Penerapan pembelajaran pedagogi reflektif pada mata pelajaran PKN untuk meningkatkan kesadaran siswa akan nilai cinta tanah air pada siswa kelas III Sd Kanisius Totogan tahun ajaran 2013/2014 - USD Repository

177 

Full text

(1)

i

PELAJARAN PKN UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SISWA AKAN

NILAI CINTA TANAH AIR PADA SISWA KELAS III SD KANISIUS

TOTOGAN TAHUN AJARAN 2013/2014

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

oleh :

AMBROCIUS GANDA ANGGA DANUARTA

101134231

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv Kupersembakan Karya Ini Untuk :

Allah, Bapa, Putra, dan Roh Kudus

“…Yang selama ini telah menuntun langkah hidupku hingga menjadi seperti ini…”

Dan

Untuk Kedua Orang Tuaku :

Patricius Sukardal dan Efrasia Sugiarti

(5)

v

MOTTO

“…jadilah pribadi yang dewasa dan selalu bermanfaat bagi nusa dan

bangsa…”

“…berhentilah

mencari yang baik, jadilah pribadi yang terbaik, dan

niscaya engkau akan mendapatkan yang terbaik…”

(6)

vi

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa sekripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 25 Agustus 2014

Penulis

(7)

vii

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Ambrocius Ganda Angga Danuarta

Nomor Mahasiswa : 101134231

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul:

PENERAPAN PEMBELAJARAN PEDAGOGI REFLEKTIF PADA MATA PELAJARAN PKN UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SISWA AKAN

NILAI CINTA TANAH AIR PADA SISWA KELAS III SD KANISIUS TOTOGAN TAHUN AJARAN 2013/2014

Beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk apa saja mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 25 Agustus 2014

Yang menyatakan,

(8)

viii

PENERAPAN PEMBELAJARAN PEDAGOGI REFLEKTIF PADA MATA PELAJARAN PKN UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SISWA AKAN

NILAI CINTA TANAH AIR PADA SISWA KELAS III SD KANISIUS TOTOGAN TAHUN AJARAN 2013/2014

Ambrocius Ganda Angga Danuarta

1011134231

Pembelajaran PKN di SD Kanisius Totogan kurang disertai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pembelajaran sehingga peserta didik kurang memahami akan nilai-nilai yang terkandung dalam materi yang sedang di ajarkan oleh pendidik. Selain itu pendidik juga kurang bisa mengemas pembelajaran dengan menarik, model-model pembelajaran belum nampak diterapkan oleh pendidik di dalam kelas sehingga pembelajaran terlihat kurang menarik. Dari latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran peserta didik akan nilai cinta tanah air dengan menggunakan model pembelajaran Pedagogi Reflektif.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SD Kanisius Totogan pada bulan April 2014 dengan subjek kelas III.Penelitian ini dilakukan dengan 2 siklus pembelajaran dengan setiap siklus satu kali pertemuan dengan alokasi waktu 3 Jam Pelajaran.Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar skala sikap dengan jumlah 48 pernyataan yang sudah di validasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan jumlah peserta didik yang sadar akan nilai cinta tanah air dengan menggunakan penerapan Pembelajaran Pedagogi Reflektif bagi siswa kelas III SD Kanisius Totogan. Hal tersebut dapat ditunjukkan dari kenaikan presentase skala sikap. Pada kondisi awal rata-rata persentase jumlah siswa yang sadar mencapai 47,62%, atau hanya 10 peserta didik yang menyadari akan nilai cinta tanah air, sedangkan 11 peserta didik kesadaran akan nilai cinta tanah airnya masih sangat kurang. Kemudian pada siklus 1 rata-rata persentase jumlah siswa yang sadar mencapai 76,19%. Pada siklus 2 jumlah peserta didik yang masuk kategori sadarakan nilai cinta tanah air ada 5 0rang sedangkan yang sangat sadar ada 16 orang. Melihat fakta siklus ke 2,bias dismipulkan bahwa kesadaraan siswa akan nilai cinta tanah air mencapai 100%.

(9)

ix

THE IMPLEMENTATION OF REFLECTIVE PEDAGOGY LEARNING IN

CIVICS TO IMPROVE STUDENTS’ AWARENESS TOWARDS

NATIONALISM AMONG GRADE III STUDENTS OF SD KANISIUS TOTOGAN IN THE ACADEMIC YEAR OF 2013/2014

Ambrocius Ganda Angga Danuarta 1011134231

Civics learning in SD Kanisius Totogan grade 3 was lack of nationalism values in teaching and learning process. The students did not understand about the materials given by the teacher. Besides, the teacher also did not use appropriate materials which contain interesting learning. The teaching methods were not implemented to the students in teaching and learning process yet. Therefore the teaching and learning process was lack of motivation. From the background of the

study, this study aims to improve the students’ awareness with nationalism value by

using reflective pedagogy learning.

This study belongs to an action research study. It was conducted in SD Kanisius Totogan on April2014 with the students of Grade 3 as the subject of the study. This study consisted of 2 cycles which contains 2 meetings in every cycle and 3 hours in every meeting. The data was collected by using character scale sheets that consist of 48 validated statements.

The results of the study showed that there was an improvement of the students’ awareness by using the implementation of Reflective Pedagogy Learning among the students grade 3 in SD Kanisius Totogan. Therefore, it can be shown from the improvement of the percentage of character scale. In pre-cycle, the percentage of students which belongs to category aware was 47,62 % or only 10 students who realize the importance of nationalism value, while the other 11 students are not aware of the importance of nationalism value. In Cycle 1, the mean of percentage of students who aware was 76,19 %. Then, in Cycle 2, 5 students are aware of the nationalism value and the other 16 students are very aware of the importance of the nationalism value. Considering this fact of the cycle 2, it can be concluded that the

students’ awareness of national value is 100%.

(10)

x

Puji Syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala

kemurahan, berkat, dan penyertaan-Nya, sehingga ahkirnya penulis dapat

menyelesaikan penyusunan sekripsi ini.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Pendedidikan pada program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Skripsi ini dapat diselesaikan karena bantuan, doa, dan dukungan dari banyak

pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih

kepada :

1. Allah, Bapa, Putra, dan Roh Kudus atas semua hal yang dianugerahkan kepada

penulis.

2. Bapakku Patricius Sukardal dan Ibuku Efrasia Sugiarti yang senantiasa

mendoakan dan mendukung untuk keberhasilan dan kesuksesanku.

3. Rohandi, Ph. D. Selaku dekan FKIP yang memberikan ijin pelaksanaan penelitian

ini.

4. Rm Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Kaprodi PGSD.

5. Christiyanti Aprinastuti, S.Si, M.Pd, selaku Wakaprodi PGSD.

6. Bapak Drs. Paulus Wahana. M. Humdan Ibu Elisabeth Desiana Mayasari, S. Psi,

M. A. selaku dosen pembimbing yang telah membimbing peneliti dengan penuh

kesabaran dan kebijaksanaan dari awal penulisan skripsi hingga selesai.

7. Ibu Tri Utami selaku kepala SD Kanisius Totogan yang telah memberikan ijin

untuk melakukan penelitian diSD Kanisius Totogan.

8. Ibu CH. Nurdayati selaku guru kelas IIISD Kanisius Totogan yang telah

(11)

xi

teman-teman kelompok bimbingan skripsi: Astri, Arif, Kismet, Ridlo, Femlia,

Vera, Indah, Henri, St.Patrcie, St.Alvonza, Windi, Nissa, Yuni, dan Winda

terimakasih atas keceriaan, inspirasi dan diskusi-diskusi kita yang panjang.

10.Teman-temanku “kost 96B”, dan “teman-teman OMK Paroki Wates” terimakasih

atas keceriaan, dukungan, suka duka, dan kasih sayang yang selama ini kalian

berikan kepada penulis. Keep our relationship and best friend forever.

11.Terima kasih untuk teman-temanku: saefan bayu samudra atas bantuannya

menyelesaikan abstract, Ridlo atas pinjaman printernya, dan Arif dan Kismet atas

diskusi, inspirasi serta masukan-masukannya.

12.Adek-adekku tercinta Francica Puspalinda dan Maria Ovie Hizkiyanti yang

senantiasa mendoakan untuk kesuksesan kakaknya.

13.Kresentia Nita Kurniadewi kekasihku yang menjadi motivasi penulis dan sangat

amat membantu penulis untuk menyelesaikan tugas skripsi ini, walau terkadang

menyebalkan.

14.Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu oleh penulis, yang telah

membantu memberikan dukungan, semangat, dan inspirasi hingga terselesaikan

skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna.Oleh karena

itu penulis mengaharapkan masukan, saran, dan kritik yang membangun demi

menyempurnakan penelitian ini. Penulis berharap, semoga hasil dari penelitian ini

dapat bermanfaat bagi se,ua pihak yang membutuhkan.

Yogyakarta, 25 Agustus 2014

(12)

xii

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii 1.1 Latar Belakang Masalah... 1

1.2 Batasan Masalah ... 3

1.3 Rumusan Masalah ... 3

1.4 Tujuan Penelitian ... 4

1.5 Manfaat Penelitian ... 4

1.6 Definisi Operasional ... 5

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka ... 6

2.1.1 Teori-teori yang mendukung ... 6

2.2 Hasil Penelitian yang Relevan ... 27

2.3 Kerangka Berpikir ... 31

(13)

xiii

3.1 Jenis Penelitian ... 34

3.2 Setting Penelitian ... 37

3.2.1 Tempat Penelitian ... 37

3.2.2 Subjek Penelitian ... 37

3.2.3 Objek Penelitian ... 37

3.2.4 Waktu Penelitian ... 37

3.3 Persiapan ... 37

3.4 Kegiatan Setiap Siklus ... 38

3.5 Jadwal Penelitian ... 42

3.6 Instrumen Penelitian ... 43

3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 48

3.8 Validitas dan Reabilitas ... 49

3.9 Teknik Analisa Data ... 54

3.10 Indikator Keberhasilan ... 58

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 59

4.1.1 Kondisi Awal ... 59

4.1.2 Paparan Kegiatan Siklus 1 ... 62

4.1.3 Hasil Siklus 1 ... 68

4.1.4 Paparan Kegiatan Siklus 2 ... 69

4.1.5 Hasil Siklus 2 ... 73

4.2 Pembahasan ... 75

4.2.1 Peningkatan Kesadaran Peserta Didik ... 75

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 79

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 80

5.3 Saran ... 82

Daftar Pustaka ... 83

(14)

xiv

Tabel 1 Jadwal Penelitian ... 42

Tabel 2 Indikator Skala Sikap ... 43

Tabel 3 Kisi-kisi Pernyataan Skala Sikap ... 45

Tabel 4 Sebaran Item Uji Coba ... 48

Tabel 5 Uji Validitas Item Skala Sikap ... 54

Tabel 6 Acuan PAP Tipe 1 ... 55

Tabel 7 Perhitungan Batas nilai secara keseluruhan ... 56

Tabel 8 Indikator Keberhasilan ... 57

Tabel 9 Persentase Kriteria Keberhasilan ... 58

Tabel 10 Hasil Kondidi Awal ... 60

Tabel 11 Hasil Siklus 1 ... 67

Tabel 12 Hasil Siklus 2 ... 73

(15)

xv

Gambar 1 Peta Konsep Pelaksanaan PPR ... 23

Gambar 2Kontribusi Penelitian ... 30

Gambar 4 Kerangka Berpikir ... 32

Gambar 5 Siklus Penelitian Tindakan Kelas ... 35

Gambar 6Kegiatan Awal Pembelajaran ... 155

Gambar 7 Kegiatan Menyimak Gambar ... 156

Gambar 8Kegiatan Diskusi Kelompok ... 156

Gambar 9 Kegiatan Presentasi Kelompok ... 157

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Instrumen Pembelajaran ... 85

Lampiran 2 Instrumen Penelitian Sebelum Validasi... 104

Lampiran 3 Validasi Instrumen Penelitian... 108

Lampiran 4 Intrumen Penelitian Setelah Validasi ... 110

Lampiran 5 Contoh Hasil Skala Sikap Siswa Pada Kondisi Awal ... 113

Lampiran 6 Contoh Hasil Skala Sikap Pada Siklus 1 ... 120

Lampiran 7 Contoh Hasil Skala Sikap Pada Siklus 2 ... 127

Lampiran 8 Hasil Validasi Instrumen Pembelajaran Dari Dosen ... 134

Lampiran 9 Data Kondisi Awal, Sklus 1, dan Siklus 2 ... 139

Lampiran 10 Contoh Hasil Pekerjaan Siswa ... 143

Lampiran 11 Refleksi Peserta Didik ... 148

Lampiran 12 Surat Ijin Penelitian ... 150

Lampiran 13 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian ... 152

Lampiran 14 Proses Pembelajaran Di Kelas ... 154

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam bab I ini peneliti akan membahas mengenai latar belakang,

rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya pendidikan merupakansalah satu kunci pokok dalam

pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.Seorang pendidik adalah pendidik

profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,

melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini

jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU RI,

2005). Pendidikan di Indonesia diharapkan mengarah pada keutuhan pribadi

manusia, yaitu dengan penanaman nilai-nilai pengetahuan dan ketrampilan yang

termasuk didalamnya adalah nilai cinta tanah air.Hal ini bisa terwujud dengan

cara mendampingi peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga membantu

mengembangkan kesadaran nilai-nilai yang terkait dalam pembelajaran.

Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan termasuk salah satu mata

pelajaran yang penting, karena PKn diajarkan diseluruh tingkat pendidikan,

dimulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Hakikat atau intisari dari

PKn adalah pendidikan nilai dan moral. Djahiri (1991) mengatakan bahwa PKn

sebagai pendidikan nilai dan moral diharapkan mampu menampilkan perangkat

tatanan nilai, moral dan norma pancasila dan selalu menunjukkan keterkaitan isi

pesan sila-sila pancasila. Sebagai pendidikan nilai, PKn akan membantu peserta

(18)

2

termuat dalam hal yang menjadi objek pembahasannya, tujuanya untuk

membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang masyarakat, dan warga

negara yang baik (Wahab, 2011).

SD Kanisius Totogan saat ini masih mempertahankan kegiatan Upacara

Bendera setiap hari Senin sebagai cerminan rasa kebangsaan yang tinggimeskipun

di beberapa sekolah lain sudah meninggalkan tradisi tersebut. Pada saat observasi,

peneliti melihathal yang menarik dari berlangsungnya upacara tersebut adalah

perilaku beberapa peserta didik yang terkadang ramai dengan temannya, tidak

menunjukkan sikap siap, menghormat pada bendera Merah Putih dengan sikap

yang malas-malas, tidak mendengarkan pembina upacara yang sedang

menyampaikan amanat dan juga tidak berpartisipasi aktif. Bahkan peneliti sempat

mendengar peserta didik mengungkapkan ketidakpahaman akan makna dari

upacara. Peserta didik beranggapan bahwa upacara bendera adalah kegiatan yang

hanya membuat lelah dan tidak mempunyai makna.

Peneliti menemukan solusi yang sesuai untuk memberikan semangat dalam

proses belajar mengajar yaitu Pembelajaran Pedagogi Reflektif (PPR).

Pembelajaran Pedagogi Reflektif adalah metode yang mengacu pada pola

pertumbuh kembangan pribadi peserta didik menjadi kemanusiaan atau lebih

mengenal dan mendalami nilai-nilai kemanusiaan. Menurut Subagya (2008)

menyebutkan tiga unsur utama dalam PPR adalah pengalaman, refleksi dan aksi.

Unsur yang belum disebutkan adalah konteks dan evaluasi. Serangkaian tersebut

tidak bisa dipisahkan, sehingga akan terjalin timbal balik yang baik dalam

(19)

3

adalah suatu pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran bidang studi

dengan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Pembelajaran bidang studi

disesuaikan dengan konteks peserta didik, sedangkan pengembangan nilai-nilai

kemanusiaan ditumbuhkembangkan melalui proses pengalaman, refleksi dan aksi.

Proses pembelajaran ini harus diakhiri dengan adanya evaluasi. Evaluasi

digunakan guru untuk mengetahui peningkatan prestasi peserta didik. Semua

langkah ini diharapkan akan membuat peserta didik menjadi seseorang yang

bertanggung jawab, berkembang menjadi pribadi yang kompeten, berhati nurani

yang peka dan berbela rasa pada sesama dan lingkungannya.

1.2 Batasan Masalah

Penelitian ini akan dibatasi pada masalah peningkatan kesadaran

pesertadidik akan nilai Cinta Tanah Airkelas 3 SD KanisiusTotogan dengan

Pembelajaran Pedagogi Reflektif (PPR) dalam mata pelajaran PKn.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas dapat dirumuskan

masalah-masalah yang akan diteliti adalah:

1. Bagaimana proses model pembelajaran pedagogi reflektif (PPR) pada

mata pelajaran PKn kelas 3 semester II SD Kanisius Totogan?

2. Apakah pelaksanaan model pembelajaran pedagogi reflektif (PPR)

dalam mata pelajaran PKn dapat meningkatkan kesadaran peserta didik

(20)

4

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan oleh peneliti

maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran pedagogi

reflektif (PPR) pada peserta didik kelas 3 semester II SD

Kanisius Totogan.

2. Meningkatkan kesadaran peserta didikdan mengetahui akan

nilai cinta tanah airpada mata pelajaran PKn kelas 3 semester

IISD Kanisius Totogan melalui PPR.

1.5 Manfaat Penelitian

Secara teoritis penelitian ini mempunyai manfaat, hasil penelitian

ini mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran pedagogi reflektif (PPR)

serta meningkatkan kesadaran peserta didik akan nilai cinta tanah air.

Secara praktis penelitian ini mempunyai manfaat:

1. Bagi peneliti, merupakan sebuah pengalaman yang berharga dapat

menggunakan pendekatan pembelajaran pedagogi reflektif (PPR)

untuk meningkatkan kesadaran peserta didik akan nilai cinta tanah air

dalam mata pelajaran PKn. Sehingga dapat lebih memahami

pembelajaran pedagogi reflektif (PPR) dan kelak dapat menerapkan

pembelajaran tersebut terhadap mata pelajaran lainnya untuk

(21)

5

2. Bagi pendidik, memberikan wawasan mengenai model pembelajaran

pedagogi reflektif (PPR) dan dapat diterapkan pada mata pelajaran

lain.

3. Bagi peserta didik, mendapat pengalaman baru dalam belajar dengan

menggunakan pembelajaran pedagogi reflektif (PPR) untuk

meningkatkan kesadaran peserta didik akan nilai-nilai PKn.

1.6 Definisi Operasional

1. Kesadaran peserta didikakan nilai cintatanah air adalah kemampuan

memahami akan berbagai hal yang berkaitan dengan nilai, antara lain:

menyadari akan adanya nilai sebagai kualitas, sarana, sikap, dan

tindakan yang perlu dilakukan demi terwujudnya nilai yang menjadi

tujuannya.

2. Pembelajaran pedagogi reflektif (PPR) adalah pembelajaran yang

mengintergrasikan pembelajaran bidang studi dengan pengembangan

nilai-nilai kemanusiaan.

3. PKn adalah sebagai wahana pendidikan nilai cinta tanah air yang

termuat pada Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)

(22)

6

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bab ini akan dibahas landasan teori yang digunakan dalam penelitian.

Pembahasan landasan teori terdiri dari lima bagian yaitu: kajian pustaka,

pembelajaran pedagogi reflektif,hasil penelitian yang relevan, kerangka berpikir,

dan hipotesis tindakan.

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Teori-teori yang mendukung

Dalam teori-teori yang relevan ini dibahas teori nilai, teori kesadaran, teori

cinta tanah air, teori kesadaran akan nilai cinta tanah air, pembelajaran tematik,

model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran kooperatif dengan teknik

mencari pasangan, dan mata pelajaran PKn. Seluruhnya dibahas secara runtut

sebagai berikut:

1. Kesadaran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2011) kesadaran

mempunyai arti (1) keinsafan; keadaan mengerti akan harga dirinya timbul,

karena ia diperlakukan secara tidak adil; (2) hal yang dirasakan atau dialami

oleh seseorang. Sadar diartikan merasa, tahu, ingat kepada keadaan yang

sebenarnya, atau ingat (tahu) akan keadaan dirinya. Kesadaran diartikan

keadaan tahu, mengerti dan merasa.Widjaja (1984) mengatakan bahwa

kesadaran merupakan sikap/perilaku mengetahui atau mengerti taat dan patuh

(23)

7

sikap/perilaku mengetahui atau mengerti, taat dan patuh pada adat istiadat dan

kebiasaan yang hidup dalam masyarakat.

Semium, (2006) mengatakan bahwa kesadaran merupakan

satu-satunya tingkat kehidupan mental yang secara langsung tersedia bagi kita. Jadi

dapat disimpulkan bahwa kesadaran merupakan sikap sadar dan ingat pada

keadaan yang sebenarnya yang secara langsung tersedia bagi kita. Dari

pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa kesadaran merupakan kondisi

dimana individu mengetahui dan ingat pada keadaan yang sebenarnya yang

secara langsung tersedia bagi kita.

2. Nilai

Nilai merupakan kualitas yang memiliki daya tarik serta dasar bagi

tindakan manusia serta untuk mendorong manusia untuk mewujudkannya,

karena nilai memiliki kesesuaian dengan kecenderungan kodrat manusia

(Wahana, 2004). Menurut Takdir (1966), teori nilai menyelidiki proses

dan isi penilaian, yaitu proses yang mendahului dan menentukan semua

kelakuan manusia. Karena itu teori nilai menghadapi manusia sebagai

makhluk yang berkelakuan sebagai objeknya. Dibandingkan dengan

kelakuan hewan yang menggunakan insting yang membuat hubungan

antara hewan dan sekitarnya saling melengkapi, kemampuan manusia

yang menggunakan akal budi berada dalam suasana kebebasan yang lebih

besar. Kehidupan hewan dengan instingnya lebih tetap terikat pada

(24)

pengaruh-8

mempengaruhi yang dinamik antara akal budinya dengan lingkungan

alamnya, lingkungan masyarakatnya dan lingkungan kebudayaannya.

Djahiri (1991) mendiskripsikan nilai sebagai sesuatu yang

berharga/tidak berharga, mengacu kepada peringkat kualifikasi indah,

baik, benar dan kebalikannya. Berbeda dengan Djahiri, Gazalba (dalam

Thoha, 1996) menjelaskan bahwa nilai adalah sesuatu yang bersifat

abstrak, bukan benda kongkrit, bukan fakta, bukan hanya persoalan benar

dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan soal

penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki, disenangi dan tidak

disenangi.

Dari beberapa pengertian tentang nilai di atas dapat disimpulkan

bahwa nilai itu merupakan sesuatu yang bersifat abstrak yang menjadi

dasar atau landasan bagi perubahan, dan nilai difungsikan untuk

mengarahkan, mengendalikan, dan menentukan kelakuan seseorang. Nilai

juga ditanamkan pada seorang pribadi dalam proses sosialisasi, melalui

keluarga, lingkungan sosialnya yang terdekat/masyarakat,

lembaga-lembaga pendidikan, agama, dan tradisi-tradisi dalam suatu daerah

tertentu. Oleh karena itu, nilai tidak hanya dipahami saja, melainkan nilai

tersebut harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

3. Peranan Nilai Dalam Kehidupan Manusia

Nilai memegang peranan penting dalam setiap kehidupan manusia,

(25)

9

tersebut menjadi prinsip yang berlaku di suatu masyarakat tentang apa yang

baik, benar dan berharga yang seharusnya dimiliki dan dicapai oleh

masyarakat. Seorang anak wajib menghargai dan menghormati orang

tuanya.Ketika berbicara dengan orang tuanya, anak harus menggunakan

bersikap yang sopan dan tutur kata yang santun.Orang tua juga wajib

melindungi dan menyayangi anak-anaknya. Pola interaksi orang tua dan anak

tersebut apabila dituntun dengan nilai maka akan menciptakan pola interaksi

yang baik dan harmonis di keluarga (Rostini, 2009).

Fungsi nilai sosial secara luas yaitu memberikan ketentraman kepada

seluruh anggota masyarakat agar dapat bertingkah laku sesuai dengan aturan

yang diyakini oleh masyarakat guna mencapai tujuan bersama di masyarakat.

Adapun fungsi nilai sosial secara keseluruhan adalah sebagai berikut:Nilai

sebagai pedoman berperilaku, nilai sebagai pedoman berfungsi memberikan

arahan kepada individu atau masyarakat untuk berperilaku sebagaimana yang

diinginkan. Nilai menjadi landasan dan motivasi dalam setiap langkah dan

perbuatan manusia. Nilai sebagai kontrol sosial, nilai sebagai alat kontrol

sosial yang berfungsi untuk memberikan batasan-batasan kepada manusia

untuk bertingkah laku. Perilaku manusia di luar nilai akan mengakibatkan

jatuhnya sanksi atau perasaan bersalah; Nilai sebagai pelindung sosial, nilai

sebagai alat pelindung sosial memberikan perlindungan dan memberikan rasa

aman kepada manusia, dengan berprilaku sesuai dengan nilai, manusia dapat

(26)

10

sehari-hari itu sangatlah penting untuk pembentukan diri manusia melalui

tindakan-tindakannya (Wahana, 2004).

Apabila nilai-nilai itu lenyap maka kehidupan masyarakat akan tidak

beraturan, masing-masing manusia akan bertingkah laku berdasarkan

kehendak sendiri. Kehilangan nilai sosial di masyarakat dapat mengakibatkan

masyarakat kehilangan identitas dan kehancuran bagi masyarakat itu sendiri.

Dalam sikap pergaulan kecil antar individu, kehilangan nilai sosial dalam

interaksi antar individu dapat menimbulkan konflik antar individu, yang kuat

akan menindas yang lemah, yang besar akan memperkosa yang kecil(Rostini,

2009).

Hancurnya nilai sosial juga akan mengakibatkan hancurnya sistem

sosial di masyarakat. Akibat terjadi penyimpangan-penyimpangan sosial dan

masalah-masalah sosial. Contohnya, proses adaptasi nilai budaya barat yang

tidak sesuai dengan nilai yang sebelumnya dianut oleh masyarakat Indonesia

seperti pergaulan bebas yang banyak menimbulkan perilaku-perilaku yang

tidak sesuai dengan nilai sosial masyarakat Indonesia.

4. Tanggapan Manusia Terhadap Nilai

Tanggapan manusia terhadap nilai antara lain:

a. Cara manusia memahami nilai

Dalam perwujudannya, nilai tidak berada pada dirinya sendiri,

melainkan selalu tampak pada kita sebagai yang ada pada pembawa nilai, atau

objek bernilai. Untuk menemukan dan memahami nilai, peserta didik dapat

(27)

11

yang termuat di dalamnya, dan mempertanyakan apakah keduanya dapat

diketahui dengan cara yang sama, misalnya secara rasional indrawi. Misalnya,

jika peserta didik melihat dua buah apel, kita melihat masing-masing buah

tersebut dengan mata, tetapi kesamaan antara kedua buah apel tersebut dapat

diketahui hanya dengan mata, melainkan perlu juga dengan pikiran.

b. Sarana manusia memahami nilai

Hati manusia merupakan suatu kesejajaran yang tepat antara

keteraturan hati yang bersifat apriori dengan susunan nilai yang bersifat

hierarkis objektif. Hati memiliki dalam dirinya sendiri suatu analog yang tepat

dengan pikiran, meskipun tidak dipinjam dari logika pikiran. Terdapat hukum

yang ditulis dalam hati yang berhubungan dengan rencana yang sesuai dengan

dunia yang dibangun, yaitu dunia nilai.

c. Sikap manusia terhadap nilai

Nilai harus dicintai dan diwujudkan dalam hidup manusia sesuai

dengan tingkatan tinggi rendahnya; tingkatan yang lebih tinggi harus

didahulukan daripada yang lebih rendah.

5. Peranan Nilai bagi Manusia

Dalam bukunya (Wahana,2004) nilai memiliki peranan pendorong dan

pengaruh bagi pembentukan diri manusia melalui tindakan-tindakannya,

antara lain:

a. Peranan nilai bagi tindakan manusia

Nilai merupakan objek sejati bagi tindakan merasakan yang

(28)

12

merasakan nilai tersebut, dan mendorong bertindak untuk mewujudkannya

dalam realitas, sedangkan terwujudnya nilai negatif mendorong orang

yang merasakannya untuk bertindak menghapuskannya dari realitas

kehidupan.

b. Peranan nilai bagi pembentukan diri manusia

Segala tindakan manusia terarah untuk merespon nilai yang

ditemukan dan dirasakannya, yang mengandung suatu keharusan untuk

mewujudkannya (terhadap nilai positif) serta untuk menghilangkannya

atau menghapuskannya (terhadap nilai negatif).Ini berarti bahwa nilai-nilai

memeiliki peran mengarahkan dan memberi daya tarik pada manusia

dalam membentuk dirinya melalui tindakan-tindakannya.

c. Tipe-tipe person bernilai sebagai model pembentukan manusia.

Ada 5 nilai tipe person, yaitu (1) nilai kesenangan artis, (2) nilai

kegunaan pemimpin, (3) nilai kehidupan pahlawan, (4) nilai kehidupan

pahlawan, (5) nilai spiritual jenius, dan (6) nilai kekudusan santo.

Nilai mempunyai peranan pendorong dan pengaruh bagi pembentukan

diri manusia. Tersedianya nilai positif memungkinkan orang menangkap dan

merasakan nilai tersebut, dan mendorong bertindak untuk mewujudkannya

dalam realitas. Segala tindakan manusia terarah untuk merespon nilai yang

ditemukan dan dirasakan, yang mengandung suatu keharusan untuk

mewujudkannya. Ini berarti bahwa nilai-nilai memeiliki peran mengarahkan

dan memberi daya tarik pada manusia dalam membentuk diri melalui

(29)

13

6. Pendidikan Nilai

Menurut Sastrapratedja (dalam Kaswardi, 1993) yang dimaksud

pendidikan nilai ialah penanaman dan pengembangan nilai-nilai dalam diri

seseorang. Dalam pengertian yang hampir sama, Mardiatmadja (dalam

Mulyana, 2004) mendefinisikan pendidikan nilai sebagai bantuan terhadap

peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai serta menempatkannya

secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Jadi pada kesimpulannya,

pendidikan nilai adalah pendidikan yang mensosialisasikan nilai-nilai kepada

peserta didik.Pendidikan nilai sangatlah penting untuk diajarkan di seluruh

program pendidikan, agar peserta didik tidak hanya mendapatkan ilmu,

keterampilan dan teknologi saja, melainkan dapat mengembangkan aspek

kepribadian, moral dan etik.

Adapun tugas dari pendidikan nilai menurut Benoit (dalam Kaswardi,

1993) yaitu membuat orang sadar, bahwa nilai sebagai pedoman bertindak

bersifat mendua, ada nilai positif dan nilai negatif.Oleh karena itu sebagai

pendidik, harus berusaha sebaik mungkin mengarahkan, dan menjelaskan

nilai-nilai positif kepada peserta didik. Benoit juga mengatakan bahwa

pendidikan nilai tampil dalam cara yang berbeda-beda, tergantung dari apakah

diberikan dalam keluarga, media massa, dalam gerakan remaja di sekolah, dan

lain-lain.

Dalam pelajaran PKn, nilai difungsikan untuk mengarahkan,

(30)

14

standar perilaku.Demikian juga yang dikatakan Djahiri (1991) bahwa PKn

hendaknya tidak sekedar disampaikan arti, rumusan, percontohannya semata.

Jadi pada kesimpulannya, pendidikan nilai adalah pendidikan yang

mensosialisasikan nilai-nilai kepada peserta didik. Pendidikan nilai sangatlah

penting untuk diajarkan di seluruh program pendidikan, agar peserta didik

tidak hanya mendapatkan ilmu, keterampilan dan teknologi saja, melainkan

dapat mengembangkan aspek kepribadian, moral dan etik. Oleh karena itu

sebagai pendidik, harus berusaha sebaik mungkin mengarahkan, dan

menjelaskan nilai-nilai positif kepada peserta didik.

7. Cinta Tanah Air

Pengertian bangsa menurut Ernest Renan adalah kesatuan dari

orang-orang yang mempunyai persamaan latar belakang sejarah, pengalaman, serta

perjuangan yang sama dalam mencapai hasrat untuk bersatu. Winataputra,

(2008) mengatakan bahwa sekalipun bangsa Indonesia beraneka ragam,

namun karena diikat oleh adanya kesamaan latar belakang sejarah,

pengalaman, perjuangan dalam mencapai kemerdekaan, keturunan, adat

istiadat, dan bahasa.Pada abad ke-18 muncul dengan paham

nasionalisme.Paham Nasionalisme adalah suatu paham yang menganggap

bahwa kesetiaan tertinggi atas setiap pribadi harus diserahkan kepada negara

kebangsaan (Djahiri, 1991).Sama halnya dengan Slamet Muljana (1968), cinta

tanah air atau nasionalisme adalah manifesti kesadaran bernegara atau

(31)

15

Prinsip-prinsip yang termuat dalam nasionalisme menurut Sartono

(1993) diantaranya:(1) Kesatuan (unity),(2) Kebebasan (liberty),(3) Kesamaan

(equality), (4) Kepribadian (individuality), dan (5) Prestasi (performance).

Selama pergerakan nasional kelima prinsip itu menjadi tujuan

perjuangan.Mengingat keadaan di Indonesia dengan pluralismenya maka

untuk mewujudkan prinsip pertama diperlukan dukungan ideologi Pancasila

yang mempunyai potensi mentransedensi pluralitas etnisitas, religiositas,

linguistik dan lain sebagainya (Sartono, 1993).Pancasila merupakan dasar

negara bangsa Indonesia yang menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia.

Winataputra (2008) mengatakan dengan pandangan hidup inilah suatu bangsa

akan memandang persoalan yang dihadapinya dan menentukan arah serta

memecahkannya secara tepat. Jadi, tanpa memiliki pandangan hidup, suatu

bangsa akan merasa terombang-ambing dalam menghadapi masalah yang

besar. Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa warga

negara yang baik adalah warga negara yang cinta akan tanah airnya sendiri.

Dengan adanya keberagaman dalam suatu bangsa, dasar negara dapat

dijadikan alat pemersatu bangsa.

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa warga

negara yang baik adalah warga negara yang cinta akan tanah airnya sendiri.

Dengan adanya keberagaman dalam suatu bangsa, dasar negara dapat

(32)

16

8. Kesadaran akan Nilai

Kesadaran akan nilai berarti kesadaran akan berbagai hal yang

berkaitan dengan nilai, antara lain: (1) menyadari akan adanya nilai sebagai

kualitas yang perlu diusahakan, (2) menyadari akan peranan nilai yang

menjadi daya tarik bagi kualitas untuk mewujudkannya, (3) menyadari akan

sarana-sarana serta cara-cara yang perlu diusahakan demi terwujudnya nilai

yang dituju, (4) menyadari sikap yang diperlukan demi terwujudnya nilai yang

diharapkan, dan (5) menyadari tindakan yang perlu silakukan demi

terwujudnya nilai yang menjadi tujuannya (Wahana: 2013).

Sartono (1993) kesadaran nasional yaitu kesadaran yang menempatkan

pengalaman, perilaku, serta tindakan individu dalam kerangka nasional.Sikap

sadar tidak ada dalam diri seseorang, jika tanpa adanya rasa bangga terhadap

bangsa Indonesia.Seperti halnya diungkapkan oleh Winataputra (2008) bahwa

mencermati kondisi dan letak geografis wilayah Indonesia, sudah

sewajarnyalah warga negara Indonesia mempunyai kebanggaan

tersendiri.Karena Indonesia mempunyai begitu banyak keberagaman.

Bangga menurut Winataputra (2008) adalah merasa berbesar hati atau

merasa gagah karena mempunyai berbagai kelebihan atau keunggulan.Jadi,

yang dimaksud dengan bangga sebagai bangsa Indonesia adalah merasa besar

hati atau merasa berbesar jiwa menjadi bangsa Indonesia. Oleh karena itu,

konsekuensi kalau kita merasa bangga sebagai bangsa Indonesia harus

menjunjung tinggi nama baik bangsa dan negara dimanapun berada. Namun,

(33)

17

oleh Amin (2011) bahwa salah satu pengaruh arus globalisasi disemua

sendi-sendi kehidupan yaitu lunturnya nilai-nilai nasionalisme dan solidaritas yang

sedang diderita anak negeri ini.Lunturnya nilai-nilai nasionalisme tersebut

dikarenakan kurang adanya penanaman nilai nasionalisme dalam pendidikan.

Upaya untuk menggalakkan kembali semangat nasionalisme melalui

jalur pendidikan dapat ditempuh dengan melaksanakan pengintegrasian

nilai-nilai nasionalisme dalam kegiatan pembiasaan pada satuan pendidikan sekolah

dasar.Sartono (1993) mengatakan bahwa fungsi pendidikan kewarganegaraan

sangatlah fundamental dalam rangka nation building.Hal tersebut merupakan

proses sosialisasi yang membudayakan nilai-nilai nasionalisme beserta

kebudayaan dan identitas nasionalnya, sehingga melembagalah etos bangsa

dalam kepribadian individual serta kehidupan kolektif para warga negara. Hal

tersebut juga dikatakan oleh Winataputra (2008), tugas dan peran PKn adalah

menggariskan komitmen untuk melakukan proses pembangunan karakter

bangsa.

9. Mata Pelajaran PKn

a. Pengertian PKn sebagai pendidikan nilai

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008), pendidikan

kewarganegaraan adalah program pendidikan yang membina para pelajar

agar menjadi warga negara yang baik sebagai anggota keluarga,

masyarakat, maupun sebagai warga negara.Pendidikan kewarganegaraan

meliputi hubungan antara warganegara dan negara, serta pendidikan

(34)

18

serta dasar filosofi bangsa (Kaelan, 2007). Adapun objek material dalam

PKn adalah segala hal yang berkaitan dengan warganegara baik empirik

maupun yang non empirik, yaitu meliputi wawasan, sikap dan perilaku

warga negara Indonesia dalam kesatuan bangsa dan negara.Selain itu PKn

mengarah pada warga negara Indonesia dalam hubungannya dengan

negara Indonesia pada upaya pembelaan negara Indonesia (Kaelan, 2007).

PKn itu sendiri merupakan program pendidikan yang berlandaskan

nilai Pancasila, dan merupakan wahana untuk mengembangkan dan

melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya Bangsa

Indonesia yang diharapkan dapat menjadi jati diri yang diwujudkan dalam

bentuk perilaku dalam kehidupan sehari-hari para peserta didik, baik

sebagai individu, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai umat manusia

makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

b. Tujuan Pembelajaran PKn

Mata pelajaran PKn di SD diharapkan dapat meletakkan

dasar-dasar kepribadian Indonesia yang didasar-dasari oleh nilai moral Pancasila dan

secara khusus: 1) mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai luhur

Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, 2) mengembangkan dan membina

peserta didik yang sadar akan hak dan kewajibannya, taat pada peraturan

yang berlaku, serta berbudi pekerti luhur, 3) membina peserta didik agar

memahami dan menyadari hubungan antar sesama anggota keluarga,

(35)

19

(Wahab, 1997). Tujuan PKn berdasarkan DIRJEN DIKTI No. 43/DIKTI

/kep-/2006 yang termuat dalam Kaelan (2007) dijabarkan sebagai berikut:

1) Visi

PKn merupakan sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan

penyelenggaraan program studi, guna memantapkan kepribadian

ebagai manusia seutuhnya.

2) Misi

Membantu memantapkan kepribadiannya, agar secara konsisten

mampu mewujudkan nilai-nilai dasar pancasila, rasa kebangsaan

dan cinta tanah air dalam menguasai, menerapkan dan

mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dengan

rasa tanggung jawab dan bermoral.

10.Materi Ajar Kelas 3

Materi ajar kelas 3 yang diteliti yaitu pada Standar Kompetensi 4.

“memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia”. Kompetensi Dasar yang

diteliti adalah 4.1 Mengenal kekhasan bangsa Indonesia, seperti

kebhinekaan, kekayaan alam, keramahtamahan dan 4.2 “menampilkan rasa

bangga sebagai anak Indonesia” (Depdikbud, 2007).

Berikut ini akan di uraikan materi pelajaran kelas 3 Sekolah Dasar

tersebut tentang cinta tanah air. Dalam (Purwanto, 2008) mengatakan

bahwa bangsa Indonesia memiliki tiga ciri khas. Ciri khas bangsa

Indonesia yang pertama adalah memiliki keanekaragaman suku, budaya,

(36)

20

daerah, dan makanan tradisional. Ciri khas kedua yang dimiliki oleh

bangsa Indonesia adalah kekayaan alam yang melimpah, yang harus

dilestarikan serta dapat diolah untuk dimanfaatkan hasilnya. Ciri khas

ketiga yaitu sikap keramahtamahan dan kegotongroyongan warga bangsa

Indonesia. Dengan berbagai ciri khas yang dimiliki oleh bangsa Indonesia,

kita sebagai anak Indonesia harus bangga terhadap bangsa kita sendiri.

Kebanggaan terhadap bangsa Indonesia dapat kita lakukan dengan

menggunakan produk buatan dalam negeri dan mewujudkan usaha-usaha

dalam membangun bangsa Indonesia.

11.Pembelajaran pedagogi reflektif

Pengertian Pembelajaran pedagogi reflektif (PPR) merupakan pendekatan

pembelajaran yang dilandaskan pada nilai- nilai kristiani. Subagya (2010)

menyatakan bahwa proses pembelajaran dengan pendekatan PPR membawa

peserta didik untuk menyelesaikan satu siklus yang berkesinambungan, yaitu

konteks pengalaman, refleksi, aksi, evaluasi. Setiap aspek selalu berkaitan dan

tidak boleh dipisah-pisahkan. Proses pembelajaran menggunakan PPR

bertujuan untuk membentuk pribadi peserta didik yang utuh, yang berprestasi

dalam nilai kognitif (competence), mempunyai hati nurani yang tajam

(conscience), dan mempunyai jiwa sosial yang tinggi (compassion). Menurut

tim redaksi Kanisius (2008) pembelajaran pedagogi reflektif merupakan suatu

model pendidikan yang menyediakan solusi dalam pelayanan untuk

(37)

21

Kristiani, yakni persaudaraan, solidaritas, saling menghargai, dan mengasihi

tanpa mengubah kebijakan yang telah ada.

Pembelajaran pedagogi reflektif merupakan pendekatan pembelajaran

yang dilandaskan pada nilai-nilai kristiani. Dengan pendekatan PPR

membawa peserta didik untuk menyelesaikan satu siklus yang

berkesinambungan, yaitu konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi.

Ciriciri esensialPembelajaran pedagogi reflektif (PPR) adalah sebagai berikut

(Subagya, 2010):

a) Pembelajaran pedagogi reflektif dapat diterapkan dalam semua kurikulum.

b) Pembelajaran pedagogi reflektif fundamental untuk proses belajar

mengajar.

c) Pembelajaran pedagogi reflektif menjamin para pengajar menjadi pengajar

yang lebih baik.

d) Pembelajaran pedagogi reflektif mempribadikan proses belajar dan

mendorong pelajar merefleksikan makna dan arti yang dipelajari.

Jadi dengan ciri-ciri yang disebutkan di atas, Pembelajaran

pedagogi reflektif dapat memudahkan pendidik dalam proses yang

mengajar dengan baik dan mendorong peserta didik untuk merefleksikan

makna dan arti yang telah dipelajari. Sedangkan tujuan pembelajaran

pedagogi reflektif menurut Tim Ignatian pembelajaran pedagogi reflektif

(38)

22

a) Tujuan PPR bagi pendidik antara lain:

1. Semakin memahami peserta didik.

2. Semakin bersedia mendampingi perkembangannya.

3. Semakin lebih baik dalam menyajikan materi ajarnya.

4. Memperhatikan kaitan perkembangan intelektual dan moral.

5. Mengadaptasi materi dan metode ajar demi tujuan pendidikan.

6. Mengembangkan daya reflektif dengan pengalaman sebagai

pendidik, pengajar, dan pendamping.

b) Tujuan PPR bagi peserta didik antara lain:

1. Manusia bagi sesama

2. Manusia utuh

3. Manusia yang secara intelektual berkompeten, terbuka untuk

perkembangan religius.

4. Manusia yang sanggup mencintai dan dicintai.

5. Manusia yang berkomitmen untuk menegakkan keadilan dalam

pelayanannya pada orang lain (umat Allah).

6. Manusia yang berkompeten dan hati nurani.

Pola Pembelajaran pedagogi reflektifmenurut Subagya (2008)

meliputi konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi. Menurut

Subagya (2008) pola PPR menggambarkan pelaksanaan PPR yang dapat

(39)

23

Konteks

Gambar 1. Peta Konsep Pelaksanaan PPR (Subagya, 2008)

Beradasarkan kerangka di atas maka dijelaskan sebagai berikut, (Subagya,

2008):

a. Konteks

Konteks lebih ditekankan pada objek pembelajaran dimana materi dari

pembelajaran yang disampaikan oleh pendidik dapat memberikan nilai-nilai

kemanusiaan pada peserta didik yang berguna dalam kehidupan mereka.

Banyak konteks yang dipelajari peserta didik dalam pembelajaran untuk

menumbuhkembangkan pendidikan, yaitu wacana tentang nilai-nilai yang

ingin dikembangkan, penghayatan mengenai nilai-nilai yang diperjuangkan

dan yang terakhir hubungan antar peserta didik dengan pendidik.

(40)

24

Selama proses pembelajaran berlangsung, hendaknya pendidik menjadi

fasilitator guna menyemangati peserta didik agar memiliki nilai-nilai yang

hendak tercapai, misalnya nilai solidaritas, tanggung jawab, penghargaan

terhadap sesama dan masih banyak lagi. Sebagai pendidik yang ditiru oleh

peserta didik, sebaiknya pendidik memberikan contoh penghayatan mengenai

nilai-nilai yang diperjuangkan. Melalui itu, peserta didik bisa melihat,

bersikap dan akhirnya berperilaku sesuai dengan nilai yang diharapkan.

Hubungan baik antar peserta didik dan pendidik akan membantu peserta didik

untuk mempelajari dan kemudian mengaplikasikan nilai-nilai yang hendak

dicapai.

b. Pengalaman

Pembelajaran yang baik merupakan pembelajaran dimana peserta didik

dapat merasakan langsung atau diberi pengalaman terhadap apa yang sedang

mereka pelajari. Melalui pengalaman yang diberikan oleh pendidik diharapkan

peserta didik dapat menumbuhkan persaudaraan, solidaritas dan saling memuji

melalui kelompok kecil yang direkayasa oleh pendidik. Seringkali dalam

kegiatan pembelajaran ada beberapa Kompetensi Dasar (KD) yang sangat sulit

bagi pendidik untuk memberikan pengalaman langsung bagi peserta didik.

Apabila ini terjadi, pendidik bisa mensiasati dengan memberikan pengalaman

tidak langsung. Pengalaman tidak langsung ini bisa dilakukan dengan cara

(41)

25

c. Refleksi

Refleksi dilakukan setelah peserta didik mendapatkan pengalaman belajar.

Pendidik membantu peserta didik dalam melakukan refleksi dengan

memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membantu peserta didik memahami,

mendalami dan meyakini temuannya. Melalui kegiatan refleksi ini diharapkan

peserta didik mampu meyakini makna nilai yang terkandung didalam

pengalamannya dan peserta didik dapat membentuk pribadi mereka sesuai

dengan nilai yang terkandung dalam pengalamannya itu.

d. Aksi

Kegiatan aksi dilakukan oleh peserta didik dengan bantuan pendidik yang

memfasilitasi peserta didik melalui pertanyaan aksi agar peserta didik terbantu

untuk membangun niat dan bertindak sesuai dengan hasil refleksinya. Peserta

didik membangun niat yang sesuai dengan kemauannya membentuk pribadi

peserta didik agar nantinya (lama-kelamaan) menjadi pejuang bagi nilai-nilai

yang direfleksikannya.

e. Evaluasi

Keharusan seorang pendidik setelah pemberian materi pembelajaran yaitu

melakukan evaluasi atas pencapaian kompetensi peserta didik dari sisi

akademik. Tujuan dilakukan evaluasi ini dilakukan untuk melihat apakah ada

perkembangan dalam diri peserta didik dari sisi akademik. Selain itu,

pemberian evaluasi juga diberikan untuk melihat apakah peserta didik sudah

(42)

26

Karakter peserta didik yang diharapkan dalam pembelajaran menggunakan

Pembelajaran Pedagogi Reflektif (PPR) ini yaitu karkter yang bercirikan

competence, consience dan compassion. Tidak hanya salah satu karakter yang

diharapkan dimiliki peserta didik, tetapi ketiga karakter tersebut sebagai

identitas yang melekat dalam diri peserta didik. Ketiga ciri karakter tersebut

harus dipertimbangkan oleh pendidik dalam memberikan evaluasi

pembelajaran. Pendidik perlu mengidentifikasi indikator-indikator yang dapat

diukur sebagai penanda ketercapaiannya.

Kelebihan PPR menurut Subagya (2008) PPR mempunyai

kelebihan-kelebihan diantarany:

a. Murah meriah

Dalam pembelajaran tidak memerlukan sarana atau prasarana khusus,

kecuali yang dibutuhkan oleh bidang studi yang bersangkutan. Misalnya

untuk menumbuhkan persaudaraan, solidaritas, saling menghargai, yang

diperlukan adalah pengalaman yang dapat tercapai melalui belajar dengan

kerja sama kelompok yang kemudian direfleksikan dan ditindaklanjuti

dengan aksi, evaluasi dalam belajar dengan kerja sama kelompok.

b. Segala kurikulum

PPR dapat diterapkan pada semua kurikulum. Pembelajaran pedagogi

reflektif ini tidak menuntut tambahan bidang studi baru, jam pelajaran

tambahan, maupun peralatan khusus. Hal pokok yang dibutuhkan hanyalah

pendekatan baru pada cara pendidik dalam mengajarkan mata pelajaran

(43)

27

c. Cepat kelihatan hasilnya

Kenyataan denga menggunakan PPR dapat diamati di sekolah-sekolah

yang telah menerapkannya. Peserta didik akan terlihat akrab satu sama

lain, mau solider dan saling menbantu dalam belajar, mau saling

menghargai satu sama lain. Pengelolaan kelas menjadi mudah, kenakanlan

berkurang. Secara garis besar dapat disimpulkan yaitu:

1. Dari segi integrasi

a. Pembelajaran berpola PPR murah

b. Tidak terhambat adanya kurikulum baru

c. mengajarkan dan melatih nilai-nilai kristiani

2. Dari segi pengalaman

a. Tidak memerlukan banyak aturan

b. Pendidikan yang otentik

3. Dari segi pendidikan kemanusiaan:

a. Ciri khas sekolah dapat diwujudkan

b. Menjadikan keunggulan sekolah yang tidak dapat diungguli

sekolah lain

2.2 Hasil Penelitian yang Relevan

Nicodemus (2012) meneliti peningkatan sikap, minat dan prestasi

belajar peserta didik dengan menggunakan pendekatan Pedagogi Reflektif

pada mata pelajaran IPS bagi peserta didik kelas 5 SD Kanisius Gayam

Yogyakarta tahun pelajaran 2010/2011. Hasil penelitian menunjukkan

(44)

28

siklus II mengalami peningkatan secara signifikan, demikian juga pada

nilai rata-rata minat belajar peserta didik dan pada nilai rata-rata prestasi

belajar peserta didik. Indikator nilai rata-rata sikap belajar = 61,38 : 68,33

: 80,93, nilai rata-rata prestasi belajar = 67,50 : 69,31 : 78,75 dan rata-rata

minat belajar peserta didik = 58,25 : 71,25 : 81,47.

Agustina (2011) meneliti peningkatan competence, conscience dan

compassion (3C) dengan menggunakan pendekatan Pembelajaran

Pedagogi Reflektif (PPR) dalam pembelajaran tematik bagi peserta didik

kelas 3A SD Kanisius Demangan Baru I tahun ajaran 2010/2011. Jenis

penelitian yang dilakukan merupakan jenis Penelitian Tindakat Kelas

(PTK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 peserta didik kelas 3A

mengalami peningkatan. Nilai competencepeserta didik yaitu 78,97 : 79,35

: 90,9, untuk Conscience yaitu 78,7 menjadi 90. Sedangkan untuk

compassion 75,7 menjadi 90.

Theresia (2011) meneliti penerapan Pembelajaran Pedagogi

Reflektif dalam pembelajaran tematik untuk meningkatkan competence,

conscience dan compassion kelas 3C SD Kanisius Demangan Baru I.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas

(PTK) dengan subyek penelitian peserta didik kelas 3C. Mata pelajaran

tematik yang terkait dalam penelitian ini yaitu IPA dan Bahasa Indonesia.

Untuk mata pelajaran IPA, peningkatan competence yaitu 69,45 : 73,66 :

(45)

29

untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia peningkatan untuk competence

yaitu 68,91 : 72,83 : 77.

Nila (2013) meneliti Pembelajaran PKn Dengan Model

Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Kesadaran Akan Nilai

Cinta Tanah Air Kelas 3 SDN Adisucipto 1. Yogyakarta: Universitas

Sanata Dharma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan

kesadaran akan nilai cinta tanah air menggunakan model pembelajaran

kooperatif teknik mencari pasangan pada peserta didik kelas 3 SDN

Adisucipto 1 Tahun Ajaran 2012/2013. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa model pembelajaran kooperatif teknik mencari pasangan

berpengaruh secara signifikan terhadap kesadaran peserta didik akan nilai

cinta tanah air. Hal ini ditunjukkan dengan harga sig (2 tailed) > 0,05 yaitu

0,440 untuk kelompok kontrol dan harga sig (2-tailed) < 0,005 yaitu 0,000

untuk kelompok eksperimen. Sehingga H0 ditolak dan H1 diterima dengan

kata lain model kooperatif berpengaruh secara signifikan terhadap

(46)

30

Kontribusi penelitian:

Penelitian Apa yang diteliti

Gambar 2. Kontribusi penelitian

Meneliti peningkatan competence, conscience dan compassion (3C) dengan enggunakan pendekatan Pembelajaran Pedagogi Reflektif (PPR) dalam pembelajaran tematik.

Agustina (2011) meneliti peningkatan competence, conscience dan compassion (3C) dengan enggunakan pendekatan Pembelajaran Pedagogi Reflektif (PPR) dalam pembelajaran tematik bagi peserta didik kelas IIIA SD Kanisius Demangan Baru I tahun ajaran 2010/2011.

Meneliti penerapan Pembelajaran Pedagogi Reflektif dalam pembelajaran tematik untuk meningkatkan competence, conscience dan compassion.

Theresia (2011) meneliti penerapan Pembelajaran Pedagogi Reflektif dalam pembelajaran tematik untuk meningkatkan competence, conscience dan compassion.

Minat dan prestasi belajar peserta didik menggunakan Pendekatan Pedagogi Reflektif.

Nicodemus (2012) meneliti peningkatan sikap, minat dan prestasi belajar peserta didik dengan menggunakan pendekatan Pedagogi Reflektif pada mata pelajaran IPS bagi peserta didik kelas V SD Kanisius Gayam Yogyakarta tahun pelajaran

Nila (2013) meneliti Pembelajaran PKn Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Kesadaran Akan Nilai Cinta Tanah Air.

Meneliti Pembelajaran PKn Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Kesadaran Akan Nilai Cinta Tanah Air.

(47)

31

Dari keempat penelitian di atas menyebutkan bahwa hasil dari penerapan

metode PPR dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Agustin (2011)

meneliti peningkatan competence, conscience dan compassion (3C) dengan

enggunakan pendekatan Pembelajaran Pedagogi Reflektif (PPR) dalam

pembelajaran tematik.Theresia (2011) meneliti penerapan Pembelajaran Pedagogi

Reflektif dalam pembelajaran tematik untuk meningkatkan competence,

conscience dan compassion.Nicodemus (2012) minat dan prestasi belajar peserta

didik menggunakan Pendekatan Pedagogi Reflektif.Nila (2013) meneliti

Pembelajaran PKn Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan

Kesadaran Akan Nilai Cinta Tanah Air. Dengan demikian peneliti akan meneliti

Penerapan Pedagogi Reflektif untuk meningkatkan kesadaran peserta didik akan

nilai cinta tanah air.

2.3 Kerangka Berpikir

Pembelajaran dengan menggunakan model PPR akan

meningkatkan kesadaran peserta didik akan nilai. Pembelajaran PKn

sebagai pendidikan nilai diharapkan meningkatkan kesadaran peserta didik

akan nilai cinta tanah air di lingkungannya. Maka PPR merupakan model

yang cocok untuk meningkatkan kesadaran peserta didik akan nilai cinta

anah air. Sehingga melalui PPR akan lebih membantu peserta didik untuk

meningkatkan sikap dalam cinta tanah air di lingkungan. Hal ini sesuai

dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dipilih oleh

peneliti yaitu dengan Standar Kompetensi: 4. Memiliki kebanggan sebagai

(48)

32

sebagai anak Indonesia. Jika metode PPR diterapkan pada pembelajaran

PKn kelas 3 SD Kanisius Totogan, maka akan berpengaruh terhadap nilai

cinta tanah air berupa sikap menghargai, menjaga, melestarikan, dan

bangga akan bangsa Indonesia.

Kesadaran peserta didik akan nilai yang terkandung dalam

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) diharapkan dapat meningkat setelah

pendidikmenyampaikan pembelajaran dengan menggunakan Pembelajaran

Pedagogi Reflektif (PPR). Kesadaran akan nilai bagi peserta didik sangat

penting diberikan sedini mungkin. PPR membantu peserta didik dalam

menyadari akan nilai yang ingin diajarkan melalui pengalaman yang

dilanjutkan lewat refleksi dan kemudian diaplikasikan melalui aksi.

(49)

33

2.4 Hipotesis Tindakan

1.4.1 Hipotesis 1

Proses pembelajaran di SD Kanisius Totogan menggunakan

Pembelajaran Pedagogi Reflektif meliputi Konteks, Pengalaman,

Reflektif, Aksi, dan Evaluasi. Konteks lebih ditekankan pada objek

pembelajaran yang disampaikan guru dapat memberikan nilai

kemanusiaan yang berguna bagi kehidupan mereka.Pengalaman yaitu

pembelajaran dimana peserta didik dapat merasakan langsung.Refleksi

dilakukan setelah peserta didik melakukan pembelajaran.Aksi dilakukan

peserta didik dengan bantuan fasilitator.Evaluasi yaitu melihat apakah ada

perkembangan dalam diri peserta didik setelah melakukan pembelajaran.

1.4.2 Hipotesis 2

Penerapan Pembelajaran Pedagogi Reflektif (PPR) dalam mata

pelajaran PKN materi cinta tanah air dapat meningkatkan kesadaran

peserta didik akan nilai cinta tanah air kelas 3 semester genap SD Kanisius

(50)

34

BAB III

METODE PENELITIAN

Pada bab III ini akan dibahas jenis penelitian, setting penelitian, persiapan,

rencana setiap siklus, jadwal penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan

data, dan teknik analisis data.

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian

Tindakan Kelas merupakan penelitian praktis yang dimaksud untuk memperbaiki

atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas dan upaya penelitian ini dilakukan

dengan melaksanakan tindakan untuk mencari jawaban atas permasalahan yang

terjadi. Permasalahan diangkat dari kegiatan tugas sehari-hari yang dilakukan

dikelas. Susilo (2007) mendiskripsikan penelitian tindakan kelas dilakukan

melalui empat langkah utama yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan

refleksi. Empat langkah utama yang saling berhubungan dalam pelaksanaan

penelitian tindakan kelas sering disebut dengan istilah siklus. Pelaksanaan

penelitian tindakan kelas dilakukan minimal satu siklus. Oleh karena itu apabila

pada siklus pertama belum menampakkan peningkatan hasil yang ingin dicapai

maka dapat dilakukan dengan siklus kedua.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada

(51)

35

Siklus 1 Siklus 2

Gambar 4. Siklus Penelitian Tindakan Kelas menurut Kemmisdan

McTaggart(Wiraatmadja :2005)

Tahapan-tahapan Penelitian Tindakan Kelas dalamsetiap siklusnya adalah

sebagai berikut:

1. Perencanaan

Penentuan perencanaan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu

perencanaan umum dan perencanaan khusus. Perencanaan umum

dimaksudkan untuk menyusun rancangan yang meliputi keseluruhan aspek

yang terkait PTK antara lain identifikasi masalah, analisis penyebab

adanya masalah, dan bentuk tindakan yang akan dilakukan. Sedangkan,

perencanaan khusus dimaksudkan untuk menyusun rancangan dari siklus

(52)

36

2. Pelaksanaan

Pelaksanaan dalam penelitian tindakan kelas dilakukan mengacu pada

perencanaan yang telah dibuat. Pelaksanaan tindakan dilakukan untuk

memecahkan masalah yang terjadi. Setelah ditetapkan bentuk pelaksanaan

tindakan yang akan dilakukan, maka langkah berikutnya adalah

menerapkan tindakan tersebut dalam proses pembelajaran yang sesuai

dengan rencana pembelajaran yang sudah dibuat.

3. Pengamatan

Pengamatan dilakukan untuk mengetahui dan memperoleh gambaran

lengkap tentang proses pembelajaran mengenai cinta tanah air.

Pengamatan atau monitoring dapat dilakukan sendiri. Pada saat monitoring

pengamat haruslah mencatat semua peristiwa atau hal yang terjadi di

dalam kelas penelitian yaitu kelas 3 Semester IISDKanisius Totogan”.

4. Refleksi

Refleksi dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan untuk

memikirkan dan merenungkan tentang proses pembelajaran yang

dilakukan sebagai evaluasi pendidik serta tim pengamat yang dilakukan

dalam penelitian tindakan kelas. Refleksi ini dilakukan dengan cara

mendiskusikan berbagai masalah yang timbul di dalam kelas dan untuk

mengukur apakah tindakan dalam siklus pertama sudah mencapai tujuan

yang diinginkan. Dengan refleksi ini, peneliti dapat menentukan apakah

tetap melanjutkan ke siklus berikutnya atau berhenti karena masalah sudah

(53)

37

3.2 Setting Penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian

Tempat penelitian ini dilaksanakan di SD Kanisius Totogan, Madurejo,

Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta

3.2.2 Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik SD Kanisius Totogan

tahun pelajaran 2012/2013 kelas 3yang berjumlah 21peserta didik.

3.2.3 Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah pada mata pelajaran PKn tentang rasa cinta

tanah air kelas 3 SD Kanisius Totogan.

3.2.4 Waktu Penelitian

Penelitian pada bulan Januari – Juli 2014

3.3 Persiapan

a. Permintaan ijin kepada Kepala SD Kanisius Totogan

Permintaan ijin dilakukan sebagai langkah awal dalam penelitian di

SD, agar kegiatan penelitian dapat berjalan dengan lancar oleh

persetujuan dari pihak sekolah dan mendapatkan data yang sesuai.

b. Wawancara

Wawancara dilakukan untuk mencari informasi tentang kondisi awal

kesadaran peserta didik akan nilai cinta tanah air, serta model

pembelajaran yang digunakan pendidik dalam menyampaikan materi

belajar. Informasi-informasi diperoleh dari hasil wawancara dengan

(54)

38

c. Identifikasi masalah

Setelah memperoleh data dan hasil wawancara, peneliti dapat

mengidentifikasi masalah yang terjadi dan menentukan

tindakanselanjutnya.

d. Mengkaji kompetensi dasar dan materi pokoknya

Hal ini dilakukan dengan merumuskan isi dan materi KD yang

bermasalah sehingga diperoleh indikator yang bermasalah.

3.4 Kegiatan Setiap Siklus

Penelitian Tindakan kelas ini akan dilakukan dalam 2 siklus dengan

penjabaran dari masing-masing siklus adalah:

1. Siklus 1

Siklus pertama dilakukan dalam satu kali pertemuan dengan 3JP.

Pelaksanaan pembelajaran dalam tiap tahapan pada siklus 1 adalah:

a) Perencanaan

Peneliti mendalami silabus, menyusun Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran, bahan ajar dan mempersiapkan metode-metode yang akan

digunakan dalam pembagian kelompok.

b) Pelaksanaan Tindakan

1. Pendidik bersama peserta didik menyanyikan lagu “Dari Sabang

Sampai Merauke”

2. Pendidik memberikan apersepsi tentang kebudayaan

3. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai

(55)

39

5. Pendidik memberikan gambaran tentang kebudayaan di Indonesia

6. Peserta didik mengamati gambar-gambar keanekaragaman budaya

Indonesia

7. Peserta didik menyebutkan salah satu kebudayaan Indonesia yang

diketahui

8. Peserta didik dibagi dalam 5 kelompok, masing-masing kelompok

terdiri dari 4 dan 5 anak

9. Masing-masing kelompok mengerjakan tugas yang diberikan oleh

pendidik dengan berkerjasama dan berdiskusi

10.Pendidik dan peserta didik melakukan Tanya jawab

11.Pendidik bersama peserta didik membuat rangkuman bersama atas

pembelajaran yang telah dilalui

12.Peserta didik mengerjakan tes atau evaluasi

13.Pendidik bersama peserta didik melakukan refleksi bersama atas

pembelajaran yang telah dilalui

c) Pengamatan

Pada siklus pertama ini peneliti bertindak sebagai pengamat.Peneliti

mencatat segala hal yang terjadi mulai dari kegiatan awal hingga kegiatan

akhir pembelajaran. Peneliti menuangkan hasil pengamatan yang didapat

pada lembar observasi, Selain mengamati proses pembelajaran peneliti

juga mengamati ke aktif-an peserta didik dalam mengikuti proses

(56)

40

d) Refleksi

Pada tahapan refleksi peneliti mengolah hasil dari pemaparan pengamatan

yang diperoleh.Peneliti mengidentifikasi kesulitan dan hambatan yang ada

pada pembelajaran siklus pertama.

2. Siklus 2

a) Perencanaan

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama peneliti memperbaiki

tindakan pada siklus kedua.Peneliti dapat memperbaiki pada RPP ataupun

memberikan masukan kepada pendidik atas pelaksanaan pembelajaran

ataupun pengelolaan kelas.

b) Tindakan

1. Pendidik bersama peserta didik menyanyikan lagu “Dari Sabang

Sampai Merauke”

2. Pendidik memberikan apersepsi tentang kebudayaan

3. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai

4. Pemberian motivasi dan acuan dalam pembelajaran oleh pendidik

5. Pendidik memberikan gambaran tentang kebudayaan di Indonesia

6. Peserta didik mengamati gambar-gambar aktivitas masyarakat pada saat

melakukan gotong royong

7. Peserta didik menyebutkan salah satu kebudayaan Indonesia yang

diketahui

8. Peserta didik dibagi dalam 5 kelompok, masing-masing kelompok

Gambar

Gambar 2Kontribusi Penelitian ............................................................................
Gambar 2Kontribusi Penelitian . View in document p.15
Gambar 1. Peta Konsep Pelaksanaan PPR (Subagya, 2008)
Gambar 1 Peta Konsep Pelaksanaan PPR Subagya 2008 . View in document p.39
Gambar 2. Kontribusi penelitian
Gambar 2 Kontribusi penelitian . View in document p.46
Gambar 3. Kerangka Berfikir
Gambar 3 Kerangka Berfikir . View in document p.48
gambar siklus Penelitian Tindakan Kelas di bawah ini.
Penelitian Tindakan Kelas di bawah ini . View in document p.50
Gambar 4. Siklus Penelitian Tindakan Kelas menurut Kemmisdan
Gambar 4 Siklus Penelitian Tindakan Kelas menurut Kemmisdan . View in document p.51
Tabel 1. Jadwal Penelitian
Tabel 1 Jadwal Penelitian . View in document p.58
Tabel 2. Indikator Skala Sikap(Wahana,2013)
Tabel 2 Indikator Skala Sikap Wahana 2013 . View in document p.59
Tabel 3. Kisi-kisi Pernyataan Skala Sikap
Tabel 3 Kisi kisi Pernyataan Skala Sikap . View in document p.61
Tabel 4. Sebaran Item Uji Coba Skala Sikap Kesadaran Akan Nilai Cinta
Tabel 4 Sebaran Item Uji Coba Skala Sikap Kesadaran Akan Nilai Cinta . View in document p.64
Tabel 5. Uji validitas item skala sikap
Tabel 5 Uji validitas item skala sikap . View in document p.71
Tabel 6. Acuan PAP Tipe 1
Tabel 6 Acuan PAP Tipe 1 . View in document p.72
Tabel 7. Perhitungan Batas nilai secara keseluruhan
Tabel 7 Perhitungan Batas nilai secara keseluruhan . View in document p.73
Tabel 8. Indikator keberhasilan
Tabel 8 Indikator keberhasilan . View in document p.74
Tabel 10. Hasil Kondisi Awal
Tabel 10 Hasil Kondisi Awal . View in document p.77
Grafik Kondisi Awal
Grafik Kondisi Awal. View in document p.78
gambar yang didalamnya memuat materi pembelajaran), Lembar Kerja
Lembar Kerja . View in document p.80
Tabel 11. Hasil Siklus 1
Tabel 11 Hasil Siklus 1 . View in document p.84
Grafik Siklus 1
Grafik Siklus 1. View in document p.85
Tabel 12. Hasil Siklus 2
Tabel 12 Hasil Siklus 2 . View in document p.90
Grafik Siklus 2
Grafik Siklus 2. View in document p.91
Tabel 13. Pencapaian Peningkatan
Tabel 13 Pencapaian Peningkatan . View in document p.93
gambar yang di perlihatkan, salah satunya dengan cara mencatat terlebih
gambar yang di perlihatkan, salah satunya dengan cara mencatat terlebih . View in document p.95
Gambar 6. Kegiatan Awal Pembelajaran
Gambar 6 Kegiatan Awal Pembelajaran . View in document p.172
Gambar 7. Kegiatan Menyimak Gambar.
Gambar 7 Kegiatan Menyimak Gambar . View in document p.173
Gambar 9. Kegiatan Presentasi Kelompok
Gambar 9 Kegiatan Presentasi Kelompok . View in document p.174
Gambar 10. Kegiatan Refleksi
Gambar 10 Kegiatan Refleksi . View in document p.175

Referensi

Memperbarui...

Download now (177 pages)