Pengembangan alat peraga montessori materi perkalian untuk siswa kelas II SD.

Gratis

0
39
299
2 years ago
Preview
Full text

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIHALAMAN PERSEMBAHAN

  Almameterku: Universitas Sanata Dharma ▪Semua pihak yang telah membantu dan mendukung baik ▪secara langsung dan tidak langsung setiap proses penelitian dan penyusunan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satuper satu. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapatkekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidakmenjadi lelah ” (Yesaya 40:29-31) “Pendidikan merupakan perlengkapan paling baik untuk hari tua”.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, terkecuali yang sudah tertulis di dalamkutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Sehinggaalat peraga ini dapat dinyatakan layak digunakan dalam proses pembelajaran dan dapat dikembangkan pada tahap yang lebih luas.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIKATA PENGANTAR

  Penulis menyadari bahwa selama proses penelitian dan penyusunan laporan tugas akhir ini, banyak pihak yang telah memberikan bantuan baik berupadukungan, perhatian, semangat, kritik dan saran yang sangat penulis butuhkan. Semua pihak yang telah membantu dan mendukung baik secara langsung dan tidak langsung setiap proses penelitian dan penyusunan skripsi ini yang tidakbisa disebutkan satu per satu.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang ada pada semua

  Kemalasan siswa tersebut bisa jadi disebabkan karena proses belajar mengajar yang tidak efektif, guru kurang tepat dalam menentukanmodel pembelajaran, tidak dimanfaatkannya alat peraga sebagai media belajar, siswa tidak mengetahui cara dalam menyelesaikan persoalan Matematika,ataupun karena siswa takut salah dalam menentukan hasil persoalan tersebut. Peneliti mengembangkan alat peraga papan perkalian dengan tujuan membantu siswa dalam memahami materi konsep perkalian danmembantu siswa dalam menentukan hasil perkalian tidak lebih dari 2 digit.

B. Identifikasi Masalah

  Bagaimana ciri-ciri alat peraga Montessori yang dikembangkan dalam menentukan konsep dan hasil perkalian pada siswa kelas II SD KanisiusTegalmulyo Yogyakarta? Bagi siswa, dapat membantu dalam menentukan hasil perkalian dengan cara yang menarik dan memperoleh pengalaman dalammenggunakan alat peraga Montessori.

F. Spesifikasi Produk

  Berikut desain alat peraga papan perkalian berbasis Montessori: Gambar 1.1 Alat Peraga Papan Perkalian Gambar 1.1 merupakan desain dari alat peraga papan perkalian Montessori. Sedangkan lubang-lubang pada tengah papan berguna untukmenaruh manik-manik yang nantinya akan digunakan dalam menyelesaikan persoalan perkalian dan menunjukkan hasil perkalian.

TEMPAT TEMPAT TEMPAT TEMPATMANIK-MANIK MANGKUK MANIK-MANIK MANIK-MANIK TEMPAT KARTU SOAL TEMPAT KARTU ANGKA TEMPAT PION

  Sedangkan pada sisisebaliknya akan terdapat sebuah bilangan yang merupakan hasil perkalian dari soal yang ada di sisi depannya. Gambar 1.7 merupakan gambar kartu angka yang akan dikalikan Untuk kartu angka digunakan sebagai penunjuk bilangan yang akan dikalikan, yang nantinya akan dimasukkan ke dalam slot yang berada pada bagian tengah atas papan perkalian.

G. Definisi Operasional 1. Perkalian adalah penjumlahan berganda dengan suku-suku yang sama

  Pengembangan alat peraga adalah memvalidasi alat peraga yang sudah ada, kemudian ilanjutkan memperbarui alat peraga yang sudah ada, sehingganantinya akan menciptakan alat peraga yang baru. Metode Montessori adalah metode yang dirancang untuk menumbuhkan kepekaan indra anak-anak dan ketrampilan manual, memberi merekasejumlah pilihan di dalam lingkungan yang terstruktur, membangun iklim ketertiban, dan menumbuhkan kemandirian dan keyakinan diri dalammempraktikkan ketrampilan-ketrampilan.

H. Sistematika Penulisan Secara garis besar, skripsi ini terdiri dai 5 bab denan beberapa sub bab

  Dalam Matematika kembali dijabarkanmengenai pengertian Matematika, pembelajaran Matematika, perkalian, kesulitan belajar Matematika, alat peraga pembelajaran, alat peragaMatematika, sejarah Montessori, dan alat peraga Montessori. Selain itu peneliti juga menjelaskan mengenai penelitian yang relevan dan kerangka berfikir BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini dijelaskan tentang jenis penelitian; setting penelitian yang meliputi objek penelitian, subjek penelitian, lokasi penelitian, dan waktupenelitian; rancangan penelitian; prosedur pengembangan; instrumen penelitian yang meliputi pedoman wawancara, kuesioner, pedoman observasi;teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan jadwal penelitian.

BAB II LANDASAN TEORI Dalam bab ini, akan dibahas mengenai kajian pustaka, penelitian yang relevan, dan kerangka berpikir. A. KAJIAN PUSTAKA Pada kajian pustaka akan dijelaskan mengenai teori-teori perkembangan anak

dan Matematika yang akan dipaparkan oleh para ahli sebagai berikut:

1. Perkembangan Anak

  Perkembangan yang dimaksud adalah perubahan yang berfungsiuntuk mencapai penyempurnaan dalam menunjukkan cara peserta didik bertingkah laku dan berinteraksi dengan lingkungan (Agustina, 2014:4). Sebagaimana dikemukakan oleh Piaget (dalam Hosnan, 2016:146) yang mengamukakan bahwa tahapan perkembangan kognitif anak secara garisbesar dikelompokkan menjadi 4 tahap yaitu: 16Dengan mengacu teori Piaget tersebut, maka dapat diketahui bahwa anak usia SD berada pada tahap operasional konkret (usia 7-11 tahun) di manaanak mulai menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut: a) Anak mulai memandang dunia secara objektif dan memandang unsur- unsur secara serentak.

a. Pengertian Matematika

  Sementara Kline mengatakan bahwa Matematika adalah pengetahuan yang tidak berdirisendiri, tetapi dapat membantu manusia untuk memahami dan memecahkan permasalahan sosial, ekonomi, dan alam (dalam Runtukahu,2014:28). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Matematika adalah ilmu dasar yang dapat digunakan sebagai alat bantu untuk menyelesaikanpermasalahan dalam berbagai bidang ilmu.

b. Pembelajaran Matematika

  Selain itu guru harus mampu menempatkan dirinya secara dinamis dan fleksibel sebagai informan, transformator, organizer,serta evaluator bagi terwujudnya kegiatan belajar siswa yang dinamis dan inovatif. MenurutWragg (dalam Susanto, 2013:188) pembelajaran efektif adalah 20Dengan demikian, proses pembelajaran Matematika bukan sekedar transfer ilmu dari guru ke siswa, melainkan adanya interaksi antara gurudengan siswa, siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan lingkungannya.

c. Perkalian

  Untuk menyelesaikan soal tersebut diperlukan pengalaman awal dalam mengenal perkalian bagi siswa berkesulitan belajar dengan visualisasi danverbalisasi, berikut model-model yang dapat digunakan: 211) Kelompok objek yang sama # # # # # # # ## # # # Gambar 2.1 Kelompok objek yang sama Pada gambar 2.1 simbol pagar (#) menunjukkan kelompok objek yang sama, dalam hal ini objek yang dimaksud yaitu ikan yang diperoleh dari hasil memancing. Sehingga dapat diartikan pada baris pertama ada 4 ekor ikan yang berhasil dipancing oleh orang pertama, baris kedua menunjukkan ada 4ekor ikan yang berhasil dipancing oleh orang kedua, dan baris ketiga menunjukkan ada 4 ekor ikan yang berhasil dipancing oleh orangketiga.

d. Kesulitan Belajar Matematika

  Terdapat sekitar 12 definisi kesulitan belajar, walaupun berbeda-beda namun definisi kesulitan belajar memiliki kesamaan yaitu: 1) Kesulitan belajarmenyangkut kesulitan dalam pencapaian dan pengembangan akademik, 2)Kesulitan belajar menyangkut kekurangan dalam pola perkembangan bahasa, pengembangan fisik, pengembangan akademik seperti Matematika dan/ataupengembangan perseptual, dan 3) Tidak termasuk dalam lingkungan yang tidak mendukung (Runtukahu, 2014:20). Menurut Lerner, faktor penyebab kesulitan belajar sebenarnya tidak diketahui dengan pasti, tetapi dapat dikemukakan beberapa penyebabnyayaitu: 1) KeturunanKeturunan dapat menyebabkan kesulitan belajar, tetapi tidak semua pakar Pendidikan Luar Biasa (PLB) menyetujuinya dikarenakanlaporan-laporan hasil penelitian yang berbeda.2) Otak tidak berfungsi Tidak berfungsinya otak dapat menyebabkan anak berkesulitan belajar karena otak tidak berfungsi dengan baik.

e. Alat Peraga Pembelajaran Matematika

  2) Alat peraga bukan sebagai alat hiburan, akan tetapi alat ini dijadikan untuk membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa sehingga proses belajarmengajar lebih menarik perhatian siswa.3) Diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar serta dapat membantu siswa dalam menangkap pengertian yang disampaikan oleh gurudan mengingatnya lebih lama. 5) Merangsang siswa untuk berfokus dan beranalisis.6) Menciptakan kondisi dan situasi belajar tanpa tekanan.7) Siswa dapat memahami materi pelajaran dengan sistematis yang disajikan 293) Langsung mengemukakan isi dan arti.4) Jelas dan bentuk yang benar.5) Tidak membingungkan.

f. Sejarah Montessori

  Perempuan baru tersebut akan menikah dan memiliki anak-anakdengan pilihannya sendiri, bukan karena paksaan, dan dia akan melakukan kontrol atas kesehatan dan kesejahteraan generasi berikutnya dan membangun 32Pada 1907, ketika Edoardo Talamo Direktur Jenderal dari Instituto Romano di Beni Stabili (Asosiasi Bangunan Baik), meminta Montessori untuk mendirikan sekolah di sebuah wilayah miskin di Roma, yang bernama Casa dei Bambini atau Children’s House. Montessori memiliki beberapa motif ketika mendirikan Casa deiBambini, yaitu: pertama, motif sosial dan ekonomi untuk menghasilkan reformasi sosial, khususnya peningkatan kondisi dari kelas pekerja; kedua,motif bahwa sekolah merupakan alat untuk membantu para ibu pekerja yang akan berkontribusi bagi gerakan untuk memperjuangkan kesetaraan dan hak-hak bagi kaum perempuan.

g. Alat Peraga Montessori

  Hal ini juga disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa yang nantinya tidak akan menyulitkan siswa ketikamembawa ataupun menggunakan alat tersebut (Montessori, 2002:172-173) 3) MenarikAlat peraga Montessori memilik ciri menarik agar dapat menarik minat siswa dalam belajar. Dengan menggunakan alat peraga, siswa akan memperoleh pengalaman yang relevan sehingga ketikapembelajaran berlangsung, siswa memperoleh pengalaman yang kontekstual yang dapat membantu siswa selama proses belajar.

B. Penelitian yang Relevan

  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan alat peraga berkualitas sesuai dengan lima ciri alat peraga yang telah ditetapkan untuk melatih kemampuan berhitung bilangan bulat. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa produk yang dikembangkan mempunyai kualitas yangsangat baik dan sesuai dengan lima ciri alat peraga yang dijadikan dasar pengembangan alat peraga Montessori.

2. Elfrida Fetra Widyaningrum (2015) meneliti “Pengembangan Alat Peraga

  Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan berbasis metode Montessori sesuai dengan ciri-ciri spesifik yang ditetapkan dengankualitas baik untuk siswa kelas II. Hasil dari penelitian ini menunjukkanadanya peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan alat peraga papan perkalian berbasis Montessori, sehingga dapat dikatakan alat tersebutlayak digunakan untuk proses pembelajaran dan dapat dikembangkan dalam uji coba yang lebih luas.

4. Indah Wahyuningsih (2011) meneliti mengenai “Pengaruh Model

  metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen denganrancangan penelitian Two Group Randomized Subject Posttest Only. Pembaruan dari penelitian ini yaitu pengembangan alat peragaMontessori papan perkalian yang akan digunakan untuk sisw kelas II SD.

C. Kerangka Berpikir

  Di antara berbagai macam alat peraga yang ada, peneliti memilih alat peraga papan perkalian berbasis Montessori sebagaisarana pendukung kegiatan belajar siswa. Alat peraga papan perkalian ini menggunakan manik-manik dengan warna yang menarik, memanfaatkanbeberapa indra seperti indra peraba, penglihatan, dan pendengaran, memiliki pengendali kesalahan, dan dapat membantu siswa dalam membangun konsepperkalian secara mandiri.

BAB II I METODE PENELITIAN Dalam bab ini akan diuraikan mengenai jenis penelitian, setting penelitian

A. Jenis Penelitian

  Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu penelitian dan pengembangan atau sering juga disebut dengan Research and Development (R & D). Pada penelitian ini peneliti melakukan pengembangan alat peragaMatematika yang berbasis metode Montessori dengan materi perkalian untuk 43penelitian ini menghasilkan sebuah prototipe alat peraga perkalian berbasis metode Montessori.

B. Setting Penelitian

Pada subbab ini akan diuraikan mengenai objek penelitian, subjek penelitian, lokasi, dan waktu penelitian.

1. Objek Penelitian

  Alat peraga ini dirancang guna membantu siswa kelas 2 SD dalam memahami konsep perkalian dan membantu dalam menentukan hasil perkalian yang kurang dari 100. Selain itu SD Kanisius Tegalmulyo beradapada lokasi yang strategis yaitu di tengah kota namun jauh dari kebisingan karena letaknya ada di dalam perkampungan penduduk sehingga akanmemungkinkan dalam mencari bahan-bahan yang akan digunakan sebagai alat peraga.

C. Rancangan Penelitian

  Penelitian dan pengembangan pada level 1 (yang terendah tingkatannya) adalah peneliti melakukan penelitian untuk menghasilkan rancangan,tetapi tidak dilanjutkan dengan membuat produk dan mengujinya. Hal ini dapat digambarkansebagai berikut (Sugiyono, 2016:45): Studi Literatur PenelitianPerencanaan Pengujian Terhadap Produk 47Penelitian dan pengembangan pada level 3 adalah meneliti dan menguji untuk mengembangkan produk yang telah ada.

D. Prosedur Pengembangan

  Hal ini disebabkan karena waktu penelitian yang relatif singkat sehingga penelitian yang dilakukan dibatasi hanya sampai uji coba terbatas danmenghasilkan prototipe alat peraga yang telah divalidasi. Instrumen kuesioner untuk guru validasi dilakukan oleh ahli Pembelajaran Matematika dan EvaluasiPembelajaran, sedangkan instrumen kuesioner untuk siswa dilakukan validasi oleh ahli Pembelajaran Matematika dan Evaluasi Pembelajaran danoleh guru.

E. Instrumen Penelitian

  Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data, tanpa adanya alat tersebut, data tidak dapat diambil(Sugiyono, 2016:156). Instrumen penelitian yang digunakan yaitu pedoman wawancara, kuesioner, pedoman observasi, dan tes.

1. Pedoman Wawancara

  Wawancara adalah proses percakapan yang berbentuk tanya jawab dengan tatap muka dan proses pengumpulan data untuk suatu penelitian. Tujuan dilakukannya wawancara yaitu guna membuktikan informasi yang telah diperoleh sebelumnya dengan cara tanya jawab sambil bertatap mukaantara pewawancara dengan orang yang diwawancarai dengan menggunakan pedoman wawancara (Darmadi, 2014:291).

a) Wawancara Kepala Sekolah

  Kegiatan wawancara dilakukan kepada Kepala Sekolah dengan tujuan untuk mengumpulkan data dan informasi yang berkaitan denganketersediaan dan penggunaan alat peraga di SD Kanisius TegalmulyoYogyakarta. Berikut adalah kisi-kisi wawancara yang digunakan untuk wawancara kepada Kepala Sekolah yang disajikan dalam tabel 3.1.

3 Penggunaan alat peraga Matematika dalam pembelajaran

4 Penelitian yang pernah dilakukan di sekolah berkaitan dengan alat peraga

b) Wawancara Guru Kelas II

  Kegiatan wawancara berikutnya dilakukan dengan guru kelas II guna mengumpulkan data dan informasi yang berkaitan denganketersediaan alat peraga, penggunaan alat peraga, dan proses kegiatan pembelajaran Matematika beserta kemampuan dan kesulitan belajar yangdialami oleh siswa kelas II dalam materi perkalian. Wawancara 57kisi-kisi wawancara yang digunakan untuk wawancara kepada guru kelas II yang disajikan dalam tabel 3.2.

c) Wawancara Siswa Kelas II

  Kegiatan wawancara selanjutnya dilakukan kepada seluruh siswa kelas II SD Kanisius Tegalmulyo Yogyakarta sebanyak 10 siswa.wawancara ini dilakukan guna mengumpulkan data dan informasi yang berkaitan dengan ketersediaan alat peraga, penggunaan alat peraga, danproses kegiatan pembelajaran Matematika beserta kesulitan belajar yang dialami oleh siswa kelas II pada materi perkalian. 58 Kesulitan belajar yang dialami siswa dalam pembelajaran 3 Matematika 4 Usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan di atas Pedoman wawancara digunakan sebagai acuan dalam membuat instrumen pertanyaan untuk melakukan wawancara.

4 Berdasarkan tabel 3., instrumen dikatakan sangat valid jika

  Instrumen dikatakan valid jika memperoleh rata-rata skor pada interval 2,50 sampai 3,25 (keterangansesuai dengan topik yang digali) yang berarti keseluruhan instrumen sudah layak digunakan namun perlu direvisi. Instrumen dikatakan kurang validjika memperoleh rata-rata skor pada interval 1,75 sampai 2,50 (keterangan kurang sesuai dengan topik yang digali) yang berarti keseluruhaninstrumen kurang layak digunakan.

2. Kuesioner

  Instrumen kuesioner digunakan untuk analisis kebutuhan, penilaian kualitas alat peraga pembelajaran Matematika, dan validasi perangkatpembelajaran yang berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan soal tes. Responden dalam hal ini yaitu guru di kelas II dan siswa kelas II.

1. Diminati oleh siswa 6 dan 10

  Dalam proses validasi, penilaian yang diberikan oleh para ahli menggunakan skala Likert 1-4, yaitu 1 (sangat tidak sesuai denganindiator yang digali), 2 (kurang sesuai dengan indiator yang digali), 3(sesuai dengan indiator yang digali), dan 4 (sangat sesuai dengan indiator yang digali). Dalam proses validasi, penilaian yang diberikan oleh para ahli menggunakan skalaLikert 1-4, yaitu 1 (sangat tidak sesuai dengan indiator yang digali), 2(kurang sesuai dengan indiator yang digali), 3 (sesuai dengan indiator yang digali), dan 4 (sangat sesuai dengan indiator yang digali).

3.1 Melakukan 1a, 1b, 1c

  Menyelesaikan soal cerita yang 1a, 1b, dan mengandung perkalian 1c Berdasarkan tabel 3.9, indikator tersebut menjadi acuan yang digunakan oleh peneliti dalam membuat item pertanyaan soalperkalian untuk pretest dan posttest siswa kelas II SD KanisiusTegalmulyo Yogyakarta. Dalam proses validasi, penilaian yang diberikan oleh para ahli menggunakan skala Likert 1-4, yaitu 1 (sangat tidak sesuai denganindiator yang digali), 2 (kurang sesuai dengan indiator yang digali), 3(sesuai dengan indiator yang digali), dan 4 (sangat sesuai dengan indiator yang digali).

3. Pedoman Observasi

  Ketika observasi pembelajaran dilakukan, peneliti mengamati penggunaan,pemanfaatan, dan ketersediaan alat peraga dalam pembelajaranMatematika kelas II dan aktivitas pembelajaran di kelas yang meliputi kegiatan siswa dan cara guru mengajar. 73 Guru menggunakan alat peraga Penggunaan alat peraga dalamselama pembelajaran Matematika di 3.

F. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan inti dari setiap kegiatan penelitian

  Data kualitatif tersebut diperoleh dari beberapa hasilseperti hasil validasi wawancara, validasi kuesioner, validasi soal pretest dan posttest oleh ahli dan guru; hasil uji empiris, pretest, dan posttest oleh siswa; penilaian kualitas alat peraga oleh ahli, guru, dan siswa; hasil kuesioner analisis kebutuhan guru dan siswa kelas II SD Kanisius Tegalmulyo Yogyakarta. Observasi ini dilakukan untuk mengamati penggunaan, pemanfaatan, dan ketersediaan alat peraga dalam pembelajaran Matematika kelas II SDKanisius Tegalmulyo Yogyakarta dan aktivitas pembelajaran di kelas yang meliputi kegiatan siswa dan cara guru mengajar.

3. Penyebaran Kuesioner

  b) Kuesioner Penilaian Kualitas Alat Peraga Pembelajaran Matematika Kuesioner penilaian kualitas alat peraga pembelajaranMatematika dilakukan untuk mengetahui kualitas pengembangan alat 78indiator yang digali), 2 (kurang sesuai dengan indiator yang digali), 3(sesuai dengan indiator yang digali), dan 4 (sangat sesuai dengan indiator yang digali).. Siswa kelas II juga diminta untuk memberikan penilaian terhadap kualitas alat peraga pembelajaran Matematika setelahmengikuti pendampingan menggunakan alat peraga papan perkalian berbasis Montessori yang dikembangkan oleh peneliti.

c) Kuesioner Validasi Soal Tes dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

  Kuesioner validasi soal tes digunakan untuk mengetahui kelayakan soal tes yang akan digunakan ketika pretest dan posttest. Sedangkan kuesioner validasi RPP digunakan untuk mengetahui kelayakan RPP yang akan digunakan sebagai acuan ketikapendampingan pembelajaran menggunakan alat peraga berlangsung.

4. Tes

  Soaltes disusun berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat dengan indikator sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam RPP. Tujuan dilakukannya pretest yaitu untuk mengetahui kemampuan siswa sebelummenggunakan alat peraga, sedangkan posttest diberikan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah menggunakan alat peraga.

5. Trianggulasi

  Teknik trianggulasidigunakan untuk melihat kesesuaian data yang telah dikumpulkan dari 81 Wawancara Penyebaran Kuesioner Observasi Gambar 3.4 Trianggulasi Teknik Pengumpulan Data Analisis Kebutuhan Gambar tersebut menunjukkan adanya 3 teknik yang digunakan oleh peneliti dalam melakukan analisis kebutuhan alat peraga Matematika kelas II SD Kanisius Tegalmulyo. Kepala Sekolah GuruSiswa Gambar 3.5 Trianggulasi Teknik Pengumpulan Data Wawancara Ketiga sumber data tersebut menghasilkan pendapat mengenai ketersediaan dan penggunaan alat peraga dan kesulitan belajar yangdialamui oleh siswa ketika belajar Matematika materi perkalian.

G. Teknik Analisis Data

  Analisis data merupakanbagian terpenting, karena analisis data digunakan untuk memecahkan masalah penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dibedakanberdasarkan jenis data kuantitatif dan kualitatif yang telah dipaparkan sebelumnya.

1. Analisis Data Kuantitatif

  Pada penelitian ini data kuantitatif diperoleh dari teknik pengumpulan data wawancara, penyebaran kuesioner, dan tes. Data kuantitatif tersebutdiperoleh dari beberapa hasil seperti hasil validasi wawancara, hasil uji empiris, pretest, dan posttest oleh siswa; penilaian kualitas alat peraga olehahli, guru, dan siswa kelas II SD Kanisius Tegalmulyo Yogyakarta.

a. Teknik Analisis Data Kuantitatif pada Wawancara

  Teknik analisis pada wawncara digunakan untuk menghitung skor yang diperoleh dari hasil validasi. Langkah-langkah yangdigunakan diantaranya menghitung total skor dari penilaian yang telah 83mengkonversikan rata-rata hasil skor dari data kuantitatif menjadi data kualitatif.

b. Teknik Analisis Data Kuantitatif pada Kuesioner

  Salah satu perhitungan kuantitatif yang digunakan terdapat pada pengolahan kuesioner analisis kebutuhan guru dan siswa kelas II SDKanisius Tegalmulyo Yogyakarta. Teknik analisis data yang digunakan pada tahap ini adalah interpretasi data dan perhitunganjawaban pada kuesioner dalam bentuk persen.

2. Analisis Data Kualitatif

  85wawancara, validasi kuesioner, validasi soal pretest dan posttest oleh ahli dan guru; hasil uji empiris, pretest, dan posttest oleh siswa; penilaiankualitas alat peraga oleh ahli, guru, dan siswa; hasil kuesioner analisis kebutuhan guru dan siswa kelas II SD Kanisius Tegalmulyo Yogyakarta. Berikut dipaparkan pembahasan dari masing-masing analisis data dari berbagai teknik pengumpulan data tersebut.

a. Teknik Analisis Data Kualitatif pada Wawancara dan Observasi

  Wawancara dan observasi merupakan salah satu teknik yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data yang berkaitan denganketersediaan dan penggunaan alat peraga serta kesulitan belajarMatematika yang dialami siswa. 1) Membaca transkip wawancara/observasi yang sudah disusun secara berulang-ulang dan dengan pemahaman yang baik.

b. Teknik Analisis Data Kualitatif pada Kuesioner

  Analisis data kuantitatif pada kuesioner dilakukan pada jawaban yang diperoleh dari hasil kuesioner analisis kebutuhan guru dan siswaSD Kanisius Tegalmulyo Yogyakarta. Langkah-langkah yang digunakan adalah peneliti membuat kode-kode atau tema secarakualitatif, selanjutnya menghitung berapa kali kode atau tema tersebut muncul dalam data teks.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dipaparkan mengenai hasil penelitian dan pembahasan yang

A. Hasil Penelitian

  diuraikan sebagai berikut Pada subbab ini dipaparkan mengenai proses penelitian mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Paparan tersebut meliputi pengumpulan data, perencanaan,dan pengembangan desain.

1. Pengumpulan Data

  Pengumpulan data dilakuan dengantujuan untuk mencari dan mengidentifikasi permasalahan yang terdapat di sekolah terkait dengan kesulitan belajar yang dialami oleh siswa. Wawancara dilakukan guna mendapatkan informasi mengenai kondisi sekolah serta mengkaji permasalahan yang dialami oleh siswa dalam 88Sekolah dikarenakan Kepala Sekolah SD Kanisius Tegalmulyo juga menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Kanisius Notoyudan.

1) Hasil Validasi Instrumen Wawancara

  Validasi instrumen wawancara dilakukan oleh beberapa ahli guna untuk mengetahui kesesuain komponen dan kelayakan instrumenwawancara agar dapat digunakan untuk kegiatan wawancara. Validasi dilakukan terhadap instrumen wawancara Kepala Sekolah, guru kelas II, dan siswa kelas II SD KanisiusTegalmulyo, berikut paparannya.

a) Hasil Validasi Instrumen Wawancara Kepala Sekolah

  Pada instrumen wawancara Kepala Sekolah peneliti melakukan validasi kepada ahli Pembelajaran Matematika dan Evaluasi 89 Tabel 4.1 Hasil Validasi Instrumen Wawancara Kepala Sekolah Nomor Item Ahli Total Rerata1 2 3 4 5 6 7 8 Pembelajaran 4 4 4 4 4 4 4 4 32 4,00 Berdasarkan hasil validasi pada tabel 4.1 diperoleh skor rerata4,00. informasi yang berkaitan dengan sekolah 4 Bagaimana dengan ketersediaan Jika sekolah sudah memanfaatkan alat peraga yang ada di sekolah?

b. Pengadaan alat

  Matematika di Jika YA, upaya apa yang dilakukan?sekolah Bagaimana cara dan upaya sekolah dalam 9. Perawatan alat merawat alat peraga yang sudah ada?peraga Matematika disekolah 3 Penggunaan alat 10.

b) Hasil Validasi Instrumen Wawancara Guru Kelas II

  Beberapa komentardiberikan oleh ahli terkait dengan pedoman wawancara guru kelas II, berikut merupakan hasil rekapitulasi komentar pada item pertanyaantertentu yang disajikan dalam tabel 4.5 Tabel 4.5 Rekapitulasi Komentar Validasi Instrumen Wawancara Guru oleh Ahli No. Item Pertanyaan Komentar Ahli 5 Apakah guru merasa Apakah kebingungannya hanya kebingungan dalam sebatas dalam menentukan alat ataumenentukan alat peraga yang juga ada kebingungan mengenai sesuai dengan materi perkalian?

1 Kesulitan yang

  Beberapa komentar diberikan oleh ahli yaitu guru senior dan guru kelas, dalam hal ini ahlipembelajaran tidak memberikan komentar terkait dengan pedoman wawancara siswa kelas II, berikut merupakan hasil rekapitulasi komentarpada item pertanyaan tertentu yang disajikan dalam tabel 4.8 43,67 3,97 94 II. Namun karena tahun ini merupakan tahun pertama bagi guru kelas II dalam mengajar, maka peneliti juga melakukan validasi kepada guru kelas 4 44 4,00 Guru Kelas II 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44 4,00 Guru Senior 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 11 Pembelajaran 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tabel 4.7 Hasil Validasi Instrumen Wawancara Siswa Kelas II Ahli Nomor Item Total Rerata II tahun sebelumnya sebagai guru senior.

2) Hasil Wawancara

  Wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah diperbaiki berdasarkan hasil validasi. Wawancara dilakukan kepadaPLH Kepala Sekolah, guru kelas II, dan 10 siswa kelas II.

a) Hasil Wawancara Kepala Sekolah

  Alat peraga terdapat poster yang berisikan huruf-huruf yang telah tersusun sedemikian rupa hingga membentuk tulisan dari setiap Matematika yang bilangan, tujuan dari alat peraga ini untuk mengenalkan tulisan dari suatu angka atau bilangan. Tetapi semua kembali kepada guru, apakah guru Matematika dalam mampu berkreatifitas dalam menciptakan alat peraga atau tidak.pembelajaran 98 Topik PertanyaanHasil Wawancara Penelitian yang pernah Sebelumnya belum pernah ada yang melakukan penelitian di SD Kanisius Tegalmulyo dilakukan di sekolahberkaitan dengan alat peraga Materi yang terasa sulit ketika mengajar yaitu perkalian, karena hanya dalam 1 semester mereka harus memahami Kesulitan yang dialamiperkalian dengan hasil di bawah 100.

b. Hasil Wawancara Guru Kelas II

  Tabel 4.11 Hasil Wawancara dengan Guru Kelas II SD Kanisius Tegalmulyo Indikator Hasil WawancaraKesulitan yang dialami Kesulitan yang dirasakan ketika mengajar siswa kelas II terutama pada mata pelajaran Matematika yaitu ketika guru dalam membuat suatu persoalan Matematika terlihat mudah, bukan mencari penyelesaian secara instan. Usaha yang dilakukan Cara yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan banyak memberikan latihan dan praktek, jadi untuk mengatasi Matematika “didril” terus, “dipush” terus.

b. Pengadaan alat peraga sulit membayangkan. Alat peraga tersebut dibuat sendiri oleh guru

  Matematika oleh guru Penggunaan alat peraga Ketika dirasa anak membutuhkan alat peraga terutama pada materi yang sepertinya anak akan sulit membayangkanMatematika dalam guru akan mengupayakan menggunakan alat peraga. Selain jam, alat yang pernah dibuat oleh guru yaitu seperti tabel penjumlahan dan perkalian.

c. Hasil Wawancara Siswa Kelas II

  Selain itu wawancara ini bergunauntuk mengetahui kesulitan dan sejauh mana kemampuan belajar yang dialami oleh siswa terutama pada mata pelajaran Matematika materi perkalian. Setiap kegiatan belajar Matematika berlangsung, guru selalu memulai dengan memberikan materi dengan cara memberikan catatan, kemudian guru akan menjelaskan materi yang telah disampaikandengan metode ceramah.

4. Menurut siswa Matematika merupakan pelajaran yang menakutkan. Hal ini disebabkan karena ketika ada PR dan siswa merasa kesulitan, kedua orang tuanya tidak dapat membantu menyelesaikan PR Matematika yang diberikan guru

  Selama belajar Matematika di sekolah, guru selalu mengajar dengan cara memberikan latihan soal kemudian akan dibahas dengan cara meminta siswa memberikan jawaban secarabergantian pada nomor soal yang berbeda. Namun menurut siswa menggunakan atau tidak menggunakan alat peraga siswa tetap merasadalam paham dengan yang diajarkan oleh guru.pembelajaran 2.

5. Sebelumnya guru pernah menggunakan spidol sebagai alat peraga materi perkalian. Siswa juga merasa lebih mudah memahami materi dengan bantuan alat peraga

  Ketika siswa yang endapat giliran tidak mampu menjawab soal yang diberikan, maka soal tersebut akan dilempar ke siswa yang memperoleh giliran selanjutnya, dengancatatan siswa yang tidak bisa menjawab tidak akan memperoleh nilai tambahan. Selain itu siswa tidak begitu senang menggunakan alat peraga agar suatu ketika apabila ada materi Matematika yang tidak memiliki alat peraga, siswa tidak akan merasa kesulitan dalam memahami materi tersebut karena sudah terbiasa tidakmenggunakan bantuan alat peraga.

c. Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan dilakukan sebelum pengembangan desain alat peraga

  Alat peraga yang akan dikembangkan merupakan alat peraga yangdibutuhkan siswa dan dikaji berdasarkan karakteristik siswa dan alat peragaMontessori. Beberapa hal yang diperoleh dari kegiatan observasi tersebut yaitu guru menjelaskanmateri pembelajaran menggunakan alat peraga yang terbuat dari kertas origami.

3) Uji Validitas Instrumen

  Uji validitas instrumen analisis kebutuhan dilakukan oleh peneliti agar instrumen yang digunakan dalam penelitian sudah teruji dan layak untukdigunakan. Sedangkan pada instrumen kuesioner analisis kebutuhan siswa akan divalidasi oleh dosen ahli Pembelajaran Matematika danEvaluasi Pembelajaran, guru senior, dan guru kelas II SD Kanisius Tegalmulyo.

4) Hasil Validitas Instrumen Kuesioner Analisis Kebutuhan

  Dalam hal ini ahli Pembelajaran Matematika dan ahli EvaluasiPembelajaran memberikan komentar dan saran untuk kuesioner analisis kebutuhan guru yaitu menambahkan kolom untuk saran/masukan guruterkait kebutuhan akan alat peraga yang belum tercakup dalam pertanyaan pada kuesioner. Dalam hal ini ahli Pembelajaran Matematika dan ahli EvaluasiPembelajaran memberikan komentar dan saran untuk kuesioner analisis kebutuhan siswa yaitu untuk pendalaman dapat dilakukan denganwawancara.sadangkan untuk guru senior dan guru kelas II tidak memberikan komentar dan saran.

5. Bergrada-

  125 126 Hasil yang diperoleh dari 3 teknik pengumpulan data, peneliti melakukan analisis dari data kualitatif yang diperoleh menggunakan teknik triangulasidata. Penyebaran KuesionerHasil kuesioner menunjukkan bahwa guru dan siswamembutuhkan alat peraga yang bisa membantu khususnya pada materiperkalian.

2. Perencanaan

  Instrumen tes yang dibuat oleh peneliti dikembangkan berdasarkan kisi-kisi pada tabel 3.9 halaman 53. Validasi dilakukan oleh ahli Pembelajaran Matematika dan 2 guru SD Kanisius Tegalmulyo.

1) Validitas Instrumen Tes

  Peneliti melakukan validasi kepada ahli Pembelajaran Matematika dan EvaluasiPembelajaran dan 2 guru SD Kanisius Tegalmulyo yang meliputi guru senior dan guru kelas II. Berikut dipaparkan hasil validasi instrumen 128 Tabel 4.18 Hasil Validasi Instrumen Tes Ahli Total RerataPembelajaran 104 4,00 Guru Senior 104 4,00Guru Kelas 104 4,00Rerata 104 4,00 Hasil penilaian pada tabel 4.18 dari ahli diperoleh skor rerata 4,00Jika dibandingkan dengan tabel 3.7 halaman 50, hasil tersebut menunjukkan bahwa instrumen tes sudah sangat layak digunakansehingga instrumen tersebut dapat dikatakan sangat valid.

2) Uji Keterbacaan Instrumen Tes

  Instrumen tes yang digunakan untuk uji keterbacaan merupakan instrumen yang telah diperbaikiberdasarkan komentar dan saran dari ahli. di mana siswa kurang memahami bahwa pengelompokan yang terdapat padagambar memiliki maksud dan tujuan tertentu terkait dengan pengisisan titik- ...

3) Uji Empiris

  Uji empiris instrumen tes dilakukan kepada 7 siswa kelas III SD KanisiusTegalmulyo Yogyakarta, namun karena ada 1 siswa yang tidak hadir sehingga uji empiris dilakukan terhadap 6 siswa. Setiap siswa mengerjakan 10 soal uraian yang terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu 3 soal cerita, 2 soalbergambar, dan 5 soal simbolik.

a) Uji Validitas Instrumen Tes

  (2-tailed) Keputusan Soal Tabel Hitung1 0,728 0,101 Valid 0,707 2 0,707 0,918 0,010 Valid 3 0,213 0,689 Tidak Valid 0,707 4 0,761 0,145 Valid 0,707 132 Berdasarkan tabel 4.20 diperoleh bahwa ada 9 soal yang valid dan 1 soal yang tidak valid. Soal dikatakan tidak valid karena r hitung lebih kecildari pada r tabel, sedangkan pada item soal yang memiliki r hitung lebih besar dari r tabel dapat dinyatakan bahwa item soal tersebut valid.

b) Uji Reliabilitas Instrumen Tes

  Kuesioner validasi produk alat peraga dilakukan untuk AhliPada soal nomor 1 dan 2 diberi tambahanketerangan kalimat perintah pada soal. Pada soal pretest dan posttest diberikan tambahan kalimat perintah pada soal dan diberikan penambahan simbol pada soal nomor 1 poin b dan c.

b. Kuesioner 1) Kuesioner Penilaian Produk Alat Peraga

  Bentuk alat peraga papan Alat Peraga sesuai dengan karakteristik Montessori dan konsep 1 33,33% perkalian menarik minat Matematika namun terdapat kekurangan yang perlu diperbaikisiswa untuk Alat Peraga sesuai dengan karakteristik Montessori dan konsep 2 66,67% menggunakannya Matematika sehingga tidak perlu diperbaiki 3. Siswa dapat menggunakan Alat Peraga sesuai dengan karakteristik Montessori dan konsep 1 33,33% alat peraga papan sesuai Matematika namun terdapat kekurangan yang perlu diperbaikidengan konsep berhitung Alat Peraga sesuai dengan karakteristik Montessori dan konsep 2 66,67% perkalian secara mandiri Matematika sehingga tidak perlu diperbaiki 5.

3. Revisi Produk

  Hasil validasi produk yang telah diberikan olehahli menjadi bahan pertimbangan peneliti dalam revisi produk. Komentar tersebut selanjutnya dipertimbangkan sebagai bahan revisi produk dengan melihat kesesuaian pada 5 karakteristik alat peragaberbasis Montessori.

4. Pengembangan Desain

a. Konsep Pembuatan Alat Peraga

  Pembuatan alat peraga papan perkalian merupakan pengembangan konsep dari alat peraga berbasis Montessori yaitu alat peraga yang biasadikenal dengan nama Multiplication Board. Pada papan perkalian terdapat tulisan Multiplication Board yang menunjukkan nama dari alat peraga tersebut, tanda× (silang/kali) yang menunjukkan operasi hitung yang digunakan pada alat tersebut, angka 1-20 yang menunjukkan faktor dari soal perkalian, slot kartu angka untuk meletakkan kartu bilangan, dan lubang-lubang yang berbentucekungan sebanyak 400 untuk meletakkan manik-manik.

b. Desain Alat Peraga

  Pengembangan desain pada penelitian ini mengembangkan alat peraga berupa papan perkalian berbasis Montessori beserta album penggunaan alatperaga. Berikut paparan mengenai pengembangan desain alat peraga.

1) Papan Perkalian Montessori

  Pada papan perkalian tersebut terdapat angka 1-20 angka, di atas angka tersebut akan digunakan untuk meletakkan pion yang digunakan sebagai penanda faktor bilangan pada soal perkalian yangdikerjakan. Dengandikembangkannya alat peraga ini diharapkan dapat lebih membantu siswa 142 kompetensi dasar tersebut diharapkan siswa dapat menyelesaikan operasi hitung perkalian dengan hasil dua angka.

2) Kotak Perlengkapan

  Pada kotak ini dibagi menjadi 7 bagian yang dibatasi dengan sekat guna untuk menyimpan manik-manik, pion, mangkuk, kartusoal, dan kartu bilangan. Selain itu, peneliti juga menyesuaikan darihasil analisis kebutuhan yang menyebutkan senang dan tertarik dengan 143 Pada bagian sekat yang lainnya terdapat pion, mangkuk, kartu soal dan kartu angka.

3) Album Penggunaan Alat Peraga

  Album penggunaan alat peraga dibuat agar pengguna alat peraga papan perkalian dapat menggunakan alat peraga dengan baik dan benar. Jenis kertas yangdigunakan peneliti adalah kertas ivory, hal ini dikarenakan kertas tersebut memiliki ketebalan yang dapat disesuaikan dengan keinginan kita dan tidakmudah rusak.

d. Pembuatan Alat Peraga

  Alat peraga dibuat dengan bantuan dari tukang kayu yang berada di daerah 145 sehingga sangat mendukung dalam pembuatan alat peraga dengan hasil yang baik dan maksimal. Kartu soal dibuat sebanyak 61 soal dan jawaban yang terdiri dari 11 soal perkalian dengan hasil satu angka, 19 soal perkalian satuangka kali satu angka dengan hasil dua angka, dan 31 soal perkalian satu angka kali dua angka dengan hasil dua angka.

5. Uji Coba Terbatas

  Kemudian siswa mulai diajarkan menggunakan alat peraga papan perkalian dengan cara mengerjakan soal perkalian dengan hasil satu angka. Dalam kegiatan penggunaan alat peraga, semua soal yang diberikan menggunakan soal yang ada pada alat peraga.

1) Data dan Analisis Tes

  Instrumen yang digunakan tersebut tentunya telah diuji validitas dan reliabilitasnya, sehingga layak untuk digunakan dalam penelitian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setelah menggunakan alat peraga papan perkalian berbasisMontessori, siswa lebih memahami konsep perkalian dan dapat mempermudah siswa dalam menentukan hasil dari operasi perkalian.

NILAI TES

  120 100 80 60 40 20 S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 Pretest Posttest Gambar 4.7 Perbandingan Nilai Pretest dan Posttest Siswa Grafik pada gambar 4.7 menunjukkan bahwa setiap siswa mendapatkan nilai yang berbeda ketika mengikuti pretest dan posttest. Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelas II SD Kanisius Tegalmulyo semakin memahami materi perkalian setelah menggunakan alat peraga papanperkalian berbasis Montessori (Multiplication Bord), Hasil dari nilai siswa memiliki perbedaan rerata sebesar 27,3 (lihat pada tabel 4.29).

RERATA NILAI SISWA

  120 100 80 60 40 20 Rerata Pretest Posttest Gambar 4.8 Perbandingan Rerata Nilai Pretest dan Posttest Pada gambar 4.8 dapat diketahui bahwa sebelum menggunakan alat peraga papan perkalian, diperoleh rerata hasil pretest yaitu 70,7. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa alat peraga papan perkalian dapat membantu siswa untuk memahami materi operasi hitung perkalian.

2) Data dan Analisis Kuesioner

  Saya dapat mengidentifikasi kesalahan tanpa bantuan dari guru atau temanSetuju 10 100% 156 Berdasarkan tabel 4.29 rekapitulasi hasil kuesioner penilaian produk alat peraga papan perkalian oleh siswa diperoleh bahwa 100% siswa menyatakanbahwa alat peraga menarik perhatian dan minat, melibatkan lebih dari satu indera, dan dapat digunakan untuk materi yang berkaitan pada tingkat kelasselanjutnya. Selain itu 100% siswa juga menyatakan bahwa siswa dapat menggunakan alat peraga papan perkalian sesuai dengan konsep berhitungperkalian secara mandiri, bahan yang digunakan untuk pembuatan alat peraga papan perkalian mudah didapatkan di lingkungan sekitar dan tidak mudahmelukai penggunanya.

B. Pembahasan

  Kuesioner yang digunakan peneliti untuk siswa merupakan kuesioner tertutup yang bertujuan untuk memudahkan siswa dalam menjawabpertanyaan yang diberikan. Siswa pun juga menginginkan alat peraga yang dapatmembantu menemukan kesalahannya dan menemukan jawaban yang benar dengan menggunakan alat peraga.

BAB V PENUTUP Dalam bab ini menguraikan mengenai kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran. Kesimpulan merupakan hasil penelitian yang menjawab hipotesis penelitian. Keterbatasan penelitian berisikan tentang terbatasnya kemampuan yang dimiliki

A. Kesimpulan

  Alat peraga yang dikembangkan yaitu papan perkalian berbasisMontessori untuk siswa kelas II SD Kanisius Tegalmulyo. Alat peraga ini memiliki kualitas sangat baik dan dapat membantu siswa kelas II dalammemahami konsep perkalian dan membantu dalam menentukan hasil perkalian dengan hasil dua angka.

B. Keterbatasan Penelitian

Berikut merupakan beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, antara lain: 1. Proses validasi mengalami hambatan, hal ini dikarenakan kurangnya 163

C. Saran

  Saran yang dipertimbangkan bagi peneliti selanjutnya yang akan mengembangkan alat peraga pembelajaran: 1. Alat peraga papan perkalian berbasis Montessori yang telah dikembangkan dapat digunakan dalam menerapkan sifat distributif dalammenentukan hasil perkalian.

DAFTAR PUSTAKA

  setiap 10 manik-manik biru akan sama nilainya dengan 1 manik-manik merah Mangkuk digunakan untuk mempersiapkan manik-manik sebelum ▪ dimasukkan ke dalam papan perkalian dan digunakan ketika akan menukarkan manik-manik. Pada kartu soal terdiri atas 2 bagian: ▪ o Sisi depan menunjukkan soal o Sisi belakang menunjukkan jawaban dari soalKartu bilangan digunakan untuk menunjukkan bilangan yang akan ▪ dikali.

CARA MENGGUNAKAN ALAT PERAGA PAPAN PERKALIAN

  Karena bilangan yang akan dikalikan adalah 14 yang artinya siapkan 1 manik-manik biru kemudian masukkan pada mangkukpertama dan 4 manik-manik hijau kemudian masukkan pada mangkuk kedua. Apabila jawaban dibalik kartu soal bertuliskan 42 denganangka 4 berwarna biru dan angka 2 berwarna hijau maka dapat dikatakanjawaban yang diperoleh menggunakan alat peraga sesuai dengan jawaban yangada dibalik kartu soal.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh penggunaan alat peraga batang napier terhadap pemahaman konsep perkalian siswa kelas III SD Muhammadiyah 12 Pamulang
11
82
255
Pengembangan alat peraga pembelajaran matematika SD materi perpangkatan dan akar berbasis Metode Montessori.
0
1
2
Pengembangan alat peraga matematika materi perkalian untuk siswa dengan lambat belajar di SD Muhammadiyah Sagan Yogyakarta.
0
0
202
Pengembangan alat peraga pembelajaran Matematika untuk siswa kelas III SD materi perkalian berbasis metode Montessori.
2
18
357
Pengembangan alat peraga pembelajaran IPS SD materi keragaman budaya Indonesia berbasis metode Montessori.
0
1
231
Persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga papan pin perkalian berbasis metode Montessori.
0
1
175
Pengembangan alat peraga pembelajaran matematika SD materi perkalian berbasis Metode Montessori.
3
29
323
Pengembangan alat peraga pembelajaran matematika SD materi perkalian berbasis metode Montessori.
1
3
262
Pengembangan alat peraga pembelajaran matematika SD materi penjumlahan dan pengurangan berbasis Metode Montessori.
0
38
414
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta.
1
30
135
Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta.
3
40
152
Pengembangan alat peraga matematika materi perkalian untuk siswa dengan lambat belajar di SD Muhammadiyah Sagan Yogyakarta
0
3
200
Pengembangan alat peraga montessori materi perkalian untuk siswa kelas II SD
0
6
297
Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
0
2
150
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
1
6
133
Show more