Full text

(1)

*

KESELAMATAN

* KESEHATAN

* KERJA

(2)

KESELAMATAN KERJA

KESELAMATAN KERJA

keselamatan

kerja

adalah

merupakan sarana utama untuk

mencegah terjadinya kecelakaan

kerja yang dapat menimbulkan

kerugian

yang

berupa

luka/cidera, cacat atau kematian,

kerugian

harta

benda

dan

(3)

Tujuan Penerapan K3

Tujuan Penerapan K3

Melindungi dan menjamin

keselamatan setiap tenaga kerja

dan orang lain di

tempat

kerja.

Menjamin setiap sumber produksi

dapat digunakan secara aman

dan

efsien

.

Meningkatkan kesejahteraan dan

(4)

Pengertian (Defnisi) Tempat Kerja

menurut Undang-Undang No 1 Tahun

1970

Ialah tiap ruangan atau lapangan

baik terbuka atau tertutup, bergerak

maupun menetap dimana terdapat

tenaga kerja yang bekerja atau

sering dimasuki orang bekerja untuk

keperluan suatu usaha dan dimana

terdapat sumber atau

sumber-sumber

bahaya sebagaimana

(5)

Ruang Lingkup K3

K 3 dan hyperkes (

Higiene Perusahaan dan Kesehatan

Kerja

) (Rachman, 1990) :

1. Alat pelindung diri (kesehatan kerja)

2. Penyakit Akibat Kerja

3. Sarana Sanitasi Kesehatan kerja

4. Higiene Lingkungan Kerja

5. Epidemiologi Kesehatan (adalah ilmu yang

mempelajari pola

kesehatan dan penyakit serta fakor yang terkait di tingkat

populasi)

a. Kesehatan dan keselamatan kerja diterapkan di semua

tempat kerja yang di dalamnya melibatkan aspek

manusia

sebagai tenaga kerja, bahaya akibat kerja dan usaha

yang

(6)

a. Kesehatan dan keselamatan kerja diterapkan di semua

tempat kerja yang di dalamnya melibatkan aspek manusia

sebagai tenaga kerja, bahaya akibat kerja dan usaha yang

dikerjakan.

b. Aspek perlindungan dalam hyperkes meliputi :

1) Tenaga kerja dari semua jenis dan jenjang keahlian

2) Peralatan dan bahan yang dipergunakan

3) Faktor-faktor lingkungan fsik, biologi, kimiawi, maupun

sosial.

4) Proses produksi

5) Karakteristik dan sifat pekerjaan

6) Teknologi dan metodologi kerja

c. Penerapan Hyperkes dilaksanakan secara holistik sejak

perencanaan hingga perolehan hasil dari kegiatan

industri barang maupun jasa.

d. Semua pihak yang terlibat dalam proses industri/

(7)

18 (delapan belas)

syarat penerapan keselamatan

kerja di tempat kerja

18 (delapan belas)

syarat penerapan keselamatan

kerja di tempat kerja

1. Mencegah & mengurangi

kecelakaan

kerja.

2. Mencegah, mengurangi &

memadamkan

kebakaran.

3. Mencegah & mengurangi bahaya peledakan.

4. Memberi jalur evakuasi

keadaan

darurat.

5. Memberi P3K Kecelakaan Kerja.

6. Memberi

APD (Alat Pelindung Diri

) pada

tenaga

kerja.

7. Mencegah & mengendalikan timbulnya

penyebaran suhu, kelembaban, debu, kotoran,

asap, uap, gas, radiasi, kebisingan & getaran.

8. Mencegah dan mengendalikan

Penyakit Akibat

(8)

9. Penerangan yang cukup dan sesuai.

10. Suhu dan kelembaban udara yang baik.

11. Menyediakan ventilasi yang cukup.

12. Memelihara kebersihan, kesehatan & ketertiban.

13. Keserasian tenaga kerja, peralatan, lingkungan, cara &

proses kerja.

14. Mengamankan & memperlancar pengangkutan manusia,

binatang, tanaman & barang.

15. Mengamankan & memelihara segala jenis bangunan.

16. Mengamankan & memperlancar bongkar muat, perlakuan

& penyimpanan barang

17. Mencegah terkena aliran listrik berbahaya.

(9)

CARA BEKERJA YANG BAIK DI LABORATORIUM

CARA BEKERJA YANG BAIK DI LABORATORIUM

Laboratorium

adalah suatu tempat dimana

mahasiswa, dosen, peneliti dan sebagainya,

melakukan pekerjaan percobaan/penelitian

Percobaan yang dilakukan menggunakan:

1.bahan kimia,

2.peralatan gelas

3.instrumentasi khusus

4. Kelengkapan lainnya yang dapat menyebabkan

(10)

Petugas laboratorium selalu dihadapkan pada bahaya-bahaya tertentu, misalnya bahaya infeksius, reagensia yang toksik,

peralatan listrik maupun gelas yang digunakan secara rutin. Secara garis besar bahaya yang dihadapi dalam laboratorium dapat

digolongkan dalam :

• 1.     Bahaya kebakaran dan ledakan dari zat / bahan yang mudah terbakar atau meledak.

• 2.     Bahan beracun, korosif dan kaustik

• 3.     Bahaya radiasi

• 4.     Luka bakar

• 5.     Syok akibat aliran listrik

• 6.     Luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam

• 7.     Bahaya infeksi dari kuman, virus atau parasit.

Pada umumnya bahaya tersebut dapat dihindari dengan usaha-usaha pengamanan, antara lain dengan penjelasan, peraturan serta penerapan disiplin kerja.

(11)

Aman

Alat disimpan supaya aman dari pencuri dan kerusakan,

atas dasar alat yang mudah dibawa dan mahal harganya

seperti stop watch perlu disimpan pada lemari terkunci.

Aman juga berarti tidak menimbulkan akibat rusaknya alat

dan bahan sehingga fungsinya berkurang.

Mudah dicari

Untuk memudahkan mencari letak masing – masing alat

dan bahan, perlu diberi tanda yaitu dengan menggunakan

label pada setiap tempat penyimpanan alat (lemari, rak

atau laci). Mudah diambil

Penyimpanan alat diperlukan ruang penyimpanan dan

perlengkapan seperti lemari, rak dan laci yang ukurannya

disesuaikan dengan luas ruangan yang tersedia

Prinsip yang perlu diperhatikan

dalam penyimpanan alat dan

(12)

berdasarkan jenis alat, pokok bahasan,

golongan percobaan dan bahan

pembuat alat

:

Pengelompokan alat – alat fsika berdasarkan

pokok bahasannya seperti : Gaya dan Usaha

(Mekanika), Panas, Bunyi, Gelombang, Optik,

Magnet, Listrik, Ilmu, dan Alat reparasi.

Pengelompokan alat – alat biologi menurut

golongan percobaannya, seperti : Anatomi,

Fisiologi, Ekologi dan Morfologi.

Pengelompokan alat – alat kimia berdasarkan

bahan pembuat alat tersebut seperti : logam,

kaca, porselen, plastik dan karet.

(13)

*

Penyimpanan alat dan bahan yang perlu

diperhatikan yaitu :

Mikroskop

disimpan dalam lemari terpisah dengan zat

higroskopis dan dipasang lampu yang selalu menyala

untuk menjaga agar udara tetap kering dan mencegah

tumbuhnya jamur.

Alat berbentuk set

, penyimpanannya harus dalam

bentuk set yang tidak terpasang. Ada alat yang harus

disimpan berdiri, misalnya higrometer, neraca lengan

dan beaker glass. Alat yang memiliki bobot relatif

berat, disimpan pada tempat yang tingginya tidak

melebihi tinggi bahu. Penyimpanan zat kimia harus

diberi label dengan jelas dan disusun menurut abjad.

Zat kimia beracun harus disimpan dalam lemari

(14)

Cara menyimpan bahan laboratorium

Sifat masing-masing bahan harus diketahui sebelum melakukan penyimpanan, seperti :

1. Bahan yang dapat bereaksi dengan kaca sebaiknya disimpan dalam botol plastik. 2. Bahan yang dapat bereaksi dengan plastik sebaiknya disimpan dalam botol kaca. 3. Bahan yang dapat berubah ketika terkena matahari langsung, sebaiknya disimpan

dalam botol gelap dan diletakkan dalam lemari tertutup.

4. Bahan yang tidak mudah rusak oleh cahaya matahari secara langsung dapat disimpan dalam botol berwarna bening. 5. Bahan berbahaya dan bahan korosif sebaiknya disimpan terpisah dari bahan

lainnya.

6. Penyimpanan bahan sebaiknya dalam botol induk yang berukuran besar dan dapat pula menggunakan botol berkran.

7. Pengambilan bahan kimia dari botol sebaiknya secukupnya saja sesuai kebutuhan praktikum pada saat itu.

8. Sisa bahan praktikum disimpam dalam botol kecil, jangan dikembalikan pada botol induk. Hal ini untuk menghindari rusaknya bahan dalam botol induk karena bahan sisa praktikum mungkin sudah rusak atau tidak murni lagi.

(15)
(16)

1. Syarat Laboratorium yang Baik

penempatan bahan kimia di raknya untuk

semakin memudahkan mencari bahan kimia

tertentu.

Alat keselamatan kerja harus selalu

tersedia dan dalam kondisi yang baik

.

Ruangan laboratorium memenuhi standar:

meliputi kondisi ruangan, tata ruangan, kelengkapan

peralatan keselamatan, nomor telepon penting

(pemadam kebakaran, petugas medis), dll.

Ruangan laboratorium memiliki sistem

ventilasi yang baik

. Proses keluar masuk udara

yang stabil. Sirkulasi udara segar yang masuk ke

dalam ruangan. Keduanya harus diperhatikan

(17)

Ruangan laboratorium harus ditata dengan rapi

.

Penempatan bahan kimia dan peralatan percobaan

harus ditata dengan rapi supaya memudahkan untuk

mencarinya. Bila perlu, berikan denah dan panduan

Terutama kotak P3K, alat pemadam api. Berikan juga

nomor telepon penting seperti pemadam kebakaran

dan petugas medis supaya saat terjadi kecelakaan

yang cukup parah dapat ditangani dengan segera.

Berikan juga lembaran tentang cara penggunaan alat

pemadam api dan tata tertib laboratorium.

Laboratorium harus memiliki jalur evakuasi

(18)

2. Tata Tertib Keselamatan Kerja

1.Dilarang mengambil atau membawa keluar alat-alat serta bahan dari laboratorium tanpa seizin petugas laboratorium.

2.Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke laboratorium.

3.Gunakan alat dan bahan sesuai dengan petunjuk praktikum yang diberikan.

4.Jangan melakukan eksperimen sebelum mengetahui informasi mengenai bahaya bahan kimia, alat-alat dan cara pemakaiannya. 5.Bertanyalah jika Anda merasa ragu atau tidak mengerti saat

melakukan percobaan.

6.Mengenali semua jenis peralatan keselamatan kerja dan letaknya untuk memudahkan pertolongan saat terjadi kecelakaan kerja.

7.Pakailah jas laboratorium saat bekerja di laboratorium.

(19)

9.Jika terjadi kerusakan atau kecelakaan, sebaiknya

segera melaporkannya ke petugas laboratorium.

10.Berhati-hatilah bila bekerja dengan asam kuat reagen

korosif, reagen-reagen yang volatil dan mudah

terbakar.

11.Setiap pekerja di laboratorium harus mengetahui

cara memberi pertolongan pertama pada kecelakaan

(P3K).

12.Buanglah sampah pada tempatnya.

13.Usahakan untuk tidak sendirian di ruang

laboratorium.

14.Jangan bermain-main di dalam ruangan laboratorium.

15.Lakukan latihan keselamatan kerja secara periodik.

16.Dilarang merokok, makan dan minum di

(20)

3. Alat Keselamatan Kerja

Berikut adalah alat-alat keselamatan kerja yang ada

di laboratorium. Pastikan semuanya tersedia dan

Anda tahu dimana letaknya.

Pemadam kebakaran (hidrant)

Eye washer

Water shower

Kotak P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan)

Jas Laboratorium

Peralatan pembersih

Obat-obatan

Kapas

(21)
(22)

Animal hazard

: Mungkin hewan itu beracun karena telah

disuntik zat-zat hasil eksperimen atau dapat menggigit dan

mencakar Anda.

Sharp instrument hazard

: Cdari benda-benda yang tajam.

Heat hazard

:bahaya yang berasal dari benda yang panas,

akan kepanasan jika menyentuh benda tersebut dalam

keadaan aktif atau menyala.

Glassware hazard

: bahaya yang berasal dari benda yang

mudah pecah

Chemical hazard

: bahaya yang berasal dari bahan kimia.

Bisa saja bahan kimia itu dapat membuat kulit kita gatal

dan iritasi.

Electrical hazard

: bahaya yang berasal dari benda yang

(23)

Eye & face hazard :

bahaya yang berasal dari benda-benda yang

dapat membuat iritasi pada mata dan wajah. Gunakan masker atau

pelindung wajah sebelum menggunakan bahan tersebut.

Fire hazard

: bahaya yang berasal dari benda yang mudah

terbakar. Contoh kerosin (minyak tanah) dan spiritus.

Biohazard

: bahaya yang berasal dari bahan biologis. Bahan

tersebut bisa dapat menyebabkan penyakit mematikan seperti

AIDS. Contoh tempat pembuangan jarum suntik.

Laser radiation hazard

adalah bahaya yang berasal dari sinar

laser.

Radioactive hazard

: bahaya yang berasal dari benda radioaktif.

Benda ini dapat mengeluarkan radiasi dan jika terpapar terlalu

lama maka akan menyebabkan kanker.

(24)

5. Cara Memindahkan Bahan Kimia

Sebelum memindahkan bahan kimia, hal yang harus

dilakukan adalah mengetahui segala informasi tentang

bahan kimia yang akan dipindahkan, cara membawa,

bahaya yang ditimbulkan, dll. Pindahkanlah sesuai

kebutuhan dan jangan berlebihan. Bila ada sisa bahan

kimia, jangan dikembalikan ke tempatnya semula karena

dapat menyebabkan kontaminasi pada bahan kimia asal.

Untuk memindahkan bahan kimia yang berwujud cair,

pindahkan dengan menggunakan batang pengaduk atau

pipet tetes. Hindari percikan karena bisa menyebabkan

iritasi pada kulit. Jangan menaruh tutup botol diatas meja

supaya tutup botol tidak kotor oleh kotoran di atas meja.

Untuk memindahkan bahan kimia yang berwujud padat,

(25)

6. Pembuangan Limbah

limbah dapat mencemari lingkungan. Maka dari itu, kita perlu menangani

limbah dengan tepat. Limbah kimia hendaknya dibuang di tempat khusus karena beberapa jenis zat kimia sangat berbahaya bagi lingkungan. Buang segera limbah sehabis melakukan percobaan. Sementara limbah lainnya seperti kertas, korek api dan lainnya dibuang di tempat sampah. Sebaiknya pisahkan limbah organik dan non-organik supaya pengolahan sampahnya lebih mudah.

7. Penanganan Kecelakaan

Hal yang paling utama adalah jangan panik dan ikuti prosedur

penanganan kecelakaan yang baik dan benar. Cari bantuan petugas laboratorium untuk membantu. Bila perlu, panggil petugas medis atau pemadam kebakaran.

Bila terkena bahan kimia, bersihkan bagian kulit yang terkena bahan kimia

sampai bersih. Kulit yang terkena jangan digaruk supaya tidak menyebar. Korban dibawa keluar dari laboratorium supaya mendapatkan oksigen. Bila kondisi cukup parah, panggil petugas kesehatan secepatnya.

Bila terjadi kebakaran karena bahan kimia atau korsleting listrik, segera

(26)

TEKNIK KERJA DI LABORATORIUM

TEKNIK KERJA DI LABORATORIUM

Pertama yang perlu

1. Gunakan perlatan kerja seperti kacamata pengaman untuk

melindungi mata, jas laboratorium untuk melindungi pakaian dan

sepatu tertutup untuk melindungi kaki.

2. Dilarang memakai perhiasan yang dapat rusak karena bahan

Kimia.

3. Dilarang memakai sandal atau sepatu terbuka atau sepatu

berhak tinggi.

4. Wanita/pria yang berambut panjang harus diikat.

Bekerja aman dengan bahan kimia

1.Hindari kontak langsung dengan bahan Kimia.

2.Hindari mengisap langsung uap bahan Kimia.

3.Dilarang mencicipi atau mencium bahan Kimia kecuali ada

perintah khusus.

(27)

Memindahkan bahan Kimia cair

1. Tutup botol dibuka dan dipegang dengan jari tangan sekaligus telapak tangan memegang botol tersebut.

2. Tutup botol jangan ditaruh di atas meja karena isi botol dapat terkotori.

3. Pindahkan cairan melalui batang pengaduk untuk mengalirkan agar tidak memercik.

Memindahkan bahan Kimia padat

1. Gunakan tutup botol untuk mengatur pengeluaran bahan Kimia. 2. Jangan mengeluarkan bahan Kimia secara berlebihan.

3. Pindahkan sesuai keperluan tanpa menggunakan sesuatu yang dapat mengotori bahan tersebut.

Cara memanaskan larutan menggunakan tabung

1. Isi tabung reaksi maksimal sepertiganya.

2. Api pemanas hendaknya terletak pada bagian atas larutan. 3. Goyangkan tabung reaksi agar pemanasan merata.

(28)

Cara memanaskan larutan menggunakan gelas Kimia

1. Gunakan kaki tiga dan kawat kasa untuk menopang gelas Kimia tersebut.

2. Letakkan Batang gelas atau batu didih dalam gelas Kimia untuk mencegah pemanasan mendadak.

3.Jika gelas Kimia digunakan sebagai penangas air, isilah dengan air. Maksimum seperampatnya.

Keamanan kerja di laboratorium

1. Rencanakan percobaan yang akan dilakukan sebelum memulai praktikum. 2. Gunakan peralatan kerja seperti kacamata, jas laboratorium, dan sepatu tertutup untuk melindungi kaki.

3. Dilarang memakai sandal atau sepatu terbuka atau sepatu berhak tinggi. 4. Wanita/pria yang berambut panjang harus diikat.

5. Dilarang makan, minum dan merokok di laboratorium.

6. Jagalah kebersihan meja praktikum, apabila meja praktiukm basah segera keringkan dengan lap basah.

7. Hindari kontak langsung dengan bahan kimia. 8. Hindari mengisap langsung uap bahan kimia.

9. Bila kulit terkena bahan Kimia janganlah digaruk agar tidak tersebar. 10.Pastikan kran gas tidak bocor apabila hendak mengunakan bunsen.

(29)

Penanggulangan Darurat

Terkena bahan kimia

1. Jangan panik.

2. Mintalah bantuan rekan anda yang berada didekat anda. 3. Lihat data MSDS.

4. Bersihkan bagian yang mengalami kontak langsung tersebut (cuci bagian yang mengalami kontak langsung tersebut dengan air apabila memungkinkan).

5. Bila kulit terkena bahan Kimia, janganlah digaruk agar tidak tersebar. 6. Bawa ketempat yang cukup oksigen.

7. Hubungi paramedik secepatnya(dokter, rumah sakit).

Kebakaran

1. Jangan panik.

2. Ambil tabung gas CO2 apabila api masih mungkin dipadamkan. 3. Beritahu teman anda.

4. Hindari mengunakan lift.

5. Hindari mengirup asap secara langsung.

6. Tutup pintu untuk menghambat api membesar dengan cepat (jangan dikunci). 7. Pada gedung tinggi gunakan tangga darurat.

(30)

Gempa bumi

1.Jangan panik.

2.Sebaiknya berlindung dibagian yang

kuat seperti bawah meja, kolong kasur,

lemari.

3.Jauhi bangunan yang tinggi, tempat

penyimpanan zat kimia, kaca.

4.Perhatikan bahaya lain seperti

kebakaran akibat kebocor gas, tersengat

listrik.

5. Jangan gunakan lift.

(31)

Database bahan kimia B3

Bahan kimia jenis B3 (berbau, berbahaya, beracun)

dapat diklasifkasikan sebagai berikut :

a. Mudah meledak

(explosive

)

b. Pengoksidasi (

oxidizing

)

c. Sangat mudah sekali menyala (

highly fammable

)

d. Mudah menyala

(fammable

)

e. Amat sangat beracun (

extremely toxic

)

f. Sangat beracun (

highly toxic

)

g. Beracun (

moderately toxic

)

h. Berbahaya (

harmful

)

i. Korosif (

corrosive

)

j. Bersifat iritasi (

irritant

)

k. Berbahaya bagi lingkungan (

dangerous to the environment

)

l. Karsinogenik (

carcinogenic

)

(32)

PENANGANAN LIMBAH

PENANGANAN LIMBAH

•Pembuangan limbah Setelah selesai melakukan suatu percobaan maka limbah bahan kimia yang digunakan hendaknya dibuang pada tempat yang disediakan, jangan langsung dibuang ke pembuangan air kotor (wasbak) karena dapat menimbulkan polusi bagi lingkungan. Limbah zat organik harus dibuang secara terpisah pada tempat yang tersedia agar dapat didaur ulang,

limbah padat harus dibuang terpisah karena dapat menyebabkan penyumbatan.

• Limbah cair yang tidak berbahaya dapat langsung dibuang. Tetapi harus diencerkan dengan air secukupnya.

1. Buanglah limbah sisa bahan Kimia setelah selesai pengamatan.

2. Buanglah limbah sesuai dengan kategori berikut :

a. Limbah cair yang tidak larut dalam air dan limbah beracun harus dikumpulkan dalam botol

penampung. Botol ini harus tertutup dan diberi label yang jelas.

b. Limbah padat seperti kertas saring, lakmus, korek api dan pecahan kaca dibuang pada tempat sampah.

(33)

Tempat kerja baik di darat, di permukaan air, di dalam tanah, di dalam air

maupun di udara yang berada di wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

Tempat kerja dimana dibuat, dicoba, dipakai atau yang menggunakan mesin,

pesawat, alat, perkakas, peralatan ataupun instalasi berbahaya atau dapat

menimbulkan kecelakaan,

kebakaran

ataupun peledakan.

Dibuat, diolah, digunakan, dijual, diangkut ataupun disimpan bahan atau barang

yang dapat meledak, mudah terbakar, menggigit, beracun, menimbulkan infeksi,

ataupun bersuhu tinggi.

Dikerjakan pembangunan (konstruksi), perbaikan, perawatan, pembersihan

ataupun pembongkaran rumah, gedung atau bangunan lainnya termasuk

bangunan pengairan, saluran atau terowongan bawah tanah, dsb atau dimana

dilakukan pekerjaan persiapan.

Dilakukan usaha pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengerjaan hutan,

pengolahan kayu ataupun hasil hutan lainnya, peternakan, perikanan dan

lapangan kesehatan.

(34)

• Dilakukan pengangkutan barang, binatang ataupun manusia baik di darat, melalui terowongan, di permukaan air, di dalam air maupun di udara

• Dikerjakan bongkar muat barang muatan pada kapal, perahu, dermaga, dok, stasiun, ataupun gudang.

• Dilakukan penyelaman, pengambilan benda ataupun pekerjaan lain di dalam air.

• Dilakukan pekerjaan dalam ketinggian di atas permukaan tanah ataupun perairan.

• Dilakukan pekerjaan dalam ketinggian di atas permukaan tanah atau perairan.

• Dilakukan pekerjaan di bawah tekanan udara ataupun suhu udara yang tinggi ataupun rendah.

• Dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah, kejatuhan benda, terkena lemparan benda, terjatuh ataupun terperosok, hanyut ataupun terlempar.

• Dilakukan pekerjaan dalam tangki, sumur ataupun lubang.

• Termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan

(35)
(36)
(37)
(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)

A. Peralatan pelindung diri

Laboratorium

kimia

merupakan

tempat kerja yang memiliki banyak

potensi bahaya. Ini meliputi larutan

kimia, ledakan reaksi kimia, dan

panas dari peralatan. Tak heran,

orang yang bekerja di sebuah

laboratorium

kimia

harus

menggunakan peralatan pelindung

diri (

personal protective equipment

).

Laboratoriumnya

juga

harus

dilengkapi

dengan

alat-alat

(45)

1. Jas laboratorium

• Jas laboratorium (lab coat) berfungsi melindungi badan dari percikan bahan kimia berbahaya. Jenisnya ada dua yaitu jas lab sekali pakai dan jas lab berkali-kali pakai. Jas lab sekali pakai umumnya

digunakan di laboratorium bilogi dan hewan, sementara jas lab berkali-kali pakai digunakan di laboratorium kimia.

Jas lab kimia bisa berupa:

Flame-resistant lab coat – Jas lab yang bahannya dilapisi material tahan api. Jas lab jenis ini cocok digunakan untuk mereka yang

bekerja dengan peralatan atau bahan yang mengeluarkan panas, misalnya peleburan sampel tanah, pembakaran menggunakan tanur bersuhu tinggi, dan reaksi kimia yang mengeluarkan panas.

100% cotton lab coat – Ini adalah jas lab yang biasanya digunakan di laboratorium kimia umum (misalnya lab kimia pendidikan). Jas lab ini diperkirakan memiliki umur pakai sekitar satu sampai dua tahun. Setelah melewati waktu pakai terebut, jas ini rentan rusak karena pengaruh bahan kimia asam.

Synthetic/cotton blends – Jas lab ini bisa terbuat dari 100%

(46)

2. Kaca mata keselamatan

Percikan larutan kimia atau panas dapat

membahayakan mata orang yang bekerja di

laboratorium. Oleh karena itu, mereka harus

menggunakan kaca mata khusus yang tahan

terhadap potensi bahaya kimia dan panas. Kaca

mata tersebut terbagi menjadi 2 jenis, yaitu

clear

safety glasses

dan

clear safety goggles

.

Clear safety glasses

merupakan kaca mata

keselamatan biasa yang digunakan untuk

melindungi mata dari percikan larutan kimia atau

debu. Sementara itu,

clear safety goggles

(47)

Peralatan pelindung mata ini terdiri dari tiga tipe,

yaitu:

Direct vented goggles

– Umumnya digunakan untuk

melindungi mata dari debu, namun tidak cocok untuk

melindungi mata dari percikan atau uap bahan kimia.

Indirect vented goggles

– Cocok digunakan untuk

melindungi mata dari kilauan cahaya dan debu,

namun tidak cocok untuk melindungi mata dari

percikan bahan kimia.

Non-vented goggles

– Baik digunakan untuk

(48)

3. Sepatu

• Sandal atau sepatu sandal dilarang digunakan ketika Anda bekerja di laboratorium. Mengapa? Karena keduanya tidak bisa melindungi kaki Anda ketika larutan atau bahan kimia yang tumpah.

Sepatu biasa umumnya sudah cukup untuk digunakan sebagai

pelindung. Namun, di laboratorium perusahaan besar, sepatu yang digunakan adalah sepatu keselamatan yang tahan api dan tekanan tertentu. Selain itu, terkadang disediakan juga plastik alas sepatu untuk menjaga kebersihan laboratorium jika sepatu tersebut

digunakan untuk keluar dari laboratorium.

4. Pelindung muka

Seperti namanya, pelindung muka (face shield) digunakan untuk

melindungi muka Anda dari panas, api, dan percikan material

panas. Alat ini biasa digunakan saat mengambil alat laboratorium yang dipanaskan di tanur suhu tinggi, melebur sampel tanah di alat peleburan skala lab, dan mengambil peralatan yang

(49)

5. Masker gas

• Bahan kimia atau reaksi kimia yang dihasilkan bisa mengeluarkan gas berbahaya. Oleh karena itu, masker gas sangat cocok digunakan oleh Anda sehingga gas berbahaya tersebut tidak terhirup. Dilihat dari

jenisnya, masker gas bisa berupa masker gas biasa yang terbuat dari kain dan masker gas khusus yang dilengkapi material penghisap gas

• Masker gas biasa umumnya digunakan untuk keperluan umum,

misalnya membuat larutan standar. Sementara itu, masker gas khusus digunakan saat menggunakan larutan atau bahan kimia yang memiliki gas berbahaya, misalnya asam klorida, asam sulfat, dan asam sulfda.

6. Kaos tangan

• Kaos tangan (glove) melindungi tangan Anda dari ceceran larutan kimia yang bisa membuat kulit Anda gatal atau melepuh.

Macam-macam kaos tangan yang digunakan di lab biasanya terbuat dari karet alam, nitril, dan neoprena.

• Terkait kaos tangan yang terbuat dari karet alam, ada yang dilengkapi dengan serbuk khusus dan tanpa serbuk. Serbuk itu umumnya terbuat dari tepung kanji dan berfungsi untuk melumasi kaos tangan agar

(50)

7. Pelindung telinga

Alat pelindung diri yang terakhir adalah

pelindung telinga (

hear protector

). Alat ini lazim

digunakan untuk melindungi teringa dari bising

yang dikeluarkan perlatatan tertentu, misalnya

autoclave

, penghalus sample tanah (

crusher

),

sonikator, dan pencuci alat-alat gelas yang

menggunakan ultrasonik.

Setiap orang yang terpapar kebisingan dibatasi

dari sisi waktu dan tingkat kebisingan. Batas

kebisingan yang diperbolehkan menurut

(51)

P3K pada kecelakaan kimia

Luka bakar akibat zat kimia

Terkena larutan asam

kulit segera dihapuskan dengan kapas atau lap halus  dicuci dengan air mengalir sebanyak-banyaknya 

Selanjutnya cuci dengan 1% Na2CO3 kemudian cuci lagi dengan air 

Keringkan dan olesi dengan salep levertran.

 Terkena logam natrium atau kalium Logam yang nempel segera diambil 

Kulit dicuci dengan air mengalir kira-kira selama 15-20 menit  Netralkan dengan larutan 1% asam asetat 

(52)

Luka bakar akibat benda panas

Diolesi dengan salep minyak ikan atau levertran 

Mencelupkan ke dalam air es secepat mungkin atau

dikompres sampai rasa nyeri agak berkurang

Luka pada mata

Terkena percikan larutan asam

•   Jika terkena percikan asam encer,

•   Mata dapat dicuci dengan air bersih kira-kira 15 menit

terus-menerus

Dicuci dengan larutan 1% Na

2

CO

3

Terkena percikan larutan basa

•    Dicuci dengan air bersih kira-kira 15 menit terus-menerus

(53)

Keracunan

Keracunan zat melalui pernafasan

Akibat zat kimia karena menghirup Cl

2

, HCl,

SO

2

, NO

2

, formaldehid, amonia

 Menghindarkan korban dari lingkungan zat

tersebut, kemudian pindahkan korban ke

tempat  yang berudara segar

 Jika korban tidak bernafas, segera berikan

(54)

10 Langkah Membangun Sistem Manajemen Keselamatan dan Keamanan Bahan Kimia

1.

Bentuklah Komite Pengawasan Keselamatan dan

Keamanan dan Tunjuk Petugas Pelaksananya

.

Komite pelaksana harus memiliki perwakilan di semua

departement dan diberikan waktu, sumber daya khusus

dan kewenangan yang diperlukan.

2.

Kembangkan pernyataan kebijakan dan

keselamatan

.

Menetapkan kebijakan formal berarti mendefnisikan,

mendokumentasikan, dan menyetujui sistem

manajemen keselamatan dan keamanan bahan kimia.

Pernyataan kebijakan formal harus menetapkan harapan

(55)

3. Terapkan kontrol administratif.

Kontrol administratif menjelaskan peraturan dan prosedur

lembaga tentang praktek keselamatan dan keamanan dan menetapkan tanggung jawab pada individu yang terlibat.

Kontrol ini meliputi

Peraturan keselamatan umum,

Prosedur kebersihan dan perawatan laboratorium,Panduan penggunaan bahan dan peralatan, dan

Dokumen lain yang bisa digunakan untuk menyampaikan

peraturan dan harapan kepada semua petugas laboratorium.

4. Identifkasi dan atasi situasi yang sangat berbahaya.Pelaksanaan evaluasi berbasis resiko akan menentukan dampak

dan kecukupan upaya kontrol yang ada, memprioritaskan

kebutuhan, dan menerapkan tindakan perbaikan berdasarkan tingkat kepentingan dan sumber daya yang tersedia.

Informasi ini akan memberi dasar bagi terciptanya sistem

(56)

5. Evaluasi fasilitas dan atasi kelemahannya.

• Keselamatan dan keamaanan harus dipertimbangkan saat merancang dan merawat laboratorium dan ruang kerjanya. Laboratorium harus dirancang untuk memudahkan kerja experiment serta mengurangi kecelakaan.

6.Terapkan prosedur manajemen bahan kimia.

• Manajemen bahan kimia  merupakan komponen yang sangat penting dari program keselamatan laboratorium.

• Manajemen Bahan kimia meliputi:

• Prosedur untuk pembelian dan penanganan bahan kimia

• Ventilasi yang memadai

• Penggunaan peralatan perllindungan diri secara tepat

• Peraturan dan prosedur lemba untuk tumpahan dan keadaan darurat

• Penyimpanan bahan kimia,

• Pelacakan inventaris bahan kimia,

• Pengangkutan dan pengiriman bahan kimia,

(57)

7.

Kenakan peralatan kontrol

tekhnik dan peralatan pelindung

diri

.

Peralatan kontrol tekhnik seperti lemari

asam, merupakan metoda utama untuk

mengontrol bahaya di laboratorium

bahan kimia. Peralatan pelindung diri,

seperti kaca mata pelindung percikan

bahan kimia dan pelindung wajah,

(58)

8. Rencanakan keadaan darurat.

Langkah langkah pengembangan rencana keadaan darurat meliputi :

• Menilai jenis kecelakaan yang mungkin terjadi

• Mengidentifkasi pembuat keputusan dan pemangku kepentingan serta prioritas laboratorium.

• Membuat rencana keadaan darurat yang teridentifkasi dalam langkah pertama

• Melatih staf tentang prosedur yang dijabarkan dalam rencana tersebut.

9. Identifkasi dan atasi halangan sesuai dengan praktik terbaik keamanan dan  keselamatan .

• Praktik keamanan dan keselamatan yang baik termasuk meminta semua petugas senantiasa mematuhi kebijakan dan prosedur.

Namun, mengubah perilaku dan memupuk budaya praktik terbaik sering kali merupakan upaya yang menantang.

• Lembaga harus mengidentifkasi halangan dan menetapkan insentif agar petugas laboratorium mematuhi upaya keselamatan dan

(59)

10.

Latihan, komunikasikan dan bina

.

Cara terbaik untuk mnciptakan budaya

keselamatan di tempat kerja adalah dengan

memberi teladan yang baik sertiap hari dengan

mematuhi dan menegakkan peraturan dan

prosedur keselamatan dan keamanan setiap hari.

Sangatlah penting untuk membentuk sistem

pelatihan dan pembinaan semua orang yang

bekerja di laboratorium dan terdokumentasi

dengan baik.

Setiap lembaga harus menentukan saluran

(60)

Kombinasi Bahan yang harus

dihindari

bahan dibawah ini berpotensi terjadi

kecelakaan kerja, oleh karenanya harus

dihindari.

a.Natrium atau Kalium dg air

b.Amonium nitrat, serbuk seng dan air

c.Kalium nitrat dg natrium asetat

d.Nitrat dengan ester

e.Peroksida dg magnesium, seng atau

aluminium

(61)

Gas Berbahaya

Gas gas tersebut adalah :

a.Bersifat Iritasi gas HCl, HF, nitrat dan

nitrit, klorin,sulfur dioksida ( cermati

baunya yg nyegrak).

b.Karbon monoksida sangat mematikan,

semua reaksi yang menghasilkan gas

tersebut dihindari, karena tidak berwarna,

dan tidak berbau

c.Hidrogen sianida berbau seperti almond

(62)

Kebakaran bisa saja terjadi di laboratorium, karena di

dalamnya banyak tersimpan bahan yang mudah

terbakar. Bila terjadi kebakaran maka :

a.Jangan Panik

b.Segera bunyikan alarm tanda bahaya

c.Identifkasi bahan yang terbakar (kelas A;B atau C),

padamkan dg kelas pemadam yang sesuai

( Contoh kebakaran klas B bensin, minyak tanah dll

tidak

boleh disiram dg air)

d.Hindari menghirup asap secara langsung, gunakan

masker atau tutup hidung dengan sapu tangan.

e.Tutup pintu untuk menghambat api membesar dg

cepat.

(63)

Peralatan dan Cara Kerja

Bekerja dengan alat alat kimia juga berpotensi

terjadinya kecelakaan kerja, karena itu harus

diperhatikan hal hal sebagai berikut :

a.Botol reagen harus dipegang dg cara pada bagian

label ada pada telapak tangan .

b.Banyak peralatan terbuat dari gelas , hati hati kena

pecahan kaca. Bila memasukkan gelas pada

prop-karet gunakan sarung tangan sebagai pelindung.

c.Ketika menggunakan pembakar spritus hati hati

jangan sampai tumpah di meja karena mudah

terbakar. Jika digunakan bunsen amati keadaan selang

apakah masih baik atau tidak.

d.Hati hati bila mengencerkan asam sulfat pekat, asam

(64)

5.Cara Pemanasan Larutan dalam Tabung Reaksi

• Banyak reaksi yang harus dilakukan pemanasan untuk proses reaksi. Tata cara melakukan pemanasan tabung reaksi adalah :

• a. Isi tabung reaksi sebagian saja, sekitar sepertiganya.

• b. Api pemanas terletak pada bagian bawah larutan.

• c. Goyangkan tabung agar pemanasan merata.

• d. Arah mulut tabung reaksi pada tempat yang kosong agar percikannya

tidak mengenai orang lain.

6.Cara memanaskan dg gelas Kimia

• Pemanasan yang dilakukan menggunakan gelas kimia ( bukan tabung reaksi) maka harus memperhatikan aturan sebagai berikut :

• a.Gunakan kaki tiga sebagai penopang gelas kimia tersebut.

• b.Letakkan batang gelas atau batu didih pada gelas kimia untuk menghindari pemanasan mendadak.

(65)

Peraturan Keselamatan Kerja

Tujuan Peraturan Keselamatan Kerja

dimaksudkan untuk menjamin :

a.Kesehatan , keselamatan dan kesejahteraan

orang yg bekerja di laboratorium.

b.Mencegah orang lain terkena resiko

terganggu kesehatannya akibat kegiatan di

laboratorium.

c.Mengontrol penyimpanan dan penggunaan

bahan yang mudah terbakar dan beracun

d.Mengontrol pelepasan bahan berbahaya

(66)

Aturan umum yang terdapat dalam peraturan itu

menyangkut hal hal sebagai berikut

:

• a. Orang yang tak berkepintingan dilarang masuk laboratorium.

• b. Jangan melakukan eksprimen sebelum mengetahui informasi mengenai bahaya bahan , alat alat dan cara pemakaiannya.

• c. Kenali semua jenis peralatan keselamatan kerja dan letaknya untuk memudahkan saat terjadi kecelakaan kerja.

• d. Harus tau cara pemakaian alat emergensi : pemadam kebakaran, eye shower, respirator dan alat keselamatan kerja yang lain.

• e. Setiap laboran /Pekerja laboratorium harus tau memberi pertolongan darurat

• f. Latihan keselamatan harus dipraktekkan secara periodik bukan dihapalkan .

• g. Dilarang makan minum dan merokok di lab, hal ini berlaku juga untuk laboran dan kepala Laboratorium.

• h. Terlalu banyak bicara, berkelakar dan lelucon lain ketika bekerja di laboratorium

(67)
(68)

TUGAS

• 1. Apakah yang dimaksud dengan bahaya?  

• 2. Apa saja jenis-jenis bahaya itu?  

• 3. Apa saja identifkasi yang harus dilakukan sebelum menyusun program k3?

 

• 4. Apa saja jenis-jenis bahan berbahaya di laboratorium itu?

• 5. Bagaimana tingkat bahaya keracunan terhadap manusia?

•  6. Apa saja tingkat kadar dalam racun?  

• 7. Apa saja klasifkasi label untuk bahan bahan berbahaya di laboratorium?

(69)

Jenis-jenis Bahaya: 

Bahaya Benda Bergerak (kinetic hazards)

: a. Benda bergerak lurus (linear movement)

Contoh : mesin penempa, mesin

potong, ban

berjalan, mobil, dll.  

b.  Benda bergerak berputar (rotation)

Contoh : roda, roda gigi, katrol, dll.

c. Benda bergerak tak beraturan

Contoh : debu

d.  Pengangkatan / Pengangkutan

(70)

 

• Bahaya Benda Diam (static hazards)

• : a. Bahaya pebedaan elevasi / gravitasi;  

• b. Bahaya air;

• c.  Bahaya kerusakan perkakas / sarana kerja;

• d. Bahaya konstruksi (jembatan / perancah ambruk dll);

• e.Bahaya pemasangan (sambungan / baut tidak kuat dll).

 

• Bahaya Benda Fisik (physical hazards):

•  a. Cahaya (terang, gelap dll);

• b. Bising;

• c. Suhu (ruang, benda)

• d. Tekanan (tinggi, rendah);     

• e. Radiasi elektromagnetis (ultra violet, infra red dll);

• f. Radiasi ionisasi (rontgen, radioactive/nuklir dll),

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (70 pages)