Belajar dari kesetiaan iman Maria guna meningkatkan kualitas hidup beriman umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis - Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
1
144
7 months ago
Preview
Full text

  

BELAJAR DARI KESETIAAN IMAN MARIA

GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP BERIMAN UMAT

DI LINGKUNGAN St. IGNATIUS LOYOLA COKRODININGRATAN

PAROKI JETIS - YOGYAKARTA

   S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh:

  Anastasia Ninda Milla NIM : 031124026

  PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2007

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada: Jesus Maria dan Joseph Pelindung Societas yang membimbing dan memberi kekuatan kepadaku,

  Para Suster Societas Jesus Maria dan Joseph (JMJ), Para jemaat kristiani di lingkungan St. Ignatius Loyola, Cokrodiningratan,

  Paroki Jetis-Yogyakarta, Orang tua, saudara-saudaraku, para pembimbingku, dan almamaterku tercinta, serta semua pemerhati Iman jemaat kristiani di mana saja berada.

  

MOTTO

Kekuatan Allah Telah Melengkapi Kelemahanku.

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 12 November 2007 Penulis,

  Anastasia Ninda Milla

  

ABSTRAK

  Judul skripsi BELAJAR DARI KESETIAAN IMAN MARIA GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP BERIMAN UMAT DI LINGKUNGAN St. IGNATIUS LOYOLA COKRODINIGRATAN-YOGYAKARTA dipilih berdasarkan keprihatinan penulis setelah melihat umat di lingkungan St. Igantius Loyola Cokrodiningratan yang terkesan belum mampu memahami dan memaknai kesetiaan Maria kepada Allah sesuai dengan iman Gereja. Bagi mereka Maria adalah pengabul doa. Hal ini menunjukkan bahwa bagi umat di lingkungan ini, Maria memiliki posisi atau kedudukan yang sejajar dengan Allah. Padahal Gereja, meskipun telah memberikan gelar kehormatan yang paling tinggi di antara kelompok orang-orang kudus terhadap Maria tetapi tidak pernah memposisikan Maria sejajar dengan Allah. Dalam kesempatan ini penulis fokus pada kesetiaan Maria Bunda Yesus dan mengajak segenap umat Kristiani untuk belajar dari kesetiaan iman Maria sehingga dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup ini tidak putus asa dan tetap setia kepada Allah seperti Maria. Berkaitan dengan hal itu persoalan yang dibahas dalam skripsi ini adalah bagaimana umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan memahami dan memaknai kesetiaan iman Maria, telah sesuai dengan pandangan Gereja atau tidak? Serta bagaimana Katekese Umat dapat membantu umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan dalam meneladani kesetiaan iman Maria guna meningkatkan kehidupan berimannya. Untuk mengkaji persoalan ini diperlukan data yang akurat. Oleh karena itu penyebaran angket dan wawancara terhadap umat di lingkungan St. Ignatius Loyola telah dilaksanakan. Di samping itu studi pustaka juga dilaksanakan untuk memperoleh pemikiran-pemikiran yang dapat membantu dalam memahami dan memaknai kesetiaan Maria kepada Allah sesuai dengan iman Gereja.

  Berdasarkan hasil penelitian, penulis melihat bahwa umat di lingkungan itu sebenarnya telah mampu memahami dan memaknai Maria sebagai teladan dalam kesetiaan iman. Dan, berdasarkan ungkapan pengalaman hidup sehari-hari, mereka memaknai Maria sebagai Ibu, bunda, penolong, sahabat dan pengantara doa. Agar pemahaman dan pemaknaan umat terhadap Maria yang demikian dapat semakin mendalam maka penulis mengusulkan program Katekese Umat model Shared

  

christian Praxis. Katekese Umat dalam hal ini difokuskan pada tema Maria dengan

  harapan umat semakin mengenal sosok Maria dengan keteladanan imannya yang setia akan Allah dan mampu menjadikan Maria sebagai sumber inspirasi hidup beriman bagi mereka dalam menghadapi berbagai persoalan hidup sehari-hari.

   ABSTRACT

  The title of the thesis is “LEARNING FROM THE ADHERENCE OF MARY’S FAITH TO RAISE THE QUALITY OF CHRISTIANS’ LIFE IN THE COMMUNITY OF ST. IGNATIUS LOYOLA COKRODININGRATAN PARISH JETIS-YOGYAKARTA COMMUNITY.” The background of this study is based on the concern after observing the Christians’ life in that community. Apparently it seems that they are not so capable to understand Mary’s adherence to God according to the Church faith. They receive and believe in Mary as the one who answers their prayer or request. This shows that they receive Mary and God in the same position or existence. In fact, the Church never puts her in the same position as God, although the Church has given the most honorable title to Mary among the saints.

  The study focuses on Jesus Mother as wellas, Mary’s adherence and invites all the Christians to learn it. Relating to this, it helps the people not to be in despair about their life burdens, but keep in faith to God and also to as Mary. Then, the problem formulation of this study consists of two points. First is, whether the people’s way of understanding Mary’s faithfull adherences is what the Church wants or not. Second is how the catechism helps the Christians in living Mary’s faithfull adherence to increase their spiritual life quality.

  To analyze this problem we need to have accurate data. Therefore, the writer has conducted questioners and interviews. The literary study was also conducted to obtain any supporting ideas in understanding the adherence of Mary. Based on the research, the Christians in that station actually have understood and have perceined of Mary as a model of faithful adherence. In their daily life, they have considered Mary as the Mother, Holy Mother, the Helper their, best friend and the mediator for their prayer to Jesus. To enable them to improve their understanding, the writer proposes a catechism program called Shared Christian

  Praxis

  . The catechism theme focuses on Mary. It is expected that the Christians deeply comprehend the figure of Mary and her faithful deed to God. They also receive Mary as their an inspiring figure of their life faith to overcome with their daily life problems.

KATA PENGANTAR

  Syukur kepada Allah Bapa, Putra, Roh Kudus atas kasih karunia-Nya yang melimpah, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: Belajar dari

  

Kesetiaan Iman Maria Guna Meningkatkan Kualitas Hidup Beriman Umat di

Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan-Yogyakarta.

  Skripsi ini diilhami oleh hasil refleksi dan keprihatinan penulis terutama dalam usaha umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Yogyakarta dalam meneladani kesetiaan Iman Maria guna meningkatkan kualitas hidup berimannya. Keterlibatan umat dalam berbagai kegiatan di lingkungan khususnya kegiatan Devosi kepada Bunda Maria yaitu doa Rosario cukup nampak, tetapi pemahaman dan pemaknaannya masih sangat kurang. Oleh karena itu penyusunan skripsi ini dimasudkan untuk membantu umat dalam memahami dan memaknai kesetiaan Maria kepada Allah, sehingga melalui kegiatan devosi kepada Bunda Maria secara wajar dan benar sesuai dengan ajaran gereja mampu membawa mereka pada suatu tahap perkembangan iman yang diharapkan oleh Gereja sendiri.

  Dengan keterlibatannya dalam berbagai kegiatan devosi kepada Bunda Maria, umat juga dapat berperan lebih aktif dalam berbagai kegiatan pendalaman iman yang dilaksanakan di lingkungan dan setiap kegiatan sosial di masyarakat. Selain itu, skripsi ini juga disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

  Tersusunnya skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  Pimpinan Umum dan para Dewan pimpinan Umum, Pimpinan Provinsi dan 1. para Dewan pimpinan Provinsi Konggregasi Jesus Maria dan Joseph (JMJ), serta para suster yang telah memberi kesempatan dan kepercayaan kepada penulis untuk belajar dan mengembangkan diri di IPPAK-USD Yogyakarta Dra. J. Sri Murtini M.Si selaku dosen pembimbing utama sekaligus dosen 2. pembimbing akademik yang telah memberikan perhatian, waktu, semangat, motivasi, sumbangan pemikiran dengan penuh kesabaran dan cinta kepada penulis. Terima kasih untuk masukan dan kritiknya sehingga penulis diteguhkan dan lebih termotivasi dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini.

  Drs. L. Bambang Hendarto,Y.M.Hum selaku dosen penguji yang telah 3. memberikan motivasi pada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

  Bapak P. Banyu Dewa HS. S.Ag., M.Si selaku dosen Penguji, yang telah 4. memberikan semangat dan motivasi bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

  Seluruh Staf Dosen Prodi IPPAK-USD, dan seluruh karyawan yang telah 5. mendidik, mengarahkan, mendukung dan membimbing penulis selama belajar sehingga dapat menyelesaikan studi di Prodi IPPAK-USD dengan baik.

  Terima kasih kepada teman-teman angkatan 2003/2004 atas cinta dan 6. persahabatan yang telah terjalin selama 4 tahun di kampus IPPAK-USD.

  7. Seluruh Umat Kristiani di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan, paroki-jetis yang telah menyisihkan waktunya untuk mengisi angket dan wawancara.

  8. Pimpinan Komunitas JMJ Trimargo Yogyakarta mulai dari Sr. Immacule Palit JMJ, Sr. Auxilia Tandayu, Sr. Ivonne Pusung JMJ dan para suster JMJ dan OSA anggota komunitas, serta Karyawan/ti yang telah mendukung penulis dalam penulisan skripsi ini.

  9. Terima kasih kepada semua orang yang tidak dapat diungkapkan satu per satu, yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

  Akhirnya penulis menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, sehingga penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca demi perbaikan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, terutama seluruh umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan.

  Yogyakarta, 12 November 2007 Penulis,

  Anastasia Ninda Mila

  DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ iv HALAMAN MOTTO..............................................................................................v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA........................................... vi ABSTRAK............................................................................................................ vii ABSTRACT......................................................................................................... viii KATA PENGANTAR ........................................................................................... ix DAFTAR ISI......................................................................................................... xii DAFTAR SINGKATAN .......................................................................................xv

  BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................1 A. Latar Belakang Penulisan Skripsi ..........................................................1 B. Rumusan Permasalahan .........................................................................8 C. Tujuan Penulisan....................................................................................8 D. Manfaat Penulisan..................................................................................9 E. Metode Penulisan...................................................................................9 F. Sistematika Penulisan ............................................................................9 BAB II. GAMBARAN UMUM UMAT KRISTIANI DI LINGKUNGAN St. IGNATIUS LOYOLA COKRODININGRATAN PAROKI JETIS- YOGYAKARTA DAN PEMAHAMAN SERTA PEMAKNAANNYA TENTANG KESETIAAN IMAN MARIA ......11 A. Gambaran Umum Umat Kristiani di Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis-Yogyakarta .............................12 1. Sejarah dan Latar Belakang terbentuknya Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis-Yogyakarta..........12

  2. Macam-macam Kegiatan Umat di Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis-Yogyakarta .......................16

  3. Semangat yang Menjiwai Hidup Beriman Umat di Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis- Yogyakarta…….............................................................................18

  B. Penelitian Pemahaman dan Pemaknaan Umat Kristiani di Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis- Yogyakarta Tentang Kesetiaan Iman Maria Kepada Allah ................20

  1. Latar Belakang Penelitian..............................................................20

  2. Rumusan Masalah Penelitian.........................................................22

  3. Tujuan Penelitian ...........................................................................23

  4. Metodologi Penelitian....................................................................23

  5. Variabel Penelitian.........................................................................25

  6. Teknik Analisis Data .....................................................................27

  C. Laporan Hasil Pembahasan, dan Kesimpulan Penelitian.....................27

  1. Laporan Hasil, dan Pembahasan Penelitian.................................27

  2. Kesimpulan Hasil Penelitian..........................................................40 BAB

  III. PANDANGAN GEREJA TENTANG KESETIAAN IMAN MARIA ................................................................................................44

  A. Maria Bagi Umat Kristiani…………………………………………..44

  1. Gambaran Maria .............................................................................44

  2. Maria Typus Gereja .......................................................................46

  3. Maria: Advocata, Auxiliatrix, Adiutrix dan Mediatrix..................47

  B. Keistimewaan Maria dalam Gereja......................................................48

  1. Iman................................................................................................48

  2. Panggilan..................................................................................…..50

  3. Kesetiaan........................................................................................51

  B. Relevansi Keteladanan Kesetiaan Iman Maria ................................................63

  1. Sikap Maria yang Rendah Hati.......................................................64

  2. Sikap Maria yang Penuh Penyerahan Diri Kepada Allah..............66

  3. Ketekunan Maria dalam Doa ..........................................................67

  4. Maria yang Setia terhadap Keputusanya Sendiri............................67

  5. Kepekaan Maria dalam Menanggapi Rencana Allah dalam Hidupnya…………………………………………………69

  BAB IV. USULAN PROGRAM KATEKESE UMAT DENGAN MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS BAGI UMAT DI LINGKUNGAN St. IGNATIUS LOYOLA COKRODININGRATAN PAROKI JETIS -YOGYAKARTA ...................................................................71 A. Katekese Umat dengan Model Shared Christian Praxis (SCP) ..........71

  1. Katekese Umat (KU) .....................................................................71

  2. Pengertian Shared Christian Praxis (SCP) dan Langkah- Langkahnya Dalam Katekese Umat ..............................................80

  B. Usulan Program Katekese Umat dengan Model SCP..........................89

  1. Matriks Program Katekese Umat Dengan Model SCP..................91

  2. Contoh Persiapan Katekese Umat Dengan Model SCP................96

  BAB V. PENUTUP .........................................................................................108 A. Kesimpulan ..................................................................................108 B. Saran ............................................................................................111 DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................114 LAMPIRAN.........................................................................................................116 . Lampiran I : Deskripsi Hasil Wawancara.............................................. ........(1)

  • Responden I .............……………...........................................(1)
  • >Responden II.. ...........................…………….........................
  • Responden III..............................................…………….........(6)
  • Responden IV. ...............................…….................................(8)
  • >Responden V .........................................................………….
  • Responden VI ..................................................……………..(12)
  • Responden VII ................................................……………...(13)

  Lampiran II : Lagu-Lagu Tentang Maria......................................................….(15)

DAFTAR SINGKATAN

  Singkatan Kitab Suci A. Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian

  Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat (Dipersembahkan kepada Umat

  Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Depatemen Agama RI dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 8.

  Singkatan Dokumen Resmi Gereja B. LG : Lumen Gentium Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja, tanggal 21 November 1964.

  NA : Nostra Aetate Deklarasi tentang Hubungan Gereja dengan Agama- agama bukan Kristen, tanggal 28 Oktober 1965.

  Singkatan Lain C. Art : Artikel FIPA : Fakultas Ilmu Pendidikan Agama FKIP : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  IPPAK : Ilmu Pendidikan dengan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik JMJ : Jesus Maria dan Joseph.

  KWI : Konferensi Waligereja Indonesia Prodi : Program Studi S1 : Strata satu SJ : Serikat Jesus STFK : Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik STKAT : Sekolah Tinggi Kateketik

BAB I PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan, penulis akan membahas mengenai latar belakang

  penulisan skripsi, rumusan permasalahan, tujuan, manfaat, metode dan sistematika penulisan skripsi. Untuk menjelaskan hal-hal tersebut, berikut ini adalah uraiannya:

A. Latar Belakang Penulisan Skripsi Umat manusia zaman sekarang tidak bisa melepaskan diri dari situasi sulit.

  Situasi sulit itu muncul akibat dari semakin maraknya kemiskinan dan penderitaan yang terjadi. Di sisi lain umat manusia mengalami suatu perkembangan peradaban yang ditandai dengan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Macam- macam hasil penemuan membuat manusia kagum terhadap kemampuan dan kekuasaannya. Umat manusia terkadang lupa terhadap siapa yang paling berkuasa di alam semesta ini. Kehadiran Allah dengan mudah dilupakan.

  Umat manusia merasa bahwa dengan berbagai sarana yang canggih, dirinya dapat memenuhi segala kebutuhannya yang tanpa batas. Ironisnya, tidak sedikit umat manusia yang kemudian cemas terhadap hidupnya sendiri. Perasaan takut dan bingung kerap kali menghantui hidupnya manakala masalah datang bertubi-tubi.

  Dewasa ini banyak masalah yang membuat umat manusia tidak berdaya. Misalnya bencana alam, konflik antar kelompok masyarakat, ekonomi keluarga, hubungan pasangan suami-istri dan anak, serta masih banyak persoalan lain yang cukup kompleks. Umat manusia menjadi tidak berdaya manakala harus berhadapan dengan pertanyaan soal perannya, tujuannya dan eksistensinya di dunia ini. Situasi ini juga dirasakan oleh segenap umat Kristiani di lingkungan St. Ignatius Loyola penulis melihat bahwa tidak sedikit permasalahan yang muncul dan membuat penghayatan iman umat menjadi kurang mendalam. ( Observasi penulis) Umat Kristiani di lingkungan inipun tidak bisa lepas dari pengaruh modernisasi yang sangat menonjol terutama dalam bidang industri, teknologi, dan komunikasi baik yang berbentuk hiburan maupun yang mengarah pada peningkatan ekonomi, sosial, dan politik. Tidak jarang umat yang mengeluh soal hidup terutama manakala mereka harus masuk dalam situasi yang semakin menguras tenaga, pikiran, dan harta benda. Tetapi ada juga anggota umat yang merasa semakin nyaman dengan hidupnya yang berlimpah harta kekayaan. Bagi mereka bila tidak hati-hati dapat dibutakan oleh kebutuhan-kebutuhan materi belaka, sehingga tenggelam dalam arus konsumerisme, hedonisme, individualisme dan pragmatisme.

  Situasi zaman semakin lama semakin berkembang. Umat di lingkungan inipun turut berkembang. Dalam situasi zaman yang semakin berkembang menuntut semua orang, tidak hanya umat Kristiani di lingkungan ini untuk mengambil sikap dan pilihan. Berbagai sikap hidup ditampilkan manusia hanya demi mempertahankan eksistensi diri. Dan banyak pilihan yang ditawarkan demi hidup yang lebih baik di masa datang. Jika tidak hati-hati dan selalu berpegangan pada iman kepercayaan pada Allah, bisa-bisa arus negatif dari kemajuan jaman menyeretnya dalam jurang kehancuran. Dalam menyikapi situasi hidup ini, tidak sedikit juga umat yang semakin berpegang kuat pada Allah. Tidak kurang juga umat yang berusaha kembali kepada Allah yang diimani sebagai yang maha kuasa. Adapun sikap atau tindakan yang dilakukan oleh umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan adalah devosi kepada orang-orang kudus. Misalnya devosi kepada hati kudus Yesus dan devosi kepada Bunda Maria. Dalam kesempatan ini penulis akan memfokuskan Kristiani untuk belajar dari kesetiaan iman Maria sehingga dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup ini tidak lantas putus asa dan tidak percaya pada Allah.

  Adapun alasan penulis memfokuskan penulisan skripsi pada dua hal di atas adalah karena prihatin melihat umat yang menurut hemat penulis belum mampu memahami dan memaknai kesetiaan Maria kepada Allah sesuai dengan iman Gereja. Dengan kata lain, penghayatan iman umat di lingkungan ini terhadap Maria menunjukkan indikasi yang kurang sesuai dengan pokok ajaran iman Kristiani.

  Maria tidak lagi dipandang sebagai pengantara doa melainkan pengabul doa. Umat di lingkungan ini cenderung untuk mensejajarkan Maria dengan Allah, hal ini berdasarkan pengamatan penulis dalam mengikuti kegiatan doa di lingkungan secara khusus doa Rosario yaitu doa permohonan umat yang didoakan dalam doa rosario. Padahal Gereja, meskipun telah memberikan gelar kehormatan yang paling tinggi di antara kelompok orang-orang kudus terhadap Maria tetapi tidak pernah memposisikan Maria sejajar dengan Allah. Berkaitan dengan hal ini, seorang imam Fransiskan yang bernama (Kristiyanto 1988:25) menuliskan dalam bukunya yang berjudul “Maria dalam Gereja” demikian: “Gereja meyakini bahwa Maria sebagai tanda harapan yang pasti serta hiburan bagi umat Allah yang berziarah”. Dalam hal ini Kristiyanto mencoba mengangkat LG art. 68. Menurutnya, pada art. 68 terkandung keyakinan Gereja bahwa melalui sosok Santa Perawan Maria Gereja memperoleh gambaran tentang dirinya yakni Gereja yang sedang dalam peziarahan di dunia dan sedang menantikan keselamatan.

  Salah satu doktrin Gereja tentang Maria yakni Maria diangkat ke surga telah menunjukkan bahwa sebenarnya gereja meyakini bahwa itulah citra gereja di masa depan. Artinya, jika segenap umat Kristiani mampu bersikap seperti Maria dan jika kelak akan diselamatkan dan dimuliakan Allah di surga. Seperti halnya hidup Maria yang sederhana, penuh iman, harap dan cinta demikianlah hendaknya kita sebagai umat Kristiani yang sama-sama berimankan akan Yesus Sang Mesias. Sosok Maria yang dikenal oleh Gereja telah mampu memberikan pengharapan baru bahwa juru selamat pasti akan datang dan menolong siapa saja yang selalu menggantungkan hidupnya pada penyelenggaraan Ilahi dan selalu setia terhadap segala rencanaNya. Pemahaman dan keyakinan yang seperti inilah yang seharusnya dihayati oleh umat Kristiani tanpa kecuali sehingga praktek iman terhadap Allah, Yesus, Roh Kudus dan Maria nampak lebih dewasa.

  Praktek iman dewasa yang dimaksud dalam hal ini adalah bahwa praktek iman dilakukan secara proporsional. Persoalan hidup yang dirasakan itu salah satunya adalah soal perkembangan hidup beriman sebagai orang Kristiani. Berikut ini adalah beberapa contoh persoalan kehidupan beriman yang kerap dihadapi oleh umat di lingkungan ini: kawin campur, keaktifan anggota umat dalam berbagai kegiatan Gereja baik di lingkungan maupun di paroki dan tingkat pengetahuan iman dari para orang tua Katolik yang kurang memadai sehingga tidak mampu mendidik anak- anaknya sesuai dengan pokok ajaran iman Kristiani sesuai dengan harapan Gereja. Persoalan-persoalan hidup beriman di atas, menurut hemat penulis lebih disebabkan karena pendampingan iman dalam keluarga sangat kurang dan bahkan dalam keluarga sendiri kurang ada perhatian mengenai pelestarian iman anak.

  Orang tua sibuk bekerja sehingga tidak sempat berkomunikasi dengan anak- anaknya (hal ini berdasarkan pengamatan penulis dan sharing pengalaman dari beberapa anggota umat). Maka, tidak heran jika kualitas hidup beriman umat Kristiani di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan ini masih perlu ditingkatkan lebih baik lagi. Pernah suatu ketika, penulis bertemu dengan salah satu umat yang mensharingkan pengalamannya bahwa anaknya lebih senang ke Masjid karena setiap sore hari anaknya melihat anak-anak berbondong-bondong ke Masjid dengan perlengkapan mengaji, tetapi apabila diajak untuk ke Gereja anaknya tidak mau berangkat (Observasi Penulis). Bagi saya ini suatu kendala bahwa pengaruh lingkungan juga sangat berperan dalam membangun iman. Situasi semacam ini bisa dikatakan sebagai kegoncangan hidup rohani.

  Kegoncangan hidup rohani ini nampak dalam kehidupan umat sebagai warga Gereja khususnya umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan.

  Kegoncangan itu di antaranya adalah banyak umat yang sulit untuk diajak berkumpul untuk membangun paguyuban, sehingga mereka merasa tidak perlu lagi untuk berkumpul atau berdoa bersama seperti dalam pendalaman iman dan pelayanan-pelayanan sosial lainnya. Pelayanan itu cenderung dilakukan oleh orang- orang tertentu atau pengurus lingkungan yang menjabat sebagai pengurus pada periode yang bersangkutan.

  Semangat untuk terlibat dan berkorban untuk orang lain mulai kurang. Lain dari pada itu umat cenderung menggantungkan diri kepada orang yang sering berkecimpung dalam pelayanan pastoral, sehingga mereka sudah merasa aman dengan dirinya sendiri tanpa harus memikirkan tugas. Dan keprihatinan itu memunculkan sikap egoisme pada diri umat yang sedikit banyak berpengaruh dalam kehidupannya dalam bermasyarakat. Dengan melihat situasi lingkungan yang demikian, penulis merasa perlu untuk membantu umat sehingga mereka dapat kembali merasakan bahwa Allah sungguh-sungguh maha baik dan penyayang. Pada kesempatan ini, penulis mengajak segenap anggota umat Kristiani di lingkungan ini hidup. Seperti halnya dalam Konsili Vatikan II telah dibahas tentang Maria sebagai teladan Gereja yang ulung. Sebagai pribadi manusia, Maria itu juga anggota Gereja dalam arti bahwa Maria termasuk dalam persekutuan orang beriman di dunia ini, sekaligus ia mendapat tempat yang istimewa sebagai bunda segenap orang beriman karena kesetiaannya akan Allah.

  Karena itu sebagai anggota Gereja umat beriman pun pada tempatnyalah hidup meneladan Maria (LG, art. 53). Gereja sebenarnya telah mengajak semua anggota umat Kristiani yang ada di dunia ini untuk bersama-sama melihat dan meneladani Maria. Kesetiaan Maria ini nampak dalam sikap Maria menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel (Luk 1:38), keberanian Maria dalam menjawab “YA” terhadap panggilan Tuhan dengan iman yang total dan dari lubuk hatinya yang paling dalam ia memuji keagungan Allah (Luk 1:67).

  Membagikan kegembiraan yang datang dari Allah kepada orang lain dalam hal ini adalah St. Elisabet saudarinya (Luk 1:39), keterlibatan Maria dalam pelayanan kepada sesama, yakni dalam pernikahan di Kana (Yoh 2:1), Maria mencari Yesus yang hilang di bait Allah (Haring, 1992:86), Maria menemani Yesus dalam jalan salib hingga sampai puncak Golgota (Yoh 19:25). Maria pantas menjadi teladan bagi setiap orang beriman.

  Kesetiaan iman Maria inilah yang seharusnya diteladani oleh segenap umat Kristiani. Hidup meneladan Maria berarti bertindak seperti Maria sebagaimana kita kenal lewat kesaksian Kitab Suci yang kemudian diperkaya dalam terang pemahaman Konsili Vatikan II. Dalam praktek hidup beriman umat di lingkungan ini, Maria menjadi bunda pengantara segala rahmat. Segala permohonan disampaikan, segala harapan diungkapkan dan setiap suka duka dibagikan kepada Bunda Maria dan semua doa itu ditujukan kepada bunda Maria. Penulis mendapat kesan bahwa Bunda Maria menjadi setara dan sejajar dengan Yesus atau Allah Bapa. Penghayatan iman yang lebih bersifat sentimentil, emosional terjadi di lingkungan ini. Penghayatan iman umat menjadi kurang dewasa.

  Pengetahuan iman tentang Allah, Yesus dan bahkan Maria sendiri kurang menjadi fokus perhatian umat. Umat sendiri lebih mementingkan praktek hidup doa yang devosional yang cenderung pasif. Umat kurang tertarik dengan kegiatan pendalaman iman yang mendorong mereka berpikir, berefleksi, berbicara, berpendapat di hadapan orang lain. Ini merupakan bentuk hidup beriman yang kurang dewasa.

  Keprihatinan ini mengundang perhatian penulis untuk lebih bersikap proaktif dalam menyikapi situasi semacam ini. Maka dalam kepentingan inilah, penulis menyusun skripsi dengan judul: BELAJAR DARI KESETIAAN IMAN MARIA

  

GUNA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP BERIMAN UMAT DI

LINGKUNGAN St. IGNATIUS LOYOLA COKRODININGRATAN PAROKI

JETIS - YOGYAKARTA Rumusan Permasalahan B.

  Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan pokok yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan 1. memahami dan memaknai kesetiaan iman Maria?. Bagaimana pandangan Gereja tentang kesetiaan iman Maria? 2. Bagaimana katekese umat dapat membantu umat di lingkungan St. Ignatius 3.

  Loyola Cokrodiningratan dalam meneladani kesetiaan iman Maria guna meningkatkan kehidupan berimannya?

C. Tujuan Penulisan

  Skripsi ini ditulis dengan tujuan: 1. Mengetahui pemahaman dan pemaknaan umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan tentang kesetiaan Maria? 2. Mengetahui pandangan gereja tentang kesetiaan Maria.

  3. Memberikan sumbangan katekese yang dapat membantu umat dalam meningkatkan kualitas iman dengan belajar dari kesetiaan Maria.

  4. Memenuhi persyaratan kelulusan Sarjana Srata Satu (SI) IPPAK-JIP-FKIP- USD-Yogyakarta

D. Manfaat Penulisan 1.

  Penulis dapat mengetahui situasi, pemahaman dan pemaknaan umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan tentang kesetiaan iman Maria serta membantu mereka untuk meningkatkan kualitas beriman mereka.

  2. Umat semakin memahami secara lebih dewasa dan jelas tentang Maria dan keteladanan kesetiaan imannya.

  3. Umat semakin mengetahui devosi kepada Maria yang benar dari ajaran Gereja.

  4. Memberikan suatu sumbangan katekese bagi para Katekis dan tokoh umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan, agar mampu membuat katekese yang sesuai dengan situasi dan kondisi umat setempat.

E. Metode Penulisan

  Dalam penulisan ini penulis menggunakan metode deskriptif analitis. Yang dimaksud dengan metode ini adalah bahwa penulis akan menggambarkan permasalahan yang ada, dalam hal ini data diperoleh melalui pengamatan, penelitian dan studi pustaka. Data-data tersebut akan dianalisis dan direfleksikan guna meningkatkan kualitas iman umat Kristiani di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan.

  Sistematika Penulisan F.

  Bab I : Penulis akan memaparkan tentang pendahuluan yang berisi: latar belakang penulisan skripsi, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

  Bab II : Penulis akan memaparkan hasil penelitian tentang pemahaman dan pemaknaan umat di Lingkungan St.Ignatius Loyola Cokrodiningratan terhadap kesetiaan iman Maria serta usaha-usaha yang telah mereka dilakukan guna meningkatkan kualitas beriman.

  Bab III : Penulis akan membahas tentang konsep Kesetiaan Maria berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi Gereja dengan memaparkan pengertian iman, panggilan dan kesetiaan Maria. Bab IV : Penulis akan membuat program Katekese Umat dengan model SCP bagi umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan -Yogyakarta sebagai bentuk aplikasi dari teori yang telah dibahas pada bab III dan sesuai dengan persoalan yang dipaparkan di bab II.

  Bab V : Penutup yang berisi kesimpulan dan saran demi terwujudnya kehidupan beriman yang berkualitas.

  

BAB II

GAMBARAN UMUM UMAT KRISTIANI

DI LINGKUNGAN St. IGNATIUS LOYOLA COKRODININGRATAN

PAROKI JETIS-YOGYAKARTA DAN PEMAHAMAN SERTA

PEMAKNAANNYA TENTANG KESETIAAN IMAN MARIA

Untuk menjawab permasalahan pertama dari skripsi ini, pada bab II penulis

  akan membagi pembahasan menjadi tiga sub bab yaitu di bawah ini akan dideskripsikan.

  Pada sub bab pertama, penulis memaparkan gambaran umum umat Kristiani di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis-Yogyakarta. Adapun hal-hal yang akan dibahas adalah mengenai sejarah, latar belakang terbentuknya lingkungan dan macam-macam kegiatan yang dilakukan, serta semangat yang menjiwai umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis- Yogyakarta.

  Pada sub bab kedua, penulis memaparkan penelitian pemahaman dan pemaknaan umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis- Yogyakarta tentang kesetiaan iman Maria. Adapun hal-hal yang digali dalam penelitian ini antara lain, pemahaman dan pemaknaan kesetiaan iman Maria yang berkaitan dengan siapa Maria, bagaimana bentuk-bentuk devosi Maria, bagaimana usaha-usaha yang dilakukan dan faktor-faktor penghambat yang dialami umat berkaitan dengan usaha meningkatkan kualitas hidup beriman mereka.

  Sedangkan dalam sub bab ketiga, penulis memaparkan pembahasan hasil dan

  

A. Gambaran Umum Umat Kristiani di Lingkungan St. Ignatius Loyola

Cokrodiningratan Paroki Jetis-Yogyakarta

  Untuk mengetahui gambaran umum umat Kristiani di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan, penulis akan menguraikan sejarah dan latar belakang terbentuknya lingkungan, kegiatan-kegiatan yang ada dan semangat yang menjiwai umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan berdasarkan hasil studi buku panduan lingkungan dan pengamatan lapangan. Berikut ini adalah uraiannya:

  Sejarah dan Latar Belakang terbentuknya Lingkungan St. Ignatius Loyola 1. Cokrodiningratan Paroki Jetis-Yogyakarta

  Berdasarkan dokumen lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan ( Sukirman 2003: 14), yaitu Sejarah dan Latar Belakang lingkungan dijelaskan sebagai berikut: Sebelum 1964 Paroki Jetis merupakan salah satu bagian dari paroki Kota Baru. Saat itu, paroki Jetis belum menjadi paroki melainkan stasi. Seturut perkembangan jumlah umat maka tepat pada tahun 1964, stasi Jetis memisahkan diri dari Paroki Kotabaru dan berdiri sendiri sebagai paroki dengan nama Paroki St. Albertus Agung Jetis-Yogyakarta dengan pastor parokinya adalah Romo. HS Notosusilo, Pr. Pada tahun 1964 itu, Paroki Jetis cukup berkembang dengan pesat.

  Hal ini nampak dalam jumlah umat yang terbagi dalam 4 kring. Adapun nama-nama kring yang ada saat itu antara lain: kring Jetisharjo, kring Gondolayu, kring Pancawinatan dan kring Bangirejo. Cikal bakal lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan itu sendiri adalah berasal dari kring Bangirejo. Pada waktu itu kring Bangirejo diketuai oleh Bpk. P.C Slamet (alm). Kring Bangirejo sendiri saat itu meliputi empat lingkungan antara lain: lingkungan Cokrodiningratan, lingkungan Blunyah, lingkungan Karangwaru dan lingkungan Bangirejo sendiri. Dibandingkan berkembang pesat. Pada bulan Agustus 1964, lingkungan ini memisahkan diri dari kring Bangirejo dan berdiri sendiri sebagai kring Cokrodiningratan. Adapun tempat peresmiannya dilaksanakan di tempat Bpk. Mujiono dan diresmikan oleh pastor paroki dan pada saat itu juga terpilihlah ketua kring Cokrodiningratan yang pertama yakni Bpk. D. Soekirman. Dalam menjalankan tugasnya sebagai ketua kring, Bpk. D. Soekirman dibantu dan didampingi oleh sesepuh dan para tokoh umat di paroki Jetis antara lain: Bpk. Ph Kartosudarmo, Bpk B. Supardi dan Bpk Vic. Irlan. Saat ini ketiga-tiganya sudah meninggal dunia. (Sukirman.2003:16).

  Pada saat kring Cokrodiningratan berdiri, umatnya masih belum banyak, kira- kira 12 keluarga dengan jumlah jiwa 40 orang. Pada awal berdirinya, lingkungan Cokrodiningratan belum mempunyai santo pelindung. Untuk memilih siapa santo pelindungnya, umat dari lingkungan ini berdoa dengan khusuk. Pada bulan Oktober 1964 umat di lingkungan ini mengadakan doa rosario sebulan penuh (Sukirman 2003:16).

  Selain memuliakan Maria sebagai intensinya, juga dalam doa itu dibacakan riwayat para kudus dengan tujuan untuk mencari dan memilih santo pelindung. Dari sekian banyak orang kudus yang telah dibaca dan direnungkan akhirnya dipilihlah St. Ignatius Loyola sebagai Pelindung Kring Cokrodiningratan. Adapun waktu peresmiannya adalah pada bulan November 1964 oleh Romo HS. Notosusilo, Pr dalam suatu misa Kudus bertempat di rumah Bapak B. Supardi, dan sampai sekarang pesta nama St. Ignatius Loyola yang jatuh pada tanggal 31 Juli, selalu diperingati dan dirayakan. Untuk memeriahkan kesempatan ini, biasanya umat mengadakan berbagai kegiatan, antara lain misa kudus, lomba membaca Kitab Suci, dan lomba memasak tidak berlangsung lama dan pada tahun 1980, nama kepamongan diganti menjadi lingkungan hingga sekarang. Tahun 2007 Paroki Jetis sendiri telah terbagi dalam 4 wilayah dan 1 paroki administratif (Paroki Nandan).

  Keempat wilayah itu antara lain: Wilayah I terdiri dari: Lingkungan Bumijo, lingkungan Gowongan, lingkungan a. Penumping dan lingkungan Poncowinatan. Wilayah II terdiri dari: Lingkungan Bangunrejo, lingkungan Kricak, b. lingkungan Jatimulyo Alfonsus, lingkungan Jatimulyo Thomas, lingkungan Jatimulyo Paulus; Wilayah III terdiri dari: Lingkungan Bangirejo. Lingkungan Blunyah, c. Lingkungan Karangwaru, dan lingkungan Cokrodiningratan. Wilayah IV Lingkungan Jogoyudan Kidul, Jogoyudan Lor. Lingkungan d. Cokrokusuman dan Lingkungan Jetisharjo (Dokumen Lingkungan 2006.17):.

  Dari pembagian wilayah di atas kita dapat melihat bahwa lingkungan St. Ignatius Cokrodiningratan termasuk dalam wilayah III. Adapun jarak dari lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan ke paroki ada sekitar 500 m.

  Lingkungan ini berada di kelurahan Cokrodiningratan, kecamatan Jetis-Yogyakarta. Seturut perjalanan waktu, lingkungan inipun berkembang meskipun tidak sangat pesat tetapi telah mampu menunjukkan bahwa secara perlahan-lahan namun pasti lingkungan ini menunjukkan perkembangannya. Hal ini nampak dari jumlah umatnya. Dalam kurun waktu 38 tahun, lingkungan ini telah mengumpulkan 65 kk atau jumlah jiwa 175 orang sebagai anggota ( Dokumen lingkungan 2006:10-11).

  Untuk semakin memperkembangkan kualitas hidup beriman umat lingkungan Boromeus (CB) dan Societas Jesus Maria dan Joseph (JMJ). Kedua tarekat itu adalah milik para suster yang berkarya dalam bidang yang berbeda. Tarekat CB bergerak dibidang kesehatan dan pendidikan serta tarekat JMJ sebagai komunitas studi para suster muda JMJ. Selain tugas studi para suster juga terlibat dalam lingkungan baik dalam pendalaman iman, kegiatan koor, kunjungan orang sakit dan memimpin ibadat-ibadat yang dilakukan di lingkungan.

  Dari segi letak geografisnya, lingkungan ini termasuk ke dalam wilayah perkotaan. Banyak gedung sekolah, kantor pemerintahan, rumah sakit, pasar dan berbagai fasilitas umum lainnya. Hal ini menyebabkan seluruh kehidupan umat dipengaruhi suasana dan permasalahan kehidupan kota yang sangat kompleks. Dari segi sosial-budaya, lingkungan ini umumnya dihuni oleh orang-orang yang ramah, dan berpendidikan. Hal Ini nampak dalam berbagai kegiatan yang diikuti bersama tetangga sekitar seperti kegiatan RT, RW ataupun kelurahan dan arisan Ibu-ibu. Demikian juga kegiatan yang dilakukan antar umat Kristiani sendiri di lingkungan seperti ibadat sabda, pendalaman iman, persekutuan dan pelayanan, ibadat rosario dan kunjungan sosial. Namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa dari pengamatan penulis melihat keaktifan umat dalam setiap peribadatan lingkungan yang paling diminati oleh umat adalah ibadat rosario saja.

  Ibadat rosario diadakan setiap hari pada bulan Mei dan Oktober. Kehidupan sosial-ekonomi umat lingkungan Santo Ignatius Loyola Cokrodiningratan sangat beragam. Berbagai macam latar belakang tingkat ekonomi dan mata pencaharian ada di lingkungan ini. Mulai dari buruh, pedagang/wiraswasta, karyawan swasta, guru sampai pegawai negeri ada semua. Meskipun demikian, tidak ada perbedaan yang menyolok antara keluarga satu dengan yang lainnya walaupun terdapat tingkat atas, ada, umat St Ignatius Loyola Cokrodiningratan, tentunya mengalami suatu tantangan dalam membangun dan memelihara serta meningkatkan kehidupan beriman mereka.

  Suatu kendala yang kerap dihadapi adalah masalah keluarga yang kawin campur, kurangnya pendampingan iman dalam keluarga dan juga kurangnya pemahaman ajaran iman dari para orang tua. Itulah sekilas sejarah terbentuknya dan perkembangan lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan.

  Macam-macam Kegiatan dalam Mengembangkan Kehidupan Beriman Umat di 2. Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis-Yogyakarta saat ini Dalam usaha mengembangkan kehidupan iman, umat Kristiani di lingkungan

  St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis kerap kali mengadakan berbagai kegiatan rutin. Berikut ini adalah macam-macam kegiatan rutin mulai dari kegiatan rutin harian, bulanan dan tahunan yang dilakukan oleh umat di lingkungan ini.

  Kegiatan Rutin Harian Umat Di Lingkungan St. Ignatius Loyola a. Cokrodiningratan Paroki Jetis –Yogyakarta

  Dalam mengisi hari-harinya, umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan secara kreatif menyusun berbagai macam program kegiatan sehingga setiap hari selalu ada kesempatan untuk bertemu dan saling meneguhkan iman masing-masing.

  Adapun program kegiatan yang kerap kali mereka lakukan antara lain: kunjungan orang sakit yang diadakan setiap hari Rabu, pendalaman iman dan doa rosario setiap hari Kamis, latihan koor setiap hari Jumat, pendalaman Iman anak setiap hari Sabtu dan hari minggu, serta kunjungan keluarga oleh Tim Pastoral yang dilakukan satu kali dalam seminggu.

  Kegiatan-kegiatan harian ini merupakan momen yang sangat penting bagi umat, di mana dengan melakukan kegiatan rutin tersebut, selain dapat saling meneguhkan dalam iman, masing-masing anggota umat Kristiani juga dapat semakin menjalin tali persaudaraan dalam satu iman.

  Kegiatan Rutin Bulanan Umat Di Lingkungan St. Ignatius Loyola b. Cokrodiningratan Paroki Jetis –Yogyakarta

  Dalam setiap bulan, umat di lingkungan ini mendapat pelayanan dari para pastor yang ada di paroki. Pelayanan itu berupa misa lingkungan dan kunjungan pastor paroki. Melalui kegiatan itu, Gereja berharap umatnya dapat semakin disegarkan dan dikembangkan dalam hal iman. Sejauh pengamatan penulis, kegiatan ini sungguh-sungguh mampu memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan hidup umat. Melalui kegiatan ini umat semakin menyadari akan arti dan pentingnya perayaan ekaristi serta keberadaannya dalam lingkungan.

  Sebagai makhluk sosial umat Krisitini juga menyadari dengan saling mengunjungi satu sama lain akan memperkembangkan iman, saling meneguhkan satu dengan yang lain dan dalam kebersamaan mereka mampu menghayati imannya dengan lebih baik. Sungguh merupakan momen yang sangat tepat bagi umat untuk semakin berkembang dalam hidup beriman, jika kegiatan bulanan ini dapat terus- menerus dipertahankan atau jika mungkin semakin dikembangkan.

  Kegiatan Rutin Tahunan Umat Di Lingkungan St. Ignatius Loyola c. Cokrodiningratan Paroki Jetis-Yogyakarta

  Selain kegiatan rutin harian dan bulanan, umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan juga kerap kali mengadakan kegiatan tahunan. Kegiatan pelindung lingkungan yang diadakan setiap tgl 31 Juli dan ziarah bersama pada bulan Oktober dan Misa tutup tahun pada akhir bulan Desember. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut umat diajak untuk mensyukuri segala kasih dan rahmat berlimpah dari Allah selama satu tahun mereka hidup bersama dan berjuang memperkembangkan iman Kristianinya. Karena kegiatan ini hanya dilakukan sekali dalam setahun, tidak sedikit dari anggota umat lingkungan sangat antusias dalam menyelenggarakan kegiatan ini.

  Sejauh pengamatan penulis, kegiatan tahunan biasanya dibuat lebih kreatif dan interaktif sehingga umat cukup antusias dalam mengikutinya.

  Semangat yang Menjiwai Hidup Beriman Umat di Lingkungan St. Ignatius 3. Loyola Cokrodiningratan

  Pada awal mulanya lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan belum mempunyai santo pelindung. Pada awal bulan November 1964, setelah melalui proses yang cukup panjang (novena selama satu bulan penuh) akhirnya dipilihlah St. Ignatius Loyola sebagai Santo pelindung dari lingkungan ini. Adapun sebagai alasan umat memilih St. Ignatius Loyola sebagai santo pelindung adalah karena melihat perjuangan dan kesungguhan dari umat sendiri untuk menjadi anggota Gereja. Pada saat terbentuknya lingkungan ini, banyak umat yang memiliki semangat berkorban dan melayani bagi sesamanya. Ketekunan dalam doa juga menjadi salah satu alasan mengapa St. Ignatius Loyola dipilih sabagai santo pelindung.

  Dengan berbekal tekad dan kemauan untuk mandiri dan tidak tergantung pada para pastor di paroki, umat di lingkungan ini berusaha semaksimal mungkin agar kehidupan iman mereka tetap tumbuh dan berkembang meskipun para pastor di paroki tidak berkunjung ke lingkungan. Misalnya, untuk doa lingkungan meskipun tidak ada pastor masih tetap berjalan dengan baik.

  Keinginan untuk mandiri dan memisahkan diri dari kring Bangirejo saat itu didorong pula oleh jarak yang jauh antara anggota umat lingkungan satu dengan yang lainnya. Meskipun Jumlah umat sedikit pada waktu itu, tetapi semangat kekeluargaan dan kebersamaan sangat terasa dan selalu dijaga. Hal ini nampak pada kegiatan doa lingkungan dan doa rosario yang dilaksanakan hampir setiap hari.

  Berdasarkan pengalaman itu, para pemimpin umat di lingkungan menemukan semangat yang sama, antara semangat dari umat dengan semangat yang dimiliki oleh St. Ignatius Loyola. Selain itu, banyak harapan yang ingin dicapai oleh umat agar hidup iman mereka minimal serupa dengan hidup beriman St. Ignatius Loyola.

  Semangat pelayanan, dan kesetiaan pada Allah dari St. Ignatius ternyata telah memberikan inspirasi bagi umat di lingkungan ini. Totalitas dalam menjawab panggilan Allah saat itu telah menjadi komitmen dan tekad bersama.

  Dengan berperilaku baik di masyarakat, umat di lingkungan ini yakin dan percaya bahwa keteladanan hidup merupakan bentuk pewartaan Injil yang paling efektif. Hal ini diperoleh umat setelah belajar lebih banyak tentang siapa St. Ignatius itu. Menjadi semakin serupa dengan Kristus, yakni demi semakin besarnya kemuliaan Allah telah menjadi spirit dari umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan. Dalam praktek hidup berimannya, umat yang telah terinspirasi oleh semangat hidup beriman St. Ignatius juga mengimbangi hidup berimannya dengan melakukan doa devosi kepada Bunda Maria. Melalui devosi kepada Bunda Maria ini mereka seolah-seolah semakin merasa dekat dengan Allah. Allah yang berada di surga kini dirasakan sangat dekat berkat kehadiran Santa Perawan Maria.

  Devosi kepada Bunda Maria sudah dilakukan sejak awal berdirinya lingkungan ini. Jadi, bukanlah suatu yang asing bagi mereka ketika ditanya siapa Bunda Maria itu. Seturut perjalanan waktu dan perkembangan peradaban, rupa- rupanya baik semangat St. Ignatius maupun keteladanan Bunda Maria sedikit mengalami kemunduran. Hal ini juga disebabkan karena pergantian ketua lingkungan di mana masing-masing ketua biasanya mempunyai prioritas yang hendak dicapai oleh segenap umat. Meskipun tujuannya sama, yakni semakin dekatnya mereka dengan Allah tetapi hal ini sedikit mempengaruhi perkembangan hidup beriman umat.

  Kemunduran hidup beriman nampak pada motivasi umat yang kadang-kadang tidak jelas. Sebagai salah satu contoh konkret adalah bahwa dewasa ini tidak sedikit umat yang menolak untuk menyediakan waktu dan tempat untuk doa rosario, pendalaman iman atau ibadat bersama.

  Hal ini disebabkan karena kebiasaan tuan rumah untuk tidak menyediakan jamuan pada setiap pertemuan doa, tidak dilakukan lagi, sehingga ada anggota umat yang keberatan karena masalah konsumsi dan kelayakan tempat untuk menampung seluruh umat yang hadir.

  Tetapi hal ini sebenarnya bisa diatasi oleh umat sendiri karena penulis yakin semangat dari St. pelindung lingkungan selalu memberikan kekuatan bagi perkembangan hidup beriman umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan.

  Penelitian Pemahaman dan Pemaknaan Umat Kristiani di Lingkungan St.

  B.

  Ignatius Loyola Cokrodiningratan tentang Kesetiaan Iman Maria Untuk mengetahui pemahaman dan pemaknaan umat kristiani khususnya umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan tentang kesetiaan iman Maria, penulis mengadakan pengamatan dan penelitian sederhana mengenai siapa Maria bagi umat, apa bentuk-bentuk devosi yang biasa dilakukan, serta usaha-usaha yang dilakukan umat dalam mengembangkan kualitas hidup berimannya dan faktor- faktor penghambat yang di hadapi umat berkaitan dengan usaha untuk meningkatkan kualitas beriman umat.

  Latar Belakang Penelitian 1.

  Pembangunan iman umat merupakan tugas semua pihak baik keluarga, gereja maupun masyarakat. Semangat beriman umat merupakan anugerah dari Allah yang diberikan kepada umatnya sesuai dengan cara dan pola hidupnya masing-masing. Setiap pribadi umat memiliki semangat iman yang beraneka ragam. Keanekaragaman ini merupakan suatu variasi yang sangat indah yang dimiliki oleh Gereja sebagai Umat Allah. Gereja sebagai Umat Allah memiliki kebebasan yang seluas-luasnya untuk memilih sumber semangat atau spiritualitas yang diimani oleh gereja universal.

  Misalnya, ada sebagian umat yang beriman akan Allah setelah melakukan devosi kepada Hati Kudus Yesus, ada juga yang meneladani cara hidup para orang kudus (St. Ignatius, St. Fransiskus dan lain-lain). Sebagian umat lain lebih senang dengan doa rosario, atau devosi kepada bunda Maria.

  Secara umum, umat di wilayah Yogyakarta, terutama mereka yang mulai berusia lanjut sangat senang dengan bunda Maria. Hal ini dapat dilihat dari lagu

  

Nderek Dewi Maria. Hampir di setiap pertemuan pembinaan iman atau katekese,

  perkawinan, doa-doa rosario bahkan upacara kematian sekalipun lagu ini tidak pernah dilupakan. Tetapi memang perlu disadari bahwa baik pemaknaan maupun penghayatan spiritualitas atau kesetiaan iman Maria kadang-kadang disalahartikan misalnya, umat lebih menyukai doa rosario dibanding katekese atau pendalaman iman karena dalam doa rosario umat tidak perlu berpikir, diskusi atau bersharing. umat masih kurang biasa sharing dan berpikir mengenai iman kepercayaannya sendiri. Tetapi lepas dari pada itu, kehadiran berbagai sumber semangat iman merupakan sesuatu yang sangat berharga. Ini adalah kekayaan iman yang dimiliki oleh Gereja dan umat memiliki kebebasan yang seluas-luasnya untuk menggunakan spiritualitas yang paling sesuai dengan keadaan dirinya. Dan, yang penting adalah bahwa mereka semakin beriman akan Allah yang nampak dalam kata dan tindakannya sehari-hari.

  Secara khusus dalam penelitian ini, peneliti mencoba melihat bagaimana pemahaman dan pemaknaan umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan-Yogyakarta tentang kesetiaan Maria. Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan itu sendiri merupakan bagian dari Paroki St. Albertus Agung Jetis. Sebagai salah satu lingkungan yang berada dalam sebuah paroki, lingkungan ini merupakan satu wadah umat katolik untuk dapat menghimpun umat terdekat yang ada di sekitarnya dan menghimpun umat untuk melakukan kegiatan bersama.

  Rumusan Masalah Penelitian 2. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana pemahaman dan pemaknaan umat di lingkungan St. Ignatius a. Loyola Cokrodiningratan tentang kesetiaan Iman Maria?

  Bentuk-bentuk devosi Maria mana saja yang dapat membantu umat di b. lingkungan St. Ignatius Loyola dalam membangun kualitas hidup beriman? Usaha-usaha apa yang dilakukan umat dalam membangun kehidupan c. d.

  Faktor penghambat apa saja yang dihadapi umat di Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan sehubungan dengan usaha dalam membangun kehidupan berimannya?

  3. Tujuan Penelitian a.

  Mengetahui pandangan umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan tentang siapa Maria.

  b.

  Mengetahui Bentuk-bentuk devosi Maria yang dirasa membantu umat di lingkungan St. Ignatius Loyola dalam membangun kualitas hidup beriman.

  c.

  Memperoleh gambaran mengenai usaha-usaha yang dilakukan umat dalam membangun kehidupan berimannya.

  d.

  Mengetahui berbagai faktor penghambat yang dihadapi umat di Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan sehubungan dengan usaha dalam membangun kehidupan berimannya.

  4. Metodologi Penelitian a.

  Pendekatan penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan peneliti adalah pendekatan kualitatif fenomenologis. Pendekatan kualitatif fenomenologis adalah suatu pendekatan penelitian yang mengkaji perspektif partisipan dengan multi strategi: observasi, penyebaran angket, wawancara dan studi dokumentasi (Sukmadinata, 2005: 95).

  Data yang dihasilkan dari pendekatan kualitatif berupa data deskriptif (Moleong, 1991: 3). Adapun sumber data berdasarkan pendekatan ini adalah bersifat alamiah, maka penelitian dengan pendekatan kualitatif fenomenologis dapat disebut juga penelitian naturalistik (Nasution, 1992: 5).

  Pemilihan Setting b.

  Sesuai dengan tujuan dari penulisan skripsi ini, maka untuk lebih mengenal dan mengetahui bagaimana kehadiran Bunda Maria sungguh-sungguh memberikan inspirasi bagi umat dalam usaha mengembangkan kehidupan beriman, peneliti akan mengadakan penelitian di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodinigratan.

  Lingkungan ini merupakan salah satu lingkungan di wilayah III Paroki St. Albertus Agung-Jetis, Jl. A.M. Sangaji no. 20 Yogyakarta.

  Penelitian ini akan dilaksanakan 24-31 Mei 2007, sedangkan wawancara diadakan pada tgl 5-10 juni 2007. Adapun jumlah responden yang direncanakan adalah sekitar 50 orang dari total keseluruhan anggota umat yang ada di lingkungan ini. Para responden ini adalah anggota umat dewasa yang bisa mengisi angket yakni Bapak dan ibu yang tinggal di lingkungan ini. Adapun teknik sampling yang digunakan peneliti adalah teknik purposif sampling artinya pengambilan sampel di sesuaikan dengan tujuan Penelitian adapun jumlah atau ukuran sampel tidak dipersoalkan (Sukandarrumidi ,2002:65).

  Subjek Penelitian c.

  Dalam penelitian ini, subjek penelitiannya adalah umat Kristiani St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Yogyakarta. Untuk memperoleh data atau informasi yang mendukung penelitian ini peneliti menggunakan cara snowball sampling, yakni data atau informasi diambil berdasarkan informasi dari bapak ketua lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan, kemudian bapak itu diminta untuk menunjukkan orang lain yang dapat memberikan informasi dan kemudian responden ini diminta untuk menunjukkan orang lain dan seterusnya sampai redundancy data, yaitu ketuntasan atau kejenuhan, artinya bahwa dengan menggunakan responden

  (Nasution, 1992: 32). Adapun alasan lingkungan ini dipilih sebagai tempat penelitian adalah mengingat lokasinya merupakan tempat tinggal peneliti. Peneliti sendiri terlibat langsung dengan umat setempat. Hal ini diharapkan dapat membantu memperlancar pencarian data.

  Teknik Pengumpulan Data d.

  Dalam proses mengumpulkan data, peneliti akan mengadakan observasi sebagai usaha untuk memperoleh validitas data serta dengan cara studi dokumen, menebarkan angket dan wawancara. Adapun alat yang digunakan dalam wawancara adalah panduan pertanyaan, tape recorder untuk mendapatkan data yang lebih lengkap. Maksud mengadakan wawancara antara lain menklarifikasi dan mengenal lebih dalam situasi dan pemaknaan umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan tentang kesetiaan Maria, yaitu pandangan umat tentang Maria dan devosi kepada Maria.

5. Variabel Penelitian

  Dalam penelitian tentang pemaknaan kesetiaan iman Maria yaitu pandangan umat tentang Maria dan devosi kepada Maria, yang akan diteliti diuraikan sebagai berikut:

  Pemahaman dan Pemaknaan Umat di Lingkungan St. Ignatius Loyola a. Cokrodiningratan tentang kesetiaan Iman Maria Sesuai dengan topik skripsi ini yakni mengenai kesetiaan iman Maria, demikianpun pada penelitian ini penulis akan menggali sejauh mana umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan memahami dan memaknai kesetiaan iman Maria dalam kehidupan mereka sehari-hari.

  Adapun untuk mendukung proses penggalian untuk variabel ini, peneliti mengajukan beberapa pertanyaan seputar pandangan umat tentang siapa Maria bagi mereka, bagaimana peran Maria dalam hidup mereka, terutama yang secara nyata dapat dirasakan melalui “mujizat” dan terakhir sharing pengalaman iman sehubungan dengan tindakan iman yang dilakukan umat dengan meneladani kesetiaan iman Maria.

  Bentuk-bentuk Devosi Maria sebagai Penyemangat Umat dalam Membangun b. Kualitas Hidup Beriman Melalui penggalian terhadap variabel ini, peneliti bermaksud menemukan sejauh mana semangat doa dan pemahaman umat di lingkungan St. Ignatius Loyola

  Cokrodiningratan tentang devosi Maria. Bentuk-bentuk devosi Maria yang dimaksud dalam hal ini lebih pada pengertian hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan devosi Maria yang dilakukan oleh umat di lingkungan ini. Bentuk-bentuk itu meliputi: frekuensi umat dalam berdoa devosi Maria, waktu yang biasa digunakan untuk berdevosi, cara berdevosi dan bentuk-bentuk devosi Maria yang sering dilakukan umat di lingkungan ini.

  Adapun harapan yang hendak dicapai adalah bahwa dengan mengetahui bentuk-bentuk di atas peneliti dapat membantu umat dalam memperdalam pemahaman dan praktek devosi Maria dalam usaha membangun kualitas hidup berimannya.

  Usaha-usaha apa saja yang dilakukan Umat dalam Membangun Kehidupan c. Berimannya?

  Sebagai wujud dari iman, umat perlu melakukan suatu aktivitas yang menunjukkan bahwa keberimanan mereka tidak hanya sebatas kata-kata atau teori belaka. Melalui berbagai macam usaha yang dilakukan, masing-masing pribadi umat beriman dapat mengukur sejauhmana keberimanan mereka itu dapat dipertanggungjawabkan. Berkaitan dengan hal ini peneliti hendak menggali berbagai macam usaha yang telah, sedang dan akan dilakukan oleh umat di lingkungan St.

  Ignatius Loyola Cokrodiningratan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup berimannya.

  Dengan mengetahui berbagai macam usaha tersebut baik peneliti sebagai salah satu dari anggota umat maupun segenap anggota umat Kristiani di lingkungan ini dapat melakukan evaluasi terhadap segala usaha yang telah dilakukan dan melakukan suatu rencana yang lebih efektif guna mengupayakan usaha yang dapat mengembangkan kehidupan beriman secara lebih baik.

  Faktor Penghambat Umat dalam Membangun Kualitas Hidup Beriman d. Dalam proses pengembangan hidup beriman. Peneliti menyadari bahwa selalu ada faktor-faktor yang menjadi penghambat keberhasilan suatu usaha mengembangkan iman. Pada kesempatan ini, secara khusus peneliti akan menggali dari pengalaman umat kira-kira faktor-faktor penghambat apa saja yang kerap kali mereka hadapi manakala sedang melakukan usaha pengembangan hidup beriman. Dengan mengetahui faktor penghambat itu, peneliti berharap dapat menemukan solusi yang berguna bagi masalah-masalah yang dihadapi oleh umat ketika melakukan usaha-usaha yang bersifat mengembangkan hidup beriman.

  Untuk mempermudah pemahaman akan variabel-variabel Penelitian diatas maka penulis menguraikan dalam bentuk tabel yang mencakup : Variabel Penelitian, Item-item dan jumlah Soal. Tabel I. Variabel Penelitian Pemahaman dan Pemaknaan Umat di Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan, tentang Kesetiaan Iman Maria.

  Jumlah No Variabel Penelitian Item-item Soal Pemahaman dan

  

1. Bagi anda, siapakah Maria itu?

pemaknaan umat di

  2. Pernahkah anda mengalami mukjizat setelah lingkungan St. Ignatius 3 a. berdoa pada Allah dengan perantaraan Maria Loyola Cokrodiningratan

melalui Devosi Maria?

tentang siapa Maria Jika jawaban anda pernah mengalami 3. mukjizat, silahkan anda sharing secara singkat! (Kapan, dimana dan bagaimana itu terjadi) Bentuk-bentuk devosi Seringkah anda berdoa dengan perantaraan 4.

  Maria yang dirasa Bunda Maria? membantu umat di b.

  4 Kapan anda menyediakan waktu khusus untuk 5.

  lingkungan St. Ignatius devosi Maria? Loyola dalam Apakah berdevosi kepada Maria sering

  6.

  membangun kualitas dilakukan bersama-sama di lingkungan anda? hidup beriman.

  Apa bentuk devosi Maria yang dirasa paling 7. membantu anda dalam memperkembangkan kehidupan beriman?

  Usaha-usaha yang Bidang-bidang Usaha apa saja yang dapat

  8.

  dilakukan umat dalam mendukung anda dalam membangun hidup membangun kehidupan beriman?

  c.

  2

  berimannya

  9. Kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat mendukung anda dalam membangun kesetian iman seperti yang diteladankan oleh Bunda Maria?

  Faktor penghambat Apa faktor penghambat yang anda hadapi

  10.

  yang dihadapi umat dalam rangka belajar dari kesetiaan iman dalam membangun Maria guna membangun kehidupan beriman?

  d.

  3

  kehidupan beriman Persoalan apa saja yang kerap kali anda hadapi

  11.

  dalam rangka belajar dari kesetiaan iman Maria guna meningkatkan kehidupan beriman? Bagaimana sikap anda dalam menghadapi

  12.

  

berbagai persoalan hidup?

Jumlah Keseluruhan Item-item

  12 C. Laporan Hasil Pembahasan, dan Kesimpulan Penelitian

  Setelah melakukan penelitian di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan, selanjutnya penulis akan melaporkan hasil penelitian dan

  Laporan Hasil, dan Pembahasan Penelitian 1.

  Sesuai dengan rencana awal bahwa penelitian telah dilaksanakan pada 24-31 Mei 2007 dan wawancara 5-10 Juni 2007 di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis. Semula jumlah responden yang direncanakan adalah 50 responden yang akan mengisi angket. Tetapi dalam kenyataannya peneliti hanya berhasil mengumpulkan data quesioner, 42 responden.

  Untuk wawancara yang direncanakan ádalah 10 responden namun yang berhasil diwawancarai ádalah 7 orang dan jumlah responden yang mengisi angket maupun yang diwawancarai mengalami pengurangan. Hal ini disebabkan karena kesulitan untuk menentukan waktu yang tepat untuk wawancara baik dari peneliti maupun dari responden sendiri. Karena wawancara bersifat cross check dan sebagai pendukung dari penelitian angket maka peneliti mewawancarai responden yang telah mengisi angket. Selanjutnya data atau informasi yang akan dilaporkan berikut ini adalah hasil penelitian yang diperoleh dari hasil penyebaran angket dalam bentuk tabel yang kemudian di-cross check melalui wawancara.

  Adapun pembahasan hasil penelitian diuraikan sesuai dengan urutan variabel- variabel yang diteliti.

  Pemahaman dan Pemaknaan Umat di Lingkungan St. Ignatius Loyola a. Cokrodiningratan tentang Siapa Maria

  Tabel 2. Pemahaman dan Pemaknaan Umat tentang Maria (N=42)

  No Pertanyaan Jawaban responden Jumlah Jumlah responden yang responden menjawab yang dalam angka menjawab dalam %

(1) (2) (3) (4) (5)

  Maria itu? Sahabat dalam doa 10 23,8 Bunda Pengantara doa 13 31 Pilihan lain: 1 2,4 Bunda penolong abadi

  Jumlah 42 100

  2. Pernahkah anda Pernah 31 73,8 mengalami mukjizat setelah berdoa pada Tidak Pernah 11 26,2 Allah dengan perantaraan Maria melalui Devosi Maria? Jumlah 42 100

  3. Jika jawaban anda Dalam keadaan sakit 7 16,7

pernah mengalami Dalam Bahaya: 6 14,2

mukjizat, silahkan anda

  Kecelakaan, maut, sharing secara singkat! Bencana alam.

  (Kapan, dimana dan Dalam menghadapi 6 14,2 bagaimana itu terjadi) masalah: Kegagalan, ketakutan, kecemasan, masalah keluarga Pada saat berelasi 2 4,8 dengan orang lain baik yang dikenal maupun tidak , musuh atau sahabat Saat berdoa

  3 7,1 Dalam kehidupan 3 7,1 sehari-hari Jumlah

  42 100

  Untuk menggali variabel Pemahaman dan pemaknaan umat tentang siapa Maria maka berikut ini adalah interpretasi data hasil penelitian yang terangkum dalam tabel dan ditambah dengan hasil wawancara dengan responden. Data menunjukkan bahwa umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan memaknai kesetiaan iman Maria sesuai dengan dogma Gereja yang memberikan tempat istimewa bagi bunda Maria dalam kehidupan iman umat. Dari 42 responden ada 18 orang yang mengatakan bahwa Maria adalah bunda Allah (Tabel 2).

  Sebagai Bunda Allah Maria sungguh mempunyai peran dalam hidup umat. Sekitar 10 orang dari 42 orang responden memahami bahwa Maria adalah sahabat dalam doa baik dalam situasi suka maupun duka. Selain sebagai sahabat dalam doa umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan memaknai kehadiran Maria sebagai pengantara doa dan sekaligus sebagai penolong yang setia. Pemaknaan kesetiaan iman Maria muncul dalam setiap pergulatan hidup umat. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Responden IV yang diwawancarai, mengatakan:

  Kalau saya membaca dalam injil Lukas 1: 39-45 waktu Maria mengunjungi Elisabet: “siapakah aku ini sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku”, dengan itu saya berkeyakinan bahwa Maria adalah Ibu Tuhan dan saya hanya berpedoman dengan injil Tuhan ketika saya mengajarpun saya tekankan bahwa Maria adalah bunda Tuhan. Bunda Maria adalah manusia biasa dan sekaligus sebagai ibu Tuhan.

  Selain Maria dipandang sebagai Ibu, penolong dan pengantara doa, ada juga yang memandang Maria sebagai sumber inspirasi dalam hidup terutama dalam menghadapi dan menjalani hidupnya. Berikut ini adalah ungkapan responden II yang mengatakan:

  Maria adalah inspirasi saya, dan Maria adalah seorang ibu bagi saya. Seperti ibu saya sendiri, saya omong-omong dan saya rasakan ada komunikasi di dalamnya. Ketika saya menyampaikan doa seperti ibu saya waktu masih hidup.

  Cara memandang umat terhadap sosok Maria tenyata membawa pengaruh dalam hidup mereka masing-masing. Pengaruh itu semakin nyata ketika mereka mengalami suatu perubahan dalam hidup yang dimulai dengan karya tangan Allah sendiri melalui mujizat. Mujizat dalam pengertian ini tidak serta merta berarti suatu peristiwa yang ajaib, besar dan menggemparkan tetapi lebih pada pengalaman yang dapat membuat orang berubah dari yang tidak percaya menjadi percaya, dari yang mudah putus asa menjadi orang yang sangat bersemangat dalam menjalani hidup. Seperti yang diungkapkan oleh responden I sebagai berikut:

  ...kalau dalam arti mujizat yang luar biasa di luar kemampuan manusia, saya merasa belum. Tetapi kalau itu hanya pada suatu perubahan, saya sudah pernah mengalami. Ya, saya lebih menerima itu karena saya bisa sungguh-sunguh merasakan anugerah, yang membuat saya mengalami suatu perubahan. Dan, ketika umat ditanya mengenai mujizat doa setelah berdoa, sebagian besar mereka mengalaminya dalam hidup sehari-hari. Dari 42 responden 31 responden yang mengalami mujizat. Mujizat yang dimaksud bukanlah peristiwa yang besar dan ajaib, melainkan dalam arti yang sederhana misalnya suka cita dalam hidup sehari- hari, mengalami perubahan sikap dari yang tidak baik berubah menjadi lebih baik, mengalami kesembuhan atau sembuh dari sakit, semakin mencintai sesama dengan tulus, bebas dari kecelakaan dan bencana. Berikut ini adalah contoh pengalaman dari responden I V yang pernah mengalami mujizat:

  ...yang pertama kali, waktu istri saya melahirkan anak ke-3 itu seharusnya operasi, tapi selama 3 bulan terakhir, ternyata istri saya melahirkan dengan selamat tanpa operasi. Yang kedua saya berkali-kali mengalami musibah dalam pesawat terbang dan kecelakaan dengan mobil tetapi tetap selamat. Sekarang ke mana saja saya selalu membawa rosario dan berdoa jalan, entah di mobil, pesawat, kereta api lebih-lebih pada waktu saya sakit hepatitis dan akhirnya dokter mengatakan saya sembuh.

  Melalui doa kepada bunda Maria dan melalui pengalaman-pengalaman kecil yang menghibur, menyembuhkan dan bahkan yang menyelamatkan, bagi mereka merupakan suatu mujizat yang mereka terima dari Allah. Kesederhanaan mereka menerima suatu mujizat melalui hal-hal yang kecil dan biasa menjadikan iman mereka juga semakin realis dan kontekstual.

  Bentuk-bentuk devosi Maria yang dirasa membantu umat di b. lingkungan St. Ignatius Loyola dalam membangun kualitas hidup beriman

  Tabel 3. Bentuk-bentuk Devosi Maria (N=42)

  No Pertanyaan Jawaban Jumlah Jumlah responden responden yang responden menjawab yang dalam angka menjawab

  4. Seringkah anda berdoa Sering sekali 3 7,1 dengan perantaraan Bunda Sering 22 52,4 Maria? Kadang-kadang 7 16,7 Tidak Pernah

  10 23,8 Jumlah 42 100

  5. Kapan anda menyediakan Pagi hari 5 11,9 waktu khusus untuk Siang hari devosi Maria? Malam hari 24 57,1 Tidak ada waktu 10 23,8 khusus Pilihan lain: 3 7,1

  Dalam 1. keadaan tenang Pada sore

  2. hari di setiap bulan Mei dan Oktober Jumlah 42 100

  1.

  6 Apakah berdevosi kepada Sering sekali 12 28,6 Maria sering dilakukan Sering 13 31 bersama-sama di

  Kadang-kadang 15 35,7 lingkungan anda? Tidak Pernah 2 4,8

  7 Apa bentuk devosi Maria Ziarah ke Gua Maria 2 4,8

yang dirasa paling Doa Rosario 30 71,4

membantu anda dalam bersama/pribadi memperkembangkan Doa Novena

  10 23,8 kehidupan beriman? Jumlah 42 100 2.

  Keistimewaan Maria, nyata dalam kehadirannya di dunia sebagai Bunda Allah. Umat kristiani mengimani keistimewaan itu sebagai dogma yang diajarkan oleh Gereja. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai keistimewaan Maria di dalam kehidupan umat kristiani, penulis mengadakan penelitian sederhana terhadap umat Kristiani di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan-Yogyakarta. Berdasarkan data hasil penelitian yang dikumpulkan melalui angket dan wawancara, penulis menemukan data-data yang cukup memberikan gambaran tentang penghayatan iman umat terhadap Maria sebagai sosok orang kudus yang memiliki keistimewaan.

  Ketika para responden ditanya mengenai frekuensi berdoa dengan perantaraan Maria, dari angket diperoleh data ada 3 orang yang menjawab sering sekali, 22 orang tidak pernah. Sedangkan dari hasil wawancara ada 2 orang yang menjawab sering sekali, 4 orang menjawab sering dan 1 orang menjawab tidak sering. Berdasarkan data di atas, penulis dapat memahami situasi kehidupan beriman umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodingratan, terutama dalam penghayatan imannya pada Bunda Maria. Frekuensi umat dalam berdoa dengan perantaraan Bunda Maria cukup beragam. Artinya, umat sendiri sebagian besar memiliki sikap pada Bunda Maria seperti yang diharapkan oleh Gereja. Berdoa dengan perantaraan Bunda Maria merupakan bentuk penghargaan yang tinggi dari umat.

  Meskipun demikian, tidak semua anggota umat berdoa dengan perantaraan Bunda Maria. Dari 42 responden ada 10 orang yang mengatakan tidak pernah berdoa dengan perantaraan Bunda Maria. Artinya, bagi mereka yang tidak pernah berdoa dengan perantaraan Bunda Maria, ada beberapa kemungkinan alasan, misalnya seperti yang diungkapkan oleh responden I dan II yang diwawancarai. Mereka mengatakan:

  Saya lebih enjoy berdoa dengan perantaraan Hati Kudus Yesus dari pada devosi pada Bunda Maria (Responden 1).

  ...pengalaman doa pribadi dengan keluarga saya yang beda agama (campur) membuat saya jarang untuk berdoa dengan perantaraan bunda Maria. Namun saya sendiri punya kerinduan untuk berdoa.... (Responden II) Bagi anggota umat yang sering atau sering sekali berdoa dengan perantaraan

  Bunda Maria, berdasarkan data yang diperoleh, penulis dapat melihat bahwa ada 24 orang berdoa pada waktu malam hari setelah melakukan aktifitas harian. Mereka merasa perlu mensyukuri apa yang telah diberikan Allah pada hari ini. Ada 5 orang yang berdoa pada Allah dengan perantaraan Bunda Maria pada pagi hari sebagai wujud persiapan untuk menjalani waktu satu hari itu. Ada juga yang menjawab tidak yang berdoa dengan perantaraan Bunda Maria hanya pada bulan Mei dan Oktober, di mana bulan Mei dan Oktober merupakan kesempatan yang ditetapkan oleh Gereja sebagai bulan khusus devosi sekaligus penghormatan kepada Bunda Maria sebagai Bunda Allah. Umat Kristiani di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan cukup akrab dengan kegiatan doa rosario.

  Ini menunjukkan bahwa mereka memahami posisi Maria dalam Gereja. Hal ini nampak dalam tanggapan mereka ketika ditanya soal doa bersama di lingkungan. Hal ini semakin nyata dalam ungkapan responden III, yang mengatakan:

  ...sejak kecil saya sudah mengalami doa rosario bersama di lingkungan pada bulan Mei dan Oktober. Dari pengalaman itu, saya melihat umat di lingkungan ini cukup antusias dan itu sangat membantu dan mendukung perkembangan iman. Tetapi ada juga yang memahami bahwa devosi kepada Bunda Maria hanya dilakukan oleh umat Kristiani pada bulan Mei dan Oktober saja. Hal ini diungkapkan oleh responden IV yang mengatakan: “Devosi Maria itu...kan pada bulan Mei dan Oktober aja, ya udah toh, itu aja”.

  Berdoa dengan perantaraan Bunda Maria dapat dilakukan secara pribadi maupun bersama-sama.

  Suatu kebiasaan yang baik manakala iman dihayati dalam kebersamaan dan diperdalam dalam kehidupan doa pribadi. Dilihat dari data yang ada, penulis melihat bahwa umat cenderung untuk berdoa bersama, baik di Lingkungan maupun di Paroki. Ada 12 orang yang menjawab sering sekali berdoa di lingkungan. 13 orang yang lain mengatakan sering berdoa dengan perantaraan Bunda Maria di Lingkungan atau di Paroki. Dan, ada 15 orang yang mengatakan kadang-kadang. Serta, 2 orang yang lainnya mengatakan tidak pernah berdoa bersama-sama. 2 orang responden ini mempunyai alasan yang cukup masuk akal. Adapun alasan itu disampaikan oleh

  ...untuk doa pribadi dan doa lingkungan saya jarang melakukannya karena keluarga saya bukan keluarga Katolik yang utuh (campur),...situasi keluarga kurang mendukung....(Responden II) ...waktu tidak memungkinkan saya untuk ikut doa bersama di lingkungan, yang biasanya malam hari, karena fisik yang sudah tua ..... (responen VII) Berdoa, menurut hemat penulis bukan semata-mata pilihan, melainkan suatu aktivitas hidup seorang beriman di mana relasi antara dirinya dengan Allah dan sesamanya perlu seimbang. Begitupun dalam berdoa dengan perantaraan Bunda Maria, kebersamaan menjadi sesuatu yang dapat menumbuhkan iman kepercayaan secara lebih mendalam. Memang tidak semua orang merasakan hal yang sama, tetapi belajar dari Yesus sendiri bahwa kebersamaan menjadi ciri khas putra-putri Allah yang sama-sama berjuang di dunia. Tetapi penulis sendiri tidak memaksakan bahwa yang baik adalah doa bersama dan kurang baik adalah doa pribadi.

  Tanpa bermaksud demikian penulis hendak mengatakan bahwa berdoa dengan perantaraan Bunda Maria perlu dihayati dalam kebersamaan hidup beriman, sehingga tidak menumbuhkan pribadi-pribadi yang jatuh pada pilihan pribadi melulu tanpa diimbangi sikap iman yang dewasa. Kebersamaan dalam berdoa dengan perantaraan Bunda Maria, semakin terasa dalam bentuk-bentuk atau cara berdoa, misalnya dengan ziarah, doa rosario dan novena Salam Maria. Berdasarkan data baik dari angket maupun wawancara, peneliti melihat bahwa ada 4,8 % responden yang merasa terbantu dalam pengembangan hidup beriman oleh kegiatan Ziarah bersama, 71,4% responden terbantu oleh doa rosario baik pribadi maupun bersama-sama dan 20,4 % terbantu oleh doa novena. Dari angka persentasi di atas, dapat dilihat bahwa umat berdoa rosario dalam menghormati Maria sebagai Bunda Pengantara. Doa rosario merupakan bentuk doa yang sederhana namun mampu membawa seseorang

  mengajak seseorang untuk hening, diam dan hanya mendengarkan suara Allah. Jika ini telah dilakukan oleh umat maka doa rosario tidak akan jatuh pada suatu pengertian bahwa Bunda Maria adalah tujuan dari doa melainkan sebagai perantara doa.

  c.

  Usaha-usaha yang dilakukan Umat dalam Membangun Kehidupan Berimannya Tabel 4. Usaha Konkret Umat (N=42)

  No Pertanyaan Jawaban responden Jumlah responden yang menjawab dalam angka Jumlah responden yang menjawab dalam % (1) (2) (3) (4) (5) Persekutuan 10 23,8

  Litugi 9 21,4 Pelayanan 20 47,6

  8 Bidang-bidang Usaha apa saja yang dapat mendukung anda dalam membangun hidup beriman?

  Pewartaan 3 7,1 Jumlah 42 100 Terlibat dalam koor lingkungan 3 7,1 terlibat dalam doa lingkungan

  22 52,3 mengunjungi orang sakit 4 9,5

  9 Kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat mendukung anda dalam membangun kesetian iman seperti yang diteladankan oleh Bunda Maria?

  Mengikuti perayaan Ekaristi 13 31 Jumlah 42 100 Dalam memperkembangkan imannya akan Allah, umat di lingkungan St.

  Ignatius Loyola Cokrodiningratan tidak berjuang sendiri. Pihak Gereja sungguh- sungguh menolong dengan cara memberikan fasilitas di mana seluruh umat dapat mengekspresikan pengalaman imannya. Berdasarkan hasil penelitian, penulis melihat bahwa sekurang-kurangnya ada empat bidang usaha hidup menggereja yang sungguh-sungguh dijalani oleh umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan. Bidang-bidang inilah yang memfasilitasi umat untuk memperdalam imannya masing-masing.

  Ketika penulis bertanya kepada umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan tentang bidang usaha Gereja yang sungguh mendukung dalam memperkembangkan kehidupan imannya, ada sekitar 10 orang menjawab bidang persekutuan, 9 orang menjawab bidang liturgi, 20 orang menjawab bidang pelayanan dan 3 orang menjawab bidang pewartaan. Berdasarkan data-data itu, penulis menafsirkan bahwa kekhasan dari umat di lingkungan ini adalah dalam hal pelayanan. Umat di lingkungan ini kebanyakan terbantu oleh bidang pelayanan.

  Memang perlu diakui bahwa masing-masing lingkungan bahkan paroki, masing- masing mempunyai kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Dalam konteks ini, lingkungan Cokrodiningratan mempunyai kekuatan di bidang pelayanan. Dalam praktek hidup beriman, penulis melihat bahwa antar bidang usaha dengan kegiatan sepertinya kurang konsisten. Berdasarkan data diatas, ketika jemaat di lingkungan ini ditanya kegiatan yang dapat mendukung mereka dalam membangun kesetiaan iman seperti yang diteladankan oleh Bunda Maria, dari 42 responden, ada 22 orang yang menjawab kegiatan doa, 13 orang yang lain menjawab perayaan Ekaristi, 3 orang yang lainnya lagi menjawab terlibat dalam koor lingkungan dan 4 orang yang lainnya menjawab dalam kegiatan kunjungan kepada orang sakit.

d. Faktor penghambat yang dihadapi umat dalam membangun kehidupan beriman

  Tabel 5. Faktor Penghambat yang dihadapi Umat (N=42)

  No Pertanyaan Jawaban responden Jumlah responden Jumlah yang menjawab responden dalam angka yang menjawab dalam %

(1) (2) (3) (4) (5)

  

10 Apa faktor penghambat Kurang pengetahuan 30 71,4 yang anda hadapi dalam dan pemahaman tentang rangka belajar dari devosi Maria kesetiaan iman Maria Sarana yang kurang 4 9,5 guna membangun Tidak ada kehidupan beriman? kesempatan/waktu 3 7,1 untuk berdoa kepada

  Maria Tempat ziarah sulit 3 7,1 dijangkau Tidak disiplin waktu 2 4,8 atau tidak konsisten Jumlah 42 100

  

11 Persoalan apa saja yang Malas 24 57,1

kerap kali anda hadapi Lingkungan tidak 3 7,1 dalam rangka belajar dari mendukung kesetiaan iman Maria Membosankan, berdoa 2 4,8 guna meningkatkan kepada bunda masia kehidupan beriman? Persoalan ekonomi

  8

  19 Pilihan lain 5 11,9 Bila

  1. mempunyai ujub baru rajin berdoa

  Sulit untuk 2. rendah hati seperti Bunda maria. bila saya 3. mengalami ketakutan

  Kesibukan 4. kerja Tidak mengisi

5. Jumlah 42 100

  12 Bagaimana sikap anda Tegar 11 26,2 dalam menghadapi Mudah putus asa 2 4,8 berbagai persoalan hidup? Mencari dukungan 2 4,8 Sabar 27 64,3

  Bersyukur dalam doa Jumlah 42 100

  Dalam proses membangun kehidupan iman yang secara khusus penghayatan doa dengan perantaraan Maria, umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan tidak pernah lepas dari faktor-faktor penghambat. Adapun faktor- faktor penghambat yang kerap kali mereka hadapi antara lain pengetahuan yang kurang mendalam tentang devosi Maria, sarana dan prasarana yang kurang menunjang, kesempatan untuk berdoa (waktu), tempat Ziarah yang sulit dijangkau, sikap yang kurang disiplin (ketekunan berdoa).

  Dari 42 responden yang mengisi angket, sekitar 71 % responden mengatakan yang kurang tentang devosi Maria. Umat yang lain menjawab, faktor penghambat yang kerap muncul adalah rasa malas yang muncul dalam diri sendiri. Selain itu ada juga responden yang menjawab bahwa devosi Maria kini mulai salah kaprah. Berikut ini adalah ungkapan dari seorang responden yang diwawancarai peneliti:

  ...Saya sudah tidak respek lagi pada ziarah karena ziarah sekarang terlalu ramai sehingga sulit berkonsentrasi. Umat terlalu mementingkan rekreasinya. (Responden I)

  Selain alasan di atas, ada alasan lain yang terungkap dari responden yang diwawancarai sehubungan dengan hal-hal yang menghambat perkembangan iman seseorang. Berikut ini adalah hasil wawancara penulis dengan Responden II:

  Dari diri saya sendiri sebenarnya tidak ada kendala untuk urusan Gereja. Saya merasa harus terlibat hanya saja lingkungan dan keluarga yang kurang mendukung...ketika saya terlibat banyak di Gereja, suami saya yang bukan Katolik kadang kurang mempercayai, dengan kegiatan di Gereja. Ia sering bertanya kegiatan-kegiatan apa aja kok menyita waktu yang banyak. Dan di lingkungan sendiri ketika saya terlibat di paroki, selalu timbul opini-opini anggapan-anggapan bahwa saya ada tertarik dengan romo paroki atu cari muka pada orang-orang di gereja, padahal sungguh-sungguh saya lakukan itu dengan tulus dan iklas karena memang itulah kemampuan saya dan saya tidak ingin dipuji dan hanya itu yang yang bisa saya lakukan.

  Situasi ini seharusnya menjadi keprihatinan bersama. Di mana umat Kristiani sudah merasa tidak tahu ditambah tidak ada dukungan yang positif lagi dari orang- orang di sekitarnya. Perlu ada suatu gerakan dari pihak Gereja untuk membantu umat di lingkungan ini, terutama para keluarga yang perkawinannya campur. Penulis merasa tergugah ketika membaca jawaban angket dan sharing dari para responden yang diwawancarai. Umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan kurang mendapat pembekalan berupa pengetahuan dan ajaran iman, terutama tentang Maria dan berbagai kegiatan gerejani lainnya.

  Faktor-faktor penghambat yang telah disebutkan di atas merupakan faktor

  di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan ditanya mengenai persoalan yang kerap kali dihadapi dalam rangka menumbuhkan kehidupan iman, dalam hal tentang iman Maria, sekitar 50 % dari responden yang mengisi angket menjawab malas. Rasa malas memang cenderung menjadi persoalan masing-masing pribadi manusia yang hendak menjalin komunikasi dengan Allah. Persoalan malas ini memang tidak ada solusinya kecuali umat sendiri secara pribadi mengalahkan rasa malas itu dengan cara berusaha rajin dan disiplin dalam berdoa, terutama ketika berdoa dengan perantaraan Maria. Rasa malas itu juga tidak bisa lepas dari segala persoalan hidup pribadi umat. Persoalan pribadi itu dapat berupa persoalan ekonomi keluarga, relasi, pekerjaan dan lain-lain.

  Berikut ini hasil wawancara penulis dengan beberapa responden. Mereka mengatakan alasan yang berbeda-beda: seperti yang diungkapkan oleh responden I,

  III dan VI yang diwawancarai. Mereka mengatakan: ...devosi itukan bermacam-macam. Kalau di tingkat lingkungan saya tidak mengalami banyak kesulitan tetapi untuk yang khusus ziarah itu loh...mengingat biaya...yang tidak sedikit, transportasi, waktu..dan banyaklah...sehingga saya tidak sempat untuk ziarah. (Responden I) Dari pribadi saya sebelum devosi kalau kita udah emosi saya merasa saya kurang pantas menghadap bunda Maria. (Responden III) ...Kadang-kadang ada rasa bosan karena doa kita tidak dikabulkan, sering memohon dan tidak dikabulkan. Kadang-kala kita menyalahkan Tuhan dan bunda Maria.... ( Responden VI)

  Dalam menghadapi berbagai persoalan itu, umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan berusaha bersikap sabar dan bersyukur dalam doa. Dari hasil angket dan wawancara, ada umat yang ketika ditanya mengenai sikap pribadinya dalam menghadapi persoalan hidup, menjawab putus asa. Bagi umat yang demikian itu, Gereja hendaknya peka karena justru dalam situasi yang seperti inilah

  penghayatan hidup beriman akan nyata. Menurut hemat penulis, sebenarnya umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan cukup mampu untuk mengembangkan imannya masing-masing tetapi dalam kenyataannya mereka masih perlu mendapat pendampingan dari orang-orang yang berkompeten di bidang agama.

  Salah satu yang mencoba diusulkan oleh penulis adalah mengajak umat di lingkungan ini untuk belajar mengenal dan memahami Maria sang teladan dalam iman. Kesetiaan iman Maria pada Allah dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi di mana dengan tindakan-tindakan yang sederhana umat dapat semakin dekat dengan Allah Bapa.

  Kesimpulan Hasil penelitian 2. Berdasarkan hasil penelitian penulis dapat menyimpulkan bahwa umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan masih memiliki gairah untuk semakin tumbuh dan berkembang dalam hal iman. Meskipun demikian umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodingratan masih perlu belajar lebih dalam mengenai Maria. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti melihat bahwa umat di lingkungan itu telah mampu memahami Maria sebagai teladan dalam kesetiaan iman.

  Dan, berdasarkan ungkapan pengalaman hidup sehari-hari, mereka memaknai kesetiaan Maria sebagai Ibu, bunda, penolong, sahabat dan pengantara doa. Tetapi, ungkapan ini terkesan baru sebatas hafalan karena ketika diminta untuk mempertanggungjawabkan ungkapannya itu mereka masih kesulitan untuk merumuskan ide dan gagasannya sendiri.

  Kebiasaan berdoa bersama dalam keluarga, lingkungan, dan gereja, yaitu mengikuti perayaan Ekaristi, pendalaman Kitab Suci, Ziarah dan doa rosario akan Maria yang radikal adalah iman yang penuh dengan kepercayaan dan pengharapan. Imannya adalah tunduk dan percaya sepenuhnya kepada Allah.

  Iman Maria adalah kegembiraan, tetapi juga usaha mencari dengan rendah hati dan penuh rindu akan kehendak Allah. Oleh karena alasan inilah penulis merasa perlu untuk mengajak mereka belajar lebih dalam tentang Maria sesuai dengan yang diajarkan oleh Gereja sendiri sehingga iman mereka semakin dewasa pula. Tidak bisa dipungkiri bahwa umat di lingkungan ini cukup memiliki semangat untuk terus menerus memperkembangkan imannya. Hal ini nampak pada usaha-usaha yang dilakukan dalam membangun kehidupan berimannya. Menyempatkan waktu berdoa baik pribadi maupun bersama-sama, terlibat dalam berbagai kegiatan baik di lingkungan maupun di paroki serta turut berpartisipasi dalam kegiatan di masyarakat merupakan usaha-usaha yang konkret dan sederhana. Usaha yang konkret dan sederhana bukan berarti proses perkembangan hidup mereka berjalan lancar dan mulus.

  Banyak kendala yang harus mereka hadapi, misalnya kendala yang datang dari masing-masing pribadi umat: kedisiplinan, ketekunan dan kesungguhan dalam berdoa, kesehatan fisik, materi; kendala dari keluarga yang kurang mendukung serta kendala yang menyangkut sarana dan prasarana pendukung. Tetapi hal ini dapat di atasi berkat kerjasama di antara anggota umat dan Gereja sendiri. Gereja sendiri telah memfasilitasi umat agar dapat berkembang lebih baik dalam hal iman.

  Usaha-usaha untuk semakin berkembang dalam hal iman, juga nampak pada intensitas mereka dalam berdoa, terutama dalam berdoa kepada Santa Perawan Maria melalui devosi Maria. Berbagai bentuk devosi yang kerap kali mereka lakukan ternyata dapat memotivasi mereka untuk semakin dekat dengan Allah. Adapun bentuk-bentuk devosi yang dimaksud adalah antara lain: ziarah, doa rosario dan novena kepada bunda Maria.

  Bentuk-bentuk devosi yang mereka lakukan sedikit demi sedikit telah membawa mereka pada pengenalan akan Maria secara lebih mendalam. Tidak sedikit umat yang sangat terbantu oleh perantaraan Santa Perawan Maria. Berbagai mujizat- mujizat kecil pernah mereka rasakan. Karena masih dalam proses, maka mereka tidak bisa langsung berkembang hebat sekali tetapi masih tetap harus didampingi dan dibina sehingga akhirnya memiliki hidup beriman yang berkualitas.

  Proses pendampingan dan pembinaan yang dapat dilakukan dalam situasi umat di lingkungan st. Ignatius Loyola Cokrodiningratan lebih diarahkan pada usaha memperdalam pemahaman tentang Maria yang sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

  Hal ini dilakukan agar umat semakin mampu memaknai kesetiaan iman Maria sebagai sumber inspirasi bagi usaha memperkembangkan kualitas kehidupan beriman sehingga penghayatan imannya semakin mendalam dan dewasa. Pemaparan ini lebih bersifat membantu umat agar pengetahuannya tentang Maria semakin mendalam sehingga pemaknaannyapun semakin memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan iman umat sendiri. Tentu saja usaha ini perlu didukung oleh semua pihak, baik para pemimpin Gereja, Katekis dan umat sendiri.

  Semoga jerih payah yang dilakukan sungguh-sungguh berbuah kebaikan bagi semua orang di mana masing-masing orang semakin diperkaya dan diperkembangkan dalam hal iman.

BAB III PANDANGAN GEREJA TENTANG KESETIAAN IMAN MARIA Untuk menggali pemahaman dan makna kesetiaan iman Maria sehingga

  penulis dapat membantu umat di lingkungan St. Ignatius Cokrodiningratan dalam meningkatkan kualitas hidup berimannya, pada bab ketiga ini akan dibahas mengenai peranan Maria dalam karya keselamatan Allah, keistimewaan Maria dalam Gereja dan relevansi keteladanan kesetiaan iman Maria dalam situasi hidup umat Kristiani zaman sekarang. Ketiga sub bab ini akan diperdalam dengan beberapa teori, ajaran dan keyakinan Gereja yang sampai sejauh ini masih diyakini. Selain dari dokumen Gereja, penulis juga mengambil referensi dari pemikiran beberapa teolog dan mariolog yang cukup terkenal dalam Gereja Katolik. Misalnya Pater Tom Jacob SJ, Pater E. Eddy Kristiyanto OFM, Pater C. Groonen OFM dan lain-lain. Untuk semakin memperjelas isi dari bab ketiga, berikut ini adalah uraiannya:

A. Maria bagi Umat Kristiani

  Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang dapat membantu umat dalam mengenal dan memahami siapa Maria. Pater E. Eddy Kristiyanto OFM, dalam bukunya yang berjudul ”Maria dalam Gereja” memaparkan ketiga hal itu, yakni gambaran Maria, Maria Typus Gereja dan Maria: Advocata, Auxiliatrix, Adiutrix dan Mediatrix.

  Gambaran Maria 1.

  Gereja menggambarkan Maria sebagai Hawa yang baru, hamba Tuhan yang miskin, hina dina dan Putri Sion. Gambaran Maria sebagai Hawa yang baru, Pater Kristiyanto, OFM menggunakan sumber informasi dari Kitab Suci dan Lumen Allah sebagai Ibu dari Manusia yang diharapkan mampu mengembangkan ciptaanNya sesuai dengan kehendak Allah (tindakan iman manusia), demikianpun Maria diyakini sebagi Bunda dari penyelamat dunia. Tetapi Hawa tidak menjalankan apa yang dikehendaki Allah, artinya ia tidak sangat beriman kepada Allah. Oleh karena itu, kehadiran Maria diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan Allah kepada Manusia yang telah dikhianati oleh Hawa.

  Kita baru bisa memahami ketidaktaatan atau ketidakberimanan Hawa kepada Allah jika belajar dari ketaatan Maria. Sebagai ilustrasi untuk memahami pernyataan ini, penulis memunculkan suatu pernyataan sebagai berikut: untuk dapat membedakan rasa manis, kita perlu terlebih dahulu mencicipi rasa pahit, begitu pula sebaliknya. Dalam LG art 56 Santa Maria dilukiskan sebagai Hawa Baru dengan menggunakan model pemikiran patristik. Landasan pemikiran ini adalah sikap Maria terhadap Sabda Allah. Di mana, Maria telah menerima Sabda Allah dengan sepenuh jiwa dan raga tanpa paksaaan dari siapapun. Sikap ini menunjukkan bahwa Maria hanya percaya pada penyelenggaraan Ilahi saja. Sikap yang demikian, diyakini oleh para Bapa gereja (Ireneus, Ambrosius dan Augustinus) sebagai sikap yang benar dan lurus di hadapan Allah. Selanjutnya, para Bapa Gereja memaparkan bahwa sikap Maria yang demikian merupakan negasi dari sikap Hawa yang membawa manusia pada kematian. Dengan kata lain, sikap Maria yang taat pada Allah melahirkan kehidupan kekal dan sebaliknya sikap Hawa yang menolak Sabda Allah mengakibatkan kematian. Benang merah dari model ketaatan Hawa dan Maria kepada Allah terletak pada sikap hati Maria itu sendiri yang taat pada Allah.

2. Maria Typus Gereja

  Kata Typus sering dianggap sama dengan model, pola, contoh dan citra. Maria mesra yang sempurna dengan Kristus. Dalam hal ini, Maria menjadi pelopor cinta Gereja pada Kristus. Maka oleh sebab itu, Maria juga diyakini sebagai teladan gereja dalam membangun relasi yang mendalam bersama Yesus Kristus dan Allah Bapa.

  Allah mewujudkan cinta dan perhatiannya terhadap Gereja dalam gambaran sempurna Bunda Perawan. Perjalanan hidup Maria bersama Yesus telah memberikan terang bagi segenap jemaat Kristiani bahwa Allah sungguh-sungguh mencintai manusia. Hal ini nampak pada cinta Yesus kepada BundaNya.

  Jika Maria disebut sebagai typus Gereja maka sebutan itu hanya berarti bahwa kehadiran Maria dipusatkan pada peranan dan tugasnya untuk membantu setiap anggota Gereja sampai pada hidup dan kesatuan bersama Kristus seperti halnya Maria sendiri telah hidup dan bersatu dengan Kristus.

  Berkaitan dengan hal ini, sebagai typus Gereja, Maria juga dapat disebut sebagai Bunda Gereja. Sebutan Maria sebagai Bunda Gereja muncul karena Maria sendiri dapat bekerjasama dalam dan dengan Gereja untuk menjalankan tugas dan perutusannya. Selain itu, Gereja sendiri telah menunjukkan dan menerima kebundaan Maria dalam dirinya sendiri. Hal ini nampak dalam praktik penghormatan umat kepada Santa Perawan Maria melalui berbagai bentuk dan sifatnya, misalnya devosi, doa rosario, ziarah, novena dan pemberian berbagai macam gelar: Advocata, Auxiliatrix, Adiutrix dan Mediatrix.

  Maria: Advocata, Auxiliatrix, Adiutrix dan Mediatrix 3. Maria sebagai advocata artinya ia berdiri sebagai pengacara, auxiliatrix sebagai pembantu, adiutrix sebagai penolong dan mediatrix sebagai pengantara umat pada

  Allah. Pemahaman tentang Maria sebagai advocata tidak semata-mata disamakan dengan peran Yesus Kristus sebagai perantara satu-satunya antara Allah dan Manusia. Peran Maria dalam konteks ini tidak lebih hebat dari pada peran Yesus.

  Gereja sendiri memberikan rambu-rambu pada umat agar tidak salah paham mengenai peran Maria ini. Rambu-rambu itu nampak pada keyakinan dasar Gereja akan inkarnasi Yesus Kristus yang menyatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya pengantara manusia pada Allah karena dalam pribadi Yesus terwujud persatuan yang sempurna antara Allah sebagai Bapa dan Yesus sebagai Putera. Dan, tidak ada seorangpun yang dapat dijadikan sebagai kembaranNya. Tanpa terkecuali Maria Bunda Yesus sendiri.

  Peran pengantara yang tak tergantikan dalam diri Yesus semakin diperkuat oleh sikap totalnya pada Allah sampai wafat di kayu salib. Maria dalam berbagai gelar di atas lebih dipahami dalam konteks kecintaannya pada Allah dan manusia. Manusia yang masih hidup di dunia, dipandang sebagai saudara-saudari Putranya yang masih merantau di dunia dan terancam oleh rupa-rupa kecemasan dan kekuatiran. Manusia perlu dibantu, ditolong dan diperantarai agar sampai kepada Allah Bapa di Surga.

  Keistimewaan Maria dalam Gereja B.

  Keistimewaan Maria yang dipandang oleh Gereja adalah terletak pada sikap Maria yang tergantung sepenuhnya kepada Allah. Sikap nyata dalam kesiapsediaannya untuk menjadi Bunda Allah seperti yang dikehendaki Allah. Dari pernyataan ini muncul dua kata kunci, yakni iman dan rahmat Allah yang diterima oleh Maria. Bagaimana menghubungkan antara iman Maria dengan rahmat yang ia terima dari Allah melalui perantaraan Roh Kudus? Banyak tokoh besar yang dikisahkan dalam Kitab Suci dipanggil Tuhan dan pada awalnya mereka tidak

  Ketika didatangi malaikat Tuhan, “Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu” (Luk 1:29). Berkat imannya yang kokoh Maria terbukti sebagai salah satu tokoh besar yang setia dalam melaksanakan panggilan dan kehendak Tuhan. Iman Maria yang kokoh merupakan teladan yang patut untuk diperjuangkan seluruh umat Kristiani. Untuk sampai mampu mengekspresikan imannya dalam hidup sehari-hari seperti Santa Maria, umat Kristiani terlebih dahulu perlu memahami istilah iman, panggilan dan kesetiaan.

1. Iman

  Iman pertama-tama dimengerti sebagai anugerah Allah bagi umat-Nya. Iman tidak terlepas dari wahyu. Wahyu sendiri merupakan inisiatif Allah untuk menyapa, berelasi dengan manusia dan manusia menanggapinya secara tulus dan ikhlas, maka terjadilah relasi timbal balik antara Allah dengan manusia. Seperti yang telah ditulis dalam Konstitusi Dogmatik Dei Verbum Konsili Vatikan II:

  Kepada Allah yang menyampaikan wahyu, manusia wajib menyatakan ketaatan iman. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah dengan mempersembahkan kepatuhan akal budi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan dan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikaruniakan olehnya (DV, art. 5).

  Iman merupakan hubungan pribadi manusia dengan Allah yang telah rela menyatakan diri-Nya. Iman dapat terjadi hanya karena cinta dan rahmat Allah.

  Dalam memahami iman, yang terpenting adalah bahwa inisiatif selalu datang dari Allah demi keselamatan manusia. Dari isi Konstitusi Dogmatik Dei Verbum art. 5 di atas dikatakan bahwa Allahlah yang memberikan wahyu dan manusia harus menyatakan ketaatan iman yaitu dengan bebas menyerahkan diri secara total kepada Tuhan.

  Menurut Bele (1980: 13), seorang asal Amerika Latin, iman adalah jawaban atas perwahyuan Allah dalam diri Yesus Kristus. Umat Kristen mengenal Allah secara pribadi sebagai Bapa, melalui Yesus. Bele mengutip salah satu ayat dari Injil Matius untuk membantu umat dalam memahami makna iman yang berbunyi demikian “Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat 11:27). Selanjutnya Bele menegaskan bahwa, dapat dikatakan iman adalah suatu keyakinan orang akan ketergantungan dirinya kepada Tuhan (Bele, 1980: 15).

  Secara garis besar gagasan mengenai iman dalam Kitab Suci mengandung tiga unsur. Unsur pertama bahwa Iman merupakan penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Sikap rendah hati dibutuhkan dalam kepercayaan, sebagaimana Kristus yang merendahkan diri hingga wafat di kayu salib (Flp 2:8). Unsur kedua adalah kepercayaan yang penuh dan radikal menuntun manusia kepada kesetiaan yang sebenarnya. Tuhan sendiri tetap tinggal setia kepada umat manusia (Ul 14:4), pada janji-janji-Nya (2 Sam 7:28 ; Hos 2:22 dan Tob 14:4).

  Kesetiaan kepada Tuhan melibatkan segenap kebebasan subyek iman, yaitu orang yang beriman. Dan unsur ketiga sehubungan dengan ketaatan. Ketaatan merupakan suatu cara berada dalam relasi yang erat dengan Tuhan. Persahabatan dengan Tuhan dijalin melalui perwujudan ketaatan kepada-Nya. Dan ketaatan ini pada prinsipnya mengandaikan sikap dasar untuk mendengarkan. Karena mendengarkan merupakan proses pembatinan Sabda Tuhan hingga membangkitkan dan memperkuat kepercayaan. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr 11:1).

2. Panggilan

  Untuk memahami istilah panggilan, penulis terinspirasi oleh gagasan seorang guru besar, Tom Jacobs. Menurut Jacobs dalam istilah panggilan terkandung dua unsur, yaitu aktivitas Allah yang selalu mengundang dan kesanggupan manusia untuk menjawab. Untuk dapat menjawab atau menanggapinya, manusia diberi kebebasan untuk memilih hidup yang sesuai dengan panggilan hidupnya. Memilih berarti menempati suatu profesi tertentu dan pengenalan identitas serta karakteristik dirinya menjadi hal yang penting dalam unsur panggilan.

  Setiap orang Kristiani melihat hidupnya sebagai pelaksanaan panggilan Allah. Sebab hidup adalah sesuatu yang diterima dari Allah (Jacobs, 1987: 263). Sejauh memahami pernyataan ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa istilah panggilan pertama-tama merujuk pada suatu tindakan konkret baik Allah maupun manusia. Tindakan konkret itu semakin nyata dalam pola dan tingkah laku iman manusia itu sendiri.

  Semakin orang itu beriman maka semakin mampulah ia untuk mencintai dan menghargai mahluk ciptaan Allah yang ada di muka bumi ini. Jika, satu sama lain memiliki pola dan tingkah laku hidup yang demikian, maka kerajaan Allah yang dirindukan oleh banyak orang akan semakin nyata di dunia yang fana ini.

  Selanjutnya, tindakan konkret yang lain adalah jawaban “ya” dari manusia atas segala tawaran dan undangan Allah. Hal ini nyata dalam sikap batin seseorang yang semakin serupa dengan Yesus Kristus Putra Allah. Seperti halnya Yesus yang dalam karyaNya selalu mengutamakan kepentingan orang-orang kecil, lemah dan tersingkir, demikianpun jemaat Kristiani hendaknya semakin peka dalam menyikapi kebutuhan orang lain, terutama mereka yang tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk

3. Kesetiaan

  Maria Menurut para Ahli Kitab Suci a. Untuk memahami istilah kesetiaan, penulis belajar banyak dari Paus Yohanes yang selama hidupnya sungguh mencerminkan kesatiaan seorang Bapa Suci yang sangat dekat dengan Maria Bunda Yesus. Paus Yohanes Paulus II pernah mengungkapkan bahwa kesetiaan yang dihayati Maria mempunyai tiga dimensi.

  Dimensi pertama dari kesetiaan ialah pencarian. Maria setia pertama-tama ketika mulai dengan penuh cinta kasih mencari makna terdalam dari rencana Allah dalam dirinya dan bagi dunia melalui pertanyaan yang diajukannya kepada malaikat “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” Dimensi kedua dari kesetiaan Maria adalah penerimaan. Dari pertanyaan “bagaimana hal itu mungkin terjadi?” berubah menjadi

  

Fiat di mana Maria bersedia menerima tawaran rencana Allah meskipun banyak hal

  yang tidak ia ketahui. Dimensi ketiga dari kesetiaan Maria adalah ketekunan. Hanya ketekunan yang berlangsung seumur hidup yang dapat disebut sebagai kesetiaan.

  

Fiat Maria dalam menerima kabar Malaikat Tuhan mencapai kepenuhannya di kaki

salib Darmawijaya (1989:45).

  Menurut hemat penulis, pencarian, penerimaan dan ketekunan Maria merupakan suatu proses yang sebenarnya dapat dilakukan oleh siapa yang berkehendak untuk dekat dengan Allah. Tidak sedikit anggota umat Kristiani yang memiliki kehendak demikian tetapi tidak mampu melewati ketiga dimensi yang dilalui oleh Maria. Sangat jarang anggota umat Kristiani yang mampu masuk kedalam tiga dimensi itu. Hal ini terjadi karena tantangan dan godaan dunia modern lebih kuat dibandingkan dengan yang dihadapi oleh orang-orang yang hidup sebelum dunia mengalami perkembangan jaman yang sedemikian pesat.

  Sebenarnya masih banyak bentuk kesetiaan iman yang ditawarkan Kitab Suci kepada seluruh umat Kristiani. Seperti yang pernah diungkapkan oleh salah satu ahli Kitab Suci bernama Darmawijaya bahwa kesetiaan dalam Kitab Suci menunjukkan sifat Allah, dan sifat tersebut erat sekali hubungannya dengan kerahiman atau kasih karunia Allah yang dinyatakan kepada manusia. Darmawijaya (1989: 46) dalam bukunya Kesetiaan Suatu Tantangan mengatakan bahwa: Kesetiaan menyangkut pengertian kasih, kerahiman, karunia yang ditawarkan dalam hidup ini dan menuntut pertanggungjawaban yang tetap dan terus menerus. Kesetiaan adalah tanda bukti kasih yang tidak mudah luntur oleh kesulitan hidup. Kesetiaan mempunyai peranan dalam proses kehidupan, karena kesetiaan dapat menjadi tanda bukti dari mutu pribadi dan juga mutu pelayanan bagi sesamanya. Namun kesetiaan tidak berdiri sendiri sebagai ciri mutu manusia, melainkan terutama sebagai ciri hubungan Allah dengan manusia yang dicintainya.

  Kesetiaan sebagai tanda bukti kasih Allah yang tetap dan tidak berubah-ubah. Kasih sejati Allah tidak ditarik begitu saja karena kesalahan, kegagalan dan dosa manusia, melainkan terus-menerus diusahakan (Darmawijaya, 1998: 49). Dalam pengalaman iman, kesetiaan merupakan sikap Allah yang teguh dan terus-menerus memperhatikan umat yang disayanginya dalam perjuangan yang diwarnai dengan godaan dan dosa.

  Kesetiaan dalam terang Kitab Suci menunjukkan unsur yang amat mencolok: ketetapan, keteguhan, kesabaran, kasih Allah yang hendak terus-menerus mencintai umat kesayangan-Nya, kendati mereka itu gagal. Kasih yang abadi tercermin dalam kesetiaan yang tidak kunjung henti. Dalam Perjanjian Baru St.Paulus menuliskan kepada jemaat di Korintus bahwa, “Allah yang memanggil kamu kepada persekutuan jemaatnya di Tesalonika Paulus menuliskan, “Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya (1 Tes 5:24). Bagi orang Kristen kesetiaan Allah nyata dalam Pribadi Yesus Kristus. Dia adalah saksi kesetiaan Allah bagi manusia. Maria mendapat penghormatan dalam Gereja pertama-tama karena ia adalah ibu Yesus yang digelari Kristus.

  Namun demikian Maria dihormati sesungguhnya terlebih-lebih sebagai teladan iman. Yakni kepekaan, penerimaannya dengan gembira, penuh syukur dan kerendahan hati akan Dia yang adalah Jalan, kebenaran dan cinta Kasih (Sutrisna, 2003:77). Dalam keseluruhan hidupnya Maria telah menunjukkan kesetiaannya kepada Allah. Dalam imannya Maria mampu melihat tanda-tanda kehadiran Allah.

  Tanpa iman mustahil orang berkenan kepada Allah (Ibr 11:6). Maria berkenan kepada Allah lebih dari pada makhluk yang lain, sebab dia lebih unggul berkat imannya kepada Allah (Darminta, 1995: 32). Sabda yang telah mengambil kodrat manusia di dalam rahimnya merupakan tanda agung kesetiaan dan belaskasihan Allah. Kesetiaan iman Maria dapat dilihat dalam peristiwa Maria pada awal Maria menerima kabar gembira, Maria dalam masa kanak-kanak Yesus, Maria mempersembahkan Yesus dalam bait Allah, Maria dalam hidup umum Yesus sampai Maria dalam peristiwa penyaliban.

  Maria menurut Kitab Suci Perjanjian Baru b.

  Setelah menguraikan istilah iman, kesetiaan dan panggilan Maria, selanjutnya penulis mengajak pembaca untuk semakin mengenal sosok Maria yang diambil dari Injil. Sebagai gadis keturunan dan pewaris iman Abraham, sebagai Putri Israel, Maria akrab dengan sejarah panggilan dari para bangsa dan panggilan bangsanya.

  Dari situ pula Maria belajar kenal bagaimana Allah bertindak dan berbicara dalam segala peristiwa di dalam hati dan merenungkannya (Luk 2:19; 2:51). Dengan cara demikian, Maria membiarkan kehendak dan rencana Allah yang terkandung dalam segala peristiwa yang dialami, tumbuh dan berkembang dalam hati dan batinnya. Oleh karena itu Maria begitu dekat dan akrab dengan Allah. Kedekatan dengan Allah inilah yang memampukan Maria merasakan kunjungan Allah (Darminta, 1995:18).

  Kebimbangan yang dialami oleh Maria bukanlah merupakan tanda bahwa ia menolak Allah, keraguan Maria bukanlah sikap memberontak pada kehendak Allah.

  Tetapi Maria ingin menimbang kedalaman sapaan dan kebesaran tugas yang disandangnya. Karena itu setelah berada dalam suasana kebiasaannya yaitu menyimpan dan merenungkan, Maria menjawab dengan kerelaan yang mengatasi keraguannya dengan berkata “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Dengan sikap dan jawabnya itu Maria menjadi teladan spiritual dalam menjawab panggilan Tuhan, dengan seluruh hati, seluruh pikiran, seluruh tubuh, seluruh kehendak dan seluruh program hidup (Mardiatmadja, 2003:35).

  Maria menerima kabar sukacita dari Malaikat Gabriel sebagai utusan Allah. Maria dengan rela hati menerima, karena Maria percaya sungguh akan kasih Allah yang selalu menyertainya. Jawaban Maria melalui “fiat”nya: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk 1:38) mengungkapkan suatu penyerahan diri yang total kepada kehendak Allah. Maria telah dipilih Allah sejak semula untuk menjadi ibu penyelamat dan digariskan kembali oleh Elisabeth dalam ucapan bahagianya. Maksud Maria mengunjungi Elisabeth (Luk 1:39-45) adalah hendak membagikan warta sukacita kepada saudarinya. Elisabeth menanggapi kunjungan tersebut dengan sukacita sebab Maria adalah ibu penebus (Haring, 1992:29). Maria terbuka akan rencana Allah melalui kabar gembira dari malaikat Tuhan, hal ini mau menggambarkan bahwa Maria percaya dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah.

  Iman yang ada dalam diri Maria membuat Maria percaya bahwa karya keselamatan Allah terlaksana dalam dirinya karena pada Allah tidak ada yang mustahil. Ketaatan Maria pada panggilan Allah menunjukkan bahwa Maria memiliki relasi yang mendalam dan personal dengan Allah.

  Setelah mengetahui kisah panggilan Maria selanjutnya penulis akan menguraikan perjalanan Maria bersama Yesus. Untuk memahami perjalanan Maria, penulis belajar dari Mardiatmadja. Mardiatmaja (Mardiatmadja, 2003: 36) menjelaskan bahwa pokok kisah Masa kanak-kanak Yesus dalam Injil Lukas dapat dirasakan sebagai riwayat mengenai hidup Maria dan pengalaman bathinnya pada kurun waktu tertentu. Dalam Injilnya itu Lukas menggali dan memaparkan cerita mengenai pengalaman bathin dan perasaan Maria (Luk 1:26-38), penghayatan mengenai panggilan Tuhan (Luk 1:26); rasa cemasnya sebagai gadis muda (Luk 1:29-34); kesediaannya menyerahkan diri kepada Tuhan (Luk 1:38); luapan kegembiraannya yang menuju pada yang kudus dan memperhatikan orang lain (Luk 1:39-55).

  Yang terpenting dari semua peristiwa itu bahwa Maria ditampilkan sebagai seorang Yahudi, sebagai ibu dengan anak dan ibu yang miskin. Tindakan ketaatan Maria juga nampak dalam penyerahan Yesus di dalam bait Allah, penyerahan anak sulung sebenarnya merupakan suatu tindakan persembahan. Maria melaksanakan hal tersebut seraya mempersembahkan dirinya sendiri sebagai pendamping dan pelayan- Nya. Dalam perjumpaannya dengan Simeon, Maria menerima suatu nubuat istimewa yaitu nubuat pedang penderitaan. Dialah yang akan mengikuti Kristus kemana saja Dalam hal ini Maria sungguh menjadi teladan yang hidup kerelaan Maria untuk berpartisipasi penuh dalam seluruh kehidupan Yesus. Mulai saat itu, peran Maria di dalam misteri keselamatan menjadi nyata sepenuhnya. Maria mengambil bagian dalam sengsara Kristus (Maloney, 1990: 86).

  Sosok Maria hanya disebutkan dua kali dalam Injil Lukas yaitu 8:19-21 dan 11:27-28, dan berapa kali dalam Injil Markus. Kedua injil tersebut memiliki perbedaan fokus perhatian dalam hal mengangkat sosok Maria. Perbedaan itu nampak pada kisah kanak-kanak Yesus. Hal ini dapat dipahami karena perhatian Lukas tentang Maria lebih dilihat dalam kerangka sebagai murid atau simbol murid.

  Dalam masa karya Yesus, sudah ada banyak contoh kemuridan terutama kedua belas rasul (Tisera, 1988: 47). Pesta perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11) merupakan kisah Injil yang memaparkan mengenai keikutsertaan Maria dalam karya Yesus pertama. Sekurang-kurangnya ada empat makna yang dapat diperoleh dari perikop tersebut. Pertama, bahwa dalam situasi krisis, Maria secara kodrati berpaling kepada Yesus yang dipercayainya dapat membantu. Dalam hal ini Maria bertindak sebagai perantara antara manusia dengan Allah. Pada saat manusia tidak berdaya, dengan tulus hati Maria membuka hatinya dan menyampaikan setiap permohonan manusia pada Allah. Kedua, bahwa dengan mendengar jawaban Yesus, Maria tidak merasa terganggu karena percaya kepada Yesus. Respon yang diberikan oleh Yesus sama sekali tidak menggoyahkan iman Maria. Maria sungguh mengenal siapa puteranya.

  Maka, Maria yakin bahwa puteranya mampu berbuat sesuatu demi orang lain yang sangat membutuhkan. Dengan keteladanan iman yang seperti ini, Maria mengajak seluruh manusia untuk melihat dan berusaha mengenal Yesus Sang Mesias. Ketiga, Maria bertindak dengan menyiapkan hati orang lain untuk memperoleh mukjizat.

  Persiapan itu nampak pada tindakkan Maria yang memberikan petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan oleh para pelayan. Melalui petunjuk-petunjuknya itu, sebenarnya Maria hendak mengajak para pelayan untuk percaya pada Yesus. Karena bagi Maria kepercayaan adalah pintu masuk untuk keselamatan Allah. Keempat, Yesus sungguh-sungguh berkenan mengatasi situasi sulit yang sedang dihadapi oleh orang yang sedang berpesta. Dengan kekuatan dan kuasa Allah, Yesus sunguh- sungguh menampakkan kemuliaanNya. Mukjizat yang dibuat oleh Yesus saat itu, tidak mungkin terjadi jika Maria tidak memohonkannya kepada Yesus. Dalam hal ini, jelas bahwa peran Maria sungguh-sungguh mampu membuka hati Allah bagi manusia yang sangat membutuhkan pertolonganNya.

  Menurut Mardiatmadja (2003:24), kiranya sudah menjadi kabar baik bahwa ketika ibu menyapa Anaknya dengan penuh kepercayaan dan pengharapan, ternyata dijawab Yesus dengan memperlihatkan kemuliaan-Nya. Hal ini semakin meneguhkan keyakinan mengenai Maria yang hening, tenang namun memiliki kepribadian kuat yang nampak ketika Yesus masih kanak-kanak. Maria adalah orang beriman yang masih harus belajar, sebelum sampai ke salib. Maria tetap seorang murid, model bagi orang beriman dalam usaha memahami kehendak Allah. Maria membiarkan kehendak dan rencana Allah yang terkandung dalam segala peristiwa yang dialami tumbuh dan berkembang dalam hati dan batinnya. Bagaimanapun Maria hadir dalam relasi awal Yesus, yang menyuarakan kesulitan manusia, tetapi Maria masih belum memahami sepenuhnya. Maria orang beriman, dan bersama orang beriman masih harus terus belajar untuk beriman (Tisera, 1988: 51).

  Puncak dari karya penyelamatan Manusia oleh Allah dengan mengorbankan PuteraNya adalah peristiwa penyaliban Yesus di gunung Kalvari dan Maria sungguh setia menemani Puteranya dalam menyelesaikan misiNya turun kedunia ini.

  Peristiwa dalam penyaliban menunjukkan keindahan hubungan antara Yesus dan ibu-

  Nya serta antara Yesus dengan murid yang dikasihi-Nya. Di Kalvari Maria menerima hubungan baru dengan Yesus Kristus. Yesus bermaksud menjamin adanya dukungan dan perlindungan bagi ibunya dengan mempercayakan dia kepada murid kesayanganNya (Maloney, 1990:36).

  Peran khusus Bunda Maria bukan pada karya publik Yesus melainkan ketika saat tiba, saat permuliaan, saat sesudah Yesus secara historis. Maria menjadi Bunda yang mengatasi Bunda Kodrati, dalam hubungan dengan Gereja para murid, yang dalam peristiwa itu diwakili oleh murid yang dikasihi. Peran ini diberikan oleh Yesus sendiri dengan kata-kataNya yang oleh Yoh 19:26-27 ditulis demikian: “Ibu, inilah anakmu!”. Juga dengan kata-kata Yesus kepada murid yang dikasihi-Nya, “Inilah ibumu!”. Djono Moi (2004: 41-42) mengatakan bahwa: Kehadiran Maria dibawah salib Yesus menunjukkan bahwa ia turut serta dalam penderitaan Yesus, ia telah menghibur Yesus sebagai seorang ibu, ia memberikan kekuatan kepada anaknya walaupun semuanya dihadapi melalui perjuangan maha hebat untuk menaklukkan tangisan dan derita hatinya sebagai seorang ibu.

  Semua orang Kristiani diundang oleh kata-kata Yesus supaya menghormati keibuan Rohani Maria, yang mempersatukan semua orang kristiani secara istimewa dalam solidaritas keselamatan yang merangkul sekalian orang, saling memikul beban satu sama lain, yang bersumber, berpusat dan berpuncak pada pribadi Yesus Kristus.

  Keibuan bukanlah karena unsur kodrati, melainkan karena hubungan iman yang membentuk Gereja.

  Komunitas murid-murid Yesus didirikan di mana Maria hadir sebagai bunda dan wanita. Dengan perkataan “Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya”, terbentuklah hubungan yang jauh lebih akrab yakni hubungan keibuan itu Maria menjadi Bunda para murid dan Bunda bagi putra yang lain, singkatnya Maria menjadi “Bunda Gereja” (Sutrisnaatmaka, 2003:81). Maria melihat, mendengar, merasakan dan merenungkan derita Yesus. Ia diam tanpa kata tetapi dalam kehadirannya itu Maria sungguh-sungguh turut serta dalam derita Yesus.

  Maria menunjukkan ketabahannya sebagai orang beriman. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria Ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus (Kis 1:14). Kisah Para Rasul ini menunjukkan lukisan penting mengenai tempat Maria dalam Gereja. Segi ini penting untuk menemukan sikap yang tepat mengenai kebaktian kepada Maria dalam gereja masa kini. Dalam ayat itu diperlihatkan Maria yang hadir di tengah keluarga pengikut Yesus Kristus dalam persaudaraan dan doa. Persatuan dan persaudaraan itu tentunya diresapi oleh semangat Maria yang penuh iman dan cinta kasih (Mardiatmadja, 2003:26). Dalam lima langkah Konsili sudah menguraikan keterlibatan dan peran serta Maria dalam tata penyelamatan. Dalam Lumen Gentium artikel 55 dikatakan bahwa:

  Kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru, begitu pula Tradisi yang terhormat, memperlihatkan Bunda Penyelamat dalam tata keselamatan dengan cara yang semakin jelas, dan seperti menyajikannya untuk direnungkan. Adapun kitab-kitab Perjanjian Lama melukiskan sejarah keselamatan, yang lambat laun menyiapkan kedatangan Kristus di dunia. Naskah-naskah kuno itu sebagaimana dibaca dalam Gereja dan dimengerti dalam terang perwahyuan lebih lanjut yang penuh, langkah-demi langkah makin jelas mengutarakan citra seorang wanita Bunda Penebus.

  Perjanjian Lama sudah berbicara tentang Maria bila dibaca dan ditafsirkan dengan terang iman Kristen. Dalam terang tafsir ini dapat beranggapan bahwa sebenarnya Marialah yang dimaksud dengan perempuan yang akan meremukkan kepala ular (Kej 3:15), ia juga perawan yang melahirkan putra yang disebut Emanuel (Yes 7:14). Dan Maria dapat dihitung di antara umat sederhana dan rendah hati, sisa Israel yang dalam keterbukaan rohaninya menantikan keselamatan dari Allah sehingga ia merupakan Putri Sion yang benar, Israel yang mendambakan penyelamat dan menyambut-Nya dengan gembira ketika Ia datang (Kirchberger, 1988:100).

  Peranan Maria dalam tata penyelamatan diuraikan dalam perjanjian baru dengan penggambaran yang dasariah, terutama ditonjolkan oleh penginjil Lukas, dengan Ketaatan Maria yang penuh kepercayaan. Hal ini ditegaskan pula oleh Konsili dengan pernyataan sebagai berikut :

  Bapa yang penuh belaskasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dulu wanita mendatangkan maut, sekarang pun wanita mendatangkan kehidupan. Itu secara amat istimewa berlaku tentang Bunda Yesus yang telah melimpahkan kepada dunia Hidup sendiri yang membaharui segalanya, dan yang oleh Allah dianugerahi kurnia- kurnia yang layak bagi tugas seluhur itu. Maka tidak mengherankan juga, bahwa diantara para Bapa suci menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa manapun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh Kudus” (LG, art. 56).

  Allah menuntut kesetiaan dan ketaatan. Namun Allah juga memberi anugerah kemampuan untuk dapat memenuhi tuntutan-Nya, dan cara orang menggunakan kemampuan berbeda-beda. Ketaatan Maria pada Sabda Allah tidak mengekang kebebasannya sebagai makhluk ciptaan-Nya. Bahkan sebaliknya, semakin ia taat kepada sabda Allah akan semakin besar kebebasannya dan semakin ia tergantung pada Allah yang memberikan berkat semakin ia beriman. Dengan ketaatan yang bebas Maria bekerjasama demi untuk keselamatan umat manusia, sebaliknya yang terjadi dengan Hawa, yang menyalahgunakan kebebasannya dalam ketidaktaatan, telah menaruh dirinya dalam kuasa kematian (Eddy Kristiyanto, 1987:29).

  Dengan rahmat-Nya Allah membiarkan Maria bersikap bebas dalam keadaannya. Maria diperkenankan mengambil sikap terhadap rencana illahi. Karena rahmat Allah tidak meniadakan kodrat kemanusiaan Maria, melainkan menyempurnakannya, maka ia menjadi citra para beriman yang menyambut tawaran Allah sepenuhnya. Allahpun tidak berhemat dalam mencurahkan belas kasih-Nya sehingga Maria menjadi dirinya sendiri. Sedangkan Hawa menjadi gambaran manusia yang tidak menanggapi tawaran Allah dan kehilangan dirinya sendiri (Kristiyanto, 1987:30).

  Dalam LG, art. 57 digambarkan nilai fundamental yang diejawantahkan pada pelbagai tahap hidup dan karya Yesus. Pada setiap tahap dan peristiwa konstitusi menekankan dua aspek yaitu: bagaimana Maria sendiri dikuduskan dan diberi bagian dalam keselamatan yang dikerjakan putra-Nya dan yang kedua ialah tentang arti dan nilai dari peran serta Maria itu bagi semua orang beriman.

  Dalam semua peristiwa itu Maria turut serta bukan dalam terang pengertian yang jelas, melainkan dalam kegelapan iman, yang seringkali baru perlahan-lahan bisa mengerti dan menyingkapkan kehendak dan maksud Allah. Dengan segala pengalaman manusiawinya itu Maria justru menampakkan keteladanannya sebagai orang beriman karena di tengah duka derita khususnya yang melekat pada tugasnya sebagai bunda Yesus ia tetap mempertahankan pengabdiannya kepada Tuhan. Ia tidak pernah melarikan diri dari kesulitan-kesulitan yang muncul sebagai konsekuensi imannya (Eddy Kristiyanto, 1987:38).

  Cinta kasih yang tiada taranya dan yang dibangun atas dasar penyerahan total kepada Allahlah yang mampu mempersatukan Maria dengan putranya. Ikatan erat yang tidak terputuskan ini membuahkan iman bagi Maria, yaitu bahwa Maria beriman bukan dari dunia melainkan dari Allah yang mengikutsertakan dia dalam karya penyelamatan. Dan kepada Maria masih dituntut suatu ketekunan dalam hal disalib. Dan Maria telah menunjukan kesetiaannya itu, ia dapat bertahan untuk tetap mengabdi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap akal budinya sampai akhir hidupnya (LG, art. 58).

  Relevansi Keteladanan Kesetiaan Iman Maria C. Gereja tidak pernah memisahkan diri dari perjalanan iman Maria. Beriman berarti hidup bergaul dengan Allah, melakukan suatu perjalanan bersama Allah, dan berserah diri kepada kuasa Allah yang mencipta dan menebus. Oleh karena itu perjalanan iman juga dapat dikatakan sebagai perjalanan umat Kristiani untuk menjadi semakin kontemplatif sehingga semakin dibimbing untuk memiliki hati dan mata yang mampu melihat karya Allah dalam peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari (Darminta, 1994:24).

  Keteladanan iman yang paling sederhana dan dekat dengan umat Kristiani adalah keteladanan iman Maria. Berikut ini penulis akan memaparkan relevansi keteladanan kesetiaan iman Maria dalam situasi hidup jemaat Kristiani jaman sekarang khususnya umat lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan. Adapun sebagai inti dari pembahasan dari sub bab ketiga ini adalah jawaban atas pertanyaan mengapa umat Kristiani di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan perlu meneladani Maria dalam hal iman dan aspek-aspek apa saja yang dimiliki Maria yang dapat diteladani oleh umat Kristiani yang sedang mengalami krisis iman karena berbagai masalah kehidupan.

  Konsili suci menganjurkan kepada semua anggota jemaat Gereja supaya dengan tulus dan sepenuh hati melakukan kebaktian kepada Santa Perawan Maria, khususnya kebaktian liturgis. Berbicara relevansi keteladanan kesetiaan iman Maria, tidak bisa lepas dari praktik kebaktian liturgis. Mengapa? Karena melalui kebaktian liturgis selain secara pribadi disegarkan dan dikuatkan dalam hal iman, kebersamaan dan kesatuan iman dengan anggota Gereja yang lain juga dapat semakin memberikan motivasi yang semakin kuat untuk membangun relasi yang intim dengan Allah. Tetapi, meskipun demikian Konsili mengingatkan dengan sangat kepada para teolog dan pewarta sabda Ilahi supaya menghindari segala keterlaluan yang salah maupun kesempitan pikiran dalam membicarakan kehormatan khusus Bunda Allah (LG, Art. 67). Umat sendiri diminta untuk lebih bersikap bijak dan penuh keyakinan. Dengan kata lain, sikap hidup sehari-hari yang mencerminkan keteladanan kesetiaan iman Maria, lebih baik dari pada membuat suatu kebaktian liturgis yang glamor, meriah dan memakan biaya yang tidak sedikit.

  Sikap Maria yang Rendah Hati 1.

  Manusia dicipta untuk memuliakan dan memuji Tuhan. Itulah hakikat hidup manusia. Di hadapan Elisabet, Maria mengungkapkan isi hatinya setelah ia diresapi oleh rahmat Tuhan sendiri. Pengalaman terhadap suatu anugerah yang membahagiakan, penyelesaian yang diberikan oleh Allah dan peneguhan dari sesama diungkapkan oleh Maria dalam madah pujian “Madah Magnificat”. Dengan madah pujian ini, Bunda Maria mengungkapkan rasa terdalam atas dirinya sebagai ciptaan Allah. Bagi Bunda Maria, manusia diciptakan untuk memuliakan dan memuji Tuhan (Darminta, 1994:14). Madah pujian merupakan ungkapan luapan kegembiraan hati dan jiwa Maria. Pujian Maria ini sungguh keluar dari suatu kepastian diri bahwa karya Tuhan telah terjadi atas dirinya. Bahwa kerendahan hati merupakan sikap kebajikan yang senantiasa hidup dan ada dalam diri Maria.

  Kerendahan hati memang telah menjadi bagian dari kehidupan Maria. Maka dihadapan Elisabet dan Tuhan, Maria secara jujur mengungkapkan hal ini. Sebagai hamba Tuhan, ia harus menerima apapun yang Allah kehendaki (Haring, 1992:39). Bunda Maria mengungkapkan bahwa manusia tidak hanya ciptaan Allah, tetapi juga yang diselamatkan oleh Allah.

  Bunda Maria melihat bahwa manusia sesungguhnya adalah pendosa, yang tetap dicintai dan dikasihi oleh Allah. Meskipun Bunda Maria mendapat perkenanan dari Allah terbebas dari dosa, Bunda Maria tetap menyamakan diri dengan manusia pendosa (Darminta, 1993:15). Maka dia menyebut dirinya hamba yang rendah dan hina di hadapan Allah. Dia tetap melihat bahwa apapun yang terjadi pada dirinya, yang membawa kebaikan adalah karya Allah yang menyelamatkan. Allah yang dialami adalah sebagai Allah yang setia, karena Dia kudus. Karena itu rahmat-Nya akan setia turun-temurun, bila orang itu gentar dan takut akan Dia. Maria merasa bangga dengan dirinya. Tetapi kebanggaan Maria merupakan cetusan sikap kontemplatif seorang wanita beriman yang penuh kebijaksanaan dan kerendahan hati (Djono Moi, 2004:19).

2. Sikap Maria yang penuh penyerahan diri kepada Allah

  Inti hidup manusia adalah penyerahan seluruh pribadi kepada Allah dan rencana penyelamatan-Nya (Suharyo, 1990:380). Bunda Maria mengucapkan “Fiat'” dengan imannya. Dalam iman ia mempercayakan dirinya kepada Allah tanpa batasan apapun dan menyerahkan diri sepenuhnya sebagai hamba Allah kepada pribadi dan karya puteranya. Dan Puteranya ini seperti para Bapa Gereja ajarkan ia mengandung putra ini dalam jiwanya sebelum dikandung dalam rahimnya. Justru dalam iman Elisabet memuji Maria:

  Terberkatilah yang percaya bahwa akan terpenuhi apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan. Dan kata-kata tersebut telah terpenuhi: Maria dari Nasareth menghadirkan diri pada ambang pintu Elisabet dan Zakharia sebagai

  Bunda Putera Tuhan. Inilah ungkapan Elisabet yang menggembirakan: “Bunda Tuhan datang kepadaku (RM, art. 13). Bunda Maria menempatkan sabda Tuhan sebagai pusat hidupnya. Dengan demikian Bunda Maria menjadi hamba karya penyelamatan Allah. Menyadari diri sebagai hamba dan segala sesuatu hanyalah kelimpahan rahmat semata, Bunda Maria tidak dapat berbuat lain kecuali menyerahkan diri dalam kesederhanaan iman kepada rencana illahi (Darminta, 1994:7).

  Maria menunjukkan bahwa kemerdekaan beriman adalah anugerah yang diberikan oleh Roh Kudus. Karena Roh Kudus, Maria dimampukan untuk menyambut dan menyetujui rencana Allah dengan penuh kebebasan, karena dilandasi oleh cinta. Dengan imannya yang penuh kasih Maria menjawab kasih Allah dengan penyerahan diri seutuhnya untuk mengabdi Allah dalam segala-galanya.

  Ketekunan Maria dalam Doa 3.

  Maria dilihat sebagai orang yang beriman kuat. Hanya orang yang memiliki kedekatan yang erat dengan Tuhan, yang mampu beriman kuat. Maria tumbuh dan berkembang dalam ikatan relasi yang kuat dengan Allah. Bunda Maria terus-menerus menatap sabda Allah, ia tumbuh dan berkembang dalam imannya. Dalam jawaban Maria, tampaklah hubungan kerja sama antar Allah dan Maria. Terjadinya relasi yang mendalam antara Allah yang hendak melaksanakan kehendak-Nya dalam diri Maria dan Maria sebagai manusia yang tak berdaya menerima tawaran Allah. Berkat keterbukaan hati dan cintanya yang tulus Maria menerima penyelesaian ini.

  Sikap penyerahan diri dan terbuka kepada Allah inilah yang merupakan sikap doa (Djono Moi, 2004:12). Berkat hidupnya di hadirat Allah dalam doa dan kontemplasi, Maria disapa dan dipilih oleh Allah. Doa telah mengantar Maria kepada suatu pengalaman kehidupan yang penuh rahasia. Pengalaman hidup yang demikian, menjadikan dirinya pasrah kepada kehendak Allah sendiri.

  Dalam doa kontemplatif melalui madah pujian Maria mengungkapkan rasa optimismenya yang begitu tinggi bahwa rahmat Tuhan tidak saja diperuntukkan bagi dia dan seluruh bangsa Israel tetapi juga diperuntukkan bagi semua orang dari segala zaman. Maria mau menyatakan bahwa Tuhan sungguh menaruh perhatian kepada semua orang yang mencintai dan mengasihi Dia.

4. Maria yang setia terhadap keputusannya sendiri

  Cinta Allah ditanggapi dalam iman, dan wujud tanggapan itu secara nyata tampak dalam kesetiaan sebagai upaya menterjemahkan iman tersebut. Bagi orang Kristen, dasar yang kokoh dalam hal kesetiaan adalah kasih Allah sendiri, karena kasih Allah menjadi kekuatan dan dasar kesetiaan manusia terhadap sesamanya (Jacobs, 1987:15). Maria sebagai ibu dan tokoh beriman, mewujudkan imannya dalam kesetiaan kepada arah kehidupan sang anak yaitu Yesus Kristus sampai sehabis-habisnya. Bunda Maria mewujudkan imannya dalam solidaritas dengan perjuangan Yesus, sekaligus dia setia terhadap kelompok para murid Yesus (Mardiatmadja, 2003:45). Saat perkawinan di Kana, Bunda Maria hadir, dengan kesetiaannya terhadap keluarga yang mengundangnya, ia melibatkan diri dalam kegelisahan mereka.

  Bunda Maria mewujudkan kesetiaannya kepada Yesus, bukan pada persoalan kekurangan anggur, melainkan lebih pada perhatian terhadap yang akan dilakukan oleh Yesus. “Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu” (Yoh 2:5). Bunda Maria sungguh setia terhadap misi panggilan dan perutusan sang anak. Di bawah Salib, Bunda Maria menanti dengan sabar, gelisah, penuh iman. Kesabaran, ketekunan merupakan wujud kesetiaannya terhadap masalah yang diperjuangkan oleh Yesus. Kehadirannya di bawah Salib Yesus menunjukkan bahwa ia turut serta dalam penderitaan Yesus, ia telah menghibur Yesus sebagai seorang ibu, ia memberikan kekuatan kepada anaknya, ia ikut menderita bersama Yesus yang menderita. Walaupun semuanya melalui perjuangan maha hebat untuk menaklukkan tangisan dan derita hatinya sebagai seorang ibu (Djono Moi, 2004:41).

  Dari keempat sikap Maria di atas, diharapkan menjadi bagian dalam kehidupan umat dan bahkan sungguh-sungguh menjadi semangat hidup umat Kristiani dalam menyikapi situasi jaman. Dengan bercermin kepada pola hidup Maria, umat di lingkungan St. Ignatius Cokrodiningratan, dari hari-ke hari dapat memetik pelajaran bahwa sikap yang perlu dibangun adalah sikap pasrah, setia dan mau kembali kepada Allah manakala mulai terbawa arus.

  Arus globalisasi yang saat ini mengancam seluruh umat manusia perlu segera disikapi dengan bijak. Tuntutan pasar, berbagai persoalan ekonomi, pendidikan, politik, hubungan antar umat beriman dan lain sebagainya sekurang-kurangnya telah mengikis iman orang-orang yang sebelumnya memiliki iman akan Allah. Lari dari imannya sendiri merupakan fenomena yang tidak asing bagi kita. Misalnya karena pasangan hidup beragama lain dan orang itu mau menikah, akhirnya demi mempertahankan hubungannya, iman Kristianinya ditinggalkan atau ada juga kasus karena kurangnya biaya pendidikan sekonyong-konyong lari dari Gereja Katolik dan pindah gereja atau bahkan pindah agama. Masih banyak contoh-contoh ketidaksetiaan manusia terhadap imannya sendiri. Dengan kata lain semangat jemaat saat ini adalah terlalu mendewakan paradigma pilihan, bahwa beragama adalah pilihan dan bukan panggilan Allah. Akhirnya sakralitas dari agama dan iman itu sendiri menjadi luntur dan orang mulai tidak respek lagi.

  Dalam situasi yang demikian keteladanan Maria sungguh-sungguh dapat menjadi sumber inspirasi bagi jemaat kristiani untuk tetap setia bertekun dalam doa, berserah diri dan rendah hati di hadapan Allah meskipun tantangan dan cobaan datang silih berganti.

BAB IV USULAN PROGRAM KATEKESE UMAT DENGAN MODEL SHARED CHRISTIAN PRAXIS BAGI UMAT DI LINGKUNGAN ST. IGNATIUS LOYOLA, COKRODININGRATAN, PAROKI JETIS Pada bab ini penulis mengusulkan program Katekese Umat dengan model Shared Christian Praxis (SCP) guna meningkatkan kualitas hidup beriman umat di

  lingkungan St. Ignatius Loyola, Cokrodiningratan. Berkaitan dengan itu, pembahasan

  bab III dibagi menjadi dua bagian besar, yakni: pertama tentang katekese umat dengan model Share Christian Praxis (SCP) dan program katekese dan salah satu contoh bentuk pertemuan katekese umat dengan model SCP. Untuk lebih jelas berikut ini adalah penjabarannya.

  Katekese Umat dengan Model Share Christian Praxis (SCP)

  Dalam penjabaran sub bab pertama, penulis akan memaparkan dua point pokok, antara lain: pertama Katekese Umat (KU) yang meliputi: arti makna, peserta, pendamping, tujuan, proses dan keunggulan Katekese Umat; kedua Model SCP yang dalam Katekese, yang meliputi: pengertian dan langkah-langkah proses katekese.

  Katekese Umat (KU) 1.

  Arti makna Katekese Umat a. Dalam buku yang berjudul “Katekese Umat”, Pater Yosef Lalu (2005: 63) bahwa KU selalu mengalami perkembangan dalam prakteknya di lapangan. Perkembangan ini disebabkan karena tinjauan terhadap KU sendiri bermacam- macam. Dalam hal ini, sekurang-kurangnya ada tiga aspek yang dapat ditinjau dalam KU, antara lain aspek antropologis, sosiologis dan teologis. KU dapat ditinjau dari aspek antropologis hasilnya adalah bahwa KU diartikan atau dimaknai sebagai musyawarah iman. Adapun alasan mengapa KU disebut sebagai musyawarah iman adalah kerena antara kegiatan musyawarah dengan katekese memiliki persamaan dari segi prosesnya.

  Umat Kristiani, terutama di negara Indonesia, sangat familiar dengan istilah musyawarah. Seperti yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, sekurang-kurangnya ada tiga langkah pokok dalam proses musyawarah. Langkah pokok yang pertama adalah melihat dan mendalami persoalan atau kebutuhan. Pada langkah pertama ini, peserta musyawarah yang dipimpin oleh seorang moderator atau fasilitator mengajukan suatu persoalan dan melihat sebab akibatnya atau suatu kebutuhan kemudian dipikirkan untung ruginya. Dengan kata lain, langkah ini disebut langkah atau tahap melihat dan mendalami (menganalisa) situasi. Sedangkan pada langkah yang kedua, peserta musyawarah diajak untuk menimba kebijaksanaan dari tradisi atau adat kebiasaan masyarakat setempat. Pada langkah kedua ini, setelah persoalan atau kebutuhan hidup masyarakat dilihat dan didalami, selanjutnya peserta musyawarah mencoba mencari petunjuk-petunjuk yang tepat dari tradisi atau adat kebiasaan masyarakat setempat.

  Biasanya yang dijadikan sebagai petunjuk adalah kata-kata kunci dan mytos- mytos yang mempunyai daya meyakinkan karena dianggap memiliki nilai bersangkutan. Pada langkah ketiga, peserta diajak untuk menentukan suatu aksi konkret yang dapat dilakukan guna menjawab persoalan dan kebutuhan yang sedang dihadapi oleh warga masyarakat. KU adalah hasil inkulturasi terhadap musyawarah masyarakat kita sendiri. Hanya saja, perbedaannya terletak pada dimensinya.

  Musyawarah lebih berdimensi budaya sedangkan KU berdimensi Injili.

  KU dapat ditinjau juga dari aspek sosiologis. Hasilnya adalah bahwa katekese Umat merupakan analisa sosial dalan terang Injil. Katekese pada hakekatnya tidak bisa lepas dari kehidupan sosial umat. Mengapa? Karena apa yang dibicarakan dalam katekese adalah hidup beriman umat sendiri yang bergulat dalam sebuah realitas sosial masyarakat. Ketika umat mengalami suatu ketidakadilan karena sistem yang diberlakukan tidak memihak pada yang lemah, saat itulah dibutuhkan suatu pola berpikir yang radikal dan mampu mengangkat persoalan yang menjadi penyebab ketidakadilan itu. KU dapat menjadi media untuk menumbuhkan pola pikir baru yang dapat membawa umat atau masyarakat pada suatu tatanan kehdiupan yang lebih adil, makmur dan sejahtera. Pola berpikir yang dimaksud adalah pola pikir yang menggunakan pendekatan Analisis Sosial (ANSOS).

  Selama ini, katekese dengan model ANSOS sudah sering dilakukan. Dan berdasarkan pengalaman, katekese dengan model ANSOS ini harus bersikap konsisten kendati menghadapi sebuah sistem. Adapun proses KU yang menggunakan pendekatan ANSOS dapat berurut sebagai berikut: 1). Melihat dan menyadari gejala ketidakadilan sosial yang ada

  3). Mencari akar dan akibat dari ketidakadilan tersebut 4). Merefleksikan dalam iman (Kitab Suci dan ajaran Gereja) 5). Merencanakan aksi, yang kemudian disusul dengan aksi

  KU dapat juga ditinjau dari aspek teologis. Hasilnya adalah bahwa Katekese Umat dapat dimaknai sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman antar anggota jemaat. Ketika peserta Katekese Umat membagikan pengalaman imannya, saat itulah sebenarnya mereka sedang memberikan kesaksian iman. Dan, melalui kesaksian iman para peserta dapat saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna (Sumarno, 2005:9). Sebagai bentuk kesaksian iman, komunikasi atau tukar pengalaman antar peserta tentunya harus berisi tentang kesaksian imannya akan Yesus Kristus. Dengan kata lain, tidak semua pengalaman hidup sehari-hari dapat dikomunikasikan dalam KU. Pengalaman bergaul dengan Yesus Kristus sehingga mampu membawa mereka pada satu perubahan sikap kearah yang lebih baiklah yang dapat dijadikan sebagai bahan komunikasi iman.

  Peserta Katekese Umat b.

  Ketika kita berbicara mengenai KU, berarti berbicara mengenai umat. Seperti yang telah dirumuskan dalam PKKI II, bahwa: ...yang menjadi peserta atau yang berkatekese adalah umat, dalam arti semua orang beriman yang secara pribadi memilih Kristus dan secara bebas berkumpul untuk lebih memahami Kristus; Kristus menjadi pola hidup pribadi kelompok basis, maupun di sekolah atau perguruan tinggi (Yosep Lalu, 2005: 69) Dalam KU, umat dipandang sama derajatnya, tidak ada yang ditinggikan dan direndahkan, semuanya adalah orang-orang yang perlu untuk dihargai dan didengarkan. Semangat yang perlu dibangun oleh peserta katekese dalam proses KU adalah semanagt setia kawan sebagai saudara seperjalanan menuju kepenuhan di dalam Kristus. Sedangkan sikap yang perlu dimiliki oleh peserta adalah sikap mau mendengarkan dan berani mengungkapkan setiap pengalaman iman yang dialami sehingga suasana yang tercipta di tengah-tengah umat adalah suasana tobat.

  Pendamping Katekese Umat c.

  Dalam KU tidak digunakan istilah pemimpin tetapi pendamping iman. Pendamping iman dalam hal ini memiliki tugas sebagai fasilitator yang membantu umat agar dapat lebih mudah menemukan dan mengungkapkan pengalaman imannya. Selain sebagai fasilitator, pendamping juga berperan sebagai pelayan yang siap menciptakan suasana komunikatif, membangkitkan gairah supaya para peserta berani berbicara secara terbuka.

  Yang paling perlu untuk diperhatikan oleh seorang pendamping iman adalah dalam berkatekese adalah bahwa ia tidak membawa diri sebagai pembesar yang mengindoktrinasikan bawahannya dan juga tidak memberikan kesan bahwa dirinya yang paling pandai dalam menyampaikan pengethauan atau padangan kepada para peserta yang tidak tahu apa-apa mengenai iman Krsitiani. Sebaliknya, yang mesti dilakukan oleh seorang pendamping iman adalah meneladani sikap Sang Guru, yakni Yesus Kristus yang selalu bersikap mau melayani dengan tulus semua orang tanpa kecuali.

  Untuk mendukung karyanya di tengah-tengah umat, seorang pendamping iman perlu memiliki kemampuan yang lebih dibanding peserta katekese. Kemampuan itu meliputi penguasaan pengetahuan iman, kemampuan menata kehidupan (kepribadiannya) dan mampu memimpin sebuah pertemuan katekese secara terampil.

  Tujuan Katekese Umat d.

  Para katekis yang turut serta dalam PKKI II telah merumuskan tujuan Katekese Umat sedemikian rupa. Inti seluruh tujuan yang dirumuskan dalam lima butir adalah menolong para peserta untuk melihat dan memahami bahwa riwayat dan perjalnan hidup mereka merupakan sebuah karya sejarah penyelematan dari Allah. Berikut ini adalah rumusan dari kelima butir tujuan yang hendak dicapai melalui Katekese Umat: 1). Supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman kita sehari-hari 2). Dan kita bertobat terus-menerus kepada Allah dan semakin menyadari kehadiranNya dalam kenyataan hidup sehari-hari 3). Dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan semakin dikukuhkan hidup Kristiani kita 4). Pula kita semakin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta 5). Sehingga kita sanggup memberikan kesaksian tentang Kristus dalam hidup sehari-hari.

  Dari rumusan kelima butir tujuan KU di atas kita dapat memahami bahwa ketiga butir yang pertama lebih memperhatiakan peserta sendiri. Tujuan dari KU utama KU. Sedangkan kedua yang terakhir lebih memperhatikan mengenai tugas umat Kristiani sebagai angota Gereja. Selain bergerak dalam Gereja, umat Kristiani juga diharapkan mampu terlibat dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat.

  Proses dan keunggulan Katekese Umat e.

  Untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan di atas, para peserta PKKI II juga sepakat telah sepakat untuk memberikan semacam panduan proses KU bagi para katekis di lapangan. Harapannya adalah dengan bantuan semcam itu, para katekis mampu membudayakan KU dalam masing-masing komunitas umat beriman dari yang besar sampai yang terkecil sekalipun, dari umat yang berada di kota sampai yang berada di pedesaan terpencil. Katekese Umat mengikuti proses katekese umat pada umumnya. Menurut PKKI II ada tiga langkah besar yang dapat dilakukan dalam KU, yaitu:

  Langkah pertama; mengamati dan menyadari suatu 1). fenomena tertentu dalam masyarakat yang diangkat sebagai tema katekese

  Tema Katekese Umat diangkat dari situasi umat. Situasi konkrit ini bisa merupakan persoalan masyarakat, misalnya: kelaparan, kemiskinan, ketidakadilan, bencana alam, tindak kriminal dan kebutuhan masyarakat (sandang, pangan, papan, pendidikan). Situasi itu didalami dan dianalisis supaya dapat disadari secara utuh.

  Katekese ini bertitik tolak dari situasi konkrit masyarakat karena Allah bersabda bukan secara anonim saja, tetapi Allah menyapa manusia dalam situasi kehidupannya yang konkrit, yakni manusia yang hidup dalam konteks sosio-budaya tertentu.

  Supaya dapat mendengarkan dan menghayati sabda Allah dengan baik, orang bahwa dalam katekese kontekstual umat perlu ditolong agar memiliki kepedulian akan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya, mencoba memperoleh gambaran tentang masalah-masalahnya.

  Kepedulian akan masalah-masalah masyarakat merupakan titik tolak dari katekese yang akan memacu umat untuk mendengarkan Allah yang berada di tengahnya guna menyadari apa arti keselamatan, dan apa yang perlu dilakukan agar dapat menghayati iman yang terlibat dalam masyarakat.

  Langkah kedua; menyadari dan merefleksikan 2). situasi yang telah dianalisis dalam terang Sabda Allah Situasi konkrit telah dialami dan dirasakan oleh masyarakat dengan berbagai bentuknya. Hal itu sudah menjadi bagian dari hidup manusia yang tidak bisa dipungkiri. Masyarakat/umat diarahkan untuk melihat semuanya itu dalam terang Sabda Allah. Kitab Suci merupakan ungkapan tertulis sabda Allah itu yang mempunyai peranan penting dalam katekese.

  Dengan melalui Kitab Suci umat diajak untuk mendengarkan sabda Allah yang bersabda kepada mereka di tengah masalah-masalah yang dihadapinya. Perikopa Kitab Suci yang dipilih sekurang-kurangnya mendekati masalah-masalah yang sedang dihadapi tersebut, agar sabda Allah sungguh menggema dalam hati sanubari umat.

  Umat perlu diberi kesempatan serta waktu untuk sungguh-sungguh mendengarkan dan merenungkan sabda Allah. Melalui renungan itu umat diharapkan menemukan dan memahami kepedulian Allah kepada umat dalam situasi yang kurang menguntungkan, dengan kata lain diajak untuk mengerti, meresapkan pandangan dan sikap Allah atas peristiwa-peristiwa yang dialami. Dengan demikian umat diajak untuk memikirkan apa arti keselamatan bagi masyarakat dan apa yang perlu diperbuat agar keselamatan tersebut sungguh terjadi bagi kehidupan.

  Langkah ketiga; memikirkan dan merencanakan 3). aksi untuk bertindak (historis dalam komunikasi kritis-kreatif) Mengamati situasi dan merefleksikannya dalam terang sabda Allah bertujuan supaya dapat menjadi lebih sadar akan panggilan sebagai orang beriman untuk bertindak memperbaiki keadaan. Mungkin sabda Allah itu akan menegur umat supaya bermetanoia, memberi inspirasi dan meneguhkan untuk berani bertindak, maka pada tahap ini diharapkan peserta katekese membuat rencana-rencana dan membulatkan tekad untuk bertindak. Memang, langkah ketiga ini sudah berada di luar proses katekese itu, namun ini merupakan implementasi dari katekese, dan katekese itu sebenarnya harus berujung pada tindakan atau aksi nyata. Berdasarkan pengalaman praktek di lapangan dengan proses yang dijalani dengan setia, para katekis mampu menemukan keunggulan dari KU. Sejauh ini ada empat keunggulan KU yang dirasakan oleh para katekis, antara lain, pertama: dengan KU, umat mendapat kesempatan untuk mengasah kemampuannya dalam berpikir kritis, aktif berbicara dan turut berpartisipasi dalam mengambil sebuah keputusan bersama. Dengan kata lain, KU mampu membuat peserta menjadi umat Kristiani yang kreatif, kritis dan mampu membangun kepercayaan diri dalam menghayati imannya akan Yesus Kristus. Umat merasa jadi subjek yang memiliki daya untuk berkembang.

  Kedua: karena dalam KU peserta selalu diajak untuk menerangi setiap pengalaman hidup sehari-hari dengan terang Injili maka umat semakin sadar akan cmpur tangan Allah dalam perjalanan hidupnya. Hal ini semakin menumbuhkan ada Allah yang selalu menyertainya. Dengan kata lain KU dapat menjadi sarana yang strategis dan efektif dalam mengembangkan iman umat Kristiani.

  Ketiga: karena roh dari KU terletak pada kagiatan komunikasi maka para peserta dapat dikondisikan sedemikian rupa sehingga dengan terbiasa melakukan komunikasi maka dengan sendirinya semangat untuk berkumpul, hidup dalam persdekutuan iman semakin kuat dirasakan. Dan, jika hal ini telah tercapai maka Bangunan Gerejapun akan semakin kokoh berdiri dalam setiap hati umat Kristiani yang tergabung dalam suatu komunitas basis.

  Keempat: dengan KU peserta diajak untuk mengkomunikasikan pengalaman- pengalaman bermakna yang setiap hari selalu baru, hal ini mendorong gereja untuk selalu berpikir secara kontekstual dan terbuka terhadap setiap perkembangan dunia. Dengan demikian, orientasi Gereja tidak hanya pada dirinya sendiri melainkan pada terbangunnya Kerajaan Allah di tengah dunia ini.

  Pengertian Shared Cristian Praxis (SCP) dan langkah-langkahnya 2. dalam Katekese Umat

  Pengertian Shared Cristian Praxis (SCP) a. Istilah praxis dalam konteks katekese ini tidak hanya sekedar dalam arti “praktek” (lawan dari teori) melainkan suatu tindakan yang sudah direfleksikan.

  Dalam pengertian ini terkandung makna keterlibatan, perbuatan dan tujuan dari hidup manusia yang secara sengaja dibuat atau dilakukan.

  Istilah praxis lebih mengacu pada suatu pengertian bahwa setelah melalui proses katekese umat, umat diharapkan mengalami suatu perubahan hidup kearah yang lebih baik. Oleh karena itu maka dapat diketahui bahwa dalam istilah praxis

  Matriks Program Katekese Umat Dengan Model SCP 1.

  Tema Umum : Belajar dari Kesetiaan Iman Maria guna Meningkatkan Kualitas Hidup Beriman Umat di Lingkungan St.

  Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis-Yogyakarta Tujuan Umum : 1. Semakin Memahami dan Memaknai Kesetiaan Iman Maria

  2. Agar Bersama Peserta dapat Meneladani Kesetiaan Iman Maria dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Beriman. Peserta : Segenap Anggota Umat di Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodinigratan Paroki Jetis-Yogyakarta

  

No Sub Tema Judul Tujuan Pertemuan Uraian Materi Metode Sarana Buku Sumber

Pertemuan

  1

  1. Keluarga Yesus: Mrk -Ceramah -Teks KS. Kitab Suci Maria

  1. Maria dalam

  1. Membantu jemaat Kristiani dalam Injil Markus dalam memahami Markus 3:31-35

  • Diskusi Mrk.3:20-35 dan Perjanjian Baru,

  2. Maria, Yakobus dan Kitab Suci

  2. Membantu jemaat dalam

Perjanjian memahami Maria dalam Yusuf : Mrk 15:40, 47; Mrk15:40,47;61:1 Tafsir Kitab Suci

  Markus 61:1 Baru

  Transparansi, Perjanjian Baru, -Spidol, Harun, Martin.

  • OHP (1988). Maria dalam Perjanjian Baru. Obor. Jakarta

  2. Maria dalam

  • Dialog -Laptop, LCD, Kitab Suci

  1. Membantu Jemaat Kristiani

  1. Peranan Maria pada saat Injil Matius dalam memahami Maria Yesus dikandung

  • Interaktif, -Transparansi, Perjanjian Baru, dalam kisah masa kanak- (Matius 1:18-25) kanak Yesus
  • Spidol, Tafsir Kitab Suci

  2. Maria dalam masa karya - Ceramah Yesus ( Matius 12:46-50)

  2. Membantu jemaat kristiani

  • OHP Perjanjian Baru,
  • Diskusi dalam memahami peranan Maria pada saat Yesus

  94 dikandung Harun Martin.

3. Membantu jemaat Kristiani

  (1988). Maria dalam dalam memahami Maria dalam masa karya Yesus Perjanjian Baru. (Mat 12:46-60; 13:53-58)

  Obor. Jakarta

  3. Maria dalam Membantu jemaat Kristiani Maria dalam Komunitas - Laptop, Kitab Suci

  • Dialog Injil Lukas dalam memahami Maria Yerusalem (Matius 28:1- Perjanjian Baru,
  • Interaktif, - LCD, dalam komunitas Yerusalem 10)

  Tafsir Kitab Suci

  • Spidol,

  Ceramah -

  Perjanjian Baru,

  • OHP

  Diskusi

  • Harun. 1988. Maria

  dalam Perjanjian Baru. Obor. Jakarta

  4. Maria dalam Kitab Suci

  1. Membantu jemaat Kristiani

  1. Kekuatan permohonan - Dialog - Laptop, Injil Yohanes dalam memahami peristiwa Maria (Yoh 2:4) Perjanjian Baru,

  • Interaktif - LCD, Kana

  2. Menfsirkan perikop Injil (Yoh 19: 25-27) Tafsir Kitab Suci

  2. Membantu jemaat Kristiani - Transparansi,

  Ceramah -

  dalam memaknai kehadiran Perjanjian Baru,

  • Spidol, Maria di kaki Salib (Yoh 1

  Diskusi -

  Harun. 1988. Maria

  • OHP

  dalam Perjanjian Baru. Obor. Jakarta

  2. Maria

  1. Peranan Santa

  1. Membantu jemaat Kristiani

  1. Maria, Hawa Baru - Dialog - Laptop, Kitab Suci dalam Perawan Maria untuk memahami

  2. Maria: Hamba Tuhan,

  • Interaktif, - LCD, Perjanjian Baru,

  Gereja dalam Tata Gambaran Maria sesuai Miskin dan Hina Dina Penyelamatan dengan dogma yang

  3. Maria, Puteri Sion - Ceramah - Transparansi, Tafsir Kitab Suci diajarkan Gereja

  4. Bersatu dengan Kristus

  • Diskusi - Spidol, Perjanjian Baru,

  2. Membantu jemaat Kristiani dalam karya

  95 dalam memaknai Penyelamatan, - OHP Buku Dokumen keistimewaan Maria dalam kebundaan Maria dan Kon.Vat.II, Gereja Maria diangkat ke Surga Kristiyanto. 1987.

  Maria dalam Gereja. Kanisius.

  Yogyakarta

2. Maria teladan Bersama peserta dapat

  Madah Bakti KS. Perjanian Baru

  • Peristiwa panggilan - Tanya kesetiaan iman menghayati iman, seperti Maria jawab - KS PB.

  Christiane 1988. yang penuh Maria yang penuh dengan - Cerita

  • Relasi Maria terhadap - Sharing pasrah dalam kepasrahan dalam panggilan Allah. - Teks lagu Kisah Maria - Refleksi menjawab menjawab panggilan Tuhan Penyerahan diri Maria yang - informasi panggilan Tuhan dalam hidup sehari-hari. telah saya hayati.

  3. Menyelami

  1. Gereja

  • Dialog -Laptop Kitab Suci

  1. Membantu jemaat

  1. Bagian-bagian pokok Doa Salam mengajar Kristiani dalam doa Salam Maria

  Perjanjian Baru,

  • Interaktif, - LCD

  Maria tentang Doa memahami Rumusan

  2. Khaire= Salam Salam Maria Resmi “Doa Salam Tafsir Kitab Suci

  3. Kekharitomene=yang - Ceramah - Transparansi, Maria” dikaruniai Perjanjian Baru,

  • Diskusi - Spidol,

  2. Membantu jemaat

  4. Ho Kurios meta Kristiani dalam sou=Tuhan beserta Hendrik. 2002.

  • OHP memaknai Salam engkau

  Menyelami Makna Malaikat Gabriel kepada

  5. Eulogemene su en Maria gunaiksin=diberkatilah Doa Salam Maria. engkau diantara

  3. Membantu jemaat Yogyakarta: Pustaka Kristiani dalam perempuan. memaknai Pujian Nusatama.

  6. Eulogemenos ho Elisabet kepada Maria karpos tes koilias sou=diberkatilah buah kandungmu

7. Hagia Maria=Santa

  96

  

Maria

  8. Meter Theou=Ibu Tuhanku

  9.Proseukhou huper hemon a hamartolon=Perantara orang beriman dengan Yesus

  10. Nun kai en te hora tou thanatou hemon= Skarang dan pada waktu kematian kami.

2. Doa Rosario, Membantu jemaat dalam - Transparansi, Kitab Suci

  1. Sejarah Doa Rosario - Dialog apa dan memahami berbagai

  2. Rosario Yesus Interaktif, Perjanjian Baru,

  • Spidol, bagaimana? macam bentuk cara berdoa

  3. Kaplet Roh Kudus rosario Ceramah - OHP, Tafsir Kitab Suci

  4. Rosario Santa Perawan Maria Diskusi Perjanjian Baru.

  • Macam-macam

  5. Rosario Luka-Luka Yesus bentuk doa Yon Lesek, (2005).

  

6. Koronka

rosario Rahasia Gelar-

  7. Rosario Tujuh Duka

Maria

gelar Maria.

  8. Rosario Tujuh Jakarta: Fidei Press Sukacita Maria Daia. (2004).

  9. Kaplet Santo Mikael

  10. Kaplet Kanak-kanak Berdoa dengan 9

Yesus

Ragam Rosario.

  11. Rosario Jalan Salib Yogyakarta: Pustaka Nusatama

  4. Maria

  1. Peka terhadap Peserta diajak untuk

  1. Mengasah kepekaan -Bercerita - Cerita ”Percaya -Luk 1: 26-38, kehadiran semakin peka terhadap untuk menanggapai dalam

  97

  Hidup Tuhan yang kehadiran Tuhan yang kehadiran Tuhan. -Sharing Kepada Tuhan” Leks Stefan, sehari-hari memberdayakan memberdayakan dalam

2. Pemberitahuan tentang

  • Informasi - Madah Bakti. (2003). Tafsir Injil hidup sehari-hari sehingga kelahiran Yesus Luk semakin setia dan percaya 1:26-38 -Refleksi Lukas. Yogyakarta: kepadaNya

  Kanisius, Warkito, DS; OSX.(1995).

  Pelayanan Lewat Kotbah.Yogyakarta : Kanisius. Warto, PJ.(1994).

  111 Cerita dan perumpamaan bagi para pengkotbah dan Guru.

  Yogyakarta: Kanisius. Haring. Maria dalam Hidup kita sejhari-hari. Ende: Nusa Indah.

  98

  • Yoh 16:1-2
  • Kesulitan-kesulitan yang di hadapi.
  • Sikap yang perlu di ambil dalam menghadapi kesulitan.
  • Tanya jawab
  • Diskusi - Sharing - Informasi -Madah Bakti -Gambar Maria dibawa s
  • KS PB Cerita dan dilampirkan Haring Maria dalam hidup sehari. Yoh. 16:1-2

  99

  2. Kerendahan hati Maria merupakan teladan dalam mengikuti Yesus

  Bersama peserta dapat menghayati kesetiaan Maria kepada Allah dengan bersikap taat, setia, mendengarkan sabda Tuhan dalam hidup sehari-hari Kristiani, yakni aktivitas, refleksi dan kreatifitas. Aktivitas meliputi kegiatan mental dan fisik, kesadaran, tindakan personal dan sosial, hidup pribadi dan publik yang semuanya merupakan medan masa kini untuk perwujudan diri manusia.

  Sedangkan, refleksi menekankan refleksi kritis terhadap tindakan historis pribadi dan sosial dalam masa lampau, terhadap praxis pribadi dan kehidupan bersama masyarakat serta terhadap “tradisi” dan “Visi” iman Kristiani sepanjang sejarah. Dan, kreatifitas merupakan perpaduan antara aktivitas dan refleksi yang menekankan sifat transenden manusia dalam dinamika menuju masa depan untuk praxis baru.

  Refleksi yang dimaksud adalah refleksi kritis. Refleksi kritis merupakan suatu kegiatan manusia yang meliputi tiga unsur: akal budi kritis dalam mengevaluasi masa sekarang yaitu mengerti apa yang nyata dalam masa kini, ingatan kritis dalam menyingkap masa lalu dalam masa sekarang meliputi daya ingatan untuk mengaktifkan masa lampau dengan mengingat apa yang terjadi dalam tindakan dan memberi arti tindakan itu secara pribadi dan sosial dan imaginasi kreatif untuk menghadapi masa depan dalam masa sekarang yaitu menatap ke depan berdasarkan pengalaman masa lampau.

  Harapan masa depan justru menjadi ungkapan harapan atas dasar yang nyata dari masa lampau. Melalui katekese dengan model SCP ini, setiap praksis yang telah dialami dan yang telah direfleksikan secara kritis selanjutnya di-share-kan atau didialogkan bersama dengan para peserta yang lain. Bagian ini lebih dikenal dengan istilah sharing dialog. Dalam sharing dialog bukan hanya dalam arti bahwa peserta harus omong terus menerus dan bergantian dalam suatu pertemuan melainkan para peserta sungguh-sungguh berbagi rasa, pengalaman, pengetahuan serta saling mendengarkan pengalaman orang lain. Dialog dimulai dari diri sendiri dan diungkapkan selaras dengan pengalamannya sendiri dalam suasana penuh persaudaraan dan cinta kasih. Adapun syarat yang perlu diperhatikan antara lain: cinta akan dunia dan manusia yang menjadi dasar berkomunikasi, sikap kerendahan hati mau menerima dan memberi pengalaman pribadi, pengalaman iman yang mendalam yang melibatkan kepercayaan pada manusia lain dengan jujur dan terbuka, suasana yang mendorong peserta katekese untuk memiliki pengharapan akan kekuatan Allah dan dukungan dari sesama. Bijaksana terhadap apa yang mau disharingkan dan yang diterima dari hasil sharing dari orang lain. Sharing terjadi bukan hanya dialog antara peserta saja tetapi diharapkan antara peserta dengan Tuhan. Pemaknaan dari setiap setiap pengalaman yang telah disharingkan dan didialogkan tersebut selanjutnya dilakukan berdasarkan terang tradisi iman Kristiani.

  Tradisi itu sendiri merupakan seluruh pengalaman iman umat dalam bentuk apapun yang sudah terungkap dan yang sudah dibakukan oleh Gereja dalam rangka menanggapi perwahyuan Allah di dunia ini. Tradisi Gereja meliputi seluruh corak kehidupan Kristiani, Kitab Suci, ajaran Gereja resmi, interpretasi/tafsir, penelitian para teolog, ibadat, sakramen, simbol, ritus dan lain sebagainya.

  Di dalam tradisi Kristiani terkandung suatu visi yang hendak dicapai bersama oleh seluruh anggota Gereja semesta. Visi dalam Gereja sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari Tradisi, karena Visi merupakan suatu kenyataan hadirnya manivestasi konkrit dari isi Tradisi. Jadi Visi merupakan manifestasi konkrit dari jawaban manusia terhadap janji Allah yang terwujudkan dalam sejarah atau tradisi.

  Di sini visi Kristiani merupakan kritik atas praksis perbuatannya masa kini, dan yang menjadi ukuran keberimanan manusia serta yang senantiasa terbuka akan masa depan. Melalui konfrontasi antara pengalaman sehari-ahri peserta dengan visi Krsitiani, sebenarnya peserta diajak untuk melakukan suatu interpretasi terhadap keduanya, sehingga keduanya dapat saling memberikan makna bagi perkembangan hidup beriman umat Krsitiani. Interpretasi berarti memperjelas, menafsirkan mengkritik teks dari Tradisi sejauh diungkapkan para ahli dalam rangka membimbing umat guna menemukan kehendak Allah bagi umat dalam hidupnya sehari-hari sehingga umat mampu membedakan dan menegaskan kehendak Allah dalam setiap langkah konkritnya.

  Langkah-langkah dalam proses Katekese dengan Model SCP b. Untuk memahami langkah-langkah katekese dengan model SCP, penulis terinspirasi oleh gagasan Groome (Sumarno, 2006:..). Dalam gagasan tersebut,

  Sumarno menguraikan lima langkah pokok dalam katekese dengan model SCP, yakni: Langkah 0 (Awal) : Pemusatan Aktivitas 1). Pada langkah 0 atau langkah awal pendamping katekese mendorong umat

  (subyek utama) menemukan topik pertemuan yang bertolak dari kehidupan konkret yang selanjutnya menjadi tema dasar pertemuan. Dengan demikian tema dasar sungguh-sungguh mencerminkan pokok-pokok hidup, keprihatinan, permasalahan, dan kebutuhan mereka. Dengan kata lain, langkah ini benar-benar mengajak peserta untuk melakukan pemusatan aktivitas apa yang hendak dibicarakan dalam pertemuan katekese ini. Pemusatan Aktivitas yang dimaksud adalah mengungkapkan keyakinan bahwa Allah senantiasa aktif mewahyukan diri dan kehendak-Nya di tengah kehidupan manusia. Melalui refleksi, sejarah hidup manusia dapat menjadi medan perjumpaan antara pewahyuan Allah dan tanggapan manusia terhadap-Nya. Untuk memfasilitasi peserta, para pendamping iman atau ketekis dapat menggunakan pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari yang akan dibicarakan dalam pertemuan katekese. Adapun macam-macam sarana yang dapat digunakan adalah antara lain: simbol, keyakinan, cerita, bahasa foto, poster, video, kaset suara, film, telenovela dan lain-lain. Yang perlu diperhatikan oleh katekis adalah bagaimana memilih sarana yang cocok agar dalam langkah ini peserta terbantu untuk menemukan dan memilih tema dasar pertemuan. Tema dasar hendaknya sungguh-sungguh mendorong peserta untuk terlibat aktif dalam pertemuan dan konsisten dengan model “Shared Christian

  

Praxis” yang menekankan partisipasi dan dialog serta tidak bertentangan dengan

iman kristiani.

  2). Langkah I: Pengungkapan pengalaman hidup faktual Pada langkah pertama ini, katekis sebagai pendamping pertemuan mengajak para peserta untuk menindaklanjuti apa yang telah dipersiapkan pada langkah 0 di atas. Berdasarkan tema dasar, langkah ini membantu peserta untuk mengungkapkan pengalaman hidup faktual.

  Katekis mengundang peserta untuk mengungkapkan pengalaman masing- masing atau permasalahan (sosekbud) yang sedang dihadapi bersama-sama, tentunya yang sesuai dengan tema dasar yang telah disepakati bersama. Biasanya cara yang dipakai adalah sharing.

  Peserta membagikan (to share) pengalaman hidup yang sungguh-sungguh dialami dan tidak boleh ditanggapi sebagai suatu laporan. Dalam dialog ini peserta boleh diam, karena diam pun merupakan salah satu cara berdialog. Diam tidak sama dengan tidak terlibat. Adapun bentuk share-nya dapat bermacam-macam: dalam bentuk lambang, tarian, nyanyian, puisi, pantomim, dan sebagainya. Yang penting, bentuk itu bisa dimengerti oleh peserta lain dan betul-betul mengungkapkan katekese pertama-tama adalah sebagai fasilitator yang menciptakan suasana pertemuan menjadi hangat dan mendukung peserta untuk membagikan praxis hidupnya berkaitan dengan tema dasar. Kalau peserta banyak, sebaiknya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil; Kedua, merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang jelas, terarah, tidak menyinggung harga diri seseorang, sesuai dengan latar belakang peserta, bersifat terbuka dan obyektif, misalnya: gambarkan atau lukiskan, atau ceritakan apa yang Anda temui, lihat, dengar, dan lakukan. 3). Langkah II: Refleksi kritis atas sharing pengalaman hidup faktual

  Pada langkah kedua ini, katekis mengajak peserta katekese untuk memperdalam pengalaman hidup yang telah di-share-kan pada langkah pertama sampai pada kesadaran kritis. Hal-hal yang perlu diperdalam pada kesempatan ini adalah pertama: pemahaman kritis dan sosial, baik pribadi maupun bersama serta pengalaman hidup yang telah dibentuk oleh sistem sosial yang hidup dalam masyarakat ynag saling berhubungan. Kedua; kenangan analisis dan sosial, yang meliputi penekanan terhadap sejarah hidup peserta, pranata-pranata sosial yang saling membentuk dan mempengaruhi cara hidup peserta serta masyarakatnya.

  Ketiga; imaginasi kreatif dan sosial, yang meliputi: konsekuensi dan tanggung jawab atas tindakan yang telah dilakukan oleh masing-masing pribadi, kesadaran keterlibatan dan solidaritas sosial.

  Dalam langkah memperdalam pengalaman ini, seorang katekis memiliki tanggung jawab sebagai: pertama; penciptaan suasana pertemuan yang menghormati dan mendukung setiap gagasan serta sumbang saran peserta. Kedua, mengundang refleksi kritis setiap peserta; Ketiga, mendorong peserta supaya mengadakan dialog dan penegasan bersama yang bertujuan memperdalam, menguji pemahaman, tapi tidak memaksa; Kelima, menggunakan pertanyaan yang menggali tidak menginterogasi dan mengganggu harga diri dan apa yang dirahasiakan peserta; Keenam, menyadari kondisi peserta, lebih-lebih mereka yang tidak biasa melakukan refleksi kritis terhadap pengalaman hidupnya.

  4). Langkah III: Mengusahakan supaya tradisi dan visi Kristiani lebih terjangkau Langkah ketiga merupakan langkah yang paling pokok karena pada langkah ini peserta diajak oleh pendamping untuk mampu mengkomunikasikan nilai-nilai

  Tradisi dan visi Kristiani dengan pengalaman hidupnya sehingga pengalaman tersebut lebih bermakna Injili. Dalam hal ini, katekis memiliki tugas yang cukup penting, yakni mengangkat tradisi dan visi Kristiani ke tengah-tengah umat atau peserta katekese. Katekis mengungkapkan pewahyuan dan kehendak Allah yang memuncak dalam misteri hidup dan karya Yesus Kristus serta mengungkapkan tanggapan manusia atas pewahyuan tersebut. Adapun sifat pewahyuan ilahi yang perlu diangkat oleh katekis adalah dialogal, menyejarah, dan normatif, seperti terungkap dalam Kitab Suci, dogma, pengajaran Gereja, liturgi, spiritualitas, devosi, seni dalam Gereja, kepemimpinan, dan kehidupan jemaat beriman.

  Walaupun bersifat normatif sedapat mungkin disampaikan secara aktual dan relevan sesuai dengan kebutuhan peserta dengan cara menafsirkannya. Berkaitan dengan hal itu, ketekis bertugas untuk menafsirkan Kitab Suci. Adapun sikap dari katekis pada saat menafsirkan Kitab Suci adalah pertama; menghormati Tradisi dan visi Kristiani sebagai yang otentik dan normatif; Kedua, cara dan isi tafsiran bertujuan memberi informasi dan membantu peserta agar nilai-nilai Tradisi dan visi Kristiani menjadi miliknya. Ketiga, menggunakan metode yang tepat. Pembimbing bisa menggunakan metode kuliah, diskusi kelompok, memanfaatkan produk-produk peserta ke tingkat kesadaran; tidak mengulang-ulang rumusan; tidak bersikap sebagai “guru”, adakalanya bersikap sebagai “murid” yang siap belajar. Kelima, tafsiran dari pembimbing mengikutsertakan kesaksian iman, harapan, dan hidupnya sendiri; Keenam, harus membuat persiapan yang matang dan studi sendiri.

  5). Langkah IV : Interpretasi/tafsir dialektis antara tradisi dan visi kristiani dengan tradisi dan visi peserta.

  Pada langkah kempat, katekis mengajak peserta menemukan bagi dirinya sendiri nilai hidup yang hendak digarisbawahi, sikap-sikap pribadi yang picik yang hendak dihilangkan, dan nilai-nilai baru yang hendak diperkembangkan berdasar nilai Tradisi dan visi kristiani. Dengan kata lain peserta didorong untuk mengintegrasikan nilai-nilai hidup mereka ke dalam Tradisi dan visi kristiani dan mempersonalisasikan serta memperkaya dinamika Tradisi dan visi kristiani dengan pengalaman hidup mereka masing-masing.

  Katekis bersama dengan para peserta mendialogkan hasil pengolahan mereka pada langkah pertama dan kedua dengan isi pokok langkah ketiga. Mereka bertanya, bagaimana nilai-nilai Tradisi dan visi kristiani meneguhkan, mengkritik atau mempertanyakan, dan mengundang mereka untuk melangkah pada kehidupan yang lebih baik dengan semangat, nilai, dan iman yang baru demi terwujudnya Kerajaan Allah. Sebenarnya apa yang diailogkan oleh peserta? Yang didialogkan oleh peserta adalah perasaan, sikap, intuisi, persepsi, evaluasi, dan penegasannya yang menyatakan kebenaran, nilai, serta kesadaran yang diyakini. Adapun cara berdialog peserta adalah dengan tulisan, penjelasan, simbol, atau ekspresi artistik, dsb.

  Cara ini bukan berarti tanpa kendala, beberapa hal perlu dihindari dan ini adalah tugas dari pendamping yang perluy memiliki kejelian dalam memandu. Hal- Subyektivisme yang dimaksud adalah bahwa pendapat peserta dipandang sebagai yang paling benar; sedangkan obyektivisme yang dimaksud dalam hal ini adalah bahwa tafsiran pembimbing sebagai kebenaran satu-satunya.

  Dalam menyikapi kedua hal ini, seorang katekis perlu : pertama; menghormati kebebasan dan hasil penegasan peserta, termasuk peserta yang menolak tafsiran pembimbing; kedua, meyakinkan peserta bahwa mereka mampu mempertemukan nilai pengalaman hidup dan visi mereka dengan nilai Tradisi dan visi Kristiani; ketiga, mendorong peserta untuk merubah sikap dan pendengar pasif menjadi pihak yang aktif; keempat, menyadari bahwa tafsiran pembimbing bukan kata mati; kelima, mendengar dengan hati tanggapan, pendapat, dan pemikiran peserta.

  Langkah V: Keterlibatan baru demi makin 6). terwujudnya Kerajaan Allah di dunia ini Pada langkah yang terakhir ini, pendamping katekese mengajak peserta agar sampai pada keputusan praktis yang dipahami sebagai tanggapan jemaat terhadap pewahyuan Allah yang terus berlangsung di dalam sejarah kehidupan manusia dalam kontinuitasnya dengan Tradisi Gereja sepanjang sejarah dan visi kristiani. Dengan kata lain, peserta diajak untuk memiliki keprihatinan terhadap realitas sosial sehingga semakin terdorong untuk semakin terlibat dan mengusahakan metanoia dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Harapanya adalah peserta mampu mengambil keputusan ke arah yang lebih baik dan tentu saja meskipun masing-masing peserta memiliki fokus perhatian dan kebutuhan yang berbeda tetapi arahnya tetap sama, yakni demi kebaikan bersama.

  Dalam hal peran pendamping: pertama, membantu peserta untuk menyadari hakikat praktis, inovatif, dan transformatif dari langkah ini; kedua, merumuskan sikap optimis yang realistis pada peserta; keempat, pembimbing dapat merangkum hasil langkah pertama sampai keempat, supaya dapat lebih membantu peserta; kelima, mengusahakan supaya peserta sampai pada keputusan pribadi dan bersama; keenam, sebagai penutup peserta diajak merayakan liturgi sederhana untuk mendoakan keputusan.

  Usulan Program Katekese Umat dengan Model SCP B.

  Dalam mengaplikasikan ide atau gagasan yang telah dikemukakan dalam bab- bab sebelumnya, yakni mengenai Kesetiaan Iman Maria yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi usaha meningkatkan kualitas hidup beriman umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan, berikut ini penulis akan mengusulkan program Katekese yang khusus bertemakan Maria.

  Selain sebagai bentuk aplikasi, pada bagian ini juga merupakan suatu usaha dari penulis dalam membantu anggota umat untuk belajar lebih dalam tentang Maria.

  Untuk membantu mengembangkan iman umat di lingkungan St. Ignatius Cokrodiningratan perlu suatu program yang tersusun secara sistematis, teratur dan berkala. Mengingat bahwa pengembangan iman ini sangat penting maka yang perlu diperhatikan adalah: sasaran program, isi dan pemilihan model dalam katekese. Adapun yang menjadi sasaran dari program adalah umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Yogyakarta. Adapun alasan mengapa sasaran ini dipilih adalah berdasarkan hasil penelitian, penulis melihat bahwa kesempatan untuk belajar tentang kesetiaan iman Maria umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan seperti yang diusulkan oleh penulis masih kurang sehingga tidak sedikit umat yang belum memahami kesetiaan Maria walaupun dalam kenyataan mereka sudah melaksanakaannya tetapi ketika ditanya tentang Maria oleh orang lain

  Sedangkan isi program adalah pemahaman dan keteladanan kesetiaan Maria baik yang dikisahkan dalam Kitab Suci maupun yang dialami oleh umat. Dengan belajar dari pengalaman umat mengenai kesetiaan iman Maria, penulis berharap program ini dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan iman umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan. Dalam hal ini Penyusunan program katekese mempunyai peranan yang penting karena program adalah suatu rancangan mengenai asas-asas serta usaha-usaha yang akan dijalankan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988:702). Dalam hubungan dengan meningkatkan kualitas beriman program berarti prosedur yang dijadikan landasan untuk menentukan isi dan urutan acara yang akan dilaksanakan. Supaya usulan penulis ini dapat dipahami lebih jelas, berikut ini adalah matrik program Pendalaman Iman dan satu contoh bentuk persiapan pertemuannya.

1. Contoh Persiapan Katekese Umat dengan Model SCP

A. Identitas 1.

  Judul Pertemuan : Peka terhadap kehadiran Tuhan yang memberdayakan 2. Tujuan : Peserta diajak untuk semakin peka terhadap kehadiran

  Tuhan yang memberdayakan dalam hidup sehari-hari, sehingga semakin setia dan percaya kepadaNya.

  3. Peserta : Umat lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan.

  4. Tempat : Salah satu rumah keluarga 5.

  Waktu : Pukul 19.30- 21.00 WIB 6. Metode :- Bercerita

  • Sharing pengalaman
  • Tanya jawab
  • Diskusi - Refleksi 7.

  Model : Shared Christian Praxis 8. Sarana : Buku Madah Bakti, No.541, Salam Maria. No. 538.

  Perawan pilihan Allah; teks Cerita “Percaya Kepada Allah”, Teks Injil Lukas 1:26-38 9. Sumber Bahan : Injil Lukas 1:26-38, Leks, S. 2003. Tafsir Injil Lukas. Yogyakarta: Kanisius; Wharton, PJ.1994. 111 Cerita & Perumpamaan bagi para Pengkhotbah dan Guru. Yogyakarta: Kanisius.

B. Pemikiran Dasar

  Tidak mudah bagi seseorang untuk peka terhadap kehadiran Tuhan. Apalagi atau di lingkungan masyarakat. Sebagai contoh, apabila dalam keluarga kita suasananya rukun dan semua orang yang ada di dalamnya merasa betah dan bahagia, saling melayani satu sama lain, sebenarnya disitulah Tuhan menghadirkan diri. Kita beranggapan bahwa Tuhan hadir dalam hidup kita melalaui peristiwa-peristiwa yang istimewa dan luar biasa dan itu membawa pengaruh yang luar biasa pula dalam hidup kita.

  Sebenarnya Tuhan hadir dalam hidup kita tanpa dapat kita duga. Bahkan Ia datang seperti pencuri yang tidak kita ketahui kapan datangnya. Dalam Injil Luk 1: 26-38, Maria kedatangan tamu, yaitu Malaikat Gabriel. Malaikat itu diutus oleh Tuhan, datang membawa warta kepada Maria, bahwa Maria akan mengandung.

  Warta tersebut meskipun kelihatan menyenangkan, namun penuh resiko.

  Maka dijelaskan kepada Maria “jangan takut” sebab Allah sendirilah yang berkenan. Maria mencoba mengelak. Namun sekali lagi ditegaskan kepada Maria bahwa Allah akan menyertainya, maka Maria menjadi percaya dan bersedia. Maria melihat bahwa apa yang mustahil di mata manusia, merupakan hal yang biasa bagi Allah.

  Maria berani menanggapi sapaan Tuhan yang hadir melalui malaikat Gabriel, karena ia yakin bahwa apa yang baik bagi Tuhan adalah baik juga bagi dirinya. Sikap Maria ini adalah sikap seorang yang sungguh peka akan kehadiran Tuhan dan rendah hati mau menerimanya, sehingga mempercayakan seluruh hidupnya ke tangan Tuhan. Maka dalam pertemuan kali ini, kita berharap agar semakin peka terhadap kehadiran Tuhan dan rendah hati pula untuk menerima kehendak Allah. Selain itu kita juga percaya, bahwa Ia pasti memberikan yang terbaik bagi kita.

  Dengan menyadari atau peka terhadap kehadiran Tuhan terlebih dalam hidup kita di tengah keluarga. Maupun masyarakat, melalui kehadiran, kebersamaan, dan kerukunan dengan sesama dan lain sebagainya. Kita boleh percaya bahwa Tuhan selalu hadir, menyertai, dan melindungi perjalanan kita sehari-hari. Dalam segala hal terlebih dalam pengalaman kecil dan sederhana kita diharapkan peka terhadap kehadiran Tuhan.

  Dengan bercermin dan meneladani Bunda Maria, ibu Tuhan sendiri, sikap dan semangat itu diharapkansemakin tumbuh dan mewarnai seluruh hidup kita baik dalam keadaan suka maupun duka. Tuhan hadir bukan hanya peristiwa yang menyenangkan, melainkan juga melalui peristiwa-peristiwa yang sudah sering kita alami dan kita anggap sebagai hal biasa-biasa saja dalam hidup kita.

C. Pengembangan langkah-langkah

  Pengantar 1.

  Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, pada malam hari ini kita bertemu kembali sebagai satu keluarga dalam Kristus. Kita sebagai manusia dihargai dan dipilih oleh Allah untuk ikut ambil bagian dalam sejarah keselamatan. Namun, seringkali kita kurang menyadari bahwa manusia yang sungguh berharga di hadapan Allah.

  Dalam hidup sehari-hari kita kurang peka terhadap kehadiran Tuhan, sehingga, membuat kita kurang percaya kepadaNya. Untuk mengawali pertemuan ini marilah kita menyanyikan lagu pembukaan.

  2. Lagu pembukaan Madah Bakti No.541 “ Salam Maria”. (Lih. Lamp. 1)

  3. Doa Pembukaan Allah Bapa yang Maha baik, kami mengucapkan syukur dan terimakasih saat kepada kami. Pada saat ini kami ingin bersama-sama menggali dan mendalami serta merefleksikan pengalaman kami dalam terang sabdaMu tentang sikap peka terhadap kehadiranMu dalam hidup kami, karena kami sungguh percaya pada kehendak-Mu atas diri kami masing-masing. Dengan meneladani sikap iman bunda Maria, ya Tuhan, kami mohon kepadaMu agar selalu memberi semangat dan kekuatan sehingga kami semakin mampu menyadari kehadiranMu dalam hidup kami dan melaksanakan sabdaMu sebagai wujud konkrit kepercayaan kami kepadaMu. Demi Yesus Kristus yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa.

  4. Langkah I : Pengungkapan pengalaman hidup faktual Membagikan teks cerita “Percaya Kepada Allah” kepada peserta.

  a.

  Pendamping memberikan kesempatan kepada peserta membaca dan b. mempelajarinya sendiri. Pendamping meminta seorang peserta menceritakan kembali dengan kata-kata c. sendiri isi pokok dari cerita “Percaya kepada Allah”. Pengungkapan pengalaman : peserta diajak mendalami cerita dengan tuntunan d. pertanyaan-pertanyaan : Apakah pengkhotbah peka terhadap kehadiran Allah dalam cerita tadi?

  1) Ceritakanlah pengalaman bapak/ibu, ketika mengalami bahwa Tuhan hadir

  2) dalam hidup sehari-hari dan bagaimana menanggapi Kehadiran Tuhan dalam hidup?

  

Percaya kepada Allah

  Suatu ketika ada banjir besar melanda suatu daerah dan seorang pengkhotbah berenang ke tempat yang dalam untuk menolong siapa saja sedapat mungkin. Air dan wanita yang terluka. Sebuah sampan datang mendekat dan salah seorang berkata kepada Pengkhotbah itu. “biarlah saya menyelamatkan engkau” pengkhotbah itu berkata, “Ambil dua orang ini Allah akan menyelamatkan saya.” Sampan kedua itupun menjauhi dia. Air naik sampai di dagunya sementara dia berjuang untuk menyelamatkan seorang ibu dan dua anaknya. Sampan lain datang mendekat dan seorang dalam sampan itu berkata, “ Mari, biar saya menyelamatkan engkau.” Pengkhotbah itu berkata lagi, “Selamatkanlah orang-orang malang ini. Allah akan menyelamatkan saya.” Sampan yang kedua itupun menjauhi dia dengan memuat orang lain. Akhirnya air sampai ke kepala pengkhotbah dan dia tenggelam. Tetapi dia menemukan dirinya berada di gerbang mutiara dan Santo Petrus menuntun dia maju ke depan Allah yang mahakuasa. Pengkotbah itu mengatakan, “Tuhan, saya selalu menjalani hidup yang baik, memberi makan kepada yang lapar, menolong para tunawisma, seringkali berdoa, dan mengantar banyak orang untuk percaya kepadaMu. Katakanlah kepadaku, mengapa engkau tidak menolong aku ketika aku berada di tengah banjir itu ?” Tuhan menjawab,”Jangan mempersalahkan aku. Aku telah berbuat segala sesuatu untuk menolong engkau. Bukankah Aku mengirim dua sampan untuk engkau?”

  e. Rangkuman Dalam cerita tadi seorang pengkhotbah mempunyai niat baik dengan menolong orang-orang yang kesulitan karena sedang dilanda banjir. Ada beberapa orang yang berhasil ia selamatkan. Sementara ia sibuk menolong orang lain, air terus saja naik tanpa dapat dibendung. Di sela-sela kesibukannya itu ada dua buah sampan yang datang mendekat untuk menolong dia. Namun, ia tidak mau mendahulukan orang yang tolong agar mereka menolong dia. Banjir semakin besar dan ia tetap bersih keras dengan pendiriannya. Akhirnya air sampai di kepala dan menenggelamkannya. Ketika ia bertemu Tuhan digerbang surga, ia bertanya kepada Allah mengapa ia tidak diselamatkan. Dan dengan lembut Tuhan mengatakan bahwa ia telah berusaha menyelamatkanya dengan mendatangkan dua buah sampan, namun ia mau menanggapinya. Ternyata itulah cara Allah untuk menyelamatkannya.

  5. Langkah II : Mendalami pengalaman hidup faktual

  a. Pengantar Selanjutnya peserta diajak untuk mendalami cerita dengan pertanyaan sebagai

  Mengapa Pengkhotbah tidak peka terhadap kehadiran Allah? 1. Cara-cara apa saja yang bapak/ibu gunakan untuk menanggapi kehadiraan 2. Tuhan dalam hidup!

  b. Rangkuman Dalam cerita tadi ternyata si pengkhotbah tidak peka terhadap kehadiran Tuhan yang hadir untuk menolongnya melalui perantaraan dua orang dengan dua perahunya. Ia tidak peka dan tidak menyadari bahwa Tuhan hadir melui peristiwa kecil seperti itu. Ia mengharapkan Tuhan akan datang sendiri atau membuat suatu mujizat untuk menyelamatkan dirinya.

  Sebaliknya, dalam pengalaman bapak/ibu, Tuhan sungguh hadir. Misalnya jika sakit parah dan dapat disembuhkan dari penyakit itu, kita akan merasa bahagia dan gembira. Kita sungguh mengalami bahwa Tuhanlah yang hadir dan membawa serta memberi kesembuahan bagi kita. Atau, bila hubungan dalam keluarga baik kita menyadari bahwa ternyata Tuhan hadir dan semua anggota keluarga hidup dengan bahagia.

  Langkah III: Mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristiani lebih terjangkau 6. Pengantar a. Pendamping meminta salah seorang peserta untuk membaca perikop Injil

  Lukas 1:26-38. Peserta diberi kesempatan untuk hening sambil merenungkan dan menanggapi pembacaan Kitab Suci dengan bantuan pertanyaan penuntun sebagai berikut:

  Ayat-ayat mana dalam bacaan tadi yang menunjukan kepekaan Maria dalam 1. menanggapi kehadiran Tuhan? Mengapa?

  Sikap apa yang mau ditanamkan dalam perikop tadi sebagai tanda kepekaan 2. kita terhadap kehadiran Tuhan.

  Rangkuman b. Peserta diajak untuk menemukan dan mengungkapkan pesan inti perikop sehubungan dengan dua pertanyaan di atas. Pendamping memberikan interpretasi dari perikop Injil Lukas 1:26-38 dalam hubungannya dengan tema dan tujuan sebagai berikut.Dalam ayat 28 diceritakan bahwa malaikat Gabriel masuk ke dalam rumah Maria dan memberi salam padanya. Malaikat Gabriel berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”. salam tersebut tidak mempunyai makna yang istimewa. Kata salam itu sama seperti kata “Selamat pagi/siang/malam” dalam bahasa Indonesia. Tetapi Maria kebingungan mendengar salam yang biasa itu karena langsung disusul dengan kata “yang dikaruniai”.

  Maria dikaruniai Allah, artinya Maria menjadi manusia pilihannya sehingga diberi peranan dalam sejarah penyelamatan. Kunjungan malaikat sendiri yang berarti Allah menghadirkan diri bagi Maria merupakan bukti pilihannya itu. Ungkapan “Tuhan menyertai engkau” lebih menegaskan apa yang sudah dinyatakan dalam salam tadi: Tuhan sudah ada (hadir), bukan “akan ada” dalam hidup Maria, menyertainya, berkarya dalam dirinya. Ia berkarya dalam hidup Maria secara leluasa. Tetapi kalau Allah menyertai seorang pilihanNya, maka ia tidak hanya melindunginya tetapi terutama menawarkan kepadanya suatu misi.

  Dalam ayat 29 diceritakan bahwa Maria terkejut mendengar perkataan malaikat Gabriel dan bertanya apa arti dari salam itu. Maria bukan wanita yang pura- pura rendah hati, atau kaget karena kunjungan malaikat. Sesungguhnya ia bingung, merasa terkejut karena isi ucapan malaikat yang langsung dipahaminya sesuatu yang sangat misterius. Manusia yang merasa ketakutan berhadapan dengan Allah atau utusanNya ditenangkan dan dihimbau agar mengatasinya dengan penuh percaya.

  Dari dua ayat di atas, terlihat bahwa Maria bingung dan terkejut menanggapi kehadiran Allah. Namun, ia menyadari dan melihat kehadiran Allah itu merupakan wujud Allah yang berkenan menghadirkan diri dalam dirinya. Maria melihat bahwa apa yang mustahil bagi manusia merupakan yang biasa bagi Allah. Maria berani melihat sisi Ilahi dari hidup ini.

  Meskipun dalam ayat selanjutnya (ay.34), Maria bertanya bagaimana caranya nubuat yang diwartakan oleh malaikat kepadanya dapat terjadi, yaitu bahwa ia akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaknya diberi nama Yesus, yang akan menjadi besar, disebut anak Allah yang maha tinggi yang akan menduduki tahta Daud dan menjadi raja atas keturunan Yakub, serta kerajaannya tidak akan berkesudahan (ay. 32-33). Dengan pertanyaannya itu, Maria sesungguhnya menyatakan keyakinannya bahwa itu akan terjadi, tetapi ia masih mempertanyakan caranya, sebab ia masih perawan. Setelah mendengar jawaban malaikat Gabriel, maka Maria berkata “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (ay. 38a) ia menanggapi kehadiran Tuhan dalam hidupnya, Maria siap menjadi hamba Tuhan, artinya ia siap untuk melaksananakan kehendakNya. Ia ingin taat kepada Allah, melekat kepadaNya, dengan seluruh jiwa raganya. Maria pasti sadar bahwa ia menghadapi misteri yang tak terpahami, serupa pelayan/hamba yang disuruh untuk melakukan suatu pesan tanpa diberi penjelasan yang tuntas.

  Kebesaran Maria ada pada penyerahan dirinya secara menyeluruh terhadap tuntutan-tuntutan yang terkandung dalam karya yang dimulai Allah dalam dirinya.

  Sebagai orang beriman sejati, Maria sadar bahwa pelaksanaan kehendak Allah selalu terjadi dalam sejarah dan tidak terbatas pada huruf Kitab Suci. Allah memang selalu menghadirkan diriNya dalam kehidupan manusia. Perikop Injil ini menawarkan sikap peka, pasrah, terbuka, penuh kesadaran, percaya dan penuh iman menanggapi kehadiran Allah. Manusia perlu selalu menyadari bahwa Allah sejak semula telah hadir dalam dirinya. Karena itu, perlulah membuka budi dan pikiran agar senantiasa peka menanggapi kehadiran Allah itu.

  Langkah IV: Interpretasi/Tafsir Dialektis antara Tradisi dan visi Kristiani 7. dengan Tradisi dan visi Peserta Pengantar a.

  Dari awal tadi kita telah mencoba untuk menggali pengalaman kita bersama dalam menanggapi kehadiran Allah dalam hidup kita. Dalam cerita tadi ternyata Pengkhotbah masih kurang peka menanggapi kehadiran Allah. Kita juga kadang- kadang peka, seringkali kita juga kurang menyadari kehadiran Allah dalam hidup kita sehari-hari. Namun Maria dalam perikop Injil tadi, meskipun pada awalnya bingung dan takut menanggapi kehadiran Allah dan kurang peka terhadap kedatangan malaikat Gabriel, tapi akhirnya ia menanggapi kehadiran Allah dalam hidupnya dengan penuh kepercayaan dan menyerahkan seluruh hidup kepadaNya, sehingga rencana keselamatan Allah dapat terwujud. Sebagai bahan refleksi bagi kita, maka kita diajak untuk menemukan jawaban terhadap pertanyaan berikut: Sikap mana yang perlu saya perjuangkan agar semakin peka dan mampu menanggapi kehadiran Allah dalam hidupku?

  Sebagai bahan refleksi atas pengalaman dan pesan injil hari ini kita diajak untuk membangun sikap agar semakin peka dan mampu menanggapi kehadiran Apakah dengan cerita Kitab Suci ini kita semakin disadarkan dan dimampukan 1. untuk senantiasa peka terhadap kehadiran Tuhan dalam hidup kita ?

  Sikap-sikap manakah yang perlu kita Perjuangkan dalam hidup agar kita 2. sungguh-sungguh peka terhadap kehadiran Tuhan dalam hidup kita ?

  b. Pedoman rangkuman Maria dengan teladannya mengajak kita untuk semakin peka dan mampu menanggapi kehadiran Allah dalam hidup kita dengan sikap pasrah, percaya, menyerahkan seluruh hidup kita kepada Allah, dan melaksanakan segala perintah dengan sepenuh hati dan kritis. Kita harus selalu menyadari bahwa sejak awal kehidupan kita Allah telah hadir di dalam diri kita. Oleh karena itu, kita sebagai orang yang beriman kepadaNya dituntut untuk selalu menyadari kehadiran Allah dalam hidup kita, entah di dalam setiap anggota keluarga kita atau sesama yang kita temui setiap hari.

  Kepekaan terhadap kehadiran Allah itu akan mampu menyadarkan kita untuk semakin percaya kepadaNya dan menyerahkan segala persoalan hidup kepadaNya, sehingga kita yakin bahwa Allah akan selalu melindungi dan menyertai kita dalam setiap perjuangan hidup kita. Dengan kepekaan pula kita akan selalu dapat bersyukur atas segala hal yang boleh kita alami. Tuhan tidak pernah berjanji kepada kita bahwa hidup ini akan selalu mudah untuk dijalani namun Ia berjanji akan selalu menyertai perjalanan hidup kita.

  Langkah V: Keterlibatan Baru demi makin Terwujudnya Kerajaan Allah di 8. Dunia

  Pengantar a. Bapak, ibu, saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus, setelah kita sikap Pengkhotbah yang kurang peka menanggapi kehadiran Allah itu, kita diingatkan untuk semakin peka dan mampu menanggapi kehadiran Allah dalam hidup kita, terutama dalam peristiwa hidup yang tak terduga. Demikian pengalaman bapak, ibu, saudara-saudari sekalian dalam menanggapi kehadiran Allah, seringkali pula kita tidak menyadari lalu mengabaikan kehadiran Tuhan itu bagitu saja.

  Dalam Injil Lukas, kita diingatkan kembali melalui keteladanan Bunda Maria untuk semakin peka akan kehadiranNya, percaya kepadaNya, dan melaksanakan kehendakNya dengan sikap tulus, setia, menerima, dan percaya. Dengan demikian kita akan selalu mendapat perlindungan dan penyertaan dari Allah. Maka sikap-sikap itu harus juga menjadi bagian dalam hidup kita. Agar kita mampu mewujudkan kasih Allah dalam hidup kita. Dengan bantuan dan kekuatan dari Allah sendiri kita yakin bahwa hidup kita akan semakin bermakna, jika kita memaknai kehadiran Tuhan dalam hidup kita dengan melaksanakan pekerjaan dan cara hidup yang bermutu. Mempunyai hati yang suci dan terbuka pada kehendak Allah, layak kita perjuangkan sebagai cara pemaknaan hidup.

  Peserta diajak untuk memikirkan niat untuk lebih menghayati sikap peka dalam menanggapi kehadiran Allah dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut: Niat apa yang hendak kita lakukan untuk mewujudkan sikap peka terhadap

  ™ kehadiran Allah bagi sesama? Penutup 9.

  Setelah selesai merumuskan niat peserta diajak untuk menyampaikan doa-doa a. permohonan secara spontan dan diakhiri dengan doa Bapa Kami dengan Pengantar doa sebagai berikut: Bapak, ibu, saudara-saudari yang terkasih, kehadiran Allah dalam diri kita telah mendorong kita untuk memanjadkan doa-doa kepadaNya: Doa Penutup b.

  Allah Bapa yang mahakasih, kami mengucap syukur dan berterimakasih kepadaMu, karena anugerah dan kasihMu yang berlimpah kepada kami. Engkau selalu menghadirkan diri kepada kami, namun kami seringkali kurang menyadari kehadiranMu itu. Dalam pertemuan ini Engkau telah menyadarkan kami untuk semakin peka terhadap kehadiranMu terutama dengan meneladani Bunda Maria yang pasrah, rendah hati, percaya dan menyerahkan diri untuk menanggapi kehadiranMu. Kami mohon curahkan Roh KudusMu ke dalam hati dan pikiran kami, sehingga kami juga mampu menanggapi kehadiranMu dengan hati terbuka dan melaksanakan kehendakMu dalam hidup kami demi kemuliaan namaMu. Demi Kristus Pengantara kami, yang hidup kini dan sepanjang masa. Amin

  c. Lagu Penutup Madah Bakti No. 528 “Terpilih Bunda Maria” ( Lih. Lamp.1)

BAB V PENUTUP Pada bab lima penulis akan menyampaikan kesimpulan dan saran yang diharapkan dapat berguna bagi umat Kristiani, khususnya umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan dalam usaha meningkatkan kualitas hidup beriman dengan belajar dari kesetiaan iman Maria. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan dan studi pustaka tentang kesetiaan iman Maria, penulis dapat

  menarik kesimpulan bahwa kedudukan Maria dalam Gereja memiliki keistimewaan dan umat sendiri kerapkali berdoa dengan perantaraannya, baik dalam bentuk yang sederhana (doa rosario di lingkungan atau pribadi) maupun dalam bentuk yang cukup meriah (Ziarah, Devosi dan lain-lain).

  Berbagai kegiatan doa yang disemangati oleh Spiritualitas Maria yang dilakukan oleh umat Kristiani tertentu memiliki tujuan untuk semakin berkembangnya kualitas hidup beriman jemaat. Tetapi, berkaitan dengan hal itu, kegiatan-kegiatan doa ini kurang didukung dengan wawasan iman yang cukup luas dan mendalam. Terutama dalam memahami Maria. Tidak sedikit umat yang masih belum memahami Maria sesuai dengan yang diajarkan oleh Gereja sendiri. Maka berkaitan dengan hal itu, penulis sadar bahwa umat Kristiani yang demikian perlu mendapat pendampingan dan pembinaan yang cukup intensif agar hidup doa mereka semakin mendalam dan berkualitas. Dan, berdasarkan hasil penelitian di lingkungan St. Ignatius Cokrodiningratan, penulis melihat bahwa kelemahan dalam hal pengetahuan iman inilah yang cukup memprihatinkan. Umat di lingkungan ini kerap memahami Maria sebagai pengabul doa dan bukan pengantara antara Allah dan manusia. Pemahaman ini tentu saja salah kaprah dan perlu ada orang yang meluruskan kesalahkaprahan ini.

  Dengan penjelasan mengenai Maria terutama tentang kesetiaan iman Maria yang ditulis dalam bab III, penulis berharap pengetahuan iman umat di lingkungan ini tentang kesetiaan iman Maria semakin luas dan mendalam. Kesetiaan iman akan Allah akan semakin nampak dalam kata dan tindakan hidup sehari-hari. Kepekaan untuk menyadari kehadiran Allah merupakan bentuk kesetiaan iman seseorang, di mana dengan semakin pekanya hati seseorang maka ia semakin mampu membuka diri pada Allah dan itu artinya kesetiaan iman semakin berkembang.

  Berkaitan dengan hal di atas, pada bab IV penulis memaparkan katekese dengan model SCP agar para pendamping umat (katekis) semakin mampu mendampingi dan memberdayakan umat dalam hidup imannya. Berkaitan dengan apa yang telah ditulis dalam skripsi ini, penulis melihat ada tiga point pokok yang dapat dijadikan sebagai sumbangan pemikiran dalam mewujudkan umat yang memiliki kesetiaan iman pada Allah:

  Umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan merupakan sebagian 1. kecil dari umat Kristiani yang cukup memberikan perhatian terhadap iman kepercayaan Gereja tentang Maria. Maria yang memiliki kedudukan yang istimewa dalam Gereja sedikit banyak telah memberikan warna tersendiri bagi perkembangan hidup beriman umat Kristiani. Tidak sedikit umat yang merasa terbantu, terinspirasi dan mendapat keteladanan khususnya dalam hal kesetiaan iman akan Allah. Kenyataan ini merupakan angin segar bagi Gereja untuk terus-menerus berjuang untuk semakin mengokohkan Kerajaan Allah di dunia ini. Namun, meskipun demikian perlu ada usaha yang terus-menerus pula agar penghayatan hidup iman umat yang terinspirasi oleh kesetiaan iman Maria semakin mendalam dan dewasa. Seperti yang terungkap dalam hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tidak sedikit umat yang belum memahami Maria sesuai dengan yang diajarkan oleh Gereja. Kenyataan ini akan terus menerus terjadi apabila tidak ada usaha yang cukup intensif dari pihak-pihak yang berkepentingan dan memiliki kompetensi lebih di bidang ini.

  Sebagai angota Gereja yang merasa bertanggung jawab terhadap keprihatinan ini, penulis mengusulkan agar pendampingan yang dilakukan terhadap umat dapat dimulai dengan mengenal keadaan awal umat, khususnya dalam hidup doanya. Devosi-devosi kepada Santa Perawan Maria yang selama ini dilakukan umat di lingkungan St. Ignatius Cokrodiningratan ternyata mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan kualitas hidup beriman mereka.

  Adapun bentuk-bentuk devosi yang dirasa membantu mereka adalah novena, ziarah dan doa rosario. Kegiatan ini merupakan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk membangun kehidupan iman mereka selama ini. Gereja sendiri telah memberikan landasan dan pedoman usaha berupa 5 bidang tugas Gereja.

  Maka oleh sebab itu, sedapat mungkin umat Kristiani mampu bergerak dalam kelima bidang tersebut.

  Gereja senantiasa telah merumuskan sedemikian luas dan mendalamnya posisi 2. Maria dalam Tubuh Mistik Gereja. Secara khusus Gereja telah mendeskripsikan Maria sekaligus cara umat memahaminya dalam dokumen- dokumen Gereja seperti Lumen Gentium dan Dei Verbum. Tidak mudah memang memahami ajaran Gereja tentang Maria ini tetapi bukan berarti itu tidak mungkin untuk dipelajari dan dipahami oleh umat Kristiani secara keseluruhan. Maka untuk membantu umat Kristiani yang masih belum mampu memahami Maria secara luas dan mendalam diperlukan orang-orang yang belajar secara khusus tentang hal itu, misalnya saja para alumni IPPAK-USD untuk mensosialisasikan ajaran gereja ini secara intensif. Untuk melakukan sosialisasi atau juga untuk membantu mereka semakin 3. mampu menghayati kesetiaan iman Maria dalam hidup umat Kristiani sehari- hari dapat dilakukan katekese. Sesuai dengan bidang yang di pelajari oleh penulis, yakni ilmu katekese hendaknya katekese yang dilakukan telah dipersiapkan sedemikian rupa dan sedapat mungkin dipersiapkan secara sistematis agar proses katekse lebih efektif. Salah satu model yang dapat dipakai dalam berkatekese adalah model SCP, dimana dengan menggali pengalaman hidup peserta, nilai-nilai luhur Injil dapat terungkap dan umat semakin dekat dengan Allah yang diimaninya.

  B. Saran Sehubungan dengan iman yang diyakini sebagai anugerah Allah yang istimewa, 1. maka iman itu perlu terus menerus disyukuri. Iman perlu dipelihara dan dipupuk agar tumbuh dan berkembang sebagaiman dikehendaki oleh Allah.

  Sebagaimana maria menjadi pendengar dan pelayan Sabda, hendaknya sebagai 2. umat beriman kita juga terus-menerus membangun hidup dengan berlandaskan Sabda Allah.

  Program katekese yang sudah dijabarkan dalam 5 (lima) sub tema, hendaknya 3. dapat dilaksanakan oleh penulis agar semakin mampu memahami sosok Maria dan sekaligus meneladani iman Maria dalam kesetiaannya menjawab panggilan

  Tokoh umat, hal ini pelu suatu kaderisasi bagi para Katekis dan Tokoh umat, agar mereka terlebih dahulu paham dan mengetahui makna dari kesetiaan Iman Maria itu sendiri, sehingga mempermudah mereka untuk memberikan atau memandu katekese yang dilakukan di lingkungan.

  Maria menerima segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya dengan 4. kacamata iman. Maria melihat peristiwa itu dalam rangka penyelamatan Allah. Karena itu hendaknya sebagai umat beriman memperluas pandangan agar dapat mengerti dan memahami sungguh sosok dan peran Maria dalam keseluruhan rencana Allah, melalui buku, dengan membiasakan membaca buku, tekun dan sabar dalam menghadapi setiap peristiwa hidup serta pasrah pada penyelenggaraan Allah yang menyelamatkan.

  

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Saifuddin. (2006). Reliabilitas dan Validitas.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  Bernard, Häring. (1992). Maria dalam Hidup Kita Sehari-Hari. Yogyakarta: Kanisius. Caril, J.B. (1957). Mariologi II. The Bruce Publising Company: Milwaukee. Cristiane, Gaud. Bernard, Descouleurs. (1988). Kisah Maria. Yogyakarta. Kanisius. Daia, Willem. (2004). Berdoa dengan 9 ragam Rosario. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama. Darmawijaya, St. (1994). Maria Bunda Iman Kita. Yogyakarta: Kanisius.

  • . (1997). Yesus Kristus dan Bunda Maria. Yogyakarta: Kanisius.
  • . (2002). Perempuan di Sekitar Yesus. Yogyakarta: Kanisius. Darminta, J. (1994). Maria Bunda Iman Kita. Yogyakarta: Kanisius.
    • . (1995). Dari Madah Maria ke Spiritualitas Gerakan. Yogyakarta:

  Kanisius Eddy Kristiyanto, A. (1987). Maria dalam Gereja. Yogyakarta: Kanisius. Emanuel, Frans, da Santos. (2001). Sejenak Bersama Bunda Maria. Jakarta: Obor. Govaart, Halkes, Tine, Maria Bunda Orang Beriman, Seri Pustaka no.73, Yogyakarta, PUSKAT. Groenen, C. (1998). Mariologi Teologi dan Devosi. Yogyakarta: Kanisius.

  • . (1988). Maria Teladan Para Pengikut Kristus. Rohani. Harun, Martin. (1988). Maria dalam Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. Huber, TH. (1981). Katekese Umat: Hasil pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-

  Indonesia II. Yogyakarta: Kanisius Iswanti. (2003). Kodrat yang Bergerak. Yogyakarta: Kanisius.

  Jacob, T. (1984). Yesus dan Maria, Yogyakarta: Kanisius.

  • . (1987). Gereja Menurut Vatikan II. Yogyakarta: Kanisius. Kirchberger, Georg. SVD (1988). Dogma-dogma tentang Maria. Seri buku pastoralia. XIV. Ende: Arnoldus Leks, Stefan. (1992). Yesus Kristus: Menurut keempat Injil. Yogyakarta: Kanisius Maloney, George.A. (1990). Maria Rahim Allah. Yogyakarta: Kanisius Mardiatmadja. (1985). Beriman dengan Bertanggungjawab. Yogyakarta. Kanisius. Moleong, Lexy. (1991). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

  Nasution, S. (1992). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito. Njiolah, Hendrik. (2002). Menyelami Makna Doa “Salam Maria”. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.

  Patrisius, P. (2006). Jadilah Padaku Menurut PerkataanMu. Yogyakarta: Kanisius. Sukmadinata, Syaodih. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Sukirman, D. (2004). Dokumen Lingkungan: Laporan Kegiatan Umat Katolik Lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan.

  Sumarno, Ds., M. (2005). Pengantar Pendidikan Agama Katolik. Diktat Mata Kuliah Pengantar Pendidikan Agama Katolik Paroki untuk Mahasiswa Semesetr

  VI, Fakultas Ilmu Pendidikan Agama, Universitas Snata Dharma Yogyakarta. Sutrisnaatmaka, A.M. (2003). Segi-segi Hidup Beriman. Manuskrip dalam rangka

  Perayaan Dasawarsa Keuskupan Palangka Raya tanggal 18 Mei 2003

  Tule, Philipus. (2000). Para Perempuan di Sekitar Yesus. Ende: Nusa Indah. Yohanes Paulus II. (1992). Catechesi Tradendae. (R. Hardawirjana, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan thn 1

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Perbandingan kualitas hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan dengan kurang dari 10 bulan
3
63
77
Kerukunan hidup umat beragama di sekolah : studi kasus di SMK Yadika 5 Pondok Aren
2
43
77
Poster lingkungan hidup
1
19
27
Pembangunan aplikasi game edukasi memelihara dan menjaga lingkungan hidup
12
66
110
Makalah kualitas lingkungan hdp berdasar
1
12
9
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Pengaruh pengelolaan ruang terbuka hijau terhadap kualitas lingkungan di kota Surakarta
0
0
20
Strategi kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di Mts negeri 2 Rantauprapat - Repository UIN Sumatera Utara
1
2
99
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi palsi serebral - Perbandingan kualitas hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan dengan kurang dari 10 bulan
0
0
9
2. UU No. 172007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional: “Dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang baik perlu penerapan prinsip- - DOCRPIJM 77bba06195 BAB VIIIBab 8.Akhir.Aspek Sosial dan Lingkungan
0
0
23
Analisis rekonfigurasi jaringan sistem 20 kv bangka untuk meningkatkan kualitas pelayanan pelanggan - Repository Universitas Bangka Belitung
0
0
18
2. UU No. 172007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional: “Dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang baik perlu penerapan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan secara konsisten di segala bidang” 3. Peraturan Presiden No
0
0
32
2. UU No. 172007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional: “Dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang baik perlu penerapan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan secara konsisten di segala bidang” 3. Peraturan Presiden No
0
0
65
2. UU No. 172007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional: “Dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang baik perlu - DOCRPIJM 1501484657BAB VIII ASPEK LINGKUNGAN DAN SOSIAL
0
0
58
Hubungan frekuensi dan intensitas tinitus subjektif dengan kualitas hidup pasien
0
0
8
1.1 Menghargai perilaku beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia dalam kehidupan di lingkungan sekolah, masyarakat, bangsa, dan negara 2.1 Menghargai keluhuran nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa - PROGRAM SEMES
0
1
19
Show more