Korelasi abdominal skinfold thickness terhadap tekanan darah pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung

Gratis

0
1
119
2 years ago
Preview
Full text

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Data abdominal skinfold thickness dan tekanan darah yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara stastistik dengan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan Saphiro-Wilk, uji hipotesis komparatif menggunakan uji t tidak berpasangan dan Mann-Whitney, dan uji korelasi menggunakan uji Spearman dengan tingkat kepercayaan 95%. Pada responden pria penyandang diabetes melitus tipe 2 diRSUD Kabupaten Temanggung ditemukan korelasi negatif yang tidak bermakna dengan kekuatan korelasi sangat lemah antara AST dan tekanan darah sistolik(p=0,864; r= -0,027) dan diastolik (p=0,586; r= -0,087).

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Kupersembahkan karya ini kepada Tuhan Yang Maha PengasihPapa, Mama dan Kakakku Sahabat-sahabatku terkasih Teman-teman seperjuanganku, dan Almamaterku PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yangberjudul Korelasi Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness terhadap TekananDarah pada Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung dengan sebaik-baiknya. Data abdominal skinfold thickness dan tekanan darah yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara stastistik dengan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan Saphiro-Wilk, uji hipotesis komparatif menggunakan uji t tidak berpasangan dan Mann-Whitney, dan uji korelasi menggunakan uji Spearman dengan tingkat kepercayaan 95%.

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) tipe 2 terjadi pada 85-90% dari total penderita

  Penelitian yang dilakukan pada penyandang diabetes tipe 2 di tiga wilayah Morocco menunjukkan prevalensi hipertensi sebesar 70,4% padapenyandang diabetes tipe 2 dan tingginya kejadian hipertensi berkorelasi kuat dengan besarnya indeks massa tubuh (Berraho, et al., 2011). Penelitian mengenai korelasi abdominal skinfold thickness terhadap tekanan darah pada penyandang diabetes melitus tipe 2 dapat dilakukan sebagaisalah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran penyandang diabetes melitus tipe 2 terhadap faktor risiko hipertensi.

1. Perumusan masalah

2. Keaslian penelitian

  Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka permasalahan yang diangkat oleh peneliti dalam penelitian ini adalah:Apakah terdapat korelasi antara abdominal skinfold thickness terhadap tekanan darah pada penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD KabupatenTemanggung? Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 70 responden laki-laki sehat, usia 30-50 tahun menunjukkan, secara statistik terdapat korelasi yang tidak bermakna antara tebal lipatan kulit trisep dengan tekanan darah sistolik dengan nilai r=0,201 danp=0,095.

3. Manfaat penelitian

  Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai korelasi abdominal skinfold thickness terhadap tekanan darahpada penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung. Sehingga, parapenyandang diabetes melitus tipe 2 dapat lebih intensif meningkatkan dan menjaga kondisi kesehatannya agar tidak terjadi komplikasi makrovaskuler.

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur korelasi abdominal skinfold thickness terhadap tekanan darah pada penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Diabetes Melitus Diabetes melitus (DM) merupakan kumpulan penyakit metabolik yang

  Tubuh pasien dengan diabetes melitus tidak dapat memproduksi atau tidak dapat merespon hormon insulin yang dihasilkan oleh organ pankreas, sehingga kadargula darah meningkat dan dapat menyebabkan komplikasi jangka pendek maupun jangka panjang pada pasien tersebut. Kadar gula darah tinggi (hiperglikemi)kronis pada diabetes berhubungan dengan lamanya kerusakan, disfungsi, dan kegagalan berbagai organ, terutama mata, ginjal, saraf, hati, dan pembuluh darah.

1. Jenis- jenis diabetes melitus

  Diabetes melitus tipe 2 muncul seiring dengan bertambahnya usia, obesitas, riwayat keluarga penyandangdiabetes, riwayat diabetes gestasional, terganggunya metabolisme glukosa, kurangnya aktivitas fisik, dan ras/etnis (Department of Health and Human Service Centers for Disease Control and Prevention, 2007). Diabetes gestasional muncul pada wanita obesitas dan wanita denganriwayat keluarga penyandang diabetes.

B. Diabetes Melitus Tipe 2

  Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit yang disebabkan karena terjadinya resistensi insulin dan berkurangnya kemampuan sel β pankreas dalam memproduksi insulin. Faktor lingkungan yang diperkirakan dapat meningkatkan risiko diabetes melitus tipe 2 di antaranya adalah kebiasaan makan yang tidak seimbang akanmenyebabkan obesitas.

1. Patofisiologi

  Sekresi insulin normalnya terjadi dalam dua fase, fase pertama terjadi dalam beberapa menitsetelah suplai glukosa dan kemudian melepaskan cadangan insulin yang disimpan dalam sel beta; fase kedua merupakan pelepasan insulin yang baru disintesisdalam beberapa jam setelah makan, pada diabetes tipe 2 fase pertama pelepasan insulin sangat terganggu. Dengandemikian perjalanan DM tipe 2, dimulai dengan gangguan fase 1 yang menyebabkan hiperglikemi dan selanjutnya gangguan fase 2 di mana tidak terjadihiperinsulinemi akan tetapi gangguan sel beta (Jafar, 2009).

2. Diabetes melitus tipe 2 dan obesitas

  Pada orang dewasa yang mengalami obesitas, terdapat kelebihan kalori akibat makan yangberlebih sehingga akan menghambat kerja insulin di jaringan tubuh dan otot yang menyebabkan glukosa tidak dapat diangkat ke dalam sel dan menimbun di dalampembuluh darah. Hormon utama yang terlibat dalam penyimpanan lemak adalah insulin (akan menstimulasilipogenesis), GH, dan leptin yang akan mengurangi lipogenesis (Molina, 2006).

C. Obesitas

  Berdasarkan data WHO tahun 2008, prevalensi obesitas pada usia dewasa di Indonesia meningkat dua kalilipatnya, yaitu menjadi 9,4% dengan pembagian pada pria 2,5% dan pada wanita mencapai 6,9% (Dinkes Jogja, 2012). Selain pola makan yang tidak seimbang dan gizi lebih, aktivitas fisik juga merupakan faktor risiko mayor dalam memicu terjadinya diabetes melitus(Wicaksono dkk., 2012).

1. Obesitas sentral

  Obesitas sentral atau obesitas abdominal merupakan jumlah lemak berlebih pada kavitas abdominal yang berhubungan dengan gula darah dan dislipidemia. Obesitas sentral berhubungan kuat dengan diabetes, hipertensi dan penyakit kardiovaskuler, dan tipe obesitas ini lebih banyak didapatkan pada pria (Boivin and Popkin,2001).

2. Obesitas perifer

  Obesitas perifer merupakan penimbunan lemak dalam tubuh yang melebihi nilai normal di daerah gluteo-femoral. Tipe obesitas ini terjadi pada wanita karena berhubungan erat dengan gangguan menstruasi padawanita (Bergman and Mittleman, 2001).

D. Tekanan Darah

  Tekanan darah merupakan desakan darah pada dinding arteri, seiring dengan denyut jantung. Tekanan darah diukur dengan menggunakan alat yaitu sphygmomanometer, memiliki kantong yang dilekatkan pada lengan bagian atas dan dapat dipompa(Fox, 2004).

1. Pengukuran tekanan darah

  Prinsip pengukuran tekanan darah adalah mengukur tekanan arteri menggunakan sphygmomanometer, dengan memompa manometer (balonpemompa) dan manset yang dapat mengembang. Pemeriksaan katup pengontrol secara teratur merupakan hal yang penting untuk dilakukan agar jalanudara bebas tanpa tekanan yang tidak perlu (Johnson dan Taylor, 2002).

2. Hipertensi

  Farmingham Study melaporkan peningkatan insidensi hipertensi, diabetes melitus dan angina pektoris pada organ denganobesitas dan risiko ini akan lebih tinggi lagi pada orang dengan obesitas sentral (cit., Dinkes Jogja, 2012). Hormon aldosteron bekerja pada tubula distal nefron, yang membuat tubula tersebut menyerap kembali lebih banyak ion natrium (Na+) dan air, sertameningkatkan volume dan tekanan darah (Campbell et al., 2004).

5. Hipertensi pada diabetes melitus tipe 2

  Hipertensi berhubungan dengan resistensi insulin, abnormalitas pada sistem renin-angiotensin dan konsekuensi metabolik yang meningkatkanmorbiditas. ETA secara primer terlibat pada mekanisme vasokonstriksi dan mempunyai afinitas yang tinggi pada ET-1dan ET-2, namun pada ET-3 afinitasnya rendah.

E. Antropometri

  Metode antropometri dapat mengevaluasi perubahan status gizi padaperiode tertentu dan juga dapat digunakan untuk screening pada kelompok yang rawan masalah gizi (Supariasa, Bakri, dan Fajar, 2002). Kelemahan metode antropometri ada pada sensitivitasnya yang kurang, terutama karena faktor di luar gizi dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitaspengukuran.

1. Skinfold thickness

  Teknik pengambilan lapisan lemak kulit pada pengukuran skinfoldthickness (Hopemaru Enterprises, 2011) Abdominal skinfold thickness merupakan pengukuran tebal lemak kulit pada bagian abdomen yang diukur dari lateral umbilicus sepanjang 5 cm dan sekitar 1 cm di bawah jari yang memegang skinfold (Gambar 5). Masing-masingpengukuran dilakukan sebanyak dua sampai tiga kali, kemudian nilai yang diperoleh merupakan nilai rata-rata jika pengukuran dilakukan dua kali dan nilaimedian bila pengukuran dilakukan tiga kali (Sudibjo, 2009).

F. RSUD Kabupaten Temanggung

  Rumah Sakit Umum tipe B merupakan rumahsakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik sekurang-kurangnya 4 spesialis dasar, 4 spesialis penunjang medik, 8 spesialislainnya dan 2 subspesialis dasar serta dapat menjadi RS pendidikan apabila telah memenuhi persyaratan dan standar (Kementerian Kesehatan RI, 2010). Prevalensi diabetes melitus tipe 2 di RSUD KabupatenTemanggung pada tahun 2012 berada pada peringkat ke 3 setelah penyakit diare dan hipertensi.

G. Landasan Teori

  Obesitas sentral merupakan penimbunan lemak berlebih pada bagian abdominal yang dapat menginduksi resistensi insulin yang kemudian akanmengakibatkan terjadinya diabetes melitus tipe 2. Pengukuran skinfold thickness pada area abdominal dinyatakan memiliki persen kesalahan pengukuran yang paling rendah dibandingkan pengukuran skinfold thickness pada area tubuh lainnya.

H. Hipotesis

BAB II I METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan rancangan penelitian yaitu potong lintang atau cross-sectional. Penelitian observasional analitik merupakan penelitian yang dilaksanakan tanpa

  Hipotesis pada penelitian ini adalah terdapat korelasi positif bermakna antara abdominal skinfold thickness terhadap tekanan darah sistolik dan diastolikpada penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung. Variabel yang termasuk faktor risiko dan variabel yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada saat yang sama (Sumantri,2011).

B. Variabel Penelitian

  1. Variabel bebasAbdominal skinfold thickness (mm) 2.

3. Variabel pengacau

  a. Variabel pengacau terkendali: usia dan kondisi puasa sebelum pengambilan datab.

C. Definisi Operasional

  Nilai normal yangdigunakan untuk abdominal skinfold thickness pada pria menggunakan nilai median dan wanita menggunakan nilai mean abdominal skinfold thickness darihasil penelitian yang dilakukan peneliti. Pengukuran tekanan darah dilakukan oleh tenaga kesehatan RSUD Kabupaten Temanggung dengan menggunakan standar Joint National Committee 7 (2004), yaitu tekanan darah prehipertensi 120-139 mmHg untuk sistol, 80 -89mmHg untuk diastol dan tekanan darah hipertensi >140 mmHg untuk sistol, 90 mmHg untuk diastol.

D. Responden Penelitian

  Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah penyandang DM tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung dengan penyakitpenyerta seperti stroke, gangren, gagal ginjal, dan penyakit jantung koroner (PJK) pada saat pemeriksaan, tidak hadir saat pengambilan data, berusia <40 tahun, datapemeriksaan responden tidak lengkap, dan data ganda (double data). Data yang diperolehkemudian dieksklusi sebanyak 6 data yaitu, 1 data responden pria menunjukkan usia <40 tahun, 1 data responden pria dan 2 data responden wanita tidak memilikidata pemeriksaan lengkap, dan ditemukan data ganda pada 1 responden pria dan 1 responden wanita.

E. Lokasi dan Waktu Penelitian

F. Ruang Lingkup Penelitian

  Penelitian ini merupakan penelitian payung Fakultas Farmasi UniversitasSanata Dharma Yogyakarta yang berjudul “Korelasi Pengukuran Antropometri terhadap Profil Lipid, Kadar Glukosa Darah Puasa, dan Tekanan Darah pada Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung”. Penelitian ini dilakukan berkelompok dengan jumlah anggota sebanyak 14 orang dengan kajian yang berbeda.

G. Teknik Pengambilan Sampel

  Pengambilan sampel dilakukan secara non-random, karena setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi responden penelitian. Pada pengambilan sampel dengan jenis purposive sampling, pemilihan responden dilakukan berdasarkan pertimbangan subjektif peneliti, yaitu responden dapat memberikan informasi sesuai dengan tujuan penelitian (Sastroasmoro, 2010).

H. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skinfold caliper ® dengan merek pi zhi hou du fi yang berfungsi untuk mengukur abdominal skinfold thickness dan sphygmomanometer dengan merek Nova Presameter® yang berfungsi untuk mengukur tekanan darah.

I. Tata Cara Penelitian

  Observasi awal Observasi awal dilakukan dengan pencarian informasi mengenai jumlah penyandang diabetes melitus tipe 2 yang melakukan pemeriksaan di rawat jalanpada poliklinik penyakit dalam RSUD Kabupaten Temanggung. Permohonan izin ini dilakukan untuk memenuhi etika penelitian dengan menggunakan sampel darah manusia dan hasil penelitian dapat dipublikasikan.

3. Pembuatan informed consent dan leaflet

  Responden penelitian yang menyatakan diri bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian ini diminta untuk mengisi data nama, usia, dan alamat, sertamenandatangani informed consent setelah mendapatkan penjelasan penuh dari peneliti terkait dengan penelitian yang akan dilakukan. Isi leaflet tersebut meliputi penjelasan mengenai pengukuran antropometri (Body Mass Index, skinfold thicknesses, lingkar pinggang, dan lingkar panggul) serta pemeriksaan laboratorium yang meliputi profil lipid, kadar glukosa darah puasa, dan tekanan darah, yang dapat digunakan sebagai metode yang sederhana untuk deteksi diniberbagai gangguan kesehatan yang mungkin muncul pada penyandang diabetes melitus tipe 2, khususnya komplikasi pada kardiovaskuler.

4. Pencarian responden

  Media yang digunakan dalam pemberian informasi adalah leaflet yang berjudul ‘Korelasi Pengukuran Antropometri Terhadap Profil Lipid, KadarGlukosa Darah Puasa dan Tekanan Darah pada Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung ’. Leaflet yang digunakan berisi informasi mengenai pentingnya pengukuran antropometri (BMI, abdominal skinfold thickness, lingkar pinggang dan lingkar panggul), pemeriksaan tekanan darah, dan pemeriksaan penunjang di laboratorium (profil lipid dan kadar glukosa darah) sebagai suatu metode deteksi dini berbagai masalah kesehatan khususnyamengenai komplikasi DM tipe 2.

5. Validitas dan reliabilitas instrumen penelitian

  Reliabilitas instrumen merupakan suatu indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu instrumen dapat dipercaya atau diandalkan,artinya bahwa hasil pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan sebanyak 2 kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan instrumen yang sama(Notoadmodjo, 2002). Instrumen yang divalidasi pada penelitian ini adalah ®skinfold caliper pi zhi hou du fi dengan nilai CV=2% untuk pengukuran pada wanita dan CV=1,36% untuk pengukuran pada pria.

8. Pengolahan Data

  Uji hipotesis komparatif dilakukan dengan membandingkan tekanan darah sistolik pada kelompok AST (abdominal skinfold thickness) <23,58 mm dengankelompok AST >23,58 mm dan tekanan darah diastolik pada kelompok AST<23,58 mm dengan >23,58 mm untuk pria, serta tekanan darah sistolik pada kelompok AST <25,66 mm dengan kelompok AST >25,66 mm dan tekanan darahdiastolik pada kelompok AST <25,66 mm dengan >25,66 mm untuk wanita. Kesulitan Penelitian Kesulitan dalam penelitian ini yaitu pencarian responden, dimana responden yang merupakan pengandang DM tipe 2 di RSUD KabupatenTemanggung tidak bersedia terlibat dalam penelitian dan takut diinjeksi dengan jarum suntik serta peneliti kesulitan dalam memperoleh responden yang beradadalam kondisi berpuasa 8-10 jam pada saat melakukan pemeriksaan ke RumahSakit.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah pasien rawat jalan penyandang

  Berdasarkan kriteria eksklusi,kemudian diperoleh 100 responden, yang terdiri atas 42 responden pria dan 58 responden wanita. Data yang diperoleh kemudian diuji normalitasnya denganmenggunakan Uji Kolmogorov-Smirnov untuk kelompok responden wanita dan Shapiro-Wilk untuk kelompok responden pria.

1. Usia

  Diabetes melitus tipe 2 lebih berisiko terjadi pada orangyang berusia diatas 40 tahun dan jumlah terbesar penyandang diabetes melitus berada pada rentang usia 40-59 tahun (Adhita dan Pramuningtyas, 2010; Yuliasihdan Wirawanni, 2009). Rahajeng dan Tuminah (2009), menyatakan bahwa risiko hipertensi pada kelompok obesitas meningkat 2,79 kali, gemuk 2,15 kali dan normal 1,44 kalidibandingkan mereka yang kurus dan obesitas abdominal juga mempunyai risiko hipertensi secara bermakna dengan OR=1,40.

3. Tekanan darah

  Tekanan darah diastolikUji normalitas tekanan darah diastolik pada responden pria yang dilakukan dengan menggunakan Shapiro-Wilk menunjukkan nilai p=0,001,sedangkan uji normalitas tekanan darah diastolik pada responden wanita dilakukan dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov menunjukkan nilaip=0,000. Berdasarkan rata-rata tekanan darah tersebut, terlihat bahwa tekanan darah sistolik dan diastolik pada responden priadan wanita sama-sama berada pada kategori prehipertensi dan tidak didapatkan tekanan darah hipertensi pada masing-masing kelompok responden.

B. Perbandingan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik pada Abdominal

  Perbandingan tekanan darah sistolik responden pria pada kelompok AST >23,58 mm dan AST <23,58 mm dan wanita pada kelompok AST >25,66mm dan AST <25,66 mm Hasil uji normalitas tekanan darah sistolik pada kelompok pria menunjukkan nilai p=0,147 pada kelompok AST >23,58 mm dan p=0,275 padakelompok AST <23,58 mm, dapat disimpulkan data pada kedua kelompok terdistribusi normal (p>0,05). Perbandingan tekanan darah diastolik responden pria pada kelompok AST >23,58mm dan AST <23,58 mm dan wanita pada kelompok AST>25,66 mm dan AST <25,66 mm Signifikansi yang diperoleh dari uji normalitas tekanan darah diastolik menggunakan Uji Kolmogorov-Smirnov pada kelompok responden pria adalahp=0,010 pada kelompok AST >23,58mm dan p=0,029 pada kelompok AST<23,58 mm.

C. Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap Tekanan Darah

  Grafik sebar abdominal skinfold thickness terhadap tekanan darah diastolik pada responden wanita Persebaran titik-titik pada gambar 9 dan 10 yang banyak tersebar jauh dari garis dan hanya sebagian kecil titik yang mendekati garis menunjukkan abdominal skinfold thickness berkorelasi sangat lemah dengan tekanan darah sistolik dan diastolik pada responden wanita. Hasil penelitian yang diperoleh tidak sesuai dengan hipotesis, dimana pada penelitian diperoleh korelasi positif yang tidak bermakna dengan kekuatankorelasi sangat lemah pada responden wanita penyandang diabetes melitus tipe 2 dan korelasi negatif yang tidak bermakna dengan kekuatan korelasi sangat lemahpada responden pria penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Abdominal skinfold thickness dan tekanan darah memiliki korelasi positif

  yang tidak bermakna dengan kekuatan korelasi sangat lemah pada responden wanita penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung. Pada responden pria penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD KabupatenTemanggung, abdominal skinfold thickness dan tekanan darah memiliki korelasi negatif yang tidak bermakna dengan kekuatan korelasi sangat lemah.

B. Saran

  Perlu dilakukan penelitian dengan jumlah responden yang lebih banyak dan seimbang pada kelompok responden pria dan wanita sehingga diperoleh hasilpenelitian yang lebih kuat. Pada penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan dua kelompok responden, yaitu kelompok penyandang diabetes melitus tipe 2 dan kelompoktanpa diabetes melitus tipe 2, yang bertujuan untuk membandingkan dan mengetahui adanya kejadian hipertensi antara kedua kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

  K, dan Indraswara, A., 2012, Perbedaan Tekanan Darah Antara Pria dan Wanita Hipertensi yang Mengalami Obesitas Abdomen Tingkat II di Poliklinik Jantung RSU Dr. Mukti, P., 2011, Korelasi Antara Body Mass Index (BMI), Lingkar Pinggang,Rasio Lingkar Pinggang- Panggul (RLPP), dan Abdominal Skinfold Thickness terhadap Tekanan Darah pada Staf Wanita Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Gambaran Tekanan Darah pada Penderita Stroke Fase Akut di RSUP H. Adam Malik Medan
2
65
72
Peran Konseling Farmasis Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Ditinjau dari Analisis Biaya Terapi di RSUD dr. Djoelham Binjai
1
40
104
Korelasi body mass index terhadap tekanan darah pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.
2
3
152
Korelasi abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar LDL/HDL pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.
0
1
2
Korelasi lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang-panggul terhadap kadar glukosa darah puasa pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.
0
1
114
Korelasi abdominal skinfold thickness terhadap tekanan darah pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.
0
1
121
Korelasi abdominal skinfold thickness dengan kadar trigliserida pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.
0
0
113
Korelasi abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar LDL HDL pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung
0
0
1
Korelasi lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang panggul terhadap kadar glukosa darah puasa pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung
0
2
112
Korelasi abdominal skinfold thickness dengan kadar trigliserida pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung
0
0
111
Korelasi body mass index terhadap tekanan darah pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung
0
1
150
Korelasi lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang-panggul terhadap tekanan darah pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung - USD Repository
0
0
145
Korelasi Body Mass Index terhadap kadar trigliserida pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung - USD Repository
0
0
93
Korelasi abdominal skinfold thickness dan Body Mass Index terhadap kadar glukosa darah puasa pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung - USD Repository
0
0
104
Korelasi abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung - USD Repository
0
0
138
Show more