Analisis kesulitan belajar siswa dan upaya remediasi pada topik penerapan persamaan linear satu variabel kelas VII B SMP Pangudi Luhur Giriwoyo Wonogiri.

Gratis

0
1
265
2 years ago
Preview
Full text

  

ABSTRACT

Calcilea Deny Krisnawati (111414008). "Analysis of Student Learning

Difficulties and Remediation Efforts on the topics Application of Linear

Equations Highlights One Variable of Class VII B at SMP Pangudi Luhur

Giriwoyo Wonogiri". Thesis Mathematics Education Study Program

Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teachers

Training and Education, Sanata Dharma University.

  The research for this thesis aimed to determine the kinds of difficulties faced by students on the topic of application of linear equations of one variable, factors that cause learning difficulties and the results of remediation efforts to address student learning difficulties.

  The method used in this research was qualitative-descriptive. Quantitative approach was also used as a support, to processing structured observations and to identify students who are having difficulty learning. Data were collected in March- May 2015 in Pangudi Luhur, Giriwoyo Junior High School. The object of this study was the set of difficulties experienced by students in the topic of the application of linear equations in one variable and its subject of this study is all students who have difficulty learning. Data collected by using the diagnostic test, observation and through interview techniques.

  The Results of this research are a kinds of learning difficulties faced by students on the topic of the application of linear equations of the variables include the difficulty understanding the intent matter, the difficulty in modeling (change the wording in the formula), and difficulties in the process of problem-solving skills. In addition, factors-factors that cause students' learning difficulties are internal factors students are less daring expression, less active questioning and on external factors, namely the material elusive and relationships with friends in class less harmonious. Based on the analysis of diagnostic test, there are 23 of the 33 students who have learning difficulties or 69,69% of students who take teaching and test remediation. And once held teaching remediation and remediation tests there are 16 students who completed, and as many as 23 students or all students experience a reduction in the number of types of errors in the work on the problems. While the results of the evaluation of teaching remediation, from interviews with the teacher and several students stated that, teaching remediation have a positive impact for students is to improve understanding of the material application of one variable linear equations.

  Keywords: types of learning difficulties, the implementation of one variable linear

  

equations, factors-factors that cause learning difficulties, teaching remediation

  

ABSTRAK

Calcilea Deny Krisnawati (111414008).

  “Analisis Kesulitan Belajar Siswa dan

Upaya Remediasi dalam Pokok Bahasan Penerapan Persamaan Linear Satu

Variabel Kelas VII B SMP Pangudi Luhur Giriwoyo Wonogiri

  ”. Skripsi

Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan dan Ilmu

Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas

Sanata Dharma.

  Penelitian dalam skripsi ini, bertujuan untuk mengetahui jenis

  • –jenis kesulitan belajar yang dihadapi siswa dalam pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel, faktor
  • –faktor penyebab kesulitan belajar dan hasil upaya remediasi untuk mengatasi kesulitan belajar siswa.

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pendekatan kuantitatif juga digunakan sebagai pendukung, dalam mengolah hasil pengamatan terstruktur dan mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret

  • –Mei 2015 di SMP Pangudi Luhur, Giriwoyo. Dengan pengambilan objek adalah kesulitan
  • –kesulitan yang dialami oleh siswa
  • –siswi dalam pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel dan subjek pada penelitian ini adalah semua siswa
  • –siswi yang mengalami kesulitan belajar. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes diagnostik, pengamatan dan teknik wawancara.

  Hasil penelitian ini adalah jenis

  • –jenis kesulitan belajar yang dihadapi siswa pada pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel meliputi kesulitan memahami maksud soal, kesulitan dalam memodelkan (mengubah kalimat dalam formula), dan kesulitan dalam keterampilan proses penyelesaian soal. Selain itu, faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa yaitu faktor internal siswa kurang berani mengemukakan pendapat, kurang aktif bertanya dan faktor eksternal yaitu materi sulit dipahami, hubungan dengan teman di kelas kurang harmonis dan lingkungan belajar kurang kondusif. Berdasarkan hasil analisis dari tes diagnostik, terdapat 23 dari 33 siswa yang mengalami kesulitan belajar atau 69,69% siswa yang mengikuti pengajaran dan tes remediasi. Hasil pengajaran dan tes remediasi diperoleh sebanyak 16 siswa yang tuntas dan 23 siswa mengalami pengurangan banyaknya jenis kesalahan dalam mengerjakan soal. Sedangkan dari hasil evaluasi pengajaran remediasi melalui wawancara dengan guru dan beberapa siswa menyatakan bahwa, pengajaran remediasi sangat memberi dampak positif bagi siswa yaitu meningkatkan pemahaman materi penerapan persamaan linear satu variabel. Kata kunci: jenis
  • –jenis kesulitan belajar, penerapan persamaan linear satu

  variabel, faktor

  • –faktor penyebab kesulitan belajar, pengajaran

  

ANALISIS KESULITAN BELAJAR SISWA DAN UPAYA REMEDIASI

PADA TOPIK PENERAPAN PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL

KELAS VII B SMP PANGUDI LUHUR GIRIWOYO WONOGIRI

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika

   Oleh:

Calcilea Deny Krisnawati

NIM : 111414008

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2015

  

ANALISIS KESULITAN BELAJAR SISWA DAN UPAYA REMEDIASI

PADA TOPIK PENERAPAN PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL

KELAS VII B SMP PANGUDI LUHUR GIRIWOYO WONOGIRI

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika

   Oleh:

Calcilea Deny Krisnawati

NIM : 111414008

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2015

HALAMAN PERSEMBAHAN

  

“Hidup dengan perjuangan dan pengorbanan itu asyik”

Halaman ini, saya persembahkan untuk:

  1. Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang selalu menyertai

  2. Orang tua ku Antonius Sutarjo dan Fransisca Priwantari yang senantiasa mendoakan

  3. Adikku Prisca dan Wine yang senantiasa mendoakan

  4. Sahabat tercinta, Septy, Meta, Dini yang selalu memberi semangat

  5. Erwan Eko Prasetiyo yang selalu memberi semangat

  6. Teman – teman P.Mat USD 2011 yang senantiasa mendukung.

  

ABSTRAK

Calcilea Deny Krisnawati (111414008).

  “Analisis Kesulitan Belajar Siswa dan

Upaya Remediasi dalam Pokok Bahasan Penerapan Persamaan Linear Satu

Variabel Kelas VII B SMP Pangudi Luhur Giriwoyo Wonogiri

  ”. Skripsi Program

studi Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Alam,

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

  Penelitian dalam skripsi ini, bertujuan untuk mengetahui jenis

  • –jenis kesulitan belajar yang dihadapi siswa dalam pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel, faktor
  • –faktor penyebab kesulitan belajar dan hasil upaya remediasi untuk mengatasi kesulitan belajar siswa.

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pendekatan kuantitatif juga digunakan sebagai pendukung, dalam mengolah hasil pengamatan terstruktur dan mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar.

  Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret

  • –Mei 2015 di SMP Pangudi Luhur, Giriwoyo. Dengan pengambilan objek adalah kesulitan
  • –kesulitan yang dialami oleh siswa
  • –siswi dalam pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel dan subjek pada penelitian ini adalah semua siswa
  • –siswi yang mengalami kesulitan belajar. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes diagnostik, pengamatan dan teknik wawancara.

  Hasil penelitian ini adalah jenis

  • –jenis kesulitan belajar yang dihadapi siswa pada pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel meliputi kesulitan memahami maksud soal, kesulitan dalam memodelkan (mengubah kalimat dalam formula), dan kesulitan dalam keterampilan proses penyelesaian soal. Selain itu, faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa yaitu faktor internal siswa kurang berani mengemukakan pendapat, kurang aktif bertanya dan faktor eksternal yaitu materi sulit dipahami, hubungan dengan teman di kelas kurang harmonis dan lingkungan belajar kurang kondusif. Berdasarkan hasil analisis dari tes diagnostik, terdapat 23 dari 33 siswa yang mengalami kesulitan belajar atau 69,69% siswa yang mengikuti pengajaran dan tes remediasi. Hasil pengajaran dan tes remediasi diperoleh sebanyak 16 siswa yang tuntas dan 23 siswa mengalami pengurangan banyaknya jenis kesalahan dalam mengerjakan soal. Sedangkan dari hasil evaluasi pengajaran remediasi melalui wawancara dengan guru dan beberapa siswa menyatakan bahwa, pengajaran remediasi sangat memberi dampak positif bagi siswa yaitu meningkatkan pemahaman materi penerapan persamaan linear satu variabel. Kata kunci: jenis
  • –jenis kesulitan belajar, penerapan persamaan linear satu

  variabel, faktor

  • –faktor penyebab kesulitan belajar, pengajaran

  remediasi

  

ABSTRACT

Calcilea Deny Krisnawati (111414008). "Analysis of Student Learning

Difficulties and Remediation Efforts on the topics Application of Linear

Equations Highlights One Variable of Class VII B at SMP Pangudi Luhur

Giriwoyo Wonogiri". Thesis Mathematics Education Study Program

Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teachers

Training and Education, Sanata Dharma University.

  The research for this thesis aimed to determine the kinds of difficulties faced by students on the topic of application of linear equations of one variable, factors that cause learning difficulties and the results of remediation efforts to address student learning difficulties.

  The method used in this research was qualitative-descriptive. Quantitative approach was also used as a support, to processing structured observations and to identify students who are having difficulty learning. Data were collected in March- May 2015 in Pangudi Luhur, Giriwoyo Junior High School. The object of this study was the set of difficulties experienced by students in the topic of the application of linear equations in one variable and its subject of this study is all students who have difficulty learning. Data collected by using the diagnostic test, observation and through interview techniques.

  The Results of this research are a kinds of learning difficulties faced by students on the topic of the application of linear equations of the variables include the difficulty understanding the intent matter, the difficulty in modeling (change the wording in the formula), and difficulties in the process of problem-solving skills. In addition, factors-factors that cause students' learning difficulties are internal factors students are less daring expression, less active questioning and on external factors, namely the material elusive and relationships with friends in class less harmonious. Based on the analysis of diagnostic test, there are 23 of the 33 students who have learning difficulties or 69,69% of students who take teaching and test remediation. And once held teaching remediation and remediation tests there are 16 students who completed, and as many as 23 students or all students experience a reduction in the number of types of errors in the work on the problems. While the results of the evaluation of teaching remediation, from interviews with the teacher and several students stated that, teaching remediation have a positive impact for students is to improve understanding of the material application of one variable linear equations.

  Keywords: types of learning difficulties, the implementation of one variable linear

  equations, factors-factors that cause learning difficulties, teaching remediation

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih dan penyertaan Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

  Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika. Jurusan Pendidikan dan Ilmu Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Skripsi ini dapat tersusun berkat bantuan, bimbingan dan diorongan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1.

  Bapak Rohandi, Ph.D selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

  2. Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika.

  3. Veronika Fitri Rianasari, M.Sc selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan dukungannya.

  4. Dominikus Arif Budi Prasetyo, M. Si selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan kepada penulis dengan sabar dan penuh perhatian.

  5. FX. Koko Tahwan, S.Pd. selaku Kepala Sekolah SMP Pangudi luhur Giriwoyo yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di sekolah.

  6. Simon Sutedjo, S.Pd. selaku guru pembimbing yang telah memberikan dukungan serta bantuan dengan setia dan sabar kepada penulis.

  7. Seluruh siswa kelas VII B SMP Pangudi Luhur Giriwoyo tahun ajaran 2014/2015 yang telah bekerja sama dengan baik dalam pelaksanaan pembuatan skripsi ini.

  8. Orang tua dan adik-adik ku tersayang, Antonius Sutarjo, Fransisca Priwantari, Prisca Devi Yanuarti dan Winefrida Prita Oktavelia yang sudah, sedang dan akan terus mendoakan, mendukung, sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik.

  9. Semua sahabat, teman, yang sudah turut mendukung dalam segala hal, tetapi tidak dapat penulis sebutkan. Terimakasih banyak.

  Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya.

  Yogyakarta, 14 Juli 2015 Penulis,

  Calcilea Deny Krisnawati

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING.............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN...................................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA.......................................................... v LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI...................................................... vi ABSTRAK....................................................................................................... vii ABSTRACT.................................................................................................... viii KATA PENGANTAR..................................................................................... ix DAFTAR ISI................................................................................................... xi DAFTAR TABEL........................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... xv

  BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1

  1.1 Latar Belakang..................................................................................... 1

  1.2 Identifikasi Masalah............................................................................ 3

  1.3 Rumusan Masalah............................................................................... 3

  1.4 Tujuan Penelitian................................................................................. 4

  1.5 Batasan Masalah.................................................................................. 4

  1.7 Manfaat Penelitian............................................................................... 5

  3.2 Tempat dan Waktu Penelitian............................................................ 43

  4.2 Analisis Data....................................................................................... 79

  4.1 Deskripsi Pelaksanaan Pengambilan Data.......................................... 62

  BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................... 62

  3.9 Prosedur Pelaksanaan Penelitian........................................................ 58

  3.8 Keabsahan Data.................................................................................. 58

  3.7 Validasi Instrumen.............................................................................. 57

  3.6 Teknik Analisis Data.......................................................................... 51

  3.5 Instrumen Pengumpulan Data............................................................ 47

  3.4 Metode Pengumpulan Data................................................................ 45

  3.3 Objek dan Subjek Penelitian.............................................................. 44

  3.1 Jenis Penelitian................................................................................... 42

  1.8 Sistematika Penulisan.......................................................................... 6

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN......................................................... 42

  2.8 Kerangka Berfikir................................................................................ 40

  2.7 Penelitian Terdahulu............................................................................ 39

  2.6 Penerapan Persamaan Linear Satu Variabel........................................ 34

  2.5 Pengajaran Remediasi......................................................................... 29

  2.4 Diagnosis Kesulitan Belajar................................................................ 15

  2.3 Kesulitan Belajar................................................................................. 11

  2.2 Hakekat Belajar Matematika............................................................... 9

  2.1 Hakekat Belajar................................................................................... 8

  BAB II LANDASAN TEORI.......................................................................... 8

  4.3 Pembahasan......................................................................................... 104

  BAB V PENUTUP....................................................................................... 137

  5.1 137 Kesimpulan.......................................................................................

  5.2 139 Saran.................................................................................................

  DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 141 LAMPIRAN.................................................................................................. 144

  

DAFTAR TABEL

Tabel

  4.3 Tabel Penilaian Aktivitas Guru........................................................... 81

  4.10 Tabel Perbandingan Jumlah Jenis Kesalahan..................................... 130

  4.9 Tabel Keterangan Simbol Bentuk-bentuk Kesalahan......................... 129

  4.8 Tabel Perbandingan Bentuk Kesalahan.............................................. 128

  4.7 Tabel Pengelompokan Jenis-jenis Kesalahan..................................... 108

  4.6 Tabel Hasil Nilai dan Ketuntasan Tes Diagnostik.............................. 105

  4.5 Tabel Bentuk-bentuk Kesalahan Siswa............................................... 87

  4.4 Tabel Penilaian Aktivitas Siswa......................................................... 84

  74

  Halaman 2.1 Tabel Perbedaan Pengajaran Remediasi dan Biasa.............................

  62 4.2 Tabel Perbaikan Soal Tes Diagnostik.................................................

  56 4.1 Tabel Deskripsi Pengambilan Data.....................................................

  53 3.6 Tabel Analisis Transkrip Wawancara.................................................

  51 3.5 Tabel Indikator Jenis-jenis Kesalahan Newman.................................

  50 3.4 Tabel Kriteria Aktivitas Pembelajaran Guru.......................................

  49 3.3 Tabel Pedoman Wawancara................................................................

  43 3.2 Tabel Kisi-kisi Tes Diagnostik............................................................

  29 3.1 Tabel Deskripsi Rencana Pengambilan Data.......................................

  4.11 Tabel Perbandingan Nilai Tes Diagnostik dan Remediasi................. 131

  DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman

  C.2 Hasil Pekerjaan Tes Remedi …………………………….............. 178

  E.2 Surat Ijin Penelitian ……………………………………............... 246

  E.1 Dokumentasi ………………………………………….................. 245

  D RPP Remediasi ………………………………………….............. 243

  C.5 Transkrip Wawancara Evaluasi …………………………............. 239

  C.4 Transkrip Wawancara ……………………………………........... 191

  C.3 Hasil Pengamatan ……………………………………….............. 182

  C.1 Hasil Pekerjaan Tes Diagnostik …………………………............ 172

  A.1 Instrumen Pengamatan ………………………………….............. 144

  B.3 Lembar Validasi RPP Remedial ………………………….... ........ 170

  B.2 Lembar Validasi Soal ……………………………………..... ....... 169

  B.1 Lembar Validasi Instrumen Pengamatan ……………….............. 168

  A.4 Soal Tes Remedi …………………………………………............. 167

  A.3 Rubrik Penilaian Tes Diagnostik …………………………............ 152

  A.2 Soal Tes Diagnostik ……………………………………............... 151

  E.3 Surat Melaksanakan Penelitian ………………………................. 247

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Matematika merupakan ilmu dasar yang digunakan secara luas dalam berbagai bidang kehidupan, yaitu dalam pelajaran kimia, fisika, dan perhitungan keuangan pada akuntansi tidak lepas dari konsep matematika. Matematika juga dapat diartikan sebagai suatu mata pelajaran yang banyak mengandung ide-ide dan konsep-konsep abstrak. Objek matematika yang abstrak tersusun secara hirearkis, terstruktur, logis dan sistematis mulai dari yang sederhana sampai yang paling kompleks. Melalui pembelajaran matematika siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berfikir kritis, logis, dan sistematis dalam memecahkan masalah. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, siswa dituntut lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

  Tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran matematika salah satunya dapat dinilai dari keberhasilan siswa dalam memahami ide-ide dan konsep- konsep serta pemecahan masalah matematika maupun bidang ilmu lain. Ide- ide dan konsep-konsep yang abstrak menjadi salah satu faktor penyebab tujuan pembelajaran matematika sulit tercapai. Karena itu, siswa mempelajari matematika memerlukan kegiatan berfikir yang sangat tinggi, sehingga banyak siswa mengalami kesulitan belajar.

  Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika kelas VII menyatakan bahwa melalui pengamatan dari tahun ke tahun, siswa-siswi sebagian besar mengalami kesulitan belajar matematika pada materi sistem persamaan linear satu variabel khususnya pada topik penerapan persamaan linear satu variabel. Beliau mengungkapkan bahwa, kegiatan analisis dan remediasi jarang dilakukan, hal ini disebabkan karena keterbatasan waktu dalam proses pembelajaran. Sehingga, jenis-jenis, faktor-faktor, penyebab kesulitan belajar dan upaya perbaikan belum dapat diketahui.

  Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa di SMP Pangudi Luhur Giriwoyo menyatakan bahwa mereka kurang menyukai pelajaran matematika. Hal ini disebabkan bahwa, pelajaran matematika merupakan salah satu pelajaran yang sulit dipahami, materi yang dipelajari terlalu abstrak, dan banyak rumus serta perhitungan. Mereka juga berpendapat bahwa, matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang menakutkan.

  Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ungki Pawestri dkk pada tahun 2013, menyatakan bahwa, jenis-jenis kesulitan belajar siswa selalu berkaitan dengan konsep dan penyebab kesulitan belajar muncul dari berbagai faktor internal dan eksternal. Selain itu, upaya meminimalkan kesulitan belajar juga harus dilakukan guna peningkatan pemahaman siswa.

  Berdasarkan uraian diatas, peneliti melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Kesulitan Belajar Siswa dan Upaya Remediasi pada Topik Penerapan Persamaan Linear Satu Variabel Kelas VII B SMP Pangudi Luhur Giriwoyo Wonogiri

  ”. Penelitian ini bertujuan agar siswa dapat mempelajari matematika, khususnya topik penerapan persamaan linear satu variabel pada kesempatan selanjutnya, dengan konsep yang benar.

1.2 Identifikasi Masalah

  Berdasarkan latar belakang masalah, maka identifikasi masalah adalah sebagai berikut.

  1. Ada siswa yang mengalami kesulitan belajar dalam pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel.

  2. Kegiatan analisis kesulitan belajar siswa jarang dilakukan di SMP Pangudi Luhur Giriwoyo.

  3. Kegiatan pengajaran remedial jarang dilakukan di SMP Pangudi Luhur Giriwoyo.

1.3 Rumusan Masalah

  Bertolak dari latar belakang masalah yang sudah dikemukakan di atas, peneliti mengangkat beberapa rumusan masalah yaitu sebagai berikut.

  1. Apa saja jenis-jenis kesulitan belajar yang dihadapi siswa-siswi dalam pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel?

  2. Apa saja faktor-faktor penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa- siswi?

  3. Bagaimana hasil upaya remediasi untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa-siswi dalam mengerjakan soal-soal penerapan persamaan linear satu variabel?

1.4 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk.

  1. Mendeskripsikan jenis-jenis kesulitan belajar yang dihadapi siswa dalam pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel.

  2. Mengetahui faktor-faktor penyebab kesulitan belajar yang dialami siswa tersebut.

  3. Melakukan upaya remediasi untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa-siswi dalam mengerjakan soal-soal penerapan persamaan linear satu variabel.

1.5 Batasan Masalah

  Dengan memperhatikan keterbatasan waktu dan biaya, maka dalam penelitan analisis kesulitan belajar ini dibatasi pada mengidentifikasi kesulitan dari aspek kognitif siswa yang ditunjukkan pada kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal penerapan persamaan linear satu variabel.

1.6 Batasan Istilah 1.

  Diagnosis adalah penentuan jenis masalah dengan cara meneliti dan menganalisis gejala-gejala terhadap suatu hal.

  2. Belajar adalah suatu proses dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dengan cara mengamati, membaca, meniru, mencoba, mendengar dan mengikuti.

  3. Kesulitan adalah suatu situasi atau keadaan seseorang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan.

  4. Kesulitan belajar adalah kondisi terhambatnya tujuan belajar di dalam ilmu pendidikan, psikologi maupun kedokteran.

  5. Diagnosis kesulitan belajar adalah upaya menemukan kesulitan belajar siswa berdasarkan gejala-gejala yang tampak.

  6. Penerapan Persamaan Linear satu Variabel Materi yang menjadi pokok bahasan penelitian ini adalah Penerapan Persamaan Linear Satu variabel. Menurut KTSP Matematika SMP, pokok bahasan ini diajarkan di kelas VII semester 1. Persamaan linear satu variabel merupakan persamaan yang hanya memuat satu variabel dengan pangkat satu.

1.7 Manfaat Penelitian

  Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1.

  Bagi Siswa a.

  Mengetahui letak kesulitan siswa dalam mempelajari pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel.

  b.

  Membantu siswa mengatasi kesulitan dalam mempelajari penerapan persamaan linear satu variabel.

  2. Bagi Guru a.

  Membantu guru untuk mendeskripsikan kesulitan belajar yang dialami siswa.

  b.

  Memberikan gambaran kepada guru matematika mengenai faktor- faktor penyebab siswa melakukan kesalahan dalam mengerjakan soal pada materi persamaan linear satu variabel.

  c.

  Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

  d.

  Membantu guru dalam melakukan tes perbaikan atau tes remediasi.

  3. Bagi Mahasiswa Mengembangkan kemampuan, sikap tanggung jawab, dan kreatifitas dalam mengembangkan sebuah pembelajaran yang inovatif.

  4. Bagi Masyarakat Meningkatkan kualitas penelitian.

1.8 Sistematika Penulisan

  1. : Membahas pendahuluan yang meliputi latar belakang,

  Bab I rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,

  2. : Membahas kajian pustaka yang meliputi kajian teori, yaitu:

  Bab II hakekat belajar matematika, kesulitan belajar, diagnosis kesulitan belajar, pengajaran remediasi, penerapan persamaan linear satu variabel dan kerangka berfikir.

  3. Bab III : Membahas metode penelitian yang meliputi jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subjek dan objek penelitian, metode pengumpulan data, instrumen pengumpulan data dan teknik analisis data, validasi instrumen, keabsahan data dan prosedur pelaksanaan penelitian.

  4. Bab IV : Membahas tahap penelitian dan pembahasan yang meliputi deskripsi pengambilan data, analisis data dan pembahasan hasil pengambilan data. 5. : Membahas tentang kesimpulan dan saran.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Hakekat Belajar

  Menurut Aunurrahman (2011:38), belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan memperbaiki sikap. Menurut Harold Spears dalam Eveline Siregar dan Hartini Nara (2011:4) menyatakan bahwa belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu pada dirinya sendiri, mendengar dan mengikuti aturan.

  Sedangkan menurut Muhibbin Syah (2003:68), belajar merupakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Dengan demikian, belajar merupakan suatu proses dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dengan cara mengamati, membaca, meniru, mencoba, mendengar dan mengikuti.

  Menurut Makmun Khairani (2014:12) hakekat belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan secara sadar dan terus menerus melalui bermacam-macam aktivitas dan pengalaman guna memperoleh pengetahuan baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku yang lebih baik.

  Perubahan tersebut ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan dalam hal pemahaman, pengetahuan, perubahan sikap, tingkah laku dan daya penerimaan.

  Menurut Oemar Hamalik (2013:27) Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi memiliki pengertian yang lebih luas yaitu mengalami. Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan perubahan tingkah laku. Perubahan itu tampak pada salah satu atau beberapa aspek sebagai berikut yaitu pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis (budi pekerti), dan sikap.

2.2 Hakekat Belajar Matematika

  Menurut Abdurrahman (2012: 202), matematika menurut sebagian orang merupakan bidang studi yang paling sulit. Meskipun demikian, semua orang harus mempelajarinya karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.

  Menurut Paling (dalam Abdurrahman, 2012: 203) ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika hanya perhitungan yang mencakup tambah, kurang, kali dan bagi. Ada pula yang melibatkan topik-topik seperti aljabar, geometri dan trigonometri. Selain itu ada pula yang beranggapan bahwa matematika mencakup segala sesuatu yang berkaitan adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia dan suatu cara menggunakan informasi, pengetahuan, dan perhitungan.

  Menurut Liebeck (dalam Abdurrahman, 2012:204) ada dua macam hasil belajar matematika yang harus dikuasai oleh siswa, perhitungan matematis (mathematics calculation) dan penalaran matematis (mathematics

  reasoning ). Berdasarkan hasil belajar matematika semacam itu maka Lerner

  (dalam Abdurrahman, 2012:204) mengemukakan bahwa kurikulum bidang studi matematika hendaknya mencakup tiga elemen: (1) konsep, (2) keterampilan, dan (3) pemecahan masalah. Konsep menunjuk pada pemahaman dasar. Siswa mengembangkan suatu konsep ketika mereka mampu mengklasifikasikan atau mengelompokkan benda-benda atau ketika mereka dapat mengasosiasikan suatu nama dengan kelompok benda tertentu.

  Selanjutnya, keterampilan menunjuk pada sesuatu yang dilakukan seseorang, sebagai contoh, proses menggunakan operasi dasar dalam penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Suatu keterampilan dapat dilihat dari kinerja anak secara baik atau kurang baik, secara cepat atau lambat, dan secara mudah atau sangat sukar. Keterampilan cenderung berkembang dan dapat ditingkatkan melalui latihan. Sedangkan, pemecahan masalah adalah aplikasi dari konsep dan keterampilan. Dalam pemecahan masalah biasanya melibatkan beberapa kombinasi konsep dan keterampilan dalam suatu situasi

2.3 Kesulitan Belajar

2.3.1 Pengertian kesulitan belajar

  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesulitan adalah keadaan atau situasi yang sulit. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2013:235) kesulitan adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami hambatan dalam mencapai suatu tujuan sehingga hasilnya kurang maksimal dan dibutuhkan usaha yang lebih untuk mengatasinya. Dengan demikian, kesulitan merupakan suatu situasi atau keadaan seseorang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan.

  Mulyono Abdurrahman (2012:1) menyatakan bahwa kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa inggris yaitu learning

  disability yang berarti ketidakmampuan belajar. Kesulitan belajar

  merupakan suatu konsep multidisipliner yang digunakan di lapangan ilmu pendidikan, psikologi, maupun ilmu kedokteran. Sedangkan Muhibbin Syah (2003:184) menyatakan kesulitan belajar merupakan kondisi terhambatnya pencapaian tujuan belajar. Dengan demikian, kesulitan belajar adalah suatu kondisi terhambatnya tujuan belajar di dalam ilmu pendidikan, psikologi maupun kedokteran.

  Kesulitan belajar menunjuk pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi matematika. Gangguan tersebut intrinsik dan diduga disebabkan oleh adanya disfungsi sistem saraf pusat.

  Menurut Lerner (dalam Mulyono Abdurrahman, 2012:210) ada beberapa karakteristik anak berkesulitan belajar matematika, yaitu (1)adanya gangguan dalam hubungan keruangan, (2)abnormalitas persepsi visual, (3)asosiasi visual-motor, (4)perverasi, (5)kesulitan mengenal dan memahami simbol, (6)gangguan penghayatan tubuh, (7)kesulitan dalam bahasa dan membaca, dan (8)Performance IQ jauh lebih rendah daripada skor verbal IQ.

1. Gangguan Hubungan Keruangan

  Konsep hubungan keruangan seperti atas-bawah, puncak-dasar, jauh-dekat, tinggi-rendah, depan-belakang, dan awal-akhir umumnya telah dikuasai oleh anak pada saat mereka belum masuk SD. Anak-anak memperoleh pemahaman tentang berbagai konsep hubungan keruangan tersebut dari pengalaman mereka dalam berkomunikasi dengan lingkungan sosial mereka atau melalui berbagai permainan. Anak berkesulitan belajar sering mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan lingkungan social juga sering tidak mendukung terselenggaranya suatu situasi yang kondusif bagi terjalinnya komunikasi antar mereka. Adanya gangguan dalam memahami konsep-konsep hubungan keruangan dapat mengganggu pemahaman anak tentang sistem bilangan secara keseluruhan.

  2. Abnormalitas Persepsi Visual Anak berkesulitan belajar matematika sering mengalami kesulitan untuk melihat berbagai objek dalam hubungannya dengan kelompok atau set. Anak yang mengalami abnormalitas persepsi visual akan mengalami kesulitan bila mereka diminta untuk menjumlahkan dua kelompok benda yang masing-masing terdiri dari lima dan empat anggota. Anak yang memiliki abnormalitas persepsi visual juga sering tidak mampu membedakan bentuk- bentuk geometri.

  3. Asosiasi Visual-Motor Anak berkesulitan belajar matematika sering tidak dapat menghitung benda-benda secara berurutan.

  4. Perverasi Gangguan perhatian yang melekat pada suatu objek dalam jangka waktu yang relative lama.

  5. Kesulitan Mengenal dan Memahami Simbol Kesulitan ini disebabkan oleh adanya gangguan memori tetapi juga dapat disebabkan oleh adanya gangguan persepsi visual.

  6. Gangguan Penghayatan Tubuh

  Anak yang memiliki gangguan tubuh akan merasa sulit untuk memahami hubungan bagian-bagian dari tubuhnya sendiri.

  7. Kesulitan dalam Bahasa dan Membaca Matematika itu sendiri pada hakikatnya adalah simbolis. Oleh karena itu, kesulitan dalam bahasa dapat berpengaruh terhadap kemampuan anak di bidang matematika. Soal matematika yang berbentuk cerita menuntut kemampuan membaca untuk memecahkannya. Anak yang mengalami kesulitan membaca akan mengalami kesulitan pula dalam memecahkan soal matematika yang berbentuk cerita tertulis.

  8. Skor PIQ Jauh Lebih Rendah daripada Skor VIQ Hasil tes intelegensi dengan menggunakan WISC menunjukkan bahwa anak berkesulitan belajar matematika memiliki skor PIQ yang jauh lebih rendah dari pada skor VIQ. Rendahnya skor PIQ pada anak berkesulitan belajar matematika tempaknya terkait dengan kesulitan memahami konsep keruangan, gangguan persepsi visual, dan adanya gangguan asosiasi visual-motor.

2.3.2 Gejala-gejala kesulitan belajar

  Menurut Makmun Khairani (2014:201), cara mengenali siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah sebagai berikut.

1. Menunjukkan prestasi yang rendah di bawah rata-rata yang dicapai

  2. Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilai siswa tersebut selalu rendah.

  3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawan lain dalam segala hal, misal : dalam mengerjakan soal-soal, dalam menyelesaikan tugas-tugas.

4. Menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti : acuh tak acuh, berpura-pura, dusta dan lain-lain.

  5. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan. Misalnya mudah tersinggung, murung, pemarah, bingung, cemberut, kurang gembira, selalu sedih.

2.4 Diagnosis Kesulitan Belajar Siswa

  Menurut M.Entang (1984:1) diagnosis adalah penentuan jenis masalah atau kelainan dengan meneliti latar belakang penyebabnya atau dengan cara menganalisis gejala-gejala yang tampak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diagnosis adalah penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti gejala-gejalanya terhadap suatu hal. Dengan demikian, diagnosis adalah penentuan jenis masalah dengan cara meneliti dan menganalisis gejala-gejala terhadap suatu hal. Sedangkan menurut Muhibbin Syah (2003:184), kesulitan belajar merupakan kondisi terhambatnya pencapaian tujuan belajar yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu. Sedangkan menurut M. Entang

  (1984:1) Kesulitan belajar adalah suatu gejala yang nampak pada peserta didik yang ditandai dengan adanya prestasi belajar yang rendah atau dibawah nilai/ukuran yang telah ditetapkan.

  Menurut M. Entang (1984:1) diagnosis kesulitan belajar adalah upaya untuk menemukan kesulitan yang dialami siswa dalam belajar dengan cara yang sistematis berdasarkan gejala-gejala yang nampak dan menemukan faktor penyebabnya baik yang mungkin terletak pada diri siswa atau yang berasal dari luar diri siswa. Sedangkan menurut Muhibbin Syah (2003:186), diagnosis kesulitan belajar adalah upaya mengenali gejala dengan cermat terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa tersebut. Dengan demikian, diagnosis kesulitan belajar adalah upaya menemukan kesulitan belajar siswa berdasarkan gejala-gejala yang tampak.

  Menurut Samuel A. Kirk (dalam Abdurrahman, 2012:217) mengemukakan bahwa prosedur diagnosis mencakup lima langkah, (1) menentukan potensi atau kapasitas anak, (2) menentukan taraf kemampuan dalam suatu bidang studi yang memerlukan pengajaran remediasi, (3) menentukan gejala kegagalan dalam suatu bidang studi, (4) menganalisis faktor-faktor yang terkait, dan (5) menyusun rekomendasi untuk pengajaran remediasi.

2.4.1 Alat diagnosis

  Menurut Dalyono (2010:249) untuk melihat gejala-gejala kesulitan belajar siswa dapat digunakan berbagai cara antara lain sebagai berikut: 1.

  Tes Diagnostik Tes diagnostik merupakan tes yang digunakan untuk mengetahui letak kesulitan belajar yang dihadapi siswa-siswi. Hasil tes ini memberikan informasi tentang konsep-konsep yang belum dipahami dan yang telah dipahami (Djemari Mardapi, 2008:89).

  Dalam penelitian ini tes diagnostik digunakan untuk menganalisis kesulitan yang dialami siswa.

  Bentuk soal pada tes diagnostik ini berupa uraian. Menurut Nana Sudjana (2010:35) tes uraian bertujuan untuk: a.

  Mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif tingkat tinggi.

  b.

  Mengembangkan kemampuan berbahasa, baik lisan maupun tulisan, dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa.

  c.

  Melatih kemampuan berfikir teratur atau penalaran, yakni berfikir logis, analitis dan sistematis.

  d.

  Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah (problem

  2. Pengamatan Menurut Margono (2010:158), pengamatan adalah pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.

  Pengamatan dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar atau rekaman suara. Menurut Sugiyono (2012: 205) Pengamatan dibagi menjadi dua yaitu pengamatan terstruktur dan pengamatan tidak terstruktur. Pengamatan terstruktur adalah pengamatan yang telah dirancang secara matematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan di mana tempatnya. Sedangkan, pengamatan tidak terstruktur adalah pengamatan yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diteliti.

  3. Wawancara Menurut Margono (2010:165), wawancara adalah teknik pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. Arikunto Suharsimi (2006:156), Interview atau wawancara atau kuesioner lisan adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewer). Interviu digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang. Ditinjau dari pelaksanaannya, interviu dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  Pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi juga mengingat akan data apa yang akan dikumpulkan. Dalam pelaksanaannya, pewawancara tidak membawa pedoman apa yang akan ditanyakan.

  b.

  Wawancara terpimpin (Giuded interview) Wawancara yang dilakukan oleh pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci seperti yang dimaksud dalam wawancara terstruktur.

  c.

  Wawancara bebas terpimpin Kombinasi antara interviu bebas dan interviu terpimpin. Dalam pelaksanaannya, pewawancara membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan.

2.4.2 Teknik diagnosis kesulitan belajar

  Tujuan dari kegiatan diagnosis pada dasarnya adalah untuk memahami karakteristik dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan . Dari pola pendekatan C. Ross dan Julian Stanley dalam Abin Syamsudin Makmun (1996: 283-285), dapat disimpulkan bahwa teknik diagnosa kesulitan belajar adalah sebagai berikut: 1.

  Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar Identifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar dilakukan a.

  Menganalisis prestasi belajar, dengan melihat prestasi siswa yang mengalami kesulitan yang menurun dari sebelumnya dan prestasi yang dicapai berada di bawah kemampuan sebenarnya.

  b.

  Menganalisis perilaku yang berhubungan dengan proses belajar, dengan membandingkan perilaku siswa yang mengalami kesulitan terhadap siswa lainnya yang sekelas.

  c.

  Menganalisis hubungan sosial, dengan mengamati intensitas interaksi sosial siswa yang mengalami kesulitan dengan kelompoknya.

2. Mengalokasikan letak kesulitan atau permasalahannya

  Setelah menemukan individu siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, maka selanjutnya adalah mengelompokan kesulitan belajar siswa, apakah kesulitan yang didapatnya hanya terjadi pada salah satu mata pelajaran saja atau lebih.

3. Memperkirakan alternatif pertolongan

  Setelah mengalokasikan letak kesulitan siswa, maka dilanjutkan dengan memperkirakan alternative pertolongan pada siswa yang mengalami kesulitan tersebut, serta menyusun rencana atau kegiatan yang dapat dilakukan dalam mengatasi kesulitan belajar siswa.

2.4.3 Penyebab kesulitan belajar

  Menurut Slameto (2010:54) ada dua faktor penyebab kesulitan belajar yaitu (a) faktor internal dan (b) faktor eksternal. Faktor internal yaitu kurangnya bakat khusus untuk suatu situasi belajar tertentu. Sebagai halnya intelegensi, bakat juga merupakan wadah untuk mencapai hasil belajar tertentu, kurangnya kemampuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik, kurangnya motivasi atau dorongan untuk belajar, adanya gangguan kesehatan, cacat tubuh, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran dan sebagainya. Sedangkan yang kedua adalah faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar lingkungan sosial yang mempengaruhi belajar siswa diantaranya yaitu lingkungan sosial siswa di rumah yang meliputi seluruh anggota keluarga, lingkungan sosial siswa di sekolah yaitu teman sebaya, teman lain kelas, guru serta karyawan lainnya dan lingkungan social dalam masyarakat yang terdiri dari seluruh anggota masyarakat.

  Menurut Abdurrahman (2012:8) prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu internal, dan eksternal. Penyebab utama kesulitan belajar (learning disabilities) adalah faktor internal, yaitu kemungkinan adanya disfungsi neurologis; sedangkan penyebab utama problema belajar (learning problems) adalah faktor eksternal, yaitu antara lain berupa strategi pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar anak, dan pemberian ulangan penguatan (reinforcement) yang tidak tepat.

  Menurut Burton dalam M.Entang (1984:4) mengelompokkan penyebab kesulitan belajar menjadi dua kategori yaitu (a) faktor-faktor yang terdapat dalam diri siswa dan (b) Faktor-faktor yang terletak di luar diri siswa.

1. Faktor-faktor yang terdapat dalam diri siswa a.

  Kelemahan secara fisik, seperti suatu pusat susunan syaraf tidak berkembang secara sempurna luka atau cacat, atau sakit, sehingga sering membawa gangguan emosional serta penyakit menahun yang menghambat usaha-usaha belajar secara optimal.

  b.

  Kelemahan-kelemahan secara mental (baik kelemahan yang dibawa sejak lahir maupun karena pengalaman) yang sukar di atasi oleh individu yang bersangkutan dan juga oleh pendidikan, seperti kelemahan mental, tetapi sebenarnya: kurang minat, kebimbangan, kurang usaha, aktivitas yang tidak terarah, kurang semangat, kurang percaya diri, kurang menguasai keterampilan dan kebiasaan fundamental dalam belajar.

  c.

  Kelemahan-kelemahan emosional, antara lain terdapatnya orang, situasi dan tuntutan-tuntutan tugas dan lingkungan, tercekam rasa pobia (takut, benci dan antipasti), ketidakmatangan.

  d.

  Kelemahan yang disebabkan oleh karena kebiasaan dan sikap- sikap yang salah, antara lain: banyak melakukan aktivitas yang bertentangan dan tidak menunjang pekerjaan sekolah, menolak atau malas belajar, kurang berani dan gagal untuk berusaha memusatkan perhatian, kurang kooperatif dan menghindari tanggung jawab, sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran, gugup.

  e.

  Tidak memilki keterampilan-keterampilan dan pengetahuan dasar yang diperlukan seperti: ketidakmampuan membaca, berhitung, kurang menguasai pengetahuan dasar untuk sesuatu bidang studi yang sedang diikutinya secara sekuensial, memiliki kebiasaan belajar dan cara bekerja yang salah.

  2. Faktor-faktor yang terletak di luar diri siswa (situasi sekolah dan masyarakat) a.

  Kurikulum yang seragam, bahan dan buku-buku yang tidak sesuai dengan tingkat-tingkat kematangan dan perbedaan- perbedaan individu. b.

  Ketidaksesuaian standard administrative (sistem pengajaran, penilaian, pengelolaan kegiatan dan pengalaman belajar mengajar) c. Terlalu berat beban belajar (siswa) dan atau mengajar (guru), terlampau besar populasi siswa dalam kelas, terlalu banyak menuntut kegiatan di luar.

  d.

  Terlalu sering pindah sekolah atau program tinggal kelas.

  e.

  Kelemahan dari sistem belajar mengajar pada tingkat-tingkat pendidikan (dasar asal) sebelumnya.

  f.

  Kelemahan yang terdapat dalam kondisi rumah tangga (pendidikan, status sosial ekonomi, keutuhan keluarga, ketentraman dan keamanan sosial psikologis).

  g.

  Terlalu banyak kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat dalam kegiatan extra-curricular.

  h.

  Kekurangan makan (gizi).

2.4.4 Jenis-jenis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika

  Menurut Soedjadi (2000:1), menyatakan bahwa kesalahan- kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika dapat diklasifikasikan, diantaranya: 1.

  Kesalahan prosedural yaitu dalam menggunakan Algoritma (prosedur pekerjaan), misalnya kesalahan melakukan operasi

  2. Kesalahan dalam mengorganisasikan data, misalnya kesalahan menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan dari suatu soal.

  3. Kesalahan mengurutkan, mengelompokkan dan menyajikan data.

  4. Kesalahan dalam pemanfaatan simbol, tabel dan grafik yang memuat suatu informasi.

  5. Kesalahan dalam melakukan manipulasi secara matematis, sifat- sifat dalam menyelesaikan soal.

  6. Kesalahan dalam menarik kesimpulan. Misalnya kesalahan dalam menuliskan kesimpulan dari persoalan yang telah dikerjakan.

  White (2009:249) menyatakan bahwa,” Newman (1977,1983)

  defined five specific reading skills as crucial to performance on mathematical word problems. They are reading, comprehension, transformation, process skills, and encoding”. Newman (1977,1983 )

  mendefinisikan lima keterampilan spesifik membaca yang penting dalam masalah-masalah matematis, yaitu membaca, pemahaman, transformasi, keterampilan proses, dan penarikan kesimpulan.

  Jenis kesalahan yang dimaksud antara lain adalah yang pertama,

  reading eror yaitu kesalahan membaca. Menurut Singh (2010:266)

  kesalahan membaca terjadi ketika siswa tidak mampu membaca kata- kata maupaun simbol yang terdapat dalam soal. Siswa melakukan kesalahan dalam membaca kata-kata penting dalam pertanyaan atau siswa salah dalam membaca informasi utama, sehingga siswa tidak menggunakan informasi tersebut untuk menyelesaikan soal. Kesalahan memahami masalah (Reading Comprehesion difficulty) yaitu kesalahan yang dilakukan siswa satelah siswa mampu membaca permasalahan yang ada dalam soal namun tidak mengetahui permasalahan apa yang harus diselesaikan. Menurut Singh (2010:266) kesalahan memahami masalah terjadi ketika siswa mampu untuk membaca pertanyaan tetapi gagal untuk mendapatkan apa yang ia butuhkan sehingga menyebabkan dia gagal dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Kesalahan Transformasi (Transform error) yaitu sebuah kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam mengubah informasi yang diberikan dalam soal ke dalam kalimat matematika. Menurut Singh (2010: 266), kesalahan transformasi merupakan sebuah kesalahan yang terjadi ketika siswa telah benar memahami pertanyaan dari soal yang diberikan, tetapi gagal untuk memilih operasi matematika yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Kesalahan keterampilan proses (Weakness in

  proses skill) yaitu kesalahan yang dilakukan siswa dalam proses

  perhitungan. Menurut Singh (2010: 266), sebuah kesalahan akan disebut kesalahan kemampuan memproses apabila siswa mampu memilih operasi yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan namun ia tidak kaidah atau aturan sudah benar, tetapi melakukan kesalahan dalam melakukan penghitungan atau komputasi. Kesalahan penulisan jawaban akhir (Encoding error) yaitu kesalahan dalam penarikan kesimpulan. Pada tahap ini siswa sudah mampu menyelesaikan permasalahan yang diinginkan oleh soal, tetapi ada sedikit kekurangtelitian siswa yang menyebabkan berubahnya makna jawaban yang ia tulis. Menurut Singh (2010 : 267), sebuah kesalahan masih tetap bisa terjadi meskipun siswa telah selesai memecahkan permasalahan matematika yaitu bahwa siswa salah menuliskan apa yang dimaksudkan.

2.4.5 Keterkaitan kesalahan dengan kesulitan belajar siswa

  Menurut Abdurrahman (2012:7) Kesulitan belajar dibagi menjadi dua yaitu kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan dan kesulitan belajar akademik. Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencakup gangguan motorik dan persepsi. Kesulitan belajar akademik menunjuk pada adanya kegagalan- kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan tersebut mencakup penguasaan keterampilan dalam membaca, menulis atau matematika. Kegagalan- kegagalan pengusaan keterampilan dalam matematika dapat dilihat melalui kesalahan-kesalahan dalam menyelesaikan soal.

2.4.6 Tahap-tahap pemecahan masalah dalam matematika

  Menurut George Polya (1981), tahap-tahap pemecahan masalah dalam matematika yaitu: a.

  Pemahaman atas masalah.

  b.

  Perencanaan cara atau metode untuk memecahkan masalah tersebut.

  c.

  Pelaksanaan rencana (metode, cara) yang telah disusun untuk memecahkan masalah tersebut.

  d.

  Pemeriksaan kembali jawaban (solusi) yang telah diperoleh beserta langkah-langkah yang digunakan dalam memecahkan masalah tersebut.

  Sedangkan menurut Akbar Sutawijaya, dkk (1991:50) menyatakan bahwa langkah-langkah yang dapat dijadikan pedoman bagi siswa untuk menyelesaikan soal cerita matematika yaitu: a.

  Menemukan apa yang ditanyakan dalam soal cerita.

  b.

  Menemukan informasi atau keterangan yang esensial.

  c.

  Memilih operasi yang sesuai.

  d.

  Membuat kalimat matematikanya.

  e.

  Menyatakan jawab tersebut dalam bahasa indonesia sehingga menjawab pertanyaan dari soal cerita tersebut.

2.5 Pengajaran Remediasi Pengajaran remediasi berbeda dengan proses belajar mengajar biasa.

  Menurut M. Entang (1984:11) pengajaran remediasi merupakan upaya pendidik dalam membantu siswa yang mendapat kesulitan belajar dengan jalan mengulang atau mencari alternative kegiatan lain sehingga siswa yang bersangkutan dapat mengembangkan dirinya seoptimal mungkin dan dapat memenuhi kriteria tingkat keberhasilan minimal yang diharapkan. Sedangkan menurut Abin Syamsudin Makmun (1996:345), pengajaran remediasi adalah usaha guru untuk menciptakan suatu yang memungkinkan individu atau kelompok siswa tertentu mampu mengembangkan dirinya seoptimal mungkin, sehingga dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang diharapkan melalui suatu proses interaksi yang terencana, terorganisasi, terarah, terkoordinir dan terkontrol dengan lebih objektif individu dan kelompok siswa yang bersangkutan serta daya dukung sarana dan lingkungan. Menurut M.Entang (1984:10) perbedaan pengajaran remediasi dengan proses belajar mengajar biasa terletak pada:

Tabel 2.1 Perbedaan pengajaran remediasi dengan pembelajaran biasa

  No Aspek Perbedaan Pengajaran Remediasi Pengajaran Biasa

  1 Tujuan Peningkatan penguasaan Penguasaan bahan bahan sehingga sekurang- materi secara tuntas kurangnya siswa yang sehingga tujuan bersangkutan dapat instruksional maupun memenuhi kriteria tujuan pengiring keberhasilan minimal. tercapai secara maksimal. individual dan lebih mengajar lebih ditekankan pada diarahkan untuk keragaman siswa baik kemajuan kelas secara yang berhubungan dengan keseluruhan. kemampuan umum, kemampuan khusus, penguasaan bahan dan penyampaian harus bervariasi serta langkah- langkahnya disusun secara sistematis.

3. Bahan Bahan dikembangkan Materi pembelajaran dengan penggalan yang bersifat menyeluruh.

  lebih kecil-kecil dari pada bahan yang dikembangkan untuk pengajaran biasa.

  Menurut M.Entang (1984:31) dalam melaksanakan kegiatan pengajaran remediasi, seorang guru dituntut:

  1. Menelaah kembali siswa yang akan diberi bantuan Kegiatan ini dimaksudkan agar kita memperoleh gambaran yang lebih definitive tentang seorang siswa dengan permasalahan yang dihadapinya, kelemahan yang dideritanya, letak kelemahannya, faktor utama penyebab kelemahan tersebut apakah masih bisa ditolong guru atau memerlukan bantuan orang lain, berapa lama bantuan harus diberikan, kapan, oleh siapa dan sebagainya.

  2. Alternatif Tindakan Jika telah mendapatkan gambaran yang lengkap tentang siswa yang memerlukan bantuan, barulah direncanakan alternative tindakan sesuai dengan karakteristik kesulitan yang dihadapinya. Alternatif tindakan ini a.

  Disuruh mengulangi bahan yang telah diberikan.

  b.

  Disuruh mencoba alternative kegiatan lain yang setara dengan kegiatan belajar mengajar yang sudah ditempuhnya dan mempunyai tujuan yang sama baik yang sifatnya intruksional maupun efek pengiring.

  c.

  Bila kesulitan belajar siswa yang bersangkutan bukan semata-mata kesulitan dalam belajar akan tetapi disebabkan juga karena hal lain seperti kesulitan belajar karena berlatar belakang sikap negative terhadap guru, pelajaran dan situasi belajar, kebiasaan belajar yang salah atau masalah lain dalam hubungan dengan orang tua, teman sebayanya dan sebagainya, maka kepada siswa tersebut harus terlebih dahulu diberikan pelayanan bimbingandan penyuluhan yang bersifat psikoterapi.

  d.

  Evaluasi Pengajaran Remediasi Pada akhir kegiatan pengajaran remediasi hendaknya dilakukan evaluasi kembali (re-evaluasi) sampai sejauh mana pengajaran remediasi tersebut dapat meningkatkan prestasi mereka. Menurut Thulus Hidayat (1986, 71) metode-metode yang dapat dilakukan dalam program pengajaran remediasi, yaitu:

1. Pemberian tugas

  Siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar dibantu dengan sesuai dengan latar belakang kesulitan belajaranya. Pemberian tugas ini dapat secara individual maupun kelompok, sesuai dengan kesulitannya.

  Dengan metode ini siswa diharapkan: a.

  Mampu memahami diri b. Lebih memperluas bahan yang dipelajari c. Dapat memperbaiki cara belajar yang lama 2. Diskusi

  Digunakan untuk menciptakan interaksi individu dengan kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar. Dengan diskusi diharapkan: a.

  Siswa dapat mengenal diri dan kesulitannya dan menemukan pemecahannya b.

  Menumbuhkan kepercayaan diri c. Mengembangkan kerjasama antar pribadi d. Menumbuhkan rasa tanggung jawab 3. Tanya jawab

  Metode Tanya jawab digunakan untuk mengenal siswa-siswi yang mengalami kesulitan belajar. Dengan tanya jawab diharapkan siswa dapat: a.

  Memahami dirinya sendiri b. Menumbuhkan rasa harga diri c. Meningkatkan motivasi belajar

  4. Kerja kelompok Anggota kelompok berinteraksi satu dengan yang lain dengan maksud terjadinya perbaikan pada siswa-siswi yang mengalami kesulitan belajar.

  Hal ini disebabkan karena: a.

  Adanya pengaruh anggota kelompok yang pandai dan berpengalaman b. Kehidupan kelompok dapat meningkatkan minat belajar.

  c.

  Memupuk rasa tanggung jawab 5. Tutor

  Tutor adalah siswa sebaya yang ditunjuk untuk membantu teman- temannya yang mengalami kesulitan belajar dengan diberi petunjuk oleh gurunya. Tutor ini ditunjuk atas dasar prestasi mereka dan hubungan sosial dan mendapat sambutan yang sesuai dengan teman-temannya.

  Kelebihan metode tutor: a.

  Tercapainya hubungan yang lebih akrab antara tutor dengan yang diberi pelajaran.

  b.

  Bagi tutor tugas tutorisasinya berarti menambah kekayaan dan menambah motivasi belajar.

  c.

  Meningkatkan perasaan tanggung jawab dan kepercayaan diri.

  6. Pengajaran Individual Metode ini menunjukkan adanya interaksi antara guru dengan siswa secara individual dalam proses belajar mengajar. Dalam metode kesulitan yang dihadapi siswa. Adapun materi yang diberikan mungkin mengulangi bahan lama, mungkin materi baru, dan mungkin pula bahan pengayaan yang telah dimiliki siswa. Untuk melakukan pengajaran individual guru dituntut memiliki kemampuan membimbing dan bersikap sabar, ulet, bertanggung jawab, menerima dan memahami.

2.6 Penerapan Persamaan Linear Satu Variabel

  Standar kompetensi dan kompetensi dasar pada pembelajaran penerapan persamaan linear satu variabel yang diambil berdasarkan RPP guru matematika kelas VII B, yaitu:

  1. : Aljabar Standar Kompetensi

3. Menggunakan bentuk aljabar, persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel, dan perbandingan dalam pemecahan masalah.

  2. : Kompetensi Dasar

  3.1 Membuat model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel.

  3.2 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel.

2.6.1 Persamaan

  

Definisi 2.6.1.1 : (Negoro dan Harahap, 2010:70)

  Persamaaan adalah kalimat terbuka yang menyatakan hubungan

  Contoh 2.6.1.2 : 1.

2. Sifat-sifat 2.6.1.3 : (Negoro dan Harahap, 2010: 269-270)

  Persamaan matematika mempunyai tiga sifat-sifat, yaitu: 1.

  Sifat Penambahan kedua ruas persamaan. Jika kedua ruas suatu persamaan ditambah dengan bilangan yang sama, maka akan diperoleh persamaan baru yang himpunan penyelesaiannya sama dengan persamaan semula.

  Contoh: 2.

  Sifat pengurangan kedua ruas persamaan. Jika kedua ruas persamaan dikurangkan dengan bilangan yang sama, maka akan diperoleh persamaan baru yang himpunan penyelesaiannya sama dengan persamaan semula.

  Contoh:

  Mengurangi kedua ruasnya dengan bilangan 3, maka,

  Persamaan mempunyai penyelesaian 3. Sifat mengalikan kedua ruas persamaan. Jika kedua ruas suatu persamaan dikalikan dengan bilangan tidak nol yang sama, maka akan diperoleh persamaan baru yang ekuivalen dengan persamaan semula.

  Contoh:

  (Kedua ruasnya dikalikan dengan ) Diperoleh, Persamaan ekuivalen dengan persamaan, Himpunan penyelesaiannya adalah

2.6.2 Persamaan Linear

  Definisi 2.6.2.1 : (Sukino dan Wilson Simangunsong, 2006:119)

  Persamaan Linear adalah persamaan yang memuat satu atau lebih suatu variabel, dengan pangkat tertinggi satu.

  Contoh 2.6.2.2 :

  1.

  2.

2.6.3 Persamaan Linear Satu Variabel

  Definisi 2.6.3.1 : (Sukino dan Wilson Simangunsong, 2006:119)

  persamaan linear satu variabel adalah persamaan yang memuat satu variabel dengan pangkat satu.

  Contoh 2.6.3.2 : 1.

2. Sifat-sifat 2.6.3.3 : (Husein Tampomas, 2007: 138)

  Persamaan linear satu variabel mempunyai empat sifat-sifat, yaitu: 1.

  Jika kedua ruas suatu persamaan ditambah dengan suatu bentuk aljabar atau suatu konstanta tak nol, maka diperoleh persamaan baru yang ekuivalen dengan persamaan aljabar semula.

  2. Jika kedua ruas suatu persamaan aljabar dikurangi dengan suatu bentuk aljabar atau suatu konstanta tak nol, maka diperoleh persamaan aljabar baru yang ekuivalen dengan persamaan semula.

  3. Jika kedua ruas suatu persamaan dikalikan dengan suatu bentuk aljabar atau suatu konstanta tak nol, maka diperoleh persamaan baru yang ekuivalen dengan persamaan semula.

  4. Jika kedua ruas suatu persamaan aljabar dibagi dengan bentuk aljabar atau suatu konstanta tak nol, maka diperoleh persamaan aljabar baru yang ekuivalen dengan persamaan aljabar semula.

  Penyelesaian 2.6.3.4 : (Adinawan Cholik dan Sugijono, 2005: 116)

  Penyelesaian persamaan linear satu variabel mempunyai empat cara, yaitu:

  1. Menyelesaikan persamaan dengan cara subsitusi Menyelesaikan persamaan dengan cara subsitusi artinya adalah menyelesaikan persamaan dengan cara mengganti variabel dengan bilangan-bilangan yang telah ditentukan, sehingga persamaan tersebut menjadi kalimat benar.

  2. Menyelesaikan persamaan dengan cara menambah atau mengurangi kedua ruas persamaan dengan bilangan yang sama.

  3. Menyelesaikan persamaan dengan mengalikan atau membagi kedua ruas persamaan dengan bilangan yang sama

  4. Menyelesaikan persamaan bentuk pecahan Persamaan bentuk pecahan adalah persamaan yang variabelnya memuat pecahan, atau bilangan konstannya berbentuk pecahan, atau keduanya memuat pecahan.

  Penerapan 2.6.3.5 : (Adinawan Cholik dan Sugijono, 2005: 117)

  Penyelesaian soal-soal persamaan linear satu variabel dalam kehidupan sehari-hari yang berbentuk cerita, diperlukan langkah- langkah berikut agar dapat membantu penyelesaian: 1.

  Jika memerlukan diagram (sketsa), misalnya untuk soal yang berhubungan dengan geometri, buatlah diagram (sketsa) berdasarkan kalimat cerita tersebut.

  2. Salah satu besaran yang belum diketahui dimisalkan dengan sebuah variabel.

  3. Menerjemahkan kalimat cerita menjadi kalimat matematika dalam bentuk persamaan.

  4. Menyelesaikan persamaan tersebut.

2.7 Penelitian Terdahulu

  Sebelum peneliti melakukan penelitian mengenai analisis kesulitan belajar siswa dan upaya remediasi, sudah terdapat penelitian dari:

1. Vincentia Septi Puspitawati mengenai “Diagnosis Kesulitan Siswa dalam

  Menyelesaikan Soal-soal Aturan Sinus Kosinus dan Luas Segitiga serta Upaya Remedialnya Kelas X Sang Timur Yogyakarta”. Pada penelitian tersebut, ada 4 jenis kesalahan siswa dalam mengerjakan soal meliputi kesalahan data, kesalahan intepretasi bahasa, kesalahan menggunakan remediasi menggunakan metode diskusi kelompok, pemahaman materi siswa mengalami kenaikan sebesar 64%.

  2. Fakhrul Jamal mengenai “Analisis Kesulitan Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Matematika pada Materi Peluang kelas XI IPA SMA Muhannadiyah Meulaboh Johan Pahlawan”. Pada penelitian tersebut, jenis-jenis kesulitan belajar yang dihadapi siswa pada pokok bahasan peluang meliputi kurangnya pemahaman konsep dan faktor penyebab kesulitan belajar meliputi kurangnya minat belajar siswa.

  3. Leonardo Errick Pradika “Analisis Kesalahan Siswa Kelas VIII SMP N 1 Karanganyar dalam Mengerjakan Soal pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar serta Upaya Remediasinya dengan Media Bantu Program Cabri 3D”. Pada penelitian tersebut, menunjukkan bahwa kesalahan yang dilakukan siswa secara umum terletak pada kesalahan dalam memahami apa yang diketahui dari soal dan kesulitan dalam memvisualisasi bangun ruang sisi datar, terutama dalam memahami bentuk, unsur-unsur dan sifat bangun ruang. Selain itu, upaya remediasi dengan media bantu 3D dapat disimpulkan bahwa siswa cukup terbantu dalam memperbaiki kesalahannya.

2.8 Kerangka Berfikir

  Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika di SMP Pangudi Luhur Giriwoyo, sebagian besar siswa-siswi mengalami kesulitan belajar matematika pada topik penerapan persamaan linear satu variabel. Kesulitan belajar yang dialami siswa tersebut, dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor dari dalam (internal) seperti pada aspek emosional dan aspek sikap yang berkaitan dengan diri siswa secara pribadi. Sedangkan faktor dari luar (eksternal) yaitu faktor yang berkaitan dengan situasi lingkungan siswa yang berpengaruh pada aktivitas belajar siswa.

  Analisis kesulitan belajar bertujuan untuk mendeskripsikan jenis- jenis dan faktor penyebab kesulitan belajar siswa. Langkah awal dalam proses analisis ini adalah melakukan observasi pembelajaran di kelas. Selanjutnya, siswa diberikan tes diagnostik yang bertujuan untuk mengidentifikasi siswa-siswi yang mengalami kesulitan belajar dan mendeskripsikan jenis-jenis kesalahan dalam menyelesaikan soal. Pada tahap selanjutnya, peneliti melakukan wawancara pada semua siswa yang bertujuan untuk mengetahui penyebab kesulitan belajar. Upaya remediasi dilakukan melalui pembelajaran dengan metode diskusi kelompok. Siswa yang mengalami kesulitan belajar, harus mengikuti pengajaran dan tes remediasi.

  Dengan demikian, untuk pembelajaran selanjutnya guru dapat merencanakan langkah dalam mengatasi kesulitan belajar dengan melakukan inovasi metode dan strategi pembelajaran. Diharapkan untuk pembelajaran selanjutnya, dari tahun ke tahun banyak siswa yang mengalami kesulitan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

  Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Sugiyono (2012:15) menyatakan bahwa pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang digunakan untuk meneliti obyek yang alamiah, peneliti sebagai instrumen kunci, analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Sedangkan menurut Nusa Putra (2012:44) menyatakan bahwa pendekatan kualitatif merupakan pendekatan yang bertujuan memahami pandangan individu, mencaritemukan dan menjelaskan proses, membentuk atau merumuskan teori berbasis perspektif partisipan yang diteliti, dan menggali informasi mendalam tentang subjek atau latar penelitian yang terbatas. Pendekatan kualitatif merupakan pendekatan yang bertujuan menggali informasi mendalam tentang subjek, mencaritemukan dan menjelaskan proses dan menekankan makna dari pada generalisasi.

  Pendekatan kualitatif digunakan oleh peneliti karena peneliti ingin mengetahui fenomena yang terjadi saat ini, yang tidak terikat oleh suatu variabel atau hipotesa tertentu. Pendekatan ini digunakan untuk membantu menganalisis faktor

  • –faktor dan penyebab kesulitan belajar. Pendekatan ini
peka terhadap pengaruh berbagai fenomena yang ada di lapangan. Akan tetapi, pendekatan kuantitatif juga digunakan sebagai pendukung, misalnya dalam mengolah hasil pengamatan terstruktur dan mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar.

  Dalam penelitian ini, peneliti berusaha memahami perilaku dan tindakan siswa yang terjadi di dalam kegiatan penelitian serta mendeskripsikannya dalam bentuk kata-kata dan bahasa

3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian

  Untuk memperoleh data tentang diagnosis kesulitan belajar siswa pada pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel, maka penelitian dilakukan pada: Waktu Penelitian : Februari-Juli 2015 Waktu Pengambilan Data : Maret-April 2015 Tempat : SMP Pangudi Luhur Giriwoyo Alamat : Danan, Sedangagung, Giriwoyo,

  Kabupaten Wonogiri Berikut ini adalah deskripsi rencana waktu pengambilan data:

Tabel 3.1 Deskripsi rencana waktu pengambilan data

  No Waktu Penelitian Deskripsi Kegiatan

  1. Senin, 23 Maret 2015 Pengamatan I

  2. Jumat, 27 Maret 2015 Pengamatan II

  3. Sabtu, 28 Maret 2015 Pengamatan III

  4. Senin, 30 Maret 2015 Tes Diagnostik

  5. Jumat, 10 April 2015 Wawancara I

  7. Jumat, 17 April 2015 Pengajaran remediasi dan tes remediasi

  8. Jumat, 24 April 2015 Evaluasi pengajaran remediasi (wawancara dengan guru)

  9. Sabtu, 25 April 2015 Evaluasi pengajaran remediasi (wawancara dengan siswa)

3.3 Objek Dan Subjek Penelitian

  Objek dalam penelitian ini adalah kesulitan belajar yang dialami oleh siswa-siswi dalam pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel yang didasarkan pada kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa pada saat mengerjakan tes diagnostik. Sedangkan, subyek penelitian adalah siswa- siswi SMP Pangudi Luhur Giriwoyo kelas VII B yang mengalami kesulitan belajar pada pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel.

  Berikut ini adalah tahapan dalam menentukan beberapa siswa yang dijadikan subjek penelitian:

  1. Peneliti menggunakan nilai KKM yang sudah ditetapkan oleh sekolah sebagai batas kelulusan.

  2. Peneliti meneliti hasil tes diagnostik, dengan acuan rubrik penilaian.

  3. Peneliti membandingkan nilai tes diagnostik dengan nilai KKM.

  4. Peneliti mengelompokkan dan mencatat siswa yang memiliki nilai tes diagnostik di bawah nilai batas kelulusan atau nilai KKM.

3.4 Metode Pengumpulan Data

  Metode pengumpulan data adalah suatu cara yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan data yang diperlukan. Berikut ini adalah metode penelitian yang digunakan: 1.

  Pengamatan Pengamatan adalah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung. (Ngalim Purwanto, 2009:149). Menurut Zainal Mustafa (2009:94) pengamatan adalah suatu metode untuk mendapatkan data primer, yaitu dengan cara melakukan pengamatan langsung secara seksama dan sistematis, dengan menggunakan alat indera. Pengamatan adalah suatu metode untuk mendapatkan data dengan cara melihat atau mengamati aktivitas individu atau kelompok secara seksama, dan mengadakan pencatatan secara sistematis.

  Menurut Sugiyono (2012:205) Pengamatan dibagi menjadi dua yaitu pengamatan terstruktur dan pengamatan tidak terstruktur.

  Pengamatan terstruktur adalah pengamatan yang telah dirancang secara matematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan di mana tempatnya.

  Sedangkan, pengamatan tidak terstruktur adalah pengamatan yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diteliti.

  Penelitian akan dimulai dengan pengamatan pada bulan Maret yang dilakukan di kelas VII B SMP Pangudi Luhur Giriwoyo. Bentuk pengamatan yang digunakan adalah pengamatan terstruktur dan tidak terstruktur, yang dilakukan oleh peneliti dan guru matematika (kelas VIII dan IX). Pengamatan meliputi aktivitas siswa dan aktivitas guru dalam proses pembelajaran.

  2. Tes Tertulis Tes tertulis terdiri dari 2 tes, yaitu tes diagnostik dan tes remediasi.

  a.

  Tes Diagnostik Dalam penelitian ini, tes diagnostik digunakan untuk mengetahui siswa-siswi yang mengalami kesulitan belajar yang dilihat melalui kesalahan

  • –kesalahan yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal- soal penerapan persamaan linear satu variabel.

  b.

  Tes Remediasi Tes remediasi bertujuan untuk melihat hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran remediasi, apakah mengalami peningkatan atau tidak. Tes remediasi dilaksanakan setelah pembelajaran remediasi.

  3. Wawancara Wawancara merupakan proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan, dua orang atau lebih bertatap muka keterangan. Ciri utama dari wawancara adalah kontak langsung dengan tatap muka antara pencari informasi (interviewer) dan sumber informasi (interviewe).

  Wawancara dalam penelitian ini digunakan untuk mencari tahu bagaimana cara berfikir siswa dalam menyelesaikan soal

  • –soal persamaan linear satu variabel. Selain itu, wawancara juga dilakukan sebagai kelanjutan dari tes diagnostik untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa sehingga untuk selanjutnya memperoleh hasil yang lebih baik. Wawancara dilakukan kepada semua siswa yang mengikuti tes diagnostik. Selanjutnya, dalam melakukan wawancara peneliti menggunakan media recorder dan pedoman wawancara.

3.5 Instrumen Pengumpulan Data

  Instrumen yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yaitu: 1.

  Lembar pengamatan Sebelum instrumen pengamatan digunakan, peneliti melakukan uji validitas instrumen pada dosen pembimbing, berikut ini instrumen yang digunakan peneliti dan guru matematika (Kelas VIII dan IX) dalam melakukan pengamatan (Lampiran A.1)

2. Soal tes tertulis a.

  Soal tes diagnostik

  Bentuk soal pada tes diagnostik berupa uraian yang dimaksudkan agar peneliti dapat menemukan secara tepat apa saja kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal mengenai penerapan persamaan linear satu variabel. Hal ini juga dimaksudkan bahwa tes berupa uraian cocok untuk mengetahui kemampuan berfikir teratur atau penalaran, yakni berfikir logis, analisis dan sistematis secara langsung. Dalam penyusunan tes ini peneliti melibatkan guru bidang studi untuk berkonsultasi mengenai penyusunan tiap butir soal yang harus disesuaikan dengan indikator yang harus dicapai siswa dalam RPP.

  Sebelum soal ini diujikan di kelas, soal tersebut di uji pakar. Uji pakar adalah diujikan kepada guru mata pelajaran matematika dan selanjutnya di uji oleh dosen pembimbing yang sudah dianggap pakar. Setelah soal tersebut disetujui oleh pakar, maka soal tersebut layak untuk diujikan. Waktu yang disiapkan pada tes diagnostik ini adalah 40 menit dengan jumlah 3 butir soal. Berikut adalah kisi-kisi tes diagnostik:

Tabel 3.2 Kisi-kisi soal tes diagnostik No.

  Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Materi Pokok Indikator Bentuk soal Soal Membuat model Aljabar Mengubah kedalam masalah Uraian 1,3 matematika dari a. matematika berbentuk Model masalah yang persamaan persamaan linear satu variabel berkaitan dengan linear satu

  Menggunakan bentuk aljabar, persamaan dan variabel persamaan dan pertidaksama-an linear satu variabel.

  b. pertidaksamaan Penyelesaian

linear satu variabel Menyelesaikan masalah yang Menyelesaikan suatu masalah Uraian 2,3

dan perbandingan model matematika berkaitan yang berkaitan dengan dalam pemecahan dengan model

dari masalah yang persamaan linear satu variabel.

masalah. berkaitan dengan persamaan persamaan dan linear satu variabel. pertidaksama-an linear satu variabel

  49 b.

  Soal tes remediasi Bentuk soal pada tes remediasi berupa uraian. Dalam mempersiapkan tes remediasi, peneliti melibatkan guru bidang studi untuk memberikan arahan dan masukan pada penyusunan tes remediasi. Penyusunan tiap butir soal tes harus disesuaikan dengan indikator yang harus dicapai siswa dalam RPP Remediasi. Setelah soal tesebut disetujui oleh guru matematika kelas VII maka soal tersebut layak untuk diujikan. Waktu yang disiapkan untuk mengerjakan tes remediasi adalah 40 menit dengan jumlah 3 butir soal. Kisi-kisi tes remediasi pada tabel 3.2.

3. Pedoman wawancara

  Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara bebas terpimpin. Wawancara bebas terpimpin merupakan kombinasi antara wawancara bebas dan terpimpin. Jadi pewawancara hanya membuat pokok-pokok masalah yang akan diteliti. Pedoman wawancara berfungsi sebagai pengendali jangan sampai proses wawancara kehilangan arah.

  Berikut adalah pedoman wawancara yang digunakan dalam penelitian:

Tabel 3.3 Pedoman wawancara

  No Pertanyaan Jawaban

  1. Menurutmu materi ini sulit tidak? Kalau ada yang sulit, pada bagian sub bagian mana?

  2. Coba jelaskan proses dalam menyelesaikan soal ini?

  4. Bagaimana hubungan mu dengan teman dan orang tua?

  5. Apa penyebab kesulitan kamu dalam mengerjakan soal?

3.6 Teknik Analisis Data Berikut ini adalah teknik dalam menganalisis data.

1. Pengamatan

  Dalam melakukan analisis data hasil pengamatan, yang dilakukan peneliti yaitu: a.

  Mengumpulkan data hasil pengamatan dari Peneliti dan Guru matematika (kelas VIII dan IX).

  b.

  Mengolah data hasil pengamatan pembelajaran guru di kelas.

  1) Mencari rata-rata hasil pengamatan peneliti dan guru pada setiap aspek yang diamati pada masing-masing pengamatan.

  2) Mencari rata-rata dari hasil pengamatan I, II dan III pada setiap aspek yang diamati.

  3) Hasil rata-rata kemudian dianalisis, untuk memberikan penilaian hasil aktivitas guru, dengan tabel sebagai berikut:

Tabel 3.4 Kriteria aktivitas pembelajaran guru di kelas

  Rata-rata Aktivitas guru Penjelasan rata-rata Aktivitas guru dalam proses pembelajaran sangat tinggi rata-rata Aktivitas guru dalam proses pembelajaran tinggi rata-rata Aktivitas guru dalam proses rata-rata Aktivitas guru dalam proses pembelajaran sangat rendah

  (Sugiyono, 2012:251) c.

  Mengolah data hasil pengamatan aktivitas pembelajaran siswa di kelas 1)

  Menghitung ketuntasan belajar klasikal

  a) Menghitung persentase dari masing-masing penilaian guru dan peneliti pada tiap indikator. Dengan menggunakan rumus: b)

  Mencari rata-rata persentase dari peneliti dan guru pada setiap indikator.

  c) Mencari rata-rata pada tiga tahap pengamatan pada setiap indikator.

  d) Ketuntasan belajar klasikal pada setiap indikator adalah hasil rata-rata pada tahap sebelumnya.

  2) Mencari rata-rata skor aktivitas fisik

  Mencari rata-rata hasil ketuntasan belajar klasikal di setiap indikator pada aspek aktivitas fisik. Dengan menggunakan rumus: 3)

  Mencari rata-rata skor aktivitas emosional

  Mencari rata-rata hasil ketuntasan belajar klasikal di setiap indikator pada aspek aktivitas emosional. Dengan menggunakan rumus: 2.

  Tes Tertulis a.

  Tes Diagnostik Dalam menganalisis tes diagnostik, yang dilakukan peneliti yaitu:

  1) Memeriksa hasil pekerjaan siswa dengan melihat kesalahan- kesalahan yang dilakukan dalam mengerjakan soal tes diagnostik.

  2) Mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa, kemudian mengelompokkan kesalahan-kesalahan siswa tersebut berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Newman dalam White (2005:249) yang telah disajikan pada BAB II. Berikut ini, pedoman pengelompokan jenis-jenis kesalahan dalam mengerjakan soal penerapan persamaan linear satu variabel:

Tabel 3.5 Indikator jenis-jenis kesalahan Newman

  No Kategori Kesalahan Indikator

  1. Tahap Membaca Siswa tidak dapat membaca dengan (Reading) benar kalimat pada soal. Hal ini Pada tahap ini, siswa dapat diketahui pada saat

salah membaca kata -kata wawancara.

penting dalam pernyataan.

  2. Tahap pemahaman a.

  Tidak bisa menentukan apa (Comprehension) yang diketahui. Pada tahap ini siswa b.

  Salah menentukan apa yang

  

sebenarnya mampu diketahui.

membaca soal dengan c.

  Tidak lengkap menentukan apa baik namun tidak mampu yang diketahui. memahami secara d.

  Tidak bisa menentukan apa sempurna pertanyaan yang ditanyakan. yang dimaksud.

  e.

  Salah menentukan apa yang ditanyakan.

  3. Tahap Transformasi

  a. dalam menentukan Salah (Transformation) model matematika.

  Pada tahap ini siswa

  b. menuliskan model Tidak melakukan kesalahan matematika. dalam mengubah

  c. memilih model Salah informasi yang diberikan penyelesaian. dalam soal ke dalam kalimat matematika.

  4. Tahap Keterampilan a.

  Salah dalam mengoperasikan

Proses (Skill Process) hitungan.

Pada tahap ini kesalahan b.

  Tidak bisa melakukan proses yang terjadi pada siswa pengerjaan. adalah kesalahan dalam

  c. dalam menentukan Salah melakukan proses operasi sistematika penyelesaian. bilangan atau aljabar.

  5. Tahap Pengkodean

  a. dalam menentukan Salah (Encoding) kesalahan kesimpulan jawaban akhir. dalam penulisan jawaban

  b. bisa menentukan Tidak akhir. kesimpulan jawaban akhir.

  3) Setelah itu, mengidentifikasi kesulitan belajar berdasarkan jenis- jenis kesalahan, jenis-jenis kesalahan yang dapat dijadikan sebuah kesulitan belajar adalah jenis kesalahan yang berkaitan dengan konsep, keterampilan dan pemecahan masalah.

  4) Kemudian, hasil tes diagnostik ini, digunakan sebagai acuhan untuk wawancara dan pengajaran remediasi.

  b.

  Tes Remediasi Setelah dilakukan pengajaran remediasi bagi siswa-siswi yang mengalami kesulitan belajar, selanjutnya peneliti memberikan tes remediasi. Dalam penyusunan tes remediasi, peneliti berkoordasi langsung dengan guru mata pelajaran.

  1) Mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa, kemudian mengelompokkan kesalahan-kesalahan siswa tersebut berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Newman dalam White (2005:249) yang telah disajikan pada BAB II. Pedoman pengelompokan jenis-jenis kesalahan pada tabel 3.5

  2) Kemudian, hasil tes remediasi ini, digunakan sebagai acuan untuk mengetahui jenis-jenis kesalahan siswa.

  3) Kemudian, hasil tes remediasi dikoreksi dan dianalisis dengan membandingkan jenis kesalahan pada tes remediasi dan tes diagnostik. Hasil perbandingan tersebut, menjadi tolok ukur apakah siswa mengalami perbaikan setelah mengikuti pengajaran remediasi.

3. Wawancara

  Wawancara dilakukan untuk semua siswa kelas VII B. Pada tahap wawancara ini, satu per satu peneliti mewawancarai siswa-siswi dengan bantuan lembar jawab tes diagnostik, pedoman wawancara dan alat bantu media recorder. Berikut ini adalah tahapan dalam menganalisis wawancara siswa: a.

  Peneliti melakukan analisis transkrip wawancara dengan mengindentifikasi jenis-jenis kesalahan siswa yang didasarkan pada teori Newman.

Tabel 3.6 Analisis jenis kesalahan berdasarkan transkrip wawancara

  No Jenis-jenis Kesalahan Pokok pertanyaan Contoh Transkrip Newman

1. Kesalahan membaca Cara siswa P: “Coba kamu baca

  (Reading erors) membaca soal nomor 1!” S: ”Dona memiliki.......” P:”Apakah kamu paham kata-kata di dalam soal tersebut? ”

  2. Kesalahan Cara siswa P: ”Apakah kamu paham pemahaman soal memahami setiap apa yang diketahui dari

(Reading kalimat pada soal soal ini?

  ” comprehension erors) S: ”iyaa...paham Bu..”

  P: ”Apakah kamu paham apa yang ditanyakan dari soal ini? ”

  3. Kesalahan Cara siswa P: ”Mengapa kamu bisa memodelkan mengubah menuliskan model (Transformation kalimat soal ke matematika x+5 dari erors) dalam kalimat soal tersebut? ” matematika S: “x nya itu banyaknya ayam Susi lalu limanya itu lebihnya banyak ayamnya Dona ”

  4. Kesalahan Cara siswa P: ”mengapa kamu bisa keterampilan proses menjelaskan menjawab 7x? ”

  (Weakness in skill tahap-tahap pada S: “Dari 2x ditambah

  Process) hasil pekerjaan 5x ”

  5. Kesalahan penulisan Cara siswa P: ”mengapa kamu kesimpulan jawaban menuliskan menuliskan jawaban akhir. (Encoding) jawaban akhir akhir 2x-1? ” dengan S: ”karena yang ditanyakan dalam soal adalah sisi yang terpendek ” b.

  Mendeskripsikan jenis-jenis kesulitan belajar siswa melalui transkrip wawancara yang dikategorikan berdasarkan jenis-jenis kesalahan yang dikaitkan pada konsep, keterampilan proses dan pemecahan masalah.

  c.

  Mendeskripsikan penyebab kesulitan belajar yang didasarkan pada hasil tes diagnostik dan transkrip wawancara.

3.7 Validasi Instrumen

  Sebelum instrumen-instrumen digunakan untuk pengambilan data, terlebih dahulu peneliti melakukan uji validasi terhadap pakar:

  1. Validitas lembar pengamatan Validasi instrumen pengamatan dilakukan pada tanggal 20 Maret 2015 oleh dosen pakar. Lembar validasi instrumen pada (Lampiran B.1.)

  2. Validitas soal tes diagnostik Validasi instrumen soal dilakukan pada tanggal 23 Maret 2015 dan 24 Maret 2015 oleh guru kelas VII dan dosen pakar. Lembar validasi instrumen pada (Lampiran B.2)

  3. Validitas RPP remediasi Validasi instrumen RPP Remediasi dilakukan pada tanggal 8 April 2015 oleh guru matematika kelas VII dan dosen pembimbing. Lembar validasi instrumen pada (Lampiran B.3)

  3.8 Keabsahan Data

  Keabsahan data pada penelitian ini diperoleh dengan melakukan pengumpulan data secara cermat. Triangulasi sebagai salah satu teknik pemeriksaan data secara sederhana dapat disimpulkan sebagai upaya mengecek data dalam suatu penelitian, dimana peneliti tidak hanya menggunakan satu sumber data atau satu metode pengumpulan data. Triangulasi peneliti menggunakan lebih dari satu peneliti dalam mengadakan pengamatan atau wawancara. Karena setiap peneliti memiliki gaya, sikap, dan persepsi yang berbeda dalam mengamati suatu fenomena maka hasil pengamatan dapat berbeda dalam mengamati fenomena yang sama. Menurut Bachri (2010:57) dalam Imam Gunawan, pengamatan dan wawancara dengan menggunakan dua atau lebih pengamat/ pewawancara akan dapat memperoleh data yang lebih absah. Selain itu, peneliti memeriksa kembali data yang sudah diperoleh dengan membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara dan isi dokumen (hasil pekerjaan siswa) yang bersesuaian.

  3.9 Prosedur Pelaksanaan Penelitian 1.

  Tahap Persiapan a.

  Menemui kepala sekolah untuk meminta ijin melakukan pengamatan dan penelitian di sekolah.

  b.

  Menemui wakakurikulum untuk memita ijin melakukan pengamatan dan penelitian di sekolah. c.

  Menemui guru pengampu bidang studi matematika untuk meminta ijin melakukan penelitian.

  d.

  Menyerahkan surat ijin dari kampus ke sekolah yang bersangkutan.

  e.

  Menyesuaikan jadwal pengambilan data dan materi pembelajaran.

  2. Tahap Pengamatan Pengamatan dilakukan agar peneliti mampu memahami keadaan sekolah, kelas dan siswa. Pengamatan di kelas dilakukan agar peneliti mampu memahami aktivitas siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan non sistematis dan sistematis. Pengamatan sistematis dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan instrumen pengamatan. Pengamatan dilakukan oleh peneliti dan guru matematika (Kelas VIII dan IX). Waktu pelaksanaan pengamatan dilakukan pada bulan Maret.

  3. Tahap Persiapan Tes a.

  Membuat tes diagnostik bersama guru bidang studi yang didasarkan pada indikator pencapaian tujuan belajar.

  b.

  Melakukan validasi pakar untuk soal-soal.

  c.

  Melakukan uji keterbacaan soal pada tes diagnostik.

  4. Tahap Tes dan Wawancara a.

  Tahap pertama adalah tes diagnostik. Tes dilaksanakan setelah guru menyelesaikan materi ajar persamaan linear satu variabel dengan sub pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel. Setelah soal tes dikerjakan siswa maka: 1)

  Memeriksa hasil tes diagnostik, dengan cara mencari kesalahan- kesalahan siswa dalam mengerjakan soal. Siswa yang nilai tes nya kurang dari KKM ( , dinyatakan bahwa siswa tersebut mengalami kesulitan belajar.

  2) Mengelompokkan kesalahan-kesalahan tersebut berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Newman (Bab II).

  3) Menggolongkan kesulitan belajar dari jenis-jenis kesalahan yang berdasarkan konsep, keterampilan dan pemecahan masalah.

  b.

  Tahap kedua yaitu wawancara. Wawancara dilaksanakan pada saat jam pelajaran matematika. Subjek yang diwawancarai adalah semua siswa kelas VII B.

5. Tahap Pengajaran Remediasi

  Pengajaran Remediasi diadakan setelah tes diagnostik. Materi yang diberikan pada pengajaran remediasi sama dengan materi yang diberikan guru, namun lebih memfokuskan dan mengkerucutkan pada bagian-bagian kesalahan yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal. Metode yang digunakan dalam pengajaran remediasi adalah diskusi kelompok. Setelah diadakan pengajaran remediasi, akan dilaksanakan tes remediasi untuk mengetahui hasil perbaikan belajar siswa.

6. Evaluasi Pengajaran Remediasi

  Evaluasi pengajaran remediasi dilaksanakan setelah pengajaran remediasi. Evaluasi dilakukan melalui wawancara dengan guru dan beberapa siswa yang mengikuti pengajaran dan tes remediasi. Evaluasi ini bertujuan untuk melihat seberapa jauh pemahaman siswa setelah mengikuti pengajaran remediasi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Pelaksanaan Pengambilan Data

  Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII B SMP Pangudi Luhur Giriwoyo pada pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel.

  Tabel di bawah ini menampilkan kegiatan yang dilaksanakan selama pengambilan data:

Tabel 4.1 Deskripsi pelaksanaan pengambilan data

  No Waktu Pengambilan Data Deskripsi Kegiatan

  1. Senin, 23 Maret 2015 Pengamatan I

  2. Selasa, 24 Maret 2015 Uji coba tes diagnostik

  3. Jumat, 27 Maret 2015 Pengamatan II

  4. Sabtu, 28 Maret 2015 Pengamatan III dan uji perbaikan tes diagnostik

  5. Senin, 30 Maret 2015 Tes Diagnostik

  6. Senin, 13 April 2015 Wawancara I

  7. Senin, 20 April 2015 Wawancara II

  8. Senin, 27 April 2015 Pengajaran remediasi dan tes remediasi

  9. Jumat, 9 Mei 2015 Evaluasi pengajaran remediasi (wawancara dengan guru)

  10. Sabtu, 10 Mei 2015 Evaluasi pengajaran remediasi (wawancara dengan siswa)

  Adapun penjelasan mengenai kegiatan-kegiatan dalam pengambilan data adalah sebagai berikut.

4.1.1 Pengamatan

  Pengamatan dilaksanakan sebanyak tiga kali pada tanggal 23 Maret 2015, 27 Maret 2015 dan 28 Maret 2015. Berikut ini, penjelasan hasil Pengamatan.

1. Pengamatan I

  Peneliti melakukan Pengamatan I pada hari Senin, 23 Maret 2015 bersama Ibu Anik (Guru Matematika kelas VIII dan IX).

  Pengamatan dilakukan pada pukul 09.55-11.15 WIB atau pada jam pelajaran ke-5 dan 6. Sebanyak 33 siswa mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. Materi yang disampaikan guru yaitu pengenalan terhadap bentuk aljabar dan unsur-unsurnya serta operasi dalam bentuk aljabar. Dengan indikator yang hendak dicapai dalam pembelajaran yaitu menjelaskan pengertian koefisien, variabel, konstanta, faktor, suku dan suku sejenis serta mengidentifikasi dengan cermat berbagai bentuk persamaan linear satu variabel.

  Pada awal pembelajaran, Guru memberikan salam kepada siswa-siswi, dilanjutkan dengan perkenalan materi baru yang akan dipelajari . Kemudian, dilanjutkan dengan penjelasan materi pelajaran. Pada saat guru menjelaskan, sebagian besar siswa memperhatikan penjelasan guru tetapi ada juga yang mengobrol

  Guru memberikan soal latihan berupa pengidentifikasian terhadap pernyataan dan kalimat terbuka. Soal yang diberikan sebanyak 6 butir dengan waktu pengerjaan kurang lebih sekitar 20 menit. Dalam pengamatan, siswa cukup antusias mengerjakannya.

  Kemudian, guru memandu siswa-siswi untuk mengerjakan dan mempresentasikan hasil pekerjaannya di papan tulis. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memperesentasikan hasil jawabannya tetapi hanya ada 2 siswa yang dengan kesadaran diri melakukannya. Agar semuanya terlibat aktif, guru menunjuk siswa yang lain untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya. Pada saat proses presentasi dari beberapa siswa, belum ditemukan kesalahan dalam mengerjakan soal.

  Guru melakukan penilaian proses belajar berupa pengamatan aktivitas siswa selama proses pembelajaran dan penilaian hasil belajar berupa pemberian kuis di akhir proses pembelajaran. Di akhir pembelajaran, guru memberikan PR untuk siswa yaitu mempelajari materi selanjutnya.

  Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas di kelas, dalam hal aktivitas fisik, siswa kurang aktif bertanya dan memecahkan masalah soal. Sedangkan dalam hal emosional siswa kurang berani mengemukakan pendapat berkaitan hal tersebut. Dalam hal aktivitas guru di kelas, guru mampu melakukan pembelajaran, dan mengelola interaksi kelas dengan baik.

2. Pengamatan II

  Peneliti melakukan Pengamatan II pada hari Jumat, 27 Maret 2015 bersama Ibu Anik (Guru Matematika kelas VIII dan

  IX). Penelitian dilakukan pada pukul 08.20-09.40 WIB. Sebanyak 33 siswa mengikuti proses pembelajaran di kelas. Materi yang disampaikan guru yaitu penyelesaian persamaan linear satu variabel. Indikator yang hendak dicapai pada pembelajaran ini yaitu menyelesaikan soal persamaan linear satu variabel dengan tepat.

  Pada awal pembelajaran, Guru memberikan salam kepada siswa-siswi, kemudian mengingatkan materi pada pertemuan sebelumnya . Guru menjelaskan materi pelajaran berkaitan dengan penyelesaian persamaan linear satu variabel. Pada saat guru menjelaskan, sebagian besar siswa memperhatikan penjelasan guru tetapi ada juga yang mengobrol dengan teman sebangku dan menjahili teman lainnya. Sesekali guru memperingatkan siswa tersebut, untuk tidak gaduh. Beberapa menit pertama setelah guru memperingatkan, suasana kelas menjadi tenang, tetapi setelah lima menit kemudian suasana kelas menjadi kurang kondusif lagi.

  Setelah menjelaskan materi, guru meminta siswa mencatat latihan berupa penyelesaian persamaan linear satu variabel, dengan banyak soal yang diberikan 6 butir dan waktu pengerjaan kurang lebih 25 menit. Kemudian, guru memandu siswa-siswi untuk mengerjakan dan mempresentasikan hasil pekerjaannya di papan tulis. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memperesentasikan hasil pekerjaannya tetapi hanya 3 siswa yang dengan kesadaran diri melakukannya. Hal ini meningkat 1 anak dibandingkan pada pengamatan I. Agar semuanya terlibat aktif, guru membuat undian dari nomor 1 sampai 34(kecuali nomor 4), dalam teknisnya, guru mengambil undian, kemudian menunjuk siswa yang memiliki nomor presensi sama dengan undian tersebut, untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya, dan demikian seterusnya.

  Pada saat proses presentasi, sebagian siswa tampak memperhatikan dan mendengarkan penjelasan temannya. Guru juga berkeliling untuk melihat hasil pekerjaan siswa. Dan dari hasil presentasi dan pekerjaan siswa, ditemukan beberapa kesalahan siswa dalam mengerjakan soal, sebagai berikut.

  a. Siswa membuat kesalahan dalam mengoperasikan persamaan linear satu variabel dalam menjumlahkan bilangan bulat dengan suatu variabel. Berikut ini bukti kesalahan siswa.

  Pada saat guru berkeliling, guru menemukan kesalahan dalam mengerjakan soal, kesalahan pengoperasian ini juga sama persis terjadi pada saat salah satu siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya di kelas. Setelah mengetahui kesalahan tersebut, guru dengan cepat membetulkan hasil pekerjaaan siswa tersebut. Dengan memberikan penjelasan berkaitan penjumlahan variabel dengan bilangan dalam persamaan linear satu variabel di depan kelas.

  b.

  Siswa membuat kesalahan dalam mengoperasikan bilangan bulat khususnya dalam menjumlahkan bilangan bilangan bulat.

  Pada saat proses presentasi, ada salah satu siswa yang melakukan kesalahan dalam proses perhitungan bilangan bulat. Setelah mengetahui kesalahan tersebut, salah satu siswa membetulkannya ke depan kelas. Selain itu, guru juga mengingatkan agar siswa teliti dalam melakukan perhitungan bilangan.

  c.

  Siswa mengalami kesalahan dalam menyelesaikan persamaan linear satu variabel khususnya operasi pembagian.

  Pada saat guru berkeliling, ada salah satu siswa yang melakukan kesalahan dalam proses perhitungan pembagian.

  Setelah mengetahui kesalahan tersebut, guru membetulkannya dengan cara meminta siswa untuk menghitungnya kembali.

  Selain itu, guru juga mengingatkan agar siswa teliti dalam melakukan perhitungan bilangan.

  Selanjutnya, guru memberikan penguatan pada siswa agar tidak berkecil hati setelah melakukan kesalahan, tetapi berusaha bangkit untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

  Guru melakukan penilaian proses belajar berupa pengamatan aktivitas siswa selama proses pembelajaran dan penilaian hasil belajar berupa pemberian kuis pada akhir proses pembelajaran. Di akhir pembelajaran, guru memberikan PR berkaitan penyelesaian terhadap persamaan linear satu variabel.

  Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas siswa di kelas, dalam hal aktivitas fisik, siswa kurang aktif menanyakan materi.

  Sedangkan dalam hal emosional siswa kurang berani mengemukakan pendapat berkaitan hal tersebut. Tetapi, hal ini keaktifan dan keberanian siswa lebih meningkat dari Pengamatan I.

  Dalam hal aktivitas guru di kelas, guru mampu melakukan pembelajaran, mengelola interaksi kelas dengan baik.

3. Pengamatan III

  Peneliti melakukan Pengamatan III pada hari Sabtu, 28 Maret 2015 bersama Ibu Anik (Guru Matematika kelas VIII dan IX). Penelitian dilakukan pada pukul 07.00-08.20 WIB.

  Berdasarkan hasil pengamatan, sebanyak 33 siswa mengikuti kegiatan pembelajaran. Materi yang disampaikan guru yaitu penerapan persamaan linear satu variabel. Indikator yang akan dicapai dalam pembelajaran yaitu menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan penerapan persamaan linear satu variabel.

  Pada awal pembelajaran, Guru memberikan salam kepada siswa-siswi, dilanjutkan dengan mengingatkan materi pada pertemuan sebelumnya . Guru menyuruh siswa-siswi untuk mengumpulkan PR yang diberikan pada pertemuan sebelumnya.

  Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan materi pelajaran berkaitan dengan penerapan persamaan linear satu variabel. Seperti pada Pengamatan I dan Pengamatan II, ada beberapa siswa yang menyebabkan kondisi kelas menjadi kurang kondusif. Tetapi sebagian besar siswa memperhatikan dan mencatat penjelasan guru.

  Setelah pemberian materi, Guru memberikan soal latihan soal yang diberikan sebanyak 6 butir dengan bentuk soal cerita dan waktu pengerjaan soal sekitar kurang lebih 25 menit. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan hasil pekerjaan siswa. Guru memandu siswa-siswi untuk mengerjakan dan mempresentasikan hasil pekerjaan di depan kelas dengan memberi kesempatan kepada siswa, tetapi hal ini sama seperti pada pengamatan II, 3 siswa yang sama dan dengan kesadaran diri melakukannya. Agar semuanya terlibat aktif, guru mengambil nomor undian, selanjutnya menunjuk siswa yang memiliki nomor presensi tersebut untuk mempresentasikan hasil jawabannya di depan kelas. Pada saat proses presentasi dari beberapa siswa, ditemukan kesalahan siswa dalam mengerjakan soal.

  a.

  Ada beberapa siswa yang melakukan kesalahan dalam memodelkan soal cerita persamaan linear satu variabel. Setelah mengetahui kesalahan tersebut, guru meluruskan hasil pekerjaan siswa dengan mengulangi dalam pembacaan soal dan menggarisbawahi kata-kata kunci pada soal.

  b.

  Kesalahan dalam mengoperasikan variabel dan bilangan.

  Kembali, setelah pada Pengamatan II, guru sudah menekankan berhati-hati dalam pengoperasian variabel dan bilangan. Siswa kembali melakukan kesalahan dalam operasi penjumlahan.

  Setelah mengetahui kesalahan tersebut, guru memberi kesempatan siswa yang lain untuk mengerjakannya. Dari jawaban yang dikemukakan oleh 2 siswa tersebut, guru menemukan kesalahan pada siswa pertama dalam menjumlahkan bilangan dengan variabel dan untuk siswa kedua guru tidak menemukan kesalahan. Kemudian, guru memberi kesempatan pada siswa kedua untuk menjelaskan kepada teman-temannya berkaitan dengan hasil pekerjaannya tersebut.

  c.

  Kesalahan dalam mengalikan suatu persamaan dengan bilangan bulat. Kembali, setelah pada Pengamatan II, guru sudah menekankan berhati-hati dalam pengoperasian variabel dan bilangan. Siswa kembali melakukan kesalahan dalam operasi perkalian. Berikut ini bukti kesalahan yang dilakukan siswa:

  Setelah mengetahui kesalahan tersebut, guru kemudian mengoreksi kesalahan siswa tersebut. Dan memberi penguatan agar berhati-hati dalam melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian bilangan dengan variabel.

4.1.2 Uji keterbacaan soal tes diagnostik

  Tes keterbacaan soal dilaksanakan pada hari Selasa, 24 Maret 2015. Tes keterbacaan soal dilakukan melalui tes tertulis dan wawancara. Sebanyak 5 siswa mengikuti tes tertulis dan wawancara.

  Siswa-siswi yang menjadi subjek adalah siswa-siswi yang berasal dari SMP yang setara dan memiliki tingkat kemampuan bervariasi. Dari hasil tes tertulis diperoleh bahwa, sebanyak 5 siswa merasa kesulitan dalam mengerjakan soal nomor satu. Hal ini dapat dianalisis melalui penulisan hal yang diketahui, ditanyakan, dan penulisan jawaban akhir yang kurang tepat. Sedangkan untuk soal nomor 2, terdapat 4 siswa yang mampu menuliskan dengan tepat hal yang diketahui, hal yang ditanyakan dan kesimpulan jawaban akhir. Pada soal nomor 3, terdapat 3 siswa yang mampu menuliskan dengan tepat hal yang diketahui, hal yang ditanyakan dan kesimpulan jawaban akhir.

  Berdasarkan hasil wawancara diperoleh, sebanyak 4 siswa menyatakan bahwa soal nomor 1 sulit dipahami. Sedangkan untuk soal nomor 2 dan 3, sebanyak 4 siswa yang menyatakan bahwa soal mudah dipahami. Oleh karena itu, tingkat keterbacaan pada soal nomor 1 sangat rendah, maka perlu dilakukan perbaikan soal. Berikut ini adalah perbaikan soal nomor 1.

Tabel 4.2 Tes soal diagnostik dan perbaikan soal diagnostik

  No Soal tes diagnostik Perbaikan soal tes diagnotik

  1 Ikhsan mempunyai ayam empat kali lebih banyak dari ayam Amir, sedangkan ayam Amir dua ekor kurang dari banyaknya ayam Endro. Dan, diketahui bahwa ayam Endro adalah ekor. Tentukan model matematika dari banyaknya ayam Ikhsan!

  Dona mempunyai ayam sebanyak ekor. Sedangkan Susi mempunyai ayam dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona.

  Buatlah model matematika dari banyaknya ayam Susi!

  Tes keterbacaan soal perbaikan, dilaksanakan pada hari Sabtu,

28 Maret 2015. Tes keterbacaan soal dilakukan melalui wawancara

  dengan 5 siswa. Hasil wawancara diperoleh bahwa, 5 siswa menyatakan bahwa, kata-kata dan kalimat pada soal perbaikan mudah dimengerti. Selanjutnya diperoleh bahwa, 3 dari 5 siswa menjawab dengan tepat hal yang diketahui, hal yang ditanyakan dan model matematika. Oleh karena itu, soal perbaikan nomor 1 dapat diujikan pada tes diagnostik.

4.1.3 Tes diagnostik

  Tes diagnostik dilaksanakan pada hari Senin, 30 Maret 2015, pada jam mata pelajaran matematika. Waktu pengerjaan tes diagnostik adalah 40 menit atau satu jam pelajaran. Jumlah soal ada tiga butir yang meliputi pemodelan dan penyelesaian persamaan linear satu variabel.

  Tes Diagnostik diikuti oleh 33 siswa. Dalam pengerjaannya ada beberapa siswa yang berusaha meminta dan memberikan jawaban ke teman yang lain. Hal ini menyebabkan suasana kelas menjadi kurang tenang. Berikut ini bukti tes diagnostik.

  4.1.4 Wawancara

  Wawancara dilaksanakan pada dua tahap, wawancara pertama dilaksanakan pada hari Senin, 13 April 2015 pada saat jam pelajaran matematika dan tahap kedua dilaksanakan pada tanggal Senin, 20 April 2015. Wawancara tahap I diikuti oleh 11 siswa dan wawancara pada tahap kedua diikuti oleh 20 siswa. Wawancara meliputi pertanyaan berkaitan hasil jawaban siswa dan hal-hal yang mempengaruhi kegiatan belajar siswa. Secara satu per satu siswa bergantian melakukan wawancara.

  4.1.5 Pengajaran Remediasi dan Tes Remediasi

  Menurut hasil wawancara dengan Guru Matematika, pengajaran remediasi jarang dilakukan di SMP Pangudi Luhur Giriwoyo, karena jam efektif pelajaran tidak memungkinkan digunakan untuk pengajaran remediasi. Hal ini, berkaitan dengan tuntutan materi yang tidak sedikit untuk disampaikan kepada siswa.

  Pengajaran remediasi dilaksanakan pada hari Senin, 27 April 2015, pada pukul 09.55-10.35 WIB. Pengajaran remediasi diikuti sebanyak 23 siswa atau 69,69% dari keseluruhan siswa di kelas. Teknis dalam pengajaran remediasi, peneliti menggunakan metode diskusi kelompok. Pada saat 10 menit pertama, peneliti melakukan review beberapa sub bab materi yang dirasa cukup sulit oleh siswa. Dalam proses review materi, beberapa siswa tidak segan-segan untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami.

  Kemudian, 10 menit berikutnya, siswa-siswi dibagi dalam 7 kelompok secara heterogen, setiap kelompok terdiri dari 3 sampai 4 siswa. Pemilihan kelompok berdasarkan tingkat kemampuan akademik dan jenis kelamin. Dalam setiap kelompok, peneliti memilih seorang koordinator. Koordinator bertanggung jawab dalam mengkoordinasi anggota kelompok agar terlibat aktif dalam pembahasan setiap soal.

  Setelah dibentuk kelompok, peneliti memberikan satu soal pada setiap kelompok untuk dibahas secara bersama-sama dalam kelompok dan diberikan batas waktu diskusi. Suasana diskusi kelas cukup kondusif, sekitar 90% siswa terlibat aktif dalam pemecahan masalah soal. Sisanya, siswa kurang peduli atau acuh tak acuh pada pemecahan masalah, yaitu ada siswa yang mengajak bermain dengan teman di kelompok lain dan ada siswa yang kurang nyaman dengan anggota kelompok sehingga memilih untuk mengerjakan soal sendiri.

  Setelah diskusi selesai, peneliti meminta semua kelompok untuk melaporkan hasil jawaban, kemudian peneliti memilih salah satu kelompok untuk menjelaskan hasil diskusi di depan kelas. Pada saat salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, hampir semua kelompok yang lain mendengarkan dan memperhatikan. Dan, jika pada saat pembahasan soal ada yang kurang jelas, ada beberapa siswa yang meminta pengulangan penjelasan jawaban.

  Tes remediasi dilaksanakan setelah 1 jam pelajaran, dilaksanakannya pengajaran remediasi. Tes remediasi diikuti oleh 23 siswa. Tes remediasi merupakan salah satu aksi dari evaluasi pembelajaran remediasi yang telah dilaksanakan. Pengerjaan soal remediasi sekitar 40 menit atau 1 jam pelajaran. Sebagian besar siswa mengerjakan secara mandiri, tetapi ada beberapa yang kurang percaya diri sehingga menyebabkan suasana kelas kurang kondusif. Sekitar 90% siswa sudah selesai mengerjakan soal sebelum waktu berakhir.

  Berikut ini adalah hasil dokumentasi pelaksanaan pengajaran remediasi.

  (Siswa sedang berdiskusi dalam kelompok)

  (Salah satu siswa sedang menjelaskan materi kepada teman-temannya)

4.1.6 Evaluasi Pengajaran Remediasi

  Evaluasi pengajaran remediasi dilakukan dengan melakukan wawancara pada Guru matematika kelas VII dan 6 siswa yang mengikuti pengajaran remediasi. Pengambilan subjek yang diwawancara berdasarkan hasil nilai tes remediasi, 3 siswa yang mengalami kenaikan nilai yang besar dan 3 siswa yang mengalami kenaikan nilai remediasi yang standar. Secara garis besar wawancara berisi tentang pendapat berkaitan dengan pengajaran remediasi.

4.2 Analisis Data

4.2.1 Pengamatan

  Peneliti mengolah data hasil pengamatan peneliti dan guru pengamatan guru dalam proses pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan mengolah data hasil pengamatan siswa.

1. Hasil pengamatan pembelajaran guru di kelas

  Dalam mengolah data hasil pengamatan guru, peneliti menghitung rata-rata aktivitas guru mengajar dalam setiap aspek yang diteliti. Berikut ini tabel hasil analisis pengamatan aktivitas guru di kelas.

  81 Tabel 4.3 Hasil penilaian aktivitas guru di kelas Aspek yang Diamati Indikator Pengamatan I Pengamatan II Pengamatan

  5

  4.1

  4. Kesan umum melaksanakan pembelajaran

  5 Rata-Rata 4,75 4,5 4,5 4,58

  4

  5

  5

  

5

  5

  3.2

  4

  5

  4

  4

  4

  

5

  

5

  5

  3. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar

  5

  4 Rata-Rata 4,67 4,67 4,5 4,61

  4

  4

  5

  4

  

4

  4.3

  4

  5

  5

  4

  5

  

5

  4.2

  5

  5

  3.1

  4 Rata-Rata 4,5 4,5 4,33 4,44

  III Rata- Rata P G P G P G

  1.2

  4 Rata-Rata 4,75 4,75 4,75 4,75

  5

  4

  5

  4

  

5

  5

  2.1

  5

  5

  5

  5

  

5

  1.1

  1. Melakukan pembelajaran di kelas

  2. Mengelola interaksi kelas

  

5

  5

  4

  4

  4

  5

  

4

  2.3

  4

  4

  5

  5

  4

  

4

  2.2

  5

  4

  5

  5

  Keterangan pada (Lampiran A.1)

  Berdasarkan tabel 3.4 dan tabel 4.3 diperoleh bahwa, rata-rata dari Pengamatan I, II dan III pada aspek pertama, sebanyak 4,75 sehingga dapat dikategorikan bahwa guru mampu melaksanakan proses pembelajaran di kelas dengan sangat baik. Pada aspek yang kedua diperoleh 4,44 sehingga dapat dikategorikan bahwa guru mampu mengelola interaksi kelas dalam hal ini melakukan komunikasi, menumbuhkan partisipasi aktif dan menumbuhkan kepercayaan diri siswa dengan sangat baik. Pada aspek yang ketiga, diperoleh 4,58 sehingga dapat dikategorikan, guru melakukan penilaian proses dan hasil belajar dengan sangat baik. Dan aspek yang terakhir, diperoleh rata-rata sebanyak 4,61 sehingga dapat dikategorikan penguasaan materi, penampilan mengajar dan keefektifan mengajar dilaksanakan dengan sangat baik.

2. Hasil pengamatan proses pembelajaran siswa

  Untuk menganalisis lembar pengamatan aktivitas siswa, peneliti menghitung ketuntasan belajar klasikal pada setiap indikatornya dengan menggunakan rumus:

  Selanjutnya, mencari rata-rata skor aktivitas fisik dan skor aktivitas emosional siswa secara keseluruhan. Dengan menggunakan rumus:

  Berikut ini adalah rekapitulasi hasil perhitungan ketuntasan belajar klasikal pada setiap indikator dan rata-rata skor aktivitas fisik, aktivitas emosional pada pengamatan I, pengamatan II dan pengamatan III.

  • – rata Indikator (%) Banyak siswa Persentase (%) Banyak
  • – rata 86,36 Rata – rata 92,42 Rata – rata 89,39
  • – rata 77,27 Rata – rata 92,42 Rata – rata 90,91

  8 7 24,24 21,21

  25 23 75,76 69,69

  20 21 60,61 63,64

  23 22 69,69 66,67 67,68 Rata

  1.6

  12 15 36,36 45,46

  12 12 36,36 36,36

  11 11 33,33 33,33 36,87 Rata – rata 40,91 Rata – rata 36,36 Rata – rata 33,33 Emosi- onal

  2.1

  7 7 21,21 21,21

  50 Rata

  9 8 27,27 24,24 23,23 Rata – rata 22,73 Rata – rata 21,21 Rata – rata 25,76

  2.2

  17 19 51,51 57,58

  18 19 54,55 57,58

  15 16 45,46 48,49 52,53 Rata

  2.3

  15 16 45,46 48,49

  17 17 51,52 51,52

  1.5

  14 15 42,42 45,46 39,9 Rata

  14 15 42,42 45,46 47,48 Rata – rata 46,97 Rata – rata 51,52 Rata – rata 43,94 a.

  1.2

  84 Tabel 4.4 Hasil penilaian aktivitas siswa di kelas Keterangan indikator pada (Lampiran A.1)

  Aspek Indikator Pengamatan I Pengamatan II Pengamatan III Rata

  siswa Persentase (%) Banyak siswa

  Persentase P G P G P G P G P G P G Fisik

  1.1

  29 28 87,88 84,85

  31 30 93,94 90,91

  29 30 87,88 90,91 89,39 Rata

  25 26 75,76 78,79

  17 16 51,52 48,49

  30 31 90,91 93,94

  29 31 87,88 93,94 86,87 Rata

  1.3

  3 3 9,09 9,09

  4 4 12,12 12,12

  5 5 15,15 15,15 12,12 Rata – rata 9,09 Rata – rata 12,12 Rata – rata 15,15

  1.4

  8 9 24,24 27,27

  • – rata 25,76 Rata – rata
  • – rata 43,94
  • – rata 72,73 Rata – rata 62,12 Rata – rata 68,18
  • – rata 54,55 Rata – rata 56,06 Rata – rata 46,97

  Ketuntasan Belajar Klasikal Dari tabel 4.4 diperoleh bahwa, rata-rata indikator menunjukkan hasil dari ketuntasan belajar klasikal pada setiap indikator-indikator. Ketuntasan belajar klasikal yang kurang dari 50% ( ditunjukkan pada indikator 1.3 (Siswa bertanya dalam proses pembelajaran) sebesar 12,12%, indikator 1.4 (Siswa aktif memecahkan masalah yang diberikan) sebesar 39,9%, indikator 1.6 (Siswa menjawab pertanyaan dengan tepat) sebesar 36,87%, indikator 2.1 (Siswa berani mengemukakan pendapat tentang pemecahan masalah yang harus digunakan) sebesar 23,23%, indikator 2.3 (Siswa termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran) sebesar 47,48%.

  b.

  Skor Aktivitas fisik dan emosional siswa secara keseluruhan Berikut ini adalah penjabaran perhitungan rata-rata skor aktivitas fisik dan aktivitas emosional siswa secara keseluruhan yang dilakukan pada pengamatan I, pengamatan II dan pengamatan III.

  a.

  Rata-rata skor aktivitas fisik b.

  Rata-rata skor aktivitas emosional

4.2.2 Tes Diagnostik

  Dalam menganalisis data, peneliti mengolah data hasil tes diagnostik sebagai berikut.

  1. Memeriksa hasil jawaban dari setiap siswa.

  2. Memberikan skor dari setiap jawaban siswa, berdasarkan rubrik penilaian pada (Lampiran A. 3)

  3. Menganalisis kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa pada tabel

  4.5 .

  4. Mengelompokkan bentuk-bentuk kesalahan yang dilakukan siswa ke dalam kategori jenis-jenis kesalahan menurut Newman (Bab II) dan kesulitan dikelompokkan berdasarkan dengan konsep, keterampilan dan pemecahan masalah.

  5. Menghitung banyak nya persentase siswa yang melakukan kesalahan untuk setiap nomor berdasarkan jenis kesalahan.

Tabel 4.5 Bentuk-bentuk Kesalahan siswa dalam mengerjakan Soal Penerapan Persamaan Linear Satu Variabel

  Nomor Contoh Kesalahan Bentuk Kesalahan Subyek Soal

  1 a. S8 Penulisan hal yang diketahui dalam soal a kurang tepat.

  b. dalam Kesalahan mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika. b c. dalam Kesalahan menentukan kesimpulan jawaban akhir. c a. dalam S16, S18, Kesalahan penulisan hal yang S32 diketahui dalam a soal.

  b. dalam Kesalahan mengubah informasi soal ke dalam b kalimat matematika.

  87

  88 a.

  Penulisan hal yang ditanyakan dalam soal kurang tepat.

  b.

  Kesalahan dalam mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  S16, S29 a.

  Kesalahan dalam mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  b.

  Kesalahan dalam menentukan kesimpulan jawaban akhir.

  S3,S6, S10, S28 Kesalahan dalam mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  S2, S5, S7, S9, S11, S13, S14, S19, S20, S21, S22, S23, S24, S25, S26, S27, S30, S31, S33, S34 a b a b

  2 a. S5, S11, S30 Proses penyelesaian operasi bilangan dan variabel tidak dikerjakan.

  b. dalam Kesalahan mensubstitusi nilai ke persamaan.

  c. dalam Kesalahan a menentukan kesimpulan jawaban akhir. b c

  a. dalam S8, S10, Kesalahan menjumlahkan atau S18, S24, mengurangkan S28 variabel dengan bilangan.

  b. dalam Kesalahan mensubstitusi nilai ke persamaan. a c. dalam Kesalahan menentukan kesimpulan jawaban akhir. b c

  89 a. dalam S6, S15, Kesalahan menjumlahkan atau S21, S23 mengurangkan variabel dengan bilangan.

  b. dalam Kesalahan mensubtitusi nilai ke a persamaan. b

  Kesalahan dalam S9 mensubtitusi nilai ke persamaan.

  90 a. dalam S14, S33 Kesalahan mensubstitusi nilai ke persamaan.

  b. dalam Kesalahan menentukan kesimpulan jawaban akhir. a b

  91 a. S16 Tidak menuliskan hal yang diketahui dalam soal. c b.

  Tidak menuliskan hal yang ditanyakan dalam soal.

  c. dalam Kesalahan menjumlahkan atau mengurangkan variabel dengan bilangan.

  d.

  Tidak menentukan kesimpulan jawaban akhir.

  a. dalam S26, S29 Kesalahan menjumlahkan atau mengurangkan a variabel dengan bilangan.

  b. dalam Kesalahan mensubstitusi nilai ke persamaan. b c.

  Tidak menentukan kesimpulan jawaban akhir.

  92 Kesalahan dalam S34 menjumlahkan atau mengurangkan variabel dengan bilangan.

  3 a. dalam S1, S22 Kesalahan mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  b. dalam Kesalahan melakukan pengurangan pada bilangan.

  c.

  Tidak menentukan kesimpulan jawaban a akhir. b

  93 a. dalam S2 Kesalahan mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  b.

  Penyelesaian tidak dikerjakan.

  c. tidak Kesalahan menentukan jawaban akhir. a a. S3, S14, Penulisan hal yang a diketahui dalam soal S18, S27, kurang tepat. S33 b. dalam Kesalahan mengubah informasi soal ke dalam b kalimat matematika.

  c. dalam Kesalahan menentukan kesimpulan jawaban akhir. c

  94 a. dalam S5 Kesalahan mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika. a b. dalam Kesalahan melakukan operasi b perkalian atau pembagian.

  a. dalam S6 Kesalahan mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  b. dalam Kesalahan menjumlahkan atau mengurangkan a variabel dengan b bilangan.

  c.

  Tidak menentukan kesimpulan jawaban akhir.

  95 a. dalam S7, S9, S12, Kesalahan mengubah informasi S13, S21, soal ke dalam S32 kalimat matematika.

  b. dalam Kesalahan menentukan a kesimpulan jawaban akhir. b

  a. S8, S16, S26 Penulisan hal yang a diketahui dalam soal kurang tepat b. dalam Kesalahan mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  c. dalam Kesalahan b melakukan operasi perkalian atau c pembagian bilangan.

  d.

  Tidak menentukan kesimpulan jawaban akhir.

  96 a. dalam S9 Kesalahan mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  b. dalam Kesalahan a menentukan kesimpulan jawaban akhir. b

  a. S10 Tidak menuliskan hal yang diketahui atau hal ditanya dari b soal.

  b. dalam Kesalahan mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  c.

  Tidak menentukan kesimpulan jawaban akhir.

  97 Kesalahan dalam mengubah S11 informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  a. dalam S15, S25 Kesalahan mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  b.

  Tidak menentukan kesimpulan jawaban akhir. a

  98 a. dalam S17 Kesalahan a penulisan hal yang diketahui dalam soal.

  b. dalam Kesalahan mengubah informasi b soal ke dalam kalimat matematika.

  c.

  Tidak menentukan kesimpulan jawaban akhir.

  a. dalam S20 Kesalahan a penulisan hal yang diketahui dalam soal.

  b. dalam Kesalahan mengubah informasi b soal ke dalam kalimat matematika.

  99 a. dalam S23, S29 Kesalahan a penulisan hal yang diketahui dalam soal. b b. dalam Kesalahan mengubah informasi c soal ke dalam kalimat matematika.

  c. dalam Kesalahan menjumlahkan atau mengurangkan variabel dengan bilangan.

  d.

  Tidak menentukan kesimpulan jawaban akhir.

  a. dalam S24 Kesalahan mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  b. dalam Kesalahan melakukan a pengurangan pada b bilangan.

  c. dalam Kesalahan menentukan kesimpulan jawaban c akhir.

  100 a. tidak S28 Kesalahan b menuliskan hal yang diketahui dalam soal. c b. dalam Kesalahan mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  c. dalam Kesalahan c menjumlahkan atau mengurangkan variabel dengan bilangan.

  d. dalam Kesalahan menentukan kesimpulan jawaban akhir.

  a. dalam S30 Kesalahan menjumlahkan atau mengurangkan variabel dengan bilangan. a b. dalam Kesalahan menentukan kesimpulan jawaban akhir. b

  101 a. dalam S34 Kesalahan a penulisan hal yang diketahui dalam soal. b b. dalam Kesalahan mengubah informasi c soal ke dalam kalimat matematika.

  c. dalam Kesalahan menjumlahkan atau mengurangkan variabel dengan bilangan. d

  d. dalam Kesalahan menentukan kesimpulan jawaban akhir.

  .

  102 Berdasarkan tabel 4.5 diperoleh bahwa, bentuk-bentuk kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal penerapan persamaan linear satu variabel yaitu penulisan hal yang diketahui dalam soal kurang tepat, penulisan hal yang ditanyakan dalam soal kurang tepat, tidak mneuliskan hal yang diketahui atau ditanyakan dalam soal, kesalahan dalam mengubah inforasi soal ke dalam kalimat matemtika, kesalahan dalam menjumlahkan atau mengurangkan variabel dengan bilangan, kesalahan dalam melakukan operasi perkalian atau pembagian bilangan, kesalahan dalam mensubstitusi nilai ke persamaan, kesalahan dalam melakukan pengurangan pada bilangan, penyelesaian tidak dikerjakan, kesalahan dalam menentukan kesimpulan jawaban akhir dan tidak menentukan kesimpulan jawaban akhir.

4.2.3 Wawancara

  Setelah melakukan wawancara kepada 33 siswa, dilakukan analisis pada transkrip wawancara sebagai berikut.

  1. Menganalisis hasil transkrip wawancara yang mengarah kepada kesulitan siswa.

  2. Menggolongkan kesulitan-kesulitan siswa tersebut ke dalam kelompok jenis kesulitan.

  3. Menganalisis hasil transkrip wawancara untuk memperoleh penyebab kesulitan belajar siswa.

4.2.4 Tes Remediasi

  Setelah dilakukan tes diagnostik dan wawancara, peneliti mengadakan tes remediasi. Tes Remediasi bertujuan untuk melakukan evaluasi pembelajaran remediasi. Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan oleh peneliti dalam menganalisis hasil tes remediasi.

  1. Memeriksa hasil jawaban dari setiap siswa.

  2. Menganalisis kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa dari setiap soal.

  3. Membandingkan nilai yang diperoleh pada tes diagnostik dengan tes remediasi apakah mengalami kenaikan atau tidak.

4.2.5 Evaluasi Pengajaran Remediasi

  Evaluasi pengajaran remediasi dilaksanakan setelah pengajaran remediasi dan tes remediasi. Evaluasi dilakukan melalui wawancara dengan guru matematika dan beberapa siswa yang mengikuti pengajaran remediasi. Peneliti melakukan analisis hasil transkrip wawancara yang mengarah kepada hasil upaya pengajaran remediasi.

4.3 Pembahasan

4.3.1 Identifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar

  Dalam mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar, peneliti memeriksa hasil tes diagnostik, selanjutnya menentukan siswa yang mengalami kesulitan belajar berdasarkan ketercapaian nilai tes diagnostik dengan batas nilai KKM yang ditetapkan sekolah (nilai<70).

  Berikut ini adalah hasil jawaban dan keterangan ketuntasan siswa.

  26. S26 11 36,67 Tidak tuntas

  20. S20

  21

  70 Tuntas

  21. S21

  15

  50 Tidak tuntas

  22. S22 19 63,33 Tidak tuntas

  23. S23 14 46,67 Tidak tuntas

  24. S24 13 43,33 Tidak tuntas

  25. S25

  21

  70 Tuntas

  27. S27

  21

  21

  70 Tuntas

  28. S28 13 43,33 Tidak tuntas

  29. S29 14 46,67 Tidak tuntas

  30. S30

  18

  60 Tidak tuntas

  31. S31 28 93,33 Tuntas

  32. S32

  21

  70 Tuntas

  33. S33 19 63,33 Tidak tuntas

  70 Tuntas

  19. S19

Tabel 4.6 Hasil nilai dan ketuntasan tes diagnostik

  7. S7

  No Subyek Skor Total Nilai

  Kriteria Ketuntasan

  1. S1

  15

  50 Tidak tuntas

  2. S2 11 36,67 Tidak tuntas

  3. S3 23 76,67 Tuntas

  4. S4

  5. S5

  15

  50 Tidak tuntas

  6. S6 13 43,33 Tidak tuntas

  21

  18. S18 16 53,33 Tidak tuntas

  70 Tuntas

  8. S8 13 43,33 Tidak tuntas

  9. S9

  18

  60 Tidak tuntas

  10. S10 11 36,67 Tidak tuntas

  11. S11 14 46,67 Tidak tuntas

  12. S12 25 83,33 Tuntas

  13. S13 23 76,67 Tuntas

  14. S14 20 66,67 Tidak tuntas

  15. S15 19 63,33 Tidak tuntas

  16. S16 8 26,67 Tidak tuntas

  17. S17 20 66,67 Tidak tuntas

  34. S34 13 43,33 Tidak tuntas

  Dari tabel 4.6, ada 23 siswa yang tidak tuntas dan 10 siswa yang tuntas. Sebanyak 23 siswa yang tidak tuntas tersebut, digolongkan ke dalam siswa yang mengalami kesulitan belajar dan wajib mengikuti pengajaran dan tes remediasi.

4.3.2 Identifikasi masalah 1.

  Kategori jenis kesalahan siswa Berdasarkan hasil analisis dari tes diagnostik, diperoleh beberapa bentuk kesalahan yang dilakukan oleh siswa, yaitu penulisan hal yang diketahui dalam soal kurang tepat, penulisan hal yang ditanyakan dalam soal kurang tepat, tidak menuliskan hal yang diketahui atau ditanyakan dalam soal, kesalahan mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika, kesalahan dalam menjumlahkan atau mengurangkan variabel dengan bilangan, kesalahan dalam melakukan operasi perkalian atau pembagian bilangan, kesalahan dalam mensubstitusi nilai ke persamaan, kesalahan dalam melakukan pengurangan pada bilangan, penyelesaian tidak dikerjakan atau proses penyelesaian operasi bilangan dan variabel tidak dikerjakan, kesalahan dalam menentukan kesimpulan jawaban akhir dan tidak menentukan jawaban akhir.

  Dari bentuk-bentuk kesalahan diatas, kemudian digolongkan ke dalam jenis-jenis kesalahan Newman. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam menentukan jenis-jenis kesulitan belajar siswa. Berikut ini adalah tabel pengelompokan jenis-jenis kesalahan siswa.

1. Kesalahan Membaca

  108

  1

  S15, S16, S18, S21, S23, S24, S26, S28, S29, S6, S22, S23, S28,

  Kesalahan dalam menjumlahkan atau mengurangkan variabel dengan S2, S6, S8, S10,

  4. Kesalahan dalam proses (Weakness in process skill) a.

  31

  30

  S7, S8, S9, S10, S11, S12, S13, S14, S15, S16, S17, S18, S19, S20, S21, S22, S23, S24, S25, S26, S27, S28, S29, S32, S33, S34 Jumlah Siswa

  (memodelkan) S2, S3, S5, S6, S7, S8, S9, S10, S11, S13, S14, S16, S17, S18, S19, S20, S21, S22, S23, S24, S25, S26, S27, S28, S29, S30, S31, S32, S33, S34 S1, S2, S3, S5, S6,

  3. Kesalahan transformasi (Transform error) Kesalahan dalam mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika.

  15

  5

Tabel 4.7 Pengelompokan jenis-jenis kesalahan menurut Teori Newman

  S16 S10, S14 Jumlah Siswa

  S29 c. Tidak menuliskan hal yang diketahui atau ditanyakan dalam soal.

  Penulisan hal yang ditanyakan dalam soal kurang tepat.

  S8,S16,S18,S32 S3, S8, S14,S16, S17, S18, S20, S23, S26, S27,S28, S29, S33, S34 b.

  Penulisan hal yang diketahui dalam soal kurang tepat.

  2. Kesalahan dalam pemahaman (Reading Comprehesion difficulty) a.

  (Reading erors) Tidak ada Berdasarkan hasil wawancara dengan peneliti, dari 33 siswa, semua dapat membaca kata-kata penting atau simbol yang disampaikan di dalam soal.

  3

  2

  1

  No Jenis Kesalahan Bentuk kesalahan yang dibuat siswa Subyek yang melakukan Kesalahan pada Soal

S29, S30, S34

  dengan bilangan. S34

  b. dalam S5, S8, S16, S26 Kesalahan melakukan operasi perkalian atau pembagian bilangan.

  c. dalam S1, S2, S5, S6, Kesalahan mensubtitusi nilai ke S8, S9, S10, persamaan. S11, S14, S15,

  S18, S21, S23, S24, S26, S28,

S29, S30, S33

  d. dalam S1, S24 Kesalahan melakukan pengurangan pada bilangan.

  e. tidak S1, S5, S11, S2 Penyelesaian dikerjakan atau S30 Proses penyelesaian operasi bilangan dan variabel tidak dikerjakan Jumlah Siswa

  21

  14

5. Kesalahan penulisan

  a. dalam S3, S6, S8 S1, S2, S5, S8, S2, S3, S7, S9, Kesalahan jawaban akhir menentukan S10, S11, S14, S12, S13, S14, S18, (Encoding error) kesimpulan jawaban S18, S24, S28, S21, S24, S27, S28, akhir. S30, S33 S30, S32, S33, S34

  b. menentukan S16, S26, S29 S1, S2, S6, S8, Tidak kesimpulan jawaban S10, S15, S16, S17, akhir.

  S19, S22, S23, S25, S26, S29 Jumlah Siswa

  3

  15

  29

  109 Berdasarkan tabel diatas, diperoleh bahwa pada soal nomor 1 sebanyak 5 atau 15,15% siswa melakukan jenis kesalahan pemahaman (Reading Comprehesion), sebanyak 30 atau 90,91% siswa melakukan jenis kesalahan transformasi (Transform Erors) dan sebanyak 3 atau 9,09% siswa melakukan jenis kesalahan penulisan jawaban akhir (Ecoding Erors). Pada soal nomor 2 sebanyak 1 atau 3,03% siswa melakukan jenis kesalahan pemahaman (Reading Erors), sebanyak 21 atau 63,64% siswa melakukan jenis kesalahan keterampilan proses (Weakness in Process Skill), dan sebanyak 15 atau 48,48% siswa melakukan jenis kesalahan penulisan jawaban akhir (Ecoding Erors).

  Pada soal nomor 3 sebanyak 15 atau 48,48% siswa melakukan jenis kesalahan pemahaman (Reading Comprehesion), sebanyak 31 atau 93,94% siswa melakukan jenis kesalahan transformasi (Transform

  Erors ), sebanyak 14 atau 42,43% siswa melakukan kesalahan

  keterampilan proses (Weakness in Process Skill) dan sebanyak 29 atau 87,88% siswa melakukan kesalahan dalam penulisan jawaban akhir (Ecoding Erors).

  b.

  Kategori jenis-jenis kesulitan belajar siswa Dari hasil tes diagnostik dan wawancara diperoleh kesulitan yang dialami siswa dalam materi penerapan persamaan linear satu variabel.

  Penggolongan jenis kesulitan belajar diperoleh dari analisis jenis kesalahan dalam mengerjakan tes yang dikaitkan dengan konsep, keterampilan dan pemecahan masalah. Berikut ini adalah beberapa kesulitan yang dialami siswa yang ditinjau melalui hasil tes diagnostik dan wawancara:

  1) Kesulitan memahami maksud soal

  Ada beberapa siswa yang merasa kesulitan dalam memahami maksud soal.

  Berdasarkan hasil pekerjaan di atas, siswa mengalami kesalahan dalam menuliskan hal yang ditanyakan dalam soal.

  Menurut teori Newman (Bab II) bentuk kesalahan ini dapat digolongkan ke dalam jenis kesalahan dalam pemahaman soal.

  Jenis kesalahan ini berkaitan dengan pemahaman konsep, sehingga dapat dikatakan sebagai kesulitan dalam memahani maksud soal. Kesalahan ini, banyak ditemukan pada soal nomor 1 dan nomor 3. Hal ini dibuktikan melalui banyaknya persentase kesalahan yang dilakukan siswa secara berurutan yaitu 15,15% dan 48,49%. Berikut ini, adalah hasil transkrip wawancara yang diungkapkan salah satu subyek wawancara:

  P :”Haloo...nama panggilannya siapa?”

  S17 :”...............”

  P :”Nah .........., kan kemarin udah ngerjain to soal nomor stau, dua dan tiga. Nah dari ketiga soal tersebut, yang paling sulit yang mana?” S17

  :”Sebenarnya itu gak ada tapi bingung” P

  :”Bingungnya?” S17

  :”Memahami soalnya” P

  :”Oooh...okee”

  Berdasarkan hasil wawancara dari 33 siswa, sebanyak 14 siswa mengalami kesulitan dalam memahami maksud soal. Kesulitan dalam memahami maksud soal dapat dilihat melalui kesalahan siswa pada saat menuliskan dengan kurang tepat hal yang diketahui atau pun hal yang ditanyakan dari soal. 2)

  Kesulitan dalam memodelkan (Mengubah informasi soal ke dalam model matematika) Sebagian besar siswa mengalami kesalahan dalam memodelkan soal ke dalam kalimat matematika.

  Berdasarkan hasil pekerjaan di atas, siswa melakukan kesalahan dalam mengubah informasi yang diberikan dalam soal ke dalam model matematika. Siswa mengalami kebingungan dalam menuliskan model matematika yang tepat karena kurang

  menguasai konsep dasar materi persamaan linear satu variabel. Kesalahan ini banyak ditemukan pada soal nomor 1 dan 3, banyaknya siswa yang mengalami kesalahan secara berurutan yaitu 90,91% dan 93,94%. Jenis kesalahan ini berkaitan dengan pemahaman konsep, sehingga dapat dikatakan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menuliskan model matematika.

  Berikut ini adalah salah satu bukti transkrip wawancara dengan subyek yang mengalami kesulitan dalam memodelkan :

  P :”Nomor tiga...Okee... Nah tanya yang nomor satu dulu.

  Nah kenapa kamu bisa menjawab x plus dua min x dari mana?” S14 :

  ”Karena Susi mempunyai dua terus Donanya x terus sama ininya x” (Sambil menunjuk) P

  :”Okee...Nah gini ya. Nah kan yang ditanyakan apa? Model matematika dari banyaknya ayam Su..?” S14

  :”..Susi” P

  :”Nah...dilihat ini (Sambil menunjuk) Sedangkan Susi mempunyai ayam dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona. Nah banyaknya ayam Dona tadi apa? Diketahui apa dari sini?” (Sambil menunjuk) S14

  :”x..” P

  :”Berarti dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona sama dengan x min du..?” S14

  :”...Dua” P

  :”Du..aa. Gitu ya” S14

  :”Iyaa..”

  Berdasarkan hasil wawancara di atas, subyek tampak bingung dalam menerjemahkan bahasa ke dalam model matematika.

  Sebanyak 33 siswa atau semua siswa mengalami kesulitan dalam membuat model matematika.

  3) Kesulitan dalam keterampilan proses

  Ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam keterampilan proses soal, hal ini dibuktikan dengan beberapa kesalahan yang dilakukan siswa: i)

  Kesalahan dalam menjumlahkan variabel dengan bilangan Berdasarkan hasil pekerjaan siswa di atas, siswa melakukan kesalahan dalam menjumlahkan dengan 4. Hal ini dikarenakan siswa kurang teliti dan cermat dalam menentukan hasil penjumlahan. Berikut ini adalah bukti transkrip wawancara yang diungkapkan salah satu subyek wawancara:

  P :”Nah, yang nomor dua, kok kamu bisa menjawab 6x dari mana?”

  S6 :”ehmnnn....”

  P :”apakah x ditambah 3 ditambah 2x ditambah x, begitu?”

  S6 :”iyaaa...”

  P :”nah sebenarnya jika variabel dijumlahkan dengan bilangan hasilnya tetap ya, misalnya tiga ditambah x hasilnya bukan tiga x tapi tetap 3 ditambah x kecuali jika perkalian 3 dikali x hasilnya menjadi tiga x “(sambil menjelaskan dengan menulis) S6

  :”iyaa”

  Berdasarkan hasil wawancara dari 33 siswa, sebanyak 15 siswa mengalami kesalahan dalam menjumlahkan variabel dengan bilangan.

ii) Kesalahan dalam mensubstitusi nilai ke persamaan.

  Berdasarkan hasil pekerjaan di atas, siswa melakukan kesalahan dalam mensubstitusi hasil nilai ke dalam persamaan. Siswa mensubstitusi nilai ke dalam persamaan dan dengan mengganti tanda hubung penjumlahan dengan perkalian. Berikut ini adalah bukti transkrip wawancara terhadap subyek yang mengalami kesalahan dalam mensubstitusi nilai ke dalam persamaan:

  P :”Okee. Yang nomor dua ini kamu udah benar yang diketahui ditanya dan ini cara kamu udah benar variabel ditambah variabel ditambah variabel, bilangan ditambah bilangan ditambah bilangan. Nah tapi sampai ini, kenapa jadi tiga dikali dua (sambil menunjuk). Mengapa ndak langsung kamu tambah dua, kan persamaannya x ditambah tiga kenapa menjadi x dikali tiga setelah dis ubstitusikan?”

  S9 :”(Diam sejenak)”

  P :”Masih bingung dalam menstubtitusi atau gimana?

  S9 :”Iya..bu”

  P :” Kalau yang itu seharusnya tiga ditambah dua (sambil menunjuk), nah kalau ini baru dikali (sambil menunjuk) 2 dikali

  persamaan gini (sambil menunjuk) disubstitusi tanda tambah tidak bergamti kali, tetep penjumlahan. Okee yang nomor tiga, kamu kok bisa menjawab lima dikali x sama dengan seratus lima?” S9

  :”Hhmnn..”

  Berdasarkan hasil wawancara sebanyak 33 siswa, ada 18 siswa yang mengalami kesalahan dalam mensubstitusi nilai ke persamaan. iii)

  Kesalahan dalam melakukan operasi pada bilangan (penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian).

  Berdasarkan hasil pekerjaan siswa di atas, diperoleh bahwa siswa mengalami kesalahan dalam melakukan operasi perkalian bilangan. Kurang tepat bahwa dikali dikali hasilnya adalah . Berikut ini adalah bukti wawancara subyek yang mengalami kesalahan dalam melakukan operasi pada bilangan:

  P :”Terus ini aku mau tanya, kok ini (sambil menunjuk) bisa sama dengan x

  ?” S8

  :”ehmnn...” P

  :”Hayoo darimana?

  P :”Nah...inget ya ini perkalian bukan pembagian”

  S8 :”Iyaa...bu”

  Berdasarkan hasil wawancara diatas, siswa tampak kurang cermat dan teliti dalam melakukan perhitungan pada operasi perkalian bilangan. Sebanyak 6 siswa mengalami kesalahan dalam melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, pembagian atau perkalian bilangan. Berdasarkan pemaparan kesalahan keterampilan proses di atas, diperoleh sebanyak 63,64% siswa melakukan kesalahan pada soal nomor 2 dan sebanyak 42,43% siswa melakukan kesalahan pada soal nomor 3.

4.3.3 Identifikasi Penyebab Kesulitan Belajar 1.

  Berdasarkan hasil pengamatan Berdasarkan hasil pengamatan peneliti dan guru matematika (kelas

  VIII dan IX) ada beberapa penyebab kesulitan belajar siswa, yaitu: a.

  Dalam segi emosional siswa kurang berani mengemukakan pendapat Dari pengamatan sebanyak tiga kali, siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat. Misalnya guru bertanya kepada siswa, sebagian siswa kurang berani menjawab pertanyaan tersebut. Siswa akan menjawab nya jika guru menunjuk siswa tersebut.

  Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil pengamatan secara terstruktur bahwa pada pengamatan pertama siswa yang berani mengemukakan pendapat sebanyak 22,73%, pada pengamatan kedua sebanyak 21,21% dan pada pengamatan ketiga sebanyak 25,76% atau dapat dikatakan bahwa rata-rata ketuntasan belajar klasikal pada indikator ini adalah 23,23%. Persentase ini berada dibawah 50%, sehingga dapat dikatakan bahwa secara klasikal, siswa sangat kurang berani dalam mengemukakan pendapat.

  b.

  Dalam segi emosional siswa kurang termotivasi dalam belajar Dari pengamatan sebanyak tiga kali, siswa kurang termotivasi dan semangat dalam belajar. Hal ini dapat dilihat melalui keaktifan rasa ingin tahu yang besar terhadap materi.

  Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil pengamatan secara terstruktur bahwa pada pengamatan pertama siswa yang termotivasi dalam proses belajar sebanyak 46,97%, pada pengamatan kedua sebanyak 51,52% dan pada pengamatan ketiga sebanyak 43,94% atau dapat dikatakan bahwa rata-rata ketuntasan belajar klasikal pada indikator ini adalah 47,48%. Persentase ini berada dibawah 50%, sehingga dapat dikatakan bahwa Siswa sangat kurang motivasi dalam proses pembelajaran.

  c.

  Dalam segi sikap siswa kurang aktif dalam bertanya

  Dari pengamatan sebanyak tiga kali, siswa kurang berani dalam bertanya. Padahal, pada saat mengerjakan soal, banyak siswa masih kebingungan dalam memahami maksud soal, memodelkan sampai menyelesaikannya. Siswa enggan bertanya kepada guru maupun kepada teman yang sudah paham.

  Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil pengamatan secara terstruktur bahwa pada pengamatan pertama siswa yang aktif bertanya sebanyak 9,09%, pada pengamatan kedua sebanyak 12,12% dan pada pengamatan ketiga sebanyak 15,15% atau dapat dikatakan bahwa rata-rata ketuntasan belajar klasikal pada indikator ini adalah 12,12%. Persentase ini berada dibawah 50%,. Persentase ini berada dibawah 50%, sehingga dapat dikatakan bahwa siswa secara klasikal sangat kurang aktif dalam bertanya.

  d.

  Dalam segi sikap siswa kurang memperhatikan guru Dari pengamatan sebanyak tiga kali ada beberapa siswa yang kurang memperhatikan pada saat guru menjelaskan materi pelajaran. Misalnya mengobrol dengan teman sebangku, mengajak teman untuk bermain.

  Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil pengamatan secara terstruktur bahwa pada pengamatan pertama siswa yang memperhatikan guru sebanyak 77,27%, pada pengamatan kedua sebanyak 92,42% dan pada pengamatan ketiga sebanyak 90,91% atau dapat dikatakan bahwa rata-rata ketuntasan belajar klasikal pada indikator ini adalah 86,87%.

  e.

  Dalam segi sikap siswa kurang aktif dalam memecahkan masalah Dari pengamatan sebanyak tiga kali ada beberapa siswa yang kurang aktif dalam memecahkan masalah. Sebagai contoh pada saat guru memberikan soal untuk dipecahkan di kelas, ada beberapa siswa yang menunggu instruksi guru dan menunggu ditunjuk ke depan kelas.

  Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil pengamatan secara terstruktur bahwa pada pengamatan pertama siswa yang aktif dalam memecahkan masalah sebanyak 25,76%, pada pengamatan kedua sebanyak 50% dan pada pengamatan ketiga sebanyak 43,94% atau dapat dikatakan bahwa rata-rata ketuntasan belajar klasikal pada indikator ini adalah 39,9%. Persentase ini berada dibawah 50%,. Persentase ini berada dibawah 50%, sehingga dapat dikatakan bahwa secara klasikal siswa-siswi sangat kurang berani dalam mengemukakan pendapat.

  f.

  Dalam segi sikap siswa kurang dapat menjawab pertanyaan dengan tepat

  Dari pengamatan sebanyak tiga kali, kurang dari 50% siswa yang dapat menjawab pertanyaan dengan tepat. Hal ini dapat dilihat melalui pengerjaan siswa ke depan kelas, maupun pengerjaan di buku latihan siswa.

  Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil pengamatan secara terstruktur bahwa pada pengamatan pertama siswa kurang dapat menjawab pertanyaan dengan tepat sebanyak 40,91%, pada pengamatan kedua sebanyak 36,36% dan pada pengamatan ketiga sebanyak 33,33% atau dapat dikatakan bahwa rata-rata ketuntasan belajar klasikal pada indikator ini adalah 39,9%. Persentase berada dibawah 50%, sehingga dapat dikatakan bahwa secara klasikal siswa-siswi siswa sangat kurang berani dalam menjawab pertanyaan dengan tepat.

  Berdasarkan hasil analisis data skor aktivitas fisik dan emosional siswa secara keseluruhan diperoleh bahwa, rata-rata skor aktivitas fisik siswa adalah dan rata-rata skor aktivitas emosional siswa adalah . Sehingga diperoleh bahwa rata-rata skor aktivitas emosional siswa lebih rendah dari pada skor aktivitas sikap.

2. Berdasarkan hasil wawancara

  a) Cara belajar siswa

  Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa, ada dua jenis kesalahan dalam cara belajar siswa: i)

  Siswa belajar hanya buka-buka buku catatan Cara belajar siswa yang kurang tepat yaitu, membuka- buka buku catatan tanpa membaca, memahami dan latihan. Berikut ini adalah bukti transkrip wawancara:

  P :”Terus mau tanya lagi. Kalau di kelas kamu paham

enggak apa yang dijelaskan guru?”

  S19 :”Ada yang paham, ada yang enggak..hehehe”

  P :”Oooh..okee..Terus misalnya kamu dapat nilai

jelek, orang tua mu komentar ndak?”

  S19 :”Ya, cuma suruh belajar”

  P :”Terus kamu belajar?”

  S19 :”Enggak..hehehe”

  P :”Hahaha”

  S19 :”Lha Cuma raketan mbukak mbukak buku kono.

  Kulo nggeh namung mbukak buku gitu” P

  :”Cuma buka-buka, ndak dipelajari?” S19

  :”Enggak..hehehe” P

  :”Okee...misalnya besok ada matematika, kamu malemnya belajar ndak?” S19

  :”Enggak”

  ii) Siswa belajar jika ada ulangan

  Berdasarkan hasil wawancara, ada beberapa subyek yang belajar jika ada ulangan atau PR. Cara belajar seperti ini kurang efektif, karena sebagian materi yang sudah di pelajari akan lupa, mengingat waktu belajar yang kurang terencana. Berikut ini adalah bukti wawancara dengan salah satu subyek:

  P :”Misalnya besok ada matematika, kamu malemnya belajar enggak?”

  S21: ”Nggeh nek wonten PR..(Yaa kalau ada PR)”

  P

:”Kalau gak ada PR belajar?”

  S21 :”Enggak..nggeh kalau ada ulangan belajar (Enggak..ya kalau ada ulangan baru belajar)

  

  b) Materi yang dianggap sulit i)

  Membuat model matematika Berdasarkan hasil wawancara, sebagian besar besar siswa mengalami kesulitan dalam mengubah bahasa ke dalam model matematika. Berikut ini adalah salah satu bukti transkrip wawancara:

  P :” Terus mau tanya lagi, e... menurutmu materi ini sulit ndak?”

  S5 :”Sulit”

  P :”Sulit, okee..pada bagian materi mana yang sulit?”

  S5 :”memodelkan”

  Sebanyak 25 siswa atau 60% siswa mengatakan bahwa materi memodelkan adalah bagian materi yang sulit. ii)

  Menyelesaikan model matematika Berdasarkan hasil wawancara, sebagian siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan model matematika, yang meliputi proses operasi aljabar. Berikut ini adalah bukti wawancara dengan salah satu subyek:

  P :”Oke, besok dijelasin lagi. Ini mau tanya menurutmu materi ini sulit ndak?”

  S2:”Agak sulit” P

  :”oke, yang sulit pada bagian apa?” S2

  :”Yang menyelesaikan” Sebanyak 25% siswa yang mengatakan bahwa bagian menyelesaikan sangat sulit dibandingkan dengan memodelkan. iii)

  Membuat pemodelan dan menyelesaikan pemodelan Berdasarkan hasil wawancara, sebagian siswa mengalami kesulitan dalam membuat dan menyelesaikan model matematika, yang meliputi mengubah informasi soal ke dalam model matematika dan menyelesaikannya dengan menggunakan operasi aljabar. Berikut ini adalah bukti wawancara dengan salah satu subyek:

  P :”Lumayan susah atau lumayan enggak?”

  S10 :”Lumayan susah..”

  P :”Banyak susahnya?”

  S10 :”Iyaa...”

  P :”Iyaak okee.. terus yang paling sulit itu bagian apa?”

  S10 :”eee...buat model matematika sama ngitungnya...”

  Sebanyak 15% siswa yang mengatakan bahwa bagian memodelkan dan menyelesaikan sangat sulit.

  c) Konsep dasar materi ada yang lupa

  Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa, diperoleh bahwa ada siswa yang lupa dalam menjumlahkan variabel dengan bilangan, sehingga proses operasi penjumlahan disamakan dengan proses operasi perkalian. Berikut ini adalah bukti transkrip wawancara:

  P :”Nah, apakah benar 3 ditambahkan dengan x hasilnya

  3x ?”

  S24 :”Salah..”

  P :”Lah kok ini bisa jadi 3x?”

  S24

:”Lupa bu kalau penjumlahan..”

  P :”Enggak....kecuali kalau dika..?”

  S24 :”Di kali..”

  2) Faktor Eksternal

  a) Hubungan dengan teman sekelas yang kurang harmonis i)

  Hubungan pribadi dengan teman kurang harmonis Berdasarkan hasil wawancara, ada siswa yang kurang nyaman di kelas. Hal ini dikarenakan mempunyai hubungan yang kurang harmonis dengan salah satu teman sekelasnya. Berikut ini adalah salah satu bukti transkrip wawancara:

  P :”okeee...siip..Eee hubungan mu sama teman teman di kelas gimana?”

  S10 :”Baik...tapi ada salah satu yang agak slek gitu”

  P :”Slek? Maksudnya slek?”

  S10 :”Enggak temenan..”

  P :”masalahnya?”

  S10 :”Masalah...yaa seorang cowok..”

  P :”Oalaah...sama siapa? Gapapa?”

  S10 :”Sama ...............”

  P

:”.......”

  S10 :”Saya tu yaa,punya...suka gitu sama si ..........

  7A, terus ....... bilang satu kelas sama kakak kakak kelas itu terus kaka kakak kelas itu tanya terus .......bilang, wong aku ra kondo tek? Lha tapi kakak kelas tek dho ngerti?” P

  :”He..eh.” S10

  :”Akhirnya marahan...Terus waktu itu juga saya dikirain suka sama ......... temen nya sono padahal saya ndak suka Cuma sms an gitu” P

  :”He..eh,,Ohhh” S10

  :”Masalah itu..”

  ii) Hubungan dengan kelompok teman di kelas kurang harmonis

  Berdasarkan hasil wawancara, ada siswa yang kurang nyaman di kelas. Hal ini dikarenakan mempunyai hubungan yang kurang harmonis dengan beberapa teman di kelas. Berikut ini adalah salah satu bukti transkrip wawancara:

  P :”Okee hubunganmu dengan teman di kelas gimana?”

  S28 :”Kadang-kadang akur..”

  P :”Kadang-kadang enggak?”

  S28 :”Iyaa...”

  P :”Gimana? Cerita aja?”

  S28 :”Ya soalnya, teman-temen itu temenannya pilih-pilih gak mau temenan sama yang bodoh yang pinter temenannnya sama yang pinter” P

  :”Berarti kayak nge-gep gitu?” S28

  :”Iyaa..”

  b) Lingkungan atau suasana kelas yang kurang kondusif

  Berdasarkan hasil wawancara, ada siswa yang merasa kurang nyaman dengan suasana kelas untuk belajar.

  Berikut ini adalah salah satu bukti transkrip wawancara dengan salah satu siswa:

  P :”terus kalau di kelas paham ndak yang dijelaskan guru”

  S9

:”Paham kalau tidak gojek,”

  P :” Banyak gojeknya kalau dikelas?”

  S9

:”Yaa, terkadang. Diajak teman”

  P :”Sebenernya, pengen konsentrasi kalau di kelas?”

  S9 :”Iyaa...Tapi gak enak sama teman, kalau menolak ajakan

  P :”Ooh... Iyaa..”

4.3.4 Hasil upaya pengajaran dan tes remediasi

  Dalam pelaksanaan pengajaran remediasi, siswa-siswi sangat antusias, dan metode diskusi kelompok mampu meningkatkan kemampuan siswa. Hal ini terbukti dari peningkatan hasil tes remediasi dibandingkan dengan tes diagnostik. Berikut ini adalah hasil perbandingan bentuk-bentuk kesalahan pada tes diagnostik dan tes remediasi.

C, E1 M D1, D3 M

C, E1 M D1, D3, E1 M B3, C, E2

C, E1 B2, B3, D1, E2 D3, D5, E2 B1, C, D2, E2 B1, C, E2

  128

  17. S24 C C D1, D3, E1 M

  14. S21 C M D1, D3 D2

  C, E1 C

  15. S22 C M M M

  C, D1, E2

  C, D4

  16. S23 C M D1, D3 M B1, C, D1, E2

  C, E2

  

18. S26 C M D1, D3, E2 B1, D5, E1 B1, C, D2, E2 B1, E1

  C, D4, E1

  C, D5

  13. S18 C M D1, D3, E1 M B1, C, E1

  19. S28

  C, E2

  20. S29 B2, C M D1, D3, E2 M B1, C, D1, E2 M

  21. S30 C M D3, D5, E1 M D1, E1 C

  22. S33 C C D3, E1 M B1, C, E1 C

  23. S34 C M D1 M B1, C, D1, E1 M Berikut ini adalah keterangan dari tabel 4.8.

  C, E1

  12. S17 B1, C M M E2 B1, C, E2 M

Tabel 4.8 Perbandingan bentuk kesalahan yang dilakukan siswa pada tes diagnostik dan tes remediasi

  C, D1, E2 M

  No Subjek Soal I Soal II Soal III Diagnostik Remediasi Diagnostik Remediasi Diagnostik Remediasi

  1. S1 M M D5, D3, E1 E1

  C, D4, E2 D5, E2

  2. S2 C C D1, D3, E1 M

  C, D5, E2 C

  3. S5 C M D5, D3, E1 M

  C, D2

  C, D4

  4. S6

  

5. S8 B1, C, E1 M D1, D3, E1 M B1, C, D2, E2 D1, E2

  11. S16 B1, C

  6. S9 C M D3 M E1 M

  7. S10

  C, E2

  8. S11 C M D3, D5, E1 D3, E1 C D4

  9. S14 C M D3, E1 M B1, C, E1

  C, E1

  10. S15 M M D1, D3 M

  C, E2

  C, E1

C, E1 M D1, D3, E1 M B3, C, D1, E1

Tabel 4.9 Keterangan simbol bentuk-bentuk kesalahan No Simbol Jenis Kesalahan Bentuk Kesalahan

  1. B1 Penulisan hal yang diketahui dalam soal kurang tepat

  2. B2 Kesalahan pemahaman Penulisan hal yang ditanyakan dalam soal kurang tepat

  3. B3 Tidak menuliskan hal yang diketahui atau ditanyakan dalam soal

  4. C Kesalahan transformasi Kesalahan dalam mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika 5. D1 Kesalahan dalam menjumlahkan atau mengurangkan variabel dengan bilangan.

  6. D2 Kesalahan dalam melakukan operasi perkalian atau pembagian bilangan

  7. D3 Kesalahan dalam mensubstitusi nilai ke persamaan Kesalahan dalam proses

  8. D4 Kesalahan dalam melakukan pengurangan pada bilangan

  

9. D5 Penyelesaian tidak dikerjakan atau proses penyelesaian operasi bilangan dan variabel

tidak dikerjakan

  10. E1 Kesalahan penulisan Kesalahan dalam menentukan kesimpulan jawaban akhir.

  11. E2 jawaban akhir Tidak menentukan kesimpulan jawaban akhir.

  12. M Tidak membuat kesalahan dalam mengerjakan soal.

  129 Berdasarkan hasil analisis tabel 4.8 diperoleh bahwa, pada soal nomor 1, sebanyak 17 siswa mengalami perbaikan kesalahan, sebanyak 1 siswa mengalami perbaikan dan penambahan jenis kesalahan, sebanyak 2 siswa mengalami keajegan kebenaran dan sebanyak 3 siswa mengalami keajegan kesalahan. Pada soal nomor 2, diperoleh hasil bahwa sebanyak 19 siswa mengalami perbaikan kesalahan, sebanyak 2 siswa mengalami perbaikan dan penambahan jenis kesalahan, sebanyak 1 siswa mengalami keajegan kebenaran dan sebanyak 2 siswa mengalami keajegan kesalahan. Pada soal nomor 3, diperoleh hasil bahwa sebanyak 14 siswa mengalami perbaikan kesalahan dan 9 siswa mengalami perbaikan dan penambahan jenis kesalahan.

  Berikut ini adalah rekapitulati perbandingan jumlah jenis kesalahan yang dilakukan siswa pada tes diagnostik dan tes remediasi

  12. S17 1, 2, dan 3

  9. S14 1, 2 dan 3

  4

  2 Berkurang

  10. S15 2 dan 3

  3

  2 Berkurang

  11. S16 1, 2 dan 3

  4

  3 Berkurang

  3

  3

  1 Berkurang

  13. S18 1, 2 dan 3

  4

  2 Berkurang

  14. S21 1, 2 dan 3

  3

  2 Berkurang

  15. S22 1 dan 3

  3

  2 Berkurang

  8. S11 1, 2 dan 3

Tabel 4.10 Perbandingan jumlah jenis kesalahan pada tes diagnostik dan tes remediasi

  3. S5 1, 2 dan 3

  No Subjek Soal yang salah Jumlah jenis kesalahan pada tes

  Diagnostik Jumlah jenis kesalahan pada tes

  Remediasi Banyak Kesalahan

  1. S1 2 dan 3

  3

  2 Berkurang

  2. S2 1, 2 dan 3

  3

  1 Berkurang

  3

  2 Berkurang

  2 Berkurang

  4. S6 1,2 dan 3

  3 Berkurang

  5. S8 1, 2 dan 3

  4

  2 Berkurang

  6. S9 1, 2 dan 3

  3 Berkurang

  7. S10 1, 2 dan 3

  4

  2 Berkurang

  16. S23 1, 2 dan 3

  10. S15 63,33 73,33 Naik Tuntas

  2. S2 36,67

  70 Naik Tuntas

  3. S5 50 73,33 Naik Tuntas

  4. S6 43,33 100 Naik Tuntas

  5. S8 43,33

  70 Naik Tuntas

  6. S9 60 100 Naik Tuntas

  7. S10 36,67 63,32 Naik Tidak tuntas

  8. S11 46,67 53,33 Naik Tidak tuntas

  9. S14 66,67 73,33 Naik Tuntas

  11. S16 26,67 36,67 Naik Tidak tuntas

  50

  12. S17 66,67 86,67 Naik Tuntas

  13. S18 53,33 66,67 Naik Tidak tuntas

  14. S21 50 73,33 Naik Tuntas

  15. S22 63,33 76,67 Naik Tuntas

  16. S23 46,67

  70 Naik Tuntas

  17. S24 43,33 56,67 Naik Tidak tuntas

  18. S26 36,67 43,33 Naik Tidak tuntas

  19. S28 43,33

  70 Naik Tuntas

  20. S29 46,67 100 Naik Tuntas

  60 Naik Tidak tuntas

  1. S1

  4

  20. S29 1, 2 dan 3

  2 Berkurang

  17. S24 1, 2 dan 3

  3

  2 Berkurang

  18. S26 1, 2 dan 3

  4

  3 Berkurang

  19. S28 1, 2 dan 3

  4

  2 Berkurang

  4 Berkurang

  Remediasi Keterangan Kriteria Ketuntasan

  21. S30 1, 2 dan 3

  3

  1 Berkurang

  22. S33 1, 2 dan 3

  4

  1 Berkurang

  23. S34 1, 2 dan 3

  4 Berkurang

  Dari hasil analisis tabel 4.10, diperoleh bahwa setelah mengikuti pengajaran remediasi, tingkat kesalahan siswa berkurang. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil tes remediasi, sebanyak 23 siswa jenis kesalahan dalam mengerjakan soal berkurang. Berikut ini adalah hasil pengajaran remediasi yang ditinjau berdasarkan perolehan nilai tes.

Tabel 4.11 Perbandingan nilai tes diagnostik dan tes remediasi

  No Subyek Nilai Diagnostik Nilai

  21. S30 60 76,67 Naik Tuntas

  23. S34 43,33 100 Naik Tuntas

  Berdasarkan tabel 4.11, sebanyak 16 dari 23 siswa yaitu S2, S5, S6, S8, S9, S14, S15, S17, S21, S22, S23, S28. S29, S30, S33, dan S34 yang tuntas pada pengerjaan tes remediasi atau dapat dikatakan ada 7 siswa yang belum tuntas.

  Berikut ini adalah perhitungan persentase kelulusan siswa pada tes remediasi: Hasil perhitungan di atas merupakan persentase kelulusan siswa dalam mengikuti tes remediasi berdasarkan perolehan nilai. Sebanyak 69,57% siswa yang tuntas setelah mengikuti pengajaran remediasi.

  Berdasarkan hasil analisis dari tabel 4.10 dan tabel 4.11, diperoleh bahwa sebanyak 23 siswa mengalami pengurangan jenis kesalahan dalam mengerjakan soal dan nilai tes remediasi naik. Oleh karena itu, upaya remediasi dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam mengerjakan soal penerapan persamaan linear satu variabel.

  4.3.5 Evaluasi pengajaran remediasi

  Evaluasi pengajaran remediasi dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap guru matematika dan 6 siswa yang mengikuti pengajaran remediasi. Pengambilan subjek pada wawancara siswa, berdasarkan hasil nilai tes remediasi, 3 siswa yang mengalami kenaikan nilai yang besar yaitu S6, S29 dan S34 dan 3 siswa yang mengalami kenaikan nilai remediasi yang standar yaitu S8, S17 dan S16. Secara garis besar wawancara berisi tentang pendapat berkaitan dengan pemahaman setelah mengikuti pengajaran remediasi.

  1. Hasil wawancara dengan guru matematika Berikut ini adalah bukti transkrip wawancara dengan guru matematika:

  P :”Selamat sore Pak”

  G :”Iyaa..Soree...Gimana den?”

  P :”Begini Pak, mau tanya, perihal pengajaran remediasi yang kemarin,,”

  G :”hehm...(Sambil mengangguk)”

  P :”Apakah pendapat bapak perihal pembelajaran remediasi kemarin?”

  G :”Iyaaa... pembelajaran remediasi itu memang yang pertama pengulangan materi...”

  P :”Nggeh...”

  G :”Terus juga, metode, itu juga perlu diganti, untuk perbaikan..”

  P :”Nggeh...Lajeng yen wonten dampak positif nya niku berupa nopo?”

  G :”Dampak positif ya pemahaman anak dengan materi itu lebih baik sehingga bentuk-bentuk soal bervariasi anak bisa mengerjakan... lalu pemahaman anak mengenai pertidaksamaan linear satu variabel menjadi lebih mudah karena konsep persamaan linear satu variabel sudah dikuasai sebagian besar siswa dengan baik

   P

  :”Oooh...nggeh..Terus...” G

  :”Apalagi?” P

  :”Biasanya apakah bapak selalu melaksanakan pengajaran remediasi jika ada lebih dari

  G :”Iyaaa...terkadang...karena mengingat jika pengajaran remediasi selalu dilaksanakan, terkadang materi yang lainnya tidak akan keburu.. ”

  P

:”Hee...Ehmnn rencana bapak selanjutnya?”

  G :”Yaa...itu kalau saya dalam setiap pembelajaran ya itu yang diambil memang pengubahan metode pembelajaran atau mungkin bentuk soal disederhanakan...ya mungkin itu” P

  :”Ooh...nggeh Pak..”

  Berdasarkan hasil dari wawancara dengan guru matematika, diperoleh bahwa pengajaran remediasi memberikan dampak positif bagi siswa, hal ini dibuktikan dengan pemahaman konsep pertidaksamaan linear satu variabel yang dapat diterima dengan mudah oleh sebagaian besar siswa dikarenakan pemahaman konsep dasar persamaan linear satu variabel sudah dikuasai dengan baik. Pemberian metode diskusi kelompok juga sesuai dalam pengajaran remediasi, hal ini dikarenakan pengubahan dan perbaikan metode pembelajaran sebelumnya.

  2. Hasil wawancara dengan beberapa siswa Berikut ini akan dibuktikan hasil transkrip wawancara 2 dari 6 orang siswa yang mengikuti tes remediasi.

  a.

  Bukti transkrip wawancara dengan S17 (kenaikan nilai standar)

  P :”Selamat pagiii ...”

  S17 :”Selamat pagiii buu..”

  P :”Tit.....mau ngobrol-ngobrol nih sebentar”

  S17 :”Iyaa...bu”

  P :”Setelah pembelajaran remediasi kemarin, kamu jadi lebih paham enggak sih?”

  S17 :”Iyaa...paham sekali bu...”

  P :”Yang lebih paham pada bagian mana?”

  S17 :”Yang memodelkan bu sama mencari penyelesaian dari pemodelan..seperti pada soal latihan yang nomor 2 dan 3..”

  P :”Ooh..okee..kamu lebih paham pembelajaran dengan diskusi kelompok gitu atau dijelaskan guru di depan kelas?”

  :”Tambah paham banget...atau tambah aja?” S29

  :”Hehe...iyaa bu..”

  P :”Ooh...okee...asalkan kamu bisa memahami maksud soal dan kamu menguasai konsep,, bentuk soal apapun pasti kamu bisa ngerjain kok” S29

  S29 :”Heee....ya masih agak ragu bu, sama soal yang lebih sulit dari latihan- latihan kemarin”

  P :”Lha yang 10%?”

  S29 :”Sekitar 90% an bu...”

  P :”Berapa sin?”

  S29 :”Yaaa...”

  P :”okee...seberapa persen pemahamanmu mengenai materi ini?”

  S29 :”Iyaa bu...”

  P :”Pemodelan?penyelesaian soal cerita?”

  :”Semuanyaa bu, yang diajarkan pada saat pembelajaran remediasi kemarin, semuanya paham...”

  :”Okeee...sin..bagian materi mana yang kamu mengerti?” S29

  

:”Tambah paham banget bu..”

P

  :”Iyaaa...bu..” P

  S17 :”Lebih paham diskusi bu...soalnya jika mau tanya ke teman itu nggak sungkan buu...”

  P :”Gini ........, setelah pembelajaran remediasi kemarin, kamu jadi tambah paham atau ndak materi penerapan persamaan linear satu variabel?” S29

  S29 :”(mengangguk)”

  P :”Hehehe....ngobrol-ngobrol sama saya..”

  S29 :”Siap...apa bu?”

  P :”Udah siap?”

  S29 :”Iyaaa bu...”

  P :”Halooo..”

  Bukti transkrip wawancara dengan S29 (kenaikan nilai besar)

  :”Iyaa...bu..” b.

  :”Bener nih?” S17

  :”Heee....95% bu...” P

  :”Hayooo....berapa?” S17

  

:”Hhmnn...hehehe...berapa ya?”

P

  P :”Oalaah...yayaya...hemnnn..Setelah pembelajaran remediasi, kira-kira kamu paham materi penerapan persamaan linear satu variabel berapa persen?” S17

  Berdasarkan hasil wawancara dengan 6 siswa diperoleh

  penerapan persamaan linear satu variabel setelah dilaksanakan pengajaran remediasi. Ada 5 siswa yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan diskusi kelompok menjadi lebih asyik dan paham. Dari 6 siswa yang diwawancarai semua menjawab lebih dari 80% siswa menjadi lebih paham setelah mengikuti pengajaran remediasi.

4.4 Keterbatasan dalam Penelitian 1.

  Peneliti kurang mendapatkan informasi tentang penyebab-penyebab kesulitan belajar siswa-siswi kelas VII B SMP Pangudi Luhur Giriwoyo. Hal ini disebabkan karena pertanyaan wawancara kurang dapat menggali jawaban siswa yang spesifik.

  2. Peneliti tidak melakukan uji coba tes diagnostik pada kelas lain yang memiliki kemampuan yang setara, hal ini dimaksudkan untuk memperoleh tingkat kevalidan soal. Peneliti hanya menggunakan uji pakar dan uji keterbacaan soal pada beberapa siswa, untuk memperoleh validitas soal tes diagnostik.

  3. Peneliti melakukan pengajaran remediasi hanya satu kali jam pelajaran (40 menit). Hal ini disebabkan keterbatasan waktu yang diberikan kepada peneliti dalam melaksanakan pengambilan data di sekolah.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

  Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengidentifikasi jenis-jenis kesulitan yang dialami siswa kelas VII B SMP Pangudi Luhur Giriwoyo dalam mengerjakan soal-soal penerapan persamaan linear satu variabel dan upaya remediasinya.

  1. Jenis-jenis kesulitan belajar yang dihadapi siswa dapat diketahui melalui tes diagnostik dan wawancara, yaitu sebagai berikut: a.

  Kesulitan memahami maksud soal Siswa mengalami kesulitan dalam menuliskan hal yang ditanya atau diketahui dalam soal. Hal ini dibuktikan pada saat mengerjakan tes diagnostik, sebanyak 15,15% dan 48,49% siswa secara berurutan, melakukan kesalahan dalam menuliskan hal yang ditanya atau diketahui pada soal nomor 1 dan 3.

  b.

  Kesulitan dalam membuat model matematika Siswa mengalami kesulitan dalam mengubah informasi soal ke dalam model matematika. Hal ini dibuktikan pada saat mengerjakan tes diagnostik, sebanyak 90,01% siswa dan 93,94% siswa secara berurutan mengalami kesalahan pada soal nomor 1 dan nomor 3. c.

  Kesulitan dalam keterampilan proses Siswa mengalami kesulitan dalam melakukan operasi-operasi penyelesaian. Hal ini dibuktikan dengan kesalahan dalam menjumlahkan variabel dengan bilangan, kesalahan dalam mensubstitusi nilai ke persamaan dan kesalahan dalam operasi (penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian) bilangan.

2. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar siswa sebagai berikut: a.

  Faktor Internal Faktor internal penyebab kesulitan belajar, meliputi:

  1) Faktor internal dari aspek emosional yaitu, siswa kurang berani mengemukakan pendapat, kurang termotivasi dalam belajar.

  2) Faktor internal dari aspek sikap yaitu siswa kurang aktif bertanya, siswa kurang memperhatikan guru, siswa kurang aktif dalam memecahkan masalah, siswa kurang dapat menjawab pertanyaan dengan tepat, cara belajar siswa yang kurang tepat, materi yang dianggap sulit (memodelkan atau menyelesaikan persamaan) dan ada konsep materi yang lupa.

  b.

  Faktor Eksternal Faktor Eksternal penyebab kesulitan belajar, meliputi:

  1) Hubungan dengan teman sekelas yang kurang harmonis termasuk hubungan individu dengan individu maupun individu dengan kelompok.

2) Suasana kelas yang kurang kondusif.

  3. Upaya remediasi dilakukan melalui diskusi kelompok. Untuk melihat adanya pengaruh upaya remediasi maka dilakukan tes remediasi. Dari hasil nilai tes remediasi, diperoleh sebanyak 16 siswa dari 23 siswa yang tuntas dalam mengerjakan tes. Kriteria keberhasilan siswa dalam mengikuti tes remediasi adalah dengan memperoleh nilai . Ada sebanyak siswa yang tuntas mengikuti tes remediasi. Sedangkan melalui perbaikan dari jumlah jenis kesalahan, diperoleh sebanyak 23 siswa. Sehingga dapat dikatakan, dari segi pengaruh upaya remediasi yang telah dilaksanakan, mampu mengatasi kesulitan belajar siswa dalam pokok bahasan penerapan persamaan linear satu variabel.

5.2 Saran

  Beberapa saran yang dapat disampaikan guna meningkatkan kemampuan pendidikan dalam bidang matematika berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Kegiatan analisis kesulitan belajar dan pengajaran remediasi perlu dilakukan oleh guru guna memperbaiki kesulitan belajar siswa.

  2. Dalam melaksanakan pengajaran remediasi, pertemuan dan alokasi waktu harus ditambah, guna mengoptimalkan perbaikan tingkat pemahaman siswa.

3. Dalam mempersiapkan tes diagnostik, uji validasi perlu dilakukan pada kelas lain yang setara, guna memperoleh tingkat validitas soal yang baik.

  

DAFTAR PUSTAKA

Abin Syamsudin Makmun. 1996. Psikologi Kependidikan. Bandung: Rosdakarya.

  Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Adinawan Cholik dan Sugijono. 2005. Matematika untuk SMP/ MTs kelas VII.

  Jakarta: Erlangga. Akbar Sutawijaya. 1992. Pendidikan Matematika III. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

  Anton dan Rorres. 2004. Aljabar Linear Elementer. Jakarta: Erlangga. Aunurrahman. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Bana Kartosasmito dkk. 1988. Kamus Matematika. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

  Cholid Narbuko. 2007. Metode Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara. Dalyono,M. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Dimyati dan Mudjiono. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Djemari Mardapi. 2008. Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes. Yogyakarta: Mitra Cendikia.

  Errick Pradika, Leonardo. 2012. Analisis Kesalahan Siswa Kelas VIII I SMPN 1

  Karanganyar dalam Mengerjakan Soal pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar serta Upaya Remediasinya dengan Media Bantu Program Cabri

  Jurnal Ilmiah Universitas Sanata Dharma.

  3D.

  Fakhrul Jamal. 2014. Analisis Kesulitan Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran

  Matematika pada Materi Peluang Kelas XI IPA Sma Muhammadiyah Meulaboh Johan Pahlawan . Jurnal Ilmiah STKIP Bina Bangsa Meulaboh.

  Imam Gunawan. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara. Karush, William. 1989. Dictionary Of Mathematics.

  New York: Webster’s New World. Koestoer Partowisastro dan Hadisuparto. 1984.Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Makmun Khairani. 2014. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Aswaja Pressindo. Margono. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Marsigit. 2009. Matematika SMP Kelas VII. Anggota Ikapi: Yudhistira. M.Entang. 1984. Diagnosis Kesulitan Belajar. Jakarta : Departemen Pendidikan dan

  Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Mulyono Abdurrahman. 2012. Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Nana Sudjana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Negoro, St. dan B. Harahap. 2010. Ensiklopedia Matematika. Anggota IKAPI. Ngalim Purwanto. 2009. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nusa Putra. 2012. Metode Penelitian Kualitatif Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Oemar Hamalik. 2013. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Rochman Natawijaya. 1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Polya, George. 1981. Mathematical Discovery. New York: John Willey. Purwanto. 2009. Evaluasi hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ruseffendi. 1990. Pengajaran Matematika Modern dan Masa Kini. Bandung: Tarsito. Sarwiji Suwandi. 2010. Model Assesmen dalam Pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka. Septi Puspitawati, Vincentia. 2013. Diagnosis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan

  Soal-soal Aturan Sinus Kosinus dan Luas Segitiga Serta Upaya Remedialnya Kelas X Sang Timur Yogyakarta . Skripsi Universitas Sanata Dharma

  Yogyakarta. Singh, P., Rahman, A.A. Sian Hoon, T. 2010. The Newman Procedure for Analizing

  Primary Four Pupils Erors on Written Mathematical Task. A Malaysian

  Research 2010 (ICMER 2010) Procedia Social and Behavioral Sciences 8 (2010) 264-271. Shah Alam University Technology MARA.

  Siregar, Eveline dan Hartini Nara. 2011. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia. Slameto. 2010. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta. Soedjadi, R. 2000. Kiat-kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Depdiknas. Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Administratif. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. 2010. Metode penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D . Bandung : Alfabeta. Sugiyono. 2014. Kesalahan Prosedur Newman Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama Pacitan . Jurnal Ilmiah STKIP PGRI Ngawi. Suharsimi, Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Sukino dan Wilson Simangunsong. 2006. Matematika untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Erlangga. Suyoto dan Haryanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset. Tampomas, Husein. 2007. Matematika Plus 1A. Jakarta: Yudhistira. Thulus Hidayat. 1984. Masalah Belajar dan Bimbingan. Jakarta: Universitas Sebelas Maret Surakarta. Ungky Pawestri. 2013. Analisis Kesulitan Pembelajaran Matematika dengan

  Pengantar Bahasa Inggris pada Materi Pokok Bentuk Logaritma Kelas X Imersi SMA Negeri Karangpandan Karanganyar 2012/2013 . Jurnal Ilmiah

FKIP UNS.

  Zainal Mustafa E Q. 2009. Mengurai Variabel hingga Instrumentasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

   diakses pada tanggal 15 Juli 2015.

diakses pada

  144

  Lampiran A.1

  145

  146

  147

  148

  149

  150

  Lampiran A.2 TES DIAGNOSTIK 1.

  Dona mempunyai ayam sebanyak ekor. Sedangkan Susi mempunyai ayam dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona. Buatlah model matematika dari banyaknya ayam Susi! 2. Sebuah segitiga memiliki panjang sisi – sisi sebagai berikut . Sedangkan, memiliki panjang keliling .

  Jika diketahui dalam model matematikanya, yaitu . Maka, tentukan panjang sisi terpendeknya!

  3. lebih dari berat Rita. Sedangkan berat badan Rita Berat badan Bima adalah . Jika jumlah berat badan mereka adalah . Hitunglah berat badan Bima!

RUBRIK PENILAIAN TES DIAGNOSTIK

1. Dona mempunyai ayam sebanyak ekor.

  Model matematika kurang tepat.

  Siswa menuliskan dengan tepat salah satu aspek yaitu : hal yang diketahui dalam soal.

  1 a.

  Siswa menuliskan model matematika yang kurang tepat.

  Atau a. Siswa menuliskan dengan tepat salah satu aspek yaitu : hal yang diketahui dalam soal. hal yang ditanyakan dalam soal b.

  Siswa tidak menuliskan model matematika.

  c.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  2 a.

  152

  Lampiran A.3

  Apa yang ditanya dengan tepat.

  b.

  Apa yang diketahui dengan tepat.

  3 Siswa dapat memahami soal cerita. Dengan menuliskan: a.

  Apa yang ditanya c. Model matematika

  Apa yang diketahui b.

  5 Siswa dapat memahami soal cerita. Dengan menuliskan dengan tepat: a.

  Banyaknya ayam Susi dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona maka pemodelannya yaitu

  (Diketahui)

  Diketahui: Banyaknya ayam Dona : Banyaknya ayam Susi dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona Tanya: Model matematika dari banyaknya ayam Susi! Jawab: Banyaknya ayam Dona adalah

  Sedangkan Susi mempunyai ayam dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona. Buatlah model matematika dari banyaknya ayam Susi!

  No Soal Jawaban Bobot Skor Rubrik

  c. hal yang ditanyakan dalam soal b.

  Siswa tidak menuliskan model matematika.

  Atau a. Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan kurang tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan kurang tepat.

  c.

  Siswa menuliskan model matematika dengan kurang tepat.

  Soal tidak dikerjakan.

  Atau a. Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan kurang tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan kurang tepat.

  c.

  Siswa tidak menuliskan model matematika.

2. Sebuah segitiga memiliki Diketahui:

  10 Siswa dapat memahami soal cerita. Dengan panjang sisi Sisi menuliskan dengan tepat:

  • – sisi sebagai – sisi segitiga : berikut a.

  Apa yang diketahui b. Panjang keliling : .

  Apa yang ditanya Model Matematika : c. . Sedangkan,

  Penyelesaian dalam soal d. memiliki panjang keliling

  Jawaban akhir

  9 Siswa dapat memahami soal cerita. Dengan . Jika diketahui dalam model Tanya : menuliskan: a. matematikanya, yaitu Panjang sisi terpendek segitiga! Dengan tepat salah satu aspek yaitu: hal yang diketahui dalam . Maka, Jawab : soal. . tentukan panjang sisi hal yang ditanyakan dalam terpendeknya! soal b. Penyelesaian (langkah – langkah menemukan jawaban dengan

  153

  154

  Penyelesaian atau tahap – tahap dalam menghitung tepat c.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dan ditanyakan dengan tepat.

  6 a.

  Jawaban akhir tepat.

  c.

  Penyelesaian atau tahap – tahap dalam menghitung tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dan ditanya dari soal kurang tepat.

  Jawaban akhir kurang tepat Atau a.

  Dengan tepat salah satu aspek yaitu: hal yang diketahui dalam soal. hal yang ditanyakan dalam soal b.

  Mensubstitusi nilai x a.

  8 Siswa dapat memahami soal cerita. Dengan menuliskan: a.

  Penyelesaian (langkah – langkah menemukan jawaban dengan menghitung) dengan tepat d. Jawaban akhir kurang tepat.

  c.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  Jawaban akhir dengan tepat Atau a.

  d. Jadi, sisi terpendeknya adalah menghitung) dengan tepat c.

  c.

  b.

  Dalam penyelesaian ada tahap – tahap dalam perhitungan yang kurang tepat. Jawaban akhir tepat (Langsung jawaban) Atau

  c.

  4 a.

  Siswa tidak menuliskan tahap – tahap atau langkah

  b.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dan ditanya dengan tepat.

  3 a.

  Jawaban akhir tepat.

  c.

  Dalam penyelesaian semua tahap – tahap dalam perhitungan kurang tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dan ditanya dengan tepat.

  Jawaban akhir kurang tepat.

  155 c.

  c.

  Dalam penyelesaian ada tahap – tahap dalam perhitungan yang kurang tepat.

  b.

  Atau a. Siswa menuliskan hal yang diketahui dan ditanyakan dengan tepat.

  Jawaban akhir tepat.

  c.

  Dalam penyelesaian ada tahap – tahap dalam perhitungan yang kurang tepat.

  Siswa menuliskan dengan tepat salah satu aspek yaitu: hal yang diketahui dalam soal. hal yang ditanyakan dalam soal b.

  5 a.

  Jawaban akhir tepat.

  • – langkah dalam penyelesaian.

  156 a.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dan ditanya dengan tepat.

  b.

  Dalam penyelesaian semua tahap – tahap dalam perhitungan kurang tepat.

  c.

  Jawaban akhir kurang tepat.

  Atau a. Siswa menuliskan dengan tepat salah satu aspek yaitu: hal yang diketahui dalam soal. hal yang ditanyakan dalam soal b.

  Dalam penyelesaian semua langkah tidak tepat c. jawaban akhir tepat.

  2 a.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dan hal yang ditanya dengan tepat.

  b.

  Siswa tidak menuliskan penyelesaian dan jawaban.

  Atau a. Siswa menuliskan dengan tepat salah satu aspek yaitu: hal yang diketahui dalam soal. hal yang ditanyakan dalam soal b.

  Siswa tidak menuliskan langkah – langkah dalam penyelesaian c.

  Jawaban akhir benar (langsung jawaban benar)

  1 a.

  Siswa menuliskan dengan tepat salah satu aspek yaitu: hal yang diketahui dalam soal. hal yang ditanyakan dalam soal b.

  Tidak menuliskan penyelesaian dan jawaban Atau 1. Siswa tidak menuliskan hal yang diketahui dan ditanya

  2. Siswa tidak menuliskan penyelesaian.

  3. Siswa menuliskan langsung jawaban yang tepat.

  a.

  Siswa tidak menuliskan hal yang

  • – diketahui, ditanya dan langkah langkah penyelesaian dalam soal tetapi langsung menulis jawaban yang tidak tepat.

  Atau Siswa tidak mengerjakan soal.

3. Berat badan Bima Diketahui :

  15 a.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui lebih dari berat Rita. Berat badan Rita : dengan tepat. Sedangkan berat badan Rita Berat badan Bima lebih dari berat badan b.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat. adalah . Jika jumlah Rita berat badan mereka adalah Jumlah berat badan mereka adalah c.

  Siswa menuliskan model matematika dengan tepat. . Hitunglah berat Tanya : badan Bima! Berat badan Bima.

  d.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan tepat.

  Jawab : Model matematika dari berat badan Bima e.

  Siswa menuliskan jawaban akhir dengan tepat.

  157

  • – tahap perhitungan) dengan tepat.

  d.

  e.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan ada langkah yang kurang tepat dalam melakukan hitungan.

  d.

  Siswa menuliskan model matematika dengan tepat.

  c.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  12 a.

  Siswa menuliskan penyelesaian tepat e. Siswa menuliskan jawaban akhir dengan kurang tepat

  Siswa menuliskan model matematika dengan tepat.

  158

  c.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  b.

  Atau a. Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  Siswa menuliskan jawaban akhir dengan tepat.

  d.

  Siswa menuliskan penyelesaian (tahap

  Siswa menuliskan model matematika dengan tepat c.

  Siswa menuliskan dengan tepat salah satu aspek yaitu: hal yang diketahui dalam soal. hal yang ditanyakan dalam soal b.

  14 a.

  Maka, Jadi berat badan Bima adalah tahun.

  Siswa menuliskan jawaban akhir dengan tepat.

  11 a.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  c.

  Siswa menuliskan model matematika dengan kurang tepat d.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan tepat (dalam melakukan hitungan) e. Siswa menuliskan jawaban akhir dengan tepat.

  Atau a. Siswa menuliskan dengan tepat salah satu aspek yaitu: hal yang diketahui dalam soal. hal yang ditanyakan dalam soal b.

  Siswa menuliskan model matematika dengan tepat.

  c.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan kurang tepat (semua langkah kurang tepat dalam melakukan hitungan) d.

  Siswa menuliskan jawaban akhir dengan tepat 10 a.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  c.

  Siswa menuliskan model matematika dengan tepat.

  d.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan kurang tepat (semua langkah

  159 kurang tepat dalam melakukan hitungan) e.

  Siswa menuliskan jawaban akhir dengan tepat Atau a. Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  c.

  Siswa menuliskan model matematika dengan kurang tepat d.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan tepat (dalam melakukan hitungan) e. Siswa menuliskan jawaban akhir dengan kurang tepat.

  9 a.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  c.

  Siswa menuliskan model matematika dengan tepat.

  d.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan kurang tepat (semua langkah kurang tepat dalam melakukan hitungan) e. jawaban akhir kurang tepat Atau a.

  Siswa menuliskan dengan tepat salah satu aspek yaitu: hal yang diketahui dalam soal. hal yang ditanyakan dalam

  160 soal b. Siswa menuliskan model matematika dengan tepat.

  c.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan kurang tepat (semua langkah kurang tepat dalam melakukan hitungan) d.

  Siswa tidak menuliskan jawaban akhir 8 a.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  c.

  Siswa menuliskan model matematika dengan tepat.

  d.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan kurang tepat (semua langkah kurang tepat dalam melakukan hitungan) e.

  Siswa tidak menuliskan jawaban akhir.

  Atau a. Siswa menuliskan salah satu dengan tepat: hal yang diketahui hal yang ditanya b.

  Siswa menuliskan model matematika dengan tepat.

  c.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan kurang tepat (semua langkah kurang tepat dalam melakukan hitungan) d. jawaban akhir kurang tepat

  161

  162

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  c.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  Siswa menuliskan jawaban akhir dengan kurang tepat Atau a. Siswa menuliskan salah satu dengan tepat: hal yang diketahui hal yang ditanya b.

  e.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan ada langkah yang kurang tepat dalam melakukan hitungan.

  d.

  Siswa menuliskan model matematika dengan kurang tepat.

  c.

  b.

  Atau a. Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  Siswa menuliskan jawaban akhir tepat 7 a.

  e.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan ada langkah yang kurang tepat dalam melakukan hitungan.

  d.

  Siswa menuliskan model matematika dengan kurang tepat.

  c.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  b.

  Siswa menuliskan model matematika dengan kurang tepat.

  163 d.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  d.

  Siswa menuliskan model matematika dengan kurang tepat.

  c.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  Siswa menuliskan jawaban akhir dengan kurang tepat 4 a.

  e.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan semua langkah kurang tepat dalam hitungan.

  d.

  Siswa menuliskan model matematika dengan kurang tepat.

  c.

  b.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan ada langkah yang kurang tepat dalam melakukan hitungan.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  5 a.

  Siswa tidak menuliskan jawaban akhir.

  e.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan ada langkah yang kurang tepat dalam melakukan hitungan.

  d.

  Siswa menuliskan model matematika dengan kurang tepat.

  c.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  Siswa menuliskan jawaban akhir dengan tepat 6 a.

  e.

  Siswa menuliskan penyelesaian dengan semua langkah kurang tepat

  164 dalam hitungan.

  c.

  e.

  Siswa tidak menuliskan penyelesaian.

  Siswa tidak menuliskan model matematika d.

  c.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  b.

  Atau a. Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  Tidak menuliskan jawaban akhir.

  e.

  Penyelesaian tidak dikerjakan.

  d.

  Siswa menuliskan model matematika dengan kurang tepat.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  e.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  3 a.

  Siswa menuliskan jawaban akhir tetapi salah.

  e.

  Penyelesaian tidak dikerjakan.

  d.

  Siswa menuliskan model matematika dengan kurang tepat.

  c.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  b.

  Atau a. Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  Siswa menuliskan jawaban akhir kurang tepat.

  Siswa menuliskan jawaban akhir yang kurang tepat.

  165

  d.

  d.

  Siswa tidak menuliskan penyelesaian.

  c.

  Siswa tidak menuliskan hal yang ditanya.

  b.

  Siswa tidak menuliskan hal yang diketahui.

  Siswa menuliskan model diketahui, ditanya, model dan penyelesaian tidak dikerjakan, Langsung menulis jawaban akhir (benar) a.

  c.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  1 a.

  Siswa menuliskan jawaban akhir dengan tepat.

  Siswa tidak menuliskan penyelesaian.

  2 a.

  c.

  Siswa tidak menuliskan hal yang ditanya.

  b.

  Atau a. Siswa tidak menuliskan hal yang diketahui.

  Siswa tidak menuliskan jawaban akhir.

  e.

  Siswa tidak menuliskan penyelesaian.

  d.

  Siswa tidak menuliskan model matematika.

  c.

  Siswa menuliskan hal yang ditanya dengan tepat.

  b.

  Siswa menuliskan hal yang diketahui dengan tepat.

  Siswa menuliskan jawaban akhir yang salah (Langsung jawaban tanpa penyelesaian).

  166

  Atau Siswa tidak mengerjakan soal.

  Lampiran A.4

TES REMEDIASI

  Nama : Nomor Absen :

  Jawablah soal berikut dengan jujur, runtut dan teliti! 1.

  . Sedangkan panjang nya adalah Suatu persegi panjang memiliki lebar dua kali lebarnya. Buatlah model matematika dari panjang persegi tersebut!

2. Sebuah segitiga memiliki panjang sisi – sisi sebagai berikut

  . Dan, memiliki panjang keliling . Jika diketahui dalam model matematikanya, yaitu . Maka, tentukan panjang sisi terpendeknya! 3. Umur Adik adalah tahun. Sedangkan umur kakak adalah tahun lebih tua dari umur Adik. Jika jumlah umur mereka adalah tahun. Tentukan umur

  Adik!

  Lampiran B.1

  169

  Lampiran B.2

  170

  Lampiran B.3

  171

  172

  Lampiran C.1

  173

  174

  175

  176

  177

  178

  Lampiran C.2

  179

  180

  181

  182

  Lampiran C.3

  183

  184

  185

  186

  187

  188

  189

  190

  Lampiran C.4 Transkrip Wawancara S1

  pemodelan untuk apa?”

  menunjuk diganti 3 hasilnya berapa?”

  S1 :”6” P

  :”iya, 6, oke paham, bukan menjadi 9 ya?”

  S1

  :”iya bu”

  P

  :”oke yang nomor tiga, ini (sambil menunjuk) yang diketahui dan ditanyakan sudah tepat,

  Cuma pemodelannya yang kurang tepat, oke mau tanya , ini (sambil menunjuk)

  S1 :”Jumlah keduanya, ayam Bima dan Rita” P

  :”oke, dalam persamaan ini kan (sambil menunjuk) tanda penghubungnya adalah

  :”Nah ayo di cek dulu. Dari soal ini kan (sambil menunjuk soal nomor tiga), berat badan

  Bima lima kilo lebih berat dari Rita, sedangkan berat badan Rita adalah kilo. Gimana? Berarti berat badan Rita sama dengan dan berat badan Bima?” S1

  : “

  P :” Paham? Nah berarti dalam pemodelanmu tersebut, dalam persamaan kurang dijumlah variabel S1

  :”oke, sudah”(sudah berdiri)

  P :”beluuum”(sambil tertawa) S1

  :”hehehe”

  P :”Materi penerapan persamaan linear satu variabel sulit enggak?” S1

  penjumlahan, maka jika disubstitusi pun penghubungnya tetap penjumlahan bukan perkalian ya misalnya, selanjutnya kita akan menstitusikan ke dalam persamaan, maka sambil

  S1 :”Hmmmn” P

  S1 :”Bu” P

  :”Sulit mengerjakannya”

  :”Oh iya, A..... T.., ya”

  S1 :”Nggeh” P

  :”Oke, kemarin kan sudah mengerjakan tes diagnostik, dari soal nomor satu, dua dan tiga (Sambil menunjuk) yang paling sulit mana?”

  S1

  :”Dua”

  P :”Dua, oke nomor dua, alasannya apa?” S1

  :”Susah”

  P :”Susahnya karena apa?” S1

  P :”Oke, yaudah, lanjut yang nomor satu, ini yang dimaksud y itu apa (sambil menunjuk jawaban)? S1 :”Y” P

  ?”

  :”iya yang ini”

  S1 :”Jumlah ayam Dona” P

  :”oke, oke, lalu untuk soal yang nomor dua itu, kamu yang diketahui dan yang ditanyakan

  sudah tepat, selanjutnya saya mau tanya, ini kok bisa (Sambil menunjuk) dari mana? S1 :”Ngawur” P

  :”ngawur?”

  S1 :”Iya bu” P

  :” Selanjutnya,kan persamaannya

   kenapa setelah disubstitusi menjadi

  :”Sulit”

  S1 :”Ehmmmn...Menyelesaikan dari suatu pemodelan” P

  S2 :”Semuanya” (sambil tertawa) P

  P :”Pemodelan? Oke sip. Makasih ya. Nanti kamu tolong panggilkan yang nomor absen 2 ya,

  Terimakasih”

  S1 :”Nggih.....”

  Transkrip Wawancara S2

  P :

  ”........... ya?, oke silahkan duduk”

  S2 :”Iya bu” P

  :”oke, dari soal nomor satu, dua dan tiga yang paling sulit yang mana?”

  S2 :”ehmnn...” P

  :”Coba dilihat lagi?”

  :”hayo dilihat lagi”

   karena saya yakin benar, apa yang

  S2 :”Nomor satu” P

  :”Berarti yang memodelkan?”

  S2 :”iyaa...” P

  :”okee, mau tanya yang nomor satu ini kenapa kok kamu bisa menjawab dari mana?”

  S2

  :” nya dari ekor dua nya dari dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona”

  P :”Nah begini, kan yang diketahui banyaknya ayam Dona sebanyak dan banyak nya ayam Susi adalah dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona, berarti gimana? Kalau ayam Dona tadi berarti banyak

  nya ayam Susi?”

  S2

  :”e...ehmnn”

  P

  membuatmu yakin benar?” S1 :” Pemodelan yang ini (sambil menunjuk)”

  :”Oke, yaya. Selanjutnya yang ketiga kenapa bisa

  :”Nah, kalau dikelas itu, paham enggak apa yang dijelaskan guru?”

  :”iya, baik”

  S1 :”Ehmnnn” P

  :”jujur saja”(sambil tersenyum)

  S1 :” ”Kadang paham, kadang tidak” P

  :”Terus misalnya kamu dapat nilai jelek, nah kalau dirumah itu, bapak ibu suka komentar enggak?”

  S1

  :”Tidak”

  P :”Berarti terserah kamu mau dapet nilai berapa gitu?” S1

  :”hehehehe”

  P :”okeoke. Di suruh belajar ndak kalau dirumah?” S1

  :”Iya”

  P :”terus hubungan mu dengan keluargamu gimana?” S1

  P :”Sama teman – teman sekelas?” S1

  P

  :”Baik”

  P :” Selanjutnya, dari angket, kok kamu bisa menjawab karena saya sangat lumayan

  yakin, yang membuat kamu yakin benar pada jawabanmu apa?”

  S1

  :”ehmnn”

  P

  :”atau Cuma ngawur ngisinya?(Sambil tertawa)

  S1 :”hehehhe” P

  :”Yaudah, selanjutnya yang nomor dua kok bisa 30% karena saya tidak yakin yang membuat

  tidak ya kin yang mana, yang ini (sambil menunjuk)?” S1

  :”Enggih”

  :”Nah berarti banyaknya ayam Dona dikurangi dua jadi pemodelannya adalah Paham?“

  P :”oke terus yang nomor dua, kok bisa dapat darimana?” S2

  :”Agak sulit”

  :”Nah diketahui bahwa jumlah berat badan mereka adalah

   kilo jadi berat badan Rita

  ditambah berat badan Bima jadi? Lima ditambah x ditambah x sama dengan?”

  S2

  :” Seratus lima“

  P :”Paham?” S2

  :”eeehhmmm”

  P :”Bingung?” S2

  :”hehe”

  P :”Oke, besok dijelasin lagi. Ini mau tanya menurutmu materi ini sulit ndak?” S2

  P :”oke, yang sulit pada bagian apa?” S2

  :” “

  :”Yang menyelesaikan”

  P :”oke, kalau di kelas itu paham enggak apa yang dijelaskan Guru?” S2

  :”Agak paham”

  P :”Banyak enggaknya atau banyak pahamnya?” S2

  :”hehehe...banyak enggaknya”

  P :”okeee. Kalau kamu dapat nilai jelek, bapak ibu ssuka komentar enggak?” S2

  :”Komentar”

  P :”Oooh...okee. Kalau dirumah sering belajar enggak?” S2

  :”Kadang – kadang”

  P :”Bapak ibu suka nyuruh belajar?” S2

  P

  Rita, Berat Rita tadi apa? x kan? Jadi ber at badan Bima adalah 5 ditambah?” S2

  :”Ini tambah ini tambah ini (sambil menunjuk jawaban siswa)”

  P :”Oooh...oke, begini, misalnya ya , hasilnya berapa? ? S2

  P

  :”Nah masih ingat enggak, bahwa variabel jika dijumlahkan dengan suatu bilangan hasilnya

  tetap ya, maksudnya begini, kita ambil contoh pada soal jika tidak jadi tetapi tetap kecuali jika maka hasilnya adalah , Paham? Nah, selanjutnya bisa dapat

  darimana?”

  S2

  : “Ehmnn....dari....ini (sambil menunjuk)

  P

  :”Kok bisa?”

  S2

  :”Ini tambah ini, ini tambah ini..”

  :”iya (sambil menganguk)”

  :”nah berat badan Rita kan tadi nah berat badan Bima, apa? Lima kilo lebih dari berat

  P

  :”Begini ya, ingat ya cara bersusun (sambil menjelaskan dengan tulisan tangan)

   , maka ingat kalau bersusun komanya harus sejajar jadi hasilnya adalah , maka jika hasilnya adalah

  . Paham ?” S2 :”Iya...”

  P :”Selanjutnya ini kan persamaannya adalah bukan menjadi ya? Ingat kalau dalam persamaan tanda penhubungnya adalah tambah maka hasilnya tetap yaitu , kecuali kalau tandanya perkalian akan menjadi , Paham? S2 :” yaa...” P

  :”Terus ini yang nomor tiga, kok ngerjainnya belum selesai?”

  S2 :”Gak keburu, hehehe” P

  :”Nah ini kok kamu bisa menjawab pemodelannya ?” S2 :” ehmnnn... “

  P :” Nah, dibaca lagi itu adalah jumlah dari berat badan Bima dan Rita, sedangkan berat badan Rita adalah kg dan berat badan Bima adalah lima kilogram lebih dari berat Rita berarti dapat dikatakan pemodelannya yaitu

  , bingung?“

  S2 :”eh....” P

  :” Iyaa...”

  S2 :”Baik..” P

  S3 :”Udah..” P

  S3 :”(Mengangguk)” P

  :”Nah, sedangkan Susi mempunyai ayam dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona. Nah, banyaknya ayam Dona tadi apa?”

  S3

  :”x”

  P :”Nah, dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona. Jadi dimodelkan apa, Ayam Susi sama

  dengan?”

  S3 :”...x dikurangi dua” P

  :”Iyaa...Udah paham?”

  :”Yang nomor dua, kamu udah benar...Sip..Yang nomor tiga, nah ini yang berat badan Bima

  P :”Ooh...okee..sebenarnya ini pemodelannya kurang tepat ya, Gini, Dona mempunyai ayam

  itu, apakah lima kilo?(Sambil menunj uk jawaban) Coba dibaca lagi? Coba dibaca lagi” S3

  :”(Membaca Soal)”

  P :”Nah...lima kilo dari berat Rita kan?” S3

  :”Hem...”

  P :”Nah ini pemodelannya yang kurang tepat (Sambil menunjuk) Sebenarnya ini itu Pemodelan untuk berat badan Bima. Nah kalau x nya

  itu berat badan Ri...?”

  S3 :”....ta” P

  :”Kalau berat badan keduanya kan x ditambah x ditambah lima sama dengan seratus li...”

  S3 :”ma..” P

  sebanyak x ekor ya kan?”

  :”Dari ini (sambil menunjuk)”

  :”Okee sip. Sekarang mau tanya ini, kok pada angket nomor satu kamu bisa menjawab 65 %

  :”Iyaa bu”

  karena saya agak bisa? S2

  :”(Diam sejenak)”

  P :”Hayoo apa? kan tadi kamu bilang kalau soal ini yang paling sulit?” S2

  :”ehmnnn”

  P :”Okee ndak tahu gapapa. Terus yang nomor dua kok kamu bisa menjawab 80 %? S2

  :”Yang membuat saya agak yakin itu pada jawaban empat x ditambah enam..”

  P :”Terus yang membuat kamu bisa menjawab 50 % pada nomor tiga itu karena apa?” S2 :”karena jawabnya belum selesai”. P :”Okee lanjut yang tadi pada nomor satu kok kamu bisa menjawab 65% darimana?” S2

  :”karena agak ragu yang ini pemodelannya (sambil menunjuk)”

  P :”Okee sip makasih ya ....” S2

  P :”Nanti tolong dipanggilkan absen selanjutnya ya?” S2

  P :”Hayooo gimana?” S3

  :”Nggeh bu” Transkrip Wawancara S3

  P :”Tit........ ya?” S3

  :”iya”

  P :”Ehmnn gini, kan kemarin udah ngerjain to, soal dari nomor satu, dua sama tiga. Nah soal

  yang paling sulit yang mana?”

  S3 :”Nomor satu” P

  

:”Nomor satu?okee...Selanjutnya, kamu kok bisa jawab modelnya x sama dengan dua

dikurangi x dari mana?”

  S3

  :”(Diam sejenak)”

  :”Okee...mau tanya lagi, menurutmu materi ini sulit gak?”

  P :”Jujur aja kalau bilang sulit...hehehe” S3

  :” semuanya“

  S3 :”Iyaaa...”

  Transkrip wawancara S5

  P

  :”Tit...........ya? “

  S5 :” Iyaa bu“ P

  :” duduk dulu“

  S5 :” iyaa bu“ P

  

:” mau tanya, dari soal nomor satu, nomor dua dan nomor tiga yang paling sulit yang

mana?“

  S5

  P :” yang paling sulit?“ S5

  S3 :”Baik” P

  :” sek sek..., nomor tiga“

  P :”nomor tiga yang sulit?” S5

  :”he’eh”

  P :”okeoke, selanjutnya mau tanya yang nomor satu ini kok kamu bisa jawab x sama dengan dua kali

  x, dari mana?/”

  S5 :”Ngawur...” P

  :”Ngawur? Kok bisa ngawur? Atau gak paham pertanyaannya atau gimana?”

  S5 :”(senyam senyum)” P

  :”Nah kan yang diketahui, dona mempunyai ayam sebanyak x ekor “

  S5 :”nggih” P

  :”Okee... makasih......., nanti tolong panggilkan nomor absen empat belas ya.. Makasih”

  :” Sama orang tua?”

  :”Yaa....sulit”

  S3 :”iyaa...(Mengangguk)” P

  P :”Sulit, Okee...Yang paling sulit yang bagian apa?” S3

  :”Yang menentukan model matematika”

  P :”Yang memodelkan...okee...Terus kalau di kelas kamu paham ndak yang dijelaskan Guru?” S3

  :”Yaa...Paham..”

  P :”Paham? Kalau sampai di rumah paham? S3

  :”Paham (Mengangguk)”

  P :”Paham...okee...Eeem...gini misalnya kamu dapat nilai jelek terus bapak ibu gimana

  komentarnya? Komentar atau gak?”

  S3 :”Enggak” P

  :”Suka disuruh belajar ndak sama bapak ibu?”

  :”terus kamu belajar?”

  S3 :”Baik” P

  S3 :”Belajar” P

  :”Misalnya hari ini ada matematika gitu, kamu malemnya belajar ndak?”

  S3 :”Belajar” P

  :”Bener?”

  S3 :”Iyaa..” P

  :”Sering?”

  S3 :”Sering” P

  :”Selalu?”

  S3 :”yaa...” P

  :”Okee...Terus gimana hub dg teman sekelas?

  

:”sedangkan susi mempunyai ayam dua ekor kurang dari banyaknya ayam dona, nah

  S5 :”x” P

  :”memodelkan”

  P :”Terus ini (sambil menunjuk) kamu menuliskan 70 % itu darimana?” S5

  :”dari ini bu, saya agak yakin jawabannya ini (sambil menunjuk)”

  P :”Okee, terus yang nomor tiga itu kok kamu bisa jawab 50 % itu darimana?” S5

  :”sedikit bingung”

  P :”Yang buat bingung?” S5

  :”Cara ngawur saya, saya masih ragu dengan cara ngawur saya”

  P :” Terus mau tanya lagi, e... menurutmu materi ini sulit ndak?” S5

  :”Sulit”

  P :”Sulit, okee..pada bagian materi mana yang sulit?” S5

  P :”terus kalau di kelas itu paham enggak apa yang dijelaskan guru?” S5

  P :”nah ini jawabannya udah bener tapi prosesnya kurang tepat yaa” S5

  :”agak bingung”

  P :”banyak bingungnya atau enggaknya?” S5

  :”banyak bingungnya”

  P :”kalau seumpama kamu dapat nilai jelek, dirumah bapak ibu suka komentar engak?” S5

  :”banyak komentar ”

  P :”Selalu?” S5

  :”selalu”

  P :”okee, kalau dirumah itu kamu sering belajar ndak?” S5

  :”enggak”

  P :”terus hubunganmu sama bapak ibu, sama teman teman itu gimana?” S5

  :”iyaa”

  :”nggeh”

  :”berarti gimana pemodelan dari banyaknya ayam Susi?”

  P :”ya, enggaklah” S5

  S5 :”(senyam – senyum)” P

  :”Nah dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona, berarti? X dikurangi?”

  S5 :”dua” P

  :”Nah berarti jawan mu kurang tepat, oke terus pada angket nomor satu kenapa kamu bisa jawab sebanyak 60%? Apa alasannya?”

  S5

  :”Ngawur”

  P :”yaudah. Terus ini yang nomor dua kok kamu bisa dapat tiga x? Gimana?” S5

  :”dari ini (sambil menunjuk)”

  P :”dari ini tambah ini tambah in?” (sambil menunjuk) S5

  :”Irok-irok gurune”

  :”jenenge we mung ngawur”

  P :”terus dapetnya lima puluh lima kilo?” S5

  P :”Menurutmu bisa ndak variabel dan bilangan dijumlahkan?” S5

  :”enggak..”

  P :”kecuali kalau dika...” S5

  :”li...”

  P :”oke,, terus ini (sambil menunjuk) kok kamu bisa jawab lima kali x dari mana?” S5

  :”dari sini (sambil menunjuk)”

  P :”limanya yang mana? Ini?” S5

  :”nggeh”

  P :”terus dikali x?” S5

  :”nggeh”

  :”biasa”

  S5 :”baik” P

  S6 :”iyaaa...” P

  P :”gitu, yaa... nah kan dari soal tersebut yang ditanyakan adalah modelnya dan di soal

  diketahui dalam sebuah variabel maka jawabnnya itu juga mengandung varia...?”

  S6 :”...bel” P

  :”nah begitu ya..”

  S6 :”iya...” P

  :”Nah, yang nomor dua, kok kamu bisa menjawab 6x dari mana?”

  S6 :”ehmnnn....” P

  :”apakah x ditambah 3 ditambah 2x ditambah x, begitu?”

  :”nah sebenarnya jika variabel dijumlahkan dengan bilangan hasilnya tetap ya, misalnya

  S6

  tiga ditambah x hasilnya bukan tiga x tapi tetap 3 ditambah x kecuali jika perkalian 3 dikali x hasilnya

  menjadi tiga x “(sambil menjelaskan dengan menulis)

  S6 :”iyaa” P

  :”nah terus ini (sambil menunjuk) dapatnya dua dari mana? Dari ini? (sambil menunjuk)

  S6 :”iyaa...” P

  :”Nah, sebenarnya kalau kamu menstubtitusi suatu nilai x pada persamaan dan

  persamaannya itu tanda penghubungnya adalah tambah maka dalam proses substitusi tanda tambah

  tidak menjadi kali ya?”

  S6 :”(menggangguk)” P

  :”he...”

  :”nah kalau kamu kemarin jawab banyaknya ayam dona sama dengan x dikurangi dua sudah tepat..”

  :”beneran?”

  paling sulit yang mana?”

  S5 :”beneran” P

  

:”okee, Cuma begitu saja. Makasih ya. Nanti kamu tolong panggilnya ke nomor absen

selanjutnya ya”

  S5

  :”nggeh” Transkrip wawancara S6

  P :”haloo” S6

  :”iyaa bu”

  P :”nama panggilannya siapa?” S6

  :”Tit.........”

  P :”oke ..............., kemarin kan kamu ngerjain soal dari soal nomor satu, dua dan tiga yang

  S6 :”nomor tiga” P

  S6 :”..pat” P

  :”dari soal yang nomor satu kok kamu bisa jawab x dikurangi dua sama dengan dua dari mana?”

  S6

  :”ehmnnn...”

  P :”nah pemodelannya kurang tepat ya, misalnya xnya ini (sambil menunjuk) Tak ganti dengan lima, na

  h lima dikurangi 2 berapa?”

  S6 :”tiga” P

  :”nah apakah tiga itu sama dengan dua?”

  S6 :”tidak” P

  :”beda, berarti pemodelanmu kurang te..?”

  :”okee sip, terus yang nomor tiga ini kok bisa dapet lima ditambah x sama dengan seratus

  S6 :”Dari ini”(sambil mmenunjuk) P

  P :”terus sama temen dikelas, gimana? Baik?” S6

  :”ditanya belajar atau ndak gitu...”

  P :”oooh...okee.. biasanya dirumah disuruh belajar enggak sama bapak ibu?” S6

  :”iyaa..”

  P :”terus kamu belajar?” S6

  :”ya...belajar..”

  P :”seumpama besok ada pelajaran matematika, malemnya kamu belajar ndak?” S6

  :”belajar..”

  P :”belajar...okee sip..mau tanya hubunganmu sama bapak ibu gimana? Baik?” S6

  :”baik”

  :”baik”

  :”komen...”

  P :”ooh...okee..siip..makasih ya...........” S6

  :”iyaa”

  P :”nanti tolong panggilkan teman nomor absen selanjutnya ya, makasih..” S6

  :”sama – sama” Transkrip wawancara S7

  P

  :” Tit......... ya?“

  S7 :” iyaa“ P

  :” waduh nama kita sama.“

  S7 :”hehehehe” P

  P :”Komentarnya gimana?” S6

  S6

  

:”nah yang diketahui itu seratus lima adalah berat badan Rita dan Bima, maka dalam

pemodelan mu itu kurang ditambah berat badan Ri...?”

  :”hayoo apa?”

  S6

  :”...ta”

  P :”nah okee. Mau tanya lagi. Kok kamu bisa jawab 60 % pada angket nomor satu ini dari

  mana?”

  S6 :”masih agak belum bisa dalam memodelkan” P

  :”okee... ni yang nomor dua kok kamu bisa jawab 80% dari mana?”

  S6 :”jawabnnya ini (sambil menunjuk) x sama dengan dua” P

  :”okeee... Terus yang nomor tiga kok kamu bisa jawab 50 % dari mana?”

  S6 :”(diam dan senyam senyum)” P

  S6 :”(diam)” P

  :”yang keempat misalnya kalu ulangan terus dapat nilai jelek bapak ibu suka komentar ndak?”

  :”okee...yaudah kalau gitu, materi ini menurutmu susah ndak?”

  S6 :”agak” P

  :”banyak enggaknya atau banyak susahnya?”

  S6 :”banyak susahnya” P

  :”okee..terus menurutmu bagian materi yang sulit ini yang mana sih?”

  S6 :”yang menyelesaikannya” P

  :”okee..terus nha kalau dikelas itu paham enggak apa yang dijelaskan guru?”

  S6 :”ya kalau dijelasin gitu paham...” P

  :”nah tapi nanti kalau udah ngerjain sendiri ndak paham?”

  S6 : ”ndak...hehehe” P

  :”okee.. ....... kemarin kan sudah ngerjain soal diagnostik, dari soal nomor satu, dua dan tiga

  S7 :”satu dan tiga” P

  :”okeee... terus mau tanya lagi, menurutmu materi ini susah ndak?”

  S7 :”masih ragu – ragu” P

  :”yang membuat kamu masih ragu – ragu yang mana?”

  S7 :”yang... x nya itu “ P

  :”yang ininya” (sambil menunjuk)

  S7 :”iyaa...” P

  :”yang nomor dua ndak ada masalah sih, memang benar 100%”

  S7 :”hehehe...iyaa..” P

  :”terus yang nomor tiga itu, kok kamu bisa menjawab 80%?

  S7 :”masih ragu dengan 5 kali x pemodelannya” P

  S7 :”Agak susah..” P

  P :”oooh..oke sip ini kok angket nomor satu kamu bisa menjawab tingkat kepercayaannya sama

  :”banyak susahnya atau banyak enggaknya?”

  S7 :”banyak enggaknya...” P

  :”okee...banyak enggaknya...yang paling sulit pada materi ini bagian apa?”

  S7 :”bagian pemodelan matematikanya” P

  :”okee sip..kalau dikelas kamu paham enggak apa yang dijelaskan guru?”

  S7 :”sedikit paham” P

  :”berarti banyak enggaknya..hehehe”

  S7 :”iyaa..hehehe” P

  :”Pak Tedjo terlalu cepat ndak kalau ngajar?”

  S7 :”enggak” P

  dengan 50 % dari mana?”

  :”paham”

  :”okee...satu dan tiga.. dari nomor satu ini kamu kok bisa menjawab x min dua sama dengan x? Ini x yang dimaksud apa?”

  S7 :”lima kilogram lebih dari berat Rita” P

  S7

  :”banyaknya ayam Susi”

  P :”oooh oke seharusnya variabel untuk menunjukkan banyaknya ayam Sus dibedakan ya” S7

  :” he...e’h”

  P :”okeee yang nomor dua kamu ndak ada masalah, lalu yang nomor tiga kok kamu bisa

  menjawab lima kali x sama dengan seratus lima, dari mana?”

  S7 :”saya kira itu dikali” P

  :”oooh...dikali? okee berat badan Rita disini diketahui apa?”

  S7 :”x” P

  :”okee...kalau berat badan Bima?”

  :”berarti gimana pemodelannya?”

  P :”Paham?” S7

  S7 :”5 ditambah....” P

  :”x..”

  S7 ;”x” P

  :”Nah, kalau lima ditambah x itu kan baru berat badan Bim...”

  S7 :”...ma” P

  

:”sedangkan berat badan Rita adalah x. Nah kalau berat badan keduanya adalah lima

ditambah...”

  S7

  :”x”

  P :”...ditambah x sama dengan?” S7

  :”seratus lima”

  :”okee.. ehmnn..misalnya ya, kamu ulangan terus dapet nilai jelek ba[sk ibu suka komentar

  S7 :”iya” P

  kan (sambil menunjuk) tanda sama dengan. Tanda sama dengan itu berguna untuk menyatakan ruas kanan itu sama dengan ruan kiri. Jadi misalnya dari pemodelan itu nilai x itu saya ganti tiga jadi pada ruas kiri 3 selanjutnya pada ruas kana itu tiga dikurangi dua selanjutnya, dari hasil persamaan

  S8 :”hhhmnn..” P

  :”apa dari ini, dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona?”

  S8 :”(diam cukup lama)” P

  :”hayoo...oke ini aja dapetnya x dari mana?”

  S8 :”Dona mempunyai ayam sebanyak x ekor” P

  :”terus x min duanya itu banyaknya ayam Susi?”

  S8 :”iyaa” P

  :”nah kan beda banyaknya ayam Dona itu tidak sama dengan banyaknya ayam Susi, Nah ini

  tersebut, apakah tiga itu sama dengan satu?”

  P :”kemarin itu kurang dalam penulisan hal yang diketahui yaa..nah selanjutnya kamu kok bisa

  S8 :”hehehe...enggak” P

  :” Selanjutnya ini kok kamu bisa jawab 3x dari mana? X ditambah tiga ya?“

  S8 :”iyaaa.. “ P

  :”hayooo apakah bisa variabel ditambah bilangan? “

  S8 :” Enggak..hehhe“ P

  :”nah misalnya ada x ditambah 3 hasilnya tetap x ditambah tiga tetapi jika x dikali tiga hasilnya tiga x. Begitu yaa “

  S8

  :”iyaa...hehehe”

  P :”Terus ini aku mau tanya, kok ini (sambil menunjuk) bisa jadi kali?” S8

  jawab x sama dengan x min dua?”

  :”ehmnn...”

  :”komennya gimana?”

  

:”okee sip..terimakasih .... nanti tolong panggilin teman nomor absen selanjutnya ya..”

  S7 :”yaa...dimarahi..” P

  :”dimarahi? Okeee..suka disuruh belajar ndak sama bapak ibu?”

  S7 :”ya...suka” P

  :”suka? Terus seumpanya besok ada pelajaran matematika kamu malemnya belajar ndak?”

  S7 :”belajar” P

  :”Terus hubunganmu dengan teman sekelas, gimana?”

  S7 :”baik” P

  :”sama orang tua?”

  S7 :”baik” P

  S7 :” iyaa..” P

  P :”Lumayan..hehehe..nah dari jawaban, kamu menuliskan x, nah x yang dimaksud ini apa?” S8

  :”okee makasih ....” Transkrip wawancara S8

  P :”Tit.........” S8

  :”iyaa.. “

  P :”haloo Tit....gini kan kemarin kamu udah ngerjain soal nomor satu, dua dan tiga, yang

  paling sulit itu yang mana?”

  S8 :”nomor dua” P

  :”Nomor dua...iyaa..berarti yang menyelesaikan.. okee...mau tanya nomor satu nih, kamu paham ndak maksud soalnya itu?”

  S8

  :”Lumayan..”

  :”ehmnn...”

  S8 :”iyaa...” P

  gitu?”

  S8 :”banyak pahamnya” P

  :”okeee...kalau misalnya ni ya kamu ulangan terus dapet nilai jelek gitu bapak ibu suka komentar enggak?”

  S8

  :”suka”

  P :”suka...gimana?” S8

  :”suruh belajar lebih giat”

  P :”okee...suruh belajar lagi..Terus suka disuruh belajar gitu ndak sama bapak ibu?” S8

  :”suka..”

  P :”Suka, misalnya ya besok ada pelajaran matematika nah malemnya kamu belajar ndak?atau siang

  S8 :”belajar” P

  S8 :”yaa...lumayan paham” P

  :”belajar...selalu?”

  S8 :”iyaa...” P

  :”yaaa...terus hubungan mu sma teman teman di kelas gimana? baik atau gimana atau biasa atau?”

  S8

  :”baik”

  P :”baik....sama orang tua juga to?” S8

  :”iyaa...”

  P :”terus ini(sambil menunjuk) kok kamu bisa jawab 60 %, alesannya apa?” S8

  :”dari model matematikanya”

  P :”x nya ini?” S8

  :”banyak pahamnya atau banyak enggaknya?”

  :”lumayan...apa?hehehe”

  :”okeee...sip...ingat yajadi variabel kalau dijumlahkan dengan variabel tidak bisa. Terus ini

  ditambah? Seumpama ya, lima tiga lebih dari tiga itu apakah lima dikali tiga atau lima ditambah

  yang nomor tiga, nah lima kilo dari berat badan Bima padahal berat badan bima itu lima kilo lebih

  dari berat Ri..?”

  S8 :”....ta” P

  :”Tapi paham apa yang diketahui, ditanyakan dari soal ini?”

  S8 :”Paham” P

  :”Paham...okee sip...Terus ini lima kali x dapetnya darimana?”

  S8 :”(diam cukup lama)” P

  :”nah, dari kata – kata yang mana?”

  S8 :”Berat badan Bima lebih dari berat Rita” P

  :”Berat badan Bima lebih dari berat badan Rita..nah ini kalau lebih dari itu dikali atau

  tiga?”

  S8 :”yaa...lumayan..” P

  S8 :”Lima ditambah tiga..hehe” P

  :”okee...mau tanya lagi, menurutmu materi ini sulit enggak?”

  S8 :”Lumayan” P

  :”maksudnya lumayan. Banyak lumayan sulitnya atau lumayan enggaknya?”

  S8 :”banyak enggaknya..” P

  :”ooh..okee..menurutmu yang sulit itu materi yang bagian mana?”

  S8 :”kalau menghitung keliling” P

  :”berarti yang menyelesaikan?”

  S8 :”iyaa...” P

  :”okee...terus kamu paham enggak kalau di kelas itu apa yang dijelaskan guru?”

  :”iyaa”

  S8 :”mencari kelilingnya” P

  :”Ngawur”

  :”Nggeh. Mboten saget kok”

  P :”Masih bingung memodelkannya?” S9

  :”Masih”

  P :”Okee. Yang nomor dua ini kamu udah benar yang diketahui ditanya dan ini cara kamu udah benar variabel ditambah variabel ditambah variabel, bilangan ditambah bilangan ditambah bilangan. Nah tapi sampai ini, kenapa jadi tiga dikali dua (sambil menunjuk). Mengapa ndak langsung kamu tambah dua, kan persamaannya x ditambah tiga kenapa menjadi x dikali tiga setelah disub stitusikan?” S9

  :”(Diam sejenak)”

  P :”Masih bingung dalam menstubtitusi atau gimana? Kalau kemarin itu seharusnya tiga ditambah dua, nah kalau ini baru dikali (smabil menunjuk) 2 dikali satu. Gitu, sekarang udah paham ya, kalau seumpama ada persamaan gini (sambil menunjuk) disubstitusi tanda tambah tidak bergamti kali, tetep penjumlahan. Okee yang nomor dua, kamu kok bisa menjawab lima dikali x sama dengan

  seratus lima?”

  S9

  P :”hehe...ngawur? Kan gini, ini kan (sambil menunjuk) jumlah berat badan mereka seratus lima jadi maksudnya mereka itu adalah Rita dan Susi. Nah kalau disini berat badan Rita apa? lima

  :”(Diam sejenak)”

  ditambah?”

  S9

  :”x”

  P :”Berat Rita adalah x.. Nah sedangakan jumlah berat merekan, berat Bima ditambah berat badan Rita..Berat badan Bima, lima d

  itambah x?”

  S8 :”Iyaa” P

  :”Okee... Berat badang Bima ditambah berat badan Rita sama dengan?”

  S9 :”x” P

  P :”Dari mana hayo? Ngawur? Hehehe” S9

  dengan dua kali x dari mana?” S9

  :”mencari keliling? Mencari sisi terpendeknya maksudnya?”

  S8

  S8 :”iya (sambil mengangguk)” P

  :”Dari ini (sambil menunjuk) kalau prosesnya yang mana yang membuat kamu agak ragu atau ini jumlahin ini atau?”

  S8

  :”Yang jumlahin ini” (sambil menunjuk)

  P :”Terus yang nomor tiga, alesan kamu bisa jawab 50%? Modelkannya atau

  menyelesaikannya?”

  S8 :”Penyelesaian” P

  

:”penyelesaiannya ya, okee sip..Terimakasih ..........atas partisipasinya. Nanti tolong

panggilkan yang nomor sembilan ya.”

  :”Makasih”

  :”Yang nomor tiga, okee..mau tanya nih soal yang nomor satu, kamu bisa jawab dua x sama

  P :”Iya..”

  Transkrip wawancara S9

  P

  :”Tit..........”

  S9 :”eh..” P

  :”Dari soal nomor satu, nomor dua dan tiga yang paling sulit yang mana hayo?”

  S9 :”(Diam sejenak)” P

  :”Yang paling sulit yang mana?”

  S9 :”Yang nomor tiga” P

  :”Terus ini kok kamu bisa jawab 50 %, yang buat lupa yang mana?”

  P :”Semuanya, masih ragu sama pemodelannya.” S9

  :”Makasih”

  S9 :”Belajar” P

  :”bener?”

  S9 :”Bener..” P

  :”Sip...Terus hubunganmu sam teman – teman di kelas gimana?”

  S9 :”yaa....baik” P

  :”Baik,, sama orang tua?”

  S9 :”Baik...” P

  :”okee... makasih ........, makasih yaa...tolong panggilin temen yang absen selanjutnya ya”

  S9 :”okee..” P

  S9 :”Sama – sama”

  S9 :”belajar” P

  Transkrip wawancara S10

  S10

  :”Bu...”

  P :”Iyaa...nama panggilannya siapa?” S10

  :”Tit..............”

  P :”hallooo...Tit....emnn.. Nha kan kemarin dah ngerjain soal to? Soal nomer satu nomer dua dan nomer tiga, Nah yang paling

  sulit yang mana?”

  S10 :”Nomer dua sama tiga” P

  :”Nomer dua sama tiga, okee...mau tanya dulu, yang soal nomer satu ya..Nah ini kamu yang

  diketahui udah tepat, yang ditanya juga udah tepat, Nah kamu dapet x dikurangi dua sama dengan

  :”Jujur hloo”

  :”Okee...Misalnya besok ada matematika, kamu malemnya belajar ndak?”

  :”masih”

  S9

  P :”Terus yang nomor dua kok kamu bisa yakin dari mana? S9

  :”S9...hehehe”

  P :”Dapet nilai x nya ini?” S9

  :”Twrus yang nomot tiga yang membvuat kamu jawab 60 %, katena?”

  P :”Beluma paham sama soal?” S9

  :”Belum”

  P :”okeee...menurutmu materi ini sulit ndak? Beneran. Yakkk)” Yang nomor satu dan dua bisa

  ngerjain?”

  S9 :”mudah kalau soalnya mudah” P

  :”terus kalau di kelas paham ndak yang dijelaskan guru” Paham kalau tidak gojek, banyak gojeknya kalau dikelas?”

  :”Yaa, terkadang. Diajak teman”

  S9 :”iyaa...” P

  P :”Sebenernya, pengen konsentrasi kalau di kelas?” S9

  :”Iyaa”

  P :”Tapi gak enak sama teman, kalau menolak ajakan teman?” S9

  :”Iyaa...”

  P :”E.....gini misalnya kamu ulangan terus kamu dapet nilai jelek, Nha kalau sampai di rumah

  itu, dimarahin bapak ibu ndak?”

  S9 :”Enggak, dikasih tahu” P

  :”Dikasih tahu, ngasih tahunya gimana?”

  S9 :”Kalau belajar itu suruh ayng giat” P

  :”Suruh yang bener gitu ya”

  dua dari mana?”

  P :”Dari ini..dari kalimat ini (sambil menunjuk)...Ohh...oke kalau kamu menjawab xdikurangi dua udah bener sebenernya..Kan ini x dikurangi dua sama dengan dua terus misalnya kita substitusi ya, x sama dengan tiga gitu ya (sambil menjelaskan dengan coret coretan) tiga dikurangi dua

  P :”Enggak paham?” S10

  gini dapetnya dua belas tapi ini ndak dihitung...”

  P :”Ooh...x nya?” S10

  :”Iyaa...Cuma yang didepan depannya..”

  P :”Berarti tiga kali enam dua kali enam? Ooh...oke okee” S10

  :”Hee...”

  P :”Terus yang nomor tiga ini kok ndak ada yang diketahui, ditanya?” S10

  :”ehmnn...hee..”

  P :”Paham ndak maksud soalnya?” S10

  :”Nggak..”

  :”Enggak”

  :”Kok bisa berfikir sampai begitu?”

  P :”Masih bingung?” S10

  :”Masih...”

  P :”Sebenernya itu yang diketahui berat badan bima lima kilo lebih dari berat badan Rita,

  selanjutnya berat badan Rita adalah x kilo yang ditanyakan apa, dari soal ini??”

  S10 :”Hitung berat badan Bima..” P

  :”He.eh..betul berat badan bima..Nah ini dicari pemodelannya dulu baru

  penyelesaiannya..Nah okee... Nah ini kok kamu bisa jawab 75 % dari mana?” S10

  :’ini (sambil menunjuk) jawabannya empat...”

  P :”Jwabannya em..?” S10

  S10 :”Lah ini gini, ini kan, dapetnya dari semuanya enam terus ini gini dapetnya delna belas, ini

  S10 :”iyaaa..” P

  berapa?”

  :”Ehmmnn...mana?”

  S10 :”Satu” P

  :”Satu apakah sama dengan dua?”

  S10 :”Beda” P

  

:”Beda...berarti ini kurang tepat...Nah terus yang ini kalau pemodelan, kalau di dalam

  pertanyaan itu berupa variabel, maka jawabannya nanti berupa varia..?” S10

  :”Variabel”

  P :”Bukan bentuk bila...?” S10

  :”...ngan”

  P :”oKee...sip...terus yang nomer dua Nah ini dapetnya enam x per enam dari mana?” S10

  P :”Apakh ini dijumlah dijumlah dijumlah gitu?” S10

  :”Ookee... Terus ini dapetnya ini dikali enam apakah dikali hasilnya ini?”

  :”Iyaaa...”

  P :”terus ini ditambah ditambah, terus dikurangi gitu?” S10

  :”Iyaa...”

  P :”ingat yaa... kalau variabel dijumalahkan sama bilangan itu ndak bisa kecuali kalau dikali,

  kalu tiga, tiga dikali x sama dengan tiga?”

  S10 :”...x” P

  :”Kalau tiga ditambah x itu berbeda berarti tetap tiga ditambah ?”

  S10 :”..x” P

  :”Gitu yaa....”

  S10 :”iyaaa...” P

  :”Empat..”

  S10 :”Ininya ...”(sambil menunjuk) P

  :”masalahnya?”

  P :”oooh...hehe..okee..kalu misalnya besok ada pelajaran matematika gitu kamu malemnya

  belajar enggak?”

  S10 :”Belajar..” P

  :”Belajar...Selalu?”

  S10 :”Selalu...” P

  :”okeee...siip..Eee hubungan mu sama teman teman di kelas gimana?”

  S10 :”Baik...tapi ada salah satu yang agak slek gitu” P

  :”Slek? Maksudnya slek?”

  S10 :”Enggak temenan..” P

  S10 :”Masalah...yaa seorang cowok..” P

  P :”Komentarnya gimana?” S10

  :”Oalaah...sama siapa? Gapapa?”

  S10 :”Sama Tit.......” P

  :”Tit...”

  S10 :”Saya tu yaa,punya...suka gitu sama si Yanu 7A, Terus Dila bilang satu kelas sama kakak kakak kelas itu terus kaka kakak kelas itu tanya terus Dila bilang, wong aku ra kondo tek? Lha tapi

  kakak kelas tek dho ngerti?”

  P

  :”He..eh.”

  S10 :”Akhirnya marahan...Terus waktu itu juga saya dikirain suka sama Dimas temen nya sono padahal saya ndak suka Cuma sm

  s an gitu”

  P :”He..eh,,Ohhh” S10

  :”Belajar e piye to nduk kok entuk elek?”

  :”Iyaa...”

  :”Prosesnya...penjumlahannya berati...”

  P :”okeee...menurutmu materi ini susah ndak?” S10

  S10 :”iyaaa...” P

  :”Oookee...yang nomer tiga kok kamu bisa jawab sepuluh %?”

  S10 :”Gak ada itunya...” P

  :”Gak ada yang ditanya sama diket?”

  S10 :”Iyaa...” P

  :”Apakah ini (sambil menunjuk jawaban nomor tiga) kamu menjawab ini waktunya kepepet atau nggak?”

  S10

  :”Enggak..”

  P :”Enggak, Emang itu..?” S10

  :”Iyaa...”

  :”Lumayan...”

  S10

  P :”Lumayan susah atau lumayan enggak?” S10

  :”Lumayan susah..”

  P :”Banyak susahnya?” S10

  :”Iyaa...”

  P :”Iyaak okee.. terus yang paling sulit itu bagian apa?” S10

  :”eee...model sama ngitungnya...”

  P :”ooh...berarti dua duanya susah..okeee...kalau di kelas paham enggak apa yang dijelaskan

  guru?”

  S10 :”Pahaam tapi kalau sampai rumah sambil capek gitu sering lupa..” P

  

:”Lupaa....okee..hehehe...Ini misalnya kamu ulangan ya dapet nilai jelek, Nah sampai

dirumah itu bapak ibu suka komentar gitu enggak?”

  :”Masalah itu..”

  :”Okee..siip..Nomer tiga...”

  :”Kayak gitu?”

  x...Ehmnn...gini misal x nya saya substitusi satu ya, apakah satu sama dengan dua?”

  S11 :”Tidak” P

  :”Berarti kurang tepat...”

  S11 :”Oohh..” P

  :”Gitu...Itu yang nomer dua, paham maksud soal yang nomer dua? Yang diketahui, yang ditanya?”

  S11

  :”Paham..”

  P :”Paham ya..Nah kamu kok bisa jawab tiga x ditambah dua x ditambah satu x dari mana?Apakah ini, x tambah tiga, x tambah dua atau dua x dikurangi satu? Tiga tambah x kan tiga x? S11 :”Nggeh..” P

  S11 :”Ehmnn...” P

  :”Saya kira ini x ituu dua bu (sambil menunjuk)”

  :”Nah ingat hloo.. variabel itu dijumlahkan dengan bilangan tidak bisa...tetap..”

  S11 :”Ooh...” P

  :”Tapi kalau perkalian, misalnya x dikali dua itu bisa jadi dua..?”

  S11 :”...x” P

  :”misalnya x ditambah dua, tetap..”

  S11 :”Ooh...berarti x ditambah dua gak bisa ditambah bu..” P

  :”Ndak bisa.. Ini sebenernya tetap... x ditambah dua.. kecuali nanti kamu kelompokkan dulu

  ini ditambah ini ditambah ini terus ini ditambah ini ditamabah ini, ikelompokkan dulu. Jadi kalu yang sama

  S11 :”(Mengangguk)” P

  P :”eh...ini kan (sambil menunjuk) variabel x ya, kan x itu sama dengan dua kali

  P :”hehehe...kenapa kamu bisa jawab x sama dengan dua kali x?” S11

  P :”Ooh...masalah itu..Okeee...makasih Diana dah mau di wawancarai, Oke panggil yang

  P :”Tit.....okee.. Duwi, mau tanya dari soal nomor satu, nomor dua, nomor tiga yang paling

  absen sebelas ya,, oke makasih Diana...Semangat belajarnya yaa..”

  S10 :”Iyaa..” P

  :”Okee sip...”

  S10 :”Makasih bu..” P

  :”Iyaa...” Transkrip wawancara S11

  P :”Sini...nama mu Tit........?” S11

  :”Iya bu”

  P :”Nama panggilannya?” S11

  :”Tit.........”

  sulit yang mana?”

  :”Tapi jawabnya lupa...”

  S11 :”Boleh dilihat?” P

  :”Boleeh.., dipegang juga boleh”

  S11 :”Wee...hueee...Nomor dua bu..” P

  :”Nomor dua...okee..Mau tanya dulu ysng nomor satu, maksudnya gimana kok kamu bisa njawab x sama dengan dua kali x?”

  S11

  :”Piyee...yoo..hehehe”

  P :”Paham gak dulu maksud soalnya?” S11

  :”Paham bu nek soalnya bu..”

  P :”Paham...” S11

  • – sama variabel dijumlahin yang sama – sama bilangan dijumlahin..Gitu?”

  P :”Ehmnn..paham maksud soalnya enggak?” S11

  :”Gak main..”

  P :”Dikit – dikit susah berarti banyak gampangnya?” S11

  :”Nggeh..”

  P :”yaa,, Terus yang paling susah itu bagian mana?” S11

  :”Prosesnya”

  P :”Terus di kelas itu paham nggak apa yang dijelaskan guru?” S11

  :”Paham..”

  P :”Bener hloo..” S11

  :”Bener..”

  P :”Gak main sendiri hloo?” S11

  P :”terus, kalau misalnya ya, ulangan kamu dapet nilai jelek, Nah bapak ibu suka kasih

  P :”Dikit apa?” S11

  komentar enggak?”

  S11 :”Yaa...kalau bapak ada di rumah suka...” P

  :”Yang komentar bapak, ibu gak?”

  S11 :”Ibu enggak...hehhe” P

  :”Terus misalnya di rumah suka disuruh belajar enggak?”

  S11 :”Disuruh..tapi nggak belajar” P

  :”Misalnya besok ada matematika maelmnya belajar enggak?”

  S11 :”Belajar” P

  :”Ehmnn..Pretlah..hehehe...tadi bilangnya enggak”

  S11 :”Kan tadi malem ada matematika to, nah belajar malah gak jadi ulangan” P

  :”Dikit – dikit susah”

  :”Dikit”

  :”Nek soalnya paham, yang ditanyakan belum..”

  S11 :”Berat badan Rita?” P

  P :”Hloo??” S1

  :”heemnn..”

  P :”Belum paham berarti yang ditanyakan apa? Sebenarnya itu, pertamanya kamu mencari

  dulu berat badan Bima itu modelnya gimana, kan dari ini to?”

  S11 :”lima ....” P

  :”Lima ditambah berat badan Rita apa?”

  S11 :”...x” P

  :”Nah ini, lima ditambah?”

  S11 :”...x” P

  :”Berat badan Rita apa?”

  :”Ini hloo...sedangkan berat badan Rita?”

  P :”Ada pertanyaan lagi...menurutmu materi ini susah nggak?” S11

  S11 :”...x” P

  

:”Jumlah berat badan mereka seratus lima...Nah jumlah itu berati berat badan Bima

ditambah berat badan Ri..?”

  S11

  :”Ritaa...”

  P :”Nah...Ritaa..” S11

  :”Nah gitu bu, intinya, bu..”

  P :”berarti proses berpikirnya, okee..tapi dah paham sekarang?” S11

  :”Sudah..makasih bu...”

  P :”Eh...belum..” S11

  :”Hloo..hehe”

  :”Ooh...hehehe...okee...Hubungan sama teman – teman di kelas gimana?”

  P :”Baik atau ada masalah enggak..” S11

  P :”Berarti paham?” S12

  S12 :”Yaaa...” P

  

:”Okeee...menurutmu materi yang paling sulit ini apa? Maksudnya modelkannya atau

penyelesain?”

  S12

  :”Iyaa bu...pemodelan..”

  P :”Kalau penyelesaian, gampang nyelesaikannya?” S12

  :”Gampang bu, bisaa...”

  P :”Okee...sip...Okee...selanjutnya, kalau di kelas paham gak apa yang dijelaskan guru?” S12

  :”Kalau Pak Tedjo itu, kalau seumpamanya belum paham itu, diulang lagi”

  :”Paham..”

  S12 :”Iyaaa...” P

  P :”Okee..Biasanya orang tuamu nyuruh kamu belajar gak?” S12

  :”Nyuruh..”

  P :”Oke...seumpama kamu dapet nilai jelek gitu, orang tuamu sering komentar gitu ndak?” S12

  :”Sering...(sambil tertawa)”

  P :”Komentar nya gimana?” S12

  :”Sering komentar, sering dimarahin bahkan gak boleh bermain”

  P :”Okee...terus misalnya besok ada matematika, kamu malemnya belajar gak?” S12

  :”Belajar..”

  P :”Okee..Selalu itu?” S12

  :”Udah paham?”

  menunjuk)”

  :”Baik..”

  :”Tit..........”

  P :”Sama orang tua juga baik ya...” S11

  :”Baik..”

  P :”Okee...sip..makasih Duwi...” S11

  :”makasih ya bu,”

  P :”Bilang ke temen nya ya yang nomer dua belas” S11

  :”Okee..” Transkrip wawancara S12

  P :”Haloo Tit..........” S12

  :”(Mengangguk)”

  P :”Namanya, panggilannya apa?” S12

  P :”Tit...okee.. Nah mau tanya, kan kemarin udah ngerjain tesnya to? Nah dari soal nomor

  P :”Nhaa...berarti ini kurang apa? x ditambah x ditambah lima..sama dengan seratus lima kan? Seharusnya begini ya? (sambil

  satu, nomor dua sama nomor tiga, yang paling sulit yang mana?”

  S12 :”Yang paling sulit nomer ti...ga” P

  :”Nomor tiga, okee.. mau tanya dulu duwi, yang nomor satu ya, kamu udah bener, berarti kamu dah paham ya?”

  S12 :

  ”Ya...”

  P :”Okee..sip..Nomor dua juga udah bener, bagus sekali terus yang nomer tiga ini kok kamu bisa jawab x ditambah lima sama dengan seratus lima, padahal kan seratus lima itu jumlah berat badan Bima sama Rita sedangkan x ditambah lima adalah pemodelan berat badan , apa?” S12

  :”Bima”

  P :”Nha lima lebih dari berat badan Rita...berarti berat badan Bima itu lima plus x to?” S12

  :”x..”

  :” Iyaa..kalau belajar itu, selalu buat soal sendiri”

  S12 :”Iyaa...” P

  S13 :”Iyaa...” P

  P :”Berarti x kurangi 2 ya kan, itu banyaknya ayam Su..?” S13

  :”...Si..”

  P :”Nah...Sedangkan yang ditanyakan Cuma pemodelan dari banyaknya ayam Susi...Berarti

  Cuma..x min?”

  S13 :”Du..a..” P

  :”Cuma gitu...Paham?”

  S13 :”(mengangguk)...” P

  :”Nomor dua udah gak ada masalah ya?”

  :”Terus yang nomor tiga...ini kamu kok bisa jawab x plus lima sama dengan seratus lima, Hayooo?”

  S13

  S13

  :”...hehehe”

  P :”Sedangkan, berat badan maeraeka kan berat badan bIma sama berat badan Ri...” S13

  :”...ta..”

  P :”Nah berat badan Bima itu, apa pemodelannya?” S13

  :”Pemodelanyaa...”

  P :”Jadii...lima ditambah x sama dengan seratus lima. Nah, sebenarnya yang seratus lima itu jumlah berat badan Bima dan Rita lho...Itukan baru Bima, berat badan Bima itu, lima ditambah x nah modelnya, sedangkan berat badan Rita itu adalah x, jadi kalau jumlah berat badan mereka adalah

  lima, gimana?”

  S13 :”Lima...” P

  :”x kurangi 2..”

  Dona...Berarti...Ayam Dona dikurangi dua to?”

  :”Okee...terus hubungan kamu sama orang tua, gimana?”

  yang paling sulit yang mana?”

  S12 :”Baik...tapi kalau soal nilainya jelek ya dimarahin” P

  :”Terus, kalau hubungan sama temen – temen dikelas?”

  S12 :”Baik..” P

  

:”Okee...sip makasih ya........, nanti minta tolong panggilkan nomor absen selanjutnya

ya..makasih..”

  S12

  :”Iyaa..sama sama” Transkrip wawancara S13

  P :”Halooo...Nama panggilannya siapa?” S13

  :”Tit....”

  P :”Oyaa... Tit... kan kemarin udah ngerjain tes, nah dari soal nomor satu, dua dan nomor tiga

  S13 :”Yang ini mbak...(sambil menunjuk)” P

  P :”(Sambil menunjuk soal) dua ini kan, Dona mempunyai ayam sebanyak x ekor kan banyaknya ayam Dona. Sedangkan, banyaknya ayam Susi, itu dua ekor kurang dari banyaknya ayam

  :”Yang nomor tiga?”

  S13 :”Enggih...” P

  :”Okeee... mau tanya yang nomor satu dulu ya, nomor satu kamu kok bisa jawab 2 sama dengan x min 2?”

  S13

  :”Ni...(sambil menunjuk) 2 sama dengan x dikurangi dua..”

  P :”Dua sama dengan?” S13

  :”..x dikurangi 2..”

  P :”Kok bisa?” S13

  :”(Hanya diam...)”

  :”Ditambah...x ditambah x lagi sama dengan seratus?”

  P :”Lima...karena ini (sambil menunjuk) pemodelan berat badan Bima, ini (sambil menunjuk)

  P :”Selalu atau kadang – kadang?” S13

  :”Banyak enggaknya..”

  P :”Okee...yang sulit bagian mana?Modelkan atau nyelesaikannya?” S13

  :”Model..”

  P :”Terus kalau dikelas dijelaskan paham gak?” S13

  :”Paham...”

  P :”Misalnya ya, kalau ulangan dapat nilai jelek, orang tua suka komentar gak?” S13

  :”Enggak..Cuma suruh belajar aja...”

  P :”Okee...terus misalnya besok ada pelajaran matematika, kamu malemnya belajar ndak?” S13

  :”Belajar..”

  :”Kadang...kadang...ya kalau lagi males, kadang – kadang belajar..”

  :”Lumayan..”

  P :”Tergantung mood ya?” S13

  :”Iyaa...”

  P :”Okee...Terus hubungan dengan teman dikelas gimana?” S13

  :”baik..”

  P :”Sama orang tua?” S13

  :”Baik..”

  P :”Okee...terimakasih ......” S13

  :”Iyaa..” Transkrip wawancara S14

  P : ”Tit........ya?” S14

  P :”Banyak sulitnya atau enggaknya?” S13

  P :”Okee...Mau tanya lagi, menurutmu materi ini sulit ndak?” S13

  pemodelan berat badan Rita..”

  :”Eh’em..”

  S13 :”Ritaa..” P

  :”Berarti kemarin kurang apa, Berat badan?”

  S13 :”Rita...” P

  :”Udah paham?”

  S13 :”He’em” P

  :”Okee...Terus mau tanya, ini kok kamu bisa jawab lima puluh persen ini dari mana?(sambil menunjuk Angket)”

  S13

  :”Yaa...saya gak percaya mbak jawabannya ini benar..”

  P :”Heee..Masih ragu?” S13

  P :”Yang buat ragunya yang mana?” S13

  :”Iyaa...”

  :”Ya...yang ini nya tadi (sambil menunjuk)”

  P :”Modelnya?” S13

  :”Enggih..”

  P :”Okee...yang nomor dua, kok kamu bisa jawab 90 %, padahal ini bener hloo?” S13

  :”Yaa...ndak percaya mbak...”

  P :”Ooh...ndak percaya (sambil tertawa)...Yang buat kamu bisa mengatakan 90% yang

  mana?”

  S13 :”Yang ini (sambil menunjuk)” P

  :”Ini...Okee yang nomor tigaa..kok kamu bisa jawab 90 %, yang buat kamu yakin? Apakah ini jika disubstitusi ini hasilnya benar gitu?”

  S13

  :”Iyaa..”

   S14 :”Iyaa..” P

  :”Paham...”

  P :”Nah yang ini pemodelannya ini (Sambil menunjuk) juga kurang tepat. Nah pemodelan lima

  plus x itu adalah pemodelan untuk berat badan Bi..?”

  S14 :”Bimaa..” P

  :”lima lebih dari berat Rita berarti berat Rita tadi x berati lima plus?”

  S14 :”x” P

  :”Nah...ini kurang tepat ini kalau berat badan keduanya berarti harus ditambahkan x lagi kan?”

  S14

  :”Iyaaa”

  P :”Berat badan Rita...Okee..Paham?” S14

  P :”yaa... Oke mau tanya lagi menurutmu materi ini sulit ndak?” S14

  Bi ma lima kilo lebih dari berat badan Rita.Nah, kurang dikit ya..” S14

  :”Agaak sulit”

  P :”Agak sulit, okee banyak sulitnya atau enggaknya?” S14

  :”Banyak sulitnya”

  P :”Bnayka sulitnya...okee.. ee...yang paling sulit itu bagian mana sih?” S14

  :”memodelkan sam menyelesaikannya”

  P :”Keduanya?” S14

  :”Iyaa..”

  P :”okee..terus kalau di kelas itu paham gak apa yang dijelaskan Guru?” S14

  :”Yaa...sedikit paham”

  P :”Banyak gak pahamnya?heee” S14

  :”Iyaaa..”

  :”Oke sip yang nomoro tiga, Nah ini kamu yang kurang tepat, yang diketahui ini berat badan

  :”Okee, kan kemarin udah ngerjain soal to? Dari nomor satu, nomor dua, nomor tiga...Nah menurutmu yang paling sulit yang mana? Dilihat dulu...”

  menunjuk) S14

  S14

  :”Yang ini (sambil menunjuk) nomor tiga”

  P :”Nomor tiga...Okee... Nah tanya yang nomor satu dulu. Nah kenapa kamu bisa menjawab x

  plus dua min x dari mana?”

  S14 : ”Karena Susi mempunyai dua terus Donanya x terus sama ininya x” (Sambil menunjuk) P

  :”Okee...Nah gini ya. Nah kan yang ditanyakan apa? Model matematika dari banyaknya ayam Su..?”

  S14

  :”..Susi”

  P : ”Nah...dilihat ini (Sambil menunjuk) Sedangkan Susi mempunyai ayam dua ekor kurang dari

  banyaknya ayam Dona. Nah banyaknya ayam Dona tadi apa? Diketahui apa dari sini?” (Sambil

  :”x..”

  S14 :”Sudaah” P

  P :”Berarti dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona sama dengan x min du..?” S14

  :”...Dua”

  P :”Du..aa. Gitu ya” S14

  :”Iyaa..”

  P :”Okee...terus yang nomor dua...Nah yang ini nih, nomor dua kamu dah benar caranya. Nah tapi kok sampai sini (Sambil menunjuk), Nah kalau menstubtitusi nilai x ke persamaan ini (Sambil

  menunjuk) tetap ya?”

  S14

  :”Iyaa..”

  P :”Jadi, tanda hubungnya pakai tambah. Nah yang ini ganti perkalian. Nah kurang tepat ya?

  Okee... Udah paham?”

  :”Iyaa..hehe”

  S14 :”Disuruh belajar lagi..” P

  P :”Bima...berat bima lebih dari berat Rita. Nah seratus lima itu jumlah berat mereka kan?” S15

  S15 :”...li” P

  :”He’em...okee..kalau ditambah tetep ya?”

  S15 :”Enggih...” P

  :”kalau x plus 3 tetep ya. x plus tiga...”

  S15 :”Enggih...” P

  :”Nahh..gitu, Okee...terus yang nomor tiga kamu pemodelannya yang kurang tepat...Nah sekarang coba dilihat..lima plus x itu pemodelan untuk apa? Berat badan Bi...?”

  S15

  :”Bima..”

  :”Enggih...”

  S15 :”Tidak Bu” P

  P :”Rita ditambah Bi..?” S15

  :”Bimaa...”

  P :”Berarti ini kurang ditambah berat badan Rita? Apa tadi berat badan Rita?” S15

  :”x..”

  P :”berarti berat badan Bima 5 plus x “ S15

  :”Nggeh..”

  P :”Berat badan Rita apa?” S15

  :”x...”

  P :”Berarti lima ditambah x ditambah x sama dengan seratus lima..okee terus mau tanya lagi,

  :”Lhoo...kenapa ditambahkan?(sambil tertawa)kecuali kalau dika..?”

  :”Apakah boleh variabel ditambahkan bilangan..hehe”

  :”Disuruh belajar lagi?okee..Terus kalau kamu disuruh belajar gitu kamu belajar ndak?”

  :”Tit........ bu”

  S14 :”Iyaa..belajar..Tapi kalau suruh nyoba sendiri ndak tahu” P

  :”heeemnn..okee terud hubunganmu sam orang tua itu gimana?”

  S14 :”Baik..” P

  :”Sama teman – teman di kelas?”

  S14 :”Juga baik” P

  :”Baik...okee..Yaudah gitu aja yesi ya... Nanti tolong panggilin nomor absen lima belas ya? Makasih yaa”

  S14

  :”Okee..” Transkrip wawancara S15

  P :”Nama panggilannya siapa?” S15

  P :”Tit.....okee..Nah ....... kan kemarin udah ngerjain to nomer satu, dua sama tiga” S15

  P

  :”hehmn”

  P :”Nah dari soal nomor satu, dua sama tiga itu yang paling sulit yang mana?” S15

  :”Nomer dua bu..”

  P :”Nomer dua..okee..Tanya yang nomor satu dulu ini yang dimaksud y itu y apa?” (Sambil menunjuk) S15 :”Anuuu...ayam nya Susi” P

  :”Oh..Okee okee..Terus nomor dua Nah ini ni, kenapa kamu dapet tujuh x min satu dari mana?”

  S15

  :”Mana bu?”

  P :”ini hloo (sambil menunjuk)” S15

  :”ohh...niki bu x plus tiga ditambah x plus dua ditambah dua x min satu jadinya tujuh x min satu”

  menurutmu materi ini sulit ndak?”

  P :”Gampang...Aseek..ini aja ya, gak ada yang sulit ya? Memodelkan, menyelesaikan?” S15

  :”Hehehe...hayoo dilihat dulu..ini yang ditanyakan apa sih? Pemodelan matematika dari banyaknya ayam Su?”

  S16

  :”Nomer dua..”

  P :”Nah oke mau tanya yang nomer satu dulu, nah ini yang dikethaui adalah x ekor yang

  diketahui x ekor yang mana?”

  S16 :”Ini” P

  :”Berarti banyaknya ayam..Do..?”

  S16 :”...Na..” P

  :”Okee... terus ini kamu kok bisa jawab x kali 2 dari mana? Hayoo dilihat dulu”

  S16 :”Ini..Ayam Dona” P

  S16

  S16 :”Iyaa...bu..” P

  :”...Si..”

  P :”Nah...okee..Coba dipahami dalam kalimat ini, sedangkan banyaknya ayam Susi adalah dua

  ekor kurang dari banyaknya ayam?”

  S16 :”Dona...” P

  

: “Dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona. Banyaknya ayam Dona tadi apa?”

  S16 :”x ekor..” P

  :”x ekor...Nah kurang dari banyaknya ayam Dona, berarti x dikurangi dua kan?”

  S16 :”Iyaa..” P

  :”Okee...yang nomer dua...kamu paham maksud soalnya?”

  S16 :”(Diam saja)” P

  :”Mau tanya nih, kan kemarin udah ngerjain soal nomor satu, dua sama tiga, menurutmu soal yang paling sulit mana?”

  :”Haloo Tit..........ya..”

  :”Gampang...”

  P :”Okee..terus kalau disuruh belajar gitu, kamu belajar gak?” S15

  P :”Gak ada yang sulit ya?” S15

  :”Enggak..”

  P :”Kalau di kelas, paham enggak apa yang dijelaskan guru?” S15

  :”Paham..”

  P :”Paham??Sering bertanya kalau gak paham?” S15

  :”Yaa...tanya..”

  P :”Okeee...kalau misalnya kamu dapat nilai jelek, komentar orang tua mu gimana?” S15

  

:”Ya...komentarnya anu...ken ngurangi dolan..sama belajar e lebih di lebih ke gitu”

  P :”Suruh lebih giat gitu?” S15

  :”Enggih..”

  :”Belajar...enggak disuruh udah belajar”

  P

  P :”Misalnya besok ada ulangan matematika malemnya belajar?” S15

  :”Belajar..”

  P :”Okee...bagus, terus hubunganmu sama teman – teman di kelas gimana?” S15

  :”Ya baik bu...”

  P :”Sama orang tua?” S15

  :”Baik..”

  P :”Okee...gitu aja......., nanti tolong panggilin nomor absen 16 ya...” S15

  :”Okee..”

  P :”Makasih..”

  Transkrip Wawancara S16

  :”enggak???hehehe...okee”

  P :”Nah ini kan yang diketahui sisi – sisi ya, x plus tiga., x plus dua, dua x min satu memiliki

  P :”Banyak sulitnya? Okee...Ehmnn..menurutmu yang sulit itu bagian mana?” S16

  S16

  :”...x..”

  P :”Gitu yaa...jadi nanti jumlah berat badan mereka adlah seratus lima...seratus lima sama dengan lima ditambah x ditambah x lagii...kan lima ditamabah x adalah berat badan Bima..ditambah x itu berat badan Rita...G itu...Paham?” S16

  :”Paham..”

  P :”Okee...terus mau tanya lagi...menurutmu materi ini sulit gak?” S16

  :”Agak...”

  P :”Banyak sulitnya atau banyak enggaknya?” S16

  :”Banyak sulitnya...”

  :”(Diam sejenak)”

  P :”Sedangkan berat badan Rita adalah? X, nah...oleh karena itu gimana pemodelan berat bima? Kan udah diketahui pemodelan berat badan Rita adalah x, berarti pemodelan berat badan

  P :”Yang mana?” S16

  :”Yang ditanya?”

  P :”Maksudnya memahami maksud soal?” S16

  :”Iyaa..”

  P :”Oh...okee...Ehmmn..kalau di kelas paham gak apa yang di jelaskan guru?” S16

  :”paham...”

  P :”Sampai di rumah paham?” S16

  :”Ehmmn...hehehe”

  P :”Udah lupa?” S16

  Bima adalah? Lima plus x..”

  titik titik ditambah lima...”

  panjang keliling 12 cm, Nah ini udah diketahui ya?”

  :”Empat...”

  S16 :”(mengangguk)” P

  :”Jika dikethaui dalam model matematika, seperti ini (sambil menunjuk). Maka tentukan

  panjang sisi terpendeknya..Nah..ini nanti dioperasikan dulu, jadi x ditambah x ditambah 2x nah nanti ditambah baru dikurung tiga ditambah dua dikurangi satu.. Jadi variabael ditambah variabel ditambah variabel nah itu disendirikan ditambah bilangan ditambah bilangan dikurangi ini satu...

  Oke??? Paham? ”

  S16 :”(mengangguk)” P

  :”Nanti akan ketemu nilai x nya, setelah nanti ketemu nilai x baru nanti dimasukin kesini, misalnya x nya dua, kalau dua ditambah tiga berapa?”

  S16

  :”lima”

  P :”dua ditambah dua berapa?” S16

  P :”Dua kali dua?” S16

  S16 :”Okee...ini kan dalam soal berat badan Bima lima kilo lebih dari berat Rita, lima kilo itu

  :”Empat..”

  P :”Empat kurangi satu?Tiga..Nah berarti sisi terpendeknya adalah? 2x-1 karena tadi sama

  dengan ti..?”

  S16 :”tigaa...” P

  :”Udah paham?”

  S16 :”Paham...” P

  :”Yang nomor tiga...paham makseud soalnya?”

  S16 :”enggak.” P

  :”Enggak...hehehe”

  :”Iyaa..”

  S16 :”Suruh belajar...” P

  :”He’ehmnn..”

  S17 :”Kan ini x, x sama dengan mempunyai dua ekor, dua dikurangi ayam Dona masih x” P

  :”Ehmmmn...okee..x nya ini (sambil menunjuk jawaban) berarti banyaknya ayam Susi?”

  S17 :”Iyaaa...” P

  :”Nah...Sebenernya...eee..untuk memodelkan variabelnya ini bisa kamu ganti gak sama sama yang banyaknya ini (sambil menunjuk) ayam Donanya gitu...Paham?”

  S17

  :”Paham..”

  P :”Okee...Yang nomor dua udah benar..Yang nomor tiga...ini jawabannya benar, Cuma saya masih bingung alur berfikirnya dari mana? Ini kok bisa x plus lima

  sama dengan seratus lima?”

  S17 :”Eee...lima ini...ehmnn...ini (sambil menunjuk) itu model matematikanya..” P

  S17 :”Terus...ehmnn...seratus lima dikurangi lima...ini sebenarnya tu Cuma di awur awur gitu..” P

  P :”Oooh...okee...Tanya yang nomor satu dulu, kenapa kamu bisa jawab x sama dengan 2 min x?

  :”Nah...sebenarnya pemodelan berat badan bima itu, lima lebih dari berat Rita, nah berat Rita tadi apa?”

  S17

  :”...x..”

  P :”Nah...berarti pemodelan untuk berat badan Bima adalah lima ditambah?” S17

  :”...x..”

  P :”...x..Sedangkan berat badan Rita adalah x...sudah diketahui kan? Berati jumlah berat

  badan mereka adalah?”

  S17 :”Seratus lima..” P

  

:”Nah berarti berat badan Bima ditambah berat badan Rita sama dengan seratus?”

  S17 :’...lima..” P

  

  :”Memahami soalnya”

  :”Suruh belajar lagi?”

  S16 :”Iyaa...” P

  S16 :”Iyaa...” P

  :”Okee...terus kamu kalau disuruh belajar lagi, kamu belajar gak?”

  S16 :”iyaa..” P :

  ”Misalnya besok ada matematika, kamu malemnya belajar enggak?”

  S16 :”Iyaaa...” P

  :”Okee...hubungan kamu dengan orang tua gimana?”

  S16 :”Biasaa..” P

  :”Sama temen di kelas?”

  S16 :”Baik...” P

  :”Bener???”

  :”Okee...siip...gitu aja ....makasih ya, nanti tolong panggilin nomor absen selanjutnya ya..”

  P :”Bingungnya?” S17

  S16 :”Iyaaaa..”

  Transkrip wawancara S17

  P

  :”Haloo...nama panggilannya siapa?”

  S17 :”Tit.........” P

  :”Adiknya mbak lisa ya?”

  S17 :”Iyaaa...” P

  :”Nah Tit..., kan kemarin udah ngerjain to soal nomor satu, dua dan tiga. Nah dari ketiga soal tersebut, yang paling sulit yang mana?”

  S17

  :”Sebenarnya itu gak ada tapi bingung”

  :”Berat badan Bima apa pemodelannya? Lima ditambah?”

  P :”Terus ditambah x lagi sama dengan seratus?” S17

  us dua dari mana? Coba dilihat dulu....”

  S17 :”iyaa..”

  Transkrip wawancara S18

  P

  :”Haloo...nama panggilannya siapa?”

  S18 :”Tit......” P

  :”Okee...Tit....Kan kemarin udah ngerjain soal nomor satu, dua dan tiga to, nah dari soal ini yang paling sulit yang mana?”

  S18

  :”Yang nomor dua”

  P :”Nomor dua. Okee..tanya yang nomor satu dulu ya. E...kamu kok ketemu jawaban pemodelannya dua min x sama dengan x pl

  S18 :”Yang dua kan dari Susi...” P

  S17 :”Iyaa sama – sama..” P

  :”He’ehmnn..”

  S18 :”Terus yang x dari ayam Dona terus saya balik...Hehehe” P

  :”Okeee..(sambil tertawa).. Nah...gini ya..kan yang diketahui apa sih? Ayam Dona sebanyak x?”

  S18

  :”Ekor...”

  P :”Ekor...Nah ayam Susi, dua ekor kurang dari?” S18

  :”Ayam Dona”

  P :”Ayam Dona...Nah yang ditanyakan adalah ayam Susi to?” S18

  :”Iya...”

  P :”Karena dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona itu gimana? Jadi ayam Dona

  :”Nanti tolong panggilin nomor absen selanjutnya ya..”

  :”Okee...gitu aja...makasih ya..”

  :”Limaa...”

  S17 :”Ya...kok bisa gitu hloo (sambil tertawa) belajar enggak, gitu..” P

  P :”Paham?” S17

  :”Paham”(mengangguk)

  P :”Nah..menurutmu materi ini sulit gak?” S17

  :”Sebenarnya enggak, cuma pemahamannya tadi...”

  P :”pemahaman soal?” S17

  :”Iyaa..”

  P :”Kalau di kels itu, paham gak apa yang dijelaskan guru?” S17

  :”Kalau yang sulit, yan kadang – kadang enggak, kalau yang gampang juga langsung paham, bisa..”

  P

  

:”Okee...misalnya kamu dapet nilai jelek, gimana komentar orang tuamu dirumah?”

  :”Ditanya gitu?”

  S17 :”Iya baik...” P

  S17 :”Iyaa..” P

  :”Okee..terus kalau di rumah disuruh belajar gak?”

  S17 :”Iyaa...harus..” P

  :”Okee...terus hubunganmu sama teman – teman di kelas gimana?”

  S17 :”Ya...sangat dekat..” P

  :”Baik?”

  S17 :”Iyaa...” P

  :”semua?”

  S17 :”Iyaa...” P

  :”Sama orang tua?”

  dikurangi dua ekor kan?”

  P :”Nah.....banyaknya ayam Dona tadi apa?” S18

  P :”Terus pemodelan untuk berat badan Bima adalah? Lima ditambah...?” S18

  :”Yang lima puluh dari badan Bima...”

  P :”Hehmnn...” S18

  :”Terus x itu dari berat badan Rita...”

  P :”Sekarang yang ditanyakan adalah berat badan Bi...?” S18

  :”...Bima...Oh..iya..”

  P :”Berat badan Bima itu, lima lebih dari berat Ri...?” S18

  :”Berat Rita..”

  P :”Berat Rita tadi apa?” S18

  :”...x..”

  :”...x...”

  :”Oke...selanjutnya yang nomor tiga...Kamu kok bisa jawab ini pemodelannya lima kali x

  P :”...x...Nah berat badan Rita udah diketahui x untuk memodelkan berat badan keduanya itu sama dengan lima ditambah x itu

  berat badan Bima ditambah berat badan Rita itu apa? x nya?”

  S18 :”...Ya..” P

  :”Sama dengan seratus...?”

  S18 :”...Lima..” P

  :”Limaa...Nah paham?”

  S18 :”Paham...” P

  :”Okee...Sip...Terus mau tanya lagi menurutmu materi ini sulit gak?”

  S18 :”Hhmnn...Iyaa...sulit..” P

  sama dengan seratus lima dari mana ?” S18

  S18 :”Ya...” P

  :”Banyaknya ayam Dona tadi dua ekor...”

  :”Gak boleh...(sambil tertawa)”

  P :”Apa hayo? Ini (sambil menunjuk soal)” S18

  :”Oooh...x...(Sambil tertawa)”

  P :”Berarti x min du...?” S18

  :”....Dua..”

  P :”Nah pemodelannya begitu...Oke...Paham?” S18

  :”Iya...”

  P :”Nah selanjutnya yang ini (sambil menunjuk) kok bisa tujuh x dari mana?” S18

  :”Ini ditambah ini (sambil menunjuk)”

  P :”Hhhmnn...apakah boleh variabel ditambah bilangan?” S18

  P :”Gak boleh...kecuali...kalau dika...?” S18

  tiga...Gitu ya?”

  :”Di kali...”

  P :”Nah...kalau ini kayaknya Cuma kamu kurangi tiga x sama dengan delapan kurang tepat dalam menjumlahkannya. Nanti jawabannya dua x pokoknya, ingat kalau variabel ditambah bilangan

  itu ndak bo...?”

  S18 :

  ”Ndak boleeh”

  P :”Kecuali kalau dikali ya?” S18

  :”Oke....”

  P :”Paham?” S18

  :”Paham...”

  P :”Terus...Nah ini, kalau kamu seumpama udah ketemu x nya, nah kamu masukin dalam persamaan, tanda penghubungnya tetap ya ndak diganti kali kecuali kalau tiga x gitu boleh...ini misalnya x ini tiga kamu kalikan, kecuali kalau x plus tiga x nya seumpama 1,71 ini ditambah

  :”Okee...yang sulit itu bagian mana?”

  P :”Memodelkan?” S18

  S19

  :”Iyaa..”

  P :”Nanti tolong panggilin nomor absen sembilan belas ya...Makasih..” S18

  :”Makasih Bu..” Transkrip wawancara S19

  P :”Nama panggilannya siapa?” S19

  :”Tit......”

  P :”Oke...Tit...kan kemarin udah ngerjain to? Dari soal nomor satu, dua dan tiga yang paling

  sulit mana?”

  S19 :”Yang paling sulit, yang ini (sambil menunjuk)” P

  :”Yang nomor tiga...Oke tanya yang nomor satu kayaknya kamu kurang tepat jawabnya. Ini kamu bisa dapat x sama dengan x min dua dari mana?”

  :”Bingung saya bu..”

  :”Iyaa...baik..”

  P :”Bingung apanya?” S19

  :”Ada masukan dari teman – teman itu bu(sambil tertawa)”

  P :”Bukan murni kamu yang ngerjain?” S19

  :”Mboten (sambil tertawa...Salok..”

  P :”Tanya tanya?” S19

  :”Nggeh salok....Niki niku asline kula bener bu, gek niki seking konco kula nggeh salah”

  P :”Tapi paham sama jawabanmu dulu bisa jawab x min dua?” S19

  :”Paham...”

  P :”Paham ya?” S19

  P :”Okee...Sip....” S18

  P :”Sama teman – teman di kelas?” S18

  :”Yaa...memodelkan...”

  :”Ya...Cuma apa ya? Hehmnn apa ya?”

  P :”Memahami soal?” S18

  :”Iya...(sambil tertawa)”

  P :”Okee...kalau di kelas itu paham gak apa yang dijelaskan guru?” S18

  :”Paham...(sambil tertawa)”

  P :”Sampai dirumah paham?” S18

  :”Iyaa...”

  P :”Benar?(sambil tertawa)” S18

  :”(Tertawa)”

  P :”Terus misalnya ya, kamu dapat nilai jelek. Nah sampai rumah dimarahin gak?” S18

  P :”Hayoo...apa?” S18

  :”Yaa....masih baik..”

  :”Hhmnn...kok bisa dapet segini gitu”

  P :”Suka disuruh belajar gak?” S18

  :”Iyaa...”

  P :”Terus kamu belajar?” S18

  :”Iyaaa..”

  P :”Okeee...misalnya ya, besok ada matematika kamu malemnya gitu belajar gak?” S18

  :”Iyaa....belajar..”

  P :”Selalu?” S18

  :”Iya...”

  P :”Terus hubunganmu dengan orang tua gimana?” S18

  :”Enggih...”

  S19 :”Ya...lima puluh persen...Yang ini lupa..” P

  :”Ditambah x?”

  P :”Nah....gini...berat badan Bima tadi apa pemodelannya?” S19

  :”lima ditambah x..”

  P :”Terus berat badan Rita?” S19

  :”...x..”

  P :”Kalau jumlah keduanya, berarti berat badan Bima ditambah berat badan Ri..?” S19

  :”...ta”

  P :”Ritaa...berarti lima ditambah x ditambah?” S19

  :”Seratus..”

  P :”....x” S19

  P :”Kan x plus lima baru berat badan Bima kan harus ditambah berat badan Rita biar jadi

  P :”Berarti pemodelannya gimana? Pemodelan yang jumlah berat badan?” S19

  seratus lima...Gitu...Paham?”

  S19 :”Paham...” P

  :”Okee...Sip...Bener?”

  S19 :”Nggeh..” P

  :”Menurutmu materi ini sulit gak?”

  S19 :”Ndak terlalu sulit” P

  :”Berarti banyak enggaknya?”

  S19 :”Ya...” P

  :”Terus kalau di kelas itu paham gak apa yang dijelaskan Guru? Jujur?”

  S19 :”Ada yang paham, ada yang ndak..” P

  :”lima ditambah x sama dengan seratus lima di... ditambah?”

  :”Ya...mereka berdua Bima sama Rita..”

  :”Ohh....cari sisi terpendeknya?”

  S19 :”Ya...bingung gitu hloo...” P

  S19 :”Iyaaa...” P

  :”Kan tinggal ini disubstitusi ke sini to (sambil menunjuk jawaban siswa) atau kamu gak

  jawab sendiri? S19

  :”Jawab sendiri bu..”

  P :”Oke...Ini yang nomor tiga...kamu kok bisa jawab lima plus x sama dengan seratus lima dari

  mana?”

  S19 :”Lha ini..tanya – tanya..” P

  :”Dari temen?”

  S19 :”(tertawa)” P

  :”Sebelumnya, kalau kamu gak tanya – tanya paham?”

  :”Maksud soalnya paham?”

  mereka yang dimaksud siapa sih?” S19

  S19 :”Ya..tergantung soalnya...lha beda – beda..” P

  :”Berat badan Bima itu, apa sih pemodelannya?”

  S19 :”Lima kilo lebih dari berat Rita..” P

  :”Berat Rita apa?Disini (sambil menunjuk soal) yang diketahui?”

  S19 :”....x..” P

  :”Jadi pemodelan untuk berat badan Bima adalah lima ditambah?”

  S19 :”...x..” P

  :”Paham gak?”

  S19 :”lima ditambah x...Paham...Nggeh..” P

  :”Nah....terus jika jumlah berat badan mereka adalah seratus lima. Jumlah berat badan

  :”Okee...terus misalnya kamu dapet nilai jelek gitu, orang tuamu komentar gak?”

  P : ”Terus kamu belajar?” S19

  sambil menunjuk soal) S20

  P

  :”x itu...(sambil tertawa)”

  S20 :”Iya...(sambil tertawa)” P

  :”Coba dilihat dulu, Dona itu mempunyai ayam sebanyak ...x e....?”

  S20 :”....kor” P

  :”Nah yang ditanyakan apa sih? Pemodelan banyaknya ayam Su...?”

  S20 :”....Susi..” P

  :”Berarti kalau dilihat, dua ekor dari banyaknya ayam Dona. Lihat kalimant ini (boleh kok

  :”Dua

  S20

  P :”Iyaa...gak sedih?” S20

  :”Iya..”

  P :”Banyaknya ayam Dona apa tadi?” S20

  :”....x”

  P :”Berati xmin dua. Paham?” S20

  :”Paham”

  P :”Oke...yang nomor dua udah bener...Yang nomor tigs kita lihat kamu kok bisa jawab lima

  plus x dari mana hayo?”

  S20 :”Lebih berat dari berat Rita kan belum diketahui..” P

  :”Ini dua ekor terus banyaknya ayam Dona ken belum diketahui, jadinya x sama dengan dua x nya yang ini(sambil menunjuk soal)”

  :”Okee..mau tanya dulu yang nomor satu, kok kamu bisa jawab dua min x sama dengan x darimana?”

  :”Enggak (sambil tertawa)”

  :”Oke...hubunganmu sama orang tua gimana?”

  P :”(Tertawa)” S19

  :”Yaa..raketan mbukak mbukak buku kono! Yo kula nggeh mbukak mbukak buku (sambil tertawa)”

  P

  :”Cuma buka buku aja?(sambil tertawa)”

  S19 :”(Tertawa)” P

  :”Oke...misalnya besok ada matematika, kamu malemnya belajar gak?”

  S19 :”Enggak..” P

  :”Enggak...kalau besok ada ulangan matematika kamu belajar gak?”

  S19 :”Belajar..” P

  S19 :”Harmonis(sambil tertawa)” P

  S20 :”Nomor satu” P

  :”Oke...sama teman – teman dikelas?”

  S19 :”Ya...baik” P

  :”Bener?”

  S19 :”Beneran...” P

  :”Okee..sip..Makasih ya ....”

  S19 :”Iyaa...bu..”

  Transkrip wawancara S20

  P :”Halooo namanya siapa?” S20

  :”Tit......(sambil tersenyum)” P :”Okee..Tit.....Gini Tit. kan kemarin udah ngerjain to nomor satu, nomor dua sama noor tiga. Nah, menurutmu yang paling sulit yang mana?”

  :”He’ehmnn...”

  S20 :”Jadinya tambah x jika jumlah mereka sama dengan seratus lima jadinya lima kilogram

  S20 :”Baik..” P

  :”Okee...misalnya kamu dapat nilai jelek komentar orang tuamu gimana?”

  S20 :”Ehmnn..., gini orang temen kamu aja bisa masak kamu gak bisa..” P

  :”terus kalau kamu disuruh belajar gitu, belajar?”

  S20 :”Iyaa...” P

  :”Selalu?”

  S20 :”Iyaa...” P

  :”Misalnya, besok ada matematika, kamu malemnya belajar enggak?”

  S20 :”Cuma baca – baca..” P

  :”Oke...Ooh hubunganmu sama teman – teman di kelas gimana?”

  :”Baik semua?”

  :”Oke...”

  S20 :”He’eh(sambil mengangguk)” P

  :”Okee...sama orang tua?”

  S20 :”Baik.Tapi kalau sama teman itu kadang kalau beda pendapat sering cek cok gitu..” P

  :”Itu dah biasa..”

  S20 :”Iyaa...” P

  :”Gitu ya...Okee sip makasih ....”

  S20 :”Iyaa...” P

  :”Nanti tolong panggilin nomor absen 21 ya..”

  S20 :”Iyaa...makasih bu..” P

  S20 :”Kalau sama temen sendiri paham..” P

  P

  tambah x sama dengan seratus lima”

  :”...Ritaa..”

  P :”Yuk coba dilihat lagi..Pemodelan berat badan Bima apa?” S20

  :”lima kilogram lebih dari berat Rita..”

  P :”Berarti pemodelan untuk berat badan Bima lima ditambah x itu pemodelan untuk berat

  badan Bi..?”

  S20 :”..Bimaa..” P

  :”Pemodelan untuk berat badan Rita itu apa?”

  S20 :”....x” P

  :”Nah...kalau jumlah berat badan mereka adalah seratus lima berarti berat badan Bima ditambah berat badan Ri...?”

  S20

  P :”Berat badan Bima apa tadi?” S20

  

:”Kadang – kadang paham..Kalau gak paham itu biasanya saya tanya Gema, terus

dijelasin..Nah itu jadi paham”

  :”lima ditambah x...”

  P :”...ditambah? x lagi?” S20

  :”...x”

  P :”Nah gitu sama dengan seratus lima..Paham?” S20

  :”(tertawa)”

  P :”Okee... Menurutmu materi ini susah gak?” S20

  :”Iya kalau lagi mudeng itu, bisaa tapi kalau enggak ya enggak(sambil tertawa)”

  P :”Oke....yang sulit itu bagian apa?” S20

  :”Cara memodelkannya masih bingung..”

  P :”Oke...Ehmmn..kamu kalau di kelas itu paham enggak apa yang dijelaskan guru?” S20

  :”Iyaa...sama – sama” Transkrip wawancara S21

  S21 :”Nggeh...” P

  :”Lali..Nggeh”

  P :”(tertawa)...Oke yang nomor dua..Nah maksudnya ini apa, koma – koma?” S21

  :”Mana bu..”

  P :”Ini (sambil menunjuk jawaban) Dapetnya x dari mana?” S21

  :”Nurun..”

  P :”Nurun? Ndak paham blas?” S21

  :”Mboten, lali”

  P :”Maksud soal?” S21

  :”Tahu..”

  P :”Atau gak bisa jawab?” S21

  P :”Berarti ini nurun ndak tahu asal muasalnya?” S21

  P :”Ini (sambil menunjuk) kok kamu bisa jawab ini?” S21

  :”Nggeh mboten”

  P :”Atau ini tambah ini terus mbok tambah ini tambah ini (sambil menunjuk lembar jawab)” S21

  :”Ooh...Nggeh..”

  P :”Terus ini dapetnya enam itu, tiga ditambah dua terus ditambah satu?” S21

  :”Nggeh ngoten..”

  P :”Terus ini kok bisa dikalikan itu hlo?” S21

  :”Haduuh...”

  P :”Kan persamaannya ini ditambah to?” S21

  :”Enggih”

  P :”Kok bisa kamu kalikan?” S21

  

:”(tertawa) Lha niki niku ajeng di min ke, dadi plus kok sama siapa itu yang nurun..”

  :”dua..”

  :”Nama panggilannya siapa?”

  P :”Dari buku?” S21

  S21 :”Tit...” P

  :”Okee...Tit...kan kemarin udah ngerjain to soal nomor satu, nomor dua sama tiga.. Nah menurutmu yang paling sulit yang mana?”

  S21

  :”Paling sulit nomor tiga..”

  P :”Okee mau tanya yang nomor satu...Kenapa kamu bisa jawab x plus dua x.” S21

  :”Nggeh...nggeh..ngoten(sambil tertawa)”

  P :”Dari mana?” S21

  :”Dari.... dari....dari mana ya?”

  P :”Dari mana – mana?” S21

  :”Dari buku...”

  :”Nggeh..”

  P :”Berarti x dikurangi du..?” S21

  P :”Coba dibaca dulu...Ini kan Dona mempunyai ayam sebanyak x ekor..Sedangkan Susi

  mempunyai?”

  S21 :”Dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona..” P

  

:”Dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona sama dengan banyaknya ayam Dona

dikurangi dua kan?”

  S21

  :”Nggeh...”

  P :”Paham?” S21

  :”Paham..”

  P :”Jadi banyaknya ayam Dona apa tadi?” S21

  :”....x”

  :”Haduhh piye ya”

  S21 :”Mboten....dituruni” P

  S21 :”Baik...” P

  :”Disuruh belajar. Terus kamu belajar?”

  S21 :”Enggak (sambil tertawa)” P

  :”Misalnya besok ada matematika, kamu malemnya belajar enggak?”

  S21 :”Nggeh nek wonten PR..” P

  :”Kalau gak ada PR belajar?”

  S21 :”Enggak..nggeh kalau ada ulangan belajar” P

  :”Ooh...Terus hubunganmu sama temen – temen di kelas gimana?”

  S21 :”Nggeh baik...” P

  :”Sama orang tua?”

  :”Okee Sip makasih ......., nanti minta tolong panggilin yang nomer absen dua puluh dua ya..”

  :”Ditokne? Gak pernah komentar?”

  S21

  :”Nggeh..”

  P :”Makasih..” S21

  :”Sama – sama” Transkrip wawancara S22

  P :”Halloo...Tit.......” S22

  :”Nama panggilannya siapa?”

  P :”Tit....Yaa...kan kemarin udah ngerjain soal nomor satu, nomor dua sama nomor tiga. Nah,

  soal yang paling sulit itu yang mana?”

  S22 :”Yang ini kak..” P

  S21 :”Nggeh komentar. Nggeh diken sinau sregep niku..” P

  S21 :”Ditokne” P

  :”Kenapa kok bisa dikali?”

  Bima ditambah berat badan Ri...?”

  S21 :”Piye ya, nek dikali ke nurun..” P

  :”Nurun?”

  S21 :”Enggih” P

  :”Nih (sambil menunjuk) kok kamu bisa jawab lima plus x sama dengan seratus lima?”

  S21 :”(tertawa)” P

  :”Coba dilihat berat badan Bima itu lima lebih dari berat Rita..Berat Rita apa?”

  S21 :”....x” P

  :”x to? Pemodelan untuk berat badan Bima adalah lima ditambah x. Nah seratus lima itu

  apakah berat badan Bima? Jumlah kedua..nya. Berarti untuk mendapatkan pemodelan ini berat badan

  S21 :”Rita” P

  :”Misalnya kamu dapat nilai jelek...terus gimana reaksi orang tuamu?”

  :”Berarti lima ditambah x ditambah x ditambah x sama dengan?”

  S21 :”Seratus lima” P

  :”Paham?”

  S21 :”Paham” P

  :”Materi ini sulit gak menurutmu?”

  S21 :”Ya...kalau sudah bisa nggeh mboten..” P

  :”Ee...kalau di kelas paham gak apa yang dijelaskan guru?”

  S21 :”Paham...” P

  :”Kalau sampai rumah?”

  S21 :”Paham” P

  :”Yang nomor 3?”

  P :”Tanya yang nomor satu kenapa kok bisa jawab x sama dengan x min 2. Dari mana?” S22

  :”Nah jumlah berat badan keduanya adalah?”

  P :”Okee...yang nomor tiga, Tolong dijelasin ini gimana maksudnya? Lima ditambah x sama

  dengan seratus lima dari mana hayo?”

  S22 :”Lima kilo lebih dari berat Rita..” P

  :”Berarti kan, berat badan Rita apa?”

  S22 :”...x kg” P

  :”Berarti lima ditambah x...itu adalah pemodelan untuk berat badan Bi...?”

  S22 :”Bimaa...” P

  :”Terus berat badan Rita, apa tadi?”

  S22 :”...x..” P

  S22 :”Seratus lima...” P

  P :”Terus kalau variabel apakah boleh dijumlahkan dengan bilangan?” S22

  :”Nah seratus lima kalau jumlah berat badan keduanya. Berati berat badan Bima ditambah berat badan Ri...?”

  S22

  :”...Ta..”

  P :”Berat badan Bima apa pemodelannya?” S22

  :”Berarti lima ditambah x..”

  P :”ditambahkan lagi dengan?” S22

  :”x...ohh..gitu..yayaya..”

  P :”Paham?” S22

  :”Paham..”

  P :”Okee...terus tanya lagi, menurutmu materi ini sulit gak?” S22

  :”Enggak..”

  :”Paham...”

  :”Lhaa ya itu...”

  S22 :”Paham..” P

  P :”Nurun?”(sambil tertawa) S22

  :”Mbooten..hhmnn..”

  P :”Nah...coba dicek dulu...yang diketahui dari ayam Dona apa sih?” S22

  :”...x..”

  P :”Ayam Susi itu dua ekor kurang dari banyaknya ayam Do...?” S22

  :”...Na..”

  P :”Nah berarti dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona itu sama dengan banyaknya ayam

  Dona dikurangi Du...?”

  S22 :”Dua...” P

  :”Paham?”

  :”Nah...ayam Dona diketahuinya apa tadi?”

  P :”Caranya paham?” S22

  S22 :”Ehmnn...x..” P

  :”Berarti...x min?”

  S22 :”Dua..” P

  :”Itu adalah pemodelan banyaknya ayam Su...?”

  S22 :”Susi....” P

  :”Okee yang nomor dua. Kayaknya kamu nurun deh..Iya atau enggak?”

  S22 :”Enggih...” P

  :”Soalnya ini prosesnya gini (sambil menunjuk), kamu jawabannya gini. Tapi kamu paham yang nomor 2?”

  S22

  :”Enggih”

  :”Lumayan Kak...”

  • – sendiri itu malah susah..”

  misalannya itunya..”

  S23 :”Iya..bu..” P

  

:”Tit......., kan kemarin udah ngerjain soal dari nomor satu, nomor dua sampai nomor

tiga...Nah yang paling sulit yang mana?”

  S23

  :”Yang paling sulit itu...ehmnn...(diam sejenak) yang ini kali (sambil mneunjuk) yang ini”

  P :”Yang nomor du..?” S23

  :”Yang nomor dua”

  P :”Okee...ini yang nomor satu dulu, kenapa kamu bisa jawab x plus dua sama dengan x min

  satu. Dari mana?”

  S23 :”Ehmnn....x...x plus dua dari x ekor ditambah dua ayam, dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona ini dua ekor plus dua terus kurang dari banyaknya ayam Dona pe

  P :”Okee...yuk kita lihat sama – sama..Nah, lha ini banyaknya ayam Dna adalah x ekor kan?” S23

  P

  :”....x ekor”

  P :”Kan udah diketahui..Nah disini yang ditanyakan apa? Banyaknya ayam Susi pemodelannya. Nah coba dilihat disini (sambil menunjuk). Susi mempunyai ayam dua ekor kurang

  dari banyaknya ayam Dona, berarti sama aja banyaknya ayam Dona dikurangi dua ekor, ya gak?”

  S23

  :”Iyaa...”

  P :”Iyaa....banyaknya ayam Dona apa?” S23

  :”Ehmnnn...x..”

  P :”Berarti x min?” S23

  :”...dua”

  P :”Terus yang nomor dua. Nih kamu dapetnya tiga x plus empat dari mana?” S23

  :”Halloo Tit.........”

  Transkrip wawancara S23

  S22 :”Lumayan Kak...Ya kalau ini banyak sulitnya..” P

  P :”Terus kamu belajar..” S22

  :”Okee...yang sulit bagian mana?”

  S22 :”Yang memodelkan..” P

  :”okee..terus kalau di kelas itu paham gak apa yang dijelaskan guru?” S22 :”Kalau dijelaskan itu malah paham Bu, tapi kalau mengerjakan bersama – sama itu bisa.

  Tapi kalau mengerjakan sendiri

  P :”Gini, misalnya kamu dapat nilai jelek, bagaimana reaksi orang tuamu?” S22

  :”Ya...dimarahin Kak..”

  P :”Dimarahinnya gimana?” S22

  :”Iki kok koyo ngene opo ra sinau?”

  P :”Terus biasanya disuruh belajar gak?” S22

  :”Disuruh...”

  :”Enggih..”

  P :”Iyaa.. sama sama”

  P :”Kalau seumpama besok ada matematika malemnya kamu belajar gak?” S22

  :”Belajar...”

  P :”Benar...” S22

  :”Enggih...”

  P :”Okee...Terus hubungan sama orang tua gimana?” S22

  :”Ya...baik buk..”

  P :”Sama teman – teman di kelas baik?” S22

  :”Enggih..”

  P :”Okee...sip gitu aja ......., makasih yaa..nanti tolong bilangin nomor absen 23 ya..” S22

  :”Okee... sip...mkasih ya kak..”

  :”(diam sejenak)”

  S23 :”Iyaa....iyaa...” P

  P :”Okee...Tit, Nah kan kemarin udah ngerjain soal to? Nomor satu, nomor dua dan nomor

  :”Okee...Terus hubunganmu sama temen – temen giman?”

  S23 :”Baik...baik sekali..” P

  :”Sama orang tua juga?”

  S23 :”Iyaa...” P :

  ”Okee...sip...makasih ya ...... nanti tolong panggilin nomor absen 24 ya..”

  S23 :”Iyaa...” P

  :”Okee...makasih..” Transkrip wawancara S24

  P :”Haloo...nama panggilannya siapa?” S24

  :”Tit......”

  tiga..Nah yang paling sulit yang mana?”

  :”Terus kamu belajar?”

  S24 :”Yang...” P

  :”Soal nomor berapa?”

  S24 :”Nomor dua” P

  :”Nomor dua...Oke tanya yang nomor satu. Kenapa kok kamu bisa jawab dua x sama dengan x min dua dari mana?”

  S24

  :”Gak tahu...lupa..”

  P :”Yaa...coba kita cek ya, ini banyaknya ayam Dona itu adalah x e..?” S24

  :”...ekor..”

  P :”nah yang ditanyakan apa sih dari sini? Model matematika dari banyaknya ayam Su..?” S24

  S23 :”Iyaa..” P

  S23 :”Disuruh..” P

  :”Mau tanya, apakah variabel itu dapat dijumlahkan dengan bilangan?”

  lima ditambah x ditambah x..”

  S23 :”Enggak...” P

  :”Enggak kan? Kecuali kalau dika...?”

  S23 :”Di kali...” P

  :”Gitu ya...oke terus nomor tiga itu pemodelannya ini dari mana dapetnya?”

  S23 :”Lima ditambah lebih dari berat rita kan x...” P

  :”He’eh”(sambil menggangguk)

  S23 :”Terus sama dengan lima, lima ditambah lima kilo lebih dari berat Rita..” P

  :”Okee... ini pemodelan dari berat badan Bima adalah lima ditambah x, gitu berarti ini

  (sambil menunjuk) kurang ditambah berat badan Rita. Kan ini seratus lima jumlah keduanya. Berarti

  S23 :”...x” P

  :”Oke...kamu disuruh belajar gak sama orang tua?”

  :”Terus mau tanya lagi, menurutmu materi ini sulit gak?”

  S23 :”Hhhmnn gak begitu sulit Cuma kurang memahami” P

  :”Oke...yang kurang dipahami bagian apa?”

  S23 :”Iyaa memodelkan..” P

  :”Okee...Terus kalau di kelas itu paham gak apa yang dijelakan guru?”

  S23 :”Paham..” P

  :”Sampai di rumah paham?”

  S23 :”Paham (sambil tertawa)” P

  :”Kalau kamu dapat nilai jelek, komentar orang tuamu gimana?”

  S23 :”Nilainya jelek, apa kurang belajar gitu?” P

  :”Susi..”

  P :”Nah disini coba dilihat, sedangkan Susi mempunyai ayam dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona maksudnya dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona berarti sama aja banyaknya

  :”Okee...Oh paham gak kalau di kelas dijelaskan guru?”

  P :”Nah...jumlah berat badan Rita adalah? Jika jumlah berat badan keduanya adalah seratus

  lima berarti itu yang dimaksud berat badan Bima ditambah berat badan Ri...?”

  S24 :”Rita..” P

  :”Sama dengan seratus?”

  S24 :”Lima..” P

  :”Okee...mau tanya menurutmu materi ini sulit gak?”

  S24 :”Sulit..” P

  :”Yang sulit bagian apa?”

  S24 :”Bagian model..” P

  S24 :”Paham...tapi kalau suruh ngerjain gak tahu..” P

  S24

  :”Misalnya kamu dapet nilai jelek.. terus gimanakomentar orang tua mu?”

  S24 :”Kok dapet segitu apa gak pernah belajar?” P

  :”Suka disuruh belajar gak sama orang tua?”

  S24 :”Suka...” P

  :”Terus kamu belajar?”

  S24 :”Belajar..” P

  :”Selalu?”

  S24 :”Selalu..” P :

  ”Oke...hubunganmu sama temen-temen di kelas gimana?”

  S24 :”Yaa...biasa aja..” P

  :”...x”

  :”Oooh..(sambil tertawa)..Coba dilihat berat badan Bima adalah? Lima ditambah berat Rita itu apa?”

  ayam Dona dikurangi du..?”

  S24 :”Iyaa...” P

  S24

  :”Dua...”

  P :”Berarti banyaknya ayam Dona apa disitu?” S24

  :”x ekor..”

  P :”Berarti pemodelannya x min du..?” S24

  :”Dua..”

  P :”Oke...ehmnn..Nah kamu kok bisa jawab ini tiga x ditambah dua x ditambah satu x, apakah

  dari sini, x plus tiga, x plus dua dan dua x min satu?”

  S24 :”x plus tiga..” P

  :”Oooh...dari sini?”

  :”Nah, apakah bisa variabel ditambahkan dengan bilangan?”

  S24 :”Ya... Cuma pernah ngerjain kayak gini terus saya giniin” P

  S24 :”Enggak..” P

  :”Enggak....kecuali kalau dika..?”

  S24 :”Di kali..” P

  :”Jadi kalau ini ditambahkan ini ditambah ini (sambil menunjuk) ditambah ini, bukan ini ditambah ini, ini ditambah ini gitu...Paham?”

  S24

  :”Paham...”

  P :”Iyaa...oke...terus yang nomor tiga, kamu kok bisa jawab x plus lima sama dengan seratus lima dari man

  a?”

  S24 :”Gak tahu..” P

  :”Atau dari ini lima lebih dari berat Rita adalah x?”

  :”Sama orang tua?”

  P :”okee...sip makasih ya erem , nanti tolong panggilin nomor absen 25 ya...”

  :”Disuruh belajar?”

  S25 :”Iyaa...” P

  :”Okee yang sulit pada bagian mana?”

  S25 :”Menyelesaikan” P

  

:”Okee...menyelesaikannya...Kalau di kelas paham gak apa yang dijelaskan guru?”

  S25 :”Paham” P

  :”Sampai di rumah paham?”

  S25 :”Iya paham” P

  :”Okee...misalnya kamu dapat nilai jelek gitu, komentar orang tuamu gimana?”

  S25 :”Ya, kurang belajar gitu..” P

  S25 :”Iya..” P

  S25 :”Lumayan sulit..” P

  :”Terus kalau disuruh belajar, kamu belajar gak?”

  S25 :”Iyaa...” P

  :”Seumpama kalau besok ada matematika, kamu malemnya belajar gak?”

  S25 :”Iyaa...” P

  :”Selalu?”

  S25 :”Iyaa...” P

  :”Okee..terus hubunganmu sama orang tua gimana?”

  S25 :”Baik..” P

  :”Sama temen- temen di kelas?”

  S25 :”Baik..” P

  :”Banyak sulitnya?”

  :”Okee...menurutmu materi ini sulit gak?”

  Transkrip wawancara S25

  S25 :”...Ta..” P

  P

  :”Haloo... nama panggilannya siapa?”

  S25 :”Tit..........” P

  :”Oke... Tit.......... kan kemarin udah ngerjain to soal nomor satu, nomor dua sama nomor tiga..Nah soal yang paling sulit yang mana?”

  S25

  :”Nomor tiga..”

  P :”Okee... mau tanya dulu yang nomor satu, kamu bisa jawab x sama dengan x min dua dari

  mana?”

  S25 :”(tertawa)” P

  :”Nah, yang disini kan yang diketahui adalah berat badan Bima lima lebih dari berat Ri..?”

  :”Berat Rita apa disini?(sambil menunjuk)”

  S25 :”...Lima..” P

  S25 :”....x” P

  :”Nah pemodelan untuk berat badan Bima itu apa? Lima ditambah?”

  S25 :”...x” P :”Iyaa..berarti yang disini, yang diketahui jumlah berat badan mereka adalah seratus lima.

  Berarti berat badan Bima ditmabah berat badan Ri..?”

  S25

  :”...ta..”

  P :”Nah ini kamu kurang ditambah berat badan Rita? Kan ini lima plus x berat badan Bima

  berarti kurang ditambah x lagi kan?”

  S25 : ”...Ya..” P

  :”Sama dengan seratus li..?”

  :”Okee...sip..Makasih......, nanti tolong panggilin nomor absen 26 ya..”

  Transkrip wawancara S26

  :”...x”

  P :”Gak boleh...kecualii kalau dikali...?” S26

  :”...kali..”

  P :”Gitu ya...yang nomor 3, ini kok bisa jawab lima kali x sama dengan seratus lima?” S26

  :”Ehmnn...”

  P :”Gimana?” S26

  :”Dari berat badan Bima”

  P :”Berat badan Bima disitu diketahui apa sih? Lima lebih dari berat Ri..?” S26

  :”Rita”

  P :”Berat Rita apa disitu?” S26

  P :”Berarti pemodelan untuk berat badan Bima adalah lima ditambah x. Gitu...berarti kalau

  P :”Apakah variabel boleh ditambahkan dengan bilangan?” S26

  disini kan jumlah berat badan mereka adalah seratus?”

  S26 :..lima..” P

  :”Berarti jumlah berat badan keduanya berarti berat badan Bima ditambah berat badan Ri..?”

  S26

  :”...Rita..”

  P :”Pemodelannya lima ditambah?” S26

  :”...x”

  P :”Ditambah?x seharusnya atau ditambah berat badan Rita, gitu ya..Paham?” S26

  :”Paham..”

  P :”Oke...menurutmu materi ini sulit gak?” S26

  :”(tertawa)”

  :”Iyaa...”

  P :”Haloo silahkan duduk...nama panggilannya siapa?” S26

  P :”Nah...oke...sebenarnya ini kan yang ditanyakan model matematika dari banyaknya ayam

  :”Tit...........”

  P :”Nah...kan kemarin udah ngerjain soal nomor satu, nomor dua sama nomor tiga. Nah soal

  yang paling sulit yang mana?”

  S26 :”Nomor tiga..” P

  :”Okee..mau tanya yang nomor satu kenapa bisa jawab dua x sama dengan x min satu, dari mana?”

  S26

  :”Ehmnn...”

  P :”Dari ini (sambil menunjuk) atau dari mana?” S26

  :”dari dua ekor”

  Su..?”

  S26

  S26 :”...Susi” P

  

:”Nah...coba dilihat..banyaknya ayam Susi, dua ekor kurang dari banyaknya ayam ?”

  S26 :”Dona..” P

  :”Nah...Coba dilihat..banyaknya ayam Dona dikurangi?”

  S26 :”...Dua” P

  :”Banyaknya ayam Dona, apa disitu?”

  S26 :”...x.” P

  :”Berarti x min du..?”

  S26 :”Dua..” P

  

:”Gitu ya...Terus yang nomor dua itu, kamu kok bisa dapet 6? Apakah ini ditambah ini

(sambil menunjuk)? Atau tiga ditambah x itu jadinya tiga x gitu?”

  :”Lumayan..”

  S26 :”Iyaa(sambil tertawa)” P

  S27 :”Duaa” P

  :”He’eh..”

  S27 :”Dikurangi x banyaknya ayam, itu dua tu ayamnya Susi dikurangi ayamnya Dona” P

  :”Yuk kita lihat, ini kan Susi mempunyai ayam dua ekor kurang dari banyaknya ayam Do..?”

  S27 :”...na..” P

  :”Itu sama aja, banyaknya ayam Dona dikurangi Du...?”

  S27 :”...dua..” P

  :”Nah, banyaknya ayam Dona disitu apa?”

  S27 :”...x..” P

  :”Berarti x dikurangi?”

  :”Dua...gitu..paham?”

  :”Oke...aku mau nanya ini kok kamu bisa jawab dua min x sama dengan x dari mana?”

  S27 :”Paham” P

  :”Iyaa..okee yang nomor dua kamu dah benar, terus nomor tiga. Kamu paham maksud soal yang nomor tiga?”

  S27

  :”Hhhmnn...sedikit”

  P :”Okee...kamu bisa jawab lima plus x sama dengan seratus lima dari mana?” S27

  :”Lima lebih berat dari x tandanya ditambah”

  P :”Oke..Eee..coba dilihat berat badan itu lima lebih dari berat Ri..?” S27

  :”Ri...ta”

  P :”Berarti lima ditambah?” S27

  S27 :”Dua itu dari banyaknya ayam Dona..” P

  S27 :”Yang suruh buat model matematika..” P

  :”Okee.. yang sulit bagian mana?”

  :”Misalnya besok ada matematika gitu. Kamu malemnya belajar gak?”

  S26 :”Hhmn...memodelkan” P

  :”Kalau di kelas paham paham gak apa yang dijelaskan guru?”

  S26 :”Kalau baru dijelaskan paham..” P

  :”Kalau sampai di rumah gitu, lupa?”

  S26 :”Lupa..” P

  :”Misalnya dapat nilai jelek, komentar orang tuamu gimana?”

  S26 :”Disuruh belajar lagi..” P

  :”Terus kamu belajar?”

  S26 :”Ya belajar (sambil tertawa) tapi Cuma sebentar..” P

  S26 :”Belajar..” P

  paling sulit menurutmu yang mana?”

  :”Terus hubunganmu sama orang tua gimana?”

  S26 :”Biasa-biasa aja” P

  :”Sama temen – temen di kelas?”

  S26 :”Baik-baik” P

  :”Okee...gitu aja..Terimakasih ......., nanti tolong panggilin nomor absen 27 ya..”

  S26 :”Iyaa..” P

  :”Makasih..” Transkrip wawancara S27

  P :”Haloo..nama panggilannya siapa?” S27

  :”Tit.......”

  P :”Tit....., kan kemarin udah ngerjain nomor satu, nomor dua sama nomor tiga, soal yang

  :”...x”

  S27 :”Bima..” P

  S28 :”Nomor satu” P

  :”baik-baik aja”

  P :”Sama temen-temen di kelas?” S27

  :”Iyaa...”

  P :”Okee...sip...gitu aja ....., nanti tolong panggilin nomor absen 28 ya..makasih..” S27

  :”Iyaa..sama sama” Transkrip wawancara S28

  P :”Haloo..nama panggilannya siapa?” S28

  :”Tit....”

  P :”Okee..Tit.., kan kemarin udah ngerjain soal nomor satu, nomor dua sama nomor tiga, Nah

  soal yang paling sulit yang mana?”

  

:”Nah, kamu nomor satu kok bisa jawab x min dua sama dengan dua dari mana?”

  :”Kadang-kadang..”

  S28 :”Dua ekor banyaknya dari ayam Dona” P

  :”Yuk coba kita lihat, Nah banyaknya ayam Dona itu, x e...?”

  S28 :”x ekor” P

  :”Sedangkan...Nah ini, banyaknya ayam Susi dua ekor kurang dari banyaknya ayam Do..?”

  S28 :”...na..” P

  :”nah, dua ekor kurang ari banyaknya ayam Dona itu, sama aja banyaknya ayam Dona dikurangi du..?”

  S28

  :”..dua..”

  P :”Nah, banyaknya ayam Dona apa? x kan?” S28

  P :”Okee..hubunganmu sama orang tua gimana?” S27

  P :”Misalnya besok ada pelajaran matematika gitu, malemnya belajar?” S27

  :”Nah coba dilihat, jumlah berat badan mereka itu adalah berat badan Bima ditambah berat badan Ri...?”

  :”Sulit..”

  S27

  :”...rita..”

  P :”Nah, berat badan bima itu lima ditambah?” S27

  :”...x”

  P :”Ditambah x lagi, Nah x itu adalah berat badan Ri..?” S27

  :”Rita”

  P :”Sama dengan seratus lima...gitu..paham?” S27

  :”Nggeh”

  P :”menurutmu materi ini sulit gak?” S27

  P :”Okee...yang sulit bagian mana?” S27

  :”Belajar”

  :”Itu tu kadang- kadang tu, x itu tu bisa dikurangi bisa ditambah gitu..”

  P :”Ohh..yang memodelkan?” S27

  :”Iyaaa..”

  P :”kalau dikelas gitu paham gak apa yang dijelaskan guru?” S27

  :”Ya...sedikit-sedikit..”

  P :”Banyak enggaknya?” S27

  :”Oke..misalnya kamu dapat nilai jelek gitu, komentar orang tuamu gimana?”

  P :”Yaa...harus lebih giat lagi belajar..” S27

  :”Gitu...”

  P :”Terus kamu belajar gitu kalau di rumah?” S27

  :”He’eh..”

  S28 :”..aa” P

  :”Kalau bapak gak komentar”

  P :”...x..kan? sama dengan sertus li..?” S28

  :”...ma..”

  P :”Gitu...menurutmu materi ini sulit gak?” S28

  :”Sulit..”

  P :”Yang sulit bagian apa?” S28

  :”Menyelesaikan”

  P :”Kalau di kelas, paham gak apa yang dijelaskan guru?” S28

  :”Kadang-kadang”

  P :”Misalnya kamu dapat nilai jelek gitu, bagaimana komentar orang tuamu di rumah?” S28

  P :”Ibuk?” S28

  P :”Terus ditambah berat badan Rita tadi apa disini?” S28

  :”Ibuknya....ibuknya itu gak ada dirumah.”

  P :”Terus kalau di rumah selalu belajar gak?” S28

  :”Belajar..”

  P :”Okee...misalnya besok ada matematika kamu malemnya belajar gak?” S28

  :”Belajar..”

  P :”Selalu?” S28

  :”yaa...enggak (sambil tertawa)”

  P :”Okee hubunganmu dengan teman di kelas gimana?” S28

  :”Kadang-kadang akur..”

  P :”Kadang-kadang enggak?” S28

  :”(diam)”

  :”lima ditambah x”

  :”Gitu...Paham?”

  S28 :”(mengangguk)” P

  S28 :”(mengangguk)” P

  :”Oke...yang nomor dua...Ini kok dapet 6...Dari mana? Apakah ini ditambah ini ditambah ini?(sambil menunjuk jawaban)”

  S28

  :”Iyaa...”

  P :”Apakah variabel boleh ditambahkan dengan bilangan?” S28

  :”(tersenyum)”

  P :”Gak boleh kan? Kecuali kalau dika..?” S28

  :”...li..”

  P :”Pada persamaan ini variabel dijumlahkan dengan variabel, bilangan dijumlahkan dnegan

  bilangan, gitu yaa..”

  :”Oke...Terus tanya yang nomor tiga, kenapa kamu bisa jawab lima plus x sama dengan seratus lima dari mana?”

  P :”Berarti berat badan Bima tadi apa?” S28

  S28

  :”(diam sejenak) berat badan Bima ditambah berat badan Rita..”

  P :”Oke...Nah, disini pemodelannya berat badan Bima itu, lima kilo lebih dari berat Ri..?” S28

  :”..ta..”

  P :”Berat Rita, apa disitu?” S28

  :”....x...”

  P :”Berarti pemodelan untuk berat badan Bima adalah lima ditambah?” S28

  :”...x..”

  P :”Ini yang diketahui kan, jumlah berat badan bima ditambah berat badan Ri..?” S28

  :”...ta..”

  :”Iyaa...”

  S28 :”Ya soalnya, teman-temen itu temenannya pilih-pilih gak mau temenan sama yang bodoh

  :”Ooh oke..., makasih ya..”

  S29 :”Belajar..” P

  :”Terus misalnya kamu dapet nilai jelek, orang tuamu komentar gak?”

  S29 :”Iya..” P

  :”Gimana komentarnya?”

  S29 :”Suruh belajar lagi...” P

  :”Okee...hubunganmu sama orang tua gimana?”

  S29 :”Baik..” P

  :”Sama teman di kelas?”

  S29 :”Baik..” P

  S29 :”Iya..sama-sama”

  S29 :”Paham..” P

  Transkrip wawancara S30

  P

  :”Haloo...namanya siapa?”

  S30 :”Tit....” P

  :”Okee...Andika...kan kemarin udah ngerjain soal nomor satu, dua dan tiga. Menurutmu soal yang paling sulit yang mana?”

  S30

  :”Nomor dua..”

  P :”Kok kamu bisa jawab x sama dengan x min dua dari mana?” S30

  :”(diam sejenak)”

  P :”Ehmnn...atau dari sini (sambil menunjuk) gitu?” S30

  :”Okee...kalau besok ada matematika, kamu malemnya belajar gak?”

  :”Kalau di kelas, kamu paham gak apa yang dijelaskan guru?”

  yang pinter temenannnya sama yang pinter”

  S29

  P :”Berarti kayak nge-gep gitu?” S28

  :”Iyaa..”

  P :”Ohh...okee..gitu..Sip makasih yan ......, nanti tolong panggilin ... ya, disuruh kesini, maksih

  ya...”

  S28 :”Iyaa...”

  Transkrip wawancara S29

  P

  :”Haloo...Tit...”

  S29 :”Iya...” P

  :”Mau tanya nih, kan kemarin udah ngerjain soal nomor satu, dua dan tiga...Soal yang paling sulit mana?”

  :”Semua”

  S29 :”Enggak” P

  P :”Okee..mau tanya soal yang nomor dua nih, ini kok bisa dapet delapan x dari mana?” S29

  :”Ehmmn...”

  P :”Okee...apakah variabel boleh dijumlahkan dengan bilangan?” S29

  :”Enggak..” P :”Nah, kalaupun mau tetep dijumlahkan hasilnya tetap, misalnya x plus dua, x plus tiga..

  Lanjut

  nomor tiga ya, nah ini kamu pemodelannya kurang tepat kamu dapet lima kali x dari mana?”

  S29 :”Ehmnn..” P

  :”Dari ini?(sambil menunjuk)”

  S29 :”Iya...” P

  :”Oooh..oke...menurutmu materi ini sulit gak?”

  :”Iyaa...”

  P : ”Okee...terus ini (sambil menunjuk) kok ini bisa tiga kali du belas gitu? Langsung? Ini dikali

  :”Ini akan lebih tepat, kalau kamu menuliskannya model matematika dari banyaknya ayam Susi adalah x min dua”

  S31 :”Iyaa..” P

  :”okee...dari soal, satu, dua sama nomor tiga yang paling sulit yang mana?”

  S31 :”Nomer satu” P

  :”Oke...tanya yang nomor satu, kok kamu bisa jawab x sama dengan x min 2 dari mana?

  S31 :”Ehmnn...x nya itu adalah model matematika dari banyaknya ayam Susi, terus x min duanya

  itu banyaknya ayam Dona dikurangi ayam Susi”

  P :”Nah ini pemodelannya kurang tepat ya, coba dilihat, kamu memisalkan x nya itu jangan

  sama dengan x nya banyaknya ayam Susi..”

  S31 :”Ohh..iyaa” P

  S31

  P

  :”(mengangguk)”

  P :”Okee..paham?” S31

  :”Iyaa...paham..”

  P :”Okee yang nomor dua sama nomor tiga kamu dah betul...Udah paham ya, yang nomor dua

  sama tiga?”

  S31 :”Iyaa..sudah..” P

  :”Okee..mau tanya lagi...menurutmu materi ini sulit gak?”

  S31 :”Sedang..” P

  :”Okee...kalau di kelas gitu, kamu paham gak apa yang dijelaskan guru?”

  S31 :”Yaaa...paham..” P

  :”Tit........ ya...”

  Transkrip wawancara S31

  ini gitu?”

  S30 :”Kalau paham tu paham” P

  S30 :”Ya...” P

  :”Terus ini (sambil menunjuk jawaban) kok bisa jawab enam x dari mana?”

  S30 :”(Diam cukup lama)” P

  :”Atau lima ditambah x ditambah x?”

  S30 :”Iyaa..” P

  :”Oke...Terus menurutmu materi ini sulit gak?”

  S30 :”Kalau belum paham, yaa...sulit” P

  :”Okee...yang sulit bagian mana?”

  S30 :”Modelnya..” P

  :”Okee...kalau di kelas itu paham gak apa yang dijelaskan guru?”

  :”Kalau ngerjain sendiri gak?”

  S30 :”Sama-sama..”

  S30 :”Iyaa...” P

  :”Okee...kalau misalnya kamu dapet nilai jelek gitu, gimana reaksi orang tuamu di rumah?”

  S30 :”Ya...nasehatin suruh belajar lagi...” P

  :”Terus kamu belajar gak?”

  S30 :”Belajar...” P :

  ”Okee...hubunganmu sama teman-teman di kelas gimana?”

  S30 :”Baik” P

  :”Sama orang tua?”

  S30 :”Baik..” P

  :”Okee...sip..makasih Andika”

  

:”Okee...kalau misalnya... kamu dapet nilai jelek, gitu ya, bagaimana komentar orang

  S31 :”Yaa...disuruh belajar lagi....” P

  :”...ta..”

  S32 :”...x...” P

  :”Berarti x min du...?”

  S32 :”...aa...” P

  :”Yang nomor dua udah betul.. Terus yang nomor tiga, nah ini ada lima plus x, nah ini baru pemodelan berat badan Bi...?”

  S32

  :”...ma..”

  P :”Nah ini kan kalau seratus lima berat badan Bima ditambah berat badan Ri..?” S32

  :”...ta..”

  P :”Nah berarti ini (sambil menunjuk) kurang ditambah berat badan Ri..?” S32

  P :”berarti lima plus x ditambah?” S32

  S32 :”...aa..” P

  :”....x”

  P :”iyaa...menurutmu materi ini sulit gak?” S32

  :”Sedang..”

  P :”Okee...kalau di kelas gitu, kamu paham gak apa yang dijelaskan guru?” S32

  :”Paham..”

  P :”Okee...kalau misalnya kamu dapet nilai jelek, gitu ya, bagaimana komentar orang tuamu?” S32

  :”Marah...”

  P :”Marah??Gimana marahnya?” S32

  :”(tertawa)”

  P :”Seumpama kalau besok ada matematika kamu malemnya belajar gak?” S32

  :”Berarti banyaknya ayam Dona, apa disini?”

  ekor kurang dari banyaknya ayam Susi. Berarti sama aja banyaknya ayam Dona dikurangi du..?”

  :”Terus kamu belajar?”

  S31 :”Iyaa...” P

  S31 :”Iyaa...belajar” P

  :”Terus...seumpama kalau besok ada matematika kamu malemnya belajar gak?”

  S31 :”iyaa...belajar” P

  :”Selalu?”

  S31 :”Iyaa...selalu” P

  :”Okee..terus hubunganmu sama teman-teman di kelas gimana?”

  S31 :”Biasa aja..” P

  :”Sama orang tua?”

  S31 :”Baik..” P

  :”Okee.. makasih ya.....nanti tolong panggilin nomor absen selanjutnya ya..”

  :”Makasih..”

  P :”Nah ini pemodelannya kurang tepat ya, coba dilihat, sedangkan Susi mempunyai ayam dua

  S31 :”Sama sama..”

  Transkrip wawancara S32

  P

  :”Tit.........ya...”

  S32 :”Iyaa..” P

  :”okee...dari soal, satu, dua sama nomor tiga yang paling sulit yang mana?”

  S32 :”Nome..er tiga” P

  :”Oke...tanya yang nomor satu, ini yang dimaksud x ekor ini apa?(sambil menunjuk) Apakah

  banyaknya ayam Susi? S32

  :”Iya...”

  :”Belajar”

  S32 :”Baik..” P

  :”...ta...”

  S33 :”tigaa..” P

  :”Okee...yang nomor tiga kamu kurang tepat dalam memodelkannya, berat badan Bima disini apa pemodelannya?”

  S33

  :”Ehmnn..”

  P :”Lima ditambah?” S33

  :”...x..”

  P :”Nah coba dilihat disini, jumlah berat badan mereka adalah seratus li..?” S33

  :”..ma”

  P :”Seratus lima itu berarti berat badan Bima ditambah berat badan Ri..?” S33

  P :”Berat badan Bima itu, lima ditambah x dan Rita itu apa?” S33

  S33 :”Empat..” P

  :”...x”

  P :”Berarti pemodelan berat badan keduanya lima ditambah x ditambah?” S33

  :”...x..”

  P :”sama dengan seratus li?” S33

  :”...ma..”

  P :”Menurutmu materi ini sulit gak?” S33

  :”Agak sulit..”

  P :”Banyak sulitnya?” S33

  :”iyaa..”

  P :”Okee yang sulit, bagian mana?” S33

  :”Empat dikurangi satu?”

  dikali dua berapa?”

  :”Sama orang tua?”

  S33

  S32 :”Baik..” P

  :”Okee.. makasih ya.....nanati tolong paggilin nomor absen selanjutnya ya..”

  S32 :”Iyaa...”

  Transkrip wawancara S33

  P

  :”Oke Tit..... ya..”

  S33 :”Kan kemarin udah ngerjain soal nomor satu, dua sama tiga..Nah menurutmu soal yang

  paling sulit yang mana?”

  S33 :”Dua..” P

  :”Nomor dua ya, okee..mau tanya nomor satu, kenapa kamu bisa jawab x sama dengan dua min x?”

  :”Karena...”

  mensubstitusi nilai ke persamaan (sambil menunjuk), Nah dua x itu, dua dikali dua, nah ini kalau dua

  P :”Apa hayo?” S33

  :”Dari ini (sambil menunjuk kalimat soal)”

  P :”Coba dilihat, Susi mempunyai ayam dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona berarti

  sama dengan banyaknya ayam Dona dikurangi du..?”

  S33 :”...aa” P

  :”Nah banyaknya ayam Dona apa?”

  S33 :”...x” P

  :”Nah...berarti x min du..?”

  S33 :”aa..” P

  :”Okee...yang nomor dua itu, kamu udah tepat langkahnya Cuma kamu kurang tepat dalam

  :”Memodelkan”

  S33 :”Paham..” P

  :”Iyaa...”

  P :”Banyaknya ayam Susi?” S34

  :”Iyaa..”

  P :”Nah ini pemisalannya jangan sama dengan banyaknya ayam Susi ya..” S34

  :”Iyaaa..”

  P :”Ini (sambil menunjuk jawaban) kalau variabel ditambah dengan bilangan itu bisa ndak?” S34

  :”enggak..”

  P :”Nah...kecuali kalau dika..?” S34

  :”...li..”

  P :”Terus yang nomor tiga, kamu pemodelannya kurang tepat ini, gitu ya?” S34

  P :”Okee...kalau menurutmu materi ini sulit gak?” S34

  P :”Nah, ini (sambil menunjuk) x nya ini apa?” S34

  :”E...sedikit sulit.. “

  P :”Okee...kslsu di kelas, paham gak apa yang dijelaskan guru?” S34

  :”Paham...”

  P :”Kalau sampai dirumah paham?” S34

  :”Paham..”

  P :”Nah...misalnya kamu apet nilai jelek gitu, gimana komentar orang tua mu?” S34

  :”Ya...disuruh belajar lebih tekun..”

  P :”Terus kamu belajar?” S34

  :”Iyaa..”

  P :”Okee...terus hubunganmu sama orang tua gimana?” S34

  :”Ehmnnn..”

  :”Terus maksud saya itu ini dikurangi dua..”

  :”Okee...misalnya kalau kamu dapet nilai jelek, komentar orang tuamu gimana?”

  S33 :”Iyaa...”

  S33 :”Cuma disuruh belajar..” P

  :”Terus kamu belajar?”

  S33 :”Iyaa..” P

  :”Terus, misalnya besok ada matematika, kamu malemnya belajar gak?”

  S33 :”Belajar..” P

  :”belajar..okee..terus mau tanya, hubunganmu sama orang tua gimana?”

  S33 :”Baik..” P

  :”Sama temen-temen dikelas?”

  S33 :”Baik..” P

  :”Okee..siip..makasih yaa..”

  Transkrip wawancara S34

  P :”Ohh..” S34

  P

  :”Ohh..ya kmau panggilannya siapa?”

  S34 :”Tit...” P

  :”okee...Tit...kan kemarin udah ngerjain soal nomor satu, dua sama tiga, menurutmu soal yang paling sulit yang mana?”

  S34

  :”Duaa..”

  P :”Okee...tanya yang nomor satu dulu, kamu paham gak maksud soalnya?” S34

  :”Sedikit..”

  P :”Kenapa kok kamu bisa jawab x min dua sama dengan x?” S34

  

:”ini itu, x itu mempunyai Dona, terus sedangkan Susi mempunyai ayam dua ekor..”

  :”Yaa...mendukung..”

  S34 :”Baik...” P

  :”Okee...sip makasih yaa..”

  S34 :”Iyaa..sama sama”

  Lampiran C.5

  P :”Setelah pembelajaran remediasi kemarin, kamu jadi lebih paham enggak sih?” S17

  itu”

  P :”Ooh...nggeh Pak..” b.

   Transkrip wawancara dengan siswa

  P :”Selamat pagiii ...” S17

  :”Selamat pagiii buu..”

  P :”Tit....mau ngobrol-ngobrol nih sebentar” S17

  :”Iyaa...bu”

  :”Iyaa...paham sekali bu...”

  :”Yaa...itu kalau saya dalam setiap pembelajaran ya itu yang diambil memang

  P :”Yang lebih paham pada bagian mana?” S17

  :”Yang memodelkan bu sama mencari penyelesaian dari pemodelan..seperti pada soal latihan yang nomor 2 dan 3..”

  P

  :”Ooh..okee..kamu lebih paham pembelajaran dengan diskusi kelompok gitu atau dijelaskan guru di depan kelas?”

  S17

  :”Lebih paham diskusi bu...soalnya jika mau tanya ke teman itu nggak sungkan buu...”

  P

  pengubahan metode pembelajaran atau mungkin bentuk soal disederhanakan...ya mungkin

  P :”Hee...Ehmnn rencana bapak selanjutnya?” G

  a. Transkrip wawancara dengan guru

  :”Nggeh...”

  P :”Selamat sore Pak” G

  :”Iyaa..Soree...Gimana den?”

  P :”Begini Pak, mau tanya, perihal pengajaran remediasi yang kemarin,,” G

  :”hehm...(Sambil mengangguk)”

  P :”Apakah pendapat bapak perihal pembelajaran remediasi kemarin?” G

  :”Iyaaa... pembelajaran remediasi itu memang yang pertama pengulangan materi...”

  P

  G :”Terus juga, metode, itu juga perlu diganti, untuk perbaikan..” P

  dilaksanakan, terkadang materi yang lainnya tidak akan keburu.. ”

  

:”Nggeh...Lajeng yen wonten dampak positif nya niku berupa nopo?”

  G :”Dampak positif ya pemahaman anak dengan materi itu lebih baik sehingga bentuk-bentuk soal bervariasi anak bisa mengerjakan... lalu pemahaman anak mengenai pertidaksamaan linear satu variabel menjadi lebih mudah karena konsep persamaan linear satu variabel

  sudah dikuasai sebagian besar siswa dengan baik”

  P :”Oooh...nggeh..Terus...” G

  :”Apalagi?”

  P :”Biasanya apakah bapak selalu melaksanakan pengajaran remediasi jika ada lebih

  dari 50 % siswa nilainya dibawah KKM?”

  G :”Iyaaa...terkadang...karena mengingat jika pengajaran remediasi selalu

  :”Oalaah...yayaya...hemnnn..Setelah pembelajaran remediasi, kira-kira kamu

  S17 :”Hhmnn...hehehe...berapa ya?” P

  (Sambil tertawa)”

  :”Heee....ya masih agak ragu bu, sama soal yang lebih sulit dari latihan-latihan

  kemari n” P

  :”Ooh...okee...asalkan kamu bisa memahami maksud soal dan kamu menguasai konsep,, bentuk soal apapun pasti kamu bisa ngerjain kok”

  S29

  :”Hehe...iyaa bu..”

  P :”Halooo..” S6

  :”iyaa bu..”

  P :”kita ngobrol-ngobrol ya…”(sambil tertawa)…..Hhmnn…menurutmu setelah pembelajaran kemarin, kamu seakin dong atau blong?

  S6 :”Dong kok Bu..” P

  :”Sekitar 90 % an bu...”

  :”Okee… kan kamu dapet seratus ya?”

  S6 :”Iyaa…bu..” P

  :”Itu kemarin ngerjain sendiri atau nyontek?”

  S6 :”Ngerjain sendiri Bu..” P

  :”Okee…yang semakin dong, materi bagian apa?”

  S6 :”Semuanya bu…” P

  :”Okee…seumpama kalau dikasih soal, di ubah-ubah dikit, bias ngerjain ya?”

  S6 :”Semoga bu…(sambil tertawa)” P

  P :”Lha yang 10 %?” S29

  P :”Berapa sin?” S29

  :”Hayooo....berapa?”

  P :”Gini Tit........, setelah pembelajaran remediasi kemarin, kamu jadi tambah paham

  S17 :”Heee....95 % bu...” P

  :”Bener nih?”

  S17 :”Iyaa...bu..” P :”Halooo..” S29

  :”Iyaaa bu...”

  P :”Udah siap?” S29

  :”Siap...apa bu?”

  P :”Hehehe....ngobrol-ngobrol sama saya..” S29

  :”(mengangguk)”

  atau ndak materi penerapan persamaan linear satu variabel?”

  :”Yaaa...”

  S29 :”Iyaaa...bu..” P

  :”Tambah paham banget...atau tambah aja?”

  S29 :”Tambah paham banget bu..” P

  :”Okeee...sin..bagian materi mana yang kamu mengerti?”

   S29 :”Semuanyaa bu, yang diajarkan pada saat pembelajaran remediasi kemarin,

  semuanya paham...”

  P :”Pemodelan?penyelesaian soal cerita?” S29

  :”Iyaa bu...”

  P :”okee...seberapa persen pemahamanmu mengenai materi ini?” S29

  

:”Berapa besar pemahaman mu setelah mengikuti pembelajaran ini?”

  P :”Okee…Pembelajaran pakai sistem diskusi kelompok, enak gak? Kamu semakin

  P :”Mau ya, ngobrol-ngobrol bentar..” S34

  S8 :”Hmnn (mengangguk)” P

  :”Okee…begitu saja Tit…”

  S8 :”Iyaa bu...” P :

  ”Makasih yaa..”

  S8 :”Iyaa...bu..” P :”Hallooo Tit…” S34

  :”Iyaa..bu..”

  P :”Monggo…silahkan duduk dulu…hehe” S34

  :”Maksih bu…”

  :”Ditanyain apa bu?”

  S8 :”Lebih paham dijelaskan bu...Soalnya kalau diskusi itu, ada temen yang buat usil” P

  P :”Rahasia…(Sambil tertawa)” S34

  :”Yahh…”

  P :”Okee… setelah pembelajaran remediasi kemarin, kamu jadi lebih paham ndak

  sih? Atau sama aja?”

  S34 :”Ya…paham bu…” P

  :”Yang semakin paham pada bagian apa?”

  S34 :”Itu bu…yang ngubah itu hloo..” P

  :”yang mana? Memodelkan?”

  S34 :”Nah…iya bu..” P

  :”Oalaah...yayaya...hemnnn..Okeee…”

  diskusi kelompok gitu atau dijelaskan guru di depan kelas?”

  paham ndak?”

  :”Cuma sebentar aja kok…hehehe….Setelah pembelajaran remediasi kemarin, kamu jadi lebih paham enggak sih?”

  S6 :”Iyaa…bu..enak..jadi bisa Tanya temen-temen..” P

  :”Ohh..oke gitu aja Tit.”

  S6 :”iyaa bu..” P

  :”Makasih yaa…”

  S6 :”Iyaa sama-sama Bu..” P

  :”Haii…Tit..”

  S8 :”Iyaa…bu..” P

  :”Tit....ngobrol-ngobrol sebentar ya”

  S8 :”Iyaa...bu” P

  S8

  P :”Ooh..okee..kamu kalau proses pembelajaran gitu, lebih paham pembelajaran dengan

  :”Hmnnn..”

  P :””Hayooo?” S8

  :”Iyaa...paham bu...”

  P :”Berapa persen tingkat pemehaman mu setelah pembelajaran kemarin?” S8

  :”hmn…80% lah bu”

  P :”Lah yang 20% kemana?” S8

  :”Masih ragu bu…hehehe”

  P :”Okee..yang lebih paham pada bagian mana?” S8

  :”Yang memodelkan bu ..”

  :”Okee… tingkat pemahamn mu berapa persen?”

  P :”Okee… kan kemarin metodenya pakai diskusi kelompok to, kalau pakai metode itu

  :”Yang…penyelesainnya bu..”

  :”Ooh…okee Tit….makasih yan untuk waktunya..”

  tertawa) P

  :”Mudeng bu…soalnya bisa Tanya-tanya pada yang lebih pinter…”(Sambil

  S16

  :”okee… kan kemarin belajarnya pakai metode diskusi kelompok, kamu jadi mudeng dalam belajar atau ndak?”

  S16 : “Iyaa…bu..” P

  ya..”

  P :”tapi ini udah lumayan kok, walaupun belum tuntas yaa..Belajar yang rajin lagi

  :”Hhmnn…80%..bu..”

  P :”Okee…tingkat pemahamnmu berapa persen?” S16

  :”Yaaa…lumayan sih..”

  P :”yang memodelkan?” S16

  P :”Yang lebih mudeng, bagian mana?” S16

  jadi paham ndak belajar ny?”

  :”jadi mudeng bu…”

  S16

  :”Okee…mau Tanya nih, setelah pembelaajran kemarin, kamu jadi lebih paham ndak sih? Atau jadi tambah bingung?” (Sambil tertawa)

  S16 :”Iyaa,,,bu bisa..” P

  :”Kamu gimana kemarin, bisa ngerjain tes nya ndak?”

  S16 :”Iyaa…bu…” P

  :”Halooo..”

  S34 :”Iyaa…sama-sama bu…” P

  :”Ohh..okee kalau gitu, makasih ya Tit….”

  S34 :”enggak ya bu…” P

  :”Asyik bisa mainnya?”(Sambil tertawa)

  S34 :”Iyaa…bu…paham kok..Bener bu…asyik malahan..” P

  S16 :”Iyaa,,,bu…”

  243

  Lampiran D

  244

  (Siswa mengerjakan dan mempresentasikan hasil (Guru menjelaskan materi) jawaban di depan kelas)

  i) (Suasana kelas pada saat pembelajaran

  (Suasana kelas pada saat mengerjakan soal) remediasi) (Guru membimbing siswa dalam mengerjakan

  ( Siswa

  • – siswi kelas VII B)

  soal)

  Lampiran E.2

  Lampiran E.3

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh model creative problem solving terhadap Pemahaman Konsep Persamaan Linear Satu Variabel (PLSV) (penelitian quasi eksperimen di kelas VII SMP Nusantara Plus Ciputat)
1
35
0
Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berbasis Concept Attainment Model Konsep Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel
9
26
211
Desain Didaktis Untuk Mengatasi Learning Obstacle Topik Persamaan Linear Satu Variabel.
0
1
13
PENGEMBANGAN DESAIN DIDAKTIS UNTUK MENGATASI LEARNING OBSTACLES MATERI PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL PADA SISWA KELAS VII SMP.
2
8
18
Efektivitas media komik pada pembelajaran sistem persamaan linear satu variabel ditinjau dari hasil belajar, minat dan perhatian siswa kelas VII B SMP Maria Immaculata Yogyakarta.
1
19
243
Upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dengan mendiagnosis kesulitan belajar dan pembelajaran remediasi kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Moyudan pada materi bangun ruang sisi datar.
0
2
229
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Skim Persamaan Linear Satu Variabel pada Siswa Kelas VII SMP N 2 Salatiga
0
0
1
Persamaan linear satu variabel
0
0
7
PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL
0
0
12
KEMAMPUAN PENALARAN ANALOGI SISWA DALAM MATERI PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL DI SMP KELAS VII ARTIKEL PENELITIAN
0
0
14
PENGARUH KEBIASAAN BELAJAR DAN LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII A DAN VII B SMP PANGUDI LUHUR WEDI TAHUN AJARAN 20172018
1
1
152
PENGGUNAAN PEMODELAN MATEMATIKA BESERTA LKS DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA TOPIK MENYELESAIKAN SOAL-SOAL CERITA PADA POKOK BAHASAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL SISWA KELAS IX.B SMP PANGUDI LUHUR MOYUDAN TAHUN AJARAN 20102011
0
20
272
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) dan model pembelajaran konvensional pada pokok bahasan persamaan garis lurus untuk meningkatkan sikap dan hasil belajar siswa kelas VIII B SMP Pangudi Luhur Giriwoyo -
0
0
207
Implementasi model pembelajaran konstruktivisme melalui penggunaan ubin aljabar untuk menanamkan konsep persamaan linear satu variabel kepada siswa kelas VII G SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 - USD Repository
0
8
134
Diagnosis dan remediasi kesulitan belajar siswa kelas VIII B SMP Pangudi Luhur Moyudan tahun ajaran 2017/2018 pada pokok materi bunyi dan getaran - USD Repository
0
0
111
Show more