Makalah Kepemimpinan Etis dan Relevansin

 0  0  13  2018-09-16 23:20:27 Report infringing document

A. Latar belakang masalah

  Bangsa kita pernah mengalami pergantian presiden sebanyak tiga kali dalam kurun waktu kurang lebih enam tahun (1998-2004). Pada masa ini masyarakat mengalami krisis kepercayaan terhadap pemimpin. Demonstrasi massa marak diberitakan mengkritisi para pemimpin yang dianggap ‘tidak becus’ dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya.

  Dewasa ini krisis kepercayaan terhadap pemimpin atau para aparat pemerintahan, semakin meningkat. Salah satu indikator penyebabnya adalah kasus suap atau korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang terjadi di kalangan para pemimpin itu sendiri. Akhir-akhir ini

  

image partai Demokrat, partai yang diayomi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

  (SBY), tercoreng oleh beberapa kadernya yang terlibat kasus suap pembangunan wisma atlet Palembang (bdk., 20 Juni 2012).

  Kasus suap, dan KKN beragam bentuknya dan tidak hanya populer di kalangan pemimpin pemerintahan dan aparat-aparatnya, melainkan telah mewabah sampai di dunia pendidikan. Berita kepala sekolah menyalahgunakan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk kepentingan pribadi sering bergema di media massa (bdk., “Hargai Proses Hukum Kasus Dana BOS”, Kamis, 15 Maret 2012). Sementara itu “pungli” (pungutan liar) di sekolah-sekolah semakin marak terjadi. Tes masuk sekolah, akademi bahkan perguruan tinggi, tak jarang dijadikan ajang untuk meraup keuntungan tambahan dari oknum-oknum tertentu (bdk.,”Maraknya Pungli di Sekolah Kemendikbud bentuk Tim Investigasi”,bu, 29 Februari 2012).

  Selain masalah KKN, terdapat juga masalah etika-moral, seperti perselingkuhan, tindak kekerasan, narkoba, video porno, dan lain-lain (bdk., “Penghentian Kasus Pornografi, Kritik Keras Hantam BK DPR”bu, 13 Juni 2012).

  Persoalan-persoalan di atas tidak hanya menyebabkan krisis kepercayaan terhadap kredibilitas pemimpin/pemerintah, tetapi menyebabkan pula “krisis keteladanan”. Kedua faktor ini akan menurunkan atau mengurangi kekuasaan dan pengaruh pemimpin terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Jika demikian, maka cita-cita bangsa yang sejahtera, adil dan makmur semakin jauh dari jangkauan.

  Di tengah sekelumit persoalan moral yang terjadi di masyarakat, khususnya pemerintah, muncul upaya-upaya konstruktif seperti kebijakan pendidikan karakter bangsa yang diintegrasikan ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah. Persoalannya adalah pendidikan karakter tidak cukup sekedar “diajarkan” secara teori, tetapi perlu didukung oleh contoh atau teladan dari pengajar itu sendiri. Dalam konteks ini, pengambil kebijakan (pemimpin) haruslah terlebih dahulu memberikan teladan, sehingga dapat menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya. Untuk itu pembahasan dalam tulisan ini mengambil fokus “Kepemimpinan Etis dan Relevansinya Bagi Pendidikan Karakter.”

  C. Rumusan masalah

  Masalah pokok makalah ini terungkap dari pertanyaan-pertanyaan berikut:  Apakah model “kepemimpinan etis” itu?  Bagaimanakah relevansi dari “kepemimpinan etis” untuk pendidikan karakter?

  D. Tujuan penulisan

  Pembahasan dalam tulisan bertujuan untuk:  Mendapatkan pemahaman tentang model “kepemimpinan etis”.  Mengetahui relevansi model “kepemimpinan etis” untuk pendidikan karakter.

MODEL KEPEMIMPINAN ETIS

1.1. Konsepsi Umum dari “Kepemimpinan Etis”

  “Kepemimpinan Etis” terdiri dari dua kata, yakni “kepemimpinan” dan “Etis”. Secara umum “kepemimpinan” dipahami sebagai “kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi dan menuntun seorang atau sekelompok orang untuk

  Sedangkan kata “Etis” merupakan bentuk kata sifat dari “Etika”.

  

Webster’s Student Dictionary merumuskan pengertian “Etika” sebagai “The study and

philosophy of human conduct, with emphasis on the determination of right and wrong. The

  

basic principles of right action. A work or treatise on moralstika adalah studi dan filsafat

  tentang tingkah laku manusia, dengan penekanan pada determinasi benar dan salah. Prinsip dasar dari tindakan yang benar. Suatu tindakan atau risalah moral). Jadi, kepemimpinan etis dapat berarti “kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi dan menuntun seorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama dengan menekankan pentingnya nilai-nilai moral”.

  Kepemimpinan etis merupakan jenis perilaku kepemimpinan. Sementara pemimpin yang etis menunjuk pada kualitas pribadi pemimpin itu sendiri. Keduanya saling terintegrasi. Kepemimpinan etis menunjukkan pemimpin yang etis. Sebaliknya pemimpin yang etis menunjukkan model kepemimpinan etis. Standar pengukuran atau evaluasi kepemimpinan etis terdapat dalam diri pemimpin itu sendiri. Yukl menyebutkan contoh standar moral yang digunakan untuk mengevaluasi meliputi “batasan di mana perilaku pemimpin melanggar UU dasar masyarakat, menyangkal hak orang lain, membahayakan kesehatan dan kehidupan dari orang lain, atau melibatkan upaya untuk menipu dan mengeksploitasi orang lain demi

  

1 Bdk., Taty Rosmiati dan Dedy Achmad, “Kepemimpinan Pendidikan”, dalam Tim

  Dosen Administrasi Pendidikan UPI, Manajemen Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2011), hllm. 125. 2 “Ethic”, dalam Webster’s Student Dictionary, (USA: Trident Press International, 1999). 3 Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, edisi kelima, (Jakarta: Indeks, 2001), hlm. 480-481.

  

  

  dan Busisari pandangan mereka adalah sebagai berikut:  Burns Burns tidak memberikan definisi eksplisit tentang kepemimpinan etis. Tetapi ia meunjukkan pentingnya suatu fungsi kepemimpinan dalam meningkatkan kesadaran mengenai masalah etis dan membantu orang menyelesaikan nilai-nilai yang berkonflik. Menurutnya kepemimpinan adalah suatu saling meninggikan tingkat moralitas dan motivasi di antara para pemimpin dan pengikutnya. Di pihak pemimpin, idealisme dan nilai moral seperti kebebasan, keadilan, kesetaraan, kedamaian, humanitarisme, harus terus-menerus ditingkatkan sehingga ketakutan, kerakusan, kecemburuan atau kebencian perlahan-lahan dapat disingkirkan. Sementara di pihak para pengikut, mereka dikembangkan dari keadaan dirinya sehari-hari menjadi diri mereka yang lebih baik.

   Heifetz Heifetz menekankan peran utama pemimpin. Menurutnya pemimpin berperan untuk membantu orang-orang yang dipimpinnya untuk mampu menghadapi konflik dan menemukan cara-cara yang produktif untuk menghadapinya. Seorang pemimpin harus mampu melibatkan pengikutnya dalam menghadapi tantangan, perspektif yang berubah, dan belajar mengenai cara-cara baru untuk bekerja bersama secara efektif.

   Greenleaf Greenleaf menambahkan unsur baru dalam pengertian tentang kepemimpinan etis.

  Menurutnya salah satu esensi dari kepemimpinan etis adalah “pelayanan”. Pendapatnya ini dilatarbelakangi oleh konsep “kepemimpinan pelayan” yang diusulkannya. Pemimpin pada intinya adalah pelayan yang bertanggungjawab memberikan pelayanan kepada para pengikutnya. Pemimpin membantu para pengikutnya agar menjadi lebih sehat, bijaksana dan lebih bersedia untuk menerima tanggungjawab.

4 Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, edisi kelima, (Jakarta: Indeks, 2001), hlm. 481-483.

  5 Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, edisi 3, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 374.

  Konsep senada tentang kepemimpinan etis dikemukakan pula oleh Bush. Ia menggunakan istilah “kepemimpinan moral”. Bush berpendapat bahwa kepemimpinan moral adalah suatu model kepemimpinan yang berfokus pada nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan dan etika. Kepemimpinan moral berdasarkan rasional normatif, yakni berdasarkan pertimbangan benar atau salah atas suatu tindakan yang akan atau telah diambil.

  Dari pandangan tentang kepemimpinan etis dari para pakar di atas, dapat disimpulkan beberapa prinsip kepemimpinan etis sebagai berikut: pertama, fungsi kepemimpinan etis adalah meninggikan tingkat moralitas dan motivasi di antara para pemimpin dan pengikutnya.

  

Kedua, kepemimpinan etis berperan membantu orang untuk mampu menghadapi konflik dan

  menemukan cara-cara yang produktif untuk menghadapinya. Ketiga, esensi dari kepemimpinan etis adalah pelayanan. Dan keempat, kepemimpinan etis berfokus pada nilai- nilai, kepercayaan-kepercayaan dan etika.

1.3. Integritas Pribadi dan “Kepemimpinan Etis”

  Salah satu atribut yang dapat membantu menjelaskan efektivitas kepemimpinan adalah “integritas pribadi” yang secara harafiah berarti keutuhan, kejujuran atau ketulusan hati. Pemimpin yang memiliki integritas pribadi adalah pemimpin yang perilakunya konsisten dengan sekumpulan prinsip moral yang dapat dibenarkan. Indikatornya antara lain “mengikuti peraturan dan standar yang sama yang berlaku bagi orang lain, jujur dan terus terang saat memberikan informasi atau menjawab pertanyaan, menepati janji dan komitmen,

  

  Mengukur integritas pribadi seorang pemimpin tidaklah gampang. Sebab, kepribadian merupakan “karakteristik psikologis dan perilaku dari individu yang sifatnya relatif permanen karena telah terbentuk sejak lahir yang membedakannya dengan individu yang lain”. Sementara perilaku merupakan “perwujudan tingkah laku dari individu yang ditentukan oleh

  

  kepribadiannya masing-masing”Untuk itu seorang pemimpin dengan integritas pribadi perlu dipersiapkan, dibina dan dibentuk secara matang. Kesadaran tentang pentingnya integritas pribadi inilah yang barangkali mendorong para pemimpin bangsa kita untuk 6 Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, edisi kelima, (Jakarta: Indeks, 2001), hlm. 483-484. 7 Ernie Tisnawati Sule dan Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen, edisi pertama, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 219. intelektualnya, tetapi juga dari karakter yang dimilikinya. Dalam konteks ini kepemimpinan etis dan pendidikan karakter saling mempengaruhi.

  

RELEVANSI “KEPEMIMPINAN ETIS”

UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER

2.1. Pendidikan Karakter

  2.1.1. Pemahaman Umum tentang Istilah Karakter

  Dalam percakapan sehari-hari istilah “karakter” sering diasosiasikan sebagi “temperamen” atau “watak” dan “tabiat”. Dari sudut pandang behavioral atau perilaku, “karakter” dihubungkan dengan “pengaruh unsur psikis dalam fisik manusia yang diwarisinya sejak lahir”. Dalam arti ini “karakter” sering dianggap sebagai “kepribadian”, yakni “ciri atau karakteristik seseorang, yang diterima, baik sebagai faktor genetikal atau

  

  2.1.2. Etimologi dan Interpretasi atas Karakter

  Secara etimologis istilah “karakter” berasal dari bahasa Yunani karasso yang berarti “cetak biru” atau “format dasar”. Sehingga secara harafiah “karakter” berarti “format atau bentuk dasar” dari sesuatu/seseorang.

  Istilah karakter mendapatkan berbagai interpretasi. Para tua-tua bangsa Yahudi menafsirkan “karakter” sebagai “sesuatu yang tidak dapat dikuasai oleh intervensi manusia, seperti gelombang laut”. Pedagog Perancis Emmanuel Mounier memberikan dua interpretasi, yakni pertama, karakter adalah “sekumpulan kondisi atau situasi pribadi yang telah ada dan diberikan begitu saja”. Kedua, karakter sebagai “tingkat kekuatan melalui mana seorang individu mampu mengatasi kondisi tersebut”. Di pihak lain Doni Koesoema menjelaskan karakter sebagai: “sebagaimana yang dilihat”, dan karakter sebagai “sebagaimana dialami”. Karakter yang dilihat menyangkut determinasi natural yang dimiliki setiap individu secara genetik. Sedangkan karakter yang dialami adalah unsur kebebasan dalam diri setiap individu untuk mengembangkan, menyesuaikan diri, melatih diri, atau membina diri melalui

  

  Khan menyatakan ada empat jenis karakter yang selama ini dikenal dan dilaksanakan dalam proses pendidikan, yaitu: pertama, pendidikan karakter berbasis nilai religious yang merupakan kebenaran wahyu Tuhan. Kedua, pendidikan karakter berbasis nilai budaya, 8 Bdk., Marcel M. Lintong, Gagasan-Gagasan Pendidikan Kontemporer, (Jakarta: Cahaya Pineleng, 2011), hlm. 178-179. 9 Ibid. pemimpin bangsa. Ketiga, pendidikan karakter berbasis lingkungan dan keempat, pendidikan berbasis kompetensi diri, yaitu sikap pribadi, hasil proses kesadaran pemberdayaan potensi

  

2.1.3. Pendapat para Ahli tentang Pendidikan Karakter

   F.W. Foerster F.W. Foerster adalah seorang pedagog Jerman. Ia dikenal sebagai pencetus pertama konsep pendidikan karakter. Menurut Foerster pendidikan karakter menekankan dimensi etis- spiritual dalam proses pembentukan pribadi. Tujuan pendidikan karakter terwujud dalam kesatuan hakiki antara individu dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Dalam artian ini karakter merupakan kaulifikasi seorang pribadi yang memberikan integritas dan otonomi atas keputusan-keputusan yang diambilnya dalam keseluruhan pengalaman hidup. Karakter adalah identitas yang dapat diukur dari empat komponen, yaitu: pertama,

  

keteraturan interior, yang diukur berdasarkan hierarki nilai. Kedua, koherensi, memiliki

prinsip yang teguh, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut resiko.

  Ketiga, otonomi, kemampuan seseorang untuk menginternalisasikan aturan dari luar sehingga menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Keempat, keteguhan dan kesetiaan, yakni daya tahan seseorang untuk mengingini apa yang dipandang baik dan penghormatan atas komitmen yang

  

   Ki Hajar Dewantara Ki Hadjar Dewantara sosok yang dikenal sebagai “Bapak Pendidikan Indonesia” telah berpikir tentang masalah pendidikan karakter pada jamannya. Menurutnya, kecerdasan budi itu perlu diasah dengan baik, karena dapat membangun budi pekerti yang baik dan kokoh, hingga dapat mewujudkan kepribadian dan karakter. Jika ini terjadi, maka nafsu dan tabiat- tabiat asli seperti bengis, murka, pemarah, kikir dan lain-lain dapat dikalahkan. Melalui pendidikan karakter terjadi transformasi nilai-nilai. Dengan demikian dalam pendidikan

   10 Khan, Y. Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri, (Yogyakarta: Pelangi, 2010), hlm. 2. 11 Bdk., Marcel M. Lintong, Gagasan-Gagasan Pendidikan Kontemporer, (Jakarta: Cahaya Pineleng, 2011), hlm. 181-182. 12 Bdk., Haryanto, Pendidikan Karakter Menurut Ki Hajar Dewantara, dalam akses Rabu, 21 Juni 2012.

   Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Pendidikan pada hakikatnya adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” (Bab 1 Pasal 1). Selanjutnya pada pasal 3 dirumuskan fungsi dan tujuan pendidikan untuk “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.” Dari kutipan undang-undang di atas, jelaslah bahwa pendidikan karakter merupakan dasar dan tujuan dari sistem pendidikan nasional. Pendidikan karakter adalah upaya penanaman nilai dan sikap religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan

  

2.2. Relevansi “Kepemimpinan Etis” Untuk Pendidikan Karakter

  Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa inti dari kepemimpinan etis adalah perwujudan nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan dan moral oleh pemimpin itu sendiri. Sementara inti dari pendidikan karakter adalah ‘keteladanan’. Apa yang diteladankan? Tentu yang diteladankan adalah sikap, perilaku, gaya hidup yang sesuai dengan kaidah-kaidah moral yang berlaku atau sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan baik-buruk, benar-salah, atau boleh-tidaknya suatu sikap atau tindakan yang diambil. Untuk itu relevansi kepemimpinan etis untuk pendidikan karakter menantang para pemimpin dan calon pemimpin agar dalam menjalankan tugas kepemimpinannya dapat berorientasi pada penghayatan dan perwujudan nilai-nilai moral.

   Penyadaran nilai 13 Bdk., Pendidikan Karakter dalam diakses Rabu, 13 20 Juni 2012. kita. Belakangan ini marak digalakkan pendidikan karakter, yakni dengan mengintegrasikannya ke dalam setiap mata pelajaran. Namun, usaha penyadaran ini tidak semudah yang dibayangkan. Penyadaran nilai perlu dilakukan terlebih dahulu dari dalam diri sendiri dengan tahu dan mau, agar tidak menjadi ‘batu sandungan’ bagi orang lain atau ‘tong kosong berbunyi nyaring’. Artinya adalah penyadaran nilai tidak sekedar di bibir saja, tetapi meresap sampai ke lubuk hati yang paling dalam dan mendasari setiap tindakan yang hendak dilaksanakan. Kepemimpinan etis adalah kepemimpinan menuntun, mengarahkan dan mengamalkan nilai-nilai moral bersama orang-orang yang dipimpin.

   Membangun konsistensi penghayatan nilai Penyadaran dan internalisasi nilai-nilai moral, seperti kejujuran, disiplin, bersih, sopan, dll sudah semestinya dibangun secara konsisten, tidak berubah-ubah seperti Bunglon.

  Kalaupun berubah, maka yang berubah adalah tingkatan-tingkatan, seperti dari yang jujur (sedang) menjadi jujur (luar biasa). Konsistensi penghayatan nilai ini dipandang penting, sebab banyak penyimpangan moral terjadi, karena adanya inkonsistensi penghayatan nilai akibat pengaruh subyektivitas atas relasi tertentu.

   Konsekuen terhadap perwujudan nilai Konsekuen berarti bersedia menerima atau menanggung resiko dari suatu pilihan yang sudah diambil. Sering terjadi persoalan etis di mana pemimpin memilih diam, tidak mengklarifikasi sesuatu hal yang ditanyakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebagai contoh ketika seorang pemimpin bersaksi di persidangan. Demi menjaga nama baik, maka keterangan-keterangan yang diberikan ‘mengambang’, tidak jelas dan berbelit-belit.

   Pemimpin Etis sebagai teladan Saddler mengidentifikasikan beberapa atribut atau sifat yang dimiliki oleh pemimpin

  

  yang berkualitas. Salah satu di antaranya adalah “karakter”Artinya pemimpin yang 14 Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, edisi 3, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 377. dari pendidikan karakter adalah keteladanan, jadi pemimpin yang etis merupakan teladan untuk masyarakat yang dipimpinnya. Pendidikan karakter tidak sekedar teori yang didengungkan di mana-mana, tetapi mengambil bentuk “kesaksian hidup”, sehingga orang bisa dengan mudahnya menginternalisasi dan mengadopsi nilai-nilai menjadi miliknya atau terintegrasi dengan kepribadiannya. Ketika seseorang bertanya apa itu pendidikan karakter?, jawaban yang muncul bukan lagi konsep pendidikan karakter dari berbagai pihak, tetapi langsung bisa menunjuk figur pemimpin berkarakter.

  A. Kesimpulan

  Kepemimpinan etis adalah kepemimpinan yang menekankan pada penghayatan nilai- nilai moral. Kepemimpinan etis adalah perwujudan nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan dan moral oleh pemimpin itu sendiri. Kepemimpinan etis menuntun, mengarahkan dan mengamalkan nilai-nilai moral bersama orang-orang yang dipimpin. Untuk itu dibutuhkan integritas pribadi yang kokoh dan karakter yang kuat dari seorang pemimpin, agar dapat menjadi teladan, sehingga darinya orang dipengaruhi dan didorong untuk menginternalisasi dan mewujudkan karakter pribadi yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh situasi dan mampu untuk mengambil keputusan sendiri atas hidup yang dijalaninya.

  B. Saran

  Di tengah-tengah maraknya krisis kepercayaan terhadap kredibilitas dan keteladanan pemimpin di kalangan masyarakat, kebijakan Pendidikan Karakter diangkat sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya moralitas hidup suatu bangsa. Kepemimpinan etis menantang pemimpin itu sendiri untuk memberi contoh yang benar kepada masyarakat yang dipimpinnya. Banyak orang bisa berbicara tentang pentingnya nilai- nilai moral, pentingnya karakter dan sebagainya, tetapi sedikit yang mampu melaksanakannya. Untuk itu karakter pemimpin perlu dibina, dibentuk agar dapat mempengaruhi, mengarahkan dan menuntun masyarakat ke arah yang lebih baik.

  Buku Khan, Y. Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri. Yogyakarta: Pelangi, 2010.

  Lintong, Marcel M. Gagasan-Gagasan Pendidikan Kontemporer. Jakarta: Cahaya Pineleng, 2011. Rosmiati, Taty dan Achmad Dedy, “Kepemimpinan Pendidikan”, dalam Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI, Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2011. Tisnawati Sule, Ernie dan Saefullah, Kurniawan. Pengantar Manajemen, edisi pertama.

  Jakarta: Kencana, 2010. Usman, Husaini, Manajemen Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, edisi 3. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

  Yukl, Gary. Kepemimpinan Dalam Organisasi, edisi kelima. Jakarta: Indeks, 2001.

  Artikel di Internet

  Haryanto. Pendidikan Karakter Menurut Ki Hajar Dewantara, dalam diakses Rabu, 21 Juni 2012. Pendidikan Karakter dalam diakses Rabu, 13 20 Juni 2012.

  Undang-Undang

  Undang-Undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, dalam buku kumpulan Undang-undang. Bandung: Umbara, 2010.

  Kamus Webster’s Student Dictionary. USA: Trident Press International, 1999.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait
Tags

Makalah Manajemen Dan Kepemimpinan

Makalah Kepemimpinan Dan Kearifan Lokal

Makalah Hadits Dan Tentang Kepemimpinan

Etis Dan Tidak Etis Dalam Perjanjian Lam

333233245 Makalah Budaya Perusahaan Dan Kepemimpinan

Perilaku Dan Budaya Etis Dalam

Makalah Kepemimpinan

Semangat Pasifikasi Dan Etis Dalam Pemba

Politik Etis Dan Pendidikan Islam

Makalah Gaya Kepemimpinan

Makalah Kepemimpinan Etis dan Relevansin

Gratis

Feedback