Studi pustaka interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013.

Gratis

1
7
142
2 years ago
Preview
Full text

23 Januari 2015

  Proporsi interaksi obat antar Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan antara ObatAnti Tuberkulosis (OAT) dengan obat lain pada peresepan pasien ...................... Penelitian inibertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien, gambaran pola peresepan pasien, jumlah dan kategori signifikansi klinis interaksi obat pada peresepan pasien TB diInstalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013.

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh

  Fokus farmasis pada penderita tuberkulosis adalah terapi yang digunakan selama pengobatan tuberkulosis seperti penggunaan obat yang baik dan benar,kemungkinan terjadinya interaksi atau kemungkinan efek samping yang timbul pada obat tuberkulosis yang digunakan (Departemen Kesehatan RepublikIndonesia, 2005). Berdasarkan survei pada bulan November 2013 yang dilakukan peneliti, di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul belum pernahdilakukan penelitian serta dibutuhkannya kajian mengenai interaksi obat pada Berdasarkan hal- hal tersebut maka penelitian “Studi Pustaka Interaksi Obat Pada Peresepan Pasien Tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUDPanembahan Senopati Bantul periode Oktober- Desember 2013” perlu dilakukan.

1. Perumusan Masalah

  Seperti apa karakteristik pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013 yang meliputi umur, jenis kelamin dan kategori pasien tuberkulosis?b. Seperti apa interaksi obat yang terjadi, yang terdiri dari interaksi farmakokinetik dan farmakodinamik pada peresepan pasien tuberkulosis yang meliputi persentase jumlah interaksi, proporsi interaksi obat antarObat Anti Tuberkulosis (OAT) dan antara OAT dengan obat lain dan persentase jenis interaksi obat yang dikaji berdasarkan studi pustaka?d.

2. Keaslian Penelitian

  Pada penelitian ini terdapat interaksi obat yang signifikan secara klinis antara rifampicin dan isoniazid sebesar 157 pasien atau87,71% dari keseluruhan pasien anak yang terdiagnosa tuberkulosis paru diInstalasi Rawat Jalan RSUD Prof. Perbedaan penelitian ini dengan beberapa penelitian yang disebutkan di atas adalah terletak pada subyek penelitian, tempat penelitian, jenis interaksi dansignifikansi klinis interaksi obat.

3. Manfaat Penelitian a

  Penelitian ini diharapkan memberikan informasi tentang interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat JalanRSUD Panembahan Senopati Bantul yang dikaji berdasarkan studi pustaka. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan pelayanan farmasi klinik di RSUD Panembahan Senopati dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, khususnya yangberkaitan dengan aspek interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis.

B. Tujuan Penelitian 1. Umum

Mengetahui interaksi obat yang terjadi pada peresepan pasien

2. Khusus a

  Mengetahui interaksi obat yang terjadi, yang terdiri dari interaksi farmakokinetik dan farmakodinamik pada peresepan pasien tuberkulosis yang meliputi persentase jumlah interaksi, proporsi interaksi obat antarObat Anti Tuberkulosis (OAT) dan antara OAT dengan obat lain dan persentase jenis interaksi obat yang dikaji berdasarkan studi pustaka. Mengetahui kategori signifikansi klinis interaksi obat yang terjadi pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD PanembahanSenopati Bantul Periode Oktober-Desember 2013 berdasarkan studi pustaka.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tuberkulosis 1. Mycobacterium tuberculosis Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis sebagian besar menyerang paru-paru

  Mycobacterium tuberculosis cepat mati pada paparan matahari langsung, namun dapat bertahan hidup di tempat gelap dan lembab. Dalam tubuhmanusia, Mycobacterium tuberculosis dapat bersifat dormant atau dapat tertidur lama selama beberapa tahun di dalam jaringan tubuh (Pieters dan McKinney, 2013).

2. Etiologi a

  Infeksi tuberkulosis terbanyak disebabkan adanya inhalasi pada jalur tuberkel di aleveolar dari parenkim paru-paru dan mengakibatkan terjadinya prosesperadangan. Manifestasi Klinis Gejala tuberkulosis antara lain yaitu batuk lebih dari 3 minggu dengan atau tanpa sputum, malaise, gejala flu, demam, nyeri dada, sesak nafas dan batuk darah.

5. Kategori pasien tuberkulosis

  Pasien 12pasien tuberkulosis baru dengan BTA negatif namun memiliki foto toraks positif atau pasien tuberkulosis ekstra paru. Pasien tuberkulosis kategori 2 adalah pasientuberkulosis yang telah diobati sebelumnya, namun mengalami kekambuhan, pengobatan yang gagal atau pengobatan yang terputus (Dipiro et al, 2008).

6. Diagnosis tuberkulosis a

  Pasien anak dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6, harus ditatalaksana sebagai pasien tuberkulosis dan mendapat Obat Anti Tuberkulosis(OAT). Obat Anti Tuberkulosis (OAT) harus diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan dan hindari penggunaan monoterapi.

2. Strategi pengobatan

  Tujuan pengobatan tuberkulosis adalah menyembuhkan pasien, mencegah kematian dan kekambuhan, memutus rantai penularan, dan mencegah terjadinyaresistensi kuman. Mengisolasi ruangan pasien yang dirawat, dengan menggunakan sinar UV dan dilengkapi lubang ventilasi yang aman.

2. Operasi untuk membersihkan organ atau jaringan yang terinfeksi karena adanya lesi (Dipiro et al, 2008)

  Penggunaan OAT golongan IIlini kedua seperti kanamicin tidak dianjurkan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripadaOAT golongan I lini pertama dan dapat menyebabkan risiko resistensi padaOAT golongan II lini kedua (Departemen Kesehatan Republik Indonsia, 2011). Interaksi Obat Interaksi obat adalah fenomena perubahan efek atau farmakokinetik dari suatu obat yang disebabkan oleh obat lain ketika diberikan secara bersamaan.

1. Jenis interaksi obat

  Interaksi obat secara farmakodinamik adalah interaksi antar obat yang menyebabkan terjadinya perubahan respon pasien terhadap satu obat atau lebih yang diberikan secara bersamaan tanpamempengaruhi parameter farmakokinetik obat tersebut. Interaksi obat sinergis terjadi ketika dua obat atau lebih yang tidak memiliki atau memiliki efek farmakologi yang sama diberikan secara bersamaan akan memperkuat efek obat lain dan dapat menimbulkanpeningkatan efek yang signifikan.

2. Kategori signifikansi klinis interaksi obat

  Berdasarkan Tatro (2007), kategori signifikansi klinis interaksi obat dapat dibedakan menjadi lima kategori meliputi kategori signifikansi klinis 1, kategorisignifikansi klinis 2, kategori signifikansi klinis 3, kategori signifikansi klinis 4, dan kategori signifikansi klinis 5 yang didasarkan pada onset, tingkat keparahan interaksidan dokumentasi. Tingkat keparahan moderat interaksi obat menyebabkan penurunan kondisi klinis pasien sehingga diperlukan terapitambahan untuk menangani interaksi obat yang terjadi, sedangkan tingkat keparahan minor interaksi obat menghasilkan efek yang relatif ringan dan tidak diperlukanpengobatan tambahan (Tatro, 2007).

5. Kategori signifikansi klinis 5, tingkat keparahan minor adalah efek yang ditimbulkan ringan, respon klinis pasien dapat mengalami perubahan atau tidak

  Kategori signifikansiklinis kategori 1 adalah pemberian kombinasi obat harus dihindari karena efek yang ditimbulkan pada pasien lebih banyak menimbulkan risiko dan kerugiandibandingkan manfaat dan keuntungannya. Kategori signifikansi kategori 2 adalah kombinasi obat sebaiknya dihindari, kecuali apabila manfaat dari kombinasi obat lebih besar daripada risiko yangditimbulkan, tetapi disarankan untuk menggunakan kombinasi obat sejenis yang memiliki risiko lebih kecil.

D. Keterangan Empiris

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian dengan judul “Studi Pustaka Interaksi Obat Pada Peresepan Pasien Tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Oktober- Desember 2013” termasuk jenis penelitian observasional

  Penelitian ini diharapkan memberikan informasi mengenai interaksi obat dan tingkat signifikansi klinis yang terjadi pada peresepan pasien tuberkulosis di InstalasiRawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013 yang dikaji berdasarkan literatur. Penelitian ini bersifat retrospektif karena data yang didapat dari melihat lembar rekam medis pasien periode lampau yang ditentukan(Notoadmojo, 2010).

B. Variabel dan Definisi Operasional 1

  Gambaran umum pola peresepan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan obat lain meliputi jumlah, golongan, jenis dan cara pemberian obat yang digunakanpasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan SenopatiBantul periode Oktober-Desember 2013. Kategori signifikansi interaksi obat adalah penggolongan tingkat interaksi obat menurut akibat yang ditimbulkan dikaji secara teoritis berdasarkan pustakadengan mengacu pada Medscape Drug Interaction Chacker (Chelmow et al,2014), Drug Interaction Facts (Tatro, 2007) dan Managing Clinically Important Drug Interactions (Hansten dan horn, 2002).

C. Subyek dan Bahan Penelitian 1

  Kriteria inklusi subyek adalah pasien dengan penyakit tuberkulosis di InstalasiRawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul yang menerima peresepanObat Anti Tuberkulosis (OAT) dengan atau tanpa obat lain periode Oktober-Desember 2013. Bahan penelitian yang digunakan adalah lembar rekam medik (medical record) pasien tuberkulosis yang menerima peresepan OAT dengan obat lain dan tanpaobat lain di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periodeOktober-Desember 2013 yang ditulis oleh dokter dan perawat mengenai data klinis pasien.

D. Alat atau Instrumen Penelitian

E. Tata Cara Penelitian

Pembuatan alat atau instrumen penelitian dimaksudkan untuk Penelitian mengenai “Studi Pustaka Interaksi Obat Pada Peresepan Pasien Tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati BantulPeriode Oktober- Desember 2013” dilakukan melalui beberapa tahap berikut ini.

1. Tahap orientasi

  Peneliti menemukan masalah yang menarik untuk topikpenelitian yang diperoleh dari membaca penelitian terdahulu, disertai dengan informasi mengenai topik terkait yang berasal dari jurnal dan artikel kesehatan dimedia cetak maupun elektronik. Data yang dikumpulkan meliputi tanggal pengobatan, nomor rekammedik, umur, jenis kelamin, kategori pasien tuberkulosis, diagnosis medik, jenisObat Anti Tuberkulosis (OAT) dan obat lain, jumlah OAT dan obat lain, regimen dosis, data klinis atau data laboratorium.

F. Tata Cara Analisis

  Analisis interaksi obat yang terjadi antar Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan antara OAT dengan obat lain dilakukan dengan cara studi pustaka. Evaluasi ada tidaknya interaksi obat dilakukan berdasarkan pustaka berikut: Medscape Drug Interaction Chacker (Chelmow et al, 2014), Drug Interaction Fact (Tatro, 2007), dan Managing Clinically Important Drug Interactions (Hansten dan horn, 2002).

4. Studi pustaka interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis

  Proporsi interaksi antar OAT dan antara OAT dengan obat lain ∑ interaksi antar OAT/interaksi OAT dengan obat lain x 100%. Proporsi kategori signifikansi klinis interaksi obat ∑ kategori signifikansi klinis interaksi obat teridentifikasi x 100%.

H. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian “Studi Interaksi Obat Pada Peresepan Pasien Tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati BantulPeriode Oktober- Desember 2013” adalah peneliti mengalami keterbatasan mengkaji interaksi obat yang terjadi hanya berdasarkan data rekam medik pasien.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Studi pustaka interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember tahun

  Jumlah peresepan pasien tuberkulosis pada periode Oktober-Desember 2013 di InstalasiRawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul adalah 83 peresepan yang berasal dari 83 rekam medik atau pasien. Karakteristik pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUDPanembahan Senopati periode Oktober-Desember 2013 pada penelitian ini meliputi umur, jenis kelamin dan kategori pasien tuberkulosis.

1. Umur pasien tuberkulosis

  Diagram distribusi umur pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013(n=83) Berdasarkan Gambar 3, pasien tuberkulosis terbanyak adalah kelompok umur anak 0- 14 tahun sebanyak 66 pasien (79,5%) bila dibandingkan kelompok umur dewasa ≥15 tahun sebanyak 17 pasien (20,5%). Diagram distribusi kelompok umur anak pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013 (n=66) Berdasarkan Gambar 4, pasien tuberkulosis anak terbanyak adalah kelompok umur 1- 5 tahun sebanyak 41 pasien (62,1%).

2. Jenis kelamin pasien tuberkulosis

  Gambaran umum pola peresepan pasien tuberkulosis Gambaran umum pola peresepan pasien tuberkulosis meliputi proporsi penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan obat lain, jumlah obat tiap peresepanserta cara pemberian obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013. Cara Pemberian Jumlah obat Persentaseobat (N=372) (%) 1 Per oral 365 98,1 2 Inhalasi 5 1,3 3 Intravena 1 0,3 4 Sub kutan 1 0,3Total obat 372 100 Berdasarkan Tabel VIII, cara pemberian obat yang terdiri dari OAT dan obat lain pada peresepan tuberkulosis dapat dibedakan menjadi empat yaitu per oral,inhalasi, intravena, dan sub kutan dengan persentase tertinggi adalah pemberian secara per oral (98,1%).

1. Persentase interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis

  Interaksi yang terjadi pada OAT golongan I lini pertama antara lain interaksi antara rifampicin danisoniazid, rifampicin dan pyrazinamid, rifampicin dan streptomycin, serta isoniazid dan pyrazinamid. Adanya interaksi-interaksi obat yang terjadi pada OAT golongan Ilini pertama menyebabkan keseluruhan peresepan pasien tuberkulosis di InstalasiRawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013 berpotensi mengalami interaksi obat.

2. Proporsi interaksi obat antar Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan antara OAT dengan obat lain pada peresepan pasien tuberkulosis

  Proporsi interaksi obat antara Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dengan OAT dan antara OAT dengan obat lain di Instalasi Rawat Jalan RSUD PanembahanSenopati Bantul periode Oktober-Desember 2013 ditunjukan pada Gambar 9. Diagram proporsi interaksi antar Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan antara Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dengan obat lain pada peresepanpasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013 berdasarkan pustaka (n=308) Berdasarkan Chelmow et al.

3. Proporsi jenis interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis

  Diagram proporsi jenis interaksi farmakokinetik pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan SenopatiBantul periode Oktober-Desember 2013 berdasarkan kajian pustaka (n=10) Interaksi farmakodinamik pada peresepan pasien tuberkulosis terdiri dari interaksi farmakodinamik efek obat aditif (20%) dan efek obat antagonis (80%) (Chelmow et al., 2014), (Tatro, 2007), dan (Hanster dan Horn, 2002). Kategori signifikansi klinis interaksi obat 5 yang memiliki tingkat keparahan minor, kombinasi obat dapat Menurut Drug Interaction Facts (2007), pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013 terdapat kategori signifikansi klinis interaksi obat 1 sebanyak 3 interaksi obat yaitu antara rifampicin dan isoniazid, rifampicin dan prednisolone,serta rifampicin dan dexametasone.

5. Mekanisme dan efek interaksi obat antar Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan dengan obat lain

  Mekanisme dan efek interaksi obat antar Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013 berdasarkan kajian pustaka No Obat Anti Menurut Tatro(2007), kategori signifikansi klinis 5. Mekanisme dan efek interaksi obat antara Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dengan obat lain pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013 berdasarkankajian pustaka No Obat Anti Minor (Chelmow et al., 2014).

1. Pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan

  Manajemen yang diperlukan untuk interaksi rifampicin dan zidovudine adalah diperlukan adanya modifikasi dosis dan modifikasi waktupemberian antara kedua obat, serta diperlukan monitoring khusus pada kombinasi obat yang diberikan (Chelmow et al., 2014), kombinasi obat memerlukan terapitambahan karena dapat dengan mengubah respon farmakologi individu (Tatro,2007), atau pasien harus dimonitoring selama penggunaan kombinasi obat 9. Manajemen yang dilakukan untuk interaksi isoniazid dan dexamethasone adalah diperlukan adanya modifikasi dosis danmodifikasi waktu pemberian antara kedua obat, serta diperlukan monitoring khusus pada kombinasi obat yang diberikan (Chelmow et al., 2014), ataukombinasi obat dapat diberikan karena menghasilkan efek yang ringan, respon klinik pasien dapat mengalami perubahan atau tidak (Tatro, 2007).

3. Studi Pustaka Interaksi Obat Pada Peresepan Pasien Tuberkulosis

  Tingginya persentase interaksi obat antar OAT disebabkan terapi utama yang diberikan pada penderita tuberkulosis berdasarkan Panduan Nasional PengendalianTuberkulosis Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2011) yang terdiri dari rifampicin, pyrazinamid, isoniazid, ethambutol dan streptomycin, yang digunakansecara kombinasi, mengalami interaksi obat. Jumlah kategori signifikansi klinis interaksi obat menurut Chelmow et al.,(2014) adalah kategori signifikansi klinis interaksi obat serius sebanyak 3 interaksi Menurut Tatro (2007), terdapat kategori signifikansi klinis interaksi obat 1 sebanyak 3 interaksi obat, kategori signifikansi klinis interaksi obat 4 sebanyak 1 interaksi obatdan kategori signifikansi klinis interaksi obat 5 sebanyak 5 interaksi obat.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang didapat, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut

  Jenis kelaminterbanyak adalah perempuan sebanyak 44 kasus (53%) dan kategori pasien terbanyak adalah kategori 1 sebanyak 81 kasus (97,6%). Gambaran pola peresepan pasien tuberkulosis, penggunaan obat yang paling banyak adalah OAT sebanyak 267 obat (71,8%) dan cara pemberian yangpaling secara peroral sebanyak 365 obat (98,1%).

3. Peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan

  Kategori signifikansi klinis interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis menurut Medscape Drug Interaction Chacker yang terbanyak adalahsignifikan sebanyak 6 kasus. Menurut Drug Interaction Facts, signifikansi klinis interaksi obat yang terbanyak adalah kategori signifikansi klinisinteraksi obat 1 sebanyak 3 kasus dan menurut Managing Clinically Important Drug Interactions, signifikansi klinis interaksi obat kategori ketiga sebanyak 5 kasus.

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

  Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti memberikan saran kepada penelitian selanjutnya adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjutmengenai studi pustaka interaksi obat secara prospektif pada peresepan pasien tuberkulosis. Saran yang diberikan kepada pihak RSUD Panembahan SenopatiBantul adalah perlu dilakukan monitoring terhadap efek interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis.

10 P PKTB Baru Isoniazid 1x200mg

3 P PKTB Baru Isoniazid 1x110mg Amoxicillin 2x250mg

3 Intensif Rifampicin 1x300mg 3 4 N110/mnt Intensif Rifampicin 1x140mg Albuterol 2x2mg RR27/mntPyrazinamid 2x100mg Albuterol Sulfat 2x1mg Guaifenesin 2x50mg 16 17/10/2013 514371

11 P PKTB Baru Isoniazid 1x250mg Albuterol 2x2mg

3 1 Thorax AP:Intensif Rifampicin 1x350mg PKTB Pyrazinamid 2x250mg 17 31/10/2013 500534 0,7 P PKTB Baru Isoniazid 1x165mg Albuterol Sulfat 2x0,5mg 3 5 Intensif Rifampicin 1x90mg Guaifenesin 2x25mg Pyrazinamid 2x60mg Amoxicillin 3x150mgAlbuterol 3x0,65mg Ambroxol 3x15mg 18 17/10/2013 400287 5,5 L PKTB Baru Isoniazid 1x100mg Pyridoxin 5mg 3 2 Rifampicin 1x150mg 3 Intensif Rifampicin 1x105mg Pyrazinamid 2x70mg451 20 14/10//2013 892 3,3 L PKTB Baru Isoniazid 1x140mg 3 Intensif Rifampicin 1x200mg Pyrazinamid 2x140mg470 21 27/10/2013 110 2,2 L PKTB Baru Isoniazid 1x100mg Pyridoxin 3 2 Triprolidine Intensif Rifampicin 1x110mg HCL 3x1,25mgPyrazinamid 2x100mg Pseudoephedrin 3x30mg 514 Thorax 22 10/02/2013 686 4,6 L PKTB Baru Isoniazid 1x140mg 3 AP: Intensif Rifampicin 1x200mg PKTBPyrazinamid 2x100mg 514 23 24/10/2013 881 1,7 L PKTB Baru Isoniazid 1x140mg Pyridoxin 3mg 3 1 Intensif Rifampicin 1x200mg 3 1 Intensif Rifampicin 1x150mg Pyrazinamid 2x100mg25 23/10/2010 472 939 1,2 P PKTB Baru Isoniazid 1x100mg 3 Intensif Rifampicin 1x160mg Pyrazinamid 2x130mg26 24/10/2010 476 638 1,1 P PKTB Baru Isoniazid 1x80mg 3 Intensif Rifampicin 1x120mg Pyrazinamid 2x80mg27 22/10/2013 350 286 5,4 P PKTB Baru Isoniazid 1x200mg 3 Intensif Rifampicin 1x300mg Pyrazinamid 2x200mg28 31/10/2013 515 990 2,4 L PKTB Baru Isoniazid 1x100mg 3 33 P Limphadinitis Baru Rifampicin 1x150mg 4 TD 110/60 TB Intensif Isoniazid 1x75mgPyrazinamid 1x400mg Ethambutol 1x255mg 516 30 11/08/2013 057 19 P Limphadinitis Baru Rifampicin 1x150mg Ciprofloxacin 2x500mg 4 2 Natrium TB Intensif Isoniazid 1x75mg Diklofenak 3x50mgPyrazinamid 1x400mg Ethambutol 1x255mg 517 31 19/11/2013 427 45 L TB Baru Rifampicin 1x150mg Pyridoxin 1x10mg 4 3 Intensif Isoniazid 1x75mg Lamivudine 2x150mg Pyrazinamid 1x400mg Zidovudine 2x300mg517 32 24/11/2013 302 40 L TB Baru Rifampicin 1x150mg Pyridoxin 1x10mg 4 2 517 094

15 P PKTB Baru Rifampicin 1x0mg

4 TD 90/60 Intensif Isoniazid 1x75mgPyrazinamid 1x400mg Ethambutol 1x255mg 34 22/11/2013 508056 48 L Limphadinitis Baru Rifampicin 1x150mg NatriumDiklofenak 3x50mg 4 8 TB Intensif Isoniazid 1x75mg Thiamine HCL 1x10mg Pyrazinamid 1x400mg Riboflavin 1x5mgEthambutol 1x255mg Pyridoxin HCL 1x5mg Cyanocobalamin 1x 5mcg Panthothenic acid 1x10mgNicotinamide 1x20mg Ascorbic acid 1x500mg 35 28/11/2013 516557

51 P Limphadinitis Baru Rifampicin 1x150mg

4 TB Intensif Isoniazid 1x75mg Pyrazinamid 1x400mgEthambutol 1x255mg 36 11/02/2013 446 535 2,2 L PKTB Baru Isoniazid 1x125mg Pyridoxin 1x10mg 3 1 Intensif Rifmapicin 1x175mg Pyrazinamid 2x150mg37 11/07/2013 514 484 5,2 P PKTB Baru Isoniazid 1x150mg 3 Intensif Rifampicin 1x225mg Pyrazinamid 2x180mg38 11/07/2013 426 561 3,7 P PKTB Baru Isoniazid 1x100mg Albuterol 1mg 3x1mg 3 3 Intensif Rifampicin 1x150mg MetilPrednisolon 1mg 3x1mg Pyrazinamid 2x100mg Ephedrine HCL 3x6,25mg 39 11/07/2013 516035 6,3 L PKTB Baru Isoniazid 1x130mg Albuterol 3x2mg 3 3 10 P PKTB Baru Isoniazid 1x155mg Amoxicillin 3x200mg 830 3 Intensif Rifampicin 1x200mg Pyrazinamid 2x140mg43 11/07/2013 515 10 L PKTB Baru Isoniazid 1x140mg 42 14/11/2013 516968 1 Thorax AP:Intensif Rifampicin 1x250mg PKTB Pyrazinamid 2x150mg 150mg bila perlu 3 41 11/07/2013 515844 6,8 P PKTB Baru Isoniazid 1x150mg Acetaminophen 1 Thorax AP:Intensif Rifampicin 1x360mg PKTB Pyrazinamid 2x250mg 3 1X5mg 13 L PKTB Baru Isoniazid 1x280mg Pyridoxin 40 19/11/2013 366352 1 Thorax AP:Intensif Rifampicin 1x250mg PKTB Pyrazinamid 2x170mg 3 Thorax AP:Intensif Rifampicin 1x225mg Albuterol 3x1mg PKTB 3 L PKTB Baru Isoniazid 1x125mg SiproheptadinHCL 3x2mg 3 3 Bronkopnemo nia Intensif Rifampicin 1x100mg Acetaminophen 2x300mgPyrazinamid 2x180mg 45 11/07/2013 516 116 2,2 P PKTB Baru Isoniazid 1x110mg Acetaminophen bila perlu 3 1 Thorax AP:Pneumonia Intensif Rifampicin 1x160mg PKTB Pyrazinamid 2x110mg 46 11/07/2013 285915 7 L PKTB Baru Isoniazid 1x185mg Acetaminophen bila perlu 3 1 Thorax AP:Intensif Rifampicin 1x275mg PKTB Pyrazinamid 2x185mg 47 16/11/2013 499938 5,5 L PKTB Baru Isoniazid 1x150mg Pyridoxin 1x5mg 3 1 Thorax AP:Intensif Rifampicin 1x225mg PKTB Pyrazinamid 2x150mg 48 11/09/2013 515220 1 L PKTB Baru Isoniazid 1x150mg 3 Thorax AP: 097

4 P PKTB Baru Isoniazid 1x150mg Acetaminophen bila perlu

3 2 Thorax AP:Intensif Rifampicin 1x150mg Pyridoxin PKTB Pyrazinamid 1x2x22 50 14/11/2013 417048 5,8 P PKTB Baru Isoniazid 1x150mg Pyridoxin 1x5mg 3 2 Thorax AP:Intensif Rifampicin 1x200mg Albuterol 2,5mg/ 2,5ml PKTB Pyrazinamid 2x150mg51 14/11/2013 516 195

10 L PKTB Baru Isoniazid 1x200mg

3 Intensif Rifampicin 1x300mg Pyrazinamid 2x200mg52 14/11/2013 438 255 4,2 P PKTB Baru Isoniazid 1x135mg Cetirizine 1x4mg 3 1 Intensif Rifampicin 1x200mg Pyrazinamid 2x135mg 416 53 19/11/2013 195 6,3 L PKTB Baru Isoniazid 1x140mg Cetirizine 1x4mg 3 1 Intensif Rifampicin 1x200mg Pyrazinamid 2x140mg514 54 19/11/2013 508 3,1 L PKTB Baru Isoniazid 1x110mg Cetirizine 1x4mg 3 1 Intensif Rifampicin 1x125mg Pyrazinamid 2x100mg464 Thorax 55 19/11/2013 907 2,5 P PKTB Baru Isoniazid 1x75mg 3 AP: Intensif Rifampicin 1x105mg PKTBPyrazinamid 2x75mg 412 56 21/11/2013 881 3,1 P PKTB Baru Isoniazid 1x130mg Acetaminophen bila perlu 3 1 Intensif Rifampicin 1x165mg Pyrazinamid 2x130mg440 57 21/11/2013 384 2,4 P PKTB Baru Isoniazid 1x75mg 3 Intensif Rifampicin 1x105mg 2 P PKTB Baru Isoniazid 1x110mg 3 Intesif Rifampicin 1x160mg Pyrazinamid 2x110mg363 59 28/11/2013 029 7,6 P PKTB Baru Isoniazid 1x200mg Acetaminophen bila perlu 3 3 Intensif Rifampicin 1x310mg Albuterol 3x2mg Pyrazinamid 2x250mg Cetirizine 3x2mg517 Thorax 60 14/11/2011 647 6 P PKTB Kambuhan Isoniazid 1x150mg Pyridoxin 1X5mg 3 1 AP: Intensif Rifampicin 1x225mg PKTBPyrazinamid 2x150mg 392 Thorax 61 11/09/2013 801 4,7 L PKTB Baru Isoniazid 1x160mg 3 AP: Intensif Rifampicin 1x245mg PKTBPyrazinamid 2x160mg 405 Thorax 62 11/12/2013 410

10 P PKTB Baru Isoniazid 1x155mg

3 AP: Intensif Rifampicin 1x225mg PKTB 45 L PKTB Baru - Intensif64 16/12/2013 514 395 18 L Limphadinitis Baru Rifampicin 1x150mg Pyridoxin HCL 1x5mg 4 5 TB Intensif Isoniazid 1x75mg Vitamin B12 1x 5mcg Pyrazinamid 1x400mgPanthothenic acid 1x10mg Ethambutol 1x255mg Nicotinamide 1x20mg Asam Askorbat 1x500mg65 13/12/2013 485 461 28 L PKTB Baru - Intensif66 23/12/2013 517 020 66 L Limphadinitis Baru Rifampicin 1x150mg 4 TB Intensif Isoniazid 1x75mg Pyrazinamid 1x400mgEthambutol 1x255mg 67 12/03/2013 498 937 1,3 P PKTB Baru Isoniazid 1x110mg Acetaminophen bila perlu 3 1 Thorax 68 12/10/2013 617 5,2 L PKTB Baru Isoniazid 1x105mg Acetaminophen bila perlu 3 5 AP: Bronko Intensif Rifampicin 1x200mg Pyridoxin 1x5mg PKTB2x2,5mg/ Pyrazinamid 2x145mg Albuterol 2,5ml Tripolidina HCL 3x2,5mg Pseudoephe-drine 3x60mg 379 69 28/12/2013 618 4,4 P PKTB Baru Isoniazid 1x195mg Salbutamol 3x1mg 3 2 Intensif Rifampicin 1 x210mg Ambroxol 3x15mg Pyrazinamid 2x145mg518 70 14/12/2013 758 4,5 P PKTB Baru Isoniazid 1x125mg 3 Intensif Rifampicin 1x200mg Pyrazinamid 2x150mg439 Thorax 71 12/12/2013 908 3,4 L PKTB Baru Isoniazid 1x130mg 3 AP: Intensif Rifampicin 1x165mg PKTBPyrazinamid 2x 130mg 72 17/12/2013 515242 9,5 P PKTB Baru Isoniazid 1x240mg Acetaminophen bila perlu 3 1 Thorax AP:Intensif Rifampicin 1x360mg PKTB Pyrazinamid 2x240mg 73 17/12/2013 446849 2,3 L PKTB Baru Isoniazid 1x100mg 3 1 Intensif Rifampicin 1x150mg Pyrazinamid 2x100mg74 19/12/2013 445 868 2,3 P PKTB Baru Isoniazid 1x125mg Pyridoxin 1x5mg 3 1 Intensif Rifampicin 1x185mg Pyrazinamid 2x145mg75 19/12/2013 519 606 2,2 P PKTB Baru Isoniazid 1x100m Pyridoxin 1x5mg 3 1 Intensif Rifampicin 1x160mg Pyrazinamid 2x110mg76 14/12/2013 519 371 2,1 P PKTB Baru Isoniazid 1x100mg Acetaminophen bila perlu 3 1 Intensif Rifampicin 1x100mg 3 1 Intensif Rifampicin 1x165mg Pyrazinamid 2x130mg519 78 28/12/2013 334 1,4 L PKTB Baru Isoniazid 1x75mg 3 Intensif Rifampicin 1x110mg Pyrazinamid 2x75mg520 79 28/12/2013 128 3,5 L PKTB Baru Isoniazid 1x100mg 3 Intensif Rifampicin 1x150mg Pyrazinamid 2x100mg520 80 28/12/2013 039 4,4 L PKTB Baru Isoniazid 1x120mg Pyridoxin 1x5mg 3 2 2x2,5mg/Intensif Rifampicin 1x140mg Albuterol 2,5ml Pyrazinamid 2x125mg 520Thorax 81 28/12/2013 062 6,2 L PKTB Baru Isoniazid 1x170mg Pyridoxin 1x5mg 3 1 AP: Intensif Rifampicin 1x250mg PKTBPyrazinamid 2x170mg 484 82 28/12/2013 938 2,1 P PKTB Baru Isoniazid 1x75mg 3 Intensif Rifampicin 1x110mg Pyrazinamid 2x75mg518 Thorax 83 31/12/2013 502 3,7 L PKTB Baru Isoniazid 1x100mg 3 AP: Intensif Rifampicin 1x150mg PKTBPyrazinamid 2x100mg 461 84 28/12/2013 861 2,8 L PKTB Baru Isoniazid 1x150mg 3 Intensif Rifampicin 1x225mg Pyrazinamid 2x110mg519 Thorax 85 27/12/2013 053 1,4 P PKTB Baru Isoniazid 1x75mg Albuterol 3x0,75mg 3 1 AP: Intensif Rifampicin 1x100mg PKTBPyrazinamid 2x200mg

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien di insatalasi rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul.
1
2
49
Kajian interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta periode Januari 2015-Juni 2016.
0
0
50
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul.
0
1
50
Evaluasi peresepan antibiotika pada pasien diare dengan metode gyssens di instalasi rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode April 2015.
0
4
213
Evaluasi interaksi penggunaan obat hipoglikemi pada pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015.
0
1
92
Evaluasi interaksi penggunaan obat antihipertensi pada pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015.
0
4
109
Evaluasi pelayanan informasi obat pada pasien di instalasi farmasi RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
8
72
110
Evaluasi penggunaan obat Hipoglikemia pada pasien di instalasi rawat inap bangsal Bakung RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Agustus 2015.
1
6
117
Efektivitas penggunaan obat antihipertensi di Instalasi Rawat Inap bangsal Bakung RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015.
1
9
95
Studi literatur interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik di instalasi rawat jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013.
7
45
147
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien di insatalasi rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul
0
0
47
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul
0
0
48
Studi pustaka interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013 - USD Repository
0
0
140
Studi literatur interaksi obat pada peresepan pasien diabetes melitus tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013 - USD Repository
0
1
205
Studi literatur interaksi obat pada peresepan pasien hipertensi di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember tahun 2013 - USD Repository
0
1
144
Show more