ANALISIS USAHA JENANG KETAN PADA SENTRA INDUSTRI RUMAH TANGGA DI KABUPATEN PONOROGO

Gratis

1
2
63
9 months ago
Preview
Full text

DAFTAR LAMPIRAN

  Industri jenang sendiritelah dilakukan dari dahulu mengingat jenang adalah makanan atau jenis snack yang dihidangkan pada saat ada acara-acara warga yang tinggal di daerah karena jenang adalah jenis makanan tradisional atau bisa juga sebagai makanan untuk oleh-oleh. Jenang ketan yang dihasilkan oleh produsen jenang ketan di KabupatenPonorogo adalah jenang ketan yang menggunakan tepung ketan sebagai bahan baku utamanya.

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu

  Nilai efisiensi dari usaha dodol pisang di KabupatenPurworejo dalam penelitian ini adalah sebesar 1,23 dan risiko usaha dodol pisang di Kabupaten Purworejo adalah sebesar Rp 189.114,39. Usaha agroindutri makanan wingko di Kabupaten Kulon Progo mempunyai risiko tinggi dengankemungkinan kerugian sebesar Rp 977.991,08 dan nilai efisiensi lebih dari satu yaitu sebesar 1,12 yang artinya setiap Rp.

B. Landasan Teori

  Sebagian besar lokasi industri kecil dan rumah tangga berlokasi didaerah pedesaan sehingga apabila dikaitkan dengan kenyataan bahwa lahanpertanian yang semakin berkurang maka industri kecil dan rumah tangga di pedesaan dapat menyerap tenaga kerja di daerah di pedesaan. Kegiatan industri kecil dan rumah tangga menggunakan bahan baku dari sumber-sumber di lingkungan terdekat yang menyebabkan biayaproduksi dapat ditekan rendah c.

d. Tetap adanya permintaan terhadap produk yang tidak diproduksi secara besar-besaran, misalnya batik tulis, anyam-anyaman, dan lain-lain

  Industri kecil dan rumah tangga terdapat pola subsisten yang tercermin dalam tingginya peran relatif dari penggunaan pekerja keluarga(unpaid family worker), yakni mendekati 95,5 % dari keseluruhan tenaga kerja yang ada dari industri kecil dan rumah tangga yang bersangkutan(Azhary, 1986). Studi agroindustri padakonteks ini adalah menekankan pada food processing management dalam suatu perusahaan produk olahan yang berbahan baku utamanya adalahproduk pertanian.

3. Biaya, Penerimaan, dan Keuntungan

  Konsep biaya yangkedua adalah biaya akuntansi yaitu biaya dipandang sebagai pengeluaran nyata, biaya historis, depresiasi dan biaya lain yang berhubungan denganmasalah pembukuan. Konsep biaya yang terakhir adalah biaya ekonomi yang didefinisikan sebagai pengeluaran yang sepantasnya atau sewajarnyasaja untuk menghasilkan suatu barang atau jasa (Nicholson, 1991).

a. Total Fixed Cost (TFC) atau biaya tetap total, adalah jumlah biaya-biaya yang tetap dibayar perusahaan (produsen) berapapun tingkat outputny

  Pernyataan ini dapat dituliskan sebagai berikut : PT = Q x P Yaitu:PT = Penerimaan totalQ = Total produkP = Harga produk Semakin banyak jumlah produk yang dihasilkan maupun semakin tinggi harga per unit produk yang bersangkutan, maka penerimaan totalyang diterima produsen akan semakin besar. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:π = TR – TC dimana, = KeuntunganπTR = Penerimaan totalTC = Biaya total Keuntungan perusahaan adalah perbedaan antara pendapatan bersih dengan bunga dari seluruh modal yang dipergunakan dalam usahatani ataumerupakan perbedaan antara pendapatan kotor dengan biaya menghasilkan.

4. Efisiensi usaha

  R/C ratio menunjukkan pendapatan kotor (penerimaan) yang diterima untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk memproduksisekaligus menunjang kondisi suatu usaha. Secara matematik hal ini dapat dituliskan sebagai berikut : TR Revenue Cost Ratio TC Keterangan :TR = Penerimaan total dari usaha TC = Biaya total dari usaha.

5. Risiko usaha

  Risiko suatu investasi dapat diartikan sebagai probabilitas tidak tercapainya tingkat keuntungan yang diharapkan, atau kemungkinan returnyang diterima menyimpang dari keadaan yang diharapkan. Risiko investasimengandung arti bahwa return di waktu yang akan datang tidak dapat diketahui, tetapi hanya dapat diharapkan ( Riyanto,1999).

C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah

  Nilai total penerimaanyang diperoleh merupakan nilai uang dari total produksi yaitu hasil perkalian antara total produksi dan harga dari jenang ketan, yang dirumuskan sebagaiberikut:TR = Q x PKeterangan:TR = Total Revenue/Penerimaan total (Rupiah) Dalam melakukan usahanya, setiap produsen akan memperoleh keuntungan yang merupakan selisih antara penerimaan total dan biaya total. Efisiensi usaha dapat dihitungdengan menggunakan R/C Rasio, yaitu dengan membandingkan antara TR Efisiensi = TC Keterangan:TR = Total Revenue/Penerimaan total (Rupiah)TC = Total Cost/Biaya total (Rupiah)Kriteria yang digunakan:R/C  1, berarti usaha yang dijalankan sudah efisienR/C ≤ 1, berarti usaha yang dijalankan belum efisien.

D. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Harga input dan output menggunakan harga yang berlaku di daerah penelitian

  Responden yang diambil meliputi unit usaha formal dan informal yang sesuai dengan kriteria pada metode pengambilan responden. Penelitian ini menggunakan data produksi selama satu bulan produksi yaitu dimulai pada tanggal 26 Mei 2009 sampai dengan tanggal 24 Juni2009.

E. Asumsi

  Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bahan baku yang digunakan oleh produsen berasal dari luar (pembelian).

F. Hipotesis

  Diduga usaha industri rumah tangga pembuatan jenang ketan yang dijalankan di Kabupaten Ponorogo mempunyai risiko tinggi. Diduga usaha industri rumah tangga pembuatan jenang ketan yang dijalankan di Kabupaten Ponorogo sudah efisien.

G. Definisi Operasional

  Industri rumah tangga jenang ketan merupakan usaha yang memproduksi jenang ketan dengan menggunakan bahan baku tepung ketan yang berasaldari beras ketan, dimana dalam proses produksinya menggunakan tenaga kerja yang berjumlah 1-4 orang. Analisis usaha merupakan analisis terhadap suatu usaha dalam hal ini usaha dengan skala rumah tangga yang meninjau dari berbagai hal yangmeliputi : biaya, penerimaan, keuntungan, efisiensi usaha, dan risiko usaha.

3. Responden adalah produsen jenang ketan skala rumah tangga di Kabupaten Ponorogo yang memproduksi jenang ketan

  Penerimaan adalah hasil yang diterima oleh produsen yang merupakan hasil perkalian antara jumlah produk yang terjual dengan harga per satuanproduk dan dinyatakan dalam satuan rupiah. Risiko adalah fluktuasi keuntungan yang akan diterima oleh produsen atau kemungkinan kerugian yang akan diterima oleh produsen jenang ketantingkat rumah tangga.

III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif

  Menurut Surakhmad (1994) metode ini mempunyai ciri-ciri bahwa penelitian didasarkan pada pemecahan masalah-masalah aktual yang ada pada masasekarang. Sedangkan teknik pelaksanaannya dengan teknik survey, yaitu cara pengumpulan data dari sejumlah unit atau individu dalam jangka waktu yangbersamaan melalui alat pengukur berupa daftar pertanyaan yang berbentuk kuesioner (Singarimbun dan Effendi, 1995).

B. Metode Penentuan Responden

1. Metode Pengambilan Daerah Penelitian

  Desa Josari adalah daerah sampel yang diambil dalam penelitian ini, karena Desa Josari merupakan sentra industri jenang ketan tingkatrumah tangga di Kabupaten Ponorogo yang terletak di Kecamatan Jetis. Dari 21 Kecamatan di Kabupaten Ponorogo, usaha jenang ketan terdapat di dua Kecamatan yaitu Kecamatan Ponorogo dan KecamatanJetis.

2. Metode Pengambilan Responden

  Produsen jenang ketan yang diambil sebagai responden dalam penelitian ini adalah produsen jenang ketan dengan skala rumah tangga. Industri rumah tanggapembuatan jenang ketan merupakan usaha yang memproduksi jenang ketan dengan menggunakan bahan baku tepung ketan yang berasal dariberas ketan, dimana dalam proses produksinya menggunakan tenaga kerja yang berjumlah 1-4 orang.

C. Jenis dan Sumber Data

  Sumber data primer adalah produsen jenang ketan tingkat rumah tangga dengan tujuan agar peneliti dapat memperoleh informasimengenai keuntungan dan efisiensi usaha jenang ketan tingkat rumah tangga serta data-data lain yang menunjang tujuan penelitian mengenaiusaha jenang ketan tingkat rumah tangga. Data SekunderData sekunder adalah data dari laporan maupun dokumen resmi dari lembaga yang terkait dengan penelitian.

D. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan:

1. Observasi

  Metode Analisis Data Biaya UsahaPenelitian ini menggunakan konsep keuntungan, maka biaya dalam usaha jenang ketan dikelompokkan menjadi dua, yaitu biaya tetap danbiaya variabel. Penerimaan UsahaUntuk mengetahui penerimaan dari usaha jenang ketan di Kabupaten Ponorogo yaitu dengan mengalikan jumlah jenang ketan dengan harga jenang ketan tersebut.

2 V = Ragam

  Kriteria yang digunakan adalahapabila nilai CV ≤ 0,5 atau L ≥ 0 menyatakan bahwa produsen jenang ketan tingkat rumah tangga akan selalu terhindar dari kerugian. I V.

A. Keadaan Alam 1. Lokasi /Daerah Penelitian

  Batas-batas wilayah Kabupaten Ponorogo adalah sebagai berikut:Sebelah Utara : Kabupaten Magetan, Kabupaten Madiun, Kabupaten NganjukSebelah Timur : Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten TrenggalekSebelah Selatan : Kabupaten PacitanSebelah Barat : Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Wonogiri (Propinsi Jawa Tengah)Kecamatan Jetis yang merupakan lokasi penelitian adalah salah satu Kecamatan dari 21 Kecamatan di Kabupaten Ponorogo. Kecamatan Jetis berbatasan dengan Kecamatan Kauman, Kecamatan Ponorogo dan Kecamatan Siman di sebelah Utara, dengan Kecamatan Siman, Kecamatan Mlarak danKecamatan Sawoo di sebelah Timur, Kecamatan Sambit dan KecamatanBungkal di sebelah Selatan, dan Kecamatan Balong dan Kecamatan Kauman di sebelah Barat.

2. Topografi Daerah

  Kabupaten Ponorogo mempunyai ketinggian antara 92 – 2.563 meter diatas laut. Jarak dengan ibu kota propinsi Jawa Timur sejauh 200 23 Kisaran suhu di Kabupaten Ponorogo yaitu pada dataran tinggi berkisar antara 18 C – 26 C, sedangkan untuk dataran rendah berkisarantara 27 C – 31 C.

B. Keadaan Penduduk

1. Penduduk Menurut Jenis Kelamin

  Keadaan penduduk Kabupaten Ponorogo menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 2. 448.539 442.763Sex ratio 101,30 Sumber: BPS Kabupaten Ponorogo tahun 2008Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa nilai Sex Ratio yang diperoleh di Kabupaten Ponorogo adalah 101,30 yang berarti setiap 101,30penduduk laki-laki sebanding dengan 100 penduduk perempuan sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih besar daripadajumlah penduduk perempuan.

2. Penduduk Menurut Umur

  Kelompok Umur Laki-laki (jiwa) Perempuan (jiwa) Jumlah (jiwa) 0 - 4 25.698 25.367 51.0655 – 9 33.282 32.853 66.135 10 – 14 38.582 38.085 76.667 139.017 193.867 Dalam kenyataanya tidak semua penduduk yang masuk ke dalam kategori usia produktif menghasilkan barang dan jasa. Hanya sebagian558.418 Berdasarkan perhitungan diatas dapat kita ketahui bahwa AngkaBeban Tanggungan di Kabupaten Ponorogo sebesar 59,6 % yang artinya setiap 100 penduduk produktif menanggung 60 penduduk tidak produktif.

3. Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

  Ini berarti bahwa para penduduk di Kabupaten Ponorogo tersebut sudah memiliki cukup pengetahuan dan pendidikan yang dapatmembantu dalam menjalankan usaha jenang ketan tingkat rumah tangga yang dijalankan pada saat ini. sekolah lanjutan tingkat atas Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan dapat digunakan untuk mengetahui kualitas sumber daya manusia dan kemampuanpenduduk.

4. Penduduk Menurut Mata Pencaharian

  Jumlah penduduk yang bekerja menurut mata pencaharian diKabupaten Ponorogo adalah sebagai berikut :Tabel 5. Hal tersebut menunjukkan bahwa minat penduduk diKabupaten Ponorogo kepada jenis mata pencaharian sebagai pengusaha/wiraswasta masih rendah.

C. Kondisi Perindustrian

  Perindustrian di Kabupaten Ponorogo terbagi menjadi dua, yaitu industri formal dan industri non formal. Industri formal merupakan industriyang mempunyai ijin atau industri yang telah terdaftar di dinas terkait.

D. Kondisi Pertanian

  Kondisi pertanian di Kabupaten Ponorogo dapat dilihat dari jumlah lahan pertanian yang ada. Adapun jumlah lahan pertanian yang ada diKabupaten Ponorogo dapat dilihat dari Tabel berikut ini: Tabel 7.

V. HASI L PENELI TI AN DAN PEM BAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Identitas Responden

  Pekerjaan Sampingan 2 40 Total 5 100Sumber: Data Primer Dari Tabel 10 dapat diketahui bahwa 60% produsen jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo yang dipilih sebagairesponden menjadikan usaha jenang ketan tingkat rumah tangga yang 3. Modal pinjaman 1 16,67Total 6 100 Sumber: Data PrimerBerdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa 83,33 % atau sebanyak 5 orang produsen jenang ketan yang dipilih sebagai responden dalammenjalankan usahanya menggunakan modal sendiri dan hanya 16,67 % atau sebanyak 1 orang responden yang menjalankan usaha jenang ketandengan menggunakan modal pinjaman dari luar dan sebagian menggunakan modal sendiri.

5. Peralatan Usaha

  Peralatan yang digunakan dalam pembuatan jenang ketan kebanyakan merupakan alat–alat dapur yang masih sederhana. Walaupunada peralatan modern yang digunakan, yaitu mesin pengaduk dan mesin penggiling untuk menghaluskan ketan dan kelapa.

a. Wajan besar

  Pengaduk Digunakan untuk mengaduk adonan jenang ketan ketan yang dimasak. Saringan santanAlat ini digunakan untuk menyaring air yang telah dicampurkan dengan butiran–butiran kelapa yang sudah diparut.

6. Proses Produksi a. Persiapan bahan baku

Kegiatan persiapan dalam proses produksi jenang ketan yaitu:

b. Proses Produksi

  Produsen jenang ketan tingkat rumah tangga di KabupatenPonorogo membuat jenang ketan berdasarkan pengalaman atau resep turun temurun keluarga tanpa mengikuti pernah mengikuti pelatihan-pelatihan sebelumnya. Hal ini dikarenakan jumlah produsen jenang ketan tingkat rumah tangga yang masih relatif sedikit dan belumterorganisirnya usaha yang telah dijalankan.

c. Pengemasan

  Dalam pengemasan jenang ketan, langkah pertama yang dilakukan adalah dengan memasukkan adonan jenang ketan yang telahmatang kedalam cetakan-cetakan yang telah tersedia hingga adonan jenang ketan menjadi dingin. Tahapakhir dari dari pengemasan adalah pemberian merek jenang ketan yang terbuat dari kertas dengan menunjukkan nama produk, alamatproduksi, bahan-bahan yang digunakan.

7. Pemasaran/Penjualan

  Jenang ketan yang dipasarkan di wilayah Kabupaten Ponorogo biasanya dijual kepada paratengkulak yang akan mendistribusikan jenang ketan ke pedagang- pedagang pengecer dan selain lewat tengkulak jenang ketan juga dijualsendiri di outlet. Produsen jenang ketan lebih Adapun saluran pemasaran yang telah dilakukan oleh para produsen jenang ketan tingkat rumah tangga adalah sebagai berikut:Konsumen Produsen -Konsumen Produsen Pengecer -Produsen Tengkulak Pengecer Konsumen - Sebagian besar dari produsen jenang ketan tingkat rumah tangga diKabupaten Ponorogo melakukan distribusi produk melalui tengkulak kemudian disalurkan kepada pedagang pengecer.

8. Analisis Usaha a. Biaya, Penerimaan dan Keuntungan Usaha Jenang Ketan Tingkat Rumah Tangga

  Penerimaan yang diperoleh oleh para produsen jenang ketan merupakan penerimaan yang berasal dari penjualan jenang ketan yangdiproduksi. Hal ini disesuaikan dengan tingkat permintaan dari pasar terhadapkebutuhan jenang ketan mengingat wilayah penjualan yang berbeda- beda antara produsen satu dengan produsen yang lain.

b. Risiko Usaha Jenang Ketan Tingkat Rumah Tangga

  Untuk mengetahui besarnya risiko usaha yang harus ditanggung oleh setiap produsen jenang ketan tingkat rumah tangga di KabupatenPonorogo dapat dilihat pada Tabel berikut : Tabel 16. Batas bawah keuntungan (Rp) 1.838.528,56Sumber: Data Primer Tabel 16 menunjukkan bahwa keuntungan rata–rata yang diterima produsen jenang ketan tingkat rumah tangga di KabupatenPonorogo dalam sebulan sebesar Rp 5.061.628,29.

c. Efisiensi Usaha Jenang Ketan Tingkat Rumah Tangga

  Efisiensi usaha jenang ketan tingkat rumah tangga merupakan perbandingan antara total penerimaan rata-rata yang diterima olehprodusen jenang ketan dengan rata-rata biaya total yang dikeluarkan oleh produsen jenang ketan dalam produksi. Hal ini sesuai dengan pendugaan yang dilakukan pada saat awal penelitian, yaitu usaha jenang ketantingkat rumah tangga yang telah dijalankan di Kabupaten Ponorogo sudah efisien.

B. Pembahasan

  Nilai simpangan baku yang kecil mengakibatkan nilai koefisien variasi(CV) menjadi rendah, yaitu dibawah 0,5 dan nilai batas bawah keuntungan (L) Produksi jenang yang dilakukan secara terus-menerus oleh produsen jenang ketan tingkat rumah tangga dan dan tingkat pengembalian jenang yangrelatif rendah akan mendorong usaha jenang ketan berisiko rendah. Keinginan para produsen jenang ketan untuk beralih profesi ke pekerjaan lain menyebabkanjumlah produsen jenang ketan semakin berkurang, walaupun dari hasil analisis dapat diketahui bahwa usaha jenang ketan tingkat rumah tangga di KabupatenPonorogo terhindar dari kemungkinan mengalami kerugian dan usaha yang dijalankan telah efisien.

C. Permasalahan Usaha Jenang Ketan Tingkat Rumah Tangga

  Permasalahan utama yang dihadapi oleh para produsen jenang ketan diKabupaten Ponorogo adalah fluktuasi harga bahan baku dan ketersediaan tenaga kerja. Karena teknologi yang digunakan dalam proses produksi masihsederhana dan jenang ketan yang dibuat tidak memakai bahan pengawet, maka sangat memungkinkan jenang ketan yang diproduksi tidak akan tahan lama.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

  Biaya rata-rata yang dikeluarkan oleh produsen jenang ketan sebesarRp 6.283.371,71; kisaran penerimaan yang diperoleh produsen jenang ketan adalah antara Rp 4.550.00,00 sampai Rp 22.440.000,00 per bulandengan penerimaan rata-rata adalah Rp 11.345.000,00 per bulan. Hal ini dapat diartikan bahwa usaha jenang ketan yang dijalankan di Kabupaten Ponorogo mempunyai risiko usaha yang rendah.

B. Saran

  Usaha jenang ketan tingkat rumah tangga di Kabupaten Ponorogo mempunyai prospek yang bagus untuk dikembangkan. Yaitu mengenai cara-caraproduksi yang baik dan cara agar produk jenang ketan mempunyai daya tahan lama dan tidak mudah tengik.

DAFTAR PUSTAKA

  Kelima sektor pertaniantersebut bila ditangani lebih serius sebenarnya akan mampu memberikan sumbangan yang besar bagi perkembangan perekonomian Indonesiamendatang, salah satu penanganannya yaitu dengan perkembangan perekonomian pada bisnis pertanian atau agrobisnis (Soekartawi, 1999). Kelima sektor pertaniantersebut bila ditangani lebih serius sebenarnya akan mampu memberikan sumbangan yang besar bagi perkembangan perekonomian Indonesiamendatang, salah satu penanganannya yaitu dengan perkembangan perekonomian pada bisnis pertanian atau agrobisnis (Soekartawi, 1999).

Dokumen baru

Download (63 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

PENGARUH KURKUMIN TERHADAP SURVIVAL PADA MENCIT BalbC MODEL SEPSIS PAPARAN CECAL INOCULUM SKRIPSI
0
0
40
PERBEDAAN BERAT PARU PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG MATI TENGGELAM DI AIR LAUT DENGAN DI AIR TAWAR SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
0
0
43
EFEK ANTIPIRETIK EKSTRAK DAUN KEMANGI (Ocimi sancti folium ) PADA TIKUS PUTIH SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
0
0
50
ANALISIS FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN PARIWISATA DI KABUPATEN KLATEN
0
1
123
PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DI PT WIJAYA KARYA
0
0
96
ANALISIS PUSAT PERTUMBUHAN EKONOMI PADA TINGKAT KECAMATAN DI KABUPATEN KARANGANYAR PROVINSI JAWA TENGAH
0
1
104
EFEKTIVITAS PROGRAM RASKIN DI KECAMATAN BANJARSARI KOTA SURAKARTA TAHUN 2009
0
0
165
JURUSAN PENGUJIAN KARAKTERISTIK ALIRAN FASA TUNGGAL ALIRAN AIR HORISONTAL PADA SALURAN ANNULAR BERCELAH SEMPIT
0
0
117
PENGARUH PRYDA CLAW NAIL PLATE DAN PEREKAT TERHADAP KUAT LENTUR BALOK KAYU PADA SAMBUNGAN VERTIKAL HORISONTAL ( BUTT JOINT )
0
0
70
TINJAUAN TERHADAP USAHA MEMAKSIMALKAN PELAYANAN AIR BERSIH KEPADA MASYARAKAT DI KECAMATAN KARTASURA KABUPATEN SUKOHARJO
0
0
73
1 ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (Studi Kasus Pada PT Cazikhal)
1
2
168
PERBANDINGAN RAMALAN MODEL TARCH DAN EGARCH PADA NILAI TUKAR KURS EURO TERHADAP RUPIAH
0
0
12
ANALISIS PENGARUH INVESTASI, TENAGA KERJA DAN EKSPOR TERHADAP PRODUK DOMESTIK BRUTO (PDB) INDONESIA TAHUN 1990-2007
0
0
79
ANALISIS PENGARUH CITRA SUPERMARKET TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN PADA TOKO ALFAMART DI BOYOLALI
0
0
75
ANALISIS NILAI TAMBAH PADA INDUSTRI ABON “AMPEL” DI KABUPATEN BOYOLALI Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Program Studi Agrobisnis
0
0
24
Show more