Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam

Gratis

0
0
121
1 year ago
Preview
Full text

PERNIKAHAN USIA DINI; FAKTOR DAN

  IMPLIKASINYA PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (Studi kasus di Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam

  Oleh: Muhamad Masngudi 21113036

JURUSAN HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARIAH

PERNIKAHAN USIA DINI; FAKTOR DAN

  IMPLIKASINYA PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (Studi kasus di Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam

  Oleh: Muhamad Masngudi 21113036

JURUSAN HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARIAH

  

MOTTO

Inna khusna alaqotika billahi akbaru min ‘awamili najahika:

Sesungguhnya hubungan baikmu dengan Allah lebih utama dari pada

kesuksesanmu

  

PERSEMBAHAN

SkripsiinipenulispeSembahkanuntuk: 

  Kedua orang tua yang senantiasa memberikan doa dan dukungan.

   Keluargaku yang selalu mendukung, mendo'akan dan memberikan segalanya, baik moral maupun spiritual bagi kelancaran studi, semoga Allah senantiasa meridhoinya.  Dosenku, pembimbingku yang setia dan penuh kesabaran membimbingku, serta rekan-rekan mahasiswa IAIN Salatiga.

KATA PENGANTAR

  Alhamdulillahi Rabbil „Aalamiin, puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Robbi yang Maha Rahman dan Maha Rahim yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknyabentuk. Denganpetunjukdantuntunan- Nya, penulismempunyaikemampuanuntukmenyelesaikanskripsi ini.

  Shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Agung Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing kita dari jaman kebodohan menuju zaman yang terang benderang yang penuh dengan ilmu pengetahuan, sehingga dapat menjadikan kita bekal hidup kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.

  Sebagai insan yang lemah dan penuh dengan keterbatasan, penulis menyadari bahwa tugas penulisan ini bukanlah tugas yang ringan, tetapi merupakan tugas yang berat. Akhirnya dengan berbekal kekuatan, kemauan dan bantuan semua pihak, maka penyusunan skripsi dengan judul:

  “PERNIKAHAN USIA DINI; FAKTOR DAN

  IMLIKASINYA PERSPEKTIF HUKUM ISLAM(Studi kasus di Dusun Ngronggo Kelurahan Argomulyo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga)ini bisa terselesaikan.

  Dengan terbentuknya skripsi ini, penulis haturkan banyak terima kasih yang tiada taranya kepada:

  1. BapakDr. H. RahmatHaryadi, M. Pd,selakuRektorInstitutAgama Islam NegriSalatiga.

  2. Ibu Dr. Siti Zumrotun, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Syariah IAIN Salatiga, sekaligus selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan studi dan juga telah memberikan arahan dalam menyelesaikan skripsi.

  3. BapakSukron Ma‟mun, S.H.I.,M.Si.,selaku Kajur Hukum Keluarga Islam.

  4. KetuakelurahankumpulrejoSalatiga.

  5. BapakIbuDosenSyariah IAIN Salatiga.

  6. Orang tuatercintadansemuasaudara-saudaraku.

  7. Dan kepada semua teman-temanku yang sangat membantuku dalam penyelesaian skripsi ini, khususnya Nida Zahra Hana dan Fendy Tri Bachtiar. Atas segala hal tersebut, penulis tidak mampu membalas apapun selain hanya memanjatkan doa, semoga Allah SWT mencatat sebagai amal sholeh yang akan mendapat balasan yang berlipat dari Allah SWT. Aamiin yaa robbal „aalamiin. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini banyak kekurangannya, untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan guna kesempurnaan skripsi ini.

  Akhir kata penulis mengharapkan semoga skripsi ini nantinya dapat bermanfaat, khususnya bagi Almamater dan semua pihak yang membutuhkannya.

  Atas perhatiannya, penulis mengucapkan terima kasih.

  Salatiga, 29September 2017 Penulis

  

ABSTRAK

  Masngudi, Muhamad. 2017. Pernikahan Usia Dini;Faktor Dan Implikasinya

  Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Di Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga) .Skripsi. Jurusan Hukum

  Keluarga Islam. Fakultas Syariah. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Pembimbing: Dr. Siti Zumrotun. M.Ag.

  

Kata Kunci:Pernikahan Usia Dini;Faktor Dan Implikasinya Perspektif Hukum Islam

  Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui hukum Islam terhadap pernikahan usia dini ditinjau dari faktor dan Implikasinya. Pertanyaan utama yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah: (1) Apa faktor-faktor penyebab terjadinya pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo Salatiga?,(2) Bagaimana implikasi pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo, Salatiga?, (3) Bagaimana hukum pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo menurut perspektif hukum Islam?.

  Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka penelitian ini menggunakan pendekatan Sosiologis Yuridis, serta menggunakan jenis penelitian lapangan, yaitu penelitian yang dilakukan di masyarakat itu sendiri atau masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan jenis penelitian ini adalah Penelitian Kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistic atau cara kuantifikasi lainnya.

  Temuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya pernikahan usia dini di dusun Ngronggo, implikasi terhadap pernikahan usia dini di dusun Ngronggo dan bagaimanakah Hukum pernikahan usia dini di dusun Ngronggo menurut hukum islam. Berdasarkan penelitian, faktor pernikahan usia dini dilangsungkan adalah karena faktor pendidikan, kemauan anak, serta faktor agama. Adapun pernikahan usia dini yang terjadi di dusun ngronggo mengakibatkan bertambahnya beban ekonomi kerluarga, rendahnya tingkat pendidikan, serta rumah tangga yang kurang harmonis. Dan apabila ditinjau dengan hukum islam dengan kaidah mafasid muqoddamun ala jalbil fikih „‟dar‟ul

  

masholih‟‟ .(mencegah/menghindari nudhorot harus didahulukan dari pada upaya

  mencari kemaslahatan) maka pernikahan tersebut harus ditekan karena dampak negatifnya lebih besar dari pada dampak positif.

  

DAFTAR ISI

JUDUL...................................................................................................................... i

LEMBAR BERLOGO ............................................................................................ ii

JUDUL...................................................................................................................... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................................................... iv

PENGESAHAN KELULUSAN ............................................................................. v

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .............................................................. vi

MOTTO ................................................................................................................... vii

PERSEMBAHAN .................................................................................................... viii

KATA PENGANTAR ............................................................................................. ix

ABSTRAK................................................................................................................ xi

DAFTAR ISI ............................................................................................................ xii

  BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakangMasalah ................................................................... 1 B. RumusanMasalah ........................................................................... 5 C. TujuanPenelitian............................................................................. 5 D. ManfaatPenelitian........................................................................... 5 E. TinjauanPustaka ............................................................................. 6 F. PenegasanIstilah ............................................................................. 7 G. MetodePenelitian ............................................................................ 9 H. SistematikaPenulisan ...................................................................... 14 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. KonsepPernikahan .......................................................................... 15 a. PengertianPernikahanmenurutHukum Islam............................ 15 b. DasarHukumPernikahanMenurutHukum Islam ....................... 16 c. Syarat Dan RukunPernikahan .................................................. 17 d. HukumMenikahDalam Islam ................................................... 21

  e.

  TujuanPernikahan..................................................................... 23 f. HikmahPernikahanMenurut Islam ........................................... 24 g.

  Batas UmurPernikahanMenurutKonsepFikih .......................... 30

  BAB III HASIL PENELITIAN A. Di GambaranUmumPermasalahanPernikahanUsiaDini DusunNgronggo ............................................................................. 35 B. Di FaktorPenyebabTerjadinyaPernikahanUsiaDini DusunNgronggo ............................................................................. 43 a. FaktorPendidikan ..................................................................... 44 b. FaktorKemauanAnak ............................................................... 44 c. Faktor Agama ........................................................................... 46 C. ImplikasiPernikahanUsiaDini di DusunNgronggo......................... 47 BAB IV ANALISIS TERHADAP PERMASALAHAN PERNIKAHAN USIA DINI DI DUSUN NGRONGGO KELURAHAN KUMPULREJO KOTA SALATIGA MENURUT PRESPEKTIF HUKUM ISLAM A. AnalisisTentangFaktor- FaktorPenyebabTerjadinyaPernikahanUsiaDini di DusunNronggo, KelurahanKumpulrejo, Kota Salatiga.................. 54 a. FaktorPendidikan ..................................................................... 54 b. FaktorKemauanAnak ............................................................... 56 c. Faktor Agama ........................................................................... 56 B.

  di AnalisisTentangImplikasiPernikahanUsiaDini

  DusunNgronggo, KelurahanKumpulrejo Kota Salatiga................. 58

  C. di

  AnalisiTentangHukumPernikahanUsiaDini DusunNgronggoKelurahanKumpulrejo Kota SalatigaMenurutPrespektifHukum Islam ....................................... 61

  BAB V PENUTUP A. Kesimpulan..................................................................................... 69 B. Saran ............................................................................................... 70 C. Kata Penutup .................................................................................. 70

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 71

LAMPIRAN-LAMPIRAN

  

BIODATA PENULIS

BiodataPribadi

  1.TK :Kumpulrejo 02

  3. UKM Bahasa Arab

  IAIN Salatiga 2014-2015 sieKemahasiswaan

  2. SenatMahasiswaFakultasSyari‟ah

  OrganisasiPelajarPondok Modern (OPPM) Gontorsebagaipengurusdapur .

  PengalamanOrganisasi 1.

  3.KMI :Pondok Modern Darussalam Gontor

  2.SD :Kumpulrejo 02

  RiwayatPendidikan

  1. Nama : MuhamadMasngudi 2.

  9. No. Hp : 085726635874

  Alamat : DsnNgronggort 05/04 Kec. Argomulyo salatiga

  Agama : Islam 8.

  Tinggi, BeratBadan : 167cm. 58kg 7.

  Status : Lajang 6.

  Kebangsaan : Indonesia 5.

  TempatTanggalLahir : Kab. Semarang 20 Oktober 1992 4.

  JenisKelamin : Laki-Laki 3.

  IAIN Salatiga (ITTAQO) 2015-2016 SebagaisieLitbangkom

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam bahasa Indonesia, perkawinan berasal dari kata „‟kawin‟‟ yang

  menurut bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis, melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh. Perkawinan disebut juga „‟pernikahan‟‟, berasal dari kata nikah (

  حبكَ) yang menurut bahasa artinya mengumpulkan saling memasukkan, dan digunakan untuk arti bersetubuh (wathi). Kata nikah sendiri sering dipergunakan untuk arti persetubuhan (coitus), juga untuk arti akad nikah (Ghazaly, 2006:7).

  Ghazaly mengutip komentar Sayyid Sabbiq yaitu; perkawinan merupakan salah satu Sunnatullah yang berlaku pada semua makhluk Tuhan, baik pada manusia hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Sebagai jalan bagi manusia untuk beranak pinak, berkembang biak, dan melestarikan hidupnya setelah masing- masing pasangan siap melakukan perannya yang positif dalam mewujudkan tujuan perkawinan. Allah tidak menjadikan manusia seperti makhluk lainnya yang hidup bebas mengikuti nalurinya dan berhubungan secara anarkhi tanpa aturan. Demi menjaga kehormatan dan martabat kemuliaan manusia, Allah mengadakan hukum sesuai dengan martabatnya, sehingga hubungan antara laki-laki dan perempuan diatur secara terhormat dan berdasarkan rasa saling meridhoi, dengan ucapan ijab qobul sebagai lambang adanya rasa saling meridhoi, dan dengan dihadiri para saksi yang menyaksikka bahwa pasangan laki-laki dan perempuan itu telah saling terikat (Ghazaly, 2006:10-11).

  Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai pasanga suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa. Didalam penjelasan ditegaskan lebih rinci bahwa sebagai Negara yang berdasarkan Pancasila, dimana sila yang pertama ialah ketuhanan Yang Maha Esa, maka perkawinan mempunyai hubungan erat sekali dengan agama/kerohanian, sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsure lahir/jasmani, tetapi unsur bathin/rohani juga mempunyai peranan yang penting. Membentuk keluarga yang bahagia rapat hubungan dengan keturunan, yang pula merupakan tujuan perkawinan, pemeliharaan dan pendidikan menjadi hak dan keajiban orang tua (Sudarsono, 1994:9).

  Adapun Sudarsono berpendapat bahwa, tujuan dari pernikahan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Untuk itu suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi, agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan materiil (Sudarsono, 1994:7).

  Sedangkan tujuan perkawinan menurut agama Islam ialah untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia. Harmonis dalam menggunakan hak dan kewajiban anggota keluarga, sejahtera artinya terciptanya ketenangan lahir dan batin disebabkan terpenuhinya keprluan hidup lahir dan batinnya, sehingga timbullah kebahagiaan, yakni kasih sayang antar anggota keluarga. Manusia diciptakan Allah SWT mempunyai naluri manusiawi yang perlu mendapat pemenuhan. Pemenuhan naluri manusiawi manusia yang antara lain kebutuhan biologisnya termasuk aktivitas hidup.

  Jadi aturan perkawinan menurut Islam merupakan tuntunan agama yang perlu mendapatkan perhatian, sehingga tujuan melangsungkan perkawinan pun hendaknya ditujukan untuk memenuhi petunjuk agama. Sehingga kalau diringkas ada dua tujuan orang melangsungkan perkawinan ialah memenuhi nalurinya dan memenuhi petunjuk agama (Ghazaly, 2006: 22-23).

  Berdasarkan beberapa definisi tersebut diatas, dapatlah penulis simpulkan, bahwasanya beberapa tujuan dari pernikahan adalah untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa, menyempurnakan sunnatulah dan memperoleh keturunan.

  Pada dasarnya, hukum islam tidak mengatur secara mutlak tentang batasan usia pernikahan, hanya saja Al- Qur‟an mengisyaratkan bahwa orang yang akan melangsungkan pernikahan haruslah orang yang siap dan mampu, sebagaimana yang disebutkan dalam Qur‟an Surat An-Nuur Ayat 32 yang artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah maha luas pemberian-Nya lagi maha mengetahui.

  Kata layak (kawin) dipahami oleh ulama dengan makna mampu secara mental dan spiritual untuk membina rumah tangga. Begitu pula dengan hadist Rosulullah SAW, yang menganjurkan bagi para pemuda untuk melangsungkan perkawinan dengan syarat adanya kemampuan.

  As-Sayis mengutip pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa anak dianggap baligh jika sudah berumur 18 tahun bagi laki-laki dan 17 tahu bagi perempuan. Sedangkan menurut Imam Syafi‟I dan para pengikut Syafi‟I (Syafi‟iyah) berpendapat bahwa anak laki-laki ataupun perempuan sama-sama telah baligh sewaktu berumur 15 tahun (as-Sayis, 1963: 185).

  Dusun Ngronggo adalah sebuah Dusun di kota Salatiga yang letaknya tidak jauh dari pusat informasi dan pendidikan, akan tetapi kesadaran terhadap hukum masih sangat rendah, hal ini dapat di lihat dengan tingginya kasus pernikahan di usia dini. Apa factor pendorong pernikahan dini terjadi? Bagaimana hukum pernikahan usia dini ditinjau dari hokum islam?

  Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut menganai Faktor dan Implikasi penikahan dini di Dusun Ngronggo, yang mana jika diamati, kondisi latar belakang pasangan nikah dini di Dusun tersebut jauh dari tujuan ideal perkawinan. Untuk analisis lebih dalam maka penulis akan melakukan kajian lebih lanjut mengenai persoalan tersebut, yang akan dituangkan dalam sebuah karya ilmiah, dengan judul

  “Pernikahan usia dini; Faktor dan Implikasinya Prespektif Hukum Islam (Studi Kasus di Dusun Ngronggo, Salatiga)”

B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, maka dapatla penulis rumuskan pokok masalah yang akan dibahas dan dianalisis diantaranya:

1. Apa faktor-faktor penyebab terjadinya pernikahan usia dini di Dusun

  Ngronggo, Salatiga? 2. Bagaimana implikasi pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo, Kelurahan

  Kumpulrejo kecamatan Argomulyo Kota Salatiga ? 3. Bagaimana hukum pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo menurut prespektif hukum Islam?

C. Tujuan Penelitian

  Adapun tujuan dari penelitan yang dilakukan ini adalah sbagai berikut: 1.

  Mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya pernikahan usia dini, khususnya di Dusun Ngronggo, Salatiga.

  2. Mengetahui bagaimana implikasi pernikahan usia dini dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat Dusun Ngronggo, Salatiga.

  3. Mengetahui akibat dari pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo, Salatiga menurut prespektif hokum Islam.

  D. Manfaat Penelitian

  Kegunaan atau manfaat penelitian dalam penelitian ini yaitu adalah secara teoritis dan secara praktis sebagai berikut ini:

  1. Kegunaan Teoritis Kegunaan teoritis tersebut diharapkan berguna sebagai sumbangan pemikiran untuk masyarakat dusun Ngronggo agar lebih berhati-hati dalam melaksanakan pernikahan, dan dapat menambah wawasan terhahadap Mahasiswa Hukum Keluarga Islam dalam memahami tujuan menikah dan aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan terutama dalam hal usia dan kesiapan para calon mempelai baik dari segi materi ataupun nonmateri.

  2. Kegunaan Praktis Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menambahkan kontribusi dan dapat berguna dalam penerapan suatu ilmu pengetahuan.

  E. Tinjauan Pustaka

  Tinjauan pustaka pada dasarnya adalah untuk menentukan apa yang telah diteliti oleh peneliti lain yang berhubungan dengan topic penelitian yang akan dilakukan. Hal tersebut diharapkan di dalam penelitian sejenis ini tidak memperoleh duplikasi atau kemiripan yang mutlak dengan penelitian orang lain.

  Penelitian yang dilakukan oleh Uswatun Hasanah pada tahun 2005 yang berjudul „‟Pernikahan Dini‟‟ (Study Kasus Di Kecamatan Ngawen Kabupaten

  Klaten 2000- 2004)‟‟. Dalam skripsi tersebut lebih menekankan pada pengertian

  pernikahan dini dan batas usia menurut hukum positif dan hukum islam.

  Terdapat juga penelitian yang berjudul

  „‟Pengaruh Perkawinan Dini

Terhadap Perilaku Pasangan Suami Istri Di Desa Pepe Kecamatan Tegowanu

Kabupaten Grobogan‟‟. Yang diteliti oleh Nika Supriyanti tahun 2003. Pada

  skripsi oleh Nika Supriyanti tersebut lebih membahas tentang perubahan perilaku pasangan perkawinan dini dalam hal tanggung jawab setelah melangsungkan perkawinan.

  Sedangkan pada penelitian yang peneliti tulis lebih mengfokuskan terhadap faktor dan implikasi dari pernikahan usia dini, dan bagaimana hukum pernikahan usia dini tersebut prespektif hukum islam.

F. Penegasan Istilah

  Untuk mempermudah proses pemahaman dan kejelasan judul diatas untuk itu peneliti perlu dalam memberikan penegasan dan batasan terhadap istilah-istilah dalam judul penelitian ini, antara lain sebagai berikut: 1.

  Pernikahan Menurut Junaedi, kata nikah atau ziwaj adalah bahasa Arab yang dalam bahasa

  Indonesia diartikan “kawin”. Sedangkan menurut istilah yang disepakati, nikah atau perkawinan adalah akad nikah yang ditetapkan oleh syara bahwa seorang suami dapat memanfaatkan dan bersenang-senang dengan kehormatan/kemaluan seorang istri dan seluruh tubuhnya (Dedi Junaedi, 2001 :3).

  Sedangkan menurut Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 disebutkan bahwa : “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa. Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya.

  2. Usia dini Dini adalah kata yang berkaitan dengan waktu diartikan awal waktu, sedangkan yang dimaksud dengan pernikahan usia dini adalah pernikahan yang dilakukan dibawah usia yang seharusnya serta belum siap dan matang untuk melaksankan pernikahan dan menjalani kehidupan rumah tangga (Nukman, 2009).

  3. Faktor Hal (keadaan, peristiwa) yang ikut menyebabkan (mempengaruhi) terjadinya sesuatu.

  4. Implikasi Keterlibatan atau keadaan terlibat.

  5. Hukum islam Menurut Amir Syarifudin yang di kutip oleh Atang Abd Hakim, hukum ialah seperangkat peraturan tentang tindak-tanduk atau tingkah laku yang diakui oleh suatu negara atau masyarakat serta mengikat dan diberlakukan bagi masyarakat. Makna ini selanjutnya disandarkan kepada kata Islam, sehingga hukum Islam berarti, seperangkat peraturan berdasarkan wahyu Allah SWT dan Sunnah Rasulullah saw tentang tingkah laku manusia mukallaf yang di akui dan diyakini berlaku serta mengikat untuk semua umat yang beragama Islam (Hakim, 2011:29).

G. Metode Penelitian

  Dalam penyusunan skripsi tentang pernikahan diusia dini pada Masyarakat Dusun Ngronggo, Kota Salatiga, penysun menggunakan beberapa metode penelitian, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Jenis penelitian

  Pada penelitian ini, penulis akan menggunakan pendekatan kualitatif, di sini memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan-satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia, atau pola-pola yang dianalisis gejala-gejala social budaya dengan menggunakan kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan untuk memperoleh gambaran menganai pola-pola yang berlaku.

  Penelitian ini adalah Studi kasus, seperti yang telah diterangkan di atas bahwasanya penulis akan melaksanakaan observasi dan wawancara langsung pada obyek kajian sehingga tentu peneliti berada pada lapangan bersama narasumber yang ada. Adapun untuk lokasi penelitian yaitu berada di Dusun

  Ngronngo Kec. Argomulyo Kota. Salatiga. Peneliti akan mempelajari fakto- faktor dan implikasi pernikahan di usia dini yang ada di Dusun Ngronggo, Salatiga. Studi kasus adalah suatu gambaran hasil penelitian yang mendalam, dan lengkap, sehingga dalam informasi yang disampaikannya tampak hidup sebagaimana adanya dan pelaku-pelaku mendapat tempat untuk memainkan peranannya (Ashshofa, 1996: 21)

  2. Sifat Penelitian

  Sifat penelitian ini adalah deskriptif analitis, yakni memberikan atau uraian (Ronny, 2003: 53) tentang faktor dan implikasi pernikahan usia dini. Data-data yang ada kemudian dianalisis sehingga menemukan sebuah kesimpulan.

  3. Metode Pengumpulan Data

  Dalam teknik pengumpulan data penulis menggunakan beberapa teknik yakni : a.

  Wawancara Wawancara (interview), yaitu cara memperoleh data dengan menelusuri data, dengan menggunakan wawancara bebas terpimpin yang mana peneliti bebas mengadakan wawancara dengan tetap berpijak pada catatan mengenai pokok-pokok yang akan ditanya, sehingga masih memungkinkan adanya variasi-variasi pertanyaan yang disesuaikan dengan situasi ketika wawancara dilakukan (Hadi, 1994: 193). Dalam penelitian ini penulis melakukan tanya jawab langsung kepada pihak yang bersangkutan dalam hal ini; pihak ketua Rt, ketua Rw dan suami atau istri yang melakukan praktik pernikahan pada usia dini, sebagai pelaku sosial yang mengetahui kondisi sosial dari gejala tersebut untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya sesuai dengan rumusan masalah.

  b.

  Observasi Observasi adalah suatu istilah umum yang mempunyai arti semua bentuk penerimaan data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukurnya, dan mencatatnya. Observasi adalah suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang berstandar (Arikunto, 2008: 223).

  c.

  Dokumentasi Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda da sebagainya (Nastangin, 2012:15).

  Dalam penelitian ini, dokumentasi yang dimaksud adalah pengambilan beberapa fenomena keluarga dan prosesi penelitian baik itu wawancara maupun observasi.

4. Pendekatan Masalah a.

  Pendekatan Sosiologis

  Pendekatan sosiologis yaitu pendekatan yang dasar tujuannya adalah permasalahan-permasalah yang ada dalam masyarakat. Dalam kaitannya dengan masalah, faktor, dan implikasi pernikahan usia dini, maka pendekatan ini digunakan untuk mengetahui realitas yang ada di masyarakat yang mana masih banyak masyarakat yang melakukan pernikahan usia dini, seperti yang terjadi di Dusun Ngronggo kota Salatiga.

  b.

  Pendekatan Yuridis Pendekatan yuridis yaitu cara pendekatan yang berorientasi pada gejala-gejala hukum yang bersifat normatif untuk lebih banyak bersumber pada pengumpulan data kepustakaan. Melalui pendekatan ini diharapkan sebagai usaha untuk mempelajari ketentuan perundang-undangan, peraturan-peraturan lain, maupun pemikiran yang berkaitan dengan pelaksanaan pernikahan usia dini (Soekamto, 1992: 263)

5. Sumber Data

  Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a.

  Data primer Data primer yaitu data yang diperoleh dari berbagai sumber, data yang diperoleh langsung dari penelitian, termasuk apa yang di dengar dan disaksikan sendiri oleh penulis.

  1) Informan

  Adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasinya tentang situasi dan kondisi latar belakang penelitian. Jadi seorang informan harus memeiiki banyak pengalaman tentang latar belakang penelitian. Seorang informan berkewajiban secara suka rela menjadi tim anggota penelitian walaupun hanya bersifat informal, sebagai anggota tim dengan kebaikanya dan kesukarelaanya ia dapat memberikan pandangan dari segi orang dalam, tentang nilai-nilai, sikap, bangunan, proses dan kebudayaan yang menjadi latar penelitian setempat (Moleong, 2002: 90). Dalam penelitian ini adalah Ketua RT dan RW yang faham dengan realita warganya.

  2) Dokumen Adalah setiap bahan tertulis ataupun film (Nastangin, 2012:13).

  Sumber tertulis dapat terbagi atas sumber buku dan majalah ilmiah, sumber arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi (Nastangin, 2012:13). Dalam penelitian ini setiap bahan tertulis berupa data-data maupun surat-surat keterangan baik itu berupa KTP, KK, akta kelahiran, Surat Kematian suamidan lain sebagainya yang ada di dalam keluarga dari seorang perempuan yang membina keluarganya yang berkaitan dengan penelitian.

  b.

  Data sekunder

  Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari sumber lain, hasil kajian buku-buku karya Ilmiah serta peraturan perundang-undangan yang erat kaitannya dengan penelitia ini adalah sebagai berikut : 1)

  Undang-undang yang mengatur tentang pernikahan 2)

  Buku-buku yang berkaitan dengan penelitian ini 3) Arsip-arsip yang mendukung.

  6. Analisis Data

  Setelah data terkumpul kemudian data tersebut dianalisis seperlunya agar diperoleh data yang matang dan akurat. Dalam penganalisaan data tersebut penulis menggunakan analisa kualitatif yaitu: analisis untuk meneliti kasus setelah terkumpul kemudian disajikan dalam bentuk uraian (Moeloeng, 2011: 288).

H. Sistematika Penulisan

  Sistematika penulisan merupakan rencana outline penulisan skripsi yang akan dikerjakan. Untuk memudahkan dalam pembahasan dan pemahaman yang lebih lanjut dan jelas dalam membaca penelitian ini, maka penulis menyusun sistematika penelitian dengan garis besar sebagai berikut:

  BAB I: Pendahuluan. Adapun didalamnya berisi tentang: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, Tinjauan Pustaka, Penegasan Istilah, metode penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.

  BAB II: Tinjauan umum yang menjadi landasan teori tentang pernikahan diusia dini, yaitu: tinjauan umum tentang Pernikahan menurut Hukum Islam. BAB III: Bab ini berisi tentang gambaran umum tentang pernikahan dini; faktor dan implikasi pernikahan dini. BAB IV: Analisis penulis menganai kasus pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo, Salatiga ditinjau menurut prespektif Hukum Islam. BAB V : Penutup. Bab ini berisi terkait kesimpulan tentang jawaban atas pokok masalah yang diangkat, saran, dan penutup.

BAB II TINJAUAN UMUM A. Konsep Pernikahan Menurut Hukum Islam a. Pengertian Pernikahan Menurut Hukum Islam Istilah nikah diambil dari bahasa Arab, yaitu Nakaha-yankihu-nikaahan

  yang mengandung arti nikah atau kawin. (Yunus. 190:467) dalam Kitab

  I‟anatu Atthalibin, Muhammad Syata Addimyati menjelaskan bahwa Nikah

  menurut bahasa ialah: عًجنا ٔ ىضنا خغن حبكُنا yang artinya: nikah menurut bahasa adalah berhimpun atau berkumpul.( Addimyati.t.t:254) Sementara itu

  Abdurrohman Al-Jaziri di dalam kitabnya al-

  Fiqh „alaa Madzahibi al- „Arba‟ah mengemukakan bahwa, nikah secara bahasa ialah: ىضنا ءطٕنا خغن حبكُنا

  yang artinya nikah menurut bahasa ialah wath‟I (hubungan seksual) daan berhimpun (Al-Jaziri.t.t:1) Kemudian secara istilah Nikah dapat didefinisikan sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syafi‟i, Pengertian Nikah secara syara‟ ialah:

  بًْبُعي ٔا جئزت ٔا حبكَا ظفهث ئطٔ كهي ًٍضتي دق Artinya:

  “Ada kalanya suatu akad yang mencakup kepemilikan terhadap wath‟I dengan lafadz inkah atau tazwij atau dengan menggunakan lafadz yang semakna dengan keduanya‟‟(Al-Mahalli.t.t:3)

  Kemudian menurut Imam Hanbali pengertian Nikah secara syara‟ ialah:

  عبتًتسلإا خعفُي يهعجئزت ٔا حبكَا ظفهث دقع

  Artinya:

  “Suatau akad yang dilakukan dengan menggunakan lafadz inkah atau tazwij untuk mengambil manfaat kenikmatan (kesengan)‟‟. (Al- Mahalli.t.t:4)

  Pernikahan adalah suatu akad syar‟i (ikatan keagamaan) yang dianjurkan syara‟ (Ash-Shiddieqy. 1978:264 ) Dalam KHI pasal 2 menyatakan bahwa perkawinan menurut hukum islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat ata miitsaaqan gholiidhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah (Abdurrohman.1992:114)

  Dari pengertian diatas dapat diambil pengertian bahwa pernikahan adalah akat yang sangat kuat yang mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan seksual dengan lafadz nikah dan kata-kata yang seksama dengannya untuk membina rumah tangga yang sakinah dan menaati perintah Allah SWT yang mana melakukannya merupakan ibadah.

  Berdasarkan uraian diatas, jelaslah terlihat bahwa pengertian Nikah menurut istilah (syara‟) yang dikemukakan oleh para ulama yang bermuara pada satu konteks akad yang menghalalkan hubungan biologis.

  Dalam KHI, Pernikahan itu didefinisikan sebagai salah satu akad yang sangat kuat mitsaaqon Gholiidhon untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. (Depag RI. t.t:19) b.

   Dasar Hukum Pernikahan Menurut Hukum Islam

  Salah satu ayat al- Qur‟an yang dijadikan dasar hokum anjuran untuk melaksanakan pernikahan adalah sebagai berikut:

  اًجا َو ْزَأ ْمُكِسُفنَأ ْنِّم مُكَل َقَلَخ ْنَأ ِهِتاَياَء ْنِم َو َّنِإ ًةَمْحَر َو ًةَّد َوَّم مُكَنْيَب َلَعَج َو اَهْيَلِإ اوُنُكْسَتِّل َنوُرَّكَفَتَي ٍم ْوَقِّل ٍتاَيَلأ َكِلَذ يِف

  Artinya: Dan diantara tanda kekuaasaanya Dia telah menjadikan dari dirimu

  sendiri pasangan kamu, agar kamu hidup tenang bersamanya dan Dia jadikan rasa kasih sayang sesama kamu. Sesungguhnya dalam hal itu

menjadi pelajaran bagi kaum yang berfikir ( Ar-Ruum:21).

  Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa Allah menciptakan pasangan manusia dari jenisnya sesama manusia, supaya manusia bisa berkembang biak mendapatkan keturunan serta memiliki keluarga tempat mencurahkan kasih sayang bersama pasangan dan keturunannya.

c. Syarat dan Rukun Pernikahan Menurut Hukum Islam

  Menurut syara‟, Fuqoha‟ telah banayak memberikan definisi.Secara umum diartikan akad zawaj adalah pemilikan sesuatu melalui jalan yang disyariatkan dalam agama.Tujuannya menurut tradisi manusia dan menurut syara‟ adalah menghalalkan sesuatu tersebut. Akan tetepi ini bukalah tujuan perkawinan yang tertinggi dalam syariat islam. Tujuan yang tertinggi adalah memelihara regenerasi, memelihara gen manusia, dan masing-masing suami istri mendapatkan ketenangan jiwa karena kecintaan dan kasih sayangnya dapat disalurkan. Demikian juga pasangan suami istri sebagai tempat peristirahatan di saat-saat lelah dan tegang, keduanya dapat melapiaskan kecintaan dan kasih sayangnya selayaknya sebagai suami istri.(azzam 2003:36) Pernikahan adalah tiang keluarga yang teguh dan kokoh didalamnya terdapat hak-hak dan kewajiban yang sacral dan religius, seseoramg akan merasa adanya tali ikatan suci yang membuat tinggi sifat kemanusiaannya, yaitu ikatan rukhani dan jiwa yang membuat ketinggian derajat manusi dan menjadi mulia dari pada tingkat kebinatangan yang menjalin cinta syahwat antara jantan dan betina. Bahkan hubungan pasangan suami istri sesungguhnya adalah ketenangan jiwa, kasih sayang dan memandang.

  Dalam bukunya Fiqih Ala al-Madzahibi Al- Arba‟ah Abdurrohman al

  Jaziri menyebutkan syarat dan rukun untuk melaksanakan perkawinan harus ada (2003:17) a.

  Shighot (ijab qobul) b.

  Wali nikah c. Calon suami d.

  Calon istri e. saksi Al-Quran menjelaskan batas seseorang dibebani hukum adalah ketika sudah baligh, seperti yang nditerangkan ayat dibawah ini:

  ْمُكَل ُلله ُنِّيَبُي َكِلَذَك ْمِهِلْبَق نِم َنيِذَّلا َنَذْئَتْسا اَمَك اوُنِذْؤَتْسَيْلَف َمُلُحْلا ُمُكنِم ُلاَفْطَلأْا َغَلَب اَذِإ َو ٌميِكَح ٌميِلَع ُلله َو ِهِتاَياَء

  Artinya:Apabila anak-anak kecil itu sudah cukup umur, maka hendaklah

  meminta izin sebagaimana orang dewasa meminta izin, demikianlah Allah menjelaskan hukum-hukum-Nya kepadamu, dan Allah itu Maha Mengetahui lagi Maha Hakim. (QS. An-Nuur:59) Wa idza balaghal ath- faalu minkumul huluma fal yasta’dzinuu ka

masta’dzanaaal la-dziiina min qoblihim: apabila anak-anak kecil itu sudah

  cukup umur, maka hendaklah meminta izin sebagaimana orang dewasa meminta izin.

  Apabila anak kecil itu, baik anak-anakmu sendiri ataupun anak-anak kerabatmu, telah cukup umur, yaitu telah berumur 15 tahun atautelah bermimpi, hendaklah mereka meminta izin kepadamu untuk masuk ketempatmu disegala waktu, tidak hanya waktu yang tiga sebagaimana orang- orang dewasa yang lain harus berbuat demikian, baik anak-anak sendiri atau kerabat.

  Allah menjelaskan hukum anak-anak yang telah sampai umur, dan tidak menjelaskan hukum budak.Padahal dalam ayat sebelumnya Allah menenrangkan budak belian dan anak-anak. Karena hukum budak baik kecil ataupun besar adalah sama. Yaitu harus meminta izin untuk memasuki kamarmu pada tiga waktu dan tidak meminta izin untuk waktu yang lain.

  Firman Allah ini member peringatan bahwa membebani seseorang dengan hukum-hukum syariat adalah apabila orang tersebut telah sampai umur, dan sampai umur itu adalah dengan mimpi (lelaki bermimpi mengeluarkan sperma) atau dengan tahun (umur 15 tahun), anak-anak yang telah sampai umur tidak boleh memasuki kamar orang tuanya tanpa izin terlebih dahulu, sama dengan oraang lain.

  Semua ulama menetapkan bahwa bermimpi itu disertai izal (keluar sperma) yang menjadi tanda telah mencapai umur bagi anak lelaki. Yang dimaksud dengan „‟bermimpi‟‟ disini sebenarnya adalah hasil izal, baik waktu terjaga maupun waktu tidur, dengan bermimpi atau bukan. Oleh karena menurut kebiasaan hal itu menjadi sewaktu tidur, maka dipakai kata „‟mimpi‟‟(Ash-Shiddieqy. 2000:2847).

  Sedangkan yang dimaksud tiga waktu adalah setelah solat isya, sebelum fajar dan waktu dzuhur karena menurut kebiasaan pada waktu itu adalah waktu dimana perempuan atau isteri-isteri tidak menutup aurot secara keselurahan baik dikarenakan untukn memenuhi tugas melayani suaminya ataupun hal diluar yang demikian.

  Selain baligh dalam Qur‟an Surat An-Nuur ayat 32 juga menyebutkan kemampuan berumah tangga sebagai salah satu hal yang perlu dipertimbangkan seseorang untuk menikah.

  نِم ُلله ُمِهِنْغُي َءآَرَقُف اوُنوُكَي نِإ ْمُكِئآَمِإ َو ْمُكِداَبِع ْنِم َنيِحِلاَّصلا َو ْمُكنِم ىَماَيَلأْا اوُحِكنَأ َو ٌميِلَع ٌعِسا َو ُلله َو ِهِلْضَف

  Artinya: dan nikahkanlah orang-orang yang tidak mempunyai isteri dan atau

  tidak mempunyai suami diantara kamu serta orang-orang yang mampu mendirikan rumah tangga diantara budak-budakmu yang lelaki dan budak-budakmu yang perempuan. Jika mereka dalam

keadaan miskin. Allah akan memberikan kecukupan dengan

keutamaan-Nya. Allah itu Maha luas rahmat-Nya lagi Maha

Mengetahui.(QS. An-Nuur:32) Wash shaalihiina min ‘ibaadikum wa imaa-ikum: serta orang-orang

  yang mampu mendirikan rumah tangga diantara budak-budakmu yang lelaki dan budak-budakmu yang perempuan.

  Nikahkanlah budak-budakmu, baik lelaki ataupun perempuan, yang sanggup berumah tangga, sanggup memenuhi hak suami, sehat badan (fisik), berkecukupan, serta dapat melaksanakan hak-hak agama yang wajib bagi mereka (Ash-Shiddieqy, 2000:2821).

  Namun alquran juga menjelaskan tentang syarat melakukan pernikahan bukanlah sekedar sampai batas usia minimal melainkan juga mempertimbangkan faktor diluar usia seperti kesanggupan berumah tangga, kesanggupan memenuhi hak suami maupun istri, sehat badan (fisik), berkecukupan, serta dapat melaksanakan hak-hak agama yang wajib bagi mereka.

d. Hukum Menikah dalam Islam Wajib

  Bagi yang sudah mampu kawin, nafsunya telah menDusunk dan takut terjerumus dalam perzinaan wajiblah kawin karena menjauhkan diri dari yang haram adalah wajib, sedang untuk itu tidak dapat dilakukan dngan baik kecuali dengan jalan kkawin. Kata Qurtuby: orang bujangan yang sudah mampu kawin dan takut dirinya dan agamnya jadi rusak, sedang tak ada jalan untuk menyelamatkan diri kecuali dengan kawin, maka tak ada perselisihan pendapat tentang wajibnya ia kawin.

  Jika nafsunya telah menDusunknya, sedangkan ia tidak mampu membelanjai isterinya, maka Allah nanti akan melapangkan rizkinya.

  Sebagaimana Firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 33 yang artinya : “hendaklah orang-orang yang tidak mampu kawin menjaga dirinya sehingga nnati Allah mencukupkan mereka dengan karuniaNya”.

  Sunnah

  Adapun bagi orang yang nafsunya telah menDusunk lagi mampu kawin, tetapi masih mampu menahan dirinya dari berbuat zina, maka sunnahlah dia kawin. Kawin baginya lebih utama dari bertekun diri dalam ibadah, karena menjalani hidup sebagai pendeta sedikitpun tidak dibenarkan islam. Baihaqy meriwayatkan Hadist dari Abu Umamah bahwa Nabi SAW bersabda: “kawinlah kalian, karena aku akan membanggakan banyaknya jumlah nkalian pada umat-umat lain. Dan janganlah kalian seperti pendeta- pendeta nasrani”.

  Haram

  Bagi seseorang yang tidak mampu memenuhi nafkah batin dan lahirnya kepada isterinya serta nafsunyapun tidak menDusunk, haramlah ia kawin. Al-Qurthuby berkata:

  ”Bila seorang laki-laki sadar tidak mampu membelanjai isterinya atau membayar maharnya atau memenuhi hak-hak isterinya, maka tidaklah boleh ia kawin, sebelum ia dengan terus terang menjelaskan keadaanya kepadanya. Atau sampai datang saatnya ia mampu memenuhi hak-hak isterinya. Begitu pula kalau ia karena suatu hal menjadi lemah, tak mampu menggauli isterinya, maka wajiblah ia menerangkan dengan terus terang agar perempuanya tidak tertipu olehnya”.

  Sebaliknya bagi perempuan bila ia sadar tidak mampu untuk memenuhi hak-hak suaminya, atau ada hal-hal yang menyebabkan dia tidak bisa melayani kebutuhan batinnya, karena sakit jiwa atau kusta atau mukanya bopeng atau penyakit lain, wajiblah ia menerangkan semua itu kepada laki- lakinya, ibarat seperti seorang pedagang yang wajib menerangkan keadaan barang-barangnya bila ada aibnya.

  Makruh

  Makruh kawin bagi seorang yang lemah syahwat dan tidak mampu member belanja isterinya, walapun tidak merugikan isteri, karena ia kaya dan tidak mempunyai keinginan syahwat yang kuat. Juga bertambah makruh hukumnya jika karena lemah syahwat itu dia berhenti dari malakukan suatu ibadah atau menuntut sesuatu ilmu.

  Mubah

  Dan bagi laki-laki yang tidak terDusunk oleh alsan-alasan yang mewajibkan segera kawin atau karena alasan-alasan yang mengharamkan untuk kawin, maka hukumnya mubah (sabiq, 1990:25).

e. Tujuan Pernikahan Menurut Hukum Islam

  Dala m Qur‟an Surat Ar-Ruum ayat 21 disebutkan dan diantara tanda- tanda kekuasaann-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya untukmu rasa kasih dan sayang. Pernikahan tidak hanya sekedar bertujuan untuk menghalalkan hubungan seksual yang bersifat biologis semata, tetapi juga untuk untuk memenuhi keburuhan kehidupan berumah tangga baik secara lahiriyah maupun batiniyah.

  Menurut Utsman dalam bukunya dasar-dasar pernikahan dalam islam (2006:17-19): Syariat islam telah memilih pernikahan untuk mencapai tujuan dan memberikan ikatan suci yang lebih agung dan kehormatan yang lebih besar: 1.

  Menggapai ridho Allah swt. Dan surga-Nya, menyelamatkan diri dari kemurkaan dan adzab-Nya. Dalam mengikuti jejak Rosul saw. terdapat perwujudan itu semua.

2. Menutupi diri dan pasangan sebagaimana pakaian menutupi tubuh.

  Meninak merupakan penjaga dan penutup diri dari yang haram.

  3. Mencapai ketengangan dan ketentraman serta kehidupan yang sejuk.

  4. Menambah jumlah umat islam, membentuk kekuatan, sekaligus kemulaiaan.

  5. Melanjutkan amal sholih sesudah mati.

  6. Menimbulkan kecukupan(tidak meminta-minta) kepada manusia dan beroleh kemudahan dalam penghidupan.

f. Hikmah Pernikahan Menurut Hukum Islam

  Islam menganjurkan dan menggembirakan sebagai mana hal tersebut karena ia mempunyai pengaruh yang baik bagi pelakunya sendiri, masyarakat dan seluruh umat manusia (Sabiq, 1990:19).

  1. Sesungguhnya naluri sex merupakan naluri yang paling kuat dan keras yang selamanya menuntut adanya jalan keluar. Bila mana jalan keluar tidak dapat memuaskannya, maka banyaklah manusia yang mengalami goncang dan kacau serta menerobos jalan yang jahat. Dan kawinlah jalan alami dan biologis yang paling baik dan sesuai untuk menyalurkan dan memuaskan naluriah sex ini. Dengan kawin badan jadi segar, jiwa jadi tenang, mata terpelihara dari melihat yang haram dan perasaan tenang menikmati barang yang halal.

  2. Kawin jalan terbaik untuk membuat anak-anak menjadi mulia, memperbanyak ketururnan, melestarikan hidup manusia serta memelihara nasab yang oleh islam sangat diperhatikan sekali.

  3. Naluri kebapak dan keibuan akan tumbuh saling melengkapi dalam suasana hidup dengan anak-anak dan akan tumbuh pula perasaan-perasaan ramah, cinta dan sayang yang merupakan sifat-sifat baik yang menyempurnakan kemanusiaan seseorang.

  4. Menyadari tanggung jawab beristri dan menanggung anak-anak menimbulkan sikap rajin dan sungguh-sungguh dalam memperkuat bakat dan pembawaan seseorang. Ia akan cekatan bekerja, karena dorongan tanggung jawab dan memikul kewajibannya, sehingga ia akan banyak bekerja dan mencari pernghasilan yang dapat memeperbesar jumlah kekayaan dan memperbanyak produksi.

  5. Pembagian tugas, dimana yang satu mengurusi dan mengatur rumah tangga, sedangkan yang lainnya bekerja diluar, sesuai dengan batas-batas tanggung jawab antara suami istri dalam menangani tugas-tugasnya.

  6. Dengan perkawinan dapat membuahkan tali kekeluargaan, memperteguh kelanggengan rasa cinta antar keluarga dan memperkuat hubungan kemsyarakatan yang memang oleh islam direstui, ditopang dan ditunjang.

  7. Memelihara pandangan dan kemaluan sebagaimana sabda Rosulullah yang dikutip oleh Muslim dalam kitab himpunan hadis shahih Muslim, yang berbunyi: (Muslim. t.t: 174).

  ٍَْع َلبَق ٍتْيَرُكُٕثَأَٔ َخَجْيَش

ٍِْثَحَربًَُع ِشًَْعَ ْلْا ٍَْعَخَئِبَعُيُٕثَأبََُثَّدَد يِثَأ

ٍُْثِرْكَثُٕثَأبََُثَّدَد

  : َلبَق َِّاللِّدْجَع ٍِْث ًٍَِْدَّرناِدْجَع ٍَْعٍرْيًَُع ٍَْعَديِزَي

  ضَغَأ بَطَتْس َع َُّاللّ ْجََّٔزَتَيْهَفَحَءبَجْنا ْىُكُِْي ِّْيَهَع ىَّهَص َِّاللّ ُلُٕسَربََُن َلبَق ََُِّّإَف ِإ ٍَْي ِةبَجَّشناَرَشْعَيبَي َىَّهَسَٔ

  َُّن ِّْيَهَعَف ْعِطَتْسَي ْىَن َٔ .ٌءبَجِٔ ََُِّّإَف ِوَّْٕصنبِث ٍَْي ِجْرَفْهِن ٍَُصْدَأَِٔرَصَجْهِن

  Artinya: Telah bercerita kepada kita Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu

  Quraib berkata telah bercerita kepada kita Abu Mu‟awiyah dari A‟masy dari „Umarah dari „Umairin dari „Abdu ar-Rahman dari Yazid dari „Abdillah berkata Rosulullah SAW bersabda kepada kita “Wahai para pemuda barang siapa diantaara kalian yang mampu biaya menikah, menikahlah. Sesungguhnya ia lebih memejamkan pandangan dan memelihara faraj (alat kelamin). Barang siapa yang tidak mampu, hendakah ia berpuasa. Sesungguhnya ia sebagai perisai baginya”.

  Istilah pernikahan dini adalah kontenporer. Dini dikaitkan dengan waktu, yakni di awal waktu tertentu. Lawannya adalah pernikahan kadaluarsa.

  Pernikahan Dini adalah Agar tidak melebar dari tujuan utama penulisan ini, mengingat banyaknya definisi „usia dini‟ dalam ungkapan „pernikahan dini‟ maka penulis membatasi definisi „pernikahan dini‟ sebagai sebuah pernikahan yang dilakukan oleh mereka yang berusia muda atau seseorang yang pada masa pertumbuhan baru mengalami tanda-tanda baligh secara fisik namun belum pada tahapan dewasa secara mental.

  Dari sudut pandang kedokteran, pernikahan dini mempunyai dampak negatif baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan. Menurut para sosiolog, ditinjau dari sisi sosial, pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif. Oleh karenanya, pemerintah hanya mentolerir pernikahan diatas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita. Hukum Islam secara umum meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal. Dari kelima nilai universal Islam ini, satu diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan (hifdzu al nasl). Oleh sebab itu, Syekh Ibrahim dalam bukunya al Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap terjaga, hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui pernikahan. Seandainya agama tidak mensyari‟atkan pernikahan, niscaya geneologi (jalur keturunan) akan semakin kabur. Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini. Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimnal Undang-undang Perkawinan, secara hukum kenegaraan tidak sah. Istilah pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan umur. Sementara dalam kaca mata agama, pernikahan dini ialah pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh.

  Terlepas dari semua itu, masalah pernikahan dini adalah isu-isu kuno yang sempat tertutup oleh tumpukan lembaran sejarah. Dan kini, isu tersebut kembali muncul ke permukaan. Hal ini tampak dari betapa dahsyatnya benturan ide yang terjadi antara para sarjana Islam klasik dalam merespon kasus tersebut.

  Pendapat yang digawangi Ibnu Syubromah menyatakan bahwa agama melarang pernikahan dini (pernikahan sebelum usia baligh). Menurutnya, nilai esensial pernikahan adalah memenuhi kebutuhan biologis, dan melanggengkan keturunan. Sementara dua hal ini tidak terdapat pada anak yang belum baligh. Ia lebih menekankan pada tujuan pokok pernikahan. Ibnu Syubromah mencoba melepaskan diri dari kungkungan teks. Memahami masalah ini dari aspek historis, sosiologis, dan kultural yang ada. Sehingga dalam menyikapi pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah (yang saat itu berusia usia 6 tahun), Ibnu Syubromah menganggap sebagai ketentuan khusus bagi Nabi Saw yang tidak bisa ditiru umatnya. Sebaliknya, mayoritas pakar hukum Islam melegalkan pernikahan dini. Pemahaman ini merupakan hasil interpretasi dari QS. al Thalaq: 4. Disamping itu, sejarah telah mencatat bahwa Aisyah dinikahi Baginda Nabi dalam usia sangat muda. Begitu pula pernikahan dini merupakan hal yang lumrah di kalangan sahabat.

  Bahkan sebagian ulama menyatakan pembolehan nikah dibawah umur sudah menjadi konsensus pakar hukum Islam. Wacana yang diluncurkan Ibnu Syubromah dinilai lemah dari sisi kualitas dan kuantitas, sehingga gagasan ini tidak dianggap. Konstruksi hukum yang di bangun Ibnu Syubromah sangat rapuh dan mudah terpatahkan.

  Imam Jalaludin Suyuthi pernah menulis dua hadis yang cukup menarik dalam kamus hadisnya. Hadis pertama adalah ”Ada tiga perkara yang tidak boleh diakhirkan yaitu shalat ketika datang waktunya, ketika ada jenazah, dan wanita tak bersuami ketika (diajak menikah) orang yang setara/kafaah”.

  Hadis Nabi kedua berbunyi, ”Dalam kitab taurat tertulis bahwa orang yang mempunyai anak perempuan berusia 12 tahun dan tidak segera dinikahkan, maka anak itu berdosa dan dosa tersebut dibebankan atas orang tuanya”. Pada hakekatnya, penikahan dini juga mempunyai sisi positif. Kita tahu, saat ini pacaran yang dilakukan oleh pasangan muda-mudi acapkali tidak mengindahkan norma-norma agama. Kebebasan yang sudah melampui batas, dimana akibat kebebasan itu kerap kita jumpai tindakan-tindakan asusila di masyarakat. Fakta ini menunjukkan betapa moral bangsa ini sudah sampai pada taraf yang memprihatinkan. Hemat penulis, pernikahan dini merupakan upaya untuk meminimalisir tindakan-tindakan negatif tersebut. Daripada terjerumus dalam pergaulan yang kian mengkhawatirkan, jika sudah ada yang siap untuk bertanggungjawab dan hal itu legal dalam pandangan syara‟ kenapa tidak ?

g. Batas Umur Pernikahan Menurut Konsep Fikih Konvensional

  Menurut islam pernikahan adalah dimensi mu‟ammalah sekaligus ibadah. Dimensi muammalah berkaitan dengan interaksi yang dilakukan sesama manusia, sementara dimensi ibadah merupakan bentuk konsekwensi logis bahwa keimanan seseorang kepada Allah harus diimplementasikan dalam seluruh aktifitas kehidupannya di dunia.

  Masalah pengaturan batasan umur dalam hukum islam merupakan masalah ijtihadiyyah, artinya tidak ada nash yang secara eksplisit mengatur persoalan tersebut. Islam hanya menegaskan agar kita perlu mengantisipasi agar keluarga yang dibentuk tidak menghasilkan anak keturunan yang lemah, sebagai akibat dari ketidaksiapan orang tua pada saat menikah.Alqur‟an menyatakan dalam Surat An-

  Nisa‟ ayat 9 yang artinya: „‟dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Karena itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar (Budiman, 2008:34).

  Adapun aturan Negara-negara muslim yang berkaitan dengan umur minimal boleh melakukan perkawinan adalah bervariasi, dan dapat dilihat dalam table berikut: (Nasution, 2013: 378).

  No Negara Laki-Laki Perempuan

  1. Algeria

  21

  18

  2. Bangladesh

  21

  18

  3. Mesir

  18

  16 Ketentuan batasan minimal usia kawin dari tabel diatas disesuaikan berdasarkan kebijakan dan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di masing-masing Negara.

  Adapun faktor-faktor penyebab terjadi pernikhan usia dini menurut Khoiruddin nasution dalam bukunya hukum perdata (keluarga) islam Indonesia dan perbandingan hukum perkawinan didunia muslim adalah adanya dua sebab yakni sebab dari anak itu sendiri dan sebab dari luar anak. Penyebab dari anak itu sendiri adalah anak tidak mengecam dunia pendidikan atau tidak

  16

  18

  16

  12. Somalia

  18

  18

  13. Yaman Selatan

  18

  14. Syiria

  15

  18

  17

  15. Tunisia

  19

  17

  16. Turki

  17

  11. Pakistan

  15

  4. Irak

  17

  18

  18

  5. Yordania

  16

  15

  6. Libanon

  18

  7. Libiya

  10. Yaman Utara

  18

  16

  8. Malaysia

  18

  16

  9. Maroko

  18

  15

  15 sekolah, melakukan hubungan biologis, dan hamil sebelum menikah. Sedangkan faktor penyebab dari luar anak adalah kekhawatiran orang tua terhadap anak melanggar ajaran agama, faktor ekonomi, faktor adat dan budaya (2013:387).

  Dalam fikih kecakapan seseorang melakukan perbuatan hukum adalah ketika seseorang itu telah baligh. Untuk mengukur seseorang sudah baligh atau belum biasanya ditandai dengan mimpi basah (ihtilam) bagi laki-laki dan mansturbasi (haidh) bagi perempuan. Selain itu pertumbukan secara fisik juga mendukung untuk mengetahui seseorang sudah baligh seperti tumbuhnya kumis bagi laki-laki, dan mulai Nampak bagian payudara seorang perempuan. abu hanifah berpendapat bahwa batasan kedawasaan (baligh) anak laki- laki apabila dia sudah berusia 18 tahun, sedangkan anak perempuan apabila dia sudah mmasuki usia 17 tahun. Dalam hal ini tampaknya T.M Hasbi Ash- Shiddieqy condong dengan pendapat abu hanifah yang menetapkan usia dewasa seorang lelaki jika ia telah memasuki usia 18 tahun, dan 17 tahun bagi anak perempuan. Pendapatnya dipertimbangkan dengan dinamika perkembangan masyarakat saat ini yang bisa saja mengaburkan kriteria kedewasaaan hanya ditentukan oleh ukuran fisik semata (Budiman, 2008:36).

  Secara umum dapat disimpulkan bahwasanya para imam madzhab membolehkan nikah dini. Hal ini dapat dilihat dari pendapat Imam Malik yang dikutip oleh Sahnun dalam kitabnya al-Mudawwanah al-Qubra bahwasanya:

  “Perkawinan seorang janda belum dewasa yang belum dicampuri oleh bekas suaminya, baik berpisah karena talak atau ditinggal mati suaminya, mempunyai status yang sama dengan gadis, bahwa bapak mempunyai hak ijbar terhadapnya. Sebaliknya jika sudah dicampuri maka mempunyai status dengan janda, bahwa dia sendiri lebih berhak atas dirinya dari pada walinya” (At-Tanukhi, 1323: 155).

  Pandangan yang sama dikemukakan oleh Kasani, yaitu ulama‟ bermadzhab Hanafi. Adapun pendapat tersebut berlandaskan akan tindakan Rosul yang menikahi Aisyah pada usia enam tahun dan Abu Bakar menjadi walinikahnya, Rosul juga menikahkan anaknya Ummu Kultsum dengan Ali pada waktu masih kecil, Abdullah bin Umar juga menikahkan Anaknya ketika masih kecil, begitupula dengan sahabat-sahabat lainnya (Nasution, 2013:372).

  Sedangkan Imam Syafi‟I dalam kitabnya al-Umm membagi tiga macam perkawinan ditinjau dari sudut umur calon mempelai wanita, yakni: 1) Perkawinan janda, 2) Perkawinan gadis dewasa, 3) perkawinan anak-anak. Yang mana Imam Syafi‟I berpendapat bahwa untuk gadis yang belum dewasa, batasan umur belum 15 tahun atau belum keluar darah haid, seorang bapak boleh menikahkan tanpa seizinnya terlebih dahulu, dengan syarat menguntungkan dan tidak merugikan sang anak. Dasar penetapan hak ijbar oleh asy-

  Syafi‟I adalah tindakan Nabi Muhammad SAW yang menikahi Aisyah ketika masih berumur enam atau tujuh tahun, dan mengadakan hubungan seksual setelah Sembilan tahun (Asy-

  Syafi‟I, t.t:11-1 6). Adapun Ibnu Qudamah dari madzhab hanabilah berpendapat bahwa kebolehan menikahkan gadis yang belum dewasa atau baligh adalah berlandaskan ayat al- Qur‟an surat at-Talaq (65) ayat 3.

  Pada prinsipnya ayat tersebut di atas, berbicara tentang masa iddah seorang wanita yang belum haid atau yang sudah putus haid. Logika sederhananya adalah iddah muncul karena talak, dan talak muncul karena nikah. Karena itu, secara tersirat ayat ini menunjukkan bahwa seorang wanita yang belum haid boleh menikah. Sedangkan landasan hukum hadis yang digunakan adalah sama dengan hadis yang digunakan oleh pendapat ulama‟ yang penulis catat sebelumnya (Nasution, 2013:372-371).

  BAB III PERNIKAHAN USIA DINI DI DUSUN NGRONGGO, KOTA SALATIGA A.

Gambaran Umum Permasalahan Pernikahan Usia Dini di Dusun Ngronggo

Dusun Ngronggo adalah salah satu dusun di kelurahan Kumpulrejo,

  kecamatan Argomulyo, yang merupakan sebuah kecamatan di kota salatiga bagian selatan. Argomulyo dikenal oleh masyarakat luas sebagai wilayah sejuk dikaki gunung merbabu dengan suhu cuaca berkisar antara 15-26

  . Argomulyo memiliki banyak kesenian daerah, makanan khas, dan wisata alam. Menurut keterangan yang diambil dari surat lembaga pemberdayaan masyarakat kota salatiga. Kecamatan Argomulyo memiliki batas dengan kecamatan sidomukti di sebelah utara, kecamatan tingkir dan tengaran disebelah timur, kecamatan tengaran disebelah selatan serta kecamatan Getasan di sebelah barat. Argomulyo terdiri dari 6 (enam) RW, (Cebongan, Ledok, Noborejo, Randuacir, Tegalrejo, dan salah satunya Kumpulrejo). Dusun Ngronggo kelurahan Kumpulrejo sendiri terbagi menjadi 6 (enam) RT.

  Letak wilayah Dusun Ngronggo kelurahan Kumpulrejo Kecamata Argomulyo juga tidak jauh dari Institut Agama Islam Negri salatiga (IAIN Salatiga) yang merupakan satu-satunya Institute dan merupakan yang terbesar di Salatiga. Ada suatu tempat yang memudahkan orang untuk mengenal Dusun Ngronggo yaitu TPA (Tempat pembuangan akhir) Kota Salatiga, dimana setiap sampah yang dihasilkan dari setiap sudut kota Salatiga setiap harinya dilabuhkan ke TPA Salatiga yang terletak persis di sebelah timur Dusun Ngronggo. Tidak sedikit masyarakat Dusun Ngronggo yang menggantungkan hidup mereka dengan mengumpulkan barang-barang bekas dari TPA Salatiga yang kemudian diambil oleh pengepul untuk di daur ulang, bahkan ada juga masyarakat dari luar Dusun Ngronggo yang juga menggantungkan hidup mereka di TPA Salatiga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

  Masyarakat Dusun Ngronggo adalah masyarakat yang memiliki pergaulan sosial sangat dominan. Hal itu bisa dilihat dari semua kegiatan kampung yang masih sering dilakukan secara bergotong royong. Pada saat peristiwa-peristiwa tertentu misalnya, khajatan, kematian, kelahiran, bersih lingkungan atau peristiwa lain yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat umum seperti ronda malam (siskampling), penarikan uang jimpitan bergilir, pengambilan sampah setiap rumah bergilir dan semua kegiatan kampung yang berjalan di Dusun ngronggo dilakukan secara gotong royong.

  Gotong royong masih terjaga eksistensinya karena mayoritas pekerjaan yang dimiliki oleh masyarakat Dusun Ngronggo diantaranya sebagai sopir truk, kuli bangunan, petani, peternak sapi, peternak kambing, pemulung, dan buruh, hal tersebut dipengaruhi oleh tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah.

  Tidak sedikit dari masyarakat Dusun Ngronggo yang tingkat pendidikannya hanya sampai jenjang SD dan SMP, sedangkan untuk jenjang pendidikan SMA hanya mampu dikecam oleh mereka yang memiliki tingkat ekonomi baik dan kemauan mengecam bangku pendidikan. Sehingga mindset mereka masih terkontaminasi dengan adat dan pemikiran zaman dahulu yang tidak terlalu mengedepankan pendidikan dan mementingkan kebersamaan, kekerabatan, penghidupan dan meneruskan keturunan. Hal tersebut terbukti dari masih banyaknya kasus pernikahan usia dini di kalangan masyarakat Dusun Ngronggo.

  Adapun data penduduk Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga sebagai nerikut:

  Jumlah penduduk berdasarkan umur

  No Umur Jumlah 1 0-4 890 Orang 2 5-9 627 Orang 3 10-14 576 Orang 4 15-19 597 Orang 5 20-24 592 Orang 6 24-29 644 Orang 7 30-34 831 Orang 8 35-39 690 Orang 9 40-44 636 Orang

  10 45-49 528 Orang

  11 50-54 421 Orang 12 55-59 397 Orang 13 60-64 286 Orang 14 65-69 156 Orang 15 70-74 148 Orang 16 >74 194 Orang

  TOTAL 8.213 Orang Sumber: Data monografi kelurahan kumpulrejo kecamatan Argomuly Kota

  Salatiga, Januari 2017 Tingkat pendidikan Penduduk Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo

  Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga didominasi oleh tamatan SD dan Sederajat, hal tersebut dapat terlihat dari tabel berikut:

  Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan

  No Tingkat Pendidikan Jumlah

  1 Tidak/belum Sekolah 1.107 Orang

  2 Tidak tamat SD 1.163 orang

  3 Tamat SD dan sederajat 2.270 orang

  4 Tamat SMP dan sederajat 1.504 orang

  5 Tamat SMA dan sederajat 1.768 orang

  6 Diploma I/II 49 0rang

  7 Diploma III 105 Orang

  8 Perguruan Tinggi 270 orang

  9 Pasca Sarjana 21 orang

  10 Strata 3 0 orang TOTAL 8.157 Orang

  Sumber: Data monografi kelurahan kumpulrejo kecamatan Argomulyo Kota Salatiga, Januari 2017

  Dari data di atas dapat diketahui tingkat pendidikan SD dan sederajat yang di enyam oleh penduduk Dusun Ngronggo masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan penduduk Dusun ngronggo yang tingkat pendidikannya sampai jenjang Sarjana dan Pasca Sarjana, mayoritas penduduk Dusun Ngronggo tinggakat pendidikannya hanya sampai jenjang SMP, SMA, dan SD, Bahkan tidak sedikit dari penduduk Dusun Ngronggo yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah.

  Dari segi Agama penduduk Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga mayorotas beragama Islam, dan lainnya Katolik, Protestan, dan Hindu dengan rincian sebagai berikut:

  Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama

  No Agama Jumlah

  1 Islam 5.967 Orang

  2 Kristen Protestan 2.242 Orang

  3 Katolik 101 Orang

  4 Hindu

  10 Orang

  5 Budha

  15 SMP SD 12-05-2016 Rt 03

  18

  15 SMP SMP 29-11-2015 Rt 02

  6 Anggi Devi

  22

  14 SD SD 06-02-2016 Rt 01

  7 Erfandi Lia

  26

  8 Joko Novi

  15 SMP SD 20-10-2013 Rt 02

  21

  15 SMP SMP 03-12-2015 Rt 05

  9 Susilo Maryani

  17

  21 SMP SMP 09-11-2014 Rt 01

  10 Eko. S Fetti. H

  22

  5 Mustaqim Fatma

  21

  3 Orang TOTAL 8.323 Orang

  1 Sudari Nurul. F

  Sumber: Data monografi kelurahan kumpulrejo kecamatan Argomulyo Kota Salatiga, Januari 2017

  Dari tabel di atas dapat diketahuin bahwasannya mayoritas warga Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga beragama islam walaupun demikian interaksi dan toleransi beragama masyarakat Dusun Ngronggo tergolong baik.

  Gambaran umum pasangan pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo sebagai berikut: Sumber: Data didapatkan langsung dari sumber yang bersangkutan

  Dari data di atas menunjukkah bahwa tingkat praktik pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo kelurahan kumpulrejo pada tahun 2013-2016 masih banyak.

  Tetapi, tidak semua dari keluarga pernikahan usia dini bersedia diwawancarai dan No

  Nama Umur Pendidikan Tanggal

  Menikah Alamat Suami Istri Suami Istri Suami Istri

  17

  4 Wiyono Eni. Y

  19 SMP SMK 23-07-2013 Rt 04

  2 Ari. Y Miyati

  17

  16 SD SD 18-08-2014 Rt 05

  3 Zaini. M Yuliani

  17

  16 SD SD 24-06-2014 Rt 02

  15 SMP SD 15-14-2015 Rt 04 didata, pelaksanaan pernikahan usia dini tersebut dilakukan melalui dispensasi pernikahan di Pengadilan Agama Salatiga.

  Pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo Kelurahan kumpulrejo merupakan suatu tradisi turun temurun yang masih terjadi sampai sekarang, hal ini karena kurangnya pengetahuan tentang peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia terutama peraturan tentang perkawinan, selain itu akibat pergaulan bebas masa remaja jauh melebihi batas yang pada akhirnya mengakibatkan kehamilan diluar nikah memaksa kedua belah pihak orang tua menikahkan anaknya tanpa memandang usia, kesiapan materi maupun nonmaterial. Melihat dampak tersebut tidak sedikit dari orang tua yang memilih menikahkan anaknya yang masih berusia dini sebagai jalan terbaik untuk menghindari pergaulan bebas semasa remaja.

  Praktik pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo adalah tradisi peninggalan masa lalu yang masih terjadi sampai sekarang ini, namun dari tradisi tersebut ada perbedaan permasalahan yang melatar belakangi terjadinya pernikahan usia dini. Zaman dahulu sebelum era modern seperti sekarang ini praktik pernikahan dini menjadi tradisi karena maraknya perjodohan antara kedua belah pihak keluarga terhadap anaknya, namun pada saat ini tradisi pernikahan dini lebih cenderung untuk menghindari pergaulan bebas, hal ini kemudian berkembang dimasyarakat Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo yang kemudian menjadi hal yang lumrah dan biasa terjadi.

  Adapun cara yang ditempuh dalam pelaksanaan praktik pernikahan usia dini adalah dengan cara menuakan usia calon mempelai, dengan menuakan usia di KTP dengan kata lain antara akte kelahiran calon pengantin dengan usia KTP jika dicermati tidak sesuai, namun itu adalah cara lama yang dipraktikan masyarakat Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo dalam melaksankan pernikahan usia dini. Dengan berkembangnya zaman dan teknologi cara tersebut sudah tidak bisa lagi dipraktikkan, karena pada saat ini KTP sudah berbentuk E- KTP dan berlaku seumur hidup. Oleh karena itu masyarakat Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo pada akhirnya dalam melaksankan praktik pernikahan usia dini menempuh jalan dispensasi nikah dengan cara meminta izin di Pengadilan Agama setempat.

  Kenyataanya para keluarga praktik pernikahan usia dini mengetahui batasan minimal usia pernikahan adalah disaat kali pertama mereka melakukan siding dispensasi nikah di Pengadilan Agama setempat. Dari hal ini dapat dianulir pelaksanaan praktik pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo adalah karena minimnya pengetahuan masyarakat umum tentang aturan-aturan usia nikah yang tercantum dalam undang-undang perkawinan No.1 Tahun 1974. Sehingga masyarakat menganggap pernikahan usia dini adalah pernikahan yang pada umumnya terjadi namun harus melalui perizinan dari pengadilan agama. Masyarakat lebih cenderung mengetahui syarat dan rukun nikah menurut agama Islam dimana islam tidak menyebutkan secara pasti batasan-batasan usia menikah, jadi apabila syarat dan rukun nikah menurut Islam sudah terpenuhi dan dianggap sudah cukup maka masyarakat menganggap pernikahan tersebut adalah normal dan bukan suatu pernikahan yang menyimpang, walaupun apabila ditinjau dari undang-undang No.1 Tahun 1974 pernikahan tersebut adalah pernikahan yang menyimpang karena dilakukan dibawah batasan usia minimal yang ditentukan.

  Praktik pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo terdahulu tarnyata sangat berpengaruh pada pola pikir generasi pernikahan usia dini pada saat ini, hal itu bisa dilihat dari asumsi masyarakat yang memandang umur bukanlah suatu tolak ukur yang dijadikan patokan seseorang untuk menikah, pada umunya masayrakat memandang kedewaasaan seseoranglah yang menjadi tolak ukur usia siap menikah. Dewasa menurut masyarakat pada umunya adalah ketika seseorang sudah mampu bekerja maka dianggap sudah mandiri dan siap bertanggung jawab untuk membangun keluarga.

  Berdasarkan pernyataan narasumber Ibu Giarti selaku wali dari praktik pernikahan usia dini saudara Susilo pada umunya masyarakat memandang pendidikan tinggi bukanlah suatu hal yang sangat penting, pendidikan jenjang SD dan SMP sudah dirasa cukup untuk menunjang kehidupan berumah tangga. hal itu disebabkan karena mayoritas pekerjaan yang ditekuni masyarkat pada umumnya adalah petani, pekerja bangunan serta sopir. Dimana dalam profesi tersebut ijazah dan pendidikan tinggi tidaklah dibutuhkan. Selain itu para kaum wanita juga lebih sering cenderung menjadi ibu rumah tangga dan membantu pekerjaan suami semampunya (18 Juli 2017).

B. Faktor Penyebab Terjadinya Pernikahan Usia Dini di Dusun Ngronggo

  Pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo kelurahan Kumpulrejo tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan mendorong terjadinya pernikahan usia dini, baik faktor yang terdapat di diri atau diluar diri masing-masing pelaku praktik pernikahan usia dini.

  Berdasarkan wawancara yang dilakukan maka menurut hemat penulis, yang menjadi salah satu faktor terjadinya pernikahan di usia dini pada masyarakat dusun Ngronggo adalah sebagai berikut: 1.

   Faktor Pendidikan

  Rendahnya pendidikan adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap praktik pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo. Pendidikan adalah jendela kehidupan, dengan pendidikan wawasan akan semakin luas, dengan pendidikan akan mempengaruhi cara pikir dan cara pandang seseorang.

  Dari penelitian yang didapat mayoritas pernikahan usia dini yang terjadi di Dusun ngronggo kelurahan kumpul rejo adalah minimnya pendidikan. Yang sangat disayangkan adalah ketika masyarakat mengganggap pendidikan bukanlah hal yang terlalu penting, karena tujuan hidup adalah bekerja dan berumah tangga, mereka menilai setinggi apapun pendidikan tidak akan merubah rizki karena setiap orang sudah memiliki jatah rizki masing- masing. Dari kenyataan ini bisa dilihat tujuan mereka hidup adalah bekerja menghasilkan ekonomi untuk keluarga dan tidak begitu menganggap pentingnya pendidikan untuk generasi penerus.

2. Faktor Kemauan Anak

  Di masyarakat Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo, pernikahan usia dini masih sangat marak terjadi dan menjadi hal yang lumrah. Tidak sedikit pemuda pemudi yang melakukan pernikahan usia dini atas keinginannya sendiri tanpa ada dorongan dan campur tangan orang tua. pada umumnya mereka memandang suatu pernikahan adalah wujud dari sebuah kemandiriaan seseorang. seseorang dikatakan mandiri apabila sudah bisa bekerja dan berumah tangga walaupun terkadang hasil pendapatan dari bekerja masih jauh dari kata mencukupi untuk menafkahi keluarga.

  Berdasarkan pendapat saudara Zaini Mahmud selaku praktik pernikahan usia dini, Jika seseorang sudah tidak sekolah atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maka langkah sekanjutnya adalah mencari pekerjaan sebisa mungkin baik dari pekerjaan serabutan maupun pekerjaan tetap. Setelah mereka mendapatkan gaji dari hasil pekerjaan yang mereka miliki maka tidak ada hal lain selain menikah yang menjadi tujuan mereka. Kenyataan itu disebabkan karena tujuan menikah adalah agar bisa hidup mandiri, tentram dan ada teman hidup yang menjadi sandaran dikala susah maupun senang. Adapun tolak ukur menikah adalah ketika seseorang sudah baligh, sudah bekerja atau mampu menafkahi, berani bertanggung jawab dan siap memimpin rumah tangga (16 juli:2017).

  Adapun agil baligh menurut mereka adalah ketika seorang perempuan sudah haidh, seorang lelaki sudah mimpi basah atau junub dan sudah mapan atau dewasa cara berfikirnya, umur tidak menjadi sebab seseorang dikatakan berusia matang untuk menikah karena yang usianya lebih tua belum tentu cara berfikirnya lebih dewasa.

3. Faktor Agama

  Selain minimnya pengetahuan dalam hal pendidikan faktor agama juga merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo, karena mereka hanya tau agama secara garis-garis besar saja tanpa mengkaji kandungan ilmu agama lebih dalam.

  Pada umumnya pendidikan agama yang mereka dapatkan hanyalah semasa SD/MI, selama mereka masih duduk di bangku sekolah dasar dan sederajat, setiap sore mereka juga mendapatkan pendidikan agama dari surau- surau terdekat, namun hal ini tidak berlanjut ketika mereka menginjak usia SMP atau sederajat. Selain itu disurau hanyalah diajarkan bagaimana tata cara membaca Al-

  Qur‟an dengan tepat yang diawali dengan tahap belajar membaca buku

  Iqro‟ tanpa adanya pembelajaran tentang Fikih ataupun

  hukum-hukum islam, itu dikarenakan konteks mengaji di kalangan Masanyarakat Dusun Ngronggo adalah belajar membaca Al- Qur‟an.

  Dari keterbatasan itulah muda mudi meminta kepada orang tuanya untuk dinikahkan walaupun masih di usia dini. Tanpa mengkaji lebih dalam hakikat pernikahan yang dianjurkan oleh agama, apa saja batsan-batasan yang ditetapkan agama sebelum menikah, apa saja syarat-syarat orang menikah menurut agama, serta apa tujuan agama menyuruh umatnya untuk menikah. Tidak jarang dari mereka yang mengetahui tujuan menikah adalah membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah ketika mereka dihadapkan oleh naib atau walinikah yang mereka dengarkan ketika khutbah nikah.

C. Implikasi Pernikhan Usia Dini di Dusun Ngronggo

  Pernikahan usia dini adalah suatu pernikahan dimana salah satu atau kedua calon pengantin masih berusia sangat muda atau dalam fase baligh secara fisik belim baligh secara mental. Dalam hukum islam tidak menyebutkan secara gambling batasan usia minimal seseorang untuk menikah hanya saja menjelaskan tentang tanda-tanda baligh seseorang dengan mimpi basah bagi lelaki dan menstruasi bagi perempuan.

  Adapun menurut hukum yang berlaku pernikahan dini adalah pernikahan salah satu atau kedua calon mempelai berusia dibawah usia minimal diperbolehkannya menikah oleh Negara dengan syarat dan ketentuan tertentu. Dengan kata lain pernikahan yang tidak sesuai dengan Undang-Undang Perkawinan pasal 7 ayat 1 yang menyatakan bahwa perkawinan hanya dapat diizinkan jika pihak pria sudah mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 tahun. Dengan demikian jika para calon mempelai masih dibawah usia yang ditetapkan maka pernikahan tersebut dinamakan pernikahan dini.

  Negara memberikan syarat dan ketentuan tertentu untuk melangsungakan pernikahan tak lain karena Negara memiliki tujuan untuk menjaga keutuhan warga negaranya dalam berumah tangga, karena awal terbetuk suatu Negara yang utuh dimulai dari keluarga yang utuh. Selain itu Negara juga mendefinisikan tujuan dari perkawinan adalah membangun keluarga yang sakinah, mawadah, dan rohmah.

  Dalam fikih kecakapan seseorang melakukan perbuatan hukum adalah ketika seseorang itu telah baligh. Untuk mengukur seseorang sudah baligh atau belum biasanya ditandai dengan mimpi basah (ihtilam) bagi laki-laki dan mansturbasi (haidh) bagi perempuan. Selain itu pertumbukan secara fisik juga mendukung untuk mengetahui seseorang sudah baligh seperti tumbuhnya kumis bagi laki-laki, dan mulai Nampak bagian payudara seorang perempuan.

  Hemat penulis yang menjadi permasalahan dalam pernikahan dini adalah kesiapan dan kematangan kedua belah pihak mempelai dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rohmah, mengingat usia yang masih labil dan kesiapan dari segi lainnya masih belum cukup. Dengan melihat persiapan dan pertimbangan sedemikian rupa tidak semua pernikahan dini dapat dipastikan sulit membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rohmah. Namun pernikahan usia dini mempunyai resiko keretakan rumah tangga lebih besar dari pada pernikahan yang telah memenuhi syarat ketentuan yang berlaku. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri ada juga pernikahan di usia dini yang berujung dengan bahagia.

  Pernikahan usia dini berdampak negatif pada ekonomi keluarga, hal ini tidak bisa dipungkiri mengingat usia pelaku praktik pernikahan dini adalah usia remaja yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah. Namun dikarenakan telah melangsungkan pernikahan maka mereka berkewajiban mencari pekerjaan untuk menafkahi keluarga. Dengan melihat usia yang masih remaja serta tingkat pendidikan yang rendah pekerjaan serabutan menjadi salah satu jalan keluar sebagai sumber mata pencaharian. Dan tidak jarang penghasilan yang mereka hasilkan dari pekerjaan serabutan masih belum cukup untuk menghidupi keluarga yang pada akhirnya orang tua masih harus ikut campur dalam ekonomi rumah tangga anaknya. Walaupun sebenarnya orang tua sudah tidak punya kewajiban lagi untuk memelihara dan mendidik, serta memberi nafkah anaknya karena ia sudah menikah.

  Pernikahan usia dini yang terjadi dimaksudkan sebagai jalan keluar dari persoalan hidup, tapi kenyataanya justru sebaliknya, bahkan pernikahan usia dini membawa resiko beban ekonomi yang semakin bertambah berat, kekerasan dalam rumah tangga, dan perceraian.

  Adapun dampak dari segi pendidikan adalah pendidikan yang seharusnya masih dikecam oleh pelaku praktik pernikahan dini tidak dapat dilanjutkan. Pernikahan bukanlah satu alasan seseorang untuk tidak melanjutkan dunia pendidikan, serta sekolahan atau dunia pendidikan juga tidak melarang orang yang sudah berkeluarga untuk menimba ilmu, namun pada kenyataanya para praktik pernikahan usia dini lebih memilih berhenti dari pada melanjutkan pendidikan mereka, karena sudah terlalu sibuk dengan urusan rumah tangga dan pekerjaan yang harus dilakoni untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain itu pengasuhan dan perawatan anak hasil dari pernikahan dini itu sendiri, diamana yang seharusnya anak mendapatkan pengasuhan serta curahan kasih sayang dari kedua orang tua tidak dapat dirasakan, karena perawatan dan pengasuhan diserahkan kepada kakek atau nenek anak tersebut.

  Terlepas dari permasalahan tersebut diatas usia praktik pernikahan dini juga berdampak negatif pada keadaan sosial, mengingat usia menikah mereka adalah usia remaja, usia bermain dengan teman-teman sejawat, kondisi psikis yang masih labil menyebabkan emosi yang mudah terpancing dan mengakibatkan Pasangan pernikahan usia dini masih kesulitan dalam menyelasaikan persoalan dalam rumah tangga, sehingga mengakibatkan pertengkaran yang sering terjadi bahkan kekerasan dalam rumah tangga. Dengan deemikian pernikahan usia dini mengakibatkan sulitnya mewujudkan tujuan perkawinan.

  Adapun tabel dari hasil wawancara terhadap pasangan yang menikah di usia dini di Dusun Ngronggo adalah sebagai berikut: No Gambaran Umum implikasi pernikahan usia dini Jumlah

  1.

  Tetap b.

  0 pasang 1 pasang 9 pasang 4 pasang 6 pasang 4 pasang 6 pasang 0 pasang

  Diserahkan orang lain Cara menyelesaikan permasalahan keluarga 10 pasang

  Sendiri b.

  Tidak baik Pengasuhan dan Perawatan anak a.

  Baik b.

  Belum punya anak Kesehatan Ibu dan Anak a.

  Punya anak b.

  Oprasi Keturunan a.

  Normal b.

  Putus sekolah Proses persalinan a.

  Melanjutkan sekolah b.

  Tidak Tetap Pendidikan a.

  Dibantu orang Tua Pekerjaan a.

  2.

  Biaya sendiri b.

  Masih ikut orang tua Biaya Rumah Tangga a.

  Sudah tinngal sendiri b.

  Tanpa dispensasi nikah Tempat tinggal a.

  Dispensasi Nikah dari Pengadilan Agama b.

  10. Prosedur Pernikahan a.

  9.

  8.

  7.

  6.

  5.

  4.

  3.

  10 pasang 9 pasang 1 pasang 9 pasang 1 pasang 8 pasang 1 pasang 1 pasang 8 pasang a.

  4 pasang Musyawarah b.

  6 pasang Bantuan bantuan pihak ketiga

  11. Pendapat responden terhadap menikah usia dini a.

  7 pasang Menyesal b.

  3 pasang Tidak menyesal

  12. Keadaan keluarga a.

  6 pasang Sejahtera b.

  4 pasang Prasejahtera

  Sumber: hasil wawancara terhadap keluarga pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo.

  Dari tanggapan responden yang penulis wawancarai, menunjukkan bahwa tidak ada pasangan pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo yang menikah tanpa mendapatkan surat dispensasi nikah dari Pengadilan Agama setempat terlebih dahulu, hal tersebut dikarenakan seiring berkembangnya zaman maka akan lebih sulit untuk memalsukan data kependudukan dan data-data lainnya, oleh karena itu 10 pasangan responden memilih untuk mengajukan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama setempat sebelum melaksanakan akad nikah.

  Sedangkan mengenai tempat tinggal hanya ada 1 pasangan pernikahan usia dini yang sudah benar-benar memiliki rumah sendiri, 9 pasangan responden lainya masih satu rumah dengan orang tua, baik dikarenakan memang belum punya rumah sendiri maupun karena pasangan tersebut adalah anak terakhir yang menurut adat jawa dusun Ngronngo Kelurahan Kumpulrejo, tugas anak terakhir adalah tinggal satu atap bersama orang tua dan merawatnya hingga akhir usia. Dari sini terlihat kesiapan materi dari 10 responden yang sudah siap secara materi lebih sedikit dari yang sudah siap.

  Selain itu biaya rumah tangga dari 10 pasangan responden, 4 pasangan diantaranya masih menggantungkan orang tua. Dan 6 pasangan sudah mampu menanggung beban biaya rumah tangga sehari-hari, itu dikarenakan 4 pasangan reponden sudah memiliki pekerjaan tetap dan 6 lainnya belum meiliki pekerjaan tetap.

  Adapun semua responden pasangan pernikahan usia dini dalam hal pendidikan tidak satupun dari mereka yang melanjutkan pendidikan setelah menikah, ini dikarenakan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat pasangan pernikahan usia dini tentang pentingnya pendidikan.

  Ditinjau dari segi kesehatan ibu dan anak sebagai dampak dari pernikahan usia dini dengan berpacu pada 10 responden pasangan pernikahan usia dini, mayoritas kesehatan ibu dan anak dalam keadaan baik, hal tersebut dapat dilihat dari 10 responden, hanya ada satu pasangan ibu dan anak yang menjalani oprasi saat melahirkan.

  Dalam hal pengasuhan anak menjadi salah satu beban orangtua yang harus harus ditanggung karena dari 9 pasangan keluarga penikahan dini yang sudah memiliki anak, 8 diantaranya pengasuhan diserahkan kepada orang tua dan hanya satu yang sudah siap mengasuh anaknya sendiri, hal ini tidak bisa dihindari karena minimnya pengetahuan pasangan pernikahan usia dini dalam pengasuhan anak.

  Berdasarkan tabel tersebut diatas 6 pasangan dari 10 responden masih memerlukan bantuan orang ketiga dalam menyelesaikan masalah, itu semua menunjukkan bahwa Emosional pasangan usia pernikahan dini tergolong masih sangat labil, selain itu 7 responden dari 10 pasangan pernikahan usia dini merasa menyesal melakukan pernikahan di usia dini, karena dengan menikah di usia dini menghambat cita-cita mereka.

  Dengan demikian, menurut hemat penulis jika dilihat dari keseharian dan hasil keseluruhan wawancara yang penulis lakukan maka keluarga yang termasuk keluarga sejahtera adalah 6 pasangan keluarga pernikahan usia dini dan 4 pasangan lainnya tergolong keluarga prasejahtera.

BAB IV ANALISIS TERHADAP PERMASALAHAN PERNIKAHAN USIA DINI DI DUSUN NGRONGGO KELURAHAN KUMPULREJO, KOTA SALATIGA MENURUT PRESPEKTIF HUKUM ISLAM A. Analisis Tentang Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Pernikahan Usia Dina di Dusun Ngronggo, Kelurahan Kumulrejo, Kota Salatiga. Seperti yang telah kita paparkan pada bab sebelumnya, bahwasanya

  praktek pernikahan diusia dini yang terjadi di Dusun Ngronggo adalah hal yang dianggap wajar bahkan telah menjadi tradisi. Adapun beberapa faktor yang menjadi penyebab dan faktor pendorong terjadinya pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo. Seperti dalam Bab III antara lain: a.

  Faktor Pendidikan Pendidikan merupakan jendela kehidupan, dengan pendidikan maka wawasan akan semakin luas, dengan pendidikan akan mempengaruhi pola pikir dan cara pandang seseorang. Oleh karena itu, rendahnya tingkat pendidikan sebagai salah satu faktor pelaksanaan pernikahan usia dini, menurut hemat penulis merupakan suatu hal yang wajar, karena pada umumnya seseorang yang berpendidikan rendah akan berpikir lebih sempit daripada seseorang yang mempunyai wawasan luas sehingga pernikahan usia dini merupakan pilihan tanpa mempertimbangkan kehidupan mereka kedepannya.

  Berbeda halnya dengan sesorang yang berpendidikan tinggi, mereka akan lebih bijaksana dalam mempertimbangkan pernikahannya. Walaupun demikian adakalanya dikarenakan banyaknya pertimbangan sebagian dari mereka mengundur pernikahannya. Walaupun demikian, menurut hemat penulis pertimbangan dari berbagai sisi seperti kesiapan lahiriyah dan batiniyah harus tetap menjadi hal yang harus dipertimbangkan dalam mengambil sikap dan tindakan.

  Adapun berdasarkan data hasil wawancara dari kesepuluh responden menunjukkan bahwa kesepuluh responden praktek pernikahan usia dini putus sekolah setelah melaksanakan pernikahannya. Adapun pertimbangannya selain karena fakor ekonomi adalah karena menurut mereka setelah menikah para suami mempunyai kewajiban menafkahi keluarganya sehingga membuat para suami lebih memilih mencari kerja daripada melanjutkan sekolahnya.

  Akan tetapi berdasarkan data dari pasangan suami istri praktek pernikahan usia dini menunjukkan bahwa rata-rata pendidikan para suami adalah hanya sampai jenjang SMP saja dan 4 suami sisanya hanyalah tamatan SD saja, sehingga membuat mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaan tetap dan layak dan berkahir dengan menjadi pekerja serabutan. Sehingga hal tersebut menuntut sang istri bekerja membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Sedangkan menurut data yang penulis dapatkan dari hasil wawancara kepada pasangan pernikahan usia dini tersebut menunjukkan bahwasanya dari pihak istripun hanya ada satu istri yang merupakan tamatan SMK, 3 istri tamatan SMP dan 6 istri lainnya hanyalah tamatan SD.

  b.

  Faktor Kemauan Anak Faktor pendorong lainnya yang menyebabkan terjadinya praktek pernikahan usia dini adalah karena faktor dari kemauan atau naluri anak itu sendiri. Menurut hemat peenulis, faktor yang memicu kemauan anak untuk menikah diusia dini dapat dibagi menjadi dua faktor, yaitu faktor dari dalam diri anak itu sendiri atau faktor biologis anak yang mana secara agama apabila seorang pemuda sudah siap dan benar-benar ingin untuk menikah dan apabila tidak menikah maka mudharatnya akan lebih besar, maka hukum menikah untuknya menjadi wajib. Kedua adalah faktor dari luar yang mempengaruhi anak menginginkan pernikahan usia dini sepertihalnya pengaruh teman-teman seumurannya yang telah melaksanakan pernikahan sehingga membuat si anak ingin mengikuti jejak temannya itu. Selain dari pengaruh teman-teman sekitarnya, faktor kemauan anak menurut hemat penulis berdasarkan dari hasil wawancara yang dilakukan penulis terhadap responden praktek pernikahan usia dini menunjukkan bahwa pengaruh omongan dan gunjingan masyarakat kepada anak yang di Dusun tersebut dianggap telah cukup umur akan tetapi belum menikah sehigga disebut “perawan tua atau perjaka tua” juga mendorong keinginan anak untuk melakukan pernikahan diusia dini hanya semata karena menyelamatkan status sosial semata.

  c.

  Faktor Agama Faktor agama mengambil andil cukup penting dalam pelaksanaan pernikahan usia dini yang terjadi di Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo, karena dalam agama Islam tidak menentukan secara pasti batasan usia untuk melangsungkan pernikahan, sehingga membuuat masyarakat Dusun Ngronggo beranggapan bahwa pernikahan harus dilaksanakan sesegera mungkin apabila kedua mempelai telah memenuhi syarat nikah sesuai dengan ketentuan syara‟.

  ٍَْع َّدَد َلبَق ٍتْيَرُكُٕثَأَٔ َخَجْيَش ٍَْعٍرْيًَُع ٍِْثَحَربًَُع ِشًَْعَ ْلْا ٍَْعَخَئِبَعُيُٕثَأبََُث يِثَأ ٍُْثِرْكَثُٕثَأبََُثَّدَد

  : َلبَق َِّاللِّدْجَع ٍِْث ًٍَِْدَّرناِدْجَع ٍَْعَديِزَي

  ضَغَأ َعبَطَتْس َُّاللّ ْجََّٔزَتَيْهَفَحَءبَجْنا ْىُكُِْي ِّْيَهَع ىَّهَص َِّاللّ ُلُٕسَربََُن َلبَق ََُِّّإَف ِإ ٍَْي ِةبَجَّشناَرَشْعَيبَي َىَّهَسَٔ

  َُّن ِّْيَهَعَف ْعِطَتْسَي ْىَن َٔ .ٌءبَجِٔ ََُِّّإَف ِوَّْٕصنبِث ٍَْي ِجْرَفْهِن ٍَُصْدَأَِٔرَصَجْهِن

  Artinya: Telah bercerita kepada kita Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu

  Quraib berkata telah bercerita kepada kita Abu Mu‟awiyah dari A‟masy dari „Umarah dari „Umairin dari „Abdu ar-Rahman dari Yazid dari „Abdillah berkata Rosulullah SAW bersabda kepada kita “Wahai para pemuda barang siapa diantaara kalian yang mampu biaya menikah, menikahlah. Sesungguhnya ia lebih memejamkan pandangan dan memelihara faraj (alat kelamin). Barang siapa yang tidak mampu, hendakah ia berpuasa. Sesungguhnya ia sebagai perisai baginya”.

  Hadis di atas jelas diperuntukkan kepada syabab. Sedangkan menurut jumhur ulama‟ syabab adalah orang yang telah mencapai aqil baligh dan usianya belum mencapai 30 tahun. Aqil baligh bagi pria bisa ditandai dengan mimpi basah dan menstruasi bagi wanita atau sudah mencapai usia lima belas tahun.

  Oleh karena anjuran menikah tersebut maka menurut hemat penulis masyarakat dusun Ngronggo menjadikan faktor Agama sebagai salah satu pondasi dan alasan mereka mempertahankan budaya pernikahan di usia dini tersebut. Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan, menurut hemat penulis masyarakat dusun Ngronggo meyakini bahwa selama syarat dan rukun nikah menurut Agama telah terpenuhi maka pernikahan terhadap anak-anak merka harus segera dilaksanakan, Tanpa memperhatikan tujuan menikah yang dianjurkan oleh agama. Ini adalah salah satu dampak minimnya pengetahuan agama atau memahami agama tidak secara keseluruhan.

  Adapun syarat administratinya agar pernikahan tersebut dapat mempunyai kekuatan hukum dan sah serta diakui oleh Negara mereka tetap menjalankan prosedur yang ada, karena berdasarkan hasil wawancara terhadap kesepuluh responden yang penulis wawancarai Nampak bahwa 10 dari 10 responden mengajukan izin dispensasi nikah kepada Pengadilan Agama setempat sebelum melaksanakan Akad nikah.

  Dengan demikian menurut hemat penulis pernikahan usia dini di dusun Ngronggo didorong oleh faktor Pendidikan dan pengetahuan agama yang rendah oleh karena itu praktek pernikahan dini terjadi murni karena faktor keinginan dari pihak anak dan orang tua dengan didorong dengan faktor- faktor lainnya seperti tersebut di atas.

B. Analisis Tentang Implikasi Pernikahan Usia Dini di Dusun Ngronggo, Kelurahan Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga.

  Telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya tenang beberapa faktor yang menjadi pendorong dan kemungkinan sebab terjadinya praktek pernikahan dini di Dusun Ngronggo. Berdasarkan dari pembahasan sebelumnya, menurut hemat penulis berdasarkan wawancara rumah tangga yang dibangun oleh pasangan yang masih dibawah umur yang terjadi di dusun Ngronggo, Kelurahan Kumpulrejo Kota Salatigga menunjukkan beberapa dampak negative, sebagai berikut:

  1. Bertambahnya beban ekonomi, pernikahan usia dini yang terjadi di dusun ngronggo memicu rendahnya tingkat ekonomi keluarga, hal itu tidak dapat dipungkiri karena minimnya pengalaman dan wawasan pada pekerjaan sehingga pendapatan keluarga sangat kurang.

  Pasangan yang menikah di usia dini cenderung belum memiliki penghasilan yang cukup atau bahkan belum memiliki perkerjaan yang tetap dan layak. Hal ini yang menyebabkan pernikahan dini rentan dengan kemiskinan, yang mana mengakibatkan keterlibatan orang tua dalam menopang kebutuhan berumah tangga anaknya. Walaupun sebenarnya orang tua sudah tidak punya kewajiban lagi untuk memelihara dan mendidik, serta member nafkah anaknya karena ia sudah menikah.

  2. Rendahnya tingkat pendidikan, ketika seseorang memilih untuk menikah maka, dunia pendidikan akan mulai dikesampingkan oleh kewajiban dalam berumah tangga. Pada dasarnya dunia pendidikan tidak melarang seseorang yang sudah berkeluarga untuk melanjutkan tingkat pendidikannya namun para pelaku pasangan pernikahan usia dinilah yang tidak melanjutkan pendidikannya.

  3. Berkurangnya nilai sosial, keluarga praktik pernikahan pada usia dini akan mulai menutup dirinya dari pergaulan dengan saudara, tetangga, teman sejawat dan masyarakat setempat.dikarenakan pada usia muda tersebut sudah mulai memikirkan suami atau istri dan anak-anaknya serta mulai disibukan dengan berbagai kebutuhan berumah tangga.

  4. Rumah tangga yang kurang harmonis, perbedaan pendapat atau pertengkaran dalam rumah tangga adalah hal yang lumrah, akan tetapi tidak dapat dipungkiri kematangan mental dalam berumah tangga sangat dibutuhkan karena kesiapan mental yang kurang sering kali memicu permasalahan dalam berumah tangga. disamping itu kondisi pemikiran yang masih labil seringkali memperkeruh keadaan dalam berumah tangga. Dan sering kali berujung pada perceraian. Terlepas dari permasalahan tersebut diatas usia praktik pernikahan dini juga berdampak negatif pada keadaan sosial, kondisi psikis yang masih labil menyebabkan emosi yang mudah terpancing sehingga bisa berdampak pada perbedaan pendapat pasangan yang menyebabkan pertengkaran bahkan kekerasan dalam rumah tangga. Usia bukanlah patokan untuk membentuk kesiapan pasangan untuh menikah hanya saja kedewasaan fisik dan psikis tumbuh dan berkembang seiring denganbertambahnya usia. Maka kedewasaan cara berpikir sangat diperlukan seorang individu dalam membaca lingkungan sekitar, agar tercipta suasana didalam rumah tangga yang dibina diakui keberadaannya oleh masyarakat sekitar sebagai bagian dari anggota masyarakat sehingga keluarga yang dibentuk tidak merasa terisolasi dari pergaulan yang bersifat umum.

  Menurut hemat penulis, pada dasarnya pelaksanaan pernikahan samara- mata bukan untuk kebutuhan biologis. Akan tetapi faktor yang perlu dipertimbangkan dalam melangsungkan pernikahan adalah bertujuan untuk membangun keluarga yang sakinah mawadah dan rahmah serta akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT. Karena pernikahan adalah akad yang sangat kuat untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakanya merupakan ibadah.

C. Analisis Tentang Hukum Pernikahan Usia Dini di Dusun Ngronggo, Kelurahan Kumpulrejo, Kota Salatiga Menurut Prespektif Hukum Islam.

  Secara umum dapat diktakan bahwa umumnya imam madzhab membolekan nikah dini. Secara tersirat imam malik menyetujui pernikahan wanita yang belum dewasa. Imam malik misalnya menulis: (Nasution 2013: 371)

  “Perkwinan seorang janda belum dewasa yang belum dicampuri oleh bekas suaminya, baik berpisah karena ditalak atau ditinggal mati, mempunyai status sama dengan gadis ,bahwa bapak mempunyai hak ijbar atasnya. Sebaliknya kalau sudah dicampuri mempunyai status sama dengan janda, bahwa dia sendiri lebih berhak pa da dirinya dari pada walinya”

  Pandangan yang sama dikemukakan oleh Kasani, dari madzhab Hanafi. Dasarnya adalah tindakan Rasululah yang menikahi Aisyah pada usia enam tahun yang dinikahkan oleh Abu Bakar, dan Rosul menikahkan anaknya Ummu Kalsum dengan Ali pada waktu masih kecil, demikian juga Abdullah bin Umar menikahkan anaknya ketika masih kecil dan sahabat-sahabat lain. (Nasution 2013: 372)

  Dalam kitab al- umm Imam Syafi‟I membagi tiga macam perkawinan ditiinjau dari sudut umur calon mempelai wanita, yakni: (1) perkawinan janda, (2) perkawinan gadis dewasa, dan (3) perkawinan anak-anak. Bahkan dalam kitab tersebut juga menjelaskan bahwa bagi gadis yang belum dewasa batasan umur belum mencapai 15 tahun atau belum keluar darah haid, seorangg bapak boleh menikahkan tanpa seizinnya lebih dahulu (hak ijbar), dengan syarat menguntungkan dan tidak merugikan si anak. Adapun dasar dari penetapan hak ijbar menurut Imam Syafi‟I adalah tindakan Nabi yang menikahi Aisyah ketika masih berumur tujuh tahun, dan mengadakan hubungan setelah berumur Sembilan tahun.

  Adapun dasar kebolehan menikahkan gadis yang belum dewasa menurut Ibnu Qudamah dari madzhab Hanbali adalah surat at-Talaq (65): 4. Pada prinsipnya ayat ini berisi tentang masa „iddah wanita yang belum haid dan yang sudah putus haid, lo gika sederhananya adalah „‟iddah muncul kaena talak, dan talak muncul karena pernikahan. Oleh karena itu, secara tersirat ayat ini menunjukkan bahwa seorang wanita yang belum haid (belum dewasa) diperbolehkan menikah.(Nasution 2013 : 373)

  Dalam bukunya, Nasution mengutip tentang kebolehan menikah dibawah umur oleh fuqaha yang didasarkan pada Q.S. At-Tholaq (65) ayat 4 oleh Ashgar ditolak, dengan merujuk pada Tafsir Muhammad As‟ad, The Message of the

  

Qur‟an , bahwa kata lam yahidna bukan berarti belum mencapai usia haid, tetapi

  tidak haid, tidak haidnya mungkin karena alasan psycologis atau alasan lainnya.Dengan mengutip Maulana Utsman, Ashgar menulis bahwa semua teolog sepakat bahwa isteri yang dicerai sebelum terjadi hubungan seksual, al-

  Qur‟an tidak menuntut adanya iddah. Konsekuensinya, hubngan seks dengan wanita yang belum mencapai menstruasi tidak mungkin terjadi, karena masalah iddah muncul hanya apabila ada kemungkinan terjadi hubungan seksual.

  Dari tinjauan Agama, Muammad Hasbi Ash-Shiddiqie sependapat dengan Yusuf Musa, bahwa usia dewasa adalah berusia 21 tahun. Kemudian jika ditinjau dari Hukum Islam, tinjauan subyek Hukum Islam (

  mukallaf, maf‟ul „alaih) bahwa manusia sebagai subyek hukum mempunyai dua kecakapan hukum (al-ahliyah). Pertama, menerima hak dan kewajiban, yang disebut dengan ahliyah al-wujub, kedua, bertindak hukum, yang disebut al-hliyah al-

  ada‟.

  Manusia sebagai subjek hukum apabila dihubungkan dengan posisi/statusnya sebagai penerima hak dan kewajiban (ahliyah al-wujub) ada dua macam, pertama, manusia yang memiliki kemampuan menerima hak dan kewajiban kurang sempurna (ahliyah al-wujub an-naqishah),. Maksudnya seseorang itu hanya pantas menerima hak tetapi tidak pantas memikul kewajiban. Contoh jenis ini adalah janin dalam kandungan hanya berhak mendapatkan warisan, wasiat dan wakaf. Kedua, manusia yang mempunyai kemampuan menerima hak dan sekaligus memikul kewajiban secara sempurna (ahliyah

  alwujub alkamilah ). Maksudnya, seseorang pantas menerima hak dan sekaligus

  memikul kewajiban. Manusia sejak lahir sampai dewasa mempunyai hak dan keajiban ini. (Nasution 2013: 380) Manusia sebagai subjek hukum ketika dihubungkan dengan kemampuan bertindak hukum dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, tidak memenuhi syarat sebagai seorang yang mampu bertindak hukum sama sekali, seperti anak kecil yang mumayyiz, orang gila, orang yang kurang akal, karena dianggap belum/tidak mempunyai akal. Kedua, orang yang kurang sempurna bertindak hukum, dengan contoh anak yang sudah mumayyiz. Ketiga, orang yang memenuhi syarat secara sempurna melakukan tindakan hukum, seperti seorang yang sudah dewasa dan berakal sehat.

  Menurut analisis kombinasi antara analisis tematik dan analisis holistic, analisis tematik dilakukan dengan mencari sinkronisasi nash yang berbicara umur perkawinan, status dan tujuan perkawinan. Sementara analisis holistic dilakukan dengan mengkaitkan hasil pembahasan sinkronisasi nash yang berbicara umur perkawinan, status dan tujuan perkawinan dengan syarat-syarat sah tindakan hukum seseorang sebagai subjek hukum (

  mukalaf, maf‟ul „alaih).

  Adapun nash yang menunjukkan kebolehan nikah usia dini adalah tindakan nabi yang menikahi Aisyah dan ayat al- Qur‟an surat at-Thalaq (65):4 yang berbunyi:

  َّنا ٔ ٍَْضِذَي ْىَن ىِئَّلاأَ ٍرُْٓشَأ ُخَثَلاَث ٍَُُّٓتَّدِعَف ْىُتْجَتْرا ٌِِإ ْىُكِئآَسَِّ ٍِي ِضيِذًَْنا ٍَِي ٍَْسِئَي ىِئ اًرْسُي ِِِرْيَأ ٍِْي َُّّن مَعْجَي َاللّ ِقَّتَي ٍَئَ ٍََُّٓهًِْد ٍَْعَضَي ٌَأ ٍَُُّٓهَجَأ ِلبًَْدَلْْا ُدَلأُْأَٔ

  Artinya:

  “dan wanita-wanita yang putus dari haid diantara perempuan—

perempuanmu jika kamu ragu (tentang masalah haidnya), maka masa „iddahnya

dalah tiga bulan, dan begitu pula bagi perempuan-perempuan yang belum haid.

  (at-Thalaq (65): 4) Dalam ayat tersebut di atas, secara tekstual dan tegas tidak menyebut usia nikah, tetapi ada kemungkinan ditujukan untuk itu. Seperti yang telah penulis paparkan sebelumnya, bahwasanya sejumlah ulama‟ mengambil makna tersirat dari aat al-

  Qur‟an tersebut di atas yang berbicara tentang „iddah perempuan yang tidak haid , bahwa perempuan yang „iddah pasti sudah menikah, maka kalau ada

  „iddah sebelum haid berarti boleh nikah sebelum haid (dewasa). Akan tetapi sebagian ulama menolaknya. Karena, ada kemungkinan (tidak haid) yang dimaksud adalah karena faktor lain, seperti penyakit, atau gangguan psikis, dengan demikian menurut sebagian ulama‟ memaknai ayat ini bukan untuk menunjukkan kebolehan seorang perempuan belum dewasa (belum haid) untuk menikah di usia dini. (Nasution 2013: 389)

  Analisis pertama ditujukan kepada tindakan Nabi yang menikahi Aisyah dalam usia dini, perlu diingat bahwa ada tindakan yang khusus berlaku bagi Nabi Muhammad SAW, tetapi bukan untuk diikuti umatnya, seperti yang diungkapkan dalam surat al-Ahzab (33): 50 yang berbunyi:

  َءآَفَأ آَّمِم َكُنيِمَي ْتَكَلَماَم َو َّنُهَروُجُأ َتْيَتاَء يِتَّلاا َك َجا َو ْزَأ َكَل اَنْلَل ْحَأ آَّنِإ ُّيِبَّنلا اَهُّيَأآَي ًةَأ

َرْما َو َكَعَم َن ْرَجاَه يِتَّلاا َكِتَلاا َخ ِتاَنَب َو َكِلاَخ ِتاَنَب َو َكِتاَّمَع ِتاَنَب َو َكِّمَع ِتاَنَب َو َكْيَلَع ُلله

ْدَق َنيِنِم ْإُمْلا ِنوُد نِم َكَّل ًةَصِلاَخ اَهَحِكنَتْسَي نَأ ُّيِبَّنلا َداَرَأ ْنِإ ِّيِبَّنلِل اَهَسْفَن ْتَبَه َو نِإ ًةَنِم ْإُّم

  ُلله َناَك َو ٌجَرَح َكْيَلَع َنوُكَي َلاْيَكِل ْمُهُناَمْيَأ ْتَكَلَماَم َو ْمِهِجا َوْزَأ يِف ْمِهْيَلَع اَنْضَرَفاَم اَنْمِلَع اًميِح َّر اًروُفَغ

Artinya: wahai nabi sesungguhnya kami telah menghalalkan bagimu

isteri-isterimu yang telah engkau berikan maskawinnya dan hamba sahaya yang

engkau miliki, termasuk apa yang engkau proleh dari peperangan yang

dikaruniakan untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara

laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu,

anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu, dan anak-anak perempuan

dari saudara perempuan ibumu yang turut berhijrah bersamamu. Dan perempuan mukmin yang menyerahkan kepada Nabi kalau Nabi ingin menikahinya, sebagai kekhususan bagimu, bukan untuk semua mukmin. Kami

telah mengetahui apa yang telah kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri

mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki agar tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.

  Analisis kedua dikaitkan dengan status perkawinan sebagai akad istimewa (mitsaqan ghalidzhan), yang berarti melebihi dari akad pada umumnya, yang seharusnya mendapat perlakuan khusus dan istimewa pula. Dalam hal ini perlu dihubungkan dengan status tindakan hukum si calon istri yang masih di bawah umur. Sebab status tindakan hukum sangat berkaitan dengan status subjek hukum. Perkawinan sebagai akad istimewa seharusnya memenuhi minimal syarat akad pada umumnya, yakni menurut kategori manusia sebagai subjek hukum ketika dihubungkan dengan kemampuan bertindak hukum di atas adalah seorang yang sudah dewasa dan berakal sehat.

  Analisis ketiga dikaitkan dengan pencapaian tujuan perkawinan bahwa tujuan perkawinan bahwa tujuan perkawinan menurut Islam adalah untuk membentuk/melahirkan keluarga bahagia. Membentuk keluarga bahagia ini sekaligus sebagai tujuan pokok. Adapun tujuan antara perkawinan adalah pemenuhan kebutuhan biologis suami dan istri tujuan reproduksi dan/ regenerasi (melahirkan anak), tujuan penjaga kehormatan, tujuan beribadah dan tujuan- tujuan lainnya. Untuk melahirkan generasi berkualitas ada persoalan reproduksi, yakni kemampuan secara fisik dan psikis menjadi seorang ibu yang harus mengandung, melahirkan dan mengurus anak. Kemudian dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan kedewasaan dan kematangan prima untuk dapat mencapai tujuan perkawinan.

  Oleh karena itu, dengan analisis terebut di atas dapat disimpulkan bahwa kemungkinan nikah dini hanya berlaku khusus untuk Rasulullah Nabi Muhammad SAW.

  Asal hukum menikah adalah sunnah, namun hukum asal sunnah dapat berubah menjadi hukum lain misalnya wajib atau haram, tergantung keadaan orang yang melaksanakan hukum nikah. Jika seseorang khawatir tidak dapat menjaga kesucian dan akhlaknya kecuali dengan menikah, maka menikah menjadi wajib baginya. Sebab, menjaga kesucian dan akhlak adalah wajib atas setiap muslim, dan jika ini tidak dapat terwujud kecuali dengan menikah maka menikah menjadi wajib baginya. Bisa menjai haram juga menikah jika ia menikah dengan alsan untuk menyakiti istri atau karena harta atau karena hal yang membahayakan Agama.

  Didalam fikih atau hukum Islam tidak ada batasan minimal usia pernikahan. Jumhur atau mayoritas u lama‟ mengatakan bahwa wali atau orang tua boleh menikahkan anak perempuannya. Namun karena pertimbangan maslahat beberapa ulama memakruhkan praktik pernikahan usia dini ini.

  Sedangkan prakek pernikahan usia dini jika disinkronkan dengan kaidah ushuliyah:

  خنبصًنا تهج يهع ودقي دسبفًنا ءرد

  ( Dar‟u al-mafasid muqaddimu alaa jalbi al-mashalihi)

  Artinya mencegah atau menghindari kerusakan didahulukan dari pada

  : mencari kemaslahatan (kebaikan) .

  Maka pernikahan usia dini yang berlangsung jauh dari tujuan utama dari pernikahan yaitu untuk membangun keluarga sakinah, mawaddah dan rohmah sudah semestinya ditekan seminimal mungkin. Memang benar menikah adalah sunnah Allah SWT, namun yang perlu dipertimbangkan lagi adalah bahwa hukum menikah itu bisa berubah sesuai pada pribadi individu yang akan melangsungkan pernikahan.

BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan, dapatlah penulis

  simpulkan mengenai pernikahan usia dini; faktor dan implikasinya menurut prespektif hukum islam (study kasus di Dusun Ngronggo, Kelurahan Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. Dari uraian per bab sebelumnya penulis dapat mengambil beberapa pokok yang dapat menjadikan kesimpulan dari permaslahan ini, sebagai berikut: 1.

  Praktik pernikahan usia dini di dusun Ngronggo kelurahan Kumpulrejo Kecamtan Argomulyo Kota Salatiga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rendahnya tingkat pendidikan, minimnya wawasan agama, dan pergaulan sosial. Hal ini sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat dusun Ngronggo yang menganggap pernikahan sebagai jalan keluar dari persoalan hidup tetapi kenyatannya justru sebaliknya.

  2. Praktik pernikahan usia dini yang terjadi di dusun Ngronggo kelurahan kumpulrejo kecamatan argomulyo kota salatiga berdampak negatif, seperti: bertambahnya beban ekonomi bagi orang tua karena anaknya belum mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dalam berumah tangga, tingkat pendidikan yang rendah, berkurangnya nilai sosial dalam berinteraksi antar sesama, serta rumah tangga yang kurang harmonis.

3. Pernikahan usia dini yang terjadi di Dusun Ngronggo adalah pernikahan yang harus ditekan dengan mempertimbangkan maslahah dan mudhorotnya.

  Karena dampak negatif pernikahan usia dini yang terjadi di dusun Ngronggo lebih banyak dirasakan dari pada dampak positifnya. Apabila dikaitkan dengan kaidah fikih „‟Dar‟ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih‟‟, artinya mencegah/menghindari resiko (mudhorot) praktik pernikahan dini harus didahulukan dari pada upaya mencari kebaikan (maslahah) dari pernikahan tersebut.

B. Saran

  Berdasarkan uraian di atas, maka saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut:

  1. Dalam kasus pernikahan usia dini di Dusun Ngronggo dapat diminimalisir dengan memberikan soosialisasi kepada masyarakat tentang pergaulan yang sehat.

  2. Agar pemerintah lebih berperan aktif dalam mensosialisasikan undang-undang perkawinan yang berlaku.

  3. Agar Masyarakat dusun Ngrongo mempelajari hukum dan dampak pernikahan usia dini.

C. Kata Penutup

  Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan

DAFTAR PUSTAKA

  

Abdurrohman. 1992. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Akademika

Pressindo.

  Aljaziri, Abdurrohman. 2003. Alfiqh Ala Madzahibi Al- Arba‟ah Juz 4 Nidah-Talak. t.t. Darut Taqwa.

  Arikunto, Suharsimi. 2008. ProsedurPenelitian. t.t, t.tp. As-Sayis, Ali. 1963. TafsirAyat Al-Ahkam. ttp.: Muhammad Ali Sabiq. Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi. 2000. Tafsir AL- Qur‟anul Majid An-Nuur.

  Semarang: PT. Puataka Rizki Putra. Ash-Shiddieqy, Muhammad hasbi. 1978. Hukum-Hukum Fiqih Islam. Jakarta Bulan Bintang.

  Ashshofi, Burhan. 1996. MetodePenelitianHukum. Jakarta: Rineka Cipta. Budiman, Achmad Arief. 2008. Pernikahan Usia Dini Di Kota Semarang. Semarang:

  IAIN Walisongo Departemen Pendidikan Nasional.2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet.4. Jakarta: Balai Pustaka. Departemen Pendikan Budaya. 1914. kamus besar bahasa Indonesia. cet III edisi 2.

  Jakarta: Balai Pustaka. Ghazaly, Abdurrahman. 2003. Fiqh Munakahat. Jakarta: Prenada Media. Mudhor, Atho‟. 2000. MembacaGelombangIjtihad. Yogyakarta: Titian Ilahi Press.

  Moleong, Leksi J, 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

  Nastangin. 2012. Perceraian Karena Salah Satu Pihak Murtad (PutusanPengadilan Agama SalatigaNomor 0356/pdt.G/2011/PA.SAL), Salatiga.

  Nasution, Khoiruddin. 20013. Hukum Perdata (Keluarga) Islam Indonesia Dan

  Perbandingan Hukum Perkawinan Di Dunia Muslim. Yogyakarta: ACAdeMIA+TAZAFFA.

  Ronny, Kountur. 2003. Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. Jakarta: PPM.

  Sabiq, Sayyid. 1990. Fikih Sunnah 6.

  Bandung: PT Alma‟arif. Subekti. 1989. Pokok-Pokok Hukum Perdata. Jakarta: PT Intermasa. Sudarsono. 1991. Hukuk Perkawinan Nasional, Jakarta: PT RinekaCipta. Soekanto, Soerjono. 1992. Pengantar Penelitian Hukum.Jakarta UI Press. Tim Penulis. 2010. Pedoman Penulisan Skripsi. Semarang :FakultasSyariah IAIN Walisongo. Utsman, Ali Ahmad. 2006. Dasar-Dasar Pernikahan Dalam Islam. Solo:Media Insani.

  Yunus, Mahmud. 1990. Kamus Bahasa Arab-Indonesia. Jakarta: Hida Karya Agung. Addimyati, Muhammad Syata. t.t.

  I‟anah Thilibin juz 3. Bandung: Al Ma‟arif.

  At-Tanukhi Muhammad Sahnun bin Said. 1323. Al-Mudawwanah Al-Qubra. Beirut: Dar Sadir.

  (MAKTABAH SAMILAH) Ash- syafi‟I Muhammad bin Idris.t.t. Al-Umm. t.t.t.pn. Al-Jaziri Aburrahman. t.t. Al- Fiqh Ala Madzahibil Arba‟ah Jilid 4. Beirut: Darul Fikr. Al-Mahalli, Jalaluddin. t.t. Almahalli Juz 3. Indonesia: Nur Asia. Muslim.tt.

  Mauqi‟al-Islam Shahih Muslim Juz 7. Tt.ttp.

Dokumen baru

Tags

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana

Dokumen yang terkait

SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Dalam Bidang Antropologi
0
0
13
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi 2014
0
0
16
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
0
0
17
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat- Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
0
0
11
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
1
15
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
17
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
1
26
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan DEWI KURNIASIH NIM. 20121110008
0
0
16
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan SITI MULYATI NIM. 20131111105
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam Dalam Ilmu Tarbiyah
0
0
78
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam
0
0
102
KONSEP PENERAPAN HAK CIPTA SEBAGAI TIRKAH (STUDI KASUS HAK CIPTA BUKU KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam
1
1
127
Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)
0
0
95
Show more