Tindak tutur ilokusi dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan - USD Repository

Gratis

0
0
122
5 months ago
Preview
Full text

  

TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM NOVEL KEMAMANG

KARYA KOEN SETYAWAN

SKRIPSI

Disusun untuk Memperoleh Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

Disusun oleh :

Martinus Eka Noviawan Saputro

  

061224064

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2013

   

  

TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM NOVEL KEMAMANG

KARYA KOEN SETYAWAN

SKRIPSI

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

Disusun oleh :

  

Martinus Eka Noviawan Saputro

061224064

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

  

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013 

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Skripsi ini saya persembahkan kepada: Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan kasih yang melimpah, menuntun dan  memberkati  perjalanan hidup saya hingga saat ini. 

    Kedua orang tua saya, Sergius Hari Patmono (Alm.) dan Dominica Suwartini  yang selalu setia mendukung, membimbing, dan memberi nasihat yang  bermanfaat bagi hidup saya. 

    Adik‐adik saya, Ricardus Alga Admaja dan Julius Toni Admaja yang selalu  menghibur dan membawa kegembiraan.  

    Kekasih saya, Lidwina Maria Dianing Tri yang selalu setia menemani, selalu  memberi semangat dan mendukung langkah‐langkah saya.     

    Teman‐teman Kuliah yang memberi dukungan dan semangat.  

  • ***

HALAMAN MOTTO

  

“Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan, jangan pula

lihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah sekitar anda

dengan penuh kesadaran”

(James Thurber)

  

“Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah

gagal,

tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh”

(Confusius)

  

ABSTRAK

  Saputro, Martinus Eka Noviawan. 2013. Tindak Tutur Ilokusi dalam Novel Kemamang Karya Koen Setyawan. Skripsi. Yogyakarta: PBSID. FKIP.

  JPBS. Universitas Sanata Dharma. Penelitian ini berusaha menemukan jawaban terhadap dua masalah, yakni

  (a) wujud tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan, dan (b) maksud ilokusi yang terdapat dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan.

  Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif. Karena penelitian ini mendeskripsikan data yang berupa kata-kata. Pengumpulan data pada penelitian ini dengan teknik baca dan catat. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah: (1) menangkap dan mengidentifikasi maksud tindak ilokusi novel dengan membaca tuturan, (2) data dikelompokan ke dalam wujud dan maksud tindak tutur ilokusi, dan (3) menguraikan data dengan cara menuliskannya.

  Berdasarkan analisis data, penelitian ini menemukan lima wujud ilokusi dan maksud tindak tutur ilokusi, wujud tindak tutur ilokusi, yakni; (1) asertif yang berupa menyatakan, menyarankan, membual, mengeluh, dan mengklaim, (2), direktif yang berupa perintah, dan nasehat, (3) ekspresif yang berupa meminta maaf, menyalahkan, memuji, dan berbelasungkawa, (4) komisif yang berupa berjanji, bersumpah, dan menawarkan sesuatu, dan (5) deklarasi yang berupa berpasrah. Maksud tindak tutur ilokusi meliputi, maksud ilokusi asertif antara lain; (1) mengabaikan, (2) mengajak, (3) memberikan, (4) memberitahu, (5) menakut- nakuti, dan (6) menyuruh. Maksud ilokusi direktif, antara lain; (1) mengajak, (2) menolong, dan (3) menyuruh. Maksud ilokusi ekspresif, antara lain; (1) menyetujui, (2) menyuruh, (3) mengingatkan, (4) mengabaikan, (5) memperhatikan, (6) tidak bisa melakukan, (7) merasa heran, dan (8) menyadari. Maksud ilokusi komisif, antara lain; (1) tergesa-gesa, (2) mengabaikan, (3) mengerjakan, (4) menakut-nakuti, (5) mengajak, (6) mempengaruhi, (7) merasa takut, (8) meyakinkan, (9) menghargai dan (10) berharap. Maksud ilokusi deklarasi, antara lain; (1) meminta pertolongan, (2) memberi nasehat, (3) memberitahu,(4) tidak percaya, dan (5) mengajak.

  

ABSTRACT

  Saputro, Martinus Eka Noviawan. 2013. Said Illocutionary Acts in the Novel Kemamang Author by Koen Setyawan. Thesis. Yogyakarta PBSID.

  FKIP. JPBS. Sanata Dharma University. This research tried to find answers in two problems, that are (a) Form of illocutionary speech acts contained in the work of Koen Setiawan Kemamang novel, and (b) Illocutionary intent contained in Kemamang novel Koen Setiawan works.

  This research is qualitative research. Because this research describe the data in the form of words. Collecting data in this research did by reading and note technique. Analysis of the data in the research conducted by step: (1) capture and identify the purpose of the follow-illocution novel by reading the speech, (2) The data are grouped into the form and purpose of illocutionary speech acts, and (3) outlines the data by writing it down.

  Based on the data analysis, this research found the five form illocutionary intent and speech act, a form of illocutionary speech acts, that are: (1) assertive in the form of states, suggesting, boasting, complaining, and claims, (2) directive in the form of orders and advice, (3) expressive form of apology, blaming, praising, and condolence, (4) komisif the form of promise, swear, and offer something, and (5)declaration in the form of surrender. Illocutionary speech act intent includes, among other assertive illocutionary intent of ; (1) neglect, (2) invite, (3) give, (4) tell, (5) make scare, and (6) order to do. Directive illocutionary intention, among others: (1) invite, (2) help, and (3) order to do. Expressive illocutionary intention, among others: (1) approve, (2) order to do, (3) warn, (4) ignore, (5) attention, (6) can not do, (7) feel surprise, and (8) realize. Commissive illocutionary intention, among others: (1) haste, (2) ignore, (3) work, (4) make scare, (5) invite, (6) affect, (7) feel afraid, (8) convince, (9) appreciate, and (10) hope. Illocutionary intention declarations, among others: (1) ask for help, (2) give advice, (3) tell, (4) do not believe, and (5) invite.

   

KATA PENGANTAR

  Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia yang melimpah. Karena atas berkat dan karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Esa, penulis diijinkan menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh Universitas Sanata Dharma untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan.

  Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini dapat terselesaikan berkat dukungan, bantuan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  2. Dr. Yuliana Setiyaningsih selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  3. Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing, mengarahkan, memberi dukungan dan semangat, memberikan saran dengan teliti dan sabar.

  4. Drs. J. Prapta Diharja, S.J., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing, mengarahkan, memberikan semangat, dan bantuan.

  5. Seluruh dosen Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah yang telah memberikan ilmu sehingga dapat menyelesaikan studi.

  6. Robertus Mursidiq, selaku Karyawan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah yang bersedia melayani kepentingan administrasi.

  7. Kedua Orang Tuaku, Sergius Hari Patmono (Alm.) dan Dominica Suwartini terima kasih atas cinta kasih, doa, dukungan, dan bimbingan yang luar biasa.

  DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................ ii

HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................. iv

HALAMAN MOTTO .................................................................................. v

HALAMAN KEASLIAN KARYA ............................................................ vi

HALAMAN LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI .......................... vii

ABSTRAK .................................................................................................... viii

ABSTRACT ................................................................................................... ix

KATA PENGANTAR ................................................................................. x

DAFTAR ISI ................................................................................................ xi

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………….. 1

1.1 Latar Belakang Masalah ....................................................................

  1 1.2 Rumusan Masalah .............................................................................

  3 1.3 Tujuan Penelitian ...............................................................................

  3 1.4 Manfaat Penelitian .............................................................................

  4 1.5 Batasan Istilah ...................................................................................

  4 1.6 Sistematika Penyajian ........................................................................

  6 BAB II LANDASAN TEORI ......................................................................

  7 2.1 Penelitian yang Relevan ...................................................................

  7 2.2 Kajian Teori .....................................................................................

  9 2.2.1 Pengertian Pragmatik ............................................................

  9

  2.2.2 Tindak Tutur .......................................................................... 11 2.2.3 Tindak Tutur Ilokusi .............................................................

  15 2.2.4 Klasifikasi Tindak Tutur Ilokusi ..........................................

  16 2.2.5 Kerangka Berpikir ................................................................

  20

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN. ................................................

  21 3.1 Jenis Penelitian .................................................................................

  21 3.2 Sumber Data .....................................................................................

  21 3.3 Teknik Pengumpulan Data ...............................................................

  22 3.4 Teknik Analisis Data ........................................................................

  22 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.........................

  25 4.1 Deskripsi Data ..................................................................................

  25 4.2 Analisis Data ....................................................................................

  29 4.2.1 Wujud Tindak Tutur Ilokusi dalam Novel Kemamang ...........

  30 4.2.2 Maksud Tindak Tutur Ilokusi dalam Novel Kemamang .........

  31 4.2.2.1 Tindak Ilokusi Asertif ....................................................

  31 4.2.2.2 Tindak Ilokusi Direktif ...................................................

  38 4.2.2.3 Tindak Ilokusi Ekspresif ................................................

  43 4.2.2.4 Tindak Ilokusi Komisif ..................................................

  49 4.2.2.5 Tindak Ilokusi Deklarasi ................................................

  54

  4.3 Hubungan Novel Kemamang dengan Tindak Tutur Ilokusi………

  58 BAB V PENUTUP………………………………………………………. .

  61 5.1 Kesimpulan .......................................................................................

  61 5.2 Saran .................................................................................................

  62 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

  63 LAMPIRAN .................................................................................................

  65

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup di lingkungan masyarakat.

  Di dalam kehidupan bermasyarakat, berkomunikasi merupakan kegiatan menyampaikan maksud yang dikehendaki penutur agar dapat ditangkap oleh mitra tutur. Dalam berkomunikasi mitra tutur berusaha memahami maksud yang diujarkan oleh penutur. Wijana (1996: 18) menyatakan bahwa sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu, dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu.

  Selain itu Austin melalui Ibrahim (1993: 106) menjelaskan bahwa sebagian ujaran bukanlah pernyataan atau pertanyaan tentang informasi tertentu, tetapi ujaran itu merupakan tindakan. Pranowo (2009: 14) menyatakan ada tiga hal penting ketika penutur berinteraksi dengan mitra tutur. Pertama, mitra tutur diharapkan dapat memahami maksud yang disampaikan oleh penutur. Kedua, setelah mitra tutur memahami maksud penutur, mitra tutur akan mencari aspek tuturan yang lain. Ketiga, tuturan penutur juga kadang-kadang disimak oleh orang lain yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan penutur maupun mitra tutur.

  Terkait dengan aspek tutur penutur dan lawan tutur ditegaskan bahwa lawan tutur adalah orang yang menjadi sasaran tuturan dari penutur, tujuan tuturan adalah maksud penutur mengucapkan sesuatu atau makna yang dimaksud penutur dengan mengucapkan sesuatu (Nadar, 2009: 7). Jadi penutur melakukan tuturan yang mengandung maksud tertentu, sehingga mitra tutur memberikan efek terhadap maksud yang dituturkan oleh penutur.

  Suatu bentuk tuturan yang terdapat dalam novel dapat menimbulkan efek terhadap mitra tutur. Mitra tutur akan melakukan sesuatu tindakan berdasarkan apa yang telah dituturkan oleh penutur. Dalam konteks tuturan langsung efek yang ditimbulkan berupa tindakan oleh mitra tutur. Namun dalam novel, efek yang ditimbulkan dari tuturan tersebut berupa tuturan tertulis. Selain menimbulkan efek terhadap mitra tutur, mitra tutur juga harus memperhatikan efek ilokusi yang dikehendaki (Ibrahim, 1993: 11). Oleh karena itu, maksud ilokusi dapat dipenuhi apabila mitra tutur mengetahui sikap yang diekspresikan oleh penutur. Jika mitra tutur tidak memahami sikap yang diekspresikan oleh penutur maka maksud ilokusi tidak dapat dipenuhi.

  Novel adalah suatu karya sastra yang digemari di kalangan remaja. Bahkan novel tidak hanya sebagai suatu karya sastra tulis tetapi dalam perkembangannya, novel diangkat menjadi topik dalam film. Di dalam novel, tuturan yang diucapkan oleh tokoh dapat berupa pernyataan, perintah, larangan, ajakan. Tuturan yang yang dilakukan oleh tokoh yang terdapat dalam novel memiliki tipe tindak ilokusi. Searle melalui Ibrahim (1993: 15) menjelaskan tipe tindak ilokusi yang terdiri atas representatif (representatives), direktif (directives), komisif (komisives), dan ekspresif (ekspresives). Demikian juga pada karangan fiksi berupa novel, terdapat tipe tindak ilokusi yang dituturkan oleh tokoh dalam novel.

  Novel menceritakan kisah yang mempresentasikan suatu situasi yang dianggap mencerminkan kehidupan nyata atau untuk merangsang imajinasi (Danesi, 2010: 75). Novel mengandung imajinasi, kejadian atau peristiwa dalam novel seolah-olah adalah suatu kisah nyata yang terjadi. Tuturan yang terdapat dalam novel mengandung tindak tutur ilokusi mendorong peneliti untuk menggali tindak tutur ilokusi dalam novel. Dipilihnya novel Kemamang karya Koen Setyawan karena penelitian mengenai tindak tutur ilokusi dalam novel belum banyak diteliti. Novel Kemamang merupakan karya sastra, yang di dalamnya terdapat tindak tutur ilokusi. Tuturan dalam novel mengandung tindak tutur ilokusi yang dituturkan oleh tokoh-tokoh.

  1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang, peneliti ingin mengupas tindak tutur ilokusi yang terdapat pada novel Kemamang karya Koen Setyawan. Peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

  1. Wujud tindak tutur ilokusi apa sajakah yang muncul dalam novel

  Kemamang karya Koen Setyawan?

  2. Maksud ilokusi apa sajakah yang dituturkan oleh tokoh dalam novel

  Kemamang karya Koen Setyawan?

  1.3 Tujuan Penelitian

  Berdasarkan rumusan masalah di depan tadi, tujuan penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

  1) Mendeskripsikan wujud tindak tutur ilokusi dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan.

  2) Mendeskripsikan maksud ilokusi yang dituturkan oleh tokoh dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan.

  1.4 Manfaat Penelitian

  Manfaat penelitian dapat digolongkan menjadi dua, yaitu manfaat praktis dan manfaat teoretis. Manfaat penelitian tersebut dinyatakan sebagai berikut:

  1. Manfaat praktis

  a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang tindak tutur, sehingga pembaca mampu mengidentifikasi wujud tindak tutur ilokusi saat berkomunikasi.

  b. Penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan tentang tindak tutur dalam karya sastra.

  2. Manfaat teoretis Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat dalam perkembangan ilmu bahasa khususnya tentang tindak tutur.

  1.5 Batasan Istilah

  1. Pragmatik Pengertian pragmatik (semantik behavioral) yaitu ilmu yang menelaah keseluruhan perilaku insan, terutama sekali dalam hubunganya dengan tanda-tanda dan lambang-lambang. Pragmatik memusatkan perhatian pada cara insan berperilaku dalam situasi keseluruhan pemberian tanda dan penerimaan tanda (George melalui Rahardi, 2003: 13).

  2. Novel Panuti Sudjiman melalui Purba (2010: 63) menjelaskan bahwa novel adalah prosa rekaan yang panjang yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun.

  3. Tindak Tutur Purwo (1990: 16) menjelaskan bahwa tuturan merupakan ujaran kalimat pada konteks yang sesungguhnya.

  4. Tindak Tutur Lokusi Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur ini disebut sebagai The Act of Saying Something (Wijana, 1996: 17).

  5. Tindak Tutur Ilokusi Sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu dapat juga digunakan untuk melakukan sesuatu (Wijana, 1996: 18). Jadi, tindak tutur ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu.

  6. Tindak Tutur Perlokusi Sebuah tuturan yang dituturkan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh atau efek bagi yang mendengarnya. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya (Wijana, 1996: 19). Jadi, tindak tutur perlokusi adalah tindak mempengaruhi seseorang atau orang lain.

1.6 Sistematika Penyajian

  Penelitian ini meliputi lima bab. Bab I berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah, dan sistematika penyajian. Bab II berisi penelitian yang relevan dan kajian teori. Bab

  III berisi jenis penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data. Bab IV berisi deskripsi data, analisis data, dan pembahasan. Bab V berisi kesimpulan dan saran.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Penelitian Yang Relevan

  Berikut ini penelitian terdahulu yang dapat menunjukan bahwa penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang sekarang ini masih relevan untuk dilaksanakan.

  1. Penelitian Sarwoyo (2009) Penelitian Sarwoyo yang berjudul Tindak Ilokusi dan Penanda Tingkat

  

Kesantunan di dalam Surat Kabar berusaha menemukan jawaban atas dua

  pertanyaan atau masalah utama yakni; (a) jenis tindak ilokusi apa saja yang tedapat dalam tuturan di surat kabar, dan (b) penanda apa saja yang terdapat dalam tuturan di surat kabar yang menunjukan tingkat kesantunan tuturan atau ujaran tersebut. Yang dijadikan data dalam penelitian ini adalah tuturan yang terdapat di dalam surat kabar, dengan sumber datanya berupa tuturan-tuturan yang ada di dalam lima surat kabar yaitu: Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Republika,

  Kompas, dan Suara Merdeka, dengan jangka waktu Maret-Mei 2008.

  Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simak dan teknik catat sebagai teknik dasarnya dan simak bebas libat cakap serta teknik catat sebagai teknik lanjutan.

  Hasil dari penelitian ini adalah (a) ditemukan empat jenis tindak ilokusi yang muncul dalam tuturan surat kabar. Keempat jenis tindak tutur tersebut adalah tindak ilokusi direktif, komisif, representatif, dan ekspresif. (b) ditemukan enam jenis penanda tingkat kesantunan tuturan di dalam surat kabar yakni; analogi, diksi atau pilihan kata, gaya bahasa, penggunaan keterangan atau kata modalitas, penyebutan subyek yang menjadi tujuan tuturan dan bentuk tuturan.

  2. Penelitian Pratiwi (2011) Penelitian Pratiwi yang berjudul Tindak Tutur Ilokusi dalam Wacana

  

Novel Grafis Eendaagsche Exprestreinen pengarang Risdianto dan Yusi Avianto

  Pareanom berusaha menemukan jawaban atas dua persoalan yaitu: (a) jenis tindak tutur apa saja yang terdapat dalam novel Eendaagsche Exprestrinen pengarang Risdianto dan Yusi Avianto Pareanom, dan (b) fungsi tindak tutur apa saja yang digunakan dalam novel Eendaagsche Exprestreinen pengarang Risdianto dan Yusi Avianto Pareanom.

  Jika dilihat dari metode yang digunakan, penelitian ini dapat digolongkan penelitian deskriptif dokumentasi. Karena meneliti berupa dokumen novel grafis.

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah baca dan catat. Teknik baca meliputi membaca dan mengamati wacana yang akan dijadikan sebagai objek kajian, yang diamati adalah tuturan tokoh-tokoh yang terdapat dalam wacana. Adapun teknik catat dengan mencatat hal-hal yang diduga mengandung tindak tutur ilokusi dan kemudian klasifikasi atau pengelompokan.

  Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan lima jenis tindak tutur ilokusi yang muncul dalam tuturan novel grafis, yaitu tindak ilokusi representatif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklarasi. Kemudian ditemukan pula empat fungsi tindak tutur ilokusi yaitu kopetitif, menyenangkan, bekerja sama dan bertentangan.

  Penelitian terdahulu memiliki persamaan dengan penelitian ini. Persamaanya adalah meneliti tindak tutur ilokusi, penelitian yang dilakukan oleh Sarwoyo menemukan empat jenis tindak tutur ilokusi. Penelitian ini meneliti wujud ilokusi yang terdiri dari lima wujud ilokusi. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Pratiwi meneliti tentang tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam novel Eendaagsche Exprestreinen pengarang Risdianto dan Yusi Avianto Pareanom. Penelitian ini meneliti tentang tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha melengkapi penelitian terdahulu dengan metode penelitian yang berbeda.

2.2 Kajian Teori

2.2.1 Pengertian Pragmatik

  Pengertian tentang pragmatik didefinisikan oleh beberapa tokoh-tokoh pragmatik. Di dalam buku Rahardi (2003), Berkenalan Dengan Ilmu Bahasa

  

Pragmatik dijelaskan tentang pengertian pragmatik. Yule dalam bukunya yang

  berjudul Pragmatik (1996) juga dijelaskan definisi tentang pragmatik. Menurut Yule (1996: 3) pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur atau penulis dan ditafsirkan oleh pendengar atau pembaca.

  Heatherington melalui Rahardi (2003: 12) menjelaskan bahwa pragmatik menelaah ucapan-ucapan khusus dalam situasi-situasi khusus dan terutama sekali memusatkan perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka konteks sosial performansi bahasa dapat mempengaruhi tafsiran atau interpretasi. Pragmatik menelaah bukan saja pengaruh-pengaruh fonem suprasegmental, dialek, register, tetapi justru memandang performansi ujaran pertama-tama sebagai suatu kegiatan sosial yang ditata oleh aneka ragam konvensi sosial. Para teoritikus pragmatik telah mengidentifikasi adanya tiga jenis prinsip kegiatan ujaran yaitu kekuatan ilokosi (illocutionary force), prinsip-prinsip percakapan (conversational principles), dan presuposisi (presupositions).

  Morris melalui Rahardi (2003: 13) mendefinisikan bahwa ilmu bahasa pragmatik sebenarnya adalah bidang bahasa yang mempelajari relasi antara lambang-lambang bahasa dengan para penafsirnya. Pragmatik menurut Morris adalah suatu ilmu bahasa yang mempelajari relasi antara lambang-lambang bahasa dengan penafsirnya. Hal ini ditentukan oleh penafsirnya. Seorang mitra tutur jika menafsirkan lambang bunyi bahasa berupa tuturan yang dituturkan oleh penutur.

  Berbeda bila penafsirnya seorang pembaca yang membaca sebuah bacaan yang mengandung lambang bunyi bahasa.

  Berbeda dengan pengertian Morris, Pragmatik Levinson melalui Rahardi (2003: 12) adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar catatan atau laporan pemahaman bahasa, dengan kata lain, telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat. Jadi, Levinson menjelaskan bahwa pragmatik ditentukan oleh pengguna bahasa itu sendiri. Konteks bahasa ditentukan oleh pemakai bahasa itu sebagai dasar atau laporan tentang pemahaman bahasa.

  Pengertian pragmatik menurut Dowty melalui Rahardi (2003: 13) adalah telaah mengenai kegiatan ujaran langsung dan tak langsung, presuposisi, implikatur, konvensional. Pengertian yang dijelaskan oleh Dowty hampir memiliki kesamaan dengan pengertian pragmatik yang dijelaskan oleh Levinson.

  Persamaan tersebut dapat dilihat dari cara menafsirkan sesuai dengan telaah penyampaian lambang-lambang bahasa.

  Rahardi (2005: 49) menjelaskan bahwa pragmatik adalah ilmu bahasa yang mempelajari kondisi penggunaan bahasa manusia yang pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks yang mewadahi dan melatarbelakangi bahasa itu. Selain itu Yule juga menjelaskan pengertian pragmatik.

  Yule (1996: 3) menjelaskan bahwa pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur atau penulis dan ditafsirkan oleh pendengar atau pembaca. Pragmatik lebih banyak berhubungan dengan analisisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tururannya. Jadi, pragmatik merupakan kegiatan menuturkan ujaran atau ungkapan yang mempelajari lambang-lambang bahasa. Pragmatik menyerasikan kalimat dan konteks tuturan. Tuturan yang dilakukan oleh penutur atau penulis yang akan ditafsirkan pendengar atau pembaca.

2.2.2 Tindak Tutur

  Di dalam Ibrahim (1996: 109) tindak tutur didefinisikan menurut fungsi psikologis dan sosial di luar wacana yang terjadi. Tindak tutur itu mencakup;

  1. Ekspresi situasi psikologis, misalnya; berterima kasih, permohonan maaf.

  2. Tindak sosial seperti mempengaruhi perilaku orang lain, misalnya; mengingatkan, memerintah.

  3. Membuat kontrak, misalnya, berjanji, menamai Austin melalui Cummings (2011: 9) menjelaskan bahwa tindak lokusi melakukan berbagai tindak ilokusi seperti memberitahu, memerintah, mengingatkan, melaksanakan, yakni ujaran-ujaran yang memiliki daya konvensional tertentu. Bagi Austin, tujuan penutur dalam bertutur bukan hanya untuk memproduksi kalimat-kalimat yang memiliki pengertian dan acuan tertentu. Misalnya, dalam berujar:

  ‘‘Anjing galak itu ada di kebun’’ Penutur bisa sedang melakukan tindak ilokusi dalam bentuk memperingatkan seseorang agar tidak masuk ke dalam kebun. Dalam hal ini, peringatan merupakan daya ilokusi ujaran itu. Akhirnya mitra tutur melakukan beberapa tindak perlokusi: apa yang dihasilkan atau dicapai dengan mengatakan sesuatu, seperti meyakinkan, membujuk, menghalangi. Jika dengan mengujarkan ‘‘Anjing galak itu ada di kebun’’ penutur berhasil menghalangi mitra tutur untuk masuk ke dalam kebun. Maka melalui ujaran ini penutur ini telah melakukan suatu tindak perlokusi.

  Austin melalui Chaer (2004: 53) menjelaskan bahwa tindak tutur atau tindak ujaran (speech act) mempunyai kedudukan dalam pragmatik. Uraian berikut memaparkan klasifikasi dari berbagai jenis tindak tutur. Ada tiga jenis tindak tutur, yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi.

  Tindak tutur lokusi (locutionary act) adalah tindak tutur yang digunakan untuk menyatakan sesuatu dalam arti berkata. Tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami. Misalnya “Ibu guru berkata kepada saya agar saya membantunya.”

  Tindak tutur ilokusi (illocutionary act) adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit. Tindak tutur ilokusi ini biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan dan menjanjikan. Misalnya “Ibu guru menyuruh agar saya segera berangkat. Tindak tutur ilokusi hanya berkaitan dengan makna, maka makna tindak tutur ilokusi berkaitan dengan nilai yang dibawakan oleh preposisinya.

  Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang berkenaan dengan adanya ucapan orang lain sehubungan dengan sikap dan perilaku nonlinguistik dari orang lain itu. Misalnya ucapan dokter kepada pasienya “Mungkin Ibu menderita sakit jantung koroner.” Ucapan dokter kepada pasiennya menimbulkan si Ibu tersebut menjadi panik dan sedih. Maka ucapan dokter tersebut adalah tindak tutur perlokusi.

  Pranowo (2009: 34) menjelaskan bahwa tindak tutur dibagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Tindak lokusi Ujaran yang dihasilkan oleh seorang penutur.

  2. Tindak ilokusi Adalah maksud yang terkandung dalam ujaran.

  3. Tindak perlokusi Efek yang ditimbulkan oleh ujaran.

  Contohnya adalah sebagai berikut: ”Anda merokok ?” Dari contoh tuturan di atas, oleh Pranowo (2009: 34) dijelaskan sebagai berikut:

  1. Tindak lokusinya: ”kalimat tanya”.

  2. Tindak ilokusinya: berupa permintaan, larangan, pertanyaan, tawaran.

  3. Tindak perlokusinya: berupa tindakan pemberian, penghentian, sekedar jawaban, dan penerimaan atau penolakan sesuai dengan situasinya. Black (2011: 38) menjelaskan bahwa ada tiga tindak yang langsung kita ucapkan secara bersamaan. Yang pertama adalah tindak lokusioner, yaitu menghasilkan ucapan yang tertata baik menurut tata bahasa yang sedang kita gunakan. Yang kedua adalah tindak ilokusioner, yaitu menyampaikan makna tertentu. Ilokusi yang kita sampaikan lewat lokusi adalah makna yang ingin kita sampaikan. Yang ketiga adalah tindak perlokusi, yaitu efek dari kata-kata kita.

  Yule (2006: 83) menjelaskan bahwa jenis tindak tutur dibagi menjadi tiga, yaitu yang pertama adalah tindak lokusi, yang merupakan tindak dasar tuturan atau menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna dalam suatu bahasa. Yang kedua tindak ilokusi, membentuk tuturan dengan beberapa fungsi di dalam pikiran yang ditampilkan melelui penekanan komunikatif suatu tuturan. Yang ketiga adalah perlokusi, tidak secara sederhana menciptakan tuturan yang memiliki fungsi tanpa memaksudkan tuturan itu memiliki akibat.

  Dari ketiga tindak tutur tersebut, yang paling banyak dibahas adalah tindak tutur ilokusi. Tindak ilokusi dalam suatu tuturan adalah suatu pesan dan maksud yang terkandung dalam tuturan itu. Tindak tutur merupakan situasi ujar yang dilakukan oleh penutur yang menimbulkan suatu efek atau suatu akibat dari sebab-sebab tertentu. Ujaran penutur akan mengandung maksud, maksud tersebut menghasilkan suatu tindakan atau perilaku oleh mitra tutur.

2.2.3 Tindak Tutur Ilokusi

  Tindak tutur ilokusi merupakan bagian dari klasifikasi tindak tutur. Tindak tutur ilokusi secara singkat dijelaskan bahwa tindak tutur ilokusi merupakan maksud tuturan yang dimaksud oleh penutur. Definisi dan jenis-jenis tindak tutur akan dijelaskan lebih rinci, sebagai berikut.

  Leech (1993: 21) menjelaskan bahwa tindak tutur ilokusi dalam komunikasi yang berorientasi pada tujuan atau meneliti makna sebuah tuturan merupakan usaha untuk merekonstruksi tindakan apa yang menjadi tujuan penutur ketika ia memproduksi tuturannya.

  Yule (1996: 84) menjelaskan bahwa tindak tutur ilokusi membentuk tuturan dengan beberapa fungsi di dalam pikiran. Tindak ilokusi ditampilkan melalui proses penekanan komunikatif suatu tuturan.

  Contoh: “Saya baru saja membuat kopi”

  Dari contoh di atas apa yang dimaksud oleh penutur dapat diidentifikasi antara lain; untuk membuat suatu pernyataan, tawaran, penjelasan atau maksud- maksud komunikatif lainnya. Penutur berusaha menyampaikan maksud atas tuturan yang diucapkan. Ini juga dapat disebut sebagai penekanan ilokusi.

2.2.4 Klasifikasi Tindak Tutur Ilokusi

  Tindak tutur ilokusi dibedakan menjadi lima jenis. Ada beberapa jenis tindak tutur ilokusi yang sudah teridentifikasi. Black (2011: 43) menjelaskan bahwa tindak tutur ilokusi dibagi menjadi 5 jenis, yaitu :

  a. Tindak wicara representatif Tindak wicara representatif adalah pernyataan dan deskripsi.

  Penutur mamaparkan pandangannya tentang dunia sesuai dengan pemahamannya sendiri. Sebagian besar dari karya fiksi, sama seperti bahasa sehari-hari, adalah sebagian besar terdiri dari tindak wicara representatif, dan sebagian besar dari aktifitas yang dilakukan narator adalah melakukan tindak wicara representatif ini.

  b. Tindak wicara ekspresif Tindak wicara ekspresif adalah tindak wicara yang bisa menunjukan sikap dari penutur, seperti memberi selamat ikut berduka cita atau mengungkapkan rasa senang. Tindak wicara ini memiliki fungsi interpersonal yang kuat maka dapat diperkirakan bahwa tindak wicara ekspresif akan banyak digunakan dalam wacana dari tokoh-tokoh dalam fiksi daripada di dalam wacana dari suara narator, biar pun kadang juga digunakan oleh narator.

  c. Direktif Direktif pada dasarnya adalah kalimat perintah dan dalam wacana sastra, bentuk direktif biasanya ditemukan dalam wacana antara tokoh dengan tokoh. Direktif yang ditunjukkan kepada pembaca jarang disampaikan dengan menggunakan suara narator dan alasannya tentunya sudah jelas, yaitu pembaca berada di luar dari kerangka komunikasi dari sebuah karya fiksi.

  d. Komisif Tindak wicara komisif adalah tindakan-tindakan yang membuat penuturnya menjadi terikat untuk melakukan tertentu di masa depan. Yang termasuk di dalamnya adalah janji atau ancaman (dimana perbedaan antara keduanya adalah tergantung pada bagaimana pengaruh dari tindakan itu nantinya kepada pendengar).

  Komisif adalah bentuk yang banya dijumpai di dalam wacana antara tokoh-tokoh dalam fiksi, tetapi jarang dijumpai dalam wacana narrator, biarpun memang ada beberapa novel yang bagian awalnya adalah termasuk dalam komisif.

  e. Deklarasi Deklarasi adalah sebuah bentuk tindak wicara yang unik, dalam artian bahwa tindak kesuksesan didalam menjalankannya adalah tergantung dari status penutur dan situasi di seputar kejadian.

  Deklarasi adalah sejenis tindak yang sudah menjadi institusi di dalam masyarakat.

  Searle melalui Rahardi (2005: 36) menggolongkan tindak ilokusi yang masing-masing memiliki fungsi komunikatif. Tindak ilokusi menurut Searle adalah sebagai berikut ; (1) Asertif (asertives), yakni bentuk tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, misalnya menyatakan

  

(stating), menyarankan (suggesting), membual (boasting), mengeluh

(complaining), dan mengklaim (claiming); (2) Direktif (Directives), yakni bentuk

  tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar si mitra tutur melakukan tindakan, misalnya memesan (ordering), memerintah (commanding), memohon (requesting), menasehati (advising), dan merekomendasi

  

(recommending) ; (3) Ekspresif (Expressives) adalah bentuk tuturan yang

  berfungsi untuk menyatakan atau menunjukan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, misalnya berterima kasih (thanking), memberi selamat

  

(congratulaying), meminta maaf (pardoning), menyalahkan (blaming), memuji

(praising), dan berbelasungkawa (condoling); (4) Komisif (Commisives), yakni

  bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran, misalnya berjanji (promising), bersumpah (vowing), dan menawarkan sesuatu (offering); (5) Deklarasi (Declarations), yakni bentuk tutur yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataanya, misalnya berpasrah (resigning), memecat (dismissing), membabtis (christening), memberi nama (naming), mengankat (appointing), mengucilkan (excommunicating), dan menghukum (sentencing).

  Secara singkat wujud atau jenis-jenis tindak tutur ilokusi dapat dibagi menjadi lima yaitu; (1) representatif adalah suatu pernyataan atau deskripsi, (2) ekspresif adalah pemberian sikap dari penutur, (3) direktif adalah suatu perintah, (4) komisif adalah tindakan yang membuat penuturnya melakukan sesuatu di masa depan, dan (5) deklarasi adalah tindak yang menjadi institusi di dalam masyarakat.

  Satu hal yang sangat mendasar yang kiranya perlu sekali untuk dicatat dari penggolongan tindak tutur ke dalam bentuk-bentuk tuturan menurut tokoh bahasa yang sangat ternama ini adalah bahwa ternyata satu tindak tutur dalam sebuah pertuturan dapat memiliki maksud dan fungsi yang bermacam-macam (Rahardi, 2005: 74). Penggolongan tindak tutur menurut Searle, sangat jelas diklasifikasi atau dikelompokan. Sehingga untuk dapat menjawab rumusan masalah, peneliti menggunakan pengelompokan tindak tutur menurut Searle.

  Pengelompokan tindak tutur ilokusi menurut Searle, menjadi patokan untuk dapat menjawab rumusan masalah. Pengelompokan tindak tutur ilokusi itu menjelaskan secara rinci dan mudah dimengerti oleh peneliti. Teori pendekatan tindak tutur ilokusi menurut Serale menjadi patokan atau dasar penelitian yang dijelaskan secara spesifik.

2.2.5 Kerangka Berpikir Di bawah ini terdapat bagan yang menjelaskan tentang kerangka berpikir.

  Bagan kerangka berpikir, mempermudah untuk menjelaskan alur penelitian tindak tutur ilokusi dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan.

  TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM NOVEL KEMAMANG KARYA KOEN SETYAWAN 

  PENDEKATAN ILOKUSI WUJUD ILOKUSI MAKSUD Searle melalui Rahardi (2005)

  ILOKUSI METODE PENELITIAN KUALITATIF Moleong (2006)

  TEKNIK PENGUMPULAN DATA HASIL PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  3.1 Jenis Penelitian

  Penelitian ini berusaha menganalisis dan mendeskripsikan wujud dan maksud ilokusi yang terdapat dalam novel Kemamang karya Koen Seteyawan.

  Moleong (2007: 9) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif yaitu pengamatan, wawancara, atau penelaahan dokumen. Maka dari itu jenis penelitian ini adalah bersifat kualitatif.

  3.2 Sumber Data

  Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka (Moleong, 2007: 11). Dalam penelitian kualitaif hasil penelitianya berupa penjelasan terhadap data-data yang ditemukan (Chaer, 2011: 185). Selanjutnya Lofland dan Lofland (1984) melalui Moleong (2007: 157) menjelaskan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Data dalam penelitian ini adalah berupa kata-kata. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan yang berupa kata-kata atau percakapan tokoh yang terdapat dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan.

  3.3 Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan teknik baca dan catat. Teknik baca berupa membaca dan mengamati wacana, kemudian menganalisis wujud dan maksud tuturan yang akan digunakan sebagai objek kajian penelitian, yang diamati adalah tuturan tokoh yang terdapat dalam novel

  

Kemamang karya Koen Setyawan. Teknik catat dilakukan dengan cara mencatat

  tuturan tokoh dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan yang mengandung tindak tutur ilokusi serta mendeskripsikan wujud dan maksud tuturan tersebut.

  3.4 Teknik Analisis Data

  Analisis data kualitatif menurut Bogdan dan Biklen (1982) melalui Moleong (2007: 248) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Tahapan analisis data kualitatif menurut Seiddel (1998) melalui Moleong (2007: 248) sebagai berikut.

  1. Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya tetap akan ditelusuri.

  2. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan, membuat ikhtisar dan membuat indeksinya.

  3. Berpikir dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan dan membuat temuan-temuan umum. Dengan demikian Patton (1980) melalui Moleong (2007: 248) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Langkah-langkah dalam analisis data dijelaskan sebagai berikut.

  a. Identifikasi Langkah awal yang dilakukan adalah menangkap maksud tindak ilokusi yang terdapat dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan.

  Mengidentifikasi data dengan membaca percakapan dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan.

  b. Klasifikasi Setelah data diidentifikasi, kemudian data dikelompokan kedalam wujud dan maksud tindak tutur ilokusi. Pengelompokan ini berdasarkan pada teori yang terdapat pada bab dua, yaitu tentang wujud atau bentuk ilokusi. Dengan cara memilah-milah suatu data yang akan menjadi jawaban atas rumusan masalah.

  c. Deskripsi Langkah akhir pada bagian deskripsi adalah menguraikan data. Data yang sudah diidentifikasi dan diklasifikasikan kemudian diuraikan atau dituliskan. Sesuai dengan teknik pengumpulan data yaitu teknik baca dan teknik catat. Pada akhirnya data tersebut akan menjadi lampiran untuk memperkuat bukti dari pengumpulan data yang ada.

   

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data

  Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Kemamang karya Koen Setyawan. Data dalam penelitian ini berupa percakapan tokoh yang terdapat dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan. Untuk mendeskripsikan data penelitian lebih jelas, akan dijelaskan beberapa tuturan sebagai berikut ini.

  (1) “Akhir-akhir ini beberapa binatang ternak yang digembalakan di

  dekat danau hilang secara misterius. Beberapa hari kemudian binatang-binatang itu ditemukan mati mengenaskan. Isi perut dan kepalanya hilang” (Kemamang hal. 33).

  Tuturan tersebut disampaikan oleh Kades Tasripan terhadap Hari. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi asertif yang bersifat menjelaskan. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur memberi tahu mitra tutur agar menyelidiki penyebab terjadinya binatang hilang secara misterius. Dari tuturan tersebut dapat dijelaskan bahwa dilihat dari maksud ilokusinya, penutur mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu tindakan, dengan cara penyampaian tuturan yang bersifat menjelaskan.

  (2) “Tak menarik. Tak ada yang baru. Pikiranku ga di situ. Apa yang kamu dapatkan?” (Kemamang halaman 28). Tuturan tersebut disampaikan oleh Panji terhadap Hari. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi asertif yang berupa keluhan. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur mengabaikan dalam mengikuti pertemuan Tim. Tuturan tersebut dapat dijelaskan bahwa dilihat dari maksud ilokusinya, penutur sebenarnya tidak serius dalam mengikuti pertemuan Tim, karena penutur sebelumnya sudah memiliki angan- angan bahwa pertemuan Tim itu tidak menarik. Oleh karena itu penutur mengeluh, menyampaikan keluhan terhadap mitra tutur ketika ditanya oleh mitra tutur.

  (3) “Lebih baik Mas ke Balai Desa dulu. Lewati jalan ini lurus saja. Kira-

  kira lima kilometer dari sini. Saya yakin pegawai desa bisa membantu Mas” (Kemamang halaman 17).

  Tuturan tersebut disampaikan oleh Lelaki Tua terhadap Hari. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi asertif yang bersifat memberi saran. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah memberi tahu mitra tutur bahwa di balai desa pegawai desa ada pegawai desa yang dapat memberikan pertolongan agar tidak tersesat lagi. Dari tuturan tersebut dapat dijelaskan bahwa dilihat dari maksud ilokusinya, penutur sebenarnya tidak dapat menolong mitra tutur, sehingga penutur menyuruh mitra tutur agar mitra tutur melakukan suatu tindakan yang bersifat memberi saran.

  (4) “Bune, tolong ambilkan air putih!”(Kemamang halaman 40). Tuturan tersebut disampaikan oleh Kades terhadap Istri Kades. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi direktif yang bersifat memerintah. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur menyuruh mitra tutur agar membuatkan minuman karena sedang ada tamu, maksud lain yang terkandung dalam tuturan tersebut, penutur menemui tamu sehingga mitra tutur yang membuatkan minuman untuk tamu tersebut. Tuturan tersebut dapat dijelaskan jika dilihat dari maksud ilokusinya, bahwa seorang penutur melakukan tuturan yang menimbulkan efek terhadap mitra tutur, dengan cara penyampaian tuturan yang bersifat menyuruh atau memerintah.

  (5) “Lebih baik kita ke tempat bangkai sapimu ditemukan!”(Kemamang halaman 47). Tuturan tersebut disampaikan oleh Kades Tasripan terhadap Rianto. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi direktif yang bersifat memerintah. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur menyuruh mitra tutur kembali ke tempat bangkai-bangkai sapi tersebut ditemukan, maksud lain yang terkandung, Kades Tasripan merasa jika perjalanannya sia-sia karena tidak menemukan petunjuk sapi-sapi tersebut mati. Tuturan tersebut dapat dijelaskan bahwa dilihat dari maksud ilokusinya, penutur mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu tindakan, dengan cara penyampaian tuturan yang bersifat menyuruh atau memerintah.

  (6) “Lihat ini apa yang saya temukan. Sebuah jejak kaki!”(Kemamang halaman 48). Tuturan tersebut disampaikan oleh Panji terhadap Kades Tasripan. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi direktif yang bersifat memerintah. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur menyuruh mitra tutur agar mitra tutur melihat apa yang telah dilihat oleh penutur. Tuturan tersebut dapat dijelaskan bahwa dilihat dari maksud ilokusinya, penutur mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu tindakan, dengan cara penyampaian tuturan yang bersifat menyuruh atau memerintah.

  (7) “Terima kasih”(Kemamang hal 41). Tuturan tersebut disampaikan oleh Rianto terhadap Istri Kades. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi ekspresif yang bersifat berterima kasih. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur mengekspresikan sikap psikologis mitra tutur atas perbuatan yang dilakukan oleh mitra tutur.

  (8) “Ya… ya. Tentu saja. Kami yakin. Binatang itu menyelam ke dalam air.” (Kemamang hal 46). Tuturan tersebut disampaikan oleh Rianto terhadap Kades Tasripan. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi komisif yang bersifat bersumpah. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur menyatakan sumpah untuk meyakinkan mitra tutur. Dari tuturan tersebut dapat dijelaskan bahwa penutur memberikan suatu keyakinan agar mitra tutur percaya dan yakin tentang yang dikatakan oleh penutur.

  (9) “Ya. Tapi aku yakin binatang itu masuk ke dalam air”(Kemamang halaman 50). Tuturan tersebut disampaikan oleh Hari terhadap Kades Tasripan. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi komisif yang bersifat bersumpah. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur berusaha meyakinkan mitra tutur melalui tuturan yang bersifat bersumpah. Tuturan tersebut dapat dijelaskan bahwa dilihat dari maksud ilokusinya, penutur meyakinkan mitra tutur untuk melalui tuturan, yang dapat menimbulkan efek psikologis.

  (10) “Itulah yang mengejutkan saya. Meskipun berat, rasanya saya sudah

  mengikhlaskan sapi saya. Tapi saya takut. Kejadiannya benar-benar

menakutkan bagi kami semua” (Kemamang halaman 41).

  Tuturan tersebut disampaikan oleh Hari terhadap Kades Tasripan. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi deklarasi yang bersifat berpasrah. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur berusaha memberitahu apa sebenarnya terjadi tuturan yang menyatakan pasrah. Tuturan tersebut dapat dijelaskan bahwa dilihat dari maksud ilokusinya, penutur menceriterakan mitra tutur apa yang sebenarnya terjadi, yang mengandung sifat pasrah.

  Data semacam itulah yang dianalisis dan dideskripsikan dalam penelitian ini untuk mengetahui wujud tindak tutur ilokusi dan maksud ilokusi yang terdapat dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan.

4.2 Analisis Data

  Data yang terkumpul dianalisis secara runtut untuk mendapatkan jawaban atas dua rumusan masalah, yakni wujud tindak tutur ilokusi dan maksud ilokusi yang terdapat dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan. Langkah awal yang dilakukan adalah mengelompokan wujud atau jenis tuturan ke dalam lima jenis tuturan berdasarkan pengelompkan Searle, menganalisis maksud tindak ilokusi yang terkandung dalam tuturan dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan.

  Setelah mengelompokan jenis atau wujud tindak tutur ilokusi, data kemudian diuraikan atau dituliskan. Berikut ini adalah tabel yang menunjukan hasil analisis data.

  No. Hasil analisis data Jumlah data

  1 Tindak tutur ilokusi asertif

  69

  2 Tindak tutur ilokusi direktif

  73

  3 Tindak tutur ilokusi ekspresif

  15

  4 Tindak tutur ilokusi komisif

  23

  5 Tindak tutur ilokusi deklarasi

  15 Jumlah data 195

4.2.1 Wujud Tindak Tutur Ilokusi dalam Novel Kemamang

  Terdapat lima jenis tindak tutur ilokusi yaitu; (1) Asertif yaitu bentuk tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, (2)   Direktif yaitu bentuk tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar mitra tutur melakukan tindakan, (3) Ekspresif yaitu bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, (4)   Komisif yaitu bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran, (5)   Deklarasi bentuk tutur yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataanya (Searle melalui Rahardi, 2005: 36). Lima jenis tindak tutur ilokusi tersebut akan dijelaskan secara rinci dengan contoh-contoh yang terdapat dalam novel. Tuturan dalam bentuk percakapan antara tokoh dianalisis oleh peneliti, kemudian tuturan tersebut digolongkan lima jenis tindak tutur ilokusi. Peneliti menganalisis maksud ilokusi yang dituturkan oleh tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan.

4.2.2 Maksud Tindak Tutur Ilokusi dalam Novel Kemamang

  Maksud ilokusi dalam tuturan menjelaskan apa arti yang terkandung tuturan secara tidak langsung. Wijana (1996: 18) menjelaskan tentang maksud ilokusi yang terdapat dalam tuturan “Saya tidak dapat datang.” Tuturan tersebut memang menyatakan ketidakmampuan penutur untuk tidak dapat datang, tetapi bila dituturkan kepada teman yang baru saja merayakan ulang tahun berarti juga melakukan sesuatu yaitu meminta maaf.

  Berikut ini data yang akan dijelaskan berdasarkan wujud dan maksud tindak tutur ilokusi. Data di bawah ini dianalisis berdasarkan wujud dan maksud tindak tutur ilokusi, bentuk data tersebut adalah tuturan atau percakapan yang terdapat di dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan.

4.2.2.1 Tindak Ilokusi Asertif

  Tindak ilokusi asertif yaitu bentuk tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa tindak ilokusi asertif yang dituturkan oleh tokoh.

  (2) ‘‘He… eh … sepertinya kita tak akan pernah sampai ke tempat

  lampu itu. Lampu itu seperti menjauhi kita.” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa memberi saran.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengabaikan apa yang telah mereka lihat, maksud lain yang melekat agar penutur mengajak mitra tutur beristirahat (halaman 10).

  (3) “Tak tahulah. Aku sudah capek mengejarnya.”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa keluhan.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur beristirahat (halaman 10).

  (5) “Ada cahaya di kejauhan. Kami mengikutinya sampai kemari.”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa pernyataan.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu terhadap mitra tutur agar mitra tutur memberikan tempat istirahat kepada penutur (halaman 14).

  (6) “Cahaya itu mendatangi kami. Kami ketakutan dan tak sadarkan

  diri.” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa pernyataan.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu terhadap mitra tutur agar mitra tutur dapat menolong penutur (halaman 14).

  (7) “Susah menjelaskannya. Itu semacam makhluk halus. Banyak

  orang disini melihatnya.” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang bersifat mengklaim.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu terhadap mitra tutur agar mitra tutur berhati-hati menjaga tingkah laku mereka, maksud lain yang terkandung adalah penutur menakut-nakuti mitra tutur supaya tidak berperilaku tidak sopan atau sembarangan (halaman 16).

  (9) “Ya aku pikir demikian. Kita merasa kejadiannya sangat cepat, tetapi ternyata waktu yang kita alami sangat lama hampir 6 jam lebih.

  Kita hanya merasakanya selama beberapa menit saja.” Wujud ilokusi ;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang bersifat mengklaim.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur tidak akan melakukan suatu hal yang dilakukan lagi (halaman 22).

  (10) “Waduh… aku baru ingat sesuatu. Tim kita ada pertemuan.

  Sialan!” Wujud ilokusi ;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa keluhan.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk hadir dalam pertemuan tim , maksud kedua adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk menghadiri pertemuan Tim (halaman 23).

  (13) “Ada peneliti UFO yang pernah mengunjungi desa-desa di Jawa.

  Ia melihat seperti apa yang kita lihat.” Wujud ilokusi ;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang bersifat memberitahu.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur agar melakukan ekspedisi (halaman 29). Tuturan (2), disampaikan oleh Hari terhadap Panji, ketika mereka berada di tangah hutan pada malam hari dan melihat cahaya-cahaya lampu yang dianggap adalah rumah penduduk. Tindak ilokusi yang terkandung dalam tuturan (2), merupakan wujud ilokusi asertif yang berupa memberi saran, secara tidak langsung diungkapkan oleh penutur itu sendiri yakni “…Lampu itu seperti

  

menjauhi kita” tuturan tersebut secara tidak langsung mengandung saran. Sia-sia

  saja jika Panji dan Hari tetap melanjutkan perjalanan mengejar cahaya lampu tersebut, karena cahaya lampu tersebut sangat jauh jaraknya. Pada tuturan (2), penutur memberikan penjelasan, bahwa sesungguhnya mereka tidak akan sampai ke tempat lampu itu. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (2) adalah; (a) penutur merasa lelah, (b) penutur ingin beristirahat. Penutur merasa lelah, karena mereka telah jauh berjalan menyusuri hutan. Cahaya lampu itu sangat jauh, maka penutur menyarankan mitra tutur agar mereka segera beristirahat.

  Tuturan (3), disampaikan oleh Panji terhadap Hari, pada saat mereka melakukan di tengah hutan. Panji merebahkan tubuhnya ke tanah, kecewa karena mereka tidak sampai ke cahaya lampu yang dikira adalah rumah penduduk. Tindak ilokusi yang terkandung dalam tuturan (3) merupakan wujud ilokusi yang berupa keluhan. Penutur benar-benar mengeluh dan tidak dapat berbuat apa-apa.

  Maksud tutran yang terkandung pada tuturan (3) adalah; (a) penutur meminta mitra tutur agar mencari bantuan secepatnya sehingga penutur dan mitra tutur tidak terjebak dalam situasi yang kelelahan, (b) penutur mengeluh atau kecewa terhadap mitra tutur karena pada saat mereka tersesat di tengah hutan, mitra tutur tidak melakukan apa-apa, (c) penutur kelelahan dan ingin beristihahat.

  Tuturan (5), disampaikan oleh Hari kepada Lelaki Tua, pada saat mereka bertemu di dekat danau dan terlihat linglung seperti orang kebingungan. Tindak ilokusi yang terkandung pada tuturan (5) merupakan wujud ilokusi asertif yang berupa pernyataan. Tindak tutur ilokusi yang mengandung maksud berupa penyataan adalah suatu ungkapan yang terdapat dalam tuturan yang telah dituturkan. Tuturan (5) secara langsung dapat dijelaskan bahwa sebenernya tuturan (6), bersifat memberitahu. Maksud yang terkadung dalam tuturan (5) adalah; (a) penutur sekedar memberitahu bahwa, penutur tersesat di hutan, (b) penutur mengaharapkan atau meminta pertolongan, (c) penutur berharap mitra tutur dapat menemukan jalan keluar atau petunjuk jelas, agar penutur tidak tersesat lagi. Maksud yang terkandung dalam tuturan (5) adalah mitra tutur tidak harus melakukan tindakan karena sebagian besar tuturan yang bersifat menyatakan adalah ungkapkan perasaan apa yang telah dialami oleh penutur.

  Tuturan (6), disampaikan oleh Hari terhadap Lelaki Tua, pada saat Hari dan Panji tersesat di danau, dan bertemu dengan Lelaki Tua pencari kayu bakar.

  Hari dan Panji terlihat linglung seperti orang kebingungan. Tindak ilokusi yang terkandung pada tuturan (6) merupakan wujud ilokusi asertif yang berupa pernyataan. Tuturan (6) hampir sama dengan tuturan (5), yang bersifat memberitahu, atau menyatakan sesuatu. Maksud yang terkadung dalam tuturan (6) adalah; (a) penutur sekedar memberitahu bahwa, penutur tersesat di hutan, (b) penutur mengaharapkan atau meminta pertolongan. Secara tidak langsung, dalam kondisi kebingungan penutur mengharapkan bantuan mitra tutur untuk segera mencari jalan keluar, atau paling tidak memberitahu tempat istirahat yang nyaman. Namun dalam kondisi seperti itu, mitra tutur juga tidak dapat secara langsung memberitahu tempat istirahat yang nyaman karena mereka berada di hutan.

  Tuturan (7), disampaikan oleh Lelaki Tua terhadap Panji. Ketika Panji, Hari, dan Lelaki Tua itu berada di tepi danau. Mereka bertiga melakukan percakapan tentang cahaya lampu yang meloncat-loncat. Penduduk desa menyebutnya itu adalah Kemamang, semacam makhluk halus yang menampakan dirinya di atas permukaan danau. Tindak tutur yang terdapat pada tuturan (7) adalah wujud ilkusi asertif yang bersifat mengklaim. Maksud yang terkadung dalam tuturan (7) adalah; (a) memberitahu atau menceritakan, (b) supaya berhati- hati bahwa apa yang mereka lihat adalah hantu. Seperti pada tindak tutur yang bersifat menyatakan, tindak tutur yang bersifat mengklaim hampir sama. Akan tetapi, tindak tutur yang bersifat mengklaim tidak mengekspresikan perasaan penutur terhadap hal yang telah terjadi, namum menyebutkan atau menamai yang pada kenyataannya belum tentu benar. Tuturan (7) dapat dideskripsikan bahwa penutur benar-benar mengklaim bahwa yang mereka lihat adalah makhluk halus.

  Tuturan (9), disampaikan oleh Panji terhadap Hari, pada saat mereka melakukan percakapan di rumah penduduk desa. Hari dan Panji menceritakan kembali tentang apa yang mereka lihat di dekat danau. Tindak tutur yang terdapat pada tuturan (9) adalah wujud ilokusi asertif yang bersifat mengklaim. Karena penutur menceriterakan atau menjelaskan bahwa jangka waktu yang mereka tempuh begitu cepat, hanya beberapa menit saja. Namun bagi orang lain, atau mitra tutur belum tentu cepat. Hanya perasaan penutur waktu tersebut begitu cepat. Maksud yang terkadung dalam tuturan (9) adalah; penutur mengajak mitra tutur tidak melakukan kesalahan lagi, sehingga mereka tidak tersesat di tengah- tengah hutan. Dan berharap kejadian tersebut tidak terulang lagi. Tuturan (9) hampir sama dengan tindak tutur yang bersifat memberikan pernyataan, namun tindak tutur (9), merupakan tindak ilokusi yang bersifat mengklaim. Penutur telah mengklaim bahwa waktu yang mereka tempuh sebentar. Ternyata waktu yang mereka tempuh cukup lama.

  Tuturan (10), disampaikan oleh Hari terhadap Panji, pada saat mereka melakukan percakapan di kamar salah satu rumah penduduk. Hari ingat bahwa hari itu juga, ada pertemuan Tim. Tindak tutur yang terdapat pada tuturan (10) adalah wujud ilokusi asertif yang bersifat keluhan. Pada saat Hari teringat akan ada pertemuan Tim, Hari mengungkapkan keluhan terhadap Panji; “…Tim kita

  

ada pertemuan. Sialan!” kata ‘sialan!’, merupakan ekspresi bentuk tuturan yang

  bersifat mengeluh. Dengan demikian akan terdapat beberepa kemungkinan yang akan terjadi, seperti yang dijelaskan pada maksud ilokusi. Maksud ilokusi pada tuturan (10) adalah; (a) Hari meminta maaf kepada Panji, karena tidak dapat datang pada pertemuan Tim, (b) Hari menyuruh Panji agar datang pada pertemuan Tim. Penutur telah mengungkapkan proposi tentang kebenaran yang sesungguhnya, bahwa pada saat itu juga memang ada pertemuan Tim. Pada akahirnya Panji tetap berangkat ke pertemuan Tim. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut dapat dipahami oleh mitra tutur.

  Pada tuturan (13), disampaikan oleh Panji terhadap Hari, pada saat mereka melakukan percakapan tentang cahaya lampu yang yang berada di danau. Mereka mengkaitkan cahaya itu dengan penampakan UFO. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (13) adalah ilokusi asertif yang bersifat memberitahu.

  Panji memeberi tahu tentang cahaya tersebut adalah UFO, dengan buku pengetahuan tentang UFO tersebut. Tuturan tersebut juga bersifat menjelaskan tentang sesuatu hal. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (13) adalah penutur mengajak mitra tutur agar melakukan ekspedisi. Untuk membuktikan kenyataan yang terjadi penutur berusaha mengajak mitra tutur untuk melakukan ekspedisi. Untuk lebih memperjelas apakah cahaya itu adalah Kemamang atau penampakan UFO.

4.2.2.2 Tindak Ilokusi Direktif

  Tindak ilokusi direktif yakni bentuk tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar si mitra tutur melakukan tindakan, berikut ini akan dijelaskan tentang tindak tutur ilokusi direktif.

  (1) “Rumah! Lihat cahaya lampu disana!”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur segera menuju suatu rumah yang mereka lihat (halaman 7).

  (4) “Lihat, cahaya itu membesar!”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk segera pergi menuju cahaya itu (halaman 10).

  (11) “Ya lebih baik kamu yang datang. Aku mau cari info dulu.”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk hadir dalam pertemuan Tim, maksud kedua adalah penutur memiliki kesibukan lain sehingga tidak dapat berangkat dalam pertemuan Tim (halaman 23).

  (12) “O… Oke. Telepon aku jika ada info penting.”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur memberi kabar (halaman 23).

  (14) “Kita harus kembali ke desa itu!”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur kembali ke desa karena suatu hal yang penting (halaman 31).

  (15) “Nah sekarang,coba ceritakan apa yang terjadi?”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah, (1) penutur menyuruh menjelaskan kejadian yang terjadi, (2) penutur ingin menolong mitra tutur (halaman 40). Tuturan (1), disampaikan oleh Panji terhadap Hari, pada saat melakukan percakapan dan sedang berjalan di tengah hutan. Mereka berjalan di tengah hutan pada waktu malam hari dan tidak membawa peralatan penerangan. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (1) adalah ilokusi direktif yang bersifat memerintah. Pada tuturan “… Lihat cahaya lampu disana!”, menggunakan ‘tanda seru’, sebagai keterangan perintah. Panji menyuruh Hari agar melihat cahaya yang sebelunya dilihat oleh Panji. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (1) adalah penutur menyuruh mitra tutur agar mitra tutur pergi ke cahaya lampu tersebut. Tuturan tersebut diucapkan secara langsung, namun pesan yang terkandung sebenarnya adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk pergi ke cahaya lampu itu. Tuturan tersebut secara langsung mengandung pesan, jika mitra tutur pergi ke cahaya lampu itu, maka akan ada pertolongan. Sehingga mereka tidak tersesat lagi di hutan. Tuturan (4), disampaikan oleh Hari terhadap Panji, ketika Panji juga melihat cahaya yang telah dilihat Hari sebelumnya. Mereka berdua melakukan percakapan di tengah hutan, dan tak ada seorang pun berada disana. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (4) adalah ilokusi direktif yang bersifat memerintah. Tuturan langsung yang bersifat perintah, agar mitra tutur melakukan apa yang telah dituturkan oleh penutur. Tuturan tersebut mengandung maksud secara langsung. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (4) adalah penutur menyuruh mitra tutur agar mitra tutur pergi ke cahaya lampu tersebut. Tuturan yang menyatakan suatu perintah, maka efek yang terjadi adalah sesuai dengan tuturan tersebut. Akan tetapi pesan atau maksud yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk pergi ke cahaya tersebut.

  Tuturan (11), disampaikan oleh Panji terhadap Hari, pada saat Panji dan Hari melakukan percakapan di rumah penduduk desa. Saat itu mereka berkumpul untuk menelusuri cahaya yang telah mereka lihat. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (11) adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah. Secara tidak langsung bahwa Hari menuturkan “Ya lebih baik kamu yang datang. Aku mau

  

cari info dulu.”, dari tuturan tersebut sebenarnya Panji menyuruh Hari. Maksud

  ilokusi yang terkandung dalam tuturan (11) adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk hadir dalam pertemuan Tim, maksud kedua adalah penutur meminta maaf, karena tidak dapat hadir sehingga tidak dapat berangkat dalam pertemuan Tim. Tuturan (11), tidak menggunakan ‘tanda seru’. Namun, pesan yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur memerintah mitra tutur untuk datang dalam pertemuan Tim. Selain itu, penutur meminta maaf tidak dapat datang.

  Tuturan (12), disampaikan oleh Hari terhadap Panji, pada saat mereka melakukan percakapan di rumah penduduk desa. Hari menyuruh Panji menhubungi lewat telepon karena Hari akan segera pergi. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (12) adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah. Kalimat yang mengandung pesan agar mitra tutur melakukan apa yang dituturkan oleh penutur dan membuat pengaruh pada mitra tutur untuk melakukan sesuatu.

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (12) adalah penutur menyuruh mitra tutur memberi kabar. Tuturan tersebut tidak mengandung keterangan perintah. Namun tuturan tersebut mengandung pesan atau maksud memerintah atas apa yang telah dikatakan oleh penutur.

  Tuturan (14), disampaikan oleh Panji terhadap Hari, ketika mereka melakukan percakapan di rumah Hari. Panji dan Hari sedang menunggu hasil pencarianya, lalu Panji mengajak Hari untuk pergi ke desa itu. Di desa itu, Panji akan menemukan hasil pencarianya yang dikaitkan dengan cahaya yang mereka lihat ketika tersesat di hutan. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (14) adalah direktif yang menyatakan perintah. Pada tuturan tersebut terdapat keterangan perintah. Penutur berusaha membuat pengaruh mitra tutur agar mitra tutur melakukan sesuatu. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (12) adalah penutur menyuruh mitra tutur melakukan ekspedisi. Maksud lain yang terkandung, penutur menyuruh mitra tutur untuk segera berkemas-kemas karena penutur mengajak mitra tutur untuk kembali ke desa itu. Selain mengandung pesan memerintah, maksud lain adalah sebagai saran. Karena tuturan tersebut tidak memiliki maksud perintah pada contoh berikut “Tolong, ambilkan gelas

itu!” contoh tersebut merupakan tindak ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

  Berbeda dengan tuturan (12), walaupun mengandung maksud perintah akan tetapi tidak langsung semata-mata memerintah. Dapat diungkapkan sebagai bentuk tuturan yang mengandung pesan berupa saran.

  Tuturan (15), disampaikan oleh Kades Tasripan terhadap Rianto, pada saat mereka melakukan percakapan di rumah Kades. Rianto, Hari, dan Panji menemukan sapi yang mati, telah menjadi bangkai. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (15) adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

  Dalam tuturan (15), Kades menyuruh Rianto menceritakan hal yang terjadi. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (15) adalah, (1) penutur menyuruh menjelaskan kejadian yang terjadi, (2) penutur ingin menolong mitra tutur.

  Tuturan tersebut menjelaskan bahwa penutur ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Maksud lain adalah penutur ingin membantu mitra tutur yang sapinya hilang. Berbeda dengan tuturan “Apa yang sebenarnya terjadi?”, tuturan tersebut tidak termasuk tindak ilokusi direktif akan tetapi sebagai kalimat tanya atau interogatif. Namun tuturan (15), termasuk kedalam wujud ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

4.2.2.3 Tindak Ilokusi Ekspresif

  Tindak tutur ekspresif adalah bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, berikut ini akan dijelaskan tentang tindak tutur ilokusi ekspresif.

  (8) “Ya… ya… pasti. Terima kasih atas bantuanya.”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang menyatakan rasa terima kasih.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyetujui atas saran yang diberikan mitra tutur serta penutur mengucapkan rasa terima kasih (halaman 17).

  (17) “Huss! Diam! Jangan bicara sembarangan!”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang menyalahkan.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah (1) penutur menyuruh agar mitra tutur diam, (2) penutur mengingatkan bahwa mitra tutur salah, karena bicara sembarangan (halaman 72).

  (19) “Ya, aku taka apa-apa. Terima kasih, aku bisa jalan sendiri”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang menyatakan rasa terima kasih.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengabaikan atau tidak membutuhkan bantuan mitra tutur (halaman 95).

  (23) “Ya, ampun. Apa yang terjadi denganmu?”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang menyatakan rasa belasungkawa.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memperhatikan kondisi yang dialami mitra tutur. Mitra tutur sedang mengalami suatu bencana (halaman 124).

  (24) “Kamu gila. Kamu berusaha menarik diri dengan akar-akar itu?”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang bersifat memuji.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah (1) penutur belum tentu bisa melakukan hal seperti apa yang dilakukan oleh mitra tutur (2) penutur heran terhadap tingkah laku mitra tutur, hingga melakukan hal tersebut (halaman 125).

  (25) “Oh ya? Aku lupa. Sorry kalau aku mengulanginya lagi.

  Bagaimana menurutmu?” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang menyatakan minta maaf.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur penutur sadar akan kesalahan yang dilakukan, oleh karena itu penutur meminta maaf kepada mitra tutur (halaman 162). Tuturan (8), disampaikan oleh Hari terhadap Lelaki Tua, percakapan itu terjadi pada saat Hari dan Panji bertemu dengan Lelaki Tua itu di hutan. Pada saat itu, Lelaki Tua itu berusaha menolong Hari dan Panji karena mereka tersesat di hutan. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (8) adalah ilokusi ekspresif yang menyatakan rasa terima kasih. Panji berusaha menyetujui saran Lelaki Tua itu, pada tuturan “Ya… ya… pasti…”. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (8) adalah penutur menyetujui atas saran yang diberikan mitra tutur serta penutur mengucapkan rasa terima kasih. Rasa terima kasih yang di tunjukan Panji terdapat dalam tuturan “… Terima kasih atas bantuanya.” Kata “terima kasih” pada tuturan tersebut menunjukan bahwa tuturan (8) merupakan tindak ilokusi ekspresif yang menyatakan rasa terima kasih.

  Tuturan (17), disampaikan oleh Kades Tasripan kepada Lelaki (teman Hari), percakapan ini terjadi pada saat mereka berjalan menyusuri desa, mencari anak kecil berusia lima tahun yang hilang. Hari, Panji dan Kades Tasripan dan temannya yang berjumlah dua belas orang bersama-sama, berjalan menyusuri desa. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (17) adalah ilokusi ekspresif yang menyalahkan. Kades merasa keberatan atas ungkapan Lelaki (teman Hari). Ia menyangka bahwa anak itu hilang digondol wewe gombel. Ujaran seperti itulah yang membuat Kades tersinggung. Sehingga menyalahkan Lelaki (teman Hari).

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (17) adalah (1) penutur menyuruh agar mitra tutur diam, (2) penutur mengingatkan bahwa mitra tutur salah, karena bicara sembarangan. Penutur menyalahkan mitra tutur karena tuturan yang diungkapkan belum tentu benar. Sehingga pada tuturan (17), penutur dengan nada agak keras memperingatkan mitra tutur bahwa tuturanya salah. Selama ini memang di desa itu tidak ada wewe gombel. Maka tuturan ini termasuk kedalam jenis tuturan ekspresif yang bersifat menyalahkan.

  Tuturan (19), disampaikan oleh Hari terhadap Panji, ketika Hari dan Panji berada di jurang. Percakapan ini terjadi ketika Hari dan Panji berjalan di tengah hutan, dan mereka tiba-tiba jatuh di dalam jurang yang gelap. Panji berusaha menolong Hari. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (19) adalah ilokusi ekspresif yang menyatakan rasa terima kasih. Kata “… Terima kasih… ” memeperkuat bukti bahwa tuturan (19) tergolong dalam wujud ilokusi ekspresif.

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (19) adalah penutur tidak membutuhkan bantuan mitra tutur. Penutur dapat mengatasi permasalahan yang terjadi. Akan tetapi jika dilihat dari wujud tuturan tersebut, penutur juga berusaha tidak mengabaikan rasa simpati oleh mitra tutur tersebut. Walaupun mitra tutur tidak yakin akan kemampuan penutur untuk berjalan sendiri dalam keadaan sakit, karena jatuh ke dalam jurang.

  Tuturan (23), disampaikan oleh Hari terhadap Panji, percakapan ini terjadi ketika Panji berbaring lemah, di pinggir jurang. Hari berusaha menolong Panji dengan mengangkat tubuhnya, dan merebahkanya di tanah. Tidak ada seorang pun yang ada di pinggir jurang tersebut, hanya mereka berdua. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (23) adalah ilokusi ekspresif yang menyatakan rasa belasungkawa. Tuturan tersebut menjelaskan bahwa Hari berusaha mengungkapkan rasa belasungkawa terhadap Panji, karena Panji sedang mengalami musibah. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (23) adalah penutur memperhatikan kondisi yang dialami mitra tutur. Mitra tutur sedang mengalami hal yang menyedihkan atau sedang tertimpa musibah. Oleh karena itu pada tuturan (23) merupakan wujud ilokusi yang menyatakan belasungkawa, penutur berusaha menunjukan sikap psikologis yang dialami oleh mitra tutur.

  Tuturan (24), disampaikan oleh Hari terhadap Panji, percakapan ini terjadi ketika Hari dan Panji berada di pinggir jurang. Sebelumnya mereka telah jatuh ke dalam jurang. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (24) adalah ilokusi ekspresif yang bersifat memuji. Tuturan tersebut menunjukan bahwa penutur tidak mengejek atau menjelekan mitra tutur, justru memuji mitra tutur. Dalam tuturan tersebut memiliki terdapat kata yang terkesan menjelekan atau merendahkan mitra tutur. Akan tetapi, dalam tuturan tersebut tidak ada maksud untuk merendahkan atau menjelekan mitra tutur. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (24) adalah (1) penutur belum tentu bisa melakukan hal seperti apa yang dilakukan oleh mitra tutur (2) penutur merasa heran pada tingkah laku mitra tutur, hingga dapat melakukan hal tersebut. Dari maksud ilokusi tersebut dapat dijelaskan bahwa, tuturan tersebut mengandung kata yang bersifat merendahkan mitra tutur, sebenarnya tidak ada kata yang merendahkan atau menjelekan mitra. Mitra tutur tidak akan marah karena di katakan ”… gila kamu…”. Pada ungkapan tersebut bukan menunjukan ‘gila’ secara psikologis, akan tetapi ungkapan penutur sendiri yang merasa heran. Mengapa hanya dengan ranting-ranting pohon bisa menyelamatkan diri, dan tidak jatuh lagi ke dalam jurang? Berbeda halnya tuturan berikut, ”Gila kamu!”. Tuturan tersebut menunjukan nilai rasa yang merendahkan, mengejek, atau menjelekan. Tanpa ada perbuatan sebelumnya, mitra tutur bisa saja marah. Namun tergantung konteks tuturan yang berlangsung.

  Tuturan (25), disampaikan oleh Panji terhadap Hari, percakapan ini terjadi ketika mereka berdua berada di rumah Kades Tasripan. Panji dan Hari berusaha mengaitkan binatang bercakar yang menghuni danau tersebut dengan baryonyx (hewan sejenis dinosaurus). Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (25) adalah ilokusi ekspresif yang menyatakan hal meminta maaf. Dalam sebuah tuturan melakukan kesalahan adalah hal yang wajar. Namun Panji berusaha menyadari kesalahan atas apa yang telah diucapkan. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (25) adalah penutur penutur sadar akan kesalahan yang dilakukan, oleh karena itu penutur meminta maaf kepada mitra tutur. Penutur berusaha menghormati sikap mitra tutur dengan cara meminta maaf secara langsung sehingga mitra tutur tidak merasa tersinggung. Akan tetapi, permohonan maaf tersebut tidak perlu.

4.2.2.4 Tindak Ilokusi Komisif

  Tindak ilokusi komisif adalah bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran, berikut ini akan dijelaskan beberapa tindak tutur ilokusi komisif.

  (16) “Tak tahu. Saya segera mencarinya.”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang menyatakan janji.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah (1) penutur tergesa-gesa dan mengabaikan mitra tutur, (2) penutur ingin mengerjakan hal lain yang lebih penting (halaman 70).

  (18) “Aku berani bertaruh. Mereka bisa menghancurkan kita

  beberapa detik.” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang menyatakan sumpah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah (1) penutur hanya menakut-nakuti mitra tutur, (2) penutur mengajak atau mempengaruhi mitra tutur agar segera pergi meninggalkan tempat itu (halaman 93).

  (20) “Bukan aku. Sumpah! Auman itu penyebabnya.”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang menyatakan sumpah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur takut atas peristiwa itu dan penutur berusaha meyakinkan mitra tutur (halaman 110).

  (21) “Oke. Aku tak punya pilihan. Certiakan saja. Mungkin aku akan

  percaya. Aku harap…” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang menyatakan janji.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur berusaha menghargai mitra tutur atas pernyataan mitra tutur, walaupun penutur sudah berjanji. Namun penutur belum tentu percaya (halaman 110).

  (22) “Bolehkah aku melanjutkan ceritaku? Atau…?”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang menawarkan sesuatu.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur ingin mengungkapkan suatu hal, dan berharap mitra tutur mau mendengarkan (halamn 111).

  (26) “Bukan. Saya hanya akan menunjukan sesuatu kepada Anda.

  Terserah Anda bersedia atau tidak.” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang menawarkan sesuatu.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur berharap mitra tutur mau menerima suatu penawaran yang diberikan oleh penutur (halaman 173). Tuturan (16), disampaikan oleh Kades Tasripan terhadap Panji, ketika Panji datang ke rumah Kades. Percakapan ini terjadi di rumah Kades Tasripan.

  Pada saat itu Kades mendengar kabar, bahwa ada anak kecil hilang. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (16) adalah ilokusi komisif yang menyatakan janji. Tuturan Kades merupakan suatu pernyataan yang berupa janji. Dalam sebuah tuturan berjanji tidak selalu menggunakan kata ‘janji.’ Akan tetapi dalam konteks tuturan ini, Kades berjanji kepada Panji dan Istrinya. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (16) adalah (1) penutur tergesa-gesa dan mengabaikan mitra tutur, (2) penutur ingin mengerjakan hal lain yang lebih penting. Penutur dalam kondisi mendesak tidak memiliki waktu lagi untuk melakukan percakapan.

  Pada tuturan (16), penutur berusaha meyakinkan mitra tutur. Sehingga mitra tutur percaya dengan apa yang dilakukan oleh penutur, yaitu mencari anak kecil yang hilang.

  Tuturan (18), disampaikan oleh Hari terhadap Panji, ketika mereka baru saja menyadarkan diri. Sebelumnya keduanya tak sadarkan diri. Percakapan ini terjadi ketika Hari dan Panji berada di dalam jurang. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (18) adalah ilokusi komisif yang menyatakan sumpah.

  Penutur bersumpah bahwa karena suatu alasan tertentu, yaitu berupa tuturan. Penutur mempengaruhi mitra tutur untuk melakukan suatu hal. Sehingga mitra tutur dapat percaya atau melakukan hal tersebut. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (18) adalah (1) penutur hanya menakut-nakuti mitra tutur, (2) penutur mengajak atau mempengaruhi mitra tutur agar segera pergi meninggalkan tempat itu. Penutur berusaha menakut-nakuti mitra tutur karena suatu hal yang sebelumnya terjadi, dan itu mungkin saja terjadi. Karena takut terjadi apa-apa, maka penutur mengajak mitra tutur untuk segera pergi meninggalkan tempat tersebut.

  Tuturan (20), disampaikan oleh Panji terhadap Hari, pada saat mereka di tengah hutan mendengar suara yang mirip dengan aungan binatang buas.

  Percakapan ini terjadi ketika mereka berada di tengah hutan. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (20) adalah ilokusi komisif yang menyatakan sumpah.

  Penutur berusaha meyakinkan mitra tutur dengan berani bersumpah, karena penutur yakin bahwa suara itu bukanlah suara yang timbul dari dirinya, melainkan suara yang timbul karena ada binatang buas. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (20) adalah penutur takut atas peristiwa itu dan penutur berusaha meyakinkan mitra tutur. Penutur sesunggunya juga takut mendengar suara itu, namun mitra tutur belum percaya bahwa suara yang timbul berasal dari suara binatang buas. Berbeda dengan tuturan komisif yang berupa janji. Tindak ilokusi komisif yang berupa sumpah, tidak memerlukan perbuatan atas janji yang telah disepakati, namum keyakinan dari penutur tersebut untuk membuktikan kebenaran yang telah terjadi.

  Tuturan (21), disampaikan oleh Hari terhadap Panji, ketika mereka berada di tengah hutan, mendengar suara aungan yang mirip dengan suara binatang buas.

  Percakapan ini terjadi ketika mereka berdua berada di tengah hutan. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (21) adalah ilokusi komisif yang menyatakan janji. Penutur ingin bahwa mitra tutur mengatakan sesuatu yang dianggap oleh penutur masuk akal. Penutur berusaha mempercayai mitra tutur.

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (21) adalah penutur berusaha menghargai mitra tutur atas pernyataan mitra tutur, walaupun penutur sudah berjanji. Untuk menghargai mitra tutur, penutur berusaha berbuat janji dan akan mempercayai apa yang akan diungkapkan oleh mitra tutur. Sebagai bentuk rasa simpati, penutur berusaha meyakinkan mitra tutur akan suatu kebenaran yang akan terjadi.

  Tuturan (22), disampaikan oleh Panji terhadap Hari, ketika mereka berada di tengah hutan, mendengar suara aungan yang mirip dengan suara binatang buas.

  Percakapan ini terjadi ketika mereka berdua berada di tengah hutan. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (22) adalah ilokusi komisif yang menawarkan sesuatu. Penutur belum selesai bercerita, namun mitra tutur memotongnya. Penawaran penutur yang disampaikan oleh mitra tutur adalah suatu hal yang ingin menjadi pokok persoalan tentang apa yang diketahui oleh penutur. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (22) adalah penutur ingin mengungkapkan suatu hal, dan berharap mitra tutur mau mendengarkan. Pada tuturan (22), pesan yang terkandung adalah permohonan ijin. Penutur memohon ijin kepada mitra tutur untuk melanjutkan cerita atau penjelasan sebelum mitra tutur mengentikan penjelasannya. Dengan kata “Bolehkah…”. Penutur mengharapkan sesuatu. Hal tersebut dituturkan lewat sebuah penawaran. Jika mitra tutur menghendaki penutur untuk melanjutkan cerita atau penjelasan penutur, berarti maka komunikasi berlanjut, jika tidak, mitra tutur mungkin mempunyai suatu gagasan tertentu yang berlawanan dengan pendapat penutur.

  Tuturan (26), disampaikan oleh Budiman terhadap Hari ketika Budiman, Hari ,dan Adrian berada di tepi danau. Mereka bertiga bermaksud mencari misteri yang terjadi di danau itu dalam kurun waktu belakangan. Percakapan itu terjadi di tepi danau. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (26) adalah ilokusi komisif yang menawarkan sesuatu. Penutur mengajak mitra tutur untuk menunjukan suatu hal. Namun sikap penutur netral, tidak memaksa mitra tutur percaya atau menyetujui sesuatu yang akan di tunjukan oleh penutur. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (26) adalah penutur ingin menunjukan suatu hal, dan berharap mitra tutur mau menerimanya. Pesan atau maksud yang terkandung pada tuturan (26), menjelaskan bahwa sesunggunhya penutur berharap, agar mitra tutur mempercayai sesuatu hal yang akan ditunjukan oleh penutur. Dengan cara mennuturkan “… Terserah Anda bersedia atau tidak”sikap penawaran tersebut membuat mitra tutur terpengaruhi. Dengan demikian penutur berharap mitra tutur mau menerimanya.

4.2.2.5 Tindak Ilokusi Deklarasi

  Tindak tutur ilokusi deklarasi adalah bentuk tutur yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataanya, berikut ini akan dijelaskan tentang tindak ilokusi deklarasi.

  (27) “Apa yang kami lakukan juga berkaitan dengan keselamatan

  mereka. Sekarang kami harus berpacu dengan waktu. Kami tak tahu pasti berapa jumlah binatang yang hidup dan berkembang biak. Kami sudah membunuh banyak binatang. Tetapi banyak juga yang luput dari kejaran dan berkembang menjadi dewasa. Butuh kerja keras untuk membunuhnya. Binatang yang menjadi raksasa menjadi sangat berbahaya. Beberapa pasukan kami sempat dihancurkan binatang itu. Kami hanya mengkhawatirkan jumlah yang telah menjadi raksasa menjadi begitu besar hingga sulit untuk dikalahkan. Kami butuh bantuan Anda.” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang menyatakan pasrah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur tidak mampu mengatasi masalah yang sedang terjadi, penutur meminta pertolongan kepada mitra tutur (halaman 182).

  (28) “Tak ada manusia yang sempurna…”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang menyatakan pasrah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberikan nasehat atau semangat kepada mitra tutur agar mitra tutur tidak putus asa (halaman 187).

  (29) “Kita tak akan pernah menemukannya. Setidaknya hingga

  sekarang. Mereka bertelur dalam tubuh makhluk hidup!” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang menyatakan pasrah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memeberi tahu kepada mitra tutur bahwa hal tersebut adalah mustahil (halaman 187).

  (30) “Ah… nggak apa-apa. Saya hanya khawatir. Mungkin saya punya

  bakat digondol wewe.” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang menyatakan pasrah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah (1) penutur tidak percaya akan keberadaan wewe, (2) penutur memberitahu bahwa wewe itu tidak ada, (3) penutur mengajak mitra tutur agar tidak takut terhadap wewe (halaman 187). Tuturan (27), disampaikan oleh Hari terhadap Budiman, ketika Hari dan Budiman berada di sebuah laboratorium yang berukuran besar. Laboratorium itu berisi hewan-hewan yang besarnya mirip dengan buaya. Hewan-hewan itu dimasukan ke dalam tabung raksasa. Percakapan itu terjadi pada pagi hari, ketika Hari terbangun, Ia melihat ada sebuah laboratorium yang besar. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (27) adalah ilokusi deklarasi yang menyatakan pasrah. Hari berpasrah karena tidak dapat melakukan apa-apa atas kejadian aneh itu. Tuturan itu dituturkan oleh Hari terhadap Budiman. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (27) adalah penutur tidak mampu mengatasi masalah yang sedang terjadi, penutur meminta pertolongan kepada mitra tutur. Penutur tidak dapat mengatasi massalah sendirian. Oleh karena itu dari tuturan (27) dapat dijelaskan bahwa penutur sebenarnya meminta pertolongan kepada mitra tutur.

  Tuturan (28), disampaikan oleh Panji terhadap Hari, ketika mereka berada di teras rumah. Hari bermaksud kembali ke kecamatan, namun dalam perjalanan Ia melihat Panji yang sedang duduk termenung. Percakapan ini terjadi di teras rumah Panji. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (28) adalah ilokusi deklarasi yang menyatakan pasrah. Penutur yakin bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan oleh karena itu, dalam tuturan tersebut secara tidak langsung menjelaskan kepada mitra tutur agar tidak terbawa pada perasaan pesimis. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (28) adalah penutur memberikan nasehat atau semangat kepada mitra tutur agar mitra tutur tidak putus asa. Penutur berusaha menasehati atau memberikan semangat kepada mitra tutur, walaupun penutur sendiri juga memiliki keterbatasan. Pada tuturan (28), Panji sadar bahwa kemampuan manusia dapat dikalahkan oleh kemajuan tekhnologi. Tuturan (28) mngandung pesan lain yang dipat dijelaskan yaitu, memberi semangat mitra tutur untuk terus melakukan penelitian yang sudah mereka rencanakan sejak awal.

  Tuturan (29), disampaikan oleh Panji terhadap Hari, ketika mereka berada di teras rumah Panji. Keduanya sedang membahas tentang dinosaurus.

  Percakapan ini terjadi di teras rumah Panji. Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (29) adalah ilokusi deklarasi yang menyatakan pasrah. Pada tuturan tersebut, suatu hal yang mustahil terjadi, karena dinosaurus telah punah berjuta- juta tahun yang lalu. Penutur merasa bahwa dalam pencarianya, ia seperti melihat keberadaan dinosaurus yang berada di tengah-tengah danau. Tetapi itu bukan dinosaurus. Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (29) adalah penutur memeberitahu kepada mitra tutur bahwa hal tersebut adalah mustahil, selain itu maksud atau pesan yang terdapat dalam tuturan (29), adalah sia-sia mencari keberadaan atau tanda-tanda binatang tersebut. Penutur berharap, mitra tutur mampu memahami isi pesan yang terkandung dalam tuturan (29).

  Tuturan (30), disampaikan oleh Hari terhadap Lelaki penduduk Desa. Pada saat itu Hari bersama lima penduduk desa sedang mencari bocah yang hilang.

  Mereka menyusuri desa, percakapan itu terjadi ketika Hari bersama lima lelaki penduduk desa itu berjalan menyusuri desa untuk mencari bocah yang hilang.

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (30) adalah ilokusi deklarasi yang menyatakan pasrah. Hari menegaskan bahawa Ia tidak mungkin digondol wewe.

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan (30) adalah (1) penutur tidak percaya akan keberadaan wewe, (2) penutur memberitahu bahwa wewe itu tidak ada, (3) penutur mengajak mitra tutur agar tidak takut terhadap wewe. Tuturan (30), menjelaskan bahwa penutur dengan akal sehat tidak akan percaya dengan hal-hal mistis. Kerena penutur hanya membutuhkan suatu bukti ilmiah, sebagai landasan atas penelitian yang selama ini dilakukan. Penutur juga mempengaruhi penduduk desa agar tidak percaya dengan hal-hal mistis, karena tidak dapat masuk kedalam akal sehat manusia. Tuturan (30), Hari berusaha menjelaskan terhadap penduduk desa bahwa jangan takut dan jangan percaya dengan hal-hal mistis yang tidak dapat dijelaskan dengan logika.

4.3. Hubungan Novel Kemamang dengan Tindak Tutur Ilokusi Berdasarkan isi cerita, novel Kemamang mengandung tindak tutur ilokusi.

  Sebagaimana yang telah diteliti, tindak tutur ilokusi tersebut berdasarkan pengelompokkan Searle melalui Rahardi (2003).

  Isi cerita dalam novel Kemamang yaitu dua orang pemuda yang bernama Panji dan Hari telah tersipah dari kelompoknya tersesat di sebuah desa. Panji dan Hari yang sebelunya tergabung dalam kelompok bertujuan untuk meneliti jejak Harimau Jawa. Dua pemuda ini kemudian mengalami kejadian aneh selama tinggal di desa tersebut. Banyak kejadian aneh, banyak sapi yang mati, jejak-jejak kaki raksasa, cahaya-cahaya aneh. Dan akhirnya Panji dan Hari berjanji kepada penduduk desa untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sehingga tidak ada lagi kejadian aneh di desa tersebut. Jika dilihat dari isi cerita di atas, secara alur keseluruhan cerita menggambarkan bahwa sekelompok orang yang memiliki maksud dan tujuan tertentu, justru maksud atau tujuan tertentu tidak dapat dicapai. Dan alur cerita yang berhubungan dengan tindak tutur ilokusi menurut Searle adalah tindak tutur ilokusi komisif yang berarti berjani atau melakukan janji.

  Berdasarkan analisis data, tuturan dalam novel Kemamang yang paling banyak muncul adalah tindak tutur ilokusi direktif. Tindak tutur direktif berjumlah 73 tuturan. Tindak tutur direktif merupakan tindak tutur yang berupa perintah dan menasehati. Tindak tutur direktif memiliki maksud ilokusi yaitu mengajak, menolong, dan menyuruh. Tindak tutur ilokusi asertif berjumlah 69 tuturan. Tindak tutur asertif merupakan tindak tutur ilokusi yang berupa menyatakan, menyarankan, membual, mengeluh, dan mengklaim. Tindak tutur ilokusi asertif memiliki maksud ilokusi yaitu mengabaikan, mengajak, memberikan, memberitahu, menakut-nakuti, dan menyuruh. Tindak tutur ilokusi komisif berjumlah 23 tuturan. Tindak tutur ilokusi komisif merupakan tindak tutur ilokusi yang berupa berjanji, bersumpah, dan menawarkan sesuatu. Tindak tutur ilokusi komisif memiliki maksud ilokusi yaitu mengabaikan, mengerjakan, menakut- nakuti, mengajak, mempengaruhi, merasa takut, meyakinkan, menghargai, dan berharap. Tindak tutur ilokusi ekspresif berjumlah 15 tuturan. Tindak tutur ilokusi ekspresif merupakan tindak tutur ilokusi yang berupa berterima kasih, meminta maaf, menyalahkan, memuji dan berbelasungkawa. Tindak tutur ilokusi ekspresif memiliki maksud ilokusi yaitu menyetujui, menyuruh, mengingatkan, mengabaikan, memperhatikan, tidak bisa melakukan, merasa heran, dan menyadari. Tindak tutur ilokusi deklarasi merupakan tindak tutur ilokusi yang berupa berpasrah. Tindak tutur ilokusi deklarasi memiliki maksud ilokusi yaitu meminta pertolongan, memberi nasihat, memberitahu, tidak percaya dan mengajak.

   

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

  Dari analisis data terdapat lima wujud tindak tutur ilokusi yang ditemukan dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan. Berikut ini lima wujud tindak tutur ilokusi tersebut.

  1. Asertif yang berupa menyatakan, menyarankan, membual, mengeluh, dan mengklaim.

  2. Direktif yang berupa perintah, dan menasehati.

  3. Ekspresif yang berupa berterima kasih, meminta maaf, menyalahkan, memuji, dan berbelasungkawa.

  4. Komisif yang berupa berjanji, bersumpah, dan menawarkan sesuatu.

  5. Deklarasi yang berupa berpasrah.

  Dari analisis data ditemukan juga maksud ilokusi yang terdapat dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan. Pada bab IV, telah dijelaskan maksud ilokusi yang terdapat dalam novel Kemamang. Maksud ilokusi asertif berdasarkan analisis data antara lain; mengabaikan, mengajak, memberikan,

  

memberitahu, menakut-nakuti, dan menyuruh . Maksud ilokusi direktif

berdasarkan analisis data antara lain; mengajak, menolong, dan menyuruh.

  Maksud ilokusi ekspresif berdasarkan analisis data, antara lain; menyetujui,

  

menyuruh, mengingatkan, mengabaikan, memperhatikan, tidak bisa melakukan,

   

merasa heran, dan menyadari . Maksud ilokusi komisif berdasarkan analisis data,

  antara lain; mengabaikan, mengerjakan, menakut-nakuti, mengajak,

  

mempengaruhi, merasa takut, meyakinkan, menghargai, dan berharap . Maksud

  ilokusi deklarasi berdasarkan analisis data, antara lain; meminta pertolongan, memberi nasehat, memberitahu, tidak percaya, dan mengajak .

  Dari hasil analisis data ditemukan 195 data. Data yang paling banyak ditemukan adalah tindak tutur ilokusi direktif yang berjumlah 73 data, sedangkan data yang paling sedikit ditemukan adalah tindak tutur ilokusi ekspresif yang berjumlah 15 data dan tindak tutur ilokusi deklarasi yang berjumlah 15 data.

5.2 Saran

  Penelitian ini meneliti tentang tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam novel, khususnya meneliti tentang wujud ilokusi dan maksud ilokusi yang tedapat dalam novel. Percakapan dalam bentuk tuturan di dalam novel sangat bermacam- macam. Ekspresi yang ditimbulkan melalui percakapan tokoh dalam novel juga bermacam-macam. Peneliti lain yang meneliti novel dalam bidang pragmatik, khusunya dalam tindak tutur ilokusi, disarankan agar meneliti tentang praanggapan, kedwibahasaan, kesantunan. Karena penelitian tentang tindak tutur ilokusi sudah banyak dilakukan.

  

DAFTAR PUSTAKA

Black, Elizabeth. 2011. Stilistika Pragmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  Chaer, Abdul. 2011. Ragam Bahasa Ilmiah. Jakarta: Rineka Cipta. Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal.

  Jakarta: Rineka Cipta. Cummings, Louise. 2007. Pragmatik Sebuah Perspektif Multidisipliner.

  Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Danesi, Marcel. 2010. Pengantar Memahami Semiotika Media. Yogyakarta: Jalasutra.

  Ibrahim, Abd Syukur. 1993. Kajian Tindak Tutur. Surabaya: Usana Offset Printing. Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta : U-I Press. Moleong, Lexy. J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pranowo. 2009. Berbahasa Secara Santun.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pratiwi, Vita Dewi. 2011. Tindak Tutur Ilokusi dalam Wacana Novel Grafis

  Eendaagsche Exprestreinen Pengarang Risdianto dan Yusi Avianto Pareanom. Yogyakarta: PBSID, Universitas Sanata Dharma.

  Purba, Antilan. 2010. Sastra Indonesia Kontemporer.Yogyakarta: Graha Ilmu. Purwo, Bambang Kaswanti. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa Menyibak Kurikulum 1984. Yogyakarta: Kanisius.

  Rahardi, Kunjana. 2005. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.

  Jakarta: Erlangga. ______________. 2003. Berkelaan Dengan Ilmu Bahasa Pragmatik. Malang: Dioma.

  Rani, Abdul, dan Arifin, Bustanul, serta Martutik. 2004. Analisis Wacana Sebuah Malang: Bayumedia Publishing.

  Kajian Bahasa dalam Pemakaian.

   

  Sarwoyo, Ventianus. 2009. Tindak Ilokusi dan Penanda Tingkat Kesantunan di

  dalam Surat Kabar (Suatu Tinjauan Sosiopragmatik) . Yogyakarta: PBSID, Universitas Sanata Dharma.

  Setyawan, Koen. 2009. Kemamang. Jakarta: Goodfaith Production. Tarigan Henry, Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa. Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset. Yule, George. 2006. Pragmatik.. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.  

   

LAMPIRAN

  1. Sinopsis novel Kemamang karya Koen Setyawan.

  Novel Kemamang merupakan jenis karya sastra fiksi yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh. Di dalam novel tersebut selain terdapat tokoh juga ada tema, alur, setting, penokohan, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat. Unsur unsur tersebut merupakan bagian dari isi novel yang menentukan cerita. Novel

  

Kemamang ditulis oleh Koen Setyawan. Novel ini dicetak pada bulan Desember

  tahun 2009, dan diterbitkan oleh Goodfaith Production. Novel ini terdiri dari 35 sub judul dan terdiri dari 317 halaman.

  Deskripsi singkat novel Kemamang, dua peneliti harimau jawa terpisah dengan kelompoknya yang dihantui cahaya-cahaya aneh. Keesokan harinya, mereka mendapati dirinya berada di tepian Danau Bakalan, danau yang dianggap angker oleh masyarakat lokal.

  Mereka terlibat dalam serentetan kejadian mengerikan seperti sapi yang mati secara mengenaskan, jejak-jejak kaki raksasa, bayangan raksasa mirip buaya bercakar besar, anak-anak yang menghilang di dekat danau, suara-suara gamelan yang terdengar dari dalam danau, dan kemunculan-kemunculan cahaya aneh. Cahaya-cahaya yang dikenal sebagai kemamang, akhirnya menuntun mereka menguak tabir misteri yang menyelimuti Danau Bakalan selama ratusan tahun. Bahaya sedang mengintai dari kedalaman danau. Mereka harus bergerak cepat atau keselamatan penduduk desa jadi taruhannya.

  Inti cerita yang terdapat dalam novel Kemamang adalah dua peneliti yang bermaksud meneliti tentang jejak harimau jawa justru terlibat dalam suatu kejadian aneh yang tidak mereka duga. Peristiwa aneh dan kejadian mengerikan terjadi pada mereka. Bukan jejak-jejak harimau yang mereka temukan, tetapi keselamatan penduduk desa ada di tangan mereka.

  2. Wujud dan maksud tindak tutur ilokusi novel Kemamang

2.1 Wujud dan maksud tindak tutur ilokusi asertif

  1. “Lebih baik Mas ke Balai Desa dulu. Lewati jalan ini lurus saja. Kira-kira

  lima kilometer dari sini. Saya yakin pegawai desa bisa membantu Mas.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang bersifat memberi saran.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah memberi tahu mitra tutur bahwa di balai desa pegawai desa ada pegawai desa yang dapat memberikan pertolongan agar tidak tersesat lagi ( halaman 17). 2. “Tak menarik. Tak ada yang baru. Pikiranku ga di situ. Apa yang kamu

  dapatkan?” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa keluhan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengabaikan dalam mengikuti pertemuan Tim (halaman 28). 3. “Akhir-akhir ini beberapa binatang ternak yang digembalakan di dekat

  danau hilang secara misterius. Beberapa hari kemudian binatang- binatang itu ditemukan mati mengenaskan. Isi perut dan kepalanya hilang.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang bersifat menjelaskan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberi tahu mitra tutur agar menyelidiki penyebab terjadinya binatang hilang secara misterius (halaman. 33). 4. ‘‘He… eh … sepertinya kita tak akan pernah sampai ke tempat lampu itu.

  Lampu itu seperti menjauhi kita.” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa memberi saran.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengabaikan apa yang telah mereka lihat, maksud lain yang melekat agar penutur mengajak mitra tutur beristirahat (halaman 10). 5. “Tak tahulah. Aku sudah capek mengejarnya.”

   Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa keluhan.

   Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur beristirahat (halaman 10). 6. “Ada cahaya di kejauhan. Kami mengikutinya sampai kemari.”

   Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa pernyataan.

   Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu terhadap mitra tutur agar mitra tutur memberikan tempat istirahat kepada penutur (halaman 14). 7. “Cahaya itu mendatangi kami. Kami ketakutan dan tak sadarkan diri.”

   Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa pernyataan.

   Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu terhadap mitra tutur agar mitra tutur dapat menolong penutur (halaman 14). 8. “Susah menjelaskannya. Itu semacam makhluk halus. Banyak orang

  disini melihatnya.” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang bersifat mengklaim.

   Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu terhadap mitra tutur agar mitra tutur berhati-hati menjaga tingkah laku mereka, maksud lain yang terkandung adalah penutur menakut-nakuti mitra tutur supaya tidak berperilaku tidak sopan atau sembarangan (halaman 16). 9. “Ya aku pikir demikian. Kita merasa kejadiannya sangat cepat, tetapi

  ternyata waktu yang kita alami sangat lama hampir 6 jam lebih. Kita hanya merasakanya selama beberapa menit saja.” Wujud ilokusi ;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang bersifat mengklaim.

   Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur tidak akan melakukan suatu hal yang dilakukan lagi (halaman 22). 10. “Waduh… aku baru ingat sesuatu. Tim kita ada pertemuan. Sialan!”

  Wujud ilokusi ;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa keluhan.

   Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk hadir dalam pertemuan tim , maksud kedua adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk menghadiri pertemuan Tim (halaman 23).

  11. “Ada peneliti UFO yang pernah mengunjungi desa-desa di Jawa. Ia

  melihat seperti apa yang kita lihat.” Wujud ilokusi ;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang bersifat memberitahu.

   Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur agar melakukan ekspedisi (halaman 29). 12. “Saya tidak tahu, Mas. Tubuhnya masih utuh. Hanya jerohan dan bola

  matanya saja yang hilang. Otaknya juga hilang.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur tentang apa yang sebenarnya terjadi maksud lain yang terkandung adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk menyelesaikan masalah tersebut (halaman 34).

  13. “Mungkin 12 kali atau lebih. Tapi waktu saya masih muda, kejadian itu

  pernah terjadi. Ternak-ternak tiba-tiba hilang di tepi danau dan ditemukan dalam keadaan mati dan hilang jerohannya. Orang sini menganggapnya dimakan oleh jenglot.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa mengklaim.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur tentang apa yang sebenarnya terjadi maksud lain yang terkandung adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk menyelesaikan masalah tersebut (halaman 34).

  14. “Ya Makhluk halus. Manusia kerdil dengan rambut panjang. Orang-

  orang percaya makhluk itu mengisap darah. Untuk menjaga agar ternaknya tidak dimakan jenglot, orang-orang mulai mengecat ternaknya dengan pewarna. Orang sini menyebutnya sumbo. Biasanya berwarna merah muda.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa mengklaim.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur tentang apa yang sebenarnya terjadi, maksud lain yang terkandung adalah penutur menyuruh mitra tutur berhati-hati dan waspada (halaman 34).

  15. “Perasaan saya, waktu terjadi peristiwa itu Cuma sebentar saja. Tetapi,

  ternyata saya cocokkan dengan jam tangan saya, ternyata berlangsung sangat lama. Lalu ketika saya pulang, saya hampir tak bisa tidur selama 3 hari. Berikutnya saya hampir tak bisa bangun selama 2 hari. Tidakkah itu aneh?” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur agar tidak melakukan hal seperti itu lagi (halaman 36).

  16. Ya. Mungkin semacam perasaan aneh dan seperti diikuti terus-menerus.

  Tapi akan hilang dengan sendirinya. Anda tak perlu khawatir. Dulu memang banyak yang bertemu kemamang. Tetapi sekarang sudah jarang.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur tentang apa yang sebenarnya terjadi, maksud lain yang terkandung adalah penutur menasehati mitra tutur (halaman 36).

  17. “Saya tidak mengatakannya demikian. Maksud saya, orang-orang jarang bertemu kemamang karena memang jarang ada yang pergi ke danau.

  Terutama menjelang maghrib.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur agar tidak pergi ke danau pada waktu maghrib tiba (halaman 36). 18. “Saya tidak tahu ada yang percaya kemamang itu berhubungan dengan

  makhluk-makhluk di danau. Tapi yang jelas, kami tak punya bukti apa pun.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menakut-nakuti mitra tutur (halaman 37). 19. “Saya pikir demikian. Lalu tiba-tiba kami mendengar suara gemericik air dari arah danau. Saat itu gelap. Kami hanya melihat bayangan semak.

  Saya dan teman-teman sangat ketakutan setengah mati. Apalagi malam- malam begini. Di tepi danau lagi. Tapi kami penasaran. Jadi kami memberanikan diri untuk mendekati danau dan menyorotkan lampu senter ke permukaan air danau. Lalu kami melihat sesuatu yang besar menyelam ke dalam air. Saya tak tahu apa itu. Tapi nampaknya besar sekali.

Mungkin itu binatang buas yang memakan sapi saya, Pak Kades.”

Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur tentang apa yang sebenarnya terjadi, maksud lain yang terkandung adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk menyelesaikan masalah tersebut (halaman 41).

  20. “Saya masih tak habis pikir. Bagaimana sapi itu bisa sampai ke dekat

  danau. Malam-malam begini lagi.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa mengeluh.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur penutur menyuruh mitra tutur untuk menyelesaikan masalah tersebut (halaman 42). 21. “Ya, benar, Mas. Sudah ada 6 kejadian ternak hilang dalam 3 bulan ini.

  Mungkin pencurian. Tapi hingga sekarang pelakunya belum tertangkap. Tapi kalau dipikir-pikir, kalau benar sapi itu dicuri, buat apa pencurinya membawa sapi itu ke dekat danau? Itu kan sama saja dengan bunuh diri?” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa mengklaim.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur tentang apa yang sebenarnya terjadi, maksud lain yang terkandung adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk menyelesaikan masalah tersebut (halaman 42).

  22. “Hanya buaya yang bisa terjun ke dalam air tanpa menimbulkan bunyi

  yang keras. Lagi pula binatang macam apa lagi yang bisa melakukannya? Tetapi kaki buaya tak seperti itu bentuknya. Saya jadi bingung sendiri, Pak.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa megklaim.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur tentang apa yang sebenarnya terjadi maksud lain yang terkandung adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk menyelesaikan masalah tersebut (halaman 52).

  23. “Lebih baik kita lapor polisi.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyarankan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk menyelesaikan masalah tersebut (halaman 52). 24. “Mereka menuduh pelakunya para penganut aliran sesat. Tapi mereka tak

  menemukan bukti-bukti.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa mengklaim.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk menyelesaikan masalah tersebut (halaman 56). 25. “Bagaimana mungkin? Kamu orang Biologi. Harusnya kamu tahu”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa mengklaim.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk melakukan sesuatu(halaman 57) 26. “Mungkin ada binatang purba yang tinggal di danau itu…”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa mengklaim

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk melakukan sesuatu agar mitra tutur mengetahui penyebab peristiwa itu (halaman 58). 27. “Kita pernah tersesat di hutan di dekat danau itu dan bertemu

  

kemamang. Mungkinkah kita dekat dengan kerajaan siluman itu?”

Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur tentang apa yang sebenarnya terjadi, maksud lain yang terkandung adalah penutur berusaha meyakinkan mitra tutur (halaman 65).

  28. “Entahlah. Aku rasa dongeng Prabu Maheso itu ada hubungannya

  dengan kemamang dan segala misteri ini. Kita harus pergi ke danau itu pada malam hari!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk segera memecahkan masalah yang terjadi (halaman 65). 29. “Ada bocah hilang!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar segera mencari bocah yang hilang tersebut (halaman 70). 30. “Ada patahan ranting!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar berhati-hati (halaman 75) 31. “Ya. Nampaknya bocah itu menuju … hutan!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar mencari bocah tersebut (halaman 76). 32. “Itu hanya suara angin”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar mengabaikan sesuatu yang terjadi atau yang dialami mitra tutur (halaman 80). 33. “S…saya… saya pikir kita sudah melangkah terlalu jauh ke dalam

  hutan,” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar tidak melanjutkan perjalanan (halaman 85). 34. “Aduh! Kepalaku … Di mana orang-orang yang lain?”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa mengeluh.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar memberikan pertolongan (halaman 93).

  35. “Itu serangan psikologis. Ketakutan kitalah yang mereka kendalikan. Aku

  juga sama bodohnya denganmu… Mereka sepertinya hanya ingin mengusir kita saja,” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa mengklaim.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar mengabaikan sesuatu yang menjadi persoalan (halaman 94). 36. “Kita jatuh ke dalam jurang. Itu yang bisa aku tahu …”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar meminta pertolongan atau berusaha naik ke atas, atau menyelamatkan diri dari jurang (halaman 94)

  37. “Terlalu curam di sini. Mungkin kita harus berjalan agak jauh untuk

  menemukan jalan yang lebih landai.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyarankan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan sesuatu (halaman 96). 38. “Oke. Ini satu-satunya harapan kita. Tapi kita harus berhati-hati. Pohon

  ini bisa sewaktu-waktu tumbang!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyarankan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar berhati-hati (halaman 99). 39. “Aku mendengar suara auman di atas sana!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar berhati-hati (halaman 109).

  40. “Baiklah. Saat aku hampir di atas sana. Aku melihat semak-semak itu bergerak-gerak. Lalu ada suara auman. Seperti suara buaya dan harimau.

  Aku tak tahu pasti. Tapi terdengar keras dan menyeramkan…” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur tentang apa yang sebenarnya terjadi (halaman 110). 41. “Ya. Pohon itu tumbang. Di dekat kaki kita,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar berhati-hati (halaman 112). 42. “Mungkin UFO-UFO itu makhluk-makhluk yang sama jenisnya dengan

  Maheso Sora. Mungkin mereka tak lebih dari kemamang. Makhluk halamanus itu.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa mengklaim.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan suatu hal (halaman 118). 43. “Lebih baik aku mencari jalan keluar dari sini.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyarankan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar membantu penutur untuk mencari jalan keluar (halaman 120). 44. “Yeah. Lebih baik begitu. Aku mau duduk sebentar saja. Rasanya kakiku

  mulai baikan,” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyarankan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur bahwa penutur ingin beristirahat (halaman 120).

  45. “Aku gagal lagi.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa mengeluh.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur bahwa penutur memerlukan bantuan (halaman 124). 46. “Ya. Sedikit lecet. Tapi aku kecewa,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa mengeluh.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur bahwa penutur memerlukan bantuan (halaman 125). 47. “Aku ingin secepatnya keluar dari sini.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur bahwa penutur memerlukan bantuan (halaman 126). 48. “Ssttttttt … Lebih baik kau menghemat energimu. Kita butuh tenaga ekstra

  untuk keluar dari sini.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyarankan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar tidak banyak melakukan sesuatu (halaman 131). 49. “Suara itu! Kamu dengar suara itu?”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan hal yang dikatakan oleh penutur (halaman 131).

  50. “Mereka sudah datang!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar berhati-hati (halaman 132). 51. “Lebih baik Mas Hari istirahat dulu. Nanti kita bicara lagi.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyarankan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur meyakinkan mitra tutur agar melakukan apa yang telah dikatakan oleh penutur (halaman 141). 52. “Aku mungkin beruntung. Mungkin juga tidak. Mungkin ada sesuatu

  masalah dengan peliharaan mereka dan mereka belum berhasil mengatasinya. Aku pikir mereka tak mau kita diserang makhluk itu. Tapi aku juga berpikir sebenarnya mereka ingin tetap menjaga kerahasiaan mereka.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar berhati-hati (halaman 147-148). 53. “Tak tahu. Semakin banyak informasi yang aku peroleh, aku semakin

  kebingungan merangkainya. Masih banyak yang perlu kita ketahui. Tapi yang paling aku khawatirkan adalah Baryonyx itu. Aku mau menghubungi teman-teman di kampus! Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu kepada mitra tutur bahwa penutur membutuhkan bantuan (halaman 148). 54. “Tak ada buaya di danau itu,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur harus berhati-hati dan waspada (halaman 156). 55. “Manusia! Kami sudah menemukan buktinya,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar membantu penutur untuk menyelesaikan masalah (halaman 156). 56. “Mereka mengatakannya padaku. Mereka pasukan patrol ke-16!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar membantu penutur, karena penutur membutuhkan bantuan (halaman 161). 57. “Anggap saja kebetulan. Saya kebetulan sedang meneliti Harimau Jawa

  di gunung di sana itu,” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar membantu dalam menyelesaikan sesuatu hal atau misi tertentu (halaman 165). 58. “Kami harus menangkap dan mempelajarinya sebelum mengetahui

  kelemahannya. Kami takut terlambat.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar menyuruh mitra tutur mencari kebenaran untuk mendapatkan jawaban tertentu (halaman 177). 59. “Binatang itu yang telah menyerang manusia dan ternak.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar membantu mencari binatang yang telah memakan ternak (halaman 178). 60. “Mencari binatang liar. Si cakar besar.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur agar membantu mencari atau memburu binatang buas (halaman 185)

  61. “Apa pun mereka, bagaimana tampang mereka sesungguhnya, kini tak

  penting lagi. Kita sedang berpacu dengan waktu. Makhluk buas itu mulai merajalela.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur agar membantu dalam menyelesaikan sesuatu hal (halaman 188). 62. “Saya tak suka suara itu,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur agar segera pergi ke tempat lain karena penutur takut ada suara tersebut (halaman 205). 63. “Suara burung dares, Mas. Katanya sih kalau kita mendengarnya, akan

  ada orang mati.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa mengklaim.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur bahwa kepercayaan di desa seperti itu, penutur menyuruh mitra tutur untuk berhati-hati (halaman 205). 64. “Lebih baik anak-anak ini kita bawa ke balai desa. Orang tuanya tentu

  melapor ke Pak Kades.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyarankan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur agar segera memberikan pertolongan (halaman 214) 65. “Ada yang datang!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyarankan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur agar segera menyambut yang datang (halaman 235). 66. “Tapi kalau boleh saya usul, Pak.. mungkin sebaiknya kita ke…,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyarankan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu (halaman 251) 67. “Aku merasa tak enak. Aku merasa lebih baik kita di atas bukit sana

  saja…” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk mengikuti penutur pindah ke tempat lain (halaman 269). 68. “Saya kira ini infeksi, Pak Kades. Kita harus segera membawanya ke

  dokter!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyarankan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk segera mencari bantuan (halaman 279). 69. “Doa kita terkabul. Tuhan menyelamatkan kita…,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi asertif yang berupa menyatakan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk bersyukur (halaman 311).

2.2 Wujud dan maksud tindak tutur ilokusi direktif

  70. “Bune, tolong ambilkan air putih!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi direktif yang bersifat memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur menyuruh mitra tutur agar membuatkan minuman karena sedang ada tamu, maksud lain yang terkandung dalam tuturan tersebut, penutur menemui tamu sehingga mitra tutur yang membuatkan minuman untuk tamu tersebut. (halaman 40). 71. “Lebih baik kita ke tempat bangkai sapimu ditemukan

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi direktif yang bersifat memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur menyuruh mitra tutur kembali ke tempat bangkai-bangkai sapi tersebut ditemukan!”( halaman 47). 72. “Lihat ini apa yang saya temukan. Sebuah jejak kaki!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi direktif yang bersifat memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur menyuruh mitra tutur agar mitra tutur melihat apa yang telah dilihat oleh penutur. (halaman 48). 73. “Rumah! Lihat cahaya lampu disana!”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

   Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur segera menuju suatu rumah yang mereka lihat (halaman 7).

  74. “Lihat, cahaya itu membesar!”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk segera pergi menuju cahaya itu (halaman 10). 75. “Ya lebih baik kamu yang datang. Aku mau cari info dulu.”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk hadir dalam pertemuan Tim, maksud kedua adalah penutur memiliki kesibukan lain sehingga tidak dapat berangkat dalam pertemuan Tim (halaman 23).

  76. “O… Oke. Telepon aku jika ada info penting.”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur memberi kabar (halaman 23). 77. “Kita harus kembali ke desa itu!”

   Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur kembali ke desa karena suatu hal yang penting (halaman 31). 78. “Nah sekarang,coba ceritakan apa yang terjadi?”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang menyatakan perintah.

   Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah, (1) penutur menyuruh menjelaskan kejadian yang terjadi, (2) penutur ingin menolong mitra tutur (halaman 40). 79. “Jangan Nak Panji! Itu bukan tindakan yang bijaksana. Besok pagi saja

  kita pergi ke sana. Sekarang sudah terlalu gelap dan berbahaya. Siapa tahu binatang buas itu kembali….” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melaksanakan nasehat atau larangan penutur (halaman 42). 80. “Lihat di sini lagi!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa perintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan hal yang dikatakan oleh penutur (halaman 49). 81. “Coba kita lihat!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa perintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan hal yang dikatakan oleh penutur (halaman 57). 82. “Lihat kakinya! Lihat model kakinya! Kau pernah melihatnya?”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa perintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan hal yang dikatakan oleh penutur (halaman 57). 83. “Aaaah, coba lihat skets ini!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa perintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan hal yang dikatakan oleh penutur (halaman 57)

  84. “Ayo kita berangkat!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar segera berkemas-kemas (halaman 71). 85. “Lewat sini!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan hal yang dikatakan oleh penutur (halaman 73). 86. “Endang! Endang! Pulanglah, Nak!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan hal yang dikatakan oleh penutur (halaman 74). 87. “Coba dengarkan baik-baik!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan hal yang dikatakan oleh penutur (halaman 80). 88. “Jangan pesimis. Pasti ada jalan. Sebaiknya kita mulai mencarinya!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa menasehati.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur agar segera mencari jalan keluar (halaman 94). 89. “Yap. Aku kira tak sulit. Bibir jurang beberapa meter lagi. Aku pikir kita

  bisa merayap ke atas. Tenang saja…,” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa menasehati.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur agar terus melakukan hal yang sedang dilakukan (halaman 102). 90. “Ada sesuatu di atas sana! Aku tak bisa melihat dengan jelas…,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melihat apa yang tekah dilihat oleh penutur (halaman 105). 91. “Awas! Apa yang kamu lakukan? Jangan bergerak berlebihan! Pohon ini

  oleng!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar berhati-hati (halaman 106). 92. “Hei! Berhenti bergerak-gerak! Kita bisa jatuh!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar berhati-hati (halaman 106).

  93. Coba ceritakan tentang si cakar besar itu!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan suatu hal (halaman 115).

  94. “Kamu sudah berusaha, kawan. Kita akan menemukan cara keluar dari

  tempat ini.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa menasehati.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur bahwa penutur menyelesaikan masalah yang sedang dialami (halaman 125). 95. “Aku tak akan bergantung pada orang lain. Kita harus menemukan

  caranya. Bisakah kamu lebih tenang sedikit?” (halaman 126) Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa menasehati.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur bahwa penutur menyelesaikan masalah yang sedang dialami (halaman 126). 96. “Hadapi mereka jika mereka muncul lagi!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa perintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur bahwa penutur melakukan sesuatu (halaman 127). 97. “Kita tunggu hingga malam tiba!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa perintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur bahwa penutur melakukan sesuatu (halaman 129). 98. “Bangun… bangun !”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan suatu hal (halaman 131).

  99. “Jangan takut. Kamu tak akan disakiti.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa menasehati.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar tenang dan berhati-hati (halaman 135). 100. “Anda harus pergi dari sini. Berbahaya sekali.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan apa yang telah dikatakan oleh penutur (halaman 135). 101. “Ayo anak-anak. Kita berangkat!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar mitra tutur segera berkemas-kemas (halaman 141). 102. “Kita harus bicara!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar mitra tutur bahwa penutur menpunyai rencana (halaman 141). 103. “Coba kita lihat. Jejak kakinya sekitar 20-25 cm. Mungkin panjang

  cakarnya sekitar 10-15 cm. coba kita cocokkan dengan keterangan dari internet!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar mitra tutur membantu mitra tutur (halaman 155).

  104. “Ya. Kami hanya berpesan kepada pihak kecamatan, kepolisian dan desa agar lebih berhati-hati. Tapi saya pikir tabu itu juga menguntungkan.

  Masyarakat di sini lebih waspada daripada pihak kecamatan dan kepolisian,” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar berhati-hati (halaman 167). 105. “Nggak repot kok. Man, mari kita ambil nasinya!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan hal yang diucapkan oleh penutur (halaman 168). 106. “Akhirnya Anda datang. Lewat sini. Kendaraan kita menunggu!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan hal yang diucapkan oleh penutur (halaman 171). 107. “Coba buka semak-semak itu!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan hal yang diucapkan oleh penutur (halaman 172). 108. “Anda harus percaya!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar mengandalkan penutur dalam menyelesaikan suatu hal (halaman 178)

  109. “Sebenarnya sebuah alat komunikasi. Pakailah! Anda tinggal menekan

  bagian tengahnya jika ingin berhubungan dengan kami. Pesawat patrol kami akan segera datang memenuhi panggilan Anda!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar bekerja sama dalam menyelesaikan suatu masalah, maksud lain adalah penutur mengkhawatirkan mitra tutur (halaman 184).

  110. “Kita tak akan pernah menemukannya. Setidaknya hingga sekarang.

  Mereka bertelur dalam tubuh makhluk hidup!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa berpasrah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar mencegah sesuatu hal yang dapat kemungkinan terjadi (halaman 191). 111. “Ssssstttt! Lihat di sana! Di pekarangan itu, di belakang pepohonan itu!

  Ada orang!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar segera menuju ke arah orang tersebut, maksud lain adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk bertanya kepada orang tersebut (halaman 205).

  112. “Persetan dengan hantu. Kita harus menghentikannya! Sebelum

  terlambat! Ayo kita kejar!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan apa yang dikatakan oleh penutur (halaman 207). 113. “Hei, berhenti, Nduk! Kamu mau ke mana?”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan apa yang dikatakan oleh penutur (halaman 207). 114. “Mungkin lewat sini! Aku menemukan jalan!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan apa yang dikatakan oleh penutur (halaman 208). 115. “Cepat kita kejar!” (halaman 208)

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan apa yang dikatakan oleh penutur (halaman 208). 116. “Kita susul yang itu, Mas. Bocah yang tadi dikejar yang lainnya!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan apa yang dikatakan oleh penutur (halaman 209). 117. “Hei! Biarkan saja mereka mengejarnya! Kita mengejar yang ini. Ayo,

  sebelum terlambat!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur agar melakukan apa yang dikatakan oleh penutur (halaman 210). 118. “Cepat, Nak Hari! Tangkap dia!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan apa yang dikatakan oleh penutur (halaman 211)

  119. “Diam, Dik! Diamlah! Kamu aman sekarang!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan apa yang dikatakan oleh penutur, maksud lain adalah penutur menyuruh tenang (halaman 212). 120. “Sadar, Nduk! Sadar!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan apa yang dikatakan oleh penutur (halaman 212). 121. “Ayo, Mas! Tunggu apa lagi? Kita harus segera ke balai desa!

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar membawa anak tersebut ke tempat yang aman dan mendapat pertolongan (halaman 214). 122. “Masuk dulu! Masuk dulu! Nanti saya jelaskan. Nak Hari, silakan duduk

  dulu!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur bahwa penutur membutuhkan pertolongan (halaman 218). 123. “Kita harus mencegahnya! Kita harus menemukan sisanya!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur harus waspada dan segera menyelesaikan permasalahan yang terjadi (halaman 220). 124. “Ikut aku ke danau itu. Kita akan menemukan jawabannya di sana!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur bahwa penutur membutuhkan pertolongan (halaman 221). 125. “Kamu harus berani! Percayalah padaku! Kita harus berangkat saat ini

  juga!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa menasehati.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu (halaman 221). 126. “Tolong pegang kakinya! Ia mau jatuh!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur, bahwa penutur membutuhkan pertolongan (halaman 238). 127. “Darah! Darah! Perutnya berdarah!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tuturuntuk membersihkan darah tersebut (halaman 239) 128. “Ayo berangkat!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu (halaman 243). 129. “Coba dengar suara apa itu?”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu (halaman 269). 130. “Hey… lihat ada bayangan manusia!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu (halaman 271). 131. “Dengar! Suara kentongan. Sepertinya dari Balai Desa. Ayo kita segera

  kesana!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk menuju ke arah kentongan tersebut (halaman 277). 132. “Ayo Pak, Mas! Kita harus meninggalkan tempat ini! Itu bayi-bayi

  binatang buas!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk menuju ke arah semula karena tempat itu berbahaya (halaman 287). 133. “Lihat, Pak! Siapa yang berdiri di depan sana? Saya melihat bayangan

  seseorang!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk pergi menghampiri bayangan tersebut (halaman 279). 134. “Lewat sini, Nak Hari! Di sini ada jalan tembus!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu (halaman 288). 135. “Ini tanah milik Pak Fuad. Biasanya dipakai untuk membuat batu bata.

  Lewat sini! Kita harus hati-hati! Banyak lubang gaian tanah liat di sini!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur agar berhati-hati (halaman 289). 136. “Mas, bawa senter saya. Mas lebih hapal daerah sini!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar menjadi petunjuk jalan (halaman 289) 137. “Pak Kades! Kita ke sana, Pak! Ke gubuk itu!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu (halaman 289). 138. “Coba lihat di sana, Pak! Di belakang tiga ekor binatang itu! Lihat,

  bayangan beberapa binatang kecil. Telur-telur itu telah menetas dan tumbuh menjadi pemangsa baru!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu (halaman 295).

  139. “Ini kesempatan kita, Pak. Binatang-binatang itu akan kesulitan melihat

  

dan mencium bau dalam hujan. Ayo kita meninggalkan tempat ini!”

Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk mengabaikan peristiwa yang telah terjadi (halaman 297). 140. “Itu bukan kemamang! Lari!!!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk melakukan sesuatu dan mengabaikan hal yang dianggap oleh penutur tidak berbahaya (halaman 302). 141. “Lihat! Binatang besar itu mulai bergerak!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk menjauhi, atau menjaga jarak dengan apa yang dilihat oleh penutur (halaman 307). 142. “Giliran Anda, Pak!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi direktif yang berupa memerintah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberitahu mitra tutur, bahwa penutur tidak berani melakukanya (halaman 309).

2.3 Wujud dan maksud tindak tutur ilokusi ekspresif

  143. “Terima kasih.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi ekspresif yang menyatakan terima kasih.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur mengekspresikan sikap psikologis mitra tutur atas perbuatan yang dilakukan oleh mitra tutur (halaman 41). 144. “Ya… ya… pasti. Terima kasih atas bantuanya.”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang menyatakan rasa terima kasih.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyetujui atas saran yang diberikan mitra tutur serta penutur mengucapkan rasa terima kasih (halaman 17). 145. “Huss! Diam! Jangan bicara sembarangan!”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang menyalahkan.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah (1) penutur menyuruh agar mitra tutur diam, (2) penutur mengingatkan bahwa mitra tutur salah, karena bicara sembarangan (halaman 72). 146. “Ya, aku taka apa-apa. Terima kasih, aku bisa jalan sendiri”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang menyatakan rasa terima kasih.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengabaikan atau tidak membutuhkan bantuan mitra tutur (halaman 95). 147. “Ya, ampun. Apa yang terjadi denganmu?”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang menyatakan rasa belasungkawa.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memperhatikan kondisi yang dialami mitra tutur. Mitra tutur sedang mengalami suatu bencana (halaman 124). 148. “Kamu gila. Kamu berusaha menarik diri dengan akar-akar itu?”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang bersifat memuji.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah (1) penutur belum tentu bisa melakukan hal seperti apa yang dilakukan oleh mitra tutur (2) penutur heran terhadap tingkah laku mitra tutur, hingga melakukan hal tersebut (halaman 125).

  149. “Oh ya? Aku lupa. Sorry kalau aku mengulanginya lagi. Bagaimana

  menurutmu?” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang menyatakan minta maaf.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur penutur sadar akan kesalahan yang dilakukan, oleh karena itu penutur meminta maaf kepada mitra tutur (halaman 162). 150. “Ya. Ampun! Apa yang terjadi denganmu,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang berupa berbelasungkawa.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memperhatikan mitra tutur bahwa mitra tutur sedang dilanda musibah (halaman 124). 151. “Kamu menunggu pertolongan orang desa? Jangan berharap!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang berupa menyalahkan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar memecahkan masalahnya sendiri (halaman 126). 152. “Hei…hei…! Aku tak suka mengarang cerita, tahu!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang berupa menyalahkan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar menghargai penutur (halaman 109).

  153. “Besok pagi, Pak. Terima kasih atas bantuannya selama ini. Sekarang

  kami harus kembali ke kota. Nanti akan saya kabari lagi.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang berupa rasa terima kasih.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memperhatikan sikap mitra tutur terhadap penawaran yang telah diberikan (halaman 168). 154. “Maafkan sedikit gangguan di kepala. Apa yang Anda lihat?”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang berupa meminta maaf.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar mencari bantuan (halaman 175). 155. “Maaf! Aku agak kurang enak badan,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang berupa meminta maaf.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur untuk memahami kondisi fisik penutur, maksud lain yang terkandung adalah penutur tidak dapat ikut (halaman 237). 156. “Ya.. ya. Terimakasih,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang berupa berterima kasih.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memperhatikan mitra tutur untuk memahami kondisi penutur (halaman 277). 157. “Apa! Kamu gila, ya? Mau mati?”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi ekspresif yang berupa menyalahkan.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur berharap mitra tutur tidak melakukan hal seperti yang dikehendaki oleh mitra tutur (halaman 299).

2.4 Wujud dan maksud tindak tutur komisif

  158. “Ya… ya. Tentu saja. Kami yakin. Binatang itu menyelam ke dalam

  air.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi komisif yang bersifat bersumpah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur menyatakan sumpah untuk meyakinkan mitra tutur (halaman 46). 159. “Ya. Tapi aku yakin binatang itu masuk ke dalam air.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi komisif yang bersifat bersumpah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur berusaha meyakinkan mitra tutur melalui tuturan yang bersifat bersumpah (halaman 50). 160. “Tak tahu. Saya segera mencarinya.”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang menyatakan janji.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah (1) penutur tergesa-gesa dan mengabaikan mitra tutur, (2) penutur ingin mengerjakan hal lain yang lebih penting (halaman 70). 161. “Aku berani bertaruh. Mereka bisa menghancurkan kita beberapa

  detik.” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang menyatakan sumpah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah (1) penutur hanya menakut-nakuti mitra tutur, (2) penutur mengajak atau mempengaruhi mitra tutur agar segera pergi meninggalkan tempat itu (halaman 93).

  162. “Bukan aku. Sumpah! Auman itu penyebabnya.”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang menyatakan sumpah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur takut atas peristiwa itu dan penutur berusaha meyakinkan mitra tutur (halaman 110). 163. “Oke. Aku tak punya pilihan. Certiakan saja. Mungkin aku akan

  percaya. Aku harap…” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang menyatakan janji.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur berusaha menghargai mitra tutur atas pernyataan mitra tutur, walaupun penutur sudah berjanji. Namun penutur belum tentu percaya (halaman 110).

  164. “Bolehkah aku melanjutkan ceritaku? Atau…?”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang menawarkan sesuatu.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur ingin mengungkapkan suatu hal, dan berharap mitra tutur mau mendengarkan (halamn 111). 165. “Bukan. Saya hanya akan menunjukan sesuatu kepada Anda. Terserah

  Anda bersedia atau tidak.” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang menawarkan sesuatu.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur berharap mitra tutur mau menerima suatu penawaran yang diberikan oleh penutur (halaman 173). 166. “Ya… saya yakin sekali,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa bersumpah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur meyakinsan mitra tutur atas suatu hal (halaman 85). 167. “Jangan khawatir sobat, aku tetap mempercayaimu. Hanya sedikit

  kesulitan memang” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa bersumpah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menghargai mitra tutur atas apa yang telah dilakukan oleh mitra tutur (halaman 113). 168. “Aku serius. Seratus persen serius! Maksudku si cakar besar dari masa

  Jurassic akhir. Baryonyx walkerii!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa bersumpah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur meyakinkan mitra tutur atas suatu hal (halaman 114). 169. “Percayalah padaku!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa bersumpah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur meyakinkan sesuatu kepada mitra tutur atas suatu hal (halaman 130). 170. “Serahkan saja kepada kami. Kami akan menyelamatkan Anda berdua.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa berjanji.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur meyakinkan mitra tutur agar melakukan apa yang telah dikatakan oleh penutur (halaman 135). 171. “Tutup matamu. Kami akan membawa kalian berdua keluar dari lubang

  ini .” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa berjanji.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur meyakinkan mitra tutur agar melakukan apa yang telah dikatakan oleh penutur (halaman 135). 172. “Ya, yakin sekali. Sebuah misteri yang tak ingin terkuak. Pasti ada semacam base atau pangkalan UFO yang tersembunyi di dekat danau itu.

  Cahaya-cahaya itu mencegah agar orang lain tak mendekati pangkalan rahasia itu. Mitos penduduk tentang keangkeran danau dan hutan itu sangat menguntungkan usaha itu, atau malah mereka yang sebenarnya menciptakan mitos-mitos itu?” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa berjanji.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur meyakinkan mitra tutur agar melakukan apa yang telah dikatakan oleh penutur (halaman 146). 173. “Yakin sekali. Kecuali Baryonyx itu. Kenapa?”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa berjanji.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur meyakinkan mitra tutur agar melakukan apa yang telah dikatakan oleh penutur (halaman 148). 174. “Wah, tapi Bapak-bapak harus ‘dhahar’ siang dulu. Saya sudah

  menyiapkannya, lho,” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa penawaran.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur agar melakukan sesuatu hal yang diharapkan oleh penutur (halaman 168). 175. “Tunggu, Mas. Saya bantu!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa menawarkan sesuatu.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memperhatikan mitra tutur agar dalam kondisi yang sedang membutuhkan bantuan (halaman 212).

  176. “Biar saya yng menggendongnya, Mas!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa menawarkan sesuatu.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memperhatikan mitra tutur agar dalam kondisi yang sedang membutuhkan bantuan (halaman 213). 177. “Kalau kamu tak keberatan, bagaimana kalau kita gantian

  menggendongnya,” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa menawarkan sesuatu.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memperhatikan kondisi mitra tutur (halaman 269). 178. “Mari Nak panji, saya gendong anak itu. Anda pasti letih,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa menawarkan sesuatu.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memperhatikan kondisi mitra tutur (halaman 277). 179. “Kami percaya, Nak Hari,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa bersumpah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menghargai sikap mitra tutur (halaman 298). 180. “Silakan dimakan pisang gorengnya! Kalau boleh tahu, mengapa Mas

  berdua ini tertarik dengan danau itu?” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi komisif yang berupa menawarkan sesuatu.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur berharap mitra tutur mau melakukan sesuatu atas apa yang diinginkan oleh penutur (halaman 35).

2.5 Wujud dan maksud tindak tutur ilokusi deklarasi

  181. “Itulah yang mengejutkan saya. Meskipun berat, rasanya saya sudah

  mengikhlaskan sapi saya. Tapi saya takut. Kejadiannya benar-benar menakutkan bagi kami semua.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah ilokusi deklarasi yang bersifat berpasrah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan tersebut adalah penutur berusaha memberitahu apa sebenarnya terjadi tuturan yang menyatakan pasrah (halaman 41). 182. “Apa yang kami lakukan juga berkaitan dengan keselamatan mereka.

  Sekarang kami harus berpacu dengan waktu. Kami tak tahu pasti berapa jumlah binatang yang hidup dan berkembang biak. Kami sudah membunuh banyak binatang. Tetapi banyak juga yang luput dari kejaran dan berkembang menjadi dewasa. Butuh kerja keras untuk membunuhnya. Binatang yang menjadi raksasa menjadi sangat berbahaya. Beberapa pasukan kami sempat dihancurkan binatang itu. Kami hanya mengkhawatirkan jumlah yang telah menjadi raksasa menjadi begitu

besar hingga sulit untuk dikalahkan. Kami butuh bantuan Anda.”

Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang menyatakan pasrah.

  Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur tidak mampu mengatasi masalah yang sedang terjadi, penutur meminta pertolongan kepada mitra tutur (halaman 182). 183. “Tak ada manusia yang sempurna…”

  Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang menyatakan pasrah.

   Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memberikan nasehat atau semangat kepada mitra tutur agar mitra tutur tidak putus asa (halaman 187). 184. “Kita tak akan pernah menemukannya. Setidaknya hingga sekarang.

  Mereka bertelur dalam tubuh makhluk hidup!”

   Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang menyatakan pasrah.

   Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur memeberi tahu kepada mitra tutur bahwa hal tersebut adalah mustahil (halaman 187). 185. “Ah… nggak apa-apa. Saya hanya khawatir. Mungkin saya punya bakat

  digondol wewe.” Wujud ilokusi;

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang menyatakan pasrah.

   Maksud ilokusi;

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah (1) penutur tidak percaya akan keberadaan wewe, (2) penutur memberitahu bahwa

  wewe itu tidak ada, (3) penutur mengajak mitra tutur agar tidak takut terhadap wewe (halaman 187).

  186. “Tak ada yang bisa kita lakukan di sini.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang berupa berpasrah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur mengajak mitra tutur untuk segera berpindah tempat (halaman 55). 187. “Tak tahulah. Aku benar-benar tak bisa berpikir jernih. Semuanya serba

  membingungkan. Mungkinkah ini perbuatan orang iseng?” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang berupa berpasrah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur meminta pertolongan mitra tutur untuk melakukan sesuatu agar penutur tidak lagi kebingungan (halaman 58)

  188. “Tak ada pilihan! Kita harus menemukannya sebelum terlambat!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang berupa berpasrah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan sesuatu, mencari bocah kecil itu (halaman 76). 189. “Atau bila dugaan kita benar. Maka kita akan sangat tidak beruntung.

  Binatang itu dapat membunuh kita berdua hanya dengan sabetan cakar besarnya. Matilah kita …” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang berupa berpasrah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyuruh mitra tutur agar melakukan suatu hal (halaman 116). 190. “Hanya itu yang bisa aku temukan. Aku tak menemukan cara yang lain.”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang berupa berpasrah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur meminta pertolongan kepada mitra tutur (halaman 125). 191. “Bertindak tanpa berpikir resikonya juga tak akan membuat kita keluar

  dari jurang ini hidup-hidup!” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang berupa berpasrah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur meminta pertolongan kepada mitra tutur (halaman 126). 192. “Aku tak berani membayangkannya. Pasti akan mengerikan sekali.

  Sayangnya hanya ini yang bisa kita lakukan sekarang.” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang berupa berpasrah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur meminta pertolongan mitra tutur, karena penutur tidak dapat menyelesaikan persoalannya sendiri (halaman 224). 193. “Saudara-saudara kita, anak-anak kita? Teman-teman kita? Bagaimana

  nasib mereka? Habis semua…? Apa salah desa ini?” Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang berupa berpasrah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyatakan ketidakpercayaan atas segala musibah yang terjadi (halaman 292). 194. “Matilah kita!”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang berupa berpasrah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur menyatakan kepada mitra tutur bahwa penutur tidak tahu apa yang harus dilakukan (halaman 307). 195. “Aku harap, mereka hanya akan menyuntikan telur-telurnya…,”

  Wujud ilokusi:

  Wujud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah ilokusi deklarasi yang berupa berpasrah.

  Maksud ilokusi:

  Maksud ilokusi yang terkandung dalam tuturan di atas adalah penutur berusaha meyakinkan mitra tutur untuk mengabaikan apa yang telah terjadi (halaman 305)

     

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Tindak tutur ilokusi asertif dalam wacana pengumuman di Gereja-Gereja Katolik Kevikepan Yogyakarta periode Agustus-Desember 2015.
0
0
180
Tindak tutur ilokusi dalam novel La Barka karya NH. Dini.
0
1
113
Nilai kesetiaan tokoh utama dalam novel ibuk, karya Iwan Setyawan dan relevansinya dalam pembelajaran sastra di SMA
0
11
161
Tindak tutur ilokusi dalam novel La Barka karya NH. Dini
0
1
111
Tindak tutur ilokusi novel Surga Yang Tidak Dirindukan karya Asma Nadia (kajian pragmatik) | A’yuni | Linguista: jurnal ilmiah bahasa, sastra, dan pembelajarannya 1307 2746 1 SM
0
0
6
Analisis struktur cerita novel perampok karya W.S. Rendra - USD Repository
1
12
93
Kecemasan tokoh Suyono dalam novel sedimen senja karya S.N. Ratmana pendekatan psikologi sastra - USD Repository
0
0
90
Nilai marxisme dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer - USD Repository
0
0
112
Tindak tutur ilokusi dalam wacana novel grafis Eendaagsche Exprestreinen pengarang Risdianto dan Yusi Avianto Pareanom - USD Repository
0
0
170
Tindak tutur dalam film Alangkah Lucunya (Negeri ini) karya Deddy Mizwar - USD Repository
0
0
144
Tokoh dan plot dalam novel Jejak Kala karya Anindita S. Thayf - USD Repository
0
0
80
Implikatur percakapan antar tokoh dalam novel Projo dan Brojo karya Arswendo Atmowiloto - USD Repository
0
0
121
Pengaruh kerusuhan Mei 1998 dalam novel Putri Cina karya Sindhunata - USD Repository
0
0
136
Nilai-nilai pendidikan dalam novel Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi - USD Repository
0
5
136
Analisis tindak tutur berdasarkan modus dan maksud kalimat dalam novel ``Orang Miskin Dilarang Sekolah`` - USD Repository
0
0
175
Show more