Hukum Persaingan Usaha (2) Persaingan Usaha

 0  1  14  2018-08-10 22:15:54 Report infringing document

  

HUKUM PERSAINGAN USAHA

SEKSI A

Ujian Akhir Semester

  

Elsa Monica Sara 2012-050-163

UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA

JAKARTA

2015

  1. a). perbedaan-perbedaan mendasar antara isi Peraturan KPPU Nomor 1 tahun 2009 tentang Pra-Notifikasi Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan dengan

  Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Isi dari Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 tahun 2009 tentang Pra-Notifikasi Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan hampirlah sama.

  Hal-hal yang dibahas mencakup mengenai Peleburan, Penggabungan dan Pengambilalihan oleh badan usaha. Tetapi dalam Peraturan KPPU No.1 tahun 2009 terdapat kata Pra-Notifikasi yang artinya adalah, pemberitahuan yang bersifat sukarela oleh pelaku usaha yang akan melakukan penggabungan atau peleburan badan usaha atau pengambilalihan saham untuk mendapatkan pendapat Komisi mengenai dampak yang ditimbulkan dari rencana penggabungan atau peleburan badan usaha atau pengambilalihan (Pasal 1 angka 6 Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 tahun 2009 tentang Pra-Notifikasi Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan). Secara cepat orang dapat membedakan aturan tersebut dengan melihat judul atau aturan tersebut bahwa mengenai hal yang berbeda karena terdapat kata “pra-notifikasi”. Dalam pasal 3 Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 tahun 2009 tentang Pra-Notifikasi Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan disebutkan bahwa pelaku usaha dapat melakukan pra- notifikasi apabila penggabungan badan usaha memenuhi ketentuan salah satunya ialah angka 1 (c), mengakibatkan penguasaan pangsa pasar lebih dari 50% pada pasar bersangkutan. Artinya, pelaku usaha dapat melakukan pra-notifikasi apabila terjadi penguasaan pasar lebih dari 50% pada pasar bersangkutan tersebut. Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan tidak disebutkan hal yang demikian bahwa tidak ada ketentuan yang menyebutkan untuk melakukan wajib pemberitahuan secara tertulis kepada Komisi atas penguasaan pasar lebih dari 50% pada pasar bersangkutan. Pada pasal 3 angka 2 (a), (b) dan (c), disebutkan bahwa industri jasa keuangan baik bank ataupun non-bank berlaku ketentuan yaitu nilai aset pada badan usaha hasil penggabungan atau peleburan melebihi Rp 10.000.000.000.000,00 (sepuluh triliun rupiah) atau nilai penjualan (omzet) melebihi Rp 15.000.000.000.000,00 (lima belas triliun rupiah) atau mengakibatkan penguasaan pangsa pasar lebih dari 50 % pada pasar bersangkutan wajib untuk melakukan pra-notifikasi. Sedangkan pada pasal 5 angka 3 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan terdapat perbedaan ketentuan untuk melakukan pemberitahuan secara tertulis kepada Komisi yaitu bahwa pelaku usaha dibidang perbankan berkewajiban menyampaikan pemberitahuan secara tertulis apabila nilai aset melebihi Rp 20.000.000.000.000,00 (dua puluh triliun rupiah). Selanjutnya pada Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 tahun 2009 tentang Pra-Notifikasi Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan terdapat ketentuan bagi pra-notifikasi pengambilalihan oleh pelaku usaha apabila memenuhi ketentuan yang terdapat dalam pasal 4 tersebut, sedangkat dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan tidak adanya ketentuan tersebut. Untuk tata cara penyampaian pemberitahuan terdapat dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan sedangkan pada Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 tahun 2009 tentang Pra-Notifikasi Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan tidak terdapat tata cara penyampaian pra-notifikasi tersebut tetapi tercantum dalam lampiran yang merupakan petunjuk pelaksanaan pra-notifikasi penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan. adanya perbedaan dengan Pasal 5 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan

  b. Perubahan yang timbul dengan adanya PP Nomor 57 tahun 2010 terhadap pasal 28 dan

  29 UU nomor 5 tahun 1999 ialah sebagai berikut;

  Untuk melaksanakan ketentuan pasal 28 ayat (3) dan pasal 29 ayat (2) Undang-  Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat maka perlu menetapkan PP Nomor 57 tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Perubahan yang ditimbulkan dengan adanya Peraturan Pemerintah (PP) diatas terhadap pasal 28 dan pasal 29 Undang-Undang No. 5 tahun 1999 yaitu, dalam pasal 11 (4) PP Nomor 57 tahun 2010 dikatakan bahwa,

  (1) Berdasarkan formulir dan dokumen yang diterima oleh Komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2), Komisi melakukan penilaian.

  (2) Berdasarkan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Komisi memberikan saran, bimbingan, dan/atau pendapat tertulis mengenai rencana Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan lain kepada Pelaku Usaha.

  (3) Saran, bimbingan, dan/atau pendapat tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan dalam jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya formulir dan dokumen secara lengkap oleh Komisi.

  (4)Penilaian yang diberikan oleh Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bukan merupakan persetujuan atau penolakan terhadap rencana Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan lain yang akan dilakukan oleh Pelaku Usaha, dan tidak menghapuskan kewenangan Komisi untuk melakukan penilaian setelah Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan lain yang bersangkutan berlaku efektif secara yuridis.

  Perubahan yang ditimbulkan adalah dalam pasal 28 Undang-Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat jelas dinyatakan bahwa pelaku usaha dilarang melakukan penggabungan, pengambil alihan saham atau peleburan badan usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat tetapi dalam pasal 11 (4) PP Nomor 57 tahun 2010 seperti disebutkan diatas maka penilaian yang diberikan oleh komisi bukan berarti menolak perencana dalam penggabungan atau peleburan tersebut sehingga apabila dalam perencanaan tersebut dilihat mengandung unsur persaingan usaha tidak sehat maka bukan merupakan penolakan ataupun persetujuan terhadap perencanaan penggabungan, peleburan atau pengambilalihan tersebut, tetapi komisi memberikan saran, bimbingan dan atau pendapat tertulis. Maka ketika penggabungan, peleburan atau pengambilalihan tersebut telah dibentuk dan berlaku, komisi dapat melakukan penilain kembali yang kemudian harus berdasarkan ketentuan yang ada dan tidak adanya unsur monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

  c. Dampak yang dialami oleh pelaku-pelaku usaha dengan adanya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat ini adalah, pelaku usaha yang akan melakukan penggabungan, peleburan dan atau pengambialihan saham harus lebih memperhatikan perencanaannya tersebut. Karena dalam PP ini telah diatur secara rinci mengenai hal-hal apa saja yang dapat menimbulkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Selain itu adanya komisi penilaian disini membuat para pelaku usaha lebih memperhatikan usaha yang dilakukannya tersebut dalam pengontrolan usahanya tersebut sehingga komisi tidak menemukan hal-hal yang melanggar ketentuan dalam penilaian komisi tersebut.

  2. a. Posisi Dominan (dominant position) adalah keadaan di mana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan pangsa pasar yang dikuasai, atau pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi di antara pesaingnya di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses pada pasokan atau penjualan, serta kemampuan untuk menyesuaikan pasokan atau permintaan barang atau jasa tertentu. (Pasal 1 angka 4 Undang-Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat). Posisi Dominan adalah pelaku usaha menjadi lebih unggul (market leader) pada

  

  Posisi Dominan adalah keadaan dimana pelaku usaha menjadi pemimpin dan menguasai pasar tersebut sehingga tidak mempunyai pesaing yang dapat mengalahkannya. Maka posisi pelaku usaha tertinggi diantara pesaing lainnya dalam pasar yang bersangkutan. Contoh: Di Indonesia terdapat beberapa produk baterai yang dihasilkan oleh beberapa perusahaan yang berbeda. Akan tetapi pangsa pasar baterai nasional di Indonesia masih di dominasi oleh produk ABC (PT. Arta Boga Cemerlang). Produk baterai ABC ditetapkan menyalahgunakan posisi dominannya dengan melakukan program geser competitor. Kebanyakan dari masyarakat Indonesia menggunakan produk tersebut dibandingkan dengan produk baterai lainnya. Oleh karena itu produk baterai ABC ini menjadi lebih unggul dan mempunyai posisi tertinggi di antara pesaing lainnya di pasar bersangkutan. Penyalahgunaan posisi dominan adalah dalam posisi dominan pelaku usaha mempunyai hal-hal yang tidak dilarang oleh Undang-Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dengan ketentuan pencapaian posisi dominan tersebut dilakukan melalui persaingan usaha yang sehat, maka dengan adanya hal-hal yang tidak dilarang tersebut memungkinkan suatu pelaku usaha dapat melakukan penyalahgunaan terhadap apa yang diperbolehkan dalam hal posisi dominan ini. Sehingga bentuk-bentuk penyalahgunaan posisi dominan atau hambatan persaingan usaha lainnya yang dapat dilakukan oleh pelaku usaha yang mempunyai posisi dominan telah ditetapkan dalam pasal 25 ayat 1 dan pasal 19 Undang-Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Contoh: Carrefour merupakan salah satu dari supermarket terbesar di Indonesia. Dibandingkan dengan supermarket lainnya Carrefour mempunyai market power dikarenalan mempunyai gerai terbanyak. Dengan market power tersebut menimbulkan ketergantungan bagi pemasok barang untuk memasukkan barang atau produknya agar dapat dijual di Carrefour. Oleh karena itu adanya pemberlakuan minus margin yang mengakibatkan salah satu pemasok barang harus menghentikan pasokan barangnya tersebut kepada pesaing Carrefour yang menjual dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan harga jual di Carrefour untuk produk yang sama. Maka Carrefour melanggar pasal 19 huruf a Undang-Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

  b. Suatu merger bisa saja terjadi penyalahgunaan posisi dominan dikarenakan penggabungan perusahaan yang menjadikan perusahaan tersebut menjadi kuat tetapi hal tersebut dilarang dalam Undang-Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Merger berdiri berdasarkan proses penggabungan oleh satu Perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan Perseroan lain yang telah ada yang mengakibatkan aktiva dan pasiva dari Perseroan yang menggabungkan diri beralih karena hukum kepada Perseroan yang menerima penggabungan dan selanjutnya status badan hukum Perseroan yang menggabungkan diri berakhir karena hukum. Penyalahgunaan posisi dominan tersebut terjadi apabila perseroan tersebut menguasai 50 % atau menguasai 75 % atau lebih pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu sebagaimana disebutkan dalam pasal 25 ayat 2 Undang-Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat). Sehingga apabila perseroan yang bergabung tersebut menjadi lebih kuat dapat menimbulkan posisi dominan yaitu menguasai pasar. Contoh merger: Perusahaan yang melakukan merger adalah antara bank Lippo dengan bank Niaga pada tahun 2008. Kedua perusahaan tersebut bergabung untuk memperkuat posisinya di persaingan global sebagaimana hal tersebut merupakan sifat dan tujuan merger. Setelah proses penggabungam tersebut terjadi kedua bank menyetujui mengubah nama mereka menjadi bank CIMB Niaga. Disini bukan berarti membentuk perusahaan yang baru tetapi hanya mengubah nama perusahaan dari bank Lippo yang bergabung dengan Bank Niaga dan sepakat bank Niaga untuk mengubah namanya menjadi Bank CIMB Niaga. Dalam hal ini penggabungan tersebut menjadikan bank CIMB Niaga merupakan salah satu bank yang terkuat dan dapat bersaing dengan bank-bank lainnya. Sehingga apabila suatu penggabungan perseroan yang menyebabkan perseroan tersebut semakin kuat dan menguasai pasar hal tersebut dilarang oleh Undang-Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Untuk itu suatu merger yang menjadi lebih kuat dalam persaingan usaha untuk tidak memiliki posisi dominan yang melebihi aturan yang telah ditetapkan dalam

  pasal 19, pasal 25, pasal 26, pasal 27 Undang-Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Contoh lainnya yaitu, Flexi dan Esia yang akan melakukan merger. Flexi merupakan operator CDMA terbesar di Indonesia dengan jumlah pelanggan kurang lebih 15 juta, sedangkan esia adalah operator CDMA kedua terbesar di Indonesia dengan 10 juta pelanggan. Apabila flexi dan esia melakukan merger maka dapat dikatakan bahwa merger tersebut akan menguasai pasar industry telekomunikasi CDMA ini. Sehingga dapat mempengaruhi para pelaku usaha pesaing lainnya dalam hal operator telekomunikasi CDMA.

  c. Suatu BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang memiliki posisi dominan terhadap suatu pasar dilingkup nasional tidak dapat melakukan penyalahgunaan posisi dominan tersebut. Dikarenakan BUMN bergerak dalam sektor business to customer bukan business to business sehingga yang diutamakan yaitu konsumen bukan dari segi bisnis yang dilakukan. Tetapi yang terjadi sekarang adanya kebijakan bagi BUMN dalam Peraturan Menteri BUMN No. Per-15/MBU/2012 yang membuat perusahaan swasta nasional akan terhambat memperoleh

  

  kesempatan dipengadaan barang dan jasa dilingkungan BUMNDan juga mekanisme dari kebijakan tersebut menghasilkan barang dan jasa yang tidak efisien dari sisi harga dan atau kualitas, khususnya untuk industri yang terkonsentrasi. Selain itu BUMN menjadi meningkatkan kekuatan dalam posisi dominan tersebut dipasar lain (melalui penutupan pasar/foreclousure).

  Sinergi BUMN dalam Pengadaan Barang dan Jasa,

  

  Penunjukkan yang dilakukan tersebut juga tidak termasuk dalam pengecualian

  pasal 50 huruf a Undang-Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, dikarenakan tidak terdapatnya pasal tersebut di Undang-Undang No.19 tahun 2003 tentang BUMN yang menetapkan peraturan terkait penunjukkan langsung ataupun pengadaan barang dan jasa khusus BUMN. Oleh karena itu KPPU memberikan saran kepada menteri BUMN untuk mencabut atau mendesain ulang kebijakan sinergi BUMN dalam pengadaan barang dan jasa di lingkungan BUMN dengan disesuaikan dengan prinsip persaingan usaha yang sehat. Maka inti dari jawabannya yaitu, BUMN tidak dapat melakukan penyalahgunaan posisi dominan dikarenakan hal tersebut telah dilarang oleh Undang-Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dan dalam pasal 51 Undang- Undang No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat merupakan pedoman yang merupakan petunjuk pelaksanaan untuk memahami, mengerti dan mensosialisasikan persaingan usaha yang sehat khususnya yang berkaitan dengan monopoli dan atau pemusatan kegiatan yang berkaitan dengan produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa yang menguasai hajat hidup orang banyak serta cabang produksi yang penting bagi negara.

  3. Perkara No. 12/KPPU-I/2014 Penggugat: Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia (KPPU RI) Tergugat:

  1. PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) selanjutnya disebut dengan PT Pelindo II

  2. PT Multi Terminal Indonesia Jenis Larangan: Perjanjian Tertutup dan Monopoli. Dengan dugaan Pelanggaran Pasal 17 dan Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dalam Sektor Pelabuhan tentang Kewajiban Penggunaan Gantry Lufting Crane untuk Kegiatan Bongkar Muat di Pelabuhan Tanjung Priok Penyebabnya: kegiatan usaha bongkar muat barang dan kegiatan penyediaan alat bongkar muatan di Pelabuhan Tanjuk Priok tidak adanya kebebasan bagi pelaku usaha untuk

  

bersaing dalam menyediakan pengadaan alat kegiatan bongkar muatan tersebut.

  Dikarenakan Pelabuhan Tanjut Priok telah menyediakan crane darat Gantry Luffing Crane dan juga PT. Multi Terminal Indonesia mengeluarkan surat pemberitahuan yang mensyaratkan bagi seluruh pengguna untuk menggunakan jasa dermaga sandar kapal di Pelabuhan Tanjung Priok menggunakan Grantry Luffing Crane (GLC).

  Prosedur persidangan:

  a. tahan pengumpulan indikasi

  b. tahap pemeriksaan pendahuluan

  c. tahan pemeriksaan lanjutan

  d. tahap penjatuhan putusan

  e. tahap eksekusi putusan Putusan KPPU:

  1. Terlapor 1 terbukti secara sah melanggar pasal 15 ayat (2) Undang-Undang No. 5

  tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat pada dermaga Pelabuha Tanjung Priok 101, 101 utara dan 102.

  2. Terlapor II terbukti secara sah melanggar pasal 15 ayat 2 Undang-Undang No. 5

  tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat pada pasar yang bersangkutan yaitu melakukan pengadaan barang berupa menyediakan crane darat Gantry Luffing Crane untuk bongkar muatan tersebut di dermaga 114 dan 155 Pelabuhan Tanjung Priok 3. Terlapor 1 dan Terlapor II tidak terbukti melanggar pasal 17 Undang-Undang No.

  5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yaitu berkaitan dengan monopoli bahwa Terlapor 1 dan II hanya menyediakan barang berupa Gantry Luffing Crane.

  4. Membatalkan Surat Direksi PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Nomor

  TM.15/3/15/PI.II-11 tanggal 8 November 2011 mengenai pemanfaatan alat bongkar muat baru, Surat Direksi PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Nomor TM.15/2/7/PI.II-12 tanggal 9 Mei 2012 mengenai Pengoperasian Gantry Luffing Crane, Surat Nomor FP.003/103/10/CPTK-12 tanggal 21 September 2012 perihal Surat Pemberitahuan, dan surat-surat atau kesepakatan lainnya yang mengatur mengenai kewajiban penggunaan alat bongkar muat crane darat Gantry Luffing Crane di dermaga 101, 101 utara dan 102

  5. Membatalkan Surat Edaran PT Multi Terminal Indonesia Nomor

  HM.498/8/17/MTI-2011 tanggal 30 November 2011 perihal penggunaan peralatan bongkar muat, Kesepakatan Bersama antara PT Multi Terminal Indonesia (PT MTI) dengan Mitra Kerja PT Multi Terminal Indonesia tentang Pemakaian Crane Darat (GLC) Untuk Kegiatan Bongkar Muat berdasarkan Berita Acara Nomor UM.268/4/2C/MTI-2012 tanggal 21 Mei 2012, Surat Pemberitahuan Nomor TH.12/1/12/MTI-2012 tanggal 27 Agustus 2012 perihal penggunaan alat bongkar muat/Gantry Luffing Crane (GLC) dan surat-surat atau kesepakatan lainnya yang mengatur mengenai kewajiban penggunaan alat bongkar muat crane darat Gantry Luffing Crane di dermaga 114 dan 115

  6. Memerintahkan Terlapor I untuk mengumumkan pembatalan surat-surat dan

  kesepakatan sebagaimana tersebut pada diktum 4 dan diktum 5 di atas pada 2 (dua) surat kabar harian berbahasa Indonesia yang beredar secara nasional selama 1 (satu) hari kerja dengan ketentuan pengumuman tersebut dimuat pada halaman khusus berita ekonomi dengan ukuran sepatutnya.

  7. Memerintahkan Terlapor I untuk menyerahkan bukti pengumuman sebagaimana

  dimaksud pada diktum 6 di atas kepada KPPU;

  8. Memerintahkan Terlapor II untuk menyerahkan salinan bukti pembayaran denda ke KPPU, setelah melakukan pembayaran denda.

  Sanksi:

  1. Menghukum Terlapor II, membayar denda sebesar Rp 5.332.500.000,00 (lima

  milyar tiga ratus tiga puluh dua juta lima ratus ribu rupiah) yang harus disetor ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di bidang persaingan usaha Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah

  Analisis Perkara:

  Pasal 15 terbukti melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang dalam pasal tersebut menyatakan bahwa,

  (1) Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa hanya akan memasok atau tidak memasok kembali barang dan atau jasa tersebut kepada pihak tertentu dan atau pada tempat tertentu. (2) Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain yang memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa tertentu harus bersedia membeli barang dan atau jasa lain dari pelaku usaha pemasok. (3) Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian mengenai harga atau potongan harga tertentu atas barang dan atau jasa, yang memuat persyaratan bahwa pelaku usaha yang menerima barang dan atau jasa dari pelaku usaha pemasok:

  a. harus bersedia membeli barang dan atau jasa lain dari pelaku usaha pemasok; atau b. tidak akan membeli barang dan atau jasa yang sama atau sejenis dari pelaku usaha lain yang menjadi pesaing dari pelaku usaha pemasok.

  Maka terkait dengan diterbitkannya Surat Pemberitahuan Kewajiban Penggunaan GLC oleh PT Pelindo II (Persero) Nomor FP.003/103/10/2012 yaitu pada tanggal 21 September 2012 bukan kualifkasi perjanjian pengikatan (tying agreement) karena tidak mencantumkan sanksi yang bersifat paksaan. Jika dibaca dengan cermat tidak ada satu katapun yang berbunyi sanksi larangan tambat di dermaga 101, 101 utara dan 102 yang bersifat paksaan agar menggunakan GLC pada surat tersebut. Tetapi dalam hal ini PT Pelindo II (Persero) telah menerbitkan surat pemberitahuan kepada pihak kapal untuk wajib menggunakan jasa yang disediakan oleh pihak pelabuhan tersebut sehingga mau tidak mau jasa yang disediakan oleh pihak pelabuhan tersebut harus dipakai atau digunakan. Dan perjanjian terebut dilakukan oleh pihak terlapor dengan pelaku usaha untuk mengharuskan pihak yang menerima jasa tersebut menggunakan atau membeli jasa Gantry Luffing Crane. Maka terbuktilah Pasal 15 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

  Pasal 17 tidak terbukti terjadinya pelanggaran. Dikarenakan dalam pasal 17 Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat menyatakan bahwa, (1) Pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat. (2) Pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila:

  a. barang dan atau jasa yang bersangkutan belum ada substitusinya; atau

  b. mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk ke dalam persaingan usaha barang dan atau jasa yang sama; atau c. satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.

  Berkaitan ayat 2 (a), fakta bahwa adanya tindakan atau perilaku terlapor I dan terlapor II dalam mengadakan penggunaan Gantry Luffing Crane bagi kapal yang ingin bersandar dan membongkar muatannya di Pelabuhan Tanjung Priok benar adanya. Yang menyebabkan pelayanan jasa bongkar muat dimasing-masing dermaga tersebut hanya dilayani oleh GLC dan menjadikan satu-satunya alat yang harus dipakai oleh para pihak kapal. Namun GLC bukanlah alat bongkar muat yang tidak memiliki substansi. Dikarenakan adanya pengumuman dari Terlapor I di dermaga 101, 101 utara dan 102, dan perjanjian kerja sama Terlapor II di dermaga 114 dan 115 yang dikuatkan dengan surat pemberitahuan Terlapor II tentang kewajiban penggunaan alat bongkar muat GLC menyebabkan penggunaan crane kapal dan crane darat lainnya menjadi tidak boleh digunakan sehingga di masing- masing dermaga tersebut hanya dapat menggunakan alat bongkar muat GLC. Artinya, GLC bukanlah satu-satunya alat bongkar muat yang tidak memiliki subtitusi di masing-masing dermaga perkara a quo sehingga unsur Pasal 17 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tidak terpenuhi.

  DAFTAR PUSTAKA Buku: Lubis, Andi Fahmi et al., Hukum Persaingan

  Usaha Antara Teks & Konteks, Jakarta:ROV Creative Media, 2009 Internet: KPPU, “KPPU lewati Semester Pertama 2014 dengan Lima Saran Kebijakan: Kebijakan Sinergi BUMN dalam Pengadaan Barang dan Jasa, diakses 26 Mei 2015,

  

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait
Tags

Hukum Persaingan Usaha Persaingan Usaha

Hukum Persaingan Usaha Aspek Hukum Persaingan Usaha Hukum Persaingan Usaha Indonesia

Makalah Hukum Persaingan Usaha Tiongkok

Persaingan Usaha

Buku Panduan Hukum Persaingan Usaha

Makalah Hukum Persaingan Usaha Kartel

Hukum Perlindungan Konsumen Dan Persaingan Usaha Persaingan Usaha Kartu Cellular

Hukum Persaingan Usaha (2) Persaingan Usaha

Gratis

Feedback