Dominasi, hegemoni, dan kekuasaan dalam Serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra - USD Repository

Gratis

0
0
94
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DOMINASI, HEGEMONI, DAN KEKUASAAN DALAM SERAT RANGSANG TUBAN KARYA KI PADMASUSASTRA Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia Oleh Brigitta Gangga Tribuana NIM: 154114043 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DOMINASI, HEGEMONI, DAN KEKUASAAN DALAM SERAT RANGSANG TUBAN KARYA KI PADMASUSASTRA Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia Oleh Brigitta Gangga Tribuana NIM: 154114043 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tugas akhir yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 11 Januari 2019 Penulis Brigitta Gangga Tribuana iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah untuk Kepentingan Akademis Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Brigitta Gangga Tribuana NIM : 154114043 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: Dominasi, Hegemoni, dan Kekuasaan dalam Serat Rangsang Tuban Karya Ki Padmasusastra. Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media yang lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 11 Januari 2019 Yang menyatakan, Brigitta Gangga Tribuana v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Jangan pernah ragu akan jarak. Karena jarak menghasilkan rindu. Jangan pernah takut akan waktu. Karena waktu yang menyatukan kita. Karya ini kupersembahkan kepada mamaku tercinta, M.G. Purwini Disriati. Saudara-saudariku terkasih Padmo Adi dan Angela Padma Dewi. Serta semua orang yang saya kasihi dan yang mengasihi saya. vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Terjadilah padaku, menurut kehendak-Mu” (Luk.1: 26-38) “Hidup itu seperti pergelaran wayang, dimana kamu menjadi dalang atas naskah semesta yang dituliskan oleh Tuhan mu.” (Sujiwo Tejo) “Bahagia adalah ketika kita lebih sering tersenyum, lebih berani bermimpi, lebih mudah tertawa, dan lebih banyak bersyukur.” (Merry Riana) vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Yang Maha Sempurna. Berkat bimbingan dan pertolongan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Dominasi, Hegemoni, dan Kekuasaan dalam Serat Rangsang Tuban Karya Ki Padmasusastra dengan baik dan tepat pada waktunya. Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan selesai dengan tepat waktu jika tidak didasari dengan niat, memulai, dan menyelesaikan dengan penuh suka cita yang terbangun dari diri penulis sendiri. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasihnya kepada beberapa pihak yang sudah memberikan bimbingan, dukungan, semangat dan motivasi dalam penulisan skripsi ini. Pertama, penulis mengucapkan terima kasih kepada Susilawati Endah Peni Adji, S.S., M.Hum. sebagai Dosen Pembimbing Akademik, Kaprodi, dan sekaligus merangkap sebagai pembimbing I yang selalu memberikan banyak masukan berharga dan dukungan semangat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Kedua, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Yoseph Yapi Taum, M. Hum. sebagai pembimbing II yang telah memberikan dukungan semangat dan mengarahkan penyusunan skripsi ini. viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Ketiga, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu dosen Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta. Kepada Prof. Dr. Praptomo Baryadi, M. Hum. sebagai dosen terfavorit bagi seluruh mahasiswa Sastra Indonesia USD, kepada Sony Christian Sudarsosno, S.S., M.A. selaku Wakil Ketua Program Studi Sastra Indonesia USD, Drs. B Rahmanto, M. Hum., Maria Magdalena Sinta Wardani, S.S., M.A., Dr.Paulus Ari Subagyo, M. Hum. (alm), dan Drs. Hery Antono, M. Hum. (alm) yang sangat berjasa dan telah bersedia memberikan ilmunya selama saya kuliah di Program Studi Sastra Indonesia. Serta penulis mengucapkan terima kasih kepada Staf Sekretariat Fakultas Sastra Indonesia atas pelayanan dan bantuan yang diberikan dengan baik selama ini. Keempat, ucapan terima kasih khususnya untuk mama saya, M.G Purwini Disriati yang selalu memberikan semangat dan doa yang terbaik untuk penulis. Terima kasih sudah bekerja keras dan mengizinkan penulis meraih mimpinya di Kota Yogyakarta. Ucapan terima kasih pula untuk kedua kakak saya, Padmo Adi dan Angela Padma Dewi, kedua kakak ipar saya Kartika Indah dan Antonius Adi, serta untuk kedua keponakan saya Rama Sanjaya Padmakarna dan Kidung Ayunda yang tak hentinya memberikan semangat dan dukungan psikologis kepada saya. Terima kasih juga kepada saudara sepupu saya Adrianus Hendry yang sama-sama kuliah di Jogja, dia selalu ada disaat saya kesepia dan selalu memberikan semangat terlebih ketika saya mengerjakan skripsi ini. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada bapak saya, Hadrianus Denda Surono (alm) yang memberikan inspirasi bagi saya dalam penulisan skripsi ini. ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelima, untuk sahabat saya, yaitu Susana Saras dan Roswita Yostin yang selalu setia menemani segala rasa selama saya kuliah di sini. Kalian selalu setia menjadi tempat bercerita yang asyik dan menjadi tempat hiburan yang membangkitkan semangat saya. Terima kasih juga untuk anak-anak JO LALI, Saras, Yostin, Lana, Maya, Berta dan Anin yang menjadi teman terbaik selama menjalani proses berdinamika di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Grisadha (Grup Tari Sanata Dharma). Serta untuk seluruh mahasiswa Prodi Sastra Indonesia angkatan 2015, terima kasih atas bantuannya selama saya kuliah di sini, teruntuk Erline, Grey, Ina, Laras, Phelvine, Amanda, Brigitta, Genjikable, Galih, Ditho dan Semujur. Terakhir, saya mengucapkan terima kasih kepada Ignatius Wahyu Aji Wibowo, teman baik saya sewaktu dibangku SMP, yang sudah kembali hadir di waktu yang sangat tepat, menjadi kado Natal 2018 yang tak terduga bagi saya, pertemuan singkat kita sangat berarti dan terima kasih sudah membangkitkan semangatku. Terima kasih juga untuk kedua sahabatku, Yosephine Pratita dan Dika Sekar, yang meski diam mengamati saja, tetap memberikan perhatian dan semangat untuk penulis. Serta ucapan terima kasih untuk kakak dan adek temu gedhe ku, yaitu Andreas Eka Wijaya (Pongky) dan Dioda Yotam Paninggar yang sangat berjasa dalam membangkitkan semangat dikala saya terpuruk ketika pengerjaan skripsi ini. x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Serta ucapan terima kasih kepada semua pihak, yaitu Mbah Putri, om, tante, saudara sepupu saya, teman-teman saya, dan orang sekitar yang mengenal saya, yang tidak dapat saya tuliskan satu-persatu. Skripsi ini adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai salah satu keturunan dari Ki Padmasusastra dan dengan mengapresiasi karya beliau saya ingin megenalkan kepada dunia bahwa ada sastrawan daerah dari Surakarta yang memiliki karya yang begitu luarbiasa menginspirasi. Yogyakarta, 12 Januari 2019 Penulis Brigitta Gangga Tribuana xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Tribuana, Brigitta Gangga. 2019. Dominasi, Hegemoni dan Kekuasaan dalam Serat Rangsang Tuban Karya Ki Padmasusatra. Skripsi Strata Satu (S-1). Yogyakarta: Sastra Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Sanata Dharma. Penelitian ini mengangkat topik tentang “Dominasi, Hegemoni, dan Kekuasaan dalam Serat Rangsang Tuban Karya Ki Padmasusastra”. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menguraikan struktur cerita dalam serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra yang mencakup tokoh, penokohan, dan latar; dan (2) mendeskripsikan dominasi, hegemoni, dan kekuasaan menggunakan prespektif Antonio Gramsci dan Johan Galtung dalam serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra. Dalam menguraikan struktur cerita, penulis menggunakan kajian strukturalis. Selain itu, untuk mendeskripsikan dan menganalisa serat tersebut, penulis menggunakan teori dominasi dan hegemoni Antonio Gramsci, serta teori kekuasaan menurut Johan Galtung. Penelitian sastra ini menggunakan paradigma M. H Abrams, yaitu pendekatan objektif dan pendekatan mimetik. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara metode studi pustaka, metode analisis data, dan metode penyajian hasil analisis data. Tokoh utama dalam serat ini adalah Prabu Warsakusuma, Prabu Warihkusuma, dan Raden Udakawimba. Sedangkan tokoh tambahan dalam serat ini adalah Prabu Sindupati, Kyai Umbul Mudal, Endang Wresti, Ki Patih Toyamarta, Ki Tumenggung Jalasenggara, Prabu Hertambang, Dewi Wayi, Kyai Buyut Wulusan atau Kyai Ageng Wulusan, Nyai Buyut Wulusan, Kyai Penghulu, Arya Toyatuli, Raden Lodaka, dan Rara Sendang. Analisis latar dalam serat ini terbagi menjadi tiga, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat dalam serat ini adalah di Negeri Tuban, Gunung Mudal, Banyubiru, Desa Sumbereja, Tirtakandas, dan Gunung Rancakarni. Latar waktu dalam serat ini adalah tahun 1600-an, pada masa kerajaan Tuban, dan latar sosial yang terdapat dalam serat ini adalah kehidupan masyarakat Jawa pada masa Mataram. Penulis menemukan dominasi, hegemoni, dan kekuasaan di dalam serat ini. Analisis dominasi yang terjadi berujung pada pemberontakan. Terdapat tiga macam hegemoni dalam serat ini, yaitu: (1) hegemoni dalam kebijakan negara, (2) hegemoni dalam pendidikan, dan (3) hegemoni dalam tata cara kenegaraan. Analisis kekuasaan dalam penelitian ini terbagi atas tiga perbedaan, yaitu sebagai berikut: (1) kekuasaan atas diri sendiri dan kekuasaan atas orang lain; (2) kekuasaan ideologi, kekuasaan remeneratif, dan kekuasaan punitif; (3) sumber kekuasan: “ada”, “memiliki”, dan “kedudukan”. Sumber kekuasaan yang paling dominan dalam serat ini adalah darah biru atau kebangsawanan. xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Tribuana, Brigitta Gangga. 2019. Domination, Hegemony, and Power in Romance Rangsang Tuban by Ki Padmasusastra. Undergraduate Thesis. Yogyakarta: Indonesian Literature. Faculty of Literature. University of Sanata Dharma. This research talks about “Domination, Hegemony, and Power in Romance RangsangTuban by Ki Padmasusastra”. The research wants to (1) describe the srtucture of the story in romance Rangsang Tuban by Ki Padmasusastra, which include personage, personification, and background; and (2) using Antonio Gramsci and Johan Galtung‟s theories, the research wants to describe the domination, hegemony, and power in this romance. To describe the structure of the story, the writer uses structuralist study. Moreover, to describe and to analyze the romance, the writer uses Gramsci‟s theory of domination and hegemony, and Johan Galtung‟s theory of power. This research uses the paradigm of M.H. Abrams, which is objective approach and mimetic approach.The methods of data collecting in this research are literature review, data analysis, and presentation of the results of data analysis. The main characters of this romance are Prabu Warsakusuma, Prabu Warihkusuma, and Raden Udakawimba. Meanwhile the additional characters in this romance are Prabu Sindupati, Kyai Umbul Mudal, Endang Wresti, Ki Patih Toyamarta, Ki Tumenggung Jalasenggara, Prabu Hertambang, Dewi Wayi, Kyai BuyutWulusan or Kyai Ageng Wulusan, Nyai Buyut Wulusan, Kyai Penghulu, Arya Toyatuli, Raden Lodaka, and Rara Sendang. There are three backgrounds analysis of this romance, which are background of places, background of time, and background of social. The background of places in this romance areTuban Country, Mudal Mount, Banyubiru, Sumbereja Village, Tirtakandas, and Rancakarni Mount. Background of time in this romance is year 1600‟s, in the time of Tuban Kingdom. The background of social in this romance is the life of Javanese people in the era of Mataram. The writer finds domination, hegemony, and power in this romance. There are three kinds of hegemony in this romance, which are (1) hegemony in state policy, (2) hegemony in education, and (3) hegemony in state rules. There are also three kinds of power in this romance, which are (1) the power to oneself and the power to others; (2) the power of ideology, the power of remunerative, and the power of punitive; (3) the source of power: “being”, “having”, and “position”. The most domination source of power in this romance is the power of being the royal blood. xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ...................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................... iv HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .............................. v HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ vi MOTTO ................................................................................................................ vii KATA PENGANTAR ......................................................................................... viii ABSTRAK ............................................................................................................ xii ABSTRACT ........................................................................................................... xiii DAFTAR ISI ........................................................................................................ xiv BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 5 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................... 6 1.4 Manfaat Hasil Penelitian................................................................................ 6 1.4.1 Manfaat Teoretis ................................................................................ 6 1.4.2 Manfaat Praktis .................................................................................. 7 1.5 Tinjauan Pustaka............................................................................................ 7 1.6 Kerangka Teori ............................................................................................ 11 1.7 1.8 1.6.1 Analisis Struktural............................................................................ 11 1.6.2 Analisis Dominasi, Hegemoni, dan Kekuasaan ............................... 15 Metode Penelitian ........................................................................................ 19 1.7.1 Metode Pengumpulan Data .............................................................. 20 1.7.2 Metode Analisis Data ....................................................................... 21 1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data ............................................. 21 1.7.4 Sumber Data ..................................................................................... 22 Sistematika Penyajian .................................................................................. 23 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II ANALISIS STRUKTUR CERITA DALAM SERAT RANGSANG TUBAN KARYA KI PADMASUSASTRA ....................................................... 24 2.1 Pengantar ..................................................................................................... 24 2.2 Tokoh dan Penokohan ................................................................................. 24 2.3 2.2.1 Tokoh Utama.................................................................................... 25 2.2.2 Tokoh Tambahan ............................................................................. 31 Latar ............................................................................................................. 39 2.3.1 Latar Tempat .................................................................................... 39 2.3.2 Latar Waktu ...................................................................................... 44 2.3.3 Latar Sosial....................................................................................... 45 BAB III DOMINASI, HEGEMONI, DAN KEKUASAAN DALAM SERAT RANGSANG TUBAN KARYA KI PADMASUSASTRA ................................ 47 3.1 Pengantar ..................................................................................................... 47 3.2 Dominasi dan Hegemoni ............................................................................. 47 3.3 3.2.1 Dominasi .......................................................................................... 49 3.2.2 Hegemoni ......................................................................................... 53 3.2.2.1 Hegemoni dalam Kebijakan Negara ................................. 53 3.2.2.2 Hegemoni dalam Pendidikan ............................................ 55 3.2.2.3 Hegemoni dalam Tata Cara Kenegaraan........................... 56 Kekuasaan .................................................................................................... 58 3.3.1 Kekuasaan atas Diri Sendiri dan Kekuasaan atas Orang Lain ......... 58 3.3.2 Ideologis, Remuneraif, dan Punitif .................................................. 62 3.3.3 Sumber Kekuasaan ........................................................................... 64 BAB IV PENUTUP ............................................................................................. 69 4.1 Kesimpulan .................................................................................................. 69 4.2 Saran ............................................................................................................ 72 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 73 LAMPIRAN ......................................................................................................... 75 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra adalah karya cipta dari seorang penulis untuk tujuan estetika kehidupan manusia. Salah satu karya sastra adalah novel. Menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (1995: 9), sebutan novel dalam bahasa Inggris yang masuk ke Indonesia berasal dari bahasa Itali novella (yang dalam bahasa Jerman: novelle). Secara harfiah novella berarti „sebuah barang baru yang kecil‟, dan kemudian diartikan sebagai „cerita pendek dalam bentuk prosa‟. Menurut KBBI edisi V (2016), novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Sedangkan prosa sendiri adalah karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yang terdapat dalam puisi), KBBI edisi V (2016). Objek yang akan menjadi pokok pembahasan dalam skripsi ini adalah sebuah prosa sastra Jawa modern yang berbentuk serat (bahasa Jawa), dalam segi penceritaan hampir mirip dengan novel. Serat (bahasa Jawa) berarti sebuah karya sastra yang berisi tentang ajaran-ajaran dari leluhur yang bertujuan untuk kebaikan. Novel dan serat memiliki perbedaan, di mana novel menceritakan secara detail bagaimana keadaan yang terjadi dalam cerita tersebut, sedangkan serat hanya menceritaan pokok-pokok penting dalam ceritanya saja. 1

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Objek material pada penelitian ini adalah serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra. Serat ini ditulis pertama kali pada tahun 1900 menggunakan tulisan tangan dalam bentuk aksara Jawa, namun baru di publikasikan pada tahun 1912 oleh Budi Utomo di Surakarta. Pada tahun 1985 Balai Pustaka mengalih aksara Rangsang Tuban ke dalam bahasa Jawa Latin, serta menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia supaya lebih mudah dibaca dan dipahami oleh pembacanya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra terbitan Balai Pustaka (1985) yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk menjadi objek pada penelitiannya. Ki Padmasusastra memproklamasikan dirinya sebagai, „Tiyang mardika ingkang marsudi kasusastran Jawi ing Surakarta’, artinya „orang merdeka yang menekuni kesusastraan Jawa di Surakarta‟. Ki Padmasusastra menyatakan dirinya merdeka karena dia tidak terikat oleh aturan-aturan keraton seperti gurunya, yaitu Ranggawarsita yang memang keturunan keraton. Suwardi adalah nama kecil Ki Padmasusastra, beliau lahir di Kampung Sraten, Surakarta tanggal 21 Maulud 1771 J atau tanggal 20 April 1841 Masehi dan meninggal pada hari Senin Wage tanggal 17 Rajab 1856 J atau tanggal 1 Februari 1926 Masehi (85 tahun, mengikuti hitungan Jawa), dengan meninggalkan puluhan karya yang berkualitas. Ki Padmasusastra tidak hanya seorang penulis sastra fiksi dan sastra wulang (ajar), beliau juga banyak memperhatikan dunia bahasa, sebenarnya beliau adalah seorang ahli bahasa di masanya.

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 Serat Rangsang Tuban, (Padmasusasta, 1985: 6) petikan dari kitab Weddha, karya Padmasusastra. Empu Serat Manehgunna, Rangsang kemudian Tuban, digubah (Padmasusastra, oleh Ki 1985: 6) mengisahkan tentang dua orang pangeran dari Negeri Tuban yang bernama Pangeran Warihkusuma dan Pangeran Adipati Anom Warsakusuma. Konflik awal terjadi ketika Pangeran Adipati Anom Warsakusuma merasa iri kepada kakaknya Pangeran Warihkusuma yang akan menikah dengan saudara sepupunya yang bernama Endang Wresti. Kemudian terjadilah penyerangan dari pangeran Warsakusuma untuk Pangeran Warihkusuma, namun Pangeran Warihkusuma tidak melawan karena dia merasa malu jika harus berperang dengan saudaranya sendiri, terlebih bila masalahnya hanyalah memperebutkan Endang Wresti. Hal ini terdapat dalam kutipan (1) dan (2). (1) Ringkasnya, sri baginda saat itu masih mampu mempertahankan sikapnya yang wajar terhadap kakaknya, akan tetapi kemudian menyatakan keinginannya utuk langsung kembali ke istana tidak dapat menunggui perkawinan kakaknya karena mendadak badannya merasa kurang enak badan (Padmasusastra, 1985: 11). (2) Pangeran Warihkusma tidak mau melaksanakan perlawanan karena kuwatir akan menimbulkan kerusakan atau korban di kalangan rakyat. Selain musuh terlampau besar, ia pun merasa malu bermusuhan dengan saudara sendiri hanya karena berebut istri (Padmasusastra, 1985: 13). Serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra dipilih sebagai topik dalam penelitian ini didasarkan alasan sebagai berikut: (i) Novel Rangsang Tuban merupakan serat Jawa yang membuka pintu sastra Jawa untuk pembaca di Indonesia; (ii) Adanya persoalan dalam serat ini, yaitu domiasi, hegemoni dan kekuasaan yang dapat dilihat dari tokoh-tokoh dalam serat Rangsang Tuban; (iii) Peneliti tertarik dengan dominasi dan hegemoni

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 prespektif Antonio Gramsci dan teori kekuasaan menurut Johan Galtung, menurut peneliti serat Rangsang Tuban cocok dianalisis dengan kedua pendekatan tersebut; (iv) Adanya manfaat terhadap hasil penelitian, di mana peneliti menjadi jembatan antara penulis karya sastra, teks sastra, dan pembaca sebagai penikmat karya sastra untuk dapat lebih mengenal karya sastrawan, terutama sastrawan daerah; (v) Belum ada penelitian serat Rangsang Tuban yang membahas dengan kedua pendekatan tersebut; (vi) Novel Rangsang Tuban digubah oleh sastrawan yang berasal dari daerah Solo, bukan dari pusat Jakarta; dan (vii) Penulis memiliki tanggung jawab secara biologis, yaitu sebagai salah satu keturunan dari Ki Padmasusastra dan secara akademis penulis ingin mengapresiasi hasil karya dari sastrawan daerah, yaitu Ki Padmasusastra. Dalam penelitian ini, hal pertama yang akan dibahas adalah struktur cerita dalam serat Rangsang Tuban. Strukturalisme adalah suatu pendekatan penelitian terhadap karya sastra terhadap unsur-unsur yang membentuknya. Peneliti membatasi dalam mengidentifikasi dan mengkaji unsur intrinsik serat Rangsang Tuban hanya dengan melihat dari tokoh, penokohan, dan latar yang menjelaskan fungsi antar unsur yang memiliki keterkaitan hubungan keseluruhan untuk mencapai pemahaman tentang estetik, makna keseluruhan struktur karya sastra. Setelah itu, hal kedua yang akan dibahas dalam penelitian tentang serat Rangsang Tuban adalah keterkaitan tokoh-tokoh dengan dominasi dan hegemoni prespektif Antonio Gramsci, serta kekuasaan menurut Johan

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 Galtung. Secara literal hegemoni berarti “kepemimpinan”, (Faruk, 2010: 132). Konsep hegemoni menurut Gramsci adalah sesuatu yang lebih kompleks. Konsep yang digunakan oleh Gramsci berfungsi untuk meneliti bentuk-bentuk politik, kultural, dan ideologis tertentu. Namun, di dalam penelitian ini peneliti juga akan mengkalaborasikan antara teori dominasi dan hegemoni menurut Antonio Gramsci dengan teori kekuasaan menurut Johan Galtung. Hal ini, karena peneliti menemukan adanya kekuasaan atau dominasi yang diawali dari sebuah hegemoni dan di akhir cerita terdapat pula sebuah hegemoni di dalam serat Rangsang Tuban. Perlu diketahui bahwa dominasi adalah bagian dari hegemoni. Dominasi adalah sebuah perlawanan dan membuat orang yang terdominasi menjadi dirugikan. Sedangkan hegemoni di sini adalah sebuah tekanan yang mengharuskan pihak yang terhegemoni menerimanya karena beranggapan bahwa itu merupakan sebuah takdir dan tidak dapat dilawan. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut: 1.2.1 Bagaimana struktur cerita yang mencakup tokoh, penokohan, dan latar dalam serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra? 1.2.2 Bagaimanakah dominasi dan hegemoni prespektif Antonio Gramsci, serta kekuasaan menurut Johan Galtung dalam serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra?

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun di atas, tujuan makalah ini adalah sebagai berikut: 1.3.1 Menguraikan struktur cerita dalam serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra yang mencakup tokoh, penokohan, dan latar. 1.3.2 Mendeskripsikan dominasi dan hegemoni prespektif Antonio Gramsci, serta kekuasaan menurut Johan Galtung dalam serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra. Hal ini akan dibahas dalam Bab III. 1.4 Manfaat Hasil Penelitian Manfaat hasil penelitian atau kegunaan hasil penelitian dalam serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra dibagi menjadi dua manfaat, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis. 1.4.1 Manfaat Teoretis Manfaat teoretis, yaitu manfaat bagi perkembangan disiplin ilmu baik ilmu bahasa, sastra dan budaya. Dalam penelitian ini peneliti mengemukakan disiplin ilmu dalam bidang sastra. Beberapa manfaat teoretis yang ada dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1.4.1.1 Memperkaya kajian sastra Jawa modern dengan teori dominasi dan hegemoni prespektif Antonio Gramsci. 1.4.1.2 Memperkaya kajian sastra Jawa modern dengan teori kekuasaan menurut Johan Galtung.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 1.4.2 Manfaat Praktis Manfaat praktis, yaitu berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan profesi tertentu di luar bidang ilmu bahasa dan sastra (studi budaya dan studi gender). Beberapa manfaat praktis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1.4.1.3 Penulis berharap setiap pembaca memiliki pengetahuan yang mendalam tentang cerita dalam serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra. 1.4.1.4 Pembaca dapat mengapresiasi sebuah karya sastra Jawa modern, salah satunya adalah serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra. 1.4.1.5 Menambah semangat membaca untuk mempelajari karya sastra, terutama novel. 1.4.1.6 Peneliti mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi siapa saja yang berprofesi dalam bidang pendidikan maupun sastra untuk mengenal lebih mendalam tentang dominasi dan hegemoni prespektif Antonio Gramsci, serta kekuasaan menurut Johan Galtung. 1.4.1.7 Memperkenalkan sastrawan asal Surakarta era Hindia Belanda, bernama Ki Padmasusastra 1.5 Tinjauan Pustaka Berdasarkan pengamatan penulis sudah ada yang menganalisis serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasustra (versi novel dalam bahasa Jawa) dalam bentuk penelitan berupa jurnal ilmiah, namun penelitian tersebut hanya membahas analisis strukturnya saja. Peneliti juga menemukan sinopsis novel

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 Rangasang Tuban dalam daring. Serta beberapa skripsi yang membahas tentang hegemoni dan kekerasan yang dapat membantu peneliti dalam menganalisis penelitiannya tersebut. Berikut ini adalah beberapa jurnal ilmiah dan skripsi yang menjadi bahan bacaan dari peneliti. Analisis Struktural Novel Rangsang Tuban Karya Padmasusastra dan Pembelajarannya di SMA dalam jurnal yang disusun oleh Isrofi, Program Studi Pendidikan dan Sastra Jawa, Universitas Muhammadiyah Purworejo. Hasilnya adalah aspek struktural dalam novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra meliputi tema, alur atau plot, tokoh dan penokohan, latar, judul dan sudut pandang. Pembelajaran novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra sesuai Kurikulum 2013 diterapkan pada siswa-siswi SMA kelas XII semester gasal. Metode pembelajaran yang digunakan adalah dengan metode diskusi dan tanya jawab. Dalam pelaksanaan pembelajaran, siswa membaca sinopsis novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra, selanjutnya siswa mendiskusikan secara berkelompok dan mengemukakannya. Kajian Sosiologi dalam novel Rangsang Tuban Karya Padmasusastra dalam jurnal yang disusun oleh Kurniawan, Program Studi Pendidikan dan Sastra Jawa, Univeritas Muhammadiyah Purworejo. Hasilnya adalah unsur intrisik novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra, yang terdiri dari tema utama, tokoh dan penokohan, alur maju, latar. Aspek sosial dalam novel, yang terdiri dari aspek kekerabatan, aspek perekonomian, aspek politik, aspek religi atau aspek keperayaan. Namun dalam jurnal tersebut lebih ditonjolkan

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 ke dalam aspek kekerabatan dan aspek perekonomian. Serta ada pula moralitas dalam novel Rangsang Tuban Karya Padmasusastra, yaitu hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan antar manusia dengan lingkungan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Bentuk-bentuk Counter-Hegemoni dalam Novel Kuil di Dasar Laut Karya Seno Joko Suyono: Prespektif Antonio Gramsci, merupakan sebuah Skripsi oleh Homba, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, pada Juli 2016. Hasilnya adalah peneliti menemukan perlawanan keras yang dilakukan dengan cara menerbitkan petisi dan aksi demonstrasi; perlawanan pasif yang dilakukan melalui cara tapak tilas dan tirakat, menantang maut, dan mencari ketenangan di luar negeri; perlawanan humanistik yang dilakukan melalui negosiasi dengan penguasa; perlawanan metafisik yang dilaksanakan melalui perjalanan spiritual ke pepunden-pepunden untuk mencari wahyu tandingan melawan Soeharto. Skripsi oleh Wiharjo, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, pada tahun 2018 yang berjudul Bentuk-Bentuk Hegemoni dan Counter-Hegemoni dalam Novel Entrok Karya Okky Mandasari Prespektif Antonio Gramasci. Hasilnya adalah peneliti menemukan tahap bentuk-bentuk hegemoni masyarakat sipil, para pemimpin yang berkuasa penuh terhadap masyarakat sipil. Sementara tahapan bentuk hegemoni dalam masyarakat politik adalah ancaman atasan terhadap bawahan, cara mempertahankan kekuasaan, dan strategi untuk menyingkirkan penentang.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 Skripsi oleh Utami, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, pada Januari 2018 yang berjudul Kekerasan Struktural dan Personal dalam Novel Candik Ala 1965 Karya Tinuk R. Yampolsky. Hasilnya adalah peneliti menemukan tiga jenis kekerasan struktural, yaitu (1) kekerasan strukturan yang dialami oleh simpatisan PKI, (2) kekerasan struktural terhadap masyarakt sipil pada masa orde baru, dan (3) kekerasa struktural terhadap masyarakat sipil di Kamboja. Peneliti juga menemukan empat jenis kekerasan persolan, yaitu (1) kekerasan personal terhadap anggota oraganisasi kepemudaan, (2) kekerasan terhadap simpatisan PKI, (3) kekerasan personal terhadap wanita, dan (4) kekerasan personal terhadap waga sipil di Kamboja. Bentuk kekerasan yang mendominasi kekerasan personal pada novel tersebut, yaitu (1) cara yang digunakan adalah menggunakan badan manusia itu sendiri, (2) bentuk organisasinya adalah TNI, dan (3) sasaran pendekatannya berbentuk anatomis. Meski demikian, penulis ingin mendalami atau lebih fokus pada unsur intrinsik, dominasi, hegemoni, dan kekuasaan yang terdapat dalam serat Rangsang Tuban karya Padmasusastra, karena analisis sebelumya yang ditemukan penulis sebagian besar menggunakan sosiologi sastra dan hanya sebagian saja dan belum mencakup semua isi dalam serat tersebut.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 1.6 Kerangka Teori 1.6.1 Analisis Struktural Sebuah karya sastra memiliki sebuah unsur pembangun yang tersusun atas unsur-unsur intrinsik (intrinsic). Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita (Nurgiyantoro, 1998: 23). Struktur tersebut dapat dilakukan dengan analisis struktural. Analisis Struktural karya sastra, dilakukan dengan mendefinisikan, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Nugiyantoro (1998: 37) menjelaskan bahwa analisis struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan. Tahap awal dapat diidentifikasi dan dideskripsikan, misalnya bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang. Barulah dijelaskan bagaimana fungsi-fungsi dari masing-masing unsur itu dalam menunjang makna keseluruhan dan membentuk totalitas kemaknaan yang padu. Analisis struktural dalam serat Rangsang Tuban ini akan berfokus pada tokoh dan penokohan; latar yang terdiri dari latar tempat, latar waktu dan latar sosial. Hal ini bertujuan agar penelitian lebih efektif dan efisien, maka diperlukan batasan-batasan sesuai dengan kebutuan penelitian. Hasil dari analisis tokoh, penokohan dan latar akan memudahkan peneliti dalam merumuskan ke dalam rumusan masalah selanjutnya, yaitu bagaimana

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 dominasi dan hegemoni prespektif Antonio Gramsci, serta kekuasaan menurut Johan Galtung dalam serat Rangsang Tuban. 1.6.1.1 Tokoh dan Penokohan Tokoh adalah pelaku cerita. Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami sebuah peristiwa atau perlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita. Nurgiyantoro (1998: 165) istilah “tokoh” menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, misalnya sebagai jawaban terhadap pertanyaan: “Siapakah tokoh utama novel itu?”, atau “Ada berapa orang jumlah pelaku novel itu?”, atau “Siapakah tokoh protagonis dan anatagonis dalam novel itu?”, dan sebagainya. Tokoh cerita (character), menurut Abrams (1981:20) dalam Nurgiyantoro (1998: 165-166), adalah orang(-orang) yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Dari kutipan tersebut juga dapat diketahui bahwa antara seorang tokoh dengan kualitas pribadinya erat berkaitan dalam penerimaan pembaca. Dalam hal ini, khususnya dari pandangan teori resepsi, pembacalah sebenarnya yang memberi arti semuanya. Untuk kasus kepribadian seorang tokoh, pemaknaan itu dilakukan berdasarkan kata-kata (verbal) dan tingkah laku lain (nonverbal). Pembedaan antar tokoh yang satu dengan yang lain lebih ditentukan oleh kualitas pribadi daripada dilihat secara fisik.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 Penokohan adalah hal-hal yang berkaitan dengan tokoh. Meliputi permasalahan karakterisasi penggambaran tokoh cerita, dan metode pelukisan tokoh. Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Penokohan dan karakterisasi sering juga diartikan dengan karakter dan perwatakan, menunjuk pada penerapan tokoh-tokoh tertentu dengan watak tertentu dalam sebuah cerita. Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah fiksi dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan. Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat saja dikategorikan ke dalam beberapa jenis penamaan sekaligus, misalnya sebagai tokoh utama-protagonis-berkembang-tipikal (Nurgiyantoro, 1998: 176). Penelitian ini berfokus pada tokoh utamanya saja, hal tersebut karena banyaknya tokoh yang terdapat dalam serat Rangsang Tuban, namun tokohtokoh tambahan dalam serat ini juga sangat berpengaruh terhadap jalannya cerita. Dalam serat ini terdapat tiga tokoh utama yang menjadi pusat dan penggerak dalam alur cerita secara keseluruhan. 1.6.1.1.1 Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan dalam sebuah penceritaan novel yang bersangkutan. Tokoh utama selalu hadir atau paling banyak dibicarakan sebagai pelaku yang dikenai kejadian dan konflik, mempengaruhi

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 perkembngan plot. Tokoh utama dalam sebuah novel bisa lebih dari satu orang. Sedangakan tokoh tambahan adalah tokoh yang memegang peran sebagai pelengkap atau sebagai tambahan dalam seluruh jalan cerita novel. Tokoh tambahan muncul menurut kebutuhan cerita dalam novel. Pemunculan tokoh tambahan dalam keseluruhan cerita terbilang lebih sedikit, tidak terlalu dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, baik secara langsung maupun tidak langsung. 1.6.1.2 Latar Latar atau setting mengandung pengertian sebagai tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial termpat terjadinya peristiwa yang diceritakan. Latar dikelompokkan bersama dengan tokoh dan penokohan, ke dalam fakta (cerita) karena ketiga hal tersebut yang akan dialami dan dapat menjadi imajinasi pembaca secara faktual jika membaca sebuat cerita fiksi. Latar memberikan kesan realistik dan sungguh-sungguh terjadi. Penelitian ini berfokus pada latar tempat, latar waktu dan latar sosial saja. 1.6.1.2.1 Latar Tempat Latar tempat adalah lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita fiksi. Menurut Nurgiyantoro (1998: 227), penggunaan tempat dengan nama-nama tertentu haruslah mencerminkan, atau paling tidak tak bertentangan dengan sifat dan keadaan geografis tempat yang bersangkutan.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 1.6.1.2.2 Latar Waktu Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Latar waktu dalam cerita fiksi dapat menjadi dominan dan fungsional jika dikerjakan dengan teliti, khususnya jika dihubungkan dengan waktu sejarah. 1.6.1.2.3 Latar Sosial Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi (Nurgiyantoro, 1998: 233). Kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir, dan bersikap merupakan masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Latar sosial berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, seperti rendah, menenengah, dan atas. Latar sosial dapat dipandang atau menggambarkan suasana kedaerahan, local color, warna setempat daerah tertentu melalui kehidupan sosial masyarakat. Masalah penamaan tokohtokoh juga berhubungan dengan latar sosial. Status sosial adalah salah satu hal yang perlu diperhitungkan dalam pemilihan latar dalam cerita fiksi. Latar sosial. 1.6.2 Analisis Dominasi, Hegemoni, dan Kekuasaan Peneliti menggunakan dua kajian dalam analisis serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra, yaitu dengan teori dominasi dan hegemoni

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 prespektif Antonio Gramsci, serta teori kekuasaan menurut Johan Galtung. Kedua teori tersebut digunakan untuk menganalisis beberapa strategi kekuasaan yang terdapat dalam serat Rangsang Tuban yang diawali dari sebuah hegemoni, kemudian terdapat dominasi-dominasi kekuasaan yang ada di dalamnya, dan diakhir cerita ditutup dengan hegemoni. 1.6.2.1 Dominasi dan Hegemoni Perspekif Antonio Gramsci Hegemoni adalah sebuah dominasi oleh satu kelompok yang lain, tanpa ancaman kekerasan, sebagai ide-ide yang dituntun oleh kelompok dominasi terhadap kelompok yang didominasi atau dikuasai, diterima sebagai sesuatu yang wajar dan tidak memberatkan. Hegemoni membuat masyarakat percaya dengan prinsip-prinsip, aturan-aturan dan hukum yang dianggap dapat mensejahterakan bersama, meskipun sebenarnya tidak. Menurut Faruk (2010: 144), Gramsci berpegang teguh pada penyatuan kedua aspek tersebut secara bersama-sama. Salah satu cara yang di dalamnya “pemimpin” dan “dipimpin” disatukan adalah lewat “kepercayaan-kepercayaan populer”. Istilah hegemoni diturunkan dari istilah Yunani, hegeisthai yang berarti kepemimpinan (Sehandi, 2016: 188). Konsep hegemoni banyak digunakan oleh sosiolog untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa. Penguasa tidak hanya terbatas pada penguasa negara (pemerintah). Teori hegemoni digunakan untuk memahami model kekuasaan, tetapi bukan atas dasar pemaksaan, melainkan atas dasar kesepakatan, konsensus, dan masuk akal.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Hegemoni adalah suatu dominasi kekuasaan suatu kelas sosial atas kepada kelas sosial lainnya melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantu dengan dominasi atau penindasan. Hegemoni mendefinisikan sifat kompleks dari hubungan antar masyarakat dengan kelompok-kelompok pemimpin masyarakat. Pemimpin dan yang dipimpin disatukan lewat kepercayaan-kepercayaan populer. Ada tiga tahapan hegemoni menurut Gramsci dalam Faruk (2010: 137), yaitu (1) dominasi, (2) kepemimpinan intektual, dan (3) hegemoni. Kepemimpinan intelektual dan hegemoni di sini dapat diasatukan karena memiliki arti yang hampir sama. Sedangkan dominasi berdiri sendiri karena dominasi adalah bagian dari hegemoni tersebut. Menurut Faruk (2010: 135), kekerasan adalah cara dominasi, yaitu penamaan kekuasaan dari kelas yang berkuasa terhadap kelas yang tertindas dengan cara paksa, dengan melibatkan aparat-aparat kekerasan seperti polisi dan sejenisnya, sedangkan kesetujuan adalah cara hegemoni, yaitu penamaan kekuasaan yang sama, tetapi yang dilakukan untuk mencapai kesepakatan dari kelas yang dikuasai, penerimaan yang ikhlas dari kelas itu. Menurut Gramsci dalam Taum (2015: 37), untuk melestarikan kekuasaan, dominasi harus dilengkapi dengan hegemoni. Hegemoni adalah asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang membentuk makna dan mendefinisikan realitas bagi mayoritas masyarakat dalam kebudayaan tertentu.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 1.6.2.2 Teori Kekuasaan Menurut Johan Galtung Kekuasaan adalah kemampuan atau wewenang untuk menguasai orang lain, memaksa dan mengendalikan mereka sampai mereka patuh, mencampuri kebebasannya, dan memaksakan tindakan-tindakan dengan cara yang khusus (Windhu, 1992: 32). Kekuasaan (power) sebagai sebuah konsep yang paling dasar dan kaya dalam ilmu politik. Konsep kekuasaan dibangun dalam sebuah relasi yang tidak seimbang. Hal ini, memperlihatkan perbedaan antara otoritas atau wewenang dengan kekuasaan. Kekuasaan lebih cenderung menaruh kepercayaan kepada kekuatan. Sedangkan, otoritas adalah sebuah kekuasaan yang dilegitimasikan yang telah mendapat pengakuan umum. Konsep kekuasaan Galtung betolak dari prinsip hidup manusia, yaitu “ada” (being) dan “memiliki” (having) (Windhu, 1992: 34). Kekerasan terjadi karena ada relasi yang tidak seimbang. Ketidakseimbangan itu terjadi karena adanya perbedaan dalam segi ada, memiliki dan kedudukan dalam struktur sosial. Kekuasaan sering disebut dengan dominasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam daring, arti kata dominasi adalah penguasa oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lemah (dalam bidang politik, militer, ekonomi, perdagangan, olahraga, dan sebagainya). Kekuasaan sama halnya dengan dominasi namun berbeda arti dengan hegemoni. Ada tiga dimensi kekuasaan yang dijabarkan oleh Galtung, (1) “kekuasaan atas diri sendiri” dan “kekuasaan atas orang lain”, (2) tiga tipe kekuasaan atas orang lain: ideologis, remuneratif dan punitif, serta (3) tiga

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 sumber kekuasaan, yaitu “ada”, “memiliki”, dan “kedudukan” manusia dalam struktur sosial. 1.7 Metode Penelitian Metode berasal dari kata methodos (bahasa Latin), yang berakar dari kata meta (menuju, melalui, mengikuti) dan hodos (jalan, cara, arah). Metode merupakan cara, strategi untuk memahami realitas, sebuah langkah-langkah yang sistematis agar dapat memecahkan rangkaian sebab akibat. Secara konkret, metode merupakan cara mengumpulkan data, menganalisis data, dan menyajikan data yang dianalisis. Paradigma penelitian sastra yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma M. H Abrams. Abrams membagi kritik sastra menjadi empat pendekatan, yaitu: (1) pendekatan objektif, (2) pendekatan ekspresif, (3) pendekatan mimetik, dan (4) pendekatan pragmatik. Dalam penelitian sastra ini, penulis hanya memfokuskan pada dua pendekatan saja yaitu, pada pendekatan objektif dan pendekatan mimetik. Pada pendekan objektif yang membahas tentang struktur cerita yang mencakup tokoh, penokohan dan latar yang terdiri dari latar tempat, latar waktu dan latar sosial. Sedangkan pendekatan mimetik yang mencakup dua teori, yaitu teori Antonio Gramsci yang membahas tentang dominasi dan hegemoni, serta teori dari Johan Galtung yang membahas tentang kekuasaan yang terdapat dalam serat Rangsang Tuban.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Metode penelitian adalah cara atau prosedur yang akan ditempuh oleh peneliti dalam memecahkan masalah dalam penelitian. Penelitian ini akan melalui tiga tahap, yaitu metode pengumpulan data, metode analisis data, dan metode penyajian hasil analisis data. Berikut ini akan diuraikan masingmasing tahap serta sumber data yang diperoleh peneliti dalam melaksanakan penelitian, kemudian akan dijabarkan pula sumber data yang diperoleh peneliti dalam melaksanakan penelitian. 1.7.1 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data merupakan proses pengambilan data, agar data yang diambil dapat mewakili dan dapat memudahkan proses analisis dalam sebuah penelitian. Metode yang digunakan dalam analisis serat Rangsang Tuban adalah dengan studi pustaka. Peneliti menggunakan teknik baca dan teknik studi pustaka. Teknik baca digunakan oleh peneliti untuk membaca serat Rangsang Tuban dan teori-teori yang berkaitan dengan penelitian. Hasil bacaan akan dicatat dan menghasilkan data. Hasil catatan tersebut adalah poin-poin yang berkaitan dengan tokoh, penokohan, latar, dan stategi kekuasaan hegemoni yang terdapat dalam serat Rangsang Tuban. Metode studi pustaka digunakan untuk mendapatkan data serta beberapa referensi yang akurat untuk menganalisis serat Rangsang Tuban dengan teori yang akan digunakan. Studi pustaka berkaitan dengan objek penelitan, yaitu dominasi, hegemoni, dan kekuasan dalam serat Rangsang Tuban.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 1.7.2 Metode Analisis Data Metode analisis data berupa deskripsi tentang tokoh, penokohan, dan latar. Setelah data terklasifikasi, data tersebut akan dirumuskan dalam stategi dominasi, hegemoni, dan kekuasaan. Analisis mengenai tokoh, penokohan, dan latar (latar tempat, latar waktu dan latar sosial) yang sangat penting untuk membantu peneliti dalam mengaitkan bentuk-bentuk strategi dominasi, hegemoni, dan kekuasaan yang ada dengan konteks latar tempat, latar waktu, dan latar sosial yang ada dalam serat Rangsang Tuban. Metode analisis data dalam penelitian ini akan dirumuskan dengan analisis isi dan analisis formal. Metode analisis isi atau analisis konten akan mengungkapkan isi dari karya sastra yang dianalisis sebagai bentuk komunikasi antara pengarang dan pembaca karya sastra. Sedangkan metode formal atau struktural, peneliti menganalisis unsur-unsur yang ada dalam karya sastra tersebut. 1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data Metode penyajian hasil analalisis data dalam penelitian ini akan dirumuskan secara deskriptif, kualitatif. Hasil analisis data akan berupa pemaknaan sebuah karya sastra yang disajikan secara deskriptif. Metode penyajian hasil analisis secara kualitatif merupakan cara penyajian hasil analisis data dengan memanfaatkan penafsiran menggunakan menyajikan sebuah penelitian ke dalam bentuk deskriptif. Fakta sosial yang sebagaimana ditafsirakan oleh subjek.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 1.7.4 Sumber Data Sumber data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sumber data tertulis yang memuat informasi yang berkaitan dengan topik penelitian. Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini terdiri dari dua sumber data, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. 1.7.4.1 Sumber Data Primer Penelitian ini merupakan penelitian sastra, maka sumber datanya berupa karya sastra Jawa modern (serat), yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Berikut ini rincian sumber datanya. Judul : Rangsang Tuban Pengarang : Ki Padmasusastra Penerbit : Balai Pustaka Tahun Terbit : 1985 Tebal Buku : 160 halaman Alih Aksara : Mulyono Sastronaryatmo Alih Bahasa : Sudibjo Z. Hadisutjipto 1.7.4.2 Sumber Data Sekunder Sumber data sekunder dalam penelitian ini meliputi karangan ilmiah akademis baik dalam bentuk buku maupun daring (dalam jaringan). Sumber data tersebut sangat berkaitan dan mendukung penelitian topik sastra ini.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 1.8 Sistematika Penyajian Penelitian ini akan dibagi ke dalam empat (IV) bab. Pada Bab I berisi pendahuluan yang terdiri atas, latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian. Pada Bab II akan dibahas struktur cerita secara pendekatan struktural yaitu unsur intrinsik yang terdiri dari tokoh, penokohan, dan latar (tempat, waktu, dan sosial) dalam serat Rangsang Tuban. Selanjutnya pada Bab III akan dianalisis mengenai dominasi, hegemoni, dan kekuasaan yang terdapat dalam serat Rangsang Tuban. Terakhir adalah Bab IV berupa penutup yang berisi kesimpulan dan saran dari penulis.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II ANALISIS STRUKTUR CERITA DALAM SERAT RANGSANG TUBAN KARYA KI PADMASUSASTRA 2.1 Pengantar Analisis Sturktural yang akan dipaparkan dalam serat Rangsang Tuban ini akan berfokus pada tokoh dan penokohan; serta latar yang terdiri dari latar tempat, latar waktu dan latar sosial. Hasil dari analisis unsur intrinsik tokoh, penokohan, dan latar ini akan memudahkan peneliti merumuskan ke dalam rumusan masalah selanjutnya, yaitu tentang dominasi dan hegemoni prespektif Antonio Garamsci, serta teori kekuasaan menurut Johan Galtung. 2.2 Tokoh dan Penokohan Tokoh adalah pelaku cerita. Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami sebuah peristiwa atau perlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita. Penokohan adalah hal-hal yang berkaitan dengan tokoh. Meliputi permasalahan karakterisasi penggambaran tokoh cerita, dan metode pelukisan tokoh. Tokoh-tokoh dalam serat Rangsang Tuban antara lain, Prabu Sindupati, Prabu Warihkusuma, Prabu Warsakusuma, Kyai Umbul Mudal, Wresti, Raden Udakawimba, Ki Patih Toyamarta, Endang Ki Tumenggung Jalasengara, Prabu Hertambang, Dewi Wayi, Kyai Buyut Wulusan atau Kyai Ageng Wulusan, Nyai Buyut Wulusan, Kyai Penghulu, Arya Toyatuli, Raden 24

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 Lodaka dan Rara Sendang. Nama-nama tokoh dalam serat Rangsang Tuban banyak menggunakan nama-nama orang Jawa pada masa Mataram. 2.2.1 Tokoh Utama Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritanya dalam novel yang bersangkutan sesuai dengan jalannya cerita. Tokoh utama selalu hadir sebagai pelaku, atau yang dikenai kejadian dan konflik penting yang mempengaruhi perkembangan plot. Terdapat tiga tokoh utama dalam serat Rangsang Tuban yaitu Prabu Warsakusuma, Prabu Warihkusuma dan Raden Udakawimba. Ketiga tokoh tersebut dikategorikan menjadi tokoh utama karena intensitas kemunculan mereka cukup banyak dibanding dengan tokohtokoh yang lain. 2.2.1.1 Prabu Warsakusuma Prabu Warsakusuma merupakan anak kedua dari Prabu Sindupati dengan seorang permaisuri, putri seorang raja. Prabu Warsakusuma berperan sebagai tokoh utama yang digambarkan sebagai tokoh yang memicu timbulnya konflik awal dalam cerita. Awalnya Prabu Warsakusuma sangat sayang dan manja terhadap kakaknya Prabu Warihkusuma, menganggap seolah-olah seperti ayahnya sendiri. Namun setelah Prabu Warsakusuma bertemu dengan calon istri dari kakaknya, dia merasa jatuh hati kepada Endang Wresti dan merasa iri terhadap kakanya. Seketika itu juga sikapnya

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 menjadi berubah dan sangat kejam terhadap Prabu Warihkusuma. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (3) dan (4). (3) Sang Prabu seketika itu hatinya berubah menjadi benci terhadap kakaknya. Ia merasa kalah tampan, dan merasa bahwa sang putri sama sekali tidak mengimbangi perhatiannya. Bahkan melihatnya pun tidak (Padmasusastra, 1985: 11). (4) Matanya melotot, wajahnya merah membara memperhatikan kebengisannya, seolah-olah akan menyala (Padmasusastra, 1985: 13). Sikap egois dan jahatnya semakin terlihat ketika Raden Warsakusuma melakukan segala cara untuk mendapatkan Endang Wresti, termasuk menangkap kakaknya dan mengadakan pemberontakan. Bukan hanya itu, Prabu Warsakusuma juga berniat untuk membunuh Parabu Warihkusuma agar dia dapat memiliki Edang Wresti seutuhnya. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (5) dan (6). (5) Sri baginda sangat murka, lalu memanggil senapati perang Ki Tumenggung Jalasengara, diutus segera kembali ke Mudal membawa bala tentaranya untuk menangkap Pangeran Warihkusuma, Kyai Umul sekeluarga, dan membakar seluruh perumahan mereka. Dakwaannya ialah: Sang Pangeran hendak mengadakan pemberontakan (Padmasusastra, 1985: 12). (6) “Uwa Patih. Pergilah engkau ke penjara, lalu bunuhlah kakanda Warihkusuma. Karena saya sudah mendengar dengan jelas dari abdi kekasih saya bahwa kakanda ingkar janji. Sikapnya berubah, dan berniat melakukan pemberontakan melawan kekuasaanku. Pergilah segera!” (Padmasusastra, 1985: 14). Prabu Warsakusuma tidak dapat menahan asmaranya terhadap Endang Wresti, niatnya ingin menghibur kesedihan Endang Wresti namun dia selalu ditolak dengan kata-kata pedas. Keinginan Prabu Warasakusuma untuk memiliki Endang Wresti sangat besar dia pun melakukan segala hal sampai berbuat hal yang tidak sopan yaitu memperkosa Endang Wresti dan tanpa

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 sengaja Prabu Warsakusuma terbunuh dengan cara tertusuk dengan patram, karena memang pada saat itu Endang Wresti sedang menggenggam patram. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (7) dan (8). (7) “Kamu memang raja durhaka dan terkutuk di dunia. Kamu tidak tahu malu, berwatak nista, sampai hati membunuh saudara karena hendak merebut tunangannya. Kamu hanya akan menyentuh tubuhku jika aku sudah menjadi bangkai. Nah, cobalah jika engkau bener-benar seorang perwira. Terimalah patramku, sesudah itu podonglah aku.” (Padmasusastra, 1985: 17). (8) Sang dewi diperkosa dan tidak kuat melawan. Maklumlah tenaga perempuan menghadapi laki-laki perkasa. Sang dewi semakin sedih dan pilu karena pemerkosaan itu, ia terpaksa diam saja ambil memandang sri baginda. Melihat dirinya selalu dipandang oleh sang dewi, sri baginda mersa mendapat hati, dan lupa bahwa sang dewi masih menggenggam patram di tangannya. Ketika sang dewi dipeluk dan dibantai dengan tangan, ditikamnya sang baginda tepat di ulu hatinya, tembuh sampai ke punggung, langsung meninggal tanpa mengeluh (Padmasusastra, 1985: 17). 2.2.1.2 Prabu Warihkusuma Prabu Warihkusuma merupakan anak pertama dari Prabu Sindupati dengan istri biasa. Prabu Warihkusuma merupakan salah satu tokoh utama dalam novel Rangsag Tuban. Prabu Warihkusuma merupakan tokoh yang sering muncul dalam penceritaan, dialah tokoh yang menjalankan alur dalam cerita. Prabu Warihkusuma adalah seorang laki-laki yang tampan, tenang dan berwibawa. Prabu Warihkusuma belum beristri, namun sejak kecil sudah bertunangan dengan saudara sepupunya yang bernama Endang Wresti. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (9). (9) Keduanya adalah saudara sepupu, dan memang sudah saling menyatakan kesetiaannya. Sang pangeran tidak akan beristri untuk selama-lamanya jika tidak dengan Rara Wresti. Demikian pula sebaliknya (Padmasusastra, 1985: 10).

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 Prabu Warihkusuma tidak jadi menikah dengan Endang Wresti karena Prabu Warsakusuma yang iri dengan dirinya. Prabu Warsakusuma akhirnya membatalkan pernikahan kakaknya itu dengan cara melakukan pemberontakn saat menjelang upacara temu pengantin. Melihat hal itu Prabu Warihkusuma juga tidak melawan, dia merasa malu bermusuhan dengan saudaranya sendiri hanya karena berebut istri. Hal tersebut sudah dipaparkan dalam latar belakang pada kutipan (2) . Prabu Warihkusuma dimasukkan ke dalam penjara dan dituduh akan melakukan suatu pemeberontakan terhadap kekuasaan adiknya dan dia pun hendak dibunuh oleh Ki Patih suruhan Prabu Warsakusuma. Pemikiran Prabu Warihkusuma yang tenang, diapun pasrah dengan apa yang akan dihadapinya. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (10) dan (11). (10) Hati Sang Pangeran terasa pilu karena hendak dibunuh dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Dengan suara tersedat-sendat ia bertanya, “Uwa. Apakah Anda berserta para menteri sudah mempertimbangkan masak-masak mengenai tuduhan terhadap saya, yang dituduh memberntak? Lagi pula apakah hasil musyawarah itu memutuskan hukuman bagi saya?” (Padmasusastra, 1985: 15). (11) “Kata-kata atau pertanyaan Sang Pangeran itu tidak ada manfaatnya. Segala sesuatu yang sudah saya lakukan, lebih-lebih yang saya lakukan secara pribadi, sudah pasti menggunakan pikiran yang tenang. Tidak membabi buta. Tidak ngawur.” (Padmasusastra, 1985: 15). Kembalinya Prabu Warihkusuma ke Negeri Tuban menyisakan dendam terhadap adiknya dan dendam tersebut berimbas terhadap keturunan dari Raden Warsakusuma, yaitu Raden Udakawimba. Dendam masalalu Prabu Warihkusuma terhadap adiknya membuat dirinya menjadi tidak peduli

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 dengan Raden Udakawimba. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (12), (13), (14), dan (15). (12) Akan tetapi di dalam hati ia sangat tidak senang terhadap anak tirinya, Raden Udakawimba. Putra Tirinya itu dianggap sebagai tunggal pohon kemanduh. Walaupun demikian perasaannya itu dipendamnya sehingga kemasgulannya tidak tampak (Padmasusastra, 1985: 40). (13) Adapun keinginan raja ialah hendak melenyapkan Raden Udakawimba (Padmasusastra, 1985: 41). (14) Nyatanya ia sangat dibenci oleh ayahandanya, dan sering kali dikatakatai dengan ucapan-ucapan yang menyakiti hati, yakni diumpat sbagai keturunan raja angkara (Padmasusastra, 1985: 41). (15) Prabu tidak menunjukkan perhatianya. Malah menyatakan agar para utusan menutup mulut. Jangan lagi membicarakan hilangnya rajaputra (Padmasusastra, 1985: 42). Prabu Warihkusuma menjadi pengecut, dia melarikan diri dari Negeri Tuban karena penyerangan yang dikakukan oleh Raden Udakawimba terhadap Negeri Tuban. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (16). (16) Kini diceritakan kembali Prabu Warihkusuma, yang melarikan diri dari medan perang. Ia mengira negerinya sudah diduduki musuh. Apakah musuhnya itu Raden Udakawimba atau orang lain belumlah pasti. Akan tetapi ia sudah pasrah , dan sudah mengambil keputusan yang bulat hendak menjadi seorang biku, lalu meneruskan perjalanannya dengan menyimpang (Padmasusastra, 1985: 70) 2.2.1.3 Raden Udakawimba Raden Udakawimba merupakan salah satu tokoh utama dalam novel Rangsang Tuban. Raden Udakawimba adalah anak dari Dewi Endang Wresti dengan Prabu Warsakusuma. Perbuatan Prabu Warsakusuma terhadap Dewi Endang Wresti membuat sang dewi mengandung dan melahirkan bayi lakilaki. Jika pencarian Pangeran Warihkusuma tidak berhasil, maka Raden

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 Udakawimba yang akan menggantikan tahta ayahandanya, Parabu Warsakusuma. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (17) dan (18). (17) Dalam pada itu ternyata sang dewi mengandung. Setelah tiba waktunya ia melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi itu diberi nama oleh Ki Patih: Raden Udakawimba. Anak itu cepat menjadi besar. Hal itu membuat hati Ki Patih Toyamarta merasa tenang, mengingat sang dewi telah melahirkan anak laki-laki (Padmasusastra, 1985: 19). (18) Pikir Ki Patih, jika sekiranya yang mencari Pangeran Warihkusuma tidak berhasil menemukannya, kelak Raden Udakawimbalah yang diangkat menggantikan ayahandanya, Prabu Warsakusuma, jika telah dewasa.” (Padmasusastra, 1985: 19). Raden Udakawimba memang kurang dekat dengan ibundanya. Sejak kecil ia diasuh oleh Ki Patih Toyamarta. Kembalinya Prabu Warihkusuma ke Negeri Tuban membuat Raden Udakawimba kebingungan, ia dibenci dan sering dikata-katai dengan ucapan yang menyakti hati, hal tersebut sudah dipaparkan dalam kutipan (13). Raden Udakawimba merupakan anak yang memiliki wajah yang menarik, cerdas, mahir dalam hal membangun, dan gagasannya sangat luas. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (19), (20), (21), dan (22). (19) “Kyai Penghulu senang melihat rupa Raden Udakawimba. Bagus, walaupun masih anak-anak namun menarik hati.” (Padmasusastra, 1985: 43). (20) “Raden Udakawimba memang mahir dalam hal bangun-bangunan. Dalam hati ia berkata, seandainya ada biaya dan tenanganya ia akan sanggup membuat sebuah benteng yang sentosa dan sulit dipecahkan musuh. (Padmasusastra, 1985: 44). (21) “Selagi masih kanak-kanan saja Raden Udakawimba sudh mempunyai gagasan seperti itu.” (Padmasusastra, 1985: 44). (22) “Raden Udakawimba duduk bersila dengan sopan. Kyai Ageng Wulusan merasa senang melihat rupa Raden Udakawimba. Bagus, menarik, raut wajahnya pun manis, beasusila, tajam pandangan matanya.” (Padmasusastra, 1985: 44).

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Meskipun sudah menikah dengan Rara Sendang dan hidup sejahtera di desa Sumbereja, Raden Udakawimba belum merasa puas jika belum membalas perbuatan dari pamannya Prabu Warihkusuma. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (23). (23) “Raden Udakawimba sudah hidup dengan sejahtera. Akan tetapi hatinya belum merasa puas jika ia belum dapat membalas dendam kepada uaknya. Lama sudah Raden Udakawimba mempersiapkan diri menyusun kekuatan bala tentara.” (Padmasusastra, 1985: 67). 2.2.2 Tokoh Tambahan Tokoh tambahan adalah tokoh yang memegang peran sebagai pelengkap atau sebagai tambahan dalam seluruh jalan cerita novel. Tokoh tambahan muncul menurut kebutuhan cerita dalam novel. Pemunculan tokoh tambahan dalam keseluruhan cerita terbilang lebih sedikit, tidak terlalu dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tokoh tambahan dalam serat Rangsang Tuban ini terbilang cukup banyak. Sebagian besar tokoh tambahan dalam serat ini sangat berpengaruh dengan tokoh utamanya. Tokoh tambahan dalam serat ini yaitu Prabu Sindupati, Kyai Umbul Mudal, Endang Wresti, Ki Patih Toyamarta, Ki Tumenggung Jalasengara, Prabu Hertambang, Dewi Wayi, Kyai Buyut Wulusan atau Kyai Ageng Wulusan, Nyai Buyut Wulusan, Kyai Penghulu, Arya Toyatuli, Raden Lodaka dan Rara Sendang. Berikut ini akan dipaparkan analisis tokoh tambahan serat Rangsang Tuban.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 2.2.2.1 Prabu Sindupati Prabu Sindupati merupakan seorang maharaja di Negeri Tuban. Prabu Sindupati adalah orang yang keperwiraan, keberanian dan keahliannya menerapkan siasat dalam perang, membuat para raja yang belum dikuasi oleh Negeri Tuban merasa takut. Prabu Sindupati beristrikan sembilan puluh sembilan orang, namun hanya mempunyai dua orang putra yang bernama Raden Warihkusuma dan Raden Warsakusuma. Sri Baginda bertahta selama lima puluh tahun, dan mencapai usia 75 tahun, sampai pada suatu ketika seluruh tubuhnya merasa sakit. Sri baginda telah merasa akan akhir hayatnya, dan akhirnya meninggal dunia. 2.2.2.2 Kyai Umbul Mudal Kyai Umbul Mudal adalah ayah dari Endang Wresti. Meraka tinggal di Gunung Mudal. Kyai Umubul Mudal sangat hormat kepada Raden Warihkusuma dan Ki Patih Toyamarta. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (24). (24) Kyai Umbul Mudal berdatang sembah, “Gusti. Hamba merasa beruntung karena hadirnya raja keturunan dewa, hendak member karunia kepada hamba. Hamba memberanikan diri menyampaikan selamat datang kepada paduka serta kakanda paduka Sang Pangeran. Hamba menghaturkan sembah ke bawah duli paduka.” (Padmasusastra, 1985: 10). 2.2.2.3 Endang Wresti Endang Wresti adalah anak dari Kyai Umbul Mudal. Endang Wresti merupakan tunangan dari Prabu Warihkusma, hal tersebut sudah dipaparkan

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 dalam kutipan (9). Endang Wresti merupakan gadis yang sederhana dan cantik rupanya, membuat Sang Pangeran terpaku melihatnya. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (25), (26), dan (27). (25) Sang dewi tidak berani membantah kemauan kakaknya, akan tetapi tidak mau mengenakan pakaian yang indah. Ia hanya mengenakan kain harian biasa untuk mandi, yakni belacu berwarna kuning buatan Kustasawit. Bajunya dipeniti sehingga kutangnya tidak kelihatan (Padmosusastra, 1985: 10-11). (26) Dengan cara demikian hanya kecemerlangan lehernya saja yang tampak berkilauan bagaikan sinar kilat. Buah dadanya yang tampak baru mulai bertumbuh kelihatan nyata karena terhimpit bajunya. Sinar matanya bagaikan bintang kesiangan. Ditambah lagi karena rambut sinomnya yang tidak teratur maka tampaklah ia seperti baru saja bangun tidur.” (Ki Padmasusastra, 1985: 11). (27) Gerak langkahnya seperti pohon pinang tertiup angin. Telapak kakinya bersinar seperti meteor beralih. Melihat kecantikan sang dewi hati sang raja berdebaran. Keringatnya bercucuran, nafasnya memburu, hingga sulit ketika hendak berkata-kata karena mendadak terpaku melihat sang putri (Padmasusastra, 1985: 11). Endang Wresti yang tidak jadi menikah dengan Prabu Warihkuma dan dibawa ke istana secara paksa oleh Prabu Warsakusuma, membuat hati Endang Wresti menjadi sangat tidak tertarik terhadap Prabu Warsakusuma. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (28). (28) Tekad Endang Wresti, “Jika sri baginda mendekat, pasti akan kuserang dengan patram.” Demikian tekad sang dewi yang diceritakan oleh seorang abdi perempuan (Padmasusastra, 1985: 16). Tidak hanya mengancam, namun Endang Wresti selalu menjawab dengan kata-kata pedas dan tidak menggunakan bahasa yang sopan terhadap Prabu Warsakusuma. Sikap Prabu Warsakusuama yang bringas membuat dia terbunuh secara tidak sengaja oleh Endang Wresti, kedua hal tersebut sudah dipaparkan dalam kutipan (7) dan (8).

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 2.2.2.4 Ki Patih Toyamarta Ki Patih Toyamarta adalah patih Prabu Sindupati, kemudian menjadi Patih Prabu Warsakusuma. Ketika kekuasaan Prabu Warsakusuma menguasai Negeri Tuban dan hendak membunuh Prabu Warihkusuma, Ki Patih Toyamartalah yang menjadi penengah dan menyelamatkan nyawa dari Prabu Warihkusuma, meski awalnya ia harus mengiyakan keinginan Prabu Warsakusuma untuk membunuh kakaknya sendiri. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (29) dan (30). (29) Ki Patih merasa kurang senang. Ia mengiyakan perintah raja sambil berpikir: apa seyogyanya yang harus ia lakukan, lalu bersembah, “Gusti. Rasanya lebih baik jika kakanda paduka dibunuh di dalam hutan saja agar tidak diketahui oleh rakyat banyak. Kebaikkanya ialah, paduka tidak akan dimasyurkan sebagai raja yang sampai hati membunuh saudaranya sendiri. sayalah yang akan melaksanakan perintah paduka.” (Padmasusastra, 1985: 14). (30) Dengan suara tersendat Ki Patih menjawab, “Anaknda. Tenang kehendak sri baginda yang tidak benar itu sudah kami bicarakan dengan temanteman saya delapan orang menteri, dan sudah dicapai kesempatan yang bulat, Anaknda tidak akan kami bunuh. Namun pergilah Anaknda dari wilayah Negeri Tuban. Tunggulah kehendak dewa atas Anaknda. Tadi saya menangis pilu karena terpaksa harus berpisah.” (Padmasusastra, 1985: 16). Ki Patih Toyamarta adalah orang yang mengasuh Raden Udakawimba waktu kecil. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (31). (31) “Barang tentu Ki Patih tidak pangling, karena Raden Udakawimba itu dia asuh sejak kecil.” (Padmasusastra, 1985: 69). 2.2.2.5 Ki Tumenggung Jalasengara Ki Tumenggung Jalasengara adalah senapati perang dari Negeri Tuban. Dia sangat tunduk pada tuannya Prabu Warsakusuma meski perintah yang

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 diberikan terkadang tidak benar. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (32) dan (33). (32) Walaupun perintah itu tidak benar, akan tetapi Ki Tumenggung tidak berpikir lain kecuali hendak melaksanakan perintah rajanya, menepati kedudukannya sebagai seorang senapati. Walaupun dilempar ke gunung batu sekalipun ia pasti tidak akan ingkar. Melawan musuh yang sakti selalu menjadi dambaannya (Padmasusastra, 1985: 12). (33) Begitulah beratnya menerima tugas dari raja, ditambah pula telah menjadi tugas kewajiban seorang senapati, maka tidak ada pilihan lain bagi Ki Tumenggung Jalasengara kecuali harus mengamuk sekuat tenaga walaupun harus mengorbankan nyawanya (Padmasusastra, 1985: 12). 2.2.2.6 Prabu Hertambang Parabu Hertambang merupakan penguasa di Negeri Banyubiru, gagah berani di medan perang. Prabu Hertambang merupakan ayah dari seorang putri yang bernama Retna Wayi. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (34) dan (35). (34) Di negeri itu yang bertahta sebagai raja bergelar Prabu Hertambang. Masyur gagah berani di medan perang, banyak raja bawahannya yang takluk kepada Negeri Banyu biru (Padmasusastra, 1985: 19). (35) Tersebutlah Sang Prabu Hertambang itu hanya mempunyai putra seorang bernama Retna Wayi, yang didambakan menjadi putri mahkota (Padmasusastra, 1985: 23). 2.2.2.7 Dewi Wayi Dewi Wayi atau Retna Wayi adalah anak dari Prabu Hertambang, dialah yang didambakan menjadi putri mahkota kerajaan Banyubiru. Dewi Wayi pintar dalam ketatanegaraan, karena Prabu Hertambang memang menyiapkan Dewi Wayi untuk kelak menggantikan dirinya memimpin Negeri Banyubiru. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (36).

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 (36) Ia dijejali pelajaran tentang ilmu tatanegara, undang-undang negara, serta kepandaian berperang sehingga sempurna dalam mentrampilkan siasat yang rumit. Sebab kehendak Sang Prabu walaupun ia wanita namun diharapkan dapat menggantikan tahta kerajaan (Padmasusastra, 1985:23). Selain pandai dalam ketatanegaraan dan berperang ia juga ditakdirkan menjadi wanita yang sempurna, tidak hanya itu Dewi Wayi juga pandai dalam bermain catur. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (37), (38), dan (39). (37) Pada waktu itu sang putri mengenakan kain harian. Yakni kain batik corak Angreni yang sudah agak kusam. Kembennnya kain pelangi buatan India Muka, tidak berbaju, mengenakan rimong berenda berwarna biru langit. Tubuhnya seperti ikan terjerat jala, putih bak bunga melati. Bagian buah dadanya yang membeludag seperti hendak menjebolkan baju kutang yang merupakan bendungannya (Padmasusastra, 1985: 24). (38) Hati Sang Pangeran selalu berdebar-debar melihat rupa sang dewi. Ia banyak miripnya dengan Dewi Wayi, bahkan lebih padat dan mempesona (Padmasusastra, 1985: 25). (39) Sang Putri diminta bermain catur melawan Sang Pangeran, sedangkan Sang Prabu menjagoi. Sang Prabu dan Sang Pangeran seringkali berbeda pendapat dalam menjalankan anak catur. Sang putri selalu tertawa, seolah-olah menenrtawakan oran lain. Padahal dalam menjalankan anak catur sang putri berlaku cepat sekali, seolah-olah tidak dipikirkan dulu. sungguh menkjubkan. Sampai tiga kali bermain Sang Pangeran selalu kalah (Padmasusastra, 1985: 29). 2.2.2.8 Arya Toyatuli Arya Toyatuli merupakan anak tertua dari Ki Patih Toyamarta yang sebenarnya kurang pandai sehingga ia hanya diangkat menjadi bupati daerah perbatasan. Namun, karena kedatangan Prabu Warihkusuma akhirnya dia dangkat menjadi patih dengan maksud agar tidak membantah kehendak sang raja. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (40). (40) Adapun maksud raja mengangkat Arya Toyatuli menjad patih ialah agar tidak membantah kehendak raja. Sebab utamanya ialah karena raja masih menyimpan rahasia, dan berharap jangan sampai keinginannya diketahui

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 atau gagal karena dihalang-halangi oleh patihya (Padmasusastra, 1985: 41). 2.2.2.9 Kyai Buyut Wulusan Kyai Buyut Wulusan atau Kyai Ageng Wulusan tinggal di Desa Sumbereja, bekerja sebagai pejala ikan di sungai. Kyai Buyut Wulusan yang menemukan bayi Prabu Warihkusuma dengan Dewi Wayi di sungai, dia menamakan bayi itu dengan nama Rara Sendang karena bayi tersebut ditemukan di air. Kyai Ageng Wulusan meninggalkan Agama Budha dan memeluk Agama Islam. Kyai Ageng Wulusan sangat rajin dan memperdalam ilmunya sambil mengajar siswa pilihan. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (41) dan (42). (41) Karena tertariknya pada ilmu yang baru, Kyai Ageng Wulusan meninggalkan agama Budha, termasuk keluarga dan semua temantemannya telah memeluk agama Ismlam. Mereka mendirikan salat Jumat dan membangun mesjid besar (Padmasusastra, 1985: 42). (42) Siang-malam Kyai Ageng tinggal di situ memperdalam ilmunya sambil mengajar para iswa pilihan. Pelajaran bersama diadakan di serambi. Gurunya ialah Kya Penghulu dan para khatib. Siang-malam tidak pernah berhenti baca Kuran (Padmasusastra, 1985: 43) 2.2.2.10 Nyai Buyut Wulusan Nyai Buyut Wulusan adalah istri dari Kyai Buyut Wulusan. Sudah tiga kali melahirkan namun anaknya selalu saja mati. Nyai Buyut Wulusan sangat sayang terhadap Rara Sendang dan menganggapnya seperti anaknya sendiri. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (43). (43) Rara Sendang dipelihara dan disusui oleh Nyai Buyut Wulusandi desa Sumbereja (Padmasusastra, 1985: 33).

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 2.2.2.11 Kyai Penghulu Kyai Penghulu merupakan guru dari Kyai Ageng Wulusan. Kyai Penghulu yang pertama bertemu dengan Raden Udakawimba di mesjid, meminta Raden Udakawimba untuk tinggal di rumahnya dan menggembala kerbau. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (44). (44) Demikian Raden Udakawimba tinggal di rumah Kyai Penghulu. Setiap waktu para penggembala melepas ternaknya, ia pun turut menggembala kerbau sambil membuat wayang dari rumput jaruman (Padmasusastra, 1985: 43-44). 2.2.2.12 Raden Lodaka Raden Lodakan merupakan salah satu putra dari Ki Patih Toyamarta yang menjadi senapati perang dan sudah diangkat menjadi menteri negara. Dia juga menjadi patih Raden Warihkusuma ketika bertahta di Negeri Tuban. 2.2.2.13 Rara Sendang Rara Sendang adalah anak dari Prabu Warihkusuma dengan Dewi Wayi. Namun dirinya kurang beruntung, ibunya (Dewi Wayi) meninggal saat melahirkan dia dan akhirnya dia dilabuh ke sungai oleh suruhan Prabu Hertambang (kakeknya). Setelah dirinya dilabuh ternyata Dewi Wayi mendapat karunia dari dewa dan hidup kembali, namun sayang Rara Sendang sudah ditemu oleh Kyai Buyut Wulusan dan dijadikan anak dan tidak pernah menyusahkan Kyai Buyut Wulusan dan Nyai Buyut Wulusan. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (45) dan (46).

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 (45) “Anak itu cepat besar, dan tidak pernah sakit. Pertumbuhannya seperti dimandikan dengan air gege, sehingga pertumbuhan Rara Sendang sungguh luar biasa.” (Padmasusastra, 1985: 33) (46) Sang dara sudah mulai berkembang birahinya, dan sdah mulai mencobacoba mengenakan kain kemben. Sebab jika hanya mengenakan mekak atau baju pendek, buah dadanya sudah membeludag. Akan tetapi yang dikenakannya masih sabuk wala, yakni kain kemben panjang yang hanya selapis karena kalau mengenakan kain kemben panjang masik kikuk sehingga sering kali lepas (Padmasusastra, 1985: 64). 2.3 Latar Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981: 175) dalam Nurgiyantoro, 1995: 216. Unsur latar dapat dibedakan menjadi tiga bagian pokok yaitu latar tempat, latar waktu dan latar sosial. 2.3.1 Latar Tempat Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi (Nurgiyantoro, 1995: 227). Latar tempat yang akan dianalisis dalam serat Rangsang Tuban antara lain, Negeri Tuban, Gunung Mudal, Banyubiru, Desa Sumbereja, Tirtakandas dan Gunung Rancakharni. 2.3.1.1 Negeri Tuban Negeri Tuban merupakan latar tempat awal penceritaan serat ini. Negeri Tuban merupakan daerah kekuasaan seorang maharaja bergelar Prabu Sindupati. Istri Prabu Sindupati yang berjumlah sembilan puluh sembilan

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 orang, namun sri baginda hanya memiliki dua orang anak putra saja dari permaisuri dan dari istri biasa. Kedua putranya yakni Raden Warihkusma dan Raden Warsakusuma. Mereka hidup dengan rukun, yang tua sangat mengemong, menghormati dan mencintai adiknya, menyadari akan tugas dan kedudukannya sebagai seorang pangeran agung. Sang adik sangat sayang dan merasa terlindungi oleh kakaknya. Setelah Prabu Sindupati meninggal dunia, barulah malapetaka itu dimulai. Negeri Tuban yang kini dikuasai Raden Warsakusuma menjadi tidak nyaman lagi. Hanya karena Raden Warsakusuma iri terhadap kakaknya yang akan menikah dengan Endang Wresti, ia pun merencanakan pembantaian dan ingin membunuh kakaknya sendiri. Perbuatan Raden Warsakusuma yang tidak sopan terhadap Endang Wresti membuat dia mendapat akibatnya. Raden Warsakusuma tidak sengaja ditikam dengan patram tepat pada ulu hatinya sampai tembus ke punggung dan langsung meninggal dunia. Hasil perbuatan Raden Warsakusuma terhadap Endang Wresti menghasilkan buah daging, anak itu diberi nama Raden Udakawimba. Dialah yang nantinya memberontak Negeri Tuban untuk membalas dendam terhadap pamannya atau ayah tirinya yaitu Prabu Warihkusuma. 2.3.1.2 Gunung Mudal Gunung Mudal merupakan tempat tinggal Kyai Umbul Mudal berseta keluarganya. Tempat tersebut merupakan tempat Pangeran Warihkusuma

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 menjenguk Endang Wresti tunangannya. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (47). (47) Setiap delapan hari sekali Sang Pangeran pergi ke Mudal menjenguk tunangannya (Padmasusastra, 1985: 10). Gunung Mudal adalah tempat di mana PangeranWarihkusuma dan Endang Wresti akan menikah, namun sebelum keduanya resmi menikah pernikahan mereka dihancurkan oleh Prabu Warsakusuma. Bala tentara perang Ki Tumenggung Jalasengara suruhan Prabu Warihkusuma menangkap Pangeran Wrihkusuma beserta Kyai Umbul Mudal sekeluarga. Hanya sang dewi yang dibawa ke istana. Perumahan mereka dibakar dan pembantaian dimana-mana. 2.3.1.3 Banyubiru Negeri Banyubiru terletak di sebelah barat daya Negeri Tuban. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (48). (48) Dalam pada itu Sang Pangeran Warihkusuma berjalan ke arah barat daya, seolah-olah dilempar oleh dewata sampai ke Negeri Banyubiru (Padmasusastra, 1985: 19). Di Negeri Banyubiru bertahta seorang raja yang bergelar Prabu Hertambang. Negeri Banyubiru adalah tempat yang jauh di bawah Negeri Tuban. Di Negeri Banyubiru adalah tempat orang-orang bodoh, berbeda dengan Negeri Tuban yang banyak sarjana yang karanganya banyak ditiru oleh raja-raja.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Negeri Banyubiru merupakan tempat pelarian Pangeran Warihkusuma dari Negeri Tuban. Di tempat inilah dia mengabdi kepada Prabu Hertambang dan akhirnya menikah dengan Rara Wayi anak dari Prabu Hertambang. Setahun menikah akhirnya Pangeran Warihkusuma beserta Rara Wayi dikarunia seorang anak perempuan. Namun nasib berkata lain, anak itu selamat dan nyawa Rara Wayi tidak tertolong. Hal itu membuat Pangeran Warihkumua harus diusir dari Negeri Tuban, karena Prabu Hertambang mengira bahwa Pangeran Warihkusumalah yang menjadi penyebab meninggalnya Rara Wayi. Negeri Banyubiru juga menjadi saksi dipertemukannya Rara Wayi dengan Rara Sendang. Diceritakan bahwa Rara Wayi hidup kembali setelah anaknya dilarung di sungai. Bertahun-tahun mereka tidak bertemu dan setelah Rara Wayi menangkap Raden Udakawimba terbongkarlah rahasia bahwa Rara Sendang merupakan anaknya yang dilarung dulu. Akhirnya dosa Raden Udakawimba diampuni dan ia tetap diakui sebagai menantu Rara Wayi. 2.3.1.4 Desa Sumbereja Desa Sumbereja merupakan daerah tempat tinggal dari Kyai Buyut Wulusan beserta istrinya Nyai Buyut Wulusan. Di Desa Sumbereja mereka menemukan dan merawat Rara Sendang. Di Desa Sumbereja inilah Kyai Buyut Wulusan atau Kyai Ageng Wulusan mendirikan salat Jumat dan membangun masjid besar.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Di Desa Sumbereja merupakan tempat Raden Udakawimba melarikan diri dari Negeri Tuban. Dengan menyusuri aliran sungai, akhirnya raden Udakawimba sampai di Desa Sumbereja. Di Desa Sumbereja Raden Udakwaimba tinggal bersama Kyai Penghulu, selain ikut belajar mengaji Raden Udakawimba juga mengembala kerbau. Di Desa Sumbereja ini juga Raden Udakawimba bertemu dengan tambatan hatinya, yakni Rara Sendang. 2.3.1.5 Tirtakandas Tirakandas merupakan sebuah istana yang sudah lama kosong namun di dalamnya masih terdapat harta yang tersimpan. Awalnya Raden Udakawimba merasa heran dengan pemandangan di dasar jurang. Dia pun menyelidiki ke dasar goa, ternyata terdapat tangga batu hitam yang sudah tertutup rumput merak. Raden Udakawimba semakin heran melihat ada tangga batu di jurang itu. Sesampainya di bawah Raden Udakawimba dbuat menlongo melihat pasir merah bercampur butiran-butiran emas serta permata aneka warna berkelipkelip. Dia semakin heran, tidak mengira bahwa yang tampak merah itu adalah pintu gerbang masuk istana. Raden Udakawimba memberanikan diri masuk ke dalam istana tersebut dan ia heran karena tidak ada yang rusak, semuanya masih utuh. Dibukalah khazanah istana, disitu adalah tempat seluruh harta tersimpan (uang emas dan uang perak). Di tempat itulah mulai muncul gagasan dalam hati Raden Udakawimba, salah satunya adalah mendirikan

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 sebuah istana di puncak gunung dan disekeliling gunung dibangun benteng, serta dasar jurang itu tetap menjadi khazanah utama. 2.3.1.6 Gunung Rancakarni Gunung Rancakarni merupakan tempat pelarian Prabu Warihkusuma setelah Negeri Tuban diserang oleh Raden Udakawimba. Di kaki Gunung Rancakarni dekat pesanggrahan Prabu Hertambang yang sekaligus sebagai tempat pemberhentian jenazah. Prabu Warihkusuma berniat menjadi biku, dia berniat untuk menetap disebuah goa untuk bertapa dan tak henti-hentinya memusatkan indranya dalam samadi. Di goa Gunung Rincakarni inilah Prabu Warihkusuma dan Rara Wayi dipertemukan kembali. 2.3.2 Latar Waktu Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang dceritakan dalam sebuah karya fiksi (Nurgiyantoro, 1995: 230). 2.3.2.1 Pada Tahun 1600-an Memang tidak dijelaskan atau dituliskan secara pasti kapan latar waktu yang digunakan dalam serat ini. Namun, jika keluar dari kapan ditulisnya serat Rangsang Tuban ini, secara penceritaan serat ini menceritakan tentang kerajaan di tanah Jawa pada masa Mataram sekitar tahun 1600-an, di mana kerajaan pada masa tersebut masih sangat kuno, salah satunya menceritakan

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 kejadian di Negeri Tuban. Sebuah cerita yang hanya menceritakan tentang tahta, kekuasaan, dan perang. 2.3.3 Latar Sosial Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi (Nurgiyantoro, 1995: 233). 2.3.3.1 Masyarakat Jawa Mataram Budaya dan kehidupan yang mendominasi dalam serat ini adalah kehidupan masyarakat Jawa pada masa Mataram. Hal ini disebabkan karena penyebutan nama setiap tokoh dalam novel yang menggunakan “Prabu”, “Raden”, “Ki”, “Nyai”, dan “Rara”. Bukan hanya penamaan setiap tokoh, namun dalam penggunaan pakaian untuk anak gadis yang digambarkan dalam serat Rangsang Tuban ini masih kental dengan budaya Jawa yaitu menggunakan kain batik, kemben, dan sabuk wala. Rangkuman Demikian analisis struktural dalam serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra. Melalui analisis di atas dapat disimpulkan bahwa, dalam serat tersebut terdapat tiga tokoh utama, yaitu Prabu Warsakusuma, Prabu Warihkusuma dan Raden Udakawimba. Kehadiran mereka sangat penting dalam jalannya cerita. Bukan hanya ada tokoh utama, namun dalam serat ini

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 juga terdapat 13 tokoh tambahan, yaitu Prabu Sindupati, Kyai Umbul Mudal, Endang Wresti, Ki Patih Toyamarta, Ki Tumenggung Jalasengara, Prabu Hertambang, Dewi Wayi, Kyai Buyut Wulusan atau Kyai Ageng Wulusan, Nyai Buyut Wulusan, Kyai Penghulu, Arya Toyatuli, Raden Lodaka dan Rara Sendang. Dalam segi analisis latar dapat disimpulkan bahwa latar tempat dalam serat ini, yaitu Negeri Tuban, Gunung Mudal, Banyubiru, Desa Sumbereja, Tirtakandas dan Gunung Rancakharni. Latar waktu dalam serat ini adalah pada tahun 1600-an, kerajaan Jawa Mataram, yaitu di Negeri Tuban. Latar sosial dalam serat ini adalah masyarakat Jawa Mataram. Pemaparan pada bab II ini sudah begitu jelas tentang kekuasaan yang terjadi di dalam serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra. Tindakan kekuasaan itu bermula dari sebuah hegemoni yang berlanjut pada dominasi yang terjadi pada setiap tokoh utama dalam novel tersebut, dan untuk dapat meneyelesaikan persoalan mereka diakhiri dengan hegemoni. Hal-hal tersebut akan lebih jelas dipaparkan dalam bab selanjutnya.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III DOMINASI, HEGEMONI, DAN KEKUASAAN DALAM SERAT RANGSANG TUBAN KARYA KI PADMASUSASTRA 3.1 Pengantar Pada bab sebelumnya sudah dipaparkan oleh penulis tetang struktur cerita yang mencakup tokoh dan penokohan; serta latar yang terdiri dari latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Dalam bab ini penulis akan membahas tentang dominasi dan hegemoni prespektif Antonio Gramsci, serta kekuasaan menurut Johan Galtung dalam serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra. Jika dilihat lebih lanjut, serat ini lebih banyak mengandung dominasi yang diawali dari hegemoni, di mana sudah terlihat dengan jelas bahwa kedudukan tahta yang lebih tinggi akan lebih berkuasa dari pada kedudukan yang lebih rendah. Ketiga tokoh utama memiliki kesempatan dalam mendominasi tokoh utama yang lain dan tokoh tambahan yang ada dalam novel. Adanya sebuah peluang untuk membalaskan dendam masalalu, namun berakhir dengan sebuah kesepakatan, yaitu hegemoni yang diterima oleh semua tokoh yang ada dalam novel tersebut. 3.2 Dominasi dan Hegemoni Hegemoni didefinisikan sebagai dominasi oleh suatu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga 47

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar (www.google.co.id/amp/s/sosiologibudaya.wordpress.com/2011/04/13/hegem oni/amp. Diunduh: 30.05/2018, 09:42). Dominasi adalah bagian dari hegemoni. Sebuah kekuasaan dapat berjalan dengan baik jika dominasi melengkapi hegemoni yang terdapat dalam kedua kelompok tersebut (kedudukan yang lebih tinggi terhadap kedudukan yang lainnya atau yang lebih rendah). Dominasi menurut KBBI edisi V (2016) megandung arti sebagai penguasaan oleh pihak yang lebih kuat terhadap yang lebih lemah. Menurut Gramsi (Faruk, 2012a: 144 dalam Sehadi, 2016: 189), kriteria metodologis yang menjadi dasar studinya bertolak dari asumsi bahwa supremasi suatu kelompok sosial ditunjukkan dalam dua cara, yakni (1) sebagai dominasi, dan (2) sebagai kepemimpinan moral dan intelektual. Suatu kelompok sosial mendominasi kelompok-kelompok antagonustik yang cenderung ia hancurkan atau ia taklukkan dengan kekuatan tentara, atau kelompok tersebut memimpin kelompok yang sama dan beraliansi dengannya. Suatu kelompok sosial dapat melaksanakan kepemimpinan sebelum memenangkan kekuasaan pemerintah. Ia menjadi dominan apabila menjalankan kekuasaan, tetapi apabila ia sudah memegang dominasi itu ia harus meneruskan untuk memimpinnya. Kepemimpinan itulah yang oleh Antonio Gramsci disebut sebagai hegemoni.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 3.2.1 Dominasi Dominasi yang terdapat dalam serat Rangsang Tuban ini selalu dilakukan oleh setiap penguasa yang lebih kuat. Kebanyakan dominasi yang terjadi berujung pada pemberontakan untuk membalaskan dendam masa lalu. Dominasi dimulai dari tokoh yang bernama Raden Warsakusuma terhadap Raden Warihkusuma. Dominasi Raden Warihkusuma terhadap Raden Udakawimba sebagai keturunan dari Raden Warsakusuma. Dominasi Raden Udakawimba terhadap Raden Warihkusuma. Kemudian diakhir cerita dominasi dari Dewi Wayi yang senantiasa membantu suaminya Raden Warihkusuma untuk membalaskan perbuatan Raden Udakawimba. Mereka adalah pemimpin yang mendominasi pihak yang lebih lemah, karena adanya sebuah balasan dendam masa lalu yang masih terpendam dalam kehidupan mereka. Dominasi yang terlihat dalam serat Rangsang Tuban adalah kekuasaan yang dimiliki oleh Raden Warsakusuma yang digunakan untuk merebut calon istri dari Raden Warihkusuma, yaitu Endang Wresti. Hal tersebut pula yang membuat Raden Warsakusuma mengikuti saran dari Kyai Patih untuk menghabisi nyawa kakaknya, di mana sebenarnya Kyai Patih tidak benarbenar menghabisi nyawa Raden Warihkusma, ia hanya ingin menyelamatkan Raden Warihkusuma dari kekejaman Raden Warsakusuma. Dalam hal tersebut Raden Warsakusuma menjadi orang yang mendominasi Raden Warihkusuma, karena pada saat itu dia yang berkuasa di Negeri Tuban menggantikan ayahnya Prabu Sidupati untuk menjadi Raja.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 Dengan kekuasaanya Raden Warsakusuma bebas untuk melakukan hal apa saja tanpa harus melakukan suatu persetujuan dengan pihak yang lain, jadi apapun yang dilakukannya berasal dari niatnya sendiri tanpa memikirkan penderitaan orang lain yang ia dominasi. Raden Warsakusuma juga mendominasi Endang Wresti, namun sayang Raden Warsakusuma terbunuh tanpa sengaja oleh Endang Wresti karena dia telah melakukan hal yang tidak sopan sehingga menghasilkan buah daging. Anak itu pun diberi nama Raden Udakawimba oleh Ki Patih dan dibesarkannya, anak itu dipersiapkan untuk menggantikan tahta ayahandanya yaitu Raden Warsakusuma. Dominasi yang terlihat dalam serat Rangsang Tuban selanjutnya adalah ketika Raden Warihkusuma kembali ke Negeri Tuban dan menjadi penguasa di sana. Raden Warihkusuma mendominasi Raden Udakawimba sehingga Raden Udakawimba bingung dengan sikap pamannya tersebut, karena Raden Warihkusuma bersikap seolah dia sangat benci terhadap Raden Udakawimba. Hal tersebut membuat Raden Udakawimba memutuskan untuk pergi meninggalkan negeri Tuban dan menacari kedamaian dan sampailah Raden Udakawimba di desa Sumbereja. Kepergian Raden Udakawimba membuahkan hasil yang luar biasa. Raden Udakawimba bertemu dengan Kyai Ageng Wulusan di desa Sumbereja. Di sanalah Raden Udakawimba mengasah kemampuannya dalam belajar ilmu batin (keagamaan dan bertapa) serta dalam belajar tentang

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 strategi perang, hal tersebut bertujuan untuk memperisiapkan membalaskan dendamnya terhadap pamannya, yaitu Raden Warihkusuma. Raden Udakawimba sudah hidup dengan bahagia dan sejahtera dengan istrinya yang bernama Rara Sendang. Namun hatinya belum merasa puas bila belum membalas dendamnya kepada pamannya yang sudah membuatnya tertekan sewaktu di Tuban. Akhirnya dia membentuk enam kelompok prajurit. Prajurit Suralodra (bersenjata lembing dan perisai), prajurit Surapanglawung (bersenjata tombak), prajurit Surawarastra (bersenjatakan panah), prajurit Surapawaka (bersenjata senapan), prajurit Suradahan (bersenjata meriam), dan prjurit Surapati (pasukan pilihan yang menjadi pengawal pribadi). Prajurit-prajurit itulah yang nantinya akan menyerang Negeri Tuban, terutama menjatuhkan kekuasaan Raden Warihkusuma. Kepemimpinan moral dan intelektual yang tergambar dalam serat Rangsang Tuban ini adalah ketika Raden Udakawimba menemukan sebuah istana yang bernama Tirtakandas. Di dalam istana tersebut terdapat sebuah khazanah yang menyimpan uang emas dan uang perak yang begitu banyak. Disaat itu juga pemikiran intelektual dari Raden Udakawimba keluar. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (49). (49) Raden Udakawimba berpikir dalam hati, “ Sekiranya harta sebanyak ini tetap menjadi milikku, maka kekayaanku pasti melebihi para raja sedunia yang terkenal kaya. Akan tetapi jika salah-salah langkah sampai ketahuan oleh raja yang menguasai desa Sumbereja ini, aku tentu gagal menjadi kaya. Harta ini dimiliki orang lain, diri sendiri hanya diperintah belaka.” (Padmasusastra, 1985: 62).

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 Raden Udakawimba yang mahir dalam hal bangun-bangunan, akhirnya menghegemoni pikirannya ayahnya Kyai Ageng Wulusan untuk tidak menghalangi dirinya dalam membangun desa Sumbereja untuk menjadi lebih makmur. Raden Udakawimba mengaku kepada Kyai Ageng Wulusan bahwa dia dapat mengubah pasir menjadi butiran emas, padahal Raden Udakawimba hanya cukup mengambil butiran emas itu di dalam khazanah yang dulu pernah ia temukan di jurang. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (50). (50) Pagi hari ia turun ke jurang, lalu masuk ke gua istana, membuka khazanah. Sesudah mengambil butir-butir emas sekarung penuh lalu pulang menemui ayahandanya (Padmasusastra, 1985: 63). Selain Raden Udakawimba, ada pula Rara Wayi yang sudah menjadi seorang raja ratu menggantikan tahta Prabu Hertambang, ayahnya. Sedari dulu belajar tentang ketatanegaraan dan perang, membuat Rara Wayi menyukai sebuah tantangan. Sebuah perjalanan menghantarkannya bertemu dengan suaminya Raden Warihkusuma yang saat itu sedang bertapa di Gunung Mudal. Mendengar cerita dari Raden Warihkusuma yang diserang oleh prajurit Sumbereja, akhirnya Rara Wayi mau membantu menyelesaikan masalah Raden Warihkusuma. Dengan pengetahuannya tentang bagaiamana strategi dalam berperang membuat prajurit yang dipimpin oleh Rara Wayi dapat mengalahkan Raden Udakawimba. Hal tersebut terdapat dalam kutipan (51) dan (52). (51) Melihat gelar dapat disusupi musuh, Sang Ratu merubah gelarnya menjadi Gelar Setubanda Ambrol, yakni Formasi Bendungan Jebol. Akibatnya pasukan Sumbereja hanyut terserap ke dalam gelar. Raden Udakawimba kehabisan pasukan (Padmasusastra, 1985: 78).

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 (52) Para prajurit yang lain menyerang dari arah belakang, dan berhasil membuat kerusakan di pihak musuh. Raden Udakawimba gugup karena terkejut dengan datangnya musuh yang sangat tiba-tiba dari angkasa, yang kecepatannya laksana angin. Tata barisan Sumbereja berantakan karena diserang mendakak dari arah belakang. Raden Udakawimba sudah sangat terdesak, lalu ditangkap oleh senapati dan dibelenggu dengan cindai, kemudian dbawa menghadap Sang Ratu sekalian, yang waktu itu sudah duduk di pendapa besar (Padmasusastra, 1985: 79). 3.2.2 Hegemoni Setalah dipaparkan tentang dominasi dalam serat Rangsang Tuban, berikut ini akan dipaparkan tentang hegemoni yang terdapat dalam serat Rangsang Tuban. Hegemoni yang tergambar dalam serat ini yaitu, hegemoni dalam kebijakan negara, hegemoni dalam pendidikan, dan hegemoni dalam tata cara kenegaraan. 3.2.2.1 Hegemoni dalam Kebijakan Negara Dalam serat ini, hegemoni dalam kebijakan negara terjadi ketika anak dari seorang permaisuri lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan anak dari seorang istri biasa meskipun ayah mereka adalah satu orang yang sama. Jadi, hegemoni yang sudah tertanam dalam serat ini adalah bahwa seorang anak dari seorang permaisuri yaitu Raden Warsakusuma lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan Raden Warihkusuma yang hanya anak dari istri biasa, meskipun ayah mereka adalah satu orang yang sama. Dengan demikian yang berhak mewarisi tahta kerajaan atau yang akan berkuasa di Negeri Tuban jika Prabu Sindupati meninggal dunia adalah Raden Warsakusuma, meski dia adalah anak kedua setelah Raden Warihkusuma.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Hegemoni dalam kebijakan negara yang terlihat selanjutnya adalah ketika Endang Wresti mengandung anak dari Raden Warsakusuma, secara tidak langsung Endang Wresti sudah menjadi bagian dari seseorang yang terhegemoni oleh kekuasaan Raden Warsakusuma, karena mau tidak mau harus menjadi permaisuri dari Raden Warsakusuma. Meski akhirnya Raden Warsakusuma tidak sengaja mati tertusuk patram yang sedang digenggam oleh Endang Wresti, karena Raden Warsakusuma telah meluapkan rasa cintanya secara paksa sehingga membuat Endang Wresti mengandung anak laki-laki. Anak yang dilahirkan oleh Endang Wresti itu diberi nama Raden Udakawimba, dan secara tidak langsung Raden Udakawimba yang akan menjadi pewaris dari Negeri Tuban karena ayahandanya sudah tiada sejak ia masih berada dalam kandungan. Namun, jika Raden Warihkusuma segera kembali ke Negeri Tuban, makan dialah yang akan menggantikan kekuasaan adiknya, karena usia Raden Udakawimba yang belum cukup dewasa untuk memimpin suatu negeri. Hegemoni dalam kebijakan negara atau kerajaan yang terlihat selanjutnya adalah ketika wewenang Retna Wayi mengetahui bahwa istri dari Raden Udakawimba adalah anaknya yang dulu dilarungkan ke sungai oleh Raden Hertambang. Dengan mengetahui hal tersebut, akhirya segala kesalahan dari Raden Udakawimba dimaafkan dan tetap diakui sebagai saudara sepupu. Raden Udakawimba akhirnya kembali ke Negeri Tuban bersama Rara Sendang dan bertahta di sana ditemani oleh Endang Wresti

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 ibunya. Sedangkan Prabu Warihkusuma tidak kembali ke Negeri Tuban, dia menemani Sang Ratu di Banyubiru. 3.2.2.2 Hegemoni dalam Pendidikan Hegemoni dalam pendidikan yang terdapat dalam serat ini ketika seorang anak keturunan bangsawan, yaitu Raden Udakawimba harus mendapatkan pendidikan atau ajaran sejak dini dalam hal kerajaan dan ilmu berperangan. Bukan hanya di Negeri Tuban saja, namun ketika Raden Udakawimba kabur dari Tuban diapun tetap belajar mengenai kerajaan dan keagamaan di desa Sumbereja. Raden Udakawimba memperbanyak menyepi atau bertapa ke gunung-gunung dan jurang-jurang untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam tentang ilmu batin. Gagasannya tentang perkembangan kerajaan juga semakin luas, diapun berfikiran untuk mendirikan sebuah kerajaan baru yang lebih kokoh dari negeri Tuban, dengan hal itu memudahkan dia untuk menghancurkan atau membalaskan dendamnya terhadap pamannya yaitu Raden Warihkusuma yang sudah menindasnya karena pembalasan dendam dari perbuatan ayahnya Raden Warsakusuma yang sudah tiada. Hegemoni dalam pendidikan yang terlihat selanjutnya adalah ketika satu-satunya Putri Mahkota dari Negeri Banyubiru yang harus mendapat ilmu tentang perang dan kerajaan. Retna Wayi adalah anak sematawayang Raja Hertambang dari Kerajaan Banyubiru. Retna Wayi diharapkan akan menggantikan tahta kerajaan ayahandanya. Ilmu dalam perang sangat terlihat

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 ketika dia membantu suaminya Raden Warihkusuma dalam melawan penyerangan dari Raden Udakawimba. Retna Wayilah yang memimpin pasukan perang dan berhasil menangkap Raden Udakawimba dengan siasat perangnya. Walaupun, pada kahirnya Retna Wayi memaafkan segala kesalahan dari Raden Udakawimba. 3.2.2.3 Hegemoni dalam Tata Cara Kenegaraan Hegemoni dalam tata cara kenegaraan yang terlihat dalam serat ini adalah bahwa keturunan dari seorang raja yang akan mewariskan tahta kerajaan, baik itu laki-laki atau bahkan perempuan. Namun, dilihat lagi dari mana asal usul ibunya. Seperti halnya Raden Warihkusuma dengan Raden Warsakusuma. Meski, kakak tertuanya adalah Raden Warihkusuma, namun jika ibunya adalah seorang biasa tetap saja yang akan menjadi raja adalah Raden Warsakusuma karena ibunya adalah seorang permaisuri yang sudah pasti derajatnya lebih tinggi. Setelah Raden Warsakusuma tewas dan Raden Warihkusuma telah pergi dari Negeri Tuban. Endang Wrestilah yang menggantikan tahta kerajaan untuk sementara waktu, karena dialah permaisuri dari mendiang Raden Warsakusuma. Meskipun Raden Warsakusuma memiliki keturunan anak lakilaki, namun belum saatnya Raden Udakawimba menggantikan tahta ayahandanya. Sembari menunggu kembalinya Raden Warihkusuma ke Negeri Tuban, pihak kerajaan tetap mencari keberadaan Raden Warihkusum. Namun jika tidak berhasil menemukan dan membawa Raden Warihkusuma ke Negeri

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Tuban, kelak jika Raden Udakawimba sudah dewasa dan siap untuk memimpin Negeri Tuban, maka Raden Udakawimbalah yang akan menggantikan tahta ayahandanya, Raden Warsakusuma. Ternyata, sebelum Raden Udakawimba menggantikan tahta ayahandanya, Raden Warihkusuma sudah kembali ke Negeri Tuban dan secara langsung dialah yang menguasai negeri tersebut dengan kekuasaannya, hal tersebut membuat Raden Udakawimba tertekan dengan segala sikap yang diberikan oleh pamannya. Sehingga Raden Udakawimba berniat untuk melarikan diri dari Negeri Tuban karena tidak kuat dengan sikap pamannya. Kemudian di kerajaan Banyubiru, pewaris tahta kerajaan adalah anak perempuan, yaitu Retna Wayi. Dialah yang akan menggantikan tahta ayahandanya, Prabu Hertambang. Berbekal ilmu perang dan ilmu tentang kerajaan, Retna Wayi diharapkan dapat mempimpin kerajaan Banyubiru dengan bijaksana, ditemani oleh suaminya yaitu Raden Warihkusuma. Pada akhir cerita Retna Wayi yang berhasil mengkap dan mengintrogasi tujuan dari pemberontakan yang diakukan oleh Raden Udakawimba terhadap Raden Warihkusuma, suaminya. Dengan kekuasaannya di Banyubiru, akhirnya Retna Wayi memaafkan dan membebaskan segala kesalahan dari Raden Udakawimba, karena setelah diselidiki ternyata istri dari Raden Udakawimba adalah anaknya yang dulu dihanyutkan oleh ayahandanya sewaktu Retna Wayi dikatakan telah tiada.

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 3.3 Kekuasaan Kekuasaan menurut Galtung cenderung menaruh kepercayaan pada kekuatan. Sebelum adanya sebuah relasi, kekuasaan itu belum terjadi. Kekuasaan di sini sama halnya dengan dominasi. Dimensi-dimensi kekuasaan yang terbagi menjadi tiga perbedaan. Tiga dimensi kekuasaan yang dijabarkan oleh Galtung antara lain: (1) “Kekuasaan atas diri sendiri” dan “kekuasaan atas orang lain”. Kekuasaan atas diri sendiri, oleh Galtung disebut sebagai otonomi. Otonomi adalah sebuah kekuasaan tandingan dari kekuasaan atas orang lain; (2) Tiga tipe kekuasaan atas orang lain: ideologis, remuneratif dan punitif. Kekuasaan ideologis adalah kekuasaan normatif. Kekuasaan remuneratif adalah sebuah kekuasaan yang mempunyai barang untuk dapat ditawarkan. Kekuasaan punitif adalah sebuah kekuasaan karena mempunyai kejahatan yang dapat menghancurkan; dan (3) tiga sumber kekuasaan: (a) kekuasaan yang diperoleh karena pembawaan sejak lahir dan berhubungan dengan “ada”, (b) kekuasaan yang diperoleh karena “memiliki” sumber kemakmuran, (c) kekuasaan yang diperoleh karena “kedudukan”-nya dalam suatu struktur. 3.3.1 Kekuasaan atas Diri Sendiri dan Kekuasaan atas Orang Lain Kekuasaan atas diri sendiri dan kekuasaan atas orang lain dalam serat ini dialami oleh setiap tokoh utamanya, yaitu Raden Warsakusuma, Raden Warihkusuma, dan Raden Udakawimba. Ketiga tokoh utama dalam serat ini

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 selalu mengalami masa di mana mereka menguasai diri mereka sendiri dan bahkan mereka menguasi orang lain baik itu untuk tokoh utama yang lain atau untuk tokoh tambahan yang ada dalam cerita tersebut. Raden Warsakusuma terlihat menguasai diri sendiri ketika ia menggantikan tahta ayahandanya Prabu Sindupati yang telah tiada. Dengan tahta tersebut dia berkuasa atas segalanya yang ada di Negeri Tuban, termasuk untuk menguasai sikap egoisnya terhadap rasa cintanya kepada calon istri dari kakaknya sendiri. Awalnya, Raden Warsakusuma masih dapat bersikap bijaksana namun ketika ia bertemu dengan Endang Wresti untuk pertama kalinya sikap egoisnya memuncak, ia merasa jatuh hati kepada Endang Wresti. Raden Warsakusuma melakukan segala cara agar bisa mendapatkan Endang Wresti seutuhnya, termasuk melakukan pemberontakan terhadap kakaknya sendiri ketika mereka akan melangsungkan upacara pernikahan di Gunung Mudal. Raden Warsakusuma dalam melakukan kekuasaan atas orang lain terlihat jelas ketika ia sudah menangkap kakaknya, yaitu Raden Warihkusuma. Raden Warihkusuma ditangkap dan dipenjarakan karena sempat terdengar kabar bahwa ia akan membalas perbuatan dari adiknya tersebut. Bukan hanya itu, Raden Warsakusuma pun menyuruh patihnya untuk segera membunuh Raden Warihkusuma. Seluruh keluarga Endang Wresti juga ikut ditangkap dan di penjarakan. Kecuali Endang Wresti sendiri, dia dibawa ke istan disambut dengan baik oleh Raden Warsakusuma. Namun, sayang Endang Wresti selalu memberikan tanggapan yang kurang baik

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 terhadap sikap Raden Warsakusuma. Sampai suatu ketika Raden Warsakusuma mati tertusuk patram yang ada di genggaman Endang Wresti. Raden Warihkusuma, adalah salah satu tokoh utama yang ada dalam novel ini. Kekuasaan atas diri sendiri yang terlihat dari Raden Warihkusuma adalah ketika ia tetap tenang dan pasrah dengan segala keadaan yang akan terjadi terhadap dirinya. Diberontak oleh adiknya sediri dan ia sama sekali tidak melawan karena Raden Warihkusuma malu jika harus bermusuhan dengan saudaranya sendiri hanya karena harus berebut istri. Ketika Raden Warihkusuma dipenjara dan akan dibunuh oleh suruhan adiknya karena dituduh akan melakukan pemberontakan setalah penyerangan dari Raden Warsakusuma, sontak hatinya merasa sangat sedih. Raden Warihkusuma tetap mengusai dirinya sendiri dengan mengharapkan sebuah kepastian akan kesalahan yang ia perbuat dan apakah ia pantas mendapatkan hukuman mati, walaupun akhirnya ia tidak jadi dibunuh dan memilih pergi menjauh dari Negeri Tuban. Sikap menguasai orang lain yang dimiliki Raden Warihkusuma dalam serat ini, adalah ketika ia bertemu dengan Prabu Hertambang penguasa Negeri Banyubiru. Di tempat itu Raden Warihkusuma sangat dihormati karena kecerdasannya. Hertambang dengan Raden Warihkusuma kebijaksanaannya dan mengambil hati kemahirannya Prabu dalam membicarkan masalah pemerintahan dan negara. Hingga akhirnya Prabu Hertambang menjodohkan Raden Warihkusuma dengan putri sematawayangnya yang bernama Rara Wayi. Menikah dengan Rara Wayi

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 adalah salah satu cari bagi Raden Warihkusuma untuk membalaskan dendamnya terhadap adiknya dulu. Menikah dengan anak putri raja akan mengangkat derajatnya, meski pada akhirnya dia harus diusir dari Negeri Banyubiru karena seusai melahirkan Rara Wayi harus meninggal dunia. Mau tidak mau Raden Warihkusuma harus meninggalkan Banyubiru, meski ternyata Rara Wayi hanya mati suri. Namun, semua itu sudah terlambat. Raden Warihkusuma sudah pergi dari Banyubiru dan kembali ke Tuban. Anak yang dilahirkan Rara Wayi sudah dihanyutkan ke suangat oleh perintah Prabu Hertamabang , sedangkan Rara Wayi sudah hidup kembali. Sikap menguasai orang lain yang dimiliki oleh Raden Warihkusuma yang lain adalah ketika ia kembali ke Negeri Tuban dan mulai menguasai pemerintahan di sana. Upacara penghormatan yang besar dilaksanakan, bergelarkan Sang Prabu Warihkusuma. Rasa sakit hati yang masih tertanam dalam hatinya ia limpahkan kepada keturunan dari adiknya yang bernama Raden Udakawimba. Selama Raden Udakawimba masih berada di Negeri Tuban, selama itulah Prabu Warihkusuma akan bersikap benci terhadap keponakannya itu. Tokoh ketiga yang melakukan kekuasaan atas dirinya dan orang lain adalah Raden Udakawimba. Sikapnya yang terlihat dalam menguasai dirinya sendiri adalah ketika ia melarikan diri dari Negeri Tuban dan sampailah ia ke Desa Sumbereja. Di sana Raden Udakawimba bertemu dengan Kyai Ageng Wulusan, ia belajar tentang agama. Sejak ia masih kecil, Raden Udakawimba sudah diajarkan dalam ilmu ketatanegaraan, ilmu perang dan ia pun sudah

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 mahir dalam membuat kerajianan. Pemikirannya tentang mengembangkan desa Sumbereja sangat tinggi. Raden Udakawimbapun sering bertapa kegunung-gunung atau jurang-jurang untuk mendapatkan kekuatan ilm yang lebih dalam dari dirinya. Raden Udakawimba dalam menguasai orang lain terlihat ketika ia dapat mengambil simpati Kyai Ageng Wulusan dengan kecerdasan yang dimilikinya. Dengan kecerdasannya itu Kyai Ageng Wulusan berniat untuk menjodohkan anaknya, yaitu Rara Sendang dengan Raden Udakawimba. Hidup sejahtera bersama Rara Sendang dan membangun desa Sumbereja menjadi lebih baik, tidak membuat hidupnya jadi merasa tenang. Masih ada hal yang perlu ia selesaikan termasuk membalas dendam masa lalu dengan pamannya Raden Warihkusuma. Sikap pamannya yang dulu sangat kasar terhadapnya membuatnya harus memberi pelajar yang sama dengan apa yang sudah dia dapatkan sewaktu tinggal di Tuban. 3.3.2 Ideologis, Remuneraif, dan Punitif Kekuasaan ideologis atau kekuasaan normatif yang terdapat dalam serat ini adalah ketika Raden Warsakusuma mendapat sebuah gagasan dari patihnya untuk membunuh Raden Warihkusuma dan dia pun menyetujui gagasan tersebut, namun Raden Warsakusuma tidak mengetahui bahwa tindakan dari patihnya itu adalah untuk menyelamalamatkan Raden Warihkusuma dari kekejaman Raden Warsakusuma.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Kekuasaan remuneratif yang terdapat dalam serat ini adalah ketika Raden Udakawimba menemukan harta yang berlimpah di Tirtakandas. Dengan harta yang ditemukan tersebut Raden Udakawimba dapat membuat desa Sumbereja menjadi lebih baik dari kerajaan lainnya. Dengan penemuannya tersebut, Raden Udakawimba akan menjadi penguasa yang makmur dan dengan mudah dapat mendominasi pamannya, Raden Warihkusuma. Kekuasaan punitif yang terdapat dalam serat ini adalah ketika setelah Raden Warishkusuma kembali ke Negeri Tuban dan bertemu dengan Raden Udakawimba. Raden Warihkusuma sudah tidak senang dengan keberadaan keponakannya tersebut. Raden Warihkusuma ingin menghancurkan kehidupan keponakannya, sampai Raden Udakawimba melarikan diri dari Negeri Tuban. Kekuasaan punitif yang terlihat lainnya adalah ketika Raden Udakawimba membangun kerajaan di desa Sumbereja. Mempersiapkan bala tentara untuk menyerang Raden Warihkusuma di Negeri Tuban dengan tujuan pembalasana dendam akan masalalunya. Pemberontakan tersebut membuat Raden Warihkusuma takut dan melarikan dari Negeri Tuban. Raden Warsakusuma menyembunyikan diri dan menjadi biku, dia bertapa digununggunung, hingga akhirnya bertemu lagi dengan Rara Wayi. Yang terakhir adalah ketika Raden Warihkusuma bersembunyi dan bertapa di Gunung Rancakarni. Dia bertemu dengan istrinya, Rara Wayi yang hidup kembali dan kini sudah menjadi raja ratu di Negeri Banyubiru. Raden

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 Warihkusuma menceritakan yang sudah ia alami, akhirnya Rara Wayi bersedia membantu untuk menangkap Raden Udakawimba. Akhirnya Raden Udakawimba berhasil tertangkap dengan jebakan yang sudah dibuat oleh Rara Wayi bersama bala pasukannya dari Banyubiru. 3.3.3 Sumber Kekuasaan Sumber kekuasaan yang paling dominan di dalam serat Rangsang Tuban adalah hegemoni darah biru atau keturunan bangsawan. Hegemoni darah biru ini terlihat jelas ketika ketiga tokoh utama, yaitu Warsakusuma, Warihkusuma, dan Udakawimba merupakan keturunan darah biru atau bangsawan sejak mereka dilahirkan. Segala bentuk kekuasaan yang terdapat dalam cerita ini selalu dimenangkan oleh tokoh yang memiliki derajat yang lebih tinggi. Meski sama-sama keturunan darah biru atau bangsawan, namun jika dilahirkan dari seorang istri biasa tetap saja derajatnya masih kalah dengan keturunan yang dilahirkan oleh seorang permaisuri. Sumber yang liannya adalah ketika tokoh utama memliki “ada”nya sebuah kesempatan untuk saling menghancurkan satu sama lain karena memiliki kekuasaan secara remuneratif di mana mereka memiliki harta yang melebihi dari tokoh yang didominasi. Selain memiliki kekuasaan secara remuneratif, tokoh tersebut juga “memiliki” sebuah “kedudukan” yang lebih tinggi derajatnya membuat mereka berani untuk menghancurkan meski mereka masih ada hubungan darah atau masih saudara. Tidak lagi memandang dengan rasa kasihan terhadap orang lain, namun yang terpenting

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 adalah dengan mendominasi pihak yang lebih lemah, yang diawali oleh sebuah hegemoni menjadikan sumber kekuasaan menjadi lebih lengkap. Dominasi-dominasi kekuasaan yang dilakukan oleh setiap tokoh utama terhadap tokoh utama yang lain atau bahkan untuk mendominasi tokoh yang lain. Dominasi yang diawali dari sebuah hegemoni, di mana yang menghegemoni menerima saja apa yang sudah dicetuskan oleh pihak yang lebih berkuasa. Akhirnya segala pemberontakan yang terjadi disetiap daerah baik itu di Tuban dan Sumbereja, kemudian dapat diselesaikan oleh bantuan dari Rara Wayi, sebagai Raja Ratu di Negeri Banyubiru. Rangkuman Tabel 1 Berdasarkan paparan penelitian dari dominasi, hegemoni, dan kekuasaan pada Bab III, dapat disimpulkan dalam tabel berikut. Dominasi dan Hegemoni yang terdapat dalam tokoh utama: No. 1. Tokoh Warsakusuma (Anak kedua dari Prabu Sindupati dengan Permaisuri).   Dominasi Warsakusuma mendominasi Warihkusuma. Warsakusuma mendominasi Endang Wresti (calon istri dari Warihkusuma).   Hegemoni Hegemoni dalam kebijakan negara: Warsakusuma menggantikan ayahnya menjadi raja di Negeri Tuban karena derajatnya lebih tinggi meski dia adalah adik dari Warihkusuma. Hegemoni dalam kebijakan negara: Endang Wresti yang terhegemoni karena sudah mengandung anak dari Warsakusuma.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66  2. Warihkusuma (Anak pertama dari Prabu Sindupati dengan istri biasa).  Warihkusuma mendominasi Udakawimba. 3. Udakawimba (Anak hasil perkosaan dari Warihkusuma terhadap Endang Wresti).  Udakawiba mendominasi Warihkusuma. Hegemoni dalam pendidikan: Setiap keturunan bangsawan harus mendapat pendidikan dalam hal kerajaan dan ilmu perang.  Hegemoni dalam tata cara kenegaraan: Keturunan seorang raja akan mewarisi tahta kerajaan, meski kakak tertuanya adalah Warihkusuma namun tetap saja yang menjadi raja di Negeri Tuban adalah Warsakusuma, karena ibunya merupakan seorang permaisuri yang sudah pasti derajatnya lebih tinggi.  Hegemoni dalam pendidikan: Setiap keturunan bangsawan harus mendapat pendidikan dalam hal kerajaan dan ilmu perang.  Hegemoni dalam tahta cara kerajaan: Kembalinya Warihkusuma ke Negeri Tuban dan secara langsung dia menjadi penguasa di Negeri Tuban, karena Udakawiba belum cukup dewasa untuk memimpin Negeri Tuban.  Hegemoni dalam kebijakan negara: Udakawimba yang terhegemoni oleh Rara Wayi, segala kesalahannya diampuni karena istrinya yang ternyata adalah anak dari Dewi Wayi dan

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 4. Retna Wayi (Anak Prabu Hertambang penguasa Banyubiru. Penerus dari tahta ayahandanya dan istri dari Warihkusuma).  Retna Wayi membantu Warihkusuma untuk mendominasi Udakawiba. Warihkusuma.  Hegemoni dalam pendidikan: Setiap keturunan bangsawan harus mendapat pendidikan dalam hal kerajaan dan ilmu perang.  Hegemoni dalam pendidikan: Retna Wayi, harus mendapat ilmu tentang perang dan kerajaan, karena kelak dialah yang akan menggantikan tahta ayahandanya di Banyubiru, meski dia anak perempuan.  Hegemoni dalam tata cara kenegaraan: Retna Wayi adalah penerus tahta kerajaan di banyubiru, meskipun sebagai anak perempuan dia sangat diaharapkan dapat menggantikan ayahandanya. Tabel 2 Sumber Kekuasaan: No. Tokoh 1. Warsakusuma Darah Biru atau Bangsawan Anak kedua dari Prabu Sindupati dengan Permaisuri. Remuneratif Ada, Mimiliki, dan Kedudukan Pewaris tahta Adanya kesempatan Negeri Tuban untuk mendominasi menggantikan Warihkusuma dan Prabu Sindupati. Endang Wresti. Adanya kesempatan memliki tahta Negeri Tuban, sehingga dengan kekuasaan tersebut dengan mudah dia mendominasi tokoh

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 2. Warihkusuma 3. Udakawimba Anak pertama dari Warihkusuma Prabu Sindupati suami dari Dewi dengan istri biasa. Wayi, maka secara tidak langsung derajatnya naik, karena Dewi Wayi adalah penerus tahta Negeri Banyubiru. Anak hasil perkosaan Warsakusuma terhadap Endang Wresti. Mengembangkan desa Sumbereja dengan harta yang ditemukan di Tirtakandas. Membuat desa Sumbereja lebih unggul dari kerajaan yang lainnya. yang lebih lemah. Adanya kesempatan untuk kembali ke Negeri Tuban, di sana Warihkusuma mendominasi Udakawimba. Meski melarikan diri dari serangan Udakawimba, Warihkusuma mendapat bantuan dari istrinya, Dewi Wayi. Dewi Wayilah yang berhasil menangkap Udakawimba dalam pertempuran. Adanya kesempatan besar dalam menyiapkan balatentara untuk mendominasi atau menyerang Warihkusuma untuk membalaskan dendamnyaa.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Penelian sastra ini berjudul Dominasi, Hegemoni, dan Kekuasaan dalam Serat Rangsang Tuban Karya Ki Padmasusastra. Hal pertama yang dibahas dalam penelitian ini adalah struktur cerita yang mencakup tokoh, penokohan, serta latar yang terdiri dari latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Kemudian hal berikutnya membahas tentang dominasi dan hegemoni prespektif Antonio Gramsci, serta kekuasaan menurut Johan Galtung. Struktur cerita dalam penelitian ini berfokus pada unsur intrinsik serat Rangsang Tuban ini mengarah pada tokoh dan penokohan serta latar yang terdiri dari latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Tokoh-tokoh yang terdapat dalam serat Rangsang Tuban antara lain, Prabu Sindupati, Prabu Warihkusuma, Prabu Warsakusuma, Kyai Umbul Mudal, Endang Wresti, Raden Udakawimba, Ki Patih Toyamarta, Ki Tumenggung Jalasengara, Prabu Hertambang, Dewi Wayi, Kyai Buyut Wulusan atau Kyai Ageng Wulusan, Nyai Buyut Wulusan, Kyai Penghulu, Arya Toyatuli, Raden Lodaka, dan Rara Sendang. Sedangkan latar tempat dalam serat Rangsang Tuban antara lain, Negeri Tuban, Gunung Mudal, Banyubiru, Desa Sumbereja, Tirtakandas dan Gunung Rancakharni. Latar waktu dalam serat ini tidak dijelaskan secara pasti, namun jika dilihat dari awal penulisan serat ini menceritakan tentang kejadian di

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 tanah Jawa Mataram, sekitar tahun 1600-an, pada era Kerajaan Tuban. Latar sosial dalam serat ini adalah masyarakat Jawa, pada masa Mataram. Setelah mendeskripsikan tentang struktur ceritanya, pada bab III penulis mendeskripsikan tentang dominasi dan hegemoni prespektif Antonio Gramsci, serta kekuasaan menurut Johan Galtung yang terdapat dalam serat Rangsang Tuban. Dominasi dan hegemoni yang tergambar dalam serat ini begitu jelas, yaitu di mana kedudukan tahta yang lebih tinggi itulah yang akan berkuasa. Barulah terjadilah dominasi-dominasi antar tokoh utama yang satu dengan tokoh utama yang lainnya bahkan mendominasi tokoh yang lain, dan akhirnya terjadi kesepakatan dengan melakukan sebuah hegemoni yang membuat semua tokoh menyetuju kesepakatan tersebut. Dominasi adalah bagian dari hegemoni. Sebuah kepemimpinan itulah yang disebut sebagai hegemoni. Hegemoni yang terdapat dalam serat ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu (1) hegemoni dalam kebijakan negara atau kerajaan, (2) hegemoni dalam pendidikan, dan (3) hegemoni dalam tata cara kenegaraan atau upacara kenegaraan. Pertama, hegemoni dalam kebijakan negara atau kerajaan adalah ketika seseorang anak dari permaisuri lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan anak dari istri biasa, meski kedua ayah mereka adalah satu orang yang sama. Raden Warsakusuma lebih tinggi derajatnya dari pada Raden Warihkusuma. Ketika Endang Wresti terpaksa menjadi orang yang terhegemoni oleh Raden Warsakusuma yang telah menghamili dirinya. Serta ketika Rara Wayi menggunakan kekuasaannya untuk menghegemoni Raden

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Udakawimba dan memafkan segala kesalahan yang telah dilakukannya terhadap Raden Warihkusuma. Kedua, hegemoni dalam pendidikan bahwa setiap anak keturunan bangsawan harus mendapatkan ilmu tentang ketatanegaraan dan ilmu tentang perang. Pendidikan itu diharuskan untuk keturunan laki-laki ataupun perempuan yang ada dalam kerajaan tersebut. Ketiga, hegemoni dalam tata cara kenegaraan atau upacara kenegaraan. Dalam serat ini terdapat beberapa tata cara kenegaraan, yaitu dalam mewarisi tahta kerajaan haruslah keturunan dari seorang raja. Kemudian jika pewaris kerajaan adalah seorang anak perempuan itu tidaklah masalah, yang terpenting adalah keturunan raja. Terdapat pula dimensi-dimensi kekuasaan yang terbagi atas tiga perbedaan: (1) Kekuasaan atas diri sendiri dan orang lain, hal tersebut dialami oleh ketiga tokoh utama, yaitu Raden Warsakusuma, Raden Warihkusuma, dan Raden Udakawimba. (2) Kekuasaan ideologis, remuneratif dan punitif. Kekuasaan ideologis yang tergambar dalam serat ini ketika Raden Warsakusuma menyetujui gagasan dari patihnya untuk membunuh Raden Warihkusuma. Kekuasaan remuneratif yang tergambar dalam novel ini adalah ketika Raden Udakawimba menemukan harta yang berlimpah di Tirtakandas. Kekuasan punitive yang tergambar dalam novel ini adalah ketika Raden Udakawimba membangun kembali desa Sumbereja menjadi lebih kokoh dari kerajaan yang lainnya. (3) Sumber kekuasaan yang paling dominan dalam serat ini adalah darah biru atau kebangsawanan, kemudian barulah “ada”

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 kesmpatan untuk saling menghancurkan satu sama lain, serta “memiliki” sebuah “kedudukan” yang derajatnya lebih tinggi. 4.2 Saran Peneliti menganalisis serat Rangsang Tuban karya Ki Padmasusastra ini menggunakan teori dominasi dan hegemoni prespektif Antonio Gramsci, serta kekuasaan menurut Johan Galtung. Dalam menganalisis dominasi peneliti mendeskripsikan dominasi-dominasi yang tergambar dalam serat tersebut. Dalam menganalisis hegemoni yang terdapat dalam serat, peneliti menemukan tiga bagian, yaitu hegemoni dalam kebijakan negara, hegemoni dalam pendidikan, dan hegemoni dalam tata cara kenegaraan. Selanjutnya dalam menganalisis tentang kekuasaan yang terdapat dalam serat, penulis mengemukakan bahwa ada tiga dimensi kekuasaan menurut Johan Galtung, yaitu kekuasaan atas diri sendiri dan orang lain, kekuasaan ideologis, remuneratif, dan punitif, serta sumber kekuasaan. Peneliti menyarankan bahwa, jika ingin melanjutkan penelitian ini, dapat menganalisis dengan lebih fokus ke dominasi dan hegemoninya saja atau bisa menganalisisnya dengan tindak kekerasan baik itu kekerasan struktural maupun kekerasan personal menurut Johan Galtung.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Faruk. 2010. Pengantar Sosiologi Sastra-dari Strukturalisme Genetik sampai Post-modernisme. Yogyakarta: Puataka Belajar. Homba,Carlos Venansius. 2016. “Bentuk-Bentuk Counter-Hegeoni Dalam Novel Kuil di Dasar Laut Karya Seno Joko Suyono: Prespektif Antonio Gramsci”. Skripsi pada Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Isrofi, Nur. 2015. “Analisis Struktural Novel Rangsang Tuban karya Padamsusastra dan Pembelajarannya di SMA”. Jurnal, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Universitas Muhammadiyah, Purworejo. Kurniawan, Riyan Tri. 2014. “Kajian Sosiologi Novel Rangsang Tuban Karya Padmasusastra”. Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Unversitas Muhammadiyah, Purworejo. Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Padmasusastra, Ki. 1985. Rangsang Tuban. Alih Aksara oleh Mulyono Sastronaryatmo dan Alih Bahasa oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto. Jakarta: Balai Pustaka. Sehandi, Yohanes. 2016. Mengenal 25 Teori Sastra. Yogyakarta: Ombak. Semi, M.Atar. 1990. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angaksa. Supardi, Imam. 1961. Ki Padmosusastro. Surabaja: Panjebar Semangat. Taum, Yoseph Yapi. 2015. Sastra dan Politik. Representasi Tragedi 1965 dalam Negara Orde Baru. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Taum, Yoseph Yapi. 2017. “Kritik Sastra Diskursif: Sebuah Reposisi”. Kumpulan Makalah Nasional Kritik Sastra. Kritik Sastra yang Memotivai dan Menginspirasi. Utami, Marcellina Ungti Putri. 2017. “Kekerasan Struktural dan Personal dalam Novel Candik Ala 1965 Karya Tinuk R. Yampolsky”. Skripsi pada Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 73

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Wiharjo, Fransisaka Rini. 2018. “Bentuk-Bentuk Hegemoni dan CounterHegemoni dalam Novel Entrok Karya Okky Mandasari Prespektif Antonio Gramasci”. Skripsi pada Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Windu, I. Marsana. 1992. Kekuasaan dan Kekerasan Menurut Johan Galtung. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Sumber Daring: Ataghaitsa. 2013. “Hegemoni dan Kekuasaan”. Strable URL: www.google.co.id/amp/s/ataghaitsa.wordpress.com/2013/04/24/hegemonidan-kekuasaan/amp. (Diunduh: 30/05/2018, 09:09. kbbi.web.id/dminasi. https://kbbi.web.id. Diunduh: 12/12/2018, 03:19. “Ki Padmosustro Pujopustoko,” Strable URL: https://www.geni.com/people/KiPadmo-susastro-Pujopustoko-M-Ng/6000000000551445549. NN. 2012. “Ki Padmosusastro dan Karya-karyanya,” Strable https://kalong.blogspot.co.id/2012/05/ki-padmosusastro-dan-karyakaryanya.html?m=1. Diunduh: 21/03/2018, 14:17. URL: “Rangsang Tuban,” Strable URL: https://ps://jv.wikipedia.org/wiki/Rangsang_Tuban. Diunduh: 21/03.2018, 18:38. Sulcani, Ana, dkk. 2011. “Konsep Hegemoni”. Strable URL: www.google.co.id/amp/s/sosiologibudaya.wordpress.com/2011/04/13/hegem oni/amp. Diunduh: 30.05/2018, 09:42 2016. KBBI V. Strable URL: https://kbbi.kemdikbud.go.id. Diunduh: 21/03/2018, 13:05. 74

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran Sinopsis Serat Rangsang Tuban Karya Ki Padmasusastra Novel Rangsang Tuban Karya Ki Padmasusastra mengisahkan tentang dua orang pangeran dari Negeri Tuban yang bernama Pangeran Warihkusuma dan Pangeran Warsakusuma. Konflik awal dimulai ketika Pangeran Warsakusuma yang iri terhadap kakaknya. Dia pun menggagalkan pernikahan kakaknya dengan Endang Wresti. Pangeran Warsakusuma melakukan pembantaian, menangkap dan memenjarakan kakaknya serta berniat akan membunuh kakaknya. Pangeran Warihkusuma yang tidak jadi dibunuh, akhirnya pergi meninggalkan Negeri Tuban dan sampalah ia ke Negeri Banyubiru. Raja yang bertatahta di negeri itu adalah Prabu Hertambang. Pangeran Warihkusuma mengabdi kepada Prabu Hertambang dan menikah dengan putrinya yang bernama Rara Wayi. Sebelum itu, di Negeri Tuban terjadilah pertumpahan darah, kejadian itu tanpa unsur kesengajaan. Sri Baginda Warsakusuma yang tidak sabar ingin memiliki Endang Wresti akhirnya melakukan perbuatan yang tidak sopan. Akhirnya tanpa sengaja Pangeran Warsakusuma terbunuh oleh Endang Wresti yang saat itu masih menggenggam patram di tangannya. Kejadian tersebut membuahkan buah daging seorang anak laki-laki dan anak itu diberi nama Raden Udakawimba oleh Ki Patih. Ki Patih berharap kelak jika anak itu 75

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 sudah tumbuh dewasa dan Pangeran Warihkusuma belum juga kembali ke Negeri Tuban, Raden Udakawimbalah yang nantinya akan menggantikan tahta ayahnya (Pangeran Warsakusuma). Setahun setelah Pangeran Warihkusuma menikah dengan Rara Wayi, akhirnya mereka dikaruniai seorang anak permpuan. Namun sayang nyawa Rara Wayi tidak dapat tertolong. Pangeran Warihkusuma akhirnya diusir dari Negeri Banyubiru, karena dia dianggap sebagai penyebab dari kematian Rara Wayi. Sedangkan anaknya dilabuh di sungai dan ditemukan oleh Kyai Buyut Wulusan. Anak itu diberi nama Rara Sendang oleh Kyai Buyut Wulusan karena anak itu ditemukannya di air. Pangeran Warihkusuma yang telah diusir oleh Prabu Hertambang akhirnya kembali ke Negeri Tuban dan menjadi sesembahan rakyat (Pangeran Adipati) Negeri Tuban. Dalam hati Sang Pangeran tetap tidak senang dengan adanya Raden Udakawimba. Ia sangat benci dan sering mengeluarkan ucapan yang menyakiti hati Raden Udakawimba serta mengatakan kalau Raden Udakawimba adalah keturunan raja angkara. Raden Udakawimba sangat bngung dengan sikap ayahandanya itu dan pada suatu malam Raden Udakawimba pergi meninggalkan Negeri Tuban. Ia pergi dan sampailah ia ke Desa Sumbereja, daerah tempat tinggal Kyai Buyut Wulusan. Di Desa Sumbereja, Raden Udakawimba tinggal bersama Kyai Penghulu. Ia belajar mengaji dan setelah itu menggembalakan tanah. Setelah selesai menghabiskan ajarannya, Raden Udakawimba menyepi ke gununggunung dan jurang-jurang. Di sana Raden Udakawimba mendapat gagasan

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 dalam hatinya untuk membangun sebuah istana dengan benteng yang gagah. Raden Udakawimba sudah merencanakan pemberontakan terhadap Prabu Warihkusuma. Setelah menikah dengan Rara Sendang, dia mempersiapkan bala tentara dan setiap hari berlatih. Berita bahwa di Desa Sumbereja ada barisan perusuh sudah sampai pada telinga Prabu Warihkusuma. Ki Patih Toyamarta mengetahui bahwa pemimpin barisan itu adalah Raden Udakawimba. Saat pemberontakan itu Prabu Warihkusuma melarikan diri dan tidak mau tahu dengan keadaan d Negeri Tuban, ia pun memutuskan untuk bertapa dan mejadi biku (nama lain dari biksu). Diceritakan bahwa Rara Wayi hidup kembali dari kematiannya. Kini dia menggantikan ayahnya Prabu Hertambang. Suatu hari pergilah Rara Wayi ke sebuah gua dan bertemulah ia dengan Prabu Warihkusuma (suaminya). Rara Wayilah yang membantu Prabu Warihkusma menangkap Raden Udakawimba, karena memang Rara Wayi sangat pintar dalam hal peperangan. Setelah Raden Udakawimba ditangkap dan ditanya-tanyai, ternyata dia sudah berkeluarga. Dipanggilan keluarganya ke hadapan Rara Wayi. Ternyata istri dari Raden Udakawimba sangat mirip dengan Rara Wayi. Kyai Buyut Wulusan ikut ditanyai tentang asal-usul anaknya tersebut, ternyata benar anak itu adalah anak pungut yang ditemukan dalam keranda yang hanyut di sungai. Setelah dselidiki, ternyata benar Rara Sendang adalah anak dari Rara Wayi dengan Prabu Warihkumua.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Akhirnya dosa Raden Udakawimba diampuni dan dia diakui sebagai menantu dari Rara Sendang. Setelah kurang lebih dari setahun tinggal di Banyubiru, Raden Udakawimba dinobatkan menjadi raja di Negeri Tuban atas wewenang Sang Ratu. Sedangkan Prabu Warihkusuma tidak mau lagi kemabali ke Tuban, dia tetap menjad pendamping istrinya Rara Wayi. Sedangkan Endang Wresti bertugas mendampingi putranya Udakawimba di Tuban dan tetap diakui sebaga saudara sepupu. TAMAT Raden

(95)

Dokumen baru

Download (94 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Kajian Stilistika Karya-Karya Sastra Ki Padmasusastra Perspektif Kritik Holistik Prasetyo
0
1
1
Struktur drama ``Maling`` karya Puntung C.M. Pudjadi dan implementasinya dalam pembelajaran sastra di SMA - USD Repository
0
0
84
Nilai feminis tokoh dalam novel trilogi Jendela-Jendela, Pintu dan Atap karya Fira Basuki - USD Repository
0
0
135
Nilai marxisme dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer - USD Repository
0
0
112
Unsur intrinsik cerpen ``Tukang Semir dan Anjingnya`` karya Suheri dan implementasinya dalam pembelajaran sastra di SMA - USD Repository
0
0
117
Sikap batin masyarakat Jawa melalui tokoh Bratasena dalam cerita pewayangan Bale Sigala-gala karya Ki Narya Carita : suatu tinjauan sosiologi sastra - USD Repository
0
0
72
Nilai-nilai budi pekerti dalam kumpulan cerita anak dan remaja ``Pangeran Kodok`` karya Ch. Deveral - USD Repository
0
0
80
Tindak tutur dalam film Alangkah Lucunya (Negeri ini) karya Deddy Mizwar - USD Repository
0
0
144
Tokoh dan plot dalam novel Jejak Kala karya Anindita S. Thayf - USD Repository
0
0
80
Implikatur percakapan antar tokoh dalam novel Projo dan Brojo karya Arswendo Atmowiloto - USD Repository
0
0
121
Pengaruh kerusuhan Mei 1998 dalam novel Putri Cina karya Sindhunata - USD Repository
0
0
136
Citraan dalam puisi Surat Cinta karya W.S. Rendra dan implementasinya dalam pembelajaran di Sekolah Menengah Atas - USD Repository
0
0
89
Gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut dan Atmo karya besar S.W. - USD Repository
0
0
124
Tindak tutur ilokusi dalam novel Kemamang karya Koen Setyawan - USD Repository
0
0
122
Dwifungsi ABRI : legalisasi kekuasaan golongan militer dalam pemerintahan orde baru - USD Repository
0
0
111
Show more