Korelasi abdominal skinfold thickness dan Body Mass Index terhadap kadar glukosa darah puasa pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung - USD Repository

Gratis

0
0
104
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KORELASI ABDOMINAL SKINFOLD THICKNESS DAN BODY MASS INDEX TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PUASA PADA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD KABUPATEN TEMANGGUNG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi Oleh : Liliany Inamtri Ludji NIM : 108114147 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KORELASI ABDOMINAL SKINFOLD THICKNESS DAN BODY MASS INDEX TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PUASA PADA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD KABUPATEN TEMANGGUNG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi Oleh : Liliany Inamtri Ludji NIM : 108114147 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI  ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI  iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus kekuatanku Mama, papa, dan adik-adik yang selalu mendoakanku Teman-teman yang selalu memberi semangat Serta almamaterku iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI  v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI  vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas bimbingan dan penyertaan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Korelasi Abdominal Skinfold Thickness dan Body Mass Index Terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa Pada Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Kabupaten Temanggung”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada : 1. Direktur RSUD Kabupaten Temanggung yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian di RSUD Kabupaten Temanggung. 2. Ketua Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian ini. 3. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 4. dr. Fenty, M. Kes., Sp.PK. sebagai dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dan tenaga serta memberikan bimbingan, semangat, dan dukungan dalam proses penyusunan skripsi. 5. Phebe Hendra, M.Si., Ph.D., Apt selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan saran yang membangun. 6. Maria Wisnu Donowati, M.Si., Apt.selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan saran yang membangun. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Bapak Ir. Ig. Aris Dwiatmoko, M. Sc., selaku dosen statistik yang telah membimbing penulis dengan sabar dalam membantu pengolahan data statistik. 8. Segenap petugas yang berada di Poli Dalam dan di Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung yang telah membantu peneliti dalam pengambilan data. 9. Bapak Sunarko se-keluarga yang berkenan memberikan penginapan kepada penulis dan teman-teman selama melakukan pengambilan data di RSUD Kabupaten Temanggung. 10. Mama, papa, dan adik-adik yang selalu memberi semangat, motivasi, dan dukungan doa bagi penulis. 11. Tian, Suryo, Anwar, Andika, Reza, Aji, Keny, Bakti, dan Tora atas kebersamaan dan keceriaan yang telah diberikan selama ini. 12. Eliza, Ines, Palma, dan Indri yang memberi dukungan semangat, motivasi, dan selalu menjadi pendengar yang baik bagi penulis. 13. Teman-teman skripsi payung Ines, Reza, Anwar, Padma, Gisella, Ella, Yeni, Dela, Ambar, Siska, Ollie dan Jonas yang bersama-sama merasakan suka duka dalam kebersamaan dan saling memberi semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. 14. Teman-teman FKKB 2010 dan semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat diucapkan satu per satu. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan agar skripsi ini menjadi viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI lebih baik. Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan. Yogyakarta, 28 Januari 2014 Penulis ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................... v HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .................. vi PRAKATA .................................................................................................. vii DAFTAR ISI ............................................................................................... x DAFTAR TABEL ....................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xvi DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xvii INTISARI.................................................................................................... xix ABSTRACT .................................................................................................. xx BAB I. PENGANTAR ................................................................................ 1 A. Latar Belakang ................................................................................ 1 1. Perumusan Masalah .................................................................. 4 2. Keaslian Penelitian .................................................................... 4 3. Manfaat Penelitian .................................................................... 7 B. Tujuan Penelitian ............................................................................ 7 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA......................................................... 8 A. Diabetes Melitus.............................................................................. 8 B. Insulin .............................................................................................. 9 x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Obesitas dan Resistensi Insulin ....................................................... 11 D. Glukosa Darah Puasa ...................................................................... 15 E. Antropometri ................................................................................... 15 1. Body Mass Index (BMI) ............................................................ 15 2. Abdominal Skinfold Thickness (AST) ....................................... 16 F. Landasan Teori ................................................................................ 17 G. Hipotesis.......................................................................................... 17 BAB.III METODE PENELITIAN.............................................................. 18 A. Jenis dan Rancangan Penelitian ...................................................... 18 B. Variabel Penelitian .......................................................................... 18 1. Variabel bebas ........................................................................... 18 2. Variabel tergantung ................................................................... 18 3. Variabel pengacau ..................................................................... 19 C. Definisi Operasional........................................................................ 19 D. Responden Penelitian ...................................................................... 21 E. Lokasi dan Waktu Penelitian .......................................................... 24 F. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................... 24 G. Teknik Pengambilan Sampel........................................................... 25 H. Instrumen Penelitian........................................................................ 26 I. Tata Cara Penelitian ........................................................................ 26 1. Observasi awal .......................................................................... 26 2. Permohonan izin dan kerjasama ............................................... 27 3. Pembuatan informed consent dan leaflet................................... 27 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Pencarian responden.................................................................. 28 5. Validitas dan reliabilitas instrumen penelitian .......................... 28 6. Pengambilan darah dan pengukuran antropometri .................... 29 7. Pembagian hasi pemeriksaan .................................................... 30 8. Pengolahan data ........................................................................ 30 J. Analisis Data Penelitian .................................................................. 31 K. Kesulitan Penelitian ........................................................................ 31 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................... 32 A. Karakteristik Responden ................................................................ 32 1. Usia ........................................................................................... 33 2. Abdominal skinfold thickness (AST)......................................... 33 3. Body mass index (BMI) ............................................................. 34 4. Glukosa darah puasa ................................................................. 34 B. Perbandingan Rerata Glukosa Darah Puasa pada Abdominal Skinfold Thickness (AST)................................................................ 35 C. Perbandingan Rerata Glukosa Darah Puasa pada Body Mass Index (BMI) .............................................................................................. 37 D. Korelasi Abdominal Skinfold Thickness dan Body Mass Index terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa ............................................. 40 1. Korelasi abdominal skinfold thickness terhadap kadar glukosa darah puasa .................................................................. 40 2. Korelasi body mass index terhadap kadar glukosa darah puasa 44 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 50 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI A. Kesimpulan ..................................................................................... 50 B. Saran ................................................................................................ 50 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 51 LAMPIRAN ................................................................................................ 56 BIOGRAFI PENULIS ................................................................................ 84 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Klasifikasi BMI pada Orang Asia Dewasa ................................. 16 Tabel II. Panduan Hasil Uji Hipotesis Berdasarkan Kekuatan Korelasi, Nilai p, dan Arah Korelasi .......................................................... 31 Tabel III. Profil Karakteristik Responden Pria ........................................... 32 Tabel IV. Profil Karakteristik Responden Wanita ...................................... 33 Tabel V. Profil BMI Responden Pria dan Wanita Berdasarkan Kriteria WHO................................................................................ 34 Tabel VI. Perbandingan Rerata Glukosa Darah Puasa pada Pria dengan AST≤23,5 mm dan >23,5 mm .......................................... 36 Tabel VII. Perbandingan Rerata Glukosa Darah Puasa pada Wanita dengan AST≤25,88 mm dan >25,88 mm ...................................... 36 Tabel VIII. Perbandingan Rerata Glukosa Darah Puasa pada Pria dengan BMI≥23kg/m2 dan <23kg/m2 ........................................... 38 Tabel IX. Perbandingan Rerata Glukosa Darah Puasa pada Wanita dengan BMI≥23kg/m2 dan <23kg/m2 ........................................... 38 Tabel X. Korelasi AST terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa Responden Pria dan Wanita .......................................................... 41 Tabel XI. Korelasi Body Mass Index terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa Responden Pria dan Wanita .......................................................... xiv 45

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Pengukuran abdominal skinfold thickness ................................ 16 Gambar 2. Skema Pengambilan Data ......................................................... 23 Gambar 3. Diagram sebar korelasi AST terhadap kadar GDP pada responden pria .................................................................. 41 Gambar 4. Diagram sebar korelasi AST terhadap kadar GDP pada responden wanita ............................................................. 41 Gambar 5. Diagram sebar korelasi BMI terhadap kadar GDP pada responden pria ................................................................. 45 Gambar 6. Diagram sebar korelasi BMI terhadap kadar GDP pada responden wanita ............................................................ xv 45

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1:Surat Keterangan Izin Penelitian ............................................. 57 Lampiran 2: Ethical Clearence ................................................................... 58 Lampiran 3: Informed Consent ................................................................... 59 Lampiran 4: Pedoman Wawancara ............................................................. 60 Lampiran 5: Leaflet ..................................................................................... 61 Lampiran 6: Hasil Tes Laboratorium .......................................................... 63 Lampiran 7: Data obat-obatan yang dikonsumsi ........................................ 64 Lampiran 8: Validasi Instrumen Pengukuran ............................................. 68 Lampiran 9: Uji Normalitas Usia ................................................................ 69 Lampiran 10: Uji Normalitas AST.............................................................. 71 Lampiran 11: Uji Normalitas BMI.............................................................. 73 Lampiran 12: Uji Normalitas Glukosa Darah Puasa ................................... 75 Lampiran 13: Uji Normalitas Klasifikasi AST terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa .......................................................... 77 Lampiran 14: Uji Normalitas Klasifikasi BMI terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa ........................................................... 79 Lampiran 15: Uji Mann-Whitney (Klasifikasi AST terhadap GDP) Responden Pria .................................................................... 81 Lampiran 16: Uji Mann-Whitney (Klasifikasi AST terhadap GDP) Responden Wanita ............................................................... 81 Lampiran 17: Uji Mann-Whitney (Klasifikasi BMI terhadap GDP) Responden Pria ...................................................................... xvi 81

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 18: Uji Mann-Whitney (Klasifikasi BMI terhadap GDP) Responden wanita ................................................................ 82 Lampiran 19: Korelasi AST terhadap GDP ................................................ 82 Lampiran 20: Korelasi BMI terhadap GDP ................................................ 83 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Diabetes melitus tipe 2 terjadi pada sebagian besar penyandang DM dan ditandai dengan resistensi insulin. Salah satu faktor risiko diabetes melitus tipe 2 adalah obesitas. Obesitas dapat diukur menggunakan pengukuran antropometri yaitu abdominal skinfold thickness dan body mass index. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi abdominal skinfold thickness dan body mass index terhadap kadar glukosa darah puasa di RSUD Kabupaten Temanggung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross-sectional. Responden penelitian adalah penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung yang berjumlah 98 orang, terdiri dari 39 pria dan 59 wanita dan dipilih menggunakan teknik non random purposive sampling. Data abdominal skinfold thickness, body mass index, dan kadar glukosa darah puasa yang diperoleh diolah secara stastistik menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk untuk pria dan Kolmogorov-Smirnov untuk wanita, uji Man-Whitney, serta uji korelasi Spearman dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa abdominal skinfold thickness memiliki korelasi negatif tidak bermakna terhadap kadar glukosa darah puasa dengan kekuatan korelasi sangat lemah pada responden pria (p=0,330; r=-0,160) dan korelasi positif bermakna dengan kekuatan korelasi lemah pada responden wanita (p=0,002; r=0,391). Body mass index memiliki korelasi negatif tidak bermakna terhadap kadar glukosa darah puasa dengan kekuatan korelasi sangat lemah pada responden pria (p=0,248; r=-0,190) dan korelasi positif tidak bermakna dengan kekuatan korelasi sangat lemah pada responden wanita (p=0,957; r=0,007). Kata Kunci : abdominal skinfold thickness, body mass index, glukosa darah puasa, diabetes mellitus tipe 2 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Type 2 diabetes mellitus occurs in most people with diabetes and is characterized by insulin resistance. One of the risk factor for type 2 diabetes mellitus is obese. Obesity can be measured using anthropometric measurements such as abdominal skinfold thickness and body mass index. The aim of this study was to determine a correlation abdominal skinfold thickness and body mass index to fasting blood glucose in type 2 diabetes mellitus in RSUD Kabupaten Temanggung. This study used cross-sectional design as a part of analytical observational study. Subjects were people with type 2 diabetes mellitus in RSUD Kabupaten Temanggung. A total of 98 subjects, consisted of 39 men and 59 women, were selected using purposive sampling. Data of abdominal skinfold thickness, body mass index, and fasting blood glucose were analyzed statistically by Shapiro-Wilk and Kolmogorov-Smirnov normality test followed by independent Mann-Whitney comparative test and then Spearman correlation with 95% confidence intervals. The result showed insignificant negative correlation between abdominal skinfold thickness to fasting blood glucose in men (p=0.330; r=-0.160), and significant positive correlation in women (p=0.002; r=0.391). Body mass index had insignificant negative correlation with fasting blood glucose in men (p=0.248; r=-0.190) and insignificant positive correlation in women (p=0.957; r=0.007). Key Word : abdominal skinfold thickness, body mass index, fasting blood glucose, type 2 diabetes mellitus xix

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) termasuk suatu kelompok penyakit metabolik dengan gambaran umum hiperglikemia yang terjadi akibat defek pada sekresi insulin, kerja insulin, atau umumnya keduanya. Di seluruh dunia lebih dari 10 juta orang menderita diabetes, menjadikan penyakit ini salah satu penyakit nonmenular yang paling banyak ditemukan (Kumar, Abbas, dan Fausto, 2009). Secara epidemiologi, prevalensi DM diseluruh dunia pada semua umur diperkirakan meningkat dari 2,8% pada tahun 2000 yaitu sekitar 177 juta orang hingga 4,4% pada tahun 2030 yaitu sekitar 366 juta orang penyandang DM. Di Indonesia, diperkirakan pada tahun 2030 prevalensi DM mencapai 21,3 juta orang (Wild, Roglic, Green, Sicree, dan King, 2004). Sekitar 80% sampai 90% pasien menyandang DM tipe 2 (DM2). Hasil penelitian Yuliasih (2009) menunjukan insidensi DM2 banyak terjadi pada usia lebih dari 40 tahun, dan prevalensi tertinggi pada usia 50-59 tahun. American Diabetes Association (2010) menyatakan bahwa salah satu faktor risiko DM2 adalah obesitas. Obesitas menjadi salah satu faktor risiko penting untuk penyakit kardiovaskuler, yang menyumbang lebih dari 17 juta kematian setiap tahun dengan diabetes dan hipertensi sebagai faktor predisposisi utama. Word Health Organization memperkirakan lebih dari satu miliar orang di dunia mengalami obesitas dan kecenderungan ini terus berlanjut. Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 1,5 miliar pada tahun 2015 (WHO, 2005). 1

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Menurut Stein (cit., Rohman, 2007) obesitas oleh sebagian orang dianggap biasa, namun kelebihan berat badan ini sering berakhir dengan resistensi insulin. Resistensi insulin berhubungan dan banyak ditemui bersamaan dengan risiko penyakit kardiovaskuler lainnya seperti hipertensi dan dislipidemia. Kumpulan gejala ini dikenal dengan sindrom metabolik. Berbagai penelitian epidemiologi telah membuktikan bahwa sindrom metabolik meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler hampir dua kali lipat dibanding populasi non sindrom metabolik. Dengan semakin banyaknya orang yang mengalami obesitas dan resistensi insulin, menjadikan penyakit kardiovaskuler salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di negara maju. Dalam perkembangan penyakit diabetes, obesitas sentral berperan penting dalam memicu resistensi insulin yaitu terjadi insensitivitas adiposit terhadap insulin sehingga mengakibatkan terjadi peningkatan asam lemak bebas. Studi epidemiologi prospektif menunjukan bahwa peningkatan kadar asam lemak bebas merupakan penanda risiko jangka panjang perkembangan intoleransi glukosa dan merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler (Micic dan Cvijovic, 2008). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ohnishi et al. (2006) menunjukan risiko DM2 secara signifikan lebih tinggi pada kelompok obesitas sentral dibandingkan terhadap kelompok obesitas umum (p<0.0001). Penelitian Yuliasih (2009) menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara obesitas abdominal dengan kadar glukosa darah puasa (GDP). Hasil penelitian Lipoeto, Yerizel, Edward, dan Widuri (2007) menyatakan terdapat hubungan antara besarnya penumpukan lemak dengan peningkatan kadar glukosa darah. Obesitas

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 dan diabetes memiliki keterkaitan yang kompleks, tidak hanya berkaitan dengan peningkatan risiko perkembangan DM2 namun juga kemungkinan komplikasi jangka panjang. Pengendalian obesitas merupakan satu goal penting dalam penanganan DM2 (Micic dan Cvijovic, 2008). Antropometri digunakan untuk mengukur status gizi, status nutrisi, maupun status kesehatan yang menggambarkan status sosial masyarakat. Abdominal skinfold thickness (AST) dan body mass index (BMI) dapat diukur dengan pengukuran antropometri (Cogill, 2003; Tarnus dan Bourdon, 2006). Penelitian mengenai abdominal skinfold yang dilakukan oleh Mueller et al. (2012) menunjukkan pengukuran abdominal skinfold thickness sedikit lebih baik dibandingkan dengan antropometri lain seperti waist circumference, dan waist to height ratio dalam memprediksikan resistensi insulin. Metode pengukuran menggunakan skinfold thickness dengan alat skinfold caliper digunakan untuk mengukur ketebalan kulit maupun penentuan jumlah jaringan adiposa (lemak). Metode yang digunakan telah menjadi metode yang terkenal dalam mengukur komposisi tubuh yang berkaitan dengan tinggi dan berat badan seperti BMI, dan dianggap baik karena dapat langsung mengukur lemak tubuh. Selain itu metode ini tidak membutuhkan waktu lama, mudah dilakukan, dan murah (Budiman, 2008; Medscape a, 2012; Medscape b, 2012). Penelitian ini dilakukan di RSUD Kabupaten Temanggung, yang digunakan sebagai model penelitian. Prevalensi DM2 di Rumah Sakit tersebut tinggi dan terus mengalami peningkatan, serta belum pernah dilakukannya penelitian sejenis di Rumah Sakit tersebut.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 1. Perumusan masalah Berdasarkan uraian yang tercantum dalam latar belakang di atas, maka permasalahan yang diangkat oleh penulis dalam penelitian ini adalah : Apakah terdapat korelasi abdominal skinfold thickness dan body mass index terhadap kadar glukosa darah puasa pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung? 2. Keaslian penelitian Sejauh pengetahuan penulis, penelitian yang telah dilaksanakan dan terkait dengan penelitian ini antara lain : a. Korelasi Body Mass Index dan Abdominal Skinfold Thickness Terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa (Pika, 2012). Penelitian ini dilakukan terhadap 57 staf wanita premenopause berusia 30-50 tahun dengan metode desain cross- sectional. Hasil penelitian ini menunjukan tidak adanya korelasi bermakna antara BMI dengan kadar glukosa darah puasa (p=0.141) dan antara abdominal skinfold thickness dengan kadar glukosa darah puasa (p=0,077) b. Obesitas Abdominal Sebagai Faktor Risiko Peningkatan Kadar Glukosa Darah (Yuliasih, 2009). Penelitian ini dilakukan terhadap 52 pasien yang mengalami obesitas abdominal di Poliklinik Penyakit Dalam dan Instalasi Laboratorium RSUP Dr. Kariadi Semarang dengan metode desain cross-sectional. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara obesitas abdominal dengan kadar Glukosa darah puasa (GDP) dan Glukosa darah puasa 2 jam post-pandrial (GDP2JPP) ( r=0,0313; p<0,05 dan r=0,393; p<0,005).

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 c. Pengaruh dan Hubungan Antara BMI (Body Mass Index) Dengan Kadar Glukosa Darah Puasa dan Kadar Glukosa Darah 2 Jam Post-Prandial (Stephanie, 2007). Penelitian ini dilakukan terhadap 50 orang wanita yang terdiri dari 25 orang obese dan 25 orang non-obese, menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan pengambilan sampel cross-sectional. Hasil penelitian menunjukan kadar glukosa darah puasa pada wanita obese berbeda tidak nyata dengan non-obese (p=0.089), namun terdapat hubungan linear dan lemah antara BMI dengan kadar glukosa darah puasa (p=0,042) d. Hubungan Obesitas dengan Peningkatan Kadar Gula Darah pada Guru-Guru SMP Negeri 3 Medan (Justitia, 2012). Penelitian ini dilakukan terhadap 51 orang guru berusia 20-59 tahun yang telah berpuasa selama minimal 8 jam menggunakan metode consecutive sampling. Hasil penelitian ini yaitu pada 17 orang subyek penelitian yang mengalami obesitas ditemukan peningkatan kadar gula darah pada 15 orang dan kadar glukosa darah normal pada 2 subyek penelitian. (p=0,005) dengan interpretasi lebih kecil dari nilai α (0,005). e. Hubungan Antropometri dengan Kadar Glukosa Darah (Lipoeto et al., 2007). Penelitian ini dilakukan terhadap 70 penduduk dewasa berusia 20 tahun ke atas di Kabupaten Padang Pariaman, dengan metode cross-sectional. Hasil penelitian menunjukan jumlah penderita obese berdasarkan IMT adalah 34,3%, berdasarkan Lingkar Pinggang (LP) berjumlah 38.6%, dan berdasarkan Rasio Lingkar Pinggang Panggul (RLPP) berjumlah 24,4%. Dari hasil korelasi diperoleh nilai korelasi (r) kadar glukosa darah dengan BMI adalah 0,101 (p>0,05), dengan LP adalah 0,168 (p>0,05), dan dengan RLPP adalah 0,186 (p>0,05).

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 f. Suprailiac or Abdominal Skinfold Thickness Measured with A Skinfold Caliper as A Predictor of Body Density in Japanese Adults (Demura dan Sato, 2007). Penelitian ini dilakukan secara cross-sectional pada 203 orang Jepang (126 pria dan 77 wanita) berumur 21-81 tahun yang terbagi menjadi kelompok obesitas (71 pria dan 31 wanita) dan non-obesitas (55 pria dan 46 wanita). Hasil penelitian menunjukkan suprailiac dan abdominal skinfold thickness dapat digunakan sebagai metode pengukuran yang akurat dalam memperkirakan body density pada orang dewasa Jepang (r=0,474; p<0,05) serta akan lebih baik bila dikomparasikan dengan skinfold thickness yang lain. g. Incidence of Type 2 Diabetes in Individual with Celtral Obesity in a Rural Japanese Population (Ohnishi et al., 2006). Penelitian ini dilakukan terhadap 348 pria dan 523 wanita (dibedakan antara obesitas sentral dan normal). Hasil penelitian menyatakan risiko diabetes melitus tipe 2 secara signifikan lebih tinggi di dalam kelompok obesitas sentral dibanding kelompok normal (15,6% vs 5,8%; p<0,0001). h. Correlation between Body Mass Index and Blood Glucose Levels among some Nigerian Undergraduates (Onyesom, Oweh, Etumah, dan Josiah 2013). Penelitian ini dilakukan terhadap 253 mahasiswa Nigeria sehat dengan usia rata-rata 22,65±5,52 tahun. Hasil penelitian menunjukan terdapat korelasi positif yang lemah antara BMI dan kadar glukosa darah pada subyek pria (r=0,43, n=151 dan p≤0,05), sedangkan pada subyek wanita menunjukan korelasi positif dan signifikan (r=0,53, n=102 dan p≤0,05).

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 Berdasarkan penelusuran pustaka yang dilakukan oleh peneliti, penelitian mengenai korelasi abdominal skinfold thickness dan body mass index terhadap kadar glukosa darah puasa pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung belum pernah dilakukan. 3. Manfaat penelitian a. Manfaat teoretis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai korelasi abdominal skinfold thickness dan body mass index terhadap kadar glukosa darah puasa kepada penyandang DM2 di RSUD Kabupaten Temanggung. b. Manfaat praktis. Hasil pengukuran abdominal skinfold thickness dan body mass index diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi kadar glukosa darah puasa, sehingga penyandang DM2 di RSUD Kabupaten Temangggung lebih intensif dalam menjaga kesehatannya agar terhindar dari komplikasi akibat DM2. B. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengukur korelasi abdominal skinfold thickness dan body mass index terhadap kadar glukosa darah puasa pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Diabetes Melitus Diabetes melitus merupakan suatu kelainan konstitusioanal pada metabolisme karbohidrat yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang tinggi dan glikosuria. Diabetes melitus disebabkan oleh defek pada sekresi insulin, pada kerja insulin, atau kombinasi keduanya (Sacher, 2002). Sebagian besar kasus diabetes termasuk kedalam satu dari dua kategori umum, yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. Diabetes melitus tipe 1 ditandai oleh defisiensi absolut insulin akibat kerusakan sel ß pankreas. Dua defek metabolik yang menandai DM tipe 2 adalah berkurangnya kemampuan jaringan perifer berespon terhadap insulin (resistensi insulin) dan disfungsi sel ß yang bermanifestasi sebagai kurang adekuatnya sekresi insulin dalam menghadapi resistensi insulin dan hiperglikemia. Pada sebagian besar kasus, resistensi insulin merupakan proses primer dan diikuti oleh disfungsi sel ß yang semakin parah (Kumar et al., 2009). Kriteria diagnosis diabetes menurut American Diabetes Association (2010) yaitu: 1. Glukosa darah puasa ≥126 mg/dl (7,0 mmol/l). Puasa didefinisikan sebagai tidak ada asupan kalori setidaknya selama 8 jam. 2. Uji toleransi glukosa oral (OGTT) yang abnormal jika glukosa >200 mg/dL 2 jam setelah pemberian karbohidrat standar. 3. Glukosa darah sewaktu >200 mg/dL, dengan gejala dan tanda klasik. 8

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 B. Insulin Insulin merupakan suatu protein yang terdiri atas dua rantai peptida (rantai A dan B) yang dihubungkan oleh ikatan disulfida. Insulin dapat dikeluarkan jika terdapat glukosa sebagai stimulan fisiologis insulin. Glukosa memasuki sel β melalui protein transporter glukosa, yang terdapat dalam jumlah berlebihan dan memungkinkan pengangkutan dua-arah glukosa sehingga tercipta keseimbangan antara kadar glukosa intrasel dan ekstrsel. Glukokinase merupakan suatu enzim dengan afinitas rendah terhadap gukosa yang aktivitasnya diatur oleh glukosa, mengontrol tahap pertama metabolisme glukosa yaitu fosforilasi glukosa untuk membentuk glukosa 6-fosfat. Faktor metabolik yang diproduksi melalui metabolisme glukosa yaitu adenosin trifosfat (ATP), yang kemudian menghambat efluks K+ dari sel B. Hal ini menyebabkan depolarisasi sel dan memungkinkan Ca2+ untuk memasuki sel dan memicu eksositosis granula yang mengandung insulin (Ganong dan Stephen, 2010). Insulin memerantarai perubahan metabolisme bahan bakar melalui efeknya pada tiga jaringan utama yaitu hati, otot, dan lemak. Di jaringan-jaringan ini, insulin mendorong penyimpanan bahan bakar (anabolisme) dan mencegah penguraian serta pengeluaran bahan bakar yang telah tersimpan (katabolisme). Di hati, insulin mendorong penyimpanan bahan bakar dengan merangsang sintesis dan penyimpanan glikogen. Insulin menghambat pengeluaran glukosa oleh hati dengan menghambat glukoneogenesis (sintesis glukosa) dan glikogenolisis (penguraian glikogen). Insulin mendorong penbentukan prekursor untuk sintesis asam lemak dengan merangsang glikolisis (metabolisme glukosa menjadi

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 piruvat). Selain itu, insulin juga merangsang lipogenesis, yang menyebabkan peningkatan sintesis lipoprotein berdensitas sangat rendah (VLDL), partikel yang menyalurkan trigliserida ke jaringan lemak untuk disimpan. Insulin juga menghambat oksidasi asam lemak dan pembentukan benda keton (ketogenesis), suatu bahan bakar alternatif yang hanya diproduksi di hati dan dapat digunakan oleh otak jika glukosa tidak tersedia. Meskipun penyerapan glukosa oleh hati tidak diatur oleh insulin, namun insulin dapat merangsang penyerapan glukosa di otot maupun jaringan lemak dengan menyebabkan translokasi cepat suatu transporter glukosa peka insulin (GLUT-4) ke permukaan sel-sel tersebut. Di otot, insulin mendorong penyimpanan glukosa dengan merangsang sintesis glikogen dan menghambat katabolisme glikogen. Insulin merangsang penyimpanan lemak dengan mengaktifkan lipoprotein kinase, enzim yang menghidrolisis trigliserida yang diangkut dalam VLDL dan lipoprotein yang kaya-trigliserida lainnya menjadi asam lemak, yang kemudian dapat diserap oleh sel lemak. Di sel lemak insulin juga menghambat lipolisis yang mencegah pelepasan asam-asam lemak, substrat potensial untuk pembentukan benda keton di hati. Insulin menimbulkan efek ini dengan menurunkan aktivitas lipase yang peka-hormon (Ganong dan Stephen, 2010). Homeostasis glukosa normal diatur secara ketat oleh tiga proses yang saling berkaitan yaitu pembentukan glukosa di hati; penyerapan dan pemakaian glukosa oleh jaringan perifer terutama otot rangka; dan kerja insulin dan hormonhormon penyeimbang termasuk glukagon. Insulin dan glukagon memiliki efek regulatorik yang saling bertentangan pada homeostasis glukosa. Selama puasa,

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 kadar insulin yang rendah dan glukagon yang tinggi mempermudah glukoneogenesis dan glikogenolisis hati sementara sintesis glikogen menurun sehingga hipoglikemik tidak terjadi. Oleh sebab itu, kadar glukosa puasa terutama ditentukan oleh pengeluaran glukosa oleh hati. Setelah makan, kadar insulin meningkat dan kadar glukagon turun sebagai respon terhadap pemberian glukosa dalam jumlah besar (Kumar et al. 2009). C. Obesitas dan Resistensi Insulin Obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebih yang dapat mengganggu kesehatan. Untuk menentukan obesitas atau tidaknya seseorang dapat dilakukan dengan menghitung BMI . Body mass index merupakan indeks sederhana berat dan tinggi badan yang umumnya digunakan untuk mengklasifikasikan obesitas pada orang dewasa (WHO, 2000). Faktor yang dapat menyebabkan obesitas antara lain : 1. Gangguan jalur sinyal leptin. Sebagian kasus obesitas dilaporkan memiliki kaitan dengan resistensi leptin. Leptin merupakan suatu hormon yang esensial bagi regulasi berat tubuh normal. Leptin menekan nafsu makan sehingga menurunkan konsumsi makanan dan mendorong penurunan berat badan. Beberapa peneliti mengemukakan bahwa orang yang memiliki obesitas, pusat-pusat di hipotalamus yang berperan untuk hemoestatis energi “diatur menjadi lebih tinggi”. Defek reseptor leptin yang tidak berespon terhadap tingginya kadar leptin di darah yang berasal dari jaringan lemak yang banyak, menyebabkan otak tidak mendeksi leptin sebagai sinyal

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 untuk menurunkan nafsu makan sehingga simpanan lemak semakin tinggi dan menyebabkan obesitas (Sherwood, 2009). 2. Kurangnya aktivitas fisik. Berbagai penelitian menunjukan bahwa orang gemuk tidak mengkonsumsi makanan lebih banyak dibandingkan dengan orang kurus. Orang dengan berat badan berlebih meskipun tidak makan berlebihan namun karena aktivitas fisik yang kurang maka tidak akan mengakibatkan penurunan yang setara dengan asupan makanan (Sherwood, 2009). 3. Pembentukan sel lemak dalam jumlah yang berlebihan akibat makan berlebihan. Salah satu masalah dalam melawan obesitas yaitu sekali terbentuk sel lemak maka sel lemak tidak akan lenyap dengan pembatasan makan dan penurunan berat badan (Sherwood, 2009). Obesitas dibagi menjadi dua tipe, yaitu: 1. Obesitas sentral Pada obesitas sentral terjadi penimbunan lemak dalam tubuh yang melebihi nilai normal di daerah abdominal (Wajchenberg, 2000). 2. Obesitas perifer Pada obesitas perifer terjadi penimbunan lemak yang melebihi nilai normal di bagian pinggul dan paha atau gluteo-femoral (Wajchenberg, 2000). Keterkaitan antara obesitas dan DM2 diperantarai oleh efek terhadap resistensi insulin. Resistensi insulin merupakan suatu kondisi terjadinya penurunan sensitivitas jaringan terhadap kerja insulin sehingga terjadi

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 peningkatan sekresi insulin sebagai kompensasi ß pankreas. Resistensi insulin merupakan gambaran khas pada kebanyakan penyandang DM2 yang mengalami obesitas. Resistensi insulin menyebabkan berkurangnya penyerapan glukosa otot dan jaringan lemak dan ketidakmampuan hormon menekan glukogenesis di hati (Kumar et al. 2009). Menurut Suyono (cit., Sonatalia, 2010) obesitas menyebabkan terjadinya peningkatan massa adiposa yang dihubungkan dengan resistensi insulin yang akan mengakibatkan terganggunya proses penyimpanan lemak dan sintesa lemak. Jaringan adiposa merupakan suatu organ endokrin yang paling peka terhadap kerja dari insulin. Jaringan adiposa mensekresikan adipositokin yang salah satu perannya adalah dalam patogenesis insulin (Windutama, Adam dan Adam, 2009). Rendahnya aktivitas insulin dapat menyebabkan terjadinya penekanan pada lipolisis dan peningkatan penyimpanan lemak. Adiposit memproduksi adipositokin dalam jumlah kecil tetapi jaringan adiposa merupakan organ terbesar pada tubuh manusia. Hal ini menyebabkan jumlah keseluruhan adipositokin berdampak pada fungsi tubuh. Pembesaran ukuran dari adiposit menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan aktivitas dari lipolitik yang berperan dalam pelepasan asam lemak bebas melalui sirkulasi portal yang menuju ke hati (Setiawan, 2009). Adiposit mengeluarkan beberapa hormon, secara kolektif dinamai adipokin yang berperan penting dalam keseimbangan energi dan metabolisme (Sherwood, 2007). Hormon adipokin meliputi leptin, adiponektin, resistin, TNF-α, interleukin-6, steroid dan prostaglandin. Resistin dapat menyebabkan resistensi

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 insulin di lemak dan otot; dan faktor nekrosis tumor (TNF) juga dapat menyebabkan terjadinya resistensi insulin (Eid, 2011). Faktor nekrosis tumor α dapat menyebabkan resistensi insulin dengan cara menghambat aktifitas tirosin kinase pada reseptor insulin dan menurunkan ekspresi glukosa transporter-4 (GLUT-4) di sel lemak dan otot (Rohman, 2007). Mekanisme resistensi insulin terkait obesitas disebabkan karena peningkatan produksi asam lemak bebas yang terakumulasi di jaringan (Sulistyoningrum, 2010). Grundy (2004) menyatakan adanya asam lemak bebas yang terakumulasi pada jaringan dan otot dapat menyebabkan tubuh lebih banyak menggunakan asam lemak bebas tersebut sebagai sumber energi. Pada obesitas masuknya asam lemak bebas ke jaringan melebihi kebutuhan. Masuknya asam lemak bebas berlebih kedalam otot mengakibatkan resistensi insulin. Mekanisme yang lengkap mengenai peningkatan asam lemak kedalam otot sehingga berakibat resistensi insulin belum diketahui secara pasti, namun diduga bahwa masuknya asam lemak bebas menghambat oksidasi glukosa. Penelitian yang dilakukan Shulman (2000) menunjukan pada otot terjadi peningkatan kadar diasilgliserol yang akan merangsang fosforilasi serin reseptor insulin dan akhirnya akan menghambat kerja insulin normal. Resistensi insulin di otot merupakan faktor prediposisi hiperglikemia, yang akhirnya akan muncul gejala klinik pada orang yang mengalami defek sekresi insulin. Lemak abdominal secara metabolik lebih aktif dibanding lemak perifer. Penumpukan lemak akan meningkatkan asam lemak bebas dari hasil lipolisis, sehingga akan menurunkan sensitifitas terhadap insulin. Peningkatan asam lemak

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 bebas di hati dapat meningkatkan glukoneogenesis sehingga meningkatkan produksi glukosa dan menurunkan ekstraksi insulin sehingga terjadi hiperinsulinemia. Otot akan menurunkan pemakaian glukosa dan insulin yang di produksi pankreas pun akan menurun (Rohman, 2007). D. Glukosa Darah Puasa Glukosa darah puasa adalah kadar glukosa darah setelah puasa lebih kurang 8-10 jam sebelum dilakukan pemeriksaan (Depkes RI, 2005). Pengendalian glukosa darah pada penyandang DM dilihat berdasarkan glukosa darah jangka panjang dan glukosa darah sesaat. Pemantauan glukosa darah sesaat dilihat dari glukosa darah puasa dan 2 jam post-pandrial, sedangkan pengontrolan glukosa darah jangka panjang dapat dilakukan dengan pemeriksaan HbA1c (Service dan O’Brien, 2001). E. Antropometri Antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Pengukuran ini dapat meliputi berat badan, tinggi badan, tebal lemak di bawah kulit (WHO, 2000). 1. Body Mass Index (BMI) Body Mass Index adalah Quatelet’s index yang dipakai secara luas, yaitu berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m2) (Narendra, 2006).

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 Tabel I. Klasifikasi BMI Pada Orang Asia Dewasa (WHO, 2000) Classification BMI (kg/m2) Risk of co-morbidities underweight < 18.5 Low (but increased risk of other clinical problems Normal range 18.5-22.9 Average overweight ≥23 At risk 23-24.9 Increased Obese I 25-29.9 Moderate Obese II ≥30 severe 2. Abdominal Skinfold Thickness (AST) Skinfold Thickness merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk mengukur lemak tubuh total (Sudibjo, 2012). Lemak subkutan dapat diukur dengan menggunakan skinfold caliper yang diletakkan pada bagian ekstremitas dan batang tubuh. Pengukuran ini didasarkan pada 50% lemak tubuh total yang terdapat pada lapisan subkutan (Budiman, 2008). Lokasi pengukuran spesifik yaitu pada bagian abdominal, dengan melakukan cubitan arah vertikal, kurang lebih 5cm lateral umbilicus (Gambar 1). Abdominal skinfold thickness tersusun atas lemak abdominal. Lemak abdominal terdiri dari lemak subkutan abdominal dan lemak intraabdominal (Wajchenberg, 2000). Gambar 1. Pengukuran abdominal skinfold thickness (Mackenzie, 2002)

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 F. Landasan teori Diabetes melitus tipe 2 terjadi pada kebanyakan penyandang DM yang ditandai dengan resistensi insulin. Salah satu faktor risiko diabetes melitus tipe 2 adalah obesitas. Obesitas dan resistensi insulin dapat menyebabkan berbagai macam penyakit seperti penyakit kardiovaskuler, dislipidemia, dan penyakit makrovaskeler. Obesitas dan resistensi insulin, menjadikan penyakit kardiovaskuler salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di negara maju. Obesitas dapat diukur menggunakan pengukuran antropometri. Antropometri merupakan pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Pengukuran antropometri yang dilakukan yaitu abdominal skinfold thickness dan body masss index. Abdominal skinfold thickness untuk mengukur obesitas sentral sedangkan body mass index untuk pengukuran obesitas secara keseluruhan. Obesitas mempengaruhi kerja insulin sehingga menyebabkan tingginya kadar glukosa darah. Penelitian yang dilakukan Lipoeto et al. (2007) menyatakan terdapat hubungan antara besarnya penumpukan lemak dengan peningkatan kadar glukosa darah. G. Hipotesis Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat korelasi bermakna antara abdominal skinfold thickness dan body mass index terhadap kadar glukosa darah puasa pada Diabetes Melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian yaitu potong lintang/cross-sectional. Penelitian observasional yaitu penelitian yang dilaksanakan tanpa adanya perlakuan atau intervensi. Penelitian analitik, peneliti mencari hubungan antar variabel yang ada (Sastroasmoro, 2008). Rancangannya potong lintang yaitu penelitian yang mempelajari mengenai korelasi antara faktor risiko dan faktor efek. Faktor risiko adalah fenomena yang mengakibatkan terjadinya efek, faktor efek yaitu suatu akibat dari faktor risiko (Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya korelasi abdominal skinfold thickness dan body mass index sebagai faktor risiko, terhadap kadar glukosa darah puasa yang merupakan faktor efek pada penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung. Data penelitian yang diperoleh diolah secara statistik untuk menganalisis korelasi antara faktor risiko dengan faktor efek. B. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas Abdominal skinfold thickness dan body mass index 2. Variabel tergantung Kadar glukosa darah puasa 18

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 3. Variabel pengacau a. Variabel pengacau terkendali: usia dan kondisi puasa sebelum pengambilan data. b. Variabel tak terkendali: aktivitas, gaya hidup responden, pola makan, kondisi patologis, dan obat-obat yang dikonsumsi. C. Definisi Operasional 1. Responden adalah penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi pada penelitian ini. 2. Karakteristik penelitian meliputi demografi (usia), pengukuran antropometri (abdominal skinfold thickness dan body mass index), dan hasil pemeriksaan yang didapat dari Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung yaitu kadar glukosa darah puasa. 3. Pengukuran abdominal skinfold thickness adalah pengukuran tebal lemak di bawah kulit pada bagian abdominal dengan menggunakan alat skinfold caliper. Pengukuran abdominal skinfold thickness dilakukan secara modern method yaitu responden berdiri tegak dan rileks, lengan sejajar dengan tubuh, kemudian dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk diambil lipatan kulit secara vertikal dengan jarak 5cm pada bagian kanan dari umbilicus dan 1cm dibawah jari yang memegang skinfold , setelah itu rahang skinfold caliper dijepitkan pada lipatan kulit yang diambil dan hasil pengukuran dapat dibaca dalam satuan milimeter (Norton et al., 2001).

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 4. Pengukuran body mass index dilakukan dengan mengukur berat badan (kg) dan kuadrat tinggi badan (m2). Pengukuran body mass index dilakukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan. Tinggi badan diukur menggunakan alat pengukur tinggi badan pada responden yang berdiri tegak dengan pandangan lurus, bahu rileks, tangan di sisi tubuh, kaki lurus, telapak kaki pada posisi datar dan tidak memakai alas kaki. Berat badan diukur dalam kilogram menggunakan timbangan berat badan pada responden tanpa memakai alas kaki. 5. Kadar glukosa darah puasa diperoleh dari hasil laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung dengan kondisi responden telah berpuasa 8-10 jam sebelum dilakukan pengambilan darah. Kadar glukosa dinyatakan dalam satuan mg/dl. 6. Standar yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : a. Abdominal skinfold thickness. Nilai normal untuk abdominal skinfold thickness pada pria dan wanita menggunakan nilai median dan mean berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti. Jika data terdistribusi normal maka digunakan nilai mean sedangkan jika terdistribusi tidak normal maka digunakan nilai median. b. Body mass index. Standar Body Mass Index (BMI) yang digunakan yaitu menurut kriteria World Health Organization pada orang Asia dewasa (WHO,2000).

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 Classification underweight BMI (kg/m2) < 18.5 Normal range overweight At risk Obese I Obese II 18.5-22.9 ≥23 23-24.9 25-29.9 ≥30 c. Risk of co-morbidities Low (but increased risk of other clinical problems) Average Increased Moderate severe Glukosa darah puasa. Menurut kriteria penegakan diagnosis diabetes melitus (ADA, 2010). D. Responden Penelitian Responden dalam penelitian ini yaitu penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dari penelitian. Kriteria inklusi yaitu penyandang DM2 di RSUD kabupaten temanggung pada pria dan wanita yang berusia lebih dari 40 tahun, bersedia berpuasa selama 8-10 jam sebelum pengambilan data dan menandatangani informed consent. Kriteria ekslusi meliputi penyandang DM2 di RSUD Kabupaten Temanggung dengan penyakit penyerta seperti stroke, gangren, gagal ginjal, dan penyakit jantung koroner, berusia ≤40 tahun, serta tidak hadir saat pengambilan data. Jumlah responden yang bersedia untuk mengikuti penelitian dan menandatangani informed consent sebanyak 106 responden. Menurut Spiegel dan Stephens (2007), dibutuhkan minimal 30 responden dalam suatu penelitian korelasi. Pada penelitian ini, jumlah responden yang digunakan sebanyak 98 orang yang terdiri dari 39 pria dan 59 wanita. Hal ini dikarenakan satu data

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 responden tidak masuk dalam rentang usia penelitian, dua data responden merupakan responden yang sama, lima data responden direduksi karena tidak memiliki kelengkapan data kadar GDP. Pengambilan data dilakukan selama 6 minggu dengan rincian sebagai berikut: a. minggu pertama (15 Agustus 2012 – 21 Agustus 2013) terdapat 16 responden yang terdiri dari 8 responden pria dan 8 responden wanita b. minggu kedua (22 Agustus 2013 – 28 Agustus 2013) terdapat 10 responden yang terdiri dari 8 responden pria dan 2 responden wanita c. minggu ketiga (29 Agustus 2013 – 4 September 2013) terdapat 16 responden, terdiri dari 8 responden pria dan 8 responden wanita d. minggu keempat (5 September 2013 – 11 September 2013) terdapat 14 responden, terdiri dari 5 responden pria dan 9 responden wanita e. minggu kelima (12 September 2013 – 18 September 2013) terdapat 15 responden, terdiri dari 6 responden pria dan 9 responden wanita f. minggu keenam (19 September 2013 – 28 September 2013) terdapat 35 responden, terdiri dari 10 responden pria dan 25 responden wanita

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Pengambilan data minggu pertama 8 responden wanita 16 responden 15 responden 8 responden pria 1 responden tidak masuk dalam rentang usia penelitian Pengambilan data minggu kedua 2 responden wanita 10 responden 8 responden pria Pengambilan data minggu ketiga 8 responden wanita 16 responden 14 responden 8 responden wanita 2 responden memiliki data yang sama 98 responden Pengambilan data minggu keempat 9 responden wanita 14 responden 10 responden 5 responden pria 4 responden direduksi Pengambilan data minggu kelima 9 responden wanita 15 responden 6 responden pria 25 responden wanita Pengambilan data minggu keenam 35 responden 10 responden pria 1 responden data miss Gambar 2. Skema Pengambilan Data 34 responden

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 E. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di RSUD Kabupaten Temanggung berlokasi di jalan Dr. Sutomo no 67, Temanggung, Jawa Tengah, 56212. Penelitian berlangsung pada bulan Agustus - Oktober 2013. F. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian payung Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang berjudul “Korelasi pengukuran antropometri terhadap profil lipid, kadar glukosa darah puasa, dan tekanan darah pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung”. Penelitian ini dilakukan berkelompok dengan jumlah anggota sebanyak 14 orang dengan kajian yang berbeda. Kajian dari penelitian ini meliputi: 1. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) terhadap Kadar Trigliserida 2. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL 3. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) terhadap Rasio Kadar HDL/LDL 4. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) terhadap Tekanan Darah 5. Korelasi Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness terhadap Kadar Trigliserida 6. Korelasi Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 7. Korelasi Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness terhadap Rasio Kadar HDL/LDL 8. Korelasi Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness terhadap Tekanan Darah 9. Korelasi Pengukuran Body Mass Index dan Abdominal Skinfold Thickness terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa 10. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang Panggul terhadap Kadar Trigliserida 11. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang Panggul terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL 12. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang Panggul terhadap Rasio HDL/LDL 13. Korelasi Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang Panggul terhadap Tekanan Darah 14. Korelasi Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang Panggul terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa. G. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan secara nonrandom dengan jenis purposive sampling. Pengambilan sampel secara nonrandom karena tidak semua penyandang DM2 di RSUD Kabupaten Temanggung mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi responden dalam penelitian ini, yang menjadi responden hanyalah penyandang DM2 yang berpuasa dan sedang melakukan pemeriksaan di Poli Dalam RSUD Kabupaten Temanggung.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 Pengambilan sampel secara purposive didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti, berdasarkan pertimbangan objektif peneliti yaitu responden tersebut dapat memberikan informasi yang sesuai dengan tujuan dari penelitian (Notoatmodjo, 2010). H. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan adalah skinfold caliper dengan merek pi zhi hou du fi yang berfungsi sebagai alat ukur abdominal skinfold thickness, timbangan berat badan analog dengan merek Camry® untuk mengukur berat badan, dan pita ukur tinggi badan dengan merek Butterfly® untuk mengukur tinggi badan. Pemeriksaan kadar glukosa darah puasa responden dilakukan oleh Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung menggunakan Sysmex Chemix-180 (Jepang), seri : 5830-0605. I. Tata Cara Penelitian 1. Observasi awal Observasi awal dilakukan dengan mencari informasi tentang jumlah penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung serta lokasi di rumah sakit tersebut yang tepat untuk dilakukannya proses wawancara, pengisian informed consent dan pengukuran antropometri pada responden saat dilakukan pegambilan data.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 2. Permohonan izin dan kerjasama Permohonan izin awalnya ditujukan kepada Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta untuk memperoleh ethical clearence. Permohonan izin ini dilakukan untuk memenuhi etika penelitian menggunakan sampel darah manusia dan hasil penelitian dapat dipublikasikan. Permohonan ijin kedua ditujukan kepada Bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) RSUD Kabupaten Temanggung. Permohonan izin ketiga ditujukan kepada perawat dan dokter di poli penyakit dalam RSUD Temanggung untuk bekerja sama dalam penyortiran penyandang DM2 yang sedang melakukan pemeriksaan. Permohonan izin keempat ditujukan kepada Kepala Laboratorium RSUD Temanggung untuk melakukan kerja sama dalam pengambilan dan pengukuran sampel darah responden. Permohonan izin kelima ditujukan kepada responden untuk bekerja sama dalam penelitian ini dengan pengisian informed consent. 3. Pembuatan informed consent dan leaflet Informed consent merupakan bukti tertulis pernyataan kesediaan responden untuk ikut serta dalam penelitian yang harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Leaflet merupakan lembaran kertas yang berisi informasi tercetak mengenai penjelasan tentang penelitian. Pemberian leaflet pada penelitian ini bertujuan untuk membantu peneliti menjelaskan mengenai pengukuran antropometri dan pentingnya melakukan pemeriksaan darah sehingga responden mendapatkan informasi penelitian yang

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 lebih jelas. Isi leaflet meliputi informasi mengenai DM2 beserta komplikasinya, pengukuran antropometri (body mass index, skinfold thickness, pengukuran lingkar pinggang panggul, dan tekanan darah), cek profil lipid (trigliserida, kolesterol total, HDL, LDL), dan kadar glukosa darah. 4. Pencarian calon responden Pencarian responden dilakukan setelah mendapat izin dari Litbang RSUD Kabupaten Temanggung. Penyandang DM2 dan sedang check-up di poli dalam RSUD Temanggung akan diantarkan perawat kepada peneliti untuk diberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan penelitian kepada calon responden. Calon responden yang bersedia ikut dalam penelitian diminta untuk mengisi dan menandatangani informed consent. Apabila calon responden sedang dalam keadaan tidak puasa, peneliti mengajak calon responden untuk ikut serta di hari selanjutnya dalam kondisi puasa. Selain itu, peneliti juga menyebarkan undangan bagi penyandang DM2 yang berada di puskesmas di Kabupaten Temanggung, yang jika bersedia menjadi responden dapat langsung datang ke RSUD Kabupaten Temanggung untuk dilakukan pengecekan. 5. Validitas dan reliabilitas instrumen penelitian Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2011), instrumen yang memiliki validitas dan reliabilitas yang baik dapat dinyatakan dengan nilai CV (coefficient of variation) 5%. Instrumen yang valid berarti instrumen tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, sedangkan instrumen yang reliabilitas berarti instrumen tersebut dapat digunakan beberapa kali dengan hasil data yang kurang lebih sama. Validitas dan reliabilitas yang dilakukan dengan

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 mengukur abdominal skinfold thickness dan body mass index individu sebanyak lima kali berturut-turut dengan alat ukur yang sama. Skinfold caliper dengan merek pi zhi hou du fi memiliki nilai CV pada pria dan wanita sebesar 2% untuk mengukur abdominal skinfold thickness. Timbangan berat badan analog dengan merek Camry® memiliki CV pada pria sebesar 0,3% dan wanita sebesar 0,05% untuk mengukur berat badan. Pita ukur tinggi badan dengan merek Butterfly® memiliki CV sebesar 0,03% pada wanita dan 0.006% pada pria, sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen skinfold caliper, timbangan analog, dan pita ukur tinggi memenuhi syarat validasi. 6. Pengambilan darah dan pengukuran antropometri Pengambilan darah dan pengukuran kadar LDL dan HDL dilakukan oleh Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung kepada responden yang telah menandatangi inform consent dan berpuasa 8-10 jam sebelum waktu pengambilan darah serta tidak sakit pada hari yang bersangkutan. Pengukuran antropometri yang dilakukan oleh peneliti adalah abdominal skinfold thickness dan body mass index. Pengukuran abdominal skinfold thickness dilakukan secara modern method yaitu responden berdiri tegak dan rileks dengan tangan sejajar tubuh, kemudian dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk diambil lipatan kulit secara vertikal dengan jarak 5cm pada bagian kanan dari umbilicus dan 1cm dibawah jari yang memegang skinfold , setelah itu rahang skinfold caliper dijepitkan pada lipatan kulit yang diambil dan hasil pengukuran dapat dibaca dalam satuan milimeter (Norton et al. 2001). Skinfold caliper yang digunakan untuk mengukur, dikalibrasi setiap 10 kali pengukuran.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Pengukuran body mass index dilakukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan. Tinggi badan diukur menggunakan alat pengukur tinggi badan pada responden yang berdiri tegak dengan pandangan lurus, bahu rileks, tangan di sisi tubuh, kaki lurus, telapak kaki pada posisi datar dan tidak memakai alas kaki. Berat badan diukur dalam kilogram menggunakan timbangan berat badan pada responden tanpa memakai alas kaki. 7. Pembagian hasil pemeriksaan Peneliti membagikan hasil pemeriksaan kepada responden secara langsung. Hasil pemeriksaan dimasukkan ke dalam amplop dan peneliti memberikan penjelasan langsung kepada responden untuk memahami mengenai hasil laboratorium dan pengukuran antropometri tersebut. 8. Pengolahan data Data yang diperoleh diolah secara statistik dengan komputerisasi menggunakan taraf kepercayaan 95%. Uji diawali dengan melakukan normalitas data menggunakan uji Shapiro-Wilk untuk responden pria karena data responden yang digunakan berjumlah 39 data (<50 responden) sedangkan untuk uji normalitas pada data responden wanita, menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov karena menggunakan 59 data responden (>50 responden). Selanjutnya dilakukan uji hipotesis komparatif antara rerata kadar glukosa darah puasa pada wanita dan pria dengan kelompok BMI (≥23kg/m2 dan <23kg/m2) dan AST pada wanita dengan kelompok AST (≤25,88mm dan >25,88mm) serta pada pria dengan kelompok AST (≤23,5 mm dan >23,5mm). Hasil uji normalitas kelompok AST dan BMI terhadap kadar GDP pada responden pria dan wanita menunjukan

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 terdapat data yang terdistribusi tidak normal sehingga untuk uji hipotesis komparatif digunakan uji Mann-Whitney. Uji korelasi menggunakan uji korelasi Spearman karena terdapat data yang terdistribusi tidak normal. Tabel II. Panduan Hasil Uji Hipotesis Berdasarkan Kekuatan Korelasi, Nilai p, dan Arah Korelasi (Dahlan, 2012) Parameter Nilai Interpretasi Kekuatan korelasi (r) 0,0 - <0,2 Sangat lemah 0,2 - <0,4 Lemah 0,4 - <0,6 Sedang 0,6 - <0,8 Kuat 0,8 – 1 Sangat kuat Nilai p p < 0,05 Korelasi bermakna p > 0,05 Tidak terdapat korelasi Arah korelasi + (positif) Searah - (negatif) Berlawanan J. Analisis Data Penelitian Data diolah secara stastistik menggunakan uji normalitas KolmogorovSmirnov dan Shapiro-Wilk untuk melihat distribusi normal suatu data. Suatu data dikatakan normal apabila nilai signifikansi (p)>0,05. Data kemudian dianalisis analisis Spearman karena terdapat data yang terdistribusi tidak normal. Taraf kepercayaan 95% (Dahlan, 2012). K. Kesulitan Penelitian Kesulitan dalam penelitian ini adalah mencari responden dalam kondisi puasa selama 8-10 jam. Di poli dalam RSUD Kabupaten Temanggung, jumlah penyandang DM2 tergolong banyak namun pada saat pemeriksaan tidak banyak yang berpuasa. Selain itu terdapat penyandang DM2 yang tidak bersedia di ambil darahnya menggunakan jarum suntik.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden Penelitian ini melibatkan 98 responden yang terdiri dari 39 responden pria dan 59 responden wanita yang merupakan penyandang DM2 di RSUD Kabupaten Temanggung. Jumlah responden dalam penelitian ini telah melebihi batas minimum sampel yaitu 30 sampel untuk penelitian dengan metode deskriptif-korelasi (Spiegel and Stephens, 2007). Sejumlah 98 data responden tersebut dianalisis secara statistik univariat dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk dan Kolmogorov-Smirnov untuk melihat normalitas data. Data responden pria diuji dengan uji normalitas Shapiro-Wilk karena jumlah data <50, sedangkan data responden wanita diuji dengan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov karena jumlah data >50. Data dikatakan terdistribusi normal apabila nilai signifikansi (p)>0,05 (Dahlan, 2012). Gambaran karakteristik responden ditunjukan pada tabel berikut : Tabel III. Profil Karakteristik Responden Pria Karakteristik (n=39) Mean + SD Usia (tahun) 60,9 + 9,9 Abdominal Skinfold Thicness (mm) 23,50(9,17-30,33)* Body Mass Index 23,78 + 2,64 Glukosa Darah Puasa (mg/dL) 182,0(98,0-456,0)* Keterangan * : nilai median(nilai minimum-maksimum) SD : standar deviasi p>0,05 menunjukkan bahwa data terdistribusi normal p<0,05 menunjukkan bahwa data terdistribusi tidak normal 32 p 0,519 0,000 0,108 0,003

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Tabel IV. Profil Karakteristik Responden Wanita Karakteristik (n=59) Mean + SD Usia (tahun) 60,1 + 8,2 Abdominal Skinfold Thicness (mm) 25,88 ± 6,84 Body Mass Index 25,23+ 3,50 Glukosa Darah Puasa (mg/dL) 157,0(50,0-357,0)* p 0,200 0,200 0,200 0,017 Keterangan * : nilai median(nilai minimum-maksimum) SD : standar deviasi p>0,05 menunjukkan data terdistribusi normal p<0,05 menunjukkan data terdistribusi tidak normal 1. Usia Responden dalam penelitian ini berusia lebih dari 40 tahun yaitu 41-78 tahun. Dipilih responden dalam rentang umur tersebut karena berdasarkan hasil penelitian (Yuliasih, 2009) menunjukan insiden DM2 terjadi paling banyak pada usia lebih dari 40 tahun. Data diuji normalitasnya menggunakan uji KolmogorovSmirnov dan Shapiro-Wilk. Diperoleh hasil sebaran usia yang merata dengan nilai signifikansi (p>0,05). Menurut (Dahlan, 2012) data terdistribusi normal jika nilai p>0,05. 2. Abdominal skinfold thickness (AST) Hasil penelitian menunjukan sebaran nilai AST pada responden pria terdistribusi tidak normal, dengan nilai p=0,000. Pada responden wanita nilai AST dikatakan normal dan tersebar merata karena memiliki nilai p>0,05. Berdasarkan rentang nilai minimum dan maksimum serta median pada respoden pria yang cukup jauh menyebabkan distribusi data tidak normal. Menurut (Dahlan, 2012) pemusatan data yang tidak terdistribusi normal dapat dilihat dari nilai median, nilai maksimum dan nilai minimum.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Dalam penelitian ini, peneliti membagi AST dalam dua kelompok berdasarkan nilai median dan nilai mean yang diperoleh, hal ini disebabkan karena AST tidak memiliki cut-off point. Kedua kelompok tersebut yakni kelompok AST≤23,5mm dan AST>23,5mm untuk responden pria, serta kelompok AST≤25,88mm dan AST>25,88mm untuk responden wanita. Diasumsikan bahwa semakin tinggi nilai AST akan berpengaruh terhadap peningkatan kadar GDP. 3. Body mass index (BMI) Responden yang terlibat dalam penelitian ini memiliki rentang BMI 18,01 kg/m2 - 32,54 kg/m2. World Health Organization menetapkan cut-off point untuk orang Asia dikatakan overweight jika memiliki BMI≥23 kg/m2. Profil BMI responden dalam penelitian ini ditunjukan dalam tabel berikut. Tabel V. Profil BMI Responden Pria dan Wanita Berdasarkan Kriteria WHO Pria Wanita 2 2 BMI (kg/m ) Jumlah BMI (kg/m ) Jumlah <18,5 2 <18,5 2 18,5 – 22,9 9 18,5 – 22,9 14 23,0 – 24,9 20 23,0 – 24,9 15 25 – 29,9 8 25 – 29,9 22 ≥30 ≥30 26 Uji normalitas BMI pada responden pria dan wanita menunjukan data terdistribusi normal dengan nilai p>0,05. 4. Glukosa darah puasa Kadar glukosa darah puasa responden pria dan wanita terdistribusi tidak merata, dengan nilai p<0,05. Menurut Dahlan (2012) pemusatan data yang tidak terdistribusi normal dapat dilihat dari nilai median, nilai maksimum dan nilai minimum. Nilai median data responden pria dan wanita dalam penelitian ini

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 berada pada rentang yang cukup besar dari nilai minimum dan nilai maksimum. Hal inilah yang menyebabkan data terdistribusi tidak normal. B. Perbandingan Rerata Glukosa Darah Puasa pada Abdominal Skinfold Thicknes (AST) Pengujian normalitas kelompok AST ≤23,5mm dan AST >23,5mm terhadap kadar GDP pada responden pria menggunakan uji Shapiro-Wilk menunjukan hasil distribusi kadar GDP pada responden yang memiliki AST≤23,5mm terdistribusi normal dengan nilai p=0,225 sedangkan yang memiliki AST>23,5mm terdistribusi tidak normal dengan nilai p=0,001. Pengujian yang dilakukan pada responden wanita dengan kelompok AST≤25,88mm dan AST>25,88mm menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukan hasil distribusi kadar GDP pada responden dengan AST ≤25,88mm dan AST>25,88mm terdistribusi tidak normal dengan nilai p<0,05. Data terdistribusi normal jika nilai p>0,05 (Dahlan, 2012). Pengujian data kelompok pria dan wanita menggunakan uji Shapiro-Wilk karena jumlah responden masingmasing kelompok klasifikasi kurang dari 50 responden. Berdasarkan hasil uji normalitas tersebut, peneliti kemudian melakukan uji Mann-Whitney pada responden pria dan wanita untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang bermakna antara klasifikasi kelompok AST terhadap rerata kadar GDP. Terdapat hubungan yang bermakna jika nilai p<0,05 (Dahlan, 2012). Hasil uji Mann-Whitney pada responden pria dengan kelompok AST≤23,5mm dan AST>23,5mm menunjukan terdapat perbedaan tidak bermakna

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 antara responden yang memiliki AST≤23,5mm dan AST>23,5mm terhadap kadar GDP dengan nilai p=0,367 (Tabel VII). Sebaliknya, pada responden wanita yang memiliki AST≤25,88mm dan AST>25,88mm menunjukan terdapat perbedaan bermakna antara rerata kedua kelompok tersebut terhadap kadar GDP dengan nilai p=0,004 (Tabel VII). Tabel VI. Perbandingan Rerata Glukosa Darah Puasa pada Pria dengan Abdominal Skinfold Thicknes ≤23,5mm dan >23,5 mm Karakteristik Abdominal Skinfold Thicknes p ≤23,5mm >23,5 mm Glukosa darah 206,15±76,24* 187,32±83,72* 0,376** puasa (mg/dL) * ** = rata- rata±SD = p>0,05 menunjukkan adanya perbedaan yang tidak bermakna Tabel VII. Perbandingan Rerata Glukosa Darah Puasa pada Wanita dengan Abdominal Skinfold Thicknes ≤25,88mm dan >25,88 mm Karakteristik Abdominal Skinfold Thicknes p ≤25,88mm >25,88 mm Glukosa darah 140,38±48,80* 195,36±73,80* 0,004** puasa (mg/dL) * ** = rata- rata±SD = p>0,05 menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna Hasil penelitian ini menunjukan, pada responden pria diasumsikan semakin tinggi AST belum tentu terjadi peningkatan kadar GDP sedangkan pada responden wanita semakin tinggi AST maka terdapat kecenderungan untuk terjadi peningkatan kadar GDP. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Bhardwaj et al. (2011) terhadap 459 subjek di India yang menunjukan wanita memiliki rata-rata jaringan adiposa subkutan yang lebih tinggi dari pria, sedangkan pria memiliki rata-rata jaringan adiposa viseral yang lebih tinggi dari pada wanita. Hasil penelitian tersebut juga menunjukan hasil prevalensi obesitas abdominal lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria (74,8% vs 62,2%; p<0,01). Nationwide cross-section survey selama tiga bulan

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 yang dilakukan oleh Janghorbani et al. (2007) terhadap 45.082 pria dan 44.322 wanita yang berusia 15 tahun sampai 60 tahun di Iran menunjukan obesitas abdominal lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan terhadap pria (54,5% vs 12,9%) dan lebih tinggi dengan bertambahnya usia. Dalam penelitian ini dilakukan pengukuran pada bagian subkutan. Hal ini juga mungkin merupakan salah satu faktor didapatkan hasil terdapat perbedaan yang tidak bermakna antara rerata kelompok AST ≤23,5 mm dan AST >23,5 terhadap kadar GDP pada responden pria, sedangkan hasil berbeda bermakna pada responden wanita dengan AST≤25,88 mm dan AST>25,88 mm. Responden wanita yang memiliki AST>25,88 mm berarti memiliki jumlah lemak subkutan yang banyak. Semakin tinggi lemak subkutan maka dapat meningkatkan kadar GDP. Di daerah subkutan terdapat jaringan adiposa yang dapat memproduksi hormon adipokin seperti adiponektin dan resistin. Menurut Ganong dan Stephen (2010), pada individu obesitas hormon resistin yang merupakan hormon untuk meningkatkan resistensi insulin menjadi lebih tinggi sedangkan adiponektin yang merupakan hormon untuk meningkatkan sensitivitas insulin rendah. Hal inilah yang menyebabkan terdapat perbedaan bermakna antara AST≤25,88 mm dan AST>25,88 mm terhadap kadar GDP pada responden wanita. C. Perbandingan Rerata Glukosa Darah Puasa pada Body Mass Index (BMI) Pengujian normalitas kelompok BMI ≥23 kg/m2 dan BMI<23 kg/m2 pada responden pria dan wanita terhadap kadar GDP menggunakan uji Shapiro-Wilk

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 menunjukan distribusi kadar GDP pada responden pria dengan kelompok BMI≥23kg/m2 terdistribusi normal dengan nilai p=0,499 sedangkan distribusi kadar GDP pada kelompok BMI<23 kg/m2 terdistribusi tidak normal dengan nilai p=0,002. Pengujian pada responden wanita menunjukan kadar GDP pada kelompok BMI≥23 kg/m2 dan kelompok BMI<23 kg/m2 terdistribusi tidak normal dengan nilai p<0,05. Hasil pengujian data responden pria dan wanita diuji lagi menggunakan Mann-Whitney test untuk menentukan apakah terdapat perbedaan rerata kelompok BMI≥23 kg/m2 dan BMI<23 kg/m2 pada responden pria dan wanita terhadap kadar GDP. Hasil pengujian pada responden pria dan wanita menunjukan terdapat perbedaan tidak bermakna rerata kelompok BMI≥23 kg/m2 dan BMI<23 kg/m2 terhadap kadar GDP dengan nilai p>0,05 (Tabel IX dan X). Tabel VIII. Perbandingan Rerata Glukosa Darah Puasa pada Pria 2 2 dengan BMI≥23 kg/m dan BMI<23 kg/m Karakteristik Body Mass Index ≥23 kg/m <23 kg/m2 209,00 ±66,08* 192,25±84,80* p 2 Glukosa darah puasa (mg/dL) * ** 0,303** = rata- rata±SD = p>0,05 menunjukkan adanya perbedaan yang tidak bermakna Tabel IX. Perbandingan Rerata Glukosa Darah Puasa pada Wanita 2 2 dengan BMI≥23 kg/m dan BMI<23 kg/m Karakteristik Glukosa darah puasa (mg/dL) * ** Body Mass Index ≥23 kg/m2 <23 kg/m2 172,09±67,50* 168,56±75,84* p 0,818** = rata- rata±SD = p>0,05 menunjukkan adanya perbedaan yang tidak bermakna Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan yang tidak bermakna antara responden pria maupun responden wanita yang memiliki BMI≥23 kg/m2 dan BMI<23 kg/m2 terhadap kadar GDP. Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Pika (2011) yang menyatakan terdapat perbedaan

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 tidak bermakna terhadap kadar GDP pada responden wanita dengan kelompok BMI≥23 kg/m2 dan BMI<23 kg/m2. Penelitian lain yang dilakukan oleh Stephanie (2007) terhadap 50 subyek wanita yang obesitas dan non obesitas menunjukan terdapat perbedaan tidak bermakna terhadap kadar GDP pada obesitas dan non obesitas dengan nilai p=0,089 namun memiliki hubungan linear yang lemah. Secara teoritis obesitas sentral lebih cenderung menyebabkan peningkatan kadar GDP dibandingkan BMI karena pengukuran BMI lebih menggambarkan obesitas secara keseluruhan. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ohnishi et al. (2006) terhadap 938 subyek di Jepang menunjukan insidensi DM2 lebih signifikan pada kelompok obesitas sentral dibandingkan obesitas secara keseluruhan. Hasil penelitian Farida, Soetiharto, Roselinda, dan Suhardi (2010) menyebutkan obesitas sentral lebih berperan sebagai faktor risiko terjadinya DM. Penelitian lain yang dilakukan di India oleh Kamath, Shivaprakash, dan Adhikari (2011) terhadap 446 pasien DM2 menunjukan presentase penyandang DM yang memiliki obesitas sentral lebih tinggi dibanding dengan penyandang DM yang memiliki obesitas secara keseluruhan yaitu 68,1% vs 48,9%. Penentuan obesitas sentral pada penelitian ini ditentukan dengan melakukan pengukuran pada bagian subkutan. Wanita memiliki lemak subkutan yang lebih tinggi dibandingkan pria, sedangkan pria memiliki lemak viseral yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita (Bhardwaj et al., 2011). Hal inilah yang menyebabkan hasil penelitian ini menunjukan obesitas sentral pada responden wanita lebih dapat menggambarkan peningkatan kadar GDP dibandingkan terhadap responden pria.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Berdasarkan hasil penelitian ini dan penelitian sebelumnya yang menunjukan bahwa obesitas sentral lebih dapat menggambarkan peningkatan kadar GDP dibandingkan BMI maka hal inilah yang menyebabkan dalam penelitian ini didapatkan hasil perbedaan tidak bermakna antara kelompok BMI≥23 kg/m2 maupun BMI<23 kg/m2 pada responden pria dan wanita terhadap kadar GDP. D. Korelasi Abdominal Skinfold Thickness dan Body Mass Index Terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa Pengujian korelasi pada responden pria dan wanita pada penelitian ini dilakukan dengan uji korelasi Spearman karena terdapat data yang terditribusi tidak normal. Menurut Dahlan (2012) dilakukan pengujian korelasi Pearson jika kedua data terdistribusi normal, dan korelasi Spearman jika terdapat data yang terdistribusi tidak normal. 1. Korelasi abdominal skinfold thickness terhadap kadar glukosa darah puasa Pengujian dengan uji korelasi Spearman pada responden pria menunjukan terdapat korelasi tidak bermakna abdominal skinfold thickness terhadap kadar GDP dengan nilai p≥0,05 (Tabel XI). Nilai koefisien korelasi (r) menunjukan arah negatif namun dengan kekuatan yang sangat lemah. Pada responden wanita diperoleh hasil terdapat korelasi bermakna dengan nilai p<0,05 namun mempunyai kekuatan korelasi lemah (Tabel XI). Termasuk kekuatan korelasi lemah karena berada pada rentang 0,20-0,40 (Dahlan, 2012).

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Tabel X. Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa Reponden Pria dan Wanita Pria Wanita Variabel Abdominal Skinfold Thickness Abdominal Skinfold Thickness r -0,160 p 0,330 0,391 0,002 p>0,05 menunjukkan terdapat korelasi tidak bermakna p<0,05 menunjukan terdapat korelasi bermakna Garis dari atas ke bawah yang berarti korelasi dengan arah negatif pada responden pria (Gambar 3) dan garis dari bawah ke atas yang berarti korelasi arah positif pada responden wanita (Gambar 4) menunjukan bahwa peningkatan AST pada responden pria tidak diikuti dengan peningkatan kadar GDP, sedangkan pada responden wanita kadar GDP meningkat seiring peningkatan AST. Gambar 3. Diagram sebar korelasi AST terhadap kadar GDP pada responden pria Gambar 4. Diagram sebar korelasi AST terhadap kadar GDP pada responden wanita Penelitian yang dilakukan oleh Sievenpiper, Jenkins, Josse, Leiter, Vuksan (2001) terhadap 35 subyek yang berusia 30 tahun sampai 45 tahun

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 menunjukan adanya korelasi antara visceral/truncal skinfold thickness dengan kadar GDP (r=0,52; p<0,01). Truncal skinfold thickness yang dimaksud dalam penelitian tersebut yaitu penjumlahan dari pengukuran skinfold thickness pada subscapular, iliac, dan abdominal. Adanya korelasi pada penelitian tersebut hanya dipaparkan secara umum (total responden pria dan wanita) terhadap kadar GDP tanpa membandingkan korelasi responden pria maupun responden wanita terhadap kadar GDP. Penelitian cohort yang dilakukan Taylor et al. (2010) terhadap 9446 subyek menunjukan terdapat korelasi positif bermakna antara pengukuran adiposit sentral dengan penyakit diabetes pada wanita, namun tidak bermakna pada pria. Penelitian yang dilakukan Taylor et al. (2010) tidak hanya dilakukan pengukuran skinfold thickness pada bagian abdominal, namun pengukuran juga dilakukan pada bagian subscapular. Hasil penelitian menunjukan pada responden pria terdapat korelasi tidak bermakna AST terhadap kadar GDP dengan arah korelasi negatif dan pada responden wanita yang menunjukan terdapat korelasi bermakna AST terhadap kadar GDP namun dengan kekuatan korelasi lemah. Hal ini mungkin disebabkan karena dalam penelitian ini hanya dilakukan pengukuran skinfold thickness pada bagian abdominal jika dibandingkan dengan penelitian Sievenpiper et al. (2001) dan Taylor et al. (2010), kedua penelitian tersebut menggunakan penjumlahan dari beberapa pengukuran skinfold thickness selain pengukuran di daerah abdominal. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini juga terlihat bahwa rata-rata kadar GDP pada responden pria yang memiliki AST ≤23,5mm

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 (206mg/dL) lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kadar GDP responden pria yang memiliki AST>23,5mm (187mg/dL). Berdasarkan teori, dengan meningkatnya AST yang berarti jumlah lemak di daerah abdominal meningkat, maka akan meningkatkan kadar GDP. Arah korelasi negatif pada responden pria serta kekuatan korelasi lemah pada responden wanita, mungkin dikarenakan lama durasi responden menyandang DM. Salah satu kelemahan dalam penelitian ini yaitu tidak dibatasinya durasi responden penyandang DM. Semakin panjang durasi menyandang DM akan berpengaruh terhadap peningkatan kadar GDP. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Verma, Paneri, Badi, dan Raman (2006) terhadap 76 subyek yang terdiri dari 30 orang non-diabetic dan 46 orang diabetic dengan durasi menyandang DM yang berbeda, menunjukan glukosa darah puasa dan resistensi insulin meningkat dengan meningkatnya durasi menyandang diabetes. Durasi menyandang DM2 yang semakin lama menyebabkan keadaan resistensi yang dialami semakin parah, sehingga walaupun insulin yang dihasilkan tinggi maupun normal tubuh tetap menganggap bahwa insulin yang di produksi masih kurang untuk menurunkan kadar glukosa darah (Verma et al., 2006). Korelasi arah negatif pada reponden pria juga mungkin disebabkan oleh konsumsi obat-obatan penurun glukosa darah. Kelemahan penelitian ini yaitu ketika dilakukan wawancara, peneliti kurang menggali informasi mendalam terkait obat-obatan penurun glukosa darah yang dikonsumsi responden. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan, diketahui terdapat responden yang mengkonsumsi lebih dari satu jenis obat-obatan penurun glukosa serta terdapat

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 responden yang menggunakan insulin injeksi. Hal ini yang menyebabkan hasil dalam penelitian ini tidak sesuai dengan teori. Kurangnya wawancara mendalam terkait aktifitas fisik juga merupakan kelemahan lain dalam penelitian ini. Berdasarkan data wawancara yang diperoleh, diketahui terdapat respoden yang memiliki banyak aktifitas fisik seperti senam, bersepeda, dan aktifitas fisik lainnya yang dilakukan rutin setiap hari. Berdasarkan hasil penelitian Rahmawati, Syam, dan Hidayanti (2011) terhadap 81 penyandang DM2, aktifitas fisik dapat mempengaruhi kadar glukosa darah. Hasil penelitian tersebut menunjukan responden yang aktifitas fisiknya lebih sering memiliki kadar glukosa darah yang lebih rendah dibandingkan terhadap responden yang memiliki aktifitas kurang. Responden yang memiliki aktivitas lebih sering berarti energi yang dikeluarkan tubuh lebih banyak dibandingkan responden yang aktifitas fisiknya lebih sedikit. Energi yang dikeluarkan tubuh berasal dari sintesis glukosa dalam tubuh, sehingga semakin banyak aktifitas fisik yang dilakukan glukosa yang digunakan oleh tubuhpun akan lebih banyak. Hasil korelasi negatif tidak bermakna pada responden pria dan korelasi positif bermakna pada responden wanita menunjukan bahwa abdominal skinfold thickness lebih dapat menggambarkan profil kadar glukosa darah puasa pada responden wanita dibandingkan responden pria di RSUD Kabupaten Temanggung. 2. Korelasi body mass index terhadap kadar glukosa darah puasa Hasil uji korelasi Spearman pada responden pria menunjukan korelasi negatif dengan nilai koefisien korelasi (r) sangat lemah, berdasarkan diagram

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 sebar korelasi terlihat garis dari atas ke bawah (Gambar 5) yang berarti peningkatan kadar GDP tidak disertai dengan peningkatan BMI. Kekuatan korelasi dalam penelitian ini tergolong sangat lemah karena berada pada rentang 0,00-0,199 (Dahlan, 2012). Nilai signifikansi yang diperoleh pada responden pria p=0,248 (Tabel XII) menunjukan terdapat korelasi tidak bermakna BMI terhadap kadar GDP. Pengujian korelasi Spearman pada responden wanita juga menunjukan terdapat korelasi tidak bermakna BMI terhadap kadar GDP dengan nilai p=0,957 (Tabel XII). Tabel XI. Korelasi Body Mass Index terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa Reponden Pria dan Wanita Pria Wanita Variabel Body Mass Index Body Mass Index r -0,190 0,007 p 0,248 0,957 p≥0,05 menunjukkan tidak terdapat korelasi yang bermakna Gambar 5. Diagram sebar korelasi BMI terhadap kadar GDP pada responden pria Gambar 6. Diagram sebar korelasi BMI terhadap kadar GDP pada responden wanita

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Santos et al. (2012) terhadap 550 pasien rawat jalan di Rumah Sakit Barăo de Lucena dan Rumah Sakit das Clínicas di north-easten Brazil yang menunjukan bahwa pada responden pria dan wanita terdapat korelasi tidak bermakna BMI terhadap kadar GDP dengan arah korelasi pada responden pria negatif sedangkan responden wanita dengan arah positif. Nilai koefisien korelasi (r) -0,14 dan nilai p=0,25 pada responden pria sedangkan nilai koefisien korelasi (r) 0,03 dan nilai signifikansi (p)0,59 pada responden wanita. Korelasi negatif pada responden pria dalam penelitian yang dilakukan oleh Santos et al. (2012) juga tidak terduga karena menurut penelitian tersebut seharusnya mungkin terdapat korelasi karena pria juga mempunyai akumulasi lemak viseral yang dapat menjadi faktor risiko, sedangkan pada responden wanita terdapat korelasi yang lemah mungkin disebabkan oleh 65,7% wanita dalam penelitian tersebut telah berusia lebih dari 45 tahun yang berarti kebanyakan sudah pre-menopause, menopause, atau post menopause. Hasil penelitian menunjukan terdapat korelasi tidak bermakna BMI terhadap kadar GDP dengan kekuatan korelasi lemah pada responden wanita. Hal ini mungkin disebabkan karena faktor usia dan keadaan menopause dari responden. Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu tidak adanya patokan usia responden yang digunakan. Responden dalam penelitian ini berusia antara 41 tahun sampai 78 tahun yang pada tentang usia tersebut terdapat perbedaan fungsi metabolisme tubuh antara responden yang berada dalam usia produktif dan responden yang sudah lanjut usia. Selain itu, pada wanita yang sudah lanjut usia hormon esterogen yang diproduksi tubuh sudah mengalami penurunan, sedangkan

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 pada wanita yang masih produktif hormon esterogen dalam tubuh masih tinggi. Menurut Evans dan Mayumi (cit., Verma et al 2006) wanita mempunyai hormon esterogen yang dapat mencegah pengembangan diabetes melitus, dan hormon esterogen pada wanita berkontribusi dalam menyeimbangkan glukosa. Tidak adanya batasan umur inilah yang mungkin menyebabkan dalam penelitian ini didapatkan hasil terdapat korelasi tidak bermakna BMI terhadap kadar GDP pada responden wanita. Hasil penelitian Mihardja (2009) terhadap 279 responden berusia 15-75 tahun menunjukan prevalensi responden yang memiliki riwayat DM cenderung meningkat dengan bertambahnya usia karena semakin lanjut usia pengeluaran insulin oleh pankreas semakin berkurang. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Lipoeto et al. (2007) terhadap 70 sampel yang berusia 20 tahun –70 tahun menunjukan hubungan yang sangat lemah antara BMI terhadap kadar glukosa darah (r=0,101; p>0,05). Berdasarkan jenis kelamin, hubungan yang juga lemah yakni pada pria (r=0,007) dan wanita (r=0,110. Penelitian Lipoeto et al. (2007) menyatakan terdapat korelasi pada responden pria walaupun dengan kekuatan lemah. Hal ini merupakan suatu pembeda dengan hasil yang didapatkan dalam penelitian ini yang menunjukan korelasi dengan arah negatif walaupun dengan kekuatan korelasi yang sangat lemah. Hasil uji statistik menunjukan bahwa pada responden pria yang memiliki BMI≤23 kg/m2 memiliki rata-rata kadar GDP yang lebih tinggi (209mg/dL) dibandingkan terhadap rata-rata kadar GDP responden pria yang memiliki BMI>23 kg/m2 (192mg/dL). Menurut WHO (2000) orang Asia yang memiliki BMI≥23 kg/m2 termasuk dalam kategori overweight. Data

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 penelitian ini menunjukan terdapat 28 dari 39 responden pria mengalami overweight. Hal ini menunjukan seharusnya responden yang memiliki BMI≥23kg/m2 memiliki kadar GDP yang lebih tinggi dibandingkan responden yang memiliki BMI<23 kg/m2. Hasil yang tidak sesuai dengan teori ini mungkin disebabkan karena obat-obatan yang dikonsumsi responden. Kelemahan lain dari penelitian ini yaitu peneliti tidak menelusuri lebih jauh terkait obat penurun kadar glukosa darah yang dikonsumsi responden. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan, terdapat responden yang mengkonsumsi obat penurun glukosa darah lebih dari satu jenis serta terdapat responden yang menggunakan insulin injeksi. Hal inilah yang mungkin menyebabkan dalam penelitian ini diperoleh arah korelasi negatif pada responden pria. Kadar GDP yang tinggi pada kelompok BMI<23 kg/m2 mungkin disebabkan oleh faktor lamanya puasa. Responden dalam penelitian ini diharapkan telah berpuasa 8-10 jam sebelum dilakukan pengambilan darah, namun terkait kejujuran responden tidak dapat dipastikan. Menurut Firmansyah (2013) selama berpuasa, simpanan glikogen akan berkurang dan rendahnya kadar insulin plasma memicu pelepasan asam lemak dari sel adiposit. Oksidasi asam lemak ini menghasilkan keton sebagai bahan bakar metabolisme oleh otot rangka, otot jantung, hati, ginjal dan jaringan adipose. Hal ini menurunkan penggunaan glukosa sehingga kadar glukosa dalam darah meningkat. Hal ini menyebabkan jika responden berpuasa lebih dari 10 jam, dapat meningkatkan kadar GDP meskipun dengan BMI yang kecil.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Penelitian Farida et al. (2007) serta penelitian Ohnishi et al. (2006) menunjukan obesitas sentral lebih berpengaruh dalam resistensi insulin dan berperan sebagai faktor risiko DM dibandingkan dengan BMI. Berdasarkan hasil penelitian ini dan penelitian-penelitian sebelumnya dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini BMI tidak dapat menggambarkan profil kadar GDP pada penyandang DM2 di RSUD Kabupaten Temanggung.

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Abdominal skinfold thickness memiliki korelasi negatif tidak bermakna terhadap kadar glukosa darah puasa dengan kekuatan korelasi sangat lemah pada responden pria dan korelasi positif bermakna dengan kekuatan korelasi lemah pada responden wanita. Body mass index memiliki korelasi negatif tidak bermakna terhadap kadar glukosa darah puasa dengan kekuatan korelasi sangat lemah pada responden pria dan korelasi positif tidak bermakna dengan kekuatan korelasi sangat lemah pada responden wanita. B. Saran 1. Pada penelitian selanjutnya sebaiknya ditetapkan rentang usia responden. 2. Pengukuran antropometri khususnya skinfold thickness dapat ditambah pada bagian tubuh lainya agar diperoleh hasil yang lebih baik. 3. Jika pada penelitian selanjutnya digunakan responden yang tidak sehat (mempunyai penyakit tertentu) sebaiknya ditetapkan rentang durasi mengidap penyakit tersebut. 50

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 DAFTAR PUSTAKA American Diabetes Association, 2010, Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2797383/, diakses tanggal 21 November 2013. Bhardwaj, S., Misra, A., Misra, R., Goel, K., Bhatt, S.P., dan Rastogi, K., et al., 2011, High Prevalence of Abdominal, Intra-Abdominal and Subcutaneous Adiposity and Clustering of Risk Factor Among Urban Asian Indians in North India, Plos One 6(9): e24362, http://www.plosone.org/article/info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pone.00 24362, diakses tanggal 24 November 2013. Budiman, I., 2008, Validitas Pengukuran Lemak Tubuh yang menggunakan Skinfold Caliper di 2,3,4,7 Tempat terhadap Cara Bod Pod, http://majour.maranatha.edu/index.php/jurnal-kedokteran/article/view/105, diakses tanggal 1 Mei 2013. Cogill, B., 2003, Anthropometric Indicators Measurement http://www.fantaproject.org/downloads/pdfs/anthro_2003.pdf, tanggal 1 Mei 2013. Guide, diakses Dahlan, M.S., 2012, Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan, Deskriptif, Bivariat, dan Multivariat Dilengkapi Aplikasi dengan Menggunakan SPSS, Edisi 5, Salemba Medika, Jakarta, pp. 45, 46, 54. Demura, S., dan Sato, S., 2007, Suprailiac or Abdominal Skinfold Thickness Measured with A Skinfold Caliper as A Predictor of Body Density in Japanese Adults, Tohoku Journal of Experimental Medicine, 213(1), 51-61. Departemen Kesehatan RI, 2005, Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Diabetes Melitus, Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Departemen Kesehatan RI, 2011, Uji Fungsi Alat Klinis dan Hematologi, http://www.depkes.go.id/downloads/yandu/uji_fungsi_alat_kimia_klinis_ hematologi.pdf., diakses tanggal 1 Mei 2013. Eid, W.E., 2011, Obesity and Type 2 Diabetes Mellitus in South Dakota: Focused Insight Into Prevalence, Physiology and Treatment, South Dakota Medicine, pp. 69. Farida, Soetiharto, Roselinda, dan Suhardi., 2010, Hubungan Diabetes Melitus Dengan Obesitas Berdasarkan Indeks Massa Tubuh dan Lingkar Pinggang Data Riskesdas 2007, Laporan Penelitian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Jakarta.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Firmansyah, M.A., 2013, Tatalaksana Diabetes Melitus Saat Puasa Ramadhan, Medical Education, 40 (5), pp. 343. Ganong dan Stephen, 2010, Patofisiologi penyakit: Pengantar Menuju Kedokteran Klinis, Edisi 5, EGC, Jakarta, pp.566-572. Grundy S.M., 2004, Obesity, Metabolic Syndrome, and Cardiovascular Disease, J Clin Endocrinol Metab volume 89(6):2595-600, http://press.endocrine.org/doi/full/10.1210/jc.2004-0372, diakses tanggal 15 Januari 2014. Janghorbani, M., Amini, M., Willett, W.C., Gouya, M.M., Delavari, A., dan Alikhani, B., et al., 2007, First Nationwide Survey of Prevalence of Overweight, Underweight, and Abdominal Obesity in Iranian Adults, Obesity Volume 15: 2797-2808, http://www.nature.com/oby/journal/v15/n11/full/oby2007332a.htm, diakses tanggal 23 November 2013. Justitia, L.N., 2012, Hubungan Obesitas dengan Peningkatan Kadar Glukosa Darah pada Guru-Guru SMP Negeri 3 Medan, karya tulis ilmiah, Universitas Sumatera Utara, Medan. Kamath, A., Shivaprakash, G., dan Adhikari, P., 2011, Body mass index and Waist circumference in Type 2 Diabetes mellitus patient attending a diabetes clinic, Int J Biol Med Res. 2011;2(3): 636-638, http://www.biomedscidirect.com/215/body_mass_index_and_waist_circumf erence_in_type_2_diabetes_mellitus_patients_attending_a_diabetes_clinic/a rticlescategories, diakses tanggal 22 November 2013. Kemenkes RI, 2010, Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kelas B, http://www.rsstroke.com/files/peraturan/KEPMENKES/Pedoman_Teknis_F asilitas_RS_Kelas_B-complete.pdf, diakses tanggal 30 April 2013. Kumar, V., Abbas, A.K., dan Fausto, N., 2009, Robbins and Cotran: Dasar Patologis Penyakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 1214,1218,1219. Lipoeto, N.I., Yerizel, E., Edward, Z., dan Widuri, I., 2007, Hubungan Antropometri dengan Kadar Glukosa Darah,Medika, pp. 23-28. Mackenzie, B., 2002, Yuhasz Skinfold Test, http://www.brianmac.co.uk/fatyuhasz.htm, diakses tanggal 1 Mei 2013. Medscape a, 2012, Fad Diets and Obesity, http://www.medscape.com/viewarticle/473630_10, diakses tanggal 1 Mei 2013.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Medscape b, 2012, Obesity, http://emedicine.medscape.com/article/123702overview, diakses tanggal 1 Mei 2013. Micic D., dan Cvijovic G., 2008, Abdominal Obesity and Type 2 Diabetes, Diabetes and Lifestyle, 2008:26-28. Mihardja, L., 2009, Faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Gula Darah pada Penderita Diabetes Melitus di Perkotaan Indonesia, Maj Kedokt Indon, Volum:59,Nomor:9, http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/download/681/ 679, diakses tanggal 22 November 2013. Mueller, N.T., Pereira, M.A., Buitrago, A., Rodriguez, D., Duran, A.E., dan Ruiz, A.J., et al., 2012, Abdominal Skinfold Thickness Improves Anthropometric Prediction of Insulin Resistance in Prepubescent Colombian Children, AHA Journals, 125:AP179. Narendra, M.B., 2006, Pengukuran Antropometri Pada Penyimpangan Tumbuh Kembang Anak, Jurnal, Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja FK Unair, Surabaya. Norton, K., Carter, L., Olds, T., dan Marfell, M., 2001, International Standards for Anthropometric Assesment, ISAK, Australia, pp. 10, 38. Notoatmodjo, S., 2010, Jenis dan Rancangan Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta, pp. 37-38. Ohnishi, H., Saitoh, S., Takagi, S., Katoh, B., Chiba, Y., dan Akasaka, H., et al., 2006, Incidence of Type 2 Diabetes in Individuals With Central Obesity in a Rural Japanese Population, Journal, Diabetes Care, Japan. Onyesom, Oweh, O., Sandra, E.O., dan Josiah, I.E., 2013, Correlation between Body Mass Index and Blood Glucose Levels among some Nigerian Undergraduates, HOAJ Biology., http://www.hoajonline.com/journals/pdf/2050-0874-2-4.pdf, diakses tanggal 13 Mei 2013. Pika, 2011, Korelasi Body Mass Index (BMI) dan Abdominal Skinfold Thickness Terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Rahmawati, Syam, A., Hidayanti, H., 2011, Pola Makan dan Aktifitas Fisik Dengan Kadar Glukosa Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makasar, Medika Gizi Masyarakat Indonesia, Vol.1, No.11., 52-58.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Riskesdas, 2011, Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Rohman, S.M., 2007, Patogenesis dan Terapi Sindrom Metabolik, J Kardiol Ind, 28: 160-168. Sacher, 2002, Tinjauan klinis hasil pemeriksaan laboratorium, E/11, penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta, pp.519. Santos, C.M., Silva, C.S., Araújo, E.C., Arruda,I.K.G., Diniz, A.S., dan Cabral, P.C., 2012, Lipid and Glucose Profile in Outpatients and Their Correlation With Anthropometric Indices, Rev Port Cardiol.2013;32(1):35-41, http://www.elsevier.pt, diakses tanggal 16 November 2013. Sastroasmoro, 2008, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis, Sagung Seto, Jakarta, pp. 49. Service, F.J., dan O’Brien, P.C., 2001, The Relation of Glycaemia to the Risk of Development and Progression of Retinopathy in the Diabetes Control and Complication Trial, Diabetologia, 44:1215-1220. Setiawan, M., 2009, Peran Resistensi Insulin, Adiponektin dan Inflamasi pada Kejadian Dislipidemia Ateroenik, Santika Medika, 5 (11), pp. 167-168. Sherwood, L., 2009, Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem, 9th ed, Saunders Elsevier, Philadelphia, hal. 438-444; 1130-1148. Shulman G.I., 2000, Cellular Mechanisms of Insulin Resistance, J Clin Invest 106:171-6, http://www.jci.org/articles/view/10583, diakses tanggal 15 Januari 2014. Sievenpiper, J.L., Jenkins, D.J., Josse, R.G., Leiter, L.A., dan Vuksan, V., 2001, Simple Skinfold Thicknes Measurements Complement Conventional Anthropometric Assesments in Predicting Glucose Tolerance, Journal, American Society for Clinical Nutrition, USA. Sonatalia, 2010, Gambaran Profil Lipid pada Diabetes Melitus Tipe II yang Obesitas dan Non-Obesitas di RSUP.H. Adam Malik Medan Tahun 2009, karya tulis ilmiah, Universitas Sumatera Utara, Medan. Spiegel, M., dan Stephens, L., 2007, Statistik, edisi ketiga, diterjemahkan oleh Kastawan, W. dan Harmein, I., Erlangga, Jakarta. pp. 150. Stephanie, L., 2007, Pengaruh dan Hubungan Antara BMI (Body Mass Index) Dengan Kadar Glukosa Darah Puasa dan Kadar Glukosa Darah 2 Jam PostPrandial, Karya Tulis Ilmiah, Universitas Kristen Maranatha, Bandung.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Sudibjo, 2012, Penilaian Presentase Lemak Badan pada Populasi Indonesia dengan Metode Anthropometris, http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132172719/peniliaian%20Presentase %20Lemak%20badan%20Metode%20Anthropometris.pdf, diakses tanggal 22 November 2013. Sulistyoningrum, E., 2010, Tinjauan Molekular dan Aspek Klinis Resistensi Insulin, Mandala of Healt, 4 (2), pp. 132. Tarnus, E., dan Bourdon, E., 2006, Anthropometric Evaluation of Body Composition of Undergraduate Student at University of La Reunion, http://advan.physiology.org/content/30/4/248.full.pdf+html, diakses tanggal 3 Mei 2013. Taylor, A.E., Ebrahim, S., Ben-Shlomo, Y., Martin, R.M., Whincup, P.H., dan Yarnell, J.W., et al., 2010, Comparison of The Association Body Mass Index and Measures of Central Adiposity and Fat Mass With Coronary Hearth Disease, Diabetes, and All Cause Mortality, http://ajcn.nutrition.org/content/91/3/547.full, diakses tanggal 24 November 2013. Verma, M., Paneri, S., Badi, P., dan Raman, P.G., 2006, Effect of Increasing Duration of Diabetes Melitus type 2 on Glycated Hemoglobin and Insulin Sensitivity, Indian Journal of Clinical Biochemistry, 21(1) 142-146. Wajchenberg, B., 2000, Subcutaneous and Viceral Adipose Tissue: Their Relation to the Metabolic Syndrom, http://edrv.endojournals.org/cgi/content/full/21/6/697, diakses tanggal 2 Mei 2013. WHO, 2000, The Asia-Pacific Perspective: Redefining Obesity and Its Treatment, Health Communications, Australia, pp.19. WHO, 2005, The World Health Organization warns of the rising threat of heart disease and stroke as overweight and obesity rapidly increase, http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2005/pr44/en/, diakses tanggal 5 Mei 2013. Wild, S., Roglic, G., Green, A., Sicree, R., dan King, H., 2004, Global Prevalence of Diabetes, Diabetes Care, 27:1047-1053. Windutama, I.M., Adam, F.M.S., dan Adam, J.M.F., 2009, Adiponectin and Metabolic Syndrome, The Indonesian of Medical Science, 2 (1), pp. 11. Yuliasih, 2009, Obesitas Abdominal Sebagai Faktor Peningkatan Kadar Glukosa Darah, Skripsi, Universitas Diponegoro, Semarang.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 LAMPIRAN

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Lampiran 1. Surat Keterangan Ijin Penelitian

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Lampiran 2. Ethical Clearance

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Lampiran 3. Informed Consent

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Lampiran 4. Pedoman Wawancara

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Lampiran 5. Leaflet A. Halaman Depan

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 B. Halaman Belakang

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Lampiran 6. Hasil Tes Laboratorium

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Lampiran 7. Data obat-obatan yang dikonsumsi A. Responden pria Nama Usia AST BMI GDP Obat Glukosa Obat Non Glukosa Ab 76 26.17 24.47 98 metformin amlodipine sangobion Ah 56 30.33 22.07 156 glucodex® gludepatic® canderin® AJ BS Bdn Ch 46 61 63 77 26.17 22.67 24.83 23.67 22.26 24.44 22.26 20.17 190 213 183 326 eclid® ----------* ----------* pionix® glucodex® HCT, amlodipine. ----------* ----------* amlodipine; Dlo DS Hd Har Jay Jum Juw Kho 71 43 60 60 68 61 55 41 25.33 20.67 11.67 20.07 12.00 24.83 23.17 23.50 20.86 23.74 23.57 24.28 26.43 25.46 29.46 23.29 162 123 119 172 272 135 114 195 ----------* ----------* ----------* pionix® ----------* ----------* ----------* glibenklamid metformin glimepiride ----------* ----------* KWS 75 27.67 19.68 111 eclid® pionix® acarbose metformin pioglitazon ----------* Kus MS Martono J 78 51 77 22.00 23.33 26.67 23.30 24.73 23.82 284 170 237 ----------* glidabet® metrix® pionix® glucodex® ----------* ----------* amlodipine M Dj Much Mu 65 66 55 23.33 23.00 29.83 24.13 21.66 29.05 221 259 133 ----------* ----------* ----------* Ng Nrsl 57 56 23.00 26.67 27.43 23.71 365 149 ----------* ----------* glidabet® eclid® pionix® ----------* ----------* simvastatin ----------* ----------* ----------* ----------* ----------* ----------*

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Pra SS Sht S Mt Suj Skh Skj Smd Snr Sun 69 64 59 57 51 59 74 65 51 70 15.67 25.17 9.17 27.67 26.33 24.67 24.00 25.67 23.00 21.17 23.73 23.87 18.01 24.81 23.73 26.12 24.37 24.09 29.65 19.80 304 182 173 456 117 137 183 174 123 309 ----------* metformin ----------* ----------* ----------* ----------* ----------* pionix® ----------* metformin metrix® eclid® ----------* ----------* ----------* diltiazem ----------* ----------* ----------* amlodipin ----------* captopril Spg 52 24.83 23.35 230 amlodipine Sprj Sut Usm Whn Wdd 46 67 50 70 53 18.67 23.00 11.50 20.67 25.83 23.88 24.78 18.33 26.24 22.63 108 243 230 126 200 glocodex® pionix® ----------* ----------* ----------* ----------* glimepiride. ----------* ----------* ----------* ----------* ----------* Keterangan ----------* : responden tidak dapat dihubungi B. Responden Wanita Nama Usia AST BMI GDP Obat DM Obat Non DM Al Q AA 57 69 29.00 21.00 22.51 23.87 176 255 ----------* ----------* End 62 36.00 27.19 106 ----------* metformin, eclid® metrix®, pionix® metformin eclid® pionix® Edg Gnp HSP 51 70 61 20.00 36.00 33.00 26.62 28.62 26.04 92 285 169 glucodex® glibenklamid metrix® eclid® pionix® ----------* captopril canderin® Hw 63 30.00 24.35 115 metrix® pionix® eclid® metformin ----------* ----------*

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 HK IM IS Jmh Khu Ksr Mrf Mar 60 56 50 77 47 60 67 54 29.00 30.50 22.50 17.00 26.00 33.00 27.00 23.50 24.97 24.24 29.64 25.63 32.47 31.79 24.97 24.97 105 298 85 172 132 238 254 105 ----------* glibenklamid ----------* ----------* ----------* ----------* ----------* glimepiride ----------* ----------* ----------* ----------* ----------* ----------* ----------* ranitidine amlodipine ----------* ----------* ----------* amlodipine Mrw MM Msn Mmh 44 47 62 48 11.00 12.00 23.00 31.00 20.00 21.72 19.48 27.87 209 118 126 235 ----------* ----------* ----------* pionix® metformion Mth 58 27.00 22.43 172 renabetic® Mun 64 12.50 21.95 106 metformin pionix® Ng ND NB 68 51 71 30.00 12.00 30.50 31.47 24.38 18.15 111 162 117 NI Rch San Sati Sia SA St A SB 51 67 53 50 75 58 57 59 36.00 26.00 25.50 30.00 37.00 27.00 36.00 26.50 28.51 27.55 23.20 24.32 27.94 25.65 30.44 27.21 251 157 279 273 275 50 231 96 ----------* ----------* pionix® glucodex® ----------* ----------* metformin ----------* ----------* ----------* ----------* metrix® metformin eclid® SH 59 27.50 25.22 242 glucodex® pionix® ----------* SK 50 19.00 20.94 148 ----------* amlodipine canderin® SS Sr E Sr H 75 69 64 17.00 28.00 24.00 25.57 23.50 20.61 129 253 134 glucodex® ----------* metformin amlodipine ranitidine simvastatin amlodipine ----------* ----------* ----------* ----------* ----------* ----------* ----------* ----------* ----------* canderin amlodipine ----------* canderin® amlodipine

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Sr Mh 60 25.00 24.86 123 metrix® pionix® gludepatic® glucodex® diltiazem SriMj 71 22.50 24.26 130 Sr P 61 36.00 27.39 141 gludepatic® glimepirid Sr Sd Sr Sy Sr W Swy 50 58 59 60 31.00 20.00 25.00 10.50 28.36 26.84 27.94 18.62 227 175 88 117 ----------* ----------* ----------* metformin Sdm 75 21.00 25.33 116 ----------* Sn Slh 51 63 25.00 33.50 21.63 28.96 98 188 renabetic® metrix® eclid® pionix® Sls 55 31.00 19.54 357 pionix® eclid® lantus glimepirid amlodipine Smi Spr Sprh Sw Mg TW TY 58 73 58 59 68 55 24.50 27.00 20.00 27.00 22.50 27.00 20.24 22.65 28.83 32.54 21.79 24.84 159 291 143 156 103 115 insulin inj. ----------* ----------* ----------* glukodex® gludepatic® TP 67 38.00 26.48 189 licolid metrix® ----------* ----------* ----------* amlodipine ----------* sandos® canderin® canderin® amlodipine TS 58 28.00 22.67 266 pionix® glucodex® gludepatic® ----------* Umy 59 31.00 30.63 176 eclid® pionix® glidabet® ----------* Wgh 75 24.00 23.81 99 ----------* ----------* Keterangan ----------* : responden tidak dapat dihubungi simvastatin amlodipine ----------* ----------* ----------* nifedipine amlodipine sangobion simvastatin noperten® canderin® canderin®

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Lampiran 8. Validasi Instrumen Pengukuran A. Validasi timbangan berat badan (Camry®). Responden pria BeratBadan (kg) 58,6 59,0 58,6 59.0 59.0 Mean Responden wanita SD BeratBadan Mean SD CV (kg) 47,5 48,0 47,72 0,258 0,00541 48,0 47,6 47,5 CV 58,54 0,219 0,00372 B. Validasi alat pengukur tinggi badan (Butterfly®). Responden pria Tinggi Mean SD CV Tinggi Badan (cm) Badan 165,4 (cm) 158,2 165,6 165,52 0,109 0,00066 158,2 165,4 158,3 165,6 158,2 165,6 158,3 C. Validasi skinfold caliper Responden pria AST 25,5 24,5 25 24,5 25,5 Responden wanita AST 29 29,5 29,5 30 29 Responden wanita Mean SD CV 158,24 0,0547 0,00346 SD CV 0,4 1,36 SD CV 0,5 2

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Lampiran 9. Uji Normalitas Usia 1. Responden pria Descriptives Statistic USIA Mean 60.90 95% Confidence Interval for Lower Bound Mean Upper Bound Std. Error 1.596 57.67 64.13 5% Trimmed Mean 61.03 Median 60.00 Variance 99.358 Std. Deviation 9.968 Minimum 41 Maximum 78 Range 37 Interquartile Range 16 Skewness -.016 .378 Kurtosis -.787 .741 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic USIA .062 df Shapiro-Wilk Sig. 39 .200 Statistic * .975 df Sig. 39 .519 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Distribusi usia responden memiliki nilai p=0,519 yang menunjukan bahwa usia responden pria terdistribusi normal (p>0,05)

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 2. Responden wanita Descriptives Statistic USIA 95% Confidence Interval for Mean Mean 60.12 Lower Bound 57.97 Upper Bound 62.27 5% Trimmed Mean 60.04 Median 59.00 Variance Std. Error 1.075 68.210 Std. Deviation 8.259 Minimum 44 Maximum 77 Range 33 Interquartile Range 13 Skewness Kurtosis .236 .311 -.678 .613 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic USIA .099 Shapiro-Wilk Sig. df 59 .200 Statistic * .968 df Sig. 59 .117 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Distribusi usia responden memiliki nilai p=0,200 yang menunjukan bahwa usia responden wanita terdistribusi normal (p>0,05).

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Lampiran 10. Uji Normalitas AST 1. Responden pria Descriptives Statistic AST 95% Confidence Interval for Mean Mean 22.7590 Lower Bound 21.1734 Upper Bound 24.3446 5% Trimmed Mean 23.0438 Median 23.5000 Variance Std. Error .78325 23.926 Std. Deviation 4.89139 Minimum 9.17 Maximum 30.33 Range 21.16 Interquartile Range 4.66 Skewness Kurtosis -1.332 .378 1.580 .741 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic AST .212 df Shapiro-Wilk Sig. 39 .000 Statistic .863 Sig. df 39 .000 a. Lilliefors Significance Correction Distribusi AST responden memiliki nilai p=0,000 yang menunjukan bahwa AST responden pria terdistribusi tidak normal

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 2. Responden wanita Descriptives Statistic AST 95% Confidence Interval for Mean Mean 25.8898 Lower Bound 24.1067 Upper Bound 27.6730 5% Trimmed Mean 26.0904 Median 27.0000 Variance Std. Error .89082 46.820 Std. Deviation 6.84248 Minimum 10.50 Maximum 38.00 Range 27.50 Interquartile Range 8.00 Skewness -.441 .311 Kurtosis -.164 .613 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic AST .075 Shapiro-Wilk Sig. df 59 .200 Statistic * .965 df Sig. 59 .086 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Distribusi AST responden memiliki nilai p=0,200* yang menunjukan bahwa AST responden wanita terdistribusi normal (p>0,05).

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Lampiran 11. Uji Normalitas BMI 1. Responden pria Descriptives Statistic BMI 95% Confidence Interval for Mean Mean 23.7862 Lower Bound 22.9298 Upper Bound 24.6425 5% Trimmed Mean 23.7778 Median 23.8200 Variance Std. Error .42300 6.978 Std. Deviation 2.64164 Minimum 18.01 Maximum 29.65 Range 11.64 Interquartile Range 2.52 Skewness .074 .378 Kurtosis .616 .741 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic BMI .144 df Shapiro-Wilk Sig. 39 .040 Statistic .954 df Sig. 39 .108 a. Lilliefors Significance Correction Distribusi BMI responden memiliki nilai p=0,108 yang menunjukan bahwa BMI responden pria terdistribusi normal (p>0,05).

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 2. Responden wanita Descriptives Statistic BMI 95% Confidence Interval for Mean Mean 25.2312 Lower Bound 24.3174 Upper Bound 26.1450 5% Trimmed Mean 25.2006 Median 24.9700 Variance Std. Error .45649 12.295 Std. Deviation 3.50638 Minimum 18.15 Maximum 32.54 Range 14.39 Interquartile Range 5.22 Skewness .107 .311 -.450 .613 Kurtosis Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic BMI .063 df Shapiro-Wilk Sig. 59 .200 Statistic * .986 df Sig. 59 .739 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Distribusi BMI responden memiliki nilai p=0,200* yang menunjukan bahwa BMI responden wanita terdistribusi normal (p>0,05)

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Lampiran 12. Uji Normalitas Glukosa Darah Puasa 1. responden pria Descriptives Statistic GDP 95% Confidence Interval for Mean Std. Error Mean 196.97 Lower Bound 171.21 Upper Bound 222.74 5% Trimmed Mean 190.27 Median 182.00 Variance 12.728 6317.762 Std. Deviation 79.484 Minimum 98 Maximum 456 Range 358 Interquartile Range 104 Skewness 1.239 .378 Kurtosis 1.734 .741 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic GDP .134 df Shapiro-Wilk Sig. 39 .076 Statistic .903 df Sig. 39 .003 a. Lilliefors Significance Correction Distribusi GDP responden memiliki nilai p=0,003 yang menunjukan bahwa GDP responden pria terdistribusi tidak normal (p<0,05).

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 2. responden wanita Descriptives Statistic GDP 95% Confidence Interval for Mean Std. Error Mean 171.14 Lower Bound 153.10 Upper Bound 189.17 5% Trimmed Mean 168.49 Median 157.00 Variance 9.010 4789.740 Std. Deviation 69.208 Minimum 50 Maximum 357 Range 307 Interquartile Range 120 Skewness .628 .311 -.523 .613 Kurtosis Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic GDP .128 df Shapiro-Wilk Sig. 59 .017 Statistic .932 df Sig. 59 .003 a. Lilliefors Significance Correction Distribusi GDP responden memiliki nilai p=0,017 yang menunjukan bahwa GDP responden wanita terdistribusi tidak normal (p<0,05).

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Lampiran 13. Uji Normalitas Klasifikasi AST terhadap Kadar GDP 1. Responden pria Descriptives AST_1 GDP Statistic <=23.5 95% Confidence Interval for Mean Mean 206.15 Lower Bound 170.47 Upper Bound 241.83 5% Trimmed Mean 202.78 Median 5812.555 Std. Deviation 76.240 Minimum 108 Maximum 365 Range 257 Interquartile Range 145 Skewness .373 .512 -.825 .992 Mean 187.32 19.208 Lower Bound 146.96 Upper Bound 227.67 5% Trimmed Mean 177.35 Kurtosis 95% Confidence Interval for Mean 17.048 204.00 Variance >23.5 Std. Error Median 174.00 Variance 7010.006 Std. Deviation 83.726 Minimum 98 Maximum 456 Range 358 Interquartile Range 65 Skewness 2.140 .524 Kurtosis 5.491 1.014 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov AST_1 GDP Statistic df Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. <=23.5 .153 20 .200 * .939 20 .225 >23.5 .229 19 .010 .787 19 .001 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Distribusi GDP responden yang memiliki AST ≤23,5 terdistribusi normal, sedangkan distribusi GDP responden dengan AST>23,5 terdistribusi tidak normal.

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 2. responden wanita Descriptives AST_1 GDP Statistic <=25.88 95% Confidence Interval for Mean 140.38 Lower Bound 120.67 Upper Bound 160.10 5% Trimmed Mean 136.03 Median 127.50 Variance 48.806 Minimum 85 Maximum 279 Range 194 Interquartile Range 60 Skewness 1.446 Kurtosis 95% Confidence Interval for Mean 9.572 2382.006 Std. Deviation >25.88 Std. Error Mean .456 2.014 .887 Mean 195.36 12.847 Lower Bound 169.19 Upper Bound 221.53 5% Trimmed Mean 194.74 Median 188.00 Variance 5446.801 Std. Deviation 73.802 Minimum 50 Maximum 357 Range 307 Interquartile Range 129 Skewness .075 .409 -.806 .798 Kurtosis Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova AST_1 GDP Statistic df Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. <=25.88 .167 26 .059 .866 26 .003 >25.88 .120 33 .200* .967 33 .396 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Distribusi GDP responden yang memiliki AST ≤25,88 terdistribusi tidak normal sedangkan GDP responden dengan AST >25,88 terdistribusi normal (p>0,05).

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Lampiran 14. Uji Normalitas Klasifikasi BMI terhadap Kadar GDP 1. responden pria Descriptives BMI_1 GDP Statistic >=23 95% Confidence Interval for Mean 209.00 Lower Bound 164.61 Upper Bound 253.39 5% Trimmed Mean 207.94 Median 190.00 Variance 66.080 Minimum 111 Maximum 326 Range 215 Interquartile Range 97 Skewness .623 Kurtosis 95% Confidence Interval for Mean 19.924 4366.600 Std. Deviation <23 Std. Error Mean .661 -.310 1.279 Mean 192.25 16.027 Lower Bound 159.37 Upper Bound 225.13 5% Trimmed Mean 184.12 Median 173.00 Variance 7192.343 Std. Deviation 84.808 Minimum 98 Maximum 456 Range 358 Interquartile Range 112 Skewness 1.447 .441 Kurtosis 2.306 .858 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov BMI_1 GDP Statistic df Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. >=23 .191 11 .200 * .938 11 .499 <23 .151 28 .104 .868 28 .002 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 2. responden wanita Descriptives BMI_1 GDP Statistic <23 95% Confidence Interval for Mean Mean 168.56 Lower Bound 128.15 Upper Bound 208.98 5% Trimmed Mean 162.01 Median 5752.129 Std. Deviation 75.843 Minimum 98 Maximum 357 Range 259 Interquartile Range 95% Confidence Interval for Mean 18.961 141.00 Variance >=23 Std. Error 84 Skewness 1.416 .564 Kurtosis 1.298 1.091 Mean 172.09 10.294 Lower Bound 151.32 Upper Bound 192.87 5% Trimmed Mean 171.24 Median 162.00 Variance 4556.610 Std. Deviation 67.503 Minimum 50 Maximum 298 Range 248 Interquartile Range 123 Skewness Kurtosis .299 .361 -1.152 .709 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov BMI_1 GDP Statistic df Shapiro-Wilk Sig. Statistic Sig. df <23 .211 16 .055 .827 16 .006 >=23 .119 43 .138 .938 43 .022 a. Lilliefors Significance Correction Distribusi GDP responden yang memiliki BMI≥23 dan BMI<23 terdistribusi tidak normal, (p>0,05).

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Lampiran 15. Uji Mann-Whitney (Klasifikasi AST terhadap GDP) Responden Pria b Test Statistics GDP Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] 158.500 348.500 -.885 .376 a .380 a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: AST_1 Nilai p>0,05 sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompkok AST≤23,5 dan AST>23,5 terhadap kadar GDP. Lampiran 16. Uji Mann-Whitney (Klasifikasi AST terhadap GDP) Responden Wanita Test Statistics a GDP Mann-Whitney U 239.000 Wilcoxon W 590.000 Z -2.901 Asymp. Sig. (2-tailed) .004 a. Grouping Variable: AST_1 Nilai p<0,05 sehingga disimpulkan terdapat perbedaan bermakna antara kelompok AST≤25,88 dan AST>25,88 terhadap kadar GDP Lampiran 17. Uji Mann-Whitney (Klasifikasi BMI terhadap GDP) Responden Pria b Test Statistics GDP Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] 121.000 527.000 -1.030 .303 a .315 a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: BMI_1 Nilai p>0,05 sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompkok BMI≤23 dan >23 terhadap kadar GDP.

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Lampiran 18. Mann-Whitney (Klasifikasi BMI terhadap GDP) Responden Wanita Test Statistics a GDP Mann-Whitney U 330.500 Wilcoxon W 466.500 Z -.230 Asymp. Sig. (2-tailed) .818 a. Grouping Variable: BMI_1 Lampiran 19. Korelasi AST terhadap GDP 1. Responden pria Correlations AST Spearman's rho AST Correlation Coefficient GDP 1.000 -.160 Sig. (2-tailed) . .330 39 39 -.160 1.000 .330 . 39 39 N GDP Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N 2. Responden wanita Correlations AST Spearman's rho AST Correlation Coefficient GDP 1.000 Sig. (2-tailed) N GDP Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). .391 ** . .002 59 59 ** 1.000 .002 . 59 59 .391

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Lampiran 20. Korelasi BMI terhadap GDP 1. Responden pria Correlations BMI Spearman's rho BMI Correlation Coefficient -.190 Sig. (2-tailed) . .248 39 39 -.190 1.000 .248 . 39 39 N GDP Correlation Coefficient GDP 1.000 Sig. (2-tailed) N 2. Responden Wanita Correlations BMI Spearman's rho BMI Correlation Coefficient 1.000 .007 . .957 59 59 Correlation Coefficient .007 1.000 Sig. (2-tailed) .957 . 59 59 Sig. (2-tailed) N GDP GDP N

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 BIOGRAFI PENULIS Penulis bernama Liliany Inamtri Ludji lahir di Nangaroro, 23 Agustus 1992. Penulis merupakan anak pertama dari pasangan suami istri Dan Robert Ludji dan Hendrika Nafsia Wea. Penulis mengawali masa pendidikannya di SD Negeri Kesetnana tahun 1998-2004, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Soe tahun 2004-2007, dan menempuh pendidikan sekolah menengah atas di SMA Negeri 2 Amlapura. Penulis melanjutkan pendidikan dijenjang perguruan tinggi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selama menempuh kuliah, penulis pernah menjadi Volunteer “Kampanye Informasi Obat”, anggota tim penyuluhan “Pengabdian Masyarakat”, sie keamanan “Tiga Hari Temu Akrab Farmasi”, pemenang ke-III “Futsal Competition Fakultas/Jurusan Kesehatan Se-DIY”, serta pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tahun 2013.

(105)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Korelasi abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar LDL/HDL pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.
0
1
2
Korelasi lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang-panggul terhadap kadar glukosa darah puasa pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.
0
1
114
Korelasi abdominal skinfold thickness terhadap tekanan darah pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.
0
1
121
Korelasi abdominal skinfold thickness dengan kadar trigliserida pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.
0
0
113
Korelasi abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar LDL HDL pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung
0
0
1
Korelasi abdominal skinfold thickness terhadap tekanan darah pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung
0
1
119
Korelasi lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang panggul terhadap kadar glukosa darah puasa pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung
0
2
112
Korelasi abdominal skinfold thickness dengan kadar trigliserida pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung
0
0
111
Korelasi body mass index terhadap tekanan darah pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung
0
1
150
Korelasi Body Mass Index (BMI) dan abdominal skinfold thickness terhadap kadar trigliserida pada staf wanita Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
117
Korelasi Body Mass Index (BMI) dan abdominal skinfold thickness terhadap kadar glukosa darah puasa - USD Repository
0
0
97
Korelasi Body Mass Index (BMI) dengan abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar LDL/HDL pada staf wanita Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
126
Korelasi Body Mass Index terhadap kadar trigliserida pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung - USD Repository
0
0
93
Korelasi Body Mass Index (BMI) terhadap rasio kadar LDL/HDL pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung - USD Repository
0
0
137
Korelasi Body Mass Index terhadap rasio kadar kolesterol Total/HDL pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung - USD Repository
0
0
121
Show more