memilih untuk diam dan hanya berbicara sesedikit mungkin. c. Disruption Individu yang mengalami kecemasan komunikasi interpersonal, menunjukkan ketidakmampuan ketika berbicara secara verbal dengan lancar, atau ketidakmampuan dalam berperilaku verbal atau non verbal dengan tepat dalam komunikasi. d. Overcommunication Hal ini sangat jarang dan tidak biasa terjadi pada individu yang mengalami kecemasan komunikasi interpersonal. Namun pernah terjadi bahwa individu yang mengalami kecemasan komunikasi interpersonal terlihat ingin mendominasi komunikasi dengan bicara yang tidak ada hentinya (non stop). Peneliti menggunakan ketiga aspek kecemasan komunikasi interpersonal dari Burgoon dan Ruffner (1977) untuk penyusunan skala commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 17 penelitian yang terdiri dari unwillingness yaitu ketidaksediaan untuk berkomunikasi, avoiding yaitu menghindarkan diri dari situasi komunikasi, dan control yaitu rendahnya kontrol terhadap situasi komunikasi. 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan Komunikasi Interpersonal Kecemasan komunikasi interpersonal yang dialami individu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Daly dan McCroskey (1984) mengemukakan timbulnya kecemasan komunikasi interpersonal yang terjadi pada individu dapat terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: a. Faktor personal (traitlike) Terdiri dari faktor herediti (keturunan) dimana individu sejak lahir sesudah memiliki tendensi dan predisposisi kepribadian tertentu. Menurut Crawford,dkk (2006) faktor personal yang dapat mempengaruhi kecemasan komunikasi interpersonal antara lain self esteem, kontrol diri dan asertivitas. Selain herediti, faktor lingkungan juga berpengaruh, karena manusia hidup di dalam lingkungan masyarakat yang didalamnya terdapat faktor penting yang mempengaruhi kecemasan komunikasi interpersonal yang dialami individu yaitu reinforcement dan modelling. Individu yang sejak anak-anak mendapat reinforcement untuk berkomunikasi, maka anak akan lebih banyak terlibat dalam aktivitas commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 18 komunikasi, sebaliknya, jika anak tidak mendapat penguatan untuk berkomunikasi, anak akan tumbuh dengan sedikit melakukan aktivitas komunikasi. Modelling merupakan faktor kedua setelah reinforcement. Teori modelling menunjukkan bahwa anak menyaksikan perilaku komunikasi orang lain dilingkungan mereka dan mencoba menyamainya. b. Faktor situasional Faktor situasional ini terdiri dari (1) novelty (kebaruan), situasi baru akan meningkatkan ketidakpastian akan apa yang harus dilakukan oleh seseorang. Jika individu belum pernah diwawancarai, dan kemudian individu tersebut harus diwawancarai, maka situasi baru tersebut menjadikannya tidak yakin pada apa yang dia lakukan dan menjadi cemas. (2) formality (situasi formal), kecemasan komunikasi dapat meningkat jika dalam situasi formal karena pemikirannya mengenai tingkahlaku yang dapat diterima (3) subordinate status, dalam situasi ini tingkahlaku yang tepat didefinisikan menurut individu yang berada pada posisi yang lebih tinggi. (4) conspicuousness, menjadi individu yang baru dalam situasi situasi sosial akan menjadikan individu merasa bingung, individu yang merasa bingung biasanya lebih tinggi kecemasan komunikasinya. (5) unfamiliarity, biasanya dalam situasi yang sudah familiar, tingkat kecemasan komunikasinya menurun (6) dissimiliarity dan degree of attention from others. Individu lebih mudah dalam commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 19 komunikasi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan daripada dengan orang-orang yang banyak perbedaan. Individu juga akan lebih nyaman ketika tingkat perhatian yang diberikan oleh oranglain dalam tingkat yang sedang-sedang saja. De Vito (1995) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya kecemasan komunikasi interpersonal pada individu, antara lain sebagai berikut: a. Kurangnya keterampilan dan pengalaman komunikasi masa lalu Kurangnya keterampilan dan pengalaman masa lalu dapat menyebabkan individu mengalami kesulitan dan kecemasan dalam berkomunikasi. Individu menjadi sulit berkomunikasi dengan efektif jika individu kurang memiliki ketrampilan dan kurangnya pengalaman dalam menjalin komunikasi interpersonal akan menyebabkan individu lebih mudah cemas apabila mnenghadapi situasi komunikasi. b. Tingkat evaluasi Jika individu menghadapi situasi komunikasi yang lebih evaluatif, individu akan lebih mudah mengalami kecemasan. Semakin besar perasaan dievaluasi, maka kecemasan juga akan meningkat. c. Status yang lebih rendah Adanya perasaan bahwa oranglain merupakan komunikator yang lebih baik dan lebih banyak pengetahuan daripada individu yang bersangkutan, akan meningkatkan kecemasan pada individu tersebut. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 20 Berfikir positif tentang diri sendiri dan meningkatkan ketrampilan dapat membantu mengatasi perasaan ini. d. Tingkat kejelasan Lebih jelas satu keadaan, lebih rendah pula kecemasan yang dialami dalam komunikasi. Hal ini yang menyebabkan berbicara di depan orang banyak lebih menyebabkan kecemasan daripada berbicara didepan orang-orang yang jumlahnya lebih sedikit. Hal tersebut disebabkan oleh adanya perasaan yang membebani bahwa lebih banyak orang yang memperhatikan dirinya. e. Tingkat ketidakpastian Semakin tidak terramalkan suatu situasi, semakin besar kecemasan yang akan terjadi. Situasi ambigu atau situasi baru yang tidak pasti apa tujuan dan apa yang diinginkan dari situasi komunikasi akan menyebabkan individu lebih merasa cemas. Misalnya ketika berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal. f. Tingkat kesamaan Jika individu merasa hanya ada sedikit kesamaan dengan lawan bicara, individu akan lebih merasa cemas. Dengan memberi perhatian pada kesamaan yang dimiliki maka tingkat kecemasan akan menurun. g. Pengalaman kegagalan dan kesuksesan masa lalu Pengalaman masa lalu akan mempengaruhi respon individu apabila menghadapi situasi yang sama. Pengalaman keberhasilan seseorang dalam menjalin komunikasi akan menyebabkan individu optimis akan commit to user perpustakaan.u

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA
1
19
20
HUBUNGAN ANTARA EFEKTIVITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN PENERIMAAN SOSIAL PADA REMAJA
0
9
19
HUBUNGAN ANTARA KESTABILAN EMOSI DENGAN KONTROL DIRI PADA ATLET BELADIRI KOTA SURAKARTA Hubungan Antara Kestabilan Emosi Dengan Kontrol Diri Pada Atlet Beladiri Kota Surakarta.
0
3
19
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.
1
6
19
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.
0
2
17
PENDAHULUAN Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.
0
5
8
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN KECERDASAN EMOSI DENGAN PENERIMAAN DIRI PADA SISWA SMK Hubungan Antara Konsep Diri Dan Kecerdasan Emosi Dengan Penerimaan Diri Pada Siswa Smk.
0
2
16
HUBUNGAN ANTARA KESTABILAN EMOSI DAN KEPERCAYAAN DIRI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN NASIONAL Hubungan Antara Kestabilan Emosi Dan Kepercayaan Diri Dengan Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional Pada Siswa Kelas 3 SMK Muhammadiyah Pekalongan.
0
1
15
HUBUNGAN ANTARA KESTABILAN EMOSI DAN KEPERCAYAAN DIRI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN NASIONAL Hubungan Antara Kestabilan Emosi Dan Kepercayaan Diri Dengan Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional Pada Siswa Kelas 3 SMK Muhammadiyah Pekalongan.
0
1
14
HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DENGAN KESTABILAN EMOSI PADA REMAJA PASCA PUTUS CINTA.
0
0
12
HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DENGAN KOMPETENSI INTERPERSONAL PADA REMAJA PANTI ASUHAN HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DENGAN KOMPETENSI INTERPERSONAL PADA REMAJA PANTI ASUHAN.
0
1
14
HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DENGAN KOMPETENSI INTERPERSONAL PADA REMAJA PANTI ASUHAN HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DENGAN KOMPETENSI INTERPERSONAL PADA REMAJA PANTI ASUHAN.
1
10
102
HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DENGAN PENERIMAAN DIRI PADA DEWASA MADYA Hubungan Antara Kematangan Emosi Dengan Penerimaan Diri Pada Dewasa Madya.
0
0
15
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KECEMASAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA REMAJA Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kecemasan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.
0
0
19
PENDAHULUAN Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kecemasan Komunikasi Interpersonal Pada Remaja.
0
0
8
Show more