MAKNA KELEMBUTAN HATI SANTO VINCENTIUS A PAULO BAGI HIDUP PERSAUDARAAN PARA SUSTER KASIH YESUS DAN MARIA BUNDA PERTOLONGAN YANG BAIK (KYM)

Gratis

0
0
161
10 months ago
Preview
Full text

  

MAKNA KELEMBUTAN HATI SANTO VINCENTIUS A PAULO BAGI

HIDUP PERSAUDARAAN PARA SUSTER KASIH YESUS DAN MARIA

BUNDA PERTOLONGAN YANG BAIK (KYM)

  

SKRIPSI

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh:

  Masna Rohana Dona Bakkara NIM: 071124026

  

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada tarekatku yang tercinta, khususnya kepada semua yang telah mendukungku dan mendukung panggilanku, keluargaku, semua para sahabatku dalam menyelesaikan studi dan mendukung panggilanku, semoga kita bertumbuh dalam kelembutan hati untuk memenangkan dunia.

  MOTTO Tidak ada manusia satupun di dunia ini yang tidak bisa menerima kelembutan serta keramahan

  (Santo Vincentius A Paulo)

PERNYATAAN KEASLIAN

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 22 Oktober 2012 Penulis

  Masna Rohana Dona Bakkara

  

ABSTRAK

  Judul skripsi ini adalah MAKNA KELEMBUTAN HATI SANTO

  VINCENTIUS A PAULO BAGI HIDUP PERSAUDARAAN PARA SUSTER KASIH YESUS DAN MARIA BUNDA PERTOLONGAN YANG BAIK (KYM). Yang melandasi penulisan Skripsi ini adalah kenyataan zaman ini yang semakin hari semakin penuh dengan berbagai kekerasan dalam berbagai bentuk. Para suster KYM yang mengikrarkan ketiga kaul Injili hidup dalam zaman ini dan turut tergilas oleh kekerasan Zaman ini.

  Penulis menyadari pentingnya kelembutan hati di zaman ini. Tanpa kelembutan hati anak-anak dan dunia kita, akan semakin masuk dalam jurang kehancuran. Manusia akan saling merusak satu terhadap yang lain dengan kekerasan. Dalam konteks inilah kelembutan hati sangat diperlukan. Kelembutan hati ini perlu dimulai dan dibentuk dalam persaudaraan para suster KYM di komunitas kecil yang pada akhirnya menyebar luar ke dalam dunia. Kelembutan hati dalam hidup dan pelayanan para suster KYM akan menjadikan dunia di sekitarnya tempat yang layak untuk didiami.

  Penulis mengawali skirpsi ini dengan memaparkan makna kelembutan hati dari berbagai aspek terutama pemahaman Injili dan pemahaman kepribadian yang berhati lembut. Selanjutnya penulis memaparkan kelembutan hati yang dihidupi oleh Santo Vincentius A. Paulo sebagai model. Penulis sadar bahwa tidak mudah bagi kita untuk sampai pada kelembutan hati seperti yang kita diharapkan. Kita masih perlu membentuk hati yang lembut, bergumul dan berjuang karena dunia di luar kita semakin penuh dengan berbagai tindak kekerasan yang kadang memacu untuk membalas yang sama.

  Secara khusus kepada para suster KYM, Bapak pendiri, Antonius Van Erp mengatakan bahwa jika kita menyebut Santo Vincentius sebagai pendiri kita maka segala keutamaan dan pribadinya yang unggul hendaknya menjadi bagian dari seluruh kita anggota KYM. Dengan begitu kelembutan hati akan menjadi dasar bagi anggota tarekat untuk menjadikan dunia layak untuk dihuni sesuai dengan visi dan misi kongregasi. Pribadi yang lembut akan mampu mengalakan kekerasan dan akan menjadi pemenang atas kekerasan dunia. Karena itu para suster KYM diharapkan untuk semakin menumbuhkan pribadinya, pelan tapi pasti supaya dalam kelembutan hati para suster KYM, Allah yang berhati lembut menjadi nyata bagi dunia yang penuh kekerasan.

  

ABSTRACT

  The title of this writing is “THE MEANING OF THE GENTLE HEART OF SAINT VINCENT A PAULO IN THE SISTERHOOD OF THE SISTER OF LOVE OF JESUS AND MARY MOTHER OF GOOD HELP (KYM). The main reason behind this writing is the reality violence in this age that increase in any kind of forms day after day. KYM sisters who proffesed three evangelical vows live in this age and shaped negatively by the violence of this age.

  The writer is aware of the importance of tender heart in this age. Without tender heart children of this age and the world will continue fall into brokenes. Human will continue violate one another. In this very context, the tender heart is needed. Tender heart must begin and be formed within sisterhood of KYM in the small community which in the end can affect her world around. The tender heart in life and service of the sisters of KYM will make this world a place that worth to live.

  Researcher begin this work by describing the meaning of the tender heart from many perspective especially Gospel and person who poses tender heart. And then reseacher present the tender heart of Saint Vincent A. Paulo as a model. The writer is aware that it is not easy for us to reach an ideal tender heart. We need to form that tender heart, proces and give our best effort becuase the world around us is full of any kinds of violence that sometimes tempt us to revence.

  To the members of KYM sisters, the founder, Antony Van Erp said that if we said that Saint Vincent is our founder then as sister of KYM we should possess his virtues and tender heart. In this way tender heart will become the foundation of the members of the congregation to make this world worthy place for living according to the vision and mission of the congregation. Person with tender heart will be able to figth against violence and become winner over world’s violence. Therefore, we KYM sisters are invited to develop our personality, slowly but surely so that in the spirit of tender heart of KYM sisters, God, the tender heart will become a reality for the world that full of violences.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Allah karena kasih karunia dan bimbinganNya, penulis sungguh mengalami kekuatan setiap hari untuk menyelesaikan dan mengerjakan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Program Ilmu Pendidikan Kekhususan Agama Katolik.

  Judul skripsi ini adalah “MAKNA KELEMBUTAN HATI SANTO

  VINCENTIUS A PAULO DALAM HIDUP PERSAUDARAAN PARA SUSTER KASIH YESUS DAN MARIA BUNDA PERTOLONGAN YANG BAIK (KYM)”. Banyak kisah telah terukir selama menyelesaikan penulisan skripsi ini. Semuanya itu menjadi warna-warni yang mengisi perjalanan studi khususnya dimasa-masa terakhir perkuliahan. Banyak sukacita, walaupum ada juga kecemasan dan kesulitan yang datang mewarnai penulisan ini. Dukungan berbagai pihak menjadi satu sukacita yang membuat skripsi ini selesai pada akhirnya, khususnya perhatian dosen utama yang sedemikian besar memberi hati dan cinta untuk penulisan skripsi ini, dan dukungan dari seluruh anggota komunitas pun tarekat yang mendukung lewat cara mereka masing-masing. Dalam hal ini juga persaudaraan dari segenap anggota dari Lembaga Program studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma, akhirnya penulis dapat menyelesaikannya.

  Atas kerjasama yang baik dan bantuan dari berbagai pihak, dengan hati yang tulus penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Dr. J. Darminta, SJ., selaku dosen pembimbing utama yang selalu setia, sabar, gembira dan penuh inspirasi memberikan perhatian dan membimbing serta mengarahkan penulis dalam menyusun skripsi ini.

  2. P. Banyu Dewa HS, S. Ag., M.Si., sebagai pembaca II sekaligus sebagai dosen wali yang mendampingi penulis, memberikan semangat sampai skripsi ini selesai.

  3. Drs. L. Bambang Hendarto Y. M. Hum., selaku dosen penguji yang memberikan dukungan dalam penulisan skripsi ini.

  4. Segenap staf dosen Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Agama Katolik

  5. Pimpinan umum tarekat KYM beserta dewannya yang memberikan kesempatan untuk studi.

  6. Segenap anggota komunitas KYM Louisa de Marillac Jogyakarta yang memberikan dukungan selama penulisan skripsi ini.

  7. Sahabat-sahabat dekat saya yang sungguh tulus memberikan dukungan dan perhatian dan pengorbanan selama penulisan skripsi ini.

  8. Teman-teman angkatan 2007 dan 2008, atas kerjasama, dukungan dan kebersamaannya yang menyenangkan.

9. Teman-teman angkatanku dalam kongregasi atas dukungan dan doa-doanya, love u full.

  10. Orangtua dan seluruh anggota keluarga yang setia mendoakan saya dimanapun kalian semua berada.

  11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas segala bantuan, dukungan, perhatian terutama dalam penulisan skripsi ini.

  Akhirnya penulis menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, sehingga skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis memerlukan kritik serta saran yang membangun. Penulis berharap, semoga skripsi ini bermanfaat bagi persaudaraan para suster KYM dalam menjadikan dunia yang lebih layak untuk dihuni dengan segala kelembutan hati.

  Yogyakarta, 22 Oktober 2012 Penulis

  Masna Rohana Dona Bakkara

  

DAFTAR ISI

JUDUL ................................................................................................................. i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................................... ii

PENGESAHAN ................................................................................................... iii

PERSEMBAHAN ............................................................................................... iv

MOTTO ............................................................................................................... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................. vi

ABSTRAK ........................................................................................................... vii

ABSTRACT .......................................................................................................... viii

KATA PENGANTAR ......................................................................................... ix

DAFTAR ISI ........................................................................................................ xi

DAFTAR SINGKATAN ..................................................................................... xvi

PERNYATAAN PERSETUJUAN .................................................................... xviii

BAB I. PENDAHULUAN..............................................................................

  1 A. Latar Belakang ..............................................................................

  1 B. Rumusan Masalah .........................................................................

  4 C. Tujuan Penulisan ...........................................................................

  4 D. Manfaat Penulisan .........................................................................

  5 E. Metode Penulisan ..........................................................................

  5 F. Sistematika Penulisan ...................................................................

  5 BAB II. KELEMBUTAN HATI DALAM HATI SANTO VINCENTIUS

  8 A. Kelembutan Hati ...........................................................................

  8 1. Konsep Tentang Kelembutan Hati ..........................................

  8 2. Kelembutan Hati dalam Injil ...................................................

  12 a. Menurut Perjanjian Lama ..................................................

  12 b. Menurut Injil Matius .........................................................

  13 c. Menurut Injil Markus ........................................................

  16 d. Menurut Injil Lukas ..........................................................

  17

  B. Kelembutan Hati Menurut Santo Vincentius A. Paulo .................

  21 1. Sekilas Tentang Santo Vincentius A. Paulo ............................

  21 2. Kelembutan Hati Menurut Santo Vincentius A. Paulo ...........

  23 a. Khas Vincentius ................................................................

  23 b. Berguru Pada Pihak Lain ..................................................

  26 c. Harapan Kedepan Bagi Para Pengikutnya ........................

  28 C. Kelembutan hati Santo Vincentius A. Paulo Dalam Mencintai Orang Miskin Sebagai Majikan ....................................................

  32 D. Makna Kelembutan Hati Santo Vincentius A. Paulo Dalam Hidup Para Suster KYM ...............................................................

  33 BAB III. HIDUP PERSAUDARAN PARA SUSTER KYM DALAM TELADAN KELEMBUTAN HATI ST. VINCENTIUS A.

  PAULO ...............................................................................................

  35 A. Pilihan Pastor Antonius Van Erp untuk KYM ..............................

  38 B. Hidup Persaudaran Para Suster KYM ...........................................

  41 1. Persaudaraan Religius KYM ...................................................

  41 2. Makna Hidup Persaudaraan ....................................................

  43 3. Spiritualitas Kelembutan Hati Dalam KYM ...........................

  47 C. Teladan Kelembutan Hati St. Vincentius A. Paulo Dalam Hidup Persaudaraan KYM .......................................................................

  49

  1. Teladan Kelembutan Hati St. Vincentius A Paulo Dalam Relasi Dengan Sesama ............................................................

  49

  2. Teladan Kelembutan Hati Santo Vincentius A. Paulo Dalam Hidup Persaudaraan KYM ......................................................

  52

  3. Teladan Kelembutan Hati St. Vincentius A. Paulo Bagi Pembentukan Pribadi Seorang KYM Yang Berhati Lembut .

  55

  4. Teladan Kelembutan Hati Santo Vincentius A. Paulo Dalam Mewujudkan Kuam Miskin Sebagai Majikan Dalam Karya Pelayanan ................................................................................

  56

  D. Relevansi Kelembutan Hati Dalam Hidup Persaudaran KYM Ditengah Budaya Kekerasan .........................................................

  57 1. Budaya Kekerasan ...................................................................

  57 a. Kekerasan Dan Perilaku Yang Menyimpang ....................

  58 b. Teori Yang Berkaitan Dengan Perilaku Menyimpang ......

  59 1) Teori Anomie ..............................................................

  59 2) Teori Belajar (Teori Sosialisasi) .................................

  60 3) Teori Libeling (Teori Pemberian Cap Atau Teori reaksi Masyarakat ........................................................

  60 4) Teori Kontrol ...............................................................

  60 5) Teori Konflik ...............................................................

  60 c. Kekerasan Itu Budaya? .....................................................

  61 d. Apakah Budaya Kekerasan Itu? ........................................

  61

  2. Keutamaan St. Vincentius A. Paulo Dalam Pelayanan Kepada orang Miskin Sebagai Majikan ..................................

  67 3. Cara Hidup Suster KYM Dalam Semangat Kelembutan .......

  69 E. Perlunya Pengolahan Hidup Terus menerus bagi para suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Yang Baik...... .........

  70 1. Dalam Konstitusi KYM ..........................................................

  70 2. Penegasan Gereja . ..................................................................

  73

  3. Berbagai Cara Pengolahan Hidup Terus Menerus bagi para suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Yang Baik .........................................................................................

  76 a. Rekoleksi ...........................................................................

  77 b. Bacaan Rohani ..................................................................

  77 c. Katekese ............................................................................

  77 d. Refleksi .............................................................................

  78 e. Retret .................................................................................

  78 f. Tahun Sabat .......................................................................

  81

  BAB IV. PROGRAM PEMBINAAN SUSTER KYM DALAM ON GOING FORMATION DENGAN KATEKESE MODEL SHARED CHRISTIAN PRAKSIS “SCP” ........................................

   83 A. Gambaran Umum Katekese ..........................................................

  83 1. Pengertian Katekese ................................................................

  83 2. Prinsip-prinsip Katekese .........................................................

  86 3. Tujuan Katekese ......................................................................

  89 4. Tugas Konkret Katekese .........................................................

  90 5. Unsur-unsur Katekese .............................................................

  93 a. Pengalaman Hidup/Praktek Hidup ....................................

  93 b. Komunikasi Pengalaman Hidup ........................................

  93 c. Komunikasi Dengan Pengalaman Hidup Kristiani ...........

  93 d. Arah Keterlibatan Baru .....................................................

  93 B. Proses Katekese dalam On Going Formation ...............................

  94 1. Kemampuan Intelektualitas .....................................................

  94 2. Kemampuan Sosialitas ............................................................

  94 3. Kemampuan Rasa Merasa Rohani ..........................................

  94 4. Kemampuan Kesehatan Jasmani .............................................

  95 5. Kesehatan Mental-Psikologis ..................................................

  95 6. Kenyataan Kebutuhan Masyarakat .........................................

  95 a. Kebutuhan Nasional (Bangsa Indonesia) ..........................

  95 b. Kebutuhan Internasional ...................................................

  95 c. Kenyataan Kebutuhan Gereja Katolik ..............................

  96 1) Kebutuhan Gereja Katolik Indonesia ..........................

  96 2) Kebutuhan Gereja Katolik Internasional .....................

  96 C. Peranan Katekese Dalam On Going Formation Bagi Pembentukan Pribadi Yang Berhati Lembut ................................

  96 D. Pemilihan Model Katekese ...........................................................

  98 1. Model : Shared Christian Praksis ..........................................

  98 a. Praksis ...............................................................................

  98

  c. Shared ..............................................................................

  99 2. Langkah- Langkah Pelaksanaan Katekese Model “SCP” .....

  99 a. Pengungkapan Praksis Faktual ..........................................

  99

  b. Refleksi Kritis Pengalaman Faktual .................................. 100

  c. Mengusahakan Supaya Tradisi Dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau ........................................................................ 100

  d. Interpretasi Dialektis Antara Praksis Dan Visi Peserta Dengan Tradisi Dan Visi Kristiani .................................... 101

  e. Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah Di Dunia .................................................................. 101

  E. Usulan Program Pembinaan Suster KYM .................................... 102

  1. Pengertian Program Pembinaan .............................................. 102

  2. Latar belakang Program Pembinaan ....................................... 103

  3. Tujuan Program Pembinaan .................................................... 106

  4. Tema-tema Dalam program Pembinaan ................................. 106

  

BAB V : PENUTUP .......................................................................................... 133

A. Kesimpulan .................................................................................. 133 B. Saran ............................................................................................. 134

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 136

LAMPIRAN ........................................................................................................ (1)

DAFTAR SINGKATAN

  A. Singkatan Kitab suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci perjanjain lama/Perjanjian Baru: dengan pengantar dan catatan singkat.

  (Dipersembahkan kepada umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985.8

  B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Paus Yohannes Paulus II kepada para Uskup, klerus dan segenap umat beriman tentang katekese Masa Kini, 16 Oktober 1979

  EN : Evangelii Nuntiandi, Anjuran Apostolik Paus Paulus VI tentang Pewartaan Injil

  VC : Vita Consecrata, KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici), diundangkan oleh Paus

  Yohanes Paulus II tanggal 25 Januari 1983

  C. Singkatan Lain Art : Artikel Balita : Bawah lima tahun BBEV : Butir-butir EmasVincentius Bdk : Bandingkan CM : Congregatio Missionum DBSV : Dalam Bimbingan Santo Vincentius DKU : Direktorium Kateketik Umum EPMM : Etika Pembinaan Misionaris Maria Kan : Kanon

  Kt : Kata MAWI : Majelis Agung Wali Gereja Indonesia Maz : Mazmur No : Nomor PSK : Panitia Spiritualitas Koptari Psl : Pasal SCP : Shared Christian Praksis Sr : Suster PPDLR : Pedoman-pedoman dalam Lembaga-lembaga Religius PPK KYM : Pedoman Pembinaan Kongregasi Kasih Yesus dan Maria Bunda

  Pertolongan Yang Baik PPKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia PPDLR : Pedoman Pembinaan Doa dan Latihan Rohani SCMM : Sister Of charity Our lady Mother of Mercy Stat : Statuta St : Santo/Santa SV : SuratVinsentius Tv : Television PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa universitas Sanata Dharma Yogyakarta: Nama: Masna Rohana Dona Bakkara NIM : 071124026 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: MAKNA

  

KELEMBUTAN HATI SANTO VINCENTIUS A PAULO BAGI

HIDUP PERSAUDARAAN PARA SUSTER KASIH YESUS DAN

MARIA BUNDA PERTOLONGAN YANG BAIK (KYM).

  Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal, 22 Oktober 2012 Yang menyatakan Masna Rohana Dona Bakkara

  

BAB I 

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan Skripsi

  Paus Paulus VI dalam Evangelii Nuntiandi no 76 menulis demikian: “Dunia mengundang dan mengharapkan dari kita kesederhanaan hidup, semangat doa, cintakasih kepada semua, khususnya kepada yang lemah dan miskin, ketaatan dan kerendahan hati, lepas bebas dan pengorbanan diri. Tanpa tanda kesucian ini, dunia kita akan sulit menyentuh hati orang-orang modern. Ini beresiko menjadi sia-sia dan hampa.” Kerendahan hati menjadi salah satu perhatian Paus untuk kita yang hidup dalam dunia modern. Sebab dengan dan dalam kerendahan hatilah kita bisa mencapai dan dicapai orang lain, kita berani membuka diri dan membiarkan orang lain masuk.

  Dalam buku DBSV (dalam Bimbingan Santo Vincentius) disebutkan: Dalam Injil Matius (11:29) Yesus Sang Guru bahkan pernah mengatakan, “Belajarlah daripadaKu, sebab Aku ini lembut dan rendah hati”. Kata-kata Yesus tentang kelembutan dan kerendahan hati inilah yang melatarbelakangi penulisan skripsi ini. Yesus memperkenalkan diriNya sebagai pribadi yang lembut dan rendah hati yang seharusnya dimiliki seorang religius termasuk seorang suster KYM, seperti yang diteladankan atau dihidupi oleh Santo Vincentius A. Paulo pelindung para suster KYM. Dengan kelembutan hati “kaum religius akan belajar dengan ketekunan yang besar pelajaran yang diberikan oleh Kristus kepada mereka, ‘belajarlah dari padaKu karena Aku lembut hati dan rendah hati.’” Sebab seperti Kristus sendiri, dengan kelembutan hati kita akan memiliki tanah (Armada, 2004: 82).

  Dengan menghayati keutamaan ini kita akan memenangkan hati orang agar berpaling kepada Tuhan. Sesuatu yang tidak mungkin dijalankan oleh mereka yang keras hatinya kepada sesama. Dengan kerendahan hati kita akan mendapatkan surga. Karena kecintaan kita akan kerendahan hati, kita akan perlahan-lahan, setapak demi setapak melangkah dengan keutamaan ini ke sana, ke surga. Dalam khotbah di bukit bahkan Yesus mengatakan, “Berbahagialah orang yang lembut hatinya, karena ia akan memiliki bumi” (Mat 5:5). Kiranya pantas kalau tema kelembutan ini dihidupkan terus dalam situasi zaman yang semakin penuh kekerasan hampir di segala bidang kehidupan dalam masyarakat (Armada, 2003:190).

  Adalah panggilan dan perjuangan kaum religius, khususnya para Suster KYM untuk menghidupi dan menghayati kelembutan hati dalam situasi dunia yang demikian keras. Dewasa ini kekerasan begitu menguasai segala lini kehidupan manusia. Kita alami bersama di jalan raya, orang tidak lagi sabar, semua berusaha menjadi yang pertama, tidak lagi ada sikap mempersilahkan dengan lembut, bahkan sering dalam hidup persaudaraan kaum religius terdengar kata makian karena dirasa kepentingan pribadi terganggu. Pengalaman serupa bisa juga terjadi pada kaum berjubah, tentu saja hal ini ikut masuk dalam hidup persaudaraan KYM.

  Dalam pengalaman hidup para suster khususnya dalam hidup persaudaraan belakangan sering mengabaikan prinsip kelembutan. Sering sesama suster lebih senang menggunakan kata-kata yang menyakiti hati. Seakan kelembutan tidak lagi mengambil peran dalam pembentukan kepribadian yang matang dalam membangun hidup persaudaraan.

  Sering dalam persaudaraan tercipta suasana yang menegangkan karena lebih mengutamakan adu argumen, penggunaan bahasa yang kasar, sehingga kelembutan menjadi mengecil dan semakin hari tidak bernyawa dalam pribadi para suster. Hal ini sering terungkap dalam perbincangan pribadi pun bersama, dalam kapitel rumah pun dalam sharing-sharing ketika mengadakan pertemuan rutin atau rekoleksi bulanan komunitas. Sikap kasar hanya akan merusak segalanya, sedangkan kelembutan akan merebut hati siapa saja (Armada, 2004: 89).

  Sesungguhnya kelembutan ini menjadi satu keutamaan yang harus dimiliki oleh seorang suster KYM. Zaman yang serba maju ikut menggilas peradaban hidup persaudaraan para suster KYM. Kelembutan yang sering dikonotasikan dengan keramahtamahan, sekarang menjadi sesuatu yang tampak sangat sulit dipraktekkan.

  Manusia, khususnya dalam hal ini para suster KYM, lebih gampang untuk mengungkapkan sebuah kata yang tidak membangun dibandingkan kata lembut yang begitu mendamaikan hati dan menyejukkan jiwa ketika mendengarnya.

  Menyadari situasi dan kondisi zaman ini, yang begitu penuh dengan egoisme dan kekerasan, maka kelembutan hati, yang diteladankan oleh St. Vincentius, sangat perlu untuk digali dan diingatkan kembali bagi para suster KYM. Jika hal itu diabaikan, maka satu keutamaan yang paling berarti dalam membangun pribadi seorang suster KYM menjadi pribadi yang lembut akan terkikis dan terabaikan, tinggal kata-kata tanpa tindakan nyata. Itu sangat penting dalam menjawab panggilan Allah untuk hadir menjadi orang pilihan yang berhati lembut, pribadi yang menghadirkan Allah yang begitu teramat lembut . Bertolak dari situasi di atas dan hidup panggilan sebagai seorang KYM, maka penulis memberi judul skripsi ini “MAKNA KELEMBUTAN HATI ST. VINCENTIUS A. PAULO BAGI HIDUP PERSAUDARAAN SUSTER KASIH YESUS DAN MARIA BUNDA PERTOLONGAN YANG BAIK (KYM).”

  B. Rumusan Masalah

  Secara garis besar penulis mencoba merumuskan beberapa permasalahan yang kiranya akan dibahas dalam karya tulis ini:

  1. Apa makna kelembutan hati St. Vincentius A Paulo bagi para suster KYM?

  2. Bagaimana para suster KYM menjalani dan mengusahakan kelembutan hati dalam hidup persaudaraan mereka?

  3. Usaha apa yang harus dilakukan untuk menciptakan dan menumbuhkan kelembutan hati bagi para suster KYM?

  C. Tujuan Penulisan

  1. Membantu dan menyadarkan para suster KYM untuk dapat mengerti dan memaknai kelembutan hati bagi hidup persaudaraan

  2. Memberikan bahan refleksi bagi para suster KYM tentang pentingnya kelembutan hati dalam hidup persaudaraan

  3. Mambantu para suster KYM supaya dapat bersikap lembut hati dalam hidup persaudaraannya dalam kongregasi KYM

  D. Manfaat Penulisan

  Adapun manfaat penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan masukan (sebuah wacana) kepada tarekat KYM, agar semakin mengenal dan mengetahui bagaimana seharusnya sikap dan pribadi seorang suster KYM seturut semangat St. Vincentius A. Paulo.

  2. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis betapa pentingnya bertumbuh menjadi pribadi yang lembut sehingga semakin mampu menujukkan wajah Allah yang begitu Agung dan penuh kelembutan.

  3. Bagi para pembaca dapat mengetahui betapa pentingnya karakter kelembutan hati dalam hidup persaudaraan.

  E. Metode Penulisan

  Dalam menyusun karya tulis ini, penulis menggunakan metode penulisan studi kepustakaan yakni dengan menyerap dan membaca buku-buku dari berbagai sumber. Selain itu, penulis juga memperkaya karya tulis ini dengan ilustrasi dari para suster KYM, serta pengalaman dan penghayatan pribadi yang dialami oleh penulis sendiri pada setiap perjumpaan dan dalam kebersamaan dengan suster-suster KYM.

  F. Sistematika Penulisan Karya tulis ini mengambil judul “Makna Kelembutan Hati St. Vincentius A.

  Paulo bagi hidup Persaudaraan Suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Yang Baik (KYM)”. Dari judul ini penulis mengembangkannya menjadi lima bab,

  Pada bab I (Pendahuluan), Penulis akan memberikan gambaran secara umum penulisan skripsi ini. Rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, serta sistematika penulisan.

  Pada bab II, Penulis akan berbicara atau menguraikan 4 bagian. Bagian pertama, “Kelembutan hati dalam dua bagian yakni konsep tentang kelembutan hati dan kelembutan hati dalam Injil. Bagian kedua akan dibahas mengenai kelembutan hati menurut Vincentius, yang terbagi atas dua bagian yakni sekilas tentang Santo Vincentius A. Paulo dan kelembutan hati menurut Vincentius a Paulo dalam lima bagian yakni: Khas Vincentius, berguru pada pihak lain, harapan kedepan bagi para pengikutnya, pilihan Pastor Antonius Van Erp untuk KYM dan Spiritualitas kelembutan hati dalam KYM. Bagian ketiga akan dibahas mengenai kelembutan hati Santo Vincentius A Paulo dalam mencintai orang miskin sebagai majikan. Bagian keempat akan dibahas tentang makna kelembutan hati Santo Vincentius A Paulo dalam hidup para suster KYM.

  Pada bab III, akan berbicara tentang “Hidup Persaudaraan para Suster KYM dalam Teladan Kelembutan Hati St. Vincentius A Paulo dalam 5 bagian. Bagian pertama tentang pilihan Pastor Antonius Van Erp untuk KYM, bagian kedua hidup persaudaraan para suster KYM dalam tiga bagian yakni persaudaraan religius KYM, dan makna hidup persaudaraan dan spiritualitas kelembutan hati dalam KYM. Bagian ketiga akan dibicarakan mengenai teladan kelembutan hati St. Vincentius A Paulo dalam hidup persaudaraan KYM dalam empat bagian yakni teladan kelembutan hati Santo Vincentius A Paulo dalam relasi dengan sesama, teladan kelembutan hati Santo Vincentius A Paulo bagi pembentukan pribadi seorang KYM yang berhati lembut dan teladan kelembutan hati Santo Vincentius A. Paulo dalam mewujudkan kaum miskin sebagai majikan dalam karya pelayanan. Bagian keempat akan dibicarakan mengenai relevansi kelembutan hati dalam hidup persaudaraan KYM ditengah budaya kekerasan yang dibagi dalam tiga bagian yakni: budaya kekerasan, keutamaan St. Vincentius A. Paulo dalam pelayanan kepada orang miskin sebagai majikan, dan cara hidup suster KYM dalam semangat kelembutan. Pada bagian kelima akan dibahas mengenai perlunya pengolahan hidup terus menerus yang akan diuraikan dalam tiga bagian yakni, dalam konstitusi KYM, penegasan gereja dan berbagai cara pengolahan hidup terus menerus bagi para suster kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik.

  Pada bab IV akan diuraikan program pembinaan Suster KYM dalam On

  

Going Formation dengan katekese Model Shared Christian Praxis”SCP.” Usulan

  tersebut dimaksudkan untuk mengintegrasikan unsur-unsur kelembutan berdasarkan keutamaan Santo Vincentius A Paulo bagi persaudaraan KYM, meliputi jadwal pelaksanaan SCP dan contoh persiapan SCP. Hal tersebut diusulkan demi terbentuknya pribadi para suster KYM yang berhati lembut seturut teladan Santo Vincentius A Paulo. Bab ini akan dibagi dalam lima bagian besar yakni gambaran umum katekese dan penjabarannya, proses katekese dalam on going formation dan pembahsannya, peranan katekese dalam on going formation bagi pembentukan pribadi yang berhati lembut dan pemilihan model katekese dan usulan program pembinaan suster KYM.

   Pada bagian akhir karya tulis sebagai bab V, penulis akan memberikan

BAB II KELEMBUTAN HATI DALAM HATI SANTO VINCENTIUS A PAULO Dalam bab ini akan dibahas mengenai kelembutan hati Santo Vincentius. Berbicara mengenai kelembutan hati tentu tidak lepas dari sebuah konsep mengenai pribadi yang lembut hati. Hal ini hendak digali lebih dalam melalui teladan St. Vincentius dalam mengubah hidupnya yang kasar menjadi seorang pribadi yang

  berhati lembut. Kelembutan hati inilah yang ingin dikembangkan secara lebih mendalam lagi bagi para suster KYM dalam menjalin relasi persaudaraan, secara khusus dalam persaudaraan KYM.

  Dalam pembinaan para suster KYM satu keutamaan St. Vincentius ini belum mendapat perhatian yang cukup, masih sering terlupakan dan terabaikan. Maka dalam perjalanan hidupnya para suster KYM kurang mendalam dan masih kurang berkembang menjadi pribadi yang lembut hati. Lembut hati disini tentulah bukan hanya penampilan dari luar, soal fisik semata, tetapi mencakup dimensi yang lebih dalam, dalam membentuk sebuah pribadi yang mampu menghadirkan Kerajaan Allah yang berhati lembut.

A. KELEMBUTAN HATI

1. Konsep Tentang Kelembutan Hati

  Santo Paulus mengatakan kepada St. Timoteus ”Servum Dei Non Oportet

  

Litigare (hamba Allah tidak perlu berbantah-bantah/bertengkar): kelemahlembutan dikatakan bahwa kelembutan adalah suatu sikap jiwa yang penuh kerendahan hati, yang menjadi ungkapan iman dan mengantar jiwa kepada Tuhan (Delarue, 1990: 133).

  Kelemahlembutan adalah: sikap tegas dan teguh dalam hubungan dengan tujuan, penuh kelembutan dan kerendahan hati dalam hubungan dengan cara-caranya.

  Kelemahlembutan harus selalu disertai oleh keramahan dan kerendahan hati, sehingga memampukan kita menarik jiwa-jiwa (Delarue, 1990: 139).

  Dalam bahasa Yunani praus atau praeis, yang diterjemahkan dengan “lemah- lembut”, pada dasarnya dikenakan pada hewan-hewan ternak yang menjadi taat, turut pada perintah dan gampang dikendalikan setelah sekian lama menjalani pelatihan. Dengan demikian kelemahlembutan erat kaitannya dengan pengendalian diri, kerendahan hati dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri (Stanislaus, 2008:20).

  Kebahagiaan akan dialami oleh orang yang membiarkan diri dikendalikan oleh Allah dan mengakui diri sebagai makhluk ciptaan-Nya, sehingga tidak ada alasan baginya untuk menyombongkan diri dihadapan Allah, pun makhluk ciptaan lainnya.

  Orang seperti ini “lemah-lembut” akan memiliki atau mewarisi bumi, yang searti dengan perkataan pemazmur: “orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira kerena kesejahteraan yang berlimpah-limpah” (Mzm 37:11). Allah memberikan bumi sebagai tempat tinggal dan hidup, tetapi akan tiba saatnya Allah akan mencurahkan karunia surgawi untuk ambil bagian dalam bumi yang baru.

  Sama seperti bangsa Israel memperoleh tanah Kanaan sebagai anugerah semata dari Allah, demikian halnya orang yang rendah hati dan tak mengandalkan kekuatannya sendiri memperoleh karunia yang telah dijanjikan Allah. Mereka akan memperoleh tanah surgawi (Stanislaus, 2008: 20).

  Kelembutan hati juga sering dikonotasikan sebagai sebuah sikap ramah tamah terhadap orang lain (Tondowidjojo, 1991: 23). Kelemahlembutan dan kehalusan budi adalah keutamaan yang kurang lazim dibandingkan kemurnian, namun keutamaan ini lebih unggul dibandingkan kemurnian dan segala keutamaan lainnya, sebab ia adalah tujuan cinta kasih yang sebagaimana dikatakan St. Bernardus, adalah sempurna apabila kita tidak hanya sabar melainkan juga baik hati St. Fransiskus de Sales mengatakan adalah penting untuk menjunjung tinggi keutamaan ini dan mempergunakan segala upaya demi mencapainya (Tondowidjojo, 1991:23).

  St. Thomas Aquinas mengatakan: Kelemahlembutan adalah keutamaan yang menyiratkan keluhuran jiwa. Orang-orang duniawi pada umumnya kurang dalam kelemahlembutan, keluhuran ini ada ditemukan dalam diri mereka namun jarang dan tidak sempurna. Jika mereka bukan yang pertama-tama mempergunakan ekspresi yang kasar dan tidak sopan, maka ketika kepada mereka disampaikan ekspresi yang demikian oleh orang lain, mereka marah dan serta-merta membalasnya, menunjukkan dengan pembalasan mereka bahwa mereka memiliki hati yang tercela dan hina. Dengan demikian hamba-hamba Allah, dengan senantiasa tinggal tenang dan damai, meski dipancing oleh perkataan atau perbuatan, menunjukkan suatu keluhuran jiwa yang sempurna, yang mengatasi segala kekasaran (“Catholic Virtues”: www.chatolictradition.org).

  Kelemahlembutan yang bersahaja adalah keutamaan dari segala keutamaan damai. Yang baik hendaknya dilakukan, namun dengan kelembutan. Terapkan ini sebagai pedoman, lakukan apa yang kau lihat dapat dilakukan dengan cinta kasih, dan apa yang dapat dilakukan tanpa keributan, tinggalkan. Singkat kata, St. Fransiskus de Sales menegaskan: damai dan ketenangan hati hendaknya menjadi yang utama dalam segala tindakan kita, sebagaimana minyak zaitun mengapung di atas segala cairan, sebisa mungkin, janganlah pernah meledak dalam amarah atau membiarkan dalih apapun membuka baginya pintu hatimu, sebab begitu amarah masuk kesana, ia tidak akan berada dalam kuasamu untuk mengusirnya ketika engkau menghendakinya, atau bahkan mengendalikannya.

  Tidak ada yang lebih lembut daripada air dan juga tidak ada yang dapat mengalahkannya dalam hal menembus benda-benda keras, yang lemah mengalahkan yang kuat yang lembut mengalahkan yang keras, setiap orang mengetahui hal ini, tetapi tidak ada seorangpun yang dapat menerapkannya .

  Seseorang akan celaka jika meninggalkan kerendahan hati untuk menunjukkan kekuatannya, atau tidak berhemat untuk berfoya-foya, atau mengabaikan kemanusiaan ketika berupaya untuk menjadi yang pertama, ketika seseorang masih hidup, tubuhnya lembut dan elastis, ketika dia mati, tubuhnya menjadi kaku dan keras, ketika tanaman masih hidup dia lemah dan halus, ketika mati dia menjadi kering dan rapuh. Maka keras dan kaku adalah cara untuk mati, lembut dan fleksibel adalah cara hidup (Michael, 2004:390).

  St. Fransisikus de Sales juga mengatakan: Apabila engkau melihat bahwa melalui kelemahanmu amarah telah beroleh pijakan dalam rohmu, segeralah himpun dilakukan dengan tenang dan jangan pernah dengan kekerasan. Sebab adalah sungguh penting untuk tidak membuat luka meradang (“Catholic Virtues”: www.chatolictradition.org).

2. Kelembutan Hati di Dalam Injil

  a. Menurut Perjanjian Lama Musa adalah seorang tokoh besar yang dikatakan memiliki kelembutan hati melebihi manusia lain dimuka bumi. “adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang ada diatas muka bumi ini” (Bil 12:3). Bayangkan bangsa besar yang ia pimpin menuju tanah terjanji adalah bangsa yang dikatakan tegar tengkuk alias keras kepala. Bangsa Israel sudah mengalami berbagai bentuk mukjijat Tuhan, namun mereka tetaplah bangsa yang sulit berterimakasih. Mereka tetap bersungut-sungut. Mengolok-olok, menyudutkan, menyindir, sinis, semua ini dialami Musa terus-menerus selama puluhan tahun dari bangsa yang tengah ia pimpin sesuai dengan kehendak Tuhan. Dapat dibayangkan mungkin kalau saya di posisi Musa, bisa bertahan diposisi Musa seminggu saja sudah bagus. Tapi Musa sanggup mengendalikan emosinya dan terus mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan untuk ia perbuat (“Catholic Virtues”: www.chatolictradition.org).

  Sebuah tips diberikan oleh Daud agar kita menjadi sabar.” Jangan marah karena orang yang berbuat jahat. Jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di dalam negeri dan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan bertindak” (Mzm 37:1-5).

  Tuhan itu setia dan akan memperhitungkan baik buruknya perbuatan manusia. Manusia diingatkan untuk senantiasa bergembira dan setia, serta menyerahkan hidup kepadaNya dengan kepercayaan penuh. Selanjutnya Daud berkata “berhentilah marah dan tinggalkan panas hati itu, jangan marah itu hanya membawa kepada kejahatan. Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mewarisi negeri” (Maz 37:8-9). Ini paralel dengan apa yang dikatakan Yesus di atasnya. Kemarahan tidaklah mendatangkan hal baik tapi bisa membawa orang untuk terjerumus pada kejahatan, yang pada akhirnya akan dilenyapkan.

  b. Menurut Injil Matius Di Inggris lembut hati sering diartikan buruk, yaitu menuju pada “kelemahan” seseorang. Opini seperti ini begitu kuatnya berakar dalam masyarakat Inggris. Pada zaman Yunani kuno, sudah ada pepatah “Penthountes Blesses are the Weak, diberkatilah yang lembut hati. Dalam Mat 5:4 tertulis “semangat kemiskinan” yang bisa diterjemahkan juga bahwa seseorang yang “miskin” yang rendah hati, lembut hati, berserah diri adalah “karya di hadapan Tuhan”. Kristus sendiri senantiasa memberi contoh melalui sikap dan pola tingkah lakunya selama di dunia dengan hidup sederhana, rendah hati, lembut hati, sabar hati, dan semua yang pantas menjadi panutan manusia dalam menelusuri hidup ini (Tondowidjojo: 1990:23). Hal ini menunjukkan bahwa kelemahlembutan berkaitan dengan semangat miskin Injili,

  Tuhan Yesus pernah mengingatkan agar kita memiliki hati yang lemah lembut. “Berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi” (Mat 5:5). Ini adalah satu rangkaian ucapan bahagia yang diucapkan Yesus di depan orang banyak dari atas bukit. Lemah lembut seperti apa yang Yesus maksud? Dalam versi bahasa Inggris kita membaca rincian yang lebih detail: “the mild, patient,

  long suffering”. “Lembut, sabar dan tabah dalam penderitaan”. Orang yang memiliki

  sikap seperti ini dikatakan Yesus akan memiliki bumi. Tuhan akan memenuhi janjiNya pada mereka ini, bukan kepada orang yang pendek kesabarannya, cepat emosi, kasar dan cepat mengeluh (“Catholic Virtues”: www.chatolictradition.org).

  Dalam Injil Matius 12:15b-21, digambarkan kelemahlembutan Kristus yang sempurna yang ditulis dalam ayat 20 “buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanNya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” Buluh yang patah terkulai dan sumbu yang pudar nyalanya merujuk kepada orang-orang yang terluka, lemah secara rohani atau kecil imannya. Tuhan Yesus menangani orang-orang semacam itu dengan lemah lembut. Ia tidak mempersalahkan mereka kerena kelemahan mereka. Ia tidak datang dengan “tangan keras”. Sebaliknya ia menangani mereka dengan lemah lembut sampai terungkap kebutuhan mereka yang sejati dan mereka terbuka kepadaNya untuk ditolong, seperti kepada wanita Samaria (Yoh 4). Dengan tegas tetapi lembut, Tuhan Yesus terus mengusut kebutuhannya, sampai wanita itu mengakuinya sendiri dan berseru kepadaNya agar kebutuhannya terpenuhi (“Catholic Virtues”: www.chatolictradition.org).

  Jika kita perhatikan konteks sebelumnya dari Injil Matius 12: 15b-21, Tuhan Yesus baru menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, tetapi peristiwa itu membuat orang-orang Farisi bersekongkol untuk membunuh Dia, dan meskipun Tuhan Yesus mengetahui maksud mereka, Dia tidak mau berdebat ataupun menyingkir dari sana (Mat 14-15a). Yesus tetap melayani mereka dan menyembuhkan orang-orang yang mengikuti Dia (Mat 14:15b). Tuhan Yesus tetap menyatakan sikap yang lemah lembut meskipun Ia mengalami tekanan dari orang-orang yang tidak menyukaiNya.

  Ia begitu rendah hati dan lemahlembut. Dalam Matius 11: 28-32 kembali Tuhan menegaskan akan kerendahan hati dan kelemahlembutanNya, walaupun Tuhan tahu bagaimana sikap dari umat manusia yang mau menyingkirkan Tuhan. Tetapi Tuhan tetap mengasihi umat manusia, dengan karakterNya yang luar biasa yaitu dengan kerendahan hati dan kelemahlembutan-Nya. Dia mengundang manusia datang kepadaNya. Tuhan itu baik, lemah lembut dan rendah hati, setiap masalah akan diringankanNya, Dia akan memberikan kelegaan dan damai sejahtera dalam hidup kita (“Catholic Virtues”: www.chatolictradition.org).

  Dalam Injil Matius ayat 29 dikatakan: “Aku lemah lembut dan rendah hati”, lemahlembut berarti baik hati, tidak pemarah. Sifat pemarah adalah salah satu dosa manusia yang mematikan. Kemarahan dapat menyebabkan perselisihan dalam keluarga, ketegangan dalam lingkungan, pertengkaran dalam komunitas, dan dapat juga menyebabkan kekacauan dalam masyarakat. Contoh yang sederhana: seringkali kita menonton TV yang menayangkan adegan-adegan kekerasan, perkelahian antar mahasiswa dan pelajar. Mazmur 37:8 mengatakan: melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang atau kejahatan dan dosa dihadapan Tuhan”. Kesombongan (angkuh atau tinggi hati) adalah lawan dari kerendahan hati. Orang yang angkuh tidak disenangi oleh sesama apalagi oleh Allah. “Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi Tuhan, sungguh ia tidak luput dari hukuman” (Ams 16:5). Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati (Ams 3:34); karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikanNya pada waktunya (2 Ptr 5:5-6).

  Kehadiran Yesuslah yang menyebabkan kita dapat setia mengikut Tuhan. Tuhan Yesus mengetahui dan memahami kesulitan dan pergumulan hidup seorang manusia, ia tahu apa artinya digoda dan dicobai dan mengetahui keterbatasan- keterbatasan yang disebabkan oleh kelemahan-kelemahan manusia. Dia tidak memperhitungkan apa yang telah dilakukan olah umat manusia, dan seberapa banyak dosa yang sudah dilakukannya. Tetapi karena kasihNya kepada manusia, Tuhan mau datang kedalam dunia tidak memakai kebesaranNya, tetapi Dia datang kedalam dunia dengan kesederhanaanNya. Dia tinggalkan Surga, datang kedalam dunia bukan menjadi raja atas dunia, tetapi Dia datang dengan kesederhanaanNya di palungan (“Catholic Virtues”: www.chatolictradition.org).

  c. Menurut Injil Markus Kelembutan Yesus terpancar dari sikapNya yang begitu tulus menyayangi anak-anak, seorang yang sabar dan mampu menyenangkan hati anak-anak adalah pribadi yang lembut. “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang- halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan

  Pribadi yang peduli adalah simbol pribadi yang lembut, hal ini nampak tatkala orang lain sedang dirundung kesusahan sang kelembutan berkarya dalam rupa air yang terberkati menjadi anggur, anggur kelembutan adalah anggur sukacita.

  Lembut hati sering dikonotasikan sebagai ramah-tamah terhadap orang lain. Kita semua adalah anak Allah. Oleh karena itu, pada dasarnya kita membutuhkan sebentuk “kebaikan-kebaikan” yang sama. Berlandaskan hal inilah maka St.

  Vincentius mempergunakan kelembutan hati sebagai modal dasar dalam berkarya sebagaimana diungkapkan sendiri oleh Yesus, “belajarlah dari padaKu, sebab Aku ini lembut dan rendah hati (Tondowidjojo, 1990: 23).

  Betapa sulitnya menahan emosi ketika kita sedang stress, sedang menghadapi masalah, kurang tidur bahkan ketika menghadapi terikmatahari. Tak jarang kita melihat banyak keadaan yang terjadi di sekitar kita brutal karena dibakar oleh emosi. Kita juga sering mudah terpancing emosi ketika kondisi kita sedang labil. Marah mungkin wajar untuk batas tertentu, asal tidak berkepanjangan dan berubah kearah yang bisa membuka kesempatan bagi iblis untuk menjerumuskan kita kedalam berbagai kejahatan. Tetapi tidak kalah pentingnya adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi sedini mungkin sebelum emosi kita menjadi melebar melebihi batas. Memiliki hati yang lembut akan membawa dampak yang positif baik dalam kehidupan di dunia ini maupun nanti setelah kita menyelesaikan masa ini.

  d. Menurut Injil Lukas Santo Lukas pengarang Injil juga seorang pribadi yang meneladani sikap kelembutan hati Yesus yang terungkap dalam tulisannya lewat Injil Lukas. Ciri khas

  Kepribadian Lukas itu di mana-mana nampak jelas. Lukas adalah seorang penulis berbakat yang hatinya sangat halus lembut. Berkat penyaduran-penyaduran yang dilakukannya yang cukup banyak dan bersifat halus, Lukas mencoba memperlihatkan reaksi-reaksi dan kecenderungan pribadinya. Tegasnya melalui alat terpilih, ialah Lukas, Roh Kudus menyajikan kepada kita kabar Injil dengan cara asli benar dan berisikan ajaran yang sangat bernilai. Memang halnya bukan pokok-pokok teologis yang amat menyolok, melainkan suatu mentalita keagamaan. Dalam mentalita yang dengan halusnya terpengaruh oleh guru Lukas, yaitu Paulus, diketemukan sebuah kecenderungan hati yang merupakan ciri khas watak Lukas. Sebagai “Penulis Kelembutan hati Tuhan”(Dante). Lukas suka menonjolkan belas kasihan Kristus kepada orang berdosa (Luk 15:1 dst).

  Dengan senang hati Lukas memperlihatkan kelembutan hati Yesus terhadap orang yang hina dan miskin, sedangkan yang kaya raya diperlakukan dengan keras (Luk 1:51-53 dst). Tetapi kalaupun hukuman yang adil dijatuhkan, itu hanya sesudah penundaan penuh kesabaran dan belas kasihan (Luk 13:6-9). Hanya perlu orang bertobat dan menyangkal dirinya. Disini hati Lukas yang lemah lembut ternyata adalah hati seorang yang jantan. Lukas suka mengulang tuntutan penyangkalan diri yang mutlak dan pantang mundur (Luk 14:25-34), khususnya tuntutan meninggalkan kekayaan (Luk 6:34). Karya Lukas memberi ciri khas yang begitu penuh kemesraan yang mengesan di hati dan menghangatkan batin (“Catholic Virtues”: www.chatolictradition.org). e. Menurut Surat-Surat Paulus Dalam 2 Korintus 10:1-11 ditunjukkan juga kelembutan hati Santo Paulus.

  Mungkin pelajaran mengenai kelembutan tidak menarik bagi para pria, karena alasan tertentu tampaknya kaum pria sulit percaya bahwa kejantanan dan kelemahlembutan dapat menjadi bagian dari kepribadian yang sama. Para pria sering ingin melihat kelemahlembutan dalam diri ibu dan istri mereka, tetapi tidak dalam diri mereka.

  Tetapi Paulus memakai contoh kelemahlembutan seorang ibu untuk menggambarkan karakternya sendiri. Ia mampu berkata kepada orang percaya di Tesalonika “tetapi kamu berlaku ramah diantara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya” (1 Tes 2:7). Dalam hal ini sangat jelas ditampakkan tentang pribadi yang lembut itu sangat identik dengan kaum perempuan “ibu”. Para suster juga adalah kaum perempuan, hendaknya hal di atas juga adalah milik para suster tentunya.

  Dasar kelemahlembutan dan nasihat Paulus adalah demi Kristus, dia berkata dalam 2 Kor10:1-2: “Aku Paulus seorang yang tidak berani berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi

  Kristus yang lemah lembut dan ramah. “Aku menghimbau padamu, bertindaklah sebagaimana Kristus akan bertindak dalam situasi ini. Aku tidak menuntut, aku tidak bersikeras, tetapi aku menghimbau kepadamu.” Paulus bisa saja mencaci-maki orang Korintus karena mengijinkan orang- orang yang berusaha merusak kewenangan rasulinya masuk kedalam persekutuan mereka. Tetapi ia tidak melakukannya, sebaliknya ia memilih untuk menerapkan buah kelemahlembutan yang dihasilkan oleh Roh (“Catholic Virtues”:

  Paulus tidak mau menakut-nakuti jemaat, karena dia percaya dia milik Kristus dan kuasa yang dikaruniakan Tuhan kepadanya bukan untuk meruntuhkan mereka tetapi membangun mereka (2 kor 10:7-8). Sebab itulah dia tetap bersikap lemah lembut dan “penuh ketenangan”, meskipun kembali ia dicurigai karena “suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan- perkataannya tidak berarti” (2Kor10:10), di sini Paulus mau membuktikan bahwa tindakannya sama seperti perkataannya di dalam surat (2 Kor 10:11). Karena kembali lagi, patokannya adalah semua yang dilakukannya demi Kristus yang lemah lembut dan ramah (2 Kor 10:1).

  Paulus menulis juga kepada jemaat di Filipi “hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp 2:5). Secara khusus ia memang merujuk kepada kerendahan hati Kristus, tetapi kita dapat menerapkan perintah ini kepada segala ciri karakter Kristus. Sebagai pengikutNya kita harus mengolah kelemahlembutan serupa yang adalah corak hidupNya.

  Yakobus mengingatkan pula agar kita cepat untuk mendengar, tapi lambat untuk berkata-kata dan lambat untuk marah (Yak 1:19). Mengapa demikian?” Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yak 1:20). Memang tidaklah mudah untuk menahan diri , tapi itulah yang menjadi kehendak Tuhan dan berkenan di hadapanNya. Mungkin sulit bagi kita untuk meniru figur Musa, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba (sumber: “Catholic Virtues”: www.chatolictradition.org).

B. KELEMBUTAN HATI MENURUT SANTO VINCENTIUS A. PAULO

1. Sekilas Tentang Vincentius A. Paulo

  Vincentius A. Paulo (1581-1660) adalah seorang Santo pelindung lembaga- lembaga dan kegiatan amal. Dia lahir di Puoy, Landes, Perancis, 24 April 1581.

  Ayahnya bernama Jean de Paul. Ibunya bernama Bertrande de Moras.

  Meski terlahir dari keluarga petani sederhana, Vincentius mendapat pendidikan yang terbaik daripada para saudara-saudarinya agar dapat menjadi imam berkelas. Vincentius bisa bersekolah karena ada bantuan dana dari seorang bangsawan. Setelah lulus dari sekolah menengah, ia menjadi seorang imam pada usia 20 tahun, Ia ditahbiskan menjadi Imam, 23 September 1600.

  Ketika ia sedang mengadakan perjalanan, kapal yang ditumpanginya diserang oleh bajak laut sehingga Vincentius ditangkap dan dijual sebagai seorang budak di Tunisia. Selanjutnya, ia dijual ke pelbagai orang selama dua tahun hingga akhirnya ia berhasil menyelamatkan diri dan kembali ke Perancis. Setelah kembali ke Perancis, ia melayani sebuah paroki sebagai seorang imam selama 10 tahun. Lalu ia mengumpulkan beberapa imam praja untuk mengadakan kunjungan ke seluruh daerah yang biasanya tidak terjangkau, seperti lorong-lorong sempit kota Paris, dan desa- desa yang jauh.

  Dalam karier imamatnya ia banyak mengalami kekecewaan sampai pada krisis iman. Hal ini justru membawanya pada imamat yang sejati, bukan untuk memperjuangkan cita-citanya atau keluarganya, namun untuk dipakai oleh Tuhan. Ketika dia menyerahkan diri pada Tuhan demi pelayanan orang miskin, ia mulai orang miskin. Vincentius memiliki iman yang operasional melalui cinta kasih (Gal 5:6), ia dilahirkan dan hidup dalam suatu masa dan abad ketika keadaan Gereja, khususnya di Perancis sedang kacau dan menghadapi tantangan yang berat dari aliran-aliran pandangan hidup yang menyerang hidup kristiani.

  Dalam buku Pauperibus Misit Me disebutkan: Vincentius dan kelompok imam yang dipimpinnya itu memberikan pelayanan kepada orang-orang miskin, anak-anak yang ditelantarkan orang tuanya, orang-orang sakit, dan sebagainya. Kemudian ia juga membentuk organisasi para suster untuk melakukan kegiatan amal. Santo Vincentius, diangkat oleh Gereja sebagai pelindung segala karya amal kasih. Para pendiri berharap agar Vinsensian terus menerus berusaha meneladan hidup dan karya Santo Vincentius, yang pada pokoknya adalah: a. Mengasihi Allah, Bapa kita, dengan mencucurkan keringat kita dan lengan baju tersingsing, b. Melihat Kristus dalam diri orang miskin dan orang miskin dalam Kristus,

  c. Ambil bagian dalam belaskasih dan kasih yang membebaskan dari Kristus penginjil dan pelayan orang miskin d. Mendengarkan bimbingan Roh Kudus (Ruth, 2010: 3).

  Rendah hati merupakan keutamaan yang selalu ada dan bisa dilihat pada diri Vincentius. Ia mempunyai sikap pasrah kepada penyelenggaraan Ilahi. Bagi Vincentius rendah hati itu terletak pada sikap yang mencintai yang dihina, yang tidak disenangi oleh orang lain, menghendaki direndahkan dan dihina bergembiralah demi cinta kepada Yesus Kristus (Tondowidjojo, 1987: 95).

  Ia pendiri Kongregasi Misi dan bersama St Louisa de Marillac mendirikan Serikat Puteri Kasih. Ia meninggal di Paris, 27 September 1660. Ia dinyatakan Beato,

  13 Agustus 1729. Ia diangkat sebagai Santo, 16 Juni 1737. Paus Leo XIII mengangkatnya menjadi pelindung segala karya kasih Kristiani (Ruth, 2010: 2).

2. Kelembutan Hati Menurut St. Vincentius A Paulo

  a. Khas Vincentius Jika di Inggris seperti tertulis di atas kelembutan identik dengan “kelemahan” berbeda dengan St. Vincentius. Dengan pola dan sikap karyaNya mencoba menghapus pendapat tersebut. Sepanjang hidupnya dipergunakan untuk membuktikan bahwa kelemahlembutan justru merupakan kekuatan yang dahsyat untuk mampu hidup, tampil didalam masyarakat, dan membawa pengaruh pada orang lain (Tondowidjojo, 1990:23).

  Santo Vincentius A. Paulo dikenal secara luas sebagai “Saint of charity”- Santo cinta kasih. Baginya cinta kasih bisa dalam dua wujud: perbuatan dan melalui kesan. Namun keduanya pada dasarnya akan berjalan seiring ; tak ada cinta kasih yang hanya dipikirkan atau dimulut, tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan, cinta kasih yang hanya melalui perbuatan tanpa pemberian kesan yang mendalam juga akan terlupakan begitu saja dan sulit untuk mengakar (Tondowidjojo, 1990: 24).

  “Tidak ada orang yang lebih tekun dan kuat dalam kebaikan daripada mereka yang lembut dan ramah” (Jalan Vinsensian hal 131. DBSV: 85). Pesan Vincentius ini sarat makna bahwa yang bertekun dan kuat dalam melakukan segala kebaikan, pelayanan, perhatian, dan segala perbuatan dalam hidup adalah pribadi-pribadi yang berhati lembut dan ramah.

  Vincentius amat terkesan dengan kelembutan yang ditampilkan oleh Yesus. Baginya, Yesus adalah patron (pelindung) dalam keutamaan kelembutan. Selain itu Vincentius juga amat dipengaruhi oleh gaya hidup Fransiskus dari Sales yang dipujinya sebagai orang yang paling lemah lembut.” Ia adalah orang yang paling lembut dan halus yang pernah saya lihat”. Waktu pertama kali bertemu, sejak awal saya melihat ungkapannya, gaya bicaranya dan perbincangannya dengan orang lain adalah ungkapan kelembutan Tuhan kita Yesus Kristus.” (Tondowidjojo, 1990: 25).

  Kelembutan hati menurut Vincentius dibedakan atas tiga tindakan prinsipial. Pertama ialah menekan gerak dorongan kemarahan, jilatan api yang menyala-nyala membakar, itu meyusahkan jiwa. Dan bara kemarahan membuat orang berbeda sama sekali dengan aslinya dia, boleh dikatakan hal ini suatu tindakan mampu menahan diri dari nafsu kemarahan. Tindakan kedua dari kelembutan hati adalah menampilkan kehangatan, keramahan, kordialitas, kegembiraan, terutama kepada siapapun yang datang kepada kita. Tindakan ketiga berkaitan dengan sikap-sikap yang membiarkan berlalu tindakan orang lain tanpa memperhitungkan dan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan akibat yang bisa menyakiti kita dengan kata lain memikirkan orang lain secara positif atau tidak memperhitungkan kesusahan bagi dirinya sendiri (Armada, 2003: 92).

  Menurut Vincentius, kelembutan hati tidak hanya membuat kita memaklumi segala kemungkinan menyakitkan, tetapi juga mengajar kita untuk tetap bersikap kita. Kelembutan hati membuat kita bertahan dalam segala situasi dan hanya memusatkan perhatian pada Allah yang senantiasa menguatkan kita untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang menyakitkan itu (Armada, 2003: 92).

  Kelembutan hati banyak bermanfaat untuk menghadapi orang-orang yang sulit diajak berkomunikasi, orang yang angkuh hatinya, orang yang sinis terhadap situasi sekitar. Sebaliknya bila kita sendiri keras hati, maka tidak jarang akan menjadi “boomerang” bagi kita sendiri. Vincentius juga membuktikan bahwa dengan kelembutan hati dia selalu mampu menundukkan orang lain (dalam arti positif) terutama kaum manita bangsawan yang kemudian hari banyak membantu Vincentius dalam mengembangkan komunitas yang dipimpinnya (Darminta, 2010: 64).

  Bagi Vincentius kelembutan hati terungkap dalam sikap dan perkataan yang lembut, halus, sopan, hangat, ramah, tenang, mudah ditemui, tidak kasar, tidak membentak-bentak. Ungkapan kelembutan sebagaimana yang dimaksudkan Vincentius di atas tentu bukanlah sesuatu yang langsung jadi.

  Pandangannya itu tentu bermula dari perjuangannya sendiri, sebab menurut kesaksian Vincentius bukanlah orang yang lembut (Armada, 2004: 87). Vincentius bisa mencapai kelembutan hati yang luar biasa tentu berkat rahmat Allah sendiri. Demikian pengakuannya, “Saya mengarahkan diriku kepada Allah untuk memohon kepadaNya dengan sungguh-sungguh supaya Ia mengubah disposisiku yang kasar dan menakutkan ini dan menggantinya dengan sikap yang lembut dan ramah (Armada, 2004: 87).

  Dalam Konfrensi 28 Maret 1659, Vincentius berbicara banyak tentang

  1) Hendaknya kita mampu mengendalikan kelembutan hati kita agar jangan sampai memerosotkan kita ke posisi yang menyulitkan.

  2) Bersikap tenang, tidak gegabah adalah anjuran yang ditekankan Vincentius dalam setiap gerak dan tindakan kita.

  3) Sakiti hatimu sendiri, sebelum engkau disakiti orang lain agar siap senantiasa. 4) Perbuatan dosa akan menghancurkan kelembutan hatimu, oleh karenanya konsistenlah dengan apa yang kau lagakan.

  5) Dalam hidupnya Vincentius sering berhadapan dengan hamba hukum ,jangan tanggalkan kelembutan hati itu manakala kalian harus berhadapan dengan hukum yang berlaku di masyarakat (Darminta, 2010:66).

  “Pada dasarnya Santo Vincentius memberikan gambaran tentang kelembutan hati sebagai berikut:” tidak ada manusia satupun didunia yang tidak bisa menerima kelembutan serta keramahan oleh karena itu, kita harus menjadikan dua hal ini sebagai kekuatan dalam tugas dan karya kita, khususnya dalam mengabdi sesama (Darminta, 2010:72). Vincentius meyakinkan kita bahwa sikap lembut hati akan banyak membawa dampak positif di zaman modern. Sebab itu, akan menyentuh secara langsung kejiwaan seseorang, kelembutan hati kita akan langsung dirasakan oleh orang lain. Dengan memegang erat kelembutan, maka keinginan untuk marah akan hilang dengan sendirinya. Jadi ini sangat bermanfaat sebagai kontrol diri (Darminta, 2010: 66).

  b. Berguru pada Pihak lain St. Fransiskus de Sales sendiri sangat menjunjung tinggi keutamaan ini

  “kelembutan hati”. Ia begitu kerap membicarakannya dan dengan begitu penuh cinta antara semua keutamaan. Jadi, meski ia menonjol dalam semua keutamaan, ia istimewa dan unggul dalam keutamaan ini. Ia senantiasa mempunyai roman muka yang damai tenang, dan ada suatu rahmat khusus dalam bibirnya, sehingga ia biasa tampak tersenyum, dan wajahnya memancarkan suatu kemanisan yang memikat hati semua orang.

  Meski ia biasa memperlihatkan permenungan mendalam, terkadang ia berpikir adalah perlu untuk memberikan bukti keramahan, dan maka ia menghibur mereka semua yang dijumpainya, dan ia memenangkan hati dan hormat siapa saja yang memandangnya. Perkataan, perilaku dan perbuatannya tiada pernah tanpa sopan santun dan kelemah-lembutan, sehingga seolah keutamaan ini telah mengambil rupa manusia dalam dirinya dan bahwa ia lebih merupakan kelemah lembutan itu sendiri daripada orang yang dikuasai oleh keutamaan itu. Padanya juga tepat dikenakan pujian yang dianugerahkan Roh Kudus kepada Musa,” bahwa ia adalah orang yang paling lemah lembut pada zamannya diatas muka bumi.” Dan demikianlah St. Jane Frances de Chantal dapat mengatakan bahwa tiada pernah dikenal sebentuk hati yang begitu manis, begitu lemah lembut, begitu baik, begitu ramah dan santun seperti hatinya (“Catholic Virtues”: www.chatolictradition.org).

  St. Vincentiuspun berguru padanya dan mengungkapkan perasaan yang sama, St. Vincentius A Paulo mengungkapkan bahwa St. Fransisikus de Sales adalah orang paling lemah lembut yang pernah dikenalnya, dan pertama kali ia melihatnya, ia memperhatikan dalam kedamaian wajahnya dan dalam tutur katanya keserupaan yang begitu mirip dengan kelemahlembutan Kristus Tuhan kita serta-merta memikat c. Harapan ke depan bagi para pengikutnya Hal yang sama dapat dikatakan mengenai St. Vincentius de Paul. Ia memiliki temperamen yang meledak-ledak dan karenanya, amat condong kepada kemarahan, sebagaimana diakuinya sendiri kepada seorang sahabatnya, ia mengatakan bahwa ketika di Wisma Conde, lebih dari sekali ia membiarkan dirinya dikuasai oleh disposisi melankolis dan apapun yang sesuai dengan suasana hatinya.

  Akan tetapi, melihat bahwa Allah memanggilnya untuk hidup dalam komunitas, dan bahwa dalam keadaan yang demikian ia akan harus bergaul dengan orang-orang dari berbagai ragam sifat dan disposisi, ia memohon pertolongan Allah, dan dengan sungguh berdoa kepadaNya untuk mengubah temperamennya yang kasar dan keras menjadi lemah lembut dan penuh kasih, dan lalu ia mulai dengan tekad teguh untuk menekan sifatnya yang meledak-ledak itu. Dengan doa dan usaha, ia berhasil membuat perubahan begitu rupa hingga ia tampaknya tak lagi merasakan adanya pencobaan yang menghantar pada kemarahan, dan sifatnya begitu berubah hingga menjadi sumber dari kebaikan hati, damai wajahnya dan kemanisan perilakunya, yang memikat hati mereka semua yang mengenalnya.

  Sebagai ketentuan, ia menerima mereka semua yang datang ke rumahnya dengan perkataan yang menyenangkan, penuh hormat dan penghargaan, dengan mana ia menunjukkan rasa hormatnya kepada mereka dan kegembiraannya bertemu dengan mereka. Ini ia lakukan terhadap semua, terhadap mereka yang miskin maupun mereka yang berkedudukan tinggi, dengan senantiasa menyesuaikan diri pada posisi masing- masing.

  Kita patut menghadapi semuanya dengan lemah lembut, dan dengan memperlihatkan ciri-ciri yang terpancar secara alamiah dari hati yang lembut dan penuh cinta, kasih Kristiani, seperti karamahan, kasih dan kerendahan hati. Keutamaan-keutamaan ini bekerja secara menakjubkan dalam memenangkan hati manusia, dan mendorong mereka untuk memeluk hal-hal yang lebih bertentangan dengan dunia. Terkadang sepatah kata sudahlah cukup untuk menenangkan seorang yang tengah terbakar amarah, dan sebaliknya sepatah kata dapat menghancurkan suatu jiwa, dan menanamkan kedalam jiwa suatu kepahitan yang dapat sangat menyakitkan.

  St. Vincentius a Paulo pernah menulis kalimat berikut ini kepada superior yang mengeluh mengenai salah seorang biarawannya: “Imam yang tentangnya anda tulis kepada saya adalah seorang yang berbudi luhur dan saleh, dan sebelum ia datang kepada kami, ia sangat dihormati di dunia. Jika sekarang ia agak sedikit tak sabaran, berurusan dengan hal-hal duniawi, terlalu banyak memikirkan sanak kerabat dan bahkan memandang rendah rekan-rekannya, hendaknyalah Anda menghadapinya dengan lemah lembut. Andai tak ada padanya kelemahan-kelemahan ini, mungkin akan ada padanya kelemahan-kelemahan lain, dan jika tak ada yang harus Anda hadapi, belas kasihan anda tiada akan memiliki cukup kesempatan untuk dilatih, pula perilaku Anda dan kepemimpinan Anda tidak akan serupa dengan Kristus Tuhan kita, yang memilih murid-murid yang kasar, dengan berbagai-bagai cacat cela, agar ia dapat mengajar kita melalui praktek keramah-tamahan dan kesabaran dalam menghadapi mereka, bagaimana mereka yang menjabat Superior harus bersikap. Saya memohon dengan sangat Anda membentuk diri Anda seturut teladan kudus ini, dengan mana anda akan belajar untuk tidak hanya menghadapi sesama saudara, melainkan juga membantu mereka dalam membebaskan diri dari ketidaksempurnaan mereka” (“Chatholic Virtues”: www.chatholictradition.org). Kepada salah seorang dari anggota misi yang sangat enggan berpisah dengan salah seorang asistennya, ia menulis: memisahkan diri dari Bunda-Nya sendiri, dan dari para muridNya, yang telah dipersatukan oleh Roh Kudus dengan begitu sempurna, saling terpisah satu sama lain demi pelayanan terhadap Tuan mereka (“CatholicVirtues”:

  www.catholictradition.org)

  Dan satu hal mengenai kelembutan hati ini juga ditegaskannya kepada para suster puteri kasihnya lewat suratnya kepada mereka: “Saya menyadari bahwa sewaktu-waktu terdapat ketidakcocokan alamiah yang sulit diatasi. Tetapi, sementara orang-orang dari dunia menuruti saja ketidakcocokan itu, orang-orang Kristiani, terutama puteri kasih, harus menentang dan mengalahkannya, dengan rahmat Tuhan yang senantiasa dimiliki oleh orang-orang yang rendah hati. Dengan demikian kerendahan hati merupakan obat mujarab terhadap perasaan antipati. Karena berkat kerendahan hati itu, kita menjadi lemah lembut dan cenderung menghargai orang lain lebih dari pada diri kita sendiri” (dikutip dari: SV VI, 45- 47). Santo Vincentius disebut malaikat kedamaian. Ia selalu mengajak orang agar mereka melatih diri dalam kelembutan hati dan keramahtamahan, katanya: keutamaan-keutamaan itu membuka hati orang sedangkan kekerasan menutupnya. Dan karena kesabaran dan keramahtamahannya ia menyelesaikan banyak hal (Petrus, 2008: 132).

  Bagi Vincentius, kelembutan hati adalah kemampuan untuk mengatur kemarahan baik dengan menekan maupun mengungkapkannya, dalam tata perilaku yang keluar dari cinta kasih. Kelembutan hati itu sopan dan ramah. Kelembutan hati itu kombinasi kesopansantunan dan ketegasan (Petrus, 2008: 205).

  “Penderitaan dunia ini tidak dapat dihindarkan. Jadi atas nama Allah mari kita terjun ke dalamnya, turun tangan, menghibur dan memberanikan orang” (BBEV: 5 Februari). Petuah Santo Vincentius ini direalisasikan para suster KYM lewat karya dan pelayanan kongregasi. Hidup sederhana dan berani menjadi hamba bagi orang miskin seperti pesan Santo Vincentius dalam Butir-butir Emasnya (BBEV) 13 Februari “Orang miskin adalah majikanku.”

  Dalam Buku Pauveribus Misit Me dikatakan bahwa: Suster-suster KYM yang mengaku diri menjadi putri-putri Vincentius juga berani mengikuti jejaknya, warisan kesederhanaannya memampukan suster-suster KYM hidup sebagai hamba bagi orang-orang kecil. Berangkat dari diri sendiri yaitu dalam komunitas sendiri. Sikap hamba direalisasikan lewat persaudaraan dengan menumbuhkan sikap saling melayani dengan menjadi hamba satu sama lain dan siap sedia menerima tugas perutusan sekalipun ke tempat yang terpencil. Dasar ini menghantarkan suster-suster KYM untuk melayani tanpa pamrih, membawa kabar gembira bagi orang-orang miskin dan terlantar. Semangat ini merupakan warisan turun temurun dari Yesus kepada Vincentius dijiwai oleh Pastor Antonius Van Erp dan sampai kepada suster- suster KYM (Laura: 2010: 129).

  Yesus juga dalam hidupNya sungguh memberi perhatian pada orang-orang kecil, miskin dan berdosa. Yesus menegaskan bahwa persembahkan seorang janda miskin, lebih besar nilainya dari pada apa yang dipersembahkan oleh yang lain (Mrk 12:41-44). Sebab janda itu memberi dari kekurangannya sedangkan yang lain memberi dari kelebihannya. Dalam peristiwa ini Yesus juga ingin mengangkat martabat orang kecil. Sungguh, ungkapan Yesus pasti mengejutkan banyak orang. Karena dengan itulah Yesus ingin mengubah pandangan banyak orang. Yesus ingin memperlihatkan bahwa orang miskin mempunyai tempat istimewa bagi Allah.

  Ternyata sikap Yesus untuk menghargai orang-orang kecil bahkan orang-orang yang sering tidak diperhitungkan sungguh diteladani oleh Santo Vincentius (Laura: 2010: 129-130).

  

C. Kelembutan Hati Santo Vincentius A. Paulo dalam mencintai orang miskin

sebagai majikan

  Mengikuti jejak Kristus berarti menyerupai Dia sejauh hal itu memungkinkan bagi orang-orang yang lemah. Sering sekali kita mendengar dan mengucapkan istilah “Karitas”. Namun ada baiknya kita mempunyai kejelasan tentang inti dari kata “ Karitas” itu sehingga kita tidak mencampuradukkan dengan karya sosial umumnya (Tondowidjojo, 1987: 14).

  Orang miskin adalah raja dan penguasa kita, karena Tuhan kita berada dalam kaum miskin. Kaum miskin itu tuan kita, raja kita, kita haruslah mentaatinya. Oleh sebab itu bukan merupakan keberlebihan menyebut mereka demikian, karena Tuhan kita berada dalam mereka.

  Pelayanan itu diberikan kepada Tuhan kita dan lagi ia memandangnya sebagai suatu kenyataan “cum ipso Sum in tribulatione”: saya dengan Dia dalam kesulitan (Maz 90:15) “jika ia sakit, Aku juga sakit, bila ia berada dalam penjara, Aku juga dipenjara, jika ia menderita luka pada kakinya, Aku juga seperti dia menderita” (Tondowidjojo, 1984: 10).

  Kita juga diingatkan untuk meneladani sikap St. Martinus orang suci ini meskipun masih katekumen melihat seorang minta sedekah, lalu ia menghunus pedangnya, lalu separuh dari mantolnya dipotong dan diberikannya kepada simiskin. malam berikutnya Tuhan Yesus menampakkan diri kepadanya terselubung dengan mantol yang diberikan kepada si miskin tadi. Gereja menaruh perhargaan dan penghormatan yang besar pada perbuatan cinta kasih St. Martinus bukannya sebagai Uskup atau Uskup Agung, meskipun jabatan itu begitu luhur (Tondowidjojo, 1984: 11).

  Orang-orang miskin adalah majikan-majikan kita, penguasa kita. Kita harus mentaati mereka. Bukannya sesuatu yang berlebihan kiranya menyebutnya demikian, karena dalam orang-orang miskin kita memiliki Tuhan dalam diri kita.

  Sungguh konsep “Majikan” yang biasanya sangat melekat pada orang-orang kaya kini diberikan pada orang-orang kecil. Vincentius membuat sesuatu yang luar biasa. Kesederhanaannya ternyata mampu mengubah pandangan kita akan orang- orang kecil.

D. Makna kelembutan hati Vincentius A Paulo dalam hidup para suster KYM

  Sebagai anggota Vincentian sudahlah sepatutnya para suster KYM berefleksi sejauh mana telah melaksanakan satu keutamaan ini dalam hidupnya.

  Kelemahlembutan ini harus mempengaruhi segala tingkah laku iman, dan bahkan mengatur lahiriahnya hal ini bukan saja ingin disampaikannya kepada para imamnya semata melainkan kepada para imamnya disampaikan dan dilanjutkan kepada KYM dalam perjalanan hidup panggilan ini (Delarue, 1990: 138).

  Tak dapat dilupakan betapa Vincentius mengganggap penting keutamaan kelembutan hati bagi hidupnya sendiri maupun bagi kongregasi misi, dan juga bagi

  (Roman, 1993:76). Mungkin ada yang bertanya demikian penting penekanan pada keutamaan ini atau keutamaan itu? Itu penting karena pertama-tama sifat atau kepribadian Vincentius A Paulo mengalami perubahan yang mendalam. Vincentius bukanlah tipe manusia yang pemarah, melainkan tertutup, bila terjadi sesuatu yang tidak disenangi, dia tidak meletus, melainkan menutup diri, di samping itu dia seorang yang kasar dalam penampilan lahiriah dan ini semua mengalami perubahan yang mendalam.

  Vincentius menyadari pentingnya kelembutan, sikap yang sopan dan hangat (Roman, 1993:76). Sebagai pengikut Vincentius tentulah makna ini juga sangat perlu untuk dihidupi oleh para suster KYM, memaknai pergulatan ini sebagai pergulatan tiap pribadi suster di tengah keras dan kasarnya cara dan pola tindakan manusia zaman sekarang ini. Sehingga pribadi seorang suster KYM juga senantiasa mengalami perubahan kepada sesuatu yang semakin memiliki keutamaan kelembutan hati tersebut.

BAB III HIDUP PERSAUDARAAN PARA SUSTER KYM DALAM TELADAN KELEMBUTAN HATI ST. VINCENTIUS A PAULO Sejak Konsili Vatikan II, Gereja menekankan pentingnya tiap orang dalam

  komunitas sebagai “Garam dunia”. Kelompok-kelompok ini menolong orang-orang untuk tetap teguh sebagai warga Gereja, mereka dikuatkan oleh pesan Injil dan bertempur dengan sikap tetap teguh berpegang pada Kristus. Dari akar rumput komunitas ini, sebuah organisasi ditujukan untuk menciptakan suatu ruang agar Cintakasih bisa berkembang di dalamnya. Pada seruan purna-sinode Vita Consecrata kita membaca definisi singkat hidup bakti sbb.: “Dasar Injili hidup bakti terdapat pada relasi khusus yang dibangun oleh Yesus bersama dengan para muridNya semasa hidupNya di dunia ini” (VC no 14).

  Panggilan untuk menghayati hidup bakti sangatlah berkaitan dengan kenyataan bahwa: Tuhan memilih sejumlah orang untuk membangun relasi yang lebih erat dengan mereka. Adalah suatu misteri (yang kuncinya hanya dimiliki oleh Tuhan saja) bahwa Tuhan melakukan hal ini, dan mengapa ia secara khusus memilih orang-orang tertentu. Manusia bebas untuk menerima ajakan Tuhan ini. Panggilan untuk menghayati hidup bakti sangatlah berkaitan dengan kenyataan bahwa: Tuhan memilih sejumlah orang untuk membangun relasi yang lebih erat dengan mereka.

  Adalah suatu misteri (yang kuncinya hanya dimiliki oleh Tuhan saja) bahwa Tuhan melakukan hal ini, dan mengapa ia secara khusus memilih orang-orang tertentu.

  Joan Chittister dalam bukunya berjudul “Api Dalam Abu” memberikan ulasan berikut ini: “Seorang religius haruslah pribadi yang pertama dan terutama, selalu dan selamanya, dalam keadaan apapun, mencari Tuhan dan hanya Tuhan saja, melihat Tuhan dan Tuhan saja dalam segala kebingungan ini, dalam semua kekacauan ini dan, apapun situasinya, berbicara tentang Tuhan dan Tuhan saja”. Dengan kata lain, menjadi seorang religius berarti berupaya mencari, melihat, dan memberi kesaksian tentang Tuhan dalam segala aspek kehidupan dan dalam segala situasi.

  John Baptist Metz ialah seorang penulis lain yang menggambarkan hidup religius kontemporer sebagai “suatu hasrat akan Tuhan”. Ini hasrat yang berkobar- kobar terwujudnya keadilan Tuhan seutuhnya dalam hidup ini dalam dunia ini, dalam hidupku dan duniaku, tetapi juga dalam hidup sesama dan di seluruh dunia. Inilah hasrat untuk mengabdikan diri sepenuhnya terhadapNya dengan penuh hasrat yang bernyala-nyala. Hal ini menjelaskan mengapa hasrat akan Tuhan selalu memerlukan hasrat akan manusia.

  Sama juga dengan hidup bakti: Ini merupakan upaya mencari Tuhan dengan penuh hasrat sebagai jawaban terhadap hasratNya untuk mencari manusia, dengan mana si pencari mewujudkan persatuan akhir tersebut, suatu persatuan dengan Tuhan yang sebenarnya hanya dapat berlangsung di kelak kemudian hari, tetapi biarpun demikian ia ingin mencoba mengantisipasinya dalam hidupnya sendiri, namun juga dalam kehidupan sesama. Mereka ingin menyampaikan kepada orang lain bahwa Tuhan mengasihi mereka juga. Dan kita ingin memperlihatkannya serta mewujudkannya dengan memperbaiki situasi kehidupan mereka, dengan membawa

  Hasrat akan Tuhan ini, pencarian Tuhan dengan penuh hasrat ini membawa dampak pada kehidupan orang-orang yang ingin menghayati hidup bakti. Orang- orang itu ingin lebih mengutamakan hasrat kepada Tuhan daripada hasratnya sendiri, sehingga pada akhirnya hasrat akan Tuhan ini mendominasi semua hasrat lainnya.

  Allah dinomorsatukan, dan individu serta hasrat-hasrat pribadi mereka diarahkan dan diorientasikan kepada hasrat akan Tuhan. Sisi hasrat dari kepribadian kita tidaklah tertekan, sebagaimana biasa dikatakan orang, namun diberi suatu finalitas baru, yakni: suatu pemenuhan hidup yang semuanya berhubungan dengan Tuhan.

  Perhatikanlah bahwa hasrat akan Tuhan merupakan suatu hasrat yang timbal-balik. Tuhan juga berhasrat terhadap kita!

  Seseorang yang dipanggil untuk menghayati hidup bakti dan yang mengindahkan panggilan ini secara positif akan berusaha menjadikan Tuhan satu- satunya pemenuhan hidupnya yang terdalam, karena Tuhan memiliki segalanya dan semuanya. Dia akan menerapkan seluruh daya kekuatannya, keseluruhan keberadaannya dalam aspirasinya untuk menemukan Tuhan dan untuk menghayati hadiratNya dan dengan demikian ia menjadi suatu gambaran dari apa yang menantikannya di masa mendatang (dimensi eskatologis hidup bakti), dengan demikian menunjukkan kepada dunia bahwa segalanya hanya akan menemukan kedudukannya yang benar dalam relasi dengan Tuhan (dimensi kenabian hidup bakti), dengan demikian menghadapi realitas secara lain, yang justru menjadi tempat menemukan Tuhan, dimana kasih Tuhan menjadi tampak jelas, bahkan dalam hidup orang-orang yang terluka (dimensi apostolik hidup bakti), dengan demikian hidup pertama yang penuh dengan hadirat Yesus di tengah-tengah mereka (dimensi persatuan hidup bakti), dengan demikian menjadi sangat peka terhadap tempat-tempat dimana Tuhan berseru, dan dimana orang-orang tampak musnah sebagai akibat dari Kekaburan Ilahi (dimensi liminal hidup bakti).

  Jadi orang yang membaktikan hidupnya adalah makhluk rohani yang mengubah dan mengarahkan hasrat-hasrat manusiawinya, yakni nafsu kuasa, nafsu kenikmatan, dan nafsu kekayaan, demi terwujudnya hasrat yang terluhur yakni yang terarah kepada Tuhan. Keseluruhan hidup manusia terarah pada pemuasan ketiga nafsu itu, manusia mendambakan kekuasaan atas sesamanya dan atas segala situasinya, manusia haus akan kenikmatan hidup, manusia ingin memiliki dunia.

  Justru hasrat-hasrat itulah yang ditampung dalam kaul-kaul religius dan nasehat- nasehat Injili, serta disalurkan ke dalam hasrat terakhir, yakni Tuhan sendiri. Tujuan dari kaul kemurnian-kesucian ialah untuk mengalirkan nafsu kenikmatan, kaul ketaatan mengalirkan nafsu kekuasaan, kaul kemiskinan nafsu kekayaan. Kaul-kaul menjadi kerangka kerja dimana kita ingin membentuk hidup bakti.

A. Pilihan Pastor Antonius Van Erp untuk KYM

  Dalam sejarah hidup membiara, Vincentius adalah orang pertama yang berhasil mendirikan dan menjaga kelangsungan suatu kongregasi aktif bagi kaum perempuan. Bermula dari perhimpunan persaudaraan kasih, akhirnya Vincentius mendirikan Putri Kasih. Bagi Vincentius lorong-lorong jalan adalah serambi Biara.

  Oleh sebab itu, ia mengajak seluruh putri kasih untuk terjun langsung menghadapi keprihatinan yang terjadi di luar sana. Bagi Vincentius mencintai Allah nyata dengan mencintai sesama.

  Pada zaman itu belumlah menjadi sesuatu yang wajar apabila para biarawati keluar dari biara dan melayani orang miskin. Sebab, pada saat itu para biarawan/wati lazimnya hanya tingggal di biara. Namun penderitaan rakyat yang dilihat Vincentius menggugah hatinya untuk menolong mereka baik secara rohani maupun materi. Ia menyadari bahwa semua itu tidak dapat dilakukan sendirian maka ia membutuhkan orang lain untuk menjawab panggilannya. Untuk itulah ia mendirikan Putri Kasih.

  Para putri kasih tidak hidup di dalam biara, Vincentius menegaskan kepada mereka bahwa rumah sakit, lorong-lorong jalan dan penjara itulah yang menjadi biara mereka (Laura: 2010: 126).

  Semangat ini jugalah yang menjiwai Pastor Antonius Van Erp. Seorang Pastor Paroki St. Servatius, Schijndel yang peduli akan keadaan umatnya. Ia melihat keprihatinan yang terjadi di daerahnya, kemiskinan, kemelaratan dan kebodohan.

  Bagaimana hal itu dapat diatasi? Satu-satunya cara untuk dapat menolong adalah pendidikan.

  Pendidikanlah yang akan dapat memperbaiki kehidupan dan mengangkat mereka dari kemiskinan dan kebodohan. Maka karya pertama yang dipikirkan olehnya ialah di bidang pendidikan. Tak ubahnya dengan Vincentius, ia pun menyadari bahwa tak mungkin ia dapat melakukan semua itu sendirian. Maka ia berinisiatif untuk mendirikan sebuah kongregasi. Kongregasi yang menjiwai semangat Santo Vincentius.

  Maka, Pastor Antonius Van Erp tidak keberatan jika dikatakan bahwa pendiri kongregasi adalah Santo Vincentius. Kongregasi yang didirikan oleh Pastor Antonius van Erp adalah Zusters van Liefde atau di Indonesia disebut Suster-suster Cinta Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik atau disingkat dengan sebutan suster KYM.

  Pastor Antonius Van Erp mempunyai perhatian khusus bagi kaum perempuan. Maka yang pertama ia lakukan ialah mendirikan sekolah bagi perempuan. Untuk itu, ia mencari seorang gadis yang dapat membantunya untuk mewujudkan cita-citanya. Gadis itu ialah Mieke de Bref yang ketika menjadi suster dipanggil dengan nama suster Vincentia de Bref. Antonius mengirimkan susternya ini ke biara Suster-suster Belas Kasih (SCMM) untuk dibina dan dilatih sebagai seorang biarawati. Dua tahun kemudian suster Vincentia ini kembali ke tempat Pastor Antonius dan menempati sebuah rumah sederhana. Sebelumnya, selama di SCMM ia dilatih untuk merajut dan kemudian bersama-sama perempuan lainnya mulai merajut.

  Selain sebagai keterampilan hal ini juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka (Laura: 2010: 2-3).

  Semua berawal dari kesederhanaan. Rumah yang sederhana dan fasilitas yang seadanya namun itu tidak melumpuhkan semangat mereka. Pastor Antonius Van Erp bersama Suster Vincentia dan ketiga suster lainnya yakni suster Rosali, Suster Theresia de Rooy, Suster Aloysia Van Buch, pada tanggal 1 November 1836 secara resmi mendirikan Tarekat Cinta Kasih dari Yesus dan Bunda Maria Bunda Pertolongan Baik atau disingkat KYM.

  “Marilah kita mencintai Tuhan dengan kekuatan lengan kita dan dengan wajah bercucuran keringat.” Semangat Vincentius inilah yang menjadi inspirasi motto hidup Kongregasi yaitu Ora Et Labora (berdoa dan bekerja). Tak hanya doa tapi juga bekerja. Maka Kongregasi KYM adalah kongregasi aktif. Hingga saat ini semangat Santo Vincentius yang mengilhami pastor Antonius Van Erp masih terus menjiwai suster-suster KYM (Laura: 2010: 127).

  Sebagai seorang Vinsentian, suster-suster KYM hidup dalam keutamaan kasih. Menjadi suster kasih, terlebih berbagi kasih bagi orang yang miskin, baik yang miskin rohani maupun materi. Menjadikan orang miskin sebagai majikan. Hal ini tampak dari berbagai karya yang kini ditangani oleh suster-suster KYM seperti, panti asuhan, pastoral langsung, pendidikan, anak-anak jalanan, kelompok tani, asrama dan poliklinik. Dengan ini para suster memberikan pelayanan sebagai seorang Vinsensian yang lebih mengutamakan orang kecil dan miskin (Laura: 2010: 128).

B. Hidup Persaudaraan para Suster KYM

1. Persaudaraan Religius KYM

  Dalam KHK yang dicanangkan pada tanggal 25 januari 1983 ada sebuah kanon yang dikhususkan untuk hidup persaudaraan dalam seksi hidup religius. Pada kanon 602 dikatakan: “oleh hidup persaudaraan yang menjadi ciri masing-masing tarekat, semua anggota dipersatukan bagaikan dalam suatu keluarga khusus dalam Kristus. Hendaknya hidup persaudaraan itu ditentukan sedemikian rupa, sehingga semua saling membantu untuk dapat memenuhi panggilan masing-masing. Dengan anggota hendaknya menjadi gambar dari pendamaian menyeluruh dalam Kristus” (Andre Louf: 1-2).

  Sebelum berbicara lebih jauh tentang persaudaraan KYM, langkah-langkah pembinaan persaudaraan dan relevansi kelembutan hati dalam hidup persaudaraan, penulis mencoba untuk melihat tujuan pembentukan persaudaraan dalam komunitas religus. Komunitas religius (dalam hal ini KYM) dapat menjalankan tugas perutusannya secara bersama-sama. Sebab hakekat komunitas adalah kebersamaan atau dalam bahasa lain disebut persaudaraan.

  Yang menjadi landasan hidup persaudaraan para suster KYM dalam hidup berkomunitas adalah Kis 4:32 “kumpulan orang yang telah percaya itu hidup sehati sejiwa, dan tidak seorangpun berkata bahwa suatu dari kepunyaan adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” dengan demikian dapat disimpulkan bahwa para suster KYM senantiasa diajak untuk hidup seturut cara hidup jemaat perdana.

  Dalam Konstitusi KYM Bab IV art 44 dikatakan: “Persekutuan dibentuk oleh orang-orang yang meniru teladan dari kesatuan Yesus Kristus bersama murid-muridNy; orang-orang yang seraya mengakui perbedaan pandangan, watak dan sikap, satu sama lain mencari tujuan bersama dan menggumulinya bersama; orang-orang yang saling memberi perhatian, sehingga setiap orang didengar, setiap orang berhak berbicara, setiap orang merasa aman satu sama lain; orang-orang yang menerima diri sendiri dan orang lain, karena setiap hari menyadari bahwa mereka diterima oleh Allah”. Dalam komunitas itulah terjadi komunikasi cinta serta perhatian satu terhadap yang lain. “Inilah perintahKu yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Inilah perintahKu kepadamu: kasihilah seorang akan yang lain” perbedaan dan menjalankan prioritas-prioritas untuk melakukan evangelisasi dan pelayanan kepada kaum miskin dan mengadakan doa bersama.

  Dalam komunitas kita bertekun untuk pendidikan dan pengajaran serta pengembangan diri, kita menjadi saling percaya, kita mempunyai sense of belonging; kita melakukan share diri bersama, kita bergembira bersama dengan saling menguatkan sebagai saudara serta percaya bahwa orang/pribadi yang dihadapi memiliki nilai-nilai kepribadian yang harus dihormati, kita selalu bersatu hati dalam pujian dan doa bersama (Kis 2:41-47).

  Persaudaraan religius yang terbentuk itu tidaklah bersifat homogen tetapi

  

heterogen baik pribadi maupun sasaran pelayanan mereka yang mencakup orang dari

  bangsa dan budaya yang lain. Dalam heterogenitas (kemajemukan) itulah kiranya makna kelembutan hati itu menjadi hidup dan konkret.

2. Makna hidup Persaudaraan

  Hidup religius selalu dihayati di dalam hidup persaudaraan dalam sebuah dalam hidup orang-orang yang hidup bersama sebagai saudara dan demi Yesus Kristus ini, kita menemukan rahmat yang juga kita rasakan dalam hati kita masing- masing. Untuk mengikuti Yesus kita bergabung dalam suatu persaudaraan.

  Seterusnya kedua kenyataan selalu disebut bersama: Allah dan sesama/saudara sekomunitas (Andre Louf:1).

  Fraterna Komunio (berbagi hidup dalam semangat persaudaraan) adalah

  sebuah ungkapan yang sangat tua di dalam tulisan monastik. Ketika hidup komunitas dari Pakhomeus pada abad ke-4 maka pengelompokan monastik diberi nama yang berasal dari Perjanjian Baru: Hagia koinonia, yang berarti persaudaraan kudus atau persekutruan kudus. Kata koinonia diambil dari Kisah 2:42. Istilah ini merupakan suatu penjelasan perihal Gereja Perdana yang paling dikenal: “mereka bertekun dalam pengajran rasul-rasul dan dalam persekutuan (koinonia). Dan mereka saling berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”.

  Koinonia ini diterangkan dalam kalimat-kalimat berikut ini: menyerahkan semua barang mereka sebagai dana bersama, pergi kekenisah sebagai suatu kesatuan tubuh, suatu semangat yang sehati, makan bersama dengan gembira dan berhati tulus satu dengan yang lain. Lukas menambahkan:”mereka disukai semua orang” maksudnya: kelompok ini menyebarkan pendamaian dalam Kristus (Andre Louf: 2-3).

  Kasih itu kreatif sampai akhir demikianlah persaudaraan akan tercipta rukun jika setiap individu berusaha untuk menciptakan kasih yang kreatif hingga akhir.

  Sehingga suasana bersama mengundang suasana yang membuat orang merasa kerasan dan setiap suster bertumbuh dalam panggilan, mendapatkan perhatian dari semua pihak. Sikap ini ditumbuhkembangkan oleh sikap hormat terhadap keunikan setiap suster, oleh tanggung jawab bersama satu terhadap yang lain. Singkatnya, oleh kepercayaan satu sama lain atas dasar iman. Mengambil inisatif dan menerima inisiatif dari orang lain menjadi bagian dalam memperhatikan suasana hidup komunitas (Directorium KYM art 16).

  Menurut teladan gereja perdana, hendaknya kehidupan bersama bertekun doa serta persektuan semangat yang sama (Kis 2:42). “Berkomunitas, dan menjadi komunitas secara baru, akan merupakan suatu anugerah dan tugas: ini tidak datang dengan sendirinya, tetapi kita harus mengupayakannya. Kita akan mengalami saat- saat jatuh bangun. Akan ada saat-saat gembira dan sedih dalam pengalaman hidup bersama. Dengan melaksanakannya kita akan belajar bagaimana menanganinya (Konstitusi KYM bab IV art 45). Sebagai seorang KYM dalam menjalankan hidup persaudaraannya dalam komunitas hendaknya memiliki kemampuan untuk hidup berkomunitas tersebut yang dirumuskan dalam beberapa hal-hal berikut:

  a. Mampu hidup sehati dan sejiwa dan memberi kesaksian mengenai kehadiran Tuhan serta mengenai cinta kasihNya yang meyakinkan.

  b. Mampu mengabdikan diri penuh cinta kasih satu sama lain

  c. Mampu menghayati satu cita-cita dan tujuan bersama untuk menumbuhkan usaha untuk selalu mengembangkan kebersamaan d. Mampu menghayati satu tubuh meski banyak anggota, berusaha saling mengindahkan karena semua berharga dan ambil bagian didalamnya (1 Kor

  12:12-31).

  e. Tekun dan terbuka untuk terus menerus belajar dan diajar oleh pengalaman hidup komunitas dan pelayanan serta mampu hidup dalam kasih, damai, keadilan dan kebenaran

  f. Mampu menghayati visi, misi, tujuan, dan kharisma Kongregasi serta tujuan yang sama g. Mampu menghayati kesatuan hati-gerak-budi dalam komunitas meski bermacam- h. Mampu menghayati hidup bersama dengan sikap sederhana, rela berkorban, jujur dan setia. i. Mampu mengosongkan diri seperti Kristus, mencintai Tuhan dan sesama secara radikal j. Sanggup merefleksikan pengalaman hidup sebagai orang beriman k. Menerima diri sendiri dan orang lain serta situasi apa adanya dan tidak menuntut lebih l. Mengakui dan menggunakan bakat yang dimiliki dengan baik m. Memiliki rasa kesetiakawanan yang tulus dan menjalankan pengabdian dengan gembira (PPK KYM, 2008:10-11).

  Hidup dalam persaudaraan KYM juga berarti senantiasa bersatu dengan kharisma Kongregasi KYM, yakni kharisma kesederhanaan dalam pola hidup, tutur kata dan perbuatan yang digerakkan oleh keterpautan kasih kepada Bapa yang mengasihi pribadi Yesus Kristus yang terarah kepada tindakan kasih kepada sesama yang menderita karena penindasan dan ketidakadilan, membela dan memberdayakan mereka. Nilai-nilai kharisma itu mewujudkan diri secara personal, relasional dan tatanan sosial (PPK KYM, 2008:12).

  Hidup dalam komunitas akan mengalami tahap yang membangun kearah yang lebih baik apabila setiap orang menyadari dirinya sebagai yang paling lemah didalam komunitas. Karena orang-orang yang paling lemahlah yang selalu ada dihati dan pusat sebuah komunitas Kristiani. Hal itu memberi ciri khas pada komunitas Kristiani, suatu iklim yang khas. Walaupun demikian kita kerap berhadapan dengan serangkaian keinginan dan ambisi yang saling bertabrakan, yang sering saling tidak cocok, dan membutuhkan usaha untuk hidup dalam harmoni (Andre Louf : 21).

  Namun dalam hal diatas secara ideal ketegangan itu dapat terselesaikan dalam pribadi seorang pemimpin yang menciptakan kesatuan dan harmoni. Seorang pemimpin pun sering disebut gembala adalah sosok yang meninggalkan ke-99 ekor dombanya dan yang mencari seekor yang hilang untuk dibawanya pulang diatas pundaknya. Seorang pemimpin adalah dia yang dapat memberi cinta dan kelembutan sejati, dia yang dapat menjadikan dirinya kecil dan rendah, yang dapat berbuat apa yang pernah dilakukan oleh Yesus, yaitu berlutut untuk mencuci kaki sesamanya (Andre Louf : 21-22).

3. Spiritualitas kelembutan hati dalam KYM

  Spritualitas Vincentius mulai ditanamkan kepada para suster sejak dini, yaitu sejak masa pembinaan di Postulan lewat studi. Pada tahap pembinaan selanjutnya di Novisiat, para suster mulai mengikuti kegiatan HaVin (Hari Vincentius). Para Novis pergi ke lorong-lorong untuk menemukan orang miskin. Dengan ini kepekaan dan kepedulian para novis mulai terasah dan akan membantunya untuk menemukan jati dirinya sebagai Vinsensian yang tanggap akan kebutuhan orang-orang di sekitarnya.

  Ada juga program Live in yang dilaksanakan saat Novis dan menjelang Kaul Kekal dengan tujuan untuk meneguhkan panggilannya sebagai seorang suster sekaligus sebagai Vinsensian. Tinggal langsung bersama umat dan mengalami secara langsung pahit getirnya kehidupan di luar. Kegiatan ini menempa pribadi para suster untuk menjadi suster yang tangguh dan mampu menghadapi tantangan zaman (Laura: 2010: 128).

  Spiritualitas Santo Vincentius kini masih hidup dan berkembang dalam jiwa suster-suster KYM. Vincentius hidup di zamannya begitu juga dengan pastor Antonius van Erp dan suster-suster KYM. Berangkat dari spritualitas yang sama kita dipanggil juga untuk mengaktualisasikan semangat ini sesuai dengan konteksnya.

  Sebagaimana Vincentius dan Pastor Antonius Van Erp berani peka dan tanggap akan keprihatinan dan kebutuhan masyarakat pada zamannya begitu juga dengan para suster KYM (Laura: 2010: 130).

  Spiritualitas St Vinsentius A. Paulo berarti meresapkan dan menggemakan semangat Yesus Kristus dalam hidup. Spiritualitas tidak bertumbuh begitu saja jika tidak digali, dipikirkan, direnungkan dan dihayati dalam kenyataan hidup konkret setiap hari. Tentu saja spiritualitas bukanlah sesuatu yang kaku, tetapi “bentuk”, roh atau jiwa dari sebuah kehidupan yang dipengaruhi oleh kebudayaan dan perkembangan zaman.

  Sebagai salah satu anggota Vinsensian, para Suster KYM juga menjadi pewaris 5 keutamaan St. Vincentius yakni kesederhanaan, kerendah-hatian, kelembutan hati, matiraga, dan penyelamatan jiwa-jiwa bersumber dari Yesus Kristus sendiri. Demikianlah pendiri Bapak Antonius Van Erp mewariskannya bagi para Suster KYM, sebagaimana ia telah menghidupinya dengan semangat St. Vincentius

  A. Paulo. Dan semua teladan itu adalah sebuah sikap yang mendalam akan keintiman dengan Tuhan sendiri yang Maha lembut (Sumaji, 2004: 85).

  Peraturan yang diwariskan oleh Vincentius adalah Yesus Kristus sendiri, dengan jelas yaitu perkatan atau ajaran Yesus tentang kelembutan. Kelembutan hati itu harus didasarkan pada Pribadi Kristus sendiri yang adalah lembut dan rendah hati, demikianlah peraturan ini menjadi milik semua pewaris semangat St. Vincentius dalam hal ini termasuk KYM, kelembutan itu harus ditaati bahkan dengan jelas Vincentius menegaskan kepada pengikutnya “seandainya St. Paulus atau St. Petrus yang mengatakan hal semacam itu, kita sekalian mungkin tidak akan taat. Tetapi yang berkata itu Allah yang menjelma, Dia adalah Guru segala Kebijaksanaan (Sumaji, 2004: 82).

  

C. Teladan Kelembutan Hati St. Vincentius A. Paulo Dalam Hidup

Persaudaraan KYM

1. Teladan Kelembutan Hati Santo Vincentius dalam Relasi dengan sesama

  Dalam berkarya tak jarang kita berhadapan dengan orang-orang yang “sulit” dan yang jelas mereka tak ada yang sama satu dengan yang lain. Bagi para suster KYM yang masuk dalam keluarga besar Vinsensian diberi tugas untuk mengabdikan dirinya sungguh utuh bagi para miskin papa dan itu menjadi tugas pokok yang harus dilaksanakan. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan: “aku adalah kaum papa yang engkau beri makan, minum dan pakaian, maka jika engkau mencintainya, maka engkau mencintai Aku dengan Bapa-Ku disurga” (bdk Mat 25:35-46).

  Lalu bagaimana berhadapan dengan masalah diatas apa yang perlu disikapi oleh para suster KYM? Mat 5:8 memberi rumusannya “karena itu, haruslah kamu dimaksud dengan “sempurna” tak lain adalah pengejawantahan nilai-nilai kebaikan dari Tuhan sendiri, antara lain kelembutan dan keramahtamahan.

  “Terangilah hati dan budi kami, agar kata dan tindakan kami menjadi warta keselamatan bagi semua ciptaan-Mu. Buatlah kami menjadi bijaksana dan memiliki hati yang lembut, dalam menghadapi dan melayani sesama yang kami jumpai hari ini.” (Doa harian KYM hal : 7).

  Potongan doa harian diatas selalu didoakan para suster KYM setiap hari, dan menjadi bagian tetap. Sejauh mana tiap pribadi menghayatinya dalam hidup setiap hari menjadi sebuah perjuangan yang terus menerus diusakan. Tiap pribadi suster KYM seharusnya dan sudah patut bersikap lembut sebagai wujud nyata dari doa yang dipanjatkan setiap hari ini, hendaknya doa ini bukan tinggal dalam kata saja melainkan berbuah dan nyata dilakukan setiap hari dalam kehidupan pribadi.

  Vincentius pernah menyampaikan hal ini kepada salah seorang Imamnya dalam suratnya “Apabila Romo mengamati bahwa seseorang tidak melakukan kewajibannya dalam tugas atau mengenai peraturan, hendaklah Romo menegur dia, meskipun dia tampaknya tidak akan menerima teguran-teguran dengan baik. Dan itu perlu romo lakukan meskipun dari pengalaman tahu dengan pasti bahwa teguran akan ditolak. Kalau tidak ada teguran orang itu mungkin mengira dia berbuat baik atau menduga romo menyetujui tingkah lakunya. Tentu teguran harus disampaikan secara wajar dan dengan sikap lemah lembut” (Ponticeli, 2003: 49). Dengan lembut hati itulah yang ditegaskan Vincentius dalam melakukan sebuah tindakan. Sekalipun dalam sebuah tindakan yang mungkin tidak bisa diterima oleh orang lain namun dalam sikap yang keras dan tegas tetapi berlandaskan kelembutan hati. Sungguh dalam hal ini Bapak Pelindung para papa ini telah mengajarkan bagi putri-putrinya “suster KYM” sebagaimana ia juga telah papa ini ingin agar pribadi seorang Vincentian dalam hal ini “KYM” adalah pribadi yang lemah lembut dalam bertindak dalam kehidupan setiap hari.

  Keutamaan kelembutan yang diajarkan oleh Vincentius ini amat penting dan membantu untuk hidup kita. Keutamaan ini akan mengantar kita pribadi kepada kepenuhan hidup, karena hidup damai, tenang, bahagia yang dicanangkan. Kita diantar untuk menampilkan diri kita yang secitra dengan Allah, yang adalah lembut hati dan kita dibawa menyerupai Yesus Kristus sendiri.

  

2. Teladan Kelembutan Hati Santo Vincentius A. Paulo dalam Hidup

Persaudaraan KYM

  “Tidak ada sesuatupun didunia yang selunak air namun tidak ada yang mengunggulinya dalam mengalahkan yang keras. Yang lunak mengalahkan yang keras dan yang lembut mengalahkan yang kuat. Setiap orang tahu itu tetapi sedikit saja yang mempraktikkannya” Yang lunak mengalahkan yang keras dan yang lembut mengalahkan yang kuat. Setiap orang tahu itu tetapi sedikit saja yang mempraktikkannya” (Shuo Yuan, 2004 : xii).

  Kita sadar bahwa hidup berkomunitas sangat penting untuk mengembangkan kepribadian dan panggilan kita. Memang perbedaan kepribadian, kebutuhan, dan apa yang dianggap penting seringkali menimbulkan banyak salah paham dalam komunikasi. Karena itu perlu untuk saling mengenal, menghargai, menerima dan memahami sesama anggota, maka kita akan saling memperkaya dan menumbuhkan.

  Dalam retret pembaharuan kaul komunitas Jogyakarta dijelaskan lewat hidup Seringkali hidup komunitas menunjukkan apakah kita mau berprestasi membangun kerajaan kita sendiri, atau membangun kerajaan Allah bersama saudara kita sepanggilan. Masing- masing anggota perlu berinisiatif untuk berkomunikasi antar pribadi dengan anggota lain.

  Agustinus dari Hipo berkata: “harta pribadi menjadi harta bersama. Konsep Agustinus tentang kemiskinan dimengerti dalam konteks keyakinan akan penyertaan Allah. Allah adalah harta tertinggi (Providentia Divina). Nilai esensial kemiskinan religius: Penghidupan misteri kemiskinan Kristus. Kunci memahami kemiskinan (Vianney, Mei : 2011).

  Yesus menunjukkan kesiapsediaan-Nya pada pelayanan Kerajaan Allah “itineransi permanen” menuju kepenuhan misi-Nya di Yerusalem. Ia meninggalkan keluarga, rumah, kampung, dll. Kemiskinan Yesus sekolah bagi pengikut-Nya: “...kami telah meninggalkan segala sesuatu…” Tekanan pokok ada pada prioritas Injili dan itu tidak sama artinya dengan tidak memiliki apapun. Kemampuan untuk mengorganisir materi sebagai media efesiensi misi.

  Dalam konteks ini kemiskinan religius dimengerti sebagai kesaksian bagi dunia yang berhala terhadap harta, uang-materialisme (dunia idolatria) “sehati sejiwa”. Kebijakan Kongregasi akan dibuat dengan tujuan, agar kemiskinan bersama berarti: tidak mempergunakan sesuatu lebih dari yang kita perlukan untuk hidup dan misi (Konst Bab II art 26), diartikan iman kristiani bertumbuh sebagai perkara komunal.

  Siap sedia bagi Kerajaan Allah (Konst. Bab II art 27 & 28 ) merupakan inti

  “proyek” hidup Yesus menjadi “proyek” hidup kita. Yesus memeluk hidup selibat menurut kesaksian Mateus “demi Kerajaan Allah” (Mt. 19:21). “Eunochia” Yesus tampil sebagai sebuah alternatif dari corak hidup; mengandung makna profetis yang mendalam. Simbol relasi diri-Nya dengan Kerajaan, Instrumen khas untuk menghadirkan Kerajaan Allah (Vianney, Mei : 2011).

  Selibat Yesus ditemukan di dalam seluruh dimensi hidup Yesus yang menghadirkan Kerajaan Allah. Inilah selibat yang mewahyukan sebuah corak baru relasi Yesus dengan Allah, sesama dan seluruh alam semesta. Bagi Yesus, Kerajaan Allah adalah misi utama kedatangan-Nya dan motif dari penjelmaan diri-Nya.

  Kemurnian tidak sama artinya dengan menolak seksualitas.

  Yesus dalam sabdaNya mengatakan: Ada yang tidak menikah karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Allah (Mat 19: 12). Dua hal: komitmen manusiawi dan alasan spiritual. Yesus menghidupi selibat demi Kerajaan Allah. Karl Barth: Yesus tidak memiliki kekasih, istri dan tempat tinggal di luar komunitas-Nya.

  Kemurniaan demi alasan spiritual–nilai keintiman dengan Allah memusatkan seluruh energi ke dalam komitmen untuk tidak membagi hati kepada kekasih yang lain selain Kristus sebagai mempelai (Vianney, Mei: 2011).

  Konsekuensi keintiman dengan Allah: menolak keintiman erotis sambil memeluk keintiman agapis. Kemurniaan: bentuk perkawinan batin, spiritual dengan Allah. Seksualitas dalam kerangka ini hanya merupakan energi kreatif mencapai keintiman super-sempurna dengan Allah (Vianney, Mei: 2011).

  Ketaatan Kristus sebagai dasar ketaatan religius. Pedro Arrupe: Konsep atau kepemimpinan. Otoritas sebagai seni kepemimpinan. Oleh karena itu para superior harus belajar cara memimpin yang Injili, membuka dialog, memahami roh subsidiaritas, melahirkan keputusan atas pertimbangan dan logika hukum cinta kasih dan mendidik kaum religius dalam ketaatan yang dewasa. Otoritas merupakan misi

  

providensial dan bukan jabatan manajerial represional: menekan menggunakan

otoritas sambil menyembunyikan kelemahannya dibalik arogansi keputusannya.

  “Tak ada jalan yang lebih baik untuk menjamin kebahagiaan abadi kita daripada dengan hidup dan mati dalam pelayanan bagi orang miskin, dalam tangan Sang Penyelenggara Ilahi, dan dalam penyangkalan diri dengan mengikuti Yesus Kristus” (EPMM: Psl 8).

  “Janganlah kita mengikuti jalan kita sendiri, tetapi marilah kita mengikuti jalan yang telah ditunjukkan Allah bagi kita. Mari mempersembahkan diri kita kepadaNya agar kita dapat melakukan segala sesuatu dan menderita apapun bagi kemuliaanNya dan bagi GerejaNya” (St. Vincentius A. Paulo, 25 Agustus 1659).

  Agustinus dari Hipo berkata: “Seorang pemimpin jangan pernah merasa gembira dengan dominasi otoritas melainkan berbahagialah atas pelayanan yang bersumber pada cinta kasih” (Vianney, Mei 2011).

  Ketaatan sebagai seni dimana seorang formandi mempercayakan dirinya dalam pengayoman providensial para superior dan bagi para superior berarti seni membuka hati pada dialog cinta kasih. Ketaatan Yesus Kristus sebagai sekolah representatif dan relevan bagi ketaatan religius. Ketaatan seperti Maria selalu berarti mempunyai kemampuan spiritual untuk mendengarkan Sabda Allah (Vianney, Mei : 2011).

3. Teladan kelembutan hati St. Vincentius A Paulo bagi pembentukan pribadi seorang KYM yang berhati lembut

  Dalam doa yang setiap sore didaraskan oleh para suster KYM dikatakan disana: “Bawalah kami kepada putramu setiap kali menghadapi godaan yang hendak merampas kebahagiaan abadi kami. Biarkanlah kami menikmati lembutnya kasih dan hangatnya cintamu. Ajarilah kami menemukan damai dalam diri Yesus putramu, disepanjang hari-hari hidup kami. Engkaulah Bunda yang rahim penuh kasih dan kelembutan” (Doa Harian KYM, hal:6). Suster KYM yang berani mengatakan diri mereka putri-putri Vincentius, ternyata telah mengetahui dengan begitu dekat keutamaan Vincentius yang satu ini” kelemah lembutan, dan ini dipadukan dengan pribadi Sang Bunda Gereja yang juga menjadi teladan Vincentius, dalam hal kelembutan. Sudah seharusnya karakter kelembutan ini mengakar dalam pribadi para suster KYM, karena didoa-doa harian yang tiap hari didoakanpun kelembutan mengambil bagian yang paling pokok. Jika tidak demikian ada kemungkinan para suster KYM tidak mengakar dalam hal ini dan tinggal dalam kata-kata manis tanpa perbuatan nyata.

  Dalam Jalan Vincentius juga terungkap sebuah doa sebagai berikut: “ya...Yesus yang lembut hati terhadap setiap orang, terlebih-lebih terhadap yang sakit, miskin dan berdosa, ajarilah kiranya kami untuk memiliki hati yang lembut seperti hatiMu, hati yang ramah terhadap semua orang, hati yang penuh rasa hormat dan menghargai, hati yang selalu sedia menyapa dan memberi perhatian, hati yang memberikan rasa damai dan penghiburan, hati yang memberikan kekuatan dan pengharapan, hati yang mengasihi dan mengampuni. Jauhkanlah kami dari sikap kasar, dan amarah, terutama terhadap orang-orang miskin yang kami jumpai dan layani, terhadap yang sakit dan tak berdaya, bahkan terhadap orang yang telah menjengkelkan, mencaci, melukai, dan memusuhi kami. Sebab hanya dengan kelembutan hati seperti Engkau kami akan dapat menyatakan kasih Ilahi dan memenangkan hati banyak orang bagi kemuliaan Allah Bapa” (Jalan Vincentian hal: 240-

  

4. Teladan kelembutan hati Santo Vincentius A Paulo dalam mewujudkan

kaum miskin sebagai majikan dalam karya pelayanan

  Tak dapat dilupakan betapa Vincentius menganggap penting keutamaan “kelembutan hati” bagi hidupnya sendiri maupun bagi kongregasi misi yang didirikannya, dan juga bagi serikat puteri kasih hingga akhirnya diwariskan kepada putra-putrinya yang bernaung dibawah spiritualitasnya, meskipun untuk para suster tidak demikian sering disinggung (Roman, 1998: 76).

  Dalam salah satu suratnya Santo Vincentius A Paulo pernah memberikan pesannya kepada salah seorang imamnya: “Romo terus menerus meminta Romo Ennery untuk Korsika, tetapi menurut saya dia tidak cukup lembut untuk daerah itu. Masyarakat sana keras dan bagi mereka sikap kasar sudah menjadi kebiasaan, maka untuk merebut mereka diperlukan kelembutan hati dan keramahan karena keburukan-keburukan disembuhkan melalui sikap yang berlawanan dengan keburukan itu” (SV IV 448-449). Inti pokok spiritualitas Vincentius A Paulo, semangat Vincentian sejati, yaitu suatu cara tertentu untuk membaca Injil, sehingga hidup Kristiani tampak sebagai mesianisnya, yaitu pewartaan kabar gembira kepada orang miskin (Roman, 1998:86). Gereja itu seumpama ladang yang siap dipanen dan karena ia membutuhkan banyak tenaga yang siap untuk bekerja. Itulah yang perlu kita lakukan, itulah caranya untuk mewartakan Allah dengan karya kita dan dengan pekerjaan kita: “Totum opus nostrum in operatione consistit (SV XI 41).

  Gaya hidup seorang rasul dalam pekerjaannya. Bagaimana seorang pewarta Injil seharusnya bertindak dan bekerja? Dengan kata lain, harus menjadi seperti apakah seorang yang bekerja dalam bidang kerasulan dan dalam bidang karya amal? paling cocok agar karya-karya dapat menghasilkan buah-buahnya. Singkatnya, sikap- sikap itu adalah simplicitas (kesederhanaan atau kepolosan), kerendahan hati, kelmbutan hati, matiraga dan semangat merasul, semangat untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang lain (Roman, 1998: 91).

  Kelima keutamaan diatas menjelaskan gaya hidup seorang pewarta Injil menurut Santo Vincentius A Paulo. Dan pewarta Injil dengan gaya hidup ini harus menggunakan senjata-senjata tertentu, yaitu nasehat-nasehat Injili atau kaul-kaul: kemiskinan, ketaatan dan kemurnian (Roman, 1998: 91).

  Tindakan yang dianjurkan oleh Vincentius A Paulo bukanlah tindakan demi tindakan. St. Vincentius A Paulo bukanlah aktivis yang mengikuti pola

  

amerikanisme. Tindakan Santo Vincentius adalah tindakan kasih. Untuk lebih

  menghormati Yesus Kristus dan meneladaniNya secara lebih sempurna, Vincentius berjanji secara tegas bahwa dia akan membaktikan selurih hidupnya untuk pelayanan orang miskin demi cintaNya”. Maka kasih adalah sumber tindakan dalam seluruh pelayanan. Santo Vincentius menjelaskan juga sasaran kasih itu: cinta terhadap Tuhan, terhadap sesama, terhadap orang miskin (Roman, 1998: 93).

  

D. Relevansi Kelembutan Hati dalam Hidup Persaudaraan KYM ditengah

budaya kekerasan

1. Budaya Kekerasan

  Kekerasan (violence, bahasa Inggris) berasal dari kata latin violentus , berasal

dari kata vi atau vis yang berarti kekuasaan atau berkuasa. Kekerasan merupakan

  

seseorang oleh perorangan atau sekelompok orang. Kekerasan dapat juga diartikan

sebagai tindakan yang sewenang-wenang dan menyalahgunakan kewenangan secara

tidak absah.

  Kekerasan adalah tingkah laku agresif yang dipelajari secara langsung, yang

sadar atau tidak sadar telah hadir dalam pola relasi sosial seperti keluarga sebagai unit

paling kecil hingga kelompok-kelompok sosial yang lebih kompleks. Kekerasan

terjadi dalam berbagai bidang kehidupan sosial, politik ekonomi dan budaya.

  Rasa takut akar dari kekerasan, ketidak pedulian dan rasa takut, ketidak

peduliaan disebabkan oleh rasa takut, dari rasa takut itulah semua kejahatan

bersumber, dan disanalah semua kekerasan timbul. Orang yang tidak mempunyai

kecenderungan untuk melakukan tindak kekerasan adalah orang yang tidak mampu

melakukan tindak kekerasan, adalah orang yang tidak mempunyai rasa takut. Hanya

jika anda merasa takut maka anda akan menjadi marah dan menjadi keras (Anthony

de Mello, 1998: 130).

  Bentuk kekerasan banyak ragamnya, meliputi kekerasan fisik, kekerasan

verbal, kekerasan psikologis, kekerasan ekonomi, kekerasan simbolik dan

penelantaran. Kekerasan dapat dilakukan oleh perseorangan maupun secara

berkelompok, secara serampangan (dalam kondisi terdesak) atau teroganisir.

  a. Kekerasan dan perilaku yang menyimpang Kekerasan juga diidentikkan dengan perilaku menyimpang. Tuti Budirahayu

(2004) dalam buku “Sosiologi” menjelaskan, perilaku menyimpang merupakan

perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan atau norma sosial

  

kepentingan umum dan tindakan kriminal (pelanggaran aturan hukum, mengancam

jiwa dan keselamatan orang lain).

  Penentuan siapa yang bisa disebut memiliki perilaku menyimpang sangat

relatif karena norma-norma yang mengatur perilaku juga bervariasi. Perilaku ini dapat

dikenali dari reaksi orang lain (masyarakat) jika norma telah ditetapkan dan

penyimpangan telah diidentifikasi.

  Seseorang menjadi penyimpang karena proses interaksi dan intepretasi

tentang kesempatan bertindak menyimpang, pengendalian diri yang lemah dan

kontrol masyarakat yang longgar (permisif). Perilaku menyimpangan yang dilakukan

kelompok disebut dengan subkultur menyimpang. Subkultur menyimpang memiliki

norma, nilai, kepercayaan, kebiasaan atau gaya hidup yang berbeda dari kultur

dominan. Subkultur misalnya, komunitas biker, rider, kelompok drugusers,

kelompok homoseksual, kelompok punk, dan sebagainya.

  b. Teori Yang Berkaitan Dengan Perilaku Menyimpang

Oleh Tuti Budirahayu dalam bukunya Sosiologi menyebutkan beberapa teori perilaku

menyimpang sbb: 1) Teori Anomie

  Pandangan ini dikemukakan oleh Robert Merton yang menyatakan, perilaku

menyimpang terjadi akibat adanya berbagai ketegangan dalam struktur sosial

sehingga ada individu-individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi

penyimpang.

  2) Teori Belajar ( Teori Sosialisasi) Edwin H. Sutherland menyatakan teorinya asosiasi diferensial yaitu

penyimpangan itu adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu

sikap atau tindakan yang dipelajari dari subkultur atau teman-teman sebaya yang

menyimpang. 3) Teori Labeling (teori pemberian cap atau teori reaksi masyarakat) Becker menyatakan teori bahwa penyimpangan merupakan suatu konsekuensi

dari penerapan aturan-aturan dan sanksi oleh orang lain kepada seorang pelanggar.

Misalnya Seseorang yang terlanjur dilabelkan atau dicap negatif sebagai pemabuk

maka orang itu justru minum sebanyak-banyaknya untuk mengatasi penolakan

masyarakat terhadap dirinya. 4) Teori Kontrol Teori ini muncul karena adanya pandangan yang mengasumsikan bahwa

setiap orang cenderung tidak patuh pada hukum atau untuk memiliki dorongan

pelanggaran pada hukum. Hirshi menyatakan empat unsur pengikat sosial (sosial

bond) yang berfungsi sebagai pengendali perilaku individu yaitu : attachment (kasih

sayang), commitmen (tanggung jawab), involvement (keterlibatan), believe

(kepercayaan, kepatuhan, kesetiaan).

  5) Teori Konflik Teori ini menyatakan bahwa kelompok elite dengan kekuasaannya

menciptakan peraturan, khususnya hukum, untuk melindungi dan memenangkan

kepentingan mereka. Persaingan kepentingan mengakibatkan terjadinya konflik

  

antara kelompok satu dan kelompok lainnya. (menurut : Quinney, Clinnard dan

Meier).

  c. Kekerasan itu budaya? Kekerasan itu budaya, jika dilihat dari pengertian budaya sebagai sebuah cara hidup menurut Raymond Williams (pemikir kajian budaya/cultural studies dari

Inggris). Budaya menurut Kephart meliputi adat istiadat/kebiasaan, nilai-nilai,

pemahaman yang sama yang menyatukan sebagai masyarakat (Chaney, 2006).

  Jelas, pada banyak sisi kehidupan kekerasan itu menjadi budaya. Tafsir

terhadap kekerasan itu sangat subyektif, bersifat kultural dan tergantung pada

keyakinan, pandangan, nilai atau norma yang diyakini kelompok-kelompok

masyarakat.

  Motivasi kekerasan ditujukan untuk : bertahan hidup (survival), memenuhi

kebutuhan atas hasrat (libido) kekerasan, melanggengkan kekuasaan,

mempertahankan diskriminasi dan stratifikasi sosial. Sebagai cara hidup, budaya

kekerasan itu: dipelajari, diadopsi, dibiakkan, dikonsumsi dipertunjukkan,

didistribusikan atau bahkan dijadikan komoditas fetishme (pemuas birahi kekerasan, seperti penjualan alat-alat kekerasan seksual bagi para sadomasokis).

  d. Apakah budaya kekerasan itu? Budaya Kekerasan terjadi, ketika kekerasan (violence), ketakutan (horror) dan

teror berkonspirasi membentuk perilaku yang menyimpang dan menjadi praksis

kehidupan masyarakat. Kekerasan dianggap hal yang biasa karena menjadi

komsumsi pikiran dan termanifestasi dalam tindakan sehari-hari.

  Media massa memberikan kontribusinya yang sangat besar dalam

mendistribusi kekerasan. Rumah-rumah produksi berlomba-lomba menyajikan

tayangan sinetron, reality show yang sarat dengan caci maki, intrik jahat, kisah yang

menampilkan darah dan airmata, penindasan dan berbagai kekerasan lainnya. Ada

beberapa tingkatan penggunaan kekerasan yakni: Pertama, kekerasan yang terencana dan yang tidak terencana. Kedua

kekerasan melawan orang dan kekerasan melawan milik, pembelaan diri yang terdiri

dari: a. Motivasi: mempertahankan diri bukan karena kebencian atau balas dendam

  

b. Serangan itu begitu nyata dan dekat bukan melulu karena kemungkinan yang

diperhitungkan atau karena ketakutan

c. Kekersan fisik yang digunakan sebagai usaha terakhir karena tidak ada jalan lain

untuk menghindarinya d. Kakerasan harus kurang lebih proporsional dengan bahaya yang nyata

  

e. Serangan itu datang dari luar dan tidak dapat dibenarkan, bukan karena provokasi

yang dibuat sendiri ( YB Sudarmanto, 1989: 80).

  Yang ketiga kekerasan individual dan kekerasan social (kekerasan yang

diakibatkan struktur sosial): tidak ada situasi manusia dimanapun yang luput dari

potensi kekerasan sosial. Oleh Karena itu kekerasan tersebut harus dikenal sebagai

kenyataan yang harus dicegah, bukan dalam arti kan membalas kekerasan dengan

kekerasan.

  Yang keempat, kekerasan yang legitim dan yang tidak legitim (diluar

  

menyangkut pembatasan-pembatasan yang dibuat oleh pemerintah seturut kehendak

rakyat, sedangkan yang dibuat legitim berupa anarkhi biasanya merupakan alternative

terhadap tekanan-tekanan yang datang dari pihak angkatan bersenjata dan polisi.

  Kelima, kekerasan yang adil dan yang tidak sebagaimana dikembangkan oleh

Agustinus, Uskup Hippo pada abad ke IV. Kekerasan model ini diuraikan dalam

kerangka teori perang adil.

  Ada 6 kriteria bagi perang atau revolusi yakni: 1) Dinyatakan oleh pemerintah yang sah.

  2) Dilakukan dengan tujuan yang benar (maksudnya baik secara moral). 3) Diambil sebagai satu-satunya jalan terakhir. 4) Mempunyai alasan yang cukup utnuk menang. 5) Struktur baru sesudah perang mempunyai hasil yang lebih baik. 6) Harus dilaksanakan tanpa berlebih-lebihan.

  Keenam, perbedaan antara “tanpa kekerasan “(Non Violence) dan tanpa

perlawanan (non-resistance). Non Violence bukan berarti pasif tetapi aktif hanya saja

tanpa menggunakan kekerasan; hal itu berbeda dengan non resistence yang berarti

sikap pasif tanpa tindakan perlawanan apapun. Perlawanan itu perlu karena yang

diperjuangkan adalah tertib sosial yang lebih adil hanya saja harus memenuhi kriteria

Kristen.

  Ketujuh, perbedaan antara melakukan kekerasan untuk sesama dan keinginan

menderita dengan menangggung kekerasan demi orang lain seperti “ jalan salib”

Kristus (Sudarmanto, 1989: 79-80).

  Yasraf Amir Piliang (Alfatri Adlin, 2006:201) menuding modernisasi dunia

ketiga menimbulkan banyak kesenjangan dan penderitaan sosial seperti:

penggusuran, pengusiran, perampasan hak milik dan pemerkosaan hak hidup.

Fenomena ini disebut sebagai horror-culture yaitu kecenderungan dimana ketakutan

dan horor dijadikan elemen utama pembentuk budaya. Horror culture meliputi : a). Horrosophy yaitu wacana pemikiran dan pemikiran dalam menciptakan konsep-

konsep yang tujuannya menimbulkan rasa takut. (Misalnya wacana tentang G30S

  PKI, wacana tentang pendatang, pemulung, kesepekan, dsbnya).

  

b). Horrography yaitu strategi untuk memproduksi rasa takut. Strategi ini sejalan

dengan pemikiran filsuf Perancis, Pierre Bordieu yaitu kekerasan simbolik,

sebuah kekerasan yang dilakukan dengan cara halus melalui suatu mekanisme

tertentu (misalnya mekanisme kekuasaan) sehingga tidak tampak sebagai kekerasan. (Gramsci menyebutnya sebagai hegemoni).

  

c). Horrocracy sebuah sistem pemerintahan dimana kekuasaan tertinggi terletak

pada sebuah kekuatan yang memproduksi dirinya melalui cara-cara kekerasan,

terror, dan prinsip ketakutan (contoh: mobilisasi massa mengatasnamakan adat

untuk mengucilkan, melakukan pelarangan jenasah di Bali, pecalang yang

menyidak penduduk).

  

d). Horronomics sebuah sistem dengan tindakan ekonomi yang dalam proses

produksi dan distribusinya menggunakan cara-cara kekerasan dan terror untuk

menimbulkan rasa takut terhadap pihak lain (bakso krama bali dalam konteks

persaingan usaha antar etnis).

  Tidak bisa kita pungkiri bahwa perjalanan bangsa Indonesia dalam 10 tahun terakhir (sekurang-kurangnya sejak reformasi) meninggalkan jejak duka yang mendalam dan memilukan. Betapa tidak! Hampir dalam segala bidang kehidupan kita berduka, sedih, bingung, suasana selalu menegangkan. Kita seakan nanar memandang aneka kekerasan, korupsi, kolusi, nepotisme yang menyusup dalam sumsum kehidupan berbangsa. Wajah kita pucat pasi, kusam masam! Tapi kita tidak boleh naif dalam menyingkapkan lembaran hitam bangsa kita melalui penelanjangan yang memalukan. Dalam kondisi yang memilukan dan memalukan ini, dibutuhkan keberanian, kerja keras dan kearifan untuk melakukan proses pencerminan sehingga mampu memilih dan menempuh langkah-langkah pemulihan yang sehat dan melegakan.

  Kita, dengan kebebasan suara hati (yang tidak bisa dibeli dengan apapun) seharusnya terlibat aktif dalam berbagai pemilihan umum untuk memilih pemimpin mulai dari tingkat nasional hingga daerah dengan jujur, adil, aman, langsung dan tentu saja membuat semua warga negara merayakannya dengan bahagia. Kita sportif dalam permainan dan sportif pula menerima hasilnya, apapun yang akan terjadi. Tetapi apa yang terjadi? Contoh yang paling aktual adalah proses pemilukada gubernur DKI. Aksi kekerasan atas nama SARA mulai marak dan dihidupkan lagi dengan sengaja oleh kelompok-kelompok yang merasa akan kalah.

  Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural. Dan pluralitas agama adalah satu kenyataan dalam kehidupan berbangsa itu. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, hampir tak satupun masyarakat yang membentengi diri dengan agama manusia dan Allah dan manusia dengan sesama manusia lainnya. Dengan menjadi jembatan, agama-agama membiarkan manusia untuk melewatinya dengan damai, aman, melegakan dan membahagiakan. Akan tetapi dalam konteks Indonesia beberapa tahun terakhir, agama tampil dengan wajah yang kontradiktoris. Agama tidak saja menjadi “jembatan” tetapi malah menjadi “kuda tunggangan” atau “sapi dagangan” dalam kancah politik bangsa.

  Agama selalu dikaitkan dan seolah-olah identik dengan politik Indonesia yang juga selalu diwarnai/disertai kekerasan. Ini bukan barang baru bahwa agama selalu dipakai dalam pertarungan dunia perpolitikan Indonesia. Agama dijadikan simbol, kekuatan legitimatif partai atau kekuasaan, sebagai “topeng” untuk melakukan tindak kekerasan demi memenangkan perjuangan politik kekuasaan yang sifatnya sementara, bukan untuk kepentingan rakyat banyak yang sifatnya jangka panjang.

  Mengapa agama begitu mudah diperalat oleh politik dan kekuasaan sebagai kekuatan yang melegitimasi tindakan-tindakan politik kotor? Di mana kekuatan agama yang bisa memberi corak positif bagi perkembangan politik di Indonesia? Di mana fungsi agama sebagai “jembatan” yang menyeberangkan manusia menuju Allah dan sesama cum amore, dengan penuh kasih sayang, damai, aman dan membahagiakan? Yang terjadi adalah “jembatan” sine amore, tanpa kasih sayang, tanpa keamanan dan kedamaian, menakutkan dan penuh kekerasan?

  Dalam kitab Amsal dikatakan: “lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati”(Amsal 15:4). Memang sulit menjadi seorang yang hidup dalam keyakinan akan iman yang penuh dinamika seperti saat ini. Yang penting adalah tidak mencari keselamatan sendiri, carilah jalan Tuhan, maka akan selamatlah kita membawa keyakinan iman kita.

  Selalu Vincentius mengingatkan agar pengikutnya senantiasa belajar dari Sang guru kelembutan “Yesus Kristus”. Ajaran ini sungguh ajaran yang paling indah, Kristus menjadi sosok guru kelembutan, untuk mengikutiNya berarti hidup seperti Dia. Dia seperti apa? Hidup dalam kelemahlembutan. Layaknya sebuah pohon memberikan kehidupan karena menjadi tempat teduh untuk bernaung dari terik mentari dan tempat bagi orang dapat menikmati buah-buah yang manis, buah-buah yang muncul dari pokok kehidupan.

  Relevansi akhirnya adalah untuk menjadikan segalanya menjadi baik. Sehingga menjadi sesuai dengan tujuan dan misi gereja yang dapat dikatakan menyebarluaskan Kabar Gembira sesuai dengan Amanat Agung Yesus Kristus seperti tercantum dalam Matius 28,18- 20. Orang miskin adalah majikanku, dan sejauh mana hal tersebut dapat diaktualisasikan lewat karya-karya yang sedang ditangani oleh kongregasi KYM. Apa yang ingin disumbangkan ditengah masyarakat luas yang penuh pergulatan. Kemiskinan yang kian meruak menjadi sebuah tanggung jawab yang harus dibenahi dimana kita harus berani melihat dan menjawab masih aktualkah sikap dan semangat miskin St. Vincentius jika diterapkan ditengah bangsa yang sedemikian keras adanya (Tondowidjojo, 1987: 82).

  

2. Keutamaan St. Vincentius A Paulo Dalam Pelayanan Kepada Orang Miskin

Sebagai Majikan

  “Semangat Vincentian adalah semangat Yesus Kristus yang diutus untuk membawakan kabar gembira kepada orang miskin. Seperti yang secara jelas dituliskan didalam Kitab Suci dan diterangkan didalam aturan hidup yang diwujudkan secara khusus melalui: cinta dan taat kepada Bapa belas kasih dan cinta yang efektif kepada orang miskin, taat kepada penyelenggaraan Ilahi, kesederhanaan, kerendahan hati, kelemah-lembutan, matiraga, dan penyelamatan jiwa-jiwa” (Petrus Suparyanto, 2008:175). Ada lima keutamamaan kebaikan yang diwariskan oleh Vincentius kepada keluarga Vincentian, dalam hal ini para imam CM menjadi akar semuanya yang diwariskan kepada pengikutnya yang selanjutnya yakni: kesederhanaan, rendah hati, lembut hati, berorientasi kekehidupan kekal dan semangat keimanan yang kuat (Tondowidjojo, 1990: iii).

  Secara analitis dan sekaligus sederhana dapat dikemukakan disini bahwa St. Vincentius tak pernah menjadikan kelima ciri khas “kebaikan” tersebut sebagai pusat perhatian dan pusat kehidupan kongregasi dalam berkarya, namun sebagai pewarisnya dan penerus cita-citanya kongregasi selayaknya mampu menterjemahkan apa sebenarnya yang diinginkan oleh Vincentius melalui kelima “kebaikan” yang dijadikan ciri khas kongregasi.

  Spiritualitas Santo Vincentius berdasarkan iman. Pada suatu masa hidupnya, Vincentius nyaris kehilangan iman, karena suatu percobaan yang berat. Tetapi ketika ia menemukan kembali imannya, dan baginya pengalaman ini mempunyai makna yaitu berakhirnya percobaan dan perjalanannya menuju kekudusan. Iman merupakan titik tolak serta dasar hidup rohani. Prinsip utama spiritualitas Vincentius adalah keterbukaan terhadap iman sebagai sikap menyerah kepada pribadi Kristus.

  Orang beriman adalah manusia yang menyerah kepada pribadi Kristus yang meneladaniNya secara lebih sempurna, berjanji secara tegas bahwa dia akan membaktikan seluruh hidupnya bagi pelayanan orang miskin demi cintaNya (Roman, 1993: 82 & 83).

  Vincentius menemukan bahwa panggilan Kristus ialah mewartakan kabar gembira kepada orang miskin (Evangelizare Pauperibus Misit Me). Bagi dia orang miskin adalah orang miskin yang dia jumpai langsung. Bagi dia orang miskin yang dibicarakan dalam Injil ialah orang miskin yang telah dijumpainya di Folleville, di Chatillon atau di desa-desa Perancis yang lain. Untuk orang miskin inilah Kristus datang untuk mewartakan kabar gembira (Roman, 1993:85, & 86).

3. Cara Hidup Suster KYM Dalam Semangat Kelembutan

  Bergabung disebuah tarekat sesungguhnya merupakan ungkapan kerinduan dan dorongan manusia untuk menjawab panggilan Allah. Panggilan Allah meskipun, meskipun bersifat pribadi, merupakan panggilan untuk membangun kesatuan hidup bersama orang lain. Hidup religius merupakan salah satu bentuk untuk menghayati panggilan pribadi sekaligus berciri komuniter.

  Dalam komunitas serta kebersamaan itulah orang belajar mencintai dan mengungkapkan panggilan hakikinya, yaitu cinta. Komunitas merupakan kebersamaan yang semakin lama semakin mendalam bagi kesatuan hidup dalam cinta karena cinta menumbuhkan rasa akan diri dan rasa akan kebersamaan dalam hidup (PSK, 2008: 27).

  Dalam suratnya Vincentius pernah mengatakan: kasih dengan penuh kasih melayani orang miskin. Membantu kesejahteraan rohani mereka, mengajarkan kesempurnaan hidup yang berkenan kepada Tuhan, mengusahakan dengan tekun keutamaan-keutamaan Kristiani, tidak mungkin kita dapat melihat sesuatu yang lebih indah lagi. Sebab bila kita berjumpa dengan puteri kasih yang demikian, kita akan melihat sinar cemerlang laksana matahari. Persis seperti dikatakan dalam Kitab Suci: “ orang suci bercahaya laksana matahari.” Betapa agung panggilan melayani orang miskin. Betapa membahagiakan menghayati panggilan Tuhan sebagai Puteri kasih semacam itu” (SV X 331-337). Tumbuh dalam cinta merupakan tujuan terdalam hidup dalam komunitas, yaitu cinta kepada diri sendiri, kepada Allah, dan kepada sesama manusia sebagai saudara dan saudari. Ajakan pertumbuhan itu memang sangat menantang untu zaman yang kerap kali dikuasai oleh individualisme, yang menjurus kehidup yang bagaikan tidak memerlukan sesama dan Allah. Keterpaduan antara rasa akan diri, rasa akan Allah, rasa akan sesame sebagai saudara-saudari merupakan kematangan hidup, baik manusia sebagai pribadi maupun kematangan komunitas (PSK, 2008:27, & 28).

  Dalam Jalan Vincentian tertulis: “jika diantara kita ada yang berpikir bahwa tugas kita hanya untuk mewartakan Injil kepada kaum miskin, dan bukan untuk meringankan penderitaan mereka, hanya untuk memenuhi kebutuhan rohani dan bukan kebutuhan jasmani mereka, maka saya menegaskan bahwa kita harus menolong mereka dan mematikan bahwa mereka ditolong dengan segala cara, baik oleh kita sendiri maupun oleh orang-orang lain…melakukan ini berarti mewartakan Injil baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan-perbuatan. Inilah cara yang paling sempurna” (SV XII: 87).

E. Perlunya Pengolahan Hidup Terus Menerus Bagi Para Suster KYM

1. Dalam Konstitusi KYM

  Pembinaan lanjut berlangsung seumur hidup, sebab kita ditantang untuk terus menerus setia pada panggilan hidup kita dalam keadaan majemuk dan konkrit Gereja

  Tujuan kongregasi religius kita adalah membiarkan diri dibimbing pada jalan Yesus Kristus, dan bersatu dengan Dia, setia pada tradisiNya, bekerja bersama demi satu dunia yang lebih baik, kita memilih dengan sadar berbalik kepada kaum miskin menurut spiritualiatas St.Vincentius A. Paulo (Konst bab 1 art 2). Untuk melaksanakan tujuan ini, para suster harus memusatkan diri pada doa da studi serta jawaban langsung kepada kebutuhan nyata. Kita berupaya memahami kebutuhan- kebutuhan nyata ini dari tanda-tanda zaman dan perkembangan Gereja maupun masyarakat (Konst bab 1art 3).

  Pembinaan lanjut meliputi unsur-unsur berikut:

  a. Pemantapan hidup rohani agar tetap segar dan sanggup menanggapi perkembangan-perkembangan baru dalam gereja, kongregasi dan masyarakat b. Pendalaman persaudaraan agar makin rela mempersembahkan diri demi pertumbuhan bersama c. Pengalaman karya dengan setia dan bakti agar pada cara yang tak tergantikan menjadi sumber kegembiraan d. Peningkatan keahlian agar makin tepat guna dalam menjawab tantangan masyarakat dan kebudayaan yang berubah.

  Pembinaan suster tidak selesai sesudah kaul kekal, maka dibutuhkan pembinaan lanjut. Pembinaan lanjut ini terutama dari diri amsing-masing. Suster yang telah berkaul kekal secara khusus kaul kekal dibawah lima tahun diberikan pendampingan khusus untuk mengingatkan mereka atas panggilannya (Directorium KYM art 77). Hal- hal yang diperhatikan dalam bina lanjut para suster menurut

  1) Bina Rohani Lanjut meliputi

  a) Setiap suster menjadwalkan Bacaan Rohani dan Kitab Suci sekurang- kurangnya ½ jam tiap hari b) Setiap suster wajib memupuk dan memelihara pertumbuhan hidup rohaninya, antara lain dengan mencari pendamping rohani pribadi c) Bila pendamping pribadi itu dari luar kongregasi diberitahukan secara terbuka kepada ibu komunitas.

  d) Kebugaran Hidup Religius meliputi: (1) Program balita kaul kekal mengadakan week end sesuai dengan situasi dan kebutuhan (2) Setiap suster dapat memohon izin kepada pemimpin umum untuk mengikuti Kursus Medior, Kursus Senior, KPR, Retret Agung.

  (3) Waktunya sedapat mungkin disesuaikan dengan peringatan 25, 40 atau 50 tahun hidup membiara (4) Pimpinan Umum sesudah meminta/ mendengar nasihat dari Dewan penasihatnya dapat mewajibkan suster untuk mengikuti kursus tertentu (5) Setiap selesai mengikuti kursus harus memberikan laporan tertulis tentang isi kursus kepada Pimpinan Umum

  2) Pengetahuan Umum dan Keterampilan

  a) Setiap suster berupaya untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan agar mampu memahami dan menyikapi kejadian-kejadian aktual dalam masyarakat dan gereja, dengan membaca surat kabar, majalah, atau b) Setiap suster melatih diri dalam keterampilan, baik untuk memenuhi kebutuhan pribadi sebagai hobby, maupun memenuhi tuntutan tugas dalam unit kerja dan pelyanan dalam komunitas.

  c) Bila dirasa perlu dapat diupayakan mengikuti kursus, lokakarya, penataran dan program studi

2. Penegasan Gereja Dalam Bina Lanjut Hidup Religius

  Sebuah tarekat hidup bakti sebagai gerakan karismatik dalam gereja akan mudah mengalami krisis dan kemunduran apabila tarekat itu mulai kehilangan obor hidupnya, mulai tidak relevan dalam menjawab jeritan zaman, dan bila angota- anggotanya mulai tidak menunjukkan kualitas hidup yang semestinya. Obor hidup sebuah tarekat adalah spiritualitas yang terangkum dalam inti jiwanya. Inti jiwa tarekat mengandung sekaligus mistik, karisma, cara hidup dan kenabian yang dipercayakan Allah.

  Komunitas religius dipanggil untuk menjadi saksi tentang kehadiran Tuhan melalui hidup para anggotanya, yang dijiwai oleh karisma masing-masing Tarekat.

  Melalui pilihan hidupnya, mereka diutus untuk mengingatkan sesama akan panggilannya kepada kekudusan. Tentang kekudusan itulah mereka memberi kesaksian (VC 39). Komunitas religius merupakan komunitas yang hidup dalam roh. Salah satu cirri hidup dalam roh ialah semakin menjadi peka dan mampu menanggapi tantangan-tantangan hidup sehari-hari. Salah satu tantangan hidup manusia, dan karena itu komunitas religius pula, ialah gerak perkembangan dan perubahan hidup

  Pengolahan hidup terus menerus ini berhubungan erat dengan terbentuknya komunitas yang transformatif. Istilah transformasi berasal dari bahasa latin trans: diseberang atau menyeberang/melintasi dan formatio dari forma: bentuk, rupa, wujud yang berhubungan dengan kata kerja formare yang berarti “memberi bentuk kepada”, membentuk. Maka istilah transformasi memuat maksud suatu perubahan bentuk yang selalu terjadi dalam suatu proses (Martasudjita, 2001: 50).

  Ada dua hal yang harus disadari mengenai makna komunitas transformatif. Pertama menyangkut soal perubahan bentuk. Setiap realitas, termasuk komunitas kita, selalu dipandang menurut segi isi batinnya atau yang menjadi roh atau kenthos-nya (intinya), dan segi bentuk ungkapan atau lahirnya. Kedua berhubungan dengan proses transformasi tentu mengandaikan suatu proses. Dari pengalaman, yang namanya perubahan batin atau roh itu begitu sulit dan lama. Orang harus sabar dengan proses transformasi ini. Prosesnya bermacam-macam, ada yang lama ada yang sebentar.

  Membutuhkan waktu, ketekunan dan kesabaran (Martasudjita, 2001: 50).

  Hidup kristiani pada hakekatnya merupakan proses dan perjalanan membatinkan serta semakin memiliki didalam hati dan kesadaran kemenangan pengampunan kasih Allah dalam Kristus (Darminta, 1993: 53). Jika ingin membangun komunitas transformatif maka masing-masing harus tahu dan paham dulu apa yang menjadi roh komunitas religius tersebut. Dengan istilah roh disini dimaksudkan sesuatu yang menentukan identitas dan kekhasan komunitas religius tersebut (Martasudjita, 2001: 54).

  Gerak perkembangan hidup dan perubahan merupakan tempat komunitas dengan itu, tiap orang atau lembaga, dan komunitas perlu mengembangkan kemampuan dan disiplin hidup yaitu belajar terus menerus. Dalam ilmu manajemen, itu sering disebut disiplin kelima: “belajar terus menerus agar tumbuh dan berkembang sekaligus mampu menjawab keadaan yang dihadapi (PSK, 2008: 49).

  Bertindak secara rekonsiliatif dan penuh belas kasih merupakan tuntutan dari rasa kemanusiaan yang mendalam. Rasa kemanusiaan yang mendalam inilah yang mempertemukan semua orang pada kasih yang penuh kelembutan hati. Untuk bertindak seperti itu, diperlukan bahwa setiap orang atau sekurang-kurangnya kita yang beriman berani kembali hadir pada inti serta pusat, yang menyatukan umat manusia. Dengan kata lain membangun hati yang damai, hening dan jernih lewat doa dan hadir pada Allah merupakan kondisi yang perlu, agar tidak terjebak pada perangkap tindak kekerasan (Darminta, 1993: 55 ).

  Bertindak tanpa kekerasan itulah yang sepantasnya kita wujudkan ditengah- tengah masyarakat yang menderita karena berbagi macam tindak kekerasan. Manusia ditantang untuk menghapus segala macam tindak kekerasan tanpa menggunakan kekerasan. Itu memang merupakan tindakan iman yang mengandaikan banyak olah diri dan olah hidup (Darminta, 1993: 55 & 56).

  Vincentius dikenal sebagai orang yang lembut dan mudah bersahabat dengan siapa saja. Namun rupanya ini bukan asli pembawaannya yang diakuinya sering terbawa emosi dan kasar (SV XI 64). Vincentius sadar akan kelemahannya ini maka ia menjadikannya ini sebagai bahan untuk dia berproses dalam pengolahan yang terus menerus dalam sebuah usaha yakni retret. Apalagi ketika dia semakin “berkuasa” dan yang satu ini. Selain itu Vincentius juga belajar dari Fransiskus de Sales “orang yang paling lembut hati”, yang mendorongnya untuk mengusahakan keutamaan ini. Dalam ret-retnya di Soissons dia mohon rahmat dari Allah untuk mengubah pembawaannya menjadi sabar dan lembut (Antonius, 2009: 77).

  Vita Consecrata 2002 art 69 mengatakan bahwa: pembinaan yang

  berkelanjutan dalam tarekat-tarekat hidup apostolis maupun kontemplatif merupakan persyaratan intrinsik pentakdisan religius. Proses pembinaan tidak terbatas pada tahap awal. Pembinaan awal harus berkaitan erat dengan pembinaan terus menerus, dan sementara itu menciptakan kesediaan pada siapapun untuk mempersilahkan diri dibina setiap hari hidupnya.

3. Berbagai Cara Pengolahan Hidup Terus Menerus

  Istilah on going formation atau pembinaan terus menerus kiranya tidak asing lagi bagi kaum religius. Hanya kalau kita bertanya tentang kenyataan yang sudah dibuat dalam hal ini entah sebagai pribadi maupun sebagai program dalam provinsi pasti jawabannya akan bermacam-macam.

  Pribadi manusia senantiasa diharapkan bertumbuh, dan pertumbuhan ini tidak sekali jadi, tetapi berproses dalam suatu peziarahan. Begitu pula seluruh daya- dayanya tidak satu kali jadi dan serentak mencapai klimaksnya untuk kemudian turun pelan-pelan dan akhirnya mati. Jadi pengolahan hidup yang terus menerus (on going

  

formation) memampukan seorang religius untuk makin berkembang baik secara

kepribadian maupun spiritual (bdk Mardi Prasetyo, 2001: 47).

  Berhadapan dengan tanda-tanda zaman, yang merupakan tempat Roh bekerja, religius KYM diundang untuk memiliki kemampuan penegasan rohani, agar mampu menjawab sesuai dengan bimbingan Roh yang berbisik pada hati, manusia perlu tumbuh dalam kecerdasan spiritual hati. Dibawah ini beberapa contoh atau cara yang dapat dikembangkan dalam pembinaan terus menerus “On going Formatio.

  a. Rekoleksi Dalam Statuta KYM pasal 15 art 1 dan 2 dikatakan: setiap komunitas wajib mengadakan/ mengikuti rekoleksi setiap bulan, petugasnya diatur oleh komunitas, jika tidak mungkin bersama hendaknya dilakukan secara pribadi, dan pada artikel kedua dikatakan bahwa semua suster wajib mengikuti acara rekoleksi.

  b. Bacaan Rohani Dalam bina lanjut para suster KYM dikatakan: setiap suster menjadwalkan

  Bacaan rohani dan Kitab suci sekurang-kurangnya ½ jam tiap hari, setiap suster wajib memupuk dan memelihara pertumbuhan hidup rohaninya, antara lain dengan mencari pendamping rohani pribadi dan bila pendamping pribadi itu dari luar kongregasi, diberitahukan secara terbuka kepada Ibu Komunitas. (Statuta KYM, 2003: 34 art 63).

  c. Katekese Salah satu gema katekese adalah pembaharuan. Katekese bermaksud untuk mendalami arti kegiatan dan kata-kata Kristus, begitu pula tanda-tanda yang dikerjakanNya, sebab semuanya itu sekaligus menyelubungi dan mewahyukan misteriNya. Sejalan dengan itu tujuan mutakhir katekese ialah bukan saja menghubungkan umat dengan Yesus Kristus, melainkan mengundangnya untuk membimbing kita kepada cinta kasih Bapa dalam Roh, dan mengajak kita ikut serta menghayati hidup Tritunggal Maha kudus (CT, 2006: 12 art 5).

  Hidup dalam sebuah proses katekese yang relevan dan yang berkembang sesuai dengan zaman yang berubah dan berkembang tentunya akan mengarahkan hidup manusia untuk terus menerus menemukan cara dan sikap yang tepat dalam menjalani hidup yang lebih baik dan tepat, menemukan cara untuk terus menerus mengolah hidup ditengah zaman dan tantangan yang semakin majemuk dan penuh arus kekerasan. Dengan kata lain dapat dikatakan akan terbentuk sebuah pribadi yang kreatif dan mandiri untuk membentuk dirinya menjadi pribadi yang berani berubah kearah yang lebih baik.

  d. Reflesi Pada masa juniorat dengan tegas ditekankan pentingnya refleksi. Ini merupakan sebuah materi pembinaan dimasa pembinaan para suster-suster juniorat.

  Refleksi mencakup internalisasi apa yang sudah diterima di Novisiat, religius report satu kali dua bulan, buku harian, kaul-kaul kebiaraan, hidup berkomunitas, dan hal- hal lain yang dianggap aktual (PPKYM 2008: Psl 7 no 4). Hal ini berlangsung terus menerus selama masa pembinaan di tahun-tahun juniorat. Tentunya ini tidak berhenti pada masa tersebut melainkan terus menerus sepanjang hidup. Suster KYM yang terus berefleksi tentu akan terbentuk menjadi pribadi yang selalu memperbaharui diri dalam mengubah disposisi bathinnya yang terus berubah sesuai dengan perubahan zaman e. Retret Agustine Klaas SJ dalam petunjuk praktis Retret Puspita mengatakan: Retret adalah suatu persiapan jiwa, diri dan bathin, dimana kita diajak untuk menyadari diri kita dengan lebih baik, dalam, luas, dan intens, tetapi dalam konteks dimana kita menemukan diri kita ditengah realita dan kenyataan hidup kita sendiri, berarti kenyataan duniawi dan manusiawi.

  Kita baru sungguh beriman bila kita dengan penuh kesadaran menempatkan diri atau menemukan diri dalam realita hidup dan itu berarti saat untuk menemukan pusat hidup kita. Karena itu retret mestinya menjadi suatu pengalaman hidup yang menyeluruh, karena disana kita sadar mengenai diri kita dan seluruh problematikanya. Ciri khas dari retret adalah kita bisa menghayati hidup sebagai keseluruhan maka diharapkan jangan menjadi sesuatu yang intelektual belaka atau berpikir semata, tetapi justru multi dimensi yang mencakup seluruh dimensi hidup: akal, pikiran, perasaan, hati dan keputusan kehendak. Dengan kata lain untuk dapat retret kita harus mempunyai kesadaran diri, untuk itu sungguh dibutuhkan suatu kedewasaan pribadi, dan kedewasaan rohani.

  Retret bukan pemeriksaan bathin atau doa yang panjang, tetapi retret adalah suatu kesempatan untuk mempunyai pandangan yang menyeluruh tentang hidup kita, berpangkal dari diri kita dan keadaan kita. Berpangkal pada kesatuan pribadi kita dengan Allah dalam iman. Retret artinya mengumpulkan kekuatan karena kesadaran bahwa saya bersatu dengan Allah.

  Hal hakiki dari retret adalah bahwa kita mesti menjaga dan mencipatakan mau mendengarkan, memperhatikan serta memandang “Dia yang mereka tikam” tanpa mau diganggu. Saat hening yang membantu kita untuk pembatinan demi perkembangan hidup rohani kita, yang artinya: 1) Saat untuk menanti dan menunggu serta merindukan Roh Kudus 2) Saat untuk merenungkan, mencecap tindakan karya Tuhan dalam diri kita 3) Saat untuk mengumpulkan dari kedalaman hati dan roti kehidupan 4) Saat untuk bekerjasama dengan Allah Tritunggal demi pertumbuhan kesatuan kita dengan ciptaan 5) Saat untuk menanti apa yang dianggap baik bagi Tuhan demi perkembangan kemajuan diri kita maupun kemajuan komunitas kita.

  Perjumpaan kita sebagai komunitas disaat hening, teduh, retret ini juga merupakan waktu untuk membaharui komitmen kita akan janji prasetya kita, sebagai imam, biarawan/wati, terhadap Allah. Perjumpaan kita sebagai komunitas dalam saat teduh, ret-ret ini juga merupakan persiapan bagi kita untuk membaharui janji dan komitmen serah diri kita dengan Allah Tritunggal Hati Kudus Yesus yang selalu hadir menyertai kita mengikuti perjalanan perziarahan hidup kita (Binawiratma, 1991: 7).

  Dalam hal ini kita dapat bertanya pada diri kita: 1) Bagaimana kita menghidupi , menghayati janji komitmen serah diri kita kepada

  Allah dalam kehidupan keseharian kita? 2) Mencerna dan mencecap pengalaman hidup ditahun yang sudah berlalu untuk mempersiapkan diri masuk dalam pertemuan perziarahan kebersamaan kita

  3) Apa yang kita rasa perlu untuk kita sharingkan berkenaan dengan bakat, anugerah, kesulitan atau tantangan bersama dalam kehidupan kita dalam komunitas kecil pun komunitas besar. Apa yang perlu kita sharingkan agar kita semakin terbuka dan bersama-sama membiarkan diri untuk diarahkan, dituntun oleh tindakan Allah Tritunggal dan Hati Kudus Yesus dalam kehidupan dan karya kita (Binawiratma, 1991: 7).

  Puspita dalam petunjuk-petunjuk praktis bimbingan retret mengatakan: bahwa tujuan dari retret pada dasarnya adalah sama. Pepatah Santo Augustinus ”noverim te,

  

noverim me”, kukenal engkau kukenal diriku”, pengenalan lebih dalam akan Allah

dan diriku (Puspita, Tanpa tahun: 5).

  f. Tahun Sabat Tanah perlu diberi istirahat, kita tahu bagaimana pada zaman kita banyak tanah yang tandus , karena dipakai terus menerus secara berlebihan. Kebiasaan ini dalam Kitab Imamat mempunyai arti jelas, umat menaruh harapan pada Allah yang tidak akan membiarkan mereka mati kelaparan.

  “Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu , dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi Tuhan, ladangmu janganlah kau taburi dan kebun anggurmu janganlah kau ranting” (Im 25:3-4). Tanah adalah bagian fundamental yang membawa bangsa Israel menjadi beriman, sebab tanah merupakan bagian dari janji Allah kepada Abraham; sasaran ekplisit exodus dari Mesir; fokus perjalanan sejarah tradisi Israel mulai dari Yosua sampai Daud (Stanislaus 2001: 68).

  “Jangan takut meluangkan waktu untuk Kristus “ inilah seruan Bapa Paus Paulus II kepada semua umat Kristiani dalam surat apostoliknya “Dies Domini” : Hari Tuhan (Stanislaus 2001: v).

  

BAB IV

PROGRAM PEMBINAAN SUSTER KYM DALAM ON GOING

FORMATION DENGAN KATEKESE MODEL SHARED CHRISTIAN

PRAXIS “SCP”

A. Gambaran Umum Katekese Untuk membantu para suster KYM menemukan makna Kelembutan Hati Santo Vincentius dalam hidup persaudaraan, penulis menawarkan katekese model

Shared Christian Praxsis (SCP). dengan katekese ini, diharapkan kelembutan hati

Santo Vincentius dapat menjiwai seluruh hidup pun karya para suster KYM

  dimanapun berada, berkomunitas dan berkarya. Namun untuk memberi gambaran katekese secara menyeluruh, penulis tetap menjelaskan katekese secara umum.

1. Pengertian Katekese Kata katekese berasal dari kata catechein (kt. Kerja) dan catechesis (kt.

  Benda). Akar katanya adalah kat dan echo. Kat artinya keluar, ke arah luas dan echo artinya gema/gaung. Berarti makna profan dari katekese adalah suatu gema yang diperdengarkan/disampaikan ke arah luas/keluar. Gema dapat terjadi jika ada suara yang penuh dengan keyakinan dan gema tidak pernah berhenti pada satu arah, maka katekese juga harus dilakukan dengan penuh keyakinan dan tidak pernah berhenti pada satu arah. Dalam kitab suci juga terdapat kata katekese, terutama pada: Lukas 1:4, Kisah Para Rasul 18:25, Kis 21:21, Rm 2:18, 1 Kor 14:19 dan Gal 6:6

  Dalam konteks ini katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman agar seorang Kristen semakin dewasa dalam iman, jadi katekese biasanya diperuntukan bagi orang-orang yang sudah dibaptis di tengah umat yang sudah Kristen. Namun pada prakteknya, terutama pada masa Gereja Purba, katekese dimengerti sebagai pengajaran bagi para calon baptis ini merupakan arti sempit dari katekese. Sedangkan Gereja masa kini menempatkan katekese untuk pengertian yang lebih luas (http://www.imankatolik.or.id).

  Dalam Direktorium Kateketik Umum (1971) disebutkan bahwa:

  a. Katekese merupakan salah satu bentuk pelayanan sabda, yang bertujuan membuat iman umat hidup, dasar, dan aktif lewat cara pengajaran (DKU art 17).

  b. Dalam ruang lingkup kegiatan pastoral, istilah katekese diartikan sebagai karya gerejani, yang menghantarkan kelompok maupun perorangan kepada iman yang dewasa (DKU art 21).

  c. Katekese terpadu dengan karya-karya pastoral Gereja yang lain, tetapi sifat khasnya, yakni sebagai inisiasi, pendidikan, dan pembinaan, tetap dipertahankan (DKU art 31).

  d. Isi katekese adalah wahyu Allah, misteri Allah dan karya-karya-Nya yang menyelamatkan, yang terjadi dalam sejarah umat manusia (DKU art 37) (http://www.imankatolik.or.id).

  Katekese juga diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antara anggota jemaat/kelompok. Melalui kesaksian para peserta saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese mengandaikan ada perencanaan.

  Komunikasi yang dimaksud dalam katekese umat, bukan saja antara pendamping dengan peserta tetapi lebih-lebih komunikasi antar peserta sendiri sehingga mampu mengungkapkan diri demi pengembangan hidup lebih baik bagi para peserta, dan yang ditukarkan adalah: penghayatan iman dan bukan pengetahuan tentang rumusan iman tetapi para peserta diharapkan mengenal penghayatan iman sendiri di dalam rumusan-rumusan resmi Gereja (Yosef Lalu, 2007: 12).

  Paus Yohanes Paulus II dalam Catechesi Tradendae, memberikan pengertian katekese sebagi berikut: “Katekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen” (CT art 18).

  Dalam Evangelii Nuntiandi juga disebutkan perihal katekese yakni:

  a. Evangelisasi adalah rahmat dan panggilan khas Gereja, merupakan jati dirinya yang paling dasar. Gereja ada untuk mewartakan Injil (EN art14).

  b. Bagi Gereja penginjilan berarti membawa Kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh Injil mengubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi manusia baru (EN art 18).

  c. Injil harus diwartakan melalui kesaksian hidup (EN art 21).

  d. Kabar Baik yang diwartakan dengan kesaksian hidup cepat atau lambat haruslah diwartakan dengan Sabda Kehidupan. Dan segi yang penting dari pewartaan

  Dalam Catechesi Tradendae dijelaskan mengenai katekese sebagai berikut:

  a. Penyelenggaraan katekese oleh Gereja selalu dipandang sebagai salah satu tugas yang amat penting, yang disadari oleh tugas perutusan dari Yesus sendiri kepada para murid-Nya (CT art 1).

  b. Katekese yang otentik seluruhnya berpusat pada Kristus (CT art 5).

  c. Katekese ialah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen (CT art 18).

  Dasar katekese adalah “penugasan Kristus kepada para rasul dan pengganti- pengganti mereka”. Dalam Mat 28:19-20, Yesus mengutus para rasul untuk “pergi”, “menjadikan semua bangsa murid-Ku”, “baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”, dan “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Dalam tafsir Injil Matius dijelaskan bahwa tugas para rasul mencakup pewartaan awal kepada orang yang belum mengenal Tuhan, pengajaran kepada para katekumen, dan pengajaran kepada orang yang telah menjadi anggota Gereja agar iman mereka lebih mendalam (http://www.imankatolik.or.id).

2. Prinsip-Prinsip Katekese

  Prinsip-prinsip katekese meliputi:

  a. Usaha katekese merupakan tanggung jawab seluruh umat sebagai Gereja b. Usaha katekese mementingkan “proses” (bukan hasil yang langsung/”instan”).

  Dengan kata lain : yang lebih utama adalah bukan “target”/”hasil” yang sudah dicapai, melainkan “proses” menuju/memperoleh hasil.

  c. Peserta katekese sebagai “subyek”/pelaku yang berperan dalam proses.

  d. Katekese membantu orang menghayati imannya dalam situasi aktual (orang mampu mewujudkan imannya secara konkrit dalam hidup/ada integritas antara iman dan hidup bersama orang lain).

  e. Katekese berupaya mendorong umat untuk membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan, sesama maupun lingkungannya. Dalam hal ini, proses katekese yang bertujuan mematangkan dan mendewasakan iman harus dilaksanakan secara sadar dan terencana dengan penuh tanggung jawab (tidak “improvisasi”) f. Katekese harus memperhitungkan situasi peserta (latar belakang, psikologi, minat, kebutuhannya). Katekese harus menjadi lebih kontekstual.

  g. Proses katekese adalah proses pendidikan iman yang membebaskan. Dalam proses katekese setiap pribadi dihargai martabatnya sederajat, dimana setiap orang bebas mengungkapkan pengalaman imannya tanpa rasa takut. Dalam hal ini setiap pengalaman iman dari masing-masing pribadi harus dilihat sebagai pengalaman yang dapat memperkaya sesamanya dalam proses berkatekese.

  h. Katekese diharapkan membangun iman yang “terlibat’ (mendorong “aksi”) i. Pendamping katekese sebagai “fasilitator” yang memudahkan terjadinya komunikasi iman. Untuk itu, tidak tepatlah kalau pendamping bertindak sebagai orang yang ‘maha tahu’ apalagi sebagai penceramah yang mendominasi proses j. Proses katekese harus mampu “menjemput/menyentuh” pengalaman hidup ataupun pengalaman iman peserta, sebagai medan pertemuan manusia dengan Allah.

  Sarana maupun metode katekese yang diupayakan, semuanya bertujuan untuk memudahkan terjadinya komunikasi iman. pemikiran bahwa dalam pertemuan katekese “yang penting asal diisi dengan banyak kegiatan bagi umat” bertentangan dengan prinsip suatu proses katekese yang bertanggung jawab (http://www.imankatolik.or.id). Katekese hanya salah satu dari upaya-upaya pastoral secara menyeluruh. Proses perkembangan iman harus dilengkapi dengan upaya-upaya pastoral yang lain.

  Jadi dapat diambil pengertian secara menyeluruh bahwa katekese adalah usaha-usaha dari pihak gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati, dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Usaha ini mengandung unsur pewartaan, pengajaran, pendidikan, pendalaman, pembinaan, pengukuhan serta pendewasaan iman.

  Adisusanto (2003:33) berpendapat bahwa: katekese merupakan suatu aspek dalam pewataan Injil yakni warta gembira keselamatan untuk pembinaan iman banyak orang. Katekese adalah pelayan sabda Allah, ia mesti sadar akan hakikat dan tugasnya. (Katekese menolong manusia dengan memberitakan sabda pembebasan dan penyelamatan Allah.

  Katekese mendidik umat beriman (Messaggio sinodo 77 no 5): Pewartaan kabar keselamatan seyogianya menimbulkan jawaban silang pendengar, jawaban itu

3. Tujuan Katekese

  a. Supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman- pengalaman kita sehari-hari.

  b. Dan kita bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiranNya dalam kenyataan hidup sehari-hari.

  c. Dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan semakin dikukuhkan hidup kristiani kita.

  d. Kita semakin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan gereja semesta.

  e. Sehingga kita sanggup memberikan kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah dunia dalam semangat kelembutan hati (Yosef Lalu, 2007: 97).

  Catechesis Tradendae (2006: art 20) mengatakan bahwa tujuan khas katekese

  adalah berkat bantuan Allah mengembangkan iman yang baru mulai tumbuh, dan dari hari-kehari memekarkan menuju kepenuhannya serta makin memantapkan perihidup Kristen umat beriman, muda maupun tua. Kenyataannya itu berarti: merangsang, pada taraf pengetahuan maupun penghayatan, pertumbuhan benih iman yang ditaburkan oleh Roh Kudus melalui pewartaan awal, dan yang dikaruniakan secara efektif melalui babtis. Dengan kata lain, maksud katekese adalah mengembangkan pengertian tentang misteri Kristus dalam cahaya firman Allah, sehingga seluruh pribadi manusia diresapi oleh firman itu.

  Hakikat dan tujuan katekese di Indoneisa dirumuskan oleh para Uskup sebagai berikut: Katekese salah usaha saling menolong terus menerus dari setiap orang untuk mengartikan dan mendalami hidup pribadi maupun bersama menurut pola Kristus menuju hidup kristiani yang dewasa penuh (Naskah Kerja MAWI 1976).

4. Tugas Konkret Katekese

  a. Menyuburkan dan membangkitkan pertobatan Pertobatan sebagai momen fundamental dan pemersatu dinamisme iman termasuk bidang katekese sekalipun pertobatan itu pada dirinya adalah sasaran evangelisasi dalam arti sempit. Akan tetapi kenyataan menunjukkan terutama dalam gereja yang telah bertradisi kristiani-bahwa penyerahan diri secara menyeluruh pada awal satu katekese tidak mungkin terjadi.

  Hal ini sebagian disebabkan oleh kebiasaan pembabtisan pada usia kanak- kanak dan sebagian lagi oleh kekurangan pelayanan pastoral. Yang berakibat terhambatnya perkembangan iman secara teratur dan tidak tercapainya pertobatan (bdk CT 19):

  a. Membimbing umat beriman untuk memahami misteri Kristus Katekese yang berfungsi sebagai media pendidikan iman tidak boleh melupakan aspek pengetahuan iman dan juga sikap iman. Tugasnya adalah mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dan lengkap perihal Misteri Kristus sebagai obyek sentral iman.

  b. Mendorong umat beriman bertindak aktif dalam Gereja dan masyarakat Dalam proses pendidikan iman yang terarah pada kedewasaan harus dikembangkan pula komponen operatif, yakni berbuat sesuatu bagi Gereja dan bahwa katekese berupa inisiasi ke dalam suatu proses yang mengubah manusia secara intern. Dasar teologis perubahan ini adalah kebersamaan dalam kematian dan kebangkitan Kristus.

  Dalam seluruh proses evangelisasi tujuan katekese adalah: menjadi tahap pengajaran dan pendewasaan, artinya masa orang Kristen sesudah dalam iman menerima pribadi Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan, dan sesudah menyerahkan diri utuh-utuh kepadaNya melalui pertobatan hati yang jujur, berusaha makin mengenal Yesus, yang menjadi tumpuan kepercayaannya: mengerti “misteri- misteriNya”, kerajaan Allah yang diwartakan olehNya, tuntutan-tuntutan maupun janji-janji yang tercantum dalam amanat InjilNya, dan jalan yang telah digariskanNya bagi siapapun yang ingin mengikutiNya (CT art 20).

  Secara singkat tugas-tugas katekese dapat dipadukan dalam fungsi dan aktivitas gereja.

  a. Katekese berupa inisiasi untuk tugas diakonia Bentuknya: Memberi kesaksian di dunia, mendidik melakukan karya kasih dan melayani kaum tersingkir dari masyarakat, berjuang demi keadilan dan kedamaian.

  b. Katekese berupa inisiasi untuk tugas Koinonia Katekese berkaitan dengan persekutuan gerejawi hendaknya diusahakan semangat persaudaranan dan setia kawan, kemampuan berkomunikasi, berdialog, dan berpartisipasi dalam hidup menggereja, sikap taat yang wajar dan dewasa terhadap pemerintah. c. Katekese berupa inisiasi untuk mendengar dan mewartakan sabda (kerygma).

  Katekese bertugas membangkitkan semangat umat untuk ikut aktif dalam fungsi profetis Gereja termasuk mengusahakan : Pembacaan Kitab Suci, pendidikan dalam mendengar sabda Allah, penyiapan orang-orang untuk merasul dan aktif dalam karya misioner.

  d. Katekese berupa inisiasi kedalam liturgi Katekese mempersiapkan umat untuk menerima sakramen-sakramen dengan layak dan bermanfaat, untuk mencintai doa dan meditasi, untuk menghayati kebaktian-kebaktian liturgi lainnya.

  e. Katekese berupa inisiasi untuk panggilan hidup menggereja Termasuk dalam kegiatan ini menggungkapkan pelayanan dan peranan pribadi-pribadi dalam hidup menggereja, memberitakan pengarahan dan pembinaan panggilan imamat dan hidup membiara.

  f. Menumbuhkan dan mendewasakan sikap Pendidikan sikap harus juga menjadi sasaran katekese, bahkan tugas ini jauh lebih menentukan. Pengetahuan agama dan perilaku kristiani tidak menjamin pertumbuhan iman, jika tidak padu dengan pendewasaan sikap iman. Sehingga pendewasaan sikap iman dijadikan tujuan sentral dari kegiatan katekese. Untuk memahami tujuan sentral perlu dipahami konsep biblis dan tradisi yang menempatkan pada pusat hidup seorang Kristen sikap dasariah ini, iman pengharapan dan cinta kasih, dalam proses pendidikan iman ketiganya tidak terpisahkan, sebab pada dasaranya pengharapan dan cinta adalah dimensi yang tidak terpisahkan dari sikap

5. Unsur-unsur Katekese

  a. Pengalaman Hidup/Praktek Hidup Proses kesaksian yang berpangkal pada pengalaman yang sungguh-sungguh dialami termasuk situasi beriman aktual dalam masyarakat. Pengalaman ini menyangkut keseluruhan fungsi dan kegiatan umat dengan macam-macam pandangan dan sikap hidup.

  b. Komunikasi pengalaman iman Pengalaman konkret tersebut dikomunikasikan dan diolah oleh peserta katekese umat. Dalam komunikasi ini diungkapkan keprihatinan maupun kegembiraan iman yang merupakan keadaan dan sikap umat pada saat itu.

  c. Komunikasi Dengan Tradisi Kristiani Iman kita didasari oleh Yesus Kristus dan iman para rasul akan Dia sebagai penyelamat dunia. Maka komunikasi iman tidak dapat dilepaskan dari kesaksian hidup para rasul yang terungkap dalam Kitab Suci yang dihayati Gereja sepanjang masa. Komunikasi iman ini menyangkut ajaran Gereja yang secara resmi diteruskan oleh Hirarki. Ajaran Kristiani harus dimengerti secara luas (Tradisi, Spiritualitas, Liturgi dan segala praktek hidup Gereja yang menampakkan Kristus).

  d. Arah Keterlibatan Baru Katekese umat sebagai komunikasi iman harus menolong para peserta katekese umat untuk mengalami panggilan mereka dan menjalankan pengutusan mereka. Untuk itu komunikasi iman terarah kepada pembaharuan hidup dan keterlibatan kelompok umat dalam pengembangan masyarakat, maka diungkapkan dalam bentuk perencanaan yang konkret dan kemudian perencanaan itu dijalankan sehingga terdapat pengalaman dan praktek baru dialami oleh kelompok peserta.

B. Proses Katekese Dalam On Going Formation

  Hal-hal yang kiranya dapat membantu untuk menemukan panggilan hidup, perlu memahami:

  1. Kemampuan Intelektualitas

  Kemampuan intelektualitas perlu didugai secermat sejauh bisa. Sebab panggilan hidup dasar dan panggilan hidup profesi itu menuntut syarat-syarat kemampuan intelektualitas yang berbeda-beda. Dalam hal ini test bakat dan minat dapat membantu, disamping pengamatan diri sendiri yang jujur.

  2. Kemampuan Sosialitas

  Potensi seseorang dalam pergaulan sosial itu berbeda-beda. Sedangkan panggilan hidup dasar dan panggilan hidup profesi itu juga menuntut kemampuan dan ketrampilan pergaulan sosial yang berbeda-beda.

  3. Kemampuan Rasa Merasa Rohani

  Dalam hidup manusia ada rasa-perasaan jasmani-manusiawi, namun juga ada rasa perasaan rohani, seperti: rasa kagum terhadap kebesaran Allah melalui ciptaan, rasa sesal dan tobat kepada Allah. Panggilan-panggilan hidup dasar maupun panggilan-panggilan hidup profesi itu juga membutuhkan rasa-merasa rohani yang berbeda-beda.

  4. Kemampuan Kesehatan Jasmani

  Kesehatan jasmani fisik perlu juga dilihat secara nyata-obyektif. Sebab panggilan hidup dasar maupun panggilan hidup profesi itu membutuhkan syarat- syarat kesehatan jasmani berbeda-beda.

  5. Kesehatan mental-psikologis

  Kesehatan mental psikologis pada dasarnya berarti kekuatan keseimbangan kepribadian. Artinya antara lain: orang mampu mengendalikan nafsu-nafsunya.

  6. Kenyataan kebutuhan masyarakat

  a. Kebutuhan Nasional (bangsa Indonesia): Suatu bangsa, di mana seseorang lahir, hidup dan bekerja, ada aneka kebutuhan kehidupan, baik kebutuhan kehidupan, baik kebutuhan-kebutuhan materiil, maupun kebutuhan-kebutuhan non materiil (rohaniah). Kebutuhan-kebutuhan tersebut sangat diperlukan oleh bangsa untuk dilengkapi/diatasi. Panggilan hidup dasar dan panggilan hidup profesi bisa terkait dengan kebutuhan-kebutuhan tersebut.

  b. Kebutuhan Internasional: Bisa terjadi orang tertarik untuk melihat kebutuhan-kebutuhan internasional, entah kebutuhan rohaniah (mis: kebutuhan tenaga misionaris, kebutuhan perwakilan- dasar maupun panggilan hidup profesi bisa terkait dengan kebutuhan-kebutuhan internasional.

  c. Kenyataan kebutuhan gereja Katolik 1) Kebutuhan Gereja Katolik Indonesia

  Gereja Katolik yang tersebar di Indonesia mempunyai aneka kebutuhan yang perlu dilengkapi, baik kebutuhan-kebutuhan materiil, maupun kebutuhan-kebutuhan rohaniah (seperti: katekis-katekis, kader-kader Awam Katolik dalam bidang: Sosial- politik-ekonomi-hukum-budaya-keamanan-iptek). Bisa terjadi panggilan hidup dasar maupun panggilan hidup profesi terkait dengan kebutuhan-kebutuhan tersebut di atas. 2) Kebutuhan Gereja Katolik Internasional

  Gereja Katolik dipelbagai bangsa, dalam hidup dan karyanya, membutuhkan aneka kebutuhan materiil maupun kebutuhan rohaniah. Panggilan hidup dasar, maupun panggilan hidup profesi, bisa terjadi terkait dengan kebutuhan-kebutuhan Gereja Katolik internasional tersebut (mis: Gereja katolik di Afrika).

  

C. Peranan Katekese Dalam On Going Formation bagi pembentukan pribadi

yang berhati lembut

  Selama hidup para biarawati hendaknya dengan tekun mengikuti pengembangan rohani, ilmiah dan praktis, para pemimpin hendaknya memikirkan kemudahan dan waktu untuk itu (KHK 661). Tujuan diadakannya On Going

  

Formation adalah membantu para suster menjadi sanggup menghayati panggilannya

  menurut Injil dalam keadaan masyarakat dan Kongregasi yang terus menerus

  Semua suster berkaul kekal mempunyai hak dan kewajiban menjalani pembinaan lanjut seperti yang digariskan dalam program pembinaan. Sebab pembinaan lanjut merupakan perwujudan terus-menerus panggilan kita. Pembinaan lanjut meliputi:

  1. Pemantapan hidup rohani agar tetap segar dan sanggup menanggapi perkembangan baru dalam gereja, kongregasi dan masyarakat.

  2. Pendalaman persaudaraan agar makin rela mempersembahkan diri demi pertumbuhan bersama.

  3. Pengalaman karya dengan setia dan bakti menjadi sumber kegembiraan

  4. Peningkatan keahlian agar makin tepat guna dalam menjawab tantangan masyarakat dan kebudayaan yang berubah.

  Pembinaan lanjut berlangsung seumur hidup, sebab kita ditantang untuk terus menerus setia pada panggilan hidup kita dalam keadaan majemuk dan konkrit Gereja dan masyarakat (PPK KYM, 2008:16).

  Peranan katekese mengambil tempat yang sangat tepat dan penting bagi Pembinaan Lanjut. Beberapa program yang ditawarkan meliputi: Rekoleksi bulanan, Ret-ret Tahunan, Hari-hari studi (pendalaman Kitab Suci, Konstitusi, Direktorium, Statuta, spiritualitas dan hal-hal lain yang dianggap aktual), kursus, week end, kursus medior, senior, KPR dan studi formal lainnya, bimbingan.

  Pelaksanaan Pembinaan lanjut hendaknya terprogram baik dari pimpinan maupun dari suster yang bersangkutan (PPK KYM, 2008:16). Dalam hal ini dikhususkan pembinaan lanjut dalam bentuk katekese model SCP guna membentuk

D. Pemilihan Model Katekese

1. Model: Shared Christian Prakxis “SCP”

  Shared Christian Praksis merupakan suatu model katekese yang menekankan keterlibatan peserta. Model ini menekankan peserta untuk mengkomunikasikan pengalaman hidup mereka sebagai suatu pengalaman iman secara pribadi atau bersama, sehingga mampu mengambil keputusan demi terwujudnya Kerajaan Allah dalam kehidupan manusia (Groome, 1997:1).

  Model ini diawali dengan refleksi kritis pengalaman hidup peserta yang dikonfrontasikan denagn pengalaman hidup iman dan visi kristiani, supaya muncul kesadaran dan keterlibatan baru. Dalam model ini dialog tidak hanya terjadi antara pendamping dengan peserta, tetapi juga antara peserta dengan peserta (Groome, 1997: 1).

  Tiga komponen pokok yang perlu didalami dari SCP adalah:

  a. Praksis Praksis mengacu pada tindakan manusia yang mempunyai tujuan untuk tercapainya suatu transformasi kehidupan. Dalam tindakan itu terkandung proses kesatuan dialektis antara praktek dan teori yaitu kreativitas, antara kesadaran historis dan refleksi kritis yaitu keterlibatan baru. Praksis mempunyai tiga komponen yakni: aktivitas, refleksi dan kreativitas, yang berfungsi membangkitkan berkembangnya imajinasi, meneguhkan kehendak, dan mendorong parksis baru yang secara etis dan moral dapat dipertanggungjawabkan (Groome,1997: 2). b. Kristiani Katekese ini mencoba mengusahakan supaya kekayaan iman Kristiani sepanjang sejarah dan visinya makin terjangkau, dekat dan relevan untuk kehidupan peserta pada zamannya sekarang. Dengan proses ini diharapkan kekayaan iman gereja sepanjang sejarah berkembnag menjadi pengalaman iman jemaat pada zaman sekarang. His-tory menjadi my own story. Yang meliputi dua unsur yakni: pengalaman hidup iman kristiani sepanjang sejarah (tradisi) dan visinya (Groome, 1997: 3).

  c. Shared Istilah ini menunjuk pengertian komunikasi yang timbal balik, sikap partisipasi aktif dan kritis dari semua peserta, sikap egalitarian, terbuka (inklusif) baik unutk kedalaman diri pribadi, kehadiran sesama, maupun untuk rahmat Tuhan. Istilah ini juga menekankan proses katekese yang menggarisbawahi aspek dialog, kebersamaan, keterlibatan, dan solidaritas.

  Dalam “sharing” semua peserta diharapkan secara terbuka siap mendengar dengan hati dan berkomunikasi dengan kebebasan hati. Dalam kata lain “sharing” juga terkandung hubungan dialekti, antar pengalaman hidup faktual peserta dengan tradisi dan visi kristiani (Groome, 1997: 4).

2. Langkah- Langkah Pelaksanaan Katekese Model “SCP”

  a. Pengungkapan Praksis Faktual Dalam langkah ini mengajak peserta untuk mengungkapkan pengalaman drama pendek, lambang dll. Dalam proses pengungkapan itu, peserta dapat menggunakan perasaan mereka, menjelaskan nilai, sikap, kepercayaan, dan keyakinan yang melatarbelakanginya (Groome, 1997: 5).

  b. Refleksi Kritis pengalaman Faktual Dalam langkah kedua ini mendorong peserta untuk lebih aktif, kritis, dan kreatif dalam memahami serta mengolah keterlibatan hidup mereka sendiri (tema- tema dasar) maupun masyarakatnya. Peserta diajak untuk menggunakan sarana baik analisa sosial maupun analisa kultural. Segi pemahaman, pengenangan, serta imajinasi akan berguna sekali apabila dimanfaatkan.

  Tujuan langkah ini adalah memperdalam refleksi dan mengantar peserta pada keadasaran kritis akan keterlibatan mereka, akan asumsi dan alasan (pemahaman), motivasi, sumber historis (pengenangan), kepentingan dan konsekuensi yang disadari dan hendak diwujudkan (imajinasi).

  Dengan refleki kritis pada pengalaman konkret peserta diharapakan sampai pada nilai dan visinya yang pada langkah keempat akan dikonfrontasikan dengan pengalaman iman Gereja sepanjang sejarah (tradisi) dan visi kristiani. Langkah ini bersifat analitis yang kritis (Groome, 1997: 5 & 6).

  c. Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau Inti dari langkah ini adalah: mengusahakan supaya tradisi dan visi kritiani menjadi lebih terjangkau, lebih dekat, dan relevan bagi peserta pada zaman sekarang.

  Peranan pendamping mendapat tempat pada langkah ini. Diharapkan pendamping dapat membuka jalan selebar-lebarnya, menghilangkan segala macam hambatan sehingga semua peserta mempunyai peluang besar untuk menemukan nilai-nilai dari tradisi dan visi kristiani (Groome, 1997: 6).

  d. Interpretasi Dialektis Antara Praksis Dan Visi Peserta Dengan Tradisi Dan Visi Kristiani

  Langkah ini mengajak peserta supaya dapat meneguhkan, mempertanyakan, memperkembangkan dan menyempurnakan pokok-pokok penting yang telah ditemukan pada langkah pertama dan kedua. Kemudian pokok-pokok penting itu dikonfrontasikan dengan hasil interpretasi tradisi dan visi kristiani dari langkah ketiga. Diharapkan peserta dapat secara aktif menemukan kesadaran atau sikap-sikap baru yang hendak diwujudkan.

  e. Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah Di Dunia Langkah kelima bertujuan mendorong peserta sampai pada tindakan dan niat baru menyangkut pribadi maupun bersama. Mendorong peserta sebagai orang Kristen yeng mengusahakan pertobatan terus menerus, membantu peserta mengambil keputusan secara moral, sosial dan politis sesuai dengan nilai iman kristiani (Sumarno Ds, 2009: 22).

  Kekhasan pada langkah kelima ini ialah mendorong peserta supaya sampai pada keputusan konkrit yakni menghidupi dan menghayati iman kristiani yang telah dipahami, direfleksikan dan mempertanggungjawabkannya dalam hidup ditengah masyarakat. Dalam pengambilan keputusan hendaknya dipengaruhi oleh topik utama yang menjadi pokok renungan dan oleh konteks pribadi dan sosial peserta. Artinya pertobatan yang merangkum segi personal meliputi intelektual, moral dan mental, sedangkan segi sosial meliputi solidaritas. Berpihak pada yang miskin dan tertindas demi mewujudkan kerajaan Allah ditengah masyarakat (Groome, 1997: 36).

  Peran pendamping pada langkah ini perlu mengusahakan aktivitas yang partisipatif dengan mempersiapkan beberapa pertanyaan yang berorientasi pada tindakan praktis. Pendamping sendiri hendaknya mendorong peserta untuk emmanfaatkan imajinasi mereka (Groome, 1997: 37).

  Peserta diharapakan semakin terlibat dan aktif mewujudkan keputusannya secara konkrit demi terwujudnya kerajaan Allah. Peserta diajak untuk merayakan liturgi sederhana dan mendoakan bersama keputusan yang telah mereka buat dan mendorong mereka konsisten dengan keputusan yang telah mereka ambil (Groome, 1997: 50).

E. Usulan Program Pembinaan Suster KYM

1. Pengertian Program Pembinaan

  Suhardiyanto (2008:4) mengatakan bahwa Program adalah suatu landasan untuk menentukan isi dan urutan-urutan rencana yang akan dilakukan. Kata program itu sendiri mengandung bermacam-macam makna dan arti.

  Program ini dibuat bertitik tolak pada keadaan hidup membiara yang hidup pada zaman penuh kekerasan. Bukan saja secara fisik bahkan juga non fisik. Sabda Yesus juga menyatakan suatu kebenaran, bahwa sesungguhnya di dalam setiap manusia ada hukum perkembangan, yang diletakkan Allah. Maka setiap manusia harus berkembang dari waktu ke waktu, dalam seluruh perjalanan hidupnya, sampai kesempurnaan pribadi Allah Bapa. Kalau begitu mengapa Yesus masih juga menyatakannya? Karena Yesus sangat mau menekankan, bahwa sesungguhnya setiap manusia harus mengikuti hukum perkembangan yang menyempurnakannya dari waktu ke waktu, meskipun tidak akan mungkin sama sempurna dengan pribadi Allah Bapa.

  Yesus menyatakan, bahwa manusia yang benar seturut kehendak Allah, Penciptanya, adalah manusia yang terus menerus berkembang menyempurnakan dirinya. Manusia yang putus asa, manusia yang pemalas, manusia yang tidak suka belajar terus menerus, manusia yang tak punya daya juang adalah manusia-manusia yang tidak selaras dengan gambaran manusia dalam pikiran Allah. Dalam pengadilan- Nya, Allah akan sungguh meminta pertanggungjawaban manusia atas pengelolaan hukum perkembangan tersebut (pembentukan terus menerus (diupdate:20/05/0912:36:42) oleh: Romo I. Warna Binarja, SJ).

  Pembinaan para suster KYM Indonesia ialah segala usaha pembinaan untuk pengembangan diri setiap anggota kongregasi (PPKYM hal 1 art 1).

2. Latar Belakang Program Pembinaan

  Pedoman Pembinaan Dalam Lembaga Religius yang dikeluarkan Kongregasi Untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Kerasulan, Roma: 1990, artikel 66 menyebutkan: “Selama hidup para religius hendaknya dengan tekun mengikuti pengembangan rohani, ilmiah, dan praktis; para Pemimpin hendaknya memikirkan kemudahan dan waktu untuk itu” (kutipan KHK 661). “Karena itu setiap lembaga religius merencanakan dan mewujudkan suatu program pembinaan yang tetap, yang cocok bagi semua anggotanya.

  Program ini hendaknya merupakan suatu program yang tidak hanya diarahkan pada pembinaan intelek saja, melainkan juga pada pembinaan seluruh pribadi, teristimewa dalam perutusan rohaninya,...” Vita Consecrata artikel 69 mengenai Pembinaan Terus Menerus menegaskan bahwa, “pembinaan awal harus berkaitan erat dengan pembinaan terus menerus, dan sementara itu menciptakan kesediaan pada siapa pun untuk mempersilahkan diri dibina setiap hari hidupnya.... Tidak seorang pun dikecualikan dari kewajiban bertumbuh secara manusiawi sebagai religius.”

  Pembentukan diri terus menerus merupakan konsekuensi dari kepribadian manusia yang berhukum kodrat perkembangan. Tidak mau berkembang menyempurna secara kualitatif berarti bertentangan dengan hukum kodrat yang ditanamkan Allah dalam diri orang tersebut. Karena manusia adalah ciptaan Allah yang merupakan kesatuan jiwa-badan, maka hukum perkembangan yang ada dalam dirinya mengharuskan manusia mengembangkan kejiwaan-kerohanian dan kejasmaniannya. Yesus menegaskan “manusia tidak hanya hidup dari roti saja, tetapi juga hidup dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat 4:4).

  Hidup jasmani harus dipelihara-disempurnakan dari hari ke hari. Apa saja arti- arti konkritnya? Demikian pun hidup rohani manusia, harus dipelihara dan disempurnakan dari hari ke hari. Apa saja arti-arti konkritnya? Kelalaian dalam mengurus perkembangan jasmani dan rohani, berarti hidup jasmani semakin merosot- memburuk, demikian pun hidup rohaninya juga akan semakin merosot menuju

  Zaman yang semakin keras ternyata tidak hanya mempengaruhi pola hidup masyarakat biasa dalam hal mereka yang non religius. Kerasnya zaman juga menggilas dan masuk kedalam kebiasaan orang-orang yang mengikat diri dalam tiga kaul yang tinggal dalam biara. Manusia sekarang cenderung mengabaikan orang lain bahkan dengan cara yang tidak baik dan sewajarnya, bukan saja dengan kekerasan semata tetapi juga melebihi aturan moral yang berlaku.

  Religius KYM yang juga hidup pada zaman ini juga menghadapi tantangan yang sama. Perbedaan watak antara anggota juga menjadi tantangan untuk menghadirkan kerajaan Allah yang penuh kelembutan. Kepribadian yang berbeda, latar belakang yang berbeda, situasi zaman yang semakin menantang dengan segala tawarannyapun masuk dan mempengaruhi pola hidup bagi kaum berjubah.

  Apa yang dilihat, dialami dan dirasakan juga sungguh mempengaruhi pribadi para suster, jika ternyata diperoleh perlakukan yang baik, maka otomatis juga akan memberikan yang baik, jika setiap saat yang disuguhkan kekerasan maka hatipun perlahan akan terbiasa dengan kekerasan, manusia sering bukan menjadi dirinya karena sesuatu pembiasaan, terbiasa mengantuk maka akan mengantuk terus, terbiasa terlambat maka akan sesering mungkin terlambat, walaupun sebenarnya pribadinya yang sesungguhnya bukanlah demikian. Sesuatu yang dibiasakan akan menciptakan pribadi yang sedemikian rupa. Demikian pula dalam hal kekerasan, pribadi yang terbiasa kasar akan dengan mudah kasar terhadap sesamanya, terbiasa lembut maka akan terbiasa lembut dengan sesamanya, terbiasa tersenyum akan selalu terbiasa tersenyum kepada siapa saja.

  Program ini merupakan salah satu usulan, sebagai salah satu kemungkinan agar para pembina, dan pemimpin kongregasi mulai dari dini mencoba untuk membiasakan para susternya untuk senantiasa membentuk dirinya menjadi pribadi yang lembut hati seperti Vincentius. Program ini perlu dikaji lebih dalam agar dari dini dalam proses pembinaan para suster KYM gaung kelembutan hati mendapatkan prioritas yang cukup, sehingga dengan demikian terbentuklah pribadi KYM yang siap hidup dalam persaudaraan dan pelayanann dengan semangat kelembutan hati.

  3. Tujuan Program Pembinaan

  Pembinaan para calon, yang langsung bertujuan memperkenalkan mereka dengan hidup religius dan membuat mereka menyadari ciri khasnya di dalam gereja, terutama ditujukan untuk membantu para religius pria dan wanita menyadari kesatuan hidup mereka dalam Kristus melalui Roh, dengan memadukan secara harmonis unsur-unsur rohani, apostolik, doktrinal dan praktis (PPDLR, 1992: hal 10 art 4).

  Tujuan pembinaan para suster KYM ialah agar hidup setiap anggota makin hari makin sesuai dengan Injil Suci seturut semangat St. Vincentius A Paulo.

  4. Tema-Tema Dalam Program Pembinaan

  Mengingat bahwa kelembutan hati merupakan salah satu keutamaan yang diwariskan oleh Santo Vincentius dalam membangun pribadi seorang religius dalam karya pelayanannya dan kehidupannya sehari-hari, demi pertumbuhan panggilannya menuju kepada kekudusan yang sejati maka penulis mengusulkan program KYM DALAM PERSAUDARAAN DAN PELAYANAN”. Kelembutan dan keramahan membuka pintu hati. Dalam jalan Vincentius dikatakan “kelembutan hati! Oh kelembutan hati, oh betapa indah keutamaan ini. Kelembutan dan kerendahan hati bagaikan dua saudara kembar yang sangat rukun dan tak terpisahkan, seperti halnya ketulusan dan kebijaksanaan (SV XII :184).

  Tumbuh dalam cinta merupakan tujuan terdalam hidup dalam komunitas, yaitu cinta kepada diri sendiri, kepada Allah, dan kepada sesama manusia sebagai saudara dan saudari. Ajakan pertumbuhan itu memang sangat menantang untuk zaman yang kerap kali dikuasai oleh individualisme, yang menjurus kehidup yang bagaikan tidak memerlukan sesama dan Allah (PSK, 2008:27). Suster KYM akan bertumbuh dengan subur apabila senantiasa bertumbuh menjadi pribadi yang berhati lembut. Tidak ada orang yang lebih tekun dan kuat dalam kebaikan daripada mereka yang lembut dan ramah (DBSV: 85).

  Dalam PPK KYM (2008: 1) dikatakan pembinaan kepribadian dan kebudayaan, yaitu pembinaan bagi setiap suster menuju kematangan sebagai pribadi dan penyadaran diri sebagai bagian masyarakat dimana dia hidup dan berkarya. Pribadi KYM yang matang tentunya apabila warisan 5 keutamaan yang diwariskan Vincentius telah menjadi bagian dari hidup yang tak terpisahkan dan satu diantaranya itu adalah kelembutan hati. Pribadi yang matang tentulah pribadi yang memiliki kematangan hidup dalam hal kelembutan hati. Maka dengan demikian semakin matang pulalah menjadi seorang pelayan kasih bagi kaum miskin.

  Mengingat bahwa pertumbuhan pribadi para suster adalah sesuatu yang kongregasi, dan tepatnya dilaksanakan ketika banyak para suster dari segala umur dan tingkatan yang dapat berkumpul, berbagi bersama. Maka lewat ini ada baiknya petemuan ini dilaksanakn pada ret-ret kongregasi sehingga lebih efisien dan tepat. Dan satu pertemuan lainnya diberikan pada saat para suster novis akan mengikrarkan kaul perdana dalam kongregasi yakni pada awal bulan Mei atau ketika para suster tersebut sedang mengadakan ret-ret persiapan untuk pengikraran kaul perdana. Dengan demikian para suster dibekali dengan satu keutamaan yang sangat penting yang akan menjadi minyak bagi lentera panggilan yang bersinar akan kelembutan.

  Dengan usulan program ini diharapkan agar para suster KYM memperoleh gambaran seorang suster KYM yang berhati lembut seturut semangat bapak pelindung St. Vincentius A Paulo. Sehingga terbantu untuk bertumbuh menjadi pribadi KYM yang bersemangat kelembutan hati dalam hidup persaudaraan yang akhirnya akan bergaung juga dalam hidup pelayanan terhadap orang-orang miskin. Dengan demikian semakin nyatalah keutamaan kelembutan hati tersebut menghadirkan kerajaan Allah ditengah dunia yang keras.

  Bahan yang ditawarkan dalam program ini akan diolah dalam beberapa pertemuan dengan model SCP (Shared Christian Praxis). Dengan menggunakan model ini pertemuan lebih diwarnai oleh sharing bersama untuk membangun persaudaraan yang semakin berhati lembut dan refleksi pribadi yang menguatkan pribadi para suster untuk meningkatkan keutamaan kelembutan hati dalam hidup persaudaraan, khususnya membentuk diri menjadi pribadi yang berhati lembut.

  Dengan demikian perpaduan dua hal ini akan semakin mendorong para suster KYM sekaligus menemukan cara yang terbaik bagi terbentuknya seorang pribadi KYM yang berhati lembut dalam hidup persaudaraan. Jika tiap-tiap pribadi menyumbangkan gagasan yang terbaik maka kedepannya program ini akan membangun kehidupan persaudaraan KYM yang semakin menghadirkan Kerajaan Allah yang teramat lembut.

  Atas dasar pertimbangan diatas penulis membagi tema yang akan menjadi dua sub tema yang terdiri dari: Sub tema I : Menjadi pribadi Religius KYM yang lembut hati dalam persaudaraan dan pelayanan Tujuan : Supaya para suster KYM dapat menyadari dan bertumbuh dalam salah satu keutamaan yang sangat berguna dan penting dalam mewujudkan persaudaraan yang sejati

  Sub tema II : Pengaruh Kelembutan hati dalam pelayanan terhadap kaum miskin sebagai majikan Tujuan : Mendorong dan membantu para suster KYM untuk menjadi sosok religius yang berhati lembut dalam melayani mereka yang miskin sebagai majikan.

PROGRAM PEMBINAAN

  • Mengajak para suster KYM menggali satu keutamaan yang diwariskan oleh St. Vincentius A. Paulo sebagai kekayaan dalam pembentukan hidup rohani
  • Mengajak para suster KYM membina diri dan menbentuk diri men>Pengertian kelembutan hati
  • - Teladan

    kelembutan

    hati yang

    diwariskan

    oleh

    Vincentius

    - Belajar dari Yesus Sang Guru kelembutan hati
  • - Manfaat

    kelembutan

    hati dalam

    hidup persaudaraan>sharing kelompok
  • Diskusi kelompok
  • Refleksi pribadi
  • Informasi
  • Tanya Jawab Teks lagu yang telah disiapkan: teks lagu karena aku kau c
  • Statuta Kongregasi Suster kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM), Pematang Siantar. Aneka Guna,
  • >Teks lagu Kasih -Teks Doa pembukaan dan doa Penutup -Slide singkat durasi 10 menit “Kecantikan sejati Seorang Wanita”
  • Teks pertanyaan pendalaman Teks Kitab Suci Perjanjian Baru - Kolose 3:12-15
    • Directorium Kongregasi Suster kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM), Pematang Siantar. Aneka Guna, Bab VI art 16

      110

       

      Tema Umum : “KELEMBUTAN HATI PARA SUSTER KYM DALAM PERSAUDARAAN DAN PELAYANAN”. Tujuan Umum : Membantu para suster KYM bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi religius yang berhati lembut sehingga dapat hidup dalam persaudaraan dan pelayanan

      No (1) Sub Tema (2)

      Tujuan (3) Judul Pertemuan

      (4) Tujuan (5) Materi

      (6) Metode (7) Sarana

      (8) Sumber Bahan (9)

      1 Menjadi pribadi Religius KYM yang lembut hati dalam persaudaraan Supaya para suster KYM dapat menyadari dan bertumbuh dalam salah satu keutamaan yang sangat berguna dan penting dalam mewujudkan persaudaraan yang sejati Aku dipanggil menjadi suster KYM yang berhati lembut dalam persaudaraan dan pelayanan

    Bab I psl 1-2

    • Mengajak para suster KYM untuk melayani kaum papa dengan hati yang lembut
    • Meneladan sikap Vincentius dalam melayani kaum miskin sebagai majikan dengan semangat kelembutan >Siapa itu religius KYM yang menyatakan

      orang miskin

      sebagai majikan
    • Panggilan

      suster KYM

      sebagai hamba dalam melayani

      orang miskin>Informasi - Kerja kelompok

    • menonton film
    • Share - Pleno - Film - Alat t
    • Kitab Suci - Lembaga Biblika Indonesia, Alkitab. (Jakarta:Obor). Luk 12:13-21
    • Pedoman Pembinaan Kongregasi Suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan yang Baik (KYM), Pematang Siantar. Aneka Guna, hal 12-13
    • Panitia Spiritualitas KOPTARI, (2008)
    • >Pengertian SCP
    • Langkah- langkah SCP, hakikat, prinsip dan tujuan SCP
    • Metode kate>Informasi - Menonton - Kerja kelompok
    • Tanya jawab (share)
    • Pleno - Alat t
    • Film
    • Kitab Suci - Groome, Thomas H. (1997). Shared

      111

        seorang yang berhati lembut dalam persaudaraan dan pelayanan Menjadi pribadi KYM yang lembut hati dalam melayani kaum papa sebagai majikan

      Membangun Komunitas Formatif, Jogyakarta: Kanisius Hal 1-6

      Bantuan katekese model SCP dalam meningkatkan perkembangan kelembutan hati para suster KYM Membantu para suster KYM menemukan cara untuk bertumbuh menjadi pribadi yang berhati lembut dalam hidup

      Christian Praksis: Suatu Model Berkatekese (F.X.

      Heryatno Wono Wulung, Penyadur). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat.

    • Lalu,Yosef. (2005).
    • Lembaga Biblika Indonesia, Alkitab.(jakarta:Obor). Yak 1:19 Doa dalam usaha bagi para suster KYM dalam membentuk hati yang lembut Melalui katekese model SCP para suster KYM diajak
    • >Pengertian doa
    • - Menggali

      pengalaman hidup rohani

      bersama

      dengan

      Tuhan dalam

      keheningan

      dan

      hubungan

      yang intim

      dengan

      Tuhan - Informasi - Tanya j
    • Kitab Suci - Konstitusi KYM. Pematang Siantar, 2003. Bab III, art 38- 43, hal. 24-25
    • Lembaga Biblika Indonesia, Alkitab.(jakarta:Obor). Luk 6:22-26
    • >Kerja kelompok
    • Pleno - Alat tulis
      • - Menggali

        makna kaul

        kemiskinan, keperawanan dan ketaatan
      • - Pengaruh

        kelembutan

        hati dalam>Informasi - Refleksi - Sharing - Pleno - Alat tulis

      • Kitab Suci - Congar. Y. (1973). Gereja Hamba Kaum Miskin, Yogyakarta: Kanisius, hal
      • Lembaga Biblika Indonesia, Alkitab.(jakarta:Obor). Mat 11:29

        112

          persaudaraan SCP

      membantu

      kita siap

      menaggapi

      panggilan

      Tuhan

      menjadi

      pribadi yang berhati lembut

        (buku asli diterbitkan 1991)

        Katekese Umat. Komisi kateketik KWI.

        Jakarta: Obor

        untuk menyadari pentingnya hidup doa dalam pembentukan pribadi yang lembut hati

        2. Pengaruh Kelembutan hati dalam pelayanan terhadap kaum miskin sebagai majikan

        Mendorong dan membantu para suster KYM untuk menjadi sosok religius yang

        Pengaruh kelembutan hati dalam menumbuhkan kesetiaan terhadap panggilan lewat kaul-

        Mengajak para suster KYM untuk menyadari dan menggali makna kelembutan hati demi berhati kaul religius menumbuhkan mewujudkan - Konstitusi KYM. lembut kesetiaan ketiga kaul Pematang Siantar, dalam terhadap religius

        2003. Bab V, art 49- melayani panggilan 56, hal. 28-29 mereka hidup lewat sebagai kaul-kaul majikan. religius

        Pengaruh Membantu - Teladan - Informasi - Alat tulis - Lembaga Biblika Kelembutan para suster hidup dan - Kerja - Video Indonesia, Hati para KYM untuk karya Tuhan kelompok - Kitab Suci Alkitab.(jakarta:Obor). suster KYM membentuk yang lembut - Pleno Luk 1:51-53 terhadap dan mengolah dalam

      • Konstitusi pelaksanaam diri menjadi mencinta

        KYM.pematang karya kasih pribadi yang kaum miskin Siantar, 2003.hal. 26- berhati lembut - Tawaran

        27 lewat hidup kerajaan

      • Louf. Andre. Hidup karya Allah yang di dalam Komunitas. sehingga lembut lewat (R. Hardjodirono, karya Tuhan para suster

        Penerjemah). Seri yang lembut KYM Gedono no 1: sungguh dapat Surabaya, hal 22-25 dirasakan oleh semua orang khususnya kaum miskin

        113

         

      5. Contoh Persiapan Katekese I

      A. IDENTITAS PELAKSANAAN SCP “SHARED CHRISTIAN PRAKSIS” DALAM ON GOING FORMATION

        1. Tema : Aku dipanggil menjadi Suster KYM yang berhati lembut dalam persaudaraan dan pelayanan.

        2. Tujuan : Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari panggilannya sebagai seorang suster KYM yang mampu membentuk dan meneladani spiritualitas kongregasi yang berhati lembut, sehingga mampu menjadi sosok yang lembut hati dalam persaudaraan pun dalam pelayanan

        c. Peserta : Para calon suster KYM (Postulan)

        d. Tempat : Postulan KYM Pematang Siantar

        e. Hari/tgl : Satu minggu sebelum penerimaan jubah Postulan (menyesuaikan dengan jadwal kongregasi)

        f. Waktu : Menyesuaikan keadaan kegiatan Postulan

        g. Metode :

      • Sharing kelompok
      • Diskusi kelompok
      • Refleksi pribadi
      • Informasi - Tanya Jawab

        h. Model : SCP (Shared Christian Praxis) i. Sarana : - Teks lagu yang telah disiapkan: teks lagu karena aku kau cinta

      • Teks lagu Kasih - Teks Doa pembukaan dan doa Penutup - Slide singkat durasi 10 menit “Kecantikan sejati Seorang Wanita”
      • Teks pertanyaan pendalaman
      • Teks Kitab Suci Perjanjian Baru j. Sumber Bahan :
      • Kolose 3:12-15
      • Statuta Kongregasi Suster kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM), Pematang Siantar. Aneka Guna,

        Bab I psl 1-2

      • Directorium Kongregasi Suster kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM), Pematang Siantar. Aneka Guna, Bab VI art 16

      B. PEMIKIRAN DASAR

        Dewasa ini, kita sering mendengar pertanyaan, masih adakah ruang bagi cinta kasih yang penuh kelemahlembutan. Mungkinkah dalam dunia modern yang penuh kekerasan ini, seorang yang profesional tidak memberikan ruang untuk cintakasih dalam nada kelemahlembutan atau masih adakah tempat bagi cinta kasih yang bersifat profesional? Penekanan masalah ini dimaksudkan bahwa istilah kelemahlembutan masih dalam pertentangan dan harus dibicarakan.

        Sebelum kita membicarakan perubahan yang begitu sensitif ini, kita harus mempunyai gagasan yang jelas tentang kelemahlembutan. Secara sederhana, yang dimaksudkan dengan kelembutan adalah kepedulian terhadap kaum miskin dan kepedulian terhadap mereka yang sakit atau kesediaan pribadi untuk mencinta seperti telah diserukan dalam Kitab Suci kepada kita?

        St. Paulus secara khusus berkata:” Sekalipun aku dapat berbicara dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat tapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing, jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Bahasa cinta kasih yang ditawaran oleh Tuhan adalah sebuah bahasa yang sarat dengan kelemah lembutan. Hal tersebut semakin ditegaskan dalam Kol 3:12-15, menjadi seorang manusia baru, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

        Sabda yang lebih jelas dan lebih radikal itulah yang dibutuhkan. Santo Paulus mengikuti jejak Yesus. Yesus sendiri menjawab pertanyaan orang-orang Farisi tentang perintah yang terbesar dari seluruh hukum dengan berkata: ”Kamu harus mencintai Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, dengan segenap jiwamu dan dengan seluruh akal budimu. Inilah perintah pertama yang terbesar dan terutama. Perintah yang kedua, kamu harus mencintai sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Seluruh hukum dan perintah nabi tertuang dalam dua perintah ini, dan untuk

      C. PENGEMBANGAN LANGKAH-LANGKAH

        1. Pembukaan

        a. Pengantar Para suster yang terkasih pada pertemuan doa kita kali ini kita akan menimba bersama-sama kekayaan rohani yang ditelah diwariskan oleh bapak pendiri kita Santo

        Vincentius A. Paulo. Salah satu keutamaan yang ditawarkannya kepada kita adalah hati yang lemah lembut “kelemahlembutan”. Tidak mudah, karena hal tersebut juga merupakan sebuah perjuangan berat yang telah dilaluinya. Diapun berguru dari banyak pribadi selain dari pribadi Kristus dia pun terpesona dan terdorong untuk mengubah disposisi bathinnya yang keras dengan kelembutan lewat teladan hidup yang penuh kelembutan yang diteladankan oleh Santo Fransisikus dari Sales. Dia mengajarkan kepada kita kelemahlembutan adalah kunci keberhasilan untuk menjadikan persaudaraan dan pelayanan dapat menuai banyak buah yang berlimpah dan menjadikan dunia untuk layak dihuni.

        d. Lagu Pembukaan: teks “ Kasih”

        Kasih pasti lemah lembut Kasih pasti memaafkan Kasih pasti murah hati KasihMu kasihMu Tuhan

        CHORUS Ajarilah kami ini saling mengasihi Ajarilah kami ini saling mengampuni

        Ajarilah kami ini kasihMu ya Tuhan KasihMu kudus tiada batasnya Kasih pasti lemah lembut Kasih pasti memaafkan Kasih pasti murah hati KasihMu kasihMu Tuhan e. Doa Pembukaan: “Bagaikan pokok anggur kutumbuhkan tunas-tunas jelita, dan bungaku menjadi buah yang banyak dan masak sedap. Aku adalah ibu cintakasih yang indah, takwa dan pengetahuan. Dalam aku ada segala kelembutan, jalan dan kebenaran; dalam aku ada harapan kehidupan dan kebajikan Bapa Sang Guru kelembutan…kami bersyukur padaMu atas semua

      anugerahMu yang tak terbatas bagi kami hingga saat ini khususnya dalam perjalanan

      panggilan kami. Datanglah dan penuhilah hati kami dalam kebersamaan kasih ini,

      dalam doa yang memohonkan rahmat kelembutan ini. padaMu kami hantarkan hidup

      kami yang rapuh ini, mohon agar Engkau dengan kasihMu yang teramat lembut

      menganugerahi kami hati seperti hatiMu, hingga kami mampu membangun

      persaudaraan yang sejati seperti yang Engkau damba dari kami semua. Bersama

      engkau kami pasti akan mampu. Engkau kami puji karena kasihMu tiada akan pernah

      berhenti kini dan sepanjang segala masa. Amin.

      2. Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual

        Para suster yang terkasih marilah kita sekarang melihat kembali pengalaman- pengalaman yang kita alami sehubungan dengan karakter hidup yang penuh kelemahlembutan.

        a. Mengajak peserta untuk menyaksikan/menonton sebuah slide singkat “Kecantikan Sejati Seorang Wanita durasi 5 menit ( terlampir dalam bentuk CD).

        b. Penceritaan kembali isi slide singkat: pendamping meminta beberapa peserta untuk mencoba menceritakan kembali dengan singkat tentang isi pokok dari slide “Kecantikan Sejati Seorang Wanita”.

        c. Intisari slide “Kecantikan Sejati seorang Wanita” tersebut adalah: Dalam slide tersebut dikisahkan seorang wanita yang bernama Audrey

        Hepburn yang memiliki kecantikan sejati tidak terletak hanya pada fisik semata tetpai lebih dari pada inner beauty yang mendukung kecantikan fisik yang dimilikinya.

        Dalam slide dilukiskan bagaimana ia dengan segala daya pesona yang dimilikinya mampu merangkul banyak orang dalam kelembutan kasihNya sebagai seorang wanita.

        Dia mengajarkan bagaimana menjadikan mata sebagai sarana hanya untuk melihat ha-hal yan baik dalam kehidupan ini, bagaimana jari-jemarinya digunakan dengan penuh kelembutan untuk mengasihi anak-anak yang terlantar, korban bencana alam, yang membutuhkan belaian kasih seorang ibu. Dia juga membagikan trik bagaimana mempergunakan mulut untuk mengucapkan kata-kata lembut yang menyenangkan hati dan membuat orang lain bahagia dan lega.

        Dia mengajak semua untuk menyadari bahwa usia yang semakin tua adalah suatu proses dimana buah yang kita peroleh tentunya semakin manis dalam kehidupan. Demikianlah seluruh langkah-lakunya dipenuhi dengan kecantikan seorang wanita yang sejati.

        d. Pengungkapan pengalaman: Peserta diajak untuk mendalami slide tersebut dengan tuntunan beberapa pertanyaan: 1). Hal-hal apa yang dilakukan oleh Audrey Hepburn dalam membentuk dirinya sebagai sosok wanita yang memiliki kecantikan yang sejati? 2). Ceritakanlah pengalaman saudari dalam menghadapi tantangan untuk menjadikan diri anda pribadi yang cantik bukan hanya fisik tetapi juga cantik dari dalam jiwa? e. Suatu Contoh Arah Rangkuman

        Dalam slide tersebut sebagai seorang wanita Audrey Hepburn telah mencoba menciptakan dirinya sebagai sosok yang tampil cantik hingga masa tuanya. Tidak mudah tetapi tahap demi tahap dilaluinya dengan langkah-langkah tepat serta jitu yang menjadikannya wanita yang cantik luar dan dalam. Hatinya bersinar memancarkan ketulusan hatinya dari dalam. Dia mengembangkan sifat-sifat kewanitaannya dengan pilihan kegiatan yang tepat. Dia membagikan hidupnya kepada orang-orang yang paling membutuhkan sehingga dirinya terbentuk menjadi seorag wanita yang sungguh berhati lembut.

        Selain itu dia juga melatih hal-hal positif yang dikembangkannya dari seluruh anggota tubuhnya. Semua bagian fisiknya dilatihnya untuk menjadi bagian yang terpenting dalam menjadikannya sosok wanita yang cantik sekaligus sejati. Positif

        Demikian juga dalam kehidupan kita sehari-hari kitapun masing-masing sudah mencoba sedaya mampu kita untuk menjadikan diri kita cantik luar dan dalam.

        Menjadikan kita sosok wanita yang sejati penih kasih sayang. Memang tidak mudah, butuh proses yang panjang tetapi kita selalu diajak untuk mengusahakannya agar menjadi lebih baik dari hari kehari. Kadang kita gagal dan menyerah adalah sebuah bagian dari proses hidup dan ketika kita mandeg untuk mewujudkannya maka kita menjadi kurang membantu diri kita sendiri untuk lebih maju dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakter lembut.

      3. Langkah II: Refleksi Kritis Atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual

        a. Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman atau slide diatas dengan dibantu pertanyaan sebagai berikut: 1) Mengapa Audrey Hepburn mampu menjadi sosok yang dikenal dengan kecantikan sejatinya? 2) Cara apa sajakah yang sudah para saudari lakukan untuk menjadikan diri anda sosok wanita yang memiliki kecantikan yang sejati dan hal apa saja yang saudari lakukan ketika mengalami kegagalan dalam proses membentuk diri anda sebagai wanita yang sejati? b. Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping memberikan rangkuman singkat.

        c. Suatu Contoh Arah Rangkuman: Seorang wanita yang sejati memang sepatutnya belajar utnuk semakin sempurna. Wanita dengan sifat-sifat alaminya mempunyai daya tarik untuk lebih mudah untuk berempati terhadap sesamanya dan hal itu akan semakin lebih baik apabila dibiasakan untuk mengembangkannya lewat sikap-sikap setiap hari yang mendukung terbentuknya hal tersebut. Perhatian pada hal-hal sederhana akan menjadikan karakter kewanitaannya semakin sejati dan semakin dapat menghasilkan buah-buah yang manis untuk dicicipi dalam kehidupan.

      4. Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi Dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau.

        a. Pendamping meminta salah satu Postulan untuk membaca teks Kitab Suci dari Kol 3:12-15 langsung dari Kitab Suci.

        Manusia Baru Kolose 3:12-15

        12) Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. 13) Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. 14) Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

        15) Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk b. Setelah itu peserta diberi kesempatan untuk merefleksikan teks tersebut dengan dibantu oleh pertanyaan penuntun sebagai berikut: 1) Ayat-ayat manakah yang menunjuk pada sebuah tindakan yang harus kita lakukan agar kita menjadi umat pilihan? 2) Apa gaung kelemahlembutan yang diungkapakan dalam teks KS tersebut dalam situasi persaudaran dan hidup dalam panggilan zaman sekarang ini bagi anda?

        c. Peserta diajak untuk sendiri mencari dan menemukan pesan inti perikope sehubungan dengan jawaban atas 2 (dua) pertanyaan b diatas.

        d. Pendamping memberikan interpretasi atau tafsir dari bacaan Kitab Suci dari Kol 3:12-15 dan menghubungkannya dengan tanggapan peserta dalam hubungan dengan tema dan tujuan, misalnya, sbb: Para suster terkasih, untuk menjadi sebuah komunitas yang menghadirkan

        Kerajaan Allah yang layak dihuni tidak dituntut untuk melakukan sesuatu yang luar biasa, hanya hal-hal sederhana yang diajarkan untuk dilaksanakan dalam hidup panggilan dan pelayanan setiap hari, salah satunya adalah sikap bathin yang lemah lembut. Kolose 3:12-15 telah menunjukkan hal-hal pokok yang harus kita miliki agar terciptalah sebuah komunitas kasih yang akan menjadikan hidup persaudaraan dan pelayanan lebih bermakna dan hidup.

        Dalam hal ini ayat ke 12 sebagai pondasi yang ditawarkan adalah bahwa sebagai orang-orang pilihan Allah hendaknya mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Perikope tersebut sesungguhnya identifikasi terjadi. Identifikasi yang terus menerus dengan Kristus akan menyebabkan transformasi akan menyerupai Kristus. Kedua hal ini tidak terpisahkan.

        Pada perikop ini dapat dilihat bagaimana transformasi itu diteruskan dengan menerapkan tingkah laku yang mulia dan menumbuhkan karakter Ilahi (ayat 12- 15).karakter-karakter yang diajabarkan dalam ayat 12-15 adalah karakter Kristus yang dipraktikkan Nya sepanjang hidup dalam pelayananNya didunia ini.

        Dalam perikope ini Paulus memaparkan kehidupan lama dan kehidupan baru yang sungguh-sungguh kontras, tidak ada sifat dan perilaku yang dapat berjalan seiring, maka yang lama harus ditanggalkan dan yang baru menggantikannya. Paulus juga menekankan bahwa panduan untuk mengarungi hidup Kristen adalah dipenuhi belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (ayat 12). Serta hati penuh pengampunan (ayat 13), kasih (ayat 14) dan damai sejahtera (ayat15). Sungguh sebagai anak-anak pilihan Allah umatnya dianjurkan untuk mengenakan seluruh pakaian kekudusan tersebut. Kristen yang sejati menurut Paulus adalah seseorang yang mempraktikkan perbuatan baik yang sejalan dengan karakter yang sudah diubahkan.

        

      5. Langkah IV: Interpretasi/ Tafsir Dialektis antara Tradisi dan Visi Kristiani

      dengan tradisi dan visi Peserta

        a. Pengantar Dalam pembicaraan-pembicaraan tadi kita sudah menemukan sikap-sikap menjadi umat pilihannya dalam hal ini sebagi seorang calon suster KYM. Tawaran- tawaran yang disampaikan oleh Yesus hendak menjadikan kita sosok wanita yang hadir menjadi manusia baru yang selama ini kita kurang memberikan diri kita untuk dibentuk menjadi sosok yang sejati sebagai seorang wanita dalam hal ini sosok yang berhati lembut. Masuknya saudari dalam lembaga religius ini menjadi pondasi awal bagi anda untuk membentuk pribadi sebagai sosok wanita yang memiliki kecantikan yang sejati. Dan sebagai umat pilihanNya kita pun diajak untuk meneladan Dia Sang Guru kelembutan hati, dan hal itu telah ditawarkannya dengan cara-cara yang patut kita kembangkan dalam menjadikan diri kita pribadi yang sejati lewat langkah- langkah konkrit.

        b. Sebagai bahan refleksi agar kita dapat semakin menghayati dan menyandarkan diri pada Allah satu-satunya sang Guru kelembutan hati dalam menapaki awal baru panggilan hidup kita ini, kita akan melihat situasi konkrit dunia sekitar kita dengan mencoba merenungkan beberapa pertanyaan beriku: 1) Sikap-sikap mana yang bisa kita perjuangkan agar kita dapat semakin bertumbuh dan berkembang dalam keutamaan-keutamaan hakiki sebagai seorang wanita, khususnya dalam hal-hal pokok yang ditawarkan oleh Yesus sebagai umat pilihanNya?

        2) Apakah saudari-saudari semakin disadarkan, atau ditegur atau diteguhkan dalam panggilan sebagai seorang calon suster KYM?

        Saat hening diiringi dengan musik instrumen dan sebuah lagu You are

      Beautiful” dari cherry bell untuk mengiringi renungan secara pribadi akan pesan

        

      tiga (3) pertanyaan di atas. Kemudian diberi kesempatan untuk mengungkapkan hasil

      renungan pribadinya itu. Sebelum suasan hening dimulai pendamping membacakan

      isi Directorium KYM Bab VI art 16 sebagai sumber inspirasi.

        Directorium KYM Bab VI art 16 Perhatian suasana Komunitas

        Art 16: Suasana yang membuat orang merasa kerasan dan setiap suster bertumbuh dalam panggilan, hendaknya mendapat perhatian dari pemimpin. Suasana ini ditumbuhkembangkan oleh sikap hormat terhadap keunikan setiap suster, oleh tanggung jawab bersama satu terhadap yang lain. Singkatnya, oleh kepercayaan satu sama lain atas dasar iman. Mengambil inisiatif dari orang lain menjadi bagian dalam memperhatikan suasana hidup komunitas

        Sebagai bahan renungan dalam langkah konfrontasi ini dapat diberi rangkuman singkat dari hasil-hasil renungan pribadi mereka, misalnya, sbb: c. Suatu contoh arah rangkuman penerapan pada situasi peserta:

        Dalam perikope di atas telah banyak menawarkan nilai-nilai yang akan sangat berguna bagi kita selaku calon suster. Marilah kita kembali menyadari, bahkan berani menanggalkan hal-hal yang menghambat panggilan kita sebagai seorang calon suster. Kita hendaknya juga semakin berani melihat kelemahan pun kekuatan kita sebagai seorang wanita dan memohonkannya pada Tuhan agar dengan bantuanNya mampu mengubah hati kita seturut kehendakNya, menjadi sosok wanita yang sejati penuh kelemahlembutan. Tidaklah mudah membentuk diri kita menjadi sosok wanita yang sejati dalam hal ini wanita yang penuh kelemahlembutan, dan tidak mudah yang sungguh-sungguh pilihan. Namun dengan kekuatan sendiri kita pasti tidak mampu untuk meneladani Yesus, tetapi hanya dengan rahmatNya dan kekuatan Allah sendiri, maka Dialah yang sanggup memampukan kita untuk meneladan semua sikapNya dalam hal ini teladannya dalam kelemahlembutan.

        

      6. LANGKAH V: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah

      di Dunia ini

        a. Pengantar Para saudari-saudari yang terkasih dalam Kristus Sang Guru kelembutan, setelah kita bersama-sama menggali pengalaman kita sebagai seorang calon suster lewat sebuah slide yang mengisahkan sosok Audrey Hepburn yang memiliki kecantikan sejati seorang wanita. Dia dengan tekun membentuk dirinya menjadi sosok yang mengembangkan segala kekuatan fisiknya dengan kedalaman inner

        

      beauty yang semakin membuatnya memiliki kecantikan sejati untuk memeluk banyak

        orang yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang khususnya bagi mereka yang miskin. Demikian juga kita dalam hidup senantiasa juga terus berjuang untuk membentuk diri setidaknya menjadi pribadi yang utuh yang menghargai kelebihan dan keunggulan ciri-ciri seorang wanita, walaupun dalam membentuk hal tersebut tidaklah selalu berjalan mulus dan menghasilkan sesuatu seperti yang diharapkan. Tetapi kita selalu ditantang untuk terus berjuang mewujudkannya demi sebuah kehidupan yang lebih baik dan penuh kasih.

        Dari perikope yang telah kita dengarkan dan renungkan bersama Tuhan juga kita menjadi manusia baru dan sungguh-sungguh menjadi umat pilihanNya yang telah dipanggilNya untuk bekerja diladang anggurNya. Sebelum kita diajak untuk mengusahan semuanya itu kita diingatkan kembali bahwa Yesus Sang Guru kelemahlembutan itu sendiri telah menjadi teladan bagi kita untuk hal itu, Dia telah terlebih dahulu berjuang untuk setia menjadi prbadi yang lembut hati dalam mencintai semuanya. Maka kita diajak untuk tidak putus asa karena Dia yang akan mencurahkan berkatNya bagi kita jika kita dengan sungguh-sungguh mau menjadikannya bagian dari hidup kita dalam persaudaraan dan pelayanan kita.

        b. Memikirkan niat-niat dan bentuk keterlibatan kita yang baru (pribadi, kelompok atau bersama) untuk lebih meningkatkan pelayanan kita, khususnya dalam tugas kita sebagai calon suster KYM sesuai dengan teladan Yesus Kristus Sang Guru Kelemahlembutan yang sejati.

        Berikut ini adalah pertanyaan penuntun untuk membantu peserta membuat niat- niat: 1). Niat apa yang hendak kita lakukan untuk semakin menjadi calon suster yang memiliki kecantikan seorang wanita yang sejati? 2). Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan dalam mewujudkan niat-niat tersebut

        Selanjutnya peserta diberi kesempatan dalam suasana hening memikirkan

      sendiri-sendiri tentang niat-niat pribadi/bersama yang akan dilakukan. Sambil

      merumuskan niat tersebut, dapat diputarkan musik instrumen . kemudian niat-niat

      kelompok bersama, kalau ada bisa dibicarakan dan didiskusikan bersama guna

      menentukan niat besama agar mereka semakin memperbaharui sikap kelompok

      7. Penutup

        a. Setelah selesai merumuskan niat pribadi dan bersama, kemudian semua bisa menyanyikan bersama lagu”Kasih Dari Surga”: oleh Nikita.

        Kasih dari surga memenuhi tempat ini Kasih dari Bapa surgawi Kasih dari Yesus mengalir di hatiku Membuat damai di jiwaku

        Mengalir kasih dari tempat tinggi Mengalir kasih dari tahta Allah Bapa Mengalir...mengalir...mengalir..dan mengalir Mengalir memenuhi hatiku

        b. Kesempatan hening sejenak untuk merenungkan isi lagu tersebut. Sementara itu lilin dan salib dapat diletakkan ditengah peserta untuk kemudian dinyalakan.

        c. Kesempatan doa umat spontan yang diawali oleh pendamping dengan menghubungkan dengan kebutuhan dan situasi hidup religius dalam persaudaraan pun pelayanan. Setelah itu doa umat disusul secara spontan oleh para peserta yang lain. Akhir doa umat ditutup dengan doa penutup dari pendamping yang merangkum keseluruhan langkah dalam SCP ini dalam kelima langkah ini

        d. Doa Penutup

        

      “Dalam aku ada kelembutan, jalan dan kebenaran; dalam aku ada harapan kehidupan

      dan kebajikan. Hai kamu sekalian, datanglah ke mari. Kenyangkanlah dirimu dengan

      hasilku. Sebab kenanganku lebih manis dari pada madu, dan milik pusakaku lebih

        Bapa Sumber Kasih kelembutan, kami bersyukur kepadaMu karena Engkau

      telah menyertai kami dan hadir bersama kami dalam doa ini. Semoga segala yang

      baik yang telah kami dengarkan dari SabdaMu, dan segala kekuatan yang telah kami

      bagikan dan sharingkan bersama membuat kami semakin menyadari diri dan tujuan

      hidup kami yang sejati. Menjadi lembut hati untuk menghasilkan buah-buah yang

      ranum untuk dinikmati oleh siapa saja dalam hidup kami, dalam hidup persaudaraan

      dan pelayanan kami. Kami sudah melihat bersama contoh yang diteladankan oleh

      wanita cantik Audrey Hepburn, semuanya itu mengajak kami untuk semakin berani

      mengembangkan pribadi kewanitaan kami yang mempunyai keunggulan.

        Tuhan kami juga sudah melihat perjuangan dan pengalaman kami dalam

      mewujudkannya dalam hidup kami, tidak mudah untuk menemukan pribadi yang

      demikian tetapi kami diberi tawaran rahmatMu semakin diteguhkan dengan beberapa

      hal yang harus kami wujudkan sebagai anak-anak pilihanMu dalam menjadikan kami

      sebagai manusia yang baru.

        Tuhan, perjalanan kami selanjutnya dalam panggilan suci ini hendak kami

      persembahkan kepadaMu, semoga Engkau senantiasa sudi menyertai kami, dalam

      perjuangan hidup ini, hingga kami menjadi alatMu untuk menghadirkan kerajaan

      Allah yang teramat lembut. Tanpa Engkau kami tidak akan sanggup untuk mengubah

      segala disposisi bathin kami yang kurang baik dan mengembangkan diri kami dengan

      semakin sempurna. Maka kami mohon bantulah kami ya Tuhan untuk mewujud

      nyatakannya dalam hidup kami sebagai bibit awal bagi kami untuk semakin maju

      melangkah dalam panggilanMu ini. Engkaulah kekuatan kami dan teladan e. Sesudah Doa Penutup, pertemuan diakhiri dengan membaca secara bersama-sama dari Statuta KYM Bab 1 Pasal 2 art 2.

        Pasal 1: Tujuan Kongregasi adalah mengikuti Yesus Kristus untuk membangun dunia yang layak huni dengan menganut hidup Injili dalam kemiskinan, kemurnian dan ketaatan

        Pasal 2: Tujuan ini dilaksanakan dengan mengikat diri satu sama lain dalam komunitas dan dengan mengabdikan diri kepada karya misi dan karya kasih, khususnya kepada kaum miskin

        f. Lagu Penutup : Karena Aku Aku Cinta

        Tiada nada tiada suara Mampu mengungkapkan rasa Bahagia tak terkira Tiada sungai tiada samudera Mampu tandingi agung cintaMu Lembut hatiMu ubah hidupku

        Hadirmu dalam lubuk hatiku Tuk mencintaimu dengan segenap hatiku.

        Kubahagia slalu bersamaMu Yesus Karena aku Kau cinta. Tiada lembah tiada bukit Kan menghalangi langkahku Menyambut kasihMu Tiada bimbang tiada ragu Tak ingin aku jauh dariMu Kuingin hidup bagiMu Yesus

        HadirMu dalam lubuk hatiku Tuk mencintaiMu dengan segenap hatiku.

        Kubahagia slalu bersamaMu Yesus Karena aku Kau cinta

      BAB V PENUTUP Bab ini merupakan bagian yang menutup seluruh penulisan skripsi yang

        dibagi dalam dua bagian Bagian pertama berupa kesimpulan atas seluruh pikiran yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya. Lalu bagian kedua berupa saran untuk mendalami makna kelembutan hati santo Vincentius A Paulo dalam hidup persaudaraan para suster KYM.

      A. Kesimpulan

        Pada bagian kesimpulan ini, penulis hendak menegaskan kembali hal-hal perlu diperkembangkan sehubungan dengan salah satu keutamaan hidup yang diwariskan oleh St. Vincentius A. Paulo. Hal itu dimaksudkan agar para suster KYM semakin berkembang dan bertumbuh menjadi pribadi yang berhati lembut dalam hidup persaudaraan dalam berkomunitas. Ada beberapa kesimpulan yang bisa diberikan berikut ini:

        1. Pemersatu utama dalam hidup persaudaraan religius, khususnya persaudaraan KYM adalah Kristus sendiri yang berseru: “Belajarlah kepadaKu sebab Aku lemah lembut dan rendah hati.” Kelemahlembutan dan kerendahan hati hendaknya menjadi sumber kesaksian bagi segenap suster KYM sebagai bagian dari aksi panggilannya dalam masyarakat.

        2. Komunitas persaudaraan KYM merupakan “sekolah” kelemahlembutan itulah, setiap pribadi saling memberi diri untuk meleburkan kepentingan pribadi tanpa kehilangan jati dirinya dan membentuk karakter kepribadian bersama yang menjadi ciri khas persaudaraan religius. Peleburan jati diri untuk membentuk karakter persaudaraan yang lemah lembut dapat dilakukan dalam program bina lanjut atau on going formation persaudaraan KYM..

        3. On going formation hanya bisa berlangsung dengan efektif jika para anggotanya (suster KYM) terbiasa melakukan refleksi pribadi dan komunal. Refleksi ini menjadi media bagi tumbuhkembangkan roh kelemahlembutan sebagaimana yang diajarkan oleh Santo Vincentius A Paolo sendiri. Refleksi juga menjadi media menyembuhkan “luka-luka batin” akibat kekurang lembutan yang diperoleh dalam persaudaraan.

        4. Pribadi yang lemah lembut terbentuk dalam proses yang berkesinambungan.

        Salah satu proses itu adalah dengan metode katekese. Tentu saja katekese yang berkaitan serta bertujuan untuk mengembangkan kelemahlembutan seorang pribadi religius pada zaman ini.

      B. Saran

        Setelah melihat beberapa simpulan di atas, berikut beberapa saran yang bisa dilakukan khususnya oleh para suster KYM dalam upaya mengembangkan kepribadian yang lemah lembut.

        1. Memperkenalkan sedini mungkin keutamaan-keutamaan Vincentian yang menjadi kharisma persaudaraan KYM sesuai dengan maksud pendiri. Perkenalan kharisma tarekat ini hendaknya dilakukan secara periodik khususnya dalam masa on going formation, tidak saja hanya kepada para aspiran, postulan dan novis.

        2. Membuat program-program pembinaan yang tepat sejak masuk menjadi calon suster hingga jenjang yang paling atas secara berkesinambungan dan secara kontinue. Dalam hal ini misalnya ditahap awal dimulai dengan mengolah latar belakang hidup “background hidup” calon suster tersebut sehingga memampukan sicalon ditahap awal dengan mudah mengenal diri dan menerima diri dengan segala kelebihan dan kekurangan sehingga mulai menapaki panggilan dengan langkah pasti.

        3. Menanggapi kemajuan dan tuntutan zaman, para suster KYM hendaknya diberi kebebasan yang bertanggungjawab untuk menjadi media dan sarana kesaksian kelemahlembutan dalam masyarakat. Untuk maksudnya ini hendaknya diadakan kegiatan live-in bersama seluruh persaudaraan Vinsentian, agar mereka saling memperkaya keutamaan-keutamaan Injili ini sesuai dengan kehendak Santo Vincentius A Paulo sendiri.

        4. Pada masa juniorat diberi 2 kali kesempatan untuk mengadakan live in ditempat- tempat yang menantang (background yang keras), misalnya ditengah perkampungan masyarakat kumuh, dikota-kota besar yang menantang, dan tempat-tempat yang cocok untuk melatih diri menjadi sarana kelembutan hati.

        5. Kelemahlembutan hendaknya menjadi trade mark, karakter yang membedakan persaudaraan KYM dengan persaudaraan religius lainnya.

        DAFTAR PUSTAKA Adisusanto, F.X. (2000). Katekese sebagai Pendidikan Iman. (Seri Pusakat 372).

        Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat. _______. (2000). Katekese sebagai pelayanan Sabda. Seri Puskat 371. Yogyakarta: Kanisius.

        Binawiratma, JB. (1991). Iman, Pendidikan dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Kanisius. Budirahayu, Tuti. (2004). Sosiologi. Jakarta: Gramedia Pustaka Nusatama

        

      Catechesi Tradendae. (2006). Seri Dokumen Gereja No.28 (Departemen

      Dokumentasi Penerangan KWI Jakarta). Jakarta: SMT Mardi Yuana.

        Chaney, David. (1996). Lifestyles. Yogyakarta: Jalasutra. C Tang, Michael. (2004). Kebijaksanaan Cina Klasik. Jakarta: Gramedia Pustaka Nusatama.

        Congar, Y. (1973). Gereja hamba kaum miskin. Yogyakarta: Kanisius. De Armen, Nabij. (Tanpa tahun). Vinsent De Paul Butir-Butir Emas: Petuah-petuah De Paul Bapa Kaum Papa. (Verij, Edward, OFM. Cap., Penerjemah).

        Pematang Siantar. Seminari Menengah Delarue, Jacques. (1990). Cita-cita Misioner Keimanan. Surabaya: Dioma.

        De Mello, Anthony. (1998). Awarness. Jakarta: Gramedia Pustaka Nusatama.

        Dokumen Konsili Vatikan II. (1993).Departemen Dokumentasi dan Penerangan (Dept. Dokpen) KWI (terj. R. Hardowiryono, SJ), Jakarta: Obor.

        Groome, Thomas H. (1997). Shared Christian Praksis: Suatu Model Berkatekese (F.X. Heryatno Wono Wulung, Penyadur). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat. (Buku asli diterbitkan 1991).

        Harjawiyata, Frans. (1993). Arah Baru Hidup Religius. Yogyakarta: Kanisius. Huber, TH. (1981). Katekese Umat. Yogyakarta: Kanisius. Darminta, J. (1993). Mengubah Tanpa Kekerasan. Yogyakarta: Kanisius. _______. (1995). Hidup Religius Hidup Gerakan Roh. Yogyakarta: Kanisius

         

      Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici). (Januari, 1983). (Kartosiswoyo Pr,

        Koordinator Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen Asli diterbitkan November, 1983). Kongregasi KYM . (2003). Konstitusi Kongregasi Suster Kasih Yesus dan Maria

        Bunda Pertolongan Baik (KYM), Pematang Siantar. Aneka Guna

        _______. (2003). Statuta Kongregasi Suster kasih Yesus dan Maria Bunda

        Pertolongan Baik (KYM), Pematang Siantar. Aneka Guna

        _______. (2008) Pedoman Pembinaan Kongregasi Suster Kasih Yesus dan Maria

        Bunda Pertolongan yang Baik (KYM), Pematang Siantar. Aneka Guna

        _______. (2009). Directorium Kongregasi Suster Kasih Yesus dan Maria Bunda

        Pertolongan yang Baik (KYM), Pematang Siantar. Aneka Guna

        _______. (2008) Doa Harian Kongregasi Suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan yang Baik (KYM), Pematang Siantar. Aneka Guna

        KWI. (2002). Dokumen PPKI-VII: Katekese Umat Komunitas Basis Gereja, Jakarta: Komisi Kateketik KWI. Lalu,Yosef. (2005). Katekese Umat. Komisi kateketik KWI. Jakarta: Obor. LAI DAN LBI. (2007). ALKITAB, Jakarta: LAI dan LBI. Louf, Andre. Hidup Di Dalam Komunitas. (R. Hardjodirono, Penerjemah). Seri Gedono no 1: Surabaya. Mardi Prasetya, F. (1992). Psikologi Hidup Rohani Jilid 2, Yogyakarta: Kanisius. _______. (1992). Pembinaan Pertumbuhan Panggilan. Yogyakarta: Puspita. _______. (1993). Psikologi Hidup Rohani Jilid I, Yogyakarta: Kanisius. _______. (1993). Psikologi Tugas Pembinaan Demi Mutu Hidup Bakti Jilid 2, Yogyakarta: Kanisius. _______. (2001). Tugas Pembinaan Demi Mutu Hidup Bakti Jilid I, Yogyakarta: Kanisius. Martosudjita. E. (2001). Komunitas Transformatif, Jogyakarta : Kanisius. _______. (1999). Komunitas Peziarah. Yogyakarta: Kanisius. Panitia Spiritualitas KOPTARI. (2008). Membangun Komunitas Formatif.

        Jogyakarta: Kanisius.

          _______. (2008). Landasan Hidup Berkomunitas. Yogyakarta: Kanisius.

        _______. (2008). Membangun Komunitas Persaudaraan. Yogyakarta: Kanisius.

        

      Pedoman-pedoman pembinaan dalam lembaga-lembaga religius. (1992). Seri

      dokumen gerejawi no 16. Jakarta: SMT Grafika Mardi Yuana.

        Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia II. (1981). Rumus Katekese Umat yang Dihasilkan PKKI II. Dalam Th.Huber (Ed.). Katekese Umat: Hasil Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia II (hh.15-23).

        Yogyakarta: Kanisius. Ponticelli, S. (2002). Sahabat-sahabat Tuhan dan Orang miskin. Malang: Dioma. _______. (2003). Dalam Bimbingan Santo Vincentius I. Surabaya: Dioma. _______. (2003). Dalam Bimbingan Santo Vincentius II. Surabaya: Dioma. Prasetyo, E. (2009 Ev). Jalan Vinsensian. Surabaya: Yayasan Lazaris @yahoo.com. Prasetyo, L. (2007). Menjadi katekis siapa takut ?!. Yogyakarta: Kanisius. Prasetyo, Mardi. (1982). Ciri khas komunitas hidup Kristiani. Seri pastoral no 77.

        Yogyakarta: Puskat. _______. (1982). Sejarah singkat komunitas hidup kristiani. Yogyakarta: Puskat. Puspita. Petunjuk-petunjuk Praktis Bimbingan Ret-ret. Yogyakarta: Girisonta.

        

      Redemptoris Missio. (1992). Seri Dokumen Gereja, No. 14, Dept. Dokpen KWI,

      Jakarta: Obor.

        Roman. M. (1993). Santo Vincentius de Paul, Hidup Panggilan dan Spiritualitasnya.

        Malang: Dioma. Ruth KYM, Sr. M., Kardinus BHK, Fr M. (2010). Evangelizare Pauperibus Misit Me. Yogyakarta: Lintang Pustaka Grafika.

        Sad Budianto, Antonius. (2009). Ia membuat Segalanya Menjadi Baik. Malang: Lumen Christi.

        Serikat Kecil, Pustaka Spritualitas Vinsensian . vol. XVI No.1 Maret- Agustus 2012.

        _______. vol. XVI No.2 September 2002 - Februari 2003. _______. vol. XVIII No.1 Maret-Agustus 2004.

          Sudarmanto, YB. (1989). Agama dan Politik anti kekerasan. Yogyakarta: Kanisius.

        Suhardiyanto, H, J. (2007). Sejarah pendidikan Agama Katolik Indonesia. Diktat Mata Kuliah Semester IV, Fakultas Pendidikan Agama, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

        Sumarno Ds., M. (2009). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama

        Katolik Paroki. Diktat Mata Kuliah Semester 6, Fakultas Pendidikan Agama, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

        Stanislaus, Surip. (2001). Dari Sabat Ke Dominica. Bina Media. _______. (2008). Kata-kata Susah Bertuah. Yogyakarta: Kanisius. Suparyanto. Petrus. (2008). Bertolak dari Spritualitas Pendiri. Yogyakarta: Gunung Sopai.

        Tondowidjojo, John. (Penterjemah). (1990). Menyimak Keutamaan St. Vincentius.

        Surabaya: Yayasan Sanggar Bina Tama. _______. (1987). St. Vincentius de Paul Pengikut Pembawa Kabar Gembira Kepada Kaum Miskin. Surabaya: Yayasan Sanggar Bina Tama.

        _______. (1984). St. Vincentius de Paul terhadap orang miskin. Surabaya: Yayasan Sanggar Bina Tama. _______. (1987). ST. Vincentius de Paul. Surabaya: Yayasan Sanggar Bina Tama.

        Vita Consecrata. (2002). Seri Dokumen Gerejawi no 51. (R. Hardawirjana, Penerjemah). Jakarta: Obor. ( Dokumentasi dan Penerangan KWI).

        Vianney. (2011). Bahan Retret Pembaharuan Kaul Para Suster Junior. Jogyakarta: Mei.

        Ada sesuatu yang berbeda dalam senyumannya, pandangan matanya dan keanggunan alaminya yang tak luntur oleh Ada sesuatu yang berbeda dalam senyumannya, pandangan matanya dan keanggunan alaminya yang tak luntur oleh Berikut ini adalah kutipan dari Audrey Hepburn ketika ia diminta menceritakan rahasia kecantikannya. Berikut ini adalah kutipan dari Audrey Hepburn ketika ia diminta menceritakan rahasia kecantikannya. a u u o e waktu. a u u o e waktu.

        Untuk bibir yang indah, Untuk bibir yang indah, y g , ucapkanlah hanya perkataan yang baik. y g , ucapkanlah hanya perkataan yang baik.

        Untuk mata yang indah, biasakan hanya melihat Untuk mata yang indah, biasakan hanya melihat hanya melihat kebaikan dalam diri orang lain. hanya melihat kebaikan dalam diri orang lain.

        Untuk tubuh yang langsing, selalu mau Untuk tubuh yang langsing, selalu mau selalu mau berbagi makanan dengan yang kelaparan. selalu mau berbagi makanan dengan yang kelaparan.

        Untuk memiliki rambut yang indah, ijinkanlah anak anak Untuk memiliki rambut yang indah, ijinkanlah anak anak anak-anak anda menyentuh rambut anda sedikitnya sekali sehari. anak-anak anda menyentuh rambut anda sedikitnya sekali sehari.

        Untuk ketenangan, berjalanlah dengan keyakinan Untuk ketenangan, berjalanlah dengan keyakinan y bahwa anda tak pernah sendiri. y bahwa anda tak pernah sendiri. Orang, melebihi barang, harus disayangi, diperbaharui, disegarkan, diteguhkan, Orang, melebihi barang, harus disayangi, diperbaharui, disegarkan, diteguhkan, g dibela, diselamatkan… jangan pernah membuang seorangpun. g dibela, diselamatkan… jangan pernah membuang seorangpun.

        Ingatlah, setiap kali anda memerlukan pertolongan, itu sudah tersedia di ujung tangan anda. Dengan bertambahnya Ingatlah, setiap kali anda memerlukan pertolongan, itu sudah tersedia di ujung tangan anda.

        Dengan bertambahnya Dengan bertambahnya usia, ingatlah bahwa anda memiliki tangan kedua: Yang pertama untuk menolong diri sendiri dan yang kedua untuk menolong sesama. Dengan bertambahnya usia, ingatlah bahwa anda memiliki tangan kedua: Yang pertama untuk menolong diri sendiri dan yang kedua untuk menolong sesama.

        “Nasihat kuno masih berlaku – orang lain perlu didahulukan dan baru kemudian diri sendiri … Inilah etika yang mendidik dan b k “Nasihat kuno masih berlaku – orang lain perlu didahulukan dan baru kemudian diri sendiri … Inilah etika yang mendidik dan b k membesarkan saya. Orang lain lebih penting dari pada diri sendiri, jadi jangan rewel / menggerutu, tapi majulah terus.” membesarkan saya. Orang lain lebih penting dari pada diri sendiri, jadi jangan rewel / menggerutu, tapi majulah terus.” Kecantikan sejati seorang wanita bukan terletak pada penampilannya, cara berpakaiannya, kualitas baju yang dipakainya atau Kecantikan sejati seorang wanita bukan terletak pada penampilannya, cara berpakaiannya, kualitas baju yang dipakainya atau dipakainya, atau caranya menata rambut. Kecantikan wanita terlihat dimatanya, karena itulah jendela jiwa dimana kasih berada. dipakainya, atau caranya menata rambut. Kecantikan wanita terlihat dimatanya, karena itulah jendela jiwa dimana kasih berada.

        Kecantikan sejati seorang wanita bertambah Kecantikan sejati seorang wanita bertambah bertambah seiring bertambahnya usia. bertambah seiring bertambahnya usia.

        Kecantikan seorang wanita bukan pada penampakan luarnya. Kecantikan seorang wanita bukan pada penampakan luarnya.

        Kecantikan sejati seorang wanita dipantulkan jiwanya. Dalam kebaikan hati, kepedulian dan kasih sayang yang dinyatakan pada sekitarnya Kecantikan sejati seorang wanita dipantulkan jiwanya. Dalam kebaikan hati, kepedulian dan kasih sayang yang dinyatakan pada sekitarnya

        DOA untuk HARI INI! DOA untuk HARI INI! ANDA seorang yang UNIK ANDA seorang yang UNIK

        “Tuhan Yesus, Kau dapat menjadikanku sempurna menurut “Tuhan Yesus, Kau dapat menjadikanku sempurna menurut “Tuhan Yesus, Kau dapat menjadikanku sempurna menurut “Tuhan Yesus, Kau dapat menjadikanku sempurna menurut standarku atau orang lain. Tapi kau tidak melakukannya. standarku atau orang lain. Tapi kau tidak melakukannya. standarku atau orang lain. Tapi kau tidak melakukannya. standarku atau orang lain. Tapi kau tidak melakukannya. Melainkan kau menjadikanku menurut cara--Mu Melainkan kau menjadikanku menurut cara Melainkan kau menjadikanku menurut cara--Mu Melainkan kau menjadikanku menurut cara Mu – Mu – – sempurna – sempurna sempurna sempurna menurut standar menurut standar--Mu. Meragukan hal ini artinya meragukan menurut standar menurut standar--Mu. Meragukan hal ini artinya meragukan Mu. Meragukan hal ini artinya meragukan Mu. Meragukan hal ini artinya meragukan

        Allah mengasihi anda sebagaimana Allah mengasihi anda sebagaimana kasih kasih--Mu. Tapi menyadari hal ini membuat kami menemukan kasih--Mu. Tapi menyadari hal ini membuat kami menemukan kasih Mu. Tapi menyadari hal ini membuat kami menemukan Mu. Tapi menyadari hal ini membuat kami menemukan dijadikan-Nya, dan anda indah, cantik di dijadikan-Nya, dan anda indah, cantik di j j y , y , , , damai, rasa aman dan kasih yang sempurna dalam kasih damai, rasa aman dan kasih yang sempurna dalam kasih damai, rasa aman dan kasih yang sempurna dalam kasih-- damai, rasa aman dan kasih yang sempurna dalam kasih damai, rasa aman dan kasih yang sempurna dalam kasih damai, rasa aman dan kasih yang sempurna dalam kasih damai, rasa aman dan kasih yang sempurna dalam kasih damai, rasa aman dan kasih yang sempurna dalam kasih-- Mu. Terimalah aku saat ini, sebagaimana adanya ke dalam Mu. Terimalah aku saat ini, sebagaimana adanya ke dalam Mu. Terimalah aku saat ini, sebagaimana adanya ke dalam Mu. Terimalah aku saat ini, sebagaimana adanya ke dalam pemandangan-Nya. pemandangan-Nya. hati hati--Mu yang terdalam. Amin” hati--Mu yang terdalam. Amin” hati Mu yang terdalam. Amin” Mu yang terdalam. Amin” Kita semua adalah unik dan spesial. Kita semua adalah unik dan spesial.

        Di pemandang Allah tak ada yang Di pemandang Allah tak ada yang jelek, bagaimanapun wujud kita… jelek, bagaimanapun wujud kita… Silahkan bagikan berita ini kepada teman anda! Silahkan bagikan berita ini kepada teman anda! Untuk berita PowerPoint lainnya, klik di alamat ini: Tommy’s Window

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

BURUNG NURI YANG BAIK HATI
0
20
2
MEMAHAMI MAKNA SEDEKAH YANG BAIK
0
3
3
KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PENEMBANGAN GEDUNG MEDIK RUMAH SAKIT KATHOLIK SANTO VINCENTIUS A PAULO (RKZ) DI SURABAYA DENGAN PENERAPAN ARSITEKTUR KONSEPTUAL.
0
0
24
TINJAUAN KUANTITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI RSK ST. VINCENTIUS A PAULO SURABAYA DAN RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PNEUMONIA NOSOKOMIAL YANG MENJALANI RAWAT INAP DI RSK ST. VINCENTIUS A PAULO SURABAYA PADA TAHUN 2006 - Ubaya Repository
0
0
106
MEMBANGKITKAN HATI YANG BAIK
0
0
92
SUMBANGAN SPIRITUALITAS SANTO VINSENSIUS A PAULO BAGI PELAYANAN KATEKIS DI PAROKI TAMIANG LAYANG
0
0
25
PENGEMBANGAN SUSTER MEDIOR PUTERI BUNDA HATI KUDUS DAERAH MALUKU DALAM BIDANG KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIF SKRIPSI
0
1
312
KEPEMIMPINAN KEGEMBALAAN YESUS DALAM INJIL YOHANES 10:11-15 SEBAGAI MODEL KEPEMIMPINAN PARA FRATER KONGREGASI FRATER BUNDA HATI KUDUS DI INDONESIA DALAM KEHIDUPAN DI ZAMAN SEKARANG
0
2
206
MAKNA PENGOLAHAN HIDUP BAGI PERKEMBANGAN SUSTER YUNIOR SELAMA MASA PEMBINAAN DALAM TAREKAT KASIH YESUS DAN MARIA BUNDA PERTOLONGAN YANG BAIK ( KYM )
0
0
146
SPIRITUALITAS PERSAUDARAAN BERBELASKASIH SEBAGAI DASAR KEPEMIMPINAN DALAM KARYA DAN PERUTUSAN PARA PEMIMPIN KONGREGASI FRATER SANTA PERAWAN MARIA BUNDA YANG BERBELASKASIH SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidika
0
0
140
UNDANGAN GEREJA UNTUK MEMBANGUN HIDUP BERKOMUNITAS DAN JAWABAN BERDASARKAN BAGI PARA SUSTER URSULIN
0
0
165
DISCERNMENT DALAM PENYELESAIAN KONFLIK PADA TIGA SUSTER SANTA PERAWAN MARIA DALAM HIDUP MEMBIARA
0
1
138
KARYA PELAYANAN PARA SUSTER CINTA KASIH DARI MARIA BUNDA YANG BERBELAS KASIH DI PANTI LANSIA SANTA ANNA, TELUK GONG, JAKARTA BERDASARKAN SPIRITUALITAS PENDIRI
0
0
181
PENGOLAHAN KEDEWASAAN BERKOMUNIKASI SEBAGAI SARANA HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS SKRIPSI
0
1
160
KETAATAN IMAN MARIA BAGI SUSTER-SUSTER SANTA BUNDA MARIA DI PROVINSI INDONESIA SKRIPSI
0
1
144
Show more