Hubungan antara konformitas dalam media sosial dan persepsi tubuh pada remaja di Sekolah Homogen Perempuan di Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
153
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hubungan antara Konformitas dalam Media Sosial dan Persepsi Tubuh pada Remaja di Sekolah Homogen Perempuan di Yogyakarta Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh: Bayu Indrarini 139114096 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN MOTTO Work hard in silence. Let your success be your noise. -Frank Ocean- One day you will thank yourself for never giving up. -unknown- Nikmati saja setiap “hadiah-Nya” -Penulis- iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Yesus Kristus Juru Selamatku Semesta Keluargaku tercinta Orang-orang yang ku sayang Diriku sendiri iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS DALAM MEDIA SOSIAL DAN PERSEPSI TUBUH PADA REMAJA DI SEKOLAH HOMOGEN PEREMPUAN DI YOGYAKARTA Bayu Indrarini ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara konformitas dalam media sosial dan persepsi tubuh remaja perempuan. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara konformitas dalam media sosial dan persepsi tubuh pada remaja perempuan. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 246 remaja yang berusia 13-21 tahun dan sedang bersekolah di sekolah homogen perempuan di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling sebagai metode pemilihan partisipan. Alat pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah skala konformitas dalam media sosial yang terdiri dari 34 item dengan koefisien reliabilitas 0.932 dan skala persepsi tubuh yang terdiri dari 37 item dengan koefisien reliabilitas 0.852. Uji hipotesis menggunakan analisis non parametrik spearman’s rho dan menghasilkan koefisien korelasi 0.089 dengan nilai signifikansi 0.082. Hasil analisis data menunjukkan bahwa hipotesis awal dari penelitian ini ditolak atau tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konformitas dalam media sosial dan persepsi tubuh pada remaja di sekolah homogen perempuan di Yogyakarta. Faktor usia, sosiokultural, norma sosial, dan keinginan individuasi merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil penelitian. Kata kunci: konformitas, persepsi tubuh, remaja, sekolah homogen vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI THE CORRELATION BETWEEN CONFORMITY IN SOCIAL MEDIA AND BODY IMAGE ON ADOLESCENT AT GIRL’S HOMOGENEOUS SCHOOL IN YOGYAKARTA Bayu Indrarini ABSTRACT This research aims to see the correlation between conformity in social media and body image in adolescent girls. The hypothesis of this study is that there is a negative and significant relation between conformity in social media and body image in adolescent girls. Participants in this research are 246 adolescent girls aged 13-21 years old who are currently studying in homogeneous school in Yogyakarta. This research used convenience sampling technique as a method to select participant. Researcher used conformity in media social scale and body image scale to collect the data. Conformity in social media scale consists of 34 items, it has 0.932 reliability coefficient and body image scale consists of 37 items with 0.852 reliability coefficient. The hypothesis uses Spearman’s rho non parametric test analysis and produces 0.089 correlation coefficient with 0.082 significant value. The data analysis result shows that the initial hypothesis of this study is rejected or there is no significant relationship between conformity in social media and body image in adolescent at girl’s homogeneous school in Yogyakarta. Age, sociocultural, social norms, and individuation desire are factors that can influence the result of research. Keyword: adolescence, body image, conformity, girl’s homogeneous school vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Yesus Kristus yang selalu membimbing penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini. Terima kasih atas penyertaan-Mu dalam setiap usaha penulis sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Bagi penulis, penyusunan skripsi yang berjudul “Hubungan antara Konformitas dalam Media Sosial dan Persepsi Tubuh pada Remaja di Sekolah Homogen Perempuan di Yogyakarta” ini merupakan suatu tantangan. Walaupun tidak mudah, tetapi peneliti berhasil menyelesaikannya. Penulis juga menyadari bahwa proses penyusunan skripsi ini tidak akan berhasil tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Titik Kristiyani M.Psi., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 2. Monica Eviandaru Madyaningrum Ph.D., selaku Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3. P. Henrietta P.D.A.D.S, S.Psi., M.A., selaku Wakil Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 4. Edward Theodorus M.App.Psy., selaku dosen pembimbing skripsi. Terima kasih atas kesediaan dan kesabaran bapak dalam membimbing dan memberikan masukan selama proses pengerjaan skripsi ini. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Dr. Tjipto Susana, M.Si. dan Diana Permata Sari, S.Psi., M.Sc., selaku dosen penguji. Terima kasih atas waktu yang telah ibu luangkan untuk menguji dan memberikan masukan dalam penulisan skripsi ini. 6. Timotius Maria Raditya Hernawa M.Psi., selaku Dosen Pembimbing Akademik dan kepala Pusat Pelayanan Tes dan Konsultasi Psikologi (P2TKP) Sanata Dharma. Terima kasih atas bimbingan dan kepercayaan bapak selama ini. 7. Prof. Dr. Augustinus Supratiknya, selaku Dosen Pembimbing Akademik. Terima kasih atas bimbingan dan bantuan bapak selama beberapa semester terakhir ini. 8. Dr. Yohannes Babtista Cahya Widiyanto M.Si., yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada penulis untuk belajar dan berkembang di P2TKP. Terima kasih atas bimbingan serta ilmu yang diberikan. 9. Segenap dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih atas segala bimbingan dan pembelajaran selama proses perkuliahan. 10. Segenap Karyawan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terkhusus kepada Bu Nanik, Pak Sidiq, Mas Gandung, dan Mas Muji. Terima kasih banyak atas bantuan dalam segala hal yang berkaitan dengan administrasi dan urusan laboratorium. 11. Tidak Lupa untuk Pak Gik, yang selama penulis kuliah sampai beliau pensiun dengan senang hati selalu menawarkan membukakan lift dengan kartu identitas beliau saat penulis kuliah jam 7 pagi di lantai 4. Selain itu, x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk Pak Boni, terima kasih atas bantuan bapak berkaitan dengan sarana dan prasarana selama penulis bertugas di P2TKP. 12. Kepada Ibu Eny dan Bapak Darmanto, kedua orang tua tercinta yang selalu memberikan kepercayaan, dukungan, dan pengertian kepada saya sehingga saya jarang mendengar pertanyaan “Kapan lulus?” dari beliau berdua. Hal tersebut membuat penulis cukup tenang. Terima kasih. 13. Kepada Mas Sinung, yang selalu gengsi untuk menunjukkan perhatian kepada adiknya. I know you love me hehehe. 14. Kepada Mas Angga yang selalu mau direpoti untuk membantu saya mengurus ini itu. Terima kasih atas dukungannya, maaf merepotkan. 15. Kepada rekan kerja serasa keluarga saya di P2TKP yang sangat banyak jika disebutkan satu persatu. Terima kasih atas dinamika selama dua tahun ini, senang mengenal kalian. Untuk adik-adikku yang masih bertugas, semangat ya. 16. Untuk Dea Ruth, Maria Ika, Liliani Luky, Dewi Ayu, Pancaring, Koleta Acintya, Age Tiara, Andreas, Theresia Wira, dan Robertus Doni. Terima kasih atas semangat yang kalian berikan. Sukses selalu. See you on top. 17. Untuk teman-teman satu bimbingan, terima kasih atas keseruannya saat ambil undian untuk bimbingan. Memang ngeri-ngeri sedap kok kalau ambil undian hari ini dan sorenya langsung bimbingan. Semangat nyekrip, jangan kasih kendor. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18. Untuk teman-teman Psikologi 2013, khususnya kelas B terima kasih atas dinamika saat proses perkuliahan. Sukses terus untuk kalian di mana pun kalian berada. 19. Untuk semua pihak yang telah berperan dan membantu dalam pengerjaan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas doa dan dukungannya. xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ....................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii HALAMAN MOTTO ............................................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN............................................................................. iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................... v ABSTRAK ............................................................................................................. vi ABSTRACT ............................................................................................................ vii LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ............................................................. viii KATA PENGANTAR ............................................................................................. ix DAFTAR ISI ........................................................................................................ xiii DAFTAR TABEL............................................................................................... xviii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xix DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xx BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Pengantar ....................................................................................................... 1 B. Latar Belakang ............................................................................................... 4 C. Rumusan Permasalahan ............................................................................... 20 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI D. Ruang Lingkup ............................................................................................ 22 E. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 22 F. Pertanyaan Penelitian................................................................................... 22 G. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 23 1. Bagi Orang tua ........................................................................................ 23 2. Bagi Guru, dan Dinas Pendidikan ........................................................... 23 3. Bagi Ilmuwan dan Praktisi Psikologi ...................................................... 24 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................... 25 A. Pengantar ..................................................................................................... 25 B. Remaja Siswi Sekolah Homogen ................................................................ 26 1. Perspektif Perkembangan........................................................................ 26 2. Perspektif Sosial...................................................................................... 28 3. Remaja Siswi Sekolah Homogen ............................................................ 29 C. Persepsi Tubuh ............................................................................................. 31 1. Definisi Persepsi Tubuh .......................................................................... 31 2. Aspek-Aspek Persepsi Tubuh ................................................................. 32 3. Faktor-faktor Persepsi Tubuh .................................................................. 36 4. Proses dan Dampak ................................................................................. 39 D. Persepsi Tubuh Remaja Siswi Sekolah Homogen ....................................... 42 E. Konformitas ................................................................................................. 44 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Definisi Konformitas .............................................................................. 45 2. Aspek-aspek Konformitas ....................................................................... 46 3. Faktor-faktor Konformitas ...................................................................... 50 4. Proses dan Dampak ................................................................................. 53 F. Konformitas Remaja Siswi Sekolah Homogen ........................................... 55 G. Hubungan Antara Konformitas dan Persepsi Tubuh Remaja Siswi Sekolah Homogen ........................................................................................................... 56 H. Kerangka Konseptual................................................................................... 58 I. Hipotesis ...................................................................................................... 61 BAB III METODOLOGI PENELITIAN .............................................................. 62 A. Pengantar ..................................................................................................... 62 B. Rancangan Penelitian................................................................................... 62 C. Partisipan ..................................................................................................... 63 1. Populasi ................................................................................................... 63 2. Sampel..................................................................................................... 64 D. Identifikasi dan Definisi Variabel Penelitian ............................................... 64 1. Identifikasi Variabel ................................................................................ 64 2. Definisi Operasional ............................................................................... 65 E. Prosedur Pelaksanaan .................................................................................. 67 F. Pengumpulan Data ....................................................................................... 69 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Metode Pengumpulan Data ..................................................................... 69 2. Alat Pengumpulan Data .......................................................................... 69 G. Validitas dan Reliabilitas ............................................................................. 78 1. Validitas Skala......................................................................................... 78 2. Reliabilitas Skala .................................................................................... 79 3. Daya Diskriminasi Item .......................................................................... 81 H. Metode Dan Teknik Analisis Data ............................................................... 84 1. Uji Asumsi .............................................................................................. 84 2. Uji Hipotesis ........................................................................................... 85 I. Pertimbangan Etis ........................................................................................ 85 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................................... 88 A. Pengantar ..................................................................................................... 88 B. Hasil Penelitian ............................................................................................ 88 1. Deskripsi Partisipan Penelitian ............................................................... 88 2. Uji Normalitas......................................................................................... 90 3. Uji Linearitas .......................................................................................... 91 4. Deskripsi Data Penelitian ........................................................................ 92 5. Uji Hipotesis ........................................................................................... 93 C. Analisis Tambahan....................................................................................... 94 D. Pembahasan ................................................................................................. 96 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 100 A. Kesimpulan ................................................................................................ 100 B. Keterbatasan Penelitian ............................................................................. 101 C. Saran .......................................................................................................... 103 1. Bagi Remaja .......................................................................................... 103 2. Bagi Orang Tua ..................................................................................... 104 3. Bagi Guru Bimbingan Konseling, dan Dinas Pendidikan .................... 104 4. Bagi komunitas Ilmuwan Psikologi ...................................................... 105 D. Komentar Penutup ..................................................................................... 106 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 107 LAMPIRAN .........................................................................................................113 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1 Penskoran Skala Konformitas ...................................................................70 Tabel 2 Blue print Skala Konformitas....................................................................71 Tabel 3 Sebaran Item Skala Konformitas untuk Uji Coba .....................................73 Tabel 4 Tabel Penskoran Skala Persepsi tubuh ......................................................74 Tabel 5 Blue print Skala Persepsi Tubuh ...............................................................75 Tabel 6 Sebaran Item Skala Persepsi Tubuh untuk Uji Coba.................................77 Tabel 7 Reliabilitas skala Konformitas ..................................................................80 Tabel 8 Reliabilitas skala Persepsi tubuh ...............................................................80 Tabel 9 Sebaran Item Skala Konformitas Setelah Seleksi Item .............................82 Tabel 10 Sebaran Item Skala Persepsi tubuh Setelah seleksi item.........................83 Tabel 11 Rentang Usia Partisipan ..........................................................................89 Tabel 12 Asal Sekolah Partisipan ...........................................................................89 Tabel 13 Hasil Uji Normalitas Residu ...................................................................90 Tabel 14 Hasil Uji Linearitas Data Penelitian ........................................................91 Tabel 15 Hasil Pengukuran Deskripsi Variabel Konformitas dan Persepsi tubuh .92 Tabel 16 Uji Hipotesis Data Penelitian ..................................................................93 Tabel 17 Kategorisasi Konformitas Berdasarkan Mean Empiris ...........................94 Tabel 18 Pembagian Kategori berdasarkan Skala Konformitas .............................94 Tabel 19 Kategorisasi Persepsi Tubuh Berdasarkan Mean Empiris.......................95 Tabel 20 Pembagian Kategori berdasarkan Skala Persepsi tubuh .........................95 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Hubungan antara Konformitas dalam Media Sosial dan Persepsi Tubuh Remaja Siswi Sekolah Homogen……………………………..………61 xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Reliabilitas Skala Penelitian .............................................................114 Lampiran 2 Uji Normalitas dan Linearitas...........................................................118 Lampiran 3 Uji T .................................................................................................119 Lampiran 4 Kategorisasi Partisipan .................................................................. 120 Lampiran 5 Google form online ......................................................................... 121 Lampiran 6 Informed Concent ........................................................................... 122 Lampiran 7 Item Skala Penelitiam ...................................................................... 125 xx

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Pengantar Penelitian ini membahas mengenai persepsi remaja perempuan terhadap tubuh mereka, khususnya pada siswi sekolah homogen di Yogyakarta. Ada empat alasan yang mendasari peneliti mengambil topik tersebut, yaitu; 1) peneliti merasa prihatin dan penasaran ketika melihat remaja yang berdandan layaknya orang dewasa sehingga terkesan membuang waktu, 2) peneliti merasa kagum pada remaja yang berdandan apa adanya tetapi memiliki banyak prestasi, 3) peneliti merasakan pergulatan yang serupa dengan remaja perempuan tersebut mengenai penilaian akan penampilan fisik, 4) penelitian ini merupakan usaha dari peneliti untuk mengurangi rasa prihatin serta memuaskan rasa ingin tahu mengenai penilaian remaja perempuan terhadap tubuhnya. Yang pertama, peneliti merasa prihatin ketika melihat perempuan yang masih berusia remaja berdandan secara berlebihan dan terlihat jauh lebih tua dari usia aslinya. Selain itu, ada pula beberapa remaja yang sengaja menggunakan baju-baju ketat dan mini hanya untuk mengikuti tren yang sedang berlangsung. Peneliti menganggap bahwa berpenampilan secara berlebihan tersebut merugikan bagi remaja karena akan membuang waktu dan juga uang jajan yang diberikan orang tua. Saat ini banyak bermunculan kabar mengenai remaja yang memaksakan diri baik dari segi waktu bahkan finansial hanya untuk berdandan agar memiliki penampilan yang dianggap kekinian. Waktu dan juga dana yang remaja perempuan keluarkan untuk 1

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 berdandan sebenarnya dapat digunakan untuk mengembangkan bakatnya, selain itu uang yang biasa digunakan untuk membeli make up dapat juga digunakan untuk menyalurkan hobinya. Kedua, peneliti merasa kagum dan cenderung menilai positif para remaja perempuan yang berdandan sesuai dengan kenyamanan dirinya. Tidak semua remaja perempuan merasa nyaman menggunakan make up dan berdandan berlebihan. Ada beberapa remaja perempuan yang lebih nyaman ketika ia berpenampilan sederhana seakan tidak memakai make up, mengenakan pakaian santai, dan tidak mengikuti tren yang sedang berlangsung. Walaupun berpenampilan tidak serupa dengan tren fashion kekinian, beberapa teman peneliti tersebut memiliki prestasi menonjol di bidang akademik dan/atau olahraga. Dari perbincangan peneliti dengan beberapa teman, terungkap bahwa mereka merasa waktu yang digunakan untuk berdandan dapat mereka gunakan untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat dan dapat mengasah kemampuan mereka. Hal tersebut yang membuat peneliti kagum pada remaja perempuan yang berani tampil apa adanya namun memiliki prestasi yang menonjol. Ketiga, pergulatan remaja perempuan dengan bentuk tubuh dan penampilan juga dirasakan oleh peneliti. Sebagai seorang perempuan, peneliti juga pernah merasa kurang puas dengan bentuk tubuh yang dimiliki dan terkadang membuat peneliti merasa kebingungan ketika menentukan riasan dan busana yang cocok. Peneliti juga beberapa kali mengikuti anjuran diet untuk mengurangi berat badan agar dapat dinilai memiliki tubuh yang ideal. Rasa tidak percaya diri muncul ketika peneliti mencoba baju-baju di sebuah toko baju dan kebanyakan

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 baju yang peneliti coba ternyata tidak cocok dan beberapa tidak cukup untuk peneliti kenakan. Saat itu peneliti berpikir bahwa peneliti memiliki bentuk tubuh yang tidak ideal karena tidak sesuai dengan ukuran baju-baju yang dijual di toko tersebut. Selain itu, pernyataan dari orang-orang di sekitar peneliti mengenai bentuk tubuh peneliti saat ini juga membuat peneliti semakin tidak percaya diri. Ketertarikan untuk mendalami tentang persepsi tubuh menjadi salah satu alasan peneliti untuk melakukan penelitian ini. Dan yang keempat, peneliti berusaha untuk mengurangi rasa prihatin serta memuaskan rasa ingin tahu mengenai remaja perempuan yang berdandan secara berlebihan. Sebagai mahasiswa psikologi peneliti dapat memaparkan proses dan dampak pada remaja perempuan ketika menilai tubuhnya berdasarkan literatur yang ada. Peneliti ingin melihat apakah remaja perempuan pada saat ini hanya mengikuti temannya dalam hal penampilan atau mereka sudah berdandan dan berpenampilan sesuai dengan kenyamanannya. Peneliti mencoba untuk mengetahui perilaku seorang remaja perempuan ketika mengikuti suatu tren terutama dalam hal fashion melalui skala yang peneliti buat. Selain itu, remaja diharapkan dapat melakukan refleksi pribadi dengan mengacu pada hasil penelitian ini sehingga remaja perempuan dapat melihat dan memperkirakan dalam kategori mana ia menilai tubuhnya, apakah rendah, sedang, atau tinggi. Dari empat hal yang sudah peneliti jelaskan di atas, dapat dilihat bahwa peneliti memiliki ketertarikan akan persepsi tubuh remaja perempuan. Peneliti juga menggunakan penelitian ini sebagai wadah untuk memberikan informasi mengenai persepsi tubuh pada remaja perempuan.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Setelah menerangkan ketertarikan pribadi peneliti, pada bagian selanjutnya dari bab ini akan dipaparkan berbagai informasi terkait hal-hal yang mendasari penelitian dan kejelasan mengenai batasan-batasan penelitian ini. Pemaparan dimulai dari latar belakang, rumusan permasalahan, dan pertanyaan penelitian. B. Latar Belakang Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat berkaitan dengan kepuasan terhadap tubuh. Peneliti akan membahas mengenai fenomena remaja yang menggunakan make up secara berlebihan, mengenakan seragam ketat, dan bahkan melakukan operasi plastik. Akhir-akhir ini muncul fenomena baru yang beredar di media sosial, yaitu potret remaja perempuan usia Sekolah Menengah Atas (SMA) yang mengenakan rok dan seragam ketat lalu berpose seakan menunjukkan lekuk tubuhnya (Aladhi, 2016; Wirman, 2016). Seperti yang disampaikan oleh Wirman (2016) di kota Bogor masih banyak siswa yang mengenakan seragam tidak sesuai dengan peraturan sekolah. Hal tersebut membuat pihak sekolah terutama guru Bimbingan dan Konseling kewalahan untuk menegur siswa-siswinya. Fenomena yang muncul seakan menjadi tren di kalangan pelajar. Prasetya (2013) mengatakan bahwa tayangan media yang dilihat oleh remaja akan menimbulkan rasa penasaran yang besar, remaja yang cenderung ingin mencoba dan melakukan apa yang ia lihat agar disebut sebagai remaja kekinian. Wirman (2016) juga mengatakan bahwa pembina OSIS SMA di Bogor tersebut telah mencoba untuk menegur, akan tetapi siswa-siswinya tetap mengenakan seragam yang tidak sesuai dengan peraturan di

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 sekolahnya. Lebih parahnya, ternyata siswa maupun siswi di sekolah tersebut rela membawa dua seragam sekolah untuk menghindari teguran gurunya. Tidak hanya berseragam ketat saja, tetapi remaja perempuan juga sudah mulai belajar menggunakan make up. Menurut Asrianti (2018) perilaku berdandan merupakan salah satu indikasi bahwa seorang perempuan memiliki penilaian dan ketidakpuasan terhadap tubuhnya. Berdasarkan situs gaya hidup Nuyoo, 66% dari 852 perempuan muda mulai memakai kosmetik antara usia 13 sampai 15 tahun. Sementara 11% lainnya mulai berias antara umur 10 sampai 12 tahun (Asrianti, 2018). Remaja menghabiskan waktunya kurang lebih satu jam untuk berdandan (Gentina, Palan, & Fosse-Gomez, 2012). Selain waktu yang cukup banyak terbuang, ternyata remaja perempuan juga mengeluarkan uang yang lumayan banyak untuk merias dirinya. ZAP Clinic bersama MarkPlus melakukan survei dan menunjukkan hasil bahwa perempuan yang memasuki usia 18 tahun, dalam sebulan remaja akan menghabiskan uang kurang dari 1 juta rupiah untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Menariknya, 40% dari uang belanja bulanan tersebut digunakan untuk membeli produk fashion dan kecantikan. Biasanya, biaya yang mereka habiskan adalah sebesar Rp. 200.000,- hingga Rp. 399.000,(Dimara, 2018). Featherstone (1999 dalam Grogan, 2008) yang mengatakan bahwa ada peningkatan besar dalam praktik modifikasi tubuh atau dalam hal ini termasuk penyisipan implan, branding, tattoo, dan tindik. Hal tersebut dikonfirmasi dengan berita yang cukup mengagetkan dari seorang remaja perempuan asal Middlesbrough, North Yorkshire yang rela mengeluarkan uang senilai 15 ribu

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 poundsterling atau sekitar 279 juta rupiah untuk mengubah dirinya menjadi seperti artis idolanya (Siahaan, 2018). Di tempat lain yaitu Praha, Republik Ceko ada pula seorang gadis yang menghabiskan uang sekitar seribu poundsterling atau setara 19 juta rupiah dalam sebulan untuk melakukan operasi plastik agar dirinya terlihat seperti boneka barbie (Ambar, 2018). Selain itu, American Academy of Plastic Facial and Reconstructive Surgery (AAFPRS) menemukan bahwa tekanan untuk menampilkan hasil swafoto yang sempurna di media sosial, membuat permintaan operasi plastik semakin meningkat (Ardina, 2017). Alasan para pasien melakukan operasi plastik adalah agar tampak sempurna ketika melakukan swafoto, dan pantas diunggah di Instagram, Snapchat maupun Facebook. American Society of Plastic Surgeons menunjukkan semakin banyak orang dewasa muda di bawah usia 30 tahun dan remaja yang memilih untuk melakukan koreksi estetika seperti pembesaran payudara, sedot lemak, pengecilan perut, suntik botoks, sampai pengencangan wajah. Kebanyakan pasien semakin merasa mantap untuk melakukan operasi plastik karena telah mendapatkan banyak informasi dan berkonsultasi dengan temannya melalui media sosial (Ardina, 2017). Remaja rela menghabiskan waktu dan uang agar dirinya terlihat lebih menarik dan sesuai dengan harapannya mengenai penilaian bentuk tubuh ideal. Dalam harian kompas online dikatakan bahwa telah dilaksanakan sebuah riset mengenai pandangan cantik pada awal bulan Mei 2017 lalu di 11 kota besar di Indonesia yang meliputi Medan, Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya,

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 Denpasar dan Makassar. Riset pemasaran ini dilakukan oleh Sigma Research terhadap 1200 responden wanita yang memiliki rentang usia 15-55 tahun. Dari hasil riset dapat diketahui bahwa 40% responden mendefinisikan kecantikan berdasarkan kondisi fisik, 14.8% mendefinisikan kecantikan berdasarkan kepribadian yang menarik, sedangkan yang menganggap perilaku ramah sebagai tolok ukur cantik hanya 9.5%. Sementara kemampuan intelektual sepertinya tidak terlalu dianggap sebagai salah satu sifat yang menentukan definisi cantik, karena yang menganggap orang cerdas sebagai orang cantik hanya 6.1% (Lemmung, dalam Wisnubrata 2017). Hal tersebut diperkuat dengan pesan di media yang mengatakan bahwa seorang wanita cantik ketika memiliki tubuh yang kurus, berkulit putih, gigi rapi, dan juga rambut yang mengkilap (Matlin, 2012). Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang mengherankan apabila seorang remaja perempuan mulai belajar merawat dirinya agar terlihat lebih menarik menurut lingkungan sosialnya. Dari contoh-contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa remaja sangat dekat dengan media khususnya media sosial. Suatu keinginan untuk tampil sempurna dan ditunjang dengan lengkapnya informasi yang disediakan oleh media maka menguatlah keinginan untuk mempercantik diri meskipun harus mengeluarkan banyak biaya. Akan tetapi, jika remaja kurang mendapatkan pendampingan maka akan timbul berbagai persoalan seperti yang dikatakan Rully (2017) mengenai seorang remaja usia 20 tahun asal Malaysia yang menjadi korban akibat memakai make up berupa masker muka dengan harga murah yang ia beli di pasar malam. Setelah

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 ditelusuri diduga dalam kosmetik tersebut terdapat zat tretinoin yang biasa digunakan untuk obat jerawat akan tetapi sangat kuat efek sampingnya. Hal itu berakibat wajah remaja tersebut menjadi kemerahan dan berlendir serta nanah kering bertumpuk-tumpuk pada wajahnya. Fenomena yang terjadi di masyarakat seperti di atas menunjukkan bahwa terlalu mementingkan penampilan fisik akan berdampak negatif bagi remaja perempuan dan cenderung merugikan baik itu secara fisik dan juga material. Akan tetapi, untuk mengesampingkan penampilan, tampaknya akan sulit untuk dilakukan oleh remaja perempuan karena salah satu tugas perkembangannya adalah ia harus membiasakan diri dan menerima segala perubahan yang terjadi karena pada usianya ia akan merasakan banyak perubahan baik secara fisik dan juga psikologis (Stolz & Stolz, 1951 dalam Hurlock, 1973). Dalam perkembangannya remaja akan mengalami tiga perubahan besar dalam dirinya yaitu perubahan dari segi fisik, kognitif, dan juga sosial (Hurlock, 1973). Dari segi fisik, remaja perempuan akan mengalami menarche (menstruasi pertama), dan yang paling sering dikeluhkan adalah terjadinya perubahan perasaan yang tiba-tiba (mood swing) saat menjelang hari datang bulan (Matlin, 2012). Menarche akan membawa perubahan-perubahan fisik remaja perempuan seperti perubahan suara, membesarnya payudara, dan juga bertumbuhnya rambut halus di bagian kemaluan dan ketiak. Bayaknya perubahan yang terjadi, umumnya membuat remaja merasa tidak nyaman. Dalam menjalani perubahan fisiknya,

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 remaja perempuan sering merasa kebingungan dengan apa yang terjadi pada dirinya. Hal tersebut terkonfirmasi dengan wawancara awal dengan Delima. “…waktu aku pertama kali mens, aku tu kaget plus bingung gitu, terus nanya ke mamah ini tu kenapa? Terus mamah bilang oo.. itu biasa kok buat anak perempuan. Nah, waktu mamah bilang gitu aku jd lega gitu…”(Delima,15 tahun). Delima mengatakan bahwa ia merasa kebingungan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tubuhnya ketika SMP dan bahkan ia sempat merasa gelisah serta bingung saat mengalami menarche. Akan tetapi kebingungannya terpecahkan ketika ada orang dewasa yang mendampingi yaitu ibunya. Selain mengalami menarche dan perubahan bentuk pada tubuh, pada usia remaja umumnya perempuan juga mengalami perkembangan pada cara berpikirnya, sehingga remaja perempuan dapat berpikir mengenai hal-hal yang lebih kompleks (Matlin, 2012). Seperti yang dikatakan oleh Delima, ketika ia sudah memasuki usia remaja ia mulai dapat memperkirakan sebab dan akibat dari perilakunya berdasar pada nilai-nilai di lingkungannya. “…jadi setelah mens itu kan aku masuk SMP, nah pas SMP tu mulai bisa mikir kalo aku ngelakuin gini nanti jadinya gimana ya?...” (Delima, 15 tahun). Ketika memasuki usia remaja seseorang akan mengalami perubahan pada cara berpikirnya berkaitan dengan kondisi fisik, psikologis, dan lingkungan sosialnya (Markus, 2008 dalam Matlin, 2012). Markus (2008, dalam Matlin,

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 2012) juga mengatakan bahwa kemampuan berpikir kompleks akan berpengaruh pada pencarian identitas diri. Identitas tersebut akan melekat pada diri remaja seperti, asal kota kelahiran, suku, dan juga agama. Oleh karena itu akan ada perbedaan perilaku yang dimunculkan oleh masing-masing remaja perempuan sesuai dengan karakteristik budaya di tempat tinggalnya. Selain perubahan fisik dan kognitif, remaja perempuan juga mengalami perubahan pada interaksi sosialnya. Remaja perempuan menaruh perhatian pada interaksi sosialnya baik itu dalam keluarga dan juga pertemanan. Bagi remaja perempuan, teman dekat memiliki peran yang penting dalam kehidupannya oleh sebab itu pertemanan remaja perempuan terlihat jauh lebih intim jika dibandingkan dengan remaja laki-laki. Hal tersebut sesuai dengan yang telah disampaikan Hurlock (1973) bahwa teman dekat akan memberikan lingkungan yang suportif. Ketika remaja perempuan berkumpul biasanya mereka melakukan hal yang sama-sama mereka sukai seperti menonton film, makan bersama, membicarakan mengenai busana dan juga membicarakan mengenai lawan jenis. Selain bersosialisasi dengan teman yang memiliki jenis kelamin yang sama, pada usia transisi ini remaja juga sudah mulai mencoba memikirkan dan menjalani relasi romantis seperti yang dikatakan oleh Lavender: “…setelah mens dulu itu, aku jadi mulai suka sama cowok mbak hehehe …” (Lavender, 18 tahun). Dengan malu-malu Lavender mengatakan bahwa ia mulai memikirkan tentang lawan jenisnya setelah ia mengalami menarche. Hal tersebut membuat

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 remaja perempuan lebih memperhatikan penampilannya agar dapat menarik perhatian dari lawan jenisnya (Hurlock, 1973). Hal-hal yang biasanya dilakukan oleh remaja perempuan untuk menarik perhatian dari lawan jenis adalah mereka mulai belajar menggunakan make up dan juga memakai baju yang akan menunjang penampilan mereka. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Delima yang mengatakan bahwa teman-teman sekolahnya mulai belajar berdandan saat jam istirahat berlangsung, dan riasan tersebut dibiarkan hingga jam pulang sekolah. Untuk melihat bagaimana remaja menilai tubuhnya, tiga aspek di atas dapat dia jadikan acuan untuk melihat apakah remaja terlalu mementingkan penampilan fisiknya atau tidak. Dari ketiga aspek perkembangan yang dialami remaja perempuan dapat dilihat pula bahwa aspek fisik sangat berpengaruh pada bagaimana remaja menilai diri mereka. Penjelasan di atas berlaku bagi remaja perempuan pada umumnya. Akan tetapi ada satu populasi khusus yang karakteristiknya menarik untuk diteliti yaitu siswi sekolah homogen. Siswi sekolah homogen menarik untuk diteliti karena ada penelitian yang dilakukan Tiggemann (2001) menemukan bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan antara siswi yang bersekolah di sekolah homogen maupun heterogen mengenai pandangan dan penilaian pada tubuh yang ideal. Meskipun demikian, siswi yang bersekolah pada sekolah homogen memiliki pencapaian (achievement) dan pandangan mengenai sex role yang lebih modern. Dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa siswi di sekolah homogen cenderung mengasosiasikan wanita yang memiliki kemampuan dan intelegensi yang tinggi memiliki bentuk tubuh yang kurus (ideal). Dari penelitian tersebut dapat

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 disimpulkan bahwa lingkungan sekolah merupakan faktor sosiokultural yang penting dalam mempengaruhi sikap dari remaja perempuan mengenai tubuhnya. Oleh karena itu, sekolah homogen menciptakan lingkungan yang menuntut siswinya memiliki pencapaian tinggi dalam intelegensi dan kesuksesan secara profesional (Tiggemann, 2001). Keunikan karakteristik tersebut membuat populasi siswi sekolah homogen perempuan menjadi menarik untuk diteliti. Dalam ilmu psikologi, fenomena yang sudah dijabarkan di atas, bagaimana remaja perempuan menerima perubahan yang ada dalam dirinya, serta dinamika siswi sekolah homogen itu terkait dengan konsep persepsi tubuh. Secara lebih spesifik Cash dan Smolak (2011) menerangkan bahwa persepsi tubuh merupakan suatu sikap yang dimiliki oleh seorang individu terhadap tubuhnya yang berupa suatu penilaian baik itu positif maupun negatif. Cash (2016) memaparkan ada sepuluh aspek yang nantinya akan digunakan untuk melihat apakah seseorang memiliki penilaian yang positif atau negatif terhadap tubuhnya. Kesepuluh aspek tersebut adalah Appearance evaluation, Appearance orientation, Fitness evaluation, Fitness orientation, Health evaluation, Health orientation, Illness orientation, Body areas satisfaction, Overweight preoccupation, dan Selfclassified weigh. Ketika seseorang menilai tubuhnya secara positif maka ia akan cenderung bahagia dan memiliki kontrol diri yang baik (Cash & Smolak, 2011) sehingga ia akan lebih menghargai dirinya sebagai pribadi yang unik (Grogan, 2008). Akan tetapi ketika seseorang memiliki penilaian yang negatif terhadap tubuhnya maka ia akan berusaha mengubah tubuhnya secara ekstrem agar terhindar dari penilaian negatif orang lain (Smolak & Thompson, 2009).

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 Penilaian yang negatif terhadap tubuh dapat membuat seseorang melakukan perubahan ekstrem terhadap tubuhnya seperti yang telah disampaikan (Smolak & Thompson, 2009) di atas oleh karena itu penelitian terkait persepsi tubuh sangat dibutuhkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada remaja perempuan. Beberapa penelitian sudah pernah dilakukan terkait persepsi tubuh. Dua penelitian akan dibahas di sini yaitu penelitian yang dilakukan oleh Gentina et al., (2012) dan Scott (2015). Pada bagian pendahuluan dari jurnal yang ditulis oleh Gentina, disebutkan bahwa terlihat atraktif secara fisik merupakan hal yang sangat penting di kalangan remaja. Sehingga pada usia 15 tahun ke atas merupakan hal yang wajar ketika seorang perempuan menggunakan make up, tampil dengan busana yang sedang diminati banyak orang, bahkan melakukan operasi plastik (Schouten 1991, Park 1998, Rudd 1997 dalam Gentina et al., 2012). Penelitian tersebut menemukan bahwa ritual menggunakan make up merupakan sebuah perilaku yang menunjukkan bahwa seorang remaja mulai tumbuh menjadi orang dewasa (Gentina et al., 2012). Selain itu, penelitian dari Scott pada tahun 2015 yang dilakukan di Amerika menemukan bahwa perempuan selalu lekat dengan anggapan cantik, oleh karena itu banyak perempuan menggunakan make up karena perempuan percaya bahwa hal itu akan mempengaruhi level daya tariknya (Scott, 2015). Dari dua penelitian di atas dapat dilihat bahwa perempuan mulai memperhatikan penampilannya dan akan berusaha agar terlihat menarik ketika memasuki usia remaja.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 Seorang remaja akan berusaha untuk mendapatkan penampilan yang ideal seperti penilaian orang lain ketika ia memiliki penilaian yang buruk pada tubuhnya. Oleh karena itu, ia akan berusaha untuk mencari informasi mengenai tubuh yang ideal dan bagaimana cara mendapatkannya melalui media. Sepertinya yang telah dikatakan oleh (Deutsch & Gerard, 1955; Insko, 1985 dalam Robert. A. Baron & Nyla R. Branscombe, 2012) ada dua motif kuat yang menjadi alasan seseorang untuk menyesuaikan diri yaitu, keinginan untuk disukai atau diterima oleh orang lain dan keinginan untuk berperilaku benar. Saat memasuki masa puber, remaja perempuan mulai membandingkan tubuhnya dengan teman sebayanya. Dengan keadaan emosi remaja yang belum stabil serta pandangan lingkungan sekitar mengenai bagaimana seharusnya penampilan dari seorang perempuan, membuat remaja berusaha untuk berpenampilan seperti yang lingkungan sosialnya harapkan. Keinginan untuk diterima oleh teman sebayanya membuat remaja berusaha untuk mencari info-info terbaru termasuk gaya berbusana. Melalui media komunikasi, periklanan dan juga industri kosmetik, remaja mencoba untuk tampil cantik seperti model-model dalam iklan (Smolak & Thompson, 2009) karena konten-konten dalam media sosial mengandung unsur persuasif yang mengajak masyarakat untuk mengikuti tren yang ada. Dari uraian yang sudah peneliti sampaikan di atas dapat dilihat bahwa kemungkinan ada hubungan antara konformitas di media sosial dan juga persepsi tubuh. Konformitas adalah suatu usaha seseorang untuk menyesuaikan diri dengan orang lain baik dari sisi pendapat, penilaian, atau tindakan agar sesuai dengan standar normatif suatu kelompok atau situasi sosial (American Psychological

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Association, 2009). Orang-orang cenderung melakukan konformitas bila cukup banyak orang yang mempengaruhi atau pengaruh itu datang dari seseorang yang memiliki hubungan dengan orang tersebut (Matlin, 2012). Penerimaan dan pengakuan dari teman sebaya merupakan suatu hal yang penting sehingga membuat remaja berusaha menyesuaikan diri agar tidak dijauhi oleh temantemannya karena peran teman sebaya sangat penting dalam kehidupan mereka (Hurlock, 1973) dan media sosial merupakan salah satu media di mana remaja mendapatkan informasi-informasi yang aktual. Selain itu, pada penelitian lain disebutkan pula bahwa persepsi tubuh memiliki pengaruh yang cukup besar pada konformitas (Christanto, 2014; Handayani, 2011; Tiggemann, 2001). Senada dengan penelitian itu (Laili, Soeranti, & Pertiwi, 2015; Sebayang, Yusuf, & Priyatama, 2011; Yuliantari & Herdiyanto, 2015) menemukan bahwa ada hubungan antara konformitas, persepsi tubuh dan juga perilaku konsumtif pada remaja. Penelitian dari Andriani dan Ni’matuzahroh, (2013) serta Nursanti (2009) juga mengatakan bahwa konsep diri yang rendah akan diikuti pula oleh konformitas yang tinggi. Dari penelitian-penelitian tersebut dikatakan bahwa remaja mencoba untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya dengan membeli barang-barang yang menunjang penampilannya. Remaja juga mencoba untuk menyesuaikan diri dengan artis idola yang ia lihat di media karena remaja mulai mengerti betapa pentingnya memperhatikan penampilan untuk memperoleh pengakuan sosial. Akan tetapi ada penelitian lain yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara konformitas dan juga konsep diri (Indrayana & Hendrati, 2013) serta harga diri (Erawati, 2016) pada

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 remaja. Menurut Potter dan Perry (2005) persepsi tubuh, ideal diri, harga diri, peran dan juga identitas diri merupakan bagian atau komponen dari konsep diri sehingga dua penelitian terakhir dapat pula dijadikan acuan dalam penelitian ini. Adanya perbedaan hasil tersebut membuat peneliti semakin tertarik untuk melihat seperti apa gambaran seorang remaja perempuan mengenai tubuhnya dan juga bagaimana sikap yang dimunculkan mengenai tubuhnya berdasarkan tuntutan lingkungannya terutama ketika seorang remaja berada dalam suatu lingkungan. Sekolah homogen berjenis kelamin perempuan peneliti pilih karena belum banyak penelitian yang mengambil populasi tersebut. Penelitian yang dilakukan di Yogyakarta dengan partisipan siswi perempuan di sekolah homogen ini diharapkan mampu menambah kelengkapan pengetahuan dari penelitian yang sudah pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Orang-orang yang memiliki peran besar terhadap penilaian tubuh remaja adalah orang tua, pihak sekolah atau guru Bimbingan dan Konseling, serta Dinas Pendidikan. Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk mendampingi walaupun terkadang ada perbedaan pendapat antara anak dengan orang tuanya. Remaja dan juga orang tua tumbuh dalam budaya dan generasi yang berbeda, walaupun dalam beberapa hal seperti pandangan mengenai agama, politik, pendidikan, dan juga norma sosial akan relatif sama tetapi tetap ada beberapa perbedaan cara pandang antara keduanya (Matlin, 2012). “…aku tu nggak terlalu suka cerita sama ibu, soalnya aku ngerasa gak bebas gitu mbak nanti dikit-dikit aku di judge gini lah gitu lah. Enak

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 cerita sama temen, jadi berasa sepenanggungan gitu soalnya…” (Camelia, 15 thn). Pernyataan Camelia tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan Matlin (2012) bahwa perbedaan pendapat sering kali membuat remaja perempuan merasa tidak nyaman dan cenderung terlibat banyak perdebatan dengan orang tua terutama dengan ibu sehingga menyebabkan remaja perempuan merasa lebih nyaman ketika bersama dengan teman sebayanya. Remaja perempuan bahkan cenderung lebih banyak mengungkapkan perasaannya kepada teman atau sahabatnya. Walaupun remaja lebih nyaman bercerita pada teman sebayanya, tetapi pengawasan peran orang tua sangat diharapkan. Hal itu dikarenakan ketika remaja perempuan merasa puas dan nyaman dengan dirinya ia akan cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam mengembangkan kemampuannya yang lain (Charulata, 2011). Hal itu sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Canada, penelitian tersebut menemukan bahwa remaja yang memiliki harga diri yang tinggi cenderung tidak menggunakan make up dan dalam hal akademik biasanya mereka lebih mampu mengungkapkan pendapat dan kemampuannya di depan umum (Charulata, 2011). Akan tetapi, ketika seorang remaja memiliki penilaian yang rendah ia akan cenderung mengikuti seseorang yang menjadi idolanya seperti yang berita yang telah disampaikan di atas. Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa peran orang tua sangat penting untuk menanamkan nilai yang positif pada tubuh remaja perempuan agar remaja memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Selain peran orang tua, ada pihak lain yang turut mengambil peran dalam perkembangan remaja yaitu pihak sekolah dan juga Dinas Pendidikan. Seperti yang telah dikatakan oleh Tiggemann (2001) sebagian besar remaja menghabiskan waktunya di sekolah, sehingga peran dari para guru juga sangat besar dalam pembentukan penilaian terhadap tubuh. Sekolah merupakan tempat yang sangat penting untuk membantu remaja agar dapat melakukan penanggulangan pada permasalahan sosial dan psikologis yang akan berdampak pada akademiknya. Sekolah diharapkan dapat membantu remaja dalam memilih sikap seperti apa yang lebih tepat untuk diambil daripada hanya memberikan label negatif kepada siswanya. Oleh karena itu, para guru khususnya guru Bimbingan dan Konseling (BK) dapat mendampingi siswi ketika mereka memiliki permasalahan dengan persepsi tubuh. Dinas Pendidikan secara tidak langsung juga memiliki peran untuk membangun penilaian yang positif terhadap tubuh. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membuat keputusan mengenai pentingnya pemberian materi tentang persepsi tubuh, dan mewajibkan sekolah-sekolah menerapkannya. Ilmuwan dan praktisi psikologi juga memiliki peran untuk menumbuhkan persepsi tubuh positif pada remaja perempuan. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan seminar, pelatihan, atau workshop yang berkaitan dengan persepsi tubuh agar materi dapat diberikan secara lebih tepat, jelas, dan mendalam karena disampaikan oleh orang yang lebih ahli. Suatu informasi akan lebih dipercaya ketika disampaikan oleh orang yang ahli dalam bidangnya sehingga dapat mengurangi kemungkinan remaja mendapatkan informasi yang berujung pada menurunnya penilaian terhadap tubuhnya.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Selain peran yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berada di sekitar remaja perempuan, persepsi tubuh juga penting untuk diketahui dan dipelajari. Penilaian mengenai persepsi tubuh penting untuk diketahui oleh orang tua karena strategi preventif perlu dilakukan untuk meningkatkan kepuasan persepsi tubuh pada remaja. Orang tua harus dapat menyediakan kebutuhan fisik, emosional, dan intelektual, sehingga remaja akan tumbuh dengan memiliki persepsi tubuh dan self esteem yang positif (Charulata, 2011). Menurut Kenny (dalam Asrianti, 2018), akan menjadi masalah serius apabila ketergantungan merias diri memengaruhi cara berpikir remaja jangan sampai remaja putri menganggap nilai diri mereka semata-mata didasarkan pada penampilan fisik. Kenny juga mengungkapkan bahwa sebagian besar anak-anak berada di bawah tekanan berat untuk menampilkan diri mereka dengan baik. Generasi saat ini ingin selalu terlihat sempurna di depan kamera. Tekanan dari lingkungan sosial tampaknya membuat remaja berusaha cukup keras untuk mempercantik penampilan mereka, bahkan mereka rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli peralatan make up. Oleh karena itu, ada baiknya apabila orang tua mengajak remaja berdiskusi mengenai hal itu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang telah dipaparkan di bagian sebelumnya. Penelitian mengenai persepsi tubuh ini penting untuk diketahui oleh guru BK serta Dinas Pendidikan. Peneliti bersekolah di sekolah negeri yang siswanya heterogen atau siswa laki-laki dan perempuan campur menjadi satu. Ketika masih duduk di bangku sekolah, peneliti belum pernah mendapatkan materi mengenai cara meningkatkan harga diri dan kepuasan terhadap tubuh sehingga penelitian ini

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 diharapkan dapat menunjukkan betapa pentingnya peran sekolah dalam memberikan penilaian positif terhadap tubuh remaja perempuan. Penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi guru BK agar membuat materi pembelajaran agar lebih tepat sasaran. Dinas Pendidikan juga penting untuk mengetahui perkembangan dari usaha yang telah dilakukan oleh guru BK dan perlu memeriksa kesesuaian materi secara berkelanjutan. Bagi komunitas ilmuwan Psikologi, penelitian ini penting dilakukan agar para ilmuwan psikologi mendapatkan informasi tambahan terutama mengenai keadaan siswi di sekolah homogen perempuan khususnya mengenai persepsi tubuh dan konformitas. Praktisi psikologi dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai gambaran keadaan siswi di sekolah homogen sehingga ketika dibutuhkan praktisi psikologi dapat memberikan intervensi yang tepat saat menghadapi remaja perempuan yang memiliki permasalahan dengan persepsi tubuh dan juga perilaku konformitas bersekolah di sekolah homogen sesuai dengan konteks di sekolahnya. C. Rumusan Permasalahan Dari teori yang sudah disampaikan pada bagian latar belakang dapat dilihat bahwa ketika seseorang menilai tubuhnya secara positif maka ia akan cenderung bahagia dan memiliki kontrol diri yang baik (Cash & Smolak, 2011) sehingga remaja perempuan akan lebih menghargai dirinya sebagai pribadi yang unik (Grogan, 2008). Akan tetapi kenyataan di lapangan berbeda dengan hal itu. Para remaja kurang mampu menilai dirinya secara positif sehingga remaja

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 berlomba-lomba untuk tampil menarik dan cenderung mengikuti tren saat ini dengan berperilaku konform dengan lingkungannya. Penelitian-penelitian sebelumnya mengatakan bahwa ada hubungan yang negatif dan signifikan antara konformitas dan juga persepsi tubuh (Christanto, 2014; Handayani, 2011; Tiggemann, 2001; Andriani & Ni’matuzahroh, 2013; Nursanti, 2009). Hal itu berarti, ketika penilaian terhadap tubuh cenderung tinggi atau positif maka perilaku konform yang ditunjukkan cenderung rendah. Akan tetapi ada pula beberapa penelitian yang mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara konformitas dan juga persepsi tubuh (Indrayana & Hendrati, 2013; Erawati, 2016). Adanya perbedaan hasil dari penelitian sebelumnya menjadikan penelitian ini penting untuk dilakukan. Perbedaan hasil dapat diakibatkan oleh perbedaan karakteristik partisipan penelitian. Siswi sekolah homogen menarik untuk diteliti karena memiliki karakteristik yang berbeda dari sekolah heterogen. Selain itu, jumlah sekolahnya pun tidak sebanyak sekolah heterogen sehingga cukup sulit untuk meneliti siswi homogen. Dalam penelitian korelasional, hubungan antara variabel terikat dan bebas sering kali bersifat timbal balik dan belum tentu merupakan hubungan sebab-akibat (Azwar, 2017b) sehingga peneliti menggunakan penelitian-penelitian sebelumnya untuk melihat keterkaitan antara kedua variabel tersebut. Pemilihan variabel bebas yaitu konformitas dalam media sosial dikarenakan peneliti hanya akan melihat variasi tingkatan dari partisipan yang menjadi sampel dan apakah konformitas dalam media sosial ada hubungannya dengan persepsi tubuh remaja perempuan.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 D. Ruang Lingkup Peneliti menyadari bahwa penelitian ini tidak dapat menggambarkan semua populasi remaja perempuan di Yogyakarta sehingga peneliti berusaha untuk mengisi sedikit celah dari penelitian sebelumnya dengan menggunakan partisipan remaja perempuan yang bersekolah di sekolah homogen di wilayah Yogyakarta. Sekolah homogen berjenis kelamin perempuan peneliti pilih karena belum banyak penelitian yang mengambil populasi tersebut. E. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah menjawab rumusan permasalahan yang telah peneliti temukan dengan ruang lingkup yang sudah ditentukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tinggi rendahnya perilaku konformitas dalam media sosial dan juga hubungannya dengan tinggi rendahnya penilaian atau persepsi tubuh remaja perempuan di Yogyakarta dengan karakteristik partisipan siswi SMA di tiga sekolah homogen di Yogyakarta. F. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti menyimpulkan pertanyaan yang akan dijawab melalui penelitian ini. Pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut: Apakah ada hubungan antara konformitas dalam media sosial dan persepsi tubuh remaja perempuan di sekolah homogen?

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 G. Manfaat Penelitian Penelitian ini tidak hanya menarik bagi peneliti akan tetapi penelitian ini juga bermanfaat bagi orang-orang di sekitar remaja perempuan. Penelitian ini bermanfaat bagi orang tua, guru dan juga Dinas Pendidikan, serta Ilmuwan dan Praktisi Psikologi. 1. Bagi Orang tua Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi orang tua dari siswi sekolah homogen khususnya di Yogyakarta. Orang tua dapat mengetahui gambaran dari persepsi tubuh dan juga perilaku konform dari putrinya yang bersekolah di sekolah homogen. Selain itu, orang tua juga dapat mengetahui pentingnya membantu remaja untuk membiasakan diri menilai tubuhnya secara lebih positif. 2. Bagi Guru, dan Dinas Pendidikan Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, sekolah merupakan lingkungan yang turut membangun persepsi tubuh pada remaja perempuan. Penelitian ini dapat digunakan oleh dinas pendidikan sebagai bahan pertimbangan mengenai peraturan pemberian materi pembelajaran mengenai persepsi tubuh kepada siswi SMA khususnya sekolah homogen. Dengan acuan dari hasil penelitian ini, guru BK juga dapat membuat dan memberikan materi yang lebih sesuai dengan karakteristik siswi sekolah homogen agar lebih tepat sasaran.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 3. Bagi Ilmuwan dan Praktisi Psikologi Bagi komunitas ilmuwan psikologi, penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi mengenai gambaran kondisi remaja perempuan di Yogyakarta mengenai sikap konformis pada media sosial dan kaitannya dengan persepsi tubuh. Selain itu, ilmuwan dan komunitas psikologi juga dapat memberikan penanganan yang tepat untuk meningkatkan penilaian positif terhadap tubuh remaja perempuan siswi sekolah homogen ketika dibutuhkan. Dalam bab ini, peneliti telah memaparkan latar belakang penelitian mengapa penelitian ini penting untuk dilakukan, hasil penelitian terdahulu, serta manfaat dari penelitian ini. Peneliti juga memberikan batasan atau ruang lingkup yang dapat diberikan oleh penelitian ini, serta memberikan sedikit paparan mengenai teori yang akan peneliti gunakan sebagai landasan penelitian. Pada bab selanjutnya, peneliti akan membahas secara lebih rinci mengenai variabel yang akan diteliti yaitu konformitas dan juga persepsi tubuh.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Pengantar Pada bab sebelumnya peneliti telah memberi gambaran singkat mengenai topik yang akan menjadi fokus penelitian berdasar pada fenomena-fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Peneliti juga menjabarkan mengenai ruang lingkup penelitian, tujuan, serta manfaat dari penelitian ini. Kemudian pada bab ini, peneliti akan memberikan gambaran secara umum mengenai dinamika remaja perempuan berkaitan dengan persepsi tubuh dan kecenderungan remaja perempuan untuk melakukan konformitas melalui media sosial berdasarkan tinjauan pustaka yang nantinya akan peneliti gunakan sebagai dasar penelitian. Peneliti mencoba mengawali dengan memberikan gambaran mengenai dinamika psikologis remaja perempuan dari perspektif psikologi perkembangan dan juga perspektif psikologi sosial. Dari kedua perspektif tersebut peneliti kemudian melanjutkan dengan dinamika remaja di sekolah homogen perempuan. Setelah memaparkan mengenai dinamika remaja siswi sekolah homogen, peneliti akan memaparkan mengenai variabel-variabel yang akan diteliti. Peneliti akan menjelaskan mengenai persepsi tubuh secara lebih rinci, dimulai dari definisi, aspek-aspek dari persepsi tubuh, serta faktor-faktor yang mempengaruhi. Untuk melihat usaha yang dilakukan remaja untuk terlihat cantik ideal sesuai dengan tren saat ini, peneliti mencoba untuk menjelaskannya lewat teori konformitas yang juga dijelaskan mulai dari definisi, aspek-aspek, dan juga faktor yang dapat 25

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 mempengaruhi. Setelah itu, peneliti mencoba untuk menjelaskan proses dan dampak dari masing-masing variabel serta membuat sebuah kerangka konseptual. Bab ini akan diakhiri dengan hipotesis penelitian yang nantinya akan diuji dalam penelitian ini. B. Remaja Siswi Sekolah Homogen Pada bagian ini, akan dipaparkan mengenai dinamika psikologis remaja siswi sekolah homogen. Pemaparan akan dibagi menjadi tiga bagian dimulai dari perspektif perkembangan, perspektif sosial, dan yang terakhir ditutup dengan dinamika remaja siswi sekolah homogen. 1. Perspektif Perkembangan Seorang individu dalam rentang kehidupannya akan mengalami masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa. Masa transisi ini disebut dengan masa remaja. Menurut Hurlock (1973) kata remaja berasal dari bahasa latin, adulenscentia, yang berarti masa muda. Pada masa transisi ini terdapat perubahan-perubahan yang harus diterima oleh remaja. Perubahan yang akan dialami oleh remaja meliputi perubahan fisik, psikologis dan emosi (Hurlock, 1973). Dalam hal kematangan seksual, terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Pada perempuan, usia remaja dimulai dari 13 sampai dengan 18 tahun sedangkan pada laki-laki baru dimulai dari 14 sampai dengan 18 tahun. Pada rata-rata usia 13 tahun, remaja perempuan mengalami menarche atau menstruasi pertama. Menarche mengakibatkan terjadinya perubahan- perubahan fisik pada diri remaja perempuan (Hurlock, 1973). Tugas

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 perkembangan utama pada usia remaja adalah menerima perubahan yang terjadi pada tubuhnya sebagai simbol perubahan dirinya, sehingga perubahan pada tubuh lebih banyak menyebabkan distress daripada kepuasan terhadap dirinya (Smolak & Thompson, 2009). Oleh karena itu, remaja akan mengusahakan untuk menjaga penampilan dirinya, walaupun mungkin saja tetap berujung pada ketidakpuasan terhadap diri mereka (Hurlock, 1973). Selain perubahan dalam segi fisik, remaja juga mengalami perkembangan dari segi psikologis, perkembangan tersebut membuat seorang remaja mulai dapat berpikir secara abstrak dan juga kompleks (Hurlock, 1973). Melalui kemampuan berpikir kompleks tersebut, remaja mulai mempertanyakan dan menilai tentang dirinya sendiri mengenai karakteristik personal dalam hal fisik, psikologis, dan juga dimensi sosial (Reid et al., 2008; Rhodes et al., 2007; Whitbourne, 2008 dalam Matlin, 2012). Erikson (dalam Gunarsa & Gunarsa, 1981) juga mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa terbentuknya identitas diri seseorang. Identitas diri tersebut mencakup cara hidup pribadi yang dikenali dan dialami sendiri dan sulit dikenali oleh orang lain. Cara berpikir yang kompleks juga membuat remaja mulai membandingkan dirinya dengan teman sebayanya. Dalam perkembangannya, remaja juga mengalami perubahan- perubahan emosi. Cote (1994 dalam Mensinger, 2001) mengatakan bahwa masa remaja merupakan periode dari “storm and stress” yang diakibatkan oleh interaksi antara ketidakseimbangan biologis yang dirangsang pubertas dan juga dipengaruhi oleh budaya. Usia remaja merupakan saat di mana

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 seorang individu dalam keadaan emosi tampak lebih tinggi atau dapat dilihat dalam berbagai bentuk tingkah laku seperti bingung, emosi yang mudah meledak, bertengkar, tidak bergairah, pemalas, dan membentuk mekanisme pertahanan diri (Hurlock, 1973). Emosi tersebut merupakan akibat dari kebutuhan untuk meninggalkan kebiasaan yang lama pada saat anak-anak dan menghadapi lingkungan yang baru (Hurlock, 1973). Pada remaja perempuan, perubahan emosi yang mencolok (mood swing) mulai terjadi ketika mengalami menarche dan akan muncul mendekati haid. 2. Perspektif Sosial Selain perubahan fisik dan emosi, perubahan sosial juga akan dialami oleh remaja. Sejak kecil seseorang telah mengetahui hal-hal mengenai kesesuaian antara penampilan dan peran seperti apa yang akan dimainkan sesuai jenis kelamin mereka dalam penyesuaian sosial (Hurlock, 1973). Melalui pola asuh dan didikan dari orang tua, anak belajar bahwa mereka hidup dalam lingkungan sosial yang memiliki suatu nilai-nilai tertentu. Dalam perkembangannya, anak diharapkan dapat sedikit demi sedikit mengadaptasi budaya dari lingkungannya. Selain itu, anak juga belajar bahwa mereka harus memenuhi penilaian dan tuntutan yang diberikan oleh lingkungannya. Perasaan dinilai akan memunculkan rasa khawatir mengenai kesesuaian antara aspek tubuh dengan jenis kelamin mereka (Hurlock, 1973). Oleh karena itu, dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, remaja kurang

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 mempertimbangkan nilai-nilai yang mereka miliki dan cenderung langsung melebur bersama teman sebayanya. Remaja juga mulai belajar untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Hidup bermasyarakat merupakan suatu proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan standar, moral, dan tradisi dari masyarakat. Pengelompokan sosial yang berdasarkan pada negara asal, kelompok etnis, atau agama akan membentuk identitas budaya dari seseorang (Markus 2008 dalam Matlin, 2012). Penyesuaian pada masyarakat akan menentukan luasnya tingkatan bagaimana ia akan bersosialisasi pada usia dewasanya (Hurlock, 1973). Identitas yang dimiliki nantinya akan mempengaruhi perilaku remaja ketika berinteraksi di lingkungannya ketika dirinya sudah dewasa. 3. Remaja Siswi Sekolah Homogen Suatu identitas akan mempengaruhi pandangan dan juga perilaku seseorang termasuk pilihan hidunya termasuk untuk menentukan di mana ia harus melanjutkan pendidikan. Pilihan tempat untuk melanjutkan pendidikan dapat didasarkan pada dua pilihan yaitu diri sendiri, dan juga orang tua. Dalam menentukan sekolah lanjutan, remaja biasanya mendengarkan masukan dari orang tuanya. Di Indonesia ada dua jenis sekolah yaitu sekolah homogen yang berisi dengan siswa atau siswi yang berjenis kelamin sama dalam satu sekolah dan juga sekolah heterogen di mana siswa dan siswinya bercampur menjadi satu. Mensinger (2001) mengatakan bahwa beberapa orang tua yang memilih sekolah lanjutan untuk anak perempuannya dengan berdasar pada pengalaman

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 di masa lalunya. Orang tua yang memilih sekolah homogen perempuan berdasarkan struktur tradisional memiliki pertimbangan bahwa sekolah homogen merupakan sekolah yang bergengsi, selain itu sekolah homogen juga memiliki lingkungan yang konservatif dan protektif sehingga orang tua mempercayakan anak perempuannya untuk bersekolah di sana (Mensinger, 2001). Pengalaman keluarga di masa lalu yang bersekolah di sekolah homogen semakin memperkuat keyakinan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di tempat itu (Mensinger, 2001). Di samping itu, Mensinger (2001) mengatakan bahwa ada pula orang tua yang memiliki pendapat bahwa sekolah homogen merupakan sekolah yang potensial untuk menambah pengalaman anaknya karena sekolah homogen lebih berfokus pada kegiatan-kegiatan akademik dan kurangnya distraksi dalam hal sosialisasi. Hal tersebut membuat orang tua memiliki harapan jika lulus nanti anak perempuannya akan memiliki kemampuan dan kepercayaan diri untuk mengatasi diskriminasi gender dan perbedaan kelas-kelas sosial. Pemilihan sekolah homogen perempuan atau sekolah heterogen akan berpengaruh pada diri remaja perempuan. Remaja yang bersekolah di sekolah homogen cenderung memiliki achievement yang tinggi dan juga kemampuan leadership yang lebih menonjol (Mensinger, 2001; Schneider & M. Coutts, 1982). Hal itu disebabkan oleh lingkungan sekolah yang mengedepankan kontrol dan disiplin pada peraturan sekolahnya. Selain itu siswi di sekolah homogen juga diberikan keleluasaan untuk menggunakan make up atau berdandan dengan tujuan agar siswi sekolah homogen terlihat layaknya wanita

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 sesungguhnya karena di sekolah homogen para siswi dituntut untuk dapat melakukan pekerjaan yang tidak kalah oleh pria akan tetapi tetap terlihat anggun seperti wanita (Mensinger, 2001). C. Persepsi Tubuh Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan mengenai definisi, aspek, serta faktor yang mempengaruhi persepsi tubuh. Setelah itu, peneliti akan memaparkan proses dan dampak ketika seseorang menilai tubuhnya dan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan persepsi tubuh remaja perempuan di sekolah homogen. 1. Definisi Persepsi Tubuh Smolak dan Thompson (2009) mengatakan bahwa secara luas persepsi tubuh dapat didefinisikan sebagai evaluasi partisipantif mengenai penampilan seseorang, berbeda dengan daya tarik fisik, yang merupakan penilaian penampilan eksternal atau objektif. Persepsi tubuh juga merupakan suatu sikap yang dimiliki oleh seorang individu terhadap tubuhnya yang berupa suatu penilaian baik itu positif maupun negatif (Cash & Smolak, 2011). Kemudian menurut Grogan (2008) secara singkat persepsi tubuh merupakan gambaran dari tubuh kita sendiri yang kita bentuk dalam pikiran kita, yaitu bagaimana penampilan tubuh muncul pada diri kita sendiri. Secara singkat, persepsi tubuh dapat diartikan sebagai gambaran dan penilaian seseorang mengenai penampilannya sendiri baik itu positif maupun negatif.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 2. Aspek-Aspek Persepsi Tubuh Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan aspek-aspek dari persepsi tubuh menurut Cash (2016) yaitu; Appearance evaluation, Appearance orientation, Fitness evaluation, Fitness orientation, Health evaluation, Health orientation, Illness orientation, Body areas satisfaction, Overweight preoccupation, dan Self-classified weigh. Kesepuluh aspek tersebut akan dipaparkan sebagai berikut: a. Appearance Evaluation (Perasaan mengenai Penampilan) Appearance Evaluation merupakan suatu perasaan seseorang mengenai daya tarik fisik atas kepuasan atau ketidakpuasan terhadap penampilannya. Seseorang yang memiliki nilai tinggi cenderung lebih puas dengan penampilannya, sedangkan orang dengan nilai rendah cenderung merasa tidak puas dengan penampilan fisiknya. b. Appearance Orientation (Pemahaman mengenai Penampilan) Appearance Orientation adalah luasnya pandangan seseorang mengenai penampilannya. Orang yang memiliki nilai yang tinggi lebih mementingkan penampilan mereka, memperhatikan penampilan mereka, dan melakukan perawatan pada tubuhnya. Sedangkan orang yang memiliki nilai rendah, cenderung apatis tentang penampilan mereka. Mereka merasa bahwa penampilan bukanlah suatu hal yang terlalu penting dan mereka tidak berusaha banyak untuk "terlihat baik".

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 c. Fitness Evaluation (Perasaan mengenai Kebugaran Fisik) Fitness Evaluation merupakan perasaan seseorang mengenai sehat atau tidak sehat dirinya secara fisik. Orang dengan nilai yang tinggi merasa diri mereka sehat secara fisik dan terlihat dalam bentuk tubuh yang atletik, aktif, dan kompeten. Orang dengan nilai tinggi juga cenderung terlibat aktif dalam aktivitas untuk meningkatkan kebugaran. Sedangkan orang dengan skor lebih rendah merasa tidak sehat secara fisik, memiliki bentuk tubuh yang tidak bagus atau tidak atletik serta tidak kompeten. Orang dengan nilai rendah juga cenderung tidak menghargai kebugaran fisik dan tidak secara teratur melakukan aktivitas olahraga dan membiasakannya dalam gaya hidup mereka. d. Fitness Orientation (Pemahaman mengenai Kebugaran Fisik) Fitness Orientation adalah luasnya suatu pandangan seseorang mengenai anggapan sehat secara fisik atau kompeten secara atletik. Nilai tinggi akan diperoleh oleh orang yang menghargai kebugaran dan secara aktif terlibat dalam aktivitas untuk meningkatkan atau mempertahankan kebugaran mereka. Sedangkan nilai yang rendah akan didapatkan oleh orang yang cenderung tidak menghargai kebugaran fisik dan tidak secara teratur melakukan aktivitas olahraga dan membiasakan ke dalam gaya hidup mereka. e. Health Evaluation (Perasaan mengenai Kesehatan) Health Evaluation merupakan perasaan seseorang mengenai kesehatan fisik atau kebebasan dari penyakit fisik. Orang dengan nilai

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 tinggi merasa tubuh mereka sehat. Sedangkan orang dengan skor rendah merasa tidak sehat dan mengalami gejala penyakit atau kerentanan pada suatu penyakit. f. Health Orientation (Pemahaman mengenai Kesehatan) Health Orientation adalah luasnya pandangan seseorang mengenai gaya hidup sehat secara fisik. Seseorang dengan nilai tinggi akan cenderung sadar akan kesehatan dan mencoba menjalani gaya hidup sehat. Sedangkan seseorang dengan nilai rendah lebih apatis tentang kesehatan mereka. g. Illness Orientation (Pemahaman mengenai Penyakit) Illness Orientatiton merupakan suatu pandangan atau reaktivitas seseorang mengenai penyakit. Seseorang dengan nilai tinggi cenderung waspada terhadap gejala penyakit fisik dan cenderung mencari tahu tentang penanganan medis yang kira-kira dibutuhkan. Orang dengan nilai rendah cenderung tidak terlalu waspada terhadap gejala fisik penyakit. h. Body Areas Satisfaction (Kepuasan terhadap Bagian Tubuh) Body Areas Satisfaction merupakan penilaian seseorang mengenai kepuasan atau ketidakpuasan terhadap bagian tubuhnya. Seseorang dengan nilai tinggi umumnya menyukai dan puas pada sebagian besar wilayah tubuh mereka. Sedangkan orang dengan nilai yang rendah cenderung tidak senang dengan ukuran atau penampilan beberapa daerah.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 i. Overweight Preoccupation (Kecemasan menjadi Gemuk) Overweight Preoccupation merupakan penilaian seseorang mengenai sebuah konstruksi yang mencerminkan kegelisahan dan kewaspadaan pada berat badan, diet, dan pengendalian makan. Semakin tinggi nilai yang dimiliki seseorang maka semakin ia berusaha untuk menjaga berat badannya agar tetap ideal. j. Self-Classified Weight (Kemampuan Mengategorikan Bentuk Tubuh) Self-Classifoed Weight merupakan pandangan dan pemberian label pada berat seseorang, dari yang sangat kurus hingga sangat kelebihan berat badan. Orang yang memiliki skor tinggi akan lebih mudah untuk menentukan atau menilai berat badannya dan juga orang lain dan ia juga akan memiliki pandangan yang hampir sama dengan orang lain ketika menentukan berat badan seseorang. Menurut Cash (2016) dalam variabel persepsi tubuh terdapat sepuluh aspek yang terdapat di dalamnya. Aspek Appearance, Fitness, dan Helath masing-masing terbagi menjadi dua yaitu orientation dan evaluation. Bagian orientation menekankan pada pandangan atau penilaian seseorang, sedangkan pada bagian evaluation lebih menekankan pada perasaan seseorang mengenai suatu hal dalam dirinya. Selain itu, masih ada empat aspek yang lain yaitu Illness Orientation, Body Areas Satisfaction, Overweight Preoccupation, dan Self-Classified Weigh. Berdasarkan sepuluh aspek yang telah dijelaskan di atas, persepsi tubuh memiliki dua kategori yaitu rendah dan tinggi. Jadi, penilaian

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 tinggi rendahnya persepsi tubuh remaja akan dilihat dari perolehan nilai dari sepuluh aspek tersebut. 3. Faktor-faktor Persepsi Tubuh Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi persepsi tubuh yaitu usia, kelas sosial, kultural, seksualitas, dan juga media. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tubuh tersebut akan dijelaskan sebagai berikut: a. Usia Usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi tubuh. Grogan (2008) mengatakan bahwa, baik anak laki-laki dan juga perempuan mulai kritis terhadap tubuh mereka ketika memasuki usia pra remaja. Sehingga dimulai dari usia praremaja, seseorang akan mulai memberikan penilaian kepada tubuhnya. Seorang remaja mulai merasa di bawah tekanan untuk menjadi lebih langsing ketika mereka berada di Sekolah Dasar. Remaja juga cenderung menginginkan berat badan yang normal, sehingga tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus (Grogan, 2008). b. Kelas Sosial Kelas sosial juga akan mempengaruhi bagaimana seseorang menilai tubuhnya. Seseorang yang berada dalam kelas sosial yang lebih tinggi akan cenderung lebih memperhatikan penampilan dan perawatan tubuh yang ia jalani. Sebagai contoh, seorang perempuan yang berada dalam kelas sosial yang lebih tinggi memiliki perhatian yang lebih mengenai tubuhnya dan cara diet yang akan dilakukannya. Kelas sosial

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 yang lebih tinggi akan cenderung melihat tubuh dari segi estetik dan bukan fungsionalnya sehingga akan cenderung mengikuti kegiatan olahraga agar penampilannya tetap terjaga (Grogan, 2008). c. Etnik/kultural Pengaruh sosiokultural telah terbukti signifikan dalam menentukan standar kecantikan dan menunjukkan betapa pentingnya penampilan bagi seseorang. Pengaruh ini terdiri dari konteks sosial secara umum yang digambarkan melalui gambar dan pesan media, mainan yang dijual di toko, dan masukan dari orang-orang terdekat (Smolak & Thompson, 2009). Setiap negara memiliki standar kecantikan yang berbeda-beda, hal itulah yang membuat kepuasan dan penilaian terhadap tubuh berbeda-beda di setiap negara (Grogan, 2008). Grogan (2008) juga mengatakan bahwa pada usia remaja gadis Asian cenderung lebih mungkin merasa bahwa mereka kelebihan berat badan dan lebih banyak terlibat dalam program diet dan konsumsi pil diet yang tidak sehat jika dibandingkan dengan gadis African dan American. d. Seksualitas Dalam hal seksualitas, seseorang akan lebih menyukai atau menilai lebih baik tentang pasangan yang sehat dan juga bugar. Oleh karena itu seseorang akan berusaha untuk terlihat menarik dan berusaha untuk menjadi seperti apa yang diinginkan oleh pasangannya (Grogan, 2008).

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 e. Media Media juga membawa pengaruh tersendiri dalam penilaian terhadap tubuh seseorang. Tayangan dalam media, memiliki pengaruh terhadap internalisasi seseorang mengenai bentuk tubuh ideal, kurus yang ideal, dan ketidakpuasan terhadap diri (Cash & Smolak, 2011). Media khususnya media sosial dapat mempengaruhi persepsi tubuh seseorang (Fardouly & Vartanian, 2016). Media sosial dapat berpengaruh pada persepsi tubuh ketika penggunanya aktif dalam membandingkan dirinya dengan tayangan di akun media sosialnya. Fardouly dan Vartanian (2016) juga mengatakan bahwa media sosial yang lebih berbasis pada gambar seperti Instagram dan Snapchat memiliki peluang lebih besar untuk mempengaruhi persepsi tubuh seseorang. Setiap negara memiliki standar kecantikan yang berbeda-beda, penilaian standar tersebut didapatkan dari tayangan di media (Grogan, 2008). Orang dengan usia dan juga kelas sosial yang berbeda akan memberikan penilaian serta menunjukkan sikap yang berbeda pula pada standar yang ditunjukkan oleh media. Selain itu, bagaimana seseorang menilai tubuhnya juga dipengaruhi oleh penilaian pasangannya. Berdasarkan penjelasan di atas dapat dilihat bahwa persepsi tubuh dapat dipengaruhi oleh lima faktor yaitu usia, kelas sosial, kultural, seksualitas, dan juga media. Selanjutnya di bawah ini akan dijelaskan mengenai bagaimana proses seseorang mengenai dalam memersepsi tubuhnya dan seperti apa

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 dampak-dampak yang ditimbulkan baik dari persepsi tubuh yang tinggi dan juga rendah. Penelitian ini akan lebih banyak membahas faktor usia, etnik/kultural, serta media sebagai faktor yang mempengaruhi persepsi tubuh. 4. Proses dan Dampak Setelah memaparkan definisi persepsi tubuh, aspek-aspek, serta faktorfaktor yang mempengaruhi di bawah ini akan dijelaskan mengenai proses seseorang menilai tubuhnya serta dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain. Dalam beberapa tahun pertama kehidupan, tidak ada perbedaan besar yang terlihat antara anak laki-laki dan anak perempuan dalam menggambarkan dirinya akan tetapi ketika masih dalam kandungan, janin sudah mulai bisa merasakan bahwa tubuh mereka berbeda dengan lingkungannya (Lowes & Tiggemann 2003 dalam Smolak & Thompson, 2009). Pada usia 2 tahun anakanak baru memiliki perasaan yang jelas mengenai siapa dirinya. Hal tersebut dapat dilihat dari refleks anak yang menoleh ketika ada orang yang memanggil namanya. Kemudian pada usia prasekolah yaitu 4-6 tahun anak-anak mulai membandingkan perilaku mereka dengan salah satu anak lain dan pada usia tersebut anak cenderung lebih menginginkan tubuh dengan ukuran yang lebih besar dari dirinya. Sebagian besar anak perempuan lebih memilih untuk menjadi lebih kurus, dan ini dapat terjadi pada anak perempuan yang berusia 5 tahun. Lowes dan Tiggemann (2003 dalam Smolak & Thompson, 2009) menemukan 59% gadis berusia 5 sampai 8 tahun memilih sosok ideal yang lebih kurus dari sosok mereka saat ini. Ketika usia 8 tahun barulah seorang

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 anak mulai membandingkan dirinya dengan lebih banyak anak lain (Cash & Smolak, 2011). Dalam usia sekolah dasar, peran teman sebaya juga memberikan dampak yang besar pada persepsi tubuh terutama pada anak perempuan. Karena pada lingkaran pertemanannya, mereka akan bertukar informasi mengenai body attitudes (Paxton et al 1999 dalam Smolak & Thompson, 2009). Sebuah sistem norma kecantikan menyatakan gagasan tubuh ideal yang hampir mustahil, perempuan diharapkan memiliki tubuh yang langsing namun berpayudara besar (Grogan, 2008). Studi penggambaran tubuh wanita di media telah menemukan bahwa penampilan model akan menjadi kurus dan semakin kurus antara tahun 1960an dan 1980an (Grogan, 2008). Brownmiller (1984 dalam Grogan, 2008) juga mengatakan bahwa tubuh perempuan telah dikendalikan dan dibatasi oleh peradaban sehingga pengaruh dari budaya di lingkungan menjadi faktor yang secara signifikan menunjukkan bagaimana gambaran tubuh yang ideal dan pentingnya penampilan pada perempuan. Pengaruh dalam berpenampilan dapat dengan mudah ditemui di media, mainan anak yang di jual di toko-toko, dan juga informasi dari orang tua dan orang terdekat dari anak. Ketika anak tumbuh dan masuk pada usia remaja, Hurlock (1973) mengatakan bahwa perempuan menjadi lebih peduli dengan perkembangan tubuh mereka karena bagi mereka tubuh mereka lebih terkait erat dengan peran mereka dalam kehidupan, terutama dalam perkawinan dan pernikahan. Hal tersebut membuat perempuan mencoba untuk menyesuaikan diri dengan estetika yang berlaku, dan hal ini berhasil melemahkan perempuan

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 secara fisik dan lebih bergantung pada pria sehingga penilaian perempuan terhadap diri mereka cenderung rendah. Selain itu, Eagly et.al (1991 dalam Grogan, 2008) mengemukakan bahwa efek stereotip daya tarik fisik paling kuat adalah untuk persepsi kompetensi sosial (sociability and popularity). Salah satu proses yang mempengaruhi tingkat ketidakpuasan terhadap tubuh adalah ketika seseorang mulai peka dan sadar pada penilaian sosial (Smolak & Thompson, 2009). Oleh karena itu, perempuan khususnya pada usia remaja cenderung tidak mau kalah dan berusaha untuk mencapai tubuh yang ideal menurut penilaian teman sebayanya. Ketidakpuasan terhadap tubuh dapat menjadi suatu penyebab seseorang menjadi tertekan dan melakukan perilaku ekstrem mengubah tubuhnya untuk menghindari penilaian negatif (Smolak & Thompson, 2009). Konsen pada berat dan bentuk tubuh juga merupakan suatu prediksi peningkatan pada permasalahan makan seperti diet, dorongan untuk menjadi kurus, simptom bulimia, bigne eating, dan sindrom BN. Persepsi tubuh juga dapat dijadikan prediktor dari keseluruhan well-being. Ketidakpuasan terhadap tubuh akan menimbulkan perkembangan self esteem yang rendah. Sebaliknya, ketika seseorang memiliki penilaian yang positif terhadap tubuhnya, ia akan cenderung puas dan lebih menghargai dirinya (Grogan, 2008). Orang yang puas terhadap tubuhnya dapat dilihat dari bagaimana ia menghargai dirinya sebagai pribadi yang unik dan berbeda dari orang lain. Perasaan puas terhadap tubuh juga akan memunculkan perasaan nyaman, percaya diri, merasa menarik, dan juga merasa bahagia dengan tubuhnya.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Orang yang merasa puas dengan tubuhnya akan memiliki kontrol diri yang baik sehingga ia akan memiliki koneksi dengan tubuhnya dan dapat segera mengetahui apa yang dibutuhkan oleh tubuhnya (Cash & Smolak, 2011). Perasaan puas terhadap tubuh juga akan meningkatkan kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal relationship), meningkatkan perilaku altruistik, waspada terhadap penyakit, dan membangun daya tahan tubuh. Perasaan-perasaan positif tersebut akan terpancar dari perilaku seseorang yang akan berusaha untuk mendorong dan meyakinkan orang lain untuk mencintai dan menghargai tubuhnya. Orang tersebut juga akan cenderung tidak terpengaruh oleh media-media yang menampilkan sosok tubuh yang ideal dalam masyarakat saat ini (Cash & Smolak, 2011). Dari penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa usia, kelas sosial, etnik/kultural, seksualitas, serta media merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tubuh. Pada bagian proses dan dampak juga telah dipaparkan mengenai dampak penilaian yang positif serta negatif pada tubuh bagi diri sendiri dan orang lain. Pada bagian selanjutnya, peneliti akan mengaitkan persepsi tubuh remaja pada karakteristik siswi sekolah homogen. D. Persepsi Tubuh Remaja Siswi Sekolah Homogen Ketika memasuki usia remaja awal terdapat perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam menilai tubuh ideal. Semua remaja baik itu laki-laki maupun perempuan pasti memiliki minat untuk mengikuti perkembangan tubuh mereka. Pada usia 9-12 tahun, melalui perbincangan antar teman, remaja

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 akan mulai membandingkan tubuh mereka dan memperbincangkan mengenai berat badan yang berujung pada meningkatnya ketidakpuasan terhadap tubuh. Tingkat perasaan puas dengan tubuh atau berbagai bagiannya, lebih penting bagi remaja perempuan daripada laki-laki karena masyarakat memberi nilai lebih pada penampilan remaja perempuan (Smolak & Thompson, 2009). Pada usia remaja, perempuan lebih merasa tidak puas pada tubuhnya daripada laki-laki Knauss, Paxton, dan Alsaker (2007 dalam Smolak & Thompson, 2009). Lebih dari 70% remaja perempuan yang tidak puas terhadap bentuk tubuhnya ingin menjadi lebih kurus. Penghargaan diri yang rendah akan mengembangkan pemikiran bahwa tubuh yang kurus merupakan suatu keharusan dan sangat penting, hal itu tentu saja akan meningkatkan rasa tidak puas terhadap tubuh (Smolak & Thompson, 2009). Jika remaja tidak puas dengan tubuhnya setelah transformasi masa pubertas, ia akan mengembangkan perasaan cemas dan tidak aman (Hurlock, 1973) berbeda dengan orang dewasa baik laki-laki atau perempuan merasa lebih puas dengan tubuhnya terutama saat mereka berusia 60-85 tahun (Cash & Smolak, 2011). Persepsi tubuh yang positif memainkan peran penting dalam membina perkembangan psikologis dan fisik yang sehat pada anak perempuan. Sebaliknya, persepsi tubuh yang buruk memiliki berbagai konsekuensi negatif (Smolak & Thompson, 2009). Lee dan Bryk (dalam Guglielmi, 2010) mengatakan bahwa sekolah homogen membantu untuk menanggulangi jenis kelamin yang lain dalam mempengaruhi gambaran diri seseorang karena pada usia remaja merupakan periode yang riskan dalam membangun sikap terhadap dirinya sendiri. Remaja

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 yang bersekolah di sekolah homogen memiliki kemauan yang tinggi untuk mewujudkan apa yang ia inginkan sehingga mereka saling bersaing untuk mendapatkan nilai yang tinggi terutama dalam bidang akademik (Tiggemann, 2001). Dalam wawancara dengan Loren Bridge ditemukan bahwa di sekolah homogen tidak ada sexual harassment, dan bully dari siswa laki-laki sehingga tidak adanya tekanan dari laki-laki di sekolah homogen perempuan membuat remaja perempuan lebih mudah mengekspresikan diri dan lebih dekat dengan teman-temannya yang lain sehingga mereka bersaing secara sehat untuk mencapai kesuksesan (Knuckey, 2016). Hal tersebut berbeda dari siswi di sekolah heterogen di mana remaja perempuan cenderung memperhatikan tubuhnya karena ada penilaian dari teman sebaya yang berjenis kelamin laki-laki (Tiggemann, 2001). Siswi di sekolah homogen cenderung memiliki evaluasi yang rendah terhadap penampilan fisiknya sehingga daya tarik fisik cenderung tidak diperhatikan hal tersebut disebabkan oleh reaksi sosial yang dimunculkan karena mereka hanya berinteraksi dengan teman yang berjenis kelamin sama. Dari situ dapat disimpulkan bahwa remaja perempuan yang bersekolah di sekolah homogen memiliki penilaian yang tinggi pada tubuhnya. E. Konformitas Setelah memaparkan mengenai persepsi tubuh pada bagian sebelumnya, pada bagian ini peneliti akan memaparkan mengenai definisi, aspek, serta faktor yang mempengaruhi konformitas. Setelah itu, peneliti akan memaparkan proses

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 dan dampak ketika seseorang melakukan konformitas dan kemudian dilanjutkan dengan konformitas yang dilakukan remaja perempuan di sekolah homogen. 1. Definisi Konformitas Alldden (1965 dalam Cialdini & Trost, 1998) menyatakan bahwa para ahli masih memunculkan pandangan yang bervariasi mengenai definisi dari konformitas. Asch (1956 dalam Cialdini & Trost, 1998) berpendapat bahwa konformitas berbeda dengan perilaku normatif, konformitas ditandai dengan adanya suatu perpindahan posisi seseorang dari posisi awal ke posisi bertentangan yang dimunculkan karena adanya perbandingan dengan orang lain atau orang-orang di dalam kelompok. Baron dan Branscombe (2012) mendefinisikan konformitas sebagai tekanan untuk berperilaku dengan cara yang dipandang dapat diterima atau sesuai oleh kelompok atau masyarakat pada umumnya. Menurut Taylor, Peplau, dan Sears (2009) konformitas adalah tindakan yang secara sukarela dilakukan seseorang karena orang lain juga melakukan hal yang sama. Dengan demikian, konformitas mengacu pada perubahan perilaku seseorang agar sesuai dengan respon orang lain (Cialdini & Goldstein, 2003) yang dilakukan karena adanya perbandingan dengan orang lain dalam suatu group. Tekanan untuk mengubah perilaku muncul karena adanya keinginan agar dapat diterima di lingkungannya Konformitas dalam psikologi sosial tradisional, cenderung mengabaikan dampak perkembangan teknologi pada pengalaman sosial seseorang (Kende, Ujhelyi, Joinson & Greitemeyer, 2015). Dalam beberapa tahun terakhir, seseorang dapat membuat dan berinteraksi dalam lingkaran

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 sosial baru dalam media sosial, dan untuk menavigasi modal sosial mereka (Yoo, Choi, Choi & Rho, 2014). Hal ini menyajikan peluang yang tampaknya tak terbatas bagi individu untuk tumbuh dan berkembang, sementara juga memfasilitasi peredaran norma dan pengaruh sosial yang tidak akan dapat diakses atau berpengaruh di dunia offline (Kende, et al., 2015). Pengaruh sosial dalam media sosial akan membuat seseorang cenderung melakukan hal yang juga disukai oleh orang yang ia kenal di media sosial (Egebrark & Ekström 2011). Informasi dan akses yang lebih mudah secara online akan memfasilitasi bentuk-bentuk baru konformitas, yang dapat mengarah pada internalisasi keyakinan sosial baru dan mengubah cara orang bertindak (Yoo et al., 2014) Dari definisi yang sudah disebutkan oleh para ahli, dapat disimpulkan bahwa konformitas adalah suatu tekanan yang mendorong seseorang untuk mengubah perilakunya secara sukarela agar sesuai dan dapat diterima oleh orang-orang dalam kelompoknya. Kemudahan mendapatkan informasi dari media sosial tentunya akan mempermudah persebaran norma dan juga pengaruh sosial, sehingga seseorang akan cenderung mengubah perilaku berdasarkan informasi yang mereka dapatkan. 2. Aspek-aspek Konformitas Ada beberapa motivasi yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri dengan orang lain. Cialdini dan Goldstein (2003) memaparkan bagaimana konformitas memberikan kemudahan bagi seseorang untuk mencapai tujuannya, yaitu memiliki keinginan untuk: berlaku efektif

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 dan tepat, membangun dan memelihara hubungan dengan orang lain, dan mempertahankan konsep diri. Berikut ini adalah penjelasan mengenai motivasi yang mendasari perilaku konformitas: a. Motivasi Akurasi Keinginan untuk membentuk interpretasi akurat dari realita serta berperilaku benar (Cialdini & Goldstein, 2003). 1) Perceived Concencus Perceived Concencus merupakan persepsi mengenai persetujuan umum bagaimana seseorang bereaksi terhadap kepercayaan yang dianut oleh orang lain. Sehingga bergantung pada tingkat keyakinan dan persetujuan dari orang tersebut. 2) Dynamical System Individu yang menempati ruang sosial tertentu akan cenderung menyesuaikan diri dengan sikap, kepercayaan dan kecenderungan perilaku yang ditunjukkan oleh mayoritas hal itu disebut Dynamical System. 3) Automatic Activation Konformitas juga mungkin merupakan produk dari automatic activation atau tujuan berorientasi afiliasi yang kurang sadar, memberikan jalan pintas adaptif yang memaksimalkan kemungkinan tindakan efektif terhadap sumber daya kognitif seseorang dengan usaha yang minimal (Chartrand & Bargh 1999 dalam Cialdini & Goldstein, 2003).

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 b. Motivasi Afiliasi Didasarkan pada tujuan mendapatkan persetujuan sosial dari orang lain (Cialdini & Goldstein, 2003). 1) Behavioral Mimicry Behavioral mimicry dijuluki efek bunglon, istilah ini menggambarkan perilaku yang cocok dengan postur, ekspresi wajah, karakteristik vokal, dan perilaku yang terjadi di antara dua individu atau lebih (Chartrand & Bargh 1999 dalam Cialdini & Goldstein, 2003). 2) Gaining Social Approach Individu sering terlibat dalam usaha yang lebih sadar dan disengaja untuk mendapatkan persetujuan sosial dari orang lain, untuk membangun hubungan yang bermanfaat dengan mereka, dan dalam prosesnya, untuk meningkatkan harga diri mereka disebut dengan gaining social approach (Cialdini & Goldstein, 2003). Terdapat sedikit kesamaan antara sub aspek gaining social approach dan automatic activation, perbedaannya adalah pada sub aspek gaining social approach perubahan perilaku dilakukan secara lebih sadar agar membangun suatu hubungan yang bermanfaat bagi seseorang sedangkan pada automatic activation dilakukan dengan kurang sadar.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 c. Motivasi mempertahankan konsep diri. Salah satu motivasi seseorang untuk menyesuaikan diri dengan perilaku dan pandangan orang lain adalah untuk meningkatkan, menjaga, dan memperbaiki harga dirinya. Oleh karena itu dapat dilihat bahwa perilaku menyesuaikan diri memiliki peran dalam menegaskan konsep diri seseorang. Seseorang yang fokus pada dasar-dasar harga dirinya seperti sifat (self-attribute), akan memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk menyesuaikan diri. Mempertahankan konsep diri dapat melalui cara perlindungan harga diri maupun proses kategorisasi diri (Cialdini & Goldstein, 2003). Dibawah ini, peneliti akan menjelaskan mengenai perspektif dasar kategorisasi diri mengenai pengaruh mayoritas dan minoritas, dan juga efek deindividuasi pada konformitas: 1) Majority and minority Influence Majority and minority influence merupakan sejauh mana seseorang mengidentifikasi sumber pesan, merupakan faktor penting dalam menentukan strategi pemrosesan informasi yang akan digunakan serta hasil usaha dan pengaruhnya. Pandangan mengenai pengaruh mayoritas dan minoritas meningkatkan ketertarikan dan dukungan pada perspektif kategorisasi diri. Efek dari pengaruh mayoritas dan minoritas hanya dapat dilihat jika seseorang menjadi anggota dari suatu group tertentu (David & Turner 2001 dalam Cialdini & Goldstein, 2003).

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 2) Deindividuation Effect Deindividution effect adalah suatu proses di mana seorang individu akan menyesuaikan perilakunya dengan norma lokal dan situasi spesifik yang ditentukan oleh identitas kelompok (Cialdini & Goldstein, 2003). Respons seseorang terhadap norma kelompok bukanlah suatu proses tanpa berpikir atau irasional tetapi mungkin saja merupakan proses sadar dan rasional yang berkaitan dengan identitas diri (Spears et al, 2001 dalam Cialdini & Goldstein, 2003). Postmes dan Spears (1998 dalam Cialdini & Goldstein, 2003) mengungkapkan bahwa daripada terlibat dalam kegiatan anti normatif, individu mengalami proses deindividuation yang tidak sesuai dengan perilaku mereka, akan tetapi untuk mengikuti norma-norma atau situasi khusus yang didefinisikan oleh identitas kelompok. 3. Faktor-faktor Konformitas Dalam kondisi tertentu seseorang akan cenderung menyesuaikan perilakunya dengan orang lain (Cialdini & Trost, 1998). Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi sikap seseorang dalam menentukan perilakunya, apakah ia akan menyesuaikan diri pada lingkungannya atau membangkang. Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi konformitas, yaitu sebagai berikut:

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 a. Cohesiveness (Kohesivitas) Cohesiveness merupakan salah satu cara seseorang untuk mencoba menyesuaikan diri dengan cara mengikuti perilaku yang berlaku dalam situasi tertentu dan didasarkan pada pengaruh orang lain. Seseorang melakukan hal tersebut agar dapat diterima oleh anggota kelompok. Jadi, semakin seseorang ingin menjadi anggota dan diterima oleh anggota lainnya, semakin orang itu berusaha untuk menghindari melakukan sesuatu yang akan memisahkan dirinya dari kelompok tersebut (Baron & Branscombe, 2012). b. Ukuran Kelompok Ukuran kelompok juga mempengaruhi karena konformitas cenderung meningkat apabila ukuran kelompok meningkat, setidaknya sampai titik tertentu (Sarwono, 2014). Jadi semakin banyak jumlah orang dalam kelompok yang berperilaku dengan cara tertentu, maka akan semakin besar pula kecenderungan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan melakukan apa yang orang-orang tersebut lakukan (Baron & Branscombe, 2012). c. Komitmen pada kelompok Komitmen adalah suatu kekuatan positif maupun negatif yang membuat individu tetap berhubungan atau tetap setia berada dalam kelompok (Taylor et al., 2009). Kekuatan positif tersebut misalnya adalah rasa suka atau rasa percaya yang membuat kelompok tersebut bekerja dengan baik. Dan kekuatan negatif adalah halangan keluar karena

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 seseorang telah berinvestasi besar dalam kelompok tersebut, sehingga ia akan mengalami kerugian jika keluar dari kelompok tersebut. Semakin besar komitmen seseorang terhadap kelompok, semakin besar tekanan ke arah konformitas terhadap standar kelompok (Taylor et al., 2009). d. Norma Sosial Norma sosial akan mempengaruhi perilaku hanya jika norma tersebut relevan pada orang-orang yang terlibat pada saat atau situasi tertentu (Baron & Branscombe, 2012). Seseorang yang berhadapan dengan mayoritas yang kompak akan cenderung menyesuaikan diri dengan mayoritas itu (Taylor et al., 2009). Norma sosial dibagi menjadi 2, yaitu: 1) Deskriptif Norma Deskriptif menggambarkan apa yang akan dilakukan oleh kebanyakan orang dalam suatu situasi. Norma deskriptif mempengaruhi perilaku dengan cara memberikan informasi yang spesifik untuk dilakukan dan perilaku seperti apa yang diterima dan tidak diterima dalam situasi tertentu (Baron & Branscombe, 2012). 2) Injunctive Norma injunctive adalah norma umum yang menentukan perilaku seperti apa yang disetujui atau tidak disetujui dalam situasi tertentu dengan pertimbangan secara etis dan tidak etis (Cialdini & Goldstein, 2003).

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 e. Keinginan Individuasi Masing-masing orang memiliki kesediaan yang berbeda untuk melakukan hal-hal yang secara mencolok berbeda dengan orang lain. Beberapa orang lebih suka melebur dalam kelompok dan mengikuti opini kelompok, sedangkan sebagian lainnya memilih tampil berbeda (Taylor et al., 2009). Jadi keputusan seseorang untuk mengikuti keinginan kelompok atau tidak, bergantung pada seberapa tingkat keinginan individuasi mereka. 4. Proses dan Dampak Seseorang akan merasa sangat tidak nyaman dan tertekan bila ia memiliki pendapat atau perilaku yang berbeda dari kebanyakan orang di sekitarnya karena pada umumnya pendapat atau perilaku dari pihak minoritas akan berujung pada ejekan (Asch, 1956; Crutchfield, 1955; Deutsch & Gerard, 1955, Schachter, 1951 dalam Cialdini & Trost, 1998). Untuk menghindari rasa tidak nyaman tersebut, kebanyakan orang akan memilih untuk menyesuaikan dirinya dengan orang di sekitarnya. Perubahan pendapat atau perilaku tersebut akan semakin meningkat ketika seseorang diminta untuk menyampaikannya secara langsung dalam kelompok yang besar, dan akan cenderung menurun ketika respon disampaikan secara personal (Cialdini & Trost, 1998). Hal tersebut juga dirasakan oleh seseorang yang mulai memasuki usia remaja dimana mereka ingin selalu terlihat baik di depan teman sebayanya. Remaja memilih untuk menyesuaikan diri mereka dengan teman sebayanya agar mereka tidak dijauhi oleh-teman-temannya.

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Penyesuaian diri pada remaja terjadi karena adanya 2 motivasi yang mempengaruhi konformitas yaitu; 1) seseorang akan cenderung bersikap konform ketika tujuannya ingin membuat suatu penilaian yang valid sehingga ia tidak akan merasa sendirian dalam memberikan jawaban atau berperilaku. 2) seseorang akan cenderung merasa lebih percaya diri ketika ada orang lain yang sependapat dengan dirinya sehingga seseorang bersikap konform agar dapat meningkatkan persetujuan terhadap diri sendiri, karena jika ia berbeda dari orang lain ia akan cenderung merasa cemas dan bersalah (Kiesler & Kiesler, 1969; Myers, 1996 dalam Cialdini & Trost, 1998; Cialdini & Goldstein, 2003). Ketika berada dalam kondisi yang demikian akan ada 2 jenis perilaku individu yang berbeda dalam menentukan sikap, yang pertama adalah early conformist yaitu mereka yang akan terus menerus menyesuaikan diri dengan kelompok mereka (konformitas tinggi). Sarwono (2001 dalam Susanti & Nurwidawati, 2014) mengatakan bahwa ada pengaruh positif yang diberikan ketika seseorang menyesuaikan diri dengan kelompoknya di antaranya hubungan akrab yang diikat oleh minat yang sama, kepentingan bersama dan saling membagi perasaan, setia saling tolong menolong untuk memecahkan masalah bersama, juga adanya perasaan gembira akibat penghargaan terhadap diri dan hasil usaha dan prestasinya. Hal tersebut memegang peranan penting dalam menumbuhkan rasa percaya diri individu tersebut, sehingga ikatan emosi bertambah kuat dan saling membutuhkan. Akan tetapi Sarwono dan Meinarno (2014) mengatakan ada pula pengaruh negatif dari konformitas yaitu seseorang akan cenderung tidak memiliki

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 pendirian dan hanya mengikuti temannya sehingga bisa berujung pada perkelahian serta perilaku-perilaku negatif yang lainnya. Jenis yang kedua adalah non conformist (konformitas rendah), kelompok ini cenderung memilih bertahan dalam perselisihan atau perbedaan pendapat dan tetap berdiri secara independen (Cialdini & Trost, 1998). Tingkat konformitas yang rendah menunjukkan bahwa remaja dapat memberikan keputusan tanpa takut ditolak oleh kelompok. Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa kohesivitas, ukuran kelompok, komitmen pada kelompok, norma sosial, serta keinginan individuasi merupakan faktor yang mempengaruhi konformitas. Proses dan dampak dari tingkat konformitas yang tinggi dan juga rendah juga sudah peneliti paparkan pada bagian sebelumnya. Pada bagian selanjutnya, peneliti akan menjelaskan mengenai dinamika konformitas pada remaja sisi sekolah homogen. F. Konformitas Remaja Siswi Sekolah Homogen Sebagai makhluk sosial, tentu saja seorang indivdu akan melakukan interaksi dengan individu yang lainnya. Begitu pula dengan remaja, sesuai dengan teori Erikson (dalam Papalia, Olds, Feldman, & Gross, 2008) dikatakan bahwa remaja berada pada fase di mana ia ingin dikenal dan diterima oleh kelompok peer-nya. Remaja memperlihatkan upaya mencari kesamaan dan kesinambungan dengan orang lain untuk menjelaskan arti kehadiran mereka. Identifikasi diri ini muncul ketika remaja memilih nilai dan orang tempat ia memberikan loyalitasnya seperti pada teman sebayanya. Pada masa ini rentan bagi remaja untuk mencoba-

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 coba. Dari dulu pria cenderung memegang jabatan dan posisi status yang lebih tinggi di banyak masyarakat daripada perempuan (Herdiansyah, 2016). Ada hubungan antara status dan kerentanan terhadap pengaruh sosial, status yang lebih rendah menyebabkan kecenderungan yang lebih besar untuk menyesuaikan diri Eagly (1987 dalam Baron & Branscombe, 2012) itulah sebabnya perempuan memiliki kemungkinan lebih besar untuk berlaku konform. Bagi remaja perempuan yang bersekolah di sekolah homogen, banyak sekali hal yang dapat dijadikan pembanding dengan dirinya. Hal tersebut dikarenakan banyaknya dinamika yang mereka lakukan dengan teman sebaya yang berjenis kelamin sama sehingga terdapat kecenderungan untuk tidak mau kalah. Siswi di sekolah homogen berlomba-lomba untuk mendapatkan prestasi yang tinggi. Lee & Bryk (1986) mengatakan bahwa sekolah homogen khususnya perempuan memberikan manfaat dalam kaitannya dengan prestasi akademik, juga pandangan terhadap peran jenis. Keinginan yang tinggi untuk berprestasi membuat remaja perempuan di sekolah homogen merasa tidak perlu memenuhi harapan dari kelompoknya sehingga kecenderungan untuk melakukan konformitas menjadi rendah. G. Hubungan Antara Konformitas dan Persepsi Tubuh Remaja Siswi Sekolah Homogen Budaya masyarakat di Indonesia cenderung bersifat kolektivistik, dan ciri khas dari budaya ini adalah konformitas. Dengan demikian maka orang-orang mudah mengikuti kegiatan, aktivitas, ataupun tren yang diikuti oleh banyak orang.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Hal tersebut membuat masyarakat Indonesia cenderung menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan mengikuti tren yang sedang berlangsung agar tidak dianggap aneh oleh lingkungan sekitarnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya Barat mempromosikan suatu bentuk tubuh yang tidak realistis bagi perempuan, ketidaksesuaian terhadap gambaran ideal tubuh ini menyebabkan penolakan sosial. Chapkis (1986 dalam Grogan, 2008) berpendapat bahwa perempuan ditindas oleh industri periklanan, media komunikasi, dan industri kosmetik. Media-media tersebut mempromosikan tren mengenai kecantikan yang kebaratbaratan bagi perempuan di seluruh dunia. Para peneliti bersepakat bahwa tekanan sosial untuk menyesuaikan diri dengan bentuk tubuh yang ideal lebih besar dialami oleh perempuan daripada pada laki-laki (Grogan, 2008). Hal tersebut menyebabkan perempuan akan selalu memperhatikan bagaimana penampilan mereka dan adanya rasa ketidakpuasan terhadap tubuh membuat perempuan berusaha untuk terlihat lebih menarik agar tidak dinilai negatif oleh lingkungannya. Penjelasan di atas menunjukkan adanya kemungkinan bahwa persepsi tubuh memiliki hubungan dengan konformitas pada remaja yang bersekolah di sekolah homogen perempuan. Penelitian dari Andriani & Ni’matuzahroh (2013) mengatakan bahwa konsep diri yang rendah akan diikuti pula oleh konformitas yang tinggi. Salah satu komponen dari konsep diri adalah persepsi tubuh. Disebutkan pula bahwa persepsi tubuh memiliki pengaruh yang cukup besar pada konformitas. Penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa ada hubungan yang negatif antara konformitas dan juga persepsi tubuh (Christanto, 2014; Handayani, 2011; Tiggemann, 2001).

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 Remaja mencoba untuk menyesuaikan diri dengan teman sebayanya dengan membeli barang-barang yang akan membuatnya tampil lebih menarik. Perilaku belanja tersebut terkadang melampaui batas sehingga remaja cenderung konsumtif (Laili, Soeranti, & Pertiwi, 2015; Sebayang, Yusuf, & Priyatama, 2011; Yuliantari & Herdiyanto, 2015). Remaja perempuan tahu bahwa mereka dapat menggunakan kosmetik dan memilih pakaian untuk melakukan kamuflase bagian tubuh yang mereka anggap buruk (Hurlock, 1973) sehingga ada kemungkinan bahwa remaja perempuan cenderung menetapkan standar tertentu bagi tubuh mereka sesuai dengan tayangan yang ia lihat dan berupaya agar dapat mencapai target tersebut. Melalui apa yang remaja lihat di media komunikasi, ia berusaha untuk menyesuaikan diri agar mencapai penilaian yang ideal. Penyesuaian diri tersebut, mereka lakukan agar tidak mendapat mendapatkan penolakan dari lingkungan sosial mereka terutama teman sebaya. Selain itu, remaja juga mencoba untuk menyesuaikan diri dengan artis idola yang ia lihat di media karena remaja mulai mengerti betapa pentingnya memperhatikan penampilan untuk memperoleh pengakuan sosial. H. Kerangka Konseptual Seperti yang sudah dikatakan Hurlock (1973) pada bagian sebelumnya, pada perempuan usia remaja dimulai dari 13 sampai dengan 18 tahun dengan ditandai dengan menarche. Pada masa pubertas, banyak sekali perubahanperubahan yang akan dialami oleh remaja. Pada masa ini remaja memerlukan orang lain seperti teman sebaya dan orang tua untuk memenuhi tugas

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 perkembangannya tersebut. Orang tua dan teman sebaya memiliki peran yang sangat penting dalam pengambilan keputusan bagi seorang remaja. Orang tua memiliki peran yang penting dalam memberikan contoh perilaku yang nantinya akan diimitasi oleh remaja perempuan, begitu pula dengan teman sebaya di mana seorang remaja sangat membutuhkan pengakuan dari lingkungan sosialnya terutama teman sebayanya (peer group). Dalam beberapa hal, remaja tetap masih membutuhkan orang tua untuk menentukan pilihan, termasuk pilihan untuk bersekolah di sekolah homogen (Mensinger, 2001). Lingkungan sekolah tentu saja mempengaruhi perilaku remaja dalam pergaulannya. Perasaan ingin diterima oleh teman sebaya membuat remaja cenderung ingin mengikuti perilaku atau menggunakan pakaian, aksesoris bahkan riasan yang saat itu sedang digemari oleh teman sebayanya. Tren fashion yang sedang digemari tersebut remaja dapatkan dari media massa dan juga media sosial. Dari akun-akun media sosial yang dimiliki, remaja mendapatkan informasiinformasi mengenai gaya berbusana yang terbaru. Akan tetapi informasi-informasi yang ditunjukkan di media sosial justru membuat remaja cenderung merasa kurang percaya diri karena membandingkan dirinya dengan model-model yang ditampilkan di media massa dan juga media sosial sehingga remaja cenderung memiliki kepuasan yang rendah terhadap tubuhnya dan tentunya berpengaruh pada penilaian terhadap tubuhnya yang juga akan cenderung rendah. Ketika keinginan untuk tampil lebih menarik tidak dikelola dengan baik maka seorang remaja akan memiliki penilaian dan kepuasan pada tubuh yang rendah sehingga

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 cenderung menimbulkan kecenderungan eating disorder karena terlalu memaksakan diri untuk mendapatkan bentuk tubuh yang ideal. Persepsi atau penilaian tubuh yang rendah akan berpengaruh pada meningkatnya permasalahan makan seperti munculnya keinginan untuk diet karena adanya dorongan untuk menjadi kurus, sehingga muncullah simptom bulimia, bigne eating, dan sindrom BN (Grogan, 2008). Selain itu persepsi tubuh yang rendah juga akan berpengaruh pada perkembangan self esteem yang rendah. Perasaan-perasaan tertekan yang muncul akan berpengaruh pada munculnya perilaku ekstrem dalam mengubah tubuh seperti implan, bahkan operasi plastik. Hal tersebut membuat remaja tumbuh menjadi individu yang tidak bahagia dan sehat mental. Akan tetapi bagi remaja yang tetap percaya diri dengan penampilannya dan tidak terpengaruh dengan iklan-iklan dan model di media sosial akan lebih menghargai dirinya sebagai pribadi yang unik dan berbeda dari orang lain. Oleh karena itu akan muncul perasaan nyaman, percaya diri, merasa menarik, dan juga merasa bahagia dengan tubuhnya. Remaja perempuan juga akan memiliki kontrol diri yang baik sehingga ia akan memiliki koneksi dengan tubuhnya dan dapat segera mengetahui apa yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Halhal tersebut tentu saja akan meningkatkan kemampuan remaja perempuan dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal relationship), meningkatkan perilaku altruistik, waspada terhadap penyakit, dan membangun daya tahan tubuh oleh karena itu remaja tersebut lebih cenderung sehat mental. Jika digambarkan dalam kerangka konseptual akan menjadi sebagai berikut:

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Remaja siswi sekolah homogen Belajar bersosialisasi dengan lingkungan Remaja dengan perilaku konformitas rendah Remaja dengan perilaku konformitas tinggi  Berdiri secara independen   Ingin terlihat baik di mata teman sebaya Berani mengambil keputusan tanpa takut ditolak  Mengambil keputusan dan berlaku sesuai dengan keinginan lingkungan  Merasa percaya diri dan nyaman Remaja dengan persepsi tubuh tinggi Remaja dengan persepsi tubuh rendah  Menghargai diri  Merasa tertekan  Memiliki kontrol dan koneksi diri yang baik  Melakukan perubahan pada penampilan bahkan tubuhnya  Merasa puas dan bahagia dengan tubuhnya, menjadi individu yang sehat mental  Merasa kurang puas dengan tubuhnya, menjadi individu yang kurang sehat mental Gambar 1 Hubungan antara Konformitas dalam Media Sosial dan Persepsi Tubuh Remaja Siswi Sekolah Homogen I. Hipotesis Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan dan negatif antara konformitas dan persepsi tubuh pada remaja perempuan. Semakin rendah sikap konformitas yang dilakukan remaja, maka semakin tinggi persepsi tubuhnya. Sebaliknya, semakin tinggi sikap konformitas remaja, maka semakin rendah persepsi terhadap tubuhnya.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Pengantar Dalam bab sebelumnya, peneliti telah menjabarkan mengenai tinjauan pustaka yang peneliti gunakan sebagai dasar dalam penyusunan penelitian ini. Selanjutnya, peneliti akan menjelaskan mengenai metode penelitian yang akan peneliti gunakan secara keseluruhan. Penjelasan akan dimulai dengan ulasan mengenai rancangan penelitian, variabel penelitian, partisipan penelitian, prosedur dan metode pengumpulan data, validitas dan reliabilitas dari skala, serta metode dan teknik analisis data. Dalam bab ini, peneliti juga akan memberikan rancangan atau blue print penelitian yang akan peneliti gunakan dalam penyusunan skala konformitas dan juga skala persepsi tubuh. B. Rancangan Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian kuantitatif bertujuan untuk menguji suatu teori secara objektif dengan cara meneliti hubungan antar variabel-variabel penelitian (Supratiknya, 2015). Variabel-variabel penelitian harus dapat diukur sehingga dihasilkan data numerik yang bisa dianalisis secara statistik (Creswell, 2009 dalam Supratiknya, 2015). Desain penelitian yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah desain surveys-analytics. Dengan metode surveys-analytics, peneliti hendak menggambarkan dan membuat generalisasi pada suatu populasi mengenai 62

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 hubungan antara variabel-variabel yang akan diteliti berdasarkan sampel. Kelebihan desain survei adalah sifatnya yang relatif sederhana untuk mengidentifikasi keadaan populasi berdasarkan penelitian terhadap salah satu sampel yang relatif kecil (Coolican, 2014). C. Partisipan Dalam bagian ini, peneliti akan menjelaskan populasi dan juga sampel yang akan digunakan dalam penelitian. Penjelasan akan dimulai dari populasi dan kemudian dilanjutkan dengan jumlah yang lebih sedikit yaitu sampel penelitian. 1. Populasi Populasi adalah semua anggota yang berada dalam suatu kelompok tertentu (Coolican, 2014). Partisipan yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah remaja yang berjenis kelamin perempuan. Adapun kriteria partisipan dalam penelitian ini adalah remaja perempuan dalam rentang usia 13-21 tahun sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh (Hurlock, 1973). Secara lebih spesifik peneliti memilih siswa SMA homogen khusus perempuan di kota Yogyakarta untuk menjadi populasi. Di Yogyakarta terdapat 3 sekolah homogen perempuan yang sesuai kriteria yaitu SMA Stelladuce 1, SMA Stelladuce 2, dan juga SMA Santa Maria. Karena jumlah populasi tersebut cukup besar, maka peneliti akan menggunakan sampel dari populasi untuk menjadi partisipan penelitian.

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 2. Sampel Sampel adalah sub kelompok dari populasi target yang direncanakan diteliti oleh peneliti untuk menggeneralisasikan hasil dari keseluruhan populasi target (Coolican, 2014; Creswell, 2014). Dalam menentukan sampel, peneliti menggunakan proses seleksi opportunity sample atau sering disebut dengan convenience sampling (Coolican, 2014). Peneliti memilih teknik convenience sampling karena anggota sampel akan dipilih berdasarkan kemudahan atau ketersediaan untuk mengakses sampel yang sesuai dengan kriteria partisipan yang akan diteliti (Coolican, 2014; Supratiknya, 2015). Seperti yang sudah dijelaskan di atas, populasi dari penelitian ini adalah remaja perempuan yang bersekolah di sekolah homogen perempuan di Yogyakarta. Selanjutnya, pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik convenience sampling dengan pertimbangan kemudahan peneliti. D. Identifikasi dan Definisi Variabel Penelitian Di bawah ini akan dijelaskan secara lebih rinci mengenai variabel-variabel yang akan diteliti. Penjelasan dimulai dari identifikasi variabel, dan dilanjutkan dengan definisi operasional dari variabel konformitas dan juga persepsi tubuh. 1. Identifikasi Variabel Variabel adalah atribut atau karakteristik yang melekat pada individu yang dapat diobservasi atau bahkan diukur serta bervariasi antara satu individu dengan individu yang lainnya (Creswell, 2009 dalam Supratiknya, 2015). Variabel yang dalam penelitian ini adalah :

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65  Variabel bebas : Konformitas dalam media sosial  Variabel terikat : Persepsi tubuh 2. Definisi Operasional Berikut adalah penjelasan dari masing-masing variabel: a. Konformitas Media Sosial Konformitas adalah suatu tindakan yang mengacu pada perubahan perilaku seseorang agar sesuai atau sama dengan respon orang lain (Cialdini & Goldstein, 2003). Kemudahan mendapatkan informasi dari media sosial tentunya akan mempermudah persebaran norma dan juga pengaruh sosial, sehingga seseorang akan cenderung mengubah perilaku berdasarkan info yang mereka dapatkan (Egebrark & Ekström 2011; Kende, et al., 2015; Yoo et al., 2014). Peneliti akan mengukur variabel konformitas dengan skala konformitas yang terdiri dari tiga aspek yaitu motivasi akurasi, motivasi afiliasi dan juga motivasi mempertahankan konsep diri. Perilaku yang muncul dari tiga aspek tersebut adalah 1) berperilaku sesuai dengan realita di lingkungannya karena adanya keinginan untuk berperilaku benar, 2) melakukan hal yang sama dengan orang lain agar mendapat persetujuan dari orang tersebut, 3) mempertahankan harga diri melalui perlindungan harga diri maupun proses kategorisasi diri (Cialdini & Goldstein, 2003). Perilaku konformis ini akan diukur menggunakan alat ukur yang peneliti susun. Skala konformitas ini akan melihat tingkatan dari perilaku konformitas remaja perempuan berdasarkan nilai dari masing-masing item dalam skala, mulai

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 dari perilaku konformitas yang rendah hingga tinggi. Semakin tinggi nilai yang diperoleh, maka akan mengindikasikan bahwa partisipan memiliki kecenderungan melakukan perilaku konformitas yang tinggi, begitu pula sebaliknya. b. Persepsi Tubuh Persepsi tubuh adalah suatu sikap seseorang mengenai tubuhnya yang berupa suatu penilaian baik itu positif maupun negatif (Cash & Smolak, 2011). Skala persepsi tubuh akan digunakan untuk mengukur variabel persepsi tubuh. Menurut Cash (2000) skala persepsi tubuh ini dibagi menjadi sepuluh cara penilaian yaitu; 1) perasaan mengenai penampilan (Appearance evaluation), 2) pemahaman mengenai penampilan (Appearance orientation), 3) perasaan mengenai kebugaran fisik (Fitness evaluation), 4) pemahaman mengenai kebugaran fisik (Fitness orientation), 5) perasaan mengenai kesehatan (Health evaluation), 6) pemahaman mengenai kesehatan (Health orientation), 7) pemahaman tentang penyakit (Illnes orientation), 8) kepuasan terhadap bagian tubuh (Body area satisfaction), 9) kecemasan menjadi gemuk (Overweight preoccupation), dan 10) kemampuan mengategorikan ukuran tubuh (Selfclassified weight). Penilaian terhadap tubuh ini akan diukur dengan skala persepsi tubuh yang disusun oleh peneliti. Alat ukur ini akan melihat tingkatan dari penilaian remaja perempuan terhadap tubuhnya berdasarkan nilai dari masing-masing item dalam skala, mulai dari penilaian yang rendah hingga tinggi. Semakin tinggi nilai yang diperoleh menunjukkan

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 semakin puas remaja pada tubuhnya dan cenderung positif penilaian terhadap tubuhnya, begitu pula sebaliknya. Setelah memaparkan mengenai identifikasi variabel serta definisi operasional dari variabel dalam penelitian ini, peneliti akan menguraikan prosedur pelaksanaan penelitian. Uraian prosedur dimulai dari awal penyusunan skala hingga peneliti mendapatkan data yang mencukupi. E. Prosedur Pelaksanaan Pada prosedur pelaksanaan, peneliti mengawali penelitian dengan menyusun skala konformitas dan skala persepsi tubuh. Peneliti menyusun item dalam sebuah blue print untuk mempermudah peneliti menentukan indikator dan menyusun item-item dari skala yang akan peneliti buat. Peneliti meminta bantuan dari dosen pembimbing sebagai expert judgement untuk memberikan penilaian mengenai sejauh mana pertanyaan-pertanyaan yang tercantum dalam skala sudah sesuai dengan topik dan teori yang menjadi acuan peneliti. Peneliti juga meminta bantuan dari 6 orang peer-rater untuk memberikan rating pada skala peneliti. Penilaian tersebut bertujuan untuk melihat kesesuaian antara item yang peneliti buat dengan teori yang diacu. Setelah item-item diseleksi, terbentuklah skala konformitas dengan jumlah 56 item dan skala persepsi tubuh berjumlah 80 item. Setelah itu, peneliti menyusun skala penelitian dalam google form. Dalam skala yang peneliti buat, peneliti mencantumkan informed consent sebagai tanda persetujuan dari partisipan

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 untuk berpartisipasi. Selain itu, peneliti juga mencantumkan cara pengisian skala agar mempermudah partisipan dalam pengisian skala ini. Dalam kolom identitas peneliti hanya meminta partisipan untuk mengisikan nama berupa inisial, usia, dan juga asal sekolah hal tersebut peneliti lakukan agar partisipan merasa aman akan kerahasiaan data yang ia berikan. Peneliti juga mencantumkan identitas peneliti secara jelas sehingga partisipan dapat menghubungi peneliti jika partisipan memiliki pertanyaan mengani topik penelitian. Setelah skala siap digunakan, peneliti menyebarkan skala penelitian dalam bentuk google form ke siswa yang bersekolah di sekolah homogen. Untuk waktu pengambilan data, peneliti mulai menyebarkan skala try out pada tanggal 25 Mei 2018 dan berakhir pada 4 Juni 2018. Peneliti mendapatkan 39 partisipan mengisi skala try out yang peneliti buat. Setelah pengambilan data try out dirasa cukup, peneliti kemudian melakukan seleksi item dengan melihat korelasi total antar item untuk memilih item-item yang layak dijadikan item skala penelitian. Analisis terhadap data yang sudah didapatkan dengan bantuan program SPSS for Windows versi 22. Setelah memeriksa validitas dan reliabilitas dari kedua skala yang peneliti susun, terbentuklah skala konformitas dengan jumlah 34 item dan skala persepsi tubuh dengan jumlah 37 item. Ketika telah mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing, peneliti segera mengambil data penelitian pada partisipan remaja usia 13-21 tahun dan sedang bersekolah di sekolah homogen perempuan di Yogyakarta. Pengambilan data dimulai dari tanggal 17 Agustus 2018 sampai dengan 13 September 2018. Penyebaran skala dilakukan secara online dengan

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 bantuan ketua osis dan official account dari media sosial di setiap sekolah homogen perempuan di Yogyakarta. Dari proses pengambilan data, peneliti mendapatkan 246 partisipan. F. Pengumpulan Data Dalam bagian ini, peneliti akan menjelaskan mengenai metode dan alat pengumpulan data yang akan peneliti gunakan. Penjelasan akan dimulai dari metode pengumpulan data, sampai penyusunan alat pengumpulan data. 1. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode skala atau kuesioner agar peneliti mendapatkan data primer atau data yang di dapatkan langsung dari partisipan. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengumpulan data dengan menggunakan skala yang disebarkan kepada partisipan penelitian dalam bentuk google form. 2. Alat Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan skala persepsi tubuh dan skala konformitas yang peneliti susun berdasarkan tinjauan pustaka yang peneliti jadikan acuan. Berikut adalah penjelasan mengenai kedua skala tersebut: a. Skala Konformitas Skala konformitas berguna untuk mengukur bentuk-bentuk perilaku konformitas yang dilakukan oleh remaja perempuan. Skala yang peneliti susun berdasar pada teori yang dikemukakan oleh Cialdini dan

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Goldstein (2003). Peneliti menggunakan model skala Likert yang sedikit dimodifikasi sehingga setiap itemnya memuat empat respon yaitu; SS (Sangat Sesuai), S (Sesuai), TS (Tidak Sesuai), dan STS (Sangat Tidak Sesuai). Partisipan diminta untuk memilih satu dari empat pilihan respon yang tersedia. Modifikasi jumlah pilihan jawaban dimaksudkan agar dapat menghindari kecenderungan partisipan memilih jawaban netral. Hasil skor yang tinggi dalam skala konformitas ini akan menunjukkan semakin tingginya kecenderungan remaja untuk semakin konformis dengan kelompoknya, begitu pula sebaliknya. Penskoran skala konformitas dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 1 Penskoran Skala Konformitas Respon Sangat Sesuai Sesuai Tidak Sesuai Sangat Tidak Sesuai Penskoran Favorable Unfavorable 4 1 3 2 2 3 1 4 Skor tinggi yang diperoleh dari skala ini mengindikasikan bahwa partisipan memiliki kecenderungan yang tinggi dalam menyesuaikan diri dengan orang lain di lingkungannya. Sedangkan skor yang rendah mengindikasikan bahwa partisipan cenderung tidak mudah terpengaruh untuk menyesuaikan diri dengan orang lain. Di bawah ini akan disajikan blue print dari skala konformitas.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Tabel 2 Blue Print Skala Konformitas Konsep Aspek Sub Aspek Indikator Memutuskan sesuatu setelah diyakinkan oleh Perceived orang lain. Concencus Merasa melakukan suatu hal yang benar ketika banyak orang juga melakukannya. Berperilaku sesuai dengan situasi dan kondisi saat Motivasi Akurasi Dynamical itu. System Mengikuti apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang di lingkungannya. Mengikuti hal-hal yang dilakukan banyak orang Automatic agar diterima di lingkungannya. Activation Menyesuaikan diri agar diperhatikan orang di sekitarnya. Motivasi Afiliasi Behavioral Mimicry Menyesuaikan perilaku dengan orang yang diidolakan/ dikagumi. Menyesuaikan penampilan dengan orang yang

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 diidolakan/dikagumi. Menirukan perilaku orang lain untuk menjaga Gaining Social hubungan baik dengan mereka. Approach Merasa lebih berharga ketika diterima di kelompok tertentu Majority and minority Mempertahankan Influence konsep diri Deindividuation Effect Menunjukkan perilaku yang sesuai dengan suara mayoritas. Tidak terpengaruh pada perilaku yang dimunculkan minoritas. Menyesuaikan perilaku dengan identitas dan norma kelompok. Menunjukkan perilaku yang sesuai dengan situasi kelompok.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Tabel 3 Sebaran Item Skala Konformitas untuk Uji Coba Nomor Item Sub Aspek Total Favorable Unfavorable Perceived Concencus 45, 29, 27, 4 22,30, 56, 1 8 Dynamical System 41, 47, 5, 32 14,49, 17, 46 8 Automatic Activation 26, 44, 40, 48 2, 19, 35, 51 8 Behavioral Mimicry 36, 6, 18, 17 16, 23, 11, 24 8 Gaining Social Approach 53, 20, 9, 13 25, 54, 34, 33 8 50, 39, 31, 8 42, 15, 55, 21 8 Deindividuation Effect 28, 10, 12, 3 52, 43, 37, 38 8 TOTAL 28 28 56 Majority and minority Influence b. Skala Persepsi tubuh Skala persepsi tubuh juga menggunakan model skala Likert yang mengacu pada aspek-aspek dari teori yang dikemukakan oleh Cash (2000). Dalam skala Persepsi tubuh ini terdapat empat respon yaitu; SS (Sangat Sesuai), S (Sesuai), TS (Tidak Sesuai), dan STS (Sangat Tidak Sesuai). Partisipan diminta untuk memilih satu dari empat pilihan respon yang tersedia. Skala tersebut telah dimodifikasi oleh peneliti untuk menghindari kecenderungan partisipan menjawab netral sebagai pilihannya. Hasil skor yang tinggi dalam skala persepsi tubuh ini akan menunjukkan semakin

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 tingginya penilaian remaja perempuan terhadap tubuhnya, dan sebaliknya. Penskoran skala persepsi tubuh dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 4 Tabel Penskoran Skala Persepsi tubuh Respon Sangat Sesuai Sesuai Tidak Sesuai Sangat Tidak Sesuai Penskoran Favorable Unfavorable 4 1 3 2 2 3 1 4 Skor tinggi diperoleh oleh partisipan yang memiliki penilaian yang tinggi dan cenderung positif serta puas terhadap tubuhnya. Sedangkan partisipan yang memiliki skor rendah cenderung memiliki penilaian yang rendah terhadap tubuhnya dan tidak puas pada tubuhnya. Pada halaman selanjutnya, akan dipaparkan blue print dari skala persepsi tubuh.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Tabel 5 Blue Print Skala Persepsi Tubuh Konsep Aspek Appearance Persepsi tubuh juga evaluation Indikator Merasa bangga dan percaya diri dengan kondisi fisiknya saat ini. Tidak membandingkan tubuhnya dengan orang lain. Memperhatikan penampilan secara detail. merupakan suatu sikap Appearance Memperhatikan fashion yang cocok untuk dipakai dan mengikuti tren yang yang dimiliki oleh orientation ada saat ini. seorang individu terhadap tubuhnya Fitness yang berupa suatu Evaluation penilaian baik itu Merasa memiliki fisik yang sehat dan tubuh yang atletis. Merasa berkompeten dalam kegiatan yang membutuhkan aktivitas fisik. Terlibat dalam aktivitas fisik untuk meningkatkan kebugaran. Fitness positif maupun negatif Membiasakan diri untuk berolahraga dan menjadikan rutinitas dalam gaya Orientation (Cash & Smolak, 2011) hidupnya. Health Memiliki perhatian pada kesehatan tubuhnya.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 Evaluation Health orientation Merasa sehat dan tidak mudah tertular penyakit. Mengetahui cara-cara hidup sehat. Melakukan gaya hidup sehat agar terhindar dari penyakit. Waspada terhadap gejala penyakit fisik yang muncul. Illnes Orientation Mencari tahu tentang penanganan medis yang tepat ketika merasa tidak sehat. Body area Merasa puas dengan bentuk dan ukuran dari setiap bagian tubuh yang dimiliki. satisfaction Merasa bahagia dengan setiap bagian tubuh yang dimiliki. Overweight Menghindari hal-hal yang akan membuat gemuk preoccupation Melakukan pengendalian terhadap berat badan. Memiliki penilaian yang tepat pada tubuh yang kurus sampai kelebihan berat. Self-classified Memiliki penilaian yang sama dengan orang lain mengenai ketegorisasi berat weight badan.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Tabel 6 Sebaran Item Skala Persepsi Tubuh untuk Uji Coba Nomor Item Sub Aspek Favorable Unfavorable Total Appearance evaluation 57, 65, 75, 35 8, 2, 49, 27 8 Appearance orientation 78, 53, 26, 15 66, 10, 64, 70 8 Fitness Evaluation 67, 28, 30, 47 13, 52, 22, 21 8 Fitness Orientation 69, 73, 18, 33 31, 19, 6, 71 8 Health Evaluation 74, 59, 79, 7 63, 55, 36, 12 8 Health orientation 4, 39, 45, 16 50, 5, 60,58 8 Illnes Orientation 40, 80, 37, 68 44, 56, 38, 43 8 Body area satisfaction 3, 48, 11, 14 72, 46, 23, 54 8 Overweight preoccupation 34, 24, 25, 51 17, 29, 41, 77 8 Self-classified weight 62, 32, 61, 1 9, 20, 76, 42 8 40 40 80 TOTAL Dari pemaparan di atas dapat dilihat bahwa peneliti menyusun item-item yang akan digunakan dalam skala penelitian dengan menggunakan bantuan blue print. Item-item dalam skala konformitas dan juga persepsi tubuh akan diujicobakan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk mengambil data penelitian yang sebenarnya.

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 G. Validitas dan Reliabilitas Untuk mendapatkan skala penelitian yang layak digunakan, item-item dalam suatu skala harus diuji validitas dan juga reliabilitasnya. Di bawah ini akan dipaparkan mengenai validitas dan juga reliabilitas penelitian. 1. Validitas Skala Validitas adalah kualitas esensial yang menunjukkan sejauh mana suatu tes sungguh-sungguh dapat mengukur atribut psikologis yang hendak diukurnya (Supratiknya, 2014). Di samping itu, Azwar (2009) mengatakan bahwa validitas mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu alat ukur yang valid tidak sekedar mampu mengungkapkan data dengan tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Dari pengertianpengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa validitas pengukuran menunjukkan kualitas mengenai ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsinya mengukur suatu atribut psikologis tertentu. Tipe validitas umumnya dibagi menjadi tiga kategori, yaitu; content validity (validitas isi), construct validity (validitas konstruk), dan criterionrelated validity (validitas berdasar kriteria) (Azwar, 2009; Supratiknya, 2014). Peneliti menggunakan prosedur validitas isi atau content validity untuk melakukan validasi terhadap penelitian ini. Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan bantuan dari profesional judgement (Azwar, 2009). Peneliti meminta bantuan dosen pembimbing skripsi sebagai expert judgement untuk melihat kesesuaian antara

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 alat ukur dan konstruk yang diukur. Peneliti juga melakukan peer-rating untuk mendapatkan validitas isi yang baik. Setelah peneliti mendapatkan penilaian, peneliti menetapkan nilai IVI-I > 0,83 untuk dipakai dalam skala penelitian. Penentuan nilai 0,83 berdasar pada nilai IVI-I minimun 0.78 dari Lynn (1986 dalam Supratiknya, 2016). Akan tetapi peneliti mempertimbangkan beberapa item yang memiliki nilai 0.83 untuk direvisi dan digunakan kembali. Nilai IVI-S pada kedua skala yaitu konformitas dan persepsi tubuh adalah 0.90. Hal itu berarti item-item dalam skala sudah dapat dinilai valid dari segi isinya (Supratiknya, 2016). Selain itu peneliti juga memanfaatkan blue print yang memuat cakupan dari skala menurut teori yang dapat membantu agar validitas muka dan validitas logik terpenuhi. 2. Reliabilitas Skala Setelah validitas tes, bagian ini merupakan pemaparan dari reliabilitas skala. Reliabilitas adalah konsistensi hasil pengukuran jika prosedur pengetesannya dilakukan secara berulang kali terhadap suatu populasi individu atau kelompok (AERA, APA, & BNCME, 1999 dalam Supratiknya, 2014). Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya (Azwar, 2009). Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa reliabilitas adalah konsistensi hasil dari suatu pengukuran yang dapat dipercaya jika prosedur tesnya dilakukan berulang kali pada populasi atau kelompok yang berbeda.

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Ada tiga jenis pendekatan koefisien reliabilitas yaitu; Koefisien bentuk alternatif, Koefisien tes-retest, dan Koefisien konsistensi internal (Supratiknya, 2014). Pengujian reliabilitas yang peneliti gunakan adalah pendekatan konsistensi internal Alpha Cronbach yang dilakukan untuk menguji reliabilitas skala konformitas dan persepsi tubuh. Koefisien reliabilitas berkisar mulai dari 0.0 sampai dengan 0.1. Koefisien reliabilitas rxx’= 1.0 menandakan adanya konsistensi yang sempurna pada hasil ukur yang bersangkutan (Azwar, 2009). Setelah melakukan uji coba, peneliti menemukan bahwa koefisien reliabilitas dari skala konformitas adalah 0.932 untuk 34 item sedangkan skala persepsi tubuh menunjukkan koefisien reliabilitas sebesar 0.852 untuk 37 item. Kedua skala yang peneliti susun memiliki reliabilitas yang cukup tinggi. Berikut adalah hasil penghitungan reliabilitas dari skala konformitas dan persepsi tubuh: Tabel 7 Reliabilitas Skala Konformitas Cronbach’s Alpha N of Items 0.932 34 Tabel 8 Reliabilitas Skala Persepsi tubuh Cronbach’s Alpha N of Items 0.852 37

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 3. Daya Diskriminasi Item Daya diskriminasi item merupakan penilaian mengenai sejauh mana item mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan yang tidak memiliki atribut yang diukur, atau dalam penelitian ini atribut yang diukur adalah konformitas dalam media social dan juga persepsi tubuh. Item yang berdaya beda tinggi adalah item yang mampu membedakan mana partisipan yang memiliki nilai positif dan mana yang negatif (Azwar, 2017). Untuk mengetahui hal tersebut, peneliti melakukan try out pada dua skala yang telah peneliti buat. Hal tersebut peneliti lakukan untuk mengetahui apakah alat ukur tersebut memenuhi nilai reliabilitas suatu alat ukur karena dalam suatu penelitian tidak menutup kemungkinan adanya error. Berikut adalah hasil dari try out dari dua skala yang peneliti buat: a. Skala konformitas Awalnya skala konformitas memiliki 56 item dan setelah try out tersisa 34 item. Sehingga dari proses tersebut terdapat 22 item yang gugur. Banyaknya item yang gugur tersebut dapat terjadi karena error penelitian seperti terlalu banyak jumlah item yang digunakan untuk uji coba sehingga partisipan kelelahan dan cenderung menjawab dengan asal-asalan. Setelah melakukan uji coba, peneliti melakukan seleksi item berdasarkan koefisien korelasi ≥ 0,25. Walaupun banyak item yang gugur, aspek-aspek dalam skala konformitas masih dapat tergambarkan dari item-item yang tersisa.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 Tabel 9 Sebaran Item Skala Konformitas setelah Seleksi Item Nomor Item Sub Aspek Favorable Unfavorable Total Perceived Concencus *45, 29, 27, 4 *22,30, *56, 1 5 Dynamical System 41, 47, *5, 32 14,*49, *17, 46 5 Automatic Activation 26, 44, 40, 48 2, 19, *35, *51 6 Behavioral Mimicry *36, *6, 18, 17 16, 23, *11, *24 4 25, *54, *34, *53, 20, 9, 13 *33 4 Influence 50, *39, 31, *8 *42, 15, 55, *21 4 Deindividuation Effect 28, *10, 12, 3 *52, 43, 37, 38 6 TOTAL 20 14 34 Gaining Social Approach Majority and minority Catatan. nomor item yang bertanda bintang ( * ) adalah item yang gugur b. Skala persepsi tubuh Awalnya skala persepsi tubuh memiliki 80 item jadi 37 item. Setelah melakukan uji coba, peneliti melakukan seleksi item berdasarkan koefisien korelasi ≥ 0,25. Sehingga dari proses tersebut terdapat 48 item yang gugur. Banyaknya item yang gugur tersebut dapat terjadi karena error penelitian seperti terlalu banyak jumlah item yang digunakan untuk uji coba sehingga partisipan kelelahan dan cenderung menjawab dengan asal-asalan. Akan tetapi, untuk memenuhi jumlah target awal yaitu minimal 3 item dalam setiap aspek peneliti, memasukkan kembali item nomor 33, 59, 39, 24, dan 25. Peneliti memasukkan kembali item-item

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 tersebut dengan pertimbangan penambahan item tersebut tidak berdampak pada nilai reliabilitasnya dan nilai Cronbach’s Alpha cukup memuaskan yaitu 0.852. Walaupun banyak item yang gugur, aspek-aspek dalam skala persepsi tubuh masih dapat tergambarkan dari item-item yang tersisa. Tabel 10 Sebaran Item Skala Persepsi Tubuh Setelah Seleksi Item Nomor Item Sub Aspek Favorable Unfavorable Total Appearance evaluation 57, *65, *75, 35 *8, *2, 49, *27 3 orientation 78, 53, *26, 15 *66, *10, *64, 70 4 Fitness Evaluation 67, 28, *30, 47 *13, 52, 22, 21 6 Fitness Orientation *69, 73, *18, (33) *31, 19, *6, *71 3 Health Evaluation 74, (59), *79, 7 *63, *55, *36, *12 3 Health orientation 4, (39), *45, 16 *50, *5, *60, *58 3 Illnes Orientation 40, *80, *37, 68 44, 56, 38, *43 5 Body area satisfaction *3, 48, *11, *14 *72, 46, 23, *54 3 preoccupation *34, (24), (25), 51 *17, 29, *41, *77 4 Self-classified weight *62, *32, *61, 1 9, *20, *76, 42 3 TOTAL 23 14 37 Appearance Overweight Catatan. nomor item yang diberi tanda ( * ) adalah item yang gugur, dan nomor item dalam tanda kurung ( ) adalah item yang dimasukkan kembali Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa setelah peneliti memeriksa validitas dan juga reliabilitas dari skala yang peneliti buat telah di dapatkan item-item yang

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 layak dijadikan skala penelitian sesungguhnya. Skala konformitas terdiri dari 34 item, dan skala persepsi tubuh terdiri dari 37 item. H. Metode Dan Teknik Analisis Data Metode dan teknik analisis data yang digunakan adalah uji asumsi dan juga uji hipotesis. Penjelasan lebih lengkap akan dibahas pada bagian selanjutnya. 1. Uji Asumsi Sebelum melakukan uji hipotesis, peneliti melakukan uji asumsi dengan uji normalitas dan juga linearitas. a. Uji Normalitas Santoso (2010) mengatakan bahwa uji normalitas dilakukan untuk memeriksa apakah data penelitian berasal dari populasi yang sebarannya normal atau tidak. Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Kolmogorov-Smirnnov. Data dapat dikatakan memiliki persebaran data yang tidak normal ketika p < 0.05 sedangkan data dikatakan memiliki persebaran yang normal ketika memiliki nilai p > 0.05 (Santoso, 2010). b. Uji Linearitas Santoso (2010) mengatakan bahwa uji linearitas berfungsi untuk melihat apakah ada hubungan antar variabel yang hendak dianalisis. Jika terdapat hubungan antara kedua variabel maka data yang dianalisis akan mengikuti suatu garis lurus. Jadi peningkatan atau penurunan kuantitas dari suatu variabel akan diikuti secara linear oleh variabel yang lain.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Peneliti akan menggunakan program SPSS For Windows version 22 untuk melakukan uji linearitas. 2. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui hubungan dari variabel yang akan diteliti. Oleh karena itu, uji hipotesis akan dilakukan ketika data yang dimiliki telah memenuhi syarat linearitas atau data yang dianalisis sudah mengikuti suatu garis lurus (Santoso, 2010). Peneliti akan menggunakan bantuan program SPSS For Windows versi 22 untuk melakukan uji hipotesis. Uji normalitas dan juga uji linearitas akan dilakukan sebelum peneliti melaju pada uji hipotesis. Keseluruhan teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan bantuan dari program SPSS For Windows versi 22. I. Pertimbangan Etis Dalam suatu proses penelitian, seorang peneliti pasti membutuhkan bantuan dari orang lain sehingga peneliti harus mempertimbangkan kesejahteraan dari orang-orang yang terlibat dalam penelitian ini termasuk partisipan penelitian. Pada jalannya suatu penelitian, tidak menutup kemungkinan akan adanya suatu kejadian yang akan merugikan partisipan baik itu secara materi maupun psikologis. Oleh karena itu, seorang peneliti harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan dampak yang akan terjadi dan bagaimana cara mengantisipasi dampak yang akan muncul. Peneliti menggunakan acuan dari Kode Etik Psikologi yang diterbitkan oleh HIMPSI untuk mengantisipasi terjadinya hal yang akan merugikan partisipan

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 penelitian. Dalam Buku kode Etik yang diterbitkan oleh HIMPSI terdapat pasalpasal yang dapat membantu psikolog dan ilmuwan psikologi agar senantiasa menghargai dan menghormati harkat dan martabat serta menjunjung tinggi kesejahteraan hak asasi manusia (HIMPSI, 2010). Dalam penelitian ini, peneliti mengacu pada beberapa pasal yang terkait dengan penyelenggaraan penelitian. Pada pasal 45 dikatakan bahwa dalam penulisan rancangan penelitian diharapkan menggunakan format dan acuan yang sesuai dengan standar penelitian sehingga dapat dipahami oleh pihak lain yang berkepentingan, sehingga peneliti menggunakan acuan format yang telah diberikan oleh dosen pembimbing. Peneliti juga melakukan konsultasi pada pihak yang lebih ahli (expert) dalam penulisan penelitian hal tersebut sesuai dengan Pasal 46 sehingga peneliti mengikuti bimbingan rutin dengan dosen pembimbing. Kemudian pada pasal 53 peneliti tidak diperkenankan untuk merekayasa atau melakukan langkah-langkah lain yang tidak bertanggungjawab dan mengancam kesejahteraan partisipan. Selain itu, pada pasal 55 peneliti tidak diperkenankan melakukan plagiarisme pada karya cipta pihak lain serta mengutip tanpa menuliskan sumber secara jelas dan lengkap. Dalam interaksi dengan partisipan, peneliti juga mengacu pada beberapa pasal yaitu pasal 48 peneliti diharapkan hanya berinteraksi dengan partisipan di lokasi dan dalam hal-hal yang sesuai dengan rancangan penelitian. Pada pasal 50, peneliti tidak diperbolehkan untuk melakukan manipulasi atau menutupi informasi yang akan mempengaruhi keikutsertaan partisipan sehingga seperti pada pasal 49 peneliti diharapkan memberikan informed consent yang berisi tujuan dan prosedur

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 dari penelitian sebagai antisipasi keadaan yang akan membuat partisipan merasa tidak nyaman. Oleh karena itu akan ada kemungkinan pengunduran diri dari partisipan penelitian, akan tetapi peneliti tidak diperkenankan untuk memaksa partisipan yang akan mengundurkan diri agar kembali bergabung dalam penelitian.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengantar Pada bab ini peneliti akan memaparkan hasil dari penelitian yang sudah peneliti lakukan. Peneliti akan memaparkan mulai dari deskripsi data partisipan yang diteliti, setelah itu peneliti akan memaparkan mengenai perbandingan mean teoretis dan mean empiris. Selanjutnya, peneliti akan menampilkan perhitungan statistika mengenai distribusi data dari partisipan, dan membuktikan hubungan dari kedua variabel yang peneliti teliti. Dalam perhitungan statistik, peneliti menggunakan bantuan dari SPSS for Windows versi 22. Kemudian pada bagian pembahasan peneliti akan menjelaskan mengenai paparan data yang telah dibahas pada sub bab sebelumnya. B. Hasil Penelitian Setelah melakukan penelitian dan mendapatkan data, peneliti dapat melihat gambaran usia dan juga asal sekolah dari keseluruhan partisipan. Berikut adalah deskripsi dari data partisipan : 1. Deskripsi Partisipan Penelitian Berikut merupakan deskripsi data partisipan dalam penelitian ini: 88

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 Tabel 11 Rentang Usia Partisipan Usia Jumlah Partisipan Persentase 14 tahun 3 1.22% 15 tahun 25 10.16% 16 tahun 106 43.09% 17 tahun 90 36.59% 18 tahun 22 8.94% TOTAL 246 100% Kriteria partisipan dalam penelitian ini adalah remaja perempuan dalam rentang usia 13-21 tahun sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh (Hurlock, 1973). Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa mayoritas partisipan penelitian ini adalah remaja perempuan yang berusia 16 tahun dengan persentase sebesar 43.09% dari total partisipan berjumlah 246 orang. Tabel 12 Asal Sekolah Partisipan Asal Sekolah Jumlah Partisipan Persentase SMA Santa Maria Yogyakarta 32 13% SMA Stelladuce 1 Yogyakarta 81 32.93% SMA Stelladuce 2 Yogyakarta 133 54.07% TOTAL 246 100%

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Dari data yang telah peneliti dapatkan, dapat dilihat bahwa siswi dari tiga sekolah homogen di Yogyakarta berkontribusi dalam penelitian ini. Dari tabel tersebut diketahui bahwa peneliti mendapatkan data dengan jumlah terbesar sebanyak 54.07% atau berjumlah 133 orang dari total jumlah 246 dari SMA Stelladuce 2 Yogyakarta. 2. Uji Normalitas Seperti yang telah dibahas dalam bab sebelumnya, uji normalitas dilakukan untuk memeriksa apakah data penelitian berasal dari populasi yang sebarannya normal atau tidak (Santoso, 2010). Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Kolmogorov-Smirnnov. Santoso (2010) mengatakan bahwa data dapat dikatakan memiliki persebaran data yang tidak normal ketika p < 0.05 sedangkan data dikatakan memiliki persebaran yang normal ketika memiliki nilai p > 0.05. Tabel 13 Hasil Uji Normalitas Variabel Sig. N Konformitas 0.079 246 Persepsi tubuh 0.015 246 Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa data konformitas tersebar secara normal, karena p > 0.05 yaitu p = 0.079 sedangkan untuk persepsi

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 tubuh p < 0.05 atau p = 0.015 sehingga dapat diartikan bahwa sebaran datanya tidak normal. 3. Uji Linearitas Uji linearitas berfungsi untuk melihat apakah ada hubungan antar variabel yang hendak dianalisis. Jika terdapat hubungan antara kedua variabel maka data yang dianalisis akan mengikuti suatu garis lurus. Jadi peningkatan atau penurunan kuantitas dari suatu variabel akan diikuti secara linear oleh variabel yang lain (Santoso, 2010). Peneliti akan menggunakan program SPSS For Windows ver 2.2 untuk melakukan uji linearitas dan menentukan asusmsi linearitas berdasarkan Deviation from Linearity pada tabel ANOVA. Tabel 14 Hasil Uji Linearitas Data Penelitian Anova Table F Sig. Persepsi tubuh Linearity 2.551 0.112 Konformitas Deviation from Linearity 0.963 0.552 Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa hubungan antar variabel memenuhi asumsi linier karena nilai F Deviation from linearity berada pada rentang tidak signifikan (F= .963 atau p > 0,05) (Widhiarso, 2010).

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 4. Deskripsi Data Penelitian Berkaitan dengan skala pada variabel yang sedang diteliti, peneliti melakukan analisis terhadap data penelitian dengan menentukan mean teoretis dan mean empiris. Penghitungan ini digunakan untuk melihat gambaran umum mengenai tingkat konformitas dan persepsi tubuh dari partisipan penelitian. Berikut adalah data yang diperoleh: Tabel 15 Hasil Pengukuran Deskripsi Variabel Konformitas dan Persepsi Tubuh Data Teoretis Min Max Mean Data Empiris SD Min Max Mean Variabel N Item SD Konformitas 34 34 136 85 17 37 115 70.38 12.364 37 37 148 92.5 18.5 49 130 96.26 9.719 Persepsi tubuh Mean empiris dari variabel konformitas adalah 70.38, sehingga dapat dilihat bahwa nilainya lebih rendah dari mean teoretis, hal itu berarti konformitas remaja siswi sekolah homogen yang menjadi sampel penelitian cenderung lebih rendah dari rata-rata teoretis. Selain itu mean variabel persepsi tubuh adalah 96.26 atau lebih tinggi dari mean teoretisnya hal itu menandakan persepsi tubuh remaja cenderung lebih tinggi dari rata-rata teoretis.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 5. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel konformitas dan juga persepsi tubuh. Peneliti menggunakan teknik analisis Spearman’s rho dengan bantuan SPSS for Windows versi 22 karena data dari salah satu variabel tidak terdistribusi secara normal. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Santoso (2015) yang mengatakan bahwa metode non parametrik dapat digunakan ketika data terdistribusi secara tidak normal. Untuk data yang bersifat ordinal dapat digunakan korelasi Spearman (Santoso, 2015). Berikut adalah hasil perhitungan melalui bantuan SPSS. Tabel 16 Uji Hipotesis Data Penelitian Correlations Persepsi Konformitas Spearman's rho Persepsi tubuh Konformitas tubuh Correlation Coefficient 1.000 .089 Sig. (1-tailed) . .082 N 246 246 Correlation Coefficient .089 1.000 Sig. (1-tailed) .082 . N 246 246 Penelitian ini menggunakan uji satu ekor (one-tailed) karena hipotesis penelitian merupakan hipotesis yang berarah, yakni terdapat hubungan yang negatif antara konformitas dengan persepsi tubuh. Santoso (2010) mengatakan bahwa apabila koefisien korelasi memiliki taraf signifikasi p < 0.05 maka

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 terdapat korelasi yang signifikan. Akan tetapi berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara Konformitas dan persepsi tubuh karena nilai Sig > 0.005 (Sig = 0.082). C. Analisis Tambahan Data dari hasil penelitian ini baik variabel konformitas maupun persepsi tubuh dapat dikategorisasikan ke dalam tiga kategori, yakni; rendah, sedang, dan tinggi. Berikut adalah tabel kategorisasi variabel konformitas dan berdasar mean empiris. Tabel 17 Kategorisasi Konformitas Berdasarkan Mean Empiris Kategorisasi Nilai Rendah X < 58.016 Sedang 58.016 ≤ X < 82.744 Tinggi 82.744 ≤ X Tabel 18 Pembagian Kategori Berdasarkan Skala Konformitas Frequency Percent Rendah 41 16.7 Sedang 174 70.7 Tinggi 31 12.6 TOTAL 246 100

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 Berdasarkan hasil kategorisasi skor partisipan penelitian pada skala konformitas, terlihat bahwa sebagian besar partisipan mengarah ke kategori sedang. Hal tersebut dibuktikan dengan sebanyak 174 siswi masuk dalam kategori sedang, 41 siswi masuk dalam kategori rendah, dan sebanyak 31 siswi masuk ke dalam kategori tinggi. Dengan demikian, partisipan pada penelitian ini paling banyak memiliki tingkat konformitas yang sedang. Cukup banyak partisipan yang menunjukkan tingkat konformitas yang rendah, dan lebih sedikit partisipan yang memiliki nilai konformitas tinggi. Pada bagian selanjutnya akan dipaparkan mengenai kategorisasi skala persepsi tubuh berdasarkan mean empiris. Tabel 19 Kategorisasi Persepsi Tubuh Berdasarkan Mean Empiris Kategorisasi Nilai Rendah X < 86.541 86.541 ≤ X < 105.979 Sedang 105.979 ≤ X Tinggi Tabel 20 Pembagian Kategori Berdasarkan Skala Persepsi Tubuh Frekuensi Persentase Rendah 29 11.8 Sedang 185 75.2 Tinggi 32 13.0 246 100 TOTAL

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Dari data di atas dapat dilihat bahwa kategori skor partisipan lebih mengarah ke kategori sedang. Terlihat bahwa sebanyak 29 partisipan memiliki persepsi tubuh yang rendah, 185 siswi memiliki persepsi tubuh yang sedang, dan 32 siswi memiliki persepsi tubuh yang tinggi. Dengan demikian, partisipan pada penelitian ini paling banyak memiliki tingkat persepsi tubuh yang sedang. D. Pembahasan Uji hipotesis dilakukan pada subyek yang bersekolah di sekolah homogen perempuan dan berusia 14-18 tahun. Dari perhitungan statistika yang menggunakan uji satu ekor (one-tailed) yang telah dilakukan sebelumnya ditemukan bahwa uji hipotesis menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0.081 (p > 0.05). Dengan demikian, hasil penelitian pada partisipan remaja siswi sekolah homogen di Yogyakarta menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konformitas dengan persepsi tubuh sehingga hipotesis awal ditolak. Konformitas yang tinggi tidak berhubungan dengan persepsi tubuh yang rendah dan begitu pula sebaliknya, konformitas yang rendah tidak berhubungan dengan persepsi tubuh yang tinggi. Hasil penelitian hanya dapat digeneralisasikan ke dalam sampel penelitian saja karena penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling, akan tetapi hasilnya cukup dapat dipercaya karena populasinya cukup homogen yaitu remaja perempuan yang bersekolah di sekolah homogen dengan rentang usia yang tidak terlalu jauh. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan beberapa penelitian sebelumnya. Penelitian terdahulu mengatakan bahwa konsep diri yang rendah

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 akan diikuti pula oleh konformitas yang tinggi (Andriani & Ni’matuzahroh, 2013; Nursanti, 2009) dalam penelitian ini disebutkan pula bahwa persepsi tubuh adalah satu komponen dari konsep diri. Di samping itu penelitian lain menjelaskan bahwa ada hubungan yang negatif antara konformitas dan juga persepsi tubuh (Christanto, 2014; Handayani, 2011; Tiggemann, 2001). Dalam penelitian tersebut juga disebutkan bahwa persepsi tubuh memiliki pengaruh yang cukup besar pada konformitas sehingga untuk menyesuaikan diri dengan teman sebayanya dengan membeli barang-barang yang akan membuatnya tampil lebih menarik dan terkadang melampaui batas sehingga remaja cenderung konsumtif (Laili, Soeranti, & Pertiwi, 2015; Sebayang, Yusuf, & Priyatama, 2011; Yuliantari & Herdiyanto, 2015). Akan tetapi penelitian yang dilakukan oleh Indrayana dan Hendrati (2013) mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara konformitas dengan konsep diri serta harga diri (Erawati, 2016) pada remaja. Dengan demikian, hasil penelitian dari Indrayana dan Hendrati (2013) serta Erawati (2016) tersebut lebih memperkuat hasil penelitian ini. Diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai tidak adanya hubungan antara konformitas dan juga persepsi tubuh pada remaja perempuan di sekolah homogen. Pembahasan tersebut dibagi menjadi beberapa bagian yaitu, pertama rancangan penelitian, dan yang kedua faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tubuh dan juga konformitas. Yang pertama dari segi rancangan penelitian, penelitian ini menggunakan convenience sampling di mana pemilihan partisipan berdasar pada kemudahan peneliti untuk mendapatkan partisipan penelitian. Penggunaan non-probability sampling dinilai kurang menggambarkan variasi data

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 dari populasi karena hanya dapat di generalisasikan ke sampel yang menjadi partisipan penelitian. Yang kedua, dari segi faktor yang mempengaruhi. Salah satu faktor yang mempengaruhi penilaian seseorang terhadap tubuh adalah usia. Hurlock (1973) menggolongkan usia remaja dalam tiga tingkatan yaitu preadolescent dari usia 1012 tahun, early adolescent 13-16 tahun, dan late adolescent 17-21 tahun. Dari data yang peneliti dapatkan, partisipan yang mengikuti penelitian ini berusia 14-18 tahun, sehingga jika ditinjau dari teori Hurlock (1973) para partisipan masuk ke dalam tingkatan early adolescent dan juga late adolescent. Grogan (2008) mengatakan bahwa anak mulai kritis dan mulai menilai tubuh mereka ketika memasuki usia preadolescent. Peneliti mengasumsikan bahwa partisipan sudah mulai menerima diri dan mulai memiliki penilaian yang positif terhadap tubuhnya karena partisipan sudah tidak berada dalam tahapan usia preadolecent, sehingga partisipan merasa tidak perlu untuk mengikuti tren yang sedang berlangsung. Lingkungan sekolah juga merupakan faktor sosiokultural yang mempengaruhi hasil penelitian karena siswi lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Seperti yang telah dikatakan oleh Knuckey (2016) bahwa di sekolah homogen tidak ada distraksi dari lawan jenis mengenai sexual harassment dan juga bullying pada penampilan fisik, sehingga siswi sekolah homogen diharapkan dapat lulus dengan memiliki kemampuan dan kepercayaan diri untuk mengatasi diskriminasi gender dan perbedaan kelas-kelas sosial. Remaja perempuan di sekolah homogen juga dibiasakan untuk mengekspresikan dirinya

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 melalui ekstrakulikuler yang ada di sekolah sehingga mereka merasa lebih percaya diri karena memiliki prestasi yang sesuai dengan minatnya. Faktor-faktor dari konformitas yaitu norma sosial dan keinginan individuasi juga mempengaruhi hasil penelitian. Remaja perempuan di sekolah homogen tidak berlomba-lomba untuk berpenampilan menarik hanya karena ingin mendapatkan perhatian dari lawan jenis sehingga mereka cenderung berpenampilan sesuai dengan kenyamanannya. Hal tersebut berbeda dari siswi di sekolah heterogen di mana remaja perempuan cenderung memperhatikan tubuhnya karena ada penilaian dari teman sebaya yang berjenis kelamin laki-laki (Tiggemann, 2001). Hal-hal mengenai rancangan penelitian, faktor usia, sosiokultural, norma sosial, dan keinginan individuasi seperti yang telah disampaikan di atas dapat berpengaruh pada hasil penelitian. Akan tetapi, hasil penelitian dan pembahasan hanya dapat di generalisasikan pada sampel penelitian saja.

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan perhitungan statistika dan penjelasan dari bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara persepsi tubuh dan juga konformitas. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai korelasi r = 0.082. Hal itu berarti tingginya tingkat konformitas tidak diikuti dengan rendahnya persepsi tubuh, dan begitu juga sebaliknya. Penelitian ini bertolak belakang dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa ada hubungan antara konformitas dan juga konsep diri. Akan tetapi ada pula penelitian yang mendukung hasil penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan oleh Indrayana dan Hendrati (2013) yang menerangkan bahwa tidak ada hubungan antara konformitas dengan konsep diri serta harga diri (Erawati, 2016) pada remaja. Persepsi tubuh, ideal diri, harga diri, peran dan juga identitas diri merupakan bagian atau komponen dari konsep diri (Potter & Perry, 2005) Faktor usia dan juga sosiokultural sekolah juga berpengaruh pada hasil penelitian ini terutama pada penilaian seseorang terhadap tubuh mereka. Selain itu, ada pula faktor yang mempengaruhi tingkat konformitas dari partisipan yaitu sosiokultural, norma sosial di dalam sekolah, dan juga keinginan individuasi. Partisipan penelitian ini adalah siswi dari sekolah homogen perempuan di Yogyakarta dan berusia 14-18 tahun yang masuk ke tahapan early dan late adolescent sehingga sudah lebih mampu mengolah pikiran dan perasaannya jika 100

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 dibandingkan dengan remaja dalam tahap preadolescent sehingga perilaku konform tidak terlalu tinggi. Peraturan dan budaya di sekolah homogen juga cenderung membebaskan siswinya dalam mengkespresikan diri mereka. Hal tersebut terbukti dari banyaknya ekstrakulikuler yang dapat menjadi wadah siswinya untuk mengkespresikan diri. Secara tidak langsung hal tersebut membuat para siswinya dapat menyalurkan minat dan bakatnya dan membuat para siswi dapat lebih percaya diri. B. Keterbatasan Penelitian Setelah melalui proses penelitian, peneliti menyadari bahwa ada beberapa hal yang menunjukkan keterbatasan dan kekurangan dari penelitian ini. Ada lima hal yang menjadi keterbatasan dalam penelitian ini yaitu berkaitan dengan jumlah sampel try out, teknik sampling, item, uji hipotesis, dan juga latar belakang pendidikan peneliti. Yang pertama mengenai sampel try out, peneliti mengambil sampel try out yang jumlahnya tidak cukup banyak yaitu 39 orang sehingga variasi data yang didapatkan rendah. Yang kedua, pengambilan sampel dengan teknik convenience sampling. Peneliti menggunakan convenience sampling dengan pertimbangan kemudahan peneliti dalam mendapatkan data. Akan tetapi teknik sampling ini kurang menggambarkan populasi yang menjadi target group peneliti karena hanya dapat memberikan generalisasi pada sampel yang diambil (Neuman, 2007). Ketiga, berkaitan dengan item penelitian. Untuk memenuhi kebutuhan jumlah minimal item dalam setiap aspek yaitu minimal 3 item peneliti

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 memasukkan kembali item yang memiliki nilai < 0.25 yaitu nomor 33, 59, 39, 24, dan 25 pada skala persepsi tubuh untuk memenuhi target minimal dari jumlah item. Peneliti memasukkan kembali item-item tersebut dengan pertimbangan bahwa penambahan item tersebut tidak berdampak pada nilai reliabilitasnya. Nilai Cronbach’s Alpha juga tergolong masih memuaskan yaitu 0.852 akan tetapi itemitem tersebut memiliki daya diskriminasi yang rendah (Azwar, 2017a). Selain itu, terjadi overlapping pada indikator dan item antara aspek automatic activation dan gaining social approach. Keempat, data yang peneliti dapatkan pada variabel persepsi tubuh tidak tersebar secara normal sehingga peneliti menggunakan uji statistik nonparametrik yaitu spearman’s rho dalam uji hipotesis peneliti. Penggunaan uji hipotesis spearman’s rho memiliki keterbatasan pada hasil karena hasil yang di dapatkan lebih umum dan kesimpulan yang diambil lebih lemah (Santoso, 2015) Kelima, format informed conscent yang digunakan dalam penelitian ini belum tepat. Peneliti adalah seorang mahasiswa S1 yang masih belum berpengalaman dalam bidang penelitian sehingga membutuhkan pendampingan oleh ahli. Selain itu, analisis dan juga pembahasan yang peneliti lakukan belum terlalu mendalam. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa keterbatasan penelitian yang peneliti temukan. Keterbatasan tersebut dapat dijadikan tolok ukur bagi peneliti selanjutnya agar dapat menutup keterbatasan yang ada dalam penelitian ini.

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 C. Saran Seperti yang telah peneliti sampaikan pada Bab I, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak oleh karena itu pada bagian ini peneliti akan memaparkan saran bagi remaja perempuan, orang tua, guru BK dan dinas pendidikan, serta komunitas ilmuwan psikologi. Uraian saran akan peneliti sampaikan sebagai berikut: 1. Bagi Remaja Remaja perlu berefleksi mengenai bagaimana penilaiannya terhadap tubuhnya sendiri. Remaja juga perlu belajar untuk menilai tubuhnya secara positif agar remaja merasa lebih percaya diri untuk menampilkan dirinya walaupun tanpa make up dan juga fashion yang kekinian. Hal tersebut berdasar pada data penelitian yang menunjukkan bahwa persepsi tubuh pada partisipan masuk dalam kategori sedang dan belum banyak yang masuk pada kategori tinggi. Selain itu, remaja juga diharapkan dapat menyadari bahwa tayangan-tayangan mengenai tubuh ideal yang ditampilkan di media terkadang berlebihan dan tidak selalu cocok jika diterapkan pada diri sendiri sehingga tidak perlu membandingkan dirinya dengan apa yang di tampilkan oleh media. Remaja juga tidak perlu mengikuti tuntutan lingkungan sosial mengenai fashion dan cara berdandan jika memang merasa tidak nyaman. Dan pada akhirnya remaja juga perlu menyadari bahwa berdandan bukanlah suatu hal yang utama sehingga waktu dan tenaga dapat digunakan untuk kegiatan yang lebih produktif.

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 2. Bagi Orang Tua Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai gambaran persepsi tubuh dan juga konformitas serta pengaruh media pada pengambilan keputusan remaja untuk melakukan sesuatu. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa penilaian terhadap tubuh remaja siswi sekolah homogen masih tergolong sedang dan bahkan masih ada yang rendah, di samping itu perilaku konformitas juga masuk dalam kategori sedang dan bahkan ada beberapa yang tinggi. Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk menanamkan dan meningkatkan penilaian positif remaja terhadap tubuhnya dan juga menurunkan perilaku konform remaja. Orang tua dapat membantu remaja dengan cara mengajak berdiskusi dan mengajak remaja menonton tayangantayangan yang dapat membantu remaja meningkatkan penilaian positif pada tubuhnya serta perilaku-perilaku remaja dalam mengikuti tren saat ini. 3. Bagi Guru Bimbingan Konseling, dan Dinas Pendidikan Guru di sekolah juga merupakan lingkup inner circle remaja yang memiliki peran penting untuk mendidik remaja khususnya agar memiliki kepercayaan diri dan penilaian yang positif terhadap tubuhnya. Guru BK di sekolah homogen dapat menata dan menyusun materi pembelajaran khususnya materi yang berkaitan dengan peningkatan penilaian tubuh dan juga mengurangi perilaku konformitas. Selain itu, guru BK juga dapat memberikan pendampingan pribadi bagi siswi yang memiliki indikasi tidak puas dengan dirinya dan/atau memiliki perilaku konform yang tinggi. Hal tersebut penting untuk dilakukan karena data penelitian ini menunjukkan bahwa masih ada

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 siswi yang memiliki penilaian yang rendah terhadap tubuhnya dan ada pula beberapa siswi yang cenderung berperilaku konform dengan teman sebayanya. Dinas pendidikan secara tidak langsung juga dapat memberikan sumbangan untuk membiasakan remaja menilai tubuhnya dengan positif dengan cara menyususn materi pembelajaran yang dapat disampaikan oleh guru BK. Selain itu, Dinas pendidikan juga diharapkan memeriksa secara berkala apakah materi yang disampaikan sudah sesuai dengan keadaan sekolah yang bersangkutan. 4. Bagi komunitas Ilmuwan Psikologi Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana remaja perempuan di sekolah homogen menilai tubuh mereka dan bagaimana mereka bersikap ketika menghadapi tekanan dari lingkungan sosialnya. Bagi peneliti yang tertarik untuk meneliti populasi siswi sekolah homogen dan ingin menggunakan metode kuantitatif ada baiknya jika menggunakan teknik probability sampling agar lebih mampu menggeneralisasikan hasil penelitian pada populasi dengan baik. Bagi peneliti yang ingin mendalami bagaimana dinamika remaja perempuan menilai tubuhnya dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat menggunakan metode kualitatif agar dapat memperoleh informasi yang lebih dalam. Selain itu, penulisan informed conscent dalam penelitian ini belum tepat sehingga peneliti yang selanjutnya dapat menggunakan format informed conscent yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Berkaitan dengan keterbatasan penelitian mengenai overlapping pada indikator antara aspek automatic activation dan gaining social approach, peneliti

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 selanjutnya diharapkan melakukan analisis faktor terlebih dahulu dan lebih cermat dalam melakukan seleksi item. Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa peneliti memberikan beberapa masukan atau saran. Peneliti berharap bahwa saran yang peneliti sampaikan dapat diterima dan ditindaklanjuti dengan bijaksana oleh pihak yang bersangkutan. D. Komentar Penutup Setelah menyelesaikan penelitian ini, peneliti cukup senang karena mendapatkan hasil bahwa sebagian besar partisipan penelitian yang bersekolah di sekolah homogen tidak memiliki penilaian yang rendah terhadap tubuhnya. Sebagian besar partisipan di sekolah homogen juga tidak menunjukkan perilaku konform yang tinggi. Walaupun baik dari penilaian terhadap tubuh dan juga perilaku konformitas masih masuk dalam kategori sedang. Peneliti berharap remaja yang bersekolah di sekolah homogen dapat lebih meningkatkan penilaian mereka terhadap tubuh dan lebih menghargai diri sendiri tanpa perlu membandingkannya dengan orang lain. Peneliti juga berharap bahwa penelitian ini bermanfaat bagi orang lain sehingga penelitian ini tidak hanya bermanfaat bagi diri peneliti tetapi bagi orang lain juga khususnya orang tua dan guru BK. Orang tua dan guru BK merupakan orang-orang yang dekat dengan remaja sehingga diharapkan agar dapat membantu para remaja perempuan untuk dapat menilai tubuhnya dengan lebih positif. Upaya yang dilakukan orang tua, dan juga guru BK tidak akan cukup jika dinas pendidikan dan juga komunitas ilmuwan psikologi tidak ikut mengambil bagian.

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Aladhi. (2016, April 26). Meme seragam ketat siswi SMA jadi viral di sosial media. belitung.tribunnews.com. Diunduh dari http://belitung.tribunnews.com/2016/04/26/meme-seragam-ketat-siswisma-jadi-viral-di-sosial-media Ambar, P. (2018, Februari 25). Gila! Remaja ini habiskan uang orangtuanya Rp 19 juta setiap bulan hanya untuk bisa mirip barbie. tribuntravel.com. Diunduh dari http://travel.tribunnews.com/2018/02/25/gila-remaja-inihabiskan-uang-orangtuanya-rp19-juta-setiap-bulan-hanya-untuk-bisamirip-barbie?page=all American Psychological Association. (2009). APA concise dictionary of psychology. Washington, DC: American Psychological Association. Andriani, M., & Ni’matuzahroh. (2013). Konsep diri dengan konformitas pada komunitas hijaber. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, l(1). Doi: 10.22219/jipt.v1i1.1362 Ardina, I. (2017, Juli 11). Tekanan di media sosial picu operasi plastik. beritagar.id. Diunduh dari https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/tekanandi-media-sosial-picu-operasi-plastik Asrianti, S. (2018, Desember 4). Psikolog ungkap penyebab remaja “kecanduan” kosmetik. republika.co.id. Diunduh dari https://www.republika.co.id/berita/gayahidup/trend/18/04/12/p7288h284-psikolog-ungkap-penyebab-remajakecanduan-kosmetik Azwar, S. (2009). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Azwar, S. (2017a). Penyusunan skala psikologi (2nd ed.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2017b). Metode penelitian psikologi (2nd ed.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Baron, R.A., & Branscombe, N. R. (2012). Social psychology (13th ed.). Boston, AS : Pearson Education, Inc. Camelia. (2008, 28 Januari). Wawancara Personal. Cash, T. F. (2000). The multidimensional body-self relations questionnaire. Third revision. Norfolk, England : Old Dominion University 107

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 Cash, T. F.(2016). Encyclopedia of feeding and eating disorders. (T. Wade, Ed.). Singapore: Springer Singapore. Doi: 10.1007/978-981-287-087-2_3-1 Cash, T. F., & Smolak, L. (2011). Body Image: A handbook of science, practice, and prevention (2nd ed). New York, AS: Guilford Press. Charulata, G. (2011). The relation between body image satisfaction and selfesteem to academic behaviour in adolescents and pre-adolescents. University of Manitoba. Diunduh dari https://umanitoba.ca/faculties/education/media/Gupta-11.pdf Christianto, N. W. (2014). Hubungan antara body image dan konformitas dalam perilaku konsumtif pada remaja. (Skripsi). Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia. Diunduh dari http://www.library.usd.ac.id/web/index.php?pilih=ta&mod=yes&aksi=ful l&id=de2b7a0b2c7a41562731ec1ebcf33f69 Cialdini, R B., & Goldstein, N.J. (2003). Social Influence: Compliance and conformity. Review in Advance. Doi: 10.1146/annurev.psych.55.090902.142015 Cialdini, R. B., & Trost, M. R. (1998). Social influence: Social norms, conformity and compliance. In the handbook of social psychology. New York, AS: McGraw-Hill. Coolican, H. (2014). Research methods and statistics in psychology (6th edition). New York, AS: Psychology Press. Creswell, J. W. (2014). Research design. qualitative, quantitative, and mixed method approaches (4th ed.). United Kingdom: SAGE Publication Ltd. Delima. (2018, 3 Februari). Wawancara Personal. Dimara, G. Y. (2018, Agustus 25). Berapa pengeluaran bulanan perempuan indonesia untuk membeli makeup?.kumparan.com. Diunduh dari https://kumparan.com/@kumparanstyle/berapa-pengeluaran-bulananperempuan-indonesia-untuk-membeli-makeup-1535173218344351524 Egebrark, J. & Ekström, M. (2011). Like What You Like or Like What Others Like? Conformity and Peer Effects on Facebook. (IFN Working Paper No. 886). Stockholm, Sweden: Research Institute of Industrial Economics. Erawati, C. K. (2017). Hubungan antara konformitas dan harga diri pada mahasiswa yang menggunakan hijab. Jurnal Ilmiah Psikologi,10 (1), 142-151. Diunduh dari http://ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/psiko/article/view/1552.

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Fardouly, J & Lenny R. V. (2016). Social media and body image concerns: Current research and future direction. Social Media and Applications to Health Behavior.9, 1-5. Doi : dx.doi.org/10.1016/j.copsyc.2015.09.005 Gentina, E., Palan, K. M., & Fosse-Gomez, M.-H. (2012). The practice of using makeup: A consumption ritual of adolescent girls: Adolescent girls’ ritual use of makeup. Journal of Consumer Behaviour, 11(2), 115–123. Doi: 10.1002/cb.387 Grogan, S. (2008). Body Image: Understanding body dissatisfaction in men, women, and children (2nd ed). New York, AS: Routledge. Guglielmi, A. (2010). Girls’ self-esteem rates in single sex & coed high schools (Thesis). Trinity College, Hartford, CT. Gunarsa, S. D., & Gunarsa, N. S. D. (1981). Psikologi remaja. Jakarta: Tira Pustaka. Handayani, M. W. S. (2011). Hubungan antara konformitas dengan citra tubuh pada remaja putri (Skripsi). Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia. Diunduh dari http://www.library.usd.ac.id/web/index.php?pilih=ta&mod=yes&aksi=ful l&id=e680b4cd0824ee525d529dd46c78e8cd Herdiansyah, H. (2016). Gender dalam perspektif psikologi. Jakarta: Salemba Humanika. HIMPSI. (2010). Kode etik psikologi Indonesia. Kebayoran: Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia. Hurlock, E. B. (1973). Adolescent development (4th ed). New York, AS: McGrawHill. Indrayana, P., & Hendrati, F. (2013). Hubungan antara kecerdasan emosional dan konformitas kelompok teman sebaya dengan konsep diri remaja. Persona, Jurnal Psikologi Indonesia, 2, 199–207. Kende, A., Ujhelyi, A., Joinson, A. & Greitemeyer, T. (2015). Putting the social (psychology) into social media. European Journal of Social Psychology, 45, 277-278. Doi: 10.1002/ejsp.2097 Knuckey, D. (2016). [Interview with Loren Bridge]. All girl schools. Diunduh dari http://www.saasso.asn.au/wp-content/uploads/2016/11/SAASSOBulletin-All-Girl-Schools.pdf

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 Laili, Q., Soeranti, T., & Pertiwi, Y. (2015). Hubungan antara persepsi tubuh dengan perilaku konsumtif pada siswi smk farmasi sari farma depok. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Bekasi,1. Diunduh dari https://jurnalpsikologi.ubharajaya.ac.id/buletin/jurnal/lihat_jurnal/5 Lavender. (2018, Februari 3). Wawancara Personal. Matlin, M. W. (2012). The psychology of women (7th ed). Australia : Wadsworth. Mensinger, J. (2001). Conflicting gender role prescriptions and disordered eating in single-sex and coeducational school environments. Gender and Education, 13, 417–429. Doi: 10.1080/09540250120081760 Neuman, W. L. (2007). Basic of social research qualitative and quantitative approaches (2nd ed.). New York, AS: Pearson Education Inc. Nursanti, Y. D. (2009). Hubungan antara konformitas dan konsep diri pada remaja yang bergaya harajuku di yogyakarta (Skripsi). Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia. Diunduh dari http://www.library.usd.ac.id/web/index.php?pilih=ta&mod=yes&aksi=ful l&id=31d9b00c424bd5cbf9cc08b8e3e5b229 Papalia, D. E., Sally W. O., Feldman, R. D., & Dana Gross. (2008). Human development (9 ed.). Jakarta: Kencana. Potter P.A. & Perry A.G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik (4 Ed). Jakarta: EGC. Prasetya, C. (2013, November 2). Seks pra nikah trend remaja masa kini?.lensaindonesia.com. Diunduh dari https://www.lensaindonesia.com/2013/02/11/seks-pra-nikah-trendremaja-masa-kini.html Rully, A. (2017, April 13). Beli make up di pasar malam, muka gadis ini jadi rusak parah. plus.kapanlagi.com. Diunduh dari https://plus.kapanlagi.com/belimake-up-di-pasar-malam-muka-gadis-ini-jadi-rusak-parah-98b300.html Santoso, A. (2010). Statistik untuk psikologi dari blog menjadi buku. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. Santoso, S. (2015). Menguasai statistik non paramterik. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Sarah Grogan. (2008). Persepsi tubuh. understanding body dissatisfaction in men, women, and children. (2nd ed.). New York, AS: Taylor & Francis Group.

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 Sarwono, S. W., & A. Meinarno, E. (2014). Psikologi sosial. Jakarta: Salemba Humanika. Schneider, F. W., & M. Coutts, L. (1982). The high school environment: A comparison of coeducational and single-sex school. American Psychological Association, Inc, 74, 898–906. Doi: 0022-0663/82/74060898$00.75 Scott, S. (2015). Influence of cosmetics on the confidence of college women: an exploratory study. citeseerx.ist.psu.edu. Diunduh dari https://psych.hanover.edu/research/Thesis07/scottpaper.pdf Sebayang, J., Yusuf, M., & Priyatama, A. N. (2011). Hubungan antara persepsi tubuh dan konformitas dengan perilaku konsumtif pada siswi kelas XI SMA Negeri 7 Surakarta. Jurnal Wacana Psikologi,3 (2). Diunduh dari http://jurnalwacana.psikologi.fk.uns.ac.id/index.php/wacana/article/view/ 36 Siahaan, S. (2018, Agustus 15). Demi mirip Kim Kadarshian, remaja ini rela keluarkan uang hingga Rp 279 juta. medan.tribunnews.com. Diunduh dari http://medan.tribunnews.com/2018/08/15/demi-mirip-kimkardashian-remaja-ini-rela-keluarkan-uang-hingga-rp-279-juta?page=all Smolak, L., & Thompson J.K. (2009). Body Image, eating disorders, and obesity in youth. assessment, prevention, and treatment (2nd ed.). Amerika Serikat: American Psychological Association. Sudariyanti, N. M. (2011). Perbedaan body image antara remaja putri di sekolah homogen dengan sekolah heterogen (Skripsi). Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia. Diunduh dari http://www.library.usd.ac.id/web/index.php?pilih=ta&mod=yes&aksi=ful l&id=089a9beff66d88530b7210f31a68c807 Supratiknya, A. (2014). Pengukuran psikologis. Penerbit Universitas Sanata Dharma. Supratiknya, A. (2015). Metode penelitian kuantitatif & kualitatif dalam psikologi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Supratiknya, A. (2016). Kuantifikasi validitas isi dalam asesmen psikologi. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 Susanti, E., & Nurwidawati, D. (2014). Hubungan antara kontrol diri dan konformitas dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa program studi psikologi Unisa. Jurnal Mahasiswa Unesa, 2 (3). Diunduh dari http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/1099 5 Taylor, S. E., Peplau, L. A., & Sears, D. O. (2009). Psikologi sosial (12 ed.). Jakarta: Kencana. Tiggemann, M. (2001). Effect of gender composition of school on body concerns in adolescent women. International Journal Eat Disorder, 29 (2). 239– 243. Doi: 10.1002/1098-108X(200103)29:2<239::AIDEAT1015>3.0.CO;2-A Widhiarso, W. (2010). Catatan pada uji linieritas hubungan. Manuskrip tidak dipublikasikan. Diunduh dari http://widhiarso.staff.ugm.ac.id/files/widhiarso_2010_uji_linieritas_hubu ngan.pdf Wirman, A. (2016). Miris! Siswa-siswi di kota bogor masih kenakan baju sekolah ketat. mediabogor.com. Diunduh dari https://mediabogor.com/mirissiswa-siswi-dikota-bogor-masih-kenakan-baju-sekolah-ketat/amp/ Wisnubrata. (2017, Juni 14). Apa definisi perempuan cantik?. kompas.com. Diunduh dari http://lifestyle.kompas.com/read/2017/06/14/135648020/apa.definisi.pere mpuan.cantik Yoo, J., Choi, S., Choi, M. & Rho, J. (2014). Why people use Twitter: Social conformity and social value perspectives. Online Information Review, 38 (2), 265-283. Doi: 10.1108/OIR-11-2012–0210 Yuliantari, M. I., & Herdiyanto, Y. K. (2015). Hubungan konformitas dan harga diri dengan perilaku konsumtif pada remaja putri di kota denpasar. Jurnal Psikologi Udayana, 2, 89–99. Diunduh dari https://ojs.unud.ac.id/index.php/psikologi/article/view/25144

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 113

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 Lampiran 1 Reliabilitas Skala Penelitian Skala Konformitas Case Processing Summary N % Cases Valid 39 a Excluded 0 Total 39 a. Listwise deletion based on all variabels in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha .932 Item-Total Statistics Scale Scale Mean if Variance if Item Item Deleted Deleted 100.0 .0 100.0 N of Items 34 Corrected Cronbach's Item-Total Alpha if Correlation Item Deleted Skor Jawaban Skala2.29 63.95 198.103 .432 .931 Skor Jawaban Skala2.30 65.03 205.078 .408 .931 Skor Jawaban Skala2.27 65.13 198.430 .614 .929 Skor Jawaban Skala2.4 64.46 190.150 .740 .927 Skor Jawaban Skala2.1 65.00 196.474 .587 .929 Skor Jawaban Skala2.41 65.26 198.669 .626 .929 Skor Jawaban Skala2.47 65.03 195.762 .708 .928 Skor Jawaban Skala2.14 64.28 194.366 .644 .928 Skor Jawaban Skala2.32 64.95 195.734 .609 .929

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 Skor Jawaban Skala2.46 64.87 200.957 .417 .931 Skor Jawaban Skala2.44 64.28 190.576 .730 .927 Skor Jawaban Skala2.2 64.64 197.815 .558 .929 Skor Jawaban Skala2.26 64.28 195.839 .520 .930 Skor Jawaban Skala2.40 63.56 195.779 .576 .929 Skor Jawaban Skala2.48 64.44 193.726 .636 .928 Skor Jawaban Skala2.16 65.51 206.099 .286 .932 Skor Jawaban Skala2.23 65.08 203.020 .284 .932 Skor Jawaban Skala2.18 64.97 195.605 .607 .929 Skor Jawaban Skala2.7 65.18 200.993 .397 .931 Skor Jawaban Skala2.25 65.21 205.115 .318 .931 Skor Jawaban Skala2.20 65.10 203.831 .236 .933 Skor Jawaban Skala2.9 63.87 195.799 .491 .930 Skor Jawaban Skala2.13 63.69 198.903 .381 .932 Skor Jawaban Skala2.50 64.54 190.887 .727 .927 Skor Jawaban Skala2.15 65.28 202.682 .471 .930 Skor Jawaban Skala2.31 64.69 196.903 .504 .930 Skor Jawaban Skala2.55 65.10 206.779 .250 .932 Skor Jawaban Skala2.43 65.28 201.208 .483 .930 Skor Jawaban Skala2.28 65.23 197.287 .593 .929 Skor Jawaban Skala2.12 65.03 196.078 .625 .928 Skor Jawaban Skala2.37 65.08 200.810 .711 .929 Skor Jawaban Skala2.38 65.21 201.799 .588 .929 Skor Jawaban Skala2.3 64.69 199.166 .544 .929 Skor Jawaban Skala2.19 65.49 203.993 .480 .930 Mean 66.77 Scale Statistics Variance Std. Deviation 210.445 14.507 N of Items 34

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 Skala Persepsi tubuh Case Processing Summary N % Cases Valid 39 Excludeda 0 Total 39 a. Listwise deletion based on all variabels in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha .852 Item-Total Statistics Scale Mean Scale if Item Deleted Variance if 100.0 .0 100.0 N of Items 37 Corrected Cronbach's Item-Total Alpha if Item Deleted Correlation Item Deleted Skor Jawaban Skala1.57 91.13 154.273 .248 .851 Skor Jawaban Skala1.49 90.44 153.252 .387 .847 Skor Jawaban Skala1.35 91.18 152.730 .348 .848 Skor Jawaban Skala1.78 90.72 151.418 .404 .846 Skor Jawaban Skala1.53 91.13 154.167 .252 .851 Skor Jawaban Skala1.15 91.38 154.506 .305 .849 Skor Jawaban Skala1.70 91.10 151.568 .445 .845 Skor Jawaban Skala1.67 90.97 154.289 .326 .849 Skor Jawaban Skala1.52 90.97 149.552 .481 .844 Skor Jawaban Skala1.22 90.54 153.887 .360 .848 Skor Jawaban Skala1.21 90.62 155.822 .297 .849 Skor Jawaban Skala1.19 91.08 152.020 .394 .847 Skor Jawaban Skala1.73 91.97 155.447 .376 .848

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 Skor Jawaban Skala1.33 91.26 157.827 .181 .852 Skor Jawaban Skala1.74 90.69 152.745 .430 .846 Skor Jawaban Skala1.59 92.08 157.073 .247 .850 Skor Jawaban Skala1.7 90.64 154.184 .395 .847 Skor Jawaban Skala1.4 90.90 154.621 .306 .849 Skor Jawaban Skala1.39 90.97 155.920 .219 .851 Skor Jawaban Skala1.16 90.97 152.657 .441 .846 Skor Jawaban Skala1.40 90.79 153.273 .345 .848 Skor Jawaban Skala1.44 90.77 152.709 .496 .845 Skor Jawaban Skala1.68 90.82 148.362 .583 .842 Skor Jawaban Skala1.38 91.13 153.378 .259 .851 Skor Jawaban Skala1.48 91.49 154.256 .294 .849 Skor Jawaban Skala1.46 91.05 153.892 .353 .848 Skor Jawaban Skala1.23 90.49 148.888 .532 .843 Skor Jawaban Skala1.29 91.21 154.220 .349 .848 Skor Jawaban Skala1.24 91.97 157.920 .182 .852 Skor Jawaban Skala1.25 91.90 157.042 .213 .851 Skor Jawaban Skala1.51 91.77 154.551 .349 .848 Skor Jawaban Skala1.9 91.10 153.884 .311 .849 Skor Jawaban Skala1.1 91.36 154.026 .338 .848 Skor Jawaban Skala1.42 91.31 155.903 .300 .849 Skor Jawaban Skala1.28 91.59 155.617 .285 .849 Skor Jawaban Skala1.47 91.03 156.131 .305 .849 Skor Jawaban Skala1.56 91.49 156.362 .285 .849 Mean 93.67 Scale Statistics Variance Std. Deviation 162.018 12.729 N of Items 37

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 Lampiran 2 Uji Normalitas dan Linearitas Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Statistic Df Persepsi .065 246 tubuh Konformitas .054 246 a. Lilliefors Significance Correction Sig. .015 .959 246 .000 .079 .985 246 .011 ANOVA Table Sum of Squares Persepsi Between (Combined) 5069.210 tubuh * Groups Linearity 241.387 Konformitas Deviation from 4827.822 Linearity Within Groups 18072.140 Total 23141.350 Mean Df Square F Sig. 54 93.874 .992 .498 1 241.387 2.551 .112 53 91.091 191 245 94.619 .963 .552

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 Lampiran 3 Uji T One-Sampel Statistics N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 246 70.38 12.364 .788 246 96.26 9.719 .620 Konformitas Persepsi tubuh One-Sampel Test Test Value = 0 T Konformitas 89.277 Persepsi 155.347 tubuh df Sig. Mean (2-tailed) Difference 245 .000 70.378 245 .000 96.260 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 68.83 71.93 95.04 97.48

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 Lampiran 4 Kategorisasi Partisipan Kategorisasi Konformitas Berdasarkan Mean Empiris Kategorisasi Rendah Sedang Tinggi Rumus X <(μ-1,0σ) (μ-1,0σ) ≤ X < (μ+1,0σ) (μ+1,0σ) ≤ X Nilai X < 58.016 58.016 ≤ X < 82.744 82.744 ≤ X Kategori berdasarkan skala konformitas Konformitas Frequency Rendah Sedang Tinggi Total Valid 41 174 31 246 Percent 16.7 70.7 12.6 100.0 Valid Percent 16.7 70.7 12.6 100.0 Cumulative Percent 16.7 87.4 100.0 Kategorisasi Persepsi Tubuh Berdasarkan Mean Empiris Kategorisasi Rendah Sedang Tinggi Rumus X <(μ-1,0σ) (μ-1,0σ) ≤ X < (μ+1,0σ) (μ+1,0σ) ≤ X Nilai X < 86.541 86.541 ≤ X < 105.979 105.979 ≤ X Pembagian kategori berdasarkan Skala Persepsi tubuh BodyImage Frequency Rendah 29 Sedang 185 Valid Tinggi 32 Total 246 Percent 11.8 75.2 13.0 100.0 Valid Percent 11.8 75.2 13.0 100.0 Cumulative Percent 11.8 87.0 100.0

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 Lampiran 5 Google form online

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 Lampiran 6 Informed Concent

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 Lampiran 7 Item Skala Penelitian Skala Konformitas Item Lolos Sub Aspek Indikator Favorable 1. Memutuskan sesuatu setelah diyakinkan orang lain. 1 Perceived Concencus 2 Dynamical System 2. Merasa melakukan suatu hal yang benar ketika banyak orang juga melakukannya. 1. Berperilaku sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu. Unfavorable Saya yakin dengan penampilan Saya yakin dengan penampilan saya saya ketika dipuji oleh teman-teman. walaupun tidak ada yang memuji. Saya langsung membeli model pakaian yang dipakai oleh kebanyakan orang populer di media sosial. Saya lebih percaya diri dengan fashion saya saat ini, walaupun berbeda dengan tren. Saya lebih percaya diri ketika mengikuti tren fashion yang ada saat ini. Saya mengikuti tren fashion saat ini agar tidak dijauhi oleh temanteman. Saya berpenampilan hampir sama dengan teman dekat saya, Saya kurang mengikuti tren fashion saat ini dan tidak masalah jika saya dijauhi teman-teman karena hal itu.

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 karena kami mengikuti tren di media sosial. 2. Mengikuti apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang di lingkungannya. 3 1. Mengikuti hal-hal yang dilakukan banyak orang agar diterima di lingkungannya. Automatic Activation 2. Menyesuaikan diri agar diperhatikan orang disekitarnya. 4 Behavioral Mimicry 1. Menyesuaikan perilaku dengan orang yang diidolakan/ dikagumi. Saya menyesuaikan dandanan saya dengan teman-teman dekat saya. Saya memilih dandanan yang berbeda dari teman-teman dekat saya. Saya sedih ketika teman-teman saya tidak menyukai penampilan saya. Saya senang dengan penampilan saya saat ini walaupun teman-teman saya tidak suka. Saya senang jika teman-teman menerima saya karena saya dapat mengikuti tren fashion saat ini. Saya senang jika teman-teman menerima saya walaupun saya tidak mengikuti tren fashion saat ini. Saya senang ketika usaha saya untuk berdandan dipuji oleh temanteman saya. Saya nyaman ketika mengikuti saran untuk berdandan dari teman saya. Saya berusaha meraih prestasi sesuai dengan minat dan kemampuan saya. Saya memiliki gaya hidup yang jauh berbeda dari idola saya.

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 2. Menyesuaikan penampilan dengan orang yang diidolakan/dikagumi. 5 Gaining Social Approach 6 Majority and minority 1. Menirukan perilaku orang lain untuk menjaga hubungan baik dengan mereka. 2. Merasa lebih berharga ketika diterima di kelompok tertentu 1. Menunjukkan perilaku yang sesuai dengan suara mayoritas. Saya mengikuti dandanan teman saya yang sering kali mendapat pujian dari banyak orang. Saya ingin terlihat menarik seperti artis idola saya yang sering muncul di media sosial sehingga saya mengikuti dandanannya. Saya menuruti apa saja yang dikatakan teman saya agar ia tidak menjauhi saya. Saya melakukan hal yang menurut saya baik walaupun akan ada orang yang tidak suka. Saya merasa berharga ketika dandanan saya diterima oleh temanteman yang up to date dalam gaya berpakaian. Saya senang jika pendapat saya diterima oleh teman-teman yang saya anggap lebih hebat dari saya. Saya mengikuti tren fashion saat ini. Saya tidak memaksakan diri untuk berdandan seperti teman-teman saya.

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128 Influence 2. Tidak terpengaruh pada perilaku yang dimunculkan minroitas. Saya melihat suatu tren fashion akan dinilai bagus dari seberapa jumlah orang yang memakainya. Saya menilai tren fashion tertentu tetap bagus walaupun orang yang memakainya sedikit. 1. Menyesuaikan perilaku dengan identitas dan norma kelompok. Saya menggunakan aksesoris yang sama dengan teman-teman dekat saya. Saya mengenakan pakaian sesuai kenyamanan saya walaupun tidak sama dengan teman-teman dekat saya. Saya mengikuti tren fashion yang ada karena teman-teman saya juga mengikutinya. Saya tetap berdandan semau saya, walaupun teman-teman saya mengikuti tren saat ini. Saya berusaha untuk menyesuaikan gaya berpakaian saya dengan teman-teman baru saya. Saya tetap mengenakan pakaian sesuai gaya saya walaupun teman-teman saya berbeda gaya. 7 Deindividuatio n effect 2. Menunjukkan perilaku yang sesuai dengan situasi kelompok.

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129 Skala Persepsi tubuh Item Lolos Aspek Indikator Favorable 1 Appearance evaluation 1. Merasa bangga dan percaya diri dengan kondisi fisiknya saat ini. 2. Tidak membandingkan tubuhnya dengan orang lain. 2 Appearance orientation 1. Memperhatikan penampilan secara detail. 2. Memperhatikan fashion yang cocok untuk dipakai dan mengikuti tren yang ada saat Unfavorable Saya tidak perlu mengubah apa pun pada bentuk tubuh saya. Saya bahagia dengan bentuk tubuh saya saat ini, sehingga saya tidak ingin memiliki bentuk tubuh seperti orang lain. Saya tetap merasa kurang menarik walaupun sudah menggunakan make up seperti artis idola saya. Saya menggunakan produk kecantikan (seperti; lulur, body lotion, lip butter, dll) untuk menunjang penampilan saya. Saya bercermin setiap kali ada kesempatan untuk memastikan penampilan saya walaupun membutuhkan waktu yang lama. Saya berusaha mengikuti tren fashion yang sedang populer saat ini agar saya terlihat lebih menarik. Saya membeli 8u. Saya kurang memperhatikan tren fashion yang sedang populer karena saya tidak

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130 ini. 3 Fitness Evaluation 1. Merasa memiliki fisik yang sehat dan tubuh yang atletis. Fitness Orientation Saya memiliki bentuk tubuh yang terlalu kurus/gemuk. Saya mendapat nilai yang bagus dalam mata pelajaran olahraga di sekolah. Saya kurang pandai dalam bidang olahraga apa pun. 1. Terlibat dalam aktivitas fisik untuk meningkatkan kebugaran. Saya rajin datang ke club olahraga/gym karena tubuh yang sehat adalah prioritas saya. Saya malas untuk datang ke club olahraga/gym karena jika saya sakit merupakan hal yang wajar. 2. Membiasakan diri untuk berolahraga dan menjadikan rutinitas dalam gaya hidupnya. Saya berusaha membiasakan diri untuk rutin berolahraga setiap harinya. 5 Health Evaluation Saya memiliki tubuh yang sehat dan tidak mudah tertular penyakit. Saya memiliki bentuk tubuh yang atletis sehingga terlihat ideal. 2. Merasa berkompeten dalam kegiatan yang membutuhkan aktivitas fisik. 4 terlalu peduli dengan penampilan saya. 1. Memiliki perhatian pada kesehatan tubuhnya. Saya sadar dengan cepat ketika tubuh saya mulai menunjukkan gejala dari suatu penyakit. Saya rutin melakukan medical check up agar dapat memantau Saya mendapat nilai yang buruk dalam mata pelajaran olahraga.

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131 kesehatan tubuh saya. 2. Merasa sehat dan tidak mudah tertular penyakit. 6 Health orientation 1. Mengetahui cara-cara hidup sehat. 2. Melakukan gaya hidup sehat agar terhindar dari penyakit. 7 Illnes Orientation 1. Waspada terhadap gejala penyakit fisik yang muncul. 2. Mencari tahu tentang penanganan medis yang tepat Saya memegang kendali penuh atas kesehatan tubuh saya sehingga kegiatan saya dapat berjalan lancar. Saya memahami bahwa meminum suplemen atau multivitamin dapat menjaga kesehatan tubuh saya. Saya suka mencari dan membaca artikel-artikel mengenai cara hidup sehat. Saya berusaha mengatur asupan gizi dari makanan yang saya konsumsi. Saya dapat mencermati gejalagejala fisik yang timbul ketika saya akan sakit. Saya kurang peka dengan gejala yang muncul pada tubuh saya ketika mengalami suatu penyakit Saya tetap melakukan aktivitas walaupun saya merasa kurang sehat. Saya mencoba bertanya pada orang lain yang mengetahui penanganan yang tepat ketika saya mulai merasa Saya hanya membeli obat-obatan yang diberikan oleh dokter ketika

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 ketika merasa tidak sehat. 8 Body area satisfaction 1. Merasa puas dengan bentuk dan ukuran dari setiap bagian tubuh yang dimiliki. tidak enak badan. saya sakit. Saya merasa percaya diri ketika mengenakan model pakaian yang menunjukkan bentuk tubuh saya. Saya memilih mengenakan pakaian yang longgar untuk menutupi bentuk tubuh, karena saya merasa kurang percaya diri. 2. Merasa bahagia dengan setiap bagian tubuh yang dimiliki. 9 Overweight preoccupation 1. Menghindari hal-hal yang akan membuat gemuk 2. Melakukan pengendalian terhadap berat badan. 10 Self-classified 1. Memiliki penilaian yang tepat pada tubuh yang kurus sampai kelebihan berat. Saya merasa kurang percaya diri dengan setiap bagian tubuh saya. Saya menghindari makanan berlemak karena saya tidak mau bertambah gemuk. Saya memakan makanan yang berlemak karena tidak masalah bagi saya jika terlihat gemuk. Saya memperhatikan jam makan saya agar berat badan saya tidak bertambah. Saya rutin berolahraga karena takut berat badan saya akan naik dengan cepat. Saya kurang memahami cara menggolongkan bentuk tubuh yang kurus, ideal, dan juga gemuk.

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133 weight 2. Memiliki penilaian yang sama dengan orang lain mengenai ketegorisasi berat badan. Saya memiliki penilaian yang sama dengan orang lain ketika menentukan berat badan seseorang. Saya memiliki penilaian yang berbeda dengan orang lain ketika menentukan berat badan seseorang.

(154)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara syukur dengan kepuasan citra tubuh pada remaja
7
20
109
Hubungan antara konformitas dengan kecenderungan pembelian impulsif pada remaja awal di Yogyakarta.
1
9
105
Hubungan antara citra tubuh dengan perilaku makan pada remaja putri di SMA Dwijendra Denpasar.
0
1
11
BABI PENDAHULUAN - Hubungan antara persepsi dukungan sosial keluarga, persepsi dukungan sosial teman sebaya dan efikasi diri dengan konformitas pada remaja akhir di Banjar Kaja Kelurahan Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan - Widya Mandala Catholic Universi
0
0
10
Hubungan antara persepsi dukungan sosial keluarga, persepsi dukungan sosial teman sebaya dan efikasi diri dengan konformitas pada remaja akhir di Banjar Kaja Kelurahan Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan - Widya Mandala Catholic University Surabaya Reposit
0
0
16
Hubungan antara persepsi dukungan sosial keluarga, persepsi dukungan sosial teman sebaya dan efikasi diri dengan konformitas pada remaja akhir di Banjar Kaja Kelurahan Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan - Widya Mandala Catholic University Surabaya Reposit
0
0
45
Hubungan antara persepsi pola asuh orang tua demokratis dengan prestasi akademik pada remaja siswa SMP Negeri 3 Depok Yogyakarta - USD Repository
0
0
131
Hubungan antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja - USD Repository
0
0
122
Hubungan antara dukungan sosial yang dipersepsikan dan harga diri remaja - USD Repository
0
0
84
Hubungan antara harga diri dan prestasi akademik pada remaja akhir - USD Repository
0
0
91
Hubungan antara citra toko (store image) dengan niat membeli pakaian di distro pada remaja di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
101
Hubungan antara persepsi terhadap pola asuh permisif dan perilaku konsumtif pada remaja putri - USD Repository
0
0
102
Hubungan antara kecanduan cinta dan citra tubuh pada remaja akhir putri - USD Repository
0
0
73
Hubungan antara konformitas kelompok teman sebaya dengan resiliensi pada remaja awal - USD Repository
0
1
192
Hubungan antara intensitas penggunaan media sosial instagram dan materialisme pada remaja - USD Repository
0
1
149
Show more