REALITAS KASUS MAGDALENES LAUNDRY DI IRL

Gratis

0
0
10
1 year ago
Preview
Full text

  REALITAS KASUS MAGDALENE’S LAUNDRY DI IRLANDIA: RENTETAN PELANGGARAN HAM DENGAN DALIH PERLINDUNGAN Disusun sebagai Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Pengantar Studi Hak Asasi Manusia Dosen Pengampu : Dr. Dafri agussalim, MA Randy W. Nandyatama, SIP, Msc.

  Ester Margaretha 13/350078/SP/25923

  Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada

  

"It is not easy to stand outside the mainstream and to continue to press for the truth, but we know

this is the way in which human rights defenders undertake their work in every country around

the world." — Dr. Maurice Manning, President, Irish Human Rights Commission

  Manusia dan segala interaksi dengan sesamanya telah menjadi realitas tak terhindarkan yang kadang saling bersinggungan bahkan bergesekan. Interaksi yang ada kemudian saling membentuk konstelasinya tersendiri, menciptakan seperangkat aturan dan norma-norma yang diharapkan dapat menjaga keteraturan dan tatanan yang ada. Berbagai batasan dirumuskan dan ditetapkan oleh tiap-tiap kelompok, sehingga tak elak menimbulkan kesadaran akan kebebasan dan persamaan terhadap individu dari manusia itu sendiri.

  Jauh sebelum konsep aturan atau hukum internasional dicanangkan, ide mengenai hak asasi manusia telah muncul sejak tahun 539 SM, Cyrus the Great. Setelah menaklukan kota Babilonia, ia melakukan tindakan yang tidak terduga dimana ia membebaskan seluruh budak untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Ia juga membebaskan rakyatnya dalam memilih agama mereka masing-masing. The Cyrus Cylinder, catatan dari tanah liat yang memuat pernyataannya tersebut merupakan deklarasi hak asasi manusia pertama dalam sejarah.

  Pada perkembangannya, hak asasi manusia semakin meningkatkan kesadaran dan perhatian dari masyarakat internasional mulai dari The Magna Charta (1215), The Petition of

  

Right (1628), dan berbagai dokumen internasional lainnya. Hingga kemudian terbentuklah

  konsensus bersama, dokumen pertama yang mengidentifikasi 30 hak asasi yaitu The Universal

1 Declaration of Human Rights (1948). Kepekaan masyarakat internasional dalam melihat

  signifikansi dari penegakan hak asasi itu sendiri ditindak lanjuti dengan berbagai kovenan maupun konvensi yang memuat lebih mendetail mengenai individu maupun tindakan tertentu.

  Terkait dengan individu dan tindakan tertentu, perempuan dan anak merupakan objek pelanggaran HAM yang kerap ditemui dalam realitas sosial masyarakat. Kedua golongan ini seringkali mengalami penyiksaan, pelecehan seksual, dan berbagai tindakan pelanggaran lainnya. Berbagai kasus baik dalam lingkup domestik maupun internasional terkait pelanggaran tersebut 1 menunjukkan betapa rentannya kedua golongan tersebut. Salah satu kasus yang memiliki

  Anonim, “A Look at the Background of Human Rights”, Youth For Human Rights, http://www.youthforhumanrights.org/what-are-human-rights/background-of-human-rights.html (diakses tanggal 2 signifikansi erat terkait pelanggaran tersebut yakni kasus Magdalene’s Laundry pada tahun 1993 di Irlandia. Di era abad pertengahan tersebut, stigma mengenai sikap dan pergaulan perempuan sangatlah rentan sehingga menjadikan mereka seringkali dikeluarkan dari rumah, dikucilkan, hingga diabaikan oleh keluarga mereka sendiri. Hal ini menjadikan Magdalene’s Laundry

   sebagai pilihan yang terasa lebih baik dibandingkan mereka harus hidup di jalanan.

  Magdalene’s Laundry sendiri merupakan institusi yang terdapat di berbagai belahan

  dunia yang muncul dan berkembang sekitar abad ke-18 hingga abad ke-20 pertama kali di Irlandia. Institusi ini mengambil nama dari tokoh alkitab atau injil kristiani, Maria Magdalena, seorang pelaku prostitusi yang bertobat dan melakukan pembaharuan spiritual. Pada awalnya, institusi ini dijalankan oleh masyarakat awam dimana tidak dibawahi oleh Katolik. Namun,

   Katolik sendiri memang berperan besar dalam perkembangannya . Selain itu, dinamakan laundry

  atau binatu karena pada era tersebut industri binatu merupakan industri yang dapat menarik masa atau lapangan kerja dalam jumlah banyak. Kontrak terhadap pihak atau kelompok tertentu juga sangat intensif dan mudah untuk dilakukan.

  Institusi yang ditemukan oleh Lady Arabella Denny ini diharapkan dapat menjadi suatu gerakan untuk menyelamatkan dan menyediakan suatu pekerjaan alternatif bagi para pelaku prostitusi. Hal ini disebabkan oleh latar belakang mereka yang sangat dianggap tabu saat itu dan

  

  menjadikan mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. Benar saja, institusi

  

Magdalene’s Laundry yang pertama ditemukan sekitar akhir 1758 di Whitechapel, Inggris ini

  dianggap berhasil. Institusi dengan istilah Magdalene’s Asylum ini juga kemudian menginspirasi Irlandia untuk turut mendirikan institusi serupa pada tahun 1767. Selain itu di Amerika Serikat juga terdapat insitusi yang lagi-lagi serupa yaitu Magdalen Society of Philadelphia, ditemukan pada tahun 1800. Adapun kota-kota di Amerika Utara seperti New York, Boston, Chicago, dan Toronto dengan segera mengikuti tindakan Philadelphia tersebut dan membuka fasilitas Magdalena untuk para parempuan yang telah “jatuh” atau berdosa.

2 Violet Veng, ”Magdalene Laundry”, Sunday Morning, 8 Agustus 2013, http://www.cbsnews.com/news/the-

  3 magdalene-laundry/ (diakses tanggal 2 Juli 2014).

  James M. Smith, Ireland’s Magdalen Laundries and the Nation’s Architecture of Containment (Manchester: Manchester University Press, 2008), 40.

  Institusi yang juga merupakan tempat rehabilitasi para pelaku prostitusi ini kemudian meluas perananannya kepada para ibu yang tidak menikah dan remaja perempuan yang bagi

  

  gereja dianggap suka memberontak Selain itu anak perempuan yang terkait atau terlibat dalam pelecehan seksual, memiliki pergaulan terlalu terbuka, bahkan hanya berpotensi menimbulkan

   nafsu seperti terlalu cantik juga pun dapat untuk dikirimkan ke insitusi ini.

  Sebelum tahun 1900 sendiri, diperkirakan terdapat 40% sukarelawan yang menjadi penghuni dan masuk dalam institusi ini dengan fleksibilitas untuk keluar-masuk insitusi. Namun di akhir abad, beberapa pihak menganjurkan untuk memperpanjang periode penetapan para penghuni institusi tersebut. Pada dasarnya para perempuan maupun anak perempuan ini digolongkan dalam dua kelompok yaitu para wanita yang telah “jatuh” yaitu mantan pelaku prostitusi dan juga para perempuan atau anak perempuan yang memasuki tempat tersebut sebagai tindakan preventif. Mereka, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kira-kira mengalami

   krisis moral.

  Kemudian, para penghuni Magdalene’s Laundry pada dasarnya wajib mengikuti beberapa peraturan yang berlaku. Salah salah satu yang cukup ekstrim adalah dimana mereka hingga akhir hidupnya tinggal di tempat tersebut dan mengambil sumpah agama. Magdalene’s

  

Laundry dalam perspektif masyarakat di era tersebut boleh dikatakan dianggap sebagai tempat

  penebusan dan pemurnian dosa. Namun demikian dalam pelaksanaannya, ternyata sangat berbanding jauh dari ekspektasi yang diharapkan.

  Terdapat berbagai penyimpangan yang terjadi dalam institusi yang dioperasikan oleh empat ordo Katolik ini. Pengurusnya yaitu para biarawati ini telah melakukan berbagai bentuk pelanggaran HAM terhadap lebih dari 10.000 perempuan dan anak perempuan sejak tahun 1922 hingga 1996. Mereka adalah orang-orang yang dianggap menyusahkan oleh keluarga, sekolah, hingga negara dan telah menghabiskan waktu kira-kira enam bulan hingga setahun, terkunci 5 Violet Veng, ”Magdalene Laundry”, Sunday Morning, 8 Agustus 2013, http://www.cbsnews.com/news/the- 6 magdalene-laundry/ (diakses tanggal 2 Juli 2014).

  Anonim, Documenting our Heritage: The Magdalen Asylum Co.Cork”, Abandoned Ireland, 7 http://www.abandonedireland.com/mc.html (diakses tanggal 2 Juli 2014).

  Ronnie Pollaneckzy, “Woman Exposed Ireland: Magdalene Laundries Asylum”, Philladelphia, 23 Mei

2013, http://www.phillymag.com/articles/woman-exposed-ireland-magdalene-laundries-asylum/ (diakses tanggal 2 dalam insitusi ini dan harus melakukan pekerjaan manual tanpa digaji. Sebagian di antara mereka bahkan terus berada di sana selama bertahun-tahun tanpa mereka inginkan.

  Magdalene’s Laundry telah menjadi suatu mekanisme dimana masyarakat, perintah

  agama dan bahkan negara untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap tidak dapat menyesuaikan diri dan tidak lagi menjalankan suatu budaya yang “kudus” atau “suci” yang seharusnya menjadi bagian daripada identitas orang Irlandia itu sendiri. Dikenal dan dicap sebagai wanita yang telah “jatuh” dan penuh dosa, para penghuni atau pekerja ini diperbolehkan untuk meninggalkan institusi tersebut hanya jika terdapat anggota keluarga yang mau mengeluarkan mereka atau biarawati sebagai pengurus institusi tersebut menemukan pekerjaan dan posisi yang tepat bagi mereka. Apabila mereka mencoba kabur dan keluar dari perbatasan

   area institusi tersebut, mereka akan dibawa kembali oleh para polisi Irlandia.

  Sayangnya, persayaratan tersebut sangatlah sulit dipenuhi. Dimana diketahui bahwa

  

  ternyata identitas dari para penghuni ini sendiri telah diganti oleh para biarawati. Hal ini tentunya sangat menyulitkan keluarga yang bersangkutan yang ingin menemukan mereka. Selain itu, janji para biarawati untuk menemukan dan memberikan pekerjaan dan posisi yang tepat dan layak juga sulit untuk terpenuhi. Laporan mengejutkan lainnya adalah ternyata terdapat keterlibatan negara terkait kasus ini. Magdalene’s Laundry yang sebelumnya telah diungkapkan dimana banyak para penghuninya yang telah menghabiskan bertahun-tahun lamanya terkunci dalam institusi ini, nyatanya menjadi penghuni karena rekomendasi pemerintah. Laporan yang diungkapkan Time menyatakan bahwa terdapat 2.124 perempuan (26.5%) dari 10.012 yang diakui dari 1922 hingga 1996 telah ditunjuk negara untuk menjadi bagian penghuni dari institusi tersebut. Meskipun demikian, para pemerintah Irlandia telah menyangkal bahwa negara turut campur dalam mengirimkan para wanita ke Magdalene’s Laundry.

  Laporan tersebut juga menemukan bahwa dalam institusi tersebut penghuni termuda adalah anak perempuan berusia 9 tahun dan penghuni tertua adalah seorang wanita tua berusia 89 8 Dylan Matthews, “How Mid Century Ireland Dealt with Unwed Mothers and Their Children”, Vox, 5 Juli

  2014, http://www.vox.com/2014/6/5/5779902/how-mid-century-ireland-dealt-with-unwed-mothers-and-their- 9 children (diakses tanggal 2 Juli 2014).

  Jerome Elan, “Sinead O’Connor Reveals Her Abuse Catholic Magdalan”, The Washington Times Communities,

  7 Februari 2013, http://communities.washingtontimes.com/neighborhood/heart-without-compromise- children-and-children-wit/2013/feb/7/sinead-oconnor-reveals-her-abuse-catholic-magdalan/ (diakses tanggal 2 Juli tahun. Selain itu, hampir 900 wanita meninggal ketika bekerja di binatu tersebut, dimana yang termuda adalah seorang remaja perempuan berumur 15 tahun. Penemuan ini tersebut menunjukkan bagaimana keadaan tersebut sangat berdampak pada kondisi psikologis mereka

   yang pastinya traumatis dan bertahan lama.

  Penyiksaaan fisik, seksual, dan emosional sangat mudah ditemukan dalam institusi ini. Salah satu korban yang selamat mengungkapkan tindakan pemerintah setelah ia mengalami pelecehan seksual berupa pemerkosaan. Ibunya kemudian menelepon polisi dan melaporkan tindak pemerkosaan tersebut, namun polisi justru datang dan menangkap anak perempuan tersebut. Lebih jauh, hakim justru menganggap hal tersebut sebagai kesalahannya sendiri dan menghukum dia untuk menjadi buruh kasar dalam Magdalene’s Laundry.

  Para korban penghuni Magdalene’s Laundry dipaksa untuk bekerja dalam waktu yang lama dan selama berjam-jam harus menahan diri untuk diam dalam hening. Hukuman yang diberikan pula tidak tanggung-tanggung, seperti berbagai pukulan keras dan berat dan juga dikunci di toilet selama berhari-hari. Penyerangan seksual bahkan menjadi suatu kejadian rutin di lembaga ini dimana ketika mereka mencoba melakukan perlawanan malah mengakibatkan

  

  hukuman yang lebih kejam . Dalam bukunya yang berjudul The Origins of the Magdalene

  

Laundry, Rebecca Lea McCarthy menjabarkan bagaimana kovenan Magdalena ini justru

  menyebar di berbagai penjuru Eropa dan ditransisikan dari tempat perlindungan yang seolah

   penuh harapan menjadi penjara penuh keputusasaan.

  Akhirnya pada tahun 1993, salah satu insitutusi Magdalene’s Laundry terbesar di Irlandia yang berlokasi di Dublin, menjual sebagian tanah kepada seorang pengembang property. Namun ketika proyek tersebut baru saja dimulasi, penggalian masif menemukan terdapat 155 mayat perempuan dimana hanya 75 diantaranya yang dapat diidentifikasi. Fakta tersebutlah yang 10 kemudian menjadikan masyarakat untuk terbuka dan benar-benar mencoba mencari tahu

  Sorcha Pollak, “The Magdalene Laudries: Irish Report Exposes a National Shame”, Time, 7 Februari 2013, http://world.time.com/2013/02/07/the-magdalene-laundries-irish-report-exposes-a-national-shame/ (diakses tanggal 11 2 Juli 2014).

  Jerome Elan, “Sinead O’Connor Reveals Her Abuse Catholic Magdalan”, The Washington Times Communities,

  7 Februari 2013, http://communities.washingtontimes.com/neighborhood/heart-without-compromise- children-and-children-wit/2013/feb/7/sinead-oconnor-reveals-her-abuse-catholic-magdalan/ (diakses tanggal 2 Juli 2014). kebenaran di balik insitusi ini dimana kala itu sangat sedikit informasi yang diketahui masyarakat perihal kasus Magdalene’s Laundry ini. Eksistensi dan pengaruh gereja yang kuat di Irlandia khususnya era tersebut memang sangat mendominasi agenda politik negara. Gereja dan negara menjadi suatu kekuatan besar dahsyat dalam membendung berbagai tindak kejahatan dalam insitusi tersebut. Bahkan meskipun berbagai fakta telah diungkapkan, sebagian besar

  

  gereja memilih bungkam terkait kasus ini. Hingga pada akhirnya institusi terakhir Magdalene’s

   Laundry di Irlandia ditutup pada 25 September 1996.

  Melalui pemaparan yang telah diungkapkan, terlihat jelas betapa banyak dan masifnya pelanggaran HAM yang telah dilakukan institusi berbasis agama tersebut. Hal ini mungkin tidak benar-benar menyita perhatian internasional namun tentu menjadi bahasan yang sangat signifikan dimana negara bahkan agama turut menjadi pelaku atau subjek pelanggaran HAM. Meskipun, perempuan dan anak menjadi korban atau objek pelanggaran HAM, dalam melihat hal tersebut dibutuhkan interseksi yang tepat. Dalam hal ini, perempuan dan anak tidak dapat dipisahkan eksistensinya sebagai dua komponen berbeda sehingga analisis yang dilakukan bukan terkait hak perempuan dan anak yang diatur dalam CEDAW, CPRW, CRC maupun International

  

Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment.

  Perempuan dan anak harus dalam persoalan ini harus dilihat dalam konteks sebagai warga negara, bagian terpenting dimana negara seharusnya memberikan perlindungan terhadap hak-hak mereka. Oleh karena landasan yang dipakai dalam menganalisis persoalan ini yaitu International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR).

  ICCPR mengandung berbagai hak demokratis dan esensial, yang kebanyakan berkaitan dengan fungsi suatu negara dan hubungannya dengan warga negaranya. Dalam hal ini, negara sebagai suatu insitusi berdaulat memiliki kewenangan unutk melakukan pengurangan kewajiban dalam ICCPR, namun terdapat beberapa hak yang tidak dapat dilakukan pengurangan antara lain: hak hidup (Pasal 6), Bebas dari penyiksaan (Pasal 7), Bebas dari perbudakan (Pasal 8), dan Kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama (Pasal 18).

13 Violet Veng, ”Magdalene Laundry”, Sunday Morning, 8 Agustus 2013, http://www.cbsnews.com/news/the-

  14 magdalene-laundry/ (diakses tanggal 2 Juli 2014 Anonim, Documenting our Heritage: The Magdalen Asylum Co.Cork”, Abandoned Ireland,

  Terkait dengan persoalan yang ada, dapat dilihat dengan jelas pasal berapa yang telah dilanggar oleh negara sebagai institusi yang bertanggung jawab dan berkewajiban memberikan perlindungan. Pasal 7 terkait larangan penyiksaan dan perlakukan atau penghukuman yang kejam, tidak mausiawi dan merendahkan martabat manusia nyatanya telah dilanggar. Kaum perempuan dan anak yang menjadi penghuni Magdalene’s Laundry telah terabaikan hak sipilnya dimana justru hanya tinggal diam bahkan turut campur dalam melakukan pelanggaran HAM tersebut. Jelas terlihat bahwa terdapat penyiksaan, penghukuman yang kejam dan tidak

   manusiawi dalam insitusi dengan kedok agama dan moralitas tersebut .

  Selain itu, terdapat beberapa hak sipil lain yang juga telah dilanggar yakni Pasal 8 terkait larangan perbudakan, perdagangan budak dan kerja paksa atau kerja wajib, Pasal 10 terkait hak

  

  semua orang yang berasal dari kebebasannya untuk diperlakukan secara manusiawi , dan Pasal

   26 terkait hak atas persamaan di depan hukum dan perlindungan hukum yang sama.

  Magdalene’s Laundry telah melakukan kerja paksa terhadap para penghuni institusi

  tersebut dimana mereka tanpa digaji harus melakukan pekerjaan manual dalam hal ini pekerjaan binatu. Selain itu mereka juga diperlakukan secara tidak manusiawi dimana para biarawati tersebut melakukan berbagai tindakan tidak etis dan juga bermoral. Salah satu korban yang selamat, menceritakan bagaimana institusi tersebut memaksanya untuk terpaksa memakan makanan yang ada di lantai dan berbagai tindakan tidak manusiawi lainnya. Selain itu, seperti yang telah diungkapkan, terdapat kecacatan hukum dimana hakim malah menjadikan korban pelecehan seksual sebagai kesalahan yang harus ditanggung sendiri dan menghukum korban dalam institusi Magadalene’s Laundry.

  Meskipun kasus ini telah resmi ditutup, namun kegagalan Irlandia sebagai negara dalam memberikan perlindungan terkait hak sipil jelas merupakan suatu hal yang amat memalukan dan perlu menjadi pembelajaran tersendiri. Masyarakat sebagai komponen utama dalam negara juga perlu lebih peka terhadap lingkungan di sekelilingnya. Berbagai pelanggaran HAM seharusnya 15 ditindak secara cepat dan tegas sehingga tidak berlarut-larut dan menimbulkan korban jiwa yang

  Drs. Dafri Agus Salim, MA, “Diktat Mata Kuliah Pengantar Studi Hak Asasi Manusia (HAM): Semester 16 Genap”, 2013, 29.

  Dafri, “Diktat Mata Kuliah Pengantar Studi Hak Asasi Manusia (HAM): Semester Genap” , 30. lebih banyak lagi. Pemerintah Irlandia maupun gereja tidak seharusnya menutup-nutupi kasus ini, karena pada akhirnya hal tersebut hanya justru semakin menjatuhkan kredibilitas mereka.

  Sangat disayangkan ketika institusi seperti Magdalene’s Laundry seharusnya mampu menjadi sarana perlindungan bagi kaum perempuan, tempat mereka melakukan penebusan dosa malah berubah menjadi penjara yang sangat menyiksa. Hal ini seharusnya menjadi perhatian, dimana perlu ada pengawasan mengenai insitusi-institusi terkait yang menjunjung tinggi kebaikan bahkan mungkin hak asasi malah menjadi bentuk penyimpangan dengan berbagai rentetan pelanggaran di dalamnya. Oleh karena itu, perlu adanya sinergitas antara pemerintah dan masyarakat dalam penanganan berbagai pelanggaran HAM. Masyarakat maupun pemerintah tidak boleh bersikap apatis. Magdalene’s Laundry merupakan salah satu sejarah menarik yang kelam bagi Irlandia. Namun, diharapkan kasus serupa tidak akan terulang lagi dan hal ini menjadi pelajaran berarti bagi pemerintah Irlandia maupun lainnya dan gereja-gereja terkait.

DAFTAR PUSTAKA

  Anonim. “A Look at the Background of Human Rights”. Youth For Human Rights, http://www.youthforhumanrights.org/what-are-human-rights/background-of-human- rights.html (diakses tanggal 2 Juli 2014). Anonim. Documenting our Heritage: The Magdalen Asylum Co.Cork”, Abandoned Ireland, http://www.abandonedireland.com/mc.html (diakses tanggal 2 Juli 2014). Elan, Jerome. “Sinead O’Connor Reveals Her Abuse Catholic Magdalan”. The Washington Times Communities.

  7 Februari 2013 http://communities.washingtontimes.com/neighborhood/heart-without-compromise- children-and-children-wit/2013/feb/7/sinead-oconnor-reveals-her-abuse-catholic- magdalan/ (diakses tanggal 2 Juli 2014). Matthews, Dylan. “How Mid Century Ireland Dealt with Unwed Mothers and Their Children”.

  Vox/

  5 Juli 2014. http://www.vox.com/2014/6/5/5779902/how-mid-century-ireland-dealt- with-unwed-mothers-and-their-children (diakses tanggal 2 Juli 2014). McCarthy, Rebecca Le. Origins of the Magdalene Laundries: An Analytical History. 2013. Pollak, Sorcha. “The Magdalene Laudries: Irish Report Exposes a National Shame”. Time. 7

  Februari 2013. http://world.time.com/2013/02/07/the-magdalene-laundries-irish-report- exposes-a-national-shame/ (diakses tanggal 2 Juli 2014). Pollaneckzy, Ronnie. “Woman Exposed Ireland: Magdalene Laundries Asylum”. Philladelphia,

  23 Mei 2013. http://www.phillymag.com/articles/woman-exposed-ireland-magdalene- laundries-asylum/ (diakses tanggal 2 Juli 2014). Salim, Drs. Dafri Agus MA. “Diktat Mata Kuliah Pengantar Studi Hak Asasi Manusia (HAM): Semester Genap”. 2013. Smith, James M. Ireland’s Magdalen Laundries and the Nation’s Architecture of Containment.

  Manchester: Manchester University Press. 2008. Toyntanen, Garth. 2008. Institutionalised. Veng, Violet. ”Magdalene Laundry”, Sunday Morning, 8 Agustus 2013, http://www.cbsnews.com/news/the-magdalene-laundry/ (diakses tanggal 2 Juli 2014).

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

KEPEKAAN ESCHERICHIA COLI UROPATOGENIK TERHADAP ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI RSU Dr. SAIFUL ANWAR MALANG (PERIODE JANUARI-DESEMBER 2008)
2
95
1
ANALISIS KOMPARATIF PENDAPATAN DAN EFISIENSI ANTARA BERAS POLES MEDIUM DENGAN BERAS POLES SUPER DI UD. PUTRA TEMU REJEKI (Studi Kasus di Desa Belung Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang)
22
219
16
DEKONSTRUKSI HOST DALAM TALK SHOW DI TELEVISI (Analisis Semiotik Talk Show Empat Mata di Trans 7)
21
195
1
APRESIASI IBU RUMAH TANGGA TERHADAP TAYANGAN CERIWIS DI TRANS TV (Studi Pada Ibu Rumah Tangga RW 6 Kelurahan Lemah Putro Sidoarjo)
8
121
2
SENSUALITAS DALAM FILM HOROR DI INDONESIA(Analisis Isi pada Film Tali Pocong Perawan karya Arie Azis)
33
236
2
MOTIF MAHASISWA BANYUMASAN MENYAKSIKAN TAYANGAN POJOK KAMPUNG DI JAWA POS TELEVISI (JTV)Studi Pada Anggota Paguyuban Mahasiswa Banyumasan di Malang
20
178
2
PENYESUAIAN SOSIAL SISWA REGULER DENGAN ADANYA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SD INKLUSI GUGUS 4 SUMBERSARI MALANG
63
437
26
PENGEMBANGAN TARI SEMUT BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER DI SD MUHAMMADIYAH 8 DAU MALANG
55
409
20
PROSES KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM SITUASI PERTEMUAN ANTAR BUDAYA STUDI DI RUANG TUNGGU TERMINAL PENUMPANG KAPAL LAUT PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA
97
584
2
REPRESENTASI CITRA PEREMPUAN DALAM IKLAN DI TELEVISI (ANALISIS SEMIOTIK DALAM IKLAN SAMSUNG GALAXY S7 VERSI THE SMARTES7 ALWAYS KNOWS BEST)
131
442
19
KONSTRUKSI MEDIA TENTANG KETERLIBATAN POLITISI PARTAI DEMOKRAT ANAS URBANINGRUM PADA KASUS KORUPSI PROYEK PEMBANGUNAN KOMPLEK OLAHRAGA DI BUKIT HAMBALANG (Analisis Wacana Koran Harian Pagi Surya edisi 9-12, 16, 18 dan 23 Februari 2013 )
64
467
20
PENERAPAN MEDIA LITERASI DI KALANGAN JURNALIS KAMPUS (Studi pada Jurnalis Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa (UKPM) Kavling 10, Koran Bestari, dan Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas)
105
431
24
PEMAKNAAN BERITA PERKEMBANGAN KOMODITI BERJANGKA PADA PROGRAM ACARA KABAR PASAR DI TV ONE (Analisis Resepsi Pada Karyawan PT Victory International Futures Malang)
18
208
45
STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK PARTAI POLITIK PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH TAHUN 2012 DI KOTA BATU (Studi Kasus Tim Pemenangan Pemilu Eddy Rumpoko-Punjul Santoso)
119
449
25
PENGARUH DIMENSI KUALITAS LAYANAN TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN DI CAFE MADAM WANG SECRET GARDEN MALANG
18
113
26
Show more