EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Anak Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014.

17 

Full text

(1)

1

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP

RSUD dr. SAYIDIMAN MAGETAN TAHUN 2014

NASKAH PUBLIKASI

Oleh :

BERNADI WICAKSONO K 100 110 107

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA

(2)
(3)

1

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD dr.SAYIDIMAN

MAGETAN TAHUN 2014

EVALUATION OF ANTIBIOTIC USED IN PEDIATRIC TYPHOID FEVER dr.SAYIDIMAN PUBLIC HOSPITAL MAGETAN IMPATIENT

INSTALATION ON 2014

Bernadi Wicaksono* Nurul Mutmainah* ,

*

Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, Indonesia

ABSTRAK

Demam tifoid masih merupakan penyakit yang angka insidennya tinggi di Negara berkembang seperti Indonesia. Prevalensi demam tifoid paling banyak ditemukan pada kelompok usia sekolah yaitu pada usia 5 – 14 tahun. Penggunaan antibiotika pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa dikarenakan perbedaan fungsi organ dalam memetabolisme obat akan tetapi sedikit sekali penelitian yang membahas tentang keamanan penggunaan obat pada anak-anak. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotik yang meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat dosis, serta tepat obat. Penelitian yang dilakukan menggunakan jenis penelitian non eksperimental dengan analisis secara deskriptif retrospektif dan pengambilan data dengan purposive sampling. Data diambil pada pasien anak yang menderita demam tifoid di instalasi rawat inap RSUD dr. Sayidiman Magetan yang berumur 0 – 15 tahun. Sampel yang diteliti sebanyak 44 kasus dari jumlah total 160 kasus Data didapatkan dari rekam medis dan dianalisis menurut konsep tepat indikasi, tepat pasien, tepat dosis dan tepat obat yang dibandingkan dengan SPM di RSUD dr. Sayidiman Magetan. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa antibiotik yang paling banyak digunakan adalah kloramfenikol yaitu sebesar 23 kasus (52,27%), Cefotaxime sebanyak 10 kasus (22,72%) dan sefiksim, cefpirome, serta cefriaxone masing-masing 1 kasus (2,27%). Dari hasil penelitian didapatkan nilai presentase untuk tepat indikasi sebesar 97,72%, tepat obat 56,82%, tepat pasien 27,27%, akan tetapi tidak semua meliputi aspek tepat dosis.

Kata kunci : Demam tifoid, Antibiotik, Anak, Evaluasi ABSTRACT

Typhoid fever is still a disease that insidennya high numbers in developing countries such as Indonesia. The prevalence of typhoid fever is most widely found in the age group of the school at the age of 5 – 14 years. The use of antibiotic in children different from adults due to differences in organ function metabolize drugs but very little research that discusses the safety of drug use in children. The main objective of this research is to know the rationality usage of antibiotics which includes right indications, right patient, right drug, as well as right dose. Research conducted using this type of research is non-experimental descriptive retrospective basis with the analysis and retrieval of data by purposive sampling. Data taken at patients suffering from typhoid fever in installation of inpatient RSUD Dr. Sayidiman Magetan aged 0-15 years old. Samples researched as much as 44 cases from a total of 160 cases of medical record Data and analyzed according to the concept of right indication, right patient, right drug, and right dosage compared to SPM at the RSUD Dr. Sayidiman Magetan. The results of this research show some of the most used antibiotics is chloramphenicol, namely of 23 cases (52,27%), Cefotaxime by as much as 10 cases (sefiksim%) and 22,72, cefpirome, as well as the respective cefriaxone 1 case (2.27%). From the results of research for percentage values obtained by right indication of 97.72%, right drug 56,82% , right patient 27,27%, but not all cover right dose aspect.

(4)

2

PENDAHULUAN

Di Indonesia demam tifoid sering disebut dengan penyakit tifus. Penyakit ini

biasa dijumpai di daerah sub tropis terutama di daerah dengan sumber mata air yang

tidak mencukupi. Demam tifoid merupakan insiden yang paling sering muncul di

daerah endemik dan berkembang seperti di Indonesia. Sumber penularannya terutama

berasal dari makanan yang tercemari kuman Salmonella Thypi (Mansjoer, 2001).

Tifoid klinis tersebar di seluruh kelompok umur dan merata pada umur dewasa.

Prevalensi tifoid klinis banyak ditemukan pada kelompok umur sekolah (5 – 14

tahun), dan relatif lebih tinggi di wilayah pedesaan dibandingkan perkotaan.

Prevalensi tifoid ditemukan cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan

pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah (Depkes RI, 2007).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rampengan tahun 2013

menyebutkan pilihan antibiotik lini pertama untuk pengobatan demam tifoid pada

negara berkembang didasarkan pada faktor efikasi, ketersediaan dan biaya.

Berdasarkan tiga aspek tersebut, kloramfenikol masih menjadi obat pilihan pertama

pengobatan demam tifoid anak. Kloramfenikol masih merupakan pilihan utama

pengobatan demam tifoid karena efektif, mudah didapat, dan dapat diberikan secara

oral. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai

permasalahan seperti timbulnya kegagalan terapi dan berbagai masalah lain seperti

ketidaksembuhan penyakit, meningkatkan resiko efek samping obat, resistensi, supra

infeksi, dan biaya pengobatan (Sastramiharja, 2001).

Penggunaan obat pada anak-anak tidak seperti pada orang dewasa pada

umumnya, mengingat anak-anak berbeda dengan orang dewasa (Prest, 2003).

Anggapan anak-anak sama dengan orang dewasa dalam ukuran kecil tidaklah tepat.

Hal ini dikarenakan penggunaan obat haruslah disesuaikan dengan perkembangan

organ, sistem tubuh dan enzim bertanggung jawab terhadap metabolisme dan ekskresi

obat. Oleh sebab itu dosis obat, dalam formulasi, hasil pengobatan dan efek samping

obat yang timbul sangat beragam sepanjang masa anak-anak. Selain itu, kurangnya

penelitian yang meluas tentang penggunaan obat secara luas pada anak-anak juga

menyebabkan hanya sebagian kecil obat yang diberikan ijin untuk digunakan pada

(5)

3

antibiotik pada anak-anak dengan mengedepankan konsep 4T dan 1W. Tepat obat,

tepat dosis, tepat indikasi, tepat pasien dan waspada efek samping obat.

RSUD dr. Sayidiman Magetan merupakan rumah sakit terbesar di Kabupaten

Magetan dan merupakan rumah sakit rujukan untuk pasien demam tifoid. Menurut

data dari RSUD dr. Sayidiman Magetan pada tahun 2013, terdapat 828 kasus demam

tifoid dan 228 kasus diantaranya terjadi pada anak-anak. Demam tifoid juga termasuk

kedalam 5 besar penyakit yang sering terjadi. Mengingat cukup banyaknya kasus

demam tifoid yang terjadi pada anak-anak serta kurangnya penelitian tentang

penggunaan obat pada anak-anak maka perlu dilakukan evaluasi ketepatan

penggunaan antibiotik pada kasus demam tifoid di RSUD dr. Sayidiman untuk

mengetahui kerasionalan penggunaan antibiotik untuk terapi demam tifoid.

METODOLOGI PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian metode deskriptif non ekperimen dengan

pengambilan data secara retrospektif yang didapatkan dari catatan rekam medis

pasien anak yang di diagnosa demam tifoid di RSUD dr. Sayidiman Magetan tahun

2014.

Definisi Operasional Variabel

Evaluasi penggunaan antibiotik meliputi tepat obat, indikasi, pasien dan

dosis,yaitu :

1. Tepat obat adalah ketepatan pemilihan obat yang diperoleh dengan

membandingkan sesuai dengan drug of choice dari Standar Pelayanan Medik

RSUD dr. Sayidiman Magetan tahun 2011.

2. Tepat indikasi adalah pemberian obat telah sesuai dengan diagnosis yang

diperoleh dari dokter sesuai tanda dan gejala yang ada.

3. Tepat dosis adalah pemberian obat telah sesuai dengan cara pemberian, frekuensi

dan aturan dosis obat, yaitu tidak terlalu kecil maupun terlalu besar.

4. Tepat pasien adalah pemberian obat telah sesuai dengan pasien yang didiagnosa

(6)

4

Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan yaitu standar pelayanan medik (SPM) RSUD dr. Sayidiman

Magetan tahun 2011. Bahan yang digunakan catatan rekam medis pasien anak yang

didiagnosa demam tifoid yang memenuhi kriteria inklusi.

Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di RSUD dr. Sayidiman Magetan.

Kriteria Inklusi dan Eksklusi

1. Kriteria inklusi pada penelitian ini antara lain :

a. Pasien dengan diagnosis demam tifoid dan tertera pada rekam medis yang

dirawat inap di RSUD dr. Sayidiman Magetan tahun 2014.

b. Usia anak 0-15 tahun.

c. Dalam catatan rekam medis pasien dalam pengobatan menggunakan antibiotik

untuk pengobatan. Termasuk dosis, aturan pemakaian obat, tanggal masuk,

tanggal keluar, umur, berat badan, jenis kelamin, no rekam medis, kondisi

pulang.

2. Kriteria eksklusi pada penelitian ini antara lain :

a. Pasien yang terdiagnosa demam tifoid dengan penyakit infeksi lain.

b. Pasien meninggal saat pengobatan.

Teknik Sampling

Pada penelitian ini, menggunakan teknik pengambilan data secara purposive

sampling, data yang diambil merupakan data yang telah sesuai dan memenuhi kriteria

inklusi dan ekslusi yang telah ditetapkan.

Jalannya Penelitian

Langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan sebagai berikut :

1. Menentukan judul dengan dosen pembimbing.

2. Meminta surat ijin penelitian dari fakultas.

3. Mengurus perijinan ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik.

4. Mengurus perijinan ke RSUD dr. Sayidiman Magetan.

5. Mencacat nomer rekam medik pasien yang didiagnosa demam tifoid..

6. Melakukan pengelompokan kartu rekam medik pasien dengan kriteria inklusi

(7)

5

7. Pengambilan data berupa data pasien (tanggal masuk, tanggal keluar, umur, berat

badan, jenis kelamin, no rekam medis, kondisi pulang) dan penggunaan obat

(macam obat, dosis obat, aturan pakai, cara pakai dan lama pemberian).

8. Mengolah data meliputi ketepatan obat, indikasi, pasien dan dosis.

Analisis Data

Data yang telah diperoleh dianalisis secara deskriptif, dengan menghitung

persentase dari jumlah ketepatan indikasi, obat, dosis dan ketepatan pasien.

1. % ketepatan indikasi = %

2. % ketepatan obat = %

3. % ketepatan dosis = %

4. % ketepatan pasien = %

5. % 4 tepat = , , , %

HASIL DAN PEMBAHASAN

Menurut data rekam medik pasien yang tersedia di Rumah Sakit Umum

Daerah (RSUD) dr. Sayidiman Magetan tahun 2014, terdapat 160 kasus anak yang

terdiagnosa demam tifoid. Pasien anak dengan diagnosa demam tifoid yang

memenuhi kriteria inklusi sebesar 44 kasus (27,5%). Penolakan data dilakukan karena

data dari rekam medik pasien kurang lengkap seperti tidak tercantum berat badan

serta dosis yang digunakan. Selain itu penolakan juga dilakukan karena adanya

diagnosis ganda dan pasien mengidap penyakit infeksi yang lain.

Data Umum Pasien

Demografi mengenai penjabaran data umum yang terdapat pada penelitian ini

dapat di karakteristikkan berdasarkan jenis kelamin, umur dan berat badan.

Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa jumlah pasien anak penderita demam tifoid

adalah 21 pasien (47,73%) berjenis kelamin laki-laki dan 23 pasien (52,27%) berjenis

kelamin perempuan. Secara umum menurut Kemenkes RI tahun 2006 tidak terdapat

perbedaan yang nyata angka insiden penyakit ini antara anak laki-laki dan

(8)

6

Tabel 1. Demografi Data Umum Pasien Anak Dengan Demam Tifoid di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014.

Data Umum Jumlah Persantase (%)

(n = 44)

Dari tabel 1 juga dapat dilihat jumlah pasien anak penderita demam tifoid

paling banyak terjadi pada rentang usia 6-10 tahun dengan persentase 47,72%. Pada

rentang usia 6-10 dengan berat 14-19 kg tahun merupakan rentang umur dimana

merupakan usia anak sekolah awal yang dimana bisa saja membeli makanan dan

minuman yang kurang higiene di lingkungan sekolah mereka. Secara umum insiden

tifoid pada anak-anak biasanya terjadi pada usia diatas 1 tahun dan paling banyak

pada usia diatas 5 tahun (Kemenkes RI, 2006).

Karakteristik Pasien Berdasarkan Gejala

Data gejala pada pasien anak dengan diagnosis demam tifoid di Rumah Sakit

Umum Daerah dr. Sayidiman Magetan tahun 2014 dapat dilihat pada tabel 2. Gejala

pada penderita demam tifoid dapat bermacam-macam. Gejala berupa demam

merupakan gejala yang paling menonjol. Demam akan diikuti oleh gejala yang tidak

khas lainnya seperti diare, konstipasi, mual, muntah atau batuk (Widoyono, 2012).

Tabel 2. Gejala Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014.

Gejala Frekuensi Persentase (%)

(9)

7

Dapat dilihat pada tabel 2 angka timbulnya gejala berupa demam atau panas

merupakan yang paling sering muncul menyertai pasien demam tifoid. Angka

tersebut sebanyak 39 kasus (88,63%). Gejala sistemik lainnya yang menyertai

timbulnya demam adalah nyeri kepala, malaise, nausea, vomiting, dan nyeri perut

(Soedarmono, 2002). Hal ini bisa dilihat pada tabel 3 dengan angka kejadian gejala

berupa pusing 10 kasus (22,72%), mual dan muntah 22 kasus (50 %), dan nyeri perut

11 kasus (25 %). Gejala gastrointestinal pada kasus demam tifoid sangat bervariasi.

Pasien dapat mengeluh obstipasi kemudian disusul dengan diare (Soedarmono 2002).

Pada tabel 2 kasus gejala pasien dengan diare juga muncul sebanyak 5 kasus

(11,36%).

Data Pasien Berdasarkan Penggunaan Antibiotik

Data penggunaan antibiotik pada pasien anak dengan diagnosis demam tifoid

di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Sayidiman Magetan tahun 2014 dapat dilihat pada

tabel 3.

Tabel 3. Terapi Penggunaan Antibiotik Tunggal dan Kombinasi Pasien Anak Demam Tifoid yang Dirawat Inap di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014.

Jenis Antibiotik Frekuensi Persentase (%) Tunggal

Cefotaxim + Kloramfenikol 7 15,91 %

Kloramfenikol + Cefixim 1 2,27 %

Jumlah 44 100 %

Berdasarkan data penggunaan antibiotik pada pasien anak dengan demam

tifoid pada tabel 3 dapat dilihat bahwa kloramfenikol merupakan antibiotik yang

paling banyak digunakan yaitu sebesar 23 kasus (52,27%). Penggunaan

kloramfenikol sebagai antibiotik pilihan utama pada pasien anak dengan demam

tifoid telah sesuai, karena menurut standart pelayanan medik (SPM) RSUD dr.

Sayidiman Magetan tahun 2011 menyatakan bahwa kloramfenikol merupakan drug

of choice untuk pasien anak dengan demam tifoid. Menurut Widagdo tahun 2012

hingga kini kloramfenikol merupakan baku emas (gold standard) dalam pengobatan

(10)

8

mudah. Diurutan kedua pengobatan menggunakan cefotaxime yaitu sebanyak 10

kasus (22,72%). Akan tetapi sampai saat ini di Indonesia tidak terdapat laporan

keberhasilan terapi demam tifoid dengan cefotaxime (Newlan, 2012). Terapi pada

demam tifoid juga menggunakan terapi kombinasi, namun pemberian terapi

kombinasi ini sering kali tidak memberikan keuntungan dibandingkan dengan

pengobatan tunggal baik dalam hal kemampuan untuk menurunkan panas atau

menurunkan angka kejadian relaps. Dibuktikan dalam penelitian Schubair terhadap

terapi kombinasi 2 antibiotik tidak mempunyai perbedaan klinis dibanding dengan

pengobatan kloramfenikol tunggal (Musnelina dkk, 2004).

Data Pasien Berdasarkan Status Kepulangan

Data status kepulangan pada pasien anak dengan diagnosis demam tifoid di

Rumah Sakit Umum Daerah dr. Sayidiman Magetan tahun 2014 dapat dilihat pada

tabel 4.

Tabel 4. Data Status Kepulangan Pasien Anak Dengan Demam Tifoid di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014.

Status Jumlah Presentasi (%)

(n = 44)

Sembuh 20 45,45 %

Membaik 24 54,55 %

Jumlah 44 100 %

Dari tabel 4 menunjukkan status kepulangan terbanyak adalah membaik yaitu

24 kasus (54,55%), sedangkan status kepulangan sembuh sebanyak 20 kasus

(45,45%).

Data Pasien Berdasarkan Penggunaan Obat Lain

Dalam proses pengobatan pada pasien anak dengan demam tifoid di RSUD dr.

Sayidiman Magetan selain menggunakan antibiotik juga mendapatkan terapi obat lain

seperti pemberian cairan infus, obat analgetik antipiretik, vitamin, anti inflamasi,

pencahar, antiemetik, dan antidiare. Pemberian obat-obat tersebut bertujuan untuk

mengurangi dan mengatasi gejala dan keluhan-keluhan yang dirasakan pasien demam

tifoid.

Berdaraskan tabel 5 pasien anak dengan demam tifoid semua diberikan cairan

infus. Cairan infus yang digunakan adalah RL, D5, Tridex 27B, KAEN 3B. Cairan

infus tersebut berguna sebagai cairan elektrolit yang menjaga keseimbangan air dan

(11)

9

mendapatkan cairan yang cukup, baik secara oral maupun parenteral. Cairan

parenteral diindikasikan pada penderita sakit berat dan adanya penurunan kesadaran

serta sulit makan. Cairan yang digunakan juga harus mengandung elektrolit dan

kalori yang optimal (Kemenkes RI, 2006).

Tabel 5. Penggunaan Obat Lain Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014.

Kelas Terapi Nama obat Frekuensi Persentasi (%) Cairan Infus RL, D5, Tridex 27B, KAEN 3B 44 100 % Analgetik dan

Antipiretik

Paracetamol, Progesic,Cupanol, Piridol 19 43,18 % Vitamin Apialys, Asedas, C-zink, Neurosanbe, Sanbe kid,

Sankorbin

15 34,09 %

Anti inflamasi Dexametason, Inflamid, Metil prednisolon 10 22,73 %

Flu dan Alergi Lacoldin 5 11,36 %

Pada umumnya terapi simptomatik juga dapat diberikan dengan pertimbangan

untuk perbaikan keadaan umum penderita seperti pemberian roboransia/vitamin,

antipiretik, dan anti emetik (Kemenkes RI, 2006)

Berdasarkan tabel 5 menunjukkan penggunaan obat analgetik antipiretik

sebesar 43,18 %. Analgetika merupakan zat-zat yang dapat mengurangi rasa nyeri

tanpa menghilangkan kesadaran. Beberapa obat analgetika terutama analgetik perifer

juga memiliki daya antipiretik dan atau antiradang. Sehingga obat-obat ini tidak

hanya sebatas digunakan untuk menghilangkan nyeri namun juga dapat digunakan

untuk menurunkan demam (Tjay & Rahardja, 2008) Obat ini diresepkan dalam anak

dengan penyakit tifoid karena pada pasien muncul gejala berupa demam dan nyeri

kepala. Analgetik antipiretik yang digunakan seperti Paracetamol.

Pada tabel 5 vitamin juga diresepkan sebanyak 15 kasus (34,09%). Vitamin

yang diresepkan adalah Apialys, Asedas, C-zink, Neurosanbe, Sanbe kid, Sankorbin.

Vitamin digunakan untuk pencegahan dan pengobatan defesiensi spesifik atau jika

jumlah asupan diketahui tidak memadai (BPOM, 2008). Pada keadaan pasien dengan

demam yang cukup tinggi akan menyebabkan nafsu makan berkurang maka dengan

pemberian vitamin diharapkan nafsu makan pasien akan meningkat kembali dan

(12)

10

penambahan suplemen, dapat dilihat pada tabel 6 peresepan suplemen juga muncul

sebanyak 1 kasus (2,27%).

Pada pasien anak dengan demam tifoid juga diresepkan anti inflamasi sebesar

22,73%. Anti inflamasi yang digunakan adalah Dexametason, Inflamid, Metil

Prednisolon. Pada demam tifoid kasus berat seperti delirium, koma, dan atau syok,

pemberian dexametason dosis tinggi 1-3 mg/KgBB/hari disamping antibiotik yang

memadai dapat menurunkan angka kematian (Soedarmono, 2002).

Gejala gastrointestinal pada kasus demam tifoid sangat bervariasi. Pasien

dapat mengeluh konstipasi maupun obstipasi dan kemudian disusul dengan episode

diare, pada sebagian pasien lidah tampak kotor dengan putih di tengah sedangkan tepi

dan ujungnya kemerahan (Soedarmono, 2002). Hal tersebut juga dapat dilihat dari

pemberian obat yang bertujuan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan gejala

tersebut. Dilihat dari tabel 5 pemberian obat pencahar untuk mengurangi gejala

konstipasi sebesar 5 kasus (11,36%). Obat pencahar yang digunakan adalah mikrolac

dan dulcolac, sedangkan pemberian antidiare sebanyak 1 kasus (2,27%).

Analisis Ketepatan Antibiotik

1. Tepat Indikasi

Tepat indikasi adalah pemberian obat telah sesuai dengan diagnosis yang

diperoleh dari dokter sesuai tanda dan gejala yang ada. Berdasarkan penelitian yang

dilakukan didapatkan 1 kasus yang tidak tepat indikasi yaitu kasus nomor 9. Pada

kasus tersebut digunakan Cefpirome sebagai antibiotika dengan diagnosis demam

tifoid. Cefpirome tidak tepat indikasi dikarenakan antibiotika ini diindikasikan untuk

infeksi saluran kemih atas dan bawah, infeksi kulit dan jaringan lunak serta

bakteremia. Sehingga untuk tepat indikasi didapatkan nilai 97,72 % (43 kasus) dan

ketidaktepatan indikasi sebesar 2,27% (1 kasus).

2. Tepat Obat

Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa pemberian antibiotik pada pasien

anak dengan demam tifoid baik berupa obat tunggal maupun kombinasi setelah

dibandingkan dengan SPM RSUD dr. Sayidiman Magetan tahun 2011 tentang

demam tifoid didapatkan ketepatan obat sebanyak 25 kasus (56,82%) meliputi 23

(13)

11

Menurut SPM RSUD dr. Sayidiman Magetan tahun 2011 tentang demam tifoid

kloramfenikol merupakan drug of chioce. Cefixime dan cefriaxone merupakan terapi

antibiotik lini kedua setelah kloramfenikol. Kloramfenikol sudah sejak lama

digunakan dan menjadi terapi standar pada demam tifoid namun kekurangan dari

kloramfenikol adalah angka kekambuhan yang tinggi (5-7%), angka terjadinya karier

juga tinggi, dan toksis pada sumsum tulang (Nelwan, 2012).

Penggunaan cefotaxime sebenarnya merupakan lini kedua dalam terapi.

Cefotaxime merupakan antibiotik golongan sefalosforin generasi ketiga yang

biasanya digunakan dalam terapi demam tifoid (Kalra, 2003). Akan tetapi di

Indonesia sampai saat ini tidak terdapat laporan keberhasilan terapi demam tifoid

dengan cefotaxime (Nelwan, 2012).

Tabel 6. Ketepatan Obat Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014.

Jenis antibiotic Frekuensi Nomor pasien Ketepatan Obat Tunggal

Kandungan Tepat Tidak Tepat

Cefotaxim 10 1,2,7,11,13,15,18,27,34,35 Kloramfenikol 23 4,6,10,12,14,16,17,20,21,24,26,28,29,30,33,37,

38,39,40,41,42,43,44 √

Kloramfenikol 7 3,8,19,22,23,25,31 √

Kloramfenikol +

cefixim 1 36 √

Jumlah 44 25 19

3. Tepat Dosis

Data ketidaktepatan dosis pasien anak dengan demam tifoid yang dirawat inap

di RSUD dr. Sayidiman Magetan tahun 2014 dapat dilihat pada tabel 7. Ketepatan

dosis adalah jumlah atau besaran pemberian obat dengan kebutuhan individual telah

sesuai dengan frekuensi dan aturan dosis obat, yaitu tidak terlalu kecil maupun terlalu

(14)

12

Tabel 7. Ketidaktepatan Dosis Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014.

Nama Obat BB (kg)

Dosis Pemakaian Dosis Standart Nomor Kasus

Status Jml Persenta se (n=52) Kloramfenikol 50 – 100 mg/kgBB/hari, dibagi

dalam 4 dosis Cefixim 10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2

dosis

38 500 2 1000 152 2 304 5 >

30 350 2 700 120 2 240 36 > 2 3,84% Cefotaxim 40 - 80 mg/kgBB/hari dibagi dalam

2 -3 dosis Ceftriakson 80 mg/kgBB/hari dalam dosis

tunggal

25 500 2 1000 2000 1 2000 32 < 1 1,92%

Cefpirom 2 gram tiap 12 jam

20 500 2 1000 1000 2 2000 9 < 1 1,92%

Jumlah 18 32,67%

Keterangan : < Kurang dari dosis standar > Lebih dari dosis standar

Pengobatan demam tifoid dengan antibiotik di RSUD dr. Sayidiman

Magetan tahun 2014 sebanyak 52 peresepan, meliputi peresepan tunggal dan

kombinasi. Pada tabel 7 dapat dilihat bahwa terjadi ketidaktepatan dosis pada

peresepan. Kloramfenikol sebesar 5 kasus (9,61%). Cefotaxime sebesar 8 kasus

(15,38%), cefixime 2 kasus (3,84%), cefpirom dan cefriakson masing-masing 1 kasus

(1,92%). Total ketidaktepatan peresepan sebanyak 18 kasus (32,67%) dan ketepatan

dosis sebanyak 36 kasus (67,33%) dari 52 peresepan. Analisis untuk kloramfenikol,

sefriakson, dan cefixim dibandingkan dengan SPM RSUD dr. Sayidiman Magetan

tahun 2011. Pada penggunaan cefotaxim, metronidazol, dan cefpirom karena tidak

terdapat pada SPM maka dibandingkan dengan dosis yang tercantum pada jurnal

yang berjudul Current Trends in the Management of Typhoid Fever oleh Kalra et al

(15)

13

Tabel 8. Data Ketepatan Dosis dan Durasi Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014.

Nama antibiotik Jumlah Kasus

Tepat Dosis Tepat Durasi Kesimpulan Tepat Tidak Tepat Tepat Tidak Tepat Tepat Tidak Tepat

Kloramfenikol 31 26 5 0 31 0 31

Pemberian antibiotik dikatakan tepat dosis apabila memenuhi tepat dosis dan

tepat durasi. Berdasarkan tabel 8, tidak ada yang memenuhi tepat durasi sehingga

dapat dikatakan untuk ketepatan dosis bernilai 0% dan ketidak tepatannya bernilai

100%.

4. Tepat Pasien

Antibiotik yang digunakan untuk terapi pada pasien anak dengan demam

tifoid sesuai dengan kondisi fisiologis yaitu sesuai dengan umur anak 0-15 tahun,

tidak kontra indikasi, dan juga sesuai dengan kondisi pasien saat masuk rawat inap.

Dari hasil penelitian didapatkan 12 kasus (27,27%) yang memenuhi kriteria tepat

pasien sedangkan 32 kasus lainnya (72,73%) tidak memenuhi kriteria tepat pasien

dikarenakan antibiotika yang digunakan memiliki efek samping yang dapat

memperparah kondisi fisiologis pasien seperti mual, muntah, nyeri perut, serta diare.

5. Kerasionalan penggunaan antibiotika

Dari hasil analisis kerasionalan penggunaan antibiotika meliputi tepat

indikasi, tepat pasien, tepat obat dan dosis didapatkan hasil semua peresepan tidak

ada yang rasional (kerasionalan 0%).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD dr. Sayidiman Magetan tahun

2014 dengan melihat data rekam medik pada pasien anak dengan demam tifoid dapat

disimpulkan bahwa :

1. Pemilihan jenis antibiotik yang digunakan untuk terapi pada pasien anak dengan

demam tifoid yang dirawat inap adalah kloramfenikol yaitu sebesar 23 kasus

(52,27%), Cefotaxime (22,72%) dan sefiksim, cefpirome, serta cefriaxone

(16)

14

2. Setelah dievaluasi penggunaan antibiotik pada pasien anak dengan demam tifoid di

RSUD dr. Sayidiman Magetan tahun 2014 berdasarkan standar pelayanan medic

(SPM) RSUD dr. Sayidiman Magetan tahun 2011 tentang demam tifoid meliputi 4

aspek yaitu tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, dan tepat dosis. Dari hasil

penelitian didapatkan nilai presentase untuk tepat indikasi sebesar 97,72%, tepat

obat 56,82%, tepat pasien 27,27% akan tetapi tidak semua meliputi aspek tepat

dosis.

SARAN

Berdasarkan pada penelitian, saran yang dapat diberikan adalah :

1. Untuk penelitian berikutnya sebaiknya menggunakan metode dengan cara

prospektif karena penggunaan metode penelitian dengan cara retrospektif

mempunyai banyak kelemahan.

2. Perlu dilakukan adanya perbaikan oleh tenaga medis terkait dalam penulisan

rekam medik karena pada penulisan data di rekam medik susah untuk dibaca dan

dimengerti.

DAFTAR ACUAN

BPOM, 2008., Informatorium Obat Nasional Indonesia, Depkes RI, Jakarta.

Depkes RI., 2007, Riset Kesehatan Dasar, Badan Penelitian dan Pengembangan

Kesehatan Departemen Kesehatan, Jakarta.

Kalra, SP., 2003, Current Trends in the Managenent of Typhoid Fever, MJAFI, Vol

59, No.2.

Kemenkes RI, 2006, Pedoman Pengendalian Demam Tifoid Menteri Kesehatan

Repubik Indonesia, Jakarta.

Komite Medik RSUD dr. sayidiman Magetan, 2011, Standar Pelayanan Medik,

Jakarta. Departemen Kesehatan RI.

Mansjoer A.,2001, Kapita Selekta, Jilid 1, hal 442, Jakarta, Media Aesculapius.

Munaf, S., 2009, Kumpulan Kuliah Farmakologi, edisi II, Jakarta, Buku Kedokteran

EGC.

Musnelina L., Afdhal, A., Gani., dan Andayani., 2004, Pola Pemberian Antibiotika

(17)

15

Murti, B., 2010, Desain dan Ukuran Sampel untuk Penelitian Kuantitatif dan

Kualitatif di Bidang Kesehatan Edisi ke-2, Yogyakarta,Gajah Mada University Press.

Nelwan, RHH., 2012, Tata Laksana Terkini Demam Tifoid, Jakarta, CDK-192/Vol.

39, th.2012.

Ozkurt Z, Erol S, Kadanali A, Ertek M, Ozden K, Tasyaran MA. Changes

inantibiotic use, cost and consumption after an antibiotic restriction policy applied by infectious disease specialists. Jpn J Infect Dis. 2005; 58:338-43.

Prest, M., 2003, Penggunaan Obat pada Anak-anak, dalam Aslam., Tan K., C., dan

Prayitno A., (Editor), Farmasi Klinik (Clinical Pharmacy) Menuju

Pengobatan yangrasional dan Penghargaan Pilihan Pasien, hal 191-192, Jakarta, Elex Media Komputindo.

Rampengan, N.H., 2013, Antibiotik Terapi Demam Tifoid Tanpa Komplikasi pada

Anak, Vol. 14, No. 5, Sari Pediatri.

Soedarmono, P.S.S., Garna H., dan Hadinegoro, S., 2002, Buku Ajar Ilmu Kesehatan

Anak Infeksi dan Penyakit Tropis Edisi Pertama, hal 367-375, Jakarta, IDAI.

Tjay. T. H dan Rahardja, Kirana., 2008, Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan,

dan Efek-Efek sampingnya, Elex Media Computinda, Jakarta

Widodo, D., 2007, Demam Tifoid, dalam Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3, hal

1752-1757, EGC.

WHO, 2003, Background Document : The Diagnosis, Treatment and Prevention of

Typhoid Fever. Communicable Disease Surveillance and Response Vaccines and Biologicals, Switzerland.

Gambar

Tabel 2. Gejala Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014
Tabel 2 Gejala Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr Sayidiman Magetan Tahun 2014. View in document p.8
Tabel 1. Demografi Data Umum Pasien Anak  Dengan Demam Tifoid di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014
Tabel 1 Demografi Data Umum Pasien Anak Dengan Demam Tifoid di RSUD dr Sayidiman Magetan Tahun 2014. View in document p.8
Tabel 3. Terapi Penggunaan Antibiotik Tunggal dan Kombinasi Pasien Anak Demam Tifoid yang Dirawat Inap di RSUD dr
Tabel 3 Terapi Penggunaan Antibiotik Tunggal dan Kombinasi Pasien Anak Demam Tifoid yang Dirawat Inap di RSUD dr. View in document p.9
Tabel 4. Data Status Kepulangan Pasien Anak Dengan Demam Tifoid di RSUD dr. Sayidiman Magetan Tahun 2014
Tabel 4 Data Status Kepulangan Pasien Anak Dengan Demam Tifoid di RSUD dr Sayidiman Magetan Tahun 2014. View in document p.10
Tabel 5. Penggunaan Obat Lain Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr
Tabel 5 Penggunaan Obat Lain Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr. View in document p.11
Tabel 6. Ketepatan Obat Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr
Tabel 6 Ketepatan Obat Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr. View in document p.13
Tabel 7. Ketidaktepatan Dosis Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr
Tabel 7 Ketidaktepatan Dosis Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr. View in document p.14
Tabel 8. Data Ketepatan Dosis dan Durasi Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr
Tabel 8 Data Ketepatan Dosis dan Durasi Pada Pasien Anak Dengan Demam Tifoid Yang Di Rawat Inap di RSUD dr. View in document p.15

Referensi

Memperbarui...

Download now (17 pages)