Pramoedya Ananta Toer – Arus Balik

Gratis

2
70
1196
1 year ago
Preview
Full text

  D i Bawah Bulan M alam Ini Tiada setitik pun awan di langit. D an bulan telah terbit bersamaan dengan tenggelamnya matari. D engan cepat ia naik dari kaki langit, menguningi segala dan semu a yang tersentuh cahayanya. Juga hutan, juga laut, juga hewan dan m anusia.

  Langit jernih, bersih dan terang. D i atas bumi Jawa lain lagi keadaannya: gelisah, resah, seakan-akan m anusia tak m embutuhkan ketenteraman lagi.

  0o-d w-o0

  Bahkan juga laut Jawa di bawah bu lan purnam a sidhi itu gelisah. Ombak-om bak besar bergulung-gulung mem anjang terputus, menggunung, melandai, mengejajari pesisir pulau Jawa. Setiap puncak ombak dan riak, bahkan juga busanya yang bertebaran seperti serakan mu tiara – semua – dikuningi oleh cahaya bulan.

  Angin meniup tenang. Ombak-ombak m akin menggila. Sebuah kapal peronda pantai meluncur dengan kecepatan tinggi dalam cuaca angin dam ai itu. Badannya yang panjang langsing, dengan haluan dan buritan meruncing, timbul-tenggelam di antara ombak-ombak purnama yang menggila. Layar kemudi di haluan menggelembung mem bikin lunas m enerjang serong gunung- gunu ng air itu – serong ke baratlaut. Barisan dayun g pada dinding kapal berkayuh berirama seperti kaki-kaki pada ular naga. Layarnya yang terbuat dari pilinan kapas dan benang Pada puncak tiang utama, di bawah lentera, berkibar bendera panjang merah dan putih – bendera kadipaten Tuban. D i bawahnya lagi, dud uk di atas tali-temali, seperti titik kelam, adalah jurutinjau.

  Tepat di bawah layar utama berdiri nakhoda yang sebentar-sebentar meninjau pada jurutinjau di atas. Di samp ingnya berdiri Patragading, bertolak pinggang.

  “Tetap tak ada yang m engejar, Tuanku!” seru juru tinjau. “Kita akan selam at sampai di temp at,” bisik nakhoda pada Patragading sambil menyembah dad a. “Tak ada yang mengejar kita.”

  Patragading mengangkat kain dan diikatkannya pada pinggang sehingga seluarnya dari sutera itu mengerjap- ngerjap terkena cahaya bulan. Kerisnya tertutup oleh kainnya – suatu gaya pembesar yang kehilangan kesabaran.

  “Silakan mengaso. Sebentar lagi Tuban akan nampak.” “Lihat yang baik, barangkali ada iring-iringan perompak.” “Tak pernah ada peromp ak berani mendekati kapal sahaya.” “Lihat yang baik,” gertak Patragading. Tangannya mem betulkan kain penutup dadanya.

  “Ahoo! Bagaimana dengan depan dan samping?” “Tiada sesuatu. Tuanku,” nakhoda itu meneruskan laporan jurutinjau sambil menyembah dad a. “Sebaiknya

  Tuanku mengaso sebelum m endarat tengah m alam ini.” Patragading melepas kain lagi sehingga seluar sutranya tertutup kembali. Ia tinggalkan tiang utama dan berjalan mo ndar-mandir di geladak, kemudian pergi ke haluan, ke bawah, memandangi lunas yang menerjang om bak. Juga tak lama. D engan tinju ia memukul-mukul dinding kapal, kemudian berjalan lagi mond ar-mandir tanpa tujuan. Akhirnya ia menuruni tangga geladak dan hilang dari pemand angan.

  “Ahoi! Turun!” perintah nakhoda pada jurutinjau. Begitu kakinya sampai ke geladak, jurutinjau itu mengh embuskan nafas besar.

  “Mati semua awak kapal kalau orang darat ikut campur begini,” sambut nakhoda. “Ya, begitulah bila Tuanku majikan ada di kapal.” “Pada putra G usti Adipati tak ada nakhoda berani mem bantah, biarpun putra ke dua ratus empat puluh satu!” “Uh, bulan pun tersenyum melihat kita, Tuanku.” “Lebih gampang menumpas perom pak.” ‘Tengah malam ini tugas keparat ini akan selesai.” “Boleh jadi ada perintah kembali.” “D ewa Batara!” sebut nakhoda. “Itu berarti akan terkapar ditelan hiu.” “Ts-te-ts.” “Co ba lihat jurumudi, apakah dia masih ada di tempat.” “Tapi sahaya jurutinjau, Tuanku.” “Apa lagi yang hendak kau tinjau? Angin?” Juru tinjau pergi. N akhoda itu naik ke atas tiang utama, hanya agar tidak berada di dekat Patragading, putra ke dua ratus empat puluh satu.

  Juga di bawah bulan purnama sidhi itu pula, di sebuah botakan hutan seekor anjing hutan merenungi langit. Lehernya memanjang, kemudian menunduk pelan sambil mengeluarkan suara tenggorokan, pelahan . Kaki depannya berdiri, kaki belakangn ya bersim puh. Kepala itu diangkat lagi. Matanya semakin sayu. D ari mu lutnya keluar suara keras, mem baung, melolong. Kepalanya terangkat-angkat, kupingnya berdiri dan buntutnya berkibas-kibas pelahan ke kiri dan kanan. Ia mem anggil bulan dan yang dipanggilnya tak mau datang. Yang datan g justru berpuluh-p uluh yang lain, jantan betina dan anak-anaknya. Semua itu mem andang ke atas, mem anggil-manggil sang bulan, meraung, m elolong, m embaung.

  Hutan yang senyap itu berubah jadi hiruk. Suaranya melayang, mengambang dalam cahaya bulan mencapai desa perbatasan kadipaten Tuban: Awis Krambil. M enusuk lebih dalam ke tengah-tengah desa, mem asuki balai-desa.

  “D engar anjing-an jing mem baung!” oran g tua itu menuding ke arah atap . Alisnya yang putih terangkat. Badann ya tetap tenang duduk di atas tikar m enghadapi para pendengarnya.

  “Tak pernah anjing hutan membau ng seperti itu.” Sunyi-senyap di ruangan balai-desa. Semua mem anjangkan leher mendengarkan baung ratusan anjing di tengah hutan. R atusan sumbu damarsewu yang menyala di sepanjang dan seputar rumah um um itu bergoyang- goyan g terkena angin silir.

  “Apakah gerangan yang akan terjadi, Rama?” kepala desa yang du duk agak di belakang orang tua itu bertanya. “Bulan purnama begini. Semua indah. Hanya anjing- anjing pada menan gis. Bulan itu takkan menan ggapi dan hilang. Bulan purnama sekarang, tapi bukan purnama untuk kalian. Untuk kita. Kita sedang tenggelam .” “Kita belum pernah tenggelam, Rama,” protes seorang gadis di tengah-tengah hadirin. “Kau belum pernah tenggelam, gadis. Kau pun belum pernah terbit. Kita – kita pernah terbit, dan sekaran g sedang tenggelam. Lihat, sebagai bayi aku dilahirkan di sini. Kalian semua belum lagi lahir. Hutan dan alang-alang masih berjabat-jabatan. Sawah belum ada. Hanya huma, gadis. D ulu desa ini dinamai Sum ber Raja…” Tiba-tiba suaranya terangkat naik, m elengking. “Kalian biarkan desa ini di hina oleh orang kota, dan kalian sendiri setuju dengan nama Awis Kram bil.” Ia tertawa sengit.

  “Bukan begitu Rama G uru,” bantah kepala desa gopoh- gapah dan menebarkan pandang minta sokongan hadirin. “N am a itu diberikan sebagai ucapan ikut prihatin terhadap sulitnya kelapa di sini. Lama-lam a jadi sebutan resmi di Tuban. Kami hanya mengikuti, Rama.”

  “Apa saja kalian kerjakan dalam tujuh tahu n ini maka sebuah desa bisa kekurangan kelapa?” orang tua itu tak menoleh pada kepala desa. “Apakah di mandala kalian sudah tak pernah diajarkan tentang kelapa dan tentang desa, bahwa kesejahteraan desa namp ak dari puncak- puncak pohon kelapan ya?”

  Para hadirin berhenti mengu nyah sirih mendengar perselisihan sudah dimulai itu. “D engarkan kata-kata R ama Cluring ini,” orang tua itu meneruskan dengan tubuh tetap tidak bergerak dalam silanya. “D esa yang kekurangan kelapa…. adalah karena ada apa-apa kecuali kelapa di dalam kepala-kepala desanya. Ingat-ingat itu! Ada apa-apa kecuali kelapa.”

  “Apakah apa-apa dalam kepalaku. Rama G uru?” tanya kepala desa tersiksa. “Bukankah kau tahu juga dari orangtuamu, desa ini dah ulu mencukupi buat semua? Mem ang lain. D ahulu penduduk desa masih punya harga diri. N am anya tetap Sum ber Raja sebagaimana diberikan oleh leluhur para pendiri. Sekarang, bukan karena kelapa itu tidak tumbuh, cipta kalian yang merosot sampai ke telapak kaki. Maka kelapa pun tak kunjung berbiak, tinggal hanya peninggalan nenek-moyang.”

  Tak ada yang menyanggah. D engan lunak ia mu lai bercerita tentang kelapa di desa-desa lain yang lebih tandus. Para hadirin, tua dan mu da, laki dan perempuan, gadis dan perjaka memp erhatikan tubuh pembicara yang pendek- kecil, berkain dan berkalung kain batik pula, berdestar putih, berjanggut dan bermisai putih, seperti kepala Anom an dalam R amayana.

  Mereka mendengarkan dengan diam-diam sambil mengu nyah sirih. Tak seorang pun mentertawakan keputihannya. Mereka mengh ormati orang tua yang terkenal sebagai pemuja Ken Arok Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, berlidah pedang dan berludah api itu.

  “D engar, barangkali anjing-anjing itu akan mem baung sepanjang m alam. ” Kembali orang mendengarkan baung yang sayup-sayup dari tengah hutan. “N enek-m oyang kalian tidak sebebal kalian sekarang,” tiba-tiba orang tua itu m enetak kejam. “Aku dan kami mu ngkin mem ang bebal,” seseoran g di tengah-tengah hadirin mem bantah. ‘Tapi para dewa, Rama G uru, pada kami tak diberikan tanah yang cukup baik untuk kelapa. ” “Puah !” seru Ram a Cluring. “Sewaktu kecilku takkan ada orang menyalahkan para dewa. Tak ada penghujatan semacam itu. Mandala masih berwibawa dan guru-gu ru dihorm ati, maka bocah yang belum terpanggil oleh Sang Buddh a pun tahu, bumi ini diberikan oleh Hyang Tunggal pada manusia dalam keadaan sebaik-baiknya. Tak ada seorang pun mengh inakan keadaannya, karena manusia diciptakan dalam keadaan sempurna. Lupakah kau pada ajaran, hewan takkan mengu bah apalagi alamn ya? Tetapi manusia tanpa cipta merosot, terus merosot samp ai ke telapaknya sendiri, merangkak, melata, samp ai jadi hewan yang tak mengu bah sesuatu pun. Untuk mem punyai ekor pun m anusia demikian tidak berdaya.”

  Sebentar ia diam. Tubuhnya tetap tak bergerak. D agunya tertarik ke depan seperti sedang menunggu tantangan. Yang ditunggu tiada kunjung datang. D an ia meneruskan, mengu langi ajaran Buddh a dan Syiwa tentang m anusia dan kebajikannya sebagai makhluk dewa, tentang alam dan kemungkinan-kemungkinannya. Kemu dian menutup dengan nada tinggi meledak: “G uru-gurumu takkan lupa menyam paikan: yang buruk datang pada manusia yang salah menggunakan nalar, sehingga nalar yang buruk mem anggil keburukan untuk dirinya. Semua kalian me- lewatkan masa kanak-kan ak dan remaja di bawah petunjuk dan ajaran Sang G uru. Padaku ada wewenang menamai kalian bebal.”

  “Kata-kata itu menyakitkan hati, Rama,” seseorang nenek mem protes. “Berbahagialah kau yang bisa bersakit hati, pertanda masih ada hati, dan ada cinta di dalam nya. Tapi macam kebebalan adalah juga kebebalan. N ah, sekarang coba ikuti kata-kataku: telah kalian ubah nama ini dari Sum ber Raja jadi Awis Kram bil, hanya karena desa ini tak mampu mem bayar upeti kelapa untuk pasukan gajah Tuban. Upeti demi upeti. Apa sudah kalian terima dari Sang Adipati? Siapa di antara anak-anak desa ini mendapat kesempatan merajai lautan seperti di jaman Majapahit dulu? Menyaksikan dunia besar? D ihorm ati dan disegani di mana- mana? D i Tumasik, di Benggal, N gabesi, Malagasi, sampai di Tanjung Selatan W ulungga sana? Tak pernahkah orangtua kalian bercerita semacam itu maka hatimu jadi sa- kit karena kebebalan sendiri?”

  Rama Cluring berhenti bicara. Kembali baung beraturan anjing m engisi suasana. “Tak ada seorang pun di antara pemuda desa ini pernah menginjakkan kaki di bum i Atas Angin . D i sana pun dah ulu kalian akan dengar gam elan kalian sendiri. Orang sana juga menggemari cerita-cerita Panji dari Jenggala seperti kalian. Mereka juga mencintai Panji Semirang, juga seperti kalian di desa ini. Sang Adipati tidak mem berikan kesempatan pada kalian. Tapi kalian terus juga mem bayar upeti, barang jadi dan baran g gubal. Tak seorang di antara kalian menyaksikan jauh-jauh di seberang sana bagaimana D ewa Ruci dan Arjuna W iwaha didengarkan oran g.”

  Orangtua itu mu lai bercerita tentang negeri-negeri jauh yang pernah dikunjunginya. Ia bercerita tentang kebesaran- kebesaran Majapahit. Para pendengarnya mu lai terbuai. D an ia menyentakkan mereka dengan lidah parangn ya: “Ha! Mengantuk kalian terayun oleh keenakan-keenakan masa-la lu. Kalian, oran g-orang yang telah kehilangan harga diri dan tak punya cipta. Segala keenakan dan kebanggaan itu bukan hak kalian. Bahkan mem biakkan

  Malam itu dingin. Semua mengenakan kain menutup dad a, laki dan perempuan. N am un ada juga perawan- perawan yang membiarkan buah dadan ya terbuka, dipermain-mainkan sinar dam ar sewu dan angin silir yang mengentalkan darah.

  “D ulu, waktu Sang Adipati masih mu da, jadi pembesar berkuasa di W ilwatikta, tak ada sesuatu yang berharga telah dipersembahkannya pada Majapahit. D i tangannya juga Majapahit padam sinarnya. Sekarang dalam usia tuan ya, apakah yang bisa diperbuatnya? Untuk desa pinggiran ini pun tidak sesuatu ! Kalian ini kawula Sang Adip ati atau kah budaknya yang ditangkap di medan perang?”

  “Kawula!” seseorang m emberikan jawaban. “Mengapa raja kalian tak berbuat sesuatu untuk kalian?” “Rama!” seorang lagi berseru tegang, “Rama telah….” “Rama!” tegur kepala desa di belakangn ya. Matanya berbeliak menyemburkan api kemarahan. “Itu pemberontakan!” ia menuduh. “Paling tidak mengh asut pembangkan gan. Tidak lain dari Rama sendiri yang lebih mengerti aturan darmaraja.” Orangtua itu menoleh ke belakang dan tertawa.

  “Benar, pemberontakan, hasutan, ” dua-tiga oran g mu lai berseru-seru. Para hadirin mu lai gelisah, berselisih satu dengan yang lain. Suasan a tak terkendali. Orang tua itu sendiri tetap tenang bersila di atas tikarnya.

  “Katakan itu di Tuban!” seseorang meraung. Orang tua itu mengangkat telunjuknya, dan semua terdiam. “Kalau aku tidak bicara di Tuban, semua tahu juga Hyang W idhi, juga para dewa: sekali diucapkan, kebenaran meluncur turun dari ketinggian, menjalar ke mana-mana, berkemban g biak dalam hati manusia waras, karena kebenaran selalu datang dari Hyang Widhi sendiri. Juga kata-kataku akan samp ai ke T uban, ke bandar-band ar seberang…. ”

  Juga di bawah bulan purnama itu beratus-ratus samp an mem bawa penduduk dewasa pesisir sedang menyisiri seluruh pantai Jepara, menyisiri Teluk Awur, pulau Kelor dan pulau Panjang.

  Em pat ratus samp an telah mendarat di pulau Panjang, mem bawa pedang dan tom bak meneliti setiap sudut dan lapan gan. Seorang prajurit bertombak meraung: “Semua penduduk nelayan pulau Panjan g supaya m enghadap!”

  D i tempat-temp at lain suara itu diteruskan, sambung menyam but berkait-kaitan. D an tak ada seorang nelayan pun datang mengh adap. Tak ada yang tahu ke mana mereka melarikan diri.

  D alam sebuah rumpun bakau yang lebat orang menem ukan sebuah arca G anesya yang belum lagi selesai. Em pat buah besi pahat dan dua penohok tergeletak pada alas kaki arca. Ro mbongan penduduk pesiar Jepara itu terkesim a oleh pem andan gan itu.

  Seorang prajurit berpedang m enghardik: “Mengapa ragu- ragu m enangkap?” ia lari menghampiri. Ia sendiri terkejut m elihat arca belum jadi itu. Seorang prajurit lain datang, mem ekik: “Mengaku sudah Islam. Mengapa pada batu takut? Ayoh, gulingkan. Ceburkan ke laut. ”

  Tapi pendud uk pesisir Jepara dan prajurit pertam a itu ragu-ragu. Prajurit ke dua itu mendekati arca itu dan meludah inya.

  “Lihat, dia diam saja aku ludahi,” kemudian ia menggoyang-goyan g kepala gajah yang belum jadi itu, “lihatlah, dia sama sekali tak ada kekuatan untuk melawan. Ayoh, gulingkan!” perintahnya kemu dian.

  Prajurit pertama itu nampak malu dalam cahaya bulan. D engan langkah goyah ia mendekati G anesya belum selesai itu dan dengan takut-takut menyentuh belalain ya dengan tulunjuknya. D an belalai G anesya itu tidak hangat, juga tidak m embuktikan diri punya sakti.

  “Ludahi dia!” perintah prajurit kedua. Prajurit pertama melengos. Ia tak beran i. “Barangsiapa masih mengaku Islam, ayoh bantu aku gulin gkan batu ini!” pekik prajurit kedua.

  Hanya sepuluh orang maju. Mereka mendorong kepala arca itu sampai terguling ke tanah . Prajurit kedua bersorak, pengikutnya juga bersorak.

  “G uling-gulingkan sampai ke teluk!” Makin lama makin banyak orang yang ikut serta. Tak lama kemudian terdengar batu itu tercebur ke laut dan hilang dari pandangan bulan dan manusia.

  D i Tegalsam bi, di pesisir selatan Jepara, penduduk kota yang dikerahkan hanya menem ukan sebuah gubuk. Di depannya berdiri tunggul kayu setinggi sepuluh depa. Pada puncaknya terpahat sebuah arca yang telah rusak, pecah- pecah kepalanya terkena panas dan hujan. Tak dap at dikenali lagi arca apa. D i dalam gubuk itu sendiri hanya dap at ditemukan sebuah tempayan kecil berisi abu jenazah, terletak di atas para-para. Pada sebuah dinding tergantung papan kayu nangka dengan lukisan seorang wanita cantik dengan dua jari tangan mem belai dagunya sendiri dan dengan tangan kiri m emegangi pergelangan tangan kanan.

  Seorang prajurit menghancurkan tempayan itu dengan punggung pedangnya sehingga abu itu buyar berham buran. D engan mata pedangnya ia hancurkan lukisan itu berkeping-keping, kemudian menyepaknya berantakan. Sebuah kotak kayu tempat alat-lukis yang didapatkan di atas para-para dilemparkan keluar gubuk. Alat-alat yang telah berja mu r itu bergelatakan dalam cahaya bulan, diam, tidak bergerak lagi.

  D i Jepara sendiri, di muara kali Wiso serombongan pembesar sedang turun dari sebuah kapal Tuban yang kena sergap. Begitu turun ke darat seorang di antaranya menengok ke belakang pada tiang utama kapal. Seorang pembawa payung berlari-lari mendekati dan mem ayunginya. Payung kuning dari sutera itu mengkilat bermain-main dengan cahaya bulan. Tapi orang itu tidak mengindahkan. Ia bergumam: “Lebih bagus dengan bendera kita.”

  “Semua ikut mem andangi bendera putih yang berkibar malas dalam angin silir lemah itu. G ambar kupu-tarung di tengah-tengahn ya kelihatan hanya sebagai setump ukan garis sambung-putu s. Juga bendera itu dari sutera.

  “Kupu-tarung lebih bagus daripada merah-putih,” seseoran g m emberikan tanggapan. “Seluruh merah-putih majapahitan itu akan tumpas dari mu ka bumi.” ‘Tentu.”

  D engan sendirinya rombongan itu m engalihkan pandang pada sang bulan. N ampak semakin besar dan semakin kuning….

  Juga di bawah bulan purnama itu beberapa puluh anak- anak, laki dan perempuan, sedang bernyanyi bersama di tanah lapang W ilwatikta, bekas ibukota Majapahit. Mereka sedang menyam paikan puji-pujian kepada sang bulan sebelum mem ulai dengan perm ainan malam. Mereka bergandengan satu dengan yang lain, merupakan lingkaran. D i tengah -tengahnya berdiri seoran g anak yang memimpin perm ainan.

  Malam purnama ini jumlah mereka semakin sedikit. Setiap minggu ada saja yang meninggalkan W ilwatikta untuk selam a-lam anya, pindah ke G resik atau kota-kota bandar lainnya.

  Juga di bawah bulan purnama itu di tanah lapang di ibukota kerajaan Blam bangan ribuan bocah sedang bernyanyi bersama seperti di Wilwatikta. Hanya bukan seorang nenek mem impin mereka, tapi seorang pedanda pria setengah baya. Perawan dan perjaka, beratus-ratus m e- lingkari bocah-bocah yang sedang menyampaikan puji- bulan. Antara sebentar semua bertepuk-tepuk dan bersorak- sorai. Seluruh dunia seakan dalam keadaan tenang dan dam ai, seakan tak ada lagi setetes darah mem erahi medan perang.

  Juga seluruh D ahan apura, ibukota kerajaan Blam bangan , mengelu-elukan bulan yang mem erangi langit tanp a nod a itu, karena cuaca seindah itu menjanjikan kemakm uran dan perdam aian. Pasuruan, kedudukan D ahan apura, semakin lama semakin besar setelah Sri Bagin da Ranawijaya G irindraward hana, raja Blam bangan mem bariskan pasukannya mem asuki Majapahit yang telah kekuatan lain berhak menjam ah bekas kera jaan Majapahit dan ibukotanya selam a darah Sri Baginda Kretarajasa, yang sekarang masih berdiri di Blam bangan. Tiga tahu n setelah mendudu ki Wilwatikta, 1489 M., pasukannya ditarik kembali ke Blam bangan. untuk mengalihkan perhatian orang dari Majapahit ke Blam bangan. Ia berhasil dan Pasuruan menjadi bandar besar. Kalau ada yang masih dirusuhkan oleh Sri Baginda Ranawijaya Girindra wardhana dan Patih Udara, hanya karena bandar Majapahit, G resik, tak dapat dipindah kannya ke Pasuruan.

  N am un orang tak meneteskan darah di wilayah Blam bangan karena perang. Aman, damai dan kemakm uran melimpah .

  D i balai-desa Awis Kram bil antara Rama Cluring dan para hadirin ketegangan semakin m enjadi-jadi. Hal itu tidak pernah terjadi dengan guru pembicara lain yang pernah datang ke desa ini.

  “Betul!” orang mem ekik di tengah-tengah hadirin, “tidak lain dari Rama G uru sendiri yang lebih tahu tentang darmaraja. D ari Tuban datang pengayom an. Pengayom an itu yang mem buat Rama tidak tahu, setiap jengkal tanah yang kita pacul adalah milik G usti Adipati, dirampas dengan paran g dan tom bak dari tangan mu suh-m usuhnya dan dibenarkan oleh para dewa. Keringat kita, kita teteskan di atasnya dan panen pun jadi. Itulah harga dari semua upeti kita. Pengayom an, Rama, sehingga tak ada mu suh datang menyerbu kami. Anak-anak dap at bermain-main dam ai setiap hari. Hujan jatuh mem bawa kesuburan. D an keringat jatuh mem bawa kesejahteraan. ”

  Rama Cluring tak pernah memoton g kata-kata orang. Ia mendengarkan tanp a menggerakkan badan. Kemu dian: “Indah sekali kata-kata itu. Aku dapat lihat, kau tidak mencangkul. Petani tidak seperti itu kata-katanya. Putra ke berapa ratus kau dari Sang Adipati? Co ba sini, perlihatkan mu kamu.” Pembicara itu tidak m enamp akkan mu kanya.

  “Sayang kau tak berani mu ncul. Kau, orangmu da, sama halnya dengan perempuan pemalas yang merasa lebih beruntung jadi selir atau gundik di bandar-band ar daripada mendampingi seorang suami di sawah dan ladan g. Berbahagialah suami-istri yang sama-sama bekerja, maka haknya pun sama di hadapan para dewa dan manusia.

  Rama Cluring berkom at-kamit dan mengo cok mata. Kemu dian ia tegakkan dad a, nampak menarik nafas panjang, m enghimpun kekuatan dari seluruh alam ke dalam paru -paru untuk disalurkan ke dalam sikapnya.

  “D ari mana datangnya pengayom an kalau bukan dari upeti?” seseoran g bertanya ragu-ragu. “D ari mana?” Rama Cluring menjawab. “Kalau upeti tak mu ncul, bukan pengayoman yang datang, tapi balatentara Tuban akan menumpas dan mengh ancurkan kalian dan desa kalian. Kalau perang datang, tak seorang pun di antara kalian mendapat pengayom an. Balatentara Tuban tidak. Sebaliknya kalianlah yang diwajibkan mengayomi dia!” ia tertawa menunggu tantan gan.

  D i sebelah pinggir di antara para hadirin, gadis Idayu menyikut pacarnya, G aleng, berbisik: “Jadi, apa maunya?” “D engarkan saja,” kata G aleng. Pacarnya m encubit sengit, tapi pemuda itu tak peduli. “D engarkan kalian semua punggawa desa yang hidup dari keringat orang lain, yang hidup dari penyisihan upeti. Kalian, apalagi kalian, sama sekali tak bisa berbuat apa-apa kalau perang datang. Mangayomi diri sendiri pun tak bisa, apalagi mengayomi rakyatmu. Di waktu damai kalian bersorak-sorai tentang pengayoman demi sang sisa upeti. Kalau kalian sudah seperti itu, bagaiman a pula macam rajam u?”

  Ketegangan sekaligu s berubah jadi ketakutan. “Apa kalian takuti? Akan datang masanya kalian akan lebih, lebih ketakutan. Bukan karena kata-kataku. Mari aku ceritai: jam an ini adalah jaman kemerosotan. Raja-raja kecil bermunculan pada berdiri sendiri, karena rajad iraja tiada.

  Kekacauan dan perang akan mem buru kalian silih-berganti. Lelaki akan pada mati di medan perang. Perempuan akan dijarah-rayah dan kanak-kan ak akan terlantar. Kalian takkan ditump as karena kata-kataku. Kemerosotan jaman dan kemerosotan kalian sendiri yang akan menumpas kalian selam a kalian tak mampu menahan kemerosotan besar ini.”

  Ia diam. Para pendengar terdiam. Mereka telah terbiasa terpengaru h oleh ram alan orang tua-tua pengembara yang telah jauh langkah. Kakek-kakek mereka telah lama meram alkan akan datangn ya perang yang tiada kan habis- habisnya bila dewa-dewa telah berganti dan bila berbagai bangsa dengan berbagai warna kulit telah mu lai berdatangan menjam ah bumi Jawa.

  “Rama G uru,” seorang wanita dengan suara mendayu- dayu mem ohon , “bila kekacauan dan perang akan mem buru-buru kami silih berganti, bukankah akan sia-sia semua yang sudah kami kerjakan dan usahakan?”

  “Jelas. Apalagi upeti-upeti ke Tuban itu. Sam a sekali tanp a guna. Sekarang dengarkan: di jaman Majapahit tak diatasi,” ia mulai mengubah nada suaranya menjadi lunak dan ram ah. “D i masa itu semua orang boleh mem bikin bata. Setiap orang boleh mendirikan candi keluarga, tempat menyimpan abu para mendiang. Setiap orang boleh belajar mengecor besi dan mencetaknya. Tidak seperti sekarang. Menem pa besi dan baja pun tidak diperkenankan, kecuali atas perintah. D ahulu perawan-p erawan pada menenun sutra. Di mana-man a nampak pakaian gemerlapan bermain dengan sinar matari. Sekarang ulat sutra pun tumpas. Orang hanya menenun kapas. Ulat sutra yang tinggal hanya ditenun untuk layar perahu dan kapal besar dan untuk pengantin. Saluran yang dulu dibikin di mana-m ana sekarang sudah pada mendangkal. Kapal besar tak lagi dap at masuk ke pedalaman. Tak lagi riam dan sangkrah dibersihkan oleh pasukan-pasukan laut. Tak lagi sungai- sungai dipelihara. D i jaman Majapahit para punggawa disebarkan ke seluruh negeri bukan untuk mem ata-matai kawula. M ereka bicara dengan bocah-bocah. Bila anak-anak itu tak dap at menjawab pertanyaan mereka, baik kepala desa mau pun bapa-bapa mandala kena teguran. D engan demikian setiap bocah dapat membaca dan menulis, tahu akan dewa-dewa dan hafal akan banyak lontar.”

  “Berap a um urm u. Rama G uru, maka tahu banyak tentang jaman kejayaan Majapahit?” seorang gadis bertanya. “D ua ratus?”

  Rama Cluring mendeham dan mem bersihkan kerongkongan. “Tak ada oran g hidup sampai dua ratus. Lebih beberapa puluh tahun dari seratus. Menurut perhitungan surya.” “Mengapa menurut perhitungan surya?” seorang lain bertanya.

  “D i bandar-bandar ada oran g yang mulai menggunakan perhitungan rembulan – orang-orang gila itu. Mereka mem punyai dewa lain dari kita. Mereka hidup hanya dari berdagang, tidak menginjakkan kaki di sawah ataupun ladang. Mereka hanya hidup dari pantai dan dari laut. Mereka tak mem erlukan gunu ng. Mereka tak memerlukan surya. Mereka hanya mem erlukan harta dan kekayaan.”

  “Mereka penyembah rembulan. Rama G uru?” “Aku belum lagi tahu . Barangkali. Mereka itu yang mem bikin para bupati dan adipati pesisir hanya mengingat pada harta-kekayaan, lupa pada Bagin da Kaisar di Majapahit. Mereka pengaru hi bupati dan adipati pesisir supaya tak mem bikin kapal-kapal lagi. Mereka menyuap dengan mas, tembikar, sutra, kain khasa, permadani…. Mereka petualang-petualang dari Atas Angin. D i pesisir Atas Angin sana m ereka sam a saja tingkahnya. Perhitungan rem bulan menjalar seperti wabah. Kemerosotan jaman, jaman gila. Orang mu lai tak dapat memilih apa yang baik untuk dirinya. Tak heran, di mana mandala tidak berdaya, orangtua tak tahu sesuatu kecuali kesenangan sendiri…. Yang paling tidak horm at pada para dewa juga yang paling mu la jadi korban wabah dari Atas Angin ini. Bahkan tulisan kita, tulisan kita yang sempurna sandang dan sukunya…. boleh jadi…. sudah mu lai mu ncul tulisan yang sama sekali tidak berbunyi…”

  “Adakah Rama Cluring pernah lihat tulisan itu?” Orang tua pendek kecil itu tiba-tiba mengangkat telunjuk. “D engar!” perintahnya.

  Semua terdiam. Baung dan salak dan lolong anjing, ratusan di tengah hutan, kembali menggelom bang. ‘Tak pernah binatang itu mem baung selam a itu, seram ai bencana, malapetaka yang membikin semua lebih merosot tersedot lumpur.” Ia menoleh kepada kepala desa. Bertanya: “D arm araja?

  Pengayom an? Apakah yang sudah diperbuat oleh Sang Adip ati Tuban Tumenggung Wilwatikta waktu para bupati pesisir mu lai mem bangkang mempersembahkan upeti? Bukankah Sang Adipati itu rajam u sekarang? Bukankah sebagai Tum enggung W ilwatikta, penguasa tertinggi atas keamanan dan kesejahteraan ibukota Majapahit, W ilwatikta, justru ia bergabung dengan yang lain-lain, mem bangkang mempersembahkan upeti, malah tetap mengu kuhi wilayah kekuasaan yang didapatnya dari darmaraja, membentan g dari Tuban samp ai Jepara – sebuah kadipaten dengan tidak kurang dari lima buah bandar?”

  ‘Tak pernah ada yang menggugat seorang raja!” bantah kepala desa, “karena hanya dengan karunia Hyang Widhi saja seseoran g bisa bertahta! Bukankah Ram a G uru dengan demikian menghujat Hyang Widhi?”

  “Uah! Seperti kau tidak mengenal anak tani bernama Ken Arok. D itum bangkann ya akuwu dan raja, dan sendiri marak jadi raja, memerintahkan menjawakan kitab-kitab suci, mem erintah kan dilaksanakannya gaya baru dalam bangun an-bangunan suci.”

  “Maka juga Ken Arok Rajasanagara ditumban gkan.” “D itum bangkan. Tapi darahnya telah bangun kan kekaisaran Majapahit yang tiada tara. ” “D an M ajapahit pun tumbang.” “Tum bangnya gajah yang meninggalkan gading. Hyang W idhi tidak pernah salah mem ilih wakilnya di atas bum i. Hanya kaki yang kuat, bahu yang kukuh, mampu memikul pilihan Hyang Widhi.” “N egarakertagama dan Pararaton tak bilang begitu.” “D an apa katanya tentang Adipati pembangkang yang bersekutu dengan pedagan g-pedagang Atas Angin yang berdewa lain?”

  “W aktu itu belum ada Sang Adipati.” “Maka akulah yang mengatakan, demi Hyang Widhi, karena tugasku hanya mengatakan tentang kebenaran.

  Tulikah kau? Tiada kau dengar baung, lolong dan gonggong anjing-anjing hutan itu? Tak tahu kah kau itu pesta untuk haridepanku yang bakal cepat tiba, lebih cepat daripada yang kau sangka?”

  Untuk menghindari pertengkaran kepala desa terdiam. Matanya berpendar-pendar dari wajah ke wajah di antara hadirin. Ia meminta pengertian, bantuan dan simp ati.

  Hadirin sendiri sedang tercengkam. Mereka tahu Rama CIuring sedang menggugat Sang Adipati, manusia pertama yang berani lakukan itu. D an ketegangan m enarik oto t-otot mu ka mereka sehingga seperti terbuat daripada kayu jati. D an keseram an mewarnai wajah-wajah itu oleh berpuluh mata sum bu damar-sewu yang selalu berayun tak pernah tenang dan m enggeletarkan semu a bayang-bayang.

  D i luar, di langit, bulan purnam a bertahta tanpa tand ingan dalam kebeningan. Ia hanya tersenyum melihat ratusan anjing yapg menggonggonginya dalam kebotakan hutan.

  ‘Tak lain dari Hyang Widhi juga yang menggulingkan raja-rajan ya sendiri yang kaki dan bahunya lemah, tak mampu memikul kebesaran-N ya, tak mampu menyum am brah kan dengan jari-jarinya yang kaku – karena jari-jari itu hanya pandai mengambil untuk dirinya sendiri dan tidak bisa m emberikan sesuatu untuk kawulanya.” “Kata-kata itu tidak terdapat dalam lontar, Rama G uru ,” seorang di antara hadirin angkat bicara. “Apa kau akan bilang kalau aku mem bubuhkannya pada lontar? Ambilkan lontar, besi penggurit dan jelaga, biar yang terpandai di antara kalian menuliskannya.” “Belum perlu, R ama G uru,” kepala desa itu menegah.

  “Mem ang belum perlu,” pembicara itu meneruskan. “Rama, kami nampak memang kurang harga diri, kurang kehorm atan, m ungkin juga mem ang bebal. Tapi kami hidup dalam kesejahteraan, keamanan dan perdam aian. Sebaliknya, Rama G uru, kata-kata Ram a sendiri yang me- nempatkan kami semua dalam bahaya kemusnahan. Rama, tidak lain dari R ama!”

  Rama CIuring mendengus meremehkan. Suaranya enteng mengamban g di udara malam yang hangat itu. “Untuk mencapai desa ini, balatentara Tuban paling tidak membutuhkan satu-dua hari. Kalian tidak akan ditump as. Setiap saat setiap orang di antara kalian yang tidak dungu bisa tinggalkan desa ini, menyeberan g perbatasan, mem ohon perlindun gan Sang Bupati Bojonegara.

  Aku tidak menjerumu skan kalian. Lembah kebinasaan itu kalian galang sendiri di atas kedunguan. Masih juga kau tidak mengerti, kepala desa? Pendud uk desa ini terus- menerus membayar upeti dan mem ikulnya sendiri ke Tuban Kota. Masih belum mengerti? Tak ada keadilan mengikat antara sang Adipati dengan kawulanya di sini. Kalau ikatan keadilan tidak ada, yang ada hanya ikatannya saja, ikatan perbudakan. Kalian semua ini bukan kawula, tapi budak! Budak Tuban, budak Sang Adipati sama dengan mu suh- mu suhnya yang telah ditaklukkannya. D itaklukkan tanpa perang!”

  “Baiklah kami ini budak tanpa dikalahkan dengan perang. Katakan pada kami. Rama G uru, bagaimana agar kami tidak jadi budak?”

  “Rama Cluring yang bijaksana,” seorang lain lagi menyerondo l, “bukankah Rama G uru lebih dari tahu, setiap saat datang pengawal perbatasan berkuda?”

  “D ia juga perlu mendengarkan kata-kataku ini.” “Tidakkah Rama G uru akan dibawanya ke Tuban dan diadili?” “Bukan pertama terjadi kebenaran diadili. Bukankah mandala kalian pernah mengajarkan: kebenaran tak dap at diadili, karena dialah pengadilan tertinggi di bawah Hyang W idhi. Kalian tahu kelanjutannya: Barangsiapa mengadili kebenaran , dia mem anggil Sang Hyang Kala, dia akan dilupakan orang kecuali kedunguan nya.” Ia tersenyum dan menganggu k-angguk.

  “Juga Sang Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung W ilwatikta tidak bebas dari ketentuan Maha D ewa. Sang Hyang W idhi merestui barangsiapa punya kebenaran dalam hatinya. Jangan kuatir. Kepala desa! Kurang tepat jawabanku, kiranya? Ketakutan selalu jadi bagian mereka yang tak berani mendirikan keadilan. Kejahatan selalu jadi bagian mereka yang mengingkari kebenaran maka melanggar keadilan. D ua-duanya busuk, dua-duanya sum ber keonaran di atas bumi ini…,” dan ia teruskan wejangannya tentang kebenaran dan keadilan dan kedudukannya di tengah-tengah kehidupan manusia dan para dewa.

  Kapal peronda pantai dengan layarnya yang berkilat-kilat itu menyeberangi malam dan menyeberan gi Laut Jawa dengan cepat. Dari kejauhan nampak seperti naga laut yang tak kelihatan buntutnya. Puluhan pendayung yang seirama mem belah perm ukaan mem ercikkan air dan semburannya menari dengan cahaya bulan. Layar kemudi yang menggembung di atas haluan, bahkan lebih depan dari haluan itu sendiri, melengkung seperti busur yang sedang ditarik.

  W aktu lampu menara bandar Tuban mu lai hilang- mu ncul di atas kepala om bak terdengar pekikan aba-aba. Tak lama kemudian menyusul ledakan di belakang layar kemudi. Peluru cetbang meluncur ke udara dengan buntut api yang kuning merah meninggalkan asap yang segera lenyap.

  Beberapa bagian dari detik, dan peluru itu meledak di langit. Api menyemburat melontarkan bunga api yang mem buat lonjakan ke atas, kemudian ke bawah, ke tiadaan. Ledakan itu menyebabkan perm ukaan laut gemerlapan beberapa detik, kemudian kembali jadi manis berm ain-main dengan cahaya bulan kembali. Ledakan di langit yang sebentar tadi menandingi bulan kini lenyap tanpa bekas.

  Kapal itu terus melaju. Layar-layar mu lai diturunkan. D engan cepat mem belok ke kanan, bergerak hanya dengan kekuatan dayun g. Juga layar kemudi tidak nampak lagi.

  Lunas itu menerjang alun dan om bak pada sudut lebih besar daripada semula. D an semua alun dan om bak terus juga berkejar-kejaran, berebut dulu untuk mengh antam pesisir utara pulau Jawa.

  0o-d w-o0 Rama Cluring segera mengambil cawan tanah yang diletakkan oleh anak gadis Kepala desa. Ia angkat tinggi, mem perlihatkan pada semua hadirin, ia hendak mem inumn ya. Ia baru habis menceritakan tentang ke- besaran Majapahit dengan angkatan lautnya, dengan ilmu dan ketrampilan mem bikin kapal-kapal samu dra, dengan wilayah kekuasaannya.

  “Sekarang aku hendak teguk lagi tuak desa ini. Sebelumnya, dengarkan: jangan bandingkan Majapahit dengan Tuban ini. Kalian sendiri yang mengatakan: hanya sembilan hari dibutuhkan untuk mengedari seluruh wilayah Tuban – itu pun hasil pengkhianatann ya terhadap Majapahit. Pahami pergantian jaman, biar kalian tidak didera oleh perang. Tinggalkan kebebalan. D engarkan kebijaksanaan. Kalau perang sudah pecah, tak selembar dau n dapat kalian jadikan pengayoman. Ingat kata-kataku: Kalau kemerosotan ini tak dapat dicegah, takkan lama lagi, dan perang akan pecah di mana-mana. D ari desa dan kota petani-petani akan digiring, mati untuk raja-raja kecil yang tak pernah berbuat apa-apa untuk kalian.”

  Ia rendahkan cawan, menaruhnya pada bibir dan meneguknya sekali habis. “D ewa Batara!” sebutnya keras, berpaling cepat pada kepala desa, kemu dian menudingnya: “Lihatlah ini tam pang kepala desamu , takut pada kebenaran, pada keadilan, agar dia tetap jadi kepala desa, dia telah racun aku!” Cepat ia tarik mu kanya dan berseru pada para hadirin: “D ia telah racun aku! D an kalian kenal siapa aku, hanya seorang pembicara yang menggaungkan kebenaran milik Maha D ewa.”

  Cawan itu dibantingnya pecah di hadapannya. D engan kedua bolah tangan ia menekan perutnya. Bibirnya ia gigit.

  “Rama!” seseoran g berteriak dan lari ke depan hendak menolongnya. Rama Cluring bangkit berdiri dengan susah-payah. Kepala desa menolongnya dari belakang, berseru lantang: “Tak ada seorang pun meracun Rama. Kami semua mengh ormati Rama.”

  “D engar si mu lut palsu ini! D engarkan , kalian, semua penduduk Awis Kram bil!” Ia lepaskan diri dari pegangan kepala desa, melom pat keluar dari balai desa. Setiap guru-pembicara punya gaya dan cara sendiri dalam usaha mem pengaruhi dan mengetahui sampai di mana pengaruhnya bekerja. Setengah hadirin menganggap tingkahn ya juga bagian dari gaya dan cara. Mereka masih terpaku pada tempatnya bersila.

  Yang menganggap benar-benar Rama Cluring terkena racun cepat-cepat bangkit dan lari mem buru. Tak pernah terjadi seorang guru-pembicara mengalami penganiayaan di desa mana pun.

  Orang tua itu terus juga berjalan sambil menekan perutnya dengan kedua belah tangan. Ia tak menoleh. Ia menolak tuntunan orang.

  G aleng dan Idayu ikut lari mem buru. Tanpa mengindahkan protes Rama Cluring mereka berdua menunjangn ya pada bahu dan pinggan gnya. D iam-diam mereka bertiga berjalan cepat. D i belakang mereka se- rombongan oran g berseru-seru m emohon amp unnya sambil berlari-lari kecil. G aleng dan Idayu merasai gigilan pada tubuh tua itu.

  Idayu melepas kain dada dari bahu dan menyelim utkan pada dada R ama setelah menyembah m eminta ampun. D an Rama tidak menolak.

  Tiba-tiba guru berhenti, mem bungkuk dan muntah. “Rama! Rama!” bisik G aleng. “Beri aku minyak kelapa!” pinta Rama Cluring. Ia mu ntah lagi. “Cepat!” “Mem ang terkena racun !” di belakang orang mem beri kom entar.

  G aleng menyembahnya, cepatnya mengangkatn ya dan mem bawanya ke rumah Idayu, mem baringkannya di atas am bin bambu. Idayu lari ke dap ur, kembali lagi dan menuangkan minyak kelapa ke mulut oran g tua itu.

  G uru-pembicara itu meliuk-liuk gelisah pada pinggangn ya. Ru angan sempit rumah Idayu segera jadi penuh. Orang dud uk berdesak-desak di lantai untuk menyatakan prihatin. D an setiap oran g menyembah sambil mengu capkan perm ohonan ampun.

  “D iam! D iam semua. Rama sedang sakit,” G aleng mem peringatkan. Ia tekan-tekan perut orang tua itu agar mu ntah.

  “Air kelapa m uda, kelapa hijau,” seru seseorang. Tak ada poho n kelapa hijau di seluruh Awis Kram bil. Idayu pergi keluar rumah dan datang lagi mem bawa cawan tanah besar, mengu aki punggung oran g banyak.

  D alam cawan itu bukan air kelapa hijau, tapi air kelapa biasa. D ituan gkan seluruhnya ke mulut sang guru.

  Mengetah ui bukan kelapa hijau, Rama bergum am: “Semua air adalah air kehidupan. Mati aku, D ewa Batara.” Matanya terbuka dan disapukan pandan gnya pada mereka yang dud uk berdesak di atas lantai. “Pulang, pulang kalian semua.”

  “Mereka mencintai dan mengh ormati Ram a. Ampuni mereka yang jahil,” bisik Idayu. “Terlambat, gadis.” “Mereka masih haus akan kata-katam u.” “Tak ada guna cinta dan hormat, ” Rama meliuk-liuk dan meringis kesakitan. “Kalau kata-kataku bisa hidup dalam hati mereka, cukup sudah.” Ia mu ntah.

  Air kelapa campur minyak keluar dari m ulut berjalurkan dengan benang darah hidup. Idayu menyeka mu lut, leher dan bahunya yang basah dengan selembar kain. “Batara!” sahut Idayu. “Mengapa jadi begini, Rama?” G aleng mengh am piri orang banyak, bergumam mengancam: “Kalau tidak suka pada kata-katanya, mengapa tak mengu sirnya saja? Atau mem berinya kecubung? Mengapa m esti diracun?”

  “Rama G uru juga salah,” seseorang mem bantah. “D iam kau!” bentaknya. “Bagaimana bisa diam? Dia telah mem bahayakan kita semua: balatentara Tuban itu….” “Siapa kiramu yang meracun?” seseoran g bertanya. “Siapa lagi?”

  “Meracun seorang guru…. hanya orang keparat melakukannya. G andarwa pun lebih baik.” Rama muntah lagi. W arnanya merah seluruhnya. Minyak dan air kelapa tidak mempan. Oran g berlarian mencari lagi di rumah-rum ah. W aktu telah didapatkan Rama Cluring telah tergolek pingsan.

  “Terlalu, terlalu,” orang m enyesali. D an pelita di tengah-tengah ruangan itu, berdiri di atas jagang bambu berkaki, berayun-ayun cepat. Baung anjing dari botakan hutan telah berkurang, kemudian padam sama sekali.

  “Rama, Rama,” panggil Idayu, “jangan kutuki kami, jangan sumpahi kami, jangan tulah kami, demi Hyang W idhi, demi desa Rama sendiri, demi kesejahteraan kami semua, ya Rama, Rama…”

  0o-d w-o0 Begitu kapal peronda pantai itu merapat pada derm aga bandar Tuban kota, bulan sudah mu lai menggeser ke titik tertinggi dan kini mu lai agak condong.

  Seorang dengan menuntun kuda mengh ampiri kapal. Patragading melompat turun. P enuntun kuda itu bersimp uh kemudian menyembah.

  “D irgahayu,” katanya sambil menurunkan sembah nya. Patragading melom pat ke punggung kuda, berpacu, menem puh jalanan yang diterangi bulan purnama.

  Beberapa bentar hanya dan sampai ia di hadapan prajurit- prajurit pengawal yang menahannya. Ia tak jadi mem asuki halam an rumah itu, turun, berseru: “Butakah kalian tak me-

  “Tuanku Patragading Jepara. Ampuni kami.” Patragading melompat lagi ke atas kudan ya, mem asuki halam an luas tertutup rumput pendek dengan pinggiran ditanami bunga-bungaan. Sampai di pendopo seseorang berlarian datan g padanya dan menyembah, kemudian mengambil-alih kuda tunggangannya. Seorang prajurit lain datang, bersimpuh dan menyembah: “Menunggu titah, Tuanku.”

  “Bangunkan Sang Patih, sekaran g juga.” Patragading berdiri bertolak pinggang tanpa mem pedulikan prajurit yang diperintahnya lari menjauh darinya, melalui samping gedung besar itu dan hilang dari pemand angan.

  Pendopo yang gelap itu kini diterangi dengan damarsewu pada tengah-tengahnya. Mata-m ata sum bu itu menyala berkibar-kibar dalam barisan seperti prajurit baris. Patragading segera mengh adap ke pendopo, bersimp uh di atas lantai tanah. Kumisnya yang tebal berkilat-kilat, juga camban g dan jenggot. Jelas benar telah diminyaki dengan minyak katel! Kain batiknya terbeber di selingkaran kaki. Kalung dan gelang masnya berkilat-kilat. Ia menunduk dalam .

  “Anakanda Patragading!” Sang Patih mem asuki pendopo. Ia berpakaian kain batik, berdestar batik dan berkerudun g kain batik pula pada dadanya.

  Patragading mengangkat sembah. Kemu dian mem betulkan letak kerisnya. Sang Patih berhenti di tengah-tengah pendopo, dekat pada damarsewu, m enegur “Dingin-dingin begini anakanda datang. Pasti ada sesuatu keluarbiasaan. Mendekat sini, anakan da.”

  D an Patragading berjalan mendekat dengan lututnya sambil mengangkat sembah, merebahkan diri pada kaki Sang Patih.

  “Ampuni patik, mem bangun kan Paduka pada malam buta begini Kabar duka, Paduka. Balatentara D emak di bawah Adipati Kudu^ memasuki Jepara tanpa diduga-duga, menyalahi aturan perang.”

  “Allah D ewa Batara!” sahut Sang Patih. “Itu bukan aturan raja-raja! Itu aturan brandal!” “Balatentara Tuban tak sempat dikerahkan, Paduka.” “Bagaimana Bupati Jepara?” “Tewas enggan menyerah Paduka,” Patragading mengangkat sembah. “Sisa balatentara Tuban mundur ke timur kota. Jepara penuh dengan balatentara D emak. Lebih dari tiga ribu oran g.”

  “D ari mana D emak dap at mengumpulkan brandal sebanyak itu?” “Patik tidak tahu, Paduka.” “Apa saja kau kerjakan samp ai tidak tahu? Bukankah

  D emak dukuh tidak berarti selama ini?” 1 “Inilah patik m enyerah kan hidup dan m ati patik.” Sang Patih bertepuk tangan tigakali. Satu regu prajurit berlarian datang, bersenjata tom bak dan perisai.

  [1] Minyak kelapa direbus dengan laba-laba tanah jenis besar berwarna dan berbulu hitam untuk penghitam ram but.

  2. Setelah itu biasa disebut adipati Unus; setelah meninggal disebut Pangeran Sabrang Lor.

  0o-d w-o0 Ayahandanya sendiri yang akan menentukan hidup dan matinya.” Patragading digiring keluar pendopo. Begitu turun ke tanah ia memandangi bulan, mem ukul dadan ya, bergum am: “Apakah masih patut aku mem bawa mukaku sendiri?”

  “Jalan ke kiri, Paduka!” perintah kepala regu, dan berbarislah mereka meninggalkan halaman kepatihan. Sang Patih masih tegak berdiri di tempatnya. Ia menggalang pelahan, kemudian berbalik dan masuk ke dalam rumah.

  Palin g tidak telah seribu tahun perahu dan kapal-kapal berlabuh di bandar Tuban Kota. D ari barat, timur dan utara. D ari timur orang membongkar rem pah-remp ah dari kepulauan yang belakangan ini mu lai disebut bernama Mameluk (N ama yang diberikan oleh pedagang-pedagang Arab, kemudian berobah jadi Maluku.) dan cendana dari N usa Tenggara. D ari Tuban sendiri oran g memu nggah beras, minyak kelapa, gula garam, minyak tanah dan minyak-minyak nabati lainnya, kulit binatang hutan.

  D ari laut bandar Tuban Kota namp ak seperti sepoto ng balok, pepohonan dan tam an-taman. Bila lumut hijau hilang dan mu ncul coklat baru, itulah kamp ung-kamp ung nelayan. Hijau lagi, coklat lagi, dan itulah bandar Pasukan Laut dan galangan kapal. Hijau lagi, coklat lagi, dan itulah bandar alam lainnya yang dimiliki negeri Tuban.

  D i atas balok coklat bermulut berdiri barisan perbukitan tebal, kuning, di sana-sini agak hijau. Itulah perbukitan kapur bernama Kendeng.

  D an di atas perbukitan adalah langit para dewa. Bandar Tuban adalah bikinan alam yang pemurah, disempurnakan oleh tangan manusia selam a paling tidak seribu tahun. Lautnya dalam dan dermaganya kokoh, indah, juga bikinan alam, sepoto ng jalur karan g yang menjorok ke laut. Pedagang-pedagang Atas Angin m enamai bandar ini Permata Bumi Selatan.

  D an bila orang mendarat dari pelayaran, entah dari jauh entahlah dekat, ia akan berhenti di satu tempat beberapa puluh langkah dari dermaga. Ia akan m engangkat sembah – di hadapannya berdiri Sela Bagin da, sebuah tugu batu berpahat dengan prasasti peninggalan Sri Airlangga. Bila ia meneruskan langkahnya, semua saja jalanan besar yang dilaluinya, jalanan ekono mi sekaligus m iliter. Ia akan selalu berpapasan dengan pribumi yang berjalan tenang tanpa gegas, sekalipun di bawah m atari terik.

  Kalau orang datang untuk pertama kali, segera ia akan terpikat melihat lalu lalang. Orang tak henti-hentinya mengangkuti barang dari dan ke bandar, dengan pikulan atau grobak beroda bulat dari potongan batang kayu. Kereta sangat sedikit, apalagi yang beruji kayu. Lebih banyak lagi gro bak beruji. G robak beroda kayu utuh berasal dari pedalaman, yang beruji dari kota sendiri. Penariknya adalah sapi atau kerbau. Seoran g pendatang boleh jadi akan bertanya, mengapa tak ditarik oleh kuda? D an dengan senang hati orang akan menerangkan: tak diperkenankan menggunakan kuda atau diri sendiri untuk penarik grobak

  Kalau pendatang itu bertanya: mengapa terlalu sedikit kereta di sini? Ia akan mendapat jawaban: mem ang, tuan jum lahnya taklah lebih dari dua puluh – semua milik para pembesar negeri dan praja, dan milik para panglima Pasukan Pengawal, Pasukan Kaki, Pasukan G ajah dan

  Bila kereta berkuda empat semacam itu lewat, lalu lintas berhenti, menyibakkan diri untuk mem beri penghormatan. D ari jauh telah terdengar gerincing giring-giringnya dari kuningan berkilat-kilat dan namp ak umbul-um bul beraneka warna, bendera jabatan dan kesatuan. Kuda-kud a penarik itu pun dihias dengan gom bak dan lim bai aneka warna. Abah-abahn ya berkilat-kilat dengan hiasan dari tembaga, kuningan, perunggu dan perak, kadan g juga dari mas. Juga orang-orang asing diwajibkan berhenti bila kereta lewat, penduduk berlutut menyembah. D an bila kereta Sang Adip ati sendiri yang lewat, juga penduduk asing harus menyembah dengan caranya m asing-masing.

  Lalu lalang di bandar beraneka ragam. Oran g-orang asing, Arab, Benggala, Parsi, bangsa-bangsa N usantara, Tionghoa, bergaya dengan pakaian negeri masing-m asing. Pribumi sendiri juga beraneka. Pria beram but pendek, bahkan gundul tak berdestar atau berkopiah, adalah mereka yang telah menan ggalkan agama leluhur. Mereka tidak berkain batik, tetapi berkain tenun genggan g atau polos tanp a belahan , tak mengenakan wiron atau dodot. Pria beram but panjang berdestar batik pertand a masih mengu kuhi Buddha atau Shiwa atau W isynu, dan hampir selalu berkain batik atau wulung. D an bila ram but panjang mereka tergulung dalam destar, itulah pertanda mereka pedagan g pedalaman yang berurusan dengan pedagan g- pedagan g beragama Islam.

  Orang takkan melihat adanya suami-istri berjalan-jalan bersama di siang hari. N amu n wanita namp ak di mana- mana, bekerja di bawah capil bambu anyam an, di pelataran rumah, di pinggir jalan, di pasar kota dan bandar sendiri. Mereka melakukan segala macam pekerjaan yang juga dikerjakan oleh pria. D an mereka bekerja sambil berdendang. Juga mereka berkain batik seperti kaum pria. Lima tahu n yang lalu sidang para pedagang Islam telah mengh adap Tuanku Penghulu N egeri, memo hon agar para wanita m enutup buahdad anya. Sejak itu semua wanita yang keluar dari rumah diharuskan mengenakan kemban. Maka sekarang mereka tak bertelanjang dada lagi seperti halnya dengan kaum pria Pribumi.

  Anak-anak kecil bermain-main dalam rombongan besar di setiap lapangan terbuka, mengisi udara pagi dan sore dengan cericau, tawa dan sorak-sorainya. Lima tahu n yang lalu jaran g terjadi yang demikian. Setelah sidang para pedagan g Islam, pribumi dan asing menghadap Tuanku Penghulu N egeri agar mem batasi penghajaran kafir pada kanak-kan ak, asrama-asrama mu lai ditinggalkan oleh mereka, dan mu lai mereka bergentayangan tanpa penggembala.

  Ke mana pun mata ditebarkan, keadaan aman, dam ai, sejahtera. Tetapi semua itu semu belaka. Sejak jaman-jam an yang tidak dapat diingat lagi Tuban terlalu sering dihembalang bencana perang dan kerusuhan. N am un buminya tak juga jenuh tersiram darah putra dan putrinya, juga darah mu suh-m usuhnya yang datang menyerbu.

  D ua kali negeri ini dilanda perang besar. Pertam a oleh balatentara Kublai Khan, cicit Jengis Khan yang bertahta di Khan Baliqr Seperti air bah prajurit-prajurit Tartar mendarat dari laut, menyapu Tuban yang sama sekali tak mampu bertahan terhadap senjata api. N egeri ini terinjak- injak balatentara yang bersepatu itu, dan meninggalkannya lagi untuk meneruskan penyerbuannya ke Singasari. Orang bilang ini terjadi pada 1292 Masehi.

  Perang besar kedua dan ternyata kelak bukan yang mem erintahT uban waktu itu adalah Adipati Ranggalawe, salah seorang pendiri Majapahit. Pertentangannya tentang kebijaksanaan praja dengan Sri Baginda Kartarajasa, raja pertam a Majapahit, menyebabkan balatentara Majapahit datang menyerbu. Seluruh kota dihancurkan. Tak sebuah rumah tinggal berdiri, rata dengan tanah, termasuk bangun an-bangunan suci dan galangan kapal. Adipati Ranggalawe sendiri gugur. D an kota, yang dibangun pada awal abad ketujuh M asehi itu binasa.

  Setelah perang besar kedua selesai, yang tertinggal setengah utuh hanya Sela Baginda, didirikan pada awal abad ke XI Masehi.

  Bagin da Sri Kartarajasa mengangkat seorang bupati baru. D ua puluh tahu n lamanya pembangunan kembali kota Tuban dilaksanakan. D an Sri Baginda mem bebani gubernur baru itu dengan tanggun gan pasukan G ajah, yang menjadi inti kekuatan darat balatentara Majapahit. Penataran dan galangan kapal dipulihkan, diperbesar, samp ai menjadi penghasil kapalperang dan niaga terbesar di seluruh Jawa, seluruh N usantara, seluruh dunia peradaban.

  Sekarang tidak demikian lagi. Pada awal abad ke XYI sekarang kekuatan pemersatu kekaisaran Majapahit telah patah . Para gubernur pesisir telah mem unggungi Majapahit sehingga runtuh dan berdiri sendiri-sendiri, jadi raja-raja kedi, tanpa ada yang berani mengangkat diri jadi Kaisar. Juga bupati Tuban Sang Adip ati Arya Teja Tum enggung W ilwatikta. Orang tua-tua hanya dengan berbisik-bisik berani mem bicarakan dengan sesam a tua, tak lain dari Sang Adipati juga yang mem prakarsai dan memimpin persekutuan rah asia ini.

  Majapahit jatuh.

  Sekarang makin lama makin sedikit kapal-kapal Jawa belayar kenta ra, ke Atas Angin , ke Camp a ataupun ke Tiongkok. Arus kapal dari selatan semakin tipis. Sebaliknya aru s dari utara semakin deras, mem bawa baran g-barang baru, pikiran -pikiran baru, agam a baru. Juga ke Tuban.

  G ubernur Tuban, Sang Adipati Arya Teja Tumenggung W ilwatikta, bertekad mempertahankan kedamaian itu, keamanan, ketenteraman dan kesejahteraan sekarang dengan mengem bangkan perdagangan antarpulau. Ia menyokong diperbesam ya armada dagang ke Maluku.

  D agan g! D agang saja. Ia tak berminat meluaskan kekuatan ke laut. Ia tak menghendaki Tuban jadi kekaisaran benua seperti Majapahit dengan terlalu banyak urusan. D alam usia tua ia hanya ingin bertenang-tenan g. Angkatan Laut tidak diperlukannya, sekedar cukup jadi penghalau bajak dan perompak, serta melindungi pantai dari gangguan mereka. D i bawah pemerintahan dan kebijaksanaannya bandar Tuban berkemban g mendesak bandar G resik, menjadi pusat penump ukan rempah-rempah dari Mameluk dan N usa Tenggara.

  Ham pir setiap bulan Sang Adip ati datang berkuda ke pelabuhan . Di depannya berderap pasukan pengawal berkuda, bertom bak, berperisai, dengan pedang tergantung pada pinggang. Jum bai dan pitamerah menghiasi tombak mereka. D i belakangnya berderap pasukan pengawal lagi.

  G emerincing “giring-giring mereka serta kepulan debu menyebabkan orang dari jauh-jauh telah bersimpuh di tanah dan mengangkat sembah kepala.

  Bandar Tuban Kota adalah buahhati Sang Adipati. Ia merasa puas dengan pekerjaan Syahbandar Tuban: Ishak Indrajit.

  Karena semakin tua ia semakin mengutamakan perniagaan oleh para bupati tetangga, ia dianggap telah kehilangan keksatriaann ya. Padahal, kata salah seorang di antara mereka, kalau dia mau, dengan pasukan gajahnya yang berabad jadi perisai Majapahit, dengan kekayaann ya yang datang dari laut, sebenarnya ia mampu menaklukkan tetangga-tetangganya dan sendiri marak jadi kaisar.

  D irasani begitu ia hanya tertawa. Sekali waktu Sang Adipati mempersembahkan ada seorang bupati lain yang m engejeknya dengan nam a Rangga

  

Demang, Rangga dikerat dari nama Ranggalawe yang

  perkasa dan D emang adalah pangkat rendah dalam kepunggawaan praja, ia menjawab tak peduli: Orang juga boleh menyebut seperti itu.

  Maka para bupati tetangga semakin yakin, Sang Adipati mem ang bukan lagi seorang ksatria, telah merosot jadi sudra.

  Ia sendiri tak pernah merasa terhina dengan segala julukan dan ejekan. Pendirian dan sikapnya tetap: perniagaan antarpulau harus terus dan makin berkemban g. Bandar haru s makin banyak disinggahi kapal-kapal Atas Angin , N usantara dan Tiongkok. Pertah anan negeri Tuban sendiri dianggapnya m udah. D engan Pasukan G ajah Tuban yang masyhur ia percaya akan dapat mem ukul mundur setiap dan semua penyerbu. Ia telah letakkan dasar jaringan pengawasan daerah-daerah perbatasan, dilaksanakan oleh satuan -satu an berkuda yang terus-m enerus bergerak.

  Apalah arti Pasukan G ajah, bupati-bupati yang mengiri akan kesejahteraan dan kekayaan Tuban suka merasani, hanya jadi beban kawula. Sekali ada yang menyerbu, jatuhlah negeri ini jadi jarahan.

  Tak juga ada yang berani menyerbu. Mereka tetap segan terhadap Pasukan G ajah. D an semua orang tahu, seekor gajah sama amp uhnya dengan dua ratus prajurit kaki yang tangguh. Sedang binatang itu tak kenal kecut apalagi khianat.

  Ia telah berhasil menciptakan cara untuk mengikat kesetiaan desa-desa perbatasan dengan jalan mengambil hati penduduk: bunga-bunga tercantik diselir dengan gelar N yi Ayu, dan mengirimkan keturunannya kembali ke desa sebagai punggawa dengan gelar Raden Bambang dan menjadi pujaan desa. D engan demikian Sang Adipati telah menyebarkan ratusan dari anaknya di seluruh negeri.

  Untuk pembiayaan praja, desa-desa dikenakan upeti sepersepuluh dari setiap dan semua macam penghasilan dengan tam bahan khusus: jatah untuk umpah gajah serta pembuatan dan pemeliharaan jalanan um um. Segala yang berhubungan dengan bandar dan wilayahnya dibiayai dengan penghasilan bandar. D an Ishak Indrajit yang mengurus semua itu. Patih Tuban bertindak sebagai pengawas tertinggi dan pengatur tertinggi semua pekerjaan .

  Sang Adip ati sudah puas dengan semua itu. Ia tak ingin terjadi suatu perubahan. Semua kawula mempunyai penghidupan yang layak. Semua lelaki dap at menghias dirinya dengan keris dengan pamor dan rangka sebagus- bagusnya. D an nampaknya semua akan abadi seperti itu samp ai ia mati dan juga setelah ia mati, untuk selam a- laman ya.

  W alau ia mem biarkan runtuhnya Majapahit, malah ikut mengambil prakarsa terjadinya persekutuan untuk itu, tak urung ia juga yang suka menebah dad a sebagai pewaris bendera Majapahit untuk negeri dan kapal-kapalnya, merah-putih, hanya lebih panjang daripada yang lama.

  Tuban tidak hanya panglima tetap. Menurut tradisi Majapahit pula hanya di waktu perang seoran g adipati atau menteri ditunjuk mem egang jabatan itu. Setelah Majapahit jatuh dan Tuban jadi negeri bebas, kebi asaan tak berpanglima diteruskan. Keam anan Tuban Kota dilakukan oleh Pasukan Pengawal yang tidak banyak jumlahn ya. Keselamatan praja dijaga oleh Pasukan Kuda, G ajah dan Kaki. Keam anan pantai dipegang oleh Pasukan Laut, yang juga tidak banyak, sedang keamanan desa-desa dilakukan oleh pagard esa yang terdiri atas pemuda-pemuda pilihan.

  Untuk mengambil hati rakyat di pesisir yang makin banyak yang mem eluk Islam, ia telah perintah kan berdirinya sebuah mesjid di wilayah pelabuhan. D alam waktu pendek bangun an itu telah menjadi suatu perkam pungan Islam dari oran g-orang Melayu, Aceh, Bugis, G ujarat, Parsi dan Arab.

  Sang Adipati tak pernah punya kekuatiran akan timbulnya pertentangan karena agam a. Sejak purbakala penduduk Tuban tak punya prasan gka keagamaan. Orang berpindah agama karena kesulitan dalam penghidupan, merasa dewa sembahannya tidak menggubrisnya maka dicarinya dewa sembahan lain.

  Sang Adipati juga mengijinkan berdirinya sebuah klenting batu yang jadi pusat perkampungan penduduk Tionghoa, Pecinan. Klenting yang lama telah dianggap terlalu kecil. Yang baru didirikan di sebelah barat pelabuhan .

  Keam anan , kedamaian, ketenteraman dan kesejahteraan yang didambakan dan dipertahan kan dengan segala m acam D emak mu lai bergerak dan meramp as Jepara, daerah kekuasaan Tuban….

  Tenang dan dam ai keadaan Tuban Kota. G elisah hati Sang Adipati yang telah lanjut usia itu. Sore itu ia datang berkuda di pelabuhan . Sang Patih mengiringkan di belakangn ya. Para pengawal di depan sana telah berhenti di pasiran pantai. Sebagian mengh adap ke laut biru-kuning yang gelisah/ Sebagian mengh adap pada Sang Adipati yang sedang turun dari kuda dengan kaki sebelah di atas tanah, kaki lain diatas punggung seorang pengawal yang menun gging.

  Sang Patih juga turun, langsung dari kuda, kemudian segera berjongkok dan m enyembah. Syahbandar Tuban, Ishak Indrajit, lari menuruni kesyahbandaran. Jubah putihnya berkibar-kibar. Sorbannya nam pak terlalu besar dan berat bertengger pada kepalanya yang kecil, lebat ditumbuhi cambang, kumis dan jenggot yang mu lai jadi kelabu. Sampai barang tujuh langkah dari Sang Adipati ia berdiri dan mengangkat sembah kepala.

  “Mereka bukan saja telah mendudu ki Jepara… Bagaimana, Kakang Patih?”

  “Ampun, G usti,” Sang Patih m engangkat sembah, “juga telah mendirikan galangan-galangan kapal besar.” “Brandal-brandal itu mengimpi hendak m enguasai laut.” “Ampun, G usti, setelah Adip ati Kudus Pangeran

  Sabrang Lor menguasai wilayah terbarat G usti, sekarang dari ayahand anya dibenarkan menggunakan gelar Adipati Unus. Konon kabarnya Unus adalah nam a dewa baru penguasa lautan.”

  “Anak baru kemarin, belum lepas dari ingus sendiri.”

  “Patik, G usti. G usti tidak berkenan memukulnya dengan perang. Kalau dibiarkan, D emak akan terus mendesak ke timur.”

  “D ewa lam a dan Allah baru tidak bakal membenarkan.” “Allah D ewa Batara, sekali G usti titahkan, tidak hanya

  Jepara, D emak sendiri dapat ditumpas dalam tiga hari G usti. Mereka belum punya Pasukan Kuda, tidak punya Pasukan G ajah. Perwira-perwiran ya, orang-orang T ionghoa : itu, tidak akan mampu menah an balatentara kita.”

  “D emak sudah mendirikan galangan-galangan kapal besar di Jepara.” “Patik, G usti. Tuban pun harus segera mengimbangi.” “Bangunkan , Kakang Patih. Bukan untuk perang, hanya untuk mengimban gi.” “Patik, G usti.” Sang Adipati masih juga berdiri. Kakinya yang sebelah ditariknya dan punggung pengawalnya, dan ia meninjau ke laut yang disebari perahu nelayan yang baru berangkat pulang.

  Pada derm aga tertambat tiga buah kapal asing. Di kejauhan sana nampak sebuah kapal peronda pantai yang sedang belayar kearah ba rat. Semua layarnya menggelembung seperti busur. N amu n semua itu tak menarik perhatian Sang Adipati. Hatinya tetap gelisah.

  Ia tarik pandangnya dari laut dan dilekatkan sebentar pada destar Sang Patih yang dihiasi dengan permata. Tangannya yang bergelang mas tiga susun menuding pada pasir. Berkata pelan: “Makin lama makin sedikit kapal Atas Angin singgah.”

  Sang Patih, jauh lebih muda, anak paman Sang Adipati, mengangkat sembah: “Keadaan di lautan Atas Angin sana sudah berubah, G usti,” kemudian dengan jarinya menggaris-garis di atas pasir mem buat gambar, “kapal- kapal asing yang selam a ini tidak pernah dikenal sekarang mu lai berdatangan dari Ujung Selatan W ulungga – tanjung yang tak pernah dilewati nenek-moyang, G usti.”

  Sang Adipati mengerutkan kening. Alisnya, kumis, jenggot dan cambangnya yang putih mem bikin wajah tuan ya yang penuh kerut-mirut itu nampak semakin pucat. Matanya kini tersangkut pada pipa celana Sang Patih yang hitam kelam dengan ujung-ujung pipa dihiasi sulaman benang sutra kurung.

  “Ampun, G usti sesembahan patik. Mereka, G usti, menyusuri pantai W ulungga, memasuki jalan laut kapal- kapal Atas Angin . Kapal-kap al mereka, kata orang, tidak lebih besar dari kapal-kapal Majapahit, agak lebih besar dari kapal-kapal Atas Angin dan Tuban, tetapi layarnya jauh lebih banyak dan lebih besar. Jalannya laju seperti cucut, dap at mem belok cepat sambil miring, dengan lambung menepis permu kaan laut seperti camar.”

  “Betapa indah, sebagai cerita, Kakang Patih,” Sang Adip ati mem beran ikan. “Layar-layarnya, G usti, digambari dengan salib raksasa.” “Salib?” “Ampun, G usti, hanya dua buah garis bersilang. Orang bilang, garis yang datar melamban gkan kerajaan manusia, garis dari atas ke bawah, kata orang, melamban gkan karunia dewa di atas pada kerajaannya.”

  “Apa bedanya dengan swastika Buddha?”

  “Kalau dibuang siripnya tentu dia akan sama, G usti.” Sang Patih membikin salib di atas pasir. “Sebab itu besar, besar sekali, merah menyala, dapat dilihat sepemandangan dari atas gajah dan dari atas menara. Layar-layar putih sangat besar, dari ufuk nampak seperti kuntum melati.”

  “Kapal-kap al siapa yang mu ncul dari Ujung Selatan W ulungga yang keramat itu, Kakang Patih?”

  ‘Itulah kapal-kapal Peninggi, G usti sesembahan patik,” jawabnya sambil mengangkat sembah, menunduk lagi dan meneruskan gurisannya di atas pasir, mem buat gam bar kira- kira dari kapal-kapal baru itu.

  “Tentu mereka bajak yang menakutkan,” Sang Adipati mem ancing-mancing pendapat. Tenang dan dam ai keadaan Tuban Kota. G elisah hati Sang Adipati yang telah lanjut usia itu. Sore itu ia datang berkuda di pelabuhan . Sang Patih mengiringkan di belakangn ya. Para pengawal di depan sana telah berhenti di pasiran pantai. Sebagian mengh adap ke laut biru-kuning yang gelisah/ Sebagian mengh adap pada Sang Adipati yang sedang turun dari kuda dengan kaki sebelah di atas tanah, kaki lain diatas punggung seorang pengawal yang menun gging.

  Sang Patih juga turun, langsung dari kuda, kemudian segera berjongkok dan m enyembah. Syahbandar Tuban, Ishak Indrajit, lari menuruni kesyahbandaran. Jubah putihnya berkibar-kibar. Sorbannya nam pak terlalu besar dan berat bertengger pada kepalanya yang kecil, lebat ditumbuhi cambang, kumis dan jenggot yang mu lai jadi kelabu. Sampai barang tujuh langkah dari Sang Adipati ia berdiri dan mengangkat sembah kepala.

  “Mereka bukan saja telah mendudu ki Jepara… Bagaimana, Kakang Patih?”

  “Ampun, G usti,” Sang Patih m engangkat sembah, “juga telah mendirikan galangan-galangan kapal besar.” “Brandal-brandal itu mengimpi hendak m enguasai laut.” “Ampun, G usti, setelah Adip ati Kudus Pangeran

  Sabrang Lor menguasai wilayah terbarat G usti, sekarang dari ayahand anya dibenarkan menggunakan gelar Adipati Unus. Konon kabarnya Unus adalah nam a dewa baru penguasa lautan.”

  “Anak baru kemarin, belum lepas dari ingus sendiri.” “Patik, G usti. G usti tidak berkenan memukulnya dengan perang. Kalau dibiarkan, D emak akan terus mendesak ke timur.”

  “D ewa lam a dan Allah baru tidak bakal membenarkan.” “Allah D ewa Batara, sekali G usti titahkan, tidak hanya

  Jepara, D emak sendiri dapat ditumpas dalam tiga hari G usti. Mereka belum punya Pasukan Kuda, tidak punya Pasukan G ajah. Perwira-perwiran ya, orang-orang T ionghoa itu, tidak akan mampu menah an balatentara kita.” :

  “D emak sudah mendirikan galangan-galangan kapal besar di Jepara.” “Patik, G usti. Tuban pun harus segera mengimbangi.” “Bangunkan , Kakang Patih. Bukan untuk perang, hanya untuk mengimban gi.” “Patik, G usti.” Sang Adipati masih juga berdiri. Kakinya yang sebelah ditariknya dan punggung pengawalnya, dan ia meninjau ke laut yang disebari perahu nelayan yang baru berangkat pulang.

  Pada derm aga tertambat tiga buah kapal asing. Di kejauhan sana nampak sebuah kapal peronda pantai yang sedang belayar kearah ba rat. Semua layarnya menggelembung seperti busur. N amu n semua itu tak menarik perhatian Sang Adipati. Hatinya tetap gelisah.

  Ia tarik pandangnya dari laut dan dilekatkan sebentar pada destar Sang Patih yang dihiasi dengan permata. Tangannya yang bergelang mas tiga susun menuding pada pasir. Berkata pelan: “Makin lama makin sedikit kapal Atas Angin singgah.”

  Sang Patih, jauh lebih muda, anak paman Sang Adipati, mengangkat sembah: “Keadaan di lautan Atas Angin sana sudah berubah, G usti,” kemudian dengan jarinya menggaris-garis di atas pasir mem buat gambar, “kapal- kapal asing yang selam a ini tidak pernah dikenal sekarang mu lai berdatangan dari Ujung Selatan W ulungga – tanjung yang tak pernah dilewati nenek-moyang, G usti.”

  Sang Adipati mengerutkan kening. Alisnya, kumis, jenggot dan cambangnya yang putih mem bikin wajah tuan ya yang penuh kerut-mirut itu nampak semakin pucat. Matanya kini tersangkut pada pipa celana Sang Patih yang hitam kelam dengan ujung-ujung pipa dihiasi sulaman benang sutra kuning.

  “Ampun, G usti sesembahan patik. Mereka, G usti, menyusuri pantai W ulungga, memasuki jalan laut kapal- kapal Atas Angin . Kapal-kap al mereka, kata orang, tidak lebih besar dari kapal-kapal Majapahit, agak lebih besar dari kapal-kapal Atas Angin dan Tuban, tetapi layarnya jauh lebih banyak dan lebih besar. Jalannya laju seperti cucut, dap at mem belok cepat sambil miring, dengan lambung menepis permu kaan laut seperti camar.” “Betapa indah, sebagai cerita, Kakang Patih,” Sang Adip ati mem beran ikan. “Layar-layarnya, G usti, digambari dengan salib raksasa.” “Salib?” “Ampun, G usti, hanya dua buah garis bersilang. Orang bilang, garis yang datar melamban gkan kerajaan manusia, garis dari atas ke bawah, kata orang, melamban gkan karunia dewa di atas pada kerajaannya.”

  “Apa bedanya dengan swastika Buddha?” “Kalau dibuang siripnya tentu dia akan sama, G usti.”

  Sang Patih membikin salib di atas pasir. “Sebab itu besar, besar sekali, merah menyala, dapat dilihat sepemandangan dari atas gajah dan dari atas menara. Layar-layar putih sangat besar, dari ufuk nampak seperti kuntum melati.”

  “Kapal-kap al siapa yang mu ncul dari Ujung Selatan W ulungga yang keramat itu, Kakang Patih?”

  ‘Itulah kapal-kapal Peninggi, G usti sesembahan patik,”jawabnya sambil mengangkat sembah, menunduk lagi dan meneruskan gurisannya di atas pasir, mem buat gam bar kira-kira dari kapal-kapal baru itu.

  “Tentu mereka bajak yang menakutkan,” Sang Adipati mem ancing-mancing pendapat. “Kalau hanya sekedar bajak, G usti, mereka bisa dihindari bahkan bisa dilawan. Mereka tak bisa dihindari. Bukan saja karena kelajuann ya, karena layarnya yang berlapis-lapis, dapat mekar menggelembung seperti melati, sebesar tiga kali gajah, dapat mengempis seperti kantong

  “Maksudm u meriamnya?” “Benar, G usti, meriamn ya, senjatanya itu, dapat mem untahkan api dan….” “Adakah Patih sedang mengu langi dongeng kanak-kanak itu.” “Ampun, G usti. D ongengan kanak-kan ak itu sekarang sudah jadi kenyataan.” “Kenyataan!” Sang Adipati terpekik. “Memuntahkan api! Apakah Kakang Patih bermaksud mengatakan ada bangsa lain di atas bumi ini punya cetbang Majapahit? Ada di negeri Atas Angin sana? Kakang Patih tidak hendak mendongeng lagi?”

  “Ampun, G usti sesembahan patik. Ada bangsa jauh di Atas Angin sana punya semacam cetbang Majapahit. Lebih dah syat, G usti.”

  “Lebih dah syat!” Sang Adipati berseru menyepelekan, tertawa kosong. Bergumam: “Ada yang lebih dah syat dari cetbang Majapahit,” ia menuding pada langit tanpa mengangkat kepala. “D ari mana pula dongengan menarik itu berasal, kiranya?”

  D eburan ombak terdengar nyata. Tak ada manusia bergerak dalam sepengelihatan penguasa Tuban itu. Jauh- jauh di darat nampak orang bersimpuh di atas tan ah dengan kepala menunduk ke bumi. D an di laut kapal dan perahu yang tertambat berayun-ayun dengan layar tergulung dan tiang-tiangnya m enuding langit.

  ”Teruskan, Kakang Patih.” “Ampun, beribu ampun, G usti. Dongengan patik yang indah ini datang menghadap G usti untuk jadi bahan periksa, G usti. Kapal-kapal Atas Angin pada gentar. Orang bilang banyak di antaranya telah mereka kirimkan ke dasar lautan. Semua pedagang mengimpikan dan mem buru keuntungan, G usti, maka benua dan lautan ditempuh. Mengetah ui, dengan mu nculnya kapal-kapal Peranggi, bukan keuntungan yang teraih, tapi maut belaka, maka mereka lebih suka tinggal tidur di tengah-tengah mewahan di rumah masing-m asing di bandar sendiri.”

  “Maka makin berkurang kapal-kapal Atas Angin datang?” “D emikian adan ya, G usti sesembah an patik.” Sang Adipati tercenung sebentar. Ia menunduk dan berpikir. Lam bat-lam bat kedua belah tangannya tertarik ke atas dan bertolak pinggang Sebentar dia berpaling dan menebarkan pandan g pada laut, kemudian pada langit. Bertanya pelan: “Bagaimana bisa ada senjata lebih dah syat dari cetbang?”

  “Beribu am pun, G usti, cetbang mereka bukan sekedar dap at m enyemburkan api dan meledak, juga memu ntah kan bola-bola besi sebesar, sebesar, kata orang, sebesar buah kelapa”

  “Sebesar buah kelapa! Terkupas atau tidak?” “G usti Adipati berolok-olok. Apakah bedanya buah kelapa itu terkupas atau tidak? Besi sebesar tinju pun akan dap at rem ukkan setiap kapal, G usti.”

  Adip ati Tuban Arya Teja Tum enggung Wilwatikta terdiam. Juga destarnya yang panjang-panjang itu sebentar menggelepar tertiup angin. Intan, baiduri dan jamrud yang mengh iasi bagian depan destar gemerlapan bermain-main dengan sinar surya. Bertanya seakan tak acuh: “Bangsa apa kata kakang tadi?”

  “Peranggi, G usti. Orang bilang, ada bangsa lain, juga sama hebatnya, Ispanya namanya, G usti. Kapal-kapal Atas Angin pada ketakutan, G usti, biarpun hanya melihat dari kejauhan. Mereka sudah berlarian cari selam at, berlingsatan tunggan g-langgang cari hidup. Sedang kapal Peranggi itu, G usti, tak pernah belayar sendirian, selalu dalam rombongan, paling tidak dua atau tiga buah. Kapal-kapal Atas Angin itu, milik pedagang-pedagang itu, tak pernah dalam rombongan. Karena persaingan satu dengan yang lain, baik di laut mau pun di darat.”

  “D alam rom bongan seperti armada Majapahit?” “Benar, G usti.” “Apa lagi ceritamu , Kakang Patih?” “Mereka lain dari orang-orang Arab, Parsi atau

  Benggala, lain dari semua bangsa yang pernah datan g di Tuban. Mereka itu putih seperti kapas, seperti awan, seperti kapur, seperti bawang putih….”

  “Barangkali sebangsa hantu laut?” “G usti berolok-olok. Mo hon apalah kiran ya tidak berolok-olok, G usti. Keadaan dunia sunggu h-sungguh sudah berubah. G usti. Mereka punya negeri dan rajanya sendiri.” Sang Patih menurunkan nada suaranya dan meneruskan pelahan bercampur dengan tiupan angin…

  “Aku tak dengar, Kakang Patih, lebih keras.” “Ampun, G usti. D ari dulu oran g tua-tua sudah mendongeng tentang bangsa kulit putih, seperti dongeng tentang peri dan gandarwa, seperti dongengan orang Islam tentang jin, iblis dan setan, seperti dongengan tentang dedemit para leluhur. Sekarang ternyata bangsa manusia berkulit putih sesunggu hnya ada.”

  Ia turunkan lagi nada suaranya sehingga hampir bergum am. “Siapa tahu, G usti….” “Lebih keras!” “Ampun, G usti, siapa tahu, baran gkali pada suatu kali jin dan iblis dan setan oran g-orang Islam juga punya negeri sendiri kapal dan cetbang.”

  Sang Adipati memperbaiki letak keris, kemudian dilambainya Syahbandar agar m endekat. Yang dilambainya bergerak, tetap berdiri dan mengangkat sembah kepala.

  “Apa pengetahuanmu tentang bangsa berkulit putih?” “Bangsa kafir itu, G usti, bangsa berkulit putih, tapi hatinya, rohnya, nyawanya, hitam, G usti, hitam seperti jelaga periuk. Mereka tidak mengagun gkan Allah Yang Maha Besar. Mereka penyembah patung. Sedangkan orang Jawa pun bukan penyembah patun g, kecuali pemeluk Buddh a. Mereka penyembah patung, G usti.”

  “Kafir atau tidak apa salahnya? Penyembah patung atau tidak apa buruknya? Roh, nyawa atau hatinya hitam atau putih atau kelabu ataupun ungu seperti bunga kecubung, apa peduli? Allah Maha Besar telah mem berikan pada manusia berbagai macam warna. Selama mereka datang mem bawa kesejahteraan untuk bandar Tuban… siapa saja baik.” “Auzubillah m in zalik!” seru Syahbandar.

  “Apa persembahanmu, Tuan Syahbandar?” “D iampuni oleh Allah apalah kiranya… Baik Peranggi,

  G usti, maupun lspanya, memu suhi semua bangsa, mem usuhi semua oran g Islam, dan Yahudi, dan Buddha, segala-galanya. Tuhan akan mengenyahkan mereka dari mu ka bumi.” “Kapan Tuhan m engenyahkan mereka?” “Semua bangsa, G usti,” sembah Ishak Indrajit terus dalam Melayu, “dengan bimbingan Allah. Kalau semua bangsa tidak mau, merekalah yang bakal mengh alau kita semua….”

  “D i mana negerinya? Jauh atau dekat? Maka akan dapat mengenyahkan semua bangsa dari mu ka bumi?” “Jauh, G usti, lebih jauh dari Parsi, Arabia ataupun

  Turki. N egerinya ada di atas Atas Angin.” “Kalau dongengan itu benar, pasti kapalnya banyak, kuat dan hebat, tentu mereka bangsa yang pandai dan gagah- berani. Mereka telah lewati Ujung Selatan W ulungga yang tak pernah dilalui oleh nenek-moyang,” puji Sang Adipati pada bangsa yang belum dikenal itu.

  “Mereka diberanikan oleh iblis, dipimpin oleh setan, G usti Adipati Tuban,” susul Syahbandar pada Sang Adipati tak senang.

  Sang Adipati tak mem perhatikan. Pandangnya ditebarkan ke laut yang masih juga disebari perahu-perahu nelayan. Angin yang m eniupi dadanya m embikin bulu dada yang putih itu berombak. Tak dirasainya seekor lalat hinggap pada dagunya. Ia sedang bekerja keras mem anggil kapal-kapal Peranggi dan lspanya dalam angan-angan.

  “Bangsa-ban gsa Atas Angin takut pada mereka,” tiba- tiba ia berpaling pada Syahbandar. “Tuan Syahbandar, bagaimana bisa orang-orang Islam takut pada kafir?”

  “Sihir namanya, G usti.” “Sihir!” Sang Adipati mengu langi, melecehkan. “Kalau begitu orang Islam pasti punya mantra-mantra penangkal.” Syahbandar terdiam, menundu k lebih dalam, tak menem ukan kata-kata jawaban. Tubuhnya yang tinggi jangkung nampak meriut kecil.

  “Ampun, G usti sesembahan patik,” sela Sang Patih sambil menyembah, “adapun senjata itu sama sekali bukan sihir, justru cetbang yang lebih ampuh. Kapal-kapal tak bisa lari dari tudingannya. Senjata itu dap at menenggelamkan kapal yang sebesar-besarnya dari jarak sepemandangan.”

  “Jadi sunggu h-sungguh mereka mem usuhi semua kapal?” “Benar, G usti, dan terutama kapal-kapal berbendera bulan dan bintang, semua kapal Islam, juga kapal-kapal bukan Islam dari Benggala, semua.”

  “Apa yang mereka cari, oran g-orang… apa pula nam anya tadi?” “Peranggi, G usti,” sembah Sang Patih. “Semua, G usti, semua yang mereka cari, terutama rempah-rempah.” Tiba-tiba Sang Adipati tertawa senang dan bergumam pada angin m endesau: “Ha! Rempah-rempah! Seperti kapal- kapal lain, seperti yang selebihnya. Remp ah-rempah. Hai!”

  “Beribu ampun, G usti,” Sang Patih meneruskan, “para nakhoda bilang mereka mu lai kelihatan di Malagasi, mem asuki Teluk Parsi dan mengamuk tiada terlawan. Kapal-kap al armada gabungan dari beberapa negeri dibabat lenyap ditelan laut… Sekarang mereka bukan hanya sudah mu lai kelihatan di Benggala dan Langka, juga sudah mendudu ki G oa. Ya, G usti, bila senjata mereka berdentum , langit seperti belah dan hati yang mendengarnya jadi ciut. Burung-burung lump uh sayap dan berjatuhan mati. Bola- bola besi sebesar kelapa bersemburan , mendesis di udara.

  Tumpaslah kapal yang terkena.” Sang Adip ati tersenyum. Berseru pelahan : “Ya-ya-ya, pastilah mereka mem ang bangsa-bangsa unggul. Tuan

  Syahbandar, m eriam bukan nam a senjata itu?” “Ampun, G usti, dikutuk oleh Allah apalah kiranya mereka itu. G usti, Mereka namai senjata itu dengan nama

  D ewi Ibunda N abi Isa, Mariam, G usti. Bukan mereka sendiri yang menam ainya, mem ang. Kata orang sebelum mereka mendentumkan senjatanya, beramai-ramai mereka mem ekikkan nama Ibunda N abi Isa alaihissalaam. Api pun menyemburat dari moncong senjatanya dan bola besi itu melesit ke udara seperti peluru cetbang, hampir-hampir tak dap at ditangkap oleh mata. Kemudian senjata itu dinamai

  Meriam.” Sang Adipati mulai bosan m endengar keterangan bertele.

  Ia bergerak dari tempatnya, melangkah menuju pada kudan ya. Semua prajurit pengawal menyembah dan beringsut menjauhkan diri. Prajurit pengawal pemegang kuda itu pun mengangkat sembah, menyerahkan kendali padanya, menyembah lagi. bersujud ke tanah, kemudian menungging untuk jadi anak tangga.

  Tanpa mem perhatikan yang lain-lain Sang Adipati naik ke atas punggung orang dengan sebelah kaki, dan dengan kaki lain m elompat ke atas punggu ng kuda.

  Sang Patih juga naik ke atas kudan ya, bergerak mengiringkan Sang Adipati. Syahbandar tertinggal di tempatnya….

  0o-d w-o0 Kapal unggul senjata unggul bangsa unggul kulit putih, rem pah-rempah, salib… semua menjadi masalah ganda yang berjubal dalam kepala Sang Adipati. Ia m embutuhkan waktu untuk memikirkan semua itu.

  Bangsa-ban gsa menjadi kaya karena berdagang rempah- rem pah. Mungkin satu bangsa bisa menjadi unggul karena mencari rempah-rempah? Uh, pertanyaan lucu. Orang takkan mati tanpa dia. Bangsa-ban gsa mencarinya karena mem ang sudah unggu l Mungkinkah suatu bangsa bisa jadi unggul hanya karena punya senjata unggul? Hhhh, pertanyaan bodoh. Bangsa unggul saja bisa mem bikin dan menggunakan senjata unggul. Ada suatu lembaga yang mem bikin mereka jadi unggu l, maka segala yang ditanganin ya juga jadi unggu l: kapal dan senjata. Mereka pergi ke mana-mana untuk mengalahkan dan m enaklukkan. Hanya yang dapat m enahan dan m engalahkan m ereka lebih unggul. Salib itukah mungkin lambang lembaganya? Sekarang ini siapa yang tahu? Barang siapa bisa menjawab, dialah si pembohon g itu. Oran g harus mengenal lebih dulu bangsa-bangsa dari negeri terjauh ini, bangsa-ban gsa dari atas Atas Angin , bangsa-ban gsa yang telah menaklukkan Ujung Selatan W ulungga yang belum pernah ditembus kapal-kapal Majapahit. Tapi mereka mem butuhkan rem pah-rempah! Mereka bangsa manusia biasa. Mereka juga bisa dikendalikan m elalui kebutuhannya. Tuban punya rem pah-rempah! Mereka akan datan g kemari. D an melalui kebutuhann ya mereka akan aku kendalikan!

  0o-d w-o0 Tanpa mereka semua ketahui, sesuatu telah berubah di Senjata baru, meriam itu, sesungguhn ya sama nenek- mo yangnya dengan cetbang Majapahit. Tahun tolaknya dari Tiongkok pun sama: 1292 Masehi. Bersama dengan balatentara Kublai Khan yang melakukan expedisi penghukum an di Singasari, nenek-moyang cetbang Majapahit dibawa serta di samping kuda perang dari 3 Mo ngolia dan Korea . Majapahit semasa M ahapatih G ajah Mada telah mengem bangkan senjata api ini jadi cetbang.

  Lawan-lawan Majapahit pada m ulanya menam ai senjata ini “sihir api petir”, karena dari bawah ia mem ancarkan api dan di udara atau pada sasaran dia meledak. D engan cetbang, dalam hanya dua puluh tahu n Majapahit G ajah Mada berhasil dapat mem persatukan N usantara menjadi kekaisaran Malasya, kekaisaran Asia Tenggara. Setelah itu cetbang tidak berkembang lagi.

  Pada tahun 1292 itu juga prinsip.senjata-api bertolak dari Tiongkok, dibawa oleh Marco Polo dan diperkenalkan di Eropa. Orang mengetawakan dan mengejeknya, juga setelah matinya. Makin banyaknya oran g Eropa berkunjung ke T iongkok menyebabkan orang lebih mengerti dan mu lai mencoba-coba mem bikin sendiri. Perkembangan selanjutnya melahirkan mu sket. D engannya Portugis dan Spanyol mengu sir penjajahan Arab di negeri mereka, semenanjung Iberia. Mu sket dibikin dalam bentuk raksasa menjadi meriam. D engannya mereka memp ersenjatai kapal-kapal, mengarungi samudra tanpa gangguan. Seperti halnya dengan Majapahit, dengan kapal dan senjatanya mereka mu lai mengu asai jalan laut dan musuh-musuhnya, menaklukkan dan m enjajah negeri.

  Cetbang dan kapal unggul Majapahit pada suatu kali telah mengh ancurkan dirinya sendiri dalam Perang Paregreg. Juga Spanyol dan Portugis akan mu snah karenanya sekiran ya Tahta Sua tidak segera turun tangan meleraikan dua negeri ini dengan Jus Patronatus atau Padroado, yang mem belah dunia non-Kristen jadi dua bagian, sebagian untuk Portugis dan yang lain untuk Spanyol. D an m ulailah kapal-kapal mereka tanp a ragu-ragu menjelajahi dunia dengan salib sebagai panji-panjinya, menaklukkan dan m enguasai bangsa dan negeri-negeri yang dianggapnya dalam belah dunia bagiannya….

  D alam perjalanan Sang Adipati mem erlukan menengok ke belakang. D iberinya Sang Patih isyarat agar mendekat Suaranya sayup-sayup di antara gemerincing giring-giring dan derap kuda, terdengar ragu-ragu: “Kakang Patih, bukankah telah Kakang ketahui sendiri bagaiman a telah kami petaruhkan hari depan pada kejayaan Islam? Bukankah banyak di antara putra-putra kami telah menggunakan nama Islam yang diberikan oleh guru- gurunya? Kami biarkan putra kami Raden Said mendalami agam a Atas Angin ini, dan sekarang jadi pemuka Islam yang dihormati, hidup sebagai pandita dan pertapa, berpakaian seperti orang tidak ber bangsa. Berap a sudah di antara putra-putra kami, kami sengajakan mengabdi pada raja Islam D emak, karena percaya Islamlah yang jaya kelak. Apa sekarang? Kapal-kapal Islam takut pada kafir-kafir Peranggi dan Ispanya….”

  “Patik, G usti,” Sang Patih menunduk dan mengangkat sembah. “Bagaimana kira-kira jadinya semua ini nanti?” “Allah D ewa Batara!” sebut Sang Patih tak bisa menjawab. “Kakang Patih, bagaiman a warta putra m ahkota D emak setelah meramp as Jepara, wilayah kami?” “Belum banyak yang dap at dipersembahkan. G usti.” Tak punya laut. Selmran g mem butuhkan bandar sendiri. Adakah kota Semarang sudah menolak memu nggah baran g-barangnya maka ia mem berandali wilayah kami? Apakah D em ak sudah bercekeok dengan Semarang?”

  “Ru pa-rupanya perlu dikirimkan telik, G usti.” Sang Adip ati tidak menan ggapi, meneruskan dengan suara lebih keras: “Apakah ada dugaanmu putra mahkota

  D emak meramp as wilayah kami, Jepara, untuk mem bangun sebuah Angkatan Laut?” “D emikian konon wartanya, ya G usti. Sudah sejak lam a, sejak kecil Adip ati Unus, putra m ahkota D emak, ditimang- timang oleh Ibundanya jadi Laksamana, merajai kepulauan dan lautan. G usti.”

  Sang Adipati tak meneruskan pertanyaannya. Sang Patih melambatkan kudanya sehingga kembali tercecer di belakang.

  Sesampainya di alun-alun tiba-tiba Sang Adipati menengok lagi ke belakang, bertanya waktu mengh entikan kudan ya: “Apakah putra mahkota D emak, Adipati Unus, sudah mem erintah kan pembikinan kapal perang?”

  “Baru pendirian galangan -galangan, G usti,” sembah Sang Patih. “Boleh jadi sudah terjadi perpecahan antara Semarang dan D emak, sekiranya tak ada lagi tenaga Cina mem bantu di Jepara. Kakang Patih, keterangan itu harus didapatkan.”

  “Patik, G usti.” “D an lebih berhati-hati terhadap Lao Sam. Setiap ada sesuatu yang m encurigakan, hancurkan saja bandar itu.” “Patik G usti. Lao Sam namp aknya tetap tenang, tidak sangat dekat dengan Tuban. D alam tiga hari pasukan G usti Adip ati sudah dapat mencapainya melewati pesisir. Hancurlah dia! Yang agak mencurigakan justru Jepara, G usti. Konon putra mahkota D emak, Adipati Unus, mu lai mendatan gkan pandai cor dari Pasuruan.”

  “Pand ai-pandai itu tentunya Hindu.” “Tidak bisa lain, G usti.” “Jadi Islam bisa kerjasama dengan Hindu?” “N am paknya demikian. N amp aknya pula sedang ada persiapan m embikin cetbang di sana.” “Kalau itu benar, raja Islam itu sedang punya persiapan mem bikin yang berbahaya. Segera kirimkan telik.” “Patik, G usti sesembahan.” “Apakah menurut dugaanm u Unus berani mengeluari

  Peranggi dan Ispanya?” “Kuda-kuda itu berhenti. Juga para pengawal di depan dan belakang.

  “Konon kabarnya, G usti, putra mahkota itu telah bersumpah akan membentengi Islam di belah bum i sini, bum i selatan.”

  Sang Adipati mengangguk-an gguk. Kudan ya digerakkan lagi dan berjalan melewati gapura. “Brandal-brandal itu hendak beram in jadi satria.” Para pengawal gerbang pada bersimpuh dan m engangkat sembah. Tombak dan perisai mereka bergeletakan dam ai di atas bum i. Sang Adipati tak mem perhatikan, langsung berkendara m enuju ke pendopo.

  Seorang pengawal menerima kuda dan seorang lain menyediakan punggung untuk jadi anak tangga. Ia turun tapi tak langsung m asuk ke dalam.

  Sang Patih mengerti masih diperlukan. Setelah turun dari kuda ia datan g mengh adap dan langsung mendap at teguran: “Banyak nian yang tak Kakang persembahkan selam a ini.”

  “Ampun, G usti. Patik telah persembahkan semua, ya G usti. N ampaknya G usti kurang mengkaruniakan perhatian. Ampun, G usti, tentulah karena banyak hal lain sedang jadi pikiran G usti.”

  “Tentu Kakang Patih benar. Apakah menurut dugaan Kakang, Unus dapat mengalahkan mereka? T anpa meriam dan hanya dengan cetbang bikinan pandai cor Blam bangan ?”

  “Ya, G usti, bagaiman a patik haru s persembahkan? W aktu patik masih kecil, nenek patik pernah bercerita tentang kapal-kapal Majapahit, dan menurut katanya pula Mahapatih G ajah Mada pernah bersembah pada Sri Bagin da Kaisar Hayam W uruk: hanya kapal-kapal yang bisa melalui Ujung Selatan W ulungga tertitahkan untuk mengu asai buana, Peranggi dan Ispanya bukan hanya melalui, mereka telah datang dari balik Ujung Selatan.”

  “N yata M ajapahit tak pernah berhasil melaluin ya.” “Tidak pernah, G usti. Ujung Selatan selam a ini selalu dianggap jadi batas dun ia. Tak ada daratan dan lautan lagi di sebaliknya, jatuh curam langsung ke neraka. ”

  “D an kapal-kapal mereka telah melewatinya. D atang langsung dari neraka itu! Kapal-kapal Unus baran gkali masih dalam angan-angan, jauh dari ujian Ujung Selatan W ulungga.”

  Sang Adipati berbalik meninggalkan Sang Patih dan masuk ke dalam kadipaten. Sang Patih, juga semua yang tertinggal, mengangkat sembah. Ia m engambil kudanya dari tangan seorang prajurit pengawal dan keluar meninggalkan kadipaten. Belum lagi samp ai ke kepatihan, seorang penunggan g kuda telah menyusulnya. Sang Adipati sedang menunggunya di dalam kadipaten. Ia berbalik menuju ke kadipaten.

  Ia dapati Sang Adipati sedang dud uk berfikir dengan wajah menekuri lantai. D an dud uklah ia di bawah mengangkat sembah.

  “Mereka sudah lewati Ujung Selatan W ulungga, Kakang Patih. Tentu mereka telah kalahkan kapal-kapal Parsi, Mesir, Turki, Arabia, Benggali dan Langka. Mereka akan kalahkan juga kapal-kapal Aceh, dan Melayu, Jawa dan Tuban sendiri.”

  “G usti.” “Mengapa mu sti mengalahkan, Kakang Patih? Bukankah kapal-kapal asing datang kemari bukan untuk mengalahkan kita? Tak pernah yang demikian terjadi sejak nenek- mo yang, kecuali oran g-orang T artar yang dibinasakan itu.”

  “N am paknya Peranggi dan Ispanya lain daripada yang lain, G usti. Mereka bukan sekedar mencari dagangan dan rem pah-rempah. Mereka datang ke mana-mana untuk mencari negeri asal rem pah-rempah. Mereka hendak merampas semua untuk dirinya sendiri.”

  “Kerakusan tiada tara. Mengapa tidak m au berbagi?” “Konon wartanya, G usti, mereka tadinya bangsa miskin. Sekarang baru keluar dari kemiskinan, baru melihat dunia, mu lai m erabai dan merampasi semua barang apa yang baru dilihatnya, apa saja yang indah, yang m ahal, seperti si lapar melihat sajian, ya G usti.” Sang Adipati tersenyum. “Si lapar melihat sajian. Perbandingan yang indah . Ya baran gkali benar begitu. D an mereka akan datang ke sini juga akhir-akhir kelaknya. Semoga mereka telah kenyang dalam perjalanan.”

  “Kerakusan tidak m engenal kenyang, G usti.” “Kakang Patih benar. Kadang-kadan g mem ang mem usingkan untuk mem ahami hal-hal baru. Kapal unggul, kelaparan unggu l. Sebaliknya, Kakang Patih, mereka yang justru memiliki negeri yang mengh asilkan rem pah-rempah, sepanjang sejarahnya selalu hidup dalam kemiskinan dan perbudakan. Mereka yang datang mencari rem pah-rempah yang jaya dan kaya. Bagaimana harus mem ahami ini, Kakang?”

  ”Itulah suratan tangan bangsa-bangsa. G usti, hanya para pendita bijaksana dapat menerangkan.” “Sekarang remp ah-rempah juga yang mem anggil kerakusan yang tak mau berbagi. Kerakusan yang mau berkuasa dan memiliki untuk diri sendiri semata, mem bunuh dan menenggelamkan. Mereka makin mendekati Tuban. Rasa-rasanya telah dap at kami dengar bunyi meriamnya, mem ekakkan dan melump uhkan burung- burung di cakrawala.” Suaranya menjadi pelahan mendekati bisikan: “Tapi Adipati Tuban tidak gentar, Kakang. Hanya awas-awas pada yang di barat sana: Semarang, D emak, Jepara, Lao Sam.”

  Sebentar ia berhenti bicara, tersenyum menimbang- nimban g, matanya berkilau, wajahnya berseri: “Ya, padasuatu kali mereka, manusia berkulit putih lucu itu, seperti bawang, anak bangsa unggul itu, akan datang kemari. Kapal-kapal mereka akan terikat pada patok derm aga Tuban.” Sekarang ia tertawa, semakin riang, “untuk Tuban, Kakang Patih, mereka tidak akan mendatan gkan kebinasaan atau kehancuran….”

  “Allah D ewa Batara mem bimbing G usti Adipati Sesembah an.” “… mereka akan datang membawa kekayaan, kemakm uran melim pah, mas, perak, tembaga, sutra, intan, permata, akan berjatuhan, berhamburan di Tuban, dari kapal-kapal mereka. Sudah kudengar mereka bersorak-sorai. Bukan sorak kemenan gan, bukan sorak-sorai minta beli lebih banyak! R empah-rempah! Remp ah-rempah! Kerah kan semua armada niaga, Kakang Patih. Semua. Ke Mamu luk. Angkut semua yang ada. Ke Tuban. Itu perintah 1 kami.”

  Sang Adipati masuk ke peraduan dan mem usatkan seluruh pikirannya untuk mendapatkan keuntungan dari perubahan baru tanpa haru s mengurangi keuntungan yang bisa didapatkan dari kapal-kapal Islam, N usantara dan Tiongkok.

  0o-d w-o0 Pada waktu ia tenggelam dalam pikirannya, jauh, jauh dari Tuban, kejadian-kejadian besar telah datang silih- berganti, baik di negeri Portugis maupun Ispanya. Pada 1492 Kristoforus Co lombo telah menyeberan gi samu dra Atlantik, menem ukan benua baru Amerika. Tak lama kemudian Ispanya dan Portugis merajai benua baru itu.

  Enam tahu n kemudian, pada 1498 pelaut Portugis Yasco da G ama mu lai menjelajah dun ia Tim ur, dengan panji- panji Jus Patronatu s yang dikeluarkan oleh Tahta Suci pada

  4 Mei 1493. Kapalnya mem asuki Malabar dan Goa dan ikut serta pula kekuasaann ya.

  Jalan laut kapal-kapal Islam mu lai terdekat. Pangkalan- pangkalan diam bil-alih dengan m eriam ….

  0o-d w-o0 Turunan kuda Korea di Jawa kemudian disebut kuda Kore. Senjata ini didasarkan atas prinsip roket, yang dilemp arkan dan diarahkan dengan laras dengan tolakan ledakan .

  0o-d w-o0

  D ulu di W ilwatikta, ibukota Majapahit, terdapat dua istana. Sebuah istana Kaisar, yang lain istana Sang D harmadhyaksa, penghulu agun g umm at Buddha. Sekarang di Tuban Kota terdap at dua gedung utama. Sebuah adalah kadipaten, yang lain gedung penghulu negeri um mat Islam T uban.

  Sekarang gedung kayu besar megah itu tidak lagi ditinggali oleh Sang P enghulu, kosong. Tetapi beberapa hari belakangan seluruh pelatarannya dikelilingi pagar papan kayu tinggi. D ari jalanan hanya nampak atapnya yang dari sirap jati, kelabu kehitaman. Melalui pagar setinggi tiga depa itu orang tak dapat meninjau ke dalam.

  Penghun inya, Penghulu N egeri berasal dari seberang, telah dipecat oleh Sang Patih atas perintah Sang Adipati. D ahulu ia diangkat untuk mengu rusi soal-soal agama penduduk dan mengajarkan Islam pada anak-anak pembesar. Ia juga diangkat untuk jadi guru putra-putra Sang Adip ati. Tetapi ia menyia-n yiakan agama-agam a lain yang masih dipeluk oleh penduduk negeri Tuban. Sekarang gedung utama kedua itu tertinggal kosong.

  Setelah pelataran dipagari tinggi oran g justru pada datang dalam bondongan dan menggerombol, mencoba dap at mengintip ke balik dinding pagar. Berita telah pecah ke seluruh kota: Bidadari Awis Kram bil, I dayu, juara tari dua kali berturut, telah datan g ke Tuban Kota untuk menggondol kejuaraan ketiga kalinya.

  D esas-desus meniup sejadi-jadinya: dia datan g untuk takkan balik ke desanya lagi – sebagai bunga perbatasan pasti dia akan diselir oleh Sang Adipati. Sebelum bidadari itu jadi milik pribadi Sang Adipati orang memerlukan datang untuk membelainya dengan pandan gnya. Beberapa pemuda telah bermimpi akan melarikannya. Sebagai selir dia takkan dapat dipuja atau dikagumi lagi.

  Tapi rombongan seni dan olahraga dari Awis Kram bil belum lagi tiba. D esas-desus telah datang mendah ului, mem ercik ke seluruh kota seperti kebakaran pada padang ilalang. D an tak lain dari kepala desa Awis Kram bil sendiri yang merencanakan dan menitipkannya. Rombon gan yang belum datang itu tak tahu -menah u. Hanya mereka yang melaksanakan perintahnya tahu benar duduk-perkaran ya: W ejangan terakhir Rama Cluring telah membawa desa Awis Kram bil ke tepi kebinasaan . D engan keputusan sendiri ia telah meracuni guru-pembicara itu. D an pada up- acara pembakaran jenasahnya, dibiayai oleh seluruh desa, terang-terangan ia menyesali wejangan ipendiang. Seorang pengawal perbatasan berkuda ikut menyaksikan. Ia meracunnya untuk mengh indari murka Sang Adipati. Setelah itu ia datang pada Idayu dan G aleng, mem batalkan rencana perkawinan mereka, menan gguhkan sampai sehabis Lom ba Seni dan Olahraga. Mereka berdua telah merawat Ram a Cluring sampai matinya. Mereka harus digiring ke Tuban Kota, biar Sang Adipati segera dap at menjatuhkan hukumannya.

  Ia tahu pasti segala sesuatu tentang Awis Krambil telah samp ai pada Sang P atih dan Sang Adipati. D an desas-desus itu perlu untuk mengingatkan mereka pada Awis Kram bil, pada Rama Cluring, G aleng dan Idayu, dan : tindakannya yang bijaksana.

  Ro mbongan Awis Krambil telah nampak dari kejauhan. G endangn ya bertalu-talu menyampaikan berita. Umbul- um bulnya jelas turun-naikdi udara mengu ndan g semua untuk senang menerima kedatangann ya.

  Serulingnya melengking. Penyambut sepanjang jalan bersorak-sorai gegap-gempita. “D irgahayu, Awis Kram bil! D irgahayu Idayu!” Bocah-bocah pada berlarian menyongsong dengan tangan melambai-lambai. Tubuh mereka, telanjang atau setengah telanjang, mengkilat coklat kehitam an seperti kayu sawo mu da. D ebuan jalanan mengepul tak kenal am pun. D an um bul-umbul di kejauhan semakin cepat naik-turun.

  Orang-orang kota yang menyam but pada gerbang pinggiran Kota ikut bersorak. Laki, perempuan, kakek, nenek, kanak-kan ak. Bocah-bocah terbang berlarian untuk menyatakan kegembiraan atas kedatangan juara negeri, kekasih semua dewa. Pria-pria tak berbaju dengan keris terselit pada pinggang, destar terikat longgar, pertanda menem puh perjalanan jauh. W anita-wanita dalam caping. Pemuda-pemuda penyambut segera mengepung rombongan, untuk lebih dah ulu mem belaikan pandang pada Idayu, mengagumi kecantikan, keindahan tubuh dan buahdadanya.

  Begitu sam pai ke gerbang perbatasan Kota, semu a bunyi- bunyian meriuh gila. Seoran g punggawa kadipaten, dad anya terhiasi selempang selendang sutra, sedang destarnya disuntingi bunga kenanga, maju ke tengah jalan mengh entikan rom bongan. Semua melambaikan tangan bersorak-sorai, kecuali pemuda-pemu da yang sedang menelan tubuh bidad ari Awis Krambil, merabai tubuhnya dengan pandan g rakus.

  Penyambut resmi itu mengangkat tangan tanpa melambaikannya. Semua bunyi-bunyian padam. Sorak- sorai beku. D engan suara berwibawa ia angkat bicara: “D irgahayu Awis Krambil!”

  “D irgahayuuuuuuu,” semua, pendatang dan penonton, meledak serentak. “Tahukah kalian aturan masuk ke Kota?” tanya penyambut resmi itu, sekarang bertolak pinggang. “Belum! Belum!” jawab rombongan seperti pada tahun yang lalu, juga seperti tahun-tahun yang sebelumnya. Penyambut resmi melambaikan tangan kanan, menurun semua diam mendengarkan: “Buka kuping, dengarkan tajam -tajam. Atas titah Sang Patih, baran gsiapa dari pedalaman memasuki Kota harus memperhatikan aturan ini: semua wanita, kecuali anak-anak di bawah umur, harus menutup dad anya. Paling sedikit dengan kemban .”

  D an seperti pada tahun-tahun sebelum nya juga sekarang pemuda-pemu da bersorak mengejek: “Ho-ho-ho, G usti Bendo ro Penghulu yang mem buat aturan sudah dipecat!”

  Begitu sorak ejekan padam, penyambut resmi menirukan: “Tetap berlaku! Ho-ho-ho!” ejekan semakin gemuruh.

  “N ah, wanita-wanita Awis Kram bil. Kalian sudah dengar peraturan ini. Ambil kemban dan pakailah!” Upacara selesai. Pemud a-pemuda mengh alangi mereka pemakaian kemban, seakan-akan itu pun sudah jadi bagian dari upacara, setelah keluarnya larangan. Semua wanita pendatang melakukan gerakan-gerakan mem bantah kehendak para pemuda. Maka terjadilah tarian untuk merebut dan mem pertahan kan kemban. Kanak-kanak bersorak dan berjingkrak dan gam elan mulai ditabuh riuh. D an orang-orang tua pada menekur mengenan gkan masa mu dan ya.

  “Jangan biarkan Sang Surya m alu melihat kalian. Cepat, karena seluruh Kota sudah menunggu.” Maka gerak-gerik perawan yang hendak berkemban dan pemuda-pemu da yang mengh alangi berubah jadi tarian yang sesungguhnya. G amelan semakin riuh dan tarian semakin indah .

  Ro mbongan Awis Krambil telah nampak dari kejauhan. G endangn ya bertalu-talu menyampaikan berita. Umbul- um bulnya jelas turun-naikdi udara mengu ndan g semua untuk senang menerima kedatangann ya.

  Serulingnya melengking. Penyambut sepanjang jalan bersorak-sorai gegap-gempita. “D irgahayu, Awis Kram bil! D irgahayu Idayu!” Bocah-bocah pada berlarian menyongsong dengan tangan melambai-lambai. Tubuh mereka, telanjang atau setengah telanjang, mengkilat coklat kehitam an seperti kayu sawo mu da. D ebuan jalanan mengepul tak kenal am pun. D an um bul-umbul di kejauhan semakin cepat naik-turun.

  Orang-orang kota yang menyam but pada gerbang pinggiran Kota ikut bersorak. Laki, perempuan, kakek, nenek, kanak-kan ak. Bocah-bocah terbang berlarian untuk menyatakan kegembiraan atas kedatangan juara negeri, kekasih semua dewa. Pria-pria tak berbaju dengan keris terselit pada pinggang, destar terikat longgar, pertanda menem puh perjalanan jauh. W anita-wanita dalam rombongan juga tidak berbaju, tidak berkemben, bertopi caping. Pemuda-pemuda penyambut segera mengepung rombongan, untuk lebih dah ulu mem belaikan pandang pada Idayu, mengagumi kecantikan, keindahan tubuh dan buahdadanya.

  Begitu sam pai ke gerbang perbatasan Kota, semu a bunyi- bunyian meriuh gila. Seoran g punggawa kadipaten, dad anya terhiasi selempang selendang sutra, sedang destarnya disuntingi bunga kenanga, maju ke tengah jalan mengh entikan rom bongan. Semua melambaikan tangan bersorak-sorai, kecuali pemuda-pemu da yang sedang menelan tubuh bidad ari Awis Krambil, merabai tubuhnya dengan pandan g rakus.

  Penyambut resmi itu mengangkat tangan tanpa melambaikannya. Semua bunyi-bunyian padam. Sorak- sorai beku. D engan suara berwibawa ia angkat bicara: “D irgahayu Awis Krambil!”

  “D irgahayuuuuuuu,” semua, pendatang dan penonton, meledak serentak. ‘Tahukah kalian aturan masuk ke Kota?” tanya penyambut resmi itu, sekarang bertolak pinggang. “Belum! Belum!” jawab rombongan seperti pada tahun

  Penyambut resmi melambaikan tangan kanan, menurun semua diam mendengarkan: “Buka kuping, dengarkan tajam -tajam. Atas titah Sang Patih, baran gsiapa dari pedalaman memasuki Kota harus memperhatikan aturan ini: semua wanita, kecuali anak-anak di bawah umur, harus menutup dad anya. Paling sedikit dengan kemban .”

  D an seperti pada tahun-tahun sebelum nya juga sekarang pemuda-pemu da bersorak mengejek: “Ho-ho-ho, G usti Bendo ro Penghulu yang mem buat aturan sudah dipecat!”

  Begitu sorak ejekan padam, penyambut resmi menirukan: “Tetap berlaku! Ho-ho-ho!” ejekan semakin gemuruh.

  “N ah, wanita-wanita Awis Kram bil. Kalian sudah dengar peraturan ini. Ambil kemban dan pakailah!” Upacara selesai. Pemud a-pemuda mengh alangi mereka pemakaian kemban, seakan-akan itu pun sudah jadi bagian dari upacara, setelah keluarnya larangan. Semua wanita pendatang melakukan gerakan-gerakan mem bantah kehendak para pemuda. Maka terjadilah tarian untuk merebut dan mem pertahan kan kemban. Kanak-kanak bersorak dan berjingkrak dan gam elan mulai ditabuh riuh. D an orang-orang tua pada menekur mengenan gkan masa mu dan ya.

  “Jangan biarkan Sang Surya m alu melihat kalian. Cepat, karena seluruh Kota sudah menunggu.” Maka gerak-gerik perawan yang hendak berkemban dan pemuda-pemu da yang mengh alangi berubah jadi tarian yang sesungguhnya. G amelan semakin riuh dan tarian semakin indah .

  Ro mbongan Awis Krambil semakin tebal dan panjang. Jalanan penuh-sesak. Bahkan kereta pembesar mengalah tanp a menuntut simpuh dan sembah. G erobak pada melarikan diri sebelum terseret dalam kepadatan m anusia.

  Sepanjang jalan seruan dirgahayu berderai bersambut- sambutan. Sampai di depan bekas gedung Penghulu N egeri yang terpagari papan kayu tinggi, iring-iringan berhenti. Pintu pagar terbuka lebar. Seorang penyambut berdiri di tengah-tengah pintu. Ia berkain. Karena tubuhnya tinggi, kain itu tak mencapai matakaki. D adan ya telanjang. Ia tak mengenakan selendang sutra yang m enyelim pangi dada. Di tangannya ia membawa pedang terhunus. Di kiri dan kanann ya berdiri pengawal bertom bak dan berperisai.

  “D ari mana semua ini, m aka mem bikin onar di Kota?” “Kami,” jawab kepala desa yang melompat ke depan,

  “dari desa perbatasan Awis Kram bil.” “Apa keperluanm u, pelancang?” gertak penyambut sambil mengamangkan pedangn ya.

  D ua orang pengawalnya maju, mem asang kuda-kuda dengan tombaknya. “D atan g ke kota untuk merebut kejuaraan. Berikanlah pintu pada rombongan terbaik seluruh negeri ini,” jawab kepala desa.

  “Ahai! D atang untuk m erebut kejuaraan. Tidak semudah itu orang desa!” “Berilah kami kesempatan!” “Baik, masukkan semua rom bonganmu, dan pergi nyah kau dari sini.” D an dengan demikian rom bongan Awis Kram bil masuk, kecuali bukan peserta. Penonton bersorak-sorai, bergalau mem anggil-m anggil Idayu.

  0o-d w-o0 D ua hari rom bongan peserta Awis Kram bil telah diasramakan. Pria menempati bangun an sebelah kanan, wanita sebelah kiri. Semua wakil desa-desa telah datang. Latihan pun sudah dimulai

  D i bandar saudagar-saudagar, asing dan Pribumi mengadakan taruhan satu sepuluh: datang-tidaknya Sang Adip ati ke asrama untuk mengu njungi Idayu. D atang berarti bidad ari Awis Kram bil akan terambil jadi selir. Taru han itu sampai mencapai seluruh muatan kapal, malahan kapalnya sendiri. Suasan a hangat membubung di atas bum i dan kepala m anusia Tuban Kota.

  Punggawa-punggawa desa Awis Kram bil semakin giat meniup-niupkan desas-desus. D an hanya tiga orang saja sekarang tak tahu tentang itu: Idayu sendiri, G aleng dan Sang Adipati

  Penguasa Tuban itu masih juga sibuk menata pikiran mengh adapi kemungkinan datangnya Portugis dan Spanyol. Juga Idayu tak kurang sibuknya: berlatih dan melakukan pekerjaan untuk kepentingan bersama: mem asak dan mem bersihkan asram a. G aleng pun sibuk melatih otot-ototnya.

  Mereka turun ke kota dan m emasuki asrama dengan hati berat. Persiapan perkawinan mereka kembali harus disimp an di dalam lumbung. Seorang demi seorang dari punggawa desa itu mendatangi mereka, mem aksa dengan segala macam alasan. Mereka tetap menolak, mereka hendak melangsungkan perkawinan. Kemu dian tak lain dari kepala desa sendiri yang datang. ‘D esa kita telah dicemarkan oleh mendiang Rama Cluring’, katanya. menuding G aleng, ‘kau bertanggungjawab juga dalam pencemaran itu!’ G aleng mem bantah dan punggawa itu tetap menudingnya, mengancam akan menyerahkannya pada pengawal perbatasan.

  Tahulah ia: otot-otot yang perkasa sama sekali tanpa daya mengh adapi kekuasaan kepala desa. Ia menyerah tanp a rela hatinya. Sebelum pergi kepala desa masih mengancam: ‘Kau haru s menggondol kemenangan itu di Tuban Kota nanti. Kembalikan kehorm atan Awis Kram bil! Ia hanya bisa mendeham menerima paksaan kepala desa, dan ia harus menggon dol kemenangan.

  0o-d w-o0 G aleng sedang menimba sum ur asrama waktu didengarnya teguran seseoran g: Ia menengok. Orang itu ternyata penantangnya dari desa lain, dikenal bernam a Boris. N ama lengkapnya Borisrawa, seoran g pengejek yang tajam menyayat kata-katanya.

  G aleng meletakkan timba dan mengh ampirinya. D alam segala ukuran Boris kalah daripadan ya, nam un semangatnya untuk menang mem ancar kemilau pada matanya.

  “Kang G aleng,” katanya lagi. “Kau datang lagi ke Tuban Kota tahun ini.”

  “Kau juga, Boris.” Boris milirik tajam, bibirnya tertarik kejang mengejek:

  “Kau datang untuk menan g? Atau untuk kehilangan Idayu?”

  D arah G aleng tersirap. Sekarang jelas padan ya arti sindiran-sindiran selam a dalam perjalanan dan memuncak dalam asrama ini.

  D ua masalahnya belum lagi terpecahkan: menan g dan lepas dari hukum an Sang Adipati. Sekarang gelom bang sindiran tentang kehilangan Idayu. Siapa bakal mampu merampas kekasih daripadan ya kalau bukan punggawa? Ia masih dapat mengingat kebencian Rama Cluring terhadap para punggawa – kebencian yang bukan tanp a alasan. D an pesan kepala desa dan anggo ta-an ggota majelisnya untuk turun lagi ke gelanggang perlombaan. Ia masih dap at mengingat waktu Idayu menolak, dan rapat desa diadakan dengan terburu-buru. Ia pun masih dapat mengingat penutupan perlombaan tahu n lalu: semua gadis perbatasan diperintah kan menari di pendopo kadipaten. Tak ada penduduk desa diperkenankan hadir. D an kemudian desas- desus ini mata Sang Adipati tak lepas-lepas dari gadisnya, Idayu.

  “Idayu, Kang – rupanya kau sudah relakan dia,” tetaknya. G aleng mencoba tersenyum. Sumban g. Satu dugaan telah mendorongnya ke pojok: bukan salah seorang dari para punggawa itu, tapi Sang Adipati sendiri bakal merampas kekasihnya.

  “Betapa indahnya kehidupan di desa sendiri, ya Kang?” Boris masih juga mencoba mem bakar dan menganiaya hatinya.

  “Ya,” jawabnya ham bar. Sebelum kepergian terakhir ke Tuban ia selalu merasa bangga melihat pandan g pria yang mem berahikan kekasihnya, pandan g wanita yang mengagumi dan mencemburui. Seorang pun takkan bakal mampu merampas kekasihnya selam a oto t-otot dan kecekatannya masih dapat diandalkannya. Sekarang ia tersedar. kaum punggawa, terutama Sang Adipati sendiri bukan sekedar gum palan otot perkasa dan kecekatan menggunakann ya. Jauh lebih dari itu: kekuasaan atas hidup dan mati.

  “Mengapa kau diam saja, kang? Marah baran gkali?” Begitu dilihatnya G aleng menjatuhkan pandang ke tanah basah berbatuan segera ia meneruskan: “Tak ada guna marah Kang, percuma. Barangkali hanya aku yang berani menyatakan ini terang-terangan padamu. Sekiranya kau marah, itu pun beralasan. Aku mem ang penantan gmu. Hadapi aku nanti di gelanggang. Jangan di sumu r sini.”

  D i luar dugaan Boris, G aleng tersenyum. Giginya kemudian mu ncul, nampak dan gemerlapan putih. “G igimu m asih putih, Kang. Apa akan tetap kau biarkan putih seperti itu?” “G igimu pun masih putih, Boris. Kapan kau hitamkan ?” “Bagiku tidak soal.” Tiba-tiba ia menetak lagi: “Aku tidak mengh arapkan perawan atau jandanya Idayu, Kang. Kalau dia lepas dari tanganmu , apa gigimu akan tetap putih juga?”

  G aleng meninggalkan sum ur dengan kesakitan dalam hatinya. Sekali ini kemarahan m emang m embuncah. D an ia tak ingin terjadi perkelahian. Apa lagi ia tahu Boris sengaja hendak mengganggun ya. Ia tak jadi menimba, masuk ke dalam asrama, hendak berdam ai dengan hati sendiri. Tapi kembali ancam an kepala desa memasuki ingatannya. Kalau dia libatkan diriku pada Rama CIuring, tentu juga Idayu. D ia dan majelisnya telah giring kami ke Tuban Kota, ke hadapan Sang Adipati sendiri.

  Setiap oran g tahu akibat gugatan terhadap punggawa, terhadap Sang Adip ati, terhadap seorang raja. Hukuman. Mati. Tak ada tawaran lain. Tapi Rama CIuring tidak keliru, dia .benar, mereka tak pernah berbuat sesuatu untuk kawula; segala tingkah laku mereka tak boleh disalahkan, sekalipun hanya dengan kata-kata. Aku dan Idayu akan ditindak. Tidak sekarang, pastilah nanti sehabis perlombaan. Ia pun tahu betul: ada aturan yang mem bebaskan setiap peserta perlombaan yang diasram akan dari segala tuntutan.

  Maka aku dan Idayu harus menang. Haru s! Kemenan gan saja yang baran gkali dap at melepaskan kami berdua dari hukuman. Bebas! Bebas! Mu ngkin aku bisa bebas, tapi Idayu? Mungkinkah dia bisa balik ke Awis Kram bil bersama dengan ku? Betapa bakal sunyi hidup ini tanp a Idayu, tanpa dia, tanpa tawa tanpa candanya. D an apa pula arti duka-cita seoran g anak desa seperti kami bagi seorang Adipati yang berkuasa atas hidup dan mati….?

  0o-d w-o0 Idayu sedang masak waktu mendengar berita itu:

  “G aleng bingung! G aleng bim bang! Dia akan kalah di gelanggang nanti. Dia akan kehilangan dua: kejuaraan dan Idayu. Kalau dia menan g, dia akan kehilangan satu: Idayu saja, kau saja. D ia tetap akan kehilangan. ”

  ‘Teka-teki yang buruk,” Idayu menan ggapi dan belum begitu menyedari duduk-perkara. “Bukan teka-teki. Kau sendiri lebih tahu dari aku.” “Apa maksudm u sesungguhnya?” ia tinggalkan periuk dan mendekati teman masaknya.

  “Maksudku, Idayu. D i desamu sana, semua orang melihat betapa indah dan bersinar kulitmu, agun g kalau sudah menari, memikat, tinggi semam pai seperti puncak gunu ng kapur. D i sini orang melihat kau hanya pada wajahm u. Tidak kurang tertarik.” Teman masak itu mendekatkan bibir pada kuping Idayu: “Kau akan tinggal di keputrian, Idayu.”

  Idayu mem beliak. Centong pada tangannya luruh ke tanah. W ajah temannya tak nampak olehnya. Sebagai gantinya mu ncul kepala desa yang berkumis jarang dan kata-katanya yang lembut, manis dan mem bujuk: ‘Kecakapan dan kecantikanmu, Idayu, akan memban tu kau mencapai segala yang jadi impianmu . D an semua orang menilainya sebagai cantik dan tanpa tand ingan dalam menari. Juga semua orang tahu harga kecantikan dalam percaturan kekuasaan, di desa ataupun kota.

  “Ya, Idayu, pemenang tunggal akhir-akhirnya G usti Adip ati juga. Tidak lain dari kau sendiri yang lebih mengerti. Sampai sekarang kabarnya Awis Kram bil belum juga mendapat tam bahan Raden Bambang, belum ada lagi N yi Ayu….”

  Idayu menarik ke dua-dua lengan nya jadi siku-siku, mengejang jari-jarinya pada pipi, mencengkeram udara kosong. Matanya berpendaran pada langit-langit dapur, hitam diselaputi jelaga tipis.

  Temann ya mem ungut centong dan mencucinya dalam jamban g air, kemudian mem betulkan letak kayu bakar. “Tak ada pilihan lain bagimu, Idayu,” katanya lagi sambil melewatinya.

  D alam m ata batin Idayu kini terpamp ang dirinya sendiri, la mengerti betul kata-kata tem annya itu. D an ia diam. Satu doa kesejahteraan mem bubung dari dalam hatinya, mencari para dewa yang masih punya persediaan kemurah an….

  Asrama itu sendiri terletak di tentang alun-alun, tak seberapa jauh dari gedung kadipaten. D i luar asram a orang-oran g terus juga menggerombol dengan harapan pintu pagar sekali-sekali dibuka dan dap atlah pandang dilemp arkan ke dalam.

  Hari semakin gelap. Beduk mesjid Kota dan mesjid pelabuhan telah bertalu-talu. D i sela desau dan deru ombak yang m endesak daratan terdengar azan bilal.

  D i depan asrama orang semakin banyak datang. Hampir pada setiap kepala mereka hidup satu gambaran: Idayu yang sedang menari pada perlombaan tahu n yang lalu. Lebih dari itu: sedang tersenyum pada si pemilik hati masing-m asing, senyum seorang bidadari pujaan. Idayu! Idayu! Hati mereka berseru-seru, berbisik-bisik, menggonggong dan melolong seperti anjing di mu sim kawin. D an setiap orang di antaranya punya harapan: seorang dewa pemurah akan mengkaruniakan gadis perbatasan itu pada dirinya.

  D an malam itu setelah mengikuti pelajaran tatakrama kerajaan bagaimana harus berlaku di hadapan para punggawa, terutam a Sang Adipati sendiri, semua calon petanding menuju ke bangsal ketiduran masing-m asing. Kelelahan berlatih dan bekerja mem bikin mereka terlalu rindu pada bantal.

  Idayu masuk ke bangsal wanita. D amarsewu pendek menerangi semua pojokan. Tanpa bicara ia rebahkan tubuhnya di antara kawan-kawan nya wanita. D an ia m asih dap at menan gkap sindiran dari sana-sini.

  “Siapa seminggu kemudian akan mem asuki keputrian?” dan tawa terkikik-kikik menyusul berpantulan dari bibir ke bibir.

  Idayu diam saja dan hanya dapat berdoa. Ia rasakan duka-cita yang sedang menerjang kekasihnya. D an kekasih yang dempal kuat itu muncul dalam perasaannya seperti seorang bayi seminggu yang mem butuhkan perawatan nya. D an ia tak dapat mem berikannya.

  Tanpa disadarinya matanya telah melepas mu tiara- mu tiara, berkilauan tertimpa sinar damarsewu. Segala keindahan masa kemarin serasa akan bubar-buyar dari angan-angan kekasihnya. Yang tertinggal akan hanya samp ahnya yang berham buran tak m enentu.

  Seorang demi seorang telah mu lai tertidur. Akhirnya tenang. D eburan laut terdengar semakin nyata dan semakin nyata. Kadang berlomba dengan desah angin yang merobosi sirap.

  Sam pai dengan kemarin ia masih terbiasa mem bayangkan sebuah pondok bambu beratap ilalang, berdiri sederhana di pinggir hutan. G aleng sendiri yang mengu sulkan pendirian pondok itu. D an mereka berdua akan mem buka hutan di pinggiran desa itu, dan membuka hum a seluas-luasnya untuk gogo dan palawija. ‘Ayam tak perlu banyak/ kekasihnya menyarani, ‘kecuali kalau hutan itu sudah terbuka luas. Tiga ekor indu k dan seekor jago sudah cukup untuk permulaan. D an sepasang anjing yang cerdas. Kelak atap ilalang akan kuganti dengan injuk. Sudah aku ketahui ada daerah enau. Aku sudah temukan daerah enau, D ayu! Kita akan bikin gula dan tuak sebanyak-ban yaknya!

  Ia simp an gambaran itu sebagai suatu yang terlalu mahal

  Kemu dian Sang Adipati mu ncul dalam mata batinnya, bertolak pinggang, semua rambutnya telah putih, tegap, gagah, dan G aleng dihalau dari hadapannya. Kekasihnya itu merangkak pergi bersama dengan impian dan kesakitan sendiri. D irinya sendiri tidak dapat berbuat apa-ap a. Sudah terlalu banyak cerita tentang raja yang mengh endaki perawan cantik dan menikam kekasih perawan dengan tangan dan keris sendiri. Ah, G aleng, Kang G aleng! Bahkan kekasihnya itu tak berani menengok untuk mem andan gi buat terakhir kali.

  Tiba-tiba ia tersedan pelan, sangat pelan. Apa pula arti air mata bagi Sang Adipati? Sedang nyawa orang pun miliknya? Ia tahu, di tangan Sang Adipati tak ada orang boleh menyentuh dirinya, G aleng tidak, orangtuanya sendiri pun tidak. Ia menggeragap bangun. Seorang bocah lelaki, berum ur empat belasan, mendad ak telah berdiri di hadapannya dan menyentuh dirinya. Telunjuknya, yang bercincin mas, terpasang pada bibir – ia mem beri isyarat agar tak ada sesuatu bunyi. Ia pandan gi anak itu dari balik selaputan air mata. Masih dilihatnya bocah itu berpakaian ningrat. G elang mas mengh iasi lengan. D estarnya saja menyangkal keningratannya, karena ujung-ujung pengikatnya terkanji kaku. Ikat pinggangnya dari kulit, lebar, berkilauan dengan hiasan perak.

  D engan sikap rah asia si bocah menyerahkan secarik lontar. D an sebelum Idayu sempat bertanya ia telah keluar dari bangsal wanita. G adis Awis Kram bil itu melangkah ke sebuah dam arsewu dan mem bacanya: “Idayu, kekasih si Kakang. Jangan kaget karena datangnya lontar ini. Di luar sana malam, Idayu, tetapi dalam hatiku kekuatiran yang atau kalah dalam pertandingan, tahu-tahu G usti Adipati mengh endaki dirim u…. Idayu, pujaan si Kakang, bagaimana akan jadinya?”

  Perawan perbatasan itu menghela nafas panjang. Lontar itu diciumnya, kemudian ia gulung kecil, ia tekuk. Ia lepaskan subang kiri dari kuping dan mem buka cepuknya. G ulungan kecil lontar itu dimasukkan ke dalamn ya subang itu dikenakannya kembali. Ia merangkak ke am bin dan turun lagi mengambil kantong tipis dari anyaman bambu. D ari dalamnya ia keluarkan selembar lontar dan sepotong besi menggurit. D engan penggurit itu ia mu lai menulis. Setelah selesai disekanya dengan jelaga pelita dan mu ncul tulisannya.

  Si bocah menongolkan kepala di pintu. Idayu menyerahkan lontar balasan. D am arsewu tetap menyala. Menurut aturan asrama, lampu harus tetap menyala dari surya tenggelam sampai terbit….

  G erom bolan orang di luar asrama sudah lama bubar dengan menyemaikan harapan untuk hari esok. D alam bangsal pria, si bocah Pada menyerahkan lontar balasan pada G aleng. Juara gulat tahun lalu itu tanpa sabarnya segera m embacanya.

  “Kakang G aleng, kakang si adik. Mem ang semua orang sudah bicara. Semua orang sudah tahu, Kang. Apa kau dan aku bisa perbuat, Kang? G usti Adipati tak dap at kita hadapi. Semoga yang ini tidak akan terjadi. Kelak kau akan terpilih jadi kepala desa, Kang, kepala desa Awis Kram bil. Aku akan jadi si embok lurah, ya Kang? Jangan pikirkan yang lain-lain kecuali pertandingan. Jangan malukan aku dengan kekalahan. Hyang W idhi m engabulkan, Kang.”

  G aleng menyorong lontar itu pada api damarsewu, terbakar, jadi abu. Ia pandangi Pada yang masih berdiri di samp ingnya. Juara gulat itu mengangguk, dan bocah itu pergi menghindar, meneruskan kewajibannya meronda ke sekeliling asram a.

  Bocah itu lebih suka berada di bangsal wanita. Ke sana pula ia pergi. Baru dua tiga langkah ia masuk terdengar canang bertalu tiada hentinya. Ia berhenti dan mendengarkan. Kemu dian terjadi yang diduganya: keri- butan terbit di dalam bangsal itu. Cepat-cepat ia masuk ke ruangan tidur. Para penghuni telah terbangun semua, bertanya satu pada yang lain: bunyi canang tak pernah masuk dalam acara.

  Pada berdiri tegak. Mata terarah pada Idayu yang juga berdiri bertanya-tanya. Ia angkat lengan, mem beri isyarat agar semu a tenang kembali. Lengannya yang bergelang m as diangkatnya semakin tinggi untuk mem am erkan perhiasannya.

  “Para mbokayu calon juara!” katanya lantang tanpa ragu-ragu, seperti pembesar berpengalaman, “jangan kaget jangan terkejut, jangan gaduh, jangan ribut. Canang itu mem ang belum ada pada tahu n yang lalu. Apalagi di malam hari seperti ini. Aturan baru, para mbokayu calon juara! Artinya, para mbokayu calon juara, pada malam ini kelihatan datangn ya kapal asing akan mem asuki pelabuhan .”

  “Mengapa dipukul terus seperti panggilan perang?” seseoran g bertanya. ‘Tidak ada perang. Tidak ada kerusuhan. Pertam a-tama sebagai pemberitahuan pada para pedagang pelabuhan supaya siap-siap dengan barang dagan gannya. Kedua untuk terpenting, para mbokayu calon juara: warta itu tertuju pada kadipaten, bukan pada asram a ini!” ‘Taluan canang itu lebih mirip dengan panggilan perang. ” seseorang membantah. ”Kalau betul ada kapal asing datang, tentulah kapal

  D emak.” “D emak?” “D emak m enyerbu dari laut?” “Tidak. Percayalah pada Pada ini. Tidurlah lagi semua mbokayu calon juara.” G adis-gadis itu terlampau mu dah diyakinkan dengan gerak gelang dan cincin Pada. Mereka kembali merangkak ke am binnya masing-masing dan meneruskan tidurnya. Idayu justru m endekati Pada.

  “Tidur, mbokayu. Kau begitu pucat. Beberapa hari lagi pertandingan dimulai,” tegur Pada sebagai pejabat. “Jangan katakan pada siapa pun tentang lontar tadi,” bisik gadis perbatasan itu tanpa mengindah kan teguran. “Apakah ada nampak olehmu Pada ini tak dap at dipercaya?” si bocah berbisik kembali. “Percintaan mem ang dilarang di sini mbokayu.” “Bukannya aku tidak percaya. Kalau samp ai terdengar ke sana….” Idayu menuding ke arah kadipaten, “apa bakal?”

  “Apa bakal jadinya?” ia mencibir, “Mbokayu celaka, Kang G aleng celaka. Aku lebih celaka lagi. Tentang yang sama itu bukankah Mbokayu sendiri yang tinggal pilih? Kang G aleng sendiri bisa apa? Mem ilih sudah tahu soal Mbokayu dan Kang G aleng, dan soal Mbokayu dengan yang sana?”

  “Kalau bicara semaum u sendiri, Pada. Tak ada terniat dalam hatimu untuk membantu aku dan Kakang?” Untuk pertam a kali dalam asrama gadis itu melihat mata si bocah, yang beberapa tahun lebih muda daripadanya itu, menyala-n yala memberahikannya.

  ‘Tak ada orang bisa mem bantu,” bisiknya berwibawa. “Hanya Mbokayu sendiri yang bisa menentukan, dan semua akan selesai. Bukankah Mbokayu seorang wanita di negeri sendiri?”

  “Kau benar, Pada,” ia mengalah setelah mengherani kebijaksanaann ya. “Akhir-akhirnya aku bukan satu-satunya yang pernah m enghadapi soal seperti ini. Si Mira dulu lebih suka menyobek perutnya. Si D am a lari ke negeri Atas Angin dengan Parta. Tapi mem ang tidak semudah itu, Pada. Kau harus membantu.”

  “Kalau kau sudah mem utuskan, tentu mudah untuk mem bantu.” ”Sudah, tidurlah, Mbokayu calon juara. Makin banyak melanggar aturan makin tidak baik,” dan ia pergi. Si lancang m ulut itu ke luar dari ruang tidur.

  0o-d w-o0 Pagi itu di ruangan latihan gulat tak ada seorang pun berlatih. Para calon petanding dan pengawasnya pada dud uk-duduk di atas tikar menghadapi sebuah meja rendah panjang yang belum lagi berisi sarap an. Mereka sedang mem ikirkan sesuatu . Tubuh mereka yang dipenuhi oleh gum palan oto t kuat sejak leher samp ai betis seakan bongkah an batu-batuan gunu ng yang terhem pas di pinggir jalan.

  “Kongso D albi!” seseoran g menyebut nama dengan dihembuskan. “Kongso – seperti nam a orang sebelah barat sana. Barangkali dia punya darah Jawa dari sebelah sana.”

  G aleng diam-diam mendengarkan untuk mengetah ui dud uk perkara. “D ia bukan Jawa. Juga bukan turunan Jawa. Keling pun tidak. Kata orang kulitnya putih, ram butnya sam a hitamnya dengan kita. Badann ya tidak lebih demp al, tidak lebih tinggi, juga tidak lebih besar daripada kita.”

  “Jadi siapa Kongso Dalbi?” akhirnya G aleng bertanya juga. “D asar tolol perbatasan, kau, juara tahun lalu. Apa guna oto tmu kalau tak pernah dengar nama Kongso D albi? D asar tolol perbatasan! Hanya Idayu saja tahu, itu pun bakal tak kau ketahui juga. Untuk selama-lamanya.”

  “Husy!” pengawas mendiamkan . “Kau, G aleng wajib tahu nama itu. Mem ang tidak patut tidak mengetah uinya. Kongso D albi… oran g Peranggi. Peranggi pun kau tidak tahu barangkali?”

  G aleng m enggeleng dan Boris mentertawakannya. “Peranggi,” pengawas mengu langi. “Ayoh, kalian, siapa tahu tentang negeri Peranggi? Ayoh katakan siapa yang tahu .”

  Tak ada yang menjawab. Boris pun tidak “Di mana negeri Peranggi, Pengawas?” “Aku tak segagah tidak sedempal kalian. Rasanya sudah

  “Jadi apa sedang kita bicarakan ini? Petai hampa? Ya, Boris? Petai hampa?” G aleng bertanya. “Tidak,” jawab Boris gagah, “ketahuilah, calon bekas juara, bahwasanya ada negeri di Atas Angin yang telah jatuh di tangan Peranggi. Sebuah negeri bandar. G oa nam anya. Bandar itu sekaran g dipergunakan jadi pangkalan kapal-kapalnya. Tak ada yang bisa mengalahkan kapai- kapai mereka. Bagaimana bisa kalau mereka sudah bubar sebelum mencoba? Tapi kau jangan coba-coba, Kang G aleng. D i darat mungkin orang-orang Peranggi akan jadi pisang goreng di tanganmu, kau kemah-kemah, kau banting. D i laut. Kang, kau hanya agar-agar belaka di tangan m ereka.”

  “Betul, G aleng,” pengawas mem benarkan. “Hanya agar- agar. Kau tak bakal bisa mendekat. Hanya mendekat! Tangan mereka terlalu panjang. Mereka bisa lemp arkan bola-bola besi berapi padamu, sebesar sukun! Coba, sebesar sukun! D an kau, Boris, perhatikan mu lutmu . Anak per- batasan juga punya kehormatan dan harga diri. Jangan suka mengejek tidak sepatutnya.”

  “Biar, pengawas, daripada kalah untuk kedua kalinya di gelanggang ada baiknya dia diberi kemenangan di luar gelanggang, ” G aleng m elepaskan anak panahn ya. “Biar dia bebas menggetarkan bibirnya sebelum lehernya patah.”

  “Husy,” cegah pengawas. “Kau pun sama saja, G aleng, uh. Kalian datang kemari untuk jadi petanding atau pembunuh? PUH! Kalian pulang ke desa masing-m asing untuk mem bawa keharuman, bukan berita kengerian. Jangan kalian lupa.”

  “Betul, pengawas, betul sekali. D an Kang G aleng,” kata Boris, “akan pulang, mu ngkin juga dengan membawa lenggang-kangkung tak lagi bergandengan dengan seperti datangn ya. Percaya sajalah. Sebagaimana surya terbit pada hari ini….”

  Tiba-tiba percakapan m ereka terputus oleh bunyi canang bertalu. Tak lama kemudian canang kadipaten menyahuti bertalu pula. D an apa pun yang sedang terjadi, menurut peraturan, yang berlatih tak diperkenankan berhenti sebelum sarapan pagi datang.

  Pengawas, yang mengetah ui pemuda-pemu da tani dan pekerja tak punya kekuatan sebelum sarap an, mengambil kebijaksanaan untuk mengobrol sambil menunggu. D an justru karena canang yang ram ai bersahut-sahu tan pengawas tak jadi meneruskan ceritanya, bahwa kapal- kapal Peranggi sudah mulai kelihatan berkeliaran melewati Singhala D wipa.

  D ari luar ruangan terdengar suara Pada berseru-seru seperti seorang pembesar “Para Mbokayu dan Kakang calon juara – sesuai dengan aturan, tahun ini – dengarkan baik-baik. Canang dari pelabuhan berarti: nakhoda dengan atau tanpa saudagar dari kapal semalam sudah berlabuh. Sekarang sudah siap mengh adap G usti Adipati Tuban. Canang kadipaten yang menyahuti menan dakan: G usti Adip ati siap dihadap. Jangan gaduh, jangan gelisah. Tidak ada apa-ap a. Hanya barang siapa ingin mengintip untuk melihat iring-iringan penghadap – kalau bisa mengintip – tapi jangan rusakkan pagar – jangan lewatkan kesemp atan!”

  “Barangkali Kongso D albi!” Pengawas menyarani. Mereka berlompatan berebut dulu meninggalkan ruangan latihan, lari ke luar gedung. Seperti dengan sendirinya baik gadis maupun perjaka mengisi pelataran depan dan bingung m encari lobang pada pagar. M ereka tak tum pukan batu atau kayu. Yang mendapatkan tangga berseri-seri dengan keunggulannya dan menebah dad a dengan kemenan gann ya.

  Melewati pagar kayu tinggi itu orang melihat alun-alun yang lengan g seperti biasa pada siang atau pagi hari. Jalan- jalan raya pun senyap. Sebuah iring-iringan kecil menuju ke kadipaten. Beberapa orang yang sedang lewat tidak bersim puh menghormati iring-iringan, tetapi berhenti menonton.

  Palin g depan dalam iring-iringan itu berjalan Syahbandar Tuban Ishak Indrajit, yang lebih biasa disebut Rangga Ishak. Tubuhnya yang jangkung itu berjubah dan bersorban putih. Sedikit di belakangn ya berjalan seoran g nakhoda berbangsa Arab, berjubah dan bersorban coklat muda. Pada pergelangannya m elingkar akar bahar besar. Ia berterompah seperti halnya dengan Syahbandar. Langkahnya tenang sambil mem belai-belai jenggot yang sangat tebal lebat dan kepalanya selalu menundu k seakan sedang menghitung setiap batu yang dilewatinya. D i belakangn ya menyusul para pemikul. Barang-baran g yang dipikul selalu jadi pergunjingan . Orang mendapat kesemp atan m enaksir-naksir berapa dan apa macam yang bakal dipersembahkan. D an orang bertaruh.

  Canang kadipaten bertalu satu-satu, pertanda iring- iringan melewati gapura kadipaten. D an para pengintip meninggalkan tempat masing-masing dan berlarian kembali ke dalam asram a untuk m endapatkan sarap an.

  0o-d w-o0 Pada siang hari berita tentang kedatangan tam u itu meniup cepat. Benar ia seorang saudagar Arab, bukan jadi penterjemah. Persembahannya berupa permadani terindah dari Bagdad dan Ashkhabad untuk peraduan G usti Adip ati Tuban dan untuk keputrian. Kemu dian: batu-batu perm ata dari Arabia, Birm a dan Singhala D wipa, kain khasaa dari Benggala, sutra Tiongkok, madu Arabia yang tiada tandingan, tembikar, kertas, kasut sulaman putri-putri Mesir dan Alqur’an. Lebih dari itu orang tak tahu.

  Tam u itu agak aneh, kata warta yang datan g m eniup. Ia telah mem ohon diperkenankan mempersembahkan sesuatu tanp a dihadiri atau didengar oleh siapa pun. Juga tidak diperlukan penterjemah.

  “Jadi dia bisa Melayu!” seseorang m emberi kom entar. “Mu ngkin juga pintar Jawa,” yang lain m enambah i. Persoalan baru itu tidak m enarik orang. D i dalam ruangan latihan G aleng berdiri di dekat sebuah meja rendah panjang yang kini telah ditaruhi cobek-cobek tanah berisi telur dan buah-buahan, penganan serta cawan minuman dan madu lebah. Para calon petanding pada mem perhatikan gelang dan cincin mas Pada: Bocah yang punya gaya pembesar itu cekatan dalam mengatur letak makanan dan minum an: Hanya G aleng mem perhatikan airmukanya.

  “Madu dan telor mem ang cukup, Pada,” tegur juara gulat dari Awis Kram bil itu. ‘Tuak tidak. Tuak, Pada. Barangkali kau sendiri yang menghabiskannya.” “Ya, tuak! Tuak!” yang lain-lain m embenarkan.

  “Tuak dilarang di sini!” Pada m emekik sengit dan keras, berdiri tegak menan tang mata setiap orang: Ia tahu tak ada di antara pegulat-pegulat itu berani meletakkan tangan pada seorang pejabat: D an ia seorang pejabat terpercaya dari dengan pelayanan ku. Bukankah ada juga tuak kumasukkan untuk para Kakang? Apa tak juga mencukupi layananku? Tuak dilaran g, kataku.” “D ulu tak begitu banyak larangan,” G aleng m emprotes.

  “Mem ang. Kang G aleng tidak keliru: D ulu, dulu – sekarang, sekarang. D aging babi pun sekarang sudah tak boleh dihidan gkan di sini. D i asrama sini, juga daging anjing.”

  “N am paknya di Kota ini hanya larangan saja yang ada,” G aleng m engancam . “Belum lagi semua aku katakan. N anti sore akan diresmikan larangan baru: orang tak boleh lagi mem ahat batu. N anti sore.” D an suaranya meningkat keras. “Kalau tidak percaya, dengarkan sendiri nanti di alun-alun. Juga itu belum semua. Semua batu berukir di dalam kota harus dikumpulkan di alun-alun – besok samp ai lusa, sebelum perlombaan dimulai. Akan dibuang ke laut!”

  “Apa salahnya batu -batu itu? “Salahnya, karena mereka berukir!” jawab Pada ketus. “Kata orang, G usti Adipati Tuban merasa segan terhadap putranya, Raden Said, yang sudah jadi pandita besar Islam, jadi guru pembicara di m ana-m ana, jadi Ulama, kata oran g. D an batu berukir dalam peraturan Islam, katanya, baran g- baran g jahat.”

  Mereka tak menyedari, Boris dengan diam-diam mendengarkan dan mendekati mereka: Matanya menyala- nyala berang. Tiba-tiba ditariknya meja rendah panjang itu dan ditekuk-lipatnya dengan kedua belah tangan sampai gemertak patah. Cawan-cawan dan cobek beserta isinya jatuh pecah berham buran di lantai. D engan mata mem belalak ia lemparan m eja remuk itu pada dinding.

  Orang terkesim ak. Boris jadi pusat perhatian. Pegulat penantan g itu berdiri di tengah-tengah ruangan. Seluruh oto tnya di dada, perut, pinggu l dan punggung bermunculan tegang seakan bersiap hendak bertarung. Kedua belah tangannya kini terangkat sampai bahu, juga penuh bergum palan otot. Lututnya ditariknya jadi siku-siku, siap hendak menerkam siapa saja yang datang. Tak ada orang datang menyerang. Yang ada justru sesuatu yang tak nam pak: kekuasaan Sang Adipati. Kekuasaan mu tlak seorang raja yang tak dap at ditawar tak dap at diketeng, utuh bulat tiada retak tiada rekah.

  “Mengapa marah, Boris?” Pada mencoba m eredakan. Ketegangan pada wajah dan otot Boris lambat-lambat jadi kendur. Suatu kemurungan menggantikannya. Ia menundu k dalam. Tanpa mem andang pada siapa pun keluar kata-kata sendu: “Mem ahat batu dilarang. Lantas harus kerja apa aku?” “Itu baru warta, Boris,” kata Pada lunak.

  “Sejak kecil,” Boris mengadu dengan suara tetap sendu, “bapakku mengajari aku mem ahat. Keluarga kami hidup dari pahatan, turun-temu run. Mengapa oran g tak boleh mem ahat lagi? Mengapa? Apa jahatnya batu-batu berukir itu?”

  G aleng tak mem perhatikan kata-kata itu. Ia terheran- heran melihat kekuatan penantangn ya. Tahun yang lalu ia belum sekuat itu. Sungguh lawan bertanding yang bisa mem atah kan lehernya.

  Boris berjalan m ondar-mandir dalam beran gnya. “Teduh! Teduh!” kata G aleng menghibur. “Pada belum lagi selesai dengan wartanya. Teruskan, Pada.”

  “Bagaimana wajah dun ia tanpa gapura?” Boris mengaum. “D ewa-dewa pun akan enggan turun ke bumi. Hancurkanlah gapura kahyangan, dan para dewa akan pindah ke tempat lain” Ia tutup mu kanya dengan kedua belah tangan seperti sedang memanggil-manggil kekuatan dari luar dirinya. Suaranya keluar lagi, seperti tangis bayi, tanp a daya: “Pindah entah ke mana para dewa itu. Celakalah manusia bila para dewa tak mau tahu lagi. Apakah G usti Adipati sudah bertekad melawan para dewa?”

  Lam bat-laun G aleng mengerti, pernahat penantan gnya sama halnya dengan dirinya: sedang mengh adapi kekuasaan yang tak dapat dilawan. D irinya dan Boris tak ubahnya seperti bayi tanpa daya. Ia jadi iba terhadapnya, juga terhadap diri sendiri. Ia rasai kesamaan nasib. Ia dekati Boris, dan: ‘Teduh, Boris. Teruskan, Pada, yang jelas.”

  “Begitulah kata warta,” Pada meneruskan dengan hati- hati matanya tertuju pada Boris. “Semua bangunan batu di atas wilayah Kota, gapura, arca, pagod a, kuil, candi, akan dibongkar. Setiap batu berukir telah dijatuhi hukum buang ke laut! Tinggal hanya pengumu mannya. ”

  “Biadab! D isambar petirlah dia!” Boris meraung, seakan batu-batu itu bagian dari dirinya sendiri. “Dia hendak cekik semua pernahat dan semu a dewa di kahyangan. D ikutuk dia oleh Batara Kala!” Tiba-tiba suaranya turun mengh iba- hiba: “Apa lagi artinya pengabdian? Biadab! Aku pergi! Jangan dicari. T ak perlu dicari!” M eraung: “Biadaaaaab!”

  Ia lari keluar ruangan, langsung menuju ke pelataran depan. Diangkatnya tangga dan dengannya melangkahi pagar papan kayu.

  D ari balik pagar orang berseru-seru: “Lari dari asrama!

  “Siapa? Siapa? Pegulat, ya, pegulat?” “Boriiiiiis! Mau ke mana kau? Kembali!” Sebentar kemudian seruan-seruan terdengar menggelom bang dan bergum ul jadi satu, tak dap at ditangkap maksudnya. Suatu pertanda orang sudah mu lai menggerom bol lagi di depan asrama.

  Mereka yang tertinggal masih juga term angu-man gu. G adis-gadis mulai menyerbu ke dalam ruangan latih an gulat.

  “G ila mendadak!” jawab Pengawas. “Biar saja dia pergi.” Seperti telah ada persetujuan bathin. “Pergi. Itu lebih baik.”

  G aleng m elemparkan pandang pada tangga. Ia juga ingin bebas, lari seperti Boris. D an itu tidak mu ngkin. Hatinya terpaut pada Idayu….

  Keadaan tenang sampai malam turun pelahan -lahan langit dan menyelebungi bumi. Melalui pintu pagar samping, dengan iringan beberapa orang pengawal bertom bak tanp a perisai, Sang Adipati mem asuki asrama. Ia berjalan langsung menuju ke bangsal wanita.

  D am arsewu yang mem ancar di setiap pojokan tidak mengacuhkan kedatangannya. Para calon petanding pada bergolek-golek di atas am bin sambil mengobrol. Melihat Sang Adipati masuk semua melompat turun, bersimp uh di lantai dan mengangkat sembah.

  ‘Idayu! Mana Idayu!” panggil Sang Adipati. “Mana Idayu Awis Kram bil?”

  Alis, kum is, jenggot dan camban gnya yang putih

  “Idayu, kekasih Tuban! Mendekat sini, kau, G adis!” Sesosok tubuh merangkak beringsut-ingsut mengh ampiri kaki Sang Adipati. Tubuhnya menggigil seperti kucing habis tercebur dalam comberan. D engan tangan menggigil ia mengangkat sembah untuk ke sekian kali, kemudian bersujud mencium kaki Sang Adipati sebagaimana di- ajarkan oleh tatakrama.

  “Bawalah keharum an dari Tuban, semua kalian! Kau juga, Idayu, kekasih Tuban. Jangan mengecewakan. Tidurlah kalian pada waktu yang sudah ditentukan. Beberapa hari lagi kau dan kalian akan bertanding. D an kau, Idayu, kau bertekad jadi juara lagi tahun ini? Juara tiga kali berturut?” “Inilah patik, G usti Adipati Tuban,” jawabnya gemetar.

  “Ru panya sudah cukup dewasa kau sekarang. Belum lagi cukupkah jadi juara dua kali berturut?” “Ampun, G usti Adipati Tuban. Patik sekedar menjalankan putusan rapat desa,” suaranya masih juga gemetar.

  “Kalau sudah jadi putusan rapat desa, tak dapatlah orang menolaknya?” “Ampun, G usti Adip ati Tuban, sesembahan patik. Patik takkan sanggup hidup di luar desa patik, G usti. Iagi pula apalah buruknya menjalankan keputusan rap at desa, G usti?” Sang Adipati tertawa senang.

  “Kata-katam u sudah seperti orang kota. G adis. Bagus. Bukankah Tuban Kota lebih baik daripada desamu ? Pasti lambat-laun kau akan lebih suka tinggal di sini.”

  Menurut tatakram a yang diajarkan, apa pun yang telah dititahkan oleh Sang Adipati, orang tak boleh mem bantah. Orang hanya mengiyakan sambil mengangkat sembah. Mendapat teguran saja dari seorang raja sama halnya dengan menerima karunia dari para dewa.

  Idayu bergulat dengan kata hatinya sendiri. Bumi yang ditundukinya menjadi pengap. Tak diketahuinya kaki penguasa sudah tak ada di hadapannya.

  Sang Adip ati telah meninggalkan asram a dan mem asuki kegelapan malam.

  0o-d w-o0 Melalui jalan belakang Sang Adip ati menuju ke sebuah tam an di belakang kadipaten yang terletak di tentang kandang gajah pribadi D udu k ia di sana seorang diri dalam kerum unan nyamu k.

  Para pengawal bertugur di kejauhan D an inilah waktu untuk menyendiri baginya. W aktu seperti ini dipergunakann ya untuk mengingat- ingat Juga untuk merancang-ran cang. Juga sekarang ini. N am a saudagar Arab yang mem ohon m enghadap sendiri itu tak juga dapat diingatnya. Ia mencoba dan mencoba. Tanpa hasil. N ama itu terlalu sulit, terlalu panjang. Di antara deretan nam a itu ia pun tak tahu, mana gelar mana tidak. Bahasa Melayunya lancar, indah dan paut. Alqur’anul Karim yang patik persembahkan, ya G usti, adalah dari Mu fti Besar Hayderabad, dengan harapan sudi apalah kiranya G usti Adipati Tuban daiam berpegangan pada kitab suci ini serta memikirkan umm at Islam di Atas Angin sana. Tuban dimasyhurkan di Atas Angin sebagai kerajaan terkuat di Jawa setelah Majapahit. Raja-raja Islam mem punyai harapan besar G usti Adipati Tuban melim pahkan kesudian yang tiada keringnya. Ya, G usti, arm ada Peranggi tak henti-hentinya berusaha mengu asai dan menaklukkan kerajaan-kerajaan sekepercayaan sepan- jang pantai. Bila kekuatan mereka tak dibendung bersama- sama, ya Allah, pastilah Allah jua yang akan mengh ukum semua kita, karena tak berbuat sesuatu terhadap angkara si kafir. Bila mereka tidak dibendung, ya G usti Adipati Tuban, entah kapan, jalan-jalan pelayaran akan dikuasai semua olehnya. Mereka takkan berhenti sekalipun sudah mengu asai semua bandar. Bila mereka samp ai ke Jawa, matilah sudah semua pelayaran, matilah perdagangan, matilah bandar-band ar. Yang tinggal hanya Peranggi dengan angkaranya. Seluruh ummat Islam bisa kehilangan perlindungan, kekafiran akan menang. Mereka akan menumpas ajaran Rasulullah s.a.w.

  Sang Adipati masih ingat setiap kata dari persembahan itu. Juga baran g-barang persembahan yang berasal dari empat orang raja Atas Angin, semu anya Islam.

  D ari persembahan itu ia menarik dua hal, pertama Tuban diakui juga sebagai kerajaan terkuat di Jawa, dan kedua ia dianggap sebagai raja Islam. Ia tersenyum dalam kegelapan dan menganggu k-anggu k senang. Mereka tidak tahu , satu wilayah Tuban telah diramp as oleh kerajaan Islam, D emak. D an aku tidak mengerti, bagaimana banyak aturan aku titahkan untuk mem buat penyesuaian dengan D emak. Ia semakin tenggelam dalam pikiran nya.

  Jauh, jauh di sana, mereka sudah mengakui keislamanku. Dan karenanya mereka menuntut, berdasarkan keislamanku, agar aku ikut memikirkan dan bersumbang tangan. Ya-ya, Islam telah banyak mengu n- banyak untuk mem pertaru hkan Tuban dalam suatu peperangan? Ia m engggeleng lemah. Perang tidak mengu ntungkan. Tidak mengu ntungkan!

  D emak masih haru s diemong untuk tidak jadi binal. Jepara jatuh, tapi dalam hidupku, aku bersump ah, bukan saja Jepara akan kembali di tangan, juga seluruh D emak. Tidak dengan perang. Rempah-rempah dari Tuban takkan mem asuki Jepara dan Semarang! D an apa yang terjadi di Atas Angin sana, bukan urusan Tuban untuk mencam puri.

  Kemu dian ia mulai pikirkan untuk kesekian kalinya keadaan baru yang menggelom bang di Atas Angin. Keadaan baru harus dihadapi dengan persiapan baru. Bandar tetap jadi inti persoalan. Peranggi dan Ispanya pasti akan datang. Syahbandar harus seorang yang pandai melayaninya. Ishak Indrajit alias Rangga Iskak tak pandai berbahasa Peranggi dan Ispanya. D ia haru s diganti. Bangsa dan kapal unggul yang digentari harus dilayani oleh seorang yang bijaksana dan tahu segala. Jelas itu bukan Rangga Iskak.

  D alam kegelapan itu terdengar ia mendengus tertawa, teringat pada persembahan Sang Patih, ‘Bergabung dengan negeri-negeri lain, G usti, dengan semua kerajaan Islam, bersama-sam a mengh ancurkan Peranggi dan Ispanya. Menurut patik, ampunilah patik, ya G usti Adipati sesem- bahan patik, itulah satu-satu nya jalan menyelamatkan Tuban. D an Sang Adipati bertanya, ‘Juga dengan D emak?’ Sang Patih m enjawab, ‘Sementara D emak harus dilupakan, G usti, Peranggi dan Ispanya lebih berbahaya, lebih mem atikan’

  Sang Adipati senang mendengarkan setiap pikiran, terimakasih. Tapi dengan diam-diam ia lebih suka mencari jalan sendiri. D engan demikian baginya berdikari menjadi semacam olahraja.

  Sebaliknya setiap laporan ia dengarkan sungguh-sungguh tanp a senyum tanpa tawa, tanpa terimakasih. D ari semuanya paling banyak ia am bil separoh sebagai kebenaran . Tak ada punggawa yang tulus sepenuhnya, ia berpendirian. Sebagian dari ketulusan mereka hanya bea untuk keselam atan diri dan kepunggawaannya. Malahan laporan dari para punggawa yang berasal dari rakyat kebanyakan ham pir tak pernah ia gubris. Menurut pendapatnya, orang menjadi berbangsa karena justru punya kehorm atan, dan rakyat kebanyakan itu bukan saja tidak punya, juga tak tahu kebenaran.

  Syahbandar haru s diganti, apa pun biayanya. D an itulah keputusannya m alam ini.

  0o-d w-o0 Pada waktu Sang Adipati sedang mengu kuhkan kebijaksanaann ya dalam kegelapan tam an, lain lagi yang terjadi pada diri Syahbandar Tuban, Ishak Indrajit alias Rangga Iskak Ia sedang gelisah di kesyahbandaran.

  Hari ini ia telah dijengkelkan oleh tam u yang seorang itu. Saud agar Arab! Kecuali yang berhubungan dengan agama ia seorang pembend Arab. Setiap orang Arab mengingatkannya pada abangnya yang telah jatuh sebagai Syahbandar Malaka, terpaksa merantau dan mati dalam perantauan. Kejatuhannya disebabkan oleh kelicikan seorang Arab.

  D an sekarang Abud, saudagar Arab itu, harus ia layani kebutuhann ya selam a tinggal di Tuban. Baru saja datang, dan ia sudah menimbulkan kecurigaan: mohon menghadap sendiri tanpa penterjemah, tanpa saksi. Ternyata ia bukan tidak bisa berbahasa Melayu!

  Tadi ia telah panggil Yakub agar datang mengh adap padanya. D an sekarang ia sudah berdiri di pintu, mem bungkuk dan beruluk salam: “Assalamu alaikum, ya Tuan Syahbandar!”

  Ia bergum am menjawabi dan melambaikan tangan menyuruh masuk. Ia tak pernah menyilakannya dud uk. Kursi adalah benda kebesaran, juga di Tuban Kota, terutam a di kesyahbandaran. Ia mengangguk memerin- tahkan Yakub mendekat. Kemu dian: “Apa yang bisa kau katakan, Yakub?” tanyanya tajam dalam M elayu.

  Yakub berperawakan kecil, berum ur sekira dua puluh delapan menurut perhitungan bulan, tak berkumis, tak berjenggo t, licin seperti mu ka belut. Ia tertawa. D an tawanya selalu mengesani mengentengkan segala perkara, dan : kurangajar.

  “Tuan Syahbandar sendiri semestinya sudah tahu .” jawabnya dalam Melayu juga. “Sang Adipati sudah mem erintahkan penyingkiran peninggalan Hindu. Mem ang orang bilang, putranya sendiri memesan itu, Tuan, Raden Said, sekarang sudah mengenakan gelar aneh Ki Aji

  

Kalijaga. Orang Jawa memang sulit Tuan Syahbandar,

  maksud menggunakan gelar berbahasa Arab, tapi lidah Jawanya mem ang lidah kafir terkutuk: Bukankah kali itu yang dimaksudkannya Kholik?” ‘

  Rangga Iskak bertanya tajam: “Bukankah kau tahu bukan itu yang kutanyakan?”

  “Yang tadi itulah, Tuan. Ada keanehan dalam pesanan itu: Klenteng dan Pecinan tidak boleh diganggu!” Sekarang Syahbandar yang tertawa. D engan kedua belah tangan ia menepuk-nepuk dadan ya sendiri, berputar mem balikkan badan dan meneruskan tawanya.

  Terkena sinar tiga batang lilin yang m enyala pada kandil kelihatan Yakub terheran-h eran. “Tuan m engetawakan Yakub?” tanyanya menuduh . “Apa yang lucu padamu ?” Rangga Iskak tertawa di antara tawanya. “Tak pernah kau nam pak setolol sekarang. ” “Laporan Yakub salah?” ‘Tidak. Tak pernah aku menyalahkan keteran ganmu. Apa lagi yang dapat kau katakan sekarang?”

  Yakub mem perbaiki sikapnya. Ditarik-tariknya ujung- ujung bajunya yang kom bor putih. Ujung hidungn ya yang mancung bercahaya bergemuk mem antulkan sinar lilin. N am paknya ia sedang mengu asai suasana dan bersikap resmi.

  “Ada sesuatu yang lebih penting,” bisiknya sambil mendekatkan mulutnya pada kuping Rangga Iskak. Tapi sekalipun ia sudah bersitinjak dengan kaki dan mendongakkan mu ka, jarak antara mu lutnya dan kuping Syahbandar masih terpaut sejengkal.

  Rangga Iskak menelengkan kepala ke atas, seperti seekor ayam sedan g m elirik pada elang di langit. “Ada sesuatu yang lebih penting, Tuan Syahbandar. Sungguh mati. Keterangan penting patut dihargai satu dinar. Sedinar saja, Tuan Syahbandar,” ia menjauhkan pandang menuntut “Apa kau kira aku nenekmu sendiri, pembikin dinar? Apa kau kira satu dinar sedikit? Em pat kali belayar belum tentu kau memperolehnya. Kalau keteran gan itu tentang pembicaraan saudagar Abud dengan Sang Adip ati, apa boleh buat. Sekarang juga kukeluarkan.”

  “Sayang tidak, Tuan, tapi ini lebih penting dari segala- galanya.” “Jangan coba-coba bohon gi aku, kau, penipu. Abud, saudagar Arab itu, sama sekali tidak mem bawa atau mengambil barang dagangan. Pasti dia bukan saudagar, dan karenanya lebih penting dari segala-galanya.”

  “Tidak, Tuan Syahbandar. Yang belum kukatakan ini justru yang terpenting. Satu dinar.” Syahbandar namp ak ragu: Pandangnya ditebarkannya ke seluruh ruangan. Selam a ini keterangan Yakub selalu benar. D an biar bagaiman apun sedinar terlalu mahal. Ia tatap mata pewarung tuak dan ciu-arak itu, dan ia mu ak pada sikapnya yang kurang-ajar dan menantang. Ini sudah pemerasan, pikirnya bukan lagi minta upah. Kalau dibiarkan, dia akan menjadi-jadi.

  “Satu dinar tidaklah banyak untuk keteran gan penting,” Yakub merajuk. “Bukankah aku tak perlu menunggu begini lama?”

  Pertah anan Rangga Iskak patah. D engan berat hati ia keluarkan mata uang mas dari pundi-pundinya. D ilemparkannya pada orang muda yang menjijikkan itu sambil menyumpah.

  Yakub menan gkapnya, mengu jinya di bawah lampu, tersenyum, dan mem asukkannya dalam pundi-pundinya sendiri, mengikatnya dan mem asukkannya ke dalam ikat pinggang di balik baju kom bornya, memperbaiki letak baju itu dan menebah pinggang.

  “Kalau Tuan lebih sayang pada dinar yang satu ini, mu ngkin tahu -tahu Tuan sudah kehilangan jabatan Tuan.” “Husy!” bentak R angga Iskak tersinggung. “Katakan” “Baik, Tuan, dengarkan sungguh-sungguh,” dengan bisiknya Yakub mem inta perhatian sambil mencoba mencari kuping tuanrumah dengan mu lutnya. “Pada sore hari ini juga, Tuan, Sang Adipati telah mengirimkan utusan ke T ran tang. Aku sudah tahu sesungguhnya isi perintah itu: mu lai besok harus sudah dipersiapkan pembikinan delapan belas cetbang baru.”

  “Itu beritamu yang terpenting?” “Betul, Tuan. Perang akan terjadi. Perwira-perwira telah mendapat perintah untuk bersiap-siap. Pemeriksaan atas anak buah sudah dimulai sejak jatuhnya perintah.”

  “D alam berapa lama cetbang harus selesai?” “Tidak jelas.” Syahbandar mengawasi bibir Yakub. Tapi bibir itu sudah tak bergerak lagi, seakan setiap kata yang keluar daripadanya telah diperhitungkan harganya. Mengerti Yakub takkan bicara lagi ia mengalah. Bertanya: “Adakah Sang Adipati sudah berkunjung ke asrama wanita?”

  “Ada, Tuan, baru sebentar tadi.” Ia sorong Yakub. Orang itu keluar dan hilang ke dalam kegelapan . Rangga Iskak berkecap-kecap menyesali dinarnya yang berpindah tangan . D engan kecewa ia kunci pintu dari dalam, kemudian dudu k termenung di atas bangku bantal kulit onta dan tak henti-hentinya bergumam: Tuhan akan kutuki kau, Yakub! Apa yang kau dapatkan dari dinar itu jadilah tuba dalam tubuhm u.” D engan lemas ia masih juga berkecap-kecap menyesal setelah mengetahui Sang Adipati berkunjung ke rumah asram a wanita. Ia punya pedoman: Apabila Sang Adipati masih mempunyai perhatian pada wanita baru, sesuatu yang bersungguh-sungguh tidak akan mu ngkin keluar dari pikiran nya.

  Cetbang-cetbang itu pastilah bukan sesuatu yang dirahasiakan, pikirnya. Sengaja dibuat demikian rupa agar semua orang tahu, terutama saudagar Arab si Abud keparat itu diharapkannya terbawa ke Atas Angin….

  Pikiran iblis! Laknat! Pikiran licik! Tapi aku tak bisa kau tipu. Rangga D emang! Yakub bisa, tapi aku tidak. Adipati Tuban, Ishak Indrajit ini tak bisa kau tipu! Kau boleh berlagak cerdik, tapi hanya Pribumi kawulamu yang bisa percaya! Ha, dengan cetbang-cetbangmu itu sekaligu s kau hendak menggertak D emak. Tapi siapa pun tahu kau lebih suka berdagang daripada berperang. Tua bangka tak tahu diri! Sekarang aku baru mengerti mengapa si Boris itu lari dari asrama. Siapa tak kenal Boris pernahat terkenal itu? Peninggalan Hindu harus disingkirkan. Si pernahat jadilah seperti Syahbandar kehilangan bandar. Ya-ya, dia lari sebagai protes. Tapi kau jangan anggap dapat m udah untuk kelabui aku, Rangga D emang! Pesan Raden Said alias Ki Aji Kalijaga itu pasti juga tidak ada. Kau hanya mengh endaki dibenarkan keislamanm u. Kau tetap kafir. Tapi kau mem ang cerdik seperti selam a ini. Ru ntuhnya Majapahit juga karena kecerdikanm u!

  Tiba-tiba ia terdiam. D an mengapa kelenting dan Pecinan tak boleh dirusak? Tulisan cina itu juga sama dengan Hindu, m engapa tak boleh dirusak? Ia berdiri untuk mengambil kitab catatannya. Tak jadi, dan dud uk kembali. Ia m engangguk-an gguk mengerti.

  Pecinan Tuban Kota bersetia pada Lao Sam, yang oleh penduduk; disebut Lasem. Lasem bersetia pada Samp o Toa- lang, yang oleh pendud uk disebut Semarang. D an Semarang yang m endirikan kerajaan D emak untuk menjadi bentengnya terhadap Tuban.

  Kau benar-benar cerdik, Rangga D emang! Anak-an akmu pada mengabdi pada D emak. W aktu D emak merampas Jepara untuk berkokok pada dunia dia tidak takut pada Tuban, semua anakm u yang di D emak diam.

  D an karena semua itu aku kehilangan satu dinar! Keparat si Yakub!

  Malam itu Rangga Iskak lebih banyak menggiliri istri- istrinya di kamar-kamar belakang. Nam un setelah itu ia tetap sulit memicingkan mata. Dinar yang satu itu juga yang terbayang-bayang, menggelincir tanpa guna. Setelah sembahyang subuh baru ia mendapat ketenangan sedikit. Ia telah berdoa m emohon rezeki yang berlimp ahan

  Ketenangan itu tiada lama um urnya. Beberapa bentar kemudian saudagar Abud m uncul untuk minta diri. “Bagaiman sikap Tuan Syahbandar kalau mu suh Islam,

  Peranggi dan Ispanya, menyerang Tuban?” tanyan ya dalam Arab.

  “Mana mungkin, ya Abud?” “Bagaimana tidak mungkin? G oa jatuh. D an Malabar. Mereka terus mendesak ke timu r. Sedang kita bicara begini Singhala pun sudah jatuh,” Abud meneruskan dalam rem bang fajar di depan pintu gedung. ‘Tuban terlalu jauh, ya Abud, ” jawabnya tak acuh.

  “Benggala pun jauh dari Peranggi.” “Aku hanya Syahbandar, bukan raja.” “Setiap Syahbandar yang cerdik bisa lebih dari raja,” katanya menyaran i. “D emi Allah, Tuan Syahbandar mampu mempengaruhi Sang Adipati untuk sudi bergabung dengan kerajaan-kerajaan lain, kerajaan Islam, melawan mereka. Allah mem berkahi Tuan”

  Pembicaraan pendek itu selesai dengan kepergian Abud ke jurusan pelabuhan . “Arab, jih!” Rangga Iskak meludah ke tanah. “Setiap gerak, setiap omongan, setiap… semua menutupi tangannya yang merogo pundi-pundi oran g.”

  Pand angn ya tertebar ke mana-m ana, menem busi halim un tipis pagi hari. Matari pun mu lai terbit. Samar- samar nampak olehnya kedai tuak dan ciu-arak Yakub yang masih tutup.

  “D ia sedang menikmati dinarku, iblis keparat itu. Terkutuk bapaknya, terkutuk Pribumi ibunya.”

  Kemu dian ia berjalan menuju ke m enara pelabuhan dan naik. Dilihatnya penjaga-penjaga menara dua orang itu sedang tidur nyenyak. Ditebarkan pandangnya pada kapal- kapal yang sedang berlabuh. D an ia lihat Yakub sedang turun dari kapal si Abud.

  “Si keparat itu tentu sudah mendapat dinar lagi. Awas, kau, bedebah!” Tak dapat ia menah an am arah nya. D ipunggunginya pelabuhan . Diangkatnya kaki kanann ya. Teromp ahnya yang tua itu mem bikin ia ragu-ragu. Cepat ia alahkan keraguan nya. Kaki itu turun cepat menumbuk perut penjaga m enara berganti-ganti.

  “Kafir!” makinya dan turun lagi.

  0o-d w-o0

  Armada Portugis itu berlabuh jauh, jauh, terlalu jauh dari dermaga. Matari pagi sedang mengu sir halim un yang masih melembayung di seluruh Malaka. Layar kapal-kapal dan … Pribumi masih dalam keadaan tergulung.

  Tiang-tiangn ya menuding langit yang tebal karena halim un. D an matari sendiri baru beberapa derajad dari perm ukaan bumi. Sinar-suram nya yang berpantu lan pada perm ukaan laut berpendar-pendar lesu.

  Jauh di bandar Malaka sana perahu-perah u dan kapal- kapal itu masih pada tidur, berayun-ayun malas dibuai om bak. Hanya perahu-perahu nelayan kecil-kecil nampak hidup. D an kalau pandang diangkat naik ke darat, mata akan menamp ak atap-atap injuk, ilalang dan sirap dari bedeng-bedeng pelabuhan . Jalanan-jalanan nampak merupakan garis tipis kuning. Hanya beberapa orang kelihatan m ondar-m andir. Semua pria.

  Lubang-lubang bulat pada lambung kapal-kapal Portugis mu lai terbuka. Mo ncong-moncong meriam mu lai bermunculan dari sebaliknya, Terdengar kemudian yang banyak diceritakan orang: pekik bersama Mariam. Meriam

  • – meriam bergelegaran . Api bersemburan dari moncong- mo ncongnya. Peluru besi beterbangan, mem bentuk kerucut udara dengan bola-bola besi sebagai matanya. Semua menuju ke bandar M alaka.

  Atap injuk, ilalang dan sirap di bandar Malaka sana mu lai terbakar. Api menjalar, berdansa dengan angin yang cendawan raksasa, dengan beratnya naik pelahan ke atas, mem bikin kelam udara yang kelabu.

  Ketenangan pagi itu lenyap dalam dentum an meriam, api, asap dan kebalauan. Perang Salib dari beberapa abad yang lalu kini tersasarkan pada kesultanan Malaka.

  Perahu -perahu nelayan yang sedan g pulang ke pangkalan berham buran lari tak jadi menuju ke bandar. Perahu dan kapal lain yang tertidur hangat dalam belaian matari pagi, nyenyak dalam ayunan ombak, mu lai menggeragap, menaikkan layar masing-masing, berhamburan mencoba melarikan diri dan keselam atan.

  Bola-bola besi dari kapal Portugis tak mem biarkan mereka lolos. D alam hanya beberapa bentar perahu dan kapal kayu itu pun pada pecah atau menungging, hilang dari pengelihatan, ditelan laut.

  Kapal-kap al dari armada kebanggaan Malaka masih juga belum bergerak, seakan masih terbuai dalam mimpi indah. Tak kurang dari sebelas jum lahnya. Konon kabamya sebagian besar dari kesatuan ini dulu biasa dipimpin oleh Laksamana Hang Tuah. D an tak lebih dari tiga puluh bentar, arm ada kebanggaan itu pun seluruhnya tenggelam ke dasar laut.

  Kebakaran sedan g m enjadi-jadi di darat sana. D ari laut nampak jalanan-jalanan pasir kuning pelabuhan mu lai hidup dengan orang-orang yang bcrlarian kebingun gan. Di antara mereka namp ak juga wanita yang menarik-narik atau menggendong anak. Mereka lari meninggalkan daerah pelabuhan. Sebarisan prajurit bertom bak mu ncul di dermaga, berhenti pada akhir jalanan yang terputus oleh laut, mengacu-ngacu senjatanya ke arah arm ada Portugis.

  Sepucuk laras meriam ditujukan pada mereka. Aba-aba, dentuman. Sebuah bola besi mem bentuk kerucut udara, terbang menyam bari barisan prajurit bertom bak itu. M ereka bubar berlom patan dan berlarian, hilang dari pemandangan. Yang tersisa hanya bangkai-bangkai dan tom baknya, tulang dan serpihan daging.

  Tak ada lagi barisan mu ncul. Bandar telah jadi lautan api. Meriam-meriam berhenti menggonggong. Kapal-kapal Portugis mu lai menurunkan sekoci. Serdad u-serdadunya pada turun. D an seperti iring-iringan semut sekoci-sekoci itu menuju ke bandar.

  Kini balatentara Malaka mu lai mengisi semua jalanan bandar. Tombak dan pedang mereka gemerlapan tertimpa matari yang telah berhasil mengu sir halimu n. D i antara letusan mu sket dari sekoci terdengar sorak-sorai mereka. Kembali meriam-meriam berdentuman. Peluru beterbangan dan menyam bari mereka, tak menggubris tak menghormati tom bak dan pedang dan sorak-sorai. Juga tem bakan m usket menggebu-gebu, mengh alau, mem bunuh, menumpas. Jalanan kuning di bandar sana makin kelam disirami darah dan disebari serpihan daging dan tulang para prajurit yang tiada dapat beibuat sesuatu. Yang tersisa melarikan diri. Lenyap di balik lidah api dan cendawan asap.

  Tahun 1511 Masehi. Alfon so d’Albuquerque-Kongso D albi-m enyerbu dan mendudu ki Malaka. D engan tergopoh -gopoh Sultan Mahmud Syah, keturunan Param esywara itu, mem erintahkan pengerahan pasukan gajah. Binatang-binatan g raksasa itu didapatkan telah bergelimp angan termakan racun. Balatentara Malaka tanp a perlindun gan gajah tak terbantu oleh arm ada, dalam waktu pendek dihalau oleh peluru mu sket Portugis. Perang darat terjadi seperti tiupan angin lalu. Mereka melawan

  Tapi senjatanya terlalu pendek. Mu sket dan meriam tetap lebih unggul. Semu a harus mundur, terpaksa mundur, harus, terpaksa. Yang tertinggal hanya daging yang telah terpisah dari tulang.

  Sultan Mahmu d Syah melarikan diri ke Johor, Bintan, Kampar. Kerajaan berum ur seabad lebih beberapa belas tahu n itu jatuh. D an bandar kunci Asia ini kini berada di tangan Portugis.

  D alam keributan dan kekacauan berhidung bengkung merajawali sebuah kapal kecil bercat hitam masih juga nam pak aman terayun-ayun di pelabuhan. Tanpa tergesa- gesa layar-layam ya dipasan g dan berkemban g lesu, kemudian berlayar menuju ke tengah-tengah armada Portugis. Benderanya berkibar-kibar gelisah pita hijau panjang berjela-jela.

  Kapal kecil hitam itu terus juga m endekat. Semu a gerak- geriknya tak terlepas dari teropong d’Albuquerque. Terus mendekat dan nampak sedang mengu capkan selam at datang.Sesampainya di dekat kapal bendera pita hijau diturunkan, tinggal bendera hitam bersirip kuning itu berkibar sendirian. Kapal itu tidak berhenti. D engan tenang seakan tidak terjadi sesuatu apa ia terus melewati armada Portugis. D i bawah tiang utam anya berdiri seorang lelaki tinggi, agak bongkok, berhidung bengkung merajawali, berjubah genggan g, mem bawa tongkat hitam berhulu gading.Kopiahnya tarbus merah. Kumis, jenggot dan camban g-bau knya mengkilat hitam seperti jelaga tersulam oleh beberapa lembar uban.

  Portugis tak sedikit pun m engganggunya. Kapal kecil itu pun hanya mem bawa seorang penumpang saja. Orang itu terus juga berdiri di bawah tiang utama. Matan ya besar bulat-bulat, tajam dan gelisah. Pand angnya selalu bertebaran ke m ana-mana seperti sedang mencari sesuatu di atas perm ukaan laut.

  N akhod a datang mengh ampirinya, mencium jubahnya. Berkata dalam Melayu:” Alham dulillah, ya Tuan Sayid Mahm ud Al-Badawi. Berkah Tuanlah maka kapal sahaya ini selamat.”

  “Kafir-kafir itu takkan berani mengganggu aku,” jawab penum pang itu angkuh . “Tuhan takkan membiarkan terlantar ummat-N ya yang beriman.” “Hanya dengan pita hijau!” seru nakhoda.

  “Ya, hanya dengan pita hijau,” penump ang itu mem benarkan. “Bagaimana sahaya harus mem balas budi, ya Tuan Syahbandar Malaka?” nakhoda bertanya menghiba. Melihat penump angnya tak menjawab, ia meneruskan: “Sekiranya Tuan sekarang ini mem erintah kan sahaya menuju Tuban, tiadalah sahaya akan menolak, biarpun upah tiada ditambah .”

  ‘Tak ada padaku niat hendak ke Tuban.” “Bukankah dengan datangnya Peranggi Tuan kehilangan jabatan sebagai Syahbandar dan sebagai penasihat Bagin da

  Sultan?” “Tetap. Antarkan aku ke Pasai.” “Sahaya, Tuan. Tujuan tetap. Ke Pasai.” N akhoda itu berhenti bicara, menunggu penumpangn ya mengatakan sesuatu . Melihat Sayid Mahmu d AI-Badaiwi tak juga bicara, dilemparkan pandangnya pada layar yang menggeletar, beiteriak memerintahkan memperbaiki kedudukan siku, kemudian: “Setelah kejadian mengagetkan ini, Tuan, ada baiknya Tuan berteduh-teduh di Tuban Di sana sedang ada pesta tahunan dari bangsa kafir itu. Biarpun kafir, cukup menyenangkan juga, Tuan Syahbandar.”

  “D ilaknatlah kiran ya kafir-kafir itu,” sump ah penum pang itu bersun gut-sun gut. “Ampun, Tuan, kemudi tetap di arah kan ke Pasai.” “Bukan begitu, Tuan, yang kafir bisa jadi tidak kafir lagi. Yang tidak kafir pun bisa berubah jadi kafir, bukan?”

  ‘Tak pernah ada orang mencoba menggurui aku,” penum pang itu bersungut-sungut. “Ampun, Tuan, kemudi tetap diarah kan ke Pasai.”

  Penum pang itu masih juga m erabai permu kaan laut dengan pandangnya. N akhoda mencoba mengikuti arah pengelihatannya dan tak menemukan sesuatu yang luarbiasa. Dan kapal kecil hitam itu terus juga berlayar menyeberan gi Selat m enuju Pasai.

  “Cat hitam ini takkan sahaya ubah lagi, Tuan. W ama keselam atan ,” nakhoda bicara lagi. “Bolehkah kiranya sahaya bercerita, Tuan?”

  Penum pang tak ram ah itu tak mengacuhkannya. D an nakhoda itu menggosok-gosok kedua belah telapak tangan, tersenyum manis dan mem ulai: “Bukan cerita, Tuan Syahbandar Malaka, tapi warta. W arta sesungguhnya sunggu h-sungguhn ya warta. W arta yang mungkin khusus untuk Tuan saja.”

  Penum pang itu menoleh padan ya tetapi tak bertanya sesuatu . “Tentu Tuan melihat juga kapal Jawa yang tenggelam sebentar tadi. Lambungnya pecah-belah seperti kepiting terinjak. Semoga Tuhan m elapangkan jalan mereka di alam sahaya, sahaya sudah bicara dengan nakhodanya, seorang anak m uda, uh, anak semu da itu telah dilepas jadi nakhoda. D ia akan belayar ke Singhala D wipa, katanya. Sahaya tak tanyakan mu atann ya. Mu ngkin dupa dan setanggi untuk kafir-kafir Atas Angin sana. Tapi mem ang ada mu atan penting dibawanya. D an itulah warta khusus untuk Tuan. Lagi pula sahaya tidak melanggar am anatn ya, karena kita sudah berad a di atas Malaka.”

  Penum pang itu nampak bosan dan jemu mendengarkan kkauannya. N amu n ia tetap tak beranjak dari temp atnya berdiri. D an matanya tetap menyisiri permu kaan laut.

  ”Bukan suatu kebetulan,” nakhoda meneruskan sebagai balas-jasa. “Kapal itu dari Tuban. D an warta itu, Tuan, mu atan yang lain, itu, adalah wara-wara untuk disebarkan di negeri-negeri di atas Malaka. Katanya: Adipati Tuban Tum enggung W ilwatikta mencari Syahbandar baru yang….”

  Keangkuh an, kecemberutan dan keseram an penump ang itu mengurang dan mengurang. Ia menoleh lagi pada nakhoda. Melihat nakhoda itu berseri-seri, ia mengangguk. “Begitulah wartanya.”

  “Matikah Syahbandar T uban?” “Sayang, itu tak term aktub dalam warta. Pendeknya

  Adip ati Tuban mencari Syahbandar baru. Syarat- syaratnya… apalah artinya itu? Semua sudah ada pada Tuan: bisa menulis, mem baca, dan berbahasa Arab dengan baik, dan Tuan sendiri keturunan Sayid-sayid Arab yang mu lia….”

  “Kalau itu saja syarat-syaratnya, ribuan orang bisa jadi Syahbandar.”

  “Masih ada, Tuan, itu pun sudah ada pada Tuan: pandai berbahasa Melayu. Jangan tertawakan dulu, Tuan. Inilah syarat gila menurut perasaan sahaya yang bodoh ini: Harus juga lancar berbahasa Pcran ggi dan Ispanyn dan menulis serta m embacanya.”

  Penum pang tunggal itu menegakkan bongkoknya, mengangkat tongkat, dan dengan tiga batang jari menggaru k ram but di bawah tarbus. Matanya bersinar- sinar. Satu pikiran sedan g mem bersit menerangi wajahnya.

  “D i Jawa sana orang harus bisa berbahasa Jawa,” penum pang itu membongkok seperti semula. “Kata nakhoda Jawa itu, bahasa jawa tidak perlu.” Sayid Mahm ud Al-Badaiwi, yang kemarin masih Syahbandar Malaka sesungguhnya bemama Tholib Sungkar Az-Z ubaid. N am a barunya itu dipergunakan sejak jadi Syahbandar Malaka. N akhoda dan semua orang Malaka tak pernah mengetah ui. “Jadi ke Tuban tujuan kita, Tuan?”

  “Tidak. Pasai.” “Jadi tetap ke Pasai,” dengan demikian kapal tetap ke tujuan semula. Sesampainya di Pasai, Tholib Sungkar Az-

  Zubaid alias Sa yid Mahmud Al-Badaiwi menyewa kapal Aceh yang bertujuan Banten dan ia mem bayar khusus untuk pelayaran ini.

  Pada waktu kapal yang ditump anginya mancal dari Banten menuju ke Tuban pikirannya tidak disesaki lagi oleh ingatan pada api yang menjolak-jolak mem bakar bekas bandarnya, peluru-peluru yang beterbangan merebahkan baran g siapa dan barang apa diterjangnya, orang yang belingsatan menyelamatkan nyawanya, dan balatentara Malaka yang sama sekali tiada berdaya….

  Um bul-um bul berkibaran di sekelilirig alun-alun Tuban, gapura batu tidak dipasang. Orang dapat masuk dan meninggalkan alun-alun tanpa melalui pandan gan kala dan makara gapura. D an oran g tidak merasakan kehilangan ini.

  Pendud uk Tuban mem ang keranjingan seni dan olahraga. Larangan mem ahat batu dan perlntah m embuangi peninggalan Hindu seakan telah mereka lupakan untuk sementara ada pesta. Bahkan para pernahat sendiri menan gguh kan kekecewaannya demi sang pesta.

  Orang pada berpakaian bagus-bagus. Para pedagang Pribumi kaya mengh iasi destar dengan permata serta menyelitkan keris berhulu mas berukir pada tentang perut.

  Beberapa orang tidak mengenakan kain batik, tapi sarong berkotak-kotak seperti pedagang seberang.

  Para wanita mengenakan penutup dada dan selendang sebagai penutup bahu. Istri-istri pedagan g kaya kelihatan dari selendang sutranya.

  Santri-santri yang kadan g bersarong putih, beram but pendek atau gundu l dan berkopiah putih, turun berbondong-bond ongdari perguruannya masing-m asing. Mereka pun takkan melewatkan pesta lomba tahunan kafir yang tradisionil itu. Di pelabuhan kapal-kapal Pribumi dihiasi dengan aneka-warna bendera dan umbai-um bai.

  D i setiap perempatan jalan yang menuju ke alun-alun bunga-bungaan dikaran g jadi lingkaran besar. Buah-buahan dan telor bcrwarna mem bentuk lingkaran sari bunga di dalam nya. Sedang tepat di tengah-tcngah berdiri sebuah pedupaan tanah dengan asap harum mengepul menyerbaki udara. Anak-anak kecil berlari-larian riang dengan penganan di tangan. Semua mengenakan pakaian dan destar baru. Dan rombongan-rom bongan dari desa-desa tak henti-hentinya m emasuki kota.

  Pembukaan pesta telah diawali dengan pawai para peserta lomba. Umbul-um bul mempelopori barisan desa masing-m asing. Di belakangn ya menyusul perangkat- perangkat gamelan untuk baris: gong, gendan g, suling dan kenong. Semua gamelan ditabuh melagukan nyanyi puji- pujian kepada Hyang Widhi, tanpa suara manusia, tanpa tari.

  D ahulu pawai selalu mu la pada Sela Bagin da di pelabuhan . Setelah tugu prasasti Airlangga diroboh kan dan juga diceburkan ke laut, umpaknya saja kini jadi tempat mem bubarkan diri.

  Pawai bergerak pelahan -lahan meninggalkan asrama. Di antara dup a-setanggi pada setiap awalan barisan, nama Idayu bergema-gema dalam hati para penonton. D an nama itu semakin semerbak dengan semakin mendekati pembukaan. Kunjungan Sang Adip ati ke bangsal wanita di dalam asrama telah meyakinkan semua oran g: gadis perbatasan yang menawan hati Tuban itu pasti keluar sebagai juara lagi. Takkan ada yang berani meniadakan isyarat dari Sang Adipati.

  Orang harus mengerti tanpa bertanya. Hari-hari mengintip di depan asrama tanp a hasil mem bikin orang seperti dicurahkan mem adati kiri-kanan pawai di mana Idayu berada. Anak-an ak kecil yang terdesak orang-orang dewasa, kalah tinggi dan kalah kuat, hanya bisa berlari-larian sambil bersorak-sorak tidak menentu. Pria dewasa mem belaikan pandang berahi.

  W an ita meneliti apa-apa yang dapat dicela atau dipuji pada Idayu.

  Semua peserta wanita berkalung ran gkaian melati. Peserta pria masing-masing mem bawa setangkai dedau nan beringin. D an antara sebentar tangkai itu dilambaikan- lambaikan ke langit, mengikuti jatuhnya gong.

  Tidak seperti satu atau dua tahun sebelum nya kini Idayu gugu p tak menentu. Ia bingung di mana harus sangkutkan pandangnya. Ke mana pun matanya diarahkan, tertatap juga olehnya pandang yang mem berahikan, merajuk, merayu, mengajak, mengagumi, atau hanya sekedar hendak melihatnya. Peluh telah m embasahi tubuhnya. Ia rasai pada matari mendidih dalam dirinya, karena di desa sendiri ia tidak biasa berkemban. Antara sebentar ia mengh ela nafas dalam -dalam untuk mengalahkan kegugupannya sendiri.

  Pawai terus bergerak pelahan . Setiap gong berbunyi seakan di atas kepala pawai tum buh semak pohon beringin. D an beringin itu hilang kembali dengan cepat seperti tertelan rekah bum i.

  D i depan kadipaten barisan panjang berhenti. Poh on beringin melambai-lam bai tinggi di atas kepala mereka. Kemu dian sunyi-senyap. Juga para penonton terdiam, tak bergerak di tempatnya masing-m asing. Kenon g bertalu. Tiba-tiba mem bubung nyanyian bersama dari semua gadis peserta, disahuti oleh nyanyian bersama semu a pria peserta. Bersahut-sahutan seperti seribu pasang burung cocakrawa, dalam tingkahan gamelan baris. Sunyi-senyap.

  Canang kadipaten bertalu-talu. Semua peserta bersimp uh di tanah. Canang kadipaten bertalu-talu lagi. Sebuah tandu keemasan mu ncul dari kadipaten. Di atasnya duduk Sang Adip ati mengh adapi sebuah jamban g besar dari kuningan. Semua peserta m engangkat sembah. Tandu berjalan lambat- lambat dengan gerak kaki seirama dari para pengusungnya, dan nampak seperti menari. Di belakangnya, para pembesar negeri berbaris, juga melangkah lambat-lam bat seirama. Juga seperti menari.

  Tandu Sang Adipati mengh ampiri ujung barisan yang satu, bergerak lambat-lambat samp ai ke ujung yang lain sambil memercikkan air bunga pada kepala para peserta.

  Selesai itu canang kadipaten kembali bertalu-talu. Sang Adip ati dengan semua pengiringnya berjalan kaki kembali masuk ke kadipaten.

  Para peserta menurunkan sembahnya, kemudian lambat- lambat m engangkat sembah lagi tiga kali berturut m engikuti tabuhan canang.

  Selesai itu pecah sorak-sorai gegap-gempita dari penonton. Barisan berdiri, bergerak lambat-lam bat mengelilingi alun-alun. Setiap samp ai di depan kadipaten lagi mereka mengangkat sembah seirama dengan paluan canang kadipaten. Kemu dian mereka menuju ke Sela Bagin da.

  D an inilah saat yang ditakuti oleh Idayu. la jera terhadap orang banyak, terhadap pengagum-pengagum nya. D i dalam barisan ia masih terlindu ngi oleh aturan. Tanpa barisan, dengan semua mata tertuju padanya? Begitu pawai bubar segera ia lari mendapatkan G aleng, berlindung di balik bahunya yang bidang. Teman-teman sedesa melindun ginya rap at-rapat. Lenyap ia dari pemandangan penonton.

  “Idayu! Idayu!” orang berseru mencari-cari, kecewa, jengkel, mem bujuk, merayu, “di mana kau, Idayu? Di mana?”

  G adis dan perjaka Awis Kram bil menjadi gump alan pelindu ng bidadari perbatasan itu terhadap gangguan. Ro mbongan ketat itu menah an semua serbuan, sedang um bul-um bul desa berjalan mendahului.

  Sam pai di alun-alun gump alan ketat Awis Kram bil langsung menuju ke bangsal penari. D an di sini keadaan telah am an. Aturan tidak mem benarkan orang mengh ampiri bangsal kecuali hanya untuk menonton pertunjukan. D an perlombaan tari tak pernah diadakan di pagi atau siang hari.

  Pesta lomba dibuka dengan sodor berkuda dan ujungan dan lomba ben teng dan gulat. Sodor berkuda diikuti hanya oleh para prajurit peijaka. Sorak-sorai gegap-gempita tak putus-putusnya mengiringi sudah sejak pertand ingan belum dimu lai. Mula-m ula lapangan yang tersedia seakan disapu oleh sebarisan prajurit menabuh gendan g dengan berlari dalam barisan. Di belakangn ya mengikuti barisan dari Pasukan Kuda. Setiap penunggan g menurun-naikkan bendera merah dan kuning dan ungu dan hijau. Petanding berbaris di belakangn ya dengan gerakan kuda yang mengedrap, pelan seakan tidak akan beringsut dari tempat. Bila barisan gendan g dan Pasukan Kuda telah meninggalkan lapangan, para petanding memacu kuda mengelilingi lapangan. Kemu dian dua petanding ditinggalkan untuk mengawali perlombaan.

  Mereka berhadap-hadapan jauh pada tepi-tepi yang bertentangan. D ua barisan prajurit dari Pasukan Kaki masuk ke dalam lapangan dan memp ersembahkan kayu sodo r pada mereka. Kemu dian mereka lari meninggalkan lapan gan.

  Canang bertalu. Kedua petanding melesit maju ke tengah-tengah lapangan diiringi oleh sorak-sorai. Kayu- kayu sodo r teracukan di atas kepala kuda. D an bila sorak- sorai tiba-tiba berhenti keadaan sunyi-senyap, pertanda seseoran g telah terjatuh dan dinyatakan kalah. Tak jarang pertandingan harus diulang-u lang karena tak ada yang segera teralahkan.

  Kata orang tua-tua permainan ini berasal dari Atas sekira seribu tahu n yang lalu, menurut perhitungan surya. Perm ainan ujungan lain lagi coraknya. Penonton sama sekali tidak bersorak. Ya, sekalipun sedang menjagoi desanya sendiri. Mereka mengikuti pertandingan dengan diam-diam. Di atas panggung tampil dua orang petanding.

  Canang bertalu. Mereka menyembah pada penonton, berputar-putar di panggung memperlihatkan tubuh mereka yang bercawat, mem am erkan lengan dan paha dan dada dan punggung dan kepala, dan mengangkat kaki mem am erkan tulang-keringnya. Mereka kelihatan pengap seperti habis dipukuli. Kulit mereka seperti terkena lepra, mem bengkak merah dengan pori-pori kulit melotot keluar. Tak bisa lain, karena berminggu sebelum bertanding kulit mereka digosok dengan lumatan daun tapak lim an untuk mem atikan perasaan kulit.

  Sehabis pameran mereka meninggalkan panggun g di bawah taluan canang. Tinggal dua orang petanding yang akan berkelahi. Masing-m asing bersenjatakan sebilah rotan yang sama ukuran nya. Menurut aturan setiap petanding mem punyai kebebasan mem ukul dan mem ilih sasaran. Maka bilah-bilah rotan berayun dan menggebu, mem babat dan menerjang bagian tubuh mana saja: hidung, dagu, dad a, kaki, kepala. Sasaran yang m enjatuhkan adalah batok kepala dan tulang kering. Untuk melindungi kedua-duanya melom pat ketangkasan melomp at dan berkelit menjadi syarat mutlak, sedang keuletan kulit, daging dan tulang dan syaraf jadi petaruh menentukan. Bila temyata tak ada yang kalah atau menan g, tak ada yang jatuh terguling, mereka melakukan undian dengan sut di bawah pengawas. Si pemenang sut boleh memukul tulang kering lawannya samp ai sepuluh kali. Bila ia tidak roboh, ia boleh mem berikan pukulan balasan.

  Tak ada yang bersorak-sorai, hanya meringis-ringis, mengernyit-ngernyit, mengeluh, mengaduh, mengejap- ngejapkan m ata seperti sekelom pok m onyet kehilangan akal pada setiap pukulan yang jatuh. Jantung terasa seperti dicekam , diremas-remas menjadi ciut. Bila salah seorang roboh dan terpaksa digotong keluar, orang pun tak juga bersorak. Hanya mengeluh dan mengaduh atau mengh embuskan nafas panjang.

  Kalau pukulan tulang kering tidak meroboh kan, sut diadakan lagi. D an sekali ini batok kepala yang dipukul bergantian. Tiga kali. Biasanya orang tak dapat menah an lebih dari dua kali dan roboh terjengkang di geladak panggung. Lom ba banteng lain lagi ceritanya. Pada pertandingan ini kanak-kanak dilaran g menonton. Peserta hanya dari kalangan prajurit perjaka. Juga tidak setiap tahu n diadakan. Harus ada permohonan dari para prajurit sendiri, yang ingin melom pat jadi perwira Pengawal. Lom ba khusus ini, bila ada, selalu dipergelarkan pada sore hari tanpa disaingi oleh lom ba-lom ba lain.

  D alam medan yang dipagari balok-balok kayu, seekor banteng lapar dilepaskan. Orang pun bersorak-sorak. Binatang lapar itu jadi marah dan bingung, berjalan mo ndar-mandir, kadan g berlarian kecil mengitari medan. Kadang berhenti sejenak untuk m emelotoli penonton.

  Seratus gendan g dipukul orang. D an seorang prajurit penantan g naiklah ke atas pagar balok. Ia m elompat ke atas leher binatan g lawannya dan berusaha, dengan kedua belah tangan berpegangan pada tanduk, mem bantingnya. Belum tentu sang penantang berhasii. Tak jaran g orang kehabisan nafas dan tenaga dan terlompat ke udara menyemburkan darah dan isi perut.

  Berkali-kali terjadi seorang penantan g lari dan lari tenaga. Baru kemudian ia mengguguh mata lawannya samp ai bolanya terlompat keluar dari rongga. D engan gugu han pada mata yang lain banteng buta itu kehilangan daya. Ia dinyatakan menan g, hanya bukan dengan nilai tertinggi. Menurut aturan , kemenangan yang sempuma adalah bila penantang dapat meremu kkan kepala lawannya dengan pukulan tangan. D an oran g pun bersorak-sorai menderu. Mereka menyerbu ke gelanggang, menggotong si pemenang, mengaraknya ke kadipaten. Para penggoton g itu adalah gadis-gadis Tuban. Maka juga para penonton kebanyakan gadis. Pada umumnya penantan g banteng punya maksud Iain daripada hanya ingin melompat jadi perwira Pengawal. Biasanya ia oran g putus-asa karena kegagalan cinta. D alam gotongan dan arakan para gadis Sang Adip ati akan menyam butnya pada anak tangga kadipaten. D i sana ia diturunkan, mendapat pangkat dan nam a dan gelar ketentaraan yang menjadi haknya. Tanda- tand a pangkat pun dikenakan pada badannya: gelang dan keris, dan kalung. Begitu ia mendapat pengangkatannya ia dap at mem ilih pasangan hidupnya dan menjadi kesukaan pada hari itu. D an masyarakat Tuban yang mengagungkan kepahlawanan ikut serta merayakan kegembiraan mereka berdua.

  Lom ba gulat adalah umu m. Selalu diadakan pada pagi hari. Prajurit tidak diperkenankan serta. Penonton dari desa-desa bersorak-sorai untuk jagon ya masing-m asing. D ua orang pejabat panggung tak henti-hentinya mem ercikkan air pada para petanding sehingga lantai panggung jadi basah, kotor dan licin – keadaan yang mem bikin petanding lebih menarik. Para petanding hanya mengenakan cawat. Tidak boleh berdestar. rambut harus disanggu l untuk tidak menghalangi pemandangan.

  Pada tahun yang lalu G aleng telah mem enangkan kejuaraan. Tahun ini dengan atau tanpa Boris, ia bertekad mem enangkan kejuaraan berturut. Ia harus hadapi lima belas orang penantan g. Tak tahu ia bagaiman a harus mengalahkan orang sebariyak itu. D an sudah menjadi kebiasaan bagi juara gulat mendapat banyak tantangan. Makin banyak penantang makin banyak kemungkinan seorang juara ditelentan gkan di atas lantai panggung.

  D alam pertandingan awal Galeng berkelahi seperti orang keranjingan. Ia lebih banyak bertempur menaklukkan ketakutan dan kekecilan hati sendiri dan cemburu sendiri. Sang Adip ati harus tahu: si G aleng bukan perjaka yang mu dah melepaskan Idayu apa pun yang terjadi, Idayu hanya untuk diri dan kebahagiaann ya.

  D ua-tiga orang penantan g telah dibantingnya dan nyaris mati. Pertandingan dihentikan untuk sementara. Para petugas ragu-ragu atas sikap juara dari Awis Kram bil. Ia lebih banyak tam pil sebagai pembunuh daripada olahragawan. D an ia akan berkelahi terus seperti itu bila idaman hidup direnggu tkan oran g daripadan ya. Tak peduli orang itu Sang Adipati atau punggawa praja.

  D engan titah Sang Adipati pertandingan gulat diteruskan. Ia berkelahi terus, mengamuknya oran g yang terpojokkan. Kunjungan penguasa Tuban pada kekasihnya di asrama telah mem bikinnya kalap. Ia akan tunjukkan pada rajanya, ia juga bisa berkelahi, dan melawan siapa saja: ia akan berikan nyawanya untuk bukti cintan ya pada Idayu melawan penantan g gulat ataupun penantang tom bak-tom bak para pengawal.

  Pada awal perlom baan m enari Idayu dipancari semangat tinggi. D ua tahu n berturut-tu rut ia telah mem enangkan kejuaraan pertama. Tahun ini ia bertekad untuk yang jadi isyarat pada para penilai. Ia harus menang karena kejuaraan tiga kali berturut mem berinya sesuatu rencana kemungkinan: ia punya rencana. D alam setiap pertandingan G aleng mem erlukan hadir. Bukan karena hendak m enonton, hanya hendak m ematahkan batang leher orang, siapa saja, yang berani bertingkah terhadap Idayu. Tak ada suatu gerak terlepas dari perhatiannya.

  Perlom baan telah berjalan beberapa hari. Setiap pulang dari menari Idayu langsung pergi ke tempat kekasihnya untuk mengu rutnya. Ia tak peduli pada larangan yang berlaku. Para punggawa tak samp ai hati melaran gnya, mengetah ui, itulah hari-hari terakhir dua oran g kekasih itu dap at berkumpul untuk kemudianberpisahn buat selam a- laman ya….

  Pagi hari waktu itu. Pertandingan olahraga sedang seru- serunya berjalan. Syahbandar Rangga Iskak sedang sibuk di pelabuhan mencatati nama oran g dan kapal peiarian yang berbondongan datang dari Malaka dan telah ditolak di bandar-bandar lain di Sumatra dan Jawa. Di Tuban m ereka bermaksud mem ohon perlindun gan pada Sang Adipati Tuban Arya Teja Tum enggung W ilwatikta. Jatuhnya Malaka ke tangan Kongso D albi telah jadi pengetahuan um um.

  D i antara para pendatang terdapat bekas Syahbandar Malaka Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Tholib Sungkar Az-Z ubaid.

  Sekilas Rangga lskak mengetah ui, pendatan g itu seorang Arab – Arab yang dibencinya. la berbenah dalam hati, menyingkirkan perasaan pribadi dan melayaninya sebaik mu ngkin.

  Ia persilakan pendatang jangkung agak bongkok, berhidun g bengkung merajawali itu, untuk menyampaikan halnya. D an nahkoda kapal yang ditump anginya tidak ikut mendarat. Ia agak heran, tetapi tidak menan yakan. Kapal itu akan berlayar terus menuju Gresik.

  “Tuan Syahbandar Tuban,” bekas Syahbandar Malaka mem ulai dalam Arab. “Berkahlah untuk Tuan buat hah ini. Aku pendatang baru, juragan kapal itu. Kapalku akan terus berangkat dan akan menjemput aku kelak. Uang labuh untuk sehari akulah yang mem bayamya. N am aku Sayid Habibullah Almasawa dari Malagas!, bermaksud mengh adap Sang Adipati Tuban.”

  “Berkahlah Tuan untuk hari ini. Maksud Tuan akan terpenuhi.” Pada para pekerja ia perintahkan untuk mengangkuti baran g-barang persembahan. Ia perintahkan canang menara dipukul untuk pertanda akan adan ya penghadapan.

  Canang kadipaten menjawab. Iring-iringan penghadap berangkat, termasuk bekas

  Syahbandar Malaka, Tholib Sungkar Az-Zubaid alias Sayid Mahm ud Al-Badaiwi dan sekarang bernama Sayid Habibullah Almasawa dari Malagasi. D i belakang mereka menyusul para pemikul persembahan.

  D i alun-alun mereka melihat orang beijejal-jejal menonton pertandingan. U mbul-umbul berkibaran tinggi di mana-mana. D an karangan-karan gan bunga di perempatan jalan. Mereka dengar sorak-sorai tak henti-hentinya. Di negeri ini orang bersuka-suka, negeri yang mereka tinggalkan sedan g terlanda P ortugis.

  Pendatang yang menamakan diri Sayid Habibullah Almasawa mem perhatikan semua dengan kuping dan matanya.

  “Tuban sedang merayakan pesta tahunan,” Rangga lskak alias Ishak Indrajit menerangkan dalam Melayu. Ia tak meneruskan, mem bisu, tak m emberi kesempatan pada para pendatang untuk bertanya. Oran g Arab yang seorang itu merusuhkan hatinya.

  Mereka berhenti di depan pendopo. D ua orang pejabat datang dan menyam paikan tata-tertib. Mereka melepas semua alas kaki, senjata tajam dan tumpul kecuali keris. Maka alas kaki pun berbaris berjajar, dan ton gkat dan bawaan pribadi. Mereka dipersilakan masuk ke pendopo dengan kaki telanjang, duduk berderet-deret di hadap an kursi gading kedudukan Sang Adipati.

  Kursi itu sendiri berdiri di atas lantai khusus yang ditinggikan. Sebuah bangku rendah berlapis bantal berdiri di bawahnya. Itulah tem pat Sang Adipati meletakkan kakinya. Menurut peraturan penghadap an secara Tuban, oran g- orang asing bukan N usantara tidak diwajibkan dud uk dan menyembah. Bangku atau kursi duduk tidak pernah disediakan. Mereka harus berdiri dan barang siapa tidak dud uk harus mengam bil tempat di pinggir.

  Biti-biti perwara keluar menduduki tempatnya di bawah kiri dan kanan tahta Sang Adipati. Pada tangann ya mereka mem bawa namp an kuningan tempat sirih dan jambang kuningan tempat ludah. Menyusul kemudian bentara kiri dan kanan, yang mengambil tempat di kiri dan kanan belakang tahta. Mereka semua bersenjata tombak dan perisai. Baru kemudian datang Sang Adipati dalam iringan Sang Patih dan para pembesar lain. Di belakangn ya lagi menyusul para pengawal.

  Para penghadap yang duduk menyembah bersam a-sama. Mereka yang berdiri di pinggir menyampaikan horm at dengan caranya masing-masing. Orang-orang Benggala, term asuk Syahbandar Tuban, berdiri sambil mengangkat sembah dad a. Sang Patih dan para pembesar yang duduk bersila jauh di samping kiri dan kanan Sang Adip ati, juga mengangkat sembah.

  Upacara penghadapan selesai. Syahbandar Tuban mem bacakan daftar para penghadap, nama, asal, pekerjaan dan permohonannya. Kemu dian seorang demi seorang maju mengh adap lebih dekat dan menghatu rkan persembahannya sambil mem uji-muji baran gnya. Setelah persembahan menyusul permo honan dengan mulut sendiri.

  Sang Adipati dud uk mendengarkan, tanpa bicara, menganggu k dan tersenyum, atau menggeleng dan tersenyum.

  Semua penghadap tahu belaka, satria Jawa tidak berbaju dalam pekerjaan resmi, dan mereka m enghormati kebiasaan ini.

  Bekas Syahbandar Malaka tercantum dalam daftar terakhir. W aktu samp ai pada gilirannya ia bicara dalam Melayu: “Patik datang dari Malagasi, ya G usti Adipati Tuban yang term asyhur pengasih di sepanjang pantai Atas Angin . Oran g mem anggil patik Sayid Habibullah Almasawa. Kata silsilah keluarga, patik adalah keturunan ke empat puluh dari N abi Besar M uhamm ad s.a.w.”

  Rangga Iskak mengem yitkan dahi. G iginya berkerut. Ia tak percaya. Prasangka mu lai berbisik-bisik dalam hatinya: Itulah dia penipu yang kau tunggu -tunggu!

  “Patik hanyalah saudagar rempah-rempah yang belayar dari bandar ke bandar. Mu jur tak dapat diraih, malang tak Adip ati Tuban. Sesampai di Malaka, Peranggi sedang menggagahi bandar. Semua isi kapal patik dirampas dan kapal patik dibakar. Alham dulillah T uhan m asih ingat pada ham ba-N ya ini. Segala puji untuk Yang M aha P engasih dan Maha Penyayang.”

  Bekas Syahbandar Malaka itu masih juga tak mem persembahkan sesuatu barang. Si penipu itu! pikir Rangga Iskak. Dia sedang mem ainkan lidahnya. “Larilah patik ke Bengkulu. D engan kapal patik yang ada di )ambi patik belayar kemari untuk memo hon perlindungan G usti Adipati Tuban. Adapun harta benda patik seluruhnya telah habis untuk mem bayar kerugian di Malaka. Ampun, G usti, bila patik tidak mampu mem persembahkan barang sesuatu yang mahal-mahal.”

  N am pak Sang Adipati mu lai kehilangan kesabarannya. Ia mengu ap, dan ditutupnya mu lutnya dengan tinju. G elang-gelang mas pada tangann ya, berukir dan bertatahkan intan perm ata, berkilauan. N am un ia tidak mem beri isyarat m encegah penghadap itu m eneruskan kata- katanya.

  “Adapun harta-benda yang tersisa pada patik hanyalah kecakapan berbahasa Arab, karena itulah bahasa nenek- mo yang patik, berbahasa Melayu, karena itulah penghidupan patik sebagai saudagar rempah-rempah. Yang tersisa pada sahaya juga bahasa Ispanya, G usti Adipati Tuban…”

  Para penghadap mengangkat pandan g mendengar Sang Adip ati mendeham dan mem anjangkan leher mengawasi pembicara fasih itu dengan perhatian.

  “… karena di negeri Ispanya patik dilahirkan, di sebuah negeri yang indah bernam a Andalusia, ya G usti Adip ati,” bekas Syahbandar Malaka meneruskan, “dan juga karena itu patik berdarah Ispanya pula. Kemu dian bahasa Peranggi, ya G usti Adip ati Tuban, karena itulah bahasa yang patik pelajari sejak kecil.”

  Rangga Iskak merasa seakan lantai yang diinjaknya terbang. Oran g jangkung agak bongkok, berhidung bengkung merajawali itu tak lain dari oran g Mo ro yang hendak menumbangkan kedudukan nya sebagai Syahbandar Tuban. D unia dilihatnya berayun-ayun. Tangann ya di balik jubah menggapai-gapai tanpa tujuan. D an dalam pandangann ya yang bergoyang ia tak lihat Sang Adipati menegur Moro keparat itu, padahal pembual itu mu lai ram ai dengan tangan mem berikan tekanan pada kata- katanya. Kalau dia Pribumi, pikimya, dia akan mendap at hukum an dera.

  “Ya, G usti AdipTuban yang mulia, dilindun gi oleh Allah, kiranya G usti Adipati. Sedang patik hina-dina lagi melarat begini, ya G usti yang tersoho r bijaksana dan pemurah di sepanjang pantai Atas Angin , limp ahkan kiranya pada patik suatu perlindu ngan, karena hanya Allah jua Maha Mengetah ui, bahwa perlindu ngan G usti Adipati adalah berkah daripada-N ya juga.”

  Tanpa diduga-duga Sang Adipati melambaikan tangan dan berkata dalam Jawa. Segera Rangga Iskak menterjemahkan dalam M elayu.

  ”Perm ohonan Tuan kami terima, tuan Sayid. Tuan Syahbandar Tuban akan mengurusmu sebagai tam u pribadi kami….”

  Rangga lskak hampir-hampir tak dapat meneruskan mengaku diri Sayid Habibullah Almasawa telah berkenan di hati Sang Adipati. Celaka, pikirnya, sekali seorang M oro mendapat setitik tempat, orang haru s waspada. Semua akan berubah, bumi tempat berpijak akan goyah.

  “Apalagi yang m asih akan dipersembahkan?” tanya Sang Adip ati. Penghad ap itu mengangkat kedua belah tangan sehingga bongkoknya berayun, meneruskan: “Ampun, G usti, perkenankanlah kiran ya patik mem persembahkan sesuatu yang langsung berupa karunia dari Allah. Mem ang nam paknya tiada sepertinya, namun tak terkirakan berkahnya.”

  Ia keluarkan sebuah pundi-pundi dari balik jubahnya yang genggan g. Semua orang berusaha untuk melihat apa persembahan si cerewet. Perm ata! tak bisa lain, orang menduga.

  “Berat tak seberapa, G usti,” bekas Syahbandar Malaka itu menjepit pundi-pundi dengan ibujari dan telunjuk. “Enteng tak terkira.”

  Semua penghadap menjadi tegang. Mereka kuatir Sang Adip ati menjadi mu rka dan membatalkan semua perlindungan yang telah dikaruniakan. D an memang Sang Adip ati nampak tersinggung, tapi masih menahan diri. Rangga lskak gelisah.

  “Selaksa kali lebih berharga daripada in tan, mutiara, zam rud atau delima, karena mem ang karunia Allah sendiri!”

  D an para penghadap sampailah pada titik tertinggi kekuatiran nya melihat Sang Adipati bicara untuk ketiga kali, hanya pada seoran g penghadap: “Apakah itu, Tuan Sayid keturunan N abi?”

  ‘Tidak lain dari benih baru, ya G usti, dari seberang dan seberangn ya seberang pulau Jawa ini. Benih beras besar ya G usti. Sepuluh kali lebih besar daripada beras biasa. Bila disantap sewaktu mu da, ya G usti, hanya ditunu di atas bara, gemeratak bunyinya, tapi rasan ya takkan kalah dengan emping ketan bercampur kelapa dan gula. Menan am nya tak mem erlukan air, malah harus ditanam pada penghabisan musim hujan. D i mana saja dap at tum buh, di gunu ng, di pantai, hum a, sawah kering, ladan g. D ia tak m emilih tanah, asal tak tergenangi air.”

  Tholib Sungkar Az-Z ubaid alias Sayid Mahmu d Al- Badaiwi alias Sayid Habibullah Almasawa menaruh sejum put bening kuning dari dalam pundi-pundi dan diletakkan di atas telapak tangan kiri.

  “Orang-orang dungu di Ispanya dan Peranggi mengenai ini beras Turki, ya G usti. Oran g-orang Turki mem ang suka menipu, G usti. Tidak benar ini beras Turki. Yang benar Zhagu ng nam anya, G usti. D alam jangka waktu lima kali mu sim panas, seluruh negeri T uban akan m akan beras besar ini, G usti, insya Allah.”

  Ia melangkah maju setelah mengem balikan benih dari telapak tangan ke dalam pundi-pundi dan mem persembahkan kepada penguasa T uban.

  Orang terheran-heran melihat Sang Adipati tersenyum berseri menerimanya. “Telah kam i terima persembahanm u, Tuan Sayid. Segala yang berasal dari Tuhan adalah berkah/ ’ kemudian menengok pada Sang Patih yang dudu k di bawah. “Kemban gkan beras besar ini, Kakang Patih. apalagi sekarang sedang musim kering.”

  Sang Patih menyembah rajan ya, kemudian menerima

  “D an T uan Sayid, apa nam a negeri asal beras besar ini?” “N egeri itu, G usti Adipati Tuban yang mu lia – orang mu lai m enamainya Amerika.” “D i m ana itu?” “D i balik bumi manusia ini, G ustL” “D i balik bum i?” Sang Adipati berseru berolok, “tentu mereka di sana hidup seperti cicak dengan badan tergantung pada kaki?”

  “Tidak, G usti, mereka sam a dengan kita, demikian cerita pelaut-pelaut yang pernah ke sana. Hanya kulitnya merah.” “Merah?” “Merah, G usti, seperti batu bata.” Rangga Iskak mengerutkan gigi dan m engemyitkan dahL

  Kegeram annya menjadi-jadi. D ia mu lai menyemburkan bisa, gumamn ya dalam Malayalam. D an kalau tidak kuat- kuat ia mengekang sudah akan tersembur tuduh annya sebagai ‘penipu’. Ia menggeragap waktu tiba-tibaSang Adip ati berkata: “Tuan Syahbandar, apakah yang Tuan ketahui tentang bangsa kulit m erah?”

  “Tidak pernah disebut dalam kitab apa pun, G usti Adip ati Tuban. Kulit hitam, putih, coklat, kuning, semua ada, G usti. Merah tak pernah ada, apalagi seperti batu bata.

  Tak pernah tersebut ada manusia makhluk Allah hidup dengan badan tergantu ng pada tangan atau kaki.” Pendatang itu menengok ke pinggiran, pada Rangga Iskak, dan tersenyum ram ah sambil mengangguk. “Tentang itu panjang ceritanya, ya G usti. Sembilan tahu n yang lalu Sri Baginda dan Ratu Ispanya, Phillipo dan

  Isabella, telah mem berikan pangestu pada pelaut-pelaut rem pah. Mereka belayar lurus ke jurusan barat…” dan bercerita bekas Syahbandar M alaka tentang pelayaran besar dan penemuannya, dan bahwa dun ia temyata bukanlah seperti tampah tetapi bulat seperti buah kelapa, bahwa di mana ada daratan di sana ada manusia, semua berdiri pada kakinya, tak ada yang bergantung pada tangan atau kaki. Orang mendengarkan dongengan baru yang tak masuk di akal itu. Mereka tertarik sampai-sampai lupa untuk mengetah ui dari mana Tholib Sungkar Az-Z ubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habibullah Almasawa mendapatkan beras besar yang bukan beras Turki.

  D alam pada itu Sang Adip ati sendiri sedang mengenan gkan kembali cerita Sang Patih, bahwa Mpu N ala pernah menduga dunia ini mem ang tidak seperti tamp ah tapi bulat seperti buah maja. D an sekarang kapal-kapal orang putih telah mampu muncul dari balik Ujung Selatan W ulungga yang selam a ini dianggap sebagai batas akhir dari dunia, dan barang siapa melewatinya akan tercebur ke kedalaman tanpa batas. Mereka justru mu ncul dari situ. Mereka telah belayar samp ai ke balik dun ia dan mendapatkan beras besar.

  Ia berpaling pada Syahbandar Tuban. Rangga Iskak sedang merah-padam keunguan. Mem ahami akan adanya sikap permu suhan terhadap penghadap itu ia perintah kan Sayid Habibullah Almasawa kembali ke tempatnya di pinggir pendopo.

  “Patireja!” perintah nya pada menteri-dalam, “tempatkan tuan Sayid sebaik-baiknya di gandok belakang kadipaten.” Beberapa jam setelah penghadapan selesai pecahlah berita ke seluruh Tuban Kota: Sang Adipati telah dihadap oleh seorang tamu asing, seoran g Arab bemam a Sayid kadipaten. Berita besar, karena itulah untuk pertama kali seorang asing diterima di dalam kadipaten. Tentang beras besar orang tak mem beritakan. D an sekarang Tuban mem iliki dongengan baru tentang bangsa manusia berkulit merah yang hidup di balik bumi, berjalan tergantu ng pada tangan dan dengan kaki melambai-lam bai di udara.

  Tholib Sungkar Az-Zuibaid alias Sayid Mahmu d Al- Badaiwi alias Sayid Habibullah Almasawa merasa puas dengan semua jerih-payahnya. Ia merasa telah berkenan di hati Sang Adipati. Sebentar lagi bendera Tuban akan dikuasainya. Syahbandar yang sekarang harus menyingkir! Harus!

  Pulang dari kadipaten Rangga Iskak langsung m enuju ke pelabuhan untuk menem ui nakhoda kapal Sayid. Temyata kapal itu telah berangkat ke G resik. D engan jengkel ia pulang sambil menyump ah-n yump ah dan mengu tuk semua orang Arab di atas bumi ini kecuali mereka yang tersebut dalam Alkitab dan Tarikh.

  D engan cepatnya terjadi persahabatan antara Sayid dengan Pada. Mereka berdua fasih berbahasa M elayu. Pada pandai melayani orang-orang besar dan Sayid pandai mengambil hati oran g.

  Padalah yang mengantarkan tam u itu mengh adap Sang Patih. Ia duduk di belakangnya. Sang Patih duduk di atas kursi kayu dihadap oleh empat orang yang barn datang dari Bonang – mu rid-murid Ki Aji

  Bonang – dan dianggap tahu berbahasa Arab.

  Bekas Syahbandar Malaka itu dudu k di antara mereka berempat. D an ujian diadakan . Tam u Sang Adip ati tertay/ a geii dalam hati mengetahui sedang mengh adapi ujian bahasa Arab. Seratus orang penguji masih takkan dapat mengatasi bahasa Arabkuf sum barnya dalam hati. Mereka paling-paling tahu bahasa ibunya sendiri, sedikit Melayu dan sedikit Arab! Tulisan latin mereka takkan bisa. Ayoh, ujilah aku, tantan gnya.

  Salah seorang di antara empat penguji menyodorkan padanya setump ukan lontar bertulisan Jawa. “Tuan Sayid bisa mem baca ini?” tanyanya. Ia am bil seikat lontar, mengamat-amati, menggeleng melihat huruf-h uruf yang menjulur berlingkar-lingkar itu. “Tulisan kafir,” gum amn ya.

  “Jadi Tuan Sayid dapat m embacan ya?” Ia m enggeleng. Seaksara pun tak terbaca olehnya. “Baik, kalau begitu biar kami bacakan, ukara demi ukara. Ini tulisan Jawa, tetapi berbahasa Melayu. T ulis oleh

  Tuan terjemahannya dalam bahasa Peranggi. Tuan sendiri punya kertas dan kalam. ” D an dengan demikian ujian dimulai. D ari setump ukan lontar Iain Tholib Sungkar Az-Zubaid alias Sayid Mahm ud Al-Badaiwi alias Sayid Habibullah

  Almasawa menterjemahkan ukara demi ukara yang dibacakan itu ke dalam bahasa Ispanya dan Peranggi. Tulisan-tulisan terjemahan itu disimpan oleh Sang Patih.

  Pada hari berikutnya dengan diantarkan juga oleh Pada ia mengh adapi ujian yang mem akan waktu lama. Ia tak pernah menyangka akan m enghadapi ujian pengalaman gila itu. Para penguji m emberikan kembali terjemahan Peranggi padanya, kemudian m enunjuk pada baris-baris tertentu dan bekas Syahbandar Malaka diminta untuk melisankannya dalam Melayu.

  Peluh mu lai mem basahi tubuhnya. Ia mengakui terjemahan Peranggi itu ditulisnya dengan gegabah. Kalimat-kalimat dan kalim at itu bermu nculan di hadap an matanya seperti barisan mara. Ia menyesal telah melakukannya dengan gegabah dan menganggap sepele. Berkali-kali para penguji melihat tak ada kecocokan antara terjemahan Melayu orang ujian itu dengan teks Melayu dalam tulisan Jawa diatas lontar. Pengalamannya yang sama dialaminya sewaktu mem elayukan Ispanya tulisannya sendiri. Banyak selisihnya dengan teks Melayu di atas lontar.

  “G usti Patih Tuban,” salah seorang penguji melaporkan. “Mem ang Arabnya tidak meragukan, Peranggi dan Ispanya-nya nampak agak sembarangan, G usti.” “Banyakkah kelirunya?” tanya Sang Patih.

  ‘Tidak G usti, hanya sembarangan.” Untuk pertam a kali dalam hidupnya Tholib Sungkar Az-

  Zubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habibullah Almasawa kehilangan kata-kata dan bermandi keringat sebanyak itu.

  Hari yang dinanti-n antikan tiba juga: hari penutupan pertandingan. Sejak pagi hari dengan membawa bekal makan orang telah datang berbondong ke alun-alun. Bunyi gam elan tak henti-hentinya berlagu.

  Orang berdatangan bukan sekedar hendak menyaksikan pertandingan. Pada hari penutupan Sang Adipati akan datang dalam iringan besar para pembesar negeri dan para pengawal.Sem ua dalam pakaian berwarna-wami. Mereka akan berbaris datang ke alun-alun mengu njungi semua gelanggang. Para penilai akan berbaris di belakang para pengawal dengan kaki dan tangan berhiaskan giring-giring setiap orang di antara mereka akan mem bawa um bul-umbul kecil beraneka wama.D i belakangn ya lagi akan menyusul barisan pengawas pertandingan, semua m enabuh genderang kecil.

  D an begitu Sang Adipati dan rombongan datang orang pun bersimpuh di tanah dan mengangkat sembah. Begitu rombongan lewat orang pun berdiri dan bersorak gegap- gempita.

  Ro mbongan itu lewat tanpa menengok tanpa menjawab sembah. Orang berdesak-desak mengikuti rom bongan, semakin lama semakin tebal dan panjang. Sekali ini bukan sekedar karena kebiasaan: orang ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kerja mata Sang Adipati bila berhadapan dengan Idayu.

  D i dalam rom bongan pembesar terdapat Tholib Sungkar Az-Z ubaid, di Tuban Kota mu lai dikenal sebagai Sayid Alusawa. Ia tetap bertarbus merah dengan jum bai keemasan jatuh ke belakang, berjubah genggan g, agak bongkok, berjenggo t, bermisai, bercambang-bauk, jangkung dan mem bawa ton gkat hitam berhulu gading. Hidung bengkungnya m enjadi sasaran setiap mata.

  “Itulah Tuan Ulasawa!” seseoran g berbisik pada teman nya. Seorang lain tertawa keheran an, mem beri kom entar:

  “Betapa panjang dan bengkung hidung itu. Kalau diberi berbuntut panjang, pasti akan lebih mendekati kadal.” “Puh!”, yang lain lagi mendengus, “G usti kita mem ang kranjingan orang asing – dan semua saja tidak beres.” Apa pun komentar orang yang pasti sudah dapat diketahui: itulah tam u terhormat yang telah berkenan di hati Sang Adipati.

  D an dalam hati mereka, yang mem ang sudah tidak senang pada orang asing yang mendapat jabatan tinggi, timbul pertanyaan: jabatan tinggi apa yang akan diterimanya? Pada um umn ya oran g menebak: penghulu negeri. D an tebakan itu saja sudah cukup menjengkelkan, mengingat penghulu sebelum nya telah banyak mengurangi kesenangan mereka dengan berbagai aturan yang masih juga berlaku samp ai sekarang Aturan baru, aturan baru, selalu mengu ran gi kebebasan. D an penduduk negeri dan kota T uban terkenal pencinta kebebasan.

  Tak jauh dari Tholib Sungkar berjalan Syahbandar Tuban, juga berjubah, hanya berwarna putih, berkopiah, tidak bersorban, berselendang leher putih. Hanya dia yang berjalan menundu k Tak ada namp ak sinar kegembiraan pada wajah dan matanya, di tengah-tengah pesta yang mem beludag itu.

  D am arsewu dan cempor menyala di mana-mana, mencoba mengu sir semua bayang-bayang benda dan manusia. Nam un semua lamp u itu tak kuasa mengu sir bayang-bayang dalam pikiran Rangga lskak.Ia telah mendapat firasat Sayid Habibullah Almasawa tidak lain dari Syahbandar Malaka yang dahulu menjatuhkan abangn ya, dan sekarang datang ke Tuban untuk menjatuhkan pula sebagai Syahbandar. Tidak salah lagi, kata hatinya, dialah iblis laknat itu. Dan pikiran nya kini bekeija keras mencari jalan untuk menyingkirkan orang Mo ro itu dari Tuban sebelum Sang Adip ati mengambil sesuatu keputusan yang akan merugikan dirinya.Si pembual, penipu, pendusta, mengaku keturunan N abi itu harus punah!

  Begitu rombongan mem asuki ruangan tari, ia sudah mem punyai rencana. G amelan membubungkan lagi penghormatan. Kepalanya bermahkotakan bunga-bungaan sedang pakaian tarinya yang serba ketat mem peragakan resam -tu buhnya semamp ai berisi. Pada bibimya tersunting senyum kemenangan . Matanya mem ancar penuh keyakinan dan kebahagiaan. W aktu mengangkat sembah gerak lehernya berayun seakan sedang menyerahkan pipinya untuk dicium oleh penonton di depan, sebelah kiri dan kanan. D an R angga Iskak tak melihat semua itu.

  Orang bersorak-sorai gegap-gempita. Sang Adipati menganggu k-angguk menyetujui. “Itulah Idayu, Tuan Sayid,” Sang Adipati berkata dalam

  Melayu, “kekasih Tuban, bunga seluruh Tuban. Tiada tand ingan dalam tari dan kecantikan dan keluwesan. Juara tiga kali berturut.”

  “Patik,G usti.” Mata Tholib Sungkar Az-Zubaid menyala-n yala, ia angkat tongkatnya turun-naik, mengagumi tarian Idayu.

  “D ahulu gadis seperti itu akan m eneruskan pertandingan ke W ilwatikta, ibukota Majapahit.” Tholib Sungkar Az-Zubaid mencantolkan ton gkat pada lengan kanan. menegakkan bongkoknya dan bertepuk- tepuk: “Haibat!” serunya. Tanpa tandingan. Banyak negeri terah patik lihat, ya G usti. Yang ini mem ang tiada tara! N am anya pun indah: I-da-yu. D an betapa cantik! Aduhai betapa cantik, kau, Idayu!” gumamnya. “Allah telah menciptakan kau sesuai dengan kehendaknya.” Mata Sang Adipati bersinar-sinar hampir tiada berkedip. Orang pun lupa memperhatikan mata yang sepasang itu. Semua tertarik pada Idayu. Tetap hanya Rangga Iskak antara sebentar melirik pada Tholib Sungkar Az-Zubaid.

  “Aduh, Aduh, Aduh, G usti!” gumam bekas Syahbandar Malaka itu seperti kesakitan. “Apa, Tuan Sayid?” tanya Sang Adipati seperti pada seorang sahabat lama. “Serba indah, G usti, serba cantik, serba mengikat. Kalau di Ispanya sana, G usti,” ia bertepuk bersemangat, “tidak salah lagi, pasti akan jadi hiasan istana E kopal.”

  “Apa?” “Hiasan istana raja Ispanya, G usti.” “Hiasan istana raja…. ” Sang Adipati berbisik mengu langi sambil tersenyum. Kemu dian agak keras,

  “sayang hanya anak desa.” “Tuban menciptakan makhluknya tanp a perbedaan,

  G usti, baik desa mau pun kota milik Allah juga.” Ro mbongan pembesar kembali ke kadipaten sebelum tarian Idayu selesai…. Rangga Iskak tidak kembali ke alun- alun. Ia berjalan bergegas menuju ke pelabuhan . Kakinya melangkah cepat-cepat. Antar sebentar ia menengok ke kiri dan ke kanan. Sam pai di depan waning tuak dan ciu-arak ia berhenti. Pintunya terkunci dari dalam. Langit gelap. Ia mengetuk dan mengetuk. Tak lama kemudian pintu itu terbuka. Tak ada lampu menyala di dalam. “Kaukah itu, Yakub?” “Tidak salah, T uan, Yakub ada di sini menunggu Tuan.

  Tuan tidak masuk?” Syahbandar Tuban itu masuk ke dalam, duduk pada salah sebuah bangku setelah menggerayanginya dengan hati-hati.

  D alam kegelapan tak ada nampak wajah dua-duanya. matari dan bulan diciptakan. Hanya bisik-bisik pelahan, seperti guru di kejauhan, tanpa nada: “Sang Adipati ini lain dari putra-putran ya, Yakub. Raden Sayid itu sepenuh hati mengabdikan diri pada Islam, Sang Adipati ini, hanya perdagangan dan keuntungan saja yang dia urusi. D asar Rangga D emang….”

  “Tapi Sang Adipati jelas berpihak pada Islam, Tuan,” Yakub mem bantah. “D ari mana pikiranm u itu?” “Uah, tuan Syahbandar Tuban, bukankah sudah aku samp aikan, Sang Adip ati sudah bersiap-siap dengan cetbang?”

  “Benar, bersiap-siap berperang terhadap D emak.” Yakub berdiam. “Lantas di mana Islamnya, Yakub?” “Banyak yang bilang tidak begitu. Sang Adipati tak pernah memperlihatkan kegusaran Jepara diambil oleh

  D emak, Tuan Syahbandar. Jepara direlakan, karena D emak Islam yang mengambil. Orang bilang Tuban bersiap-siap terhadap Peranggi.”

  “Bodoh, kau, Yakub. Mari aku bilangi. Tak kau lihat tadi Sayid palsu Habibullah Almasawa sudah mu lai mengiringkan Sang Adipati?”

  “Semua orang sudah melihat, Tuan.” “Tandanya dia akan gantikan aku jadi Syahbandar

  Tuban.” “Tidak mu ngkin, Tuan.” “Untuk melayani kapal-kapal Peranggi dan Ispanya. D ia dia dianggap lulus. Maka tak m ungkin Sang Adipati punya sikap terhadap Peranggi atau Ispanya. Dia sendiri kafir! D an akan mati sebagai kafir! D ia mu nafik, kafir yang mu nafik. Pada saudagar-saudagar Islam ia perlihatkan diri seorang Islam demi mas dan perak, dan sutra dan tembikar, dan persembahan. Berap a perempuann ya? Tak ada orang bisa mengh itung.” Bisikannya semakin mengandung am arah, “Coba, oran g-orang lain diperintah kannya bersembah yang untuknya, yang Buddha, yang W isynu, yang Syiwa. Juga mandi junub, Yakub, dia tak lakukan sendiri, orang lain haru s mewakilinya.”

  “Kalau begitu Tuan, memang kurang ajar Sang Adipati itu. Tapi bagaimana pun, Tuan, Sayid itu takkan mu ngkin dap at menggantikan Tuan.”

  “Mengapa tidak.” “Aku bilang, pendatang itu tak mu ngkin dapat jadi Syahbandar Tuban, biar pun Sang Adipati mengh endaki.

  Tuan akan tetap di tempat. Jangan lupa, Tuan, Yakub, masih segar-bugar, sekarang terserah saja pada Tuan bagaimana jalan dan caranya.”

  D alam kegelapan itu bisikan mereka makin pelan, semakin mesra seakan dua sahabat karib, yang baru bertemu setelah berpisah sepuluh tahun. D an suatu rencana tertimpalah pada malam itu juga: Sayid Habibullah Almasawa disingkirkan dari Tuban, hidup atau mati. Rencana akan dijalankan secepat-cepatnya dan seteliti- telitinya. Menjelang subuh rencana sudah selesai sepenuhnya. D an waktu Syahbandar akan pulang terdengar suara Yakub yang agak keras: “N anti dulu, Tuan. Belum lagi Tuan perhitungkan biaya untuk si Yakub miskin dan teman -tem annya.”

  “Iblis!” bentak Rangga lskak. “Kau selalu menuntut biaya. Berap a kau kehendaki?” “Lima dinar, Tuan.” “Husy. D engan lim a dinar aku bisa beli kepalamu samp ai kepala nenekmu sendiri.” “Uah, uah, ” kemudian Yakub tertawa senang, “hanya lim a dinar harga jabatan T uan? T inggal pilih, Tuan. Yakub sih, sekedar tenaga mu rah.”

  Rangga Iskak berhenti berjalan. Ragu-ragu ia bertanya: “D alam waktu berap a hari semu a selesai?”

  “D ua minggu, Tuan. Begitu dia keluar dari kadipaten, jadilah sebagaiman a Tuan kehendaki.” “Baik. Terima ini satu dinar panjar,” dan ia pun pergi tanp a menoleh lagi. Yakub tertawa, masuk kembali ke dalam warung dan mendengus: “Si buaya itu sudah menyediakan dinar dalam pundi-pundinya. Kalau mengenai mas, mas yang harus keluar, dia pikun seperti hampir-h ampir mati tua. Kalau emas harus masuk, dia lebih dari seorang periba. D asar buaya darat!”

  Tholib Sungkar Az-Z ubaid alias Sayid Mahmu d Al- Badaiwi alias Sayid Habibullah Almasawa masih mendengkur di gandok belakang kadipaten….

  0o-d w-o0

  Semua orang datang ke alun-alun mem bawa bekal

  Pelabuhan sunyi. Jalan-jalan senyap. Semua berkepentingan menyaksikan dan mendengarkan sendiri keputusan Sang Adipati di hadapan para petanding.

  Alun-alun lebih ram ai daripada kemarin atau kemarin dulu. Bangsal-bangsal pertunjukan telah terbongkar. D an orang dudu k berbanjar-banjar di atas tanah, tak peduli rakyat biasa saudagar ataupun orang asing.

  Pendud uk Tuban punya kepercayaan: meriah-tidaknya penutupan pesta akan jadi petunjuk makmu r-tidaknya Tuban pada tahun mendatang. Orang berkepentingan hadir. Sakit ringan dilupakan. Yang sakit berat digotong dengan tand u beratap kain batik. Seseorang mencarikan bunga- bungaan yang telah luruh dari tubuh para penari dan diobatkan padanya sebagai param atau minuman. Tarian adalah keindah an gerak yang diajarkan oleh dewa kepada manusia. D an bunga yang terhias pada tubuh penari adalah wadah tempat para dewa menurunkan berkahnya.

  Barisan kuda telah tiga kali mengedari alun-alun. Para peserta pertandingan telah dud uk di dalam pendopo kadipaten. Canang bertalu satu-satu. Keadaan menjadi sunyi-senyap. Hanya kadang-kadan g, di sana-sini, terdengar tangis bayi. D esau angin dan deburan laut tak digubris orang. Semua yang dud uk di atas rumputan mem usatkan pendengaran pada suara-suara yang akan datang nanti dari dalam kadipaten. D an mata mereka antara sebentar mengawasi gerak-gerak para pejabat yang berdiri di mana- mana, berpakaian serba kuning, juga selendang dan destarnya. D ari kejauhan nampak seperti cuwilan kunyit sedang di jemur. Itulah para peseru yang akan m enyerukan percakapan yang terjadi di pendopo nanti.

  D i dalam pendopo sendiri Sang Adip ati telah dud uk di atas tahta gandingann ya. Semua pembesar pribumi duduk kebiasaan, Tholib Sungkar Az-Zubaid mendapat kursi kayu. Tempatnya ndnlnh di pinggir kanan, hingga lskak tak mendapat kursi. Ia berdiri di tempatnya yang biasa di pinggir kiri, dan dengan demikian mendapat kebebasan menyemburkan pandang kebencian pada oran g Mo ro itu.

  Tidak salah lagi, pikir Syahbandar Tuban, semangkin had tangann ya semakin mendekati bandarku juga. D engan dia Sang Adipati takkan bakal melakukan perlawanan terhadap Peranggi dan Ispanya. Hanya segeram an dan kejengkelan berkiprah dalam hatinya sejak orang Arab itu mendarat di Tuban. Sekarang dia mendap atkan bangku pula! Alam at Sang Adipati telah jatuh ke dalam genggam annya. Keparat! Laknat!

  D an para punggawa pun sudah yakin sekarang: Sayid itu akan segera jadi pejabat tinggi dan penting. Sebentar nanti mu ngkin akan diumumkan .

  Seorang punggawa, yang mewakili dewan penilai, dengan lisan telah mem persembahkan nama para juara yang dibacanya dari lontar. D engan suara lantang para peseru meneruskan bacaan itu ke jurusan alun-alun. Para peseru di alun-alun meneruskan lagi ke tempat-tempat yang lebih jauh. Setiap sesuatu selesai dium umkan sorak-sorai berderaian mengegongi.

  G aleng tersebut sebagai juara gulat untuk tahun ini, dengan peringntan, ia haru s bermain lebih patut. Sorak yang mengikuti terdengar ragu-ragu. Seluruh penonton dari Awis Kram bil mem bisu. Seakan semua itu sebagai ucapan ikut berdukacita pada juara gulat dua kali berturut yang bakal kehilangan kekasihnya. Bahkan peringatan itu pun terdengar sebagai pendahu luan bencana atas dirinya.

  N am a para juara telah selesai disebutkan. Orang masih mem bisu dalam kecucukan dan ketegangan. Idayu! mengapa dia? Mengapa tak disebut? Apa sedang terjadi? Tapi akhirnya nama itu disebutkan juga: “Juara tiga kali berturut untuk tari, Idayu, dari desa perbatasan Awis Kram bil!” Para peseru meneruskan ke seluruh alun-alun. Sorak sorai gegap-gempita, berderai-derai seperti gelom bang semudra, bergulung seperti hendak m embenam bumi.

  “Setelah dua puluh tahun ini, mu ncul, sekarang juara tiga kali berturut! D ua puluh tahun! Ingat-ingat. D an nam anya: Idayu. D esanya Awis Krambil! Tenang. Sang Adip ati Tuban berkenan bertitah….” Sunyi-senyap.

  D i dalam pendopo, Syahbandar Tuban tak henti- hentinya m elirik pada T holib Sungkar Az-Zubaid. Orang itu sedang dud uk tenang menikmati kegembiraan yang berlangsung di depan matanya sambil mencicipi kehorm atan yang semakin meningkat juga: mendapat kursi kayu satu-satunya! N ampaknya ia tak peduli oran g senang atau tidak terhadap dirinya, asal Sang Adipati berkenan, dan semu a sudah be res. Apa peduli yang lain-lain?

  ”]uara tiga kali berturut” Sang Adipati mem ulai dengan suara pelahan, kata demi kata. “I-da-yu!” ia menyebut nam a itu dengan perasaan meresap seakan sedang mencicipi madu.

  Kata-katanya, dengan gaya dan nada sama, berkumandang melalui para peseru ke seluruh alun-alun. “Ketahu ilah, juara kesayangan seluruh Tuban. Tak pernah ada kecuali kau: satu perpaduan antara keindahan tubuh, kecantikan wajah, keagungan tari. Hanya kau! Seluruh Tuban berbahagia dapat menyaksikan dalam hidupnya seorang dewi tiada tandingan.”

  D an kata-kata penguasa Tuban itu lebih mendekati Adip ati tak juga menyebut-nyebut kebesaran nama Tuhan, atau Allah, atau Maha D ewa atau Maha Budha atau Sang Hyang W idhi. la sengaja hendak m enenggang semua agama rakyatnya. Ia hadapi mereka semua sebagai kawula atau tam u, bukan sebagai pem eluk sesuatu agama.

  “Sang Adipati Tuban,” ia meneruskan, “dan seluruh negeri Tuban. Idayu, memuja kau. Kami dapat mengerti mengapa m ereka semua m enghendaki agar kau selalu dapat dikagumi dan dipuja di ibukota ini”

  Sang Adipati berhenti bicara, mem berikan kesempatan pada para peseru untuk melakukan kewajibannya. Orang bersorak ragu, kemudian menggelimbang sejadi-jadinya, kemudian ragu-ragu lagi. Sorak itu panjang panjang sekali, sehingga canang kadipaten dipukul tiga-tiga untuk mem beri peringatan. Lambat-lam bat sorak itu mereda.

  Sang Adipati tersenyum puas-puas dan mengerti: ia mendapat sokongan rakyatnya wajahnya berseri-seri. Ia pandangi Idayu di tempat duduknya dan sedang mengangkat sembah. G adis perbatasan itu selalu tunduk menekuri lantai.

  “Kau dengar sendiri bagaiman a mereka menyetujui,” Sang Adipati meneruskan. “Pastilah kau sendiri juga setuju.”

  Idayu tetap menekuri lantai. “Orang tua-tu a mengerti, Idayu, dan kami, Adipati

  Tuban juga mengetah ui, ada aturan khusus bagi juara tiga kali berturut. Idayu! Mengapa kau m enggigil?” Kata-kata Sang Adipati, juga turun-naiknya nada, berpendar-pendar ke alun-alun melalui para peseru. Sebentar sorak-sorai meledak, kemudian m endadak padam. Sunyi-senyap.

  “D engarkan baik-baik. Usahakan jangan menggigil. Siapa pun mengerti kebahagiaanmu, Idayu. Kebahagiaan yang terlalu am at sangat, yang bisa kau dap atkan hanya di bum i Tuban ini. Berbahagialah orangtua yang pernah melahirkan kau. Berbahagialah anak-anak yang bakal jadi keturunanm u. D engarkan baik-baik, kau. Idayu, juara tiga kali berturut, kau m endapatkan….”

  Juga G aleng menggigil. Ia rasai pedalaman dirinya menggeletar, karena cemburu, karena geram, karena ketiadaan daya mengh adapi penguasa m utlak negeri Tuban, karena tak sudi kehilangan amarah-sendiri. Ia rasai kata- kata manis Sang Adipati sebagai rayuan dan sebagai pemula kehancuran kebahagiaan dan impiannya. Itukah arti kekuasaan Sang Adipati yang diejek dan ditertawakan oleh Rama Cluring? D engan kekuatan batin luar biasa ia tindas semua perasaann ya. Dan setelah semua tertindas, dengan malu-m alu mu ncul ketakutan: ketakutan pada hukum an yang diancam kan oleh kepala desa. Apakah yang harus ditakuti oleh seorang yang akan kehilangan harapan? Ia tertawakan dirinya sendiri. Segala macam hukum an takkan berarti. Kalau soalnya hanya mati, berapa kali saja ia telah hadapi maut panggung gulat! Ketakutannya hilang. Yang mu ncul sekarang kekuatiran: jangan-jangan Idayu sendiri setuju dan dengan sukarela menerima tangan Sang Adip ati.

  Keringat dingin mu lai bermanik-manik pada tengkuknya. Sorak-sorai telah padam. Sang Adip ati meneruskan:

  “Pertam a, dengarkan baik-baik, Idayu dan semua kawula Tuban. Pertama, hak menerima dan mengenakan cindai penari yang tak pernah dikenakan penari siapa pun selam a dua puluh tahun ini….”

  Sorak-sorai. G aleng mengangkat pandan g menetak wajah Sang Adipati. “… D an perhiasan serta pakaian pribadi, perhiasan serta pakaian penari, seluruhnya dari emas dan kain pilihan… perm ata….” Sorak-sorai!

  “Terimalah sendiri karunia Adipati Tuban ini, kau, pujaan Tuban! Maju, jangan ragu-ragu, jangan gentar… Ayoh!”

  G aleng bukan hanya mengangkat pandang ia mengangkat kepala untuk m elihat kekasihnya di depan sana menerima karunia langsung dari penantangnya, penguasa Tuban. Ah, Tuban dan hati pujaan itu! Kembali. Cem buru menyam bar hati dan mem butakan pandang. Ia angkat kedua belah tangan dan ditutupkan pada matanya. Ia tak mau melihat itu. Idayu! Jangan sentuh tangan berkarunia itu. Jangan biarkan kulitmu terkena olehnya, Idayu. N afasnya pengap. Cepat tangan kanann ya menggerayang pada pinggangnya. Tak ada keris di situ. D an ia lihat Idayu merangkak maju dan beringsut sambil sebentar-sebentar mengangkat sembah.

  D i alun-alun para hadirin tak lagi dapat tenang pada tempatnya. Mereka tak puas hanya mendengar. Sekiranya tak ada aturan tak boleh lebih tinggi dari kepala Sang Adip ati, mereka sudah berlarian mencari poho n dan naik ke atasnya.

  “D engan kejuaraanm u, dengan kecantikan, dengan segala keluw esan dan daya tarik yang ada padamu, kami ada rencana untukm u.” Sunyi-senyap.

  Tiba-tiba para peseru meneruskan ke alun-alun: “Yang terhormat tamu G usti Adipati Tuban, bernam a Sayid Habibullah Almasawa dari negeri Andalusia berkenan bersembah .” “Ya, G usti jadikanlah bunga itu hiasan kadipaten!” Sunyi-senyap. Tak ada sorak. Tiba-tiba menyusul dengun g yang tak dapat difahami dari seluruh alun-alun. “Biar dia tinggal jadi penari untuk seluruh Tuban!” seseoran g m emekik. D an suara pekikan itu dapat makian dari para peseru. “Titah G usti Adipati selanjum ya,” peseru meneruskan,

  “hak kedua bagi juara tiga kali berturut, dengarkan, Idayu, hak bagi penari terbaik di seluruh negeri,” sunyi-senyap, “hak kehorm atan yang tak dipcroleh oleh siapa pun: hak mengajukan permo honan apa saja yang sesuai dengan kepatuhan yang berlaku.” Sorak-sorai bergu lung-gulung.

  Rangga Iskak tak mampu mengikuti seluruh jalannya perishya. Mu ngkin inilah untuk pertam a kali dalam jabatann ya selam a sekian belas tahu n ia tidak dap at menyimak dengan baik. Melihat orang M oro itu m asih juga dud uk dengan senangnya, bahkan berani-berani mem persembahkan saran yang sangat mem alukan sebagai orang yang mengaku keturunan N abi, saran terhadap seorang penguasa kafir, kukuh dan semakin kukuh pendapamya: dengan menyingkirkannya dari bum i yang sedang diislamkan ini aku akan mendap at pahala besar. Untukm u, Moro, hanya kematian saja yang terbaik. Segala yang telah terhina di sini tak boleh susut, tak boleh berkurang, apa lagi rusak. Awas, kau, Moro!

  D i tempat duduknya, di belakang Idayu. G aleng merasa seperti menduduki bara. Beberapa peserta dari Awis

  “Aku ikut mem ohon untuk kebahagiaanmu, Kang G aleng” teman di sampingnya berbisik dan dipegangnya lengan juara gulat itu.

  G aleng mem balas hiburan dengan meletakkan tangan pada lengan oran g itu. Berbisik mem balas: “Hidup atau mati, takkan dapat aku lupakan kebaikanmu.”

  D an Idayu masih juga belum kembali ke tempatnya. Ia masih dud uk menundu k di bawah kaki Sang Adipati. Semua m ata, kecuali R angga Iskak, tertuju padan ya.

  D ari atas kursinya Tholib Sungkar Az-Zubaid mem andangi gadis itu dengan m ata m enyala-nyala menelan seluruh kehadiran nya. Mata itu besar bulat, hitam-lekam diwibawai oleh alis dan bulu mata tebal serta rongga mata yang dalam dan gelap. D an mata yang menyala-nyala itu mem ancarkan kepongah an, gila hormat tanpa batas, rakus, bernafsu, tanpa kesabaran dan tidak menenggang, dan lebih daripada itu licik: yang ada hanya aku, semu a untuk aku.

  Hening, tenang. Hanya nafas manusia terdengar. Kemu dian: “Mengapa kau menan gis, Idayu?” para peseru meneruskan. “Betapa besar kebahagiaan yang sedang berbunga dalam hatimu. Adipati Tuban bersabar m enunggu perm ohonanmu . Kami bersabar. Keringkan airmatamu, puaskan tangismu, juara, karena kebahagiaan yang lebih besar lagi sedang menunggum u. Juga semua kawula Tuban ikut bersabar. Juga mereka yang sedang diganggang terik matari di alun-alun sana, Idayu!”

  G aleng mem usatkan pandan g pada Sang Adipati, penantan g tiada terlawan itu, dan melihat pada punggung Idayu yang tersengal-sengal. Kalau Idayu menyerahkan dirinya, ia akan lompat, mem atahkan lehernya, dan merangsan g Sang Adipati untuk menerima ujung-ujung dirinya, ia yakinkan dirinya, dia juga tahu harga diri dan kehorm atan. “Kau berdua akan jadi sepasang merpati,” Rama Cluring merestui sebelum meninggalnya. “Semoga keturunan kalian akan bercipta dan mencipta, mampu mengem balikan kebesaran dan kejayaan yang telah hilang.” Rama Cluring lebih berharga dari pada kekuasaan mu tlak yang kini dihadapin ya.

  Para punggawa tersenyum -senyum dalam hati, juga para pembesar, mengetahui betapa ramah dan manis Sang Adip ati sekarang dan sekali I ini. Betapa pemurah dengan kata dan senyum orangtua yang sudah serba putih itu.

  ”Sudah siapkah kau, Idayu?” Sang Adipati bertanya lemah-lembut. “Mendekat sini, oran g cantik mengapa menjauh lagi? Apakah perlu Adip ati Tuban menyekakan airmatamu?!”

  Peseru-peseru meneruskan. D an keheningan kembali menyusul. “Ayoh persembahkan perm ohon an.” “Ampun! G usti Adipati Tuban sesembahan patik,” akhirnya keluar juga kata-kata Idayu yang menggigil tersendat-sendat. Para peseru meneruskan dengan terbata- bata. “Apa yang patik akan persembahkan,… sebagai perm ohonan….”

  G aleng mengepalkan tinjunya. Kembali tubuhnya menggigil. Otot-otot yang kukuh ternyata tak kuasa menah an gelom bang perasaan yang mem ukul menggebu- gebu. Mengapa lama betul Idayu menyelesaikan kata- katanya?

  “Harapan patik… semoga permohonan patik… yang tiada sepertinya takkan m enggusarkan G usti Adipati Tuban sesembahan patik.” Kata-kata Idayu tersekat m acat.

  Rangga lskak sekali lagi m elirik pada m usuhnya. Ia telah serahkan cepuk tem bikar itu pada Yakub. Terserah pada dia bagaimana akan menggunakannya, apakah melalui kulit, mu lut atau usussi durhaka itu. Terserah. Racun campuran bisa ular, yang biasa dibawa ke m ana-mana oleh petualang- petualang Benggala dan selalu jadi kegentaran perantau- perantau lain, sekarang datang waktunya untuk dicoba keampuhan nya. Sayid Habibullah Almasawa akan hanya sebentar terkejut, kemu dian seluruh jaringan syarafnya akan lumpuh, tanpa sakit, dan … tiada lagi masalah Syahbandar lama atau baru, karena ia tetap dan akan tetap jadi Syahbandar Tuban. Tetapi di m ana Yakub? Mengapa ia tak juga nampak dan melapor? Bagaimana ia akan menjalankan tugasnya?

  Ham pir pada banjar terakhir di alun-alun seseorang peseru meneruskan: “Ayoh, Idayu…!” Sekarang Idayu berdatang sembah: “Ampunilah patik, ya

  G usti sesembahan patik. Bukan maksud patik hendak menggusarkan G usti. Permohon an patik yang tidak sepertinya adalah…”

  “Betapa susah berhadapan dengan G usti Adipati” seseoran g m enyeletuk. “D iam!” bentak seorang peseru. “N ah, aku teruskan persembahan Idayu. D engarkan… adalah… adalah… G usti Adipati Tuban sendiri.. adalah…

  Kakang G aleng… Juara gulat!” Sekarang G usti Adip ati Tuban bertanya: “Kami tidak mengerti, Idayu. Apa maksudmu!?” Tetapi para hadirin di seluruh alun-alun m engerti belaka. Sorak-sorai meledak sejadi-jadinya. Hadirin di alun-alun lupa daratan, lupa pada semua aturan. Mereka berlompatan, berjingkrak, kegiran gan. Para peseru tak mampu mem adam kan keriuhan. Juga yang sakit di atas tand u-tandu mem erlukan tersenyum dan bersyukur pada Hyang W idhi. Mereka dap at menangkap maksud Idayu. Ah, perawan mulia itu! D an rakyat Tuban sejak dahulu juga mem uja cinta yang berpribadi, disemerbaki kesetiaan dan ketabahan mengh adapi hidup dan mati. Mereka bersorak untuk kemenangan cinta. Udara menggeletar seakan tiada kan habis-habisnya. Canan g peringatan bertalu tanpa hasil.

  D i dalam pendopo sendiri orang melihat wajah Sang Adip ati tiba-tiba merah padam. Suaranya agak sengit: “Apa maksudm u? Katakan yang jelas!”

  G aleng tak mampu lagi mendengarkan. Tanpa disadarainya airmata haru an telah meleleh jatuh setelah menyeberan gi pipinya, mem basahi lengan tern an yang mengh iburnya.

  Teman itu melihat pada airmata itu dan dengan diam - diam mengecupnya dengan bibir sebagai berkah dari Hyang Kamajaya, untuk m endapatkan kekuatan cinta semacam itu juga. Kemu dian ia belai-belai punggung G aleng.

  “Patik memo hon, ya G usti Adipati Tuban sesembahan patik,’ mendadak suara Idayu menjadi keras, kuat dan tabah setelah diberanikan oleh sorak-sorai, “semoga G usti Adip ati Tuban berkenan, G usti Adipati Tuban sendiri, merestui patik dan Kakang G aleng sebagai istri dan suami.”

  Idayu telah mempersembahkan keinginannya sebagai hak yang telah dikaruniakan padanya. D an Sang Adipati semakin m emahami persembahan itu. Kedua belah kakinya yang tidak bergerak selam a ini dilemp angkan kejang. Matanya m embeliak. T angan kanannya berayun, kemudian mencengkam hulu keris. D adan ya terengah-engah.

  Mati kau, Idayu! Mati kau di ujung keris, pikir orang. D an para punggawa dan pembesar mengangkat kepala untuk mengagumi perawan desa yang gagah berani itu.

  Tholib Sungkar Az-Zibaid menjatuhkan tinju pada telapak tangan kiri, meringis.

  D i alun-alun suasana kembali mem buncah riuh-rendah. Tangan Sang Adipati terhenti pada hulu keris itu. N am pak ia sedang bergulat mengu asai diri. Cengkam an pada hulu senjata itu terurai dan tangannya jatuh lesu di samp ing badan . Ia mencoba tersenyum sambil mempeibaiki letak kaki.

  G elom bang sorak-sorai: masih membeludag mem andangi gunu ng melerus. Canang peringatan yang makin bertalu tenggelam dalam lautan sorak-sorai: I-da-yu, I-d a-yu, I-da-yu-I-da-yu! Beberapa orang nampak seperti kesetanan, mengangkat naik pacamya tinggi-tinggi, lupa, tak ada orang lebih tinggi dari kepala Sang Adipati.

  Banyak di antara wanita mengh apus airmata, tersedan- sedan terharu, menem ukan seseoran g yang mewakilinya sebagai makhluk pilihan para dewa.

  D i tengah-tengah keriuhan itu seorang nenek menutup mata, menundu k sampai-sampai ke tanah. Mem ohon: “Berbahagialah kau, wanita pilihan. Kahyangan terbukalah bagi cinta setia. Kau pilih petani desa daripada adipati berkuasa. Ya dewa batara: Betapa berbahagia ada jaman seindah ini.”

  Mendadak keriuhan reda. Suasana baru mengu asai keadaan. Orang duduk kembali di tempat masing-masing dengan tertib. Pada suatu jarak seseoran g berdiri, tak peduli pada larangan, suaranya lantang menyanyikan nyanyi pujaan untuk kebesaran D ewa Kamajaya dan D ewa agam a mereka: Syiwa. Buddha. W isynu. Islam. Kesyahduan m enguasai bumi, langit dan manusia Tuban.

  D i pendopo Sang Adipati bermandi keringat. M endengar mazmur menggelora di alun-alun, dan mengikuti tradisi lama, ia pun berdiri, turun dari tahta dan berlutut di hadapan Idayu. D an waktu m azmu r selesai ia angkat kedua belah tangan ke atas sambil berdiri. Semua mata bertemu pada tangan berkuasa itu.

  Orang telah bayangkan Idayu mati di ujung keris, menjelemp ah bermandi darah, karena demikian mem ang adat raja-raja Jawa. D alam bayangan orang, G aleng akan maju beringsut bersujud pada kaki Sang Adipati untuk juga menerima tikaman keris. Pada pinggangnya. Jantu ng orang berdebaran kencang.

  Temyata lain lagi yang terjadi: “Restu untukmu , Idayu, wanita utama Awis Kram bil dan Tuban. Seluruh Tuban bangga padamu. D engarlah oran g melagukan nyanyian puja untukku…, D engarkan orang bersorak-sorai untukm u….” kata-kata Sang Adip ati tersekat pada tenggorokan.

  Orang melihat penguasa itu menelan ludah, sekali, dua kali – suatu pantangan bagi orang yang sedan g dihadap. Kembali nyanyi puja untuk cinta menggema menyarati langit Tuban. D alam keadaan seperti itu Sang Adipati meneruskan, tanpa dud uk di atas tahta: “Idayu, kekasih Tuban, hari ini akan kami kawinkan kau dengan G aleng.” Sorak-sorai gila di alun-alun.

  “G aleng! Maju kau, juara gulat yang berbahagia!” G aleng maju dengan waspada, berjalan merangkak seperti katak, menyembah beberapa kail Kemu dian dud uk di samp ing kekasihnya.

  “Benarkah ini yang bernam a G aleng, Idayu? Pria yang engkau cintai?” “Benar, G usti Adipati Tuban sesembahan patik.” “Lihat dulu baik-baik, jangan keliru.” “Benar, G usti, tidak keliru.” “Tidakkah kau akan m enyesal, Idayu?” “D emi Hyang W idhi, tidak, G usti Adipati sesembahan patik” “Katakan ‘demi Allah’”, Tholib Sungkar Az-Zubaid berseru dari tempatnya. “D emi Allah, ya G usti.” “Kau yang bemam a G aleng dari Awis Kram bil?” “Inilah patik, G usti Adipati Tuban sesembahan patik.” “Jadi kaukah kekasih Idayu?” “D emikian adan ya, G usti.” Kembali Sang Adip ati mengangkat lengan : “D engarkan dan sakakan semua kawula Tuban. Pada hari ini, dengan kekuasaan kami, di kawinkan juara tari Idayu dengan juara gulat G aleng, dua-duanya dari desa Awis Kram bil.”

  Sorak-sorai bersyukur mem bubung ke angkasa. “Kami restui perkawinan kalian. Anak-anak berbahagia akan m enjadi keturunan kalian….” “Auzubillah!” terlomp at kata dari mu lut Rangga Iskak. Kaget pada seruannya sendiri ia meneruskan dalam hati: ”D asar kafir turunan kafir. Masa semacam itu mengawinkan oran g? Tidak syah! Mengaku Islam pula.

  Mu nafik. Kufur.”

  ‘Tidak syah!” gumam Tholib Sungkar Az-Zubaid dalam bahasa Arab. Sang Adip ati hendak bermain-main dengan hak dan hukum. Ya, ya, mem ang cerdik dia, Idayu dengan begitu takkan jadi hak bagi si pegulat itu. D ia akan tetap milik semua pendudu k Tuban. Mu ngkin kau sendiri yang akan meramp asnya kelak, Adipati. D an kau juara gulat yang sebodoh banteng. Hanya badanmu saja yang besar. Otakmu cuma sebesar biji korma kering.

  “Kakang Patih, persembahkan sesuatu pada kami.” D ari bawah kursi, Sang Patih Tuban mengangkat sembah. Kemu dian dengan suara pelahan : “Ampun, G usti

  Adip ati sesembahan patik, ada pun segala yang telah G usti ganjarkan benar belaka adanya. Kawula Tuban sangat mem uja cinta yang mu rni, ya G usti. D an bukan tanpa bahaya Idayu m emilih suaminya.”

  D ari alun-alun sorak-sorai menyerbu ke dalam pendopo, mem benarkan Sang Patih. Kemu dian hening. “Juga bukan tanp a bahaya bagi G aleng. Ia pun telah menunjukkan kejantanan, G usti Adipati Tuban sesembah an patik. Ia telah maju atas panggilan kekasihnya. Kalau bukan karena pemurah G usti, bukan kekasih ia dapatkan, tapi ujung keris.”

  “Kau benar, Kakang Patih.” “Ampun, G usti, adapun akan gadis ini, tidak lain dari penjelmaan Sang Hyang D ewi Kamaratih, dan perjaka ini penjelmaan Sang Hyang Kamajaya. Berbahagialah pengantin baru yang agun g, direstui oleh semu a kebajikan.

  Terkutuklah siapa saja yang mengganggu percintaan mereka.” Sebagian terbesar pengantar sumban gan, pria dan wanita, tua dan mu da, menolak disuruh pulang. Mereka bermaksud menyum bangkan tenaga juga. Maka jadilah da pur raksasa pada malam itu juga. Menyusul kemudian datang bond ongan grobak mengantarkan kayu bakar dan minyak-minyakan. D an api pun menyala dalam berpuluh tungku.

  D i dalam rumah-rum ah Tuban Kota oran g tua-tua mem erlukan menyanyikan kembali mamur Kamaratih- Kamajaya, mengajak anak-anak gadis mereka ikut serta menyanyikan, seakan-akan syair itu adalah pe rasa an mereka sendiri.

  “N ah, N ak. begitu seyogyan ya jadi wanita. Jadilah wanita utama seperti Idayu. Untuk cintanya dia berani hadapi segala, term asuk orang yang paling berkuasa di bum i Tuban. Ketahu ilah, tanpa cinta hidup adalah sunyi, karena raga telah mati dan dunia tinggal jadi padan g pasir. Bukankah itu kata-kata dalam mamur sendiri.

  Malam itu Idayu dan G aleng mendapat tempat sendiri- sendiri, dua-d uanya adalah tempat yang jauh lebih patut bagi dua oran g anak desa perbatasan.

  Idayu dilingkari oleh wanita-wanita tua, mewejanginya dengan seribu satu nasihat, mem andikannya, dalam jamban g air bunga, mem otongi bagian-bagian runcing dari giginya, kemudian memaraminya untuk mendapatkan kulit yang lunak dan berseri pada keesokan harinya.

  Ia ikuti segala harapan yang ditumpah kan pada dirinya. Ia berbahagia karena dap at m embahagian kekasihnya.

  Selesai berparam, seorang nenek m enyanyikan untuknya lagu-lagu tua, yang ia sudah banyak tak tahu artinya, kemudian nenek itu menerangkan artinya dan mem berikan tafsiran. Ia m endengarkan lebih khidmat dari pada upacara- upacara yang pernah disaksikannya. Ia tahu segala macam suam inya ia akan kembali ke desa mem bawa keharum an dan kebesaran.

  Lain halnya dengan G aleng. Sekalipun ia dilingkari pria- pria tua, mewejanginya dengan seribu satu nasihat, memijiti seluruh tubuhnya agar otot-otomya kendor kembali, ingatannya tak juga mau lepas dari Ram a Cluring dan segala akibat yang mu ngkin timbul. Ancaman kepala desa itu m embuatnya terus-menerus tegang dalam kewaspadaan. D an ia menduga, apa yang diperbuat oleh Sang Adipati sekarang ini hanya satu mu slihat untuk mem usnahkannya dari mu ka bumi. ; tu. Ia tak rasakan

  Ia tak dengarkan wejangan-wejangan tangan yang mengendorkan oto t-ototnya. Tiga orang melulurnya berbareng. Seorang pada bagian bahu, yang lain pada bagian pinggang. Yang ketiga pada bagian kaki. D an nasihat m ereka tak putus-putusnya bersahut-sahutan seperti burung berkicau.

  G aleng berusaha keras m engingat-ingat kembali…. Orang tua bertubuh kecil, pedok, karus semua sudah serba putih karena tuan ya dengan cepat mengutip N egara

  Kertagam a dan Pumn tmi. Menyebutkan kerajaan-kerajaan, negeri-negeri dan kota-kota seberang yang berlindung di bawah kekuasaan Majapahit. Bahwa di mana tentara laut Majapahit mendarat, di sana pula orang berkerumun hendak mendengarkan berita dari Bumi Selatan, juga hendak mendengarkan centa-berangkai Panji dan Candrakirana.

  “Selama kalian tak mampu melihat dun ia, selam a itu kalian telah diperlakukan oleh Tuban bukan sebagai kawula, tetapi sebagai mu suh yang telah dikalahkan dalam perang. Upeti! Upeti! Upeti saja yang diketahui Tuban dari

  “Jangan ditahan kaki ini, G aleng biar aku tekuk,” salah seorang pemijit menegur. D an G aleng mengendo rkan otot-oto t kakinya. ”Bagian ini sangat tegang, G aleng, terlalu lelah.” Kembali ia mengenan gkan mendiang Rama Cluring:

  Orang setua itu, tak punya sesuatu pun keeuali diri, kebenaran dan kepercayaan, mengajarkan kebenaran di mana-mana, dan juga di mana-m ana menimbulkan kekagum an orang, pengikut, juga ketakutan bagi mereka yang tak membutuhkan kebenaran ….

  “Telentang, kau, G aleng!” Juara gulat itu telentan g. Oto t-otot dan dada dan leher sekarang m endapat giliran.

  “Tahu-tahu kau jadi pengantin kerajaan, Leng. D asar nasib sabut dilempar ke kali tetap mengapung.” “Karunia Hyang W idhi mu ncul di mana-mana,” ia menjawabi. Semua ototn ya telah jadi kendor. P aram itu m enusuk. Ia merasa nyaman dan segar. Ia terlena, terlelap, berlayar di alam m impi…

  Azan subuh dari menara mesjid Kota dan pelabuhan belum lagi lama padam. D ari mana-man a terdengar gam elan mu lai bertalu, mendesak deburan laut, mem bangun kan mereka yang masih tidur. Orang bergegas mandi dan mengenakan kembali pakaian terbaik. Bereepat- eepat orang selesaikan sarap an, mem bersihkan rumah dan mem buka semua pintu lebar-leban kemurahan Kamaratih dan Kamajaya yang sedang turun dari Tuban hendaknya juga mem asuki rumah dan hati mereka. Kemu dian mereka mem bersihkan halam an dan menaburkan bunga-bungaan dan beras kuning pada pintu rumah dan gerbang.

  Matari dengan cepat meninggalkan permukaan laut. Kapal-kap al dan perahu mu ncul dalam hiasan berbagai wama um bai-umbai. Suasana petaruhan digantikan oleh pesta. Sela Baginda tahu-tahu telah dipagari dengan janur kuning dan ran gkaian bunga-bun gaan, Umpak tugu Airlangga itu hampir semua tertutup olehnya.

  Pada pagi itu juga dari mu lut ke mu lut oran g di pelabuhan bercerita: subuh tadi Sang Adipati memerlukan datang ke kam ar pengantin yang sudah penuh-sesak dengan orang tua-tu a. Pada mereka ia berkata: “Hari ini Soma. Untuk mengenangkan hari pesta besar ini, Som a kami ubah jadi Senin.” Kata berita itu pula: Sang Adipati kelihatan pucat, mu ngkin malam-m alam tidak beradu. D engan tangan sendiri ia telah taburkan daun bunga pada kepala dua orang pengantin desa itu.

  Bunyi gam elan semakin riuh – dari mana-mana. D alam rombongan orang bergerak menuju ke kadipaten. Paling depan adalah gam elan mereka, dengan atau tanpa penari, untuk menyam but keluarnya pengantin dan juga untuk mengiringkann ya. D engan kadipaten telah penuh-sesak dengan manusia dan kegiatannya. Sebuah bonan g telah riang sekali karena terlalu tua dan terlalu bersemangat orang mem ukulnya.

  Hidan gan melimpah -ruah datang. Mendadak gam e\ an dan sorak-sorai yang mengh arap agar pengantin segera turun, berhenti. Suara suling terakhir melengkung kemudian padam. H idangan pagi yanghangat m enguap-uap itu mem bikin orang lupa bahwa besok masih ada hari lain. Semua yang terhidang tersantap. D an minum air gula- santan pagi itu tercampur dengan pandan-wangi berpesta. Untuk daerah Tuban, pandan-wangi selalu didatangkan dari kabupaten lain, maka merupakan barang mewah. Kolak dengan ha rum kayu-manis. G ulai ayam, kambing dan satai, lemp er dan pisang goreng. D an begitu perut kenyang orang hampir-hampir lupa mereka datang untuk mengiringkan pengantin. Oran g tak memperhatikan: tak ada ikan laut dihidan gkan. Matari mu lai bersinar gemilang.

  Tandu pengantin namp ak meninggalkan kadipaten, mem asuki pelataran depan. Sebentar semua tangan melambai-lambai menyam but. Seorang pendeta Buddha mem bunyikan giring-giring mas. Dan seorang bocah mem ercik-mercikkan air dari jamban g kuningan yang dipikul oleh empat oran g dewasa. Air itu m enitikan jalanan itu. Akan ditempuh pengantin.

  Tiba-tiba hening sunyi. Terdengar gumam mantra- mantra dari pendeta itu. Begitu giring-giring berhenti berbunyi, seorang-orang tua, mem ekik mem ecah keheningan : “Sambutl” G iring-giring. Berbunyi lagi. Berhenti. “Sam but!” pekik oran g tua itu. G iring-giring. Pekikan. G iring-giring. Pekikan G umam Pendeta Buddh a. Pekikan. Susul-menyusul kemudian bergulung jadi nyanyi bersama dalam mazmu r cinta, semua membubung sy ahdu di langjt pagi. Juga kanak-kan ak pada menekur ikut menyanyi. Ah, sudah lama nyanyian puja itu tak pernah terdengar. Mendadak semua oran g kini teringat lagi. Kemu dian semua tangan terangkat ke langit seakan hendak menerima jabatan dari Kamajaya dan Kam aratih yang akan turun ke bum i. Juga pengantin di atas tandun ya, Juga para penandu. D an begitu nyanyi puja berhenti, tandu mu lai berjalan pelan menuju ke gapura.

  Sang Adipati kelihatan berdiri di pendopo. Para tand u berjalan pelahan turun ke jalanan alun-alun. Tandu itu sendiri terbuat daripada kayu berukir. Atap dan dindmgnya terbuat daripada sutra kuning tipis terpilih dan berlipat-lipat. D i sana-sini diselang-seling dengan sutra biru laut dan merah dan coklat. Tali-tali dari rangkaian melati berjumlah kenanga merupakan garis-garis busur tergan tung dari tiang ke tiang. D an tandu itu bergerak di antara kepala semua m anusia.

  Begitu nyanyi puja terakhir selesai, gam elan mu lai riuh berbunyi. Oran g bersorak bersambut-sambutan. D ua orang penari berpakaian dewa Kamajaya dan dewi Kamaratih menjadi pembuka barisan. Bersama dengan penari-penari lain mereka mem ainkan riwayat G aleng dan Idayu di sepanjang jalan arak-arakan.

  Sejoli pengantin itu dud uk dalam sikap resmi. Mereka tak tertawa tak tersenyum, seperti sepasang area batu. Sebentar jalan.

  Idayu mengenakan kembang keemasan berkilat-kilat. Perhiasan dari mas dan permata mem ancar gemerlapan pada kepala, kuping, leher, tangan, dada dan perut. G aleng bertelanjang dad a. D estar-wulungnya dijelujuri ran tai mas dan perak. Pada dad anya tergantung kalung mas. Pula dengan mainan bunga teratai perak dengan benang sari dari mas. Kerisnya bersarung dan berbulu kayu sawo bertatahkan intan baiduri.

  Mem ang mereka tak ubahnya dengan pengantin kerajaan. Begitu tand u telah meninggalkan alun-alun dan mu lai mengh indari kota tata-tertib barisan tak dapat lagi dipertahankan. G adis-gadis dan pemuda-pemu da bersesakan untuk dap at mengh ampiri pengantin. Tandu oleng seperti perahu tanpa kemudi. D an sepasang pengantin itu tetap agung dudu k di tempatnya.

  Kota telah dikelilingi. Kirit arak-arakan menuju ke Sela Bagin da di pelabuhan . G adis-gadis mu lai semakin mendesak untuk mengh ampiri Idayu. Mereka tak dap at menah an godaan untuk menjengah Sang Kamaratih untuk mendapatkan berkahnya. D ari samping lain para perjaka berebut dahulu untuk m enyentuh G aleng.

  Para pengawal, serombongan kakek-kakek, tak mampu lagi menjaga. Mereka hanya dapat berteriak-teriak melaran g. Suaran ya lenyap dalam gelom bang gamelan dan deru angin darat. Yang dilarang pun tidak peduli.

  Turunnya Kamajaya dan Kamaratih di atas bumi Tuban mu ngkin tak bakal terjadi lagi dalam dua ratus tahun mendatan g. Kesempatan sekali ini takkan mereka biarkan berlalu tanp a mendapatkan berkah dan kenangan. Kulit pengantin yang sedang diliputi kasih para dewa harus disintuh.

  Mengerti akan keinginan mereka, Idayu dan G aleng mengalah. Diulurkan tangan mereka keluar tandu. Serbuan para perawan dan perjaka semakin menjadi-jadi. Yang tak berhasil mendapat sentuhan mu lai menyerang bunga- bungaan penghias. D alam waktu sekejap bunga-bungaan lenyap dari penglihatan m ata.

  Perawan dan perjaka terus mendesak. Makin padat dan makin padat. Para pengawal semakin jauh tersisih. Orang mu lai m enyerang dinding dan atap tandu.

  D alam waktu pendek tand u sudah menjadi gundul dan pengantin pun terbuka seluruhnya terhadap surya dan angin.

  Sorak-sorai makin gegap-gempita. D an gam elan terus juga bertalu. D an para penari terus juga berlenggang- lenggo k sepasang jalan.

  Arak-arakan hampir mendekati Sela Bagtnda. Para perawan dan perjaka mulai menyerbu berusaha m engam bil- alih tugas mem ikul tandu. Mereka adalah yang tak dap at menyentuh dan tak mendapat bunga, tak mendap at serpihan sutra. Pergulatan terjadi. Tandu betayun-ayun di udara seperti biduk terkena terjang angin beliung.

  D ari mana-mana terdengar orang mem ekik melaran g. G emuruh suara manusia dan taluan gamelan, kegalauan antara getak dan bunyi dan debu yang mengepul ke udara, menenggelam semua makna kata-kata. D an tand u semakin terguncang-guncang.

  Idayu lupa pada sikap resminya. Tangannya berpegangan erat-erat pada tiang tand u. G aleng berusaha mem pertahankan keselmban gann ya dengan kedua belah tangan mencekam tempat duduk. Matan ya beipendaran heran bertanya-tanya.

  Sebuah pekikan tinggi melengking keluar dari mu lut seorang nenek pengawal Idayu: “D ewa Batara! Jangan biarkan jatuh tandu itu’.”

  D an justru pada waktu itu tandu mulai miring, kemudian hilang dari pemandan gan bersama dengan dua sejoli pengantin di atasnya. Arak-arakan berhenti seketika. G amelan bungkam. Tari-tarian mati. D eburan laut pun mem beku. Surya seakan hilang dari peredaran, kehilangan teriknya.

  N enek pemekik terdengar menan gis tersedu-sedu, kemudian meraung: “Ampun, D ewa Batara, ampun!”

  Pada wajah orang-orang nampak ketakutan dan kekuatiran. Mereka berpandang-pandangan bingung. Suara sedu-sedan dan mem ohon ampun pada Hyang W idhi mulai menggelom bang.

  Satu lingkaran oran g kaget telah berdiri mengelilingi pengantin yang terjatuh dari atas tandu. Ketegangan dan kekejangan. D i hadap an mata batin orang mengawang kutukan para dewa, karena mem biarkan pengantin kekasih Kamajaya dan Kamaratih tergulin g dari kedudukan nya.

  Suasan a pesta berubah jadi menakutkan. D ari mana- mana m embubung dengung m antra-man tra. D alam kerum unan orang Idayu berdiri dari tanah,

  G aleng melom pat bangun . Kedua-duanya diam tidak bicara. Bersam a-sam a mereka memandang langit dan menyembah. Selingkaran orang ketakutan itu tak menyam but tangan yang diulurkan dari kejauhan itu. Baru setelah ketahuan dua orang pengantin itu tak mengalami tidera, dan syukur ganti bergema. Seorang mu lai tahu apa harus dikerjakan: mem betulkan tand u agar pengantin naik lagi. G aleng dan Idayu menolak.

  Pengantin itu bergandengan. Tanpa bicara mereka meneruskan perjalanan. Keram aian membuncah lagi. Tapi para pengiring tepat di belakang pengantin diam mem bisu. Pengantin menolak ditunjang.

  D i Sela Baginda pengantin disambut dengan percikan air bunga pada kaki mereka. Serombongan orang tua-tua mem bawa mereka mengitari batu itu samp ai tiga kali, kemudian menyilakan mengambil bunga-bungaan penutup bekas prasasti Airlangga. Bunga-bungaan itu mereka bawa ke tepi laut dan mereka berdua taburkan sedikit demi sedikit ke perm ukaan air.

  Keadaan sunyi-senyap. Barisan yang telah mem anjang pada tepian mengawasi setiap bunga yang jatuh ke laut, seperti sedan g m eneropong hari depan sendiri.

  Bunga-bungaan itu mulai berapungan, naik-turun bersama om bak, bergerak pelahan, makin lama makin menjauhi pantai.

  Masih tetap diam-diam semua mata mengikuti jalannya bunga-bungaan. D an yang m ereka awasi tak ada yang bakal kembali ke darat. Makin lama makin menjauh… jauh, melalui tubuh-tubuh perahu dan kapal… menjauh,… jauh … jauh….

  0o-d w-o0

  Orang bilang: Sang Adipati Tuban bukan keturunan orang kebanyakan. Semua orang percaya: ia langsung berasal dari darah wangsa Majapahit. D an tak ada orang yang meragukan . Sang Adip ati sendiri bangga pada darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Juga ia merasa am an karena darah itu sendiri telah menyebabkan ia tak punya penantan g sebagai penguasa atas negeri T uban.

  Pada 1292 Raden Wijaya berhasil mendirikan Majapahit. Kawan-kawan seperjuangannya, hampir semua berasal dari rakyat kebanyakan, diangkatn ya jadi gubernur yang berkuasa di kabupaten-kabupaten penting di Jawa Timur. Ia marak jadi raja pertama Majapahit dengan nama Kartarajasa.

  Sang Adipati tahu, Sri Baginda Kartarajasa lebih banyak mem berikan kekuasaan pada sahabat-sah abat seperjuangan yang telah sangat berjasa padanya. Kaum ningrat keluarga Sri Baginda justru sangat dibatasi kekuasaan nya. Bagin da menganggap orang-orang ningrat telah menjadi lemah karena kemewahan dan penghorm atan dan sanjungan yang berlebihan.

  Tetapi, pejabat-pejabat dari oran g kebanyakan ini, demikian pendapat Sri Baginda pendiri wangsa Majapahit biarpun sudah diangkat jadi gubernur, tetaplah tak punya jangkauan pandan g yang jauh. Kemana pun mereka tebarkan pandangnya, yang namp ak hanya dusunnya semula. Kesetiaan mem ang bisa diharapkan dari mereka, tetapi kebesaran hanya bisa datang dari seorang raja yang bijaksana.

  Juga Sang Adipati Tuban tahu dari guru praja: sejak masih bernama Raden W ijaya pun Sri Baginda Kartarajasa telah dijiwai oleh cita-cita besar Sri Baginda Kartan egara dari Singasari untuk mempersatukan seluruh N usantara. Ia sendiri pernah bertugas memimpin ekspedisi militer ke negara-negara Melayu. Juga pernah ikut memimpin gerakan mem persatukan Madura, Bali, Sunda, Sukadan a, Pahang dan ikut mem bangun kan persekutuan militer dengan Campa. Setelah menjadi raja Majapahit pertama, Sri Bagin da bercita-cita hendak mem bangun kan kekaisaran dengan bantuan gubernur-gubernurnya yang setia.

  D ari guru praja Adipati Tuban tahu: Sri Baginda Kartarajasa mem punyai dua jalan untuk memp ersatukan N usantara. Pertama jalan kecil karena keciilah kemungkinannya, yakni melalui jalan laut ke Tiongkok – dan kekaisaran Tiongkok terlalu kukuh dan terlalu kuat untuk dipengaruhi dan ditembus oleh Majapahit. Yang yakni melalui jalan laut melewati Selat Semenanjung ke Atas Angin , ke Benggala dan ke negeri-negeri yang tak terbatas jum lah kerajaan dan kebangsaannya. Untuk dap at mengu asai jalan besar, Selat Semenan jung harus dikuasai. D an untuk kepentingan itu pula Sri Baginda Kartarajasa mengawini putri M elayu bergelar D ara Petak artinya G adis Putih. Seorang putra yang lahir dari perkawinan ini, Kala G emit, diangkat jadi putra mahkota untuk menjam in kesetiaan Melayu pada Majapahit dan dengan demikian menyelamatkan Selat Sem enanjung.

  Para gubernur bekas teman -tem an seperjuangan Sri Bagin da tidak mau mengerti tentang kebijaksanaan ini. Biarpun perm aisuri G ayatri tidak m elahirkan seorang putra, hanya putri, tidak ada satahn ya ia diangkat jadi putri mahkota. Bukankah putri itu, D ewi Tribuwana, cucu Sri Bagin da Sri Kertanegara, yang lebih berhak? Bukankah Tribuwana sendiri sudah melamban gkan bersatunya tiga benua: N usantara, Atas Angin dan W ulungga? Mereka tidak rela kalau Majapahit, hasil jerih-payah mereka, harus jatuh ke tangan keturunan Melayu, hanya untuk dap at mem pertahankan Selat Sem enanjung.

  Percekeokan dan pertengkaran terjadi. T idak makin reda, tapi semangat m enjadi-jadi. G ubernur-gu bernur berasal dari orang kebanyakan itu, kata guru praja pada Sang Adipati semasa masih kanak- kanak, tidak mengerti sesuatu yang besar, yang dipertaruhkan dalam pengangkatan Kala G emit jadi putra mahkota. Mem ang pandan gan mereka hanya seluas desanya sendiri. G ubernur Tuban, Ranggalawe, yang paling keras menentang, ditindak dengan ekspedisi m iliter oleh Sri Bagin da. Ia m elawan dengan gagah-berani, tetapi sia-sia.

  Penggan ti Ranggalawe itulah m oyang Sang Adipati.

  Sang Adipati Tuban Arya Teja, karena kebijaksanaan dan kecerdikannya, dalam usia sangat muda telah diangkat jadi Patih Majapahit, waktu itu Majapahit telah lemah sehabis perang-saudara Peregreg, dan Sri Bagin da Brawijaya lebih lama lagi, raga dan jiwanya, Sang Patih Majapahit Arya Teja tak melihat adanya jalan terbuka untuk mem bangun kan kembali Majapahit Raya. Ia patah semangat, perhatiannya kemudian ia tump ahkan pada wilayahnya sendiri berdasarkan darm araja, yakni negeri Tuban. Tetapi Tuban tak bisa menjadi besar dan berdikari selam a M ajapahit yang sakit-sakitan itu m asih ada. Ia m ulai bersekongkol dengan pedagan g-pedagang Islam. Ialah yang mem berikan ijin pada Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk mem berikan perkampungan dan pengajaran Islam di pelabuhan utara M ajapahit, G resik. Ialah yang m embentuk persekutuan dengan gubernur-gu bernur pelabuhan untuk semakin mengeratkan hubungan dengan saudara-saudara Islam sam bil sedikit demi sedikit menunggangi Majapahit.

  Majapahit telah lama runtuh. Tetapi Adipati Tuban tak mampu m elepaskan diri dari bentuk tatap raja M ajapahit. Ia pun bagi-bagikan jabatan-jabatan penting pada oran g-orang kebanyakan yang telah berjasa, sangat berjasa. Hanya Sang Patih, saudara sepupu anak seorang paman tuan ya, yang berasal dari darah raja-raja. Semua kepala pasukan Tuban adalah orang-orang kebanyakan. Tak seorang pun di antara mere ka punya gelar, kecuali gelar ketentaraan.

  D an sekarang, bahwa ia mengangkat Idayu dan G aleng pada kehormatan sedemikian tinggi, adalah juga karena tradisi Majapahit. Ia merasa bangga dan puas telah dap at lakukan itu, sekali pun ia tak sepenuhnya rela di dalam hati.

  Sebagaimana halnya dengan leluhurnya, ia tak pernah- menggunakan tahyul sebagai pegangan. Ia dasarkan kemungkinan yang lebih baik. M aka begitu orang bersorak- sorai di alun-alun dan mem benarkan Idayu, seketika itu juga ia harus dapat mengu bah pikirannya: melepaskan impian sendiri tentang tubuh jelita dari gadis perbatasan bernam a Idayu dan serta-merta berpihak pada sorak-sorai itu.

  D an ia tahu, peristiwa Idayu-G aleng tak boleh berhenti samp ai di situ saja. Mereka dapat dipergunakan untuk mem elihara kesetiaan kawula Tuban kepadanya. Maka G aleng harus juga m endapat jabatan yang patut.

  Setelah upacara perkawinan agun g selesai sering ia dud uk termenung seorang diri di taman kesayangan di tempat gajah pribadi. D alam kesibukan resmi ia dap at kehebatan berahinya pada tubuh Idayu. Tetapi setelah kembali hidup sebagai pribadi, berahi itu tetap menyala, menyam bar dan mem bakar dalam dad a tuan ya. Kekuasaann ya yang tanpa batas ternyata tak dap at mem bantunya.

  Seorang diri di taman seperti ini jiwanya penuh-sesak dengan bayangan penari jelita itu. G erak-gerak yang begitu mengikat, pandang mata yang sayup-sayup mengundang… betapa… betapa… tidak, ia meyakinkan diri setelah teringat pada ajaran keprajaan dari nenek sendiri dan juga nenek Sang Patih: tak ada raja kehilangan kerajaan selama ia tidak kehilangan kehormatan. Maka untuk ke sekian kali ia kebaskan berahinya.

  Selama Idayu, seorang wanita, apakah bedanya dengan wanita lain? Tapi pribadi seperti itu! D i sana bisa didapatkan lagi?

  D an dialahkan pikirannya sekarang pada G aleng. D i mana harus ditempatkan juara gulat keparat yang hanya kemam puan seseoran g. Apakah artinya Mp u N ala dan G ajah Mada sebagai seseoran g? N am un wajah dunia telah berubah karena mereka berdua, anak-anak desa itu: Semenanjung jatuh ke tangan Majapahit. Selat dikuasai, Jalan besar terbuka, Majapahit jaya.

  Sekarang Malaka jatuh ke tangan Peranggi. Selat dengan sendirinya, sebentar lagi mu ngkin Pasai runtuh pula dan Selat akan jadi milik mutlak Peranggi. D ia bukan hanya hendak mengu asai dunia, juga N usantara. Tak ada yang mampu melawan dia. Tuban pun tidak. Tetapi selam a Tuban di dalam tanganku, kita akan mem iliki harga apa pun juga.

  0o-d w-o0 Sang Adipati terbangun dari pemenungannya melihat sesosok tubuh merangkak mendekati sambil menyembah:

  “Ya, G aleng, pengantin baru yang berbahagia, adakah sesuatu hendak kau persembahkan?” Ia tertawa melihat pegulat itu dengan susah-payah mencoba m enyusun kata. “A, persembahan saja dengan caramu sendiri, nak desa!” “Ampun, G usti Adip ati Tuban sesembahan patik. Adapun patik mengh adap tidak sepertinya ini ialah mem ohon perkenan dari G usti Adipati Tuban…”

  Keringat dingin sudah mem basahi seluruh tubuh pegulat itu. Setelah perkawinannya dan diharuskan tinggal di dalam kadipaten, ia kehilangan niat untuk berbuat sesuatu terhadap Sang Adipati. Sebagian dari kecurigaan nya telah hilang. Idayu telah jadi istrinya. Kegelisahann ya sekarang adalah kegelisahan seoran g kawula yang menunggu segala-galanya tentang dirinya. Sedang larangan baginya untuk melakukan sesuatu kerja menyebabkan kegelisahan nya semakin m enjadi-jadi.

  “Kurang cukupkah yang telah lewat dan yang sudah ada…?” “Lebih dari cukup, G usti, patik hanyalah petani biasa. Patik dan istri sudah rindu pada desa patik, G usti.”

  “Bukankah kami Adipati Tuban dan kau kawulanya? Bukankah kau m engabdi pada adipatimu ?” Juara gulat itu tak mampu meneruskan kata-katanya.

  Badann ya sudah kuyup.

  “Kau, G aleng, kembali ke tempatm u. Jangan tinggalkan pengantinm u. Kau tidak kembali ke desamu.” Juara itu telah menggelesot di tanah. Beberapa kali ia mengangkat sembah. Ia belum lagi mampu mengangkat badan untuk pergi. Otot-o totn ya seperti lumpuh.

  D an Sang Adipati memperhatikan bahu bidan g di bawahnya itu – bahu pegulat yang kukuh seperti baja. D unia pun akan bisa dipikulnya, bidiknya puas dalam hati. D ia tak tahu apa sedang menunggu nya. Anak desa.

  Prajurit-prajurit yang telah diperintahkan mem bersihkan gedung bekas asram a telah menyelesaikan tugasnya. Sang Adip ati sendiri yang telah mem erintah mereka. D an setelah itu mereka harus memindah kan semua barang pribadi Rangga Iskak ke bekas asram a tersebut. Sang Adipati menganggap semua pekerjaan itu sudah selesai dengan sepatutnya. “Ya, G aleng, pergi, kau!” perintah Sang Adip ati.

  Anak desa itu menyembah, mengesot jauh dan menyembah lagi, kemudian hilang dari penglihatan Sang Adip ati.

  Ia tahu Syahbandar Tuban sedang mencoba mengh adap untuk mem protes. Ia sengaja takkan melayani. Ia bangkit, berjalan lambat-lambat menikmati cuaca, menuju ke kandang gajah. Sebelum sampai ia lihat pemelihara binatan g itu sedang menggunakan cis untuk memerintah si gajah agar dudu k pada kaki belakang. D an ia lihat pemelihara itu kemudian duduk di samping binatangn ya, menyembah pada Sang Adipati. G ajah itu sendiri mengangkat belalai.

  Sang Adipati tertawa terhibur.

  0o-d w-o0 Tidak lebih dari lima hari kemudian, di taman di tentang kandang gajah ini juga datang mengh adap seorang utusan rah asia dari Sultan Mahmu d Syah yang sedang menyingkir ke pembuangan. Ia mempersembahkan sepucuk berbahasa dan bertulisan Jawa.

  Sultan mengabarkan, Malaka telah jatuh ke tangan Peranggi sebagai akibat pengkhianatan Syahbandar M alaka berkebangsaan Arab bernam a Sayid Mahm ud Al-Badaiwi.

  D iterangkan orang itu berbadan kurus tiggi agak bongkok, setengah um ur, berkumis, berjenggo t dan bercabang-bauk yang telah bersulam uban dan berhidung bengkok rajawali.

  Sultan Malaka mengakui, ia telah keliru mengangkat orang tersebut, hanya karena terbujuk oleh kefasihan tersebut dan kepandaiannya mengambil hati oran g. Menjelang jatuhnya Malaka ia malah mendap at kepercayaan keluar-m asuk istana, dan hampir-hampir diangkat menjadi wazir.

  Sultan berseru pada Sang Adipati sebagai sedarah - sedaging, seasal-keturunan Majapahit, supaya berhati-hati terhadap oran g tersebut sekiran ya ia berada di Tuban, karena orang itu telah meninggalkan Malaka di bawah perlindungan P eranggi.

  Sang Adipati mengerti maksud surat itu. Orang yang dimaksudkan tidak lain dari Sayid Habibullah Almasawa. Ia tak terkejut. Berubah pun airmu kanya tidak.

  Penguasa Tuban itu duduk di atas bangku batu yang lebih tinggi daripada duta rahasia Sultan Mahmu d Syah. D an setelah mem bacanya surat kertas itu dilipatnya baik- baik dan dengan tangan itu juga menuding pada sang duta berkata dalam Melayu: “Kami telah baca baik-baik surat ini, Tuan D uta. Terimakasih ke hadapan Sri Sultan Mahm ud Syah. D i Tuban tak ada seorang Arab bernama Sayid Mahmu d Al-Badaiwi. Kelahiran mana dia, Tuan D uta?”

  “D ia selalu berbangga sebagai orang Moro kelahiran Ispanya, negerinya Andalusia, G usti.”

  “Kelahiran Ispanya? Tentu dia pandai Ispanya?” “Barangtentu, G usti.” “Apa dia barangkali juga berbahasa Peranggi?” “Jelas seperti matari, G usti, karena dia dapat juga melayani kapai Peranggi sebelum mereka m enyerbu.” “Mengapa Tuan D uta m engandaikan dia di sini?” “W ara-wara G usti Adipati Tuban di atas Malaka telah didengar oleh setiap pelaut. Pekerjaan Syahbandar Tuban yang baru sangat cocok untuk Sayid Mahmud Al-Badaiwi, G usti. D ia akan datang kemari.”

  “Apakah menurut perkiraan Tuan D uta dia akan mengu bah namanya sekiran ya mem asuki Tuban?” “Apakah Tuan D uta di samping tugas khusus ini juga bertugas menjejak bekas Syahbandar M alaka?” “Barang tentu, G usti. Patik telah singgah di Pasai,

  Jam bi, Riauw, Banten, Cirebon, Jepara sambil menuju Tuban. Memang ada petunjuk-petunjuk ke mana pengkhianat itu pergi. Semenanjung telah berubah sangar bagi nyawanya. D an ternyata, G usti, benar belaka, Sayid Mahm ud Al-Badaiwi sudah ada di Tuban sini, jadi abdi G usti Adip ati Tuban, bahkan telah G usti angkat jadi Syahbandar Tuban.”

  “Maksud Tuan D uta, Sayid Mahmu d Al-Badaiwi itu tidak lain dari Syahbandar Tuban sekarang? Sayid Habibullah Almasawa?”

  “Betul, G usti, Syahbandar T uban yang baru itulah bekas Syahbandar Malaka.”

  “D an setelah Tuan D uta mengetah ui dia ada di sini, adakah sesuatu yang Sri Sultan kehendaki dari kami?” “Kalau sekiran ya berkenan di hati G usti Adipati

  Tuban… ampun, G usti, bukan buatan terkejut patik melihatnya di bandar G usti… dia tak mengenal patik tapi patik mengenal dia… dalam hati patik mem bersitlah satu doa yang tulus-ikhlas, dijauhkan oleh Allah kiranya Sang Adip ati Tuban dan negerinya dari pengkhianat ini. D an betapa bersyukur patik apabila nyawanya diserahkan kepada patik,” D uta rahasia itu terdiam.

  N am pak jelas ia sedang berdoa untuk terkabulnya

  Sang Adipati mem buang pandang ke arah kandang gajah. Persoalan Malaka adalah persoalan masa silam walau baru kemarin dulu bencana itu terjadi. Semua yang sudah lewat telah beibaris masuk ke alam lampau. Yang kemarin dulu Sultan, sekaran g buangan. Yang sekarang Ad- ipati masih tetap Adipati. Ia pandan gi duta itu tajam-tajam. Ada dilihatnya rangsan g dendam bergolak dalam dada orang di hadapannya itu.

  Matari hampir tenggelam . Percakapan rah asia itu terhenti. Sebagai pengisi kemacatan duta rahasia itu mem persembahkan sebilah keris bersarung mas bertulisan Arab dan berbulu mas bertatahkan zamrud. ”Perkenankanlah patik mempersembahkan keris pusaka kerajaan Malaka ini, G usti, sebagai harap an dap at terjadinya persekutuan antara Tuban dengan Sri Sultan, untuk tidak menyinggahi Malaka selam a dikuasai Peranggi.”

  “Telah kami terima tanda persekutuan ini. D an jadilah pengetahuan Tuan D uta, bahwa nya wa Syahbandar Tuban Sayid Habibullah Almasawa ada di tangan kami, dan sunggu h sayang kami belum bisa menyerahkan pada Tuan D uta. Belum ada tanda-tanda, apalagi bukti, dia m elakukan pengkhianatan terhadap kami. Samp ai di mana persekutuan-persekutuan telah Tuan D uta usahakan?”

  “Ampun, G usti, Adipati, tentang itu pastikah bukan patik yang haru s memp ersembahkan.” D uta itu mengundurkan diri tepat pada waktu matari tenggelam sam a sekali. N yamu k mulai berkeliaran di tam an. Nam un Sang Adip ati masih juga belum bangkit dari bangku batu. Betapa bodo h mengu rusi yang telah masuk masa silam,

  Ia lambaikan tangan pada seorang pengawal dan menitahkan agar G aleng datang menghadap. D an waktu pegulat itu telah duduk bersembah di hadapannya segera ia mem ulai: “G aleng, apa yang kau ketahui dari kebesaran masa silam ?”

  Ia telah menduga anak desa itu akan sangat terkejut. D an ia dengar juara gulat itu meraung dengan suara tertekan: “Ampun, gusti Adipati Tuban sesembah an patik.”

  G aleng tak dap at meneruskan kata-katanya. D alam menundu k ia mengh erani dirinya sendiri, dan mengapa daya-perlawanannya menjadi layu setelah mem peristri Idayu, dan mengapa dirinya begitu takut pada hukuman. “Ayoh, persembahkan. Mu kamu terlindungi kegelapan malam, dan kami pun tak perlu tahu,” kata Sang Adipati, sekalipun ia punya dugaan, anak desa itu sedang kacau- balau. Mengetah ui G aleng tak juga berdatang sembah, ia mendesak: “Cepat, G aleng. Kami tahu, kau telah banyak mendengar tentang kebesaran masa silam. Kau! Tidak lain dari kau dan Idayu yang telah mengu rus Rama Cluring samp ai matinya beberapa waktu yang lalu. Kakek-kakek gila kebesaran m asa silam itu. Persembahkan!”

  “Ampun, G usti Adipati Tuban sesembahan patik.” suara juara gulat itu gemetar. “Kau takut, G aleng. Juara gulat yang takut bersembah !” Tak ada jawaban dari sesosok tubuh di hadapann ya. Suaranya menjadi agak lunak. “D ulu guru-guru pembicara seperti Rama Cluring banyak berkeliaran dan mem bual di kota-kota. Cluring itu mu ngkin sisa dari gerom bolan mereka yang terakhir. Banyak di antara mereka dibunuh oleh bupati-bupati pesisir yang bodo h itu. Sekarang secara berani bicara hanya di desa-desa yang jauh, terpencil. Adip ati Tuban tidak gentar pada buatan seribu guru-

  “Ampun, G usti, kata Rama Cluring, hendaknya orang mem anggil kembali kejauhan dan kebesaran masa silam pada guagarba hari depan?”

  “D ari seluruh bualan Cluring hanya itu saja yang teringat olehmu?” Juara gulat itu tak dapat mengingat. Sebongkah batu seakan bersarang dalam kepalanya. “Baik, hanya itu yang teringat olehmu. Ketahu ilah, bagaimana pun kau m emanggil-manggil pada guagarba hari depan, tanpa restu seorang raja, tak ada sesuatu bisa terjadi. Kau percaya pada kata-kata Rama Cluring?” Kepala G aleng semakin m endekati tanah.

  “Kami tahu, kau percaya. Kalau tidak, mana mungkin kau… Sering kau datan g ke balai-desa mendengarkan pembicara-pembicara mem bual?”

  “Ampun, G usti, mem ang demikian halnya.” “Tentu saja. Kalau tidak, mana mu ngkin kau selalu datang? Sekarang dengarkan perintahku, hai kau, juara gulat?”

  “Patik ada di sini, G usti!” “Kami mengh endaki tenagamu . Kau oran g kuat, badan mu dilipuri otot-oto t kukuh. Kami mengh endaki pikiran mu, karena kau anak terpelajar, ingin banyak mengetah ui, karena itu sering mendengarkan guru berbicara. Kami mengh endaki kesetiaanmu , karena kau tak dap at berbuat sesuatu tanpa restu seorang raja. Kami mengh endaki jiwamu , karena tak ada kebesaran datang tanp a petaruh jiwa. G aleng, kembalikan kejayaan dan kebesaran Majapahit untuk Tuban, untuk negerimu, ini untuk Adipati sesembahmu. Beran gkat kau sekarang juga, kau bersama istrimu. Tinggalkan kadipaten. Tinggal kau berdua di gando k kesyahbandaran yang sebelah kiri, gand ok Islam. D engan ototm u yang kuat lindun gi jiwa Syahbandar baru. D engan otakmu yang penuh berisi bualan pembicara-pembicara itu, selidiki segala rahasia Syahbandar dan sampaikan pada Sang Patih. Belajar baik-baik bahasa Melayu. Jadilah pembantu utama Sayid Habibullah Almasawa. Beran gkat!”

  Setelah juara gulat itu pergi Sang Adipati bangkit dan berjaian tenang-tenang m asuk ke kadipaten. Seminggu kemudian di taman itu juga Sang Adipati menerima seoran g duta dari Jepara. Sore juga waktu itu. Berbeda hainya dengan duta dari Malaka, duta yang sekarang ini ia ajak berjalan-jalan ke kandang kuda. Ia belai-belai suri kuda kesayangannya, sedang sang duta berdiri di belakangnya.

  “Ya, G usti, patik adalah utusan pribadi G usti Kanjeng Adip ati Unus dari Jepara. N am a patik Aji Usup, G usti.”

  ‘Teruskan, Aji Usup yang terhormat.” “Salam bahagia dari G usti Kanjeng Jepara, dan pesan….” Sang Adipati berbalik. W ajah nya merah padam menah an kemarah an. Matanya mem belalak: “Pesan? Pesan untuk Adipati Tuban? Ataukah maksud Tuan ancaman?”

  “Ampun, G usti Adip ati Tuban. Peristiwa Jepara itu mem ang jadi duri dalam daging Tuban. Untuk itu patik datang menghadap untuk mempersembahkan alasan dari tindakan D emak, G usti.”

  “Alasan? Apakah masih perlu ada alasan? Mem asuki dan merampas tand a pemyataan perang, tanp a membuka gelanggang perkelahian? Hanya karena ingin punya bandar sendiri! Alasan dari seorang yang tidak tahu batas. Apakah Tuban pernah menjam ah D emak dengan kuda atau gajahn ya? Atau dengan kakinya? Atau itukah alasannya, mem anggil kaki dan kuda dan gajah Tuban?”

  “Ampun, G usti, D emak tahu benar akan kekuatan perkasa dari Tuban.” Sang Adipati mu lai berjaian agak cepat dan Aji Usup mengikuti dari belakang. “Kami dapat injakkan kaki gajah kami sampai seluruh

  D emak rata dengan tanah.” “D emak sesungguhnya tahu benar akan itu, G usti

  Adip ati Tuban, amp uni patik.” “Mengapa perbuatan tidak satria, tanpa pernyataan perang, dilakukan seperti bukan seoran g raja yang mem erintah D emak?” Sang Adipati memilin-milin kumis putihnya. “Bukankah kami bisa perintah kan tum pas tuan D uta, sebagai duta seorang raja yang berlaku bukan sebagai raja?”

  “Inilah nyawa patik, G usti, bila G usti perlukan untuk ditump as, patik persembahkan dengan rela.” “Sungguh berani m ati, kau, Tuan D uta.” “Karena mem ang ada yang lebih penting daripada hati mati, G usti, m engangkut seluruh nasib Jawa D wipa.” “Apakah karena mem ikirkan nasib seluruh Jawa, maka

  D emak m erasa dibenarkan mem asuki Jepara?” “Sesungguhnya tiada jauh dari sangkaan G usti Adipati

  Tuban. Ampun, G usti.” “Allah D ewa Bathara! Apakah rajamu mengira dia sendiri tahu tentang nasib Jawa?”

  “Jauh dari itu, ya G usti Adipati Tuban yang mulia,” susul D uta Jepara itu dengan cepat-cepat. “Utusan-u tusan D emak ke seberang dan Atas Angin, G usti….”

  “Siapa utusan-utusan itu? Bukankah utusan juga dari Sam po Toalang?” Sang Adipati mem oton g. “Adakah Sam po Toa-lang mengh endaki agar Loa Sam kami hancurkan dalam sepuluh bentar? D engarkah, kau Aji Usup, Duta Jepara. Semua orang prajawan tahu, Sampo Toa-lang atau Semaran g dibangun oleh orang-orang Tiongkok itu untuk menan dingi Jepara. Jepara tidak jatuh karenanya. Bandamya tetap jaya. Kemu dian Lao Sam atau Lasem didirikannya untuk menyaingi bandar Tuban. Apakah Adip ati Tuban berbuat sesuatu terhadap Lao Sam? Bandar asing kecil itu kami biarkan berdiri, bahkan kami ijinkan. Tuban takkan jadi pudar karenanya. Bukankah kerajaan D emak didirikan untuk mem bentengi Semarang dari Tuban? Sekarang D emak sebagai kerajaan benteng sudah mu lai menyerang. Sang Adipati Tuban masih dap at mengendalikan diri, hai kau, Aji Usup D uta Jepara.”

  “Patik, G usti.” “Sekarang utusan Semarang-D emak ke seberang dan

  Atas Angin kau jadikan dalih penyerbuan tak tahu kesopanan itu.” “Patik, G usti.” “Jepara dan Semarang takkan dapat rempah-remp ah lagi. Setiap kapal Semarang dan Jepara yang belayar ke sebelah timu r pasti kami hancurkan.”

  “Yang demikian telah terjadi, G usti.” “D an akan terjadi seterusnya selam a kami masih hidup.” “Patik, G usti.”

  “Sam pai Semaran g-D emak mengem balikan Jepara pada kami dengan hormat dan patut.” “Patik, G usti.” Sang Adipati berjalan menuju ke tam an di tentang kandang kuda dan Aji Usup mengikuti. Ia duduk pada bangku batu dan duta itu berjongkok di tanah. Ia tuding kandang gajah dan menetak tajam: “Sudah kami pertimbangkan, percuma gajah-gajah itu dikerahkan. Semarang-D emak akan punah tanpa rempah-rempah kami.”

  “Pasti, G usti.” Agak lam a Sang Adipati tidak bicara. Ia telah semburkan segala kemarahan nya dan kini menjadi agak tenang.

  Kemu dian: “Apa Tuan D uta hendak persembahkan?” “Bahwa utusan D emak ke seberan g dan Atas Angin telah mem bawa keteran gan-keteran gan penting Peranggi akan mengu asai Jawa, G usti Adipati Tuban yang mu lia. Itulah yang menyebabkan D emak secara terburu-buru mem asuki Jepara. Peranggi tidak boleh mem asuki tengah- tengah pulau Jawa ini, G usti. Sekali masuk, seluruh Jawa akan dikuasainya. Itulah sebabnya D emak mem asuki Jepara dengan sangat terburu-buru.”

  “Jauh manakah Tuban daripada negeri Peranggi, maka tak ada utusan datang padaku? D an kau, D uta Jepara, datang jauh setelah adipatimu mem asuki wilayah kami? Betapa lama waktu sudah berlalu, tak ada yang datang mem ohon am pun. D an sekarang kau datang, bukankah untuk itu?”

  “Patik datang mengh adap memang untuk urusan yang agak lain, G usti, amp unilah patik.”

  “Ampun, G usti, utusan D emak, dari seberang dan Atas Angin yang datang dalam bulan ini, G usti, mem persembahkan pada G usti Kanjeng Sultan D emak, sesungguhnya Tuban telah mengadakan persiapan persenjataan untuk mengh adapi Peranggi, dan bahwa jatuhnya Malaka ke tangan Peranggi telah menjadi pikiran G usti Adip ati yang mendalam . Setidak-tidaknya karena Tuban sebuah bandar yang paling banyak bersangkutan dengan Malaka.”

  “Betul, Aji Usup. D uta Jepara yang terhormat.” “G usti Kanjeng Sultan D emak telah yakin adanya persiapan ini, dan bahwa persiapan itu tidak ditujukan pada

  Jepara.” Sang Adipati tersenyum puas.

  “Juga tidak akan ditujukan pada Jepara.” “Untuk Jepara, D emak dan Semarang akan waktu lain,

  Aji Usup. Lihatlah betapa pongah Sultanmu . Mengirimkan seorang duta yang berkedud ukan hanya sebagai duta putra mahkota, bukan dutan ya sendiri! Apakah yang seperti itu pernah dilakukan oleh Adipati Tuban?”

  “Tidak, G usti Adipati Tuban.” “Apakah Tuban pernah mengh alangi pemban gunan

  G lagah W an gi? Atau pernah mengambil salah sebuah dusun D emak?” “Tidak, G usti Adipati Tuban.” “Apakah kurang berharga Adipati Tuban dibandingkan dengan Sultan D emak maka hanya duta Adipati Jepara yang dikinm kan pada Kami?”

  ”Tidak, G usti. Soalnya hanya karena G usti Kanjeng Adip ati Unus yang mengu rusi soal-soal manca-praja, maka patik dikirimkan dari Jepara kemari.”

  “Pikiran D emak sungguh berbelit-belit biar pun mu dah dap at dimengerti. Sebagai kerajaan pun sudah berbelit. Co ba, kerajaan benteng yang didirikan oleh Sampo Toa- lang untuk mengh adapi Tuban, sebuah kerajaan bayang- bayang yang didirikan oleh pendatang Tionghoa. Sungguh berbelit.”

  “Ampun, G usti, D emak adalah kerajaan Islam, itulah keteran gan satu-satunya dan tiada lain, G usti.” “Ya, keteran gan satu-satu nya sebagai negara, tapi bukan sebagai praja. Sebagai praja sangat berbelit karena dia mengabdi pada Semarang, dia tidak mengabdi pada Islam. N egeri Syiwa-Buddha juga tidak mengabdi pada Syiwa- Buddh a.”

  “Patik, gusti.” “D an bagaimanakah rupanya negeri yang mengabdi pada sesuatu agama? Kami tidak pernah tahu. Majapahit yang jaya sepanjang sejarahnya juga tidak.”

  “Ampun, G usti, patik tidak ada wewenang untuk berselisih. Barang tentu G usti Adipati benar.” “Ya, dan D emak seluruhnya keliru.” “Ampun, G usti Adipati benar.” “Baik, apa hendak kau persembahkan lagi, Tuan D uta?” “Masih tetap soal Peranggi, G usti. Sekiranya G usti

  Adip ati ada kecenderungan untuk melupakan perselisihan- perselisihan kecil dengan D emak… sekiran ya G usti Adipati ada terniat untuk melancarkan perang pengusiran terhadap atas pundak patik dari Sultan D emak melalui G usti Kanjeng Adipati Jepara.”

  “Persembahkan, Tuan duta.” “Maka Tuban dan Jepara-D emak bisa bergabung dalam satu armada besar, G usti.” “Kau tak pernah bicara tentang Semaran g. apakah kau mem ang pura-pura bukan kawula Semarang?” “Ampun, G usti, patik memikul pada bahu patik untuk jangan sampai menggusarkan hati G usti Adipati Tuban.” “Tanpa kau pun D emak telah m enggusarkan kami.” “Ampun, G usti, patik hanya memikul perintah soal

  Peranggi.” “Persembahkan!” “Semua kekuatan laut dari Tuban dan Jepara dan

  Banten, dan Jamto’ dan Riauw dan Aceh akan sanggup mengu sir Peranggi, G usti, kalau or laksanakan. Sekiranya G usti Adipati berkenan m enyertai.”

  Sang Adipati terdiam dan sang D uta tidak m emulai lagi, menunggu jawaban. Matari semakin condong mendekati tepi bumi waktu penguasa Tuban itu berkata: “D atang kau sebulan lagi, baran gkali kami ada jawaban.”

  “D ilimpahi oleh Allah hendaknya G usti Adip ati Tuban dengan ram ah dan kebijaksanaan sedalam-dalamn ya dan usia panjang sehat dan sejahtera….”

  Begitu duta Jepara pergi, Sang Adipati tak dapat mengendalikan kemuakann ya atas lawan-lawannya di barat sana. Ia takkan mem biarkan siapa pun berjingkrak di atas mengh endaki. Perang saudara Peregrek itu selalu jadi mo mok selam a hidupnya sejak ia menjadi Tumenggung W ilwatikta di Mahapahit selam a lim a tahu n sampai sekarang ini, nyaris empat puluh tahun yang lalu. Ia tak menyukai perang dengan siapa pun. Juga tidak dengan Peranggi. D an sekarang dari utara, timur, barat dan selatan , Prajawan-prajawan pada mem pergunjingkan jatuhnya Malaka. Mem ang sejak dah ulu pun Selat jadi urat nadi kemakm uran dunia, hanya karena dilewati rempah-rempah N usantara. Tetapi mengapa oran g begitu dun gu m embatasi kemakm urannya pada rempah-rempah dan Selat semata, seakan tak ada resiko lain di atas dunia ini? Sekarang pula Peranggi datang justru hendak mengangkangi ke dua- duanya ogah berbagi dengan yang lain-lain seperti semula? Sekarang. D emak pun ikut dengan pergunjingan, dan dengan pergunjingan celaka itu hendak melupakan kami pada tindakan mereka yang tidak satria. Puh! D emak yang tand us-miskin hendak keluar sebagai penantan g Peranggi! N egeri-negeri pada berjatuhan di tangan Peranggi, ini, kerajaan miskin yang baru kemarin akan mencoba-coba, terhadap tetangga sendiri dan terhadap Peranggi sekaligu s!

  Sang Adipati mencoba mem bayangkan Adipati Jepara yang muda dan bersemangat itu. Angan-angann ya, pikirnya, lebih besar dari akalnya. M emang semua nampak indah bagi oran g yang masih mu da dan menganggap diri kuat tak terkalahkan. Barangkali dia sendiri yang hendak naik ke Malaka. Baik, datan gilah Malaka, Unus! Hanya dia yang berusaha mendekati hasil. Kalau kau dap at takkan lebih baik dari Peranggi sendiri. Semu a boleh gagahi Malaka. Tuban takkan binasa karenanya! Ia melangkah pelan-pelan mengaji pikirannya sendiri.

  D alam kegelapan para pengawal pun bergerak mengikutinya dari kejauhan. Ia mem asuki daerah perum ahan. Tiba-tiba, seperti tidak dimaksudkannya semula, ia berhenti di depan pintu yang diterangi dengan sebuah lam pu gantung bersum bu lima.

  Pintu itu terbuat dari papan jati berat berukir dalam, menggam barkan beberapa orang wanita sedang bercengkeram a di bawah sebatan g pohon jeruk macam di sebuah tam an larangan.

  G ubernur Tuban itu menarik seutas tali yang m enjulur di atas dau n pintu dan berujung jum bai berwarna-warni. Segera kemudian pintu berkerait terbuka. Sebidang pelataran dalam yang di sana-sini disinari lampu bersumbu satu terpamp ang di hadapann ya.

  Seorang wanita setengah baya bertubuh kekar bersimp uh di tanah menyambut dengan sembah. Kepalanya m enekur. Inilah keputrian atau harem Sang Adipati. “Bagaimana kalian, N yi G ede Kati?” “Karunia dan kemurah an G usti Adipati kuminta tanpa henti, G usti,” sembah wanita itu. Sang Adipati langsung berjaian ke seram bi, kemudian masuk ke dalam salah sebuah bilik selir kesayangan: N yi

  Ayu Sekar Pinjung.

  Selir-selir lain yang waktu itu kebetulan berada di pelataran atau seram bi masih tetap bersimpuh di tanah pada tempat masing-masing. Setelah penguasa itu hilang dalam bilik selir kesayangan mereka bergegas masuk ke bilik masing-m asing. Yang tertinggal di luar hanya N yi G ede Kati.

  Perempuan itu berdiri berjaga dengan sebilah ton gkat panjang karena itulah tugasnya sebagai pengurus harem dan sebagai penjaga sekaligu s. Ia berum ur lebih-kurang empat puluh dan tampak masih mu da, seakan baru kemarin meninggalkan umurnya yang ke tiga puluh. Mu kanya bundar dan selalu nam pak segar, Matan ya agak sipit. Pand ang matanya tenang tetapi nampak tajam menem bus segala apa yang dilihatnya. Lebih dari itu ia seoran g pesilat tangguh. Pada punggun gnya selalu terselit senjata tajam dan pada sanggu lnya selalu melintang sebilah cundrik kecil- panjang sebagai tusuk kondai. Rambutnya tersanggul, berbeda dari para selir yang diharu skan berurai. Juga berbeda dari para selir N yi G ede Kati bergigi hitam aran g, sedang para selir diharu skan tetap bergigi putih seperti seorang penari. Bila ia tertawa gigi hitamn ya berkilau mengkilat, nampak keras seperti baja sepuh. D an han ya N yi G ede Kati sendiri baran gkali tahu berapa banyak biji jahawe yang telah ia habiskan untuk kepentingan itu.

  Tenang suasana harem itu. D eburan laut hampir-hampir tak kedengaran dari sini. D an bunyi gam elan di pendopo pun hanya sayup-sayup.

  D i dalam bilik Sang Adipati dud uk di atas sampai tertiduran sedang pandangan nya diarahkan ke bawah pada N yi Ayu Sekar Pinjung yang sedang menyeka kaki penguasa itu dengan selembar kain basah.

  Tangan Sang Adipati melambai, menarik dagu selir kesayangan untuk mem andangi wajahnya. D an wanita itu berkata dengan kenesnya,

  “Aduh, G usti sesembahan patik, betapa lama patik menunggu selama ini.” Sang Adipati menganggu k dan tersenyum. Di bagian bum i yang sepotong ini saja ia dapat melepas senyum dan tawa sebanyak ia kehendaki. N amu n di sini juga ia paling waspada. Setiap kata yang tertangkap oleh pendengarannya keturunan, dari penguasa yang satu pada penguasa yang lain menggantikan, sampai pada dirinya, abadilah peringatan itu: waspadalah kau, raja, begitu kau injak bendul keputrian, di dalamn ya mu suh dan lawan, penjilat dan peracun, pengkhianat dan perakus, sedang sibuk mem asang jebak. D an pusat jebakan selalu selir kesayangan. “Awaslah jangan terlena, karena lena adalah binasa.”

  “Mengapa kau merasa lama menunggu, N yi Ayu?” ia mem ancing. “Ah, ya, baran g tentu ada tersimpan sesuatu dalam hatimu. Adakah kiranya cincin kau inginkan? Atau kalung? Ataukah dinar emas? Atau dirham ?”

  “Ampun, G usti, bukan mas dan bukan perang, ya G usti sesembahan , kalau patik diperkenankan bersembah….” Sang Adipati menarik selir kesayangan ke atas dan didudukkan di sampingnya. D an selir itu mengikuti tarikan sambil meliak-liu k genit.

  “Persembahan, N yi Ayu Sekar Pinjung, baran g tentu sangat penting.” “Ampun, G usti, adapun yang hendak patik persembahkan, ya G usti, G usti sesembahan, bukanlah sepertinya, hanya perasaan takut dan was-was, G usti.”

  Sam bil mem belai-belai ram but selirnya Sang Adipati bertanya setengah tawa tapi dengan kewaspadaan semakin tinggi: “Apakah kiranya yang kau takutkan dan was- waskan?”

  “Ampun, G usti, orang bilang, ya sesembahan patik, ada bangsa berkulit putih bernam a Peranggi. Kata orang, tiada tand ingan di seantara jagad raya ini.”

  “Kata orang, N yi Ayu, teruskan.”

  “Maka kata orang itu pula, G usti, seluruh dunia mem berinya julukan lelananging jagad, jantannya dunia, ya G usti. N egeri didatangi takluk. Benua dipan ggilnya datang. Kapal ditudingnya tenggelam, ya G usti.”

  Sang Adipati tertawa senang dan didekapnya kepala wanita itu. Bertanya: “Mengapa takut pada dongengan?” “Kami semua takut dan was-was,” selir itu menyembunyikan mu ka dengan manja pada dad a Sang

  Adip ati. Kemudian meneruskan dengan sura yang tidak keluar dari hati-kecilnya: “Kata orang, ya G usti, sebentar lagi P eranggi itu akan m enaklukkan juga Tuban.”

  Sang Adipati terlompat seperti tersengat kalajengking. Ia tolak N yi Ayu Sekar Pinjung sehingga jatuh tertelentan g di atas am bin. Kemu dian ia berdiri tegak lurus, bertolak pinggang. W ajah nya merah dan berkilauan terkena sinar lampu. Matanya tajam mengawasi selir kesayangan.

  Mengetah ui perobahan sikap mendadak itu. N yi Ayu Sekar Pinjung tergagap-gagap bangun m emerosotkan diri ke lantai. D engan manjanya ia rangkul kedua belah kaki lelaki itu dan mem perdengarkan sedu-sedunya: “Ampunilah patik, ya G usti.”

  “D ari siapa cerita itu, Pinjung?” tanya Adipati itu pelahan tapi tajam. Kedua belah tangannya masih juga bertolak pinggang.

  Hanya sedu-sedan yang menjawab. “Jadi kau tak bermaksud mem persembahkan siapa orangn ya?” Hanya sedu-sedan. D an tubuh wanita itu gemetar. Sang Adip ati mem bongkok, meraba-raba mu ka selir kesayangan. Tangan itu kemudian berhenti pada kuping. D alam waktu pendek subang-subang selir itu telah berpindah di atas tangannya. D an wanita itu seperti dengan sendirinya hendak m empertahankan subangnya. Terlam bat. Kemu dian ia cegah sendiri usahanya.

  N am pak Sang Adipati sedang berusaha menindas kemarahan nya. Sekaligus ia mengerti ada kekuatan yang sedang bekerja untuk menyebarkan ketakutan. Benarkah tangan-tangan Peranggi sudah mulai memasuki sudut kadipaten? Ini? pikirnya. Sudah mu lai menyebarkan kegentaran pada seluruh isi kadipaten?

  D engan gerakan yang menterjemahkan kemarahan ia cabut cepuk-cepuk subang itu. D ugaannya tidak keliru. D ari dalam keluar segulungan kertas, bertulisan dan berbahasa Jawa. Ia mendekati lampu dan mem bacanya. Isinya hanya sebaris, menyatakan telah mengirimkan selembar sutra delapan depa, tanpa m enyebut nama seseoran g.

  Isi tulisan itu tak banyak menarik perhatiannya. Tetapi kertas? Surat di atas kertas! Hanya orang asing menulis di atas kertas. Kembali ia periksa surat itu… dengan tinta, sedang Pribumi dengan jelaga.

  Ada tangan asing bergerayangan di dalam harem ku, ia mem utuskan dalam hatinya. Sejenak ia duduk berpikir. Tak mendapat jawaban. Sekarang bertanya: “Dari siapa surat ini?”

  “Ampun, G usti Adipati Tuban sesembahan patik,” suara N yi Sekar Pinjung gemetar. “Bukan patik hendak menyembunyikan sesuatu dari kekuasaan G usti sesembahan , mem anglah patik tidak tahu siapa pengirimn ya. Ampun, beribu ampun, G usti.”

  “D ari mana kau terima surat dan sutra?” “N yi G ede Kati, G usti.”

  Sang Adipati bergegas meninggalkan bilik harem. Beberapa hari setelah itu ia dudu k di seram bi belakang kadipaten sambil menonton adu jago yang dilaksanakan oleh para kawula. Perhatiann ya tak dap at dipusatkannya pada peragaan itu. Pikirannya masih juga sibuk dengan isi lontar yang sepagi dipersembahkan oleh Sang Patih kepadanya. Lontar itu ditemukan oleh G aleng dalam penggerayangannya di dalam kam ar Syahbandar baru Sayid Habibullah Almasawa, mengabarkan telah menerima dari Tuan, gelang, kalung, cincin mas bermatakan zamrud dan mu tiara, dan bersedia lakukan pada yang tuan perintahkan.

  Menurut Sang Patih. G aleng telah periksa seluruh kamar Syahbandar dan ia telah melihat banyak botol dan benda- benda yang ia tak tahu nama dan gunanya: kitab-kitab dengan tulisan yang ia tak kenal dan tak bisa baca, logam- logam kecil, lontar-lontar halus dan lebar dan lunak dengan gam bar garis-garis bengkok, yang ia pun tak tahu artinya, setumpuk kertas, dan lain-lain yang ia pun tak tahu nama dan gunanya.

  D asar anak desa! Tetapi itu hanya permulaan, gumam Sang Adipati. Kemu dian diambilnya selembar daun sirih dari namp an kuningan, mengo lesinya dengan kapur, menaruh sepotong kecil gam bir di atasnya. Menggulung dan mem amahnya. Kelak akan dia ketahui semu anya, pikirnya lagi.

  Ia berusaha mengh indari kemungkinan Sang Patih mencam puri urusan rumahtangga kadipaten. Ia tak mengh endaki berkurangnya kewibawaannya sebagai Adip ati. Ia akan selesaikan sendiri urusan dalam kadipaten. Bahkan mantri-dalam Patireja pun tak dititahkan nya untuk melakukan pekerjaan itu.

  D an surat itu jelas dari seorang wanita. Ya, dari seorang wanita kepada Syahbandar Sayid Habibullah Almasawa. Tetapi tiada disebutkan tentangsutra. Mu ngkinkah barang perhiasan itu diterima oleh N yi G ede Kati? D an apa jasa N yi G ede pada Syahbandar? Siapa pula pengantar dan penghubung surat? Ha, baran gkali N yi G ede bertindak sebagai penghubung dengan para selir. Tangan-tangan sudah mu lai bergerayangan di dalam kadipaten. Kami sendiri haru s dapat temukan penghubung itu.

  “Panggil N yi G ede Kati, ” ia berseru, kemudian mem perhatikan pertarungan ayam di depannya. Wanita pengurus harem itu bersimpuh di bawah serambi dan mengangkat sembah.

  D an Sang Adipati sengaja meneruskan perhatiannya pada peragaan binatang-binatang itu. Baru setelah salah seekor mati tertem busi taji baja Pada tengkuknya ia mengh ela nafas dan menghembuskannya keras-keras,

  “Mendekat!” perintahnya keras-keras. N yi G ede Kati beringsut mendaki anak-an ak tangga seram bi belakang mengangkat sembah lagi. Atas lambai tangan Sang Adipati ia beringsut maju terus lebih mendekat. Sang Adipati melambaikan tangan lagi sehingga ia sudah hampir pada kakinya.

  “N yi G ede’ ia berbisik, siapa yang pernah m enyurati kau dari luar?” Tiba-tiba tubuh wanita di bawahnya itu m enggigil. “Ampun G usti Adipati Tuban sesembahan patik,” sebentar suaranya juga menggigil, kemudian merata kembali, “mem ang benar patik pernah…. ”

  “Tidakkah kau dengar kami tiada berkeras-keras

  “Ampun, G usti,” N yi G ede menurunkan suaranya sehingga mendekati bisikan, “mem ang benar patik pernah menerima surat dari luar, tetapi patik tak tahu dari siapa. Surat tersebut sudah ada saja dalam kamar patik, tanpa patik ketahui siapa pembawanya.”

  “Kami tahu kau seorang yang jujur, N yi G ede. Bagaimana mu ngkin, kau yang bertugas mengu rusi keputrian justru tidak tahu apa yang terjadi di bilikmu sendiri?” “Ampun, G usti Adip ati Tuban sesembahan patik.

  Hukum lah, patik, karena itulah kebenaran yang sesungguhnya. Hidup-mati patik adalah milik G usti Adip ati!”

  “Mana surat itu?” “Ampun, G usti Adipati, patik takut m aka patik bakar.” “Surat apa, N yi G ede, lontar ataukah kertas?” “Lon… lon… lon… kertas barangkali, G usti, patik tak tahu namanya. Bukan lontar. ” “Bukankah bukan hanya surat saja telah kau terima?

  Adakah real Peranggi pernah kau terima juga?” “Ada, G usti real mas, Patik moho n ampun, karena tiada mengetah ui adakah itu real Peranggi atau bukan.” “Real Peranggi, dua,” Sang Adip ati mendengus mengh inakan, “dan gelang, bukan?” “D emikianlah, G usti, dan gelang.” “D an kalung, dan cincin mas, semua bermata zamrud dan mutiara. Bukan?”

  “Ampun, G usti, semua benar. Perkenankanlah patik mem persembahkan semua itu ke bawah duli G usti sesembahan .”

  “Ambillah semua untukmu sendiri. Barang-barang itu dikirimkan untukmu . Kami tahu kau pengurus keputrian yang jujur. Pergi!”

  Ia perhatikan wanita pengurus harem itu beringsut-ingsut mu ndur, menyembah dan menyembah, kemudian berjalan menuju ke tempat pekerjaan nya semula. Ia percaya perempuan itu benar-benar tak tahu siapa pengirimnya, tak tahu siapa penyampainya.

  W aktu ia menoleh nampak olehnya Pada sedang berjalan di kejauhan memikul kotak sampah m enuju keluar daerah perum ahan. D arahnya tersirap. Sesuatu m enyambar pada pusat perasaannya: cemburu. D ia! Ya, dia, Pada itu, yang dapat bergerak leluasa di dalam kadipaten. Dia rupa- rupanya kutu busuk keputrian. Dia!

  Ia ikuti Pada dengan pandangnya. Ia kaji tingkah-laku bocah yang bebas gaya dan gerak-geriknya itu. Sekali-dua ia pernah melihat ia bercakap-cakap dengan wanita dewasa dengan begitu bebasnya, seakan sudah lama berpengalaman dengan mereka. Ya. Si bocah itu!

  Jantu ngnya berdebaran. Adakah dugaanku benar? D an bocah itu menjam ah hak-hakku yang paling tersembunyi? Mu ngkin! D an dia dap at bergaul bebas dengan siapa saja. Tak pernah punya perasaan gentar. Bahkan hampir dap at dikatakan kurang ajar. Dia berbahasa Melayu dengan lancar dan baik. Dia bertugas melayani Sayid Habibullah Almasawa. Tidak salah: dialah penghubung Syahbandar dengan keputrian. D ia semestinya kutu busuk harem.

  Perasaan cemburu telah menariknya dengan kasar dari ke belakang mem eriksai pagar kayu tinggi, yang m elingkari keputrian, untuk mendapatkan bekas-bekas panjatan.

  Tak ditemuinya bekas itu pada kayu yang berwama coklat yang selalu dibersihkan itu. Tentu ia menggunakan alat-alat yang sekarang ini belum dapat diketahui.

  Ia tak teruskan penyelidikannya dan kembali duduk di seram bi belakang. Ia cegah dirinya untuk berbuat sesuatu pembalasan dendam yang bisa diketahui oleh seluruh kawula. D an ia harus tahu dud uk perkara sebenarnya.

  Pada nampak lagi mem ikul kotak samp ah yang sudah kosong. Sang Adipati mem perhatikan si bocah yang gelisah dengan mata berpendaran ke m ana-m ana itu. Ia lambaikan tangan padanya. D an bocah itu pura-pura tidak tahu.

  Manakah ada kucing dengan senang hati mengh adap pada si macan? Pikirnya jengkel dan mem biarkan Pada mengh ilang.

  Cem buru tak dapat ia atasi hanya dengan berpikir dan berpikir. Bocah-bocah semuda itu telah gerayangi keputrianku!

  Kebakaran terjadi di dalam dadanya. Tangannya melambai menyam bar nampan kuningan tempat peracikan sirih dan dibantingnya m enggelintan g di lantai.

  O0-d w-0O

  Pada waktu tidak dinas seperti sekarang ini ia selalu bersarong, berbaju dan berkopiah putih dari tenunan Benggala -semua kain kaliko kasar. Tamu itu telah turun ke gedung kesyahbandaran . Percakapan dengan tam u sangat menarik: masuknya Islam ke N usantara bukan suatu kebetulan. Juga bukan suatu kebetulan mengapa penguasa- penguasa di Perlak, Pasai dan Malaka yang mu la-mu la masuk Islam: mereka mem butuhkan ajaran, perlindungan, kepercayaan lain dari segala yang serba M ajapahit….

  G edung kesyahbandaran yang terpampang di hadapannya nampak masih, terindah di seluruh negeri Tuban. Lebih indah dari kadipaten, istana Sang Adipati. G edung itu adalah yang kedua yang terbuat daripada batu. Yang pertama adalah klenting Tionghoa. Kedua-duanya berdiri di wilayah pelabuhan. Rumah selebihnya di seluruh negeri Tuban terbuat dari kayu atau bambu, beratap sirap, injuk atau ilalang. Yang termiskin berdinding dau n nipah atau kelapa.

  Selalu bila ia sedang mem intasi jalanan halaman depan rumah, ia tak pernah m elewatkan nikmat keindah an bunga- bungaan aneka warna di atas perm adan i rumput hijau ini. D ua tahun lalu seorang anak kapal dari M alabar, terdampar di Tuban, telah mem bangun nya meniru taman raja-raja Benggala, dan jadilah yang terindah di seluruh negeri. Di sore hari orang suka berdiri di luar pagar untuk menikmati dan mengagumi. Ia bangga pada tamannya.

  Sam pai di depan pintu para pelayan sewaan telah berbaris menyongsongnya. “Semua sudah dirapikan, Tuan Syahbandar,” kata Yakub, majikan para pelayan itu dalam Melayu.

  “Kalian boleh pergi,” jawabnya sambil melambaikan tangan dan mem berikan sesuatu di tangan Yakub. Tanpa menoleh ia m asuk ke dalam.

  D an bila ia m enikmati kebagusan gedungnya, tak pernah rumah batu sebagai sebuah canai, yang nanya D aik untuk menyimpan abu jenasah.

  Ru ang tamu yang luas itu juga susunan awak kapal dari Malabar. Perabot: kursi-kursi berukir, dua bangku bantal kulit onta. Permadam tergelar di atas lantai batu dihiasi dengan lemari besar dari kayu berukir arabesqus merupakan dinding pembatas antara ruang tam u dan ruang kerja, diatur menurut gaya ruang kerja saudagar-saud agar Parsi.

  Percakapan dengan Abdulgafur memang menarik, dan itu terjadi sebelum jatuhnya Malaka. Beberapa hari kemudian setelah M alaka jatuh dan ia mendengam ya, buru- buru ia buka lemari besar itu dan mengeluarkan sebuah kitab tebal, catatan sambungan dari catatan salinan abangn ya dari ayahnya, dan ayahnya meneruskan dari kakeknya yang besar Mirsa Hisyam Syu’bah, Syahbandar Malaka, yang pernah mengislamkan Bhre Param esywara.

  Catatan-catatan kakeknya tentang Malaka hampir- ham pir hafal olehnya di luar kepala. Kakeknya, Mirsa Hisyam Syu’bah, telah mendapatkan pelarian dari Majapahit itu, yang ternyata suami kaisar wanita Majapahit, Suhita. Ia adalah Bhre Param esywara. Pertem uan itu terjadi di Tum asik, bandar Majapahit yang besar, mengh ubungkan N usantara dengan Atas Angin dan Tiongkok. Kakeknya segera bersahabat dengan pelarian agun g itu.

  D alam catatan itu diterangkan juga, bahwa Bhre Param esywara terlibat dalam komp lotan untuk menggulingkan isterinya sendiri dan berkeinginan untuk jadi kaisar Majapahit. D ari mata-matanya ia mengetahui, bahwa kaisar Suhita telah mem erintahkan penangkapan atas dirinya. Larilah ia ke Tumasik. Tetapi komplotan itu diteruskannya. Perang saudara Paregrek meletus pada Blam bangan , antara Kaisar wanita Suhita dengan Bhre W irabumi. Perang laut dan perang darat mem beludag. Cetbang yang menurut aturan perang Majapahit hanya dipergunakan di laut dipergunakan juga di darat oleh dua belah pihak. Armada dua belah pihak bertenggelaman di perairan Bali, Lombok dan Nusa Tenggara. Lumajang, ibukota Blam bangan, jatuh. Majapahit jatuh miskin, kehilangan kekuatan lautnya. Bahkan anak dari Bapak Angkatan laut Majapahit, Mpu N ala ke 2, tenggelam dalam perang laut di tentang Singaraja.

  D i Tumasik terjadi persekutuan, antara Mirsa Hisyam Syu’bah dengan Bhre Param esywara. Mereka bersepakat mendirikan bandar sendiri di atas Tumasik, dan dengan demikian meruntuhkan bandar besar itu, untuk menjatuhkan Majapahit dari utara. Perang saudara menyebabkan Bhre Param esywara dan Mirsa berhasil mem buka bandar Malaka pada 1402 Masehi, marak jadi raja, dan menjatuhkan arti Tumasik sebagai bandar antar- benua. D engan berdirinya Malaka berarti hancum ya Ma- japahit dari sebelah utara. Mirsa Hisyam Syu’bah diangkat sebagai penasihat dan Syahbandar sekaligu s. Kakaknya ini yang menganjurkan padan ya untuk lebih bersekutu dengan pedagan g-pedagang Islam, dan untuk itu harus sendiri masuk Islam. Kakeknya ini juga yang mengislamkannya, dan sejak itu Bhre Paramesywara mengu bah nam anya jadi Maulana Ishak, dan sebagai raja Islam bergelar Megat Iskandarsyah.

  Rangga Iskak hafal benar bagian itu. Sekarang Malaka jatuh setelah 109 tahu n berdiri dari kesultanan . Ia tahu arti kejatuh annya di tangan Peranggi. Semua bandar besar dan kecil di Jawa terancam. Terancam pula penghidupannya. Tetapi kedatangan orang yang mengaku dirinya Sayid Habibullah Almasawa lebih berbahaya lagi daripada jatuhnya Malaka. D ari resam tubuh dan mu kanya ia sekaligu s menduga, ia tidak lain dari Syahbandar Malaka, yang telah menjatuhkan abangn ya. Kelakuannya dalam kadipaten Tuban seperti kelakuann ya di kesultanan Malaka sejauh ia dengar dari Zakad, saudagar G ujarat itu: tingkah dan lagaknya seperti raja m uda M alaka.

  Ia sudah berkali-kali memperingatkan Sang Patih akan bahaya yang mu ngkin timbul karena orang Moro itu. Sang Patih tak dapat berbuat sesuatu . D i waktu belakangan setelah jatuhnya Malaka Sang Adipati suka mengambil tindakan sendiri tanpa sepengetahuann ya, dan tak mem beritakan sesuatu padanya. Ia sendiri pusing dengan banyaknya perintah yang datan g susul-m enyusul. Bahkan perintah penggalangan kapal-kapal baru dan pemborongan seluruh rem pah-rempah Maluku, kalau perlu dengan kekuatan senjata, telah mem bikin Sang Patih kehabisan tenaga. Maka segala persembahan Syahbandar Tuban tak mampu m enarik perhatiannya.

  Kemu dian datan g hari yang menutup segala kegelisahan nya. Seseorang memp ersilakannya pulang dari pelabuhan . Kesyahbandaran telah penuh dengan prajurit yang mengeluarkan semua perabot rumahtanggan ya, menaikkannya ke atas grobak-grobak dan mem bawanya entah ke mana. Ia lari mendap atkan peratus yang mem impin pasukan itu.

  “Tuan Syahbandar harus pindah pada hari ini juga,” jawabnya pendek. “Atas perintah Sang Adipati.” Peratu s itu tak dap at diajaknya bicara lagi. D id apatin ya keemp at-empat istrinya sedang menggerom bol di dapur. Mereka semua tak tahu apa harus diperbuat.

  “Baik. Benahi baran g-barang kalian,” perintahn ya pada mereka. “Kita tak tahu apa sedang terjadi.” Ia lari dan mengh adap Sang Patih. Juga yang dihadap tidak m engerti. “Titah Sang Adipati tak bisa dihalangi,” jawab Sang Patih. “Tapi gedung itu adalah gedung patik!” “G edung T uan?” “Patik yang m emban gunkannya.” “Semua atas biaya bandar Tuban.” jawab Sang Patih.

  “Tapi perencanaan….” “Sam pai batu terakhir, kawula Tuban yang mengambilkan, Tuan Syahbandar. G enteng terakhir yang didatangkan dari Tiongkok itu pun bandar Tuban yang mem biayai. Takkan ada barang Tuan yang bakal teram bil percum a.” Syahbandar Tuban masih mencoba m emprotes.

  “Kalau Tuan tidak mem atuhi titah Sang Adipati, Tuan boleh tinggalkan Tuban sekarang juga.” Syahbandar mo hon diri dan pulang ke kesyahbandaran. D engan kemarahan luarbiasa ia iringkan gerobak-gerobak itu mengangkuti baran gnya menuju ke bedeng asram a peserta pertandingan yang baru lalu. Ia kalah. Istri-istrinya segera mem bersih-bersihkan gedung. Ia sendiri minta pada peratus agar pagar kayu tinggi yang mengelilingi gedung dap at diambil juga. D an peratus itu sama sekali tak mem berinya jawaban.

  Ia tahu dengan kosongnya kesyahbandaran, Sayid Habibullah Alam asawa akan mem asukinya dan menggantinya jadi Syahbandar Tuban. Ingat akan itu tak bisa lain kemarahannya tertuju pada Yakub si pewarung tuak dan tiu-arak. Dia telah membohonginya uangnya yang satu dinar. D an ia tak pernah menamp akkan diri dalam semm ggu terakhir ini. Anak keparat itu.

  Biarpun gedung besar itu hampir-hampir kosong dari perabotan, Tholib Sungkar Az-Zubaid alias Sayid Mahmud Al-Badaiwi alias Sayid Habibullah Almasawa sudah m erasa puas dengan jabatan barunya sebagai Syahbandar baru Tuban. Seluruh kekuasaan atas bandar, bea keluar-m asuk. pajak pasar pelabuhan , semua jatuh ke tangannya.

  D engan kepergian R angga Iskak gedung kesyahbandaran itu kini nampak ram ah. Pintu depannya kini selalu terbuka dan melelakan kehampaan di dalam gedung. N amun ia tak merasa hina atau miskin karenanya. T aman indah di depan rumah itu saja telah menipakan kekayaan warisan yang tiada tertandingi di seluruh Tuban.

  Ia isi kekoson gan rumah di waktu malam dengan mem bacai buku-buku cerita dari Portugis dan Spanyol, atau mem bacai kitab-kitab Arab peninggalan kebudayaan Junani Purba-Arab di Cordo ya. Setiap ia tertum buk pada kaum Sephardi, kaum Jahudi, Spanyol-Portu gis, ia tak teruskan bacaannya dan berpindah pada buku lainnya.

  Hanya saja ia merasa sunyi dalam gedung besar ini di waktu malam, karena semua pembantu harus pulang di malam hari sesuai dengan ketentuan.

  Keadaan mendadak berobah: pengantin baru G aleng- Idayu datang ke kesyahbandaran untuk tinggal bersama dengan nya. Mereka menem pati sebuah kamar di gandok la sambut kedatangan mereka, menunjukkan temp at tinggal mereka. Ia lihat sejoli itu ragu-ragu mem asuki kamarnya yang baru. Ia dengar mereka bicara satu-sam a- lain dalam Jawa, dan ia tidak mengerti. D an ia lihat Idayu jauh lebih cantik di dekat mata daripada dari kejauhan. Kulitnya yang langsat kecoklatan mem ancarkan seri ram ah dan mengundang, halus dan lembut. D an di balik kulit itu tersembunyi otot-oto t padat seoran g gadis petani yang biasa kerja.

  Setelah menunjukkan tempat mereka ia pergi kembali ke gedung utama. Idayu mengetoki dinding, kemudian terpakukan pada tanah, hanya m atanya m elihat ke mana-mana. “Mengapa, D ayu?” “Batu, Kang, semu a batu,” bisiknya, takut terdengar oleh orang lain, “seperti candi. D ingin. Mengerikan.” G aleng m enirunya m engetuki semu a dinding. “Semua batu, D ayu,” ia jatuh terduduk di ambin, juga matanya mengem bara ke seluruh batu yang dingin itu, putih dan bisu.

  “Kotak batu semacam ini, Kang, hanya baik untuk….” Syahbandar baru masuk tanpa beruluk salam. Bertanya dalam melayu: “Apa katam u, Idayu?” Idayu melom pat mendekati suaminya dan berlindun g di balik gum paian otot yang kuat itu.

  “Apa kata istrim u?” tanyanya pada juara gulat itu. “Pergi kau ke dap ur, D ayu” perintah G aleng pada istrinya.

  D i dapur wanita itu menem ukan seorang pembantu. D ilupakannya prasan gkanya terhadap tempat tinggalnya yang baru dan segera kemudian mu lai bekerja sebagai ibu rumah tangga sebagaimana biasa ia lakukan di Awis Kram bil.

  Tholib Sungkar Az-Zubaid merasa kecewa melihat wanita pujaan Tuban itu pergi mengh indarinya. Ia perlihatkan keramahan dengan mem bantu G aleng mengatur baran g-baran gnya – semua sumban gan dari penduduk Tuban Kota.

  Orang jangkung agak bongkok, berhidung bengkung, mu ka penuh dengan kumis, jenggot, camban g-bauk dan alis itu, tak henti-hentinya bicara dalam Melayu. G aleng tak mengerti, kecuali beberapa patah kata. D an syahbandar baru itu tertawa-tawa senang m elihat G aleng tidak m engerti dan mengawasinya dengan waspada. Ia hampiri jago gulat mu da bertubuh perkasa itu dan menepuk-nepuk pada lengan nya. Berkata: “Aku undang kalian. D atanglah nanti malam ke tempatku.”

  Juara gulat itu menggeleng tak mengerti. Syahbandar mengu langi kata-katanya dan mem bantunya dengan gerak- gerak tangan yang ram ai. Juara itu mengangguk mengerti. Tholib Sungkar Az-Zubaid mengangguk-an gguk senang, kemudian pergi.

  Kamar tamu gedung utama kesyahbandaran itu kini diisi hanya dengan bangku-bangku kayu dan meja sederhana. Mereka bertiga duduk m engepung m eja.

  Tholib Sungkar Az-Zubaid tak henti-hentinya bicara. Suam i-istri, pengantin baru itu, duduk diam-diam, kikuk, dan untuk pertama kali bergaul dengan orang asing. G aleng terus-menerus mengawasi Syahbandar, mem perhatikan gerak-gerik dan mendengarkan setiap patah kata yang diucapkannya. Idayu sebaliknya terus-menerus menundu k.

  “Berkah pengantin baru! Berkah untuk kalian berdua!” tuan rum ah mem buka percakapan, “maafkan aku terlambat menjam u kalian. Uah…,” alis Syahbandar baru itu terangkat naik, kemudian cepat turun lagi, “… pengantin masyhur. W an itanya penari ulung, cantik-jelita tiada tand ingan di seluruh Tuban Kota dan Tuban negeri. Prianya gagah-perkasa, tiada cecat baran g secuwil,” katanya cepat pula.

  D engan bahasa Jawa sebagaimana diajarkan di perguruan dan asram a G aleng berkata: “Sahaya tidak mengerti, Tuan Syahbandar.”

  “Jangan bicara Jawa,” tuan rumah melaran g, “ayoh, mu lai sekarang pergunakan Melayu,” sekarang ia ucapkan sepatah sepatah. “Melayu! Bukankah kau sekarang pembantu-utamaku?”

  Juara gulat itu menganggu k mengiakan. “Melayu! Melayu! Mu lai bicara Melayu!” D an bila Idayu mencuri pandang dari bawah keningnya pada Syahbandar, ia tak dap at sembunyikan keheran annya melihat hidung sepanjang itu dan bengkung dan tipis. Seakan mu ka itu diadakan hanya untuk dapat ditenggeri oleh hidung raksasa. Kalau dia diberi bersayap. pikimya selintas sambil tersenyum, sungguh, orang akan menyangkanya seekor nuri ajaib. D an m atanya yang bulat besar di bawah alis tebal itu seakan mentah-mentah dipindah kan dari mu ka area lemp ung yang sering dibuat oleh bocah-bocah penggembala bila m enggam barkan dedemit atau gand aran .

  G aleng, yang juga terpesona oleh hidung bengkung itu, lain lagi pikirannya. Yang terbayang olehnya adalah itu, suara dan gerak-geriknya, adalah tepat seluruhnya sebagaimana digambarkan oleh nenek-moyangnya dengan raksasa di dalam wayang. Hanya raksasa yang seorang ini kurus, sedikit bongkok, mungkin dikandungkan dan dilahirkan di miisim paceklik.

  Tanpa mengindahkan adakah tamu -tam unya mengerti atau tidak, Tholib Sungkar Az-Z ubaid meneruskan kata demi kata: ”Aku akan jamu kalian dengan janiuan haibat. Pasti kalian belum pernah merasakan. Ambil air panas mendidih dan cawan-cawan dan pengaduk, kau, Idayu, dan gula,” dan tangannya bergerak-gerak menggambarkan apa- apa yang dipintanya.

  Ia sendiri kemudian masuk ke dalam kam ar dan tak lama kemudian keluar lagi mem bawa sesuatu di tangannya. Begitu Idayu datang mem bawa baran g-baran g yang dipintanya, ia meneruskan: “Jam uan haibat,” ia mengu langi sambil mem asukkan tepung hitam dan gula di dalam cawan-cawan itu. “N ah!” ia menggosok-gosok tangan kemudian bertepuk, “sekarang tuan gi cawan-cawan itu dengan air panas, Idayu! Hati-hati, jangan sampai turnpah.” Ia m ulai mengaduknya, cawan demi cawan.

  G aleng mem perhatikan mata Syahbandar yang antara sebentar mengingatkannya pada istrinya. D an muka Syahbandar itu mendadak mengingatkannya pada muka hewan yang baru keluar dari lobang arang, karena mu ka itu dihitami oleh rambut.

  “Inilah minuman raja-raja jauh di atas Atas Angin sana. Ingat-ingat, nama minum an ini: kahwa! jangan lupa. Ayoh, G aleng, Idayu! minum!”

  Sekejap mata Tholib Sungkar Az-Zubaid m enelan wajah Idayu yang sedang melihat padan ya. “Kahwa, Idayu!” suaran ya merendah lunak dan mem ikat. “Hanya raja dan ratu Ispanya mampu dua kali mem inumn ya dalam sehari. Raja dan ratu Peranggi tiga kali. Semua mem belinya dari pedagang Arab. D an pedagan g-pedagang itu menjadi kaya-raya karena tepung hitam ini. Raja Peranggi tiga kali sehari. Ingat-ingat itu. Betapa hebat Peranggi itu. Tak ada yang bisa tahu. D ia datang hanya untuk menang, di negeri mana pun. Jangan main-m ain dengan Peranggi. Ingat-ingat itu, jangan main- main. Ayoh minum!”

  D i dalam kamar tinggalnya yang baru G aleng mengh ampiri pelita satu sum bu dan membersihkannya dari kerak. N yala itu m embesar.

  Idayu bertiduran di am bin kayu. Karena pengaru h kopi kedua-d uanya tak bisa tidur sampai lewat tengah malam. “Minuman setan!” dengus juara gulat itu. Ia rasai jantungnya berdebaran kencang. “Tak perlu kita minum lagi, Kang.” G aleng hendak menyump ah. Tak jadi. Ada terdengar olehnya suara yang mencurigakan. Ia melom pat keluar kamar. D alam kegelapan ia masih dapat melihat bayangan seseoran g melarikan diri. la lalu mem burunya. Bayangan itu hilang entah ke mana. Ia kehilangan arah.

  D ikelilinginya seluruh kesyahbandaran. Tiada sesuatu ia tcmu kan. Ia periksa gandok kanan, juga kiri. Sunyi-senyap tiada sesuatu. la pulang kembali. D udu k diam-diam di seram bi kam ar. Juga tiada sesuatu pun terjadi.

  W aktu masuk ke dalam didapatinya Idayu telah tertidur

  D alam beberapa hari menjabat pemban tu-utama Syahbandar dengan gelar jabatan W ira, ia segera dikenal penduduk Tuban Kota sebagai Wira G aleng. Tetapi lama- kelam aan tum buh sisipan dengan antara nam a jabatan dan nam a sendiri dan dipanggillah ia W iranggaleng, Syahbandarmud a.

  Baik di pelabuhan atau di jalanan ia mendapat penghormatan dari semua orang. Bukan sekedar karena ia seorang punggawa lebih lagi sebagai seorang yang populer, seorang juara gulat dan suami Idayu: pujaan Tuban.

  D an bila orang lewat di depan kesyahbandaran, orang mem erlukan menengok untuk dap at melihat tuan Syahbandar-m uda atau istrinya.

  Perobah an dari petani desa perbatasan menjadi punggawa di ibukota negeri mem ang mem bingungkan dan mem bikin ia jadi kikuk. la sendiri belli in tahu setepatnya apa saja harus ia kerjakan. Penghormatan orang yang berlebih-lebihan mem bikin ia sering ragu-ragu, sedang kekualiran akan jatuhnya hukuman tiba-tiba dari Sang Adip ati selalu mem bikin ia terlalu hati-hati. Sedang bayangan yang melarikan diri di malam pertama itu tak juga pernah hilang dari kewaspadaannya.

  Idayu tak kurang-kurang gelisah. Rumah batu itu sendin telah merampas kedamaian hatinya. Tak ada orang yang hidup di dalam rumah batu kecuali tuan Syahbandar. Sekarang keharusan mengenakan kemban mem bikin tubuhnya serasa terupam dalam tungku. Belum lagi angin pantai yang tak henti-hentinya dan deburan om bak yang mem eningkan. Ia merindukan kehidupan bebas-m erdeka di desa. D i kota ia merasa terjerat-jerat oleh terlalu banyak aturan. D an ia segan menyam paikan perasaan hatinya pada suam inya, yang toh takkan dapat berbuat sesuatu.

  Biar belum mendapatkan ketenangan dalam penghidupannya yang baru G aleng dapat mengikuti dengan cermat adan ya perobahan penting dalam kehidupan di ibukota. Pergeseran jabatan sedang terjadi di mana-mana. D an semua itu, menurut penilaiannya, adalah untuk mem udahkan tuan Syahbandar baru menjalankan kewajibannya.

  Juga G aleng tahu , bekas Syahbandar Tuban, Rangga Iskak, telah pindah ke bekas asram a dan tak juga mendapatkan jabatan negeri yang patut. Orang menduga ia akan diangkat jadi penghulu negeri, tetapi Sang Adipati tak juga melantiknya. D an telah diketahui oleh seluruh Tuban Kota, Rangga Iskak tidak suka pada pekerjaan baru apa pun. Dan pekerjaan yang terbaru adalah mengajar anak- anak pembesar mem baca Alqur’an bahasa dan tulisan Arab.

  D ua tiga kali Wiran ggaleng pernah berpapasan dengan Rangga Iskak sedang berjalan-jalan dengan tongkat diayun- ayunkan seakan sedang menunggu datan gnya kepala untuk dap at dikemplangnya. D an oran g itu tak pernah menam pakkan diri di wilayah pelabuhan .

  W iranggaleng mem benarkan bisik-desus orang bekas Syahbandar itu tak pernah kelihatan tenang bila sedang berjalan-jalan. Matanya selalu gelisah mencari-cari seseoran g yang tak pernah didapatkann ya. D an memang ia selalu mencari-cari Yakub. Tetapi pewarung itu selalu menjauhkan diri tak ingin m elihatnya.

  D i samping pekerjaan nya sebagai pemban tu-utama Syahbandar juara gulat itu harus pula m engawasi galangan- galangan kapal di bandar G lond ong, sebuah pelabuhan lain lagi di negeri Tuban. D an untuk itu ia mendapat seekor kuda jantan, muda berwarna putih kelabu.

  Setelah baran g tiga minggu bekerja ia mendengar berita: Rangga Iskak telah mengajukan perm ohon an berhenti dari jabatann ya yang tidak menentu sebagai pengajar agama.

  Kemu dian terdengar juga berita, ia telah mengh adap Sang Adip ati dan memohon ganti kerugian untuk jabatannya dan untuk gedung kesyahbandaran yang ditinggalkannya. Sang Adip ati, kata orang, tak senang pada kecerewetannya.

  Berita yang didengam ya kemudian: beberapa hari berturut-turut Sang Adipati telah pergi berburu. Pertan da ada soal-soal pelik sedang mengganggu pikirannya. Malah pernah ia dengan tak sengaja telah mendengar seseorang berkata pada temannya: tentulah untuk melupakan Idayu.

  Kemu dian terjadi perobahan suasana di kesyahbandaran: Siang itu Tholib Sungkar Az-Zubaid dipan ggil menghadap oleh Sang Adipati. Pada sore harinya ia datang dengan wajah mu ram. D i belakangn ya, sekira sepuluh depa, mengikuti seorang wanita sambil mengu nyah sirih. Di belakang wanita itu seorang lelaki mem ikul beberapa bungkusan mengikuti.

  Suam i istri itu tak mengenal pendatang wanita itu. Oleh Tholib Sungkar Az-Zubaid ia ditempatkan di dalam gedung utam a. Setelah itu Syahbandar pergi lagi dengan muka cemberut. D an pemikul itu pun pergi lagi dengan tangan ham pa.

  Mu ngkin karena kesepian di dalam gedung utama wanita itu keluar dari kamar, masuk ke dap ur. D an di sana ia bertemu dengan Idayu yang sedang menyiapkan makan malam.

  “Kaukah itu, Idayu?” tegum ya dengan lagu dan bahasa kadipaten. “Inilah saya: Ibu, sedan g masak. Siapakah Ibu?”

  “Aku sudah tahu kau tinggal di sini, N ak. Senangkah kau jadi istri Syahbandar-m uda?” ia tersenyum ramah dan nam pak kilau giginya yang hitam kelam . Pandangnya mem belai Idayu dengan persahabatan.

  “Apakah senangnya tinggal di sini, Ibu? Saya lebih suka tinggal di desa sendiri. Ada apa di sini? Hanya desau angin dan deburan laut,” ia bicara sam bil terus bekerja.

  “Mari kita masak bersama-sama,” katanya lagi tanpa mengindahkan protes mulai ikut bekerja. “Makan seperti ini jugakah tuan Syahbandar?”

  “Bukan begitu, Ibu. Sahaya hanya bisa masak begini rupa. Ibu ini siapa….? “Aku, N ak? Aku istri tuan Syahbandar.” “Oh-ah, D i mana Ibu dulu tinggal?” “D i dalam kadipaten, Idayu. Kau tak pernah m elihat aku waktu tinggal di sana. Tapi aku sudah pernah m elihat kau.” Hari pertam a yang dimulai dengan keakraban dan persahabatan itu dilanjutkan dengan saling memp ercayai dan jadilah mereka berdua laksana ibu dan anak sendiri.

  Istri Syahbandar Tuban itu tak lain daripada N yi G ede Kati, bekas pengurus keputrian Kadipaten. D ari wanita itu Idayu mengetah ui, ia pernah dipan ggil mengh adap oleh Sang Adip ati di seram bi belakang Yang pertam a kali tentang surat, yang kedua… ia duduk bersim puh, kemudian datan g mengh adap juga tuan Syahbandar.

  Tholib Sungkar Az-Zubaid berdiri di belakang N yi G ede. “Tuan Sayid Habibullah Almasawa,!” Sang Adipati berkata, “inilah N yi G ede Kati, pengurus keputrian, wanita

  Terdengar dari belakang N yi G ede, Sayid Habib Almasawa menjawab gopoh-gapah: “Ampun, G usti, patik belum pernah m engenalnya, melihatn ya pun belum !”

  “Kalau begitu,” kata Sang Adipati lagi, “lihatlah baik- baik. M ungkin sudah agak lupa!” Terdengar olehnya Syahbandar baru Tuban itu mem bantah. “Ampun, G usti, betul, demi Rasul, tiada pernah patik melihat perempuan ini.” “Baik,” kata Sang Adipati, “dan kau, N yi G ede, telah kau serahkan hidup dan matimu pada kami. Maka dengarkan, Tuan Syahbandar Sayid Habibullah Almasawa, am billah perem puan ini dengan baik-baik sebagai istri Tuan yang baik-baik pula, untuk melayani Tuan dalam hidup Tuan di Tuban. D an kau, N yi G ede, kemasi semua baran gm u dan ikuti suamimu . Tinggallah kau betsama dengan nya di gedung kesyahbandaran. Adip ati Tuban menitahkan. Laksanakan pada hari ini juga dan berangkatlah kalian sebagai suami istri.”

  Kedatangan N yi G ede di gedung kesyahbandaran mengu ran gi kerinduan Idayu pada orang tua dan Awis Kram bil. Apa lagi sikap wanita itu terhadap G aleng adalah juga seperti terhadap anak sendiri, dan juara gulat itu pun segera menyayanginya. Sebaliknya Syahbandar selalu bersungut-sungut dalam bahasa apa orang tak tahu . D alam berbagai bahasa yang dikenalnya sebenarnya ia hanya mengu lang kalim at: Mengapa perempuan bergigi hitam diberikan padaku, bukan yang satu itu? D an bukan itu saja, Syahbandar itu kini jadi agak pendiam dan sering bermenung. Ada satu masalah pelik sedang mengganjal dalam otaknya seperti batu krikil bergigi: Mengapa N yi dikawininya di mesjid? Apakah benar wanita itu N yi G ede Kati? Ia tak pernah m elihatn ya sebelum nya.

  Apakah Sang Adipati tahu tentang diri dan perbuatannya mengh ubungi haremn ya? Tak ada seorang pun di seluruh Tuban dapat diajaknya bicara. Kalau toh ada, itu justru hanya N yi G ede sendiri.

  Setelah Syahbandar menemukan jalan segera ditempuhnya. D alam bilik waktu itu. Hari telah larut malam . D ua buah lilin menyala menerangi ruangan. Ia bangunkan N yi G ede. D i luar kamar tidur G aleng sedang mengintip mereka. Pelnn, hati-hati, “adakah kau bcnar N yi G ede Kati pengurus keputrian?”

  “Inilah sahaya, Tuan Syahbandar,” jawab N yi G ede juga dalam Melayu. “Kalau begitu siapakah selir kesayangan Sang Adipati?” ia m enguji. “Siapa? Tidak tahu lah sahaya sekarang ini. Tadinya sebelum …. tadinya N yi Ayu Sekar Pinjung.” “Mengapa tadinya?” “Ya, Tuan, apalah guna mengetah ui soal keputrian?” “Bukankah aku suam imu? dan engkau harus menjawab!” “Ya, Tuan, Sekar Pinjung terkena salah. Dia telah menerima surat dari luar, dari oran g yang sahaya tidak tahu .”

  “Jadi dikeluarkan dari keputrian?” Syah Syahbandar mem berikan ujiannya. “Tidak, Tuan. D ia tetap di dalam keputrian, tetap hidup dia takkan lagi dikunjungi oleh Sang Adipati. Juga takkan dapat keluar dari keputrian, sebagai hukuman.” “Semoga Allah menurunkan dalam hati dia yang teraniaya tanpa dosa kesabaran yang tak terhingga,”

  Syahbandar berdoa. Kemudian: “Katakanlah: Amien”.

  “Amien, Tuan.” “Amien saja, tanpa kau sebut-sebut tuan , karena amien itu untuk Allah, bukan untuk tuan Syahbandar.” “Amien.” Tholib Sungkar Az-Zubaid masih belum dapat diyakinkan.

  “N yi G ede Kati, perlihatkanlah sekarang padaku baran g- baran g berharga yang jadi milikmu. Ingin aku melihat bagaimana dan macam apa perhiasan peremp uan Jawa,” katanya dengan suara lebih keras dari semu la.

  D engan luwesnya N yi G ede Kati mem peragakan tubuhnya yang berisi dan dengan gerak tangan indah menuding pada perhiasan yang dikenakan pada tubuhnya: subang cepuk besar yang menyebabkan lobang pada god oh menjadi besar dan godoh itu sendiri turun panjang ke bawah, gelang, kalung, cincin dan cundrik langsing bersarung m as berukir.

  Tholib Sungkar Az-Z ubaid alias Sayid Mahmu d Al- Badaiwi, alias Sayid Habibullah Almasawa mengawasi dan mem perhatikan benda-benda itu sebuah demi sebuah.

  “Bagus, bagus sekali,” ia menganggu k memu ji, “tak kalah garapannya dari pandai emas di negeri m ana pun,” ia berhenti dan mengelus dad a. “Tentu bukan hanya ini milikmu;”

  “Tentu, Tuan, masih ada pada sahaya. Biar sahaya am bilkan.” Tak lama kemudian terjajar baran g-baran g berharga milik pribadi N yi G ede Kati. Di antaranya seutas kalung sebentuk cincin dan gelang bertatahkan zam rud dan mu tiara. Jelas bukan bikinan dan tidak bermotit Jawa. D an dua buah real mas Portugis.

  Mata Syahbandar bersinar-sinar. Ia tegakkan bongkoknya dan bertepuk tangan, kemudian m enggeserkan tarbus ke belakang. D idekatinya barang yang berjajar di atas ketiduran. dan: “G elang, cincin dari kalung ini jelas seperangkat. Semua dibikin oleh pandai yang sama, dipermatai dengan keserasian hijau putih. Hanya putri-putri negeri Tiongkok menggunakan keserasian ini.”

  “Hadiah para selir dan karunia Sang Adipati sendiri.” N yi G ede menerangkan dengan nada bangga. “Yang menarik hati, Tuan, itu adalah hadiah dari seorang tuan yang sahaya tidak kenal.” Ia m elirik pada suaminya.

  “Bagaimana duduk perkaranya maka kau tak mengenalnya?” ” Ya, Tuan, tahu-tahu sudah ada di bawah pintu sahaya beserta sepucuk surat. Sahaya tak pernah tahu dari siapa.” “Adakah kau balas surat itu?” “Kami orang Jawa selam anya mem balas surat, senang atau tidak pada isinya, karena demikian diajarkan pada kami di perguruan kami.” Tholib Sungkar Az-Zubaid tertawa senang dan lega. Kemu dian: “Bagaimana kau mem balas surat pada pengirim tak dikenal itu, N yi G ede?”

  “Sahaya letakkan di bawah pintu itu juga surat balasan sahaya Tuan, setiap malam, sampai datang masanya surat itu tiada.”

  Sekali lagi Syahbandar tertawa, lebih keras, mendering menem busi udara m alam, keluar rumah. “Kalau begitu kau tahu benar ada orang tak dikenal suka masuk ke dalam keputrian. Siapa dia kiranya, N yi G ede?” “D ia datang pada waktu sahaya terlena, Tuan. Sahaya tiada berkemampuan berjaga sepanjang hidup.” Sekarang sesuatu mem bersit di dalam pikiran Tholib

  Sungkar Az-Zubaid: ia telah temukan kunci harem, la tersenyum puas. D an perhiasan-perhiasan bertatahkan zam rut dan mu tiara yang telah berada di tangan nya itu belum juga diletakkannya, ditimangnya sejenak, kemudian: “Kau istriku, bukan, N yi G ede? Istriku yang syah.”

  “Sahaya, Tuan.” “Kukawini kau di mesjid.” “Sahaya, Tuan.” “G usarkah kiranya kau bila barang-baran g yang kukagum i ini dan juga dua real Peranggi ini aku sim pan sendiri agar selamat dan am an?” “Silakan, Tuan, kalau itu yang jadi kehendak Tuan.

  Ambil baran g sahaya, bahkan badan sahaya sendiri ini, adalah milik Tuan Syahbandar T uban.” Sekali lagi Tholib Sungkar Az-Zubaid tertawa puas. Sam bil mem asukkan baran g-barang tersebut ke dalam saku- dalam jubahnya ia bertanya bermain-main dan mencubit pipi istrinya: “Semu a jadi milikku. Tapi milik siapa jiwam u?”

  “Husy, jangan sekali lagi bilang begitu. Jiwa hanya m ilik Allah.”

  N yi G ede tak menjawab. Ia tidak m enggeleng, tidak pula menganggu k. “D engar, N yi G ede, mu lai besok buanglah kebiasaan menggimakan jahawe. Aku lebih suka melihat gigimu putih daripada hitam, seperti gigi iblis, seperti gigi peremp uan kafir perbegu Benggala.”

  “Baik, Tuan.” Tholib Sungkar Az-Z ubaid meninggalkan kamar untuk menyembunyikan benda-benda yang bisa jadi bukti terhadap perbuatannya. Pergilah ia dan turunlah W iranggaleng dari tempat pengintaiannya. Syahbandar mu da itu duduk dalam kegelapan di bawah sebatan g pohon menunggu kalau-kalau Syahbandar Tuban keluar dari rumah. D ugaannya tidak keliru.

  Sosok tubuh jangkung sedikit bengkok berjubah gelap itu keluar dari rum ah dengan mengayun-ayunkan tongkat. Ia mengikutinya dari sesuatu jarak. Yang diikuti ternyata menuju ke warung Yakub, mengetuk pintu dan mem asuki ruangan warung yang diterangi dengan sebuah pelita minyak kelapa dari satu sumbu.

  Ia dengarkan mereka bercakap dalam bahasa asing yang ia tidak mengerti. D alam sinar taram-temaram ia lihat Tholib Sungkar Az-Zubaid menyerahkan baran g-barang perhiasan pada Yakub. Kemudian terdengar mereka bicara dalam Melayu: “Ya Allah, Tuan Syahbandar, Tuan selalu dilindungi Tuhan. Memang tak pernah ada arak baik di sini, tapi demi Allah, ada barang secawan yang agak tepat untuk Tuan.”

  “Selama bukan tuak Pribumi, insya Allah agak tepat kiranya untukku. Keluarkan, Yakub!” Yakub mengeluarkan sebuah cawan tembikar dan segera Syahbandar meneguknya habis dan mengucap syukur. “Tuan nampak sangat gembira hari ini. Alham dulillah

  Tuan mempercayai si Yakub ini untuk menyimpannya, Tuan. Percayalah, di Tuban ini tak ada maling seperti di bandar-bandar lain, tak ada perampok Kalau ada kerusuhan selam anya soal asmara. D arah penduduk Tuban sudah panas, dipan askan lagi oleh tuak setiap hari. Biar begitu tidak mudah menggelegak selam a tidak menyinggu ng asmara. Memang tidak baik tuak buat orang Atas Angin.

  Lagi araknya, Tuan?” “Cu kup, Yakub.” “Harganya m emang bukan harga tuak, Tuan, tepat harga arak D i mana pun yang lebih baik lebih mahal harganya, dan baik atau tidak akhir-akhirnya hanya asal selera. Tak peduli di Tuban atau di tem pat lain.”

  D ari tempatnya W iranggaleng melihat Syahbandar mengawasi Yakub, baran gkali untuk mem ahami apa yang dikiaskan oleh pewarung itu. la melihat Yakub menunduk sambil meneruskan katanya “Betul, juga di sini, Tuan, bayaran yang baik untuk jasa yang baik tepat seperti di mana pun, di Lisboa atau Madrid.”

  Syahbandar itu nampak tak begitu bersenang hati. Ia balikkan badan, mungkin untuk menyembunyikan perubahan pada wajahnya. dan berbalik kembali sudah dengan senyum pada bibir.

  ”Ru pa-rupanya kau, Yakub, seperti aku juga, petugas Sang Adipati,” ia berkata m encoba-coba.

  “Oho i!” Yakub berseru pelan. “Terkejut benar nam paknya Tuan. Mana bisa Yakub seperti Tuan Syahbandar? Biar pun hanya peranakan Arab dengan Benggala, Tuan, belum perlu rasan ya si Yakub ini mengabdi pada seorang raja kecil Pribumi. Kami mem ang agak lain dari Tuan rupanya. Di mana ada keuntungan di sana Tuan ada. Begitu, bukan, Tuan Syahbandar?” ia tertawa menyelidik.

  “Allah melindun gi aku dari perbuatan menghina. Karena, di mana pun langit terbentang, di mana pun bumi terhampar, di sanalah kebesarannya diciptakan untuk seluruh um atnya.”

  Yakub tertawa-tawa sambil mengu sap-usap janggu t dan Tholib Sungkar m eneruskan pandang padan ya. “Allah mem berkahi oran g yang tak mu dah marah. Bukankah sabar juga bagian iman, Tuan Syahbandar? Tuan Sayid?”

  “Aku bayar belanjaku, dan tak ada alasan untu k marah,” ia lihat Yakub meneruskan pandan g padanya. “Tuan agaknya salah tangkap,” Yakub mem betulkan. “Tak ada yang tidak percaya pada semua kata Tuan. Tuan selalu bayar belanja Tuan. D an, Tuan Sayid, kapan pun Tuan akan bayar belanja Tuan yang jauh lebih mahal untuk jasa Yakub yang lebih baik dan lebih besar. Percayalah, Tuan Syahbandar.”

  “Manakah di Tuban yang kecil ini ada jasa yang baik apa lagi besar?” “Pada Yakub, tuan Sayid, jasa selalu tersedia, besar dan baik, kecil dan besar, setiap saat, tak peduli siang atau malam, pagi atau sore.”

  “Tak ada perbuatan tanpa dipikirkan lebih dulu, Yakub. Tuban menciptakan makhluknya bukan untuk jadi gila. Assalamu alaikum ,” dan dengan kata itu ia pun pergi meninggalkan warung.

  W iranggaleng mengikutinya pulang ke kesyahbandaran. Ia lihat Tholib Sungkar Az-Zubaid berjalan langsung menuju ke gand ok kiri, menaiki seram bi, kemudian mendengar-dengarkan pada pintu kamar, mencoba mengintip dari sana dan sini. Karena tak melihat sesuatu pun di dalam kamar itu ia pergi lagi masuk ke dalam gedung utama dari pintu tengah.

  Tahu lah Wiranggaleng sekarang, tidak lain dari tuan Syahbandar yang jadi bayangan selam a ini. D an keluarganyalah sasarannya.

  0o-d w-o0

  Idayu mengantarkannya ke pelabuhan dan ikut masuk ke dalam kapal dagang berbendera Tuban. Suam i-istri itu was-was menghadapi perpisahan mereka. Bahkan juga pada merasa tak senang dengan kepergiannya. D ermaga disesaki oleh oran g-orang yang hendak melihat Idayu mengantarkan suaminya. Mereka berdiri diam-diam menunggu penari ulung kekasih Tuban dan para desa itu keluar lagi dari kapal untuk dapat melambaikan pandang padanya.

  “Kalau diperkenankan, Kang, aku bersedia ikut, ke mana pun, Kang.” “Kapal akan segera berangkat, D ayu.”

  “Kau sendiri harus belajar dapat lindungi keselam atan sendiri. T entu kau akan selalu ingat pada Ram a Cluring” Idayu menggandeng tangan suaminya dan turun kembali ke derm aga. “Apa pun yang terjadi, Idayu, hadapi semua dengan tabah. ” “Aku kuatir, Kang,” bisiknya. “Aku pulang ke desa saja.” “Bukankah kau harus menari di pendopo kadipaten?

  D an perintah itu sewaktu-waktu bisa datang dari G usti Adip ati sendiri?”

  “Kang, aku kuatir,” Idayu berbisik dan mem andangi suam inya dengan mata sayu. “Aku takut, Kang. D i desa aku tak pernah takut seperti ini.”

  “Kalau diperkenankan, kami sedia ikut menjaga, W ira,” seseoran g di antara para perubung mengusulkan. “Betapa mu lia hati kalian, terimakasih. Sayang, kalian sendiri tahu, tak dibenarkan mem asuki pelataran kesyahbandaran.”

  N ahkod a datan g mewartakan pada W iranggaleng layar akan segera dipasang dan kapal akan berangkat. W iranggaleng m engusap-usap rambut istrinya. “Allah bersama dengan mu , W iranggaleng!” seru Tholib Sungkar Az-Zubaid. “Sejahtera, sejahtera untukmu, G aleng, dan istrimu,” kerum unan orang itu meninggalkan dermaga, makin kecil dan makin….

  Layar turun dan segera menggelembung. Kapal mandal, kecil dan makin kecil. D an kerum unan orang itu mengantarkan Idayu samp ai ke kesyahbandaran….

  W iranggaleng dan Pada mem andan gi semua yang bergerak di derm aga samp ai iring-iringan itu hilang dari pemand angan. Akhirnya semua pun lenyap ditelan keleluasaan alam.

  Terdengar Pada mengeluh. Wiranggaleng sambil berpegangan pada seutas tali layar, bersandaran pada dinding lembung, mengawasinya: “Apa yang kau keluhkan?”

  “Jangankan manusia seperti aku ini, Kang, kuda pun kadan g-kadang m engeluh juga.” “Apa yang dikeluhkan kuda?”. “Kita akan ke mana, Kang?” “Apa yang dikeluhkan kuda? Kau belum lagi menjawab. Kalau kau sendiri, Pada. Aku tahu apa yang kau keluhkan.”

  “Kita ke Banten, Kang? Betapa jauh dan lama.” “Itukah yang kau keluhkan? Jauh dari kadipaten? Jauh dari keputrian? D ari para selir?” “Kang!” Pada terpekik terkejut. W iranggaleng pura-pura tak mengerti dan menjatuhkan pandang pada perm ukaan laut, pada pantai pulau Jawa yang putih berjabatan dengan kegelapan hitam dan perbukitan dan gunung-gemunung. Juga hatinya sendiri penuh was-was, kekuatiran dan kecurigaan.

  Ia tahu benar Tholib Sungkar Az-Zubaid adalah kucing hitam di waktu malam dan burung merak di siang hari. D alam hati-kecilnya bayangan Sang Adipati, yang jelas mem beranikan istrinya, antara sebentar mengawang dan mengancam hendak merobek-robek hatinya. dan sekarang aku harus pergi dari Tuban. Apakah yang bakal terjadi? Untuk ke sekian kalinya ia hibur dan tenteram kan hatinya dengan menyerahkan segala-galanya pada Idayu sendiri.

  Ia telah tinggalkan pada istrinya sebilah cundrik dan pesan, “Belalah dirimu kalau ada niatm u untuk mem bela diri!” D an pada N yi G ede Kati ia mengh arap agar dia sudi ikut m enjaga keselam atan Idayu.

  Setelah berada di atas kapal ia menyesal telah berpesan pada seorang bekas pengurus harem. Bekas pengurus harem! Tahukah oran g seperti itu tentang cinta, kasih dan kesetiaan? Bekas pengurus harem! Harem !

  “Kang!” Pada mengu langi tegurannya. “Mengapa kau terkejut, Pada?” “Ampun: Kang, janganlah hubung-hu bungkan aku dengan keputrian dan para selir. Aku tak tahu apa-apa tentang m ereka,” Pada m embela diri, m enghiba-hiba.

  ”Takut benar kau namp aknya, Pada.” D an kapal terus berlayar. “Bagaimana aku tak takut, Kang N yi G ede Kati telah diusir dari keputrian. N yi Ayu Sekar P injung ke…” “D ari mana kau tahu mereka kena hukuman? D an siapa mereka itu?” “Semua orang mem bicarakan, N yi G ede pengurus. N yi

  Ayu selir. Siapa pula dalam kadipaten tidak tahu?” “Jadi sudah berapa kali kau panjat pagar kayu keputrian dan masuk ke dalam nya, Pada?”

  “Terkejut lagi kau nampaknya, Pada.” “Ah, Kang G aleng, Kang G aleng,” bisiknya mengh iba- hiba. “Untuk apa aku pergi ke sana? D an bagaimana bisa aku ke sana?” W iranggaleng m enatap Pada sam bil menggeleng.

  “Palin g tidak,” Syahbandar-m uda itu menepuk bahunya beberapa kali, “dua kali dalam seminggu kau pasti masuk ke sana ”

  “Kang G aleng, kakangku sendiri… tega kau berkata begitu.” karanya gugup dan megap -megap. “… Kau lemp arkan tali berjangkar ke atas pagar kayu tm ggi itu, dan kau mem anjat masuk.” “Kang, adu h, Kang. Itu berarti kau membunuh aku,

  Kang.” “Husy. Kau pura-pura tak mengetahui sesuatu apa tentang dirimu sendiri.” “Kang!” Pada terpekik lagi. “Husy. G oba selir yang mana saja sudah kau hubungi?” “Kau menyiksa aku, Kang menganiaya.” “Ayoh, katakan pada kakang mu ini. Bukankah aku kakangm u?” “Kang tega, kau, Kang” suara Pada telah mengh ampiri sebuah tangs dari seoran g bocah yang tak berdaya.

  “Ayoh, ceritai aku, Pada. Sekali saja. D engan selir mana saja kau telah lewatkan malam-malam yang sunyi di dalam keputrian?”

  Pada telah sampai pada puncak kekecutan, tak mampu bicara.

  Sewaktu W iranggaleng melecuti anak itu dengan pertanyaan. terbayang olehnya istrinya, Idayu. Sekiranya Idayu dulu terpaksa jadi penghuni harem , menjadi selir sebagai yang lain -lain, mungkinkah anak ini juga yang akan datang padan ya, di malam sepi, dan meletakkan tangan pada tubuh kekasihnya? D arahnya tersirap dan dengan sendirinya tangannya melayang mencekam pergelangan Pada.

  Anak itu meraung kesakitan. Syahbandar muda terpaksa metepaskan kembali. D engan pandan g bertanya Pada menatap juara gulat Itu, kemudian mem eriksa pergelangannya. D ibimya cemberut. “D i asrama dulu kau mengenakan gelang, kalung dan cincin mas, Pada. Seperti pembesar. Mana baran g-barang itu sekarang?”

  “Kau siksa aku begini macarn, Kang.” “Kau tidak m enjawab. D an kau tak mau m enjawab. Selir mana yang telah beri kau semua itu?” “Kang, tega kau…” “D i m ana baran g-baran g itu sekarang, Pada?” Pada terdiam. Pandan gnya dilemp arkannya ke perm ukaan laut.

  “Bocah berum ur lima belas!” Wiranggaleng meludah ke geladak. “Kata orang, gandarwa berum ur dua ratus tahu n baru mu lai dewasa. Kau, Pada… empat belas, lima belas!

  Keparat! Empat belas, lim a belas sudah jadi buaya.” “Jangan ucapkan itu, Kang.” Pada memo hon.

  D ua orang itu kini terdiam. Lam a. Seakan-akan telah terjadi permu suhan bat in antara mereka. W iranggaleng melepaskan pandang ke sebelah selatan , pada pantai pulau Jawa yang nam pak samar-samar di kejauhan. D an Pada mu lai agak mengerti mengapa ia berada di atas kapal dagang ini.

  Juara gulat itu mem banding-bandingkan dirinya dengan Pada. Waktu berum ur empat atau lim a belas ia masih tak mengerti sesuatu kecuali bekerjn di sawah atau ladan g atau mengu rus ternak: babi, sapi, ayam dan anjing.

  “Semua tak ada yang kau jawab, Pada. Sekarang yang lain. Barangkali kau mau menjawab: sudah berapa kali kau menulis surat untuk Sayid Habibullah Almasawa Syahbandar Tuban?” “Menulis surat?” bocah itu berseru terheran-heran.

  “Buaya! Kau mem ang pandai berpura-pura. Pada, aku tahu surat-surat itu tulisanmu. Apa kau kira dunia ini bisa kau bodo hi begitu gamp ang?” ia buang pandan gnya ke tempat lain dan meneruskan, pelan-pelan. “Orang tak mu ngkin bisa berbohong terus-menerus. Pada suatu kali orang harus mengakui kebenaran.”

  Pada terdiam tak mem buka mu lut. Ia hindari pandang juara gulat yang mengancam itu. “Sekali ini kau harus menjawab, Pada.” Syahbandar mu da itu mem aksa. “Berap a kali kau tuliskan surat untuk

  Syahbandar?” “Kang G aleng, bukankah tak lain dari Kakang sendiri yang tahu , semu a! Kewajibanku telah kulakukan dengan baik? Apakah yang Pada tak lakukan buat kepentinganmu dan Mbok Ayu Idayu? Sekalipun harus melanggar aturan

  W iranggaleng mem batalkan niatnya untuk menyakiti bocah itu. Ingat akan jasa Pada menyebabkan ia merasa segan melakukan.

  “Sang Adipati juga memuji kecakapanm u. Kalau kau anak tertib mu ngkin bisa kau jadi penggawa di kemudian hari. Aku dan Idayu takkan melupakan jasa-jasamu. Yang aku ingin tahu dari kau sekarang, Pada, apakah yang telah kau lakukan di luar kewajibanmu yang merugikan Sang Adip ati?”

  Ia lihat Pada menjadi pucat dan bibirnya gemetar. Anak itu mu lai mengerti benar mengapa ia dibawa ke kapal ini: untuk menjalani pemeriksaan dan hukuman. D an W iranggaleng yang ia hadapi kini bukanlah seorang kakang yang lunak, lemah-lembut dan pelindung. Ia adalah pemeriksa dan penghukumn ya sekaligu s. Ia menekur tak berani mengangkat m uka.

  “Kau tak menjawab, Pada,” ia lemp arkan pandang jauh- jauh. “Jawablah. Aku tak perlu melihat mu kamu . Aku hanya inginkan jawabanmu. D ijauhkan Kakang hendaknya daripada perbuatan salah terhadapmu, Pada. Jawablah.” Ia menunggu dan menunggu. Jawaban itu tak kunjung datang. “Bukankah m asih kau akui aku kakangmu ?”

  “Ya, Kang.” “Jawablah. T erserah bagaimana menjawabnya.” Pada tak juga mau m enjawab.

  Tanpa mengubah kedudukan pandangnya tangan W iranggaleng mencekam ram but Pada yang jatuh terurai dari bawah destam ya. la tahu cengkaman itu lunak tak menyakiti.

  “Baik, kau tak mau menjawab. Sekarang Pada,” katanya keputrian?” Juga tak berjawab. “Mengapa kau menulis surat di atas kertas untuk N yi G ede Kati dan Sayid Habibullah Almasawa?” Tak berjawab. “Baiklah kau tak mau m enjawab lagi. Tahukah kau, jiwamu ada di tanganku sekarang ini, dan hidup-matimu akulah yang m enentukan?”

  Tak terduga oleh W iranggaleng si bocah Pada m enjawab tertahan: “Sekarang aku tahu mengapa aku mendapat perintah untuk mengikuti kau. Kang. Kang G aleng, ketahuilah, aku takkan jawab semua pertanyaanmu. Aku tak mampu, Kang. Ampunilah, aku. Hanya, Kang, kalau aku kau bunuh juga sekarang ini, sampaikan sembahku pada Mbokayu Idayu, Kang. Tak ada sebuah dap at kusam paikan pada siapa pun, karena tak ada orangtu a dan sanak padaku.”

  “Mengapa pada Idayu?” “Karena seluruh Tuban mem ujanya, juga aku, Kang. Maukah kau?”

  “Katakan sesuatu padaku, Pada.” “Tak ada sesuatu yang dap at aku katakan, Kang. Menjawab atau tidak, perintahmu adalah membunuh aku. Semua sudah kukatakan dan jawab.”

  “Ayoh, katakan, katakan sesuatu.” Anak itu justru m embisu. Suatu pergolakan telah terjadi di dalam hati juara gulat itu. Batin nya menuduh kau mencemburui bocah kecil ini,

  G aleng. Kau sendiri ada keinginan untuk melenyapkannya dari mu ka bumi karena perintah cemburu hatimu sendiri. Kau punya kepentingan pribadi dalam urusan ini! Tapi di hadapanm u ada G usti Adipati. D an kau takkan mampu melawannya. Di samping itu ada juga tuan Syahbandar

  Kau pun boleh jadi tak dapat berbuat apa-ap a terhadapnya. Hanya terhadap Pada, si bocah tanpa daya ini, kau berani berbuat, hanya karena cemburu yang tidak terbukti. Ba- gaimana kau ini, G aleng? Pengikut ram a Cluring? Kau bingung! Kau tak tahu di mana tempatmu.

  Syahbandar mu da itu malu punya perasaan cemburu terhadap si bocah itu. Idayu sendiri lebih tidak berdaya! Kini hatinya jadi sendu. Apa yang dia bisa perbuat mengh adapi orang-oran g berkuasa seperti Sang Adipati dan Syahbandar Tuban? D ia yang tertinggal di daerah larangan, di kesyahbandaran itu, dalam satu sarang dengan N yi G ede Kati, bekas pengurus harem, yang sudah selayaknya akan mem bantu suaminya menundukkan Idayu. Mengapa bocah ini harus jadi sasaran kekacauanku?

  Juara gulat dan Pada berdiam diri dengan pikiran masing-m asing. Beberapa kali orang berjalan mo ndar- mandir melewati mereka. Dan mereka tetap tak bicara sesuatu .

  Matari makin lama makin condo ng. Angin laut yang bertiup dari belakang menyebabkan ram but m ereka tergerai di bawah destar, sedang puputan pada layar menyebabkan antara sebentar terdengar gelepar.

  “Kalau kau tega juga mem bunuh aku, Kang” tiba-tiba Pada berkata seperti pada diri sendiri. “Mengapa kau punya pikiran aku akan mem bunuhmu?” “Siapakah yang tidak dibunuh oleh Sang Adipati, bila orang dianggap merugikannya?” “Siapakah aku ini maka haru s membunuh kau?” “Aku sudah banyak tahu , Kang. Kaulah yang akan mem bunuh aku atas perintah G usti Adipati.”

  “Kalau saja kau mau ceritai aku tentang keputrian dan diri Sayid…” “Kalau aku harus dibunuh karena surat dan keputrian; sama saja, Kang, aku pun harus dibunuh karena yang itu juga, hanya surat itu untuk Kang G aleng dan Mbokayu Idayu.”

  “Bukankah telah kukatakan kami berdua berterimakasih?” D an semakin heran ia mengapa si bocah itu begitu tabah mengh adapi bahaya maut yang sudah dekat pada lehernya. Pasti ia punya perhitungan: melompat ke laut dan berenang. Pasti! Bertanya ia lembut dan sopan: “Tiadakah kau takut pada hiu, Pada?” Ia lihat Pada tersenyum seakan m engerti maksudnya.

  “Kata orang, ” Pada mu lai seperti hendak mendongeng, “baran gsiapa takut pada hiu, dia takkan menyintuh laut. Barangsiapa m enentang laut, dia takkan dapatkan hiu.” Kembali mereka berdiam diri.

  W aktu seseoran g m emberitakan, makan sudah siap, baik W iranggaleng mau pun Pada mulai juga tidak beranjak dari tempat. D an matari dengan lambatn ya ma km mendekati ufuk barat. Semburat merah mulai m embakar kaki langit.

  “Kau diam saja, Kang. Hari mendekati malam.” Terdengar seseoran g m enyerukan azan di bawah geladak dan ia memp erhatikan. Lagunya begitu asing dan kata- katanya ia tak kenal. Setelah seruan selesai ia merangkul Pada dengan mesra.

  “Jadi segala yang oran g ketahui tentang kau temyata benar. Pada. Kau tak mau bicara, baiklah. D an kalau kau melom pat ke laut. aku takkan mengh alangi. Kalau kau melom pat dan berenang ke sana, cukupkah kiranya nafasmu, Pada?” “Jangan pikirkan nafasku, Kang Aku mengerti kau harus bunuh aku. Aku akan berenang dan takkan kembali ke

  Tuban D emi Batara Kala. Percayalah.” “Pada, adikku, maafkan aku. Sembahm u pada mbokayum u nanti aku sampaikan. Kalau kau melompat, aku akan menengok ke sana, ke laut lepas. Melompatlah. Cepat, melompat!”

  Tetapi Pada tiada bercepat melompat. la bersimpuh di atas geladak itu, menyembah W iranggaleng mencium kakinya, berdiri lagi dan dengan lambat naik ke atas dinding lambung.

  “Aku pergi, Kang.” Kemu dian menyusul bunyi benda jatuh ke laut. “Mati!” teriak Wiranggaleng sekuat-kuatnya. “Mau kau,

  Pada! Mati!” Orang berlarian naik ke geladak dan bertanya-tanya.

  Juara gulat itu bertolak pinggang mengh adapi mereka dan dengan nada resmi mengu mum kan: “Telah kubunuh atas titah G usti Adipati Tuban Arya Teja Tum enggimg W ilwatikta, seorang pendurhaka bemam a Pada. Kubunuh dan kulemp arkan dia ke laut. ”

  Tanpa menggubris tanggapan dan pertanyaan ia berjalan menuruni tangga geladak untu k mendapatkan m akannya. D ari mereka yang tak suka pada D emak, sindiran datang tanp a henti. D i antaranya yang tajam menusuk:

  “Mendirikan kerajaan mem ang mudah. Carilah tempat yang sepi di pedalaman. Kalau mu suh datang dari laut dari gunung, jangan dirikan di tepi pantai. Kalau kuatir mu suh datang dari lembah, jangan dirikan di tepi pantai. Kalau was-was mu suh datang dari langit, jangan dirikan di tepi pantai!”

  Lam a kelam aan sindiran mencapai puncaknya dalam bentuk yang semakin jelas: D i pedalaman saja, sahabat, di pedalaman, karena Peranggi bakal datang!

  Sindiran itu dinyanyikan orang di mana-man a, juga di tengah-tengah D em ak sendiri. Putra mahkota D emak, Adipati Kudus Pangeran

  Sabrang Lor, tak dapat m enenggang semua itu. Pada setiap kesempatan ia mem erlukan menangkis: “Mereka bilang, Peranggi lelananging jagad, mengu asai segala yang dilihatnya. Mereka, Peranggi, belum lagi melihat D emak. Suruh dia melihat D emak, dan dia akan melihat kuburannya sendiri.”

  Putra mahkota juga yang pada suatu kali mengh adap ayahan dan ya. Sultan Syah Sri Alam Akbar Al-Fattah, mem ohon satu kesatuan balatentara pilihan. D engan modal itu ia m enyerbu Jepara m endudu ki dan m enguasainya. Kini D emak punya bandar sendiri. Putra mahkota diangkat jadi Adip ati D emak dengan gelar Adip ati Unus. D an Unus dimasyhurkan sebagai nam a seoran g nabi penguasa laut. Ia pun diangkat oleh ayahan dan ya jadi menteri urusan manca negara. Itulah jawaban D em ak terhadap sindiran takut pada Peranggi.

  Tetapi orang masih tetap tidak percaya pada sesum bar putra mahkota. Sindiran terus juga datang. Portugis menduduki Malaka. Sekarang sindiran lain lagi bunyinya: “Lihat, Peranggi sudah mendud uki Malaka. D emak menduduki Jepara. Mereka hanya akan berpandang-pand angan dari bandar masing-m asing, samp ai kedua-d uanya bosan dan tak berpandang-pandangan lagi.”

  Adip ati Unus Jepara pada suatu kesempatan di hadap an para punggawa, yang ditugaskan mem bangun galangan- galangan besar, berkata: “Ketahu ilah, bila kelak Peranggi tidak datang ke Jepara untuk menantang D em ak, maka dari Jepara akan datang D emak ke Malaka menentang Peranggi.”

  Sindiran-sindiran padam setelah jelas Adip ati Unus Jepara tidak tinggal bersumbar-sum bar. G alangan-galangan kapal diperbanyak dan diperbesar. Kapal perang dan niaga dibangun kan. D idatangkannya pengecor-pengecor dari Blam bangan . D an ia tidak peduli pandai-pandai itu beragam a Hindu. Ditempatkan mereka di desa Bareng untuk mem bikin cetbang yang direncanakannya sendiri, khusus untuk menghadapi Peranggi.

  Perintah-perintahnya sangat keras. Semu a pekerjaan harus selesai pada waktunya.. Perm unculannya menerbitkan kegentaran pada para pekerja. Kayu keras didatangkan dari Kalimantan untuk lunasdan Hang kapal. D an waktu pandai-pandai di Bareng dianggapnya kurang cepat bekerja, mereka dipindah kan bersama bengkelnya ke pinggiran bandar jepara.

  D engan demikian Jepara dihadapkannya ke Malaka. G aleng m endarat di bandar Yuana – bandar m ilik Tuban yang terletak di wilayah paling barat, setelah Jepara jatuh ke tangan D emak

  Bandar Jepara sedang giat-giatnya bekerja waktu ia datang. Ia berjalan lambat-lambat, melihat-lihat pemand angan di kiri, kanan dan depannya Sengaja ia perlihatkan diri sebagai orang baru yang tidak tahu sesuatu apa. Tak ada seorang pun dikenalnya.

  D udu klah ia di bawah sebatan g pohon kenari. Semua orang namp ak sibuk. Tak ada orang berlenggang-kangkung dengan tangan kosong. D i sana orang sedang menggotong atau mem ikul balok dan papan. D i sini orang sedang menumpuk kayu. D ari mana-mana datang bunyi orang mem belah, mem ohon atau berseru-seru mem beri perintah, D alam bedeng-bedeng tanp a dinding orang sedang melengkungkan papan yang dipatok-pato k dengan kayu pada tanah dan mem anggan g lengkungan dengan api. D an kapal-kapal besar yang sedang digalang adalah laksana kerangka ikan raksasa yang sedang dirubung semut. G erobak-gerobak beroda kayu untuk mo ndar-m andir mengangkuti pasir, batu dan kayu. D i tempat yang paling jauh orang sedang mem badari batu karang untuk dibikin kapur.

  Semua serba berbeda dengan di bandar Tuban, juga dengan di bandar galangan G lendong. Mereka akan segera mengenali aku sebagai pendatang baru, pikir juara gulat itu. Ia bangkit berdiri waktu seseoran g mem anggilnya sambil melambaikan tangan. Pakaiannya sama juga dengan orang Tuban.

  “Hai, kau! Tidak bekerja?” Sekaligus ia dap at menan gkap, akhir suku kata yang di tempatnya disebutkan jadi a miring, di sini jadi o miring.

  Belum lagi ia sempat menjawab orang itu sudah meneruskan: “Ha, pendatang baru. Kebetulan. Apa bisa kau kerjakan? Menukang? Besar betul badanm u.”

  “Hanya m emikul,” jawab juara gulat itu menirukan lidah Jepara.

  “Baik,… Man ikuti aku. Kami kekurangan pemikul” D engan demikian mu lailah W iranggaleng bekerja sebagai pemikul balok, mond ar-mandir dari penump ukan ke galangan. Menjelang matari tenggelam orang mem bawanya ke bedeng tidur di daerah pelabuhan itu juga.

  Setelah makan malam orang pun merebahkan diri berjajar- jajar seperti di asram a di Tuban dulu, hanya ambin di sini tidak dari kayu, seluruhnya dari bambu dan pelupuh. D an kepinding m enyeran g dari segala penjuru.

  Kelelahan menyebabkan orang segera tertidur. N am un tidak semua menyerahkan diri pada mimpi. Tak kurang orang sengaja menunda kantuk sesuai dengan pesan orang tua-tua untuk belajar sesuatu dari orang Iain, mendengarkan wejangan, berita, untuk meningkatkan pengetahuan.

  Pada malam pertama juara gulat itu menggolekkan tubuhnya yang besar di samping-m enyamping oran g-orang yang belum dikenalnya. Ia tahankan bau yang keluar dari pakaian mereka. D an ia tak mencoba membuka mu lut. Ia berusaha mendengarkan segala apa yang dap at didengamya.

  D ari kegelapan beberapa depa dari temp atnya ia dengar seorang pekerja berkata pada teman-tem annya. “Kerajaan itu, Islam atau tidak Islam, dikuasai oleh raja yang menentukan aturan praja. Aturan itu tak banyak bedanya pada semua kerajaan, ada hukum an dan ada karunia. Kalian hanya harus mematuhi dan menjalankan, dan semua akan berjalan beres. Kalian pasti selam at tak kurang suatu apa.”

  “Apakah kau pernah hidup di dalam istana?” “Tidak.”

  “Tahukah kau, banyak juga orang yang sudah menjalankan dan mem atuhi aturan dengan sepatutnya nam un dibunuh juga oleh raja?”

  “Mesti ada sebabnya, ada kesalahann ya. Misalnya karena cemburu kalau-kalau orang itu akan menggulingkannya.” “Betul, itu m emang ada,” orang lain mem benarkan.

  “Boleh jadi raja itu mengh endaki istri atau anaknya yang cantik.” Jantu ng Wiranggaleng berdebar-debar. Idayu muncul dalam penglihatan batinnya. Tapi segera kemudian lenyap oleh kata-kata orang tersebut.

  “Itu namanya raja lalim. D alam kerajaan Islam tak ada raja lalim , semu a adil.” “Baiklah tak ada raja Islam yang lalim. Sekiran ya raja

  Islam itu lalim, siapa yang mengh ukumn ya? Ataukah tidak akan dihukum seperti halnya dengan raja-raja Syiwa atau Buddh a atau W isynu?” Juara gulat itu tak mampu lagi mengikuti perdebatan.

  Pikirannya sibuk mengurus kekuatirannya sendiri.

  0o-d w-o0 Beberapa minggu kemudian tahulah ia, pekerja yang suka mem berikan ceramah itu tak lain dari seorang musafir

  D emak, seorang di antara para pemasyhur D emak dan Sultan Sri Alam Akbar Al-Fattah. Ia menam akan diri Hayatu llah. Orang yang sudah mengenalnya sejak kecil mem anggilnya Anggoro, bukan Anggara, karena dilahirkan pada hari Anggara. Pada suatu malam Hayatu llah

  Adip ati Tuban yang telah mengikat kesetiannya pada D emak, dan tak lama lagi Tuban pasti menjadi daerah D emak.

  “Betapa hebatnya kerajaan Islam pertam a-tama ini,” ia meneruskan dalam kegelapan bangsal tidur. “Belum seberapa um um ya, tapi lebih baik daripada semua kerajaan yang pernah ada. D ahulu seorang raja dapat berselir tanpa batas, dan selir-selir celaka itu tak punya hak sesuatu….”

  D ari ujung am bin seseoran g mem bentak “Tutup mu lutmu. Kalau kau tak tahu tentang istana, jangan mem bual.”

  D alam kegelapan itu W iranggaleng mem bayangkan Hayatu llah terdudu k dari rndan mencari-cari penyangkalnya, karena tak lama kemudian terdengar mu safir D emak itu menan ya.

  “Siapa itu? Adakah kau sendiri isi istana? Kalau isi istana mengapa tinggal dalam bangsal gelap ini? Atau kira-kira kau seorang pangeran tersasar?”

  “Tidur kau!” bentak suara orang tak dikenal itu. “Sudah malam, dan besok pagi masih harus bekerja. Kalau tak tahu tentang istana, sebaiknya kau bertanya padaku. Semua selir raja punya hak, pertama gelar untuk anak-anaknya, hak keprajaan, kedua tanah yang harus digarap oleh oran g desa, ketiga pengakuan atas anak-anaknya sebagai anak syah raja. Itu sekedarnya saja tentang selir. Sudah, jangan berisik.”

  Ternyata Hayatullah tak mau diam. D engan berapi-api ia ganti menyangkal: “Itu katamu . Siapa yang menjamin hak- hak itu dilaksanakan?”

  “G oblok kau! M enteri-dalam mengu rus semua itu.” “Siapa menjamin Menteri-dalam melakukan

  “Yang menjamin Hayatu llah alias Anggoro tentu,” penyangkal itu berseru jengkel, kemudian sengaja mem perdengarkan kuapnya.

  “Jangan m emperm ain-mainkan aturan, kau,” Hayatullah mem peringatkan. “Kalau jaminan aturan mesti berlaku tidak ada, tak usah orang bicara tentang aturan. Beda dalam kerajaan Islam. Jangan pura-pura tidur, kau. D engarkan biar kau tahu sedikit tentang D emak, karena bagaimana pun kalian sekarang ini tak lain dari kawula D emak.”

  Pertentangan itu menyebabkan oran g-orang diam mendengarkan. “Raja Islam hanya boleh beristri empat, dan semua mereka punya hak yang diatur di dalam Alkitab. D ahulu aturan-aturan ditulis dalam seratus lembar lontar yang bemam a N itisastra.”

  Seseorang terdengar tertawa berbahak m engejek. “Hayatu llah! Tahu apa kau tentang N itisastra?

  Mem asuki mandala pun kau tak pernah. Mem baca Jawa pun kau tak tahu….” “Ada ratusan kali seratus lembar lontar aturan yang harus dipatuhi oleh raja Islam dan kawulanya,” Hayatullah meneruskan tanpa m enggubris penyangkalnya.

  “Aturan bukan hanya ada dalam N itisastra,” seorang lain menyangkal dalam kegelapan yang sama. “Ada ban yak aturan dalam lontar yang kau tak tahu . Perlukah aku sebutkan satu-per-satu?”

  “Biar pun lontar-lontar itu dua puluh kali seratus kali dua ratus… berapa saja kau sebutkan, sama saja,” Hayatullah meneruskan, “tak dap at dibandingkan dengan Alqur’an atau Alkitab atau Alfurkon, karena kitab ini berasal dari Allah melalui rasulnya. Lontar itu hanya berasal dari para raja dan para empu, para pujangga.” Untuk ke sekian kalinya Wiranggaleng telah tertidur sebelum ceram ah selesai.

  0o-d w-o0 D i siang hari sewaktu bekerja ia mencoba mem perhatikan Hayatu llah. Tubuhnya kecil rap uh, oto t- oto tnya pendak dan tipis, tetapi ia bekerja tanpa henti-henti. Seakan sedang mengerjakan sawah dan ladang sendiri. Matanya tidak tenang, pikiran nya seperti selalu melayang ke manam ana. Pada waktu istirahat siang selalu ia pergi menyendiri membawa lodong bambu berisi air tawar, mem basuh tangan, mu ka, dahi rambut dan kaki, menggelar tikar di bawah sebatan g pohon, kemudian bersembah yang. D i malam hari ia mu ncul di bangsal tidur bila oran g sudah pada bergolek di tikar masing-masing dan ia langsung bercerita atau mem buka persoalan seperti dilakukan oleh para guru-pembicara di desa-desa. Bedan ya, para guru- pembicara di desa-desa bicara pada mereka yang mem punyai perhatian, mu safir D emak ini bicara terus tak peduli ada yang dengar atau tidak.

  “Siapakah putra-putra Tuban di D emak?” G aleng mem beranikan diri bertanya. “Lidahm u seperti lidah Tuban,” tegur Hayatullah. ‘Tidak.” “D ari Lao Sam barangkali?” “D ua-duanya tidak,” jawab juara gulat itu.

  “Mem ang tidak ada urusanku dengan asalmu. Putra- Kusnan, Punggawa-dalam . Yang lain Raden Said, anggo ta Majlis Kerajaan. Orang mem anggilnya juga Ki Aji, Kalijaga, dan lebih suka dipan ggil demikian. D ibuangnya Raden leluhur sendiri dari Majapahit dulu, digantinya dengan Ki Aji, gelar pemberian orang yang mencintainya.”

  “Mengapa dibuang gelar dari leluhumya?” “G elar kafir itu tak mengandung sesuatu arti di dalam nya. D alam Islam, hanya perbuatan orang yang dinilai oleh sesam a dan oleh Allah. Perbuatan atau am al Ki Aji Kalijaga luar biasa agun gnya. D engarkan ceritanya, karena barangkali di Tuban sendiri tak pernah kau dengar.”

  D i T uban sendiri mem ang tak pernah terdengar. “Beliau telah tinggalkan Tuban dan mengem bara ke mana-mana untuk mem asyhurkan Islam. Beliau keluar- masuk desa-desa. Beliau tidak bicara di balai-balai desa seperti para guru-pembkara yang tak tahu apaapa tentang wahyu Allah itu. Beliau lebih suka m emilih tempt di bawah- bawah pohon rindan g, mengajak anak-anak bermain-main dan berceritalah beliau tentang kisah para nabi dan mu kjijatnya. Lama-kelamaan ibu-ibu mereka ikut mendengarkan. Kemu dian juga para bapak.”

  “Apa kisah para nabi itu? Apakah sama dengan kisah para dewa?” “Cet, cet, jangan samakan nabi dengan dewa, karena nabi mem ang bukan dewa. N abi sungguh-sungguh pernah ada, pernah hidup di atas bum i dan di antara manusia, menerima wahyu langsung atau tidak langsung dari Allah. D ewa-dewa tak pernah hidup di atas bumi dan selalu ngawur.”

  “Siapa bilang para dewa tidak ada?”

  “Kalau pernah ada, mana keturunann ya? Hadap kan padaku seorang saja di antara.” Mereka yang tidak setuju dan jengkel mu lai bersorak-sorak mengejek. Wiranggaleng diam mem perhatikan sebagaimana biasa pada waktu ia di balai-desa mendengarkan seorang guru-pembicara. W aktu ejekan telah reda, terdengar lagi suara Hayatu llah yang tak mengacuhkan gangguan.

  “Begitulah pada suatu kali Raden Said sampai ke sebuah desa. Mereka adalah orang-oran g kafir penyembah Sang Kali”

  “Apa kafir itu?” “Mereka yang tidak percaya dan tidak tahu ajaran para nabi. Ingat-ingat, kafir namanya. Jadi setiap penyembah berhala, yang nampak atau tidak, termasuk Sang Kali, kafir nam anya.”

  “N gawur, kau, Hayatullah, tak ada orang menyembah Sang Kali Orang hanya menyembah Sang Maha Buddha” G aleng mem bantah karena tersinggu ng. “Kalau kau bilang Sang Maha Buddha tak pernah ada, lebih baik pecahkan saja kepalamu sendiri.”

  Tetapi Hayatullah tak peduli dan meneruskan. “Anak- anak itu pada datang, ibu-ibunya, bapak-bapaknya. Kemu dian juga tetua desa. Pertentangan pendapat terjadi, perdebatan, sehari, seminggu, dua bulan. Tak ada di antara tetua desa dapat mengalahkan beliau. Begitulah akhimya mereka dapat ditaubatkan.”

  “Apa artinya ditaubatkan ?” “D iyakinkan akan kebenaran Islam, dan mem bawa mereka masuk Islam. Mereka meninggalkan Sang Kali.

  Mereka menyembah Allah dan m endengarkan perintah dan meninggalkan larangan-N ya.” Ia diam sebentar. “Kau sudah tidur?” dan waktu ia masih mendengar jawaban, ia meneruskan, “sejak itu beliau dipan ggil Ki Aji Kalijaga, Ki Aji, yang menjaga agar Sang Kali takkan kembali untuk seiam a-lamanya. Dan sekarang Ki Aji dudu k dalam majlis kerajaan D emak. Tidak sembaran g orang bisa. Raja Majapahit pun takkan bakal mampu lakukan pekerjaan itu, karena pekerjaan nya adalah menurunkan ajaran nabi di dalam keprajaan. Memang hanya empat kali dalam sebulan sidangn ya, tetapi menentukan. Enam hari dalam seminggu Ki Aji Kalijaga meneruskan pekerjaan nya yang dalam, mem asyhurkan Islam dan D emak di desa-desa.”

  W iranggaleng telah tertidur. D alam pekerjaan sehari-hari ia mengetah ui, pembikinan kapal-kapal perang dan niaga itu berjalan sangat cepat, tidak seperti di G lond ong. Sebuah kapal terbesar, yang akan dipergunakan jadi kapal bendera akan dapat mengangkut lim a ratus prajurit laut dengan empat belas cetbang besar pada haluan dan lambung. Badan kapal itu akan dilepa dengan tujuh lapis adonan kapur dengan minyak kelapa. Peluru Peranggi diperkirakan takkan dapat m enembusinya.

  Orang tak banyak mem bicarakan kapal yang mereka sedang bikin sendiri. Di dalam bangsal tidur apalagi. Justru soal-soal lain yang orang percakapkan.

  Pada malam-m alam selanjutnya Hayatu llah tak mu ncul. Beberapa orang, menganggap itu suatu keberuntungan, karena si pengganggu tidur mem biarkan mereka melepaskan lelah dengan dam ai. Sebaliknya beberapa orang yang sudah terbiasa mendengarkan para pembicara di desa- desa menyatakan, tak ada buruknya orang m engetahui hal- hal baru yang terjadi di atas dunia m anusia ini.

  Lam a-kelamaan ketahuan juga Hayatullah tak seorang mengikutinya. Di siang hari sekarang ia nampak tidak seorang diri bersembah yang. Ia telah mem punyai pengikut, dari dua jadi enam, dari enam jadi delapan. T erheran-heran orang waktu kemudian mengetahui, tak lain dari Sang Adip ati Unus Jepara sendiri yang mem erintah kan pembangu nan rumah sembahyang di tempat Hayatu llah biasa bersembahyang.

  D an sejak itu mereka tak lagi bersembah yang di temp at terbuka, terlindung dari hujan dan angin dan panas. Pada suatu tengah malam Hayatullah muncul lagi. Tetapi ia bukan pembicara cerewet yang dulu. Ia sudah jadi orang lain. Tak seorang pun berani mengejek atau menyorakinya walaupun tidak setuju. Kata-katanya mu lai didengarkan oleh semua oran g dengan sunggu h-sungguh – suka atau tidak suka.

  “Bukankah pembikinan rumah sembahyang itu, temp at orang menyembah Hyang baru itu, mengu rangi kelajuan pembikinan kapal?” sekali waktu seseoran g bertanya dalam kegelapan .

  “Mengapa tidak tidur saja di rumah sembahyang?” seorang lain lagi bertanya. “Bagaimana kau dapat mengatakan pembikinan rumah itu m enyendatkan pembikinan kapal? Kapal dan Islam akan belayar bersama-sam a, tidak tunggu-menunggu. Apakah arti kerajaan Islam kalau Islam tak berkemban g di antara kawulanya? Tidak seperti Hindu dan Buddh a, oran g-orang desa harus bangunkan sendiri asrama, mandala dan perguruan sendiri. Sedang kapal-kapal itu gunanya untuk menumpas Peranggi yang jelas-jelas, mem usuhi Islam. Peranggi tak boleh mem asuki N usantara, apalagi Jawa, karena cepat atau lambat semua penduduknya akan m asuk

  “Mana mu ngkin. Apakah semua kami harus masuk Islam?”

  “Tak ada yang mem aksa kalian masuk Islam. Adakah aku mem aksa kalian masuk Islam dan bertaubat? Adakah pembicara di desa-desa memaksa kalian mempercayai dan mengikutinya?Tetapi karena aturan Islam adalah yang terbaik, dia akan mengalahkan yang kurang baik dan yang tidak baik. Ada pun aku tidak tinggal di rumah sembahyang, walau sudah berdinding dan berpintu, tunggulah, lain waktu kalian akan tahu lebih baik.”

  Hayatu llah m eneruskan kata-katanya tentang agam anya. W iranggaleng tak mendengarkan lagi walaupu n belum tidur. Ia telah temukan yang dicarinya: Adipati Unus Jepara mem persiapkan armada untuk menyerang Malaka, untuk melindun gi Islam, bukan untuk mem anggil kejayaan dan kebesaran m asa silam pada guagarba hari depan. Unus akan mem bangun kan kejayaan dan kebesaran tersendiri, bukan kebesaran dan kejayaan Majapahit. Ia tak dapat bayangkan kebesaran dan kejayaan macam apa itu, dan ia merasa tak ikut jadi bagian dari padanya.

  Pada keesokan harinya ia tinggalkan pekerjaan nya dan pindah ke bengkel pandai. Cetbang-cetbang buatan pandai Bareng itu temyata lebih besar daripada buatan Tuban. Em pat orang takkan kuat mem ikulnya, sedang bilik- ledaknya menggelembung sebesar buah kelapa. Ia tak dapat bayangkan seberapa besar peluru yang akan dilemp arkan dari bilik ledak sebesar itu. Ia sendiri belum pernah melihat peluru cetbang.

  D ua bulan kemudian ia tinggalkan juga pekerjaan barunya.

  0o-d w-o0 Seorang diri ia berjalan kaki memasuki D emak. Tetapi tak ada sesuatu yang penting didapatkannya. Ia saksikan penyemp umaan pemban gunan mesjid raya, pemban gunan jaian-jalan raya yang melintasi desa-desa dan tanah-tanah perawan menuju ke Semarang. Ia pernah melihat Raden Kusnan dari kejauhan. Ia pernah melihat Ki Aji Kalijaga sedang memasuki mesjid. Oran g yang tersohor itu berpakaian seperti bagawan, berkain baik tanpa wiru, berdestar batik dan berkerobong kain batik untuk penutup badan -atasnya. Kakinya tak beralas sedang destar nam pak begitu longgar di kepalanya dengan ikatan bergaya khusus. Ujung-ujung destar itu jatuh lunglai panjang-panjang pada bahunya. D an di bawah destar tak nampak ada ram but.

  Berbeda dengan di Jepara, di D emak di mana-m ana orang bicara tentang armada yang sedang dipersiapkan dan tentang sekutu D emak yang akan bergabung dalam armada kesatuan, semu a kerajaan Islam termasuk Tuban.

  Keterangan itu baginya telah berisi segala-galanya, walaupu n ia belum mengerti betul duduk-perkaran ya. Kalau D emak satu-satunya kerajaan Islam di Jawa, mengapa Tuban dan Banten juga dianggap sebagai kerajaan Islam? Ia an ggap itu bukan m asalahnya. Yang jelas: D emak punya sekutu, arm ada gabungan akan dibentuk, semua akan m enyeran g M alaka.

  Setelah lebih enam bulan m eninggalkan T uban ia m erasa telah cukup m enjalankan tugasnya untuk mengetahui segala sesuatu tentang persiapan Adip ati Unus Jepara. Ia bermaksud pulang. Di tinggalkannya D emak dan berangkat kembali ke Jepara.

  Sesampainya di bandar Jepara ia melihat serombongan aneh. Yang seorang berambut pirang, yang lain beram but hitam. Kedua-duanya lari dengan gesit m enyelamatkan diri dari mata pedang dan mata tombak. Orang bersorak-sorak mengejam ya.

  Mereka berdua melompat ke dalam perahu besar, mendayung cepat ke tengah laut. Sebentar kemudian layamya berkemban g dan dengan lajunya meluncur ke arah timur laksana burung camar.

  Para pemburu pun berlompatan ke dalam perahu dan mengejar. Yang dikejar makin lama makin jauh tiada tercapai, lebih unggul dari perahu-perah u para pengejar. Maka pengejaran tak diteruskan.

  D i bandar orang-orang pada duduk menyembah seseoran g yang berdiri bertolak-pinggang dikawal oleh beberapa belas orang prajurit berpedang. Orang itu kemudian menuding-nu ding ke arah larinya dua orang kulit putih tersebut dan meraung dalam bahasa Jawa langgam setemp at: “Bodoh! Bagaimana bisa mereka dibiarkan berkeliaran disini? Jawab, kau, Syahbandar.”

  “Ampun, G usti, adapun pelabuhan Jepara ini tiada aturan menolak orang dari m ana pun juga datangnya.” “Apa katamu ?” “Selama orang tidak mengajukan permo honan untuk menetap atau untuk tinggal sementara di sini, Syahbandar saja yang berwenang mengijinkan atau menolak,” Syahbandar Jepara menerangkan. “Atau orang tidak melewati daerah bandar. Boleh saja.”

  “Benar, mengapa kau biarkan mereka? Mengapa kau ijinkan mereka?” “Mengapa, G usti? Karena Jepara bandar bebas.”

  “Apa kau kira ini bandar nenek-moyangmu sendiri? Ini pelabuhan D emak, bukan pelabuhan siapa saja.” “Ini pelabuhan bebas, G usti,” Syahbandar mem bangkang. “Ketentuan itu belum pernah dirobah oleh

  G usti Kanjeng Sultan ataupun oleh G usti Kanjeng Adip ati.”

  Orang yang berdiri bertolak pinggang itu terdiam sejenak. Tiba-tiba ia meledak lagi: “Baik. Kau berwenang terhadap pelabuhan ini. Tetapi mengapa mereka kau biarkan bergelandangan memasuki galangan-galangan dan bengkel?”

  “Belum pernah ada larangan. ” “Tidakkah kau bisa berpikir. Itu tak boieh untuk m ereka, pendatang-pendatan g? berkulit putih itu?” “Jepara pelabuhan bebas, G usti.” “Kau mem ang sudah tua. Tidakkah kau ada kecurigaan terhadap Peran ggi? Mata-mata dari Malaka, atau diturunkan dari kapal Peranggi?”

  “Mem ang mereka Peranggi, G usti, dan Jepara masih tetap pelabuhan bebas.” “Kami akan persembahkan pada G usti Jepara. Apa kebangsaanm u, Syahbandar?” “Koja, G usti. Islam agama sahaya.” W iranggaleng duduk di bawah sebatan g pohon kenari dan mengawasi kejadian itu dengan diam-diam. Peranggi temyata sudah memasuki Jepara, pikimya, Jepara belum lagi menjenguk Malaka. Sungguh berani oran g-orang kulit putih itu hanya berdua mem asuki negeri oran g yang mem usuhinya.

  “Selamat untukmu, Syahbandar bukan Pribumi. Apa saja mereka perbuat di sini?” Syahbandar tak dap at menjawab. Orang lain yang menjawabkan: “Hanya melihat-lihat sam bil tertawa-tawa, G usti.”

  “Mentertawakan siapa?” “Ampun, G usti,” orang itu meneruskan, “tak ada yang mengerti bahasanya.” W iranggaleng menan gguhkan kepulangannya. Kedatangan dua orang kulit putih itu tentu saja sesuatu kejadian besar. Ia harus mengetahu i kelanjutann ya.

  Kelanjutann ya adalah: Syahbandar Jepara diturunkan dari jabatannya. Anak-lelakinya yang menggantikan. Mendengar itu juara gulat itu tertawa pada dirinya sendiri. Sama saja, dari Koja yang satu pada Koja yang lain. Mau tak mau ia teringat pada Moro Sayid Habibullah Almasawa. Satu demi satu perbuatan nya yang ia pernah ketahui berbaris di hadapan mata ingatannya. Apakah Syahbandar Jepara berbeda dari Syahbandar Tuban? Apakah mereka lebih baik dari Rangga Iskak, peranakan Benggala itu? D i Tuban oran g tidak suka pada Rangga Iskak atau pun Sayid Habibullah Alam asawa. Syahbandar Jepara, lama atau baru, barangkali sama saja. Ia pun mengh erani mengapa Adipati Tuban dan Jepara masih juga menggunakan orang asing.

  Sebelum berangkat ke Tuban ia mem erlukan minta diri pada oran g-orang yang pernah dikenalnya. Ia pun datang ke galangan dan bengkel. Hayatu llah tak dijumpainya. Ia temukan orang itu pada senja hari di rumah sembahyang. Beberapa orang m urid m emenuhi ruangan dalam. Orang itu nam pak sedang mengajar dengan sebuah kitab terbuka di hadapannya. Beberapa oran g murid mengikuti segala kata

  Lam a ia dud uk di luar mendengarkan. Ia mencoba-coba menirukan, tetapi tak bisa. Ia dengarkan Hayatu llah mem bacakan tafsimya dalam bahasa Melayu, kemudian terjemahannya dalam bahasa Melayu, kemu dian terjemahannya dalam bahasa Jawa: “D engan nam a Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Katakan: Berlindu ng aku pada…,” kata-kata selanjum ya W iranggaleng tak mengerti, “dari bahasa makhluk yang diciptakan-N ya. D an dari bahaya kegelapan malam bila telah datang. D an dari bahaya…. D an dari bahaya orang dengki, bila ia m arasa dengki….”

  Kalimat-kalimat itu tak punya kesam aan dengan acuan sastra Jawa. Ia tak dapat mengikuti. Ia tetap tak mengerti. D an Hayatullah alias Anggoro m asih juga terus mengajar.

  Ia tak jadi minta diri. D itinggalkannya tempat duduknya, berjalan pelan menuju ke laut….

  0o-d w-o0

  D ua orang sepupu itu sudah bersepakat untuk m elarikan diri. Mereka sudah bosan pada dinasnya. Mereka bermaksud hendak m ewujudkan impian lam a: mengem barai N usantara sebagai orang bebas, melihat negeri-negeri kafir dan penduduknya yang m asih perbegu.

  D ua orang itu adalah pemuda-pemu da Portugis keturunan Spanyol, Esteban del Mar dan Rodriguez D ez. D ua-duanya kanonir, penembak meriam pada kapal Peranggi.

  Berita kemenangan -kemenangan Portugis di seluruh perm ukaan bumi, penemuan negeri-negeri baru jauh-jauh di seberang lautan yang tak terduga, kekayaan yang datang berlim pahan, telah mem anggil pemuda-pemuda Portugis, meninggalkan desanya masing-masing untuk menggabungkan diri dengan armada-armad a yang akan berangkat belayar meneruskan Perang Salib di seberang lautan.

  Juga Esteban del Mar dan Rodriguez D ez. Mereka tak mampu menolak godaan kebesaran dan kemenangan dan harta-henda dan kemasyhuran ini. Mereka tinggalkan juga ladang mereka diperiuaran kota Lisboa dan mendaftarkan diri. D an mereka tak perlu kembali ke ladang seperti yang lain-lain. Mereka diterima setelah menyodorkan uang sogokan.

  Mu lailah keduanya bekerja sebagai awak kapal kemudian meningkat jadi kanonir, menga rungi samudra, menaklukkan negeri-negeri, meneggelamkan kapal saudagar-saudagar asing beserta isinya ke dasar laut. Tak ada di antara kapal-kapal dari berbagai negeri itu mampu melawan. D engan meriam segala yang nam pak di laut dan di pesisir bisa dihembusnya dari permukaan bumi.

  Mereka pun ikut serta dalam perang laut di Teluk Parsi melawan arm ada gabungan negeri-negeri Islam yang dipimpin oleh laksamana Mesir itu, dan menang dengan mu dah. Sejak itu tak ada perlawanan lagi terhadap Portugis.

  Portugis penguasa dunia! D an mereka berdua bangga menjadi putra bangsa yang besar, ditakuti seluruh dunia itu. Ia senang m elihat kapal-kapal asing yang buyar berlarian bila melihat salib raksasa yang tergam bar pada layar. sendiri yang menenggelamkan. Mereka dapat rasai setiap peluru yang lepas, kena atau tidak. Setiap peluru yang menem ui sasaran mem berikan ketukan pada hati mereka, seakan memberitahu kan: pelurumu kena.

  Tetapi kebesaran dan kebanggaan, kepahlawanan dan pengembaraan semacam itu, kehidupan tanp a perubahan, lama kelam aan mem bosankan mereka juga. Kejemuan setiap hari di tengah laut merindukan mereka pada sesuatu yang Iain. Selingan yang menyenangkan hanya sebentar saja terjadi: sementara kapal mendarat. Mereka dap at melihat-lihat negeri yang ditaklukkan, menampilkan diri sebagai pemenang tanpa lawan, mendapatkan segala yang mereka kehendaki. Selebihnya hanya laut dan laut saja di keliling mereka, dan kapal-kapal mu suh yang melarikan diri, dan langit, dan bintang-bintan g di malam hari, dan badai di hari-h ari sial. Mereka tak dapatkan apa yang mereka rindukan belakangan ini: kebebasan dan kesenangan yang tak terbatas.

  Akhir-akhir hidup yang sesungguhnya adalah di daratan, mereka mem utuskan. D i laut tak ada yang mereka dap at kutip kecuali bila diadakan pencegatan dan peramp asan kapal. Tapi di darat! Segala-galanya ada di sana. D ada selalu dap at menggelembung dengan kebanggaan sebagai putra Portugis yang jaya, bangsa pemenang, kawula raja pemenang, awak kapal pemenang, di atas daratan taklukkan! Pribumi pada menyingkir bila pemenang lewat. Orang mengangguk mengiakan dan menyilakan bila pemenang menudingkan telunjuk pada sesuatu dan setiap baran g. D an setiap kali menginjak bum i kafir, bergemalakan nam a Jesus dalam hati: daratan ini akan segera diterangi oleh ajaran Isa Almasih.

  Kebanggaan seperti itu akhirnya tak mem uaskan juga. lebih dari itu: kebebasan, kesenangan tanp a batas. D i darat pun kebebasan seperti itu tak pernah mereka kenyam sebagai awak kapal. Mereka ingin menyaksikan seluruh N usantara, yang begitu disanjung dalam cerita, kadang juga dalam nyanyian. Mereka tak puas hanya melihat dan menjam ah pantai-pantainya yang digerm angi nyiur. Mereka ingin juga m endengarkan m usiknya, yang kata orang tegap dan menjamah dan meluncuri laut dan gendang dan gon gnya yang berbunyi tand as sampai mengaduk dasar hati.

  Tertarik oleh cerita yang menyebar ke mana-m ana sejak orang tua-tu a dulu, yang mungkin mendengam ya dari orang-orang Moro atau Sephari, mereka berdua mem buat persepakatan untuk mengelanai N usantara. Untuk itu jalannya hanya satu: melarikan diri dan punya perahu sendiri.

  Im am kapal, Mario Fasetti, oran g Italia itu, tak bosan- bosan mengu langi pesan dalam khotbah -khotbah nya, ‘Jangan masuki daerah kafir tanpa perintah, karena kalian akan m embawakan kabar duka, bukan suka. Tak ada terang Allah di setiap jengkal tanah kafir.’ Pesan itu malah diulangi beberapa kali dalam sekali khotbah, setelah ketahuan ada awak kapal yang melarikan diri, dan tak kembali pada kesatuan, atau kembali sebagai tangkapan.

  Tetapi awak kapal yang lari itu dan tak tertangkap lagi, mereka tak bakal mu ncul, bertahun-tahun, dan kembali ke tanahair, berpindah ke kota lain, mem bawa harta-benda dan cerita-cerita indah , benar dan bohong juga nyanyian baru, yang menyebabkan mereka jadi tersohor.

  Mem ang benar sebagian terbesar pelarian itu hilang untuk selam a-lam anya dan dilupakan oran g. Itu semua orang tahu. D an itu pun sudah jadi bea kebebasan. Maka Semua mem ang ada risikonya. Mereka ingin juga jadi kaya dan tersohor sekaligu s.

  Setelah Portugis di bawah Alfon so d’Albuquerque mengu asai Malaka dan tinggal beberapa bulan di sana untuk melakukan penataan kembali kehidupan baru di bawah sang salib, mereka berdua giat mem pelajari bahasa Melayu dari pendudu k Tanpa bahasa itu mereka takkan mu ngkin dapat berdiri sendiri.

  Pada seorang Pribumi mereka mem esan agar dibuatkan sebuah perahu layar yang ramping menurut petunjuk mereka sendiri. Setelah jadi, perahu layar kecil itu mereka sembunyikan di sebuah ceruk beberapa belas kilom eter di selatan bandar, di bawah penjagaan si pembikinnya.

  Sedikit demi sedikit ditimbunnya barang keperluannya di dalam perahu itu: terigu, keju, mentega, arak – semua diperolehnya dari gud ang perbekalan di bandar Malaka.

  Menjelang D esember 1512, waktu Portugis menyiapkan arm ada untuk menuju ke Maluku, mereka berdua melarikan diri. M ereka berhasil menggond ol musket dengan mesiu, teropong, peta dan alat tuhs-menulis.

  Tak sulit mereka mendap atkannya. D an itu pun secara kebetulan pula. W aktu itu beberapa orang serdadu yang sedang berdinas jaga sedang berpesta-pora mengh abiskan arak curian. Mereka berdua menyertainya berdasarkan undangan gelap dengan hanya lambaian tangan. D an mereka pergunakan kesemp atan ini.

  Melihat yang lain-lain sudah pada menggeloyor tanpa daya dalam kemabokan, Esteban dan Rodriguez masuk ke dalam kantor dan menggodol apa saja yang dap at diambil.

  Mereka lari ke selatan, turun ke atas perahu layarnya, mengem bangkan layar dan berangkat. Belum pernah mereka merasa begitu riang seperti kali ini. Matari pagi mu lai menyinari pesisir pulau Sum atra yang kelam oleh hijau tua rimba belantara. Perahu-perahu nelayan dan kapal-kapal dagang belayar damai.

  D ari pengetahuan sejak di negeri sendiri mereka sudah tahu : di dunia ini tak ada bangsa kafir yang memiliki senjata am puh kecuali Portugis, mu sket dan meriam dengan gaya ledak tinggi. Mu sket ada pada mereka. D an mereka tak perlu merasa kuatir terhadap bajak laut. Pedang dan tom bak para pembajak pasti akan temyata melengkung berhadapan dengan mu sket. Mereka berhati besar. Tak akan ada yang m enghalangi pelayaran m ereka.

  Mereka tahu juga: kapal dagang Pribumi tak pernah berubah jadi kapal bajak. D an kapal-kapal perang Pribumi, yang segera nam pak dari kejauhan karena lubang-lubang pendayung pada sepanjang lambung kapal, juga tidak berbahaya selam a tidak diganggu terlebih dahulu. Mereka berbahaya karena cetbangnya, tapi tak pernah menem bak tanp a alasan. Pendeknya tak bakal ada sesuatu yang mengh alangi pelayaran m ereka.

  Mereka bergantian tidur, mengem udi dan masak. Mereka menyinggahi bandar-bandar kecil, sepanjang pantai Sum atra untuk mendapatkan kelapa dan daging dan air minum dan sayur-mayur dan buah-buahan. Di mana pun tak ada yang mengganggu. W alau sekecil-kecilnya bandar kebebasan berniaga terjamin. Setiap orang boleh mendarat dan berjual beli dengan bebas. D an bandar- bandar itu selalu bersaing satu dengan yang lain untuk menjadi persinggahan rempah-rempah.

  D i setiap bandar segera dua orang petualang itu m enjadi kerum unan orang banyak. Kulit mereka, wajah m ereka dan mereka senang menjadi tontonan. D an setiap bandar yang disinggahinya selalu tidak sama dengan yang di Spanyol atau Portugis atau Italia. Tak pernah mereka mengalami penganiayaan. Sebaliknya kekasaran justru akan datang dari sebangsan ya sendiri. Teman-teman mereka pada suatu kali bisa berubah jadi pemburu-pemburu yang akan menan gkapnya untuk mendapatkan uang tebusan. Atau bisa juga datang dari pihak orang-orang Spanyol yang mu ngkin akan menjualnya pada bajak-bajak laut Maroko atau Tunisia.

  Mereka telah menyinggahi bandar Ban ten, Sunda Kelapa, Cimanuk Tegal, Pekalongan, Semarang dan akhimya berlabuh di bandar Jepara.

  Bandar ini tidak begitu besar, buruk, tapi lain daripada yang lain, pikir mereka. Di sini bukan saja ada keistimewaan dan kekhususan, malah keluarbiasaan. G alangan-galangan besar berdiri megah mem bikin kapal- kapal, sama besarn ya dengan kapal negerinya sendiri, Portugis. Bahkan sebuah di antaranya lebih besar. Kapal perang! Jelas nam pak dari lubang-lubang lambung tempat mengayuh. Layar-layar kuning dari sutra terbeber di tanah dan sedang dijahit. Agak lama mereka awasi kapal terbesar yang sedang dilepa dengan adonan dengan minyak kelapa itu. Ingin mereka naik ke atas dan melihat-iihat susunannya. Isyarat dari banyak tangan menyebabkan mereka menyingkir m enghindar.

  D an yang mereka herani, hampir-h ampir tak ada perdagangan di sini. Yang ada hanya pekerja-pekerja yang sibuk dan bergegas-gegas seakan besok takkan ada hari baru lagi.

  Juga di bandar Jepara tak ada yang m engganggu mereka.

  Bunyi logam yang di tempat menyebabkan mereka tergoda untuk menyaksikan bagaiman a Pribumi mem bikin perabot. Mereka mem asuki bengkel pembuatan cetbang. Mereka mencoba bertanya apa saja yang sedan g mereka buat. Pandai-pandai Biam bangan temyata tak mengerti Melayu. Mereka mem bisu, bahkan melambaikan tangan menyuruh pergi

  Esteban dan Rodriguez pergi, tetapi datang lagi untuk mengh erani benda yang sedang dibuat itu. Ro driguez menebak, itulah meriam Pribumi. D an Esteban tertawa terbahak melihat pada larasnya yang tipis bergelang-gelang dan kamar-ledaknya yang segede buah kelapa.

  “Meriam boneka yang baik hanya untuk melontarkan gom bal!” seru Rodriguez. Tertawa mereka tak dap at ditahan. D an itulah yang menyebabkan beberapa orang Pribumi merasa tersinggung. Tetapi karena bandar Jepara juga bandar bebas, di mana setiap oran g dapat bebas bergerak, asing atau Pribumi, tak ada orang dapat dipeisalahkan hanya karena tertawa.

  Tetapi orang-orang Pribumi, yang temyata pejabat- pqabat penting itu. mempersembahkan datangnya dua orang kulit putih itu pada seorang punggawa. Kebetulan Adip ati Unus Jepara sedang mengh adap ayahandanya. Hanya punggawa itu saja pejabat tertinggi di Jepara.

  Maka terjadilah sebagaimana dilihat oleh Wiran ggaleng. Esteban dan Ro driguez D eez melarikan diri dalam kejaran para prajurit. Hanya karena tingginya kewaspadaan menyebabkan mereka bisa selam at mencapai perahunya dan meneruskan pelayaran ke tunur.

  Malam itu mereka berada di tengah laut. Sebelum salah seorang tidur bersama-sama mereka mengu capkan puji syukur atas keselam atan nya. Mereka bersembah yang dan berdoa dan berdoa.

  D engan sinar lilin mereka melihat pada peta, yang disalin dan sebuah kapal Parsi yang mereka rampas kemudian mereka tenggelamkan. D an awak kapal itu kemudian mereka jual di Mesir.

  D an pada suatu pagi berm endung m asuklah perahu layar langsung itu ke bandar Lao Sam. Pelabuhan itu kecil dan mu ngil dilindun gi oleh bukit-bukit terselaputi mendun g, nam un kelihatan ramah dan mem bentangi bandar dari badai.

  D an betapa terkejut mereka mengetah ui penduduk bandar itu bukan P ribumi. Semua orang Tionghoa, berm ata sipit dan berkuncir. Satu-dua Pribumi nampak berjalan mo ndar-mandir tiada bekerja.

  Aturan di bandar ini lain, keras, dan mem ang bukan bandar bebas. Setiap perahu pendatang diperiksa sebelum orangn ya mendarat. Pengalam an baru ini tak menyenangkan mereka. Selama belayar menyusuri sepanjang Sum atra dan Jawa tak pernah orang mem perlakukan demikian. Begitu perahu mereka terpancang pada patok derm aga atau cerocok takkan ada orang datang menjenguk untuk mengintip mu atan. Orang mem biarkan mereka mendarat, pedagang-pedagang berebutan untuk menjual atau mem beli baran g. Orang pun takkan m enghalanginya bila m ereka langsun g pergi ke pasar pelabuhan . D i Lao Sam lain yang terjadi.

  Tiga orang Tionghoa, bercelana dan berbaju serba putih, dengan topi di atas kuncimya, juga berwarna putih. Mereka semua bersenjata penggada kayu berbentuk blimbingan.

  Esteban tak mengerti bahasa mereka. Rodriguez juga Salah seorang di antara mereka berdua menolak untuk disuruh mendarat. Salah seorang di antara yang tiga mem anggil teman -temannya. D alam waktu pendek derm aga itu telah penuh dengan orang. Semua mem perlihatkan sikap yang m engancam.

  Untuk menyelamatkan perahu dan mu atan agar tidak ditenggelamkan mereka naik ke derm aga, mengikuti tiga orang itu.

  Mereka dibawa masuk ke dalam sebuah rumah besar berlantai batu gunung dan diperintah kan menunggu. Tiga orang itu masih tetap menjaganya, seakan mereka orang tangkapan.

  Esteban dan Ro driguez mendapat tempat duduk pada sebuah bangku panjang. Penjaga-penjaga itu berdiri. D ua jam kemu dian m ereka diperintahkan masuk lebih ke dalam lagi, di sebuah ruangan dengan perabot kayu. Tidak kurang dari tujuh orang telah duduk atau berdiri menunggu mereka dengan sikap seram , lebih seram lagi karena mata mereka berubah, seperti terbuat daripada kayu. Mereka berpakaian wama-warni, dan semua mem bawa kipas pada tangannya, sekalipun tidak dipergunakan. Mereka mengenakan pakaian seperti jubah, semua dari sutra, dengan lengan tangan lebar.

  Seorang yang gemuk, berkumis dan berjenggo t panjang tipis tergantung, menan yainya dalam Melayu. Esteban tak dap at menan gkap bahasanya. Ro driguez juga tak mengerti. Kata itu diucapkan begitu aneh pada perasaan mereka. Rodriguez D ez menatap Esteban dengan pandang bertanya. Esteban menggeleng. Bersam a-sama mereka mem andangi orang gemuk di hadapan itu, dan orang itu mengangkat alis. Esteban tidak dapat menah an gemuk itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. Para pengapitnya mu lai bicara. D ua oran g Portugis itu semakin tidak m engerti.

  Orang gemuk itu sekarang bicara pada para pengapitnya. Suara mereka ram ai, tetapi badan mereka seakan-akan terbuat dan kayu seluruhnya, nampak sangat sulit untuk digerakkan.

  Esteban merasa seperti sedang menonton suatu pertunjukan aneh, Tawanya meledak tak terkendalikan. Ro driguez juga m erasa diundang untuk tertawa.

  Percakapan terpaksa dihentikan. D ari dalam rumah mu ncul seorang Tionghoa lain, wajahnya tanp a kumis dan tanpa jenggot. Ia tidak mengenakan jubah tetapi bercelana dan berbaju longgar, tanp a topi, kakinya berkasut. Pakaiannya dari sutra dan nam pak terawat baik. Ia berjalan langsung mendapatkan yang gem uk dan mem beri hormat. Suatu pembicaraan telah terjadi. Orang baru itu bicara tenang. Si gemu k menganggu k-angguk

  Orang baru yang langsing itu berpaling pada Esteban dan Ro driguez, mengawasi mereka tajam-tajam, dan terjadilah yang sama sekali mereka tak duga: “Kalian orang Portugis mem ang pongah!” tuduhnya dalam bahasa Portugis. Esteban dan Rodriguez tak dapat menyembunyikan kejutnya.

  “Kau bisa Portugis?” Rodriguez D ez bertanya. “D emi keselam atan kalian sendiri, lepaskan kepongahan itu,” katanya tanpa perubahan nada, datar, tanpa tekanan.

  “jangan kalian lupa, tak ada seorang pun suka pada Portugis di sini.”

  Matanya yang sipit menusuk mereka seakan hendak merabai pikiran yang tersembunyi dalam kepala mereka. Esteban mencoba mem perlihatkan keunggulan bangsanya dengan tawa kecil merem ehkan. “Baik. Terserah pada kalian bagaiman a hendak bersikap. Aku hanya memperingatkan . Itu pun kalau orang Portugis mengerti artinya nasihat.”

  “Kau penterjemah?” Esteban bertanya. “Pemeriksa kalian.” “Pemeriksa!” Ro driguez tertawa mengejek. “Apa yang hendak kau periksa? Kami bukan tangkapan kalian.” “Aku yang mem eriksai kalian, bukannya kau yang mem eriksa aku Itu pun kalau kalian mengerti bahasa

  Portugis yang benar.” “Kaulah yang pongah, bukan kami,” bantah Esteban “Kami orang bebas!” gum am R odriguez. ‘Tak ada alasan mem eriksa kami Kami menolak. Tak ada orang Portugis diperiksa di bandar asing.”

  “D iam!” bentak pemeriksa itu. “Aku dengar kalian tidak mengerti Melayu.” “Siapa bilang kami tak mengerti Melayu? Orang itu,”

  Ro driguez menuding pada si gemuk, “yang tak keruan Melayunya.”

  Seseorang mem ukul tangann ya yang menuding dengan kasar. Rodriguez merah-padam karena merasa terhina. Tak pernah ada oran g dari bangsa lain berani berbuat seperti itu terhadap orang Portugis. la berjalan menghampiri meja si gendut hendak m emprotes.

  Pemeriksa itu menan gkap tangannya dan menyeretnya ke lempatnya kembali. Rodriguez meronta. Tetapi sikutnya terasa hendak patah dalam kempitan pemeriksa itu. Makin meronta m akin dekat perbukuan sikutnya pada keremukan. Ia m eringis tanpa bisa mengerti.

  “Orang Portugis juga perlu belajar sopan di negeri orang,” kata pemeriksa itu, dan menyorong Rodriguez. “Ingat-ingat, namaku Liem M o Han. ”

  Esteban mengawasi Liem Mo Han dengan pandang mem pelajari cara oran g itu dapat mengem pit sahabatnya sehingga tak berdaya. Ia tak m encoba mem belanya.

  “Baiklah kuterangkan pada kalian, orang-orang Portugis. Kalau kalian bersikap begini terus, aku, Liem Mo Han, akan lakukan segala sesuatu yang telah kalian lakukan terhadap diriku selama tiga tahun.”

  Esteban diam-diam mendengarkan dan mem perhatikan tingkah laku dan bahasa Portugis Liem Mo Han yang cukup baik.

  Ro driguez sudah berdiri lagi di tempat sambil meringis kesakitan, kemudian bertanya mencoba ramah: “Bagaimana kau bisa berbahasa Portugis sebaik itu?”

  “Itu bisa diceritakan nanti. Jadi nama kalian Esteban del Mar dan Rodriguez D ez. Siapa yang Rodriguez?”

  Kepala Ro driguez yang beram but pirang itu menganggu k. “Baik. Pekerjaan mu ? Tentu bukan saudagar bukan nakhoda.” D ua oran g Portugis itu berpandan g-pandan gan. “Baiklah kalian tak perlu mengaku. D i perahu kalian Portugis. Jangan pura-pura bodoh, aku tahu peraturan dalam kapal Portugis. Hati-hatilah, kalian, jangan sampai mem buat onar di sini. Kepala kami yang terhormat, Tuan G ong E ng C u, masih berhati luas, m asih dapat menenggang kelakuan kalian. Maka dengarkan: mu sket kalian dan mesiunya kami tahan untuk disimpan.”

  Liem Mo Han bicara seperti tiada kan habis-habisnya, tidak mem berikan kesempatan pada Esteban atau pun Ro driguez untuk menyela.

  “Jadi kalian berdua tidak mempunyai sesuatu pekerjaan ,” kemudian ia mem utuskan. “Hanya punya mu sket, dan dengan senjata itu mem bajak perahu-perahu kecil di tengah laut.”

  “Tidak benar!” bantah Esteban. “Tidak ada bukti kami berdua pernah mem bajak,” banlnh Rodriguez.

  “Mem ang tidak ada bukti dalam perahu kalian. Boleh jadi yang tak kalian butuhkan telah kalian buang ke laut, yang kalian butuhkan telah kalian telan.”

  “Bukan kebiasaan dan bukan watak Portugis untuk mem bajak,” susul Esteban dengan nada tersinggu ng. “Mem ang dengan satu-dua orang Portugis tidak pernah mem bajak. Tetapi dengan satu kapal, apalagi satu armada, setiap Portugis adalah bajak.”

  “Itu soal tafsiran!” bantah Esteban. “Kami tidak mem bajak, kami berperang.” “Itu soal tafsiran!” tuduh Liem Mo Han. “Setiap kapal dan arm ada Portugis tidak berperang, tapi membajak. D an setiap orang Portugis yang jatuh ke tangan kami adalah juga bajak. Bukankah di negeri kalian juga ada hukum an terhadap bajak?” “Berperang dan mem bajak tidak sama,” bantah Ro driguez. “Ya, tidak sama,” Esteban mem benarkan, “berperang punya tujuan lebih jauh, lebih mu lia, mem bajak untuk dirinya sendiri.”

  ‘Tujuan itu urusan kalian sendiri. Bagi mereka yang terkena aniaya perbuatan kalian tetap menganggap kalian bajak belaka. Kalian haru s lakukan hukuman sebagai bajak. Lao Sam berada dalam wilayah kekuasaan Tuban. Hukum an atas bajak menurut ketentuan Tuban adalah kerjapaksa, entah samp ai berapa tahun sesuai dengan ketentuan, untuk kemu dian menjalani hukuman mati. Kami bisa serahkan kalian pada G usti Adipati Tuban.”

  D ua orang petualangan itu menjadi lemas. Mereka terdiam. G ong Eng Cu bicara dalam Tiongho a pada Liem Mo

  Han. Yang belakangan mengangguk-angguk dan nam paknya hanya m engiakan.

  “Kepala kami,” Liem Mo Han meneruskan, “mengatakan, kelihatannya kalian masih mu da dan segar. Kekasaran nampaknya sudah jadi watak bangsa kalian. Kami bisa juga jual kalian pada M alaka. pada bangsa kalian sendiri. D an karena kalian kelihatan kuat dan segar, bisa juga kami jual pada oran g-orang Arab. Atau bisa kami pakai sendiri untuk mem bajak sawah.”

  Liem Mo Han diam. G ong Eng Cu dan pengapit juga diam. Semua mengawasi dua orang Portugis yang nam paknya kehilangan diri itu.

  “Kalau kam i jual kalian pada Malaka, kalian akan segera naik ke tiang gantungan, dan kami mendapat uang tebusan. Kalau kami serahkan kalian pada G usti Adipati Tuban, kalian akan lakukan kerjapaksa sebelum naik ke tiang gantungan. Tapi kami tak mendapat sesuatu keuntungan. Kalau kami jual kalian pada orang-orang Arab, kami akan mendapatkan keuntungan lebih banyak, dan kalian harus bekerjapaksa samp ai mati tua.” Ia diam lagi untuk dap at melihat hancurnya kebanggaan kebangsaan dua orang itu.

  “N ah, pilihlah salah satu di antaranya.” Esteban del Mar dan Rodriguez D ez sejenak berpandang-pandangan dan berunding dengan matanya.

  “Tidak ada jalan untuk melarikan diri,” Liem Mo Han mem peringatkan. “Jadi mana yang dipilih, kalian, bajak laut celaka?” “Kami bukan bajak laut, ” Ro driguez mem bela diri.

  “Kelakuan semua pelaut tak lain dari bajak.” Esteban berpikir keras. “Kau, Esteban, yang lebih tua, bicara, kau!” melihat orang itu masih juga berpikir keras ia meneruskan,

  “baran gkali L iem Mo Han ini kau anggap kurang berharga. Baik, silakan bicara sendiri pada kepalaku, Tuan G ong Eng Cu . Hanya, pakailah sedikit kesopanan. Kami tidak hargai kepongahan dan kebanggaan kalian. Bagi kami kalian tak lebih hanya bajak laut.”

  Esteban melangkah maju mendekati G ong Eng Cu, mem bungkuk mem beri hormat dan membela diri: “Tuan G ong E ng C u, benar kami bukan bajak laut. Kami mem ang pelarian dari kapal Portugis di Malaka. D alam perjalanan samp ai kemari tak pernah sekalipun kami melakukan kejahatan di laut. Kami hanya ingin pesiar melihat negeri- negeri N usantara.” Setelah Liem Mo Han terjemahkan, G ong Eng Cu berkata melalui terjemahan: “Kalian tidak sekedar hanya melihat negeri-negeri. Ada didapatkan senjata, mesiu, peta, kom pas, teropong dan buku-buku dalam perahu kalian.”

  “Tak pernah ada larangan mem bawa barang-barang itu, bahkan semua kapal Portugis dilengkapi dengan semua itu.”

  “Kalian jangan permain-m ainkan kami. Pelarian biasa tidak akan mem bawa semua itu, kalau tidak karena tidak sempat tentu sulit untuk bisa mendapatkann ya. Kalian mem punyai cukup persediaan bahan makanan. N ampaknya kalian ini mata-m ata Portugis.” “Mata-mata?” Esteban berseru kaget.

  Ro driguez terbeliak. “Apakah kalian ingin mencoba jadi mata-m ata Sang

  Adip ati Jepara? N ah, kau, Rodriguez, mengapa tak ikuti jejak teman mu mengh adap Tuan Gong Eng Cu dengan baik-baik?”

  Ro driguez maju dan memberi hormat. Ia berdiri di samp ing temannya. Berkata: “Sesungguhn ya kami mem ang melarikan diri dari M alaka.”

  “Aku percaya,” jawab G ong Eng Cu . “Kalau kalian mengaku bukan bajak laut, bukan mata-mata, mengapa tak juga menyampaikan kami apa rencana Portugis setelah merebut Malaka? Apakah kalian yang sudah bodoh, atau kah m emang m au m embodohi?”

  “Tuan G ong Eng Cu , Portugis sedang menunggu datangn ya tam bahan kekuatan di Malaka. Mereka akan terus berlayar ke Maluku.”

  “Ke Maluku? Begitu cepat?” G ong Eng Cu terpekik dengan mata mem beliak menatap Liem Mo Han. Kemu dian ia bicara dengan penterjemah itu dan Liem Mo Han tidak mem portugiskan.

  Esteban dan Ro driguez berpandang-pandan gan dan berunding dengan matanya. Liem Mo Han menghampiri mereka, menusuk mereka dengan pandan gnya, menetak: “Pembohong!” “Semua awak kapal tahu,” sekaran g Esteban mengambil- alih. ‘Tadinya dimaksudkan akan mem berangkatkan empat buah kapal. T am bahan kekuatan yang ditunggu belum juga datang Kalau dalam bulan D esember… Tuan Liem Mo Han m engerti artinya D esember?”

  Liem Mo Han mengangguk. “Kalau dalam bulan D esember tam bahan kekuatan itu tak juga datang, Portugis akan berangkat dengan jumlah kapal dan kekuatan orang yang ada saja.” “Pemboh ong!” bentak Liem M o Han.

  “Kami tentu akan jadi pemboho ng kalau Malaka mem batallcan niatnya,” sambung E steban. “Kalau kau bukan pembohong, jalan laut mana yang akan ditempuh?” “Menyusuri Sumatra dan Jawa.” “Mengapa?”

  “Karena hanya peluat-pelaut Jawa yang tahu jalan ke Maluku. Kami semua tahu, kapal-kapal Jawa selalu menenggelamkan kapal bukan-Jawa di perairan Maluku.

  Tak ada yang berani mem asuki, bangsa apa pun, juga bangsa T ionghoa tidak.” G ong Eng Cu mengangguk-angguk mendengarkan terjemahan Liem Mo Han. “Jadi Portugis tahu dia akan berhadapan dengan kapal- kapal Jawa di Maluku?” “Portugis berangkat untuk berperang,” kembali Esteban mendapatkan kebanggaan nasionalnya. “D an kami tak pernah kalah.”

  “Apa yang kau bisa perbuat dengan keangkuhanm u?” “Aku bicara soal kenyataannya. Belum pernah kami dikalahkan baik di laut maupun di darat.” “D engarkan kalian, oran g-orang Portugis. Kalau kalian temyata pembohong, bukan kami yang salah. Kalian pernah tangkap aku, kalian bikin aku jadi budak di dap ur kapal kalian. Kalian telah bawa aku ke negeri kalian, mengarak aku keliling Lisboa jadi tontonan. Orang menariki kuncirku. R asa-rasan ya mau copot kulit kepalaku.

  Tiga tahun kalian telah siksa aku. Kalian jual aku pada orang Italia. Mereka menjual aku pada oran g Moro. Kapal Mo ro mem bawa aku ke Benggala. Kalian hadapilah aku sebagai orang yang pernah kalian aniaya. Tiga tahun! Kalian jangan berlagak pemenang di sini.”

  “Kami tak pernah tahu tentang itu.” “Sekarang kalian tahu, dan kalian hanya bagian dari mereka selebihnya. Kalian mem ang selam at di bandar- bandar Sumatra dan Jawa. Di Lao Sam ini tidak. Kalian

  Mereka berdua tak berani mem bantah. “Mengapa diam saja?” G ong Eng Cu mendesak. “Kami berm aksud hanya hendak melihat-lihat negeri.” “Kalian mata-mata!” tuduh G ong Eng Cu. “Portugis sudah melakukan kejahatan di mana-m ana, dan bersumbar hendak mem bawa bangsabangsa selebihnya pada peradaban. Kalian pelarian atau mata-mata sama saja.

  Sejak saat ini kalian tidak diperkenankan mendekati pantai. Begitu orang melihat kalian melanggar ketentuan, jiwa kalian jadi tebusan. D an kalau temyata Peranggi datang ke Jawa m embikin keonaran seperti di Malaka….”

  G ong Eng Cu yang gendut itu tak meneruskan kata- katanya. Ia mengangguk sambil memejamkan m ata. “Biar pun begitu kami punya peraturan, tidak hanya

  Portugis, dan kami pun bisa jalankan aturan kami. Kami lihat kalian punya perahu sendiri. D ari siapa kalian merampasnya?” “Kami pesan dari Pribumi Malaka.” sam bar Rodriguez.

  “Mem beli, mem esan ataupun merampas sama saja. Kalau Portugis suka merampas atau mem esan?” “Juga kam i tidak mencurinya,” tambah Roodriguez.

  “Mem ang Portugis tidak pernah mencuri, hanya merampas dan menggagahi, kebiadaban yang tiada tara. Baik, tak ada gunanya bicara soal perahu dan isinya. D engarkan , kepala kami, Tuan G ong Eng Cu, ingin m elihat apakah kalian mata-mata atau bukan. Kami akan mem butuhkan waktu untuk dapat kalian yakinkan. N ah, apa keahlian kalian?”

  Esteban dan Ro driguez berpandang-pandan gan dan

  “Mem buat arak,” Rodriguez menjawab. “Kalau ada buah anggur. Arak terbaik yang pernah dikenal orang.” “Kalau kau pandai mem buat arak terbaik, kau takkan gentayangan kemari,” Liem Mo Han m elecehkan. “Tidak boho ng. Kami bisa bikin sendiri, arak merah dan putih dan kuning, mungkin lebih baik dari bikinan negeri- negeri lain,” Esteban m emperkuat.

  ”Takkan ada yang lebih pandai dari bangsa kam i,” jawab Liem Mo Han. “Boleh jadi,” sambung Esteban. “Kami juga bisa menukang.” Liem Mo Han tersenyum. Pengapit-pengapit G ong Eng Cu tertawa waktu mendengar terjemahan Liem . “Menukang adalah keahlian bagu s,” kata Liem M o Han,

  “dan aku kira takkan ada tukang lebih baik daripada bangsaku. Co ba, perlihatkan tangan kalian padaku?” dan penterjemah itu memperhatikan otot-otot lengan dan telapak tangan dua orang Portugis itu kemudian menggeleng-geleng m elecehkan.”

  “Mem ang kami tak pernah menukang dalam beberapa tahu n belakangan ini,” Esteban m embela diri. “Pernah kah kalian menukang m embikin kapal?” “Perahu kami itu aku sendiri yang merencanakan, laju seperti hiu,” Rodriguez menerangkan dengan bersemangat “Betul, orang-oran g bilang mem ang perahu luarbiasa. Pernah kalian m embikin kapal?”

  Sekali lagi Esteban dan Ro driguez berpandang-pandang berunding dengan mata.

  “Tentu saja. Membuat kapal? Uh, sudah selusin!” “Kapal apa? Kapal samudra? Kapal Portugis?” “Tentu kapal samudra, kapal Portugis.” Ro driguez meyakinkan Liem Mo Han.

  “Aku tak percaya kalian bisa m embikin kapal,” Liem Mo Han mencoba mem atahkan semangat mereka. “Kalian terlalu mu da untuk bisa bikin kapal, terlalu tidak tekun, terlalu pembual. Orang yang bisa bikin kapal tidak begitu tingkahn ya. Juga tidak akan bertualang. D ia akan tetap tinggal di galangan negerinya sendiri. Kalian hanya pembual”

  “Betul, kami berpengalaman,” Rodriguez meyakinkan lagi. “Takkan ada yang bisa percaya kecuali kalian sendiri,”

  Liem Mo Han terbatuk-batuk. “Barangkali kalian pernah hanya m enonton orang membikin kapal besar.” “D i sepanjang pantai negeri Portugis oran g membikin kapal samu dra. Setiap bocah pernah melihat,” kata

  Esteban.

  G ong E ng C u m elam baikan tangan m enyuruh dua orang itu menjauh daripadan ya. Kemu dian ia berundingan dengan para pengapitnya. Semua mereka ikut bicara. Orang gendut itu kemudian m emberi perintah pada Liem Mo Han.

  “Kalian hanya penipu. Kalian masih beruntung kepala kami tidak sekejam dan tidak biadab seperti bangsa Portugis. Kepala kami. Tuang Gong Eng Cu. mem erintahkan pada kalian untuk tinggal di Lao Sam samp ai kalian dinilai. Kalau pada suatu kali ada kapal Portugis datang kemari untuk mencari kalian… kalian sendiri yang lebih tahu apa bakal terjadi.”

  “Kami akan meneruskan pelayaran kami melihat-lih at N usantara,” bantah Esteban. Tetapi Liem Mo Han tak peduli dan meneruskan:

  “Kalian akan ditempatkan di sebuah rumah. Hanya dengan pengawalan boleh keluar dan situ.” “Kami belum lagi mendarat di Lao Sam sini. Kalian yang m emaksa kami m endarat,” bantah Esteban. “D an kam i hanya hendak belanja,” sam but Ro driguez. “W alau pun kalian tidak bisa dipercaya seperti halnya dengan oran g Portugis selebihnya. kepala kami telah mem berikan kemurah an pada kalian untuk bekerja di galangan kami. Kalian hanya melihat-lihat bagaimana kapal kami dibikin dan mem berikan pendapat dan nasihat sekedam ya.”

  Kembali dua orang itu berunding dengan matanya. “Ya, berundinglah kalian. Sebelum kepala kami mengambil sesuatu keputusan,” Liem Mo Han mem beranikan mereka.

  D i luar hujan jatuh berderai, lebat dan berangin. “Ya, kau bisa lakukan itu,” kata Rodriguez pada teman nya, “dan aku bisa mem bantumu. Terimalah.” Tapi Esteban m asih juga m enimbang-nimban g. “Asal kalian mengerti, tak ada di antara kami bisa mem perrayai kalian.” “Apa gunanya nasihat oran g yang tidak dipercaya?” tanya E steban.

  “Kami yang menentukan. Bukan kau,” Liem Mo Han melecehkan dengan bibimya. “Hanya karena sikap saja.” Ia m enunggu jawaban. Dan yang ditunggunya belum juga datang. “Tidak percum a aku tiga tahu n jadi budak kapal, kapalmu, kapal Portugis. Setiap hari mendengar ajaran yang mu luk-mu luk dengan perbuatan yang rendah. Itulah kalian orang Portugis. Ayo, jawablah kalau kalian sanggu p!”

  “Ya, kami sanggup,” jawab Esteban. “Betapa cepat keputusan itu,” Gong Eng Cu mem berikan komentar.

  “Makin kelihatan petualangan kalian, ” kata Liem Mo Han. ”Tapi awas. Tujuh orang yang tersisa dari kapal kami telah kalian perbudak selam a tiga tahun. Lim a di antara kami akhimya kalian bunuh, kalian buang ke laut. Sekarang kalian hanya berdua. Kalian masih berhutang jiwa pada kami. Begitu kalian….”

  ”Kami tak tahu begitu menyedihkan pengalamanmu .” Esteban m enanggapi. “Menyedihkan. memang. Semua yang datang dari

  Portugis selalu menyedihkan, dan itulah kabar gembira untuk kalian.” Esteban yang merasa tersinggung mem balas “Kelak. kalau kapal samu dra kalian jadi, kalian bisa mem balas dendam, mem bajak salah sebuah kapal Portugis yang pertam a-tama kalian temui, menan gkap semua awak kapalnya dan menjualnya pada siapa saja.”

  “Kami bukan bajak, juga bukan keturunan bajak. Kami keturunan awak armada Ceng H e yang besar….” Apa yang dikatakan Liem Mo Han tidak keliru. Setelah arm ada Ceng He tak bisa balik ke Tiongkok. Armada ini kemudian berdiri sendiri, melakukan perdagangan sendiri Jawa. D alam kekuasaan Tuban mereka mendapat perlindungan dan ijin berpangkalan di Lao Sam. Pangkalan pokok m ereka dirikan di Sam Toa-lang.

  D ari dua pangkalan itu juga mereka lakukan perdagangan dengan Atas Angin samp ai-samp ai mem asuki Laut M erah.

  Untuk mem bikin awak armada ini tidak lenyap ditelan oleh Pribumi, baik karena perkawinan mau pun karena kecilnya jum lah mereka. mereka mendirikan sebuah organisasi pengawal yang harus mem pertahankan lembaga peradaban dan kebudayaan negeri leluhumya, bemama N an Lung atau N aga Selatan .

  Liem Mo Han adalah seoran g pemuka N an Lung, yang dihorm ati oleh masyarakat Tionghoa sepanjang pantai utara pulau Jawa. Di samping Portugis ia pun mengu asai Jawa. Oleh N an Lung dan masyarakat Tionghoa ia diangkat jadi penghubung antara Lao Sam dengan Toa- lang, juga diangkat jadi duta masyarakat Tionghoa dengan kerajaan D emak

  Melihat Liem Mo Han tetap tak mengh argai mereka. Esteban dan Rodriguez kembali mengambil sikap berhati- hati.

  “Mem bajak adalah penghinaan untuk awak arm ada Ceng He yang besar, juga untuk keturunann ya,” Liem Mo Han memp eringatkan. “Kalau bukan karena kehendak kepala kami… lain lagi yang akan terjadi dengan kepala kalian. Hati-hati.”

  G ong Eng Cu tiba-tiba bicara lagi sambil melambaikan tangan dan Liem Mo Han menterjemahkan: “Tempat kalian telah ditentukan. Semua keperluan sehari-hari kalian akan dipenuhi.”

  “Kami akan berikan nasihat-nasihat kami pada kalian,” jawab Esteban, “tapi kembalikan barang-barang kami.” “Kalau kapal kami jadi dengan baik, jangan kan baran g- baran gm u seratus kali benda-benda berharga akan kalian dap atkan dari kami” kata G ong Eng Cu. “Jangan banyak bicara. Kalian sebagai oran g Portugis telah mendap at kemurahan terlalu banyak.”

  Orang-orang yang menggiringnya dari pantai sekarang mengh ampiri mereka. D engan isyarat mereka mem erintahkann ya berjalan keluar dari rum ah besar itu. Mereka digiring di jalanan sempit, berpasir dan berdebu kuning, ke jurusan selatan , ditempatkan di sebuah kamar rumah batu dan terus-m enerus dikawal.

  W aktu pintu terpalang dari luar kamar mereka masih berdiri berpandang-pandangan. Tak ada sepatah kata keluar dari mu lut mereka. Kemu dian dengan serentak mereka berlutut dan m embikin salib dengan jarinya.

  G ong Eng Cu mempunyai rencana khusus terhadap mereka berdua. Pelaut-pelaut keturunan awak armada Ceng He sudah banyak yang ditangkap dan dibinasakan oleh arm ada Portugis. D an mereka tak pernah dapat mem balas. Armada mereka yang pada mu lanya armada militer, kini hanya armada dagan g belaka. D engan Esteban del Mar dan Ro driguez D ez boieh jadi ia dapat mem berikan sedikit tekanan pada Portugis.

  Ia hendak pam erkan dua oran g tangkapan itu pada um um. Setiap hari mereka dipekerjakan di galangan kapal di D asun. Berita tentang m ereka harus sampai ke Malaka.

  G ong Eng Cu sendiri bukan keturunan awak arm ada Ceng He. Ia adalah keturunan ke enam seorang pendatang di Tuban. Ia adalah kepala masyarakat Tionghoa di Lao mem punyai sesuatu urusan dengan kekuasaan raja-raja setemp at.

  Setelah menyelesaikan urusannya di Lao Sam, dengan sebuah perahu layar milik Esteban dan Rodreiguez ia kembali ke Tuban.

  0o-d w-o0

  Kumbang-kum bang itu berputar-putar mengigal dalam tingkahan gamelan yang ria, seakan tak ada sesuatu pun yang mengancam kehidupan ini. Pakaian mereka gemerlapan mengeijap-ngeijap berkilauan ungu dan me rah dan kuning dan hijau be rma in-main dengan sinar lamp u- lampu yang menyala dari semua penjuru. W arna-warna yang mengikat pandan g dan gerak-gerik yang mem ukau perasaan.

  Seakan langsung dari langit melawan serom bongan kum bang jantan, dan buyarlah sekelom pok betina yang berbahagia mengigal-ngigal dalam kedamaian itu. Mereka kemudian berkitar-kitar, berkelomp ok dan pecah. Sekelomp ok lagi dan pecah, berkelompok lagi dan pecah lagi, akhirnya jadi pasangan-pasangan asyik-masyuk yang berkobar-kobar. Sepasang demi sepasang terbang mengh ilang dibawa oleh impian untuk mereguk hidup samp ai ke dasar cawan.

  Yang tertinggal hanya sepasang saja, berputar mengigal bercumbuan. dan gamelan mu lai menderu, memu ntah kan gelora dan gairah mahluk untuk menunggalkan dua menjadi satu, dan satu untuk mem banyak dan mem biak mengisi seluruh buana dengan titik-titik kasihnya.

  Mendadak gamelan jatuh mengh iba-hiba dan pasangan kum bang itu kehabisan cum bu, kekeringan rayu. Seekor kum bang jantan lain datang seakan dari alam lain, lebih besar, lebih gesit, lebih perkasa. D icerai- beraikannya pasangan itu. G amelan mengendap-endap ragu dan kum bang betina itu merana melihat sang kekasih tercam pak. Berdegup-degup gamelan meningkahi si betina yang lari terbang berputar-putar dalam kejaran jantan perkasa.

  Betina itu mengendap, hinggap bersembunyi di balik sekuntum bunga. Si jantan perkasa terbang mengh ilang kehilangan arah. Tinggal si betina sepi sendiri, meratapi sepotong dari sayap kekasih yang sudah compang-camping, tersangsang pada selembar daun bunga.

  D an kum bang betina yang tertinggal sepi sendiri itu adalah Idayu. Kamaratih Tuban. D i tempat yang ketinggian, di atas kursi kayu cendana berukir, dudu k Sang Adipati. Pandangnya gelap menembusi ruang dan waktu. Pemu satan seluruh birah inya mem bisukan seluruh bunyi dan menghilangkan semua gerak. Yang tertangkap oleh batinnya hanya tubuh yang mem ancarkan daya tarik tiada terlawankan itu: Idayu! Idayu!

  Bila pemusatarinya terputus oleh kenyataan, ia seorang adipati, seorang penguasa di antara para kawula, kendorlah semua ketegangan. la mengh ela nafas dan menyandarkan punggung pada kursi, direm as-remasnya jari-jarinya sambil menebarkan pandang pada semua orang yang duduk melingkari kalangan di atas lantai di hadapann ya sama dan mendesiskan keluh kesakitan.

  Sebelum Idayu turun menari di kalangan, satu barisan keindahan tubuh dan keluwesan gerak dan kecantikan wajah. Tapi Sang Adipati kehilangan gairah untuk memilih salah seorang di antaranya.

  Idayu! Idayu! Hanya Idayu! Mengapa anak desa perbatasan ini mampu menaklukkan aku? Sekali-dua ia mengh embuskan nafas keluh dan ratap yang ditenggelamkan oleh bunyi gam elan. Seakan aku bukan se- orang tua, tapi seorang perjaka belasan tahun!

  D i belakang Sang Adip ati, berdiri di pinggiran, adalah Tholib Sungkar Az-Z ubaid, berjubah genggang, bertarbus merah. Matanya menyala-n yala penuh nafsu berahi, menjam ah dan menelan tubuh yang sedang berlenggang- lenggo k menari itu. Ia tak terbiasa m endengarkan gam elan, tak terbiasa melihat tarian Jawa. N am un semua itu terasa jadi satu kepaduan yang indah pekat, suatu keindahan yang mem bersit dari pedalaman jiwa manusia, tak pernah ia dap atkan pada tarian Spanyol dan Portugis.

  Idayu nampak seakan terbang, menggeleng-gelengkan kepala dan mengipas-ngipaskan sampur pada mu kanya, seperti kum bang betina sesungguhnya yang sedang kehilangan akal dan berputus asa.

  Ah, tubuh yang langsin g berisi dan gerak-gerik yang mem anggil-m anggil untuk bercumbu itu. Kerjap mata dan geletar jari-jari yang mengu ndang bercengkeram a dan bercinta itu….

  Tangan Tholib Sungkar Az-Zubaid mengepal-ngepal, seakan seluruh tubuh yang indah itu telah berada dalam genggam annya. Bahkan kulit penari di hadapann ya itu pun utuh bersinar-sinar dalam kemudaannya!

  D alam meratapi sayap kekasihnya yang compang- camp ing, mata kum bang itu terayunkan ke atas, pada Sungkar Az-Z ubaid merasa dalam harapannya, kekasih baru itu tidak lain dari dirinya.

  D i tempat duduknya, di samping Sang Adipati, agak di belakang dan di atas tikar di lantai, Sang Patih hampir- ham pir tak bergerak, takut kalau-kalau kehilangan mata ran tai keindah an yang bertaut-tautan antara bunyi gamelan dan gerak si penari. Serasi yang padu itu mem bawanya terayun-ayun ke dalam pukauan alam mistik yang tak tertafsirkan. Lenyap terdesak segala kesulitan dan kepayahannya mengu rus pemborongan rempah-rempah dari Maluku dan pengaturan kapal-kapal dan awaknya.

  Tiba-tiba kum bang yang tertinggal sepi sendiri itu mengepakkan sayap dengan kejang, jatuh di bumi dan menggelepar. G amelan mendadak berhenti. Idayu menata diri, bersimpuh dan menyembah Sang Adipati, hilang mengu ndurkan diri dari kalangan.

  D ari-sana sini terdengar terbatuk-batuk dan m endeham. Pertunjukan selesai. Sang Adipati meninggalkan pendopo dan langsung masuk ke peradu an. D ikebaskannya semua gam baran dan bayangan tentang Idayu. Sebuah pintu rahasia telah mem bawanya ke sebuah ruangan sempit. D in yalakannya sebuah pelita gantung dan dengan itu membuka sebuah pintu lagi. Ruangan sempit itu menurun dua-tiga depa ke dalam tanah, dan makin lama makin dalam. Ia sedang mem asuki ruangan rah asia.

  Hanya seorang dalam satu generasi mengetah ui adanya ruangan rah asia ini. Pengganti Sang Ranggalawe yang mem bangun kannya. Jalan yang bersambung dengan rongga bawah tanah ini mem anjang hampir dua ribu depa, dan dikerjakan oleh bajak-bajak yang telah tertangkap. adipati yang digantikannya – tertumpas punah oleh ekspedisi hukuman Majapahit. Maka dibikinnya terowongan panjang ini untuk melarikan diri dari kepungan. Setelah bajak-bajak ini menyelesaikan pekerjaan nya, mereka di-sekap dalam salah sebuah ruangan dan dibunuh dengan asap belerang. Ruangan itu tak pernah dibuka lagi.

  Ujung terakhir dari rongga ini adalah sebuah bukit rendah yang di-rimbuni oleh semak-belukar dalam hutan larangan.

  Setiap Adipati Tuban digantikan oleh anaknya, ia mendapat petunjuk memasuki rongga ini dan mendap at kewajiban untuk setiap bulan mem eriksa dan memperbaiki dengan tangannya sendiri pada bagian-bagian yang rusak.

  Balok dan papan kayu jati tua merupakan dinding yang menolak gugurnya tanah. Tak ada tanda-tanda kayu itu melapu k selam a lebih dari dua ratus tahu n ini. Udara yang basah pengap pun tak kuasa m erusakkannya: Sebentar Sang Adip ati berpegangan pada salah sebuah balok. D engan tangan lain ia m enanting pelita gantung.

  G ambar Idayu kembali mengunjungi pikirannya, dan dibawanya masuk ke dalam salah sebuah rongga. Ia masih tak rela sebelum mati tidak menyentuh hasil Awis Kram bil yang terindah itu. Tetapi Idayu telah jadi milik seseoran g, telah disaksikan oleh seluruh pendudu k Tuban Kota. Ia tidak boleh meletakkan tangan di tengah-tengahnya. Ia harus mati tanpa menjam ahnya. Ya, biar pun ia telah kirimkan W iranggaleng jauh ke barat. Tidak, ia tak boleh lakukan itu.

  D ari sebuah lemari batu berlapis kayu di dalam nya ia keluarkan selembar kulit yang telah bercendawan. dan muncul sebuah peta laut peninggalan Majapahit, yang telah lebih seabad tak pernah diperbaiki. Peta itu sudah ham pir hancur. Bahkan kulit itu sendiri sudah mu lai melumu t di sana sini.

  Tak lama ia m emp elajarinya. D ikembalikan barang itu di tempatnya semula dan bersiap-siap hendak melakukan pengawasan terhadap dinding dan penyangga. Udara yang lembab dan m encekik itu m embatalkan niatnya. Mem ang ia tak pernah berjalan sam pai ke ujung sana. D ahulu pernah ia tutup dengan papan di dekat ujung, karena ia takut kalau- kalau ular m emasuki dan menjadikan sarangnya.

  Sam bil berjalan balik ke bilik peradu an gam bar peta dan gam baran Idayu silih-berganti mengisi pikiran nya. Setiap kali ia hendak m elukiskan tempat-tempat di mana Peranggi berada untuk mendapatkan kesimpulan gerak mana lagi yang akan diambilnya, gam baran Idayu juga yang muncul.

  Sesampainya dalam peraduan ia tidak juga mengantuk. Ia keluar dan menuju ke keputrian.

  Sepulangnya dari pendopo kadipaten Sang Patih mem buat satu garis pada sebilah papan di mana tertulis nam a W iranggaleng dengan huruf Jawa. Pada papan-papan yang lain tercantum nam a petugas laut dan darat yang bertugas di luar negeri. D an coretan pada papan juara gulat itu semakin banyak juga, namun belum juga utusan itu pulang dari Jepara.

  Tholib Sungkar Az-Z ubaid berjalan cepat-cepat pulang. Langkah nya panjang-panjang dan jubahnya diangkatnya tinggi-tinggi seakan sedang berjalan di atas becekan.

  D id apatin ya N yi G ede Kati telah nyenyak dalam tidurnya. Sekilas ia pandangi mulut wanita yang ternganga, melelakan giginya yang mulai kurang hitam. Ia menganggu k-angguk mem benarkan. Dalam kotak-sirihnya sekarang tak pernah terdapat jahawe.

  Ia nyalakan sebatan g lilin baru dan berjalan menuju ke dap ur. D i atas sebuah meja kayu kasar di ruangan dapur terdapat sebuah namp an, di atasnya berdiri gendi berisi air dan sesisir pisang susu. Ia keluarkan sebuah bungkusan dari saku di balik jubah. Dituangnya sedikit serbuk ke dalam gendi itu, diusap-usapnya gendi itu sambil tersenyum dan menganggu k.

  Suatu suara yang mencurigakan terdengar dari kejauhan. Buru-buru lilin ia padam kan. Ia tinggalkan dapur dengan tangan m enggerayang.

  Tak lebih dari setengah jam kemudian muncul Idayu mem bawa pelita gantung ke ruangan dapur. D iambilnya nam pan berisi gendi dan sesisir pisang susu dan bersiap-siap hendak pergi lagi. Ia mu lai melangkah balik. Terhenti. Sesuatu telah menyentuh kakinya. Ia letakkan kembali nam pan dan menyuluhi lantai. Sebatang lilin tergolek di bawah. Ia pungut benda itu, memp erhatikannya sebentar dan meletakkannya di atas meja. Kemu dian ia meninggalkan ruangan dapur. Betapa keras desau an gin dan deburan laut malam ini.

  Ia selalu berusaha untuk tidak mendengar. Justru karenanya terdengar lebih keras dan menggelisahkan pikiran nya. Sekiranya suaminya ada di rum ah, sekalipun tidak selalu di dekatnya, ia taklcan sesunyi itu, sewas-was ini, dan sekeras itu deburan laut dan desau an gin terdengar.

  Sesampainya di dalam kamarnya sendiri ia letakkan nam pan di atas meja, juga pelita itu. Kemu dian sambil berdiri ia membuat sembah meng-ucap kan syukur pada Hyang W idhi karena tarian telah ia lakukan dengan baik tidak suka menarikannya. Isinya tak mempunyai sangkut- paut dengan kebesaran alam dan para dewa. Ia merasa rusuh sekarang ini setelah menarikannya.

  Ia lepas cundrik dari sanggul dan jatuhlah ram butnya terurai menutupi seluruh bahunya yang tertutup kain bahu itu.

  Ia telah melangkah hendak keluar untuk menggosok gigm ya dengan tepung arang. Tak jadi. Ia merasa lapar dan menan gguh kan niatnya. D ipilihnya sebuah pisang terbaik.

  Seekor kecuak temyata bertengger tanpa curiga pada ujung buah itu, mengatasinya dengan kumis panjangnya berayun-ayun seperti sedang menegur bagaiman a tarianmu semalam ini?

  D engan cundriknya Idayu menepak binatang ramah itu samp ai jatuh ke lantai dengan kumis dan beberap a di antara kakinya terpenggal.

  D an angin meniup kencang di luar, bersuling-suling di sela-sela genteng. Api pelita itu agak bergoyang. Idayu melihat ke atas. Tak ada sesuatu yang nampak kecuali langit-langit dari jajaran papan.

  D engan diam-diam ia kupas pisang dan mem akannya kemudian menaruh kulitnya di atas nampan di atas meja. Setelah itu ia pun minum dari gendi.

  Sekarang ia bergerak hendak keluar untuk menggosok gigi. Setelah itu, sebelum tidur, ia akan mem bacakan mantera untuk keselam atan suaminya. Tiba-tiba dirasainya kepalanya menjadi berat. Kekuatan dengan ccpat seakan tersedot keluar dari tubuhnya. Penglihatannya mu lai berayun dan suram. D engan langkah goyah ia berjalan menuju ke am bin. Ia rasai kepalanya menekan berat pada tubuhnya. Ia limbung. Cepat-cepat diraihnya am bin agar tidak terjatuh. Kakinya dirasainya tak kurang beratnya. D an lidahnya terasa tebal dan kaku, menolak untuk bergerak atau digerakkan.

  D engan tangan satu ia telah berpegangan pada ambin. Ia masih sempat mendengar cundriknya jatuh di lantai. Ia ingat pada pintu yang belum dipasak, dan ia tahu harus mem asaknya dulu. Ia tahu bagaimana pegangannya pada tepi ambin lepas tanpa semaunya sendiri. Ia merasa tubuhnya jatuh di lantai dan perasaannya berayun-ayun di awang-awang. Ia heran dan gugup, tetapi tak dapat berbuat sesuatu . Tubuhnya serasa bukan tubuhnya sendiri. D an ia terkapar di lantai. Seluruh kesedaran tersedot keluar dari badan . Yang tersisa hanya suatu kesuraman.

  Pada waktu itulah masuk Tholib Sungkar Az-Zubaid ke dalam kamar. Ia telah tidak berjubah lagj, tetapi bersarong dan berbaju kalong. Tarbus pun tiada pada kepala dan ton gkat tiada di tangan. D itutupnya pintu dan dipasaknya dari dalam. D iam bilnya pelita gantung dari atas meja dan disinarinya wajah Idayu yang terkapar di lantai, tertidur. D iu sap-usapnya pipi wanita itu. Pelita kemudian dijatuhkannya. Diangkatnya tubuh wanita itu dengan hati- hati dan dengan hati-hati pula digolekkannya di atas am bin….

  Keesokannya matari telah tinggi di langit setelah dengan susah-payah m enerobosi dasar laut Pintu kam ar gandok kiri itu masih juga belum terbuka. Di gando k kanan para nakhoda dan saudagar telah meninggalkan temp atnya masing-m asing untuk pergi ke kota atau mancal berpesiar. EM dapur kesyahbandaran N yi G ede Kati sudah sibuk mem asak.

  Idayu belum juga muncul.

  W aktu menara pelabuhan mengirimkan taluan canang ke semua mataangin, Idayu baru mem bukakan mata. Tubuhnya belum juga bergerak. Ia terbangun dari suatu impian aneh. D an ia mu lai mengingat-in gat impian itu. Ia menggeleng tak memp ercayai. Matanya dikocoknya. Menengok ke arah pintu. Ia ragu-ragu, tersentak dud uk. D ilihatn ya pasak pintu tidak terpasang. Juga tidak berdiri di tempatnya. Siapa gerangan telah mem indah kan dari tempatnya yang biasa?

  Ia terkejut waktu pikirannya menduga-duga baran gkali ada oran g masuk ke kamamya atau kah G aleng sudah pulang?

  Ia hendak melom pat turun. Tapi tubuhnya dirasainya sangat lemah. Pelan-pelan ia turun dari am bin. Kakinya tersentuh pada cundrik yang tergeletak di kolong. D ip ungutnya senjata tajam itu dan dimasukkan ke dalam sarongnya yang juga tergeletak di lantai.

  Ingatann ya dikerahkan untuk meraih waktu semalam sebelum tidur. Ia yakin semalam belum lagi naik ke atas am bin. Matanya terbeliak mendadak. D i tepian langit-langit dilihatnya serombongan semut berpawai menggotong kaki kecuak. Pelita gantung itu masih menyala tetapi tidak di tempat yang semestinya. D an ia masih dapat mengingat dalam impian: seseorang m engangkatn ya ke atas am bin dan hembusan nafasnya meniup pada m ukanya. Sayup-sayup ia dengar suara yang dikenalnya itu merayukan kata-kata cumbu pada kupingnya.

  Ia m emekik, tetapi tak ada suara keluar dari mu lutnya. Kekacauan merangsan g pikirannya. Ia melompat ke am bin. Selim utnya masih terlipat rapi di atas bantal. Tapi bantal itu sendiri tidak berada di tempat. Ia term angu- mangu. Apakah benar impin itu? Tuan Syahbandar Tuban Sayid Habibullah Almasawa?

  Ia terkejut, tersedar sedang dalam keadaan telanjang bulat. Tak mungkin! teriaknya dengan suara menggigil dalam hati. Pastilah mungkin semalam telah kulepas.

  Ia periksa tubuhnya, dan dirasainya ada bekas-bekas dari impian semalam. Ia terduduk lemas. Bersimpuh ia dan menelungkup pada tepian ambin dan terhisak-hisak: “D ewa Batara! Impian apakah yang kau berikan padaku ini?” Mendung bergulung berpusing-pusing dalam hatinya.

  “Mengapa kau jadi begini, N ak?” N yi G ede Kati menolongnya berdiri. “Kau sakit?” Ia berdiri sambil memungut kainnya yang terkapar di lantai dan mengenakan nya. D engan langkah lunglai ia pergi ke tempat m andi.

  Sehari itu ia tak makan. Juga tak bicara. D an sejak hari itu ia namp ak murung. Tetapi impian itu mem burunya terus. Ia menggigil, menyebut, menan gis, mem ohon, mem baca mantera….

  Tiga hari kemudian, tengah malam, ia mengh adap pada Hyang W idhi, mem ohon: “Kalau impian itu benar, duh G usti, apalah gunanya hidup yang kau berikan padaku ini? Ambillah dia kembali, G usti.”

  D an Hyang Widhi tidak mencabut hidup yang diberikan kepadanya. Pada hari yang ke sembilan ia ulangi menghadap. Juga

  Hyang Widhi tidak mencabutnya. Dan impian itu bukan menari, hampir selalu impian terkutuk itu datang melengkapi. D an tak ada seorang pun yang dapat diajaknya bicara tentang itu.

  Pernah ia menduga: di dalam kamar tinggal ini baran gkali ada juga gandarwa terkutuk. Ia telah taburkan tepung garam pada pojokan-pojokan dan telah ia pasang sesaji, ia pun telah bakar dupa dan setanggi. Tanpa hasil. Tetap juga Syahbandar Tuban Sayid Habibullah Almasawa datang berkunjung di dalam impiannya, dan mem bujuk, dan merayu, dan mem eluknya, tindakan demi tindakan samp ai seluruh percintaan selesai. Ia m asih saja dapat rasai sentuhan jenggo t, kumis dan cam bang-bauknya.

  D alam alam jaga pasti aku akan melawan, pikirnya. Mengapa dalam alam impian tak dapat?

  Ia pun ucapkan mantra-m antra penolak gand arwa sebagaimana pernah dipelajari dan dihafalnya. Juga tanpa daya.

  Pernah juga ia berpikir: mungkin semua ini pekerjaan Tuan Syahbandar yang mempunyai daya sihir unggu l. D an pikiran itu saja sudah mem bikin ia bergidik, merasa diri tak ada kemampuan melawannya kecuali bersandar pada perlindungan H yang W idhi.

  Pernah juga ia bertekad untuk meninggalkan kesyahbandaran dan pulang ke desa. Tetapi sang Adipati tidak pernah mengijinkannya dan ia tak berani mem persembahkan alasan.

  Ru panya belum lagi cukup tersiksa batinnya selam a ini: ia rasai tubuhnya sendiri mu lai berubah. Ia mengandun g. Sekali lagi diberanikannya hatinya menghadap Sang Adip ati. D an ini terjadi pada suatu sore di beranda belakang. Ia dudu k bersimp uh di lantai. Sang Adipati di

  “Kau pucat dan kurus, Idayu, Kamaratih Tuban. Ada apa gerangan, pujaan Tuban?” ”Ampun, G usti sesembah an patik, justru itulah sebabnya patik datan g m enghadap. Limpahkan kiranya ampun G usti

  Adip ati pada patik, karena patik berhalangan untuk m enari dalam beberapa bulan ini.” ”Ah-ya, Idayu, agaknya kami mengerti. Barangkali kau mengandu ng.” “D emikianlah adan ya, G usti sesembah an patik.” “Berbahagialah kau. Kata oran g tua-tu a, anak-anak berbahagia akan dilahirkan dari percintaan yang sejati. Berbahagialah anakmu itu kelak, Kamaratih T uban.”

  D alam dud uk menekuri lantai ia teringat pada suaminya yang belum juga pulang. D an ia ingat pada pesannya untuk mem bela diri. Ia bersedia mem bela diri dan temyata dalam impian tidak punya kemampuan. “Adakah lagi yang hendak kau persembahkan?”

  “Ampun, G usti, bila diperkenankan, patik memohon diperkenankan pulang ke desa Gusti.” Sang Adipati tertawa ramah dan tulus. ‘Tidak senangkah kau jadi istri punggawa maka minta pulang ke desa?” Ia bangkit mendekati penari kenamaan itu. W aktu tangannya telah samp ai pada kepala Idayu dan hendak mem belai ram butnya, segera ia menariknya kembali.

  “Jangan,” larangnya setelah dud uk kembali di am bin. “Suam imu belum juga pulang. Kalau kau perlukan seseoran g untuk mem bantu atau menem animu di rumah….”

  Pada waktu itu menteri-dalam Kadipaten datang bersembah , bahwa segala telah dipersiapkan untuk Idayu. “D engar, Idayu, seluruh Tuban dan kami sendiri sangat mengh argai segala yang telah kau pertunjukkan di hadap an kawula Tuban dan kami selam a ini. Kau sekarang mengandu ng. Lama takkan menari. Biar pun begitu kami tak berkenan mem biarkan kau pulang ke desa. Inilah hiburan untukmu, majulah Idayu, dan terimalah.” Idayu mengesot maju dan menerima bungkusan dari tangan Sang Adip ati.

  “D an sejak hari ini. Idayu, kami berkenan mengangkat kau dengan gelar N yi G ede,” kemudian pada menteri- dalam , “hendaknya dimasyhurkan anugerah gelar ini pada sore hari ini juga,” dan kembali pada Idayu, “pulanglah kau, N yi G ede, sejahtera untukmu !”

  Seseorang wanita mu da mengantarkan nya pulang. D an sejak itu ia m enjadi pem bantu dan teman sekam am ya. Anugerah gelar itu dibenarkan oleh seluruh Tuban. D an berita tidak resmi tidak kurang menariknya: Kamaratih

  Tuban mu lai mengandung. Para wanita tua mu lai sibuk menunggu kedatangan sang bayi hasil percintaan berpribadi semacam itu yang kelak akan jadi cerlang-cemerlang dengan kasih para dewa, akan menjadi kebanggaan seluruh negeri di kemudian hari.

  Orang tua-tua pun pada berbondong-bondong mengerum uni pintu gerbang kesyahbandaran. D an Pam an Marta, tukang kebon itu, meneruskan pesan dan sum bangan kepada Idayu.

  Sebaliknya Idayu semakin berkecil hati. Semakin hari ia semakin kurus dan merana. W ajah nya pucat kehijauan sehingga pembuluh darah nya seakan hendak keluar dari

  Ia jaran g keluar rumah, lebih banyak menggeletak di am bin, dengan tempolong menunggu di bawahnya untuk setiap waktu menerima segala apa yang dimuntahkannya dari mu lutnya. D an pembantunya dengan sabar memijiti tengkuk dan punggungnya tanpa mengu capkan sesuatu kata.

  D an bila malam telah larut dan wanita muda dari kadipaten itu telah terlelap di pojokan, mu lai teriakan- teriakan itu meraung dalam sanubarinya: Anak siapakah kau yang berada di bawah jantungku ini? Anak Kang G aleng. Bukan, dia anak tuan dalam impian itu. Bukan, dia anak Kang G aleng.

  Telah beratus, mungkin beribu kali ia mencoba meyakinkan diri sendiri: ”Kau anak Kang G aleng, N ak, anak Kang G aleng, tidak bisa lain. ” Sam bil mem belai perutnya yang semakin besar juga. “Tak ada gandarwa atau drubiksa bisa buntingkan manusia. N ak, kau dengar aku? Kau anak Kang G aleng.”

  N am un tetap ada suara lain melengking dengan nada tinggi memancar dari pedalaman hati. D an suara itu mengatasi yang lain-lain: Itu anak tuan Sayid, tuan Syahbandar. Jangan coba-coba bohongi diri sendiri. Anak Sayid! Sayid yang sakti mantraguna, Idayu! Tetap tak ada seorang pun dapat diajaknya bicara. Maka ia pun mem bisu tentangnya.

  N yi G ede Kati pernah menegum ya: “Banyak wanita tak bosan-bosannya memo hon untuk dikaruniai anak. Kau, Idayu, mengapa mu rung seperti tak rela mendapatkan karunia?”

  Ia semakin kurus juga dan ketenteraman batinnya tak juga pulih. Kadang-kadang ia rasai tangan-tangan maut mantra buatan sendiri: Tidak, ya Batara, jangan biarkan aku mati sebelum bertemu dengan suamiku. Hidupi aku, ya Batara, dan berikan pada kam i impian dulu dan selalu kam i poho nkan dulu kepada-Mu.

  Tak pernah ia merasa sedekat sekarang dengan Hyang W idhi. Batas antara hidup dan mati itu kini sunggu h- sunggu h telah kehilangan keseram an dan kesungguhan.

  D an: Ya, Batara, biarlah Kang G aleng tahu lebih dahulu anak ini anaknya atau bukan. Bila tidak, biarlah dia puaskan kerisnya pada dadaku sebagaimana telah jadi haknya, karena hidup tanpa kasih-sayang tiada kan ada gunanya..

  0o-d w-o0 Tengah hari kala itu. Terdengar Pam an Marta berseru- seru riang: ‘Tuan Syahbandar-m uda datang, N yi G ede!” Idayu merasai adanya kekuatan segar tiba-tiba merasuki seluruh oto t dan hatinya. Ia melomp at dari am bin, lupa pada kandu ngannya, berjalan cepat ke belakang, mandi, kembali lagi ke kamar dan bersolek secantik mu ngkin. D isenyum -senyum kannya bibir yang pasi itu pada cermin perunggu. D isisim ya ram butnya cepat-cepat, diminyakinya dan disisirinya lagi. D iam bilnya pakaian terbaik tenunan sendiri. Kemu dian dengan terburu-buru menggosok gigi dengan tepung aran g.

  Kang G aleng datang, hatinya ia paksa menyanyi keras untuk menindas lengking yang selalu menuduh pada tiap kesempatan itu.

  D udu klah ia kini di bangku seram bi kamar, menunggu suam inya mem asuki pelataran depan. Tam an bunga di depan kesyahbandaran itu kehilangan keindahann ya. W arna-warni bunga-bungaan tiada berarti lagi baginya. D an yang ditimggun ya belum juga kunjung mu ncul.

  “Benar, N yi G ede,” jawab Pam an Marta. “Sahaya sendiri sudah melihatnya. Biar sahaya tengok lagi di bandar.”

  Lelaki itu bergegas meninggalkan pelataran kesyahbandaran dan turun ke jalan besar. Mukanya berseri- seri berbahagia telah mendapat pertanyaan dari D ewi Cinta yang sedang merana itu. Tak lam a kemudian ia muncul lagi dan berdiri menekur di hadapan Idayu; “Orang bilang, N yi G ede, Bandara Syahbandar-muda langsun g naik ke kota.”

  N yi G ede Kati datang dan menegurnya: “Kau kelihatan berdarah, Idayu. Mengapa tak kau kenakan perhiasanmu ? Kau belum tahu bagaimana rindu suamimu terhadapm u?”

  “Bolehkah sahaya pergi, N yi G ede?” Pam an Marta minta diri. Idayu mengangguk dan tukang kebun itu pergi untuk meneruskan pekerjaannya. “Sejak kecil kam i bergaul tanpa perhiasan, N yi G ede.” “Sebaiknya kau kenakan, N ak.” “Mengapa dia tak langsung pulang?” Idayu bertanya dengan nada protes. “D ia pergi bukan untuk berpesiar, N ak. D ia harus mengh adap dulu. Itu kewajibannya.” Idayu masuk ke dalam kamar. Memang ada niat untuk mengenakan perhiasan dan berganti dengan pakaian karunia Sang Adipati, salah satu dari sekian banyak karunia yang telah diterimanya setelah kepergian suaminya. Suatu kekuatan mencegahnya. D an ia tetap dalam pakaian

  Sebelum matari tenggelam suami yang dirindukan itu nam pak mem asuki pelataran depan. Idayu berdiri menyam butnya di beranda. Kedua belah tangannya telah merasa hangat untuk segera dap at meraih seperti dulu sebelum lelaki itu jadi suaminya, dan mem bisikkan kata- kata cum bu.

  D arahnya m endadak mendidih dan semua kerindu annya buyar. Tholib Sungkar Az-Zubaid lari-lari kecil menuruni tangga kesyahbandaran dan mem anggil suaminya yang sedang berjalan m enuju padanya.

  G aleng berhenti, balik kanan jalan dan mem bungkuk pada Syahbandar, majikannya. Syahbandar Tuban mengangguk sambil tertawa. Ia tegakkan bongkok, melambai kemudian bertepuk-tepuk:

  “W ira, Ah, W ira!” D an W iranggaleng mengiringkannya masuk ke gedung utam a.

  “Semua orang mem ilikinya, kecuali aku,” Idayu mem protes. “Mari ke gedung utam a, Idayu,” N yi G ede Kati mengajak. Untuk petama kali ia bicara sengit pada wanita itu:

  “Tempat suamiku ada di sini, Ibu. Kalau dia tak mau pulang, biarlah tak mu ncul lagi.” “Cem buru kau, Idayu?” Idayu tersedan-sedan tercekik oleh kekecewaannya, tersedan-sedan untuk ke sekian kalinya selam a ini. Sia-sia

  N yi G ede Kati menghibumya.

  “Biar aku suruh pulang dia,” katanya, kemudian melangkah cepat-cepat ke gedung utam a. Idayu masuk ke dalam kamar, merebahkan diri ke ambin. Ia m enyesal telah mengasari N yi G ede Kati yang selam a itu begitu baik terhadapnya. Tak lama kemudian diketahuinya suaminya masuk. T erdengar olehnya suaran ya.

  “D ewiku! D ewiku! Kakangmu datang.” Semua penderitaannya ia rasai luluh cair. T etapi ia pura- pura tak dengar. Maka ia rasai tangan-tangan kuat suam inya mengangkat tubuhnya dari am bin, mendekapkan pada dadan ya yang bidang. Ia menan gis untuk ke sekian kalinya, tapi yang sekarang bukan tangis derita – tangis bahagia tanpa ukuran .

  “Kau kurus, Idayu, Kau terlalu banyak m enari.” “Ah, kau, Kang G aleng, berapa bulan aku harus tunggu kau. Semestinya kau sudah merasa, bukan hanya aku seorang yang merindukan, juga Kang, juga anak yang sudah mengintip di bawah jantung ini.”

  “Mengandu ng! Kau mengandun g, Idayu?” ia letakkan kembali istrinya ke atas ambin. Ia buka kain Idayu. Ia ciumi anak yang bersembunyi di balik kulit perut. D an suaranya mendesis gugup: “Aih, anakku! Anakku! Tiada aku sangka!” ia kagumi istrinya. “Mereka memuji-muji kau belaka, Idayu, mereka semua mem ohon untuk kesejahteraan dan keselam atan mu . D an anak ini juga. Mereka bilang, kau sedang mengandung. D an mereka bilang, kau sudah mendapat karunia gelar….”

  D an m alam datang dengan cepatnya. D unia m enjadi tenang. Hanya desau dan deburan ombak meningkahi suasana. Sebentar burung tuwuk melintasi malam, menyebarkan seruannya yang keras dan tunggal itu. Idayu tergolek di am bin. Matanya terpejam menikmati kedamaian dan kebahagiaan di samping suaminya yang sedang tergolek juga.

  Juara gulat itu sedang m engawasi sotoh dengan pandang menem busi masa silam dan masa yang baru saja dilewatinya. Oleh Sang Patih ia dipuji-puji sebagai seorang punggawa berbakat dan pasti akan mendapatkan tugas- tugas yang lebih berarti. Semu a pekerjaan nya dianggap berhasil. Ia sendiri tidak tahu di mana dan bagaiman a hasil pekerjaan nya itu. Sang Patih telah mem bawanya mengh adap Sang Adipati. Penguasa itu menitahkan pada Sang Patih untuk mengu ndurkan diri, kemudian sendiri berkata padanya: ‘Tidak salah pilihanku, kau, W iranggaleng, kau, anak desa…. cepat atau lambat kaulah orang yang akan mem anggil kembali kejayaan dan kebesaran masa silam untuk Tuban. Mu ngkin kau sendiri belum mengerti di mana pentingnya hasil pekerjaan mu sekali ini. Kelak kau akan mengerti juga. Kau tahu apa yang seharusnya kau ketahui. Itulah rah asia kekuatanmu . Kau ada kemam puan, hanya barangkali belum pernah terlalu rindu padamu. D an perlu kau ketahui, selam a ini ia sering menari di sini.’

  Ia berbesar hati karena semua pujian itu. Pujian dari Sang Patih dan Sang Adipati sendiri! Orang-orang yang begitu berkuasa! D an ia berjanji pada diri sendiri untuk menyediakan waktu guna mem ahami di mana hasil pekerjaan nya di Jepara dan D emak selam a ini.

  “Kau tak juga bercerita, Kang,” tegur istrinya. “Terlampau lama kutinggalkan kau, Idayu. Tak bisa lain. ” “Sekarang kau sudah begini dekat, Kang, dan kau belum

  “Aku rindu , Idayu. Kau rindu juga?” dan Idayu tak menjawab. “Mengapa kau diam saja? Marah?” “Aku selalu ketakutan, Kang.” “Aku tahu apa yang kau takutkan,” Wiranggaleng mem bayangkan Sang Adipati dan Syahbandar Tuban. “Tetapi aku tahu juga kau akan membela diri dan pandai melakukan itu.”

  Idayu merangkulnya. Suaranya gemetar: “D i tanganku ada cundrik, Kang,” ia menguatkan rangkulannya. “Tangan ini tiada kuasa, layu-lesu tanpa daya. Karena, Kang, dia datang dalam impian.”

  “D an kata orang tua-tu a,” W iranggaleng meneruskan, ”jangan berbuat dosa, sekalipun dalam impian’ Kau masih ingat itu, Idayu?”

  “D ia justru datang dalam impian, Kang, dan tak ada cundrik di tanganku.” “Kau sedang bercericau, Idayu! Bicaramu begini aneh,” dan digoyang-goyangkannya tubuh istrinya. “Apa maksudm u?”

  Berceritalah Idayu tentang pengalaman mimpi yang berulang terjadi hampir pada setiap ia pulang dari menari. D an W iranggaleng mendengarkan cermat-cerm at sebagaimana biasa ia dengarkan setiap kata dari kekasihnya.

  Penutup cerita adalah pertanyaan: “Bagaimana, Kang, sekiran ya impian itu benar?” “Im pian tinggallah impian.” “D an anak di bawah jantung ini. Kang, kan bukan anakm u?”

  “Maka, Kang, maka akan kau hunus keris, kelak. bila si anak lahir, dan akan kau tikam kekasihmu ini. Kau akan tarik sebilah pedang dan kau cincang si bayi yang tertidur di samp ing bangkai ibunya. Kemu dian kau akan lari, lari, lari entah ke m ana, mem bawa dendam dan kesakitan di dalam hati. Tetapi tak ada temp at di mana kau akan pernah samp ai. karena ingatanmu selahi akan kembali pada kekasih yang lelah kauhatra dengan keris sendiri….”

  “Kau semakin aneh, Idayu. D iam, diam lah. Impian tinggal impian, kenyataan tetap kenyataan. Tidurlah. Atau haruskah kunyanyikan lagi kau ini seperti dah ulu di ladang?”

  Idayu terdiam tak bicara lagi. Kembali ia mengukuhkan: ran gkulannya pada dad a suaminya. D an dad a yang bidang itu m elindun ginya dari kegelisahan dan ketakutan.

  D an W iranggaleng mem biarkan nya. Angan Syahbandar- mu da itu kini sibuk menggalang gam baran hari depan yang penuh dengan kebesaran, kejayaan dan kemegahan. Semua dimu lai dengan cipta, kata Rama during. Semua itu tak bakal ada tan pa cita. D an puji-pujian sebentar tadi mu ngkin pertanda ada dayacipta di dalam jiwanya. Apakah cipta? G uru-gu runya dulu belum pernah ada yang mengajarkan. Ia tak tahu . Ia berusaha meyakinkan diri, ia mengerti apa yang dikehendaki Sang Adipati dan Sang Patih atas dirinya: kepatuhan pada perintah dan menjalankan dengan sebaik- baiknya tanp a mengindahkan soal-soal selebihnya. D an inilah rupa-rupa jalan untuk mem anggil kembali kebesaran dan kejayaan masa silam . Bukankah tidak lain dari Sang Adip ati sendiri yang mengatakan: tak ada kebesaran dan kejayaan dap at dipan ggil pada guagarba haridepan tanpa restu seorang raja? Benar. Semua benar. D an terpampang di hadapannya kini haridepan yang gilang-gemilang itu: menjelajahi semua samudra dan mengu asai pulau-pulau…. Semua akan terjadi karena jasa-nya, jasa W iranggaleng. D emak dan Jepara tidak bakal bisa menandingi Tuban. Mereka di barat sana tak tahu apa makna mem anggil kembali kebesaran dan kejayaan Majapahit pada guagarba haridepan. Mereka tak tahu!

  D alam suasana hati yang naik semangat itu ia mengu capkan terimakasih pada mendiang Rama Cluring dan semu a guru-pembicaraan yang pernah didengamya.

  Seakan mengerti apa yang sedang menggelegak dalam hati suaminya, Idayu berbisik lembut: “N amp aknya desa kita makin lama makin jauh dari langkahm u, Kang. Rasa- rasan ya kita takkan sampai-samp ai juga ke sana. ”

  “Sam pai,” bisik juara gulat itu. “G ubuk kita tak juga kan berdiri di pinggir hutan itu,

  Kang. Ayam jantan yang seekor itu terasa bisu tiada kan berkeruyuk untuk selam a-lam anya. D an anjing-an jing kita takkan bisa jadi cerdik, juga untuk selama-lamanya.”

  “Bisa.” “Atap ilalang itu tak juga kau ganti dengan injuk. Kau tak juga bermaksud ke hutan menyadap enau dan mem bawa pulang injuknya yang hi tarn kelam pilihan itu.”

  W iranggaleng tertawa dan ditariknya kuping is trinya: “Makin tua kau m akin cerewet.”

  D an Idayu tetap mem eluk suam inya, menekankan kuping pada dadan ya agar tak mendengar desau angin dan deburan laut.

  Melihat istrinya telah tidur dalam kedamaian dan kenyenyakan, ia membiarkan angannya lepas bebas tanpa batas.

  Apa kata Rama Cluring? ‘Aku bicara tidak tentang kematian, tetapi tentang kehidupan yang bercipta dan mencipta. Aku tak bicara tentang kematian, karena tanpa dibicarakan pun dia akan datang tepat pada waktunya’. Mengapa Idayu lebih suka bicara tentang kematian? Tidak betul. Keliru! Yang benar adalah hidup, kehidupan dan geloranya, dipimpin oleh cipta dan dimeriahkan oleh kerya mencipta.

  Pagi-pagi benar Idayu sudah mem ulai dengan kata- katanya yang aneh. Ia tudingkan dagunya ke arah jendela rumah utama. Suamin ya mengikuti arah tudingan nya, dan dilihatnya pada jendela itu sebagian dari mu ka Syahbandar Tuban.

  “Kau lihat sendiri sekarang bagaimana dia selalu mengintip kesini disiang hari. Kadang-kadang beberapa kali. D an dia datang kemari dalam impian di waktu malam.”

  “D iam, Idayu. Kau terganggu karena kandunganmu.” W iranggaleng dapat menangkap kilat pada mata Thotib

  Sungkai Az-Zubaid. Ia tercenung. Barangkali keluhan dan cerita istrinya bukan tidak punya dasar.

  N am un ia tetap tidak m enanggapi.

  0o-d w-o0

  D uta Tuban yang mengh adap Sultan D emak telah kembali dengan mem bawa serta Raden Kusnan, salah seorang putra Sang Adipati.

  Beberapa minggu setelah itu pasukan laut Tuban naik ke derm aga, sebuah jalur karan g yang m enjorok ke laut. Lima ratus prajurit laut akan berangkat meninggalkan Tuban. D an genderang ramai bertalu ditingkah oleh bunyi kenong.

  Prajurit-prajurit itu telah menjalani latih an ulangan selam a tiga bulan. D ari seluruh negeri orang datang untuk mengu ntapkan para prajurit yang hendak berangkat berlayar. Juga untuk mengagumi kapal-kapal baru yang habis diturunkan dari galangan. D an memang tak pernah selam a kekuasaan Adip ati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta terjadi pemberangkatan pasukan laut sebanyak sekaran g.

  Tahun 1513 Masehi. G ugusan pasukan laut Tuban akan dipimpin oleh Raden

  Kusnan. Wiranggaleng dengan resmi telah diangkat jadi pembantu-utamanya. Sang Adip ati sendiri yang melantik beberapa hari yang lalu. D an tujuan gugusan ini: Jepara. Tujuan yang banyak menimbulkan teka-teki, karena nam paknya Sang Adipati mengirimkan mereka tidak dengan tujuan merebut kembali bandar terbarat milik Tuban itu.

  Sebelum layar-layar dikembangkan Sang Adipati menjatuhkan titah kepada putranya: “Kau, Raden Kusnan, kami percayakan gugu san pasukan laut Tuban ini. Beran gkat kau samp ai ke Jepara. Jangan tidak, bergabung kau dengan armada Jepara. Kau sendiri lebih tahu tentang apa yang harus kau perbuat. Setelah bergabung kau berada di bawah perintah G usti Adipati Unus Jepara, yang akan bertindak sebagai laksamana. Kerjakan kewajibanmu dengan baik. Semoga sejahtera selalu kau, kapal-kapalmu dan anak-buahm u.”

  Layar-layar pun menggelembung dan lima buah cetbang bikinan Trantang. Jurusan: barat. Angin cukup baik. Pendayung-pendayung pembantu untuk memperlaju pelayaran tidak dipergunakan.

  D ari kapal dan dari darat sorak-sorai bcrgema bersambut-sam butan. Makin jauh kapal-kapal dari darat sorak-sorai berganti dengan lambaian umbul-um bul dan selendang dan tangan.

  Makin jauh lagi, um bul-um bul dan selendang digantikan oleh doa. Makin jauh dan makin jauh. D an gugu san itu berpisahan dengan alam dan manusia Tuban.

  Para prajurit dan awak kapal berseri-seri. Sekaranglah baru mereka menem puh jarak jauh. Pendongeng mu lai mem buka cerita dan membentuk lingkaran pendengar di atas geladak D alam lingkaran yang lebih kecil oran g mu lai merentangkan pendapatnya ten tang sesuatu hal tertentu.

  Pada hari pertam a itu Wiranggaleng lebih ban yak berjalan mo ndar-mandir di geladak untuk menyesuaikan diri dengan kehidup annya yang baru. Juga ia sedang menimbang-nimban g diri apakah bakal mabuk laut atau tidak. Sudah dua kali ia naik kapal, dan selalu merasa tidak enak badan . Sebagai pembantu utama kepala gugusan ia akan jatuh harga bila sampai mabuk laut. D an dengan terus berjalan mo ndar-mandir begini ia harap akan mendapatkan daya-tahan yang mencukupi

  Tetapi penghormatan yang berlebihan itu mem bikin ia menjadi kikuk. Ia merasa risi mendapat perhatian oran g. D an ia tahu ia lebih diperhatikan daripada Raden Kusnan. Mem ang sudah menjadi kebiasaan penduduk Tuban lebih mem perhatikan pejabat yang berasal dari orang kebanyakan. Anak ningrat, apalagi putra Sang Adipati, bukanlah suatu keluarbiasaan bila mendudu ki jabatan pen ting. Tetapi anak desa, hanya karena keist ime waan saja bisa m eningkat ke atas.

  Ya, la merasa canggu ng. N amu n ia tahu, ia hams beiusaha meninggalkan kesan, tak ada maksud padanya untuk meniru-niru tingkah pembesar ningrat. Ia jawab pandang mata bawahann ya dengan senyum ram ah. Ia dekati mereka dan dengarkan kata-kata m ereka dengan per- hatian. Ia tanyai mereka yang nampak mu rung. Ia ajak bicara mereka yang nampak term enung-m enung mengenan gkan yang tertinggal di rum ah. Ia berusaha menjadi sahabat untuk semua mereka, seorang sahabat yang m emperhatikan.

  Pand ang kagum yang tertuju padanya menyehabkan ia merasa malu pada dirinya sendiri. Ia m enyadari, diri belum layak mem ikul tugas setinggi itu. Sudah sejak menjabat jadi Syahbandar-m uda selalu saja orang menyuguhkan pandang kagum seperti itu. D an sebagai Syahbandar-muda ia pun masih belum mengerti benar apa ia harus kerjakan. D an sebagai pengawas galangan kapal di G londong ia lebih banyak mo ndar-mandir daripada melakukan pengawasan. Apa pula yang harus ia awasi? Ia tak tahu sesuatu tentang pembikinan kapal! D an sekarang ia jadi pemimpin-muda gugu san pasukan laut! Berenang pun ia tak bisa.

  D ari penungguan pada jatuhnya hukuman jadi pengimpi kebesaran untuk Tuban m erupakan riwayat pergolakan jiwa yang panjang dalam waktu yang sangat pendek. D ua- duanya terns juga jalin-menjalin, pilin-berpilin dalam hatinya. Ia selalu berada dalam keadaan was-was dan waspada.

  Ia m ulai m endapat ketenteram annya waktu m atari sudah tenggelam dan malam mu lai datang mem eluk alam. Ufuk barat di kaki langit Sana tinggal sembirat merah dan layar dan tiang-tiangnya, pada semua oran g yang mo ndar- mandir di geladak. D an langit di timur dijambuinya. Ia sendiri teringat pada rumah yang ditinggalkannya, pada Idayu, pada G elar, si anak itu.

  Ia berjalan lambat-lambat ke haluan. Seoran g prajurit yang sedang mencangkung pada lambung kapal terdengar olehnya berkata pada temannya: “Sekiranya G usti Adipati tidak berputra, pastilah Syahbandarmu da Wiranggaleng yang m emimpin gugusan kita ini.” Uh, sanjungan, sanjungan belaka, pikir juara gulat itu.

  Semua pejabat berasal dari desa rupanya selalu disanjung- sanjung. D an setiap sanjungan I dirasainya melekat-liat menganggap perasaann ya dan kebebasannya bergerak. Setiap sanjungan selalu diikuti pertanyaan pada diri sendiri: Tidakkah langkahku selanjutnya takkan menimbulkan kekecewaan dalam hati mereka? Mau-tak-mau ia terpaksa lebih berhati-hati menjaga setiap langkahnya. Karena: pejabat dari desa setiap waktu bisa terbanting ke tanah.

  Pada malam pertam a itu ia mendap at tugas melakukan pengawasan keliling, di geladak atas dan tengah dan bawah, di lambung, haluan dan buritan. Sengaja ia lepas tanda pangkat dan jabatan dan berpakaian sebagai prajurit biasa.

  D i buritan ia dap atkan beberapa orang sedang duduk merenung dan ia m endekat. Mereka tak m engenalnya. D i antara desauan angin dan gelepar layar didengam ya salah seorang di antaranya menyebut-nyebut nam anya. Ia menundu k menyembunyikan mu ka dan mendengarkan dengan diam-diam.

  “Ingat kalian pada pesta perkawinannya dulu? Orang bilang, aku tidak lihat sendiri, kedua oran g mempelai itu terjatuh dari tandu pengantin. Coba, mempelai terjatuh dari

  “Ya, oran g-orang pada terkejut kehilangan semangat, takut pada murka para dewa. Aku juga. Tak ada yang mem bantu mereka. W iranggaleng dan Idayu merangkak bangun dari tanah. Mereka berdiri sendiri, berjalan dengan prihatin ke arah Sela Baginda.”

  “Ru pa-rupanya itulah alamat buruk yang sedang menimpa diri mereka berdua. Kasihan . Betapa menderita W iranggaleng. Siapa pun tahu di balik senyum dan keram ahan nya: batin yang teraniaya di bawah timbunan batu.”

  “Betul, siapa pun tahu,” yang lain meneruskan. “Orang bilang tak mu ngkin Idayu mau dengan sukarela. Bahkan Sang Adipati pun ditolaknya dengan menentang maut. D ia sunggu h-sungguh menrintai juara gulat itu. Maka, mana mu ngkin Idayu bisa menerima burung aneh dari Espanya itu?”

  “Siapa tahu G uti Adipati sendiri yang mem aksanya untuk menerima dia, gandarwa Ulasawa itu?” “Mem ang Syahbandar keparat itu terlalu dimanjakan oleh Sang Adipati,” seorang lain menggaram i. “Manusia terkutuk!”

  “Kalau N yi G ede Idayu berani menan tang maut menolak G ush Adip ati, tak mungkin dia mau menerima Sayid Ulasawa, sekalipun atas paksaan G usti Adipati. D ia akan tetap mem ilih maut. Lagi pula apa sesungguhnya kepentingan G usti Adipati? Ia sendiri mem berahikannya.”

  “Lagi pula mengapa G usti Adipati tak juga mangkat? Sudah setua itu. Makin lama makin habislah gadis-gadis cantik kita.”

  Orang-orang itu terdiam. Masing-m asing mem antulkan perasaann ya masing-masing, iba pada Wiranggaleng dan istrinya, tak puas pada rajanya sendiri, dan jengkel terhadap Syahbandar Tuban.

  “Kabamya Syahbandar-m uda itu jaran g pulang,” seseoran g m emulai lagi. “D apat dipahami. Coba, bagaimana perasaan hatinya – lelah, pulang ke rum ah, dan lagi-lagi melihat bayi yang itu- itu juga. Jelas-jelas seperti Sayid Ulasawa.”

  “Mengapa tak dibunuhnya saja Syahbandar keparat itu?” “Tak perlu dia sendiri. Siapa pun beisedia melakukan itu. Celakanya dia dilindu ngi oleh Sang Adipati. Kalau tidak, sudah lama dia lumat di bawah pedang anak-anak Tuban. Orang semacam itu tidak patut terkena keris. Pedang pun mu ngkin terlalu mulia. Sebaiknya hanya parang dapur.”

  “W iranggaleng sendiri yang sepatutnya melakukannya.” “Justru dia yang melaran g anak-anak Tuban melakukannya kalau ia sendiri tidak mu ngkin. Dia bilang,

  ‘jangan’. Anak-anak Tuban bertanya, ‘m engapa jangan ? itu bertentangan dengan adat Tuban’. Aku sendiri ikut waktu itu, jadi tahu sesungguhnya duduk perkaranya. Ia bilang, ‘Sang Adipati menitahkan, jiwa Syahbandar Tuban harus dijaga, dia dibutuhkan oleh Tuban’”.

  “Jadi cerita itu bukan om ong kosong?” “Tidak, aku sendiri menyaksikan.” “Ah.” “Co ba, Kamaratih Tuban diperlakukan seperti itu. Siapa tidak meluap? Orang asing pula. D engan cara yang kurangajar pula.”

  “Kata orang begini ceritanya. Cerita itu berasal dari kesyahbandaran. katanya berasal dari N yi G ede Kati. Idayu Ulasa wa. Katanya Syahbandar keparat itu menggunakan obat bius setiap Idayu habis menari dari kadipaten.” W iranggaleng berdiri dari duduknya, pergi mengh indar bercepat-cepat. Ia masih sempat dengar orang berseru pelan: “Celaka! Bukankah itu W iranggaleng sendiri?”

  D an sekarang pemimpin-muda gugu san itu berdiri seorang diri di haluan. Berdiam diri ia mencangkung melihat lunas kapal menyibak ombak dan jutaan pasir cahaya menyemburat di sekitar lunas. Sekian ia teringat pada cerita Rama Cluring tentang lunas kapal-kapal Majapahit.

  D an kapalnya terus melindas dan menerjang om bak dan kembali jutaan pasir cahaya bersemburan. Ia m erasa seolah setiap deburan om bak yang mengh antam lambung kanan sebagai degupan jantungnya sendiri. Lama kelam aan perhatiannya pada tingkah sang ombak semakin tump ul. Angannya mengem bara melintasi malam mengunjungi masa yang baru silam. Berap a lama sudah silam? Tidak lebih dari setengah tahun yang lampau….

  0o-d w-o0 Ia rasakan betapa lama Idayu pergi tetirah ke Awis

  Kram bil dengan N yi G ede Kati. Sang Adipati telah meluluskan permohonan agar istrinya melahirkan di desa. Juga Sang Adipati sendiri yang menitahkan serombongan orang untuk menandu pujaan T uban yang akan m elahirkan itu. Tak boleh ada satu cedera pun menimpa diri penari ulung ini titahnya. Tak boleh kulim ya lecet baran g seujung jari pun. Hukum an berat akan menimpa kepala si pelanggar.’

  D an berangkat iring-iringan itu meninggalkan Tuban.

  Lam a benar rasanya, dan mereka belum juga kembali. Ia sendiri tak mungkin berkunjung ke desa. Kemu dian datanglah sore itu. Ia sedang dud uk seorang diri di dalam kamar. Ia lihat Idayu berjalan mengendap- endap mendekati seram bi. Perutnya telah kempes. Jelas ia sudah melahirkan. Tubuhnya ramping kurus, dan dad anya gembung bcrisi. Ia melom pat untuk mengelu-elukan.

  D an ia terkejut melihat istrinya berkalung melati tiga lingkar: tanda seorang istri yang menyerahkan nyawa pada suam i untuk dibunuh.

  Idayu namp ak ragu-ragu mem asuki kamar. la pura-pura tak m elihat kalung melati itu. “Mengapa kau, Idayu? Kau begitu pucat!” Ia lihat Idayu memandangnya begitu sayu. W aktu ditolongnya wanita itu naik ke rumah, dirasainya gigilan pada badan istrinya.

  Begitu sampai di amban g pintu ia tarik putus kalung melati itu dan ia lemp arkan ke pelataran. “Kau sakit.” “Tidakl” jawab Idayu tegas tetapi menggigil.

  “Mana anakku?” Idayu menatap mata suaminya, tapi ia tak menjawab. W iranggaleng merasa mau mem ekikkan tanya: matikah anakku? Ia digilakan oleh kekuatiran. “Anakmu belum lahir, Kang.” “Kau sudah melahirkan, Idayu. ”

  “Ya, Kang. Yang lahir bukan anakmu , hanya anakku,” jawab Idayu dengan suara ditabah-tabahkan, namun masih juga terdengar gigilan di dalamn ya.

  “Jangan aneh-anah,” dan ditolongnya istrinya masuk ke dalam kamar. “Kau lelah dari perjalanan sejauh itu, pucat Mana anakmu ?”

  “Anakku, Kang, bukan anakm u, masih di belakang digendong N yi G ede Kati.” “Beristirah atlah kau, tidurlah,” perintahnya dan siap lari untuk menjemput anaknya. Idayu mencegah, mem egangi tangan dan berkata terbata- bata: “Jangan, jangan jemput anak yang bukan anakmu itu,” tegahnya, “dengarkan dulu kata-kataku.”

  Ia dud uk dan dengan isyarat mem aksa istrinya duduk pula. W ajah Idayu yang pucat itu kelihatan mem ohon am at sangat dan bersungguh-sungguh. “Ingatkah kau dulu, Kang, waktu kuceritakan padamu tentang impianku… dan angan ku, dan cundrikku yang tiada berdaya? D alam impian. D ia datan g dalam impian… Tuan Syahbandar Sayid Habibullah At masawa, Kang.”

  Ia mengangkat pandang menatap suaminya yang masih juga terheran-heran. “Kau diam saja, Kang. Kepala anakku itu sama dengan kepala Tuan Syahbandar, tipis gepeng, hidung juga bengkung. Tak ada kesam aan denganmu, Kang. Ampuni aku, Kang, Kang, Kang—”

  Ia terdiam dan terengah-engah. D iam bilnya cundrik dari balik kemban. Ia pegang tangkai senjata itu. D engan sekali tangannya dan kini mata senjata itu yang dipegangnya. Tangkainya ia ulurkan pada suaminya. Kata-katanya kini menjadi lemah, menggigil lebih keras ham pir-hampir tak nyata: “D engan cundrikku sendiri ini, Kang, cundrik pemberianmu , bunuhlah istrimu yang tidak setia ini. D ia telah menerima seorang lelaki lain dalam impiannya.” “D ayu!” pekik W iranggaleng.

  “… hanya pesanku, Kang, jangan bunuh bayi itu. Serahknn dia pada bapaknya, Tuan Sayid. Aku sudah bilang begitu juga pada N yi G ede Kali. Sudah, Kang… am punilah aku… istrimu yang tidak setia…”

  “Mengapa kau ini, D ayu?” Tangan Idayu yang gemetar itu masih mem egangi mata cundrik dan tangkainya masih juga diulurkan pada suam inya.

  “Habis sudah kata-kataku, Kang. Ah, Kang G aleng….” Mengerti bahwa istrinya mengh endaki agar ia mem bunuhnya, dengan cepat ia kisarkan ujung cundrik waktu Idayu menubrukkan senjata itu pada dirinya sendiri. Ia lemparkan keris kecil itu dan dirangkulnya istrinya.

  “Idayu, Idayu, adik si Kakang.” “Apa guna kau tangguhkan, Kang? Kalau kau mengerti betul dud uk-perkaran ya, yang ini juga yang akan terjadi,” suara Idayu tak lagi menggigil. “Telah kukumpulkan seluruh keberanianku dan ketabahanku untuk mengh adapi saat ini. Kau menan gguh kan, Kang, kau, Kang?” suaranya merendah dan kata-katanya semakin cepat dan tidak jelas.

  “Tidur. Tidur. Kau lelah, Idayu.” ‘Tidak!”

  “Betapa menderita kau karena impian itu,” ia angkat istrinya dan ditidurkan di atas am bin. Tariklah nafas panjang-panjang sebagaimana diajarkan dulu di desa kalau hati sedan g tidak tenang.”

  Kelibat bayang-bayang menyebabkan W iranggaleng menengok ke arah pintu. D ilihatnya di seram bi N yi G ede Kati mengendap-endap mendekati pintu kamar. Pada tangannya tergendong bayi dalam bungkusan.

  “Itukah anaknya? Bawa masuk sini, Ibu.” “Jangan, W ira, jangan bunuh anak ini.” “Mengapa mesti kubunuh? Masuklah,” ia berjalan keluar.

  N yi G ede Kati nam pak waspada. “Jangan, W ira, bayi ini sekarang anakku. Aku datang untuk mengantarkan nya untuk m elihat ibunya.” “Mengapa hanya m elihat?” “… melihat ibunya untuk penghabisan kali.” “Mengapa hanya untuk penghabisan kali?” “Barangkali susunya m asih sempat diisapnya.”

  0o-d w-o0 “W iral” seseoran g berteriak.

  W iranggaleng terbangun dari kenangann ya. Ia berjalan melintasi geladak ke jurusan datangnya suara. Raden Kusnan telah berdiri di hadap annya dengan bertolak- pinggang.

  “Tahukah oran g-orang ini ke mana tujuan kita?”

  “Malaka, G usti,” jawabnya sam bil menyembah . “Bedebah! D ari mana mereka tahu?” “Seluruh Jawa rasa-rasanya sudah tahu semua, G usti.” “Seluruh Jawa! Jadi seluruh Jawa sedang menyaksikan bagaimana kita akan berperang. Kau tahu apa artinya itu,

  W ira?” “Patik, G usti.” “Pernah kau berperang, Wira?” “Belum, G usti.” “Apalagi perang laut.” “Apalagi perang laut, G usti.” “Kita akan sama-sama mengalami, Wira, kami dan kau.” D ari kata-katanya itu W iranggaleng tahu, Raden Kusnan pun belum pernah berpengalaman perang, apa lagi perang laut. Tetapi ia tak m enanggapi.

  G ugusan T uban terus berlayar tanpa sesuatu halangan. Pada suatu senja sampailah gugu san itu di bandar

  Jepara. Semua prajurit berderet di atas geladak kapal masing-m asing untuk melihat Jepara yang beberapa tahu n belakangan ini tak pernah mereka singgahi lagi. Orang terdiam terlongo k-longok. Semestinya mereka datang ke man untuk menyerbu dan mengambil kembali untuk jadi milik Tuban.

  Tetapi pelabuhan itu kosong. Hanya perahu-perahu nelayan sedang meninggalkan pantai yang dan gkal itu dan beberapa kapal dagang berlabuh di muara kali W iso.

  D engan diantarkan oleh pembantu-utamanya Raden Kusnan mendarat dan berjalan tergesa-gesa ke kadipaten Jepara. Di sana tak ada mereka jum pai Adipati Unus Jepara. Yang ada justru abang Raden Kusnan sendiri: Ki Aji Kalijaga.

  W iranggaleng melihat bagaiman a Ki Aji mengeluarkan tangan kanan dari balik kain batik penutup dad a. D an terdengar suaranya, tenang, terang, kata demi kata: “Buyung! Mengapa Tuban lim a hari terlambat datang?”

  D alam simpuhnya Raden Kusnan menjawab:”Ampun, Kakanda Aji, pun yang menentukan keberangkatan bukanlah patik Tidak lain dari ayahanda sendiri G usti Adipati Tuban.” Ki Aji m emasukkan kembali tangannya ke balik kainnya.

  “Itu tidak patut,” katanya pelahan . “Biarpun seorang ayah, seorang adipati, orang tak patut mem bikin malu anaknya. ”

  “Apakah yang patik harus perbuat sekarang, Kakanda?” “Susul Laksamana Adipati Unus Jepara. Ayahmu telah mem alukan kita semua. Kau jangan bikin malu kakandamu.”

  Ki Aji Kalijaga mem balikkan badan dan berjalan tenang masuk ke dalam kadipaten. Raden Kusnan dan W iranggaleng kembali bergegas ke kapal. D engan mu ka pucat ia perintahkan mem beri isyarat pada semua kapal untuk mengangkat sauh dan mengem bangkan layar. Ia perintahkan mengerahkan semua dayun g.

  “W ira!” teriaknya memanggil pembantu-utamanya

  D alam kamamya yang sempit juara gulat itu melihat wajah Raden Kusnan telah kehilangan kepucatannya, kini merah-hitam dibakar oleh kemarahan.

  “Aku percayakan padamu, tak boleh ada orang tahu tentang keterlam batan Tuban yang disengaja ini. Lim a hari! Terlambat lima hari!”

  “Mereka semua sudah tahu, G usti.” “Bedebah! Bagaimana mereka bisa tahu?” “Mereka tak melihat armada Jepara.” “Mereka harus percaya, armada Jepara ada dekat di depan kita. Mengerti?” “Mereka pelaut-pelaut yang mengerti tentang laut dan kapal, G usti.” “Aku tak percaya m ereka tahu.” “Ya, G usti, mengapa G usti berkata dem ikian? Bukankah semua mereka kawula G usti sendiri? Bukankah mereka bukan gerombolan kambing bodoh yang tidak tahu apa-apa, G usti, tapi kawula G usti sendiri?

  Raden Kusnan berjalan berputar-putar di dalam ruangan kamamya yang sempit. Berkali-kali tinju kanannya dipukulkannya pada telapak tan gan kirinya.

  “Mem alukan,” gumamnya. “D i mana harus kusembunyikan m ukaku ini?” “Perang akan m enghapuskannya, G usti.” “Ya-ya, perang, ” ia berhenti berputar-putar.

  W iranggaleng pergi ke geladak dan mencoba beramah- tam ah dengan para prajurit dan awak kapal. Mereka semua bertanya mengapa Tuban terlambat. D an mereka semua tahu belaka akan keterlam batan itu sekalipun tak tahu tepat berapa hari.

  Ia hanya dap at menjawab: “Hanya ada satu jalan dapat ditempuh. Laju, lebih laju.” Seseorang menyeletuk: “Kita belum lagi membikin perhitungan dengan Jepara, Wira. Belum. Mestinya kita mendarat, dan.,..”

  “Husy!” Ia buru-buru lari meninggalkan geladak, turun ke bawah dan melihat pelaksanaan pendayungan. Prajurit-prajurit itu mendayung setengah mati bergantian dalam ruangan bawah yang panas dan lembab, berbau keringat dari badan mereka sendiri. Laju, lebih laju adalah perintah. Tetapi pelayaran mem antai itu bukan pekerjaan mudah untuk kapal-perang yang berbadan berat dan kaku itu. Apa lagi angin kebetulan reda. D an dayung dua sap itu berkayuh seperti gila untuk m engejar ketinggalan.

  W aktu angin bertiup dengan baik, pendayun g-pendayung tetap dikerahkan. Permu kaan laut terasa berat diluncuri. Angin tetap terasa kuran g, sangat kuran g.

  D alam beberapa hari mengejar armada Jepara tak juga nam pak di hadapan mereka. Keleluasaan laut itu sepi, sepi samp ai jauh-jauh di ufuk barat sana.

  G ugusan Tuban terus belayar, tak ada petunjuk, tak tahu di bandar mana harus singgah. Bahan makanan dan air mu lai susut, dan mereka tak tahu di bandar mana boleh mendapatkan. G ugusan itu berlayar siang dan malam dan terus mengejar yang tiada terkejar. Sekali waktu terpaksa singgah di sebuah bandar kecil temyata tak ada ditinggalkan petunjuk untuk mereka, dan gugusan terpaksa meneruskan perjalanan dengan persediaan bahan makanan yang semakin tipis.

  D alam keadaan terpaksa gugu san Tuban mem asuki bandar Banten. Seluruh prajurit dan awak kapal lelah dan cepat menjadi bengkeng. Perkelahian sering terjadi karena soal-soal kecil. D an Raden Kusnan berkurung diri terus dalam biliknya.

  Syahbandar Banten, seorang Koja, mem bawa Raden Kusnan dan pembantu-utam anya pergi ke kesyahbandaran yang terbuat juga dari batu, tetapi tidak sebesar dan seindah kesyahbandaran Tuban. Mereka dijamu dan mendap at keteran gan, Laksamana Adipati Unus Jepara telah meninggalkan pesan untuk gugu san Tuban. D an pesan itu akan disamp aikan sendiri oleh seorang perwira armada yang untuk keperluan itu m emang ditinggalkan di Banten.

  Syahbandar Banten menyilakan mereka beristirahat. Ia sendiri akan menjemput perwira arm ada Jepara. D an tengah m alam ia datang lagi beserta oran g yang dicarinya.

  “Anak sangat terlambat, ” tegur Aji Usup. “Sahaya telah kerahkan pendayun g, Pam anda,” jawab Raden Kusnan.

  “Armada seperti itu tak dapat kau susul dengan pendayung.” “Ampun, Pamanda, mem ang sahaya yang terlambat sejak semu la.” Aji Usup mem erintahkan pada Syahbandar Banten untuk mem unggah perbekalan ke atas kapal-kapal Tuban. D an begitu tuan rumah itu pergi pembicaraan diteruskan.

  W iranggaleng dud uk di suatu jarak mendengarkan dengan diamdiam.

  Pembicaraan itu berlangsung cukup lama. Pendayun gan dari Jepara ke Banten dinilai oleh Aji Usup sebagai keliru, merugikan persiapan perang. G ugusan Tuban berlayar bukan untuk mem buru bajak atau meronda pantai. Juga ia menyalahkan kebijaksanaan Raden Kusnan, yang menyebabkan gugu san harus berlabuh di Banten untuk beberapa hari: prajurit dan awak kapal harus mem ulihkan kekuatannya.

  “Sahaya memang tidak punya pengalaman laut, Pam anda,” Raden Kusnan m eminta maaf. “Barangkali kau pernah dengar pendayungan terus- menerus kapal-kapal Majapahit. Kau keliru. Kapal-kapal

  Majapahit ringan, biarpun lebih besar. Pendayun gnya bukan prajurit atau awak kapal, tapi bajak laut yang menjalani hukuman sampai mati.”

  “Kami dari gugusan Tuban akan semakin tertinggal tanp a mencoba menyusul. D engan penangguhan lagi di Banten….”

  “Kami mendapat titah dari G usti Kanjeng Laksamana untuk menjadi tetua gugu san Tuban. Jangan hendaknya jadi kekecewaarunu, Raden Kusnan.” Raden Kusnan pucat tak dap at mengatakan sesuatu.

  W iranggaleng mendeham, tapi Aji Usup tak menggubrisnya. Sekarang ia baru menyedari dud uk- perkara: Sang Adipati Tuban telah dengan sengaja mem perlambat keberangkatan untuk tidak menyertai perang di Malaka. Sebaliknya Jepara kini telah merampas gugu san Tuban, kapal dan anakbuah nya dan prajuritnya, term asuk dirinya. Ia harus selamatkan gugusan Tuban.

  0o-d w-o0 Keesokan harinya pembicaraan diteruskan di kapal. Raden Kusnan dan Wiran ggaleng untuk kedua kalinya harus menelan kemarahan Adipati Unus Jepara melalui mu lut Aji Usup.

  “Insya Allah,” kata Aji Usup kemudian, “kita masih akan dapat menyusul Kanjeng G usti Laksamana di Riau atau Tumasik.”

  Setelah itu ia menerangkan, armada Jepara telah dipecah jadi dua. G ugusan-I menyusuri pantai barat Sum atra, mem utari Aceh untuk ke-mudian bergabung dengan gugu san pasukan laut Aceh, yang akan melakukan pendaratan dan penyeran gan langsung dari sebelah utara Malaka. G ugusan-I telah berangkat dan hanya singgah sehari di Banten. G ugusan-II, yang lebih kecil, dipimpin sendiri oleh Laksamana Unus, bertugas menyusuri pantai sebelah timu r Sum atra dan bergabung dengan gugu san pasukan laut Jam bi-Riau.

  D i Riau G ugusan-II akan beristirahat sambil menunggu gugu san Tuban dan Banten yang terdiri atas pelarian dari Malaka yang menggunakan kapal-kapal dagang yang telah dirubah untuk keperluan perang, dan akan melakukan pendaratan dan penyeran gan dari selatan Malaka.

  Aji Usup kemudian melakukan pemeriksaan di semua kapal Tuban. Para prajurit dan awak kapal nampak sudah sangat lelah. Banyak di antaranya telah jatuh sakit dan ditunmkan di Banten.

  Pembicaraan yang kemudian diteruskan mem buat W iranggaleng mengerti, bahwa armada Jepara menunggu Tuban di Banten selam a delapan hari. Tetapi semua itu tak menarik perhatiannya lagL D alam hati kecilnya ia merasa, D emak-Jepara dengan sengaja hendak menyedot kekuatan kali D emak akan mem ukul dan menaldu kkan Tuban. Tuban sebaliknya, mem biarkan dirinya mengu lur-u lur waktu untuk mem periihatkan diri untuk dap at mem ukul D emak dengan jalan lain dan cara lain la pernah mendengar. Sang Adip ati tidak menyukai perang Maka boleh jadi ia menggabungkan diri dengan armada D emak- Jepara hanya suatu dalih untuk m enjerumu skan mu suhnya dalam pengham buran kekuatan di Jepara, dan dengan demikian takkan dapat menyaingi bandar Tuban sebagai bandar rempah-rempah. Bandar Jepara harus tetap pudar.

  D an waktu prajurit dan awak kapal bersorak-sorai menyam but pengumuman, bahwa G ugusan Tuban akan meneruskan pelayaran untuk bergabung dengan armada Jepara, ia tidak ikut bersorak. Ia terdiam. Ia m enjadi curiga dan semakin waspada. Ia ingin mengikuti gerak-gerik Aji Usup selanjutnya. Sedang kepercayaannya pada Raden Kusnan menjadi hilang. Pemimpin G ugusan Tuban itu tidak semestinya mengjakan saja perintah Aji Usup. la catat semua yang dianggap kelicikan D emak-Jepara dan juga Tuban sendiri dalam hatinya. Ia berjanji akan dap at mem ecahkan teka-teki yang ruwet ini

  G ugusan Tuban berangkat ke baratlaut beberapa hari kemudian. Kapal-kapal dagang para pelarian Malaka yang dirubah jadi kapalperang itu berjumlah tiga. Semua dari ukuran kecil. Ia mendapat keteran gan, G u-gusan-II akan menam pung juga kapal-kapal kecil semacam ini, milik para pelarian dari Tumasik, yang merasa tak ada keamanan lagi setelah Malaka jatuh.

  D i Riau ternyata G ugusan-II telah berangkat lebih ke utara. D i sini mereka menerima kemarah an lagi dari Laksamana karena keterlam batann ya. Raden Kusnan telah kehilangan semangat haru s menelan kemarahan tiga kali berturut. Aji Usup berusaha mengh ibumya, tetapi temyata semangatn ya telah patah. Pimpinan gugu san Tuban diambilnya sama sekali, dan dengan sendirinya Wiranggaleng naik menggantikannya, juga atas perintah Aji Usup.

  Kenaikannya mem berikan suatu kekuasaan untuk melakukan tindakan yang mem utuskan, bila D emak-Jepara bermaksud untuk merugikan Tuban. Ia akan lemparkan Aji Usup dan R aden Kusnan ke laut bila ia melihat kecurangan akan dilakukan atas Tuban. D an ia akan melakukannya tanp a ragu-ragu. Ia tahu bagaiman a Patragading telah naik ke tiang gantungan di belakang kadipaten, maka putranya yang seorang lagi mu ngkin juga akan direlakan oleh ayahnya.

  Ia perintahkan agar dayung sama sekali tidak dipergunakan. Prajurit dan awak kapalnya haru s tetap dalam keadaan segar mengh adapi segala kemungkinan.

  G ugusan Tuban berlayar hanya dengan kekuatan angin. D an jauh di belakang sana, seperti titik-titik menyusul gugu san pelarian M alaka di Banten.

  Bukannya empat hari, tetapi lima setengah hari Adipati Unus telah menunggu gugu san Tuban di Riau sambil mem beri kesempatan pada G ugusan-I untuk menerima penggabungan gugusan Aceh. Setelah ternyata Tuban tak juga nam pak, dianggapnya sekutu itu telah melanggar janji dan ia hapus dari perhitungan perang.

  Semen tara itu gugusan Aceh dengan kapal-kapalnya telah bergabung dengan G ugusan-I, dipimpin oleh seorang perwira Aceh, Kantommana. Mereka langsung berangkat sebagaimana diperhitungkan oleh Unus. Antara prajurit- prajurit Jepara-D emak dan Aceh terdapat kelainan pakaian baju putih dan destar putih. Tanda pangkat mereka ada pada kelainan ikat-pinggang. Prajurit-prajurit Aceh bercelana dan berbaju hitam , berdestar hitam. Perwira- perwiranya berikat-pinggang selendang merah. D estarnya yang tertarik naik menuding langit kadang-kadang dihiasi dengan perm ata. Senjata kedua-duanya tidak berbeda: tom bak, pedang, perisai. Karena mereka mengh arap kan perang lapangan, mereka tidak menggunakan panah. Pada para perwira terdapat senjata-senjata jabatan.

  G ugusan-II berlayar lambat-lambat menuju ke sasaran . Layar tak dikembangkan penuh sambil menunggu tanda- tand a yang diberikan oleh G ugusan-I. Portugis takkan diberi kesempatan untuk meninggalkan Malaka dari laut. Mereka harus dibinasakan di darat sebagai hukum an, atau dipaksa lari ke pedalaman dan mati di hutan-h utan sebelah timur.

  Laksamana Adipati Unus telah mem perhitungkan: waktu penyeran gan akan dilakukan tepat pada saat M alaka kosong dari armada Portugis. Maka bila musuh telah ditump as di daratan, dan laut dijaga dari armada mu suh yang mu ngkin datang, semua akan dap at mendarat di Malaka. Setelah itu mu suh boleh melakukan serangan balasan dan mendaratkan pasukan. Perang darat harus mem utuskan kemenan gan.

  Bandar Malaka telah nampak sayup-sayup di hadap an G ugusan-II. Tak nampak ada satu kapal Portugis pun. N am paknya G ugusan-I terlambat mem berikan isyarat. Tapi tidak, peluru-peluru cetbang daripadan ya mu lai beterbangan di udara dan meledak merupakan bungaapi dan gumpalan asap. W ama merah mem belah langit: juga di sebelah utara sana tak ada namp ak kapal Portugis. G ugusan-D menjawab dengan tembakan ke udara pula:

  Sayup-sayup oleh G ugusan-II kelihatan prajurit-prajurit Aceh-D emakJepara, hitam dan putih mu lai mendarat, kemudian kapal-kapalnya bergerak menyusuri pantai utara Malaka dan mem basminya dengan tembakan-tem bakan cetbang. D entum annya menggelora disambut oleh sorak- sorai G ugusan-II.

  Serangan darat sudah dimulai. Prajurit-prajurit dari G ugusan-II ber-lompatan dan berjingkrak di geladak D an tak lama kemudian mereka melihat api dan asap mu lai mem bubung ke udara.

  Tetapi Portugis bukanlah penakut. D ari pengalaman perangn ya di berbagai benua mereka mengerti benar bagaimana harus mengh adapi serangan pasukan Pribumi, sehingga sejumlah kecil orang harus bisa m enghalau m ereka semua, mem bendung, mem bubarkan dan mengh ancurkan. Mereka menghindari perang lapangan menghadapi lawan yang lebih besar jum lahnya, sebaliknya menggunakan penggertakan -penggertakan dengan peluru dan gelegar menam serta penyergapan, dan melumpuhkan lawannya dengan tembakan-tem bakan mu sket. D ari pengalamannya di Asia Bawah mereka mendapatkan. temyata mu suhnya lebih takut pada ledakan dari pada peluru ataupun maut.

  D an meriam-meriam mereka mu lai terdengar beigelegaran, dengan atau tanpa bola-bola besi. Barang setengah jam kemudian tembakan-tembakan mu sket mu lai terdengar. Tetapi kebakaran di Malaka itu menjalar-jalar juga, terus dan terus ke selatan , menuju ke pusat kota.

  G ugusan-II makin mengh ampiri bandar. G ugusan-I telah berhenti menghamburkan peluru cetbang dari kapal dan mu lai menurunkan prajurit yang tersisa. N amp aknya tak ada seorang prajurit pun sudi ketinggalan menikmati kemenangan atas Portugis. Kapal- kapal mereka tersauh kosong.

  Laksamana Adipati Unus mem erintah mem berikan tembakan peringatan terhadap G ugusan-I, tetapi tidak digubris. Kapal-kapal mereka tetap tertinggal kosong tercancang pada jangkar masing-m asing.

  G ugusan-II makin mendekati Malaka. Cetbang- cetbangnya mu lai diarah kan ke bandar. Peluru-peluru api itu meledak menyambari bangun an-ban gunan dan pepohonan dan rumah-rumah. Kebakaran sekarang terjadi di sebelah selatan kota Malaka. Angin dari selatan meniup api itu ke utara dan kebakaran semakin menjadi-jadi.

  D ari kapal-kapalnya G ugusan-II dapat melihat meriam - meriam Portugis mulai ramai diarah kan pada kapal- kapalnya. Tetapi cetbang menyapu saran g-saran g mereka. Mu suh di darat itu nampak berlarian, berlindun g di balik- balik pepohonan yang masih utuh.

  Sekarang peluru-peluru besi Portugis mu lai beterbangan mencari sasaran. Tetapi hujan petir cetbang mengh alangi mereka menembak dengan baik.

  Makin dekat dengan bandar makin nyata terdengar sorak-sorai prajurit gabungan dari G ugusan-I, yang dengan kecepatan luar biasa m endesak ke selatan .

  Karena kebingun gan melayani serangan dari darat dan laut meriam-meriam Portugis mu lai berjatuhan sepucuk demi sepucuk.

  Sebuah peluru Portugis masih sempat melayang dengan garis langsung yang indah menubruk dinding sebuah kapal Jepara. Peluru itu hilang ke dalam perut kapal. Sebuah lubang persegi panjang bergerigi menganga pada dinding itu. Sebentar kemudian selembar papan baru telah nampak ditambalkan dari dalam.

  D an sorak-riuh mengikuti. Sebutir peluru besi lainn ya telah mem agas mancung haluan kapal bendera yang ditumpangi oleh Laksamana. Ia sendiri sedang berdiri di haluan di antara dua pucuk cetbang bikinan Bareng. D ua-duanya sedang menem bak satu-satu.

  “D engarkan !” katanya sambil mengangkat tangan tinggi- tinggi. “Tembakan mereka semakin tipis. G encarkan tembakan kalian!”

  Perintah itu disampaikan melalui isyarat pada kapal- kapal lain. “Perhatikan laras, jangan samp ai terlambat m engganti!” Baru saja perintah selesai diberikan, dari sebuah kapal di sayap kanan disampaikan laporan, dua pucuk laras telah pecah ambyar.

  Unus meneruskan perintahnya: “Hari ini si kafir harus angkat kaki dari bumi Malaka. Hari ini! Insya Allah. Kalau Peranggi telah terusir, mu lai sekarang seluruh laut bagian selatan , seluruh perairan Nusantara, akan kembali jadi milik kita bersama lagi.”

  Ia menengok pada perwira pembantu yang berdiri di belakangn ya: “Lihat peluru Peranggi itu. D ipaprasnya mancung kapal kita, sehingga layar kemudi kita lumpuh. Tapi insya Allah, m ereka akan menerima paprasan seratus kali dari kita. Habiskan pelurumu, Peranggi! Habiskan!” ia tertawa senang.

  “Tembakannya semakin berkurang juga, G usti.” “Ya, dan kalau Peranggi tidak terusir pada kesempatan

  “Tak ada namp ak arm ada P eranggi, G usti.” “Alham dulillah.” “Betapa indahnya hari ini, G usti.” “Syukur kepada Allah s.w.t. Kalau mereka tinggal berkuasa di Malaka, tidak lama lagi, dan pelabuhan- pelabuhan kita akan jadi perkamp ungan nelayan belaka. Laut kita akan jadi rawa. Sawah akan jadi sarang nyamu k dan ladang kita jadi timbunan batu. Mengerti?”

  “Patik, G usti.” Seorang perwira yang agak jauh memu ji- mu ji: “Perhitungan Kanjeng G usti Adipati tepat. Malaka jatuh dalam sehari,” ia mengunci kata-katanya dengan sembah.

  “Ada kalian dengar? Mereka sudah berhenti menem bak. Malaka telah jatuh di tangan G ugusan-I. Alham dulillah. Ya Allah, ya Ro bbi, apa yang belum Kau ridloi di utara sana telah terjadi di selatan sini: Peranggi kalah. Biar begitu, lepaskan tand a-tanda peringatan kapal-kapal itu tidak tertinggai kosong.”

  Tembakan-tembakan peringatan segera dilepaskan. Tetapi G ugusan I sudah lupa daratan dengan kemenan gan.

  “Mendaratkah kita, G usti?” “Tidak mu ngkin! Keteledoran G ugusan-I menyebabkan kita harus tetap berjaga di sini. Turunkan perahu. Hubungi

  Kantom mana – kapal-kapalnya harus segera diisi, sekarang juga.” Sebuah samp an diturunkan dan orang bercepat-cepat mengayuh ke arah bandar. “Sebelum penjagaan laut di utara sana dapat bertugas, sayap kanan G ugusan-II supaya maju sampai melewati

  Isyarat-isyarat dikeluarkan dari kapal bendera dan sayap kanan G ugusan-II m ulai bergerak maju. “Malam ini kita menjaga laut, lebih waspada, di semua kapal seyogianya diadakan sembahyang syukur.” “Patik, G usti. Sebentar lagi magrib. Besok, insya Allah, akan terbit hari baru tanpa ada halangan atau rintangan.” “Insya Allah, kelam batan dan keteledoran dalam sehari ini semoga tertebus oleh kegemilangan hari esok: pendaratan, perkubuan, pem buruan terhadap Peranggi….” Malam pun jatuh.

  Langit di atas M alaka merah-hitam oleh api dan asap. D ari atas kapal-kapal G ugusan-II nampak prajurit- prajurit gabungan Aceh-D emak-Jepara mo ndar-m andir menjalankan perintah. Antara sebentar sorak-sorai dari daratan masih terdengar. D an dalam malam itu juga tukang-tukang kayu sibuk mem betulkan kerusakan pada tubuh kapal.

  Sam pan utusan tiba dan mem bawa surat dari perwira Kantom mana, bahwa tugas sudah selesai, dan sedang menyiapkan untuk pendaratan Sang Laksamana untuk besok hari. Samp an dikirim kan kembali, mem erintah kan agar kapal-kapal G ugusan-II tetap diperlengkapi dengan kekuatan.

  D i atas geladak semua kapal G ugusan-II sembahyang magrib dilanjutkan dengan sembahyang syukur, diimani dan dikhotibi oleh Adipati Unus sendiri. Kemudian dilanjutkan dengan sembahyang isya!

  Sam pan utusan datang kembali, mem bawa berita bahwa prajurit-prajurit yang melakukan pengejaran belum lagi dap at dihimpun. Mereka masih tersebar di hutan-hutan, dan bahwa perintah itu akan segera dilaksanakan.

  Surya mem ancar cerah di pagi hari. Langit biru mu da dan bening. Kapal-kapal dari G ugusan-II tetap menjaga perairan Malaka. G ugusan-I tetap kosong dari penjagaan. Tembakan Portugis di daratan sudah tak terdengar lagi. Mereka telah terbenam dalam aru s prajurit gabungan. Pengejaran dilakukan atas sisa-sisa mu suh yang terbesar di mana-mana. G ugusan-II tetap tak dapat m endarat.

  D an bila G ugusan-II mendarat, dan puluh ribu prajurit gabungan akan berpesta di atas kekalahan Portugis, tanpa gugu san Tuban dan Banten.

  Sebuah perahu layar kecil mengh ampiri kapal bendera dan mem persembahkan pada Laksamana Unus, bahwa Malaka sudah siap untuk didarati.

  Unus menjadi berang mendengar persembahan itu. Ia mendapat keyakinan, G ugusan-I memang tidak mematuhi rencana semula. Ia perintah kan perahu itu kembali tanpa jawaban.

  Tepat pada waktu perahu itu samp ai ke bandar, dari sebelah utara sayap kanan G ugusan-II melepaskan tembakan peringatan: dari sebelah utara nampak sayup- sayup iring-iringan armada Portugis. Layar-layarnya yang tinggi bergam bar salib itu kembung sepenuhnya. Kapal- kapal itu meluncur cepat ke selatan.

  “Peranggi!” orang m emekik dari atas tiang utama. Seperti dengan sendirinya cetbang-cetbang G ugusan-II bergerak laras-larasnya, semua tertuju ke arah datangnya arm ada m usuh.

  Pada sayap kanan G ugusan-II yang telah ada di sebelah

  Unus mem erintahkan agar berlawan sambil mengu ndurkan diri bergabung dengan induk G ugusan. Pada daratan diisyaratkan pada G ugusan-I yang lengah, bahwa Portugis sedang mendatangi, dan mendesak agar kapal-kapalnya diisi kembali.

  Mengikuti tradisi Majapahit, cetbang hanya dipergunakan di atas laut dan sekali-sekali tidak diperkenankan di darat. Kapalperan g dan cetbang merupakan kesatuan. D engan kapal-kapal dari G ugusan-I yang kosong cetbang-cetbangnya pun m enjadi bungkam.

  Suasan a kemenangan yang riang-gembira berubah jadi kewaspadaan dan kesiagaan yang tegang. Orang mendudu ki tempatnya masing-m asing mengh adapi perang laut.

  Armada Portugis ternyata lebih maju daripada yang diperkirakan. Baru saja prajurit-prajurit dari G ugusan-I turun ke biduk-biduk untuk menuju kapalnya masing- masing, guruh meriam Portugis sudah mu lai kedengaran. Kemu dian disusul oleh tembakan balasan dari cetbang- cetbang sayap kanan G ugusan-II yang m engawal G ugusan-

  I. Armada Portugis itu maju terus sambil menem bak – lima buah kapal, yang dari kejauhan seakan terbuat dari baja putih. Peluru-peluru besinya beterbangan namp ak dari G ugusan-II. Orang dapat melihat dari setiap kapal Portugis dap at dilepaskan sepuluh peluru sekaligu s dari beberapa tempat.

  Pertem puran laut antara armada Portugis dengan sayap kanan G ugusan-II namp ak dari kejauhan seperti perkelahian antara dua rombongan ka tak raksasa dengan lidah-lidah api yang panjang menyambar-nyam bar. D an kapal-kapal G ugusan-I masih tertidur dalam kedamaian diayun-ayunkan oleh ombak pagi, seakan tidak peduli pada

  Orang melihat bagaiman a kapal-kapal sayap kanan G ugusan-II direjam oleh peluru logam dan hanya dap at mem balas dengan ledakan peluru cetbang. D an kapal-kapal Portugis maju terus, terlalu yakin pada kekuatan meriamn ya, pada kekukuhan kulit kapalnya, pada kelajuan dan pada keperkasaan layarnya.

  Sebuah kapal Portugis namp ak terbakar layar-layam ya terkena semburat api ledakan cetbang. Orang juga melihat sebuah kapal sayap kanan tumban g tiang layarnya dan dindingnya terbongkar, kemudian dengan ragu-ragu menyelam ke dasar laut. KapaJ-kapal lainn ya mengerahkan dayun g menghindari derasnya hujan peluru. Tetapi peluru logam itu lebih cepat dari kelajuan angin, apalagi kelajuan kapal. Sukun-sukun besi itu mengh unjam buritan, haluan, lambung, dinding kiri dan kanan. Semua yang terkena terjang dadal tak dapat bertahan.

  Laksamana m emerintahkan menghadang mu suh dengan tembok tembakan cetbang. Ia telah saksikan kehebatan meriam P ortugis dengan mata kepala sendiri, dan m engakui keunggulannya. Ia lihat sendiri juga bagaimana sayap kanann ya tumpas di depan sana tanpa bisa mem bela diri.

  D an Portugis maju terus seperti tak terjadi apa-apa atas dirinya. Sayap kanan G ugu san-II tenggelam sebuah demi sebuah, hilang ke dasar laut. Portugis mu lai menem baki kapal-kapal G ugusan-I yang kosong dari prajurit, koson g dari pengawalan. Sampan- samp an prajurit bubar tak berani meneruskan mem asuki kapalnya. G elegar meriam Portugis dan ledakan cetbang G ugusan-II sam bar-menyambar tak putus-putusnya. Sebuah demi sebuah dari G ugusan-I menyusul menyelam ke dasar

  D an arm ada Portugis terus saja maju. Sebuah kapalnya yang terbakar layamya tertinggal di belakang. Unus mem erintahkan semua dayung dipersiapkan. Keningnya berkerut melihat G ugusan-I tak sempat melepaskan satu tembakan cetbang pun, biasa tanpa pernah melawan.

  D an arm ada Portugis semakin mendekat, semakin jelas dan semakin besar. Kapal-kapalnya anggu n dan agung. W alau pun kelajuann ya tinggi namp ak tidak terburu-buru. D an kapal-kapal itu ternyata mem ang tidak lebih besar daripada kapal bendera D emak-Jepara.

  Tak ada terdengar sorak. Hati orang telah menjadi kecil melihat tumpasnya sayap kanan G ugu san-II. Cetbang G ugusan-II mu lai menyemburkan tembok api dan ledakan , tembok penghadan g. Tetapi dalam pada itu setiap kapal datan g melaporkan, bahwa semakin banyak lagi cetbang yang meledak di tempat, melukai dan mem bunuh penembak-penembaknya. Sedang kapal-kapal Portugis tetap tak dap at dicapai oleh cetbang.

  Laksamana Adipati Unus sebentar menunduk, mengerti ia telah terkecoh oleh pandai-pandai Hindu dari Blam bangan . Sesal tiada berguna. Meriam-meriam Portugis tak mem berikan padan ya kesempatan berpikir lebih lama. Peluru-p elurunya tak mengindahkan tembok api dan ledakan cetbang.

  G ugusan-II kini mu lai terkena hajar. Beberapa bagian dalam sebentar saja, dan setiap gem a gelegar di kejauhan sana disusul oleh datangnya bola-bola besi lawan yang menem busi dinding kapal tanpa bisa ditahan.

  “Ya Allah, bantulah ummat-Mu ini,” Adipati Unus mengangkat tangan ke atas.

  Ia berdiri di belakang dua pucuk cetbang yang tak henti- hentinya menem bak. Barangkali ia menyesal juga telah menan gguh kan pendaratan yang kemarin.

  “Perintah G usti Kanjeng Adipati ditunggu,” seorang perwira menyedarkannya. Ia menengok ke samp ing kiri dan kanan. Ia melihat beberapa buah kapalnya telah pada mu lai miring, hancur pada lambung, menungging karena pecah haluan.

  D an cetbang-cetbang tetap tak dapat mencapai mereka…. “Ya Allah, bencana tak dap at dielakkan. Perintah kan pada semu a kapal untuk m eninggalkan perairan Malaka!” Kapal-kap al mulai bergerak dengan tenaga pendayung. “Cetbang tak m amp u, G usti.” “Kami sudah lihat sendiri. Mereka mem ang lebih unggul. Apa pun yang terjadi, kita sudah menan tang mereka, sudah melawan dan m endatan gi.”

  Juga kapal bendera mu lai berputar dengan tenaga pendayung. “Bagaimana rah asia cetbang-cetbang kita kalah terhadap meriam? Apa obat dan bagaimana ram uannya kiram u?” “W arta-warta itu ternyata tidak bohon g, G usti. Senjata mereka lebih unggul.” “Ya, persiapan kita kurang sempurna.” Pada waktu kapal-kapal dari G ugusan-II memu tar haluan, armada Portugis semakin m enggencarkan serangan karena mendapatkan titik tembak lebih besar. Beberapa kapal lagi telah buyar dindingnya dan miring kemudian gudangsendawanya. Api menyemburat ke langit dan kapal itu sendiri ambyar berkeping-keping.

  Armada Portugis semakin mendekat juga. Kapal bendera itu terasa menggetar. Satu di antara tiang- tiangn ya roboh ke samping dengan suara seperti ledakan petir. Layarnya jatuh ke atas air seperti sayap dayung patah. D ua orang bermandi darah tertindih di bawahnya, pipih seperti lontar. Sebuah peluru lagi menyam bar siku haluan, dan mancung yang semalam dibetulkan kini terbongkar lagi. Sebutir peluru logam lagi menghantam ulang m ancung itu, menem bus dan dengan lengkungan masuk ke dalam laras cetbang, mengh antam bilik ledak, meletus, dan serpihan besi beterbangan.

  Laksamana Adipati Unus menggeletak di geladak bermandi darah. Serpihan besi telah m enghujani tubuhnya. D an dengan demikian armada gabungan Aceh-Jam bi-

  Riau-D emak-Jepara dengan kekuatan dua puluh ribu orang itu binasa dengan kekalahan….

  0o-d w-o0 Tum asik telah di depan m ata.

  “Semenanjung!” seseorang berteriak dari tiang utam a. Aji Usup keluar dari bilik bersama Raden Kusnan. Di belakangn ya mengikuti W iranggaleng. Semenanjung nam pak semakin nyata.

  D an armada yang dikejar itu belum juga nampak. Tum asik, bekas pangkalan Majapahit di masa-masa yang lalu, sepi. Oran g sudah pada m engungsi dari situ.

  G ugusan Tuban-Banten berlayar dengan semua layar kembang. Setelah setengah hari berlayar nampak oleh gugu san itu dua buah kapal menuju mereka. D i belakangn ya mengiringkan tiga buah kapal kecil. Semua bergerak lambat, dan hampir sepenuhnya menggunakan tenaga pendayung.

  W iranggaleng naik ke atas tiang utam a, mengh ampiri juru-tinjau. “Barangkali kapal bendera Jepara, ” kata juru-tinjau. W iranggaleng tak menanggapi. Mem ang kapal bendera

  Jepara. Ia turun cepat-cepat dan menyampaikannya pada Aji Usup.

  “G ustiku! G ustiku!” sebut Aji Usup kesakitan. Ia lari ke haluan, berteriak pada laut, pada angin, pada kaki langit, dan kapal bendera yang som plak: “G ustiku, G ustiku! Ya Allah, G ustiku! Hanya kau yang mengerti bagaimana mem persatukan arm ada, hanya kau tahu cara mengu sir Peranggi. G ustiku! G ustiku!”

  Raden Kusnan berlutut di geladak dan menyembah ke jurusan kapal semplak itu, meratap menghiba-hiba: “G ustiku! hukumlah patik. Patiklah yang bersalah tak dapat mem enuhi janji.”

  Kapal bendera yang besar lagi putih dilepas dengan ado nan kapur dan minyak kelapa tujuh lapis itu dari jauh nam pak seperti merpati compang-camping dalam keputihannya. D i beberapa tempat lapisan ado nan telah gom pal dan buyar dengan dinding tubuh menganga. Bendera Jepara, putih dengan gam bar kupu-tarung, tidak nam pak – telah terbabat oleh peluru Portugis.

  Semua prajurit Tuban dan Banten di atas kapal masing- masing berlutut dan menyembah kapal bendera. dan mereka semua menyaksikan Aji Usup, Raden Kusnan dan W iranggaleng turun ke biduk menuju ke kapal bendera, naik ke atasnya, dan diiringkan oleh beberapa orang mengh ilang ke dalamnya.

  Mereka memasuki kamar Laksamana. Suasan a berkabung itu mem pengaru hi setiap orang. Semua kepala menunduk. Juga pendatang yang tiga orang itu.

  D i dalam kamar Laksam ana beberapa orang dud uk di atas geladak mengh adap pada ambin kayu. Di atas am bin nam pak seonggokan tubuh, seluruhnya dibalut. Dan di sana-sini balut itu ditembusi darah.

  Hanya mata, lubang hidung dan mu lutnya saja yang nam pak. “G usti, G usti!” ratap Aji Usup. Bibir seonggokan tubuh di atas am bin itu bergerak lambat dan matanya tertuju pada Aji Usup: “Masih juga terlambat kau, Aji Usup?”

  “Inilah patik, G usti, hukum lah patik!” “Terlambat, Aji Usup, semua sudah tanpa guna. ” “Raden Kusnan dari gugusan Tuban datang m enghadap,

  G usti,” sembah Raden Kusnan, “hukumlah patik, bunuhlah patik, G usti. Tak patut lagi patik mengabdi pada G usti. G usti! G usti!”

  “Kembali ke kapalmu, Kusnan, Belajarlah menepati janji.” “Ampun, G usti Kanjeng,” Kusnan hendak bicara lagi,

  W iranggaleng mengantarkan Kusnan kembali ke biduk Aji Usup tinggal di kapal bendera yang somp lak. Sepanjang pengayuhan ke kapal sendiri Raden Kusnan tak henti- hentinya menan gis. D an juara gulat itu telah mem utuskan dalam hatinya takkan menyerahkan kembali gugu sannya pada Raden Kusnan. Penyerahan berarti kekuatan Tuban ini jatuh ke tangan D emak-Jepara. Ia akan pertahankan kepemimpinannya. Dan ia takkan ragu-ragu mengambil tindakan terhadap bekas pimpinannya itu.

  Begitu mereka samp ai di kapal sendiri, mereka mengangkat sembah lagi pada kapal bendera. Raden Kusnan langsung masuk ke biliknya dan tak keluar lagi. W iranggaleng mem erintahkan pada seluruh gugu san untuk mengiringkan G ugusan-II, juga memerintahkan melakukan upacara berkabung.

  “Sam paikan juga pada kapal-kapal Banten supaya kembali!” penntahnya. ‘Tak ada di antara mereka boleh meneruskan pelayaran.”

  D i Riau, kapal-kapal Riau-Jam bi yang masih selam at mem isahkan diri dan mengu capkan selam at jalan pada kapal bendera dengan kibaran bendera-bendera alamat: selam at jalan pada arm ada yang pulang membawa kekalahan. D an kapal bendera itu tidak singgah D engan sangat pelan keberatan tubuh sendiri ia maju membawa luka-lukanya. D i belakang mengiringkan semua kapal.

  D i Banten baru iring-iringan itu singgah untuk mem unggah perbekalan, kemudian meneruskan pelayaran ke Jepara. Kapal-kapal Banten yang kecil itu terus mengiringkan.

  W iranggaleng sempat melihat bagaimana orang berduyun-duyun di bandar Banten untuk melihat sisa mereka berdiri diam-diam. Barangkali, pikirnya, yang nam pak oleh mereka bukan sisa armada, tetapi kegagahan Peranggi.

  Tidak bisa lain, ia sendiri pun mengagumi kegagahan Peranggi, juga tidak terkalahkan oleh Jepara. Ia mencoba mencari sebab kekalahan ar mada gabungan. D i bandar Banten ia banyak mendengar percakapan dari perwira- perwira D emak-Jepara. Ada yang mengu tuk pandai-pandai Blam bangan . Ada yang menyalahkan Kantom mana yang tak melaksanakan perintah. Ada yang mengatakan, Aceh punya maksud sendiri hendak menggagahi Malaka buat dirinya sendiri. Ada yang menyalahkan Tuban yang jelas- jelas telah mengkhianati janji. D alam pelayaran menuju Jepara ia kaji semua alasan yang didengarnya dan mem benarkan semua. Tetapi juga membenarkan: Adipati Unus satu-satunya orang yang berani berusaha mem persatukan kekuatan pelawan Portugis, dan berani melaksanakan penyeran gan. Kekalahan yang terjadi bukan kekalahan perang, tetapi kegagalan dalam mengatur kekuatan sendiri. Kemudian ia menyimpulkan: armada gabungarf itu semestinya tidak kalah. Ia menganggu k- angguk mengerti.

  Bandar Jepara penuh sesak dengan orang-orang yang datang menyam but. Semua pekerja galangan kapal berkerumu n untuk melihat kesudahan dari kapal-kapal bikinann ya sendiri. Melihat lambung dan haluan kapal bendera som plak dan tiang-tiangnya yang terpangkas mereka sendiri, juga kapal bendera itu tidak tahan terhadap peluru Portugis. Panser dari adonan kapur dan minyak kelapa tidak memp unyai makna terhadap sukun besi, bahkan semakin m emberati kapal.

  Juga di sini kehebatan Portugis lebih terbayang daripada

  Ibunda Sang Adipati Jepara, Ratu Aisah, permaisuri Sultan D em ak, juga datang mengelu-elukan. Raden Kusnan dengan terburu-buru diiringkan oleh

  W iranggaleng turun ke biduk untuk menyertai Laksamana mendarat.

  D ari kapal bendera yang somplak compang-camping diturunkan sebuah tandu dengan Sang Adipati Unus terikat di atasnya. Raden Kusnan dan W iranggaleng mendekati tand u untuk mendapat kesempatan memikulnya sampai ke darat. Tapi mereka tersisihkan oleh para pembesar negeri.

  Tandu itu diletakkan di tanah di hadapan Ratu Aisah. Semua orang bersimpuh dan m enyembah.

  “Pulang, kau, putraku, Adipati Unus?” tanya Ratu. “Inilah putra Ibunda, datang mem bawa luka dan kekalahan. Ampuni putra Ibunda ini – menyembah dan mencium kaki Ibunda pun putranda tak mampu.”

  W an ita tua itu mengh ampiri putranya dan menem buskan pandan g pada mata yang tersembul dari balik balutan.

  “Kau terluka, putraku, tapi tidak kalah. Kafir-kafir itu sekarang tahu. Putraku kesayangan. Adipati Unus Jepara, telah pernah mendatan gi mereka, dan akan mendatangi lagi kelak.” Tanpa diduga-duga oleh siapa pun wanita tua itu mengangkat tangan dan melambaikan selendang. Semua mata tertuju padan ya. Terdengar suara lantangnya yang bereampur dengan desau angin dan deburan laut: “Perhatikan, semua kawula! Jepara sudah pernah mendatan gi Peranggi di Malaka. Kapal-kap al Jepara sudah pernah menyerang mereka, sedang negeri-negeri lain berjatuhan satu demi satu tanpa daya. Perhatikan! Jepara telah mendatangi dan menyerang m ereka!” “Perhatikan semua itu, seluruh kawula!” Adipati Unus mem perkuat dengan suara lemah. Kemu dian keluar kata- katanya yang takkan dilupakan oleh sejarah: “Adipati Unus Jepara terluka, pulang tidak mem bawa kemenangan, tapi tidak mem bawa kekalahan. Jepara sudah bertempur melawan lelananging jagad. Kapal bendera telah dilukai oleh meriam Peranggi. Pasang kapal ini di laut sana, tam batkan pada sauh jauh dari Pulau Panjang, biar seluruh dun ia tahu: dia telah pernah berhadapan dengan Peranggi dalam perang laut di perairan Malaka. Sauhkan di sana samp ai um ur tua menenggelamkannya sendiri. Lain kali kita akan datangi Malaka lagi. L ain kali!”

  Tandu diangkat lagi. Raden Kusnan dan Wiranggaleng telah tak dapat merebut kesempatan untuk mem ikul. Mereka berdua berjalan di belakangn ya. Iring-iringan bergerak menuju ke kadipaten. D an di pelatarannya, di atas tanah, orang menundu k menyatakan bela sungkawa.

  Tiga hari W iranggaleng tinggal di Jepara sebagai Punggawa Tuban. Bekas teman -temannya sekerja dulu tak habis-habis mengaguminya. Hanya Hayatullah selalu mengh indarinya. Pada suatu kesempatan ia dap at menan gkap bahunya. O rang itu mencoba mengebaskan diri sambil bersungut-sungut: “Kafir! Pengkhianat dari Tuban! Kafir!”

  Ia terpaksa melepaskannya dan m embiarkan pergi sambil meludah jijik ke tanah. Mengertilah ia, um um di Jepara telah menganggapnya sebagai pengkhianat. D an ia harus terima semua itu tanpa bisa membela diri. Ia tanggung semua pengkhianatan itu sebagai wakil Tuban.

  Ia mencoba menem ui Raden Kusnan untuk minta diri. Hanya dengan susah-payah ia dapat menem ukannya, untuk mendapatkan penghinaan baru pula: “N yahlah semua tentang Tuban dan dari Tuban!” Hatinya terluka.

  Pada hari ke empat ia berhasil dapat mengh adap Ratu Aisah. Wanita tua itu menerimanya di taman kadipaten: “Kau, Wiran ggaleng dari Tuban, kembali kau pada G usti Adip ati Tuban dengan salam kami. Jangan kau patah hati.

  Kegagalan di Malaka bukan akhir, hanya suatu perm ulaan yang belum selesai. Pulanglah, N ak, dengan damai. Allah mem berkahimu.”

  Kata-kata wanita tua itu menghibur hatinya. D engan langkah tegap ia turun ke pelabuhan dan hendak segera mem erintahkan mancal.

  Jam al Konon g, pemimpin gugusan Banten, mengh adangnya di dermaga: “Tuanku W iranggaleng, kepala gugu san Tuban,” katanya sambil menyembah dad a, “raja Pajajaran tidak mem berikan ijin pada kami untuk mendarat di Banten untuk selam a-lam anya. Kami hendak menyatakan bergabung dengan Jepara, tetapi tak ada punggawa yang dap at diajak bicara. Semua sibuk dengan Tuanku Laksam ana. Tuanku, perkenankanlah kami menggabung pada Tuanku.”

  “D ua ratus anak buahmu, apakah masih lengkap?” “Utuh, Tuanku.” “Baik. Mari mancal.”

  0o-d w-o0 G ugusan gabungan Tuban-Banten meninggalkan Jepara menuju ke Tuban. Sang Adipati menyambut kedatangan pasukan lautnya di bandar, la tersenyum dan mengangguk-angguk melihat semua dalam keadan utuh dan selam at.

  W aktu W iranggaleng mempersembahkan akan kapal- kapal pelarian Malaka di Banten yang menggabung ia tertawa pelahan. Anggukannya semakin kuat.

  Ia sam a sekali tak pernah menan yakan Raden Kusnan.

  0o-d w-o0

  W iranggaleng mengangkat bocah yang sedang bermain- main seorang diri itu dari tanah. Anak itu telanjang bulat dan kotor seperti bocah-bocah di desa.

  Anak itu tertawa dan mu lai bicara dengan kata-kata kurang jelas. Hidungn ya yang bengkung penuh dengan ingus. Juga matan ya yang bulat dilindun gi alis tebal ikut tertawa.

  Ia ayunkan G elar ke atas kepalanya, dan anak itu menjerit riang. Ia sendiri pun jadi gembira karenanya. “Mana emakmu ?” tanyanya walaupun tahu Idayu sedang di dapur. Anak itu sementara ini melupakannya pada hancurnya arm ada gabungan. Armada sebesar itu! seindah itu! sekuat itu! Sekiran ya Peranggi sampai mem buru… pasti ia tidak akan bermain-main dengan G elar, anak istrinya ini. Peranggi tidak mem buru. Mereka mem belok ke kiri, mengh ujani daratan dengan sukun besi. Di bawah ribu prajurit gabungan Aceh-D emak-Jepara untuk dap at melakukan pendaratan di bandar Malaka. D ari kenyataan itu ia menjadi mengerti: selam atnya pangkalan bagi Peranggi lebih penting daripada menghancurkan sisa kekuatan mu suhnya. Pangkalan! Pangkalan! Peranggi mem butuhkan pangkalan!

  Ia turunkan G elar ke tanah, mengetah ui Paman Marta datang padanya, langsung bersimpuh dan menyembah. D engan masih menggandeng tangan G elar ia mendengus: “Husy. Bangun kau! Tidakkah kau lihat aku hanya seorang anak desa?”

  “Sahaya, padu ka Wira.” “Husy.” tapi Pam an Marta tetap bersimp uh. Bertanya:

  “Sahaya dengar Jepara kalah, paduka W ira.” “Bangun kau! Jangan aku kau bikin m alu.” Tukang kebun itu bangun, berdiri dan badan nya dibongkokkan, kedua belah tangannya m engapurancang.

  “Jangan perlakukan aku sebagai ningrat, kau, bodoh. Ya, Jepara kalah. Mau apa lagi?”

  “Hebat benarkah Peranggi, paduka W ira?” “Apa itu paduka?” “Hebat benarkah Peranggi, bendara W ira? “Apa itu bendara? Ya, Peranggi mem ang hebat.” “Baru saja sahaya dengar, paduka W ira….” “Husy. Apa yang kau dengar?” “Setelah Peranggi mengalahkan Adipati Unus, rnereka tidak mem burunya. Benarkah begitu, Wira?” juru gulat itu menganggu k. “Tadi, baru saja tadi, sahaya dengar Peranggi setelah itu mengamu k, Wira. Sekarang katanya Pasai mereka serbu dan rnereka rampas. Benarkah demikian, W ira?”

  Kening W iranggaleng mengernyit. Tanpa bicara ia serahkan G elar pada Pam an Marta. Ia langsung mem asuki gedung utam a untuk mencari Syahbandar Tuban. Yang dicarinya tiada. Ia bergegas turun ke jalan raya, menuju ke bandar. Juga di sana Syahbandar tak didapatkann ya. Justru pada waktu itu T holib Sungkar Az-Zubaid baru pulang dan masuk ke dalam gedungnya.

  Ia datang Iagi ke Syahbandaran dan menemui Pam an Marta sedang m enggendong G elar yang sedang menangis. ‘Tuan Syahbandar sudah ada di dalam , W ira,” katanya sambil menunjuk dengan ibu jarinya ke arah gedung. W iranggaleng m elompat masuk ke dalam . “Alham dulillah, akhirnya kau datang juga, W ira,” sambut Syahbandar Tuban. Ia tetap berdiri di tempat, di belakang m eja tulis.

  “Sejahteralah, Tuan. Benarkah Pasai telah jatuh ke tangan Peranggi setelah Jepara kalah?” Tholib Sungkar Az-Zubaid menggeleng-geleng dan berkecap-kecap tanp a menegakkan bongkoknya:

  “Rangmuda! Rangmuda!” sebutnya. “Berap a kali sudah kukatakan, Peranggi juga akhirnya menaklukkan seluruh dun ia. Lupa kau sudah ? Pasai jatuh, Wira. Benar. Selat sama sekali sudah dikuasai mereka sekarang ini. Kau mendatan gi mereka dan kalah. Aku ikut-ikut berduka-cita, ran gm uda! Apa boleh buat, akal diberikan oleh Allah kepada kita untuk dipergunakan. Terserah bagaimana manusia menggunakannya dan dapat atau tidak mereka menggunakan nya.” Kata-katanya memban jir seakan tak bakal berhenti. “Sekali orang mengenal karunia ini dan dap at m enggunakan nya dengan baik, dia akan m enciptakan hukum nya sendiri. Hanya yang dapat menggunakan dengan baik itu saja tahu hukumn ya. Kasihan kau, W ira.”

  W iranggaleng pergi tanpa minta diri. Kekalahan itu masih memberati dirinya, kini pandangan rendah dari Syahbandar mem bakar hatinya. Pada suatu ketika kelak, tantangn ya dalam hati. Jawa dan dunia akan mendengar Peranggi akan dapat dipatahkan, dan Wiranggaleng akan ikut serta m elakukannya!

  Syahbandar Tuban mengikutinya dengan pandangnya sambil menggeleng dan berkecap-kecap kasihan. Begitu Syahbandar mu da turun ke tanah dan didapatinya

  Pam an Marta telah menunggunya mem bawa G elar yang meronta-ronta dalam gendongan.

  D engan diam-diam ia ambil bocah itu dan digendo ngnya sendiri. G elar terdiam. Anak itu telah lelah menan gis dan meronta. Matanya sayu, kemudian jatuh tertidur dengan kadan g masih terisak. Ia masuk ke dalam kamar dan diletakkan si bocah di atas ambin.

  Hatinya masih terbakar oleh berita tentang jatuhnya Pasai, tentang sambutan melecehkan dan cara Syahbandar Tuban itu m enyampaikannya! Ia dudu k tepekur. Kemudian ia pandangi G elar. Makin lama wajah itu makin menyerupai Sayid Habibullah Almasawa: bentuk kepala yang tipis, ram but yang mu lai mengeriting, mata yang bulat, dan terutama hidung yang bengkung. Hidung bengkung! Sayid Ulasawa kecil! Untuk kesekian kalinya ia mendakwa bocah yang tiada tahu sesuatu itu.

  D an kesam aan itu mem ang tak mungkin ia dapat lupakan . Juga peristiwa kala si bocah itu untuk pertama kali mem asuki kamar ini…

  0o-d w-o0 N yi G ede Kati mengira Idayu telah mati di ujung cundrik. Ia tidak tahu penari itu tertidur cepat tak terduga karena kelelahan dari ketegangan lama, tak ingat sesuatu apa lagi, seperti tak sedarkan diri.

  Bekas pengurus harem itu masuk sambil melindungi si bayi dengan tangan, bersiap-siap menangkis setiap serangan dari W iranggaleng.

  “Biar anak ini melihat ibunya untuk penghabisan kali, W ira,” katanya. D an bayi itu mu lai menangis. D an N yi G ede Kati mendiamkan nya dengan mendesiskan bibirnya. “Mengapa untuk penghabisan kali, Ibu? Idayu sedang tidur nyenyak. Lebih baik jerangkan air untuk mem basuhnya. D ia lelah dan tak begitu sehat. Mari, biar aku gendong bayi itu.”

  “Jangan!” N yi G ede menolak kontak dan dari matanya nam pak ia berjaga-jasa. “Jangan bunuh dia, Wira. Idayu berpesan, ‘Jangan biarkan dia dibunuh oleh Kang G aleng’. D ia tak tahu apa-apa, W ira. Dia anakku sekaran g.”

  Ia biarkan wanita itu berjalan mengendap-endap waspada mendekati Idayu, yang tergolek di ambin. Terdengar ratapannya, pelahan dan m enghiba-hiba: “Idayu, pujaan seluruh Tuban, Kamaratih Tuban, betapa celaka hidupmu, N ak.”

  “D ia tidak celaka, dia berbahagia,” juara gulat mem betulkan. ‘Telah kau kumpulkan seluruh keberanianmu untuk mengh adapi hari ini,” ratapan itu diteruskannya, “untuk menerima ujung cundrik dari suami yang dikasihi dan dicintai.”

  “Tak pernah ada cundrik pernah mengenainya,” bantah G aleng. “Pergilah sudah seorang istri setia, penari tanpa duanya, seorang wanita utam a, dikagumi semua orang. Idayu, ah,

  Idayu!” “Jangan ganggu dia, Ibu, dia sedan g tidur,” tegahnya.

  “Kau bukan wanita pertam a menderita semacam ini, Idayu. Manakah darahm u, biar kucium sebagai penghormatan dari semua yang mencintaimu ?”

  “Tak ada darah keluar dari tubuhnya,” sekali lagi ia mem bantah, nam un tak dap at mencegah N yi G ede meneruskan ratapannya.

  D engan satu tangan N yi G ede m eraba-raba tubuh Idayu, dan ia tak mendapatkan setetes darah pun. Ia mem beliak padanya, menuduhnya dengan suara keras: “Keji kau, W ira! Keji! Tak kau beri sedikit pun kehorm atan pada Kamaratih Tuban! Tak kau antarkan dia dengan ujung cundriknya sendiri. Kau cekik dia seperti anak babi.”

  “D ia tidur. Mengapa m esti kucekik dia?” W an ita itu melanjutkan rabaannya dengan satu tangan pada leher Idayu. Ia dekatkan matanya pada leher itu dan baru diketahuinya wanita tergolek itu masih bernafas dan leher itu pun tidak cedera.

  “Mengapa aku mesti bunuh dia? Sediakan air hangat buat pembasahnya. Sini! Biar kulihat anakku.” N yi G ede Kati lari keluar kamar menyelamatkan si bayi dalam gendongan. Dan ia tidak mengh alanginya. D udu klah ia menunggui istrinya, merenungkan betapa banyak aniaya dalam kehidupan ibukota. Ia renungkan pula cerita Idayu tentang impiannya yang temyata kejadian sesungguhnya. Bayi itu bukan anakku. Orang-orang telah mem bicarakannya: Idayu terkena bius setiap habis pulang dari menari di kadipaten. Mereka tahu, mereka mem bicarakannya. Mengapa hanya aku yang tidak mau percaya? D an lelaki manakah yang bisa mem buktikan seorang bayi itu anaknya atau tidak? Untuk kesekian kalinya kebakaran terjadi dalam hatinya. Ia pandangi Idayu yang lelap-nyenyak mendekati pingsan. D ia tak bersalah. D ia telah bersedia menerima ujung cundriknya sendiri. D ia telah tubrukkan diri pada senjata itu asalkan tangkai sudah tergenggam oleh tanganku. Kalau senjata itu tak kulemp arkan, mu ngkin dia telah tewas. Mengapa yang menderita harus menerima hukuman? Mengapa bukan si penyebab penderitaan?

  Ia melangkah tetap ke arah jagang senjata: tom bak- tom bak dan pedang. Ia telah rasai ujung senjata itu menyintuh jantung Syahbandar Tuban. Sampai di pintu terdengar olehnya titah Sang Adipati untuk menjaga keselam atan Syahbandar, untuk melindun gi jiwanya.

  “Terkutuk!” sumpahnya. “Bedebah itu tak boleh aku punah kan.” Ia sandarkan tombak pada dinding. Ia m emp rotes Hyang

  W idhi, mengapa janji kesetiaan pada Sang Adipati harus mem batalkan pelepasan dendam terhadap mu suh- menam pung titah para dewa. D an titah itu tak datang dan tak bakal datang padanya. Ia rasakan tangan nya telah mem atah-matahkan anggota badan Syahbandar Tuban. Tetapi kemudian melengking suara Rama Cluring yang mengh arapkan dirinya dapat mem anggil kebesaran dan kejayaan pada guagarba haridepan. D an suara Sang Adipati yang memperingatkan: tak dapat kebesaran dan kejayaan itu terpanggil tanpa restu seorang raja.

  Tapi apakah aku bukan anak Tuban mendiamkan saja Sayid Habibullah Almasawa? Siapakah yang bisa salahkan aku kalau aku patahkan batang lehernya? Atau aku keluarkan hati dari dadanya dan aku remas di depan orang banyak, seperti dilakukan oleh orang-oran g sebelum aku mengu mandan gkan suara dendam purba: takkan kubiarkan langkahku terhenti di tengah jalan; lihat, telah kurem as hati penghalang jalanan ini!

  Kedua belah tangannya menggigil dan keringat kebakaran mem basahi tubuhnya. Ia bangkit dan dengan tangan telanjang m enuju ke gedung utam a.

  Belum lagi ia memiliki jenjang, seorang penunggang kuda dari kepatihan telah mem anggilnya. Tugas penting telah memerlukan tenaganya….

  Tidak lebih dari sebulan setelah kedatangannya dan Malaka baru diketahuinya: tidak benar Peranggi telah menaklukkan Pasai. Benar ada beberapa buah di antara kapal-kapalnya datang ke sana, tetapi hanya mencari lada dan kapur barus dengan paksa. Suatu keributan telah terjadi diikuti dengan perkelahian kecil di darat. Kemudian kapal- kapal itu balik kembali ke Malaka tanpa hasil.

  Bukan itu saja. Juga pulau Sabang didarati. Sekelompok bajak, yang pada waktu itu sedang terpergoki, telah minggu Portugis menduduki Sabang, kemudian pergi lagi ke Malaka.

  Orang m emberitahukan juga, kapal-kapal Portugis mu lai kelihatan di perairan Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan, kemu dian juga di perairan Jawa sendiri.

  Seruan Sultan Mahmu d Syah dalam pembuangan untuk mem boikot bandar Malaka nampak seakan masuk dalam hati para raja N usantara. Tetapi pemboikotan sesungguhnya bukan karena seruan itu. Para raja N usantara mem ang gentar pada Portugis dan takut berlabuh di Malaka.

  Sultan Mahmu d Syah sendiri tidak pernah jadi raja yang populer. Selama kejayaan Malaka sikapnya terhadap para raja selebihnya angkuh dan tak sudi menggubris kepentingan bersama antar-m ereka. la menganggap semua mereka mem butuhkan Malaka, dan Malaka tak mem butuhkkan mereka.

  Pemboikotan semu yang berjalan dengan sendirinya telah mem bikin Pasai jadi bandar pengganti Malaka. Maka bandar yang telah kehilangan serinya dalam waktu satu abad belakangan kembali jadi bersinar-sinar. Maka orang pun mu lai menduga-duga, jangan-jangan Portugis kelak akan meramp as juga bandar ini untuk menyelamatkan Malaka, dan terutama untuk menggagahi Selat, urat nadi kemakm uran dunia. Malahan ada yang telah berani meram alkan: Kalau Peranggi belum juga melakukannya adalah karena m asih disibuki oleh perkara-perkara lain.

  Pada waktu itu Portugis mem ang sedang sibuk mem asuki perairan Maluku dan N usa Tenggara, mencerai- beraikan armada-armad a dagang Tuban dan Blam bangan, pemborong rempah-rempah dari Jawa, yang selam a ini mem egang monopoli atas Maluku.

  Pelayaran dan perdagangan antara Maluku dan Tuban merosot. Bandar Tuban menjadi lengan g. Pasar pelabuhan sunyi. Bangsal-bangsal pelabuhan kosong. Hanya ombak laut dan angin juga yang tetap sibuk dan riuh sendiri.

  D an di seluruh negeri Tuban, tak lain dari Sang Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung W ilwatikta seorang yang tak habis-habis menyesali perbuatan nya sendiri. Sekiranya Tuban mem bantu Jepara dengan sejujur hati, mu ngkin Malaka telah jatuh dan Maluku tetap dalam mo nopoli pemborong dan pedagan g Tuban dan G resik atau Blam bangan . Maka bandar Tuban takkan selengang sekarang ini.

  Sesal tiada guna: jatuhnya Malaka melamban gkan jatuhnya pelayaran dan perdagangan bebas seluruh N usantara. N asi telah m enjadi bubur.

  Kapal-kap al Tuban hampir-h ampir tak berani lagi berlayar ke Maluku. Seperti digebah oleh badai mereka bertaburan ke jurusan barat mencari lada di Banten, Sum atra Selatan , dan m engangkutnya ke Pasai.

  Kapal-kap al Atas Angin seperti ditolak oleh taufan ham pir-hampir tak beran i mu ncul lagi di Tuban. D an hanya pedagan g-pedagang T ionghoa tetap tenang di pangkalan dengan kapal-kapal masing-masing. Mereka tak perlu menyinggahi Malaka. Tanpa rempah-rempah perdagangann ya dengan Tiongkok berjalan terus: kayu- kayuan, getah-getahan, dedaunan, dari laut dan darat…. Kesulitannya tetap bajak yang berpangkalan di Tum asik dan bertebaran di Laut Tiongkok Selatan. N amu n tak ada yang m emperhatikan m ereka dalam ketenangannya.

  Keprihatinan Sang Adipati tak habis sampai di situ saja. Kejahatan mu lai bermunculan di sana-sini: perampokan, penganiayaan, pencurian dan pembunuhan. Kerusuhan meram bat dari bandar ke kota, dari kota ke pedalaman.

  G alangan-galangan berhenti bekerja. Pekerja-pekerja galangan tak dapat lagi mengh arap kan upah. G olongan pedagan g besar yang semua terdiri dari

  Pribumi Mu slim dengan cepat mem indah kan kapal- kapalnya ke bandar-bandar di sebelah barat. Bila mereka toh menetap di Tuban Kota, mereka berpindah kegiatan dari eksportir menjadi pedagan g kebutuhan pedalaman: ikan asin, trasi, garam. Mereka tidak ikut tenggelam dalam kemerosotan besar ini. D an dengan gagalnya penyeran gan atas Malaka mereka mu lai mengam bil sikap mem benci, mem usuhi, dan m enentang Sang Adipati Tuban.

  Pendud uk yang masih mengu kuhi kepercayaan lama mengagumi kepintaran mereka dan dengan diam-diam mengh ormati dewa mereka. Tetapi ada juga segolongan kecil yang merasa jengkel terhadap kejayaan mereka. Penggolongan-penggolongan mu lai terjadi di antara penduduk Tuban: yang membenci Sang Adipati dan yang mem benci kejayaan golongan Islam. Pertentangan- pertentangan lunak kadan g terjadi. Lama-kelamaan yang lunak menjadi keras, yang kadan g menjadi sering, dan mu lut jadi gontok, dari gontok jadi bentrokan antar- golon gan.

  Sang Adip ati Tuban dap at melihat, keuletan para pedagan g Islam akhir-kelaknya yang akan m enjamin, Islam juga yang bakal menggantikan agama lama. Pemeluk- pemeluknya punya kegesitan, punya kepercayaan pada usahan ya sendiri, terlepas dari karunianya, punya prakarsa dalam banyak hal. Mereka tetap dap at hidup jaya tanpa tanp a memikul. Ia semakin mengerti mengapa banyak di antara putra-putranya dari selir, setelah sekian lama mengabdi pada D emak terus bersetia pada raja Islam di barat itu. Ia melihat kenyataan yang menggelisahkan itu: hanya kekuatan yang dijiwai oleh agam a baru itu saja mampu jadi penantan g dan penggempur Peranggi, sekalipun kalah. Tapi kelak? D ewa-dewa lama akan digantikan oleh dewa-dewa baru.

  Seluruhnya! Tak pernah nenek-moyangnya bercerita tentang kejadian ini. Pergantian dewa-dewa! D an dewa- dewa itu tak pernah beranjak dari tempatnya, tapi si manusia sendiri yang bertubrukan untuk jadi penyembah nya yang terbaik, dewa pilihan. Ia benarkan putra-putran ya, dan siapa saja yang m enyembah dewa baru ini.

  Tetapi kesimpulan itu tidak mengurangi kekuatiran nya akan marabahaya yang lebih keras: Portugis. Belum lagi raja lautan itu menginjakkan kaki di bumi Tuban, wajah Tuban sudah berubah, dari ramai menjadi lengan g, kesejahteraan mu lai runyam, laut pun sudah mu lai jadi sepi.

  Mereka yang paling terjepit dalam suasana sempit itu tak lain dari prajurit-prajurit dari gugusan Banten, para pelarian dari Malaka. M ereka ditamp ung dalam asrama di luar kota. Kapal-kap alnya dikerahkan oleh Sang Patih untuk melakukan pengangkutan besar-besaran rempah-rempah dari Maluku dan tiga-tiganya telah diramp as oleh Portugis di Selat Banda. Mereka tak bisa hidup hanya dengan m akan dan minum.

  D an pada suatu hari, seluruh asrama itu kosong. isinya hilang-lenyap tanpa bekas.

  Perwira-perwira pengawal yang dikerahkan untuk melakukan penyelidikan hanya bisa menduga, bahasa mereka telah terhasut oleh Rangga Iskak, bekas Syahbandar Tuban.

  D ari persembahan-persembahan Sang Patih, Sang Adip ati mengetah ui dengan pasti, bekas Syahbandar itu telah menggunakan kegelisahan um um untuk mencapai maksudnya sendiri. Oran g Melayu keturunan Benggala itu ia nilai sebagai banyak tingkah dan keterlaluan: ia mem ohon, mengeluh, memp rotes, menuntut ganti kerugian. Telah ia perintahkan agar bekas Syahbandar itu meninggalkan Tuban Kota dan ditempatkannya di pedalaman, mendap at kekuasaan atas lima desa.

  N am paknya ia belum juga puas. Rangga Iskak masih juga mengajukan banyak perm ohon an. Telah diijinkannya untuk mendirikan perguruan untuk mengem bangkan agama baru itu. Masih juga ia mem ohon tambah an desa.

  D alam dua tahu n mem egang lima desa itu telah menyebabkan desa-desa tersebut mendapat kemajuan luarbiasa. Ia mengeluarkan aturan-aturan yang tak pernah dikenal selam a itu, yang menyebabkan penduduk desa bekerja dua kali lipat daripada biasanya. Perumahan didirikan lebih banyak. Saluran-saluran dibangun sehingga mem ungkinkan perluasan sawah. Huma dibuka tanpa batas. Panen yang berlimpahan menyebabkan desa-desa yang miskin itu menjadi kaya dan sejahtera. Penduduknya menjadi patuh padanya.

  D engan kepatuhan pendud uk padanya bekas Syahbandar itu m ulai memperlihatkan sikap yang m emusuhi Tuban. D engan hati prihatin ia melihat, bahwa bekas punggawa itu mengibarkan panji-panji Islam untuk mem usuhinya. Ia tidak bisa menerima ini. Ialah yang mem benarkan oran g- Bhre W ijaya Purwawisesa. Ialah pula yang mem pelopori persekutuan kerjasama dengan pedagang-pedagang Islam dari Atas Angin, mengakibatkan pembangkangan bupati- bupati pesisir terhadap Majapahit dan mengakibatkan keruntuhan kerajaan Buddha Tantrayana itu. Ialah pula yang mem benarkan putra-putranya masuk Islam dan berpihak pada Islam. Sekarang dengan panji-panji Islam pula seorang bekas punggawa, bekas Syahbandam ya, telah mengambil sikap memusuhinya.

  Agama baru, pikirnya, kepercayaan baru, dewa baru, kekuasaan baru, pengaruh baru, meriam, Peranggi… semua itu dirasainya sedang mengacuhkan ujung tombak tertuju pada dirinya.

  Persembahan terakhir m embenarkan dugaannya: seluruh prajurit pelarian Malaka itu menggabungkan diri dengan Rangga Iskak di desa Rajeg.

  Sudah berkali-kali ia mem anggil putra-putran ya di D emak untuk dimintainya nasihat, dan untuk jadi juru pendam ai terhadap pembangkan g baru ini. Tak seorang pun di antara mereka datang mengh adap. Pembangkang Islam hanya bisa diredakan oleh orang Islam pula, pikirnya. D an sekarang ia mengh adapi pembangkangan dari putra- putranya sendiri. Menjawab pun mereka tidak. Ia sudah sediakan alasan secukupnya, mengapa gugusan Tuban terlambat datang. D an mereka tetap tidak muncul.

  Beberapa kali ia tergoda untuk mengirimkan W iranggaleng ke D emak karena bagaimana pun putra-putra itu harus diyakinkan. Setiap ia ingat, kepentingan Idayu juga harus diperhatikan, ia selalu m embatalkannya. Ia harus mem berikan kesempatan lebih banyak pada penari tanpa tand ingan itu untuk menikmati hidup. Ah. Dia adalah perm ata Tuban yang harus dimuliakan. D esas-desus Habibullah Almasawa adalah satu-satu kunci baginya untuk mendapatkan perdamaian dari Peranggi dan Espanya. Maka beberapa ia ulangi peringatannya pada Wiranggaleng untuk tidak m eletakkan tangan pada Syah bandar Tuban itu, biar apa pun kata orang tentang dirinya.

  D an satu hal yang selam anya ia menjadi ragu-ragu: perang. Juga terhadap Rangga Iskak tak akan dikirim kan balatentara. Setiap terjadi perang dalam negeri di Tuban akan mem anggil D emak untuk menyerang. Boleh jadi D emak tidak akan dapat dikendalikan lagi oleh Semaran g. Kalau dia tum buh menjadi kuat, mungkin Semarang akan dipunggunginya, dan perjanjian dengan Ceng He dulu, bahwa orang-orang Tionghoa yang m endapat perlindun gan di Lao Sam, tentu harus ia binasakan bila Semaran g tak bisa mengendalikan D emak. Tapi tanda-tanda itu belum mem unculkan diri lebih jelas. Memang perampasan Jepara suatu permu laan, tetapi kekalahann ya di Malaka juga menyurutkan kepercayaan orang pada D emak. Hukum an itu sudah setimpal dengan kejahatan nya.

  Tapi Sang Adipati tak pernah berani mengakui dirinya sebagai penakut. Ia rum uskan penakutnya sebagai kebencian terhadap perang – dan perang merugikan.

  D an dalam menjalankan tugas untuk mengawasi Syahbandar Tuban, pada suatu kali teg’adi ini: Bulan sedang m enerangi alam. Tengah malam.

  Syahbandar, yang diikutinya dari kejauhan, berjalan seorang diri di bandar yang sepi itu. Ia berjubah genggan g. Tongkatnya terobat-abit sebagaimana biasa bila sedang berjalan seorang diri dalam kesepian.

  Hanya desau angin dan deburan om bak yang terdengar. Bahkan wanita-wanita pelacur pun tiada. Mereka telah meninggalkan daerah pelabuhan yang tak lagi menghidupi ini.

  Tholib Sungkar Az-Zubaid langsung menuju ke dermaga. Antara sebentar ia menengok ke segala jurusan. Kemudian ia berhenti.

  D an W iranggaleng yang berjalan agak jauh di belakangn ya melom pat ke tepi jalan, berlindun g di balik sebatan g pohon asam.

  D ari laut sebuah biduk gemuk dikayuh orang empat. Hilang-tim bul di balik puncak om bak, kemudian terayun naik di puncak air dalam kegemilangan bulan. Bidu k itu menuju ke bandar. D an orang kulit putih mendarat. D ua orang yang di biduk mengacukan senjata api ke darat.

  Beberapa kali Syahbandar-muda menggosok m atanya, takut salah pengelihatan. Tapi pemandangan itu tidak menipu matanya. Ia dapat membedakan pakaian dua orang pendarat itu daripada kulitnya, juga membedakan nya dari kulit Syahbandar. D an jauh, jauh di tengah laut sana, sayup-sayup namp ak olehnya bayangan sebuah kapal Portugis dengan layar-layar tergulung.

  Ia lihat dua orang pendarat itu bicara dengan Sayid Habibullah Almasawa. Sebentar saja. P endarat-p endarat itu kemudian turun lagi ke biduk dan mengayuh ke tengah laut lagi, menuju ke kapal.

  W iranggaleng mengingat-ingat, baran gkali ia tak dengar taluan canang dari menara pelabuhan. Seingatnya canang itu tidak pernah dipukul pada waktu-waktu belakangan ini Mengapa penjaga menara itu lalai? Dan m engapa pendarat- pendarat itu segera balik lagi? Ada apakah semua ini? Apakah hubungan Syahbandar dengan mereka? D an adakah Sayid nanti mem persembahkan peristiwa ini pada

  Sam bil menduga-duga ia tunggu Syahbandar melewati tempat persembunyiannya. D an ia dapat menan gkap gum amnya, tapi tak mengerti maksudnya, terlalu pelahan, mu ngkin dalam bahasa asing pula, dan desau dan seru laut itu terlalu keras.

  Setelah orang itu lewat dan menuju ke Syahbandaran ia berjalan cepat-cepat menuju ke m enara pelabuhan dan naik ke atas.

  D id apatin ya dua oran g penunggu menara telah tidur nyenyak. Suatu gelom bang kemarah an menyebabkan ia mem andangi mereka. D an m ereka tak juga bangun.

  Boleh jadi terkena bius juga, pikirnya. D an diperiksanya persediaan makan dan minum mereka. Ia baui, ia perhatikan di bawah cahaya bulan yang kurang terang itu. Tak ada bau yang mencurigakan. Ia gagapi pundi-pundi dan saku mereka. Juga tak ada sesuatu yang mencurigakan.

  Ia turun lagi. D engan mengendap-endap ia masuk ke dalam gedung utama dan mengintip kamar kerja Syahbandar.

  Orang itu sedang dud uk pada meja menulis surat. Di hadapannya terbuka selembar surat yang sebentar-sebentar dibacanya sebelum meneruskan tulisannya. Tarbusnya tergeletak di atas meja, dan warnanya belum juga berubah, masih tetap bagus seperti pada hari pertama ia menginjakkan kaki di bumi Tuban.

  Biar pun aku am bil surat itu, pikirnya, tak bakal ada yang bisa m embacanya. Biarlah. D an ia pun pergi pulang. Begitu ia terbangun dari tidurnya, segera ia pergi kembali ke pelabuhan dan naik ke atas menara. D ua orang penjaga itu masih juga tergeletak dalam tidurnya. Ia tunggu sampai mereka terjaga. Matari sudah lama terbit. Perahu-perahu nelayan nam pak tiada berangkat semalam. Bayang-bayang kapal Portugis sudah tiada. Matari makin meninggi juga. D an kala sinam ya mu lai jatuh pada kepala mereka, m ereka mu lai bergerak-gerak, menggeliat, dan mem bukakan mata dengan malas.

  Ia perhatikan mereka. D an ia lihat tapuk mata mereka masih tergantu ng berat. Mereka duduk malas di geladak dengan mata belum sepenuhnya terbuka.

  Ia m endeham. M ereka menggeragap dan baru m enyedari adanya sepasang kaki di hadapan mereka. Diangkat pandang mereka ke atas dan tertumbuk pada mata W iranggaleng yang tajam mengancam dan wajahnya terbuka.

  Berbareng mereka menjatuhkan diri di geladak dan mem ohon ampun. “Keparat kalian!” sumpah Wiranggaleng berang dan menyorong kepala m ereka dengan kakinya. “Apakah kalian kira karena tak ada kapal datang kalian boleh tidur sampai begini siang?”

  “Ampun, W ira. Tiada sahaya berdua sengaja tertidur samp ai begini siang. W ira selam anya dapati salah seorang di antara kami sedang berjaga. Ampun, Wira, ampun, am pun.”

  ‘Tak ada ampun lagi bagi kalian.” Mereka mencoba mencium kaki W iranggaleng, tetapi

  Syahbandarmud a itu menendangn ya dengan gerakan kaki lemah.

  “Bukankah W ira sendiri tak pernah dapati kami tertidur berbareng seperti ini?”

  “Justru karena keteledoran kalian, tuan Syahbandar telah hilang entah ke mana. Mungkin diculik perampok….” “Ampun, Wira. Kewajiban kami bukanlah menjaga keselam atan tuan Syahbandar. Hanya di sini…” Ke dua orang itu masih bersujud di atas geladak untuk mendapat pengampunan. D an Syahbandar-muda tak juga mem berikan.

  “Ya, tugas kalian mem ang meninjau kapal. D an kalian lalai. D i mana kalian lihat tuan Syahbandar untuk penghabisan kali?”

  “Kemarin sore masih ada di atas m enara ini, Wira….” “Kemarin sore,” desak Syahbandar-muda. “Betul. Masih ada di sini, W ira.” ”Apa diperbuatnya di sini?” “Hanya bercerita tentang Ispanya, W ira.” “Bangun kalian! Itu saja ceritanya?” “Betul, W ira. Tentang perawan-perawan Ispanya, W ira. Katanya hidungnya mancung dan kulitnya putih seperti bawang, seperti pualam. Apa pualam itu, W ira?”

  “Siapa yang tahu apa pualam itu? Mengapa tak kalian tanyakan padanya sendiri?” “Katanya lebih cantik dari bidadari orang Jawa. Alisnya hitam tebal dan matan ya tenggali. G iginya putih laksana mu tiara. Tidak ada yang hitam seperti gigi perempuan Jawa dan Benggala perbegu. Tak ada bidadari bergigi hitam, katanya. Hanya iblis perempuan berhitam-hitam. Buh, hitam! katanya. Ia tertawa, mentertawakan orang yang senang bergigi-hitam.”

  “Senang benar kalian dengarkan cerita tentang perawan Ispanya.”

  “D ip erintahkannya pada kami untuk mem bayang- bayangkan, W ira. D an pinggu lnya! katanya tuan Syahbandar, jangan sampai salah mem bayangkan. Rambut mereka, katanya lagi, hitam-kelam kebiru-biruan bila tertimpa sinar matari. D an kegenitann ya, Wira, katanya, kalau diputamya pinggu lnya, dan gaun nya mengem bang seperti cendawan, ditadahkan mu kanya pada langit bila dipuji kecantikannya… tak dapat oran g melupakannya seumur hidup, katanya. Benarkah itu, Wira?”

  “Tidakkah tuan Syahbandar menyuruh kalian melakukan sesuatu . Coba ingat-ingat.” “Hanya mem bayang-bayangkan, Wira. Begini katanya,

  W ira: Lihat ke laut lepas sana, kalian penjaga menara celaka, pada suatu kali akan datang kapal-kapal Ispanya ke Tuban mem bawa perawan-perawan tiada tandingan itu, lebih cantik dari bidadari Jawa. Ayoh, lihat ke laut lepas sana!…. Kami meninjau ke kejauhan dan tak ada kapal nam pak. Tuan Syahbandar tertawa di belakang kami.”

  “Mengapa tertawa?” “Mana kami tahu, W ira. Mem ang tak ada kapal. D ia perintahkan juga kami mem bayang-bayangkan kapal-kapal itu. Lebih megah dari kapal Peranggi, katanya, penuh dengan perawan-perawan Ispanya yang cantik. Apakah kalian tak mengh endaki baran g seorang? tanyan ya sambil terus tertawa di belakang kami.”

  “Apa kemudian?” “Kami kira dia sedang mabok tuak. Setelah itu dia turun dan pergi entah ke mana.”

  “Kemu dian kalian makan,” W iranggaleng mendakwa. ‘Tidak, W ira. Kami asyik m embicarakan bidadari Ispanya.”

  “Kemu dian kalian minum.” “Tidak, Wira. Kami bertikaian pendapat.” “Jadi kalian tak makan semalam-malaman itu?” “Tidak, Wira. Hanya minum. ” “Terlalu banyak tuak,” W iranggaleng mendakwa lagi. “Tidak, Wira, tak pernah kami langgar larangan itu di sini. Kami hanya minum dari gendi, kemudian, entah bagaimana…”

  “Makanlah kalian. Tentunya kalian lapar. ” Melihat dua orang itu ragu-ragu, ia mendesak lagi, “ayoh, makan dulu sebelum aku bawa kalian m enghadap Sang P atih.”

  “Ampun, Wira,” mereka mencoba lagi untuk mencium kakinya. “Makan, kataku!” perintahnya D an setelah mereka makan m akanan yang setengah basi itu, ia mem erintah lagi,

  “minum segera sebelum kita berangkat, karena Sang Patih sedang di luar kota.” Mereka minum dalam kegelisahan dan ketakutan. Tiada antara lama kelihatan tapuk mereka tergantung lagi, berat seperti hendak bengkak.

  “W ira, ampun, Wira, ampun, ” mereka bergum am berat, kemudian menggelesot tidur di geladak. Ia mencoba mem bangun kan mereka. Tak berhasil. Ia tuan gkan sisa air pada kepala mereka. Pun sia-sia. Bisik-desus itu ternyata tidak keliru, pikirnya. D an obat bius itu sungguh-sungguh cepat dan kuat bekerjanya. Ia Betapa jadinya kalau Idayu dulu kubunuh? D ia telah teraniaya oleh oran g lain, dan aku pun menambahi penganiayaan itu, dan menganiaya yang tak bersalah. Idayu! Idayu! Mem ang Syahbandar itu patut aku binasakan. Kesempatan itu akan tiba jua, Sayid. H ati-hati, kau!

  Ia bergegas menuruni tangga menara. D i tengah-tengah ia berhenti. Jauh nun di tengah laut sana m uncul layar salib dari sebuah kapal Portugis. Ia naik lagi ke atas. D ikocoknya matanya. Benarkah itu Peranggi dan bukan kapal Ispanya, yang Syahbandar menyuruh penjaga menara itu mem bayang-bayangkan?

  Layar bersalib itu mengemban g pada beberapa bagian dan sedang menuju ke bandar. Pasti kapal semalam. D an sepagi ini sudah siap berlabuh. Canang menara ia pukul bertalu-talu. Penjaga-penjaga itu tetap nyenyak dalam tidurnya. Ia mem ukul terus sambil melihat-lihat ke bawah. D an benar sebagaimana ia harapkan: Syahbandar turun dari gedung utama, berjalan tenang-tenang dalam pakaian kebesaran dan dengan ton gkat tergantung pada lengan menuju ke derm aga.

  Ia berhenti mem ukul melihat Syahbandar meninjau ke atas menara sambil menggantungkan tongkat pada bahu, tapi kemudian berjalan terus.

  Bandar yang senyap tiba-tiba menjadi ram ai. W anita- wanita berlari-larian mem bawa baran g dagangannya menyerbu ke pasar pelabuhan , berebutan untuk mendapatkan tempat terbaik. Menyusul kemudian pedagan g-pedagang pria memikul buah kelapa, ayam atau menuntun kambing atau babi, baran g-baran g ukiran, buah dan sayur-mayur.

  W aktu canang kadipaten telah menyam but, ia turun dan pada tengkuk atasan nya. Kalau tengkuk itu kucengkeram, dan jari-jariku menusuk ke dalam dagingnya, dia akan meronta untuk kemudian mati terkapar sekarang juga. D ia akan mati dan tarbusnya akan terguling-guling, dan: hukum an mati akan dijatuhkan pada diriku. Pada siapa Idayu kemudian pergi? D ia akan tetap jadi anak ibunya. Syahbandar dan aku mendapat maut yang sama, sedang nod a itu tetap tiada kan terhapus.

  Ia belum punya kesanggupan menyelesaikan persoalannya.

  0o-d w-o0 Untuk pertama kali W iranggaleng ikut dalam iring- iringan orang asing mengh adap Sang Adip ati. Untuk pertam a kali ini pula ia m elihat orang kulit putih dari dekat. Mu ka mereka kemerah-merahan seperti jambu bol, langkahnya panjang-panjang dan tegap, bebas bicara seorang dengan yang lain, sehingga ia tak tahu pasti mana kepala dan mana bawahan. Mereka tak m elakukan sembah- menyembah. Seluruh badan dari leher samp ai mu ka dari pergelangan tangan sampai jari-jari terbuka. Semua tertutup dan keringat nampak mem basahi punggung mereka. Sebentar-sebentar mereka menyeka keringat leher dengan sepotong kain, kemudian mem asukkannya ke dalam saku baju. D an bila mereka bicara satu pada yang lain nam paknya tak m engindahkan orang selebihnya.

  Berjalan paling depan adalah Martinique Lam aya. Di belakangn ya lagi enam orang perwira kapal. Di belakangn ya lagi Syahbandar Tuban. Paling belakang adalah dirinya.

  Biasanya Syahbandar berjalan di kepala iring-iringan. padanya. Biasanya pula Syahbandar bertindak sebagai tuan rumah. Mengapa sekarang sebagai pengiring? D an apakah yang mereka percakapkan semalam dengan Syahbandar? Apa pula isi surat itu?

  D engan ragu-ragu ia m ulai m enyimpulkan: mem ang ada hubungan rahasia antara Syahbandar dengan Peranggi. Kalau tidak mengapa kapal berlabuh setelah semalam mengirimkan penghubung dan tidak semalam itu juga? D an siapa yang begitu hina menyediakan diri jadi perintis hubungan ini?

  W aktu iring-iringan melalui gapura, ia menyedari, kala makara gapura telah tiada. G erbang itu sendiri seluruhnya telah berganti dengan balok-balok kayu tiada berukir. Sekilas ia teringat pada Borisrawa, pemahat dan pengukir tersohor itu. M emang sudah tak ada pekerjaan lagi baginya. D ia harus pergi meninggalkan Tuban Kota. Tak bisa lain. Mu ngkinkah karena kebenciannya pada Sang Adipati ia menyediakan diri jadi perintis hubungan m ereka?

  Pikiran itu pun ia tak dapat selesaikan. D i penghadapan hanya W iranggaleng dud uk di kejauhan.

  Orang-orang asing itu semua berdiri dan bertolak pinggang dengan sepatu tetap dikenakan. Syahbandar Tuban melepas terompahnya di atas anak tangga pendopo. D an sekarang ia berdiri di pinggiran, di tempat yang biasa ditempati Rangga Iskak. Ia kelihatan lebih bongkok dan sekali ini nampak kehilangan wibawa.

  Syahbandar-m uda merasa tersinggung oleh sikap tamu - tam u kulit putih itu. D an mereka malah tidak membawa sesuatu persembahan.

  Tholib Sungkar Az-Z ubaid mempersembahkan pada Sang Adipati dalam Melayu, bahwa ini adalah untuk pertam a kali Peranggi mendarat di Tuban, maka mereka belum mengenal adat-kebiasaan bandamya dan adat- kebiasaan mengh adap. D engan lancar dan hampir-hampir menundu k ia memohon ampun dari Sang Adipati untuk pendatang-pendatan g baru itu.

  Tertutup pemandan gannya oleh kaki para tamu W iranggaleng tak dapat m elihat perubahan-perubahan pada wajah gustinya. Terdengar olehnya oran g-orang Portugis mu lai bicara, keras, berat, dalam seakan suaranya langsung keluar dari dada. Mereka bicara pendek-pendek. D an Tholib Sungkar Az-Zubaid menterjemahkan: “Bukan maksud kami untuk berlabuh di Tuban. Kami sedang menuju ke Pasuruan atau Panarukan, tetapi sesat di jalan. N am paknya tujuan kami masih jauh. Maka kami mengu capkan banyak-banyak terimakasih mendap at perlindungan di bandar G usti Adipati. Berhubung salah jalan ini, G usti, m enyebabkan perhitungan kami juga salah.

  Tentang ini akan kami persembahkan nanti…” “G usti Adipati Tuban, kami datang ke mana, ke

  Pasuruan atau P anaru kan, atau bandar-bandar lain di Jawa, bukanlah untuk urusan kekuasaan . Siapa pun di dunia ini telah mengenal Peranggi, karena dunia ada di tangan kami. Hanya pojokan-pojokan gelap berada dalam kekuasaan lain…. ”

  “Terjemahkan yang betul!” tegur Sang Adipati gusar. “Mem ang tidak sedap untuk didengar, G usti,” tam bah

  Sang Patih “juga berlebih-lebihan panjangnya.” “Patik telah terjemahkan dengan betul, G usti.” Martinique Lamaya bicara lagi dan Syahbandar sayur-mayur, gula, sapi, babi dan air. Satu real mas yang akan kam i bayarkan. Mas Peranggi.” “Tuan Syahbandar,” tegur Sang Patih, “bukankah untuk urusan kapal maka Tuan diangkat jadi Syahbandar?

  Bagaimana soal begini dipersembahkan pada G usti Adipati Tuban?”

  Sekilas W iran ggaleng dapat melihat wajah Sang Adipati dari sela-sela kaki para tam u. Mu kanya merah-padam karena tersinggung. Sebentar saja:

  Syahbandar tak meneruskan terjemahannya. Juga Martinique Lamaya diam. Pendopo sejenak sunyi-senyap. Ia merasai ada sesuatu yang tidak beres. D alam kesenyapan itu terdengar pengiring Lamaya bicara pelan pada atasann ya. Sebuah percakapan terjadi antara mereka. D an Sang Adipati berkata dalam Jawa pada Sang Patih: “Bagaimana pendapatmu , Kakang Patih?”

  “Biarlah mereka meneruskan bicaranya, G usti. Mem ang mereka belum atau mem ang tidak tahu adat. Rupa-rupanya mereka belum pernah belajar mengh ormati sesam anya,” sembah Sang Patih.

  “Ampun, G usti Adipati Tuban,” Syahbandar meneruskan. “Adapun pekerjaan patik mem ang mengu rusi semua yang berhubungan dengan kapal dan bandar.”

  “Maka layani tamu-tamu itu dengan baik dan penuhi kebutuhann ya.” Adip ati Tuban meninggalkan tempat. D an oran g-orang Portugis kembali ke pelabuhan.

  0o-d w-o0 Hari itu Martinique Lamaya dan semua pengiringnya menginap di gando k kanan kesyahbandaran. Wiranggaleng ditugaskan oleh Syahbandar untuk melayani.

  Belum lagi selesai ia dengan pekerjaan nya di jalanan orang-orang perempuan berlarian meninggalkan pasar bandar sambil berseru-seru dan mem ekik-mekik ketakutan. Ia tinggalkan pekerjaannya dan lari mendapatkan m ereka.

  “Mereka mengamu k, Wira! mereka, oran g-orang Peranggi itu!”

  Ia lari ke bandar. D ilihatn ya suatu perkelahian telah terjadi antara serom bongan pedagang pelabuhan dengan awak kapal Portugis. Beberapa orang Portugis lagi sedang mem andangi baran g dagangan pendudu k. Ayam-ayam pada beterbangan dan kambing pada berlarian lepas.

  “W ira! Syahbandar-muda!” dua orang berlarian mengh ampiri. “Mereka merampas, mengamu k dan melukai.”

  D alam Melayu W iranggaleng berseru-seru: “Peranggi, hentikan!” Begitu selesai berseru-seru ia telah berada dalam kepungan beberap a belas orang P ortugis. “Syahbandar-m uda bicara di bandarnya’ ia berseru dengan nada m emperingatkan. “Hentikan perbuatan kalian. Kembalikan barang-baran g yang kalian rampas!”

  Orang-orang Portugis itu mengejek dan mentertawakannya. Kepungan makin merapat dan mereka mem perlihatkan sikap hendak m enyerang.

  “Kembali kalian ke kapal kalian. Syahbandar-muda, W iranggaleng, sudah bicara. Kembali! Kembali!”

  Seorang Portugis telah melayangkan tangan pada mu kanya. Ia tangkap tangan ito dan dipatahkannya perbukuan lengan nya. Satu pekik kesakitan melengking. Berbareng dengan itu penyeran gan umum dimu lai. Seorang lagi tertangkap oleh tangan besinya, ia pelintir, meraung seperti macan terkena tom bak. Ia melom pat sambil mem ukul dan menendang, mengebas dan menarik. Oran g- orang Portugis pun tiada kalah gesitnya. Pengeroyokan itu berjalan hanya beberapa detik. Kemu dian ia sempat menan gkap seseoran g pada tengkuknya dan ia tukikkan, kemudian ia angkat tinggi, dibantingkann ya di atas teman- teman nya sendiri.

  Tubuhnya yang bergumpal dengan otot-otot terlatih itu nam pak mengem bang seperti sebuah pesawat dari baja. Ia rasai pukulan dan tendangan mengh ujani punggungnya. Beberapa kali kepalanya m enggeleng karena terkena tetakan dari samping kiri dan kanan. Ia biarkan pukulan dan tendan gan. Ia han ya hendak m eremu kkan seorang lagi yang dap at ditangkapnya.

  Satu sambaran telah mencengkam lengan seseoran g dan orang itu ditariknya dan dihantamkan lututnya pada kemaluannya. Sekaligus orang yang pingsan itu ia pegangi kedua belah kakinya dan ia putarkan jadi baling-baling untuk mem bubarkan kepungan.

  Melihat para pengepung mundur ia lepaskan korbannya, jauh melayang dan bergedebug jatuh di pasiran bandar. Kawan-kawann ya merubungnya.

  “Kembali! Kembali ke kapal!” rau ng W iranggaleng. Tangannya menuding pada kapal Portugis yang sedang berlabuh.

  Mereka mengangkat temannya yang tak bangun lagi itu. mengikuti dari belakang. Mereka naik ke atas kapalnya. D an keadaan am an kembali. Lebu yang berkepulan lambat- lambat m ulai lenyap dibawa angin lalu.

  Malam belum lagi turun dan Tuban telah mendengar segala peristiwa yang telah terjadi di pelabuhan . Bahkan lebih dari itu. D i mana-man a orang menyatakan perasaan tidak puas terhadap Sang Adipati dan Sang Patih yang telah begitu sabar menenggang Martinique Lamaya dan teman- teman nya. Mengapa mereka tak diusir saja? Bukankah bum i ini bum i Tuban dan bukan bum i Peranggi? Belum lagi mereka menaklukkan Tuban dan tingkahnya sudah tidak tertahankan. Betapa akan jadinya kalau… kalau…. Kebencian orang pada Syahbandar Sayid Habibullah Almasawa mem uncak tidaklah seperti pada hari ini. D an orang pun semakin heran mengapa saja? D an mengapa Sang Adipati tidak juga mengijinkan dia menyarongkan kerisnya pada tubuh orang terbenci itu?

  D an suara-suara itu ditutup oleh kesimpulan: Syahbandar-m udalah orang pertam a-tama yang telah mencederai orang-orang Peranggi. Wiranggaleng! Tidak lain dari W iranggaleng! D an di Tubanlah mereka dicederai! D i T uban!

  Lain lagi yang terjadi di kesyahbandaran. Pembesar- pembesar kapal Portugis itu nampaknya tak tahu-menahu atau mem ang tidak ingin tahu tentang peristiwa di bandar. Salah seorang di antaranya ingin mencoba tuak.

  D an pergilah Syahbandar-muda ke warung Yakub, yang sudah penuh dikerumu ni langgan an, hendak minum dan hendak m endengarkan berita yang lebih baru.

  Ia disambut dengan bersemangat oleh mereka. Pertan yaan jatuh bertubi-tubi. D an ia menerangkan segala sesuatu yang ia ketahui. Mereka menyenggaki dengan: “Kau benar, W ira, kau benar.”

  Seorang nakhoda Pribumi, yang duduk di pojokan, berdiri dan menghampiri. Berkata: “Kalau orang berpikir semua akan jadi baik lagi seperti dulu karena berbaik dengan Peranggi, kita keliru, Wira, kita keliru. Keterlambatan Tuban ke Malaka tak dap at diamp uni. Orang-orang Islam benar: tak dapat diampuni. Mereka mengu tuk! Kalau semua tergantung pada kau, Wira, rupa- rupanya semua akan jadi beres.”

  Seorang nakhod a Pribumi lainnya menam bahi: “Bukan adat Peranggi menjadi baik kalau dibaiki. D ibiarkan dia merajalela, dibaiki dia jadi kurang-ajar. D ihantamlah dia baru manda, bukan W ira?”

  “Tak biasanya dua orang nakhoda bertemu di satu warung,” tegur W iranggaleng. “Kapal kami pada berkandang di Lao Sam, Wira. Tak ada pekerjaan.” “Mem ang G usti Kanjeng Adipati Unus Jepara benar. Malaka harus direbut. Tanpa pangkalan di Malaka Peranggi akan sudah lemah samp ai kemari,” nakhod a pertam a itu meneruskan. Suaran ya berkobar-kobar.

  “Ya-ya, dan pelayaran dan perdagangan harus kembali bebas seperti dulu, W ira. Sayang G usti Kanjeng Adipati Unus kalah walau pun benar. D an kau juga ikut kalah, W ira. Kita semua ikut kalah, kecuali G usti Adipati Tuban, baran gkali. Itu pun tidak. Buktinya tak ada sesuatu tindakan terhadap kekurangajaran tam u-tamu itu. Berani bertaruh, pembikin kerusuhan di bandar tak bakal ditindak oleh G usti Adipati.”

  ‘Tapi hari ini kau yang m enang, Wira.”

  “Kalau tidak dicegah oleh aturan, kita semua sudah binasakan mereka, W ira,” nakhoda itu berkata lagi.”Lihat, mereka sudah melanggar adat bandar bebas, samp ai sekarang Sang Adipati tetap belum bertindak. Takut, Wira. Anak, W ira, di negeri mana pun takut menjadi bapa dari kezalim an, ibu dari kesewenang-wenangan.”

  “Belajar dari saudagar-saudagar Islam, Wira, belajar dari orang-orang Islam,” seseoran g menambah i dengan gemas. “Kalau tidak, celakalah kita semua.”

  “Kalau kita mengalah dan terus-menerus kalah begini, kapal-kapal kita akan terus nongkrong tanpa muatan, tenggelam dalam kebosanan,” nakhoda itu meneruskan.

  “Aku kira orang-orang Islam juga sudah berlaku tidak baik terhadap kita,” seorang nakhoda Pribumi bukan Islam menengah i. “Apakah bukan orang Islam yang merampas Jepara? Apakah bukan orang Islam yang sekarang mem bikin gaduh di pedalaman?”

  W iranggaleng tahu , kalau percakapan ini diteruskan, orang akan bertengkar soal agam a. D an sekarang Peranggi datang m embawa agama lain pula dan dengan perangainya sendiri pula. Apakah Adipati Tuban lebih baik dari semua orang dengan agamanya masing-masing? D ia pun tidak lebih baik. Patragading dan Pada telah dijatuhi hukum an mati tanpa jelas perkaranya.

  “Hancurkan kapal Peranggi itu,” tiba-tiba seseoran g mem bakar-bakar gem as. “Husy,” cegah Syahbandar-m uda. “Itu melanggar am anagappa. Bagaimana jadinya kalau kapalmu sendiri dihancurkan di bandar asing? D ih ancurkan tanpa sebab perang seperti tingkah Peranggi? Kalian sendiri tak suka. D an di Tuban tidak ada perang.”

  “Pembesar-pembesar kapal di kesyahbandaran itu patut digulung.” “Lebih dari patut.” “Mereka sendiri yang mulai melancarkan perang.”

  “Harus dijawab, W ira. Lihat, pembesar-pembesamya pura- pura tidak tahu.” Pembicaraan. Matanya kelap-kelip seperti lamp u menara bandar di waktu hujan, ditujukan pada setiap oran g yang angkat bicara.

  “Husy, husy. Mana tuaknya, Yakub?” Ia menerima enam lodong bambu tuak dan memikulnya sendiri ke jurusan kesyahbandaran.

  Belum lagi samp ai di tempat, terdengar lagi olehnya hiruk-pikuk di jurusan bandar. Ia berhenti, menyandarkan lodong-lodong pada pintu gerbang kesyahbandaran. D icabutnya pikulannya dan lari ke arah keributan. Juga para pelaut berlarian meninggalkan warung Yakub menuju ke sana.

  D i bandar namp ak hanya beberapa oran g. Tiga orang Portugis sedang mem ukuli dua orang yang terbelenggu tangannya sambil berteriak-teriak minta tolon g. Teriakan lain adalah dari salah seorang Portugis dalam Melayu: “Ayoh, tam bahi dengan lima babi!”

  D ari pakaiannya namp ak, dua orang yang sedang dianiaya itu orang-orang Muslimin. Malam itu bulan sudah bercahaya. D an namp ak oran g- orang yang dipukuli itu sudah berlumuran darah. D arah W iranggaleng tersirap. Ia tegah mereka. D an justru karenanya pentung mereka berpindah sasaran

  “Lima babi!” Portugis yang lain ikut berteriak menuntut. Sebentar terdengar pikulan Syahbandar-muda menan gkisi pukulan. Kemu dian menggeletar pekikannya:

  “Ini yang kau pinta!” pikulannya berputar menghantam tengkuk salah seorang Portugis yang paling jangkung. D itariknya pikulan itu dan ditojohkan pada yang lain. Ia melom pat dan menyeram pang kaki yang ketiga. Mereka tergeletak berkaparan .

  “Biar kami habisi!” teriak pelaut-pelaut yang pada berdatangan. “Jangan,” cegahnya dan kepada dua orang teraniaya,

  “mengapa kalian dipukuli?” “Kami telah antarkan sapi ke kapal mereka. Lima ekor. Mereka tidak mau terima. Katanya sapi-sapi itu terlalu kurus. Mereka minta tam bah babi lima. Bukan sedikit. Lima. Kami orang Islam, tidak berdagan g babi.”

  “Kalian berdua pedagangn ya?” “Benar, W ira.” “D an m emang kurus sapi-sapi kalian?” “Bukan kurus, W ira, hanya kurus-kering dan ceking, cacingan hampir mati.” “D asar rakus!” Syahbandar-m uda m eludah ke tanah. Tiga orang Portugis itu digotong oleh pelaut-pelaut itu ke derm aga, sedang dua orang pedagan g sapi yang rakus dirawat di warung Yakub.

  W iranggaleng kembali ke syahband aran.

  0o-d w-o0 Pada lengah malam baru ia dapat meninggalkan tugasnya. D ahulu pekerjaan demikian selalu dilakukan oleh upahan: Yakub dan anak-buahnya. Sekarang ia ambil-alih sendiri untuk dapat memperhatikan Tholib Sungkar Az- Zubaid dengan kegiatannya. D an pada kesempatan ini baru ia melihat Syahbandar itu terlalu begitu merendahkan diri, hilang sikap besar yang selam a ini selalu dipertunjukkannya. Ia tak banyak bicara dan lebih banyak menganggu k-angguk. Hanya bila ditanyai ia membuka mu lut.

  Ham pir-hampir Syahbandar-muda menarik kesimpulan: ada hubungan antara atasan dan bawahan di antara mereka dengan Syahbandar. Tetapi ia belum berani meneruskan.

  Baru saja ia masuk ke dalam kamar, datang pula Idayu dari dap ur. D an G elar telah tertidur di punggungnya. “Betapa rewelnya tam u-tamu yang sekarang ini,” juara gulat itu m engadu pada istrinya. “Orang P eranggi pertam a- tam a, biasa dimanjakan di mana-man a. D i sini pun m ereka menganggap kita sudah taklukannya. Kurang-ajar!”

  Idayu tak menan ggapi. Ia pindahkan G elar dari punggung ke atas ambin. Sam bil mengu ap ia berkata: “Sudah malam, Kang.”

  “Sudah malam? Hampir pagi. Sebentar lagi ayam akan berkeruyuk,” ia duduk dan m encoba berpikir tanpa bantuan pendapat oran g lain tentang kedatangan Portugis yang mencurigakan itu.

  Idayu telah tertidur di samping G elar. Tak mu ngkin kapal ini singgah karena tersasar. Sebelum berlabuh mereka telah mengadakan hubungan dengan menyerang, karena hanya dengan satu kapal. Lagi pula Jawa tidak terletak pada jalan Malaka-M aluku. Benarkah tujuan mereka Pasuruan dan Panarukan? dua-duanya pelabuhan kerajaan Blam bangan yang bukan Islam itu? Tetapi dari perbekalan yang dibutuhkannya, jelas bukan jarak terlalu jauh yang akan ditemp uh. Mu ngkin benar mereka akan ke Blambangan. Tapi untuk apa? D an untuk apa pula singgah di Tuban? Ada apa di Panarukan dan Pasuruan sana? Ia berpikir dan berpikir.

  Kokok ayam pertama mu lai terdengar. Ia minum dari gendi dan dud uk lagi pada tepian am bin. Boleh jadi mereka sedang melakukan pelayaran penjajagan. Mereka sedang mengintip-intip Jepara dari kejauhan. Mereka mencari-cari berita tentang kegiatan Adip ati Unus dari bandar-bandar terdekat. D an bila m ereka sudah melakukan penjajagan, pasti mereka akan menyerbu pada suatu kali oran g tak mem perkirakan. Kalau Jawa kalah, Peranggi akan berkuasa mu tlak atas rempah-rempah Maluku tanpa saingan. Semua jalan ke Maluku dan M alaka telah jadi miliknya.

  Tapi Tuban akan bertahan. Boleh jadi bukan mereka yang akan da tang ke Tuban, Tubanlah yang akan datang pada mereka di Malaka. San Adipati harus mengerti. Kesalahan yang lewat harus dibetulkan. Adipati Unus temyata benar, walaupun gagal. Sang Adipati yang salah. Orang-orang Islam semakin mem perlihatkan permu suhan terhadap Sang Adipati. D an kalau Sang Adipati tak cepat- cepat mengu bah sikapnya, boleh jadi Tuban akan semakin merana, mu ngkin sampai mati.

  G elar terbangun m enangis minta minum. Bulunya putih berbelang hitam di sana-sini. Langkahnya beriram a. Kaki-nya yang pancal hitam berjatuhan seperti menari di atas jalanan batu, dari kejauhan namp ak seperti serangkaian ton gkat putih berdasar hitam sedang menderam kan genderang. D an di atasnya duduk W iranggaleng mengenakan seluar panjang dari kaliko. Bagian atas seluar tertutup dengan kain batik yang dipasang miring dan bersibak pada belahan tengah nya.

  Pada pinggangn ya terbelit sabuk kulit bersulam benang perak di mana terselit sebilah keris bersarong perak berhulu kayu hitam. Hulu itu sendiri berukir kepala katak, dilibati tali sutra yang berujungkan serangkaian pendek batu mirah.

  D adanya tertutup oleh kutang berlengan pendek seperti baju antakesum a, dan pada dadanya tergantung kalung berbandul perhiasan perak ukiran bergam bar pohon kehidupan diapit oleh lima buah roda, seperti bandu l yang biasa dikenakan oleh pangeran-pangeran Majapahit. Seluruh Tuban mengetah ui, biarpun perhiasan itu hanya terbuat dari perak namu n pertanda karunia tertinggi dari Sang Adipati untuk seorang pejabat dari desa. D an bentuk bandu l itu menyerupai ikan, sebagai lamban g punggawa yang punya hubungan pekerjaan dengan laut. Perhiasan itu berukir timbul, sedang batu mirah sebesar kemiri dikelilingi kalim aya kecil-kecil putih keruh m engkilat m erupakan m ata dari ikan perak itu.

  Pada lengan nya terhias dua lembar gelang baja bersalut kulit di dalamn ya sebagai tanda punggawa menengah .

  D ua oran g berkuda m engikuti di belakang, bersenjatakan tom bak dan perisai. Pedang tergantung pada pinggang masing-m asing.

  D i sepanjang jalan tak henti-hentinya Syahbandar-muda mem balas hormat orang lalulalang dengan sembah dada. “Tuan Syahbandar-muda!” seseoran g memanggilnya dalam Melayu. “Berhenti dulu, Wira.” Ia mengh entikan kudan ya menengok ke arah datangn ya suara. Dilihatnya seoran g Tiongho a berkuncir tanpa topi sedang siap hendak m enghampirinya sambil menutup pintu gerbang rumah. Ia bercelana dan berbaju kain katun dan berbuah baju kain pula.

  W iranggaleng turun dari kudan ya. Sudah beberapa kali ia melihat orang ini, tetapi tak pernah tahu nam a dan tak tahu rum ahnya. Ia berdiri tegak di samping kudanya menunggu oran g ilu meneruskan kata-katanya.

  D an orang itu mem berikan hormat dengan caran ya sendiri, tersenyum ramah. Juga matanya yang sipit ikut tersenyum.

  “Ada pada sahaya sepucuk surat untuk Tuan Syahbandar-m uda, ” katanya sambil menyerahkan. “Kalau W ira berkenan barang sebentar di warung Yakub….”

  W iranggaleng mem perhatikan orang yang fasih Melayu itu dan sekaligu s menduga, orang itu seorang pedagang yang sudah lama tinggal di Malaka dan sudah berpengalaman di bandar-bandar N usantara.

  “Ada sesuatu yang sahaya hendak sampaikan.” Ru pa-rupanya orang itu merasa sedang dikaji oleh mata punggawa itu. Ia pertahankan senyum pada bibir dan matanya. D engan tangannya ia mem beri isyarat mengajaknya sebagaimana ia kehendaki, asal tidak di rumahnya sendiri. Maka senyumnya tetap terumbar minta perhatian khusus.

  Syahbandar-m uda menyapukan pandan g pada kuncirnya, hitam agak kemerahan. D an ia terima surat itu dengan diam-diam dengan mata tetap memperhatikannya.

  “Tuan akan tahu tentunya dari siapa surat itu.” “D ari siapa?” tanya W iranggaleng. “D ari Mohamm ad Firman.” “Tak ada aku kenal orang Islam bernama begitu.” “Sahaya hanya sekedar menyampaikan.” “Islam baru atau lama?” “Tak ada Islam lama, Wira, semu a baru.” “D i m ana tinggalnya?” “Tidak menentu, Tuan Syahbandar-m uda. Dia seorang mu syafir D emak, m engembara ke mana-m ana.” “Apa itu musyafir D emak?” “Semacam pekerjaan, W ira.” D an teringat olehnya akan Anggoro alias Hayatu llah di

  Jepara dulu. Ia mengangguk. Surat itu belum juga dibacanya. Ia lebih tertarik pada pengirimn ya – seorang Islam baru dan mu safir D emak. Bertanya: “D i mana kau bertemu dengannya?”

  “D ulu, Wira, di Lao Sam. Dia pernah tinggal bersama sahaya. Sudah sahaya an ggap sebagai anak sendiri. Artinya, sebelum dia m asuk Islam,” dan ia tetap tak m emperlihatkan tand a-tanda menyilakan masuk ke rumahnya. Malah ia mencari tempat teduh di bawah sebatang pohon asam.

  “Apakah balasan diharap kan dengan segera?” “Tidak, Wira, tidak.” Kemu dian ia berkata dengan nada lain, “Maafkan, tidak sahaya antarkan surat ini ke kesyahbandaran. Susah bisa masuk ke sana.” “Ya,” dan Wiranggaleng m ulai mem bacanya.

  D ua orang pengiringnya masih tetap duduk di atas kuda, mem perhatikan. Tombak mereka terpanggul pada bahu masing-m asing. Tiba-tiba mereka melihat perubahan pada wajah W iranggaleng dan mem ajukan binatang mereka beberapa langkah serta m enyiapkan tombak.

  Juara-gulat itu memang sedang tertegun melihat lengkung-lengkung huruf pada tulisan Jawa itu serta pasangan yang selalu kebesaran. Ia mengenal tulisan itu – sama dengan yang pernah diperlihatkan padanya oleh Sang Adip ati. Surat itu telah diambil oleh penguasa Tuban itu dari cepuk subang N yi Ayu Sekar Pinjung, dah ulu selir kesayangan.

  Ia angkat pandangnya pada dua orang pengiringnya, melambaikan tangan dengan surat kertas pada tangann ya, dan pergilah m ereka mendahului ke pelabuhan.

  “Pengirim ini bernama Mohammad Firman?” “Benar, W ira.” “Sebelum masuk Islam apakah namanya? Bukankah

  Pada?” “Benar, Tuan Syahbandar-muda.” Berdua m ereka berjalan ke warung Yakub. W iranggaleng sambil menuntun kuda. Mereka diam-diam tak bicara.

  W arung itu mengh adap ke suatu ceruk di mana berlabuh perahu-perahu nelayan. D an bila pandang m ata oran g telah melewati deretan perahu-perahu kecil itu, laut pun terbentang luas tanpa batas sampai ke kakilangit Sam bil dud uk di atas bangku mengh adapi cawan-cawan arak juara gulat itu mulai m embaca lagi:

  “Dari Mohammad Firman kepada Syahbandar-muda T uban,

W iranggaleng. Ketahuilah, Kang Galeng, kakangku sendiri,

dalam keadaan sehat telah aku tinggalkan Lao Sam. Ingin hati

datang menyembahmu, ingin hati menengok Mbokayu Idayu.

Bagaimana mungkin? T uban telah membunuh aku dan

melemparkan aku ke laut. T uban itu juga yang tetap

menginginkan nyawaku, sekiranya diketahui aku masih hidup.

Pasti engkau mengerti, Kang Galeng, kakangku sendiri, betapa

besar harapanku diperkenankan menggendong dan memomong

kemenakanku. Betapa akan menarik kemenakan itu. Ayahnya

seorang pegulat gagah-berani tanpa tandingan. Ibunya seorang

penari rupawan, impian dan pujaan setiap pria… .”

  W iranggaleng berhenti membaca. Ia merasa seakan disengat lebah. Sindiran kah ini terhadap kemalangann ya, kemalangan suami-istri? Atau dia tidak tahu? Ia pandan gi orang Tionghoa yang dud uk di sampingya dan masih juga tersenyum dengan bibir dan matanya.

  Melihat sedang ditatap ia mengangguk seakan mem benarkan bacaannya. D an perbuatan itu mengh ilangkan kecurigaan G aleng. Ia meneruskan bacaannya:

  “A dikmu yang nakal ini tiada kan melupakan kakangnya,

kakangnya sendiri, yang telah berikan hidupnya kembali. Biarpun

adik ini senakal setannya T uhan Allah, Kang, dan biarpun

kakangnya bukan atau belum seagama dengannya, dia tetap

kakangnya yang harus dibalas budinya.

  Mungkin juga suatu balas budi padamu, Kang, kalau dalam

  

membantumu dalam pekerjaan yang engkau tak bisa lakukan.

Semua orang pesisir tahu apa yang dibutuhkan T uban. Bicaralah

sendiri dengan ayah-pungutku ini, orang yang bukan seagama

denganku, dan tiadalah kau bakal menyesali aku lagi.”

  Sementara itu orang Tiongho a itu telah m engatur cawan- cawan arak di atas meja di depan m ereka. Ia menyodorkan sebuah cawan sambil berbisik: “Sahaya bersedia m embantu Tuan Syahbandar-m uda, ” ia masih juga tersenyum. “Liem Mo Han nama sahaya,” suaranya jelas walaupun warung itu ramai dengan gelak-tawa dan obrolan para peminum.

  Yakub mem perhatikan keduanya dengan selintas. Menyedari akan pandan g mata pewarung itu Liem Mo

  Han mengajaknya minum, untuk kemudian keluar dengan nya berjalan-jalan disepanjang dermaga. Senyumnya yang menarik dan mencurigakan sekaligu s, untuk ke sekian kalinya m emaksa ia menerima ajakannya.

  D an mereka berjalan beriringan diikuti oleh pandang mata semua yang tertinggal. Beberapa buah jung Tiongkok sedang berlabuh di sana. Kedua orang itu tidak menaruh perhatian dan terus juga berjalan.

  “Mem ang sahaya sedia mem bantu,” Liem Mo Han mengu langi katakatanya dalam surat itu, sekarang dalam Jawa halus. “Mo hamm ad Firman telah mem bicarakan kemungkinan ini dengan sahaya, lama dan berkali-kali. Sahaya yakin, tenaga sahaya memang Tuan perlukan, W ira.”

  W iranggaleng m asih jua belum mengerti maksudnya dan diam mendengarkan. “Mo hamm ad Firman dan sahaya tahu, ada satu Peranggi. Kalau hanya Syahbandar Tuban Sayid Habibullah Almasawa saja yang bisa, tak adalah orang yang dap at mengawasi pekerjaan nya. Sahaya bisa bahasa itu, Tuan. Tiga tahu n lamanya sahaya bergaul dengan oran g- orang P eranggi.”

  “Babah dan Pada sungguh tidak keliru.” “Kalau ada surat-surat Peranggi, sahaya akan bacakan untuk W ira.” “Sayang, sekiran ya Babah datang lebih dulu,” Syahbandar-m uda itu berkecap-kecap menyesali.

  “Sahaya datang setelah dap at mengalahkan keragu- raguan. Adakah kiran ya surat-surat yang haru s sahaya bacakan?”

  “N anti pada waktunya, Babah.” “D i samping itu, Tuan Syahbandar-muda, masih ada satu perkara lagi. Sahaya sedang memburu dua orang

  Peranggi, Esteban dan Ro driguez namanya. Mereka lari dari Lao Sam melalu jalan darat. Mereka lari ke mari. Entah di mana mereka bersembunyi tadinya sahaya tidak tahu . Baru setelah kapal Peranggi itu berangkat, nampak mereka oleh sahaya ada di gubuk pelacuran di daerah pelabuhan .

  “Tak ada larangan selam a mereka tidak meninggalkan pelabuhan atau memasuki kota atau pedalaman.” “Benar, Tuan Syahbandar-m uda. Tetapi Peranggi adalah

  Peranggi, di mana-mana kejahatannya sama saja, dan hanya kejahatan itu juga yang bisa diperbuatnya. ” “Bukankah mereka itu yang dulu dikejar-kejar di

  Jepara?”

  “Mata-mata.” “Sahaya belum dapat m emastikan. N ampaknya m emang demikian.” “Aku sudah lihat orang-orang itu di bandar Jepara. Bagaimana Babah bisa tahu mereka ada di sini?”

  “Lam a sahaya memburu mereka. Tahukah, Tuan, mereka adalah kanonir, penembak meriam Peranggi? Penembak meriam!”

  “Penembak meriam!” “D an sekarang mereka bersembunyi di bawah perlindungan T uan Sayid sendiri? Hampir-h ampir satu atap dengan W ira?”

  “Ha?” seru W iran ggaleng, ia mencoba menem busi mata Liem Mo Han untuk dapat m embaca pedalamannya. “Bukankah Tuan sahabat Mo hammad Firm an?”

  W iranggaleng mengangguk mem benarkan. “Mohamm ad Firm an adalah anak-pungut sahaya. Patutkah sahaya mengatakan yang tidak benar pada Tuan?”

  W iranggaleng meletakkan kedua belah tangannya yang kukuh itu pada bahu Liem Mo Han. D an orang meyakinkannya dengan senyum pada bibir dan matanya.

  “Mereka tidak melanggar ketentuan, Peranggi-p eranggi itu. Syahbandar Tuban pun tidak,” kata Sang Patih. “Tak ada alasan untuk melaran g atau bertindak. Mencurigakan? Ya. Siapa tidak mencurigai Peranggi? Awas-awaslah selalu, tak boleh ada satu kejadian di daerah bandar yang menyalahi ketentuan.”

  “Mereka melakukan kejahatan di mana-mana, G usti.” “D i sini tidak atau belum . Babah boleh mem bantumu, tapi untuk mengawasi mereka. D an jangan kau sampai lena, boleh jadi orang itu bekerja untuk Semaran g. Selama soalnya Semarang, persangkutann ya selam anya D emak. Jangan kau sampai lupa. Beruntunglah D emak sudah mem boroskan hampir seluruh tenaganya di Malaka.”

  “Mereka tinggal di kesyahbandaran, G usti,” W iranggaleng m emoton g. “Lebih baik lagi, dan mem ang sudah jadi hak orang asing di sini. Selidiki dulu benar-tidaknya.” “Mereka pelarian dari kapal Peranggi, G usti, penembak- penembak meriam. ” “Penembak meriam! Kalau itu benar justru semakin menarik, W ira. Cetbang kita tak bisa tandingi meriam mereka. D an kalau benar mereka pelarian, dan penembak meriam pula, G usti Adipati tentu akan menaruh perhatian. Meriam, Wira, bukan cetbang. Meriam adalah meriam, dan kita belum bisa bikin. Kau mu ngkin sudah pernah melihatnya di Malaka atau di kapal Peranggi kemarin. Aku belum . Meriam, Wira! Setelah kekalahan Pati Unus di Malaka, semua tahu: meriam saja kunci kemenangan. Tuban akan bikin ini jadi pekerjaan, Wira. Siapa tahu mereka bisa membikin untuk Tuban? Biarkan mereka tinggal di kesyahbandaran. Pergi!”

  Setelah menerima Sang Patih dan setelah bercengkerama di taman kesayangan, Sang Adipati Tuban m asuk ke dalam harem.

  Pintu-pintu telah tertutup pada malam berangin itu. Pada pengurus baru ia berbisik m emperingatkan: “Jangan sampai terulang lagi peristiwa N yi Ayu Sekar Pinjung. D an jangan kau ulangi perbuatan N yi G ede Kati. Hukuman yang akan dijatuhkan kemudian akan lebih berat.”

  Ia diam m endengar-dengarkan. D an mem ang ada didengamya suara-suara beberapa orang selir sedang bicara-bicara dalam salah sebuah bilik yang terkunci dari dalam.

  “Siapa itu?” bisiknya bertanya. “Ampun, G usti Adipati sesembahan patik, tiada lain dari kawula G usti N yi Ayu Ruti dan N yi Ayu Utami.” “N yi G ede D aludarmi, biasakah mereka berkunci pintu sebelum waktunya?” “Tidak, G usti, patik tidak tahu mengapa sekarang begitu.” Sang Adipati meninggalkan D aludarmi bersimpuh di tanah dan pelan-pelan mendekati pintu untuk mendengarkan.

  “… siapa tidak tahu tidak kuatir? Sapi-sapi kita bisa punah. Panen kita bisa mu snah,” penguasa Tuban itu mendengar.

  “Apa belum juga ada yang mempersembahkan?” suara yang lain. “Kerusuhan sudah meruyak ke m ana-m ana,” suara yang ketiga. “Katanya pagardesa sudah tak mampu. N am paknya Ki

  Aji Benggala sudah tak mengirimkan ke T uban. Bagaimana desamu ?” “Belum sam pai ke perbatasan desa kam i,” jawab yang ke empat. “Tapi siapa tahu? Barangkali mereka sudah samp ai juga ke sana sekarang?”

  “Kalau G usti Adip ati belum menggerakkan balatentara, tentu belum ada yang mem persembahkan,” suara pertama menyimpulkan.

  Sang Adipati kembali mendekati N yi G ede D aludarmi yang m asih juga bersimpuh di tanah. “Berap a um urm u, D aludarmi?” bisiknya bertanya. “Tiga puluh lima, G usti, menurut perhitungan surya.” “Apakah kau Islam?” “Patik, G usti.” “Mengapa menurut perhitungan bulan?” “Patik tak tahu menghitungnya, G usti.” “G ila, bulan dipergunakan sebagai hitungan. D aludarmi!

  Hidup di tengah-tengah selir begini, tidakkah kau ingin juga jadi selir?” “Semua G usti Adipati sesembahan patik yang menentukan, G usti.” “Tiga puluh lim a tahun masih mu da, D aludarmi,” bisik

  Sang Adipati. “D an kau belum pernah beranak.” Sang Adip ati mu lai merabai tubuh pengurus harem itu. “Kau masih lebih kukuh dari si Kati.” Ia sejenak tak bicara.

  Kemu dian, “Coba, mana mukam u?” dan ia pandan gi wanita itu dalam kegelapan malam.

  Ia tak teruskan dengan mem bikin cinta. “Bagaimana Sekar Pinjung sekarang?” “Ampun, G usti, sepanjang pengetahuan patik, ia jarang keluar dari kamar, sering kedapatan menan gis dan pucat.

  Patik pohonkan ampun untuknya, G usti, wanita semuda itu, belum panjang pikir, belum lagi delapan belas.”

  Sang Adipati berdiri termangu-mangu D itariknya D aludarmi berdiri dan diciumnya pada pipinya, kemudian ditinggalkan berdiri. berjalan melewati bilik-bilik selir dan melewati kamar terkunci di mana beberapa selir masih sibuk mem bicarakan Ki Aji Benggala. Ia langsung menuju ke bilik paling ujung. Pintu itu terbuka dan ia pun masuk ke dalam .

  D ua jam kemudian ia keluar lagi dan menuju ke bilik ujung yang lain, Ia mendeham pelan di depan pintu, tetapi tiada berjawab. Ia m endehani sekali lagi. Juga tak berjawab.

  N yi G ede D aludarmi berjalan mengh ampiri Sang Adip ati, berjongkok di bawah dan menyembah, kemudian mem anggil-m anggil pelan pada pintu: “N yi Ayu, N yi Ayu Sekar Pinjung! N yi Ayu!”

  “N yi G edekah itu?” terdengar suara sayu menjawab dari dalam . “N yi?” “Bukalah pintu, rang manis,” kata D aludarmi lemah.

  Pintu itu terbuka ragu-ragu, hanya terkirai sedikit. D an Sang Adipati masuk ke dalam . Sekar Pinjung, yang tidak sempurna pakaiannya dan riasnya, langsung menjatuhkan diri pada kaki penguasanya, tersedan-sedan tanpa bisa bicara. Pintu ditutup oleh D aludarmi dari luar.

  Lelaki tua itu berdiam diri ragu-ragu. Ada sesuatu yang bergolak di dalam hatinya. Setelah mendengar pembicaraan para selir dari balik pintu, ia mengerti, ada kepala-kepala desa yang tak berani mem persembahkan keadaan di desanya pada atasann ya, maka dipergunakan selir-selir. Mereka selalu mendapat kiriman dari desa, dan tidak jarang juga pesan untuk diteruskan pada Sang Adipati. D emikian mereka dap at melewati atasan nya dengan gaya dan cara yang khusus. Mem ang perbuatan kepala desa semacam itu tak dap at dikatakan melanggar aturan. Tak ada suapan ataupun sogokan menjadi dasar perbuatann ya. D an selam anya cara itu didasarkan atas kepentingan desanya sendiri.

  Sekarang ia tahu adanya Ki Aji Benggala. Mu ngkin percakapan itu tidak seluruhnya benar, nam un ada sesuatu yang terjadi di desa-desa pedalaman.

  Sekar Pinjung ini lain lagi. Ia m empersembahkan sesuatu berdasarkan suapan. Benar atau palsukah persembahannya? Tidak seluruhnya benar, juga tidak seluruhnya salah. Kepala desanya telah mem persembahkan upeti dua kali lipat. Hampir selam a dua tahun ini! Tetapi ia masih juga belum menggubrisnya. D an sekarang ia baru mulai berpikir tentang kebenaran atau kepalsuan persembahan Sekar Pinjung

  Pand angn ya jatuh ke bawah pada tubuh gading yang mencium kakinya. Kemudian tangan gading itu mem eluk kakinya, seperti seekor cacing yang menunggu diinjak. Hukum an pada Sekar Pinjung dirasainya terlalu berat. Apalagi sekarang sudah jelas siapa sum ber ketakutan terhadap Peranggi. D itam bah lagi dengan pengetahuan, Peranggi hanyalah manusia biasa yang juga mem butuhkan makan dan minum, hanya kulitnya saja putih dan bahasa dan adatnya lain.

  Hukum an itu telah lebih dari dua tahun dijalani oleh Sekar Pinjung, selir kesayangan. Dan seorang satria tidak mencabut kembali kata-katanya.

  W an ita berkulit gading itu tak mengindahkan keadaan kulitnya yang tiada tertutup D in gin hati Sang Adipati lebih mem bekukan.

  Ia lihat punggun g wanita itu tersengal-sengal kecil karena sedu-sedan permohonan ampun, namp ak olehnya begitu hina dan tidak berarti. Hanya seorang satria bisa mem bikinnya jadi berarti kembali pikimya. Barangkali aku telah berbuat kurang adil terhadapnya. Leluhur mengajarkan agar berhati-hati terhadap isi keputrian, sarang hasutan dan fitnah. Betul. Sarang dengki dan kelobaan. Betul. Tempat raja-raja tumban g karena gosokan. Betul. Tempat si kerdil mem asang perangkap untuk menan gkap bulan. Betul. Sarang labah-labah yang tak kenal malu. Benar perempuan hina ini hanya memperingatkan. Hanya mem peringatkan. D an aku sudah berbuat kurang adil terhadapnya. Bukankah keadilan semestinya mampu mencabut kata-kata satria yang keliru?

  Sebelum Sang Adip ati dapat mem utuskan pergolakan di dalam dirinya telah keluar kata-kata dari m ulutnya, pelahan dan berbisik: “Telah dicabut hukum an bagimu, Sekar Pinjung. Berdiri!”

  W an ita muda itu berdiri gemetar. Seluruh pakaiannya luruh ke lantai. Mu kanya pucat. Rambutnya kacau. Kepalanya masih juga terangguk-an gguk kecil karena sedu- sedannya. Tetap ia tiada dapat berkata sepatah pun.

  Sang Adipati meraih dua belah tangannya. D id ekapkan dia pada dirinya, kemudian dipangkunya. Sekarang barulah terdengar wanita itu menan gis teram puni. D an luluhlah sudah amarah Sang Adipati, luluh pula duka-cita sang selir, cair ke dalam arus berah i.

  “D aludarmi!” panggil Sang Adipati dari dalam bilik.

  W an ita pengurus harem itu masuk ke dalam, mem bawa nam pan berisi cawan-cawan tembikar. Pandan gnya tertuju pada lantai, untuk tidak melihat pemandangan di hadapannya. Ia berjongkok di bawah kaki Sang Adipati.

  Penguasa Tuban itu mengambil cawan jamu dan mem inumn ya habis D aludarmi mundur beringsut-ingsut keluar dari kamar. “Jangan keluar! Tinggal kau di sini. Letakkan namp an itu di m eja.” Tengah hari pada keesokan harinya terjadi kesibukan dalam tubuh pasukan kuda. Puluhan prajurit telah meninggalkan Tuban Kota menuiu ke berbagai jurusan negeri. Yang demikian hampir-hampir tak penuh terjadi selam a ini.

  Segera orang-orang menghubung-hubungkan gerakan tentara dengan terjadinya kerincuhan di pedalaman, yang selam a ini dibiar berlaru t jadi desas-desus um um.

  Beberapa hari setelah keberangkatan kesatuan-kesatuan kecil pasukan kuda, pendopo kepatihan penuh-sesak dengan kepala-kepala desa, para wedana, demang dan kuwu seluruh negeri. Yang tak hadir hanya wakil dari desa-desa di bawah kekuasaan Rangga Iskak. Mereka semua duduk bersila di atas lantai.

  Tanpa sesuatu upacara Sang Patih mem ulai: “Betapa sangat menyesal kami mengetahui, kalian diam -diam tiada mem persembahkan sesuatu yang sedan g terjadi di desa-desa kalian. Ketahu ilah, G usti Adipati Tuban sangat murka mendengar adanya huru-hara tidak dari persembahan kalian. G usti Adipati Tuban mendengar, bahwa pagardesa kalian sudah kewalahan mengh adapi para perusuh. Jawab sekarang juga. Benar-tidak?”

  “Ampun, G usti Patih,” seorang kuwu mengangkat sembah. “Adanya huru-hara itu memang betul, karena terjadinya di daerah kekuasaan patik. Ada pun patik belum juga mem persembahkan adalah karena patik masih berusaha, belum lagi putus-asa.”

  “Pernah kah kalian menan g terhadap mereka?” “Ampun, G usti, belum pernah, tapi kalah pun belum.” “Jangan persembahkan teka-teki.” “Begitulah adanya, G usti, kalau mereka datang, pagardesa lari. Kalau pagardesa datang, m ereka yang lari.” “Apa kalian sedang m ain petak?” Sunyi seluruh pendopo. W ajah Sang Patih merah menyala-n yala. Suasana tegang. Semua penghadap menundu k.

  “Mengapa mem bisu? Hilangkah sudah lidah kalian?” “Ampun, G usti, di tempat patik agak lain keadaannya. Telah patik persembahkan ini ke hadapan G usti Patih, bahwa pagardesa patik selalu masuk ke dalam jebakan dan satu kali pun tidak pernah menjebak.”

  “Apa m aksudmu dengan jebak-m enjebak?” “Maksud patik, G usti, rajakaya desa hilang kalau tidak dijaga dan tinggal utuh kalau dijaga.” “Bicara yang jelas. Kami tidak m engerti maksudmu.” “Ampun, G usti. Kalau pagardesa yang menjaga rajakaya itu m engejar mereka, hilanglah yang tidak terjaga itu.” “Hei, bantulah dia bicara, kami tidak mengerti.” “Ampun, patik pun tidak mengerti, G usti. Hei, kepala desa, bersembah kau yang benar dan patut.”

  “Apakah maksudmu perampok rajakaya itu hidup di dalam desamu sendiri?” “Kira-kira begitu, G usti, tetapi patik tidak berani mem persembahkan dengan pasti.” “Hei, yang bersangkutan, kau sudah dengar sendiri persembahan bawahanm u. Perhatikan warga dari desa-desa kalian. N ah, dengar ekalian yang mengh adap pada hari ini! Kami takkan mengu langi un-tuk kedua kalinya,” Sang Patih menebarkan pandang ke seluruh penghadap. Meneruskan, “Kami beri waktu untuk kalian satu bulan penuh untuk mengatasi kerusuhan. Aturlah antara kalian sendiri bagaiman a mendatangkan bantuan pagard esa dari desa-desa lain yang am an. Kalau gagal, tahu kalian akibatnya?”

  “Tahu, G usti.” “Ya, tahu. Biar begitu kami samp aikan juga: Kalau kalian gagal, balatentara Tuban akan bergerak mengambil- alih tugas pagardesa. Mengerti kalian artinya?”

  “Mengerti, G usti.” “Ya, mengerti. Biar begitu kami sampaikan juga: kalau balatentara bergerak, menjadilah tanggungan pada desa- desa yang didatangi bala-tentaranya. Cu kup sebulan itu?” “Lebih dari cukup, G usti,” mereka m enjawab berbareng.

  Kemu dian Sang Patih mengendorkan ketegangan dengan cerita: Ki Aji Benggala dahulu adalah punggawa G usti Adip ati Tuban menjabat Syahbandar Tuban Kota. N ama sebutan nya adalah Rangga Iskak. N am a kelahirannya adalah Iskak Indrajit.

  Semua penghadap gelak tertawa mendengar nama raksasa dalam R am ayana itu, nam a yang tidak populer bagi negeri Tuban. Juga Sang Patih ikut tertawa menyertai. D an ketegangan lenyap.

  Cerita pun diteruskan: Iskak Indrajit adalah cucu dari Syahbandar Malaka, seoran g Benggala Malabar. D ari kakeknya Rangga Iskak merasa dirinya oran g Benggala, maka menam ai diri Ki Aji Benggala. Ayahnya, yang berum ur pendek, beristrikan seorang Malabar pula. Tetapi bekas Syahbandar itu dilahirkan oleh seorang ibu Melayu, dan dari ibunya ia m endap at nam a Indrajit.

  Sekali lagi penghadap gelak tertawa. Ibunya m emang bijaksana m enamainya demikian. Rupa- rupanya ia telah m endapat firasat, anak yang dikandu ngnya nanti akan jadi seorang raksasa dengan gigi taring. Sesungguhnya, Rangga Iskak mempunyai gigi taring yang agak m encolok.

  “Tetapi keadaan sudah berubah,” Sang Patih meneruskan. “Jabatan nya sebagai Syahbandar tak dap at dipertahankan. la harus diganti. Tetapi ia tidak rela diganti, ia merasa bandar Tuban adalah miliknya pribadi. Segala apa pun yang dikaruniakan G usti Adipati dung gapnya kurang dan makin kurang. Mem ang dasar raksasa bergygi tann g Karunia lima buah desa sudah selayaknya ia merasa jadi seorang bupati Tetapi tidak, dengan desa itu ia semakin bertingkah. Ia anggap desa-desa itu didapatnya dari berperang, dan sekarang dipergunakannya jadi m odal untuk melawan….

  Seperti kebiasaan baru di sebelah timu r dan barat negeri Tuban sekarang ini, kalau seorang ningrat, apalagi bukan ningrat telah menam akan diri Ki Aji dan mendapatkan, banyak pengikut, dia merasa sudah setingkat dengan seorang adipati, belagak sebagai raja tanpa pencgasan hak. seakan-akan sudah boleh ditempati oleh setiap oran g. Ajaran leluhur mu lai dilupakan, sedangkan ajaran baru belum ada isinya. Itulah kebiasaan baru sekarang ini dari beberapa orang yang bakal bikin celaka semua orang di seluruh pulau Jawa.”

  Suaranya meningkat dan jadi berkobar-kobar, sarat dan gemas: “Kalian harus ingat, Indrajit alias Ki Aji Benggala bukan berdarah ningrat, jangan kan berdarah Majapahit, berdarah bupati pun dia tidak. Malahan orang Jawa dia pun tidak. Dia peranakan Keling biasa, yang kebetulan pandai berbagai bahasa. Memang banyak kepandaiann ya, terlalu banyak. Hanya dia punya satu kebodohan, satu saja: dia tidak mengerti bagaimana berterimakasih. D engarkan: tum paslah dia sebelum menjadi-jadi. Jangan ragu-ragu. Kalian sendiri, sebagaimana diajarkan oleh leluhur, tentu takkan percaya pada orang yang tidak tahu berterimakasih, karena dia sesungguhnya tidak tahu tentang karunia para dewa. N ah, pergi kalian.”

  D engan mengh adapnya para punggawa oran g mendapat gam baran sebenamya tentang gentingnya keadaan pedalaman. Hampir-hampir dapat dipastikan: balatentara Tuban akan bergerak dalam sebulan mendatan g.

  D i Tuban Kota sendiri telah dirasai adanya perubahan itu. Pertukaran baran g dengan pedalaman merosot sejadi- jadinya. Pasar Kota semakin sunyi. Oran g-orang kota banyak yang meninggalkan kampung-halaman dan pindah ke pedalaman. Perdagangan antar-pelabuhan, apalagi antar- pulau, beku.

  D an di bandar sendiri, kecuali pemeliharaan dan pembersihan, hampir tak ada pekerjaan lagi….

  0o-d w-o0 W iranggaleng tak pernah lagi kelihatan seorang diri dalam menjalankan tugasnya. Ia pun mendapat tugas baru: menjaga keam anan bandar Kota dan G londong.

  Pekerjaan nya semakin banyak, pengetahuannya semakin banyak, dan persahabatannya lebih-lebih lagi. Hubungann ya dengan Liem Mo Han m embawanya pada suatu pengetahuan, bahwa benar Portugis dan kapalnya telah belayar ke Panarukan, dan bahwa raja Blam bangan, G irindra W ardhana bukan hanya tidak menolaknya, bahkan menitahkan Patih Udara untuk menjemput Martinique L amaya di pelabuhan dengan segala kebesaran. D an setelah kapal itu mancal lagi dapat diketahui ada baran g sepuluh orang Portugis mengantarkan kapal itu berangkat. Mereka tinggal di Blam bangan.

  Liem Mo Han pula yang memberitakan padanya: di antara sepuluh orang Portugis itu ada yang masuk lebih ke dalam daratan Blam bangan dan mem bangunkan sebuah rumah. Boleh jadi, kata Liem Mo Han selanjutnya, dengan bantuan kerajaan Hindu itu oran g-orang Peranggi akan berhubungan dengan perusuh-perusuh di pedalaman negeri Tuban dan dengan persekutuan itu akan m engancam T uban dari laut dan darat.

  “W ira, hanya kekuatan Islam yang menentang Peranggi. Semua kerajaan Hindu serba sebaliknya. Mereka merasa terus-menerus terdesak oleh Islam, mengambil sikap bertahan terhadap aru s agama baru itu. Maka begitu Peranggi datang mereka segera mengu lurkan tangan penyambutan. Mereka justru mengh arapkan perlindun gan dari mu suh seluruh dunia itu.” Lam a ia renungkan kebenaran kata-kata Liem Mo Han.

  Perbandingan ia tak punya. dari renungannya ia

  Portugis. Baik Hindu mau pun Islam, dua-duanya menari karena adanya Portugis.

  “Ya, Peranggi tetap pokok,” ia mem utuskan. D an sekarang, berdasarkan renungan itu, ia mengetah ui:

  Tuban berada di antara Hindu dan Islam , tidak punya sikap yang pasti terhadap Peranggi.

  “Tuban harus menentang Peranggi, tanpa m enjadi Islam, juga tidak karena Hindu. ” Ia tak persembahkan hasil renungannya pada Sang P atih. N am un kata-kata Liem Mo Han tentang tiga kekuatan itu menjadilah dasar pandangan resmi praja Tuban dalam mem ahami dunia yang sedang berubah.

  Tetapi sahabatn ya itu tak pernah bicara tentang Tiongkok, tidak tentang jung-jungnya, tidak tentang perdagangann ya, tidak tentang mu suh-m usuhnya, bahkan tentang kependudukannya di Jawa ia pun tidak pernah mem buka mu lut. D an W iranggaleng merasa tak ada kebutuhan untuk mengetahui.

  Telah beberapa kali ia mengu ndangnya untuk mengh adap Sang Patih. Liem Mo Han selalu m enolak. D an dalihnya terakhir adalah: “Hanya kerajaan yang sudah sepenuhnya Islam mau melawan Peranggi. Maka yang setengah Islam cuma akan setengah melawan. Biarlah sahaya m embantu dari jauh saja, W ira.”

  Penolakan itu bergema dalam hati Syahbandar-muda. Aku belum pernah jadi Islam. Aku tak kenal dewa- dewanya. Tapi aku pernah melawan Peranggi, biar pun sudah kalah sebelum bertarung. D an aku akan tetap melawan. Ia merasa tersinggu ng karena Liem Mo Han menganggap Tuban setengah Islam. Seperempat pun belum ! Tapi aku akan melawan Peranggi. Hanya kesempatan saja belum aku peroleh.

  Liem Mo Han tetap tidak mau bicara tentang pribadinya. Ia selalu bicara tentang praja.

  Setiap ia mendapat kesempatan dan bertemu dengan sahabatn ya, selalu saja ada soal baru yang jadi tam bahan pengetahuan nya. D an datangnya pengetahuan itu tidak binal menjompak-jompak sebagaimana diterimanya dari Rama during, tapi tenang-tenan g, seakan tidak terjadi sesuatu , dan masuklah dalam hatinya.

  Suatu peristiwa telah menyebabkan mereka berdua berpisah. D an kejadian itu datang begitu m endadak. Pagi waktu itu. D engan dua orang pengiringnya ia pulang dari mem eriksa seluruh bandar. Baru saja ia turun dari kuda telah terdengar: “W ira! Wira!” Tholib Sungkar Az-Zubaid mem anggilnya.

  Sudah lama rasan ya ia telah hindari Syahbandar yang dibencinya. Sebaliknya yang terbenci nam paknya merasa juga sedang dihindari. D an sekarang ia mengh adapi perm ainan hindar-menghindar ini.

  Ia naik ke gedung utam a dan didapatinya Syahbandar sedang m inum kopi di kamar-kerjanya. “Selamat untukm u, W ira,” ia berdiri. W ajah nya berseri- seri dan nampak seakan bongkoknya sudah hilang sama sekali.

  “Tuan Syahbandar, inilah sahaya,” jawab W iranggaleng. D an setiap kali ia melihat bongkok itu hilang dari punggung orang Moro itu – telah sering ia perhatikan –

  “Aku baru ingat, W ira, bukankah kau anak pedalaman?” tanyan ya dan menyilakan duduk. “N ah, semestinya kau tahu di mana desa Rajeg”

  Ia menjadi waspada. Setiap oran g tahu, Rajeg adalah sebuah desa pedalaman tempat pemusatan kekuatan Ki Aji Benggala.

  “Yang sedang banyak dipercakapkan orang itu?” “Apa yang mereka percakapkan?” mata Tholib kelap- kelip menyelidik.

  D an waktu nam pak olehnya W iranggaleng tersenyum mengo lok-olok ia jadi ragu-ragu. Ia tak meneruskan kata- katanya. D engan mengambil nada lain ia bergumam: “Orang-orang bodoh itu. Mana mungkin Rangga Iskak mem berontak? D engan takzim, tawakal dan sabar ia terima semua titah G usti Adipati.” N ada suaran ya meningkat lagi, “Begini, W ira, kau juga tahu Rangga Iskak ada di Rajeg. Aku mengetah ui dari G usti Patih. W ira, baru saja ketahuan ada barang kesyahbandaran, barang penting, yang terbawa olehnya. Mungkin dia lupa dan tak m engingatnya lagi. D an itu bisa mem bikin bahaya terhadap bandar. Barang itu harus di kembalikan pada Syahbandar.”

  “Ru panya penting benar baran g itu, Tuan Syahbandar,” W iranggaleng m enyembunyikan keheran annya. “Bagaimana bisa dikatakan tidak penting? Cap tera untuk mas, perak dan tembaga! Syahbandar harus mendapatkan baran g tersebut sebelum berlarut. Bentuknya mem ang sama dengan yang sudah kita pakai sekarang, hanya tak ada tulisan Arab tam bahan di dalam nya.”

  W iranggaleng sibuk menerka maksud orang Mo ro ini, tetapi belum dapat.

  “Teruskan Tuan Syahbandar.” “Aku akan siapkan surat buat dia, dan cobalah nanti samp aikan padanya dengan lisan: Syahbandar Tuban Sayid

  Habibullah Almasawa dalam keadaan selam at. Cu kup itu saja. Aku senang punya pembantu seperti kau. Beran i, pandai, cekatan , kuat. Hanya oran g seperti kau mampu selesaikan pekerjaan ini.”

  Terbayang oleh Syahbandar-m uda itu akan adanya hubungan antara kerusuhan di pedalaman dengan Syahbandar ini, dan antara Syahbandar dengan Peranggi.

  Aku harus buktikan! Aku harus dapat menyamp aikan ini pada Sang Patih: orang satu ini mem ang pengkhianat yang tak patut mendapatkan perlindu ngan dari Sang Adipati, tidak boleh lebih lama lagi. D ia sepatutnya dienyahkan dari bum i Tuban.

  Sebelum berangkat ke Rajeg ia telah temui sahabatn ya Liem Mo Han dan berpesan agar mem buang waktu untuk terus mengawasi dua oran g Peranggi yang mendap at perlindungan resmi dari Syahbandar dan perlindun gan tidak resmi dari praja itu.

  D ari Sang Patih ia mendapat empat orang prajurit dari pasukan kaki sebagai pengawal dan teman seperjalanan, dan perintah untuk mengetahui sebaik dan sebenar- benamya tentang desa Rajeg, kekuasaan dan pengaruh Ki Aji Benggala, desa-desa sekitar, berapa banyak sesungguhnya desa yang mu lai dan sudah berada dalam pengaru hnya, hubungan yang mentautkan Rangga Iskak dengan Sayid Habibullah Almasawa yang bermusuhan pada lahimya itu, dan apa saja yang telah diperbuat dan direncanakan oleh perusuh.

  “Kerjakan tugasmu dengan baik,” pesan Sang Patih. Pedagang-pedagang Islam meninggalkan Tuban Kota, pindah ke kota-kota bandar di barat. Sedang pedagan g- pedagan g Islam yang kecil-m engecil masuk ke pedalaman ”

  “Patik akan kerjakan sebaik-baiknya, G usti.” “Benar kata Syahbandar. N ampaknya hanya kau yang bisa lakukan tugas ini,” katanya lagi seakan mengu langi

  Sayid Habibullah. “Kau tahu apa artinya semua ini.” “Belum, G usti.” “Artinya, memang Tuban diancam oleh kerusakan dari luar dan dari dalam. Kau rela Tuban, negerimu, G ustimu, kebesaran T uban. rusak?”

  “D ewa Batara! Sama sekali tidak, G usti.” “Beran gkatlah dengan sejahtera.” D an ia pun berangkat. la berangkat dengan mem bawa pengertian: surat dan cap itu hanya sekedar dalih untuk mengh ubungi Ki Aji

  Benggala. Sang Patih boleh jadi hanya tersenyum dalam hati. Sedang surat yang telah dibongkar oleh Sang Patih lebih mencurigakan lagi: hanya sebaris tulisan Arab. Itu pun pendek sekali. Jelas hanya isyarat belaka. D ia sungguh cerdik, pikirnya. D ipilihnya aku untuk melakukan pekerjaan ini. D an dia tak memohon ijin dari Sang Patih. D ia berbuat dengan pilihan dan kemauan sendiri. Tak bisa lain, karena dia pun punya kepentingan dengan kematianku pribadi. Hendak dicapainya dua maksud dengan satu jalan: mengh ubungi perusuh dan sekaligu s menyingkirkan aku. Ki Aji Benggala jelas akan membunuh aku.

  Ia benarkan kata orang tua-tu a: kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang Iain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodo h ialah menganggap orang-oran g lain pandai. Sayid Habibullah Az-Z ubaid juga menganggap diriku bodo h. Aku tidak buta, aku selalu dap at menan gkap matamu yang menyala-n yala bila terpandang olehmu Idayu. Bukankah N yi G ede Kati sendiri tak segan-segan mem bicarakan ini dengan istrinya, dan istrinya dengannya?

  Liem Mo Han pernah mem peringatkan: Tuan Syahbandar Tuban sunggu h-sungguh dibenci oleh setiap dan semu a orang, sampai jauh-jauh di Jepara dan L ao Sam.

  D ia meremehkan para saudagar Islam dan Tionghoa, sebagaimana ia lakukan di Malaka dulu. D ialah pengkhianat Malaka. Tak urung ia akan jadi pengkhianat Tuban juga. Tingkah-lakunya menjijikkan, seperti dia sendiri Sang Adipati. D i Malaka dulu dia bertingkah sebagai raja m uda.

  “Sebaliknya, W ira,” ia meneruskan, “W ira dan istri merupakan pasangan yang dicintai dan dihormati. Tak ada satu kebahagiaan yang lebih besar daripada dicintai dan dihorm atri semua orang. Itu adalah mo dal yang mem bikin orang dapat mencapai segala-galanya. Sahaya harap W ira mengerti perbandingan ini.”

  D an ia menganggap dirinya mengerti: Syahbandar Tuban mengh alaunya dengan mem injam tangan Rangga Iskak alias Ishak Indrajit alias Ki Aji Benggala, kemudian ia akan mengh adap Sang Adipati dan mem ohon agar Idayu dikaruniakan kepadanya, maka bukan saja ia akan m emiliki apa yang diberahikannya selam a ini, juga akan dap at meredakan kebencian orang terhadap dirinya. Malalui Idayu sebagai milik pribadi ia akan lebih dap at mem pengaruhi Sang Adipati.

  Tetapi mengapa Syahbandar Tuban itu begitu dingin terhadap G elar, anaknya sendiri? Mengapa? Mungkinkah ada seorang yang acuh-tak-acuh terhadap anak sendiri? Ah, yang punya harem adalah juga orang yang tak acuh terhadap anak sendiri, hanya tahu nafsu-nafsu pribadi, mem buru dan memuaskannya. Mengapa kau heran? Kasihan kau, G elar. Seperti seekor anak burung… ia teringat pada kata-kata Rama Cluring tentang burung- burung.

  D engan bekal itu di dalam hati ia berjalan kaki sebagai petani mem asuki pedalaman. Makin mendekati desa Rajeg, desa-desa yang dilaluinya nam pak suram. Pada mata pendud uknya nampak terpancar ketakutan dan kegelisahan . Pertan yaan-pertanyaan pada mereka dijawab seperlunya tanpa keramahan dan tiada di antara mereka mengu ndan g singgah, apalagi makan dan menginap.

  Hutan, padan g ilalang, padan g rumput pendek, sawah dan ladang dilaluinya, dan pada suatu hari samp ailah ia di tepi sebuah rimba-belantara. Teman-tem annya, juga berpakaian tani, berjalan agak jauh di belakangnya.

  G ubuk panggung di depannya sana masih seperti dulu juga. N ampaknya tiang bambu dan atap ilalang itu belum juga rusak. G ubuk itu agak besar; khusus didirikan jauh dari desa mana pun untuk tempat berteduh dan menginap para pemikul upeti atau mu safir. Ia sendiri pernah menginap di situ bersama tiga orang temannya untuk dap at mendengarkan seorang guru-pembicara dari seberang, yang mengajarkan, bahwa tidak ada sesuatu yang lebih tinggi, lebih berkuasa, maha kuasa, kecuali Allah, dan bahwa semua makhluk gaib takluk padanya. Orang itu bicara dalam Jawa yang begitu anehnya sehingga pendengar- pendengar lebih banyak tertawa dan orang tak mengerti betul m aksudnya. Orang-orang memberi komentar: guru itu mem bawakan soal-soal baru yang aneh, itu sebabnya

  Ia mem erlukan singgah dan naik ke atas panggun g. Di kejauhan dilihatnya empat orang teman nya berjalan am an mengikutinya. Belum lagi ia rebahkan diri didengamya suara-suara pelahan di bawah. la turun untuk melihat apa yang sedang terjadi. Empat oran g berbaju dan bersarong putih dan berkopiah putih telah mengepungnya dengan mengacungkan tombak. Sekilas ia lihat senjata-senjata mereka tidak sejenis dengan yang biasa dipergunakan oleh para prajurit – tombak-tom bak berburu.

  Seorang di antara para pengepung itu sudah tua. Yang tiga lainn ya masih bocah dan kira-kira saja abang-beradik. Yang term uda sekira dua belas tahun.

  W iranggaleng melirik untuk dapat melihat ram but mereka. Pendek, hampir-hampir dan juga mu ngkin gundul Kalau bukan dalam keadaan genting mu ngkin ia takkan dap at mengendalikan tawanya: orang berpakaian serba putih – seperti bangau.

  “Hei, kau!” tegur yang tertua, “tidak berbaju tidak berkopiah, biadab! Beram but panjang seperti kuda betina! Sebutkan nam amu sebelum nyawam u melayang ke neraka.”

  “Betapa galak,” pikir W iranggaleng. sebelum kena tegur lagi ia berkata sopan dan pelan, dengan senyum damai pada bibir: “Ampun, Bapa, tersasar.”

  “Tak pernah ada orang tersasar kemari. Siapa kau!” “G aleng, Bapa.” Orang itu tertawa melecehkan. dan mata Wiranggaleng tetap waspada. Pada bibirnya senyum itu masih juga mengh ias.

  “G aleng? Siapa tidak kenal G aleng? Biar pun kau juara gulat tiga-lima kali berturut, tak ada guna. Kau datang dari kota untuk memata-matai. Kau, kafir sialan, kafir laknat!”

  “Apa yang dimata-m atai, Bapa? N anti dulu, siapa yang aku hadapi ini?” “Kurangajar, belum menjawab sudah ganti bertanya. Siapa hendak kau m ata-matai?”

  “Tidak ada, Bapa. aku datang untuk mengh adap Ki Aji Benggala. L ain tidak.”

  “Penipu! Ki Aji tak menunggu siapa pun di antara orang beram but panjang. Apalagi kau datan g dari kota! Begund al Adip ati Tuban.”

  “Mengapa Sang Adipati, Bapa, nampaknya Bapak mem usuhinya?” “Puh, Adipati, satria tidak tahu menepati janji. Apakah orang kota tidak tahu pengkhianatan Tuban terhadap

  Jepara? Terhadap Aceh, Riau, jambi dan Banten? Malaka tidak jatuh, kemelaratan merajalela di Tuban! Kapal-kapal tak lagi beran i belayar. Begund al pengkhianat!”

  Mengertilah W iranggaleng, benar Ki Aji Benggala telah menggunakan kemerosotan Tuban untuk menaikkan dirinya sendiri. Berkata pura-pura tak tahu sesuatu: “Benar, Bapa, aku tak tahu apa-ap a tentang semua itu Aku mencari- cari Ki Aji Benggala – tak tahu tempatnya, – membawa surat untuk beliau – surat berbasa dan bertulisan Arab.”

  “Pemboh ong! Adipatimu tak perlu tulisan dan basa Arab

  • – munafik itu.”

  “Aku tak tahu artinya itu, Bapa. Sesungguhnya surat itu bukan dari G usti Adipati – dari Tuan Syahbandar Tuban, dari Sayid Habibullah Almasawa, seorang Arab tulen.”

  “Ki Aji tidak m enunggu surat dari kota, kataku. Apa lagi dari Syahbandar keparat itu.” “Mengapa keparat, Bapa?” “Mengapa? D engan mulutm u yang kotor, najis, kau bertanya m engapa? Coba, bukankah dia juga yang m engaku

  Arab tulen dan keturunan N abi besar sekaligu s?” ia meludah ke tanah. “D ia hanya budak kafir Peranggi. Jangan pura-pura tidak tahu, rangkota! Semua rangdesa di sini tahu duduk perkaran ya. Kau ini, bukankah budak dari budak kafir Peranggi? Kau, si rambut panjang?”

  W iranggaleng berusaha terus bicara dengan harap an pengawal-pengawalnya akan tiba pada waktunya. sementara itu ia mengagumi pengetahuan rangdesa tentang seluk-beluk praja yang sudah sejauh itu. Tentu pengetahuan itu disebarkan oleh Ki Aji untuk mem benarkan dirinya sendiri.

  “Budak dari budak kafir Peranggi,” ia bergumam. “Sungguh aku tidak tahu barang sesuatu . siapa bisa salahkan orang yang tidak tahu?” Setelah tertawa melecehkan orang itu mengejek:

  “Mem ang jaman sekarang ran gkota lebih dun gu, lebih tak tahu diri, lebih tak tahu dari ran gdesa. D ungu atau tidak, apa bedanya? Tak urung kau mati juga di sini. Mati tanpa tempat yang dijanjikan.”

  “Aku semakin tidak mengerti, Bapa.” “Apa tahu mu ? Rangd esa tahu, biar kau berpakaian tani, sesungguhnya kau bukan. Kau memang tidak tahu rangdesa sekarang, yang sudah tahu segala-galanya. Huh, mati tanpa tempat yang dijanjikan.”

  “Bagaimana tempat yang sudah dijanjikan itu, Bapa?”

  “N asib kafir sudah ditentukan. W aktu hidup diburu-buru nafsu dan kejahilan, waktu mati diburu-buru api neraka. Itu yang patut kau dengar sebelum mati.” D an W iranggaleng harus bicara terus.

  “Bapa, Bapa bilang aku budak dari budak Peranggi. Tak tahu kah, Bapa, ran gdesa G aleng ini pernah menyerang Peranggi di Malaka?

  “Bohon g! Penipu! Tak ada Ki Aji pernah katakan itu.” “Maka aku yang m engatakan. ” “Karenanya m akin jelas kebohonganmu.” W iranggaleng kini dapat menjajagi betapa pengaruh Rangga Iskak telah m ulai mendalam. Ia haru s berhati-hati.

  “Bagaimana, Paman?” salah seorang di antara tiga bocah itu bettarn a di belakangn ya. “Masih juga dia dibiarkan begini?”

  “N anti dulu, jangan keliru,” tegah juara gulat itu sambil menengok sekilas ke belakang. “Lihat dulu surat yang aku bawa ini. Tulisan dan bahasa Arab tulen.”

  “Jih !” orang yang tertua meludahi tangan Syahbandar mu da yang mengu lurkan surat. “Semu a yang keluar dari pokal kafir hanyalah najis”.

  “Hweeee!” terdengar bentakan berbareng di belakang mereka. Orang-orang bertombak itu kaget dan menoleh ke belakang dari tangan mereka dengan bantuan pengawal- pengawalnya. Tanpa pengalaman menggunakan senjata menyebabkan mereka segera teringkus tanpa daya. Panjang tom bak mereka menjadi penghalang utama untuk mem bela diri.

  “Jangan sentuh aku, kafir!” pekik orang tertua tak berdaya itu. Matan ya menyala-n yala menyemburkan kebencian, kejijikan dan penyesalan.

  Bocah-bocah yang juga terikat itu kini berpandan g- pandangan satu sama lain dengan ketakutan. “D isentuh pun Bapa tidak suka, sedan g aku hendak Bapa tom bak,” gumam Syahbandar-muda. “Perdamaian yang sunggu h tidak jujur, Bapa.” “Mata-mata! Telik!” pekik orang itu seperti gila. Suaranya menggaung di tepian rimba. “Allah mengutuk kau, dunia dan akhirat!”

  “Siapa yang mengu tuk aku, Bapa atau Allah? Ataukah Bapa sama dengan Allah?” balas Syahbandar-muda. “Sudah, Bapa diam saja. Pinjami aku anak yang terkecil ini. D an Bapa sendiri, pinjami aku pakaian itu, biar pun terlalu sempit. D an kalian,” ia perintahkan pada para pengawalnya. “bawa sisanya ke dalam rimba, terikat! Tunggu samp ai aku datang. Sini, Buyung,” perintahnya pada tawanannya yang terkecil, “biar aku lepas tali- pengikatmu , dan mari aku diantarkan. Jangan menyasarkan, karena paman dan saudara-saud aramu bisa binasa. Lagipula takkan dapat kau lari dari tangan ku.”

  Ia berjalan dengan pakaian putih serba kekecilan bersama si buyung. tujuan: desa Rajeg, pusat kekuatan Ki Aji Benggala. Ia beruluk salam dengan tangannya pada orang-orang yang dipapasinya di jalanan sebagaimana adat baru itu diajarkan. Ia tarik senyum pada pasang-pasang mata yang namp ak heran mem andanginya: seorang berbadan besar, berpakaian serba putih dan serba sempit dengan rambut kafir panjang terurai, langkahnya mantap tanp a ragu-ragu, dan m engiringkan seorang bocah.

  D i sawah dan ladang orang mem erlukan berhenti bekerja untuk da-pat melihat pemandangan aneh itu. D an si buyung tak berusaha menerbitkan kesulitan. Beberapa desa telah dilewati. Kemudian sampailah mereka di R ajeg. W iranggaleng heran melihat wajah-wajah yang sudah dikenalnya dan sudah mengenalnya. Mereka adalah penduduk Tuban Kota yang biasanya belayar atau berdagang. Dan mereka tidak menegurnya, hanya menyapukan pandan g padanya, bahkan mem balas senyum dan salamnya pun tidak.

  Orang-orang yang sedang bercakap-cakap di pinggir jalan juga mem erlukan berhenti bicara, meminggir, mem berinya jalan, dan m engawasinya dengan m ata bertanya-tanya. D an W iranggaleng m enyadari betapa sulit keadaan nya.

  Sam pailah keduanya kini di depan sebuah rumah kayu berbentuk joglo. Pendopon ya juga sebuah rumah joglo beratap sirap. Tiang-tiang guru terbuat daripada balok-balok kayu bulat berjumlah empat, tanpa ukiran. Lantainya terbuat daripada tanah liat dikeraskan bercampur pasir. Di tengah-tengahn ya tergelar tikar lampit dengan sebuah meja rendah di atasnya.

  Tak ada oran g terdap at di sekitar rumah itu. Ia berdiri saja dan tak ada namp ak kehidup an di pendopo yang kosong melom pong itu. Ia heran mengapa tak ada penjagaan di rumah dan sekitarnya. Waktu ia angkat pandangnya untuk melihat susunan kasau, nampak olehnya sepotong kulit kambing terpakukan pada blandar depan. D an pada kulit itu tertulis tulisan Arab. Barangkali itu m antra penjaga dan pekarangan, pikirnya.

  Pelataran depan dan samping-menyamping terbuka luas tiada tertanami, namp aknya mem ang sengaja akan dibuat men jadi tam an. D an jauh di belakang, melalui atap rumah, nam pak tajuk pohon-pohon nyiur dari berbagai um ur, terus- menerus bergo yang gelisah.

  “N uwun… hasalamu halaikoooom!” sebutnya. Si buyung pergi ke belakang m elalui sam ping rumah. Cu kup lama ia menunggu. Baru muncul yang diharap- harapkannya: Ki Aji Benggala. Ia berpakaian serba putih tenunan desa. D an ia tak menyilakannya naik. D engan langkah ragu ia mendekati W iranggaleng. berhenti di depannya, menatapnya dengan pandang ke bawah. Kedua belah tangannya bertolak pinggang, dan mata itu menyala- nyala gusar: “Wiranggaleng!” raungn ya.

  “Sahaya, Ki Aji,” ia bersimpuh di tanah dan menyembah. D an ia tak mengerti mengapa tuanrumah itu mesti meraung.

  “Berpakaian putih berambut panjang, datan g untuk serahkan nyawa.” “Sahaya, Ki Aji.” “Syahbandar-m uda, juara gulat….” “Sahaya, Ki Aji.” D ari suara-suara di belakangn ya W iranggaleng tahu, beberapa orang sudah berdiri dengan tom bak untuk sewaktu-waktu akan m enjojoh punggungnya.

  “Kau sudah ringkus penjaga-p enjaga perbatasan, Ki Aji tak menerima apa pun dari siapa pun, apalagi hanya orang sebagai kau?”

  “Sahaya, Ki Aji,” dan sekilas dalam tunduknya ia dapat mengh ampiri Rangga Iskak dari belakang. D ialah penolongku, pintanya dalam hati. “Sahaya menghadap hanya sebagai utusan. Tidak lebih dan tidak kuran g.”

  “Utusan siapa? Hhh! Kafir-kufur yang terkantuk-kantuk menunggu datangnya iblis-iblis Peranggi terkutuk pula itu?” ia diam dan m enolak ke belakang.

  W iranggaleng mengangkat pandang dan melihat waktu itu menyembah pada Rangga Iskak sambil tetap berdiri, bicara lantang dalam bahasa yang ia tak mengerti. D an ia Iihat R angga Iskak alias Ki Aji Benggala mengawasi wanita itu tajam-tajam, kepalanya menggeleng atau mengangguk. Kemu dian ia melambaikan tangan menyuruh wanita itu pergi. Tetapi yang disuruhnya manda saja.

  “Ya,” kata Ki Aji tiba-tiba lunak pada W iranggaleng, “hanya orang pemberani seperti kau bisa dan berani datang kemari,” ia m engangguk-angguk.

  “Sahaya datang bukan sebagai utusan G usti Adipati, Ki Aji, tetapi Tuan Syahbandar Habibullah Almasawa.”

  “Anjing Ispanya itu! Begund al Peranggi! Bekas Syahbandar Malaka keparat! Terlalu lambat orang mengetah uinya.”

  W an ita di depannya itu menyembah Ki Aji dari belakang, kemudian menepuk bahunya. Kembali suara Ki Aji menjadi lunak.

  “Mu nafik keparat!” makinya pelan. “Tak ada ampun lagi bagi iblis laknat itu. D atang di G oa, dijualnya G oa pada Peranggi. D atang di Malabar, dijualnya Malabar pada Peranggi. Betapa terlambat orang mengetah ui. D atan g ke Malaka begitu juga. D atan g di Tuban… apalagi yang sedang diperbuatnya sekarang? D an adipatim u, si goblok yang cuma tahu selir-selirnya itu, tak tahu ujung dan pangkal keadaan….” “Sahaya hanya seorang utusan, Ki Aji Benggala.” Lagi-lagi wanita itu bicara berbisik pada Ki Aji. D an kesempatan itu dipergunakannya untuk m engeluarkan surat dari Sayid Habibullah. Ia lakukan itu dengan sengaja untuk dilihat oleh Ki Aji. Tetapi oran g di depannya itu tak menggubrisnya.

  “Perkenankan sahaya mempersembahkan surat ini,” ia terpaksa mengatakan. Ki Aji melihat surat itu dengan ragu- ragu. W anita di belakangn ya nampak mem berikan isyarat dan berbisik lagi untuk memberanikan agar menerimanya.

  “.Ya,” gumamn ya kemudian, “N abi pun berkirim surat pada umat kafir Romawi dan kaisar kafir yang lain. Betul juga kau, Khaid ar.” Suaranya sekarang meninggi, “Sini surat itu.”

  W iranggaleng mem anjangkan badan dan menyam paikan. “Bedebah!” rau ng Ki Aji. “Ini bukan surat. Ini hanya alasan. Alasan agar kau dapat datang kemari dan mem ata- matai daerahku. Terkutuk! Laknat! Begund al Peranggi keparat! ia rem as-rem as surat kertas itu dan melemparkan nya pada mu ka utusan itu. “Jangan kalian kira Peranggi bisa raba bumi ini dengan keteranganmu . Apa lagi Tuban, Tuban yang mau untungnya saja dari Islam, tapi tak kerja sesuatu pun untuknya.”

  “Sahaya hanya seoran g utusan, Ki Aji,” sembah utusan itu. D an ia telah menyiapkan diri untuk lari bila keadaan semakin genting.

  W an ita itu bicara lagi. Ki Aji Benggala mendengarkan , menyerahkan kembali surat teremas yang telah terkapar di tanah itu. Begitu telah diterimanya, wanita itu mengambil dari tangannya dan mem bacanya, tersenyum, mengangguk dan mem andan gi Ki Aji sambil bergeleng-geleng. Kata assalamualaikum berkali-kali keluar dari mulut wanita itu.

  Ki Aji Benggala kembali menatap Wiranggaleng. “Surat,” katanya menggerutu, “hanya berisi assalamu alaikum . L ebih tidak,” kekerasan yang hampir meledak lagi tiba-tiba mereda dari wajahnya. “W ajiblah bagimu,” katanya lebih pada diri sendiri, “mem balasnya. Ya, wajib, di mana pun dan kapan pun dan dari siapa pun datangnya.” la diam dan nampak berpikir. Kemu dian tersenyum dan mem perhatikan si penghadap di depannya tanpa berkedip.

  “Baik,” katanya. “Bedebah Moro itu berhasil. D ia telah menyam paikan salam dam ai, begundal Peranggi itu.” “Sahaya hanya seorang utusan, Ki Aji. Sekarang sahaya sedang m enunggu balasan untuk sahaya bawa pulang.” “Kau sedang menyelamatkan tengkukmu sendiri rupanya, G aleng. Kau memang pandai, licik.” “Sahaya hanya seorang utusan, apalah yang sahaya bisa perbuat selain m enjalankan perintah?” “Baik. Kau boleh miliki tengkukm u sendiri. Aku akan balas surat ini.” ia merengut. “Tunggu kau di situ. Jangan tinggalkan tempatm u. Tom bak akan merajang kau. Jangan sentuhkan jari-jari najismu pada tangga dan haram jika mengenainya.”

  Ia masuk. W an ita itu masih berdiri mem andangi utusan itu tapi tiada berkata sesuatu pun. D an lam a ia harus menunggu.

  Terik matari telah mem eras keringat dari tubuhnya. Di samp ing menyampingnya mu lai berdatangan bocah-bocah menontonnya. Ia tetap menekuri tanah.

  Ki Aji Benggala keluar lagi mem bawa kertas surat. “Hei, kau, W iranggaleng, sampaikan oleh mu lutmu sendiri pada tuanm u begundal Peranggi itu, aku, Ki Aji

  Benggala, Rangga Iskak, Ishak Indrajit, telah menerima suratnya. Sampaikan: dia harus laksanakan apa yang aku perintahkan sebagaimana term aktub dalam surat ini. D ia akan tahu apa bakal menimpa dirinya kalau tidak.”

  “Sahaya, Ki Aji.” “Jangan coba-coba menganiaya penjaga perbatasan.” “Sahaya, Ki Aji.” “Lepaskan m ereka, kembalikan baju m ereka.” “Sahaya, Ki Aji.” “Pergi!” bentaknya keras. “Tinggalkan bum i ini dan jangan balik kalau tak bosan hidup.” W iranggaleng mengangkat sembah. Setelah Ki Aji pergi dalam iringan Khaidar baru ia bangkit berdiri, balik kanan jalan, dan … pengawal-pengawal berbaju serba putih itu menarik mata tom bak mereka dari tubuhnya dan mem biarkannya pergi.

  “Hasalam u alaikoooom!” ia m endahului beruluk salam. Tak seorang pun membalasnya. Berlapis-lapis mata tom bak mem enuhi jalanan yang dilewatinya. Ia terus juga beruluk salam tanpa jawaban.

  Mereka membiarkannya lewat tanpa gangguan.

  0o-d w-o0 Ia terkejut. D ilihatnya Syahbandar tiba-tiba saja sudah ada di depannya. Tongkatnya tergan tung pada bahu dan tangannya bertepuktepuk riang. Bongkoknya kelihatan semakin menjadi-jadi dan matan ya menyala-n yala menerkam .

  “Selamat bagimu, Idayu!” katanya lunak, memikat dan mem bujuk sekaligus. Cepat cepat Idayu menepiskan G elar pada dada, begitu keras sehingga anak itu terpekik terkejut dan pengap. Melihat Idayu terkejut, Tholib Sungkar tertawa mengh ibur dengan gerak tangan ramai. Kemu dian: “Masa begitu saja terkejut, Idayu!”

  D engan takut bercampur waspada wanita itu dengan merangkul anaknya mendepis pada tiang pintu. “Mengapa kau begitu aneh, Idayu?” “Apa Tuan kehendaki di sini?” tanyan ya megap-m egap. “Biar sahaya pergi ke dapur, mem asak bersam a N yi G ede.”

  “Buat apa, Cantik? Guna apa? N yi G ede masih tidur.” “Biarlah sahaya ikut mem bersihkan tam an dengan

  Pam an Marta.” “Buat apa, Idayu? Bukan pekerjaan mu mem bersihkan tam an. Lagi pula Paman Marta sedang mengurus mayat anaknya. ”

  “Kalau begitu, jangan masuki rumah sahaya ini” “Idayu, Perm ata Tuban, pujaan setiap pria. Betapa mu rung kau ditinggalkan suam i. Tiadakah kau suka bersenang dalam kesepian yang begini mencekik? Idayu!” Ia bertepuk-tepuk dan menegakkan bongkoknya.

  “Ampuni sahaya, Tuan Sayid. Jangan dekati sahaya, dan jangan masuki rumah sahaya.” Syahbandar itu tertawa senang dan maju selangkah. “Apa lagi yang kau tunggu-tunggu, Perm ata?” “Suam i sahaya, Tuan Sayid. Tidak lain dari suami sahaya.” “Apa kau harapkan dari suamimu ?” “Tiada sesuatu , kecuali kasih dan sayangnya.” “Kasihan . Kasih-sayan g saja dia tak mampu berikan pada tubuh yang semolek ini….” “Kalau dia tidak mampu, tentu doan ya saja pun mem adai, Tuan ” jawab Idayu m ulai beran i setelah terbebas dari kejut.

  G elar dalam pelukan meronta minta kembali bebas. Kepalanya menggeleng-geleng dan kaki dan tangannya bergerak binal.

  “Mengapa tak kau lepaskan anak itu? Biar dia bermain- main sendiri seperti biasanya.” “Biarlah dia temani ibunya dalam mengh adapi ayahnya. ” “Mengh adapi ayahnya? Mengapa mesti dihadapi? Lagi pula dia belum lagi pulang.” “Ayah tidak pergi, bukan, G elar? Ayahmu tidak pergi, bukan? D ia sedang di depanmu sekarang. Itulah macam ayahm u. Dia sedang merayu ibumu .”

  “Ayahmu sedang ke pedalaman, G elar.”

  “Ingat-ingat kejadian ini, G elar, selama hidupmu.” G elar berhenti meronta, mem andangi Syahbandar dengan mata ter-heran-heran.

  “Mak!” serunya kemudian. “Ya. Itulah ayahm u, N ak, kenali dia baik-baik dari dekat.” Idayu memasang G elar demikian rupa sehingga si bocah itu berhadap-hadapan dengan Syahbandar. Anak itu sebagai besi berani menarik mata lelaki itu. D ua pasang mata itu bertatapan, yang satu bocah, yang lain setengah baya.

  “Ya, G elar, ” Idayu meneruskan, “itu ayahmu sendiri. Kenali dia, tampangn ya, wataknya, tingkah-lakunya….” Mu ka Tholib Sungkar Az-Z ubaid merah-padam.

  D iturunkan tongkat dari bahu dan dihentakkan di lantai. W aktu ia memperdengarkan suaranya, tak ada peremp uan berkata begitu. “Coba, kalau benar, bagaimana hukumnya maka dia anakku?”

  “Kau dengar sendiri suaranya, G elar. Memang tidak menyanyi lagi bunyinya seperti tadi. Itulah suaranya yang asli.” “Jangan bercericau seperti nuri!” sambarnya bengkeng.

  “D engarkan kata-katanya. Begitulah macam ayahmu, G elar. Syukur kau hidup sehari-harian serumah dengannya. Makin hari kau akan m akin kenal….”

  “Jangan teruskan, Idayu, ” Syahbandar sekarang merajuk. “… D an tah ulah kau siapa dia. Kau akan semakin jijik.” “Idayu, kau ajari anak itu kurangajar.”

  “Idayu diam!” “D ia belum bisa bicara, Tuan Sayid, biarlah dia mem injam dulu kata-kata ibunya’ “Jadi kau ajari dia kurangajar terhadap ku.” “Inilah anak Tuan, Tuan Sayid. Bukankah Tuan tahu sejarah kelahiran nya?” “Bagaimana sejarah kelahirannya? Aku tak tahu. Jangan sebut sekali lagi dia anakku. Tuan Sayid Habibullah

  Almasawa tak pernah beranak-kan dia!” matanya mem beliak mem peringatkan.

  “Tak ada yang dengar, Tuan, hanya sahaya, Tuan dan anak T uan sendiri.” “Aku tak beranakkan dia!” Tholib Sungkar hampir mem bentak. “Itu, itulah ayahm u, G elar, kasihan kau, ayahmu untuk di dunia dan untuk di kemu dian hari.” Seakan m engerti maksud ibunya bocah itu tetap menatap

  Syahbandar seperti lelaki setengah baya itu baru sekali ini dilihatnya. Tetapi melihat wajah orang itu berubah jadi galak, ia m enjerit ketakutan.

  Idayu kembali mendekapnya pada dada. D engan suara seperti meratap ia meneruskan: “Nasibmu, N ak, punya ayah tiada m engakui. Tapi kau harus akui dia. D asar sudah nasibmu, punya ayah semacam itu kelakuann ya….”

  “Idayu!” “… Takut pada ayah sendiri, seperti takut pada gand arwa.” “Sudah, hentikan igauanmu. Jangan ulangi. Mari aku, jangan ditentang juga. Kau ini, Idayu, belum lagi mengenal dunia.” “Kau, N ak, anak seorang Syahbandar yang mengenal dun ia. N asibm u, betapa buruk. Menggendong saja dia tak mau. N asib.”

  “D iamlah, Idayu. Apa kataku tadi? Kau belum lagi mengenal dunia.” “Apalah gunanya dun ia sahaya kenal, kalau hanya seperti yang Tuan lihat?” “Haiyaaa.” Mereka masih juga berdiri berhadap-hadapan di depan pintu kamar di seram bi. Mereka berhadap-hadapan, masing-m asing berusaha tundu k-menundu kkan tanpa kekerasan.

  “Itulah, Idayu, itulah, justru karena tak kenal dunia, kau anggap semua sudah m encukupi.” “Hidup sahaya telah mencukupi, Tuan Sayid, dengan kasih-sayang suami sahaya, si G aleng anak desa yang bodo h itu.”

  “Husy. D engarkan dulu aku. Kau biarkan suamim u yang seorang itu selalu meninggalkan kau. Kau belum lagi… jangan sela dulu aku, kau belum lagi tahu negeri-negeri orang lain.”

  “Apalah gunanya?” Tholib Sungkar Az-Zubaid tertawa ram ah. Ia tegakkan bongkoknya dan menyangkutkan ton gkat kembali ke atas bahu, kemudian bertepuk-tepuk: “Kalau di negeri lain sana, Idayu, pastilah kau akan jadi ratu.” “Huh!” Idayu berpaling melecehkan.

  “… Tidak jadi istri seorang G aleng yang selalu pergi, mem biarkan kau m erana dalam menunggu.” “Sahaya perempuan Tuban, Tuan Sayid, yang berbahagia m enunggu suami pulang.” “Jangan kau jadi bodo h seperti peremp uan Tuban lain. Cerdiklah sedikit,” ia maju setengah langkah.

  “D alam m enunggu suami pulang sahaya berbahagia.” “Mak, turun, Mak,” pinta G elar. “Jangan, N ak, temani dulu emakmu .” G elar meronta lagi minta turun dan Idayu mem biarkannya turun. D an bocah itu lari girang ke pelataran mem anggil-manggil N yi G ede Kati. Ia langsung menuju ke dapur.

  Tholib Sungkar berseri-seri dan maju lagi seperempat langkah: “Jangan bohongi aku. Tak ada oran g berbahagia karena menunggu. Tak ada kesengsaraan lebih mencekik daripada menunggu. Malah, Idayu, kau tak tahu pula apa yang dikerjakan suamimu. Apalagi sekarang.” Melihat penari itu mendengarkan ia semakin berani, “Pekerjaan nya berat. Bukan hanya berat, berbahaya. Setiap waktu bisa mati. Apalagi sekarang ini. M ungkin ia takkan kembali lagi untuk selama-laman ya….”

  “Apalah yang sahaya herani bila suami m ati?” “Jadi kau m engharapkan dia m ati?” “Apakah hebatnya kematian, Tuan Sayid? Tiadakah pernah terdengar oleh Tuan betapa di pedalaman sana wanita melomp at ke dalam api untuk dapat mengikuti suam i yang mendahului mati? Tidakkah pernah Tuan dengar? D i Tuban Kota mem ang sudah tidak kejadian lagi.

  “Jangan, Idayu. Semua orang tahu. Tapi jangan lakukan. Betapa bodo h oran g mem biarkan kecantikan dan kemolekan seperti ini punah dimakan api,” larangan sambil mendekat lagi.

  “Jangan lebih dekat, Tuan Sayid, dan jangan coba-coba masuki rumahku,” Idayu memperingatkan. “Sahaya sedang jaga, tidak mimpi dalam tidur.”

  “Apakah keberatanm u selam a tempat ini jadi bagian dari kesyahbandaran? D an isinya pun dalam kekuasaanku?” “Sahaya bilang: jangan.” “Layani aku, Idayu, lupakan suamim u.” Syahbandar melangkah menerjang hadangan Idayu sambil menarik wanita itu masuk ke dalam kamar. Idayu meronta melepaskan diri. Tak terdengar olehnya G elar m emanggil-manggil dari sesuatu jarak. Syahbandar berusaha menan gkapnya lagi. “Bodoh!” gum am Syahbandar. “Kurang hormat apakah perempuan bodoh ini?” kata

  Idayu cepat-cepat dan terengah-engah. “Tuan Sayid, keluar dari sini!” dengan cundrik telanjang di tangan wanita itu mengancam. Syahbandar itu terkejut dan undur keluar dari kamar. N aluri beladiri menyebabkan dengan sendirinya ia mengangkat tongkat dan mengamangkan, mengancam: “Di mana pun begitu mesti bisa ditundukkan,” ia tertawa melecehkan, “apa lagi, kau, Idayu. Sampai di mana kekuatanm u? Kalau kupukul kau, keris-kecilmu takkan berdaya, kecantikanmu akan rusak untuk selam a-lamanya. Takkan lagi yang bakal mengagumi kau.

  “Pukullah, T uan.”

  Tetapi lelaki itu meneruskan gerutunya tanpa mengh arapkan jawaban: “Apa yang kau andalkan? W iranggaleng? Kesetiaannya padamu? Hah! Mu ngkin dia sekarang sudah terkapar dimakan cacing tanah, tinggal tulang-tulang berantakan termakan anjing.”

  “Mem ang itulah yang Tuan kehendaki.” “… D an bila dia toh balik lagi ke mari, dengarkan kau, perempuan bodo h, bila dia toh balik, segar dan selam at… kau, tidak lain dari kau yang bakal celaka. Kerisnya akan tembusi dad amu . Akan diminum nya darah mu seperti dia minum tuak. D ibuangnya m ayatmu tanpa upacara.”

  “Jadi apa sesungguhnya yang Tuan Sayid harap kan dari sahaya?” Idayu bertanya bodoh. “Singkirkan cundrik itu. Buang jauh-jauh di pelataran sana! Bagaimana kau tak tahu apa yang ku kehendaki?” “Kalau soalnya cuma itu, Tuan Sayid, betapa sederhana keinginan Tuan.” “Masih juga kau bercericau!” “Mari sahaya ceritai, Tuan,” Idayu bermanis-m anis. “Barangkali Tuan m au mendengarkan.”

  Tholib Sungkar mengendorkan pegangan nya pada ton gkatnya. Matanya tetap waspada m emperhatikan tangan Idayu yang m asih juga mengamangkan senjatanya.

  “Apa ceritamu, Idayu?” “Cerita sahaya, Tuan, betapa sederhana memilih bagaimana cara berlawan atau mati.” “Kau tetap melawan aku, Idayu?” “Sahaya sedan g m elawan, Tuan.”

  “Apalah salahnya. Tapi sebelum itu dari mu lut Tuan sendiri ingin sahaya dengar, dengan mata sahaya sendiri ingin melihat, Tuan sudi mengakui G elar sebagai anak Tuan sendiri, karena memang dia anak Tuan.” “Tiada aku beranakkan dia!” lelaki itu m embentak.

  “Keluar!” pekik Idayu. “Takkan ada orang datang menolong aku, pun tak ada orang bakal menolong Tuan. Keluar! Sahaya tak m engulangi kata-kata sahaya.”

  Idayu melangkah dan lelaki itu dengan sendirinya bersiaga dengan tongkatnya. Tholib Sungkar tak juga beranjak dari temp atnya. Idayu melom pat maju sambil menyerang dengan cundriknya. Syahbandar melompat ke samping, mengelak. W an ita itu menikam dari samping. Syahbandar melom pat lagi dan m engayunkan pukulan pada tangan lawannya yang bercundrik. Idayu menarik tangan dan berputar menikam punggung. Lelaki itu melom pat ke depan dan lari meninggalkan kamar, meninggalkan seram bi. Lengan bajunya sobek dan darah mem erahi sekitar sobekan.

  Panggilan G elar semakin terdengar mendekat. Idayu keluar ke seram bi, melihat ke sana-sini mencari-cari anaknya. Tak ada dilihatnya lelaki bongkok itu. Yang mu ncul adalah G elar yang masih juga memanggil-manggil. Ia masukkan kembali senjata itu ke dalam sarung dan ia selit-kan pada sanggul. Kemu dian ia berjongkok menyam but anaknya.

  D engan sekali renggut G elar telah berada dalam gendongan, dalam pelukan. Ia menciuminya berkali-kali. “N asibm u, N ak, nasibmu. Seorang ayah pun tiada mengakuimu.”

  G elar m emeluk leher ibunya. “Sayang kau pada em ak?” G elar m engencangkan pelukannya.

  0o-d w-o0

  D ilihatn ya Sang Patih sedang dihadap oleh Syahbandar langsung, ia berjalan melalui samp ing kepatihan ke belakang. Ada terdengar olehnya sepoto ng kata-kata Syahbandar dalam Melayu: “… tak ada hak patik untuk mengu sirnya….”

  Ia berhenti dan terdengar suara Sang Patih: “Siapa bilang kami mengusir atau m emerintah kan m engusir? Patih Tuban mengu ndang mereka kemari. Kami tahu mereka penembak meriam. Maka itu kami mengu ndang m ereka.”

  W iranggaleng meneruskan jalannya dan masuk ke dapur kepatihan untuk mengh ilangkan lapar dan dah aga. Begitu Syahbandar pergi ia datan g mengh adap. Sang Patih duduk di atas bangku kayu sedang m engipas-kipas badan. Melihat Syahbandar-m uda datan g ia tersenyum senang dan menyilakannya duduk.

  “Kau nampak agak kurus, Wira. Pasti terlalu berat perjalananm u.” D an belum lagi penghadap itu bersembah ia telah meneruskan, “Pasti kau lihat tadi Syahbandar habis mengh adap. D ipergunakannya segala alasan untuk mengh alangi orang-orang Peranggi petualang itu datang mengh adap ke mari. Apa boleh buat. G usti Adipati berkenan mem berikan perlindungan, dengan dugaan mereka mau mengajar mem bikin meriam. Telah kami persembahkan petualangan mereka di Lao Sam. Sia-sia, W ira. Jangankan Peranggi mau mem bagi ilmunya, orang Tionghoa di sini saja segan mengajar membikin kertas. Katanya kau sudah pernah melihat orang-orang Peranggi itu. Bagaimana pendapatmu? Ah-ya, nanti dulu, m ereka toh masih berada di bawah perlindun gan Syahbandar. Bagaimana kepergianmu ?” D an W iranggaleng bersembah.

  “Jadi sudah jelas Rangga Iskak mem ang hendak bertingkah. D ia telah bikin kawula Tuban mem bangkang dan melawan. Mana surat itu?” Melihat surat itu bertulisan Arab ia hanya mengangguk.

  “Kami tahu kau masih lelah dan rindu pula pada keluargam u. Apa boleh buat, Wira, pekerjaan ini haru s kau selesaikan sendiri. Pergi kau ke Bonang dan panggil mengh adap M ashud bersam a denganm u.”

  D engan seekor kuda kepatihan ia berangkat ke Bonang dan keesokannya m enghadap lagi bersama Mashud.

  0o-d w-o0 “Bapa Mashud,” kata Sang Patih, “kami perintah kan padamu membaca surat Arab ini baris demi baris dan terjemahkan baris demi baris pula.”

  Mashud mem baca baris demi baris dan m enterjemahkan: “Selamat bagimu,” sebaris lagi, “D ilimpahkan oleh Allah kiranya padam u taufik dan hidayatnya, ” sebaris lagi, “D ijau hkan Tuan kiran ya dari jilatan api neraka,” selanjutnya, “Kecuali bila kau lakukan hal-hal yang diwajibkan kepadamu untuk mengem bangkan dan menyam paikan, melindungi mempertahankan dan mengamalkan,” sebaris lagi, “Maka itu kerjakan apa yang kami sebutkan di bawah ini….” Mashud tiba-tiba terdiam. Mu kanya pucat. Tangan dan bibirnya menggeletar. Matanya liar ke mana-m ana seperti keranjingan.

  “Mengapa, Bapa Mashud?” Orang kurus tinggi bersorban tebal itu menelan ludah dan meneruskan. Tetapi kata-katanya sudah tak jelas lagi artinya.

  Sang Patih memerintahkann ya berhenti dan menyuruhnya pergi, dan ia pergi masih dalam keadaan pucat dan gugup. Seoran g perwira menghadapkan pada Sang Patih guru daripada Mashud. Ia seorang Camp a yang sudah lama tinggal di Malaka, bernama Jamh ur Tenga, baran gkali seumur hidup selalu menggunakan jubah coklat dan sorban coklat pula.

  D engan tenang dan percaya diri ia mu lai menterjemahkan, baris demi baris. Sampai pada baris yang mem ucatkan Mashud ia menjadi gugup dan menubruk- nubruk, sedang terjemahannya berbeda jauh dari Mashud. Sang Patih m engangguk dan mem erintahkannya pergi.

  Seorang perwira lain mengh adap kan seorang Melayu pelarian dari Malaka, telah kehabisan modal dan kehilangan kapal. Ia telah diam bil sewaktu sedang bersiap- siap hendak pindah ke pedalaman. Ia tak berjubah tak bersorban, tetapi berpakaian Pribumi Tuban. Ia menghadap dalam keadaan setengah mati ketakutan. Ia bernama Kaman g Sani.

  Terjemahannya mu lai baris yang mem ucatkan itu tiada kesam aan baik dengan Mashud ataupun Jam hur Tenga.

  “Jadi kau sendiri tahu, Wira, ada rah asia terkandu ng di dalam nya. Rahasia ini mengikat Rangga Iskak dengan para penterjemah pada satu pihak dan Rangga Iskak dengan Syahbandar Tuban pada lain pihak. D i sebelah sana lagi ada Peranggi. D i sampingnya ada perusuh yang menentang Tuban ”

  Sang Patih mem utarkan tinju dalam genggam an tangan yang lain. “Aneh, Rangga Iskak bermu suhan dengan Syahbandar, juga bermusuhan dengan Peranggi, juga bermusuhan dengan Tuban. Syahbandar bermu suhan dengan Rangga Iskak dan kami mencurigainya bersahabat dengan Peranggi.”

  “Barang tentu surat gawat, G usti.” “Pergi kau sekarang juga ke G resik. Carikan terjemahan yang benar. Jangan kau tunda-tunda tugasmu .” D an dengan demikian mendaratlah W iranggaleng di bandar G resik.

  0o-d w-o0 Bandar itu tidak seindah Tuban, namu n masih lebih ram ai, juga pasar dan perdagangannya. Di masa-masa yang lalu peranan nya jauh lebih penting daripada Tuban, dan samp ai sekarang pun masih bandar terbesar di Jawa. Sebelum Portugis menduduki Malaka dan Maluku, sebagian terbesar rem pah-rempah Maluku datang kemari, dari sini berpecahan ke seluruh bandar di Jawa dan dun ia.

  Tiga ratus tahu n setelah menjadi bandar tanpa tuan, mu lai abad ke sepuluh Masehi, pelabuhan ini dipergunakan oleh Sri Bagin da Teguh D ar-mawan gsa menjadi pangkalan angkatan laut kerajaan D aha. Pada pertengahan abad ke sebelas Masehi mendapat prasasti penghargaan dari Sri Bagin da Erlangga sebagaimana halnya dengan Tuban dan bukan saja menjadi pangkalan Angkatan laut, juga pelabuhan dagang antara Jawa dan Bali, N usa Tenggara, Maluku dan Sulawesi. D ari G resik ini pula sebagian angkatan laut Majapahit muncul untuk mencapai daratan Asia dan Afrika.

  D an seperti halnya dengan Semarang dan L ao Sam, juga G resik pada mu lanya dibangun menjadi bandar oleh pendatang-pendatan g dari Tiongkok. Setelah jatuhnya Majapahit pada 1478 Masehi, G resik berada dalam keadaan tanp a tuan lagi. Tetapi perdagangan berjalan terus seakan- akan jatuhnya kekuasaan politik itu tiada mempunyai sesuatu pengaru h terhadap pelayaran dan perdagangan, sebagaimana sebelum dikuasai oleh Sri Baginda Teguh D arm awangsa.

  Satu kekuasaan yang kemudian timbul lagi adalah justru karena ingin mengu asai bandar dan keuntungan nya ini. Beberapa orang yang mengaku keturunan Bre Wijaya Purwa wisesa bertentangan dan berperang satu-sama-lain samp ai akhirnya balatentara Giri Dahan apura turun dari Blam -bangan melakukan pam eran militer mem asuki wilayah inti Majapahit, mem bungkam kekuatan-kekuatan kecil yang bertarung memperebutkan G resik. Raja Blam bangan Hindu, Ranawijaya G irindra W ardhana sejak tahu n 1485 mengu asai G resik sebagai bawahan G iri D ahan apura atau Blambangan.

  G resik yang berpindah-pindah tangan itu tetap berkemban g tanp a kerusakan. Usaha Ranawijaya untuk mem indah kan G resik ke bandar-band arnya sendiri, Panarukan dan Pasuruhan, tidak pernah berhasil. Pam eran militer yang terlalu mahal itu akhirnya ditarik kembali dengan G resik dalam keadaan utuh.

  0o-d w-o0 Keadaan mem ang agak lengan g waktu Wiranggaleng mendarat. N amu n jauh lebih sibuk daripada T uban. Oran g- orang beram but panjang di sini jauh lebih sedikit, dap at dikatakan tinggal satu-dua. Orang yang mengenakan baju juga jauh lebih banyak, menandakan golongan satria tidak lagi begitu berkuasa, dan kehidupan lebih banyak dikuasai oleh kaum pedagang Islam. Pendud uk sudah banyak mengenakan terompah seperti para pendita di pedalaman, terbuat daripada kulit kayu, pelepah atau kulit kambing mentah.

  D an W iranggaleng terheran-heran melihat betapa sedikit orang yang berkain batik. Orang lebih banyak mengenakan pakaian polos putih, wulung atau genggang, semu a tenunan desa. Orang-orang bertombak dan berpedang sama sekali tidak kelihatan di pelabuhan , seakan-akan golongan satria mem ang sudah tak punya sesuatu kekuasaan.

  Setelah mendapat ijin masuk segera ia mencari-cari keteran gan. Tapi pandang mata yang tertuju padanya seperti memperhatikan seekor binatan g aneh yang terlepas dari kandang. D i suatu tempat yang terlindung ia terpaksa menggelung ram but dan menutupinya sama sekali dengan destar. D ibelinya selembar sarong dan dikalungkannya tergan tung di tentang dada seperti kebiasaan orang setemp at. Baru ia m erasa dapat bergerak agak leluasa.

  Ternyata tidak semudah itu ia dapat menguasakan agar tidak menjadi perhatian umu m. Rambut sepanjang itu, bagaimana pun ia sembunyikan ternyata tetap menarik keluar. Maka ia pun berpuasa memohon amp un dari para dewa dan para leluhur, pada H yang W idhi, dan dimintanya seorang untuk mencukur rambutnya.

  Itu pun ternyata tak semudah dugaannya untuk melaksanakan. Tak ada oran g bersedia mem otong ram but panjang seorang kafir, karena ada orang dan tempat tertentu untuk itu. Kalau tidak para leluhur akan gusar, katanya, baik yang dipangkas ataupun yang mem angkas bisa terkena kutuk. D an tempat pemangkasan adalah pesantren. Kemu dian ia ketahui pesantren adalah tempat para santri, dan santri sendiri tidak lain dari ucapan guru agama dari seberang untuk cantrik. Ki Aji, yang artinya yang terhormat, di sinipun telah mu lai berubah bunyinya jadi Kiai oleh guru-guru agam a dari seberan g itu pula.

  Ia pergi ke sebuah pesantren, yang ternyata adalah sebuah asram a pendidikan. D an untuk keperluan itu ia sudah lakukan satu kekeliruan.

  Semestinya ia tidak datang seorang diri sebagai seorang yang beram but panjang. Harus diantarkan oleh sanak- keluarga yang menyatakan kerelaan akan pemoton gan ram but itu. Bila sanak-keluarga menolak, baru orang boleh mem bawa teman -temannya sebagai saksi. Di samping itu masih ada lagi syaratnya: seekor ayam jantan putih, beras tujuh tempurung dan tiga depa bahan pakaian putih.

  Justru tanpa syarat dan pengantar pada suatu hari ia datang ke sebuah pesantren terdekat pada bandar G resik. Ia diterima oleh seorang bocah yang kontan menolak mengh adapkannya pada seorang pemangkas. Anak itu mengawasinya dengan curiga, bahkan menjawab pertanyaan dan permintaan nya pun segan.

  Ia m emaksa diri mendekati salah sebuah dari perumahan sarong itu menegurnya: “Hei, ram but panjang, apa keperluanm u?” “Sahaya bermaksud mencukurkan ram but,” jawabnya merendah. “Manakah saksimu yang mem beri kerelaan dan mendengar kau mengu capkan kalimah syahadad ? Mana pula syarat untuk hajad?”

  Ia tidak mengerti kata-kata aneh itu dan minta diterangkan. “Tiada sahaya bersaksi, tiada pula bersyarat.” “Tentu kau datang dari jauh untuk mendengarkan panggilan ini. Mari aku poton g ram butmu .” D an ram but itu pun dipotong sambil Wiranggaleng menirukan kata-kata aneh yang digumamkan oleh si pemangkas. Pekerjaan itu sendiri tak lama karena mem ang tidak dilakukan secara sebaik-baiknya, hanya sekedar mem endekkan sejari dari kulit kepala.

  “Apa lagi yang kau kehendaki?” tanyanya lagi. “Rambut itu boleh kau buang ke kali.” Buru-buru W iranggaleng mengumpulkan poton gan ram but dan disimpannya di dalam sarong. Ia akan menan am nya kelak dengan upacara di sesuatu tempat yang patut untuk itu dengan memo hon ampun dari para leluhur, para dewa dan Hyang Widhi.

  “Kalau tak ada yang kau kehendaki lagi, kau boleh pergi. Aku pun m asih banyak pekerjaan. Siapa nam amu ?”

  “Itun g.” “N ah, Itung, kau sekarang sudah hampir sepenuhnya

  Islam, pergunakan sekarang nam a Islam, Salasa. Bisa mengh afalnya? Salasa, karena kau datang kemari pada hari ke tiga.” “Salasa.” “Pulanglah dengan selam at.” “Bolehkah kiranya sahaya…,” ia tak tahu bagaimana menyebut orang itu, “diperkenankan belajar agam a baru di sini?”

  “Bahasam u baik, tentu kau sudah pernah mengikuti pendidikan. Tentu saja kau boleh belajar di sini’ orang itu tertawa ram ah, menganggu k dan mem andan ginya dengan kasihan. “Setiap orang yang sudah berambut pendek boleh belajar di sini, tinggal di sini, makan dan kerja di sini, selama dia suka dan berkelakuan baik.”

  “Kalau sudah tidak suka lagi?” “Ya, boleh pergi setiap waktu, minta diri secara baik-baik sebagaimana datangnya. Benar-benar kau mau belajar? Jadi santri?” W iranggaleng m engangguk m engiakan.

  “Kalau begitu m ari aku antarkan kau ke tempatmu .” Seperti seekor kam bing yang tertuntun Syahbandar-mu da itu mengikutinya masuk ke sebuah pondok. Di dalamnya disusun am bin-ambin seperti dalam asrama di pedalaman. Tapi tak ada seorang pun nampak di dalam.

  “Kau boleh am bil tempat kosong itu, Salasa.” W iranggaleng tidak pergi ke tempat yang ditunjuk. Ia berdiri saja, malah mengeluarkan surat Rangga Iskak dan berkata: “Surat inilah sebenarnya yang mem bawa sahaya tak tahu tuah apa terkandung di dalamn ya. Tolonglah jawakan tulisan ini pada sahaya.” Oran g itu menerima surat itu dan mengawasinya dengan terheran-h eran.

  “Ini surat baru, di atas kertas, bukan lontar. D ari mana kau dapat?” “Jauh, jauh dari sini.” “Aku sendiri tak bisa menjawakan. Mari aku antarkan pada Bapa Kiai.” Sekali lagi ia m engikuti oran g itu seperti seekor kambing dalam tuntunan. D an masuklah mereka ke dalam sebuah ruangan yang bergeladak pelupuh. Orang yang disebut Bapa Kiai itu duduk mengh adapi meja lipat, sedang di atasnya terbuka sebuah kitab lebar. Tak ada orang lain menyertainya.

  Melihat ada orang masuk ia berhenti menyanyikan bacaannya dan menutup kitabnya, m enegur dalam M elayu: “Allah mem berkahimu dengan keselam atan , anakku. Ada keperluan apa m aka kau datang m enghadap ?”

  Pengantar itu menjawakan, dan dalam Melayu menjawabkan Wiran ggaleng sambil mengu lurkan surat tulisan Arab.

  Juara gulat itu duduk di atas geladak pelupuh mem perhatikan wajah Bapa Kiai. Betul juga dugaann ya, kira-kira samp ai pada baris yang mengejutkan Bapa Kiai nam pak tegang, berdiri, mendekatinya dan bertanya terbata- bata: “D ari mana kau peroleh surat ajimat ini?” dan pengantar menjawakan.

  “N un di pinggir jalan di desa sahaya.” “D i m ana desamu ?”

  “Jauh, jauh dari sini, kira-kira tujuh hari perjalanan, mu ngkin lebih.” “N am a, nam a desamu .” “Kuda, Bapa Kiai, Kuda Kondang.” “Kabupaten mana itu anakku?” “Bojanegara, Bapa Kiai.” “Sedang ada apa di desamu?” “Tak ada apa-apa, Bapa, hanya panen.” “Atau di dekat-dekat desam u?” “Juga tak ada apa-apa, Bapa.” “Tidak mu ngkin, pasti ada terjadi sesuatu.” “Apakah kiran ya isi ajimat itu, Bapa Kiai?” Bapak Kiai yang namp aknya masih muda itu mengawasi W iranggaleng, menaksir-naksir badannya yang besar. Suaranya berubah mencurigai: “Kau belum patut mengetah ui, N ak,” jawabnya curiga. “Biar aku simp an surat ini, terlalu amat berbahaya disimpan oleh orang seperti kau.”

  “Itu sahaya punya, Bapa Kiai.” “Bukankah sudah aku katakan? Ini tidak tepat kau sim pan, apalagi kau miliki. Kau bisa terkena tulah.” Melihat Ki Aji kembali pada meja-lipatnya hendak mem asukkan surat itu ke dalam kitab, ia melompat.

  D itangkapnya tangan itu dan dirampasnya kembali surat itu. Bapa Kiai memekik. W iranggaleng mengu guh mu lutnya. Pengantar itu lari ketakutan sambil mem ekik- mekik minta tolong. Dan sekarang giliran Wiranggaleng untuk juga melarikan diri. Tanpa menoleh lagi ia langsung meninggalkan tempat itu. Para santri lainnya sedang bekerja di sawah atau ladang. D an tak ada di antara mereka yang bertom bak atau berpedang. Mereka takkan dap at mengh alang-halanginya.

  Setelah jauh ia berteduh di bawah sebatan g pohon mengenan gkan kegagalannya. Ia takkan menem puh jalan yang sam a. Ia akan m encari pesantren lain, satu dengan lain tidak selam anya bersahabat. Permu suhan sering timbul di antara mereka, dan kadan g berakibat bentrokan, malahan perang kecil.

  Ia merasa am an. Ia berjalan pelan-pelan setelah mendapatkan nafasnya kembali. Dirasainya kepalanya begitu ringan seakan ikat kepalanya melekat pada tengkoraknya. Ingat bahwa rambutnya telah terpotong ia merasa menyesal. D irasainya suatu kesedaran mengh entikan seluruh pekerjaan ototn ya. Ia mencari tempat berteduh lagi di tepi jalan dan mencoba mengikuti gerak kesedarannya.

  Benarkah aku sekarang sudah Islam? Mu slim? Bernama Salasa?

  Ia tenangkan pikiran dan perasaan. Ia resapkan kembali kesan-kesan yang baru dialaminya. Aku masih tetap seperti kemarin, hanya kepalaku saja terasa ringan tak beram but.

  Tapi kau telah ucapkan mantra orang Islam itu, satu pengakuan, satu kesaksian kau sudah Islam, Muslim seperti yang lain.

  Tidak, aku m asih tetap seperti kemarin. Tunggu, cobalah rasakan perbedaannya, jangan kesam aann ya.

  Tidak beda. Beda! Tidak. Beda!

  Rambutmu telah pendek dan kau telah geletarkan melalui lidah dan bibirm u sendiri, dengan kemauan sendiri siapa dewa dan pemimpinmu yang baru.

  Tidak, aku m asih tetap seperti kemarin. Kau bohong! Tak ada yang memaksa kau mem oto ng ram but dan mengu capkan mantra itu. Semua atas kemauan mu sendiri. Kau, tak lain dari kau sendiri, dengan sepengetahuanm u sendiri, dengan lidah dan suaramu sendiri.

  D iam kau! Tidakkah kau tahu, aku sedang mencari terjemahan? G erak lidah itu telah padam, suara itu telah beku dan rambutku bakal tumbuh lagi, dua minggu dan dia akan m ulai panjang.

  D iam kau! Tidakkah kau dapat jujur terhadap diri sendiri? Kau sudah Islam. Kau haru s akui kebenaran ini. Pusing karena pertikaian di dalam diri sendiri ia melom pat berdiri dan meneruskan perjalanan. Langkahnya makin lama makin cepat. Pikirannya dialihkan pada soal- soal lain. Apakah aku harus lakukan kekerasan di pesantren baru nanti? Apakah aku harus meninggalkan kebencian orang terhadap diriku? Teringat ia pada Liem Mo Han: W ira, Tuan adalah orang berbahagia, karena dicintai dan dihorm ati orang banyak. D an di G resik sini? Tak ada orang mencintai dan mengh ormati aku. Tidak berbahagiakah aku?

  Ia merasa-rasakan. D an ia tetap masih merasa berbahagia. Kebahagiaanm u tak lain dari pesangon cinta dan horm at orang di Tuban sana, seakan Liem Mo Han meneruskan kata-katanya.

  Kemu dian Ram a Cluring mu ncul di depan mata mem butuhkan cinta dan horm at kalian; selam a kata-kataku hidup dalam hatimu, itu sudah cukup bagiku.

  D ia tidak mem butuhkannya, seakan Liem Mo Han berseru, karena dia tidak hidup dalam jamannya sendiri atau jaman orang lain; dia tidak ber-jaman, dia hanya suara.

  Ia melangkah cepat. Pandan gnya ditebarkannya ke mana-mana untuk mengebaskan segala yang bertingkah dalam dirinya.

  Pada hari itu juga ia dapatkan pesantren baru, yang sama saja dengan sebelum nya. Hanya lebih kecil. Ia lalui hari- hari pertam a dengan mengerjakan sawah dipagi dan sore hari dan belajar m embaca disore hari.

  D ikendalikan lidah nya untuk tidak menan yakan sesuatu. Sebaliknya ia tajamkan pengelihatan dan pendengaran. Ia perhatikan galanya.

  Ia dap at mengetahui adanya seorang santri yang dianggap terpandai dan telah lebih sepuluh tahu n belajar. Orang itu yang dipilihnya untuk mem bantunya mendapatkan terjemahan. D an ia takkan m endekati Kiai.

  0o-d w-o0 G enap seminggu kemudian ia sudah mulai meramahi

  D anu, santri terpandai itu. Juga D anu yang bercerita padanya, G resik bisa hidup terus tanpa raja, tanpa bupati. Makin tak ada m ereka makin baik. D i jaman Majapahit, tak ada punggawa mencampuri pesantren, ia bercerita. Sri Bagin da Bhre Wijaya Purwawisesa malah mem berikan tanah pada kiai-kiai yang tidak dikenakan pajak atau kerja negeri – sama halnya yang didapat oleh asrama-asrama Buddh a.

  D an waktu raja Giri D ahanapura, Sri Ranawijaya G irindra W ardha-na mem asuki G resik, ceritanya lagi, dipanggilnya mengh adap semua saudagar dan nakhoda, dan dititahkan nya semua memindahkan harta dan perdagangann ya ke Panarukan atau Pasuruan.

  “Lihat, bagaiman a hebatnya Gresik,” ia meneruskan. “Para saudagar dan nakhoda mengetah ui, tanpa G iri D ahan apura, G resik akan tetap hidup. Mereka bersembah, G iri D ahan apura dapat dipindah kan ke G resik, tetapi G resik tak bisa dipindah kan ke mana pun!” D anu adalah seorang patriot G resik.

  W iranggaleng tak sempat mem bikin perbandingan dengan bandar Tuban. Ia sibuk mencari-cari kesempatan untuk bisa berdua saja dengan D anu.

  Hari yang ditunggu -tunggunya tiba juga. Sore itu m ereka telah mandi di saluran air sawah. Enam belas orang jum lahnya, term asuk dirinya. Semua sedang bersiap-siap pulang, pada berdiri di pematang menunggu yang belum selesai berpakaian. Pacul-pacul kayu bermata baja itu pada berdiri berderet di atas lumpuran sawah yang habis digaru. D i atas sana langit sedang bermendun g.

  Sekali-dua terdengar sayup guruh menggerutu seperti dari perut bumi.

  Ia hampiri D anu, menawarkan jasanya. “Biar aku cuci paculmu, Kang D anu!” dan tanpa menunggu jawaban ia mem asukkannya ke dalam saluran dan mencucinya dengan setekam rump ut.

  “Kalau aku sudah tam at nanti,” katanya menambahi sambil menyerahkan pacul D anu, “aku akan masuk ke daerah kafir Blam bangan, m endirikan pesantren sendiri.”

  “Kau!” D anu tertawa geli, “belum lagi dua minggu belajar! Tidak semudah itu,” dan dengan gaya keguru- guruan meneruskan. “Abangku sudah setahun di D ahan apura. Apa hasilnya? Buh! T ak ada. Apa kekurangan dia? Semu a sudah habis dipelajarinya. Sekarang dia mau tinggalkan Blam bangan hendak berusaha di Nusa Tenggara.”

  “D i sana dia tentu akan berhasil, Insya Allah.” “Tuhan akan menunjukkan padanya jalan yang terang. ” “Aku ingin m emasuki D ahanapura, Kang.” “D i sana kau akan jadi kafir lagi. Belajar saja baik-baik.” “Tentu, Kang D anu. Aku akan belajar baik-baik.

  Bagaimana pun Blam bangan sangat menarik. Kerajaan sekecil itu! Sebentar lagi tentu tumban g, Kang, biar pun punya bandar dan angkatan laut.”

  “Buh!” D anu melecehkan, “penyebaran agama bukanlah perang, ” ia meneruskan, “majunya tidak seperti tentara berbaris, dia tidak menambah jalan darat atau laut, tetapi hati manusia! hati yang harus diram bahnya. Ada kau mengetah ui sesuatu tentang Blambangan D ahanapura?”

  “Katanya Peranggi sudah masuk ke sana. Kang, ada yang m embuka perguruan, kata oran g, menyebarkan agama sendiri. Itu kata orang, Kang.”

  “Ya, semua orang di sini pernah dengar. Kata abangku, beberapa waktu yang lalu,” D anu mu lai berjalan di atas pematang m enuju ke desa dan W iranggaleng mengikutinya dari belakang.

  “D i m ana abangm u sekarang, Kang D anu?” “Masuk ke D aahanapura lagi. Kata dia, raja di dia lebih suka pada Peranggi. Tak pernah dikaruniakan tanah pada pesantren, tapi orang Peranggi dikaru-niainya. Malah patihnya, Patih Udara, sudah mengirimkan utusan pada Kongso D albi di Malaka…. Tahu siapa Kongso D albi?” ia menengok dan menyaksikan gelengan W iranggaleng. “Raja Peranggi di Malaka. Utusan itu, kata abangku, telah mem persembahkan pada Kongso D albi sebuah giring-giring emas, lambang kejayaan Hindu di Blam bangan , beras dua kapal, satu ukiran kayu cendana berbingkai emas. Kebetulan abangku kenal dengan pengukirnya.”

  “Apa yang diukir pada kayu itu, Kang?” “Satu adegan dari Ramayana, Lesmana dan Sinta di dalam hutan.” “Pengukirnya, Kang?” “Pengukir asal Tuban, Borisrawa.” W iranggaleng m engangguk di belakang D anu. Dia sudah di sana, pikirnya. Tetapi yang keluar dari mu lutnya:

  “Taklukkah D ahanapura pada Malaka, Kang?” “Tidak. Ranawijaya takut kalau-kalau bupati pesisir utara bersekutu menumbangkan kerajaannya yang terpencil semakin terdesak oleh meluasnya Islam. Maka dia surati Kongso D albi memohon persahabatannya, dan memo hon bantuan sepuluh pucuk meriam untuk menah an arus kekuasaan Islam; dengan peluru dan penembaknya.”

  “Apa m eriam itu, Kang?” “Senjata Peranggi. Yang dilemp arkan bukan mercon udara seperti cet-bang, tapi besi sebesar kepalan.” Enam belas santri lainn ya mu lai mengikuti keduanya dari belakang, mem anggul pacul masing-masing.

  “Apakah P eranggi suka m emberikan m eriam ?” “Pada lawan Islam? Boleh jadi,” jawab D anu ragu-ragu. “Karena itu, jangan sepelekan kerajaan kecil. Kekuatan nya bisa besar dan ampuh.”

  “Jadi kafir D ahan apura Blam bangan sudah bersekutu dengan kafir Peranggi?” “Kira-kira. Kan kau sendiri yang mem beritakan tadi,

  Peranggi sudah ada di sana? Persembahan Patih Udara itu nam paknya berbalas juga. Buh! Kapal-kapal Peranggi sudah mu lai kelihatan juga di G resik, menuju ke Pasuruan dan Panarukan.”

  Mereka semua telah meninggalkan tanggul saluran dan berada di jalanan desa. G aru dan luku ditinggalkan mereka bergeletakan di atas lumpuran sawah. Matari di sebelah barat menyala merah di celah-celah mendung seperti telur angsa ajaib. D an dengan segala usaha Wiranggaleng mencoba menarik D anu dengan pertanyaan-pertanyaan agar berada di buntut iring-iringan. Ia bertanya terus sambil mem perlambat jalan. Dan usahanya berhasil. Santri-santri lain ingin segera pulang. Mereka tak memperhatikan kata- kata D anu yang menggurui. D an begitu jarak mereka telah nam pak jauh, Wiranggaleng membuka maksudnya: “Tolonglah aku, Kang D anu. Ada padaku sebuah ajimat, tapi aku tak tahu tuah di dalam nya,” ia keluarkan bungkusan kecil dari tali ikat pinggang kain, setelah meletakkan pacul di tanah, dan berhenti.

  D anu pun berhenti dan memperhatikannya mem buka bungkusan kecil yang ternyata segulungan kertas itu. “Inilah ajimat itu, Kang, jawakanlah padaku, tolon glah.” D engan baik hatinya D anu mem buka kertas itu dan mu lai m embaca.

  “Ini bukan ajimat,” katanya setelah mem baca sebaris- dua. “Ini surat biasa. Masyaallah! D ari mana kau dap at surat ini? W ah , wah. Baru saja kita bicara tentang meriam, di sini sudah disebut-sebut soal meriam. Minta dikirimi paling tidak dua pucuk meriam P eranggi, kalau tidak….”

  “Kalau tidak, apa Kang?” “Uh-uh, dari mana kau dapat surat ini?” tanya D anu mendesak dan bersungguh-sunggu h.

  “Jangan jalan dulu, Kang, berhenti di sini saja, biar aku ceritai kau.” Mereka berdua berdiri di tengah-tengah jalanan desa yang sunyi itu. Wiranggaleng memperhatikan dengan pandang selintas, bahwa santri terpandai itu masih tetap mengawasinya, sedang santri-santri lain telah hilang di tikungan jalan. Lam bat-lam bat ia mulai bercerita; dan ia mengu langi ceritanya di pesantren pertama, hanya ditambah lebih banyak.

  “Sekarang kau teruskan mem bacanya, Kang, kau belum selesai.” D an D anu sudah melepaskan sikap keguru-guruannya. Ia genggam surat itu seakan takut terlepas dari tangan. D engan suara rendah ia berkata: “Kau tidak berhak mem egang surat ini. Akan kuserahkan pada Bapa Kiai. Entah apa akan diperbuatnya nanti dengan ini. Barangkali juga terjemahanku tidak benar.”

  “Jangan, Kang, jangan.” “Siapa sebenarnya kau ini? Kau datang kemari bukan hendak belajar. Ketahu an dari kata-katam u yang berlagak bodo h. Ayoh, katakan. Kalau tidak, surat ini benar-benar akan kusampaikan pada Bapa Kiai, kemudian pada G usti Bupati, yang tentu akan memanggil Bapa Kiai lagi. Mengaku saja. Kau mata-mata, telik!”

  “Jangan, Kang, jangan,” tegah Wiranggaleng dengan suara ketakutan. “Kalau begitu katakan siapa kau sebenarnya.” Tangan Wiran ggaleng cepat melayang, menan gkap tengkuk D anu dan ditekuknya seperti ia melipat segulungan kain. Terdengar bunyi berdetak dan tulang tengkuk itu patah. Lidah D anu menyelir keluar sedikit meneteskan air liur. Surat di tangan korban itu terlepas dan jatuh ke tanah.

  Surat itu segera ia bungkus dalam tali kain pinggang. Ia lemp arkan korbannya ke atas lump uran sawah. Ia lemp arkan pula dua buah pacul yang berdiri di jalanan itu lebih jauh lagi.

  “Ampuni aku, Kang D anu. ampuni aku, ya, D ewa Batara.” Ia tak pulang ke desa pesantren, justru sebaliknya….

  0o-d w-o0 Ia tak menempuh jalan laut.

  Setelah dap at menangkap makna isi surat ia langsung mengambil jalan darat pulang ke Tuban. Sepanjang perjalanan ia menyesali kekerasan-kekerasan yang dilakukannya. Dan ia bertanya-tanya dalam hati: siapakah yang harus bertanggu ngjawab atas kekerasan-kekerasan ini? Aku yang menjalani ataukah dia yang menugaskan aku? Aku tak punya urusan apa-ap a dengan mereka. Aku bukan pembunuh, juga bukan penganiaya. Aku hanya seorang bocah desa yang tidak diperkenankan jadi petani.

  Untuk pertama kali ia menyedari, dirinya telah jadi bagian dari kekuasaan Sang Adipati Tuban dan kelangsun gan hidup praja T uban.

  Inikah cara mengam bil kembali kebesaran dan kejayaan masasilam pada guagarba haridepan? Untuk Tuban? Inikah?

  Barangkali. Barangkali aku tidak keliru. Barangkali pun aku salah. D an ia tanam potongan ram but yang selam a ini ia sim pan dalam sa-rongnya di bawah sebatan g pohon baru di pinggir hutan.

  Ia tembusi hutan-belantara itu melalui jalan setapak, jalan desa dan jalan besar negeri. Langkah nya seperti lari. Tubuhnya yang berat itu dirasainya mengganggu gerakan kaki dan tangan. N amu n jalannya tetap seperti lari.

  Sang Patih menerima kedatangannya dengan girang. Serentak ia mendengar, Ki Aji Benggala minta meriam Peranggi pada Syahbandar Tuban dengan ancaman, lenyap kegirangannya. Airmukanya berkerut, keningnya terangkat naik, mengetahui bahaya yang sedang datang mendekati Tuban.

  “Ya,” katanya setelah agak lama berdiam diri, “berikan surat ini pada yang berhak.” W iranggaleng berjalan cepat menuju ke Syahbandaran. Sekilas ia lihat Idayu berjalan dari dapur menuju ke kamar, dan ia lihat juga istrinya melihat padanya. Ia naik ke gedung utam a dan mendap atkan Syahbandar Tuban sedang dud uk mem baca kitab.

  “Hasalam u alaikooom!” serunya.

  Tholib Sungkar Az-Zubaid melom pat terkejut. Melihat W iranggaleng m ula-mu la ia terdiam. Matanya waspada dan menelan ludah. Awan dengan lambat berarak meninggalkan wajahnya. Ia tersenyum dan mem balas: “Wa alaikum salaaam. Rupa-rupanya sudah jadi Islam, Wira.

  Ah, ya, benar sekali!” ia bertepuk-tepuk tanp a m enegakkan bongkoknya. “Siapa menduga kau sudah berambut pendek begini. Kau kelihatan lebih hitam, tapi lebih berseri dan lebih bersih dan lebih berbahagia.”

  “Alham dulillah, tuan Syahbandar.” “Siapa yang m entaubatkan kau? R angga Iskak?” “Tidak salah, Tuan Syahbandar. ” “Tak pernah kau nampak begitu periang seperti sekarang. Berkah taubat, W ira. Berkah taubat. Tak bisa lain. Bukan main. Apa kata Rangga Iskak?”

  “Bukan hanya kata, Tuan Syahbandar, malahan surat balasan.” “Surat balasan! N anti dulu, ceritakan bagaimana perjalananm u.” D an W iranggaleng membikin-bikin cerita sendiri, bahwa perjalanan sangat menyenangkan, bahwa tak ada sesuatu aral melintang. D an Syahbandar Tuban menyam butnya dengan tertawa-tawa senang.

  “Mana surat balasan itu?” tanyan ya tak acuh. “Mana. mana?”

  Syahbandar-m uda itu memperhatikan dengan saksama tingkah-laku majikannya, untuk dapat mem bedakan antara kepura-puraan dari kesungguhan.

  “Sayang sekali sudah agak rusak, Tuan, terlalu sering

  Syahbandar menerima dengan mata melirik tajam padanya. Tapi pada bibirnya tetap tertarik senyum mencemoohkan. Tiba-tiba senyum itu hilang dan menjadi bersungguh-sungguh.

  Ia sudah sampai pada kalimat yang menggugupkan itu, pikir juara gulat itu. D an wajah orang di hadapannya itu nam pak berubah-ubah. Kemu dian Syahbandar itu berhenti mem baca, menyelidiki ke arah surat, juga menyelidiki wajahnya.

  “W ira’ panggilnya dengan menusukkan pandang pada matanya: “Apakah dia tidak bicara sesuatu tentang cap?” “Tidak, tuan Syahbandar.” “Mem ang orang keparat,” katanya dan kembali mem pelajari keadaan surat itu. “Betul kau sudah bertemu sendiri dengan Rangga

  Iskak?” “D emi Allah, T uan.” “Begini, Wira, aku lihat beberapa tangan sudah pernah mem egangnya, dan beberapa pasang mata telah melihat dan mem bacanya. Bagaimana keteranganm u, Wira?”

  “D emi Allah, T uan Syahbandar.” Syahbandar Tuban mengawasinya. Pegulat itu merasa dirinya diragukan.

  “Kalau begitu lama pergi,” Tholib Sungkar Az-Zubaid meneruskan penyelidikannya. “Sahaya mem erlukan belajar sebelum pulang. Apalah salahnya, Tuan Syahbandar, sekedar untuk perbekalan pulang.”

  “Tak ada. Hanya Ki Aji Benggala Rangga Iskak yang bisa m enulis dan mem baca Arab.” “Kau bohong!” tudu hnya. “D emi Allah, kata sahaya. Mem ang Ki Aji bilang sudah kehabisan kertas, maka ia m enulis di atas kertas bekas.” Tholib Sungkar Az-Zubaid berdiri dan berjalan mo ndar- mandir. Bongkoknya nampak semakin menjadi-jadi, kemudian berhenti dan mengambil tongkat yang tergantung pada punggung kursi, berjalan mo ndar-man dir lagi, dan tiba-tiba berhenti di hadapan W iranggaleng.

  “Kau begitu lama pergi. Aku tak yakin tak ada orang mem baca surat ini.” “Tak apalah kalau tuan Syahbandar tak mempercayai sahaya lagi.” “Orang bilang, pernah melihat kau di Tuban antara keberangkatanm u dan kedatanganmu sekaran g.” “Kalau Tuan lebih mempercayai dia, perintah kan padanya mengh adap Ki Aji Benggala, jangan sahaya.” “N am paknya kau sudah mu lai hendak berselisih dengan ku.” “Bukankah sahaya tak bisa mem aksa Tuan Syahbandar percaya pada sahaya? Terserah saja pada Tuan sendiri hendak percaya atau tidak. Sahaya pun tidak m embutuhkan kepercayaan T uan. Sungguh.”

  Tholib Sungkar kembali duduk dan menggerak-gerakkan tangkai tongkat dari gading itu. D an gerakan gading berukir itu selalu mem bikin orang tertarik pada persambungannya dengan kayu hitam, yang seakan dua kuntum bunga tertangkup jadi satu.

  Mengetah ui pikiran pembantu-utamanya mu lai terlena, dengan nada m embujuk ia bertanya: “Lamakah sudah surat ini kau simpan?”

  “Segera setelah sahaya m enerim anya.” “Aku percaya padamu, W ira,” ia diam lagi. D an W iranggaleng tahu, ia tak percaya. “Aku senang kau telah m asuk Islam, W ira.” “Salasa nam a sahaya, Tuan.” “Salasa! N ama yang sangat bagus. Artinya ke tiga, W ira, tepat. Satu artinya baik. D ua berarti lebih baik. Tapi tiga artinya sempurna,” ia tertawa dibuat-buat. “Baiklah, lain kali kita bicarakan lagi soal surat ini. Kau setuju, bukan, Salasa?

  “Tentu saja, Tuan Syahbandar.” “Sekarang kita bicara soal lain, W ira Salasa. Sekarang kau sudah masuk Islam. Tetapi istrimu masih kafir. Kau harus perhatikan itu, Wira. Tak ada oran g kafir yang baik. Kalau seorang kafir itu pemboho ng, menipu suaminya, itu sudah selayaknya, karena dia kafir, tak tahu ajaran. Kau jauh lebih mu lia daripada kafir mana pion, Salasa, apalagi dari istrimu, kau pun lebih m ulia dari Sang Adipati ataupun Sang Patih. Mengerti kau?”

  “Belum, Tuan Syahbandar.” “D i hadapan Allah kau lebih mu lia daripada semua mereka.” “D i hadapan Allah, Tuan Syahbandar. Di hadap an mereka sendiri bagaimana, Tuan?” “Tentu saja tetap seperti biasa.”

  “D an tentang istrimu itu, W ira Salasa, karena kau sudah bertaubat, kau haru s bisa tertibkan dia sebaik-baiknya. Jangan lagi kau biarkan dia sebagai biasa bila kau sedang pergi….”

  Ia diam dan menunggu tanggapan pemban tu-utamanya. “D ia hanya menari di pendopo kadipaten, tuan, itu sahaya tahu.” “Tentu pengetahuanm u kuran g sempurna, Wira?” “Bagaimana m enyemp urnakannya, Tuan Syahbandar?” “Menari di pendopo, Wira,… Sang Adipati. Ah, bagaimana harus aku katakan. Tentu kau m engerti.” W iranggaleng m enunduk dalam. “Mengapa kau diam saja?” “Baik, Tuan Syahbandar.” “Syukurlah kalau kau mengerti.” “Bagaimana biasanya ia perbuat kalau sahaya pergi

  Tuan?” “Ah, W ira Salasa, kasihan kau. Apakah kau tak pernah dengar suara oran g? Semua sudah bercerita. Wira, betapa hinanya lelaki seperti kau dipunggungi istri sendiri…. Pulanglah, Tuhan mem berimu petunjuk dan keselam atan dan semoga kukuh imanmu . Tak ada kafir yang baik di hadapan Allah.”

  D engan kepala masih menekur juara gulat itu pulang, melangkah pelan-pelan seakan kepalanya menjadi beban bagi tubuhnya sendiri.

  0o-d w-o0 Idayu tak menyam butnya di serambi. Ia menunggu kedatangannya di dalam kamar. G elar tidak nampak. Ia nam pak prihatin duduk di atas ambin sambil mengu nyah sirih. Sebuah bantal terletak di atas pangkuan nya. D an matanya sayu seperti belum lagi tidur selam a tiga malam. D i atas bantal itu tergeletak sebilah cundrik panjang.

  “Mengapa kau diam saja, Idayu?” Hanya dengan matanya yang sayu ia pandangi suam inya.

  “Mengapa kau pangku cundrik itu di atas bantalmu ?” Idayu menunduk. “Sakitkah kau?” Ia m enggeleng. “Seperti tidak senang kau menyambut kedatanganku?” “Siapa tahu, Kang, kau sudah berubah, D an kau mem ang nampak sudah berubah dengan ram butmu yang pendek.”

  Lelaki itu meletakkan kedua belah tangannya pada bahu istrinya. “Berubahkah aku, D ayu?” “Kau berubah, Kang. Kau sudah masuk Islam nam paknya. Tentu haruslah aku bersiap-siap dengan perubahanmu , perubahan sikapmu,” suara Idayu semakin pelahan dan sayu. “Aku masih juga ragu apakah aku boleh mendahului kata atau tidak. Siapa tahu , Kang, kau sudah tak suka m endengarkan aku lagi, suaraku, diriku….”

  “Mengapa kau bicara begitu?” dan dud uklah ia di samp ing istrinya. D iambilnya cundrik dari atas bantal.

  “Inilah aku, Kang, berdirilah kau, tidak baik mem bawa cundrik sambil duduk begitu.” “Selamanya kau jadi kurus kalau aku tinggal, D ayu. Apa yang sudah terjadi?” “Aku tetap saja, Kang. Kaulah yang banyak berjalan, banyak melihat dan banyak m endengar. Kata orang tua-tua: berjalan banyak melihat, curiga banyak m endengar. ”

  “Untuk apa cundrik ini ikut m enyambut kedatanganku?” “Berdirilah di hadapanku, Kang. Atau aku yang berdiri di hadapanmu?” “Baru beberap a m inggu, Dayu, kau sudah begini kurus.” “Untuk memohon pada para dewa buat keselam atanmu.

  Kang.” “Kau masih suka dipanggil menari?” “Masih, Kang.” “D an m impi lagi seperti dulu?” “Tidak, Kang.” “Apakah Syahbandar m asih suka m engintip seperti itu?” Idayu mengangkat kepala dan melihat sebagian dari mu ka Syahbandar terlindun g pada tiang jendela. Ia menganggu k.

  “Apakah kau masih suka dengar bicaran ya, Kang?” “D ia majikanku, D ayu, tapi kau adalah istriku.” G aleng m emperm ain-mainkan cundrik kecil.

  “Mana sarongnya ini, D ayu?” “Sarong yang m ana?”

  W iranggaleng mengangkat pandang ke arah jendela gedung utama dan mu ka Syahbandar Tuban sudah tiada. “Sarong yang lama. Aku akan berusaha tidak akan tinggalkan kau terlalu lam a, Idayu.” “Jangan pikirkan tentang diriku. Aku sehat, jiwa dan ragaku.” “Ceritai aku tentang G usti Adipati.” “Tak ada yang aku bisa ceritakan, kecuali ia suka menonton kalau aku menari. Kemudian wanita kadipaten itu m engantarkan aku pulang dan menemani aku di sini.”

  “Ceritai aku tentang Tuan Syahbandar.” “Kau sendiri bisa bercerita banyak tentang dirinya. Biar aku am bilkan sarong cundrik itu, Kang,” ia berdiri tetapi ragu-ragu. Mendekati suaminya, bertanya, “Apakah benar kau mem butuhkan sarong yang lama? Tidakkah kau mengh endaki yang baru?”

  W iranggaleng berdiri. Cundrik itu diletakkannya kembali di atas bantal. Ia peluk istrinya. Ia menciuminya. Idayu mem eluknya dan air-mata m embasahi mu kanya.

  0o-d w-o0

  Pada sore hari gadis-gadis menari mengelilingi Sela Bagin da yang tinggal umpaknya sebagai pembukaan pesta. Langit terus menerus bermendung dan sebentar-sebentar turun gerimis kecil.

  Lom ba perahu belum lagi selesai. Bila lomba usai dan bunga-bungaan dan ketupat telah ditebarkan ke laut orang pun akan naik ke darat untuk mengikuti pesta api.

  Tetapi pesta itu kini telah ditiadakan. D ahulu dalam pesta ini tulang-belulang atau mayat-mayat dibakar bersama-sam a di empat penjuru kota, bila memang banyak yang harus dibakar. Bila abunya telah diam bil, janda-jan da pun menyusul masuk ke dalam api unggun samp ai lumat jadi abu pula.

  Pesta api sudah tiada. Oran g-orang Islam telah berusaha melawan adat kejam dan mengerikan ini sambil mem asyhurkan agamanya. G olongan wanita terutama yang menyam but perlawanan kaum Mu slimin itu. Mu la-mu la dengan diam-diam mereka bersim pati pada agama baru itu dan mem benarkan, bahwa adat itu mem ang kejam dan mengerikan. Maka juga golon gan wanita yang paling mu la dalam pem bisuannya menerima Islam tanpa sepengetahuan suam inya. Menerima Islam pada tingkat pertama berarti bagi mereka dibenarkan menghindari api maut. D an sekali kaum wanita menerimanya, pengaruhnya menentukan di dalam kehidup an rumahtangga dan anak-anaknya. D alam hanya satu generasi pembakaran janda mulai susut keras dan kemu dian hilang seperti tertiup angin badai.

  Sebagai akibatnya Tuban mu lai mengh adapi masalah janda hidup dan tinggal hidup. Tak ada yang mau mengawini mereka. M ereka dianggap wanita pembawa sial bagi mendiang suam i dan keluarga. Bahkan untuk mem berikan atap untuk melindun gkan kepala mereka dari hujan dan panas orang tidak sudi, takut terjalari kesialan. Maka mengem baralah mereka bergelandangan di kampung- kamp ung para perantau untuk mendapatkan sekedar makan, suami baru atau sekedar kasih dan kekasihan. Bila sebagai istri atau gundik. Yang tidak beruntung terus bergelandangan di pelabuhan sebagai pelacur untuk awak kapal. D an di daerah pelabuhan juga janda-janda yang kurang beruntung mendirikan gubuk-gubuk-nya dari daun kelapa.

  W alau pun pada um umn ya penduduk negeri Tuban beragam a Buddh a, tetapi pengaruh Hindu dan adat- istiadatnya masih mendarah-daging. Pergan tian raja karena perang ataupun tidak mengakibatkan banyak kala terjadi pergantian agam a: Syiwa, W isynu, Brahma dan Buddha, bagaimana saja rajanya. D engan dem ikian penduduk negeri tidak memp unyai kesempatan cukup lama untuk menganut salah satu agama dengan mendalam. Suatu hal yang menyebabkan pembakaran janda tetap umu m di mana- mana di negeri Tuban. D an wanita yang menceburkan diri ke dalam api mengikuti mendiang suami mendap at nilai sebagai wanita setiawan dan terpuji.

  D engan berpengaruhnya Islam terhadap mereka – sekalipun baru terbatas pada penghindaran dari sang api – makin lama makin banyak pelacur bergentayangan. Kapal adalah sum ber penghidupan mereka yang pokok. Kendaraan laut itu m emuntahkan untuk mereka awak kapal yang haus wanita. D an penghidupan baru itu mem bikin mereka ber-tingkah-laku sesuai dengan kehendak sang hidup. Pejabat-pejabat bandar tak jaran g mengalami kesulitan karena mereka, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bandar Tuban adalah bandar bebas, juga untuk mereka, Pribumi mau pun asing, penetap ataupun pendatan g.

  D an kini kelengahan bandar telah mengancam penghidupan mereka. Penghidupan sulit diharapkan datang dari laut. Mereka terhalau makin ke darat, meninggalkan daerah bandar, mengem bara ke mana-mana untuk

  D engan adanya pesta air, m ereka datang lagi menduduki gubuk-gubuknya kembali. Juga mereka berkepentingan untuk ikut mem eriahkannya, karena itu mengingatkan mereka pada masa kanak-kan ak sewaktu mereka bukan segolongan orang yang dikucilkan. D an berhubung tiada kapal datang berlabuh, mereka berubah jadi serombongan penekad. Setiap nampak oleh mereka orang asing, segera mereka kepung, mereka tarik-tarik ke suatu tempat, dan merampas baran g apa yang ada pada diri mangsan ya. D emikianlah pada pesta air ini Liem Mo Han menjadi korban m ereka….

  Malam itu mendung menutup semua bintang di cakrawala. Kilat antara sebentar mengerjap kejam, seperti mata bencana sedang m engintip dun ia.

  Liem Mo Han datang ke pelabuhan untuk mencari W iranggaleng. Tahu yang dicarinya sedang menunggu istrinya menari tunggal di depan umum. Tetapi ia tak dap at menem ukannya. Maka ia berjalan-jalan sambil menunggu selesainya pertunjukan.

  Serombongan janda gelandangan telah m enyergapnya. Ia meronta dan melawan, tapi sia-sia. Ia tahu mereka adalah wanita-wanita lemah, dan ia tahu, tak mu ngkin ia harus menggunakan kekerasan. Adalah memalukan kemenangan nya terhadap mereka. Maka ia membiarkan dirinya masuk dalam sergapan, la ikuti aru s yang menyeretnya. Lebih baik begini daripada jadi tertawaan seluruh negeri, pikirnya.

  Kuncirnya yang panjang telah dicengkeram oleh tak kurang dari enam tangan. Juga dua belah tangannya. Juga bajunya. Ia sudah tak ingat lagi di mana topi hitam nya yang

  Tapi ia tak menyangka dalam waktu sekejap segala apa yang ada pada tubuhnya mereka lolosi. D an tertinggal ia di lapan gan, telanjang bulat seperti seorang bayi baru keluar dari rah im ibunya.

  D alam keadaan seperti itu ia dilepaskan. D an larilah Liem Mo Han dalam malam gelap bermendung itu, telanjang bulat, mencari perlindungan.

  Mu la-m ula ia menuju ke warung Yakub. T ernyata pintunya tertutup dan terkunci dari dalam. Ia lari ke syahbandaran, tanp a mengindahkan larangan untuk memasuki daerah itu tanp a seijin Syahbandar. D an bersembunyi ia di sesuatu tempat sambil menunggu kedatangan W iranggaleng.

  Ia masih sempat menimbang-nimban g tempat mana sebaik-baiknya untuk menghindari pandan gan orang: di gand ok sebelah kanan yang sehari-hari kelihatan lebih tenang dan lengang.

  Begitu ia mendekam mem anaskan badan terhadap serangan angin, nyamu k mulai menyerangnya tanpa am pun. D an kepalanya terasa panas seakan tengkoraknya sudah menganga setelah sebanyak itu tangan yang menjahili kuncirnya.

  D engan pakaian sewajarn ya ia sudah beberapa kali melakukan pengintaian di sini. Tanpa pakaian ia merasa kikuk dan bersalah terhadap segalanya. Maka ia taksir- taksir kegelapan mana yang kiran ya cukup untuk jadi pakaiannya. Ia berdiri dan mengu langi pengintipannya. D an sekarang ia baru tahu dengan jelas di mana oran g- orang yang selam a ini diburunya: Esteban del Mar dan Ro driguez D ez. Ternyata mereka berada dalam sebuah ruang gudan g yang pintunya terpasak dari luar.

  D ari suatu celah ia dapat melihat rantai besar mengikat bicara lepas-lepas: “Anjing Moro itu mau jual kita pada Malaka.”

  “Bagaimana kita bisa terantai begini?” Esteban menggerutu gusar dengan menyesali diri. “Bukan untuk dibeginikan kita berkelana. Kemarin kita masih bebas. Bodoh. Mengapa tidak waspada terhadap anjing busuk itu?”

  “Kau masih ingat kata-katanya? Seperti sudah jadi kaisar saja. ‘Mulai hari ini jangan Tuan-tu an pergi ke mana- mana’, katanya, seperti Tuban ini sudah jadi miliknya pribadi.”

  Esteban mendengus jengkel. Kemu dian: “Seperti sudah setinggi langit kekuasaan nya. ‘Tuan-tuan am an dalam perlindunganku’, katanya. D an kita aman dalam perantaian seperti ini. ‘Tuan-tuan takkan jatuh ke tangan Sang Adipati, karena matilah Tuan-tuan di tangannya.’ Uih, bangun- bangun sudah terantai begini.”

  “Barangkali Sang Adipati mem ang mengh endaki jiwa kita?” “Psss. D ia bukan sekutu D emak,” Esteban baran gkali sudah menerangkan untuk ke sekian kalinya. “Ah, tunggu, benar, dia toh sekutu Jepara. Tapi kita tak ada sesuatu urusan.”

  Liem Mo Han mendengar sesuatu dari belakangn ya. Ia lari menghindar. Terdengar olehnya suara teguran: “Siapa?” dalam Melayu.

  Ia lari berputar ke belakang Syahbandaran dan menuju ke gand ok kiri. Justru pada waktu W iranggaleng bersama istrinya sedang melintasi jalanan taman untuk masuk ke dalam

  “Kaukah itu, W ira Salasa?” “Sahaya, Tuan Syahbandar.” “D engan istrimu, W ira?” “Sahaya, tuan Syahbandar. ” “Tak ada kau lihat orang berjalan di sini?” “Tidak. Sahaya justru baru datang.” Percakapan itu selesai. W iranggaleng bersama istrinya masuk ke dalam rumahnya. Orang telanjang bulat itu mengetuk-ngetuk lemah dan memanggil-manggil pelan: “W ira, W ira, keluar sebentar, sahaya ada di sini. Liem Mo Han di sini, W ira.”

  Juara gulat itu mengenal suaran ya, ia segera keluar. D an tertawa ia terbahak mendengar cerita pengalaman kecelakaan sahabatn ya. Ia masuk lagi untuk mengambilkan pesalin.

  “Mari aku antarkan keluar dari sini,” Wiranggaleng menawarkan jasanya. “Tidak, W ira, mari ikuti aku ke gand ok sana. Ada sesuatu yang perlu Tuan saksikan sendiri. Selama ini Tuan masih juga belum percaya.” Mereka berdua berjalan mengendap-endap kegelapan. Hujan mu lai jatuh dengan derasnya, dan satu-satunya bahaya adalah kilat. Mereka samp ai di tempat tujuan dan hujan mendadak berhenti. Mereka mengintip bergantian. Tholib Sungkar Az-Zubaid berdiri di hadapan dua orang Portugis yang masih juga duduk-dudu k tak peduli seperti tadi. Pada tangan Syahbandar terdap at selembar namp an dengan cerek tembikar di atasnya. Syahbandar-muda tak mengerti Portugis. Ia serahkan celah pada temannya. D an

  Liem Mo Han melihat Esteban del Mar dan Ro driguez D ez mu lai berdiri dan berjalan menghampiri Syahbandar samp ai pada batas ran tai mengijinkan. N yala lilin di dalam tidak begitu terang.

  Ia tak dapat memperhatikan roman mereka dengan jelas. Tetapi suara mereka jelas terdengar olehnya. Mereka sedang m emaki-maki.

  “Pengecut, penipu!” suara Ro driguez. “Kau ran tai kami dalam tidur. Hanya bedebah M oro saja bisa berbuat begini. Sop hari yang hina itu pun takkan sepengecut ini.”

  “Hei, Moro, apa salah kami terhadap kau? Anjing? Bukankah kami tamu mu, yang makan garamm u?” suara Esteban, agak lunak.

  “Sabar, Tuan-tuan. Bukankah Tuan-tuan haus setelah begitu lama tidur? D i luar sana pesta air baru saja selesai. Kalau tidak dibeginikan Tuan-tuan akan menggunakan kebebasan untuk mencelakakan aku. Maafkan lah,” Syahbandar mem buka pidatonya.

  “Lepaskan rantai ini,” Rodriguez m eraung. “Jangan keras-keras,” Syahbandar memperingatkan. “Biar pun hujan lebat, lebih baik pelan-pelan saja, maksud Tuan-tuan tercapai juga maksudku.”

  “Binatang!” suara Rodriguez. “Aku bisa m eraung sekuat paru -paruku.” “Sabar. Suara Tuan sendiri yang bakal mem anggil maut

  Tuan. D engarkan. Kalau tak kurantai dan Tuan-tuan pergi dari sini sebagai tam uku, matilah Tuan-tu an diterkam balatentara Tuban. N asibku sendiri? Takkan jauh dari Tuan-tuan – celaka. Buat keselamatan Tuan-tu an sendiri dan juga aku terpaksa aku perbuat ini. Percayalah.”

  “Bedebah! Siapa bisa percaya pada mu lutmu ? Hanya si goblok saja mau dengarkan kafir Mo ro. Lepaskan,” Ro driguez mengancam. “Awas, jangan samp ai aku marah.”

  “Ah, T uan-tuan boleh m arah sesuka Tuan. Tak semu dah yang kalian sangka untuk berbuat sesuatu terhadapku. Syahbandar dilindungi kuat oleh Sang Adip ati selam a kalian tidak lepas,” jawab Syahbandar setelah menaruh cerek tembikar di atas lantai, kemudian diam bilnya ton gkat dari bahu dan mengamang-amangkan. “Tidakkah kalian bisa sopan baran g sedikit? Sudah lenyapkah kesopanan yang leluhur ajarkan pada bangsamu?”

  Ro driguez menjawab dengan semburan ludah pada mu ka Tholib Sungkar Az-Zubaid. Yang belakangan ini menyeka mu ka dengan lengan jubahnya, kemudian meludah sendiri ke lantai.

  “Baiklah kalau kalian tak mau bersopan-sopan,” dengan ujung ton gkatnya ia mu lai menyerang sehingga Ro driguez mu ndur-mundur dan ran tai pada kakinya menjadi kendor gemerincing.

  “Sudah, sudah, hentikan itu,” Esteban menyabarkan Syahbandar. “Sekarang begini, Tuan Syahbandar. Kau ini hanya bajingan tengik. Kami akui, kami pun bajingan petualang belaka. Kau dan kami sama saja. Bukankah kita bisa kerjasama?”

  “Baik, aku dengarkan usulmu.” “Sebenarnya kau ini begundal raja Pribumi atau begundal d’Albuquerque? Kalau kau hanya begundal raja

  Pribumi, Sang Adipati itu, katakan saja apa dia mau, dan kami akan laksanakan. Kami akan bebas, dan akan tetap bekerjasam a denganm u.”

  “Indah sekali. Teruskan.” “Baik. Sebaliknya kalau kau begundal d’Albuquerque, kami lebih suka mati di sini bersam a denganmu.” “Bagus. Andaikan aku begundal Sang Adipati, bagaimana usulmu setepatnya, ” ia terbatuk-batu k. “N ah, kau lihat bagaimana aku mem beri contoh bersopan-sopan.”

  “Ya, mem ang cukup sopan untuk seorang begundal.” “Bagus. Sop anlah, sabarlah. Aku tahu orangtua, guru dan padri-padrimu mengajarkan dan menganjurkan begitu.

  Ayoh, mulai. Aku dengarkan kata dem i kata.” Ro driguez telah siap dengan makian baru. Esteban mencegahnya.

  D an tiga oran g itu berdiri berhadap-hadapan bermain sandiwara. “Jangan kalian kira aku belajar Portugis untuk dengarkan maki-maki-annya. Aku yakin lebih banyak buku

  Portugis aku baca daripada kalian. Teruskan, Esteban.” Tapi Esteban m asih sibuk m enyabarkan temannya.

  “Kau benar, Esteban. Kau nampaknya lebih tua dan lebih punya pengertian. Hanya kalian agak salah terka, aku bukan bajingan. Juga bukan bajingan petualangan seperti kalian. ”

  “Baiklah, setidak-tidaknya begundal. Tuan Syahbandar masih mau dengarkan aku, tidak?” “Ayoh, mulailah.” “Kalau rajam u itu menghendaki bantuan kami, kita bertiga bisa bikin persekutuan. Apalah bisanya orang

  Pribumi? Kami berdua bisa usahakan kau naik jadi raja, dan

  “Mereka bukan boneka, Tuan-tuan. Mereka punya alat pemerintahan dan kekuasaan seperti kerajaan mana pun di Eropa.”

  “Semua itu bisa diakali, Tuan Syahbandar. D an Tuan sendiri punya banyak akal dalam persediaan.” “Usulmu ternyata lebih bodo h daripada oran g Pribumi. Im pian di siang bolong. D engarkan sekarang. Sang Adipati Tuban mengetah ui, entah dari setan mana, kalian ini ahli meriam. Ia mengh endaki kalian mengajarkan mem bikin meriam…. ” Ro driguez tertawa terbahak.

  “Mengapa tidak dari kemarin bicara? Aku sanggup, apa lagi E steban. Tanggung beres. Lepaskan rantai ini.” “Sabar, nanti dulu. Kalau aku m enyanggupinya, m atilah aku di sini,” Tholib Sungkar Az-Zubaid meneruskan pidaton ya. “Kalian hanya penembak meriam. Lebih tidak. Apa pengetahuan kalian tentang pengecoran logam ? Kalau kalian punya keahlian lebih dari menem bak, menem baki kapal-kapal yang tak berdaya, itulah justru petualangan dan keboho ngan kalian.”

  “Kafir!” maki Ro driguez. “Jadi aku punya rencana lain, agar kalian selam at dan aku pun tak kurang suatu apa.” “Tak kurang suatu apa buat Mo ro berarti kerugian buat semua oran g,” gertak Ro driguez.

  “Terserahlah pada penilaian kalian. Mengapa kalian aku ran tai? Aku mengerti darah Portugis. Kalau kalian orang Ispanya, barangkali lebih daripada ran tai. Mu ngkin kalian aku pakukan pada tiang ini.”

  “Kira-kira. Jangan lupa, dia orang Moro.” “Tidak. Kalian bocah-bocah Portugis. Aku tahu kalian mem butuhkan pangkalan-pangkalan di Jawa untuk mengu asai laut dan darat N usantara sebelah selatan – terutam a laut,” Syahbandar Tuban meneruskan. “Biarlah kalian mendapatkan kembali kesempatan mengabdi pada raja dan negeri kalian.”

  “Tak ada urusan,” bentak Rodriguez. “Kalau itu bukan urusan kalian lagi, tak ada artinya aku bawakan cerek ini,” dengan tongkatn ya Tholib Sungkar menuding pada cerek di atas lantai, “tak perlu kuantarkan kemari, biar kalian m amp us kehausan.”

  “D iam kau, Ro driguez. Biar aku yang bicara. N ah, teruskan Tuan Syahbandar Tuban. Kami yang mendengarkan sekarang.”

  “N ah, belajar agak bijaksana. Ketahu ilah, Tuan-tuan, kapal-kapal Jawa masih juga menerobos ke M aluku. Kapal- kapal kalian terlalu sedikit untuk dapat mengawasi perairan seluas ini. P angkalan baru m asih dibutuhkan. Lebih banyak lebih baik. N ah, itulah, Tuan-tuan yang terhorm at, untuk kepentingan negeri Tuan-tu an sendiri, untuk kepentingan padroa-do, kami masukkan Tuan-tu an ke dalam rencana kedua ini. Kalian akan merasa puas di kemudian hari dan akan berterimakasih pada orang Mo ro tulen yang Tuan- tuan benci ini.”

  “D ia mem ang hendak jual kita pada M alaka!” Ro driguez mem peringatkan. “Hati-hati, E steban.” “Tidak, demi Allah. Lagi pula d’Albuquerque sudah tak ada di Malaka. Dan kalau Tuan-tuan mengh endaki acara ketiga, itu lebih mudah. Tuan-tuan celaka, aku selam at dan dap at tam bahan real.”

  “Tuan Syahbandar,” Esteban menyela. “Ingatkah kau bagaimana Moro diusir dari negeriku oleh orangtua kami?” “Aku kelahiran Ispanya.” “Bagus. Jadi kau mengerti. Sejak itu tak ada orang

  Spanyol atau Portugis, bahkan bayi dalam kandun gan pun, bisa percaya pada mu lut Mo ro,” Esteban menam bahi.

  “Bagus. Biar begitu, oran g Moro juga yang menjamu Tuan-tuan selam a ini. G aram orang Moro yang kalian makan. Arak orang Moro yang kalian minum. Sekarang,” Tholib Sungkar menyorong cerek arak dengan ujung ton gkat ke dekat mereka, “orang Moro juga yang melayani Tuan-tuan dengan arak ini. Pasti kalian tidak akan menolaknya. Minumlah.”

  “Mengapa kau sorong dengan tongkat? Kurangajar! Terlalu m ahalkah tanganm u?” Esteban mem protes. “D ijau hkan oleh Allah kiranya aku dari tangan kalian.” Ro driguez mengh entak-hentak lantai dan rantai tegang kembali karena ia mencoba menyam bar Tholib Sungkar

  Az-Z ubaid.

  “Batang lehernya memang berhak untuk dipatahkan,” gum am Rodriguez gemas. Ia tak berhasil menyam bar Syahbandar.

  “Ya, katakan semau kalian. N yawa kalian toh tetap di tanganku.” Esteban pun kehilangan kesabarannya. Tholib Sungkar pura-pura hendak pergi. Ia terpaksa mem anggilnya kembali. D an Syahbandar kembali berbalik dengan tangkai ton gkat hendak m enarik cerek.

  “Kalau kalian tak suka pada pelayanan orang Moro mengancam. Rodriguez menan gkap cerek yang hendak ditarik itu dan meneguk puas-puas. Baru kemudian disorongkan pada Esteban yang juga segera meminum isinya. Setelah kosong dilemp arkan nya cerek itu pada muka Syahbandar.

  Tholib Sungkar tak sempat mengelak. Benda itu berdentam menubruk pelipisnya dan jatuh menggerontang di lantai. Tak pecah.

  “Begitulah orang Portugis menyatakan terimakasihnya,” ia menggerutu sambil menyeka lukanya. “Tapi kalian mem ang terlalu berharga untuk dibunuh di sini.” “Ayoh, dekat-d ekat sini kau!” tiba-tiba Esteban meluap.

  “Biar kugigit putus tenggorokanmu , biar aku kunyah- kunyah jakunm u! Ayoh, dekat sini.” “Kalau Tuan-tuan memang berniat mau mengajar

  Pribumi bikin meriam, sebentar lagi aku lepas. Sayang Tuan-tuan takkan dap at membikinnya untuk sisa hidup kalian. Jadi selam at bermimpi, Tuan-tu an, mem bikin meriam, pulang ke Lisboa!”

  Tanpa diduga-duga Tholib Sungkar Az-Zubaid mengh antamkan tongkatnya pada Rodriguez. “Ampun, amp un,” gumam Rodriguez dengan suara semakin lemah tak nyata, kemu dian terguling, tertidur. “Kau pun mendapat bagianmu,” ton gkatnya mengh antami punggung Esteban. Orang Portugis yang dihantami itu nampak seperti orang yang kehabisan kemauan. Kedua belah tangannya tergan tung lunglai, mu lut menganga. Tak lam a kemudian ia tersungkur dan juga jatuh tertidur.

  Syahbandar menyorong-nyorongkan kepala mereka dengan terompahnya, bergumam tak nyata, keluar dari ruangan dan memasak pintu dari luar.

  Ia sama sekali tak tahu ada dua oran g yang sedang mengintainya. Ia berjalan cepat-cepat dalam malam gelap bermendung dan tanah basah di bawahnya melewati gedung utama, langsung ke pintu gandok W iranggaleng dan mendengar-dengarkan. Kemudian ia pergi meninggalkan kesyahbandaran.

  0o-d w-o0 Bulan tua itu m engintip dari celah mendung.

  Tholib Sungkar Az-Z ubaid masih juga tak tahu sedang diikuti oleh dua orang. Sebentar saja ia mem asuki warung yang pintunya ternyata tak terkunci itu. Ia keluar lagi diikuti oleh beberapa orang. Sampai di kesyahbandaran ia menuding ke arah gandok kanan, kemudian masuk ke dalam dan terburu-buru keluar lagi, mengikuti segerombolan orang itu ke gandok kanan.

  Mereka semua masuk ke tempat Esteban dan Ro driguez terantai, dan keluar lagi menggoton g mereka berdua. Sam pai di gedung utam a Syahbandar mem berikan sesuatu pada Yakub dan orang itu mem eriksanya, langsung mem asukkan ke dalam sakunya.

  Syahbandar masuk ke rum ah dan tak keluar lagi. W iranggaleng dan Liem Mo Han mengikuti penggotongan sampai pada suatu jarak. Mereka berdua naik ke atas menara pelabuhan. D ua orang penjaga itu ternyata sedang tidur nyenyak. Persediaan makan malam mereka belum lagi tersinggung.

  W aktu bulan memperlihatkan seluruh wajah tuan ya dari bolongan mendung, jauh sekali, namp ak kelap-kelip lampu tiang agung sebuah kapal di tengah laut. Sebuah perahu dayun g besar sedang m eluncur menuju ke kapal tersebut. Di atasnya adalah gerom bolan Yakub mem bawa Esteban del Mar dan Rodriguez D ez.

  “Jelek benar nasibnya,” kata Liem Mo Han. “Kalau mereka mem buka matanya, mereka sudah berhadap an dengan pengadilan kapal. Enam kali aku sudah pernah lihat. Tangan mereka terikat ke belakang. Seorang imam kapal akan mem bacakan sesuatu sambil berjalan mengikuti mereka menuju ke tiang gantungan, tiang layar utama. Di sana mereka akan tergeong-geong mati. Mayatnya dibuang ke laut untuk hiu.”

  “Hanya Sang Adipati saja tidak percaya Syahbandarnya hanya orangnya Peranggi,” kata W iranggaleng. “Sang Adipati mengerti benar, W ira. Dia tidak kurang cerdiknya daripada siapa pun. Sampai jauh-jauh di barat sana orang mengakui kecerdikannya. Ia berusaha untuk tidak akan menggunakan kekerasan dalam m encapai semua maksudnya. Ada itu tercatat dalam buku besar kami. Juga sekarang ini, Wira. Ia tahu apa yang ia kehendaki. Selama Syahbandar itu masih bisa dipergunakann ya untuk keselam atan dirinya dan Tuban, dia akan tetap dilindun gi dan mendapatkan hak-haknya.”

  “D an nampaknya Peranggi akan mencoba membikin pangkalan di Jawa.” “D ia akan teruskan bikin pangkalan-pangkalan yang bisa mengepung Maluku dari semua jurusan. Mereka punya kepentingan untuk mem utuskan hubungan antara Jawa dengan Maluku. Lihat, Wira, bedanya dengan kami bangsa menyebutkan, kami tidak akan m emasuki wilayah Maluku. Kami tak pernah melanggar perjanjian itu. Peranggi lain lagi, W ira. Maka itu G usti Kanjeng Adip ati Unus seluruhnya benar, mu suh pertama adalah Peranggi, mereka harus dihalau dari perairan N usantara. ”

  W iranggaleng mendengarkan dengan diam-diam. Pengetahuan semacam itu takkan dapat diperolehnya dari para punggawa, hanya bisa dari oran g asing dan para nakhoda.

  Perahu dayung besar itu semakin lama semakin hilang ke dalam kegelapan malam bermendung. Hilang pula ombak dan puncak-puncak-n ya. Hanya lampu kapal di kejauhan sana masih kelihatan samar. D an waktu hujan turun lagi dengan lebatnya, nyalanya pun hilang-lenyap seakan keluar dari ruang kehidupan.

  0o-d w-o0 Esteban terbangun dan mencoba dud uk. Selalu ia gagal dan roboh kembali. Ia mu lai mengingat-in gat. Tapi pikiran nya beku. Ia berusaha keras untuk mengenan gkan peristiwa terakhir sebelum tertidur. Tak mampu. Ia berusaha lagi untuk dud uk. Kemu dian dirasainya tangan dan kakinya terikat erat-erat. Ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Tapi ingatannya m enolak disuruhnya bekerja.

  D irasainya punggungnya memar dan kepalanya berdenyut-denyut berat. D unia di hadapannya seperti diliputi awan tipis. Ia tajam kan pengelihatan nya. Juga tak berhasil. Kemu dian ia tutup kembali matanya dan menopangkan kepala di atas lutut.

  Sebuah bundaran cahaya dan beku mulai tertangkap oleh pengelihatannya, samar dan tidak meyakinkan. Bundaran cahaya itu makin lama makin terang, makin terang. D an diketahuinya itu tak lain daripada sebuah patrisporta kapal. Patrisporta kapal! Kapal apa? Di mana? D an mengapa samp ai bisa datang ke mari? Sekarang ingatannya mu lai berjalan tanp a diperintahnya. Kapal! Di kapal! Ia tebarkan pandang ke sekelilingnya. Kapal apa? Kapal Siapa? Pand angn ya yang samar itu tertumpuk pada ambin kayu di samp ingnya. Ambin kayu, ia mengingat-ingat. Ia hendak merabainya, apakah itu am bin kayu benar. D an tangannya berat diangkat, tali pengikat itu semakin memperberat. Di sebelah sana berdiri sebuah meja. D an dau n meja itu tergan tung dengan dua helai rantai besi pada dinding.

  Kemu dian ia menyedari adanya Rodriguez yang tidur miring tak jauh dari sebelahnya. Juga tangan dan kakinya terikat tali. Kedua belah lengan nya terbuka mendepai udara. Kepalanya miring dan air liur menetes dari sudut mu lurnya. D engan sendirinya Esteban menyeka sudut mu lut sendiri dengan bahu.

  Teringat sedang ada di dalam kapal, sekali lagi ia terkejut. Mu lai ia berpikir keras: di kapal! Tentu kapal Portugis! “Maut,” bisiknya, dan dibangunkannya temannya.

  “Aha!” seseorang berseru dari belakangnya. Kontan ia berpaling ke belakang. Pada dau n pintu yang terkirai seorang perwira sedang mengintipnya.

  Esteban mencoba berdiri untuk mengh ormat. Ia jatuh terdudu k kembali dan pemandangannya berputar. D ari mu lurnya keluar ucapan selam at, pelan dan ragu-ragu – ia tidak tahu waktu.

  “Puas berpetualang, he?” ejek perwira itu.

  “Akhirnya pulang kembali ke geladak lam a juga?” Jantu ng Esteban mu lai berdebaran kencang. Ia mencoba untuk berdiri lagi. Tapi perwira itu telah hilang. Pintu tertutup kembali. Kesadarannya mu lai pulih. Ia berusaha mem bangun kan teman nya.

  Ro driguez hanya menggeliat malas, kemudian meneruskan tidurnya sam bil menyeka mulut. “Bangun, bangun kau,” ia goyan g-go yangkan teman nya dengan tangannya yang terikat. Melihat Rodriguez tak juga bangun ia mem bisikkan pada telingan ya, “Bangun kau, anjing, kita sudah terkunci dalam kamar kapal. Di dalam kamar perwira! Bangun, anjing!”

  Ia sorong-sorong teman nya. Ro driguez menggeliat lagi kemudian mencoba mem buka tapuk matanya yang berat. D an m ata itu tertutup kembali.

  “Anjing terkutuk!” makinya, “menikmati tidur, tak tahu kau, sebentar lagi kau akan tidur untuk selam a-lamanya.” Melihat tem annya tak juga m au bangun ia pergunakan sikut untuk menyakitinya.

  Ro driguez bangun dengan malasnya. D an ia m engulangi pengalaman Esteban. Ia buka matanya dengan tapuk berat. “Mem ang kita masih mabuk,” kata Esteban. “Sebentar lagi kau tahu sendiri apa sedang m enunggu kita.”

  Ro driguez telah menutup matanya kembali. D engan dua tinjunya yang terikat Esteban mem ukul pipinya, dan teman nya jatuh di geladak sambil menggeram. Esteban menggunakan sikutnya lagi dan Rodriguez bangun menyentak. D ari bawah tapuk matan ya yang berat bola matanya mengintip.

  “Hhhh?” tanyanya.

  “Sekarang ini bangun kau! Sebentar lagi kau dapat cukup waktu untuk tidur.” D an ia usahakan agar temannya menjadi sadar untuk dap at menyertainya dalam ketakutan. Ia tahu tidak mengh adapi oran g Moro atau Pribumi, tapi bangsanya sendiri.

  D engan sikutan dan tonjokan Rodriguez menjadi sadar. Sadar juga ia akan tali yang mengikat kaki dan tangann ya. Ia siap hendak mem aki.

  “Sttt,” cegah Esteban. “Jangan gaduh. Kita sedang di kapal Portugis.” Kesedaran mem bikin Rodriguez terkejut, kemudian pucat. Pintu terbuka lagi dan perwira yang tadi masuk ke dalam membawa sebilah tongkat: “Anak maut!” katanya menggigit pahit. Ia pandan gi Rodriguez yang berjuang hendak berdiri menghormatinya. Ia melangkah padanya dan menendang dengan sepatun ya pada lambungnya. Ro driguez berpilin, meliuk kesakitan dan jatuh.

  “Habis suka datang duka, he? Akhirnya di geladak yang lama juga. Apa sudah lupa mem beri hormat? Sekali lagi Ro driguez berjuang untuk dapat bangun. Esteban tinggal duduk di tempat.

  “Bagaimana? Sudah siap menghorm at, kalian, anak-anak maut terkutuk?” Rodriguez berdiri dan Esteban berdiri pula dengan berpegangan pada dinding.

  Perwira itu nampaknya asyik dan senang melihat m ereka berdua. Ia menah an tawanya sehingga darah menjompak pada mu kanya.

  “Kalau semua pemuda Portugis semacam kalian ini, apa jadinya dengan Sri Baginda, Sri Ratu dan negeri kalian? Bagaimana dengan tugas suci kalian? Ha? Mem ang hanya tali gantu ngan yang terbaik. Ya, menghorm at!” Mereka berdua mem beri hormat. Tapi perwira itu tidak mem balas, m engawasi mereka dari ujung ram but sampai ke tum it: “Mana sepatu kalian?”

  “Sudah lama hancur, Tuan,” jawab Esteban. “Pakaian apa kalian kenakan itu? Merampas kepunyaan kafir perbegu?”

  Tak ada yang menjawab. Perwira itu maju ke hadap an mereka dan meninju mu ka Esteban. Ia menggelepar jatuh miring di geladak.

  “Bangun!” perintahnya. Sebelum ia dapat bangun, Rodriguez mendapat giliran. Ia jatuh tertelentan g dan menjerit kesakitan menindih tangan sendiri.

  “Apa kataku? Bangu n!” D engan susah-payah mereka berusaha bangun dalam pengawasan kejam perwira itu.

  “Sekawanan burung gereja yang malang. Sudah siap maju ke pengadilan kapal? Mengapa diam saja? Sudah tak punya lidah? Sudah kau gadaikan lidah itu pada kafir perbegu? Sam bar geledek, kalian. Heh baru dengar, dengar saja, pengadilan kapal, sudah seperti tikus jatuh ke dalam kuah. Jawab.”

  “Siap mengh adap ke pengadilan kapal, Tuan.” “Bagus. Begitulah pemuda Portugis mengh adapi mautnya.” Perwira itu menarik sebuah kursi, menarik buku dari laci meja dan mulai memeriksa petualangan mereka. Pemeriksaan dan pencatatan itu berlangsung lebih dari tiga daerah pesisir Jawa utara. Coba pikir, sekiranya kalian dulu dengan perintah,” ia tertawa mengejek, “Sri Baginda dan Sri Ratu pasti akan berkenan menerima kalian. Mu sik istana akan menyambut kalian. Kebangsawanan kalian, sekiran ya ada darah biru pada kalian, akan dipulihkan. Kalau tidak boleh jadi kalian akan mendapatnya. Siapa tahu mungkin diangkat jadi laksamana… Barisan kehorm atan berkuda akan mengelu-elukan kalian dan mengantarkan kalian dalam kereta jemputan dari istana. Apa sekarang? Aku pun mu ak melihat kalian. Mengapa gemetar? Belum lagi cukup merampok nasi Pribumi?”

  Mendengar nasi dua orang tangkapan itu sekilas teringat belum lagi m akan selam a ini, dan merasa lapar mem belit di dalam usus. Tiba-tiba mereka merasa dirinya sangat lemah untuk dapat m empertahankan keseimban gann ya.

  “Jawab!” “D ua hari satu malam kami belum lagi makan,” jawab Esteban del Mar.

  “Kasihan hiu-hiu itu. Tentu kau terlalu kurus untuk mereka. Kasihan , bukan?” melihat mereka tak juga menjawab, ia menggertak: “Kasihan, bukan?” “Ya, Tuan, kasihan sekali,” jawab Rodriguez.

  “Mengapa dengan sekali?” “Karena m ungkin mereka seminggu belum makan.” “Bagus. Jadi apa yang kau tunggu sekarang?” teriaknya pada Ro driguez, kemu dian m endad ak menuding Esteban: “Tiang gantungan, Tuan.” “Bagus. Tiang gantungan. Indah, bukan, tiang itu?” mendadak ia alihkan tudingan pada Ro driguez: “Indah,

  “Tanpa sekali?” “Kalau T uan m embutuhkan yang sekali….” Tinju melayang dan untuk yang kesekian kalinya

  Ro driguez jatuh. Tapi perwira itu menyambarnya dengan pertanyaan: “Tanpa sekali, tanyaku.” “Tanpa sekali, Tuan,” jawab Rodriguez sam bil berdiri. “Bagus. Tanpa sekali. Kau simp an diman a sekali itu sekarang?” ia tunggu Rodriguez kukuh dalam tegaknya. “Kau sim pan di mana?” Ro driguez bingun g untuk menjawabnya.

  “D i m ana?” pekik perwira itu. “Sudah tertelan, Tuan.” “Tertelan? Jadi dalam perut?” dan dipukulnya perut Ro driguez.

  D an sekali ini Ro driguez D ez tak bangun lagi. Ia pingsan. “Kau bagaiman a, kau, bagaimana bagusnya tiang gantungan?” “Seperti seorang penari, Tuan.” “Penari? Coba terangkan mengapa seperti penari.” “Langsing, Tuan, cantik, cantik tanpa sekali, Tuan. Kalau lelaki dia gagah, Tuan.”

  “Juga tanpa sekali, Tuan.” “Kira-kira tanpa, Tuan.” “Anak maut! Mengapa tanp a?” “Karena Tuan belum m enghendakinya.”

  Ia tertawa senang, berjalan mendekati pintu dan menjenguk keluar. Mem anggil-manggil: “Kelasi. He, kelasi!” ia kembali ke tempatnya dan duduk.

  Kelasi yang dipanggil masuk, mem beri hormat dan berdiri di temp at. “Lepaskan tali pada kaki mereka, anak-anak maut ini biar berjalan sendiri ke tiang-gantungannya.” Kelasi itu mengeluarkan sebilah belati dan memutuskan. Ro driguez masih nyenyak dalam pingsannya.

  “Kelasi, kau tinggal di sini. Tunggu sampai yang satu itu bangun lagi, ” dan pada Esteban, “mengerti kau? D engan kaki sendiri berjalan ke tiang gantungan.”

  “Indah, Tuan, dengan kaki sendiri berjalan ke tiang gantungan.” “D an kalau kau sudah mati, jadi iblis gentayangan, apakah kau akan mem balas dendam padaku?” “Tidak, Tuan.” “Mengapa tidak, kau, calon iblis?” “Karena Tuan m enjalankan tugas untuk Sri Baginda, Sri

  Ratu dan negeri Portugis.” “Bagus. Kelasi! bangunkah oran g itu. Tadi dia pingsan sekarang ia pura-pura.” D an R odriguez bangun terburu-buru. “N ah itulah tingkah pemuda Portugis yang tidak patut. Hei, kelasi. Co ba lihat baik-baik pemuda-pemuda ganteng ini. D an coba katakan padaku, bagaiman a kalau mereka sebentar nanti mulai menaiki ancak gantungan.”

  “Lebih cepat dari sekaran g, Tuan.”

  “Lantas?” “Kakinya mu ngkin gemetar. Kalau terlalu am at sangat gemetarnya seseoran g harus membantunya.” “Cu ma itu saja?” ‘Tentu saja tidak, Tuan. Masih ada, celananya sudah jadi basah dan busuk. Bibirnya tak berdarah dan sebentar- sebentar menelan ludah, kerongkongannya kering.”

  “Tahu betul kau, kelasi. Apakah kau sendiri pernah menggantu ng o-rang.” “Pekerjaan tam bahan, Tuan.” “Pantas. D engarkan itu, anak-anak maut! Teruskan, kelasi.” “Beruntunglah yang lehernya lemah, Tuan. Kalau ancak dilepas, dia akan mu dah patah dan sekaligu s mati. Celakalah yang lehernya kuat.”

  “Orang tak terbunuhi lagi kalau ancak jatuh?” “Ya, hanya bunyi sekali nafas tersekat, kadan g diikuti bunyi kecil ‘klik’ dari persam bungan tulang leher yang patah. Setelah itu hanya lidah m enjelir seperti anjing, Tuan, sebagai pertanda: saat itu….”

  “Ya-ya, aku m engerti, saat itu dia jadi iblis.” “Mereka biasanya lupa mengu capkan terimakasih pada apa pun dan siapa pun. Kalau tali sudah mengalungi leher, dan kaki mu lai meliuk, orang biasanya sudah pingsan, Tuan. Betapa takutnya orang pada maut.”

  “D an kau sendiri, kelasi, kapan kau berniat untuk digantung oran g?” “Selama bersetia pada Portugis, Tuan, Sri Baginda, Sri di tiang gantungan, dengan lidah menjelir seperti anjing kepanasan.” “Bukan seperti, mereka memang anjing. Teruskan, kelasi!” “D engan ejekan, sum pahan dan makian orang, tentu dari juru gantung juga, Tuan, mereka menurunkannya dari tali sebagai bangkai sial, dan dengan sorak orang melemparkan nya ke laut. Selanjutnya…”

  “Bagus. P andangi sekali lagi anak-anak m aut ini sebelum berjalan ke pengadilan. T entu kau sudah tak kenal. Hampir lim a tahun m enghilang.” “Em pat tahun,” Esteban m embetulkan.

  “N afsu hidupmu masih menyala, Esteban!” tegur perwira itu. “Apa yang masih kau harapkan dari sepenggal hidup ini?”

  ‘Tiang gantungan yang indah itu, Tuan.” “Apakah kau juru gantung hari ini, kelasi?” “Boleh jadi, Tuan, belum ada perintah.” “Bagus. Kau sudah memberikan cerita yang indah pada anak-anak maut ini. Bisakah kau bercerita setelah mereka nanti gentayangan sebagai iblis?”

  Kelasi itu mem buat gerak salib dan perwira itu terdiam, kemudian: “Cukup, pergi kau.” Kelasi itu mem beri hormat dan pergi. Perwira itu mengawasinya samp ai hilang di balik pintu. “D engarkan , kalian: Sri Baginda dan Sri Ratu sungguh menyesal dengan masih adan ya pemu da-pemuda Portugis yang berangkat ke tiang gantungan . Apa boleh buat, tanpa negeri akan jatuh. Kalian tahu betul itu. Kalian telah dengarkan waktu kata-kata itu dibacakan dalam upacara kalian mem asuki angkatan laut. Bukankah kalian meninggalkan negeri dan keluarga tak lain hanya dan hanya untuk kebesaran Portugis dan Salib?” “D emikianlah pada mu lanya, Tuan,” sambar R odriguez.

  “Pada mulanya, ya. D an pada akhirnya tali gantungan juga.” Ro driguez terdiam lagi, nam paknya menyesal telah menyam bar. Esteban mem perhatikan tangan perwira itu. N am paknya pikiran nya beku.

  “Jangan kalian kira Sri Baginda dan Sri Ratu tak punya pengampunan. Ada, ya, selam a pengabdian padanya dan pada Salib tetap dijunjung tinggi-”

  “Kami sanggup mengabdi lebih baik!” Ro driguez mendesis. “D iam, kau, calon iblis. Aku tak bertanya.” “Ya, Tuan.” “N ah, apa maksudmu berm ulut lancang itu?” “Mengabdi lebih baik, Tuan, lebih baik dan lebih, lebih baik.” “Bukankah itu sudah terlambat?” “Kami masih hidup, Tuan,” sekarang Esteban mem perkuat. Airmu ka perwira itu kelihatan kehilangan kekerasannya. Secuwil senyum manis mencerahi bibirnya. Matanya mem ancarkan cahaya ram ah. D an terdengar suaran ya yang ram ah pula, memikat dan menawarkan: “Ya, tentu, lebih kalian masih sanggup melayani meriam setelah berpetualangan selam a empat tahu n belakangan ini. Belum lupa, kan?”

  “Meriam itu rasan ya masih hangat dalam genggaman, Tuan, ” sambar Ro driguez. “D an m engapa temanmu mem bisu saja, Rodriguez?” “Lebih dari melayani meriam kami pun sanggup, Tuan.” “N ah, begitu pemuda Portugis,” perwira itu tertawa, mem perhatikan wajah dua orang tangkapan itu dan matanya berseri-seri mengejek.

  “N afsu hidup kalian mem ang besar. ” Ia keluarkan sepucuk surat dari kantong. “Kalian sudah pandai berbahasa Melayu dan Jawa. Bagus. D an tentunya kalian kenal juga siapa itu Tholib Sungkar Az-Z ubaid.”

  ‘Tidak, Tuan,” jawab Esteban del Mar mencoba meram ahi perwira itu. “D asar goblok. Mestinya kau Pribum i Jawa atau

  Malaka, bukan Portugis. “Siapa yang menan gkap kalian kalau bukan Tholib Sungkar Az-Z ubaid? Syahbandar Malaka?”

  “Bukan, Tuan, Sayid Habibullah Almasawa, Syahbandar Tuban,” Esteban m endapatkan semangatn ya pribadi. “Serigala pun lebih cerdik daripada kalian.” “Ya, Tuan.” “D engarkan : Tholib Sungkar Az-Zubaid, bekas

  Syahbandar Malaka, apakah namanya Tholib Sungkar atau kah Sayid Mahm ud atau kah Sayid Habibullah, telah mem inta padaku untuk keselam atan nyawa kalian. D engar?”

  “Ya, Tuan,” mereka menjawab berbareng. “D ia minta hendaknya kalian tidak diserahkan pada tali tiang gantungan. N yawa kalian diperlukan olehnya.

  D aripada kalian jadi makanan hiu, pintanya, baiklah kalian diberi hidup sebagaimana dikehendaki olehnya. Kalian baran gkali sekarang lebih mengerti: Tholib Sungkar itu penyelamat nyawa kalian. Tapi entahlah bagaimana kalian nanti menjawab di depan pengadilan kapal.”

  “Kami akan m enjawab sebaik-baiknya, demi Sri Baginda dan Sri Ratu, demi Portugis, demi Salib,” Esteban mewakili.

  D an perwira itu tidak menggubris. “Mari aku bawa kalian ke pengadilan.” Perwira itu berjalan keluar dari bilik kapal. Esteban dan

  Ro driguez mengikuti dengan kedua belah tangan terikat ke belakang.

  0o-d w-o0 Mereka melalui lorong yang dapat dikenal dalam setiap kapal Portugis. Pandan g mata sepanjang jalan tidak menjadi pertimbangan mereka. N yawa lebih penting daripada pandan g oran g.

  Tetapi mereka tidak dibawa ke dek. Di sana biasanya pengadilan diadakan, disaksikan oleh awak kapal. Mereka terus juga m engikuti perwira itu m enuruni tangga sampai ke dasar kapal, dan samp ailah mereka di sebuah ruangan gelap. Perwira itu mem erlukan mem bawa lentera gantung.

  Mereka berdiri di tengah-tengah baran g-baran g rusak atau setengah rusak dan m eriam-meriam dengan atau tanpa

  “Pada mu lanya,” perwira itu mem ulai lagi, “dua pucuk ini akan kukirim kan ke Pasuruan.” Mendadak ia tertawa dengan muka tertengadah pada langit-langit. “Kafir-kafir dun gu itu mengira, dengan meriam orang bisa jadi segagah Portugis. Tidak jadi baran g-baran g ini kukirim kan ke Blam bangan . Aku ada pikiran lain. Kalian berdua, Esteban dan Ro driguez, sanggupkah kalian melayani dua pucuk meriam ini?” ‘Tapi ini barang rusak, Tuan,” Rodriguez menyambar.

  Tinju itu mengh antam mu lut Rodriguez dan ia meliuk. D arah keluar dari m ulutnya. Ia meludah kan darah dan gigi.

  “Kami bisa betulkan, Tuan,” Esteban m emperbaiki. “Betul. Itu jawaban gaya Portugis. Kalian bisa betulkan sendiri. Mem ang meriam rusak semua ini. Kalian justru harus berterimakasih dengan adan ya baran g-barang ini. Kalaulah tidak karena ini, tali gantungan yang akan kalian temui.”

  “Ya, Tuan,” Esteban menjawab sangat sopan. “Kami pun bersedia dan rela dikirimkan ke Blam bangan .” “Ke mana dikirimkan, aku yang m enentukan.” “Ya, Tuan,” Esteban menjawab lebih sangat sopan lagi.

  “Kalau ada kesediaan dan kesetiaan melayani senjata ini…. Pikir cepat, jangan gegabah. Kalian terikat, hidup atau mati pada senjata ini.” D an E steban dan Rodrigu ez justru tak dapat berpikir.

  “Bagaimana?” “Kami berdua ada kesediaan dan kesetiaan itu, Tuan,” jawab Esteban.

  “Betul? Sudah dipikirkan dengan baik dan cepat sebagai

  “Betul, Tuan.” Perwira itu tertawa melecehkan. Kemu dian: “Memang, tali lebih berat daripada meriam. Hanya sekali ini kesempatan diberikan, kesempatan hidup, kesempatan mem perbaiki diri. Tidak benar? Tali gantungan juga yang kalian parani.”

  “Ke mana pun kami dikirimkan, kami akan setia padanya sampai mati,” Esteban hampir-hampir m engulangi sum pahnya sebagai kanonir.

  Perwira itu mem beri isyarat. Ia berjalan lebih dahulu dan dua oran g tangkapan yang terikat itu mengikutinya dari belakang seperti dua ekor anjing. D i geladak itu mem ang tak ada persiapan pengadilan kapal juga tak nam pak ada persiapan penggantungan. Sebaliknya ada serombongan orang bukan Portugis sedang berdiri menggerombol dan tersenyum-senyum m emandangi mereka.

  “Ya!” seru perwira itu pada mereka, kemudian dalam Melayu, “bawa mereka turun!”

  D engan bantuan beberapa orang Esteban dan Rodriguez diturunkan melalui tangga tali ke sebuah perahu dayung besar. Mereka masih tetap terikat dengan tangan ke belakang.

  Hari telah malam dan mendun g tebal mengapung di udara. Lampu-lampu dari atas kapal mem bikin mereka dapat melihat, didalam perahu itu sudah menan ti beberapa orang berpakaian Pribumi. Tetapi dari raut mu kanya mereka nam paknya peranakan Arab atau Benggal. D i tengah- tengah perahu besar itu berdiri dua buah meriam beroda dan peluru-peluru besi.

  D engan muatan ini bisa jadi perahu ini pecah dan tenggelam, pikir Esteban. D an dengan tangan terikat begini… maut masih belum dapat dihindari. Oran g mu lai mendayung. Perahu mulai bergerak, makin lama makin menjauhi kapal Portugis, menuju ke arah titik nyala nun jauh di seberang sana, kecil, hampir-hampir tak namp ak.

  Para pendayung itu tak ada yang bicara. Esteban mencoba menem busi kegelapan dengan matanya yang sudah kehilangan keawasannya karena lapar dan tegang selam a ini. N am un ia masih dapat melihat beberapa biduk Portugis mengikuti dari belakang.

  Mereka berdayung beriringan. Semua menuju ke titik nyala. D an gerimis kecil mu lai turun, mem bikin Esteban dan Rodriguez m erasa kedinginan.

  “Makan!” tiba-tiba Rodriguez m eraung. Seseorang menjejalkan sesuatu pada mu lutnya dengan diam-diam. D an Rodriguez tidak merasa terhina, juga tidak menyemburkan jejalan itu. Ia mu lai mengunyah dengan giginya yang kurang dan menelannya dengan lahap.

  Esteban dud uk merenung-renung. Seseorang mem asukkan penganan ke dalam mu lutnya. Ia tembusi kegelapan untuk menan gkap mu ka orang itu. D an ia mengenalnya: Yakub, pewarung arak dan tuak. Ia merasa agak lega dan aman. D an penganan itu pun tidak terasa jahat. Ia mengu nyah dan m enelannya.

  “Lagi!” teriak Rodriguez dalam Melayu. “Dan minum, bedebah!” Ia mendapatkan apa yang dipintanya dan terdiam.

  Juga Esteban mendapat tambah an dan minum sampai kenyang dan merasa tenagan ya agak pulih. Terutama

  “Lepaskan tali ini,” raung Rodriguez mem erintah. “Ayoh, bedebah! Lepaskan!”

  Ia lihat Yakub berdiri, mendekati Rodriguez dan meninju mu lutnya. Tak ada yang melihat giginya rontok lagi atau tidak. Ia tak mem buka mu lut lagi. Iring-iringan biduk dan perahu dayun g itu meluncur terus ke arah titik nyala di kejauhan, menerobosi kegelapan malam dan hujan gerimis. Waktu kilat mengerjap, nampak pantai masih sangat jauh, dan sebuah kapal pengawal pantai sedang menuju ke arah barat.

  “Mo ga-moga kapal kafir itu tak melihat kita,” doa Yakub. “Mereka akan menduga kita nelayan.” D an mereka semua menunggu mengerjapnya kilat lagi. Mereka akan balik kanan jalan kembali ke kapal Portugis bila diburu. Tetapi kapal perond a itu tidak melepaskan eetbang, Semua menunggu-nunggu. Dayung berhenti bergerak, dan perahu dan biduk terayun-ayun di atas laut tanp a bergerak maju.

  W aktu kilat berkejap lagi bentuk kapal perond a itu semakin kecil dengan layarnya menggelembung penuh. Yakub mem beri perintah untuk maju lagi, dan majulah semua iring-iringan, tetapi ke arah cahaya yang timbul- tenggelam di kepala ombak. Lurus ke barat daya.

  0o-d w-o0 Iring-iringan itu m emasuki hutan bakau-bakau yang agak rap at. Para penump ang dan pendayung turun dan mendorong perahu besar yang kaku dan berat itu. D i belakang mereka orang-orang Portugis memaki-m aki dalam Seseorang menyalakan obor dan menebangi ranting dan batang yang m enghalangi. Pantai itu sendiri terletak pada suatu ketinggian. Sebuah api unggun yang gelisah menebarkan sinar ke laut lepas, tetapi hutan bakau-bakau itu tak tertem busi olehnya. Mereka berjuang untuk dap at mencapai ketinggian itu. N yamu k mendengung dan m enyerang setiap titik kulit yang terbuka.

  Hanya Esteban dan Rodriguez tinggal di atas perahu itu. D an tak ada seorang pun yang m enggugat m ereka. N yamu k makin berdatangan, seperti awan tipis menan dingi asap yang keluar dari obor. D an orang-orang Portugis itu tak juga berhenti menyumpah-nyumpah.

  Menjelang pagi baru mereka dapat mencapai pantai. Para penunggu api sedan g berhangat-hangat dan m engobrol ram ai. Mendengar kecibak air mereka bangkit berbareng, mencoba m enembusi kegelapan dan bertanya: “Yakub?”

  “Ya, Yakub di sini,” ia menjenguk ke perahu dan mem erintahkan E steban dan Rodriguez turun. Orang mu lai sibuk menurunkan meriam dan peluru. Juga orang-orang Portugis yang beberapa belas itu menurunkan baran g-baran g dari biduknya masing-m asing: peluru, onderdil meriam dan perlengkapan sendiri.

  Esteban dan Rodriguez mengh indarkan mukanya dari sebangsan ya sendiri. D an mereka pun tak berniat untuk menegur. Langsung mereka mendekati api unggu n, dud uk, kemudian merebahkan diri di rumputan yang kering. D an mereka tak juga dilepaskan dari tali pengikatnya.

  Tak ada orang mengganggu mereka merebahkan diri. Mereka sudah sangat mengantu k, lapar dan haus. D alam keadaan pura-pura tidur mereka melihat oran g-orang sebangsan ya mendirikan kemahan, mem bangunkan sendiri api unggun, mengh angati makanan kemudian makan, tanpa datang pada mereka berdua untuk menawari sesuatu.

  Untuk pertam a kali dalam hidupnya Esteban merasa disisihkan dari bangsanya sendiri. Bahkan makanan sebangsa sendiri, yang selam a ini tak pernah dimakan nya, juga tersingkirkan daripadanya. Ia m erasa nelangsa. D an ia tak tahu pula hendak diapakan dirinya dibawa ke hutan di tepi laut ini, tetap terikat dan dijaga oleh sebangsa sendiri.

  “Setidak-tidaknya,” bisik Rodriguez, “sampai detik ini kita m asih hidup. Sambar gledek mereka.” Esteban menutup matan ya dengan melindun gkan mu kanya pada rumputan. Seperti Rodriguez ia pun tidur tengkurap dengan kedua belah tangan di atas. D an waktu tungau menyerang kemaluan mereka, m ereka menyumpah- nyum pah, lupa akan keadaan.

  Sebangsanya hanya melihatkan mereka bingung tak dap at menggunakan tangan untuk menggaruk. D alam serangan gatal-panas paha mereka dikerahkan. Sia-sia. Mereka gigit pundak, tapi tak sampai. Mereka melompat- lomp at. Tapi tungau-tu ngau celaka itu semakin masuk ke dalam kulit.

  “Tolong, Tuan Yakub,” pinta Esteban, “ada binatang masuk ke celana.” “Tidak mati kau karena binatang celaka itu. Dia sendiri yang bakal mati. Tidur.” Ro driguez menyumpah. Ia tak berani menatap pada Yakub yang m enyala-nyala marah. D ua orang Portugis dengan musket meronda ke keliling. W aktu berada di dekat mereka minta tolon g. D an mereka

  Anak buah Yakub seorang demi seorang jatuh tertidur. Juga orang-orang Portugis.

  Yang tinggal jaga hanya Ro driguez dan Esteban, deru angin, dan deburan ombak, dan nyala api. Bahkan dua pucuk meriam itu pun nampak tertidur.

  0o-d w-o0

  Tak ada tawa dalam penghadapan terakhir itu. Semua punggawa yang desanya bersangkutan dengan kekuasaan Rangga Iskak telah mem persembahkan pagard esa mereka tak sanggu p lagi mengh adapi perusuh-perusuh Ki Aji Benggala. Penjarah an terhadap desa-desa semakin banyak terjadi. Hilangnya ternak besar menyulitkan orang menggarap tanah, dan dengan demikian jatah upeti terancam takkan terpenuhi pada panen mendatan g.

  W aktu selam a sebulan yang diberikannya oleh Sang Patih telah terlampau sia-sia. Lebih dari itu dari beberapa tempat orang mu lai menyebut Rangga Iskak bukan lagi Ki Aji Benggala, tetapi sudah jadi Kiai Benggala, dan terakhir malah berubah lagi jadi Sunan Rajeg.

  “Ya,” Sang Patih memu tuskan. “Kalian telah menyatakan tidak sanggup. Kami terima kenyataan ini. Tak ada jalan lain daripada mengirimkan balatentara ke pedalaman. D an semua itu jadilah tanggungan desa-desa kalian sebagaimana telah jadi aturan. Jangan kalian mengeluh karena harus makan lebih sedikit dan bekerja lebih banyak.”

  Regu-regu prajurit dari sepuluh orang, masing-m asing di bawah seorang perpuluh, mulai diberangkatkan ke sembilan desa terancam dengan perintah untuk mendesak para perusuh samp ai mereka masuk kembali ke desa Rangga Iskak dan m emukul mereka di kandang sendiri.

  Mereka berangkat setelah mendapat restu Sang Patih, berangkat menjelang fajar bersama dengan kepala desa, wedana dan kuwu bersangkutan. Tak banyak orang yang menyaksikan keberangkatan ini. G ong, canang dan gendan g sam a sekali tidak berbunyi.

  Setelah hilangnya kesatuan kecil pasukan kuda, ia mengetah ui betapa gentingnya pedalaman. Agar kawula tidak menjadi lebih gelisah, ia harus selesaikan pergolakan ini dengan diam-diam. Setiap keributan akan menarik bupati-bupati tetangga dan Peranggi di laut sana untuk ikut serta berpesta pora.

  Maka juga tak banyak orang yang tahu: sembilan regu yang dikirimkan ke sembilan desa itu ternyata takkan pernah lagi ke pangkalan. Semua hilang tanpa bekas.

  D an berita tump asnya regu-regu itu tidak datang dalam bentuk persembahan resmi. Ia datang dari pusat Tuban Kota.

  Seorang penjual bertanya pada langgan an mengapa belanjanya begitu sedikit sekarang. Jawabannya: tiga orang anaknya belum juga kembali selam a ini, tak ketahuan ke mana perginya. Mereka adalah prajurit kaki Tuban. Seorang penjual lain m enambahi, kira-kira m ereka tertawan atau tertumpas oleh anah buah Kiai Benggala. Seorang pedagan g dari pedalaman menam bahi, bahwa orang sudah mu lai m eninggalkan desanya untuk mengungsi. Percakapan itu menjalar, semakin lama semakin lengkap dengan bahan

  Sang Patih telah mem erintah kan satu kesatuan berkuda untuk mengh ubungi regu-regu tersebut. Mereka pun tak berhasil. Mereka tak pernah kembali. Bahkan punggawa bersangkutan pun telah tumpas atau melarikan diri.

  Setelah penghadapan terakhir dengan terburu-buru ia mengh adap Sang Adipati. Ini terjadi di seram bi belakang. “Ambil tindakan seperlunya saja,” kata Sang Adipati acuh tak acuh. Sang Patih mencoba meyakinkan gustinya, betapa telah menjalar Kiai Benggala. “Jangan gegabah,” Sang Adipati menjawab. “Tidak kami benarkan seluruh negeri Tuban menjadi keruh. Di mana kekeruhan berkuasa dan orang tak dapat melihat lagi, mata tertutup lump ur, takkan ada yang tahu bakal datang di hadapan.” Ia m asih mencoba m eyakinkan gustinya.

  “Orang itu bukan turunan satria, tidak pernah beroleh keprajuritan. Jangan membesar-besarkan .” “Tetapi bawahannya, G usti Adipati sesembahan patik, baran g tentu terdiri dari prajurit-prajurit tangguh. Kalau tidak, tidak mu ngkin…”, ia tak berani mem persembahkan hilangnya satu kesatuan kecil pasukan kuda dan sembilan regu prajurit kaki. “Ular berbisa itu, G usti Adipati Tuban sesembahan patik, biar pun kecil, mu ngkin masih telor, pada suatu kali akan jadi besar juga bila tidak segera ditump as.”

  “Apa yang kakang Patih inginkan?” D an Sang Patih mem ohon agar diperkenankan mengirimkan kesatuan yang kuat, tidak terlalu besar, seyogianya pasukan kuda, di bawah pimpinan perwira yang paling cakap.

  “Kerusuhan seyogianya ditump as dengan cepat, G usti, cepat, yang dapat bergerak segera dan setiap waktu.” D an Sang Adipati mu rka. D engan suara pelahan tertindih am arah , dengan mata menyala, ia berkata cepat:

  “Jangan terjadi sesuatu yang menarik perhatian oran g. Ambil tindakan sekedarn ya, biar pun hasilnya hanya sekedar mengh alangi pertum buhan mereka. Tindakan yang seolah tidak terjadi sesuatu . Bisa apa petani-petani itu? Pergi!”

  Sang Patih pulang membawa kejengkelan – kejengkelan semata. D an bukan sekali ini saja ia jengkel terhadap gustinya, kejengkelan yang selalu mengenan gkannya pada cerita orang tua-tua: tidak lain dari Sang Adipati juga yang karena sikapnya itu yang mengambrukkan Majapahit samp ai ke dasarnya.

  Tanpa sepengetahuan Sang Adipati ia mengambil kebijaksanaan sendiri. Ia panggil seorang perwira pengawal yang terkenal cakap dan patuh, Mahmud Barjah, seorang Islam, muda, gesit dan cerdas. Ia perintahkan perwira itu untuk mem impin dua ratus orang prajurit kaki untuk mem impin penump asan terhadap perusuh Rangga Iskak alias Iskak Indrajit alias Kiai Benggala, alias Sunan R ajeg.

  “Sahaya akan segera berangkat, G usti,” sembah Mahm ud Barjah. “Hanya ijinkan sahaya mem persembahkan sedikit pikiran, karena sahaya orang Islam sedang Sunan Rajeg pun Islam.”

  Ia mempersembahkan untuk diperkenankan memilih sendiri peratus dan prajurit yang akan dibawanya. D an ia diperkenankan. Ia bekerja sendiri memilih orang-orangnya.

  D engan demikian pada suatu subuh berangkatlah Mahm ud Barjah, juga tanpa gon g, canang atau gendan g, untuk menumpas para perusuh di pedalaman.

  Ia naik seekor kuda, cambuk paran g terselit di pinggang, cambuk kuda di tangan, tanp a pedang dan tanpa tom bak. D i belakangn ya mengikuti dua ratus orang prajurit pilihan….

  0o-d w-o0 Belum lagi Mahm ud Barjah dan pasukannya meninggalkan batas kota, Sang Patih telah dud uk bersim puh di depan pintu keputrian menunggu keluarnya Sang Adipati.

  Begitu pintu terbuka ia menjatuhkan mu ka ke tanah sambil menyembah, mempersembahkan, keadaan semakin gawat. Kalau tidak ada tindakan tegas, kepercayaan orang pada bandar Tuban akan terancam oleh kemerosotan dan perdagangan yang sepi akan m enjadi mati sama sekali. D an untuk ke sekian kalinya ia mempersembahkan, bahwa kerusuhan di pedalaman memp unyai persangkutan erat dengan bandar. Bila Rangga Iskak dikembalikan pada kedudukan semula sebagai Syahbandar dan Sayid Habibullah bilam ana dipindah kan ke Rajeg, kerusuhan dap at dipad amkan tanpa campur tangan balatentara.

  Sang Patih yang sudah sampai pada puncak kegugupan itu dalam tunduknya ke tanah tidak dapat melihat Sang Adip ati yang sedang menggandeng selir baru dan di belakangn ya mengikuti N yi G ede D aludarmi.

  Sang Adip ati berpaling pada sang selir, mendenguskan tawa pendek dan berkata: “Tak diketahuinya hari masih sepagi ini, tak diketahuinya ada tempat yang lebih baik daripada depan pintu keputrian.” Ia angkat telunjuk menuding Sang Patih dan mem bentak: “Kerjakan apa yang telah tertitahkan. Kami yang m enentukan.”

  Sang Patih mengangkat pandang. Tak pernah gustinya segusar sekarang ini. Juga tak pernah ia merasa terhina seperti sekarang, terhina sebagai pribadi dan sebagai patih di hadap an seorang selir dan seorang pengurus keputrian. Suatu kesakitan mencekik hatinya. Ia mengangkat sembah dan memperhatikan gustinya lewat sambil terus menggandeng selir baru dalam iringan N yi G ede D aludarmi.

  W aktu kaki itu sudah tak nampak lagi olehnya, ia mengangkat sembah lagi, kemudian berjalan terburu-buru pulang ke kepatihan mem bawa kesakitan dalam hatinya.

  Betapa mu ngkin gustiku berbuat demikian terhadapku? Terhadap seoarang patih dan saudara sepupu sendiri?

  Mem ang ia mem ahami alasan Sang Adipati: bila balatentara Tuban bergerak ke pedalaman, bukan hanya para bupati tetangga, terutam a D emak bisa menyerbu dengan leluasa. Mem ang sudah lama bandar Tuban yang indah itu jadi sum ber cemburu mereka. D an hanya karena kuatnya pasukan gajah dan kuda cemburu mereka samp ai sekarang tidak tercetuskan dalam penyerbuan. Mem ang bupati-bupati tetangga adalah penguasa loba tanpa kekuasaan persekutuan. Tetapi D emak adalah kekuatan yang lebih berbahaya, dia adalah kerajaan baru dengan darah baru, dengan cara baru dan dengan pandangan baru. D an mem ang Sang Adipati punya hak mencemburui dirinya sebagai patih.

  Barangkali gustiku punya pikiran, aku mempunyai persekutuan dengan mereka untuk merampas Tuban buat patihnya sendiri, pembantu-utam anya dengan sekasar dan sehina ini? Ia tak dapat m enerima. Sudah berapa kali saja ia mempersembahkan,

  Syahbandar Tuban Sayid Habibullah Almasawa tak lain dari mataran tai kekuasaan Peranggi di lautan, maka harus disingkirkan. Selam a itu Sang Adipati hanya mendengarkan tanp a tanggapan. Sekarang ledakan itu telah terjadi, pertanda tak sesuatu dalih untuk m enyingkirkannya.

  Ia tahu, bagi Sang Adipati yang terpenting adalah bandar-bandar adalah kebesaran. Ia tak begitu mem entingkan kawula tani yang jadi sandaran negeri Tuban. Ia terlalu mem percayakan segala pada pasukan gajah sebagai kekuatan Tuban. Boleh jadi Sang Adipati menyangka, dengan satu dua hari gerakan pasukan gajah, para perusuh akan dapat ditumpas. G ustinya tak pernah mau mendengarkan, perusuh ini bukan sekedar kegiatan Rangga Iskak yang melepaskan dendamn ya pada Sang Adip ati, tapi sudah merupakan pemberontakan dari perubahan sikap. D an bila mereka dibiarkan dengan kegiatannya, bukan hanya petani sebagai sandaran negeri Tuban sudah terjam ah, juga kekuatan Tuban pasukan gajah itu – akan kewalahan, kebesaran Tuban -bandar itu – akan jatuh tanpa daya, dan seluruh negeri Tuban akan lenyap dari peredaran, berubah jadi ladang dan semak belukar.

  Ia menyesali Sang Adipati yang selalu berkukuh: hanya dengan jasa-jasanya Syahbandar itu saja Peranggi dan Ispanya akan datan g sebagai sahabat – seperti dilakukan oleh G iri D ahan apura Blam bangan ? Terlalu banyak yang dipertaruhkan untuk keselam atan Sayid Habibullah. Bahkan persembahan tentang permintaan meriam Kiai Benggala pada Syahbandar dianggapnya ringan.

  ‘Apakah yang bisa diperbuat oleh perusuh itu dengan meriam?’ katanya. ‘Omong kosong saja. Satu kerajaan yang kuat di N usantara ini tak ada yang mem punyai, apa pula hanya perusuh dari pedalaman, jauh dari laut, jauh dari Peranggi dan Ispanya. Apakah Kakang Patih tak mampu berpikir sejauh itu? Memang kapal-kapal Islam pada kabur berlarian terhadapnya, negeri-negeri jatuh ke dalam tangannya Peranggi dan Ispanya mem ang tidak bisa ditahan – mereka sedan g naik pada jaman jayanya.’

  D an ia tahu gustinya telah kena terkam ajaran Syahbandar: dekatilah yang jaya, maka orang pun akan ikut jaya.

  D an itulah pandangan gustinya sekarang, seakan orang di luar yang jaya, orang tak dapat mem bangun kan kejayaan sendiri.

  Pada puncak kejengkelannya ia mengu langi pandangann ya yang lama yang mem bikin Sang Adipati cemburu: Aku dapat am bil seluruh kekuasaan atas negeri Tuban. Aku dapat perintah kan seluruh balatentara Tuban. Kau bisa celaka Arya Teja, sebagaimana kau mencelakakan Majapahit. Tapi lihat, sampai sekarang pun tak ada terniat dalam hatiku untuk mem bikin kau menungging di bawah kakiku.

  Berkali-kali ia tergoda untuk mengerahkan seluruh pasukan gajah, kuda dan kaki dan pengawal untuk melakukan gerakan pembasmian cepat gaya garu da menyam bar elang. Tapi selalu ia dicegah oleh pikiran, bahwa hukum an pastilah yang sedang digalangn ya bila perhitungan meleset. D an hukum an mati itu bisa dicegah hanya dengan melalui satu jalan: meneruskan gerakan garuda menyam bar elang juga terhadap gustinya sendiri, dan diri sendiri menggantikan. D an ia bersumpah untuk

  Maka yang tertinggal dalam hatinya adalah sakit hati yang itu juga. Sejak peristiwa di depan pintu keputrian ia kehilangan gairah. Yang berkuasa atas dirinya adalah kejengkelan dan ketidakpedulian.

  0o-d w-o0 Pukulan pertam a itu belum lagi sembuh. Pukulan kedua datang menyusul, dan tidak terduga-duga. D ari persembahan para penghubung didapat keterangan: Pasukan Mahmu d Barjah ternyata juga hilang tanpa bekas. D ua ratus prajurit, dua peratus dan seorang perwira pengawal.

  Pukulan kedua itu hanya mem bikin semakin parah kelum puhan batinnya. Ia terbenam dalam ketakacuhan. Ia merasa sudah terbebas dari tanggungjawab sebagai patih, sebagai saudara sepupu dan sebagai kawula. Ia tak punya sesuatu tanggungjawab lagi. Ia tak mau m emikirkannya.

  Ham pir seminggu lamanya oran g-orang itu berkampung di tepi laut di sebelah timu r Tuban. D ari daratan mereka terlindun g oleh hutan belantara. D ari laut oleh hutan bakau-bakau . Tipis sekali kemungkinan bisa diketahui oleh kapal-kapal perond a pantai.

  Esteban dan Rodriguez hampir mati kebosanan dikerubut nyam uk dan tungau tanpa dap at sedikitpun kesempatan mem bela diri. Tangan mereka tetap terikat ke belakang.

  D an perondaan itu terjadi pada subuh hari waktu datang rombongan perahu-perahu dayung dari sebelah barat. Tak kurang dari delapan puluh oran g telah mendarat. Oran g- orang Portugis segera mem bongkari perkemahan mereka, mengangkutinya ke biduk masing-masing dan berangkat entah ke mana.

  W aktu biduk-biduk mereka nampak dari balik hutan - hutan bakau, Esteban mu lai menyumpah dan Ro driguez meraung seperti orang gila: “Tak sepatah kata pun mereka tinggalkan untuk kita, serigala-serigala itu. Anak-anak maut makanan hiu.”

  Belum lagi Esteban sempat mem uaskan kejengkelannya, Yakub telah datang dan mem erintahkan dengan kasar, semua orang dan semua baran g haru s segera berangkat. Ia tak bilang berangkat ke m ana. Semua oran g terkecuali dua orang Portugis itu mu lai sibuk.

  Esteban dan Rodriguez menduga, semua akan berangkat ke Blam bangan . Mereka tak dapat bayangkan di mana tempat itu. Orang pun tak bakal mem beritahu kan.

  D engan petunjuk Esteban orang mu lai mem bongkari meriam dari roda-rodanya, kemudian semua dipikul. Juga peti-peti obat dan peluru besi.

  Iring-iringan panjang lebih dari seratus dua puluh orang itu ter-bungkuk-bungkuk menerobosi hutan belantara, makin masuk ke pedalaman. Tiga oran g berjalan di depan dengan parang terhunus sebagai pem buka jalan.

  Setelah tiga hari perjalanan mereka baru sampai di sebuah jalan setapak di dalam hutan. Dan mereka berjalan terus m enghindari jalan negeri dan jalan desa. Tiga hari lagi berjalan, dan sampailah mereka di sebuah desa yang dikuasai oleh Sunan Rajeg.

  Pendud uk desa itu bersorak-sorai menyam but mereka, menggabungkan diri dan mengganti memikul beram ai- ram ai sampai ke desa selanjutnya. D an mereka mengherani orang-orang kulit putih yang terikat tangannya di belakang badan , terutam a yang beram but pirang dan ompong gigi depannya. Mereka mengh erani meriam, dan roda meriam, dan peti-peti dan logam-logam bulat sebesar tinju.

  D i desa-desa lain sama saja yang terjadi. Iring-iringan penggabung semakin lama semakin besar, tua-muda, laki perempuan. N amp aknya tak ada seorang pun ingin melewatkan keanehan sekali ini.

  Pada hari pengangkutan terakhir mereka sampai di depan rumah joglo Sunan Rajeg. Rangga Iskak dan Khaid ar, istrinya dari Malabar itu, berdiri di bendul pendopo menyambut mereka. Ia mengenakan pakaian kebesaran jubah putih tenunan Atas Angin yang selam a ini tak pernah dikenakannya, sorban putih bersulam benang kuning. Khaidar mengenakan sari dari sutra biru. W ajah mereka berseri-seri, senyum lebar tersungging pada bibir dan mata berkilau-kilau.

  Orang-orang pun pada duduk bersila di tanah. Di samp ing-menyam -ping mereka regu-regu bertombak duduk dengan senjatanya menuding ke langit. Pendatan g- pendatang itu mengangkat sembah. Juga Yakub, yang dud uk di kepala barisan pengangkut. D an dengan pandang mencuri-curi mereka menyuruh Esteban dan Ro driguez dud uk di tanah pula dan menyembah.

  Tapi dua orang Portugis itu tetap berdiri dengan tangan terikat ke belakang. D an Rangga Iskak Sunan Rajeg, yang m elihat dua orang kulit putih itu tetap berdiri, sama sekali tak nampak tersinggu ng. Ia m alah m engangguk-an gguk pada m ereka. Ia turun dari pendopo untuk dap at menjamah laras meriam. Khaid ar mengikuti dan juga menjam ah, malah mengintip dengan kulit kakinya. Mereka berdua naik lagi ke bendul pendopo.

  “Keselamatan untuk Tuan Sunan Rajeg,” seru Yakub mengacarai serah terima m eriam dan penembaknya. “Keselamatan untuk kalian semua.” “Sahaja datang mengantarkan kiriman: dua pucuk meriam, obat dan pelurunya, dan dua orang Peranggi penembaknya,” katanya dalam Melayu. “Hei, kalian, Esteban dan Rodriguez, hormatilah Tuan Sunan Rajeg.”

  “Meriam dan perlengkapannya. Alhamdulillah,” sambut Sunan R ajeg sambil mengangguk-an gguk puas. “Alham dulillah!” dengung semua pengikutnya, suaranya berkumandang ke seluruh Rajeg. D ua orang bertombak telah menyorong-n yorong ke hadapan Kiai Benggala. D an m ereka maju dan tetap berdiri di hadapan bekas Syahbandar Tuban, enggan mem beri hormat. Mata mereka menyala dengan kejijikan dari kemuakan.

  “Kasih hormat, kasih tabik, kafir-kafir keparat!” teriak Yakub di tempatnya dalatri Melayu. Melihat dua orang itu tak mendengarkan perintah nya ia berdiri sambil menyembah Sunan Rajeg, mendekati dua orang itu dan mem bagikan spdokan tinju pada pinggang mereka.

  “Hormat! Horm ati kanjeng Sunan Rajeg,” oran g-orang berseru-seru m emperingatkan dalam Jawa. “Tiada kalian dengar itu?” Sunan Rajeg memp erkuat perintah m ereka dalam Melayu. Tak sabar melihat tingkat Esteban dan Ro driguez menyembah Rangga Iskak dan menekan bahu mereka sehingga berlutut di tanah. Kepala mereka pun ditekan pula ke bawah sam pai mencium debu.

  “Betapa angkuh nya kafir-kafir Peranggi ini,” kata Sunan Rajeg. “Angkuh dan sungguh berani mati. Hei, kafir! Bertahun -tahun kalian telah tembaki kapal-kapal dan bandar-bandar Islam. Atau kalian kira di sini pun kalian jaya tanp a perlindu nganku? Hei, hati-hati, jangan kalian samp ai tak dengar kata-kataku. Setiap patah dari Sunan Rajeg adalah hukum. Mu lai hari ini, Insya Allah, hidup atau mati kalian berada dalam tanganku.”

  Mendengar itu Ro driguez dan Esteban berdiri mem protes. “Tak pernah kami kenal siapa Tuan,” kata Esteban, “kami berdua maka tak mu ngkin bersalah pada Tuan, ” dalam Melayu yang cukup jelas. “Mengapa kami diperlakukan begini?”

  “D ari apa Tuan kehendaki dan kami, orang-oran g yang Tuan tak pernah kenal ini?” tam bah Ro driguez. “Kesalahan kalian?” Sunan Rajeg kini menarik airmu ka bersungguh-sungguh. ”Bukan hanya padaku,” ia menuding dirinya sendiri, kemu - dian tangan itu berkembang m enunjuk pada semu a orang di hadap annya, “pada seluruh umm at Islam. D ungu! Tak mengerti kalian apa kataku?” ia mem bentak. “Mengapa diam saja?” Suaranya kini mendekati gerutu: “N yawa semut pun lebih berharga daripada kalian! Hei, semua pengikutku, jagalah jangan sam pai dua kafir laknat ini lepas tanp a seijinku.”

  Satu suara bersama bergalau mem bubung dari para hadirin di depannya.

  “Masih hendak ingin tanyakan apa kesalahan kalian? Siapa tidak tahu dosa-dosa kafir Peranggi? Peromp ak, bajak, pembunuh, peram pas harta, nyawa dan negeri!”

  Orang memaksa mereka berdua untuk kembali duduk dan menekurkan kepala mereka ke tanah. Sunan Rajeg kembali mendapatkan keramahannya. Ia menganggu k-angguk membenarkan. “Kiriman paling mem berkahi,” tiba-tiba ia tertawa pelahan dan menengok pada Khaidar, dan wanita itu menganggu k-angguk menyetujui.

  “Alham dulillah!” orang-orang mengu langi dengan suara menggelora. “Allah telah kirimkan meriam, perlengkapan dan penembaknya kepadaku untuk kupergunakan sebagaimana kehendaknya,” katanya dalam Jawa. Kemu dian dalam Melayu. “Hei, kafir-kafir tak tahu diuntung. D ulu, bertahun-tahun kalian tujukan meriam kalian pada kami, um mat Islam. D emi Allah, demi kekuasaan yang ada pada tanganku, mu lai saat ini kalian harus tujukan meriam- meriam itu pada kafir, kafir Jawa, kafir Peranggi, kafir apa saja. Jawab kalau kalian bersedia.”

  “Tidak m ungkin menem bak dengan dua tangan terikat,” bantah Rodriguez bengkeng. “Hanya pembangkang bisa bicara seperti itu. Hei, om pong, pernahkah aku katakan pada kalian harus menem bak dengan tangan terbelenggu ?”

  “Lepaskan ikatan ini, biar kami bisa menjawab sebagai manusia yang punya juga kehorm atan sebagai manusia.” seru Esteban lantang.

  Sunan Rajeg tertawa senang samp ai bahunya terguncang. “Bukan di dun ia ini oran g bisa percaya ada kafir

  Peranggi punya kehormatan, tapi hanya karena kalian bersedia mengakui kekuasaan ku, mengakui kemurahanku, dan bersedia m enjalankan perintahku. D emi Allah!” “D emi Allah!” para pengikat m endengung mengulangi.

  “Aku dapat m elihat pada mata kalian, hai kafir Peranggi, kalian tidak rela takluk, tidak rela menerima dan mengakui kekuasaan yang diberitakan oleh Allah padaku. ”

  “Kami bukan kafir!” bantah Ro driguez, mukanya m erah- padam karena m arah. “Bukan kafir?” pekik Sunan Rajeg. “Baik, kurung mereka selam a seminggu dengan tangan tetap terikat dan makan sekali sehari, pisang setengah matang. Belum lagi selesai kuningan nya mereka akan sudah ter-kaing-kaing minta ampun. Kurung!” D an dikurunglah m ereka.

  0o-d w-o0 Penembak-penembak meriam yang berbadan kukuh itu kini sudah kurus kering kelelahan , kejengkelan dan kelaparan.

  Belum lagi selesai yang seminggu , mereka telah mem ohon agar diperkenankan mengh adap Sunan Rajeg. Jadi dibawalah mereka m enghadap ke depan pendopo.

  Mereka telah melihat meriam-meriam itu masih berdiri di tempat semula, juga peluru, juga kelengkapan, juga peti- peti obat. Hanya tak ada penonton, tak ada oran g-orang

  “Sudah patah kah kebanggaan diri kalian?” Sunan Rajeg mendahului dari bendul pendopo. “Kami bersedia melayani meriam itu, Tuan,” kata Esteban. “Mengapa baru sekaran g m enjawab?” “Kami berdua harus memikirkan terlebih dah ulu. Tuan boleh gusar sebelum nya, jangan kemudian. Maka kami pikirkan masak-m asak untuk dapat m emutuskan.”

  “Tak ada alasan padaku untuk percaya. Biar pun begitu teruskan persembahanmu.” “Mem ang kami tak ada niat meminta kepercayaan dari

  Tuan. Tapi lihatlah, Tuan, kami diharapkan melayani meriam-meriam itu. Baiklah, kami terima. Tapi tahukah, Tuan, kalau baran g-barang itu sudah rusak dan disingkirkan, tak digunakan lagi selama ini?”

  “Ru sak?” Sunan Rajeg mem ekik. Kemudian menggerutu. “Bedebah itu hendak menipu aku. Si bedebah!” “Kalau terjadi kemacetan…,” Ro driguez menam bahi.

  Kiai Benggala alias Sunan Rajeg menebarkan pandang pada meriam -meriam yang berdiri telanjang bulat di tempat semula. Ia nampak ragu-ragu. Mendadak airmu kanya berseri kembali.

  “Tidak apa,” katanya, “meriam adalah meriam. Yang penting adalah kalian, orang-orang yang melayani. Barang- baran g itu, huh, semua bikinan manusia, bisa dibetulkan atau dihancurkan oleh manusia pula. Pandai-pandai besi Tuban yang ikut dengan ku bisa m emperbaiki segala barang apa dari logam.”

  “D an obat yang dibiarkan saja di udara terbuka, dan sudah sekian lama, boleh jadi kurang kuat lagi ledakannya.” “Bagaimana dengan belenggu kami?” Ro driguez mendesak. “Kalian kafir, selalu menuntut tanpa pikir. Kalian kuterima dalam keadaan terbelenggu. Padaku kalian menuntut bebas.”

  Tiba-tiba dari beberapa penjuru terdengar orang berseru- seru ram ai. Kemu dian disusul dengan suara orang berlarian.

  Sunan Rajeg mem anggil seorang pengantar tangkapan itu dan menyuruh pergi mencari keteran gan. Sebelum suruhan itu datang mu ncul beberapa orang bertom bak, berlutut di bawah kaki Rangga Iskak dan minta ampun. Kemu dian: “Ampun Kanjeng Sunan, Yakub meloloskan diri. Semua sekarang dikerahkan untuk menangkapnya.”

  “Pergi! Bawa kemari ular kepala dua itu, hidup atau mati!” D an tertuju pada dua orang Portugis itu, “Juga kalian akan mengalami nasib yang sama bila berani-berani meloloskan diri dari kekuasaan ku. Beruntung dia bila kembali sebagai bangkai. Kembali hidup di hadapanku – kalian akan lihat bagaimana ular kepala dua akan kehilangan sisiknya selembar demi selembar sebelum kehilangan kepalanya yang dua.”

  Esteban dan Rodriguez terdiam menunggu Sunan Rajeg terlepas dari kemarahan nya terhadap Yakub. “Ya, bagaimana persembahan kalian?” “Kami menyanggupi, Tuan, untuk menjalankan perintah

  Tuan. ” jawab Rodriguez cepat-cepat, melihat Sunan Rajeg sudah mulai agak ramah.

Dokumen baru

Tags

Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta Toer Gadis Pantai Menemukan Keindonesiaan Dalam Novel ­‐Novel Pramoedya Ananta Toer Cerita Calon Arang Karya Pramoedya Ananta Toer Analisis Sosiosastra Kuasa Patriarki Dalam Drama Mangir Karya Pramoedya Ananta Toer Analisis Alur Roman Jejak Langkah Karya Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta Toer Bukan Pasar Malam Yayasan Kebudayaan Sadar
Show more