Pengembangan alat peraga matematika untuk penjumlahan dan pengurangan berbasis metode Montessori - USD Repository

Gratis

0
0
189
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh : Andreas Erwin Prasetya NIM: 101134190 POGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh : Andreas Erwin Prasetya NIM: 101134190 POGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BERBASIS METODE MONTESSORI Oleh: Andreas Erwin Prasetya NIM: 101134190 Disetujui oleh: Pembimbing I, G. Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. Tanggal: 23 Mei 2014 Pembimbing II, Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd. Tanggal: 23 Mei 2014 ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PENGESAHAN PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BERBASIS METODE MONTESSORI Dipersiapkan dan disusun oleh: Andreas Erwin Prasetya NIM: 101134190 Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Pada tanggal 6 Juni 2014 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Susunan Panitia Penguji Nama Tanda Tangan Ketua : G. Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. ……………... Sekretaris : E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D. ……………... Anggota : G. Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. ……………... Anggota : Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd. ……………... Anggota : Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M.Pd. ……………... Yogyakarta, 6 Juni 2014 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Dekan, Rohandi, Ph.D. iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Pujian syukur yang tak terkira saya panjatkan atas selesainya skripsi ini. Banyak pihak telah berperan besar baik secara langsung maupun tidak, dalam proses pengerjaan. Untuk itu, dengan bahagia skripsi ini saya persembahkan kepada: 1. Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, Allah Roh Kudus, Bunda Maria atas cinta kasih dan berkat yang luar biasa yang saya rasakan sampai saat ini. 2. Maria Montessori atas pemikirannya terhadap pendidikan anak yang luar biasa sehingga mampu membuka pemikiran baru khususnya bagi saya. 3. Kedua orang tua saya terkasih, yang dengan tulus selalu memberi cinta, dukungan kekuatan, bimbingan, dan nasihat. 4. Kedua adik saya, yang selalu mendukung dan mendoakan, semoga sukses juga menyertaimu. 5. Teman dekat yang selalu memberikan semangat hidup moral dan material, Semoga cita-citamu tercapai. 6. Seluruh keluarga besar yang selalu memberikan keceriaan dan bantuan juga doa sehingga menjadi semangat baru bagi saya. 7. Teman-teman satu payungatas kebersamaan, pengalaman, dan keceriaan dalam proses pengerjaan skripsi ini. 8. Teman-teman satu kelas dan satu angkatan PGSD 2010 yang selalu ada, saling mendukung, saling menghibur, dan saling berbagi selama proses belajar di PGSD Sanata Dharma. 9. Seluruh pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah turut andil dalam perjalanan hidup saya khususnya selama proses penyelesaian skripsi ini semoga selalu mendapat berkat dari Allah Bapa, Amin. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN MOTTO “Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan.” (Ayub 12:7) “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Lukas 8:48) v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 18 Mei 2014 Peneliti, Andreas Erwin Prasetya vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUANPUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Andreas Erwin Prasetya Nomor Mahasiswa : 101134190 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul: Pengembangan Alat Peraga Matematika untuk Penjumlahan dan Pengurangan Berbasis Metode Montessori Beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk apa saja, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Yogyakarta, 18 Mei 2014 Yang menyatakan, Andreas Erwin Prasetya vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Prasetya, Andreas Erwin. (2014). Pengembangan Alat Peraga Matematika untuk Penjumlahan dan Pengurangan Berbasis Metode Montessori.Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. Kata kunci: penelitian dan pengembangan, alat peraga pengurangan, penjumlahan dan pengurangan, dan matematika. penjumlahan Pendidikan yang baik merupakan proses yang mampu membawa peserta didik mencapai tujuannya sesuai dengan tugas perkembangan. Pada tingkat pendidikan dasar,pencapaian tugas perkembangan tersebut harus dilakukan dengan melibatkan seluruh aspek. Salah satu aspek tersebut adalah peran pendidik. Pendidik dituntut untuk menyajikan materi pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Oleh karena itu, perlu ada suatu alat bantu belajar guna menyajikan materi pembelajaran yang bersifat abstrak. Salah satu alat bantu belajar tersebut adalah alat peraga. Metode Montessori adalah salah satu metode belajar yang selalu melibatkan alat peraga dalam pengajarannya. Pada kenyataanya alat peraga Montessori belum banyak dikembangkan di Indonesia, sehingga harga alat peraga cenderung mahal dan sulit dijangkau oleh sekolahsekolah di Indonesia. Maka dari itu,penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat peraga papan penjumlahan pengurangan untuk penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I SD Kanisius Pugeran Yogyakartatahun ajaran 2013/2014. Pengembangan alat peraga tersebut mengarah pada ciri, kualitas, dan dampak penggunaan alat peraga. Alat peraga yang dikembangkan tersebut berbasis pada metode Montessori. Pengembangan tersebut terangkum dalam penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D). Pengembangan alat peraga terdiri dari lima tahapan yaitu (1) kajian standar kompetensi dan kompetensi dasar, (2) analisis kebutuhan, (3) produksi alat peraga, (4) pembuatan instrumen validasi produk, dan (5) validasi alat peraga papan penjumlahan pengurangan. Melalui kelima tahapan tersebut dihasilkan prototipe alat peraga papan penjumlahan pengurangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan (1) memiliki lima ciri yaitu menarik, bergradasi, auto-correction, auto-education, dan kontekstual, (2) memiliki kualitas “sangat baik”, (3) dan memberikan dampak afektif berupa minat dan konsentrasi belajar anak. Pada pengujian lapangan terbatas yang melibatkan lima siswa, terbukti alat peraga papan penjumlahan pengurangan mampu membantu anak memahami materi dengan rerata peningkatan pretest ke posttest sebesar 114,6%. Dengan demikian, alat peraga papan penjumlahan pengurangan telah siap diujicobakan dalam skala yang lebih luas. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Prasetya , Andreas Erwin. (2014). Developing mathematic material for addition and subtraction based on Montessori Method. Skripsi. Yogyakarta: Elementary Teacher Education Study Program, Universitas Sanata Dharma. Key words: research and development, addition and subtraction material, addition and subtraction, and mathematic. Ideal education is processes that can bring children attain their goal according with development task. On Elementary education, accomplishment of that development task must be done with a good collaboration from all proponent aspects. One of the aspects that give impact is teacher play. Teacher must be able to deliver learning material according to the level of children development. Therefore, there must be equipment to help teacher to explain without ignore constructivism learning. One that can help children learned is material. Montessori Method is one of method that always uses material in learning. In fact, Montessori material didn‟t develop in Indonesia so far. So, this material tends to be expensive and hard to reach by mostly schools in Indonesia. This research is „penelitian dan pengembangan‟ or research and development (R&D). The aim of this research is to develop „papan penjumlahan dan pengurangan‟ material for addition and subtraction on 1st grade, 2nd semester, in SD Kanisius Pugeran during the academic year of 2013/2014. The developing process of that material consist of five periods, (1) examining the competency standard and the math concept to learn, 2) analyzing the students‟ needs, (3) producing the math Montessori material, (4) Making the instrument for product validating and (5) validating and revising the material. By that periods will result the prototype of „papan penjumlahan dan pengurangan‟ material. The result shows that „papan penjumlahan dan pengurangan‟ material (1) have five characteristics are attractive, gradual, auto-correction, auto-education, and contextual, (2) quality is “very good”, (3) and give affective impact in the form of children interest and learning concentration. In limited field testing, that have five participants, „papan penjumlahan dan pengurangan‟ material can increase learning outcomes up to 114.6%. By that fact, „papan penjumlahan dan pengurangan‟ material is ready to be tested in wider scale involving more participants. ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur saya panjatkan dalam nama Allah Bapa Yang Maha Kasih karena berkat rahmat dan anugrah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: “Pengembangan Alat Peraga Matematika untuk Penjumlahan dan Pengurangan Berbasis Metode Montessori ” Dalam pembuatan skripsi ini, penulis mengucapkan terimakasih dengan penuh kerendahan hati dan doa yang tulus kepada pihak-pihak yang telah turut andil, yaitu : 1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2. G. Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Kaprodi PGSD sekaligus pembimbing I yang telah membimbing secara aktif dan menyeluruh dari awal hingga terselesainya skripsi ini. 3. E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D. selaku Wakaprodi PGSD. 4. Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd. selaku pembimbing II yang selalu memberi pengarahan, kritik, dan saran sehingga memperkaya peneliti. 5. Theresia Mardinah, S.Si. selaku Kepala Sekolah SD Kanisius Pugeran Yogyakarta yang dengan tangan terbuka telah bekerjasama aktif dan memberikan ijin penelitian di sekolah. 6. P. Estiwati. W, S.Pd selaku Guru kelas I SD Kanisius Pugeran Yogyakarta yang telah mengijinkan, membantu, berdiskusi secara aktif selama proses penelitian. 7. Siswa kelas I SD Kanisius Pugeran Yogyakarta yang dengan sangat aktif dan antusias memberikan perhatian dan waktu kepada peneliti. 8. Semua Pakar Bahasa, Matematika, dan Montessori yang terlibat dalam menyukseskan penelitian ini. 9. Kedua orang tua saya, yang telah memberikan dukungan materi maupun moril. 10. Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih untuk bantuan, dukungan, dan doanya selama ini. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Tiada gading yang tak retak”, maka penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak supaya skripsi ini terus dapat diperbaiki sehingga bermanfaat bagi kemajuan pendidikan anak. Terima kasih. Penulis, Andreas Erwin Prasetya xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... iv HALAMAN MOTTO ........................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI.............................................. vii ABSTRAK .......................................................................................................... viii ABSTRACT ........................................................................................................... ix PRAKATA ............................................................................................................. x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xii DAFTAR BAGAN .............................................................................................. xvi DAFTAR TABEL ............................................................................................. xvii DAFTAR DIAGARAM ................................................................................... xviii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xix DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xx BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 5 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................. 6 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................... 6 1.5 Spesifikasi Produk ........................................................................................... 7 1.6 Definisi Operasional ........................................................................................ 8 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................ 10 1.1 Kajian Pustaka ............................................................................................... 10 1.1.1 Belajar dan Perkembangan Anak .............................................................. 10 1.1.2 Metode Montessori .................................................................................... 12 2.1.3 Pembelajaran dalam Kelas Montessori ..................................................... 14 2.1.4 Media Pembelajaran .................................................................................. 16 2.1.5 Alat Peraga ................................................................................................ 17 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.5.1 Pengertian Alat Peraga .............................................................................. 17 2.1.5.2 Pengertian Alat Peraga Montessori ........................................................... 17 2.1.5.3 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori ............................................................... 18 2.1.6 Matematika dalam Metode Montessori ..................................................... 20 2.1.7 Materi Penjumlahan dan Pengurangan Dua Angka .................................. 21 2.1.8 Penelitian yang Relevan ............................................................................ 22 2.1.8.1 Penelitian mengenai Metode Montessori .................................................. 22 2.1.8.2 Penelitian Mengenai Kompetensi Penjumlahan dan Pengurangan ........... 23 2.2 Kerangka Berpikir .......................................................................................... 25 2.3 Pertanyaan-pertanyaan Penelitian .................................................................. 26 BAB III METODE PENELITIAN ................................................................... 27 3.1 Jenis Penelitian............................................................................................... 27 3.2 Setting Penelitian ........................................................................................... 28 3.2.1 Subjek Penelitian ....................................................................................... 28 3.2.2 Objek Penelitian ........................................................................................ 28 3.2.3 Lokasi Penelitian ....................................................................................... 28 3.2.4 Waktu Penelitian ....................................................................................... 28 3.3 Prosedur Pengembangan ................................................................................ 29 3.4 Uji Validasi Produk........................................................................................ 34 3.4.1 Uji Validasi Produk oleh Pakar ................................................................. 34 3.4.2 Uji Validasi Produk melalui Uji Coba Lapangan Terbatas ....................... 35 3.5 Teknik Pengumpulan Data ............................................................................. 35 3.5.1 Kuesioner .................................................................................................. 36 3.5.2 Dokumentasi.............................................................................................. 36 3.5.3 Wawancara dan Observasi ........................................................................ 36 3.6 Instrumen Penelitian ...................................................................................... 36 3.6.1 Jenis Data .................................................................................................. 36 3.6.2 Instrumen Pengumpul Data ....................................................................... 37 3.6.2.1 Kuesioner .................................................................................................. 37 2.6.2.2 Tes Uraian ................................................................................................. 39 2.6.2.3 Wawancara ................................................................................................ 40 2.6.2.4 Observasi ................................................................................................... 41 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.6.3 Uji Validitas Instrumen Penelitian ............................................................ 42 3.6.4 Reliabilitas Instrumen Penelitian .............................................................. 43 3.7 Teknik Analisis Data ...................................................................................... 43 3.7.1 Data Kuantitatif dan Kualitatif pada Hasil Kuesioner .............................. 44 3.7.2 Data Kuantitatif pada Hasil Tes ................................................................ 45 3.7.3 Data Kualitatif pada Hasil Wawancara dan Observasi ............................. 46 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.................................. 48 4.1 Kajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ...................................... 48 4.2 Analisis Kebutuhan ........................................................................................ 49 4.2.1 Pembuatan Instrumen Analisis Kebutuhan ............................................... 49 4.2.1.1 Hasil Uji Keterbacaan Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa ................... 50 4.2.1.2 Hasil Uji Keterbacaan Kuesioner Analisis Kebutuhan Guru ................... 51 4.2.2 Hasil Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa .............................................. 53 4.2.3 Hasil Kuesioner Analisis Kebutuhan Guru ............................................... 54 4.2.4 Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan ...................................................... 55 4.3 Produksi Alat Peraga Papan Penjumlahan dan Pengurangan ........................ 57 4.4 Pembuatan Instrumen Validasi Produk .......................................................... 61 4.4.1 Uji Validitas Instrumen Tes ...................................................................... 62 4.4.2 Instrumen Kuesioner Validasi Produk ...................................................... 64 4.4.2.1 Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk untuk Pakar dan Guru ........ 66 4.4.2.2 Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk untuk Siswa ........................ 67 4.4.3 Instrumen Wawancara dan Observasi ....................................................... 68 4.5 Validasi Alat Peraga Papan Penjumlahan dan Pengurangan ......................... 69 4.5.1 Analisis Produk Berdasar Validasi oleh Pakar dan Guru .......................... 71 4.5.2 Revisi Produk Berdasar Validasi Alat Peraga ........................................... 72 4.6 Uji Coba Lapangan Terbatas.......................................................................... 73 4.6.1 Hasil Uji Coba Lapangan Terbatas ........................................................... 75 4.6.1.1 Hasil Pretest dan Posttest .......................................................................... 75 4.6.1.2 Hasil Kuesioner Alat Peraga Papan Penjumlahan Pengurangan .............. 78 4.6.2 Analisis Produk Berdasar Uji Coba Lapangan Terbatas ........................... 79 4.6.3 Revisi Produk Berdasar Uji Coba Lapangan Terbatas .............................. 79 4.7 Analisis Dampak Afektif pada Uji Coba Lapangan Terbatas ........................ 80 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.7.1 Hasil Wawancara Uji Coba Lapangan Terbatas........................................ 80 4.7.2 Hasil Observasi Uji Coba Lapangan Terbatas .......................................... 82 4.7.3 Hasil Triangulasi Data ............................................................................... 86 4.8 Kajian Produk Akhir ...................................................................................... 87 4.9 Konsekuensi lebih Lanjut .............................................................................. 88 BAB V PENUTUP .............................................................................................. 90 5.2 Kesimpulan .................................................................................................... 90 5.2 Keterbatasan Penelitian .................................................................................. 91 5.3 Saran .............................................................................................................. 91 DAFTAR REFRENSI ......................................................................................... 92 LAMPIRAN ......................................................................................................... 95 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR BAGAN Bagan 2.1 Tahap Perkembangan Manusia ............................................................ 11 Bagan 2.2 Literature Map ..................................................................................... 24 Bagan 3.1 Model pengembangan Borg dan Gall ………………………………...29 Bagan 3.2 Langkah Penelitian dan Pengembangan ............................................. 30 Bagan 3.3 Pengembangan yang sudah Dimodifikasi ............................................ 32 Bagan 3.4 Teknik Triangulasi Berdasar Sumber Data .......................................... 46 Bagan 4.1 Triangulasi Data………………………………………………………87 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Kisi-kisi Kuesioner Analisis Kebutuhan untuk Guru dan Siswa .......... 38 Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner Validasi Produk untuk Pakar, Guru dan Siswa .... 38 Tabel 3.3 Kisi-kisi Tes Uraian .............................................................................. 40 Tabel 3.4 Konversi Data Kuantitatif ke Kualitatif ................................................ 45 Tabel 3.5 Pensekoran Instrumen Tes .................................................................... 45 Tabel 4.1 Tabulasi Uji Keterbacaan KuesionerAnalisis Kebutuhan untuk Siswa 50 Tabel 4.2 Tabulasi Uji Keterbacaan KuesionerAnalisis Kebutuhan Guru ........... 51 Tabel 4.3 Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Isi dan Konstrak Instrumen Tes ........ 62 Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Validitas Empirik Instrumen Tes ........................... 63 Tabel 4.5 Kisi-Kisi Instrumen Tes yang Sudah Direvisi ...................................... 64 Tabel 4.6 Konversi Data Kuantitatif ke Kualitatif ................................................ 65 Tabel 4.7 Rekapitulasi Hasil Uji Keterbacaan KuesionerValidasi Produk untuk Pakar dan Guru ............................................................................... 67 Tabel 4.8 Tabulasi Hasil Uji Keterbacaan KuesionerValidasi Produk oleh Siswa68 Tabel 4.9 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Validasi Alat Peragaoleh Pakar dan Guru .............................................................................................................. 70 Tabel 4.10 Revisi Alat Peraga Berdasar Validasi Produk oleh Pakar dan Guru... 73 Tabel 4.11 Hasil Pretest dan Posttest ................................................................... 76 Tabel 4.12 Rekapitulasi Hasil KuesionerValidasi Alat Peraga oleh Siswa .......... 78 Tabel 4.13 Revisi Alat Peaga Berdasar Uji Coba Lapangan Terbatas .................. 80 Tabel 4.14 Perumusan Indikator afektif ................................................................ 86 Tabel 4.15 Rekapitulasi Hasil Validasi Alat Peraga ............................................. 87 Tabel 4.16 Prototipe Alat Peraga Papan Penjumlahan dan Pengurangan ............. 88 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR DIAGARAM Diagram 4.1 Kenaikan Pretestdan Posttest ........................................................... 76 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 3.1 Persentase Jawaban Siswa ................................................................. 44 Gambar 3.2 Nilai Siswa pada Instrumen Tes ........................................................ 45 Gambar 3.3 Rerata Keseluruhan Siswa ................................................................. 46 Gambar 3.4 Persentase Kenaikan Pretest ke Postest ............................................. 46 Gambar 4.1 Desain Awal Papan Penjumlahan dan Pengurangan…………………………………………………………58 Gambar 4.2 Desain Alat Peraga Penjumlahan dan Pengurangan setelah Konsultasi dengan Pakar .................................................................... 59 Gambar 4.3 Papan Utama ..................................................................................... 60 Gambar 4.4 Kubus Satuan Puluhan dan Tempatnya ............................................. 60 Gambar 4.5 Kartu Soal .......................................................................................... 60 Gambar 4.6 Tanda Operasi ................................................................................... 61 xix

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Validasi Instrumen Analisis Kebutuhan .................................... 96 Lampiran 1.1 Kisi-Kisi Kuesioner Analisis Kebutuhan ....................................... 96 Lampiran 1.2 Kisi-Kisi Wawancara Analisis Kebutuhan Guru ............................ 96 Lampiran 1.3 Kisi-Kisi Wawancara Analisis Kebutuhan Siswa .......................... 96 Lampiran 1.4 Rekapitulasi Jawaban Uji Keterbacaan Kuesioner Analisis Kebutuhan Guru ............................................................................... 97 Lampiran 1.5 Rekapitulasi Jawaban Uji Keterbacaan Analisis Kebutuhan Siswa 99 Lampiran 1.6 Kuesioner Analisis Kebutuhan Guru Sebelum Uji Keterbacaan ....................................................................................................... 101 Lampiran 1.7 Kuesioner Analisis Kebutuhan Guru Setelah Uji Keterbacaan .... 103 Lampiran 1.8 Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa Sebelum Uji Keterbacaan 105 Lampiran 1.9 Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa Setelah Uji Keterbacaan ... 107 Lampiran 2 Hasil Analisis Kebutuhan ........................................................... 109 Lampiran 2.1 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Analisis Kebutuhan Guru ............. 109 Lampiran 2.2 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa ............ 111 Lampiran 3 Validasi Instrumen Pretest dan Posttest ..................................... 113 Lampiran 3.1 Kisi-Kisi Pretest dan Posttest Sebelum Validasi ......................... 113 Lampiran 3.2 Kisi-Kisi Pretest dan Posttest Setelah Validasi............................ 114 Lampiran 3.3 Tabulasi Hasil Uji Validitas Empiris Pretest dan Posttest ........... 115 Lampiran 3.4 Hasil Perhitungan IMB SPSS 20 for windows untuk Validitas Instrumen ....................................................................................... 116 Lampiran 3.5 Hasil Perhitungan IMB SPSS 20 for windows untuk Reliabilitas Instrumen ....................................................................................... 120 Lampiran 3.6 Instrumen Pretest dan Posttest Sebelum Validasi ........................ 121 Lampiran 3.7 Insterumen Pretest dan Posttest Setelah Validasi ........................ 124 Lampiran 4 Hasil Pretest dan Postest .............................................................. 126 Lampiran 4.1 Tabulasi Hasil Pretest Siswa ........................................................ 126 Lampiran 4.2 Tabulasi Hasil Posttest Siswa ....................................................... 126 Lampiran 5 Validasi Kuesioner Validasi Produk ......................................... 127 Lampiran 5.1 Kisi-Kisi Kuesioner Validasi Produk Pakar, Guru, dan Siswa..... 127 xx

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5.2 Rekapitulasi Jawaban Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk oleh Pakar dan Guru ...................................................................... 128 Lampiran 5.3 Rekapitulasi Jawaban Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk oleh Siswa ...................................................................................... 129 Lampiran 5.4 Kuesioner Validasi Produk untuk Pakar dan Guru Sebelum Validasi ....................................................................................................... 130 Lampiran 5.5 Kuesioner Validasi Produk untuk Pakar dan Guru Setelah Validasi ....................................................................................................... 133 Lampiran 5.6 Kuesioner Validasi Produk untuk Siswa Sebelum Validasi ......... 136 Lampiran 5.7 Kuesioner Validasi Produk untuk Pakar Setelah Validasi ........... 138 Lampiran 6 Hasil Kuesioner Validasi Produk .............................................. 140 Lampiran 6.1 Rekapitulasi Jawaban Kuesioner Validasi Produk oleh Pakar dan Guru ............................................................................................... 140 Lampiran 6.2 Tabulasi Hasil Kuesioner Validasi Produk oleh Pakar dan Guru . 141 Lampiran 6.3 Rekapitulasi Jawaban Kuesioner Validasi Produk oleh Siswa..... 141 Lampiran 6.4 Tabulasi Hasil Kuesioner Validasi Produk oleh Siswa ................ 142 Lampiran 7 Wawancara dan Observasi Uji Lapangan Terbatas ............... 143 Lampiran 7.1 Kisi-Kisi Instrumen Wawancara dan Obsrvasi untuk Guru dan Siswa .............................................................................................. 143 Lampiran 7.2 Transkrip Wawancara Guru......................................................... 143 Lampiran 7.3 Transkip Wawancara siswa .......................................................... 145 Lampiran 7.4 Data Hasil Observasi .................................................................... 146 Lampiran 8 Dokumentasi Penelitian .............................................................. 149 Lampiran 8.1 Album Papan Penjumlahan Pengurangan Montessori.................. 149 Lampiran 8.2 Desain Papan Penjumlahan Pengurangan ..................................... 160 Lampiran 8.3 Foto Uji Coba Lapangan Terbatas ................................................ 161 Lampiran 8.4 Contoh Kuis Siswa ....................................................................... 163 Lampiran 8.5 Surat Izin Penelitian...................................................................... 164 Lampiran 8.6 Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian.............................. 165 xxi

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bagian ini akan dibahas (1) latar belakang masalah, (2) batasan masalah, (3) rumusan masalah, (4) tujuan penelitian, (5) manfaat penelitian, (6) sepesifikasi produk, dan (7) definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Masalah Sekitar tahun 1926 hingga 1933, perkembangan dunia pendidikan mendapatkan momentum yang cukup signifikan dengan hadirnya metode yang mampu mengakomodasi sekian banyak teori belajar yaitu metode Montessori (Magini, 2013: 79-88). Seperti teori perkembangan anak dari Jean Piaget, teori belajar penemuan dari Jerome Bruner, teori belajar bermakna dari David Ausubel, teori belajar konstruktivistik dari Vygotsky, teori permainan matematika oleh Zoltan P. Dienes, dan berbagai teori mengenai belajar aktif dapat ditemukan saat kita memasuki kelas dengan metode Montessori. Pada awal perkembangannya, banyak keraguan dalam implementasi metode belajar yang berbasis individual ini (Lillard, 2005: 21-23). Meskipun demikian, Montessori mampu menjawab keraguan dengan menunjukkan keberhasilan meningkatkan hasil belajarpeserta didik secara signifikan di Casa Dei Bambini atau Rumah Anak yang merupkan laboratorium penelitian Maria Montessori (Lillard, 2005: 17;Magini, 2013: 32). Metode Montessori memperhatikan seluruh aspek perkembangan anak dengan lingkungan belajar sebagai pengontrolnya. Lingkungan merupakan aspek yang sangat ditekankan dalam pembelajaran (Lillard, 2005: 29). Hal tersebut dilandasi oleh pandangan bahwa anak membutuhkan satu tempat ideal yang memungkinkan mereka berkembang secara alami dan terarah tanpa banyak intervensi dari pendidik atau guru. Lingkungan yang dimaksud diantaranya sistem pengelolaan kelas, tata ruang, alat peraga, dan direktris atau pendidik.Pada tahun 1900-an implementasi metode Montessori di Eropa menuai sukses sehingga berkembang hingga Amerika (Hainstock, 1997: 28). Saat ini, negara-negara maju telah memberikan kesempatan pada sekolah-sekolah berbasis Montessori untuk berkembang. Seperti halnya di Australia telah terdapat lebih dari 210 sekolah 1

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berbasis metode Montessori dan pada survey tahun 1981 di Amerika telah terdapat lebih dari 443 sekoah publik yang menggunakan metode Montessori dan 120 sekolah Montessori (Montessori.org.au, diakses 13 Mei 2014). Di Indonesia, telah banyak berdiri sekolah berbasis Montessori di beberapa kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, Bogor dan masih banyak di kota-kota lainya. Sekolah tersebut menjadi sekolah alternatif bagi para orang tua yang ingin anaknya memperoleh pelayanan pendidikan yang berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya. Meskipun demikian, manfaat sekolah-sekolah Montessori tersebut belum bisa dirasakan oleh kalangan masyarakat dengan tingkat ekonomi bawah. Melalui observasi yang dilakukan disalah satu sekolah Montessori pada bulan Januari 2013, rata-rata anak yang bersekolah di sekolah Montessori berasal dari kalangan mampu secara ekonomi. Hal tersebut terlihat dari mahalnya biaya pendidikan yang dipatok oleh pihak pengelola. Biaya pendidikan prasekolah atau usia 3-6 tahun dapat mencapai 25 juta rupiah per tahun belum tambahan biaya operasional yang lain. Biaya tersebut semakin besar pada kelas 6-9 tahun dan 9-12 tahun. Mahalnya biaya untuk bersekolah di sekolah Montessori didasari oleh beberapa hal di antaranya mahalnya harga alat peraga yang dibutuhkan, guru yang harus tersertifikasi dari pendidikan guru Montessori, dan mahalnya biaya operasional sekolah. Produksi alat peraga Montessori masih dilakukan di luar negeri sehingga sekolah Montessori di Indonesia harus melakukan importdalam hal pengadaan alat peraga yang terstandardisasi. Berikut merupakan contoh daftar harga dari sebagian alat peraga Montessori yang dipatok para penjual dengan kurs dollar per 9 April 2014 sebesar Rp.11.300,-.Animal Puzzle Cabinet merupakan puzzle hewan yang berguna mengenali nama-nama hewan dan ciri-cirinya dipatok $54.99 atau sebesar Rp. 621.387,-. Numerical Rods atau tongkat asta merah biru merupakan alat peraga yang berguna untuk penjumlahan dan pengurangan dibawah sepuluh dijual dengan harga $44.99 atau sebesar Rp. 508.387,- , Teens & Tens Board merupakan alat peraga yang berguna untuk melatih membilang bilangan dua angka dijual dengan harga $55.99 atau sebesar Rp.632.687,(Kidadvance, 2014). Harga tersebut belum termasuk pajak bea dan cukai. Melihat kenyataan tersebut, sekolah-sekolah umum di Indonesia nampaknya akan 2

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kesulitan dalam hal pendanaan. Selain masalah pendanaan, minimnya pengetahuan guru akan metode Montessori menjadi masalah dalam implementasi. Pengadaan alat peraga Montessori di Sekolah Dasar nampaknya masih belum menjadi harapan karena ketersediaan alat peraga di Sekolah Dasar sendiri masih perlu mendapat perhatian. Melalui observasi yang dilakukan peneliti pada saat program pengakraban lingkungan SD (Probaling) 1 dan 2 serta kegiatan program pengalaman lapangan (PPL) dibeberapa Sekolah Dasar di Yogyakarta, ditemukan bahwa ketersediaan alat peraga pembelajaran masih sangat rendah. Hal tersebut terbukti dengan jarang ditemukannya alat peraga maupun media pembelajaran di lingkungan kelas ataupun lingkungan sekolah. Kebanyakan sekolah hanya memiliki KIT Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), struktur anatomi tubuh manusia, peta, globe, peralatan olahraga, gambar pahlawan, dan berbagai alat peraga IPA lainnya. Di beberapa sekolah, alat peraga tersebut masih tersusun rapi, nampak seperti baru, bahkan ada beberapa alat peraga yang masih terbungkus rapi dan nampak belum pernah digunakan. Selain itu, peneliti belum menemukan alat peraga yang sudah diuji secara empiris tingkat keefektifannya. Dengan demikian, alat peraga yang ada dikebanyakan sekolah tersebut belum dapat dipertanggungjawabkan secara metodologi apakah relevan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan anak atau tidak. Berdasar observasi dari peneliti juga, belum banyak ditemukan alat peraga matematika di sekolah-sekolah yang menjadi tempat observasi. Ditinjau dari segi pendidik, hasil studi video pada tahun 2007 (Pemerintah Indonesia, 2008) menyatakan bahwa kebanyakan metode yang sering dilakukan oleh guru di Indonesia adalah metode hafalan. Selain itu, penggunaan teknikteknik belajar seperti meninjau ulang pelajaran, penggunaan prosedur tertentu, kerja kelompok, dan pemecahan masalah masih kurang digunakan (The World Bank, 2011: 64). Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa masih minimnya penggunaan benda-benda penunjang pembelajaran seperti media pembelajaran dan alat peraga. Kenyataan tersebut mengindikasikan bahwa program-program yang direncanakan pemerintah seperti sertifikasi guru dan pelatihan-pelatihan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru belum mampu menyentuh bagian-bagian teknis dalam pembelajaran di kelas. 3

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Minimnya ketersediaan alat peraga dan rendahnya penggunaan alat peraga dalam pembelajaran berbanding lurus dengan hasil belajar yang dicapai peserta didik terutama pada matapelajaran Matematika. Hasil penelitian yang dipublikasikan oleh Programme for International Student Assesment (PISA) menunjukan bahwa Indonesia menduduki peringkat bawah yaitu 57dari 65 negara pada pembelajaran Matematika. Dalam penelitian tersebut, terbukti hanya 0,1% siswa Indonesia mampu mengerjakan soal dengan tingkat penalaran dan sekitar 43,5% atau hampir setengah siswa tidak mampu menyelesaikan soal-soal dasar dari PISA (OECD, 2009). Hasil penelitian yang dilakukan oleh PISA membuktikan masih sedikit siswa indonesia yang mampu mengasosiasikan konsep-konsep abstrak pada soal Matematika dengan kemampuan bernalar. Rendahnya prestasi siswa Indonesia pada bidang matematika juga diungkapkan oleh Trends in International Mathematic and Science Study (TIMMS) pada tahun 2007. TIMMS mengungkapkan bahwa Indonesia menduduki posisi 36 dari 49 negara pada penelitian yang berskala internasional (The World Bank, 2011: 65). Meskipun dalam berbagai penelitian tersebut fokus penelitian tidak berkaitan langsung dengan alat peraga, namun hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa kualitas hasil belajar matematika di Indonesia masih rendah dan perlu ada usaha untuk meningkatkannya. Metode Montessori seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menawarkan beberapa bidang pengajaran yang terangkum dalam kurikulum Montessori. Bidang-bidang tersebut adalah matematika, bahasa, seni, pembelajaran kosmik, dan beberapa bidang tambahan lain (Montessori, 2002) yang dipandang mampu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di Indonesia. Pembelajaran Montessori selalu menggunakan alat peraga untuk membimbing anak belajar dari konsep yang konkret menuju pada konsep yang abstrak. Hal tersebut dilakukan juga pada pembelajaran matematika yang sebenarnya berisi kumpulan konsep-konsep abstrak (Suyanto, 2000: 109). Pembelajaran matematika SD dirancang untuk membelajarkan siswa agar mampu membangun analitis, sistematis, kritis, kemampuan berpikir logis, kreatif, serta kemampuan bekerjasama (Depdikbud, 2007). Konsep abstrak tentunya akan menghambat pencapaian tujuan tersebut jika diberikan begitu saja pada peserta didik, karena anak usia SD masih berada pada 4

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tahapan operasional konkret (Piaget dalam Ormrod, 2008: 51-52). Maka, materi yang ada pada pembelajaran matematika harus dimulai dari konsep yang konkret dengan perantara alat peraga menuju pada konsep yang abstrak. Melihat latar belakang tersebut, peneliti terdorong untuk mengembangkan alat peraga matematika dengan harga yang relatif terjangkau oleh kebanyakan sekolah di Indonesia. Selain itu alat peraga Montessori yang dikembangkan dapat mendorong anak belajar secara mandiri, mendorong rasa ingin tahu yang tinggi, mendorong keinginan untuk bereksplorasi dalam mendapatkan pengetahuanpengetahuan yang baru, dapat menemukan sendiri kesalahan-kesalahan yang dilakukan, dan mudah didapat karena memanfaatkan bahan-bahan dari lingkungan sekitar. Pemanfaatan benda-benda disekitar tersebut dapat menekan biaya produksi. Alat peraga yang terjangkau, akan menghilangkan anggapan bahwa Metode Montessori hanya untuk kalangan masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti merupakan alat peraga berbasis Montessori yang mengadopsi konsep alat peraga yang ditawarkan oleh Maria Montessori. Konsep alat peraga tersebut mengandung ciri-ciri autocorrection, auto-education, menarik, bergradasi, dan kontekstual. Pengembangan alat peraga berbasis Montessori ini terangkum dalam penelitian pengembangan dengan lima siswa kelas I SD Kanisius Pugeran Yogyakarta sebagai sampel penelitian. Produk yang dihasilkan merupakan prototipe karena produk hanya diuji hingga lingkup lapangan terbatas. Prototipe merupakan produk yang telah melalui serangkaian prosedur pengembangan dengan uji coba dalam lingkup yang terbatas. Alat peraga yang diproduksi digunakan untuk kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimana ciri-ciri alat peraga papan penjumlahan pengurangan yang dikembangkan untuk kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka di kelas I? 5

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.2.2 Bagaimana kualitas alat peraga papan penjumlahan pengurangan yang dikembangkan untuk kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka di kelas I? 1.2.3 Bagaimana dampak penggunaan alat peraga papan penjumlahan pengurangan yang dikembangkan untuk kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka pada siswa kelas I? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengembangkan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan yang memiliki ciri auto-correction, auto-education, menarik, bergradasi, dan kontekstual pada kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka di kelas I. 1.3.2 Mengetahui kualitas alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan pada kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka di kelas I. 1.3.3 Mengetahui dampak afektif dari penggunaan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan yang dikembangkan untuk kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka pada siswa kelas I. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Sekolah Sekolah mampu mengetahui langkah-langkah dalam membuat dan mengembangkan alat peraga yang terjamin kualitasnya. Hasil penelitian nantinya juga dapat digunakan sebagai titik tolak pengembangan mutu sekolah. 1.4.2 Bagi Guru Guru mampu mengetahui ciri alat peraga yang dapat digunakan saat pembelajaran terutama alat peraga yang bersifat kontekstual sehingga alat peraga yang digunakan guru semakin tepat sasaran. Selain itu, guru juga dapat mengetahui cara mengembangkan alat peraga yang sesuai dengan kebutuhan siswa. 6

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.4.3 Bagi Siswa Siswa mampu mengembangkan kemampuan berpikir dari konkret menuju abstrak saat melakukan penjumlahan dan pengurangan dua angka. Selain itu, siswa juga terbantu untuk memahami konsep penjumlahan dan pengurangan dua angka. 1.4.4 Bagi Peneliti Peneliti mendapatkan pengalaman berharga dalam memperdalam kajian pada pendidikan anak. 1.4.5 Bagi Calon Guru Bagi calon guru penelitian ini berguna sebagai inspirasi dalam membuat tugas akhir dengan mengembangkan penelitian ini hingga pada pengujian tingkat keefektifan alat peraga. 1.5 Spesifikasi Produk Produk yang dihasilkan dalam penelitian dan pengembangan ini adalah alat peraga papan penjumlahan pengurangan beserta albumnya. Alat peraga ini merupakan pengembangan dari dot boadyang merupakan alat peraga dalam metode Montessori. Alat peraga papan penjumlahan pengurangan merupakan alat peraga yang berfungsi untuk membantu anak memahami konsep penjumlahan dan pengurangan satu hingga empat angka. Alat peraga ini terdiri dari papan utama, kubus satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan, tempat kubus yang berbentuk balok tanpa tutup, kartu soal dan tempatnya, tanda operasi, spidol, dan penghapus. Papan utama merupakan papan persegi panjang dengan ukuran 55 cm x 35 cm x 2,5 cm. Papan utama tersebut terdiri dari empat buah kolom nilai tempat, satu tempat tanda operasi, dan ruang untuk menuliskan jawaban hasil operasi. Kolom merupakan tempat untuk meletakan kubus, sehingga kolom tersebut dibuat menjorok ke dalam sedalam 0,7 cm. Masing-masing kolom pada papan terdiri dari kolom satuan dengan warna biru, puluhan dengan warna merah, ratusan dengan warna kuning, dan ribuan dengan warna hijau. Tempat tanda operasi berukuran 6 x 6 cm yang terletak di pojok kanan atas. Tempat tersebut berguna untuk meletakkan tanda operasi saat anak melakukan penjumlahan ataupun pengurangan. 7

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kemudian, kubus satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan terdiri dari empat warna yang masing-masing warna mewakili nilai satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan. Kubus tersebut berukuran 1 cm x1 cm x 1 cm. Kartu soal terdiri dari soal penjumlahan satu angka dengan dua angka dan dua angka dengan dua angka yang berukuran 9 x 9 cm. Menurut tingkat kesulitannya kartu soal dibagi menjadi dua yaitu kartu soal warna-warni dan kartu soal satu warna. Kartu soal warna-warni merupakan kartu soal dengan pembeda antara nilai satuan dan puluhan, sementara kartu satu warna tidak memiliki pembeda antara nilai satuan dan puluhan.Tanda operasi berbentuk kartu dengan gambar tanda penjumlahan dan pengurangan. Album alat peraga merupakan petunjuk bagi guru cara mempresentasikan penggunaan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan pada peserta didik. Seluruh bahan yang digunakan untuk membuat alat tersebut sebagaian besar merupakan kayu mindi dan kertas yang digunakan berjenis ivory. 1.6 Definisi Operasional 1.6.1 Belajar adalah pengkostruksian pengetahuan yang dilakukan oleh si pembelajar. 1.6.2 Montessori adalah seorang dokter wanita pertama dari Italia yang tertarik pada pendidikan anak sehingga ia menciptakan metode montessori yang berakar pada kebebasan belajar. 1.6.3 Metode Montessori adalah metode belajar anak yang berbasis individu dengan prinsip dasar kebebasan dan kemandirian dengan lingkungan belajar sebagai pengontrol tingkat pencapaian anak. 1.6.4 Alat peraga berbasis Montessori adalah alat bantu belajar yang diciptakan oleh Montessori dan dimodifikasi serta dikembangkan oleh peneliti untuk disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik di Indonesia. 1.6.5 Album adalah petunjuk penggunaan alat peraga yang memuat kompetensi, tujuan, nama alat, syarat penggunaan alat, dan cara penggunaan alat. 1.6.6 Papan penjumlahan pengurangan adalah seperangkat alat peraga yang berguna untuk melatih anak memahami konsep penjumlahan dan pengurangan dua sampai empat angka. 8

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.6.7 Siswa SD adalah 5 siswa kelas I SD Kanisius Pugeran Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. 1.6.8 Potensi lokal adalah segala benda-benda yang berada di lingkungan sekitar yang mudah didapatkan dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan alat peraga Montessori. 1.6.9 Penjumlahan adalah operasi hitung dengan menambahkan angka satu dengan yang lainnya dengan tanda operasi (+). 1.6.10 Pengurangan merupakan operasi hitung dengan mengurangkan angka satu dengan yang lainnya dengan tanda operasi (-). 9

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Pada bagian ini akan dijelaskan (1) kajian pustaka, (2) kerangka berpikir, dan (3) pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian. 1.1 Kajian Pustaka 1.1.1 Belajar dan Perkembangan Anak Proses perkembangan anak dan belajar merupakan dua hal yang mempunyai kaitan erat dan saling mempengaruhi. Belajar mengarah pada proses pembentukan pengetahuan olehpembelajar itu sendiri. Proses pembentukan pengetahuan tersebut terjadi karena terdapat interaksi dari pembelajar dengan objek yang dipelajari (Siregar, 2011: 39-40). Sedangkan perkembangan diartikan sebagai proses perubahan fungsi fisik dan psikis. Perubahan fisik merujuk pada perubahan biologis dan psikis merujuk pada karakteristik psikologis individu, seperti perkembangan kognitif, emosi, sosial dan moral (Yusuf, 2011: 1). Kedua pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan merupakan satu proses yang jelas adanya dan pasti akan dilalui oleh setiap manusia sedangkan belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri. Perkembangan yang baik haruslah diiringi dengan proses belajar yang matang, terencana dan terorganisir. Dapat dikatakan pula, belajar merupakan faktor penting sebagai penunjang proses perkembangan. Piaget (dalam Ormrod, 2008: 51-52) mengatakan bahwa proses belajar pada anak usia 6-12 tahun sebaiknya didukung dengan hal-hal maupun kegiatan yang nyata. Sehingga kegiatan belajar tersebut sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif yang disebut operasional konkret. Pada tahapan ini, anak telah mampu menggunakan alur pemikiran logis yang berlangsung dua arah dan mampu mengembalikan pada konsep awal (Suparno, 2001:69-70). Hal tersebut membawa anak pada kemampuan menganalisis masalah dan menyelesaikannya dari berbagai sudut pandang. Di sisi lain, anak masih memerlukan benda atau kejadian nyata untuk mendapatkan satu konsep tertentu. Maka, dalam tataran implementasi pendidikan anak, penggunaan konteks nyata dalam belajar mutlak 10

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diperlukan untuk menunjang proses belajar yang maksimal. Dalam dunia pendidikan saat ini, konteks nyata dapat merujuk pada lingkungan, pengalaman, peragaan, dan alat peraga pembelajaran. Konsep tersebut sangat erat kaitanya dengan perkembangan anak. Montessori sendiri memandang perkembangan anak sebagai pedoman yang harus dikuasai penuh oleh seorang pendidik. Karakteristik anak pada usia tertentu dapat menjadi landasan kuat bagi pembimbingan belajar. Ketepatan dalam pemberian pendekatan, metode, materi, dan teknik pengajaran juga bergantung pada pemahaman seorang guru mengenai perkembangan peserta didik. Montessori mengklasifikasikan berbagai fase perkembangan yang dilalui oleh seseorang menjadi 4 tahapan. Fase pertama (0-6 tahun), fase kedua (6-12 tahun), fase ketiga (12-18 tahun), fase keempat (18-24 tahun (Holt, 2013: xi - xii). 0 infanzia fanciullezza 6 3 membro di famiglia 9 12 adolenscenza 15 18 maturità 24 21 membro sociale Bagan 2.1 Tahap Perkembangan Manusia Fase pertama yang terjadi pada usia 0 hingga 6 tahun merupakan usia emas atau perode sensitif bagi anak untuk berkembang secara cepat dan maksimal. Sehingga pada fase ini merupakan waktu yang tepat dalam membangun landasan yang kuat bagi fase-fase selanjutnya (Magini, 2010). Pada periode ini anak dilatih untuk melakukan gerakan, pengembangan keteraturan, rasa cinta pada teman dan lingkungan, ungkapan hormat pada orang lain, pengenalan bilangan dan huruf. Fase kedua yang terjadi pada usia 6 hingga 12 tahun memungkinkan anak untuk bermain logika dan pembenaran, pembentukan imaginasi, perkembangan moral dan mental, pengenalan budaya, dan perkembangan kekuatan fisik. Dalam rentang usia ini, anak mampu mengasosiasikan konsep nyata ke dalam konsep yang lebih abstrak. Meskipun demikian, anak masih memerlukan benda konkret dalam membangun konsep abstrak tersebut. Fase ketiga terjadi pada usia 12 hingga18 tahun memungkinkan remaja bertansformasi 11

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kearah kematangan fisik, pencarian identitas seksual, pemodelan ideal yang diikuti, perasaan bebas, dan pencarian nilai-nilai spiritual. Pada fase terakhir yaitu rentang usia antara 18 dan 24 tahun, seseorang telah mengejar idealisme tertentu, memiliki minat pada kegiatan berkomunitas, meniti karir, kondisi fisik yang kuat,dan siap berumah tangga (Magini, 2010). 1.1.2 Metode Montessori Berawal dari casa dei bambini atau rumah anak-anak yang didirikan oleh Montessori dan Eduardo Talamo pada 6 Januari 1907, Montessori yang juga seorang dokter mulai mempelajari berbagai tingkah laku anak. Melalui observasi langsung, ia melihat kecenderungan dan kebiasaan anak yang pada akhirnya menjadi dasar bagi metode Montessori. Rumah anak-anak yang hanya didesain sebagai penitipan dijadikan sebagai tempat untuk bereksperimen. Di sana, ia meletakan berbagai jenis mainan dan beberapa alat didaktis dari Itard dan Seguin yang telah dimodifikasi (Magini, 2013: 43-46). Montessori memang terinspirasi Edward Séguin (1812-1881) dan Jean Marc Gaspard Itard (1775-1838) yang telah berhasil mendidik anak-anak cacat mental. Berdasar pada alat peraga yang digunakan Itard dan Seguin, Montessori telah mengembangkan dan mengujicobakan pada anak-anak normal di distrik kumuh di daerah Roma sebelum ia mendirikan casa dei bambini (Montessori, 2002: 32). Pada percobaan tersebut diperoleh hasil yang sangat menggembirakan bahwa anak-anak tunagrahita dapat belajar dengan baik. Casa dei bambini sendiri dikelola oleh beberapa direktris yang sepanjang hari menemani anak-anak yang dititipkan. Karena kesibukan sebagai seorang pengajar, dokter, maupun pembantu dalam penelitian, Montessori hanya mampu mengunjungi casa dei bambini sekali dalam seminggu. Setiap berkunjung, Montessori selalu melakukan observasi terhadap berbagai aktivitas yang dilakukan anak. Dari berbagai observasi tersebut, Montessori menemukan beberapa hal dasar dan esensial bagi metodenya. Ia menemukan bahwa konsentrasi, kebebasan, kemandirian, rasa hormat dan dihargai, adalah hal dasar yang harus diciptakan di sekitar lingkungan belajar anak (Magini, 2013: 49-54). Montessori juga mulai mengembangkan rumah anak dengan menambah berbagai alat peraga yang didesainnya, mengatur ulang lingkungan belajar agar 12

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI lebih relevan dengan kebutuhan anak, dan membuka kelas eksperimental lainnya. Beberapa bulan berjalan, hasil eksperimen Montessori mulai menujukkan hasil. Anak-anak terlihat lebih mandiri, teratur, ramah, dan aktif sehingga orang tua mereka bangga karena kebiasaan tersebut tidak hanya berlangsung di rumah anakanak namun juga di rumah. Keberhasilan rumah anak-anak tersebut menarik berbagai pihak untuk datang melihat aktivitas belajar sehingga mampu menjunjung popularitas casa dei bambini (Magini, 2013: 56). Melalui kegiatan belajar, Montessori menggunakan konsentrasi sebagai indikasi bahwa anak telah benar-benar belajar. Ketika anak mampu menaruh seluruh perhatiannya pada apa yang ia pelajari berbagai konsep akan dengan mudah diolah oleh struktur kognitif (Magini, 2013: 49-50). Berbagai hal yang ada di sekitar anak seakan tidak ada karena anak hanya menaruh perhatian pada satu objek yang ada dihadapannya. Selain konsentrasi, kebebasan adalah hak mutlak yang harus dimiliki anak. Kebebasan memberikan kepercayaan pada anak untuk melakukan segala sesuatu, sehingga rasa enggan dan takut salah dapat dihindarkan. Melalui kebebasan pula, anak disiapkan untuk dapat menerima konsep baru kapanpun tanpa terkait situasi dan kondisi. Untuk mencapai kebebasan, Montessori menggunakan prinsip aktivitas yang spontan dalam pembelajaran (McDermott, 1965: 10-11). Aktivitas ini tidak hanya membantu anak untuk mempersiapkan keaktivitas berikutnya, namun juga memperdalam konsentrasi dan menyempurnakan kepribadiannya, membentuk ketetapan pilihan (constancy) dan kesabaran (patience) (Lillard, 2003: 45). Tentu saja sebebas-bebasnya anak dalam belajar tetaplah ada pengontrolnya. Pengontrol belajar anak dalam pembelajaran Montessori adalah lingkungan (Hainstock, 1997: 80-82). Kelas Montessori benar-benar diatur untuk mempelajari semua hal, baik itu matematika, bahasa, seni, dan sebagainya. Lingkungan edukatif tersebut juga didukung dengan alat peraga yang dapat mengendalikan cara belajar anak. Belajar di suatu lingkunan kelas yang dihuni oleh banyak anak dengan hanya satu atau dua direktris, menuntut anak untuk memiliki sikap mandiri atas kebebasan yang telah diberikan padanya. Prinsip kemandirian ini memiliki peran yang besar dalam pembelajaran berbasis individu. Dengan atau tanpa pendidik, 13

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI anak mampu mengontrol diri dan memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berada pada situasi kelas Montessori. Pendidik harus memberikan kebebasan pada anak untuk membentuk kemandirian dengan tidak memberikan intervensi yang terlalu dalam pada aktivitas belajarnya (Montessori, 2002: 95-101). 2.1.3 Pembelajaran dalam Kelas Montessori “Kini, kami memberikan sebuah misi dalam kehidupan: yaitu untuk memahami masa kecil dan tujuannya, dan untuk berbagi pemahaman ini dengan orang tua sehingga mereka dapat membantu anak mereka melewati dengan baik masa kecilnya dan mencapai tujuan dari masa kanak - kanak. …” (Lillard, 2003: 23) Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Paula Lilliard dan Lynn Jessen guru Montessori tingkat dasar yang tersertifikasi dari Association Montessori Internationale (AMI) untuk mengajar anak berumur tiga sampai enam tahun (Lillard, 2003: 23). Ungkapan di atas menggambarkan tujuan pembelajaran Montessori dilakukan. Memahami anak dan membantunya mencapai tujuan sejak masa kanak-kanak merupakan titik tuju yang seharusnya telah dicapai oleh anak yang bersekolah di sekolah Montessori. Awalnya, anak melihat yang di kerjakan oleh orang tuanya, kemudian anak mencoba meniru apa yang ia lihat. Berkenaan dengan hal tersebut, orangtua harus memahami karakter dan kebutuhan anak. Montessori melihat hal ini sebagai sebuah titik tuju bahwa zona berlatih untuk anak haruslah maksimal dan tidak terbatasi (independent movement) (Lillard, 2003: 45). Sistem pembelajaran dalam kelas Montessori tidak terlepas dari 8 prinsip pembelajaran yaitu (1) pergerakan (movement) dan kesadaran (cognition) saling mempengaruhi, dimana pergerakan dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan belajar, (2) belajar dan mengenal sesuatu akan meningkat ketika orang memiliki kontrol penuh atas hidupnya, (3) seseorang belajar dengan lebih baik ketika dia menyukai apa yang dia pelajari, (4) adanya upah lahiriah atas sebuah aktivitas, seperti diberi uang ketika dapat membaca, akan memberi dampak yang buruk terhadap motivasi sehingga menekan diri anak untuk belajar ketika diberi upah, (5) peraturan yang kolaboratif akan menciptakan situasi yang kondusif untuk 14

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI belajar, (6) mempelajari apa yang ada akan memberikan sesuatu yang lebih dalam dan bermakna dibandingkan mempelajari sesuatu yang abstrak, (7) bentuk umum dari interaksi remaja sangat berhubungan dengan hasil pendidikan dini, dan (8) ketenteraman lingkungan sangat dibutuhkan oleh anak-anak (Lillard, 2005: 2933). Penerapan prinsip tersebut didukung alat peraga yang standar untuk membantu membentuk pola pemikiran anak yang konkret. Hal ini terjadi dengan membebaskan anak memilih alat peraga dan anak menimbulkan pembelajaran sepontan tanpa rencana. Pengalaman dari pembelajaran yang spontan dan menyenangkan akan mempermudah pemberian pembelajaran baru tanpa terlalu memperhatikan standar pengalaman sehingga anak mendapat suatu tantangan baru. Ketika anak mulai memiliki konsep berpikir tentang suatu hal yang konkret, anak dapat berkembang untuk menginterpretasikan suatu hal yang abstrak (Hainstock, 1997: 13-15). Penerapan prisip-prinsip tersebut juga didukung dengan ruangan kelas yang memadai. Kelas Montessori merupakan satu ruangan luas dengan tata ruang terbuka dan rak-rak rendah memungkinkan anak dapat mengambil apa yang mereka inginkan dan mengembalikan ke tempat semula. Dalam rak tersebut, diletakan alat peraga semenarik mungkin dan dapat digunakan anak secara berulang kali. Peletakan alat peraga digolongkan sesuai dengan tujuannya, misalnya matematika, bahasa, seni, dan sebagainya. Melalui alat peraga tersebut, anak memperoleh konsep yang diinginkan. Meja dan kursi yang disediakan pun beragam ukuran, biasanya cukup untuk 1-4 anak. Anak tidak diwajibkan untuk menggunakan kursi ataupun meja tertentu, melainkan bebas memilih dan bekerja pada kursi ataupun meja yang diinginkan. Mereka dapat berpindah tempat di seluruh kelas ataupun bekerja di lantai dengan karpet kecil. Kelas Montessori terbagi sesuai tingkatan umur dengan jenjang tiga tahun, kelas pertama 0 sampai 3 tahun, kelas kedua 3 sampai 6 tahun, kelas ketiga 6 sampai 13, dan seterusnya. Pembagian ini memungkinkan anak yang lebih muda belajar pada anak yang lebih tua dengan interaksi spontan tanpa diperintahkan oleh pendidik. Kelas dapat pula dibentuk menjadi grup atau individu sesuai maksud pendidik (Lillard, 2005: 18-22). Kelas Montessori juga tidak terlepas dari 15

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI direktris atau pendidik yang menyiapkan kelas. Pendidik pada kelas Montessori bukanlah pusat dalam belajar melainkan sebagai fasilitator yang mendatangi anak satu persatu untuk membimbing dengan sedikit intervensi. Pendidik juga berperan sebagai observer yang selalu memperhatikan kemajuan belajar anak. Peran observer ini menuntut pendidik agar bersifat pasif dalam mendampingi kegiatan belajar anak (Hainstock, 1997: 85-87). 2.1.4 Media Pembelajaran Media berasal dari bahasa Latin yaitu medius yang berarti tengah, perantara atau pengantar. Association of Education and Communication Technelogy (AECT) mengatakan bahwa media merupakan segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi (Asyad, 2010:3). Sementara itu, Munadi (2010: 6) memberi batasan bagi semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide gagasan, atau pendapat. Ide, gagasan, atau pendapat tersebut dapat tersampaikan dengan lebih efektif. Dari beberapa pengertian di atas, dapat diuraikan bahwa media pembelajaran adalah segala perangkat atau alat bantu untuk mempermudah pentransferan ilmu yang sedang dipelajari. Fungsi media pendidikan menurut Asyad (2010:1-3) adalah sebagai alat bantu dalam penyelenggaraan pendidikan yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar. Montessori sendiri menciptakan media pembelajaran yang bersifat kontinyu dari berbagai benda dan kondisi yang ada di rumah masing-masing anak. Suasana yang terbangun dalam kelas tidaklah berbeda dengan rumah masing-masing anak. Selain itu, media pembelajaran Montessori diciptakan sebagai satu kesatuan antara kecerdasan dan kordinasi fisik yang dalam perkembanganya selalu terkontrol oleh ruanganya (Lillard, 1997: 227228). Media pada kelas Montessori berupa alat peraga, lingkungan alam, pendidik, teman sebaya, dan apa pun yang berada di sekitar lingkungan sekolah. Penekanan belajar dari alam sekitar dianggap penting oleh Montessori. Belajar dari lingkungan alam akan menempatkan anak sebagai pengamat lingkungan, wujud rasa syukur pada Sang Pencipta, membantu melihat perkembangan peradaban, dan menumbuhkan rasa percaya diri (Montessori, 2002: 156-160). 16

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.5 Alat Peraga 2.1.5.1 Pengertian Alat Peraga Alat peraga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam penyelenggaraan pendidikan tertutama pendidikan tingkat dasar. Smaldino, dkk (2011: 14-15) mengatakan bahwa alat peraga adalah sarana yang digunakan pendidik untuk menyampaikan suatu konsep pembelajaran sehingga alat peraga yang digunakan hendaknya mewakili konsep yang ingin disampaikan oleh pendidik. Sejalan dengan hal tersebut, Anitah (2010: 4) mengatakan bahwa alat peraga merupakan sarana yang dapat membawakan pesan dari pemberi kepada penerima. Dari kedua pernyataan di atas terdapat hal pokok yang termuat dalam alat peraga yaitu konsep yang ingin disampaikan. Sementara itu jika merujuk pada fungsi, Munadi (2010:37-38) mengatakan bahwa fungsi utama dari alat peraga merupakan sumber belajar yang akan menuntun anak mencapai konsep pembelajaran hingga sampai pada tujuan pembelajaran dengan batasan-batasan tertentu. Beberapa penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa alat peraga merupakan salah satu sumber belajar yang dapat menyampaikan suatu konsep tertentu guna mencapai tujuan belajar. Uraian di atas juga menempatkan alat peraga sebagai bagian dari media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan istilah yang memiliki pengertian yang lebih luas daripada alat peraga. 2.1.5.2 Pengertian Alat Peraga Montessori Khusus alat peraga, Montessori menciptakanya dengan berbagai pertimbangan mendasar tanpa mengindahkan tahapan perkembangan anak. Pada anak usia 3-6 tahun mayoritas alat peraga disertai knob dengan bentuk khusus yang digunakan untuk memegang suatu alat peraga. Jika terus-menerus menggunakan alat peraga yang disertai dengan knob tersebut, tanpa sadar anak telah melakukan persiapan menulis (Lillard, 2005: 23). Alat peraga pada usia3-6 tahun juga diciptakan untuk mengembangkan seluruh potensi anak. Untuk melatih seluruh indera yang ada dalam tubuh, alat peraga dilengkapi dengan sensor-sensor yang merangsang penggunaan kelima indera manusia (Hainstock, 1997: 45-47). Hal tersebut memperlihatkan bahwa alat peraga yang diciptakan Montessori tidak hanya mewakili konsep yang akan disampaikan namun juga mampu 17

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengakomodir seluruh kebutuhan anak sesuai dengan usia dan tingkat perkembangannya (Montessori, 2002: 168). Alat peraga Montessori pada bidang matematika dirancang untuk mengembangkan kemampuan matematis (Hainstock, 1997: 137), sehingga alat peraga tersebut bukan semata-mata dirancang untuk mencapai kompetensi matematika. Kemampuan matematis yang terdapat pada alat peraga Montessori meliputi abstraksi, pemahaman perintah, dan pengkonstruksian konsep-konsep yang diperoleh dari penggunaan alat peraga. 2.1.5.3 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori Montessori menggunakan metode eksperimental dalam menguji alat peraga buatannya di casa dei bambini. Respon anak pada alat peraga yang baru dibuat menentukan apakah alat peraga tersebut akan dipertahankan atau harus diganti. Jika anak menunjukan respon positif pada alat tersebut, alat peraga akan terus digunakan namun jika sebaliknya, alat peraga tersebut akan diperbaiki ataupun diganti. Anak-anak yang tadinya sangat “liar” dan sulit dikontrol ternyata mampu menaruh perhatian yang serius pada alat peraga yang dirancang oleh Montessori. Tidak hanya itu, anak-anak tersebut juga menunjukkan peningkatan dalam komunikasi dengan orang lain (Magini, 2013: 32-33). Selama dua tahun, Montessori terus mengujicobakan alat peraganya. Dengan melihat reaksi anak, Montessori melakukan berbagai modifikasi dan perbaikan sehinggadiperoleh alat peraga yang dipergunakan hingga sekarang. Alat peraga yang dihasilkan memiliki warna-warna cerah, mudah dimanipulasi, dan berbahan dasar kayu yang ringan namun memiliki daya tahanyang baik. Ciri-ciri umum alat peraga Montessori adalah (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-correction, dan (4) auto-education (Montessori, 2002: 169-179). Selain keempat ciri tersebut peneliti menambahkan satu ciri terakit yaitu kontekstual. Ciri yang pertama adalah menarik. Anak akan berminat ketika melihat suatu yang baru, karena hal baru biasanya asing dan akan menarik perhatianya. Montessori memperhatikan hal ini dengan mewujudkanya pada alat peraga. Alat peraga diciptakan dengan warna-warna cerah, bahan kayu yang lembut, dan bentuk yang menarik. Dengan begitu, anak akan mencoba memanipulasi dan melihat lebih jauh apa yang ada dalam alat peraga tersebut. Landasan tersebut 18

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI terutama digunakan Montessori untuk menciptakan alat peraga sensorial yang mengarah pada pengaktifan dan pemekaan seluruh indera manusia (Montessori, 2002:174). Kemudian ciri alat peraga yang kedua adalah bergradasi. Penggunaan alat peraga Montessori sebagian besar menggunakan indera yang ada pada tubuh manusia. Pada setiap alat peraga, terdapat suatu tingkatan yang terus-menerus dapat merangsang indera untuk menjadi semakin peka. Misalnya, pada kartu warna yang memperkenalkan gradasi warna dari gelap ke terang. Untuk memperkenalkan gradasi bentuk juga dapat digunakan menara pink (pink tower) yang memiliki 10 kubus yang jika disusun akan semakin mengkerucut karena setiap kubus memiliki selisih sisi sepanjang 1 cm (Montessori, 2002:173). Ciri gradasi ini akan membentuk pola pikir yang berkelanjutan, karena pada akhirnya anak akan mengetahui bahwa konsep ilmu yang sederhana merupakan landasan bagi konsep ilmu yang lebih kompleks. Selain memiliki gradasi untuk melatih indra manusia, alat peraga Montessori juga memiliki gradasi umur. Sehingga satu alat dapat dipergunakan oleh berbagai jenjang umur yang berbeda. Misalnya, tongkat asta merah biru yang pada awalnya hanya digunakan untuk membilang, pada tataran yang lebih tinggi dapat digunakan untuk melatih penjumlahan dan pengurangan di bawah 10 (Montessori, 2013: 381). Pembelajaran individual yang diangkat oleh Montessori semakin diperkuat dengan alat yang memiliki kemampuan auto-correction atau pengendali kesalahan (Montessori 2013: 236-237). Kemampuan ini memungkinkan anak untuk mengetahui secara mandiri bahwa ia harus mencoba lagi karena sedang terjadi kesalahan ketika sedang belajar. Misalnya, ketika seorang anak berumur tiga tahun sedang berlatih dengan inkastri slinder (incastri solidi). Ia akan mengetahui kesalahanya ketika salah memasukan silinder, sehingga permukaan balok menjadi tidak rata, lubang terlalu lebar ataupun terlalu sempit sehingga silinder tidak dapat masuk dengan sempurna ataupun ada satu silinder yang tidak dapat dimasukan ke tempatnya (Montessori, 2002:169). Demikian pula, lingkungan belajar diatur dengan pengendali kesalahan. Ketika terdapat satu anak yang mengambil tongkat asta merah, namun setelah selesai menggunakan ia tidak mengembalikan ke tempat semula, anak lain akan kebingungan mencari tongkat asta merah tersebut 19

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI karena tongkat tersebut tidak ada di tempatnya. Anak tersebut akan mengingatkan temannya untuk mengembalikan alat peraga seusai menggunakannya. Dalam kasus tersebut yang berperan sebagai pengendali kesalahan adalah teman sejawat. Pembelajaran dengan metode Montessori menuntut anak mandiri dalam belajar, intervensi dari direktris sangatlah minim bahkan tidak ada. Kemandirian tersebut menuntut self regulation yang baik pada diri anak. Kemampuan alat peraga yang dapat mengatur dan mengkondisikan anak ini disebut auto-education atau kemampuan membelajarkan anak secara mandiri. Menurut Montessori, hal utama yang harus memberikan pengetahuan pada anak adalah lingkungan, teman, dan alat peraga (Montessori, 2002: 106). Dengan begitu, anak akan berkembang secara alamiah tanpa campur tangan orang dewasa (Montessori, 2013: 236). Peran pendidik hanyalah sebagai fasilitator dan juga observer fisik dan psikis. Selain itu, tata ruang, perabotan, cat, hingga kamar mandi didesain sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak. Tujuannya adalah untuk mempermudah dan mendukung proses belajar yang dilakukan dalam satu ruangan besar. Ciri yang terakhir ini bukanlah sesuatu yang wajib ada dan dimiliki oleh alat peraga berbasis Montessori, namun hanya upaya untuk melihat sisi lain dari metode Montessori yang jika dikembalikan pada sejarahnya metode Montessori didedikasikan untuk anak-anak berkekurangan dan tinggal dipemukiman kumuh. Pada waktu mengajar di pemukiman kumuh Montessori memanfaatkan bendabenda disekitarnya sesuai dengan konteks sebagai alat bantu belajar. Konteks merupakan kata yang merujuk pada keseluruhan situasi, latar belakang, atau lingkungan (World Dictionary dalam Johnson, 2007: 82). Sehingga konteks dapat merujuk pada lingkungan tempat tinggal, keluarga, teman, sekolah, pekerjaan, dsb (Johnson, 2007: 83). Ciri alat peraga yang kontekstual dalam penelitian ini merujuk pada pemanfaatan benda-benda atau barang-barang yang merupakan potensi lokal di mana sekolah tersebut berasal sebagai bahan dasar dalam pembuatan alat peraga. 2.1.6 Matematika dalam Metode Montessori Alat peraga matematika dalam Montessori didesain untuk memperkenalkan konsep matematika dan kemampuan matematis yang mencakup keterampilan, kemampuan bernalar dan keluwesan dalam berpikir. Montessori 20

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memperkenalkan angka bukan sebagai suatu unit untuk dijumlahkan, melainkan sebagai kesatuan. Montessori tidak mengajarkan 3 + 1 = 1 + 1 + 1 + 1 = 4, namun dalam metode Montessori dikenalkan bahwa 3 + 1 ekuivalen dengan 3 batang di tambah 1 batang sama dengan 4 batang (Lillard, 2005: 123). Pada tingkat yang lebih tinggi digunakan papan titik untuk memperkenalkan nilai tempat dan penjumlahan statis maupun dinamis. Dengan demikian, Montessori selalu memperkenalkan konsep konkret terlebih dahulu baru kemudian perlahan-lahan mengarahkan pada kosep yang lebih abstrak. Montessori memandang matematika sebagai hal yang dekat dengan kehidupan anak. Ia selalu memperkenalkan matematika bukan sebagai matematika namun lebih pada bagian dari kegiatan sehari-hari yang melibatkan aktifitas fisik (Montessori, 2002: 326-327). Terdapat 3 tahapan pengenalan pada konsep matematika melalui metode Montessori yaitu (1) pengajar memperlihatkan kepada anak cara melakukan sesuatu dengan anak menirukan ucapan direktris, (2) menanyakan kepada anak secara berulang tentang apa yang telah diucapkan, (3) membimbing anak untuk dapat menyebutkan sendiri apa yang telah diajarkan pada tahap sebelumnya (Lillard, 2005: 45) 2.1.7 Materi Penjumlahan dan Pengurangan Dua Angka Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, tujuan dari matematika adalah membangun kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Cakupan materi matematika SD adalah Bilangan, geometri, pengukuran, dan pengolahan data. Penelitian ini berkaitan langsung dengan materi penjumlahan dan pengurangan dua angka kelas I semester genap yang termasuk dalam materi bilangan. Materi tersebut tercakup dalam SK 4 “Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah” dan KD 4.4 “Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka”. Materi pengurangan melingkupi bilangan satu angka dengan satu angka, pengurangan bilangan dua angka dengan satu angka, dan pengurangan bilangan dua angkadengan dua angka. Penjumlahan terdiri atas penjumlahan bilangan satu angka dengan satu angka, penjumlahan bilangan dua angka dengan satu angka, dan penjumlahan bilangan dua angka dengan dua angka. Meskipun demikian, tidak tertutup 21

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kemungkinan bahwa peneliti akan menerapkan gradasi umur dalam penelitian dengan menambah materi dalam lingkup yang lebih luas yaitu penjumlahan dan pengurangan yang melibatkan tiga angka yang diajarkan dikelas 3 semester gasal. Untuk melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan dua atau tiga angka, anak harus terlebih dahulu memahami nilai tempat satuan, puluhan, dan ratusan. Penguasaan konsep tersebut akan membantu anak dalam melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan. Jenis bilangan yang digunakan dalam materi ini adalah bilangan kardinal yang banyak digunakan untuk menghitung benda, menghitung waktu, dan umur (Rahajo, 2004: 1) 2.1.8 Penelitian yang Relevan 2.1.8.1 Penelitian mengenai Metode Montessori Chrisnall dan Maher (2006) dalam penelitian mereka yang bertujuan mengetahui seberapa besar penerapan matematika sejak usia dini mempengaruhi prestasi anak. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa siswa yang bersekolah di Montessori memiliki prestasi yang signifikan daripada anak-anak di sekolah biasa mengenai berbagai keterampilan matematika termasuk penjumlahan dan pengurangan bilangan. Pada sistem pembelajaran Montessori pendidik memberikan kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk mengembangkan cara belajar mereka sejak usia dini. Nilai tambah yang juga tampak pada penelitian ini adalah bahwa Montessori juga berdampak pada status ekonomi yang rendah dengan meningkatnya taraf hidup mereka karena semua lulusan Montessori mendapatkan pekerjaan yang layak. Lillard dan Else-Quest (2006) yang membandingkan sekolah Montessori dan sekolah tradisional dengan sampel 112 anak dari Milwaukee, Wisconsin menghasilkan temuan yang menunjukkan bahwa siswa dari sekolah Montessori memiliki hasil yang lebih daripada sekolah tradisional. Temuan yang tampak bahwa anak pada sekolah Montessori lebih mengenal konsep abstrak dengan baik dibandingkan dengan sekolah tradisional. Dilihat dari kecepatan belajar anak Montessori lebih cepat dalam mengkonsepsikan pengetahuan yang didapat dengan caraberpikir abstrak. Dua hasil dalam penelitian ini adalah (1) guru dan asistennya memiliki strategi yang sesuai dengan filosofi Montessori dalam 22

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mendukung kemandirian siswa dan (2) siswa Montessori memiliki motivasi intrinsik yang tinggi dalam mengerjakan tugasnya. Penelitian selanjutnya adalah penelititan yang dilakukan oleh Dohrmann (2003) yang dalam penelitianya mengusung hipotesis bahwa pendidikan Montessori membawa dampak yang panjang pada kehidupan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa pada umur 3 hingga 11 tahun yang bersekolah di Montessori menunjukkan nilai matematika yang sangat tinggi ketika mereka menjalani tes di sekolah menengah atas. Dari ketiga penelitian di atas, metode Montessori mempunyai pengaruh positif yang baik bagi penyelenggaraan pendidikan. Hal tersebut ditunjukkan dengan tingginya prestasi belajar dan minat yang dimiliki siswa sekolah Montessori. Meskipun demikian, semua penelitian tersebut berbicara mengenai hasil belajar, motivasi dan minat anak. Peneliti belum menemukan penelitian yang mengkaji maupun mengembangkan alat peraga Montessori secara mendalam. 2.1.8.2 Penelitian Mengenai Kompetensi Penjumlahan dan Pengurangan Terkait dengan penelitian yang membahas mengenai modifikasi alat peraga Montessori dengan tujuan tertentu, peneliti hanya menemukan 1 penelitian yang membahas mengenai matematika Montessori pada ketrampilan penjumlahan dan pengurangan. Penelitian tersebut tersebut dilakukan oleh Wijayanti (2013) dengan menggunakan metode R&D dengan tujuan mengembangkan alat peraga kancing penjumlahan dan pengurangan Montessori untuk siswa kelas 1 semester genap. Penelitian ini menghasilkan dua temuan (1) alat peraga yang dikembangkan memiliki lima ciri yaitu menarik, bergradasi, auto-correction, auto-education, dan kontekstual (2) alat yang diciptakan memiliki kualitas yang “sangat baik” berdasarkan skor rerata validasi produk dari pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, guru kelas I, dan siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta, serta peningkatan skor dari pretest sebesar 73,44%. Penelitian lainya dilakukan oleh Letten (2010) dengan bertujuan untuk mengetahui apakah metode demonstrasi menggunakan kertas berwarna dapat meningkatkan kemampuan berhitung siswa kelas 1 semester ganjil atau tidak. Penelitian tersebut menghasilkan temuan bahwa metode demonstrasi dengan kertas berwarna dapat meningkatkan kemampuan berhitung siswa kelas 1. 23

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Peningkatan kemampuan siswa ditandai dengan nilai persentase ketuntasan siswa mencapai KKM pada kondisi awal 60,61% pada siklus I masih dibawah ketuntasan KKM 63,63% dan pada siklus akhir meningkat menjadi 90,90%. Astuti (2010) dengan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah media manik-manik dapat meningkatkan kemampuan berhitung dan keaktifan siswa kelas 1 dalam melakukan penjumlahan dan pengurangan memperolah hasil bahwa media manik-manik emas berhasil meningkatkan kemampuan berhitung dan keaktifan siswa dengan skor rata-rata kelas sebesar 85,00 pada siklus satu dan meningkat menjadi 93,61 pada siklus dua. Dari beberapa penelitian yang telah disebutkan, penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan alat peraga matematika Montessiori dengan prosedur dan pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan masih sangatlah minim. Padahal, esensi alat peraga matematika dalam mengembangkan orientasi berpikir siswa merupakan hal yang sangat penting. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat peraga secara metodologis dengan memperhatikan ciri alat peraga yang dikemukakan oleh Monterssori sebelumnya. Berikut merupakan literature map dari penelitian ini. Metode Montessori Penjumlahan dan Pengurangan Chrisnall, N & Maher, M (2006) Konsep matematika kemampuan berhitung Wijayanti (2013) Alat peraga Montessori – keterampilan penjumlahan dan pengurangan Lillard & Else-Quest (2006) Sekolah tradisional dan sekolah Montessori keterampilan social dan akademis Dhorman, K (2003) Pendidikan Montessori - kinerja yang unggul pada matematika Latten (2010) Demonstrasi dengan kertas berwarna – penjumlahan dan pengurangan Astuti (2013) Manik-manik emas – kemampuan berhitung dan keaktifan Yang perlu diteliti : Metode Montessori dan pengembangan alat peraga papan penjumlahan pengurangan Bagan 2.2 Literature Map 24

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.2 Kerangka Berpikir Sebagian besar materi dari berbagai bidang ilmu yang diajarkan di sekolah Indonesia merupakan konsep abstrak. Seperti pada pembelajaran matematika hampir keseluruhan esensi materi merupakan konsep abstrak yang harus melalui serangkaian tahapan hingga mampu dipahami oleh anak usia 6-11 tahun yang berada pada tahapan operasional konkret (Piaget dalam Ormrod, 2008: 51-52). Sehingga pada kebanyakan kasus, pendidik hanya memberikan konsep abstrak tersebut begitu saja tanpa memperhatikan aspek perkembangan anak. Maka, diperlukan strategi, metode dan gagasan dalam penyelenggaraan pembelajaran yang tepat sasaran sesuai dengan aspek perkembangan anak. Disini, peneliti mencoba membantu menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan pembelajaran khususnya perihal pentransferan materi dan pengadaan alat peraga. Peneliti memilih metode Montessori sebagai alternatif solusi disamping metode Problem Base Learning, Realistic Mathematic Education, dan beberapa metode lain yang juga tergolong inovatif. Metode Montessori menekankan belajar mandiri yang terkontrol oleh lingkungan, sehingga anak mampu mengikuti kemanapun minatnya berkembang. Melalui dukungan dari alat peraga yang menarik, bergradasi, auto-correction, auto-education, dan kontekstualakan membuat anak semakin eksploratif dalam belajar. Selain itu, esensi dari metode Montessori yang berupa kemandirian, kebebasan belajar, dan konsentrasi juga merupakan faktor penunjang yang sama pentingnya dengan alat peraga. Jika pengembangan alat peraga berbasis Montessori dilakukan secara metodologi dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan sekolah, akan dihasilkan alat peraga yang sangat relevan dari segi finansial maupun kebutuhan anak. Alat peraga dapat dikatakan relevan dari segi finansial dikarenakan peneliti mengembangkan alat peraga sesuai dengan konteks lokal yaitu papan penjumlahan dan pengurangan sehingga akan menekan biaya produksi. Penggunaan konteks lokal ini sekaligus menjadi solusi atas masalah pendanaan yang umumnya dialami oleh berbagai sekolah dasar di Indonesia. Disamping itu, alat peraga yang dikembangkan memiliki ciri-ciri yang diungkapkan oleh Montessori dengan kualitas yang sangat baik. Selain kualitas, 25

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI juga akan dilihat bagaimana dampak afektif pada siswa pada saat penggunaan alat peraga. 2.3 Pertanyaan-pertanyaan Penelitian 2.3.1 Bagaimana ciri-ciri alat peraga papan penjumlahan pengurangan yang sesuai dengan kebutuhan siswa, guru dan sekolah ? 2.3.2 Bagaimana jika ciri kontekstual ditambahkan pada alat peraga papan penjumlahan pengurangan ? 2.3.3 Bagaimana kualitas alat peraga papan penjumlahan pengurangan pada kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka ? 2.3.4 Bagaimana alat peraga papan penjumlahan pengurangan memberikan dampak pada hasil belajar anak ? 2.3.5 Bagaimana alat peraga papan penjumlahan pengurangan memberikan dampak pada ranah afeksi anak ? 26

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Pada bagian ini akan dibahas (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3) prosedur pengembangan, (4) uji validasi produk, (5) instrumen penelitian, (6) teknik pengumpulan data, (7) teknik analisis data, dan (8) waktu penelitian. 3.1 Jenis Penelitian Sugiyono (2011: 297-298) mengatakan bahwa penelitian yang hendak menciptakan suatu produk baru kemudian diuji tingkat efektivitasnya tergolong dalam Research and Development (R&D). Berbeda denganpengertian tersebut, D. Gall, P. Gall, &Borg (2007: 589) mengatakan bahwaResearch and Development adalah model pengembangan berbasis industri dengan menggunakan penelitian yang telah didesain untuk membuat produk baru dengan kefektivitasan, kualitas, dan standar tertentu. Pada penelitian ini, R and D lebih dipilih daripada kuantitatif maupun kualitatif. Kuantitatif lebih pada pengujian teori tertentu dan kualitatif yang lebih condong pada penciptaan teori atau melihat permasalahan dari berbagai persepektif (Creswell, 2012 & Sugiyono, 2011) Secara umum, penelitian R and D berawal dari melihat potensi masalah yang ada dalam realitas, melakukan analisis kebutuhan pada satu kelompok, kemudian membuat desain produk awal yang dianggap cukup representatif. Desain produk tersebut kemudian divalidasi oleh pakar ataupun para responden yang hendak menggunakan produk tersebut. Hasil dari validasi desain produk ini dijadikan landasan untuk membuat produk yang sebenarnya atau dapat disebut revisi desain produk. Pengujian dilapangan pada beberapa siswa dilakukan untuk menguji produk yang telah diproduksi. Pengujian ini dimaksudkan untuk melihat seberapa jauh produk yang dihasilkan dapat bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan responden. Pengujian dilakukan secara berulang hingga diperoleh produk akhir yang cukup komperhesif. Pada tahap ini, penelitiharus menyempurnakan produk berdasarkan pengujian dilapangan. Pengujian dapat dilakukan pada area yang lebih luas untuk mendapatkan hasil yang lebih meyakinkan. Produk akhir yang telah melalui beberapa kali revisi,dapat 27

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diproduksi secara masal dalam jumlah banyak (Sugiyono, 2011: 297-298). Meskipun demikian, tahapan pada penelitian ini hanya sampai pada pengujian produk secara terbatas. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu dan biaya. 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Subjek Penelitian Subjek penenelitian dalam penelitian R and D merupakan seseorang yang turut mengembangkan pada objek penelitian. Terdapat empat subjek dalam penelitian penelitian ini adalah pakar pembelajaran Montessori, pakar pembelajaran matematika, 5 siswa kelas I SDK Pugeran, satu orang guru kelas I SDK Pugeran, dan peneliti. 3.2.2 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalahpapan penjumlahan pengurangan untuk kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka kelas I. Seperti yang telah tertera dalam spesifikasi produk, papan penjumlahan dan pengurangan awalnya merupakan sebuah papan yang didesain hanya khusus untuk penjumlahan empat angka. Pada penelitian ini, peneliti mengembangkan kemampuan papan penjumlahan pengurangan sehingga dapat dipergunakan untuk melakukan penjumlahan dan penguranan empat angka. Meskipun demikian, papan penjumlahan pengurangan dapat juga digunakan untuk melakuakan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. 3.2.3 Lokasi Penelitian Uji lapangan terbatas pada penelitian berlangsung di SD Kanisius Pugeran Yogyakarta. Lokasi SD ini cukup strategis dan mudah dijangkau. SDK Pugeran memiliki jumlah siswa 202 anak beserta guru dan karyawan 18 orang. Desain bangunan SD ini berbentuk U dengan satu deret bangunan atau lima kelas berupa bangunan bertingkat. Pada tengah bangunan terdapat lapangan upacara. 3.2.4 Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan selama 8 bulan dari bulan September 2013 hingga Mei 2014. 28

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.3 Prosedur Pengembangan Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini mengadopsi dari dua model. Model pertama yaitu dari Borg dan Gall (1983:775-787) yang terdiri dari sebelas tahapan. Model kedua yaitu dari Sugiyono (2011: 289) yang terdiri dari sepuluh langkah. Langkah pengembangan pada model Borg dan Gall (1983: 775-787) adalah (1) pengumpulan informasi dan penelitian terkait, (2) perencanaan, (3) pembuatan produk, (4) pengujian lapangan terbatas, (5) revisi inti produk, (6) pengujian lapangan inti, (7) revisiproduk secara operasional, (8) pengujian lapangan secara operasional, (9) revisi akhir produk, (10) produk akhir, (11) disemidasi dan implementasi. Pengumpulan Informasi Perencanaan Pembuatan Produk Pengujian Lapangan terbatas Pengujian Lapangan secara Operasional Revisi Produk secara Operasional Pengujian Lapangan Inti Revisi Inti Produk Produk Akhir Diseminasi dan Implementasi Revisi Produk Akhir Bagan 3.1Model pengembangan Borg dan Gall (1983: 775) Model ini diawali dengan pengumpulan informasi berupa pecarian literasi terkait, observasi di sekolah, dan mencari penelitian terdahulu yang relevan. Kemudian dilanjutkan dengan perencanaan yang mencakup identifikasi skill yang diharapkan dan penentuan tujuan. Tujuan yang telah disusun kemudian dikonversikan pada sebuah produk yang dirancang sedemikian rupa. Produk tersebut juga disertai dengan instruksi penggunaan maupun alat evaluasi. Setelah produk selesai diproduksi, pengujian lapangan yang pertama siap untuk dilakukan. Menutut Borg dan Gall (1983: 775), pengujian lapangan pertama tersebut dilakukan pada 1 sampai tiga sekolah menggunakan enam sampai duabelas siswa tiap sekolahnya. Pada pengujian lapangan pertama tersebut, pengumpulan data dapat menggunakan wawancara, observasi dan kuesioner. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk menemukan apa saja yang harus 29

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diperbaiki dari produk tersebut. Perbaikan produk didasarkan pada hasil yang didapat pada pengujian lapangan pertama. Setelah revisi produk selesai, langkah selanjutnya adalah pengujian lapangan inti. Pengujian lapangan inti ini dilakukan pada lima hingga duabelas sekolah dengan 30 siswa tiap sekolahnya. Pada pengujian ini akan didapatkan data hasil pretest dan posttest. Hasil tersebut kemudian dikaji untuk melihat relevansinya dengan tujuan pembelajaran dan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari sekolah lain. Analisis data yang diperoleh dari pengujian lapangan, digunakan untuk merevisi produk secara operasional agar siap digunakan secara luas. Pengujian produk yang terakhir adalah uji coba lapangan secara operasionl. Uji coba lapangan ini dilakukan dengan jumlah responden 10 hingga 30 sekolah dengan total siswa mencapai 400 anak. Pada pengujian ini data dikumpulkan dengan wawancara, observasi, dan kuesioner yang kemudian akan dianalisis dan digunakan untuk revisi produk yang terakhir kalinya. Hasil revisi produk akhir merupakan produk yang siap digunakan secara luas. Meskipun demikian, produk tersebut masih perlu dideseminasikan sebelumakhirnya akan dipakai atau dijual pada seluruh sekolah sebagai produk yang valid (Borg & Gall, 1983: 775-786). Langkah prosedural mengenai penlitian dan pengembangan juga dikemukakan oleh sugiyono (2011: 297). Langkah tersebut diantaranya (1) mencari potensi masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba lapangan, (7) revisi produk, (8) uji coba pemakaian, (9) revisi produk, dan (10) produksi masal. Potensi Masalah Pengumpulan Data Desain Produk Validasi Desain Uji Coba Pemakaian Revisi Produk Uji Coba Lapangan Revisi Desain Revisi Produk Produksi Masal Bagan 3.2 Langkah Penelitian dan Pengembangan (Sugiyono, 2011: 298) 30

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tahap pertama merupakan identifikasi potensi masalah yang dipandang perlu dicarikan solusi. Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan data untuk mengtahui produk seperti apakah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dari data yang didapat akan direalisasikan dalam desain produk yang akan dikembangkan. Desain tersebut kemudian divalidasi dan direvisi sesuai dengan hasil validasi. Uji coba lapangan menjadi langkah selanjutnya ketika revisi desain telah selesai. Pada uji coba lapangan, peneliti mengujikan produk dalam lingkup kecil sehingga didapatkan data hasil pengujian yang akan digunakan untuk revisi produk. Produk yang telah direvisi kemudian diujicobakan dalam lingkup yang lebih luas untuk mengetahui tingkat efektivitas produk. Setelah didapatkan data, revisi akhir dilakukan untuk mempersiapkan produk yang akandiproduksi secara masal. Kedua model pengembangan di atas memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Model yang ditawarkan oleh Borg dan Gall (1983) nampaknya terlalu sulit untuk dilakukan karena dalam pengujianya produk dilakukan dengan jumlah responden yang sangat banyak. Meskipun demikian, model ini memiliki kelebihan pada sistematisasi langkah pengujian produk pada siswa sehingga memungkinkan peneliti untuk benar-benar menciptakan produk yang relevan dengan kebutuhan siswa. Model dari Sugiyono (2011) merupakan model yang sederhana dan nampak mudah untuk dipahami. Meskipun demikian, model ini belum menunjukan langkah jelas dalam proses pengumpulan data tahap kedua, instrumen pengumpul data apa yang sebaiknya digunakan oleh peneliti. Kedua model tersebut juga belum dilengkapi dengan tahap penyusunan instrumen penelitian. Maka, kedua model tersebut diadaptasi untuk menciptakan model pengembangan yang relevan dengan kebutuhan penelitian ini. Model pengembangan yang telah dimodifikasi dalam penelitian ini terdiri dari lima tahapan umum (1) kajian standar kompetensi dan kompetensi dasar, (2) analisis kebutuhan, (3) produksi alat peraga, (4) pembuatan instrumen validasi produk, dan (5) validasi alat peraga. Bagan tahapan peengembangan yang telah dimodifikasi dapat dlihat pada bagan 3.3 halaman 32. Tahap pertama yaitu kajian standar kompetensi dan kompetensi dasar dilakukan berdasar kurikulum KTSP. 31

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Bagan 3.3 Pengembangan yang sudah Dimodifikasi 32

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kajian dilakukan pada standar kompetensi 4. Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah dankompetensi dasar 4.4 melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Kajian pada SK dan KD tersebut meliputi materi dan penyusunan indikator ketercapaian. Tahap kedua yaitu analisis kebutuhan.Tahap ini diawali dengan menyusunan instrumen analisis kebutuhan. Instrumen analisis kebutuhan disusun berdasarkan pada hasil kajian pada karakteristik alat peraga Montessori dan karakteristik perkembangan anak pada usia kelas 1 atau 6 hingga 7 tahun. Instrumen yang telah disusun akan menjalani validasi oleh pakar pembelajaran matematika, pakar bahasa untuk tingkat keterbacaan, guru, dan siswa. Hasil validasi tersebut akan dijadikan dasar sebagai revisi agar terbentuk kuesioner yang siap pakai. Langkah terakhir pada tahap kedua ini adalah analisis kebutuhan pada sekolah yang telah dijadikan subjek penelitian. Tahap ketiga yaitu produksi alat peraga dan albumnya. Produksi alat peraga sendiri mengacu pada empat langkah pembuatan diantraranya (1) pembuatan desain, (2) konsultasi desain dengan pakar, (3) perevisian desain, (4) pengadaan bahan dasar, dan (5) pembuatan alat peraga. Desain alat peraga dan album didasarkan pada konsep alat peraga Montessori, filosofis pembelajaran Montessori, hasil analisis kebutuhan dan konsep pembelajaran matematika. Kemudian revisi desain dilakukan setelah mendiskusikan rancangan desain dengan pakar. Setelah didapat desain yang cukup komperhensif, pengadaan bahan dasar akan dilakukan dan alat peraga akan segera diproduksi. Sementara, album alat peraga akan segera dibuat setelah pembuatan desain konsep telah dirasa cukup. Tahap keempat dalam proses pengembangan ini adalah penyusunan instrumen validasi produk. Instrumenyang akan digunakan adalah tes uraian, kuesioner, wawancara, dan observasi. Pada instrumen tes dan kuesioner dilakukan validasi,namun pada instrumen wawancara dan observasi tidak dilakukan validasi. Instrumen tes melalui dua tahap validasi yaitu validasi oleh pakar pembelajaran matematikan dan uji validitas, reliabilitas secara empiris. Instrumen kuesioner melalui empat tahap validasi, oleh pakar pembelajaran matematika, pakar bahasa, guru dan siswa. Setelah data terkumpul,akan dilakukan analisis sebagai dasar 33

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI perbaikaninstrumen. Instrumen yang telah selesai diperbaikiakan dipakai sebagai alat pengumpul data saat validasi produk papan penjumlahan dan pengurangan. Tahap terakhir atau tahap kelima adalah validasi alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan. Langkah pertama pada tahap ini adalah uji validasi produk oleh pakar. Pakar yang dimaksud adalah pakar pembelajaran matematika, pakar pembelajaran Montessori, dan guru kelas. Data yang berupa skor dan komentar akan dianalisis dan dijadikan dasar untuk perbaikan atau revisi produk pertama. Produk yang telah diperbaiki siapuntuk menjalani uji coba lapangan terbatas. Uji coba lapangan terbatas ini dilakukan pada kelompok siswa yang akan belajar penjumlahan dan pengurangan dua angka dengan menggunakan papan penjumlahan pengurangan. Pengumpulan data pada tahap ini dilakukan dengan 4cara yaitu tes, kuesioner, observasi dan wawancara. Data yang terkumpul akan dianalisis sebagai acuan revisi produk dua. Hasil revisi produk tersebut akan menghasilkan prototipealat peraga matematika. Tahap pengembangan penelitian ini hanya sampai pada prototipe produk. Hal ini dilakukan karena terbentur oleh minimnya biaya dan keterbatasan waktu dari peneliti. 3.4 Uji Validasi Produk Uji validasimerupakan usaha yang dilakukan peneliti untuk mengetahui derajat ketepatan atau sejauh mana produk yang telah yang telah dibuat oleh peneliti sesuai dengan konsep matematika dan tingkat perkembangan anak (Sugiyono, 2011: 302). Berdasar pada pengertian tersebut, peneliti berusaha melakukan uji validasi produk padapakar, guruSD yang bersangkutan, dan uji coba lapangan terbatas. Ketiga cara tersebut ditempuh peneliti untuk melihat tanggapan dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Diharapkan pula, hasil yang diperoleh akan mampu mengakomodasi kebutuhan siswa akan alat peraga pembelajaran matematika. 3.4.1 Uji Validasi Produk oleh Pakar Pakar diikutsertakan dengan tujuan untuk mengetahui kesesuaian antara teori pembelajaran Montessori maupun pembelajaran matematika dengan produk alat peraga papan penjumlahan pengurangan yang telah dibuat. Pakar yang telah ditunjuk dapat memberikan penilaian dan saran yang harus ditempuh peneliti 34

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI untuk menyempurnakan papan penjumlahan pengurangan sebelum diujikan pada siswa secara terbatas. Penyempurnaan tersebut terangkum dalam revisi produk pertama. 3.4.2 Uji Validasi Produk melalui Uji Coba Lapangan Terbatas Produk yang telah divalidasi oleh pakarakandiujikan pada lima siswa kelas I SD Kanisius Pugeran. Sebelumya, peneliti memastikan bahwa produk telah direvisi sesuai dengan hasil penilaian dan saran dari pakar dan guru. Uji validasi diawali dengan mengajukan soal pretest kepada keenam siswa tersebut. Kemudian peneliti melakukan presentasi cara menggunakan papan penjumlahan dan pengurangan pada kelima siswa tersebut dalam empat pertemuan. Sistem pengajaran dilakukan pada masing-masing individu dalam kelompok sehingga siswa yang lain dapat memperhatikan ketika satu siswa mempergunakan papan penjumlahan pengurangan. Peneliti akan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran Montessori sesuai yang telah dikemukakan dalam landasan teori. Uji validasi ini diakhiri dengan posttest yang memiliki item sama dengan pretest. Hasil kerja siswa akan dianalisis apakah terdapat peningkatan kemampuan siswa dalam kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka. 3.5 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan salah satu langkah dalam penelitian yang amat penting dan menentukan. Instrumen yang valid dan reliabel belum tentu dapat memperoleh data yang sesuai jika pengumpulan datanya tidak tepat. Teknik pengumpulan data secara umum dapat digolongkan menjadi dua jenis berdasar sumber pengumpul (Sugiyono, 2011: 137). Sumber pengumpul data terdapat digolokan menjadi dua jenis yaitu (1) sumber primer dan (2) sumber sekunder. Sumber primer merupakan pengumpulan data yang langsung diambil dari narasumber atau subjek sedangkan sumber sekunder merupakan pengumpulan data yang tidak langsung melalui orang yang mengumpulkan data melainkan melalui orang lain atau dokumen. Pada penelitian ini pengumpulan dilakukan melalui sumber primer sehingga peneliti langsung mengambil data dari berbagai narasumber yang telah ditetapkan. Berikut merupakan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini. 35

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.5.1 Kuesioner Kuesioner digunakan untuk melihat tangapan pakar dan guru saat uji validitas alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan. Selain itu, kuesioner juga digunakan dalam analisis kebutuhan. Dalam kuesioner validasi produk, terdapat kolom komentar yang dapat diisi oleh validator guna memperoleh data untuk perevisian produk. 3.5.2 Dokumentasi Dokumentasi pada penelitian ini adalah hasil pretest dan posttest pada saat pengujian lapangan terbatas. Dokumentasi ini berguna untuk melihat ada atau tidaknya peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan papan penjumlahan dan pengurangan. 3.5.3 Wawancara Wawancara dilakukan dua kali yaitu pada saat analisis kebutuhan dan sesudah uji coba lapangan terbatas. Wawancara analisis kebutuhan dilakukan pada guru kelas untuk mengetahui alat peraga seperti apayang dibutuhkan oleh siswa kelas I SDKPugeran. Wawancara yang kedua dilakukan untuk mengkonfirmasi hasil pretest dan posttest sekaligus mengetahui dampak afeksi dari penggunaan papan penjumlahan pengurangan. 3.5.4 Observasi Observasi dilakukan selama pengujian produk pada lapangan terbatas. Observasi ini bertujuan untuk memperoleh kencenderungan responden yang mengarah pada perubahan afektif saat menggunakan alat peraga papan penjumlahan pengurangan. 3.6 Instrumen Penelitian 3.6.1 Jenis Data Pengunaan metode campuran jenis Research and Development pada penelitian ini menghasilkan data kualitatif dan kuantitatif(Creswell, 2012:310311). Data kualitatif merupakan data yang berupa angka yang jelas dan tidak menuntut interpretasi mendalam. Sedangkan data kualitatif merupakan data yang berupa pernyataan-pernyataan fakta yang menuntut interpretasi. Data kuantitatif diperoleh dari validasi pakar bahasaterhadap kuesioner analisis kebutuhan,validasi 36

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pakar bahasa terhadap kuesioner untuk validasi produk, hasil kuesioner validasi produk oleh pakar, validitas dan reliabilitasitem pretest dan posttest, hasil pretest dan posttest, validasi pakar bahasa terhadap kuesioner validasi produk oleh siswa, dan hasil kuesioner validasi produk oleh siswa. Sementara data kualitatif dihasilkan dari komentar pakar dan guru dalam uji validasi kuesioner analisis kebutuhan, komentar pakar bahasa dan guru dalam uji validasi kuesioner untuk uji validasi produk oleh pakar, komentarpakar, guru, dan siswa dalam uji validasi produk, hasil wawancara, dan hasil observasi. 3.6.2 Instrumen Pengumpul Data Instrumen penelitian merupakan satu alat pengumpul data dengan kriteria tertentu dan dibuat untuk mengukur fenomena alam atau sosial yang ingin diamati (Sugiyono, 2011:102). Fenomena atau variabel pada penelitian ini adalah objek penelitian yaitu papan penjumlahan pengurangan untuk kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka. Instrumen yang dikembangkan oleh peneliti meliputi kuesioner, tes, wawancara, dan observasi. 3.6.2.1 Kuesioner Kuesioner merupakan salah satu alat ukur non tes yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan untuk dijawab oleh responden (Sugiyono, 2011: 142). Pertanyaan-pertanyaan tersebut disusun berdasarkan indikator-indikator yang mewakili variabel dalam penelitian. Prinsip-prinsip penulisan kuesioner diantaranya (1) isi dan tujuan pertanyaan jelas (2) bahasa yang digunakan sesuai dengan kemampuan responden, (3) tipe dan bentuk pertanyaan jelas, (4) pertanyaan tidak mendua, (5) tidak menanyakan hal yang sudah dilupakan, (6) urutan pertanyaan dari hal umum ke khusus (7) penampilan fisik kuesioner baik (Sugiyono, 2011: 142-144). Terdapat tiga macam kuesioner dalam penelitian ini (1) kuesioner analisis kebutuhan, (2) kuesioner uji validitas produk untuk pakar dan guru, dan (3) kuesioner untuk siswa pada uji coba lapangan terbatas untuk siswa. Kuesioner analisis kebutuhan berupa seperangkat pertanyaan untuk mengetahui seperti apakah alat peraga yang dibutuhkan oleh guru dan siswa. Kuesioner ini terdiri dari sepuluh pertanyaan yang mewakili karakteristik alat peraga Montessoridengan tipe kuesioner multiple choice. Kuesioner validasi produk oleh pakar merupakan 37

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI seperangkat pertanyaan untuk mengetahui kesesuaian alat peraga dengan konsep yang ingin disampaikan pada pembelajaran matematika dan kesesuaian dengan dasar fiolosofi metode Montessori. Kuesioner ini terdiri dari sepuluh pertanyaan yang mewakili keabsahan alat peraga dengan tipe rating scale. Meskipun bertiperating scale, dalam kuesioner responden dapat memberikan komentar baik secara umum atupun secara khusus sesuai dengan pernyataan dalam kuesioner. Kuesioner terakhir dipergunakan pada saat uji coba lapangan terbatas yang diisi oleh siswa. Kuesioner ini bertujuan untuk memberikan data sebagai dasar evaluasi dan revisi akhir alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan dengan tipe kuesioner sama dengan yang digunakan pada uji validasi produk oleh pakar. Berikut merupakan kisi-kisi kuesioner analisis kebutuhan dan validasi produk. Tabel 3.1 Kisi-kisi Kuesioner Analisis Kebutuhan untuk Guru dan Siswa Indikator Auto-education Auto-correction Menarik Bergradasi Kontekstual Deskriptor 1. Penggunaan alat peraga matematika 2. Belajar secara mandiri 1. Membantu menemukan kesalahan sendiri 2. Membantu menemukan jawaban yang benar 1. Memiliki warna 1. Dapat digunakan untuk lebih dari satu kompetensi 2. Berat alat peraga 1. Memanfaatkan benda dari lingkungan sekitar Nomor Item 1 dan 2 7 dan 8 3 dan 4 5 dan 6 9 dan 10 Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner Validasi Produk untuk Pakar, Guru dan Siswa Indikator Auto-education Auto-correction Menarik Bergradasi Kontekstual Deskriptor 1. Membantu siswa memahami kosep matematika 2. Siswa belajar secara mandiri 1. Membantu siswa menemukan kesalahan sendiri 2. Membantu siswa menemukan jawaban yang benar 1. Memiliki warna yang menarik siswa 2. Bentuk menarik siswa untuk belajar 1. Dapat digunakan untuk kompetensi dasar yang berbeda 2. Memiliki berat yang sesuai dengan siswa 1. Memanfaatkan benda dari lingkungan sekitar 2. Dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar Nomor Item 1 dan 2 7 dan 8 3 dan 4 5 dan 6 9 dan 10 38

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kisi-kisi pada tabel 3.1 dan 3.2 terdiri dari 5 indikator yang dijabarkan dalam deskriptor-deskriptor. Secara umum baik kuesioner analisis kebutuhan dan validasi produk tidak jauh berbeda. Terdapat beberapa perbedaan pada deskriptor yang disesuaikan dengan keperluan kuesioner. Perbedaan tersebut terletak pada indikator menarik dan kontekstual yang pada alalisis kebutuhan hanya dijabarkan dengan 1 deskriptor sedangkan pada validasi produk dijabakan dengan 2 deskriptor. 2.6.2.2 Tes Uraian Instrumen pengumpul data yang kedua adalah tes. Tes merupakan prosedur sistematik yang berisi sampel prilaku dengan tujuan untuk mengukur prilaku (Azwar, 2012: 3). Prosedur sistematik berarti (1) item yang ada didalam tes disusun berdasarkan aturan tertentu, (2) prosedur administrasi tes dan skoring harus jelas, (3) setiap orang yang mengerjakan tes tersebut harus mengalami kondisi yang sama dan sebanding dengan peserta tes lainya. Sampel prilaku berarti (1) kesadaran bahwa seluruh item yang terdapat dalam tes tidaklah mencakup keseluruan materi dan (2) keterwakilan item yang representatif menentukan kelayakan suatu tes. Tujuan dari tes ini adalah mengukur perilaku dengan meminta subjek untuk menunjukan pencapaian dari apa yang telah di pelajari sebelumnya (Azwar, 2012: 3). Pada penelitian ini,instrumen tes digunakan untuk menguji kemampuan sebelum dan sesudah siswa belajar penjumlahan dan pengurangan dua angka dengan menggunakan papan penjumlahan pengurangan. Jenis tes yang digunakan adalah tes performansi maksimal berupa tes uraian. Tes tersebut berguna untuk mengukur apa yang mampu dilakukan seseorang dan seberapa baik ia mampu melakukakannya (Azwar, 2012: 5). Tes uraian sendiri merupakan bentuk tes yang memberikan kebebasan pada peserta tes untuk mengorganisasikan dan mengekspresikan pikiran dan gagasanya (Widoyoko, 2012: 79). Tes yang dilakukan sebelum siswa menggunakan papan penjumlahan dan pengurangan disebut pretest dan sesudahnya disebut posttest. Pretest dan posttest berisi item yang sama sehingga terlihat adanya peningkatan atau tidak. Hasil perbandingan pretest dan posttest tersebut akan dijadikan referensi untukevaluasi dan revisi 39

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI akhir produk papan penjumlahan pengurangan. Tes tersebut terdiri dari 23 item dengan kisi-kisi sesuai dengan materi pada kurikulum KTSP Kisi-kisi tes uraian dari SK. 4. Melakukan penjumlahan dan pengurangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah dan KD. 4.4 Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka sebelum uji validitas dan reliabilitas dapat dilihat pada tabel 3.3. Pada tabel tersebut terdapat 6 indikator yang masing-masing memiliki dua deskriptor. Tabel 3.3 Kisi-kisi Tes Uraian Indikator Diskriptor Melakukan penjumlahan dua angka tanpa teknik menyimpan Melakukan penjumlahan dua angka dengan teknik menyimpan Melakukan pengurangan dua angka tanpa teknik meminjam Melakukan pengurangan dua angka dengan teknik meminjam Melakukan penjumlahan dalam penyelesaian masalah Melakukan pengurangan dalam penyelesaian masalah Penjumlahan satu angka dengan dua angka Penjumlahan dua angka dengan dua angka Penjumlahan satu angka dengan dua angka Penjumlahan dua angka dengan dua angka Pengurangan dua angka dengan satu angka Pengurangan dua angka dengan dua angka Pengurangan dua angka dengan satu angka Pengurangan dua angka dengan dua angka Penjumlahan dua angka tanpa teknik menyimpan Penjumlahan dua angka dengan teknik menyimpan Pengurangan dua angka tanpa teknik meminjam Pengurangan dua angka dengan teknik meminjam Nomor Item 7 dan 8 2 dan15 9 dan 10 3 dan 16 11 dan 12 4 dan 17 13 dan 14 18 dan 19 20 21dan 22 23 24 dan 25 Meskipun KD yang dipilih bukan merupakan KD yang berkaitan dengan menyelesaikan masalah, peneliti memasukan indikator yang berkaitan dengan menyelesaikan masalah. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk membuat konstrak yang baik pada instrument tes. 2.6.2.3 Wawancara Esterberg (dalam Sugiyono, 2011: 231) mengungkapkan bahwa wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan gagasan berdasarkan pertanyaan dan jawaban yang menghasilkan konstruksi 40

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI makna dari topik yang sedang dibicarakan. Wawancara terbagi dalam tiga jenis yaitu (1) wawancara terstruktur, (2) wawancara semiterstruktur, (3) wawancara tak berstruktur. Wawancara terstruktur merupakan jenis wawancara dengan pewawancara telah mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan. Hal ini dilakukan pewawancara yang sudah mengetahui informasi apa yang dibutuhkan dari narasumber. Wawancara semiterstruktur merupakan jenis yang lebih terbuka dalam mengungkapkan jawaban. Artinya narasumber dapat mengungkapkan ideidenya dan dicatat semiterstruktur, oleh Wawancara pewawancara. tak berstruktur Berbeda dengan membebaskan wawancara pewawancara menanyakan apapun yang ingin ditanyakan. Sehingga pewawancara dapat mengetahui informasi secara mendalam (Sugiyono, 2011: 233-234). Penelitian ini menggunkan jenis wawancara tak berstruktur. Wawancara dilakukan pada analisis kebutuhandan uji coba lapangan terbatas. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada dampak afektif yang ditimbulkan dari penggunaan papan penjumlahan dan pengurangan. Wawancara yang dilakukan peneliti lebih bersifat konfirmatif pada apa yang telah didapat melalui tes, kuesioner dan apa yang telah diinterpretasikan oleh peneliti. Interpretasi peneliti yang dimaksud adalah dampak afektif yang ditimbulkan dari penggunaan papan penjumlahan dan pengurangan. Kisi-kisi wawancara dapat dilihat pada lampiran 7.1 halaman 143. 2.6.2.4 Observasi Observasi terbagai dalam tiga jenis diantaranya (1) observasi partisipatif, (2) observasi terus terang dan tersamar, (3) observasi tak terstruktur (Faisal dalam Sugiyono, 2011: 226). Observasi partisipatif merupakan observasi dengan pengamat turut melakukan apa yang dilakukan oleh objek yang diamati. Jenis observasi ini terbagi dalam observasi yang pasif, moderat, aktif, dan lengkap. Observasi terang tersamar merupakan jenis observasi dimana pengamat menyatakan diri sedang mengamati objek untuk keperluan tertentu, sehingga objek mengetahui bahwa ia sedang diamati. Terakir adalah observasi tak berstruktur. Observasi ini dilakukan karena fokus penelitian belum jelas, sehingga observasi dapat berkembang saat observer terjun langsung ke lapangan (Sugiyono, 2011: 227-288). 41

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penelitian ini menggunakan observasi partisipatif dengan jenis observasi aktif. Peneliti merupakan observer sekaligus pendidik dalam bimbingan kelompok yang dilakukan oleh lima siswa pada uji lapangan terbatas. Oleh sebab itu, peneliti ikut terlibat dalam aktivitas responden namun tidak semua yang responden lakukan juga dilakukan oleh peneliti. Kisi-kisi observasi dapat dilihat pada lampiran 7.1halaman 145. 3.6.3 Uji Validitas Instrumen Penelitian Uji validitas instrumen penelitian bertujuan untuk menghasilkan instrumen yang sesuai dengan tujuan pengumpulan data. Suatu instrumen dapat dikatakan valid apabila instrumen tersebut mampu menjalankan fusngsinya untuk memberikan hasil ukur yang tepat dan akurat sesuai dengan maksud yang dikenakan instrumen tersebut (Azwar, 2012: 174). Pada instrumen yang berjenis kuesioner dilakukan pengujian pada siswa SD. Pada instrument tes dilakukan validitas isi, konstrak, dan validitas empiris. Validitas isi dapat menunjukan sejauh mana pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun mencakup kawasan isi yang hendak diukur. Selain itu, validitas isi juga berguna untuk memberi batasan agar item-item selalu relevan dengan tujuandan materi ajar (Widoyoko, 2012: 129-130). Validasi isi dan konstrak tersebut dilakukan dengan expert judgement. Sementara validitas empiris dilakukan dengan uji coba lapangan untuk melihat apakah instrumen perlu perbaikan atau tidak (Widoyoko, 2012:131-135). Pada penelitian ini, Kuesioner analisis kebutuhan dan validasi produk melalui uji coba yang dilakukan oleh pakar ketatabahasaan, guru dan siswa pada SD lain yang dianggap setara dengan SD Kanisius Pugeran Yogyakarta. Pengujian ini selanjutnya disebut uji keterbacaan. Uji keterbacaan ini dilakukan pada guru dan siswa untuk mengetahui apakah kata-kata yang digunakan dalam kuesioner dapat dipahami oleh responden atau tidak. Sehingga responden dapat memberikan saran dan rekomendasi-rekomendasi untuk perbaikan kuesioner (Borg & Gall, 2007: 236-237). Pada instrumen yang berjenis tes, validasi dilakukan terhadap isi, konstrak, dan empiris. Validitas isi dan konstrak dilakukan oleh pakar untuk melihat tingkat keterbacaan item, relevansi indikator dengan item, dan sejauh mana item-item dalam tes mengukur setiap aspek berpikir. Setelah validitas isi dan konstrak dilakukan, uji coba lapangan pada 30 sampai 50 42

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI siswa pada SD yang dianggap setara. Validasi empiris pada item-item soal dilakukan dengan menggunakan uji validitas instrumen. Data yang telah terkumpul pada uji validitas empiris, kemudian diolah dengan menggunakan program IBM SPSS Statistic 20 for Windowsdengan teknik korelasi product moment dari Carl Pearson. Dari pengolahan data tersebut akan diketahui manakah item yang valid dan mana item yang layak digunakan dengan cara membandingkan r hitung dan r tabel. Jika r hitung > r tabel maka item tersebut dikatakan valid atau jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 item dikatakan valid (Widoyoko, 2012: 137). Instrumen wawancara ini terdiri dari lima pertanyaan pokok mengenai sikap-sikap yang kemungkinan timbul saat siswa menggunakan alat peraga papan penjumlahan pengurangan. Kelima pertanyaan tersebut dapat berkembang secara situasional sesuai dengan jawaban responden. Instrumen wawancara tidak melalui proses validasi karena instrumen wawancara khususnya wawancara tak terstruktur yang biasa digunakan oleh peneliti kualitaif adalah peneliti itu sendiri (Krathwohl, 2004: 299). Hal tersebut dikarenakan peneliti merupakan penginterpretasi dari data yang ada. 3.6.4 Reliabilitas Instrumen Penelitian Instrumen penelitian dikatakan reliabel bila instrumen tersebut mampu menghasilkan data yang relatif sama jika berkali-kali diujikan pada objek yang sama (Sugiyono, 2011: 120-122). Instrumen penelitian yang akan melalui tahap reliabilitas adalah tes uraian. Perhitungan reliabilitas instrumen tersebut menggunakan analisis statistika dengan program IBM SPSS Statistic 20 for Windows dengan acuan koefisien reliabilitas menurut Nunnally (dalam Ghozali 2009: 46) yaitu saat harga konstrak > 0,600 instrumen dikatakan reliabel. 3.7 Teknik Analisis Data Analisis data merupakan satu tahapan dimana penelitimengelompokan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data, menyajikan data, dan melakukan perhitungan dan analisa untuk menjawab rumusan masalah. Analisis data dilakukan setelah data dari semua responden pada tiap tahap pengembangan telah terkumpul (Sugiyono, 2011: 147). Penelitian ini 43

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menggunakan sampel dalam pengujian produk papan penjumlahan dan pengurangan, maka dari itu diperlukan statistik diskriptif untuk mendeskripsikan data yang telah didapat dan menyimpulkannya tanpa mengeneralisir untuk keseluruhan populasi. Melalui statistik deskriptif, akan disajikan data berupa grafik, bagan, tabel, dan perhitungan rerata yang didapat dari data di lapangan. Maka,kecenderungan umum responden dalam menanggapi produk papan penjumlahan dan pengurangan baik itu pakar, guru, dan siswa juga dapat dilihat dari hasil perhitungan yang dilakukan. 3.7.1 Data Kuantitatif dan Kualitatif pada Hasil Kuesioner Analisis data kualitatif pada kuesioner analisis kebutuhan dan kuesioner validasi produk dilakukan dengan melihat bagaimana kesesuaian komentar, saran, kritik dengan filosofis Montessori, ciri alat peraga Montessori, tingkat perkembangan anak dan berbagai pertimbangan lain yang dianggap perlu. Jika komentar, saran dan kritik tersebut dirasa relevan akan dilakukan perevisian pada produk atau dikonfirmasi dengan teori-teori yang relevan. Analisis data kuantitaif pada kuesoner analisis kebutuhan dilakukan dengan mempersentasekan data yang didapat. Persentase ini dilakukan untuk menyimpulkan apa yang menjadi kebutuhan siswa dan guru. Berikut merupakan perhitungan yang digunakan pada kuesioner analisis kebutuhan. Persentase jawaban item nomor x : x 100% Gambar 3.1 Persentase Jawaban Siswa Keterangan : x: aitem nomor tertentu Sementara data kuantitatif pada kuesioner validasi produk oleh pakar, guru, dan siswa akan dikonversikan menjadi data kualitatif untuk melihat kualitas alat peraga yang telah diproduksi. Pengkonversian tersebut mengacu pada Sukardijo (2008: 10). Tabel konversi dapat dilihat pada halaman 45. Skala kualitatif yang digunakan untuk menentukan kualitas produk papan penjumlahan pengurangan ada lima yaitu sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan Tidak baik. Sangat baik berarti alat peraga telah sempurna dan siap 44

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 3.4 Konversi Data Kuantitatif ke Kualitatif Interval X + ̅ 1,80 Sbi ̅ + 0,60 Sbi< X ≤ ̅ + 1, 80Sbi ̅ – 0,60 Sbi < X ≤ ̅ + 0,60Sbi ̅ – 1,80 Sbi < X ≤ ̅ – 0,60Sbi X ≤ ̅ – 1,80Sbi Kategori Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak baik Keterangan : Rerata ideal ̅ ) : (skor maksimal ideal + skor minimal ideal) X : Skor aktual Simpangan baku ideal (Sbi) : (skor maksimal ideal - skor minimal ideal) untuk digunakan, baik apabila alat peraga telah memenuhi keriteria-kriteria yang ditentukan namun belum sempurna. Cukup apabila alat peraga sesuai apa yang diharapkan pada analisis kebutuhan. Kurang baik apabila alat peraga dapat digunakan namun masih mengandung banyak kekurangan sehingga harus diperbaiki. Tidak baik apabila alat peraga tidak benar-benar sesuai dengan karakteristik dan tidak memiliki dampak apapun bagi responden. 3.7.2 Data Kuantitatif pada Hasil Tes Instrumen tes sebelum validasi mengandung 23 item uraian yang wajib diisi oleh siswa. Sistem penskoran setiap item sebagai berikut. Tabel 3.5 Pensekoran Instrumen Tes Skor Kriteria 4 Langkah-langkah benar dan jawaban benar 3 Langkah-langkah benar dan jawaban salah 2 Langkah-langkah salah dan jawaban benar 1 Langkah-langkah salah dan jawaban salah Setiap siswa akan dihitung nilainya berdasar rumus. Nilai = Gambar 3.2 Nilai Siswa pada Instrumen Tes Setelah nilai seluruh siswa terpetakan akan dihitung rerata satu kelas dengan menggunakan rumus. 45

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Rerata = Gambar 3.3 Rerata Keseluruhan Siswa Rerata dari pretest dan posttest akan dibandingkan dengan menggunakan diagram batang untuk melihat persentase peningkatan yang dihitung dengan rumus Gambar 3.4 Persentase Kenaikan Pretest ke Postest Dengan terlihatnya peningkatan pada masing-masing siswa,akan diketahui apakah alat peraga papan penjumlahan pengurangan memberikan dampak pada ranah kognitif anak atau tidak. Jika memang tidak terjadi peningkatan, maka perlu ada kajian tersendiri. 3.7.3 Data Kualitatif pada Hasil Wawancara dan Observasi Data hasil wawancara dan observasi akan dianalisis menggunakan teknik triangulasi berdasar narasumber. Triangulasi merupakan salah satu teknik pengecekan data dari berbagai sumber (Wiersma dalam Sugiyono, 2011: 273). Wawancara pada penelitian ini bersifat konfirmasi pada apa yang telah diinterpretasikan oleh peneliti. Oleh karena itu teknik triangulasi dikunakan untuk mengetahui bagaimana kesesuaian interpretasi peneliti dengan pendapat guru dan keadaan siswa. Berikut merupakan bagan dari teknik triangulasi. Interpretasi Peneliti Interpretasi guru Keadaan siswa Bagan 3.4 Teknik Triangulasi Berdasar Sumber Data Dari bagan 3.4 terlihat terdapat tiga kotak yang sama. Kotak-kotak tersebut melambangkan masing-masing pihak yang memiliki pandangan atau pendapat dari alat peraga papan penjumlahan pengurangan. Peneliti mempunyai interpretasi mengenai dampak afektif dari pelaksanaan uji coba lapangan terbatas. 46

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kemudian interpretasi tersebut diuji kebenarannya dengan memadukan apa yang diinterpretasikan guru yang didapat melalui wawancara dan keadaan siswa yang didapat melalui wawancara. Melalui perbandingan data dari ketiga sumber tersebut,akan didapatkan kesimpulan apa saja dampak afektif dari penggunaan papan penjumlahan dan pengurangan,sehingga akan diketahui mana saja pandangan yang sama atau kurang sesuai. Analisis akan diungkapkan dalam bentuk diskriptif yang mengrucut pada kesimpulan dampak yang dihasilkan. 47

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dibahas (1) kajian standar kompetensi dan kompetensi dasar, (2) analisis kebutuhan, (3) produksi alat peraga papan penjumlahan pengurangan, (4) pembuatan instrumen validasi produk, (5) validasi alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan, (6) uji coba lapangan terbatas, (7) dan kajian produk akhir. 4.1 Kajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kajian Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) diawali dengan pemilihan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pemilihan ini dilakukan bedasar pada waktu pelaksanaan penelitian. Peneliti akan melakukan penelitian pada tahun ajaran 2013/2014 sehingga standar kompetensi yang dipilih yaitu 4. Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah dengan kompetensi dasar 4.4 Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Kompetensi Dasar ini merupakan kompetensi dasar yang bersyarat. Siswa harus terlebih dahulu menguasai tiga KD sebelumnya agar dapat menguasai penjumlahan dan pengurangan. Kompetensi Dasar yang harus dikuasai tersebut adalah membilang banyak benda, mengurutkan banyak benda, dan menentukan nilai tempat puluhan dan satuan. Penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka mencakup empat materi yaitu penjumlahan tanpa teknik menyimpan, pengurangan tanpa teknik meminjam, penjumlahan dengan teknik menyimpan, dan pengurangan dengan teknik meminjam. Berdasar materi tersebut peneliti mengembangkan beberapa indikator kognitif yang mereprsentasikan kompetensi dasar tersebut. Indikator tersebut diantaranya melakukan penjumlahan dua angka tanpa teknik menyimpan, melakukan penjumlahan dua angka dengan teknik menyimpan, melakukan pengurangan dua angka dengan teknik meminjam, melakukan penjumlahan dalam penyelesaian masalah, dan melakukan pengurangan dalam penyelesaian masalah. 48

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2 Analisis Kebutuhan Anaisis kebutuhan dilakukan sebelum produksi alat peraga. Hal ini berguna untuk mengetahui kebutuhan akan alat peraga pada siswa kelas 1 SDKanisius Pugeran, Yogyakarta. Instrumen yang digunakan sebagai pengumpul data adalah kuesioner dan wawancara. 4.2.1 Pembuatan Instrumen Analisis Kebutuhan Instrumen analisis kebutuhan yang digunakan adalah kuesioner dan wawancara. Kedua instrumen tersebut diberikan kepada siswa dan guru di SDK Pugeran. Kuesioner disusun berdasarkan dua aspek yang berkaitan langsung dengan desain alat peraga yang akan diproduksi yaitu karakteristik alat peraga Montessori dan karakteristik siswa. Hasil analisis karakteristik alat peraga Montessori didapati empat ciri utama yaitu menarik, bergradasi, auto-correction, dan auto-education (Montessori, 1964: 169-179). Meskipun demikian, peneliti menambahkan satu ciri yaitu kontekstual pada alat peraga. Sementara hasil analisis perkembangan siswa kelas I SD menunjukan bahwa pada usia tersebut siswa belum sepenuhnya mampu untuk berpikir abstrak, mudah tertarik pada hal yang unik, dan daya eksplorasinya tinggi (Suparno, 2001: 69-70). Konten kuesioner untuk siswa disusun berdasar pada kelima karakteristik alat peraga Montessori dan menghasilkan 10 item kuesioner, sedangkan penggunaan bahasa, tata tulis, dan format penyajian disusun berdasar analisis perkembangan siswa. Kuesioner yang telah disusun, kemudian diuji keterbacaannya pada sepuluh siswa kelas I dan 1 guru kelas II SDK Kumendaman, Yogyakarta. SDK Kumendaman dipilih karena peneliti memandang bahwa sekolah tersebut kurang lebih setara dengan SDK Pugeran. Hal tersebut terlihat dari lokasinya yang saling berdekatan dalam satu Unit Pelayanan Terpadu (UPT), satu yayasan yaitu Yayasan Kanisius yang memiliki kurikulum relatif sama, dan dipimpin oleh kepala sekolah yang sama. Penentuan kelayakan kuesioner setelah uji keterbacaan dilakukan dengan mengkonversikan skor yang diperoleh ke dalam kategori-kategori yang telah ditentukan. Cara ini dilakukan untuk menentukan kelayakan semua kuesioner yang dipakai dalam penelitian ini. Hasil konversi data kuesioner dapat dilihat pada tabel 4.6 halaman 65. Pada tabel Tabel 4.6terlihat 5 kategori kelayakan instrumen 49

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yaitu kategori “sangat baik” berarti keseluruhan instrument sangat layak digunakan dan siap digunakan tanpa revisi, kategori “baik” berarti instrumen layak digunakan dan siap digunakan namun dengan sedikit revisi pada beberapa bagian, kategori “cukup baik” berarti instrumen cukup layak digunakan dengan revisi pada konten dan tata bahasa, kategori “kurang baik” berarti instrumen layak digunakan namun dengan revisi secara keseluruhan, sementara instrumen “tidak baik” berarti instrumen harus diganti. 4.2.1.1 Hasil Uji Keterbacaan Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa Tabel 4.1merupakan tabulasi uji keterbacaan kuesioner analisis kebutuhan. Tabel tersebut menunjukan bahwa item nomor 2 merupakan item dengan rerata skor 3 yang merupakan terendah jika dibandingkan dengan 9 item yang lain. Meskipun demikian, berdasar tabel 4.6 halaman 65 konversi data dari kualntitatif ke kualitatif, rata-rata nilai yang didapat menyatakan bahwa kueisoner analisis kebutuhan “sangat baik” sehingga kuesioner sangat layak digunakan. Tabel 4.1 Tabulasi Uji Keterbacaan KuesionerAnalisis Kebutuhan untuk Siswa Responden 1 Siswa 1 2 Siswa 2 3 Siswa 3 Jumlah No 1 4 4 4 12 2 2 4 3 9 3 3 4 4 11 Skor tiap Pertanyaan 4 5 6 7 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 12 11 11 12 8 3 4 4 11 9 3 4 4 11 10 4 4 4 12 Rerata 3.3 4 3.9 3,73 Kualifikasi Baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Pertanyaan nomor yang lain sudah mendapatkan rerata skor yang tinggi, namun perlu ada beberapa revisi susunan kalimat dan format kuesioner secara keseluruhan. Hal tersebut didasarkan pada saat pengujian keterbacaan kuesioner dilakukan, kebanyakan siswa tidak mampu memahami pernyataan dalam kuesioner jika tidak diberi penjelasan oleh peneliti. Susunan kalimat yang diperbaiki antara lain pada item nomor 1, 5, 6, 8, dan 9. Pertanyaan pada item nomor 1 dan 9 sebelum uji keterbacaan pertanyaan tidak sesuai dengan pilihan jawaban, sehingga peneliti mengganti kata tanya agar lebih relevan dengan pilihan jawaban yang disediakan. Sementara pada item nomor 5 kalimat pertanyaan yang diajukan kurang mengarah pada pilihan jawaban yang disediakan sehingga pada saat uji keterbacaan banyak yang bertanya pada peneliti mengenai maksud dari pertanyaan nomor 5. Selain itu, pilihan jawaban juga masih subjektif karena belum mencantumkan bagaimana yang dimaksud ringan, sedang, dan berat. 50

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasar hal tersebut peneliti memperbaiki susuan kalimat dan pilihan jawabannya. Pada item nomor 6 dan 8 kalimat pertanyaan yang digunakan kurang efisien dan menimbulkan makna ganda sehingga pada item nomor 6 kalimat pertanyaan lebih disingkat dan pada item nomor 8 kalimat pertanyaan lebih diperjelas dengan keterangan tambahan. Sementara pada item nomor 10 pilihan jawaban lebih dipersempit untuk memudahkan anak dalam memilih jawaban. Berkaitan dengan format kuesioner, peneliti hanya mengubah jenis huruf dan desain tampilan kueisoner. Kuesioner sebelum dan sesudah uji keterbacaan dapat dilihat pada lampiran 1.8 dan 1.9 halaman 105 dan 107. 4.2.1.2 Hasil Uji Keterbacaan Kuesioner Analisis Kebutuhan Guru Sementara Kuesioner analisis kebutuhan untuk guru melalui uji keterbacaan dengan pakar dan uji keterbacaan dengan guru. Terdapat lima pakar yang dipilih peneliti. Pakar 1 merupakan dosen metematika di Universitas Sanata Dharma dan pernah menjadi guru SMA untuk matapelajaran metematika. Pakar 2 merupakan dosen Bahasa Indonesia di Universitas Sanata Dharma yang telah berpengalaman. Pakar 3 merupakan dosen Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah berpengalam dalam bidang editorial berbagai karya sastra. Pakar 4 merupakan dosen Bahasa Indonesia di Universitas Sanata Dharma yang telah memiliki pengalaman lebih dari 5 tahun. Sementara pakar 5 merupakan dosen matematika di Universitas Sanata Dharma. Uji keterbacaan kueisoner analisis kebutuhan guru juga dilakukan oleh guru kelas II SDK Kumendaman, Yogyakarta. Beliau merupakan guru yang telah berkarya lebih dari 4 tahun di Yayasan Kanisius. Berikut ini merupakan tabulasi hasil uji keterbacaan kuesioner analisis kebutuhan guru. Tabel 4.2 Tabulasi Uji Keterbacaan KuesionerAnalisis Kebutuhan Guru No Pakar 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 Guru Jumlah 1 4 3 4 2 3 3 19 2 4 4 4 3 4 3 22 3 3 4 2 4 3 4 20 Skor tiap Pertanyaan 4 5 6 7 3 3 4 4 3 3 4 3 4 2 3 4 2 3 3 3 4 3 4 4 3 3 4 4 19 17 22 22 8 4 3 4 4 4 4 23 9 4 4 4 2 3 4 21 10 4 3 4 2 4 3 20 Rerata 3.7 3.4 3.5 2.8 3.6 3.5 3.4 Kualifikasi Sangat baik Sangat baik Sangat baik Baik Sangat baik Sangat baik Baik 51

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Rerata skor yang didapatkan pada saat uji keterbacaan adalah 3,4. Berdasar tabel 4.6 halaman 65, kuesioner tersebut masuk dalam kategori “baik” sehingga kuesioner layak digunakan dengan perbaikan. Padaitem yang mendapatkan nilai rerata di bawah 3 yaitu item nomor 5 yang membahas mengenai ciri gradasi pada alat peraga peneliti melakukan perbaikan. Selain item nomor 5, semua item telah mendapat rerata skor di atas 3. Berdasar pada komentar-komentar yang ditulis dalam kuesioner, peneliti tetap melakukan perbaikan pada kuesioner. Pakar 1 memberikan masukan pada item nomor 3 dan 7. Menurut pakar 1, kalimat pada item nomor 3 perlu diperjelas sehingga peneliti mengubah kata tanya kemudian pada item nomor 7, pakar 1 menyarankan perlu adanya penjelasan yang menerangkan maksud dari frasa “kesalahannya sendiri” sehingga peneliti menambahkan keterangan agar mampu dipahami. Berbeda dengan pakar 1, pakar 2 menyoroti item nomor 1, 4, 5, 7, 8, dan 10. Pakar 2 memberikan saran pada item nomor 1 untuk diberikan kriteria sedang, sering, kadang-kadang dengan frekuensi yang jelas. Saran tersebut diterima oleh peneliti, namun tidak dipergunakan untuk merevisi soal, melainkan untuk dijelaskan pada responden saat pengisian kuesioner. Sama halnya dengan item nomor 2, item nomor 4 dan 5 juga disarankan oleh pakar 2 agar pilihan jawaban tidak mengandung subjektifitas sehingga perlu ada penjelasan dari keriteriakriteria yang pasti. Pada item nomor 4 peneliti menganggap pengertian warna cerah dan gelap telah dipahami oleh guru sehingga item ini tidak perlu diperbaiki. Sementara item nomor 5 diperbaiki oleh peneliti dengan menambah keterangan rentang berat yang dimaksudkan. Pada item nomor 7 dan 8 pakar 2 berpendapat bahwa kalimat pertanyaan yang digunakan masih terlalu abstrak. Berdasar saran tersebut, peneliti menambahkan keterangan penjelas agar lebih mudah dipahami dan memberikan penjelasan pada responden mengenai maksud pertanyaan saat menjawab item nomor 7 dan 8. Sementara item nomor 10 menurut pakar 2, memiliki pilihan jawaban yang hampir sama sehingga akan membingungkan responden. Oleh karena itu, peneliti mengubah pilihan jawaban menjadi lebih kontras agar tidak membingungkan responden dalam memilih jawaban. Pakar 3 memberikan saran pada item nomor 3,5, dan 6. Saran yang diberikan pada item nomor 3 sama dengan yang diberikan oleh pakar 1. Sama 52

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI halnya dengan item nomor 5 saran yang diberikan juga sama dengan pakar 2. Sementara pada item nomor 6 pakar 3 memberikan saran untuk memperbaiki kalimat sehingga peneliti memperbaiki kalimat pada item tersebut. Pakar 4 menyoroti item nomor 1, 2, 4, 6, 7, 9, dan 10. Kalimat pada item nomor 1, 2, 6,7, dan 9 banyak yang kurang tepat sehingga peneliti memperbaiki struktur kalimat yang ada pada masing-masing nomor tersebut. Sementara item nomor 4 mendapat saran yang sama dengan pakar 2 dan 3. Begitu juga item nomor 10 mendapat saran yang sama dengan pakar 2. Pakar 5 memberikan saran pada item nomor 1, 3, 5, dan 9. Keseluruhan saran yang diberikan berkaitan dengan penggunaan kalimat tanya dan tata bahasa, sehingga peneliti memperbaiki struktur kalimat sesuai dengan saran dari pakar 5. Instrumen analisis kebutuhan guru sebelum dan sesudah validasi dapat dilihat pada lampiran 1.6 dan 1.7 halaman 101 dan 103. 4.2.2 Hasil Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa Kuesioner analisis kebutuhan diberikan pada 28 siswa kelas I SDK Pugeran Yogyakarta 1 bulan sebelum uji coba lapangan terbatas dilakukan. Pengisian kuesioner dilakukan dengan bimbingan dari peneliti. Terdapat 5 indikator dengan 5 deskriptor yang diungkap melalui 10 pertanyaan kuesioner. Deskriptor pertama yaitu frekuensi guru menggunakan alat peraga pada pembelajaran matematika. Sebanyak 17 siswa atau 60,71% menyatakan bahwa guru sangat jarang menggunakan alat peraga matematika. Sebanyak 14,28% menyatakan bahwa guru kadang-kadang menggunakan alat peraga matematika. Deskriptor kedua adalah penggunaan alat peraga yang mampu membantu pemahaman anak untuk memahami konsep Matematika. Pada deskriptor ini, sebanyak 92,86% atau 26 siswa menyatakan setuju jika alat peraga yang mereka gunakan dapat membantu mereka dalam memahami konsep matematika secara mandiri. Persentase yang sama juga terdapat pada deskriptor bahwa alat peraga hendaknya menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar Deskriptor ketiga merupakan penjabaran dari indikator menarik yang ada pada alat peraga montessori. Pada deskriptor ini 71,43% atau 20 siswa menyatakan bahwa warna membuat alat peraga lebih menarik. Pada deskriptor selanjutnya, semua anak menyukai jika alat peraga memiliki warna cerah. Hal tersebut juga terlihat pada deskriptor yang menyatakan bahwa alat peraga mampu 53

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI membimbing siswa untuk menemukan jawaban yang benar. Kemudian terlihat juga kecenderungan siswa menyukai alat peraga dengan berat yang relatif sedang yaitu antara 1,5 hingga 3 kg. Sebanyak 96,43% siswa menyatakan bahwa lebih memilih menggunakan alat peraga yang dapat digunakan untuk berbagai macam kompetensi yang berbeda. Persentase yang besar juga terlihat pada deskriptor yang menyatakan bahwa alat peraga mampu membimbing siswa dalam menemukan kesalahanya yaitu sebanyak 92,96% atau 26 siswa. Frekuensi penggunaan benda-benda di lingkungan sekitar oleh guru dinyatakan sering hal tersebut terlihat dari persentase sebesar 60,71 %. Melalui hasil yang didapat melalui analisis kebutuhan siswa, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa membutuhkan alat peraga yang mengandung lima karakteristik yaitu autoeducation,auto-correction, menarik, bergradasi, dan kontekstual. Rekapitulasi hasil kuesioner analisis kebutuhan siswa dapat dilihat pada lampiran 2.2 halaman 111. 4.2.3 Hasil Kuesioner Analisis Kebutuhan Guru Kuesioner analisis kebutuhan guru diberikan pada enam guru SDK Pugeran. Kuesioner tersebut diberikan sebelum produksi alat peraga dilakukan. Rekapitulasi hasil kuesoner analisis kebutuhan guru terdapat pada lampiran 2.1 halaman 109. Melalui lampiran 2.1 dapat terlihat bahwa intensitas guru menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika masih rendah, terbukti terdapat 83.33% guru hanya kadang-kadang saja menggunakan alat peraga. Hal tersebut berbeda dengan yang diungkapkan siswa kelas I melalui kuesioner analisis kebutuhan. Mereka cenderung mengatakan guru sangat jarang menggunakan alat peraga matematika. Meskipun berbeda pandangan, namun dapat disimpulkan bahwa belum ada kebiasaan positif dalam hal penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika. Selain intensitas penggunaan alat peraga, terlihat pula intensitas pemanfaatan benda-benda disekitar untuk pembelajaran matematika yang masih rendah. Terbukti 66.67% guru hanya kadang-kadang saja memanfaatkan benda-benda di sekitar. Berbeda dengan guru, siswa kelas I mengatakan bahwa guru kelas mereka sering menggunakan alat peraga yang memanfaatkan lingkungan sekitar. Meskipun demikian, penggunaan benda-benda sekitar sebagai bahan dasar pembuat alat peraga harus tetap diprioritaskan agar 54

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI siswa dapat mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari sehingga memberikan makna (Johnson, 2007: 33-36). Enam guru menyatakan setuju bahwa alat peraga harus membantu siswa memahami konsep matematika, mengandung warna cerah yang menambah kesan menarik pada alat peraga, membantu siswa dalam menemukan kesalahanya sendiri, membantu menemukan jawaban yang benar, dan mengandung bahan dasar pembuatan yang bersifat kontekstual sehingga mudah didapatkan. Hal tersebut telah sesuai dengan kebutuhan siswa dan karakteristik alat peraga Montessori (Montessori, 1964: 169-179). Mengenai berat alat peraga, 83,33% guru cenderung mengininkan berat alat peraga yang ringan atau kurang dari 1,5 Kg. Hal ini berbeda dengan apa yang diinginkan kebanyakan siswa. Melalui kuesioner analisis kebutuhan siswa, sebanyak 92,96% siswa menginginkan alat peraga yang beratnya sedang atau sekitar 1,5 hingga 3 kg. Dalam hal ini, peneliti memutuskan akan meproduksi alat peraga dengan berat sedang dengan dua alasan. Pertama bahwa penelitian ini bertujuan untuk membuat alat peraga yang nantinya akan dipakai oleh siswa sehingga apa yang diungkapkan siswa akan lebih diprioritaskan, kedua bahwa berat maksimal 3 kg masih dapat ditoleransi untuk digunakan oleh anak kelas I terutama usia 7–8 tahun karena mereka dalam tahap perkembangan otot yang baik. Hal tersebut ditunujukkan dengan mereka dapat berlari, melompat, berayun, dsb (Djiwandono, 2006: 71-72). Dalam hal gradasi, guru dan siswa cenderung setuju bahwa alat peraga yang sama dapat digunakan untuk kompetensi yang berbeda . Dengan demikian, melalui analisis kebutuhan guru terungkap bahwa alat peraga yang dibutuhkan guru mengandung lima karakteristik yaitu auto-education, auto-correction, menarik, bergradasi, dan kontekstual. 4.2.4 Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan Wawancara analisis kebutuhan dilakukan pada guru kelas I dan beberapa siswa kelas I. Wawancara ini bersifat konfirmatif dan pelengkap pada apa yang belum diungkap dalam kuesioner analisis kebutuhan. Secara lisan guru kelas I setuju jika alat peraga yang akan diproduksi berdasar pada 5 karakteristik yang diungkapkan peneliti. Hal tersebut didasari pada pendapat guru kelas I yang ingin meningkatkan kemampuan kognitif siswanya. Selain itu Guru juga mengatakan, 55

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Bagus jika alat peraga dapat mandiri digunakan siswa, biar guru sedikit kerja. hehehehe“ (Wawancara dengan guru, 14 September 2013). Berkaitan dengan ciri alat peraga yang kontekstual, guru kelas I menyatakan dukungan karena hal tersebut akan merangsang siswa berpikir kritis bahwa benda-benda yang ada di sekitar yang bahkan kurang dimanfaatkan ternyata dapat berguna bagi kehidupan. Menurut guru kelas I, alat peraga hendaknya memiliki harga yang relatif terjangkau yaitu berkisar antara Rp. 150.000,00 hingga Rp. 300.000,00. Harga tersebut menurut guru sangatlah terjangkau bagi sekolah. Sehingga dana untuk pengadaan dapat diambilkan dari Biaya Operasional Sekolah (BOS) dan pihak sekolah dapat melakukan pengadaan lebih dari satu jenis alat peraga. Guru kelas I juga mengungkapkan bahwa bentuk alat peraga hendaknya tidak membahayakan siswa, tidak terlalu kecil sehingga tidak mudah hilang, dan bentuknya rapi. Bentuk yang tidak membahayakan tersebut berangkat dari pengalaman guru kelas yang sangat kerepotan saat menangani anak yang terkena gunting saat pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK). Guru berkata, “….itu lo..mas. Pelajaran SBK kok guntinge dinyunyuk-nyunyuke kancane. Ya kena trus repot tenan aku le ngurusi….” (Wawancara dengan guru, 14 September 2013). Ungkapan dalam Bahasa Jawa tersebut berarti “itu lo mas. Pelajaran SBK kok guntingnya ditusuktusukkan ke temanya. Ya kena kemudian saya repot sekali mengurusinya”. Melalui ungkapan tersebut, peneliti akan merancang alat peraga yang mampu meminimalisir resiko yang membahayakan siswa, misalnya dengan memilih bahan yang ringan, tidak mengandung sudut yang runcing, dan cat yang digunakan tidak mengandung zat kimia yang berbahaya. Mengenai bahan dasar alat peraga guru menyarankan menggunakan sedotan, korek api, lidi, kertas dengan perekat, kayu, atau batu kerikil. Pemilihan bahan-bahan tersebut didasarkan pada asumsi guru untuk lebih mengefisienkan waktu dan biaya. Peneliti memutuskan memilih bahan dasar kayu atas dasar beberapa pertimbangan diantaranya daya tahan yang lebih lama, mudah didapatkan di sekitar Yogyakarta, warnanya cerah dan menarik, dan biayanya yang relatif terjangkau. Guru juga menyarankan agar alat peraga yang akan dibuat hendaknya tidak memakan banyak tempat. Saran guru tersebut berangkat dari pengalamannya ketika mengajar. Alat peraga yang teralalu besar akan sulit 56

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dibawa di depan kelas sehingga ketika guru sibuk menyiapkan alat peraga siswa akan gaduh dengan sendirinya. Alat peraga yang dapat digunakan secara berkelompok juga menjadi saran guru, hal tersebut berguna untuk meningkatkan rasa tanggung jawab pada masing-masing siswa. Hal tersebut terlihat dari ungkapan, “... alat peraga yang kecil-kecil itu sekali pakai dan mudah hilang mas…..naaaa. supaya anak-anak itu punya rasa tanggung jawab baik kalu dalam kelompok ada satu alat peraga jadi ...”(Wawancara dengan guru, 14 September 2013). Selain melakukan wawancara dengan guru kelas I, peneliti juga melakukan wawancara dengan siswa kelas I satu untuk mengungkap warna cerah apa saja yang disukai oleh siswa. Setelah melakukan wawancara dengan beberapa siswa, diambil empat warna yang paling banyak disukai siswa. Warna tersebut diantaranya biru, merah, orange, dan hijau. Warna-warna tersebut akan direalisasikan dalam alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan. Melalui wawancara dengan guru dan siswa dapat disimpulkan beberapa hal penting diantarannya harga alat peraga hendaknya lebih terjangkau, aman untuk digunakan siswa, menarik, dan tidak mudah hilang, terbuat dari bahan yang efisien dari segi waktu dan biaya, dan warna-warna yang cerah. 4.3 Produksi Alat Peraga Papan Penjumlahan dan Pengurangan Tahapan yang dilakukan setelah melakukan analisis kebutuhan adalah merealisasikan apa yang menjadi kebutuhan siswa dan guru dengan memproduksi alat peraga. Terdapat beberapa tahapan yang dilakukan peneliti dalam memproduksi alat peraga papan penjumlahan pengurangan. Tahapan tersebut adalah (1) pembuatan desain, (2) konsultasi desain dengan pakar, (3) perevisian desain, (4) pengadaan bahan dasar, dan (5) pembuatan alat peraga. Pembuatan desain dimulai dari analisa konsep yang akan disampaikan melalui alat peraga. Konsep tersebut kemudian dituangkan dalam desain fisik perangkat alat peraga. Gambar 4.1 halaman 58 merupakan desain awal alat peraga yang pada awalnya bernama papan titik Montessori. Tahapan kedua adalah konsultasi desain pada pakar pembelajaran matematika dan pakar pembelajaran Montessori. Dalam tahap 57

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ini, peneliti mendiskusikan desain yang telah dibuat dengan kedua pakar tersebut. Melalui diskusi tersebut didapat beberapa poin penting yang menjadi catatan. 10000 1000 100 10 Tanda operasi 1 Kubus positif Kubus negatif Nilai tempat tempat tanda operasi 26 cm Tempat meletakkan kubus Tempat penulisan soal Tempat penulisan jawaban 43 cm Gambar 4.1 Desain Awal Papan Penjumlahan dan Pengurangan Poin penting tersebut diantaranya (1) desain alat peraga baik, (2) alat peraga telah dapat digunakan untuk menyampaikan konsep penjumlahan dan pengurangan, (3) nilai tempat yang terdapat dalam alat peraga terlalu banyak untuk siswa kelas I, (4) kubus lebih baik hanya satu sehingga tidak ada kubus positif dan negatif, (5) belum terdapat desain tempat untuk meletakkan balok, (6) pembatas untuk meletakkan kubus terlalu rumit untuk dibuat, dan (7) warna pada alat peraga belum disesuaikan dengan hasil analisis kebutuhan. Pada tahap ketiga peneliti memperbaiki desain alat peraga yang dibuat. Revisi dilakukan berdasar poin-poin yang menjadi catatan saat diskusi dengan pakar pembelajaran matematika dan pakar pembelajaran Montessori. Perbaikan desain dapat dilihat pada gambar 4.2 halaman 59. Tahapan selanjutnya setelah desain selesai adalah pengadaan bahan dasar pembuatan alat peraga. Bahan dasar alat peraga ini adalah kayu mindi, kertas jenis ivory, dan kertas stiker. Kayu mindi berguna sebagai papan, kertas jenis ivory berguna sebagai kartu soal dan tanda operasi, dan kertas stiker berguna sebagai penempel titik pada kubus dan nilai tempat pada papan. Pemilihan kayu mindi merupakan realisasi dari karakteristik alat peraga yang kontekstual. Kayu mindi dapat diperoleh dari pohon mindi (Melia azedarach L) yang ketika tumbuh dapat 58

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mencapai tinggai 45 m dan diameter 60-120 cm. Pohon mindi adalah tanaman yang tumbuh didaerah tropis dan subtropis. Di Yogyakarta sendiri, pohon ini sangat mudah ditemukan. Oleh sebab itu, harga kayunya relatif terjangkau. Kayu mindi merupakan kayu yang pada bagian tengah kayu berwarna coklat muda 1000 1000 100 100 10 10 11 Nilai tempat Tempat tanda operasi 35 cm Tempat meletakkan kubus Tempat penulisan soal Tempat penulisan jawaban 55 cm Kubus Kartu Soal 12 - 1 11 Tempat kubus Gambar 4.2 Desain Alat Peraga Penjumlahan dan Pengurangan setelah Konsultasi dengan Pakar cenderung cerah, seratnya lurus dengan berat rata-rata 0,53 kg. Untuk mendapatkan struktur kayu yang kuat dan tahan lama, kayu mindi harus dikeringkan terlebih dahulu. Pada industri property, kayu ini sering digunakan untuk mabel, bahan baku lantai, dan barang-barang kerajinan karena kayu ini cenderung tahan rayap dan tahan serangga pengganggu lainnya. Tahapan terakhir adalah pembuatan alat peraga. Pembuatan alat peraga ini bekerjasama dengan salah satu rumah produksi properti yang ada di Yogyakarta. Peneliti memberikan desain alat peraga besarta kriteria-kriteria yang harus dimiliki alat peraga pada tukang kayu. Pembuatan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangangan memakan waktu kurang lebih satu bulan. Selama satu bulan peneliti memantau perkembangan pembuatan alat peraga. Pemantauan dilakukan agar tetap terjalin komunikasi yang baik antara peneliti dan tukang kayu sehingga apa yang diharapkan peneliti dapat terpenuhi. Alat peraga yang telah jadi terdiri dari papan penjumlahan dan pengurangan, kubus satuan, puluhan, ratusan, dan 59

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ribuan, tempat kubus, kartu soal, tempat kartu soal, dan tanda operasi. Berikut merupakan alat peraga yang siap diuji lapangan terbatas. Gambar 4.3 Papan Utama Papan penjumlahan pengurangan merupakan satu paket alat peraga yang terdiri dari papan utama, kartu soal dan tempatnya, kubus satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan besarta tempatnya, tanda operasi hitung, spidol, dan penghapus. Papan utama berukuran 55 cm x 35 cm x 2,5 cm. Pada papan utama terdapat kolom nilai tempat, tempat tanda operasi, dan ruang untuk menuliskan jawaban. Kolom nilai tempat berjumlah empat dengan masing-masing kolom mewakili nilai tempat satuan dengan warna biru, puluhan dengan warna merah, ratusan dengan warna orange, dan ribuan dengan warna hijau. Tempat tanda operasi merupakan ruang untuk meletakkan tanda operasi saat siswa melakukan operasi hitung. Sementara ruang untuk menuliskan jawaban terdapat di bawah masing-masing kolom nilai tempat. Gambar 4.4 Kubus Satuan Puluhan dan Tempatnya Selanjutnya adalah kubus satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan yang merupakan perwakilan dari masing-masing nilai tempat. Kubus ini memiliki sisi 1 cm. Kubus ini ditempatkan dalam balok berukuran 12 cm x 5 cm yang dibagi dalam 3 sekat. Gambar 4.5 Kartu Soal 60

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Bagian papan penjumlahan pengurangan lainnya adalah kartu soal dan tempatnya. Kartu soal berukuran 9.5 cm x 7 cm yang terbuat dari kertas berjenis ivory 450. Menurut tingkat kesulitannya kartu soal dibagi menjadi dua yaitu kartu soal warna-warni dan kartu soal satu warna. Kartu soal warna-warni merupakan kartu soal dengan pembeda antara puluhan dan satuan sehingga siswa lebih mudah dalam melakukan operasi hitung. Sedangkan kartu soal satu warna merupakan kartu soal dengan warna angka hitam. Kartu soal ini tidak memiliki warna pembeda antara satuan dan puluhan, sehingga siswa yang telah mengerti konsep nilai tempat akan menggunkan kartu soal ini. Masing-masing kartu soal terdapat jawaban di belakang kartu sebagai pengendali kesalahan. Sementara tempat kartu soal berukuran 10 cm x 5 cm. Gambar 4.6 Tanda Operasi Komponen yang terakhir adalah tanda operasi penjumlahan dan pengurangan. Tanda operasi pengurangan disimbolkan dengan (-) dan tanda operasi penjumlahan disimbolkan dengan (+). Bahan untuk membuat tanda operasi ini adalah kertas ivory 450. Keseluruhan alat peraga papan penjumlahan pengurangan memiliki berat ± 1.5 kg dengan harga pembuatan ± Rp.200.000,00. Harga tersebut masih bisa ditekan dengan pembelian bahan baku kayu mindi dalam jumlah yang relatif besar, sehingga akan mendapatkan harga yang lebih murah. 4.4 Pembuatan Instrumen Validasi Produk Terdapat empat instrumen yang digunakan untuk mengetahui kualitas alat peraga dan sejauh mana alat peraga memberikan dampak pada ranah kognitif dan afektif siswa. Instrumen tersebut adalah tes, kuesioner, wawancara, dan observasi. Berikut merupakan pembahasan dari masing-masing instrumen. 61

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.4.1 Uji Validitas Instrumen Tes Pembuatan instrumen tes pada penelitian ini mencakup tiga langkah yaitu uji validitas isi dan konstrak, uji validitas empiris dan uji reliabilitas. Uji validitas isi dan konstrak dilakukan oleh dua pakar matematika dan satu guru kelas I SDK Pugeran. Pakar 1 dan pakar 2 merupakan dosen matakuliah pendidikan matematika yang cukup dengan pengalaman. Sedangkan guru kelas I SDK Pugeran merupakan pengajar yang telah mengabdi lebih dari 20 tahun. Berikut merupakan rekapitulasi dan uraian hasil dari uji validitas isi dan konstrak yang dilakukan oleh pakar. Tabel 4.3 Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Isi dan Konstrak Instrumen Tes No 1 2 3 4 5 6 Komponen penilaian Kesesuaian antara SK, KD, dan Indikator Penggunaan bahasa dan tata tulis baku Kejelasan Perintah pengerjaan soal Bentuk face indikator tes yang disajikan Kualitas pedoman penilaian Pembobotan soal tiap indikator Rerata Kualifikasi Skor yang Didapat Pakar Pakar Guru 1 2 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3.8 3.7 3.5 Sangat Sangat Sangat baik baik baik Jumlah 12 12 11 10 10 11 3.6 Sangat baik Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat terlihat bahwa semua komponen penilaian tidak ada yang mendapat nilai di bawah 3, minimal nilai yang didapat adalah 3 dengan rerata dari ketiga validator adalah 3,6. Berdasar tabel 4.6 halaman 65 mengenai konversi data kuantitatif ke kualitatif, instrumen tes tersebut memiliki kualitas “sangat baik” sehingga sangat layak digunakan. Meskipun demikian, terdapat saran untuk perbaikan pada item nomor 1 hingga 5. Pada item tersebut benda-benda yang ada di dalam soal haruslah dipisahkan berdasarkan nilai tempatnya sehingga siswa lebih terbiasa dengan nilai tempat. Gambar-gambar yang digunakan juga lebih baik jika diberi tempat sesuai dengan realitas dalam kehidupan, misalnya jeruk diberi tempat dalam keranjang. Berdasarkan saran tersebut, peneliti melakukan perbaikan pada item nomor 1 sampai 5 sebelum instrumen diuji validitas empirisnya. 62

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pengujian empiris instrumen tes dilakukan pada siswa SD Keputran 1 yang berjumlah 49 siswa. Pemilihan SD Keputran 1 dengan alasan bahwa sekolah tersebut berdekatan dengan SDK Pugeran, selain itu prestasi-prestasi kedua SD tersebut relatif sama. Perhitungan validitas soal menggunakan progam komputer IBM SPSS Statistics20for Windows dengan rumus korelasi Product-Moment dari Pearson. Penentuan valid atau tidaknya item dilakukan dengan pembandingan Pearson Correlation dengan r tabel. Item dikatakan valid jika r hitung lebih besar dari r tabel. Sebaliknya, r hitung lebih kecil dari r tabel item dikatakan tidak valid. Nilai r tabel dengan taraf signifikan 0.05 untuk responden 49 adalah 0,281 (Arikunto, 2006: 359). Tabel 4.7 merupakan rekapitulasi item yang valid dan tidak valid. Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Validitas Empirik Instrumen Tes No. Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 r hitung 0.256 0.349 0.352 0.448 0.505 0.582 0.684 0.458 0.505 0.605 0.586 0.687 0.655 0.598 0.580 0.587 0.500 0.546 0.365 0.526 0.449 0.539 0.444 r tabel 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 0.281 ρ 0.076 0.014 0.013 0.001 0.000 0.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.010 0.000 0.001 0.000 Keterangan Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tabel 4.4 memperlihatkan bahwa hanya terdapat satu item yang tidak valid. Item tersebut memiliki r hitung 0,256 sehingga lebih kecil dari r tabel. Terdapat 22 item yang valid lima diantaranya adalah soal cerita. Meskipun demikian, peneliti hanya mengambil 15 soal sebagai instrumen tes. Soal direduksi dengan alasan efisiensi waktu siswa dalam mengerjakan soal, sehingga siswa 63

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tidak terlalu bosan menghadapi banyak soal dengan tipe yang sama. Berikut merupakan kisi-kisi instrumen tes yang telah valid dengan dari SK. 4. Melakukan penjumlahan dan pengurangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah dan KD. 4.4 Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Tabel 4.5 Kisi-Kisi Instrumen Tes yang Sudah Direvisi Indikator Melakukan penjumlahan dua angka tanpa teknik menyimpan Melakukan penjumlahan dua angka dengan teknik menyimpan Melakukan pengurangan dua angka tanpa teknik meminjam Melakukan pengurangan dua angka dengan teknik meminjam Melakukan penjumlahan dalam penyelesaian masalah Melakukan pengurangan dalam penyelesaian masalah Deskriptor Penjumlahan satu angka dengan dua angka Penjumlahan dua angka dengan dua angka Penjumlahan satu angka dengan dua angka Penjumlahan dua angka dengan dua angka Pengurangan dua angka dengan dua angka Pengurangan dua angka dengan satu angka Pengurangan dua angka dengan dua angka Penjumlahan dua angka tanpa teknik menyimpan Pengurangan dua angka dengan teknik meminjam Nomor item 5 3, 4, dan 9 6 2 dan 10 11 8, 7, dan 13 12 14 dan 15 16 Deskriptor pengurangan dua angka dengan satu angka tanpa teknik meminjam tidak masuk dalam soal pretest dan posttest. Uji reliabilitas juga dilakukan pada item soal yang valid. Melalui perhitungan dengan IMB SPSS Statistic 20 didapatkan angka reliabilitas soal adalah 0.872. Menurut Nunnally (dalam Ghozali, 2009: 46) soal tersebut “reliabel” karena lebih besar dari harga konstrak yaitu 0.6. Hal tersebut berarti bahwa instrumen tes memiliki keajegan yang tinggi. 4.4.2 Instrumen Kuesioner Validasi Produk Instrumen kuesioner digunakan untuk menilai alat peraga dari sudut pandang pakar, guru dan siswa. Pada prinsipnya, kuesioner untuk pakar, guru dan siswa memiliki konten yang sama hanya saja bahasa yang digunakan berbeda. Kedua kuesioner ini melalui dua tahapan validitas yaitu validitas isi dan uji keterbacaan kuesioner. Validitas isi dilakukan oleh sesama peneliti dengan menggunakan prinsip rasionalitas (Azwar, 2012: 175). Sedangkan uji keterbacaan dilakukan oleh pakar pembelajaran matematika, pakar bahasa, guru, dan siswa. 64

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pengolahan data kuantitatif yang diperoleh dari kuesioner kemudian diubah atau dikonversikan ke dalam data kualitatif. Berikut merupakan konversi hasil kuesioner menjadi data kualitatif. Rerata ideal X1) = (skor maksimal ideal + skor minimal ideal) ̅I = ( 4 + 1) = 2,5 Simpangan baku ideal (SBi) = (skor maksimal ideal + skor minimal ideal) Sbi = (4 - 1) = 0,5 Berikut perhitungan tiap kategori. Sangat Baik = X > ̅ i + 1,80 × Sbi = X >25 + 1,8 × 0,5 = X > 3,4 Baik = ̅ i + 0,60 × Sbi < X = 2,5 + 0,60 × 5 < X = 2,8< X Cukup Baik = 2,5 - 0,60 × 0,5 < X Kurang Baik = 2,5 - 1,80 × 0,5< X Tidak Baik ̅ i + 0,60 × Sbi 2,5 + 0,60 × 0,5 2,8 = ̅ i - 1,80 × Sbi < X = 1,6< X 25 + 1,80 × 0,5 3,4 = ̅ i - 0,60 × Sbi < X = 2,2< X ̅ i + 1,80 × Sbi ̅ I - 0,60 × Sbi 2,5 – 0.60 × 0,5 2,2 = X < ̅ i - 1,80 × Sbi = X < 2,5 – 1.8 × 0,5 = X <1,6 Tabel 4.6 Konversi Data Kuantitatif ke Kualitatif Interval Skor 3,5 – 4,0 2,9 – 3,4 2,3 – 2,8 1,7 – 2,2 1 – 1,6 Kategori Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak Baik 65

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pada data kualitatif dibagai menjadi lima kategori yaitu sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan perlu revisi. Sangat baik berarti alat peraga telah sempurna dan siap untuk digunakan, baik apabila alat peraga telah memenuhi keriteriakriteria yang ditentukan namun belum sempurna. Cukup apabila alat peraga sesuai apa yang diharapkan pada analisis kebutuhan. Kurang baik apabila alat peraga dapat digunakan namun masih mengandung banyak kekurangan sehingga harus diperbaiki. Tidak baik apabila alat peraga tidak benar-benar sesuai dengan karakteristik dan tidak memiliki dampak apapun bagi responden. 4.4.2.1 Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk untuk Pakar dan Guru Kuesioner validasi produk untuk guru dan pakar dilakukan uji validitas isi. Menurut validator kuesioner telah mewakili tujuan dari pembuatan alat peraga. Masing-masing kriteria-kriteria telah dibahasakan dengan jelas dalam kuesioner. Namun terdapat beberapa bahasa, kata depan, kata sambung, dan penggunaan tanda baca yang kurang tepat. Peneliti kemudian memperbaiki berdasarkan saran dari validator tata tulis dan penggunaan tanda bacanya. Selain itu validator menyarankan untuk ditambahkan kolom komentar pada lembar kuesioner agar apa yang tidak dapat dinilai melalui item kuesioner dapat dituliskan di kolom komentar, hal ini juga berlaku untuk kuesioner validasi produk untuk siswa. Setelah validitas isi, uji keterbacaan dilakukan pada pakar bahasa, pakar pembelajaran matematika, dan guru. Pakar Bahasa 1 merupakan salah satu dosen Bahasa Indonesia dan Pakar Matematika 1 merupakan dosen matematika yang keduanya mengajar lebih dari 5 tahun di Univsersitas Sanata dharma. Sementara Pakar Bahasa 2 merupakan salah satu dosen bahasa dan sastra Indoesian yang cukup berpengalaman dan Pakar Matematika 2 merupakan dosen pendidikan matematika Universitas Sanata Dharma yang juga cukup berpengalaman. Guru merupakan pengajar di SDK Kumendaman Yogyakarta. Guru 1 merupakan pengajar kelas I, beliau dianggap telah memiliki kompetensi yang cukup untuk menilai kuesioner validasi produk. Guru 2 merupakan guru kelas II yang telah mengajar kurang lebih tiga tahun. Guru 3 merupakan guru kelas III yang telah mengajar kurang lebih 4 tahun. Berikut merupakan hasil validasi dari Pakar Bahasa, Pakar Pembelajaran Matematika, dan guru. 66

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Melalui tabel 4.7 terlihat bahwa rata-rata keseluruhan item mendapat ratarata di atas 3 sedangkan untuk rata-rata skor secara keseluruhan adalah 3,6. Dapat disimpulkan bahwa seluruh item kuesioner “sangat baik” sehingga sangat layak digunakan. Meskipun demikian, terdapat saran dari pakar Bahasa untuk item Tabel 4.7 Rekapitulasi Hasil Uji Keterbacaan KuesionerValidasi Produk untuk Pakar dan Guru No Validator 1 Pakar Bahasa 1 Pakar Matematika 1 2 1 4 2 3 Skor tiap Item Pernyataan 3 4 5 6 7 8 3 3 4 3 3 3 9 3 10 3 Rera -ta 3.2 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3 3.7 3 Pakar Bahasa 2 3 4 4 2 4 2 4 4 4 4 3.5 4 Pakar Matematika 2 4 3 4 4 4 3 4 4 3 3 3.6 5 Guru 1 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3.8 6 Guru 2 4 3 3 4 3 3 4 3 4 3 3.4 7 Guru 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3.9 27 25 26 25 27 21 26 26 25 23 3.6 Jumlah Kualifikasi Baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Baik Sangat baik Sangat baik nomor 7 dan 10. Kedua item tersebut haruslah dijelaskan konteksnya secara lisan kepada responden agar penafsiran maksud pernyataan tidak salah. Kuesioner validasi produk sebelum dan sesudah uji keterbacaan dapat dilihat pada lampiran 5.4 dan 5.5 halaman 130 dan 133. 4.4.2.2 Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk untuk Siswa Pada kuesioner validasi produk untuk siswa dilakukan validitas isi. Validitas isi melihat kesesuaian item kuesioner yang akan diukur dengan tujuan pengukuran. Validator mengatakan bahwa format kuesioner sudah bagus, hanya dalam perintah pengisian kuesioner hendaknya dicetak tebal sehingga memberi penekanan pada responden. Kemudian, pada kuesioner yang akan diberikan pada siswa huruf yang digunakan hendaknya huruf yang lebih luwes seperti jenis Comic San MS ataupun Calibri. Berdasarkan rekomendasi dari validator tersebut peneliti akan memperbaiki kuesioner untuk siswa. Setelah instrumen kuesioner telah selesai diuji validitas isinya, peneliti melakukan uji keterbacaan kuesioner pada lima siswa kelas I, SDK Kumendaman Yogyakarta. Berikut merupakan hasil uji keterbacaan tersebut. 67

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 4.8 Tabulasi Hasil Uji Keterbacaan KuesionerValidasi Produk oleh Siswa No Responden 1 Skor tiap Pertanyaan 4 5 6 7 8 4 2 4 3 4 A 1 4 2 3 3 4 2 B 4 4 3 4 4 2 4 3 C 1 4 4 3 4 2 4 D 1 2 3 2 1 5 E 4 4 4 4 Jumlah 14 17 18 17 Rerata 9 2 10 3 4 4 3 3.6 4 1 4 4 3.1 1 2 3 4 1 2 4 4 4 4 4 4 4 16 13 16 16 18 15 3,2 3.3 Kualifik -asi Baik Sangat baik Baik Kurang baik Sangat baik Baik Melalui tabel 4.8, terlihat bahwa rerata skor yang diperoleh pada lembar kuesioner tersebut adalah 3,2. Dengan demikian sesuai dengan kriteria kelayakan instrumen yang telah ditentukan, dapat disimpulkanbahwa rerata 3,2 berada pada kategori “Baik” sehingga layak digunakan dengan perbaikan. Berdasar hasil tersebut kuesioner analisis kebutuhan telah dapat digunakan namun dengan perbaikan. Peneliti melakukan perbaikan pada kalimat dengan mengganti kata “siswa” dengan kata “saya”. Kata siswa dalam kuesioner akan membingungkan jika dibaca oleh siswa, maka siswa akan langsung paham apa yang dimaksud ketika sapaan didalam kalimat diganti dengan kata “saya”. Misalnya pada kalimat “siswa dapat menggunakan alat peraga secara mandiri” diganti dengan “saya dapat menggunakan alat peraga secara mandiri”. Selain itu, kata “alat peraga” diganti dengan “papan penjumlahan pengurangan Montessori” karena dari awal peneliti memperkenalkan alat peraga sesuai dengan namannya. Kuesioner validasi produk oleh siswa sebelum dan sesudah uji keterbacaan dapat dilihat pada lampiran 5.7 dan 5.8 halaman 136 dan 138. 4.4.3 Instrumen Wawancara dan Observasi Instrumen wawancara tak terstruktur dan observasi tak terstruktur memiliki pedoman yang hampir sama. Baik wawancara maupun observasi berusaha mengungkap dampak penggunaan alat peraga terhadap afeksi siswa. Pedoman wawancara dan observasi dapat dilihat pada lampiran 7.1 halaman 143. Pedoman wawancara pada lampiran 7.1 tersebut dapat berubah sewaktu-waktu saat wawancara dan observasi dilakukan. Hal tersebut dikarenakan bahwa peneliti belum mengetahui apakah nantinya penggunaan alat peraga papan penjumlahan 68

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan pengurangan benar akan menimbulkan dampak seperti dalam pedoman atau menimbulkan dampak lain. Maka, fleksibilitas instrumen ini sangatlah tinggi. 4.5 Validasi Alat Peraga Papan Penjumlahan dan Pengurangan Validasi alat peraga Montessori dilakukan oleh tiga validator. Validator 1 merupakan pakar pembelajaran Montessori, Validator 1 merupakan dosen pada pembelajaran Montessori sekaligus merupakan aktivis Montessori yang memiliki ketertarikan yang tinggi pada metode Montessori. Validator 2 merupakan dosen pendidikan matematika. Selain berpengalaman dalam menjadi dosen Validator 2 juga pernah mengajar siswa Sekolah Dasar sehingga pengetahuan akan pendidikan siswa sudah tidak diragukan lagi. Validator 2 juga memiliki ketertatikan yang besar pada metode Montessori. Sehingga pengetahuan Validator 2tersebut menjadi nilai positif dalam validasi alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan. Validator 3 merupakan guru kelas I, SDK Pugeran, Yogyakarta. Validator 3 telah lebih dari 20 tahun mengajar siswa kelas I. Sehingga pengalaman guru dalam pengajaran dan materi ajar sudah tidak diragukan lagi. Validasi alat peraga pada validator 1 dan 2 dilakuakan dengan cara presentasi alat peraga dari peneliti pada tanggal 10 Desember 2013. Presentasi tersebut mencakup deskripsi alat peraga dan kegunaannya, dan cara penggunaannya. Berbeda validator 1 dan 2, validator 3 mengisi kuesioner alat peraga dengan melihat langsung penggunaanya pada siswa, sehingga beliau dapat melihat langsung bagaimana pengaruh alat peraga terhadap proses belajar mengajar. Hasil Kuesioner validasi produk oleh validator 1 memperoleh nilai sempurna dengan jumlah skor 40 atau berarti kualitas alat peraga “sangat baik”. Setiap item pertanyaan pada kuesioner mendapatkan nilai 4 yang berarti alat peraga sesuai dengan filosofi Montessori dan konsep matematika sehingga telah memenuhi seluruh kriteria alat peraga yang diharapkan peneliti. Keriteria alat peraga tersebut adalah menarik, bergradasi, auto-correction, auto-education, dan kontekstual. Sedikit berbeda dari Validator 1, alat peraga mendapatkan total skor 36 atau kualitas alat peraga “sangat baik” pada validator 2. Skor yang diberikan oleh Validator 2 berkisar dari 3 hingga 4 pada setiap itemnya. Pada item pertama yang 69

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengukur apakah alat peraga dapat digunakan secara mandiri atau tidak mendapatkan skor 3. Sementara pada pertanyaan nomor 2 hingga 7 skor yang didapat adalah 4. Hal tersebut membuktikan bahwa menurut Validator 2 alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan mampu mengajarkan konsep matematika secara mandiri, mengandung warna yang menarik bagi siswa, memiliki bentuk yang menarik bagi siswa, dapat digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda, memiliki ukuran dan berat yang sesuai untuk siswa kelas I, dan memiliki fungsi auto-correction yang baik. Pada pertanyaan yang mengungkap apakah alat peraga dapat membantu siswa dalam menemukan jawaban yang benar, alat peraga hanya mendapat skor 3. Demikian pula pada bahan alat peraga yang mudah didapatkan dan dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa alat peraga telah mengandung 5 ciri alat peraga yang diharapkan yaitu menarik, bergradasi, autocorrection, auto-education, dan kontekstual. Selanjutnya Validator 3 memberikan skor pada alat peraga dengan total 32 atau dalam kategori “baik”. Validator 3 memberikan skor sempurna pada item nomor 1 dan 4, sementara untuk item nomor 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 mendapatkan skor 3. Hal tersebut menunjukan bahwa pada indikator menarik, bergradasi, auto-correction, dan kontekstual alat peraga belum mendapatkan nilai maksimal. Meskipun demikian secara keseluruhan atau rata-rata dari ketiga validator, alat peraga masuk dalam kualitas “Sangat baik” dengan rerata skor 3.6. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.9. Tabel 4.9 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Validasi Alat Peragaoleh Pakar dan Guru No 1 2 3 Validator 1 2 3 Jumlah 1 4 3 4 11 2 4 4 4 12 3 4 4 3 11 Skor tiap Pertanyaan 4 5 6 7 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 11 11 11 11 8 4 3 3 10 9 4 3 3 10 10 4 3 3 10 Rerata Kualifikasi 4 3.6 3.2 3.6 Sangat baik Sangat baik Baik Sangat baik Alat peraga papan penjumlahan pengurangan memiliki kelima ciri yang diharapkan peneliti. Meskipun demikian, terdapat beberapa kritik dan saran yang diberikan oleh validator. 70

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.5.1 Analisis Produk Berdasar Validasi oleh Pakar dan Guru Melalui validasi produk oleh validator 1, 2, dan 3, didapatkan beberapa poin kunci yang menjadi tanggapan, saran, maupun kritik berkaitan dengan alat peraga papan penjumlahan pengurangan. Poin kunci tersebut adalah (1) alat peraga dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah matematika, (2) alat peraga telah mewakili konsep penjumlahan dan pengurangan, (3) kartu soal sebaiknya tidak hanya yang berwarna-warni namun juga ada yang satu warna, (4) tempat kubus satuan, puluhan, ratusan, ribuan perlu diperbesar, (5) pada langkah penjumlahan hendaknya kubus penambah diletakkan di bawah kubus tertambah. Menurut validator 3 atau guru kelas I, alat peraga papan penjumlahan pengurangan dapat membantu siswa untuk memecahkan masalah matematika. Peneliti sependapat dengan apa yang diungkapkan validator 3. Berdasar dokumentasi hasil pretest dan posttest semua siswa yang mengikuti uji coba lapangan terbatas mengalami peningkatan dalam menjawab soal-soal cerita yang berbasis masalah. Misalnya siswa yang bernama K, pada saat pretest dari ketiga soal cerita yang diberikan K hanya mendapat skor masing-masing 1, 1, dan 1, nampun pada saat posttest K mampu mendapat skor masing-masing 4, 4, dan 3. Begitu pula dengan keempat siswa yang lain, rata-rata mereka mengalami peningkatan skor pada soal cerita. Selain hal di atas validator 3 juga mengungkapkan bahwa alat peraga telah mewakili konsep penjumlahan dan pengurangan, dalam hal ini peneliti juga sependapat dengan validator 3. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil pretest dan posttest yang menggambarkan pemahaman siswa mengenai konsep penjumlahan dan pengurangan. Poin kunci yang menjadi saran dari validator 1 adalah bahwa kartu soal sebaiknya tidak hanya warna-warni namun juga ada yang satu warna. Maksud dari kartu soal yang hanya memiliki satu warna adalah untuk memberi tantangan pada siswa agar tidak terlalu tergantung pada warna-warni yang menunjukan nilai tempat. Berkaitan dengan saran tersebut peneliti akan menambah kartu soal dengan angka pada kartu soal yang berwarna hitam. Hal tersebut dasarkan pada karakteristik alat peraga Montessori yaitu bergradasi (Montessori, 2002: 173). Dengan memberikan kesulitan yang berjenjang pada kartu soal, akan memperkuat 71

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI karakteristik alat peraga papan penjumlahan pengurangan yaitu gradasi dari mudah ke sulit. Validator 2 memberikan saran agar kotak yang berguna sebagai tempat kubus satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan diperbesar agar dalam mengambil kubus-kubus yang ada di dalamnya lebih mudah. Ukuran tempat yang digunakan untuk tempat kubus adalah 11cm x 5 cm x 6 cm. Validator 2 melihat peneliti merasa kesulitan dalam mengambil kubus dari tempatnya saat persentasi. Demi kenyamanan siswa pada saat menggunakan alat peraga, peneliti akan melakukan revisi pada tempat kubus satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan. Selain itu Validator 2 juga menyarankan untuk mengganti nama papan titik menjadi nama yang dibuat sendiri oleh peneliti sehingga tidak sama dengan alat peraga yang ada dalam metode Montessori. Poin terakhir yang menjadi saran dari validator 3 atau guru kelas 1 adalah pada saat proses penjumlahan hendaknya susunan kubus penjumlah diletakkan terlebih dahulu di bawah kubus terjumlah baru kemudian dijadikan satu deret dengan kubus terjumlah. Menurut validator 3 hal tersebut dilakukan untuk menghindari kebingungan pada siswa dalam membedakan kubus penjumlah dan kubus terjumlah. Berdasarkan saran dari validator 3 tersebut, peneliti kurang sependapat. Kubus penambah harus langsung ditambahkan menjadi satu deret dengan kubus tertambah. Hal tersebut sesuai dengan langkah yang diskripsikan oleh Montessori pada saat mengajarkan penjumlahan di bawah 10 dengan tongkat asta merah biru. Montessori selalu mencontohkan pada anakuntuk meletakkan batang penambah disamping kanan batang tertambah, tidak diletakkan di bawah batang tertambah terlebih dahulu baru kemudian dipindah ke sampingnya (Montessori, 2002: 326-337). 4.5.2 Revisi Produk Berdasar Validasi Alat Peraga Berdasar analisis hasil validasi produk oleh pakar dan guru terdapat dua poin yang akan ditindak lanjuti sebagai dasar perevisian produk. Kedua poin tersebut adalah (1) penambahan kartu soal yang satu warna, dan (2) penggantian tempat kubus satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan (3) pergantian nama alat peraga. Tabel 4.10 halaman 73 menunjukan hasil revisian produk. Selain kartu soal warna-warni, terdapat pula kartu soal satu warna yang berguna bagi siswa 72

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yang telah memahami nilai tempat sehingga tidak memerlukan bantuan warna untuk melakukan operasi hitung. Tabel 4.10 Revisi Alat Peraga Berdasar Validasi Produk oleh Pakar dan Guru No Nama 1 Kartu Soal 2 Tempat kubus satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan 3 Nama alat peraga Sebelum Revisi Tindak Lanjut Sesudah Revisi Menambah jenis kartu soal dengan kartu soal satu warna yaitu warna hitam Mengubah tempat menjadi lebih besar dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 5 cm Papan Titik Mengubah nama sesuai dengan keinginan peneliti Papan penjumlahan pengurangan Selanjutnya revisi dilakukan pada tempat balok kubus satuan, puluhan, ratusan, hingga ribuan. Tempat kubus sebelum pergantian sangatlah kecil sehingga menyulitkan siswa yang akan mengambil kubus di dalamnya. Kemudian setelah pergantian, tempat dibuat menjadi lebih besar dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 5 cm sehingga memudahkan siswa dalam mengambil kubus yang ada di dalamnya. 4.6 Uji Coba Lapangan Terbatas Uji coba lapangan terbatas dilakukan pada lima siswa kelas 1 SDK Pugeran, Yogyakarta yaitu R, A, K, S, dan Sta. Uji coba ini berlangsung selama empat kali pertemuan yang berturut-turut. Setiap pertemuan berdurasi 90 menit. Pertemuan dilakukan disebuah ruangan tersendiri yang cukup kondusif. Ruangan 73

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tersebut memungkinkan kelima siswa belajar tanpa ada gangguan dari lingkungan sekitar. Pada pertemuan pertama, agenda kegiatan adalah perkenalan papan penjumlahan dan pengurangan dan konsep nilai tempat. Pertemuan kedua berfokus pada penjumlahan dan pengurangan tanpa teknik menyimpan. Pertemuan ketiga berfokus pada penjumlahan dan pengurangan dengan teknik menyimpan. Pertemuan terakir merupakan pertemuan untuk mengulang materi dari awal hingga akhir. Meskipun terdapat agenda tersendiri pada tiap pertemuannya, pengajaran yang sebenarnya dilakukan secara fleksibel sesuai dengan pencapaian yang didapat oleh masing-masing siswa pada tiap pertemuanya. Sebelum pertemuan pertama, peneliti telah memberikan pretest sebagai tolak ukur kemampuan siswa sebelum belajar menggunakan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan. Pretest tersebut dikerjakan oleh siswa secara mandiri. Pertemuan pertama beragendakan pengenalan papan penjumlahan dan pengurangan dan konsep nilai tempat. Pertemuan ini diawali dengan berdoa kemudian perkenalan papan penjumlahan pengurangan. Setelah perkenalan selesai, siswa mulai belajar mengenali nilai tempat. Terdapat ada beberapa siswa yang telah memahami konsep nilai tempat, sehingga peneliti berinisiatif untuk melakukan permainan papan penjumlahan dan pengurangan sebagai pengenalan cara menggunakan papan penjumlahan dan pengurangan. Pertemuan kedua beragendakan pembelajaran penjumlahan dan pengurangan tanpa teknik menyimpan. Setelah diawali dengan doa, peneliti mempresentasikan cara menjumlah bilangan dua angka dengan dua angka pada papan penjumlahan pada salah seorang siswa. Siswa yang lain memperhatikan cara penggunaan papan penjumlahan dan pengurangan. Setelah itu, siswa mulai mencoba secara bergantian baik secara mandiri maupun berkelompok sambil menuliskan jawaban mereka pada lembar kerja. Pertemuan kedua ini diakhiri dengan kuis kecil yang berguna untuk melihat pencapainsiswa. Pada pertemuan ketiga, siswa diajak untuk fokus pada penjumlahan dan pengurangan dengan teknik menyimpan. Pertemuan diawali dengan presentasi dari peneliti dengan seorang siswa bagaimana cara menjumlahkan dan mengurangkan bilangan dua angka dengan teknik menyimpan. Setelah dirasa cukup, peneliti mempersilahkan parasiswa untuk mencoba menyelesaikan soal 74

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dari kartu soal secara mandiri. Semua siswa mencoba menyelesaikan soal yang mereka ambil dengan papan penjumlahan dan pengurangan secara mandiri. Pada pertemuan ini pula, peneliti memperkenalkan kartu soal tanpa warna untuk memperdalam konsep nilai tempat. Lima menit sebelum pertemuan berakir, peneliti mengadakan kuis kecil untuk mengetahui pencapaian belajar siswa. Pertemuan keempat merupakan pertemuan terakir yang beragendakan mengulang materi dari awal hinga akhir sebelum menghadapi posttest. Pada pertemuan ini frekuensi penggunaan alat peraga papan pengurangan dan penjumlahan sedikit dikurangi. Hal tersebut dilakukan untuk mengajak siswaterbiasa dengan konsep yang abstrak. Pertemuan ini lebih banyak mengarah pada berbagai latihan soal penjumlahan dan pengurangan dua angka baik dengan teknik menyimpan maupun tanpa teknik menyimpan. Tekink yang lebih banyak dilakukan pada pertemuan ini adalah tanya jawab siswa dengan peneliti. Pada akhir pertemuan ini, peneliti mengadakan kuis kecil untuk mengetahui pencapaiansiswa. 4.6.1 Hasil Uji Coba Lapangan Terbatas Hasil uji coba lapangan terbatas dilihat dengan empat instrumen penelitian yaitu tes, kuesioner, wawancara, dan observasi. Tes digunakan untuk melihat dampak alat peraga papan penjumlahan dan penurangan pada ranah kognitif siswa. Kuesioner digunakan untuk melihat kelayakan alat peraga papan penjumlahan pengurangan. Sedangakan instrumen wawancara dan observasi digunakan untuk melihat dampak lain yang berupa afeksi. Selain itu, wawancara dan observasi digunakan sebagai instrumen konfirmasi atas hasil kuesioner dan tes prestasi yang telah didapat siswa. Berikut akan diuraikan hasil dari masingmasing instrumen. 4.6.1.1 Hasil Pretest dan Posttest Pretestdan posttest diberikan pada siswa di luar empat pertemuan yang telah dicanangkan oleh peneliti, sehingga siswa benar-benar dapat berkonsentrasi dalam mengerjakan soal. Tabel 4.11 halaman 76 menunjukan perbandingan hasil pretest dan posttest. Masing-masing responden menunjukan kenaikan diatas 70 %. Sedangkan Skor tertinggi didapat oleh A dengan 93,33. 75

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 4.11 Hasil Pretest dan Posttest Responden Pretest Posttest R K Sta S A Rerata 48,33 35 36.67 46,66 38,33 40.99 91,67 80 86,67 88,33 93,33 88 Persentase kenaikan (%) 89,67 128,57 136,35 89,42 143,49 114,6 Tabel 4.11 juga memperlihatkan K memperolah skor yang paling rendah diantara teman yang lainya. Ia hanya mendapat skor sebesar 80. Hal tersebut wajar terjadi karena K merupakan siswa yang paling sulit untuk dikondisikan daripada keempat siswa yang lain. Saat pertemuan uji coba lapangan terbatas, K lebih banyak mengeluh dan lebih mudah teralih perhatianya. Hasil kuis yang dilakukan setiap hari juga menunjukan bahwa K memperoleh hasil yang paling rendah diantara teman-temannya. Pada setiap kuis yang telah dilakukan ia mengalami persoalan pada masalah ketelitian saat menghitung penjumlahan dan pengurangan pada angka-angka yang terbilang mudah. Meskipun demikian K mengalami peningkatan skor yang sangat tinggi pada dari pretest hingga posttest sebesar 128,57%. 100 90 80 70 60 50 Pre tes 40 Pos tes 30 20 10 0 R K Sta S A Responden Diagram 4.1 Kenaikan Pretestdan Posttest Sementara A merupakan siswa yang memperoleh kenaikan tertinggi yaitu 143,49% diantara siswa yang lain. A memang siswa yang terbilang rajin dan 76

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mampu membantu teman yang lain ketika tidak bisa. A juga terbilang mampu mengikuti dengan cepat apa yang peneliti sampaikan. A juga tak jarang mengoreksi pekerjaannya setelah A selesai mengerjakan kuis maupun tes. Meskipun demikian, A juga cepat untuk mengeluh ketika menemui sedikit kendala, namun jika diberi sedikit petunjuk oleh peneliti A dengan cepat bisa memahaminnya. Sementara fenomena yang menarik terjadi pada Sta. Sta merupakan siswa yang terbilang malas dan banyak mengeluh ketika uji coba lapangan berlangsung. Selain itu Sta juga tidak begitu tertarik ketika peneliti memberikan kesempatan padanya untuk berlatih secara mandiri dengan papan penjumlahan pengurangan. Meskipun demikian, pada pertemuan 3 dan 4 Sta mulai menunjukan ketertarikanya pada alat peraga ketika Sta diberi kesempatan untuk menggunakan alat peraga secara mandiri tanpa dilihat oleh temannya dan peneliti. Setelah menjalani posttest hasilnya memuaskan dengan kenaikan sebesar 136,35%. R merupakan siswa dengan prestasi yang baik. Menurut guru kelasnnya, R merupakan salah satu siswa yang sering mendapatkan nilai yang bagus pada latihan-latihan ataupun evaluasi. Hal tersebut juga terlihat pada saat uji coba lapangan terbatas. R termasuk dalam siswa yang tergolong kurang rajin dan senang sekali bermain dan tertawa dengan temannya, namun R cepat dalam menyerap konsep yang diajarkan. R mengalami kenaikan pretest dan posttest sebesar 89,67%. Kemudian S merupakan siswa yang sebenarnya mempunyai kemampuan kognitif yang baik namun S sangat malu jika diberi kesempatan untuk mencoba alat peraga di depan teman-temannya. Setiap hari hingga pertemuan ke-3, S kehilangan banyak kesempatan untuk mencoba alat peraga karena rasa percayadirinya sulit ditumbuhkan. Sehingga setiap S mendapat giliran untuk mencoba alat peraga, peneliti selalu menghabiskan banyak waktu untuk membujuk S. Meskipun demikian, S mengalami kenaikan yang cukup tinggi pada nilai posttest yaitu sebesar 89,42%. Melalui hasil pretest dan posttest, dapat dilihat kenaikan yang signifikan pada masing-masing siswa. Hal tersebut membuktikan penggunaan alat peraga papan penjumlahan pengurangan berbasis metode Montessori mampu 77

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI meningkatkan kemampuan kognitif siswa. Secara implisit pula dapat dikatakan bahwa alat peraga telah mampu mewakili konsep penjumlahan dan pengurangan. 4.6.1.2 Hasil Kuesioner Alat Peraga Papan Penjumlahan Pengurangan Kuesioner diberikan pada siswa setelah uji coba lapangan terbatas bersama dengan posttest. Pengisian kuesioner dilakukan dengan pendampingan dari peneliti. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya pemahaman yang salah mengenai pernyataan dalam kuesioner. Berikut merupakan tabulasi hasil dari kuesioner yang diisi oleh responden. Tabel 4.12 Rekapitulasi Hasil KuesionerValidasi Alat Peraga oleh Siswa Responden A R S K Sta Jumlah Skor item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 4 4 3 4 3 19 3 4 4 4 4 21 4 4 3 4 3 21 4 4 4 4 4 24 4 4 4 4 4 25 4 4 4 4 4 26 4 3 4 4 4 26 3 3 3 3 4 24 4 4 4 4 4 29 4 4 4 4 3 29 Rerata Kualifikasi 3.8 3.8 3.7 3.9 3.7 3.7 Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Berdasar kuesioner yang telah disebar pada responden, rerata skor yang diperoleh adalah 3,7. Hal tersebut menyatakan bahwa papan penjumlahan dan pengurangan berada pada interval 3,5-4 atau dalam kategori “sangat baik”. Penilaian semua siswa rata-rata di atas 3 tidak ada yang mendapatkan skor 2. A memberikan skor 3 pada item nomor 2 dan 8. Item nomor 2 mengenai pemahaman siswa terhadap materi penjumlahan dan pengurangan. Hal tersebut justru bertolak belakang dari hasil posttest yang didapat A. Ia mendapatkan nilai paling tinggi diantara temantemannya. Sementara item nomor 8 merupakan deskriptor dari indikator autocorrection. A menyatakan setuju mengenai kemampuan auto-correction dari papan penjumlahan pengurangan. Kemudian R memberikan skor 3 pada item nomor 7 dan 8. Item nomor 7 dan 8 merupakan deskriptor dari indikator auto-correction pada alat peraga. Meskipun, item nomor 7 dan 8 tidak mendapatkan nilai sempurna, namun hasil posttest R menunjukan hasil yang memuaskan dengan nilai 91.67. Berbeda dengan R, S justru memberikan nilai 3 pada item nomor 1,3, dan 10. Masingmasing nomor tersebut mewakili indikator auto-education, menarik, dan kontekstual. Kemudian K memberikan skor 3 pada item nomor 8 yang merupakan 78

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI deskriptor dari indikator auto-correction. Sementara Sta memberikan nilai 3 pada tiga item diantaranya nomor 1, 3, dan10. Item nomor 1 merupakan deskriptor dari indikator auto-education, nomor 3 merupakan deskriptor dari menarik, dan item nomor 10 merupakan deskriptor dari kontekstual. Melalui skor yang diberikan siswa tersebut, dapat dilihat bahwa indikator auto-correction dengan deskriptor nomor 8 paling banyak mendapat nilai 3 disusul oleh indikator menarik, autoeducation, dan kontekstual. 4.6.2 Analisis Produk Berdasar Uji Coba Lapangan Terbatas Berdasarkan hasil tes, terlihat bahwa alat peraga papan penjumlahan pengurangan mampu meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi penjumlahan dan pengurangan dengan rerata kenaikan sebesar 114,6%. Berdasar hasil kuesioner siswa alat peraga papan penjumlahan pengurangan termasuk dalam kategori “sangat baik” dengan rerata 3,7. Meskipun alat peraga papan penjumlahan pengurangan mampu meningkatkan pemahaman siswa, namun masih perlu dilakukan perbaikan pada kartu soal dan pembatas kolom nilai tempat pada papan utama. Hal tersebut dikarenakan terdapat beberapa kartu soal yang masih belum sesuai antara soal dengan jawabannya. Sementara pembatas kolom nilai tempat hanya menggunakan spidol permanen sehingga jika digunakan secara terus menerus akan terhapus. Maka dari itu, kartu soal dan pembatas pada kolom nilai tempat harus direvisi. 4.6.3 Revisi Produk Berdasar Uji Coba Lapangan Terbatas Berdasar analisis dari uji coba lapangan terbatas, disimpulkan bahwa peneliti akan merevisi alat peraga yang berkaitan dengan (1) kartu soal dan (2) batas nilai tempat. Tabel 4.13 halaman 80 merupakan tabel hasil revisi alat peraga. Tabel 4.13 pada halaman 80 menunjukkan gambar alat peraga sebelum dan sesudah direvisi. Pada kartu soal banyak yang kurang sesuai antara soal yang ada dengan jawaban terdapat 8 buah kartu soal yang diperbaiki. Sementara itu, papan utama mengalami pergantian batas nilai tempat dari yang semula menggunakan tinta spidol sebagai pembatas, sekarang diganti dengan stiker sebagai pembatasnya. 79

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 4.13 Revisi Alat Peaga Berdasar Uji Coba Lapangan Terbatas No Nama 1 Kartu Soal 2 Papan utama Sebelum Revisi Tindak Lanjut Sesudah Revisi Membenarkan jawaban pada kartu soal. Mengubah garis pembatas nilai tempat dengan menggunakan stiker 4.7 Analisis Dampak Afektif pada Uji Coba Lapangan Terbatas Pada bagian ini akan diuraikan hasil wawancara, observasi dan proses triangulasi data. 4.7.1 Hasil Wawancara Uji Coba Lapangan Terbatas Wawancara dilakukan pada responden selama proses uji coba lapangan terbatas dan setelah proses uji coba baik kepada guru kelas dan kepada siswa. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara tidak terstruktur yang berpedoman pada kelima ciri alat peraga Montessori, aspek perkembangan kognitif dan afektif siswa. Berdasar wawancara tersebut, didapati bahwa siswa merasa tertarik dengan alat peraga yang berupa balok-balok kecil. Menurut mereka jika merasa bosan atau telah selesai mengerjakan soal mereka dapat menggunakanya untuk bermain. Hal tersebut dibuktikan dengan responden K yang berkata sambil menengok ke R dan Sta “baloknya bisa dibuat lintasan mobil-mobilan” (wawancara dengan siswa, 18 Desember 2013). Sementara, responden S mengungkapkan alasan mengapa pada awal-awal sempat merasa tidak tertarik untuk menggunakan alat peraga dan akhirnya S mau menggunakan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan. S berkata sambil malu-malu “gara-gara senang melihat jawaban dibalik soal” (Wawancara dengan 80

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI siswa, 21 Desember 2013). S merasa senang karena S dapat mengetahui jawabanya benar ketika membalik kartu soal dan melihat jawaban disebaliknya. Hal tersebut membuktikan bahwa sistem auto-correctiondan auto-education yang terdapat pada alat peraga ternyata menumbuhkan kesan positif tersendiri bagai S. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan Montessori bahwa membiarkan siswa mencoba sendiri akan menimbulkan perasaan pada siswa yang sebelumya tidak diduga oleh orang dewasa (Magini, 2010: 49) Responden A mengungkapkan bahwa ia menjadi tidak cepat bosan ketika berhitung. A berkata “tidak perlu orek-orekan kalu ngitung” (Wawancara dengan siswa, 20 desember 2013). A mengungkapkan bahwa pengunaan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan mempermudah A untuk menjumlah atau mengurang angka karena tidak perlu menghitung di kertas lain. Selain responden A, responden R juga mengungkapkan bahwa R lebih tertarik menggunakan alat peraga karena ingin melihat apakah pekejaan yang telah dilakukan benar atau salah. Hal tersebut diungkapkan R saat dikonfirmasi oleh peneliti mengapa R begitu serius saat mengerjakan soal dengan menggunakan papan penjumlahan pengurangan. Kemudian responden A mengungkapkan bahwa A lebih mengutamakan keteraturan dalam menyusun kubus-kubus. Hal tersebut dibuktikan ketika peneliti bertanya, “Mengapa kamu membenarkan posisi kubus saat menyusunnya tidak rapi?” kemudian A menjawab “supaya rapi” (wawancara pribadi dengan siswa, 19 Desember 2013). Peneliti mencoba menggali informasi yang lebih mendalam mengapa ia suka kerapian dan A mengungkapkan bahwa A hanya menirukan apa yang dilakukan oleh peneliti. Temuan tersebut merupakan indikasi bahwa metode Montessori memberikan dampak pada keteraturan siswa (Magini, 2010: 53) Selain wawancara dengan siswa, peneliti juga mewawancarai guru kelas I. Menurut pandangan guru alat peraga tersebut sangat sesuai untuk dipakai secara individu bukan untuk dibawa guru menerangakan di depan kelas. Alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan juga bagus untuk melatih konsentrasi siswa dalam menempatkan balok pada kotak yang telah tersedia. Hal tersebut dibuktikan dengan perkataan “ini bagus, karena baloknya kecil anak bisa konsentrasi saat 81

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ndempet-ndempetke -menyusun secara berdekatan-balok” (Wawancara dengan guru, 20 Desember 2013). Guru juga melihat adanya kemandirian saat para siswa menggunakan alat peraga papan penjumlahan pengurangan. Hal tersebut diungkapkan dengan berkata, “iyo..yo mas. Guru tidak perlu menunggui siswa ketika menggunakan alat perga….” (wawancara dengan guru, 20 Desember 2013). Mengenai bahan penyusun alat peraga, guru memberikan penjelasan bahwa bahan yang digunakan kokoh dan tahan lama. Selain itu menurut guru kelas I, siswa dapat belajar sambil bermain dengan menggunakan alat peraga papan penjumlahan pengurangan. Guru berpendapat bahwa kubus-kubus kecil yang ada dalam alat peraga menyerupai mainan yang dapat dibentuk menjadi berbagai bentuk mainan dengan menyusunya. Penggunaan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan juga dapat melatih kesabaran siswa. Guru mengungkapkan bahwa ketika jawaban siswa salah siswa akan terus mengulangi prosesnya dari awal hingga jawabannya benar. Kegiatan tersebut dapat melatih kesabaran siswa dalam belajar. Guru kelas I juga mengungkapkan perannya saat alat peraga papan penjumlahan pengurangan digunakan. Menurut Beliau, peran guru hanya sebagai contoh dalam memperagakan cara menggunakan alat peraga. Sehingga tugasnya lebih ringan. Melalui hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa, (1) ciri menarik alat peraga tidak hanya pada warnanya, namun juga pada kubus satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan, (2) penggunaan alat peraga tidak cepat menimbulkan rasa bosan, (3) alat peraga terbukti mampu digunakan secara mandiri oleh siswa, (4) alat peraga terbukti memiliki kemampuan auto-correctionyang mampu menumbuhkan minat belajar siswa, (5) alat peraga dapat melatih konsentrasi siswa, (6) alat peraga mampu melatih siswa untuk teratur, (7) siswa dapat bermain sambil belajar dengan menggunakan alat peraga, (8) alat peraga mampu melatih kesabaran siswa, (9) meringankan kerja guru, dan (10) alat peraga berbahan dasar yang kokoh. 4.7.2 Hasil Observasi Uji Coba Lapangan Terbatas Observasi dilakukan selama uji coba lapangan terbatas selama 4 hari dengan jenis observasi partisipatif. Pada awalnya peneliti melihat tingkat 82

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI partisipasi siswa dalam menggunakan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan nampak masih rendah. Pada hari pertama, hanya terlihat responden R yang selalu aktif memanipulasi alat peraga sementara yang lainnya hanya sesekali memiliki inisiatif untuk mencoba tanpa diberi perintah oleh peneliti. Pada hari berikutnya responden A dengan malu-malu mulai mencoba menggunakan alat peraga. Tingkat partisipasi terus meningkat, pada hari ke 3 dan 4 hampir semua siswa berebut untuk memperoleh giliran pertama dalam menggunakan alat peraga. Setiap siswa yang mencoba menggunakan alat peraga menunjukan ekspresi yang berbeda-beda. Seperti responden K, K merupakan siswa yang selalu bersemangat dalam menunjukan apa yang telah K capai kepada peneliti. Saat K mengerjakan kuis K selalu mendekati peneliti dan menunjukan hasil kerjannya. Melalui aktivitas tersebut, terlihat ekspresi ceria yang terpancar dari wajah K. Berbeda dengan Sta, saat Sta mengerjakan soal dengan papan penjumlahan pengurangan Sta selalu melirik ke arah peneliti seolah ingin meminta konfirmasi apakah yang ia kerjakan itu sudah benar. Meskipun demikian, peneliti tidak memberikan ekspresi apapun dan berkata “lanjutkan”. Menurut Sta kata “lanjutkan” tersebut merupakan pertanda bahwa langkah yang telah Sta lakukan sudah tepat, namun pada saat Sta membuka jawaban pada lembar kartu soal dan Sta mendapati bahwa jawabannya salah, Sta hanya tersenyum kecil. Peneliti kemudian menyuruh Sta untuk mengulanginya. Tanpa rasa ragu Sta kembali mengambil kartu soal yang lain dan memulainya dari awal. Peneliti juga mendapati fenomena yang menarik pada S. Diantara keempat temannya, S merupakan siswa yang tingkat kepercayaan dirinya rendah. Pada hari pertama S sama sekali tidak mencoba menggunakan alat peraga dan hanya sesekali berbicara pada temannya. Setiap S ditanya oleh peneliti, S hanya menjawab dengan gelengan kepala sambil tersenyum. Kemudian pada hari ke-2, S perlahan mulai mencoba alat peraga namun tidak untuk dilihat oleh temannya. Sehingga ketika yang lain mengerjakan kuis S keluar dari kelompok dan menggunakan alat peraga sendiri. Pada hari itu, S hanya menggunakan alat peraga sekali. Hari ke-3, S mulai ikut masuk dalam undian dalam menggunakan alat peraga. S mulai dapat menggunakan alat peraga didepan teman-temanya. 83

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kemudian pada hari ke-4, S mulai terbiasa dengan interaksi dengan teman saat menggunakan alat peraga. Responden R merupakan siswa yang paling antusias sejak awal pertemuan. R selalu mengikuti alur bimbingan dengan baik. R selalu ingin menjadi yang pertama dalam menggunakan alat peraga. Pada hari pertama saat pertama kali R menggunakan alat peraga, terlihat senyuman yang lebar sambil berkata “yes” saat R mengetahui bahwa ia boleh memilih soal sesuka hatinya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kebebasan penuh yang diberikan kepada siswa akan menimbulkan keleluasaan dalam beraktivitas (Montessori, 2013: 186188). Selain kebebasan, melalui penggunaan alat peraga papan penjumlahan pengurangan juga tumbuh konsep menghargai antar siswa. Pada hari pertama, peneliti membebaskan siswa untuk menggunakan alat peraga, namun R dan K selalu berebut untuk dapat menggunakan alat peraga. Bahkan mereka sampai lempar-lemparan penghapus kecil untuk mendapatkan giliran pertama. Pada hari ke-2 peneliti berinisiatif untuk membuat giliran pada siswa agar kericuhan yang terjadi pada pertemuan pertama tidak terulang lagi. Peneliti membuat undian untuk menentukan giliran menggunakan alat peraga. Setelah giliran didapat, semua siswa nampak tenang termasuk R dan K. Siswa yang mendapat giliran segera memakai alat peraga dan yang belum, mengerjakan soal-soal latihan yang diberkan oleh peneliti. Melalui kejadian tersebut siswa semakin mampu untuk menghargai kesepakatan yang ditentukan bersama. Dengan demikian, keterbatasan jumlah alat peraga justru menumbuhkan rasa untuk saling menghargai antar teman. Seperti yang diungkapkan di atas, bahwa responden S baru terlihat rasa percaya dirinya pada pertemuan 3 dan 4. Pada pertemuan 4 terlihat S sangat menikmati ketika mengerjakan soal dengan alat peraga. Setelah ia menyelesaikan satu soal, peneliti mengambil kartu soal dengan kesulitan yang lebih dari yang di kerjakan S sebelumnya kemudian peneliti menyuruh S untuk mengerjakan soal tersebut. Ketika S sedang mengerjakan soal peneliti berinisiatif mengambil dua kartu soal yang tingkat kesulitannya semakin tinggi. Peneliti kemudian meletakkan kartu soal tersebut di samping alat peraga dan meminta S untuk 84

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengerjakan kedua soal tersebut setelah selesai mengerjakan soal yang pertama. Beberapa, menit kemudian S telah menyelesaikan soal-soal tersebut dengan baik. Hal tersebut membuktikan bahwa kartu soal yang dibuat merangsang siswa untuk menyelesaikan tantangan yang lebih sulit dan menumbuhkan minat belajar siswa. Pada hari ke-3 peneliti mengamati responden Sta yang sedang melakukan penjumlahan dua angka tanpa teknik menyimpan. Sta mengerjakan soal namun salah memasukan balok berwarna merah ke dalam kolom satuan yang seharusnya berwarna biru. Peneliti membiarkan kegiatan tersebut sampai Sta selesai mengerjakan soal. Setelah selesi, ternyata jawaban Sta tidak sesuai dengan apa yang ada di kartu soal. Sta bertanya pada peneliti mengapa jawabannya salah, kemudian peneliti menyuruh Sta untuk menanyakan hal tersebut pada R. Kemudian R mendekati Sta dan menunjukan kesalahan Sta. Mengetahui langkahnya salah, Sta mengulang langkahnya dari awal. Melalui kasus tersebut, dapat dilihat bahwa siswa kelas I yang masih memiliki sifat egosentris yang lebih mengutamakan diri sendiri ternyata dapat membantu teman mereka dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Peneliti melihat kecenderungan yang sama pada masing-masing siswa ketika menggunakan alat peraga yaitu siswa terlihat berkonsentrasi saat berpikir, meletakan balok, menghitung, dan hingga menuliskan jawaban. Mereka hanya terpaku pada pekerjaan yang sedang dihadapi. Hal tersebut menandakan bahwa siswa sedang sungguh-sungguh dalam belajar (Montessori, 2013: 400-401) Melalui kegiatan observasi yang telah diuraikan, dapat disimpulkan beberapa poin sebagai berikut (1) partisipasi siswa meningkat seiring penggunaan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan, (2) terlihatnya berbagai ekspresi siswa ketika menggunakan alat peraga, (3) adanya peningkatan rasa percaya diri ketika menggunkakan alat peraga, (4) kebebasan dalam menggunakan alat peraga memberikan keleluasaan dalam beraktivitas, (5) tumbuh rasa menghargai kesepakatan bersama, (6) menumbuhkan minat untuk belajar, (7) menumbuhkan kegiatan tutor pada teman sebaya, dan (8) melatih konsentrasi pada saat menggunakan alat peraga. 85

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.7.3 Hasil Triangulasi Data Melalui hasil wawancara dan observasi didapat pernyataan-pernyataan yang merupakan interpretasi dari data yang didapatkan. Berdasar pernyataanpernyataan tersebut dirumuskan indikator afektif yang dianggap mewakili setiap pernyataan. Tabel 4.14 pada memperlihatkan bahwa terdapat 19 pernyataan yang dapat dirumuskan menjadi 12 indikator afektif dari ketiga sumber yaitu siswa, guru, dan peneliti. Indikator tersebut diantarannya (1) antusiasme, (2) ketertarikan, (3) kemandirian, (4) minat belajar, (5) konsentrasi, (6) keteraturan, (7) kesabaran, (8) partisipasi, (9) ekspresi, (10) percaya diri, (11) menghargai, dan (12) bantumembantu. Tabel 4.14 Perumusan Indikator afektif Sumber Data Siswa Guru Peneliti Pernyataan Ciri menarik alat peraga tidak hanya pada warnanya, namun juga pada kubus satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan. Penggunaan alat peraga tidak cepat menimbulkan rasa bosan Alat peraga terbukti mampu digunakan secara mandiri oleh siswa Alat peraga terbukti memiliki kemampuan auto-correctionyang mampu menumbuhkan minat belajar siswa Alat peraga mampu menumbuhkan konsentrasi siswa Alat peraga mampu melatih siswa untuk teratur Siswa dapat bermain sambil belajar dengan menggunakan alat peraga Alat peraga mampu melatih kesabaran siswa Meringankan kerja guru Alat peraga berbahan dasar kokoh Alat peraga dapat melatih konsentrasi siswa Partisipasi siswa meningkat seiring penggunaan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan Terlihatnya berbagai ekspresi siswa ketika menggunakan alat peraa Adanya peningkatan rasa percaya diri ketika menggunkakan alat peraga Kebebasan dalam menggunakan alat peraga memberikan keleluasaan dalam beraktivitas Tumbuh rasa menghargai kesepakatan bersama Menumbuhkan minat belajar Menumbuhkan kegiatan tutor pada teman sebaya Melatih konsentrasi pada saat menggunakan alat peraga. Indikator Afektif Antusiasme Ketertarikan Kemandirian Minat belajar Konsentrasi Keteraturan Ketertarikan Kesabaran Konsentrasi Partisipasi Ekspresi Percaya diri Menghargai Minat Bantumembantu Konsentrasi Setelah indikator afektif didapat, dilakukan triangulasi untuk data untuk melihat kecocokan dampak afektif yang diungkapkan peneliti dengan dampak afektif yang diungkapkan oleh siswa dan guru. Berikut merupakan bagan triangulasi data. 86

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Peneliti Partisipasi Ekspresi Percaya diri Menghargai Minat Bantu-membantu Konsentrasi Siswa Antusias Tidak bosan Mandiri Minat Konsentrasi Keteraturan 1. 2. 3. 4. 5. Guru Ketertarikan Kesabaran Meringankan kerja guru Konsentrasi Mandiri Bagan 4.1 Triangulasi Data Melalui bagan 4.1 dapat terlihat dampak afektif yang terjadi pada saat siswa menggunakan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan yaitu pada kata yang dicetak tebal. Dari 7 dampak afektif yang diungkapkan peneliti, terdapat 2 dampak afektif yang dikonfirmasi oleh sisiwa mapupun guru. Dampak afektif tersebut adalah (1) Minat, dan (2) Konsentrasi. 4.8 Kajian Produk Akhir Berikut merupakan tabel rekapitulasi hasil validasi alat peraga dengan kuesioner baik oleh pakar, guru dan siswa. Tabel 4.15 Rekapitulasi Hasil Validasi Alat Peraga No. 1 2 3 4 Rerata Penilai Pakar Montessori Pakar Matematika Guru Siswa Skor 4,0 3,6 3,2 3,78 3,65 Kategori Sangat Baik Sangat Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Berikut merupakan produk akhir dalam penelitian ini yang berupa prototipe alat peraga papan penjumlahan pengurangan. 87

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 4.16 Prototipe Alat Peraga Papan Penjumlahan dan Pengurangan Nama Gambar Alat Peraga Nama Gambar Alat Peraga Kartu Papan Utama Soal dan tempatnya Kubus satuan, puluhan, Tanda ratusan, dan Operasi ribuan dan tempatnya 4.9 Konsekuensi lebih Lanjut Alat peraga papan penjumlahan pengurangan yang dihasilkan dalam penelitian ini memberikan alternatif solusi atas (1) minimnya dana pada pengadaan alat peraga Montessori, (2) minimnya ketersediaan alat peraga yang terstandardisasi, (3) kurang dikenalnya metode Montessori di kalangan guru, (4) belum terlaksananya pembelajaran yang berpusat pada siswa, dan (5) belum terbentuknya landasan berpikir siswa yang kuat pada konsep Matematika. Minimnya pendanaan untuk mengadakan alat peraga terstandar yang dialami sekolah pada umumnya dapat dijembatani dengan hadirnya papan penjumlahan pengurangan. Harga papan penjumlahan pengurangan relatif terjangkau oleh sekolah-sekolah di Yogyakarta pada umumnya. Harga papan penjumlahan pengurangan kurang lebih Rp. 200.000,-. Hal tersebut terbukti dengan pernyataan guru ketika analisis kebutuhan yang menyatakan SDK Pugeran mampu membeli alat peraga dengan kisaran harga Rp. 150.000,- sampai Rp. 300.000,-. Selain itu, sekolah Montessori yang hanya bisa dijangkau oleh kalangan ekonomi menengah ke atas, kini juga mampu dijangkau oleh semua kalangan. Adanya alat peraga papan penjumlahan pengurangan juga menjadi solusi atas minimnya ketersediaan alat peraga disekolah khususnya alat peraga 88

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI matematika yang terstandardisasi. Meskipun penujian papan penjumlahan dan pengurangan baru sampai pada tahap uji coba lapangan terbatas, namun peningkatan hasil belajar yang didapatkan siswa mengindikasikan bahwa alat peraga tersebut layak untuk digunakan dalam cakupan yang lebih luas. Selain itu dengan adanya prototipe papan penjumlahan pengurangan, guru mulai mengenal apa itu metode Montessori dan bagimana cara mengembangkan alat peraga berbasis Montessori. Sehingga guru mampu mencoba secara mandiri untuk mengembangkan alat peraga yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Berkaitan dengan apa yang diungkapkan pada latar belakang masalah mengenai pembelajaran di Indonesia yang belum sepenuhnya berpusat pada siswa, alat peraga papan penjumlahan pengurangan mampu menempatkan siswa sebagai pembelajar yang aktif. Hal tersebut ditunjukan dengan ciri alat peraga yang berupa auto-education. Ciri auto-education tersebut mampu merangsang guru untuk mengurangi teknik-teknik mengajar yang cenderung membuat siswa pasif. Dengan demikian, siswa akan lebih banyak berinteraksi dengan objek pembelajaran yang membawa pada penkonstruksian pengetahuan secara mandiri. Penggunaan alat peraga papan penjumlahan pengurangan secara mandiri akan membentuk dasar berpikir yang kuat mengenai konsep penjumlahan dan pengurangan. Siswa mampu memahami dasar penjumlahan dan pengurangan karena alat peraga dirancang dengan gradasi kompetensi dari pengenalan akan nilai tempat hingga penjumlahan dan pengurangan yang melibatkan empat angka. Meskipun siswa telah memahami bagaimana melakukan penjumlahan dan pengurangan dengan tingkatan yang sulit, siswa akan selalu mendapati persoalan mendasar mengenai nilai tempat. Jadi, siswa tidak cenderung untuk menggunakan cara cepat yang mengindahkan konsep dasar. Dengan demikian, hadirnya alat peraga papan penjumlahan ini dapat memberikan solusi atas berbagai persoalan teknis yang dihadapi sekolah maupun guru. Sehingga tujuan matematika untuk membentuk pemikiran yang logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, serta kemampuan bekerjasama dapat tercapai. 89

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V PENUTUP Pada bagian ini akan dibahas mengenai (1) kesimpulan, (2) keterbatasan penelitian, dan (3) saran. 5.2 Kesimpulan Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. 5.1.1 Alat peraga papan penjumlahan pengurangan yang dikembangkan untuk kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka di kelas Imengandung lima ciri yaitu auto- education, auto-correction, menarik, bergradasi, dan kontekstual. Ciri auto-education tercermin pada siswa yang mampu memahami materi penjumlahan dan pengurangan. Selain itu, papan penjumlahan pengurangan dapat dipergunakan secara mandiri oleh siswa tanpa bantuan orang lain. Ciri auto-correctionterlihat dari bentuk kubus satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan, warna pada kolom nilai tempat, dan jawaban pada kartu soal. Kemudian, ciri menarik terdapat pada bentuk kubus dan warna yang terdapat pada alat peraga. Ciri bergradasi terletak pada tingkat kesulitan yang terdapat pada kartu soal yaitu dari yang mudah ke sulit. Selain itu, ciri gradasi juga terlihat pada fungsi alat peraga yang dapat digunakan secara berkelanjutan untuk berbagai kompetensi. Ciri yang teraikir adalah kontekstual yang terletak pada bahan baku pembuatan papan penjumlahan pengurangan yaitu kayu mindi. 5.1.2 Alat peraga papan penjumlahan pengurangan yang dikembangkan untuk kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka di kelas I memiliki kualitas “Sangat baik”. Hal tersebut terlihat dari rerata skor yang diperoleh pada kuesioner pakar, guru kelas I, dan siswa sebesar 36.45. Kualitas tersebut ditinjau dari lima karakteristik yaitu auto-education,autocorrection, menarik, bergradasi, dan kontekstual. Selain itu, alat peraga penjumlahan pengurangan terbukti mampu meningkatkan pemahaman 90

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI siswa terhadap materi penjumlahan dan pengurangan dua angka dengan kenaikan pada pretest dan posttest sebesar 114,6%. 5.1.3 Alat peraga papan penjumlahan pengurangan yang dikembangkan untuk kompetensi penjumlahan dan pengurangan dua angka pada siswa kelas I terbukti memberikan dampak afektif pada (1) minat belajar dan (2) konsentrasi. 5.2 Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu, 5.2.1 Terbatasnya waktu pertemuan dalam uji coba lapangan terbatas yaitu 90 menit tiap pertemuan. 5.2.2 Terbatasnya jumlah alat peraga papan penjumlahan pengurangan yang hanya 1 dan digunakan untuk 5 siswa. 5.2.3 Penggunaan kayu mindi yang seratnya lebih kasar dibandingkan dengan kayu pinus. 5.2.4 Data observasi tidak begitu detail karena peneliti hanya sebatas menuliskan hasil observasi sesaat setelah bimbingan dengan siswa berlangsung. 5.3 Saran Berdasar pada keterbatasan penelitian yang ada, peneliti memberikan saran untuk penelitian selanjutnya sebagai berikut, 5.3.1 Tingkatkan durasi waktu pada tiap pertemuaan saat uji coba lapangan terbatas kurang lebih 120 menit tiap pertemuan. 5.3.2 Perbanyak jumlah alat peraga dalam pengujian lapangan terbatas paling tidak terdapat 2 alat peraga untuk 1 kelompok yang terdiri dari 5 siswa. 5.3.3 Gunakan kayu pinus sebagai bahan utama penyusun alat peraga karena seratnya lebih halus. 5.3.4 Dalam melakukan observasi, gunakan alat perekam yang mampu merekam seluruh kejadian selama bimbingan dengan siswa berlangsung. 91

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR REFRENSI Anitah, S. (2010). Media pembelajaran. Surakarta: Yuma Pressindo. Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Edisi Revisi VI. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Astuti, Y. P. (2010). Peningkatan kemampuan berhitung keaktifan siswa kelas 1 dalam melakukan menjumlahan dan mengurangan bilangan cacah menggunakan media manik-manik di SD Kanisius Bantul. Skripsi. Yogyakarta. PGSD. FKIP.USD. Asyad, A. (2010). Media pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Azwar, S. (2012). Tes prestasi: fungsi pengembangan pengukuran prestasi belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Standar isi dan Standar Kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar . Jakarta: BP. Cipta Jaya. Borg, W. R.& Gall, M.D. (1983). Educational research: An introduction (4ed). New York & London: Longman. Chrisnall, N & Maher, M. (2007). Montessori mathematics in early childhood education. Montessori validated. Diakses 4 Juni 2013, dari http://montessori.org.au/research/MontessoriValidatedByResearch.pdf Cresswell, W. (2012). Reserch desigen: pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dahar, R.W. (1989). Teori-teori belajar. Jakarta: Erlangga. Depdikbud. (2007). Standar isi kurikulum KTSP 2007. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Djiwandono, S.E.W. (2006). Psikologi pendidikan. Jakarta: Penerbit PT. Grasindo. Dohrmann, K. (2003). Outcomes for students in a Montessori program, a longitudinal study of the experience in the Milwaukee public schools. Montessori validated. Diakses 4 Juni 2013, dari http://montessori.org.au/research/MontessoriValidatedByResearch.pdf. Gall, M.D., Gall, J.P., & Walter, R. (2007). Educational research: An introduction. eight edition. Boston: Pearson. Ghozali, I. (2009). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. 92

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hainstock, E. G. (1997). The essensial Montessori; an introduction to woman, the writings, the method, and the movement. United states of America: A Plume Book. Holt, H. (2013). The absorbent mind, pikiran yang mudah menyerap. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Johnson, E. B. (2007). Contextual teaching and learning : Menjadikan kegiatan belajar- mengajar mengasyikan dan bermakna. Bandung: Mizan Learning Center. Kidadvance. (2014). diakses dari http://www.kidadvance.com/Mathematics4c.html pada tanggal 10 April 2014. Krathwohl, R.D. (2004). The continum of research methods: qualitative end. Long Grove: Waveland Press. Letten, A. (2010). Peningkatan kemampuan berhitung dalam penjumlahan dan pengurangan dengan metode demonstrasi menggunakan media kertas berwarna pada siswa kelas 1 SDK Kotabaru Yogyakarta semester ganjil tahun pelajaran 2009/2010. Skripsi. Yogyakarta. PGSD. FKIP.USD. Lillard, & Else-Quest, N. (2006). Evaluating Montessori education. Montessori validated. Diakses 4 Juni 2013, dari http://montessori.org.au/research/MontessoriValidatedByResearch.pdf Lillard, A.(2005). Montessori; the sciense behind the genius. New York: Oxford University Press. Lillard, P. P.& Lynn, L. J.. (2003). Montessori from the start: The child at home, from birth to age three. New York: Schocken Books. Lillard, P. P. (1997). Montessori in the classroom: A children really learn. New York: Schocken Books. Magini, A. P. (2010), Presentasi perkembangan anak dalam modul workshop Maria Montessori usia 3-6 tahun, Yogyakrta: Universitas Sanata Dharma. Magini, A. P.. (2013). Sejarah pendekatan Montessori. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. McDermott, J. J. (1965). Maria Montessori: spontaneous activity in education; the advanced Montessori method. United states of America: Schocken Book. Montessori, M. (2013). Metode Montessori: panduan wajib untuk guru dan orangtua didik PAUD (pendidikan anak usia dini). Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar. Montessori, M. (2002). The Montessori method. New York: Schocken Books. 93

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Munadi, Y. (2010). Media pembelajaran:Sebuah pendekatan baru. Jakarta: Gunung Persada. Ormrod, J. (2008). Psikologi pendidikan: Membantu anak tumbuh dan berkembang. Ciracas, Jakarta: Erlangga. Programme for International Student Assessment. What students know and can do: Student performance in reading, Mathematics and Science (2009). Diakses dari http://www.oecd.org/pisa/46643496.pdf, pada tanggal 4 Mei 2014. Raharjo, M. (2004). Bilangan asli, cacah, dan bulat. Yogyakarta: Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Matematika. Sarwono, J. (2011). Mixed methods: cara menggabung riset kuantitatif dan riset kualitatif secara benar. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. Siregar, E & Nara, H. (2011). Teori belajar dan pembelajaran. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia. Smaldino, S.E., Lowther, D.L., & Russell, J.D. (2011). Instructional technology and media for learning : Teknologi pembelajaran dan media untuk belajar (edisi 9). Jakarta: Kencana. Sugiyono. (2011). Metodepenelitian kuantitatf kualiatif dan R&D. Bandung: Alfabeta,CV. Sukardjo. (2008). Kumpulan materi evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Suparno, P. (2001). Teori perkembangan kognitif Jean Piaget.Yogyakarta: Kanisius. Suyanto. (2000). Pendidikan realistik suatu inovasi pembelajaran matematika. Yogyakarta: Cakrawala Pendidikan. Syaiful, D. (2010). Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Widoyoko, E. P. (2012). Evaluasi program pembelajaran: Panduan praktis bagi pendidik dan calon pendidik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wijayanti, T. K. P. (2013). Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. The World Bank. (2011). Mentransformasi tenaga pendidikan Indonesia: Volume ii: Dari pendidikan prajabatan hingga ke masa purnabakti: Membangun dan mempertahankan angkatan kerja yang berkualitas tinggi, efisien, dan termotivasi. Jakarta: Kantor Bank Dunia. Yusuf, S. (2011). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 94

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 95

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1 Validasi Instrumen Analisis Kebutuhan Lampiran 1.1 Kisi-Kisi Kuesioner Analisis Kebutuhan Indikator Auto-education Auto-correction Menarik Bergradasi Kontekstual Deskriptor 3. Penggunaan alat peraga matematika 4. Belajar secara mandiri 3. Membantu menemukan kesalahan sendiri 4. Membantu menemukan jawaban yang benar 2. Memiliki warna 3. Dapat digunakan untuk lebih dari satu kompetensi 4. Berat alat peraga 2. Memanfaatkan benda dari lingkungan sekitar Nomor Item 1 dan 2 7 dan 8 3 dan 4 5 dan 6 9 dan 10 Lampiran 1.2 Kisi-Kisi Wawancara Analisis Kebutuhan Guru Indikator Auto-education Bergradasi Kontekstual Deskriptor Penggunaan Alat peraga dalam pembelajran Manfaat menggunakan alat peraga Harga Alat peraga Berat alat peraga Bahan baku pembuat alat peraga Hal-hal di sekitar sekolah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan alat peraga Lampiran 1.3 Kisi-Kisi Wawancara Analisis Kebutuhan Siswa Indikator Menarik Deskriptor Warna alat peraga yang disukai Bentuk alat peraga yang disukai 96

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1.4 Rekapitulasi Jawaban Uji Keterbacaan Kuesioner Analisis Kebutuhan Guru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Aspek yang dinilai Jawaban pada skor 1 2 3 4 Saran (Jika ada) Apakan Bapak/Ibu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat Jarang Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa memahami konsepkonsep matematika ? a. Ya b. Tidak Jika alat peraga Matematika berasal dari lingkungan sekitar, apakah lebih menarik jika diberi warna ? a. Ya b. Tidak Warna yang seperti apa yang Bapak/Ibu sukai untuk alat peraga? a. Warna Cera b. Warana gelap Manakah alat peraga matematika yang Bapak/Ibu sukai ? 1 3 2 2 4 1 2 3 1 3 2 1 5 a. Berat b. Sedang c. Ringan Apakah Bapak/Ibu lebih suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk kompetensi dasar yang berbeda? a. Ya b. Tidak Apakah menurut Bapak/Ibu, penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri ? a. Ya b. Tidak Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa untuk menemukan jawaban yang benar ? 2 4 2 4 1 5 1 4 a. Ya b. Tidak Apakah Bapak/Ibu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? a. b. c. d. e. Sangat sering Sering Kadang-kadang Jarang Tidak pernah 1 97

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Apakah Bapak/ Ibu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar? a. b. c. d. e. Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Sangat setuju Jumlah Skor 1 2 3 12 69 124 Kuesioner tersebut diisi oleh 2 pakar pembelajaran Matematika, 3 pakar pembelajaran Bahasa Indonesia, dan 1 orang guru. 98

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1.5 Rekapitulasi Jawaban Uji Keterbacaan Analisis Kebutuhan Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Aspek yang dinilai Saran (Jika ada) Apakah gurumu menggunakan alat perag ketika mengajar Matematika ? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat Jarang Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu memahami konsepkonsep matematika? b. Ya b. Tidak Jika alat peraga Matematika berasal dari lingkungan sekitar, apakah akan menarik jika diberi warna ? b. Ya b. Tidak Warna yang seperti apa yang kamu sukai untuk alat peraga? b. Warna Cera b. Warana gelap Manakah alat peraga matematika yang kamu sukai? b. Berat b. Sedang c. Ringan Apakah kamu lebih suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk materi yang berbeda? 3 1 1 1 1 2 3 1 2 1 2 b. Ya b. Tidak Apakah Menurutmu, penggunaan alat peraga dapat membantumu menemukan kesalahanmu sendiri ? b. Ya b. Tidak Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu untuk menemukan jawaban yang benar dari kesalahan saat mengerjakan soal-soal latihan? 3 1 2 1 2 b. Ya b. Tidak Apakah gurumu menggunakan bendabenda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika ? a. b. c. d. e. 10 Jawaban pada skor 1 2 3 4 Sangat sering Sering Kadang-kadang Jarang Tidak pernah Apakah kamu setuju jika alat peraga 3 99

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI matematika dibuat menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar? a. b. c. d. e. Sangat setuju Setuju Kurang setuju Tidak setuju Sangat setuju Jumlah Skor 2 18 92 Kuesioner tersebut diisi oleh 3 siswa kelas I SDK Kumndaman, Yogyakarta 100

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1.6 Kuesioner Analisis Kebutuhan Guru Sebelum Uji Keterbacaan ANALISIS KEBUTUHAN GURU TERHADAP ALAT PERAGA MATEMATIKA Nama Lengkap : Tanda tangan Tugas Mengajar : Nama SD : Berilah tanda silang (x) pada pilhan dibawah ini ............................... sesuai dengan kondisi yang sebenarnya! 1. Apakah Bapak/Ibu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang 2. Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa memahami konsepkonsep matematika? a. Ya b. Tidak 3. Jika alat peraga Matematika berasal dari lingkungan sekitar, apakah lebih menarik jika diberi warna ? a. Ya b. Tidak 4. Warna yang seperti apa yang Bapak/Ibu sukai untuk alat peraga? a. Warna cerah b. Warna gelap 5. Manakah alat peraga matematika yang Bapak/Ibu sukai ? a. Berat b. Sedang 101

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI c. Ringan 6. Apakah Bapak/Ibu lebih suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk kompetensi dasar yang berbeda? a. Ya b. Tidak 7. Apakah menurut Bapak/Ibu, penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri ? a. Ya b. Tidak 8. Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa untuk menemukan jawaban yang benar ? a. Ya b. Tidak 9. Apakah Bapak/Ibu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Tidak pernah 10. Apakah Bapak/ Ibu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar? a. Sangat setuju b. Setuju c. Kurang setuju d. Tidak setuju 102

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1.7 Kuesioner Analisis Kebutuhan Guru Setelah Uji Keterbacaan ANALISIS KEBUTUHAN GURU TERHADAP ALAT PERAGA MATEMATIKA Nama Lengkap : Tugas Mengajar : Nama SD Tanda tangan : Berilah tanda silang (x) pada pilhan dibawah ini sesuai dengan kondisi yang sebenarnya! ............................... 1. Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang 2. Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa memahami konsepkonsep matematika? c. Ya d. Tidak 3. Apakah menurut Bapak/Ibu, pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut terlihat lebih menarik? c. Ya d. Tidak 4. Warna yang seperti apa yang Bapak/Ibu sukai untuk alat peraga? c. Warna cerah d. Warna gelap 5. Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang menurut Bapak/Ibu sesuai untuk siswa? 103

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI a. Berat ( > 3 kg) b. Sedang (1,5-3 kg) c. Ringan ( < 1,5 kg) 6. Apakah Bapak/Ibu suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk kompetensi dasar yang berbeda? c. Ya d. Tidak 7. Menurut Bapak/Ibu, apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan? c. Ya d. Tidak 8. Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa untuk menemukan jawaban yang benar dari kesalahan saat mengerjakan soal-soal latihan? c. Ya d. Tidak 9. Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Tidak pernah 10. Apakah Bapak/ Ibu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar? a. Setuju b. Tidak setuju 104

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1.8 Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa Sebelum Uji Keterbacaan 105

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1.9 Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa Setelah Uji Keterbacaan 107

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 2 Hasil Analisis Kebutuhan Lampiran 2.1 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Analisis Kebutuhan Guru No. Indikator Pertanyaan Jumlah Responden Persentase Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Auto-education Auto-education Menarik a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa memahami konsepkonsep matematika? 1 5 16,67 % 83,33% a. Ya b. Tidak Apakah menurut Bapak/Ibu, pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut terlihat lebih menarik? 6 100% a. Ya b. Tidak Warna yang seperti apa yang Bapak/Ibu sukai untuk alat peraga? 6 100% a. Warna cerah b. Warna gelap Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang menurut Bapak/Ibu sesuai untuk siswa? 6 100% 1 5 16,67% 83,33% a. Ya b. Tidak Menurut Bapak/Ibu, apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan? 5 1 83,33% 16,67% a. Ya b. Tidak Apakah penggunaan alat peraga dapat 6 100% Menarik Bergradasi Bergradasi Auto-correction Auto-correction a. Berat (> 3 kg) b. Sedang (1,5 kg – 3 kg) c. Ringan (< 1,5 kg) Apakah Bapak/Ibu suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk kompetensi dasar yang berbeda? 109

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI membantu siswa untuk menemukan jawaban yang benar dari kesalahan saat mengerjakan soal-soal latihan? a. Ya b. Tidak Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? 9. 10. Kontekstual Kontekstual a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang Apakah Bapak/ Ibu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar? a. Setuju b. Tidak setuju 6 100% 4 2 66,67% 33,33% 6 100% Kuesioner tersebut diisi oleh 6 guru SDK Pugeran, Yogyakarta 110

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 2.2 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa No. Indikator Pertanyaan Jumlah Responden Persentase Seberapa sering Bapak/Ibu gurumu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? 1. Autoeducation 2. Autoeducation 3. 4. 5. 6. 7. 8. Menarik a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu memahami konsepkonsep matematika? 2 3 4 2 17 7,14 % 10,71% 14,28% 7,14 % 60,71% a. Ya b. Tidak Menurutmu, apakah pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut terlihat lebih menarik? 26 2 92,96% 7,14 % a. Ya b. Tidak Warna yang seperti apa yang kamu sukai untuk alat peraga? 20 8 71,43%) 28,57%) c. Warna cerah d. Warna gelap Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang sesuai untuk kamu gunakan? 28 - 100% - d. Berat (> 3 kg) e. Sedang (1,5 kg – 3 kg) f. Ringan (< 1,5 kg) Apakah kamu suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk materi yang berbeda? 1 21 6 3,57% 92,96%) 21,43%) a. Ya b. Tidak Menurutmu, apakah penggunaan alat peraga dapat membantu menemukan kesalahanmu sendiri? 27 1 96,43%) 3,57%) a. Ya b. Tidak Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu untuk menemukan jawaban yang benar dari kesalahan saat mengerjakan soal-soal latihan? 26 2 92,96%) 7,14%) 28 100% Menarik Bergradasi Bergradasi Autocorrection Autocorrection a. Ya 111

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. Tidak Seberapa sering Bapak/Ibu gurumu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? 9. Kontekstual 10. Kontekstual a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang Apakah kamu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar? a. Setuju b. Tidak setuju 17 8 3 60,71%) 28,57%) 10,71%) 26 2 92,96%) 7,14%) Kuesioner tersebut diisi oleh 28 siswa kelas I SDK Pugeran, Yogyakarta 112

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3 Validasi Hasil Pretest dan Posttest Lampiran 3.1 Kisi-Kisi Pretest dan Posttest Sebelum Validasi SK 4. Melakukan penjumlah an dan pengurang an bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah KD 4.4 Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka Nomor Item 7 dan 8 Indikator Diskriptor Melakukan penjumlahan dua angka tanpa teknik menyimpan Penjumlahan satu angka dengan dua angka Penjumlahan dua angka dengan dua angka Melakukan penjumlahan dua angka dengan teknik menyimpan Penjumlahan satu angka dengan dua angka Penjumlahan dua angka dengan dua angka 9 dan 10 Melakukan pengurangan dua angka tanpa teknik meminjam Pengurangan dua angka dengan satu angka Pengurangan dua angka dengan dua angka 11 dan 12 4 dan 17 Melakukan pengurangan dua angka dengan teknik meminjam Melakukan penjumlahan dalam penyelesaian masalah Melakukan pengurangan dalam penyelesaian masalah Pengurangan dua angka dengan satu angka Pengurangan dua angka dengan dua angka Penjumlahan dua angka tanpa teknik menyimpan Penjumlahan dua angka dengan teknik menyimpan Pengurangan dua angka tanpa teknik meminjam Pengurangan dua angka dengan teknik meminjam 13 dan 14 18 dan 19 20 2 dan15 3 dan 16 21dan 22 23 24 dan 25 113

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.2 Kisi-Kisi Pretest dan Posttest Setelah Validasi SK KD 4. Melakukan penjumlah an dan 4.4 Melakukan pengurang penjumlah an an dan bilangan pengurang sampai dua an angka bilangan dalam dua angka pemecahan masalah Indikator Melakukan penjumlahan dua angka tanpa teknik menyimpan Melakukan penjumlahan dua angka dengan teknik menyimpan Melakukan pengurangan dua angka tanpa teknik meminjam Melakukan pengurangan dua angka dengan teknik meminjam Melakukan penjumlahan dalam penyelesaian masalah Melakukan pengurangan dalam penyelesaian masalah Deskriptor Penjumlahan satu angka dengan dua angka Penjumlahan dua angka dengan dua angka Penjumlahan satu angka dengan dua angka Penjumlahan dua angka dengan dua angka Pengurangan dua angka dengan dua angka Pengurangan dua angka dengan satu angka Pengurangan dua angka dengan dua angka Penjumlahan dua angka tanpa teknik menyimpan Pengurangan dua angka dengan teknik meminjam Nomor item 5 3, 4, dan 9 6 2 dan 10 11 8, 7, dan 13 12 14 dan 15 16 114

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.3 Tabulasi Hasil Uji Validitas Empiris Pretest dan Posttest 115

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.4 Hasil Perhitungan IMB SPSS 20 for windows untuk Validitas Instrumen 116

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 119

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.5 Hasil Perhitungan IMB SPSS 20 for windows untuk Reliabilitas Instrumen Case Processing Summary N % Valid 49 100.0 a Cases Excluded 0 .0 Total 49 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's N of Alpha Items .872 22 120

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.6 Instrumen Pretest dan Posttest Sebelum Validasi 121

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.7 Insterumen Pretest dan Posttest Setelah Validasi 124

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4 Hasil Pretest dan Posttest Lampiran 4.1 Tabulasi Hasil Pretest Siswa Respon den S R K Sta A Jumlah Rerata 1 2 4 4 3 3 1 15 3 4 4 3 3 4 18 3.6 3 4 4 4 3 3 4 18 3.6 2 2 1 1 1 7 1.4 5 2 2 1 1 1 7 1.4 6 2 2 1 1 1 7 1.4 Nomor soal 7 8 9 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 7 5 5 1.4 1 1 10 1 1 1 1 1 5 1 11 1 1 1 1 1 5 1 12 1 1 1 1 1 5 1 13 14 1 2 1 1 2 7 1.4 1 1 1 2 2 7 1.4 13 14 Jumlah 15 1 1 1 1 1 5 1 28 29 21 22 23 123 24.6 Lampiran 4.2 Tabulasi Hasil Posttest Siswa Respon den S R K Sta A Jumlah Rerata 1 4 4 4 4 4 20 4 2 4 4 2 4 4 18 3.6 3 4 5 6 4 4 4 4 4 20 4 4 4 4 4 4 20 4 4 4 3 4 4 19 3.8 4 4 4 4 4 20 4 7 1 4 4 4 4 17 3.4 Nomor soal 8 9 4 4 4 4 3 1 4 4 4 4 19 17 3.8 3.4 10 4 4 4 3 4 19 3.8 11 4 4 3 3 2 16 3.2 12 1 1 1 3 4 10 2 4 4 4 1 4 17 3.4 4 3 4 3 4 18 3.6 15 3 3 3 3 2 14 2.8 126 Jumlah 53 55 48 52 56 264 52.8

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5 Validasi Kuesioner Validasi Produk Lampiran 5.1 Kisi-Kisi Kuesioner Validasi Produk Pakar, Guru, dan Siswa Indikator Auto-education Auto-correction Menarik Bergradasi Kontekstual Deskriptor 3. Membantu siswa memahami kosep matematika 4. Siswa belajar secara mandiri 3. Membantu siswa menemukan kesalahan sendiri 4. Membantu siswa menemukan jawaban yang benar 3. Memiliki warna yang menarik siswa 4. Bentuk menarik siswa untuk belajar 3. Dapat digunakan untuk kompetensi dasar yang berbeda 4. Memiliki berat yang sesuai dengan siswa 3. Memanfaatkan benda dari lingkungan sekitar 4. Dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar Nomor Item 1 dan 2 7 dan 8 3 dan 4 5 dan 6 9 dan 10 127

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5.2 Rekapitulasi Jawaban Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk oleh Pakar dan Guru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Aspek yang dinilai Siswa dapat menggunakan alat peraga Montessori secara mandiri Siswa dapat memahami konsep matematika secara mandiri dengan alat peraga Warna alat peraga membuat siswa tertarik untuk belajar matematika Bentuk alat peraga Montessori menarik bagi siswa Alat peraga dapat digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda Alat peraga memiliki ukuran dan berat yang sesuai dengan karakteristik siswa Alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan Alat peraga dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar Bahan yang digunakan untuk membuat alat peraga mudah didapatkan dari lingkungan sekitar Alat peraga dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar. Jumlah Skor Jawaban pada skor 1 2 3 4 1 6 1 1 4 3 4 2 5 1 5 1 6 5 1 2 5 2 5 3 4 5 2 75 172 Saran (Jika ada) Kuesioner tersebut diisi oleh 2 pakar pembelajaran Matematika dan 2 pakar pembelajaran Bahasa Indonesia, serta 3 Guru SDK Kumndaman, Yogyakarta 128

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5.3 Rekapitulasi Jawaban Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk oleh Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Aspek yang dinilai Siswa dapat menggunakan Papan pembagian bilangan Montessori tanpa bantuan orang lain Siswa dapat memahami materi dengan menggunakan Papan pembagian bilangan Montessori Warna alat peraga membuat siswa tertatik untuk belajar matematika Bentuk alat peraga menarik bagi siswa Alat peraga dapat digunakan untuk berbagai kempetensi dasar yang berbeda Alat peraga memiliki ukuran dan berat yang sesuai dengan karakteristik siswa Penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan Penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar Bahan yang digunakan untuk membuat Papan pembagian bilangan Montessori mudah didapatkan dari lingkungan sekitar sekolah Alat peraga dapat diproduksi pleh masyarakat sekitar Jumlah 1 Jawaban pada skor 2 3 4 2 3 1 1 1 3 2 3 1 3 1 1 3 1 2 2 1 1 1 3 1 3 1 1 6 4 2 14 Saran (Jika ada) 27 2 116 Kuesioner tersebut diisi oleh 5 siswa kelas I SDK Kumendaman, Yogyakarta 129

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5.4 Kuesioner Validasi Produk untuk Pakar dan Guru Sebelum Validasi 130

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5.5 Kuesioner Validasi Produk untuk Pakar dan Guru Setelah Validasi 133

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5.6 Kuesioner Validasi Produk untuk Siswa Sebelum Validasi 136

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5.7 Kuesioner Validasi Produk untuk Pakar Setelah Validasi 138

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Hasil Kuesioner Validasi Produk Lampiran 6.1 Rekapitulasi Jawaban Kuesioner Validasi Produk oleh Pakar dan Guru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Aspek yang dinilai Papan penjumlahan pengurangan Montessori dapat gunakan secara mandiri oleh siswa Papan penjumlahan pengurangan Montessori mengajarkan konsep matematika secara mandiri Warna papan penjumlahan pengurangan Montessori membuat siswa tertarik untuk belajar matematika Bentuk papan penjumlahan pengurangan Montessori menarik bagi siswa Papan penjumlahan pengurangan Montessori dapat digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda Papan penjumlahan pengurangan Montessori memiliki ukuran dan berat yang sesuai dengan karakteristik siswa Penggunaan papan penjumlahan pengurangan Montessori dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan Penggunaan papan penjumlahan pengurangan Montessori dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar Bahan yang digunakan untuk membuat papan penjumlahan pengurangan Montessori mudah didapatkan dari lingkungan sekitar Papan penjumlahan pengurangan Montessori dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar. Jumlah Skor Jumlah responden pada skor 1 2 3 4 1 Saran 2 3 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 2 1 2 1 2 1 39 69 140

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kuesioner tersebut diisi oleh pakar pembelajaran Montessori, pakar pembelajaran Matematika, dan guru. Lampiran 6.2 Tabulasi Hasil Kuesioner Validasi Produk oleh Pakar dan Guru No 1 2 3 Validator Pakar Montessori Pakar Matematika Guru Jumlah Rerata 1 2 3 Skor tiap Pertanyaan 4 5 6 7 8 9 10 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 11 3.7 4 12 4.0 3 11 3.7 3 11 3.7 3 11 3.7 3 11 3.7 3 11 3.7 3 10 3.3 3 10 3.3 3 10 3.3 Jumlah 40 36 32 108 3.6 Lampiran 6.3 Rekapitulasi Jawaban Kuesioner Validasi Produk oleh Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 Aspek yang dinilai Saya dapat menggunakan papan penjumlahan pengurangan Montessori tanpa bantuan orang lain Saya dapat memahami materi dengan menggunakan Papan penjumlahan pengurangan Montessori Saya tertarik untuk belajar matematika karena warna papan penjumlahan pengurangan Montessori Saya tertarik dengan bentuk papan penjumlahan pengurangan Montessori Saya dapat menggunakan Papan penjumlahan pengurangan Montessori untuk penjumlahan dua angka sampai empat angka. Saya tidak merasa kesusahan saat membawa atau memindahkan papan penjumlahan pengurangan Montessori Saya dapat mengetahui kesalahan saat mengerjakan soal tanpa diberitahu orang lain dengan belajar menggunakan papan penjumlahan pengurangan Montessori Saya dapat menemukan Jumlah responden pada skor Sangat Tidak Sangat tidak setuju Setuju Setuju Setuju 2 3 1 4 2 3 Saran 5 5 5 1 4 3 2 141

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 10 jawaban yang benar ketika menggunakan penggunaan papan penjumlahan pengurangan Montessori Saya melihat bahan yang digunakan untuk membuat papan penjumlahan pengurangan Montessori mudah didapatkan dari lingkungan sekitar Saya melihat papan penjumlahan pengurangan Montessori dapat dibuat oleh guru. Jumlah Skor 5 2 3 33 156 Kuesioner tersebut diisi oleh lima siswa kelas 1 SDK Pugeran, Yogyakarta Lampiran 6.4 Tabulasi Hasil Kuesioner Validasi Produk oleh Siswa Skor Responden Item A R S K Sta 1 4 4 3 4 3 2 3 4 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 6 4 4 4 4 4 7 4 3 4 4 4 8 3 3 4 3 4 9 4 4 4 4 4 10 4 4 3 4 3 Jumlah 38 38 37 39 37 Rerata 37,8 142

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Instrumen Wawancara dan Observasi Uji Lapangan Terbatas Lampiran 7.1 Kisi-Kisi Instrumen Wawancara dan Obsrvasi untuk Guru dan Siswa No 1. 2. Indikator Dampak afeksi yang terjadi saat pembelajaran dengan alat peraga papan penjumlahan dan pengurangan Dampak lain yang muncul pada saat pembelajaran dengan menggunakan alat peraga Montessori Deskriptor Minat Ketertarikan Konsentrasi Keaktifan Keteraturan - Lampiran 7.2 Transkrip Wawancara Guru Jumat, 20 Sepetember 2013 p : Peneliti g : Guru (Wawancara tidak terstruktur mengenai “Analisis Dampak Afektif Pada Uji Coba Lapangan Terbatas” terhadap guru kelas I di kantor guru) p : Selamat siang bu g : Ee mas e. Sini mas masuk. Selamat siang mas gimana? Lungguh kene wae ya. p : Iya bu nggak papa. Maaf bu sebelumnya menganggu g : Ah ora mas wis rampungan. Ada apa mas? p : jadi begini bu, saya kesini masih melanjutkan penelitian saya yang kemarin. g : iya (mengangguk dan mendengarkan lebih serius) p : begini bu, jadi saya ingin menanyakan mengenai alat yang kemarin telah diujicobakan dikelas ibu dan masukan ibu dari alat tersebut g : bagus lho itu mas alatnya. Sesuai untuk siswa p : Sesuai bagaimana ya bu? g : ya begini mas, selama ini kan proses belajar mengajar itu sangat bergantung pada guru. Apalagi belajar matematika. Jujur mas saya tu capek kalau ngajar matematika, lha wong sok-sok le ngajari nganti bengak-bengok ki yo okeh sek belum ngerti tu lho. Tapi kalo pake alatnya mas kemarin itu saya lihat pada inisiatif tanpa disuruh, udah bisa semangat belajarnya. Bentuknya juga bagus dan menarik mas. p : Hehehe terimakasih, Bu. Jadi menurut ibu apa alat tersebut bisa memunculkan kemandirian anak dalam belajar? g : Lha itu mas maksud saya. Anak-anak itu terlihat semangat tanpa guru. Istilahnya mandiri gitu mas bener. Terus pemahamannya juga jadi cepet mas. Jadi 143

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tidak punya capek ….. Kalau kesel ngitung terus alatnya bisa disusun jadi mainan, lucu to mas. Jadi seneng lihatnya. p : Puji Tuhan kalau begitu bu. Kalau dari bentuk alatnya sendiri menurut ibu bagaimana? g : ini bagus, karena baloknya kecil anak bisa konsentrasi saat ndempetndempetke -menyusun secara berdekatan- balok p : Oh iya bu kemarin saya sempet lihat juga jadi anteng bu g : Iya mas memang. Saya lihat anak anak itu seneng kalau sama yang baru. Rasa ingin tahunya tinggi. Bagus juga kalau ada mainan yang bermanfaat juga buat pelajaran kayak gini. p : betul bu. Saya mau ngajarin aja gak pada mau kemarin. Sudah pada bisa katanya hehehe. g : iyo..yo mas. Guru tidak perlu menunggui siswa ketika menggunakan alat peraga. Jadi ya kayak yang saya sampaikan sebelumnya dadi entheng ngajarnya tapi mantep. p : Bisa dilanjutkan memakai kalau begitu ya bu. Kalau mengenai alatnya sendiri apakah menurut ibu apakah alat itu layak digunakan dalam proses belajar mengajar? g : Piye yo mas…. Yo apik kok wisan p : Maksud saya apakah dari kualitas alatnya memenuhi standard ya bu? g : Wah jujur mas kalau saya gak paham bahan bahan bangunan apalagi kayu kan gak ada merknya mas. Hhe. Tapi kalau saya lihat sejauh ini bahan yang digunakan kokoh dan tahan lama kok mas. Dan ya penak dipakai. Wong kemarin jatuh bola bali juga masih bagus-bagus saja kok mas. Meng paling besok catnya ya mas yang pudar. Apalagi kan anak-anak kalau makek ki mbuh tangane bar ndemok bal, panganan opo pasir kadang lupa cuci tangan. p : Iya bu. Tapi kalau masalah cat sudah diupayakan biar kalo ilang ngecatnya lagi juga gampang bu. Warnanya juga mudah diperoleh g : iyo mas penak kok wisan. Kalau cuma beli pewarna saja kan banyak. Paling juga hilangnya bertaun – taun to mas. Yang penting anak suka dan semangat belajar itu uda cukup kok. ……………….. Bocah juga belajar sambil dolanan tu lho mas pake alatnya. Nyenengke to mas nek liat yang kayak gitu? p : Iya bu hehe. g : itu mase bikin sendiri to? p : Ya tidak bu, hanya konsep dan desain yang dari saya. Kalau pembuatannya tetep minta tolong bapak yang pintar memahat. Soalnya kan butuh keahlian khusus juga bu. Agak jlimet. g : yo hoo mas pancenan ra perlu kabeh digarap dewe, wong sekolah guru tu juga sudah capek. p : iya bu hehehe g : saya yo tau ngrasake mas dadi saya juga paham. Sekarang pakai KKN gitu gak mas? p : Kalau dari PGSD Sanata Dharma hanya PPL di SD saja kok bu. g : Wo yo wes apik kui memang besuk kan kerjanya di sekolah. p : Maaf bu saya mau bertanya lagi. Kalau selama ibu menunggu adek yang belajar, apakah ada perubahan dari cara belajar mereka ya bu selama menggunakan alat? 144

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI g : Oh iya mas kayak anak tu terlihat lebih sabar tu lho mas. Mungkin mergo penak ya mas belajar ada alatnya. Jadi kalaupun pas ditengah proses ada yang salah mereka tu tetep semangat mengulangi lagi dari awal buat tau jawaban yang bener mas. Jadi ya terlihat seneng mas. p : Wah ternyata sangat bagus ya bu dampaknya. Apa menurut ibu ada kekurangan dari alat itu yang harus diperbaiki ya bu g : uda bagus kok mas. Saya mau membeli kalau dijual. p : bisa saja bu. Hhe g : tapi bener mas saya bersedia beli wong buat kepentingan murid juga. Mahal to mas biaya buatnya? p : kalau biaya buatnya jujur saya juga belum itung-itungan bu. Soalnya baru pertama buat jadi masih coba-coba sering ganti dan perbaikan bu. g : Iyo deng mas memang butuh pengalaman dulu baru bisa lebih lincah kalau mau ngapa-ngapain p : iya bu. Berhubung sudah siang mau sore ini bu saya mohon pamit. Terimakasih banyak bu atas waktunya g : sama-sama mas. Saya juga seneng bisa membantu dan mendapat pengetahuan baru. Hati-hati ya mas Lampiran 7.3 Transkip Wawancara siswa Rabu, 18 Desember 2014 Responden K P: kenapa kamu bermain dengan balok-baloknya ? K : (diam) P : Kamu buat apa itu K ? K : baloknya bisa dibuat lintasan mobil-mobilan Kamis, 19 Desember 2014 Responden A P : senang tidakbelajarnya ? A : senang P : mengapa kamum membenarkan posisi kubus saat menyusunya tidak rapi ? A : supaya rapi. Jumat, 20 Desember 2014 Responden R P : Mengapa kamu terlihat serius ? R : (geleng-geleng) P : Kamu tadi salah ya menghitungnya ? R : iya.. P : kenapa kamu mau mencoba lagi ? R : supaya benar jawabannya P : oke. Lanjutkan. Responden A P : senang tidak menggunakan alat ini ? 145

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI A : senang P : kenapa ? A : emmmm… P : bisa menjawab ya ? A : iya tidak perlu orek-orekan kalau ngitung A : oke bagus… Sabtu, 21 Desembar 2014 Responden S P : Kamu sudah bisa ya S ? S : (mengangguk) P : Mau coba lagi ? S : (mengangguk) P : kemarin kok gag mau S ? S : (diam sambil menggelengkan kepala) P : kenapa ? S : senang P : Senang kenapa ? S : gara-gara senang melihat jawaban dibalik kartu soal. P : ok. Lanjutkan Lampiran 7.4 Data Hasil Observasi Hari 1 Nama Siswa Keterangan/Catatan Kegiatan  A R      K  S    Sta  Mendengarkan penjelasan peneliti mengenai alat sembari sibuk corat-coret pada buku yang ada dihadapannya Hanya melihat ketika R mencoba alat, sesekali menyentuh alat dilihat dan diletakkan kembali Mendengarkan keterangan dari peneliti mengenai alat; mengawali mencoba alat mulai dari melihat kemudian membongkar-pasang tanpa diminta peneliti dan sangat antusias Bermain pensil saat peneliti memperkenalkan alat Menjadikan salah satu bagian alat menjadi mainan (mobilmobilan, pesawat) saat mencoba Berusaha menjadi yang pertama bersamaan dengan R hingga menggunakan penghapus kecil untuk undian Mendengarkan dengan seksama saat dijelaskan Tidak mencoba, hanya memperhatikan teman yang lain Menyenderkan kepala di meja saat dijelaskan dengan tangan memukul-mukul meja Memainkan beberapa bagian alat sesuka hati 146

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hari 2 Nama Siswa A R Keterangan/Catatan Kegiatan     K S     Sta  Malu-malu mulai mencoba alat Mulai tenang setelah adanya undian untuk mencoba alat Mulai mencoba alat dengan mengikuti arahan peneliti Mulai dapat mengendalikan diri mengikuti urutan mencoba alat dengan undian yang dibuat oleh peneliti Mulai ikut mencoba alat dan beromunikasi aktif dengan peneliti Mencoba alat peraga diam-diam seakan tidak ingin dilihat yang lain Mencoba alat dengan ragu-ragu dan takut Masih harus belajar untuk dapat memahami tujuan alat dan untuk menyelesaikan soal Melakukan penjumlahan dua angka dengan teknik menyimpan untuk mempermudah Hari 3 Nama Siswa A Keterangan/Catatan Kegiatan    R   K S      Sta  Mulai mengerti cara menggunakan peraga Mampu menyelesaikan beberapa soal dengan arahan temannya dan evaluasi kesalahan dari peneliti Mencoba alat dengan menunjukan bahwa dia bisa dengan cara mengkoreksi sendiri kesalahannya ketika salah Membantu Sta dalam menjelaskan letak kesalahannya Sangat bersemangat untuk mencoba dan mulai mengerti kegunaan alat Melakukan perhitungan dan selalu dikonfirmasikan pada peneliti Sangat aktif dan ekspresif dalam mengerjakan terlebih saat pekerjaannya benar Mulai berminat untuk mengikuti undian mencoba alat Mulai membuka diri untuk mencoba alat di depan temannya Mulai mencoba soal penjumlahan tanpa teknik menyimpan namun masih terjadi kesalahan dalam memasukan kolom satuan pada warna merah padahal seharusnya kolom biru Jawaban Sta salah dan meminta keterangan pada R. 147

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hari 4 Nama Siswa A Keterangan/Catatan Kegiatan    R   K    S  Sta    Mulai menyukai alat dan senang ketika jawabannya salah Ketika mencoba mau mendengarkan temannya dengan sedikit berdikusi Kemajuan dalam mengerjakan dinilai dengan ketenangannya dalam mengerjakan dan lebih banyak soal yang mampu diselesaikan dengan benar Sangat aktif mencoba alat Berteriak kegirangan saat benar dan dengan cekatan mengulangi saat salah Mencoba membantu temannya saat teman lain mendapat giliran menghitung dengan alat Mulai berkomunikasi secara aktif dengan peneliti dan temannya saat mencoba alat Mencoba alat tanpa ragu walaupun dilihat oleh temannya dengan tetap melirik pada peneliti untuk mendapat konfirmasi langkahnya benar atau tidak Terus tertantang untuk mencoba soal yang lebih sulit dan menyelesaikan dengan baik Berusaha untuk menjadi yang pertama mencoba alat Mengikuti saran dan arahan peneliti dengan baik Mencoba menghitung dengan alat, dengan tingkat kesalahan yang kian menurun 148

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 8 Dokumentasi Penelitian Lampiran 8.1 Album Papan Penjumlahan Pengurangan Montessori Album Papan Penjumlahan Pengurangan 1. Permainan titik Tujuan langsung Tujuan tidak langsung Syarat Usia Alat peraga Pengendali kesalahan Presentasi awal Membantu proses pemahaman anak dari konkret menuju abstrak. Membentuk konsep abstrak 1. Anak mampu melakukan penjumlahan satu angka dengan satu angka 2. Anak mampu membilang 7 tahun (kelas I) 1. Papan titik Montessori 2. Spidol boardmarker (warna orange, biru, dan merah) 3. Lembar kerja 4. Penghapus 5. Pensil Jawaban pada kartu soal 1. Pendidik menyiapkan tempat kerja (karpet). 2. Pendidik mengambil alat peraga dan menyiapkanya di tempat kerja. 3. Pendidik mengajak anak dengan berkata, “Mari bermain penjumlahan menggunakan papan titik bersama bapak”. 4. Pendidik meminta anak untuk duduk di samping kananya. 1. Pendidik mengenalkan kelompk satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan pada anak. Pendidik berkata, “Ini kolom satuan” sambil menunjukan wilayah kolom satuan. Latihan pertama 2. Pendidik melakukan hal tersebut hingga pada kolom ribuan. 1. Pendidik membuat angka dengan memberikan titik pada masingmasing wilayah satuan, puluhan, dst. Latihan kedua 2. Pendidik membuat 4 titik pada kelompok satuan dengan balok bertitik biru, membuat 2 titik pada kelompok puluhan menggunakan balok bertitik merah, 3 titik pada kelompok ratusan dengan menggunakan balok bertitik orange. 3. Kemudian pendidik menulis masing-masing jumlah balok di kolom bawah. 149

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Pendidik mengatakan “ini tigaratus duapuluh empat” sambil menunjuk angka. 1. Pendidik membuat titik-titik pada kelompok satuan dengan 15 titik. 2. Pendidik meminta anak untuk menghitung titik-titik yang ada pada kelompok satuan dengan pertanyaan, “Ada berapa titik pada kolom satuan?”. 3. Pendidik menunjuk satu baris titik yang penuh. Pendidik berkata, “15 ini apabila kita pindah ke kolom puluhan akan menjadi 1 titik pada kolom puluhan dan 5 titik pada kolom satuan”. Latihan ketiga 4. Pendidik menuliskan angka 1 pada kolom puluhan dan angka 5 pada kolom satuan 5. Jika anak mulai menyukainya, pendidik dapat membuat latihan yang lebih kompleks. 1. Pendidik membuat 25 titik pada kolom satuan 15 titik pada kolom puluhan, 18 titik pada kolom ratusan dan 2 titik pada kolom ribuan. Latihan keempat 2. Pendidik menghitung titik-titik yang ada pada kolom kemudian menunjuk setiap 10 titik. Pendidik mendapatkan 2 baris yang nantinya akan dipindahkan menjadi 2 titik di kolom puluhan dan 5 titik satuan yang masih tersisa. 150

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Pendidik membuat 2 titik di kolom puluhan dan menuliskan angka 5 pada kolom satuan yang terletak di bawah 4. Pendidik menghitung titik-titik pada kolom puluhan kemudian menunjuk satu baris yang terdiri dari 10 titik untuk kemudian dipindah menjadi 1 titik di kolom ratusan. Maka, diperoleh 1 baris yang nantinya akan dipindahkan menjadi 1 titik ke kelompk ratusan dan tersisa 7 puluhan dikolom puluhan. 5. Pendidik membuat 1 titik pada kolom ratusan dan menuliskan angka 7 pada kolom puluhan yang ada dibawah. 6. Pendidik menghitung titik-titik yang ada pada kelompok ratusan kemudian menunjuk 10 titik dalam kolom ratusan. Diperoleh 1 baris yang terdiri dari 10 titik yang akan dipindah menjadi 1 titik di kolom ratusan dan tersisa 9 titik di kolom ratusan. 7. Pendidik membuat 1 titik pada kolom ribuan dan menuliskan angka 9 pada kelompok ratusan di kolom bagian bawah. 151

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Pendidik menghitung titik-titik yang ada pada kelompom ribuan kemudian menujuk baris yang terdiri dari sepuluh titik. Maka tidak akan diperoleh satu barispun. Pndidik kemudian menghitung titik yang ada di kolom ribuan dan didapat 3 titik. 9. Pendidik menuliskan angka 3 pada kolom ribuan di bagian bawah. 10. Jika sebelumnya terdapat 15 titik pada kolom satuan, 15 titik pada kolom ribuan, 19 titik pada kolom ratusan , dan 2 titik pada kolom ribuan sama dengan 3975 Presentasi akhir 1. Setelah selesai, minta anak untuk mencobanya sendiri dengan berkata, “Mau mencoba?”, “coba hitung!”. 2. Berikan anak lembar kerja 3. Setelah selesai bekerja minta anak untuk mengembalikan alat peraga ketempat semula 4. Bersihkan tempat kerja 2. Penjumlahan tanpa Teknik Menyimpan Tujuan langsung Melakukan penjumlahan anpa teknik menyimpan dan membantu pemahaman anak dari konkret menuju absatrak Tujuan tidak langsung - Syarat Usia Alat peraga Pengendali kesalahan Presentasi awal 1. Mengenal papan titik 2. Mampu membilang 7 tahun (kelas I) 1. Papan titik Montessori 2. Spidol boardmarker (warna hijau, biru, dan merah) 3. Lembar kerja 4. Penghapus 5. Pensil Jawaban pada kartu soal 1. 2. 3. 4. Pendidik menyiapkan tempat kerja (karpet). Pendidik mengambil alat peraga dan menyiapkanya di tempat kerja. Pendidik mengajak anak dengan berkata, “Mari bermain penjumlahan dengan teknik menyimpan menggunakan papan titik bersama bapak”. Pendidik meminta anak untuk duduk di samping kananya. 152

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. 2. 3. Pendidik menyiapkan lembar kerja pada anak Pendidik mengatakan sambil menunjuk soal yang akan dikerjakan, “Mari kita selesaikan soal ini”. Misalnya soal 24 + 45. 4. Pendidik memasukan tanda operasi penjumlahan ke dalam papan titik. 5. Buat titik ke dalam papan titik yaitu 4 titik di kolom satuan dan 2 titik di kolom puluhan 6. Buat titik penambah dengan melanjutkan pembuatan titik di kolom satuan sebanyak 5 titik 7. Hitung titik yang telah dibuat pada kolom satuan dan tuliskan hasilnya di kolom bawah. 8. Buat titik penambah dengan melanjutkan pembuatan titik di kolom puluhan sebanyak 4 titik Presentasi Inti 153

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9. Hitung titik yang telah dibuat pada kolom satuan dan tuliskan hasilnya di kolom bawah 10. Katakana pada anak, “24 + 45 sama dengan 69”. Sambil membalik kartu soal untuk melihat jawaban yang bebar. Presentasi akhir 11. Minta anak untuk mencobanya sendiri dengan berkata, “mau mencoba ?”, “coba hitung!” sambil menujuk pada lembar kerja yang telah disediakan 1. Setelah selesai bekerja minta anak untuk mengembalikan alat peraga ketempat semula 2. Bersihkan tempat kerja 3. Penjumlahan dengan Teknik Menyimpan Tujuan langsung Melakukan penjumlahan dengan teknik menyimpan dan membantu pemahaman anak dari konkret menuju absatrak Tujuan tidak langsung - Syarat Usia Alat peraga Pengendali kesalahan Presentasi awal 1. Mengenal papan titik 2. Mampu membilang 3. Mampu menghitung penjumlahan tanpa teknik menyimpan 7 tahun (kelas I) 1. Papan titik Montessori 2. Spidol boardmarker (warna hijau, biru, dan merah) 3. Lembar kerja 4. Penghapus 5. Pensil Jawaban pada kartu soal 1. 2. 3. Pendidik menyiapkan tempat kerja (karpet). Pendidik mengambil alat peraga dan menyiapkanya di tempat kerja. Pendidik mengajak anak dengan berkata, “Mari bermain 154

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. 1. 2. 3. 4. penjumlahan dengan teknik menyimpan menggunakan papan titik bersama bapak”. Pendidik meminta anak untuk duduk di samping kananya. Pendidik menyiapkan lembar kerja pada anak Pendidik mengatakan sambil menunjuk soal yang akan dikerjakan, “Mari kita selesaikan soal ini”. Misalnya soal 19 + 75. Masukan tanda opersi penjumlahan ke dalam papan titik 5. Buat titik kedalam papan titik yaitu 9 titik di kolom satuan dan 1 titik di kolom puluhan 6. Buat titik penambah dengan melanjutkan pembuatan titik di kolom satuan sebanyak 5 titik 7. 8. Hitung titik yang berada pada kolom satuan Jika terdapat titik yang satu deretnya berjumlah sepuluh tunjuk lalu katakana “ini harus diganti dengan 1 titik puluhan” dan lakukan transformasi dengan mengganti 10 titik satuan dengan 1 titik puluhan. 9. Hitung kembali titik pada kolom satuan dan tuliskan jumlahnya pada kolom bawah. Presentasi Inti 155

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10. Titik pada kolom puluhan bertambah dari hasil transformasi dari titik satuan 11. Buat titik penambah dengan melanjutkan pembuatan titik di kolom puluhan sebanyak 7 titik 12. Hitung titik pada kolom puluhan dan tuliskan jumlahnya pada kolom bawah yang telah disediakan 13. Katakana pada anak, “19 + 75 sama dengan 94”. Sambil membuka jawaban yang ada pada kartu soal. Presentasi akhir 14. Minta anak untuk mencobanya sendiri dengan berkata, “mau mencoba ?”, “coba hitung!” sambil menujuk pada lembar kerja yang telah disediakan 1. Setelah selesai bekerja minta anak untuk mengembalikan alat peraga ketempat semula 2. Bersihkan tempat kerja 4. Pengurangan tanpa Teknik Menyimpan Tujuan langsung Melakukan pengurangan dengan teknik menyimpan dan membantu pemahaman anak dari konkret menuju absatrak Tujuan tidak langsung - Syarat Usia Alat peraga Pengendali kesalahan Presentasi awal 1. Mengenal papan titik 2. Mampu membilang 7 tahun (kelas I) 1. Papan titik Montessori 2. Spidol boardmarker (warna hijau, biru, dan merah) 3. Lembar kerja 4. Penghapus 5. Pensil Jawaban pada kartu soal 1. Pendidik menyiapkan tempat kerja (karpet). 156

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. 3. 3. Pendidik mengambil alat peraga dan menyiapkanya di tempat kerja. Pendidik mengajak anak dengan berkata, “Mari bermain pengurangan tanpa teknik menyimpan menggunakan papan titik bersama bapak”. Pendidik meminta anak untuk duduk di samping kananya. Pendidik menyiapkan lembar kerja pada anak Pendidik mengatakan sambil menunjuk soal yang akan dikerjakan, “Mari kita selesaikan soal ini”. Misalnya soal 85 - 12. 4. Pendidik memasukan tanda operasi ke dalam papan titik. 5. Buat titik ke dalam papan titik yaitu 5 titik di kolom satuan dan 8 titik di kolom puluhan 6. Ambilah 2 titik pada kolom satuan dan tuliskan sisanya di kolom bawah 7. Ambilah 1 titik kolom puluhan dan tuliskan sisanya di kolom bawah 8. Katakana pada anak, “85 – 12 sama dengan 73”. Sambil membuka jawaban yang benar pada kartu soal. 4. 1. 2. Presentasi Inti 157

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9. 1. Presentasi akhir 2. Minta anak untuk mencobanya sendiri dengan berkata, “mau mencoba ?”, “coba hitung!” sambil menujuk pada lembar kerja yang telah disediakan Setelah selesai bekerja minta anak untuk mengembalikan alat peraga ketempat semula Bersihkan tempat kerja 5. Pengurangan dengan teknik menyimpan Tujuan langsung Melakukan pengurangan dengan teknik menyimpan dan membantu pemahaman anak dari konkret menuju absatrak Tujuan tidak langsung - Syarat Usia Alat peraga Pengendali kesalahan Presentasi awal 1. Mengenal papan titik 2. Mampu membilang 3. Mampu melakukan pengurangan tanpa teknik menyimpan 7 tahun (kelas I) 1. Papan titik Montessori 2. Spidol boardmarker (warna hijau, biru, dan merah) 3. Lembar kerja 4. Penghapus 5. Pensil Jawaban pada kartu soal 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. Pendidik menyiapkan tempat kerja (karpet). Pendidik mengambil alat peraga dan menyiapkanya di tempat kerja. Pendidik mengajak anak dengan berkata, “Mari bermain pengurangan tanpa teknik menyimpan menggunakan papan titik bersama bapak”. Pendidik meminta anak untuk duduk di samping kananya. Pendidik menyiapkan lembar kerja pada anak Pendidik mengatakan sambil menunjuk soal yang akan dikerjakan, “Mari kita selesaikan soal ini”. Misalnya soal 34 - 17. Presentasi Inti 4. Buat titik kedalam papan titik yaitu 4 titik di kolom satuan dan 3 titik di kolom puluhan 158

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Presentasi akhir 5. Ambil 7 titik pada kolom satuan dan katakan pada anak “disini hanya ada 4 titik, maka kita harus menukar satu titik puluhan dengan 10 titik satuan”. 6. Titik pada kolom satuan bertambah menjadi 14 titik dan katakana pada anak “ini sudah 14 titik bisa diambil 7 titik”. 7. Ambil 7 titik pada kolom satuan dan tuliskan sisanya di kolom bawah 8. 9. Titik pada kolom puluhan telah berkurang 1 Ambil 1 titik pada kolom puluhan dan hitung lalu tuliskan sisanya pada kolom bawah 10. Katakana pada anak, “34 – 17 sama dengan 17”. Sambil membuka jawaban yang benar pada kartu soal. 11. Minta anak untuk mencobanya sendiri dengan berkata, “mau mencoba ?”, “coba hitung!” sambil menujuk pada lembar kerja yang telah disediakan 1. Setelah selesai bekerja minta anak untuk mengembalikan alat peraga ketempat semula 2. Bersihkan tempat kerja 159

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 8.2 Desain Papan Penjumlahan Pengurangan 1. Tampak Atas 4,5 cm 1000 1000 10 10 100 1000 10,5 cm cm 35 cm 1 6 cm 6 cm Tempat meletakakan titik - 15,5 cm cm Tanda operasi 30 cm 5 cm 5 cm 50 cm 55 cm Lubang untuk memasukan tanda operasi 2. Tampak Samping 1000 100 10 1 Kedalaman 1 cm 35 cm 2,5 cm cm 55 cm 3. Desain Dot dan Tempatnya 1 cm 1 cm 10 cm 20 cm 100 buah 20 cm 160

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 8.3 Foto Uji Coba Lapangan Terbatas Gambar 9.1 Siswa sedang menggunakan alat peraga secara berkelompok Gambar 9.2 Siswa sedang menggunakan alat peraga secara individu Gambar 9.3 Peneliti sedang mengamati kerja siswa 161

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 9.4 Siswa sedang menggunakan alat peraga 162

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 8.4 Contoh Kuis Siswa 163

(186) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 8.5 Surat Izin Penelitian 164

(187) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 8.6 Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian 165

(188) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI CURRICULUM VITAE Andreas Erwin Prasetya merupakan anak pertama dari tiga bersaudara lahir di Sleman, 29 April 1992. Pendidikan dasar di peroleh di SD N Kanisius Babadan tamat pada tahun 2004. Pendidikan menengah pertama diperoleh di SMP N 1 Ngemplak, tamat pada tahun 2007. Pendidikan menengah atas diperoleh di SMA N 1 Pakem, Yogyakarta, tamat pada tahun 2010. Pada tahun 2010, peneliti tercatat sebagai mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Selama menempuh pendidikan di PGSD, peneliti mengikuti berbagai macam kegiatan di luar perkuliahan. Berikut daftar kegiatan yang pernah diikuti peneliti. 1. Seksi Acara Inisiasi FKIP Sanata Dharma (INFISA) 2011 “Pendidik Berkualitas Menjadikan Murid Cerdas” tahun 2011. 2. Peserta workshop dongeng “Menumbuhkan Kreatifitas Guru Melalui Mendongeng” tahun 2011 3. Pengisi Acara kegiatan public speaking “Conquered the world through your specch” tahun 2011 4. Pengisi Acara story telling competition “Exploring the World Trough the stories” 5. Seksi Acara kegiatan pentas seni PGSD 2011 “Harmoni PGSD” tahun 2011 6. Seksi Acara lomba mendongeng antar mahasiswa PGSD tingkat Universitas se-DIY-JATENG tahun 2011 7. Peserta Seminar “Philisophy with children” tahun 2011 8. Peserta Workshop pembelajaran Montessori usia 3-6 tahun tahun 2011 9. Ketua Kegiatan inisiasi mahasiswa baru program studi pendidikan guru sekolah dasar tahun 2012 10. Seksi Publikasi dan Dokumentasi “Maria Montessori workshop: Learning Model Development 2012” tahun 2012 166

(189) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11. Peserta Workshop “Montessori workshop: Learning Model Development 2012” untuk usia 9-12 tahun 2012 12. Pembawa acara seminar ke-SD-an “Sosok Guru Terbaik Untukku” tahun 2012 13. Peserta seminar ke-SD-an “Sosok Guru Terbaik Untukku” tahun 2012 14. Pembawa Acara Workshop pembuatan mainan tradisional tahun 2012 15. Panitia Workshop vertikultur tahun 2012 16. Peserta Workshop Pembuatan Alat Laboratorium Gunerik tahun 2012 17. Anggota PGSD Montessori Club periode tahun 2012/2013 18. Seksi Perlengkapan dan Dekorasi dalam Diseminasi Model Pembelajaran Montessori tahun 2013 19. Ketua PGSD Montessori Club periode 2013/2014 20. Committee dalam Konfrensi Assosiation of Indonesia Montessori School “Embracing Montessori” tahun 2013 21. Ketua Reuni Alumni PGSD tahun 2013. Masa pendidikan di Universitas Sanata Dharma diakhiri dengan menulis skripsi sebagai tugas akhir yang berjudul “Pengembangan Alat Peraga Matematika untuk Penjumlahan dan Pengurangan Berbasis Metode Montessori”. 167

(190)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengembangan alat peraga matematika materi penjumlahan dan pengurangan untuk siswa dengan Attention Deficit and Hyperactivity Disorde (ADHD) di SD N Sarikarya.
1
2
176
Implementasi alat peraga pembagian berbasis metode Montessori pada pembelajaran matematika materi pembagian kelas II SD Kanisius Kenalan Magelang.
4
14
253
Pengembangan alat peraga membaca dan menulis permulaan berbasis metode Montessori.
1
19
232
Pengembangan alat peraga matematika materi penjumlahan dan pengurangan untuk siswa dengan Attention Deficit and Hyperactivity Disorde (ADHD) di SD N Sarikarya
0
15
174
Pengembangan alat peraga pembelajaran matematika SD materi perkalian berbasis metode Montessori.
1
3
262
Pengembangan alat peraga pembelajaran matematika SD materi penjumlahan dan pengurangan berbasis Metode Montessori.
0
33
414
Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta.
1
19
138
Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta.
3
40
152
Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
0
2
150
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
1
3
133
Pengembangan alat peraga ala Montessori untuk keterampilan geometri matematika kelas III SDN Tamanan I Yogyakarta - USD Repository
0
1
132
Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta - USD Repository
0
0
136
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
1
292
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
381
Pengembangan alat peraga matematika untuk pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori - USD Repository
0
6
178
Show more