PENGGAMBARAN SISTEM PENDIDIKAN DALAM NAS

 0  0  30  2018-09-16 23:28:31 Report infringing document

  

SKRIPSI

PENGGAMBARAN SISTEM PENDIDIKAN DALAM NASKAH TEATER

“LIT” KARYA VIDDY AD DAERY

  

Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pada Jurusan

Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya

Malang

  

Oleh :

M. Syahyudi Aziz

NIM. 0811220111

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

  

2013

  

HALAMAN PERSETUJUAN

PENGGAMBARAN SISTEM PENDIDIKAN DALAM NASKAH TEATER

“LIT” KARYA VIDDY AD DAERY

SKRIPSI

  

Disusun oleh:

M. Syahyudi Aziz

0811220111

Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing:

  Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping Dyan Rahmiati, S.Sos.,M.Si Dewanto Putra Fajar,S.Sos., M.Si.

NIP.197703072008122001 NIK. 85081811110414

  

HALAMAN PENGESAHAN

PENGGAMBARAN SISTEM PENDIDIKAN DALAM NASKAH TEATER

“LIT” KARYA VIDDY AD DAERY

SKRIPSI

  

Disusun oleh:

M. Syahyudi Aziz

0811220111

Telah diuji dan dinyatakan lulus dalam ujian Sarjana

  

Pada tanggal 13 Juni 2013

Tim Penguji:

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping Dyan Rahmiati, S.Sos.,M.Si Dewanto Putra Fajar,S.Sos., M.Si.

  NIP.197703072008122001 NIK. 85081811110414 Anggota Penguji 1 Anggota Penguji 2 Rachmat Kriyantono, Ph.D Yuyun Agus Riani, S,Pd., M.Sc NIP.19730329 200604 1 001 NIP. 75811120024

  

Malang, 23 Juli 2013

Mengetahui

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Prof.Dr.Ir.H.Darsono Wisadirana, MS

  

NIP. 19561227 198312 1 001

KATA PENGANTAR

  Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat

dan hidayah-Nya yang telah dilimpahkan, sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi dengan judul: PENGGAMBARAN SISTEM PENDIDIKAN

DALAMNASKAH TEATER “LIT” KARYA VIDDY AD DAERY. Skripsi ini

mengenai penggambaran sistem pendidikan yang dilakukan oleh pengarang

naskah teater yaitu, Viddy AD Daery dalam naskah yang berjudul “LIT”. Skripsi

ini merupakan karya ilmiah yang disusun dalam upaya menyelesaikan pendidikan

sarjana (S1) pada Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik, Universitas Brawijaya.

  Penulis mengucapkan syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  

1. Allah SWT yang selalu melimpahkan kenikmatan dan kesehatan sehingga

penulis bisa diizinkan untuk melewati proses ini.

  2. Ibu, tercinta yang tidak pernah berhenti membantu doa dan semangat.

  

3. Almarhum Bapak, Nita Dian Rosyidah sekeluarga dan Nanda Mayshita

Ulfah yang selalu menjadi insiprasi dan sumber semangat penulis menyelesaikan skripsi ini.

  

4. Clara Ayu Yanuari, yang selalu memberi dukungan, motivasi dan doa

dalam setiap waktu dan setiap saat.

  

5. Dyan Rahmiati S. Sos, M.Si dan Dewanto Putra Fajar S.Sos , M.Si yang

telah membimbing penulis dalam upaya menyelesaikan penelitian ini dengan baik

  

6. Bapak Rachmat Kriyantono, Ph.D dan Yuyun Agus Riani S.Pd. M.Sc

yang telah menguji, memberikan masukan serta saran dalam ujian skripsi.

  7. Sahabat-sahabat tercinta yang selalu berjuang bersama.

  Peneliti juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

semua pihak yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini yang

  Peneliti menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karenanya

peneliti mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari seluruh pihakyang

budiman. Akhir kata peneliti mengucapkan permohonan maaf jika ada kesalahan

kata atau kekeliruan penelitian dan penulisan. Semoga dengan terselesaikannya

skripsi ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang pada khususnya dan

pembaca pada umumnya.

  Malang, Juli 2013 Penulis,

  DAFTAR RIWAYAT HIDUP Personal information Name : M. Syahyudi Aziz NIM : 0811220111 Place, Date of birth : Ngawi, 29 Maret 1988 Sex : Male Religion : Islam

Address : Purworejo 12/02 Geger Madiun 63171

Major : Ilmu Komunikasi Concentration : Public Relation Mobile : 0857 3637 6539 E-mail : syahyudiaziz@rocketmail.com Educational Background

  

1. S1 Jurusan Ilmu Komunikasi Massa Universitas Brawijaya

  2. SMA Negeri 1 Geger, Madiun

  3. SMP Negeri 1 Geger, Madiun

  4. SDN Pagotan 1 Geger, Madiun

  5. TK Theobroma, Ngawi Organization and experience

  1. Anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa FISIP UB 2011-2012

  2. Anggota organisasi Gendhis FISIP UB

  

ABSTRAKSI

Penelitian ini membahas bentuk komunikasi melalui media teks, yakni

naskah teater. Naskah teater adalah salah unsur penting dalam setiap pementasan

teater. Naskah teater ditulis oleh penulis naskah berdasarkan apa yang dilihat, apa

yang dialami, dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain.

  

Naskah LIT karya Viddy AD Daery merupakan salah satu naskah yang berisi

tentang kritik terhadap pemerintah. Namun, meski naskah tersebut berisi kritik,

tetapi naskah tersebut berhasil memenangkan lomba penulisan naskah teater

remaja yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Timur Tahun 2004.

  Penelitian ini menggunakan analisis naratif, dengan menggunakan

pendekatan kualitatif. Analisis naratif adalah kemampuan untuk memahami

identitas dan pandangan dunia seseorang dengan mengacu pada cerita yang ia

dengar maupun diucapkan dalam keseharian. Tujuan dari analisis naratif ini

adalah mengasilkan gambaran yang utuh dan bermakna tentang manusia.

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam naskah LIT, pengarang

menggambarkan : Sulitnya kaum miskin mendapatkan pendidikan, Kesewenang-

wenangan yang dilakukan oleh Pejabat Lembaga Pendidikan, dan, Pemerintah

belum berhasil menerapkan sistem pendidikan sesuai dengan pasal 31 UUD 1945.

Viddy AD Daery menggunakan unsur satir dalam menyampaikan kritik terhadap

pemerintah dalam naskah LIT. Selain itu Viddy AD Daery juga menggunakan

strategi retorika untuk mempersuasi pembaca dalam menggambarkan sistem

pendidikan.

  Kata kunci : Analisis Naratif, Naskah teater, retorika

  

ABSTRACT

This research telling about communication by text media, that’s theater

script. Theater script is an important substance in a theater show. Theater script

being written by what he see, what his experienced, and what he read or telling to

other people. LIT script written by Viddy AD Daery is one of script that critical to

goverment. However, that script contains critical, but that script successfully

winning young writing competion presented by Education Departement East Java

2004.

  This reaserch used narrative analysis, with qualitative approachment.

Narative analysis is capability to understand identity and viewpoint someone refer

to story that he was listen or he was say in daily life. The goals from this narrative

analysis is produce intact representation and purpose about human.

  The result of this research in LIT script, writer describe about: How

difficult poor people get education, arbitrariness did by Education Government

Official, and Government not yet to apply education system appropriate with

paragraph 31th UUD 1945. Viddy AD Daery used satire substance to show critic

to government in LIT script. Moreover , Viddy AD Daery used rethoric strategy

for persuade the reader in describe about education system.

  Keywords: Narative analysis, Theater script, Rethoric.

  DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................. i

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... ii

KATA PENGANTAR ........................................................................... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP .............................................................. iv

ABSTRAK............................................................................................. v

ABSTRAC ............................................................................................. vi

DAFTAR ISI ......................................................................................... vii

DAFTAR TABEL ................................................................................ ix

DAFTAR GAMBAR............................................................................. x

  BAB I PENDAHULUAN .................................................................................

  1 1.1 Latar belakang...................................................................................

  1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................

  6 1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................

  7 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................

  7 1.4.1 Manfaat Praktis .......................................................................

  7 1.4.2 Manfaat Akademis ..................................................................

  7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................

  8 2.1 Naskah teater ....................................................................................

  8

  2.1.1Naskah teater Sebagai Media Komunikasi ............................... 13

  2.2 Paradigma Naratif ............................................................................ 14

  2.3 Retorika ........................................................................................... 18

  2.4 Sistem Pendidikan di Indonesia ........................................................ 20

  2.5 Satir ................................................................................................. 21

  2.5.1 Satir Pada Teater ..................................................................... 22

  2.6 Penelitian Terdahulu ........................................................................ 23

  2.7 Kerangka Pemimkiran ...................................................................... 23

  2.8 Alur Pemikiran ................................................................................. 24

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN .......................................................... 25

  3.1 Jenis Penelitian ................................................................................. 25

  3.2 Fokus Penelitian ............................................................................... 26

  3.3 Subjek dan Objek Penelitian ............................................................. 26

  3.4 Unit Analisis Data ............................................................................ 26

  3.5 Sumber dan Jenis Data ..................................................................... 27

  3.6 Teknik Pengumpulan Data ............................................................... 27

  3.7 Teknik Analisis Data ........................................................................ 28

  3.8 Keabsahan Data ................................................................................ 30

  BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN........................................................ 31

  4.1 Sistem Pendidikan di Indonesia ......................................................... 31

  4.2 Naskah Sebagai Media Penyampai Pesan ......................................... 35

  4.3.3 Analisis Naratif Tokoh Pada Naskah LIT ................................ 50

  4.3.4 Analisis Naratif Sudut pandang PadaNaskah LIT .................... 61

  4.3.5 Analisis Naratif Pengolahan Waktu Pada Naskah LIT ............ 62

  4.3.6 Analisis Naratif Latar Pada Naskah LIT ................................. 62

  4.4 Analisis Retorika Pada Naskah LIT .................................................. 64

  4.5 Analisis Unsur Satir Pada Naskah LIT .............................................. 78

  BAB V KESIMPULAN .................................................................................... 80

  5.1 Kesimpulan ...................................................................................... 80

  5.2 Saran ................................................................................................ 82

  

DaftarPustaka ...................................................................................... 83

Lampiran .............................................................................................. 84

PENGGAMBIRAN SISTEM PENDIDIKAN DALAM NASKAH TEATER LIT KARYA

  

VIDDY AD DAERY

M. SYAHYUDI AZIZ

  0811220111

  

ABSTRACT

This research telling about communication by text media, that’s theater script. Theater

script is an important substance in a theater show. Theater script being written by what he see,

what his experienced, and what he read or telling to other people. LIT script written by Viddy

AD Daery is one of script that critical to goverment. However, that script contains critical, but

that script successfully winning young writing competion presented by Education Departement

East Java 2004.

  This reaserch used narrative analysis, with qualitative approachment. Narative analysis

is capability to understand identity and viewpoint someone refer to story that he was listen or he

was say in daily life. The goals from this narrative analysis is produce intact representation and

purpose about human.

  The result of this research in LIT script, writer describe about: How difficult poor people

get education, arbitrariness did by Education Government Official, and Government not yet to

apply education system appropriate with paragraph 31th UUD 1945. Viddy AD Daery used

satire substance to show critic to government in LIT script. Moreover , Viddy AD Daery used

rethoric strategy for persuade the reader in describe about education system.

  Keywords: Narative analysis, Theater script, Rethoric.

  PENDAHULUAN Dalam bukunya Cahyaningrum Dewojati (2012) menjelaskan bahwa Teater berasal dari bahasa Yunani yaitu theatron (theathres) yang berarti gedung pertunjukan Di Yunani, teater bermula dari kehidupan untuk berpura-pura dan meniru suatu kehidupan. Asal mula pertunjukan di Yunani itu sendiri diilhami oleh pemujaan terhadap dewa-dewa dan juga pada ritual olimpiade di Coloseum. Selanjutnya kesenian tersebut menjadi budaya di kalangan bangsawan, dan raja. Karena popularitas perkembangan kebudayaan orang Yunani pada waktu itu, menjadikan teater juga dikembangkan ke daerah jajahannya (Dewojati,2012,h.36).

  Sedangkan Perkembangan dan sejarah Teater di Indonesia dalam buku Dramaturgi oleh Harymawan (1988) di awali pada tahun 1891, yaitu dengan munculnya kelompok ”Komedi Stamboel” yang didirikan oleh August Mahieu (keturunan Indo-Perancis) kelahiran Surabaya (1860). Setelah itu pada tahun 1955 teater mulai populer di Indonesia, ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok teater seperti STB (Bandung), Teater Bogor, Akademi Teater Nasional Indonesia dan sejumlah kelompok teater yang berbasiskan universitas (Harymawan, 1988, h.2).

  Dilihat dari sudut pandang Ilmu komunikasi, sebagai media komunikasi, teater mempunyai keunikan tersendiri yang membuatnya berbeda dari kesenian lainnya. diantaranya, dalam sebuah pertunjukan teater tidak jarang penulis atau sutradara menggunakan dialog berbentuk bahasa berbentuk sastra pada naskahnya . Hal ini dapat dikatakan bahwa teater merupakan perkawinan antara seni sastra dan keaktoran. Penggunaan bahasa sastra pada naskah tersebut akan semakin kuat jika aktor mampu menyampaikannya dengan penokohan yang baik, artikulasi yang tepat dan gesture yang tepat pula.

  Naskah dan penokohan dalam teater sendiri merupakan dua diantara empat unsur intrinsik yang penting dalam setiap pementasan teater. Dalam buku “ Seni Teater Jilid 1”Eko Santosa (2008) menjelaskan bahwa:

  “ Naskah ditulis oleh penulis naskah berdasarkan apa yang dilihat, apa yang dialami, dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. Penulis naskah kemudian menyusun rangkaian kejadian, semakin lama semakin rumit, sehingga puncaknya masuk kedalam penyelesaian cerita. Penting sekali dalam menyusun kejadian-kejadian, seorang penulis naskah haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu urutan yang logis. Karena itu, Selain harus memiliki tingkat konflik secara gradual, penciptaan naskah teater hendaknya mengetahui ciri dari berbagai karakter tokoh yang ada dalam naskah agar aktor mampu menginterpretasikannya secara benar ketika tidak semua orang bisa dengan mudah memperoleh naskah teater dan pertunjukan teater yang belum tentu diminati banyak orang. Selain itu, Pertunjukan teater seringkali menyisipkan pesan- pesan yang tersirat dengan penggambarannya pada adegan-adegan dipanggung yang dipertegas dengan dialog serta gestur aktornya, sehingga pesan tersebut mampu mempersuasi penontonnya.

  Karena itulah pada zaman orde baru, banyak pementasan teater yang dicekal bahkan dibubarkan paksa, karena pertunjukan tersebut dianggap menyebarkan propaganda di masyarakat untuk melawan pemerintah.

  Alasan tersebutlah yang mendasari peneliti memilih naskah teater sebagai objek penelitian. Sebagai objeknya, peneliti memilih naskah teater “LIT” karya Viddy AD Daerry.

  Dalam naskah teater tersebut, Viddy AD Daery mencoba menggambarkan kondisi sistem pendidikan di Indonesia secara riil. Pendidikan pada sebuah Negara merupakan salah satu faktor penting. Tidak jarang pula pendidikan menjadi tolak ukur kemajuan sebuah Negara. Di Indonesia sendiri pelaksanaan pendidikan diatur dalam UUD 1945, diantaranya tercantum dalam

  pasal 11 ayat 1 bahwa "Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan

  

kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga

Negaranya tanpa diskriminasi", Pasal 31 ayat 1 bahwa "Setiap warga negara berhak

mendapatkan pendidikan",

  pasal 53 ayat 1 bahwa " Pemerintah bertanggung jawab untuk

  

memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak

dari keluarga kurang mampu, anak terlantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah

terpencil".

  Dari gambaran diatas, peneliti mencoba melakukan pemahaman dan eksplorasi dengan di Indonesia bedasarkan dialog, plot, penokohan , dan setting pada naskah teater "LIT". Narasi merupakan teks yang telah dikonstruksikan dengan cara tertentu sehingga mampu merepresentasikan rangkaian peristiwa atau tindakan.

  Fisher dalam buku Richard West (West,2008.h. 56) yang berjudul Pengantar Teori

  Komunikasi Analisis dan Aplikasi mengatakan bahwa :

  “...berdasarkan asumsi dari paradigm naratif bahwa hakikat manusia adalah bercerita dan mengisahkan cerita, maka banyaklah kisah-kisah manusia bermunculan yang diciptakan manusia. Cerita yang diciptakan berpandangan dari awal pengalaman pribadi, sejarah, maupun biografi yang kemudian disusun dalam sebuah narasi. Berbagai cerita yang muncul pada akhirnya mendapatkan posisi selektif dari pribadi kita memilih cerita yang ada. Pemilihan tersebut berdasarkan pemikiran yang sehat, dalam artian bisa ditentukan oleh sejarah, budaya, ataupun karakter dan tentunya sesuai dengan akal sehat atau rasional kita” (West, 2008, h. 58).

  Lebih lanjut, Aristoteles (dikutip dalam West, 2008, h. 58) juga menjelaskan bahwa “naratif lebih menonjolkan pada sisi muatan bagaimana manusia dipandang sebagai makhluk pencerita dan sifat dasar manusia adalah bercerita, sehingga dunia ini penuh dengan muatan cerita dan setiap narasi yang ada selalu berpatokan pada sisi logika rasional dan koherensi cerita” (West, 2008, h. 58).

  TINJAUAN PUSTAKA Aristoteles menjelaskan ( dikutip dalam West, 2008, h. 44) bahwa “ Teori paradigma naratif adalah representasi bahwa manusia adalah mahkluk pencerita. Berawal dari pemikiran

  Fisher yang mengatakan bahwa manusia adalah seorang pencerita dan bahwa pertimbangan akan nilai, emosi, dan estetika menjadi dasar keyakinan dan perilaku kita” (West, 2008, h. 44). Hal tersebut bertujuan untuk menangkap manusia dengan pandangan bahwa manusia itu sendiri juga dalam bentuk naskah teater. Maka paradigma naratif adalah dasar yang digunakan untuk penelitian sebagai gambaran, bahwa kehidupan manusia juga timbul dalam bentuk narasi (tulisan). Dari tulisan tersebut, seseorang akan mampu menilai isi cerita sehingga lebih mudah dipahami. Maka proses yang berkaitan untuk membuat seseorang mampu menilai isi cerita adalah proses dalam analisis naratif.

  Analisis naratif adalah ilmu manusia yang mengacu pada pendekatan untuk beragam macam teks. Fisher (dikutip dalam, West, 2008, h. 43) menjelaskan bahwa naratif adalah “ kemampuan untuk memahami identitas dan pandangan dunia seseorang dengan mengacu pada cerita yang ia dengar maupun diucapkan dalam keseharian. Tujuan dari analisis naratif ini adalah mengasilkan gambaran yang utuh dan bermakna tentang manusia” (West, 2008, h. 43).

  Cerita (narasi) berkaitan dengan perkembangan manusia sebagai makhluk yang berpikir, dalam cerita tersebut dapat ditemukan pemikiran maupun nilai yang diajarkan untuk mengetahui sejarah. Untuk menemukan sebuah cerita terdapat berbagai buku biografi, autobiografi, studi kasus dan lain sebagainya (West, 2008, h. 43). Martin Suhartono (2001) dalam penelitiannya

  

Perlengkapan Catatan Kuliah : Kasih dalam Kisah dan Kasih dalam Dialog antara Teori

Naratif dan Narasi Kitab mengatakan bahwa proses penting dalam analisis naratif adalah dengan

  membaca berulang-ulang kisah yang ditulis. Tujuannya adalah untuk menghidupkan bagaimana kisah tersebut menjadi lebih hidup. Martin Suhartono dalam penelitiannya mengatakan proses dalam analisis naratif, yaitu meliputi :

  1. Membatasi teks: untuk menentukan pokok dari kisah tersebut sehingga mudah dalam memahami dinamika dalam kisah. Kriteria Kriteria yang dipakai adalah perubahan dengan memandang kisah dari sudut pokok tertentu.

  3. Memahami plot: plot merupakan suatu awal, perkembangan dan akhir dari sebuah kisah. Plot sendiri juga merupakan kekhasan dasar suatu narasi, salah satunya plot ditinjau dari momen. Plot tersebut mempunyai, diantaranya: 1. Pendahuluan “eksposisi” (hal pokok dalam kisah yang ditampilkan, terjadi saat konflik atau masalah muncul untuk pertama kalinya dan membangkitkan minat pembaca, serta berbagai usaha yang ditampilkan untuk penyelesaian), 2. Titik puncak “climax” (saat ketika situasi mencapai keadaan terbaik atau terburuk), 3. Ketegangan “final

  suspense” (ketika hasil akhir cerita dicapai, namun muncul suatu peristiwa yang menghambat penyelesaian walaupun hanya sementara waktu saja).

  4. Mengenali narator: narator adalah suatu peranan, fungsi, “suara” yang mengisahkan suatu cerita, selalu hadir dalam kisah walau setelah pengarang yang bersangkutan meninggal. Kata ganti “aku” bukanlah pengarang itu melainkan pribadi yang diciptakan untuk maksud pengisahan. Hal tersebut dapat diketahui melalui peranannya, cara pengisahan, dan keterlibatannya.

  5. Mengenali tokoh: Dari jenisnya tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh “statis” yang tidak berkembang secara batin dan cenderung bereaksi selalu sama dengan cara yang sama sehingga mudah untuk diramalkan, dan tokoh “dinamis” yang berkembang secara batin selama narasi. Terdapat juga tokoh “flat”, pembaca dibiarkan mengetahui permukaan pribadinya, biasanya diperkenalkan secara singkat dan pembaca tidak tahu lebih banyak lagi, dan tokoh “round”, digambarkan sebagai menampilkan tokoh-tokoh utama.

  6. Mengenali pembaca: pembaca dibedakan antara pembaca sesungguhnya (real

  reader) dan pembaca tersirat (implied reader) yaitu pembaca yang diandaikan oleh

  kisah itu sendiri, dalam artian pembaca tersebut merupakan suatu abstraksi ideal hal ini berhubungan denga teks untuk dapat menunjukkan reaksi tertentu yang memang diharapkan oleh pembaca.

  7. Mengenali sudut pandang: masalah sudut pandang adalah masalah sudut pengambilan adegan dalam kisah, yang dibedakan dalam sudut pandang internal dan eksternal. Sudut pandang internal adalah analisa kejadian internal bila narator adalah tokoh utama sendiri, dan sudut pandang eksternal adalah pengamatan dari luar terhadap kejadian-kejadian, cerita dikisahkan oleh narator yang ditokohkan mengenai tokoh lain dalam cerita.

  8. Mengenal pengolahan waktu: waktu dalam narasi terjadi karena tindakan pengisahan mengandaikan waktu tertentu dan pengaturan peristiwa dalam susunan. Dalam hal ini fokus hanya pada “waktu yang dikisahkan” (waktu berlangsungnya peristiwa atau tindakan yang dikisahkan dalam cerita bulan, tahun, hari, jam dan sebagainya), dan “waktu untuk berkisah” (waktu yang digunakan untuk mengisahkan peristiwa atau tindakan atau waktu semu seperti berapa bab, baris kalimat, kata yang digunakan untuk mengisahkan peristiwa itu).

  9. Mengenal latar: merupakan konteks, panggung kejadian atau tindakan para tokoh yang dibedakan menjadi tiga yaitu: latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. melainkan juga untuk pemahaman kisah (Suhartono. 2001). METODE PENELITIAN

  Pada Penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma konstruktif dengan pendekatan kualitatif karena “ penelitian ini menjelaskan permasalahan dengan sedalam-dalamnnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Fokus pada penelitian ini untuk Mengetahui strategi komunikasi dalam menggambarkan sistem pendidikan oleh Viddy AD Daery dalam naskah

  .

  teater "LIT Untuk analisisnya, penelitian ini menggunakan analisis narasi yang digagas oleh Walter Fisher (1987) . Dalam pemahaman Walter Fisher (dikutip dalam West,2012, h. 58) “ narasi adalah suatu cerita tentang peristiwa atau kejadian dengan adanya paragraf narasi yang disusun dengan merangkai peristiwa-peristiwa yang berurutan atau secara kronologis” . (West,2012, h. 58) analisis dalam penelitian ini adalah teks cerita dalam naskah Teater berjudul “LIT” karya Viddy AD Daery meliputi dialog, setting, dan penokohan yang menunjukkan penggambaran sistem pendidikan di Indonesia. Selain itu untuk mendukung validitas data, peneliti menggunakan data wawancara dengan pengarang naskah tersebut.

  Data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah teks naskah teater yang berjudul “ LIT”.

  Sedangkan data data sekunder-nya adalah informasi dari pengarang naskah teater berjudul “LIT”. proses analisis data dalam penelitian ini terdapat dua langkah antara lain : 1. Proses analisis naratif yang bertujuan untuk lebih menghidupkan isi naskah teater.

  Martin Suhartono dalam penelitiannya Perlengkapan Catatan Kuliah : Kasih dalam

  Kisah dan Kasih dalam Dialog antara Teori Naratif dan Narasi Kitab mengatakan pendidikan yang terkandung dalam naskah “LIT”.

  b) Meringkas kisah: secara ringkas, kisah pada naskah akan kerucutkan lebih dalam dengan memandang kisah dari sudut pokok tertentu c) Memahami plot: dalam hal ini plot adalah awal, perkembangan dan akhir cerita dalam naskah teater tersebut yang ditinjau dari sudut momen dalam plot, yaitu: pendahuluan, titik puncak, dan ketegangan terakhir.

  d) Mengenal narrator: narator adalah suatu peranan, fungsi, “suara” yang mengisahkan suatu cerita, selalu hadir dalam kisah walau setelah pengarang yang bersangkutan meninggal. Kata ganti “aku” bukanlah pengarang naskah itu melainkan pribadi yang diciptakan untuk maksud pengisahan. Hal tersebut dapat diketahui melalui peranannya, cara pengisahan, dan keterlibatannya.

  e) Mengenal tokoh dalam cerita: Tokoh dalam naskah ini digolongkan menjadi dua jenis, yaitu: tokoh “flat” (tokoh yang diketahui permukaan pribadinya, diperkenalkan secara singkat) dan tokoh “round” (tokoh yang mempunyai kedalaman tertentu dan kepribadian yang sering bertentangan).

  f) Mengenal sudut pandang: sudut pandang yang diambil dari cerita adalah sudut pandang pengambilan gambar dalam naskah yaitu gambaran sistem pendidikan di Indonesia. sebuah susunan yang terbentuk dalm naskah teater tersebut, seperti “waktu yang dikisahkan” dan “waktu untuk berkisah”.

  h) Mengenal latar: Dalam hal ini latar yang dimaksud adalah latar, tempat, waktu, dan latar social (berhubungan dengan sistem politik, ekonomi, budaya keagamaan) dalam naskah (Suhartono,2010).

  2. Setelah proses pertama selesai maka selanjutnya peneliti akan melakukan wawancara mendalam dengan pengarang naskah teater “LIT”, wawancara tersebut berkaitan juga dengan strategi komunikasi pengarang naskah teater tersebut untuk mempersuasi pembaca. Hal ini dimaksudkan untuk memperkaya data penelitian.

  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  Analisis Naratif

  Batasan teks adalah untuk menentukan pokok dari kisah dalam naskah LIT dengan kriteria yang terdapat didalamnya yaitu perubahan waktu, tempat dan tokoh. Maka batasan teks yang menunjukkan gambaran sistem pendidikan pada naskah LIT antara lain :

1. Mahalnya Biaya pendidikan

  Karena tidak dapat membayar iuran-iuran sekolah, Lit dan teman-temannya dianggap sebagai biang rusuh dan biang onar di SMU Nol Besar. Dalam teks tersebut Lit dan teman- temannya digambarkan dari keluarga miskin. Jangankan untuk membayar iuran sekolah, untuk makan sehari-hari saja orang tua mereka belum bisa mencukupi, sehingga Lit dan teman- temannya harus membantu orang tuanya bekerja. Namun keterbatasan tersebut tidak iuran sekolah yang semakin lama semakin mahal.

  Namun pihak sekolah ternyata tidak bisa menerima kondisi Lit dan teman-temannya tersebut. Mereka selalu disisihkan dan dianggap biang onar dan biang rusuh sekolah, karena selalu menunggak membayar iuran sekolah. Lit pun tidak tinggal diam, Lit melawan tuduhan yang ditunjukkan Kepala Sekolah kepada dirinya dan teman-temannya dengan sebuah tuntutan pendidikan gratis. Berikut dialog yang menggambarkan mahalnya biaya pendidikan sehingga tidak mampu dijangkau oleh Lit dan teman-temannya sebagai kaum miskin.

  “ LIT : Kami memang orang miskin pak. Jangan kan untuk membayar sekolah untuk makan besok saja kami harus banting tulang pak. Tapi kenapa biaya pendidikan di negeri ini mahal?sampai orang yang miskin seperti kami yang tidak sanggup membaayar iuran tetek-mbengek itu tadi DILARANG SEKOLAH?!! Padahal di Negara tetangga kita, Malaysia Brunei, Singapura, Thailand, bahkan di Srilangka yang Negara miskin aja SEKOLAH BISA GRATIS!!!!?????” (Daery, 2004, h. 4)

  Pada dialog diatas, pengarang naskah menggunakan tokoh Lit untuk membandingkan kondisi pendidikan di Negeri Jombrot dan Negara lain yaitu Malaysia, Brunai, Singapura, Thailand, dan Srilangka yang menggratiskan rakyatnya untuk mendapat pendidikan. Dalam dialog ini, Viddy sebagai pengarang naskah memberikan gambaran pada audience dengan membandingkan kondisi pendidikan di Negara tetangga. Malaysia, Brunai, Singapura, Thailand, yang merupakan Negara berkembang mempunyai kebijakan pendidikan gratis pada setiap warganya. Untuk Negara yang terakhir yaitu Srilangka , jika dibandingkan dengan Indonesia, dari segi bidang sumber daya manusia Srilanngka masih berada dibawah Indonesia. Tetapi dalam hal pelaksanaan pendidikan pemerintah Srilangka lebih baik dari pada Indonesia.

  Pada UUD 1945 sebenarnya telah diatur tentang sistem pelaksanaan pendidikan di warga Negara Indonesia, dari kalangan ekonomi keatas hingga kebawah, semua berhak untuk mendapatkan pendidikan tanpa memandang usia, latar belakang, kondisi sosial dan ekonomi.

  Berikutnya pada UUD 1945 Pasal 53 ayat 1 yang menyebutkan bahwa “Pemerintah

  

bertanggung jawab untuk memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau

pelayanan khusus bagi anak dari keluarga kurang mampu, anak terlantar, dan anak yang

bertempat tinggal di daerah terpencil". Pada pasal ini Pemerintah bertanggung jawab untuk

memberikan kemudahan kepada masyarakat miskin untuk tetap mendapatkan pendidikan.

  Kemudahan tersebut dapat berupa bantuan biaya pendidikan secara cuma-cuma atau dalam bentuk pelayanan khusus sehingga mereka tetap mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan.

  Meski telah diatur dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dan pasal 53 ayat 1 tersebut, pada pelaksanaannya pemerintah belum melaksanakan amanat UUD tersebut. Edy Akuntono salah satu wartawan berita online portal tempo menuliskan pada salah satu kolom berita online Tempo Edisi 02 Mei 2012 bahwa :

  “Hingga Januari 2012 angka anak putus sekolah di Indonesia masih sangat tinggi. Dari 100 persen anak-anak yang masuk SD, yang melanjutkan sekolah hingga SMP hanya 80 persen, sedangkan 20 persen lainnya putus sekolah. Dari 80 persen yang lulus SD, hanya sekitar 61 persen yang melanjutkan ke SMP.

  Kemudian dari jumlah tersebut, yang sekolah hingga lulus hanya sekitar 48 persen. Sementara dari 48 persen tersebut, yang melanjutkan ke SMA tinggal 21 persen dan berhasil Lulus hanya sekitar 10 persen. Sedangkan yang memenuhi biaya pendidikan, dan 5 persen lainnya dikarenakan menikah muda” (Akuntono, 2012)

  Dari data tersebut, perlu dipertanyakan lagi bagaimana tanggung jawab pemerintah dalam melaksanakan sistem pendidikan sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 ayat 1 dan pasal 53 ayat 1.

  Kasus tentang mengharuskan siswa untuk membayar iuran-iuran mahal tersebut semakin Hal tersebut yang mendasari Viddy AD Daery sebagai seorang seniman yang peka terhadap isu sosial di masyarakat mengangkat kritik terhadap pemerintah tentang pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia dalam naskah “LIT”.

2. Kesewenang-wenangan pejabat lembaga pendidikan

  Kepala sekolah dalam naskah ini merupakan perwakilan dari lembaga pemerintah, yang seharusnya menjalankan setiap kebijakan dan aturan yang dibuat oleh pemerintah. Namun Kepala sekolah SMU Nol Besar ternyata tidak demikian, meski sekolah telah mendapatkan subsidi dari pemerintah tapi kepala sekolah tersebut bekerja sama dengan Ketua BP3 malah bekerja sama untuk mengadakan iuran-iuran fiktif dan uangnya mereka korupsi. Berikut teks dialog dalam naskah yang menunjukkan kesewenang-wenangan pejabat lembaga pendidikan :

  Kepala Sekolah : “ Waaaah..waah…diamput tenan iki..Ini dia biang rusuh sekolah kita ini. Wis sekolah bolos terus. SPP nggak pernah mbayar, iuran OSIS gak bayar, iuran BP3 gak bayar, iuran guru udunen gak bayar, iuran bu guru hamil gak bayar, iuran kucing pak guru ketabrak truk gak bayar, iuran foto kopi rumus-rumus gak bayar, iuran ulang tahun guru kesenian gak bayar, iuran tetangga pak guru kawinan gak bayar, iuran guru agama naik haji gak bayar, iuran guru fisika pindah rumah gak bayar iuran guru baru pesta tumpengan gak bayar, iuran kepala sekolah kawin lagi gak bayar. Waaah..waah..kalian ini Kalau MISKIN JANGAN SEKOLAH !!! sekolah sekarang hanya untuk orang yang berduit tahu! Sudah nggak jamannya lagi sekolah mbayar pake bolet!”(Daery, 2004, h. 2) Kepala Sekolah : “ Pak BP3… gimana jawabnya nih? Kamu kan yang paling bisa

  Kepala Sekolah :“ Oooo yayaya..pemerintah negara-negara asing itu kan memberi subsidi terhadap dunia pendidikan goblok!Pemerintah kita kan sudah mencabut subsidi pendidikan, dananya dikorupsi..weeek..goblok!” (Daery,2004, h. 5) BP 3 : “ Lhaaaaa, bapak ini…. Kita ini orang kaya, lembaga kaya… wong kita korupsi gedhe-gedhean kok takut dipalak polisi sejuta dua juta…” (Daery,2004, h. 5) BP3 : “ Lho Pak! Kalo pendidikan gratis nanti kita makan apa pak (Daery,2004, h.

  10) Beberapa petikan dialog diatas menunjukkan kesewenang-wenangan yang dilakukan

  Kepala Sekolah dan Ketua BP3. Mereka bekerja sama dengan mengadakan iuran-iuran yang harus dibayar oleh para siswa. Dampaknya, iuran-iuran tersebut memberatkan orang tua siswa khususnya orang tua siswa dari kalangan miskin. Padahal iuran tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar.

3. Pemerintah belum berhasil melaksanakan sistem pendidikan yang sesuai dengan UUD 1945.

  Dari situasi yang digambarkan dalam naskah Lit tersebut. Pemerintah digambarkan masih belum mampu mewujudkan pendidikan yang dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat.

  UUD yang dibuat hanya menjadi sebuah kumpulan tulisan yang saja, tidak menjadi pedoman dalam pelaksanaan sistem pendidikan. Berikut teks dialog yang menunjukkan bahwa pemerintah belum mampu mewujudkan sistem pendidikan yang sesuai dengan UUD 1945:

  Lit : “ He he he…. Sudah, sudah, berhenti menangis! Tangisan tidak akan menyelesaikan masalah! Para pemimpin busuk sudah kebal, tidak akan jatuh kasihan hanya dengan air mata dan darah rakyat. Rakyat sendiri sih yang memang bodoh. Pemilu itu kan sarana yang demokratis dan merupakan kesempatan untuk memilih pemimpin yang baik dan menendang pemimpin yang busuk. Eeee lha kok rakyat malah memenangkan partai-partai busuk, dan menelantarkan partai yang ingin menyelamatkan rakyat. Itu semua karena rakyat bodoh! Bodoh terus karena

  Lit : “ Ayo semua membaca Pasal 31…Semua Koor membaca : 1) Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. 2)Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. 3)Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.. 4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekutang-kutangnya 20 % dari APBN dan APBD. “ (Daery,2004, h. 9)

  Tindakan korupsi yang dilakukan kepala sekolah dan ketua BP3 membuktikan bahwa aturan yang yang dibuat pemerintah tidak diimbangi dengan pengawasannya. Realitas tersebut digambarkan Viddy dalam naskah “LIT” untuk menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat tentang perilaku pejabat yang sebenarnya. Kasus tentang penyelewengan dana bantuan pendidikan dan komersialisasi di pendidikan saat ini semakin lama semakin marak terjadi. Para pejabat dari pusat hingga daerah hampir semua melakukan korupsi. Dana yang sebenarnya dialokasikan untuk bantuan pada masyarakat tidak mampu, mereka gunakan tidak sesuai dengan prosedur. Hasilnya masyarakat miskin yang harusnya mendapatkan biaya tersebut akhirnya tidak tersentuh biaya bantuan dari pemerintah sama sekali. Mereka akhirnya hatus menerima nasin mereka untuk putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya pendidikan.

  KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Dalam analisis naratif batasan teks sistem pendidikan yang digambarkan dalam naskah “LIT” yaitu :

  a. Sulitnya kaum miskin mendapatkan pendidikan

  UUD 1945.

  2. Dalam analisis naratif pemahaman plot, alur dramatikal dalam naskah “LIT” meliputi: Exposition, Complication Climax, Reversal (falling action), Deneument. Untuk analisis naratif pada narator, naskah “LIT” menggunakan narator sebagai orang ketiga, sehingga narator dengan bebas dapat mengetahui pikiran serta perasaan dari tokoh satu ke tokoh lainnya. Naskah “LIT” juiga menggunakan 2 tipe tokoh yang digunakan, yaitu tokoh flat dan tokoh Round. Tokoh flat ini meliputi teman-teman Lit, gelandangan, dan petugas Tramtib. Sedangkan tokoh round meliputi Lit, kepala sekolah, ketua BP3, dan Polisi.

  3. Dalam analisis naratif pada sudut pandang naskah, naskah “LIT” menggunakan sudut pandang eksternal. Hal ini karena Viddy AD Daery sebagai pengarang naskah hanya sebagai pengamat dari luar terhadap kejadian-kejadian dalam naskah, selain itu cerita yang dikisahkan oleh narator yang ditokohkan mengenai tokoh lain dalam cerita.

  4. Dalam analisis naratif pada pengolaha waktu, naskah “LIT” hanya menggunakan 1 waktu, hal ini dikarenakan naskah “LIT” adalah naskah teater 1 babak. Naskah teater 1 babak adalah naskah yang dalam narasinya hanya menggunakan 1 latar saja, dari awal hingga akhir cerita.

  5. Dalam analisis naratif pada Latar, Latar yang ditunjukkan oleh Viddy AD Dery adalah kesenjangan sosial yang terjadi di sebuah negara. Dimana pembangunan infrastruktur yang maju tidak berjalan beriringan dengan pembangunan dalam bidang pendidikan. Karena pendidikan yang berjalan hanya bisa dirasakan oleh kaum yang berduit saja, dan orang miskin seakan-akan sulit mendapatkannya karena biaya pendidikan yang sangat penegak hukum yang seharusnya menegakkan hukum malah mempermainkan hukum. Pejabat berlaku sewenang-wenang, mereka mengabaikan aspirasi rakyat dan sibuk korupsi untuk mensejahterakan diri sendiri.

  6. Dalam analisis Retorika pada naskah “LIT”, terkandung unsur ethos, pathos, dan logos yang dapat mempersuasi audience. Selain itu Viddy juga menggunakan (a) isi dramatik, (b) bahasa dramatik, dan (c) bentuk dramatic pada teks naskah “LIT” sebagai dasar penggambaran sistem pendidikan dalam naskah.

  7. Penggunaan unsur satir dalam penyampaian pesan pada naskah “LIT” berfungsi untuk lebih memudahkan audience dalam menerima pesan dalam naskah.

5.2 Saran

  1. Diharapkan pengarang naskah teater memperhatikan unsur naratif dan mengkesampingkan egoisme dalam menciptakan naskah teater, agar tujuannya untuk menyampaikan pesan melalui narasi naskah teater lebih efektif.

  2. Diharapkan setelah penelitian ini akan muncul lagi penelitian di bidang Teater di Jurusan Komunikasi Universitas Brawijaya yang bisa lebih dari sekedar tertuju pada unsur narasi naskah teater saja, tetapi juga unsur-unsur lain pada teater yang sesuai dengan kajian Ilmu komunikasi Karena saat ini penelitian pada bidang teater di Jurusan Komunikasi Universitas Brawijaya masih belum ada.

  3. Pemerintah selaku pemegang otoritas pengambilan kebijakan, bisa melaksanakan amanat UUD 1945 tentang sistem dan pelaksanaan pendidikan.

  Ali, Mohammad. 2008. Pendidikan Untuk Pembangunan Nasional. Jakarta : Grasindo Dewojati, Cahyaningrum. 2010. Drama : Sejarah, Teori, dan Penerapannya. Yogyakarta : Gajah

  Mada University Press Effendy, Onong Uchjana. 1994 . Komunikasi Teori dan Praktek. Jakarta : Grasindo Fredman, Leonard. 2009. The Offensive Art : Political Satir and Its Censorship around the

  World from Beerbohm to Borat. Greenwood Publishing

  Griffin, Emory A. 2006. First Look At Communication Theory. New York: Mc. Graw Hill Harymawan. 1988 . Dramaturgi. Bandung : PT Remaja Rosda Karya Kriyantono, Rachmat. 2010. Teknik Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana Moleong, Lexy J. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandunng : Rosda Karya Riantiarno, Nano. 2011. Kitab Teater. Jakarta : Grasindo Santosa, Eko. 2008 . Seni Teater Jilid 1. Jakarta : Dinas Pendidikan Nasional Suhandang, Kustadi. (2009). Retorika: Strategi, Teknik dan Taktik Pidato. Bandung: Nuansa.

  Suprayogo, dan, Tobroni. 2003. Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta : Sebelas Maret University Press

  West, Richard. 2008 . Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Humanika

  Website AA Wattimena, Reza. Metode Penelitian Naratif. diakses 20 Desember 2012 pukul 18.30 WIB. http://www.rumahInspirasi.blogspot.com

  AD Daery, Viddy. Drama Teater Remaja : LIT. Diakses 8 Januari 2012 diakses pukul 22.45 http://www.rumahdunia.net

  Suryno, Ony. Tentang Teater. diakses

  29 Februari 2012.pukul 23.00 WIB. http;//www.rumahdunia.net

  Viddy AD Daery. 2012 . Penulis Nasional. Hasil Wawancara Akuntono, Edy. 2012. Pendidikan, Apakah semua sudah menikmatinya? . http://www.tempo.com diakses pada 23 Juni 2013 Pukul 13.00 WIB.

  Jurnal Teologi

  Suhartono, Martin. 2001. Perlengkapan Catatan Kuliah : Kasih dalam Kisah dan Kasih dalam

  Dialog antara Teori Naratif dan Narasi Kitab, 4-19. Diakses 6 Maret 2012 Pukul 21.45 WIB. http://id.scribd.com/doc/27997864/Analisa-Naratif-.

  Hasil penelitian

  Nor Shahizan Ali, Mocd. 19. Malaysian Journal Of Communication, Analisis Naratif Film

  Dokumentari “The Kinta Story”, Universitas Kebangsaan Malaysia. Diakses 19

  Februari 2012 Pukul

  09.30 WIB.http://www.ukm.my/jkom/journal/pdf_files/2011/V27_2_10.pdf

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait
Tags

Akses Di Dalam Sistem Jaminan Sosial Nas

Pendidikan Kewarganegaraan Identitas Nas

Penggambaran Citra Perempuan Dalam Iklan

Representasi Dan Penggambaran Perempuan Dalam

Penggambaran Tokoh Putri Princess Dalam

Penggambaran Wanita Indonesia Dalam Medi

Departemen Pendidikan Nasional Ujian Nas

Tes Diagnostik Departemen Pendidikan Nas

Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan

Pendidikan Sekolah Dalam Sistem Pendidi

PENGGAMBARAN SISTEM PENDIDIKAN DALAM NAS

Gratis

Feedback