Pengaruh kombinasi Surfaktan Tween 80 dan Span 80 terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E untuk antiaging - USD Repository

Gratis

0
1
168
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH KOMBINASI SURFAKTAN TWEEN 80 DAN SPAN 80 TERHADAP SIFAT FISIK DAN STABILITAS FISIK MIKROEMULSI ESTER VITAMIN C DAN VITAMIN E UNTUK ANTIAGING SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Diajukan oleh: Fransisca Kristi Astuti NIM : 108114160 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH KOMBINASI SURFAKTAN TWEEN 80 DAN SPAN 80 TERHADAP SIFAT FISIK DAN STABILITAS FISIK MIKROEMULSI ESTER VITAMIN C DAN VITAMIN E UNTUK ANTIAGING SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Diajukan oleh: Fransisca Kristi Astuti NIM : 108114160 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Yesaya 41:10 “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Pengkhotbah 3:11 “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktuNya, bahkan Ia memberi kekekalan di dalam hati mereka”. Amsal 2:10 “”Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan Menyenangkan jiwamu”. Ketekunan bisa membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin, membuat kemungkinan kecil jadi kemungkinan besar dan membuat kemungkinan menjadi pasti (Robert Half) Kupersembahkan skripsi ini untuk :  Tuhan Yesus Kristus, Bunda Maria dan Malaikat Gabriel   Dd Alisius Johan Affandi  Teman-teman Farmasi 2010  iv Papa dan mama tercinta Universitas Sanata Dharma

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Saya panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, Bunda Maria, Santo Tadeus dan Malaikat Gabriel atas curahan berkat dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “PENGARUH KOMBINASI SURFAKTAN TWEEN 80 DAN SPAN 80 TERHADAP SIFAT FISIK DAN STABILITAS FISIK MIKROEMULSI ESTER VITAMIN C DAN VITAMIN E UNTUK ANTIAGING”. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat mendapatkan gelar Sarjana Strata Satu Program Studi Ilmu Farmasi (S.Farm). Selama masa perkuliahan hingga penelitian dan penyusunan skripsi, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak baik berupa bimbingan, perhatian, doa, dorongan, nasehat, sarana dan prasarana. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Papa Agustinus Suparyono dan mama Elizabeth Nuryati atas doa, perhatian baik saat suka dan duka serta penyokong dana terhadap penulis selama berkuliah dan mengerjakan skripsi. 2. Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. 3. Dr. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt., selaku Ketua Program Studi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. 4. Dr. T. N. Saifullah, S. M.Si., Apt. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama pengerjaan skripsi. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. C. M. Ratna Rini Nastiti, M.Pharm., Apt. dan Melania Perwitasari, M.Sc., Apt. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran kepada penulis dalam memperbaiki naskah skripsi. 6. Pak Musrifin, Mas Agung, Pak Parlan, Mas Otok, Mas bimo, Mas Kunto, Pak Wagiran, Pak Iswandi, Mas Sigit, Pak Pardjiman, Pak Heru, Pak Timbul, Mas Ketul dan segenap satpam dan karyawan atas bantuan dan kelancaran yang telah diberikan dalam pelaksanaan penelitian ini. 7. Elizabeth Sita dan Agrifina Akardias Mahalalita selaku teman seperjuangan dalam melakukan penelitian, serta atas masukan, saran, serta dukungannya selama ini. 8. Eveline Febrina dan Arfin dj, selaku sahabat sejati yang selalu memberikan semangat dikala suka dan duka. 9. Anggota Kwek-kwek Marcelina W. A. R, Rosalia Suryaningtyas, Astuti M. S, dan Eva Cristiana atas perhatian dan dukungannya kepada penulis. 10. Naomita Joice, Liliany Ludji, Nita Rahayu, Ricardo Kenny, Vivian hiu, Cindy, Eliza telamiana, Widya Agriani, Priskila Agnes, Ita (001), Olivia, Sita, dan Juliana atas tawa dan dukungannya yang diberikan kepada penulis. 11. Semua pihak dan teman-teman yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari seluruh pembaca demi kesempurnaan karya ini. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Ester vitamin C dan vitamin E diketahui memiliki fungsi sebagai antioksidan. Campuran ester vitamin C dan vitamin E diformulasikan dalam bentuk mikroemulsi untuk meningkatkan absorpsi ke dalam lapisan kulit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh campuran surfaktan tween 80 dan span 80 terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E. Faktor dalam penelitian adalah tween 80 dan span 80 dengan perbandingan 5:1, 6:1, 7:1, 8:1. Parameter uji yang diamati meliputi organoleptis, ukuran partikel, persen transmitan, viskositas, indeks bias, pH, dilution test, uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dan stabilitas sediaan menggunakan freeze thaw selama 3 siklus. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan Analysis of variance (ANOVA) dengan software R.3.0.2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan tween 80 dalam kombinasi surfaktan tidak memberikan perubahan organoleptis, menyebabkan peningkatan pH, viskositas serta penurunan ukuran partikel dan persen transmitan sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E. Sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan E memiliki aktivitas antioksidan yang termasuk dalam kategori sangat kuat dengan IC50 F5 0,012 mg/mL, F6 0,019 mg/mL, F7 0,022 mg/mL dan F8 0,040 mg/mL. Kata kunci : mikroemulsi, campuran ester vitamin C dan vitamin E, surfaktan, tween 80 dan span 80, freeze thaw. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Ester vitamin C and vitamin E are known to have a function as an antioxidant. The mixture of ester vitamin C and E are formulated in the form of microemulsion to increase absorption in the skin surface. The purpose of this study was to determine the effect of surfactant tween 80 and span 80 on the physical properties and stability of microemulsion ester vitamin C and vitamin E. Factors in the study were tween 80 and span 80 with a ratio of 5:1, 6:1, 7:1, 8:1. Parameters observed were organoleptic test, particle size, percent transmittance, viscosity, refractive index, pH, dilution test, Antioxidant activity test used DPPH method and freeze thaw stability of the microemulsion for 3 cycles. Data were analyzed statistically using analysis of variance (ANOVA) with software R.3.0.2. The results showed that increasing of tween 80 on the surfactant mixture in this study did not provide organoleptic changes, causing increase in pH, viscosity and particle size and decreased in percent transmittance microemulsion ester vitamin C and E. Microemulsion ester vitamins C and E showed very strong antioxidant activity with an average IC50 F5 0,01200 mg/mL, F6 0,01857 mg/mL, F7 0,02167 mg/mL, F8 0,04028 mg/ mL. Keywords : microemulsion, ester vitamin C. vitamin E, surfactant, tween 80 and span 80, freeze thaw. xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................. ii HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI ........................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... iv PERSETUJUAN PUBLIKASI ....................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................................... vi PRAKATA ...................................................................................................... vii INTISARI ........................................................................................................ x ABSTRACT ...................................................................................................... xi DAFTAR ISI ................................................................................................... xii DAFTAR TABEL ........................................................................................... xix DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xxi DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xxiii BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................. 1 A. Latar Belakang .............................................................................. 1 B. Perumusan Masalah ...................................................................... 4 C. Keaslian Penelitian ........................................................................ 4 D. Manfaat Penelitian ........................................................................ 5 E. Tujuan Penelitian .......................................................................... 6 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 7 A. Penuaan Dini ................................................................................. 7 1. Pengertian ................................................................................ 7 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Penuaan dini akibat sinar UV .................................................. 7 3. Pembentukkan Radikal Bebas pada Kulit ............................... 7 B. Antioksidan ................................................................................... 8 1. Mekanisme Kerja Antioksidan ................................................ 9 2. Vitamin E sebagai Antioksidan ............................................... 10 3. Ester vitamin C atau Askorbil palmitat sebagai antioksidan ... 11 C. Mikroemulsi .................................................................................. 12 1. Jenis Mikroemulsi ................................................................... 12 2. Teori Pembentukkan Mikroemulsi........................................... 12 3. Surfaktan.................................................................................. 13 3.1. Tween 80 dan Span 80 sebagai Surfaktan......................... 14 4. Kontrol Kualitas dari Sediaan Mikroemulsi............................ 16 4.1. Uji Organoleptis............................................................... . 16 4.2. Uji pH............................................................................... . 16 4.3. Uji Viskositas................................................................... . 16 4.4. Uji Ukuran Partikel Mikroemulsi...................................... 18 4.5. Dilution Test..................................................................... . 18 4.6. Uji Indeks Bias................................................................. . 19 4.7. Uji Persen Transmitan ....................................................... 19 5. Uji Stabilitas Mikroemulsi...................................................... . 20 D. Uji Iritasi Menggunakan Metode HET-CAM................................ 22 E. Uji Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode DPPH terhadap ester vitamin C dan vitamin E..................................................... ... 23 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI F. Pemerian Bahan............................................................................. 24 1. Ester vitamin C atau Ascorbyl palmitate.................................. 24 2. Vitamin E (alfa tokoferol)........................................................ 25 3. Sunflower oil............................................................................ 25 4. Tween 80 .................................................................................. 26 5. Span 80 ..................................................................................... 27 6. Aquadestilata ........................................................................... 27 7. DPPH (2,2-dfenil 1-pikrilhidrazil) ........................................... 27 8. Etanol ....................................................................................... 28 G. Analisis Data .................................................................................. 29 H. Landasan Teori ............................................................................... 29 I. Hipotesis Penelitian........................................................................ 30 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ...................................................... 31 A. Jenis Rancangan Penelitian ........................................................... 31 B. Variabel dan Definisi Operasional ................................................ 31 1. Variabel Penelitian ................................................................... 31 2. Definisi Operasional................................................................. 31 C. Bahan Penelitian ............................................................................ 32 D. Alat Penelitian ................................................................................ 33 E. Tata Cara Penelitian ...................................................................... 33 1. Orientasi Formula Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E .................................................................................. 33 1.1. Formula Orientasi.............................................................. 33 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.2. Pembuatan Sediaan Mikroemulsi Ester Vitamin C dan Vitamin E Formula Orientasi ............................................ 34 2. Evaluasi Sediaan Mikroemulsi saat orientasi .......................... 35 2.1. Uji organoleptis ................................................................. 35 2.2. Heating and Cooling Cycle ............................................... 35 2.3. Uji Sentrifugasi ................................................................. 35 3. Pembuatan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E dengan Formula Hasil Orientasi............................................... 35 3.1. Formula Mikroemulsi Hasil Orientasi .............................. 35 3.2. Pembuatan Sediaan Mikroemulsi Ester Vitamin C dan Vitamin E ........................................................................... 36 4. Uji Sifat Fisik Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E .................................................................................. 36 4.1. Uji Organoleptis ................................................................ 36 4.2. Uji pH menggunakan pH meter ........................................ 36 4.3. Diluton Test ....................................................................... 37 4.4. Persen Transmitan ............................................................. 37 4.5. Indeks Bias ........................................................................ 38 4.6. Viskositas .......................................................................... 39 4.7. Uji Ukuran partikel ........................................................... 39 5. Uji Stabilitas Dipercepat .......................................................... 39 5.1. Uji Freeze thaw ................................................................. 39 6. Uji HET-CAM ........................................................................ 39 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6.1. Penyiapan Telur ................................................................ 39 6.2. Kontrol Positif (NaOH 0,1 N) ........................................... 40 6.3. Kontrol Negatif (0,9% NaCl) ............................................ 40 6.4. Perlakuan ........................................................................... 40 6.5. Pengamatan ....................................................................... 40 7. Uji Aktivitas Antioksidan pada Sediaan Mikroemulsi............. 41 7.1. Pembuatan Larutan DPPH ................................................ 41 7.2. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum DPPH .......... 41 7.3. Penentuan Operating Time................................................ 42 7.4. Pembuatan Larutan uji ...................................................... 42 7.5. Pengukuran Absorbansi Larutan DPPH (kontrol)............. 49 7.6. Penentuan Aktivitas Antioksidan ...................................... 49 7.7. Penentuan Persamaan Regresi Linear ............................... 50 F. Analisis Data ................................................................................. 50 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 52 A. Uji Pendahuluan atau Orientasi Formula ....................................... 52 B. Uji Sifat Fisik Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E dengan Formula Hasil Orientasi .................................................... 54 1. Uji Organoleptis dan pH .......................................................... 54 2. Dilution Test ............................................................................. 55 3. Persen transmitan ..................................................................... 56 4. Uji Indeks Bias ......................................................................... 57 5. Uji Ukuran Droplet .................................................................. 58 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Uji Viskositas ........................................................................... 60 C. Uji Stabilitas Fisik Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E ........................................................................................ 62 1. Stabilitas organoleptis mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E setelah mengalami freeze thaw ................................ 63 2. Stabilitas pH mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E setelah mengalami freeze thaw................................................. 64 3. Stabilitas persen transmitan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E setelah mengalami freeze thaw ......................... 65 4. Stabilitas ukuran droplet mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E setelah mengalami freeze thaw ................................ 66 5. Stabilitas viskositas mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E setelah mengalami freeze thaw ................................ 66 D. General Discussion Antar Uji sifat Fisik Sediaan Mikroemulsi.... 67 E. Uji Aktivitas Antioksidan Basis Mikroemulsi dan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E ....................................................... 70 1. Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum (λ maks) 70 2. Penentuan Operating Time (OT) .............................................. 69 3. Hasil Aktivitas Antioksidan dengan Radikal DPPH ................ 72 F. Uji Iritasi Menggunakan Metode HET-CAM ................................ 74 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 76 A. Kesimpulan ................................................................................... 76 B. Saran .............................................................................................. 76 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 77 LAMPIRAN .................................................................................................... 83 BIOGRAFI PENULIS .................................................................................... 141 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Klasifikasi Skor Kumulatif dalam Chorioallantoic Membrane Test ............................................................................................ 23 Tabel II. Formula Mikroemulsi Acuan ................................................................ 33 Tabel III. Orientasi Formula Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E ........................................................................................................................ 34 Tabel IV. Formula Mikroemulsi Hasil Orientasi .............................................................. 35 Tabel V. Hasil Organoleptis Formula orientasi........................................ Tabel VI. Data Organoleptis dan pH Sediaan Mikroemulsi Formula Hasil Orientasi .......................................................................... Tabel VII. 54 pH Kombinasi Surfaktan Tween 80 dan Span 80 Setiap Formula ....................... ................................................................ Tabel VIII. 53 55 Nilai HLB Kombinasi Surfaktan Tween 80 dan Span 80 pada Setiap Formula Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E ................................................................................................... 56 Tabel IX. Hasil Ukuran Droplet (nm)....................................................... 58 Tabel X. Nilai Indeks Polidispersitas dan Koefisien Difusi (D) saat Pengujian Ukuran Droplet......................................................... Tabel XI. 60 Hasil Organoleptis Selama Freeze Thaw Dengan 3 Siklus Penyimpanan ............................................................................ xix 62

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel XII. Ukuran Droplet Mikroemulsi Ester Vitamin C Dan Vitamin E Setelah Freeze Thaw ......................................................................................... 65 Tabel XIII. Hasil Sifat Fisik Sediaan Mikroemulsi...................................... 68 Tabel XIV Hasil Stabilitas Fisik Mikroemulsi............................................ 68 Tabel XV IC50 Standar Ester vitamin C, Vitamin E, Campuran Ester vitamin C dan vitamin E serta mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E.................................................................... Tabel XVI. 73 Data Hasil Pengujian Iritasi Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E .......................................................................................75 Tabel XVII. Data HLB Kombinasi Surfaktan Tween 80 dan Span 80 Setiap Formula Mikroemulsi .................................................... Tabel XVIII. 90 Uji Statistik Sifat Fisik pH, Viskositas, Persen Transmitan, Ukuran Partikel dan nilai IC50 Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E .......................................................... Tabel XIX. Uji Statistik Stabilitas pH, Viskositas, Persen Transmitan dan Ukuran Droplet ......................................................................... Tabel XX. 95 98 Waktu Saat Terjadi Iritasi dengan Perlakuan Kontrol Positif, Negatif dan Sampel .................................................................. 127 Tabel XXI. Nilai IS yang dihasilkan Berdasarkan Perlakuan ...................... 128 xx

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Reaksi Penangkapan Radikal oleh DPPH ................................ 24 Gambar 2. Struktur Kimia Ester vitamin C ................................................................ 24 Gambar 3. Struktur Kimia Vitamin E ................................................................ 25 Gambar 4. Struktur Kimia Tween 80 ................................................................ 26 Gambar 5. Struktur Kimia Span 80................................................................27 Gambar 6. Struktur Kimia DPPH ................................................................ 28 Gambar 7. Struktur Kimia Etanol................................................ ................................ 28 Gambar 8. Larutan Mikroemulsi yang dilarutkan dalam 100 mL Akuades ................................................................................................ 55 Gambar 9. Grafik Uji Persen Transmitan Sediaan Mikroemulsi Ester ester vitamin C dan vitamin E formula 5 (5:1), formula 6 (6:1), formula 7 (7:1), formula 8 (8:1) ............................................................. 56 Gambar 10. Grafik Uji Indeks Bias Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E formula 5 (5:1), formula 6 (6:1), formula 7 (7:1), formula 8 (8:1) ................................................................57 Gambar 11. Hasil Grafik Uji Ukuran Droplet Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E formula 5 (5:1) sebelum 58 freeze thaw ................................................................................................ Gambar 12. Hasil Grafik Uji Ukuran Droplet Sediaan Mikroemulsi formula 8 (8:1) sebelum freeze thaw................................................................ 59 xxi

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 13. Grafik Uji viskositas Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E formula 5 (5:1), formula 6 (6:1), formula 7 (7:1), formula 8 (8:1) ................................................................ 61 Gambar 14. Grafik Uji Stabilitas pH Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Selama Mengalami freeze thaw selama 3 siklus ................................................................................................ 63 Gambar 15. Grafik Uji Stabilitas Persen Transmitan Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Selama Mengalami freeze thaw 3 Siklus ................................................................ 64 Gambar 16. Grafik Uji Stabilitas Viskositas Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Selama Mengalami freeze thaw 3 Siklus .............................. 66 Gambar 17. Grafik Penentuan OT Standar Ester vitamin C 0,0015 mg/mL, Vitamin E 0,00075 mg/mL dan Campuran Ester vitamin C dan vitamin E 0,0042 mg/mL.......................................................... 71 Gambar 18. Grafik Penentuan OT Mikroemulsi formula 5 (5:1) 0,0084 mg/mL, formula 6 (6:1) 0,0196 mg/mL, formula 7 (7:1) 0,0168 mg/mL, formula 8 (8:1) 0,0196 mg/mL................................ 71 Gambar 19. Grafik Penentuan OT Basis Mikroemulsi formula 5 (5:1) 1,2 mg/mL, formula 6 (6:1) 1,4 mg/mL, formula 7 (7:1) 1,4 mg/mL, formula 8 (8:1) 2,4 mg/mL ................................................................ 71 xxii

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Certificate of Analysis (CoA) ester vitamin C (Askorbil palmitat) .......................................................................... 84 Lampiran 2. Certificate of Analysis (CoA) vitamin E (Alfa-tokoferol)) ................................ 85 Lampiran 3. Certificate of Analysis (CoA) Sunflower oil............................ Lampiran 4 87 Certificate of Analysis (CoA) Tween 80 ........................................................... Lampiran 5. Certificate of Analysis (CoA) Span 80 .............................................................. 88 Lampiran 6. Data Penimbangan Formula Orientasi .............................................................. 89 Lampiran 7. Data Hasil Organoleptis Orientasi ................................................................ 90 Lampiran 8. Data Pengamatan HLB ................................................................90 Lampiran 9. Organoleptis Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E............................................................................ 86 90 Lampiran 10. Data Pengukuran pH Basis dan Sediaan Mikroemulsi Vitamin C dan E ..................................................................... 91 Lampiran 11. Data Pengukuran Viskositas (cP) Sediaan Mikroemulsi Ester 92 vitamin C dan vitamin E ................................................................ Lampiran 12. Data Pengukuran Persen Transmitan (% T) Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E .......................... 93 Lampiran 13. Data Pengukuran Indeks bias Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan E ...................................................................... 93 Lampiran 14. Data Pengamatan Ukuran Partikel ................................................................ 94 xxiii

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 15. Perhitungan Statistik Sifat Fisik Viskositas, pH, Persen Transmitan dan Ukuran partikel (24 Jam) Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Menggunakan Program R 3.0.2 open source................................................. 94 Lampiran 16. Data Stabilitas pH, Viskositas, Persen Transmitan dan Ukuran Partikel Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E ................................................................................. 97 Lampiran 17. Data Penimbangan Ester vitamin C, E, Campuran Ester vitamin C dan E sebagai standar……..................................... 100 Lampiran 18. Data Perhitungan DPPH, konsentrasi stok ester vitamin C, seri konsentrasi ester vitamin C, Data Absorbansi Ester vitamin C, % IC dan IC50 ester vitamin C sebagai standar ................................................................................................. 100 Lampiran 19. Data Perhitungan DPPH, konsentrasi stok vitamin E, seri konsentrasi vitamin E, Data Absorbansi Vitamin E, % IC dan IC50 vitamin E sebagai standar...................................... 104 Lampiran 20. Data Perhitungan DPPH, konsentrasi stok campuran ester vitamin C dan E, seri konsentrasi campuran ester vitamin C dan vitamin E, Data Absorbansi Ester vitamin C dan vitamin E, % IC dan IC50 ester vitamin C dan vitamin E sebagai standar.......................... ................................................................108 Lampiran 21. Uji Statistik Standar Ester vitamin C, E dan campuran Ester vitamin C dan Vitamin E ........................................................ xxiv 112

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 22. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Mikroemulsi Ester vitamin C dan E 5:1, Data Absorbansi Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 5:1, % IC dan IC50 Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 5:1................................................................ 113 Lampiran 23. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Mikroemulsi Ester vitamin C dan E 6:1, Data Absorbansi Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 6:1, % IC dan IC50 Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 6:1................................................................ 115 Lampiran 24. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Mikroemulsi Ester vitamin C dan E 7:1, Data Absorbansi Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 7:1, % IC dan IC50 Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 7:1 .......................................... 117 Lampiran 25. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Mikroemulsi Ester vitamin C dan E 8:1, Data Absorbansi Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 8:1,% IC dan IC50 Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 8:1 .......................................... 119 Lampiran 26. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Basis Mikroemulsi 5:1, Data Absorbansi Basis Mikroemulsi 5:1, % IC ............... 120 Lampiran 27. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Basis Mikroemulsi 6:1, Data Absorbansi Basis Mikroemulsi 6:1 dan % IC ......... 122 Lampiran 28. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Basis Mikroemulsi 7:1, Data Absorbansi Basis Mikroemulsi 7:1 dan % IC ......... xxv 123

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 29. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Basis Mikroemulsi 8:1, Data Absorbansi Basis Mikroemulsi 8:1 dan % IC ......... 125 Lampiran 30. Hasil Uji Iritasi Primer dengan Metode HET-CAM ............... 127 Lampiran 31. Dokumentasi ........................................................................... xxvi 128

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Kulit dianggap sebagai cermin penampilan seseorang sehingga tidak salah jika banyak orang terutama wanita berusaha merawat kulit wajah dan memperlambat proses penuaan dini. Radikal bebas merupakan faktor utama yang mempengaruhi atau mempercepat terjadinya proses penuaan dini. Radikal bebas menyebabkan kerusakan pada kulit, seperti kulit menebal, kaku, tidak elastis, keriput, pucat dan kering (Evawati, 2010). Peremajaan kulit merupakan salah satu upaya untuk membuat kulit tampak sehat dan muda kembali. Salah satu cara peremajaan kulit adalah menggunakan antioksidan seperti ester vitamin C (Askorbil palmitat) dan vitamin E (alfa tokoferol) (Bauman, 2002). Ester vitamin C atau vitamin E sudah banyak digunakan oleh masyarakat dalam bentuk emulsi. Menurut Goncalves et al., (2009), emulsi ester vitamin C tidak stabil pada saat penyimpanan dengan suhu tinggi karena akan menyebabkan penurunan viskositas hingga pemisahan fase dengan adanya peningkatan motilitas partikel dan interaksi antar fase. Berdasarkan masalah tersebut maka pada penelitian ini ester vitamin C dan vitamin E diformulasikan dalam bentuk mikroemulsi. Radikal bebas adalah molekul yang mempunyai sekelompok atom dengan elektron yang tidak berpasangan dan merupakan bentuk radikal yang sangat reaktif serta mempunyai waktu paruh yang sangat pendek (Halliwell and Gutteridge, 2000). Penangkapan radikal bebas oleh suatu antioksidan dapat 1

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 diamati dengan uji DPPH berdasarkan parameter IC50. IC50 adalah ukuran efektivitas suatu senyawa murni atau senyawa dalam sediaan tertentu dalam menangkap radikal bebas (Dehpour et al., 2009). Mikroemulsi mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya transparan sehingga secara estetika lebih menarik, memiliki viskositas rendah sehingga saat diaplikasikan lebih mudah menyebar pada kulit dan stabil secara termodinamika atau energi bebas permukaan sistem lebih rendah dibanding energi bebas masingmasing bahan sehingga tidak mudah mengalami pemisahan fase (Gulati et al., 1998). Selain itu, kapasitas solubilizing yang tinggi dari mikroemulsi dapat meningkatkan kelarutan dari suatu senyawa yang memiliki kelarutan rendah terhadap air (Cho et al., 2008). Komponen yang berperan penting dalam mikroemulsi adalah surfaktan. Adsorpsi molekul surfaktan di permukaan cairan dapat menurunkan tegangan permukaan dan adsorpsi di antara cairan akan menurunkan tegangan antarmuka (Taylor, 2011). Surfaktan berperan penting dalam membentuk mikroemulsi dengan sifat fisik dan stabilitas yang baik. Surfaktan yang biasa digunakan dalam sediaan mikroemulsi adalah tween 80 dan span 80 (Moghimipour et al., 2013). Menurut Rowe et al., (2009), tween 80 dan span 80 merupakan surfaktan yang tergolong surfaktan non-ionik dan bersifat tidak toksik. Surfaktan non-ionik memiliki keseimbangan antara gugus lipofil dan hidrofil dalam molekulnya sehingga dapat menghindari adanya interaksi antara muatan dari surfaktan dan muatan dari zat aktif yang dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas sediaan (Taylor, 2011).

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Keunggulan dari tween 80 dan span 80 yaitu keduanya memiliki rantai polioksietilen yang menjadikan kombinasi kedua surfaktan ini sebagai halangan sterik bagi droplet–droplet fase minyak, sehingga kemungkinan untuk bergabungnya droplet-droplet fase minyak ini dapat diminimalkan dan membuat sediaan tetap stabil (Kim, 2005). Keunggulan lainnya, dilihat dari HLB yaitu bahan tween 80 memiliki HLB 15 dan span 80 memiliki HLB 4,3 sehingga dapat menurunkan tegangan permukaan antara fase minyak dan fase air lebih mudah dibanding dengan menggunakan satu surfaktan saja. Tween 80 bersifat lebih hidrofil akan sulit untuk menyatukan fase minyak dan fase air jika tidak dalam komposisi sangat besar. Pada span 80, dikarenakan sifatnya yang lebih lipofil dan memiliki karakteristik membentuk lapisan film yang kaku membuat span 80 lebih sulit dalam membentuk mikroemulsi jika tanpa kombinasi bahan lain (Radomska and Wojciechowska, 2005). Penggunaan sediaan farmasi terutama kosmetik saat ini sudah merupakan kebutuhan bagi masyarakat dan digunakan secara terus-menerus pada kulit sehingga kosmetik harus memenuhi persyaratan keamanan. Pengujian keamanan dari suatu kosmetik seperti mikroemulsi dapat menggunakan metode HET-CAM. Menurut Bernardi et al., (2011), sediaan yang cocok diujikan menggunakan metode HET-CAM adalah sediaan liquid, solid dan semi solid. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai ester vitamin C dan vitamin E yang diformulasikan dalam bentuk mikroemulsi yang aman (tidak iritatif) dengan pengaruh kombinasi surfaktan

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 tween 80 dan span 80, mengingat kombinasi kedua surfaktan yang mempengaruhi sifat fisik dan stabilitas fisik. 1. Perumusan Masalah a. Bagaimanakah pengaruh variasi kombinasi surfaktan tween 80 dan span 80 terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E? b. Apakah sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E dapat menangkap radikal bebas berdasarkan nilai IC50 yang dihasilkan melalui uji DPPH? c. Apakah sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E bersifat aman (tidak iritatif) berdasarkan uji HET-CAM? 2. Keaslian Penelitian Sejauh penelurusan pustaka dari beberapa sumber yang dilakukan peneliti, penelitian mengenai “Pengaruh kombinasi surfaktan tween 80 dan span 80 terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E untuk antiaging” belum pernah dilakukan. Adapun penelitian terkait yang pernah dilakukan yaitu : a. Penelitian dengan judul Stability of Vitamins C and E In Topical Microemulsions for Combined Antioxidant Therapy, oleh Rozman et al. (2007). b. Penelitian dengan judul Dual Influence of Colloidal Silica on Skin Deposition of Vitamins C and E Simultaneously Incorporated in Topical Microemulsions, oleh Rozman et al. (2007).

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 c. Penelitian dengan judul Temperature–Sensitive Microemulsion Gel: An Effective Topical Delivery System for Simultaneous Delivery of Vitamins C and Vitamin E, oleh Rozman et al. (2009). Ketiga penelitian di atas melihat sifat fisik dan stabilitas fisik dari mikroemulsi vitamin C dan E, namun pada penelitian Rozman et al. (2007) dilakukan dengan pengembangan konsentrasi pengental untuk mengubah viskositas sistem mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E, pada penelitian Rozman et al. (2007) dilakukan dengan optimasi silika koloid sebagai pengental untuk meningkatkan viskositas mikroemulsi baik hidrofilik maupun lipofilik dan pada penelitian Rozman et al. (2009) dilakukan dengan pengembangan suhu sensitif terhadap mikroemulsi gel ester vitamin C dan vitamin E. 3. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi perkembangan ilmu pengetahuan tentang formulasi, evaluasi sifat fisik dan kemampuan menghambat radikal bebas dari sediaan mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E dengan kombinasi surfaktan tween 80 dan span 80 untuk antiaging. b. Manfaat Praktis. Penelitian ini diharapkan menghasilkan sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E yang memiliki sifat fisik dan stabilitas fisik yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 B. Tujuan Penelitian 1. Mengamati pengaruh kombinasi surfaktan tween 80 dan span 80 terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E. 2. Menyelidiki kemampuan sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E dalam menghambat radikal bebas berdasarkan nilai IC50 yang dihasilkan melalui uji DPPH. 3. Memastikan tingkat keamanan sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E berdasarkan uji HET-CAM.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penuaan Dini 1. Pengertian Menjadi tua atau aging adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan secara perlahan-lahan untuk memperbaiki atau mengganti diri dan mempertahankan struktur, serta fungsi normalnya. Proses penuaan terjadi pada seluruh organ tubuh meliputi organ dalam tubuh, seperti jantung, paru-paru, ginjal, dan lain-lain, juga organ terluar dan terluas tubuh, yaitu kulit (Cunnningham, 2003). 2. Penuaan dini akibat sinar UV Efek fotobiologik sinar ultraviolet (UVA dan UVB) menghasilkan radikal bebas dan menimbulkan kerusakan pada DNA. Pejanan sinar UV pada kulit merupakan awal mula terbentuknya reaksi fotokimiawi yang dapat mengakibatkan penuaan kulit dini dan kanker. Reaksi fotokimiawi ini dapat menyebabkan perubahan pada DNA yang meliputi oksidasi asam nukleat. Reaksi oksidasi juga dapat mengubah protein dan lipid yang mengakibatkan fungsi sel terganggu. Akumulasi keduanya ini mengakibatkan penuaan jaringan (Dong et al., 2008). 3. Pembentukkan radikal bebas pada kulit Molekul radikal bebas dapat menarik elektron dari molekul normal lain sehingga menimbulkan radikal bebas baru yang pada akhirnya menimbulkan efek domino (self perpetuating process). Adanya molekul 7

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 oksigen (O2) dalam kulit yang terdapat pada bagian bawah epidermis merupakan target utama gelombang sinar UV yang masuk ke dalam kulit (Fisher, 2002). Molekul oksigen bersifat unik karena elektron yang terdapat pada lapisan luar tidak lengkap berada dalam orbit elektron sehingga mempunyai kecenderungan untuk menarik elektron dalam melengkapi pasangan elektronnya. Konsekuensinya adalah bahwa masuknya sinar UV dapat berperan sebagai donatur sebuah elektron kepada molekul oksigen di lapisan epidermis. Contoh radikal bebas pada kulit terbentuk dari interaksi sinar UV dengan molekul oksigen yang berada di dalam sel kulit adalah anion superoksida, hidrogen peroksida, hidroksi radikal, dan oksigen singlet (Fisher, 2002). Faktor radikal bebas merupakan faktor utama yang mempengaruhi atau mempercepat terjadinya proses penuaan dini. Radikal bebas menyebabkan kerusakan pada kulit, seperti menurunkan kinerja zat-zat dalam tubuh, misalnya enzim yang bekerja mempertahankan fungsi sel (enzim protektif), menimbulkan kerusakan protein dan asam amino yang merupakan struktur utama kolagen dan jaringan elastin, kerusakan pembuluh darah kulit; dan mengganggu distribusi melanin (Evawati, 2010). B. Antioksidan Antioksidan adalah senyawa yang mempunyai struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya kepada molekul radikal bebas tanpa mengganggu fungsinya dan dapat memutus reaksi berantai dari radikal bebas.

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 Antioksidan bekerja dengan melindungi lipid dari proses peroksidasi oleh radikal bebas. Ketika radikal bebas mendapat elektron dari antioksidan, maka radikal bebas tersebut tidak lagi perlu menyerang sel dan reaksi rantai oksidasi akan terputus. Setelah memberikan elektron, antioksidan menjadi radikal bebas berdasarkan definisinya. Antioksidan pada keadaan ini berbahaya karena mereka mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan elektron tanpa menjadi reaktif (Frei, 2004). Kulit sendiri memiliki kemampuan untuk membatasi kerusakan yang disebabkan oleh pajanan sinar UV misalnya melalui penghamburan cahaya oleh stratum korneum, penyerapan cahaya oleh melanin dan perbaikan DNA (DNA repair), dan melalui sistem antioksidan yang berfungsi mempertahankan keseimbangan antara prooksidan dan antioksidan (Dong et al., 2008). 1. Mekanisme Kerja Antioksidan Mekanisme kerja antioksidan pada radikal bebas ada 3 macam, yaitu antioksidan primer, antioksidan sekunder dan antioksidan tersier. Antioksidan primer mampu mengurangi pembentukan radikal bebas baru dengan cara memutus reaksi berantai dan mengubahnya menjadi produk yang lebih stabil. Contohnya adalah superoskida dismutase (SOD), glutation peroksidase, dan katalase yang dapat mengubah radikal superoksida menjadi molekul air (Frei, 2004). Antioksidan sekunder berperan mengikat radikal bebas dan mencegah amplifikasi senyawa radikal. Beberapa contohnya adalah

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 vitamin A (betakaroten), ester vitamin C, vitamin E, dan senyawa fitokimia (Frei, 2004). Antioksidan tersier berperan dalam mekanisme biomolekuler, seperti memperbaiki kerusakan sel dan jaringan yang disebabkan radikal bebas (Frei, 2004). 2. Vitamin E sebagai antioksidan Fungsi utama vitamin E adalah sebagai antioksidan yang larut dalam lemak dan mudah memberikan atom hidrogen dari gugus hidroksil (OH) pada struktur cincin ke radikal bebas. Radikal bebas menjadi tidak reaktif setelah menerima atom hidrogen. Pembentukan oksigen secara bertahap direduksi menjadi air (Kathryn et al., 2004). Vitamin E merupakan antioksidan yang tergolong senyawa fenolik yang larut lemak serta terletak di membran eritosit dan plasma lipoprotein. Vitamin E bertindak sebagai scavenger (penangkap) radikal-radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh atau terbentuk di dalam tubuh dari proses metabolisme normal. Vitamin E bertindak sebagai donor atom fenolik hidrogen dan dapat mengubah radikal peroksil (hasil peroksidasi lipid) menjadi radikal tokoferol yang kurang reaktif dan relatif stabil sehingga tidak mampu merusak rantai asam lemak. Vitamin E berada di dalam lapisan fosfolipid membran sel dan memegang peranan biologik utama dalam melindungi asam lemak tidak jenuh ganda dan komponen membran sel lain dari oksidasi radikal bebas (Jishage et al., 2005).

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 Berikut ini adalah inhibisi radikal bebas yang dilakukan oleh alfa tokoferol atau (α-TOH) : α-TOH + ROO*  α-TO* + ROOH, α-TO* + ROO*  produk inaktif (1) (Jishage et al., 2005). 3. Ester vitamin C atau Askorbil palmitat sebagai antioksidan Askorbil palmitat paling efektif sebagai antioksidan sekunder atau sinergis yang bekerja dengan mempromosikan aktivitas antioksidan primer. Misalnya, Askorbil palmitat bekerja sinergis dengan antioksidan alfa tokoferol dengan regenerasi tokoferol yang hilang selama reaksi anti oksidasi (Meves et al., 2002). Askorbil palmitat juga dapat bertindak sebagai rantai pemecah antioksidan, namun tindakan ini lemah dan tergantung pada jenis minyak yang teroksidasi. Pemecahan rantai antioksidan lambat atau oksidasi berhenti setelah itu sudah dimulai dengan mencegat peroksil radikal yang terbentuk ketika lipid dioksidasi. Radiasi peroksil akan memberi atom atau ion pada rantai oksidasi, sehingga antioksidan pemecah rantai memutus siklus reaksi oksidasi lanjutan (Meves et al., 2002). Askorbil palmitat memiliki efek sinergis bila dikombinasikan dengan antioksidan primer seperti BHA, BHT, propil galat, alfa tokoferol, serta EDTA dan asam sitrat. Ascorbyl palmitate dan alfa tokoferol bekerja secara sinergis, bila vitamin E teroksidasi maka akan di bentuk lagi di membran sel oleh ester vitamin C (Rowe et al., 2009).

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 C. Mikroemulsi Mikroemulsi merupakan suatu sediaan yang transparan, isotropik, memiliki viskositas rendah dan stabil secara termodinamik yang terbuat dari surfaktan, minyak dan air dengan atau tanpa kosurfaktan. Kapasitas pelarutan obat yang tinggi dari mikroemulsi memungkinkan untuk meningkatkan kelarutan dari suatu senyawa yang memiliki kelarutan rendah dalam air. Mikroemulsi dibagi dalam tiga jenis yaitu mikroemulsi air dalam minyak (A/M), minyak dalam air (M/A) dan bicontinuous. Jenis mikroemulsi yang terbentuk tergantung pada komposisi pembentuknya (Lawrence and Ress, 2000). 1. Jenis Mikroemulsi Mikroemulsi dibagi dalam tiga jenis yaitu mikroemulsi air dalam minyak (A/M), mikroemulsi minyak dalam air (M/A) dan mikroemulsi bicontinuous. Jenis mikroemulsi yang terbentuk tergantung pada komposisi pembentuknya. Mikroemulsi minyak dalam air terbentuk karena fraksi dari minyak rendah. Sedangkan mikroemulsi air dalam minyak terjadi ketika fraksi dari air rendah. Sistem bicontinuous mungkin terjadi jika jumlah air dan minyak hampir sama (Lawrence and Rees, 2000). 2. Teori Pembentukan Mikroemulsi Teori Mixed Film menyatakan bahwa lapisan interfasial dan tegangan permukaan yang sangat rendah penting dalam pembentukan mikroemulsi. Pembentukan spontan mikroemulsi disebabkan oleh pembentukan kompleks lapisan pada permukaan globul minyak dalam air

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 karena adanya surfaktan dengan atau tanpa kosurfaktan. Surfaktan yang ada akan menyebabkan tegangan permukaan antara minyak dan air menurun (mendekati nol sampai negatif) (Surabhi et al., 2010). Pernyataan terbentuknya lapisan interfasial pada mikroemulsi dijelaskan dengan persamaan (2) : (2) Dimana γi menunjukkan tegangan antar permukaan, γm/a menunjukkan tegangan antar permukaan antara minyak dan air tanpa adanya lapisan film dan πi menunjukkan tekanan yang menyebar pada sistem dua dimensi. Saat surfaktan dengan atau tanpa kosurfaktan ditambahkan dan teradsorpsi pada lapisan antar permukaan, maka tekanan yang menyebar (πi) akan menjadi lebih besar daripada γm/a, sehingga dihasilkan tegangan antar permukaan yang negatif (Surabhi et al., 2010). Mekanisme pembentukkan mikroemulsi berbeda dengan pembentukkan makroemulsi. Perbedaan yang paling signifikan terletak pada usaha makroemulsi atau peningkatan jumlah emulgator yang biasanya memperbaiki stabilitasnya, tidak terjadi pada mikroemulsi. Sistem dalam mikroemulsi dipengaruhi dari pembentukkannya yang spesifik melibatkan interaksinya antara molekul minyak, emulgator dan air (Date et al., 2008). 3. Surfaktan Surfaktan merupakan suatu molekul yang memiliki gugus hidrofilik dan gugus lipofilik sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan minyak. Pemilihan surfaktan berdasarkan titik kritis

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 untuk formulasi mikroemulsi. Surfaktan harus menyokong mikroemulsifikasi dari fase minyak dan harus memiliki potensi kelarutan yang baik untuk zat aktif. Lapisan tipis emulgator harus memiliki nilai hidrofilik-lipofilik yang sesuai pada daerah antarmuka supaya dihasilkan mikroemulsi. Pemilihan surfaktan harus diatur oleh tipe mikroemulsi yang akan diformulasikan. Surfaktan dengan HLB rendah seperti sorbitan monooleat lebih disukai untuk mikroemulsi A/M sedangkan surfaktan dengan HLB tinggi seperti tween 80 lebih disukai untuk mikroemulsi M/A (Date et al., 2008). Ada tiga tipe surfaktan yaitu tipe ionik, non ionik dan amfoterik. Surfaktan tipe ionik terdiri dari tipe anionik dan kationik. Surfaktan tipe anionik dapat berdisosiasi dalam air dan bagian anionnya dapat berfungsi sebagai surfaktan, sebagai contoh Sodium lauril sulfat. Surfaktan tipe kationik dapat berdisosiasi dalam air dan bagian kationnya dapat berfungsi sebagai surfaktan, sebagai contoh setrimid. Surfaktan tipe non ionik tidak dapat berdisosiasi dalam air, sebagai contoh tween dan span. Surfaktan amfoterik mempunyai gugus kationik dan anionik dalam molekulnya dan dapat terionisasi dalam larutan air, namun gugus yang dilepaskan tergantung kondisi mediumnya. Contoh surfaktan amfoterik adalah protein dan lesitin (Sinko, 2011). 3.1. Tween 80 dan Span 80 sebagai surfaktan Tween 80 (Polysorbatum 80) adalah ester oleat dari sorbitol dan anhidrida yang berkopolimerisasi dengan lebih kurang 20 molekul

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 etilena oksida untuk tiap molekul sorbitol dan anhidrida sorbitol. Tween 80 dapat bertindak baik sebagai reduktor dan stabilizer tanpa menambahkan agen pereduksi tambahan ke reaksi. Tween 80 sebagai agen stabilisasi yang diadsorpsi pada permukaan nanopartikel, sehingga memperlambat pertumbuhan fase kristal dengan mengurangi energi bebas permukaan. Konsentrasi tween 80 meningkat maka menurunkan energi bebas permukaan dan karenanya stabilisasi ukuran droplet yang lebih kecil terbentuk (Rajaram and Natham, 2013). Span 80 adalah campuran ester sorbital dengan satu mol anhidrida asam oleat. Tween 80 bersama dengan span 80 akan berperan dalam menstabilkan sistem di mana semakin banyak tween 80 akan membuat medium dispers menjadi lebih rigid. Semakin rigid medium dispers akan mengakibatkan semakin meningkatnya viskositas sistem dari sediaan. Surfaktan, Tween 80 dan span 80 memiliki penyusun rantai yang bersifat hidrofil pada bagian kepala dan lipofil pada bagian ekor. Dari sisi interaksi individual droplet, adanya surfaktan akan membentuk lapisan film monomolecular. Lapisan film yang terbentuk akan menurunkan tegangan permukaan sehingga sediaan dapat stabil (Taylor, 2011).

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 4. Kontrol Kualitas dari Sediaan Mikroemulsi Kontrol kualitas sediaan mikroemulsi yaitu : 4.1. Uji Organoleptis Pengujian organoleptik adalah pengujian yang didasarkan pada proses pengindraan. Evaluasi organoleptis sediaan mikroemulsi atau emulsi dilakukan dengan mengamati terjadinya pemisahan fasa atau pecahnya emulsi atau mikroemulsi, bau tengik dan perubahan warna (Lawrence and Ress, 2000). 4.2. Uji pH Sediaan kosmetik yang diaplikasikan pada kulit sebaiknya tidak mengiritasi kulit. Oleh karena itu sediaan harus mempunyai pH normal 4,5 – 6,5. pH yang terlalu basa dapat menyebabkan kulit bersisik, sementara jika pH terlalu asam maka membuat kulit iritasi atau berwarna merah (Ali and Yosipovitch, 2013). 4.3. Uji Viskositas Viskositas menentukan kemudahan suatu molekul bergerak karena adanya gesekan antar lapisan material. Oleh karena itu, viskositas menunjukkan tingkat ketahanan suatu cairan untuk mengalir. Semakin besar viskositas maka aliran akan semakin lambat. Makin kental suatu cairan, makin besar kekuatan yang diperlukan untuk digunakan supaya cairan tersebut dapat mengalir dengan laju tertentu. Besarnya viskositas dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 temperatur, gaya tarik antar molekul dan ukuran serta jumlah molekul terlarut (Martin et al., 2010). Viskositas suatu bahan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : 4.3.1. Suhu Viskositas berbanding terbalik dengan suhu. Jika suhu naik maka viskositas akan turun dan begitu pula sebaliknya. Hal ini disebabkan karena adanya gerakan partikel-partikel cairan yang semakin cepat apabila suhu ditingkatkan dan menurunkan kekentalannya (Martin et al., 2010). 4.3.2. Konsentrasi larutan Viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan konsentrasi tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi larutan menyatakan banyaknya partikel zat yang terlarut tiap satuan volume. Semakin banyak partikel yang terlarut, gesekan antar partikel semakin tinggi dan viskositasnya semakin tinggi pula (Martin et al., 2010). 4.3.3. Berat molekul solut Viskositas berbanding lurus dengan berat molukel solute, karena dengan adanya solute yang berat akan menghambat atau memberi beban yang berat pada cairan sehingga menaikkan viskositasnya (Martin et al., 2010).

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 4.3.4. Tekanan Tekanan akan bertambah jika nilai dari viskositas itu bertambah. Semakin tinggi tekanan maka semakin besar viskositas suatu zat cair (Martin et al., 2010). 4.4. Uji Ukuran droplet Mikroemulsi Ukuran droplet dari suatu mikroemulsi umumnya dinyatakan sebagai diameter dari globul-globul dalam fase internal. Pengujian ukuran droplet menggunakan PSA (Particle Size Analyzer) dengan tipe Dynamic Light Scattering. Prinsip dasar alatnya yaitu sampel akan diterangi oleh sinar laser dan fluktuasi cahaya yang tersebar dideteksi pada hamburan sudut θ yang dikenal oleh detektor foton secara cepat. DLS merupakan instrumen dengan pengukuran pada sudut tetap untuk menentukan ukuran droplet rata-rata dalam berbagai ukuran terbatas (Volker, 2009). 4.5. Dilution Test Uji Pengenceran atau Dilution Test merupakan uji untuk menentukan tipe mikroemulsi. Uji ini didasarkan pada kenyataan bahwa emulsi atau mikroemulsi hanya larut dengan cairan yang membentuk fase kontinu-nya. Sistem ini diencerkan dengan baik fase minyak atau fase cairnya, yang digunakan dalam persiapan mikroemulsi. Oleh karena itu dalam kasus sistem mikroemulsi minyak dalam air dapat diencerkan dengan fase airnya sementara untuk sistem

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 mikroemulsi air dalam minyak dapat diencerkan dengan fase minyak yang digunakan (Firoz et al., 2012). 4.6. Uji Indeks Bias Indeks bias suatu larutan dapat diukur dengan menggunakan refraktometer. Metode ini merupkan metode yang sederhana. Indeks bias adalah perbandingan kecepatan cahaya dalam udara dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Indeks bias berguna untuk identifikasi zat dan ketakmurnian. Perambatan cahaya dalam ruang hampa udara memiliki kelajuan c, kemudian setelah memasuki medium tertentu akan berubah kelajuannya menjadi v dengan v ≪ c. Ketika cahaya merambat di dalam suatu bahan, kelajuannya akan turun sebesar suatu faktor yang ditentukan oleh karakteristik bahan yang dinamakan indeks bias (n). Indeks bias merupakan perbandingan (rasio) antara kelajuan cahaya di ruang hampa terhadap kelajuan cahaya (Bhattacharjee, 2005). 4.7. Uji Persen Transmitan Transmitan adalah perbandingan antara fraksi sinar yang diteruskan oleh sampel dan jumlah sampel yang diterima oleh sampel tersebut. Hukum Lambert menyatakan intensitas berkas cahaya yang datang kemudian diserap dan diteruskan oleh suatu medium sebanding dengan intensitas berkas cahaya yang keluar. Absorbansi suatu cahaya oleh suatu molekul merupakan bentuk interaksi gelombang cahaya dan atom atau molekulnya (Dominguez and Borobio, 2001).

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Persen transmitan merupakan salah satu faktor penting dalam mikroemulsi. Persen transmitan diperiksa dengan akuades sebagai kontrol menggunakan spektrofotometer UV-vis. Pengujian ini dilakukan untuk melihat kelarutan dan transparansi. Sampel akan dilarutkan dalam 100 mL akuades dan diukur pada λ 650 nm. Jika hasil persen transmitan sampel mendekati persen transmitan air maka sampel tersebut memiliki kejernihan atau transparansi mirip air ( Thakkar et al., 2011). 5. Uji Stabilitas Mikroemulsi Stabilitas menggambarkan ketahanan produk, waktu penyimpanan dan penggunaan. Stabilitas sediaan mikroemulsi diamati secara fisik yang meliputi bau, warna dan kejernihan. Kestabilan termodinamik dari tipe yang dipustulatkan secara umum untuk sistem terlarut atau mikroemulsi umumnya tergantung pada temperatur (Dawaba et al., 2010). Accelerated stability dirancang untuk meningkatkan laju degradasi kimia dan atau perubahan fisik zat obat atau produk obat dengan menggunakan kondisi penyimpanan berlebihan dengan tujuan pemantauan reaksi degradasi dan memprediksi masa simpan di bawah kondisi penyimpanan normal. Desain studi stabilitas dipercepat termasuk suhu tinggi dan rendah, kelembaban tinggi dan rendah, dan cahaya yang kuat atau rendah (Dawaba et al., 2010). Accelerated stability meliputi heating and cooling cycle, uji sentrifugasi dan uji freeze thaw. Mikroemulsi yang mengalami heating and cooling cycle akan disimpan pada suhu 40C dan 450C selama 24 jam sebanyak 3 siklus. Pada akhir siklus diamati apakah terjadi pemisahan fase pada

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 mikroemulsi. Jika mikroemulsi masih stabil maka dilanjutkan dengan uji sentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm selama 15 menit (Darole, et al., 2008). Pada uji freeze thaw, mikroemulsi akan disimpan pada suhu -200C dan 350C selama 24 jam sebanyak 3 siklus. Sediaan mikroemulsi dinyatakan stabil jika tidak terjadi pemisahan (Darole et al., 2008). Mikroemulsi yang stabil ditandai dengan dispersi globul yang seragam dalam fase kontinu, namun dapat terjadi penyimpangan dari kondisi tersebut. Seperti emulsi, ketidakstabilan mikroemulsi bisa digolongkan sebagai berikut : 5.1. Creaming Agregat dan bulatan fase dalam mempunyai kecenderungan yang lebih besar untuk naik ke permukaan mikroemulsi atau jatuh ke dasar mikroemulsi tersebut daripada partikel-partikelnya sendiri. 5.2. Flokulasi Flokulasi adalah agregasi globul menjadi kelompok besar. Gejala ini dapat meningkatkan creaming. 5.3. Coalescence (breaking, cracking) Kerusakan yang lebih besar daripada creaming pada suatu mikroemulsi adalah penggabungan bulatan-bulatan fase dalam (coalescence) dan pemisahan fase tersebut menjadi suatu lapisan. Pemisahan fase dalam dari mikroemulsi tersebut disebut “pecah” atau “retak” (cracked). Hal ini bersifat irreversible karena lapisan pelindung di sekitar bulatan-bulatan fase terdispersi tidak ada lagi (Dawaba et al., 2010).

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 D. Uji Iritasi Menggunakan Metode HET-CAM Uji HET-CAM (Hen’s Egg Test on the Chorioallantoic Membrane) bertujuan untuk mengevaluasi produk kosmetik dan melihat tingkat iritasi pada sediaan solid, semi solid atau liquid (Bernardi et al., 2011). Iritasi menyebabkan perubahan dalam sistem vaskular dari HET-CAM yang menghasilkan perubahan warna, pendarahan dan peningkatan perfusi pada membran. Setiap sampel diuji pada tiga telur berumur antara 9-10 hari sebelum pengujian. CAM dibilas dengan larutan NaCl 0,9 % setelah 30 detik pemaparan masing-masing substansi atau sampel, dan dilihat reaksi yang terjadi berupa hiperemi, perdarahan dan koagulasi. Pengamatan dilakukan secara semi-kuantitatif dinilai pada skala 0,5, 2 dan 5 menit setelah perlakuan. Skor numerik bergantung pada waktu saat terjadi hiperemi, perdarahan dan koagulasi yang selanjutnya dijumlahkan untuk memberikan skor numerik tunggal. Skor yang menunjukkan potensi iritasi bahan uji pada skala dengan nilai maksimal 21 (Tavaszi and Budai, 2007). Hemorrhage time dimulai dalam detik reaksi hemoragi atau pendarahan pada CAM. Lysis time dimulai dalam detik lisis pembuluh darah hingga pembuluh darah hilang pada CAM. Coagulation time dimulai dalam detik pembentukan koagulan pada CAM. Rumus Irritation Score (IS) yaitu : IS = x5+ (3) (Tavaszi and Budai, 2007). Klasifikasi skor kumulatif yang tidak menunjukkan iritasi, potensi iritasi rendah, iritasi sedang dan iritasi tinggi pada bahan uji tertera pada tabel I :

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Tabel I. Klasifikasi Skor Kumulatif dalam Chorioallantoic Membrane Test (Bernardi et al., 2011) Skor Kumulatif Penilaian Iritasi 0-0,9 Praktis tidak iritasi 1-4,9 Iritasi rendah 5-8,9 Iritasi sedang 9-21 Iritasi kuat E. Uji Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode DPPH Terhadap Ester vitamin C dan vitamin E DPPH (2,2-difenil 1-pikrilhidrazil) merupakan senyawa radikal bebas berbentuk prisma, berwarna ungu tua. Metode yang digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan suatu senyawa adalah metode uji dengan menggunakan radikal bebas DPPH. Tujuan metode ini adalah mengetahui parameter konsentrasi yang ekuivalen memberikan 50% efek aktivitas antioksidan (IC50). DPPH merupakan radikal bebas yang dapat bereaksi dengan senyawa yang dapat mendonorkan atom hidrogen, dapat berguna untuk pengujian aktivitas antioksidan komponen tertentu (Dehpour et al., 2009). Persentase peredaman = x 100 % (4) Dimana A1 adalah absorbansi kontrol dan A2 adalah absorbansi sampel. Suatu senyawa dikatakan sebagai antioksidan sangat kuat apabila nilai IC50 kurang dari 0,05 mg/mL, kuat apabila nilai IC50 0,05-0,10 mg/mL, sedang apabila nilai IC50 berkisar antara 0,10-0,15 mg/mL, dan lemah apabila nilai IC50 berkisar antara 0,15-0,20 mg/mL (Prakash, 2001). Adanya elektron yang tidak berpasangan membuat DPPH memberikan serapan kuat pada 517 nm. Ketika elektronnya menjadi berpasangan oleh keberadaan penangkap radikal bebas, maka absorbansinya menurun secara

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 stokiometri sesuai jumlah elektron yang diambil. Keberadaan senyawa antioksidan dapat mengubah warna larutan DPPH dari ungu menjadi kuning. Perubahan absorbansi akibat reaksi ini telah digunakan secara luas untuk menguji kemampuan beberapa molekul sebagai penangkap radikal bebas (Dehpour et al., 2009). Gambar 1. Reaksi Penangkapan Radikal oleh DPPH (Molyneux, 2004) F. Pemerian Bahan Berikut ini adalah pemerian bahan yang digunakan dalam penelitian : 1. Ester vitamin C atau Ascorbyl palmitate Gambar 2. Struktur Kimia Ester vitamin C (Rowe et al., 2009) Ester vitamin C atau Askorbil palmitat memiliki sifat fisik yaitu berbentuk serbuk putih dengan berat molekul 414,55 g/mol. Memiliki kelarutan dalam air 0,0002%, dalam etil alkohol 12,5% dan dalam vegetable oil

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 0,03-0,12%. Ester vitamin C dan vitamin E bekerja secara sinergis sebagai antioksidan (Rowe et al., 2009). 2. Vitamin E (α-tokoferol) Alfa tokoferol merupakan senyawa yang sangat lipofilik, dan pelarut yang sangat baik untuk obat yang sukar larut. Secara umum, alfa tokoferol merupakan produk farmasi yang berbasis lemak atau larut dalam minyak dan biasanya digunakan dalam rentang konsentrasi 0,001-0,05% v/V (Rowe et al., 2009). Gambar 3. Struktur Kimia Vitamin E (Rowe et al., 2009) Vitamin E (Alfa Tokoferol) banyak terdapat dalam stratum corneum. α-tokoferol yang memiliki cincin aromatik tersubtitusi dan rantai panjang isoprenoid sebagai rantai samping. Sifat lipofilik alamiah alfa tokoferol (vitamin E) menyebabkan ia mudah di aplikasikan dan di serap oleh kulit (Pinnell, 2003). 3. Sunflower Oil Sunflower oil diklasifikasikan sebagai minyak asam oleat linoleat. Komposisinya meliputi asam linoleat (66%), asam oleat (21,3%), asam palmitat (6,4%), asam arachidic (4,0%), asam stearat (1,3%), dan asam behenat (0,8%). Sunflower oil umumnya berfungsi sebagai pengencer, emolien, agen pengemulsi, pelarut, tablet binder. Kandungan asam oleat yang tinggi pada

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 Sunflower oil dengan stabilitas oksidasi yang baik dan bersifat emolien dapat digunakan dalam formulasi kosmetik. Sunflower oil dianggap sebagai bahan yang relatif tidak beracun dan tidak mengiritasi (Rowe et al., 2009). Sifat fisik dari sunflower oil adalah titik didih pada 40–600C, densitas 0.915–0.919 g/cm3, melting point pada -180C, dan kelarutannya yaitu larut dengan benzena, kloroform, karbon tetraklorida, dietil eter, dan light petroleum, praktis tidak larut dalam etanol (95%) dan air (Rowe et al., 2009). 4. Tween 80 Sifat fisik dari Tween 80 yaitu dengan rumus molekul tween 80 C64H124O26, bobot molekul 1310 g/mol, warna dan bentuk pada suhu 250C yaitu cairan berminyak warna kuning, HLB yaitu 15, viskositas 42 mPa s, dan larut dalam etanol dan air, tidak larut dalam mineral oil dan vegetable oil (Rowe et al., 2009). Gambar 4. Struktur Kimia Tween 80 (Rowe et al., 2009) Tween 80 bersifat stabil terhadap elektrolit, asam atau basa lemah, namun tidak cocok (incompatible) dengan basa kuat karena dapat terjadi saponifikasi. Selain itu dapat terjadi pengendapan atau perubahan warna dengan adanya fenol, tanin dan antimikroba golongan parabel (Rowe et al., 2009).

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 5. Span 80 Sifat fisik span 80 yaitu cairan kuning bersifat lipofilik, larut dalam minyak dan mayoritas pelarut organik. Span 80 memiliki HLB 4,3; densitas 1,01; viskositas 970-1080 mPa s pada 250C, dan melting point 43-480 C (Rowe et al., 2009). Gambar 5. Struktur Kimia Span 80 (Rowe et al., 2009) 6. Aquadestilata Aquadestilata secara luas digunakan sebagai pelarut dan pembawa pada formulasi farmasetika. Untuk aplikasi farmasi, air dimurnikan dengan caea destilasi, pertukaran ion, reverse osmosis (RO), atau beberapa proses lain yang sesuai untuk menghasilkan aquadestilata. Karakteristik aquadestilata adalah cairan bening, tidak berwarna tidak berbau dan tidak berasa (Rowe et al., 2009). 7. DPPH (2,2-difenil 1-pikrilhidrazil) DPPH merupakan senyawa radikal bebas berbentuk prisma, berwarna ungu tua. DPPH mempunyai berat molekul 394,3 g/mol. Titik leleh DPPH yaitu 132-1330C. DPPH dapat larut dalam air, etanol dan metanol (Pourmorad, et al.,2002).

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 Gambar 6. Struktur Kimia DPPH (Pourmorad et al., 2002) 8. Etanol Etanol merupakan cairan jernih, tidak berwarna, dan mudah menguap. Titik didih etanol sebesar 78,15oC. Etanol larut dalam kloroform, eter, gliserin dan air (Wade, 1994). Gambar 7. Struktur Kimia Etanol (Wade, 1994) G. Analisis Data ANAVA merupakan salah satu jenis uji parametrik. Syarat dari uji parametrik adalah skala pengukuran variabel harus berupa variabel numerik, distribusi data yang dianalisis harus normal dapat dilakukan dengan Saphiro– Wilk, kesamaan variasi data tidak menjadi syarat mutlak untuk uji kelompok berpasangan dan untuk 2 kelompok tidak berpasangan, namun kesamaan variasi menjadi syarat yang harus dipenuhi untuk uji lebih dari 2 kelompok tidak berpasangan. Variasi data bisa dilakukan dengan uji Levene (Santoso, 2010). Apabila data yang diperoleh tidak memiliki distribusi yang normal, data tidak bisa dianalisis menggunakan ANAVA. Namun terdapat alternatif uji non

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 parametrik yang bisa dilakukan. Alternatif uji ANAVA satu arah adalah KruskalWallis (Santoso, 2010). H. Landasan Teori Mikroemulsi merupakan sediaan emulsi berukuran mikro yang transparan, isotropik dan stabil secara termodinamik. Sifat fisik seperti organoleptis, ukuran droplet, persen transmitan, pH, viskositas, indeks bias dan stabilitas mikroemulsi dipengaruhi oleh komponen surfaktan yang ada di dalamnya. Surfaktan tween 80 dan span 80 merupakan golongan turunan polioksietilen dan memiliki keseimbangan lipofilik dan hidrofilik dalam molekulnya. Peningkatan tween 80 akan menurunkan energi bebas permukaan dan meningkatkan luas permukaan globul sehingga ukuran globul dapat semakin diperkecil dengan ukuran mikrometer hingga nanometer serta menyebabkan organoleptis yang terbentuk jernih dan homogen (Rajaram and Natham, 2013). Tween 80 bersama dengan span 80 akan berperan dalam menstabilkan sistem di mana semakin banyak tween 80 akan membuat medium dispers menjadi lebih rigid. Semakin rigid medium dispers akan mengakibatkan semakin meningkatnya viskositas sistem dari sediaan (Taylor, 2011). Kemampuan sediaan mikroemulsi dengan zat aktif ester vitamin C dan vitamin E dalam menangkap radikal bebas diamati melalui uji DPPH untuk mendapatkan nilai IC50. Menurut Prakash (2001), suatu senyawa dikatakan sebagai antioksidan sangat kuat apabila nilai IC50 kurang dari 0,05 mg/mL, kuat apabila nilai IC50 0,05-0,10 mg/mL, sedang apabila nilai IC50 berkisar antara 0,100,15 mg/mL, dan lemah apabila nilai IC50 berkisar antara 0,15-0,20 mg/mL.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Tingkat keamanan suatu sediaan dapat diamati berdasarkan metode HETCAM. Skor numerik yang dihasilkan bergantung pada waktu saat terjadi hemoragi, lysis dan koagulasi yang selanjutnya dijumlahkan untuk memberikan skor numerik tunggal. Skor yang menunjukkan bahan uji tidak aman (iritatif) pada skala dengan nilai maksimal 21 (Tavaszi and Budai, 2007). Bahan-bahan yang digunakan dalam sediaan mikroemulsi diantaranya tween 80, span 80, sunflower oil, yang menurut Rowe et al., (2009) tidak bersifat mengiritasi kulit, namun pada ester vitamin C dan E bersifat mengiritasi jika digunakan berlebihan pada kulit berdasarkan MSDS. I. 1. Hipotesis Penelitian Peningkatan tween 80 dan penurunan span 80 dalam kombinasinya tidak memberikan perubahan sifat fisik dan stabilitas fisik. 2. Sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E memiliki aktivitas dalam menangkap radikal bebas berdasarkan nilai IC50 melalui uji DPPH. 3. Sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E aman (tidak iritatif) pada kulit berdasarkan metode HET-CAM.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Rancangan Penelitian Penelitian tentang pengaruh kombinasi surfaktan tween 80 dan span 80 terhadap sifat fisik dan stabilitas mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E termasuk jenis penelitian experimental murni dan rancangan acak lengkap pola searah. B. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variabel Penelitian a. Variabel bebas. Variabel bebas pada penelitian ini adalah perbandingan tween 80 dan span 80 sebagai surfaktan dengan komposisi surfaktan dalam sediaan 70 %. b. Variabel tergantung. Variabel tergantung pada penelitian ini adalah sifat fisik, stabilitas sediaan, nilai IC50 dan Irritation Score. c. Variabel pengacau terkendali. Variabel pengacau terkendali pada penelitian ini adalah kecepatan pengadukan, lama pengadukan, suhu penyimpanan, lama penyimpanan, sifat dari wadah penyimpanan. d. Variabel pengacau tak terkendali. Variabel pengacau terkendali pada penelitian ini adalah suhu dan kelembaban ruangan pembuatan sediaan. 2. Definisi Operasional a. Mikroemulsi. Mikroemulsi adalah suatu sediaan yang transparan, isotropik, memiliki viskositas rendah dan stabil secara termodinamik 31

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 yang terbuat dari surfaktan, minyak dan air dengan atau tanpa kosurfaktan b. Surfaktan. Surfaktan adalah suatu molekul yang memiliki gugus hidrofilik dan gugus lipofilik sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan minyak. Surfaktan yang digunakan yaitu kombinasi tween 80 dan span 80 dengan komposisi surfaktan dalam sediaan 70% dan perbandingan tween 80 dan span 80 yang berbeda-beda dalam sediaan mikroemulsi. c. Ester vitamin C. Ester vitamin C yang digunakan dalam penelitian adalah Askorbil palmitat. Askorbil palmitat merupakan vitamin C (Asam askorbat) yang diesterifikasi dengan asam palmitat (asam lemak). d. Vitamin E. Vitamin E yang digunakan dalam penelitian adalah αtokoferol. e. Faktor dan respon. Faktor adalah suatu hal yang dapat mempengaruhi hasil penelitian, sedangkan respon adalah hasil uji yang diamati untuk melihat besarnya pengaruh faktor. Faktor yang ada pada penelitian ini yaitu surfaktan, sedangkan respon yang tergantung berdasarkan faktor adalah organoleptis, pH, viskositas, indeks bias, ukuran droplet, persen transmitan, tipe mikroemulsi dengan dilution test, nilai IC50, stabilitas sediaan berupa freeze thaw serta uji HET-CAM. C. Bahan Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sunflower oil (CV. Sofa Mediteranian), Tween 80 (Bratachem), Span 80 (CV. Cipta Anugerah),

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Aquadest (Bratachem), Ester vitamin C atau Askorbil palmitat (CV. Privat Equipment Pharmacy), Vitamin E atau α-tokoferol (CV. Cipta Anugerah, Indonesia), Etanol p.a (Merck Milipore), DPPH (Laboratorium Chemmix Pratama). D. Alat Penelitian Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas (PYREX-GERMANY), viscometer Brookfield, Particle Size Analyzer tipe Dynamic Light Scattering, Hotplate magnetic stitter, neraca analitik (OHAUS), cawan porselen, pengaduk magnetik, spektrofotometer UV (Shimadzu 1600, Jepang), pH meter (HANNA Instrument HI 9024 C), Sentrifugator (Benchtop Centrifuge PLC-05), Freezer (Toshiba), Kulkas (Sanken Logic Cool), Oven (Memmert) (Laboratorium Teknologi Semisolid-Liquid). E. Tata Cara Penelitian 1. Orientasi Formula Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E a. Formula Orientasi Formula acuan yang digunakan untuk membuat sediaan mikroemulsi minyak dalam air tertera pada tabel II yaitu : Tabel II. Formula Mikroemulsi Acuan (Rozman et al., 2009) Bahan (g) Formula Fungsi Isopropol Myristate 24,65 Fase minyak Tween 40 14,79 Surfaktan Imwitor 308 14,79 Kosurfaktan Ester vitamin C 0,4 Zat aktif Zat aktif Vitamin E 1 Purified water 44,37 Fase air

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Berdasarkan formula di atas dilakukan modifikasi pada bagian fase minyak dan fase air, serta komponen surfaktan dibuat menjadi campuran 2 surfaktan dan kosurfaktan ditiadakan. Formula modifikasi yang dihasilkan tertera pada tabel III yaitu : Tabel III. Orientasi Formula Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Formula Bahan (g) I II III IV V VI VII VIII Sunflower oil 20 20 20 20 20 20 20 20 Tween 80 35 46,9 52,5 56 59,99 61,25 62,23 63 Span 80 35 23,1 17,5 14 10,01 8,75 7,77 7 Ester vitamin 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 C Vitamin E 1 1 1 1 1 1 1 1 Akuades 10 10 10 10 10 10 10 10 Fungsi Fase minyak Surfaktan I Surfaktan II Zat aktif Zat aktif Fase air b. Pembuatan Sediaan Mikroemulsi Ester Vitamin C dan Vitamin E Formula Orientasi Tween 80 dan span 80 sebagai campuran surfaktan pada setiap formula dengan perbandingan 1:1, 2:1, 3:1, 4:1, 5:1, 6:1, 7:1, dan 8:1 masing-masing dicampurkan dan diaduk menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan 1000 rpm selama 5-10 menit, setelah itu tambahkan 20 g sunflower oil dan 1 g vitamin E sebagai fase minyak pada masing-masing formula dengan lama pengadukan 10 menit. Setelah surfaktan dan fase minyak tercampur ditambahkan 10 g aquadest sebagai fase air perlahanlahan selama 15 menit pada setiap formula. Ester vitamin C sebanyak 0,4 g ditambahkan perlahan-lahan setelah fase air tercampur dengan fase minyak dengan pengadukan selama 15 menit.

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 2. Evaluasi Sediaan Mikroemulsi Saat Orientasi a. Uji Organoleptis Pengamatan secara visual terhadap bau, bentuk, warna, homogenitas dan kejernihan sediaan mikroemulsi setelah 24 jam pembuatan. a. Heating and Cooling Cycle Sediaan mikroemulsi akan disimpan pada suhu 40C dan 450C selama 24 jam sebanyak 3 siklus. Pada akhir siklus diamati apakah terjadi pemisahan fase pada mikroemulsi (Darole et al., 2008). b. Uji Sentrifugasi Setelah sediaan mikroemulsi melalui proses Heating and Cooling Cycle, selanjutnya akan disentrifugasi dengan 5000 rpm selama 15 menit. Formula yang tidak mengalami pemisahan fase akan dipilih sebagai sampel (Darole et al., 2008). 3. Pembuatan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E dengan Formula Hasil Orientasi a. Formula Mikroemulsi Hasil Orientasi Tabel IV. Formula Mikroemulsi Hasil Orientasi Formula Bahan (g) V VI VII VIII Sunflower oil 20 20 20 20 Tween 80 59,99 61,62 61,25 63 Span 80 10,01 8,75 7,77 7 Ester vitamin C 0,4 0,4 0,4 0,4 Vitamin E 1 1 1 1 Akuades 10 10 10 10 Fungsi Fase minyak Surfaktan I Surfaktan II Zat aktif Zat aktif Fase air

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 b. Pembuatan Sediaan Mikroemulsi Ester Vitamin C dan Vitamin E Tween 80 dan span 80 sebagai campuran surfaktan pada setiap formula dengan perbandingan 5:1, 6:1, 7:1, dan 8:1 masing-masing dicampurkan dan diaduk menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan 1000 rpm 5-10 menit, setelah itu tambahkan 20 g sunflower oil dan 1 g vitamin E sebagai fase minyak pada masing-masing formula dengan lama pengadukan 10 menit. Setelah surfaktan dan fase minyak tercampur ditambahkan 10 g aquadest sebagai fase air perlahan-lahan selama 15 menit pada setiap formula. Ester vitamin C sebanyak 0,4 g ditambahkan perlahan-lahan setelah fase air tercampur dengan fase minyak dengan pengadukan selama 15 menit. Empat formula sediaan mikroemulsi dibuat dengan tiga kali replikasi. 4. Uji Sifat Fisik Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E a. Uji organoleptis Pengamatan secara visual terhadap bau, bentuk, dan warna sediaan mikroemulsi setelah 24 jam pembuatan. b. Uji pH menggunakan pH meter Kalibrasi pH meter dilakukan dengan cara menyalakan dan mengatur skalanya pada pH 7, kemudian menyiapkan buffer standar pH 4 dan pH 7 yang diperlukan untuk kalibrasi pH. Gabungan elektroda kemudian dicelupkan ke dalam beaker glass yang berisi larutan buffer pH 7, kemudian stel saklar selektor alat untuk pembacaan pH. Tombol pengendali “set buffer” disesuaikan

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 sampai pembacaan alat ukur itu cocok dengan pH larutan buffer yang diukur. Gabungan elektroda itu diambil dan dibilas dengan aquadest, kemudian dicelupkan dalam larutan buffer pH 4 yang ditaruh dalam beaker glass. Elektrode gabungan diambil dan dibilas dengan aquadest, kemudian diletakkan dalam larutan buffer yang pertama (pH 7) dan pastikan pembacaan alat menunjukkan nilai pH yang benar. Elektrode dibilas dengan aquadest jika kalibrasi sudah selesai, selanjutnya dimasukkan ke dalam larutan uji yang ditaruh dalam beaker glass, dan selanjutnya pH larutan dibaca (Basset, 1994). c. Dilution Test Sampel mikroemulsi dilarutkan ke dalam fase air (1:100) dengan tujuan untuk mengetahui tipe sediaan mikroemulsi yang dihasilkan. Jika sampel mikroemulsi larut sempurna dalam akuades maka sampel tergolong dalam mikroemulsi minyak dalam air. Sampel dilarutkan dalam penyusun minyak yang ada dalam sampel yaitu sunflower oil (1:100). Jika sampel mikroemulsi larut sempurna dalam fase minyak maka tergolong mikroemulsi tipe air dalam minyak (Firoz et al., 2012). d. Persen transmitan Sampel mikroemulsi sebanyak 1 g dari masing-masing formula dilarutkan dalam 100 mL air, lalu larutan sampel mikroemulsi diukur persen transmitannya pada panjang gelombang 650 nm menggunakan

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 spektrofotometer uv-vis. Akuades digunakan sebagai blangko saat pengujian. e. Indeks Bias Penentuan indeks bias pada sampel mikroemulsi menggunakan alat Refraktometer ABBE dengan cara kerja sebagai berikut : 1) Kedua prisma dipisahkan dengan membuka klem (putar ke kanan sesuai dengan arah jarum jam) dan mengusahakan agar permukaan prisma yang bawah horizontal. 2) Prisma atau lensa dibersihkan dengan tissue lensa yang sudah dibasahi dengan etanol, lalu prisma didiamkan hingga kering. Sampel mikroemulsi yang akan diukur indeks biasnya diteteskan 1-2 tetes di atas permukaan prisma lalu dijepitkan lagi dengan prisma di atasnya. 3) Kaca cahaya diatur dengan memutar dasar prisma sehingga penglihatan sebelah atas terang dan sebelah bawah gelap, selanjutnya dasar prisma diputar perlahan-lahan (sekrup pada busur skala pembacaan 1, 2, 3) sampai batas terlihat jelas perpotongan gelap terang. 4) Indeks bias dapat dibaca sesuai busur skala pembacaan dan perpotongan antara batas terang dan gelap. Jika pengukuran telah selesai maka permukaan prisma dicuci dengan tissue lensa yang dibasahi dengan etanol.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 f. Viskositas Pengukuran viskositas menggunakan alat Viscometer Brookfield. Sediaan mikroemulsi dimasukan ke dalam bekker glass 250 mL di pasang pada portable viscotester. Viscometer brookfield diatur dengan kecepatan 12 rpm dan 6 kali putaran selama 30 detik. Viskositas mikroemulsi diketahui dengan mengamati penunjuk viskositas secara analitis. g. Uji ukuran droplet Ukuran droplet mikroemulsi formula 5 dan 4 diuji menggunakan Particle Size Analyzer dengan tipe Dynamic light Scattering. 5. Uji Stabilitas Dipercepat menggunakan freeze thaw a. Uji Freeze thaw Sediaan mikroemulsi akan disimpan pada suhu -200C dan 350C selama 24 jam sebanyak 3 siklus. Diakhir siklus diamati apakah terjadi pemisahan fase pada mikroemulsi. Pada sampel yang tidak mengalami pemisahan selanjutnya diuji organoleptis, ukuran droplet, pH, persen transmitan dan viskositas (Darole et al., 2008). 6. Uji HET-CAM a. Penyiapan Telur. Telur yang digunakan merupakan telur ayam kampung yang telah tumbuh menjadi embrio dan memiliki berat antara 40-50 gram. Telur dipilih dengan cangkang putih dan dengan keadaan yang fertil, segar serta bersih. Kemudian buka cangkang telur pada bagian yang memiliki rongga

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 udara yang selanjutnya akan digunakan untuk tempat meneteskan bahan. Penetesan dilakukan pada daerah membran yang dekat dengan pembuluh darah. b. Kontrol Positif (NaOH 0,1 N). 0,4 gram NaOH padat ditimbang dan dilarutkan dengan aquadest lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan ditambahkan aquadest hingga tanda. c. Kontrol Negatif (0,9 % NaCl). 0,9 gram NaCl padat ditimbang dan dilarutkan dengan aquadest lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan ditambahkan aquadest hingga tanda. d. Perlakuan. Telur-telur yang telah dibuka cangkangnya diberi perlakuan sebagai berikut: 1. Diberi NaOH sebanyak 0,3 mL 2. Diberi NaCl sebanyak 0,3 mL 3. Diberi sampel mikroemulsi formula 5, 6, 7 dan 8 sebanyak 0,3 gram. Setiap perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali replikasi, lalu diamati perubahannya hingga 300 detik. e. Pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan mengamati perubahan pembuluh darah pada CAM. Pengamatan reaksi CAM dilakukan selama 300 detik. Waktu munculnya gejala diamati dan dicatat waktunya. Gejala-gejala yang

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 diamati adalah hemoragi (pendarahan), vascular lysis (disintegrasi pembuluh darah) dan koagulasi (denaturasi protein ekstra dan intra vaskular). Hemorrhage time dimulai dalam detik reaksi hemoragi atau pendarahan pada CAM. Lysis time dimulai dalam detik lisis pembuluh darah hingga pembuluh darah hilang pada CAM. Coagulation time dimulai dalam detik pembentukan koagulan pada CAM. Hasil yang diperoleh digambarkan dalam bentuk skoring dengan menggunakan rumus persamaan (3). 7. Uji Aktivitas Antioksidan pada Sedian Mikroemulsi a. Pembuatan Larutan DPPH 0,4 mM atau 0,158 mg/mL Sebanyak 15,8 mg serbuk DPPH dilarutkan dalam etanol p.a. pada labu takar 100 mL dengan konsentrasi 0,158 mg/mL. b. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum DPPH Larutan DPPH sebanyak 0,5; 1,0; 1,5 mL dimasukkan ke dalam 3 labu ukur 10 mL, kemudian ditambah etanol p.a hingga tanda batas sehingga konsentrasi DPPH menjadi 0,0079; 0,0158; dan 0,0287 mg/mL. Larutan tersebut divortex selama 30 detik dan didiamkan selama operating time teoritis. Scanning panjang gelombang serapan maksimum selanjutnya dilakukan dengan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 400-600 nm.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 c. Penentuan Operating Time Penentuan Operating Time dilakukan menggunakan seri konsentrasi tengah masing-masing larutan sampel ester vitamin C (0,0015 mg/mL), vitamin E (0,00075 mg/mL), campuran ester vitamin C dan vitamin E (0,0042 mg/mL), larutan mikroemulsi 5:1 (0,0084 mg/mL), 6:1 (0,0196 mg/mL), 7:1 (0,0168 mg/mL), 8:1 (0,0196 mg/mL), basis mikroemulsi 5:1 (1,2 mg/mL), 6:1 (1,4 mg/mL), 7:1 (1,4 mg/mL), 8:1 (2,4 mg/mL). Seri konsentrasi tengah yang diambil dari masingmasing sampel ester vitamin C (1,5 mL), vitamin E (0,6 mL), campuran ester vitamin C dan vitamin E (3 mL), larutan mikroemulsi 5:1 (3mL), 6:1 (7 mL), 7:1 (6 mL), 8:1 (7 mL), basis 5:1 (6 mL), 6:1 (7 mL), 7:1 (7 mL), 8:1 (8 mL) dimasukkan ke dalam masing-masing labu 10 mL lalu ditambah 1 mL larutan DPPH 0,158 mg/mL dan ditambahkan etanol sampai tanda batas. Larutan divorteks selama 30 detik dan diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum yang didapat selama 60 menit. Setiap 5 menit diamati nilai absorbansinya. d. Pembuatan Larutan Uji 1) Larutan stok dan seri konsentrasi ester vitamin C 0,001 g ester vitamin C dilarutkan dengan etanol p.a dalam labu 50 mL dengan konsentrasi larutan stok 0,02 mg/mL. 5 mL diambil dari larutan stok dimasukkan dalam labu 10 mL lalu ditambahkan etanol sampai tanda batas, sehingga menghasilkan konsentrasi 0,01 mg/mL. Dari konsentrasi 0,01 mg/mL dibuat 5 seri konsentrasi larutan

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 uji ester vitamin C. 0,5; 1; 1,5; 2 dan 2,5 mL diambil dari larutan uji ester vitamin C dengan konsentrasi 0,01 mg/mL dan dimasukkan dalam labu 10 mL. 1 mL Larutan DPPH 0,158 mg/mL dimasukan ke dalam masing-masing labu 5 seri konsentrasi larutan ester vitamin C, lalu ditambahkan etanol p.a hingga tanda batas, sehingga konsentrasi larutan ester vitamin C menjadi 0,005 mg/mL, 0,001 mg/mL, 0,0015 mg/mL, 0,002 mg/mL, 0,0025 mg/mL. Larutan seri konsentrasi yang dibuat didiamkan sesuai operating time yang didapat. Larutan seri konsentrasi dibuat dalam 3 kali replikasi. 2) Larutan stok dan seri konsentrasi vitamin E 0,625 g vitamin E dilarutkan dengan etanol p.a dalam labu 50 mL dengan konsentrasi larutan stok 12,5 mg/mL. Dari konsentrasi 12,5 mg/mL dibuat 5 seri konsentrasi larutan uji vitamin E. 0,2; 0,4; 0,6; 0,8 dan 1 mL diambil dari larutan stok vitamin E 12,5 mg/mL dan dimasukkan dalam labu 10 mL. 1 mL Larutan DPPH 0,158 mg/mL dimasukan ke dalam masing-masing labu 5 seri konsentrasi larutan vitamin E, lalu ditambahkan etanol p.a hingga tanda batas, sehingga konsentrasi larutan vitamin E menjadi 0,25 mg/mL, 0,5 mg/mL, 0,75 mg/mL, 1 mg/mL, 1,25 mg/mL. Larutan seri konsentrasi yang dibuat didiamkan sesuai operating time yang didapat. Larutan seri konsentrasi dibuat dalam 3 kali replikasi.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 3) Larutan stok dan seri konsentrasi ester vitamin C dan vitamin E 0,001 g vitamin E dan 0,0004 ester vitamin C dilarutkan dengan etanol p.a dalam labu 10 mL dengan konsentrasi larutan stok 0,14 mg/mL. 2,5 mL diambil dari larutan stok 0,14 mg/mL dimasukkan dalam labu 25 mL lalu ditambahkan etanol sampai tanda batas, sehingga menghasilkan konsentrasi 0,014 mg/mL. Pembuatan 5 seri konsentrasi dilakukan dengan mengambil 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 mL dari larutan campuran ester vitamin C dan vitamin E konsentrasi 0,014 mg/mL dan dimasukkan dalam labu 10 mL. 1 mL Larutan DPPH 0,158 mg/mL dimasukan ke dalam masing-masing labu 5 seri konsentrasi larutan campuran ester vitamin C dan vitamin E, lalu ditambahkan etanol p.a hingga tanda batas, sehingga konsentrasi larutan campuran ester vitamin C dan vitamin E menjadi 0,0014 mg/mL, 0,0028 mg/mL, 0,0042 mg/mL, 0,0056 mg/mL, 0,007 mg/mL, 0,0084 mg/mL. Larutan seri konsentrasi yang dibuat didiamkan sesuai operating time yang didapat. Larutan seri konsentrasi dibuat dalam 3 kali replikasi. 4) Larutan stok dan seri konsentrasi mikroemulsi 5:1 0,1 g mikroemulsi 5:1 dilarutkan dengan etanol p.a dalam labu 50 mL. Dalam 0,1 g mikroemulsi mengandung 1,4 mg campuran ester vitamin C dan vitamin E yang dilarutkan dalam labu 50 mL dengan konsentrasi larutan stok 0,028 mg/mL. Pembuatan 5 seri konsentrasi dilakukan dengan mengambil 1, 2, 3, 4 dan 5 mL dari larutan stok mikroemulsi 0,028 mg/mL dan dimasukkan dalam labu 10 mL. 1 mL

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Larutan DPPH 0,158 mg/mL dimasukan ke dalam masing-masing labu 5 seri konsentrasi larutan mikroemulsi 5:1, lalu ditambahkan etanol p.a hingga tanda batas, sehingga seri konsentrasi larutan mikroemulsi 5:1 menjadi 0,0028 mg/mL, 0,0056 mg/mL, 0,0084 mg/mL, 0,0112 mg/mL, 0,014 mg/mL. Larutan seri konsentrasi yang dibuat didiamkan sesuai operating time yang didapat. Larutan seri konsentrasi dibuat dalam 3 kali replikasi. 5) Larutan stok dan seri konsentrasi mikroemulsi 6:1 0,1 g mikroemulsi 6:1 dilarutkan dengan etanol p.a dalam labu 50 mL. Dalam 0,1 g mikroemulsi mengandung 1,4 mg campuran ester vitamin C dan vitamin E yang dilarutkan dalam labu 50 mL dengan konsentrasi larutan stok 0,028 mg/mL. Pembuatan 5 seri konsentrasi dilakukan dengan mengambil 5, 6, 7, 8 dan 9 mL dari larutan stok mikroemulsi 0,028 mg/mL dan dimasukkan dalam labu 10 mL. 1 mL Larutan DPPH 0,158 mg/mL dimasukan ke dalam masing-masing labu 5 seri konsentrasi larutan mikroemulsi 6:1, lalu ditambahkan etanol p.a hingga tanda batas, sehingga seri konsentrasi larutan mikroemulsi 6:1 menjadi 0,014 mg/mL, 0,0168 mg/mL, 0,0196 mg/mL, 0,0224 mg/mL, 0,0252 mg/mL. Larutan seri konsentrasi yang dibuat didiamkan sesuai operating time yang didapat. Larutan seri konsentrasi dibuat dalam 3 kali replikasi.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 6) Larutan stok dan seri konsentrasi mikroemulsi 7:1 0,1 g mikroemulsi 7:1 dilarutkan dengan etanol p.a dalam labu 50 mL. Dalam 0,1 g mikroemulsi mengandung 1,4 mg campuran ester vitamin C dan vitamin E yang dilarutkan dalam labu 50 mL dengan konsentrasi larutan stok 0,028 mg/mL. Pembuatan 5 seri konsentrasi dilakukan dengan mengambil 4, 5, 6, 7 dan 8 mL dari larutan stok mikroemulsi 0,028 mg/mL dan dimasukkan dalam labu 10 mL. 1 mL Larutan DPPH 0,158 mg/mL dimasukan ke dalam masing-masing labu 5 seri konsentrasi larutan mikroemulsi 7:1, lalu ditambahkan etanol p.a hingga tanda batas, sehingga seri konsentrasi larutan mikroemulsi 7:1 menjadi 0,0112 mg/mL, 0,014 mg/mL, 0,0168 mg/mL, 0,0196 mg/mL, 0,0224 mg/mL. Larutan seri konsentrasi yang dibuat didiamkan sesuai operating time yang didapat. Larutan seri konsentrasi dibuat dalam 3 kali replikasi. 7) Larutan stok dan seri konsentrasi mikroemulsi 8:1 0,2 g mikroemulsi 8:1 dilarutkan dengan etanol p.a dalam labu 50 mL. Dalam 0,2 g mikroemulsi mengandung 1,4 mg campuran ester vitamin C dan vitamin E yang dilarutkan dalam labu 50 mL dengan konsentrasi larutan stok 0,056 mg/mL. Pembuatan 5 seri konsentrasi dilakukan dengan mengambil 5, 6, 7, 8 dan 9 mL dari larutan stok mikroemulsi 0,056 mg/mL dan dimasukkan dalam labu 10 mL. 1 mL Larutan DPPH 0,158 mg/mL dimasukan ke dalam masing-masing labu 5 seri konsentrasi larutan mikroemulsi 8:1, lalu ditambahkan etanol p.a

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 hingga tanda batas, sehingga seri konsentrasi larutan mikroemulsi 8:1 menjadi 0,028 mg/mL, 0,0336 mg/mL, 0,0392 mg/mL, 0,0448 mg/mL, 0,0504 mg/mL. Larutan seri konsentrasi yang dibuat didiamkan sesuai operating time yang didapat. Larutan seri konsentrasi dibuat dalam 3 kali replikasi. 8) Larutan stok dan seri konsentrasi basis mikroemulsi 5:1 0,1 g basis mikroemulsi 5:1 dilarutkan dengan etanol p.a dalam labu 50 mL, sehingga konsentrasi larutan stok 2 mg/mL. Pembuatan 5 seri konsentrasi dilakukan dengan mengambil 4, 5, 6, 7, dan 8 mL dari larutan stok mikroemulsi 2 mg/mL dan dimasukkan dalam labu 10 mL. 1 mL Larutan DPPH 0,158 mg/mL dimasukan ke dalam masing-masing labu 5 seri konsentrasi larutan basis mikroemulsi 5:1, lalu ditambahkan etanol p.a hingga tanda batas, sehingga seri konsentrasi larutan basis mikroemulsi 5:1 menjadi 0,8 mg/mL, 1 mg/mL, 1,2 mg/mL, 1,4 mg/mL, 1,4 mg/mL. Larutan seri konsentrasi yang dibuat didiamkan sesuai operating time yang didapat. Larutan seri konsentrasi dibuat dalam 3 kali replikasi. 9) Larutan stok dan seri konsentrasi basis mikroemulsi 6:1 0,1 g basis mikroemulsi 6:1 dilarutkan dengan etanol p.a dalam labu 50 mL, sehingga konsentrasi larutan stok 2 mg/mL. Pembuatan 5 seri konsentrasi dilakukan dengan mengambil 5, 6, 7, 8 dan 9 mL dari larutan stok mikroemulsi 2 mg/mL dan dimasukkan dalam labu 10 mL. 1 mL Larutan DPPH 0,158 mg/mL dimasukan ke dalam masing-masing

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 labu 5 seri konsentrasi larutan basis mikroemulsi 6:1, lalu ditambahkan etanol p.a hingga tanda batas, sehingga seri konsentrasi larutan basis mikroemulsi 6:1 menjadi 1 mg/mL, 1,2 mg/mL, 1,4 mg/mL, 1,6 mg/mL, 1,8 mg/mL. Larutan seri konsentrasi yang dibuat didiamkan sesuai operating time yang didapat. Larutan seri konsentrasi dibuat dalam 3 kali replikasi. 10) Larutan stok dan seri konsentrasi basis mikroemulsi 7:1 0,1 g basis mikroemulsi 7:1 dilarutkan dengan etanol p.a dalam labu 50 mL, sehingga konsentrasi larutan stok 2 mg/mL. Pembuatan 5 seri konsentrasi dilakukan dengan mengambil 5, 6, 7, 8 dan 9 mL dari larutan stok mikroemulsi 2 mg/mL dan dimasukkan dalam labu 10 mL. 1 mL Larutan DPPH 0,158 mg/mL dimasukan ke dalam masing-masing labu 5 seri konsentrasi larutan basis mikroemulsi 7:1, lalu ditambahkan etanol p.a hingga tanda batas, sehingga seri konsentrasi larutan basis mikroemulsi 7:1 menjadi 1 mg/mL, 1,2 mg/mL, 1,4 mg/mL, 1,6 mg/mL, 1,8 mg/mL. Larutan seri konsentrasi yang dibuat didiamkan sesuai operating time yang didapat. Larutan seri konsentrasi dibuat dalam 3 kali replikasi. 11) Larutan stok dan seri konsentrasi basis mikroemulsi 8:1 0,2 g basis mikroemulsi 8:1 dilarutkan dengan etanol p.a dalam labu 50 mL, sehingga konsentrasi larutan stok 2 mg/mL. Pembuatan 5 seri konsentrasi dilakukan dengan mengambil 4, 5, 6, 7, dan 8 mL dari larutan stok mikroemulsi 2 mg/mL dan dimasukkan dalam labu 10 mL.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 1 mL Larutan DPPH 0,158 mg/mL dimasukan ke dalam masing-masing labu 5 seri konsentrasi larutan basis mikroemulsi 8:1, lalu ditambahkan etanol p.a hingga tanda batas, sehingga seri konsentrasi larutan basis mikroemulsi 8:1 menjadi 1,6 mg/mL, 2 mg/mL, 2,4 mg/mL, 2,8 mg/mL, 3,2 mg/mL. Larutan seri konsentrasi dibuat dalam 3 kali replikasi. e. Pengukuran Absorbansi Larutan DPPH (Kontrol) Pada labu 10 mL, dimasukan 1 mL larutan DPPH 0,158 mg/mL, lalu ditambahkan etanol p.a sampai tanda batas. Kemudian larutan tersebut dibaca absorbansinya pada saat OT dan panjang gelombang maksimum yang didapat. Pengerjaan dilakukan dengan 3 kali replikasi. Larutan ini digunakan sebagai kontrol untuk menguji larutan uji. f. Penentuan aktivitas antioksidan mikroemulsi Penentuan aktivitas antioksidan mikroemulsi dilakukan pada seri konsentrasi masing-masing sampel larutan ester vitamin C, vitamin E, ester vitamin C dan vitamin E, larutan mikroemulsi 5:1, 6:1, 7:1, 8:1, basis 5:1, 6:1, 7:1, 8:1. Larutan seri konsentrasi tersebut didiamkan selama waktu optimal yang sudah diperoleh. Larutan kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum sebanyak 3 kali replikasi.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 g. Pembuatan Kurva Baku Nilai absorbansi masing-masing larutan uji dan blangko yang telah didapat digunakan untuk mendapatkan nilai % IC menggunakan persamaan (2). Pembuatan Kurva baku dengan menggunakan konsentrasi larutan uji (sumbu x) dan % IC (sumbu y) untuk masing masing larutan uji keempat formula. Konsentrasi larutan uji untuk ester vitamin C, vitamin E murni, campuran ester vitamin C dan vitamin E murni, sampel mikroemulsi formula 5:1, 6:1, 7:1, dan 8:1 serta basis mikroemulsi formula 5:1, 6:1, 7:1, dan 8:1 sama seperti seri konsentrasi pada pembuatan masing-masing larutan uji. Besarnya daya antioksidan (IC50) ditentukan dengan menggunakan persamaan regresi linier yang telah didapatkan. F. Analisis Data Data yang diperoleh pada penelitian ini adalah data sifat fisik sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E yang meliputi organoleptis, pH, viskositas, indeks bias, ukuran droplet, persen transmitan, IC50 serta stabilitas fisik berupa organoleptis, pH, viskositas, ukuran droplet dan persen transmitan. Signifikansi data diketahui dengan menganalisis secara statistik pada distribusi data normal dan tidak normal, homogen dan tidak homogen, serta berbeda bermakna dan berbeda tidak bermakna. Aplikasi program R-3.0.2 digunakan sebagai alat untuk melakukan uji statistika pada penelitian. Pada distribusi normal, digunakan analisis statistik parametrik (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%, maka faktor dikatakan

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 berpengaruh jika nilai p (probability value) kurang dari 0,05 sedangkan pada distribusi data tidak normal digunakan analisis statsitik non-parametrik (KruskalWallis) dengan tingkat kepercayaan 95%, apabila nilai p<0,05 dapat disimpulkan terdapat perbedaan antar formula, sebaliknya apabilila p>0,05 dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan antar formula.

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sediaan mikroemulsi dibuat dengan komposisi fase minyak, fase air, zat aktif dan kombinasi surfaktan tanpa ada komponen kosurfaktan. Kosurfaktan merupakan bahan yang memiliki rantai medium alkohol yang akan menyeimbangkan gugus hidrofilik dan lipofilik dari surfaktan. Fungsi kosurfaktan yaitu membantu menurunkan tegangan permukaan dan meningkatkan fluiditas pada antarmuka sehingga dapat meningkatkan entropi sistem. Kosurfaktan dalam penelitian ini tidak digunakan karena pada saat orientasi dengan kombinasi surfaktan sudah memiliki kapasitas solubilizing yang tinggi dan mampu membentuk mikroemulsi yang stabil sehingga tidak diperlukan kosurfaktan. A. Uji Pendahuluan atau Orientasi Formula Uji pendahuluan dilakukan untuk menentukan formula mikroemulsi yang stabil dengan pengujian heating and cooling cycle dan uji sentrifugasi selama 3 siklus. Tujuan uji heating and cooling cycle adalah untuk mengetahui perubahan yang terjadi dengan penyimpanan pada suhu tinggi dan suhu rendah dalam waktu singkat pada mikroemulsi seperti terjadinya creaming, flokulasi dan coalesens pada saat penyimpanan. Tujuan dari uji sentrifugasi adalah untuk melihat pecahnya sistem mikroemulsi dengan putaran 5000 rpm selama 15 menit. Formula yang tidak mengalami pemisahan fase dan perubahan organoleptis akan dipilih sebagai formula dalam penelitian. Hasil uji pendahuluan atau orientasi formula seperti tercantum pada tabel V. 52

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Formula Kriteria I (1:1) Warna dan bau Homogenitas Kejernihan Warna dan bau Homogenitas Kejernihan Warna dan bau Homogenitas Kejernihan Warna dan bau Homogenitas Kejernihan Warna dan bau Homogenitas Kejernihan Warna dan bau Homogenitas Kejernihan Warna dan bau Homogenitas Kejernihan Warna dan bau Homogenitas Kejernihan II (2:1) III (3:1) IV (4:1) V (5:1) VI (6:1) VII (7:1) VIII (8:1) Tabel V. Hasil Organoleptis Formula Orientasi Hasil organoleptis sebelum Heating Hasil organoleptis sesudah Heating and cooling cycle dan uji and cooling cycle dan uji sentrifugasi sentrifugasi Kuning terang dan tidak berbau Kuning terang dan tidak berbau Homogen Tidak homogen (memisah menjadi Sangat jernih 2 fase) dan tidak jernih Kuning terang dan tidak berbau Kuning terang dan tidak berbau Homogen Tidak homogen (memisah menjadi Sangat jernih 2 fase) dan tidak jernih Kuning terang dan tidak berbau Kuning terang dan tidak berbau Homogen Tidak homogen (memisah menjadi Sangat jernih 2 fase) dan tidak jernih Kuning terang dan tidak berbau Kuning terang dan tidak berbau Homogen Tidak homogen (memisah menjadi Sangat jernih 2 fase) dan tidak jernih Kuning terang dan tidak berbau Kuning terang dan tidak berbau Homogen Homogen (Tidak terjadi Sangat jernih pemisahan fase) dan sangat jernih Kuning terang dan tidak berbau Kuning terang dan tidak berbau Homogen Homogen (Tidak terjadi Sangat jernih pemisahan fase) dan sangat jernih Kuning terang dan tidak berbau Kuning terang dan tidak berbau Homogen Homogen (Tidak terjadi Sangat jernih pemisahan fase) dan sangat jernih Kuning terang dan tidak berbau Kuning terang dan tidak berbau Homogen Homogen (Tidak terjadi Sangat jernih pemisahan fase) dan sangat jernih Pemisahan fase (breaking) terjadi setelah proses heating and cooling cycle dan uji sentrifugasi pada formula I (1:1), II (2:1), III (3:1) dan IV (4:1) dikarenakan perbandingan tween 80 dan span 80 dengan komposisi 70 % dalam formula belum mampu untuk membuat ikatan misel dalam sistem mikroemulsi mempertahankan droplet-droplet mengalami gaya tolak menolak yang lebih tinggi dibanding gaya tarik menarik sehingga membuat droplet pecah dantfase minyak akan bergabung kembali dengan fase minyak serta droplet fase air akan bergabung lagi dengan fase air. Jadi, berdasarkan hasil orientasi dipilih formula 5:1, 6:1, 7:1, 8:1.

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 B. Uji Sifat Fisik Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E dengan Formula Hasil Orientasi Sediaan yang berkualitas adalah sediaan yang memenuhi parameter uji sifat fisik dan stabilitas fisik selama penyimpanan. Pada penelitian ini pengujian dilakukan 24 jam setelah pembuatan karena sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E telah membentuk sistem yang stabil. 1. Uji organoleptis dan pH Uji organoleptis yang diamati adalah warna, bau, homogenitas dan kejernihan sediaan mikroemulsi. Hasil pengamatan ada pada tabel VI. Tabel VI. Data Organoleptis dan pH Sediaan Mikroemulsi Formula Hasil Orientasi Formula V Formula VI Formula VII Formula VIII Warna Kuning terang Kuning terang Kuning terang Kuning terang Bau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Homogenitas Homogen Homogen Homogen Homogen Kejernihan Sangat jernih Sangat jernih Sangat jernih Sangat jernih pH 5,65 ± 0,01 5,70 ± 0,02 5,79 ± 0,01 5,87 ± 0,02 Peningkatan tween 80 dan penurunan span 80 dalam campuran surfaktan tween 80 dan span 80 dengan perbandingan 5:1, 6:1, 7:1, 8:1 tidak berpengaruh terhadap karakteristik warna, bau, homogenitas dan kejernihan tetapi mempengaruhi pH. Signifikansi peningkatan pH dilihat berdasarkan uji TukeyHSD pada formula V, VI, VII, dan VIII, menghasilkan p-value<0,05 yang menunjukkan berbeda bermakna atau terjadi perbedaan hasil yang signifikan. Zat aktif ester vitamin C dan vitamin E masing-masing memiliki pH 3 dan 5 serta keduanya terlarut sempurna dalam sistem mikroemulsi.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Peningkatan pH terjadi saat setelah zat aktif diformulasikan dalam bentuk mikroemulsi. Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan tween 80 dan penurunan span 80 dalam kombinasinya. Rata-rata pH kombinasi surfaktan tertera pada tabel VII. Tabel VII. pH Kombinasi Surfaktan Tween 80 dan Span 80 Setiap Formula Tween 80 5:1 6:1 7:1 8:1 : Span 80 6,64 ± 0,02 6,71± 0,01 6,80 ± 0,02 6,88 ± 0,01 Kombinasi surfaktan tween 80 dan span 80 dengan variasi perbandingan menghasilkan peningkatan pH yang menyebabkan peningkatan pH dalam sistem mikroemulsi. 2. Dilution test Tujuan dilution test yaitu untuk menentukan jenis mikroemulsi. Tipe mikroemulsi yang terjadi dalam sediaan adalah minyak dalam air yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam air dimana minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal. Sediaan mikroemulsi dalam 100 mL air larut sempurna ada pada gambar 8. Gambar 8. Larutan Mikroemulsi yang dilarutkan dalam 100 mL Akuades Penentuan tipe mikroemulsi yang dibuat diperkuat dengan adanya perhitungan nilai HLB pada masing-masing formula. Nilai HLB campuran

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 masing-masing formula ada pada tabel VIII. Menurut Kim (2005), nilai HLB 8-18 akan membentuk mikroemulsi tipe minyak dalam air. Jadi berdasarkan nilai HLB maka tipe mikroemulsi yang terbentuk pada semua formula sediaan mikroemulsi adalah minyak dalam air. Tabel VIII. Nilai HLB Kombinasi Surfaktan Tween 80 dan Span 80 pada Setiap Formula Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Formula HLB V (5:1) 13,47 VI (6:1) 13,742 VII (7:1) 13,898 VIII (8:1) 13,93 3. Uji persen transmitan Tujuan uji persen transmitan adalah untuk melihat kejernihan sediaan mikroemulsi yang dibandingkan dengan hasil persen transmitan akuades sebagai kontrol. Hasil persen transmitan masing-masing formula ada pada gambar 9. Gambar 9. Grafik Uji Persen Transmitan Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E formula 5 (5:1), formula 6 (6:1), formula 7 (7:1), formula 8 (8:1) Berdasarkan gambar 9, peningkatan tween 80 dan penurunan span 80 akan menyebabkan peningkatan nilai persen transmitan karena mikroemulsi yang dihasilkan dari setiap formula semakin jernih. Semakin jernih suatu sediaan maka nilai persen transmitan yang dihasilkan semakin

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 mirip dengan persen transmitan akuades yaitu 100 %. Semakin jernih sediaan mikroemulsi disebabkan oleh semakin kecilnya ukuran droplet yang ada dalam sistem mikroemulsi karena energi bebas permukaan yang dihasilkan semakin kecil (Chavda et al., 2013). Berdasarkan uji TukeyHSD, formula 5 vs 6, 5 vs 7, 5 vs 8, 6 vs 7 dan 7 vs 8 menghasilkan p-value<0,05 yang menunjukkan terjadi perbedaan hasil secara signifikan, sedangkan formula 7 vs 8 menghasilkan p-value>0,05 yang menunjukkan tidak terjadi perbedaan hasil secara signifikan. 4. Uji indeks bias Pengujian indeks bias dilakukan untuk menentukan distribusi spasial (bentuk, dimensi, dan proporsi) intensitas cahaya yang tersebar di sekitar partikel. Semakin besar nilai indeks bias tidak selalu menunjukkan distribusi ukuran droplet semakin luas, karena cahaya yang tersebar dalam sistem mikroemulsi tergantung pada ukuran droplet pada sampel, dimana saat cahaya dilewatkan melalui sampel dapat memberikan variabel hasil distribusi ukuran droplet (Melik and Fogler, 1983). Hasil indeks bias ada pada gambar 10. Gambar 10. Grafik Uji Indeks Bias Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E formula 5 (5:1), formula 6 (6:1), formula 7 (7:1), formula 8 (8:1)

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Berdasarkan gambar 10, peningkatan tween 80 dan penurunan span 80 dalam kombinasinya akan membuat nilai indeks bias meningkat karena panjangnya rantai karbon dari tween 80 dan span 80 dalam sistem mikroemulsi. Menurut Murdaka et al., (2010), komposisi surfaktan dalam jumlah besar memperbesar kerapatan molekul karena semakin panjang rantai karbon dari surfakan dalam sistem dan membuat nilai indeks bias maupun viskositas sediaan meningkat. Berdasarkan uji TukeyHSD formula 5, 6, 7, dan 8 menghasilkan pvalue<0,05 yang berarti berbeda bermakna atau terjadi perbedaan hasil secara signifikan. 5. Uji ukuran droplet sediaan mikroemulsi Tujuan pengujian ukuran droplet adalah untuk mengetahui ukuran droplet sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E. Uji ukuran droplet dilakukan pada mikroemulsi formula V (5:1) dan formula VIII (8:1). Hasil rata-rata ukuran droplet formula 5 dan 8 ada pada tabel IX. Tabel IX. Hasil Ukuran droplet (nm) Formula (nm) ± SD V 23,83 ± 0,70 VIII 12,5 ± 0,95 Gambar 11. Hasil Grafik Uji Ukuran droplet Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E formula 5 (5:1) sebelum freeze thaw

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Gambar 12. Hasil Grafik Uji Ukuran droplet Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E formula 8 (8:1) sebelum freeze thaw Berdasarkan tabel VIII, hasil ukuran droplet yang didapat sesuai dengan teori Surabhi (2010) bahwa rentang diameter ukuran droplet mikroemulsi 10-100 nm. Hal ini disebabkan oleh peningkatan tween 80 dan penurunan span 80 dalam kombinasinya membuat energi bebas permukaan yang terbentuk semakin kecil dan droplet-droplet dalam sediaan mengalami gaya tolak menolak yang lebih besar dibanding gaya tarik menarik sehingga membuat halangan stearik antar droplet tinggi. Energi bebas permukaan yang semakin kecil dan halangan stearik antar droplet yang tinggi akan menyebabkan ukuran diameter globul atau ukuran droplet menjadi semakin kecil hingga berukuran nanometer (Mahdi et al., 2011). Berdasarkan grafik yang ada pada gambar 11 dan 12 distribusi ukuran droplet yang terbentuk yaitu polidisperse. Hal ini dikarenakan ukuran droplet yang dihasilkan bervariasi dan memiliki perbedaan yang cukup besar, sehingga kurva distribusi ukuran droplet dalam sistem mikroemulsi yang dihasilkan melebar.

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Tabel X. Nilai Indeks Polidispersitas dan Koefisien Difusi (D) saat Pengujian Ukuran droplet Nilai Indeks Polidispersitas ± SD F5 0,853 ± 0,23 F8 0,895 ± 0,2 Koefisien Difusi F5 F8 0,00019 ± 0,00001 0,00018 ± 0,00001 Nilai indeks polidispersitas menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap ukuran droplet yang terdispersi pada sampel mikroemulsi. Nilai indeks polidispersitas semakin kecil, maka tingkat kepercayaan distribusi ukuran droplet pada sampel mikroemulsi semakin baik. Nilai polidispersitas berada dibawah 1, jika nilai indeks polidispersitas diatas 1 menunjukkan keseragaman distribusi ukuran droplet dalam sampel mikroemulsi (Kasture et al., 2014). Berdasarkan tabel X, nilai polidispersitas formula V berada antara 0,623-1,083 sedangkan pada formula VIII 0,695-1,095. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada formula V dan formula VIII distribusi ukuran droplet dalam sampel mikroemulsi tidak seragam. Koefisien difusi menggambarkan kecepatan sebuah partikel di dalam cairan bergerak karena adanya pergerakan Brownian. Berdasarkan tabel X, Nilai koefisien difusi sangat kecil pada saat pengujian ukuran droplet mengindikasikan bahwa molekul yang lebih kecil akan bergerak lebih cepat dalam cairan (Samsi et al., 2009). 6. Uji Viskositas Pengukuran viskositas mikroemulsi formula 5 sampai formula 8 menggunakan viskometer Brookfield dengan spindel nomor 6 pada suhu kamar (27°C). Hasil uji viskositas seperti tercantum pada gambar 13.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Gambar 13. Grafik Uji viskositas Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E formula 5 (5:1), formula 6 (6:1), formula 7 (7:1), formula 8 (8:1) Berdasarkan gambar 13, peningkatan tween 80 dan penurunan span 80 dalam kombinasinya akan meningkatan viskositas sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E. Peningkatan viskositas disebabkan karena tween 80 dan span 80 formula dapat dipengaruhi oleh interaksi antara rantai panjang gugus hidrofilik dengan gugus hidrofilik dan gugus lipofilik dengan gugus lipofilik dari tween 80 dan span 80 akibat kecepatan pengadukan yang tinggi selama proses pembuatan menyebabkan perpanjangan misel yang ada di permukaan globul antara fase minyak dan air. Hal ini menyebabkan globul akan membentuk rangkaian seperti bulu babi dan menyebabkan medium dispers menjadi semakin rigid (Jufri et al., 2006). Semakin rigid medium dispers maka viskositas yang dihasilkan akan semakin tinggi. Berdasarkan uji TukeyHSD, formula 5 vs 7, 5 vs 8, 6 vs 7, 6 vs 8 menghasilkan p-value<0,05 yang menunjukkan data yang dihasilkan berbeda bermakna atau terjadi peningkatan yang signifikan dari nilai viskositas. Pada formula 5 vs 6 dan 7 vs 8 menghasilkan p-value>0,05 yang menunjukkan tidak terjadi perbedaan hasil secara signifikan.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 C. Uji Stabilitas Fisik Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Formula mikroemulsi yang sudah diuji sifat fisik selanjutnya akan mengalami freeze thaw 3 siklus untuk dilihat stabilitas fisiknya berupa organoleptis, pH, persen transmitan, ukuran droplet dan viskositas. Uji freeze thaw bertujuan untuk melihat kestabilan sediaan mikroemulsi pada suhu ekstrim 200C dan 350C yang merepresentasikan suhu saat distribusi dan penyimpanan serta penggunaan saat sediaan dibawa kemana-mana. 1. Stabilitas Organoleptis mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E setelah mengalami freeze thaw Tujuan dari uji stabilitas organoleptis yaitu untuk mengetahui apakah terjadi perubahan organoleptis setelah dilakukan freeze thaw dengan 3 siklus penyimpanan pada sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E. Hasil organoleptis keempat formula selama freeze thaw tercantum pada tabel XI. Tabel XI. Hasil Organoleptis Selama freeze thaw dengan 3 siklus penyimpanan Formula Kriteria Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 V Warna Kuning terang Kuning terang Kuning terang Kuning terang Bau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Homogenitas Homogen Homogen Homogen Homogen Kejernihan Sangat jernih Sangat jernih Sangat jernih Sangat jernih VI Warna Kuning terang Kuning terang Kuning terang Kuning terang Bau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Homogenitas Homogen Homogen Homogen Homogen Kejernihan Sangat jernih Sangat jernih Sangat jernih Sangat jernih VII Warna Kuning terang Kuning terang Kuning terang Kuning terang Bau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Homogenitas Homogen Homogen Homogen Homogen Kejernihan Sangat jernih Sangat jernih Sangat jernih Sangat jernih VIII Warna Kuning terang Kuning terang Kuning terang Kuning terang Bau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Homogenitas Homogen Homogen Homogen Homogen Kejernihan Sangat jernih Sangat jernih Sangat jernih Sangat jernih Keterangan : tidak terjadi pemisahan fase dalam setiap siklus freeze thaw ditunjukkan hasil organoleptis yang tidak mengalami perubahan.

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Peningkatan tween 80 dan penurunan span 80 dalam kombinasinya tidak memberikan perubahan organoleptis selama freeze thaw. Pada suhu rendah ekstrim (freeze) menyebabkan gugus hidrofil dalam sistem membeku dan pada saat mengalami proses thaw gugus hidrofil yang ada pada sistem mikroemulsi akan kembali seperti semula untuk menangkap dan melingkupi droplet-droplet dalam sediaan agar halangan stearik antar droplet tetap tinggi. halangan stearik yang tinggi menyebabkan droplet tidak mudah menyatu dan menyebabkan sediaan mikroemulsi stabil. 2. Stabilitas pH mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E setelah mengalami freeze thaw Tujuan uji stabilitas pH yaitu untuk mengetahui perubahan pH setelah dilakukan freeze thaw dengan 3 siklus pada sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E. pH 6 5,9 Formula 5 5,8 Formula 6 5,7 Formula 7 5,6 Formula 8 5,5 0 1 2 3 Siklus freeze thaw Gambar 14. Grafik Uji Stabilitas pH Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Selama Mengalami freeze thaw selama 3 siklus Berdasarkan Gambar 14, pH dari masing-masing formula dalam setiap siklus penyimpanan stabil. Berdasarkan uji t-test berpasangan nilai pvalue>0,05 untuk semua formula yang menunjukkan berbeda tidak bermakna atau stabil. Menurut Ali dan Yosipoitch (2013) pH sediaan kosmetik yang

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 diaplikasikan pada kulit harus mempunyai pH normal antara 4,5-6,5. pH mikroemulsi vitamin C dan E yang dihasilkan sesuai dengan pH balance kulit. 3. Stabilitas persen transmitan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E setelah mengalami freeze thaw Tujuan uji stabilitas persen transmitan yaitu untuk mengetahui perubahan nilai persen transmitan yang menyatakan kejernihan suatu sediaan setelah dilakukan freeze thaw dengan 3 siklus penyimpanan pada sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E. Transmitan (%) 100,5 100 99,5 formula 5 99 formula 6 98,5 formula 7 98 formula 8 97,5 0 1 2 3 Siklus freeze thaw Gambar 15. Grafik Uji Stabilitas Persen Transmitan Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Selama Mengalami freeze thaw 3 Siklus Berdasarkan gambar 15, terjadi penurunan nilai persen transmitan pada formula 5, 6, 7 dan 8. Pada formula 6, 7 dan 8 berdasarkan t-test menghasilkan p-value>0,05 yang menunjukkan berbeda tidak bermakna atau stabil, sedangkan pada formula 5 dari siklus freeze thaw 0 ke 1, 1 ke 2 dan 2 ke 3 menghasilkan p-value>0,05 yang menunjukkan berbeda tidak bermakna atau stabil namun pada siklus 0 ke 3 menghasilkan p-value>0,05 yang menunjukkan berbeda bermakna atau tidak stabil.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Penurunan persen transmitan yang terjadi dipengaruhi oleh suhu penyimpanan. Pada suhu rendah ekstrim (freeze) menyebabkan gugus hidrofil dalam sistem membeku dan pada saat mengalami proses thaw gugus hidrofil yang ada pada sistem mikroemulsi akan kembali seperti semula untuk menangkap dan melingkupi antar droplet. Namun tidak semua droplet tertangkap sempurna oleh surfaktan dalam sistem saat proses thaw sehingga ada droplet yang menggabungkan diri. Ukuran droplet yang terbentuk lebih besar meskipun masih dalam ukuran nanometer dan memiliki organoleptis yang jernih. Ukuran droplet yang membesar akan menyebabkan penurunan persen transmitan tetapi akan memberikan serapan saat dikenai sinar UV sehingga terjadi penurunan persen transmitan (Jufri et al., 2006). 4. Stabilitas ukuran droplet mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E setelah mengalami freeze thaw Tujuan pengujian stabilitas ukuran droplet sediaan mikroemulsi yaitu untuk mengetahui perubahan diameter ukuran droplet setelah dilakukan freeze thaw dengan 3 siklus pada sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E. Tabel XII. Ukuran droplet Mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E setelah freeze thaw Ukuran droplet (nm) Formula Siklus 0 Siklus 3 V 23,83 ± 0,70 24,23 ±0,35 VIII 12,5 ± 0,95 12,7 ± 0,85 Berdasarkan tabel XII, terjadi peningkatan ukuran droplet pada formula 5 dan 8 setelah freeze thaw. Hal ini dikarenakan pada saat suhu rendah droplet-droplet dalam sediaan mikroemulsi mengalami penurunan

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 gaya tolak menolak dibanding gaya tarik menarik sehingga halangan stearik antar droplet menurun. Penurunan halangan stearik akan menyebabkan droplet-droplet bergabung dan membentuk ukuran droplet yang lebih besar. Ukuran droplet dari siklus 0 ke 3 mengalami peningkatan namun masih termasuk dalam rentang ukuran droplet mikroemulsi (10-100 nm) (Jufri et al., 2006). Rata-rata pergeseran diameter ukuran droplet dari formula 5 dan 8 dari siklus 0 ke siklus 3 mengalami kenaikan namun pergeseran diameter ukuran droplet yang terjadi tidak signifikan atau stabil karena berdasarkan uji t-test berpasangan nilai p-value yang didapat lebih dari 0,05 untuk formula 5 dan 8. Stabilitas viskositas mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E setelah mengalami freeze thaw Tujuan uji stabilitas viskositas sediaan mikroemulsi yaitu untuk mengetahui perubahan viskositas mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E selama freeze thaw. Viskositas (cP) 5. 445 444 443 442 441 440 439 438 437 436 formula 5 formula 6 formula 7 formula 8 0 1 2 3 Siklus Freeze thaw Gambar 16. Grafik Uji Stabilitas Viskositas Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Selama Mengalami freeze thaw 3 Siklus

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Berdasarkan gambar 16, formula 6, 7, dan 8 tidak mengalami perubahan viskositas namun pada formula 5 terjadi peningkatan viskositas akibat freeze thaw. Peningkatan viskositas pada formula 5 disebabkan karena peningkatan tween 80 dan penurunan span 80 pada suhu rendah akan membentuk ikatan molekul yang semakin rapat sehingga medium dispers yang terbentuk semakin rigid. Tween 80 dan span 80 menurut Rowe et al., (2009) sensitif pada temperatur terutama temperatur sangat rendah sehingga pada saat suhu rendah cenderung membentuk ikatan molekul yang semakin rapat yang menyebabkan kekentalan meningkat dan laju alir menurun. Viskositas yang meningkat tidak berarti bahwa sediaan mikroemulsi tidak stabil, namun jika viskositas meningkat akan membuat droplet dalam sistem menjadi lebih stabil karena antar droplet tidak mudah menggabungkan diri. Rata-rata pergeseran viskositas dari masing-masing formula dalam setiap siklus penyimpanan meningkat namun pergeseran viskositas yang terjadi tidak signifikan atau stabil karena berdasarkan uji t-test berpasangan nilai p-value yang didapat lebih dari 0,05 untuk semua formula kecuali formula 5. Pada formula 5 dari siklus 0 ke 1, 1 ke 2 dan 2 ke 3 berbeda tidak bermakna namun pada siklus 0 ke 3 hasil menunjukkan berbeda bermakna. D. General Discussion Antar Hasil Uji Sediaan Mikroemulsi Hasil uji sifat fisik dari sediaan mikroemulsi secara keseluruhan tertera pada tabel XIII, sedangkan hasil uji stabilitas fisik tertera pada tabel XIV.

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Tabel XIII. Hasil Sifat Fisik Sediaan Mikroemulsi Ukuran Transmitan formula Uji organoleptis pH Indeks bias droplet (%) (nm) V Kuning terang, 5,65± 0,01 98,7±0,2 1,452±0,002 23,83±0,70 tidak berbau Homogen, sangat jernih VI Kuning terang, 5,70± 0,02 99,2±0,1 1,458±0,002 tidak berbau Homogen, sangat jernih VII Kuning terang, 5,79± 0,01 99,6±0,1 1,462±0,002 tidak berbau Homogen, sangat jernih VIII Kuning terang, 5,87± 0,02 99,9±0,1 1,465±0,001 12,5±0,95 tidak berbau Homogen, sangat jernih Uji Organoleptis Uji pH Uji Persen transmitan Uji Ukuran droplet Uji Viskositas Tabel XIV. Hasil Stabilitas Fisik Mikroemulsi Formula 5 Formula 6 Formula 7 √ √ √ Viskositas (Cp s) 439,37± 0,55 440,03± 0,21 441,57± 0,55 442,2 ± 0,46 Formula 8 √ √ √ √ √ x √ √ √ √ x √ √ √ √ Keterangan : Tanda (√) menandakan sediaan mikroemulsi stabil saat diujikan, sedangkan tanda (x) menandakan sediaan mikroemulsi tidak stabil saat diujikan. Beberapa hasil uji yang berkaitan satu dengan yang lain yaitu organoleptis, persen transmitan, ukuran droplet, viskositas dan indeks bias. Peningkatan tween 80 dan penurunan span 80 dalam kombinasinya meningkatkan kemampuan spontan dalam pembentukkan sistem mikroemulsi dan memperkecil energi bebas permukaan dari sistem mikroemulsi maka ukuran droplet yang dihasilkan semakin kecil sehingga menyebabkan

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 organoleptis yang dihasilkan jernih dan nilai persen transmitan yang didapat semakin mendekati 100 %. Penurunan ukuran droplet hingga mencapai ukuran nanometer juga disebabkan karena peningkatan tween 80 dan penurunan span 80 dalam kombinasinya membuat droplet-droplet dalam sediaan mengalami gaya tolak menolak yang lebih besar dibanding gaya tarik menarik sehingga energy barrier dalam sediaan besar serta membuat halangan stearik antara droplet tinggi (Mahdi et al., 2011). Peningkatan ukuran droplet yang ada dalam sistem mikroemulsi pada saat setelah freeze thaw 3 siklus menyebabkan nilai persen transmitan menurun karena terjadi penggabungan droplet sehingga membentuk ukuran droplet yang semakin besar. Organoleptis yang diamati tetap jernih karena meskipun ukuran droplet meningkat tetapi masih dalam rentang 10-100 nm (Surabhi et al., 2010). Tween 80 dan span 80 menurut Rowe et al., (2009) sensitif terhadap temperatur terutama temperatur sangat rendah sehingga pada suhu rendah saat freeze thaw kombinasi surfaktan cenderung membentuk ikatan molekul yang semakin rapat yang menyebabkan medium dispers semakin rigid dan laju alir menurun. Semakin rigid medium dispers yang terbentuk maka viskositasnya semakin tinggi. Menurut Wan (2000), nilai viskositas yang dihasilkan juga mempengaruhi nilai indeks bias karena komposisi tween 80 dalam jumlah lebih besar dibanding span 80 dalam kombinasinya akan memperbesar kerapatan molekul karena semakin panjang rantai karbon dari kombinasi surfakan dalam sistem dan membuat nilai indeks bias meningkat.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 E. Uji Aktivitas Antioksidan Basis Mikroemulsi dan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 1. Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum ( λ maks) Tujuan penentuan λ maksimum adalah untuk mendapatkan serapan maksimum dari DPPH sehingga dengan sedikit perubahan konsentrasi DPPH akan menyebabkan perubahan absorbansi yang besar. Penentuan panjang gelombang maksimum menggunakan 3 seri konsentrasi yaitu 0,0079 mg/mL, 0,0158 mg/mL dan 0,0237 mg/mL. Penggunaan 3 seri konsentrasi bertujuan untuk merepresentasikan panjang gelombang maksimum yang sama walaupun konsentrasinya berbeda-beda. DPPH memberikan serapan kuat pada panjang gelombang 517 nm menurut Dephour (2009) dan 515-520 nm menurut Molyneux (2004). Berdasarkan pengujian panjang gelombang untuk pengukuran DPPH yang dihasilkan sama dengan panjang gelombang teoritis yaitu 517 nm. DPPH dapat memberikan serapan karena memiliki gugus kromofor dan auksokrom, sedangkan adanya elektron tak berpasangan pada DPPH akan menimbulkan warna violet. 2. Penentuan Operating Time (OT) Penentuan operating time dilakukan untuk mendapatkan rentang waktu saat larutan pembanding dan larutan uji mereduksi radikal DPPH dengan sempurna sehingga diperoleh absorbansi stabil. Penentuan operating time didasarkan pada waktu saat absorbansi pembanding dan larutan uji terhadap reagen mulai stabil atau selisih absorbansi mulai kecil antara selang

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 waktu yang diujikan. Nilai absorbansi yang stabil membuat pengukuran Absorbansi menjadi reprodusibel dan meminimalkan kesalahan dalam analisis. 0,55 0,5 0,45 0,4 0,35 0,3 0,25 0,2 0,15 0,1 0,05 0 OT Vitamin C OT Vitamin E OT Campuran Vitamin C dan E 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waktu (menit) Absorbansi Gambar 17. Grafik Penentuan OT Standar Ester vitamin C 0,0015 mg/mL, Vitamin E 0,00075 mg/mL dan Campuran Ester vitamin C dan vitamin E 0,0042 mg/mL 0,5 0,45 0,4 0,35 0,3 0,25 0,2 0,15 0,1 0,05 0 OT Mikroemulsi F5 OT Mikroemulsi F6 OT Mikroemulsi F7 OT Mikroemulsi F8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waktu (menit) Absorbansi Gambar 18. Grafik Penentuan OT Mikroemulsi formula 5 (5:1) 0,0084 mg/mL, formula 6 (6:1) 0,0196 mg/mL, formula 7 (7:1) 0,0168 mg/mL, formula 8 (8:1) 0,0196 mg/mL 0,8 0,75 0,7 0,65 0,6 0,55 0,5 0,45 0,4 0,35 0,3 0,25 0,2 0,15 0,1 0,05 0 OT Basis Mikroemulsi F1 OT Basis Mikroemulsi F2 OT Basis Mikroemulsi F3 OT Basis Mikroemulsi F4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waktu (menit) Gambar 19. Grafik Penentuan OT Basis Mikroemulsi formula 5 (5:1) 1,2 mg/mL, formula 6 (6:1) 1,4 mg/mL, formula 7 (7:1) 1,4 mg/mL, formula 8 (8:1) 2,4 mg/mL

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Berdasarkan hasil yang didapat OT untuk masing-masing standar ester vitamin C, E, dan campuran ester vitamin C dan vitamin E adalah 30-35 menit, 50-60 menit, 15-25 menit. Rentang operating time untuk sampel mikroemulsi formula 5 40-50 menit, formula 6 50-55 menit, formula 7 45-55, 4 45-40 menit dan basis mikroemulsi formula 5 35-40 menit, formula 6 30-40 menit, formula 7 25-35 menit, formula 8 40-50 menit. Pemilihan waktu diawal rentang operating time karena waktu awal rentang merupakan waktu saat absorbansi mulai stabil. 3. Hasil Aktivitas Antioksidan dengan Radikal DPPH Uji aktivitas antioksidan dengan metode penangkapan radikal DPPH menggunakan parameter IC50. IC50 adalah ukuran efektivitas suatu senyawa murni atau senyawa dalam sediaan tertentu dalam menangkap 50% radikal DPPH sesuai operating time. Data absorbansi yang diperoleh baik itu seri konsentrasi mikroemulsi maupun standar akan dihitung % IC (Inhibition concentration percentage) melalui persamaan (4). Persamaan regresi linear selanjutnya menyatakan hubungan antara seri konsentrasi larutan zat aktif ataupun sampel mikroemulsi (x) dengan % IC (y) sebanyaj 3 kali replikasi sehingga diperoleh harga IC50. Persamaan regresi linier yang digunakan untuk menentukan IC50 adalah persamaan dengan nilai r terbaik (mendekati 1). Nilai r yang semakin baik menunjukkan koefisien korelasi yang baik dimana akan membentuk garis lurus. Persamaan regresi linier untuk ester vitamin C dapat dilihat pada Lampiran 18, persamaan regresi untuk vitamin E pada Lampiran 19, dan

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 persamaan regresi untuk campuran ester vitamin C dan vitamin E dapat dilihat pada lampiran 20. Persamaan regresi linier untuk formula V, VI, VII, VIII berturut-turut dapat dilihat pada Lampiran 22, 23, 24, dan 25. Tabel XV. IC50 Ester vitamin C, E, Campuran Ester vitamin C dan vitamin E serta Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Standar IC50 (mg/mL) ± SD Ester vitamin C 0,002 ± 0,00002 Vitamin E 0,079 ± 0,00004 Campuran Ester vitamin C 0,007 ± 0,00002 dan vitamin E Mikroemulsi Formula V Formula VI Formula VII Formula VIII IC50 (mg/mL) ± SD 0,012 ± 0,00006 0,019 ± 0,00006 0,022 ± 0,00001 0,040 ± 0,00002 Nilai IC50 campuran ester vitamin C dan E tanpa diformulasi serta setelah diformulasikan dalam bentuk mikroemulsi termasuk dalam kategori antioksidan sangat kuat karena berada dibawah 0,05 mg/mL menurut Prakash (2001). Peningkatan IC50 terjadi saat campuran ester vitamin C dan vitamin E tanpa diformulasi dengan saat setelah diformulasikan. Hal ini dikarenakan afinitas campuran ester vitamin C dan vitamin E pada sistem basis mikroemulsi lebih tinggi dibanding dengan pelarut etanol yang digunakan dalam analisis DPPH, sehingga pelepasan campuran ester vitamin C dan vitamin E dari sistem mikroemulsi ke pelarut etanol lebih sulit dibanding pelepasan campuran ester vitamin C dan vitamin E ke dalam pelarut etanol secara langsung, namun demikian IC50 sistem mikroemulsi tergolong sangat kuat menurut Prakash (2001).

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Persamaan regresi linear dan nilai IC50 basis mikroemulsi tidak bisa ditentukan karena % IC yang dihasilkan tidak mencapai 50% sehingga dapat disimpulkan basis mikroemulsi formula 5, 6, 7, dan 8 tidak memiliki aktivitas antioksidan. F. Uji Iritasi Menggunakan Metode HET-CAM Uji Iritasi primer ini menggunakan metode HET-CAM bertujuan untuk memastikan keamanan formula sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E yang dipengaruhi oleh perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80. Iritasi ditunjukkan dengan adanya permeabilitas dan perubahan vaskuler pembuluh darah setelah pemberian sediaan seperti terjadinya pendarahan (hemorrhage), lisis (lysis) dan koagulasi (coagulation) pada Chorioallantoic Membrane akibat adanya paparan sediaan selama 5 menit. Kontrol positif berupa NaOH 0,1 N dan kontrol negatif berupa NaCl 0,9% digunakan sebagai pembanding antara formula dan kontrol sehingga dapat diketahui sediaan mengiritasi CAM atau tidak. Kontrol positif NaOH 0,1 N bersifat sangat mengiritasi berdasarkan nilai Irritation Index karena dalam waktu 5 menit terjadi proses hemoragi, koagulasi dan lisis. NaOH 0,1 N secara teoritis memiliki sifat basa yang tidak sesuai dengan pH kulit dan dapat mengakibatkan timbulnya iritasi. Data hasil pengujian iritasi mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E formula I, II, III, IV ada pada tabel XVI.

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Tabel XVI. Data Hasil Pengujian Iritasi Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Perlakuan Irritation Indeks Keterangan Kontrol (-) 0±0 Tidak mengiritasi Kontrol (+) 15,563 ± 0,56 mengiritasi Formula V 0±0 Tidak mengiritasi Formula VI 0±0 Tidak mengiritasi Formula VII 0±0 Tidak mengiritasi Formula VIII 0±0 Tidak mengiritasi Berdasarkan data pada tabel XVI, keempat formula sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E yang dibuat tidak menimbulkan iritasi terlihat pada nilai Irritation Indeks.

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Dalam hal sifat fisik, variasi kombinasi surfaktan tween 80 dan span 80 tidak memberikan perubahan organoleptis (warna, bau, homogenitas dan kejernihan) tetapi menyebabkan penurunan ukuran droplet dan peningkatan persen transmitan, pH, viskositas serta indeks bias sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E. 2. Dalam hal stabilitas fisik, variasi kombinasi surfaktan tween 80 dan span 80 tidak mempengaruhi stabilitas fisik organoleptis, pH dan ukuran droplet tetapi mempengaruhi stabilitas persen transmitan dan viskositas pada formula 5 sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E. 3. Sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E memiliki aktivitas antioksidan yang termasuk dalam kategori sangat kuat dengan IC50 F5 0,012 mg/mL, F6 0,019 mg/mL, F7 0,022 mg/mL dan F8 0,040 mg/mL. 4. Sediaan mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E tidak bersifat iritatif (aman) pada kulit dengan irritation score 0. B. SARAN 1. Perlu dilakukan pengujian penetrasi mikroemulsi ester vitamin C dan vitamin E ke dalam kulit. 2. Perlu dilakukan pengujian antiaging secara in vivo seperti anti wrinkle test. 76

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Agoes, G., 2008, Pengembangan Sediaan Farmasi, ITB, Bandung, p. 706. Ali, S. M., and Yosipovitch G., 2013, Skin pH: From Basic Science to Basic Skin Care, Acta Derm Venereol, 93 (1), 261. Baran R., and Maibach H.I., 2003, Aging and Photo-aging, in Cunningham, W., (Eds.), Textbook of Cosmetic Dermatology, Second edition., McGraw Hill, New York, pp. 455-467. Barthelmes, G., Pratsinis, S. E., and Buggisch, H., 2003, Particle Size Distributions and Viscosity of Suspensions Undergoing Shear-induced Coagulation and Fragmentation, Chemical Engineering Science, 58 (1), 2893-2902. Basset, J. V., 1994, Kimia Analisis Kuatitatif Anorganik, Buku Kedokteran EGC, Jakarta, p. 68. Bhattacharjee, P. R., 2005, The Generalized Vektorial Laws of Reflection and Refraction, C. E. J. P., 26 (1), 901-911. Chavda, H., Patel, J., Chavada, G., Dave, S., Patel, A., and Patel, C., 2013, SelfNanoemulsifying Powder of Isotretinoin: Preparation and Characterization, Journal of Powder Technology, 2013 (1D), 5. Cho, Y. H., Kim, S., Bae, E. K., and Mok, C. K., 2008, Formulation of A Cosurfactant-Free O/W Microemulsion Using Nonionic Surfactant Mixtures, Int. J. Food Science., 73 (3), 115. Darole, P. S., Hegde, D. D., Nair, H. A., 2008, Formulation and Evaluation of Microemulsion Based Delivery System for Amphotericin B, AAPS PharmSciTech, 9(1), 123-124. Date, A. A., and M. S. Nagarsenker., 2008, Parenteral Microemulsion: An overview, Int. J. Pharmaceutic., 355 (1), 19-30. Dawaba, H. M., Abd-Allah, F. I., and Ahmed M. S., 2010, Development of A Microemulsion-based Formulation to Improve The Availability of Poorly Water-soluble Drug, Drug Discov. Ther., 4 (4), 257-266. Dehpour, A. A., Ebrahimzadeh, M. A., Fazel, N. S., and Mohammad, N. S., 2009, Antioxidant Activity of Methanol Extract of Ferula Assafoetida and Its Essential Oil Composition, Int. J. Fats and Oil, 60 (4), 405-412. 77

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Dominguez, R. M., and Borobio V., 2001, Application of a spcectrophotometric Method for The Determination of Post-antibiotic Effect and Comparison with Viable Counts in Agar, J. Antimicro. Chemo., 47 (4), 391-398. Dong, K. K., Damaghi, N., Picart, S. D., Markova, N. G., Obayashi, 2008, UVInduced DNA Damage Initiates Release of MMP-1 in Human Skin, Exp. Dermatol., 17 (12), 1037-1044. Evawati, D., 2010, Gizi Kecantikan Penghambat Proses Penuaan Dini, Wahana, 54 (1), 2-4. Firoz, A., Afzal, M., and Imran, K., 2012, Preparation and Evaluation of Antifungal Micro-Emulsion / Gel using reduce Dose of Silver, Supported by Ciprofloxacin, Indian Patent Journal, 2 (3), 75. Fisher, G. J., 2002, Mechanism of Photoaging and Chronological Aging, Arch. Derm, 138 (110), 1462-1470. Frei, B., 2004, Reactive Oxygen Species and Antioxidant Vitamins : Mechanisms of Action, Medicine Am J., 97 (3A) pp. 5S – 13S. Goncalves, G.M.S., Campos, M., and P.M.B.G., 2009, Shelf Life and Rheology of Emulsions Containing Vitamin C And Its Derivatives, J Basic and Apl Pharm Scienc., 30 (2), 217-224. Grimm, W., 1985, Storage Conditions for Stability Testing - Long Term Testing and stress tests, ICH, 28 (1), 196-202. Gulati R., Sharma, S., and Gupta V., 1998, Pharmacokinetics of Cyclosporin from Conventional and New Microemulsion Formulation in Healthy Volunteers, JAPI, 46(10), 860-863. Kasture, V., Kasture, S. B., Kendre, P. N., Ajage, R., Waman, N., 2014, Improved Release Oral Drug Delivery of Metaxalone, Int J Pharm, 4 (1), 417-424. Kato, H., Nakamura, A., Takashi, K., and Kinugasa, S., 2012, Accurate Size and Size-Distribution Determination of Polystyrene Latex Nanoparticles in Aqueous Medium Using Dynamic Light Scattering and Asymmetrical Flow Field Flow Fractionation with Multi-Angle Light Scattering, Nanomaterials Journal, 2 (1), 15-30. Kim, Cheng-ju., 2005, Advanced Pharmaceutics : Physicochemical Principles, CRC Press LLC, Florida, pp. 214-230.

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Jishage, K., Tachibe, T., Ito, T., Shibata, N., Suzuki, S., Mori, T., Hani, T., Arai, H., and Suzuki, H., 2005, Vitamin E is Essensial for Mouse Placentation but Not for Embryonic Development Itself, J. Bio. Reprod., 73 (1), 983987. Jufri, M., Anwar, E., dan Utami, P. M., 2006, Uji Stabilitas Sediaan Mikroemulsi Menggunakan Hidrolisat Pati (De 35–40) Sebagai Stabilizer, Majalah Ilmu Kefarmasian, 3 (1), 8-20. Kathryn, M., Jervis and Robaire, B., 2004, The Effects of Long-Term Vitamin E Treatment on Gene Expression and Oxidative Stress Damage in the Aging Brown Norway Rat Epididymis, J. Bio. Reprod., 71 (1) 10881095. Kumar, L., and Verma, R., 2010, In Vitro Evaluation Gel Prepared Using Natural Polymer, Int. J. Drug Delivery, 2 (1), 59. Kweon, J.H., Chi, S.C., dan Park, E.S., 2004. Transdermal Delivery of Diclofenac Using Microemulsions. Arch. Pharm. Res., 27 (1), 351-356. Lawrence, M. J., and Rees, G. D., 2000, Microemulsion-based Media as Novel Drug Delivery Systems, Adv. Drug Delivery Rev., 45 (1), 89-121. Liliana, M., 2007, Formulasi Solid Lipid Nanopartikel Dengan Vitamin E Asetat, Thesis, 46, ITB, Bandung. Linder, M. C., 1992, Biokimia Nutrisi dan Metabolisme, UI-Press, Jakarta, p. 205. Mahdi, E. S., Sakeena, M. HF., Abdulkarim, M. F., Abdulllah, G. Z., Sattar, M. A., and Noor, A. M., 2011, Effect of surfactant and surfactant blends on pseudoternary phase diagram behavior of newly synthesized palm kernel oil esters, Drug Design, Development and Therapy, 5 (1), 311–323. Martin, F., Swarbrick, J., dan Cammarata. J., 2008, Farmasi Fisik: Dasar-Dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu Farmasetika, Edisi Ketiga, Jilid 2, UI-Press, Jakarta, pp. 724, 725, 1077-1087. Melik, D. H., and Fogler, H. S., 1983, Turbidimetric Determination of Particle Size Distributions of Colloidal Systems, Journal of Colloid and Interface Science, 92 (1), 161-178. Meves, A., Stock, S. N., Beyerle, A., Pittlekow, M. R., and Peus, D., 2002, Ester vitamin C Derivative Ascorbyl Palmitate Promotes Ultraviolet-BInduced Lipid Peroxidation and Cytotoxicity in Keratinocytes, Invest. Derm. J., 119 (5), 1103-1108.

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Moghimipour, E., Salimi, A., Eftekhari, S., 2013, Design and Characterization of Microemulsion Systems for Naproxen, Advanced Pharmaceutical Bulletin, 3(1), 63-71. Molyneux, P., 2004, The Use Of The Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) For Estimating Antioxidant Activity, J. Sci. Technol., 26 (2), 211-219. Murdaka, B., Karyono., dan Supriyatin, 2010, Penyetaraan Nilai Viskositas terhadap Indeks Bias pada Zat Cair Bening, Jurnal Berkala Fisika, 13 (4), 119-124. O’Brien, R.D., and Farr, W. E., 2000, Properties of Fats and Oils, in Wan, P. J., (Eds.), Introduction to Fats and Oils Technology, 2nd ed, AOCS Press, Illnois. Pinnell, S, R., 2003, Cutaneous Photo Damage, Oxidative Stress, and Topical AntiOxidant Protection, J. Am. Acad Dermatol, 48 (1), 1-12. Pourmorad, F., Hosseinimehr, S. J., and Shahabimajd, N., 2006, Antioxidant Activity, Phenol And Flavonoid Contents Of Some Selected Iranian Medicinal Plants, Afr J. Biotechnology, 5 (11), 1142-1145. Prakash, A., 2001, Antioxidant Activity, Medallion Laboratories-Analytical Progress,19 (2), 1-4. Radomska, A.S., and Wojciechowska, J., 2005, Microemulsion as Potential Ocular Drugs Delivery Systems: Phase Diagram and Physical Properties Depending on Ingredient, Acta Pol. Pharm, 62 (1), 465-471. Rajaram, S., and Natham R., 2013, Influence of Formulation and Process Variables on the Formation of Rifampicin Nanoparticles by Ionic Gelation Technique, RJPBCS., 4 (4), 829-830. Roth, H. J.,and Gottfried B., 1988, Analisis Farmasi, UGM-Press, Yogyakarta, pp. 466-468. Rowe, R. C., Sheskey, P. J., and Quinn, M. E., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients, 6thEdition, Pharmaceutical Press, London, pp. 31-32, 378-379, 441-442, 592-593, 596, 597, 676-678, 697-698, 721722, 754-755. Rozman, B., Znovar, A., Falson, F., and Gasperlin, M., 2009, TemperatureSensitive Microemulsion Gel: An Effective Topical Delivery System for Simultaneous Delivery of Vitamins C and E, J. PharmSci. Tech., 10 (1), 55.

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Rozman, B., and Gasperlin, M., 2007, Stability of Vitamins C and E in Topical Microemulsions for Combined Antioxidant Therapy, J. PharmSci. Tech., 14 (4), 235-245. Rozman, B., Gasperlin, M., Falson, F., Gosenca, M., and Padois, K., Dual Influence of Colloidal Silica on Skin Deposition of vitamins C and E Simultaneously Incorporated in Topical Microemulsions, J. PharmSci. Tech, 36 (7), 852. Samsi, K. M., Phangkawira, E., dan Yang, S. J., 2009, Hubungan Berat Molekul dengan Ukuran Molekul Koloid yang Lazim Digunakan dalam Resusitasi Sindrom Syok Dengue, Jurnal Sari Pediatri, 10 (6), 386-390. Santoso, S., 2010, Statistik Parametrik, PT. Gramedia, Jakarta, pp. 103-104. Saputra, A. S., Haryono, A., Laksmono, J. A., and Anshari, M. H., Preparasi Koloid Nanosilver Dengan Berbagai Jenis Reduktor Sebagai Bahan Anti Bakteri, Indonesian Journal ofMaterials Science, 12 (3), 202-208. Sharma, S., 2008, Topical drug delivery system, Int. Pharmaceutic. Rev., 6 (5), 129. Sinko, P., 2011, Martin’s Physical Pharmacy and Pharmaceutical ciences, 6th edition, Lippincot Williams & Wilkins, China, pp. 355-367, 469-473. Swarbrick, J., 2007, Encyclopedia of Pharmaceutical Technology, 3rd Edition, Informa Healthcare, New York, pp. 1561-1564. Soepardiman, L., 2003, Etiopatogenesis Kulit Menua, Dalam : Wasitaatmadja S. M., Menaldi S. L., editor., Peremajaan Kulit, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, pp. 1-9. Surabhi, K., Atul, N., and Arun, G., 2010, Microemulsions: Developmental aspects, JPBMS, 1 (4), 695, 697, 698. Tavaszi, J., and Budai, P., 2007, The use of HET-CAM test in detecting the ocular irritation, Commun. Agric. Appl. Biol. Sci., 72 (2), 137–141. Taylor, M. S., 2011, Stabilisation of Water-in-Oil Emulsions to Improve the Emollient Properties of Lipstick, Dissertation, 65-67, Universitas Birmingham, Inggris.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Thakkar, H., Nangesh, J., Parmar, M., and Patel, D., Formulation and characterization of lipid-based drug delivery system of raloxifene microemulsion and self-microemulsifying drug delivery system, J Pharm Bioallied Sci., 3 (3), 442-448. Volker, A., 2009, Dynamic Light Scattering: Measuring the Particle Size Distribution, http://www.lsinstruments.ch/technology/dynamic_light_scattering_dls/, diakses tanggal 13 Mei 2014. Weisberg E., 2002, Antioxidants, in Bauman, L., (Eds.), Cosmetic dermatology principles and practic, Mc GrawHill, New York, pp. 105-116. Yenti, R., Afrianti, R., dan Afriani, L., 2011, Formulasi Krim Ekstrak Etanol Daun Kirinyuh (Euphatorium odoratum. L) untuk Penyembuhan Luka, Majalah Kesehatan PharmaMedika, 3 (1), 228.

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 83

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Lampiran 1. Certificate of Analysis (CoA) ester vitamin C (Askorbil palmitat)

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Lampiran 2. Certificate of Analysis (CoA) vitamin E (alfa tokoferol)

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Lampiran 3. Certificate of Analysis (CoA) sunflower oil

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Lampiran 4. Certificate of Analysis (CoA) tween 80

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Lampiran 5. Certificate of Analysis (CoA) span 80

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Lampiran 6. Data Penimbangan Formula Orientasi Bahan (g) I Sunflower oil Tween 80 Span 80 Ester vitamin C Vitamin E Akuades II 20 35 35 0,4 1 10 III 20 46,9 23,1 0,4 1 10 20 52,5 17,5 0,4 1 10 IV 20 56 14 0,4 1 10 Formula V VI 20 20 59,99 61,25 10,01 8,75 0,4 0,4 1 1 10 10 VII 20 62,23 7,77 0,4 1 10 VIII 20 63 7 0,4 1 10 Lampiran 7. Data Hasil Organoleptis Orientasi Formula Kriteria 1 (1:1) Warna Bau Homogenitas Kejernihan Warna Bau Homogenitas Kejernihan Warna Bau Homogenitas Kejernihan Warna Bau Homogenitas Kejernihan Warna Bau Homogenitas Kejernihan Warna Bau Homogenitas Kejernihan Warna Bau Homogenitas Kejernihan Warna Bau Homogenitas Kejernihan 1 (2:1) 2 (3:1) 3 (4:1) 4 (5:1) 5 (6:1) 6 (7:1) 7 (8:1) Hasil organoleptis Sebelum Cycling test dan uji sentrifugasi Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat jernih Hasil organoleptis Sesudah Cycling test dan uji sentrifugasi Terjadi pemisahan menjadi 2 fase yaitu fase minyak dan air Terjadi pemisahan menjadi 2 fase yaitu fase minyak dan air Terjadi pemisahan menjadi 2 fase yaitu fase minyak dan air Terjadi pemisahan menjadi 2 fase yaitu fase minyak dan air Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat jernih

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Lampiran 8. Data Pengamatan HLB Contoh perhitungan HLB : HLB =[ x 15] +[ x 15] +[ =[ ] ] = 13,47 Tabel XVII. Data HLB Kombinasi SurfaktanTween 80 dan Span 80 Setiap Formula Mikroemulsi Formula HLB 1 (5:1) 13,47 2 (6:1) 13,742 3 (7:1) 13,898 4 (8:1) 13,93 Lampiran 9. Organoleptis Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Formula 5:1 6:1 7:1 8:1 Pemeriksaan Warna Bau Homogenitas Kejernihan Siklus 0 Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih Siklus Freeze thaw Siklus 1 Siklus 2 Kuning terang Kuning terang Tidak berbau Tidak berbau Homogen Homogen Sangat Jernih Sangat Jernih Warna Bau Homogenitas Kejernihan Warna Bau Homogenitas Kejernihan Warna Bau Homogenitas Kejernihan Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih Keterangan : Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih : penyimpanan sediaan selama 24 jam setelah pembuatan : penyimpanan selama 48 jam pada hari kedua dan ketiga : penyimpanan selama 48 jam pada hari keempat dan kelima : penyimpanan selama 48 jam pada hari keenam dan ketujuh Siklus 3 Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih Kuning terang Tidak berbau Homogen Sangat Jernih

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Lampiran 10. Data Pengukuran pH Kombinasi Surfaktan, Basis Mikroemulsi dan Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Tween 80 : Span 80 5:1 6:1 7:1 8:1 6,65 6,64 6,62 6,64 ± 0,02 6,71 6,72 6,70 6,71± 0,01 6,82 6,80 6,79 6,80 ± 0,02 6,89 6,87 6,88 6,88 ± 0,01 Formula 5:1 7,56 7,54 7,59 7,56 ± 0,03 6:1 7,71 7,70 7,73 7.71 ± 0,02 7:1 7,78 7,80 7,81 7,8 ± 0,02 8:1 7,86 7,88 7,89 7,88 ± 0,02 Formula/ Siklus 5:1 5,65 5,64 5,66 5,65 ± 0,01 5,65 5,66 5,67 5,66 ± 0,01 5,66 5,67 5,68 5.67 ± 0,01 5,67 5,69 5,68 5,68 ± 0,01 6:1 5,69 5,70 5,72 5,70 ± 0,02 5,69 5,71 5,72 5,71 ± 0,02 5,70 5,71 5,72 5,71 ± 0,01 5,70 5,71 5,72 5,71 ± 0,01 7:1 5,78 5,80 5,79 5,79 ± 0,01 5,78 5,80 5,81 5.8 ± 0,02 5.79 5.80 5.81 5,8 ± 0,01 5.79 5.81 5.82 5,81 ± 0,02 8:1 5,86 5,85 5,89 5,87 ± 0,02 5,87 5,85 5,89 5,87 ± 0,02 5.87 5.86 5.89 5,87 ± 0,02 5.88 5.86 5.90 5,88 ± 0,02 Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Keterangan : 5:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 5:1 6:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 6:1 7:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 7:1 8:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 8:1

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Lampiran 11. Data Pengukuran Viskositas (cP) Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Formula/ Siklus Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 5:1 439,9 439,4 438,8 439,37 ± 0,55 440,5 441,1 441,5 441,03 ± 0,50 442,6 441,9 442,3 442,27 ± 0,35 443,7 442,8 443,5 443,33 ± 0,47 6:1 440,1 440,2 439,8 440,03 ± 0,21 440,4 440,2 439,9 440,17 ± 0,25 440,4 440,3 440,0 440,23 ± 0,21 440,8 440,5 440,2 440,5 ± 0,3 7:1 441,6 442,1 441 441,57 ± 0,55 441,7 442,4 441,1 441,73 ± 0,65 441,8 442,4 441,1 441,77 ± 0,65 441,9 442,7 441,3 441,97 ± 0,70 8:1 442,7 442,1 441,8 442,2 ± 0,46 442,8 442,1 441,9 442,27 ± 0,47 442,9 442,2 441,9 442,33 ± 0,51 442,9 442,3 442,2 442,47 ± 0,38 Keterangan : 5:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 5:1 6:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 6:1 7:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 7:1 8:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 8:1

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Lampiran 12. Data Pengukuran Persen Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Formula/Siklus Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 5:1 98,9 98,7 98,5 98,7 ± 0,2 98,8 98,7 98,4 98,63 ± 0,21 98,7 98,6 98,4 98,57 ± 0,15 98,7 98,5 98,2 98,47 ± 0,25 6:1 99,2 99,3 99,1 99,2 ± 0,1 99,2 99,3 99,0 99,17 ± 0,15 99,1 99,3 99,0 99,13 ± 0,15 99,0 99,3 98,9 99,07 ± 0,21 Transmitan (%) Sediaan 7:1 99,7 99,6 99,5 99,6 ± 0,1 99,7 99,5 99,4 99,53 ± 0,15 99,6 99,5 99,3 99,47 ± 0,15 99,6 99,4 99,2 99,4 ± 0,2 8:1 100 99,8 99,9 99,9 ± 0,1 99,9 99,8 99,7 99,8 ± 0,1 99,9 99,7 99,6 99,73 ± 0,15 99,9 99,6 99,5 99,67 ± 0,21 Keterangan : 5:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 5:1 6:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 6:1 7:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 7:1 8:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 8:1 Lampiran 13. Data Pengukuran Indeks bias Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Formula 5:1 1,452 1,455 1,454 1,454 ± 0,002 6:1 1,456 1,458 1,459 1,458 ± 0,002 7:1 1,460 1,463 1,462 1,462 ± 0,002 8:1 1,464 1,466 1,465 1,465± 0,001 Keterangan : 5:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 5:1 6:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 6:1 7:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 7:1 8:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 8:1

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Lampiran 14. Data Pengamatan Ukuran droplet Formula / Siklus 5:1 Siklus 0 24,5 23,1 23,9 23,83 ± 0,70 8:1 11,5 12,6 13,4 12,5 ± 0,95 24,6 23,9 24,2 24,23 ± 0,35 11,8 12,8 13,5 12,7 ± 0,85 Siklus 3 Keterangan : 5:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 5:1 8:1 : Sediaan mikroemulsi dengan komposisi surfaktan 70% dan perbandingan campuran surfaktan tween 80 dan span 80 8:1 Lampiran 15. Perhitungan Statistik Sifat Fisik Viskositas, pH, Persen Transmitan dan Ukuran droplet (24 Jam) Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Menggunakan Program R 3.0.2 open source Contoh uji statistik data viskositas 1. Uji normalitas Keterangan : Formula 5, 2, 3, dan 4 memiliki P-Value > 0,05 menunjukan data terdistribusi normal.

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 2. Uji Variansi Data (Levene’s Test) Keterangan : Variansi data viskositas 24 jam memiliki P-Value > 0,05 menunjukan data homogeny 3. Hasil Uji ANOVA Keterangan : Uji ANOVA (viskositas) memiliki P-Value < 0,05 menunjukan data berbeda bermakna secara statistik. 4. Hasil Uji Tukey HSD Keterangan : Uji TukeyHSD memiliki p-value < 0,05 menunjukan data berbeda bermakna dan p-value > 0,05 menunjukkan data berbeda tidak bermakna. Tabel XVIII. Uji Statistik Sifat Fisik pH, Persen Transmitan, Ukuran droplet dan nilai IC50 Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 1. Uji Normalitas Data Formula Hasil uji Hasil uji Persen Hasil Uji Hasil uji nilai pH Transmitan Ukuran droplet IC50 1 1 1 0.8428 0.2983 2 0,6369 1 0.2983 3 1 1 0.6369 4 0,4633 1 0.6369 0.6369

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Keterangan: Formula 5, 2, 3 dan 4 uji Ph dan persen transmitan memiliki P-Value > 0,05 menunjukan data terdistribusi normal. Uji ukuran droplet yang dilakukan hanya pada formula awal (formula 5) dan formula akhir (formula 8). Pada formula 5 dan 4 memiliki P-Value > 0,05 menunjukan data terdistribusi normal. 2. Uji Variansi Data (Levene’s Test) Keterangan Hasil Uji Ph 0,8209 Uji persen transmitan 0,6495 Uji Ukuran droplet 0.2122 0.6211 Uji nilai IC50 Keterangan: Variansi uji pH, persen transmitan, ukuran droplet dan nilai IC50 memiliki P-Value > 0,05 menunjukan data homogen 3. Hasil Uji ANOVA Keterangan Hasil Uji pH 4,46e-07 *** Uji persen transmitan 2,12e-05 *** Uji Ukuran droplet 5.42e-05 *** < 2e-16 *** Uji nilai IC50 Keterangan: Pada Uji ANOVA, jika data memiliki P-Value < 0,05 menunjukan data berbeda bermakna secara statistic 4. Hasil Uji Tukey HSD Kelompok Komparasi Hasil uji pH Formula 5 vs Formula 6 0,0093641 Formula 5 vs Formula 7 0,0000126 Formula 5 vs Formula 8 0,0000004 Formula 6 vs Formula 7 0,0004183 Formula 6 vs Formula 8 0,0000039 Formula 7 vs Formula 8 0,0009678 Hasil uji persen transmitan 0,0073316 0,0001503 0,0000180 0,0249062 0,0008701 0,0910796 Hasil Uji Ukuran droplet 6.13e-05 - Hasil uji nilai IC50 0 0 0 0 0 0 Keterangan: P<0,05 (Berbeda Bermakna); P>0,05 (Berbeda Tidak Bermakna). Uji ukuran droplet yang dilakukan hanya pada formula awal (formula 5) dan formula akhir (formula 8), sehingga uji TukeyHSD yang dilakukan hanya Formula 5 vs Formula 8.

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Lampiran 16. Data Stabilitas pH, Viskositas, Persen Transmitan dan Ukuran droplet Sediaan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E Contoh uji statistik 1. Uji normalitas Keterangan: data pH siklus 0, 1, 2, dan 3 memiliki P-Value > 0,05 menunjukan data terdistribusi normal. 2. Uji t-test

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 Keterangan: Siklus 0 : penyimpanan sediaan selama 24 jam setelah pembuatan Siklus 1 : penyimpanan selama 48 jam pada hari kedua dan ketiga Siklus 2 : penyimpanan selama 48 jam pada hari keempat dan kelima Siklus 3 : penyimpanan selama 48 jam pada hari keenam dan ketujuh Stabilitas pH formula 5 memiliki P-Value > 0,05 menunjukan data tidak berbeda bermakna secara statistik. Jika terdapat data dengan P-Value > 0,05 menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik. Tabel XIX. Uji Statistik Stabilitas pH, Viskositas, Persen Transmitan dan Ukuran droplet Sediaan Mikroemulsi a. Stabilitas uji pH 1. Uji Normalitas Data Siklus Penyimpanan Formula Formula Formula Formula 5 6 7 4 Siklus 0 1 0,6369 1 0,4633 Siklus 1 0,6369 0,6369 0,6369 1 Siklus 2 0,6369 1 1 0,6369 Siklus 3 1 0,6369 0,6369 1 Keterangan: Stabilitas pH formula 5, 2, 3 dan 4 memiliki P-Value > 0,05 menunjukan data terdistribusi normal. 2. Uji t-test Kelompok Komparasi Formula Formula Formula Formula 5 6 7 4 Siklus 0 vs siklus 1 0,4226 0,4226 0,4226 0,4226 Siklus 0 vs siklus 2 0,1835 0,1835 0,2254 0,1835 Siklus 0 vs siklus 3 0,2254 0,05719 0,1296 0,05719 Siklus 1 vs siklus 2 0,4226 0,4226 0,4226 0,4226 Siklus 2 vs siklus 3 0,4226 0,1835 0,1835 0,1835 Keterangan: P<0,05 (Berbeda Bermakna); P>0,05 (Berbeda Tidak Bermakna)

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 b. Stabilitas uji viskositas 1. Uji Normalitas Data Siklus Penyimpanan Formula Formula Formula Formula 5 6 7 4 Siklus 0 0,8999 0,4633 0,8999 0,6369 Siklus 1 0,7804 0,7804 0,9152 0,4072 Siklus 2 0,8428 0,4633 0,9152 0,5665 Siklus 3 0,4072 1 0,8428 0,253 Keterangan: Stabilitas pH formula 5, 2, 3 dan 4 memiliki P-Value > 0,05 menunjukan data terdistribusi normal. 2. Uji t-test Kelompok Komparasi Formula Formula Formula Formula 5 6 7 4 Siklus 0 vs siklus 1 0,1108 0,2697 0,1296 0,1835 Siklus 0 vs siklus 2 0,01092 0,07418 0,07418 0,05719 Siklus 0 vs siklus 3 0,009262 0,06038 0,05719 0,05719 Siklus 1 vs siklus 2 0,1045 0,1835 0,4226 0,2697 Siklus 2 vs siklus 3 0,006767 0,05719 0,07418 0,1835 Keterangan: P<0,05 (Berbeda Bermakna); P>0,05 (Berbeda Tidak Bermakna) c. Stabilitas uji persen transmitan 1. Uji Normalitas Data Siklus Penyimpanan Formula Formula Formula Formula 5 6 7 4 Siklus 0 1 1 1 1 Siklus 1 0,4633 1 0,6369 1 Siklus 2 0,6369 1 0,6369 1 Siklus 3 0,7804 1 1 0,6369 Keterangan: Stabilitas pH formula 5, 2, 3 dan 4 memiliki P-Value > 0,05 menunjukan data terdistribusi normal. 2. Uji t-test Kelompok Komparasi Formula Formula Formula Formula 5 6 7 4 Siklus 0 vs siklus 1 0,1835 0,4226 0,1835 0,2359 Siklus 0 vs siklus 2 0,05719 0,1835 0,05719 0,2434 Siklus 0 vs siklus 3 0,0198 0,1835 0,07418 0,2532 Siklus 1 vs siklus 2 0,1835 0,4226 0,1835 0,1835 Siklus 2 vs siklus 3 0,2254 0,1835 0,1835 0,1835 Keterangan: P<0,05 (Berbeda Bermakna); P>0,05 (Berbeda Tidak Bermakna) d. Stabilitas uji ukuran droplet 1. Uji Normalitas Data Siklus Penyimpanan Formula Formula 5 4 Siklus 0 0.8428 0.6369 Siklus 3 0.8428 0.3631 Keterangan: Stabilitas pH formula 5, 2, 3 dan 4 memiliki P-Value > 0,05 menunjukan data terdistribusi normal.

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 2. Uji t-test Kelompok Komparasi Formula Formula 5 4 Siklus 0 vs siklus 3 0.07637 0.148 Keterangan: P<0,05 (Berbeda Bermakna); P>0,05 (Berbeda Tidak Bermakna) Lampiran 17. Data Penimbangan Ester vitamin C, E, Campuran C dan E sebagai standar Bahan (g) DPPH Ester vitamin C Vitamin E Ester vitamin C dan vitamin E I 0,0158 0,0010 0,0500 0,0140 Replikasi II 0,0158 0,0010 0,0500 0,0140 III 0,0158 0,0010 0,0500 0,0140 Lampiran 18. Data Perhitungan DPPH, konsentrasi stok ester vitamin C, seri konsentrasi ester vitamin C, Data Absorbansi Ester vitamin C, % IC dan IC 50 ester vitamin C sebagai standar 1. Konsentrasi Larutan DPPH = = 0,158 mg/mL 1.1. Konsentrasi pengenceran larutan DPPH untuk dilakukan scanning panjang gelombang maksimum Contoh perhitungan : C1 . V1 = C2 . V2 0,158 mg/mL . 0,5 mL = C2 . 10 mL C2 = 0,0079 mg/mL Jumlah mL yang diambil 0,5 mL 1 mL 1,5 mL Konsentrasi 0,0079 mg/mL 0,0158 mg/mL 0,0237 mg/mL

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 1.2.Konsentrasi 0,0079 mg/mL 0,481 1.3.Konsentrasi 0,0158 mg/mL 0,720

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 1.4.Konsentrasi 0,0237 mg/mL 1,017 1.5.Rata-rata λ maksimum yang digunakan Rata-rata λ maksimum = = 517 nm 2. Konsentrasi Stok Ester vitamin C = = 0,02 mg/mL 3. Pengenceran larutan stok Contoh perhitungan : C1 . V1 = C2 . V2 0,02 mg/mL . 5 mL = C2 . 10 mL C2 = 0,01 mg/mL Replikasi I II III Konsentrasi Stok Ester vitamin C 0,01mg/mL 0,01 mg/mL 0,01 mg/mL 4. Seri konsentrasi larutan ester vitamin C Contoh perhitungan : C1 . V1 = C2 . V2 0,01 mg/mL . 0,5 mL = C2 . 10 mL C2 = 0,0005 mg/mL

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Jumlah mL yang diambil 0,5mL 1 mL 1,5 mL 2 mL 2,5 mL Seri konsentrasi 1 2 3 4 5 Konsentrasi 0,0005 mg/mL 0,001 mg/mL 0,0015 mg/mL 0,002 mg/mL 0,0025 mg/mL 5. Data Operating time Waktu (menit) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 I 0,369 0,373 0,372 0,372 0,373 0,372 0,372 0,372 0,372 0,372 0,372 0,371 Replikasi II 0,354 0,350 0,349 0,348 0,347 0,347 0,347 0,346 0,346 0,345 0,345 0,344 III 0,341 0,339 0,337 0,336 0,336 0,336 0,336 0,335 0,335 0,334 0,333 0,333 0,355 ± 0,01 0,354 ± 0,01 0,353± 0,01 0,352± 0,01 0,352± 0,02 0,352± 0,02 0,352± 0,02 0,351± 0,02 0,351± 0,02 0,350± 0,02 0,350± 0,02 0,349± 0,02 Rentang Operating time yang dipilih adalah 30-35 menit 6. Data absorbansi seri konsentrasi larutan ester vitamin C dengan 3 kali replikasi Seri Konsentrasi/ Replikasi I II III 0,0005 mg/mL 0,001 mg/mL 0,0015 mg/mL 0,002 mg/mL 0,0025 mg/mL 0,533 0,533 0,532 0,462 0,462 0,461 0,406 0,405 0,409 0,335 0,335 0,336 0,257 0,257 0,256 0,533 ± 0,000577 0,462 ± 0,000577 0,407 ± 0,002082 0,335 ± 0,000577 0,257 ± 0,000577 Absorbansi Kontrol = 0,568 7. % IC pada seri konsentrasi ester vitamin C menggunakan persamaan (4) Contoh perhitungan : x 100% = x 100% = 54,75 %

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Replikasi / Seri Konsentrasi 0,0005 mg/mL 0,001 mg/mL 0,0015 mg/mL 0,002 mg/mL 0,0025 mg/mL I II III 6,16 % 18,69 % 28,52 % 41,02 % 54,75 % 6,16 % 18,69 % 28,7 % 41,02 % 54,75 % 6,34 % 18,84 % 27,99 % 40,85 % 54,93 % SD 6,22 % ± 0,103 18,74 % ± 0,009 28,40 % ± 0,369 40,96 % ± 0,098 54,81 % ± 0,104 8. Persamaan Regresi % IC untuk mendapatkan nilai IC50 y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi Persamaan Regresi I y = 23902 x – 6,025 50 = 23902 x – 6,025 x = 0,002344 mg/mL II y = 23902 x – 5,989 50 = 23902 x – 5,989 x = 0,002342 mg/mL III y = 23838 x – 5,967 50 = 23838 x – 5,967 x = 0,002348 mg/mL 0, 002345 mg/mL ± 0,0000164 Lampiran 19. Data Perhitungan DPPH, konsentrasi stok vitamin E, seri konsentrasi vitamin E, Data Absorbansi Vitamin E, % IC dan IC 50 vitamin E sebagai standar 1. Konsentrasi Larutan DPPH = = 0,158 mg/mL 1.1. Konsentrasi pengenceran larutan DPPH untuk dilakukan scanning panjang gelombang maksimum Contoh perhitungan : C1 . V1 = C2 . V2 0,158 mg/mL . 0,5 mL = C2 . 10 mL C2 = 0,0079 mg/mL Jumlah mL yang diambil 0,5 mL 1 mL 1,5 mL Konsentrasi 0,0079 mg/mL 0,0158 mg/mL 0,0237 mg/mL

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 1.2.Konsentrasi 0,0079 mg/mL 0,481 1.3.Konsentrasi 0,0158 mg/mL 0,720

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 1.4.Konsentrasi 0,0237 mg/mL 1,017 1.5.Rata-rata λ maksimum yang digunakan Rata-rata λ maksimum = = 517 nm 2. Konsentrasi Stok Vitamin E = 1 mg/mL 3. Seri konsentrasi larutan vitamin E Contoh perhitungan : C1 . V1 = C2 . V2 1 mg/mL . 0,2 mL = C2 . 10 mL C2 = 0,02 mg/mL Jumlah mL yang diambil 0,2 mL 0,4 mL 0,6 mL 0,8 mL 1 mL Seri konsentrasi 1 2 3 4 5 Konsentrasi 0,02 mg/mL 0,04 mg/mL 0,06 mg/mL 0,08 mg/mL 0,1 mg/mL

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 4. Data Operating time Waktu (menit) I 0,506 0,477 0,458 0,458 0,450 0,447 0,440 0,438 0,436 0,434 0,433 0,432 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi II 0,473 0,470 0,468 0,465 0,462 0,460 0,458 0, 455 0,453 0,453 0,453 0,453 III 0,451 0,448 0,445 0,442 0,439 0,434 0,431 0,429 0,428 0,427 0,426 0,426 0,477 ± 0,02 0,465± 0,01 0,457± 0,01 0,455± 0,01 0,450± 0,01 0,447± 0,01 0,443± 0,01 0,441± 0,01 0,439± 0,01 0,438± 0,01 0,437± 0,01 0,437± 0,01 Rentang Operating time yang dipilih adalah 50-60 menit 5. Data absorbansi seri konsentrasi larutan vitamin E dengan 3 kali replikasi Seri Konsentrasi/ Replikasi I II III 0,02 mg/mL 0,04 mg/mL 0,06 mg/mL 0,08 mg/mL 0,1 mg/mL 0,627 0,627 0,627 0,627 ± 0 0,524 0,524 0,523 0,524 ± 0 0,464 0,463 0,463 0,463 ± 0,000577 0,327 0,327 0,327 0,327 ± 0 0,270 0,270 0,270 0,270 ± 0 Absorbansi Kontrol = 0,704 6. % IC pada seri konsentrasi vitamin E menggunakan persamaan (4) Contoh perhitungan : x 100% = Replikasi / Seri Konsentrasi 0,02 mg/mL 0,04 mg/mL 0,06 mg/mL 0,08 mg/mL 0,1 mg/mL x 100% = 10,94 % I II III 10,94 % 25,57 % 34,09 % 53,55 % 61,65 % 10,94 % 25,57 % 34,23 % 53,55 % 61,65 % 10,94 % 25,71 % 34,23 % 53,55 % 61,65 % SD 10,94 % ± 0 25,62 % ± 0,08 34,18 % ± 0,08 53,55 % ± 0 61,65 % ± 0

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 7. Persamaan Regresi % IC untuk mendapatkan nilai IC50 y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi Persamaan Regresi I y = 647 x – 1,66 50 = 647 x – 1,66 x = 0,07985 mg/mL II y = 647 x – 1,632 50 = 647 x – 1,632 x = 0,07980 mg/mL III y = 646,3 x – 1,562 50 = 646,3 x – 1,562 x = 0,07978 mg/mL 0, 07981 mg/mL ± 0,0000361 Lampiran 20. Data Perhitungan DPPH, konsentrasi stok campuran ester vitamin C dan vitamin E, seri konsentrasi campuran ester vitamin C dan vitamin E, Data Absorbansi Ester vitamin C dan vitamin E, % IC dan IC 50 ester vitamin C dan vitamin E sebagai standar 1. Konsentrasi Larutan DPPH = = 0,158 mg/mL 1.1. Konsentrasi pengenceran larutan DPPH untuk dilakukan scanning panjang gelombang maksimum Jumlah mL yang diambil 0,5 mL 1 mL 1,5 mL Konsentrasi 0,0079 mg/mL 0,0158 mg/mL 0,0237 mg/mL Scanning λ maksimum larutan DPPH 0,158 mg/mL : 1.2.Konsentrasi 0,0079 mg/mL 0,367

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 1.3.Konsentrasi 0,0158 mg/mL 0,613 1.4.Konsentrasi 0,0237 mg/mL 0,859

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 1.5.Perhitungan rata-rata λ maksimum yang digunakan Rata-rata λ maksimum = = 517 nm 2. Konsentrasi Stok campuran ester vitamin C dan vitamin E = = 0,14 mg/mL 3. Pengenceran larutan stok Contoh perhitungan : C1 . V1 = C2 . V2 0,14 mg/mL . 2,5 mL = C2 . 25 mL C2 = 0,014 mg/mL Replikasi I II III Perhitungan Pengenceran Konsentrasi Stok Campuran Ester vitamin C dan vitamin E 0,014 mg/mL 0,014 mg/mL 0,014 mg/mL 4. Pembuatan seri konsentrasi larutan campuran ester vitamin C dan vitamin E Jumlah mL yang diambil 1 mL 2 mL 3 mL 4 mL 5 mL 6 mL Seri konsentrasi 1 2 3 4 5 6 5. Data Operating time Waktu (menit) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 I 0,372 0,372 0,371 0,371 0,371 0,371 0,371 0,371 0,371 0,370 0,370 0,370 Replikasi II 0,361 0,359 0,359 0,359 0,359 0,358 0,356 0,356 0,355 0,354 0,354 0,353 Konsentrasi 0,0014 mg/mL 0,0028 mg/mL 0,0042 mg/mL 0,0056 mg/mL 0,007 mg/mL 0,0084 mg/mL III 0,353 0,351 0,350 0,349 0,348 0,347 0,345 0,340 0,338 0,335 0,334 0,332 0,362± 0,01 0,361± 0,01 0,360± 0,01 0,360± 0,01 0,359± 0,01 0,359± 0,01 0,357± 0,01 0,356± 0,01 0,355± 0,01 0,353± 0,01 0,353± 0,01 0,352± 0,02

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 Rentang Operating time yang dipilih adalah 15-25 menit. 6. Data absorbansi seri konsentrasi larutan campuran ester vitamin C dan vitamin E dengan 3 kali replikasi Seri Konsentrasi/ Replikasi I II III 0,0014 mg/mL 0,0028 mg/mL 0,0042 mg/mL 0,0056 mg/mL 0,007 mg/mL 0,0084 mg/mL 0,531 0,534 0,540 0,512 0,512 0,512 0,437 0,438 0,438 0,390 0,390 0,389 0,312 0,312 0,312 0,226 0,225 0,224 0,535 ± 0,004583 0,512 ± 0 0,438 ± 0,000577 0,340 ± 0,000577 0,312 ± 0 0,225 ± 0,001 Absorbansi Kontrol = 0,606 7. % IC pada seri konsentrasi larutan campuran ester vitamin C dan vitamin E menggunakan persamaan (4) Replikasi / Seri Konsentrasi 0,0014 mg/mL 0,0028 mg/mL 0,0042 mg/mL 0,0056 mg/mL 0,007 mg/mL 0,0084 mg/mL I II III 12,38 % 15,51 % 27,89 % 35,64 % 48,51 % 62,71 % 11,88 % 15,51 % 27,72 % 35,64 % 48,51 % 62,87 % 10,89 % 15,51 % 27,72 % 35,81 % 48,51 % 63,04 % SD 11,72 % ± 0,758 15,52 % ± 0 27,78 % ± 0,098 35,7 % ± 0,098 48,51 % ± 0 62,87 % ± 0,165 8. Persamaan Regresi % IC untuk mendapatkan nilai IC50 y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi Persamaan Regresi I y = 7314,286 x – 2,067 50 = 7314,286 x – 2,067 x = 0,007119 mg/mL II y = 7385,102 x – 2,499 50 = 7385,102 x – 2,499 x = 0,007109 mg/mL III y = 7506,939 x – 3,204 50 = 7506,939 x – 3,204 x = 0,007087 mg/mL 0,007105 mg/mL ± 0,0000164

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 Lampiran 21. Uji Statistik Standar Ester vitamin C, E dan campuran Ester vitamin C dan vitamin E 1. Uji Normalitas data IC50 Standar p-value Ester vitamin C 0.6369 Vitamin E 0.5367 Ester vitamin C dan 0.5928 vitamin E Keterangan: Standar ester vitamin C, vitamin E dan campuran ester vitamin C dan vitamin E memiliki P-Value > 0,05 menunjukan data terdistribusi normal 2. Uji Variansi Data (Levene’s Test) Keterangan Hasil 0,8209 Uji nilai IC50 Keterangan: Variansi uji nilai IC50 memiliki P-Value > 0,05 menunjukan data homogen 3. Uji t-test tidak berpasangan Kelompok Komparasi Ester vitamin C vs vitamin E Ester vitamin C vs campuran ester vitamin C dan vitamin E Vitamin E vs campuran ester vitamin C dan vitamin E p-value 1.584e-14 4.993e-11 1 Keterangan: H0 = ester vitamin C memiliki IC50 lebih besar dari vitamin E H1 = ester vitamin C memiliki IC50 lebih kecil dari vitamin E H0 = ester vitamin C memiliki IC50 lebih besar dari ester vitamin C dan vitamin E H1 = ester vitamin C memiliki IC50 lebih kecil dari ester vitamin C dan vitamin E H0 = vitamin E memiliki IC50 lebih besar dari ester vitamin C dan vitamin E H1 = vitamin E memiliki IC50 lebih kecil dari ester vitamin C dan vitamin E Jika p-value > 0,05 maka H0 diterima, dan jika p-value < 0,05 maka H1 diterima.

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Lampiran 22. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 5:1, Data Absorbansi, % IC dan IC50 Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 5:1 1. Konsentrasi Stok Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 5:1 berarti dalam mikroemulsi terdapat = 0,028 mg/mL 2. Pembuatan seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 5:1 Jumlah mL yang diambil 1 mL 2 mL 3 mL 4 mL 5 mL Seri konsentrasi 1 2 3 4 5 Konsentrasi 0,0028 mg/mL 0,0056 mg/mL 0,0084 mg/mL 0,0112 mg/mL 0,014 mg/mL 3. Data Operating time Waktu (menit) / Absorbansi 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi I 0,419 0,412 0,409 0,406 0,405 0,404 0,403 0,402 0,402 0,402 0,402 0,401 Replikasi II 0,394 0,390 0,387 0,385 0,382 0,379 0,376 0,376 0,376 0,375 0,374 0,372 Replikasi III 0,371 0,367 0,364 0,361 0,358 0,355 0,353 0,351 0,350 0,349 0,347 0,346 0,395± 0,02 0,390± 0,02 0,387± 0,02 0,384± 0,02 0,382± 0,02 0,379± 0,02 0,377± 0,02 0,376± 0,02 0,376± 0,02 0,375± 0,02 0,374± 0,02 0,373± 0,02 Rentang Operating time yang dipilih adalah 40-50 menit. 4. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 5:1 dengan 3 kali replikasi Seri Konsentrasi/ Replikasi I II III 0,0028 mg/mL 0,0056 mg/mL 0,0084 mg/mL 0,0112 mg/mL 0,014 mg/mL 0,692 0,692 0,691 0,591 0,590 0,592 0,500 0,501 0,503 0,395 0,394 0,396 0,313 0,311 0,310 0,692 ± 0,000577 0,591 ± 0,001 0,501 ± 0,00153 0,395 ± 0,001 0,311 ± 0,00153 Absorbansi Kontrol = 0,747

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 5. Perhitungan % IC pada seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 5:1 menggunakan persamaan (4) Replikasi / Seri Konsentrasi 0,0028 mg/mL 0,0056 mg/mL 0,0084 mg/mL 0,0112 mg/mL 0,014 mg/mL I II III 7,36 % 20,88 % 33,07 % 47,12 % 59,44 % 7,36 % 21,02 % 32,93 % 47,26 % 58,37 % 7,5 % 20,75 % 32,66 % 46,99 % 58,5 % SD 7,407 % ± 0,081 20,88 % ± 0,135 32,89 % ± 0,208 47,12 % ± 0,135 58,77 % ± 0,534 6. Persamaan Regresi % IC untuk mendapatkan nilai IC50 y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi Persamaan Regresi I y = 4657,14 x – 5,546 50 = 4657,14 x – 5,546 x = 0,01193 mg/mL II y = 4580,71 x – 5,09 50 = 4580,71 x – 5,09 x = 0,01203 mg/mL 0,01200 mg/mL ± 0,0000643 III y = 4580 x – 5,192 50 = 4580 x – 5,192 x = 0,01205 mg/mL

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 Lampiran 23. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 6:1, Data Absorbansi, % IC dan IC50 Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 6:1 1. Konsentrasi Stok Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 6:1 berarti dalam mikroemulsi terdapat = 0,028 mg/mL 2. Pembuatan seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 6:1 Jumlah mL yang diambil 4 mL 5 mL 6 mL 7 mL 8 mL Seri konsentrasi 1 2 3 4 5 Konsentrasi 0,0112 mg/mL 0,014 mg/mL 0,0168 mg/mL 0,0196 mg/mL 0,0224 mg/mL 3. Data Operating time Waktu (menit) / Replikasi Replikasi Replikasi I II III Absorbansi 5 0,368 0,351 0,339 0,353± 0,01 10 0,358 0,349 0,336 0,348± 0,01 15 0,351 0,345 0,335 0,344± 0,01 20 0,347 0,343 0,332 0,341± 0,01 25 0,344 0,340 0,329 0,338± 0,01 30 0,341 0,338 0,327 0,335± 0,01 35 0,339 0,335 0,324 0,333± 0,01 40 0,338 0,334 0,321 0,331± 0,01 45 0,336 0,332 0,318 0,329± 0,01 50 0,335 0,332 0,315 0,327± 0,01 55 0,334 0,332 0,315 0,327± 0,01 60 0,333 0,330 0,314 0,326± 0,01 Rentang Operating time yang dipilih adalah 50-55 menit.

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 4. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 6:1 dengan 3 kali replikasi Seri Konsentrasi/ Replikasi I II III 0,0112 mg/mL 0,0168 mg/mL 0,0196 mg/mL 0,0224 mg/mL 0,0252 mg/mL 0,453 0,450 0,455 0,409 0,408 0,408 0,363 0,362 0,364 0,315 0,314 0,311 0,275 0,272 0,273 0,453 ± 0,00252 0,408 ± 0,000577 0,363 ± 0,001 0,313 ± 0,001 0,313 ± 0,00208 Absorbansi Kontrol = 0,667 5. Perhitungan % IC pada seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 6:1 menggunakan persamaan (4) Replikasi / Seri Konsentrasi 0,0112 mg/mL 0,0168 mg/mL 0,0196 mg/mL 0,0224 mg/mL 0,0252 mg/mL I II III 32,08 % 38,68 % 45,58 % 52,77 % 58,77 % 32,53 % 38,83 % 45,73 % 52,92 % 59,22 % 31,78 % 38,83 % 45,43 % 53,37 % 59,07 % SD 32,13 % ± 0,377 38,78 % ± 0,09 45,58 % ± 0,15 53,02 % ± 0,312 59,02 % ± 0,229 6. Persamaan Regresi % IC untuk mendapatkan nilai IC50 y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi Persamaan Regresi I y = 2409,64 x + 5,094 50 = 2409,64 x + 5,094 x = 0,01864 mg/mL II y = 2409,64 x + 5,364 50 = 2409,64 x + 5,364 x = 0,01852 mg/mL 0,01857 mg/mL ± 0,0000643 III y = 2468,57 x + 4,224 50 = 2468,57 x + 4,224 x = 0,01854 mg/mL

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 Lampiran 24. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 7:1, Data Absorbansi, % IC dan IC50 Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 7:1 1. Konsentrasi Stok Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 7:1 berarti dalam mikroemulsi terdapat = 0,028 mg/mL 2. Pembuatan seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 7:1 Jumlah mL yang diambil 5 mL 6 mL 7 mL 8 mL 9 mL Seri konsentrasi 1 2 3 4 5 Konsentrasi 0,014 mg/mL 0,0168 mg/mL 0,0196 mg/mL 0,0224 mg/mL 0,0252 mg/mL 3. Data Operating time Waktu (menit) / Absorbansi 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi I 0,381 0,373 0,369 0,367 0,365 0,363 0,362 0,361 0,359 0,359 0,358 0,357 Replikasi II 0,359 0,357 0,354 0,352 0,349 0,347 0,345 0,344 0,344 0,344 0,343 0,341 Replikasi III 0,332 0,329 0,326 0,324 0,321 0,318 0,316 0,313 0,312 0,311 0,310 0,308 Rentang Operating time yang dipilih adalah 45-55 menit. 0,357± 0,02 0,353± 0,02 0,350± 0,02 0,348± 0,02 0,345± 0,02 0,343± 0,02 0,341± 0,02 0,339± 0,02 0,338± 0,02 0,338± 0,02 0,337± 0,02 0,335± 0,02

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 4. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 7:1 dengan 3 kali replikasi Seri Konsentrasi/ Replikasi I II III ± SD 0,014 mg/mL 0,0168 mg/mL 0,0196 mg/mL 0,0224 mg/mL 0,0252 mg/mL 0,514 0,514 0,514 0,463 0,464 0,464 0,409 0,410 0,410 0,360 0,359 0,358 0,314 0,313 0,313 0,514 ± 0 0,464 ± 0,000577 0,41 ± 0,000577 0,359 ± 0,001 0,313 ± 0,000577 Absorbansi Kontrol = 0,749 5. Perhitungan % IC pada seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 7:1 menggunakan persamaan (4) Replikasi / Seri Konsentrasi 0,014 mg/mL 0,0168 mg/mL 0,0196 mg/mL 0,0224 mg/mL 0,0252 mg/mL I II III 31,38 % 38,18 % 45,39 % 51,94 % 58,08 % 31,38 % 38,05 % 45,26 % 52,07 % 58,21 % 31,38 % 38,05 % 45,26 % 52,20 % 58,21 % SD 31,38 % ± 0 38,09 % ± 0,075 45,30 % ± 0,075 52,07 % ± 0,13 58,17 % ± 0,075 6. Persamaan Regresi % IC untuk mendapatkan nilai IC50 y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi Persamaan Regresi I y = 2398,57 x – 2,018 50 = 2398,57 x – 2,018 x = 0,02169 mg/mL II y = 2417,14 x – 2,382 50 = 2417,14 x – 2,382 x = 0,02167 mg/mL 0,02167 mg/mL ± 0,0000153 III y = 2421,79 x – 2,447 50 = 2421,79 x – 2,447 x = 0,02166 mg/mL

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 Lampiran 25. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 8:1, Data Absorbansi, % IC dan IC50 Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 8:1 1. Konsentrasi Stok Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 8:1 berarti dalam mikroemulsi terdapat = 0,056 mg/mL 2. Pembuatan seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 8:1 Jumlah mL yang diambil 5 mL 6 mL 7 mL 8 mL 9 mL Seri konsentrasi 1 2 3 4 5 Konsentrasi 0,028 mg/mL 0,0336 mg/mL 0,0392 mg/mL 0,0448 mg/mL 0,0504 mg/mL 3. Data Operating time Waktu (menit)/Absorbansi 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi I 0,342 0,333 0,328 0,324 0,322 0,320 0,318 0,317 0,316 0,314 0,313 0,312 Replikasi II 0,328 0,325 0,321 0,319 0,316 0,313 0,311 0,309 0,308 0,307 0,305 0,303 Replikasi III 0,295 0,292 0,290 0,287 0,285 0,283 0,280 0,279 0,279 0,279 0,278 0,276 0,322± 0,02 0,317± 0,02 0,313± 0,02 0,310± 0,02 0,308± 0,02 0,305± 0,02 0,303± 0,02 0,302± 0,02 0,301± 0,02 0,300± 0,02 0,299± 0,01 0,297± 0,02 Rentang Operating time yang dipilih adalah 40-45 menit. 4. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 8:1 dengan 3 kali replikasi Seri Konsentrasi/ Replikasi I II III 0,028 mg/mL 0,0336 mg/mL 0,0392 mg/mL 0,0448 mg/mL 0,0504 mg/mL 0,435 0,436 0,436 0,401 0,401 0,402 0,342 0,341 0,340 0,304 0,303 0,303 0,245 0,244 0,243 0,436 ± 0,000577 0,401 ± 0,000577 0,341 ± 0,001 0,303 ± 0,000577 0,244 ± 0,001 Absorbansi Kontrol = 0,672

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 5. Perhitungan % IC pada seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Ester vitamin C dan vitamin E 8:1 menggunakan persamaan (4) Replikasi / Seri Konsentrasi 0,028 mg/mL 0,0336 mg/mL 0,0392 mg/mL 0,0448 mg/mL 0,0504 mg/mL I II III 35,27 % 40,33 % 49,11 % 54,76 % 63,54 % 35,12 % 40,18 % 49,26 % 54,91 % 63,69 % 35,12 % 40,18 % 49,40 % 54,91 % 63,84 % SD 35,17 % ± 0,087 40,23 % ± 0,087 49,26 % ± 0,145 54,86 % ± 0,087 63,69 % ± 0,15 6. Persamaan Regresi % IC untuk mendapatkan nilai IC50 y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi Persamaan Regresi I y = 1267,32 x – 1,077 50 = 1267,32 x – 1,077 x = 0,04030 mg/mL II y = 1283,39 x – 1,677 50 = 1283,39 x – 1,677 x = 0,04027 mg/mL III y = 1275,89 x – 1,397 50 = 1275,89 x – 1,397 x = 0,04028 mg/mL 0,04028 mg/mL ± 0,0000153 Lampiran 26. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Basis Mikroemulsi 5:1, Data Absorbansi dan % IC Basis Mikroemulsi 5:1 1. Konsentrasi Stok Basis Mikroemulsi 5:1 = 2 mg/mL 2. Pembuatan seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi 5:1 Jumlah mL yang diambil 4 mL 5 mL 6 mL 7 mL 8 mL Seri konsentrasi 1 2 3 4 5 Konsentrasi 0,8 mg/mL 1 mg/mL 1,2 mg/mL 1,4 mg/mL 1,6 mg/mL

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 3. Data Operating time Waktu (menit) / Absorbansi 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi I 0,484 0,483 0,482 0,478 0,481 0,482 0,482 0,482 0,482 0,482 0,482 0,482 Replikasi II 0,459 0,457 0,452 0,450 0,449 0,448 0,447 0,446 0,444 0,442 0,440 0,440 Replikasi III 0,432 0,429 0,426 0,424 0,421 0,419 0,417 0,417 0,417 0,416 0,414 0,412 0,458± 0,02 0,456± 0,02 0,453± 0,02 0,451± 0,02 0,450± 0,02 0,450± 0,03 0,449± 0,03 0,448± 0,03 0,448± 0,03 0,447± 0,03 0,445± 0,03 0,445± 0,03 Rentang Operating time yang dipilih adalah 35-40 menit. 4. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi 5:1 dengan 3 kali replikasi Seri Konsentrasi/ Replikasi I II III 0,8 mg/mL 1 mg/mL 0,496 0,497 0,499 0,491 0,490 0,490 1,2 mg/mL 0,482 0,482 0,480 0,497 ± 0,001528 0,490 ± 0,000577 0,481 ± 0,001155 1,4 mg/mL 1,6 mg/mL 0,460 0,461 0,460 0,456 0,454 0,455 0,460 ± 0,000577 0,455 ± 0,001 Absorbansi Kontrol = 0,514 5. Perhitungan % IC pada seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi 5:1 menggunakan persamaan (4) Replikasi / Seri Konsentrasi 0, 8 mg/mL 1 mg/mL 1,2 mg/mL 1,4 mg/mL 1,6 mg/mL I II III 3,5 % 4,47 % 6,23 % 10,51 % 11,28 % 3,31 % 4,67 % 6,23 % 10,31 % 11,67 % 2,92 % 4,67 % 6,61 % 10,51 % 11,48 % SD 3,24 % ± 0,296 4,60 % ± 0,115 6,36 % ± 0,219 10,44 % ± 0,115 11,48 % ± 0,195 Keterangan: Perhitungan tidak dilanjutkan sampai persamaan regresi untuk mendapatkan nilai IC50 karena %IC yang didapat dari seri konsentrasi basis mikroemulsi 5:1 tidak mencapai nilai 50 atau lebih sehingga tidak dapat dianalisis.

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 Lampiran 27. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Basis Mikroemulsi 6:1, Data Absorbansi dan % IC Basis Mikroemulsi 6:1 1. Konsentrasi Stok Basis Mikroemulsi 6:1 = 2 mg/mL 2. Pembuatan seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi 6:1 Jumlah mL yang diambil 5 mL 6 mL 7 mL 8 mL 9 mL Seri konsentrasi 1 2 3 4 5 Konsentrasi 1 mg/mL 1,2 mg/mL 1,4 mg/mL 1,6 mg/mL 1,8 mg/mL 3. Data Operating time Waktu (menit) / Absorbansi 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi I 0,531 0,530 0,529 0,528 0,528 0,526 0,526 0,526 0,526 0,526 0,526 0,526 Replikasi II 0,522 0,519 0,516 0,514 0,512 0,511 0,510 0,509 0,506 0,505 0,504 0,502 Replikasi II 0,513 0,510 0,508 0,505 0,502 0,500 0,500 0,500 0,500 0,500 0,499 0,498 0,522± 0,01 0,520± 0,01 0,518± 0,01 0,516± 0,01 0,514± 0,01 0,512± 0,01 0,512± 0,01 0,512± 0,01 0,511± 0,01 0,510± 0,01 0,510± 0,01 0,509± 0,01 Rentang Operating time yang dipilih adalah 30-40 menit. 4. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi 6:1 dengan 3 kali replikasi Seri Konsentrasi/ Replikasi I II III 1 mg/mL 1,2 mg/mL 1,4 mg/mL 1,6 mg/mL 1,8 mg/mL 0,500 0,498 0,496 0,497 0,496 0,495 0,494 0,495 0,496 0,490 0,491 0,488 0,486 0,484 0,488 0,498 ± 0,002 0,496 ± 0,001 0,495 ± 0,001 0,490 ± 0,0015 0,485 ± 0,0012 Absorbansi Kontrol = 0,507

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 5. Perhitungan % IC pada seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi 6:1 menggunakan persamaan (4) Replikasi / Seri Konsentrasi 1 mg/mL 1,2 mg/mL 1,4 mg/mL 1,6 mg/mL 1,8 mg/mL I II III 1,38 % 1,97 % 2,56 % 3,35 % 4,14 % 1,78 % 2,17 % 2,37 % 3,16 % 4,54 % 2,17 % 2,37 % 2,17 % 3,75 % 3,75 % SD 1,78 % ± 0,395 2,17 % ± 0,2 2,37 ± 0,195 3,42 % ± 0,301 4,14 % ± 0,395 Keterangan: Perhitungan tidak dilanjutkan sampai persamaan regresi untuk mendapatkan nilai IC50 karena %IC yang didapat dari seri konsentrasi basis mikroemulsi 6:1 tidak mencapai nilai 50 atau lebih sehingga tidak dapat dianalisis. Lampiran 28. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Basis Mikroemulsi 7:1, Data Absorbansi dan % IC Basis Mikroemulsi 7:1 1. Konsentrasi Stok Basis Mikroemulsi 7:1 = 2 mg/mL 2. Pembuatan seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi 7:1 Jumlah mL yang diambil 5 mL 6 mL 7 mL 8 mL 9 mL Seri konsentrasi 1 2 3 4 5 Konsentrasi 1 mg/mL 1,2 mg/mL 1,4 mg/mL 1,6 mg/mL 1,8 mg/mL

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 3. Data Operating time Waktu (menit) / Absorbansi 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi I 0,567 0,561 0,558 0,557 0,556 0,556 0,556 0,555 0,553 0,550 0,550 0,550 Replikasi II 0,548 0,543 0,540 0,539 0,537 0,537 0,537 0,536 0,535 0,534 0,532 0,531 Replikasi III 0,526 0,523 0,521 0,519 0,518 0,517 0,518 0,515 0,513 0,510 0,510 0,507 0,547± 0,02 0,542± 0,02 0,540± 0,02 0,538± 0,02 0,537± 0,02 0,537± 0,02 0,537± 0,02 0,535± 0,02 0,534± 0,02 0,531± 0,02 0,531± 0,02 0,529± 0,02 Rentang operating time yang dipilih yaitu 25-35 menit. 4. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi 7:1 dengan 3 kali replikasi Seri Konsentrasi/ Replikasi I II III 1 mg/mL 1,2 mg/mL 1,4 mg/mL 1,6 mg/mL 1,8 mg/mL 0,562 0,560 0,563 0,548 0,545 0,546 0,540 0,544 0,542 0,539 0,538 0,538 0,518 0,529 0,531 0,562 ± 0,0015 0,546 ± 0,0015 0,542 ± 0,002 0,538 ± 0,00058 0,526 ± 0,007 Absorbansi Kontrol = 0,564 5. Perhitungan % IC pada seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi 7:1 menggunakan persamaan (4) Replikasi / Seri Konsentrasi 1 mg/mL 1,2 mg/mL 1,4 mg/mL 1,6 mg/mL 1,8 mg/mL I II III 0,35 % 2,84 % 4,26 % 4,43 % 8,16 % 0,71 % 3,37 % 3,55 % 4,61 % 6,21 % 0,18 % 3,19 % 3,9 % 4,61 % 5,85 % SD 0,41 % ± 0,271 3,13 % ± 0,27 3,90 ± 0,355 4,55 % ± 0,104 6,74 % ± 1,243 Keterangan: Perhitungan tidak dilanjutkan sampai persamaan regresi untuk mendapatkan nilai IC50 karena %IC yang didapat dari seri konsentrasi basis mikroemulsi 7:1 tidak mencapai nilai 50 atau lebih sehingga tidak dapat dianalisis.

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 Lampiran 29. Konsentrasi Stok dan Seri Konsentrasi Basis Mikroemulsi 5:1, Data Absorbansi dan % IC Basis Mikroemulsi 5:1 1. Konsentrasi Stok Basis Mikroemulsi 8:1 = 4 mg/mL 2. Pembuatan seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi 8:1 Jumlah mL yang diambil 4 mL 5 mL 6 mL 7 mL 8 mL Seri konsentrasi 1 2 3 4 5 Konsentrasi 1,6 mg/mL 2 mg/mL 2,4 mg/mL 2,8 mg/mL 3,2 mg/mL 3. Data Operating time Waktu (menit) / Absorbansi 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi I 0,503 0,498 0,497 0,497 0,497 0,496 0,496 0,495 0,495 0,495 0,495 0,495 Replikasi II 0,489 0,486 0,484 0,481 0,479 0,476 0,474 0,474 0,474 0,473 0,470 0,470 Replikasi III 0,460 0,457 0,455 0,452 0,450 0,447 0,445 0,443 0,442 0,441 0,440 0,438 0,484± 0,02 0,480± 0,02 0,479± 0,02 0,477± 0,02 0,475± 0,02 0,473± 0,02 0,472± 0,02 0,471± 0,02 0,470± 0,02 0,470± 0,02 0,468± 0,02 0,468± 0,02 Rentang operating time yang dipilih yaitu 40-50 menit. 4. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi 8:1 dengan 3 kali replikasi Seri Konsentrasi/ Replikasi I II III 1,6 mg/mL 2 mg/mL 2,4 mg/mL 2,8 mg/mL 3,2 mg/mL 0,498 0,498 0,496 0,486 0,490 0,489 0,480 0,483 0,483 0,472 0,475 0,477 0,465 0,464 0,464 0,497 ± 0,001155 0,488 ± 0,00208 0,483 ± 0,00173 0,475 ± 0,00252 0,464 ± 0,000577 Absorbansi Kontrol = 0,514

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 5. Perhitungan % IC pada seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi 8:1 menggunakan persamaan (4) Replikasi / Seri Konsentrasi 1,6 mg/mL 2 mg/mL 2,4 mg/mL 2,8 mg/mL 3,2 mg/mL I II III 3,11 % 5,45 % 6,61 % 7,59 % 9,53 % 3,11 % 4,67 % 6,03 % 8,17 % 9,73 % 3,50 % 4,86 % 6,03 % 7,2 % 9,73 % SD 1,78 % ± 0,395 2,17 % ± 0,2 2,37 ± 0,195 3,42 % ± 0,301 4,14 % ± 0,395 Keterangan: Perhitungan tidak dilanjutkan sampai persamaan regresi untuk mendapatkan nilai IC50 karena %IC yang didapat dari seri konsentrasi basis mikroemulsi 8:1 tidak mencapai nilai 50 atau lebih sehingga tidak dapat dianalisis.

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 Lampiran 30. Hasil Uji Iritasi Primer dengan Metode HET-CAM Tabel XX. Waktu saat terjadi Iritasi dengan perlakuan kontrol positif, negatif dan sampel Perlakuan/Waktu (detik) Kontrol negatif (NaCl 0,9%) Replikasi I Replikasi II Replikasi III SD Kontrol positif (NaOH) Replikasi I Replikasi II Replikasi III SD Mikroemulsi 5:1 Replikasi I Replikasi II Replikasi III SD Mikroemulsi 6:1 Replikasi I Replikasi II Replikasi III SD Mikroemulsi 7:1 Replikasi I Replikasi II Replikasi III SD Mikroemulsi 8:1 Replikasi I Replikasi II Replikasi III SD Hemoragi Lisis Koagulasi 301 301 301 301 ± 0 301 301 301 301 ± 0 301 301 301 301 ± 0 21 18 19 19,33 ± 1,53 200 197 198 198,33 ± 1,53 6 9 8 7,67 ± 1,523 301 301 301 301 ± 0 301 301 301 301 ± 0 301 301 301 301 ± 0 301 301 301 301 ± 0 301 301 301 301 ± 0 301 301 301 301 ± 0 301 301 301 301 ± 0 301 301 301 301 ± 0 301 301 301 301 ± 0 301 301 301 301 ± 0 301 301 301 301 ± 0 301 301 301 301 ± 0 Perhitungan Irritation score (IS) berdasarkan persamaan (3) dengan contoh perhitungan sebagai berikut : Formula Mikroemulsi 5:1 : IS = x5+ = 0,0165 +0,0231+0,0297 = 0,0693 Tabel XXI. Nilai IS yang dihasilkan berdasarkan perlakuan Perlakuan/ Irritation Score Replikasi Kontrol negatif (NaCl 0,9%) I 0 II III 0 0 SD 0±0 Keterangan Tidak mengiritasi

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 Kontrol positif (NaOH) Mikroemulsi 5:1 15,873 0 15,898 0 14,918 0 15,563 ± 0,56 0±0 Mikroemulsi 6:1 0 0 0 0±0 Mikroemulsi 7:1 0 0 0 0±0 Mikroemulsi 8:1 0 0 0 0±0 Lampiran 31. Dokumentasi mengiritasi Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 Formula 5 (mikroemulsi 5:1) sebelum freeze thaw repetisi 1

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 Formula 5 (mikroemulsi (5:1) sebelum freeze thaw repetisi 2 Formula 5 (mikroemulsi 5:1) sebelum freeze thaw repetisi 3

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 Formula 5 (mikroemulsi 5:1) sesudah freeze thaw repetisi 1 Formula 5 (mikroemulsi 5:1) sesudah freeze thaw repetisi 2

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 Formula 5 (mikroemulsi 5:1) sesudah freeze thaw repetisi 3 Formula 8 (mikroemulsi 8:1) sebelum freeze thaw repetisi 1

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 Formula 8 (mikroemulsi 8:1) sebelum freeze thaw repetisi 2 Formula 8 (mikroemulsi 8:1) sebelum freeze thaw repetisi 3

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 Formula 8 (mikroemulsi 8:1) sesudah freeze thaw repetisi 1 Formula 8 (mikroemulsi 8:1) sesudah freeze thaw repetisi 2

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 Formula 8 (mikroemulsi 8:1) sesudah freeze thaw repetisi 3

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BIOGRAFI PENULIS F ransisca Kristi Astuti dilahirkan pada tanggal 19 Oktober 1992 di Bandung, Jawa Barat. Putri dari pasangan Agustinus Suparyono dan Elizabeth Nuryati, dan memiliki satu saudara kandung bernama Alisius Johan Affandi. Penulis telah menempuh pendidikan di TK Yos Sudarso Karawang pada Tahun 1997 sampai tahun 1998, SD Duren 1 Karawang pada tahun 1998 sampai tahun 2004, SMP Yos Sudarso Karawang pada tahun 2004 sampai tahun 2007, SMA Yos Sudarso Karawang pada tahun 2007 sampai tahun 2010 dan kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada tahun 2010 sampai tahun 2014. Selama menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi penulis pernah mengikuti kepanitian Paingan Festival pada tahun 2012 sebagai anggota divisi Humas, Panitia Pekan Suci pada tahun 2011 sebagai anggota divisi Dekorasi, Wakil Mahasiswa dalam kegiatan luar Universitas sanata Dharma yaitu Perhimpunan Mahasiswa katolik Republik Indonesia Cabang Santo Thomas Aquinas Yogyakarta pada tahun 2010, Relawan Merapi Go-Green yang diselenggarakan Fakultas Teknobiologi Universitas Atmajaya Yogyakarta pada tahun 2011, Lomba Kebersihan dan Gotong Royong Bersama Ibu-ibu PKK dalam rangka pencegahan DBD pada tahun 2013. Dalam bidang kepanitiaan luar kampus, penulis berperan sebagai anggota koor dari lingkungan Duren wilayah Santo Paskalis Paroki Kristus Raja Karawang periode 2009-2013, dan anggota mudika Paroki Kristus Raja Karawang periode 20102014. Penulis mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat lolos didanai DIKTI pada tahun 2013 dengan judul “DBD di Lingkungan Tingginya HIJAA (House Indeks Jentik Aedes aegepti) di desa Manding Kidul Kelurahan Trirenggo dengan Metode LIBIK”. 141

(169)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Formulasi dan Evaluasi Emulgel Tabir Surya dari Oksibenzon dan Oktilmetoksisinamat Menggunakan Kombinasi Tween 80 dan Span 80
9
48
111
Pengaruh span 80 sebagai emulsifying agent dan carbopol 940 sebagai gelling agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik krim sunscreen fraksi etil asetat daun jambu biji (psidium guajava l.).
0
3
100
Pengaruh kecepatan putar dan suhu pencampuran terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel minyak cengkeh ( Oleum caryophylli).
0
1
107
Pengaruh tween 80 dan span 80 sebagai emulsifying agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel antiacne minyak cengkeh (Oleum caryophill) aplikasi desain faktorial.
3
4
98
Pengaruh span 80 sebagai emulsifying agent dan carbopol 940 sebagai gelling agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik krim sunscreen fraksi etil asetat daun jambu biji
0
2
98
Pengaruh kecepatan putar dan suhu pencampuran terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel minyak cengkeh ( Oleum caryophylli)
0
0
105
Formulasi dan Evaluasi Emulgel Tabir Surya dari Oksibenzon dan Oktilmetoksisinamat Menggunakan Kombinasi Tween 80 dan Span 80
1
1
14
Formulasi dan Evaluasi Emulgel Tabir Surya dari Oksibenzon dan Oktilmetoksisinamat Menggunakan Kombinasi Tween 80 dan Span 80
0
0
2
Formulasi dan Evaluasi Emulgel Tabir Surya dari Oksibenzon dan Oktilmetoksisinamat Menggunakan Kombinasi Tween 80 dan Span 80
1
3
5
Formulasi dan Evaluasi Emulgel Tabir Surya dari Oksibenzon dan Oktilmetoksisinamat Menggunakan Kombinasi Tween 80 dan Span 80
0
2
18
Formulasi dan Evaluasi Emulgel Tabir Surya dari Oksibenzon dan Oktilmetoksisinamat Menggunakan Kombinasi Tween 80 dan Span 80
0
0
3
Formulasi dan Evaluasi Emulgel Tabir Surya dari Oksibenzon dan Oktilmetoksisinamat Menggunakan Kombinasi Tween 80 dan Span 80
0
0
47
Formulasi emulgel minyak cengkeh (Oleum caryophylli): pengaruh lama dan kecepatan putar pada proses pencampuran terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik - USD Repository
0
0
109
Pengaruh konsentrasi ekstrak kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan emulgel - USD Repository
1
1
125
Pengaruh perbandingan Surfaktan Tween 80 dan kosurfaktan PEG 400 dalam formulasi sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol untuk antiaging - USD Repository
0
1
158
Show more