Analisis kinerja Dinas Pendidikan dalam meningkatkan profesionalisme guru Sekolah Dasar di Daerah Pedalaman Kabupaten Mimika Provinsi Papua tahun 2012 - USD Repository

Gratis

0
2
227
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ANALISIS KINERJA DINAS PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU SEKOLAH DASAR DI DAERAH PEDALAMAN KABUPATEN MIMIKA PROVINSI PAPUA TAHUN 2012 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi Oleh: Aminus Dolame Nim : 081324046 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO : Bersikanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. (Matius 23:26) Pengakuan dosa itu kuat, tapi ia juga dipadamkan oleh sedikit air mata, karena air mata memadamkan tungku api kesalahan-kesalahan, dan membersihkan luka-luka dosa kita. (John Chrisostom) Pengakuan akan pekerjaan-pekerjaan jahat adalah awal permulaan pekerjaanpekerjaan baik. (Agustine) Kemampuan untuk bangkit dan pulih dari kegagalan sebuah tim untuk mendidik adalah salah satu langkah yang sangat penting untuk menyelamatkan suatu generasi dari latar belakang yang tertinggal. iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN  Tulisan ini kupersembahkan untuk sahabat sejatiku Sang Tuhan dan Juruslematku Yesus Kristus. Karena setiap detik Ia selalu ada bagiku, dan dalam hal inilah aku membanggakan Dia, yaitu ketika aku lemah, ketika aku sakit, ketika aku mengadapi suatu tantangan yang paling berat, tetapi Ia selalu ada di sampingku dan Ia memberikan bisikan kepadaku bahwa hai... sahabat-Ku, ingat Aku bersamamu dan melawati padang gurun itu, maka tersenyiumlah Kita sedang dan arahkan pandanganmu ke depan.  Kepada saudara-saudari seimanku dalam Tuhan, sebagimana aku bersama kalian hidupku selalu diperlengkapi dengan sesuatu yang aku tidak pernah sadari, dan aku memiliki kehidupan yang berbeda dari teman-temanku yang lain. Maka, inilah persembahanku untuk kalian, (my brothers and my sisters. in one faith, one loves, one hope vission from God).  Kupersembahkan tulisan ini untuk seluruh masyarakat pedalaman Timika yang sedang mengalalami situasi yang paling sulit, namun suatu saat ada cahaya terang yang akan menerangimu, dan nantikanlah cahaya itu setiap saat, dan dalam situasi itu membuatku terinpirasi untuk menulis sebuah tulisan ini.  Kupersembahkan untuk kau sahabat-sahabat seperjuangan asal Papua yang di prodi Pendidikan Ekonomi, yaitu: Arry Alpred Yupin, Isep Gwijangge, Yoseph Werke, dan Obeth Lepitalen, yang mana pemberian v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI semgangat dalam penulisan skripsi dan membuatku teringat akan kalian semua.  Rekan-rekan seperjuanganku prodi pendidikan Ekonomi Angkatan 2008, karena aku belajar dari semangat kalian menginspirasiku untuk menyelesaikan skripsi ini.  Kupersembahkan untuk Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), yang mana membiayai aku dari Tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Tingkat Perguruan Tinggi ini. Penulis mengakui bahwa LPMAK adalah bagian dari Orangtuaku yang memperhatikan selama menunjang pendidikan, dan penulis berharap Lembaga membantu penulis untuk melanjutkan Pendidikan yang lebih Tinggi lagi.  Kupersembahkan tulisan ini, untuk ayahku tercinta, dan ibuku yang meskipun kau sudah tiada di dunia ini, dan aku tidak bisa membahagiakanmu, tapi satu hal yang membuatku bangga karena engkau melahirkanku untuk membahagiakan mereka yang membutuhkan pertolongan dariku, dan aku berjanji bahwa akan memperjuangkan nasib penderitaan mereka. Untuk itulah aku ada dunia pendidikan, syalom mamaku tercinta. vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK ANALISIS KINERJA DINAS PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU SEKOLAH DASAR DI DAERAH PEDALAMAN KABUPATEN MIMIKA PROVINSI PAPUA TAHUN 2012 AMINUS DOLAME 081324046 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2014 Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja kebijakan dinas pendidikan dalam meningkatkan profesionalisme guru sekolah dasar di daerah pedalaman kabupaten Mimika Provinsi Papua tahun 2012. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif eksploratif. Pengambilan sampel dengan teknik purposive dan snowball. Dalam pengambilan data penulis menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dengan menggunakan model Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Temuan masalah terkait kebijakan dinas pendidikan dalam meningkatkan profesionalisme guru sekolah dasar di daerah pedalaman menunjukkan bahwa terjadi kemunduran diantaranya: kualitas mengajar guru menurun, hati untuk mengabdi tidak terdapat pada diri guru, landasan kependidikan guru terbatas, dan tanggungjawab guru tidak terpenuhi. Masalah tersebut di atas disebabkan oleh beberapa hal diantaranya: (1) pemerintah daerah (P & K) kabupaten Mimika tidak efektif memberdayakan guru; (2) pemerintah daerah (P & K ) tidak pernah melakukan evaluasi terkait hasil pencapaian guru di daerah pedalaman; (3) pemerintah daerah (P & K) tidak pernah mengunjungi sekolah-sekolah di daerah pedalaman secara teratur; (4) pemerintah daerah (P & K) tidak menetapkan tujuan dan strategi yang efektif untuk pendidikan sekolah dasar di daerah pedalaman; (5) pemerintah daerah ( P & K) tidak memberikan pengawasan kepada guru-guru yang ditugaskan di daerah pedalaman sehingga guru bertindak semaunya saja dengan mengajar atau tidak mengajar menjadi hak atau keputusan di tangan guru; (6) lemahnya kerjasama antar Dinas Pendidikan (P & K) dan Lembaga Pengembangan Masayarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) sebagai pengendali mutu pendidikan dan pusat pembangunan sumberdaya manusia tujuh suku asal kabupaten Mimika, (7) Dinas Pendidikan (P & K) tidak bersinergi dengan Lembaga, Donatur, dan Relawan yang peduli akan pembangunan pendidikan daerah pedalaman kabupaten Mimika sehingga terjadi penghambatan proses pendidikan daerah pedalaman tersebut. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT AN ANALYSIS OF THE EDUCATION BOARD’S PERFORMANCE IN ENHANCING THE ELEMENTARY SCHOOL TEACHERS’ PROFFESIONALISM IN THE HINTERLAND OF MIMIKA REGENCY – PAPUAN PROVINCE IN 2012 Aminus Dolame 081324046 Sanata Dharma University Yogyakarta 2014 The study is intended to analyze the policy performance of the education board in enhancing the elementary school teachers’ professionalism of in Mimika regency, Papua province in 2012. The study is a qualitative research using descriptive-explorative approach. The sampling was done by the purposive and the snowball technique. In collecting the data, the researcher used observation, interview and documentation as the techniques. The data analysis was done by using Miles and Huberman model, which was data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. In finding the problems related to the education board’s policy in enhancing the elementary school teachers’ professionalism in the hinterland showed that there were some regressions, such as: the degradation of teachers’ teaching quality, the absence of teachers’ dedication, the limitation of teachers’ educational foundation, and the insatiable of teachers’ responsibility. The aforementioned problems were caused by some reasons, such as: (1) the local government (Education and Culture Board) of Mimika was not effective in empowering the teachers; (2) the local government (Education and Culture Board) never did evaluations about teachers’ achievement in the hinterlands; (3) the local government (Education and Culture Board) never visited regularly the schools in the hinterlands; (5) the local government (Education and Culture Board) did not do supervision to the teachers assigned in the hinterlands so that teachers did things as they wanted; to teach or not to teach depended on the teachers; (6) the lack of cooperation between the education authority (Education and Culture Board) and the community development agency of Amungme and Kamoro that controlled the education quality and the of human resource development of the seven in Mimika; and (7) the education authority did not synergized with the department, benefactor, and volunteers that cared about the educationial development of the hinterland, and this hampered the educational process in Mimika hinterland. Keywords: enhancement, teachers’ professionalism x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Kinerja Dinas Pendidikan Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar Di Daerah Pedalaman Kabupaten Mimika Provinsi Papua Tahun 2012.” Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan pada fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, program studi pendidikan ekonomi, Universitas Sanata Dharma. Banyak pihak yang telah memberikan dukungan, bantuan, perhatian dan kasih sayang kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, sehingga pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa ucapan terima kasih dan penghormatan dari hati penulis kepada: 1. Bapak Rohandi, Ph.D., selaku dekan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Bapak Indra Darmawan, S.E., M.Si., selaku ketua jurusan pendidikan ilmu sosial, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Bapak Indra Darmawan, S.E., M.Si., selaku Kaprodi pendidikan ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 4. Bapak Dr. C. Teguh Dalyono, M.S., selaku dosen pembimbing I yang telah membimbing dengan penuh kesabaran, memberikan kritik dan saran yang membangun mulai dari perencanaan sampai skripsi selesai. Penulis, juga ucapan terima kasih sebesarnya kepada beliau dalam didikan, dan ilmunya selama permulaan kuliah sampai terakhir penulisan skripsi ini beliau selalu ada untuk memberikan ilmunya kepada penulis. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Bapak Y.M.V. Mudayen, S.Pd., M.Sc., selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing dalam penulisan skripsi ini sampai selesai. Penulis juga berterima kasih karena ilmu-ilmunya yang membuat penulis sangar berguna bagi daerah dan masyarakat Papua pada umumnya dan lebih khususnya masyarakat kabupaten Mimika. 6. Ibu Titin seleku pengelola administrasi prodi pendidikan Ekonomi ketabahannya dalam membantu penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan cepat . 7. Seluruh dosen yang telah membantu penulis selama kuliah maupun dalam mengerjakan skripsi. 8. Sahabat Penulis Penegi Dolame, SE, yang telah membantu dan mendukung penulis mengirim informasi lewat telpon dari Papua terkait informasi terbaru yang sedang terjadi dan sangat membantu penulis selama penulisan skripsi 9. Kakak Yopie Pelamonia dan Kakak Helen, selaku pemimpin jemaat Tuhan dan kepemimpinannya dapat mempengaruhi kehidupan penulis. 10. Suadara-saudariku Chosen Generation ( Nugroho, Hans, Dewi, Debby, Yana, Yandi, Mauri, dan Yessy), kebersamaanya dapat mempengaruhi kehidupan Penulis salah satunya dalam penulisan skripsi ini. 11. Saudara-saudaraku seiman satu kontrakan ( Obeth, Yandi, Ardian, Isto, Dhyon, Philips, dan Otin) dukunganya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12. Teman-teman PE 2008 semuanya tetap semangat menatap masa depan yang cerah dimana pun kalian berada dan menjadi yang terbaik dan lakukan yang terbaik. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, semoga kasih, damai sejahtera Tuhanku Yesus Kristus selalu menyertai setiap saat dan setiap kalian. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari kesempurnaan sehingga perlu dikaji dan dikembangkan lebih lanjut. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan adanya kritik serta saran yang membangun sehingga nantinya penulis dapat memperbaikinya. Akhir kata, penulis sangat berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca ataupun pihak-pihak yang membutuhkan. Yogyakarta, 28 Februari 2014 Aminus Dolame xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... iii HALAMAN MOTTO ........................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................... vii LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ........................................................................... viii ABSTRAK ............................................................................................. ix ABSTRACT ........................................................................................... x KATA PENGANTAR ........................................................................... xi DAFTAR ISI .................................................................................. …… xiv DAFTAR TABEL ................................................................................. xvii DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN .................................................................. 1 A. Latar Belakang ................................................................. 1 B. Batasan Masalah ............................................................... 5 C. Rumusan Masalah ............................................................ 6 D. Tujuan Penelitian ............................................................. 6 E. Pengertian Variabel dan Definisi Operasional .................. 6 F. Pentingnya Penelitian ........................................................ 7 G. Manfaat Penelitian ............................................................ 7 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................... 10 A. Tinjauan Tentang Pemberdayaan Guru Sekolah Dasar .... 10 B. Pemberdayaan Guru .......................................................... 10 C. Penilaian Kinerja Guru ..................................................... 12 D. Guru Sebagai Paripurna…… ............................................ 14 E. Peningkatan Kemampuan Profesional Guru xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sekolah Dasar ................................................................... 15 F. Pembinaan Moral Kerja Guru Sekolah ............................ 16 G. Tugas dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah .................. 16 H. Sarana untuk Menetapkan Guru ....................................... 17 I. Alat Seleksi Penerima Guru ............................................... 18 J. Sarana untuk Pembinaan Guru .......................................... 18 K. Sarana untuk Pemberdayaan Guru ................................... 19 L. Meningkatkan Kompetensi Guru ..................................... 20 1. Kompetensi Pedagogik Guru ........................................ 20 2. Kompetensi Profesional Guru ....................................... 23 3. Pengertian Kompetensi Kepribadian ........................... 35 4. Kompetensi Sosial Guru ............................................... 40 BAB III METODE PENELITIAN ..................................................... 45 A. Jenis Penelitian ................................................................. 45 B. Lokasi Penelitian .............................................................. 46 C. Subjek dan Objek Penelitian ............................................ 49 D. Variabel Penelitian ........................................................... 51 E. Sumber Data ...................................................................... 52 F. Teknik Pengumpulan Data ................................................ 56 1. Observasi ...................................................................... 56 2. Wawancara.................................................................... 57 3. Dokumentasi ................................................................. 59 G. Teknik Analisis Data ........................................................ 60 1. Pengumpulan Data ....................................................... 61 2. Reduksi Data ................................................................. 62 3. Penyajian Data .............................................................. 62 4. Penarikan Kesimpulan .................................................. 63 H. Keabsahan Data ............................................................... 64 BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN .................. 67 A. Latar Belakang Sejarah Sekolah Dasar di Daerah Pedalaman ......................................................................... xv 67

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Sejarah Sekolah Dasar di SD Inpres Jila ..................... 67 2. Pada Tahun 1980 Pemerintah Masuk ke Daerah Jila ... 68 3. Pada Tahun 1984 – 1985 Bangun Gedung Sekolah Dasar ............................................................... 68 4. Latar Belakang Perjalanan Pendidikan Suku Amungme…………… ........................................ 70 5. Pendidikan untuk Suku Amungme di Daerah Pedalaman Timika…... ................................................. 72 6. Pendidikan untuk Anak Muda Amungme di daerah Pedalaman Timika ........................................ 72 7. Profil Guru di Daerah Pedalaman Timika .................... 73 8. Letak Geografis............................................................. 75 9. Tempat Penelitian ......................................................... 76 10. Keadaan Murid Sekolah Dasar SD Inpres Jila............. 77 11. Keadaan Guru SD Inpres Jila....................................... 79 12. Keadaan Fasilitas SD Inpres Jila ................................. 80 13. Gedung Sekolah Dasar Inpres Jila .............................. 81 14. Perabot Sekolah Dasar Inpres Jila ............................... 81 15. Rumah Guru ................................................................. 82 16. SD Inpres di Distrik Hoeya .......................................... 84 17. SD di Daerah Pedalaman Timika................................. 86 B. Daftar Sekolah Berdasarkan Kelas dan Jenis Kelamin ..... 88 C. Guru Mata Pelajaran ......................................................... 95 D. Rencana Program dan Renstra Dinas Pendidikan BAB V Kabupaten Mimika ........................................................... 102 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................. 108 A. Hasil Penelitian ................................................................ 108 1. Profil Guru Sekolah Dasar ............................................ 113 a. Kompetensi Pedagogik Guru ................................... 117 b. Kompetensi Profesional Guru .................................. 118 c. Kompetensi Sosial Guru ........................................... 121 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI d. Kompetensi Kepribadian Guru ................................ 125 2. Tingkat Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Daerah Pedalaman Timika Papua .............................................. 126 3. Sekolah Dasar Inpres Jila .............................................. 128 4. Siswa Sekolah Dasar di Distrik Jila .............................. 128 5. Keadaan Siswa SD Inpres Jila ...................................... 129 6. Guru Sekolah Dasar Inpres Jila .................................... 130 7. Pemberdayaan Guru Sekolah Dasar Inpres Jila ............ 135 8. Sekolah Dasar Inpres Hoeya ......................................... 136 9. Semuanya Berbohong ................................................... 138 10. Kendala Transportasi ................................................... 138 11. Tuntutan Masyarakat Hoeya ........................................ 140 12. SD Inpres Bela Alama ................................................. 141 13. Sekolah Dasar di Tembagupura ................................... 142 14. SD Inpres Banti Distrik Tembagapura......................... 142 15. Pengaruh Lingkungan Sekolah .................................... 143 16. Budaya Mendulang Emas ............................................ 143 17. Kehidupan Masyarakat Kampung Banti ..................... 144 18. SD Inpres Tsinga dan SD Inpres Aroanop ................... 146 19. Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro ........................................................................ 148 20. Dana APBD untuk Sekolah Dasar ............................... 150 B. Pembahasan ...................................................................... 152 BAB VI PENUTUP ............................................................................... 168 A. Kesimpulan ....................................................................... 168 B. Saran ................................................................................. 174 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel IV.1.1 Nama dan Alamat Sekolah di Distrik Jila Tabel IV.1.2 Data Murid SD Inpres Jila Menurut Kelas dan Jenis Kelamin Tabel IV.1.3 Data Murid SD Inpres Jila Menurut Agama Tabel IV.1.4 Daftar Normatif Guru-Guru SD Inpres Jila Tahun 2012/2013 Tabel IV.1.5 Perabot Sekolah di SD Inpres Jila Tabel IV.1.6 Daftar Sekolah Dasar di Distrik Jila Tabel IV.1.7 Daftar Sekolah Dasar di Distrik Tembagapura Tabel IV.2.1 Alamat Sekolah di Distrik Jila Tabel IV.2.2 Kelas Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel IV.2.3 Alamat Sekolah di Distrik Tembagapura Tabel IV.2.4 Kelas Berdasarkan Jenis Kelamin Distrik Tembagura Tabel IV.3.1 Tingka Pendidikan dan Masa Kerja SD Jagamin Tabel IV.3.2 Masa Kerja Guru di Sekolah Dasar Jagamin Tabel IV.3.3 Guru Mata Pelajaran di SD Jagamin Tabel IV.3.4 Masa Kerja Guru Sekolah Dasar Inpres Aroanop Tabel IV.3.5 Guru Mata Pelajaran SD Inpres Aroanop Tabel IV.3.6 Guru Mata Pelajaran SD Inpres Banti Tabel IV.3.7 Data Guru SD Inpres Jila Tabel IV.3.8 Data Guru Mata Pelajaran SD Inpres Jila Tabel IV.3.9 Nama Guru Kelas SD Inpres Alama Tabel IV.3.10 Daftar Guru Mata Pelajaran Tabel IV.4.1 Pendidikan Anak Usia Dini Tabel IV.4.2 Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun Tabel IV.4.3 Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Guru adalah seseorang figur yang mulia dan dimuliakan banyak orang. Kehadiran guru di tengah-tengah kehidupan manusia sangat penting, tanpa ada guru atau seseorang yang dapat ditiru, diteladani oleh manusia untuk belajar dan berkembang, manusia tidak akan memiliki budaya, norma, agama. Sulit dibayangkan jika di tengah kehidupan manusia tidak ada seseorang guru, bekal tidak ada peradaban yang dapat dicatat. Guru merupakan orang pertama yang mencerdaskan manusia, orang yang memberi bekal pengetahuan, pengalaman, dan menanamkan nilai-nilai, budaya, dan agama terhadap anak didik. Dalam proses pendidikan guru memegang peran penting setelah orang tua dan keluarga di rumah. Di lemabaga pendidikan guru menjadi orang pertama yang bertugas membimbing, mengajar, dan melatih anak didik mencapai kedewasaan. Untuk memenuhi perkembangan tersebut membutuhkan profesionalitas guru dalam menjalankan tugas sebagai guru pengajar dan guru pendidik. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1: “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur pendidikan formal, dasar dan menengah. Tentang kedudukan guru dan dosen pasal 2 ayat (1): “Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga 1

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan. perundang-undangan, di ayat (2) mengatakan bahwa pengakuan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Prinsip profesionalitas Pasal 7 ayat (1), profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut: memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme; memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas; memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan; memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara keberlanjutan dengan belajar sepanjang hayat; memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Akademik guru dan Kompetensi Guru dijelaskan bahwa: "Kualifikasi akademik guru SD/MI,SMP/MTs, dan SMA/MA minimum diploma empat (D - 4) atau sarjana ( S - 1 )". (BSNP, 2007c: 6). Dalam PMPN ini juga disebutkan "Guru harus menguasai empat kompetensi utama, yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. 2

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Keempat kompentensi ini terintegrasi dalam kinerja guru".(BSNP, 2007c. 8). Dari hasil sosialisasi pendidikan di daerah pedalaman kabupaten Mimika Papua tentang profesionalitas guru terdapat beberapa kesenjangan yang sangat memprihatinkan, diantaranya adalah kurangnya menguasai landasan kependidikan, kurangnya kepekaan terhadap ilmu yang diajarkan, kurangnya mengenal dan menjiwai siswa, kurangnya teori motivasi belajar siswa, dan kurangnya pendekatan melalui kultural, tidak melaksanakan tugasnya di tempat tugas dan banyak hal lagi yang tidak disebutkan di sini yang dilakukan oleh guru-guru di daerah pedalaman. Unruk melihat lebih jelas tentang landasan kependidikan dan keprofesionalan guru, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pada pasal 28, ayat (3) yang dimaksud dengan kompetensi profesional ialah "kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional pendidikan" pendidikan di pedalaman Papua, kualitas pendidikan dari tingkat dasar dan pendidikan tingkat menengah pertama masih harus dibenahi karena sesuai dengan undang-undang yang dituntut penerapanya tidak sesuai. Faktor yang mempengaruhi terhadap peningkatan kualitas pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah pertama (SMP), keduanya ternyata kurangnya profesionalisme guru. Kualitas pendidikan belum seperti yang diharapkan. Menurut Sukmadinata (2006:203), "Selain masih kurangnya sarana dan fasilitas belajar adalah faktor guru. Pertama, guru belum bekerja dengan sungguh-sungguh. 3

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kedua, kemampuan profesional guru masih kurang". Menurut Sanusi (2007:17), "Guru belum dapat diandalkan dalam berbagai aspek kinerjanya yang standar, karena ia belum memiliki keahlian dalam isi dari bidang studi, pedagogik, didaktik, dan metodik, keahlian pribadi dan sosial, khususnya berdisiplin dan bermotivasi, kerja tim antara sesama guru, dan tenaga kependidikan lain". Berdasarkan data Dirjen PMPTK bahwa, "hingga 2007 tercatat baru 16,57 persen guru SD berkualifikasi S - 1 dan guru SMP sebanyak 61,31 persen. Di jenjang pendidikan menengah, guru SMA yang berkualifikasi akademik S - 1) sebanyak 83,34 persen dan SMK sebesar 77, 53 persen". (Kompas, 11 April 2009). Sesuai data dari Sekretaris BNSP, secara rasional jumlah guru SD tidak layak mengajar mencapai 609.217 orang atau sekitar 49,9 persen dari seluruh tenaga pendidik di Indonesia". (KOMPAS, 1 April 2009). Sehingga peran seorang guru profesional itu mengenalkan siswa tentang pintu dunia menuju keberhasilan serta menjawab persoalan yang ada di dunia pendidikan dan profesionalistas guru akan menciptakan kualitas peserta didik yang berkualitas dan siap dipakai dalam dunia pendidikan maupun di dunia bisnis. Dalam hal ini penelitiakan berfokus pada masalahmasalah yang dihadapi oleh masyarakat pedalaman kabupaten Mimika dengan berdasarkan hasil sosialisasi pendidikan oleh penulis pada tanggal 14 Juli 2011- 3 Agustus 2011. Berdasarkan penjelasan di atas peneliti akan meneliti dengan judul penelitian " Analisis Kinerja Dinas Pendidikan Dalam Meningkatkan 4

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Profesionalisme Guru Sekolah Dasar di Daerah Pedalaman Kabupaten Mimika Provinsi Papua Tahun 2012.” B. Batasan Masalah Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja guru di pedalaman kabupaten Mimika. Faktor-faktor tersebut adalah kebijakan dinas pendidikan, terkait peningkatan pemberdayaan guru dalam peningkatan kompetensi guru diantaranya adalah kompetensi pedagogik guru, kompetensi professional guru, kompetensi sosial guru, dan kompetensi kepribadian guru, serta fasilitas sekolah, dukungan masyarakat, dukungan pemerintah, pengaruh geografis, pengaruh lingkungan dan pengaruh transportasi. Tetapi peneliti hanya menganalisis bagimana pemerintah memperdayakan guru sekolah dasar di daerah pedalaman dalam tingkat kompetensi untuk menerangi kabutnya penerapan pendidikan. Peneliti akan meneliti satu variabel saja yaitu tentang kebijakan dinas terhadap pemberdayaan guru di daerah pedalaman Timika, dan peneliti akan menyinggung beberapa kompetensi yang harus dimiliki guru. Tidak ada pembatasan masalah tentang pembentukan profesionalisme guru sekolah dasar di daerah pedalaman kabupaten Mimika, dan peneliti akan meneliti dengan pendekatan kultural apabila perlu dilakukan dan mengeksplorasi hasil-hasil temuanya dengan pendekatan deskriptif kualitatif. 5

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut. Bagimana Pemberdayaan Guru Sekolah Dasar di Daerah Pedalaman Kabupaten Mimika Papua? D. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian merupakan hal pokok yang harus ada dan harus ditetapkan terlebih dahulu, sebelum peneliti melakukan kegiatan penelitian. Penelitian adalah suatu kegiatan tertentu yang terdiri dari beberapa tahap yang saling berhubungan satu sama lainnya, dalam memecahkan masalah yang sedang diteliti. Dalam penelitian yang peneliti lakukan dapat menjelaskan masalah-masalah yang terjadi di Daerah Pedalaman Kabupaten Mimikia terkait pemberdayaan guru. Dengan demikian tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Untuk menjelaskan bagimana Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memperdayaakan guru sekolah dasar di daerah pedalaman Kabupaten Mimika Provinsi Papua. E. Pengertian Variabel dan Definisi Operasional Pengertian pemberdayaan guru adalah upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika untuk meningkatkan kualitas guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika. Indikatornya adalah frekuensi pelatihan, penataran, bimbingan teknis, dan 6

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penyuluan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan pakar pendidikan kepada para guru. F. Pentingnya Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk meningkatkan semangat baru untuk Dinas Pendididikan dan Kebudayaan Timika dalam memperdayakan guru-guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika Papua dengan semaksimal mungkin. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah pedalaman Timika secara khususnya, sedangkan pada umumnya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi guru-guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika untuk meningkatkan profesionalismenya dalam mendidik, membimbing dan mengajar sehingga wajah pendidikan di daerah pedalaman Papua terlihat jelas. G. Manfaat Penelitian Dalam kegiatan apapun yang dilakukan oleh seseorang selalu ada manfaatnya, sama pula dengan peneliti akan melakukan penelitian ini terkait kebijakan Dinas mempemberdayakan guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika. Hasil temuanya dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak yang membutuhkan yaitu diantaranya: 1. Bagi Penulis Dalam kegiatan penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan peneliti dibidang penelitian. Dan mampu memecahkan 7

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI masalah-masalah yang sedang diselidiki objek penelitian yaitu analisis guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika dan hasil temuanya dapat memberikan manfaat kepada semua pihak yang peduli akan pendidikan dalam hal ini tentang kondisi pendidikan di seluruh pedalaman provinsi Papua. Dengan latar belakang ini peneliti memohon agar dapat membantu dalam hal kegiatan penelitian sehingga dapat memberi informasi kepada anda yang membutuhkanya. 2. Bagi Fakultas Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan bacaan dan perbandingan bagi mereka yang nantinya melaksanakan penelitian di Papua dan semoga hasil penelitian ini bisa membantu mereka dalam penelitian selanjutnya. 3. Bagi Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Papua Sebagai bahan masukan dalam membuat keputusan-keputusan tentang penempatan guru, pemberdayaan guru, pengawasan guru, dan pengontrolan dalam hal profesionalismenya. Karena pemerintah daerah fakum maka proses pendidikan tidak berjalan baik, sehingga kualitas pendidikan tidak seimbang antara sekolah-sekolah di kota dan sekolahsekolah di daerah pedalaman Timika. 8

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Bagi Mahasiswa Penelitian merupakan kegiatan usaha yang menyenangkan dan membutuhkan waktu yang lama. Penelitian ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang semangat dalam rangka meraih cita-citanya. Maka, peneliti yang berkompeten dalam bidang penelitianya pasti memberikan informasi dan data yang valid. Maka jadilah, peneliti yang professional serta jadilah peneliti yang memecahkan masalah secara professional pula. 5. Bagi Donatur Dapat mendorong untuk terus memberikan sumbangan bagi mahasiswa yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan, melalui kerja sama pemerintah daerah maupun Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), kabupaten Mimika untuk dapat memberi sumbangan dalam hal pembiayaan. Karena adanya bantuan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), anak-anak muda asal kabupaten Mimika bisa sampai pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan salah satunya adalah peneliti, maka yang perlu perhatikan oleh Lembaga adalah tingkat kompetensi yang dimiliki oleh mereka. Dalam hal ini lebih khususnya peneliti sendiri karena penelitian yang peneliti lakukan adalah bagian dari suatu tindakan yang nyata dan sifatnya membantu, karena peneliti mengangkat tentang kebijakan Dinas Pendidikan dalam memperdayakan guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika. 9

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Tentang Pemberdayaan Guru Sekolah Dasar Sepanjang sejarah perkembangannya, rumusan pembedayaan tenaga pengajar (guru) ternyata variasi, tergantung pada cara mempersepsikan dan memandang apa yang menjadi peran dan tugas pokoknya. Dalam penelitian ini tugas pokok utama yang dibahas adalah tentang tindakan guru, prilaku guru, dan bagimana syarat menjadi guru pengajar yang professional atau menjadi guru pendidik yang professional serta bagimana syarat memperdayakan guru. Untuk menjadi guru yang professional atau ahli dalam bidang pendidik dan pengajar perlu dipahami secara seksama bahwa perlu adanya memperdayakan guru secara kontinyu oleh pemerintah daerah dan orang akhli yang sudah ahli di bidang pendidikan. B. Pemberdayaan Guru Bila peneliti ingin mengangkat masalah pemberdayaan guru pada dasarnya peneliti ingin mengajukan potret guru. Potret guru ini tentunya tidak akan tampak baik apabila peneliti gunakan objek guru masa kini dan masa lampau di daerah pedalaman kabupaten Mimika Papua. Oleh karena itu untuk menyajikan pemberdayaan guru ini peneliti mencoba bagimana kebijakan Dinas dalam memperdayakan guru dengan sebenarnya, dan untuk itu diperlukan pengamatan dan kreaktivitas peneliti untuk mewujudkan gambaran 10

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI itu. Keutuhan gambaran guru dapat dikonstruksi dari ciri dasarnya. Minimal pemberdayaan guru memuat tiga komponen dasar, yakni (1) memperdayakan guru dalam tingkat kompotensi (2) memperdayakan guru dalam segala aspek kebutuhan sehari-hari. Guru sekolah dasar di daerah pedalaman kabupaten Mimika, terlihat kurang efektif dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru pengajar. Kadang muncul pertanyaan oleh orang tua siswa tentang keberadaan guru yang statusnya kurang jelas, karena guru-guru yang ditugaskan di daerah pedalaman tidak melaksanakan tugasnya dengan sepenuh hati. Guru yang ditugaskan di daerah pedalaman sebagian besar adalah mereka yang sudah berkeluarga tetapi menjadi masalah dan pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap guru yang bertugas di daerah-daerah pedalaan adalah bagimana meninggalkan keluarganya di tempat lain dan hanya seorang diri di tempat tugas, apakah masalah itu tidak mengganggu konsentrasi mengajar guru. Menjadi seorang guru bukan lagi suatu tugas yang dibebankan kepadanya tetapi suatu pilihan yang harus dipilih oleh setiap guru. Guru-guru yang sudah dimiliki oleh setiap sekolah berdasarkan pilihan, maka guru-guru tersebut pasti memiliki hati yang mengajar, hati yang mendidik, hati yang memotivasi, dan hati yang mengarahkan, dan sebaliknya bukan guru-guru pilihan dan hanya berdasarkan kebutuhan yang mendesak, maka menjadi masalah karena guru tidak menjalankan tugas dengan dorangan hati dan tugas ini sebagai suatu beban. Sebagai suatu tugas maka tidak ada belas kasih untuk mengajar, mendidik, memotivasi, akhirnya tidak 11 memanusiakan manusia dari

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI keterbelakangan dan ketidaktahuanya tersebut. Maka seorang guru mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mampu mempelajari karakter dan sifat-sifat orang-orang yang ada di sekitarnnya dengan adanya pendekatan antoropologis atau pendekatan kultural dengan demikian akan menjawab pendidikan di daerah-daerah pedalaman ini. C. Penilaian Kinerja Guru Untuk melakukan penilaian guru adalah Dinas Pendidikan dan kebudayaan terkait, tujuan penilaian adalah untuk mewujudkan guru yang professional, karena harkat dan martabat suatu profesi ditentukan oleh kualitas layanan yang diberikan oleh para anggotanya. Dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dikemukakan bahwa “ penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karier kepangkatan dan jabatannya”. Dalam hal ini, penilaian kinerja guru bertujuan untuk menemukan secara tepat tentang kegiatan guru dalam kelas, dan membantu mereka untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya yang akan memberikan kontribusi secara langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan, sekaligus membantu pengembangan karier guru sebagai tenaga professional. Dalam bukanya Isoni (2008: 21-23) menjelaskan profil guru yang ideal adalah sosok yang mengabdikan diri berdasarkan panggilan jiwa, panggilan 12

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI hati nurani, bukan karena tuntutan uang belaka, yang membatasi tugas dan tanggung jawabnya sebatas dinding sekolah. Tapi, jangan hanya menuntut pengabdian guru, kesejahteraannya juga patut ditingkatkan. Guru yang ideal selalu ingin bersama anak-anak didik di dalam maupun di luar sekolah. Bila melihat anak didiknya menunjukkan sikap seperti sedih, murung, suka berkelahi, malas belajar, jarang turan ke sekolah, sakit, dan sebagainya, guru merasa prihatin dan tidak jarang pada waktu tertentu guru harus menghabiskan waktunya untuk memikirkan bagimana perkembangan pribadi anak didiknya. Kemuliaan hati seorang guru tercermin dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sekedar simbol atau semboyan yang terpampang di kantor dewan guru. Iri hati, koruptor, munafik, suka menggunjing, suap menyuap, malas dan sebagainya, bukanlah cermin kemuliaan hati seorang guru. Semua itu adalah perbuatan tercela yang harus disingkirkan dari jiwa guru professional. Dengan kemuliaannya, guru rela mengabdikan diri di desa terpencil sekalipun. Dengan segala kekurangan ada guru berusaha membimbing dan membina anak didik agar menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsanya di kemudian hari. Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. 13

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berkaitan dengan tanggung jawab, guru harus mengetahui, serta memahami nilai, norma moral, dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru harus bertanggung jawab terhadap segala tindakannya dalam pembelajaran di sekolah, dan dalam kehidupan bermasyarakat. D. Guru Sebagai Paripurna Guru sebagai teladan, harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profil idola. Seluruh kehidupannya adalah figure yang paripurna. Itulah kesan terhadap guru sebagai sosok yang ideal. Sedikit saja guru berbuat tidak atau kurang baik, akan mengurangi kewibawaannya dan kharisma pun secara berlahan lebur dari jati diri. Karena itu, kepribadian adalah masalah yang sangat sensitive sekali. Penyatuan kata dan perbuatan dituntut dari guru, bukan lain perkataan dengan perbuatan, ibarat kata pepatah, "pepat di luar ranting di dalam". Sebagai pribadi yang hidup di tengah-tengah masyarakat, guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat, melalui kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olah raga, keagamaan, dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab kalau tidak pergaulanya akan menjadi baku dan berakibat yang bersangkutan kurang bisa diterima oleh masyarakat. 14

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI E. Peningkatan Kemampuan Profesional Guru Sekolah Dasar Dalam bukunya Ibrahim Bafadal (2009, 42-43) menjelaskan bagimana pentingnya peningkatan kemampuan professional guru sekolah dasar dapat ditinjau dari beberapa sudut pandang. Pertama, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pendidikan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, berbagai metode dan media baru dalam pembelajaran telah berhasil dikembangkan. Maka, sangat penting kalau setiap guru harus menguasai target yang akan dicapai dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu mengembangkan pembelajaran yang dapat membawa anak didik menjadi lulusan yang berkualitas tinggi. Kedua, kepuasaan dan moral kerja. Peningkatan kemampuan professional guru merupakan hak setiap guru. Artinya, setiap guru pegawai berhak mendapat pembinaan secara kontinu, apakah dalam bentuk supervisi, studi banding, tugas belajar, maupun dalam bentuk lainnya. Demikian pula, guru sekolah dasar berhak mendapatkan pembinaan. Guru sekolah dasar dari swasta berhak mendapatkan pembinaan professional dari yayasan, sedangkan guru sekolah dasar negeri berhak mendapatkan pembinaan professional dari departemen atau dinas yang berwenang. Oleh karena itu, bilamana pembinaan professional dirancang dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, guru sekolah tidak hanya semakin mampu dan trampil dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya, melainkan juga semakin puas, memiliki moral atau semangat kerja yang tinggi, dan berisiplin. 15

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI F. Pembinaan Moral Kerja Guru Sekolah Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah dapat dilaksanakan dengan baik di sekolah dasar bila mana didukung oleh keberadaan guru yang produktif dengan melakukan berbagai pengembangan sesuai dengan kebutuhan sekolahnya masing-masing. Moral kerja yang tinggi akan mempertinggi produktivitas kerja. Ini berarti bahwa seorang guru yang memiliki moral kerja yang tinggi akan produktif, yaitu menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari hasil kerjanya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. G. Tugas dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas individu atau kelompok dalam usaha menuju pencapaian tujuan. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan pada setiap harinya memiliki tugas pokok mempengaruhi, mendorong, mengajak guru-guru dan staf lainnya agar mereka bersedia berbuat sesuatu yang dapat menyokong pencapaian tujuan sekolah sebagai suatu institusi. Tugas dan tanggung jawab kepala sekolah selaku pemimpin pendidikan ada yang berkenan dengan tujuan sekolah yang hendak dicapai. Misalnya, mendeskripsikan tujuan institusional sekolah sehingga mudah dipahami oleh guru maupun staf lainnya dalam melaksanakan kegiatankegiatan yang telah direncanakan, mendorong dan mengawasi pelaksanaan tugas-tugas yang telah didelegasikannya. Di samping itu, ada pula tugas dan tanggung jawab kepala sekolah yang menumbuhkan moral kerja guru-guru maupun staf lainnya. Bentuk operasional 16

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dari pelaksanaan tugas dan tanggung jawab berakhir ini, misalnya; a. berusaha memahami karakteristik setiap guru dan staf lainnya berupa perasaannya, keinginan, pola beipikir, sikap; b. menciptakan kondisi kerja yang menyenangkan, baik kondisi fisik maupun sosialnya sehingga mereka betah di sekolah; c. memupuk rasa kerja sama yang baik antara kepala sekolah dengan guru, guru dengan guru, maupun dengan staf lainnya, sehingga tercipta suatu kelompok kerja yang produktif dan kohesif; d. memupuk rasa ikut memiliki (sense of belonging), rasa adanya peranan yang cukup penting (sense ofimportence), dan rasa sebagai orang yang berhasil (sense of achievement), pada setiap diri guru maupun staf lainnya. H. Sarana Untuk Menetapkan Guru Mulyasa (2013: 57) Menjelaskan bahwa Uji kompetensi guru yang dilakukan secara professional dan berkeseinambungan akan menghasilkan gambaran tentang kondisi guru, terutama berkaitan dengan kompetensi dan kinerjanya. Hasil uji kompetensi dapat digunakan sebagai sarana untuk memetahkan kondisi guru yang berada di seluruh wilayah Negara kesatuan republik Indonesia yang terbesar di berbagai pulau dari Sambaing sampai Merauke. Adanya standar kompetensi yang jelas dapat mendorong para guru untuk meningkatkan kinerjanya sesuai dengan tuntutan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni. 17

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI I. Alat Seleksi Penerimaan Guru Pada saat ini telah banyak calon guru lulusan dari lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta yang antre menunggu pengangkatan. Banyaknya lulusan calon guru mengakibatkan perlunya seleksi untuk memilih guru sesuai dengan kebutuhan. Untuk kepentingan tersebut, perlu ditetapkan criteria secara umum berkaitan dengan kompetensi-kompetensi dasar yang perlu dipenuhi sebagai syarat menjadi guru. Kriteria calon guru mupakan pedoman penting bagi para administrator; dan pemerintah dalam memilih dan menentukan mana guru yang diperlukan untuk sekolah tertentu. Kriteria ini akan mendorong para calon guru untuk meningkatkan kualitas dan kompetensinya dengan hasil di atas standar. Jika, uji kompetensi ini digunakan secara professional dalam penerimaan guru baru, akan sangat membantu peningkatan kualitas pendidikan akan terjaring guru-guru yang kompeten dan siap melaksanakan tugasnya secara kreaktif, professional, dan menyenangkan. J. Sarana untuk Pembinaan Guru Untuk memperoleh guru yang baik dan ideal seperti yang diharapkan para peserta didik, perlu ditetapkan jenis kompetensi yang perlu dipenuhi sebagai syarat agar seseorang dapat diterima menjadi guru. Dengan adanya syarat yang menjadi kriteria calon guru, maka akan terdapat pedoman bagi para guru administrator dalam memilih, menyeleksi, dan menempatkan guru sesuai dengan karakteristik dan kondisi, serta jenjang sekolah. Asumsi yang mendasari kriteria ini adalah bahwa setiap calon guru yang memenuhi syarat 18

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diharapkan berhasil dalam mengemban tugas dan fungsinya, serta mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan demikian, pemilihan atau seleksi guru tidak dilakukan berdasarkan atas suka atau tidak suka, atau karena alas an yang bersifat subjektif, melainkan dilakukan secara objektif, dan berlaku secara umum untuk semua calon guru. K. Sarana Pemberdayaan Guru Mulyasa (2013:61-62) Menjelaskan bahwa dalam uji kompetensi guru, pemberdayaan dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan martabat guru dalam kesejahteraan, hak-haknya, dan memiliki posisi yang seimbang dengan profesi lain yang lebih mapan kehidupannya. Melalui uji kompetensi dan sertifikasi guru sebagai proses pemberdayaan, diharapkan adanya perbaikan tata kehidupan yang lebih adil, demokratis, serta tegaknya kebenaran dan keadilan di kalangan guru dan tenaga kependidikan. Dalam itu, diharapkan guru dapat melaksanakan pendidikan sesuai dengan kebutuhan, perkembangan zaman, karakteristik lingkungan, dan tuntutan global. Dalam dunia pendidikan, pemberdayaan merupakan cara yang sangat praktis dan produktif untuk menapatkan hasil yang terbaik dari kepala sekolah (manajer), para guru, dan pegawai. Proses yang ditempuh untuk mendapatkan hasil terbaik dan produktif tersebut adalah dengan membagi tanggung jawab secara proposional kepada para guru. Pada dasarnya pemberdayaan guru melalui uji kompetensi dan sertifikasi guru terjadi melalui beberapa tahapan.; pertama, guru mengembangkan sebuah kesadaran awal bahwa mereka dapat 19

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI melakukan tindakan untuk meningkatkan kehidupannya dan memperoleh seperangkat keterampilan agar mampu bekerja lebih baik. Melalui upaya tersebut, pada tahap kedua, mereka akan mengalami pengurangan perasaan ketidakmampuan dan mengalami peningkatan kepercayaan diri. Akhirnya, seiring dengan tumbuhnya keterampilan dan kepercayaan diri, para guru bekerja sama untuk berlatih lebih banyak mengambil keputusan dan memilih sumber-sumber daya yang akan berdampak pada kesejahteraan. L. Meningkatkan Kompetensi Guru Setiap guru memiliki kompetensi sebagai dasar untuk mengembangkan kemampuannya dalam mengajar atau mendidik pada peserta didik. Guru harus memiliki kompetensi sebagai dasar yaitu kompetensi pedogogik guru, kompetensi professional guru, kompetensi sosial guru, dan kompetensi kepribadian guru. Maka, perlu dapat dijelaskan lagi tentang keempat kompetensi tersebut. 1. Kompetensi Pedagogik Guru Kompetensi pedagogik berasal dari bahasa Yunani yakni paedos yang artinya anak laki-laki, dan agogos yang artinya mengantar, membimbing. Jadi pedagogik secara harafiah membantu anak laki-laki zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantarkan anak majikannya pergi ke sekolah (Uyoh Sadullah;www.Rezaervani.com. http://groups.Yahoo.com/group/rezaervani) dalam bukunya Fachruddin Saudagar, Ali Idrus (2011:32).Menurut Hoogeveld (Belanda), dalam 20

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bukunya Fachruddin Saudagar, Ali Idrus (2011: 31-32) adalah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu supaya kelak ia mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya. Langeveld (1980) membedakan istilah pedagogik dengan istilah pedagogi. Pedagogik diartikannya sebagai ilmu pendidikan yang lebih menekankan pada pemikiran dan perenungan tentang pendidikan. Sedangkan istilah pedagogi artinya pendidikan yang lebih menekankan kepada praktek, yang menyangkut kegiatan mendidik, membimbing anak. Pedagogik merupakan suatu teori yang secara teliti, kritis dan objektif mengembangkan konsepkonsepnya mengenai hakikat manusia, hakikat anak, hakikat tujuan pendidikan serta hakikat proses pendidikan. Secara umum istilah pedagogik (pedagogi) dapat beri makna sebagai ilmu dan seni mengajar anak-anak. Sedangkan ilmu mengajar untuk orang dewasa ialah andragogi. Dengan pengertian itu maka pedagogik adalah sebuah pendekatan pendidikan berdasarkan tinjauan psikologis anak. Pendekatan pedagogik muaranya adalah membantu siswa melakukan kegiatan belajar. Dalam perkembangannya, pelaksanaan pembelajaran itu dapat menggunakan pendekatan kontinum, yaitu dimulai dari pendekatan pedagogi yang diikuti oleh pendekatan andragogi, atau sebaliknya yaitu dimulai dari andragogi yang diikuti pedagogi, demikian pula daur selanjutnya; andragogi-pedagogi-andragogi, dan seterusnya. Berdasarkan pengertian seperti tersebut di atas maka yang dimaksud dengan pedagogik adalah ilmu tentang pendidikan anak yang ruang 21

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI lingkupnya terbatas pada interaksi edukatif antara pendidik dengan siswa. Sedangkan kompetensi pedagogik adalah sejumlah kemampuan guru yang berkaitan dengan ilmu dan seni mengajar siswa. Rumusan kompetensi pedagogik di dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 28, ayat 3 (Tim Redaksi Fokusmedia, 2005;77) dikutip oleh Fachruddin Saudagar, Ali Idrus (2011:33-35) menyebutkan bahwa kompetensi ialah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi; (a) pemahaman terhadap peserta didik; (b) perancangan dan pelaksanaan pembelajaran; (c) evaluasi hasil belajar; dan (d) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik Samani, Mukhlas, 2008: 9) ialah kamampuan dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang meliput: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c) pengembangan kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pemanfaatan teknologi pembelajaran; (f) evaluasi proses dan hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (2006:88) dalam bukunya Jejen Musfa (2011:30-31) adalah kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman tentang peserta didik; (c) pengembangan 22

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kurikulum/ silabus; (d) perencanaan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 2. Kompetesnsi Profesional Guru Menurut Martinis Yamin, Maisah (2010:11) kompetensi profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan methodology keilmuan. Menurut Fachruddin Saudagar, Ali Idrus (2011: 48) kompetensi profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pada pasal 28 ayat 3 yang dimaksud dengan kompetensi profesional ialah “kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi Standar Nasional Pendidikan.” Sedangkan menurut Mukhlas Samani (2008:6) yang dimaksud dengan kompetensi profesional ialah kemampuan menguasai pengetahuan bidang ilmu, teknologi dan atau seni yang diampunya. Menurut Surya (2005) dalam Kumandar (2007;47) dan dikutip lagi oleh Fachruddin Saudagar, Ali Idrus (2011:50) guru yang profesional akan 23

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mencermin dalam pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Selain itu, juga ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya. Guru profesional mempunyai tanggung jawab pribadi, sosial, intelektual, moral, dan spritual. Dengan kata lain pengertian guru profesional adalah orang yang punya kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru. Guru yang profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih serta punya pengalaman di bidang keguruan. Seorang guru profesional dituntut dengan sejumlah persyaratan minimal antara lain: memiliki kualifikasi pendidikan profesi yang memadai, memiliki kompetensi keilmuan sesuai dengan bidangnya, memiliki kemampuan berkomunikasi dengan siswanya, mempunyai jiwa kreaktif dan produktif, mempunyai etos kerja dan komitmen tinggi terhadap profesinya dan lalu melakukan pengembangan diri secara terus menerus (continuous improvement) melalui organisasi profesi, buku, seminar dan semacamnya. Guru profesional yang dijelaskan oleh Ngalim Purwanto (2002) dan dikutip lagi oleh Fachruddin Saudagar, Ali Idrus (2011:51), bahwa guru profesional mempunyai sikap dan sifat terpuji diantaranya; (1) bersikap adil; (2) percaya dan suka kepada siswanya; (3) sabar dan rela berkorban; (4) memiliki wibawa di hadapan peserta didik; (5) penggembira; (6) bersikap baik terhadap guru-guru lainnya; (7) bersikap baik terhadap masyarakat; (8) benar-benar menguasai mata pelajarannya; (9) suka 24

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dengan mata pelajaran yang diberikannya; dan (10) berpengetahuan luas. Telah atas eksistensi guru/ keguruan dalam literatur kependidikan menyatakan bahwa guru harus memiliki karakteristik profesional. Pertama, komitmen terhadap profesionalitas, yang melekat pada dirinya sikap dedikatif, komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja (produk), dan sikap continous improvement (improvisasi berkelanjutan). Kedua, menguasai dan mampu mengembangkan serta menjelaskan fungsi ilmu dalam kehidupan, mampu menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya. Atau dengan kata lain, mampu melakukan transformasi implementasi ilmu kepada siswa. Ketiga, medidik dan menyiapkan siswa yang memiliki kemampuan berkreasi, mengatur dan memiliharan hasil kreasinya supaya tidak menimbulkan malapetaka bagi diri, masyarakat, dan lingkungannya. Keempat, mampu menjadikan dirinya sebagai model dan pusat anutan (entre of self identification), teladan, dan konsultan bagi siswanya. Kelima, mampu bertanggung jawab dalam membangun peradaban di masa depan (civilization of the future) (Muhaimin 2002: 14-15). Sifat dan ciri guru yang profesional. Menurut Robert W Richey (1974), mengemukakan delapan ciri guru yang profesional. Pertama, lebih mementingkan pelayanan yang ideal dibandingkan dengan kepentingan pribadi. Kedua, sebagai seorang pekerja profesional, secara relatif memerlukan waktu yang panjang untuk mempelajari konsep-konsep seperti prinsip-prinsip pengetahuan, khusus yang mendukung keahliannya. Ketiga, memiliki kualifikasi tertentu untuk 25

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memasuki profesi tersebut serta mampu mengikuti perkembangan dalam pertumbuhan jabatan. Keempat, memiliki kode etik yang mengatur keanggotaan, tingkah laku, sikap, dan cara kerja. Kelima, membutuhkan kegiatan intelektual yang tinggi. Keenam, adanya organisasi yang dapat meningkatkan standar pelayanan, disiplin diri dalam profesi, dan kesejahteraan anggotanya. Ketujuh, memberikan kesempatan untuk kemajuan, spesialisasi, dan kemandirian. Kedelapan, memandang profesi sebagai suatu karier hidup dan menjadikan diri sebagai profesional yang permanen (Suharsimi Arikunto, 1990:235-236). Arifin (1991: 106) dalam bukunya Fachruddin Saudagar, Ali Idrus (2011:53) menegaskan bahwa guru profesional adalah guru yang mampu mengejawantahkan seperangkat fungsi dan tugas keguruan dalam lapangan pendidikan dan latihan khusus di bidang pekerjaan yang mampu mengembangkan kekayaannya secara ilmiah di samping itu mampu menekuni profesinya selama hidupnya. Yaitu, guru yang memiliki kompetensi keguruan berkat pendidikan dan latihan di lembaga pendidikan guru dalam jangka waktu tertentu. Tidak hanya itu, guru yang profesional adalah guru yang memiliki kecakapan dalam manajemen kelas dalam rangka proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Kompetensi profesional yang dijelaskan oleh Suyatno (2008: 17) seorang guru harus menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi, memiliki indikator esensial; (a) memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (b) memahami struktur atau kohoren 26

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dengan materi ajar; (c) memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; dan (d) menerapkan konsep-konsep keilmuan ke dalam kehidupan sehari-hari. Seorang guru harus menguasai struktur dan metode keilmuan, memiliki indikator esensial: (a) menguasai langkah-langkah penelitian, dan (b) menguasai kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan/ materi bidang studi. a. Ruang lingkup kompetensi professional Menurut Cooper ada empat komponen kompetensi profesional, yaitu (a) mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia, (b) mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya; (c) mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat dan bidang studi yang dibinanya; dan (d) mempunyai keterampilan dalam teknik mengajar. Menurut (Jhonson, 1980) dalam bukunya Fachruddin Saudagar, Ali Idrus (2011:55) kompetensi profesional mencakup: (a) penguasaan materi yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan dan konsep-konsep dasar keilmuan yang diajarkan dari bahan yang diajarkannya itu; (b) penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan; dan (c) penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan pembelajaran siswa. Menurut Depdikbud, (1980) ada 10 kemampuan dasar guru, yaitu: (a) penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep dasar keilmuannya, (b) pengelolaan program belajar mengajar, (c) pengelolaan kelas, (d) penggunaan 27

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI media dan sumber pembelajaran, (e) penguasaan landasan-landasan kependidikan, (f) pengelolaan interaksi belajar mengajar, (g) penilaian prestasi siswa, (h) pengenalan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan, (i) pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah, serta (j) pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pengajaran. Jejen Musfah (2011: 54) menjelaskan tugas guru ialah mengajarkan pengetaguan kepada murid. Guru tidak sekedar mengetahui materi yang akan diajarkannya, tetapi memahaminya secara luas dan mendalam. Oleh karena itu, murid harus selalu belajar untuk memperdalam pengetahuannya terkait mata pelajaran yang diampunya. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (2006:88) kopetensi profesional adalah: Kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metode keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/ koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antarmata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melastarikan nilai dan budaya nasional. Seorang guru harus menjadi orang yang spesial, namun lebih baik lagi jika ia menjadi spesial bagi semua siswanya. Guru harus merupakan kumpulan orang-orang pintar di bidangnya masing-masing 28

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan juga dewasa dalam bersikap. Namun lebih penting lagi adalah bagimana caranya guru tersebut dapat menularkan kepintaran dan kedewasaannya tersebut pada para siswanya di kelas. Sebab guru adalah jembatan bagi lahirnya anak-anak cerdas dan dewasa di masa mendatang. Dalam proses penyelenggaraan pendidikan, gedung sekolah, dana, program, dan kepemimpinan adalah vital. Demikian juga sumber daya manusia, dari kepala sekolah, guru , dan staf memegang peranan yang sangat penting. Sumidjo (2001:272) menyatakan, “Faktor yang paling esensial dalam proses pendidikan adalah yang ditugasi dengan pekerjaan untuk menghasilkan perubahan yang telah direncanakan pada anak didik. Hal ini merupakan esensi dan hanya dapat dilakukan sekelompok manusia profesional, yaitu manusia yang memiliki kompetensi mengajar. ”Oleh karena itu, guru harus selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, karena ilmu pengetahuan dan keterampilan itu berkembang seiring perjalanan waktu. Menurut Sukmadinata (2006:207) “Pengembangan keterampilan dan karakter guru profesional bukan hanya tahu banyak, tetapi juga bisa banyak.” menjadi guru profesional bukan hal mudah. Sebelum mencapai tingkat expert (ahli), guru harus melalui beberapa tahap seperti dijelaskan Berliner, “Guru berkembang menjadi ahli melalui beberapa tingkatan – dari pendatang baru (novice) ke pemula 29

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI lanjut, kompeten pandai (proficient), dan pada akhirnya ahli (expert).” Darling – Hammond dan Bransford, 2005: 380). Menurut Ary Gunawan (1989) guru pengadministrasian melaksanakan diharapkan; (1) mengenal secara baik kegiatan kegiatan sekolah, administrasi (2) membantu sekolah, (3) dalam mengatasi kelangkaan sumber belajar bagi dirinya dan bagi sekolah, (4) membimbing peserta didik merawat alat-alat pelajaran dan sumber belajar secara tepat. Berdasarkan pada uraian di atas maka banyak kemampuan profesional yang harus dimiliki seorang guru antara lain adalah sebagai berikut. 1) Kemampuan penguasaan materi/bahan bidang studi. Penguasaan ini menjadi landasan pokok untuk keterampilan mengajar... 2) Kemampuan mengelola program pengajaran yang mencakup kemampuan merumuskan Standar Kompetensi dan kompetensi dasar, merumuskan silabus, tujuan pembelajaran, kemampuan menggunakan metode/ model mengajar, kemampuan menyusun langkah-langkah kegiatan pembelajaran, kemampuan melakukan evaluasi, kemampuan mengenal potensi (entry behavior) peserta didik, serta kemampuan pengajaran remedial. 30 merencanakan dan melaksanakan

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3) Kemampuan mengelola kelas. Kemampuan ini antara lain adalah; (a) mengatur tata ruang kelas; (b) menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif. 4) Kemampuan mengelola dan penggunaan media serta sumber belajar. Kemampuan ini pada dasarnya merupakan kemampuan menciptakan kondisi belajar yang merangsang agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efesien. Termasuk dalam kemampuan ini adalah mampu membuat alat bantu pembelajaran, menggunakan perpustakaan, 5) Kemampuan kependidikan. penguasaan pengetahuan Kemampuan menguasai tentang landasan landasan-landasan kependidikan. 6) Kemampuan menilai prestasi belajar peserta didik. Yang dimaksud dengan kemampuan ini menilai prestasi belajar peserta didik atau siswa adalah kemampuan mengukur perubahan tingkah laku siswa dan kemampuan mengukur kemahiran dirinya dalam mengajar dan dalam membuat program. Dalam setiap pekerjaan evaluasi ada tiga sasaran yang hendak dicapai, yaitu: (1) Prestasi belajar berupa pertanyaan dalam bentuk angka dan nilai tingka laku, (2) Prestasi belajar berupa pertanyaan lingkungan yang mengamatinya melalui penghargaan atas prestasi yang dicapainya, serta (3) Keunggulan program yang dibuat lingkungannya. 31 guru, karena relevan didik dan

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7) Kemampuan memahami prinsip-prinsip pengelolaan lembaga dan program pendidikan di sekolah. 8) Kemampuan menguasai metode berpikir. Metode dan pendekatan setiap bidang studi berbeda-beda. 9) Kemampuan meningkatkan dan menjalankan misi profesional. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru harus terus-menerus mengembangkan dirinya agar wawasannya menjadi luas sehingga dapat mengikuti perubahan dan perkembangan profesinya yang didasari oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. 10) Kemampuan/terampil memberikan bantuan dan bimbingan kepada peserta didik dapat mengembangkan kemampuannya melalui proses belajar mengajar di kelas. 11) Kemampuan memiliki wawasan tentang penelitian pendidikan. Setiap guru perlu memiliki kemampuan untuk memahami/ melakukan penelitian sehingga mereka perlu memiliki wawasan yang memadai tentang prinsip-prinsip dasar dan cara-cara melaksanakan penelitian pendidikan. 12) Kemampuan memahami karekteristik peserta didik. guru dituntut memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang ciri-ciri dan perkembangan peserta didik, lalu menyesuaikan bahan yang akan diajarkan sesuai dengan karakteristik peserta didik. 32

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13) Kemampuan menyelanggarakan administrasi sekolah. Di samping itu kegiatan akademis, guru harus mampu menyelenggarakan administrasi sekolah. 14) Kemampuan memiliki wawasan tentang inovasi pendidikan. Seorang guru diharapkan berperan sebagai inovator atau agen perubahan maka guru perlu memiliki wawasan yang memadai mengenai berbagai inovasi dan teknologi pendidikan yang pernah dan mungkin dikembangkan pada jenjang pendidikan. 15) Kemampuan/berani mengambil keputusan. Guru harus memiliki kemampuan mengambil keputusan pendidikan agar ia tidak terombang-ambingkan dalam ketidakpastian. 16) Kemampuan memahami kurikulum dan perkembangannya. Salah satu tugas guru adalah melaksanakan kurikulum dengan sebaiksebaiknya. Oleh karena itu, guru perlu memahami konsep-konsep dasar dan langkah-langkah pokok dalam pengembangan kurikulum. 17) Kemampuan bekerja berencana dan terprogram. Guru dituntut untuk dapat bekerja teratur, tahap demi tahap, tanpa menghilangkan kreativitasnya. 18) Kemampuan menggunakan waktu secara tepat. Makna tepat waktu di sini bukan sekedar masuk dan keluar kelas tepat pada waktunya, melainkan juga guru harus pandai membuat program kegiatan dengan durasi dan frekuensi membosankan. 33 yang tepat sehingga tidak

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. Keterampilan Guru dalam Proses Belajar Mengajar Udin Syaefudin Saud (2011:55) menjelaskan bahwa guru profesional adalah guru yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik. Dalam mengajar diperlukan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk kelancaran proses belajar mengajar secara efektif dan efisien. Keterampilan guru dalam proses belajar mengajar antara lain: (1) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, (2) keterampilan menjelaskan, (3) keterampilan bertanya, (4) terampilan memberi penguatan, (5) keterampilan menggunakan media pembelajaran, (6) keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, (7) keterampilan mengelola kelas, (8) keterampilan mengadakan variasi, dan (9) keterampilan mengajar perorangan dan kelompok kecil. 34

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Pengertian Kompetensi Kepribadian Menurut Fachruddin Sudagar, Ali Idrus ( 2011:39) kompetensi kepribadian adalah setiap guru mempunyai pribadi masing-masing sesuai ciri-ciri pribadi yang mereka miliki. Ciri-ciri inilah yang membedakan seorang guru dengan yang lainnya. Kepribadian sebenarnya adalah satu masalah yang abstrak, hanya dapat dilihat dari penampilan, tindakan, ucapan, cara berpakaian, dan dalam menghadapi setiap persoalan. Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur psikis dan fisik. Dalam makna demikian, seluruh sikap dan perbuatan seseorang merupakan satu gambaran dari kepribadian orang itu, asal dilakukan secara sadar. Menurut Suyatno (2008: 17-18) kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kepribadian yang mantap dan stabil, memiliki indikator esensial: (1) bertindak sesuai dengan norma hukum; (2) bertindak sesuai dengan norma sosial; (3) bangga sebagai guru; dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma. Kepribadian yang dewasa, memiliki indikator esensial: menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru. Kepribadian yang arif, memiliki indikator esensial: (1), menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat, serta (2) menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak. 35

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kepribadian yang berwibawa, memiliki indikator esensial: (1) memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik , dan (2) memiliki perilaku yang disegani. Akhlak mulia dan dapat menjadi teladan, memiliki indikator esensial: (1) bertindak sesuai dengan norma religius (iman dan taqwa, jujur, ikhlas, suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik. Menurut Martinis Yamin, Maisah (2010:9) kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewas, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. 1. Peran Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian berperan menjadikan guru sebagai pembimbing, panutan, contoh, teladan bagi siswa. Dengan kompetensi kepribadian yang dimikinya maka guru bukan saja sebagai pendidik dan pengajar tapi juga sebagai tempat siswa dan masyarakat bercermin. Hal ini sejalan dengan yang di kemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro dalam sistem Amongnya yaitu guru harus Ing ngarso sungtulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”. Dengan kompetensi kepribadian maka guru akan menjadi contoh dan teladan, membangkitkan motivasi belajar siswa serta mendorong/memberikan motivasi dari belakang. Oleh karena itu seorang guru dituntut melalui sikap dan perbuatan menjadikan dirinya sebagai panutan dan ikutan orang-orang yang dipimpinnya. Guru bukan hanya pengajar, pelatih dan pembimbing, tetapi juga sebagai cermin tempat subjek didik dapat 36

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berkaca. Dalam relasi interpersonal antar guru dan siswa tercipta situasi pendidikan yang memungkinkan subjek didik dapat belajar menerapkan nilai-nilai yang menjadi contoh dan memberi contoh. Guru mampu menjadi orang yang mengerti diri siswa dengan segala problematiknya, guru juga harus mempunyai wibawa yang sehingga siswa segan terhadapnya. Berdasarkan uraian di atas, maka fungsi kompetensi kepribadian guru adalah memberikan teladan dan contoh dalam membimbing, mengembangkan kreaktivitas dan membangkitkan motivasi belajar. 2. Ruang Lingkup Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian itu adalah hal yang bersifat universal, yang artinya harus dimiki guru dalam menjalankan fungsinya sebagai makhluk individu (pribadi) yang menunjang terhadap keberhasilan tugas guru yang diembannya. Kompetensi kepribadian guru Menurut Sanusi (1991), dikutip lagi oleh Fachruddin Saudagar, Ali Idrus (2011:45) mencakup hal-hal sebagai berikut. a. Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya. Pemahaman, penghayatan dan penampilan nilainilai yang seyogianya dianut oleh seoran guru. b. Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.Menurut Djama’an, Satori, ddk 37

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (2007:2,6-2.10) kompetensi kepribadian yang perlu dimiliki guru antara lain sebagai berikut. 1) Guru sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa berkewajiban untuk meningkatkan iman dan ketakwaannya kepada Tuhan, sejalan dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya. 2) Guru memiliki kelebihan dibandingkan yang lain. Oleh karena itu perlu dikembangkan rasa percaya pada diri sendiri dan tanggung jawab bahwa ia memiliki potensi yang besar dalam bidang keguruan dan mampu untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapinya. 3) Guru senantiasa berbeda`da berhadapan beragam keunikan dengan dari komunitas peserta didik yang dan masyarakatnya maka guru perlu untuk mengembangkan sikap tenggang rasa dan toleransi dalam menyikapi perbedaan yang ditemuinya dalam berinteraksi dengan peserta didik maupun masyarakat. 4) Guru diharapkan dapat menjadi fasilitator dalam menumbuh kembangkan budaya berpikir kritis dalam masyarakat, saling menerima dalam perbedaan pendapat dan menyepakatinya untuk mencapai tujuan bersama maka guru dituntut seorang guru untuk bersikap demokratis dalam menyampaikan dan menerima gagasan-gagasan mengenai permasalahan yang ada 38

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI di sekitarnya sehingga guru menjadi terbuka dan tidak menutup firi dari hal-hal yang berbeda di luar dirinya. 5) Menjadi guru yang baik tidak semudah membalikan telapak tangan, hal ini menuntut kesabaran dalam mencapainya. Guru diharapkan dapat sabar dalam arti tekun dan ulet melaksanakan proses pendidikan karena hasil pendidikan tidak langsung dapat dirasakan saat itu tetapi membutuhkan proses yang panjang. 6) Guru mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan pembaharuan, baik dalam bidang profesinya maupun dalam spesialisasinya. 7) Guru mampu menghayati tujuan-tujuan pendidikan baik secara nasional, kelembangaan, kurikuler sampai tujuan mata pelajaran yang diberikannya. 8) Hubungan manusiawi yaitu kemampuan guru untuk dapat berhubungan dengan orang lain atas dasar saling menghormati antara satu dengan yang lainnya. 9) Pemahaman diri, yaitu kemampuan untuk memahami berbagai aspek dirinya baik yang positif maupun yang negetif. 10) Guru mampu melakukan perubahan-perubahan mengembangkan profesinya sebagai inovator dan kreator. 39 dalam

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Kompetensi Sosial Guru Seorang guru sama seperti manusia lainnya adalah makhluk sosial, yang dalam hidupnya berdampingan dengan manusia lainnya. Guru diharapkan memberikan contoh baik terhadap lingkungannya, dengan menjalankan hak dan kewajibannya sebagai bagian dari masyarakat sekitarnya. Guru harus berjiwa sosial tinggi, mudah bergaul, dan suka menolong, bukan sebaliknya, yaitu individu yang menutup dan tidak memedulikan orang-orang di sekitarnya. Maka, Pengertian Kompetensi Sosial menurut Jejen Musfah (2011:52-53) menjelaskan kompetensi sosial merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk: (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenga kependidikan, orang tua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. (BSNP, 2006:88) Menurut Sukmadinata (2006: 193), “Di antara kemampuan sosial dan personal yang paling mendasar yang harus dikuasai guru adalah idealisme, yaitu cita-cita luhur yang ingin dicapai dengan pendidikan.” Cita-cita ini dapat diwujudkan guru melalui: pertama, kesungguhannya mengajar dan mendidik para murid. Kedua, pembelajaran masyarakat melalui interaksi langsung dengan mereka di beberapa tempat seperti ibadah-ibadah keagamaan, kumpulan-kumpulan pemuda-pemudi, pesta adat setempat dan lain-lain. Ketiga, guru menuangkan dan mengekspresikan pemikiran dan 40

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI idenya melalui tulisan, baik dalam bentuk artikel, cerpen, novel, sajak, maupun artikel ilmiah. Fachruddin Saudagar, Ali Idrus (2011:63) yang dimaksud dengan kompetensi sosial di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pada pasal 28, ayat 3, ialah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif denga peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/ wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Menurut Acmad Sanusi (1991) mengungkapkan kompetensi sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru. Menurut Suyatno (2008: 16) kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkumunikasi dan bergaul secara efektif dengan: (1) peserta didik, (2) sesama pendidik dan tenaga kependidikan, (3) orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. a. Mampu berkomunikas dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, memiliki indikator esensial: berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik. b. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan. c. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. 41

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1) Ruang Lingkup Kompetensi Sosial Kompetensi sosial dalam kegiatan belajar ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan masyarakat di sekitar sekolah dan masyarakat tempat guru tinggal sehingga peranan dan cara guru berkomunikasi di masyarakat diharapkan memiliki karakteristik tersendiri yang sedikit banyak berbeda dengan orang lain yang bukan guru. Misi yang diemban guru adalah misi tugas memanusiakan manusia. Guru harus mempunyai kompetensi sosial karena guru adalah penceramah jaman, (Langeveld, 1955). Menurut Cece Wijaya (1994), Djama’an Satori (2007) dalam Fachruddin, Ali Idrus (2011:64) kompetensi sosial adalah sebagai berikut: a) Terampil berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua peserta didik. b) Bersikap simpatik c) Dapat bekerja sama dengan dewan pendidikan/komite sekolah d) Pandai bergaul dengan kawan sekerja dan mitra pendidikan e) Memahami dunia sekitarnya (lingkungan). Sendangkan menurut Mukhlas Samani (2008:6) yang dimaksud dengan kompetensi sosial ialah kemampuan individu sebagai bagian dari masyarakat yang mencakup kemampuan untuk; a) Berkomuniksi lisan, tulisan, dan/isyarat b) Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional 42

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI c) Bergaul secara santun efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua/wali peserta didik. d) Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindakan norma serta sistem nilai yang berlaku. e) Menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan. 2) Kerangka Berpikir Kompetensi sosial Berdasarkan pengertian dan ruang lingkup kompetensi sosial seperti tersebut di atas maka inti dari pada kompetensi sosial itu adalah kemampuan guru melakukan interaksi sosial melalui komunikasi. Guru dituntut berkomunikasi dengan sesama guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar. Jadi, guru dituntut mengenal banyak kelompok sosial seperti kelompok bermain, kelompok kerja sama, pendeta, kepala suku, tokoh-tokoh masyarakat, kelompok muda-mudi, dan lain-lain. Pengertian interaksi sosial ini amat berguna dalam memperhatikan dan mempelajari berbagai masalah masayarakat, termasuk masalah pembelajaran. Tanpa interaksi sosial tidak mungkin terjadi kehidupan bersama yang terwujud dalam pergaulan. Pergaulan hidup memang terjadi apabila para anggota masyarakat saling berbicara, saling berbagi pengalaman, bahkan juga saling bersaing dan berselisih. Interaksi sosial merupakan dasar proses sosial sebagai satu 43

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pengertian yang mengacu kepada hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Secara umum dapat dikatakan, bahwa bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. 3) Fungsi Kompetensi Sosial Masyarakat dalam proses pembangunan sekarang ini menganggap guru sebagai anggota masyarakat yang memiliki kemampuan, keterampilan yang cukup luas, yang mau ikut serta dalam secara aktif dalam proses pembangunan. Guru diharapkan menjadi pelopor di dalam pelaksanaan pembangunaan. Guru perlu menyadari posisinya di tengah-tengah masyarakat berperan sangat penting, yakni sebagai; (1) motivator dan inovator dalam Pembangunan Pendidikan, (2) perintis dan pelopor pendidikan, (3) penelitian dan pengkajian ilmu pengetahuan, (4) pengabdian. 44

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini peneliti menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif eksploratif, karena permasalahan belum jelas, holistik, dinamis dan penuh makna sehingga peneliti tidak menentukan suatu metode yang sesuai dengan masalah yang peneliti lakukan. Dengan demikian peneliti sebagai pengamat penuh dalam penelitian ini untuk menganalisis, mengamati, serta mendapatkan informasi dan data yang akurat, maka memanfaatkan peneliti sebagai instrumen utama sekaligus pengumpul data dalam penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti kinerja dinas dan pembentukan profesionalisme guru dengan cara memperdayakan guru sekolah Dasar di Daerah Pedalaman kabupaten Mimika. Karena profil pendidikan di Daerah Pedalaman Timika lebih khususnya dan pada umumnya Pedalaman Papua, permasalahanya sangat kompleks, apakah persoalan itu disebabkan oleh karena kurangnya perhatihan pemerintah daerah, kurangnya dukungan masyarakat sekitar, kurangnya semangat belajar siswa, kurangnya memotivasi belajar siswa, dan atau persoalan guru?, ini sangat memprihatinkan dan peneliti berkomitmen untuk melangkah dan menciptakan suatu trobosan dalam hal ini yaitu melalui penelitian inilah baru akan menemukan titik akar permasalahannya. Maka, yang pertama peneliti memulai dari arena guru setelah itu belum menemukan juga titik masalahnya maka peneliti juga meneliti di arena lain 45

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI setelah penelitian ini selesai, karena fokus peneliti hanya pada profesionalitas guru sekolah Dasar di Daerah Pedalaman Timika Papua. Berkaitan dengan masalah yang diangkat oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu "Bagimana Pemberdayaan Guru Sekolah Dasar di Daerah Pedalaman Kabupaten Mimika Provinsi Papua."Oleh karena itu peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan deskriptif eksploratif, dengan penelitian ini hanya terbatas pada usaha mengungkapkan suatu pristiwa, masalah, keadaan dan sebagaimana adanya sehingga bersifat hanya sekedar mengungkapkan fakta. Hasil dari penelitian ini ditekankan pada pemberian gambaran secara objektif tentang masalah yang sebenarnya dari objek yang peneliti akan diselidiki. Dalam penelitian ini sangat menarik karena disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreaktif dan mendalam, serta menunjukkan ciri-ciri alamiah yang penuh ke-otentik, dengan mengungkapkan gejala secara menyeluruh. Penelitian ini bersifat deskriptif dan mengeskplorasi serta cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif dan perspektif subyek. B. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian yang peneliti melakukan penelitian adalah kabupaten Mimika di daerah pedalaman kota Timika, karakteristik lokasinya adalah jauh dari pusat pemerintahan kabupaten Mimika dan penelitian yang peneliti fokuskan adalah wilayah daratan tinggi dari kota Timika yaitu Distrik Jila dan Distrik Tembagapura. Dan ada beberapa kampung di antaranya adalah 46

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kampung Bela, kampung Jila, kampung Hoeya, kampung Tsinga, kampung Tembagapura, dan kampung Aroanop. Karena tempat-tempat ini terdapat beberapa persoalan yang sangat kompleks dan harus diatasi oleh berbagai pihak dan salah satunya adalah masalah yang diangkat oleh peneliti yaitu tentang profesionalisme guru sekolah dasar di daerah pedalaman ini. Lebih jelasnya dapat dijelaskannya sebagai berikut. Kabupaten Mimika yang beribukota di Timika, secara Geografis terletak antara 134°31' - 138°31' Bujur Timur dan 4°60' -5° 18' Lintang Selatan. Pada bagian Utara terdapat Pegunungan Jayawijaya, dengan puncak tertinggi adalah Gunung Indburg (4860 m) dari permukaan laut, yang terletak di sebelah Utara kota Tembagapura. Batas Wilayah Kabupaten Mimika adalah: Sebelah Utara: Kabupaten Paniai, Kabupaten Nabire, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Deyai Sebelah BaratKabupaten Kaimana Sebelah Selatan: Laut Arafuru Sebelah Timur: Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Yakuhimo. Kabupten Mimika mencakup wilayah seluas 19.592 km2 atau 4,75 % dari luas wilayah Provinsi Papua. Wilayah Kabupaten Mimika memiliki topografi dataran tinggi dan dataran rendah. Keadaan topografi Kabupaten Mimika ditandai dengan 5 (lima) kelas kemiringan lereng, yaitu : 0-3%, 3-8%, 8-15%, 15-25%, dan >40%. Lereng dengan kemiringan >40% menyebar memanjang di sebelah Utara Kabupaten Mimika. Distrik yang berada di dataran tinggi adalah Tembagapura, Jila, dan Agimuga, sedangkan kelas kemiringan 3-8%, 8-15%, 47

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15-25% menyebar di wilayah bagian tengah, dan 3-8% menyebar di bagian selatan sampai ke wilayah bagian tengah Kabupaten Mimika. Distrik yang bertopografi dataran rendah adalah Distrik Mimika Barat Jauh, Mimika Barat Tengah, Mimika Barat, Mimika Tengah, Mimika Timur, Mimika Timur Jauh, Jila, Kuala Kencana, dan Mimika Baru. Distrik Mimika Baru, Kuala Kencana, Tembagapura dan Jila adalah Distrik yang tidak memliki pantai. Sedangkan Distrik Mimika Barat Jauh, Mimika Barat Tengah, Mimika Barat, Mimika Tengah, Mimika Timur, Mimika Timur Jauh, Jita, Agimuga sebagian wilayahnya berbatasan dengan Laut Arafura, sehingga distrik tersebut memiliki pesisir pantai. Peneliti memilih Daerah Pedalaman kota Timika sebagai tempat penelitian karena mempertimbangkan letak geografisnya jauh dari pusat pemerintahan kabupaten Mimika dan sangat menantang dan sangat sulit peneliti melakukan penelitian di tempat-tempat seperti ini dan mengingat juga tempat penelitian jauh dan tidak ada bayangan sama sekali. Tetapi peneliti tidak menganggap sebagai suatu persoalan tapi peneliti menganggap ini sebagai suatu tantangan yang sangat menarik unruk mencobanya. Peneliti langsung terjun ke lapangan penelitian dan paling penting bagi peneliti adalah bagimana meraba langsung persoalan yang dialami masyarakat dalam arti guru sekolah dasar dan para muridnya yang bertugas di daerahdaerah pedalaman ini atau mendapatkan informasi dan data yang paling konkrit sesuai dengan kehidupan mereka. Sehingga permasalahan yang terjadi di tempat-tempat seperti ini bisa diketahui di kalangan masyarakat umum. 48

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Subjek dan Objek Penelitian Subjek penelitian adalah subjek yang dituju unruk diteliti oleh peneliti. Subjek penelitian merupakan suatu unit analisis yairu subjek yang menjadi pusat perhatian atau sasaran peneliti. Subjek penelitian utama dalam penelitian ini adalah Kepala Dinas Kependidikan dan Kebudayaan Sekolah Dasar di Kabupaten Mimika, setiap Kepala Sekolah yang ada di Daerah Pedalaman Timika Papua. Subjek penelitian pelengkap dalam penelitian ini adalah individuindividu tertentu yang diwawancarai untuk keperluan informasi yaitu orangorang yang dapat memberikan informasi atau keterangan atau data yang diperlukan oleh peneliti. Informan yang diambil diharapkan dapat memberikan informasi yang sebanyak mungkin, sehingga data yang diambil benar-benar dapat mewakili terhadap penelitian. Terkait dengan pemilihan informan, Spradlay dalam Bungin (2003: 54) mengemukakan kriteria untuk menentukan informan, sebagai berikut: 1. Subjek yang cukup lama dan intensif menyatu dengan kegiatan atau medan aktivitas yang menjadi informasi. 2. Subjek yang masih terlibat secara penuh/aktif pada kegiatan yang menjadi perhatian peneliti. 3. Subjek yang mempunyai cukup banyak waktu atau kesempatan untuk diwawancarai. 4. Subjek yang dalam memberikan informasi tidak cenderang diolah atau dipersiapkan terlebih dahulu. 49

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Teknik pengambilan informan adalah purposive sampling yaitu teknik pengambilan informan sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini adalah orang yang dianggap tahu tentang apa yang peneliti harapkan, atau orang yang dapat dipercaya sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek/situasi yang sedang diselidiki oleh peneliti. Maka, dalam penelitian ini melibatkan Kepala Dinas Kependidikan dan Kebudyaan Sekolah Dasar Kabupaten Mimika Papua dan setiap kepala sekolah yang bertugas di Daerah Pedalaman Timika sebagai informan kunci. Hal ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kelayakan untuk memenuhi persyaratan sebagai informan awal. Kedua tokoh tersebut adalah orang yang mengetahui betul kondisi guru sekolah dasar di daerah pedalaman dan sudah mengenal betul tentang profesionalitas guru-guru tersebut. Sehingga dalam penelitian inidaftar informan sementara belum bisa dirumuskan secara per individu, tetapi peneliti merumuskan secara menyeluruh bahwa informan dalam penelitian ini adalah Kepala Dinas Kependidikan dan Kebudayaan Sekolah Dasar Kabupaten Mimika, setiap Kepala Sekolah yang ada di Daerah Pedalaman Timika, setiap guru yang bertugas di Daerah Pedalaman Timika Papua, tokoh-tokoh masyarakat yang ada di Pedalaman Timika serta orang-orang yang terpercaya yang bisa memberikan informasi yang akurat dan lengkap tentang masalah yang diselidiki oleh peneliti. 50

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pandangan peneliti tentang masalah yang sedang diselidiki itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan), sehingga peneliti tidak akan menetapkan penelitiannya hanya berdasarkan veriabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang diselidiki akan dijadikan sebagai objek penelitian. Objek penelitian menurut Sugiyono adalah "Suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya" (Sugiyono, 2011: 38). Berdasarkan pengertian tersebut, maka yang menjadi objek pada penelitian ini adalah profesionalitas guru sekolah di Daerah Pedalaman Kabupaten Mimika, maka peneliti meneliti semua aspek kehidupan guru-guru Sekolah Dasar di Daerah Pedalaman Timika Papua. D. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini peneliti sebagai instrumen utama. Jumlah instrumen penelitian tergantung pada jumlah variabel penelitan yang telah ditetapkan untuk diteliti. Maka dari penelitian ini peneliti akan meneliti dengan variabel " Analisis Kinerja Dinas Pendidikan Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar Di Daerah Pedalaman Kabupaten Mimika Provinsi Papua Tahun 2012 ." Dalam penelitian ini ada satu variabel yang perlu dibuat adalah "Pemberdayaan Guru Sekolah Dasar." Dari variabel ini akan ditentukan indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan, variabel penelitian dari penelitian ini adalah kebijakan dinas dan 51

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pembentukan profesionalisme guru sekolah dasar. Maka indikatornya adalah pemberdayaan guru sekolah dasar. E. Sumber Data Sumber data atau informan dalam penelitian ini adalah subjek darimana data diperoleh. Subjek penelitian data dalam penelitian ini, yaitu subjek penelitian utama dan subjek penelitian pelengkap. Penelitian pelengkap adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti. Subjek penelitian merupakan suatu unit analisis yaitu subjek yang menjadi pusat perhatian atau sasaran peneliti. Subjek penelitian utama dalam penelitian ini adalah Dinas Kependidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika, yang menangani di bagian Sekolah Dasar, dan setiap kepala sekolah yang bertugas di Sekolah Dasar Daerah Pedalaman Kabupaten Mimika Papua. Subjek penelitian pelengkap adalah individu-individu tertentu yang diwawancarai oleh peneliti untuk keperluan informasi yaitu orang-orang yang dapat memberikan informasi atau keterangan atau data yang diperlukan oleh peneliti. Informan yang diambil diharapkan dapat memberikan informasi yang sebanyak mungkin, sehingga data yang diambil benar-benar dapat mewakili terhadap masalah yang sedan diselidiki. Dalam penelitian ini, peneliti tidak membatasi informan atau pemberi data tentang subjek yang peneliti selidiki. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini adalah porposive dan 52

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Snowball., itu dapat digambarkan sebagai berikut. Gambar-1: Proses pengambilan sampel sumber data dalam penelitian kualitatif, porposive dan snowball. Dalam bukunya Sugiyono (2011:220). Berdasarkan gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Dalam penelitian ini peneliti telah merencanakan A, sebagai infrorman pertama yang memiliki informasi dan data yang akurat yaitu Kepala Dinas Kependidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Papua dibidang sekolah dasar kepala bidang sekolah dasar, bapak. Yonas lewerissa; A.ma,pd, sebagai penata tingkat I merupakan sumber infomiasi tentang objek penelitian. Peneliti menetapkan kepala bidang sebagai perancang program dan penentu serta pembagian atau penempatan guru-guru di Daerah-Daerah Pedalaman Timika Papua, peneliti memilih informan ini yang bisa "membukakan pintu" untuk mengenali keseluruhan objek penelitian secara luas. Selanjutnya, peneliti merencanakan B, informan kedua yang memiliki informasi dan data yang akurat di lapangan yaitu, Kepala Sekolah di SD Inpres Keselema Pak Guru Yoni Piligame, Kepala Sekolah di SD Inpres 53

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Noemun Jila, Pak Guru Yulius Piligama, Kepala Sekolah di SD Inpres Hoya Pak Guru Leppang, Kepala Sekolah di SD Inpres TSinga Pak Kotouki , Kepala Sekolah di SD Inpres Tembagapura, dan Kepala Sekolah di SD Inpres Aroanop sebagai orang kedua. Dan peneliti menetapkan informan C sebagai orang ketiga yang terpercaya yaitu, Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK). Di Biro Pendidikan (LPMAK) di Kabupaten Mimika Papua. Karena Lembaga ini merupakan lembaga yang memiliki hubungan kerja sama dengan pemerintah Daerah untuk memajukan sumber daya manusia di kabupaten Mimika dan salah satunya adalah menangani persoalan pendidikan di Daerah-Daerah pedalaman Kabupaten Mimika Papua. Selanjutnya, peneliti belum juga memperoleh data yang lengkap dan akurat maka peneliti menetapkan informan D sebagai orang ke empat yang bisa melengkapi informasi atau data yang sudah terkumpul sebelumnya yaitu tata usaha (TU) atau penjaga sekolah seperti SD Inpres Jila Yulianus Ogalmagai dan begitu pula pada setiap sekolah dimana peneliti mendapatkan informasi dan data sebelumnya. Selanjutnya, peneliti menetapkan informan E, sebagai pelengkap yaitu tokoh-tokoh masyarakat seperti Otto Uamang yang sebagai masyarakat Kampung Hoeya, dan di Kampung Jila Bapak Petrus Ogalmagai, dan Bapak Ayub Dolame, dan begitu pula dengan sekolah lain yang terdapat daerah objek penelitian dan infrorman F sebagai orang terdekat peneliti yang bisa memberikan informasi dan data tentang objek penelitian dan informan yaitu saudara Penegi Dolame, dan Ruben Dolame, karena mereka mempunyai beberapa informasi terkait 54

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI keberadaan guru dan kebijakan dinas menangani pendidikan di daerah pedalaman, G juga sebagai pelengkap informasi yaitu masyarakat yang ada di daerah objek penelitian yang bisa memberikan informasi yang mereka alami tentang pendidikan dan apa yang mereka inginkan dari pendidikan itu sendiri serta pemahaman mereka tentang guru dan lain sebagainya. Selanjutnya, peneliti memilih beberapa siswa yang dapat dipercaya oleh peneliti yaitu Yatianus Dolame, Nopinus Uamang beserta teman-teman lainnya dan bisa memberikan informasi tentang objek penelitian. Peneliti memilih mereka ini karena segala sesuatu yang terjadi di sekolah mereka dan semua persoalan terkait kebijakan guru-gurunya berdampak pada kehidupan mereka sehingga peneliti tidak membutuhkan informasi dan data yang akurat melainkan peneliti burusaha mendalami pengalaman- pengalaman yang mereka alami di sekolah. Informasi yang dibutuhkan oleh peneliti dari orang-orang yang sudah ditentukan disini adalah bagimana terbentuknya sejarah sekolah, latar belakang perjalanan pendidikan dalam kelompoknya, pemberdayaan guru seperti apa dari Dinas Pendidikan, keberadaan sekolah dasar di daerah pedalaman, dan tingkat pendidikan guru sekolah dasar di daerah pedalaman, bagimana pengabdian guru-guru yang ditugaskan di sekolah-sekolah tersebut menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak? Serta apa peran Dinas pendidikan dalam penganan guru-guru di daerah pedalaman, dan juga, seperti apa pelaksanaan program kerja untuk sekolah-sekolah di daerah pedalaman Timika Papua. 55

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sumber data atau infoman dalam penelitian ini adalah subjek darimana peneliti memperoleh data dari orang pertama A sebagai informan awal sampai orang terakhir sebagai pelengkap yang membukakan pintu ke lapangan penelitian sampai dengan menutup pintu keluar penelitian dalam arti bahwa peneliti menetapkan informan pertama yaitu kepala Dinas Kependidikan dan kebudayaan Kabupaten Mimika, sebagai pintu masuk pada keseluruhan objek penelitian dan informan terakhir adalah setiap siswa sekolah dasar di setiap Daerah pedalaman Timika yang di mana daerah objek penelitian sebagai penetup pintu penelitian. F. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data, tanpa mengetahui teknik pengumpulan data maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memadai standar data yang ditetapkan. Dalam penelitian kualitatif, teknik pengumpulan data yang utama adalah obsevasi participan, wawancara, mendalam studi dokumentasi, dan gabungan ketiganya atau triangulasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah dengan menggunakan beberapa metode, yaitu: 1. Observasi Sebelum melakukan wawancara dan penggalian data lebih lanjut. Peneliti melakukan observasi terhadap objek kajian terlebih dahulu. Ini 56

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memudahkan peneliti untukmengidentifikasi karekter guru- guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika dan memahami karaktristik masyarakat di mana daerah penelitian. Dari sinilah data observasi ini akan bisa menjadi data awal di samping itu metode wawancara, dan metode dokumentasi yang akan peneliti lakukan. Dalam metode observai ini peneliti sebagai pengamat penuh dan mengamati dan mencatat dengan sistematik tentang objek yang sedang diselidiki oleh peneliti. Observasi yang dilakukan peneliti dengan cara pengamatan secara langsung dan mendalam terhadap objek yang akan diteliti. Penelitian ini dilakukan dengan turun langsung ke lapangan dan mengamati secara langsung terhadap objek yang akan diteliti dan mencatat hal-hal yang paling penting bagi peneliti untuk dianalisis dan dikembangkan. Dan lebih penting bagi peneliti dalam obsevasi ini adalah mengamati, menganalisis dan mencatat hal-hal pokok tentang kerja Kepala Dinas Kependidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika, serta guru sekolah dasar yang bertugas di Daerah-Daerah Pedalaman kota Timika Papua dan mencatat kegiatan apa saja yang mereka lakukan. 2. Wawancara Metode wawancara merupakan salah satu cara mendapatkan informasi-informasi yang penting yang layak diangkat sebagai data penelitian lapangan selama penelitian. Adapun wawancara yang dilakukan nanti juga bersifat cross chek antara Kepala Dinas Kependidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika, guru-guru yang bertugas di daerah 57

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pedalaman Timika Papua, serta masyarakat setempat yang peneliti temui untuk diwawancarai. Dalam penelitian ini peneliti sebagai pewawancara dan mewawancari beberapa orang dengan tujuan bertukar informasi ide melalui tanya jawab. Peneliti memwawancarai beberapa orang dengan berapa pertanyaan yang mendasar tujuannya untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Teknik wawancara yang peneliti lakukan adalah dengan pendekatan wawancara semiterstruktur, dalam wawancara ini pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan daripada wawancara ini untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya. Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan. Wawancara tak struktur ini adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Teknik wawancara ini dilakukan secara akrab dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka. Kelonggaran seperti ini diharapkan mampu menggali dan mengungkap kejujuran informan dalam memberikan infonnasi yang dengan kenyataan yang ada. Dan mengapa peneliti lebih memilih metode wawancara ini, karena peneliti mau 58

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mendapatkan informasi yang pasti dari infoman, dengan melihat geografis serta melihat secara umum profil pendidikan di daerah pedalaman ini masih terisolir untuk itu peneliti juga tidak sewenang-wenang untuk menyanyakan dengan pertanyaan yang tersusun secara sistematis. Karena dengan pertanyaan-pertanyaan yang seperti itu kemungkinan tidak menemukan akar persoalan yang terjadi di kelompok masyarakat pada umumnya. Kebijakan Dinas di daerah pedalam dalam pembedayaan guru di daerah pedalaman kabupaten Mimika Papua secara umum masih terisolir atau sangat kompleks dan masih terbelakang, dengan itu salah satu pendekatan untuk membukakan persoalan itu harus melalui pendekatan penelitian dengan menggunakan berbagai cara agar membukakan pintu atau menerangi gegalapan yang menyelemuti pendidikan di daerah pedalaman ini. Jadi salah satu masalah yang diangkat adalah tentang mempersiapkan guru-guru sekolah dasar di Daerah Pedalaman yang professional dan dalam hal ini peneliti tidak mencari sesuatu yang keenakenakan saja dengan pertanyaan-pertanyaan sistematis dengan jawaban yang tidak sesuai fakta atau kenyataan yang ada di masyarakat. 3. Dokumentasi Menurut Sugiyono (2011:240) dokumen merupakan catatan pristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan. Metode dokumentasi dapat diartikan sebagai cara pengumpulan data yang 59

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dilakukan dengan mempelajari dokumen-dokumen yaitu setiap bahan tertulis baik bersifat internal maupun eksternal. Metode ini digunakan peneliti untuk mengumpulkan data-data yang bersifat dokumenter. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dokumentasi adalah teknik untuk mencari data dengan cara mencatat data yang berfungsi sebagai data pendukung, seperti: a. Data monografi kabupaten Mimika, Distrik Jila, dan Distrik Tembagapura. b. Data mengenai profil guru-guru sekolah dasar di Daerah Pedalaman Kabupaten Mimika Papua. c. Dokumentasi berupa foto-foto sekolah, siswa, dan para guru di Daerah Pedalaman Timika. d. Dokumentasi berupa foto-foto selama peneliti mengadakan pengumpulan data di pusat kota maupun letak sekolah-sekolah di Daerah Pedalaman Kabupaten Mimika. G. Teknik Analisis Data Melakukan analisis data adalah pekerjaan yang paling sulit namun bagi peneliti ini bukanlah suatu masalah tapi ini adalah satu bagian yang harus peneliti lewati sehingga peneliti memerlukan kerja keras untuk menentukan teknik analisis data yang tepat. Analisis di lakukan agar data-data yang sudah terkumpul di lapangan dapat diorganisissi sehingga dapat menghasilkan 60

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sesuatu yang bermakna. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik analisis kualitatif, dimana data dianalisis dengan cara diinterprestasikan sesuai tujuan penelitian yang sudah ditentukan, dalam hal ini data tidak dianalisis dengan angka-angka. Proses yang dilakukan peneliti adalah dalam menemukan jawaban penelitian dengan cara peneliti memulai melakukan pengumpulan data lewat observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap masalah yang diselidiki serta ingin diketahui, kemudian dikumpulkan memerlukan daya kereaktif serta kemampuan intelektual yang tinggi. Analisis data adalah bagian dari proses penyederhanaan kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diimplementasikan. Sesuai dengan tujuan penelitian ini maka teknik analisis data yang dipakai untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif model interaktif sebagaimana diajukan oleh Miles dan Huberman yaitu: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/ verifikasi. Model Miles dan Huberman dalam bukunya Sugiyono (2011:246). 1. Pengumpulan data Data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi dicatat dalam catatan lapangan yang terdiri dari dua aspek yaitu deskripsi dan refleksi. Catatan deskripsi merupakan data alami yang berisi tentang apa yang dilihat, didengar, dirasakan, disaksikan, dan dialami sendiri oleh peneliti tanpa adanya pendapat dan penafsiran dari peneliti tentang fenomena yang dijumpai. Catatan refleksi yaitu catatan yang memuat kesan, komentar, dan tafsiran peneliti tentang temuan yang 61

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dijumpai dan merupakan bahan rencana pengumpulan data untuk tahap berikutnya. Guna mendapatkan catatan ini maka peneliti melakukan wawancara beberapa informan. 2. Reduksi data Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti telah dikemukakan, semakin lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Reduksi data berarti merangkum, memilih halhal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Cara mereduksi data adalah dengan melakukan seleksi, membuat ringkasan atau uraian singkat dan menggolongkan data kedalam pola-pola dengan membuat transkip penelitian untuk mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang bagian yang tidak penting dan mengatur agar dapat menarik kesimpulan. 3. Penyajian data Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat. Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun sehingga memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Agar sajian data tidak menyimpang dari pokok permasalahan maka sajian data dapat diwujudkan 62

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dalam bentuk bagan dan tabel sebagai wadah panduan informasi tentang apa yang terjadi. Data disajikan sesuai dengan apa yang diteliti. 4. Penarikan kesimpulan Menurut Miles dan Huberman (1984) dalam bukunya Sugiyono (2011:252) adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merapakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas. 63

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Reduksi data dapat dibantu dengan analisis data dari model Miles dan Huberman dalam bukunya Sugiyono (2011:247) Gambar 2: Komponen dalam analisis data interaktif model. H. Keabsahan Data Uji keabsahan data ini diperlukan untuk menentukan valid atau tidaknya suatu temuan, atau data yang dilaporkan peneliti dengan apa yang terjadi sesungguhnya di lapangan. Suatu temuan dalam penelitian ini pada objek adalah pastinya berbeda karena untuk mendapatkan data-data dan informasi peneliti menetapkan banyak informan dan berbagai sumber data diantaranya adalah Kepala Dinas Kependidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika, para guru yang bertugas di Daerah Pedalaman Kabupaten Mimika Papua, tokoh-tokoh masyarakat di tempat penelitian, dan sesuai kondisi sekolah di daerah-daerah pedalaman tersebut. 64

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Proses yang dilakukan peneliti adalah dalam menemukan jawaban penelitian dengan cara peneliti memulai melakukan pengumpulan data lewat wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap objek penelitian yang ingin diketahui oleh peneliti. Data yang telah terkumpul diklasiflkasikan berdasar kategori yang ditentukan. Setelah diklasiflkasikan masing-masing data yang terkumpul dalam satu kategori, selanjutnya peneliti melakukan interprestasi. Di saat ada data yang lain atau informasi yang berbeda didapatkan dari berbagai informan, tentunya proses triangulasi data akan dilakukan untuk mempermudah interprestasi. Selain itu, hal ini dimaksudkan agar peneliti dipermudah dalam mencari kesimpulan. Sehingga kesimpulan yang ditarik dalam hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Dengan demikian peneliti berusaha semaksimal mungkin untuk memberi informasi atau memberi pertangunggjawaban pada hasil penelitian atau penemuan ini kepada semua pihak yang berkepeningan lebih khususnya pemerintah Daerah Kabupaten Mimika Papua, serta semua masyarakat yang berada di Daerah-Daerah Pedalaman Kabupaten Mimika Papua. Karena sebagian informasi dan data yang akan terkumpul adalah berdasarkan fakta di lapangan. Dan dari berbagai data dan informasi yang diperoleh dari informan dalam penelitian ini pun bisa saja tidak sesuai fakta di lapangan. Maka, peneliti harus lebih jelih memahami dan mengambil kesimpulannya secara objektif, sehingga kesimpulan akhir daripada hasil penelitian ini bisa memberikan masukan kepada pemerintah daerah kabupaten Mimika, dan masyakarakat pedalaman Timika, serta lembaga-lembaga yang 65

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sedang menangani masalah pendidikan di pedalaman Timika, di antaranya adalah Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), dan lain-lain. Dengan demikinan pihak-pihak ini bersama-sama dapat memperhatikan wajah pendidikan di daerah pedalaman Timika. 66

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN A. Latar Belakang Sejarah Sekolah Dasar di Daerah Pedalaman 1. Sejarah Sekolah Dasar di SD Inpres Jila Setiap organisasi mempunyai suatu kisah untuk menceritakan tentang bagaimana proses menciptakan sejarah kehidupanya dari awal sampai akhir. Untuk itu penulis menceritakan secara garis besar tentang profil pendidikan di daerah pedalaman Timika, maka proses pendidikan merupakan bagian yang terpenting dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga pentingnya pendidikan bagi suku Amungme lebih khususnya masyarakat Aroanop sampai Jigimugi, dunia modern sekarang adalah adanya proses belajar mengajar supaya menjadi pintar dan dihubungkan dengan perjalanan kehidupan masyarakat pedalaman dalam arti proses pembelajaran sudah dibentuk dari sebelumnya, tetapi lingkupnya masih sempit. Dalam kehidupan seperti ini ada suatu pergerakan yang mulai masuk ke daerah pedalam Jila yaitu tim misionaris membawa kabar Injil. Dan di daerah Jila terdapat satu Suku yaitu suku Amungme, pada tahun 1963 mulai ada pengajaran dari tim misionaris, mereka hanya belajar buta huruf dalam bahasa Amungme. Pada tahun 1964 - 1965, mereka yang bisa dapat membaca dan menulis melanjutkan Sekolah Alkitab dalam bahasa Amungme di daerah Beoga. Pada tahun-tahun itu banyak suku Amungme mulai mengenal membaca, menulis, dan menghitung 67

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dengan menggunakan bahasa lokal yaitu bahasa Amungkal. Dari tahun 1965 sampai dengan tahun 1979 pedalaman Papua masih menggunakan bahasa daerah. 2. Pada Tahun 1980 Pemerintah Masuk ke Daerah Jila Pada awalnya pemerintah kabupaten Paniai (Nabire sekarang) melalui kecamatan Ilaga mulai masuk di daerah Jila dan buka balai kampung sekaligus lantik bapak Darius Dolame sebagai kepala Desa pertama di Jila. Dan di bawah kepemimpinan bapak Darius Dolame merencanakan untuk membangun sekolah Dasar (SD) negeri yang di sebut Instruksi Presiden (Inpres). Pada tahun 1983 anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas di Jila, bersedia untuk memberikan ilmunya kepada anak-anak Jila, tapi pada waktu itu tidak ada gedung yang mereka pakai akhirnya gedung gereja Bahtera Bamogin dijadikan sebagai tempat belajar dengan sistem pengenalan abjad dan tidak diatur perkelas karena tenaga guru terbatas dan guru yang ada pun adalah hanya dua orang guru yaitu guru tentara. 3. Pada tahun 1984 - 1985 Bangun Gedung Sekolah Dasar Pada tahun 1984-1985, pemerintah kabupaten Paniai (Nabire) melalui Kecamatan Ilaga mulai membangun gedung Sekolah Dasar SD Inpres Jila dengan empat ruang kelas ditambah satu ruang kantor dan membangun perumahan guru. Kemudian guru-guru yang ditugaskan di 68

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Jila tidak menjalankan tugasnya, maka seluruh fasilitas sekolah di gunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mengajar anakanak dengan keadaan apa adanya, dan tujuan guru tentara adalah hanya bersifat membantu dan tidak ada imbalan dibalik pengorbanannya. Karena keprihatinan guru tentara melihat anak-anak muda setempat yang masih buta huruf, sehingga kebijakan yang diambil oleh Guru Tentara adalah memperkenalkan huruf abjad. Pada tahun 1985-1986, ada seorang guru datang untuk mengajar anak-anak dengan jumlah yang sangat besar sekitar 100 lebih siswa, dan dibantu oleh Guru Tentara, sehingga dalam tahun itu anak-anak semakin mengenal cara menulis, membaca, dan menghitung. Pada tahun 1987-1988, Pemerintah kabupaten Paniai (Nabire) melalui Kecamatan Ilaga Desa Jila, menambah satu gedung sekolah dengan tiga ruang kelas ditambah dengan satu ruang perpustakaan. Sehingga dalam tahun itu bertambah tenaga guru dari Kecamatan Ilaga tiga orang pengajar, sehingga jumlah tenaga pengajar sebanyak empat orang. Dan mereka mengabdi selama enam tahun, maka dalam tahun itu angkatan pertama yang tamat adalah sebanyak 13 anak, untuk lebih jelasnya dilihat dilampiran: Dan anak-anak yang sudah tamat ini mereka melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di ibu kota Kecamatan Ilaga. Peralihan Pemerintahan dari Kabupaten Paniai ke Kabupaten Mimika. Pada tahun 1998, Desa Jila Kecamatan Ilaga mengalami perubahan status pemerintahan secara resmi dan wilayah ini diambil alih 69

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI oleh Pemerintahan Mimika, maka menjadi Kabupaten Mimika, Kecamatan Agimuga Desa Jila. Dua tahun kemudian status Desa Jila berubah menjadi Distrik Administratif, dan satu tahun kemudian menjadi distrik definitif. 4. Latar Belakang Perjalanan Pendidikan Suku Amungme Sejarah perjalanan suku Amungme di daerah pegunungan kabupaten Mimika, yang mana selalu memperioritaskan pendidikan sebagai suatu wahana yang mengubah kehidupan mereka yang lebih baik dari sebelumnya, dan sebelum mengenal pendidikan suku Amungme sudah lama mengenal dengan suatu kalimat yang disebut "uruki" atau "me kal tagame", artinya "Sang guru" atau Sang pendidik". Dari suku Amungme memiliki dua pandangan yang hampir sama tetapi makna sebenarnya adalah berbeda tentang “uruk”, dan “me kal tagame”, uruki artinya seseorang yang mempunyai kelebihan tentang mendidik anak-anak muda untuk tidak melanggar norma-norma yang berlaku di suku tersebut. Cara mendidik adalah dengan pendekatan antropologis yang diajarkan adalah cara membangun rumah adat setempat yang disebut “Honai”, dan cara berkebun, cara berburu, memahat anak panah dan busur, dan mengajarkan tentang sejarah turun temurun, dari kehidupan nenek moyang sampai pada kehidupan generasi berikutnya. Mereka yang memiliki kelebihan untuk mendidik adalah mereka yang sudah dilatih dan sudah dibentuk dari generasi terdahulu, sehingga cara mendidik yang 70

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dimiliki oleh suku Amungme itu selalu memberi suatu makna yang berbeda dari suku-suku lain yang ada di Papua. Pengertian dari pada me kal tagame adalah orang-orang terpercaya dari kelompok masyarakat dan memiliki kemampuan untuk memimpin kelompok masyarakat, serta waktu tertentu yaitu seperti pesta Adat, dan sebagainya dapat ditangani dengan baik, dan mereka memiliki pemikiran yang baik. Dan cara yang mereka pakai adalah memotivasi, memberi semangat kepada seluruh masyarakat yang ada di setempat sehingga hubungan kekerabatan mereka tetap terikat. Mereka yang memiliki pemikiran seperti ini dari setiap suku maupun daerah tertentu hanya terdapat satu atau dua orang, untuk itu seluruh masyarakat Amungme selalu taat pada nasehat dari pada “me kal tagame” atau dengan kata lain “kal weak am me”, artinya orang yang memiliki pemikiran yang positif dan berbahasa yang benar tentang cara hidup dalam bermasyarakat yang baik atau benar dari kelompok suku Amungme. Keberadaan suku Amungme adalah dari sigimugi sampai dengan Delama Tagal, dan sekarang disebut kabupaten Mimika adalah hak ulayat suku Amungme yang berdomisli di daratan rendah sampai dengan lereng pegunungan Timika, dan suku Kamoro adalah suku yang hak ulayatnya di bagian pesisir pantai. 71

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Pendidikan untuk Suku Amungme di Daerah Pedalaman Timika Profil pendidikan dari Kampung Aroanop Distrik Tembagapura sampai dengan Kampung Alama Distrik Jila, yang masih bumerang. Apa arti pendidikan bagi suku Amungme? Bagi suku Amungme yang hidup di daerah pedalaman ini sampai sekarang belum mengenal huruf abjad atau masih buta huruf. Jadi bertolak dari kondisi seperti itu bagi mereka pendidikan itu sangat penting untuk mengubah keadaan yang mereka alami, sehingga mereka membutuhkan adalah seorang pendidik profesional yang mampu membawa mereka keluar dari keterpurukan itu. Suku pedalaman (Amungme) masih membutuhkan pelayanan pendidikan yang baik, masih mengharapkan seorang penolong bagi mereka dan masih mengharapkan keadilan, karena selama ini tidak keadilan satu pun. Yang mereka alami adalah ketidakadilan tentang penerapan pendidikan di daerah pedalaman dan pemerintah daerah hanya memfokuskan ke daerah perkotaan, sehingga pendidikan tidak sampai ke daerah pedalaman Timika. 6. Pendidikan untuk Anak Muda Amungme di Daerah Pedalaman Timika Anak muda Amungme di Daerah pedalaman Timika memiliki semangat yang luar biasa untuk mencoba melangka meskipun tidak ada harapan untuk mendapatkan pendidikan yang layak bagi mereka. Dan semangat untuk sekolah sudah dibentuk di lubuk hati mereka, sehingga 72

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tanpa didorong oleh guru maupun orang tua, anak – anak muda ini berani melangka untuk menentukan nasib masa depan mereka meskipun masa depan itu masih bayang-bayang atau masih kabut. Pendidikan sekarang tidak memihak atau tidak memanusiakan anak muda (Amungme) di daerah pedalaman Timika, pendidikan sekarang membunuh karakter dan semangat anak muda (Amungme) di daerah pedalaman, pendidikan sekarang membatasi atau mengagalkan masa depan anak muda (Amungme) di daerah pedalaman. Apa masalahnya sehingga mereka mengalami persoalan ini? Tidak lain adalah karena gagalnya seorang pendidik yang mendidik anak - anak muda pedalaman ini. Anak muda Amungme menantikan seorang pendidik dan pengajar yang mampu mengembalikan hilangnya daya semangat belajar dari anak anak muda Amungme di daerah pedalaman ini. 7. Profil Guru di Daerah Pedalaman Timika Dari perjalanan guru-guru di daerah pedalaman Timika kurang aktif untuk berbakti pada fungsi dan tanggung jawabnya, dan mereka lebih memilih ke kota dari pada menjalankan tugas di tempat tugasnya. Guru bertugas ketika ada kegiatakan ulangan semester, atau ulangan kenaikan kelas dan pada saat semester kelulusan Ujian Nasional. Tetapi tidak ada kegiatan proses belajar mengajar dari guru siswa, tidak ada pengajaran di sekolah - sekolah dasar di daerah pedalaman Timika. 73

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tidak kekurangan guru sekolah dasar di kabupaten Mimika, tidak kekuranngan guru di daerah-daerah pedalaman Timika, malah kelebihan guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika, guru PN, guru CPNS, dan guru kontrak yang ditugaskan di daerah - daerah pedalaman, tetapi mereka tidak menjalankan tugasnya, karena tidak ada pengawasan yang ketat dari pihak pemerintah maupun lembaga-lembaga yang menangani atau memajukkan sumber daya manusia di kabupaten Mimika. Masalah kinerja guru sekolah dasar yang kurang efektif membuat murid di daerah pedalaman tidak bisa melanjukan Sekolah Menengah Pertama (SMP), maka banyak anak yang putus semangat untuk melanjutkan sekolah dan akibat dari itu sebagian besar dari mereka menikah pada umur-umur sekolah. Persoalan yang dialami anak-anak ini peneliti pernah membahas bersama anak-anak tersebut, dan peneliti membuat suatu pertanyaan yang mengarahkan pada kepersoalan itu. Atas pertanyaan tersebut mereka menjawab bahwa karena pengaruh guru keadaan kami seperti ini, sebenarnya kami mau sekolah tetapi kadang guru tidak datang mengajar sampai lima sampai enam bulan, dan kalau guru-guru datang ketempat tugas ketika ada ulangan semester kenaikan kelas dan ujian Nasional (UN). Secara umum profil guru di daerah pedalaman sangat buruk, guruguru di daerah pedalaman menunjukkan bahwa ketidakseriusan mengabdi adalah salah satu kenyataan yang ada di lapangan. Tidak ada guru yang tampil di daerah pedalaman, dan tidak memberi pandangan yang positif 74

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bagi masyarakat sekitarnya, dan guru lebih mementingkan diri sendiri dan tidak memperhatikan kebutuhan siswa di daerah pedalaman. Guru-guru di daerah pedalaman Timika tidak hanya orang asli Papua tetapi guru-guru yang ditugaskan di daerah pedalaman ada juga yang guru-guru dari bukan orang asli Papua. Dan mengabdi dengan setulus hati di daerah pedalaman malah guru-guru yang bukan orang asli Papua. Tetapi guru-guru yang ditugaskan di daerah pedalaman tidak tergorganisir dengan baik, sehingga di antara mereka tidak ada kerjasama yang baik, dan mengurus kepentinganya sendiri-sendiri. 8. Letak Geografis Secara administratif batas-batas distrik meliputi: Di bagian Utara : Kabupaten Puncak Papua (Ilaga) Di bagian Selatan : Distrik Agimuga, Distrik Jita, Distrik Jila Di bagian Barat : Distrik Tembagapura Di bagian Timur : Kabupaten Ndugama (kenyam) Luas wilayah Kabupaten Mimika 20.039 km2 atau 4,75% dari wilayah provinsi Papua, yang terdiri dari 13 Distrik, 6 kelurahan dan 78 75

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kampung atau Desa dengan penduduk Kabupaten Mimika berdasarkan registrasi tahun 2008 - 2009 (hasil proyeksi) adalah 171.230 jiwa berarti jumlah jiwa Distrik Jila merupakan sebanyak 3.877jiwa. Kabupaten Mimika memiliki topografi dataran tinggi, dataran rendah, dan daerah pantai. Dan daerah/Distrik yang bertopografi dataran tinggi adalah Tembagapura dan Jila, selain kedua distrik tersebut merupakan distrik yang memiliki dataran rendah dan daerah pantai. 9. Tempat Penelitian Tempat penelitian bertempat di Distrik Jila, Distrik Tembagapura, dan ibu Kota Timika, dan ibu kota Timika ada dua tempat penelitian yaitu di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P & K ), dan Biro pendidikan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) kabupaten Mimika. Biro pendidikan LPMAK adalah lembaga yang memfasilitasi kebutuhan pendidikan di daerah pedalaman seperti mengontrak guru-guru, menyediakan pelayanan transport (udara), dan membantu buku - buku dan lain sebagainya. Distrik Tembagapura dan Distrik Jila adalah tempat obyek penelitian, dan di Distrik Tembagapura terdapat enam sekolah Dasar dan di Distrik Jila terdapat lima Sekolah dan sekolah dasar yang ada di daerah pedalaman kabupaten Mimika berjumlah sebelas sekolah dasar. Sekolah dasar di daerah pedalaman kabupaten Mimika 95 persen sekolah negeri (SD Inpres) dan 5 persen sekolah swasta. Jadi peneliti lebih berfokus 76

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI daerah pegunungan kabupaten Mimika yaitu di Distrik Tembagapura dan Distrik Jila, kedua Distrik ini sangat jauh dari ibu kota Timika, dan pelayanan pendidikan masih sangat minim, sehingga bagimana cara untuk menemukan dimana akar masalahnya, maka melalui penelitian ini akan memberi jawaban sesuai fakta di lapangan. Tabel IV.1.1 Nama dan Alamat Sekolah di Distrik Jila No Nama Sekolah Alama Rombel Sisw TP n1 SD Inpres Jila t Jila 6 a545 K16 2 SD Inpres Hoeya Hoeya 5 271 9 3 SD Inpres Bela Alama 3 96 5 4 Alama SD Inpres Gesele 6 340 3 Geselema ma Keterangan : Distrik Jila terdapat Empat sekolah Dasar dan Jumlah keseluruhan siswa terdapat seribu dua ratus lima puluh dua siswa. Secara umum jumlah siswa yang sangat besar dan jumlah siswa ini dari kelas satu sampai dengan kelas enam. Jumlah siswa ini belum disempurnakan karena siswa yang aktif di sekolah bias saja lebih dari jumlah yang ada, dan bias juga kurang dari jumlah yang sudah ada sebelumnya. 10. Keadaan Murid Sekolah Dasar SD Inpres Jila Keberadaan status murid berdasarkan tingkatan atau kelas yang mereka belajar dan jenis kelamin, maka lebih jelasnya dapat dilihat dalam table 1.3, di bawah ini. 77

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV. 1.2 Data Murid SD Inpres Jila Menurut kelas dan Jenis Kelamin N Kela Laki- Perempua Jumla Keterangan 1. I 37 16 53 Semua Aktif 2. II 41 15 56 Semua Aktif 3. HI 39 18 57 Semua Aktif 4. IV 30 22 52 Semua Aktif 5. V 24 13 37 Semua Aktif 6. VI 16 11 27 Semua Aktif Jumlah 187 95 L+P Sumber : Dalam buku agenda umum SD Inpres Jila Tahun 2012 Keterangan : Jumlah siswa per kelas dan sesuai jenis kelamin dan jumlah kelas satu terdapat tiga puluh tujuh siswa laki-laki, dan enam belas siswa perempuan semuanya aktif, dari kelas dua terdapat empat puluh satu lakilaki, dan lima belas peremuan semuanya masih aktif, dari kelas tiga terdapat tiga puluh Sembilan siswa laki-laki, dan dua puluh dua siswa perempuan semuanya masih aktif. Jumlah laki-laki dari kelas satu sampai kelas enam terdapat seratus delapan puluh tujuh siswa dan dinyatakan masih aktif sekolah, jumlah siswa perempuan dari kelas satu sampai kelas enam terdapat Sembilan puluh lima siswa dan semuanya aktif. Dengan demikian data murid SD Inpres Jila menurut kelas dan jenis kelamin di atas dapat di olah lagi menjadi tabel data murid SD Inpres Jila menurut agama yang diyakini oleh siswa. Untuk itu lebih rinci dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 78

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV.l. 3 Data Murid SD Inpres Jila Menurut Agama No Agama Laki-laki Perempuam Jumlah Ket 1. Islam 2. Kristen 120 79 199 3. Protest Kristen Katoli 4 Hindu 5 Budha Jumlah 39 44 83 159 123 282 Sumber : Dalam Buku Agenda Umum SD Inpres Jila Tahun 2012 Tabel 4.3 berdasarkan keberadaan siswa-siswi SD Inpres Jila menurut agama yang mereka yakini dan menurut hasil penelitian membuktikan bahwa di SD Inpres Jila merupakan mayoritas beragama Kristen Protestan dan Kristen Katolik. 11. Keadaan Guru SD Inpres Jila Tenaga pendidik atau guru yang bertugas di SD Inpres Jila, dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2013 merupakan sebanyak 11 orang. Berjumlah 11 orang guru dikelompokan lagi menurut status yaitu lima (5) orang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Lima orang lagi merupakan tenaga kontrak dari Pemerintah Provinsi Papua dan satu orang merupakan tenaga Honorer. Dan untuk lebih jelasnya dapat di lihat dalam tabel di bawah ini yaitu sebagai berikut. 79

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV.1.4 Daftar Nominatif Guru-Guru SD Inpres Jila Tahun 2012-2013 No Nama L/P Gol/Ruang Jabatan Status Ket 1 Yulius Piligame, S.Pd L Penata Tk.III/D Kepala Sekolah Kawin PNS 2 Rubeni Kadepa L Penata Muda Ill/a Wakil Kepsek Kawin PNS 3 Siprianus Kegiye, Amd L Pengatur Muda Tk.I, Guru Kelas Kawin PNS 4 Apolonaris Tiriwa, Amd L Pengatur Muda Tk.I, Guru Kelas Il/b Kawin CPNS 5 Magdelena Kamaroko ,Amd P Pengatur Muda Tk.I, Guru Kelas Il/b Kawin CPNS 6 Sanjaya Silaban,S.Th L -Il/b Guru Kelas B. Kawin Kontrak 7 Claudius Lisias L.G,S.Th L - Guru Kelas Kawin Kontrak 8 Friska Limentiani Taileleu P - Guru Kelas Kawin Kontrak 9 Noh Faot, S.Th 10 Srianita ,S.Th L P - Guru Kelas Guru Kelas Kawin Kawin Kontrak Kontrak 11 Josea Piligame L - Guru Kelas Kawin Kontrak Sumber : Dalam Buku Agenda SD Inpres Jila Tahun 2012 Dalam tabel iv.1.4, ini jelas bahwa tenaga mengajar yang di tempatkan oleh pemerintah daerah dalam hal ini kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P & K) kabupaten Mimika itu sangat banyak jumlahnya, namun untuk memenuhi panggilannya sebagai seorang guru sangatlah susah, disebabkan oleh letak geografis daerah Jila yang terisolir dan susah di jangkau oleh pemerintah dan daerahnya terpencil,sehingga guru-guru yang di tempatkan tidak mau ke tempat tugas dan hanya satu sampai dua orang saj a yang biasa bergantian mengajar. 12. Keadaan Fasilitas SD Inpres Jila Fasilitas sekolah Dasar di SD Inpres Jila sudah lengkap dan masih bagus seperti alaman bermain, lapangan voli, lapangan bola kaki, perpustakaan, buku-buku panduan, gedung sekolah perumahan guru, dan alat-alat penunjang belajar lainnya. Tetapi proses belajar mengajar sangat kurang efektif, dan dilihat dari persepsi masyarakat pedalaman bahwa 80

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI fasilitas yang mereka miliki di daerahnya seperti gedung sekolah, perpustakaan perumahan guru yang sangat bagus-bagus, dan lain-lain adalah suatu kebangahan tersendiri. 13. Gedung Sekolah Dasar SD Inpres Jila SD Inpres Jila memiliki dua gedung masing-masing tiga ruang kelas dengan ukuran yang sama yaitu: panjang :7 meter, lebar 24 meter, enam ruangan dengan keadaan gedung masih baik. Umur gedung sekolah dasar di SD Inpres Jila kurang lebih Delapan Belas Tahun, dan semua fasilitas masih baik. 14. Perabot Sekolah Dasar SD Inpres Jila SD Inpres Jila sampai dengan sekarang perabot yang masih dalam keadaan baik, penulis telah melakukan pendataan dan hasilnya di muat secara terperinci dalam tabel di bawah ini: Tabel IV. 1.5 Perabot Sekolah di SD Inpres Jila NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Jumlah Keterangan Meja murid Kursi Murid Meja Guru Kursi Guru Papan Tulis Penghapus Tulis Nama Barang 169 Buah 169Buah 6 Buah 6 Buah 6 Buah 6 Buah Semua Baik Semua Baik Semua Baik Semua Baik Semua Baik Semua Baik Lemari Sekolah Rak Buku SSB Sekolah Jam Binding Sekolah Tiang Bendera Bendera Sekolah Bola Volly Sekolah Bola Kaki Sekolah Parang/Sabit Sekolah 3 Buah 3 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 2 Buah 2 Buah 2 Buah 5 Buah 385 Buah Semua Baik Semua Baik Masih Baik Masih Baik Masih Baik Masih Baik Masih Baik Masih Baik Semua Baik Sumber : Dalam Buku Agenda SD Inpres Jila Tahun 2012 81

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Di dalam table iv.1.5 menjelaskan bahwa seluruh perabot Sekolah Dasar SD Inpres Jila merupakan sebanyak 385 Buah, jumlah ini tidak termasuk barang yang sudah rusak dan milik guru-guru. Perabot sekolah secara umum masih layak pakai seperti meja, kursi, papan tulis, penghapus, kapur tulis, meja dan kursi untuk guru, dan lemari buku semuanya masih baik. Setiap kelas memiliki tiga puluh buah kursi dan meja, serta satu buah papan tulis per kelas. Jadi perabot sekolah dasar di SD ini sangat mendukung dalam proses belajar mengajar. Fasilitas sekolah Dasar (SD) maupun sekolah menengah pertam (SMP) di setiap daerah pedalaman kabupaten Mimika lengkap, dan di daerah pedalaman Timika tidak kekurangan gedung sekolah, fasilitas lainya tetapi yang menjadi kendala di daerah pedalaman adalah guru-gurunya saja. Fasilitas sekolah seperti perabot sekolah saja lengkap berarti fasilitas lain juga pasti lengkap pada setiap sekolah seperti SD Inpers Jila, dan sekolah dasar yang lain seperti SD Inpres Bela Alama, SD Inpres Geselema, SD Inpres Hoeya, dan setiap sekolah mendapatkan fasilitas yang sama sesuai keadaan sekolah yang ada. 15. Rumah Guru Rumah merupakan salah satu fasilitas yang mendukung proses belajar mengajar di sekolah, maka di SD Inpres Jila juga memiliki Empat unit rumah tambah delapan kopel masing-masing berukuran enam meter, lebar dua belas meter, dan jumlah kamar masing - masing terdapat empat kamar dan semuanya baik. Keadaan rumah masih layak dihuni dan 82

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dibangun pada tahun 2006, dan rumah dibangun dari kayu atau disebut rumah papan. Setiap rumah dirawat dengan baik oleh siswa, masyarakat setempat, dan guru-gurunya. Ketika guru-guru balik ke kota dan guru biasanya mempercayakan orang-orang terpercaya yang ada di kampung tersebut untuk merawat rumah tersebut, sehingga meskipun guru-guru lama di kota tapi rumah dan seluruh fasilitas rumah serta fasilitas sekolah terjaga baik oleh petugas maupun masyarakat setempat. Letak rumah guru tidak jauh dari sekolah, persisnya di bekang sekolah dan kaki sebelah di sekolah kaki sebela lagi di rumah. Maka, jarak antara sekolah dan rumah guru sangatlah dekat. Dan, yang tinggal di rumah guru adalah setiap guru yang ada tugas di sekolah tersebut, seperti, pak guru Yulius Piligama dengan seisi keluarganya, dan sama pula dengan rumah guru lainnya. peneliti melakukan penelitian peneliti tidak menemukan satu hidung guru bertugas di daerah pedalaman yang sedang menjalankan tugas mengajarnya, sehingga peneliti ambil data pun dari dokumentasi umum yang sudah ada di sekolah tersebut dan disimpan oleh bapak Penegi sebagai guru honorer selama dua tahun, beliau sudah memiliki berbagai informasi dan waktu penelitian penulis menjadikan beliau sebagai sumber informasi kunci di Daerah pedalaman Jila. Perolehan data dan informasi terkait guru-guru di sekolah-sekolah dasar di Distrik Jila sangat jelas bahwa sangat memprihatinkan keberadaan muridmurid yang sangat berantakan, keberadaan guru-guru yang sangat tidak terorganisir dengan baik , maka apapun pandangan masyarakat setempat 83

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI terkait masalah yang sedang diteliti oleh peneliti menganggap itu suatu informasi yang benar karena informasi itu berdasarkan fakta yang sedang dialami mereka. Peneliti menyanyakan keberadaan guru ia menjelaskan bahwa rumah-rumah ini sudah ada pemiliknya tetapi tidak dihuni oleh penghuni karena mereka semua pada di kota sampai sekarang guru-guru belum pulang dan rumah-rumah ini kami yang rawat di luarnya saja. Apa lagi pintu rumah pun sudah dikunci dan juga lihat saja pada setiap kelas saja tidak ada proses belajar mengajar di kelas dan pintu kelas pun masih disegel. Karena guru-guru masih di kota dan mengurusi kepentingannya sendiri di kota artinya melupakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru pengajar di daerah pedalaman artinya bahwa guru-guru tidak memperdulikan masa depan anak-anak muda di daerah pedalaman. Peneliti paparkan dalam tulisan ini bahwa waktu`efektif mengajar guru di sekolah dalam satu semester dari semester ganjil adalah dari bulan April sampai dengan pertengahan awal bulan Juni pertahun. Dalam semester genap guru mulai mengajar dari pertengahan September sampai dengan pertengahan bulan Oktober pertahun, sehingga proses pembelajaran tidak teroganisir dengan baik maka peneliti akan bahas lebih jauh lagi di bab pembahasan. 16. Sekolah Dasar Intruksi Presiden di Distrik Hoeya Fakta yang ada di sekolah dasar di Distrik Hoeya dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2013, guru - guru tidak pernah mengadakan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah ini. Sehingga tokoh Masyarakat, 84

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kepala Suku, tokoh Agama, mahasiswa sebagai relawan, dan seluruh masyarakat menyampaikan aspirasinya ke pemerintah daerah untuk memperhatikan nasib masa depan anak-anak daerah pedalaman Distrik Hoeya kabupaten Mimika. Karena tidak adanya keseriusan dari pemeintah daerah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P & K), dan tidak ada pulah keseriusan dari kepala sekolah dan guru - guru yang bertugas di SD Inpres Hoeya. Keadaan sekolah secara fisik terdapat satu buah gedung dan dibagi menjadi enam ruang kelas dan satu buah ruang kantor, semuanya masih baik dan gedung tidak pernah dipakai dengan baik sampai sekarang artinya bahwa gedung sekolah tidak dioperasi dengan baik. Gedung berdiri tanpa guru, tidak ada proses belajar mengajar di sekolah ini, sehingga proses pembelajaran tidak berjalan selama delapan tahun. Dan gedung tidak dirawat baik, maka tahun-tahun yang akan datang mudah rusak. Guru-guru yang ditugaskan di sekolah SD Inpres Hoeya tidak pernah datang mengajar di sekolah. Penulis memwawancarai Otto tokoh pemuda yang peneliti temui di kota Timika kebetulan ia baru dua hari dari Hoeya dan ia mengatakan kepada saya bahwa tidak usah mengadakan penelitian di Hoeya, karena di sekolah tersebut tidak ada proses belajar mengajar di sana dan tidak ada pula guru-guru yang pergi kesana untuk mengajar. Jadi, untuk mau lebih tahu tentang guru-guru dan keadaan sekolah di Hoeya silahkan saja ambil data dari kota Timika saja. Kalau peneliti mau terjun 85

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI langsung ke kampung Hoeya silahkan saja tapi saya pesan bahwa itu hanya buang waktu dan tenaga. 17. Sekolah Dasar di Daerah Pedalaman Timika Sekolah dasar yang diteliti dari peneliti adalah sekolah dasar di Distrik Jila dan Distrik Tembagapura, jadi keteranganya dapat dilihat tabel di bawah ini. Tabel IV.1.6 Daftar Sekolah Dasar di Distrik Jila No Nama Sekolah 1 SD Inpres Jila Alamat Jila 2 SD Inpres Hoeya Hoeya 3 4 SD Inpres Bela Alama SD Inpres Geselema Geselema 5 SD Inpres Rombel Siswa TPK 6 545 16 5 159 9 3 6 344 393 5 3 Erelmaka Jumlah Total 186 1.627 Siswa Sumber : Agenda Umum Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika Tahun 2012 Keterangan: Distrik Jila terdapat lima sekolah dasar dan jumlah siswa secara keseluruhan adalah sebesar seribu enam ratus dua puluh tujuh siswa, semuanya masih aktif. 86

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV.1.7 Daftar Sekolah Dasar di Distrik Tembagapura No 1 2 3 4 5 6 Nama Sekolah Alamat Romb Sisw TP SD Inpres Banti Banti 8 549 8 SD Inpres Aroanop Aroanop 6 165 5 SD Inpres Tsinga Tsinga 6 348 7 SD Inpres Bilawak Tembagapur 275 SD Inpres Jagamin Tembagapur 112 SDYPJ Tembagapur 434 Jumlah Total 1.883 Sumber : Agenda Umuni Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika Tahun 2012 Keterangan : Distrik Tembagapura terdapat lima sekolah dasar dan jumlah siswa secara keseluruhan adalah sebesar seribu delapan ratus delapan puluh tiga siswa, semuanya masih aktif. Dari tabel di atas terdapat lima sekolah dasar di Distrik Jila, dan enam Sekolah Dasar di Distrik Tembagapura, jumlah keseluruhan adalah sebelas Sekolah Dasar di Daerah Pedalaman Kabupaten Mimika. Dan sesuai tabel diatas Jumlah siswa dari Distrik Jila terdapat Seribu Enam Ratus Dua Puluh Tuju siswa, dan dari Distrik Tembagapura terdapat Seribu Delapan Ratus Delapan Puluh Tiga Siswa. Jumlah keseluruhan siswa dari Distrik Jila, dan Distrik Tembagapur Terdapat Tiga Ribu Lima Ratus Sepuluh siswa. 87

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Daftar Sekolah Berdasarkan Kelas dan Jenis Kelamin Tabel IV.2.1 Alamat Sekolah di Distrik Jila No 1 2 3 4 5 Nama Sekolah SD Inpres Jila SD Inpres Hoeya SD Inpres Geselema SD Inpres Bela SD Inpres Eralma NPSN Satu Almt Ke Kab Prov 60302831 1 Jila Mimik Papua 60302830 1 Jila Mimik Papua 60302829 1 Jila Mimik Papua 60302827 1 Jila Mimik Papua 60304556 1 Jila Mimik Papua Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2012 Keterangan : Sekolah dasar di Distrik Jila terdapat lima sekolah dasar satu diantaranya bertempat di pusat kecamatan yang disebut SD Inpres Jila. SD Inpres Hoeya bertempat di kampung Hoeya jarak antara pusat kecamatan kurang lebih 250 kilomter, SD Inpres Geselema kurang lebih 235 kilmoter dari pusat kecamatan, dan SD Inpres Bela Alama, dan Eralma, jaraknya kurang lebih 220 kilometer dari pusat kecamatan Jila. Kalau dilihat dari jarak antara kecamatan Jila dengan pusat pemerintahan Kabupaten Mimika kurang lebih 500 Kilometer. 88

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV.2.2 Kelas Berdasarkan Jenis Kelamin Kelas Laki-Laki Nama Sekolah SD Inpres Jila LK1 LK2 LK LK LK LK6 Jumlah 68 SD Inpres Hoeya SD Inpres SD Inpres Bela SD Inpres Eralma Jumlah Nama Sekolah SD Inpres Jila SD Inpres Hoeya SD Inpres SD Inpres Bela SD Inpres Eralma Jumlah 53 72 60 50 47 350 9 13 25 12 106 99 247 183 114 993 26 23 17 14 30 65 60 46 65 26 25 22 28 26 18 15 217 193 192 157 Kelas Perempuan PR1 PR2 PR PR 10 33 20 15 128 28 19 20 35 15 117 42 25 6 3 27 8 25 21 10 8 110 65 22 30 14 11 30 30 35 25 15 12 116 108 48 7 31 20 12 118 PR PR6 Jumlah 195 60 146 161 72 634 Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2012 Tabel IV.2.3 Alamat Sekolah di Distrik Tembagapura No 1 2 3 4 5 Nama Sekolah SD Inpres Banti SD Inpres SD Inpres Tsinga SD Inpres SD Inpres NPSN Satuan Almt Kec Kab Prov 6030282 1 Tembagapur Mimik Papua 6030282 1 Tembagapur Mimik Papua 6030283 1 Tembagapur Mimik Papua 6030455 1 Tembagapur Mimik Papua 6030455 1 Tembagapur Mimik Papua Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2012 Keterangan : SD Inpres Banti berada pada pusat kecamatan Distrik Tembagapura, SD Inpres Aroanop bertempat di kampung Aroanop dan jarak 89

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI antara pusat kecamatan kurang lebih 200 kilometer, SD Inpres Tsinga bertempat di kampung Tsinga dan jarak dari pusat kecamatan kurang lebih 200 kilometer, SD Bililawak dan SD Jagamin hampir berdekatan dengan kampung banti kurang lebih 190 kilometer dari pusat kecamatan Tembagapura. Tabel IV.2.4 Kelas Berdasarkan Jenis Kelamin Kelas Laki-Laki Nama Sekolah SD Inpres Banti SD Inpres SD Inpres Tsinga SD Inpres SD Inpres Jumlah Nama Sekolah SD Inpres Banti SD Inpres SD Inpres Tsinga SD Inpres SD Inpres Jumlah LK1 LK LK3 LK4 LK LK6 Juml 75 60 37 30 46 11 9 14 150 55 42 44 62 41 40 30 17 17 12 6 350 184 120 118 Kelas Perempuam 47 9 38 40 5 11 3 94 56 289 94 340 173 55 951 PR1 PR PR3 PR4 PR PR6 Juml 57 45 39 6 25 30 48 31 20 16 189 128 40 5 23 18 20 200 44 6 16 5 6 77 29 11 12 0 0 52 45 4 4 0 0 53 260 71 110 102 57 600 Sumber: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2012 Keterangan: Tabel di atas menunjukkan bahwa sekolah dasar di Distrik Jila terdapat lima sekolah dasar dan dibagi menjadi kelas per jenis kelamin, dari Distrik Jila jumlah siswa laki-laki paling banyak dari pada jumlah perempuan. Distrik Teinbagapura terdapat lima sekolah dasar dan jumlah siswa laki-laki lebih banyak dari pada perempuan dan perolehan data ini tidak akurat karena ada kelas yang siswanya tidak ada seperti SD Inpres Bililawak kelas lima dan 90

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kelas enam siswa (laki-laki) tidak terdapat, dan kelas perempuan pada sekolah yang sama dan kelas yang sama tidak terdapat pula. Maka, perolehan data ini dari dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Mimika perlu sosialisasi dengan pihak sekolah untuk mengetahui keadaan siswa di sekolah-sekolah tersebut. Jumlah keseluruhan siswa SD Inpres Jila terdapat seribu enam ratus dua puluh tujuh, dan jumlah siswa ini tidak jelas karena dilihat dari kenyataan di lapangan bahwa hubungan kerja sama antara setiap sekolah yang ada di daerah pedalaman dengan Dinas Pendidikan kabupaten Mimika tidak terorganisir dengan baik, dan jumlah siswa tercantum dalam ini penulis mengaris bawahi bahwa tidak valid, karena Jumlah siswa pada setiap sekolah yang ada di Distrik Jila tidak yang berdasarkan data pada tabel di atas dan dengan alasan bahwa siswa di daerah pedalaman tidak sebanyak itu. Kalau semua anak muda yang ada di daerah pedalaman jumlah yang disebutkan di atas penulis mengaris bawahi bahwa itu bisa benar dan tetapi bagi anak-anak yang sekolah jumlahnya tidak sebanyak yang disebutkan dalam tabel tersebut. Jadi, anak-anak ini pastinya aktif sekolah seandainya ada guru yang aktif mengajar. Pengaruhnya, guru-gurunya yang tidak menatah dengan baik atau tidak diorganisir siswa-siswa di pedalaman sehingga siswa-siswa yang harusnya aktif rsekolah tapi faktanya bahwa aktif menantikan kedatangan guru-guru dari kota. Hal, yang sama dialami juga anak-anak sekolah dasar di Distrik Tembagapura dan penerapan satu konsep yang sama di daerah pedalaman pegunungan kabupaten Mimika. Jadi, penulis menceritakan satu 91

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI persoalan yang dialami oleh satu sekolah berarti mewakili beberapa sekolah yang ada di pedalaman kabupaten Mimika. Mengapa demikian? Karena pengaruh kepemimpinan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika dan setiap kepala sekolah yang ditugaskan pada sekolah yang ada di daerah pedalaman Timika yang tidak memprioritaskan kebutuhan siswa di daerah-daerah pedalaman Kabupaten Mimika. Perolehan data siswa dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika, dengan identitas yang tidak jelas menangani pendidikan di daerah pedalaman Timika. Karena pemerintah daerah tidak menunjukkan data-data yang valid kepada peneliti waktu peneliti melakukan penelitian di kabupaten Mimika terkait profil guru pedalaman di daerah pedalaman dan tidak ada pula keterbukaan dari pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika. Berarti bahwa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika menutupi kesalahanya atas kebijakan yang diambil. Sama pula dengan guruguru pedalaman yang statusnya tidak jelas, karena guru-guru yang ditugaskan di peladalaman tidak mengajar di tempat tugas dan keluyuran di kota dan statusnya di kota pun tidak jelas. Tabel IV.2.5 Tingkat Pendidikan dan Masa Kerja SD Jagamin No Nama Guru Pangkat Pendidika Ket 1 Marius Gol III/D nSPG PN 2 Marthen UFA SPG PN 3 Wellem Bagau II/A SMK CPNS 4 Ayub Giayai DII CPNS 5 Joni SI Kontrak 6 Renia SI Honor 7 Amoldus STP Honor II/B Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2012 92

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Keterangan : Berdasarkan tabel di atas terdapat dua guru sekolah pendidikan guru, dan satu sekolah menengah kejuruan, dan dua diantaranya pendidikan umum. Sekolah Pendidikan/Guru (SPG), sederajat dengan Sekolah Menengah Keguruan/Kejuran. Dan, sesuai dengan tabel di atas menjelaskan bahwa pendidikan akhir guru-guru di sekolah-sekolah di daerah pedalaman menunjukkan bahwa tidak seimbang. Ada, guru yang akhir pendidikan hanya dari pendidian tingkat menengah atas, dan ada guru yang tingkat pendidikannya hanya D-1, D-2, Dan D-3, tapi ada guru yang tingkat pendidikannya pada tingkat perguruan tinggi. Guru-guru pendidikan perguruan tinggi dari yang tingkat kalangan pendidikan umum, dan pengangkatan guru-guru di kabupaten Mimika berdasarkan kebutuhan yang mendesak, sehingga guru-guru yang diangkat pun secara terpaksa atau kebijakan pemerintah untuk mengisih kekosongan guru-guru di daerah pedalaman dan tidak memandang latar belakang pendidikan dan juga tidak melihat pada tingkat kemampuannya. Pengangkatan guru yang tidak berdasarkan pada tingkat kemauan atau ketersediaan dari guru-guru, sehingga mendapatkan ketidakseimbangan pada tingkat keseriusan atau dan tingkat pendidikan yang tidak seimbang membuat guru tidak nyaman antara sesama guru. 93

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV. 2.6 Masa Kerja Guru di sekolah Dasar SD Jagamin No Nama Guru 1 2 3 4 5 6 7 Marius Hesegem Marthen Yamko Wellem Bagau Ayub Giayai Joni Renia Arnoldus Masa krj Masa krj Ket di sekolah 4thn 1 thn 3thn 3 thn 4 thn 1 thn PN PN CPNS CPNS Kontrak Kontrak Honor keseluruhan 20 thn 14 thn 3 thn 3 thn 4 thn 1 thn Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika Tahun 2012 Keterangan : Bapak guru Marius Hesegem, sebagai guru kelas masa kerja aktif di sekolah ini adalah empat tahun, dan jumlah seluruhannya adalah dua puluh tahun. Dalam dua puluh tahun statusnya aktif mengajar, jadi meskipun guru-guru yang ditugaskan pada sekolah-sekolah tertentu khususnya di daerah pedalaman tetapi tidak menjalankan tugas dalam beberapa tahun saja maka tidak dipersoalkan oleh pihak yang berwenang seperti Dinas Pendidikan. Jadi, semua guru yang ada di pembahasan pada tabel di atas nasibnya sama yaitu lama kerja di sekolah tersebut dan masa kerja keseluruhan yang ditetapkan dari Dinas Pendidikan. 94

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Guru Mata Pelajaran Tabel IV. 3.1 Guru Mata Pelajaran di SD Jagamin No Nama Guru Pkn Bhs Bhs Mat IPA IPS Kes Pen Ti 1 Marius V 2 Marthen Yamko V 3 Wellem Bagau Ind V Ing sen jas V V Se Mulo k V Bud V k V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V 4 Ayub Giayai ) V V V V V V V V V V 5 Joni V V V V V V V V V V 6 Renia V V V V V V V V V V 7 Arnoldus Sumber: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2012 Keterangan: Tabel di atas menjelaskan tentang tingkat pendidikan dan lama kerja guru serta guru mata pelajaran. Maka, dipahami bahwa mata pelajaran yang diwakan pada perkelas dan semua mata pelajaran ditangan oleh semua guru yang ada. Contah, dapat dilihat di tabel bahwa bapak Marius mengajar di kelas dengan mata pelajaran PKN dan guru yang sama mengajar pada mata pelajaran bahwa Indonesia, IPA, IPS, Matematika, Mulok, Penjaskes, dan lain-lain. Jadi, setiap guru mempunyai jam mengajar dalam satu minggu mengajar dengan mata pelajaran yang berbeda. 95

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV.3.2 Masa Kerja Guru Sekolah Dasar Inpres Aroanop No Nama Guru Pangkat/gol Pendidikan Masa Krj di Lama krj Ket 1 Yoseph Tabuni A. ma. Pd Pembina Akhir IPI sekolah ini 18thn3bln 24 thn 3bln PN 2 Yosep Kaize, A.Ma.Pd IV/a Pratama IPI 5 thn 2 bin 6 thn 2 bin PN 3 Hidayat, A.Ma Il/b Pratama IPI 5 thn 2 bin 6 thn 2 bin CPNS 4 Niko Bunai, A.Ma.Pd Il/b Pratama IPI 4 thn 2 bin 5 thn 2 bin CPNS 5 Yulius Wetipo 6 thn 2 bin 7 thn 2 bin CPNS 6 Herson Balu 4 thn 2 bin 5 thn 2 bin Guru kontrak 7 Simson 4 thn 2 bin 5 thn 2 bin Guru kontrak Il/b Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Mimika Tahun 2012 Keterangan : Masa kerja guru sekolah dasar pada sekolah dasar di SD Aroanop bahwa sama dengan penjelasan pada tabel iv. 3.5, tapi di sekolah ini setiap guru memiliki lama kerja yang tidak seimbang ada guru yang mengajar delapan belas tahun tiga bulan, ada guru yang lima tahun tiga bulan, dan dua tahun dua bulan dan seterusnya. Tabel IV. 3.3 Guru Mata Pelajaran SD Inpres Aroanop No Nama Guru 1 2 3 4 5 6 7 Yoseph Tabuni Yosep Kaize Hidayat Niko Bunai Yulius Wetipo Herson Balu Simson Pkn Bhs Bhs Mat IPA IPS Kes Penjas V V V V V V Ind V V V V V V Ing V V V V V V V V V V V V V V V V V V Tik Se sen V V V V V V V V V V V V V V V Bud V V V V V V Mulok V V V V V V Keterangan: Data dalam tabel di atas menjelaskan bahwa setiap guru mengajar semua mata pelajaran pada per kelas, dan kecuali mata pelajaran bahasa inggris yang tidak ada kelas, karena belum ada guru kelas bahasa 96

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI inggris. Dari keefektipan guru akan menentukan bahwa proses belajar mengajar berjalan efektif atau tidak. Guru-guru yang sudah ada jadwal mengajar di kelas kadang tidak pasti mengajar sehingga guru-guru yang sudah hadir pada semester-semester tertentu mereka menghendel semua mata pelajaran yang ada meskipun mata pelajaran tersebut bukan bidangnya. Tabel IV. 3.4 Guru Mata Pelajaran SD Inpres Banti No Nama Guru Pkn Bh Bh M IPA s s at IP Kes Pe Tik Se S nja sen 1 Absolom V V V V V 2 Hesegem Irene Ice Makai V V V V V V V 3 Lamek Uamang V V V V V V 4 Nikera Anow V V V V V 5 Petrus Yatipai V V V 6 Priska Kuum V V V Mulo Bud k V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2012 Keterangan : Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa mata pelajaran yang dibawakan oleh setiap guru mata pelajaran dan dari mata pelajaran PKN sampai dengan mata pelajaran Mulok semua guru terlibat tetapi mata pelajaran bahasa Inggris belum ada guru yang mengisih karena untuk mendapatkan guru bahasa Inggris sangat sulit. Maka peran guru dalam menjalankan tugas mengajar di sekolah tidak teroganisir dengan baik ini masalah yang terdapat di daerah-daerah pedalaman Papua pada umumnya. 97

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV.3.5 Data Guru SD Inpres Jila No Nama Guru Pangkal Pendidikan Masa Krj Masa kerja Akhr di sklh ini keseluruhan Ket 1 Yulius Piligame, S.Pd Penata SI PNS 2 Rubeni Kadepa, Amd Tk III/D Pinata muda D3 PNS 3 Apolonaris Tiriwa, Amd Tk I/ Il/b pengatur D3 PNS 4 Siprianus Kegiye, Arnd muda Pratama II/b D3 CPNS 5 Magdelena Kamaroko, pengatur D3 CPNS 6 Amd Sanjaya Silaban, S.Th muda Guru kelas SI Guru kontrak 7 Klaudius Lisias L. G, S.Th Guru kelas SI Guru kontrk 8 Friska L. Taleleu Guru kelas 9 Noh Foat, S.Th Guru kelas SI Guru kontrk 10 Srianita, S.Th Guru kelas SI Guru kontrk 11 Josea Piligame Guru kelas Stak Guru kontrk Guru kontrak Sumber : Buku Agenda Umum SD Inpres Jila Tahun 2012 Keterangan : Satu Sekolah Dasar Memiliki sebelas Guru sekolah dasar. Pengorganisasian penempatan guru tidak efektif karena dari sekolah-sekolah lain ada kekurangan guru dan ada sekolah yang berkelebihan guru. Penjelasan pada tabel di atas bahwa SD tidak teratur guru-gurunya satu sekolah terdapat sebelas dan semuanya adalah guru kelas. Penulis menggaris bawahi bahwa ke sebelas guru ini adalah tenaga pendidik dan tidak guru tenaga kependidikan, dan terdapat ketidak beresan dari Dinas Pendidikan dan Sekolah tersebut karena informasi yang diperoleh dari Dinas Beda dengan perolehan data atau informasi dari lapangan, jadi ada apa dibalik ini semua? Jawabanya adalah kebijakan Dinas sudah tidak tepat dalam penanganan pendidikan di daerah pedalaman Timika pada umumnya. 98

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV.3.6 Data Guru Mata Pelajaran SD Inpres Jila No Nama Guru Agama Pkn Bhs Bhs Mat Ind V Ing V 1 Yulius Piligame V 2 Rubeni Kadepa V 3 Apolonaris Tiriwa V V 4 Siprianus Kegiye, V V V 5 Magdelena K V V V 6 Sanjaya Silaban V V V 7 Klaudius Lisias L V V 8 Friska L. Taleleu V V 9 Noh Foat, S.Th V V 10 Srianita, S.Th V V 11 Josea Piligame V IPA IPS Kese Penj n Tik Sebud Mulok V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2012 Keterangan : sesuai data di atas dapat dipahami bahwa guru kelas atau guru mata pelajaran pada sekolah dasar Inpres Jila terdapat sebelas dan semuanya guru kelas dan membawa mata pelajaran berdasarkan pada jawab mengajar dan bukan pada bidang yang sang guru tekuni. Jadi, kegiatan mengajar berdasarkan pada kehadiran guru di sekolah, dari sebelas guru yang hadir di sekolah kadang tiga atau empat guru dan guru-guru tersebut membawa semua mata pelajaran selama kurang lebih dua sampai tiga minggu, sehingga keefektifan mengajar guru tidak sampai pada standar waktu yang ditetepkan oleh Dinas Pendidikan setempat. 99

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV.3.7 Nama Guru Kelas SD Inpres Alama No Nama Guru Pangkat Pendidi Masa Kerja Masa krja Ket 1 Yoni Piligame II/D k di sekolah ini keseluruha SPGAK 3 thn 2 bulan 6 thn 3 bin PNS 2 Novita Metias, D2 3 thn 2 bulan 4 thn 2 bin PNS 3 Wenselaus D2 3 thn 2 bulan 4 thn 3 bin CPNS 4 Yongky D3 3 thn 4 bulan 4 thn 2 bin 5 Pa. Kama D3 4 thn 3 bulan 4 thn 2 bin 6 Yonius SMA 3 thn 2 bulan 4 thn 2 bin Guru kelas Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2012 Keterangan : Guru Sekolah Dasar Inpres Bela Alama dibuka pada tahun 2010. Dan guru-guru yang dimiliki dari sekolah ini hanya enam orang, bapak Yoni Piligame adalah sebagai kepala sekolah dasar dan lama kerja di sekolah ini hanya tiga tahun dua bulan status sebagai guru PNS. Guru, jadi sebenarnya guru yang aktif menjalankan tugas mengajar tetapi menjadi kendala adalah karena kurangnya pengawasan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika. Karena Dinas tidak memperhatikan nasib guru pedalaman dan yang terjadi adalah pembiaran nasib guru-gurunya berarti kesalahanya diciptakan oleh pihak Dinas Pendidikan yang tidak memprioritaskan pendidikan di daerah pedalaman sebagai pembangunan manusia. 100

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV.3.8 Dafar Guru Mata Pelajaran No Nama Guru 1 2 3 4 5 6 Yoni Piligame Novita Metias Wensilaus Yongky Pa. Hana Yani Yonius Wantik Agam Pkn Bhs Bhs Mat IPA IPS Kesen Penjas a Ing V Ind Tik Sebud Mulok V V V V V V V V V Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2012 Keterangan : Penjelasan dari tabel di atas bahwa setiap guru mengajar berdasarkan pada bidangnya masing-masing dan satu guru membawakan satu mata pelajaran dan pengorganisasian terlihat jelas daripada sekolah-sekolah lain yang ada di daerah pedalaman Timika. Karena dilihat dari manajeman sekolah maupun hasil temuan menunjukkan bahwa SD Inpres Bela Alama sudah berhasil dalam tiga Tahun belakangan dalam proses belajar mengajar dengan efektif dan pemahaman masyarakat juga mendukung kinerja kepala sekolah dan guru-guru lainnya. Namun semua lapisan masyarakat tidak menerima kebijakan pemerintah daerah dalam arti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika yang tidak memprioritaskan nasib anak-anak pedalaman Kabupaten Mimika Papua selama sepuluh tahun belakangan ini. 101

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Rencana Program dan Kegiatan Renstra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tabel IV.4.1 Pendidikan Anak Usia Dini No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kegiatan Pembangunan gedung sekolah di daerah pedalaman (TK) Pengadaan buku paket 6 TK Negeri Pengadaan alat praktek dan peraga siswa Pengadaan mebel air TK Pelatihan kompetensi tenaga pendidik TK Pengembangan pendidikan anak usia dini (KB) Pengembangan data dan informasi anak usia dini Pengembangan kurikulum, bahan ajar dan model pembelajaran PAUD Penyelenggaraan koordinasi dan kerja sama pendidikan anak usia dini 10. Publikasi dan sosialisasi pendidikan anak usia dini 11. Bantuan pembebasan SPP PAUD 12. Pemberian makanan tambahan anak usia dini Vol Satuan 9 Unit 2 Paket 9 Unit 9 Paket 3 Paket 10 Unit 2 Paket 2 Paket 2 Paket 2 Paket 1455 Siswa 3 Sumber: Renstra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2009-2013#3 Keterangan : Dilihat dari penjelasan dalam tabel di atas kegiatan-kegiatan ini tidak memihak pada putra-putri tujuh suku asal kabupaten Mimika, dan ini hanya suatu kegiatan yang menyeluruh pada setiap sekolah PAUD yang ada di kabupaten Mimika. Dan penerapan juga tidak nyata di lapangan, jadi program kerja yang mengada-adakan saja dengan pengeluaran dana yang cukup besar. Anggaran dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika meng-angarkan dana sebesar Rp 11,041590.000, untuk pendidikan anak usia dini se- kebupaten Mimika dengan beberapa kegiatan tersebut diatas. Dan tahun anggaran dari tahun 2012 - 2014, maka dana yang dianggarkan untuk tahun 2012, sebesar Rp 2,230.530.000, tahun 2012, 102

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sebesar Rp 4,355,530.000, dan tahun 2014, sebesar Rp 4,455,530,000. Anggaran untuk dua belas kegiatan yang diagendakan selama tiga periode dengan kegiatan yang sama. Jadi Pendidikan Anak Usia Dini akan dibahas dibab pembahasan yang akan memberi penegasan. 103

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV.4.2 Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun No Kegiatan-Kegiatan Vol Satuan 1 2 Pembangunan rumah Dinas guru di daerah Pembangunan perpustakaan sekolah (45 sudut baca 23 45 Unit Unit 3 4 Pembangunan perpustakaan sekolah (2 SMP) Pembangunan labolatorium IPA SMP 2 4 Unit Unit 5 6 Pembangunan laboratorium bahasa SMP Pembangunan pagar sekolah (SD/SMP) 2 10 Unit Paket 7 8 Pengadaan pakaian seragam anak sekolah 9564 Paket Pengadaan alat praktik dan peraga IPA dan IPS siswa 50 Paket 9 10 11 12 13 14 15 Pengadaan alat praktik dan peraga IPA SMP Pengadaan alat praktik dan peraga bahasa SMP Rehabilitasi berat ruang kelas sekolah Reahabilitasi sedang/berat rumah dinas guru Pelatihan kompetensi tenaga pendidik SD Pelatihan kompetensi tenaga pendidik SMP Pelatihan kompetensi pendidik bagi pendidikan 1 1 27 11 3 3 2 Paket Paket Ruang Unit Paket Paket Paket 16 17 18 19 kecakapankompetensi hidup Pelatihan siswa berpretasi Pelatihan penyusunan KTSP SD Pelatihan penyusunan KTSP SMP Pelatihan penyusunan kurikulum pendidikan 9 2 2 2 Paket Paket Paket Paket 20 Penyediaan buku pelajaran untuk SD 21 Penyediaan buku referensi dan pengayaan SD 22 Penyediaan buku referensi dan pengayaan SMP 23 Penyediaan buku pelajaran materi kecapakan hidup 519 Buku 45 Paket 2 Unit 151 Paket 24 Penyelenggaraan paket A Setara SD 25 Penyelenggaraan paket B setara SMP 26 Pembinaan kelembagaan dan manajemen sekolah 6 6 3 27 dengan Pengembangan comprehensip teaching and learning 28 Penyelenggaraan multi grade teaching di daerah 5 Paket 24 Sekola 29 Bantuan pembebasan Biaya Pendidikan SD 895 Siswa 30 Bantuan pembebasan Biaya Pendidikan SMP 200 Siswa 31 Bantuan penyelenggaraan Ujian SMA 66 4 Siswa 32 Bantuan Biaya Hidup Asrama 3 Paket Paket Paket Paket Sumber : Renstra Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika, 104

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Keterangan : Dari kegiatan untuk wajib belajar Sembilan bulan tidak terlihat jelas untuk pendidikan sekolah dasar di daerah-daerah pedalaman dan pesisir pantai kabupaten Mimika. Kegiatan-kegiatan ini hanya berfokus pada kota Timika dan kenyataan di kota pun tidak berjalan efektif , jadi ada apa dibalik Dinas Pendidikan ini. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika mengangarkan dana sebesar Rp 63,125,933,000, untuk pendidikan wajib belajar sembilan tahun se- kebupaten Mimika dengan 33 kegiatan tersebut diatas. Dan tahun anggaran dari tahun 2012 - 2014, maka dana yang dianggarkan untuk tahun 2012, sebesar Rp 22,403,711,000, tahun 2013, sebesar Rp 20,181,111.000, dan tahun 2014, sebesar Rp 20,541,111,000. Tidak termasuk dengan anggaran untuk pendidikan menngah dalam tahun anggaran tersebut. 105

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV.4.3 Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan No Kegiatan 1 Pelaksanaan Sertifikasi pendidik 2 Pelatihan bagi prndidik untuk menenuhi standar Vol Satuan 3 Paket 2 Paket 3 Pelatihan bagi pendidik untuk memenuhi standar 2 Paket 4 Pembinaan kelompok kerja guru (KKG-TK) 5 Pembinaan kelompok kerja guru (KKG-SD 30 6 Pendidikan lanjutan bagi pendidik untuk memenuhi 3 3 30 Paket Paket Guru kualifikasi 7 standart Pengembangan sistem pendataan dan pemetaan -i j Paket 6 Paket pendidik dan tenaga pendidik 8 Pengembangan sistem penghargaan dan perlindungan profesi pendidik (sidang angka kredit guru) Sumber : Renstra Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika tahun 2009-2013 #3 Keterangan: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika mengangarkan dana sebesar Rp33,691,733,266, untuk peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan se- kebupaten Mimika dengan 8 kegiatan tersebut diatas. Dan tahun anggaran dari tahun 2012 - 2014, maka dana yang dianggarkan untuk tahun 2012, sebesar Rpl2.080,577,755, tahun 2013, sebesar Rpl 1,055,577,755, dan tahun 2014, sebesar Rpl0,555,577,755. Dana yang dianggarkan untuk peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan untuk se- kabupaten Mimika dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). 106

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IV. 4.4 Manajemen Pelayanan Pendidikan No Kegiatan Vol Satuan 1 Pelaksanaan evaluasi hasil kinerja bidang pendidikan 2 Paket 2 Pelaksanaan kerja sama secara kelembangan di bidang 2 Paket 3 Penerapan sistem dan informasi manajemen pendidikan 2 Paket 4 Monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pendidikan 3 Paket 5 Bantuan operasional Sentra Pendidikan 3 Paket 6 Rakomis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan 5 Paket 7 Pembangunan rumah pintar 5 Unit Sumber : Renstra Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2009-2013 #3. Keterangan: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan merilis manajemen layanan pendidikan dari pendidikan PAUD, sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA), se-kabupaten Mimika. Dan dana yang dianggarkan selama tiga periode, dari tahun 2012 - 2014, dengan volume dana sebesar Rp 50.900.000.000; dan tahun anggaran 2012 sebesar Rpl7,500.000,000; tahun anggaran 2013 sebesar Rpl6,700.000,000; dan tahun anggaran 2014 sebesar Rpl6,700,000,000. Manajemen layanan pendidikan se- kabupaten Mimika, dan di bab berikutnya akan membahas lebih khusus pada layanan pendidikan di se-pedalaman kabupaten Mimika. 107

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Membahas hasil temuan masalah pada sekolah dasar di Distrik Tembagapura dan Distrik Jila. Dari Distrik Tembagapura terdapat enam sekolah dasar dan dua puluh lima guru sekolah dasar. Dari SD Inpres Jagamin terdapat tujuh guru sekolah dasar, SD Aroanop terdapat tujuh guru sekolah dasar, SD Banti terdapat delapan guru sekolah dasar, dan SD Tsinga lima guru sekolah dasar. Distrik Jila terdapat lima sekolah dasar, dan memiliki dua puluh guru sekolah dasar. SD Inpres Jila terdapat sepuluh guru sekolah dasar, SD Inpres Hoeya terdapat empat guru sekolah dasar, SD Inpres Alama terdapat tiga guru sekolah dasar, SD Inpres Eralmakawia ada Gedung sekolah tetapi tidak menempatkan guru karena status sekolahnya tidak jelas, dan SD Inpres Bela tidak ada guru yang ditempatkan pada sekolah ini, karena kesalahan teknis dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika. Menjadi fokus peneliti disini adalah tentang gambaran umum keadaan guru-guru pada setiap sekolah di daerah pedalaman Timika, yaitu Distrik Jila dan Distrik Tembagapura dan kedua Distrik ini adalah daerah objek penelitian yang berada di pedalaman pegunungan kabupaten Mimika yang jaraknya kurang lebih 665 kilo meter dari pusat pemerintahan kabupaten Mimika. Penjelasan ini sesuai dengan hasil temuan di lapangan dimana 108

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI peneliti melakukan penelitian, maka yang dibahas disini adalah sesuai temuan atau fakta di lapangan. Peneliti melakukan penelitian selama tiga bulan yaitu dari bulan Desember 2012 - Februari 2013. Tentang keberadaan guru-guru sekolah dasar di daerah pedalaman tersebut. Pengabdian guru-guru di daerah pedalaman tidak serius menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai pengendali mutu pendidikan di daerah pedalaman, dan peneliti tidak menemukan satu guru pun di setiap sekolah di daerah pedalaman yang peneliti temui adalah hanya gedung sekolah, siswa, dan masyarakat setempat. Sehingga peneliti tidak mendapatkan data, atau informasi langsung dari guru-guru tetapi peneliti memperoleh data atau informasi dari masyarakat melalui wawancara terkait keberadaan guru-guru tersebut. Peneliti memwawancarai langsung dengan empat belas orang tentang guru-guru di daerah pedalaman, dan pertama kali peneliti memwawancarai dengan siswa sekolah dasar (SD) Inpres Jila bernama Jatianus Dolame dan dalam wawancara itu ia menjelaskan bahwa guru-guru tidak pernah mengajar secara aktif di sekolah Inpres Jila, dan ia juga sudah mengenal keadaan sekolah di beberapa sekolah seperti SD Inpres Bela Alama, dan SD Inpres Hoeya, nasibnya sama yaitu tentang guru yang membuat sekolah di daerah mereka tidak membawa perubahan. Dalam, wawancara ini ia menjelaskan banyak hal tentang perlakuan guru-guru yang mengagalkan masa depan ia dan teman-teman lainnya, dan proses wawancara bisa dilihat di lampiran. 109

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Peneliti membawancarai dengan bapak Octo terkait keberadaan guru di SD Inpres Hoeya dan ia mengatakan kurang lebih lima tahun ini guru-guru jarang mengajar. Dan, pemerintah daerah juga tidak pernah melihat keadaan sekolah dan siswa di daerah ini, gedung berdiri tanpa guru, siswa banyak tanpa guru pula. Jadi, proses wawancara bisa dilihat di lampiran. Peneliti mewawancarai dua belas orang dan informasi yang diberikan adalah sama yaitu “guru jarang ada di tempat tugas” dan peneliti menetapkan dua pokok sumber masalah yaitu pertama, pihak guru dan kedua, pihak Dinas pendidikan. Pertama, ketidakseriusan mengajar guru, kemalasan guru dalam pengabdiannya, manajemen sekolah yang kurang stabil, kurangnya perserikatan guru-guru daerah pedalaman, kurangnya hasrat mengajar guru, sifat guru yang kurang mantap, hubungan guru dan sosial masyarakat yang kurang, dan tidak adanya keseriusan dari kepala-kepala sekolah SD di daerah pedalaman. Kedua, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika yang membuat pendidikan di daerah pedalaman kemunduran, faktor utama membuat guru-guru tidak aktif mengajar di daerah pedalaman disebabkan oleh kurangnya pengawasan dari Dinas Pendidikan, kurangnya pemberdayaan guru secara efektif, tidak memprioritaskan sekolah-sekolah di daerah pedalaman sebagai pusat pembelajaran suku asli setempat, pembentukan profesionalisme guru daerah pedalaman yang kurang, dan kerja sama antara sesama guru di daerah pedalaman tidak tergorganisir dengan baik serta kerja sama antara Dinas Pendidikan dan kepala sekolah di setiap daerah pedalaman yang kurang efektif sehingga sumber masalah terkait tidak efektifnya 110

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengajar guru di daerah pedalaman terdapat di Instansi Dinas Pendidikan dan Kepala sekolah daerah pedalamanTimika. Masalah-masalah yang paling menonjol pada sekolah-sekolah di daerah pedalaman terkait keberadaan guru, peneliti menjelaskan secara menyeluruh dan memberikan pandangan secara kontinyu atau secara akurat berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan peneliti. Hasil temuan masalah dapat dijelaskan lagi di bawah ini dengan pandangan yang mengarah pada satu instansi yaitu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika sebagaimana pengendali mutu pendidikan di kabupaten Mimika. Profesionalitas guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika menunujukkan bahwa tidak kelihatan, ada masalah apa di balik itu. Sehingga bukti profesionalisme gurunya tidak nampak. Pengaruh profesionalisme guru yang akan menentukan profesionalitasnya di lapangan. Untuk sampai ke profesionalisme guru harus melalui tingkat pendidikan yang memadai, pelatihan-pelatihan secara rutin kepada setiap guru yang mengabdi dimana pun. Maka, jelas bahwa guru-guru di daerah pedalaman tidak memberikan profesionalitasnya, dikarenakan tidak adanya tingkat pendidikan yang sesuai pada bidang kependidikan, tidak adanya pelatihan-pelatihan, dan tidak ada pula pengawasan atau pengarahan dari pemerintah daerah. Pembahasan ini lebih pada profesionalitas guru sekolah dasar di daerah pedalaman, karena mundurnya pendidikan selama beberapa tahun belakangan ini. Bahkan mutu pendidikan sekarang ini lebih buruk dari pada beberapa tahun yang lalu. Kualitas guru menjadi persoalan dalam 111

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pengembangan pendidikan di pedalaman Timika. Kualitas lulusan SD menjadi persoalan yang serius. Penulis tidak ragu mengunggkapkan masalah yang penulis temukan di lapangan karena ini sesuai fakta. Penulis bertanggung jawab atas apa yang penulis maksudkan ketika ada pihak lain yang memberatkan isi pesan dari tulisan ini. Ketika penulis melakukan penelitian di beberapa sekolah dasar yaitu SD Inpres Jila tidak mendapatkan guru-guru di SD ini, dan penulis temukan di sekolah ini adalah hanya siswa dan masyarakat setempat. Pada pertengahan tahun 2011, penulis pernah melakukan observasi pendidikan di daerah pedalaman Timika, dan penulis temukan masalah yang sangat kompleks terkait guru-guru yang tidak menjalankan tugas di lapangan, dan pada tahun 2011 penulis memwawancarai beberapa masyarakat dan siswa, ketika diwawancarai mereka menjelaskan apa yang dialami mereka. Ini sesuai fakta bahwa titik masalah adalah guru, guru,dan guru. Jadi, penulis membandingkan dengan keadaan sekolah pada tahun 2011 dan tahun 2012/2013 ini tidak ada perubahan atau tidak ada pembenahan malah yang terjadi adalah kemunduran pendidikan. Jadi tujuan pendidikan adalah memajukan sumberdaya manusia, meningkatkan kualitas, dan mengedepankan tujuan dan target pendidikan masa depan yang lebih baik, tetapi pendidikan di daerah pedalaman masih jalan di tempat dan kalau hanya stagnan saja masih mending tapi kemunduran pendidikan ini sangat tidak masuk akal. 112

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Peneliti melakukan penelitan dari tanggal 10 Desember 2012 sampai dengan tanggal 22 Februari 2013, target penelitian adalah di sekolah dasar di Distrik Tembagapura, yaitu di kampung Banti, kampung Aroanop, dan kampung Tsingga di sana ada lima sekolah dasar. Di Distrik Jila ada beberapa kampung yaitu kampung Jila, kampung Bela Alama, dan Kampung Hoeya, dan di sana ada lima sekolah dasar. Dan kedua Distrik ini ada 10 sekolah dasar negeri, masalah yang dialami sekolah-sekolah ini adalah sama yaitu masalah guru. l. Profil Guru Sekolah Dasar Sesuai dengan pengertian profil guru pada bab sebelumnya adalah Kebijakan Dinas terhadap pemberdayaan guru di daerah pedalaman supaya guru secara aktif menjalankan tugas dengan baik. Dan pengertian ini dikaitkan dengan konteks guru sekolah dasar di daerah pedalaman kabupaten Mimika menunjukkan bahwa kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika dalam menangani persoalan guru di daerah pedalaman sangat kurang, sehingga tidak meningkatkan kualitas pendidikan di daerah pedalaman Timika. Latar belakang pendidikan guru di daerah pedalaman Timika menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka bukan backraunya dari pendidikan guru. Dari Distrik ada lima sekolah dasar yaitu SD Inperes Jila, SD Inpres Bela Alama, SD Inpres Hoeya, dan SD Inpres Geselema, dan jumlah guru yang dari lima sekolah dasar ini adalah terdapat dua puluh guru sekolah dasar. Sebelas tenaga pengajar dari SD Inpres Jila dan satu 113

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI orang guru berlatar belakang dari pendidikan dan sepuluh guru lainnya bukan berlatar belakang pendidikan guru. SD Inperes Bela Alama terdapat enam tenaga pengajar dan semuanya bukan berlatar belakang pendidikan. SD Inpres Hoeya terdapat empat tenaga pengajar dan semuanya bukan berlatar belakang pendidikan guru. Latar belakang pendidikan dan disesuaikan dengan pengabdian di lapangan menyibulkan suatu masalah tersendiri karena fungsi seorang guru bukan saja mengajar tanpa perencanaan atau tanpa program kerja yang ditentukan dari sebelumnya seperti mengelola kelas pembuatan silabus perencaan kegiatan pembelajaran dan lain-lain. Maka, peneliti menyampaikan pesan lewat tulisan ini bahwa memperbaiki kinetja guru dengan melalui pendekatan pelatihan-pelatihan, agar guru-guru di daerah pedalaman Timika mudah menjalankan tugas dengan baik. Peneliti tidak-yakin ketika melakukan wawancara dan orang-orang yang diwawancarai dan hasil temuanya bahwa sekolah-sekolah di daerah pedalaman kemunduran karena masalah guru, dan guru yang ditugaskan di sekolah-sekolah tersebut tidak menjalankan tugas dengan baik dan mangkir dari tempat tugas selama berbulan-bulan. Jadi, penulis tidak mudah percaya dengan pendapat tersebut, dan peneliti mau cari tahu lebih jauh lagi terkait "persoalan guru", dan menulis memwawancarai orangorang yang terpercaya yang bisa memberikan informasi secara akurat. Infonnasi yang didapatkan penulis tentang guru-guru di daerah pedalaman, 114

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI masalah terbesar ada di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika. Perilaku guru di pedalaman kabupaten Mimika sangat buruk, tidak punya perasaan bersalah dan tindakan guru-guru kurang tepat. Banyak sekolah dasar di daerah pedalaman Timika yang tidak beroperasi secara baik, gedung berdiri tanpa guru, siswa banyak tanpa guru, guru lebih suka mangkir dan keluyuran di kota sambil menunggu gaji buta, tapi anehnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan masih mau juga membayar gaji padahal guru-guru ini tidak menjalankan tugas. Ada masalah di Dinas Pendidikan, karena mudah sekali membayar gaji guru, tanpa teguran dan atau tidak ada kebijakan apa pun. Padahal, pendidikanlah harapan terbesar anak-anak pedalaman Timika untuk bisa beradapan dengan dunia luar. Sekarang masa depan anak-anak pedalaman Timika sangat masih gelap, dan nantinya akan seperti apa? Karena kinerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P & K) kabupaten Mimika, dalam penanganan peningkatan mutu pendidikan di daerah pedalaman, dan kinerja Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), kabupaten Mimika, untuk membantu pemerintah Daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerah pedalaman Kabupaten Mimika tidak berjalan sejajar dan tidak ada keseriusan dan masih berjalan di tempat. Proses pembelajaran di daerah pedalaman tidak efektif dan tidak sesuai keinginan masyarakat dan ketidakseriusan dari pihak yang berwenang yaitu guru-guru yang bertugas di Daerah pedalaman dan lebih 115

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI jelasnya penulis akan menjelaskan masalah yang dialami oleh setiap sekolah yang ada di pedalaman kabupaten Mimika. Keadaan guru di daerah pedalaman Papua perlu diperhatikan secara khusus, karena ada banyak masalah terdapat disana, seperti hubungan antara guru siswa, hubungan guru dan masyarakat, serta hubungan guru dan guru tidak nampak disana. Maka, penulis menggambarkan secara umum bahwa setiap guru yang belum memahami tentang dasar kompetensi guru yaitu ada empat kompetensi diantaranya adalah kompetensi pedagogik guru, kompetensi profesional guru, kompetensi sosial guru, dan kompetensi kepribadian guru. Pentingnya, komptensi guru yang sudah dijelaskan di atas bahwa kemampuan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah akan mempengaruhi tingkat kemampuan pada siswa-siswanya, dan dapat pula mempengaruhi kepribadiannya, mempengaruhi hubungan sosialnya, dan akan mempengaruhi tingkat kemampuan dalam mengelola mata pelajaran yang diajarkannya. Untuk itu perlu memahami penjelasan di bawah ini berdasarkan hasil pemahaman penulis tentang kondisi guru-guru di daerah pedalaman dalam tingkat kemampuan mengajar guruguru di daerah pedalaman Papua. Guru-guru yang bertugas di daerah pedalaman perlu untuk memahami tingkat kompetensi dasar. Kompetensi-kompetensi dasar yang harus dimiliki adalah kompetensi pedagogik guru, kompetensi sosial guru, kompetensi sosial guru, dan kompetensi kepribadian guru. Tanpa memiliki 116

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kompetensi-kompetensi ini, maka guru-guru belum bisa mengelola pembelajaran dengan efektif sehingga penulis menjelaskan berdasarkan pengamatan penulis terkait kompetensi-kompetensi bahwa setiap guru yang bertugas di daerah pedalaman Papua tidak memahami dengan istilah kompetensi ini dan jarang menerapkannya. a. Kompetensi Pedagogik Guru Hasil temuan di lapangan menunjukkan bahwa tidak nampak kompetensi pedagogi guru yang interaktif edukatif secara aktif antara siswa dan guru. Jadi, kemampuan guru untuk mendidik anak-anak murid pada tingkat pemahaman yang lebih tinggi masih di bawah standar. Kemampuan guru untuk menyiapkan perangkat pembelajaran masih sangat jauh seperti program kerja tahunan atau program kerja bulanan, dan program semester, pembuatan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran dan semuanya ini tidak nampak, sehingga untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pun tidak tercapai. Guru-guru yang bertugas di daerah pedalaman Papua harus memiliki kasih sayang terhadap muridnya, kasih sayang terhadap masyarakatnya, kasih sayang terhadap sesama gurunya, dan lebih utama dari semuanya itu adalah takut akan Tuhan, sehingga guru yang memiliki sifat demikian akan memiliki kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru dalam lingkungan kelompok masyarakat. Tugas guru adalah berusaha menciptakan proses pengajaran yang memberikan 117

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI harapan bagi muridnya, dan mengarahkan untuk fokus pada proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Proses pendidikan sangat tergantung pada guru dan bagimana mereka menggunakan metode yang tepat dan baik. Penggunaan metode berdasarkan konteks alamiah atau berdasarkan pada kultural, dari masalah yang diangkat penulis dengan kompetensi guru sangat kontradiktif atau sangat bertolak belakang karena semua guru yang bertugas di daerah pedalaman belum mengerti akan pengertian tentang kompetensi pedagogik guru itu sendiri. Peneliti mengaris bawahi bahwa guru-guru yang latar belakangnya bukan dari pendidikan guru,-maka wajarlah belum memiliki kompetensi pedagogik guru ini. Tanpa belajar seseorang tidak bisa mengerti akan suatu hal sama pula dengan persoalan ini. b. Kompetensi Profesional Guru Kompetensi profesional guru sesuai pengertian dibab sebelumnya adalah kempuan yang dimiliki guru untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran, dan profesioanal adalah guru yang mempunyai tanggung jawab pribadi, sosial, intelektual, moral, dan spritual. Maka, guru perlu memiliki visi yang tepat, visi artinya pandangan yang tepat tentang pembelajaran, karena pembelajaran artinya jantung dalam proses pendidikan sehingga kualitas pendidikan terletak pada kualitas pembelajaran. Pengertian kompetensi adalah bagimana kemampuan guru dalam mendidik siswa dengan berbagai 118

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI metode yang dimilikinya. Tugas guru adalah melakukan tugas pendidikan dan pengajaran di sekolah. Tugas guru daerah pedalaman adalah mengajar dan mendidik pada peserta didik yang ada di daerah pedalaman kabupaten Mimika. Melakukan pendidikan dan pengajaran yang muaranya pada memanusiakan manusia melalui pendidikan dan pengajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa, melakukan pendidikan itu berpusat pada pengelolaan dalam mempersiapkan materi, penguasaan materi dan memiliki pemahaman yang lebih luas terkait bidang keilmuan yang ditekuni. Pengajaran berpusat pada sejauh mana guru melakukan pengajaran yang lebih kepada memenuhi kebutuhan siswa. Pengajaran yang dilakukan guru sesuai bidang yang tekuni dan ketika melakukan pengajaran di kelas guru tersebut benar-benar menguasi materi yang diajarkan dan dalam penyampaian materi harus sampai memenuhi kebutuhan siswa. Kemampuan seorang guru bukan sekedar pada penyampaian materi di depan kelas, tetapi kemampuan guru mencakup banyak hal terkait tingkat kemampuan berpendidikan dan pengajaran, dan memenuhi tanggung jawab yang penuh atas kepribadianya, sosialnya, intelektualnya, moral, dan spritualnya. Temuan masalah terkait kompetensi profesional guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika Papua tidak nampak. Guru tidak menunjukkan kompetensi profesionalnya di lapangan, guru jarang melakukan pengajaran secara serius. Jadi, sekolah-sekolah dasar 119

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI maupun sekolah-sekolah menengah pertama yang ada di setiap daerah pedalaman Papua perlu dipertanyakan, karena kompetensi yang harus dikuasai guru-guru tidak mencapai dan guru-guru daerah pedalaman Papua perlu belajar lagi artinya perlu adanya pelatihan selama tiga sampai empat tahun 'untuk menguasai ilmu pendidikan dan ilmu pengajaran. Kendala yang dialami guru-guru di daerah pedalaman adalah kedudukan dan peranan yang kurang maksimal, sehingga pelayanan pendidikan di daerah pedalaman tidak begitu jelas. Dalam ilmu sosiologi peneliti menemukan dua istilah berkaitan peran sosial (seorang guru) dan status (kedudukan) peneliti menjelaskan berdasarkan pada konteks masalah yang diselidiki, yakni status dan peran sosial di dalam masyarakat. Status diartikan sebagai suatu peringkat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok atau posisi suatu kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain. Sedangkan peran merupakan sebuah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki suatu status tertentu. Status sebagai guru dapat dipandang sebagai yang tinggi atau rendah, tergantung di mana guru tersebut berada. Sedangkan perannya yang berkedudukan sebagai pendidik seharusnya menunjukkan kelakuan yang layak sesuai harapan masyarakat, dan guru diharapkan berperan sebagai teladan yang baik dalam kelompok masyarakat dan khususnya pada anak didiknya. Guru tidak hanya memiliki satu peran, ia bisa berperan sebagai orang yang dewasa, sebagai seorang pengajar, 120

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sebagai seorang pendidik, sebagai pemberi contoh, dan sebagainya. Peneliti cermati, sebenarnya status dan peran guru tidaklah selalu seragam dan bersifat konsisten sebagaimana tersirat di atas. Ini sesuai dengan standar apa dan mana yang dipakai dalam menentukan keduanya. Penilaian status dan peran pada seorang guru di daerah pedalaman tidaklah sama dengan penilaian status dan peran terhadap seorang guru di perkotaan. Guru sebagai professional, jabatan guru sebagai professional, maka dituntut untuk meningkatkan kecakapan dan mutu kompetensinya secara berkesinambungan. Guru yang berkualifikasi profesional, yaitu guru yang tahu secara mendalam tentang apa yang diajarkannya, cakap dalam cara mengajarkannya secara efektif serta efisien, dan guru tersebut punya kepribadian yang mantap. Selain itu integritas diri serta kecakapan keguruannya juga perlu ditumbuhkan serta dikembangkan. c. Kompetensi Sosial Guru Kompetensi sosial guru adalah kemampuan guru untuk berinteraksi aktif dengan murid, sesama guru, dan masyarakat sekitarnya. Guru adalah bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi secara efektif, dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, serta mampu mengubah suatu tradisi atau keadaan yang melingkupi dalam kelompok tertentu. Maka, guru adalah bagian dari 121

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penyelesai masalah dan penuntun anak didik dan masyarakat sekitarnya ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Kompetensi ini jarang ditemukan di daerah-daerah pedalaman Papua, berinteraksi aktif dengan murid jarang ditemukan di tempat tugas, sekarang guru bukan lagi bagian dari masyarakat, dan bukan lagi penuntun bagi muridnya. Jadi, menjadi masalah guru pedalaman adalah kurangnya interaksi sosial yang efektif atau aktif, karena interaksi yang aktif sangat amat berguna dalam memperhatikan dan mempelajari berbagai masalah yang ada di kelompok masayarakat, termasuk masalah pembelajaran. Tanpa interaksi sosial tidak mungkin terjadi kehidupan bersama yang terwujud dalam pergaulan. Pergaulan hidup memang terjadi apabila para anggota masyarakat saling berbicara, saling berbagi pengalaman, bahkan juga saling bersaing dan berselisih. Interaksi sosial merupakan dasar proses sosial sebagai satu pengertian yang mengacu kepada hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Secara umum dapat dikatakan, bahwa bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Hasil temuan masalah di lapangan menunjukkan bahwa interaksi social secara aktif antara murid dan guru, guru dan orang tua murid, dan guru dan masyarakat sekitar sangat kurang. Mengapa terjadi demikian karena guru-guru di daerah pedalaman belum mengenal kemampuan beradaptasi dengan masyarakat sekitar dan penyebab 122

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI utamanya adalah tindakan guru yang tidak professional, sehingga mengakibatkan hubungan sosialnya sangat kacau antara siswa dan guru, masyarakat dan guru. Sumber masalah adalah pribadi guru. Tindakan guru dipandangan masyarakat pedalaman sangat negetif, guru tidak mengajar selama tiga sampai lima bulan itu menyimbulkan pertanyaan bagi masyarakat bahwa kenapa guru tidak mengajar selama berbulanbulan, guru yang ditugaskan di sekolah ini kok tidak mengajar selama berbulan-bulan dan guru-guru ini ada kerja apa saja di kota. Maka, pertanyaan-pertanyaan yang ada di kelompok masyarakat adalah pertanyaan yang timbul akibat kekecewaan atas ketidakhadiran guru. Maka, hubungan antara guru dan kelompak masyarakat selalu saja bermasalah, apa lagi hubungan antara siswa dan guru, dan diakibatkan karena interaksi social yang kurang efektif dan peranan guru yang tidak berpihak ke masyarakat. Peranan guru terhadap murid-muridnya merupakan peran vital dari sekian banyak peran yang harus ia jalani. Hal ini dikarenakan komunitas utama yang menjadi wilayah tugas guru adalah di dalam kelas untuk memberikan keteladanan, pengalaman serta ilmu pengetahuan kepada mereka. Begitupun peranan guru atas muridmuridnya tadi bisa dibagi menjadi dua jenis menurut situasi interaksi sosial yang mereka hadapi, yakni situasi formal dalam proses belajar mengajar di kelas dan dalam situasi informal di luar kelas. 123

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dalam situasi formal, seorang guru harus bisa menempatkan dirinya sebagai seorang yang mempunyai kewibawaan dan otoritas tinggi, guru harus bisa menguasai kelas dan bisa mengontrol anak didiknya. Hal ini sangat perlu guna menunjang keberhasilan dari tugastugas guru yang bersangkutan yakni mengaj ar dan mendidik muridmuridnya. Hal-hal yang bersifat pemaksaan pun kadang perlu digunakan demi tujuan di atas. Misalkan pada saat guru menyampaikan materi belajar padahal waktu ujian sangat mendesak, pada saat bersamaan ada seorang murid ramai sendiri sehingga menganggu suasana belajar mengajar di kelas, maka guru yang bersangkutan memaksa anak tadi untuk diam sejenak sampai pelajaran selesai dengan cara-cara tertentu. Peranan guru dalam masyarakat tergantung pada gambaran masyarakat tentang kedudukan guru dan ststus sosialnya di masyarakat. Kedudukan sosial guru berbeda di negara satu dengan negara lain dan dari satu zaman ke zaman lain pula. Sebenarnya peranan juga tidak terlepas dari kualitas pribadi guru yang bersangkutan serrta kompetensi mereka dalam bekerja. Pada masyarakat yang paling menghargai guru pun akan sangat sulit untuk berperan banyak dan mendapatkan kedudukan sosial yang tinggi jika seorang guru tidak memiliki kecakapan dan kompetensi di bidangnya. Ia akan tersisih dari persaingan dengan guru-guru lainnya. Apalagi guru-guru yang tidak bisa memberikan keteladanan bagi para muridnya, sudah barang tentu 124

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI la justru menjadi bahan pembicaraan orang banyak. Jika dihadapan para muridnya seorang guru harus bisa menjadi teladan, ia pun dituntut hal yang sama di dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Penghargaan atas peranan guru di negara kita bisa dibedakan menjadi dua macam. Pertama, penghargaan sosial, yakni penghargaan atas jasa guru dalam masyarakat. Sikap guru terhadap anggota masyarakat serta penempatan posisi guru dalam stratifikasi sosial masyarakat sangat minim. Hal semacam ini akan pedesaan/masyarakat tampak pedalaman jelas yang bahwa pada mana mayarakat mereka selalu menunjukkan rasa hormat dan santun terhadap para guru yang menjadi pengajar bagi anak-anak mereka. Mereka (masyarakat) lebih biasa memberi kata-kata sapaan santun terhadap guru seperti pak guru, mas guru dan sebagainya daripada profesi-profesi yang lain. d. Kompetensi Kepribadian Guru Kompetensi guru adalah kepribadian yang menjadikan dirinnya sebagai pengajar, pembimbing, panutan, pemberi contoh yang baik, dan pemberi teladan yang baik bagi siswa. Pribadi guru yang berkompeten adalah guru yang menempatkan dirinnya sebagai pusat cermin bagi siswa untuk mengaca dirinya. Jadi, apakah guru pedalaman Papua menjadikan dirinya sebagai pusat cermin untuk peserta didiknya mengaca. Jawabanya, tidak! Guru tidak lagi sebagai pusat cermin untuk siswa mengaca dirinya, guru yang baik adalah pemberi contoh yang 125

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI baik. Guru daerah pedalaman Papua sebagai guru-guru musiman kadang timbul tenggelam, dan pembentukkan kepribadianya belum maksimal, maka perlu dilatih lagi, agar kemampuan kepribadian itu matang dan menjadi pribadi yang berkompeten. Guru-guru di daerah pedalaman secara umumnya memberikan contoh yang kurang baik, dan tidak menjadikan dirinya sebagai pengajar, pengabdi, dan pemberi contoh yang baik, namum kenyataan di lapangan dapat memberikan pandangan yang negetif tentang kompetensi kepribadian gurunya. Penulis dapat memahami bahwa kompetensi kepribadian guru tidak mudah didapatkan begitu saja tanpa belajar. Mendapatkan kompetensi guru itu harus melalui proses belajar dengan jangka waktu yang panjang. 2. Tingkat Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Daerah Pedalaman Timika Papua Menurunya kualitas lulusan sekolah dasar di daerah pedalaman diakibatkan karena tingkat pengabdian yang kurang efektif dan tingkat pengajarannya sangat kurang sehingga perlu dipertanyakan pada status guru atau perlu dipertanyakan latar pendidikan gurunya. Penulis menemukan bahwa tingkat pendidikan guru sekolah dasar di daerah pedalaman Papua masih harus diperhatikan atau perlu adanya evaluasi secara menyeluruh. Seperti, guru sekolah dasar di SD Inpres Jila terdapat sebelas Guru sekolah dasar. 126

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SD Inpres Jila terdapat satu guru latar belakang pendidikan, dan guru yang lain berlatar belakang bukan pendidikan, sehingga perlu diperhatikan oleh pihak yang berwewenang untuk pementukan kemampuan mengajar guru-guru di daerah pedalaman. Menentukan profesi guru tanpa mengetahui kemampuan guru dalam pengelolaan materi pembelajaran, pengolaan kelas, dan setiap guru bisa membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Silabus, dan membuat program semester bulanan, dan membuat program tahunan. Apabila guru-guru sudah sampai pada tingkat itu, maka sangat penting untuk setiap guru wajib memperoleh sertifikasi guru. Tanpa, yang dijelaskan diatas maka guru tidak wajar untuk memperoleh sertifikasi guru. Karena, hasil temuan penulis di lapangan terkait kompetensi guru di daerah pedalaman perlu dipertanyakan. Guruguru di daerah pedalaman Papua perlu adanya melanjutkan tingkat pendidikan yang lebih lanjut, karena hanya pada tingkat pendidikan yang sekarang dimiliki oleh setiap guru sangat tidak mendukung untuk mengabdi di sekolah. Guru-guru di Distrik Jila dan Distrik Tembagapura nasibnya sama terkait peranan guru yang tidak efektif menjalankan tugas dengan baik. Dilihat dari tahun efektif mengajar guru pada setiap sekolah terdapat empat setengah tahun dan lama mengajar pada setiap guru rata-rata enam sampai dengan tujuh tahun. Tetapi, guru-guru di daerah pedalaman tidak menjalankan tugas berdasarkan pada tahun efektif mengajar di sekolah. Dan penulis menemukan masalah yang sangat serius terkait tahun efektif 127

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengajar guru bahwa terjadi kesenjangan di setiap sekolah artinya bahwa setiap guru tidak mengajar di sekolah pada tahun yang sudah ditetapkan dari Dinas setempat. 3. Sekolah Dasar Negeri Jila Secara umum Distrik Jila terdapat beberapa Sekolah diantaranya adalah SD Inpres Jila, SD Inpres Hoeya, SD Inpres Bela Alama, dan SD Inpres Geselema. Sesuai hasil temuan di lapangan menunjukkan bahwa sekolah-sekolah tersebut sangat memprihatinkan. Maka penulis dapat menjelaskanya secara profesional sesuai fakta di sekolah-sekolah tersebut. Keadaan sekolah-sekolah di Distrik Jila masih berdiri kokoh, tetapi selalu saja guru-gurunya mangkir dari sekolah. Semua fasilitas sekolah masih utuh, dan siap dipakai tetapi kadang guru-gurunya tidak manfaatkannya dengan baik. Lebih baik sekolahsekolah negeri di pedalaman tidak dioperasi atau ditutup saja karena kualitas-kualitas lulusan sekarang masih dibawah standar. SD Inpres Jila dari tahun-tahun sebelumnya dalam pengaturan sistemnya sangat sistematis dan sangat terorganisir dengan baik, sehingga guru-guru pada zaman-zaman itu aktif menjalankan tugas dengan baik. Namun, belakangan ini wajah pendidikan di tempat ini sangat muram dan tidak dapat merubah dengan secepat itu, karena hilangnya semangat belajar siswa atau motivasi belajar siswa. 4. Siswa Sekolah Dasar di Distrik Jila 128

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sesuai hasil temuan di lapangan jumlah siswa terdapat 545 siswa. Jumlah kelas satu, sembilan puluh enam siwa, jumlah siswa kelas dua, tujuh puluh lima siswa, jumlah siswa kelas tiga, seratus dua siswa, jumlah siswa kelas empat, seratus delapan siswa, jumlah siswa kelas lima, sembilan puluh dua siswa, dan jumlah siswa kelas enam, tujuh puluh dua siswa. Data ini tidak valid karena jumlah siswa di sekolah dasar inpres Jila dari kelas satu sampai kelas enam tidak sesuai dengan data yang ada. Pemeintah daerah kabupaten Mimika buka mata dan melihat keadaan siswa di daerah pedalaman kabupaten Mimika, jangan berdiam diri atau jangan merasa nyaman dengan apa yang ada. Tetapi perhatikan keadaan orang lain, bantulah mereka yang berteriak meminta bantuan, dan selamatkan anak-anak muda pedalaman yang masa depannya sangat panjang. Guru-guru bertindak dengan jiwa membangun, maka guru-guru menyelamatkan masa depan anak-anak pedalaman. Dinas pendidikan dan kebudayaan (P & K) kabupaten Mimika harus serius menangani problema pendidikan di daerah pedalaman Timika. Siswa umur sekolah di distirik Jila lebih banyak daripada data yang ada di Dinas Pendidikan dan siswa aktif sekolah di daerah pedalaman bisa lebih sedikit dari pada data yang sudah ada di Dinas Pendidikan kabupaten Mimika khususnya data siswa sekolah dasar di Distrik Jila. 5. Keadaan siswa SD Inpres Jila Data siswa di SD Inpres Jila kurang lebih 120 siswa, dan semuanya masih aktif. Tetapi kondisi siswa sangat memprihatinkan karena para 129

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI siswa tidak ada kesempatan untuk memperoleh pendidikan seperti temanteman lain di kabupaten Mimika. Kondisi seperti itu siswa merasa frustasi dengan kebijakan pemerintah daerah kabupaten Mimika yang tidak profesional. Paling disayangkan adalah siswa kelas enam belum bisa membaca, menulis, dan menghitung dengan sempurna. Apalagi dalam kelas guru mengditek di depan kelas dan siswa menulis pun belum bisa. Penulis tidak membicarakan pada kelas 1 sampai kelas 5. Bukan, berarti mereka bodoh, dan bukan berarti mereka tidak mampu tetapi mereka tidak mendapat pengajaran dan untuk sampai pada tingkat pemahaman perlu adanya proses belajar mengajar di kelas, sangat disayangkan siswa SD Inpres Jila. Menjadikan siswa pintar akan ditentukan ketika guru bertindak secara profesional, dan berjiwa membantu atau berjiwa mendidik kepada siswa, untuk mencapai tingkat ini guru harus miliki belas kasih tanpa belas kasih guru tidak akan pernah menjawab persoalan pendidikan di Daerah pedalaman Timika. 6. Guru Sekolah Dasar Negeri Jila Jumlah guru sekolah dasar negeri Jila terdapat sebelas guru, dua diantaranya kepala sekolah dan wakil kepala sekolah dan yang lain guru kelas. Lima guru sekolah dasar guru pegawai negeri, dan enam guru sekolah dasar guru kontrak. Yang sering aktif mengajar di sekolah adalah guru-guru kontrak, dan adanya guru-guru kontrak waj ah pendidikan sekolah dasar di Distrik Jila masih ada. Seandainya tidak ada guru kontrak tidak adalah proses belajar mengajar di kelas. Kendala yang dialami dari 130

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI guru-guru kontrak adalah tidak adanya pengawasan dari kepala sekolah, dan intansi terkait yaitu Dinas Pendidikan dan Kabudayaan (P &K) kabupaten Mimika, setelah ditugaskan di daerah-daerah pedalaman tidak ada yang mengontral, tidak ada pengawasan, dan yang ada adalah pembiaran. Guru kontrak di daerah-daerah pedalaman kadang keabisan makanan dan lain-lain. Kondisi seperti ini mereka masih mau mengabdi, tetapi pemberintah daerah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika tidak menganggap itu tanggung jawab Dinas dan persoalan itu dilemparkan ke guru-guru kontrak tersebut. Dan, yang terjadi pada guru kontrak dipengaruhi dengan kebiasaan-kebiasaan guru-guru negeri yang tidak efektif mengajar, guru negeri hanya sebagai formalitas saja tidak mengajar pun gaji tetap jalan guru-guru kontrak juga kadang tidak aktif mengajar karena dipengaruhi dengan keadaan yang ada. Guru-guru tak lagi punya jiwa pengabdi untuk membuat anak-anak menjadi pintar. Pada tahun 1985- 2006, wajah pendidikan di pedalaman masih baik dan pengabdian guru di pada tahun-tahun itu sangat teroganisir, guru yang tidak mengajar atau tidak menjalankan tugas ada teguran dari dinas atau kasih peringatan dari dinas. Tetapi dari tahun 2007 sampai sekarang wajah pendidikan di daerah pedalaman ini semakin memburuk. Guru-guru tidak menjalankan tugas selama beberapa tahun tetapi dinas pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Mimika tidak ada pengawasan, tidak ada teguruan atau peringatan, yang terjadi adalah pembiaran, 131

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sehingga guru bertindak se-endaknya saja. Mau mengajar atau tidak urusanku, siapa yang mau bilang apa jadi. Keadaan Kepala sekolah dan guru-guru kelas di SD Inpres Jila. Tidak ada hubungan kerja sama, kepala sekolah jalan sendiri guru-guru yang lain jalan sendiri, tidak ada titik temu diantara mereka dan tidak ada evaluasi kerja dan tidak ada pula perencana-perencana kerja yang dari sekolah tersebut untuk membawa pendidikan Jila ke arah depan yang lebih baik. Sekolah yang tidak teroganisir, guru-guru yang tidak teroganisir dan guru-guru yang tidak terharakan. Contoh kasus 1: masalah biaya sekolah, uang SPP sampai dengan uang ujian ditanggung dari dana BOS, dan tidak ada beban biaya ke siswa. Tetapi kebijakan kepala sekolah SD Inpres Jila masih memunggut biaya uang ujian "wajib bayar per siswa Rp 500.000", setelah mendengar kelulusan siswa diwajibkan untuk membawa babi per siswa seekor babi atau suruh bawa dua atau tiga ekor ayam. Padahal, dilihat dari pengabdian guru-guru ini tidak jelas. Contoh kasus 2: SD Inpres Jila guru-guru tidak mengajar dalam satu tahun, mengajar hanya dua atau tiga bulan, sisanya masih mengganggur di kota. Ah, pada saat Ujian akhir burulah guru-guru ramerame naik ke Jila, bawa soal ujian. Dan siswa kebingungan mau jawab apa? Dan lebih baik guru-gurunya saja jawab soal-soal ujian, dan nilainilai nem yang mereka peroleh diatas rata-rata, tetapi kualitas lulusannya masih di bawah standar. 132

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Contoh kasus 3: di SD Inpres Jila, dan SMPN7, kualitas kelulusan dari tahun 2008-2012, masih di bawah standar, karena tidak ada proses belajar mengajar di SD/SMP. Dalam ijazah nilai nem tidak terjantum, atau ada siswa mau lanjut sekolah menengah pertama tidak bisa karena di ijazah SD tidak ada nilai nem dan siswa-siswa ini masih menunggu tahun berikutnya, berarti siswa-siswa SD ini ikut ujian nasional dua kali. Karena ijazah pertama keluar salah, ikut yang kedua kali berarti anak-anak ini sudah sampai ke sekolah tingkat menengah tetapi dengan kesalahan yang fatal seperti ini mereka masih di tingkat sekolah dasar. Kasus ini sangat berat, karena maslah baru yang terjadi di daerah pedalaman Timika, dari sebelumnya tidak pernah terjadi seperti yang sekarang. Di mana titik kesalahanya sesuai hasil temuan penulis adalah kesalahan ini bukan ada pada sekolah, bukan pulah ada pada guru-guru, bukan pulah ada pada siswa-siswa, bukan pulah ada pada masyarakat, tetapi kesalahan fatal seperti ini ada pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika yang membidangi Sekolah Dasar. Tahuntahun sebelumnya ijazah dan nilai nemnya belum diisi dan diserahkan pada setiap sekolah, tetapi dalam tahun belakangan ini diambil ahli oleh Dinas di bidang sekolah Dasar, akibatnya dalam pengisian ijazah dan nilai nem salah, ada siswa yang ijazahnya ada nilai nem kosong tidak ada nilai. Inilah kebijakan Dinas Pendidikan dan kebudyaan Kabupaten Mimika, yang mengagalkan masa depan anak-anak Pedalaman Timika dengan caracara seperti ini. 133

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kasus 4, pada bulan Maret 2013, kunjungan kerja dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten; dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), kunjungan kerja ke SD Inpres Jila, dan SMPN7 di Distrik Jila. Keanehan terjadi di sekolahsekolah ini, malah guru-gurunya tidak ada dan tidak ada proses belajar mengajar di sekolah-sekolah tersebut. Aspirasi dari tokoh masyarkat; kepala suku, dan seluruh masyarakat Jila sepakat bahwa; (1) Ujian Akhir dalam tahun 2013/2014 ini kami menolak . Dinas Pendidikan boleh bawa soal ujianya tapi kami masyarakat akan mengembalikan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, soal ujian SD dan soal ujian SMP di Distrik Jila; (2) masyarakat Meminta kepada pemerintah daerah bahwa kembalikan Kepala sekolah SD Inpres Bela Alama pak guru Yoni Piligame ke SD Inpres Jila, karena kepala sekolah yang sementara tidak ada perubahan sekali; (3), Masyarakat meminta agar segera ganti kepala sekolah SMPN6, Jila karena kinerjanya menurun dan masyarakat sangat frustasi melihat tindakan dan kelakuan kepala sekolah SD, dan Kepala Sekolah SMPN6 Jila. Inti masalah adalah bukan ada pada kepala sekolah dan guru-guru yang bertugas di sekolah-sekolah, tetapi masalahnya ada pada Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Mimika. Dinas sudah mengetahui akar masalahnya dan Dinas pura-pura tidak tahu, dan selalu menyalahkan guruguru yang dittugaskan di sana, dan sebaliknya guru-guru menyalakan Dinas, sehingga untuk memecahkan masalah antara kedua belah pihak tidak kunjung temu titik masalahnya. 134

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Pemberdayaan Guru SD Inpres Jila Pemberdayaan guru di daerah pedalaman kurang maksimal. Guruguru yang ditugaskan di daerah pedalaman kabupaten Mimika sebagian besar sudah menikah dan ketika ditugaskan di daerah pedalaman tidak lagi fokus mengajar. Karena keluarganya ditinggalkan di ibu kota kabupaten dan guru-guru tersebut mengabdi di pedalaman tanpa keluarga, sehingga dalam satu bulan saja mereka ingat akan keluar dan kembali ke kota tinggalkan tugasnya. Guru-guru tidak mengabdi dengan totalitas berarti kalau bisa guru-guru yang ditugaskan di daerah pedalaman sekaligus dengan keluarga, agar tidak membagai pikiran. Pembagian guru-guru di daerah pedalaman sudah teratur dengan baik. Guru-guru yang ditugaskan di daerah pedalaman selangseling yaitu guru orang asli Papua dan guru non Papua, tetapi masalahnya adalah tidak terorganisir dengan baik. Mengapa guru-guru di daerah tidak terorganisir dengan baik karena belum ada persatuan guru daerah pedalaman dan SD Inpres Jila tidak terlihat bahwa hubungan antara sesama guru, sehingga guru-guru terpancar dan setiap guru bertindak semaunya saja. Kepala sekolah tidak dapat mengorganisir guru-guru dan yang terjadi adalah malah bermusuhan diantara mereka diakibatkan oleh karena penggunaan Dana BOS dari sekolah tersebut tidak secara efektif. Pemisah antara sesama guru di daerah pedalaman adalah tidak jujurnya pembagian atau penggunaan Dana BOS dari kepala sekolah yang berkaitan. 8. Sekolah Dasar Inpres Hoeya 135

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Semanjak tahun 2005 sampai tahun 2013, gedung sekolah tidak dioperasi dengan baik, gedung sekolah berdiri tanpa guru, dan gedung sekolah bukan lagi tempat proses belajar mengajar guru dan siswa tetapi tempat famali guru-guru. Ada masalah yang luar biasa di kampung Hoeya ini; apakah karena pengaruh karakteristik masyarakat? Apakah ada pengaruh budaya kemalasan siswa? Apakah karena hubungan transportasi? Atau ada masalah apa dibalik itu? Kalau salah satu sekolah tidak beroperasi dengan baik, maka pasti ada pertanyaanpertanyaan yang bunyinya" mengapa begitu dan mengapa begini" jadi, wajarlah kalau penulis menjelaskan sesuai dengan masalah yang ada di lapangan. Penulis tidak berbohong, penulis mau menyampaikan bahwa SD Inpres Hoeya ada masalah sangat yang serius! Sangatlah disayangkan SD Inpres Hoeya ini tidak pernah dioperasi secara baik. Anak-anak muda di Kampung Hoeya tidak ada berpikiran untuk sekolah, kalimat "sekolah" tidak ada lagi di mulut hat mereka atau tidak ada lagi kedengaran di telinga anak-anak Hoeya dengan kalimat "ayo sekolah". Tetapi dalam lubuk hati mereka ada semangat untuk sekolah, ada harapan untuk mengubah kehidupan mereka yang lebih baik, dan ada masa depan yang lagi menunggu mereka. Untuk mau mencapai ke arah itu, ada orang yang mampu mengantarkan mereka atau ada pemandu jalan, pemandu jalan adalah mereka yang sudah mengenal, mereka yang sudah menghafal, mereka yang mampu mengantarkan pengunjung yang mau menikmati kehindaan suatu tempat atau suatu daerah, sama pula dengan 136

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI anak-anak pedalaman Hoeya ini. Anak-anak Hoeya, belum ada pemandu jalan yang profesional. Berarti belum ada guru yang profesional, guru yang berjiwa pengabdi, guru yang ingin mengedepankan profesionalitasnya. Anak-anak Hoeya yang lagi sekolah di tingkat SD, SMP SMA, dan tingkat perguruan Tinggi tidak sampai jumlah besar, bisa dihitung yaitu kira-kira lima belasan dari tingkat SD sampai dengan perguruan Tinggi. Mereka yang bersekolah adalah mereka yang merantau keluar dari kampung Hoeya, dan sekolah di ibu kota Timika, sehingga sebagian dari anak-anak ini bisa bersekolah dan ada anak-anak Hoeya bisa juga berhasil sampai ke tingkat perguruan tinggi. Berarti anak-anak yang berhasil ke tingkat perguruan tinggi bukan produk dari SD Inpres Hoeya, tetapi mereka yang merantau keluar dari Kampung Hoeya. Pendidikan untuk anak-anak Hoeya sudah ditiadakan oleh Guruguru dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika. Guruguru, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika sudah mengagalkan masa depan anak-anak muda pedalaman Hoeya. Tidak ada perhatihan khusus dari pemerintah daerah dan tidak ada keseriusan dari guru-guru yang ditugaskan di SD Inpres Hoeya, tidak ada pembinaan, tidak ada evaluasi kerja guru-guru. Dan beberapa tahun tidak melaporkan laporan bulanan atau laporan tahunan masuk ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika, tentang pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar. Salah satu persoalan yang dialami dari Sekolah Dasar Hoeya adalah tidak adanya guru-guru asli orang sendiri yaitu orang asli 137

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Amungme yang berasal dari kampung Hoeya sendiri. Guru orang asli daerah adalah kunci maju atau tidaknya pendidikan di pedalamanpedalaman Papua, maka wajarlah pendidikan Hoeya jalan di tempat karena belum ada orang Asli Amungme. 9. Semuanya Berbohong Guru-guru berbohong dan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika berbohong, berarti sama-sama berbohong, dan artinya berbohong kepada masyarakat. Semua Data terkait SD Inpres Hoeya berbohong, sekolah di SD Inperes Hoeya tidak beroperasi baik dari tahun 2005 sampai tahun 2013. Data guru dan jumlah guru yang ditugaskan di Hoeya adalah lima guru sekolah Dasar dan jumlah siswa SD Inpres Hoeya berjumlah 159 semuanya masih aktif sesuai data. Tetapi fakta di lapangan tidak sesuai, maka semua data terkait SD Inpres Hoeya yang ada di Dinas Pendidikan tidak sesuai. 10. Kendala Transportasi Temuan peneliti terkait gagalnya pendidikan di Kampung Hoeya adalah masalah Transportasi. Masalah yang dihadapi guru-guru yang ditugaskan di SD Inpres Hoeya adalah tidak adanya ketersediaan transportasi udara. Jarak dari ibu kota Timika ke Pedalaman Hoeya adalah kira-kira ratusan kilo meter, jadi untuk sampai ke sana tidak bisa dengan transportasi darat tetapi harus melalui transportasi udara dan transportasi pun harus dengan helikopter milik TNI, dan Air Fast milik TPFI. 138

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Masalah transportasi yang menjadi krusial di daerah pedalaman kabupaten Mimika. Penyediaan transportasi untuk pelayanan pendidikan di daerah pedalaman Timika adalah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika, dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), di kabupaten Mimika. Tetapi penyediaan transportasi udara untuk guru-guru yang bertugas di Hoeya jarang didapatkan, dan penyediaan transportasi untuk guru-guru SD Inpres Hoeya bukanlah prioritas utama untuk Dinas Pendidikan dan LPMAK. Dan, tidak ada kerja sama yang baik di antara Dinas Pendidikan, Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), dan guru-guru yang bertugas di daerah pedalaman. Masalah transportasi tidak terorganisir dengan baik untuk guru-guru yang bertugas di daerah pedalaman Timika. Kalau kasih pertanyaan ke Dinas Pendidikan terkait profil guru-guru di daerah pedalaman Hoeya yang kurang baik. Mereka jawab adalah pasti transpotasi, kendala utama untuk SD Inpres Hoeya adalah masalah transportasi. Dan penulis menjelaskan bahwa menajemen pengelolaan dalam hal transportasi untuk daerah pedalaman kurang efektif, karena kedua belah pihak ini tidak bekerja sama yang baik dan saling mengharapkan. Maka, pelayanan pendidikan di daerah-daerah pedalaman ini tidak berjalan secara efektif. 11. Tuntutan Masyarakat Hoeya Terkait Pergantian Kepala Sekolah SD Inpres Hoeya 139

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Timika, 10 Januari 2013; Kepada Bapak Bupati Klemen Tinal, SE.MM. Suara tokoh Masyarakat, tokoh Agama, Kepala Desa, Kepala Suku, serta Mahasiswa, bersepakat bahwa meminta kepada pemerintah daerah agar segera mengganti kepala sekolah SD Inpres Hoeya dengan berindentitas Bapak Markus Leppang, S.Pd, jabatan Kepala Sekolah. Karena kinerjanya kurang mengabdi, masyarakat menyampaikan asprinya dengan alasan bahwa selama tahun 2009 - tahun 2013, tidak ada proses belajar mengajar satu pun. Masyarakat meminta agar segera ganti kepala sekolah yang bernama Bapak Patris Bame, jabatan Guru Kelas yang pertama kali membuka SD Inpres Hoeya. Bapak Bame adalah guru pertama yang mengabdi di Hoeya kurang lebih delapan tahun. Masyarakat menilai guru tersebutlah cocok menjadi kepala sekolah, karena Beliau sudah berhasil. Alasannya Apa Sehingga Masyarakat bertindak seperti yang dijelaskan di atas, karena alasannya adalah sebagai berikut: 1) Di bawah pimpinan kepala sekolah Bapak Markus Leppang. Tidak menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh Dinas P & K. 2) Menerima gaji dengan Cuma-Cuma selama bertahun-tahun 3) SD Inperes Hoeya menjadi lahan bisnis untuk guru-guru 4) Hanya tinggal saja di kota Timika dan membuat laporan yang tidak berdasarkan hasil kerja di sekolah. 5) Tidak ada proses belajar mengajar di SD Inpres Hoeya. Tetapi 140

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mendekati Ujian Nasional (UN) guru-guru pura-pura naik ke pedalaman Hoeya bawa soal Ujian Nasional. 12. SD Inpres Bela Alama Secara umum Pendidikan Dasar di kampung Bela Alama sama halnya dengan SD Inpres Jila, dan SD Inpres Hoeya. Tetapi SD Inpres Bela Alama masih terlihat aktif dari sistem proses belajar mengajar, kepala sekolahnya dipimpin oleh Bapak Yoni Piligame guru Putra Amungme yang punya hati Mengabdi. Masyarakat Bela Alama sangat saltit atas kedatang Beliau di tengah-tengah mereka, dan memberi warna yang berbeda dari guru-guru sebelumnya. Guru-guru di Bela Alama terorganisir dengan baik, terarah dan semua punya tanggungjawab yang sama dan kepala sekolah memberi tanggunggjawab penuh kepada sesama guru untuk bersamasama melangka dalam memberantas kabut tebalnya pendidikan pedalaman di kampung Bela Alama. Kisah seorang Kepala Sekolah SD Inpres Bela Alama Bapak Yoni Piligame, hanya demi mengabdi, hanya demi masa depan anak muridnya Beliau berjalan kaki 200 kilo meter dari pusat kecamatan Jila, Beliau tidak mengharapkan transportasi udara tetapi Beliau jalan Kaki hanya seorang diri. Beliau menghabiskan waktunya di tempat tugas selama lima sampai enam bulan. Masyarakat Bela Alama masih mempertahankan Beliau sebagai kepala sekolah yang mampu membawa perubahan yang sangat signifikan. Tetapi selalu saja ada masalah, karena tidak adanya 141

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pengawasan atau tidak ada kontrol dari Dinas Pendidikan P & K, sehingga menghalangi guru-guru yang mau bertugas. Masalah Penyediaan transportasi, penyediaan makanan (beras), dan fasilitas kesehatan yang kurang mendudukung. 13. Sekolah Dasar di Distrik Tembagapura Sekolah Dasar di Tembagapua terdapat beberapa Sekolah yaitu SD Inpres Banti, SD Inpres Aroanop, SD Inpres Jagamin, dan SD Inpres Bililawak. Nasib sekolah-sekolah ini sama yaitu pengaruh lingkungan sekolah yang kurang mendukung karena lingkungannya yang kurang strategis seperti SD Inpres Banti. Jadi sekolah-sekolah dasar ini memiliki nasib yang sama dan yaitu kendalanya pada guru dan pengaruh lingkungan sekolah yang tidak efektif mengajar. 14. SD Inpres Banti Distrik Tembagapura Jumlah siswa di SD Inpres Banti sangat banyak. Guru-guru pun masih aktif mengajar tetapi sama nasibnya dengan SD lain di daerahdaerah pedalaman lainnya seperti gedung berdiri tanpa guru, siswa banyak tanpa guru, sehingga sekolah tidak dioperasi secara baik. Guruguru tidak teroganisir dengan baik, dan proses belajar mengajarnya tidak efektif. SD Inpres Banti sudah lama berdiri dan sudah lama diopersi dari beberapa tahun yang lalu yaitu tahun 1995 sampai dengan tahun 2007. Proses pembelajaran di SD Inpres Banti berjalan efektif, kegiatan belajar mengajar teroganisir secara baik. Tetapi hasil temuan di lapangan masyarkat mengatakan bahwa "guru-guru sekarang ini tidak sama lagi 142

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dengan guru-guru yang kemarin-kemarin" karena banyak guru yang mangkir tidak menjalankan tugas dengan baik. 15. Pengaruh Lingkungan Sekolah SD Inpres Banti tidak aman karena jarak antara gedung sekolah dengan tempat pembuangan limbah PT Freeport Indonesia kurang lebih 40 meter. Kadang siswa-siswa tidak belajar secara baik. Pembuangan air limbah yang membuat masyarakat banti kadang hidup dalam ketidaktenangan, karena semua masyarakat bermain air limbah dan pasir setiap hari "mendulang emas". Siswa-siswa ikut terpengaruh juga dengan kedaan tersebut, sehingga sekolah bukanlah tujuan utama bagi anak-anak banti untuk mengenyam pendidikan. 16. Budaya Mendulang Emas Anak-anak banti tidak belajar tenang karena pengaruh lingkungan yaitu budaya mendulang emas. Karakteristik mereka sudah dibentuk disana anak-anak usia sekolah tidak fokus lagi belajar dan mereka mencari ampas emas dari pembuangan limbah PT Freeport Indonesia. Ketika, ada proses belajar mengajar di sekolah, kadang siswa tidak fokus pada proses pembelajaran di kelas tetapi perhatian atau fokus anak-anak hanya pada pekerjaan mereka yaitu mencari ampas emas. Pengaruh keluarga terlihat kurang tetapi pengaruh budaya mencari ampas emas menjadi pandangan yang negetif dan persoalan tersendiri yang serius, maka pemerintah daerah dan guru-guru perlu memperhatikan keadaan siswa di SD Inpres Banti Distrik Tembagapura. 143

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17. Kehidupan Masyarakat Kampung Banti Distrik Tembagapura Kehidupan Masyarakat Kampung Banti adalah masyarakat pinggiran suku Amungme yang disingkirkan sejak beroperasinya PT Freeport MC Moran dari tahun 1967 sampai dengan Tahun 2013 ini. Suku Amungme yang mendiami di kampung Banti adalah masyarakat asli Tembagura. Tempat tinggalnya tidak jauh dari areal PT Freeport kurang lebih 30 kilo meter. Tetapi masyarakat kampung Banti tidak mendapatkan Pendidikan yang baik, kesehatan yang layak, kesejahteraan yang layak, dan rumah yang pantas bagi orang asli Amungme. PT Freeport tidak memperhatikan kehidupan masyarakat sekitar areal PT Freeport. Ada banyak masalah didapatkan di arael penambangan ini. Pihak PT Freeport tidak menganggap masyarakat yang ada di sekitar areal PT Freeport bukan lagi manusia, pihak PT Freeport tidak pernah menghargai sebagai hak ulayat dan makhluk Ciptaan Tuhan yang Mulia di sekitar Areal PT Freeport. Mereka menyebut masyarakat setempat sebagai "perusak fasilitas PT Freeport dan Anjing-anjing hutan, nyamuk hutan" itulah sapaan pihak Freeport terhadap masyarakat Kampung Banti. Sangatlah sayang masyarakat ini tidak menyadari kalau ada yang menbodohi, ada yang memanfaatkan masyarakat setempat ini. Masyarakat Amungme yang mendiami di Kampung Banti sangat menderita dengan lingkungan yang tidak bebas. Masyarakat tidak sadar kalau mereka diperbudak, atau 144 diperalat oleh mereka yang

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berkepentingan. Ada apa dibalik semua ini, rumah yang tidak layak, air yang tidak bersih, makanan yang tidak sehat, dan masyarakat Banti juga masih tinggal dalam rumah-rumah tradisional. Sebenarnya, kota Tembagaura adalah tempat tinggal masyarakat Asli Amungme yang tinggal di tembagapura. Rumah-rumah tingkat yang ada di kota Tembagapura adalah milik suku Amungme yang ada di Tembagapura. Semua fasilitas yang disediakan PT Freeport adalah sebenarnya adalah milik suku Amungme yang mendiami di Tembagapura. Pendidikan Dasar dan Menengah Pertama Yayasan Pendididkan Jayawijaya (YPJ) adalah milik suku Amungme yang mendiami Tembagapura. Tetapi, semuanya tidak berpihak ke Masyarakat Amumne Asli Tembagaura, dan masyarakat setempat diusir jauh-jauh. Menempatkan masyarakat Asli di tempat pembuangan sampah manusia-manusia kota, dan tempat pembuangan air limbah. Kebijakan ini adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), dan pelanggaran besar dalam ETIKA perusahaan. Masyarakat hidup terlantar karena pengaruh limbah masyarakat mati dimana-mana. Adakah kehidupan yang lebih layak bagi masyarakat Banti, apakah ada kesempatan lagi mengubah nasib masyarakat Banti lebih baik dari sekarang? Masyarakat Banti ini mau dibawa kemana kalau begini terus kehidupannya. Pendidikan tidak memihak kepada mereka, kebijakan pemerintah dan PT Freeport tidak pernah memihak ke hak-hak Banti, pendidikan membunuh karakter dan semangat belajar anak-anak Banti, kebijakan 145

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI perusahaan tidak memihak ke anak-anak muda Banti ke arah yang lebih baik. SD Inpres Banti bukan tempatnya belajar anak-anak Banti Tembagapura, SD Inpres Banti Tidak Pantas untuk anak-anak Banti, anak-anak banti harusnya sekolah di sekolah-sekolah berskala Internasional, dan sekolah-sekolah yang bermutu di Indonesia. 18. SD Inpres Tsingga dan SD Inpres Aroanop Distrik Tembagapura Gambaran umum SD Inpres Tsingga dan SD Inpres Aroanop adalah secara umum sama halnya dengan Sekolah-sekolah dasar lain di Distrik Jila yaitu masalah kurangnya keefektifan guru. Malasalah guru pedalaman adalah masalah yang sangat serius, masalah yang dialami dari sekolah dasar di Tsingga dan Sekolah dasar Aroanop yaitu tidak ada pengabdian guru dan guru-guru di sekolah-sekolah tidak menjalankan tugas dengan profesional, sehingga banyak siswa terlantar. Tidak ada kerja sama yang baik di antara pihak sekolah, pihak Dinas Pendidik dan kebudayaan Timika, dan pihak Freeport, karena pihak Freeport harus bertanggungg jawab pada beberapa sekolah di Distrik Tembagapura yaitu SD Inpres Banti, SD Inpres Aroanop, SD Inpres Jagamin, SD Inpres Tsingga, dan SD Inpres Bililawak, dan keberadaan Sekolahsekolah ini tidak jauh dari Areal penambangan PT Freeport Tembagapura kurang lebih 50 kilo meter. Kenapa pendidikan dasar di daerah-daerah pedalaman tidak dikendalikan dengan baik, tidak ada seorang pun yang memperhatikan persoalan pendidikan di daerah pedalaman. 146

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dimana kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika, dan dimana pihak Freeport. Tidak ada kerja sama yang baik, sehingga anak-anak pedalaman menjadi korban. Pendidikan dasar di daerah pedalaman tidak memihak pada anak-anak, tidak ada program kerja dari Dinas P & K yang lebih fokus ke sekolah-sekolah pedalaman sehingga menjadi korban adalah guru-guru yang ditugaskan di daerah pedalaman dan peserta didiknya. Karena tidak ada peraturan apa pun untuk guru-guru di daerah pedalaman dan mereka diberi kebebasan untuk memilih sesuai kehendak bebas apakah saya harus betah mengajar di tempat tugas atau saya harus tinggal saja di kota. Sekolah Dasar di SD Inpres Tsingga, Sekolah•Dasar di SD Inpres Banti, Sekolah Dasar di SD Inpres Aroanop, Sekolah Dasar di SD Inpres Bililawak, dan Sekolah Dasar di SD Inpres Jagamin, sama nasibnya dengan Sekolah Dasar di SD Inpres Jila, sama nasibnya dengan Sekolah Dasar di SD Inpres Hoeya, sama nasibnya dengan SD Inpres Bela Alama, dan sama nasibnya dengan SD Inpres Eralmakawia, yaitu tidak ada keseriusan dari Kepala Sekolah, tidak ada keseriusan dari guru-guru yang ditugaskan di daerah-daerah pedaalaman, tidak adanya keseriusan dari Pemerintah Daerah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika. Tidak ada, program kerja yang khusus untuk pendidikan di daerah pedalaman dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika tidak 147

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI serius menangani masalah guru-guru di daerah pedalaman tidak menata secara baik. 19. Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) Kabupaten Mimika Papua Ada harapan bagi suku Amungme dan Kamoro sebagai pribumi Timika, ketika adanya Lembaga Pengembagan Masyarakat Amungme dan Kamoro. Dari lembaga ini ada empat biro yang menjawab kebutuhan masyarakat tujuh suku yang ada di kabupaten Mimika diantaranya yaitu Biro Ekonomi, Biro Kesehatan, Biro Pendidikan, dan Biro Agama. Hadirnya Biro Pendidikan anak-anak putra-putri Amungme dan Kamoro bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Lembaga pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) menjawab segala kebutuhan masyarakat asli Timika, peran pemerintah kabupaten Mimika tidak nampak sehingga peran aktif dan menjawab segala kebutuhan masyarakat Timika adalah LPMAK sehingga semua kegiatan terkait menjawab persoalan masyarakat bukan pemerintah tetapi semuanya dikendalikan oleh LPMAK. Biaya pendidikan dari tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi asal kabupaten Mimika dibiayai oleh LPMAK, dan pemerintah daerah tidak melakukan apa yang menjadi perioritasnya sebagai pengendali mutu pendidikan di kabupaten Mimika. Berdirinya lembaga ini dapat membantu anak-anak muda di daerah pedalaman maupun anak muda yang ada di kota serta kebijakan yang diambil adalah lebih 148

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memihak pada kebutuhan masyarakat setempat artinya mengedepan masa depan anak-anak tujuh suku yang ada di kabupaten Mimika. Dinas Pendidikan kabupaten Mimika bukan prioritas utamanya membangun sumber daya manusia putra-putri suku setempat, karena suku-suku asli setempat kediamanya adalah daerah-daerah pedalaman itu di pesisir pantai maupun di pedalaman pegunungan Timika. Persoalannya adalah mengapa pemerintah daerah gagal membangun sumber daya manusia di daerah pedalaman berarti pemerintah daerah gagal pula membangun sumber daya manusia suku setempat. Dan lembaga punya peran yang aktif, karena lembaga membawa perubahan artinya bahwa memanusiakan manusia suku setempat dalam arti lembaga sudah membawa perubahan yang sangat signifikan untuk tujuh suku yang ada di kabupaten Mimika lebih khususnya suku Amungme dan Kamoro yang berdomisli di kabupaten Mimika. Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) kabupaten Mimika tidak setuju dengan kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika yang gagal membangun sumber daya manusia suku asli setempat. 20. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk Sekolah Dasar, dan Program Kerja Dinas Pendididkan dan Kebudayaan Timika Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika menganggarkan dana sebesar Rp 63,125,933,000, untuk pendidikan 149

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI wajib belajar sembilan tahun se- kebupaten Mimika dengan 33 kegiatan. Dan tahun anggaran dari tahun 2012 - 2014, maka dana yang dianggarkan untuk tahun 2012, sebesar Rp 22,403,711,000, tahun 2013, sebesar Rp 20,181,111.000, dan tahun 2014, sebesar Rp 20,541,111,000. Tidak termasuk dengan anggaran untuk pendidikan menengah dalam tahun anggaran. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabudayaan Kabupaten Mimika mengganggarkan dana untuk tahun 2013 sebesar 20,181,111.000. Anggaran yang dianggarkan ini untuk semua sekolah dasar di se-kabupaten Mimika, berdasarkan dengan program kerja yang ada. Jadi program kerja yang diprogramkan oleh Dinas Pendididikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika dari Tahun 2012 sampai dengan Tahun 2014 sama. Program kerja dibuat untuk tahun anggaran 2012, dan untuk program kerja untuk tahun anggaran 2013, dan tahun Anggaran 2014, masih sama dengan program kerja dari tahun 2012, dan dimana program kerja untuk tahun Anggaran 2013 dengan nominal Rp 20,181,111.000, dan tahun Anggaran 2014 dengan nominal Rp 20,541,111,000. Berarti Anggaran APBD tahun 2013 untuk sekolah dasar, dan Anggaran APBD tahun 2014 dengan nominal Rp 20,541,111,000, untuk sekolah Dasar, dan keseluruhan dana yang dianggarkan APBD, untuk sekolah dasar dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2014, sebesar Rp 63,125,933,000. 150

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Program kerja dari Dinas Pendidikan dan Kebudadayaan seperti dijelaskan di atas dengan tahun anggaran dan kekuatan anggaran yang sudah dijelaskan di atas dapat dipahami bahwa ada kekancaran di dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Mimika. Jadi peneliti menilai bahwa wajarlah kalau pendidikan dasar di pedalaman kabupaten Mimika terjadi kemunduran, program kerja yang tidak terarah, program kerja yang tidak jelas dengan anggaran yang begitu besar dari tahun ke tahun. Dinas Pendidikan kabupaten Mimika ada masalah yang sangat besar kalau dilihat dari program kerja yang begitu-begitu saja, dan Anggaran yang sangat cukup besar tetapi realitanya sangat mengerikan dan membuat kami kecewa atas kinerja dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika. Dinas Pendidikan segera perbaiki imek yang sangat negatif atas kesalahan-kesalahan yang dibuat selama beberapa tahun belakangan ini, dan paling penting yang harus diperhatikan bersama adalah kemanakan saja dana-dana yang jumlahnya sangat besar itu? Dan penulis tidak berdiam diri tapi penulis akan mempelajari lebih jauh lagi terkait persoalan ini, dan penulis sudah menemukan suatu masalah yang sangat serius yaitu tentang Dana APBD dari tahun 2012 sampai tahun 2014, dengan nominal sebesar Rp Rp 63,125,933,000, dana ini tidak jelas dan dikemanakan saja karena bukti di lapangan tidak nyata. Dan dana ini hanya untuk sekolah dasar saja tetapi untuk termasuk dengan sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA). 151

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Pembahasan Berdasarkan pada gambaran umum penelitian dan hasil temuan masalah di lapangan terkait pemberdayaan guru sekolah dasar yang muarahnya pada pembentukan profesionalisme guru daerah pedalaman menunjukan bahwa terjadi kemunduran. Profil guru dalam arti ketidakseriusan atau kemalasan guru membuat pendidikan di daerah pedalaman kemunduran, dan kebijakan Dinas Pendidilan yang membuat guru-guru di daerah pedalaman bertindak sehendaknya serta belum ada pengorganisasian guru-guru daerah pedalaman sehingga tidak terdapat kesatuan atau persatuan guru-guru di daerah pedalaman Timika. Untuk mengatur semua ini adalah tergantung pada Dinas Pendidikan bekerja sama dengan setiap kepala sekolah di daerah pedalaman, namun sesuai temuan masalah bahwa terdapat perbedaan pendapat atau pandangan dari pihak Dinas Pendidikan dan setiap kepala sekolah di derah pedalaman. Tidak ada kerja sama yang baik dari Dinas Pendidikan dan Kepala sekolah dan setiap guru di daerah pedalaman juga tidak terdapat kesatuan persatuan untuk membangun sumberdaya manusia kabupaten Mimika yang berasal dari pedalaman Timika. 1. Dinas Pendidikan (P & K) dan Guru Sekolah Dasar di Daerah Pedalaman Timika Papua Tidak ada kerja sama yang baik dari Dinas Pendidikan dan kepala sekolah beserta seluruh segenap guru daerah pedalaman membuat pendidikan di daerah pedalaman Timika terjadi kemunduran. Hasil 152

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI temuan menunjukkan bahwa tingkat kemasalan guru sangat menonjol dengan melihat kebijakan guru-guru yang membuat anak-anak pedalaman tidak mendapat pendidikan yang lebih layak bagi mereka. Guru-guru di daerah pedalaman tidak menjawab persoalan pendidikan di daerah pedalaman, guru-guru membuat masalah tersendiri di daerah pedalaman. Dinas Pendidikan dan guru-guru mengagalkan masa depan anak-anak muda di daerah pedalaman Timika, kebijakan Dinas pendidikan tidak tepat sasaran untuk membangun sumberdaya manusia anak putra daerah suku Amungme yang berada di daerah pedalaman kabupaten Mimika. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika tidak memperhatikan nasib anak-anak sekolah dasar di daerah pedalaman kabupaten Mimika, tidak ada peringatan satu pun untuk guru-guru yang tidak menjalankan tugas dan yang terjadi adalah pembiaran yang sepertinya disengajakan oleh Dinas Pendidikan kabupaten Mimika dengan alasan bahwa guru-guru yang ditugaskan di daerah pedalaman tidak melanjalankan tugas tetapi hanya keluyuran di kota serta waktunya untuk ambil gaji setiap guru berbondong-bondong datang ambil uang dengan laporan-laporan yang tidak berdasarkan kenyataan di lapangan dan paling anehnya adalah Dinas pendidikan mendengarkan atau menerima begitu saja tanpa mempertanyakan tentang apa yang bersangkutan lakukan tetapi Dinas siap membayar gaji guru tanpa mempertanyakan apakah guru-guru ini menjalankan tugas di lapangan 153

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI atau tidak. Kenyataan di lapangan guru tidak mengajar secara efektif berdasarkan pada bulan efektif mengajar guru di sekolah. Dari temuan penelitian bahwa profil guru menjadi kendala, profil guru ini peneliti mengartikan sebagai sifat kepribadian guru serta kompetensi yang dimiliki setiap guru. Sifat kepribadian guru di daerah pedalaman menunjukan bahwa sangat negetif dilihat dari kinerjanya yang tidak serius dalam menjalankan tugasnya dan tidak membawa perubahan dalam meningkatkan kemampuan siswa di daerah pedalaman. Dalam sifat guru ini lebih pada kemasalan atau ketidakseriusan mengajar, karena dilihat dari bulan efektif mengajar guru dalam semester ganjil adalah maksimal lima bulan tetapi hasil temuan menunjukkan bahwa semester ganjil guru mengajar hanya satu setengah bulan, dan untuk semester genap guru mengajar hanya pada akhir semester yaitu dari awal bulan oktober sampai dengan awal november pertahunya, guru mengagalkan masa depan siswa di daerah pedalaman kabupaten Mimika, sifat kemalasan guru yang membuat siswa kehilangan masa depan yang begitu indah, sifat kemasalan guru yang anak muda di daerah pedalaman tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat sekolah menengah pertama. Guru membuat siswa tidak melanjutkan pendidikan diakibatkan oleh faktor umur siswa, karena dalam penulisan ijazah SD menjantumkan umur siswa di atas dua puluhan sehingga mau lanjut ke SMP di daerah kota ditolak karena faktor umur. Adapula yang penulisan nilai nemnya kosong 154

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan penulisan ijaza pun salah sehingga anak-anak mau lanjut sekolah tapi dengan kedaan seperti itu anak-anak tidak dapat melanjutkan sekolah. Kendala yang menghambat proses pendidikan di daerah pedalaman adalah terkait kompetensi guru. Kompetensi guru yang dimaksud adalah kompetensi pedogogik guru, kompetensi sosial guru, kompetensi propesional guru, dan kompetensi kepribadian guru. keempat, kompetensi ini sangat membantu untuk membangun kepercayaan diri guru serta mampu mengenalikan mutu pendidikan di suatu lembaga pendidikan atau dalam suatu sekolah bisa saja terjadi perubahan yang sangat mengembirakan, karena semua guru sudah menguasai kompetensi tersebut dan sudah menguasai pula cara penerapannya dan pembahasan selanjutnya peneliti akan membahas secara lengkap terkait keempat kompetensi tersebut. Profil guru di daerah pedalaman kemunduran, artinya: profil guru di daerah pedalaman semakin memburuk. Karena pengabdian guru-guru di sekolah-sekolah di daerah pedalaman tidak terorganisir dengan baik. Guru-guru jarang menjalankan tugasnya sebagai pengajar, dan dilihat dari masa tugas di sekolah totolnya dari lima belas sampai dua puluhan tahun tetapi guru-guru tidak memanfaatkan masa tugasnnya secara efektif. Dalam satu semester guru-guru mengajar hanya satu sampai dua bulan, setelah itu guru-guru meninggalkan tugasnya dan kembali ke kota, setelah itu sampai pada ulangan semester pun kadang tidak terlaksana dengan baik. Sampai pada ujian akhir nasional baru guru-guru ramai- 155

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ramai membawa soal ujian ke masing-masing sekolah di daerah pedalaman Timika. Lima bulan semester ganjil dan lima bulan lagi semester genap, dari lima bulan semester ganjil hanya guru-guru mengajar dari setiap pertengahan bulan yaitu dari bulan Mei sampai dengan pertengahan bulan Juni per tahunya. Dalam semester genap guruguru di pedalaman mulai mengajar dari akhir bulan september sampai dengan awal bulan Oktober, setiap tahunya dan hasil temuan penulis menunjukkan bahwa dari semester ganjil bulan Januari sampai Bulan April guru-guru masih saja keluyuran di kota, dan untuk semester genap dari bulan Juli sampai dengan awal akhir bulan september guru-guru pada ganggur di kota. Guru-guru di pedalaman bulan efektif mengajar dalam satu tahun hanya terdapat dua setengah bulan yaitu dari bulan Mei sampai dengan per tengahan bulan Juni, dalam semester ganjil, dan dalam semester genap guru-guru mengajar mulai dari bulan September sampai dengan awal bulan November, per tahunya. Dan, lebih jelas penulis menjelaskan secara terbuka dan apa adanya terkait kinerja guru bedasarkan fakta di lapangan dan bagimana profil pendidikan di daerah pedalaman bisa terjadi seperti ini dan dimana titik masalahnya serta apa yang penyebabnya sehingga guru-guru di daerah pedalaman tidak betah mengajar di tempat tugasnya. Maka, masalah yang ditemukan oleh penulis ketika melakukan penelitian dan penulis membahas berdasarkan konteks yang sudah ditentukan sebelumnya dan pembahasanya sebagai berikut: 156

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Tingkat Pendidikan Guru Hasil temuan penulis terkait tingkat pendidikan guru sekolah dasar di pedalaman kabupaten Mimika, menunjukkan bahwa dibawah rata-rata, artinya: tingkat motivasi mengajar guru masih dibawah rata-rata dapat dibuktikan dari hasrat guru atau pemanfaatan waktu efektif mengajar guru tidak terdapat di sana dikarenakan oleh tingkat pendidikan yang kurang mendukung, artinya: belum ada pengelolaan manajemen kelas yang efektif, tidak terdapat mengesplorasi mata pelajaran secara efektif, dan belum ada motivasi mengajar guru yang pasti. Mengapa terjadi demikian karena tidak ada program kerja yang bisa melatih aaau mengubah situasi yang sedang dialami seperti program pelatihan untuk guru-guru yang bertugas di daerh-daerah pedalaman, kurangnya mengikuti seminarseminar, dan tidak adanya studi banding antara sekolah-sekolah pedalaman dan sekolah-sekolah di perkotaan. Kebutuhan guru yang mendesak untuk mengisih kekosongan di sekolah-sekolah di daerah pedalaman kabupaten Mimika, maka pemerintah daerah salah melangkah dalam pengangkatan guru sekolah di kabupaten Mimika. Dan, berdasarkan penjelasan sebelumnya bahwa keberadaan guru-guru di daerah pedalaman tidak terorganisir dengan baik maka unuk mengetahui tingkat kemampuan guru dalam mengajar tidak dapat diukur tetapi sesuai informasi sudah diperoleh oleh penulis menunjukkan adanya kesenjangan antara tingkat pendidikan yang kurang 157

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mendukung, dan perhatihan pemerintah daerah yang kurang efektif tentang guru-guru di daerah pedalaman Timika. Profil pendidikan sekolah dasar di daerah-daerah pedalaman kabupaten Mimika terjadi kemunduran disebabkan oleh kurangnya perhatihan dari pemerintah daerah kabupaten Mimika, dan kurangnya hasrat dari guru-guru yang ditugaskan di daerah-daerah pedalaman kabupaten Mimika. Mengapa guru-guru yang ditugaskan di daerah-daerah pedalaman Timika tidak menjalankan tugas dengan baik, penulis menemukan titik masalahnya adalah karena kebijakan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika yang kurang tepat dalam pemgorganisasian guru-guru di daerah pedalaman untuk menerangi tebal kabutnya pendidikan di daerah-daerah pedalaman Kabupaten Mimika Papua. Dinas tidak melakukan apa-apa hanya diberi tugas tetapi tidak ada pengawasan, yang terjadi adalah pembiaran dan guru-guru yang ditugaskan di daerah-daerah pedalaman bertindak semaunya saja. Profil tenaga guru berdasarkan tingkat pendidikan yaitu tenaga guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika perlu mendapatkan perhatihan khusus dari daerah pemerintah daerah kabupaten Mimika. Sesuai hasil temuan penulis terkait tingkat pendidikan guru sekolah dasar di daerah pedalaman rata-rata tamatan Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK), atau tamatan D3 ataupun tamatan Sarjana pun bukan beckraunya pendidikan Guru. Maka, yang mengajar di setiap sekolah. Untuk menjadi seorang ahli kependidikan atau menjadi 158

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI seorang pendidik yang professional semuanya berangkat dari kemauan dan tidak dipaksakan oleh pihak mana pun tapi mengikuti kata hati atau terdorong karena belas kasih. Untuk mengajar sekolah dasar tidak harus didasarkan pada tingkat pendidikan tetapi didasarkan pada tingkat kemampuan atau tingkat kesiapan guru, Karena, menjadi seorang guru adalah tugas yang sangat berat dan tugas ini adalah bagian dari menentukan langkah pertama dalam kehidupan seseorang untuk mencapai kehidupan yang lebih layak untuk masa yang akan datang yaitu malalui pendidikan sekolah dasar dan guru yang siap pastinya mampu membawa murid-muridnya pada prestasiprestasi yang membanggahkan. Peneliti menggaris bawahi bahwa gagalnya pendidikan di daerah pedalaman bukan pada tingkat pendidikan yang dimiliki oleh guru-guru atau tingkat kompetensi yang dimiliki guruguru yang ada di daerah-daerah pedalaman Timika melainkan kurangnya dukungan dari pemerintah daerah dalam memfasilitasi gur-uguru yang ditugaskan di daerah-daerah pedalaman Timika seperti penyediaan transportasi, penyediaan Bama atau makanan. Penyediaan transportasi dan penyediaan bama untuk guru-guru di daerah pedalaman tidak terlaksana dengan baik sehingga guru-guru di daerah pedalaman Timika tidak betah di tempat tugas. Pendidikan guru sangat penting, setiap guru sudah menguasai dasar-dasar mengelajar seperti pengelolaan kelas atau manajemen kelas. Lebih penting dari ini adalah motivasi mengajar guru, karena penulis 159

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menemukan motivasi mengajar guru tidak terdapat di sana sehingga dalam satu tahun guruguru di daerah pedalaman mengajar hanya dua sampai tiga bulan per tahun, karena tidak ada motivasi atau tidak ada kesungguhan mengajar guru. Untuk membentuk karakter guru dalam hal ini perlu adanya evaluasi, atau seminar-seminar, dan pembimbingan khusus dari orang yang sudah ahli di bidang pendidikan. Tetapi, dalam hal ini tidak terdapat pada setiap sekolah di daerah pedalaman Timika. 3. Kebijakan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika Papua Dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2006 pendidikan sekolah dasar di daerah pedalaman ada titik kemajuan, buktinya bahwa siswa yang tamat sekolah pada tahun-tahun itu banyak yang sudah berhasil dan yang lain masih dalam bangku pendidikan. Tetapi, dari tahun 2007 sampai tahun 2013 ini wajah pendidikan di daerah pedalaman terjadi kemunduran dan banyak siswa yang gagal pada umur-umur sekolah dikarenakan oleh kebijakan Dinas pendidikan dan guruguru yang ditugaskan di daerah pedalaman yang kurang tepat pada sasaran. Dinas Pendidikan setempat adalah sumber pembuat masalah terkait pendidikan di daerah pedalaman Timika. Kurang perhatian dari Dinas pendidikan membuat guru-guru di daerah pedalaman tidak aktif menjalankan tugas, membangunan sumberdaya manusia suku Amungme dan Suku Kamoro sebagai suku asli setempat tergantung pada peran pemerintah daerahUntuk membangun sumberdaya manusia Amungme dan Kamoro harus dimulai dari daerah pedalaman pegunungan Timika 160

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan daerah pesisir pantai Timika yang mana pusat-pusat keberadaan suku asli setempat. Dinas pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika tidak memperhatikan dari aspek tenaga guru. Guru-guru yang bertugas di daerah-daerah pedalaman tidak mendapatkan perhatihan dari Dinas Pendidikan dan ada guru yang ambil kebijakan sendiri bahwa mengajar atau tidaknya gaji tetap jalan artinya guru-guru tidak menjalankan tugas dengan serius. Guru-guru sudah sampai di tempat tugas namun tetap saja dalam proses belajar mengajar guru-guru tidak menunjukkan keseriusan mengajar di kelas. penulis menemukan titik masalahnya bahwa kurangnya disiplin dalam arti: kurang kerja sama yang baik dari kepala sekolah bersama dengan Dinas Pendidikan dan tidak pernah ada evaluasi kinerja guru-guru di setiap guru-guru di daerah pedalaman kabupaten Mimika. Evaluasi kinerja guru sangat penting untuk mengetahui sampai sejauh mana pencapaian hasil kerja guru di daerah pedalaman apakah menunjukkan bahwa ada peningkatan atau malah terjadi kemunduran, sehingga penulis menemukan bahwa Dinas tidak pernah mengadakan evaluasi kinerja guru daerah pedalaman kabupaten Mimika. Dan ini adalah salah satu kelemahan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, karena melihat dari persoalan yang dialami oleh guru-guru yang ditugaskan di daerah pedalaman sangat komplek. Masalah yang dialami guru-guru di daerah pedalaman adalah karena kurang tersedianya, makanan/BAMA, transportasi udara, jaminan 161

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kesehatan, dan untuk memwujudkan ini perlu adanya evaluasi dari Dinas Pendidikan dan kepala sekolah dari setiap sekolah yang ada di daerahdaerah pedalaman kabupaten Mimika tetapi tidak pernah terlaksana dengan baik sehingga wajarlah kalau masalah pendidikan di daerah pedalaman masih terisolir atau tidak bisa terjangkau dan tidak bisa melangkah pada titik yang baik dari sebelumnya. Pada tanggal 30 Mei 2013 ini guru-guru yang ditugaskan di daaerah pedalaman tidak menjalankan tugas di lapangan. Guru-guru tidak betah menjalankan tugas di lapangan disebabkan oleh sistem atau manajemen Dinas Pendidikan yang tidak jelas. karena sampai sekarang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika tidak menyelesaikan persoalan guru di daerah pedalaman dan Dinas Pendidikan tidak memfokuskan sumber daya manusia orang asli suku Amungme dan suku Kamoro melalui guru-guru yang professional dalam mendidik anakanak muda di setiap daerah pedalaman yang mana keberadaan suku asli setempat, sehingga guru-guru yang ditugaskan di daerah pedalaman selalu saja bergantung penuh sama Dinas Pendidikan dan tidak menjalankan tugaskan berdasarkan pada inisiatif dari kepala sekolah dan guru-guru kelas lainnya. Pendidikan di daerah pedalaman Kabupaten Mimika tidak lagi perioritas utama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika. Guru-guru di daerah pedalaman tidak diperhatikan secara khusus dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika dan sama halnya 162

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika gagal membangun sumber daya Manusia Amungme dan Kamoro yang berada di daerah pesisir dan lereng pegunungan kabupaten Mimika. 4. Kompetensi Guru di Daerah Pedalaman Peningkatan kompetensi guru di daerah pedalaman sangat penting karena selama penulis melakukan penelitian tidak nampak kompetensi guru itu sendiri. Dan berangkat dari latar belakang guru di daerah pedalaman beragam artinya, ada sebagian guru belum memiliki kompetensi guru atau belum sampai kesana dalam arti guru belum mempunyai kompetensi proses pembelajaran itu sendiri dan dalam proses mengajar guru tidak efektif. Maka, tugas utama pemerintah daerah adalah mempersiapkan guru-guru yang benar-benar berkompeten dalam bidang yang diajarkan. Guru yang bekompeten dalam bidangnya pastinya mengabdi dengan seluruh kehidupanya, karena mengingat betapa berharganya masa depan anak-anak muridnya. Profil pendidikan di daerah pedalaman terjadi kemunduran karena pengaruh kompetensi guru. Guru yang professional mampu membawa sekolah atau masyarakat sekitarnya pada tingkat yang lebih baik dari sebelumnya, dan profil guru di daerah pedalaman kemunduran karena fokus guru bukan pada peningkatan kompetensinya tetapi melakukan karena tugas sehingga pelaksanaan tugas dengan setengah hati maka terjadi keburukan pendidikan dan nama baik guru di daerah pedalaman 163

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menunjukkan bahwa tidak bertanggung jawab atas tugas yang dibebankan dari atasanya. Membahas tentang kompetensi guru daerah pedalaman Papua lebih fokusnya pada kompetensi sosial guru dan kompetensi kepribadian guru. Karena penulis menemukan masalahnya sangat besar ketika melakukan penelitian di daerah pedalaman Timika Papua bahwa kompetensi sosial guru yang berinteraksi aktif dengan murid, sesama guru, dan masyarakat sekitarnya sangat kurang. Guru adalah bagian dari murid, guru adalah bagian dari masyarakat, satu pribadi guru adalah bagian dari guru yang lainnya sehingga perlu adanya perpaduhan antara sesamanya. Dan, penulis menemukan guru-guru di daerah pedalaman tidak terdapat hubungan kerja sama scara efektif, dan tidak terdapat juga penyesuaian guru dengan sosial masyarakat setempat. Interaksi sosial guru jarang terlihat di daerah-daerah pedalaman Papua. Dan ada pertanyaan yang sering muncul di kelompok masyarakat bahwa tanggung jawab guru itu seperti apa ? Karena, masyarakat tidak melihat peran guru di lingkungan masyarakat sekitarnya sehingga masyarkat beranggapan bahwa guru bukan penyelesai masalah tetapi guru adalah pembuat masalah di kelompok masyarakatnya. Persepsi masyarakat terhadap guru-guru di daerah pedalaman sangat negetif artinya, kehadiran guru-guru tidak membawa perubahan. Karena, guruguru yang ditugaskan di daerah pedalaman jarang menjalankan tugasnya 164

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sehingga tanpa sengaja guru mengagalkan masa depan anak-anak muda di daerah pedalaman. Kompetensi guru yang tidak mendudukung, membuat guru-guru tidak betah mengajar maka otomatis mengagalkan masa depan anak-anak sekolah di daerah pedalaman. Kompetensi guru yang akan menciptakan perubahan. Kemampuan mengajar gurulah menciptakan suatu perubahan. Guru-guru di daerah pedalaman belum memiliki kompetensi mengajar. Kemampuan mengajar guru masih lemah, dan guru-guru melakukan tugasnya pun dengan setengah hati. Dalam hal ini penulis menemukan solusinya bahwa ketika mengubah semua sistem yang ada di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika, maka otomatis perubahan itu akan tercipta. Masalah yang sangat serius di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika yang membidangi sekolah dasar se-Kabupaten Mimika dan akibatnya semua guru sekolah dasar di pedalaman Timika tidak diperhatikan sehingga guru-guru bertindak semaunya. Kompetensi kepribadian guru adalah sebagai guru pengajar, guru pembimbing, panutan, guru pemberi contoh yang baik, dan pemberi teladan yang baik bagi siswa. Untuk mendapatkan ini dari anak-anak muda atau masyarakat pedalaman merupakan sesuatu yang sangat mahal. Dengan cara apa anak-anak muda di pedalaman mendapatkan orangorang yang profesioanl atau kepribadian yang professional. Karena, mereka yang bertugas di setiap daerah pedalaman tidak terdapat 165

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kompetensi yang lebihnya pada kpribadian yang matang atau sebagai pemberi contoh yang baik dan menjadi persoalan yang sangat serius sehingga ke depanya lebih baik dari sekarang dalam hal kompetensi guru tersebut. Untuk menghadirkan orang-orang yang berkompeten tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama atau membutuhkan pengorbanan dalam financial maupun dalam tenaga dan usaha yang dilakukan oleh semua masyarakat atau pemerintah daerah setempat . Untuk menyediakan orang-orang yang berkompetensi tergantung pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat dalam arti pemerintah daerah setempat. Karena selama penulis melakukan penelitian di daerah pedalaman Timika tidak menemukan peran pemerintah daerah memberantas kabut tebalnya pendidikan di daerah pedalaman, tetapi yang terjadi adalah pembiaran dan guru tertindak tanpa arahan dari atasan serta tidak ada pengoganisasian yang mengaju pada pemanusiaan manusia muda pedalaman. Manusia pendidikan adalah mereka yang lahir dalam dunia pendidikan dan itu mudah dipengaruhi oleh guru-guru yang berkompeten maupun guru-guru yang tidak berkompeten, tetapi manusia pedalaman atau manusia pinggiran adalah manusia yang perlu diperhatikan terus-menerus dan mengajar terus-menerus sampai benar-benar menjadi manusia berpendidikan yang matang serta manusia pedalaman atau manusia pinggiran yang mampu menyesuaikan diri dengan dunia pendidikan modern. 166

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Temuan masalah menjelaskan bahwa peran pemerintah daerah yang tidak berperan aktif dalam menjalankan tugas sebagai pengendali mutu pendidikan di kabupaten Mimika, dan tidak mengedepankan sumber daya manusia suku asli setempat yang mendiami pesisir pantai maupun lereng pegunungan kabupaten Mimika. Pemerintah daerah gagal membangun komunikasi yang efektif antara guru-guru di daerah pedalaman dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika yang mana mengatur proses jalanya program kerja Dinas Pendidikan untuk pendidikan sekolah dasar di daerah pedalaman dan pesisir pantai kabupaten Mimika Papua. 167

(186) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Peneliti mengambil kesimpulan dari objek penelitian terkait masalah pemberdayaan guru pada sekolah dasar di daerah pedalaman kabupaten Mimika, dan peneliti menemukan masalah yang sangat serius bahwa tingkat kemalasan guru dalam pengabdianya sangat menonjol di daerah pedalaman sehingga wajah pendidikan di daerah pedalaman Timika terjadi kemunduran. Potret guru ini tentunya tidak tampak baik apabila peneliti gunakan objek guru masa kini dan masa lampau di daerah pedalaman kabupaten Mimika Papua. Oleh karena itu untuk menyajikan pemberdayaan guru ini peneliti sudah mencoba menggambarkan bagimana pemberdayaan guru yang sebenarnya, melalui pengamatan dan kreaktivitas peneliti sudah mewujudkan gambaran itu bahwa ternyata pemberdayaan guru sangat kompleks dan perlu pengamatan penuh serta mau diarahkan ke konteks apa dan dimana masalah itu ada. Temuan masalah di lapangan bahwa pemberdayaan guru tidak secara efektif dalam mempersiapkan profesionalisme gurunya untuk menciptakan profesionalitanya, dan pemberdayaan guru muarahnya pada pemberian dukungan penuh dalam mempersiapkan kompetensi yang harus dikuasai oleh guru-guru, maka secara otomatis akan mempengaruhi semangat mengajar guru di daerah pedalaman. Pengaruh dari dukungan atas pengabdian guru otomastis mencipatakan suatu perubahan dalam diri guru dan lingkungannya. Sehingga keutuhan gambaran guru dapat dikonstruksi dari ciri dasarnya dan mengarah 168

(187) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pada kompetensi guru yang memuat tiga komponen dasar, yakni (1) guru yang kompoten mengajar bidang studi yang diajarkan, (2) guru yang profesional dalam melaksanakan tugasnya, dan (3) guru yang trampil dalam melakukan tugas kesehariannya dan kurangnya frekuensi pelatihan pelatihan dari dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Mimika, tidak adanya penataran, tidak adanya bimbingan teknis, dan penyuluan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan pakar pendidikan kepada para guru. Guru sekolah dasar di daerah pedalaman kabupaten Mimika, terlihat kurang aktif dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru pengajar. Kadang muncul pertanyaan oleh orang tua siswa tentang keberadaan guru yang statusnya kurang jelas, karena guru yang ditugaskan di daerah pedalaman tidak melaksanakan tugasnya dengan sepenuh hati. Guru yang ditugaskan tidak serius menjalankan tugas dan sifat kemasalan itu sudah melekat pada diri guru di daerah pedalaman sehingga tidak melakukan tanggungjawabnya sebagai guru pengajar. Tugas guru adalah berusaha menciptakan proses pengajaran yang memberikan harapan, bukan yang menakutkan. Dalam proses mengajar dan mendidik setiap guru perlu memiliki kesabaran dan kasih sayang terhadap siswanya, hingga mereka benar-benar telah menjadi pribadi dewasa. Guru memiliki hati yang mengajar, hati yang mendidik, hati yang memotivasi, dan hati yang mengharakan. Tugas guru adalah mengajar dan mendidik tetapi yang terjadi adalah membunuh karakter atau semangat belajar siswa dan hal itulah yang sedang terjadi pada sekolah-sekolah di daerah 169

(188) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pedalaman Papua pada umumnya dan pada khususnya pedalaman kabupaten Mimika. Karena profil pendidikan di daerah pedalaman Papua sangat kompleks, dilihat dari geografis, budaya, karakter/sifat orang-orangnya. Maka seorang guru mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mampu mempelajari karakter dan sifat-sifat orang-orang yang ada di sekitarnnya. Sumber masalah terkait profil guru dan kompetensi guru sekolah dasar di daerah pedalaman adalah ada pada Dinas Pendidikan dan Keudayaan Kabupaten Mimika Papua serta sifat guru yang membuat kemunduran pendidikan di daerah pedalaman. Dan akibat daripada kurang efektifnya penanganan pemerintah kabupaten Mimika yaitu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika. Penulis menilai Dinas Pendidikan belum sempurna dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai pengendali mutu pendidikan di kabupaten Mimika pada Umumnya dan lebih khususnya pendidikan di Daerah Pedalaman Timika. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika gagal total membangun sumberdaya manusia suku Amungme dan Suku Kamoro kabupaten Mimika yang berada di pesisir pantai dan lereng-lereng pegunungan Timika. Tidak ada keseriusan dari Dinas Pendidikan dan kebudayaan kabupaten Mimika, terkait pemberdayaan guru-guru sekolah dasar di daerah pedalaman, tidak adanya pengawasan secara tetat terhadap guru-guru di daerah pedalaman Timika. Tidak ada kerja sama yang baik antara Dinas P & K, dan Kepala Sekolah sebagai penanggung jawab di lapangan. Profil guru sekolah dasar di Distrik Tembagapura dan Distrik Jila terjadi kemunduran dalam arti prilaku 170

(189) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan tindakan guru di lapangan. Karena dampak dari pada prilaku dan tindakan guru yang tidak profesional mengakibatkan kemunduran pendidikan di daerah pedalaman, karena pemerintah daerah tidak adanya program khusus bagi guru-guru pedalaman kabupaten Mimika untuk pelatihan-pelatihan, seminar, dan belajar berkelanjutan, agar pembentukan profesionalisme guru-guru di pedalaman lebih matang, supaya guru-guru di pedalaman mengalami proses perubahan dari segi kompetensi, perilaku,sikap, dan tingkat pengetahuan yang lebih baik. Kompetensi guru yang rendah sering menjadi kendala bagi guru pedalaman kabupaten Mimika, untuk meningkatkan kinerjanya ke arah yang lebih baik perlu adanya dukungan dari pihak yang berwewenang. Untuk mencapai kompetensi guru perlu adanya pendidikan yang memadai, pelatihan, kursus, seminar, dan perlu adanya studi banding antara sekolah-sekolah di daerah-daerah pedalaman dan sekolah-sekolah di perkotaan. Tetapi selama peneliti melakukan penelitian dan memwawancarai beberapa guru, dan mereka mengatakan bahwa tidak ada program satu pun dari sekolah-sekolah maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika, jadi wajar ajalah profil guru-guru dan profil pendidikan di pedalaman seperti tidak nampak. Hasil temuan penulis terkait kompetensi guru sekolah dasar di daerah pedalaman Papua seperti kompetensi pedagogik guru, kompetesnsi professional guru, kompeten sisosial guru, dan kompetensi kepribadian guru menunjukkan bahwa tidak nampak. Penguasaan ke-empat kompetensi ini 171

(190) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sangat penting bagi seorang guru, kalau guru yang tidak menguasai kompetensi-kompetensi ini, maka akan menciptakan masalah yang sangat serius di sekolah-sekolah tersebut. Dan buktinya bahwa sekolah-sekolah dasar di daerah pedalaman menurun, karena peningkatan kualitas mengajar guru rendah, maka kualitas lulusan juga sangat rendah. Penguasaan kompetensi guru menjadi kendala untuk membangun pendidikan di daerah pedalaman Papua. Guru yang berkompeten di bidangnya akan mudah mempengaruhi lingkunganya dengan positif, guru yang tidak berkompeten di bidangnya sebagai seorang pengajara atau pendidik mudah sekali merusak lingkungan sekitarnya dan dampak dari kurang penguasaan kompetensi, yang menjadi sasaran korban adalah siswa dan masyarakat sekitarnya. Persoalan inilah yang dialami siswa dan masyarakat pedalaman kabupaten Mimika. Seorang guru harus menjadi orang yang spesial, namun lebih baik lagi jika ia menjadi spesial bagi semua orang dalam arti siswanya. Guru harus merupakan kumpulan orang-orang pintar di bidangnya masingmasing dan juga dewasa dalam bersikap. Namun lebih penting lagi adalah bagimana caranya guru tersebut dapat menularkan kepintaran dan kedewasaannya tersebut pada para siswanya di kelas. Sebab guru adalah jembatan bagi lahirnya anak-anak cerdas dan dewasa di masa mendatang. Dalam proses penyelenggaraan pendidikan, gedung sekolah, dana, program, dan kepemimpinan adalah vital. Demikian juga sumber daya manusia, dari kepala sekolah, guru , dan staf memegang peranan yang sangat penting. Sumidjo (2001:272) 172

(191) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menyatakan, “Faktor yang paling esensial dalam proses pendidikan adalah yang ditugasi dengan pekerjaan untuk menghasilkan perubahan yang telah direncanakan pada anak didik. Hal ini merupakan esensi dan hanya dapat dilakukan sekelompok manusia profesional, yaitu manusia yang memiliki kompetensi mengajar. ”Oleh karena itu, guru harus selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, karena ilmu pengetahuan dan keterampilan itu berkembang seiring perjalanan waktu. Jadi, peran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kepala Sekolah, dan guru-guru yang akan menentukan maju atau tidaknya pendidikan di daerah pedalaman. Dan, suatu bangsa maju ketika memiliki sumber daya manusia yang berkompeten atau memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, maka mulai dari sekerang ciptakan sumber daya manusia yang berkompeten atau sumber daya manusia yang berkualitas dari suku Amungme dan Suku Kamoro yang berasal dari daerah pedalaman untuk membangun daerahnya, membangun masyarakatnya, membangun kabupatenya, membangun provinsinya, dan untuk membangun bangsanya serta membuka masa depan kehidupan keluarganya. 173

(192) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Saran Maju atau tidaknya sumber daya manusia di suatu daerah atau suatu negara tergantung pada pemimpinnya. Pemimpin yang memimpin dengan hati akan menyelamatkan daerah dan rakyatnya sendiri, pemimpin hadir untuk melayani bukan dilayani. Pemimpin gagal memimpin suatu generasi maka dampak dari pada kegagalan itu akan terjadi kemunduran suatu generasi. Pemimpin adalah tolak ukur pembangunan suatu daerah, pemimpin adalah pengambil keputusan, dan daya pikir pemimpin adalah cerdas serta universal. Berdasarkan temuan masalah bahwa gagalnya kepemimpinan Dinas Pendidikan terkait dan gagalnya kempemimpinan Kepala Sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru sekolah dasar di daerah pedalaman dengan tidak sempurna sehingga mengagalkan masa depan anak-anak muda dan kualitas pendidikan daerah pedalaman terjadi kemunduran. Guru adalah figur penentu masa depan siswa, maka seorang guru yang memimpin, seorang guru yang teladan, seorang guru pemberi contoh yang baik, seorang guru yang berjiwa pendidik, dan seorang guru yang sumber motivator. Profil profesionalitas guru di daerah pedalaman menunjukkan menurun, disebabkan oleh kurangnya pembentukan profesionalisme guru dengan pendekatan memperdayakan guru sehingga untuk meningkatkan profesionalisme guru tidak nampak, Pendidikan sekolah dasar di kabupaten Mimika secara umumnya dan secara khususnya pendidikan sekolah dasar di daerah pedalaman terajadi kemunduran yang sangat luar biasa. Di bawah kepemimpinan kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika 174

(193) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI gagal membangun sumber daya putra-putri asli Amungme dan Kamoro. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika, tidak memperhatikan sekolah-sekolah di daerah pedalaman dan tidak membangun profesionalisme guru di daerah pedalaman, sehingga tidak ada guru yang trampil di daerah pedalaman. Maka, segera memperbaiki kinerja Dinas Pendidikan dan kebudayaan kabupaten Mimika. Tingkatkan kualitas kepemimpin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Mimika, tingkatkan profesionalitas guru-guru di daerah pedalaman, juga efektikan kualitas kepemimpinan kepala sekolah. Dengan demikian perlu adanya perbaikan-perbaikan yang menyeluruh di Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Masalah kemundurun kualitas pendidikan di daerah pedalaman adalah ada pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika, maka perlu adanya perubahan sistem manajemen kepemimpinan secara menyeluruh. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pelayaman yang secara menyeluruh dan efektif untuk daerah pedalaman Kabupaten Mimika. 2. Dinas Pendidikan segera membuat Serikat Guru Daerah Pedalaman (SGDP), atau Persatuan Guru Daerah Pedalaman (PGDP), karena Dinas pendidikan belum membuat program SGDP dan PGDP, tujuannya adalah mudah terorganisir dan melalui persatuan guru daerah pedalaman pastinya ada pengawasan khusus sehingga tidak terjadi lagi persoalan seperti sekarang ini. 175

(194) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Guru-guru tidak menjalankan tugas di daerah-daerah pedalaman dengan baik, berarti penulis tidak mempersalahkan guru-guru yang bertugas di daerah pedalaman. Tetapi kesalahan terbesar adalah sistem yang diterapkan Dinas pendidikan sudah tidak benar sehingga penulis sarankan bahwa segera perbaiki sistem manajemen di bidang sekolah dasar lebih khususnya di bagian praktisi di lapangan. 4. Sekolah-sekolah di Daerah pedalaman tidak dioperasi secara baik, maka penulis sarankan kepada pemerintah Daerah kabupaten Mimika bahwa segera ditutup atau sementara jangan dioperasi lagi. Karana hasil temuan di lapangan menunjukkan bahwa gedung berdiri tanpa guru, siswa banyak tanpa guru. 5. Tingkatkan pelatihan, kursus, seminar studi banding antar sekolah dasar di daerah pedalaman dan sekolah di perkotaan. Kegitatan ini lebih khusus untuk guru-guru di daerah pedalaman Kabupaten Mimika. 6. Dinas Pendidikan Timika buatlah suatu program kerja yang memfokuskan untuk pendidikan daerah pedalaman Timika. Karena peneliti melihat tidak ada program kerja satu pun untuk pendidikan daerah pedalalaman. Program kerja Dinas Pendidikan sekarang adalah hanya secara menyeluruh yaitu satu program kerja untuk se-kabupaten Mimika. 7. Tidak adanya hubungan kerja sama yang baik antara Dinas Pendidikan dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), kabupaten Mimika. Maka tingkatkanlah hubungan kerja sama yang baik dan buat MoU yang jelas agar memiliki tangunggjawab yang sama dalam 176

(195) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memberantas kabut tebalnya pendidikan di daerah pedalalaman kabupaten Mimika. 8. Penguasaan kompetensi guru masih dibawah standar, maka perlu adanya pelatihan selama satu tahun, pelatihan kompeten sangat penting karena tujuannya adalah membangun kemampuan profesionalisme gurunnya. 9. Untuk membangun sumber daya manusia asal daerah pedalaman berginerjilah antara Dinas Pendidikan, Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), LSM, Donatur, Yayasan, Intelektual, tokoh Agama, tokoh Adat, dan Para Relawan yang peduli akan pendidikan daerah tertinggal ini. 10. Dinas Pendidikan dan kebudayaan (P & K) kabupaten Mimika segera membuka ruang diskusi antar intelektual, LPMAK, dan para ahli di bidang pendidikan, terkait mundurnya kualifas mengajar guru di daerah pedalaman kabupaten Mimika. Tujuannya adalah memperbaiki kualitas mengajar guru, dan penjaminan mutu pendidikan di daerah pedalaman kabupaten Mimika. 177

(196) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Ahmad Rizali, Satria Dharma, dkk. (2009). Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional, Jakarta: Gramedia. E. Mulyasa. (2011). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Fachruddin Saudagar, Ali Idrus. (2011). Pengembangan Profesionalistas Guru, Jakarta: GP Press. H. Djohar, MS. (2006). Guru, Pendidikan Pembinaannya, Yogyakarta: Grafika Indah. H. Suyatno. (2008). Panduan sertifikasi guru, Jakarta: Indeks. H. Mohamad Surya, Abdul Hasim, ddk. (2008). Landasan Pendidikan: Menjadi Guru Yang Baik, Bandung: Ghalia Indonesia. Haji. Sri Banun Muslim. (2010). Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru, Ikapi : Alfabeta. H. Martinis Yamin. Maisah. (2010). Standarisasi Kinerja Guru, Jakarta: GP Press. ------ .(2011). Profesionalisasi Guru @ Implementasi KTSP, Jakarta: GP Press. H. Ibrahim Bafadal. (2009). Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar, Jakarta: Bumi Aksara. Jejen Musfah. (2011). Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pelatihan dan Sumber Belajar Teori dan Praktik, Jakarta: Prenada Media Group. 178

(197) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Moh Uzer Usman. (2006). Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosdakarya. Masnur Muslich. (2007). Sertivikasi Guru menuju Profesionalisme Pendidik, Jakarta: Bumi Aksara. Muhanad Nurdin. (2010). Kiat Menjadi Guru Profesional, Yogyakarta: ARRUZZ MEDIA. Majid Abdul. (2008). Perencanaan Pembelajaran; Mengembangkan Standar Kompetensi Guru, Bandung Remaja Rosdakarya. Marno. (2003). Strategi dan Metode Pengajaran, Jakarta: Ar-Ruzz Media. Sugiyono. (2010). Metode penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Remaja Rosdakarya Tilaar, H.A.R. (2008). Kebijakan Pendidikan , Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Udin Syaefudin Saud. (2011). Pengembangan Profesi Guru, Bandung: Alfabeta. Wikipedia. (2006). The Free Encyclopedia, Competence Human Resources. 179

(198) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 180

(199) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 181

(200) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Catatan Proses Penelitian Hasil pembahasan di bab sebelumnya peneliti membahas berdasarkan hasil wawancara, pengamatan dan observasi, dan dokumentasi tetapi peneliti lebih pada hasil wawancara dan pengamatan serta dokumentasi. Dalam wawancara peneliti memperoleh banyak informasi terkait kebijakan Dinas Pendidikan dan kepala sekolah di setiap sekolah di daerah pedalaman. Rumusan masalah ini berfungsi sebagai dasar dalam melakukan penelitian, karena inti yang dicari dalam pencarian data atau informasi adalah yang menjadi dasar atas sesuatu. Selanjutnya pencarian data atau infomasi peneliti menerjun langsung ke lapangan untuk mengetahui indiktor-indikator yang menjadi tolak ukur. Langkah kedua, yang peneliti lakukan adalah mencari data atau informasi langsung di lapangan, dengan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara pertama yang peneliti lakukan adalah langsung memenuhi kepala bidang sekolah dasar kabupaten Mimika, pada tanggal, 9 Desember 2012. Wawancara dengan bapak kepala bidang sekolah dasar, bapak. Yonas Lewerissa; A.Ma,Pd, sebagai penata tingkat I. Peneliti menjelaskan tujuan kedatangan peneliti di Dinas Pendidikan (P & K) untuk meminta izin penelitian dan Beliau mengizinkan peneliti untuk melakukan penelitian di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika di bidang sekolah Dasar. Pada tanggal 8 Desember 2012 adalah hari pertama peneliti wawancarai Bapak Onesimus Komo, S.Pd. Sebagai praktisi lapangan di bidang sekolah dasar se-kabupaten Mimika. Tujuan kehadiran peneliti di 180

(201) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dinas Pendidikan di antaranya menjelaskan tentang tujuan penelitian, tentang judul penelitian, indikator-indikator yang mau diteliti, dan tempat penelitian. Peneliti menjelaskan tentang tempat penelitian yang peneliti terjun langsung ke lapangan penlitian yaitu di daerah pedalaman Timika yang mana terdapat sekolah-sekolah dasar. Kehadiran peneliti di kantor dinas kependidikan dan kebudyaan kabupaten Mimika ini adalah untuk mencari informasi dan data-data yang diperlukan oleh peneliti, karena kantor dinas kependidikan dan kebudyaan di bidang sekolah dasar adalah pengendali mutu pendidikan sekolah dasar di sekota Timika dan mereka sudah memiliki semua informasi dan data-data tersebut. Tanggapan terhadap penjelasan tersebut di atas bahwa Bapak Kepala Bidang, senang akan kehadiran peneliti dan peneliti sangat senang bisa bertatap muka langsung dengan bapak di kontornnya sendiri. Dan beliau mengatakan bahwa apa yang dibutuhkan oleh peneliti akan dipersiapkan oleh kepala bidang sendiri. Pada tanggal, 9 Desember 2012. Kepala bidang sekolah dasar menerima peneliti, dan beliau bersedia membantu peneliti, apa yang dibutuhkan oleh peneliti. Bapak kepala bidang mengarahkan peneliti ke kepala bagian teknisi lapangan sekolah dasar di kabupaten Mimika, yaitu bapak Onesimus Kambo , S.Pd. Karena dibidang teknisi lapangan yang lebih memahami tentang kinerja guru-guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika Papua. 181

(202) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Peneliti menyanyakan tentang profil guru-guru di pedalaman, pemberdayaan guru-guru di pedalaman dan profesionalitas guru-guru di pedalaman Timika, sejarah berdirinya sekolah dasar di daerah-daerah pedalaman Timika, dan laporan-laporan bulanan atau tahunan dari setiap kepala sekolah yang ada di daerah pedalaman, dan beliau mau mempersiapkan semua data yang peneliti butuhkan. Pada tanggal, 10 Januari 2013, adalah pertemuan yang berlangsung sebenatar saja, dan dari pertemuan itu hanya memindai data-data dari laptopnya asisten kepala bidang Sekolah dasar ke laptop peneliti. Pengambilan data-data tersebut data-datanya kurang lengkap atau masih ada sekolah yang belum terkumpul. Data-data yang belum terkumpul dari beberapa sekolah karena dengan beberapa alasan yaitu, (a) karena jarak antara kota dan kampung sangat jauh dengan demikian membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan data bulanan dari sekolah-sekolah tersebut, (b) meskipun sudah menjalankan tugas di masing-masing sekolah khususnya di daerah-daerah pedalaman, tetapi dari sekolah-sekolah masih ada yang belum membuat laporan bulanan sehingga kadang tidak mengumpulkan atau melaporkan laporan bulanan, (c) dan ada sekolah tertentu yang tidak menjalankan tugas di daerah pedalaman dan tidak ada laporan satu pun yang masuk di kantor dinas pendidikan dan kebudayaan di bidang sekolah dasar, (d) dan ada laporan yang masuk ke dinas tetapi laporan-laporan tersebut tidak 182

(203) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sesuai dengan kenyataan di lapangan, karena laporan-laporan tersebut adalah laporan rekayasa dan laporan yang tidak dipertanggung jawabkan oleh guru-guru yang bersangkutan. Tanggal, 11 Januari 2013. Bertemu sekilas: dari pertemuan sekilas itu peneliti mengajukkan beberapa pertanyaan diantarannya adalah sebagai berikut: (1) saya ada mendengar kabar bahwa guruguru yang bertugas di daerah-daerah pedalaman itu kadang tidak menjalankan tugas di tempat tugasnya tetapi mereka menghabiskan waktunya di kota saja, jadi apa benar informasi dari masyarakat tersebut?, bagimana dengan pandangan bapak terhadap pandangan masyarakat tersebut? Respon dari bapak Ones, adalah sebagai berikut “dapat dipahami bahwa daerah-daerah pedalaman ini ada begitu banyak kendala yang membuat guru-guru ini tidak aktif di tempat tugasnya di antaranya adalah masalah transportasi, masalah geografis, masalah iklim, masalah penyesuaian, dan tidak cocok untuk betah di daerah pedalaman. Dan, ia menjelaskan lagi bahwa guru-guru yang bertugas di daerah-daerah pedalaman sudah mengatur jadwal mengajar, jadi dalam tiga bulan dibuat jadwal untuk empat orang guru dan setelah tiga bulan selesai diganti lagi dengan tiga orang guru yang lain untuk mengajar selama tiga bulan berikutnya.” Peneliti: bagimana ketika peneliti sampai ke lapangan penelitian dan tidak mendapatkan guru-guru di sekolah-sekolah tersebut? Dan bagimana respon terhadap hal tersebut? Padangan dari bapak Ones adalah “ itu 183

(204) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI adalah hasil temuan dan temuannya itu adalah sesuai kenyataan yang sedang terjadi di lapangan, jadi adik silahkan menyimpulkannya sesuai fakta yang ada di lapangan. Beliau mengatakan bahwa banyak masalah ada pada sekolah-sekolah dasar di daerah pedalaman itu jelas dan peneliti akan menemukan masalah-masalah tersebut. Pada tanggal, 14 Desember 2012. Bertemu dengan Bapak Hendra sebagai pengelola kurikulum pendidikan sekolah dasar kabupaten Mimika. Karena beliau juga sebagai perancang program untuk sekolah dasar se-kabupaten Mimika, maka peneliti lebih terbuka agar semua data yang peneliti butuhkan akan dapat secara lengkap. Dalam pertemuan itu kurang lebih satu jam dan peneliti menjelaskan tujuan dari pada pertemuan tersebut. Tujuan pertemuan adalah peneliti lebih mengenal seperti apa profil pendidikan kabupaten Mimika dan seperti apa juga profil pendidikan di daerah pedalaman Timika, sebagai berikut pertanyaan-pertanyaannya. Peneliti, bagimana perancang program kerja dan penerapan kurikulum di sekolah-sekolah di kabupaten Mimika lebih ke pendidikan sekolah dasar? Pak Hendara: Kami di dinas sudah buat program kerja dengan baik dan sekarang ada kemajuan sedikit, dan penerapan kurikulum sesuai dengan porsinya masing-masing. (Peneliti) kalau dilihat dari profil pendidikan di kabupaten Mimika katanya semakin baik tapi sekarang saya mau Tanya bahwa bagimana dengan profil pendidikan di daerah pedalaman kabupaten Mimika? (Hendra), pendidikan di daerah pedalaman Timika secara umum tidak teroganisir dengan baik, ya, itu 184

(205) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI saya mengakuainnya, dan itu suatu masalah dan tantangan buat kami Dinas. Peneliti: Bagimana pemahaman Bapak tentang profil guru di daerah pedalaman Timika? (Hendra), secara umum profil guru di daerah pedalaman kurang memuaskan, kinerja guru-guru di daerah pedalaman menurun. Peneliti: Kendalanya apa sehingga tidak memberi kepuasan dan kinerja guru menurun di pedalaman Timika? (pak Hendra) dan kendala yang sering dialami guru-guru di daerah pedalaman adalah masalah transportasi dan hal itu tidak bisa dipungkiri lagi karena itulah alasan kami mundurnya pendidikan di daerah pedalaman kabupaten Mimika. Tanggal, 25 Januari 2013. Wawancara dengan Murid sekolah Dasar di Distrik Jila. Peneliti : sudah berapa bulan anda belajar di dan berapa sering guru masuk kelas? Siswa Bernama Jatianus : Siswa ini menjawab dengan polosnya bahwa ah, saya tidak pernah belajar saya sudah meliburkan dari empat bulan yang lalu, dan guru masuk kelas bagimana tidak pernah ada di tempat tugas aja kok. Peneliti: mengapa terjadi seperti itu sebenarnya bulan efektif belajar dalam satu semester ada enam bulan tapi meliburkan diri selama empat bulan, terus ada masalah apa? (Siswa) pokoknya guru tidak pernah datang ke sekolah, dan guru-guru masih di kota. Jadi, lebih baik kami berkebun, berburuh di hutan, dan bersenang-senang sajalah. (Peneliti) sebenarnya kalian ada masalah apa sih, sehingga guru-guru ini memperlakukan kalian seperti ini? (siswa), sebenarnya, saya sendiri sudah di SMP, tetapi Ijazah SD saya belum di tangan. Saya sudah minta ke kepala sekolah tetapi kata kepala 185

(206) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sekolah “ada salah penulisan dalam ijazah dan saya tidak bisa kasih dan kamu ikut ujian tahun berikutnya saja”, ah, berarti saya ikut ujian Nasional dua kali, pada tahun 2011, dan saya pernah ikut ujian, dan diminta saya untuk ikut ujian tahun berikutnya berarti saya ikut ujian dua kali. Berarti, bukan tidak lulus ujian, tapi sautu kesalahan sehingga iktu ujian nasional lagi. Kesalahan yang sangat FATAL yaitu ijazah sudah ada tapi nilai nem saya tidak ada , satu pun tidak diisi sarankan untuk ikut ujian tahun berikutnya ini menghambat saya untuk sekolah. Sekarang saya tunggu tahun depan berarti saya ikut ujian nasional SD dua kali deh...., dan ini aturan baru yang kami alami (peneliti), berarti kamu tahu tidak kalau ini kesalahan fatal yang dilakukan guru-gurumu, (siswa), saya tidak mengerti apa yang mereka lakukan, tetapi satu hal “meskipun guru-guru memperlakukan kami seperti ini, kami anak-anak Jila tidak mau menyerah dengan keadaan ini tetapi saya dengan teman-teman mau sekolah, pokoknya sekolah”. Tanggal, 26 Januari 2013. Wawancara pemuda asli Hoeya, Oto Uamang. Peneliti : Bagimana Keadaan guru-guru di daerah Hoeya? (Oto Uamang) oh, untuk menjawab pertanyaan itu sangat mudah, gedung sekolah ada perumahan ada, dan siswa-siswa ada, tetapi saya tidak melihat hidung-hidung guru di Hoeya. Di Hoeya tidak ada guru, pemerintah daerah tidak pernah kasih guru sama kita. (Peneliti), sebenarnya guru sudah ada untuk SD Inpres Hoeya (Oto Uamang), oh, saya tidak tahu. Kalau guru ada pastinya bisa datang mengajar tapi begitu ya? (peneliti) bagimana harapan kamu untuk sekolah ini dan bagimana 186

(207) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pesan kamu untuk guru-guru yang tidak menjalankan tugas? (Oto U), saya berharap sekolah ini kembali ke beberapa tahun lalu karena tahun-tahun yang lalu sekolah ini sudah maju ke tingkat yang maksimal. Tetapi lima tahun belakangan ini malah kemundurun. Oto menambahkan lagi bahwa guru-guru yang sudah menerima mandat untuk mengajar pergi dan mengajarlah di sana, jangan menjadi guru yang tidak bertanggungg jawab, tetapi jadilah guru yang bertanggungg jawab atas mandat yang sudah dipercayakan kepada kamu semua. Tanggal 15 Maret 2013. Peneliti wawancara dengan Pihak Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) Pewawancara: Aminus Dolame; dan diwawancarai kepada bapak Lody Saklil di “Biro pendidikan LPMAK”, yang menangani di bidang pendidik dan kependidikan. Profil pendidikan di daerah pedalaman kabupaten Mimika, sepertinya tidak memberikan perubahan kepada berbagai pihak seperti masyarakat, pemberintah daerah, dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK). Lembaga ini mempunyai peranan yang sangat besar untuk memajukan sumberdaya manusia Timika, dilihat dari latar belakang Lembaga ini dari AMOR, LPMI, sampai dengan LPMAK adalah perjalanan yang sangat panjang. Maka, peneliti percaya bahwa LPMAK adalah lembaga yang mempersiapkan sumberdaya manusia Amungme dan Kamoro serta kerabat Lima suku lainnya di kabupaten Mimika. Untuk lebih jauh mengenal profil pendidikan 187

(208) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI di daerah pedalaman peneliti mewawancarai langsung kepada lembaga terkait. Untuk memdapatkan data atau informasi tentang profesionalitas guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika, peneliti memwawancarai lembaga terkait tentang pendidikan di daerah pedalaman Timika. Dengan adanya masalahmasalah seperti ini peneliti membuat suatu ringkasan pertanyaan dan pertanyaannya sebagai berikut: Peneliti: Bagimana tantangan terbesar untuk meningkatkan kualias pendidikan di daerah pedalaman Timika? LPMAK: Tidak ada tantangan sebenarnya, tetapi lebih jelasnya adalah kurang pengawasan dari Dinas pendidikan ke sekolah-sekolah di pedalaman dan merobah mental guru-guru yang banyak tinggal saja di kota dan tidak mau menjalankan tugas? Peneliti : Apa pemahaman daripada Lembaga terkait, tentang profil pendidikan di daerah pendalaman dan bagimana respon terhadap kinerja guru-guru di pedalaman tersebut? LPMAK: Kalau semua guru yang ditugaskan di daerah pedalaman menjalankan tugas dengan baik dan berada di daerah atau sekolah di pedalaman pastinya kami senang. Tetapi banyak guru yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik sehingga menjadi korbanya adalah anak didiknya sendiri? Peneliti : Sejauh mana peran Lembaga untuk membantu pemerintah daerah (Dinas Pendidikan P & K ), di kabupaten kota, pedalaman, dan pesisir pantai, dalam hal membantu sekolah-sekolah yang mengalami kesulitan? Minta penjelasan. LPMAK : Peran lembaga sudah 188

(209) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI membantu guru-guru di daerah-daerah pedalaman seperti penyediaan transportasi udara coper untuk daerah pegunungan, dan Bahan Bakar Minyak (BBM), untuk daerah pesisir pantai. Usaha kami lembaga juga yaitu membangun sekolah dasar di Distrik Agimuga, Aroanop, dan PPSA di Tsingga, PAUD di Agimuga dan PPSA, kami Lembaga kontrak 50 guru untuk wilayah Kota Timika, Agimuga, dan Jita. Peneliti : Dengan melihat kinerja guru di daerah-daerah pedalaman yang tidak memberikan harapan. Apa peran lembaga terhadap persoalan tersebut? LPMAK : Usaha kami adalah sudah membantu transportasi udara berupa cooper dan BBM untuk guru yang tinggal di kota, agar kembali ke tempat tugas, dan bantuan cooper ini adalah untuk memudahkan kesulitan dalam transportasi. Peneliti : Dinas Pendidikan dangan Lembaga Mitra. Apakah ada persamaan program kerja? Bagimana program kerja untuk satu priode dari Dinas P & K dan Lembaga Mitra kabupaten Mimika ini, adakah salah satu program kerja yang special atau khusus untuk daerah-daerah pedalaman Timika? LPMAK : Tidak ada MOU, yang jelas antara P & K dan Lembaga Mitra, dan PKS sudah tanda tangan Dinas tetapi realisasinya tidak ada. Dan program khusus untuk daerah-daerah pedalaman tidak ada semua program disamakan antara pendidikan di kota dan pendidikan di pedalaman. Peneliti : Apa masalahnya guru-guru yang ditugaskan di daerah-daerah pedalaman tidak menjalankan tugasnya? Dan, apa guru-guru ini ada pekerjaan lain di kota? Atau ada pelatihan-pelatihan sehingga tidak menjalankan tugas? 189

(210) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LPMAK : sebenarnya tidak ada pelatihan-pelatihan, dan tidak ada kegiatan apaapa di Dinas dan tetapi guru malas ke tempat tugas dan anehnya adalah Dinas tidak pernah ada teguran, peringatan tegas, serta menahan gaji guru yang tidak menjalankan tugas di tempat tugas, itu sebagai tanda terobosan Dinas menguji dan merobah mental guru-guru. Peneliti : Bagimana pemahaman Lembaga Mitra, terhadap kinerja Dinas pendidikan kabupaten Mimika, terkait profesionalitas guru-guru sekolah dasar di daerah pedalaman Timika? LPMAK : Dinas seharusnya meningkatkan kegiatan pelatihan, magang, dan seminar-seminar, dan studi banding untuk guru-guru pedalaman, sehingga menuju profesionalisme guru yang matang, bukan hanya pada pembangunan secara fisik saja. Peneliti : Bagimana pemahaman Lembaga Mitra, terkait kinerja guru di daerahdaerah pedalaman Timika? LPMAK : Ya, pastinya buruk dan sangat tertinggal jauh. Peneliti : Apakah ada pelatihan, kursus, atau seminar-seminar untuk guru-guru di daerah pedalaman Timika? Dengan melalui ketiga hal ini untuk membentuk profesionalisme guru sekolah di daerah pedalaman ini dan akan terlihat jelas profesionalitas gurunya. 190

(211) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LPMAK : Ada pelatihan, kursus, dan seminar-seminar, namun waktunya terbatas/ singkat (1-2) hari sehingga peresapan ilmu selalu tidak jalan oleh guru (memahami) khususnya implementasi di sekolah-sekolah. Peneliti : Dengan melihat kinerja guru di daerah pedalaman yang tidak profesional. Apakah dari lembaga Mitra tidak merasa kecewa? Dan sepertinya, anak- anak yang harusnya melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Tetapi dengan adanya kinerja ini, merugikan masa depan anak-anak. Bagimana pandangan Lembaga Mitra terhadap permasalahan ini? LPMAK : Melihat keprihatinan itu, maka Lembaga membuat terobosan dengan mengadakan pelatihan, worshop, magang untuk guru-guru matematika (guru-guru SD) ke Surya Institute, guru bahasa Inggris SMP, SMA ke Bali dan Implementasi matematika kepada guru-guru lain. Tanggal, 15 Februari 2013. Wawancara dengan Mantan Guru Sekolah Dasar di SD Inperes Jila, dan sekarang guru SMPN7 di Distrik Jila. Peneliti memwawancarai Bapak Ruben Dolame, SH guru SMPN7 di Distrik Jila. Peneliti tidak belit bahasa dan peneliti wawancarai dengan beberapa pertanyaan dan di bawah ini hasil wawancaranya: Peneliti, Masalah apa yang dialami guru-guru di daerah pedalaman, (Ruben) masalah sangat banyak tetapi masalah-masalah itu bukan ada di siapa-siapa tapi masalah ada di guru-guru dan Dinas Pendidikan, (peneliti), mengapa di Dinas Pendidikan bermasalah? (Ruben), ya, kita lihat sendiri guru-guru yang ditugaskan di daerah-daerah pedalaman tidak pada mengajar semua, tapi kebijakan dari Dinas 191

(212) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tidak ada, dan tidak ada kebijakan apa pun untuk guru-guru tersebut. Beliau mengatakan bahwa saya sudah meliburkan diri tiga bulan yang lalu, karena saya sudah capek mengajar di daerah pedalaman dari tahun 1999 sampai tahun 2004 saya mengajar SD dan tahun 2005 sampai tahun 2010, dari tahun 2010 saya lanjut kuliah. Sebelum saya melanjutkan kuliah wajah pendidikan Sekolah Dasar di Jila masih baik, tetapi saya dan beberapa teman melanjutkan kuliah kualitas pendidikan di daerah pedalaman menurun, sampai sekarang SD dan SMP di Jila masih bermasalah. Peneliti, minta menjelaskan lebih lagi. Maka, pak Guru Ruben mengatakan bahwa kepemimpinan sekarang semua bermasalah dari kepala sekolah, guru-guru, Kepala bidang sekolah dasar dan Kepala Dinas kabupaten Mimika. Beliau mengatakan dengan tegas bahwa karena kepemimpinan yang salah maka kita guru-guru mengagalkan masa depan anak-anak di pedalaman. Kami tidak mengajar selama beberapa bulan dan waktu ujian nasional kami bersama pihak Dinas bawa soal ujian nasional untuk mau kasih ujian dan kalau dilihat, kami tidak pernah mengajar, keadaan seperti begitu kami masih tetap saja punggut uang ujian per siswa 500.000. padahal semua biaya sekolah di daerah pedalaman tidak ada punggut biaya apa pun, karena dana BOS dari pemerintah yang bayar. Tetapi karena kebijakan dari kepala sekolah yang kurang professional. Beliau, mengatakan kepada peneliti bahwa “jangan heran kalau guru-guru tidak pernah mengabdi di tempat tugas, karena satu hal yaitu karena kurangnya keseriusan dari kepala sekolah dan tidak adanya pengawasan yang ketat dari Dinas Pendidikan, serta tidak ada kerja sama yang baik dari kepala sekolah 192

(213) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dengan guru-guru, kepala sekolah dengan Dinas Pendidikan dan semuanya jalan masing-masing. Tidak ada yang mengarahkan guru, atau tidak terorganisir dengan baik, sehingga semua aktivitas proses belajar dan lain-lain tidak berjalan lancar”. Tanggal, 21 Januri 2013. Wawancara langsung dengan Bapak Hendra sebagai perancang program dan Pengatur Kurikulum untuk sekolah dasar se-kabupaten Mimika. Peneliti : meminta untuk menjelaskan profil pendidikan sekolah dasar di kabupaten Mimika, dan pak Hendra menjelakan bahwa secara umum pendidikan dasar di Timika baik-baik saja tetapi pelaksanaan di lapangan kurang maksimal Tanggal 22 Februari 2013. Peneliti memwawancarai Ibu Fitri, mantan pelaksana kegiatan dari lembaga Junisep. Peneliti mempertanyatakan tujuan dari Junisep untuk bersedia membantu sekolah-sekolah di kabupaten Mimika, (ibu Fitri), Donatur dari Junisep sangat membantu kami dalam pengembangan pendidikan di kabupaten Mimika. Karena Donatur Junsep punya dana dan P & K punya program kerja, bantuan dana dari Donatur itu sangat besar. Baset dari pemerintah tidak cukup untuk pendidikan sekolah dasar di kabupaten Mimika. Fitri menjelaskan lagi bahwa masalah terbesar untuk sekolah dasar adalah baset, dan baset dari pemerintah sedikit. (peneliti), adanya bantuan dari Donatur apakah tim pelaksana di lapangan dan sampai sejauh mana keberhasilannya; (ibu Fitri), sebelumnya belum sekolah dasar di se-kabupaten Mimika menggunakan pendekatan MBS, tetapi tim kerja memasukkan satu program kerja yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), dan ada beberapa 193

(214) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sekolah dasar di kota Timika yang berhasil. Dan ada beberapa sekolah yang tidak berhasil, karena guru-guru tidak mau dengan sistim MBS. Pada tanggal 22 Februari 2013. Peneliti mengadakan diskusi dengan beberapa kelompok masyarakat dari Tembagapura dan Tsingga. Terkait pendidikan sekolah dasar di Distrik Tembagapura, dan mereka mengatakan bahwa proses belajar mengajar tidak berjalan lancar karena guru-guru jarang datang mengajar. (Vebbian Magal), sebagai intelektual, menambahkan bahwa temuan masalah di satu sekolah di daerah pedalaman Timika ini nasibnya sama. Jadi, kalau temuan masalah di Distrik Jila kadang guru tidak aktif menjalankan tugas berarti di sekolah lain di pedalaman juga sama seperti yang dialami sekolah tersebut. Beliau menambahkan lagi bahwa wajah pendidikan di daerah pedalaman semakin pudar, akibat dari pada profil kebijakan guru, dan kebijakan Dinas yang tidak tepat menjalankan tugas ini dengan baik. Catatan Peneliti, dan Catatan Sahabat Peneliti Catatan Penting Peneliti Selama peneliti melakukan penelitian di lapangan peneliti tidak pernah menemukan guru-guru di sekolah-sekolah yang mana sasaran peneliti yaitu di Distrik Jila dan Distrik Tembagapura, kedua Distrik ini terdapat sebelas sekolah dasar dengan daerah yang berbeda. Guru-guru semua pada di kota dan peneliti sangat kecewa pada waktu itu karena peneliti berusaha keras untuk memperoleh data yang akurat, dan untuk dapatkan informasi yang lengkap 194

(215) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI peneliti harus memwawancarai dengan guru-guru yang bertugas di daerah pedalaman. Tetapi apa yang terjadi kekecewaan yang mengikari peneliti karena peneliti mengingat perjalanan yang sangat jauh yaitu dari pula jawa sampai dengan pedalaman Papua dengan tujuan bagimana cara mendapatkan data tentang pendidikan di daerah pedalaman Papua, namun kenyataannya di luar dugaan peneliti. Peneliti sampai ke daerah pedalaman guru-guru tidak ada dan yang ada disana adalah gedung sekolah, siswa, dan masyarakat setempat. Peneliti sadar bahwa tujuan peneliti harus professional tidak mencari guru lagi, kalau guru tidak ada di tempat tugas berarti itulah temuan masalah peneliti. Tidak mewawancarai satu guru pun tidak masalah buat peneliti, karena tujuan peneliti adalah menemukan masalah dan memecahkan masalah. Peneliti pernah mendengar kabar bahwa guru-guru pada di kota, dan ketika peneliti sampai di kota peneliti tidak bersedia mewawancarai, meminta data, dan observasi, dan Peneliti tidak bersedia menemui guru-guru di kota, dan peneliti hanya mengelola data apa adanya sesuai fakta di lapangan. Guru-guru hanya tinggal saja di kota serta peneliti minta data dan infomasi dari guru-guru seperti itu? Tidak mungkin!. Peneliti harus tegas dan tetap professional dan kalau ada pihak yang salah tetap disalahkan, dan ada pihak yang benar ya, tetap juga dibenarkan untuk itu peneliti tidak pernah mewawancarai guru satu pun dari mereka, karena peneliti mengingat informasi yang diperoleh dari mereka pasti tidak sesuai dengan fakta di lapangan dan peneliti jadi gampangan dalam mendapat data, serta bisa saja membohongi diri peneliti, adik-adik dan masyarakat pedalaman Timika. Sehingga informasi, dan data yang peneliti peroleh adalah dari 195

(216) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI masyarakat setempat, siswa, dan sahabat-sahabat dekat, keluarga dekat yang ada di daerah pedalaman, dan Dinas pendidikan, dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), kabupaten Mimika. Peneliti merasa sedih ketika melihat kondisi anak-anak pedalaman yang seperti anak burung yang tinggal di sarangnya dan sedang menanti makanan dari ibunya. Tetapi, anak burung itu menanti sampai mati dalam sarangnya karena ibunya lupa balik ke sarang dimana ada anaknya. Dan seperti itulah guru-guru melupakan tempat tugasnya, melupakan murid-muridnya, sehingga anak-anak pedalaman ini kehilangan masa depannya. Catatan Seorang Sahabat Sabahat dekat bernama Penegi Dolame, SE. Sahabat dekat masa kecil dan ia selesai SD di Inpres Jila, dan lanjut Sekolah Menengah Pertama YPPGI di Timika, dan lanjut SMA di Jayapura, serta kuliah di Universitas Cenderawasih Jayapura Papua, dan mendapatkan gelar sarjana Ekonomi Pembangunan. Selama dua tahun ia mengajar di SD Inpres Jila sebagai guru honorer dari tahun 2011-2012, dan ia mempunyai beberapa informasi dan data terkait guru-guru di daerah pedalaman Timika. Selama ia mengajar dari pemerintah daerah maupun kepala sekolah tidak diperhatikan sehingga ia mengundurkan diri dari pengabdian tersebut. Cerita singkat dari catatanya adalah ia merasa kecewa dengan guruguru negeri yang ditugaskan di SD Inpres Jila, SD Inpres Bela Alama, dan SD Inpres Hoeya yang tidak menjalankan tugas dengan baik dan ia menjelaskan 196

(217) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bahwa semanjak ia ada di kampung ini selama tiga tahun guru-gutu tidak mengajar secara efektif, dan ia mengatakan bahwa saya seorang sarjana ekonomi dan masalah mencari pekerjaan di kota sangat gampang bagi saya, tetapi karena saya sangat mengasihi anak-anak pedalaman ini, maka saya masih bertahan di daerah ini meskipun pemerintah dan guru-guru yang lama tidak memberikan izin untuk saya mengajar di sekolah-sekolah di daerah pedalaman ini. Perjalananya ia mendapatkan banyak pelajaran yang sangat luar biasa, dari kebijakan guru-guru, yang tidak mementingkan kebutuhan siswa, dan pelayanan yang setengah hati dari guru-guru yang ditugaskan daerah pedalaman. Ia mengatakan bahwa persoalan terkait kurang efektifnya guru di daerah pedalaman dan tidak teroganisir adalah karena kurang keseriusan dari pemerintah daerah yaitu Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Mimika, dan setiap kepala sekolah yang ditugaskan di daerah pedalaman. Selama empat tahun di daerah pedalaman ini saya belum pernah melihat guru mengajar selama satu bulan penuh, kadang mengajar dua minggu saja dan pura-pura sakit serta katanya mau berobat di kota dan sembuh baru akan kembali mengajar lagi sampai siswa-siswa menunggu berbulan-bulan. Tentang kompetensi guru dalam catatanya adalah bahwa sangat kurang dari setiap guru yang bertugas di daerah pedalaman maupun yang bertugas di perkotaan, terkait kompetensi nasibnya sama, tidak berbelit-belit lagi dalam hal itu dan kami harus mengakui itu. Saya berpesan bahwa tidak observasi kelas pun peneliti sendiri sudah memahaminya, dan saya minta peneliti menjelaskan sendiri sesuai pemahaman peneliti tentang keberadaan guru dengan kondisi siswa. Dan 197

(218) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI catatan untuk peneliti adalah tetap konsisten dalam mengerjakan tugas, tetap berfokus pada masalah yang sedang diteliti dan sampaikan hasil temuanya kepada pihak-pihak yang membutuhkan terutama pemerintah daerah kabupaten Mimika, dan guru-guru yang bertugas di daerah pedalaman Timika, serta jangan pernah takut kepada siapa pun mereka, karena anda adalah stafet masa depan Papua yang sedang berjuang dan lagi memperjuangkan masa depan adik-adik yang ada di daerah pedalaman Timika Papua. Inilah pesan dan tulisan singkat dari sahabat peneliti (Penegi Dolame, SE), pada tanggal, 10 Januari 2013. 198

(219) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Daftar Nama Guru sekolah Dasar di Distrik Jila No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nama Guru Yoni Piligama Novita Matias, A.M.A Wenselaus Gobay Yongki Otomosu Pa.Hama Yani Yonius Wantik Bambang Sutomo Lemen Gobay Yulius Nawipa Markus Leppang Yulius Piligamae, S.Pd Rubeni Kadepa Siprianus Kegiye, Amd Apolonaris Tiriwa Magdelena Kamaroko Sanjaya Silaban Klaudius Lisias L.G Friska .L.Taileleu Srianita Josea Piligame Asal Sekolah SD Inpres Alama SD Inpres Alama SD Inpres Alama SD Inpres Alama SD Inpres Alama SD Inpres Alama SD Inpres Hoeya SD Inpres Hoeya SD Inpres Hoeya SD Inpres Hoeya SD Inpres Jila SD Inpres Jila SD Inpres Jila SD Inpres Jila SD Inpres Jila SD Inpres Jila SD Inpres Jila SD Inpres Jila SD Inpres Jila SD Inpres Jila Distrik Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Jila Keterangan Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Sumber : Buku Agenda Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2012/2013 199

(220) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Daftar Nama Guru Sekolah Dasar di Distrik Tembagapura No Nama Guru Alamat Sekolah Distrik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Marius Hesegem Marthen Yamko Arnoldus Renia Ayub Giayai Wellem Bagau Joni Yoseph Tabuni Yosep Kaize Hidayat Niko Bunai Yulius wetipo Herson Balu Simson Absolom Hesegem Irene Ice Makai Lamek Uamang Margaretha Magal Nikera Anouw Petrus Yatipai Priska Kuum Joni Ketesan Petrus Migau Sudarmono Yohanes Kotouki SD Inpres Jagamin SD Inpres Jagamin SD Inpres Jagamin SD Inpres Jagamin SD Inpres Jagamin SD Inpres Jagamin SD Inpres Jagamin SD Inpres Aroanop SD Inpres Aroanop SD Inpres Aroanop SD Inpres Aroanop SD Inpres Aroanop SD Inpres Aroanop SD Inpres Aroanop SD Inpres Banti SD Inpres Banti SD Inpres Banti SD Inpres Banti SD Inpres Banti SD Inpres Banti SD Inpres Banti SD Inpres Tsinga SD Inpres Tsingga SD Inpres Tsinga SD Inpres Tsinga Tembagapurua Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Tembagapura Ket Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mimika Tahun 2012/2013 200 Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif Aktif

(221) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN GAMBAR PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA PEDALAMAN PAPUA Gedung Sekolah Dasar Keterangan: Gedung sekolah dasar di daerah pedalaman Timika Papua. Gedung sekolah `dasar dan sekolah menengah pertama di daerah-daerah pedalaman sangat bagus dan semua fasilitas sekolah lengkap dan setiap kelas bersih dan perlengkap fasilitas seperti perpustakaan, kursi, meja, papan tulis, penghapus, kapur, dan fasilitas lainnya. Tetapi menjadi masalah di sekolah-sekolah ini adalah tidakhadirnya guruguru yang ditugaskan di sekolah-sekolah ini. 201

(222) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN GAMBAR PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA PEDALAMAN PAPUA Kegiatan Siswa Keterangan : Kegiatan siswa pada jam-jam proses belajar mengajar. Kegiatan bermain bola voly setiap pagi hari pada jam-jam belajar, karena tidak ada kegiatan proses belajar-mengajar. Ccara ini adalah dampak dari pada ketidakhadiran guru-guru di sekolah. Kegiatan bermain ini dilakukan setiap waktu oleh setiap siswa yang ada di setiap sekolah di daerah pedalaman Papua. 202

(223) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN GAMBAR PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA PEDALAMAN PAPUA Perumahan Guru Keterangan : Perumahan guru di daerah-daerah pedalaman cukup bagus, dan sudah ditepati oleh guru-guru yang sudah ditugaskan di sekolah-sekolah tersebut. Tetapi menjadi masalah pada rumah-rumah guru adalah hanya ditepati pada hari/minggu tertentu di mana guru datang dari kota dan tempatnya ini menjadi peristirahatan guru-guru tersebut dengan datang sebentar pulang semalanya. Akhirnya siswa menyebutkan rumah guru di daerah pedalaman adalah tempat peristirahatan guru. 203

(224) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN GAMBAR PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA PEDALAMAN PAPUA Siswa selalu ada di sekolah Keterangan : Kebiasaan siswa: meskipun tidak ada guru atau tidak ada proses belajar mengajar siswa selalu ada di sekolah dan hanya mondar-mandir di depan kelas. Contoh, pada gambar 1, adalah kertas pengumuman dari kepala sekolah tentang infomasi libur sekalian daftar nama-nama yang akan ikut ujian nasional. Pengumuman libur hanya 1 bulan tetapi guru-guru sendiri menambah libur sendiri sampai 3- 4 bulan atau pun dalam satu semester tidak pernah ada proses belajar-mengajar di sekolah. Pada gambar 2 adalah siswa bermain kesana-kemari tanpa mikirkan apa yang sedang mereka lakukan. Pada gambar 3 adalah siswa sedang membaca informasi dengan tulisan “ libur”sampai kapan liburnya jadinya, siswa melakukan apa 204

(225) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN GAMBAR PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA PEDALAMAN PAPUA adanya mereka dengan keadaan yang ada. Pada gambar 4 adalah pintu kelas selalu terkunci selamanya artinya pintu kelas terkunci selama 1 semester berarti tidak ada proses belajar mengajar. Pada gambar 5 adalah eksisnya siswa dengan keadaan mereka apa adanya. Dan meskipun tidak ada guru semangat para siswa untuk belajar sudah melekat dalam hatinya. Eksisnya anak-anak pedalaman dengan seragam sekolah Seragam sekolah selalu melekat. Siswa pedalaman memakai seragam sekolah pada setiap waktu itu entah siang, malam, dan bekerja pun masih tetap memakai seragam sekolah. Contoh pada gambar 1,2, dan 3 adalah fakta yang sering dilakukan oleh setiap siswa di daerah pedalaman. terjadi sedemikian, dampak daripada kurangnya pengawasan, kontrol, dan atau nasehat seorang pendidik atau pengajar yaitu sang guru. 205

(226) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN GAMBAR PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA PEDALAMAN PAPUA Kebiasaan yang dilakukan siswa Keterangan : Pada gambar 1 adalah tempat keberadaan siswa, dan gambar 2 adalah siswa dalam perjalanan menuju kebun pada siang hari, kalau pagi hari mereka di sekolah, di sekolah mereka hanya sampai menjelang siang dan jam 12-san mereka mulai mencari nafkah artinya ke kebun. Dan, pada gambar 3 adalah mereka umur sekolah tetapi mereka sudah putus sekolah karena tidak efektifnya mengajar guru, dan kebiasaan mereka hanya bekerja keras membantu orang-orang tua mereka, sehingga mereka harusnya sekolah tidak sekolah dan menjadi korban atas ketidakseriusan daripada guru-guru yang ditugaskan di daerah-daerah pedalaman. 206

(227) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN GAMBAR PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA PEDALAMAN PAPUA Kondisi Siswa di daerah pedalaman Papua Keterangan : Beginilah cara kebiasaan anak-anak pedalaman selalu berjalan dalam berkelompok dan mereka memiliki komunitas sendiri berdasarkan pada desanya masing-masing. Para siswa nginap di rumah adat yang disebut “Honai”, rumah honai adalah rumah tradisional yang terdapat di daerah-daerah pedalaman dan siswa-siswa ini tidur-bagunnya di situ dan mereka tidak pernah belajar di rumah Honai karena tidak nyaman serta pada malam hari siswa tidak pernah belajar karena tidak ada penerangan “ lampu”. 207

(228)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Peranan kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di SDI al-Ihsan bambu apus Pamulang
0
13
75
Strategi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru di SMP Al-Shighor
0
8
146
Persepsi guru terhadap profesionalisme kepala sekolah dalam meningkatkan motivasi mengajar guru di MTS AL-AWWABIN DEPOK
0
3
54
Hubungan persepsi guru tentang pelaksanaan pembelajaran tematik dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman.
0
1
167
Hubungan persepsi guru tentang pelaksanaan pembelajaran tematik dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman.
0
0
171
Peningkatan kinerja guru Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Mimikan Provinsi Papua tahun 2013.
0
4
263
Analisis kesalahan ejaan pada karangan guru guru Sekolah Dasar Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, tahun 2015
0
0
199
Analisis kohesi dan koherensi dalam karangan guru guru Sekolah Dasar Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur
0
0
297
Peningkatan kinerja guru Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Mimikan Provinsi Papua tahun 2013
0
3
261
BAB I PENDAHULUAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Studi Kemiskinan di Distrik Jila Kabupaten Mimika Provinsi Papua
0
0
7
Kompetensi supervisi kepala Madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MIN 2 Tanggamus Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus - Raden Intan Repository
0
0
14
Pengukuran kinerja Dinas Pendapatan Daerah Kota Surakarta dengan balance scorecard - USD Repository
0
0
171
Pemanfaatan komputer oleh guru fisika dalam pembelajaran fisika di SMA Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta [sebuah survei pada tahun 2008] - USD Repository
0
0
190
Analisis pengaruh kedisiplinan dan profesionalisme terhadap kinerja tenaga medis dan paramedis : studi kasus pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buleleng-Bali - USD Repository
0
0
154
Hubungan fasilitas belajar, motivasi belajar, dan dukungan keluarga dengan prestasi belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 6 Distrik Kuala Kencana Kabupaten Mimika Provinsi Papua - USD Repository
0
0
158
Show more