Hubungan antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa - USD Repository

Gratis

0
0
138
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA IMPULSIVITAS DAN KETERGANTUNGAN HP PADA MAHASISWA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Evita Oktavia NIM : 139114090 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Nama Lengkap 1. Penguji 1 iii Tanda Tangan : P. Henrietta P.D.A.D.S., S. Psi., M.A. ..........................

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO “ Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, Janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. “ Yesaya 41: 10 TB iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Tuhan Yesusku yang kepada-Nya ku dapat bergantung, sekarang dan selamanya. v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA IMPULSIVITAS DAN KETERGANTUNGAN HP PADA MAHASISWA Evita Oktavia ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa. Hipotesis penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan dan positif antara impulsivitas dengan ketergantungan HP pada mahasiswa. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 100 orang mahasiswa berusia 18 hingga 23 tahun dan pengguna aktif HP atau smartphone. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala impulsivitas dan skala ketergantungan HP. Skala impulsivitas terdiri dari 26 item dengan koefisien reliabilitas 𝛼 = 0, 833 dan skala ketergantungan HP terdiri dari 42 item dengan koefisien reliabilitas 𝛼 = 0, 930. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji korelasi Spearman. Penelitian ini menghasilkan nilai korelasi r = 0, 274 dan nilai signifikansi p = 0,003 < 0,05. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan. Hal ini memiliki arti semakin tinggi impulsivitas maka semakin tinggi pula ketergantungan HP. Sebaliknya, semakin rendah impulsivitas, semakin rendah pula ketergantungan HP. Faktor usia, jenis kelamin, jenis HP yang digunakan, waktu penggunaan dalam sehari, serta berbagai fitur aplikasi pada HP yang digunakan oleh subjek cenderung mendukung terjadinya hubungan yang searah antara impulsivitas dan ketergantungan HP. Kata kunci : impulsivitas, ketergantungan, HP, mahasiswa. vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI THE CORRELATION BETWEEN IMPULSIVITY AND DEPENDENCE ON MOBILE PHONE AMONG COLLEGE STUDENTS Evita Oktavia ABSTRACT This research is aimed to investigate correlation between impulsivity and dependence on mobile phone among college students. The hypothesis was that there was significant and positive relationship between impulsivity and dependence on mobile phone among college students. Subjects were 100 college students, aged 18 to 23 years old, and active users of smartphone. Data were collected using impulsivity and dependence on mobile phone scales. The reliability coeffient of impulsivity scale that consist of 26 items was 𝛼 = 0, 833 and the reliability coeffient of dependence on mobile phone scale that consist of 42 items was 𝛼 = 0, 930. Data were analyzed using Spearman correlation test. This research showed that the value of Spearman correlation test was r = 0, 274 and significance level p = 0,003 < 0,05. The results indicated a positive and significant correlation between impulsivity and dependence on mobile phone. It means that the higher level of impulsivity, the higher level of dependence on mobile phone in college students. Age, gender, type of mobile phone use, average minutes per day spent using technology, and activities on mobile phones tend to support the occurrence of a unidirectional relationship between impulsivity and dependence on mobile phone. Keywords: impulsivity, dependence, mobile phone, college student. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA IMPULSIVITAS DAN KETERGANTUNGAN HP ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Bapa, Tuhan Yesus dan Roh Kudus atas kasih dan karunia-Nya dalam menuntun peneliti hingga dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik. Semoga penelitian ini bisa menjadi terang dan alat untuk kemuliaan nama Tuhan. Terima kasih kepada mama yang selalu mendukung dan berdoa bagi peneliti, baik di saat dalam keadaan baik maupun di saat sulit sekalipun. Terima kasih kepada kakak Irene dan kakak Hendra yang telah banyak memberikan semangat dan motivasi dalam setiap proses penulisan skripsi ini. Terima kasih kepada nenek, tante Yeni, om nyong, mama tua, tante Ime, om Andi, om Pito, tante Ani, om David, tante Nina, om Erik, dan tante Eni yang telah mendukung masa studi peneliti sejak awal mulai menjadi mahasiswa hingga sekarang. Terima kasih kepada saudara-saudara sepupu terbaik peneliti; kakak Ica, kakak Ge, kakak Feby, adik Teril, adik Keren, adik Agung, adik Edward, dan adik Cika yang telah menghibur peneliti di kala peneliti merasa kesulitan menjalani setiap proses penulisan skripsi. Terima kasih kepada Agung Satrio, pribadi yang telah memberikan doa, dukungan, penghiburan, waktu, nasihat, pandangan baru selama proses penulisan skripsi ini. Terima kasih kepada Beatrix Maharani, Rizkya Elvina, Heidy Miranti, Florencia Tandirerung, Claudia Ponomban, Abriany Arista untuk tawa dan canda, serta kerendahan hati telah menerima kekurangan peneliti selama menjalin pertemanan di masa studi ini, semoga tetap terjaga sampai seterusnya. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Peneliti menyadari bahwa keberhasilan peneliti dalam menjalani proses penyelesaian studi tidak lepas dari berbagai pihak berikut ini, sehingga peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Ibu Dr. Titik Kristiyani, M. Psi., Psi. selaku Dekan tahun 2018 Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih telah membina setiap kami bu. 2. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si., selaku Dekan periode tahun 2013 – 2017 Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih atas keramahannya saat menghadapi setiap kami pak. 3. Ibu Monica Eviandaru M., M. Psych., Ph. D., selaku Ketua Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih atas keramahannya saat menghadapi setiap kami bu. 4. Bapak Edward Theodorus M. App. Psy., yang telah mendampingi dan membimbing saya dengan sangat sabar dalam proses penulisan skripsi ini. Terima kasih banyak pak! Mohon maaf apabila saya banyak kesalahan. 5. Bapak Timotius Maria Raditya Hemawa M.Psi., selaku Dosen Pembimbing Akademik tahun 2013 – 2017. Terima kasih atas nasihat dan telah membimbing selama proses studi ini pak. 6. Bapak Prof. A. Supratiknya, Ph.D., selaku Dosen Pembimbing Akademik tahun 2017 – 2018. Terima kasih atas perhatiannya dan dukungannya dalam studi saya pak. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Ibu Dr. M. Laksmi Anantasari, M.Si. yang telah memberikan masukan dan bimbingan selama proses ujian serta memberikan kesempatan berharga untuk segera menyelesaikan skripsi ini. Tuhan memberkati ibu. 8. Seluruh karyawan dan staff di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih untuk kebaikan dan keramahannya. 9. Rizky Randy, Ray Fandi, Rizkya Elvina, Beatrix Maharani, Alfonsa Cindy, Hans Kornelius, dan Kevin Irwanto. Terima kasih telah bersedia memberikan waktu dan berbagi ilmu pengetahuan untuk membantu dalam proses penulisan skripsi. Terbaik! 10. Psikologi A angkatan 2013: Anette, Anti, bunda Vivi, Cindy, Citra, Clara, Dea, Dhani, Dita, Doni, Erdian, Etha, Evelyn, Gabby, Hans, Ignatia, Isabella, kakak Sonya, Keke, koko Edwin, Leviana, Lia, Lias, mbakdi, Paskal, Praba, Rani, Rista, Sefa, SSSS, Tata, Tom, Vena, Vero, Vionny, Yayak, Yesi, Yessica, dan Yoyo. Terima kasih untuk kebersamaannya selama proses belajar di masa kuliah. Keep in touch ya. 11. Angela Yonara Maha Dewi, Yoga Prihantara, Patrick Ganang, Hilarius Deonaldi Wiranatha, Paskalin Tri, Ida Ayu Gayatri Praba, Alvonsa Cindy, Philosophia Wisung, Rini Bayu, Rizkya Elvina, Claudia Ponomban, Elizabeth Erma Nurani, Deo Gracia, Jesysca Exderya, Gabriella Taneira, dan Ratih Envira. Terima kasih telah membantu dalam proses peer-rating item skala dalam penelitian ini. 12. Teman bimbingan skripsi : Cendy, Yayak, Ratih, Gabby, Vio, Ciyus, Putri, Age, Anette, Rini, Rista, Andre, Mbakdia, Visky, Monik, Keke, Chocho, xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mbak Vivin, kak Dedi, Yesa, dan mbak Rini. Terima kasih untuk semangat kalian yang sangat memotivasiku dalam proses penyelesaian skripsi ini. Tetap semangat! 13. Teman kos Diva : kak Melan, kak Ella, kak Angga, kak Liana, Inge, Grace, kak Shinta, ce Putri, ka Irest, Heidy, Dita, Ria, Intan, dan Lori. Terima kasih telah memberikan dukungan semangat. 14. Teman Jogja International Batik Bienalle 2018 : Upik, Syahdane, Stella, mba Diyah, mba Dewi, mas Apip, mas Adit, Jordy, Kyla, Hendra, Fira, Dhatu, Cori, dan Ano. Terima kasih telah memberikan semangat! 15. Kos Jongkang : pak Amri, pak Iswan dan bu Iswan, Sukma, Shafira, Lulu, Inung, Erlinda, Dinda, dan Dama. Terima kasih atas semangat yang selalu diberikan. 16. Tim pelayanan star 3 Gereja Keluarga Allah dan komsel Rafael, ka Innya, serta Inneke Dwiyani Putri. Terima kasih telah mendukung dalam doa untuk penyelesaian skripsi ini. 17. Gereja Keluarga Allah Yogyakarta. Terima kasih atas pengajaran Firman Tuhan yang diberikan, sungguh membangkitkan iman! 18. Bala Keselamatan Korps 1 Kulawi. Terima kasih atas dukungan doanya. 19. Bapak dan Ibu Mayor Mariono. Terima kasih selalu memberikan dukungan doa. 20. Ikatan Alumni Pelajar Kristen SMAN 2 Palu. Terima kasih atas dukungannya selama masa studi ini. xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21. Seluruh teman di Fakultas Psikologi USD, khususnya Psikologi angkatan 2013. Terima kasih untuk dinamika yang ada selama masa studi! 22. Seluruh subjek dalam penelitian ini dan yang membantu penyebaran skala penelitian ini yang tidak dapat peneliti sebutkan satu per satu. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mengisi dan menyebar luaskan skala penelitian ini. God bless you all. xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ....................................... ii HALAMAN PENGESAHAN................................................................................ iii HALAMAN MOTTO ............................................................................................ iv HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................ vi ABSTRAK ............................................................................................................ vii ABSTRACT ........................................................................................................... viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ......................................................... ix KATA PENGANTAR ............................................................................................ x DAFTAR ISI ......................................................................................................... xv DAFTAR TABEL ................................................................................................ xix DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xx DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xxi BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 A. Latar Belakang.......................................................................................................... 1 B. Rumusan Permasalahan ....................................................................................... 12 C. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................................... 12 D. Tujuan Penelitian ................................................................................................... 12 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI E. Pertanyaan Penelitian ........................................................................................... 13 F. Manfaat Penelitian ................................................................................................. 13 1. Bagi mahasiswa ............................................................................... 13 2. Bagi orang tua .................................................................................. 13 3. Organisasi kesehatan mental ............................................................ 13 4. Bagi ilmuwan dan praktisi psikologi ............................................... 13 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................... 14 A. Pengantar .................................................................................................................. 14 B. Dinamika Psikologis Mahasiswa ...................................................................... 14 1. Perspektif perkembangan ................................................................. 15 2. Perspektif sosial ............................................................................... 18 C. Problematic Use Of Mobile Phone ................................................................... 21 1. Definisi problematic use of mobile phone ....................................... 21 2. Dimensi problematic use of mobile phone ...................................... 24 3. Aspek ketergantungan HP ............................................................... 26 4. Faktor ketergantungan HP ............................................................... 30 5. Proses dan dampak ketergantungan HP ........................................... 33 D. Ketergantungan HP pada Mahasiswa .............................................................. 35 E. Impulsivitas ............................................................................................................. 37 1. Definisi impulsivitas ........................................................................ 37 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Dimensi impulsivitas ....................................................................... 38 3. Proses dan dampak impulsivitas ...................................................... 40 F. Impulsivitas pada Mahasiswa ............................................................................ 43 G. Dinamika Hubungan ............................................................................................. 44 H. Kerangka Konseptual ........................................................................................... 47 I. Hipotesis ................................................................................................................... 47 BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 48 A. Pengantar .................................................................................................................. 48 B. Rancangan Penelitian ........................................................................................... 48 C. Subjek........................................................................................................................ 49 D. Identifikasi Variabel Penelitian ......................................................................... 50 1. Variabel independen ........................................................................ 50 2. Variabel dependen ........................................................................... 50 E. Definisi Operasional ............................................................................................. 50 1. Impulsivitas ...................................................................................... 51 2. Ketergantungan HP .......................................................................... 51 F. Prosedur Pelaksanaan ........................................................................................... 52 G. Instrumen Pengumpulan Data ............................................................................ 53 1. Impulsivitas ...................................................................................... 53 2. Ketergantungan HP .......................................................................... 55 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Validitas ........................................................................................... 57 4. Seleksi item ...................................................................................... 58 5. Reliabilitas ....................................................................................... 60 H. Analisis Data ........................................................................................................... 61 I. Pertimbangan Etis .................................................................................................. 63 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................................... 65 A. Pengantar .................................................................................................................. 65 B. Hasil Penelitian....................................................................................................... 65 C. Pembahasan ............................................................................................................. 72 BAB V PENUTUP ................................................................................................ 77 A. Kesimpulan .............................................................................................................. 77 B. Keterbatasan Penelitian ........................................................................................ 77 C. Saran .......................................................................................................................... 78 D. Komentar Penutup ................................................................................................. 79 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 81 LAMPIRAN .......................................................................................................... 89 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Pemberian nilai skor Skala Impulsivitas ............................................. 53 Tabel 2. Blueprint Skala Impulsivitas............................................................... 54 Tabel 3. Skala Impulsivitas untuk Try Out ....................................................... 55 Tabel 4. Pemberian nilai skor Skala Ketergantungan HP ................................. 55 Tabel 5. Blueprint Skala Ketergantungan HP ................................................... 56 Tabel 6. Skala Ketergantungan untuk try out ................................................... 57 Tabel 7. Seleksi Item Skala Impulsivitas .......................................................... 59 Tabel 8. Seleksi Item Skala Ketergantungan .................................................... 60 Tabel 9. Penggunaan HP dalam 1 tahun terakhir .............................................. 66 Tabel 10. Data teoretis dan empiris .................................................................... 67 Tabel 11. Data empiris skala impulsivitas .......................................................... 67 Tabel 12. Data empiris skala ketergantungan ..................................................... 68 Tabel 13. Hasil Uji Normalitas ........................................................................... 69 Tabel 14. Hasil Uji Linearitas ............................................................................. 70 Tabel 15. Hasil uji perbedaan ketergantungan berdasarkan jenis kelamin ......... 71 Tabel 16. Hasil uji hipotesis................................................................................ 72 xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Kerangka Konseptual .......................................................................... 47 xx

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1. Instrumen Penelitian.................................................................... 90 LAMPIRAN 2. Reliabilitas Skala Impulsivitas dan Ketergantungan HP .......... 104 LAMPIRAN 3. Hasil Uji Deskriptif Jenis Kelamin ........................................... 110 LAMPIRAN 4. Hasil Uji Deskriptif Usia ........................................................... 112 LAMPIRAN 5. Hasil Uji Deskriptif Waktu Penggunaan HP dalam Sehari ....... 114 LAMPIRAN 6. Surat Izin Penelitian .................................................................. 114 xxi

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ini adalah tentang perilaku penggunaan handphone (HP) pada mahasiswa. Fenomena ini menarik bagi peneliti karena setidaknya tiga alasan, yakni peneliti merasa prihatin melihat beberapa dari mahasiswa saat ini yang menggunakan HP sesuka hati, di mana pun dan kapan pun. Kedua, peneliti mencemaskan perilaku penggunaan HP peneliti yang kurang bijak, sehingga sering menyalahkan diri sendiri. Ketiga, topik ini merupakan bagian dari usaha peneliti untuk meningkatkan kesadaran teman-teman peneliti terkait penggunaan HP yang disfungsional. Adapun ketiga alasan peneliti di atas dapat diuraikan sebagai berikut. Pertama, peneliti sering bertemu dengan mahasiswa yang sedang menggunakan HP yang dimiliki sekalipun saat sedang belajar di kelas, perpustakaan, berjalan kaki, ibadah di gereja, atau dalam suatu perkumpulan. Hal ini kemudian menimbulkan rasa prihatin peneliti karena HP berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan atau mengganggu aktivitas mahasiswa. Misalnya, ketika mahasiswa menggunakan HP di kelas khususnya saat pelajaran sedang berlangsung, mahasiswa mungkin tidak dapat menangkap pelajaran yang disampaikan dengan baik. Tentu saja hal ini tidak diharapkan terjadi. Harapannya, setiap mahasiswa dapat menerima materi pelajaran yang disampaikan guna memiliki performa akademik yang baik. Begitu juga saat 1

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 sedang ibadah atau sedang dalam suatu perkumpulan, belajar, dan berjalan kaki. Pada dasarnya HP merupakan alat yang bermanfaat karena dapat menjadi alat bantu untuk memudahkan pekerjaan individu. Sehingga, tidak heran jika individu merasa ingin terus menggunakan HP. Namun, peneliti setuju dengan Billieux (2012) yang mengatakan bahwa salah satu masalah terpenting dari penggunaan HP adalah jika hal itu menjadi berlebihan atau tidak terkendali yang mana hal ini berpotensi menimbulkan konsekuensi dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, peneliti merasa cemas karena beberapa kali terlibat dalam penggunaan HP lebih dari batas waktu yang peneliti targetkan. Dalam situasi di mana seharusnya peneliti menyelesaikan tugas atau mengerjakan suatu pekerjaan, hal ini seringkali menjadi tidak produktif. Akibatnya, tugas-tugas yang perlu dikerjakan menjadi tertunda atau membutuhkan waktu lebih untuk menyelesaikannya. Situasi tersebut juga sering membuat peneliti merasa menyesal dan terus menyalahkan diri sendiri karena keasyikan dalam menggunakan HP, meski begitu perilaku tersebut tetap saja berulang di hari berikutnya. Melalui topik penelitian ini, menarik bagi peneliti untuk menambah pengetahuan mengenai proses atau faktor-faktor yang memengaruhi perilaku penggunaan HP dan menemukan solusi agar peneliti dapat menggunakan HP dengan bijak. Ketiga, peneliti tertarik untuk menyoroti fakta melalui penelitian ini bahwa terlepas dari efek positif yang diberikan, penggunaan HP juga terkait dengan perilaku disfungsional yang bisa merugikan atau berbahaya. Misalnya,

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 rekan peneliti mengaku bahwa HP seringkali menjadi pengganggu untuk menyelesaikan kegiatannya, seperti mengerjakan skripsi, mandi, makan, atau membersihkan kamar. Pengakuan dari beberapa teman peneliti tersebut menimbulkan rasa empati peneliti. Sehingga, peneliti berharap topik penelitian ini dapat membantu meningkatkan kesadaran teman-teman peneliti mengenai perilaku penggunaan HP yang mungkin merugikan atau berbahaya bagi diri sendiri serta menemukan solusi untuk penggunaan HP yang lebih bijak. Saat ini HP telah menjadi sebuah alat yang keberadaannya makin dibutuhkan masyarakat (Tarigan dan Simbolon, 2017). Berdasarkan Dream Incubator Marketing (Kaonang, 2016) yang telah melakukan survei terdahulu mengenai perilaku penggunaan HP pada individu dari semua kelompok usia ditemukan bahwa mengakses media sosial dan chatting merupakan aktivitas yang paling digemari oleh semua kelompok usia. Selanjutnya diikuti dengan mendengarkan musik, menonton video, mengecek email, panggilan telepon, bermain, mengambil foto, membaca berita, melihat informasi suatu produk, melihat peta atau sistem navigasi, mengedit foto, berbelanja, dan mengakses ebanking. Hal ini menunjukkan bahwa individu sering menggunakan HP. Berdasarkan hal tersebut, akhir-akhir ini peneliti melihat adanya fenomena terkait dengan penggunaan HP yang terjadi di masyarakat. Pertama, mahasiswa menggunakan HP di kelas. Kedua, mahasiswa asyik menggunakan HP hingga cenderung mengabaikan orang sekitar. Ketiga, mahasiswa menggunakan HP lebih dari yang seharusnya sebagai suatu pengalihan. Keempat, siswa terlibat kecanduan HP.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Pertama, sebuah survei yang dilakukan oleh Satriani (2013) ditemukan bahwa saat ini mahasiswa suka menggunakan HP di dalam kelas. Saat di mana seharusnya mahasiswa mendengarkan penjelasan dosen mereka justru melakukan pengiriman teks, mengecek email, mengakses media sosial, atau bermain game dan hal ini dilakukan rata-rata 11 kali dalam satu hari. Seakanakan beraktivitas dengan HP di dalam kelas telah menjadi hal yang wajar untuk dilakukan. Padahal jika terus-menerus dilakukan hal ini dapat mengganggu konsentrasi mahasiswa di kelas. Seperti pengakuan beberapa mahasiswa yang telah disebutkan oleh Satriani (2013) bahwa penggunaan HP di dalam kelas mengakibatkan mereka kurang berkonsentrasi atau kurang memperhatikan pelajaran dan kehilangan informasi. Bahkan yang lebih bahaya adalah mengalami penurunan nilai akibat perilaku tersebut (Satriani, 2013). Survei ini sejalan dengan Lepp, Barkley, dan Karpinski (2014) yang mengatakan bahwa semakin mahasiswa menggunakan HP mereka akan cenderung mengalami penurunan nilai akademik dan hal ini justru meningkatkan kecemasan, serta kepuasan terhadap hidupnya menjadi berkurang karena waktu mereka hanya dihabiskan untuk menggunakan HP. Kepuasan hidup mahasiswa juga dapat mengalami penurunan karena bagi mahasiswa salah satu indikator kepuasan hidup adalah prestasi akademik (Lepp et al., 2014). Kedua, mahasiswa asyik menggunakan HP hingga cenderung mengabaikan orang sekitar. Dalam observasi yang dilakukan oleh Ningrum, Aziwarti, dan Rahmadani (2016) ditemukan bahwa mahasiswa sering menghabiskan waktunya dengan HP dan tampak selalu sibuk dengan HP yang

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 dimiliki hingga cenderung mengabaikan orang di sekitarnya. Hal ini didukung oleh fakta dari seorang mahasiswa yang mengungkapkan keluhannya mengenai perilaku teman-temannya yang ketika berkumpul justru asyik dengan HP masing-masing (Tarigan dan Simbolon, 2017). Padahal, sebelum ada HP individu dapat dengan mudah untuk saling menyapa dan berinteraksi ketika bersama. Perilaku penggunaan HP saat ini menjadi fenomena yang dikaitkan dengan penurunan kualitas hubungan antar manusia (Billieux, Linden, Acremont, Ceschi, dan Zermatten, 2007) di mana, individu terus-menerus sibuk menggunakan HP hingga cenderung mengabaikan orang yang ada di sekitarnya (Plant, 2001). Hal ini menunjukkan relasi yang kurang sehat. Ketiga, mahasiswa menggunakan HP lebih dari yang seharusnya sebagai pengalihan. Hasil wawancara awal peneliti menemukan bahwa seorang rekan peneliti mengaku sering terlibat dalam penggunaan HP dengan jangka waktu lebih lama dari yang ditargetkan, yang kemudian menunda untuk mengerjakan tugas. Aku sering banget itu kalo lagi ngerjain tugas yang sulit aku lariinnya ke HP, trus aku ngecek-ngecek HP bisa sampe sejam sendiri dan ngerjain tugas hanya sepuluh sampe lima belasan menit kayaknya, padahal ya tadinya mau sekedar ngecek aja di HP tapi malah sampe ke bablasan akhirnya ketunda deh selesainya (wawancara dengan R, 5 Januari 2018) Hal ini menunjukkan bahwa individu melakukan penangan emosi negatif yang bersifat sementara. Carver dan Connor-Smith (2010) mengatakan penggunaan HP sebagai cara menangani emosi negatif cenderung menjadi

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 kurang efektif, karena hanya bersifat sementara waktu dan tidak memengaruhi tekanan yang dihadapi sehingga tekanan akan tetap ada. Bahkan, semakin lama individu menghindar justru akan semakin sulit menanganinya dan semakin sedikit waktu yang tersedia untuk menanganinya. Keempat, baru-baru ini dua pelajar di Bondowoso, Jawa Timur didiagnosa mengalami gangguan jiwa akibat kecanduan HP (Widarsha, 2018). Seperti yang dikatakan oleh Widarsha, dua pelajar tersebut menunjukkan perilaku tidak mau ke sekolah karena tidak diizinkan menggunakan HP, bahkan salah seorang pelajar tersebut sampai membentur-benturkan kepalanya ke tembok jika tidak diberi HP. Lebih parahnya lagi, hasil psikotest salah seorang pelajar tersebut menunjukkan bahwa figur yang paling dibenci adalah orang tuanya sendiri. Hal ini karena orang tuanya dianggap menjadi penghalang untuk menggunakan HP. Hal ini menunjukkan adanya masalah kesehatan mental. Berdasarkan empat poin fenomena di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat saat ini telah menunjukkan perilaku bermasalah terkait dengan penggunaan HP. Bentuk perilaku tersebut dapat dikategorikan sebagai perilaku ketergantungan HP (Billieux, 2012). Pada dasarnya HP memang merupakan alat yang bermanfaat dan memudahkan individu dalam beraktivitas (Billieux, 2012). Namun pada kenyataannya, saat ini penggunaan HP telah dikaitkan dengan ketergantungan HP (Billieux, 2012). Hal ini didukung oleh Bianchi dan Phillips (2005), Liao,

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 He, dan Billieux (2016), Toda, Monden, Kubo, dan Morimoto (2004), Yen et al., (2009) yang sebelumnya telah meneliti mengenai ketergantungan HP. Ketergantungan HP penting untuk diteliti mengingat bahwa ketergantungan dapat berdampak negatif bagi penggunanya (Billieux, 2012). Seperti yang diungkapkan oleh penelitian sebelumnya, ketergantungan berpotensi mengganggu kualitas tidur individu menjadi semakin buruk (Putri, 2018). Selain itu, berpotensi terhadap penurunan nilai akademik (Gi, Park, Kyung, dan Park, 2016), berpotensi terhadap penurunan kesehatan seperti sakit kepala, telinga, demam, kelelahan dan terkait muskuloskeletal (Goswami dan Singh, 2016). Ketergantungan HP merupakan salah satu dari empat dimensi problematic use of mobile phone yang dikemukakan oleh Billieux (2012). Menurut Kuss et al., (2018), refleksi teoretis tidak lagi mengusulkan financial problems sebagai dimensi dari problematic use of mobile phone karena perkembangan HP yang telah memberikan banyak manfaat, seperti fitur WhatsApp dan Skype yang dapat memfasilitasi komunikasi dengan sedikit biaya bagi pengguna. Selain itu, perkembangan HP saat ini juga telah menyediakan fitur navigasi berkualitas tinggi dan permainan berbasis lokasi yang nyata (misalnya, Pokémon-GO) sehingga cenderung mengubah kemungkinan risiko terkait dengan dimensi dangerouse use dan prohibited use. Sehingga, dalam penelitian ini peneliti hanya akan berfokus pada dimensi ketergantungan HP karena dimensi ketergantungan juga masih perlu untuk ditindak lanjuti melalui penelitian, mengingat banyak individu yang merasa

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 mengalami ketergantungan HP (Kuss et al., 2018). Dimensi ketergantungan HP ini mengacu pada kriteria ketergantungan zat dalam DSM-IV-TR. APA (2000) mendefinisikan ketergantungan sebagai suatu kondisi individu dengan gejala kognitif, perilaku, dan fisiologis di mana individu terus menggunakan HP terlepas dari berbagai masalah yang disebabkan oleh penggunaan HP tersebut. Hal ini berarti, terdapat berbagai masalah dalam penggunaan HP individu. Ketergantungan dapat terjadi dalam tujuh karakteristik yang dialami dalam masa satu tahun sebelumnya yakni tolerance, withdrawal, use more frequent or for longer than intended, relapse, overuse, reduce activities, dan continues use (American Psychiatric Association, 2000). Individu dengan ketergantungan cenderung tidak pernah pergi tanpa membawa HP bahkan ketika ia lupa, ia akan mengambilnya (Kuss, Harkin, Kanjo, dan Billieux, 2018). Individu juga ditandai dengan penggunaan HP yang lebih sering serta durasi penggunaan yang lebih lama dari waktu yang ditentukan. Fenomena dan penelitian tentang ketergantungan HP di atas memperlihatkan bahwa individu dengan ketergantungan pada HP tampaknya memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi pada tugas yang sulit serta kurang mampu mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya. Kedua asumsi ini merupakan bagian dari impulsivitas. Sehingga peneliti menduga ada hubungan antara impulsivitas dan ketergantungan pada HP. Hal ini didukung oleh Billieux Linden, D’Acremont, Ceschi, dan Zermatten (2007) serta Billieux, Linden, dan Rochat (2008) yang menunjukkan

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 bahwa meningkatnya impulsivitas cenderung membuat individu mengalami masalah dalam menunda penggunaan HP yang dimiliki yang mengarah pada ketergantungan, terutama dalam kondisi negatif. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengaitkan ketergantungan dengan regulasi diri (Deursen, Bolle, Hegner, dan Kommers, 2015), ekstraversi dan neurotisme (Bianchi dan Phillips, 2005), loneliness dan shyness (Bian dan Leung, 2014), serta impulsivitas (Billieux et al., 2007; 2008). Penelitian ini akan berfokus pada impulsivitas. Hal ini karena beberapa penelitian telah sering menunjukkan bahwa impulsivitas terlibat dalam berbagai keadaan psikologis terkait dengan ketergantungan seperti penggunaan alkohol (Whiteside dan Lynam, 2003) dan gangguan makan (Billieux et al., 2007). Secara umum, impulsivitas merupakan tindakan cepat yang tidak direncanakan yang mengarah pada perilaku tanpa berpikir dan kecenderungan untuk bertindak tanpa rencana (Sediyama et al., 2017). Impulsivitas terdiri dari empat dimensi yang menunjukkan impulsivitas memiliki kecederungan tinggi atau rendah, yakni urgency, premeditation, perseverance, dan sensation seeking (Whiteside dan Lynam, 2001, 2003; Whiteside, Lynam, Miller, dan Reynolds, 2005). Penelitian mengenai impulsivitas dan ketergantungan HP telah dilakukan di Indonesia. Namun, peneliti belum menemukan kajian yang secara persis meneliti tentang keduanya. Berkenaan dengan impulsivitas, penelitian yang sering dilakukan adalah terkait perilaku pembelian (Danti, 2016; Elga, 2017; Henrietta, 2012; Lestari, 2017; Renanita, 2017) di mana perilakunya

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 dilakukan tanpa pertimbangan dan disertai respon emosi yang kuat. Sedangkan, penelitian mengenai ketergantungan HP ada yang dikaitkan dengan stres akademik (Karuniawan dan Cahyanti, 2013), kualitas tidur (Hidayat dan Mustikasari, 2014; Putri, 2018), kecemasan (Palupi, Sarjana, dan Hadiati, 2018), serta produktivitas kerja (Riani, 2016). Sementara itu, penelitian yang secara persis mengulas terkait impulsivitas dan ketergantungan pada HP telah dilakukan di luar Indonesia (Billieux et al., 2007, 2008). Berdasarkan penjelasan yang telah dijabarkan, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa di Indonesia. Perilaku penggunaan HP pada mahasiswa tidak lepas dari peran orang tua, organisasi kesehatan mental, serta ilmuwan dan praktisi psikologi. Pertama, terkait dengan peran orang tua, Arnett (2015) telah mengatakan bahwa mahasiswa bertumbuh dengan berkembangnya teknologi, terutama HP atau yang disebut sebagai digital natives. Dengan kata lain HP telah ada sejak mahasiswa masih bayi. Orang tua yang berperan memberikan kebebasan pada anak tanpa pendampingan untuk menjelaskan mengenai kegunaan HP, mengarahkan penggunaan HP sebagai media belajar, serta memberikan informasi dampak positif dan negatif menggunakan HP berpotensi membuat anak menjadi ketergantungan (Zulfitria, 2017). Sehingga, tambahan pengetahuan mengenai topik ini penting bagi orang tua karena dapat memberikan gambaran mengenai perilaku ketergantungan pada anak guna memberikan pendampingan lebih dini terhadap anak.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 Kedua, terkait dengan peran organisasi kesehatan mental, seperti Indonesia Mental Health Care Foundation. Rarung (2015) telah mengatakan bahwa umumnya organisasi kesehatan memiliki tujuan untuk menyusun dan melaksanakan suatu program atau kebijakan guna meningkatkan derajat kesehatan di masyarakat. Hal ini berarti, organisasi kesehatan mental memiliki peran untuk andil dalam memberikan suatu kebijakan terkait dengan kesehatan mahasiswa. Kebijakan ini penting bagi perilaku ketergantungan HP pada mahasiswa. Sehingga, tambahan pengetahuan ini penting bagi organisasi kesehatan mental guna memahami ketergantungan HP pada mahasiswa. Akan sangat baik jika pihak organisasi kesehatan mental di Indonesia dapat memberikan arah dan kebijakan dalam penanganan ketergantungan terkait dengan kesehatan mahasiswa, tidak bergantungnya mahasiswa terhadap HP memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terhindar dari berbagai konsekuensi yang merugikan atau senantiasa hidup bahagia. Terakhir, ilmuwan dan praktisi psikologi di Indonesia berperan dalam kesejahteraan individu salah satunya dengan memberikan penanganan terkait kesehatan mental secara individual (Idham, Mubarok, dan Pratiwi, 2016). Hal ini bertujuan untuk mengatasi masalah yang dialami individu. Ilmuwan dan praktisi psikologi dapat terjun membaur dengan individu untuk secara langsung mengetahui betul permasalahan yang terjadi. Pengetahuan tersebut penting untuk pemahaman akan perilaku penggunaan HP pada mahasiswa. Sehingga, tambahan pengetahuan mengenai topik ini penting untuk melengkapi topik penelitian mengenai faktor-faktor psikologis ketergantungan pada HP di

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 Indonesia yang masih terbatas. Penelitian yang sudah dilakukan misalnya terkait stres akademik dan ketergantungan HP (Karuniawan dan Cahyanti, 2013), serta harga diri dan ketergantungan HP (Mulyana dan Afriani, 2017). Dengan demikian, topik ini dapat memberikan kontribusi teoretis mengenai impulsivitas dan ketergantungan HP, khususnya pada mahasiswa. B. Rumusan Permasalahan Saat ini, HP telah memberikan banyak manfaat bagi penggunanya, secara khusus mahasiswa. Misalnya, dapat memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk berkomunikasi dengan orang yang dikasihi tanpa dibatasi oleh jarak (Billieux et al., 2007). Namun, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, pada kenyataannya penggunaan HP telah terkait dengan perilaku yang bermasalah yaitu ketergantungan, yang memiliki konsekuensi negatif bagi mahasiswa (Billieux, 2012). Pembahasan sebelumnya telah menunjukkan bahwa mahasiswa mungkin terlibat dalam berbagai perilaku ketergantungan HP. C. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini sebatas mencari tahu korelasi antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Artinya, penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan sampel mahasiswa yang aktif menggunakan HP di Universitas Sanata Dharma Yogayakarta. D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 E. Pertanyaan Penelitian Apakah ada hubungan antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa? F. Manfaat Penelitian 1. Bagi mahasiswa Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi mahasiswa terkait impulsivitas dan ketergantungan pada HP. Pengetahuan yang ada dapat digunakan oleh mahasiswa sebagai pengguna aktif HP untuk lebih bijak dalam menggunakan HP. 2. Bagi orang tua Bagi orang tua penelitian ini bermanfaat untuk memperkaya wawasan ilmu pengetahuan mengenai impulsivitas dan ketergantungan pada HP. Pengetahuan ini dapat digunakan untuk mencegah lebih dini akan penggunaan HP yang berlebih dengan memberi pengawasan saat anak menggunakan HP. 3. Organisasi kesehatan mental Bagi organisasi kesehatan mental penelitian ini penting untuk memperkaya bahan informasi sebagai materi untuk memberikan arah dan kebijakan dalam penanganan ketergantungan pada HP. 4. Bagi ilmuwan dan praktisi psikologi Bagi ilmuwan dan praktisi psikologi, penelitian ini bermanfaat untuk melengkapi kontribusi teoretis yang masih terbatas mengenai impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Pengantar Bab ini akan memaparkan definisi dan konsep dari teori serta penelitian-penelitian terkait mengenai impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa. Pertama, akan dibahas mengenai dinamika psikologis mahasiswa. Kedua, mengenai problematic use of mobile phone yang terdiri dari definisi serta empat dimensinya. Dalam hal ini, peneliti hanya akan memilih salah satu dimensi dari problematic use of mobile phone, yaitu ketergantungan. Ketiga, akan membahas ketergantungan yang terdiri dari definisi, aspek-aspek, faktor-faktor, proses dan dampak, serta kaitannya dengan mahasiswa. Keempat, peneliti juga akan membahas mengenai impulsivitas yang terdiri dari definisi, dimensi, faktor-faktor, proses dan dampak, serta kaitannya dengan mahasiswa. Kelima, pembahasan mengenai dinamika hubungan antar variabel dan mahasiswa. Keenam, akan ada kerangka konseptual. Terakhir, akan dicantumkan hipotesis yang diuji dalam penelitian ini. B. Dinamika Psikologis Mahasiswa Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, berikut adalah dinamika psikologis mahasiswa berdasarkan persepektif psikologi perkembangan dan sosial. 14

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 1. Perspektif perkembangan Dalam perspektif perkembangan terdapat dua kajian di dalamnya, yakni (1) emerging adulthood dan (2) mahasiswa. Kajian mengenai emerging adulthood akan ditilik dari Newman dan Newman (2012). Seperti yang diuraikan dalam Newman, emerging adulthood memiliki tugas perkembangan yang disebut autonomy from parents yakni, kemampuan untuk mengatur diri sendiri dalam mengambil keputusan tanpa bergantung kepada orang tua. Selain itu emerging adulthood juga memiliki tugas perkembangan sebagai gender identity yakni, adanya keyakinan, sikap, dan nilai-nilai tentang diri sendiri sebagai individu dalam kehidupan sosial baik itu hubungan romantis, keluarga, pekerjaan, komunitas, dan kelompok. Ada juga tugas perkembangan sebagai internalized morality di mana individu akan mulai memandang diri mereka sebagai makhluk bermoral yang tindakannya berimplikasi pada kesejahteraan orang lain. Serta, tugas perkembangan dalam career choice yakni, memilih pekerjaan tetap sebagai sumber dari uang pribadi individu. Pada tahap ini juga emerging adulthood mengalami yang namanya intimacy vs isolation sebagai konflik mendasar yang dialami oleh emerging adulthood. Individu dengan intimacy mengalami keterbukaan untuk mengkomunikasikan perasaan terhadap orang yang dekat dengannya dan dihargai serta dipercaya oleh orang lain. Sebaliknya, beberapa emerging adulthood kurang dapat terlibat dalam hubungan saling percaya, terbuka atau responsif karena mereka mengalami penolakan, dikucilkan, yang

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 kemudian membuat individu mengalami isolation (Newman dan Newman, 2012). Kajian mengenai mahasiswa ditilik dari salah seorang psikolog perkembangan Jeffrey Jansen Arnett yang mengatakan bahwa kebanyakan dari mahasiswa memiliki usia 18 hingga 23 tahun (Arnett, 1994). Usia ini menunjukkan jika mahasiswa merupakan bagian dari masa emerging adulthood, yang mana mahasiswa tidak lagi remaja tetapi juga belum menetap menjalankan peran sebagai orang dewasa (Arnett, 1994, 2000). Secara khusus Arnett (1994) mengungkapkan mahasiswa masih dalam proses mempersiapkan diri untuk memiliki peran tersebut. Mahasiswa yang merupakan bagian dari emerging adulthood digambarkan sebagai individu yang sedang berproses untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan dalam pendidikan (Arnett, 2015). Pendidikan sendiri memiliki arti baru bagi mahasiswa, di mana mereka harus memikirkan bagaimana pendidikan setelah masa sekolah dapat mendorong mereka ke jalur karir (Arnett, 2015). Hal ini karena pendidikan tinggi telah menjadi syarat untuk mendapatkan pekerjaan terbaik. Sehingga, mereka perlu mencari perguruan tinggi yang sesuai, mencoba kejuruan yang sesuai, serta mencari kegiatan yang sesuai dengan kemampuan dan minat mereka. Dalam hal ini, demografis mereka seringkali tidak stabil. Mahasiswa mengalami perubahan tempat tinggal dari rumah orang tua ke tempat lain untuk mengikuti perguruan tinggi. Ada yang pindah dari kota asal ke kota lainnya

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 serta ada yang pindah ke negara lain, dan sebagian yang lain menetap di rumah (Arnett, 2015). Proses eksplorasi berbagai kemungkinan dalam pendidikan tersebut memiliki tujuan untuk mengembangkan identitas mahasiswa yang lebih pasti, termasuk mengenai pemahaman siapa mereka, apa kemampuan dan keterbatasan mereka, apa keyakinan dan nilai mereka, serta bagaimana mereka terjun ke masyarakat sekitar (Arnett, 1994). Selain itu, selama mengikuti kuliah, mahasiswa diketahui mengalami perkembangan kognitif. Hal ini karena, perguruan tinggi memberikan kesempatan untuk mengasah kemampuan mereka, mempertanyakan asumsi, dan mencoba cara baru memandang dunia (Papalia, 2014). William G. Perry Jr., adalah salah seorang psikolog pendidikan yang mempelajari perkembangan kognitif mahasiswa selama masa kuliah. Menurut Perry (1968, dalam Papalia, 2014), banyak mahasiswa masuk ke perguruan tinggi dengan ide-ide yang kaku tentang kebenaran, mereka memandang dunia dalam dualisme polaritas mendasar, seperti benar atau salah dan baik atau buruk, mereka tidak dapat mengerti atau menggambarkan apa pun selain kebenaran tersebut. Selama masa kuliah, mahasiswa mulai menjumpai ideide yang beragam dan sudut pandang yang luas. Mereka belajar untuk melihat semua pengetahuan dan nilai-nilai yang saling berhubungan. Hal ini kemudian cenderung mengubah pandangan dualistik mereka. Pada akhirnya, mereka memperoleh komitmen dalam relativitas.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Pada titik ini dalam perkembangan mereka, mahasiswa juga mengalami apa yang dinamakan perkembangan psikososial selama mereka kuliah. Hal ini berkontribusi pada pembentukan identitas mereka (Evans, Forney, Guido, Patton, dan Renn, 2010). Peneliti akan menilik hal ini dari teori yang diusulkan oleh Chickering (1993, dalam Evans et al., 2010). 2. Perspektif sosial Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Chickering (1993, dalam Evans et al., 2010) mengusulkan 7 vektor perkembangan psikososial mahasiswa. Adapun tujuh vektor ini tidak berurutan dan tidak dimaksudkan sebagai tahap melainkan dapat berinteraksi satu sama lain serta saling membangun. a. Developing competence Chickering dan Reisser (1993, dalam Evans et al., 2010) mengumpamakan hal ini sebagai “tiga gigi garpu”. Gigi garpu yang pertama disebut kompetensi intelektual, kedua disebut keterampilan fisik dan manual, dan yang ketiga disebut kompetensi interpersonal. Kompetensi intelektual melibatkan perolehan akan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan materi kuliah tertentu. Selain itu, juga terkait dengan peningkatan keterampilan dalam pemikiran kritis dan penalaran. Sedangkan, keterampilan fisik dan manual melibatkan aktivitas fisik dan rekreasi, adanya perhatian terhadap kesehatan dan keterlibatan dalam kreativitas. Sementara itu, kompetensi interpersonal melibatkan keterampilan dalam komunikasi, kepemimpinan, dan bekerja

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 secara efektif dengan orang lain. Sebagai contoh, individu yang menyatakan bahwa ia belum merasa nyaman dengan keterampilan belajar cenderung memiliki masalah dalam kompetensi intelektual, dan seorang perempuan yang kurang bisa berbicara dengan laki-laki mengalami masalah kompetensi interpersonal. b. Managing emotions Dalam vektor ini, mahasiswa mengembangkan kemampuan untuk mengenali dan menerima emosi, serta mengekspresikan dan mengendalikannya secara tepat. Selain itu, belajar untuk bertindak atas perasaan dengan cara yang bertanggung jawab. Perasaan yang dimaksud termasuk agresi, hasrat seksual, kecemasan, depresi, marah, rasa malu, dan rasa bersalah, serta emosi positif seperti kepedulian, optimisme, dan inspirasi. Sebagai contoh, seorang individu yang kesal terhadap orang tuanya yang menginginkan agar ia segera mencari informasi tentang pekerjaan dan mulai berkarir, cenderung mengalami kesulitan dalam mengekspresikan dan mengendalikan emosinya secara tepat. c. Moving through autonomy toward interdependence Hal ini memiliki arti bahwa mahasiswa mengalami peningkatan untuk bebas menjadi diri sendiri; bebas mengarahkan diri, memecahkan masalah, dan mobilitas. Sebagai contoh, individu yang mengalami kesulitan memperbaiki hubungan dengan orang tua diduga mengalami masalah dalam hal ini karena individu ingin dilihat sebagai orang dewasa yang mampu membuat keputusan sendiri.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 d. Developing mature interpersonal relationship Vektor ini termasuk pengembangan toleransi antar budaya dan pribadi, mengapresiasi perbedaan, serta menghargai persamaan. Sebagai contoh, pengembangan hubungan interpersonal yang matang adalah individu yang tertarik untuk belajar menghargai perbedaan. e. Establishing identity Vektor ini mengacu pada pengakuan akan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, latar belakang budaya, serta orientasi seksual. Selain itu, memiliki rasa nyaman dengan kondisi tubuh, penampilan, serta gaya hidup. Individu yang menolak identitas yang diberikan orang lain kepadanya dan mencari gaya hidup serta peran yang berarti bagi dirinya sendiri merupakan contoh dari pengembangan vektor ini. f. Developing purpose Vektor ini mengacu pada pengembangan untuk membuat tujuan yang jelas dan komitmen yang berarti pada hal-hal penting atau kegiatan pribadi mahasiswa. Dengan ini, mahasiswa dapat mempertahankan keputusannya saat menghadapi pertentangan. g. Developing integrity Hal ini mencakup pengembangan bahwa mahasiswa akhirnya memiliki nilai-nilai atau tindakan-tindakan yang konsisten. Tidak lagi hanya mengikuti apa yang orang lain katakan. Namun, di sisi lain, tetap mengakui dan menghormati apa yang menjadi keyakinan orang lain.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 Tujuh vektor tersebut berperan sebagai jalan untuk menuju individuasi. Dengan demikian, penjabaran di atas menunjukkan bahwa mahasiswa merupakan bagian dari populasi emerging adulthood yang mengikuti perguruan tinggi dan memiliki empat tugas perkembangan, adanya masalah perkembangan, serta mengalami perkembangan kognitif maupun psikososial di masa kuliah. Setelah membahas dinamika psikologi dari perspektif perkembangan dan sosial. Selanjutnya akan dibahas mengenai ketergantungan HP. Ketergantungan HP ini sebenarnya merupakan dimensi dari problematic use of mobile phone. Oleh karena itu peneliti akan membahas mengenai problematic use of mobile phone terlebih dulu lalu secara khusus membahas ketergantungan HP. C. Problematic Use Of Mobile Phone Seperti yang telah diketahui sebelumnya, berikut akan dibahas mengenai problematic use of mobile phone dan dimensi-dimensinya. 1. Definisi problematic use of mobile phone Definisi dari problematic use of mobile phone akan dibahas berdasarkan latar belakangnya. Joél Billieux adalah salah satu profesor di bidang psikologi klinis saat ini (2018). Bidang penelitian utamanya adalah berbagai faktor psikologis (kognitif, afektif, motivasi, interpersonal) yang terlibat dalam etiologi perilaku adiktif, dengan berfokus pada proses yang terkait regulasi diri. Sejak tahun 2014, ia menjadi seorang ahli dalam organisasi WHO di bidang implikasi kesehatan masyarakat terkait perilaku

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 kecanduan penggunaan alat teknologi. Pada tahun 2017 ia berfokus menangani klien dengan masalah terkait kecanduan teknologi. Salah satu yang menjadi fokus penelitiannya adalah penggunaan HP yang dirumuskan ke dalam teori problematic use of mobile phone. Problematic use of mobile phone didefinisikan berdasarkan ide bahwa zaman ini penggunaan HP tidak lagi hanya terkait dengan peran positifnya melainkan sudah semakin sering dikaitkan dengan perilaku bermasalah atau yang berpotensi mengganggu (Billieux, 2012; Billieux et al., 2008). Studi pertama yang berfokus pada problematic use of mobile phone ditujukan untuk menentukan dampaknya terhadap kemampuan mengemudi. Secara keseluruhan, penelitian yang ada menekankan bahwa menggunakan HP saat mengemudi mengurangi kapasitas perhatian, bahkan dalam kasus hands-free (Billieux, 2012). Selain itu, analisis mengenai karakteristik kecelakaan telah menunjukkan bahwa individu yang menggunakan HP saat mengemudi lebih sering terlibat dalam kecelakaan fatal dibandingkan dengan individu yang tidak menggunakan HP saat mengemudi (Billieux, 2012). Kemudian, Billieux et al., (2008) juga mengatakan bahwa semakin banyak negara memberlakukan UU yang melarang penggunaan HP saat mengemudi. HP saat ini juga dapat berubah dari alat yang mendukung interaksi sosial menjadi alat yang mengganggu interaksi sosial (Billieux et al., 2008). Hal ini didukung Billieux (2012) yang mengatakan bahwa sebagian besar individu setuju pernah merasa HP mengganggu aktivitas sosial mereka. Sebagai akibatnya, sejumlah tempat cenderung melarang penggunaan HP

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 sama halnya seperti merokok (misalnya perpustakaan, angkutan umum) (Nickerson et al., 2008, dalam Billieux, 2012). Terakhir, Billieux et al., (2007) dan Toda, Monden, Kubo, dan Morimoto (2004) telah menunjukkan bahwa penggunaan HP dapat menjadi ketergantungan. Dengan demikian, Billieux (2012) kemudian mendefinisikan problematic use of mobile phone sebagai ketidakmampuan individu untuk mengelola penggunaan HP-nya yang kemudian melibatkan konsekuensi negatif dalam kehidupan sehari-hari. Konsekuensi tersebut dapat berupa masalah keuangan (Billieux et al., 2008), ketergantungan (Bianchi dan Phillips, 2005; Billieux et al., 2007), gangguan tidur (karena menelepon dan atau pemantauan SMS di malam hari) (Thomée, Härenstam, dan Hagberg, 2011), penggunaan yang berbahaya (seperti, menelepon saat mengemudi) (White, Eiser, dan Harris, 2004), penggunaan yang dilarang (menelepon di tempat terlarang seperti perpustakaan dan angkutan umum) (Nickerson, Isaac, dan Mak, 2008), cyberbullying (Nicol dan Fleming, 2010), sexting (Dir, Cyders, dan Coskunpinar, 2013), atau dihantui perasaan nada dering HP yang berbunyi (Kruger dan Djerf, 2015). Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa problematic use of mobile phone mengacu pada ketidakmampuan individu untuk mengelola penggunaan HP yang dimiliki. Penggunaannya cenderung melibatkan berbagai konsekuensi negatif dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, Billieux (2012) merumuskan empat dimensi problematic use of mobile phone yang akan dibahas di poin selanjutnya.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 2. Dimensi problematic use of mobile phone Pada sub bab sebelumnya telah dipaparkan mengenai definisi problematic use of mobile phone, berikut adalah tentang empat dimensi dari problematic use of mobile phone. Definisi dari setiap dimensi didukung oleh penelitian lain yang sejalan dengan Billieux (2012). a. Dangerouse use Dimensi ini didefinisikan sebagai kecenderungan untuk menggunakan HP pada saat mengemudi (Billieux, 2012). Brace, Young, dan Regan (2007) mengatakan, penggunaan HP saat mengemudi cenderung dapat mengalihkan perhatian pengemudi secara visual, fisik, serta kognitif. Artinya, hal tersebut dapat mendorong pengemudi untuk mengalihkan perhatian (gangguan visual), pikiran dari jalanan (gangguan kognisi), dan tangan dari setir (gangguan fisik). Hal ini kemudian dianggap berbahaya karena berpotensi menurunkan performa berkendara dan meningkatkan risiko kecelakaan. Lebih lanjut dikatakan oleh Brace et al., (2007) panggilan telepon, bercakap-cakap, mengirim pesan, jenis HP, waktu yang dihabiskan, kerumitan kata sandi HP, dan tuntutan tugas mengemudi merupakan faktor penggunaan HP yang dapat memengaruhi performa saat mengemudi. b. Prohibited use Dimensi ini didefinisikan sebagai kecenderungan untuk menggunakan HP di tempat terlarang seperti restoran, angkutan umum, perpustakaan, atau pesawat (Billieux, 2012). Alasan penggunaan HP

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 menjadi dilarang karena ada dugaan bahwa penggunaannya cenderung mengakibatkan terganggunya aktivitas sosial (Nickerson et al., 2008). Hal ini didukung Plant (2001), menurut Plant, individu memiliki tiga jenis sikap dalam menerima panggilan saat sedang dalam situasi sosial. Pertama, individu segera menjauh dari situasi sosial (flight). Kedua, tetap di tempat tetapi menghentikan aktivitas sosial selama menerima panggilan (suspension). Terakhir, tetap terlibat secara sosial yaitu sebisa mungkin melakukan apapun yang dilakukan sebelum akhirnya menerima panggilan telepon (persistence). Tiga respon tersebut berisiko membuat orang lain akan merasa ditinggalkan (Plant, 2001). c. Financial problems Billieux (2012) mengatakan financial problems dapat dianggap sebagai ukuran dari hasil negatif penggunaan HP dalam kehidupan sehari-hari. Banyaknya pengeluaran untuk HP mencerminkan sejauh mana penggunaan HP berpotensi menjadi bermasalah. Billieux et al., (2008) memperkirakan bahwa financial problems terkait dengan ketidakmampuan untuk mencegah diri menggunakan HP dalam situasi tertentu misalnya, saat mengalami pengaruh negatif atau mengalami pikiran yang mengganggu. Pada situasi tersebut, individu diduga menjadi boros dalam keuangan untuk membayar tagihan telepon atau SMS. d. Dependence Sejak kemunculannya dalam literatur psikiatrik dan psikologi klinis, dependence telah dikonseptualisasikan berdasarkan kriteria

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 perilaku adiktif (Bianchi dan Phillips, 2005; Billieux, 2012; Billieux, Philippot, Schmid, Maurage, dan Mol, 2014; Choliz, 2010; Griffiths, 1996; Kwon et al., 2013; Merlo, Stone, dan Bibbey, 2013; Yen et al., 2009). Konsep umum kriteria perilaku adiktif dapat ditemukan dalam kriteria ketergantungan zat pada Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Mental (DSM-IV-TR) (American Psychiatric Association, 2000). Kriteria ini dulunya terbatas pada obat-obatan atau alkohol, namun berdasarkan pengembangannya, saat ini telah diterapkan untuk perjudian, internet, game, penggunaan HP, serta perilaku kecanduan lainnya (Bianchi dan Phillips, 2005; Kwon et al., 2013). Mengacu pada DSM-IV-TR (American Psychiatric Association, 2000), ketergantungan didefinisikan sebagai suatu kondisi yang dialami individu dalam masa satu tahun sebelumnya di mana individu menggunakan HP lebih banyak dari yang dimaksudkan, mencoba untuk berhenti menggunakan HP namun tidak berhasil, memiliki berbagai masalah fisik atau psikologis yang semakin parah karena penggunaan HP, serta mengalami masalah dalam pekerjaan atau dengan teman-teman APA (2000). 3. Aspek ketergantungan HP Berdasarkan fokus penelitian ini, yaitu ketergantungan, selanjutnya peneliti akan membahas tujuh kriteria ketergantungan yang dirumuskan berdasarkan APA (2000). Akan dibahas juga mengenai penelitian-penelitian terkait dengan masing-masing aspek. Selanjutnya, tujuh kriteria yang ada

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 akan digunakan dalam penyusunan alat ukur ketergantungan pada penelitian ini. Adapun tujuh kriteria tersebut terdiri dari tolerance, withdrawal, use more frequent or longer than intended, relapse, overuse, reduce activities, dan continues use. a. Tolerance Tolerance mengacu pada proses di mana meningkatnya jumlah dari sebuah aktivitas yang dibutuhkan untuk mencapai suatu efek yang diinginkan (American Psychiatric Association, 2000). Efek yang diinginkan tersebut bersifat berlebihan. Hal ini karena, individu tidak lagi merasakan efek yang sama seperti awal ketika menggunakan HP meskipun dalam jumlah aktivitas yang sama. Oleh karena itu, individu memiliki kebutuhan untuk meningkatkan jumlah aktivitasnya dalam menggunakan HP. Billieux et al., (2014) mengatakan, ketika individu mengalami tolerance mereka cenderung menggunakan HP lebih sering, di mana individu dapat terlibat dalam panggilan telepon dengan durasi yang lebih lama. Selain itu, individu dapat terlibat dalam panggilan telepon yang lebih banyak, misalnya 10 kali dalam satu hari atau mengirim pesan yang banyak misalnya 5 – 10 pesan dalam satu hari, bahkan bisa lebih dari itu, khususnya ketika mengalami kecemasan atau konflik dalam diri. Choliz (2010, dalam Billieux et al., 2014) menambahkan, pada beberapa individu, tolerance mendorong mereka untuk mengganti HP yang dimiliki dengan model baru yang sedang beredar di pasar. Yen et al., (2009) juga menemukan bahwa tolerance

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 menjadi aspek penting untuk membedakan individu yang mengalami ketergantungan pada HP dari individu yang tidak mengalaminya. Meningkatnya tolerance terjadi setelah individu mengalami ketergantungan HP setelah beberapa tahun (Davison, Neale, dan Kring, 2006). b. Withdrawal Seperti yang dikemukakan oleh APA (2000), withdrawal mengacu pada efek negatif fisik dan psikologis yang terjadi ketika penggunaan HP diberhentikan atau tiba-tiba dikurangi pada individu yang biasanya menggunakan HP. Misalnya, ketika individu tidak dapat menggunakan HP yang dimiliki oleh karena sedang berada di tempat yang dilarang atau berada di tempat yang tidak memiliki sinyal, atau lupa membawa HP, beberapa individu akan mengalami perubahan emosional mungkin berupa perasaan cemas, marah, resah, atau pikiran-pikiran yang mengganggu (Billieux et al., 2014). c. Use more frequent or for longer than intended Mengacu pada APA (2000) aspek ini melibatkan penggunaan HP dalam jangka waktu lebih lama dari yang awalnya dimaksudkan. Misalnya, terus menggunakan HP sampai keasyikan meski telah menetapkan batas hanya 5 menit. Artinya, individu kesulitan dalam mengendalikan penggunaannya sesuai dengan waktu yang ditargetkan. Hal ini melibatkan kesadaran individu bahwa ia telah menghabiskan waktu banyak dalam menggunakan HP (Merlo et al., 2013).

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 d. Relapse Aspek ini mengacu pada kecenderungan untuk berulang kembali ke penggunaan HP setelah berusaha mengurangi atau mengentikan penggunaannya (American Psychiatric Association, 2000). Individu ini digambarkan memiliki keinginan yang kuat untuk selalu menggunakan HP serta kurang mampu untuk menghentikan atau membatasi waktu penggunaan HP meskipun pada waktu tertentu dalam sehari (Davison et al., 2006). Adapun, upaya tersebut dapat dipengaruhi oleh orang-orang sekitar yang memberitahu bahwa individu telah menggunakan HP secara berlebihan (Kwon et al., 2013). e. Overuse Overuse mengacu pada adanya dorongan untuk melakukan banyak hal supaya tetap dapat menggunakan HP (American Psychiatric Association, 2000). Ketika individu mengalami overuse, mereka cenderung lebih memilih untuk mencari bantuan menggunakan HP dan cenderung selalu menyiapkan alat pengisi daya (cas) (Kwon et al., 2013). f. Reduce activities Reduce activities mengacu pada individu dengan ketergantungan yang mengurangi kegiatan sosial, pekerjaan, dan rekreasi karena penggunaan HP (American Psychiatric Association, 2000). Artinya, individu cenderung mengabaikan untuk menikmati kesenangan atau minat lain karena penggunaan HP. Bianchi dan Phillips (2005) juga menggambarkan bahwa hal ini adalah saat-saat di mana individu lebih

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 suka menggunakan HP daripada berurusan dengan kegiatan lain. Hal ini terkait dengan pentingnya HP bagi kehidupan penggunanya. Ketika individu mengalami reduce activities, individu mungkin terlibat konflik dengan orang-orang di sekitar (Griffiths, 1996), serta mengalami kurangnya konsentrasi pada saat di kelas atau saat bekerja (Davison et al., 2006). g. Continues use Aspek ini mengacu pada perilaku di mana pengguna tetap saja menggunakan HP meskipun mengetahui adanya masalah fisik atau psikologis yang disebabkan atau diperburuk oleh penggunaan HP (American Psychiatric Association, 2000). Individu ini memiliki kecenderungan untuk mengalami pusing atau penglihatan kabur, merasa pegal pada pergelangan tangan atau belakang leher dan meskipun mengalami masalah ini, individu akan tetap menggunakan HP (Kwon et al., 2013). Dengan kata lain, individu menyadari bahwa ia mengalami kehilangan kendali atas penggunaannya yang sering mengakibatkan masalah, namun demikian ia tetap saja menggunakan HP (Billieux et al., 2014). 4. Faktor ketergantungan HP Berikut ini, peneliti akan membahas mengenai faktor-faktor yang menyebabkan, mendukung, dan memperkuat ketergantungan pada HP antara lain: sosio-demographic yang terdiri dari jenis kelamin dan usia (Billieux, 2012). Kemudian personalitiy trait yang terdiri dari neurotisme

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 dan ekstraversi, serta self-esteem (Billieux, 2012). Terakhir, patterns of mobile phone use yang terdiri dari statius terhubung dengan internet, jenis HP, waktu pemakaian dalam satu hari, durasi penggunaan HP dalam satu minggu, status apakah menggunakan HP setiap hari, tagihan pengeluaran telepon setiap bulan, dan fitur penggunaan HP yang digunakan dalam satu tahun terakhir (Lopez-fernandez et al., 2017). Dalam hal ini peneliti hanya akan menggunakan sosio-demographic dan patterns of mobile phone use. a. Sosio demografis. Berkenaan dengan sosio demografis Bianchi dan Phillips (2005) mengatakan bahwa jenis kelamin dapat memprediksi jenis penggunaan HP. Artinya, laki-laki dan perempuan berpotensi memiliki jenis penggunaan HP yang berbeda. Misalnya, sebagian besar penelitian terdahulu menemukan pengguna HP dengan jenis kelamin perempuan cenderung lebih tinggi dalam menggunakan HP (khususnya, SMS) daripada laki-laki (Billieux et al., 2008). Sebagian penelitian lain juga menemukan pengguna dengan jenis kelamin perempuan cenderung lebih rentan mengalami ketergantungan (Billieux et al., 2008). Sedangkan, pengguna dengan jenis kelamin laki-laki cenderung menggunakan HP saat mengemudi (Billieux et al., 2008). Namun, penelitian yang dilakukan oleh Mei, Chai, Wang, Ng, dan Ungvari, (2018) menemukan bahwa tidak ada perbedaan jenis kelamin terhadap ketergantungan HP. Selain itu, Bianchi dan Phillips (2005) mengatakan bahwa usia memiliki peran terhadap waktu yang dihabiskan untuk HP dan skor

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 tinggi dari ketergantungan. Misalnya, Billieux et al., (2008) mengatakan bahwa individu dengan usia muda memprediksi penggunaan HP yang lebih sering dan lebih lama di mana hal ini cenderung mendapat skor tinggi pada ketergantungan. Menurut, Bianchi dan Phillips (2005) hal ini karena orang yang lebih muda cenderung lebih tertarik untuk menggunakan teknologi yang baru atau up-to-date terhadap teknologi dibandingkan dengan orang yang lebih tua. Mungkin karena orang yang lebih tua telah memiliki keterbatasan fisik dan di masa sekolah orang tua juga kurang akrab dengan teknologi berbeda dengan usia yang lebih muda. Orang tua cenderung menggunakan HP untuk tujuan bisnis (Bianchi dan Phillips, 2005). b. Pola penggunaan HP Selain sosio demografis, pola penggunaan HP oleh individu juga dapat berperan dalam ketergantungan pada HP. Kuss et al., (2018) mengungkapkan bahwa fungsi HP berkembang dari yang hanya terbatas pada panggilan dan pesan pendek (SMS) menjadi aktivitas online seperti pencarian di internet, pengelolaan email, video game, berjudi, atau terlibat dalam jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter. Berbagai kegiatan tersebut dapat dilakukan di mana saja. Banyaknya manfaat pada HP diduga cenderung menjadikan individu merasa sulit untuk mengurangi waktu yang mereka habiskan dalam menggunakan HP karena dianggap sangat nyaman dan fungsional. Hal tersebut kemudian dapat berkontribusi pada meningkatnya ketergantungan yang dirasakan

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 individu. Dalam hal ini pola penggunaan HP termasuk jenis HP yang digunakan, waktu yang dihabiskan untuk menggunakan HP setiap harinya, serta fitur aplikasi yang digunakan dalam 1 tahun terakhir (Lopez-fernandez et al., 2017). 5. Proses dan dampak ketergantungan HP Sub bab ini, akan menjelaskan mengenai tujuh aspek yang dapat menunjukkan tingkat tinggi atau rendah dari ketergantungan pada HP, tingkat yang tinggi cenderung menunjukkan ketergantungan yang lebih serius (Kwon et al., 2013). Mengacu pada APA (2000) individu yang cenderung mengalami ketergantungan HP tinggi diduga akan mengalami perubahan perilaku, fisiologis, dan kognitif ketika tidak dapat menggunakan HP yang dimiliki. Misalnya, individu yang tidak pernah pergi tanpa membawa HP dan ketika ia lupa, ia akan kembali untuk mengambilnya. Bagi dirinya, menghabiskan hari tanpa HP adalah hal yang membuatnya merasa cemas (Kuss et al., 2018). Selain itu, individu yang cenderung mengalami ketergantungan HP tinggi diduga akan ditandai dengan frekuensi penggunaan HP yang lebih sering dan durasi yang lebih lama untuk mendapatkan kepuasan yang diinginkan (American Psychiatric Association, 2000). Individu juga cenderung menggunakan HP dalam jangka waktu yang lebih lama dari yang dimaksudkan dan individu cenderung akan berusaha supaya tetap dapat menggunakan HP (American Psychiatric Association, 2000).

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Sebaliknya, individu dengan ketergantungan HP rendah cenderung menunjukkan perilaku yang berlawanan, di mana individu memiliki kecenderungan untuk menggunakan HP dengan lebih terkendali, cenderung tetap dapat mengerjakan tugas yang telah direncanakan, cenderung tetap memiliki hubungan pertemanan yang intim dengan teman di dunia nyata, serta cenderung tidak merasa jengkel saat penggunaan HP-nya terganggu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa individu dengan ketergantungan rendah cenderung lebih memanfaatkan penggunaan HP dengan bijak. Berdasarkan hal di atas, ketergantungan HP yang tinggi menjadi penting karena berdampak negatif pada kehidupan penggunanya. Billieux (2012) menyebutkan beberapa dampak negatif dari ketergantungan HP yaitu adanya financial problems, mengalami distres, atau mengalami masalah sosial dengan keluarga maupun teman. Kwon et al., (2013) menambahkan adanya dampak negatif terkait akademik atau pekerjaan akibat ketergantungan pada HP yang tinggi. Hal ini sejalan dengan Lepp, Barkley, Lepp, Barkley, dan Karpinski, (2014) yang menyatakan bahwa individu dengan ketergantungan cenderung memiliki IPK lebih rendah. Diduga karena individu lebih fokus menggunakan HP daripada mengikuti kegiatan akademik seperti, mengikuti kelas atau belajar. Berbagai dampak negatif tersebut kemudian berpotensi menghasilkan lingkaran setan (Billieux, 2012). Selain itu, ketergantungan HP telah dikaitkan dengan berbagai jenis

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 nyeri skeletomuskular, memperburuk kecemasan atau depresi, dan mengurangi kualitas tidur (Jo, Na, dan Kim, 2017). Dari berbagai penjabaran di atas, ditunjukkan bahwa dampak ketergantungan pada HP tidak saja hanya pada kesehatan jasmani, fungsi mental, kehidupan emosi dan sosial individu itu sendiri, tetapi juga merugikan keluarga dan orang-orang terdekat lainnya. Penelitian sebelumnya mengatakan bahwa mahasiswa merupakan kelompok usia yang menunjukkan penggunaan HP dan gejala ketergantungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih tua (Bianchi dan Phillips, 2005). Oleh karena itu dalam penelitian ini juga akan dibahas mengenai ketergantungan HP pada mahasiswa. Berikut ini dikemukakan pembahasannya. D. Ketergantungan HP pada Mahasiswa Sebagaimana yang diketahui di awal bahwa HP memiliki peran yang besar dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa. HP bukanlah hal baru untuk mahasiswa, mereka dapat mempelajarinya bahkan sejak masih usia dini, HP menjadi alat yang selalu menemani mereka (Arnett, 2015). Bahkan ketika mahasiswa terlibat perkumpulan, mereka akan berhenti sesekali untuk melihat pesan teks yang baru muncul dan juga dengan cepat membalas pesan teks tersebut (Arnett, 2015). Arnett (2015) menyebut mahasiswa dengan istilah “digital natives” yaitu mahasiswa dianggap sebagai penghuni pertama dari HP karena HP telah ada sejak mahasiswa masih bayi. Haverila (2013, dalam Liao, He, dan Billieux,

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 2016) menambahkan, mahasiswa sebagai digital telah natives mengintegrasikan HP menjadi bagian dari kehidupannya. Di samping itu, Arnett (2000, dalam Lopez-fernandez et al., 2017) berpendapat bahwa mahasiswa memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan perilaku tidak sehat atau berisiko seperti perilaku ketergantungan. Misalnya, penggunaan obat atau terlibat dalam ketergantungan video game (Lopez-fernandez et al., 2017). Oleh karena itu ketergantungan pada HP merupakan hal yang dapat dialami dan ditingkatkan oleh mahasiswa (Arnett, 2015). Penelitian sebelumnya telah banyak mengaitkan mahasiswa dengan ketergantungan HP (Bianchi dan Phillips, 2005). Bianchi dan Phillips mengatakan mahasiswa lebih banyak memiliki masalah terkait dengan penggunaan HP. Sejalan dengan Arnett (2015) yang mengatakan bahwa HP telah menjadi hal utama dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa, dan kebanyakan dari mereka tidak dapat membayangkan kehidupan tanpa HP. Ketergantungan HP pada mahasiswa dapat dipengaruhi banyak faktor, seperti sosio demografis serta pola penggunaan. Mahasiswa sendiri pun diduga dapat dipengaruhi oleh impulsivitas. Hal ini karena impulsivitas merupakan aspek psikologis yang sering dikaitkan dengan perilaku ketergantungan, misalnya ketergantungan internet (H. W. Lee et al., 2012), perjudian (Moeller et al., 2001, dalam Lee et al., 2012) dan obat-obatan (Sediyama et al., 2017). Oleh sebab itu, pada sub bab selanjutnya akan dijelaskan mengenai impulsivitas.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 E. Impulsivitas Di bawah ini adalah penjelasan mengenai impulsivitas yang terdiri dari definisi, aspek, serta proses dan dampak dari impulsivitas yang ditilik dari (Whiteside dan Lynam, 2001, 2003; Whiteside, Lynam, Miller, dan Reynolds, 2005) serta penelitian-penelitian yang sejalan dengannya. Berikut adalah penejelasannya. 1. Definisi impulsivitas Impulsivitas telah didefinisikan dalam berbagai versi oleh para ahli. Hinslie dan Shatzky (1940, dalam Moeller et al., 2001) mendefinisikan impulsivitas sebagai tindakan cepat tanpa memikirkan tindakan tersebut sebelumnya atau tanpa adanya penilaian sadar. Stahl et al., (2014) mendefinisikan impulsivitas sebagai perilaku spontan yang disebabkan oleh stimulus internal maupun eksternal atau kecenderungan memberi respon tanpa pemikiran yang matang. Misalnya, ketika individu sedang mengemudi dan HP yang dimilikinya berdering, individu dengan spontan akan mengangkat panggilan tersebut. Hal ini tentu berpotensi mengurangi kemampuan individu untuk mengemudi dengan aman. Moeller et al., (2001, dalam Sediyama et al., (2017) mendefinisikan impulsivitas sebagai suatu tindakan cepat yang tidak direncanakan yang mengarah pada perilaku tanpa berpikir dan kecenderungan untuk bertindak tanpa rencana. Sementara itu, Whiteside dan Lynam (2003) mengatakan bahwa impulsivitas merupakan tindakan tanpa memikirkan konsekuensinya dan mungkin terlibat dalam perilaku berisiko.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 Berdasarkan hal di atas, dapat disimpulkan bahwa impulsivitas merupakan tindakan spontan yang dilakukan tanpa perencanaan yang matang. Tindakannya cepat dan mengarah pada bertindak tanpa memikirkan perilakunya terlebih dahulu. Artinya, individu bertindak tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin terjadi. 2. Dimensi impulsivitas Seperti yang telah disebutkan di atas, tindakan tanpa perencanaan yang matang diartikan sebagai impulsivitas. Untuk itu, untuk memahami perilaku impulsivitas, berikut akan dibahas mengenai empat dimensi dari impulsivitas, yaitu urgency, (lack of) premeditation, (lack of) perseverance, dan sensation seeking yang ditilik dari (Whiteside dan Lynam, 2001, 2003; Whiteside et al., 2005). a. Urgency Dimensi ini mengacu pada suatu kondisi di mana individu mengalami kesulitan dalam mengendalikan dorongan untuk bertindak sebagai respons terhadap emosi negatif (Whiteside et al., 2005). Misalnya, sulit mengendalikan hasrat dan godaan terhadap makanan atau rokok dalam kondisi emosi yang tidak menyenangkan (Whiteside dan Lynam, 2001; Whiteside et al., 2005). Oleh karena itu, ketika individu mengalami urgency, individu cenderung akan bertindak dengan terburuburu atau gegabah (Whiteside dan Lynam, 2001). Dengan kata lain, individu bertindak sesuai dengan kehendak hatinya. Selain itu, ketika mengalami urgency, individu akan melakukan hal-hal yang kemudian

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 disesali untuk membuat dirinya merasa lebih baik. Individu juga cenderung sulit menghentikan aktivitas yang dilakukannya meskipun hal tersebut membuat keadaan individu menjadi lebih buruk. Hal ini berarti, individu dengan urgency memiiki kecenderungan untuk bertindak terburu-buru dalam suasana hati yang buruk. Whiteside dan Lynam (2003) mengatakan bahwa tindakan tersebut bertujuan untuk meringankan emosi negatif. Untuk itu, Cynders dan Smith (2008, dalam Neto dan True, 2011) menyebutkan urgency adalah prediktor kuat untuk masalah dalam kesehatan, pekerjaan, mengkonsumsi alkohol atau narkoba, keluarga, sosial, hukum, dan ketergantungan obat-obatan. b. (lack of) Premeditation Premeditation mengacu pada suatu kondisi di mana individu mampu berpikir dan memahami konsekuensi dari suatu tindakan sebelum melakukannya (Whiteside dan Lynam, 2001). Dengan demikian, ketika individu mengalami premeditation individu akan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan suatu tindakan sebelum melakukannya, merencanakan tindakannya dengan matang, atau bertindak dengan hatihati (Whiteside dan Lynam, 2001). Selain itu, individu akan berpikir secara jelas dan memiliki tujuan sebelum bertindak. Hal ini biasanya ditandai dengan kesadaran dari orang-orang sekitar yang mengatakannya kepada individu itu sendiri. Individu juga akan merefleksikan tindakannya sebelum mengambil keputusan dan individu akan bertindak setelah ia mengetahui cara melakukannya (Whiteside dan Lynam, 2001).

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 c. (lack of) Perseverance Dimensi ini mengacu pada kemampuan individu untuk tetap fokus pada suatu tugas yang mungkin membosankan atau sulit (Lepp et al., 2014). Hal ini menunjukkan bahwa individu dengan perseverance mampu mengabaikan hal-hal yang dapat mengganggu pengerjaannya dan mampu menyelesaikan tugas tepat waktu. Selain itu, individu akan terus berusaha menyelesaikan tugasnya sampai selesai karena ia kurang suka mengabaikan tugas-tugas yang didapatnya. Tidak hanya itu saja, individu dengan perseverance juga akan disiplin dalam mengerjakan tugas, ia mudah berkonsentrasi, dan produktif (Whiteside dan Lynam, 2001). d. Sensation seeking Whiteside dan Lynam (2001) mendefinisikan sensation seeking sebagai kecenderungan untuk menikmati dan mengejar kegiatan yang menarik serta terbuka dengan pengalaman baru, entah itu berbahaya maupun tidak. Hal ini menunjukkan bahwa individu dengan sensation seeking akan bertindak mencari pengalaman baru untuk mendapat kesenangan dan kepuasan, ia bersedia untuk mencoba apapun demi mendapat kesenangan. 3. Proses dan dampak impulsivitas Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, empat aspek impulsivitas di atas dapat menunjukkan nilai tinggi dan nilai rendah. Whiteside dan Lynam (2001) dalam penelitiannya menguraikan individu yang menunjukkan nilai tinggi pada urgency cenderung terlibat dalam tindakan

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 yang gegabah atau terburu-buru untuk meringankan emosi negatif mereka meskipun terdapat konsekuensi jangka panjang berbahaya dari tindakan ini. Misalnya, seseorang yang terlibat pertengkaran akan mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan untuk meluapkan kekesalannya namun kemudian ia menyesalinya. Selanjutnya, untuk individu dengan premeditation tinggi, individu cenderung menjadi bijaksana dan penuh pertimbangan misalnya, individu tidak suka memulai suatu pekerjaan sampai ia paham betul bagaimana cara melakukannya. Sedangkan, individu dengan premeditation rendah cenderung bertindak secara mendadak dan tanpa memperhatikan konsekuensi dari tindakannya. Untuk individu dengan perseverance yang tinggi, Whiteside dan Lynam (2001) mengatakan bahwa individu cenderung dapat menyelesaikan pekerjaan dan cenderung mampu bekerja di bawah kondisi yang memerlukan ketahanan terhadap situasi mengganggu. Sebaliknya, individu yang rendah dalam perseverance cenderung tidak mampu untuk tetap fokus terhadap tugas yang sulit atau membosankan sekalipun sudah dipaksakan. Misalnya, individu menjadi mudah menyerah. Terakhir, untuk individu dengan sensation seeking tinggi, individu cenderung menikmati risiko dan terlibat dalam aktivitas berbahaya, sedangkan individu dengan sensation seeking rendah cenderung menghindari risiko dan bahaya. Misalnya, individu dengan sensation seeking tinggi cenderung terlibat dalam situasi mengemudi dengan kecepatan tinggi.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Urgency dan sensation seeking yang tinggi serta kurangnya premeditation dan perseverance menunjukkan tingkat impulsivitas yang tinggi di mana hal ini umumnya bersifat maladaptif yang dapat menghasilkan konsekuensi merugikan pada individu itu sendiri (Mitchell dan Potenza, 2014). Secara khusus, urgency tinggi terkait dengan kepribadian borderline di mana perilaku menyakiti diri sendiri yang biasanya ditunjukkan oleh individu dengan gangguan kepribadian borderline diduga didorong oleh impuls yang kuat dan merupakan upaya dalam mengatasi emosi negatif mereka (Whiteside et al., 2005). Selain itu, Whiteside dan Lynam (2001) mengatakan lack of premeditation cenderung terkait dengan gangguan kepribadian psikopat. Perilaku tersebut dilakukan karena kurang mampu mengantisipasi konsekuensi dari perilaku tersebut dan lack of perseverance sangat terkait dengan bentuk psikopatologi yang diperiksa dalam sebuah studi meta-analisis (Berg et al., 2015, dalam Sperry, Lynam, Walsh, Horton, dan Kwapil, 2016) yaitu, perilaku bunuh diri, kecemasan, agresi, ciri kepribadian borderline, gangguan makan, depresi, dan penggunaan zat. Lack of premeditation terkait dengan penggunaan zat, ciri kepribadian borderline, dan depresi (Berg et al., 2015, dalam Sperry et al., 2016), serta kepribadian hiperaktif dan antisosial (Miller et al., 2003, dalam Sperry et al., 2016). Selain itu, Brooner et al., (1994, dalam McCrae dan Costa, 2003) mengatakan individu yang memiliki impulsivitas tinggi cenderung makan berlebihan, mengeluarkan uang secara berlebihan, minum dan merokok, berjudi, atau mungkin menggunakan narkoba. Hal ini diduga

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 karena individu kurang memiliki kendali untuk mengontrol keinginannya atau memiliki dorongan yang sangat kuat untuk memenuhi keinginannya. Terakhir, bahwa impulslvitas juga memiliki dampak terhadap sejumlah aspek kehidupan misalnya prestasi akademik (Mosti et al., 2014, dalam Babaeian dan Jamshidzadeh, 2015) yang hasilnya menunjukkan bahwa ada korelasi negatif yang signifikan antara impulsivitas dengan prestasi akademik, juga dengan gangguan pikiran, perasaan negatif terhadap diri sendiri, menurunnya kemampuan untuk menikmati dan menyelesaikan suatu kegiatan, meningkatkan perilaku yang bermasalah, serta kesulitan berkonsentrasi (Sperry et al., 2016). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa impulsivitas memiliki sifat maladaptif yang dapat menghasilkan berbagai konsekuensi negatif bagi kehidupan individu. Tidak hanya itu saja, impulsivitas telah dikaitkan dengan mahasiswa. Hal ini karena mahasiswa merupakan kelompok usia yang rentan dengan perilaku berisiko, misalnya penyalahgunaan alkohol (Arnett, 2015). Arnett mengatakan bahwa hal ini didorong oleh sensation seeking yang merupakan aspek dari impulsivitas. Hal ini akan diuraikan pada poin selanjutnya. F. Impulsivitas pada Mahasiswa Seperti yang telah disebutkan di poin sebelumnya sub bab ini adalah mengenai impulsivitas pada mahasiswa. Dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa (Arnett, 2015) mengatakan prosesnya ditandai dengan berbagai perilaku eksplorasi tentang kehidupan. Secara umum, mahasiswa menjalani

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 hari mereka dengan perasaan bersemangat dan gembira. Namun, Arnett (2015) menjelaskan bahwa kegembiraan dan masalah dalam masa dewasa ini hidup berdampingan, sehingga perjalanan hidup sebagai mahasiswa menjadi tahap kehidupan yang sangat kompleks. Berbagai perilaku bermasalah dan gangguan psikologis juga dialami mahasiswa. Misalnya, mengemudi mobil. Arnett (2015) mengatakan para pengemudi di dewasa ini terlibat dalam banyak kesalahan mengemudi, di mana sensation seeking adalah salah satu faktor yang memengaruhi. Secara khusus Arnett (2015) mengatakan mahasiswa didorong oleh impuls sensation seeking dengan tujuan mencoba atau menambah pengalaman baru. Penggunaan obat terlarang atau tindakan kriminal pada mahasiswa juga dapat didorong oleh sensation seeking. Untuk itu, mahasiswa dengan sensation seeking tinggi cenderung terlibat dalam berbagai perilaku berisiko (Arnett, 2015). Sejalan dengan hal ini, Whiteside dan Lynam (2001) mengatakan sensation seeking adalah bagian dari perilaku impulsif yaitu individu bertindak tanpa berpikir atau tanpa rencana. Hal ini menunjukkan bahwa berbagai perilaku berisiko pada mahasiswa didukung oleh aspek dari impulsivitas. Selain daripada itu, sub bab berikut merupakan dinamika dari hubungan antar variabel dengan mahasiswa. G. Hubungan Antara Impulsivitas dan Ketergantungan HP pada Mahasiswa Selanjutnya, telah sampai pada dinamika dari antar variabel pada mahasiswa. Arnett (2015) mengatakan mahasiswa merupakan kelompok usia yang rentan untuk terlibat dalam perilaku berisiko. Misalnya, kecanduan alkohol. Kecenderungan perilaku berisiko ini telah dikaitkan dengan

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 impulsivitas (Whiteside dan Lynam, 2003). Perilaku berisiko itu sendiri ada kaitannya dengan eksplorasi identitas sebagai karakteristik utama dari mahasiswa (Arnett, 2000). Berkenaan dengan hal tersebut, saat ini penggunaan HP telah dikaitkan dengan perilaku berisiko, karena penggunaannya dapat menjadi ketergantungan yang kemudian melibatkan masalah dalam kehidupan sehari-hari (Billieux et al., 2007). Billieux et al., (2007; 2008), Mitchell dan Potenza, (2014), Jo et al., (2017), serta Mei et al., (2018) mengatakan bahwa tingkat impulsivitas tinggi terkait erat dengan ketergantungan pada HP. Menurut Mitchell dan Potenza (2014, dalam Mei et al., 2018), individu dengan tingkat impulsivitas tinggi lebih suka menggunakan HP untuk bersenangsenang tanpa memikirkan konsekuensi dari tindakannya. Secara khusus, Billieux et al., (2007) menjelaskan hal ini berdasarkan dari empat dimensi impulsivitas. Pertama, bahwa dorongan kuat yang timbul untuk menggunakan HP tanpa adanya pertimbangan berpotensi menimbulkan ketergantungan. Individu cenderung mengalami kesulitan dalam melawan dorongan kuat tersebut, terutama dalam kondisi negatif. Dengan kata lain, mahasiswa dengan urgency tinggi cenderung menggunakan HP lebih sering dan memiliki ketergantungan yang lebih besar karena mereka merasa harus segera memenuhi kebutuhannya. Kedua, kesulitan dalam menghadapi tugas yang sulit atau membosankan juga berpotensi menimbulkan ketergantungan. Hal ini diduga karena lack of perseverance berkaitan dengan ingatan-ingatan yang tidak diinginkan, misalnya pertengkaran dengan seorang rekan. Sehingga, mahasiswa menganggap bahwa penggunaan HP dapat membantu mereka

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 melepaskan diri dari pemikiran yang tidak diinginkan tersebut dan kemudian cenderung menimbulkan durasi panggilan yang lebih lama dan penggunaan yang lebih sering sebagai aspek dari ketergantungan HP. Ketiga, lack of premeditation berpotensi menjadikan individu menggunakan HP berlebihan karena kurang dapat memperhitungkan konsekuensi yang mungkin terjadi. Keempat, tingginya sensation seeking cenderung menjadikan individu terus menggunakan HP dengan penggunaan HP yang lebih sering terlepas dari setiap risiko yang ada. Berbagai hal ini kemudian cenderung berakibat negatif pada individu itu sendiri misalnya terhadap akademik (Kwon et al., 2013), masalah keuangan atau sosial (Billieux, 2012), kesehatan (Kim et al., 2016), serta kecemasan atau depresi, dan kualitas tidur (Demirci, Akgonul, dan Akpinar, 2015). Dengan demikian, dua variabel tersebut kemungkinan memiliki hubungan yang signifikan dan positif.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 H. Kerangka Konseptual Mahasiswa Perilaku berisiko - Impulsivitas tinggi Urgency Lack of premeditation Lack of perseverance Sensation seeking Kurang mampu mengendalikan perilaku Maladaptif - Ketergantungan tinggi Withdrawal Tolerance Use more frequent or for longer than intended Overuse Reduce activities Relapse Continues use Gambar 1. Skema hubungan antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa I. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara impulsivitas dengan ketergantungan HP pada mahasiswa.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Pengantar Setelah pada bab sebelumnya dibahas mengenai teori-teori dan penelitian terkait kedua variabel berikut uraian mengenai metode dalam penelitian ini. Pembahasan dalam bab III ini dimulai secara berurutan dari topik (1) rancangan penelitian yaitu mengenai jenis dan bentuk penelitian, serta metode yang digunakan untuk mengumpulkan data; (2) subjek penelitian yaitu individu yang akan menjadi sasaran dalam penyebaran skala; (3) identifikasi variabel yaitu penjabaran singkat mengenai variabel penelitian yang terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat; (4) definisi operasional; (5) prosedur pelaksanaan yang membahas langkah dalam penyebaran skala; (6) instrumen pengumpulan data yang berisi blueprint dari kedua variabel penelitian; (7) validitas; (8) seleksi item; (9) reliabilitas; (10) analisis data; (11) terakhir, pertimbangan etis yang perlu dilakukan peneliti sebelum melakukan penelitian. B. Rancangan Penelitian Sehubungan dengan judul penelitian ini tentang hubungan antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa, maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif yang berbentuk korelasional. Penelitian korelasional bertujuan untuk mengetahui sejauh mana variasi suatu faktor berkaitan dengan faktor lainnya berdasarkan pada koefisien korelasi (Suryabrata, 2008). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah 48

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 penyebaran skala. Kemudian, metode penskalaan yang digunakan yaitu skala Likert. Skala Likert merupakan metode penskalaan yang cukup sederhana dengan adanya pernyataan-pernyataan favorable dan unfavorable. Subjek diminta untuk menyatakan kesetujuan-ketidaksetujuannya terhadap setiap pertanyaan atau item dalam sebuah kontinum yang terdiri atas lima respon yaitu: sangat setuju, setuju, tidak tahu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju (Supratiknya, 2014). Dalam pengembangannya terdapat modifikasi terhadap opsi jawaban skala Likert yaitu penggunaan jumlah genap, guna tidak memberi kesempatan kepada subjek memberikan jawaban netral (Supratiknya, 2014). Penelitian ini menggunakan opsi jawaban dalam jumlah genap untuk menghilangkan central tendency effect yaitu kecenderungan untuk memilih jawaban netral sebagai jawaban aman. Selain itu, terdapat dua jenis skala sebagai alat pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu skala impulsivitas dan skala ketergantungan HP. C. Subjek Setelah membahas mengenai rancangan penelitian, berikut adalah kriteria mengenai subjek dan cara pengambilan sampel dalam penelitian ini. Pertama, subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa berusia 18 – 23 tahun dan merupakan pengguna aktif telepon genggam (HP). Bianchi dan Phillips (2005) mengatakan bahwa mahasiswa lebih rentan terhadap problematic use of mobile phone. Kedua, pengambilan sampel dilakukan tanpa menerapkan prinsip probabilitas (nonprobability) yaitu tidak ada jaminan bahwa setiap anggota populasi memiliki kesempatan sama untuk terpilih menjadi anggota

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 sampel. Cara ini menghasilkan jenis sampel yang disebut sample of convenience, lazimnya berupa kelompok-kelompok testi yang kebetulan bisa diakses oleh penyusun tes (Supratiknya, 2014). D. Identifikasi Variabel Penelitian Berikut adalah variabel dalam penelitian ini yang terdiri dari dua variabel, yaitu : 1. Variabel independen Cresswell (dalam Supratiknya, 2015) mengatakan variabel independen adalah variabel yang kemungkinan menyebabkan, memengaruhi atau berdampak pada hasil tertentu. Variabel independen dalam penelitian ini adalah impulsivitas. 2. Variabel dependen Cresswell (dalam Supratiknya, 2015) mengatakan variabel dependen adalah variabel yang tergantung pada variabel independen, dalam arti variabel yang diasumsikan merupakan hasil atau akibat pengaruh dari variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah ketergantungan HP. E. Definisi Operasional Berbeda dengan identifikasi variabel penelitian, berikut adalah definisi operasional dari variabel independen dan dependen dalam penelitian ini. Definisi operasional adalah definisi dari variabel yang ditulis pada tingkat operasional dan praktis serta dapat diterapkan dengan bahasa yang spesifik

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 untuk memahami hubungan antar variabel (Creswell, 2014). Dua variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah impulsivitas dan ketergantungan HP. 1. Impulsivitas Impulsivitas merupakan tindakan spontan yang dilakukan tanpa perencanaan yang matang. Tindakannya cepat dan mengarah pada bertindak tanpa memikirkan perilakunya terlebih dahulu. Artinya, individu bertindak tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin terjadi. Impulsivitas memiliki 4 aspek yakni, urgensi, kurangnya ketekunan, kurangnya premeditasi, serta pencarian sensasi (Whiteside dan Lynam, 2001, 2003; Whiteside et al., 2005). Impulsivitas akan diukur dengan skala impulsivitas yang disusun berdasarkan teori Whiteside dan Lynam (2001,2003) serta Whiteside et al., (2005). Semakin tinggi skor yang diperoleh mahasiswa pada skala impulsivitas, maka semakin tinggi impulsivitas mahasiswa. Sebalikya, semakin rendah skor yang diperoleh mahasiswa pada skala impulsivitas, maka semakin rendah impulsivitas mahasiswa. 2. Ketergantungan HP Ketergantungan adalah suatu keadaan yang dialami individu di mana individu cenderung menggunakan HP lebih banyak dari yang dimaksudkan, mencoba untuk berhenti menggunakan HP namun tidak berhasil, memiliki berbagai masalah fisik atau psikologis yang semakin parah karena penggunaan HP, serta mengalami masalah dalam pekerjaan atau dengan teman-teman. Ketergantungan pada HP akan diukur menggunakan skala ketergantungan yang disusun berdasarkan teori APA (2000). Semakin tinggi

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 skor pada skala ketergantungan yang diperoleh mahasiswa, maka menunjukkan semakin tinggi ketergantungan HP pada mahasiswa. Sebaliknya, semakin rendah skor pada skala ketergantungan HP yang diperoleh mahasiswa, maka menunjukkn semakin rendah ketergantungan HP pada mahasiswa. F. Prosedur Pelaksanaan Dalam sub bab ini, peneliti hanya akan menekankan mengenai prosedur pelaksanaan yang dimulai dengan mempersiapkan dua skala penelitian yang akan digunakan, yaitu skala impulsivitas yang disusun peneliti berdasarkan teori impulsivitas oleh Whiteside dan Lynam (2001; 2003) serta Whiteside et al., (2005) dan skala ketergantungan HP yang disusun berdasarkan teori ketergantungan oleh APA (2000). Berkenaan dengan skala impulsivitas, peneliti terlebih dahunnlu membuat item-item berdasarkan empat dimensi impulsivitas yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya. Pada tahap berikutnya peneliti meminta bantuan kepada rekan peneliti untuk menilai apakah item yang ditulis sudah sesuai dengan indikator perilaku yang hendak diungkap. Selain itu, juga melihat apakah item yang ditulis masih mengandung social desirability yang tinggi. Kemudian, peneliti meminta bantuan kepada dosen pembimbing untuk melakukan validasi isi (profesional judgement). Hal yang sama dilakukan untuk skala ketergantungan HP. Setelah melakukan persiapan baru kemudian skala diuji coba pada kelompok subjek yang karakteristiknya setara dengan subjek yang hendak

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 dikenai skala tersebut nantinya. Skala dilakukan dengan google form yang kemudian disebar melalui media sosial seperti Line, WhatsApp dan Instagram. G. Instrumen Pengumpulan Data Berikut adalah dua skala dari variabel impulsivitas dan ketergantungan HP yang digunakan dalam penelitian ini. 1. Impulsivitas Skala impulsivitas akan disusun berdasarkan empat dimensi dari impulsivitas yang diungkapkan oleh Whiteside dan Lynam (2001; 2003) serta Whiteside et al., (2005) yaitu, urgency, (lack of) premeditation , (lack of) perseverance, dan sensation seeking. Item pada skala ini terdiri dari item favorable dan unfavorable. Jawaban yang tersedia dan pemberian skor untuk item favorable adalah sangat setuju = 4, setuju = 3, tidak setuju = 2, sangat tidak setuju = 1. Pada item unfavorable, pemberian skor adalah sangat setuju = 1, setuju = 2, tidak setuju = 3, sangat tidak setuju = 4. Skor tinggi pada item favorable menunjukkan impulsivitas yang tinggi dan skor tinggi pada item unfavorable menunjukkan impulsivitas yang rendah. Tabel 1. Pemberian nilai skor Skala Impulsivitas Skor item Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Tidak Sangat Tidak Setuju (TS) Setuju (STS) Favorable 4 3 2 1 Unfavorable 1 2 3 4

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Tabel 2. Blueprint Skala Impulsivitas Dimensi Urgency Indikator Bertindak terburu-buru atau gegabah dalam Total Item 7 suasana hati yang buruk, bertindak menurut kehendak hati, melakukan hal-hal yang kemudian disesali untuk membuat diri merasa lebih baik, sulit menghentikan aktivitas yang dilakukan meskipun hal tersebut membuat keadaan menjadi lebih buruk. Lack of Bertindak tanpa mempertimbangkan 8 premeditation konsekuensi, bertindak tanpa merencanakan tindakannya, bertindak kekurangan bertindak tanpa dari secara berpikir mendadak, kelebihan tindakannya dan sebelum dilakukan, bertindak tanpa tujuan yang jelas. Lack of Mudah menyerah dan sulit berkonsentrasi perseverance terhadap tugas yang sulit atau membosankan, 7 kurang disiplin, kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan di bawah tekanan atau ada hal yang mengganggu, cenderung mengabaikan atau berhenti di tengah jalan ketika menghadapi tugas yang sulit dan membosankan, kurang mampu menyelesaikan tugas tepat waktu. Bertindak untuk mendapatkan kesenangan, Sensation menikmati pengalaman yang menyenangkan, seeking bersedia mencoba kegiatan apapun demi pengalaman baru yang menyenangkan. 7

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Tabel 3. Skala Impulsivitas untuk Try Out Dimensi Favorable Unfavorable Jumlah Urgency 1, 9, 17, 25 2, 10, 18 7 Lack of premeditation 5, 13, 21, 27 6, 14, 22, 28 8 Lack of perseverance 3, 11, 19, 26 4, 12, 20 7 Sensation seeking 7, 15, 23, 29 8, 16, 27 7 16 13 29 Total 2. Ketergantungan HP Skala ketergantungan HP disusun berdasarkan teori ketergantungan oleh APA (2000). Skala ini terdiri dari tujuh aspek yang meliputi withdrawal, tolerance, use more frequent or for longer than intended, overuse, reduce activities, relapse, dan continues use. Setiap pernyataan diberi skor antara 1 – 4. Skor 1 diartikan sebagai sangat tidak setuju dan 4 diartikan sangat setuju. Semakin besar skor yang diberikan menunjukkan semakin tingginya ketergantungan HP. Tabel 4. Pemberian nilai skor Skala Ketergantungan HP Skor item Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Tidak Setuju Sangat Tidak (TS) Setuju (STS) Favorable 4 3 2 1 Unfavorable 1 2 3 4

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 Tabel 5. Blueprint Skala Ketergantungan HP Aspek Withdrawal Tolerance Use more frequent or for longer than intended Overuse Reduce activities Relapse Continues use Indikator Menjadi cemas, marah, resah, atau mengalami efek negatif fisik dan psikologis lainnya ketika penggunaan HP diberhentikan atau tiba-tiba dikurangi. Menggunakan HP lebih sering dari biasanya, terlibat dalam panggilan telepon dengan durasi yang lebih lama dan lebih banyak, mengirim pesan yang banyak dalam satu hari, terdorong untuk mengganti HP yang dimiliki dengan model baru yang sedang beredar di pasar. Kesulitan dalam mengendalikan penggunaannya sesuai dengan waktu yang ditargetkan, sadar bahwa individu telah menghabiskan waktu banyak dalam menggunakan HP. Lebih memilih untuk mencari bantuan menggunakan HP dan cenderung selalu menyiapkan alat pengisi daya (cas). Mengurangi kegiatan sosial, pekerjaan, dan rekreasi karena penggunaan HP, lebih suka menggunakan HP daripada berurusan dengan kegiatan lain, merasa HP begitu penting bagi kehidupan, terlibat konflik dengan orangorang di sekitar, sulit berkonsentrasi pada saat di kelas atau saat bekerja. Berusaha untuk berhenti atau mengurangi penggunaan HP, namun selalu gagal. Memiliki keinginan yang kuat untuk selalu menggunakan HP, kurang mampu menghentikan atau membatasi waktu penggunaan HP meskipun pada waktu tertentu dalam sehari. Ingin mengurangi penggunaan HP karena dipengaruhi oleh orang lain. Tetap saja menggunakan HP meskipun mengetahui adanya masalah fisik atau psikologis yang disebabkan atau diperburuk oleh penggunaan HP. Total Item 7 7 7 7 7 7 7

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Tabel 6. Skala Ketergantungan untuk try out Aspek Favorable Unfavorable Jumlah Withdrawal 1, 15, 29, 43 2, 16, 30 7 Tolerance 3, 17, 31, 44 4, 18, 32 7 Use more frequent or for longer than intended Overuse 5, 19, 33, 45 6, 20, 34 7 7, 21, 35, 46 8, 22, 36 7 Reduce activities 9, 23, 37, 47 10, 24, 38 7 Relape 11, 25, 39, 48 12, 26, 40 7 Continues use 13, 27, 41, 49 14, 28, 42 7 28 21 49 Total 3. Validitas Setelah mengetahui instrumen pengumpulan data, perlu juga diketahui mengenai validitas instrumen pengumpulan datanya. Untuk mengetahui apakah skala mampu menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuannya, diperlukan suatu proses pengujian validitas (Azwar, 2009). Validitas adalah kualitas esensial yang menunjukkan sejauh mana suatu tes sungguh-sungguh mengukur atribut psikologis yang hendak diukurnya (Supratiknya, 2014). Uji validitas pada penelitian ini menggunakan validitas isi yang mengacu pada kesesuaian antara isi tes dan konstruk yang diukurnya. Uji validitas isi dilakukan dengan meminta penilaian pakar atau ahli terhadap seberapa memadai isi tes mewakili ranah isi serta seberapa relevan ranah isi tersebut sesuai dengan interpretasi skor tes yang dimaksudkan. Isi tes mengacu pada tema-tema, pilihan kata, serta

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 format atau bentuk item, tugas, atau pertanyaan yang digunakan dalam tes (Supratiknya, 2014). Adapun, pakar atau ahli yang menilai pada penilaian ini merupakan dosen pembimbing skripsi. 4. Seleksi item Selanjutnya, akan dibahas mengenai seleksi item dalam penelitian ini yang dilakukan dengan uji coba pada kedua skala penelitian kemudian menghitung korelasi skor antar item terhadap skor total skala menggunakan Pearson’s product moment correlation dalam SPSS for Windows versi 23. Besarnya koefisien korelasi antara skor item dengan skor total bergerak dari 0 sampai dengan 1,00 dengan tanda positif atau negatif (Azwar, 2009). Semakin baik itemnya maka koefisien korelasinya semakin mendekati angka 1,00. Koefisien yang mendekati angka 0 atau yang memiliki tanda negatif mengindikasikan item yang tidak baik (Azwar, 2009). Kriteria seleksi item berdasarkan korelasi item-total biasanya menggunakan batasan rit ≥ 0, 30 (Azwar, 2009). Namun, kriteria seleksi item berdasarkan korelasi item-total juga dapat menggunakan batasan rit ≥ 0, 20 dengan mengusahakan jumlah total item sebagai kesatuan skala mencapai minimal 20 – 30 item (Supratiknya, 2014). Dalam penelitian ini, peneliti melakukan seleksi item dengan melihat korelasi item-total rit ≥ 0, 20. Hal ini karena item dengan korelasi item-total tersebut layak untuk dipertahankan (Supratiknya, 2014). Uji coba dilaksanakan pada 27 September 2018 sampai 10 Oktober 2018 dengan subjek sejumlah 200 orang mahasiswa. Berikut ini merupakan hasil seleksi item pada kedua variabel.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 a. Skala impulsivitas Pada skala ini, awalnya memiliki 29 item. Kemudian, setelah melakukan uji coba peneliti melakukan seleksi item berdasarkan rit ≥ 0, 20 dan menghasilkan 3 item gugur karena memiliki rit ≤ 0, 20. Proses ini menghasilkan 26 item yang lolos seleksi. Tabel 7. Seleksi Item Skala Impulsivitas Dimensi Favorable Unfavorable Jumlah Urgency 1, 9, 17, 25 2, 10, 18 7 Lack of premeditation 5, 13, 21, 27 6, 14, 22*, 28 7 Lack of perseverance 3*, 11, 19, 26 4, 12, 20 6 Sensation seeking 7, 15, 23, 29* 8, 16, 24 6 Total 26 ** : item yang gugur b. Skala ketergantungan Pada skala ketergantungan, terdapat 39 item yang memiliki rit ≥ 0, 30. Hal ini menunjukkan bahwa koefisien korelasi item tinggi. Artinya, item dikategorikan sebagai item yang baik (Azwar, 2009). Selain itu, terdapat 5 item yang memiliki rit ≥ 0, 20 hal ini juga dapat dipandang sebagai item yang baik (Supratiknya, 2014). Kemudian, terdapat 5 item gugur karena memiliki rit ≤ 0, 20. Proses ini menghasilkan 44 item yang lolos seleksi dan 5 item yang tidak lolos seleksi. Namun, adanya item yang gugur membuat jumlah item pada masing-masing aspek menjadi tidak seimbang sehingga peneliti melakukan penyesuaian jumlah item

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 pada aspek use more frequent or for longer than intended dan aspek overuse. Berikut adalah hasilnya. Tabel 8. Seleksi Item Skala Ketergantungan Aspek Favorable Unfavorable Jumlah Withdrawal 1*, 15, 29, 43 2, 16, 30 6 Tolerance 3, 17, 31, 44 4, 18*, 32 6 Use more frequent or for (5), 19, 33, 6, 20, 34 6 8, 22, 36 6 longer than intended 45 7, 21, (35), Overuse 46 Reduce activities 9, 23, 37, 47 10*, 24, 38 6 Relape * Continues use 11, 25, 39, 48 12*, 26, 40 6 13, 27, 41, 49 14*, 28, 42 6 27 15 42 Total * : item yang gugur ( ) : item yang sengaja digugurkan 5. Reliabilitas Pengertian reliabilitas mengacu kepada kepercayaan atau konsistensi hasil ukur, yang mengandung makna seberapa tinggi kecermatan pengukuran (Azwar, 2009). Reliabilitas pada penelitian ini diukur dengan menggunakan uji reliabilitas Alpha’s Cronbach untuk menghasilkan estimasi konsistensi internal. Batas minimum koefisien korelasi yang dipandang cukup memuaskan adalah 0.70 sedangkan, koefisien minimum yang kurang dari 0.70 dipandang kurang memadai sebab hal tersebut

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 menunjukkan bahwa kesalahan baku skor tampak sedemikian besar sehingga interpretasi skor menjadi meragukan (Supratiknya, 2014). a. Skala impulsivitas Koefisien Alpha’s Cronbach pada skala impulsivitas setelah uji coba menghasilkan 𝛼 = 0, 833 dan n = 200. Nilai koefisien tersebut menunjukkan bahwa reliabilitas skala impulsivitas tinggi dan memuaskan. b. Skala ketergantungan Koefisien Alpha’s Cronbach pada skala ketergantungan setelah melakukan uji coba adalah 𝛼 = 0, 930 dan n = 200. Nilai koefisien tersebut menunjukkan bahwa reliabilitas skala ketergantungan tinggi dan sangat memuaskan. H. Analisis Data Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji asumsi dan uji hipotesis. Uji asumsi terdiri dari uji normalitas dan uji linearitas. Berikut pembahasannya. 1. Uji asumsi a. Uji Normalitas Salah satu kriteria penting dalam pemilihan metode statistik yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melihat distribusi data yang didapatkan, apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak (Santoso, 2016). Uji normalitas adalah uji yang dilakukan untuk mengecek apakah data penelitian berasal dari populasi yang sebarannya

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 normal (Santoso, 2010). Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test melalui program khusus komputer statistik yaitu Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 23 for Windows. Distribusi data penelitian dikatakan normal jika nilai signifikansinya lebih besar dari 0.05 (p > 0.05). Sebaliknya, distribusi data penelitian dikatakan tidak normal jika nilai signifikansinya lebih kecil dari 0.05 (p < 0.05) (Santoso, 2010). b. Uji Linearitas Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah antar variabel yang akan dianalisis mengikuti garis lurus atau tidak, sehingga peningkatan atau penurunan kuantitas di satu variabel diikuti secara liniar oleh peningkatan atau penurunan kuantitas di variabel lainnya (Santoso, 2010). Uji linearitas pada penelitian ini menggunakan test for linearity melalui program khusus komputer statistik yaitu Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 23 for Windows. Linearitas terpenuhi jika nilai signifikansi kurang dari 0.05 (p < 0.05), yang berarti terdapat hubungan yang linear antar variabel. Sebaliknya, jika nilai signifikansi lebih dari 0.05 (p > 0.05) hal ini berarti terdapat hubungan yang tidak linear antar variabel (Santoso, 2010). 2. Uji Hipotesis Salah satu kegiatan uji statistik dalam penelitian ini adalah menguji sebuah hipotesis. Uji hipotesis ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara dua variabel (Santoso, 2010) yaitu,

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 variabel impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa. Uji hipotesis dalam penelitian ini akan menggunakan analisa korelasi Pearson’s Product Moment, jika uji asumsi normalitas terpenuhi. Sedangkan jika uji asumsi normalitas tidak terpenuhi akan digunakan analisa korelasi Spearman-rho. I. Pertimbangan Etis Dalam pelaksanaan mempertimbangkan etis penelitian sebelum memulai psikologi, sebuah peneliti proyek perlu penelitian (Shaughnessy, Zechmeister, dan Zechmeister, 2012). Hal ini bertujuan untuk menjamin agar tidak ada seorang pun yang dirugikan atau mendapat dampak negatif dari kegiatan penelitian (Darmawan, 2013). Secara etis peneliti wajib mendeskripsikan tentang prosedur penelitian dengan jelas, mengidentifikasi semua risiko potensial yang mungkin memengaruhi kesediaan individu untuk berpartisipasi, dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh subjek tentang penelitian tersebut (Shaughnessy et al., 2012). Oleh karena itu, berdasarkan Kode Etik Psikologi Bab IX Pasal 49 (HIMPSI, 2010) terkait penelitian dan publikasi, pada halaman awal di skala penelitian, peneliti akan mendeskripsikan tujuan dan proses yang akan dijalani sehingga calon/subjek memiliki pemahaman yang jelas tentang riset yang akan dilakukan. Selain itu, dalam pendeskripsian tersebut juga peneliti menjelaskan kepada subjek bahwa data yang diperoleh hanya akan digunakan dalam penelitian ini dan akan mengizinkan para calon/subjek untuk menarik diri dari persetujuan mereka setiap saat tanpa dikenakan penalti. Penelitian ini melibatkan individu secara anonim atau dengan kata lain subjek diperkenankan untuk mengisi kolom nama

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 dengan nama inisial sehingga informed consent tidak diperlukan (HIMPSI, 2010). Peneliti akan memastikan bahwa peneliti mendapat persetujuan dari calon/subjek. Setelah mendapatkan persetujuan, peneliti akan menguraikan prosedur pengerjaan.

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengantar Setelah pada bab sebelumnya dibahas tentang berbagai metode penelitian, sekarang pembahasan beralih pada hasil penelitian, yakni deksripsi dari data subjek dan data penelitian. Kemudian, hasil uji normalitas, uji linearitas, uji hipotesis, dan uji perbedaan variabel ketergantungan berdasarkan jenis kelamin. Terakhir, pembahasan dari hasil penelitian. B. Hasil Penelitian Seperti telah dijelaskan di atas, berikut deskripsi dari data yang diperoleh menggunakan skala impulsivitas dan ketergantungan. 1. Deskripsi data subjek Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan pada 23 Oktober sampai 25 Oktober 2018 dan mendapatkan subjek berjumlah 100 orang mahasiswa. Diketahui bahwa, 51 % subjek berjenis kelamin perempuan dan 49 % subjek berjenis kelamin laki-laki, dengan mean sebesar 1,5, standar deviasi 0,5, dan range sebesar 1. Hal ini menunjukkan bahwa subjek dalam penelitian ini tidak memiliki jumlah yang jauh berbeda. Rentang usia subjek pada penelitian ini adalah 18 hingga 23 tahun dengan mayoritas usia 18 tahun (23 %), mean sebesar 20,41, standar deviasi sebesar 1,7, serta range sebesar 5. Selain itu, dari data yang diperoleh juga diketahui mayoritas jenis HP yang digunakan oleh subjek adalah telepon pintar (smartphone) (100 %) 65

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 dengan mayoritas waktu yang dihabiskan untuk penggunaan HP dalam sehari yaitu lebih dari 3 jam (80 %, mean = 4,64, standar deviasi = 0,86, range = 4) dan mayoritas fitur aplikasi yang digunakan subjek adalah media sosial (17,5 %). Adapun deskripsi subjek dijelaskan pada tabel berikut. Tabel 9. Penggunaan HP dalam 1 tahun terakhir Aktivitas penggunaan HP dalam 1 tahun terakhir Jumlah Media sosial 91 orang Mengunduh / mendengarkan musik 78 orang Info akademik 73 orang Mengunduh / menonton video 73 orang Telepon 65 orang Mengakses email 63 orang Game 47 orang Bisnis 25 orang Mencari informasi kesehatan 1 orang Foto 1 orang Komunikasi dan mencari info yang di perlukan untuk mendukung minat bakat 1 orang SMS 1 orang Edit foto 1 orang Mencari jawaban tugas 1 orang 2. Deskripsi data penelitian Pada deskripsi penelitian ini, peneliti akan membandingkan nilai mean empiris dan teoretis. Hal ini dilakukan untuk mengetahui informasi mengenai keadaan subjek pada variabel impulsivitas dan ketergantungan

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 (Azwar, 2009). Adapun nilai mean teoretis dapat diperoleh melalui perhitungan manual yaitu : 𝑀𝑖𝑛+𝑀𝑎𝑥 2 dan mean empiris dapat diperoleh menggunakan bantuan program komputer Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 23 for Window. Selain itu, peneliti juga melakukan uji one-sample test yang dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara mean empiris dan teoretis. Tabel 10. Data teoretis dan empiris Mean Teoretis Variabel Mean Empiris Min Max Mean Min Max Mean Impulsivitas 26 104 65 44 104 65,41 Ketergantungan 42 168 105 50 168 107,7 Tabel 11. Data empiris skala impulsivitas One-Sample Test Test Value = 0 95% Confidence Interval of the Mean T Impulsivitas Df Sig. (2-tailed) 41,130 99 ,000 Difference Difference Lower Upper 65,410 62,25 68,57

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Tabel 12. Data empiris skala ketergantungan One-Sample Test Test Value = 0 95% Confidence Interval of the T Ketergantungan df Sig. (2- Mean tailed) Difference 38,948 99 ,000 107,700 Difference Lower Upper 102,21 113,19 Dari analisis tabel di atas, diperoleh nilai mean teoretis sebesar 65 dan 65,41 dengan nilai signifikansi 0,00 (p < 0,05). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean teoretis dan mean empiris pada skala impulsivitas. Perbedaan ini menunjukkan mean empiris secara signifikansi lebih tinggi dari mean teoretis. Artinya, subjek dalam penelitian ini memiliki skor impulsivitas yang cenderung tinggi. Di samping itu untuk skala ketergantungan juga diperoleh nilai mean teoretis sebesar 105 dan nilai mean empiris sebesar 107,70 dengan nilai signifikansi 0,00 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean teoretis dan mean empiris pada skala ketergantungan. Artinya, subjek dalam penelitian ini memiliki ketergantungan yang cenderung tinggi dan signifikan. Demikian diperoleh keadaan subjek pada kedua variabel dalam penelitian ini. Berikutnya peneliti menguraikan hasil uji normalitas.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 3. Uji normalitas Setelah membahas mengenai deskipsi data subjek dan data penelitian. Sekarang peneliti akan membahas mengenai uji normalitas. Pada bab sebelumnya telah disebutkan bahwa uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan Kolmogorov-Smirnov denganbantuan program komputer Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 23 for Window. Data terdistribusi normal apabila memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05 (p > 0,05) (Santoso, 2010). Sebaliknya, data dikatakan tidak terdistribusi normal apabila memiliki nilai signifikansi kurang dari 0,05 (p < 0,05). Hasil pengujian dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 13. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnova Statistic Df Sig. Impulsivitas ,275 100 ,000 Ketergantungan ,218 100 ,000 Hasil ini menjelaskan hasil uji bahwa baik untuk variabel impulsivitas ataupun ketergantungan memiliki tingkat signifikansi atau nilai probabilitas kurang dari 0,05 (0,00 dan 0,00 < 0,05), maka bisa dikatakan distribusi kedua data tidak normal. 4. Uji linearitas Selanjutnya, dalam penelitian ini peneliti melakukan uji linearitas untuk melihat apakah terdapat hubungan yang linear antara variabel

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 impulsivitas dan ketergantungan. Linearitas terpenuhi apabila memiliki nilai signifikansi kurang dari 0,05 (p < 0,05) dan tidak terpenuhi apabila memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05 (p > 0,05) (Santoso, 2010). Uji linearitas dilakukan menggunakan test for linearity dalam program komputer Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 23 for Window. Hasil uji linearitas dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 14. Hasil Uji Linearitas Sum of Squares Between (Combined) Groups Linearity 24689,058 7387,441 Mean Df 28 Square 881,752 F Sig. 1,227 ,242 1 7387,441 10,282 ,002 Deviation from 17301,617 27 640,801 Within Groups 51011,942 71 718,478 Total 75701,000 99 ,892 ,620 Linearity Tabel di atas ini menunjukkan terdapat hubungan yang linear antara variabel impulsivitas dan ketergantungan (p = 0,002). 5. Analisis data berdasarkan perbedaan jenis kelamin Seperti telah jelaskan pada bab sebelumnya, salah satu faktor yang memperkuat ketergantungan adalah jenis kelamin. Sehingga, peneliti melakukan analisis data berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Uji perbedaan jenis kelamin dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara ketergantungan pada

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 mahasiswa laki-laki dan perempuan. Uji ini dilakukan dengan uji nonparametrik Mann-Whitney dalam program komputer Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 23 for Windows karena data yang diperoleh sebelumnya tidak berdistribusi normal. Dikatakan memiliki perbedaan jika p < 0,05 dan dikatakan tidak memiliki perbedaan jika p > 0,05 (Santoso, 2012). Tabel 15. Ketergantungan berdasarkan jenis kelamin Ketergantungan Jenis Kelamin N Mean Rank Laki-laki 49 46,23 Perempuan 51 54,60 Total 100 Sig. (2-tailed) ,149 Berdasarkan data di atas diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,149 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara ketergantungan pada perempuan dan laki-laki. 6. Uji hipotesis Seperti telah dijelaskan di bab sebelumnya terdapat dua pembagian uji hipotesis yakni analisa korelasi Pearson’s Product Moment dan Spearman-rho. Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisa korelasi Spearman-rho dalam program komputer Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 23 for Window karena data sampel pada skala impulsivitas dan ketergantungan tidak berdistribusi normal.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Tabel 16. Hasil uji hipotesis Impulsivitas Ketergantungan Spearman' Impulsivitas Correlation s rho Coefficient Ketergantungan 1,000 ,274** Sig. (1-tailed) . ,003 N 100 100 ,274** 1,000 Sig. (1-tailed) ,003 . N 100 100 Correlation Coefficient Tabel di atas menunjukkan nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0,00 (p < 0,05). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa impulsivitas berkorelasi positif dan signifikan dengan ketergantungan (n = 100, r = 0,274, p = 0,003). C. Pembahasan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa menggunakan skala impulsivitas yang disusun berdasarkan teori dari Whiteside dan Lynam (2001, 2003), Whiteside et al., (2005) serta skala ketergantungan yang disusun berdasarkan teori dari APA (2000). Hasil penelitian menggunakan uji korelasi Spearman’s Rho menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara impulsivitas dan ketergantungan dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,274 dan nilai signifikansi sebesar 0,003. Hal ini memiliki arti

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 bahwa terjadi hubungan yang searah, semakin tinggi impulsivitas maka semakin tinggi pula ketergantungan. Sebaliknya, semakin rendah impulsivitas, maka semakin rendah pula ketergantungan. Hasil ini mendukung penelitian terdahulu (Billieux et al., 2007; Billieux et al., 2008; Jo et al., 2017; Mei et al., 2018; Mitchell dan Potenza, 2014) yang menemukan bahwa impulsivitas terkait dengan ketergantungan pada HP. Billieux et al., (2007) mengatakan, hal ini diduga karena individu cenderung sulit mengendalikan dorongan impuls yang dirasakan untuk menggunakan HP. Selain impulsivitas, kepribadian dan self-esteem juga telah dikaitkan dengan ketergantungan HP (Billieux, 2012). Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan ke seluruh populasi, mengingat bahwa prinsip pengambilan sampel yang digunakan adalah tanpa menerapkan probabilitas yakni convenience sampling. Menurut Neuman (2006) convenience sampling tidak dapat menghasilkan sampel yang efektif atau representatif. Hal ini karena metode ini lazimnya mendapatkan subjek yang mudah diakses oleh peneliti sehingga kemungkinan besar tidak dapat menggambarkan populasi. Sehingga hasil penelitian ini hanya dapat digeneralisasikan ke dalam sampel penelitian ini saja. Berdasarkan hasil yang didapatkan dalam penelitian ini terdapat hubungan yang searah antara impulsivitas dan ketergantungan. Hal ini dapat berarti bahwa mahasiswa Universitas Sanata Dharma cenderung menggunakan HP dengan jumlah yang lebih sering dan menggambarkan ketergantungan yang lebih besar (Billieux et al., 2007). Selain itu, cenderung mengalami peningkatan durasi penggunaan HP menjadi lebih lama, dan keinginan untuk terus-menerus menggunakan HP

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 bahkan ketika berbagai risiko mungkin terjadi akibat penggunaannya. Billieux (2012) mengatakan bahwa, ketika individu mengalami ketergantungan hal ini dapat berdampak negatif bagi individu itu sendiri. Berbagai konsekuensi negatif dapat menjadi lingkaran setan bagi individu, seperti mengalami penurunan nilai akademik, masalah keuangan, mengalami stres negatif, bahkan adanya masalah sosial dengan keluarga maupun teman (Billieux, 2012). Mengingat pentingnya menjadi bijak dalam penggunaan HP, sehingga intervensi terkait impulsivitas dapat membantu mahasiswa Universitas Sanata Dharma untuk menangani ketergantungan HP. Hasil penelitian ini menunjukkan usia muda cenderung tertarik dengan teknologi baru dan cenderung menggunakan HP dengan durasi yang lama. Dapat dilihat dari hasil deskripsi data penelitian bahwa keseluruhan subjek lebih menggunakan smartphone (100%) daripada HP konvensional. Lalu, sebanyak 80% subjek dalam penelitian ini menggunakan HP lebih dari tiga jam (> 3 jam). Hal ini mendukung Bianchi dan Phillips (2005) serta Billieux et al., (2008) yang mengatakan bahwa usia muda memang lebih up to date terhadap teknologi baru yang ada dibanding dengan usia yang lebih tua. Sehingga tidak heran jika usia muda lebih rentan terhadap ketergantungan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa satu tahun terakhir subjek menggunakan HP untuk mengakses media sosial, mengunduh atau mendengarkan musik, mencari info akademik, mengunduh atau menonton video, melakukan panggilan telepon, mengakses email, gaming, bisnis, mengambil foto, mengirim pesan teks, mengedit foto, mencari informasi

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 kesehatan, mencari info yang diperlukan untuk minat dan bakat, serta mencari jawaban untuk tugas yang dimiliki. Hal ini menunjukkan subjek dalam penelitian ini merasa nyaman dengan HP yang dimiliki. Adanya perasaan nyaman dalam menggunakan HP tentu dapat menjadikan individu mengalami ketergantungan (Lopez-fernandez et al., 2017). Sehingga, individu perlu bijak dalam menggunakan HP. Dengan demikian individu dapat terhindar dari konsekuensi negatif akibat perilaku ketergantungan. Berdasarkan data demografi jenis kelamin, ditemukan bahwa nilai signifikansi 0,149 (p > 0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat ketergantungan pada mahasiswa laki-laki maupun perempuan. Hasil ini bertolak belakang dengan Billieux et al., (2008) yang mengatakan bahwa perempuan lebih rentan terkait dengan ketergantungan dibanding dengan laki-laki. Namun, hal ini sesuai dengan Mei et al., (2018) bahwa, tidak ada perbedaan jenis kelamin yang signifikan dalam ketergantungan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa laki-laki maupun perempuan dalam penelitian ini memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam ketergantungan. Perempuan cenderung mengembangkan ketergantungan karena lebih menggunakan HP untuk memuaskan kebutuhan sosial mereka (Lee, Chang, Lin, dan Cheng, 2014). Sementara, laki-laki cenderung mengembangkan ketergantungan HP karena memiliki dorongan yang kuat menggunakan HP untuk bisnis atau jaringan profesional (Lee et al., 2014). Sehingga, konsekuensi negatif yang mungkin terjadi akibat ketergantungan perlu diberi perhatian khusus oleh perempuan maupun laki-laki.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 Hasil dalam penelitian ini menunjukkan nilai mean empiris lebih tinggi dibandingkan dengan mean teoretis pada skala impulsivitas (65, 41 > 65) dan skala ketergantungan (107, 70 > 105) dengan nilai signifikansi kedua skala sebesar 0,00. Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara mean empiris dan mean teoretis pada kedua skala yang berarti subjek dalam penelitian ini memiliki impulsivitas dan ketergantungan yang tinggi secara signifikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa, mahasiswa yang memiliki impulsivitas tinggi cenderung akan mengalami peningkatan dalam jumlah panggilan telepon, durasi, dan jumlah pesan teks yang dikirim (Billieux et al., 2007; Billieux et al., 2008) di mana hal ini cenderung menjadi kurang terkendali. Dengan demikian, individu cenderung akan menghabiskan banyak waktu untuk menggunakan HP dan hal ini berpotensi menjadikan individu terlibat dalam ketergantungan HP (Billieux et al., 2007). Sementara itu, individu dengan ketergantungan yang tinggi cenderung akan mengalami perubahan perilaku, fisiologis, dan kognitif jika dirinya tidak dapat menggunakan HP-nya. Hal ini karena, individu ingin terus menggunakan HP. Ketergantungan yang tinggi pada individu juga cenderung ditandai dengan peningkatan jumlah dan durasi dari penggunaan, bahkan cenderung dapat menggunakan dengan waktu yang lebih lama dari yang ditargetkan, serta usaha individu agar tetap dapat menggunakan HP (American Psychiatric Association, 2000).

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil yang didapatkan dalam penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa. Hal ini berarti, hipotesis diterima. Semakin tinggi impulsivitas, semakin tinggi pula ketergantungan HP pada mahasiswa. Demikian sebaliknya, semakin rendah impulsivitas, semakin rendah pula ketergantungan HP pada mahasiswa. Hal ini cenderung didukung oleh usia, jenis kelamin, jenis HP yang digunakan, waktu penggunaan dalam sehari, dan berbagai fitur aplikasi pada HP yang digunakan oleh subjek. Berbagai hal tersebut cenderung mendukung tingkat ketergantungan HP pada mahasiswa. B. Keterbatasan Penelitian Peneliti menyadari bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan. Pertama, APA (2000) mendefinisikan ketergantungan dapat terjadi ketika memiliki tiga atau lebih karakteristik yang dialami dalam masa satu tahun sebelumnya. Pada penelitian ini, peneliti tidak mempertimbangkan adanya rentang waktu ketergantungan yang dialami subjek. Sehingga, hasil penelitian ini dapat dikatakan belum optimal dan kurang dapat merepresentasikan keadaan sesungguhnya. Namun demikian penelitian ini telah cukup baik 77

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 menunjukkan bahwa subjek cenderung mengalami ketergantungan dengan memiliki mean empiris yang lebih besar dari mean teoretis. Kedua, penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel tanpa menerapkan probabilitas, hal ini mengakibatkan hasil yang didapatkan tidak dapat digeneralisasikan ke dalam populasi. Namun demikian peneliti tetap mendapatkan hasil yang baik dalam uji linearitas dan uji hipotesis dalam penelitian ini. C. Saran Proses penelitian dan pembahasan yang sudah dilakukan oleh peneliti menghasilkan beberapa saran untuk mahasiswa pengguna aktif HP, orang tua, organisasi kesehatan, serta ilmuwan dan praktisi psikologi, khususnya yang tertarik dengan topik ini. Berikut beberapa saran tersebut : 1. Bagi mahasiswa Mahasiswa dapat lebih menyadari mengenai perilaku penggunaan HP yang mungkin merugikan atau berbahaya bagi diri sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan lebih bijak dalam menggunakan HP yang akan mengurangi risiko ketergantungan pada mahasiswa. 2. Bagi orang tua dan organisasi kesehatan Orang tua dari mahasiswa diharapkan untuk melakukan pendampingan kepada anak sejak dini terkait dengan penggunaan HP, seperti memberikan penjelasan mengenai kegunaan HP dan HP sebagai media untuk belajar, serta memberikan informasi terkait dampak positif dan negatif dari HP.

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Selain itu, organisasi kesehatan perlu memberikan arah dan kebijakan dalam penggunaan HP. Hal ini dapat berupa pemberian materi terkait penggunaan HP yang ideal bagi mahasiswa. 3. Bagi ilmuwan dan praktisi psikologi Ilmuwan dan praktisi psikologi perlu melakukan penelitianpenelitian yang lebih banyak terkait impulsivitas dan ketergantungan HP pada mahasiswa. Banyaknya penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan teori yang lebih lengkap guna meningkatkan penggunaan HP yang lebih bijak. Selain itu, diharapkan komunitas ilmuwan psikologi yang tertarik dengan topik penelitian ini untuk memperluas subjek yang terlibat sehingga dapat mewakili populasi dan memiliki data yang berdistribusi normal, serta perlu ada rentang waktu ketergantungan yang dialami subjek. D. Komentar Penutup Di awal penulisan bab I peneliti telah mengemukakan tiga alasan peneliti akan topik perilaku penggunaan HP ini. Dari proses penulisan yang telah peneliti lakukan, peneliti merasa lega karena teori-teori yang ada banyak memberikan wawasan yang lebih luas kepada peneliti terkait ketiga alasan peneliti tersebut, bahwa benar saat ini terlepas dari manfaat yang diberikan oleh HP, penggunaannya cenderung dapat membuat individu menjadi tidak terkendali yang lebih jauh lagi dapat terlibat dalam ketergantungan HP. Peneliti juga menjadi sadar akan perlunya memiliki pikiran yang matang sebelum bertindak. Selain itu, tambahan terhadap wawasan ini sangat membantu peneliti untuk menjadi lebih bijak dalam menggunakan HP. Peneliti berharap

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 hal ini secara konsisten dapat menjadi pedoman peneliti pada saat hendak melakukan sesuatu khususnya terkait dengan penggunaan HP. Peneliti juga berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas, secara khusus bagi teman-teman peneliti.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA American Psychiatric Association. (2000). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (IV-TR). Washington, DC: American Psychiatric Association. Arnett, J. J. (1994). Are college students adults? Their conceptions of the transition to adulthood. Journal of Adult Development, 1(4), 213–224. Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480. doi:10.1037/0003-066X.55.5.469 Arnett, J. J. (2015). Emerging adulthood: The winding road from the late teens through the twenties (2nd ed.). Oxford University Press. Azwar, S. (2009). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Babaeian, K., & Jamshidzadeh, F. (2015). The relationship between student’s impulsiveness and timidity with their educational achievement. Biological Forum An International Journal, 7(I), 91–93. Bian, M., & Leung, L. (2014). Linking loneliness, shyness, smartphone addiction symptoms, and patterns of smartphone use to social capital, 1–19. doi:10.1177/0894439314528779 Bianchi, A., & Phillips, J. G. (2005). Psychological predictors of problem mobile phone use. Cyberpsychology & Behavior, 8(1), 39–51. Billieux, J. (2012). Problematic use of the mobile phone: A literature review and a pathways model. Current Psychiatry Reviews, 8(4), 299–307. Billieux, J., Linden, M., & Rochat, L. (2008). The role of impulsivity in actual and problematic use of the mobile phone. Applied Cognitive Psychology, 22, 1195–1210. doi:10.1002/acp Billieux, J., Linden, M. Vander, D’Acremont, Ceschi, & Zermatten, A. (2007). Does impulsivity relate to perceived dependence on and actual use of the mobile phone? Applied Cognitive Psychology, 21, 527–537. doi:10.1002/acp Billieux, J., Philippot, P., Schmid, C., Maurage, P., Mol, J. De, & Linden, M. (2014). Is dysfunctional use of the mobile phone a behavioural addiction? Confronting symptom- based versus process-based approaches. Clinical Psychology and Psychotheraphy. doi:10.1002/cpp.1910 81

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 Brace, Young, K., & Regan. (2007). Analysis of the literature: The use of mobile phones while driving. Victoria. Carver, C. S., & Connor-Smith, J. (2010). Personality and coping. doi:10.1146/annurev.psych.093008.100352 Choliz, M. (2010). Mobile phone addiction: a point of issue. Society for the Study of Addiction, 373–374. Creswell, J. W. (2014). Research design : Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. California: SAGE Publications. Danti, L. (2016). Hubungan konsep diri dengan kecenderungan perilaku pembelian impulsif produk fashion pada karyawati. Kristen Satya Wacana. Darmawan, D. (2013). Metode penelitian kuantitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Davison, Neale, & Kring. (2006). Psikologi abnormal. (N. Fajar, Ed.) (9th ed.). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Demirci, Akgonul, & Akpinar. (2015). Relationship of smartphone use severity with sleep quality , depression , and anxiety in university students. Behavioral Addictions, 4(2), 85–92. doi:10.1556/2006.4.2015.010 Deursen, A. J. A. M. Van, Bolle, C. L., Hegner, S. M., & Kommers, P. A. M. (2015). Computers in human behavior modeling habitual and addictive smartphone behavior: The role of smartphone usage types , emotional intelligence , social stress , self-regulation , age , and gender. Computers in Human Behavior, 45, 411–420. doi:10.1016/j.chb.2014.12.039 Dir, A. L., Cyders, M. A., & Coskunpinar, A. (2013). From the bar to the bed via mobile phone : A first test of the role of problematic alcohol use , sexting , and impulsivity-related traits in sexual hookups. Computers in Human Behavior, 29, 1664–1670. doi:10.1016/j.chb.2013.01.039 Elga, I. (2017). Hubungan kerentanan konsumen terhadap kecenderungan impulsive buying pada pembelian kosmetik di kalangan mahasiswi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sanata Dharma. Evans, Forney, Guido, Patton, & Renn. (2010). Student development in college (second, Vol. 39). San Francisco: Jossey-Bass. Gi, D., Park, Y., Kyung, M., & Park, J. (2016). Computers in human behavior mobile phone dependency and its impacts on adolescents’ social and academic behaviors. Computers in Human Behavior, 63, 282–292.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 doi:10.1016/j.chb.2016.05.026 Goswami, V., & Singh, D. R. (2016). Impact of mobile phone addiction on adolescent ’ s life : A literature review. International Journal of Home Science, 2(1), 69–74. Griffiths, M. (1996). Behavioural addiction: An issue for everybody? The Journal of Workplace Learning, 8(3). Henrietta. (2012). Impulsive buying pada dewasa awal di yogyakarta. Hidayat, S., & Mustikasari. (2014). Kecanduan unaan smartphone dan kualitas tidur pada mahasiswa RIK UI. Depok. HIMPSI. (2010). Kode etik psikologi indonesia. Jakarta: Pengurus dan Penanggung Jawab. Idham, A., Mubarok, A., & Pratiwi, I. (2016). Peran psikologi komunitas dalam mendukung kebijakan kesehatan mental. Surabaya. Jo, H. sic, Na, E., & Kim, D. J. (2017). The relationship between smartphone addiction predisposition and impulsivity among Korean smartphone users. Addiction Research and Theory, 26(1), 77–84. doi:10.1080/16066359.2017.1312356 Kaonang, G. (2016, July 20). Memahami tren penggunaan smartphone di Indonesia berdasarkan usia. Dailysocial.Id. Retrieved from https://dailysocial.id/post/memahami-tren-penggunaan-smartphone-diindonesia-berdasarkan-usia Karuniawan, A., & Cahyanti. (2013). Addiction pada mahasiswa pengguna smartphone. Psikologi Klinis Dan Kesehatan Mental, 2(1), 16–21. Kim, Y., Jeong, J. E., Cho, H., Jung, D. J., Kwak, M., Rho, M. J., … Choi, I. Y. (2016). Personality factors predicting smartphone addiction predisposition: Behavioral inhibition and activation systems, impulsivity, and self-control. PLoS ONE, 11(8), 1–15. doi:10.1371/journal.pone.0159788 Kruger, D. J., & Djerf, J. M. (2015). High ringxiety: Attachment anxiety predicts experiences of phantom cell phone ringing. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 19(1), 56–59. doi:10.1089/cyber.2015.0406 Kuss, D., Harkin, L. J., Kanjo, E., & Billieux, J. (2018). Problematic smartphone use: Investigating contemporary experiences using a convergent design problematic smartphone use : Investigating contemporary experiences using. International Journal of Environmental Research and Public Health,

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 15(142), 1–16. doi:10.3390/ijerph15010142 Kwon, M., Lee, J., Won, W., Park, J., Min, J., Hahn, C., … Kim, D. (2013). Development and validation of a smartphone addiction scale ( SAS ), 8(2). doi:10.1371/journal.pone.0056936 Lee, H. W., Choi, J.-S., Shin, Y.-C., Lee, J.-Y., Jung, H. Y., & Kwon, J. S. (2012). Impulsivity in internet addiction: A comparison with pathological gambling. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 15(7), 373–377. doi:10.1089/cyber.2012.0063 Lee, Y., Chang, C., Lin, Y., & Cheng, Z. (2014). The dark side of smartphone usage : Psychological traits , compulsive behavior and technostress. Computers in Human Behavior, 31, 373–383. doi:10.1016/j.chb.2013.10.047 Lepp, A., Barkley, J. E., & Karpinski, A. C. (2014). The relationship between cell phone use , academic performance , anxiety , and satisfaction with Life in college students. Computers in Human Behavior, 31, 343–350. doi:10.1016/j.chb.2013.10.049 Lestari, M. (2017). Hubungan antara harga diri dengan impulsive buying pada pegawai wanita di kantor dinas perhubungan kota Surakarta. Muhammadiyah Surakarta, Surakarta. Liao, Y., He, H., & Billieux, J. (2016). Prevalence and correlates of problematic smartphone use in a large random sample of Chinese undergraduates. BMC Psychiatry, 1–12. doi:10.1186/s12888-016-1083-3 Lopez-fernandez, O., Kuss, D. J., Romo, L., Morvan, Y., & Kern, L. (2017). Selfreported dependence on mobile phones in young adults : A European crosscultural empirical survey. Journal of Behavioral Addictions, 6(2), 168–177. doi:10.1556/2006.6.2017.020 McCrae, R., & Costa, P. (2003). Personality in adulthood: A five-factor theory perspective. Experimental Aging Research (2nd ed., Vol. 12). New York London. doi:10.1080/03610738608259434 Mei, S., Chai, J., Wang, S., Ng, C. H., & Ungvari, G. S. (2018). Mobile phone dependence, social support and impulsivity in Chinese university students. Environmental Research and Public Health, 15(504). doi:10.3390/ijerph15030504 Merlo, L. J., Stone, A. M., & Bibbey, A. (2013). Measuring problematic mobile phone use : Development and preliminary psychometric properties of the PUMP scale. Journal of Addiction.

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Mitchell, M. R., & Potenza, M. N. (2014). Addictions and personality traits: Impulsivity and related constructs. Curr Behav Neurosci Rep., 1(1), 1–12. doi:10.1007/s40473-013-0001-y.Addictions Moeller, F. G., Barratt, E. S., Dougherty, D., Schmitz, J. M., & Swann, A. C. (2001). Psychiatric aspects of impulsivity. Am J Psychhiatry, 158(11), 1783– 1793. Mulyana, S., & Afriani. (2017). Hubungan antara self-esteem dengan smartphone addiction pada remaja SMA di kota Banda Aceh. Psikogenesis, 5(2), 102– 114. Neto, A., & True, M. (2011). The development and treatment of impulsivity. PSICO, 42(1), 184–193. Neuman, L. (2006). Basics of social research qualitative and quantitative approaches. Animal Genetics (second, Vol. 39). Boston: Pearson. Newman, B., & Newman, P. (2012). Development Through Life: A psychosocial approach. USA: Cengage Learning. Nickerson, R. C., Isaac, H., & Mak, B. (2008). A multi-national study of attitudes about mobile phone use in social settings. International Journal Mobile Communications, 6(5). Nicol, A., & Fleming, M. J. (2010). “ i h8 u ”: The influence of normative beliefs and hostile response selection in predicting adolescents ’ mobile phone aggression — A pilot study, 212–231. doi:10.1080/15388220903585861 Ningrum, Aziwarti, & Rahmadani. (2016). Dampak penggunaan smartphone sebagai gaya hidup pada mahasiswa program studi pendidikan sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat. Palupi, D. A., Sarjana, W., & Hadiati, T. (2018). Hubungan ketergantungan smartphone terhadap kecemasan pada mahasiswa fakultas Diponegoro. Jurnal Kedokteran Diponegoro, 7(1), 140–145. Papalia. (2014). Menyelami perkembangan manusia (12–Buku 2 ed.). Salemba Humanika. Plant. (2001). The effects of mobile telephones on social and individual life. Putri, A. Y. (2018). Hubungan antara kecanduan smartphone dengan kualitas tidur pada remaja skripsi. Islam Negeri Sunan Ampel. Rarung. (2015). Organisasi kesehatan: manajemen dan kesejahteraan.

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Kompasiana.Com. Retrieved from https://www.kompasiana.com/jamesallan.rarung/56197215789373c9068b45 67/organisasi-kesehatan-manajemen-dan-kesejahteraan?page=all Renanita, T. (2017). Kecenderungan pembeliian impulsif online ditinjau dari penjelajahan website yang bersifat hedonis dan jenis kelamin pada generasi Y. Indigenous, 2(1), 1–6. Riani, V. (2016). Gambaran ketergantungan smartphone terhadap produktivitas kerja pada pekerja CV.Traveline Citra Nusantara Yogayakarta. Sanata Dharma. Santoso, A. (2010). Statistik untuk psikologi: Dari blog menjadi buku. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Santoso, S. (2012). Aplikasi SPSS pada statistik non parametrik. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Santoso, S. (2016). Panduan lengkap SPSS versi 23. Jakarta: Percetakan PT Gramedia. Satriani, A. (2013, November 5). Penelitian: Mahasiswa pakai gadget di ruang kuliah. Tekno.Tempo.Co. Retrieved from https://tekno.tempo.co/read/527132/penelitian-mahasiswa-pakai-gadget-diruang-kuliah Sediyama, C. Y. N., Moura, R., Garcia, M. S., Silva, A. G., Soraggi, C., Neves, F. S., … Malloy-diniz, L. F. (2017). Factor analysis of the brazilian version of UPPS impulsive behavior scale. Frontiers in Psychology, 8, 1–5. doi:10.3389/fpsyg.2017.00622 Shaughnessy, J., Zechmeister, E., & Zechmeister, J. (2012). Metode penelitian dalam psikologi. (E. Tjo, Ed.) (9th ed.). Jakarta Selatan: Penerbit Salemba Humanika. Sperry, S. H., Lynam, D. R., Walsh, M. A., Horton, L. E., & Kwapil, T. R. (2016). Examining the multidimensional structure of impulsivity in daily life. Personality and Individual Differences, 94, 153–158. doi:10.1016/j.paid.2016.01.018 Stahl, C., Voss, A., Schmitz, F., Nuszbaum, M., Tüscher, O., Lieb, K., & Klauer, K. C. (2014). Behavioral components of impulsivity. Experimental Psychology: General, 143(2), 850–886. doi:10.1037/a0033981 Supratiknya, A. (2014). Pengukuran psikologis. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Supratiknya, A. (2015). Metodologi penelitian kuantitatif & kualitatif dalam psikologi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Suryabrata, S. (2008). Metodologi penelitian. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Tarigan, H., & Simbolon, R. (2017, March 12). Gadget di kalangan mahasiswa. Medanbisnisdaily.Com. Retrieved from http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2017/03/12/288040/gadget-dikalangan-mahasiswa/ Thomée, S., Härenstam, A., & Hagberg, M. (2011). Mobile phone use and stress, sleep disturbances, and symptoms of depression among young adults - a prospective cohort study. BMC Psychiatry, 12. doi:10.1186/1471-244X-12176 Toda, M., Monden, Kubo, & Morimoto, K. (2004). Cellular phone dependence tendency of female university students, 383–386. White, M. P., Eiser, J. R., & Harris, P. R. (2004). Risk perceptions of mobile phone use while driving, 24(2). Whiteside, S. P., & Lynam, D. R. (2001). The five factor model and impulsivity : Using a structural model of personality to understand impulsivity. Personality and Individual Differences, 30. Whiteside, S. P., & Lynam, D. R. (2003). Understanding the role of impulsivity and externalizing psychopathology in alcohol abuse : Application of the UPPS impulsive behavior scale. Experimental and Clinical Psychopharmacology, 11(3), 210–217. doi:10.1037/1064-1297.11.3.210 Whiteside, S. P., Lynam, D. R., Miller, J. D., & Reynolds, S. K. (2005). Validation of the UPPS impulsive behaviour scale : A four-factor model of impulsivity. European Journal of Personality, 574(March), 559–574. Widarsha, C. (2018, January 20). 2 pelajar ini didiagnosa kecanduan smartphone, ditangani ahli jiwa. Detiknews. Retrieved from https://news.detik.com/jawatimur/3824306/2-pelajar-ini-didiagnosakecanduan-smartphone-ditangani-ahli-jiwa Yen, C. F., Tang, T. C., Yen, J. Y., Lin, H. C., Huang, C. F., Liu, S. C., & Ko, C. H. (2009). Symptoms of problematic cellular phone use, functional impairment and its association with depression among adolescents in Southern Taiwan. Journal of Adolescence, 32(4), 863–873. doi:10.1016/j.adolescence.2008.10.006

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Zulfitria. (2017). Pola asuh orang tua dalam penggunaan smartphone pada anak sekolah dasar. HOLISTIKA : Jurnal Ilmiah PGSD, 1(2), 95–102.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 89

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 LAMPIRAN 1 Instrumen Penelitian

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Lampiran 1.1 Skala Impulsivitas Sebelum Try-Out No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Item Ketika saya diberi uang jajan, saya langsung memakainya tanpa perencanaan yang matang. Ketika berdebat, saya berusaha mendengarkan pendapat orang lain. Saya mencari kegiatan lain ketika merasa bosan mengerjakan tugas kuliah. Saya mampu mengerjakan tugas kuliah tepat waktu. Saya biasanya nongkrong sampai lupa waktu, sehingga saya menunda pengerjaan tugas saya. Saya memiliki banyak pertimbangan sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan romantis dengan seseorang. Saya menikmati berkendara dengan kecepatan tinggi. Ketika hari libur saya memilih untuk bersantai di rumah. Saya menyesal makan berlebih untuk mengatasi stres saya. Mudah bagi saya untuk tidak marah ketika ada orang lain menghina saya. Saya terbiasa dengan pengerjaan tugas kuliah yang mengalir begitu saja tanpa target waktu. Saat mengerjakan tugas kuliah yang sulit, saya mampu mengabaikan halhal yang mengganggu saya. Saya mengirim pesan chat pada saat berkendara meski saya tahu itu berbahaya. Sebelum saya memutuskan untuk mengikuti kepanitiaan di kampus, saya akan mempelajari dahulu dampak positif dan negatifnya. Saya senang berbicara dengan orang yang baru saya kenal. Saya memilih menghabiskan waktu di rumah untuk beristirahat daripada menambah pengalaman dari kegiatan di kampus. Saya cenderung kurang dapat menahan diri untuk marah ketika orang lain menabrak kendaraan saya. Saya mampu mencari barang kesayangan saya yang hilang dengan tenang. Saya cenderung mengabaikan tugas-tugas kuliah yang sulit. Saya merasa terganggu dengan tugas-tugas kuliah yang belum selesai. Bagi saya, lebih penting untuk menyelesaikan tugas kuliah secepatcepatnya daripada memahaminya lebih dalam. Sebelum melakukan aktivitas saya biasanya merencanakannya dengan matang terlebih dahulu. Saya suka berlibur ke tempat yang baru saya kunjungi. Saya menghindari kegiatan di kampus yang berisiko membahayakan keselamatan diri saya. Saya biasanya terburu-buru ke kampus karena kelas akan segera dimulai. Sulit bagi saya untuk berkonsentrasi mengerjakan tugas ketika ada teman yang mengajak pergi. Saya biasanya belajar semalam sebelum ujian, meski saya tahu hal itu

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 28 29 kurang baik untuk kesehatan saya. Saya biasanya menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan sebelum berangkat kuliah agar tidak ada yang tertinggal. Saya senang berkunjung ke tempat yang baru untuk foto-foto.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 Lampiran 1.2 Skala Ketergantungan Sebelum Try-Out No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Item Saya menjadi kesal ketika HP saya tidak mendapat koneksi jaringan di kampus. Mudah bagi saya untuk melakukan kegiatan tanpa menghiraukan HP. Saya akan lebih sering menggunakan HP daripada biasanya saat menghadapi tugas yang sulit. Saya mampu mengendalikan keinginan saya untuk menggunakan HP secukupnya dalam kondisi apapun. Sulit bagi saya untuk menghentikan penggunaan HP ketika ada aktivitas yang menarik di HP. Mudah bagi saya untuk menghentikan penggunaan HP sesuai dengan batas waktu yang saya targetkan. Charger HP saya selalu tersedia setiap waktu. Saya akan berusaha bertanya kepada orang sekitar saat mencari suatu tempat yang baru bagi saya. Ada saat-saat di mana saya lebih senang menggunakan HP daripada berbincang dengan teman kelas saya. Saya lebih suka memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengobrol dengan teman kampus daripada menggunakan HP. Saya pernah mencoba untuk membatasi waktu penggunaan HP saya, namun selalu gagal. Saya mampu membatasi penggunaan HP saya setiap hari. Jika saya pusing akibat menggunakan HP terlalu lama, saya akan tetap menggunakannya. Jika saya pusing akibat menggunakan HP, saya akan menghentikannya. Saya merasa gelisah apabila tidak membawa HP ke kampus. Saya tetap fokus melakukan aktivitas tanpa memeriksa HP. Ketika saya merasa kesepian saya akan lebih sering mengirim pesan chat kepada teman. Saya kurang tertarik untuk menghubungi teman-teman saya lewat HP ketika merasa bosan. Saya sadar bahwa saya telah menghabiskan lebih banyak waktu dari yang seharusnya untuk menggunakan HP. Saya berhasil mengendalikan penggunaan HP agar sesuai dengan waktu yang saya targetkan. Apabila saya merasa bingung dengan tugas kuliah, saya lebih memilih bertanya kepada teman lewat HP daripada bertanya secara langsung. Mudah bagi saya untuk mengabaikan HP saya yang lowbatt. Saya mengalami konflik dengan teman saya karena saya lebih memilih bermain HP ketika bertemu. Saya lebih mengutamakan tugas saya daripada asyik menggunakan HP. Aplikasi yang menarik pada HP saya merupakan alasan terkuat bagi saya untuk selalu menggunakan HP.

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 Mudah bagi saya untuk mengabaikan penggunaan HP di kelas. Apabila saya mengalami tekanan, saya tetap menggunakan HP meskipun HP membuat saya semakin cemas. Saya berusaha untuk tetap menggunakan HP sewajarnya, sehingga saya terhindar dari keluhan pada pergelangan tangan. Saya sulit berkonsentrasi saat belajar karena HP saya tertinggal di rumah. Saya tetap tenang meskipun HP saya tidak mendapat koneksi jaringan di kampus. Saya membeli HP dengan model terbaru untuk memuaskan keinginan saya. Saya sudah merasa puas dengan model HP saya saat ini. Saya tetap menggunakan HP secara terus-menerus meski sudah menetapkan waktu penggunaan bagi diri saya. Saya mampu menggunakan HP sesuai dengan waktu yang sudah saya targetkan bagi diri saya sendiri. Apabila saya tersesat dan aplikasi peta di HP saya bermasalah, saya lebih berusaha menyelesaikan masalah aplikasi tersebut daripada bertanya kepada orang sekitar. Saya lebih memilih bertanya secara langsung kepada teman dibanding bertanya lewat HP ketika bingung dengan tugas kuliah. Saya sulit berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas kuliah karena selalu memikirkan HP saya. Bagi saya HP hanya sebuah alat komunikasi yang biasa-biasa saja, tidak terlalu istimewa. Teman-teman saya sudah mengingatkan saya untuk mengurangi waktu penggunaan HP, namun saya tetap menggunakannya. Saya berhasil menghentikan penggunaan HP ketika ada yang menegur saya. Saya tetap menggunakan HP meskipun saya merasa pegal pada pergelangan tangan akibat penggunaan HP yang terlalu lama. Apabila saya bosan menggunakan HP, saya melakukan aktivitas lain. Saya menjadi deg-degan ketika menonaktifkan HP dalam jangka waktu lama. Saya mengecek HP lebih banyak dari biasanya ketika saya merasa cemas. Saya menetapkan batas waktu untuk menggunakan HP sebelum mengerjakan tugas, namun saya gagal memenuhinya. Saya lebih memilih memesan makanan lewat HP daripada membeli langsung ke tokonya. HP telah menjadi bagian penting dalam pengembangan identitas saya. Jika saya keasyikan bermain HP, saya sulit untuk berhenti. Ketika ada berita di HP yang membuat saya kurang nyaman, saya tetap menggunakan HP untuk mencari tahu lebih lanjut informasi terkait.

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 Lampiran 1.3 Kuesioner Online

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 LAMPIRAN 2 Reliabilitas Skala Impulsivitas dan Skala Ketergantungan

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 Lampiran 2.1 Reliabilitas Skala Impulsivitas N Cases Valid 200 99,5 1 ,5 201 100,0 Excludeda Total Reliability Statistics Cronbach's N of Alpha Items ,833 % 29

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 Item-Total Statistics i1 i2 i3 i4 i5 i6 i7 i8 i9 i10 i11 i12 i13 i14 i15 i16 i17 i18 i19 i20 i21 i22 i23 i24 i25 i26 i27 i28 i29 Scale Mean Scale if Item Variance if Deleted Item Deleted 78,1850 74,483 78,2400 70,927 76,9500 82,229 77,6300 73,068 77,7550 72,055 77,4950 71,719 77,5800 72,064 77,3600 73,257 77,3150 71,755 77,4050 74,574 77,4550 74,179 77,5100 71,718 77,6250 73,070 77,7650 72,181 77,2100 76,730 77,0450 76,576 77,5700 72,347 77,3850 70,931 77,6750 71,818 77,6300 70,707 77,5300 74,441 76,8950 78,547 77,0500 76,349 77,6000 71,528 77,5850 72,355 77,2500 75,595 77,2850 73,501 78,0350 72,938 77,4050 75,890 Corrected Item-Total Correlation ,237 ,509 -,315 ,391 ,548 ,428 ,415 ,351 ,476 ,284 ,327 ,568 ,301 ,454 ,285 ,212 ,493 ,675 ,521 ,492 ,297 -,027 ,229 ,486 ,379 ,204 ,420 ,364 ,166 Squared Multiple Correlation . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Cronbach's Alpha if Item Deleted ,832 ,822 ,850 ,826 ,822 ,825 ,825 ,828 ,823 ,830 ,829 ,821 ,830 ,824 ,831 ,832 ,823 ,818 ,822 ,822 ,830 ,838 ,831 ,823 ,827 ,833 ,826 ,827 ,834

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 Lampiran 2.2 Reliabilitas Skala Ketergantungan Case Processing Summary N Cases Valid % 200 99,5 1 ,5 201 100,0 Excluded a Total Reliability Statistics Cronbach's N of Alpha Items ,930 49

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 k1 k2 k3 k4 k5 k6 k7 k8 k9 k10 k11 k12 k13 k14 k15 k16 k17 k18 k19 k20 k21 k22 k23 k24 k25 k26 k27 k28 k29 k30 k31 k32 k33 k34 k35 k36 k37 k38 k39 k40 k41 Item-Total Statistics Scale Cronbach's Scale Mean Variance if Corrected Squared Alpha if if Item Item Item-Total Multiple Item Deleted Deleted Correlation Correlation Deleted 135,9350 161,619 ,150 . ,930 135,5450 156,531 ,508 . ,928 135,7500 160,229 ,288 . ,929 135,7400 157,349 ,403 . ,929 136,2550 157,980 ,351 . ,929 135,6450 158,994 ,342 . ,929 136,1350 154,680 ,521 . ,928 135,7900 160,026 ,208 . ,930 136,1400 154,111 ,558 . ,927 135,7350 160,990 ,157 . ,930 136,0000 154,050 ,523 . ,928 136,1400 162,463 ,002 . ,932 136,3200 152,329 ,679 . ,926 135,8450 162,584 ,096 . ,930 136,0050 153,874 ,505 . ,928 136,0900 159,047 ,309 . ,929 136,1650 156,460 ,432 . ,928 135,5750 162,688 -,012 . ,931 135,9550 155,048 ,474 . ,928 135,9050 158,468 ,319 . ,929 136,0800 153,963 ,536 . ,928 135,7600 160,103 ,274 . ,929 136,3450 151,554 ,732 . ,926 135,8850 157,338 ,369 . ,929 135,9450 155,218 ,490 . ,928 136,0200 156,603 ,379 . ,929 136,2150 152,863 ,670 . ,926 136,1100 157,968 ,330 . ,929 136,1700 153,087 ,619 . ,927 135,9450 157,580 ,395 . ,929 136,5650 155,282 ,521 . ,928 135,4650 158,662 ,307 . ,929 136,0900 154,766 ,571 . ,927 135,9550 158,254 ,359 . ,929 136,2800 156,504 ,377 . ,929 136,0650 155,237 ,494 . ,928 136,3050 153,560 ,634 . ,927 135,9650 158,547 ,272 . ,930 136,3200 151,545 ,713 . ,926 136,1600 157,231 ,346 . ,929 136,2650 152,075 ,683 . ,926

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 k42 k43 k44 k45 k46 k47 k48 k49 135,6450 136,2400 136,0550 136,0950 136,3350 135,9900 136,0100 135,8500 159,808 150,304 155,439 154,820 152,063 154,090 154,201 156,128 ,273 ,767 ,455 ,545 ,677 ,593 ,515 ,411 . . . . . . . . ,929 ,925 ,928 ,928 ,926 ,927 ,928 ,929

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 LAMPIRAN 3 Hasil Uji Deskriptif Jenis Kelamin

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 LAMPIRAN HASIL UJI DESKRIPTIF JENIS KELAMIN Valid 100 Missing 0 Mean 1,5100 Std. Deviation ,50242 Range 1,00 Frequency Valid laki-laki perempuan Total Percent 49 49,0 51 51,0 100 100,0

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 LAMPIRAN 4 Hasil Uji Deskriptif usia

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 LAMPIRAN HASIL UJI DESKRIPTIF USIA N Valid 100 Missing 0 Mean 20,41 Std. Deviation 1,700 Range 5 Frequency Percent Valid 18 23 23,0 19 8 8,0 20 17 17,0 21 20 20,0 22 21 21,0 23 11 11,0 100 100,0 Total

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 LAMPIRAN 5 Hasil Uji Deskriptif Waktu Penggunaan Dalam Sehari

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 LAMPIRAN HASIL UJI DESKRIPTIF WAKTU PENGGUNAAN DALAM SEHARI N Valid 100 Missing 0 Mean 4,64 Std. Deviation ,859 Range 4 Frequency Percent Valid <30 menit 2 2,0 3 3,0 1 jam - 2 jam 4 4,0 2 jam - 3 jam 11 11,0 >3 jam 80 80,0 100 100,0 30 menit - 1 jam Total

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 LAMPIRAN 6 Surat Izin Penelitian

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118

(139)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara perilaku asertif dan kecemasan presentasi proposal penelitian skripsi pada mahasiswa - USD Repository
0
0
134
Hubungan antara Self Regulated Learning dengan prestasi akademis mahasiswa - USD Repository
0
0
120
Hubungan antara intensitas mengakses facebook dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa - USD Repository
0
0
135
Hubungan antara adversity quotient dan stres pada mahasiswa yang bekerja - USD Repository
0
0
119
Hubungan antara pola pikir negatif dan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa Psikologi USD - USD Repository
0
0
127
Hubungan antara efikasi diri dan minat berwirausaha pada mahasiswa fakultas ekonomi - USD Repository
0
0
132
Hubungan antara tingkat dependensi dan tingkat stres pada mahasiswa - USD Repository
0
0
127
Hubungan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi akademik pada mahasiswa yang bekerja - USD Repository
0
0
132
Hubungan antara tipe kepribadian ekstrovert dan motivasi berprestasi pada mahasiswa - USD Repository
0
0
111
Hubungan antara atraksi interpersonal tehadap dosen dengan motivasi belajar pada mahasiswa - USD Repository
0
1
98
Hubungan antara self-regulated learning dan stres akademik pada mahasiswa - USD Repository
0
0
118
Hubungan antara culture shock dan prestasi akademik pada mahasiswa asal Papua - USD Repository
0
0
114
Hubungan antara persepsi popularitas dengan terbentuknya konsep diri pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
90
Hubungan antara harga diri dengan kesepian pada mahasiswa baru angkatan 2013/2014 Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
114
Hubungan antara volume latihan dan prestasi akademik pada mahasiswa-atlet - USD Repository
0
0
125
Show more