PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA PEMBAGIAN BILANGAN DUA ANGKA BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI

Gratis

0
0
183
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA PEMBAGIAN BILANGAN DUA ANGKA BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Oleh: Rina Metasari NIM: 101134131 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA PEMBAGIAN BILANGAN DUA ANGKA BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Oleh: Rina Metasari NIM: 101134131 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) ?I0z lunf ,I 'lsd'htr "Isd.S spnlsululny eur.r1 IBEEUBI ryeru11 ,I0Z lunf 41 lu88uul Eqqugqrued ueso(I 'V'14tr'ISg "S.S.fS ruluequ8nN tr :qa1o 1n[n10slp lry snlro8e.rg tulqqqued uesog q6le1 ITIT€ITOI lNtrIN IrBsBletr^J BUIU :qelo unsnsl0 TUOSSUINOI{ flOOTf,IAt SISYflUflfl \DICNY YN(I NYCNYTIfl NYICYgI Ifld YCYUfld IYTV dYoYHUf,r Y.,I\SIS NYO nUnC rsdusuf,d PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) H ry 'cl'qd'lpuego]{ 'uB{e([ eue{udEo Erururlo?}?rres s?lrsJe^run u€{rprpued ntull uep uerunEe) ffiurupd t l0Z llrtt l,'?1lexef,EoA E1 'ri,{ '1ileur16 ,(ug 'lsd'Ini ''lsd'S 'llnlserum; euul V'p\l ''JSg ''S'S 'IS 'ugreqe;8n51r.rV snuo8e;1; O 'pH ''v'i{ g eloE8uy 7 elo8Euy 1 uloEEuy "i}d'S 'ltepusry.tnte3 sHeleD{as 'v'hi''JSg''S'S'fS'uruuqerBnSl rly snFo8srg erue) utr'uN I 1u"ru.,(s rnEue. errrued *r".lJ'uuer n{ftilertrrtu rIBIe} uu{€tsdurp uup ?l0Z IInf 1 iu88uul upe6 rlnEue4 ulllred uedap Ip uu{u?qeuodlp quleJ ITIITTIOI :WIN rJeselehtr eury :qelo srTntrp uep ueldelsredrg TUOSSf, TNOI^I trOOIfl IAI SISYflUfl S YXCNY YO(I I{YCNYTIS NVIDYflI Ifld YCYUUd TYAY dYoYHUtr.L\SIS NV(I OUOS ISdsSUf,d ISdtu)ts PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Seiring rasa syukur kehadirat Allah SWT, Skripsi ini saya persembahkan untuk kedua orang tuaku dan kakakku yang selalu menyertai perjalanan hidup saya sejak awal hingga saat ini. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apapun yang aku dapatkan (Cahyo Satria Wijaya) Keajaiban adalah nama lain dari kerja keras (NN) v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA PEMBAGIAN BILANGAN DUA ANGKA BERBASIS METODE MONTESSORI Rina Metasari Universitas Sanata Dharma 2014 Usia sekolah dasar (6-12 tahun) merupakan tahap perkembangan fundamental bagi kesuksesan perkembangan selanjutnya. Pada usia ini anak sedang mengalami tahap operasional konkret di mana anak mampu mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis jika melihat objek tertentu atau melakukan aktivitas yang nyata. Pada jenjang sekolah dasar anak mempelajari banyak hal, salah satunya adalah matematika.Matematika bukanlah mata pelajaran yang mudah bagi kebanyakan anak, untuk memudahkan pemahaman siswa maka dibutuhkan suatu alat peraga yang dapat memberikan gambaran nyata kepada anak.Alat peraga Montessori merupakan alat peraga yang dirancang untuk mengkonstruksi pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki menjadi suatu konsep baru.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori pada pembelajaran pembagian bilangan dua angka di kelas II SD N Percobaan 3 Pakem semester genap tahun ajaran 2013/ 2014. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, di mana data yang dikumpulkan berupa kata bukan angka. Narasumber dalam penelitian adalah 3 orang siswa dan 1 orang guru matematika. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan langkah-langkah (1) tahap pengodean, (2) tahap analisis tematik, dan (3) tahap interpretasi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa alat peraga memberikan pengalaman yang positif terhadap guru. Alat peraga memudahkan guru dalam mengajar karena sebelumnya guru hanya menggunakan metode ceramah tetapi dengan alat peraga membuat siswa berperan aktif sehingga pembelajaran lebih efektif. Persepsi siswa atas penggunaan alat peraga baik karena alat peraga dapat menumbuhkan sikap antusias, mandiri, dan semangat ketika belajar.Alat peraga juga memudahkan siswa ketika menyelesaikan soal Hal ini dikarenakan siswa dapat belajar sekaligus bermain dengan menggunakan alat peraga.Selain itu, alat peraga membantu siswa dalam memahami konsep pembagian karena siswa memperoleh gambaran yang konkret tentang pembagian. Kata kunci: alat peraga berbasis Montessori, pembagian bilangan dua angka, metode Montessori viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT PERCEPTION OF TEACHER AND STUDENTS OF USING TWO DIGIT DIVIDE BASED ON THE MONTESSORI METHOD Rina Metasari Sanata Dharma University Elementary school age (6-1 years) is fundamental to the development stage of futher development. At this age children are undergoing concrete operational stage where children are able to develop the ability to think systematically if they see a particular object or activity. In elementary school children learning lots, one is mathematics, mathematicis hard almost for everyone, in order to ease student comprehension it takes a props that can give a real picture of the child to help in understanding the concept of learning. Montessori is props designed to construct knowledge that is held to be a new concept. Objective on this research to know the perception of teachers and students on the use of Montessori props on learning two digit divide in II grade of elementary school Percobaan 3 Pakem. This research is qualitative research which data is collected in the shape of words instead of number. Resource person in research are three students and one math teacher. A data collection methodis interview techniques observation, and documentation. Analysis data technique performed by step (1) coding, (2) thematic analysis, (3) interpretation. From the results of data analysis can concluded that the props give a positive impact for teachers. The props give ease on educating process, because previosly a teacher just using a communicative method, but with props a student become more active so learning process become more effective. Student perception in using props in case a props can grow enthusiastic attitude, be autonomous and spirit when study. Props also can ease studend when working on homework or, taskthis is because students can learning while playing with the use of props. In addition, props to assist students in understanding the concept of divide because the students gain an overview about the concrete division. Key words: Montessori based props, two digit divide, Montessori method ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan ridho-Nya yang tak terhingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK PEMBAGIAN BILANGAN DUA ANGKA BERBASIS METODE MONTESSORI. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bantuan semua pihak sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan lancar. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, peneliti mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang selama ini memberikan bantuan, bimbingan, nasihat, motivasi, doa, dan kerja sama yang tidak ternilai harganya dari awal sampai akhir penulisan skripsi ini. Sehubungan dengan hal itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada 1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Gregorius Ari Nugrahanta, SJ, S.S., BST., M.A., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar sekaligus dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, dan saran kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 3. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 4. Irine Kurniastuti, S.Psi., M.Psi., selaku dosen pembimbing II, yang telah dengan sabar dan pengertian memberikan nasihat dan koreksi dalam penyusunan skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 5. Seluruh dosen PGSD yang telah mendidik dan memberikan bekal ilmu kepada penulis. 6. Sekretariat PGSD yang telah membantu kelancaran perkuliahan penulis. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Judul Halaman HALAMAN JUDUL .................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................ iv HALAMAN MOTTO ................................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ................................................................. vii ABSTRAK .................................................................................................. viii ABSTRACT .................................................................................................. ix KATA PENGANTAR ................................................................................ x DAFTAR ISI................................................................................................ xii DAFTAR TABEL ....................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1 1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... 5 1.3 Tujuan penelitian ........................................................................... 5 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................ 6 1.5 Definisi Operasional ..................................................................... 7 BAB II LANDASAN TEORI ..................................................................... 8 2.1 Kajian Teori .................................................................................. 8 2.1.1 Teori-teori yang mendukung.......................................................... 8 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak menurut Piaget ................................... 8 2.1.2 Metode Montessori ........................................................................ 9 2.1.3 Alat Peraga ..................................................................................... 10 2.1.3.1 Pengertian ...................................................................................... 10 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.3. 2 Alat Peraga Montessori .................................................................. 11 2.1.3.3 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori ................................................... 11 2.1.4 Persepsi .......................................................................................... 14 2.1.4.1 Pengertian Persepsi ........................................................................ 14 2.1.4.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi ................................ 16 2.1.4.3 Persepsi terhadap alat peraga Montessori ...................................... 19 2.1.5 Pembelajaran Matematika di Kelas ............................................... 22 2.1.5.1 Pembelajaran Matematika ............................................................. 22 2.1.5.2 Materi Pembagian di Kelas II SD ................................................. 23 2.1.6 Hasil Penelitian yang Relevan ....................................................... 23 2.1.6.1 Alat Peraga Matematika ................................................................ 23 2.1.6.2 Persepsi Guru dan Siswa ............................................................... 25 2.1.6.3 Metode Montessori ....................................................................... 25 2.2 Kerangka Berpikir ......................................................................... 28 BAB III METODE PENELITIAN ............................................................ 31 3.1 Jenis Penelitian .............................................................................. 31 3.2 Setting Penelitian .......................................................................... 32 3.2.1 Tempat Penelitian ......................................................................... 32 3.2.2 Waktu Penelitian ........................................................................... 32 3.2.3 Narasumber Penelitian .................................................................. 32 3. 2.4 Objek penelitian ........................................................................... 34 3.3 Desain Penelitian ........................................................................... 35 3.4 Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 40 3.4.1 Wawancara .................................................................................... 40 3.4.2 Observasi ........................................................................................ 42 3.4.3 Dokumentasi .................................................................................. 43 3.5 Instrumen Penelitian ...................................................................... 44 3.6 Kredibilitas dan Transferabilitas ................................................... 47 3.6.1 Kredibilitas .................................................................................... 47 3.6.2 Transferabilitas ............................................................................. 48 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.7 Teknik Analisis Data ..................................................................... 48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................... 50 4.1 Pelaksanaan Penelitian .................................................................. 50 4.2 Latar Belakang Narasumber ......................................................... 51 4.3 Hasil Penelitian .............................................................................. 56 4.3.1 Sebelum penggunaan alat peraga berbasis Montessori ........... 56 4.3.1.1 Pandangan Narasumber Terhadap Alat Peraga ............................. 56 4.3.1.2 Kefamiliaran Narasumber Terhadap Alat Peraga .......................... 58 4.3.1.3 Pengalaman Narasumber Menggunakan Alat Peraga ................... 60 4.3.2 Setelah Penggunaan Alat Peraga Berbasis Montessori ........... 62 4.3.2. 1 Pengalaman Narasumber ............................................................... 62 4.2.2.2 Perasaan Narasumber .................................................................... 64 4.2.2.3 Kendala yang dialami Narasumber ............................................... 66 4.3.2.4 Manfaat yang diperoleh Narasumber ............................................ 72 4.3.3 Persepsi Narasumber Mengenai Alat Peraga Montessori........ 77 4.4 Pembahasan ................................................................................. 79 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 88 5.1 Kesimpulan ................................................................................... 88 5.2 Keterbatasan Penelitian ................................................................. 89 5.3 Saran ............................................................................................. 90 DAFTAR REFERENSI ............................................................................. 91 LAMPIRAN................................................................................................. 96 CURRICULUM VITAE ............................................................................... 164 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Perencanaan Wawancara ......................................................... 36 Tabel 3.2 Perencanaan Observasi ............................................................. 36 Tabel 4.3 Pelaksanaan Wawancara .......................................................... 50 Tabel 4.4 Pelaksanaan Observasi .............................................................. 50 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Gambar persepsi yang dikutip dari Walgito ...................... 20 Gambar 2. 2 Gambar persepsi yang dimodifikasi ................................... 21 Gambar 2. 3 Literature map dari penelitian sebelumnya ........................ 27 Gambar 3.1 Prosedur penelitian dari Patton ........................................... 35 Gambar 3.2 Prosedur penelitian yang sudah dimodifikasi ..................... 36 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN A. Pedoman Observasi dan Wawancara ................................................. 97 Lampiran 3.1 Observasi kondisi sosio-cultural ............................................ 97 Lampiran 3.2 Pedoman observasi proses pembelajaran ............................... 98 Lampiran 3.3 Pedoman observasi proses pembelajaran secara umum pertemuan kedua ........................................................................................... 99 Lampiran 3.4 Pedoman observasi guru ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan pertama ......................................................... 100 Lampiran 3.5 Pedoman observasi siswa ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan pertama ......................................................... 101 Lampiran 3.6 Pedoman observasi guru ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan kedua............................................................. 103 Lampiran 3.7 Pedoman observasi siswa ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan kedua............................................................. 104 Lampiran 3.8 Pedoman observasi guru ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan ketiga ............................................................ 106 Lampiran 3.9 Pedoman observasi siswa ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan ketiga ............................................................ 107 Lampiran 3.10 Pedoman observasi guru ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan keempat......................................................... 109 Lampiran 3.11 Pedoman observasi siswa ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan keempat......................................................... 110 Lampiran 3.12 Pedoman observasi siswa ..................................................... 112 Lampiran 3.13 Pedoman wawancara pra-penelitian guru ............................. 113 Lampiran 3.14 Pedoman wawancara pra-penelitian siswa ........................... 115 Lampiran 3.15 Pedoman wawancara pasca-penelitian guru ......................... 116 Lampiran 3.16 Pedoman wawancara pasca-penelitian siswa ....................... 119 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Transkrip Observasi ............................................................................ 121 Lampiran 4.1 Transkrip observasi kondisi sosio-cultural ............................ 121 Lampiran 4.2 Transkrip observasi proses pembelajaran ............................... 123 Lampiran 4.3 Transkrip observasi ketika menggunakan alat peraga Pertemuan ke- 1 ............................................................................................ 125 Lampiran 4.4 Transkrip observasi ketika menggunakan alat peraga Pertemuan ke- 2 ............................................................................................ 128 Lampiran 4.5 Transkrip observasi ketika menggunakan alat peraga Pertemuan ke- 3 ............................................................................................ 130 Lampiran 4.6 Transkrip observasi ketika menggunakan alat peraga Pertemuan ke- 4 ............................................................................................ 132 C. Wawancara ........................................................................................... 134 Lampiran 4.7 Verbatim wawancara pra penelitian guru ............................... 134 Lampiran 4.8 Verbatim wawancara pra penelitian siswa A ......................... 140 Lampiran 4.9 Verbatim wawancara pra penelitian siswa B.......................... 142 Lampiran 4.10 Verbatim wawancara pra penelitian siswa C........................ 144 Lampiran 4.11 Verbatim wawancara pasca penelitian guru ......................... 146 Lampiran 4.12 Verbatim wawancara pasca penelitian siswa A.................... 151 Lampiran 4.13 Verbatim wawancara pasca penelitian siswa B .................... 153 Lampiran 4.14 Verbatim wawancara pasca penelitian siswa C .................... 155 Lampiran 4.15 Dokumen foto kegiatan pembelajaran .................................. 158 Lampiran 4.16. Surat ijin penelitian dari FKIP USD .................................... 162 Lampiran 4.17 Surat keterangan telah melakukan penelitian ....................... 163 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bagian ini akan dibahas (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, dan (5) definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam zaman modern sekarang ini, pendidikan digunakan sebagai upaya untuk menghasilkan manusia yang berkualitas guna menjamin kelangsungan hidup suatu bangsa. Melihat begitu pentingnya pendidikan, mutu pendidikan merupakan sesuatu yang harus diberi perhatian untuk menjawab perubahan zaman. Masalah peningkatan mutu pendidikan sangat berhubungan dengan proses pembelajaran. Proses pembelajaran atau belajar mengajar adalah suatu interaksi yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk mempelajari suatu materi tertentu. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar. Dengan berperan aktif dalam proses belajar, siswa akan lebih cepat mengerti dan memahami materi yang sedang dipelajari. Masa usia Sekolah Dasar (6 – 12 tahun) merupakan tahap perkembangan penting dan bahkan fundamental bagi kesuksesan perkembangan selanjutnya (Sumantri, 2001: 10). Ketika proses pembelajaran berlangsung, guru seharusnya bersifat sebagai fasilitator bukan sebagai penyaji materi. Guru yang baik adalah guru yang menyediakan lingkungan belajar yang cukup baik bagi siswanya, sebab guru tahu bahwa anak senang mengeksplorasi lingkungan belajar. Pada masa anak duduk di bangku Sekolah Dasar banyak hal yang dipelajari oleh anak, salah satunya adalah melalui kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran merupakan proses yang perlu melibatkan berbagai kegiatan siswa di kelas. Kegiatan belajar tersebut dilaksanakan di Sekolah Dasar melalui beberapa mata pelajaran, salah satunya adalah mata pelajaran Matematika. 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting diajarkan pada siswa karena matematika memiliki peranan dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Misalnya dalam kegiatan ekonomi, pertanian, teknologi, komunikasi dan sebagainya. Harapan yang diinginkan adalah setelah belajar matematika, siswa tidak hanya mengerti materi yang diajarkan tetapi juga mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang mendasari kualitas pembelajaran matematika harus selalu ditingkatkan, dikarenakan proses pembelajaran akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Akan tetapi, selama ini matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan karena matematika mempunyai banyak simbol-simbol yang digunakan. Matematika sendiri bukan merupakan suatu mata pelajaran yang mudah bagi kebanyakan orang, bahkan banyak guru yang menyadari bahwa sebagian di antara siswanya juga mengalami kesulitan untuk memahami pelajaran matematika (Hudoyo, 1992: 5). Mempelajari matematika tidak terlepas dari materi pembagian. Pembagian sering disebut sebagai pengurangan berulang sampai habis (Huruman, 2008: 26). Materi pembagian diajarkan mulai dari kelas II SD hingga SMA, usia SD merupakan tahap fundamental bagi tahap perkembangan selanjutnya, maka seharusnya materi pembagian di SD harus benar-benar dikuasai siswa agar pada tahap-tahap selanjutnya anak tidak mengalami kesulitan. Menurut Piaget (Suparno, 2001: 5) usia anak SD (7 sampai 11 tahun) sedang mengalami tahap operasional konkret, di mana pada tahap ini anak mampu mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis ketika melihat objek tertentu atau melakukan aktivitas yang nyata. Anak kelas II Sekolah Dasar jika digolongkan berdasarkan klasifikasi Piaget berada pada tahap operasi konkret. Oleh karena itu, pembelajaran matematika pada kelas II Sekolah Dasar akan membantu dan menarik siswa jika dalam penyampaian materi pembagian bilangan dua angka dapat menggunakan alat peraga. Adanya alat peraga mempunyai arti yang cukup penting dalam proses belajar mengajar. Menurut Sudono (2010: 14) alat peraga 2

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI adalah alat yang berfungsi untuk menerangkan suatu mata pelajaran tertentu dalam suatu proses belajar mengajar. Alat peraga juga dapat membantu mengkonstruksi pengetahuan dan memberikan pengalaman langsung pada anak dalam belajar. Salah satu metode pembelajaran yang menerapkan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran adalah metode Montessori. Metode Montessori merupakan suatu metode pembelajaran yang dikembangkan oleh seorang dokter wanita yang bernama Maria Montessori, beliau berpendapat bahwa setiap anak unik dan individual mereka harus dihormati secara penuh dalam proses pendidikan (Seldin, 2006: 12). Metode Montessori bukanlah metode baru yang diterapkan di Indonesia. Pembelajaran Montessori selalu menggunakan alat peraga untuk membimbing anak belajar dari konsep yang konkret menuju pada konsep yang abstrak. Hal tersebut dilakukan juga pada pembelajaran matematika yang sebenarnya berisi kumpulan konsep-konsep abstrak (Suyanto, 2000: 109). Beberapa sekolah di Indonesia mulai menerapkan metode Montessori tersebut. Selain itu juga banyak didirikan sekolah Montessori di kota-kota besar seperti sekolah Montessori yang ada di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makasaar, Bali dan masih banyak kota-kota lainnya. Karakteristik alat peraga Montessori meliputi auto education, menarik, bergradasi, auto correction, dan kontekstual (Montessori, 2002: 170). Auto education dan auto correction terkait dengan kemandirian guru dan siswa terhadap penggunaan alat peraga tersebut, bergradasi terkait dengan tingkat kesulitan dalam alat peraga, dan menarik terkait dengan daya tarik yang ada dalam alat peraga tersebut. Sedangkan kontesktual terkait dengan bahan yang digunakan dalam alat peraga tersebut. Berdasarkan observasi awal peneliti pada kelas II SD N Percobaan 3 Pakem yang dilakukan sebanyak dua kali pada tanggal 27 Januari 2014 dan 29 Januari 2014 pada mata pelajaran matematika diperoleh informasi bahwa sekolah 3

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI masih memiliki alat peraga yang terbatas dan penggunaannya juga belum maksimal. Hal ini terlihat dari alat peraga disimpan begitu saja tanpa sering membersihkannya dan banyaknya debu yang ada pada alat peraga tersebut. Peneliti mengamati bahwa alat peraga yang ada di dalam kelas IIA masih terbatas pada gambar-gambar dan papan berpaku. Selain itu, berdasarkan wawancara dan observasi terhadap guru kelas dan tiga orang siswa kelas II pada hari Senin, 2 Februari 2014 didapatkan hasil bahwa siswa jarang menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika. Bahkan ada siswa yang menjawab kalau menggunakan alat peraga itu menyebabkan pembelajaran berlangsung lama. Guru juga menyampaikan secara langsung bahwa beliau jarang menggunakan alat peraga dalam pembelajaran, hanya sesekali dengan menggunakan karet gelang dan batu kerikil. SD N Percobaan 3 Pakem baru-baru ini menjadi tempat uji coba alat peraga Montessori. Pada materi pembagian kelas II dikembangkan alat peraga matematika berbasis Montessori yang disebut papan stamp pembagian. Papan stamp pembagian merupakan alat peraga yang diadaptasi dari alat peraga Maria Montessori yang bernama manik emas. Manik emas ini digunakan untuk pembagian statis maupun dinamis. Selain itu dapat digunakan pula papan pembagian 10, papan pembagian 20, dan pembagian 30 serta tabel pembagian 10, tabel pembagian 20, dan tabel pembagian 30. Papan stamp pembagian terdiri atas kotak stamp, papan stamp, stamp dan kartu soal. Selanjutnya papan stamp pembagian ini diimplementasikan pada kelas II SD N Percobaan 3 Pakem. Bertolak dari pengimplementasian alat peraga baru di sekolah ini, peneliti ingin mengetahui lebih jauh lagi atau secara lebih mendalam mengenai persepsi guru dan siswa atas peggunaan alat peraga tersebut karena peneliti sebelumnya baru menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen untuk melihat sejauh mana pengaruh alat peraga terhadap hasil belajar siswa dan dengan metode survei untuk mengetahui hubungan alat peraga terhadap hasil belajar siswa. Maka 4

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dari itu peneliti memilih menggunakan metode kualitatif untuk mengetahui persepsi siswa dan guru secara lebih mendalam dan lebih rinci lagi. Persepsi merupakan salah satu aspek kognitif manusia yang sangat penting yang memungkinkan untuk mengetahui dan memahami dunia sekelilingnya. Menurut Desmita (2012: 118) persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki untuk memperoleh atau menginterpretasi stimulus (rangsangan) yang diterima oleh sistem alat indera manusia. Jadi persepsi itu mencakup dua hal yaitu stimulus-informasi dan pengetahuan yang telah dimilikinya. Persepsi yang dibentuk oleh guru dan siswa akan mempengaruhi sikap guru dan siswa atas penggunaan alat peraga tersebut. Jika persepsi guru dan siswa positif terhadap penggunaan alat peraga tersebut, sikap guru dan siswa juga akan positif terhadap alat peraga tersebut. Begitu juga sebaliknya, jika persepsi guru dan siswa terhadap penggunaan alat peraga tersebut negatif, sikap guru dan siswa akan negatif terhadap alat peraga tersebut. Penelitian ini dibatasi pada persepsi guru dan siswa atas alat peraga untuk pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori dalam mata pelajaran matematika kelas II SD. Penelitian ini fokus pada Standar Kompetensi (SK) 3. Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka dan Kompetensi Dasar (KD) 3.2 Melakukan pembagian bilangan dua angka. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimanakah persepsi guru terhadap alat peraga pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori? 1.2.2 Bagaimanakah persepsi siswa terhadap alat peraga pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui persepsi guru terhadap alat peraga pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori. 5

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.3.2 Mengetahui persepsi siswa terhadap alat peraga pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Teoretis Hasil penelitian tersebut digunakan untuk mendapatkan gambaran secara lebih mendalam mengenai pendapat guru dan siswa dalam menggunakan alat peraga berbasis Montessori sehingga memberi gambaran untuk mengembangkan atau memperbaiki produk alat peraga Montessori yang baru saja dikembangkan. 1.4.2 Praktis 1.4.2.1 Bagi peneliti sendiri, telah memberikan pengalaman yang berharga dalam menerapkan alat peraga berbasis Montessori pada pembelajaran pembagian dua angka, sehingga dapat mengetahui secara lebih mendalam mengenai respon siswa dan guru atas penggunaan alat peraga. 1.4.2.2 Bagi rekan-rekan guru, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan inspirasi bahwa alat peraga berbasis Montessori merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir anak dan dapat digunakan untuk mengetahui penilaian anak secara lebih mendalam mengenai alat peraga berbasis Montessori. 1.4.2.3 Untuk perpustakaan sekolah, laporan penelitian ini dapat menambah satu bacaan yang dapat dimanfaatkan untuk temanteman guru sebagai contoh Penelitian Kualitatif, terutama bagi yang masih mengalami kesulitan melakukan Penelitian Kualitatif dan belum berani untuk memulainya; sedangkan bagi yang sudah biasa melakukan dapat dijadikan sebagai bahan pembanding. 6

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Persepsi adalah proses diterimanya stimulus, tanggapan, pandangan, pemahaman, penilaian oleh individu terhadap suatu objek tertentu melalui alat indera yang dimiliki, sehingga individu dapat mengintepretasi stimulus yang dapat bersifat positif atau negatif dan akan mempengaruhi perilaku individu tersebut. 1.5.2 Alat peraga merupakan alat yang digunakan dalam menyajikan proses pembelajaran untuk mencapai suatu maksud atau tujuan tertentu. 1.5.3 Alat peraga berbasis Montessori adalah alat yang digunakan untuk mengajar yang dirancang secara sederhana namun menarik, dan memungkinkan siswa belajar secara mandiri untuk membantu mengembangkan pikiran siswa sehingga siswa dapat mengetahui kesalahan yang diperbuatnya. 1.5.4 Pembelajaran pembagian bilangan dua angka adalah pengurangan berulang sampai habis yang meliputi dua angka atau sampai dengan puluhan. 1.5.5 Siswa adalah narasumber yang menerima pengetahuan. Narasumber yang di maksud di sini adalah tiga orang siswa SD kelas II-A. 1.5.6 Guru adalah pendidik profesional yang bertugas untuk mengarahkan kegiatan belajar mengajar agar bisa mencapai tujuan pembelajaran. Guru yang di maksud di sini adalah satu orang guru matematika kelas II-A. 7

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Pada bagian ini akan dijelaskan (1) kajian pustaka dan (2) kerangka berpikir dalam penelitian. 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Teori-teori yang Mendukung 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak menurut Piaget Jean Piaget merupakan seorang psikolog yang sangat terkenal dengan teori konstruktivisme (Suparno, 2001: 5). Piaget membagi tahapan perkembangan anak menjadi empat tahapan yaitu: 1. Tahap sensorimotor (0 sampai 2 tahun) Tahap sensorimotor merupakan tahap awal perkembangan mental anak. Pada tahap ini, kemampuan inteligensi anak didasarkan pada tindakan inderawi dengan lingkungannya. Kemampuan utama anak pada tahap ini adalah terbentuknya konsep kepermanenan objek dan kemajuan gradual dari perilaku refleksif ke perilaku yang mengarah kepada tujuan. 2. Tahap praoperasional ( 3 sampai 7 tahun) Pada tahap ini anak sudah mulai mengenal simbol untuk menunjukkan keadaan secara kognitif. Simbol tersebut dapat berupa kata-kata dan bilangan untuk menunjukkan suatu objek, peristiwa atau kegiatan. Pemikiran anak pada tahap ini masih egosentris dan sentrasi. 3. Tahap operasional konkret ( 7 sampai 11 tahun) Pada tahap ini anak ditandai dengan perbaikan dalam kemampuan untuk berpikir secara logis. Anak mampu mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis ketika melihat objek-objek dan melakukan aktivitas nyata. Pemikiran anak tidak lagi sentrasi tapi desentrasi, dan pemecahan masalah tidak begitu dibatasi oleh keegosentrisan. Anak masih memiliki 8

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI keterbatasan pada hal yang bersifat konkret dan belum mampu berpikir secara abstrak. 4. Tahap operasi formal (11 sampai dewasa) Pada tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis. Anak sudah dapat memecahkan masalah melalui penggunaan eksperimentasi sistematis. Teori Piaget menyatakan bahwa anak akan lebih mudah belajar dengan halhal yang konkret, sehingga dapat diamati oleh panca indera. Kecepatan perkembangan tiap individu berbeda dan tidak ada individu yang melompati salah satu dari tahapan tersebut. Pada tiap tahap ditandai dengan munculnya kemampuankemampuan intelektual baru. Berdasarkan tahapan perkembangan kognitif anak menurut Piaget (Suparno, 2001: 5), siswa SD berada pada rentang 7- 11 tahun sehingga anak berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini anak berada pada tahap pemikiran konkret. Maka dari itu pada proses pembelajaran guru diharapkan memberikan kesempatan kepada siswa melalui persentuhan dengan benda-benda konkret sehingga anak lebih mudah memahami materi pembelajaran. 2.1.2 Metode Montessori Metode Montessori merupakan metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Maria Montessori (1870-1952) dengan menggunakan konsep belajar sambil bermain untuk anak-anak (Holt, 2008: xi). Anak-anak akan menganggap kegiatan belajar yang mereka lakukan tak ubahnya seperti bermain, bahkan berbentuk permainan. Montessori sendiri mengungkapkan bahwa metode pembelajaran yang ia miliki merupakan metode yang mengembangkan kebebasan berkarakter dengan cara yang mengagumkan dan luar biasa (Montessori, 2002: 33). Metode Montessori memanfaatkan panca indera untuk mempelajari suatu hal dengan menggunakan alat peraga, alat peraga tesebut akan membawa anak pada konsep abstrak, berlanjut dari konsep abstrak anak dapat berpikir ke moralitas (Montessori, 2002: 41). Dr. Montessori percaya terhadap penghargaan atau nilai, arti atau penghargaan pada anak, sehingga metodenya tidak membeda-bedakan anak atau membandingkan anak 9

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pada anak normal atau anak sesuai standar menurut pertimbangan yang baik oleh sistem pendidikan tradisional. Metode Montessori membimbing anak untuk lebih mandiri. Dalam metode Montessori anak tidak hanya mengembangkan kemampuan akademis, tetapi mereka dibimbing untuk mengembangkan kreativitas kehidupan sosial, fisik, dan emosi. Montessori mengajarkan anak-anak kebenaran yang mendasar tentang bahasa, matematika, biologi, dan sebagainya. Anak-anak belajar dengan bertindak dan dengan percobaan. Walaupun pembelajaran metode Montessori terstruktur, namun anak-anak diberikan kebebasan untuk memilih apa yang akan mereka kerjakan dan kapan mereka akan mengerjakannya, mereka sering bekerja secara kolaboratif (Lillard, 2005: 328). Lingkungan secara khusus dipersiapkan untuk siswa supaya memungkinkan mereka berinteraksi secara bebas dan lepas. Montessori menemukan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak didiknya melalui berbagai percobaan dan observasi yang dilakukannya di Casa dei Bambini atau rumah anak-anak. Pengamatan yang telah dilakukan Montessori menemukan kebutuhan-kebutuhan anak di antaranya kesenangan dalam belajar, cinta keteraturan, kebutuhan untuk mandiri, kebutuhan untuk didengar dan dihargai, dan minat. 2.1.3 Alat Peraga 2.1.3.1 Pengertian Pengertian alat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah barang yang digunakan untuk mengerjakan sesuatu, mencapai suatu maksud tertentu, sedangkan peraga merupakan alat media pengajaran untuk meragakan sajian pelajaran (KBBI, 2008). Sependapat dengan hal tersebut Sudono (2010: 14) mengungkapkan bahwa alat peraga adalah alat yang berfungsi untuk menerangkan suatu mata pelajaran tertentu dalam suatu proses belajar mengajar. Hal ini diperkuat oleh Anitah (2010: 83) bahwa alat peraga sebaiknya digunakan apabila alat peraga 10

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tersebut mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Anitah (2010: 4) mengatakan bahwa alat peraga merupakan sarana yang dapat membawakan pesan dari pemberi kepada penerima. Sedangkan Sumantri (2001: 152) menyebutkan bahwa alat peraga merupakan alat pembantu pengajaran yang mudah memberi pengertian kepada peserta didik. Sementara itu jika merujuk pada fungsi, Munadi (2010:37-38) mengatakan bahwa fungsi utama dari alat peraga merupakan sumber belajar yang akan menuntun anak mencapai konsep pembelajaran hingga sampai pada tujuan pembelajaran dengan batasan-batasan tertentu. Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa alat peraga merupakan salah satu sumber belajar yang dapat digunakan untuk menyajikan pelajaran guna mencapai suatu maksud tertentu. 2.1.3.2 Alat Peraga Montessori Montessori mendefinisikan alat peraga sebagai alat yang digunakan untuk mengajar anak yang dirancang secara sederhana namun terlihat menarik, memungkinkan pemerolehan pengetahauan yang lebih banyak, belajar secara mandiri serta belajar mengetahui kesalahan yang mereka buat saat belajar (Lillard, 1997:11). Alat peraga matematika Montessori tidak dirancang untuk “mengajar matematika” (Hainstock, 1997: 137) tetapi untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan matematisnya. Kemampuan matematis meliputi: memahami perintah, urutan, abstraksi, dan memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki menjadi suatu konsep baru. 2.1.3.3 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori Pada metode Montessori, alat peraga mempunyai peranan yang penting dalam tahap perkembangan siswa. Alat peraga yang dihasilkan oleh Maria Montessori memiliki warna-warna cerah, mudah dimanipulasi, dan berbahan dasar kayu yang ringan namun memiliki daya tahan yang baik. Ciri-ciri umum alat peraga Montessori 11

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI adalah (a) menarik, (b) bergradasi, (c) auto-correction, dan (d) auto-education (Montessori, 2002: 169-179). Selain keempat ciri tersebut peneliti menambahkan satu ciri terkait yaitu kontekstual. a. Menarik Bagi anak-anak pembelajaran dimaksudkan untuk mengembangkan seluruh potensi anak melalui panca indera. Anak akan berminat ketika melihat sesuatu yang baru, karena hal baru biasanya asing dan akan menarik perhatianya. Setiap alat dan media pembelajaran harus memiliki nilai keindahan baik dari segi warna yang menarik maupun kecerahannya. Montessori mewujudkan itu ke dalam alat peraganya. Warna-warna yang digunakan pada alat peraga Montessori merupakan warna terang dan lembut. Alat-alat peraga dibuat menarik dalam arti membangkitkan hasrat anak untuk ingin menyentuh, meraba, memegang, merasakan, dan mempergunakannya untuk belajar. Landasan tersebut terutama digunakan Montessori untuk menciptakan alat peraga sensorial yang mengarah pada pengaktifan dan pemekaan seluruh indera manusia (Montessori, 2002: 174). b. Bergradasi Alat peraga Montessori mempunyai rangsangan rasional yang bergradasi (Montessori, 2002: 175). Penekanan gradasi dalam pembelajaran Montessori terletak pada rasional anak yang terbentuk secara bertahap ketika bekerja menggunakan alat peraga. Alat peraga Montessori mempunyai gradasi rangsangan warna, bentuk, maupun usia anak. Ada dua jenis gradasi menurut Montessori yakni gradasi umur dan gradasi rangsangan yang rasional. Ketika guru memperkenalkan gradasi bentuk, misalnya dengan menggunakan permainan pink tower terdiri dari 10 kubus dengan kubus paling besar memiliki sisi 10 centimeter. Kubus yang lebih kecil berikutnya selalu memiliki ukuran sisi 1 centimeter lebih kecil. Anak akan mencoba menyusun menara mulai dengan kubus yang paling besar yang ada di posisi paling bawah sampai kubus yang paling kecil di posisi paling atas. Dengan itu anak 12

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI belajar membeda-bedakan besar-kecil dan berat-ringan suatu objek (Montessori, 2002: 174). c. Auto-correction Alat peraga yang baik adalah alat peraga yang mempunyai pengendali kesalahan. Tujuan pengendali kesalahan ini adalah untuk membantu anak mengoreksi sendiri kekeliruan yang dibuat tanpa perlu diberi tahu oleh orang lain. Kemampuan ini memungkinkan anak untuk mengetahui secara mandiri bahwa ia harus mencoba lagi karena sedang terjadi kesalahan ketika sedang belajar. Tidak hanya pada alat peraga dan media pembelajaran melainkan juga lingkungan yang dipersiapkan harus selalu memiliki nilai pengendali kesalahan. Misalnya, ketika seorang anak berumur tiga tahun sedang berlatih dengan inkastri slinder (incastri solidi). Ia akan mengetahui kesalahanya ketika salah memasukan silinder, sehingga permukaan balok menjadi tidak rata, lubang terlalu lebar ataupun terlalu sempit sehingga silinder tidak dapat masuk dengan sempurna ataupun ada satu silinder yang tidak dapat dimasukan ke tempatnya (Montessori, 2002: 169). Dengan demikian alat yang memiliki sistem pengendalian kesalahan dapat berfungsi sebagai pendidik bagi siswa. d. Auto-education Alat peraga Montessori dirancang untuk menumbuhkan kemandirian anak, pengembangan kemampuan secara mandiri tanpa ada campur tangan dari orang dewasa. Kemandirian tersebut menuntut self regulation yang baik pada diri anak. Berdasarkan umur siswa dan tahap perkembangan yang sedang dialaminya, maka alat peraga dan media pembelajaran harus dibuat sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Saat bekerja anak dapat membawa dan mempergunakan alat peraga sendiri. Menurut Montessori, hal utama yang harus memberikan pengetahuan pada anak adalah lingkungan, teman, dan alat peraga (Montessori, 2002: 106). Montessori tidak menggunakan istilah guru tetapi direktis, hal ini disebabkan orang dewasa lebih menjalankan peran untuk mengarahkan perkembangan fisik dan psikis anak. 13

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI e. Kontekstual Ciri yang terakhir ini bukanlah sesuatu yang wajib ada dan dimiliki oleh alat peraga berbasis Montessori, namun hanya upaya yang dilakukan untuk memanfaatkan bahan-bahan yang sesuai dengan konteks lokal daerah di mana sekolah Montessori didirikan, sehingga dapat menekan banyak biaya operasional pembuatan alat peraga.”Konteks” berasal dari kata kerja Latin contexere yang berarti “menjalin bersama”. Kata “konteks” merujuk pada “keseluruhan situasi, latar belakang atau lingkungan” yang berhubungan dengan diri, yang terjalin bersamanya (Johnson, 2009: 83). Sehingga konteks dapat merujuk pada lingkungan tempat tinggal, keluarga, teman, sekolah, pekerjaan, dsb (Johnson, 2007: 83). Dalam mengembangkan alat peraganya, Montessori memanfaatkan bahan seadanya di sekitar pemukiman kumuh. Montessori memanfaatkan lingkungan sebagai konteks pembelajaran tanpa batas. Penelitian mengenai otak memberi tahu bahwa pengaruh lingkungan lebih besar daripada yang dibayangkan (Johnson, 2009: 55). 2.1.4 Persepsi 2.1.4.1 Pengertian Persepsi Persepsi merupakan salah satu aspek kognitif manusia yang sangat penting yang memungkinkan untuk mengetahui dan memahami dunia sekelilingnya. Persepsi merupakan sebuah istilah yang sudah familiar didengar dalam percakapan sehari-hari. Istilah persepsi berasal dari bahasa Inggris “perception” yang berasal dari bahasa Latin “perception” yang berarti menerima atau mengambil (Desmita, 2012: 445). Persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki untuk memperoleh atau menginterpretasi stimulus (rangsangan) yang diterima oleh sistem alat indera manusia (Desmita, 2012: 118). Jadi persepsi pada dasarnya menyangkut hubungan manusia dengan lingkungannya, bagaimana individu mengerti dan menginterpretasi lingkungannya dengan pengetahuan yang dimiliki kemudian 14

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI individu memproses hasil penginderaannya dan timbullah makna tentang objek yang dipersepsi. Sedangkan menurut Slameto (2003: 102) persepsi adalah proses menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia melalui alat inderanya yaitu indera penglihatan, pencium, pendengar, peraba, dan perasa. Dalam mempersepsi suatu objek, orang atau peristiwa, makin baik suatu objek, orang atau peristiwa, makin dapat diingat objek, orang atau peristiwa tersebut. Menurut Wood (2013: 70) persepsi adalah proses aktif untuk menciptakan makna dengan cara menyeleksi, menyusun, dan mengintepretasi manusia, objek, peristiwa, situasi, atau fenomena lainnya. Artinya seorang individu aktif merasakan apa yang terjadi di dalam dirinya dan proses interaksi yang dialaminya, lalu dia memilih informasi yang penting yang kemudian disusun dan diorganisasikan. Menurut Devito (dalam Sobur, 2003: 445), persepsi adalah proses kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indera kita. Hasil persepsi seseorang mengenai suatu objek dapat berbeda dengan individu lainnya, tergantung dengan penampilan objek itu sendiri dan pengetahuan individu tersebut mengenai objek. Ajzen dan Fishbein (1975) mengatakan bahwa setiap individu akan memiliki persepsi yang bersifat positif atau negatif terhadap suatu objek, sehingga akan mempengaruhi pula sikap positif atau negatif terhadap objek yang dipersepsi tersebut. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki untuk memperoleh dan menginterprestasi stimulus (rangsangan) yang diterima oleh sistem alat indera, bagaimana ia mengerti dan menginterpretasikan stimulus yang ada di lingkungannya dengan menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. Setelah individu menginderakan objek di lingkungannya, kemudian ia memproses hasil penginderaan itu, sehingga timbullah makna tentang objek itu yang dapat bersifat positif atau negatif dan akan mempengaruhi sikap individu tersebut terhadap objek yang dipersepsi. Proses persepsi dapat meliputi (Sobour, 2003: 447): 15

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI a. Seleksi adalah proses penyaringan oleh indera terhadap rangsangan dari luar, intensitas atau stimulus. Dalam proses ini, struktur kognitif yang telah ada dalam kepala akan menyeleksi, membedakan data yang masuk dan memilih data mana yang relevan sesuai dengan kepentingan dirinya. b. Interpretasi yaitu proses mengorganisasai informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang. Interpretasi bergantung pada kemampuan seseorang dalam mereduksi informasi yang kompleks menjadi sederhana. c. Interpretasi dan persepsi kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi. Jadi proses persepsi adalah melakukan seleksi, interpretasi, dan pembulatan terhadap informasi yang sampai. 2.1.4.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi Menurut Walgito (1993: 56) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah: a. Perhatian yang selektif. Perhatian merupakan pemusatan pikiran terhadap suatu objek dan pada saat yang sama mengabaikan objek yang lainnya. Perhatian mengindikasi adanya kesediaan individu untuk mengadakan persepsi. Rangsangan yang mendapatkan perhatian individu akan disadari lebih mendalam dan ditanggapi dengan cepat. Sedangkan rangsangan yang kurang mendapat perhatian dari individu kurang disadari dan kurang ditanggapi oleh individu. b. Rangsang. Perhatian individu terhadap rangsangan turut ditentukan oleh ciriciri yang dimiliki oleh rangsangan tersebut. Berdasarkan familiaritas, objek yang sudah dikenal akrab akan mudah dipersepsi dibandingkan dengan objek asing atau baru. Berdasarkan ukuran, objek yang berukuran lebih besar akan mudah dipersepsi daripada objek yang berukuran kecil. Berdasarkan intensitas, objek yang memiliki warna tajam akan lebih mudah dikenali daripada objek yang memiliki warna tipis atau kurang tajam. Berdasarkan 16

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI gerak, objek yang bergerak cenderung lebih mudah dipersepsi dibandingkan objek yang diam (Suharnan, 2005: 59). c. Nilai dan kebutuhan individu. Individu akan menaruh perhatian kepada rangsangan yang akan bernilai baginya dibandingkan dengan rangsangan yang kurang bernilai. Individu juga akan menaruh perhatian kepada rangsangan yang sesuai dengan kebutuhannya. Hasil persepsi terhadap objek yang sama dapat berbeda antara individu yang satu dengan lainnya. d. Pengalaman terdahulu. Perhatian individu terhadap rangsangan juga ditentukan oleh pengalaman akan rangsangan yang dimiliki oleh individu dalam pengalaman sebelumnya. Jika individu telah mempunyai pengalaman dengan objek terdahulu yang sama, objek tersebut akan lebih mudah dipersepsi daripada dengan objek yang baru. Sedangkan menurut Wood (2010: 79 - 85) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah: a. Fisiologi. Perbedaan kemampuan indera dan kemampuan fisiologis adalah salah satu alasan mengapa setiap orang dapat memiliki persepsi berbeda untuk hal yang sama. Jika sedang lelah, individu cenderung melihat sesuatu dari persepektif negatif. Dalam kondisi lelah candaan dari teman dapat ditanggapi secara emosional. Kondisi medis juga menjadi salah satu faktor fisiologis yang mempengaruhi persepsi manusia. Seorang yang mengonsumsi narkotika pasti paham jika di bawah narkotika, seorang bisa menjadi lebih depresi, paranoid, dan bahagia secara berlebihan. b. Usia. Persepsi manusia juga tergantung pada usia. Persepsi uang pada usia 6 tahun dan 20 tahun pasti berbeda. Usia juga mempengaruhi persepsi kita pada waktu. Misalnya seorang anak yang berusia 8 tahun mengatakan bahwa satu tahun itu merupakan waktu yang lama, tetapi saya tidak sependapat. Ketika tumbuh dewasa dan semakin berpengalaman, perspektif kita pada banyak hal juga ikut berubah. 17

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI c. Budaya. Budaya adalah keseluruhan nilai, norma, kepercayaan, dan pemahaman dari interpretasi terhadap pengalaman yang melingkupi sekelompok manusia. Budaya membentuk pola kehidupan dan memandu bagaimana cara manusia berpikir, merasakan, dan berkomunikasi (Lee, 2000). d. Lingkungan sosial. Lingkungan sosial yang dimiliki berpengaruh terhadap bagaimana kita memandang segala sesuatu. Misalnya orang-orang yang berkuasa dan memiliki status sosial cenderung berkeinginan mempertahankan lingkungan yang memberikan hak khsusus pada mereka. Jadi, mereka tidak mungkin kekurangan secara materi. e. Diri sendiri. Seorang individu melihat hubungan interpersonal pada orang dengan gaya kelekatan yang berbeda-beda. Orang dengan gaya kelekatan aman menilai bahwa dirinya adalah orang yang dicintai dan dapat dipercaya. Thoha (2003: 154), menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang meliputi (a) faktor intern, antara lain perasaan, sikap dan kepribadian individual, prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat dan motivasi dari individu; dan (b) faktor ekstern, antara lain latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan dan kebudayaan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanaan, pengulangan gerakan, hal-hal baru dan familiar atau ketidakasingan suatu objek. Berdasarkan beberapa faktor di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi persepsi meliputi faktor internal yang berasal dari dalam diri seperti perasaan, sikap, perhatian, rangsang, kebutuhan individu, pengalaman yang dimiliki dan fisiologi, sedangkan faktor eksternal yang berasal dari luar diri dapat berupa budaya, lingkungan sosial, dan informasi yang diperoleh. 18

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.4.3 Persepsi terhadap alat peraga Montessori Salah satu aspek yang mempengaruhi transfer pengetahuan yang efektif adalah aspek kognitif. Aspek kognitif dapat berupa persepsi seperti yang telah dijelaskan di atas. Tanpa persepsi yang benar, manusia akan mengalami kesulitan untuk menangkap dan memaknai berbagai fenomena, informasi atau data di sekitarnya, karena persepsi merupakan proses yang menyangkut masuknya informasi ke dalam otak manusia. Persepsi individu terhadap objek tertentu akan mempengaruhi pikirannya. Artinya, persepsi seseorang akan memungkinkannya untuk memberi penilaian terhadap kondisi stimulus. Penilaian (appraisal) seseorang terhadap suatu stimulus biasanya dilakukan melalui proses kognitif, yaitu proses mental yang memungkinkan seseorang mengevaluasi, memaknai dan menggunakan informasi yang diperoleh inderanya. Jadi, meskipun persepsi bergantung pada indera manusia, proses kognitif yang ada pada diri manusia akan memungkinkan terjadinya proses penyaringan, perubahan atau modifikasi dari stimulus yang ada. Persepsi dipengaruh oleh pengalaman yang dimiliki narasumber (Walgito, 1993: 56), jika individu telah mempunyai pengalaman dengan objek terdahulu yang sama, objek tersebut akan lebih mudah dipersepsi daripada dengan objek yang baru. Kemudian hasil perpsepsi tersebut akan mempengaruhi sikap yang diambil oleh narasumber. Oleh karena itu sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam hubungannya dengan objek-objek tertentu, yaitu melalui proses persepsi terhadap objek tersebut. Hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan objek tertentu, akan menimbulkan sikap tertentu pula dari individu terhadap objek tersebut, sehingga persepsi dapat mempengaruhi intensi seseorang dalam melakukan sesuatu. Faktor yang menentukan intensi seseorang adalah sikap terhadap perilaku yang dimaksud, bila seorang individu mempunyai sikap yang negatif pada seseorang atau objek, orang tersebut akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan sikap yang negatif pula kepada orang atau objek yang dipersepsi. Hal ini berarti bahwa jika persepsi seseorang mengenai alat peraga itu bagus 19

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI intensinya akan tinggi menggunakan alat peraga tersebut dan sebaliknya jika persepsi seseorang mengenai alat peraga sudah jelek maka intensinya untuk menggunakan alat peraga tersebut lemah. Objek sikap akan dipersepsi oleh individu, dan hasil persepsi akan dicerminkan dalam sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan yaitu tindakan yang dilakukannya. Dalam mempersepsi objek sikap individu akan dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, keyakinan, proses belajar, kemudian hasil proses persepsi ini merupakan pendapat atau keyakinan individu mengenai objek sikap, dan ini berkaitan dengan segi kognisi. Afeksi akan mengiringi hasil kognisi terhadap objek sikap sebagai aspek evaluatif, yang dapat bersifat positif atau negatif. Keadaan lingkungan akan memberikan pengaruh terhadap objek sikap maupun pada individu yang bersangkutan. Berikut ini adalah bagan persepsi (Walgito, 2003: 116): Keyakinan Proses belajar Pengalaman Pengetahuan Persepsi Objek sikap Kognisi Kepribadi an Afeksi Sikap Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh Evaluasi Senang/ tak senang Bertindak Gambar 2.1. Gambar persepsi yang dikutip dari Walgito 20

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Bagan tersebut kemudian dimodifikasi atau disederhankan sesuai dengan kebutuhan peneliti mengenai persepsi. Berikut adalah bagan persepsi yang telah dimodifikasi: - Hasil belajar Pemikiran Perasaan - Kepercayaan Perilaku Perasaan Gambar 2. 2. Gambar persepsi yang dimodifikasi Pengalaman yang dimiliki narasumber mengenai suatu objek tertentu akan memunculkan persepsi tertentu kepada narasumber. Persepsi yang dimiliki oleh narasumber (dalam hal ini guru dan siswa) dapat berbeda-beda, sesuai dengan pengalaman yang telah didapatkan dengan menggunakan objek tersebut. Hasil persepsi akan mempengaruhi sikap yang diambil oleh narasumber. Sikap ini akan dibuktikan atau ditunjukkan dengan tindakan atau aktivitas nyata yang dilakukan narasumber. Dalam hal ini, pembelajaran matematika dilakukan menggunakan alat peraga Montessori yang baru bagi siswa maupun bagi guru. Siswa diharapkan untuk dapat ikut terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Guru juga diharapkan untuk menggunakan alat peraga baru yang konkret dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Alat peraga baru yang belum pernah digunakan oleh guru maupun siswa akan memberikan pengalaman yang baru kepada guru dan siswa. Pengalaman yang dimiliki mengenai alat peraga akan memunculkan persepsi tertentu kepada guru dan siswa. Hasil persepsi tersebut akan mempengaruhi sikap yang akan diambilnya, kemudian sikap tersebut akan 21

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dibuktikan dengan tindakan atau aktivitas nyata yang dilakukan narasumber. Jika persepsi siswa dan guru mengenai alat peraga tersebut positif, intensi guru dan siswa akan besar dalam menggunakan alat peraga berbasis Montessori tersebut, sebaliknya jika persepsi siswa dan guru mengenai alat peraga tersebut negatif atau jelek, akan mempengaruhi sikap narasumber terhadap penggunaan alat peraga tersebut. Di sinilah peran persepsi dalam proses transfer pengetahuan dengan menggunakan alat peraga yang baru. 2.1.5 Pembelajaran Matematika di Kelas 2.1.5.1 Pembelajaran Matematika Pembelajaran merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang guru dalam mengarahkan interaksi siswa ke dalam sumber belajar untuk mencapai tujuan tertentu (Triyanto, 2009: 17). Abdullah (2013: 40) pembelajaran adalah penyediaan kondisi yang mengakibatkan terjadinya proses belajar pada peserta didik. Penyediaan kondisi dapat dilakukan dengan bantuan pendidik (guru) atau ditemukan sendiri oleh siswa (belajar secara otodidak). Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani “mathein” atau “mathenein” yang berarti mempelajari. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. Matematika adalah suatu alat untuk mengembangkan cara berpikir (Hudojo, 2001: 45). Karena itu matematika sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari sehingga matematika perlu dibekalkan kepada setiap peserta didik dari Sekolah Dasar (SD) sampai perguruan tinggi. Akan tetapi matematika yang ada pada hakekatnya suatu ilmu yang cara bernalarnya deduktif formal dan abstrak, harus diberikan kepada anak-anak sejak SD yang cara berpikirnya masih pada tahap operasional konkret (Hudojo, 2001: 45). 22

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Jadi pembelajaran matematika merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang dalam mengarahkan siswa untuk mengembangkan cara berpikir tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah. 2.1.5.2 Materi Pembagian di Kelas II SD Seperti yang sudah dikemukakan di atas bahwa pembelajaran matematika dibekalkan kepada siswa Sekolah Dasar. Tujuannya adalah untuk mengembangkan cara berpikir siswa. Banyak materi pembelajaran matematika yang dibekalkan di SD akan tetapi dalam penelitian ini lebih fokus kepada materi mengenai pembagian. Pembagian diajarkan di kelas II SD pada semester genap. Standar Kompetensi tentang pembagian untuk kelas II adalah 3. Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka. Sedangkan Kompetensi Dasaranya adalah 3.2 Melakukan pembagian bilangan dua angka. Pembagian merupakan lawan dari perkalian. Pembagian disebut juga pengurangan berulang sampai habis (Heruman, 2007: 26). Kemampuan prasyarat yang harus dimiliki siswa dalam mempelajari konsep pembagian adalah pengurangan dan perkalian. Jadi jika siswa sudah paham dengan konsep pengurangan dan perkalian akan lebih mudah dalam mempelajari pembagian. Sebaliknya, jika siswa belum paham dengan konsep pengurangan dan perkalian siswa akan kesulitan memahami konsep pembagian. 2.1.6 Hasil Penelitian yang Relevan 2.1.6.1 Alat Peraga Matematika Sumiaty (2009) melakukan penelitian mengenai penggunaan alat peraga tiga dimensi dalam meningkatkan hasil belajar matematika pokok bahasan geometri bangun ruang. Penelitian dilakukan pada kelas IV di Sekolah Dasar Negeri 02 Nagrikaler (SDN 02 Nagrikaler) Purwakarta tahun ajaran 2006/ 2007. Pembelajaran matematika di kelas dirasa belum optimal, oleh karena itu diadakan Penelitian Tindakan Kelas dengan pendekatan kualitatif, yakni suatu penelitian yang 23

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mendasarkan diri kepada fakta dan analisis perbandingan, bertujuan untuk mengadakan generalisasi empirik, menetapkan konsep-konsep, membuktikan teori dan mengembangkannya, serta pengumpulan data dan analisis datanya berjalan pada waktu yang bersamaan (Nazir, 1999: 68). Sebelum menggunakan alat peraga tiga dimensi, para siswa tidak termotivasi, sehingga pembelajaran matematika belum memperoleh hasil secara optimal. Hasil evaluasi pra siklus dengan rata-rata kelas hanya sebesar 3,07. Pembelajaran mulai nampak hidup setelah guru menggunakan alat peraga tiga dimensi dalam pokok bahasan bangun ruang balok dan kubus. Hasil evaluasi pada siklus pertama dengan rata-rata kelas mencapai 6,46. Setelah menggunakan alat peraga tiga dimensi, hasil pembelajaran matematika pokok bahasan Geometri Bangun Ruang balok dan kubus menunjukkan peningkatan hasil belajar. Dari empat kali perbaikan pembelajaran, didapat rata-rata kelas pada siklus pertama sebesar 6,46, namun, pada siklus kedua menjadi 5,33 atau 36,67%. Lonjakan yang sangat mencolok diperoleh pada evalusai siklus ketiga dengan rata-rata kelas mencapai 8,33 (76,67%), dan pada siklus keempat lebih meningkat lagi dengan peroleh rata-rata kelas mencapai 9,13 atau 96,67%. Latifa (2013) melakukan penelitian mengenai penggunaan alat peraga meteran untuk meningkatkan hasil belajar matematika bagi siswa berkesulitan belajar matematika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan alat peraga meteran dalam meningkatkan hasil belajar matematika dengan materi perkalian pada siswa berkesulitan belajar matematika kelas III SDN Kartodipuran tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian dilakukan dengan metode Penelitian Tindakan Kelas. Narasumbernya adalah 2 siswa yang mengalami kesulitan belajar terdiri atas 1 laki-laki dan 1 perempuan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, tes, dan analisis dokumen. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif dan analisis kritis. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan alat peraga meteran dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi perkalian pada siswa berkesulitan belajar matematika kelas III SDN Kartodipuran Surakarta tahun pelajaran 2012/2013. 24

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.6.2 Persepsi Guru dan Siswa Adiningsih (2012) melakukan penelitian tentang pengaruh persepsi siswa tentang Metode Mengajar Guru dan Kemandirian Belajar terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Siswa. Penelitian ini dilakukan pada kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK Batik Perbaik Purworejo Tahun ajaran 2011/2012. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa tentang metode mengajar guru terhadap prestasi belajar Akuntansi siswa kelas X Program keahlian Akuntansi SMK Batik Perbaik Purworejo Tahun Ajaran 2011/2012, dengan dan . Hal ini menunjukkan bahwa metode mengajar guru menentukan persepsi siswa dan dan mempengaruhi prestasi belajar siswa. Asyah (2005) melakukan penelitian mengenai hubungan kepercayaan diri dan persepsi siswa terhadap matematika dengan hasil belajar matematika. Penelitian ini dilakukan di SMP N Se-kota Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien pada taraf signifikansi dan koefisien determinasi Hal ini menunjukkan bahwa 43% variasi hasil belajar matematika ditentukan oleh persepsi siswa terhadap matematika. Dari hasil penelitian diambil kesimpulan bahwa kepercayaan diri dan persepsi siswa terhadap matematika dengan hasil belajar matematika dari siswa SMP N se-kota Medan berada dalam kategori baik. Dengan kesimpulan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antar kepercayaan diri dan persepsi siswa terhadap matematika dengan hasil belajar matematika secara sendiri maupun bersama-sama. 2.1.6.3 Metode Montessori Susanti (2013) melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui penerapan metode Montessori di Kelompok Bermain Talenta Kabupaten Bandung. Adapun metode yang digunakan oleh peneliti adalah kualitatif deskriptif. Sedangkan sampel penelitian adalah anak didik di Kelompok Bermain Talenta pada tahun ajaran 2012213 yang berjumlah 48 anak didik. Teknik pengumpulan data yang dipilih peneliti adalah kepustakaan, penelitian lapangan dan waancara. Dari hasil penelitian 25

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menunjukkan bahwa penerapan Montessori di Kelompok Bermain Talenta Kabupaten Bandung memiliki dampak yang positif terhadap keterampilan motorik halus anak didik di mana anak didik mengalami peningkatan menjadi lebih terampil/ luwes, lebih mahir dan mandiri dan kekuatan dari motorik halusnyapun mulai terlihat lebih baik dari ketika pertama kali mereka masuk. Rinke, Gimbel, Haskell (2012) melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui perubahan lingkungan belajar kelas Montessori untuk mengembangkan minat belajar siswa di lingkungan. Penelitian ini memiliki relevansi mengenai lingkungan belajar di kelas Montessori. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dalam empat kelas Montessori di tingkat SD. Setting penelitian ini adalah empat kelas di kelas Montessori dengan narasumber penelitian yaitu para siswa di kelas SD tersebut. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa lingkungan belajar Montessori memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan minat dalam ilmiah dan komunikasi tentang ilmu pengetahuan dalam berbagai cara. Dari berbagai penelitian di atas dapat kita ketahui bahwa penelitian mengenai penggunaan alat peraga matematika khususnya alat peraga tiga dimensi dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa (Sumiaty, 2009). Alat peraga juga dapat membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika (Latifa, 2013). Penelitian yang lain yaitu mengenai persepsi menemukan bahwa metode mengajar guru menentukan persepsi siswa dan mempengaruhi prestasi belajar mereka (Adiningsih, 2012). Selain itu, hasil belajar matematika ditentukan oleh persepsi siswa terhadap matematika (Asyah, 2005). Penelitian berikutnya mengenalkan mengenai metode Montessori yang dapat mengembangkan minat belajar (Rinke, Gimbel, dan Haskell, 2012). Penelitian yang lain menemukan bahwa anak didik mengalami peningkatan menjadi lebih terampil atau luwes ketika menggunakan metode Montessori (Susanti, 2013). Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan dan berbagai dampak implementasi dari pendidikan Montessori dibanding metode tradisional, salah satunya dalam pembelajaran matematika. Dari penelitian ini menyiratkan bahwa metode Montessori sesuai untuk digunakan dalam pembelajaran matematika yang kemudian mengilhami dalam penelitian pengembangan alat peraga 26

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Montessori. Meskipun demikian, penelitian-penelitian mengenai pengembangan alat peraga Montessori yang disertai dengan evaluasi belum banyak dipublikasikan. Oleh karena itu, penelitian yang akan dilakukan kali ini adalah mengetahui persepsi narasumber terhadap penggunaan alat peraga Montessori dengan metode kualitatif. Alat Peraga Persepsi Metode Montessori Sumiaty (2009) Adiningsih (2012) Susanti (2013) Alat peraga tiga dimensi hasil belajar siswa. Persepsi siswa - prestasi belajar akuntansi. Metode Montessori kemampuan motorik halus anak. Latifa (2013) Asyah ( 2005) Rinke (2012) Alat peraga meteran - hasil belajar matematika. Persepsi siswa - hasil belajar matematika. Lingkungan belajar kelas Montessori - minat belajar siswa. Yang perlu diteliti Persepsi Guru dan Siswa atas Penggunaan Alat Peraga Matematika berbasis Montessori pada Pembelajaran Pembagian Bilangan Dua Angka. Gambar 2. 3 Literature map dari penelitian-penelitian sebelumnya yang relevan 27

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.2 Kerangka Berpikir Rata-rata usia Sekolah Dasar (SD) berkisar antara umur 7- 12 tahun. Berdasarkan teori perkembangan Perkembangan Piaget, anak pada usia tersebut berada dalam tahap operasional konkret (Suparno, 2001: 69). Pada tahap ini perkembangan anak ditandai dengan perbaikan dalam kemampuan untuk berpikir secara logis. Anak mampu mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis ketika melihat objekobjek yang konkret dan melakukan aktivitas nyata. Pemikiran anak tidak lagi sentralisasi tapi desentralisasi, dan pemecahan masalah tidak begitu dibatasi oleh keegosentrisan. Anak masih memiliki keterbatasan pada hal yang bersifat abstrak. Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan oleh guru di dalam kelas. Matematika merupakan suatu ilmu yang mengembangkan cara bernalar deduktif formal dan abstrak. Dalam pembelajaran matematika dibutuhkan suatu alat peraga yang dapat digunakan untuk memberikan gambaran yang nyata atau konkret kepada siswa, sehingga anak yang belum mampu berpikir secara abstrak dapat terbantu dengan adanya alat peraga. Selain itu alat peraga dalam pembelajaran matematika juga dapat digunakan mendukung kegiatan belajar agar kemampuan dasar siswa dalam berhitung dapat berkembang secara maksimal serta menumbuhkan ketertarikan siswa dalam belajar. Banyak materi pembelajaran matematika yang diajarkan di Sekolah Dasar salah satunya adalah materi mengenai pembagian. Materi pembagian di SD diajarkan pada kelas II dengan kompetensi dasarnya adalah pembagian bilangan dua angka. Operasi pembagian dalam matematika di SD merupakan operasi pengurangan berulang sampai habis dengan hasil yang didapatkan sama banyak. Banyak kasus ditemukan anak SD kurang memiliki keterampilan dalam operasi pembagian karena pembelajaran yang disajikan oleh guru masih menggunakan metode ceramah. Hal inilah yang menyebabkan para siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep pembagian. 28

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Alat peraga berbasis Montessori dapat membantu pemahaman siswa akan suatu konsep pembelajaran. Metode Montessori merupakan metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Maria Montessori (1870-1952) dengan menggunakan konsep belajar sambil bermain untuk anak-anak (Holt, 2008: xi). Metode Montessori membimbing anak untuk lebih mandiri. Dalam metode Montessori anak tidak hanya mengembangkan kemampuan akademis, tetapi mereka dibimbing untuk mengembangkan kreativitas kehidupan sosial, fisik, dan emosi. Ciri utama dari alat peraga Montessori adalah menarik, bergradasi, mempunyai auto correction, mempunyai auto education dan kontekstual. Alat peraga matematika Montessori tidak dirancang untuk “mengajar matematika” tetapi untuk membantu siswa mengembangkan pikiran matematikanya seperti memahami perintah, urutan, abstraksi, dan memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki menjadi suatu konsep baru. Alat peraga Montessori adalah alat baru yang belum pernah digunakan oleh guru maupun siswa ketika pembelajaran. Ketika mengenalkan dan menggunakan alat peraga baru pasti akan memunculkan persepsi yang beragam oleh guru maupun siswa. Persepsi adalah proses diterimanya stimulus terhadap suatu objek tertentu melalui alat indera, sehingga individu dapat menginterpretasi stimulus tersebut. Persepsi dipengaruh oleh suatu sikap terhadap objek dan dipicu oleh suatu kejadian yang mengaktifkan sikap (Fazio, 1989; Fazio dan Roskos-Ewoldsen, 1994). Persepsi dapat mempengaruhi intensi seseorang dalam melakukan sesuatu. Hal tersebut dapat dilihat dari intensi guru dan siswa dalam menggunakan suatu alat peraga. Jika persepsi seseorang mengenai alat peraga itu bagus, intensinya akan tinggi menggunakan alat peraga tersebut dan sebaliknya jika persepsi seseorang mengenai alat peraga sudah jelek atau negatif, intensinya untuk menggunakan alat peraga tersebut lemah. Berdasarkan alasan di atas perlu diteliti persepsi guru dan siswa mengenai penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori pada pembelajaran 29

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pembagian bilangan dua angka. Melalui penelitian ini akan diketahui persepsi guru dan siswa setelah menggunakan alat peraga berbasis Montessori dan hasil yang didapatkan akan digunakan sebagai bahan masukan untuk pengembangan alat peraga bagi peneliti selanjutnya. 30

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Bab III METODE PENELITIAN Pada bagian ini akan dibahas (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3) desain penelitian, (4) teknik pengumpulan data, (5) instrumen penelitian, (6) kredibilitas dan transferabilitas dan (7) teknik analisis data. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma kualitatif. Paradigma kualitatif merupakan paradigma untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan (Creswell, 2007: 4). Penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh narasumber penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain sebagainya (Herdiansyah, 2010: 9). Dengan demikian penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengeksplorasi atau memahami permasalah sosial yang terjadi di masyarakat baik secara individu ataupun kelompok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode fenomenologi. Fenomoneologi merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti mengidentifikasi hakikat pengalaman manusia tentang suatu fenomena tertentu (Creswell, 2007: 20). Fenomenologi menyelidiki pengalaman kesadaran yang berkaitan dengan pertanyaan seperti „bagaimana‟ (Moleong, 2006: 15). Fenomenologi merupakan pengumpulan secara mendalam deskripsi dari orang yang mengalami suatu fenomena tertentu: melakukan abstraksi dan menemukan maknamakna pokok dari cerita subjketif ini dan menggunakan makna-makna ini sebagai dasar suatu interpretasi dari kekhasan pokok dari fenomenon. 31

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Percobaan 3 Pakem dengan alamat Jalan Kaliurang km 17.5 Sukunan, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan wawancara guru kelas (sekaligus guru matematika), guru belum pernah menggunakan alat peraga matematika berbasis Montessori. Hal ini yang menyebabkan peneliti memilih sekolah ini untuk dijadikan tempat penelitian. Selain itu, baru-baru ini SD tersebut digunakan untuk melakukan penelitian mengenai alat peraga berbasis Montessori pada pembelajaran pembagian. 3.2.2 Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2013/ 2014, yaitu pada bulan Januari sampai Maret 2014. 3.2.3 Narasumber Penelitian Narasumber dalam penelitian ini adalah guru dan siswa SD N Percobaan 3 Pakem yang beralamat di Jalan Kaliurang km 17.5 Sukunan, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Dengan rincian 1 orang guru kelas yang sekaligus guru matematika dan 3 orang siswa kelas II-A semester genap tahun ajaran 2013/ 2014. Narasumber yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu, yaitu siswa dengan prestasi belajar tinggi dalam mata pelajaran matematika, siswa dengan prestasi belajar sedang dalam mata pelajaran matematika, dan siswa dengan prestasi belajar rendah dalam mata pelajaran matematika. Selain itu juga siswa yang mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan baik. Peneliti menggunakan kriteria siswa yang mempunyai prestasi belajar tinggi, sedang dan rendah dengan tujuan agar data yang diperoleh dapat mewakili narasumber siswa kelas II, karena karekteristik dan kemampuan yang dimiliki oleh siswa beragam maka dengan tiga narasumber diharapkan dapat mewakili siswa yang ada. Selain itu pemilihan 32

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI narasumber siswa juga atas saran dari guru kelas. Guru beranggapan bahwa siswa tersebut mampu untuk diajak bekerja sama dan sesuai dengan kriteria penelitian. Narasumber pertama adalah Z. Z adalah seorang guru kelas sekaligus guru matematika pada kelas II-A SD N Percobaan 3 Pakem. Z sudah mengajar kurang lebih 7 tahun. Ketika ditanya Z merasa senang dalam mengajar matematika. Walaupun sulit dalam mengajar matematika untuk kelas bawah tapi Z menikmati tugasnya dalam mendidik siswa kelas II. Z adalah sosok guru yang sabar, lemah lembut dan pengertian. Ketika menjumpai murid yang agak lambat dalam menerima pelajaran, Z akan mendekati murid tersebut dan akan menjelaskan dengan sabar mengenai materi yang dirasa sulit. Ketika di kelas, beliau juga jarang marah atau berteriak-teriak, beliau lebih suka menenangkan siswa dengan cara mendekati siswa yang ramai. Narasumber kedua adalah A, seorang siswi kelas II-A SD N Percobaan 3 Pakem. A kelahiran Yogyakarta, 5 September 2005 yang beralamat di Degolan, Umbul Martani, Ngemplak, Sleman. Pada kelas II ini dia berumur 9 tahun. A pada semester ganjil yang lalu mendapatkan rangking 1 dan sekarang dia menjabat sebagai ketua kelas. A adalah anak pertama dari dua bersaudara. Dia memiliki hobi melukis dan sering sekali bermain kasti atau dakon sewaktu jam istirahat. Ketika ditanya mengenai cita-citanya, A menjawab kalau dia bercitacita untuk menjadi koki sekaligus professor. Dilihat dari segi fisik A memiliki rambut panjang, wajah yang cantik dan tinggi sekitar 90 cm. Walaupun dia lebih pandai dalam kemampuan kognitif dengan mendapatkan rangking 1 di kelas tetapi dalam kehidupan sosialnya dia sedikit egois dan pilih-pilih teman. Hal ini terlihat ketika guru membagi siswa ke dalam kelompok, A tidak mau satu kelompok dengan F karena F bukan teman dekat A. Selain itu, ketika A diwawancarai dia terkesan malu-malu dalam menjawab pertanyaan. Ketika menjawab pertanyaan A berbicara dengan suara rendah, padahal ketika di kelas A seringkali berteriak-teriak. Apalagi karena dia menjabat sebagai ketua kelas, dia sering berteriak-teriak untuk mengatur teman-temannya agar diam dan memperhatikan guru yang sedang mengajar. 33

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Narasumber ketiga adalah seorang siswi yang mendapatakan peringkat ke13 di kelas. Penulis memberi inisial B. B adalah seorang anak perempuan kelahiran Yogyakarta, 1 Desember 2005 yang beralamat di Mbalangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman. B merupakan siswa yang lincah dan mau memperhatikan penjelasan guru. B mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Selain itu dia juga mau berteman dengan siapa saja, B tidak pernah membeda-bedakan teman. B yang mempunyai hobi bermain biola ini juga mempunyai kepribadian yang riang, ramah, menyenangkan dan mudah senyum. B juga terbuka kepada orang baru. B juga mudah menerima informasi baru. Jika dia tidak paham pada suatu hal, dia tidak malu-malu untuk bertanya. Narasumber keempat sebut saja C. C adalah siswa yang ramai ketika di kelas dan teramat aktif di kelas. Keaktifan siswa ini dapat dilihat ketika disuruh maju ke depan kelas atau ketika sedang tanya jawab dengan guru, dia pasti akan langsung angkat tangan, walaupun dia tidak tahu jawaban dari pertanyaan guru. C mempunyai hobi bermain permainan tradisional seperti bermain kasti, engklek, dakon dan yang lainnya. C mempunyai cita-cita untuk dapat menjadi seorang dokter atau polwan. Dilihat dari fisiknya C anaknya lebih kecil dari pada temanteman yang lain selain itu dia juga memiliki rambut panjang yang selalu dikucir ekor kuda. C kelahiran Sleman, 7 Mei 2006. Jadi saat ini dia baru berusia 8 tahun. Pada semester ganjil kemarin C mendapat rangking 23. Pada waktu pembelajaran sedang berlangsung, C seringkali menggangu temannya dan mengajak temannya untuk berbicara. Selain itu C juga kerap berjalan ke sana-sini ketika pembelajaran berlangsung. Pada dasarnya C adalah anak yang ceria, berani dan percaya diri. 3.2.4 Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah persepsi tentang alat peraga matematika berbasis Montessori. 34

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.3 Desain Penelitian Pada penelitian ini, peneliti melakukan langkah-langkah penelitian untuk sampai pada hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Di bawah ini merupakan bagan prosedur penelitian menurut (Patton, 1990 dalam McMillan, 2001: 400). Langkah-langkah tersebut adalah: Analisis Studi awal Tahap perencanaan Mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian Pelaksanaan (observasi interview, dokumen) Temuan Pengecekan keabsahan data Simpulan hasil peneltian, rekomendasi, dalil-dalil MODEL HIPOTETIK PERSONALIS ASI NILAI BELA GHAM Gambar 3.1 Prosedur penelitian dari Patton 35

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kemudian bagan penelitian tersebut peneliti modifikasi sesuai dengan kebutuhan peneliti. Berikut adalah bagan prosedur penelitian yang telah dimodifikai oleh peneliti: Observasi Tahap perencanaan Mempertajam fokus dan perumusan masalah Analisis Pelaksanaan (observasi interview, dokumen) Temuan Pengecekan keabsahan Gambar 3.2. Prosedur penelitian dengan modifikasi. 1. Observasi Pada tahap awal, peneliti melakukan observasi di dalam kelas II-A untuk mengetahui proses pembelajaran secara umum yang terjadi di kelas. Observasi dilakukan ketika pembelajaran Matematika sedang berlangsung. Observasi yang dilakukan meliputi metode pembelajaran yang digunakan oleh guru, media pembelajaran yang digunakan oleh guru, fasilitas dan sarana yang terdapat di dalam kelas serta interaksi antara guru dengan siswa. 2. Tahap perencanaan Pada tahap perencanaan ini, peneliti menyusun instrumen penelitian yang berupa lembar observasi untuk guru dan siswa dan lembar wawancara untuk guru dan siswa. Berikut adalah tabel perencanaan wawancara: 36

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian. Pada waktu peneliti melakukan observasi atau pengamatan tentang proses pembelajaran yang terjadi di kelas masih secara umum atau menyeluruh. Untuk dapat memahami secara lebih mendalam, diperlukan pemilihan fokus penelitian. Maka dari itu, peneliti menerapkan fokus penelitian pada penggunaan alat peraga ketika pembelajaran berlangsung. Dalam penelitian kualitatif, rumusan masalah masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk ke dalam lapangan. Pertanyaan penelitian kualitatif dirumuskan dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks dalam kaitannya dengan aspek-aspek lain. 4. Pelaksanaan (observasi, interview, dokumen). Pada tahap ini, peneliti terjun langsung ke dalam lapangan. Dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan wawancara dan observasi untuk mengumpulkan data. Wawancara dilakukan setelah penggunaan alat peraga berbasis Montessori. Wawancara ini ditujukan kepada 4 narasumber yaitu 1 guru kelas sekaligus guru matematika dan 3 orang siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori. Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur. Observasi atau pengamatan dilakukan selama pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori. Dalam melakukan wawancara dan observasi, peneliti menggunakan pedoman wawancara dan observasi yang telah dibuat. Pedoman ini digunakan agar tidak keluar dari fokus penelitian. Selama melakukan implementasi pada guru dan siswa, peneliti melakukan pencatatan terhadap hasil yang diperoleh dari pengambilan data. 5. Analisis. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan (Sugiyono, 2011: 333). Meskipun demikian, dalam penelitian kualitatif, analisis data lebih difokuskan selama proses di lapangan dan pengumpulan data. Setelah melakukan pencatatan, peneliti mengolah semua data hasil wawancara dan pengamatan dari narasumber penelitian agar mempermudah 39

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI peneliti atau pihak lain memeriksa data yang telah diambil dan agar data dapat tersusun dengan rapi. Setelah semua data terkumpul, peneliti melakukan analisis data yang telah diperoleh. Analisis dalam penelitian menerapkan coding untuk mendeskripsikan setting, narasumber, dan tema yang akan dianalisis. Peneliti membuat kode-kode untuk mendeskripsikan semua informasi yang dikumpulkan, lalu menganalisisnya. 6. Pengecekan keabsahan data. Untuk mengecek keabsahan data atau kepercayaan dalam data dalam penelitian kualitatif dapat melalui kredibilitas dan transferabilitas. Kredibilitas dalam penelitian kualitatif adalah upaya pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian dengan menerapkan prosedurprosedur tertentu (Creswell, 2007: 285). Sedangkan transferabilitas menunjukkan derajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi di mana sampel tersebut di ambil. 7. Temuan. Tujuan utama dari penelitian kualitatif adalah pada temuan. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas. 3.4 Teknik Pengumpulan Data Berdasarkan jenis penelitian kualitatif, peneliti menggunakan beberapa metode pengumpulan data, di antaranya adalah: 3.4.1 Wawancara Moleong (2006: 186) mengatakan bahwa wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Wawancara dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan langsung kepada narasumber. Peneliti melakukan wawancara sesuai dengan pedoman wawancara yang telah dibuat. Panduan 40

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI wawancara berisi petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara. Panduan ini dibuat agar wawancara lebih terfokus pada permasalahan. Dalam proses wawancara, pertanyaan berkembang sesuai dengan alur jawaban yang diberikan narasumber, karena peneliti menggunakan bentuk wawancara semi terstruktur. Ciri dari wawancara semi terstruktur (Koentjroro, 2010) adalah petanyaannya terbuka namun ada batasan tema dan alur pembicaraan. Hal itu berarti bahwa jawaban yang diberikan oleh Narasumber tidak dibatasi, sehingga narasumber bebas mengemukakan pendapat apa pun selama masih dalam konteks pembicaraan. Selain itu, dalam wawancara semi terstruktur bersifat fleksibel tetapi terkontrol. Pertayaan yang diajukan bersifat fleksibel tetapi masih ada kontrol dari peneliti yaitu tema wawancara. Selanjutnya peneliti dapat mengembangkan pertanyaannya sesuai dengan alur pembicaraan. Dalam wawancara semi terstruktur diperlukan pedoman wawancara yang dijadikan patokan atau kontrol dalam mengatur alur pembicaraan. Hasil dari wawancara tersebut akan dikumpulkan menjadi informasi yang akan digunakan sebagai bahan kajian penelitian. Wawancara dilakukan selama 2 kali yaitu wawancara sebelum penggunaan alat peraga berbasis Montessori dan wawancara setelah penggunaan alat peraga berbasis Montessori. Wawancara awal dilakukan terhadap 3 orang siswa dan 1 guru kelas. Untuk menentukan narasumber penelitian, peneliti melakukan hal-hal berikut: a. Menemui guru kelas untuk dimintai kesediaannya untuk diwawancara. b. Bertanya kepada guru kelas untuk menentukan tiga siswa yang akan dijadikan narasumber atau Narasumber penelitian. Penentuan siswa berdasarkan kriteria siswa yang mudah diajak berkomunikasi, siswa yang bisa diajak untuk berkerja sama dan siswa dengan perolehan nilai matematika yang berbeda. c. Mengadakan janji waktu dan tempat untuk melakukan wawancara. 41

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.4.2 Observasi Selain wawancara, peneliti juga menggunakan metode pengumpulan data yang berupa observasi atau pengamatan untuk mendapatkan jawaban yang lebih mendalam. Observasi atau pengamatan adalah kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut (Poerwandari, 1998). Hal ini berarti bahwa seorang peneliti memperhatikan dan mencatat tingkah laku dan aktivitas individual yang terlibat dalam penelitian dan rekaman observasi. Metode yang digunakan peneliti dalam melakukan observasi adalah dengan menggunakan anecdotal record. Anecdotal record adalah deskripsi atau catatan rekaman tentang episode-episode atau peristiwa-peristiwa yang berlangsung dalam situasi natural alias wajar atau natural (Supratiknya, 2012: 47). Dalam penulisan anecdotal record penulis menggunakan anecdotal record tematik, sehingga ada beberapa pedoman yang digunakan untuk mecatat hal-hal yang penting sesuai dengan tema. Dalam metode anecdotal record, observer mencatat dengan teliti dan merekam perilaku-perilaku yang dianggap penting dan bermakna yang sesuai dengan tema. Teknik penulisan yang digunakan oleh penulis adalah pencatatan naratif. Seperti yang diungapkan oleh Mehrens dan Lehman (1984) dalam Supratiknya, (2010: 47) catatan anekdot yang baik harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. Berupa deskripsi singkat peristiwa faktual. b. Catatan tidak mengandung inferensi atau kesimpulan, pendapat, atau penilaian dari pengamat. Hal ini berarti bahwa peneliti harus benar-benar menuliskan apa yang terjadi tanpa terpengaruh oleh narasumbertivitas pengamat. c. Catatan berisi rekaman tentang critical incident atau kejadian penting terkait si murid. d. Sesudah memperoleh data yang cukup memadai, pengamat boleh membuat kesimpulan tentang adanya pola perilaku narasumber yang menjadi sasaran pengamatan. 42

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pada penelitian ini observasi dibagi ke dalam 2 tahap yaitu observasi kegiatan pembelajaran sebelum menggunakan alat peraga berbasis metode Monetessori dan observasi kegiatan pembelajaran selama menggunakan alat peraga berbasis metode Monetessori. Observasi kegiatan pembelajaran sebelum menggunakan alat peraga berbasis Montessori dilakukan dua kali di kelas sebagai persiapan agar peneliti lebih mengenal kelas yang hendak diamati sekaligus mempermudah dalam penyusunan instrumen pengamatan. Sebelum melakukan observasi, peneliti terlebih dahulu membuat tabel perencanaan observasi untuk mempermudah dalam membuat pedoman observasi yang akan digunakan. Selanjutnya, peneliti membuat pedoman observasi yang akan digunakan untuk observasi guru (lihat Lampiran 3.4). Selain itu, peneliti juga membuat pedoman observasi untuk siswa (lihat Lampiran 3.12) yang selanjutnya dikembangkan menjadi lembar observasi untuk guru dan siswa. Observasi dilakukan kepada 4 narasumber yaitu satu guru kelas dan 3 orang siswa. Observasi selama penggunaan alat peraga berbasis Montessori dilakukan sebanyak 4 kali. Pada pertemuan pertama pembelajaran terfokus pada pengantar, di mana guru memberikan penjelasan mengenai alat peraga yang meliputi nama-nama dalam alat peraga itu, cara penggunaan alat peraga dan siswa mencoba pembagian bilangan 1 angka sampai habis. Pertemuan ke-2 pembelajaran terfokus mengenai pembagian bilangan dengan bilangan 1 dan pembagian bilangan dengan bilangan itu sendiri. Pertemuan ke-3 mengenai pembagian bilangan 2 angka dengan 1 angka tanpa menukar. Pertemuan ke-4 mengenai pembagian bilangan 2 angka dengan 1 angka dengan menukar. 3.4.3 Dokumentasi Dokumentasi berasal dari bahasa latin yaitu docere, yang berarti mengajar. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu (Sugiyanto, 2010: 326). Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa, 43

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan lain-lain. Dalam penelitian ini peneliti juga mengumpulkan data dengan menggunakan dokumen gambar yang berbentuk foto dan video. Dokumen foto digunakan untuk memberi bukti tentang proses kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori. Dokumen video digunakan untuk merekam segala proses kegiatan pembelajaran yang berlangsung ketika penggunaan alat peraga Montessori, dengan menggunakan video peneliti dapat melihat segala proses pembelajaran yang berlangsung dengan lebih detail atau rinci kapanpun peneliti mau. Menurut Sugiyono (2005: 83) studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode wawancara dan observasi dalam penelitian kualitatif. Bahkan kredibiltas hasil penelitian kualitatif ini akan semakin tinggi jika melibatkan dan menggunakan studi dokumen. 3.5 Instrumen Penelitian Arikunto (2010: 203) memaparkan bahwa instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya menjadi lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga mudah diolah. Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendri (Sugiyono, 2011: 305). Dalam penelitian ini instrumen penelitiannya adalah peneliti sendiri dengan menggunakan alat bantu yang berupa pedoman wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara digunakan untuk mengetahui pendapat guru dan siswa atas penggunaan alat peraga berbasis Montessori, sedangkan observasi digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik selama guru dan siswa menggunakan alat peraga berbasis Montessori dan dokumentasi digunakan untuk memberikan bukti atas kegiatan yang telah berlangsung. Selain itu observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh narasumber penelitian secara terbuka dalam wawancara. Dalam melakukan observasi peneliti menggunakan alat bantu berupa handycam, tape recorder dan kamera. Handycam digunakan untuk merekam kegiatan pembelajaran matematika selama menggunakan alat peraga berbasis Montessori. Peneliti menggunakan satu handycam dengan tujuan hasil yang 44

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diperoleh dari perekaman lebih detail. Sedangkan kamera digunakan peneliti untuk mengambil gambar atau poto selama kegiatan belajar berlangsung menggunakan alat peraga berbasis Montessori dan tape recorder digunakan sebagai alat bantu dalam merekam proses wawancara untuk guru dan siswa. Dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, peneliti harus “divalidasi” seberapa jauh peneliti siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan. Validasi terhadap peneliti sebagai instrumen mengenai kesiapan peneliti untuk memasuki objek penelitian, yang melakukan validasi adalah peneliti itu sendiri melalui evaluasi diri seberapa jauh kesiapan dan bekal memasuki lapangan. Sebelum peneliti memasuki lapangan untuk melakukan penelitian, peneliti pernah mendapatkan pengalaman dari berbagai hal, di antaranya yaitu pada semester 2 peneliti pernah mengajar pramuka di SD N Condong Catur 4 selama satu semester. Kegiatan pramuka diadakan seminggu sekali pada hari Sabtu selama 2 x 35 jam pelajaran. Pada semester 3 peneliti pernah melakukan bimbingan belajar (bimbel) untuk kelas atas di SD N Kembangjitengan yang beralamat di desa Kembangjitengan, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan bimbingan belajar diterapkan pada kelas VI. Kemudian pada semester 4 peneliti mengadakan bimbingan belajar (bimbel) kelas bawah di SD N Puren yang beralamat di Jalan Mpu Tantular, Depok, Sleman, Yogyakarta selama satu semester. Bimbel diadakan seminggu sekali pada hari Sabtu selama 2 x 35 jam pelajaran. Bimbel kelas bawah ini dilakukan pada siswa kelas II. Tujuan diadakannya bimbingan belajar untuk siswa kelas bawah dan atas ini untuk mendekatkan mahasiswa dengan siswasiswa SD dan memberikan pengalaman menyampaikan materi atau mengajar kepada siswa SD. Pada semester 5 peneliti mengikuti Program Pengakraban Lingkungan (Probaling) guru di SD N Tegalrejo II yang beralamat di Jalan Wiratama No. 27 Yogyakarta selama satu semester. Probaling guru ini diadakan seminggu sekali yaitu pada hari Sabtu selama satu hari penuh. Tujuan dari Probaling guru ini adalah agar mahasiswa mendapatkan pengalaman terkait dengan tugas dan kewajiban guru. 45

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Selain itu, supaya mahasiswa semakin dekat dengan siswa-siswi SD dan memahami karakteristik mereka. Kemudian pada semester 6, peneliti mengikuti Program Pengakraban Lingkungan (Probaling) Kepala Sekolah di SD N Kledokan yang beralamat di Jalan Garuni 3, Kledokan, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta selama satu semester. Probaling diadakan seminggu sekali yaitu pada hari Sabtu selama satu hari penuh. Tujuan diadakannya Probaling Kepala Sekolah adalah agar mahasiswa mengetahui tugas dan wewenang Kepala Sekolah, selain itu agar mahasiswa semakin dekat dengan lingkungan SD dan siswa-siswanya. Pada semester 8 mahasiswa mengikuti Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SD N Percobaan 3 Pakem yang beralamat di Jalan Kaliurang km 17. 5, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan PPL ini berlangsung hari Senin sampai dengan Sabtu pada hari kerja sekolah selama 12 (dua belas) minggu atau 3 bulan. Tujuan diadakannya PPL ini adalah memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk semakin memiliki kecakapan keguruan secara profesional. Berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, peneliti sudah familiar dengan lingkungan SD baik kepala sekolah, guruguru kelas, dan siswa. Berbagai kegiatan yang telah dilakukan tersebut memberikan sumbangan yang besar kepada peneliti, dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut menjadikan peneliti lebih mengetahui karakteristik lingkungan sekolah baik kepala sekolah, guru kelas, dan siswa-siswi. Selain itu, kegiatan tersebut membantu peneliti dalam memahami karaktersitik siswa Sekolah Dasar sehingga peneliti lebih familiar lagi dengan siswa, serta membantu peneliti dalam memahami bahasa yang digunakan siswa ketika berkomunikasi. Sebelum peneliti terjun langsung ke lapangan atau melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu berlatih melakukan observasi dengan mengamati sebuah video tertentu bersama dengan rekan-rekan satu payung. Kemudian hasil dari observasi tersebut dibahas secara bersama-sama. Tujuan berlatih observasi ini adalah untuk mengetahui cara-cara memandang perilaku dan mendeskripsikannya, sehingga ketika peneliti terjun ke lapangan sudah mengetahui detail apa saja yang harus 46

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diamati. Selain itu, peneliti juga membaca literatur tentang penelitian kualitatif baik buku, skripsi atau jurnal mengenai penelitian kualitatif untuk memberikan gambaran kepada peneliti tentang penelitian kualitatif. Peneliti juga membaca studi mengenai persepsi baik jurnal, skripsi atau literatur yang sudah ada. 3.6 Kredibilitas dan Transferabilitas 3.6.1 Kredibilitas Penelitian kualitatif perlu memiliki kredibilitas dan transferabilitas. Lincoln & Guba (dalam Poerwandari, 1998: 205 ) mengusulkan penggunaan istilah kredibilitas untuk mengganti konsep validitas. Validitas kualitatif atau kredibilitas merupakan upaya pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian dengan menerapkan prosedurprosedur tertentu (Creswell, 2007: 285). Kredibilitas penelitian kualitatif dapat dilihat dari keberhasilannya dalam mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks. Deskripsi mendalam yang menjelaskan mengenai aspek-aspek yang terkait menjadi salah satu tolok ukur kredibilitas penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatatif validitas atau kredibilitas dapat diartikan sebagai jujur, adil, seimbang, dan sesuai berdasarkan sudut pandang narasumber yang diteliti. Untuk dapat menilai keakuratan hasil penelitian seperti yang dijelaskan oleh Creswell (2007: 286) disebutkan adanya beberapa cara yang dapat dilakukan. Di antaranya, melalui triangulasi sumber data yaitu digunakannya variasi sumber data, triangulasi metode pengumpulan data, atau triangulasi peneliti. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi sumber data dengan cara membandingkan hasil wawancara dengan hasil pengamatan atau observasi. Peneliti menggunakan metode wawancara dan observasi dengan tujuan agar data yang diambil memiliki kredibilitas yang kuat. Untuk mendapatkan data yang lengkap dan mendalam, apa yang diucapkan narasumber ditranskrip sama persis. 47

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.6.2 Transferabilitas Transferabilitas mengindikasikan bahwa pendekatan yang digunakan peneliti konsisten jika diterapkan oleh peneliti-peneliti lain (dan) untuk proyek-proyek yang berbeda (Creswell, 2007: 285). Transferabilitas ini mengarah pada sejauh mana suatu penelitian yang dilakukan pada suatu kelompok tertentu dapat diaplikasikan pada kelompok lain, tetapi penelitian yang akan diaplikasikan atau ditransferkan pada kelompok lain harus relevan atau memiliki banyak kesamaan dengan setting di mana penelitian dilakukan. Penelitian ini dilakukan di SD N Percobaan 3 Pakem dengan lingkungan dan kondisi fisik sekolah yang baik, serta tempat pembelajarannya cukup luas. SD Negeri Percobaan 3 Pakem berada satu kawasan dengan TK Bina Kasih, SMP Negeri 1 Pakem dan rumah sakit Panti Nugroho, namun segala aktivitas pembelajaran tidak menggangu satu sama lain. Letak SD Negeri Percobaan 3 Pakem sangat setrategis karena terletak di pinggir jalan raya utama menuju Kaliurang. SD Negeri Percobaan 3 Pakem memiliki kelas yang berjumlah 12 yang berlantai 1 dan 2. Keadaan kelas dan tata ruangnya semakin membantu efektivitas pembelajaran karena mampu memenuhi kuota siswa yang cukup banyak. SD Negeri Percobaan 3 Pakem mempunyai 24 ruangan, 12 di antaranya ruang kelas 1 sampai kelas 6 (paralel A dan B) yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Ruang tersebut terbagi menjadi dua, yaitu 6 ruang di lantai 2 (atas) dan 6 ruang di lantai dasar (bawah). 3.7 Teknik Analisis Data Menganalisis data dalam penelitian kualitatif memerlukan kepekaan teoretis, karena dalam keseluruhan proses penelitian, peneliti sesungguhnya sedang mengupayakan pengembangan teori (Poerwandari, 1998: 164). Kepekaan teori yang dimaksud yaitu kualitas personal yang dimiliki oleh peneliti, yang mengindikasikan kesadaran tentang detail, uraian, dan kompleksitas makna dari data. Supratiknya, (2012, 113- 118) mengungkapkan bahwa ada tiga tahapan penting dalam pengolahan data kualitatif yaitu (1) tahap pengodean, (2) tahap analisis tematik, dan (3) tahap interpretasi. Secara garis besar kegiatan analisis data pada penelitian ini mengacu 48

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pada tahap analisis data menurut Supratiknya (2012, 113- 118) yang akan dijabarkan di bawah ini: 1. Tahap pengodean Sebelum melakukan pengodean peneliti mengolah data mentah yang diperoleh ketika pengumpulan data pada saat di lapangan yaitu data wawancara terhadap guru dan siswa, serta data observasi kegiatan pembelajaran. Setelah semua data dikumpulkan, selanjutnya adalah memasukkan data tersebut ke dalam kolom yang telah dibuat oleh peneliti. langkah selanjutnya adalah membubuhkan kode pada materi atau data yang telah dimasukkan ke dalam kolom. Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasi dan mensistematisasi data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang hendak dipelajari dalam penelitian ini. 2. Tahap analisis tematik Pada tahap ini yang dilakukan adalah open coding atau pengodean terbuka, yaitu menemukan kata kunci dalam data mentah yang berupa transkrip wawancara dan transkrip observasi (Supratiknya, 2012: 115). Kata kunci bisa muncul secara manifest atau secara laten. Kata kunci yang manifest adalah kata kunci yang secara eksplisit muncul dalam narasi, sedangkan kata kunci laten adalah kata kunci yang tidak muncul secara ekplisit, jadi peneliti harus memiliki kepekaan dan kejelian untuk menangkapnya (Supratiknya, 2012: 115). 3. Tahap interpretasi Inti kegiatan interpretasi adalah memahami data yang sudah diperas ke dalam kata-kata kunci secara lebih meluas atau lebih mendalam (Supratiknya, 2012: 117). Dalam langkah ini, peneliti dapat menarik makna dari hasil analisis data. Data yang telah dianalisis kemudian ditungkan ke dalam bentuk laporan. 49

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dibahas (1) pelaksanaan penelitian, (2) latar belakang narasumber, (3) hasil penelitian, dan (4) pembahasan. Seluruh verbatim wawancara dan transkrip observasi pada bab ini dapat dilihat pada lampiran 4.1 sampai 4. 14. 4.1 Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2013/2014, yaitu bulan Januari–Maret 2014. Berikut adalah tabel jadwal pengambilan data: Tabel 4.3 Jadwal pengambilan data wawancara Pelaksanaan Wawancara No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Narasumber Z (Guru) A (Siswa) B (Siswa) C (Siswa) Z (Guru) A (Siswa) B (Siswa) C (Siswa) Tanggal 2 Februari 2014 1 Februari 2014 1 Februari 2014 1 Februari 2014 Waktu 12. 40 – 12. 57 09. 34 – 09. 39 09. 34 – 09. 39 09. 29 – 09. 33 Tempat R. Kelas VI- B R. agama katolik R. agama katolik R. agama katolik Keterangan Wawancara sebelum penggunaan alat peraga berbasis Montessori 2 Maret 2014 3 Maret 2014 3 Maret 2014 3 Maret 2014 12. 40 – 13. 15 11. 48 – 11. 51 11. 39 – 11. 47 09. 38 – 09. 49 R. agama katolik R. agama katolik R. agama katolik R. agama katolik Wawancara setelah penggunaan alat peraga berbasis Montessori Tabel 4.4 Tabel pelaksanaan observasi Pelaksanaan Pengamatan (Observasi) No. 1. 2. 3. 4. Kegiatan Observasi pembelajaran secara umum Waktu Senin, 27 Januari 2014 Rabu, 29 Januari 2014 Tempat R. Kelas II- A R. Kelas II- A Keterangan Pertemuan ke- 1 Pertemuan ke- 2 Observasi ketika menggunakan alat Kamis, 6 Februari 2014 Senin, 10 Februari 2014 R. Kelas II- A R. Kelas II- A Pertemuan ke- 1 Pertemuan ke- 2 50

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. 6. peraga Rabu, 12 Februari 2014 Kamis, 13 Februari 2014 R. Kelas II- A R. Kelas II- A Pertemuan ke- 3 Pertemuan ke- 4 4.2 Latar Belakang Narasumber Latar belakang meliputi kondisi sosio-cultural kelas, untuk mengetahui kondisi sosio-cultural kelas, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berupa observasi. Tujuan peneliti melakukan observasi mengenai kondisi sosiocultural kelas adalah untuk mengetahui kondisi atau keadaan kelas yang digunakan ketika proses pembelajaran berlangsung. Untuk itu peneliti melakukan observasi selama dua kali, dilakukan selama dua kali mata pelajaran matematika agar peneliti benar-benar melihat bagaimana kondisi kelas atau keadaan kelas yang digunakan. Observasi dilakukan pada tanggal 27 Januari 2014 dan 29 Januari 2014. Dari hasil observasi yang peneliti lakukan, didapatkan hasil bahwa kondisi kelas atau keadaan kelas II-A yang digunakan sebagai tempat untuk belajar-mengajar dapat dikatakan bagus. Kriteria bagus di sini dilihat dari fasilitas dan gedung ruang kelas yang digunakan. Fasilitas yang disediakan sekolah terbilang lengkap. Hal ini dilihat peneliti dari adanya jumlah meja dan kursi yang tersedia, adanya papan absensi khusus untuk siswa, adanya papan dan tempat khusus untuk menampilkan karya siswa, adanya alat kebersihan seperti sapu dan kemoceng, serta adanya proyektor LCD untuk mendukung proses pembelajaran, tetapi dalam pembelajaran yang terjadi di kelas, peneliti menjumpai kalau guru tidak menggunakan LCD proyektor ketika mengajar. Guru hanya menggunakan media papan yang berupa papan tulis atau white board. Fasilitas yang ada di kelas ada 15 meja dan 30 kursi yang dapat digunakan untuk siswa. Di dekat pintu masuk ada meja dan kursi guru. Di sebelah meja guru ada almari yang digunakan guru untuk menyimpan buku dan alat-alat yang lainnya. Di pojok depan meja ada 1 meja khusus yang dapat digunakan untuk menaruh tempat minum siswa. Papan tulis yang ada di kelas berupa white board. Di sebelah papan tulis ada papan absensi dan papan pengumuman. Sedangkan di tembok sebelah belakang terdapat beberapa karya siswa yang dipajang, yaitu hasil mewarnai siswa, hasil menggambar siswa, dan beberapa karya mata pelajaran SBK yang 51

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diletakkan di papan khusus. Selain itu, kelas II- A juga sudah dilengkapi dengan LCD proyektor (O1, B 10 – B 17). Walaupun ada banyak fasilitas yang terdapat di kelas, tetapi hal ini berbanding terbalik dengan alat peraga. Di dalam kelas II-A hanya terdapat satu alat peraga yaitu papan paku yang diletakkan di dekat meja guru. Guru matematika pun mengungkapkan kalau alat peraga matematika yang ada di sekolah juga terbatas. Kebanyakan alat peraga yang tersedia di sekolah adalah alat peraga untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Kalaupun ada alat peraga untuk matematika, alat peraga tersebut digunakan untuk kelas atas. Jadi alat peraga yang tersedia untuk kelas bawah masih sedikit dan terbatas. Hanya ada papan paku yang diletakkan di dekat meja guru (O1, P, B 9). “Sebenarnya kalau sekolah itu ada cuman kadang-kadang kan belum lengkap ya” (W1, S4, B 118 – B 119). Dari pengamatan selama dua kali juga tidak didapati guru mengajar dengan menggunakan alat peraga. Guru lebih sering menggunakan white board ketika mengajar seperti ketika menjelaskan suatu materi disertai dengan contoh gambar. Maka guru akan menggunakan white board tersebut untuk menggambar. Hal ini berarti bahwa guru hanya menggunakan media white board ketika mengajar. Meskipun pernah diceritakan bahwa beliau pernah menggunakan alat peraga, namun setelah ditanya lebih lanjut narasumber mengaku jarang menggunakan alat peraga. Jarangnya narasumber menggunakan alat peraga karena terbatasnya alat peraga yang ada di sekolah dan jika beliau membuat sendiri beliau tidak bisa membuatnya. Setelah itu guru menulis di papan tulis beberapa soal tentang perkalian. Guru memberi contoh terlebih dahulu bagaimana cara menghitungnya dengan menggambar di papan tulis… (O1, S4, B 20 – B 23). Kemudian guru meminta siswa untuk menulis dan melengkapi tabel yang telah ditulis guru di papan tulis O2, S4, B 10 – B 11). “Kalau alat peraga itu kalau saya terus terang tidak sesering sekali” (W1, S4, B 154 – B 155). Ketika mengajar, guru seringkali memberikan motivasi kepada siswa. Motivasi diberikan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. 52

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dalam kasus siswa yang mengalami kesulitan belajar ini, alat peraga menjadi penting perannya dalam memotivasi agar siswa mau belajar. Selain itu motivasi yang diberikan guru berfungsi sebagai pengarah, artinya menggerakkan atau menjadikan siswa ke arah pencapaian tujuan yang diinginkan guru. Adanya motivasi dalam belajar menentukan arah perbuatan siswa, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya. “Ya kita memotivasi misalnya dengan berbagai macam alat peraga atau mungkin misalnya kita beri motivasi agar mereka mau belajar seperti itu ……” (W1, S4, B 6 – B 9). “…. anak-anak yang kurang termotivasi kan kita beri motivasi. Misalnya dengan apa ya, ketika dia berusaha kita beri dia apa, kita beri dia feedback ya selamat ya apa di depan teman-temannya biar teman-temannya juga melihat biar agak ada semangat gitu” (W1, S4, B 22 – B 28). “Besok pagi dia di sekolah mencongak jadi ada motivasi untuk belajar” (W1, S4, B 60 – B 64). “Bagaimana caranya kadang saya sendiri pake yang sederhana sekali karena kadang kita tidak bisa membuat ya tapi bagaimana caranya saya itu bisa memberikan motivasi ke anak biar mereka itu jelas, dong (paham) gitu pake segala cara walaupun dengan cara yang sederhana” (W1, S4, B 73 – B 78). Selain memberikan motivasi ketika mengajar, guru lebih sering menggunakan papan tulis. Papan tulis digunakan sebagai media untuk memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memahami konsep perkalian, dengan menggambar di papan tulis guru berharap siswa lebih mudah menangkap materi yang diajarkan. Ketika menulis di papan tulis, guru seringkali membelakangi siswa sehingga tidak mengetahui aktivitas siswa sebenarnya. Sewaktu guru menulis di papan tulis, seringkali siswa bermain atau mengobrol sendiri dengan temannya. Hal ini membuat suasana kelas menjadi tidak kondusif. Guru memberi contoh terlebih dahulu bagaimana cara menghitungnya dengan menggambar di papan tulis. Guru memberi soal 5 x 2 kemudian guru menggambar 2 pensil sebanyak 5 kali dan menjumlahkan semua pensil dalam 5 kotak tersebut (O1, S4, B 20 – B 23). 53

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kemudian guru meminta siswa untuk menulis dan melengkapi tabel yang telah ditulis guru di papan tulis (O2, S4, B 10 – B 11). Suasana belajar matematika di kelas dapat dikatakan tidak kondusif karena guru seringkali membiarkan siswa ramai dan tidak mengerjakan tugasnya. Hal ini membuat suasana kelas menjadi ramai dan suasana belajar mengajar menjadi kurang optimal. Ketika ada siswa yang ramai dan tidak mengerjakan tugasnya, guru tidak menegur sikap mereka. Harusnya ketika siswa menunjukkan sikap yang menghambat terwujudnya suasana kelas yang kondusif, guru dapat menegur siswa tersebut. Dengan menegur siswa yang ramai dan siswa yang membuat suasana kelas menjadi tidak kondusif, guru dapat mengembalikan suasana belajar mengajar yang optimal. Siswa disuruh mengerjakan, siswa yang duduk di bagian belakang tidak mengerjakan, mereka bermain sendiri dan mengobrol dengan teman sebelahnya (O1, S, B 30 – B 31). Tak jarang ada juga siswa yang berlari ke sana-sini dan ada siswa yang berteriak-teriak (O1, S, B 31 – B 32). Ketika pembelajaran matematika sedang berlangsung, guru seringkali memantau perkembangan siswa karena keberhasilan kegiatan belajar mengajar bukan sekedar ditentukan oleh kemampuan guru dalam menguasai bahan pelajaran tetapi juga dipengaruhi oleh kemampuannya dalam mengelola kelas. Keterampilan mengelola kelas merupakan kemampuan guru dalam mewujudkan dan mempertahankan suasana kelas yang optimal. Setelah guru menjelaskan mengenai materi pelajaran, guru seringkali bertanya kepada siswa, apakah siswa sudah paham tentang penjelasan guru. Sewaktu mengerjakan soal pun guru sering bertanya kesulitan yang dialami siswa. Ketika siswa mengerjakan, guru berkeliling kelas untuk melihat cara siswa mengerjakan dan bertanya kesulitan yang dialami (O1, S4, B 28 – B 30). Guru berkeliling kelas melihat pekerjaan siswa dan bertanya kesulitan yang dialami siswa (O2, S4, B 16 - B 17). 54

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dari hasil observasi yang telah dilakukan yaitu dua kali masuk kelas selama pembelajaran matematika dan wawancara terhadap guru, didapatkan hasil bahwa guru lebih sering menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan. Metode ceramah adalah penyajian pelajaran oleh guru dengan cara memberikan penjelasan secara lisan kepada siswa. Tujuan metode ceramah adalah menyampaikan bahan ajar yang bersifat informasi (konsep, pengertian, prinsip). Padahal daya tahan siswa untuk mendengarkan ceramah sangat terbatas. Jika hal ini menjadi kebiasaan guru, akan terbentuk kebiasaan perilaku yang tidak menguntungkan bagi perkembangan anak, seperti kurang responsif dan sulit mengajukan pendapat. Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam proses belajar mengajar melalui interaksi dua arah yaitu dari guru ke siswa atau dari siswa ke guru untuk memperoleh jawaban yang pasti mengenai suatu materi secara lisan. Metode tanya jawab dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa terhadap konsep pembelajaran. Sedangkan metode penugasan adalah cara interaksi belajar mengajar dengan adanya tugas dari guru untuk dikerjakan siswa. Tujuan dari metode penugasan adalah untuk merangsang anak agar aktif belajar. Ketika mencocokkan PR guru menggunakan metode tanya jawab, guru bertanya dari jawaban nomor pertama sampai nomor terakhir kepada siswa (O2, S4, B 5 – B 6). Sebelum siswa membuat tabel, guru menjelaskan kepada siswa terlebih dahulu bagaimana cara mengisi tabel tersebut (O2, S4, B 11 – B 12). Guru menjelaskan kalau tugas selanjutnya adalah tanya jawab kepada teman sebangku… (O2, S, B 23 – B 26). Interaksi yang terjalin antara siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru cukup baik. Interaksi siswa dengan siswa ditunjukkan dengan kompaknya ketika mereka sedang melakukan tanya jawab mengenai materi pelajaran. Ketika mereka saling bertanya jawab, mereka bekerja sama dengan baik dan kompak. … Menjelaskan kalau tugas selanjutnya adalah tanya jawab kepada teman sebangku. Jadi dalam satu meja duduk 2 orang siswa, salah satu siswa memberi pertanyaan dan siswa yang satunya menjawab… (O2, S, B 23 – B 26). 55

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.3 Hasil Penelitian Hasil penelitian ini dibedakan menjadi dua bagian, yang pertama adalah hasil penelitian sebelum penggunaan alat peraga berbasis Montessori dan yang kedua adalah hasil penelitian ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori. 4.3.1 Sebelum penggunaan alat peraga berbasis Montessori Pada bagian ini dijabarkan ke dalam tiga bagian yaitu: (1) pandangan narasumber terhadap alat peraga secara umum, (2) kefamiliaran narasumber terhadap alat peraga, dan (3) pengalaman narasumber menggunakan alat peraga. 4.3.1.1 Pandangan narasumber terhadap alat peraga Pada poin pertama yaitu tentang pandangan narasumber terhadap alat peraga. Guru mengungkapkan bahwa alat peraga sangat penting bagi siswa karena dapat memudahkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Jika siswa mudah dalam memahami materi pelajaran, siswa pasti akan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu alat peraga juga dapat menumbuhkan sikap semangat dalam belajar karena ketika pembelajaran berlangsung siswa tidak malas-malasan atau sekedar mendengarkan ceramah dari guru tetapi juga dapat mencoba atau menggunakannya secara langsung. Guru menggunakan alat peraga dengan tujuan untuk memberikan contoh yang nyata kepada anak sehingga membantu dalam memahami materi yang diajarkan. Apalagi untuk anak kelas bawah alat peraga akan sangat membantu dalam memberikan gambaran yang konkret atau nyata kepada anak. “Ya mungkin dengan kita beri contoh yang nyata, mungkin dengan peragaan misalnya kalau perkalian sampai kadang kita pake karet yang namanya himpunan itu seperti apa di samping gambar-gambar kita juga mungkin ada materi dari buku, kemudian juga pake batu misalnya kerikilkerikil itu juga bisa biar dia paham. Kalau enggak sampai, saya itu punya siswa itu yang sampai pake lidi itu lho yang dicoret-coret” (W1, S4, B 48 – B 55). “Sebenarnya kalau alat peraga itu sangat bagus ya karena untuk anak-anak sekarang ini yang kelas bawah itu terutama mereka harus melihat sesuatu 56

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yang nyata jadi betul-betul owh seperti itu ya, misalnya seperti itu” (W1, S4, B 137 – B 140). “Kalau anak-anak sebenarnya dia semangat ya kita baru membawa belum menyampaikan itu mereka sudah kruyuk-kruyuk (mengelilingi) ” (W1, S4, B 191 – B 193). Guru juga mengungkapkan bahwa alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena dengan alat peraga memberikan contoh yang nyata kepada siswa. Berbeda ketika guru hanya menerangkan dengan metode ceramah. Ketika ceramah siswa hanya menerima begitu saja apa yang dikatakan guru. Ketika menggunakan alat peraga, siswa dapat mengkonstruk atau membangun pemahaman anak secara mandiri. Ketika anak melakukan sendiri atau praktek, hal tersebut akan membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna sehingga akan masuk ke dalam Long Therm Memory (LTM) daripada hanya dengan ceramah terus-terusan. “Sepertinya ya ada peningkatan, artinya mungkin dari kita menerangkan secara biasa lewat buku lewat kita memberikan materi seperti itu dengan mereka melihat sendiri. Owh cara menghitungnya seperti itu, owh seperti itu, owh seperti itu. Insyaallah juga lebih paham” (W1, S4, B 228 – B 231). Narasumber yang lainnya yaitu siswa juga mendukung pernyataan guru bahwa dengan alat peraga memudahkan siswa dalam memahami materi. Selain itu menurut siswa alat peraga bisa digunakan untuk bermain jadi pembelajaran tidak membosankan. Belajar sambil bermain tentu akan menyenangkan untuk anak, apalagi untuk siswa kelas bawah karena dengan belajar sambil bermain membuat anak menjadi lebih aktif sehingga anak tidak mudah bosan. “Lebih mudah memahami. Soalnya jadi lebih mudah gitu, membantu” (W1, S1, B 47 – B 50). “Senang soalnya sambil bermain” (W1, S2, B49). Pendapat siswa tentang manfaat alat peraga bermacam-macam, jika ada siswa yang berpendapat bahwa alat peraga dapat mempermudah dalam pemahaman materi, ada juga siswa yang beranggapan kalau alat peraga tidak ada gunanya atau tidak memberikan kontribusi apa-apa kepada siswa. Siswa beranggapan bahwa mau menggunakan alat peraga atau tidak ketika pembelajaran itu sama saja, karena tidak memberikan sumbangan apa-apa kepada siswa. Hal ini berarti bahwa alat peraga tidak mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. 57

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Biasa. Ada alat peraga ya gitu, gak ada alat peraga ya gitu. Biasa aja” (W1, S3, B50 – B 51). 4.3.1.2 Kefamiliaran narasumber terhadap alat peraga Poin selanjutnya adalah kefamiliaran narasumber terhadap alat peraga. Kefamiliaran di sini terkait dengan sejauh mana narasumber akrab atau terbiasa menggunakan alat peraga. Ketika pertama kali ditanya mengenai arti alat peraga ada siswa yang tahu maksud dari alat peraga, tetapi juga ada siswa yang tidak tahu apa yang disebut dengan alat peraga. Siswa yang tahu menyebutkan bahwa alat peraga adalah alat yang dapat membantu saat mengerjakan tugas. “Alat yang membantu kita saat mengerjakan tugas” (W1, S2, B 33). “Alat yang bisa membantu” (W1, S3, B 38). Guru mengungkapkan bahwa beliau jarang menggunakan alat peraga karena keterbatasan alat peraga yang ada di sekolah. Selain itu beliau juga merasa enggan kalau meminjam alat peraga milik sekolah. Guru juga menyatakan bahwa kalau mengajar matematika itu langsung ke pemberian materi, jadi mulanya guru memberi penjelasan atau ceramah tentang suatu materi, selanjutnya siswa diberi tugas untuk mengerjakan soal yang berhubungan dengan materi tersebut. Jadi pembelajaran hanya dengan ceramah selanjutnya siswa langsung diberi soal, sehingga guru belum banyak menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. “Kalau alat peraga itu kalau saya terus terang tidak sesering sekali” (W1, S4, B 154 – B 155). “Sebenarnya kalau sekolah itu ada cuman kadang-kadang kan belum lengkap ya. Seperti kemarin pak X ngendiko, aduh di sana bu. Cuma kadang-kadang saya sendiri kalau suruh nyari-nyari kan juga ini ya, kadang gak enak sendiri gitu lho” (W1, S4, B 118 – B 122). “Kalau Matematika itu kan sepertinya kita mengajar langsung ke pemberian materi jadi kalau alat peraga banyak yang belum begitu menggunakan” (W1, S4, B 210 – B 213). Walaupun jarang dan enggan menggunakan alat peraga milik sekolah, hal ini tidak membuat guru berhenti sampai di situ. Ketika mengajar guru pernah menggunakan alat peraga yang sederhana dengan tujuan memudahkan siswa dalam 58

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memahami materi. Sederhana di sini berarti bahwa guru menggunakan alat peraga yang ada di dekat siswa, bukan sesuatu yang harus dibuat tetapi dengan memanfaatkan barang-barang yang sudah ada. Yang terpenting adalah dapat membantu guru dalam menyampaikan materi, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. “Bagaimana caranya kadang saya sendiri pake (menggunakan) yang sederhana sekali karena kadang kita tidak bisa membuat ya tapi bagaimana caranya saya itu bisa memberikan motivasi ke anak biar mereka itu jelas, dong (paham) gitu pake segala cara walaupun dengan cara yang sederhana” (W1, S4, B 73 – B 78). “Kita ada pensil, ada penghapus yang bisa dipake (digunakan)” (W1, S4, B 99 – B 100). Hal ini didukung oleh pernyataan siswa yang mengungkapkan telah menggunakan alat peraga yang ada di kelas. Alat peraga yang digunakan sesuai dengan materi pembelajaran. Siswa mengungkapkan pernah menggunakan kancing baju dan lidi. Alat atau media yang digunakan adalah barang yang ada di lingkungan kelas, lingkungan sekolah, dan dipersiapkan oleh guru atau siswa membawa sendiri dari rumah. “Mudahnya kadang-kadang guru mengajari cara memakai barang yang kita pakai. Nanti ada benda, terus kalau perkalian kita menghitungnya pake (menggunakan) benda itu” (W1, S2, B 9- B 12). “Spidol. Pensil sama kertas” (W1, S1, B 36 – B 37). “Contohnya memakai kelereng waktu menghitung tambah-tambahan (penjumlahan), pengurangan, dan perkalian” (W1, S2, B 38 – B 39). “Bawa karet gitu buat nghitung kotak yang ada paku-pakunya. Pake pensil, bolpoin apa biting (lidi) gitu” (W1, S3, B 43 – B 45). Guru berpendapat sebaiknya alat peraga itu yang sederhana, bukan sesuatu yang mahal. Yang terpenting alat peraga dapat memberikan manfaat untuk siswa. Bermanfaat di sini adalah dapat digunakan sesuai dengan fungsi serta tujuannya dan yang dekat dengan siswa. Bahan yang digunakan dalam alat peraga juga yang dekat dengan siswa, sehingga siswa tidak merasa asing. Selain itu juga dapat memanfaatkan apa yang bisa dimanfaatkan, jadi dapat menghemat pengeluaran biaya pembuatan alat peraga. “Kalau kita sih yang sederhana-sederhana” (W1, S4, B 168 – B 169). “Kalau buat guru itu alat peraga bisa dibuat yang sederhana-sederhana 59

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI saja, dari bahan yang mudah didapat misalnya seperti itu. Tidak harus mahal tapi kan kita intinya untuk menjelaskan biar anak itu paham. Jadi apa yang bisa kita manfaatkan ya kita manfaatkan” (W1, S4, B 172 – B 177). Lain hal dengan guru, siswa menginginkan alat peraga yang menarik. Menarik menurut siswa dapat dilihat dari bentuk dan warnanya. Bentuk yang dianggap menarik adalah bentuk yang lucu misalnya kalau menggunakan kelereng, kelerengnya bisa ditempeli stiker. Sedangkan warna yang digunakan dalam alat peraga harusnya warna yang cerah dan mencolok. Dengan bentuk yang lucu dan warna yang cerah sesuai dengan keinginan siswa diharapkan akan menarik minat dan perhatian siswa, sehingga memberikan pengalaman belajar yang berbeda untuk belajar. “Bagus, warnanya cerah. Ya bentuknya lucu-lucu gitu” (W1, S1, B 58 – B 60). “Alat peraga yang menarik itu warnanya cerah, bentuknya juga lucu-lucu. Contohnya kayak kelereng itu nanti ditempeli stiker” (W1, S2, B 62- B 66). “Bentuknya lucu, warnanya cerah” (W1, S3, B60). 4.3.1.3 Pengalaman narasumber menggunakan alat peraga Poin terakhir terkait dengan pengalaman narasumber terhadap penggunaan alat peraga sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori. Pengalaman yang didapat guru dan siswa dapat berbeda-beda, sesuai dengan manfaat dan kesulitan yang dialami narasumber. Pengalaman belajar di sini adalah yang awalnya siswa tidak tahu menjadi tahu, yang awalnya siswa hanya mendengarkan ceramah kemudian mendapatkan kesempatan untuk mencoba alat peraga. Guru berpendapat bahwa alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar siswa, karena alat peraga memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat siswa untuk belajar. Hal ini akan diikuti dengan peningkatan hasil belajar siswa. Selain itu alat peraga dapat menumbuhkan sikap antusias dan semangat karena siswa tertarik untuk menggunakan alat peraga tesebut. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran juga untuk menghindari verbalisme (mengetahui kata-kata yang disampaikan guru tetapi tidak memahami arti atau maknanya). Ketika 60

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menggunakan alat peraga dapat membantu meletakkan dasar-dasar yang konkret dari konsep yang abstrak sesuai dengan tahap perkembangan operasonal konkret di mana anak mampu mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis ketika melihat objek tertentu atau melakukan aktivitas yang nyata. “Sebenarnya kalau alat peraga itu sangat bagus ya karena untuk anak-anak sekarang ini yang kelas bawah itu terutama mereka harus melihat sesuatu yang nyata” (W1, S4, B 137 – B 140). “Sepertinya ya ada peningkatan, artinya mungkin dari kita menerangkan secara biasa lewat buku lewat kita memberikan materi seperti itu dengan mereka melihat sendiri” (W1, S4, B 228 – B 231). “Kalau anak-anak sebenarnya dia semangat ya kita baru membawa belum menyampaikan itu mereka sudah kruyuk-kruyuk (mengelilingi)” (W1, S4, B 191 – B 193). Bagi siswa, alat peraga dapat menciptakan situasi belajar yang tidak dapat dilupakan karena siswa ikut berperan aktif dalam pembelajaran sehingga menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Selain itu alat peraga juga memberikan kemudahan kepada siswa untuk lebih memahami konsep pembelajaran. Ketika menjumpai soal yang sulit siswa merasa terbantu dengan adanya alat peraga karena alat peraga dapat digunakan untuk membantu menghitung soal. Ketika siswa belum begitu lancar dalam menghitung suatu soal, alat peraga juga turut membantu dalam menghitung karena alat peraga dapat membimbing siswa untuk menghitung sesuai dengan cara dalam alat peraga tersebut. Siswa juga mengungkapkan bahwa alat peraga dapat digunakan untuk bermain. Belajar sambil bermain adalah metode belajar yang efektif, melalui metode ini siswa jadi lebih kreatif dan aktif. Mereka jadi lebih senang mengikuti pelajaran serta tidak mudah bosan. “Senang, bisa ngasih tahu jawabannya. Gak usah susah-susah ngitung” (W1, S3, B54 – B55).” “Senang soalnya sambil bermain” W1, S2, B49). “Tergantung, kalau soalnya gampang langsung tapi kalau soalnya sulit pake alat peraga” W1, S2, B 51 – B 52). “Lebih mudah memahami. Soalnya jadi lebih mudah gitu, membantu. Senang” (W1, S1, B 47 – B 50). “Bisa menggunakan secara bergiliran” (W1, S1, 52). 61

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Kalau mengerjakan soal itu jadi lebih cepat. Ya lebih mudah kan ngitung pakek alat peraga” (W1, S1, B 53 - B 54). 4.3.2 Setelah penggunaan alat peraga berbasis Montessori 4.3.2.1 Pengalaman Narasumber Poin pertama yang dibahas adalah mengenai pengalaman yang didapat narasumber ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori. Ketika pertama kali melihat alat peraga, siswa merasa penasaran, tertarik, dan ingin tahu bagaimana cara menggunakan alat peraga tersebut. Hal ini sesuai dengan definisi Montessori bahwa alat peraga dirancang secara sederhana namun terlihat menarik. Rasa ingin tahu yang dimiliki siswa akan membuat pikiran siswa menjadi lebih aktif. Siswa yang pikirannya aktif akan belajar dengan baik dengan membangun pengetahuannya. Rasa ingin tahu akan membuat anak merasa tertantang dan menarik siswa untuk mempelajarinya lebih dalam. Hal ini berarti bahwa ketika siswa penasaran, tertarik dan ingin tahu mengenai alat peraga akan membuat siswa berusaha mencari tahu atau mencari jawaban atas rasa penasarannya. “Ingin mencoba. Ingin tahu caranya makai (menggunakannya)” (W2, S1, B 1 – B 3). “Agak kebingungan cara memakainya. Terus tertarik, kalau cuma dijelasin terus kan bosen tapi kalau pake (menggunakan) alat peraga kan alat peraganya bisa ganti-ganti” (W2, S2, B 1- B 4). “Bisa. Ya aku bisa pake (menggunakan) alat peraga itu, terus penasaran. Pengen nyobain (mencoba)” (W2, S3, B 5 – B 8). Peneliti juga bertanya bagaimana sikap siswa ketika melihat alat peraga tersebut untuk pertama kalinya. Sikap siswa ketika pertama kali melihat alat peraga berbeda-beda. Ada yang menanyakan cara penggunaannya kepada guru. Dengan bertanya kepada guru tentang cara penggunaannya berarti siswa tersebut berusaha mencari jawaban atas rasa ingin tahunya. Ada juga siswa yang langsung ingin mencobanya karena penasaran. Narasumber merasa penasaran karena baru pertama kali melihat alat peraga tersebut, dan rasa ingin tahu yang dimilikinya membuat narasumber terdorong untuk mencari tahu jawabannya. Akan tetapi, ada siswa yang pernah melihat alat peraga seperti itu ketika TK. Meskipun demikian ketika di TK, 62

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI alat peraganya digunakan untuk penjumlahan dan pengurangan. Sedangkan alat peraga yang sekarang digunakan untuk pembagian bilangan dua angka. “Menanyakan cara penggunaannya. Kepada guru yang ada di kelas itu” (W2, S2, B 5 – B 7). “Pernah, di TK juga ada kayak gitu” (W2, S2, B 11). “Kepengen gitu, penasaran. Kepengen nyoba (mencoba)” (W2, S3, B 9 – B 11). “Seneng. Karena baru pertama kali nyoba (mencoba)” (W2, S1, B 4 – B 6). Data ini didukung oleh observasi yang dilakukan oleh peneliti. Ketika guru menjelaskan alat peraganya, narasumber tertarik dan ingin tahu tentang alat peraganya. Hal ini muncul ketika guru menjelaskan nama-nama yang ada dalam alat peraga, narasumber duduk di bangku bagian belakang sehingga alat peraga tidak begitu terlihat oleh narasumber. Ketika narasumber tidak bisa melihat dengan jelas alat peraganya, dia langsung berkata kalau alat peraganya tidak terlihat dari belakang. A berkata “gak kelihatan bu” (O3, S1, B 21). Pengalaman yang didapat anak dari alat peraga tersebut bermacam-macam. Hal ini tergantung dengan pengalaman yang sudah dimiliki narasumber. Guru berpendapat bahwa alat tersebut dapat digunakan untuk menyampaikan materi pembagian dan dapat mengenalkan konsep pembagian ke siswa. Alat juga dapat digunakan untuk bermain. Apalagi ketika siswa bermain dengan alat peraga tersebut, siswa tidak sadar kalau mereka juga belajar sesuatu yang serius. Pada kenyataannya bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan. Bagi anak, bermain tidak hanya sekedar mengisi waktu tapi merupakan kebutuhan. Bermain merupakan pengalaman dan proses kegiatan belajar yang mampu membawa kematangan individu. Dengan bermain, anak akan memperoleh pengalaman yang dapat menambah dan mengembangkan pengetahuan dalam belajarnya. Dengan menggunakan alat peraga, untuk bermain anak memperoleh rasa senang, anak berlatih menggunakan seluruh inderanya, anak aktif melakukan kegiatan, anak bekerja sama dan interaksi, belajar berkomunikasi dan belajar memecahkan masalah. “Tapi ternyata mereka cenderung seperti bermain. Kemarin pas awalnya itu kan dia selesai praktik ada yang telah menyelesaikan tugas itu kan dia malah main-main, malah bikin menara, yang kaya balok balok itu loh, lego seperti itu” (W2, S4, B 16 – B 20). 63

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Kalau alat peraga itu kan sebenarnya untuk mempermudah, kan tujuannya untuk mempermudah ya, biar anak itu tahu gimana gitu lho, …….” (W2, S4, B 69 – B 77). “Juga bisa belajar sesuatu yang serius” (W2, S4, B 6 – B 7). 4.3.2.2 Perasaan Narasumber Guru merasa senang ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori, karena guru dapat mengenalkan sesuatu yang baru kepada siswa. Mengenalkan sesuatu yang baru di sini berarti guru memunculkan sesuatu yang baru yang belum pernah digunakan oleh siswa maupun guru. Proses kegiatan belajar mengajar yang berlangsung hanya menggunakan alat sederhana yang ada di dekat siswa. Apalagi ketika mengenalkan alat peraga tersebut, tanggapan siswa sangat baik, ditunjukkan dengan sikap antusias dan semangat untuk mencoba alat tersebut. “Rasanya senang ya, karena ada alat baru yang bisa mengenalkan ke siswa” (W2, S4, B 1 – B 2). “Anak-anak senang gitu, anak-anak antusias dengan kegiatan seperti itu, kemarin juga kan anak-anaknya sampai rame banget pengen mencoba dan sebagainya” (W2, S4, B 3 – B 6). “Rasanya senang ya, artinya ada alat peraga yang baru yang belum pernah kita pakek dan itu kita munculkan” (W2, S4, B 85 – B 86). Sedangkan untuk siswa, siswa merasa senang ketika belajar pembagian dengan alat peraga tersebut karena dapat menggunakan alat yang baru dan dengan alat tersebut dapat membantu siswa untuk menghitung soal-soal pembagian. Ketika guru baru pertama kali membawa alat peraga tersebut ke dalam kelas siswa langsung maju untuk melihat alat tersebut lebih jelas. Hal ini berarti bahwa siswa sangat penasaran dengan alat peraga yang baru. Akan tetapi pada pertemuan ketiga narasumber merasa bosan menggunakan alat tersebut, karena sejak pertemuan pertama satu alat peraga untuk 5 anak sehingga anak bosan jika terus menunggu giliran untuk menggunakan alat peraga. Hal ini berarti bahwa jika ketersediaan alat peraga terbatas sementara siswa yang mau menggunakan banyak akan menjadikan 64

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI siswa menjadi malas jika terus menunggu giliran ketika mau menggunakan alat peraga tersebut. “Seneng. Karena baru pertama kali nyoba” (W2, S1, B 4 – B 6). “Senang, kan bisa ngitung pake (menghitung menggunakan) alat itu” (W2, S2, B 14). “Suka aja, senang” (W2, S3, B 12). “Senang, gembira karena bisa pake alat yang baru” (W2, S2, B 46). A berkata “dari kemarin kok pakai alat itu terus to bu, kan bosen” (O5, S1, B 8 – B 9). Guru mengatakan bahwa alat peraga Montessori memberikan kesan tersendiri bagi siswa, karena alat peraga menjadikan proses belajar mengajar menjadi lebih bermakna. Sebelumnya siswa hanya menggunakan barang yang ada di dekat siswa menjadi menggunakan barang baru yang belum pernah dilihat siswa. Alat peraga juga membuat siswa antusias dan semangat dalam mengikuti pembelajaran, karena sebelumnya siswa hanya mendengarkan ceramah. Siswa menjadi ikut berperan aktif dengan menggunakan sesuatu yang baru sehingga ketika diberi kesempatan untuk praktek di depan kelas dengan menggunakan alat tersebut siswa saling berebut untuk mencoba terlebih dahulu. “… Anak-anak senang gitu, anak-anak antusias dengan kegiatan seperti itu, kemarin juga kan anak-ankanya sampai rame banget pengen mencoba dan sebagainya” (W2, S4, B 3 – B 6). “Karena ini barang yang baru itu kesannya anak-anak tertarik ya karena barang yang baru apalagi barang ini juga membuat anak-anak antusias, pingin tau” (W2, S4, B8 – B 10). “Antusias anak-anak juga kelihatan ya” (W2, S4, B 87). “Anak-anak juga semangat” (W2, S4, B 88). “Begitu langsung praktek satu-satu mereka kan pengen nyoba ke depan, walaupun di belakang sudah diberi kesempatan” (W2, S4, B 115 – B 116). “Tapi dengan seperti itu kan dia pengen tahunya kan kayaknya lebih banyak ya, cenderung presentasenya itu anak yang aktif, bisa membuat anak penasaran, pengen tahu, apa sih” (W2, S4, B 126 – B 129). 4.3.2.3 Kendala yang dialami narasumber Ketika guru memperkenalkan alat peraga, guru berkata bahwa beliau tidak percaya diri karena lupa dengan nama-nama dalam alat peraga. Setelah ditanya lebih lanjut, ternyata satu hari sebelum alat peraga dikenalkan ke siswa, guru baru diberi penjelasan dan diminta untuk mencoba alat peraganya, jadi beliau merasa dalam satu 65

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI hari tidak cukup untuk memahami nama dalam alat peraga beserta cara penggunaan alat peraga tersebut. “Kemarin kan saya juga sempat agak grogi ya, harus pembaginya yang mana terus yang dibagi yang mana itu kan kadang-kadang keliru, padahal kan kita juga lupa sendiri to, yang untuk membagi namanya apa itu kan kita sempat grogi” (W2, S4, B 28 – B 32). “Padahal kan sama sama bingung ya, iki piye le nganggo (ini bagaimana cara menggunakannya)” (W2, S4, B 33 – B 34). “Pas awal kan saya juga belum dong banget” (W2, S4, B 48 – B 49). “Cuma sedikit bingung sama cara penggunaannya, le natar belum betulbetul latihan ya, intensitasnya masih kurang banyak, sekarang ditatar terus besok dipakek” (W2, S4, B 89 – B 91). Hal ini didukung pada saat kegiatan observasi berlangsung, guru bertanya kepada peneliti tentang bagaimana menggunakan alat tersebut. Guru lupa dengan cara penggunaan alat tersebut, sehingga beliau meminta bantuan orang lain. Hal ini berarti bahwa guru mengalami kendala pada waktu menggunakan alat tersebut saat mengajar. Guru bertanya kepada peneliti, “kalau menghitung 40 : 2 itu sebenarnya menggunakan yang balok satuan apa puluhan ya mbak? (O4, S4, B 38 – B 40). Selain itu guru menganggap alat peraga terkesan mahal dari bentuknya. Guru seringkali bertanya kepada peneliti tentang seberapa mahal alat peraga tersebut. Mahalnya alat peraga menjadikan guru sungkan dan tidak percaya diri pada saat menggunakan alat tersebut karena sebelum-sebelumnya guru hanya menggunakan alat peraga sederhana yang ada di lingkungan sekitar dan sekarang guru menggunakan alat peraga baru yang terkesan mahal untuk guru. Hal ini akan berpengaruh terhadap intensi guru dalam menggunakan alat peraga. Jika awalnya guru sudah merasa sungkan, maka akan berpengaruh untuk selanjutnya. “Alatnya jelas mahal ya?” (W2, S4, B3). ”Ya memang betul kalau alat peraga kalau gak buat sendiri kan emang mahal. Kan mahal ya itu mbak belinya” (W2, S4, B 50 – B 52) 66

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Kalau ini kan emang agak mahal gitu tapi ya kreatif juga, bagus” (W2, S4, B 56 – B 57). “Kalau saya sendiri kan mungkin kurang mengena ya. Tapi setelah mbaknya turun terjun membantu itu sepertinya tidak masalah. (W2, S4, B 63 – B 65). “Tapi ada anak yang tidak mau mencoba karena mungkin takut tidak bisa” (W2, S4, B 116 – B 117). “Kalau bentuknya itu sebenarnya terkesan mahal ya sebenarnya. Soalnya kalau dilihat sekilas itu tu, kayaknya bentuknya apa sih? Kan kalau dengan bentuk seperti itu kalau orang awam yang gak tau itu kayak bingkisan yang mahal ya? Kan kalau seperti itu seperti bukan alat peraga? Kok kayak hadiah, kan terus pengen tahu, kan terus dibukak ya itu ya?” (W2, S4, B 172 – B 178). “Kalau awal saya melihat itu kesannya mahal ya mbak? Kayu pun kayaknya kayu mahal to itu? Terus dipernis ya kan? Jadi malah tambah kesannya ini tu mahal? Tapi saya gak tahu itu mahal apa enggak satunya seperti itu? Mahal tidak ya?” (W2, S4, B 180 – B 184). Ketika pertama kali menggunakan alat peraga tersebut, siswa mengalami kesulitan karena belum terbiasa. Hal ini wajar saja karena baru pertama kali melihat dan menggunakannya. Tetapi jika proses pembelajaran dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori dilakukan berkali-kali dalam rentang waktu yang lama dan waktu yang berdekatan akan membuat siswa terbiasa. Sehingga pasti tidak akan membuat siswa kesulitan. Hal lain yang membuat siswa mengalami kesulitan adalah belum pahamnya dengan penjelasan guru tentang cara penggunaan alat peraga. Saat guru menjelaskan di depan kelas, siswa beranggapan bahwa guru terlalu cepat dalam menjelaskan, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam menerima penjelasan tersebut. “Kalau pertama kali sulit. Belum tahu caranya. Soalnya bu Z kalau jelasin cepat gitu” (W2, S1, B 8 – B 11). “Pertamanya susah, setelah itu mudah. Kan belum biasa pake alat itu” (W2, S1, B 55 – B 57). “Pertamanya sih gak dong (paham) tapi terus dong. Bu guru jelasinnya kecepeten” (W2, S1, B 58 – B 60). 67

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Agak dong (paham). Lha bu guru jelasinnya cepet-cepet kok” (W2, S3, B 33 – B 35). Selain hambatan dari guru, ada siswa yang mengalami hambatan dari kelompok belajar di dalam kelas. Peneliti menjadikan semua narasumber duduk dalam satu kelompok dengan tujuan agar peneliti bisa fokus atau memudahkan peneliti pada saat kegiatan observasi berlangsung tetapi ternyata hal tersebut membuat siswa menjadi tidak nyaman. Pada awalnya narasumber C tidak masalah duduk dalam satu kelompok bersama A dan B, tapi setelah beberapa pertemuan narasumber tidak mau duduk dalam satu kelompok lagi. Ketika akhirnya narasumber mau duduk dalam satu kelompok (dengan bujukan guru), narasumber seringkali berjalan-jalan atau menganggu teman yang berada di kelompok lain. Dampak dari hal tersebut juga menjadikan narasumber C jarang memakai alat peraga. Alat lebih sering dipakai oleh A atau ketika C mempunyai kesempatan untuk mencoba, dia menggunakan alat peraga tersebut terakhir kali. Hal ini membuat narasumber C tidak suka atau malas ketika mengikuti pembelajaran. Narasumber C berkeinginan untuk selalu mencoba alat peraga pertama kali. “Kebanyakan dipakai oleh A alat peraganya. Kadang-kadang, kan gantian. Giliran gitu” (W2, S2, B 34 – B 36). “Kebanyakan dipakai oleh C. Kalau dia udah tapi temennya belum nyoba, nanti dia nyoba lagi. Kadang aku, kadang C” (W2, S1, B 21 – B 26). “Kan saya gak mau deket itu. Aku maunya di dekat tempat asliku. Iya. Mau” (W2, S3, B 15 - B 21). “A sering makek, aku belum. Padahal A udah 2 kali tapi aku belum. Terus aku nyobainnya terakhir sendiri” (W2, S3, B 40 – B 42). Hal ini juga didukung dari observasi yang dilakukan oleh peneliti. Ketika peneliti melakukan observasi pada pertemuan ketiga, narasumber C tidak mau duduk dalam satu kelompok bersama A dan B. C hanya mau satu kelompok dengan teman dekatnya, untuk mengatasi hal tersebut guru mendekati dan meminta agar C mau duduk satu kelompok dengan A dan B. Pada pertemuan terakhir atau keempat 68

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI narasumber juga perlu dibujuk oleh guru agar mau duduk satu kelompok bersama A dan B. Ketika akhirnya narasumber mau dijadikan satu kelompok, narasumber seringkali berjalan atau pindah temapt duduk dengan kelompok teman dekatnya. C diminta untuk satu kelompok dengan A dan B dia menjawab “aku sini aja bu, aku gak mau pindah. Dari kemarin kok sama kelompok itu terus” (O5, S3, B 7 – B 8). Tapi C tidak mau untuk pindah kelompok, hal ini terlihat dengan dia tidak mau disuruh pindah dan tetap mau duduk disebelah temannya (O6, S3, B2 – B 3). Ketika pembelajaran matematika, guru selalu mengadakan kegiatan mencongak terlebih dulu. Kegiatan mencongak disesuaikan dengan materi pelajaran pada hari itu. Hasil atau nilai mencongak dapat menjadi acuan untuk mengetahui kemajuan keterampilan berhitung siswa mengnenai materi tersebut. Ketika diadakan mencongak, siswa terlihat antusias untuk menjawab pertanyaan dari guru. Mereka saling berebut untuk menjawab terlebih dahulu. Kegiatan mencongak dilakukan secara lisan. Dalam hal ini, guru juga membiasakan siswa untuk berani mengungkapkan pendapat dan percaya diri. Walaupun jawaban siswa salah tidak masalah, yang terpenting adalah siswa sudah berani untuk menjawab. Sebelum memulai ke arah materi pembagian, guru mengadakan mencongak terlebih dahulu. Materi mencongak mengenai perkalian. Guru bertanya 9 x 5 (O3, S4, B 8 – B 9). Kegiatan diawali dengan mencongak tentang perkalian dan pembagian. Guru meminta salah satu siswa untuk menjawab soal yang diberikan tapi semua siswa ikut menjawab (O4, S4, B 5 – B 8). Guru memulai pembelajaran pada hari itu dengan tanya jawab (mencongak) mengenai materi pembagian (O6, S4, B 6 – B 6). Kendala yang dialami oleh guru dan siswa juga karena keterbatasan waktu ketika siswa mau mencoba alat peraga tersebut di depan kelas. Guru memberikan kesempata kepada siswa untuk mencoba menggunakan alat peraga di depan kelas. Ketika disuruh untuk menjawab soal dengan menggunakan alat peraga di depan kelas, siswa terlihat sangat antusias. Hal ini terlihat dari masing-masing kelompok berebut untuk mencobanya terlebih dahulu. Tetapi karena jam pelajaran matematika 69

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dalam sehari hanya 2 x 35 hal ini membuat siswa atau kelompok yang ingin maju untuk mencoba terbatas. Dalam satu mata pelajaran matematika hanya atau 3 kelompok yang bisa maju di depan kelas. Padahal ada 8 kelompok yang ada di kelas. Ketika guru meminta siswa untuk maju di depan kelas, hal ini berarti bahwa guru memberikan kesempatan kepada anak untuk ikut berperan secara aktif dalam pembelajaran. Jadi guru tidak memonopoli waktunya untuk menjelaskan dengan ceramah saja tetapi juga mengajak siswa untuk ikut serta dalam pembelajaran. “Yang namanya anak itu kalau dilihat rata-rata mereka bisa ya, cuman memang keterbatasan waktu untuk mecoba maju di depan” (W2, S4, B 113 – B 114). Warna yang digunakan dalam alat peraga juga termasuk ke dalam kendala atau hambatan yang dialami siswa. Warna yang terdapat dalam alat peraga berbasis Montessori pada pembelajaran pembagian dua angka ini kebanyakan berwarna coklat atau warna gelap khususnya pada papan pembagian dan pada kotak penyimpanan baloknya, sehingga membuat siswa kurang menyukai warna yang ada dalam papan pembagian alat peraganya. Narasumber menginginkan warna yang cerah pada alat peraganya seperti warna kuning. “Lumayan suka. Soalnya masih kurang cerah. Kuning. Cerah” (W2, S1, B 45 – B 48). “Gak suka, soalnya tempatnya warnanya serba coklat. Kan warnanya bisa diganti sama warna yang gak gelap, aku kalau warna gelap gak suka, harusnya warna cerah” (W2, S2, B 53 – B 55). Kendala yang lain adalah bergantungnya hasil belajar pada pemahaman cara penggunaan alat peraga. Jika siswa paham dengan cara penggunaan alat peraga maka siswa akan mendapatkan hasil yang baik. Tetapi jika siswa tidak paham dengan cara penggunaan alat peraga maka siswa akan mengalami kesulitan untuk menghitung, sehingga siswa akan mendapatkan hasil yang kurang baik atau kurang memuaskan. Tetapi jika siswa sudah menguasai konsep pembagian maka akan membuat siswa mudah ketika mengerjakan soal dan tidak bergantung pada alat peraga berbasis Montessori ini. “Kalau yang alat peraga itu kan sepertinya anak yang memang betul-betul memahami bisa cara menggunakanya dan cara menghitungnya, tapi kalau 70

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI buat anak yang kurang memahami cara penggunaannya, pertamanya dia pasti akan agak kesulitan” (W2, S4, B 58 – B 62). Kendala terakhir yang terjadi ketika proses pembelajaran adalah jumlah alat peraga yang tersedia. Alat peraga yang tersedia dalam satu kelas hanya 8, sedangkan siswa berjumlah 29 sehingga alat peraga tidak mencukupi untuk semua siswa. Hal ini membuat siswa menunggu giliran untuk menggunakan alat peraga tersebut atau ketika siswa tidak sabar ketika menunggu gilirannnya ini akan membuat siswa saling berebut untuk mencoba alat peraga tersebut. “Sampai ketika penjenengan ndawuhi (anda menyuruh) mencoba di depan, kan semuanya pengan maju ke depan, sampai mereka rebutan” (W2, S4, B 130 – B 132). Hal ini juga didukung oleh observasi yang dilakukan peneliti, ketika observasi berlangsung peneliti melihat narasumber sering berebut ketika mau menggunakan alat peraga, untuk memecahkan hal tersebut mereka memutuskan untuk suit terlebih dahulu sebelum menggunakan alat tersebut. Siswa yang menang saat suit adalah siswa yang berhak untuk menggunakan alat peraga pertama kali. Namun ada salah satu narasumber yang tidak mau diajak suit, dia takut kalah karena narasumber tetap berkeinginan untuk menggunakan alat peraga pertama kali. B, dan C berebut untuk mencoba pertama kali (O3, S2, S3, B 77). B mengajak hompipa tapi C tidak mau. C terlihat sudah memegang papan pembagiannya. (O3,S3, B 78 – B 79). A dan B saling adu cepat untuk mengambil kartu soal (O6, S, B 29 – B 30). 4.3.2.4 Manfaat yang diperoleh narasumber Alat peraga Montessori memiliki 5 karakteristik utama yaitu auto education, auto correction, menarik, bergradasi dan kontekstual. Karakteristik yang pertama adalah auto education. Auto education terkait dengan kemandirian siswa ketika proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan alat peraga. Siswa menganggap bahwa dengan alat peraga berbasis Montessori dapat membantu ketika mengerjakan soal dan memahami konsep pembagian. Siswa dapat membangun sedikit-sedikit pengetahuan yang dimilikinya dengan pengalaman yang didapat ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori sehingga nanti dapat menjadi konsep baru yang ditemukan sendiri oleh siswa. Selain itu alat peraga juga 71

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI membantu ketika mengerjakan soal. Ketika siswa menjumpai soal yang sulit, maka siswa akan menggunakan alat peraga tersebut untuk membantu menghitung. Sebaliknya juga, ketika siswa menjumpai soal yang dianggap mudah maka siswa tidak menggunakan alat peraga Montessori tersebut. Ketika menghitung suatu soal dengan menggunakan alat peraga, siswa merasa lebih cepat dalam menghitungnya dibandingkan dengan cara lain. Jadi siswa merasa terbantu dengan adanya alat peraga ketika mengerjakan soal. “Membantu. Waktu menghitung soal-soal pembagian gitu” (W2, S1, B 28 – B 30). “Kalau soalnya mudah ya gak pake alat itu, tapi kalau soalnya susah pake alat itu” (W2, S2, B 21 – B 22). “Kalau ada alat itu ya aku akan memakainya, kan menghitungnya lebih cepet pakai itu. Kalau pake itu bisa praktek langsung tapi kalau di oretoret lama. Jadi bisa lebih cepet nghitungnya” (W2, S2, B 39 – B 42). “Membantu. Membantu nghitung (menghitung)” (W2, S3, B 55 – B 58). Selain alat peraga membantu siswa dalam memahami konsep pembagian, alat peraga juga menjadikan siswa mandiri dalam belajar. Mandiri yang di maksud di sini adalah saat belajar siswa melakukan kegiatan belajar yang didasari oleh niatnya untuk menguasai materi tertentu. Mandiri juga dapat berarti siswa menggunakan alat peraga sendiri tanpa disuruh oleh guru atau tanpa didampingi oleh guru, dengan seperti itu alat peraga membuat siswa mempunyai rasa tanggung jawab. Jadi siswa bisa belajar secara mandiri tanpa dibimbing secara terus-menerus oleh guru. Ketika siswa belajar berdasarkan motivasinya sendiri untuk menguasai suatu materi pembelajaran, hal tersebut dapat digunakannya untuk memecahkan suatu masalah yang ada. “Membantu. Waktu menghitung soal-soal pembagian gitu” (W2, S1, B 28 – B 30). “Keinginan sendiri” (W2, S1, B 53). Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan guru. Beliau mengatakan bahwa alat peraga membuat siswa mandiri dalam mengerjakan soal. Siswa bisa mengerjakan soal yang diberikan guru tanpa didampingi oleh guru atau orang lain. Ketika siswa paham dengan cara penggunaan alat peraga berarti siswa dapat mengerjakan sendiri soal yang diberikan tanpa perlu pendamping. Tetapi kalau siswa belum paham 72

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengenai cara penggunaan alat peraga berarti siswa harus didampingi lagi agar dapat menggunakan alat peraga dengan benar dan menemukan hasil yang tepat. “Kalau kemandirian siswa itu mereka bisa mengerjakan sendiri ya, tanpa didampingi itu kan mereka tetap bisa mengerjakan sendiri seperti itu” (W2, S4, B 160 – B 164). Ketika peneliti melakukan observasi, peneliti juga melihat bahwa narasumber mandiri saat mengambil dan mengembalikan alat peraga. Narasumber langsung mengambil alat peraga yang diletakkan di depan kelas ketika siswa diminta menghitung dengan menggunakan alat peraga. Jadi siswa tidak menyuruh guru atau peneliti untuk mengambilkan alat peraganya. Ketika siswa mengambil sendiri alat peraganya di depan kelas, hal ini berarti bahwa siswa mau menggunakan alat tersebut ketika pembelajaran. Ketika sudah selesai menggunakan alat peraganya, siswa mengembalikan sendiri alat peraga tersebut ke tempat di mana ia mengambil alatnya. A mengambil alat peraga yang diletakkan di depan kelas. (O4, S1, B 21). Setelah mencoba A dan C merapikan alat peraga yang digunakan. C dan teman-temannya menata baloknya di kotak penyimpanan, A mengembalikan papan pembaginya (O4, S1, S3, B 54 – B 55). Menurut guru, alat peraga bermanfaat dalam membantu pemahaman siswa mengenai pembagian sehingga menjadikan guru lebih mudah menjelaskan konsep pembagian kepada siswa. Dengan menggunakan alat peraga ketika memperkenalkan konsep pembagian menjadikan siswa melihat sesuatu secara konkret atau nyata. Berbeda ketika guru hanya menggunakan metode ceramah. Ketika guru menggunakan metode ceramah, hal tersebut masih membuat siswa, belum begitu jelas atau paham dengan konsep pembelajaran. Tetapi ketika menggunakan alat peraga memberikan gambaran atau contoh yang nyata tentang konsep pembagian. Waktu yang digunakan guru untuk ceramah pun dapat lebih singkat, ceramah hanya digunakan guru untuk memberikan penguatan atas konsep yang sudah terbentuk oleh siswa. Jika siswa dapat membangun sendiri konsep pembelajarannya maka pembelajaran akan lebih bermakna untuk siswa. “Ya biasanya membantu, paling tidak kan ada anak yang tadinya tidak tau, dengan dia langsung praktik tau, tapi ya sama-sama harus mendukung.” (W2, S4, B 24- B29). 73

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Itu kan dibuat itu kan sebenarnya digunakan untuk membantu to, em untuk keberhasilan pembelajaran itu dibantu alat peraga yang modelnya seperti itu” (W2, S4, B 52 – B 55). “Kalau alat peraga itu kan sebenarnya untuk mempermudah, kan tujuannya untuk mempermudah ya, biar anak itu tahu gimana gitu lho, owh caranya seperti itu ya, nanti setelah tanpa alat pun nanti mereka tahu pemahamannya karena kadang-kadang kan konsep yang kita buat kan sebenarnya maksudnya sama …” (W2, S4, B 69 – B 77). “Ya kalau pemahaman kan pakek alatnya bisa, kita kan mempermudah biar mereka kan tahu konsepnya” (W2, S4, B 83 – B 84). “Kalau 15 dibagi 3 owh iya caranya seperti itu, maka dia lebih memahami dengan dibantu alat itu” (W2, S4, B 99 – B 100). Selain itu, dengan adanya alat peraga membantu siswa ketika mengerjakan soal yang sulit. Ketika siswa menjumpai soal yang sulit, maka siswa akan mengerjakan soal tersebut dengan bantuan alat peraga, tetapi jika soal dianggap mudah maka siswa tidak menggunakan alat peraga tersebut. Sehingga dengan menggunakan alat peraga dapat menjadikan siswa lebih cepat dalam menemukan hasilnya dibanding dengan cara lain. “Membantu. Waktu menghitung soal-soal pembagian gitu” (W2, S1, B 28 – B 30). “Jadi lebih mudah ngerjain soal pake alat itu. Pake alat itu dulu baru dijawab” (W2, S1, B 33 – 34). “Jadi lebih mudah dalam menghitung pembagian dan perkalian” (W2, S1, B 39 – B 40). “Kalau soalnya mudah ya gak pake alat itu, tapi kalau soalnya susah pake alat itu” (W2, S2, B 21 – B 22). “Kalau ada alat itu ya aku akan memakainya, kan menghitungnya lebih cepet pakai itu. Kalau pake itu bisa praktek langsung tapi kalau di oretoret lama. Jadi bisa lebih cepet nghitungnya” (W2, S2, B 39 – B 42). “Membantu. Membantu nghitung” (W2, S3, B 55 – B 58). “Kadang-kadang pake alat itu, kadang-kadang gak pake. Ada yang mudah, ada yang sulit (soalnya). Kalau soalnya sulit aku mau pake tapi kalau soalnya mudah, aku gak mau pake” (W2, S3, B 88 – B 92). Poin yang kedua adalah mengenai manfaat alat peraga terkait dengan auto correction. Alat peraga yang baik adalah alat peraga yang mempunyai pengendali kesalahan atau auto correction. Tujuan adanya pengendali kesalahan ini adalah untuk membantu anak mengoreksi sendiri kekeliruan yang dibuat tanpa perlu diberi tahu oleh orang lain. Pengendali kesalahan pada alat peraga ini ada beberapa macam, 74

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diantaranya adalah angka yang tertulis pada balok, lubang pada papan pembagian, kunci jawaban pada sebalik kartu, dan jumlah pion. Siswa berpendapat bahwa alat peraga membantu siswa menemukan kesalahannya ketika mengerjakan soal. Pengendali kesalahan yang ditemukan oleh narasumber adalah ketika narasumber menghitung soal, tetapi jawaban yang ditemukan tidak sama dengan jawaban yang tertera pada sebalik kartu soal. Maka siswa menjadi tahu bahwa dia salah dalam menghitung. Ketika siswa salah dalam menghitung maka siswa akan mengulangi menghitung lagi dengan alat peraga tersebut tetapi dengan lebih teliti dan cermat lagi agar dapat menemukan hasil yang sesuai pada sebalik kartu. Selain itu ketika tidak menemukan jawabannya, maka siswa menyadari kalau salah dalam meletakkan baloknya karena alat peraga ini bergantung pada cara penggunaannya. Jika salah dalam meletakkan balok, maka tidak bisa menemukan hasilnya. Alat peraga juga melatih keterampilan motorik siswa. “Buat aku jadi tahu kesalahanku. Kan kalau naruhnya salah jawabannya juga salah” (W2, S1, B 66 – B 67). “Nanti kalau naruh baloknya itu salah kan jadi salah semua” (W2, S2, B 28 – B 29). “Membantu aku, waktu aku salah naruh kotaknya itu. Iya. Kan gak ketemu hasilnya” (W2, S3, B 93 – B 98). Poin ketiga adalah mengenai manfaat alat peraga terkait dengan daya tariknya. Setiap alat dan media pembelajaran Montessori harus memiliki nilai keindahan baik dari segi warna yang menarik maupun kecerahannya. Selain memiliki daya tarik dari warna, alat peraga harusnya menarik dari segi bentuk dan ukurannya. Sehingga siswa maupun guru memegang, merasakan, dan tertarik untuk menyentuh, meraba, mempergunakannya untuk belajar. Siswa mengemukakan kalau suka dengan warna dalam alat peraga karena lembut. “Suka. Karena agak muda agak tua” (W2, S3, B 74 – B 75). Selain dari segi warna, siswa juga tertarik dengan bentuk dan ukuran yang ada dalam alat peraga. Menurut siswa, bentuk dan ukurannya sudah pas dan sesuai untuk siswa. Bentuk dan ukuran alat peraga haruslah seimbang dengan fisik siswa, tidak boleh terlalu kecil atau terlalu besar. Sehingga alat peraga akan menarik minat siswa. 75

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Gakpapa (tidak apa-apa), udah pas. Gak kurang besar dan gak kurang kecil” (W2, S1, B 41 – B 41). “Suka. Udah pas aja” (W2, S1, B 43 – B 44). Guru berpendapat bahwa perpaduan warna yang digunakan alat peraga sudah sesuai untuk siswa, kombinasi warna yang digunakan sudah bagus dan dapat menarik minat siswa sesuai dengan karakteristik anak yang suka dengan warnawarna yang menarik seperti warna merah dan biru yang digunakan. Selain itu, bentuk alat peraga sudah bagus walaupun terkesan mahal. Ukuran yang digunakan alat peraga pun sudah sesuai untuk anak. “Kalau warnanya sih ya menarik juga. Biru sama merah, itu yang kotak kecil pembaginya itu, apa sih namanya, lali aku (lupa aku). Lhah yang pionnya itu kan merah. Terus ada yang biru itu kan sudah menarik juga. Kan yang namanya ada merahnya itu kan terus orang, anak kan jadi tertarik dengan warna-warna yang cerah, yang ngejreng (mencolok). Ya bagus kok sama warna birunya juga, ya pas milih (memilih) warnanya” (W2, S4, B 197 – B 204). “Kalau saya rasa untuk bentuk-bentuk ininya sih gak masalah, itu sudah bagus, itu cuman terkesan mahal karna kotak-kotaknya itu lho yang besar itu lho, kalau dalamnya emang kecil-kecil tapi tetap itu bagus sekali” (W2, S4, B 187 – B 190). Selain itu, alat peraga juga mampu membuat guru lain penasaran. Guru lain bertanya pada guru matematika tentang alat peraga yang digunakan dalam mengajar. Hal ini berarti bahwa guru lain tertarik dengan alat peraga Montessori. “Kan pada ditanya itu tu opo (apa) to mbak?” (W2, S4, B 46 – B 47). Poin terakhir adalah mengenai manfaat alat peraga terkait dengan kontekstual. Kontesktual bukanlah sesuatu yang wajib ada dan dimiliki oleh alat peraga berbasis Montessori, namun hanya upaya yang dilakukan untuk memanfaatkan bahan-bahan yang sesuai dengan konteks lokal daerah di mana sekolah Montessori didirikan, sehingga dapat menekan biaya operasional pembuatan alat peraga. Ketika dilakukan wawancara, siswa mengetahui bahan yang digunakan dalam alat peraga. Siswa juga sering melihat bahan yang digunakan untuk membuat alat peraga di lingkungan sekitarnya, seperti di rumah atau di sekolah. Jadi bahan yang digunakan siswa dekat dengan kehidupan sehari-hari oleh siswa. Bahan yang sering dilihat atau dekat 76

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dengan siswa dan guru, kemudian dibuat sesuatu yang baru yang belum pernah dilihat oleh siswa maupun guru. “Kayu. Sering. Di rumah” (W2, S1, B 82 – B 85). “Tahu, kayu dan cat. Sering, kan di rumah banyak pohon” (W2, S3, B 99 – B 101). “Tahu, terbuat dari kayu. Sering. Di rumah” (W2, S2, B 80– B 83). 4.3.3 Pesepsi narasumber mengenai alat peraga Montessori Persepsi guru mengenai alat peraga Montessori dapat dikatakan bagus. Hal ini dapat dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seperti perasaan, sikap, perhatian, dan pengalaman dalam menggunakan alat peraga. Guru merasa senang ketika menggunakan alat peraga karena memberikan pengalaman yang baru kepada guru dalam memperkenalkan alat peraga. Sikap guru juga sangat terbuka ketika menggunakan alat peraga. Beliau tidak sungkan untuk bertanya apabila belum paham mengani nama alat peraga atau pun cara penggunaan alat peraga. Bagi beliau yang terpenting adalah siswa dapat memahami konsep pembagian dengan lebih jelas atau konkret melalui alat peraga yang digunakan. Guru juga memberikan perhatian yang lebih kepada alat peraga. Hal ini dungkapkan guru dengan memberikan saran agar pelatihan sebelum penggunaan alat peraga atau ketika mengenalkan alat peraga kepada guru lebih intens lagi atau diperbanyak lagi waktunya. Melihat kenyataan seperti itu berarti bahwa guru mau meluangkan waktu untuk belajar sesuatu yang baru. Guru menerima perubahan baru yang ada, kalau sebelumnya guru hanya menggunakan alat peraga yang sederhana maka sekarang guru mau menggunakan alat peraga Montessori, sesuatu yang baru bagi guru. Dengan seperti itu, pikiran guru selalu terbuka untuk memajukan dirinya dan memajukan orang lain. Selain itu, guru juga meminta agar sekolah ditinggali atau diberi alat peraganya dengan tujuan dapat digunakan oleh siswa lain di lain kesempatan. Hal ini berarti bahwa guru mau menggunakan alat peraga tersebut di lain kesempatan. Selain itu guru juga berharap siswa yang lain mendapatkan kesempatan yang sama untuk mencoba alat yang baru. “Gimana kalau sekolah ditinggalin satu seperti itu kalau bisa” (W2, S4, B 37 – B 38). “Nah besok kan kalau misalnya boleh alat peraganya nyuwun satu atau gimana gitu” (W2, S4, B 41 – B 42). “Karna kan juga buat belajar anak-anak yang lain juga bisa” (W2, S4, B 44). 77

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Guru juga beranggapan bahwa yang menciptakan alat peraga adalah orang yang kreatif karena bisa membuat sesuatu yang baru. Sehingga dengan barang baru diharapkan dapat menarik minat orang yang melihatnya. Hal ini juga dirasakan oleh anak. Ketika melihat alat peraga untuk pertama kalinya, siswa menunjukkan sikap penasaran dan rasa ingin tahunya terhadap alat peraga tersebut. Hal ini ditunjukkannya dengan bertanya kepada guru tentang kegunaan alat peraga tersebut. Apalagi dengan alat peraga itu mampu membuat siswa merasa senang, tertarik, antusias dan semangat untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. “Ohh seperti itu to pinter (pandai) juga ya menciptakan itu, kreatif gitu lho” (W2, W4, B 58 – B 60). Namun guru juga beranggapan bahwa awal cara penggunaan alat peraga agak susah, tetapi lama kelamaan setelah guru belajar beliau dapat menggunakan alat peraga tersebut dengan benar. Guru hanya perlu waktu untuk belajar sesuatu yang baru. Ketika guru mengajar guru dengan alat peraga Montessori, guru juga sempat merasa canggung karena beliau lupa dengan nama yang ada dalam alat peraga. Tetapi kesusahan yang sempat dialami guru ketika pertama kali menggunakan alat tersebut terbayar ketika melihat sikap siswa yang antusias dalam menggunakan alat peraga. “Kalau cara penggunaannya namanya setelah kita belajar ya namanya mudah” (W2, S4, B 35 – B 36). “Tapi anak-anak senang gitu, anak-anak antusias dengan kegiatan seperti itu, kemarin juga kan anak-anaknya sampai rame banget pengen mencoba dan sebagainya” (W2, S4, B 3 – B 6). “Antusias anak-anak juga kelihatan ya” (W2, S4, B 87). “Anak-anak juga semangat” (W2, S4, B 88). “Kemarin kan saya juga sempat agak grogi ya, harus pembaginya yang mana terus yang dibagi yang mana itu kan kadang-kadang keliru, padahal kan kita juga lupa sendiri to, yang untuk membagi namanya apa itu kan kita sempat grogi” (W2, S4, B 28 – B Persepsi siswa tentang alat peraga juga bagus. Siswa mempunyai keinginan untuk mencoba alat tersebut di luar jam pelajaran matematika. Siswa mau menggunakan alat peraga tersebut ketika jam istirahat. Siswa beranggapan bahwa alat peraga dapat digunakan untuk belajar sekaligus menghafal tentang perkalian dan 78

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pembagian. Walaupun alat telah membantu siswa dalam memahami konsep pembagian, tetapi siswa tidak lantas malas atau tidak mau lagi untuk menggunakan alat peraga. Siswa justru mau menggunakan alat tersebut di luar jam pelajaran matematika. “Mau. Kalau istirahat. Ya kan bisa buat belajar” (W2, S1, B 58 – B 62). “Pas istirahat kan bisa belajar pake alat itu. Sambil kita belajar sambil kita ngapalin pembagiannya sama perkalian” (W2, S2, B 66 – B 68). Sementara itu, ada siswa yang beranggapan berbeda tentang alat peraga tersebut, dia menganggap tidak perlu menggunakan alat tersebut di lain kesmpatan karena telah paham mengenai konsep pembagian. Jadi ketika siswa belum paham tentang alat peraga tersebut narasumber mau menggunakan alat peraga untuk memudahkannya dalam memahami konsep atau membantu dalam menghitung, tetapi ketika narasumber sudah paham dengan konsepnya maka siswa tidak membutuhkan alat peraga tersebut. “Enggak. Karena kan aku sudah dong, jadi buat apa lagi pake alat itu kalau sudah dong” (W2, S3, B 82 – B 83). 4.4 Pembahasan Menurut Triyanto (2009: 17) pembelajaran merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang guru dalam mengarahkan interaksi siswa ke dalam sumber belajar untuk mencapai tujuan tertentu. Usaha yang dilakukan oleh seorang guru dapat meliputi berbagai hal, salah satunya adalah dengan metode atau media yang digunakan dalam menyampaikan materi ajar. Guru kelas II- A sekaligus guru matematika di SD N Percobaan 3 Pakem jarang menggunakan alat peraga ketika proses belajar mengajar, apalagi alat peraga berbasis Montessori. Guru belum pernah menggunakan alat peraga berbasis Montessori dalam mata pelajaran matematika ataupun mata pelajaran yang lain. Selama ini guru menggunakan alat peraga dengan memanfaatkan apa yang ada di dekat siswa dan yang sederhana seperti pensil, pewarna, karet gelang atau lidi. Hal ini dikarenakan guru terkendala oleh waktu kalau mau membuat alat peraga sendiri. 79

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dari hasil wawancara, guru mengungkapkan bahwa alat peraga yang ada di kelas masih terbatas, berbeda dengan alat peraga IPA yang ada di sekolah. Di SD N Percobaan 3 Pakem, kebanyakan alat peraga yang ada adalah alat peraga untuk mata pelajaran IPA sedangkan untuk mata pelajaran matematika masih terbatas. Walaupun telah dijelaskan bahwa sekolah juga menyediakan alat peraga untuk mata pelajaran matematika yang dapat digunakan oleh guru, namun guru merasa enggan kalau disuruh mencari sendiri alat peraga tersebut. Guru sendiri senang ketika menggunakan alat peraga karena dapat memberikan sesuatu yang nyata kepada siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan tujuan penggunaan alat peraga yaitu alat peraga digunakan apabila alat tersebut dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk lebih memahami konsep, prinsip, sikap, dan keterampilan tertentu dengan menggunakan media yang paling tepat menurut karakteristik bahan (Sumantri, 2001:153). Apalagi ketika menggunakan alat peraga, siswa sangat antusias. Belum menyampaikan materi pembelajaran dengan alat peraganya saja siswa sudah semangat dengan mendekati guru dan bertanya tentang alat peraga. Hal ini dikarenakan alat peraga dapat memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga lebih merangsang minat peserta didik untuk belajar (Sumantri, 2001:153). Pada awal pembelajaran guru sering kali mengadakan kegiatan mencongak. Guru berpendapat bahwa dengan mencongak bagus untuk hafalan siswa. Sehingga ketika siswa sudah belajar di rumah, guru dapat mengecek hafalan siswa tersebut dengan mencongak. Kegiatan mencongak disesuaikan dengan materi pelajaran pada hari itu. Mencongak adalah metode menghitung di luar kepala dengan ingatan saja kemudian siswa dapat menjawab secara lisan atau tertulis. Waktu yang digunakan untuk menjawab pun singkat. Hasil yang diharapkan dengan mencongak adalah siswa akan lebih mudah mengingat dan lebih cepat dalam menghitung matematika, tidak sekedar ingat dan hafal tetapi dapat melekat yang sangat rekat di pikiran siswa karena terbiasa. Hasil atau nilai 80

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mencongak dapat menjadi acuan untuk mengetahui kemajuan keterampilan berhitung siswa. Ketika diadakan mencongak, siswa terlihat antusias untuk menjawab pertanyaan dari guru. Mereka saling berebut untuk menjawab terlebih dahulu. Bahkan ketika dilakukan wawancara, terhadap salah satu narasumber, dia menganggap matematika itu menyenangkan karena ada kegiatan mencongak. Kegiatan mencongak dilakukan secara lisan. Dalam hal ini, guru juga membiasakan siswa untuk berani mengungkapkan pendapat. Ketika mencongak guru juga sering memberikan penghargaan atas jawaban yang diberikan oleh siswa dengan mengatakan “bagaus” atau memberinya tepuk tangan. Selain itu ketika pembelajaran sedang berlangsung, guru sering kali memberikan motivasi dengan berbagai hal. Motivasi dalam belajar adalah segala sesuatu yang dapat memotivasi peserta didik atau individu untuk belajar (Abdullah 2013: 49). Tanpa motivasi belajar, seorang peserta didik tidak akan belajar dan akhirnya tidak akan mencapai keberhasilan dalam belajar. Dalam hal ini, motivasi yang muncul adalah motivasi eksternal atau motivasi melakukan sesuatu karena adanya pengaruh dari luar. Pengaruh dari luar yaitu karena perilaku guru. Guru menampilkan alat peraga sederhana ketika pembelajaran sehingga membuat siswa termotivasi untuk belajar. Motivasi yang diberikan guru adalah dengan menggunakan alat peraga yaitu guru memberikan contoh-contoh atau gambar kepada siswa. Sehingga ketika belajar menggunakan gambar atau contoh siswa akan termotivasi. Tujuan guru dalam memberikan motivasi adalah agar siswa dapat belajar dengan baik dan tidak mengalami kesulitan belajar. Ketika ada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, maka guru akan mendekati siswa tersebut. Waktu dalam melakukan pendekatan, seringkali dilakukan guru ketika pembelajaran telah selesai atau ketika jam pelajaran tambahan. Di SD N Percobaan 3 Pakem rutin diadakan pelajaran tambahan pada hari tertentu. Tujuan tambahan jam pelajaran adalah untuk mengulang materi atau mengejar ketinggalan materi karena suatu hal. Walaupun begitu, ketika mengajar guru juga kerap mengalami kesulitan atau hambatan. Hambatan yang dialami guru 81

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yaitu ketika ada siswa yang tidak konsentrasi maka hal tersebut akan menganggu guru ketika mengajar. Ketika siswa belajar mengenai matematika, perasaan siswa berbeda-beda akan hal tersebut. Ada siswa yang merasa senang, ada siswa yang merasa gampang dan ada siswa yang merasa agak gampang ketika belajar matematika. Siswa merasa senang karena seringkali diadakan lomba mengenai matematika, pertanyaan lisan dan seringkali diadakan mencongak. Ketika diadakan mencongak siswa merasa terbantu dalam belajar. Hal ini karena ketika siswa belajar di rumah dapat membuat siswa bersemangat dalam menghafal. Sedangkan siswa yang merasa agak gampang ketika belajar matematika menyebutkan alasan bahwa guru sering menggunakan barang yang dipakai dalam membantu pemahaman siswa. Segingga siswa merasa terbantu dalam memahami materi. Tetapi ketika siswa mengerjakan soal dan belum selesai mengerjakan tetapi sudah diberi soal lagi oleh guru, hal tersebut membuat siswa merasa kurang nyaman atau kurang senang dalam belajar, itu membuat pekerjaan siswa terasa banyak dan menumpuk. Siswa juga mengalami hambatan atau kendala dalam belajar yaitu ketika ada salah satu orang atau beberapa temannya yang ramai karena hal tersebut dapat menganggu konsentrasi siswa. Ketika siswa merasa bahwa ada temannya yang menganggu dan ramai berarti kelas yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar tidak kondusif lagi. Ketika belajar matematika, suasana belajar yang diharapkan siswa adalah dengan suasana belajar yang tenang dan damai, tidak ada siswa yang ramai, mengajak berbicara atau lari keliling kelas. Sehingga siswa dapat mendengarkan penjelasan dari guru. Selain itu siswa juga menganggap kalau cara guru menjelaskan terlalu cepat sehingga membuat siswa kesulitan dalam memahami penjelasan guru. Guru harusnya tidak menjelaskan terlalu cepat karena kemampuan guru dan siswa dalam menerima sesuatu berbeda. Kebanyakan dari siswa perlu waktu yang relatif lama untuk mengenal suatu materi yang baru. Guru yang terlalu cepat dalam menjelaskan materi akan membuat siswa mudah jenuh sehingga siswa tidak akan menyimak penjelasan dari guru lagi. Jika siswa sudah jenuh atau tertinggal maka 82

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI siswa tidak mau mendengarkan apa yang sudah dijelaskan guru. Apalagi karakteristik anak berbeda, ada yang cepat dalam memahami tetapi juga ada siswa yang lamban (bukan berarti bodoh) dalam memahami materi. Ketika siswa belajar dengan menggunakan alat peraga membuat siswa antusias dan bersemangat karena dengan alat peraga dapat sambil dicoba atau memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Menurut Sumantri (2001, 152) alat peraga adalah alat pembantu pengajaran yang mudah memberi pengertian kepada peserta didik. Berbeda ketika hanya dijelaskan oleh guru, siswa berpendapat bahwa penjelasan tersebut hanya disimpan di otak oleh siswa atau hanya sekedar hafalan. Sehingga lama kelamaan siswa akan lupa dengan hal tersebut. Alat peraga juga dapat membantu siswa ketika mengerjakan soal. Ketika siswa mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga, siswa tidak susah-susah dalam menghitung karena alat peraga sudah memberi tahu hasilnya. Tetapi ada juga siswa yang menganggap kalau alat peraga tidak memberikan kontribusi sama sekali. Ketika siswa belajar dengan atau tanpa alat peraga sama saja, tidak membantu pemahaman siswa. Kemudian siswa dan guru diperkenalkan dengan alat peraga berbasis Montessori khususnya untuk materi pembagian bilangan dua angka. Alat peraga berbasis Montessori adalah alat yang digunakan untuk mengajar anak yang dirancang secara sederhana namun terlihat menarik, memungkinkan pemerolehan pengetahauan yang lebih banyak, belajar secara mandiri serta belajar mengetahui kesalahan yang mereka buat saat belajar (Lillard, 1997:11).Ketika siswa diperkenalkan dengan alat peraga berbasis Montessori siswa sangat antusias dan semangat. Hal ini dapat dilihat ketika guru membawa alat peraga tersebut masuk ke dalam kelas. Ketika melihat alat perag auntuk pertama kalinya, siswa langsung maju dan bertanya mengenai alat peraga tersebut kepada guru. Sebelum guru memperkenalkan alat peraga ke siswa, guru terlebih dahulu diberi pelatihan tentang nama serta cara penggunaan alat peraga tersebut. Tetapi hanya satu hari sebelum pengimplementasian alat peraga. Jadi ketika guru mengajar dengan menggunakan alat tersebut, guru kurang memahami cara penggunaan alat peraga 83

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tersebut. Guru menganggap kalau pelatihan dalam satu hari itu intensitasnya terlalu sedikit. Ketika mengajar menggunakan alat peraga tersebut, guru merasa senang karena dapat memperkenalkan alat peraga baru kepada siswa. Dengan alat baru dapat membuat siswa penasaran dan antusias sehingga siswa tertarik untuk menggunakan alat tersebut. Hal ini berarti bahwa siswa termotivasi untuk belajar. Motivasi yang terlihat adalah motivasi intrinsik yaitu motivasi dalam diri untuk melakukan sesuatu (Abdullah, 2013: 49). Ketika siswa penasaran dengan alat peraga tersebut membuat siswa terdorong untuk belajar atau lebih mengenal dengan alat peraga tersebut. Apalagi ketika menggunakan alat tersebut tidak hanya sekedar bermain tetapi anak juga dapat belajar sesuatu yang serius. Belajar sambil bermaian membuat peserta didik berperan aktif dalam pembelajaran. Hal ini berbanding terbalik dengan pembelajaran sebelum penggunaan alat peraga berbasis Montessori, di mana guru hanya menggunakan alat peraga sederhana yang ada di dekat siswa. Alat peraga membantu guru ketika menyampaikan materi ajar. Sesuai dengan tujuan penggunaan alat peraga yaitu untuk meletakkan dasar-dasar yang konkret dari konsep yang abstrak sehingga dapat mengurangi pemahaman yang bersifat verbalisme (Sumantri, 2001: 154). Verbalisme yaitu mengetahui kata-kata yang disampaikan guru tetapi tidak memahami artinya atau tidak mengerti akan maknanya. Ketika mengajar dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori guru merasa kalau lebih mudah dalam mengajar. Guru tidak lantas menjelaskan konsep pembagian dengan metode ceramah tetapi dengan menggunakan alat peraga siswa bisa praktek sendiri. Ketika siswa praktek dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori ini memberikan gambaran yang konkret atau nyata kepada siswa, memberikan informasi baru, dan dapat menambah ilmu bagi siswa. Hal ini sesuai dengan konsep belajar merupakan aktivitas interaksi aktif individu terhadap lingkungan sehingga terjadi perubahan tingkah laku (Abdullah, 2013: 40). Walaupun seperti itu, siswa tidak boleh bergantung pada alatnya, alat hanya digunakan untuk memahami konsep pembagian. Untuk lebih lanjutnya, siswa 84

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI harus mengembangkan keterampilan berpikirnya sendiri. Jadi tanpa alat peraga siswa sudah dapat mengerjakan soal-soal pembagiannya dengan benar dan tepat. Hal ini sesuai dengan konsep alat peraga berbasis Montessori, di mana alat peraga dirancang untuk mengkonstruksi pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki menjadi suatu konsep baru. Selain alat peraga bermanfaat dalam membantu pemahaman siswa, alat juga mendukung hasil evaluasi belajar siswa. Evaluasi adalah suatu proses menentukan nilai seseorang dengan menggunakan patokan-patokan tertentu untuk mencapai suatu tujuan (Imron, 1996: 114). Ketika mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori maka hasil yang didapat siswa akan benar. Tetapi jika anak salah dalam menggunakan alat peraga tersebut, maka hasil yang didapat siswa pun akan salah. Jadi hasil evaluasi belajar siswa tergantung dengan pemahaman siswa tentang cara penggunaan alat peraga tersebut. Ketika siswa paham dengan cara penggunaan alat peraga maka siswa mudah atau tidak mengalami kesulitan ketika mengerjakan soal dan hasil evaluasinya pun akan bagus. Ketika pertama kali guru melihat bentuk dari alat peraga tersebut, guru langsung menganggap kalau alat peraga tersebut mahal karena dilihat dari bentuknya tempat untuk menyimpan alat peraga terlihat seperti bingkisan kado yang mewah. Selain itu, kayu yang digunakan pun kayu mahal dan masih diperindah. Sehingga memberikan tambahan kesan mahal terhadap alat peraga. Namun, menurut beliau ukuran dan warna alat sudah sesuai dengan karakteristik siswa kelas bawah di mana ukuran dan bentuk alat peraga sesuai dengan fisik anak. Sedangkan untuk warnanya, menurut guru warna yang digunakan dalam alat peraga sudah menarik dan cerah. Tapi hal ini bertentangan dengan siswa karena menurut siswa warna yang digunakan dalam alat peraga terlalu gelap atau kurang cerah. Warna yang digunakan dalam papan pembagi dan tempat penyimpanan baloknya kebanyakan berwarna coklat sehingga terkesan kurang cerah untuk siswa. Siswa lebih suka jika warna yang digunakan dalam alat peraga adalah warna yang cerah seperti kuning. Warna yang dilihat siswa dapat memancing 85

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kepekaan terhadap penglihatanm selain itu warna juga bermanfaat untuk meningkatkan daya pikir serta kreativitas anak. Warna pada alat peraga berperan sebagai stimuli (rangsangan), dengan menggunakan warna cerah yang disukai anak dan menarik perhatian seperti merah, kuning dan oranye warna ini dapat merangsang anak untuk berkreativitas. Akan tetapi pada pertemuan ketiga, sebelum memulai pelajaran salah satu narasumber mengatakan sudah bosan menggunakan alat peraga tersebut. Narasumber merasa bosan menggunakan alat peraga tersebut karena dari pertemuan pertama pada waktu belajar materi pembagian hanya menggunakan alat peraga itu terus-terusan. Pada awalnya narasumber antusias, tertarik dan semangat menggunakan alat peraga tetapi pada pertemuan ketiga siswa sudah merasa bosan. Bosan di sini adalah karena keterbatasan jumlah alat peraga. Jika dalam kelas Montessori sesunggunya terdapat banyak alat peraga dan siswa bebas untuk menggunakannya. Tetapi dalam penelitian ini, satu alat peraga digunakan untuk 4 sampai 5 orang sehingga membuat siswa saling berebut ketika ingin menggunakannya. Hal inilah yang membuat siswa merasa bosan atau jenuh kalau setiap kali ingin menggunakan alat peraga harus antri terlebih dahulu. Sedangkan terkait dengan cara penggunaan alat peraga. Narasumber menganggap bahwa cara penggunaan alat peraga juga mudah, tinggal memasukkan balok-baloknya ke dalam papan pembagian sehingga bisa menemukan hasilnya walaupun pada awalnya narasumber masih mengalami kesalahan dan belum begitu memahaminya dikarenakan guru ketika menjelaskan terlalu cepat sehingga membuat siswa tidak begitu memahami penjelasan guru. Sebelum dan sesudah penggunaan alat peraga berbasis Montessori, memberikan pandangan yang berbeda kepada siswa. Pada awalnya salah satu narasumber menyatakan bahwa dengan atau tanpa alat peraga tidak memberikan kontribusi terhadap konsep pemahaman pembelajaran. Tetapi setelah belajar dengan menggunakan alat peraga siswa mengungkapkan bahwa alat peraga membantu siswa dalam memahami konsep pembelajaran. Konsep pembelajaran yang terbentuk dalam diri anak berasal dari pengalaman-pengalaman narasumber 86

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ketika menggunakan alat peraga dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Hal ini berarti bahwa alat peraga berbasis Montessori mengubah konsep siswa, dari yang awalnya menganggap alat peraga tidak memberikan kontribusi menjadi alat peraga membantu pemahaman anak tentang konsep pembelajaran. Selain itu dengan alat peraga berbasis Montessori memberikan pengalaman yang baru kepada guru dan siswa dalam belajar matematika, dari yang sebelumnya pembelajaran berlangsung dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, penugasan tetapi berkembang dengan anak terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Jadi pembelajaran berpusat pada siswa bukan berpusat kepada guru. Dengan pembelajaran berpusat kepada siswa menjadikan siswa sebagai narasumber utama dalam kegiatan pendidikan sehingga semua aktivitas diarahkan untuk perkembangan peserta didik (Abdullah, 2013: 46). Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik umumnya merupakan pembelajaran aktif yang melibatkan peserta didik dalam aktivitas fisik atau melibatkan peserta didik untuk berpikir. 87

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bagian ini akan dibahas mengenai (1) kesimpulan, (2) keterbatasan penelitian dan (3) saran. 5.1 Kesimpulan Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1. Alat peraga Montessori memberikan pengalaman yang positif terhadap guru. Alat peraga memudahkan guru dalam mengajar karena sebelum menggunakan alat peraga berbasis Montessori guru lebih sering menggunakan metode ceramah tetapi dengan alat peraga berbasis Montessori membuat siswa ikut berperan aktif atau ikut serta dalam kegiatan belajar mengajar sehingga pembelajaran lebih efektif. Peran alat peraga berbasis Montessori dalam pembelajaran adalah membantu siswa untuk lebih mandiri dan dapat mengetahui kesalahannya sendiri ketika belajar. Pengalaman yang dialami oleh guru ini telah mempengaruhi persepsinya terhadap penggunaan alat peraga. Bahwa alat peraga bukan sekedar alat bantu untuk berhitung atau pun mainan di sela pembelajaran, akan tetapi lebih dari pada itu dapat dipakai untuk meningkatkan antusias siswa dalam belajar dan mengajarkan kemandirian. Pandangan ini telah merubah pemikiran guru terhadap pentingnya alat peraga, yang tadinya guru hanya berpikir mencari praktis dengan alat peraga sederhana di sekitarnya menjadi berpikir mengenai pentingnya mengembangkan alat peraga yang dipikirkan konsepnya matang-matang seperti alat peraga Montessori. Namun, guru belum mempunyai keinginan untuk mengembangkan alat itu sendiri karena beberapa kendala yaitu terbatasnya waktu dan dana. Akan tetapi, jika ada yang memberikan alat peraga Montessori, beliau akan sangat antusias untuk menggunakannya. 88

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Persepsi siswa atas penggunaan alat peraga baik karena pada awalnya siswa berpendapat bahwa alat peraga adalah alat bantu dalam menghitung soal tetapi kemudian alat peraga dapat menumbuhkan sikap antusias, mandiri, semangat ketika belajar, serta dapat membantu siswa mengoreksi sendiri kesalahannya ketika mengerjakan soal. Alat peraga dapat memudahkan siswa ketika menyelesaikan soal yang diberikan guru dengan menggunakannya untuk membantu menghitung soal yang diberikan guru. Namun siswa kurang menyukai warna yang digunakan dalam alat peraga karena warnanya terlalu gelap. Siswa menginginkan warna yang cerah dalam alat peraga seperti warna kuning. Siswa pun merasa bosan jika belajar pembagian menggunakan alat peraga tersebut terus menerus karena satu alat peraga digunakan secara bergiliran untuk 4 sampai 5 anak di dalam 1 kelompok sehingga siswa tidak mau menggunakan alat peraga tersebut di luar jam pelajaran matematika. 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.2.1 Penggalian data mengenai persepsi siswa dalam penelitian ini hanya dilakukan pada tiga siswa dari 29 siswa yang menggunakan alat peraga Montessori dikarenakan keterbatasan waktu dan tenaga dari peneliti. Jumlah subjek yang relatif kecil ini tentunya belum mewakili persepsi dari keseluruhan siswa yang menggunakan alat peraga Montessori secara keseluruhan sehingga harus berhati-hati dalam mengambil kesimpulan. 5.2.2 Terbatasnya jumlah alat peraga dalam satu kelompok. Satu kelompok yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa menggunakan 1 alat peraga berbasis Montessori secara bergantian. 5.2.3 Guru belum begitu paham dan atau belum menguasai mengenai cara penggunaan alat peraga berbasis Montessori. 5.2.4 Siswa merasa tidak suka dengan warna gelap yang ada pada alat peraga. 89

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5.3 Saran Salah satu manfaat dari penelitian ini adalah untuk memberikan saran perbaikan bagi pengembangan alat peraga Montessori berdasar pengalaman dari subjek yang menggunakan alat peraga Montessori. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran yang dapat diberikan peneliti untuk para pengembang alat selanjutnya adalah: 5.3.1 Subjek penelitian perlu ditambah sehingga dapat mewakili dari jumlah keseluruhan siswa yang ada di kelas. 5.3.2 Alat peraga lebih diperbanyak sehingga anak tidak bosan ketika menunggu giliran untuk menggunakan alat peraga. 5.3.3 Memberikan pelatihan penggunaan alat peraga kepada guru terlebih dahulu supaya guru mengerti mengenai esensi alat dan cara penggunaannya sehingga alat yang sudah terkonsep dengan baik dapat digunakan secara maksimal. 5.3.4 Lebih memperhatikan pemilihan warna pada pembuatan alat peraga, seperti memilih warna-warna yang cerah sehingga lebih meningkatkan ketertarikan siswa dalam menggunakan alat. 90

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR REFERENSI Adiningsih, D. (2012). Pengaruh persepsi siswa tentang metode mengajar guru dan kemandirian belajar terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas X program keahlian akuntansi SMK Batik Perbaik Purworejo tahun ajaran 2012/ 2013. Skripsi: Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Yogyakarta Anitah, S. (2010). Media pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Edisi revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta Asyad, A. (2010). Media pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Standar isi dan standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar. Jakarta: BP. Cipta Jaya Creswell, J. W. (2012). Reserch design: pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Depdikbud. (2007). Standar isi kurikulum KTSP 2007. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Desmita. (2012). Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset Fazio. R. I-L, & Roskos-Ewoidsen, D.R. (1994). Acting as we feel: When and how attitudes guide behavior. In S. Shaviti & T. C. Brock (Eds), Persuasion. Boston: Allyn & Bacon Gunawan, I. (2013). Metode penelitian kualitatif teori & praktik. Jakarta: Bumi Aksara 91

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hainstock, E. G. (1997). The essensial montessori; an introduction to woman, the writings, the method, and the movement. United states of America: A Plume Book Haryati, T. Y. (2011). Implementasi pendekatan paradigma pedagogi reflektif dalam pembelajaran siswa kelas VA SD Kanisius Sorowajan semester genap tahun pelajaran 2010/ 2011. Skripsi: Fakultas Kaguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sanata Dharma Holt, H. (2013). The absorbent mind, pikiran yang mudah menyerap. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Heruman. (2007). Model pembelajaran matematika di Sekolah Dasar (SD). Bandung: Remaja Rosdakarya Hudojo & Herman H. (1981). Teori belajar untuk pengajaran matematika. Penataran Lokarya Tahap Kedua Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G): Departemen P dan K. Jakarta Hudojo & Herman H. (2001). Common textbook pengembangan kurikulum dan pembelajaran matematika. Malang: JICA – Universitas Negeri Malang Imron, A. (1996). Belajar & pembelajaran. Malang: Pustaka Jaya Johnson, E. B. (2007). Contextual teaching and learning: menjadikan kegiatan belajar- mengajar mengasyikan dan bermakna. Bandung: Mizan Learning Center Kamus Pusat Bahasa. (2008). Kamus Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Pusat Bahasa– Departemen Pendidikan Nasional Latifa. (2013). Penggunaan alat peraga meteran untuk meningkatkan hasil belajar matematika bagi siswa berkesulitan belajar matematika. Surakarta: Universitas Sebelas Maret 92

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lillard, P. P. (1996). Montessori today. New York: Schocken Books Lillard, P. P. (1997). Montessori in the classroom. New York: Schocken Books Lillard, P. P. (2005). Montessori: The science behind the genius. Oxford: Oxford University Press Lillard, A. S. (2006). Evaluating Montessori education. AAAS Journal. Education Forum 313. Diakses dari www.sciencemag.org/cgi/content/full/313/5795/1893/DC1 McMillan, J. H., Schumacher., Sally. (2001). Research in education a conceptual introduction (5th ed.). New York: Longman Moleong, L. J. (2006). Metodologi penelitian kualitatif (edisi revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya Offset Montessori, M. (2013). Metode montessori: panduan wajib untuk guru dan orangtua didik paud (pendidikan anak usia dini). Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar Montessori, M. (2002). The montessori method. New York: Schocken Books Munadi, Y. (2010). Media pembelajaran; sebuah pendekatan baru. Jakarta: Gunung Persada Narbuko, C., & Abu, A. (2009). Metodologi penelitian. Jakarta: Bumi Aksara Nasution, S. (1988). Metode penelitian naturalistik kualitatif. Bandung: Tarsito Pedoman Penulisan Skripsi. (2012). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma 93

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Poerwandari, K. (1998). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3). Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Rinke, C. R., Gimbel S. J., Haskell S. (2012). Opportunities for inquiry science in Montessori classroom: learning from a culture of interest, communication, and explanation. Journal of science education Sani, A. S. (2013). Inovasi pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara Slameto. (2003). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta Smaldino, S.E., Lowther, D.L., & Russell, J.D. (2011). Instructional technology and media for learning= Teknologi pembelajaran dan media untuk belajar (9th ed.). Jakarta: Kencana Sobur, A. (2003). Psikologi umum. Bandung: CV Pustaka Setia Suharnan. (2005). Psikologi kognitif. Surabaya: Srikandi Sujanto, E. (2011). Sukses belajar dan mengajar dengan teknik memori. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Sumantri, M & Permana, J. (2001). Strategi belajar mengajar. Bandung: CV. Maulana Sumiaty. (2009). Penggunaan alat peraga tiga dimensi dalam meningkatkan hasil belajar matematika pokok bahasan geometri bangun ruang. Purwakarta: jurnal kajian filosofi, teori, kualitas, dan manajemen pendidikan Suparno, P. (2001). Teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kansius 94

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Supratiknya, A. (2012). Penilaian hasil belajar dengan teknik nontes. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Susanti, I. (2012). Penerapan metode Montessori dalam meningkatkan kemampuan motorik halus anak di kelompok bermain talenta kabupaten Bandung. Bandung: Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Siliwangi Bandung Thoha, M. (1996). Perilaku organisasi, konsep dasar dan aplikasinya. Jakarta: Raja Grafindo Persada Triyanto. (2009). Mendesain model pembelajaran inovasi progresif: konsep, landasan, dan implementasinya pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media Group Walgito, B. (2003). Psikologi sosial: suatu pengantar. Yogyakarta: Percetakan Andi Offset Winkel, W. S. (1996). Psikologi pengajaran. Jakarta: Grasindo Wood, J. T. (2013). Komunikasi interpersonal: interaksi keseharian (6th ed.). Jakarta: Salemba Humanika 95

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI A. Pedoman Observasi dan Wawancara Lampiran 3.1 Pedoman observasi kondisi sosio-cultural No. 1. Tujuan Untuk mengetahui kondisi atau keadaan kelas Objek Ruang kelas Hal yang diamati Fasilitas yang terdapat di kelas Deskripsi Alat peraga matematika yang terdapat di kelas Kebiasaan menggunakan alat peraga Suasana belajar matematika di kelas Kerjasama yang terjalin antar siswa 97

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.2 Pedoman observasi proses pembelajaran secara umum pertemuan pertama No. 1. Tujuan Untuk mengetahui proses pembelajaran yang terjadi di kelas Subjek Guru Hal yang diamati Metode yang digunakan guru dalam mengajar Media yang digunakan oleh guru dalam mengajar Pendekatan yang diterapkan guru dalam mengajar Penguasaan kelas oleh guru Deskripsi Peran guru dalam mengajar 2. Untuk mengetahui proses pembelajaran yang terjadi di kelas Siswa Penguasaan guru tehadap materi pembelajaran Cara kerja siswa dalam mengerjakan soal Sikap siswa ketika mengikuti pembelajaran Minat dan perhatian siswa ketika mengikuti pembelajaran Interaksi antara siswa dengan siswa Reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru 98

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.3 Pedoman observasi proses pembelajaran secara umum pertemuan kedua No. 1. Tujuan Untuk mengetahui proses pembelajaran yang terjadi di kelas Subjek Guru Hal yang diamati Metode yang digunakan guru dalam mengajar Media yang digunakan oleh guru dalam mengajar Pendekatan yang diterapkan guru dalam mengajar Penguasaan kelas oleh guru Deskripsi Peran guru dalam mengajar 2. Untuk mengetahui proses pembelajaran yang terjadi di kelas Siswa Penguasaan guru tehadap materi pembelajaran Cara kerja siswa dalam mengerjakan soal Sikap siswa ketika mengikuti pembelajaran Minat dan perhatian siswa ketika mengikuti pembelajaran Interaksi antara siswa dengan siswa Reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru 99

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.4 Pedoman observasi guru ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori pertemuan ke I No. 1. Tujuan Untuk mengetahui respon guru terhadap pengaplikasian alat peraga montessori Subjek Guru Hal yang diamati Antusias guru dalam menggunakan alat peraga Penguasaan guru terhadap alat peraga Deskripsi 100

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.5 Pedoman observasi siswa ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori pertemuan ke I No. 1. Tujuan Untuk mengetahui respon siswa terhadap pengaplikasian alat peraga montessori Subjek Siswa Hal yang diamati a. Cara siswa mendengarkan guru yang sedang menjelaskan b. Siswa memperhatikan cara penjelasan tentang alat peraga c. Siswa menggunakan alat peraga dengan benar. Siswa mengetahui alat peraga digunakan untuk mempelajari materi pembagian. d. e. Siswa mencoba menggunakan alat peraga dan dapat menjawab soal dengan tepat f. Setelah diberi alat peraga, siswa langsung menyentuh alat tersebut g. Setelah diberi alat peraga, siswa langsung melihat dan meraba alat tersebut h. Setelah diberi alat peraga, siswa langsung memegang alat peraga tersebut dan mencobanya i. Siswa menunjukkan wajah senang selama menggunakan alat peraga Siswa ingin berlamalama menggunakan alat peraga tersebut j. Deskripsi 101

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI k. Gradasi tingkatan nilai dari satuan ke ribuan membantu siswa dalam menjawab soal pembagian l. Siswa menemukan kesalahan jawaban yang terjadi dengan menggunakan alat peraga m. Siswa dapat memperbaiki kesalahan dalam menjawab pertanyaan dengan menggunakan alat peraga n. Siswa mendapatkan jawaban yang tepat 102

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.6 Pedoman observasi guru ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori pertemuan ke II No. 1. Tujuan Untuk mengetahui respon guru terhadap pengaplikasian alat peraga montessori Subjek Guru Hal yang diamati Antusias guru dalam menggunakan alat peraga Penguasaan guru terhadap alat peraga Deskripsi 103

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.7 Pedoman observasi siswa ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori pertemuan ke II No. 1. Tujuan Untuk mengetahui respon siswa terhadap pengaplikasian alat peraga montessori Subjek Siswa a. Hal yang diamati Cara siswa mendengarkan guru yang sedang menjelaskan b. Siswa memperhatikan cara penjelasan tentang alat peraga c. Siswa menggunakan alat peraga dengan benar. Siswa mengetahui alat peraga digunakan untuk mempelajari materi pembagian. d. e. Siswa mencoba menggunakan alat peraga dan dapat menjawab soal dengan tepat f. Setelah diberi alat peraga, siswa langsung menyentuh alat tersebut g. Setelah diberi alat peraga, siswa langsung melihat dan meraba alat tersebut h. Setelah diberi alat peraga, siswa langsung memegang alat peraga tersebut dan mencobanya i. Siswa menunjukkan wajah senang selama menggunakan alat peraga Siswa ingin berlamalama menggunakan alat peraga tersebut j. Deskripsi 104

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI k. Gradasi tingkatan nilai dari satuan ke ribuan membantu siswa dalam menjawab soal pembagian l. Siswa menemukan kesalahan jawaban yang terjadi dengan menggunakan alat peraga m. Siswa dapat memperbaiki kesalahan dalam menjawab pertanyaan dengan menggunakan alat peraga n. Siswa mendapatkan jawaban yang tepat 105

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.8 Pedoman observasi guru ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori pertemuan ke III No. 1. Tujuan Untuk mengetahui respon guru terhadap pengaplikasian alat peraga montessori Subjek Guru Hal yang diamati Antusias guru dalam menggunakan alat peraga Penguasaan guru terhadap alat peraga Deskripsi 106

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.9 Pedoman observasi siswa ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori pertemuan ke III No. 1. Tujuan Untuk mengetahui respon siswa terhadap pengaplikasian alat peraga montessori Subjek Siswa a. Hal yang diamati Cara siswa mendengarkan guru yang sedang menjelaskan b. Siswa memperhatikan cara penjelasan tentang alat peraga c. Siswa menggunakan alat peraga dengan benar. Siswa mengetahui alat peraga digunakan untuk mempelajari materi pembagian. d. e. Siswa mencoba menggunakan alat peraga dan dapat menjawab soal dengan tepat f. Setelah diberi alat peraga, siswa langsung menyentuh alat tersebut g. Setelah diberi alat peraga, siswa langsung melihat dan meraba alat tersebut h. Setelah diberi alat peraga, siswa langsung memegang alat peraga tersebut dan mencobanya i. Siswa menunjukkan wajah senang selama menggunakan alat peraga Siswa ingin berlamalama menggunakan alat peraga tersebut j. Deskripsi 107

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI k. Gradasi tingkatan nilai dari satuan ke ribuan membantu siswa dalam menjawab soal pembagian l. Siswa menemukan kesalahan jawaban yang terjadi dengan menggunakan alat peraga m. Siswa dapat memperbaiki kesalahan dalam menjawab pertanyaan dengan menggunakan alat peraga n. Siswa mendapatkan jawaban yang tepat 108

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.10 Pedoman observasi guru ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori pertemuan ke IV No. 1. Tujuan Untuk mengetahui respon guru terhadap pengaplikasian alat peraga montessori Subjek Guru Hal yang diamati Antusias guru dalam menggunakan alat peraga Penguasaan guru terhadap alat peraga Deskripsi 109

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.11 Pedoman observasi siswa ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori pertemuan ke IV No. 1. Tujuan Untuk mengetahui respon siswa terhadap pengaplikasian alat peraga montessori Subjek Siswa a. Hal yang diamati Cara siswa mendengarkan guru yang sedang menjelaskan b. Siswa memperhatikan cara penjelasan tentang alat peraga c. Siswa menggunakan alat peraga dengan benar. Siswa mengetahui alat peraga digunakan untuk mempelajari materi pembagian. d. e. Siswa mencoba menggunakan alat peraga dan dapat menjawab soal dengan tepat f. Setelah diberi alat peraga, siswa langsung menyentuh alat tersebut g. Setelah diberi alat peraga, siswa langsung melihat dan meraba alat tersebut h. Setelah diberi alat peraga, siswa langsung memegang alat peraga tersebut dan mencobanya i. Siswa menunjukkan wajah senang selama menggunakan alat peraga Siswa ingin berlamalama menggunakan alat peraga tersebut j. Deskripsi 110

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI k. Gradasi tingkatan nilai dari satuan ke ribuan membantu siswa dalam menjawab soal pembagian l. Siswa menemukan kesalahan jawaban yang terjadi dengan menggunakan alat peraga m. Siswa dapat memperbaiki kesalahan dalam menjawab pertanyaan dengan menggunakan alat peraga n. Siswa mendapatkan jawaban yang tepat 111

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.15 Pedoman wawancara pasca-penelitian guru PEDOMAN WAWANCARA UNTUK GURU Hari/Tanggal : Waktu : No 1 Karakteristik Perasaan guru Deskripsi Perasaan dan pemikiran guru mengenai penggunaan alat Fokus Pertanyaan Pemikiran dan perasaan subyek terhadap penggunaan alat peraga berbasis Montessori 2 Auto-education Siswa mampu mengetahui konsep matematika yang diajarkan dengan menggunakan alat tersebut secara mandiri Pemahaman konsep setelah menggunakan alat peraga berbasis Montessori Pertanyaan a. Bagaimana perasaan guru setelah melihat kegiatan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga tersebut? (puas, biasa, tidak puas, kurang berkontribusi, dll) - Alasan? b. Bagaimana pendapat guru mengenai sikap siswa ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori? (malas, semangat, tidak tertarik, biasa, dll) - Alasan? c. Bagaimana pendapat guru mengenai alat peraga yang digunakan siswa selama kegiatan pembelajaran? - Alasan? d. Bagaimana pendapat guru mengenai cara penggunaan alat peraga tersebut? - Alasan? e. Bagaimana pendapat guru mengenai hasil pengerjaan soal melalui alat peraga tersebut? - Alasan? f. Bagaimana perasaan guru ketika menggunakan alat peraga tersebut? - Alasan? a. Bagaimana pengalaman siswa menggunakan alat itu? - Alasan? b. Bagaimana kesan guru mengenai alat peraga itu terkait dengan pemahaman siswa? - Alasan? c. Bagaimana pemahaman siswa terhadap cara penggunaan alat peraga? - Alasan? 116

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI d. Kontribusi alat a. peraga terhadap cara berfikir siswa b. Siswa dapat menjawab pertanyaanpertanyaan yang ada tanpa bantuan guru Kemampuan siswa dalam mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori a. b. c. 2 Menarik Ketertarikan guru dalam menggunakan alat peraga berbasis Montessori Ketertarikan guru dengan bentuk alat peraga berbasis Montessori a. b. c. d. e. f. Bagaimana kesan guru dengan cara penggunaan alat peraga terkait dengan kemandirian siswa? - Alasan? Bagaimana kontribusi alat peraga terhadap konsep matematika yang didapat siswa? - Alasan? Seberapa besar kontribusi alat peraga terhadap konsep yang terbentuk oleh siswa? - Alasan? Bagaimana kemampuan siswa dalam mengerjakan soal dengan alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaimana kesan guru mengenai kemandirian siswa ketika mengerjakan soal dengan alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaiamana hasil pekerjaan siswa dengan menggunakan alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaimana pendapat atau kesan guru mengenai bentuk alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaimana pendapat atau kesan guru mengenai warna alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaimana pengaruh warna yang digunakan dalam alat peraga terhadap ketertarikan siswa? - Alasan? Bagaimana pendapat atau kesan guru mengenai ukuran alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaimana pengaruh ukuran yang digunakan dalam alat peraga terhadap ketertarikan siswa? - Alasan? Bagaimana pendapat guru mengenai daya tarik alat peraga? 117

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ketertarikan siswa terhadap cara penggunaan alat peraga berbasis Montessori 3 Bergradasi Tingkat kesulitan guru dalam menggunakan alat peraga Dapat digunakan untuk semua siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 Alat peraga mempunyai tingkatan nilai dari satuan ke ribuan. 4 AutoCorrection Kemampuan alat dalam membantu siswa belajar Alat tersebut dapat membantu siswa dalam menemukan kesalahan yang dilakukan dan memperbaiki dengan sendirinya Alat peraga mempunyai pengendali kesalahan 5 Kontekstual Bahan yang digunakan dalam alat peraga Alat dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang dikenal atau dekat dengan kehidupan siswa - Alasan? a. Bagaimana pendapat guru mengenai tingkat pemahaman siswa mengenai cara penggunaan alat peraga berbasis Montessori? - Alasan? a. Bagaimana pendapat guru jika alat peraga tersebut digunakan untuk kelas 1-6? - Alasan? b. Bagaimana pendapat guru jika ada siswa yang tidak mau menggunakan alat peraga tersebut? - Alasan? a. Bagaimana kontribusi tingkatan nilai dari alat peraga tersebut dalam mengerjakan soal? - Alasan? b. Bagaimana pendapat guru mengenai tingkat kesulitan dalam menggunakan alat peraga? - Alasan? a. Bagaimana kesan guru tentang kemandirian siswa dalam menemukan kesalahan jawaban ketika menggunakan alat peraga? - Alasan? b. Bagaimana pendapat guru mengenai kesalahan yang dilakukan siswa ketika menggunakan alat peraga? - Alasan? a. Bagaimana pendapat guru mengenai pengendali kesalahan yang ada dalam alat peraga? - Alasan? a. Apakah guru sudah pernah melihat alat peraga ini sebelumnya? b. Bagaimana kesan guru tentang bahan yang digunakan dalam alat peraga? - Alasan? 118

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.16 Pedoman wawancara pasca penelitian siswa PEDOMAN WAWANCARA UNTUK SISWA Hari/Tanggal : Waktu : No 1 Karakteristik Perasaan siswa Deskripsi Perasaan dan pemikiran siswa mengenai alat yang telah digunakan Fokus Pertanyaan Pemikiran dan perasaan subyek terhadap alat peraga berbasis Montessori Pertanyaan a. Bagaimana pendapatmu ketika melihat alat peraga tersebut? - Alasan? b. Bagaimana sikapmu ketika pertama kali melihat alat peraga tersebut? - Alasan? c. Bagaimana perasaanmu setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga? - Alasan? 2 Auto-education Siswa mampu mengetahui konsep matematika yang diajarkan dengan menggunakan alat tersebut secara mandiri Pemahaman konsep setelah menggunakan alat peraga berbasis Montessori a. b. c. 3 Menarik Siswa dapat menjawab pertanyaanpertanyaan yang ada tanpa bantuan guru Ketertarikan siswa dalam menggunakan alat peraga berbasis Montessori Konstribusi alat peraga terhadap cara berfikir siswa a. Kemampuan siswa dalam mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori Ketertarikan siswa dengan bentuk alat peraga berbasis Montessori a. Bagaimana pemahamanmu mengenai materi pembagian menggunakan alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaimana jika guru tidak menjelaskan cara penggunaan alat peraga? - Alasan? Bagaimana penggunaan alat peraga di dalam kelompokmu? - Alasan? Bagaimana pendapatmu mengenai kegunaan alat peraga tersebut dalam materi pembagian? - Alasan? Bagaimana pendapatmu saat mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga? - Alasan? a. Ketika pertama kali melihat alat peraga, apa yang ingin kamu lakukan dengan alat peraga itu? - Alasan? b. Bagaimana pengalamanmu setelah menggunakan alat 119

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. c. Ketertarikan siswa terhadap cara penggunaan alat peraga berbasis Montessori a. b. c. 4 Bergradasi 5 AutoCorrection 6 Kontekstual Ukuran yang ada pada alat Kemampuan alat dalam membantu siswa belajar Bahan yang digunakan dalam alat peraga Alat tersebut dapat membantu siswa dalam menemukan kesalahan yang dilakukan dan memperbaiki dengan sendirinya Alat peraga mempunyai pengendali kesalahan Alat dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang dikenal atau dekat dengan kehidupan siswa a. a. peraga? - Alasan? Bagaimana pendapatmu mengenai bentuk alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaimana pendapatmu mengenai warna alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaimana pendapatmu cara guru menjelaskan penggunaan alat peraga? - Alasan? Bagaimana pendapatmu tentang cara penggunaan alat peraga tersebut? - Alasan? Jika kamu diperbolehkan menggunakan alat tersebut, apakah kamu akan menggunakannya di luar jam pelajaran? - Alasan? Bagaimana pendapatmu mengenai ukuran yang ada dalam alat peraga tersebut? - Alasan? Bagaimana kontrisbusi alat peraga tersebut dalam menjawab soal? - Alasan? a. Bagaimana pendapatmu dengan adanya pengendali kesalahan pada alat peraga? - Alasan? a. Bagaimana pendapatmu dengan bahan yang digunakan dalam membuat alat peraga tersebut? - Alasan? 120

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Transkrip Observasi Lampiran 4.1 Transkrip observasi kondisi sosio-cultural Observasi secara umum Pertemuan : Pertama Hari : Senin Tanggal : 27 Januari 2014 Pukul : 08. 10 – 09. 20 Tempat : Ruang kelas II- A No. Kegiatan 1. Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam “Selamat pagi anak-anak”. Kemudian dijawab 2. serempak oleh siswa. Kemudian guru menanyakan kabar anak-anak, lalu guru bertanya siapa yang tidak 3. masuk. Pada hari itu ada 2 siswa yang tidak masuk dikarenakan sakit. Kemudian guru menjelaskan 4. kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu. Lalu guru mengulang pelajaran pada hari sebelumnya 5. dengan mencongak. Materi mencongak pada hari itu adalah perkalian, seperti yang sudah dibahas pada 6. pertemuan sebelumnya. Guru bertanya perkalian sederhana terlebih dahulu, awalnya guru bertanya 2 x 7. 2, kemudian murid menjawab dengan serempak kalau jawabannya 4. Selama guru mencongak, peneliti 8. melihat-lihat alat peraga yang ada di kelas. Di kelas II-A tidak terlalu banyak alat peraga untuk mata 9. pelajaran Matematika. Ada papan paku yang diletakkan di dekat meja guru. Selain itu tidak ada alat 10. peraga lagi. Sedangkan fasilitas yang ada di kelas ada 15 meja dan 30 kursi yang dapat digunakan untuk 11. siswa. Di dekat pintu masuk ada meja dan kursi guru. Di sebelah meja guru ada almari yang digunakan 12. guru untuk menyimpan buku dan alat-alat yang lainnya. Di pojok depan meja ada1 meja khusus yang 13 dapat digunakan untuk menaruh tempat minum siswa. Papan tulis yang ada di kelas berupa white board. 14. Di sebelah papan tulis ada papan absensi dan papan pengumuman. Sedangkan di tembok sebelah 15. belakang terdapat beberapa karya siswa yang dipajang, yaitu hasil mewarnai siswa, hasil menggambar 16. siswa, dan beberapa karya mata pelajaran SBK yang diletakkan di papan khusus. Selain itu, kelas II- A 17. juga sudah dilengkapi dengan LCD dan proyektor. 18. Pada hari itu guru menjelaskan mengenai perkalian. Guru terlebih dahulu bertanya kepada siswa apa 19. yang dimaksud dengan perkalian. Dan siswa menjawab kalau perkalian adalah penjumlahan berulang. 20. Setelah itu guru menulis di papan tulis beberapa soal tentang perkalian. Guru memberi contoh terlebih 21. dahulu bagaimana cara menghitungnya dengan menggambar di papan tulis. Guru memberi soal 5 x 2 22. kemudian guru menggambar 2 pensil sebanyak 5 kali dan menjumlahkan semua pensil dalam 5 kotak 23. tersebut. Kemudian guru meminta salah satu siswa untuk mencoba mengerjakan soal yang lain dengan 24. cara yang sama. Ketika guru bertanya siapa yang mau maju untuk mencoba, ada lebih dari 7 murid yang 25. angkat tangan untuk maju.. akhirnya guru menunjuk salah satu siswa. Ketika siswa mencoba 26. mengerjakan dengan cara yang diberikan guru dia dapat menjawab dengan benar. Lalu guru bertanya Comment [a1]: Alat peraga yang ada di kelas (O1, P, B 9) Comment [a2]: Fasilitas lumayan lengkap (O1, B 10 – B 17) Comment [a3]: Guru menggambar ketika mengajar (O1, S4, B 20 – B 23) Comment [a4]: Siswa menjawab di papan tulis (O1, S, B 23 – B 26) 121

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27. apakah ada yang belum paham bagaimana cara mengerjakannya? Siswa menjawab paham, dan guru 28. meminta siswa untuk mengerjakan soal latihan yang ada di dalam buku cetak. Ketika siswa 29. mengerjakan, guru berkeliling kelas untuk melihat cara siswa mengerjakan dan bertanya kesulitan yang 30. dialami. Ketika siswa disuruh mengerjakan, siswa yang duduk di bagian belakang tidak mengerjakan, 31. mereka bermaian sendiri dan mengobrol dengan teman sebelahnya. Tak jarang ada juga siswa yang 32. berlari ke sana- sini dan ada siswa yang berteriak-teriak. Guru yang melihat itu, memanggil nama anak Comment [a6]: Siswa tidak mematuhi guru (O1, S, B 30 – B 31) 33. yang ramai dan mengingatkan siswa untuk tenang. Setelah beberapa saat, guru bertanya apakah sudah Comment [a7]: Siswa membuat ramai kelas (O1, S, B 31 – B 32) 34. selesai mengerjakan. Ada beberapa siswa yang menjawab belum selesai, dan guru memberikan waktu 35. tambahan untuk mengerjakan. Setelah semua siswa selesai mengerjakan, guru meminta beberapa siswa 36. untuk menuliskan jawabnnya di papan tulis. Setelah semuanya selesai menuliskan jawabannya, guru 37. mengecek dengan bertanya jawab kepada siswa apakah jawaaban yang dituliskan di papan tulis sudah 38. benar apa belum. Kemudian guru bertanya kepada siswa apakah masih ada siswa yang belum paham 39. mengenai perkalian. Ketika siswa menjawab paham, guru bertanya apakah yang disebut dengan 40. perkalian dan memberikan PR untuk mengerjakan soal yang ada di dalam buku cetak. Lalu guru 41. menutup pembelajaran matematika pada hari itu. Comment [a5]: Guru memantau siswa (O1, S4, B 28 – B 30) Comment [a8]: Guru menenangkan siswa (O1, S4, B 32 – B 33) Comment [a9]: Guru memberikan waktu tambahan untuk siswa yang belum selesai (O1, S4, B 33 – B 35) Keterangan: S : Siswa S4 : Guru P : Alat peraga 122

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.2 Transkrip observasi proses pembelajaran Observasi secara umum Pertemuan : Ke-2 Hari : Rabu Tanggal : 29 Januari 2014 Pukul : 07. 00 – 08. 10 Tempat : Ruang kelas II- A No. Kegiatan 1. Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam “Selamat pagi anak-anak”. Kemudian dijawab 2. serempak oleh siswa. Kemudian guru menanyakan kabar anak-anak, dilanjutkan dengan guru bertanya 3. siapa yang tidak masuk. Setelah itu ada beberapa murid yang berteriak dengan berkata, “Bu guru ada 4. PR”. Kemudian guru mengajak siswa untuk mencocokkan PR’nya. Ketika mencocokkan PR guru 5. menggunakan metode tanya jawab, guru bertanya dari jawaban nomor pertama sampai nomor terakhir 6. kepada siswa. Setelah selesai, guru mengadakan mencongak tentang perkalian. Ketika dilakukan 7. mencongak, dalam menjawab pertanyaan ada beberapa murid yang menjawab sambil berteriak, selain 8. itu juga ada beberapa siswa yang duduk sambil berbicara dengan temannya (tidak menjawab pertanyaan 9. dari guru). Setelah kegiatan mencongak selesai, guru membuat tabel di papan tulis, ada siswa yang 10. bertanya “ditulis enggak bu?. Kemudian guru meminta siswa untuk menulis dan melengkapi tabel yang 11. telah ditulis guru di papan tulis. Sebelum siswa membuat tabel, guru menjelaskan kepada siswa terlebih 12. dahulu bagaimana cara mengisi tabel tersebut. Tabel yang ditulis guru adalah tabel perkalian dari 13 perkalian 1 sampai 10. Guru menjelaskan kalau dalam mengisinya dilihat dari atas dan ke samping. 14. Kemudian guru bertanya apakah siswa sudah paham dengan penjelasan dari guru? Setelah siswa 15. menjawab paham, kemudian guru meminta siswa untuk membuat tabel tersebut di papan tulis dan 16. meminta siswa untuk melengkapi tabel tersebut. Ketika siswa membuat tabel di papan tulis, guru 17. berkeliling kelas melihat pekerjaan siswa dan bertanya kesulitan yang dialami siswa. Setelah beberapa 18. saat, guru bertanya apakah sudah selesai? Jika sudah selesai siswa diberi waktu 10 menit untuk 19. menghafal tabel perkalian yang dibuat. Selamawaktu menghafal tabel perkalian, ada beberapa siswa 20. yang berjalan ke sana- sini dan mengajak temannya untuk mengobrol. Setelah beberapa saat, guru 21. kembali mengadakan mencongak tetapi berdasarkan tabel yang telah dibuat. Ketika mencongak, siswa 22. saling berebut untuk menjawab terlihat dengan antusias siswaketika angkat tangan dan mendekat ke arah 23. guru. Setelah tanya jawab dengan guru, lalu guru menjelaskan kalau tugas selanjutnya adalah tanya 24. jawab kepada teman sebangku. Jadi dalam satu meja duduk 2 orang siswa, salah satu siswa memberi 25. pertanyaan dan siswa yang satunya menjawab. Siswa yang memberi pertanyaan boleh melihat tabel 26. perkalian yang telah dibuat, tapi ketika menjawab tidak boleh melihat tabel yang dibuat. Siswa 27. melakukan kegiatan seperti itu (tanya jawab dengan teman sebangku) selama 10 menit dengan diawasi 28. oleh guru. Ketika diberi waktu oleh guru untuk melakukan tanya jawab banyak siswa-siswa yang Comment [a10]: Guru menggunakan metode tanya jawab (O2, S4, B 5 – B 6) Comment [a11]: Ada siswa yang tidak menjawab pertanyaan dari guru (O2, S, B 6 – B 9) Comment [a12]: Guru menggunakan media papan tulis (O2, S4, B 10 – B 11) Comment [a13]: Guru menggunakan metode ceramah (O2, S4, B 11 – B 12) Comment [a14]: Guru memantau perkembangan siswa (O2, S4, B 16 - B 17) Comment [a15]: Siswa tidak mematuhi guru (O2, S, B 19 – B 20) Comment [a16]: Siswa antusias ketika mencongak (O2, S, 21 – B 23) Comment [a17]: Pembelajaran membuat siswa aktif (O2, S, B 23 – B 26) 123

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29. melakukan tanya jawab dengan suara kelas. Guru yang mendengar hal tersebut(siswa melakukan tanya 30. jawab sambil teriak) tidak menegur siswa yang berbicara dengan suara kelas. Guru hanya duduk di meja 31. guru sambil mengoreksi (entah hasil pekerjaan siswa atau apa) karena sesekali guru melihat ke arah 32. lembaran kertas dan menulis di buku nilai siswa. Setelah 10 menit guru bertanya siapa yang belum 33. hafal? Siswa saling menunjuk temannya. Kemudian guru menanyakan kesulitan apa yang dialami siswa 34. tentang perkalian dan guru memberikan motivasi kepada siswa kalau kalian sering belajar dan 35. mengahfal pasti akan cepat ingat tentang tabel perkalian. Guru memberikan PR untuk menghafal tabel 36. perkaliannya di rumah dan minggu depan akan dicek oleh guru siapa yang sudah paham dan siapa yang 37. belum paham. Kemudian guru menutup pelajaran matematika pada hari itu. Comment [a18]: Guru membiarkan siswa ramai (O2, S4, B 29 – B 30) Comment [a19]: Guru menanyakan kesulitan siswa (O2, S4, B 33 – B 35) Keterangan: S : Siswa S4 : Guru 124

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.3 Transkrip observasi ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan ke- 1 Hari : Kamis Tanggal : 6 Februari 2014 Pukul : 07. 00 – 08. 10 Tempat : Ruang kelas II- A No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. Kegiatan Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan Assalamu’alaikum Wr. Wb. Kemudian mengajak tepuk SDN P 3 lalu bernyanyi “sungguh senang” dipimpin oleh guru. Kemudian guru mengajak tepuk tangan karena telah bernyanyi bersama, lalu guru mempersiapkan siswa yang belum duduk untuk duduk dengan tenang di bangkunya. Guru menjelaskan kegiatan kalau pada hari itu akan belajar mengenai pembagian. Selanjutnya guru melakukan apersepsi dengan tanya jawab arti dari pembagian. B angkat tangan untuk menjawab pertanyaan dari guru dan jawabannya benar. A duduk tenang di bangkunya sambil melihat ke arah guru. C telat lalu dipersilahkan duduk di bangkunya. Sebelum memulai ke arah materi pembagian, guru mengadakan mencongak terlebih dahulu. Materi mencongak mengenai perkalian. Guru bertanya 9 x 5. B angkat tangan untuk menjawab. Tapi sebelum ditunjuk dia dan teman-teman yang lain sudah menjawab terlebih dahulu. A dan C duduk di bangkunya sambil melihat ke arah guru dan teman-teman yang menjawab. 6 x 6. B dan A angkat tangan untuk menjawab sementara C hanya melihat saja. Guru mengatakan “semuanya sudah bisa-bisa ya”. 5x 3 tidak ada yang angkat tangan tapi A, B dan C menjawab dengan tepat semua. Guru memulai dengan menjelaskan pembagian yaitu pengulangan berulang dan hanya kebalikan dari perkalian. Guru bertanya 15: 3, 20: 5. A menjawab 2, B menajwab 4, C diam saja di bangkunya. 72: 8 B menjawab 6 sambil menunjukkannya dengan jari. Guru bertanya 8 x 9, lalu kalau dibalik. Guru memberikan motivasi kalau salah tidak apa-apa, sedikit-sedikit akan belajar. Guru memperkenalkan alat peraga Montessori dengan menjelaskan fungsi dari masing-masing alat yang ada. Guru menjelaskan balok puluhan, lalu ada siswa yang bertanya “itu apa e bu” tidak dijawab oleh guru. A, B dan C melihat ke arah guru. Kemudian guru menjelaskan lagi dimulai dari satuan, puluhan, ratusan, ribuan. A berkata “gak kelihatan bu”. Guru meminta salah satu murid yang duduk di depan untuk membacakan angka yang ada pada balok sambil berkata, sini mas D maju ke depan, karena kecil jadi gak kelihatan sampai belakang ya. Kemudian meminta beberapa murid yang lain untuk melihat angka yang ada pada balok yang lainnya. Guru mengambil pion dan menjelaskan fungsinya. Kemudian guru menjelaskan kalau alatnya akan dicoba, dan berkata “ bu guru juga mau mencoba”. Guru mencoba alatnya dengan dibantu oleh mahasiswa. Subjek A, B, dan C duduk di bangkunya sambil melihat apa yang dilakukan oleh guru. Guru membagi siswa ke dalam kelompok, B berkata “hore” sambil tangannya disatukan ke teman-temannya. Guru menjelaskan cara penggunaan alat peraga dengan menggunakan soal dari kartu soal. Guru berkata, “nanti aka belajar lebih banyak lagi” siswa berkata “ horee, lebih banyak lagi”. Ketika guru menjelaskan tentang manfaat alat peraga, B bermain sendiri dengan bukunya. C berbicara dengan temannya. A bermain dengan kertas-kertas kecil. Guru mengelompokkan subjek ke dalam satu kelompok, ketika C satu kelompok dengan A, A langsung berkata “haa? (dengan wajah kecewa) . ketika B satu kelompok dengan A, B melakukan toss tangan kepada A. Sesudah alat peraga dibagikan, C yang pertama kali membuka alat tersebut. A membuka buku pelajarannya dan B masih sibuk memindah buku dan tas ke bangkunya yang baru. Guru meminta masing-masing kelompok untuk mencoba alatnya. Subjek yang pertama kali mencoba alat tersebut adalah C, dibantu oleh B. Ketika pertama kali mencoba, C masih salah meletakkan baloknya. Harusnya setelah melatakkan baloknya diberi tempat kosong satu kotakan, tetapi C tidak memberikan jarak tersebut. Kemudian peneliti meminta anggota kelompok yang lain untuk membaca cara penggunaan alat peraga tersebut. A membacakan cara penggunaan alat peraga tersebut. Belum selesai A membaca, B langsung merebut kertas tersebut dan membacanya. Setelah selesai dibacakan C mencoba kembali menggunakan alat tersebut dibantu A. Ketika C ingin mengambil baloknya lagi, tangan A menutupi tempat penyimpanan balok tersebut. Lalu guru mengecek pekerjaan tiap kelompok dan membantu siswa yang masih mengalami kebingungan. Setelah selesai mencoba satu Comment [a20]: Subjek menjawab pertanyaan dari guru (O3, S2, B6) Comment [a21]: Guru mengadakan mencongak (O3, S4, B 8 – B 9) Comment [a22]: Siswa A tertari k dengan penjelasan guru (O3, S1, B 21) Comment [a23]: C pertama kali mencoba alat peraga (O3, S3, B 36 – B 37) Comment [a24]: Subjek salah menggunakan alat peraga (O3, S3, B 37 – B 38) 125

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45. 46. 47. 48. 49 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. kartu soal, A menuliskan jawabannya pada lembar yang telah disiapkan. B melihat alat peraganya dan C menutup kotak penyimpanan baloknya. Melihat C menutup kotaknya, B berkata “C kok ditutup to (sambil membuka kotaknya)”. Ketika guru meminta kelompok untuk mencoba lagi, subjek berebut untuk mengambil balok-balok yang ada untuk ditempatkan dipapan pembagi. A mengambil 2 balok, B mengambil 1 balok dan C mengambil pion. Kemudian mereka mencoba bersama dengan berebut meletakannya di papan. Setelah selesai dengan soal itu lalu peneliti bertanya “ Siapa yang mau mencoba?” A, B, C kemudian menjawab serempak “ aku, aku, aku”. Kemudian peneliti meminta A untuk mencoba terlebih dahulu. A mendapat soal 9 : 3. Kemudian A mengambil 3 pion terlebih dahulu, lalu diletakkan di tempatnya. Kemudian balok-baloknya, ditaruh dari kiri ke kanan. Setelah A mencoba dengan benar, kemudian B mencoba dengan soal 8: 4. B mengambil pionnya terlebih dulu lalu menaruh ditempatnya, selanjutnya mengambil balok-baloknya. Sambil menunggu giliran, C melihat dan membantu B menaruh balok-baloknya. Kemudian C mencoba dengan soal 10 : 2. Yang pertama kali diambil oleh C adalah baloknya terlebih dahulu, kemudian dibenarkan oleh guru. Lalu C mengambil balok-baloknya dan menghitung 10: 2. Belum selesai C menghitung A menjawab “hasilnya 2 ya bu, langsung aku isi ya?”. B melihat C mencoba alatnya dengan menopangkan tangannya di dagu. Ketika C menaruh baloknya melebihi jumlah soal dibenarkan lagi oleh guru. Setelah semua subjek mencoba lalu gantian siswa lain mencobanya. Setelah itu kembali A lagi yang mencoba alat peraganya. A sudah benar dalam meletakkan pion dan baloknya. Lalu B mencobanya lagi. B sudah benar. Sambil menunggu giliran, C hanya melihat cara B mengerjakan dan sambil lihat kanan-kiri. Sementara itu guru mengingatkan kembali untuk segera menyelesaikan soal-soal yang didapat. Ketika sudah selesai mengerjakan, A mengumpulkan tugasnya. Setelah semua kelompok mengumpulkan tugasnya, guru meminta salah satu kelompok untuk mencoba di depan kelas. Ketika ada salah satu kelompok yang mencoba di depan, A terlihat mengobrol dengan teman sebelahnya, B mencoba menggunakan alat peraga dan C berjalan ke sana- sini. Kemudian guru meminta kelompok subjek penelitian untuk mencoba di depan kelas. Ketika disuruh untuk maju di depan A berkata “ haaaa?” (terlihat kaget). Mereka mendapat soal 10 : 5. Ketika disuruh mencoba A mengambil pion, B dan C mengambil baloknya. Kemudian mereka menaruhnya bersama-sama. Setelah selesai mencoba guru meminta semua siswa untuk memberikan tepuk tangan kepada kelompok yang sudah maju. Lalu terdengar dari kelompok lain berkata “kelompok sini bu,kelompok sini bu”. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok yang lain untuk mencoba di depan kelas. Ketika sudah selesai mencoba di depan kelas, kelompok subjek penelitian merapikan alat peraganya bersama-sama. Lalu peneliti bertanya “gak ada yang mau mencoba lagi?”. Semua subjek berkata “mau”. Lalu A memberikan pertanyaan, B, dan C berebut untuk mencoba pertama kali. Kemudian A meminta untuk “hompipah siapa yang duluan”. B mengajak hompipa tapi C tidak mau. C terlihat sudah memegang papan pembagiannya. Ketika hompimpa B menang dan B mencoba pertama kali. A yang memberikan soal dari kartu soal dan B yang mencoba. Ketika mencoba B sudah benar dan mendapatkan hasil yang benar. Kemudian C mencoba setelah B, dalam mencoba C sudah benar dalam meletakkan pion’nya dan balok-baloknya. Hasilnya pun sudah benar. Setelah giliran C selesai, lalu alatnya dipakai oleh siswa yang lain. Ketika alatnya dipakai oleh yang lain, C menghitung lagi dengan menggunakan baloknya ditaruh pada tutup kotaknya penyimpanan balok. Setelah semua kelompok mencoba di depan guru berkata “jadi anak-anak setelah semuanya mencoba, pembagian itu adalah pengurangan berulang” lalu guru meminta semua kelompok untuk mengembalikan alat peraganya ke depan kelas. Setelah semua alat ditaruh di depan, guru melakukan refleksi, kira-kira anak-anak seneng enggak belajar hari ini? Anak-anak menjawab “senang”. Setelah itu guru mengingatkan siswa untuk tetap belajr di rumah dan menutup pelajaran matematika pada hari itu. Comment [a25]: Subjek 1, 2,3 antusias untuk mencoba alat peraga (O3, S1, S2, S3, B 50 – B 51) Comment [a26]: Subjek bisa menggunakan alat peraga (O3, S1, B 52 – B 53) Comment [a27]: Subjek saling membantu ketika mencoba alat peraga (O3, S1, S2, B 55 – B 56) Comment [a28]: Subjek salah dalam menggunakan alat peraga (O3, S3, B 56 – B 58) Comment [a29]: Subjek bisa menemukan hasil tanpa menggunakan alat peraga (O3, S1, B 58 – B 59) Comment [a30]: Subjek salah dalam menggunakan alat peraga (O3, S3, B 60) Comment [a31]: Guru memantau pengerjaan siswa (O31, S4, B 64) Comment [a32]: Subjek tidak memperhatikan ketika teman sedang mencoba alat peraga (O3, S1, B 66 – B 67) Comment [a33]: Subjek tertarik menggunakan alat peraga(01, S2, B 67- B 69) Comment [a34]: Subjek tidak memperhatikan ketika teman sedang mencoba alat peraga (O3, S1, B 68) Comment [a35]: Subjek bekerja sama dalam menyelesaikan soal (O3, S1, S2, S3, B 70 – B 71) Comment [a36]: Guru memberikan penguatan kepada siswa (O3, S4, B 71 – B 72) Comment [a37]: Subjek berebut mencoba alat peraga (O3, S2, S3, B 77) Comment [a38]: Subjek ingin mencoba alat terlebih dahulu (O3,S3, B 78 – B 79) Comment [a39]: Subjek sudah benar menggunakan alat peraga (O3, S3, B 81 – O 82) Comment [a40]: Subjek tertarik menggunakan alat peraga (O3, S3, 83 – B 84) Keterangan: O3 : Observasi ketiga S1 : Subjek satu S2 : Subjek dua S3 : Subjek tiga 126

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI S4 : Subjek empat 127

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.4 Transkrip observasi ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan kedua Hari : Senin Tanggal : 10 Februari 2014 Pukul : 08. 10 – 09. 20 Tempat : Ruang kelas II- A No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. Kegiatan Salah satu siswa memimpin berdoa. Guru mengucapkan selamat pagi. Siswa menjawab, kemudian guru menanyakan kabar. Guru meminta maaf kepada siswa karena pada hari sebelumnya guru tidak bisa mengajar sampai selesai. Guru bertanya siapa yang tidak masuk dan siswa menjawab B yang tidak masuk. B tidak masuk karena sakit. Guru menyiapkan siswa untuk mengikuti pembelajaran. Guru menjelaskan materi pada hari itu. Guru mengulang materi mengenai perkalian dengan bertanya 3 x 9 hasilnya berapa. Guru bertanya tentang PR yang diberikan oleh guru yaitu tentang menghafal perkalian dan pembagian. Kegiatan diawalai dengan mencongak tentang perkalian dan pembagian. Guru meminta salah satu siswa untuk menajwab soal yang diberikan tapi semua siswa ikut menjawab. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran pada hari itu bahwa hari itu akan belajar mengenai pembagian bilangan 1 angka sampai habis. Guru melakukan tanya jawab mengenai pembagian misalnya 10 : 2 dengan menggunakan alat peraga. Sebelumnya guru melakukan tanya jawab mengenai nama-nama alat peraga yang digunakan. Selanjutnya guru bertanya 9: 3 dihitung dengan menggunakan alat peraga. Guru menjelaskan bahwa pembagian itu hasilnya harus habis. Guru bertanya 1: 1 hasilnya berapa? Ada siswa yang menjawab 1, ada yang menjawab 0. Kemudian guru menjelaskan hasilnya dengan menghitung menggunakan alat peraga. Guru meminta salah satu siswa untuk mencoba di depan kelas dengan soal 6 : 6. Guru memantau cara pengerjaan siswa dibantu oleh mahasiswa dari kelompok eksperimen. Guru bertanya siapa yang mau mencoba di depan? Beberapa siswa mengangkat tangan. Sambil menunggu teman yang sedang mencoba, A dan B berbicara dengan teman-temannya. Guru meminta siswa untuk mengerjakan soal mengenai pembagian dengan bilangan itu sendiri. A berkata “ah, kok ngerjain terus”. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok diminta untuk mengambil satu alat peraga.A mengambil alat peraga yang diletakkan di depan kelas. A membaca soalnya, B mencoba mengerjakan dengan menggunakan alat peraga. Guru memantau pengerjaan tiap kelompok. Kemudian A membenarkan pengerjaan teman yang lain ketika salah dalam menggunakan alat peraga. Masing-masing siswa dalam kelompok mencoba menghitung dengan menggunakan alat peraga. A berkata kepada guru bahwa sudah selesai mengerjakan. Kemudian A dan C menggunakan alat peraga untuk bermain menara-menaraan. Guru bertanya apakah setiap kelompok telah menyelesaikan semua tugasnya? Ketika guru menjelaskan C terlihat masih bermain menara-menaraan sampai guru mengegur C dengan berkata, “coba perhatikan mbak C”. selain C ada beberapa siswa yang terlihat berbicaradengan temannya maupun bermain dengan alat peraganya, sampai guru menegur dan mendekati siswa tersebut. Kemudian guru menjelaskan bahwa bilangan yang dibagi dengan bilangan itu sendiri hasilnya satu, sambil ditulis di papan tulis. Guru mendekati kelompok yang ramai untuk mencoba kembali menggunakan alat peraga. Ketika anggota kelompok yang lain menghitung dengan menggunakan alat peraga, A dan C menggunakan balok untuk membuat menara. Lalu guru meminta A untuk menghitung 20: 4 dengan alat peraga. A mengambil pionnya tapi salah satu anggota kelompok mengambil baloknya lalu A berkata “lho piye je koe ki”. Ketika A mencoba menghitung dengan menggunakan alat peraga, C terlihat bermain dengan balok-baloknya dengan dibuat menara. Sambil A mencoba guru terus memberikan motivasi kepada A dengan berkata “iya benar, ayo terus lagi”. Ketika guru melihat C bermain beliau meminta C untuk membantu A menghitung tapi C masih bermain dengan menggunakan balok-baloknya. Ketika A sedang mencoba guru bertanya kepada peneliti, “kalau menghitung 40 : 2 itu sebenarnya menggunakan yang balok satuan apa puluhan ya mbak?”. Peneliti menjawab kalau itu sebenarnya pake puluhan bu. Beliau menjawab “owh ya ya seperti itu ya, makanya kok kalau pakai yang ini aneh ya?”. A belum selesai mengerjakan tapi C dan salah satu temannya sudah memasukkan balok ke dalam kotaknya dan merapikannya, ketika melihat ada salah satu anggota bermain dengan baloknya dibuat menara C berkata “Bu, itu lho bu”. Guru bertanya kepada mahasiswa eksperimen mengenai cara Comment [a41]: Guru mengulang materi pembelajaran (O4, S4, B 5 – B 8) Comment [a42]: Subjek malas untuk mengerjakan (O4, S1, B 19) Comment [a43]: A mengambil alat (O4, S1, B 21) Comment [a44]: Subjek mengerjakan soal (O4, S1, B 21) Comment [a45]: Subjek mengerjakan soal dengan alat peraga (O4, S2, B 21) Comment [a46]: Alat peraga digunakan untuk bermain (O4, S1, S3, B 25) Comment [a47]: Guru menegur C karena tidak memperhatikan (O4, S4, B 26 – B 27) Comment [a48]: Guru menjelaskan konsep pembagian (O4, S4, B 29 – B 30) Comment [a49]: Guru memberikan motivasi kepada siswa (O4, S4, B 36 – B 37) Comment [a50]: Subjek tidak patuh terhadap guru (O4, S3, B 37 – B 38) Comment [a51]: Guru belum paham menggunakan alat peraga (O4, S4, B 38 – B 40) 128

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45. 46. 47. 48. 49 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. pengerjaan jika 30: 5 sebaiknya menggunakan balok puluhan apa satuan, lalu dijelaskan oleh mahasiswa eksperimen. Ketika A sudah selesai menghitung menggunakan alat peraga dan benar hasilnya walaupun dalam meletakkan masih salah (dari kanan ke kiri). Peneliti meminta C untuk mencoba menghitung dengan soal 30: 6, C menjawab “A hitung tu”. Kemudian dijawab oleh A “kamu, bukan aku”. C menjawab “saya tidak mau”. Peneliti bertanya, “kok gak mau, kenapa?”. C menjawab “aku menata (sambil memasukkan dan menata balok ke dalam kotaknya)”. Lalu A berkata, “cepet C, cepet!!”. Peneliti terus meminta C untuk mencoba tapi C tetap gak mau. Kemudian C mau mencoba. Sambil menunggu C mencoba, A membantu C dengan mengambilkannya balok satuan. C menaruh baloknya masih salah (dari kanan ke kiri) dalam menaruh baloknya pun melebihi jumlah soalnya. Guru mengecek hasil pekerjaan siswa dengan bertanya, “Siapa yang belum selesai?”. Setelah mencoba A dan C merapikan alat peraga yang digunakan. C dan teman-temannya menata baloknya di kotak penyimpanan, A mengembalikan papan pembaginya. Setelah semua kelompok mengembalikan alat peraganya, guru melakukan tanya jawab dengan mencongak mengenai pembagian dengan bilangan itu sendiri dan perkalian. Ketika C diberi pertanyaan oleh guru, C dapat menjawab dengan benar. Guru melakukan penguatan dengan bertanya, “Bilangan yang dibagi dengan bilangan itu sendiri hasilnya?, kalau bilangan itu dikalikan dengan satu hasilnya berapa?, bilangan yang dibagi dengan bilangan satu hasilnya adalah?”. Guru melakukan refleksi dengan bertanya “anak-anak senang tidak belajar dengan menggunakan alat peraga seperti ini?, sambil kita belajar, kita bisa sambil apa anak-anak?”. A menjawab “Bisa sambil bermain”. Setelah itu guru meminta semua anak tepuk tangan untuk semua yang ada di kelas itu. Anak-anak pun tepuk tangan. Lalu guru menutup pembelajaran pada hari itu. Comment [a52]: Guru belum paham menggunakan alat peraga (O4, S4, B 43 – B 45) Comment [a53]: Subjek masih salah menggunakan alat peraga (O4, S1, B 45 – B 46) Comment [a54]: Subjek tidak mau menghitung dan menggunakan alat peraga (O4, S3, B 46 – B 50) Comment [a55]: Subjek dibantu temannya dalam menggunakan alat (O4, S3, B 51) Comment [a56]: Subjek salah menggunakan alat peraga (O4, S3, B 52 – B 53) Comment [a57]: Subjek merapikan alat peraga (O4, S1, S3,B 54 – B 55) Keterangan: O4 : Observasi keempat S1 : Subjek satu S2 : Subjek dua S3 : Subjek tiga S4 : Subjek empat 129

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.5 Transkrip observasi ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan ketiga Hari : Rabu Tanggal : 12 Februari 2014 Pukul : 08. 50 – 09. 10 Tempat : Ruang kelas II- A No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. Kegiatan Guru menjelaskan tujuan pembelajaran pada hari itu kalau mereka akan belajar mengenai pembagian bilangan 2 angka dengan 1 angka tanpa menukar. Guru menjelaskan kalau pembelajaran pada hari itu akan dibantu oleh mahasiswa (eksperimen). Guru mempersiapkan siswa untuk duduk dengan baik. Mahasiswa meminta salah satu siswa untuk maju ke depan. Mahasiswa menjelaskan mengenai pembagian dengan cara menukar. C terlihat melihat penjelasan guru sambil berbicara dengan teman sebelahnya. B terlihat menulis sesuatu di kertas. Lalu guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Ketika C diminta untuk satu kelompok dengan A dan B dia menjawab “aku sini aja bu, aku gak mau pindah. Dari kemarin kok sama kelompok itu terus”. Sementara A berkata “dari kemarin kok pakai alat itu terus to bu, kan bosen”. B terlihat membaca soal yang diberikan oleh guru. Kemudian mereka melakukan hompipa untuk menentuak urutan dalam menggunakan alat peraga. Yang mendapat giliran pertama adalah salah satu siswa dalam kelompok itu, lalu C, kemudian A dan terkahir B. B memberikan soal kepada siswa lalu C memegang papan pembaginya, kemudian A berkata “koe ki ra mbantuin”. Sambil menunggu giliran A, B dan C melihat cara siswa yang lain menghitung dengan alat peraga. Kemudian giliran C mencoba, B memberikan soal kepada C yaitu 48: 4. Dalam meletakkan pionnya C terbalik lalu A berkata “yaelah kuwalik C (sambil menjatuhkan pionnya”. Setelah diberitahu oleh A, C meletakkan pionnya dari kanan ke kiri, kemudian diingatkan oleh peneliti. Setelah itu C meletakkan dari kiri ke kanan. C memarahi temannya ketika temannya menjatuhkan pion yang telah diletakkan di papan pembagi. Setelah selesai menghitung dan mendapatkan hasilnya C menuliskan hasilnya di kertas soal. Giliran A mendapat soal 62: 2. A mendapatkan hasil 8. Kemudian peneliti bertanya, “bener hasilnya itu”? Lalu B menjawab, “enggak 8 x 2 kan hasilnya itu, 16”. Lalu A menghitung jumlah angka yang ada pada balok dan mendapatkan hasil 31. Setelah mendapatkan hasil yang benar, A menuliskan jawabannya pada lembar soal. Kemudian peneliti menyuruh B unuk mencobanya, B langsung menjawab, “iya, siap (sambil menaruh alat peraga di depan mejanya)”. B mendapat soal 24: 2. A berkata “ini (menunjuk pionnya 2)”. B mendapatkan hasilnya dengan benar dan menuliskannya di lembar soal. Guru memantau setiap kelompok dengan melihat cara pengerjaan masing-masing siswa dan membantu jika ada siswa yang masih mengalami kebingungan. Ketika teman-temannya mencoba menggunakan alat peraga C kembali kepada kelompok yang sebelum dibagi dan bersembunyi di bawah meja. Ketika siswa yang lain mencoba, B membantu siswa tersebut dengan mengambilkan baloknya. A makan dan minum. C bersembunyi di bawah meja kelompok lain. Lalu guru menjelaskan mengenai pembagian dengan cara menukar. Setelah selesai dijelaskan, A membacakan soal yang ada di lembar soal. B mencoba menghitung dengan menggunakan alat peraga. Jika sudah selesai dihitung A menuliskan jawabannya pada lembar soal. Sementara C mewarnai gambar princess dengan menggunakan spidol. Guru bertanya kepada siswa, “siapa yang belum bisa?”. Guru meminta salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan yang ada di papan tulis. Ketika siswa yang ditunjuk salah dalam menjawab soal, A membenarkan jawabannya. C berjalan-jalan ke kelompok lain dan tiba-tiba maju ke depan kelas bilang sama guru kalau mau menjawab soal 50: 5. Guru menjawab, “owh ya ya ya”. Kemudian guru mengadakan mencongak. Kebanyakan anak-anak sudah benar dalam menjawab lalu guru berkata , “owh sudah pada bisa, pinter”. A menjawab, “kan sudah belajar bu”. Lalu guru melanjukan memberi mencongak, A dan C menjawab sambil menunjukan angkanya sejumlah dengan jawaban yang diberikan. C bermain dengan kertasnya dengan dilipat-lipat. Kemudian C maju ke depan dan berbisik kepada guru, guru berkomentar “kenapa kok bisik-bisik ini?”. Lalu C memberi pertanyaan kepada teman-temannya 100: 5. B menjawab 25, siswa lain menjawab 20. Guru berkata, “iya benar”. Lalu A bertanya, “ Bu, 20 apa 25 e bu?”. Guru menjawab, “25”. Kemduian guru meminta semua siswa untuk duduk di bangkunya masing-masing. B dan siswa yang lain berkata, “lagi bu, lagi”. Comment [a58]: Subjek tidak mau pindah kelompok (O5, S3, B 7 – B 8) Comment [a59]: Subjek bosan menggunakan alat peraga (O5, S1, B 8 – B 9) Comment [a60]: Subjek memperhatikan ketika ada siswa yang mencoba alat (O5, S1, S2, S3, B 13 – B 14) Comment [a61]: Subjek salah dalam menggunakan alat peraga (O5, S3, B 14 – B 15) Comment [a62]: Subjek mengoreksi pengerjaan A (O5, S2, B 19 – B 20) Comment [a63]: Subjek semangat menggunakan alat peraga (O5, S2, B 22 – B 23) Comment [a64]: Guru memantau pengerjaan siswa (O5, S4, B 25 – B 26) Comment [a65]: Subjek tidak memperhatikan penjelasan guru tentang pembagian dengan menukar (O5, S3, B 32 – B 33) Comment [a66]: Subjek antusias diberi pertanyaan oleh guru (O5, S2, B 44) 130

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45. 46. 47. 48. 49 50. 51. 52. 53. Guru menjelaskan kalau akan diadakan mencongak tapi siswa tidak langsung menjawab secara lisan, menjawabnya dengan menunjukkan kartu bilangannya (siswa sudah diminta untuk membawa pada pertemuan sebelumnya). A dan B mengeluarkan kartu bilangan dari tasnya, sementara C bermain dorong-dorongan dengan temannya. Guru memberikan pertanyaan dan siswa menunjukkan kartu bilangannya, A menghitung terlebih dahulu baru menujukkan kartu bilangan, B langsung menjawab dengan menunjukkan kartunya dan C merapikan mejanya. Siswa terlihat antusias dengan banyak anak yang berdiri sambil menjawab, berteriak dalam menjawab dan rebutan untuk ditunjuk oleh guru. Guru memberikan penguatan pada hari itu dan melakukan refleksi. Kemudian guru menutup pembelajaran pada hari itu. Keterangan: O5 : Observasi kelima S1 : Subjek satu S2 : Subjek dua S3 : Subjek tiga S4 : Subjek empat 131

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.6 Transkrip observasi ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan keempat Hari : Kamis Tanggal : 13 Februari 2014 Pukul : 08. 45 – 10. 00 Tempat : Ruang kelas II- A No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. Kegiatan Sebelum memulai pelajaran, peneliti meminta subjek untuk duduk dalam satu kelompok. Tapi C tidak mau untuk pindah kelompok, hal ini terlihat dengan dia tidak mau disuruh pindah dan tetap mau duduk disebelah temannya. Sementara A dan B sudah duduk dalam satu kelompok. Setelah dibujuk dengan bilang, “kalau ini yang terakhir kalinya duduk satu kelompok” akhirnya C mau satu kelompok dengan A dan B. Guru memulai pembelajaran pada hari itu dengan tanya jawab (mencongak) mengenai materi pembagian. Ketika guru melakukan tanya jawab A mengobrol dengan B, C bermain dengan kotak pensilnya dengan memutar-mutar kotak pensilnya di atas meja sambil sesekali menguap. Ketika guru bertanya 42: 6 ada siswa yang salah menjawab, A berkata, “bukan, jawabannya 6”. Lalu guru bertanya “7 x 6 berapa coba”. Kemudian A berkata, “kan cuma dibalik ya bu”. Selanjutnya guru menjelaskan tujuan pembelajaran pada hari itu. Ketika guru menjelaskan, A melihat ke arah guru, B menaruh tangan di atas meja sambil melihat ke arah guru, C menutup mukanya dengan LKS matematika dan gelenggeleng kepala. Guru memberikan soal kepada siswa 35: 5, ada beberapa siswa yang menjawab salah. Kemudian guru mengatakan kalau akan menggunakan alat peraga dan akan dipraktikkan oleh mahasiswa eksperimen. Ketika guru menjelaskan C bermain dengan rambut temannya lalu dikucir ekor kuda. A dan B maju ke depan guru yang sedang menggunakan alat peraga. Sambil melihat guru menjelaskan, A dan B berbincang-bincang. Setelah dijelaskan di depan, guru bertanya apakah semuanya sudah paham. Lalu masing-masing kelompok diminta untuk mencoba alat peraganya di kelompok. Subjek B mengambil lembar soal yang diberikan guru, A mengambil alat peraga di depan kelas dan C mengobrol dengan anggota kelompok lainnya. Selanjutnya A mengisi nama kelompok pada lembar soal yang diambil B. Kemudian salah satu anggota kelompok memanggil C untuk diajak hompimpa untk menentukan urutan dalam mencoba alat peraga untuk menghitung mengenai pembagian bilangan 2 angka dengan 1 angka dengan menukar. Setelah hompimpa, yang mendapatkan urutan pertama adalah siswa lain dalam kelompok, B, lalu A dan yang terkahir C. Sebelum B mencoba alat peraganya terlebih dahulu dipakai oleh siswa dalam kelompok itu. Ketika siswa mau mencoba alatnya, A dan B saling adu cepat untuk mengambil kartu soal yang akan diberikan oleh siswa dalam kelompok itu. Keduanya ingin memberikan soal kepada siswa yang akan mencoba alat peraga. Ketika A dan B berebut untuk memberi soal, C bermain timbang-timbangan dengan menggunakan penggaris dan balok ratusan yang ditaruh di atas kotak pensil. Kemudian A meminta C untuk mengembalikan baloknya ke dalam tempat penyimpanan. Selanjutnya setelah anggota kelompok yang lain telah mencoba, giliran B untuk mencoba. Ketika B mencoba dia mengambil pion sejumlah pembaginya kemudian mengambil balok dan ditaruh di papan pembaginya. B dapat menghitung dengan benar dan mendapatkan hasilnya. A menuliskan hasilnya di lembar soal. Kemudian giliran A mencoba, C yang memberikan soal. C memberikan soal 1: 1. Lalu A berkata, “yahh, gampang’e, ganti no!”. Lalu C memberikan soal 36: 9. A mengambil pionnya sejumlah 9 lalu mengambil baloknya. Ketika A mencoba, B membantu dengan mengambilkan baloknya dan C bermain dorong-dorongan dengan temannya. A dapat menghitung dengan benar dan mendapatkan hasil yang benar. Setelah mendapatkan hasilnya, A menuliskan jawabannya di lembar soal. Kemudian giliran C yang mencoba menggunakan alat peraga. C mendapat soal 81 :3. Awalnya C menaruh dan mengambil pionnya dengan benar. Selanjutnya menaruh balok satuan ke dalam papan pembagi tetapi kemudian dia berhenti menaruh baloknya dan melihat ke arah temannya. C lalu didatangi oleh guru, guru bertanya kesulitan apa yang dialami oleh C. Kemudian guru menjelaskan kalau baloknya yang puluhan ditukar dengan yang satuan agar bisa dibagi rata. A dan B melihat cara C mengerjakan menggunakan alat peraga. Ketika mengerjakan dan salah menukar, C menutup wajahnya dengan tangannya kemudian setelah selesai menghitung dengan dibantu guru, dia duduk di bangku pojok belakang. Setelah mendapatkan hasilnya B menuliskan hasilnya pada lembar soal. Comment [a67]: Subjek C tidak mau pindah kelompok (O6, S3, B2 – B 3) Comment [a68]: Guru mengulang materi pembelajaran (O6, S4, B 6 – B 6) Comment [a69]: Subjek tidak memperhatikan penjelasan guru (O6, S, B7 – B 9) Comment [a70]: Subjek sudah paham dengan konsep pembagian (O6, S1, B 11) Comment [a71]: Pada menit awal subjek tidak memperhatikan penjelasan guru (O6, S3, B 13 – B 14) Comment [a72]: Guru meminta bantuan orang lain ketika menjelaskan (O6, S4, B 15 – B 16) Comment [a73]: Subjek tertarik dengan alat peraga (O6, S1, S2, B 17 – B 18) Comment [a74]: Guru memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk mencoba alat peraga (O6, S4, B 20 – B 21) Comment [a75]: Subjek berebut mengambil kartu soal (O6, S, B 29 – B 30) Comment [a76]: Subjek tidak memperhatikan ketika teman lain mencoba (O6, S3, B 32 – B 33) Comment [a77]: Subjek tidak mau diberi soal yang mudah ( O6, S1, B 39 – B 40) Comment [a78]: Subjek bekerja sama (O6, S, B 41 – B 42) Comment [a79]: Subjek terlihat bingung dengan cara menghitungnya (O6, S3, B 47) Comment [a80]: Subjek merasa tidak bisa (O6, S3, B 50 – B 52) 132

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45. 46. 47. 48. 49 50. 51. 52. Guru mengecek pekerjaan tiap anak pada tiap kelompok dengan mendatangi tiap-tiap kelompok dan menanyakan kesulitan yang mungkin dialami siswa. Ketika menemui anak yang masih kebingungan, guru bertanya apa yang susah dan mulai menjelaskan kepada siswa yang mengalami kesulitan dan membantu menghitung dengan alat peraga. Kemudian guru bertanya kelompok mana yang belum selesai mengerjakan, untuk kelompok yang sudah selesai guru meminta lembar solanya dikumpulkan. Kemudian guru mengadakan mencongak pada akhir pelajaran. Beberapa siswa menjawab dengan benar sambil mengangkat tanganya. Kemudian guru melakukan refleksi dengan bertanya bagaimana perasaanya setelah belajar dengan alat peraga. Guru menutup pelajaran pada hari itu. Comment [a81]: Guru memantau cara kerja siswa (O6, S4, B 54 – B 55) Comment [a82]: Guru melakukan refleksi (O6, S4, B 61 – B 62) Keterangan: O6 : Observasi keenam S1 : Subjek satu S2 : Subjek dua S3 : Subjek tiga S4 : Subjek empat 133

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Wawancara Lampiran 4.7 Verbatim wawancara pra-penelitian guru Subjek 4 : Guru Matematika Tempat : Ruang kelas VI- B Waktu : 2 Februari 2014 Pukul : 12. 40 – 12. 57 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. Pertanyaan Bagaimana pendapat Bu Z mengenai pembelajaran Matematika di kelas secara umum? Terus cara guru untuk mengajak siswa itu bagaimana bu? Terus kendala apa saja yang pernah dihadapai oleh ibuk dalam penyampaian materi di kelas? Untuk Matematika saja bu Lalu bagaimana cara ibu untuk membantu anak yang mengalami kesulitan? Sendiri-sendiri apa bagaimana bu? Terus kalau menurut ibuk itu kendala apa yang dialami siswa ketika pembelajaran? Terus kalau untuk ibuk materi apa saja yang dirasa sulit dalam menyampaikannya kepada siswa itu? Jawaban Sebenarnya Matematika itu kalau apa ya, bagi anak yang seneng Matematika itu menyenangkan tapi bagi anak yang tidak senang itu bagaimana cara kita sebagai guru untuk mau mencoba biar gampang karena tidak ada yang sulit kalau mau mencoba. Ya kita memotivasi misalnya dengan berbagai macam alat peraga atau mungkin misalnya kita beri motivasi agar mereka mau belajar seperti itu dengan contoh-contoh mungkin, gambar atau apa. Itu secara umum mbak? Comment [a83]: Cara guru memberi motivasi kepada siswa (W1, S4, B 6 – B 9) Itu memang ada anak-anak yang istilahnya itu punya bakat dengan berhitung sudah lancar itu memang bakat ya tapi ada anak yang mungkin dianggap sebenarnya kurang rajin belajar sehingga dia agak ketinggal dengan temannya gitu. Ya coba kita dekati, kita ajari. Comment [a84]: Cara guru membantu siswa yang mengalami kesulitan (W1, S4, B 18) Ya ketika di kelas bisa kita dekati. Misalnya di akhir pembelajaran itu kita beri sedikit tambahan. Apalagi anak-anak yang kurang termotivasi kan kita beri motivasi. Misalnya dengan apa ya, ketika dia berusaha kita beri dia apa, kita beri dia feedback ya selamat ya apa di depan teman-temannya biar temantemannya juga melihat biar agak ada semangat gitu. Kalau Matematika kadang kalau kurang konsentarasi itu menghambat ya mbak artinya ketika kita menjelaskan kita kan juga harus tahu karakteristik anak karena memang ada anak yang gak bisa diem gitu ya tapi dia aktif tapi mendengar seperti itu. Materinya apa ya, kalau misalnya untuk penjumlahan dan pengurangan itu kan di materi awal itu kan kelas 1 mereka sudah kenal ya dengan penjumlahan, pengurangan tetapi ketika di semester ini di kelas 2 ini kan seperti mengulang tetapi ada beberapa anak yang belum paham, mungkin belum paham betul perkaliannya seperti apa, pembagian Comment [a85]: Cara guru mendekati siswa yang mengalami kesulitan belajar (W1, S4, B 22 – B 28) Comment [a86]: Kendala yang dialami siswa dalam pembelajaran ( W1, S4, B 29- B 30) 134

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. Terus itu masih mengulang materi penjumlahan dan pengurangan itu enggak bu di kelas 2? Lalu bagaimana cara guru dalam memudahkan pembelajaran Matematika di kelas? Jadi setiap ada Matematika itu mencongak ya bu? Jadi sesuai dengan materinya ya bu? Lalu bagaimana pendapat ibu mengenai penggunaan alat peraga pembelajaran dalam mengajar Matematika? Permaianan bagaimana bu? seperti apa masih ada beberapa anak yang belum menguasai. Kalau penjumlahan pengurangan itu di les masih tetap kita berikan karena itu nanti bisa membantu di perkalian itu kan penjumlahan berulang, hitung lengkap itu masih saya ulang karena itu sangatsangat membantu sekali. Ya mungkin dengan kita beri contoh yang nyata, mungkin dengan peragaan misalnya kalau perkalian sampai kadang kita pake karet yang namanya himpunan itu seperti apa di samping gambar-gambar kita juga mungkin ada materi dari buku, kemudian juga pake batu mislanya kerikil-kerikil itu juga bisa biar dia paham. Kalau enggak sampai, saya itu punya siswa itu yang sampai pake lidi itu lho yang dicoret-coret. Misalnya perkalian, 5 kali 4 misalnya itu harus nyoretnyoret itu sekian kali itu baru ketemu. Tapi kan kalau cara seperti itu kan lama ya, paling tidak hafalan itu juga wajib, mencongak itu juga salah satu tambahan untuk mereka memahami. Karena biasanya awal Matematika itu saya mencongak, itu bagus untuk dia menghafal, misalnya dia di rumah hafalan. Besok pagi dia di sekolah mencongak jadi ada motivasi untuk belajar. Iya, setiap ada Matematika itu mencongak. Ketika di penjumlahan ya mencongak penjumlahan, ketika kita belajar di perkalian kita ya mencongak perkalian. Iya, itu sesuai materinya. Kalau untuk alat peraga itu juga bagus ya mbak artinya kadang kita itu minim sekali ya kalau alat peraga kan sekarang kita dituntut untuk menciptakan sendiri. Bagaimana caranya kadang saya sendiri pake yang sederhana sekali karena kadang kita tidak bisa membuat ya tapi bagaimana caranya saya itu bisa memberikan motivasi ke anak biar mereka itu jelas, dong gitu pake segala cara walaupun dengan cara yang sederhana. Kalau saya melihat di sekarang ini mungkin yang baru-baru sekarang ini sudah banyak sekali alat peraga yang ada ya. Ada yang membuat sendiri dari mbak-mbak mahasiswa itu juga menambah wawasan kami juga, menambah pengalaman juga. Owh iya ya, caranya seperti itu. Misalnya seperti itu. Untuk permainan juga bisa. Kalau permainan-permainan itu misalnya dengan langsung anak kita buat tapi kalau yang ini saya belum sempat sampaikan ya. Kalau yang tahuntahun kemarin sempat. Misalnya kayak di pramuka itu kita buat lingkaran, mari berjalan-jalan kayak gitu kita bentuk lingkaran. Nah itu sama dengan kita perkalian itu terus penjumlahan juga bisa kelompoknya jumlahnya harus 8 kayak gitu atau ada yang kelompoknya 1 tambah sekian ketemunya 8 ada yang 2 pokoknya kelompok itu nanti bisa, misalnya nanti kita bentuk 10 orang itu ya harus tukeran nanti yang 3 tambah 4. Comment [a87]: Cara guru dalam memudahkan pembelajaran Matematika (W1, S4, B 48 – B 55) Comment [a88]: Motivasi yang diberikan guru (W1, S4, B 60 – B 64) Comment [a89]: Alat peraga yang sering digunakan guru (W1, S4, B 73 – B 78) Comment [a90]: Permainan dalam memudahkan materi kepada siswa (W1, S4, B 88 – B 96) 135

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97. 98. 99. 100. 101. 102. 103. 104 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. Terus cara ibu untuk mendapatkan alat peraga itu bagaimana bu? Mungkin dari sekolah atau yang ada di dekat siswa? Contohnya bu? Itu anak-anaknya bawa sendiri bu? Terus dari sekolah disediakan enggak bu alat peraga itu? Kesulitan enggak bu alat peraganya? Bagaimana pengaruh penggunaan alat peraga terhadap pembelajaran itu? Di dekat siswa pun sebenarnya bisa misalnya kita apa ya misalnya pensil. Alat peraga kadang kita tidak yang modern sekali yang mungkin kita ada pensil, ada penghapus yang bisa dipake. Jadi tidak harus kita cari di mana-mana, tapi kalau misalnya yang memang seperti sekarang dituntut untuk membuat sesuatu yang apa punya ide yang beda tidak bagus tapi kalaupun memang seandainya tidak ada, apapun yang ada di situ bisa kita pake. Misalnya pensil ya kita pinjem pensil anakanak kan bisa. Misalnya owh ini pensilnya ibu 2 terus pensilnya ini temen-temen kalian 3 terus misalnya dijumlahkan jadi berapa seperti itu. Kalau perkalian ya memang kita harus bantu, kita juga bisa pake batu, kerikil, ada karet. Kalau karet itu kadang-kadang kalau dulu saya menyediakan lempengan itu kadang kalau mislanya gak ada, anak-anak disuruh bawa. Seperti SBK itu kan juga gitu, anak-anak bawa bahannya, nanti kita buat di sekolah, misalnya mengecat, mencetak itu kita pake itu. Sebenarnya kalau sekolah itu ada cuman kadang-kadang kan belum lengkap ya. Seperti kemarin pak X ngendiko, aduh di sana bu. Cuma kadangkadang saya sendiri kalau suruh nyari-nyari kan juga ini ya, kadang gak enak sendiri gitu lho. Jadi kalau kira-kira yang ada di situ seperti alat peraga banyak banget to kayak papan paku itu yang untuk bangunbangun datar itu, ya apa yang ada. Tapi memang kalau kira-kira menjelaskan materi apa kira-kira di lab ada ya pinjam, kalau gak ada ya meminjam. Kalau kesulitan asal bahannya seadanya boleh itu kayaknya ya gak sulit ya tapi kalau harus yang pake cara yang seperti sekarang mungkin banyak istilahnya alat peraga yang macem-macem kayak gitu itu ya sulit kalau buat sendiri, kan terkendala waktu juga, gak sempet mau nyiap-nyiapin. Kalau seperti mbakmbaknya ini apa memang harus bener-bener menyiapkan ya, karena untuk istilahnya itu untuk presentasi atau apa gitu kan harus menyiapkan. Sebenarnya kalau alat peraga itu sangat bagus ya karena untuk anak-anak sekarang ini yang kelas bawah itu terutama mereka harus melihat sesuatu yang nyata jadi betul-betul owh seperti itu ya, mislanya seperti itu. Kayak misalnya kita ini kalau yang IPA itu ada panca indera jadi bisa lihat apa ini? Gunanya untuk apa? Owh untuk berbicara, untuk bernyanyi. Jadi kan memang dengan alat peraga itu sepertinya lebih mempermudah pemahaman anak. Owh iya, kalau mungkin yang mereka punya daya tangkap yang memang cepat itu ya diterangkannya kan mereka sudah paham mungkin dia dengan melihat pengalaman di televisi mungkin dengan bacaan-bacaan, mungkin dengan punya pengalaman kakaknya, mungkin ketika dia belajar itu juga akan membantu sekali. Karena dengan alat peraga itu akan mempermudah Comment [a91]: Alat peraga yang pernah digunakan guru ( W1, S4, B 99 – B 100) Comment [a92]: Alat peraga yang ada di sekolah ( W1, S4, B 118 – B 119) Comment [a93]: Keengganan guru kalau mau menggunakan alat peraga (W1, S4, B 120 – B 122) Comment [a94]: Guru terkendala waktu kalau mau menggunakan alat peraga (W1, S4, B 132 – B 133) Comment [a95]: Alat peraga membantu anak melihat sesuatu yang nyata (W1, S4, B 137 – B 140) 136

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 153. 154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. Terus seberapa sering guru menggunakan alat peraga dalam pembelajaran? Jadi tergantung materinya ya buk? Terus kalau menurut ibu alat peraga yang baik untuk pembelajaran Matematika itu yang seperti apa? Terus kalau tanggapan siswa kalau menggunakan alat peraga bagaimana bu? Terus hambatan yang dialami guru pemahaman siswa. Kalau alat peraga itu kalau saya terus terang tidak sesering sekali tapi sekali lagi kita juga tidak perlu ya misalnya kita menjelaskan sesuatu yang mungkin bagi anak itu agak susah sebenarnya kan kita perlu memberikan itu. Iya tergantung materinya kira-kira apa. Nanti misalnya kita belajar tentang energi, mungkin mbakmbaknya itu juga pake bisa apa yang termasuk ke dalam sumber energi, misalnya alat music bisa membawa sesuatu yang menimbulkan bunyi. Misalnya angklung, apa drum apa gitu. Itu kan sebenarnya juga alat peraga juga kan ya, misalnya seperti itu. Misalnya pake hp kan juga bisa, hp kan bisa menimbulkan suara dan cahaya. Yang seperti apa ya? Kalau kita sih yang sederhana-sederhana kadang misalnya kita juga dengan apa ya. Di laptop itu kan juga sering ada gambargambar, itu kan bisa digunakan tapi gak semua anak punya ya. Nah, kalau buat guru itu alat peraga bisa dibuat yang sederhana-sederhana saja, dari bahan yang mudah didapat misalnya seperti itu. Tidak harus mahal tapi kan kita intinya untuk menjelaskan biar anak itu paham. Jadi apa yang bisa kita manfaatkan ya kita manfaatkan. Karena sekarang kan banyak juga alat peraga yang dari barang bekas misalnya kan juga bagus ya, jadi kita tidak usah membeli dengan harga yang mahal. Kalaupun kita membeli pun kalau memang yang sekarang kan banyak ya yang bagusbagus modelnya itu kan kadang belum tentu memahami betul pemakaiannya, seperti saya sendiri ya, seperti yang kemarin itu mbaknya yang membawa itu kan malah temen-temen juga pada tanya. Iki ki le nganggo kepie, seperti itu. Makannya kan saya juga belajar. Itu kan juga masukan juga buat kami-kami ini, owh peragaan seperti itu. Anak-anak paham apa enggak dengan cara seperti itu dengan alat peraga yang seperti itu. Kalau anak-anak sebenarnya dia semangat ya kita baru membawa belum menyampaikan itu mereka sudah kruyuk-kruyuk. Mungkin penjenengan kan juga sudah pengalaman, kalau di kelas 2 kan seperti itu, karena kan mereka seperti misalnya melihat apa, sesuatu yang kayaknya berbeda dengan yang lain itu kan dia termotovasi, pengen tahu. Itu tu apa to bu? Itu tu apa? Kalau anak-anak sebenarnya lebih senang dan tertarik apalagi misalnya dengan permainan apa. Jadi pembelajaran itu seperti mereka tidak belajar tapi mereka itu belajar. Jadi tidak terasa tapi masuk gitu lho, seperti lewat lagu kan juga bisa. Jadi mungkin dia tidak terasa,owh dia itu belajar tapi sebenanya dia itu belajar tapi lewat lagu. Mungkin lewat cerita, mungkin ya lewat permainan, lewat alat peraga itu juga bisa memberikan contoh langsung biar anak itu paham. Bagus kalau bisa membuat seperti itu. Kalau di kelas ketika pembelajaran Matematika Comment [a96]: Guru tidak sering menggunakan alat peraga (W1, S4, B 154 – B 155) Comment [a97]: Alat peraga sebaiknya yang sederhana (W1, S4, B 168 – B 169) Comment [a98]: Alat peraga sebaiknya yang sederhana (W1, S4, B 172 – B 177) Comment [a99]: Siswa semangat ketika menggunakan alat peraga (W1, S4, B 191 – B 193) 137

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234. 235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. ketika di kelas menggunakan alat peraga? Terus bagaimana hasil belajar siswa ketika menggunakan alat peraga itu dibandingkan dengan tidak menggunakan alat peraga? Apa beda? Terus bu Z mengetahui tentang metode Montessori enggak bu? Bagaimana pendapat guru mengenai penggunaan alat peraga yang meggunakan metode Montessori? Sebelum dipraktekkan bagaimana pendapat ibuk kalau misalnya alat peraga itu diterapkan di SD N Percobaan 3 Pakem ini? itu memang lebih banyak IPA ya kalau dibandingkan IPA, terus terang kalau di sini. Jadi kalau Matematika itu kan sepertinya kita mengajar langsung ke pemberian materi jadi kalau alat peraga banyak yang belum begitu menggunakan. Misalnya pengukuran seperti itu kan, kalau kita misalnya ukuran yang tidak baku, kita kan bisa menggunakan ukuran jengkal atau apa kita langsung keluar jadi tidak hanya di kelas bisa langsung keluar kita praktikkan. Kalau dibandingkan dengan IPA seperti itu sepertinya lebih banyak ke materi, kalau Matematika itu soalnya saya sendiri mengajar di kelas bawah ya seperti itu, tidak tahu kalau di kelas atas seperti apa tapi saya merasa kalau Matematika tidak begitu banyak menggunakan alat peraga kayak tadi kalau dibandingkan dengan materi yang IPA memang sering praktek. Sebenarnya Matematika juga bisa biar anak itu tahu. Bahkan saya kadang ukuran-ukuran panjang itu misalnya km, cm. lewat lagu ya bisa biar hafalan. Sepertinya ya ada peningkatan, artinya mungkin dari kita menerangkan secara biasa lewat buku lewat kita memberikan materi seperti itu dengan mereka melihat sendiri. Owh cara menghitungnya seperti itu, owh seperti itu, owh seperti itu. Insyaallah juga lebih paham. Saya itu kalau untuk pembelajaran seperti itu saya kan belum banyak tahu tapi saya belajar, seperti itu. Kalau Montessori itu banyak motivasi dengan alat peraga itu ya? Iya artinya anak itu akan termotivasi dengan pembelajaran yang seperti itu. Dengan memberikan contoh-contoh seperti itu ya langsung alat peraga. Mungkin anak-anak lebih memahami. Nanti kita coba saja mbak, jadi dengan misalnya seperti itu gimana, kita praktekkan. Kan saya juga masih perlu banyak belajar. Ya itu tergantung kita, yang namanya mencoba ya jadi gak ada salahnya. Ya mudah-mudahan kalau memang niat kita baik, nanti mau mencoba bagaimana supaya anak lebih memahami, lebih berprestasi ya kita coba. Mudah-mudahan nanti hasilnya akan baik. Harapan kita seperti itu, jadi mari kita lihat bagaimana antusias anak itu menerima pembelajaran seperti itu, dengan metode yang seperti itu kira-kira nanti bagaimana nanati hasilnya karena kita kan masih minim sekali dengan istilahnya inovasi-inovasi baru, mungkin dari luar, mungkin dari ide-ide kita sendiri seperti itu. Biar kita berkembang, yang jelas SD kami ingin berkembang. Kan semua itu juga tergantung dengan situasi dan kondisi dari sekolah, dari siswa dan juga dari bapak-ibu guru bisa mengembangkan. Comment [a100]: Alat peraga yang ada di kelas terbatas (W1, S4, B 208 – B 210) Comment [a101]: Jarang menggunakan alat peraga (W1, S4, B 210 – B 213) Comment [a102]: Alat peraga meningkatkan hasil belajar (W1, S4, B 228 – B 231) Comment [a103]: Alat peraga Montessori membuat anak termotivsi (W1, S4, B 238 – B 241) Comment [a104]: Guru terbuka jika metode Montessori diterapkan di SD N P 3 (W1, S4, B 256 – B 259) Keterangan: W1 : Wawancara pertama 138

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI S1 : Subjek satu S2 : Subjek dua S3 : Subjek tiga S4 : Subjek empat 139

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.8 Verbatim wawancara Pra penelitian siswa A Subjek 1 :A Tempat : Ruang agama katolik Waktu : 1 Februari 2014 Pukul : 09. 34 – 09. 39 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. Pertanyaan Ibuk mau nanya-nanya soal pembelajaran matematika. Kalau menurut kamu pembelajaran matematika itu gimana? Gampangnya gimana? Kalau agak gampang berarti ada susahnya juga? Susahnya di mana? Contohnya? Owh kaya, dikasih contoh soal yang gampang tapi nanti waktu dikasih soal, soalnya yang susah gitu? Terus kamu pernah enggak mengalami kesulitan waktu belajar matematika? Kayak gimana? Waktu mengerjakan apa gimana? Waktu mengerjakan gimana? Terus waktu salah dibenerin enggak? Terus ada enggak kesulitan yang dialami di kelas? Terus maunya gimana? Owh gitu, terus ketika bu Lis menjelaskan, kamu paham enggak sama penjelasannya bu Lis? Pertamanya gak paham kenapa? Owh gitu, terus kamu tahu enggak alat peraga itu apa? Alat peraga itu kayak alat atau benda yang membantu kamu selama proses pembelajaran secara nyata gitu. Kalau di kelas guru sering tidak menggunakan alat peraga, waktu matematika? Contohnya? Selain spidol? Pensil sama kertas buat apa? Owh gitu, terus kamu kalau matematika itu lebih suka pake alat peraga apa enggak? Kenapa kok pakek? Jawaban Agak gampang. Kalau kadang-kadang itu kan ada soal yang mudah, dan susah. Kalau soal yang susah diterangkan terus jadi mudah. Banyak. Comment [a105]: Subjek merasa agak gampang ketika belajar matematika (W1, S1, B1 – B7) Tadi soalnya gampang-gampang, terus susah. Yang soal pertamanya itu gampang terus lama-lama jadi susah. Iya. Comment [a106]: Kesulitan yang dialami siswa ketika belajar matematika (W1, S1, B10 – B13) Pernah. Salah-salah terus. Waktu mengerjakan. Soal-soal perkalian gitu susah-susah. Iya. Gojeg terus temen-temennya, jadi ganggu konsentrasi. Anteng biar bisa ngerjainnya. Petamanya itu agak-agak itu, gak paham. Terus lama-lama paham. Comment [a107]: Subjek tidak suka kalau ada teman yang ramai (W1, S1, B 22 – B 23) Comment [a108]: Subjek pertamanya tidak paham dengan penjelasan guru (W1, S1, B25) Pertamanya belum ngedong aku. Enggak. Sering. Comment [a109]: Guru matematika sering menggunakan alat peraga (W1, S1, B 31) Spidol. Pensil sama kertas. Nanti kalau ngasih soal-soal bu Lis kan kalau ngasih soal pake kertas gitu terus nanti kalau gak tau diajarin. Emm pakek. Comment [a110]: Alat peraga yang pernah digunakan guru matematika (W1, S1, B 36 – B 37) Soalnya lebih cepat. 140

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45. 46. 47. 48. 49 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. Lebih cepat? Kalau gak pakek alat peraga lama gitu? Kalau belajar matematika pake alat peraga itu pemahamanmu bagaimana? Lebih mudahnya gimana? Terus perasaanmu ketika mengguankan alat peraga gimana? Senangnya gimana? Selain itu, ada lagi? Kok bisa lebih cepat? Terus kalau menjawab soal kamu suka pake alat peraga itu enggak? Apa lansgung dijawab? Terus menurut kamu alat peraga yang menarik itu kaya gimana? Bagusnya gimana? Ya kadang-kadang lama. Lebih mudah memahami. Soalnya jadi lebih mudah gitu, membantu. Senang. Comment [a111]: Alat peraga membantu pemahaman subjek (W1, S1, B 47 – B 50) Bisa menggunakan secara bergiliran. Kalau mengerjakan soal itu jadi lebih cepat. Ya lebih mudah kan ngitung pakek alat peraga. Kalau lagi gak ada alat peraganya langsung, kalau lagi ada alat peraganya kadang-kadang pakek. Comment [a112]: Subjek senang bisa menggunakan alat peraga (W1, S1, 52) Comment [a113]: Alat peraga membantu subjek mengerjakan soal (W1, S1, B 53 - B 54) Bagus, warnanya cerah. Ya bentuknya lucu-lucu gitu. Comment [a114]: Alat peraga yang dimau subjek (W1, S1, B 58 – B 60) Keterangan: W1 : Wawancara pertama S1 : Subjek satu S2 : Subjek dua S3 : Subjek tiga S4 : Subjek empat 141

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.9 Verbatim wawancara Pra Penelitian Siswa B Subjek 2 :B Tempat : Ruang agama katolik Waktu : 1 Februari 2014 Pukul : 09. 34 – 09. 39 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. Pertanyaan Ini tentang pembelajaran matematika secara umum. Menurut kamu belajar matematika itu gimana? Menyenangkannya gimana? Kalau di kelas itu gimana belajar matematikanya? Mudahnya gimana? Itu maksudnya gimana? Owh gitu, terus kamu kalau belajar matematika itu mengalami kesulitan enggak? Belum pernah mengalami kesulitan? Kalau gangguan dari luar waktu belajar matematika pernah enggak? Kamu gak suka ada teman yang ramai? Jadi sukanya? Ketika guru menjelaskan materi matematika di kelas, pemahamanmu bagaimana? Bu Z kalau menjelaskan mudah enggak diterima sama kamu? Contohnya gimana? Owh gitu, tapi suka dituliskan sama bu Z gitu enggak? Habis itu terus jadi paham enggak? Kok bisa? Owh gitu, kamu tahu enggak alat peraga itu apa? Guru sering menggunakan alat itu enggak? Alat peraga waktu pembelajaran. Contohnya? Owh gitu, terus kamu itu kalau belajar lebih suka menggunakan alat peraga apa dijelasin sama bu Z biasanya? Bentar-bentar, kalau dijelasin pake alat peraga … Jawaban Menyenangkan. Karena sering diadakan lomba, pertanyaan lisan, abis itu dikasih pertanyaan sama bu Lis terus mencongak. Comment [a115]: Subjek senang ketika belajar matematika (W1, S2, B1- B 5) Emm mudah. Mudahnya kadang-kadang guru mengajari cara memakai barang yang kita pakai. Nanti ada benda, terus kalau perkalian kita menghitungnya pake benda itu. Enggak. Comment [a116]: Cara guru memudahkan pemahaman siswa (W1, S2, B9- B 12) Enggak. Pernah, waktu ada teman yang ramai. Comment [a117]: Subjek tidak suka jika ada siswa yang ramai (W1,S2,B17) Enggak suka. Kelasnya diem. Jadi aku bisa konsentrasi gitu. Lancar. Kadang-kadang. Kan bu Z kalau ngomong cepet sekali. Kalau nerangin perkalian nenenenene gitu (sambil ketawa). Suka. Comment [a118]: Guru terlalu cepat jika menjelaskan (W1, S2, B26- B 28) Paham. Kan terus dicermati tulisannya bu Z itu. Alat yang membantu kita saat mengerjakan tugas. Comment [a119]: Pendapat subjek tentang alat peraga (W1, S2, B 33) Iya. Contohnya memakai kelerang waktu menghitung tambah-tambahan, pengurangan, dan perkalian. Dua-duanya. Kalau dijelaskan pake alat peraga kita bisa sambil mencoba, tapi kalau dijelaskan pake omongan kita bisa simpan di otak. Bisa kita gunakan alat itu sebagai untuk menghitung, tapi kalau menjelaskan pake mulut bisa disimpan di Comment [a120]: Alat peraga yang pernah digunakan guru (W1, S2, B38 – B 39) Comment [a121]: Subjek suka ketika menggunakan alat peraga (W1, S2, B 40 – B 42) 142

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45. 46. 47. 48. 49 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. Siapa yang ngajarin kayak gitu? Bu Z bilang kayak gitu? Mama sering bantuin kamu belajar gitu? Owh, terus perasaanmu ketika menggunakan alat peraga itu gimana? Terus ketika mengerjakan soal, menjawab soal, kamu lebih suka pake alat peraga apa enggak? Terus menurut kamu alat peraga yang menarik itu yang kaya gimana? Lucu-lucu kayak gimana? otak. Guru. Iya, mama juga. Iya. Senang soalnya sambil bermain. Comment [a122]: Subjek senang menggunakan alat peraga karena bisa sambil bermain (W1, S2, B49) Tergantung, kalau soalnya gampang langsung tapi kalau soalnya sulit pake alat peraga. Comment [a123]: Subjek menggunakan alat peraga jika menemukan soal yang sulit(W1, S2, B 51 – B 52) Alat peraga yang menarik itu warnanya cerah, bentuknya juga lucu-lucu. Contohnya kayak kelereng itu nanti ditempeli stiker. Comment [a124]: Alat peraga yang diinginkan subjek (W1, S2, B 62- B 66) Keterangan: W1 : Wawancara pertama S1 : Subjek satu S2 : Subjek dua S3 : Subjek tiga S4 : Subjek empat 143

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.10 Verbatim wawancara Pra Penelitian Siswa C Subjek 3 :C Tempat : Ruang agama katolik Waktu : 1 Februari 2014 Pukul : 09. 29 – 09. 33 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. Pertanyaan Ini mengenai pembelajaran matematika secara umum. Menurutmu kalau belajar matematika itu bagaimana? Kenapa? Owh gitu, kalau tadi kan jawabnya agak suka, berarti kalau agak ada sukanya ada enggaknya gitu? Enggak sukanya gimana? Owh jadi kamu maunya itu ngerjainnya udah selesai dulu baru dikasih soal lagi gitu? Owh gitu, terus kamu pernah enggak mengalami kesulitan ketika belajar matematika? Sulitnya di mana? Kenapa gak suka? Terus kesulitan yang lain? Ada lagi enggak? Terus materi yang susah menurut kamu itu apa? Kenapa kok bisa susah? Owh soalnya lama nghitungnya? Kamu maunya yang cepet-cepet gitu? Terus ketika guru menjelaskan materi gitu, kamu paham enggak sama penjelasannya bu Z? Kanpa kok enggak? Kok bisa bingung? Owh gitu, selain itu kalau bu Z jelasin soal-soal di papan tuZ gitu kamu jelas enggak sama penjelasannya? Kenap kok enggak? Terus kamu tau enggak alat peraga itu apa? Hemm, alat yang bisa membantu. Pinter. Guru sering menggunakan itu enggak waktu pembelajaran matematika? Contohnya? Jawaban Agak suka. Tambah-tambahan dihitung, terus bangun datar agak gampang. Kalau ngerjain soal nanti belum selesai, udah dibuatin lagi. Iya, kan belum selesai masak udah dikasih soal lagi. Comment [a125]: Subjek agak suka ketika mengikuti pembelajaran (W1, S3, B1- B8) Pernah Waktu menghtitung apa ngerjain soal temen-temnnya ramai itu aku gak suka. Kan nganggu. Enggak, cuman itu aja. Comment [a126]: Subjek tidak suka jika ada teman yang ramai (W1, S3, B15- B 17) Perkalian. Soalnya kalau perkalian yang banyak gitu aku gak bisa, menghitungnya lama, contohnya itu 25 dikali 9 itu kan nghitungnya lama. Iya. Iya. Enggak. Bingung. Kalau dikte bu Z’nya cepet-cepet gitu, bu Z ngomongnya cepat. Enggak. Karna cepet, ngomongnya cepet, memberi tahu juga cepet. Serba cepat gitu. Alat yang bisa membantu. Comment [a127]: Subjek tidak paham dengan penjelasan guru (W1, S3, B31 – B37) Kadang-kadang. Comment [a128]: Pendapat subjek tentang alat peraga (W1, S3, B 38) Bawa karet gitu buat nghitung kotak yang ada pakupakunya. 144

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45. 46. 47. 48. 49 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. Yang lain ada enggak selain karet? Buat apa? Terus kalau menggunakan alat peraga sama enggak, kamu lebih suka mana? Kenapa? Bisa ngasih tahu jawabnnya, owh gitu. Terus kalau menggunakan alat peraga itu kamu lebih mudah memahami materi apa biasa aja apa malah susah? Terus perasaanmu ketika menggunakan alat peraga itu gimana? Terus ketika kamu mengerjakan soal kamu suka enggak pake alat peraga. Kenapa? Terus menurut kamu alat peraga yang menarik itu kaya gimana? Pake pensil, bolpoin apa biting gitu. Buat menghitung tambah-tambahan. Alat peraga. Comment [a129]: Alat peraga yang pernah digunakan guru (W1, S3, B 43 – B 45) Bisa ngasih tahu jawabnnya. Biasa. Ada alat peraga ya gitu, gak ada alat peraga ya gitu. Biasa aja. Comment [a130]: Alat peraga tidak memberikan kontribusi terhadap subjek ( W1, S3, B50 – B 51) Senang, bisa ngasih tahu jawabnnya. Gak usah susahsusah ngitung. Suka. Comment [a131]: Subjek senang ketika menggunakan alat peraga karena mempercepat pengerjaan (W1, S3, B54 – B55) Bisa membantu untuk menghitung. Bentuknya lucu, warnanya cerah. Comment [a132]: Alat peraga yang diinginkan siswa (W1, S3, B60) Keterangan: W1 : Wawancara pertama S1 : Subjek satu S2 : Subjek dua S3 : Subjek tiga S4 : Subjek empat 145

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.11 Verbatim wawancara Pasca Penelitian Guru Subjek 4 : Guru matematika Tempat : Ruang agama Waktu : 2 Maret 2014 Pukul : 12. 40 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. Pertanyaan Yang pertama itu bagaimana perasaan guru setelah melihat kegiatan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga tersebut? Terus pendapat guru tentang sikap siswa ketika menggunakan alat peraga berbasis Montessori? Mungkin siswanya malas, biasa saja, tidak tertarik atau bagaimana bu? Tapi kemarin itu awalnya pada awal pertemuan, “apa bu apa bu” tapi setelah beberapa pertemuan terus langsung “wah kok itu terus to bu” bosen kaya gitu. Terus bagaimana pendapat guru mengenai alat peraga yang digunakan siswa ketika pembelajaran? Pendapat guru mengenai cara penggunaan alat peraga tersebut? Tapi sejauh itu bagaimana bu? Iya buk bisa buk, ya saya tinggalin. Ya boleh buk, kemarin itu kan alatnya masih ditinggal di lab, emang rencanannya saya dan Jawaban Rasanya senang ya, karena ada alat baru yang bisa mengenalkan ke siswa mungkin kalau yang sekarang alatnya jelas mahal ya? Tapi anak-anak senang gitu, anakanak antusias dengan kegiatan seperti itu, kemarin juga kan anak-ankanya sampai rame banget pengen mencoba dan sebagainya. Di samping itu juga kan juga bisa belajar sesuatu yang serius. Karena ini barang yang baru itu kesannya anak-anak tertarik ya karena barang yang baru apalagi barang ini juga membuat anak-anak antusias, pingin tau. Comment [a133]: Senang karena bisa mengenalkan alat baru kepada siswa (W2, S4, B 1 – B 2) Comment [a134]: Alat mahal (W2, S4, B3) Comment [a135]: Anak-anak antusias dan senang mencoba alatnya (W2, S4, B 3 – B 6) Comment [a136]: Anak belajar sesuatu yang serius (W2, S4, B 6 – B 7) Comment [a137]: Barang baru membuat anak tertarik dan antusias (W2, S4, B8 – B 10) Ya awalnya memang semangat tapi kan karena yang namanya anak kan mungkin pingin tau cara penggunaaannya kan seperti apa, tapi ternyata mereka cenderung seperti bermain. Kemarin pas awalnya itu kan dia selesai praktik ada yang telah menyelesaikan tugas itu kan dia malah main-main, malah bikin menara, yang kaya balok balok itu loh, lego” seperti itu. Ya biasanya membantu, paling tidak kan ada anak yang tadinya tidak tau, dengan dia langsung praktik tau, tapi ya sama-sama harus mendukung. Dengan praktik itu kan dia juga tetap hafal, tetap ngapalke, jadi ada teorinya ada praktiknya, teorinya seperti itu. Bagaimana dia menyelesaikan masalah kan ada kaitanya. Ya kalau caranya itu kan awal ya, jadi kan gurunya juga berlatih. Kemarin kan saya juga sempat agak grogi ya, harus pembaginya yang mana terus yang dibagi yang mana itu kan kadang-kadang keliru, padahal kan kita juga lupa sendiri to, yang untuk membagi namanya apa itu kan kita sempat grogi, karena memang apa juga pembelajaran baru, temen-temen juga nanyain ini tu apa? Padahal kan sama sama bingung ya, iki piye le nganggo. Kalau cara penggunanaan namanya setelah kita belajar ya namanya mudah. Cuma kemarin itu sempat sudah praktik pake alat peraga gimana kalau sekolah ditinggalin satu seperti itu kalau bisa? Ya paling tidak kan banyak yang tidak tahu ini apa sih kaya gitu, kaya gitu kan sudah pernah ada yang pelatihan di sini, tapi ini njenengan kan juga untuk penelitian. Nah besok kan kalau misalnya boleh alat peraganya nyuwun satu atau gimana gitu. Karna kan juga buat belajar anak-anak yang lain juga bisa. Itu tu kan juga untuk alat itu tu opo too?? Kaya gitu kan saya kemarin pas belum waktunya belajar itu kan pada Comment [a138]: Alat peraga digunakan untuk bermain (W2, S4, B 16 – B 20) Comment [a139]: Alat peraga membantu guru (W2, S4, B 24- B 29) Comment [a140]: Guru grogi dan lupa ketika menggunakan alat peraga (W2, S4, B 28 – B 32) Comment [a141]: Guru bingung cara menggunakan alat peraga (W2, S4, B 33 – B 34) Comment [a142]: Setelah belajar, mudah menggunakan alat peraga (W2, S4, B 35 – B 36) Comment [a143]: Guru meminta agar sekolah ditinggali alat peraganya (W2, S4, B 37 – B 38) Comment [a144]: Keinginan guru agar sekolah ditinggalin alat peraganya (W2, S4, B 41 – B 42) Comment [a145]: Alat bisa digunakan untuk anak yang lain di lain waktu (W2, S4, B 44) 146

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47. 48. 49 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. 101. 102. mbak Rasti dan mbak Wina emang mau ninggalin sekolah seperti itu. Terus pendapat guru mengenai hasil pengerjaan soal melalui alat peraga? Jadi hasilnya itu tergantung dengan pemahaman siswa terhadap alat peraganya itu ya buk? Terus selanjutnya perasaan guru ketika menggunakan alat peraga tersebut bagaimana bu? Terus menurut ibu bagaimana pengalaman siswa ketika menggunakan alat peraga tersebut? Kesan guru mengenai alat peraga itu terkait dengan ditanya itu tu opo to mbak? Sebelumnya temen-temen kan pada tanya “iki piye le nganggo? Pas awal kan saya juga belum dong banget nah akhirnya kan “ohh seperti itu to pinter juga ya menciptakan itu, kreatif gitu lho”. Ya memang betul kalau alat peraga kalau gak buat sendiri kan emang mahal. Kan mahal ya itu mbak belinya, itu kan dibuat itu kan sebenarnya digunakan untuk membantu to, em untuk keberhasilan pembelajaran itu dibantu alat peraga yang modelnya seperti itu kalau kita modelnya yang murah yang sederhana. Kalau ini kan emang agak mahal gitu tapi ya kreatif juga, bagus. Kalau yang alat peraga itu kan sepertinya anak yang memang betul-betul memahami bisa cara menggunakanya dan cara menghitungnya, tapi kalau buat anak yang kurang memahami cara penggunaannya, pertamanya dia pasti akan agak kesulitan, tapi kayaknya rata-rata kemarin setelah didampingi langsung, kalau saya sendiri kan mungkin kurang mengena ya. Tapi setelah mbaknya turun terjun membantu itu sepertinya tidak masalah. Ya memang ada satu dua anak yang memang sampai sekarang pun hitungan perkalian juga masih ada yang agak susah itu juga ada karena kan ya memang macem-macem to. Kalau alat peraga itu kan sebenarnya untuk mempermudah, kan tujuannya untuk mempermudah ya, biar anak itu tahu gimana gitu lho, owh caranya seperti itu ya, nanti setelah tanpa alat pun nanti mereka tahu pemahamannya karena kadang-kadang kan konsep yang kita buat kan sebenarnya maksudnya sama dengan yang alat peraga itu tapi karena anak-anak terbatas to, gak selamanya makek itu jadi kadang-kadang anak-anak sudah mulai ini lagi pemahamannya. Jadi kan kalau kemarin pakek alat peraga, owh seperti itu, dia makeknya seperti itu. Dia tahu ya caranya tapi kan lama-lama tidak tergantung pakek alat peraga saja tapi kan harus berkembang, harus hafalan, gak pakek alat itu saja tapi kan kemudian hafalan lebih lanjut jadi kan tidak harus pakek alat itu. Ya kalau pemahaman kan pakek alatnya bisa, kita kan mempermudah biar mereka kan tahu konsepnya. Rasanya senang ya, artinya ada alat peraga yang baru yang belum pernah kita pakek dan itu kita munculkan, terus antusias anak-anak juga kelihatan ya. Jadi kan menambah ilmu baru, informasi baru terus anak-anak juga semangat. Cuma sedikit bingung sama cara penggunaanya, le natar belum betul-betul latihan ya, intensitasnya masih kurang banyak, sekarang ditatar terus besok dipakek. Jadi sudah belajar sedikit demi sedikit. Lama-lama paling tidak tahu ya, owh pembagian itu seperti itu, owh perkalian seperti itu. Misalnya kita cuman dengan gambar kan mereka lebih apa ya? Lebih menyenangkan ya, kan ketika mereka bermain mereka tidak harus menulis tetapi dengan praktek dia juga sudah bisa, owh seperti itu, owh pembagiannya seperti itu. Kalau 15 dibagi 3 owh iya caranya seperti itu, maka dia lebih memahami dengan dibantu alat itu. Kalau pemahaman siswa itu kan bermacam-macam ya, jadi kan saya tidak ngambil salah satu dengan alat itu Comment [a146]: Alat membuat guru lain penasaran (W2, S4, B 46 – B 47) Comment [a147]: Awalnya guru belum paham dengan cara penggunaan alat (W2, S4, B 48 – B 49) Comment [a148]: Kreatif yang menciptakan alat (W2, W4, B 58 – B 60) Comment [a149]: Alat peraga mahal (W2, S4, B 50 – B 52) Comment [a150]: Alat dibuat untuk membantu keberhasilan mengajar (W2, S4, B 52 – B 55) Comment [a151]: Alat peraga mahal (W2, S4, B 56 – B 57) Comment [a152]: Anak yang bisa menggunakan mendapatkan hasil yang baik dan sebaliknya (W2, S4, B 58 – B 62) Comment [a153]: Guru tidak percaya diri saat mengajar (W2, S4, B 63 – B 65) Comment [a154]: Alat mempermudah pemahaman anak (W2, S4, B 69 – B 77) Comment [a155]: Anak tidak boleh tergantung pada alat peraga (W2, S4, B 79 – B 83) Comment [a156]: Alat mempermudah pemahaman konsep (W2, S4, B 83 – B 84) Comment [a157]: Guru senang menggunakan alat peraga baru (w2, S4, B 85 – B 86) Comment [a158]: Anak terlihat antusias ketika menggunakan alat (W2, S4, B 87) Comment [a159]: Alat menambah ilmu dan informasi baru (W2, S4, B 87 – B 88) Comment [a160]: Anak semangat menggunakan alat peraga (W2, S4, B 88) Comment [a161]: Guru bingung menggunakan alat peraga karena baru sebentar diajarin (W2, S4, B 89 – B 91) Comment [a162]: Alat lebih menyenangkan dan dapat dibuat untuk bermain (W2, S4, B 95 – B 98) Comment [a163]: Alat membantu anak memahami (W2, S4, B 99 – B 100) Comment [a164]: Karakteristik siswa bermacam-macam (W2, S4, B 101) 147

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103. 104 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. 155. 156. 157. 158. pemahaman siswa? Bagaimana pemahaman siswa terhadap cara penggunaan alat peraga kalau menurut guru? Cara penggunaannya itu. Terus kesan guru dengan cara penggunaan alat peraga terkait dengan kemandirian siswa bagaiaman bu? Bagaimana kontribusi alat peraga terhadap konsep matematika yang didapat siswa? Jadi dengan alat itu seberapa besar kontibusinya terhadap pemahaman siswa? Jadi gak cuman ada teori tapi juga perlu ada prakteknya? Bagaimana kemampuan siswa dalam mengerjakan soal menggunakan alat peraga tersebut? mereka 100 % memahami kan mungkin dari hasil evaluasi kan kita juga bisa lihat kira-kira kalau anak yang memang memahami tidak hanya prakteknya tapi dia secara teori juga tahu. Tapi kalau yang memang cepat paham betul waktu dia praktek, akhirnya hasil evaluasinya juga memuaskan. Jadi sama-sama mendukung dari teori, dari materi yang ada terus dengan praktek lalu evaluasi. Itu kan ada kaitannya biar memahami betul dengan konsep pembagian seperti itu. Yang namanya anak itu kalau dilihat rata-rata mereka bisa ya, cuman memang keterbatasan waktu untuk mecoba maju di depan. Begitu langsung praktek satu-satu mereka kan pengen nyoba ke depan, walaupun di belakang sudah diberi kesempatan. Tapi ada anak yang tidak mau mencoba karena mungkin takut tidak bisa. Ada yang dia sudah saking bisanya, akhirnya dia malah terus bermain itu kan juga ada. Kalau anak yang sudah jelas tentunya begitu kita beri materi, kita beri soal itu mereka sudah bisa dengan sendirinya. Ini kan tergantung siswanya juga to? Ketika kita memberi alat peraga mereka penasaran itu tu apa, setelah dia tahu itu apa dia kan pengen mencoba. Setelah dia mencoba kan dia bisa menyimpulkan owh seperti ini to, owh seperti itu. Jadi memang beda-beda ya. Tapi dengan seperti itu kan dia pengen tahunya kan kayaknya lebih banyak ya, cenderung presentasenya itu anak yang aktif, bisa membuat anak penasaran, pengen tahu, apa sih? Sampai ketika penjenengan ndawuhi mencoba di depan, kan semuanya pengan maju ke depan, sampai mereka rebutan. Ya kalau itu memang apa ya, ya paro-paro. Artinya karena itu istilahnya alat peraga baru, mereka mencoba paling tidak ya separo lebihlah. Artinya dari betul-betul awalnya tidak bisa, ketika ada alat peraga, dia mungkin lebih kongkret to? Owh ternyata kalau pembagiannya seperti ini to caranya? Dia kan lebih cenderung ada peningkatan. Ya karena itu tadi tidak terlalu memberatkan anak untuk menghitung terus tapi kan dengan seperti itu kan ada selingan, owh dia sambil bermain owh ternyata ketika dia bermain dia juga belajar, seperti itu. Karena mereka itu setiap hari kan kadang-kadang seperti itu kalau kita misalnya kan mengajari apa gitu dan kita misalnya dengan alat peraga misalnya laptop, misalnya dengan rubrik dan sebagainya. Mereka mungkin secara tidak sengaja dia hanya nonton film tapi dibalik dia nonton film kan dia bisa berkembang, owh itu cerita tentang apa to? Dia bisa menceritakan apa yang dia lihat terus dia juga bisa mempraktekkan apa sih maksud yang diputer tadi, apa sih maksud alat itu, sebenarnya untuk apa to? Paling tidak ada nilai lebih lah dari alat peraga itu. Kalau melihat hasilnya kemarin itu rata-rata bagus ya? Ketika dia praktek kemudian diberi alat itu untuk mengerjakan soal-soal sepertinya hasilnya lumayan bagus ya? Yang per kelompok, kalau yang individu cenderung masing-masing anak kan berbeda itu tadi pemahamannya tidak langsung 100% dia paham tapi kan ada satu dua anak Comment [a165]: Alat mendukung hasil evaluasi siswa (W2, S4, B 106 – B 109) Comment [a166]: Keterbatasan waktu untuk mencoba di depan (W2, S4, B 113 – B 114) Comment [a167]: Anak antusias ingin mencoba di depan (W2, S4, B 115 – B 116) Comment [a168]: Anak takut untuk mencoba (W2, S4, B 116 – B 117) Comment [a169]: Alat digunakan untuk bermain oleh anak (W2, S4, B 117 – B 119) Comment [a170]: Anak yang paham dengan cara penggunaan akan mudah ketika mengerjakan soal (W2, S4, B 120 – B 122) Comment [a171]: Alat membuat anak penasaran dan aktif (W2, S4, B 126 – B 129) Comment [a172]: Anak rebutan untuk mencoba alat di depan (W2, S4, B 130 – B 132) Comment [a173]: Alat membantu anak secara nyata (W2, S4, B 135 – B 137) Comment [a174]: Ada peningkatan dalam diri anak (W2, S4, B 138) Comment [a175]: Alat dapat dibuat untuk bermain dan belajar (W2, S4, B 141 – B 142) Comment [a176]: Hasil belajar bagus ketika mengerjakan menggunakan alat (W2, S4, B 153 – B 156) 148

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 177. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. Terus bagaimana kesan guru terkait dengan kemandirin siswa ketika mengerjakan soal dengan alat peraga itu? Terus kalau hasilnya mereka mengerjakan soal dengan alat itu bagus ya buk? Pendapat guru mengenai bentuk alat peraga tersebut? Hehe mahal itu buk. Semuanya itu habis 1.550. 000. Tapi kalau untuk pembelajaran sendiri itu, mungkin ukurannya kurang besar atau kurang kecil? Terus kubusnya itu kekecilan atau bagaimana bu? Warna yang digunakan bagaimana bu? Pion? yang belum memahami caranya bagaimana. Kalau kemandirian siswa itu mereka bisa mengerjakan sendiri ya, tanpa didampingi itu kan mereka tetap bisa mengerjakan sendiri seperti itu. Jadi sambil bermain mereka juga mengerjakan soal, kan sudah selesai kegiatan dia malah bermain, perintahnya tidak ke arah kita mau belajar matematika tapi dia malah bermain kayak SBK gitu-gitu. Jadi tidak hanya itu tok, tidak hanya alat peraga untuk pembagian tapi ternyata bisa digunakan mereka untuk yang lain. Kalau dengan alat itu iya. Comment [a177]: Anak mandiri ketika mengerjakan (W2, S4, B 160 – B 164) Kalau bentuknya itu sebenarnya terkesan mahal ya sebenarnya. Soalnya kalau dilihat sekilas itu tu, kayaknya bentuknya apa sih? Kan kalau dengan betuk seperti itu kalau orang awan yang gak tau itu kayak bingkisan yang mahal ya? Kan kalau seperti itu seperti bukan alat peraga? Kok kayak hadiah, kan terus pengen tahu, kan terus dibukak ya itu ya? Owalah alat peraga to, owh ini ada anu yang kecil-kecil kotakan itu yang merah, kotak untuk ini. Owh ini alat peraga. Kalau awal saya melihat itu kesannya mahal ya mbak? Kayu pun kayaknya kayu mahal to itu? Terus dipernis ya kan? Jadi malah tambah kesannya ini tu mahal? Tapi saya gak tahu itu mahal apa enggak satunya seperti itu? Mahal tidak ya? Nah sak kotak-kotaknya itu, sak bungkusnya, semua perlengkapannya ya. Kalau saya rasa untuk bentuk-bentuk ininya sih gak masalah, itu sudah bagus, itu cuman terkesan mahal karna kotak-kotaknya itu lho yang besar itu lho, kalau dalamnya emang kecil-kecil tapi tetap itu bagus sekali. Bisa menciptakan alat peraga seperti itu. Kayaknya kalau yang dulu kan modelnya gak seperti itu to? Yang ada di lab itu kayaknya gak kayak itu ya? Kayaknya belum baru? Ini baru to? Kan ada bu yuyun yang di UNY juga, kan beliau juga dituntut untuk nggawe alat peraga sendiri, harus menciptakan alat sendiri. Kalau warnanya sih ya menarik juga. Biru sama merah, itu yang kotak kecil pembaginya itu, apa sih namanya, lali aku. Lhah yang pionnya itu kan merah. Terus ada yang biru itu kan sudah menarik juga. Kan yang namanya ada merahnya itu kan terus orang, anak kan jadi tertarik dengan warnawarna yang cerah, yang ngejreng. Ya bagus kok sama warna birunya juga, ya pas milih warnanya. Comment [a178]: Alat terkesan mahal dilihat dari bentuknya (W2, S4, B 172 – B 178) Comment [a179]: Alat terkesan mahal dilihat dari bentuknya (W2, S4, B 180 – B 184) Comment [a180]: Kotaknya walupun kecil tapi bagus (W2, S4, B 187 – B 190) Comment [a181]: Warna yang digunakan menarik (W2, S4, B 197 – B 204) Keterangan: W2 : Wawancara kedua S1 : Subjek satu S2 : Subjek dua 149

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI S3 : Subjek tiga S4 : Subjek empat 150

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.12 Verbatim wawancara Pasca Penelitian Siswa A Subjek 1 :A Tempat : Ruang agama Waktu : 3 Maret 2014 Pukul : 11. 48 – 11. 51 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. Pertanyaan Ketika pertama kali melihat alat itu, apa yang ada dipikiranmu? Kenapa ingin mencoba? Terus bagaimana sikapmu ketika pertama kali melihat alat peraga tersebut? Kenapa kok seneng? Sebelum itu pernah lihat alat peraga itu? Terus ketika pake alat itu kamu mudah enggak memahami materi pembagiannya? Apa sulit? Kenapa kok sulit? Lebih suka pake alat itu apa dijelasin sama guru kayak biasanya? Kenapa? Kamu harusnya bilang sama guru kalau pelanpelan gitu neranginnya harusnya. Besok bilang sama guru kalau kecepeten gitu. Terus kalau kamu tidak dijelasin sama guru cara penggunaannya, kamu tahu enggak bagaimana cara menggunakannya? Waktu guru menjelaskan itu kamu paham? Terus seberapa sering kamu menggunakan alat itu di dalam kelompok? Lebih sering kamu, apa B, apa C? Kenapa kok C? Owh gitu kemarin yang nyobain pertama kali siapa? Alat itu membantu kamu enggak dalam memahami materinya atau mengerjakan soal? Kapan? Kamu kalau mengerjakan soalnya lebih suka pake alat itu apa langsung dijawab? Kenapa? Waktu kamu ngerjain soal caranya gimana? Ketika pertama kali melihat alat peraga, apa yang ingin kamu lakukan dengan alat peraga itu? Kenapa kok ingin mencoba? Terus setelah menggunakan alat itu, apa pengalaman yang kamu dapat? Bagaimana pendapatmu dengan bentuknya? Kalau ukurannya? Kenapa kok suka? Jawaban Ingin mencoba. Ingin tahu caranya makai. Seneng. Comment [a182]: Subjek penasaran ketika pertama kali melihat alat peraga (W2, S1, B 1 – B 3) Karena baru pertama kali nyoba. Belum, baru pertama kali lihat. Kalau pertama kali sulit. Comment [a183]: Subjek suka waktu mengggunakan alat peraga karena baru pertama kali mencoba (W2, S1, B 4 – B 6) Belum tahu caranya. Lebih suka pake alat itu. Soalnya bu Z kalau jelasin cepat gitu. Ya. Comment [a184]: Awal menggunakan alat peraga subjek merasa kesulitan (W2, S1, B 8 – B 11) Enggak. Paham. Kebanyakan dipakai oleh C. Comment [a185]: Subjek paham terhadap penjelasan guru tentang cara penggunaan alat peraga (W2, S1, B 20) Kalau dia udah tapi temennya belum nyoba, nanti dia nyoba lagi. Kadang aku, kadang C. Comment [a186]: Alat peraga sering dipakai subjek C (W2, S1, B 21 – B 26) Membantu. Waktu menghitung soal-soal pembagian gitu. Pake alat itu. Comment [a187]: Alat membantu anak ketika menghitung soal (W2, S1, B 28 – B 30) Jadi lebih mudah ngerjain soal pake alat itu. Pake alat itu dulu baru dijawab Mencoba. Comment [a188]: Alat memudahkan subjek dalam mengerjakan soal(W2, S1, B 33 – 34) Comment [a189]: Subjek penasaran dengan cara pengunaan alat peraga (W2, S1, B 38) Pengen tahu aja gimana makenya. Jadi lebih mudah dalam menghitung pembagian dan perkalian. Gakpapa, udah pas. Gak kurang besar dan gak kurang kecil. Suka. Udah pas aja. Comment [a190]: Alat memudahkan subjek dalam menghitung pembagian (W2, S1, B 39 – B 40) Comment [a191]: Bentuk alat peraga sudah pas (W2, S1, B 41 – B 41) Comment [a192]: Ukuran alat peraga sudah pas (W2, S1, B 43 – B 44) 151

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45. 46. 47. 48. 49 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. Terus kalau warnanya? Kenapa kok cuma lumayan? Terus kamu maunya dikasih warna apa? Kenapa kok kuning? Waktu dijelasin sama bu Z tentang cara penggunaannya kamu paham enggak? Kok bisa? Abis dijelasin sama apa yang kamu lakukan? Waktu kamu nyoba alat itu disuruh sama siapa apa keinginan kamu sendiri? Menurutmu cara penggunaan alat itu gimana? Kok bisa gitu? Terus jika diperbolehkan pake alat itu di luar jam matematika, kamu mau enggak mencobanya? Kapan? Kenapa kok mau? Kamu kalau menjawab soal lebih suka dihitung pake alat itu apa langsung oret-oret apa gimana? Kenapa? Kan itu naruh baloknya dari kiri ke kanan, kalau dari kanan ke kiri kan salah. Menurutmu dengan adanya itu gimana? Kamu tahu gak bahan yang digunakan dalam alat itu? Sering menjumpai kayu gitu? Di mana? Lumayan suka. Soalnya masih kurang cerah. Kuning. Cerah. Pertamanya sih gak dong tapi terus dong. Comment [a193]: Warna yang digunakan alat peraga kurang cerah (W2, S1, B 45 – B 48) Bu guru jelasinnya kecepeten. Nyoba. Keinginan sendiri. Comment [a194]: Pada awalnya subjek tidak paham dengan penjelasan guru tentang cara penggunaan alat peraga (W2, S1, B 58 – B 60) Comment [a195]: Subjek mencoba atas keinginan sendiri (W2, S1, B 53) Pertamanya susah, setelah itu mudah. Kan belum biasa pake alat itu. Mau. Comment [a196]: Pada awalnya cara penggunaan alat peraga susah (W2, S1, B 55 – B 57) Kalau istirahat. Ya kan bisa buat belajar. Pake alatnya. Comment [a197]: Subjek mau mengggunakan alat peraga di luar jam matematika (W2, S1, B 58 – B 62) Untuk membantu, kan ngerjainnya pake alat itu dulu jadi bisa tahu jawabannya yang benar berapa. Buat aku jadi tahu kesalahanku. Kan kalau naruhnya salah jawabanya juga salah. Comment [a198]: Alat peraga membantu subjek menyadari kesalahannya (W2, S1, B 66 – B 67) Kayu. Sering. Di rumah. Comment [a199]: Subjek tahu bahan yag digunakan alat peraga (W2, S1, B 82 – B 85) Keterangan: W2 : Wawancara kedua S1 : Subjek satu S2 : Subjek dua S3 : Subjek tiga S4 :Subjek empat 152

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.13 Verbatim wawancara Pasca Penelitian Siswa B Subjek 3 :B Tempat : Ruang agama Waktu : 3 Maret 2014 Pukul : 11. 39 – 11. 47 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. Pertanyaan Ini tentang pembelajaran matematika yang kemarin itu, yang pake alat itu lho. Waktu pertama kali melihat alat itu bagaimana pendapatmu? Terus bagaimana sikapmu ketika pertama kali melihat alat peraga itu? Sama siapa nanyanya? Kemarin pas di kelas nanyanya sama siapa? Terus dijelasin sama bu Z? Waktu dijelasin paham enggak? Sebelumnya pernah lihat alat peraga itu? Terus waktu di TK alatnya buat apa? Ada baloknya itu juga? Terus bagaimana perasaanmu setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga itu? Ngitungnya cuma pake alat itu apa pake coret-coretan juga apa gimana ngitungnya? Terus menghitungnya lebih suka pake yang mana? Maksudnya gimana? Waktu dijelasin sama guru tentang alat itu, kamu paham enggak sama penjelsannya. Maksudnya itu yang dimaksud pembagian kan pengurangan berulang. Alat itu membantu kamu enggak memahami materi? Kalau pas alat yang kemarin? Sulitnya di mana? Kemarin pernah salah nyobain alat itu? Kalau guru tidak menjelaskan cara penggunaannya kamu bisa enggak makenya? Terus siapa yang sering menggunakan alat itu di kelompokmu? Kamu sering make enggak? Terus alat itu membantu kamu enggak dalam pembelajaran? Owh gitu, waktu mengerjakan soal kamu menggunakan alat itu enggak? Ketika pertama kali melihat alat peraga itu, apa yang ingin kamu lakukan dengan alat Jawaban Agak kebingungan cara memakainya. Terus tertarik, kalau cuma dijelasin terus kan bosen tapi kalau pake alat peraga kan alat peraganya bisa ganti-ganti. Menanyakan cara penggunaanya Comment [a200]: Subjek tertarik dengan alat peraga (W2, S2, B 1- B 4) Kepada guru yang ada di kelas itu Sama bu Z. Iya. Paham. Pernah, di TK juga ada kayak gitu. Tambah-tambahan sama pengurangan. Iya ada. Senang, kan bisa ngitung pake alat itu. Comment [a201]: Subjek bertanya pada guru tentang cara penggunaannya (W2, S2, B 5 – B 7) Comment [a202]: Subjek pernah melihat alat peraga seperti itu (W2, S2, B 11) Comment [a203]: Subjek senang karena bisa menghitung paka alat peraga (W2, S2, B 14) Ya pake alat itu, pake oret-oretan Ya tergantung soalnya. Kalau soalnya mudah ya gak pake alat itu, tapi kalau soalnya susah pake alat itu. Iya, contohnya kalau pake biji-bijian kan bisa dikurangi. Comment [a204]: Soal menggunakan alat peraga jika menemukan soal yang sulit (W2, S2, B 21 – B 22) Agak-agak sulit. Nanti kalau naruh baloknya itu salah kan jadi salah semua. Pernah, pertamanya salah terus kedua udah bener. Belum tentu. Alat peraganya seperti apa dulu. Comment [a205]: Alat peraga membantu subjek menemukan kesalahan (W2, S2, B 28 – B 29) Kebanyakan dipakai oleh A alat pergaanya. Kadang-kadang, kan gantian. Giliran gitu. Membantu, saat menghitung ribuan bisa pake itu tapi kalau pake garis kesulitan. Kalau ada alat itu ya aku akan memakainya, kan menghitungnya lebih cepet pakai itu. Kalau pake itu bisa praktek langsung tapi kalau di oret-oret lama. Jadi bisa lebih cepet nghitungnya. Ingin mencobanya supaya bisa. Comment [a206]: Alat peraga sering dipakai A (W2, S2, B 34 – B 36) Comment [a207]: Alat peraga membantu saat menghitung ribuan (W2, S2, B 37 – B 38) Comment [a208]: Dengan alat peraga lebih cepat dalam menghitung (W2, S2, B 39 – B 42) Comment [a209]: Subjek ingin mencoba alat peraga supaya bisa (W2, S2, B 43) 153

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45. 46. 47. 48. 49 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. peraga itu? Terus setelah mencobanya, apa yang kamu dapat? Bagaimana pendapatmu mengenai bentuk alat peraga tersebut? Kalau ukurannya? Kalau warnanya? Terus maunya apa? Waktu guru jelasin cara penggunaannya kamu paham enggak? Kenapa gak dong? Terus biar dong gimana? Kalau menurutmu cara penggunaan alat peraganya gimana? Kalau kamu diperbolehkan menggunakan alat tersebut, kamu mau enggak menggunakannya di luar jam pelajaran? Kapan? Kenapa kok mau? Terus ketika mengerjakan soal kamu lebih suka pake alat itu,, pake oret-oret apa dilihat perkaliannya dulu apa bagaimana? Terus kan itu naruh baloknya dari kiri ke kanan, kalau kebalik kan salah. Kamu pernah gak salah kaya gitu? Kapan kamu sadar kalau kamu salah? Kalau gak dikasih tau sama bu guru kamu tau gak kalau salah? Terus sekarang kalau disuruh nyoba gitu masih salah enggak? Kamu tahu enggak itu bahannya apa? Sering liat kayu gitu enggak? Di mana? Senang, gembira karena bisa pake alat yang baru. Comment [a210]: Subjek senang karena bisa menggunakan alat yang baru (W2, S2, B 46) Gak masalah, suka. Gak masalah, suka. Ukurannya pas. Gak suka, soalnya tempatnya warnanya serba coklat. Kan warnanya bisa diganti sama warna yang gak gelap, aku kalau warna gelap gak suka, harusnya warna cerah. Aku enggak dong. Comment [a211]: Subjek suka dengan bentuk dan ukuran alat peraga (W2, S2, B 48 – B 50) Comment [a212]: Subjek tidak suka warna gelap dalam alat peraga (W2, S2, B 53 – B 55) Soalnya kalau guru jelasinnya cepet-cepet. Tanya langsung sama bu Z. Abis dijelasin harus mencoba alat peraganya itu sendiri. Mudah, soalnya tinggal naruh balok-baloknya ke kotak-kotaknya itu Mau. Comment [a213]: Cara penggunaan alat peraga mudah (W2, S2, B 61 – B 62) Pas istirahat kan bisa belajar pake alat itu. Sambil kita belajar sambil kita ngapalin pembagiannya sama perkalian. Dipahami soalnya dulu terus mencoba untuk menghitung pake alatnya. Comment [a214]: Subjek mau menggunakan alat peraga di luar jam pelajaran (W2, S2, B 66 – B 68) Pernah. Saat dibilangin sama bu guru. Mesti salah. Enggak, udah bisa. Tahu, terbuat dari kayu. Sering. Di rumah. Comment [a215]: Subjek tahu bahan yang digunakan dalam alat peraga (W2, S2, B 80– B 83) Keterangan: W2 : Wawancara kedua S1 : Subjek satu S2 : Subjek dua S3 : Subjek tiga S4 :Subjek empat 154

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4. 14 Verbatim wawancara Pasca Penelitian Siswa C Subjek 4 :C Tempat : Ruang agama katolik Waktu : 3 Maret 2014 Pukul : 09. 38 – 09. 49 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. Pertanyaan Kemarin waktu belajar matematika pake alat peraga itu bagaimana pendapatmu ketika pertama kali melihat alat peraga itu? Kenapa kok kaget? Owh gak tau. Itu lho yang kemarin dipake di kelas, kotak2 itu. Bisa gimana maksudnya? Penasarannya gimana? Terus bagaimana sikapmu ketika pertama kali melihat alat peraga tersebut? Kepengan gimana maksudnya? Terus perasaanmu setelah mengikuti mengikuti kegiatan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga itu gimana? Tapi kemarin kamu kan gak mau nyobain alatnya? Kamu kan malah sembunyi di bawah meja. Kenapa? Owh jadi kamu gak suka sama kelompoknya gitu? Tapi kalau kamu nyobain alatnya di kelompok deket itu mau? Terus pemahamanmu mengenai materi pembagian menggunakan alat peraga itu gimana? Senangnya gimana? Biasa gimana? Susah gak pake alat itu? Bagaimana jika guru tidak menjelaskan cara penggunaan alat peraganya? Jadi harus dijelasin guru? Waktu dijelasin sama guru di depan, kamu dong enggak? Kenapa kok cuma agak dong? Terus mau kamu gimana? Terus kan itu dijelasin lagi di dalam kelompok itu, terus pas di jelasin di dalam kelompok gimana? Terus yang sering makek alat peraga itu di kelompokmu siapa? Owh setiap nyobain kamu terakhir sendiri? Terus kamu maunya gimana? Owh mau yang pertama? Emang apa bedanya kalau nyobain terakhir sama pertama? Terus menurutmu alat peraga itu berguna apa Jawaban Kaget. Kalau aku tu jujur gak tau alat peraga itu apa. Bisa. Ya aku bisa pake alat peraga itu, terus penasaran. Pengen nyobain. Kepengen gitu, penasaran. Kepengen nyoba. Suka aja, senang. Comment [a216]: Siswa penasaran ketika pertama kali melihat alat peraga (W2, S3, B 5 – B 8) Comment [a217]: Siswa kepengen mencoba ketika pertama kali melihat alat peraga (W2, S3, B 9 – B 11) Comment [a218]: Siswa senang belajar menggunakan alat peraga (W2, S3, B 12) Kan saya gak mau deket itu. Aku maunya di dekat tempat asliku. Iya. Mau. Comment [a219]: Subjek tidak nyaman dengan kelompoknya (W2, S3, B 15 - B 21) Senang. Biasa. Ya mau pake alat itu ya biasa. Gak pake alat itu juga biasa. Enggak, kan udah bisa. Enggak bisa. Comment [a220]: Alat peraga tidak membantu pemahaman siswa(W2, S3, B 27 – B 28) Comment [a221]: Cara penggunaan alat peraga tidak susah (W2, S3, B 29) Iya. Agak dong. Lha bu guru jelasinnya cepet-cepet kok. Ya gak cepet-cepet, pelan-pelan gitu. Baru dong Comment [a222]: Siswa tidak paham ketika guru menjelaskan cara penggunaan alat peraga (W2, S3, B 33 – B 35) A sering makek, aku belum. Padahal A udah 2 kali tapi aku belum. Terus aku nyobainnya terakhir sendiri. Pertama. Comment [a223]: Subjek jarang menggunakan alat peraga (W2, S3, B 40 – B 42) 155

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45. 46. 47. 48. 49 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100. enggak dalam memahami materi pembagian? Bergunanya bagaimana? Iya Gak suka kalau terakhir, nanti ketinggalan. Owh jadi buat ngecek gitu? Terus bagaimana pendapatmu saat mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga? Membantunya bagaimana? Waktu menghitungnya itu lama enggak? Susah gak pake alat peraga itu? Kenapa kok agak iya agak enggak? Berguna. Ketika pertama kali melihat alat peraga, apa yang ingin kamu lakukan dengan alat peraga itu? Sama siapa? Terus setelah menggunakan alat peraga itu apa pengalaman yang kamu dapat? Terus bagaimana pendapatmu mengenai bentuk alat peraga tersebut? Lucunya bagaimana? Yang besar gak lucu, kenapa? Kamu maunya gak gendut? Terus kalau warnanya gimana? Kenapa kok suka? Terus waktu guru menjelaskan penggunaan alat peraga kamu paham enggak? Biar mudah terus dong itu harusnya gimana waktu menjelaskan? Terus menurut pendapatmu cara penggunaan alat peraga tersebut gimana? Jika kamu diperbolehkan menggunakan alat tersebut, kamu mau gak menggunakannya di luar jam pelajaran? Kenapa? Terus menurutmu ukuran yang ada dalam alat peraga tersebut gimana? Waktu mengerjakan soal kamu sering pake alat itu enggak? Kenapa kok kadang-kadang pake, kadang-kadang gak pake? Membantu nghitung. Enggak, biasa aja. Agak iya, agak enggak. Ya itu, aku mau’nya sama kelompok asli. Kalau sama kelompok asli gak susah, tapi kalau pindah kelompok susah. Pengen nyobain sama pengen diajarin. Comment [a224]: Subjek maunya pertama kali ketika menggunkan alat peraga (W2, S3, B 45 – B 46) Nanti misalnya saya nghitung terus begini (sambil praktik menghitung pake alat peraga). Iya. Membantu. Comment [a225]: Alat peraga membantu subjek dalam menghitung (W2, S3, B 55 – B 58) Comment [a226]: Subjek tidak nyaman dengan kelompoknya (W2, S3, B 60 – B 63) Comment [a227]: Subjek ingin diajarin dan mencoba alat peraga (W2, S3, B 64) Ya sama bu guru Diajarin dulu lama-lama udah bisa. Suka, lucu. Kecil-kecil, imut. Ada yang besar gak lucu. Kan gendut. Iya, yang kurus-kurus kayak aku Suka. Karena agak muda agak tua. Awalnya gak dong tapi lama-lama dong. Ditelateni aja, nanti lama-lama juga bisa. Agak susah, agak enggak. Kalau pertamanya susah terus lama-lama enggak. Enggak. Karena kan aku sudah dong, jadi buat apa lagi pake alat itu kalau sudah dong. Pas. Kalau anak kecil ya kotaknya kecil. Kan itu alatnya kalau kamu naruh kotakanya salah, hasilnya gak ketemu. Dengan adanya itu menurutmu gimana? Emang kemarin waktu nyobain salah naruh kotaknya itu? Terus kok tau kalau salah? Kamu tahu gak bahan yang digunakan dalam alat itu? Kamu sering menjumpainya enggak? Pernah gak melihat alat itu sebelum ini? Suka sama alatnya? Tapi kalau disuruh nyobain gak mau? Emang kenapa kok harus sama kelompok yang asli? Terus kenapa kalau gak ada binti? Comment [a228]: Subjek suka dengan bentuk alat peraga yang kecil (W2, S3, B 69 – B 73) Comment [a229]: Subjek suka warna dalam alat peraga(W2, S3, B 74 – B 75) Comment [a230]: Awalnya susah menggunakan alat peraga (W2, s3, B 76- B 79) Comment [a231]: Subjek tidak mau menggunakan alat peraga di luar jam matematika (W2, S3, B 82 – B 83) Comment [a232]: Ukuran alat peraga pas (W2, S3, B 86) Kadang-kadang pake alat itu, kadang-kadang gak pake. Ada yang mudah, ada yang sulit (soalnya). Kalau soalnya sulit aku mau pake tapi kalau soalnya mudah, aku gak mau pake. Membantu aku, waktu aku salah naruh kotaknya itu. Comment [a233]: Subjek kadang-kadang menggunakan alat peraga untuk mengerjakan soal (W2, S3, B 88 – B 92) Iya. Kan gak ketemu hasilnya. Tahu, kayu dan cat. Comment [a234]: Pengendali kesalahan membantu subjek menemukan hasilnya (W2, S3, B 93 – B 98) Sering, kan di rumah banyak pohon. Belum. Comment [a235]: Subjek tahu bahan yang digunakan dalam alat peraga (W2, S3, B 99 – B 101) 156

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101. 102. 103. 104. 105. 106. Suka. Aku mau kalau kelompok yang asli. Ada binti. Gak suka, kan aku kalau ngapa-ngapain harus sama binti. Keterangan: W2 : Wawancara kedua S1 : Subjek satu S2 : Subjek dua S3 : Subjek tiga S4 : Subjek empat 157

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Foto Kegiatan Pembelajaran Guru mengajak siswa untuk bernyanyi Guru memperkenalkan alat peraga kepada siswa 158

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Siswa saat pertama kali menggunakan alat peraga Montessori Guru saat memberikan contoh ke dalam kelompok kecil 159

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Guru saat dibantu oleh peneliti eksperimen Guru saat mendemonstrasikan cara penggunaan alat peraga 160

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Siswa saat pertama kali menggunakan alat peraga Guru saat memantau pekerjaan siswa 161

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI CURRICULUM VITAE Rina Metasari, lahir di Magelang pada tanggal 10 Januari 1993. Memulai pendidikan formal di TK Tersan Gede Salam pada tahun 1997. Melanjutkan sekolah di SD N Tersan Gede I dan lulus pada tahun 2003. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMP N 1 Salam dan lulus pada tahun 2006. Pendidikan SMA diselesaikan pada tahun 2009 di SMA N 1 Ngluwar. Pada tahun 2010 melanjutkan pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Lulus pada tahun 2014 dengan skripsi berjudul Persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori pada pembelajaran pembagian bilangan dua angka di SD N Percobaan 3 Pakem. 164

(184)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
7
19
BAB 1 PENDAHULUAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
4
6
BAB 4 DATA RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
1
3
20
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
3
9
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
264
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
275
PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK PERTUKARAN DAN PENGELOMPOKAN BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
183
PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA BILANGAN BULAT BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
210
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
317
PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK OPERASI BILANGAN BULAT BERBASIS METODE MONTESSORI
0
1
177
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
344
PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA BANGUN DATAR BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
177
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
338
PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK JENIS DAN BESAR SUDUT BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
167
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
284
Show more