Pengantar Filsafat Pengertian Ciri ciri

 0  0  29  2018-10-02 09:39:50 Laporkan dokumen yang dilanggar

  Kata Pengantar

  Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Filsafat mengenai Pengantar Filsafat ini.

  Adapun makalah tentang Pengantar Filsafat ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini. Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini.

  Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah Pengantar Filsafat ini kita dapat mengambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.

  Samata, Maret 2015 Penyusun

  Daftar Isi

  Kata Pengantar

  1 Daftar isi

  2 Bab I : Pendahuluan

  A. Latar Belakang

  3 B. Rumusan Masalah

  3 C. Tujuan Penulisan

  3 Bab II : Pembahasan

  A. Pengertian Filsafat

  5 B. Ciri-Ciri Filsafat

  11 C. Misi Filsafat

  16 D. Lapangan Filsafat

  19 E. Urgensi Filsafat

  26 Bab III : Penutup

  A. Kesimpulan

  27 B. Saran

  27 Daftar Pustaka

  28

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Filsafat dikatakan sebagai ilmu karena filsafat mengandung empat pertanyaan ilmiah

  yaitu : bagaimana, mengapa, kemana dan apa. Pertanyaan bagaimana mengandung sifat- yang dapat ditangkap atau tampak oleh indera, jawaban yang diperoleh bersifat deskriptif. Pertanyaan mengapa mengandung sebab (asal mula) suatu obyek, jawaban yang diperoleh bersifat kausalitas. Pertanyaan kemana menanyakan tantang apa yang terjadi dimasa lampau, sekarang dan yang akan datang, pengetahuan yang diperoleh adalah: pengetahuan yang timbul dari hal yang selalu berulang dapat dijadikan sebagai pedoman, pengetahuan yang terkandung dalam adat istiadat atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat dan pengetahuan yang timbul dari pedoman yang dipakai (hukum) sebagai suatu hal yang dijadikan pegangan.

  Pertanyaan apakah menanyakan tentang hakikat atau inti mutlak dari suatu hal, jawaban yang diperoleh mengetahui hal-hal yang sifatnya sangat umum, universal danabstrak.

  B. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian filsafat ?

  2. Apa sajakah ciri-ciri filsafat ?

  3. Apa misi/tujuan filsafat ?

  4. Apa saja yang mencakup lapangan filsafat ?

  5. Apa saja yang menjadi urgensi filsafat ?

  C. Maksud dan Tujuan

  Untuk memenuhi salah satu tugas diskusi mata kuliah Filsafat Pendidikan, adapun guna mempelajari filsafat adalah Menambah ilmu pengetahuan sehingga dapat membantu menyelesaikan masalah dengan bijaksana, membuat manusia lebih hidup lebih tanggap (peka) terhadap diri dan lingkungannya, membantu manusia untuk disadari kita pernah berfilsafat, namun kita tidak menyadarinya karena ketidaktahuan kita tentang pengertian filsafat itu sendiri serta kita pun belum mengetahui tujuan mempelajari filsafat dan ciri-ciri filsafat, misi filsafat, lapangan (objek kajian filsafat), serta urgensi filsafat itu sendiri. Atas dasar tersebut pembuatan tugas ini dijadikan acuan pembelajaran mandiri.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Filsafat

a. Secara Etimologi

  Filsafat secara harfiah berasal kata Philo berarti cinta, Sophos berarti ilmu atau hikmah, jadi filsafat secara istilah berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah. Pengertian dari teori lain menyatakan kata Arab falsafah dari bahasa Yunani, philosophia: philos berarti cinta (loving), Sophia berarti pengetahuan atau hikmah (wisdom), jadi Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta pada kebenaran. Pelaku filsafat berarti filosof, berarti: a lover of wisdom. Orang berfilsafat dapat dikatakan sebagai pelaku aktifitas yang menempatkan pengetahuan atau kebijaksanaan sebagai sasaran utamanya. Ariestoteles (filosof Yunani kuno) mengatakan filsafat memperhatikan seluruh pengetahuan, kadang- kadang disamakan dengan pengetahuan tentang wujud (ontologi).

  Adapun pengertian filsafat mengalami perkembangan sesuai era yang berkembang pula. Pada abad modern (Herbert) filsafat berarti suatu pekerjaan yang timbul dari pemikiran. Terbagi atas 3 bagian: logika, metafisika dan estetika (termasuk di dalamnya etika). Filsafat adalah mencintai kebijaksanaan, konsep Plato memberi istilah dialektika yang berarti seni berdiskusi, konsep Cicero menyebutnya sebagai ibu dari semuai seni, konsep Al Farabi adalah menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada, konsep Rene Descartes menyatakan kumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Dari keragaman pengertian filsafat tersebut. Penulis memberikan suatu konsep bahwa filsafat mempunyai pengertian yang multi dimensi.

  Diamati dari aspek historis, diketahui bahwa kata filsafat pertama kali diperkenalkan oleh orang filosof Yunani yang bernama Phytagoras (582-496 SM). Walaupun pada saat itu kata filsafat belum memiliki pengertian secara jelas, namun ditangkap makna bahwa berfilsafat adalah proses berpikir kearah yang mencari kebenaran. Kemudian pada 470-399 SM, Socrates seorang filosof dari kaum sophist menggunakan kembali kata filsafat dengan makna yang diperjelas fenomena kehidupan dari kritis tersebut diperoleh yang dan pemikiran manusia secara kritis, dan hasil pemikiran yang kritis tersebut diperoleh dari proses berpikir setajam tajamnya dan merasa sedalam dalamnya, dalam rangka mencapai dan menyelesaikan permasalahan hidup dan kehidupan ini.

b. Pengertian Filsafat Secara Umum

  Filsafat menempatkan pengetahuan sebagai sasaran, maka dengan demikian pengetahuan tidak terlepas dari pendidikan. Jadi, filsafat sangat berpengaruh dalam aktifitas pendidikan seperti manajemen pendidikan, perencanaan pendidikan, evaluasi pendidikan, dan lain-lain. Karena ada pengaruh tersebut, maka dalam makalah ini mencoba untuk membahas tentang keterkaitan paradigma aliran-aliran filsafat tersebut dengan kajian pendidikan khususnya manajemen pendidikan.

  Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhanFilsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian ( konsep ); Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan jawabannya oleh para ahli filsafat.

  Dari arti di atas, kita kemudian dapat mengerti filsafat secara umum. Filsafat adalah suatu ilmu, meskipun bukan ilmu vak biasa, yang berusaha menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Bolehlah filsafat disebut sebagai: suatu usaha untuk berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Hal yang membawa usahanya itu kepada suatu kesimpulan universal dari kenyataan partikular atau khusus, dari hal yang tersederhana sampai yang terkompleks. Filsafat, “Ilmu tentang hakikat”. Di sinilah kita memahami perbedaan mendasar antara “filsafat” dan “ilmu (spesial)” atau “sains”. Ilmu membatasi wilayahnya sejauh alam yang dapat pertanyaan “bagaimana” dan “apa sebabnya”. Filsafat mencakup pertanyaan- pertanyaan mengenai makna, kebenaran, dan hubungan logis di antara ide-ide dasar (keyakinan, asumsi dan konsep) yang tidak dapat dipecahkan dengan ilmu empiris. Philosophy: Inquiry into the nature of things based on logical reasoning rather than empirical methods (The Grolier Int. Dict.).

  Filsafat meninjau dengan pertanyaan “apa itu”, “dari mana” dan “ke mana”. seperti yang diselidiki ilmu, melainkan orang mencari tahu tentang apa yang sebenarnya pada barang atau masalah itu, dari mana terjadinya dan ke mana tujuannya. Maka, jika para filsuf ditanyai, “Mengapa A percaya akan Allah”, mereka tidak akan menjawab, “Karena A telah dikondisikan oleh pendidikan di sekolahnya untuk percaya kepada Allah,” atau “Karena A kebetulan sedang gelisah, dan ide tentang suatu figur bapak membuatnya tenteram.” Dalam hal ini, para filsuf tidak berurusan dengan sebab-sebab, melainkan dengan dasar-dasar yang mendukung atau menyangkal pendapat tentang keberadaan Allah. Tugas filsafat menurut Sokrates (470-399 S.M.) bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam kehidupan, melainkan mempersoalkan jawaban yang diberikan.

  Uraian singkat tentang pengertian filsafat tersebut diatas mempertegas bahwa filsafat secara harfiah diartikan sebagai upaya perenungan dalam rangka memperoleh sistem pengetahuan untuk mencapai hidup yang lebih berkualitas, dan secara sederhana berfilsafat dapat juga dinyatakan “sebagai proses berpikir secara benar dan secara tajam terkait segala sesuatu mulai dari kulit sampai pada akar permasalahan inti”. Dengan demikian, melalui filsafat akan ditemukan sesuatu yang menyenangkan, yang membahagiakan, yang mendamikan dan sejenisnya, termasuk dampak, impact dab benefitnya,seehingga secara konsepsi dapatdinyatakan bahwa filsafat dalah suatu kecintaan kepada kondisi yang mengedepankan segala sesuatu dengan lebih bijaksanaa, aman, naman, sejuk, dan tidak merugikan pihak manapun secara illegal.

  Sejak dikemukakan pengertian dari kata filsafat, sampai saat ini telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan, mengarah kepada substansi makna filsafat itu sendiri yang dipengaruhi oleh factor factor yang cukup danindikator serta cirri cirri filsafta, yang antaralain ditandai dengan lahirnya paham paham berikut ini.

   Paham rasionalisme yang mengagungkan akal

   Paham materialism yang mengagugkan materi

   Paham idelais yang mengagungkan idea Dengan demikian banyak aliran dan paham yang muncul dalam perkembangan pemikiran filsafat, maka dari kesemua aliran tersebut dapat disimpulkan bahwa kata filsafat merupakan :  Hasil pemikiran kritis dan dinyatakan dalam bentuk yang sistematis,

   Hasil pemikiran manusia yang paling dalam,

   Refleksi dan pendalaman lebih lanjut daripada ilmu pengetahuan,

   Hasil analisis dan abstraksi berpikir manusia,

   Pandangan hidup,  Hasil perenungan jiwa manusia yang mendalam, mendasar dan menyeluruh.

c. Pengertian Filsafat Menurut para Ahli

  • Plato (427-347 SM)

  

Plato mengatakan bahwa filsafat haurs berlangsung dengan mengkritik

pendapat pendapat yang berlaku. Jadi, kearifan dan pengetahuan intelektual

itu diperoleh melalui suatu proses pemeriksaan secara kritis, diskusi dan

penjelasan ide serta gagasan.

  • Aristoteles (382-322 SM)

  

Dalam bukunya yang berjudul “metaphysics”, dia mengemukakan bahwa

filsafat sebagai ilmu mempelajari tentang suatu yang ada sebagai hal ada

yang berbeda dengan bagian bagiannya yang satu sama lainnya. Filsafat juga

dianggap sebagai ilmu yang pertama dan terakhir sebab secara logis

disyaratkan adanya ilmu lain yang juga harus dikuasai, sehingga untuk

  Sir Fancis Bracon (1561-1626 m)  Menjadi titik kebangkitan filsafat modern yang menyatakan pemikiran bahwa filsafat adalah induk agung dari ilmu ilmu. Filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bidangnya.

  Rene Descartes (1590-1650)  Tokoh ini berpendapat bahwa filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan (hasbulah bakry, 1971)

  • Immanuel Kant (1724-1804)

  Menurut Kant, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala ilmu pengetahuan.

  G.W.F. Hegel (1770-1831)  Hegel menggambarkan filsafat sebagai landasan maupun pemcerminan dari peradaban. Sejarah filsafat merupakan pengungkapan sejarah peradapan dan begitu pula sebaliknya.

  Herbet Spenser 1820-1903  Filsafat masih tepat unutk dipertahankan bahkan perlu terus dikembangkan tinggi. Ini secara diam diam dikuatkan oleh tercangkupnya Tuhan, alam dan manusia dalam lingkungannya.

  John Dewey1859- 1952  Filsafat harus dipandang sebagai suatu pengungkapan mengenai perjuangan manusia dalam melakukan penyenyusain kumpulan tradisi secara terus menerus yang membentuk budi manusia yang sesungguhnya terhadap kecenderungan kecenderungan ilmiah dan cita cita politik baru dan yang tidak sejalan dengan wewenang yang diakui. Jadi, filsafat merupakan alat untuk membuat penyesuaian penyesuaian di antara yang lama dan yang baru dalam suatu kebudayaan.

  • Betran Russell 1872-1970

  Ia memandang filsafat sebagai suatu kritik terhadap pengetahuan. Filsafat memeriksa secara kritis asas asas yang dipakai dalam ilmu dan kehidupan sehari hari, dan mencari suatu ketidak selarasan yang dapat terkandung di dalam asas asas itu.

  Al Farabi  Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud, bagaimana hakikat yang sebenarnya.

  Langeveld  Filsafat adalah beripikir tentang masalah masalah yang akhir dan yang menentukan, yaitu masalah masalah yang mengenai makna keadaan. Tuhan, keabadian dan kebebasan.

  Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang didapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu (Abbas Hamami M., 1976h. 2-3).

  N. Driyarkara  Filsafat adalah perenungan yang sedalam dalamnya tentang sebab sebab “ada” dan “berbuat” perenungan tentang kenyataan yang sedalam dalamnya, sampai ke “mengapa” yang penghabisan.

  Notonagoro  Filsafat itu menelaah hal hal yang menjadi objeknya dari sudut intinya yang mutlak dan yang terdalam, yang tetap dan yang tidak berubah yang disebut hakikat.

B. Ciri-Ciri Filsafat

  Filsafat memiliki beberapa ciri ciri, sebagai berikut:

  a. Skematika Konsepsial Konsepsi (rencana kerja) merupakan hasil generalisasi serta abstrak dari

pengalaman tentang hal hal serta proses proses satu demi satu. Karena itu filsafat

merupakan pemikiran tentang hal-hal serta proses-proses dalam hubungan yang

umum. Diantara proses proses yang dibicarakan ialah pemikiran itu sendiri. Dan

diantara hal hal yang dipikirkan ialah si pemikir itu sendiri. Filsafat merupakan

hasil menjadi –sadarnya manusia mengenai dirinya sendiri sebagai pemikir, dan

menjadi – kritisnya manusia terhadap diri sendiri sebagai pemikir di dalam dunia

yang dipikirkannya.

  Sebagai konsekuensinya, seorang filsuf tidak hanya membicarakan dunia yang

ada disekitarnya serta dunia yang ada di dalam dirinya. Ia tidak hanya ingin

mengetahui hakekat kenyataan dan ukuran ukuran untuk melakukan verifikasi

terhadap pernyataan-pernyataan mengenai segala sesuatu ,melainkan ia berusaha

menemukan kaidah kaidah berpikir itu sendiri. Bila manakah suatu pemikiran itu

membawa kita kepada kesimpulan yang sah, dan bagai manakah caranya serta

mengapa membawa kita kepada kesimpulan yang sah ?

  b. Koheren Pemikiran filsafat merupakan suatu usaha perenumgan/refleksi kritis-rasional

yang runtut dan mendalam terhadap suatu hal atau suatu obyek yang dipikirkan

oleh akal budi. Orang bukan berpikir asal-asalan atau berpikir setengah hati saja.

Dalam proses berpikir ini, orang perlu mengerahkan seluruh pikiranya secara

fokus, terarah, terorientasi,terkonsentrasi pada obyek yang dipikirkan agar

mencapai hasil akhir pemikiran yang benar secara filosofis. Pemikiran yang serius

tidak mampu menemukan ide filosofis yang mencerahkan dirinya.

  c. Rasional Istilah atau kosakata “rasional” berarti logis, masuk akal, dan dapat dimengerti

atau diterima secara akal sehat. Pemikiran yang logis berarti pemikiran yang

berhubungan satu sama lain, utuh, tidak terpisah-pisah, tidak frakmentaris, tidak

terpotong-potong. Pemikiran rasional kontra terhadap segala hal yang irasional

dalam kehidupan karena berfilsafat mengandalkan rasio sebagai alat analisinya.

  Filsafat menolak segala hal yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip rasionalitas yang benar.

  d. Menyeluruh/holistic

Holisti berarti obyek pemikiran kita harus berhubungan erat dengan seluruh

kenyataan yang ada (exist). Segala sesuatu yang dapat dipikirkan termasuk dalam pemikiran filsafat. Jadi, obyeknya bisa berupa apa saja dan segala entitas yang dapat dipikirkan dapat menjadi data/hal menarik untuk direfleksikan secara menyeluruh oleh filsafat, termasuk didalamnya refleksi tentang diri kita sendiri sebagai manusia kini dan disini (bic et nunc).

  e. Memberi visi

Filsafat juga berciri visioner. Filsafat tampil dalam paradigm pandangan/

pemikiran/ visi terhadap suatu kenyataan dunia dan diri kita sendiri. Kita tidak mungkin memiliki pandangan terhadap sesuatu jika kita tidak dapat berefleksi secara benar terhadapnya. Hanya orang yang merenung/berefleksi secara benar yang akan mampu menghasilkan ide-ide cermelang tentang dunia dan manusia. Orang yang dapat memberikan pandangan dunia dan dirinya itu sudah termasuk dalam pemikiran filosofis (kattsoff,2004: hlm. 9-14). Seseorang filsuf biasanya memiliki visi yang jauh ke depan. Ia mampu melakukan prediksi rasional sekarang atas segala fenomena hidup yang terjadi di masa depan. Dengan visi ini filsuf memberikan harapan hidup bagi manusia dan membuka horizon perspektif makna untuk memperkaya kualitas ziarah intelektual sebagai manusia di planet bumi ini. Filsuf ibarat obor dan terang yang menerangi jalannya dinamika kehidupan manusia di planet bumi ini.

  Ciri-Ciri Filsafat Menurut para Ahli

  a. Ciri-ciri berfikir filosfi : 1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.

  2. Berfikir secara sistematis.

  3. Menyusun suatu skema konsepsi, 4. Menyeluruh.

b. Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :

  2. Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.

  3. Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas oleh Atropologi Filsafat.

c. Ciri-ciri filsafat menurut Drs. Asmoro Asmadi (Asmoro, Asmadi;129):

  1. Sangat umum

  2. Tidak faktual artinya membuat dugaan-dugaan yang masuk akal dengan tidak berdasarkan pada bukti tetapi bukan berarti tidak ilmiah.

  dan buruk yang susila dan asusila.

  4. Berkaitan dengan arti.

  5. Implikatif.

  6. Menyeluruh.

d. Ciri-ciri filsafat menurut Drs. Suyadi MP dan Drs. Sri suprapto widodonongrat:

  Artinya pemikiran yang luas

  1. Mendasar Artinya, pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang

  fundamental atau esensial obyek

  2. Spekulatif Artinya, hasil pemikiran yang didapat dan dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya.

e. Ciri-ciri filsafat menurut Sunoto:

  1. Deskriptip

  2. Kritik atau analitik

  3. Evaluatif atau normativ

  4. Spekulatif dan sistematik

  5. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan seara radikal. Radikal berasal dari kata

  Yunani radix yang berarti akal. Berfikir secara radikal adalah berfikir sampai ke akar-akarnya. Berfikir sampai ke hakekat, esensi atau sampai ke substansi yang dipikirkan.

  6. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara universal (umum)

  7. Berfikir secara universal adalah berfikir tentang hal serta proses yang bersifat umum, dalam arti tidak memikirkan sesuatu yang parsial.

  8. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara konseptual

  9. Berfikir kefilsafatan dicirikan secara koheren dan konsisten 10. Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara sistematik.

  12. Berfikir secara kefisafatan dicirikan secara bebas

  13. Berfikir secara kefilsafatan adalah pemikiran yang bertanggung jawab

f. Ciri-ciri persoalan filasafat menurut Made Pramono, S.S., M.Hum : 1. Bersifat sangat umum (tak bersangkutan dengan objek-objek khusus).

  2. Spekulatif, tak langsung menyangkut fakta (nonfaktawi).

  3. Bersangkutan dg nilai-nilai (kualitas abstrak yang ada pada suatu hal).

  oleh ilmu.

  5. Besifat sinoptik: mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan.

  6. Bersifat implikatif: jawaban suatu persoalan memunculkan persoalan baru yang saling berhubungan.

  7. Bersifat teoritik: lebih pada tindak reflektif, non-praktis.

g. Ciri-ciri pemikiran filsafat menurut Made Pramono, S.S., M.Hum L: 1. Bersifat radikal (sampai ke akar-akarnya, sampai pada hakikat/esensi).

  2. Sistematis (adanya hub. fungsional antara unsur-unsur untuk mencapai tujuan tertentu).

  3. Berpikir tentang hal/proses umum, universal, ide-ide besar, bukan tentang peristiwa tunggal.

  4. Konsisten/runtut (tak terdapat pertentangan di dalamnya) dan koheren (sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir, logis).

  5. Secara bebas, tak cenderung prasangka, emosi.

  6. Kebebasan ini berdisiplin (berpegang pada prinsip-prinsip pemikiran logis serta tanggung jawab pada hati nurani sendiri).

  7. Berusaha memperolah pandangan komprehensif/menyeluruh.

  8. Secara konseptual hasil generalisir (perumuman) dan abstraksi dari

  pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses individual melampaui batas pengalaman hidup sehari-hari.

h. Ciri-ciri sifat dasar filsafat

  Sifat dasar filsafat (Simon, 2003):

  1. Berfikir radikal

  2. Berfikir rasional; tahu & paham dengan akal budi

  3. Mencari asas

5. Mencari kejelasan

  Ciri-Ciri Filsafat Menurut Clarence L. Lewis Menurut Clarence L. Lewis seorang ahli logika mengatakan bahwa filsafat itu sesungguhnya suatu proses refleksi dari bekerjanya akal. Sedangkan sisi yang terkandung dalam proses refleksi adalah berbagai kegiatan/problema kehidupan manusia. Tidak semua kegiatan atau berbagai problema kehidupan tersebut dikatakan sampai pada derajat pemikiran filsafat, tetapi dalam kegiatan atau problema yang terdapat beberapa ciri yang dapat mencapai derajat pemikiran filsafat adalah sebagai berikut :

  1. Sangat umun atau universal

  Pemikiran filsafat mempunyai kecenderungan sangat umum, dan tingkat keumumannya sangat tinggi. Karena pemikiran filsafat tidak bersangkutan dengan objek-objek khusus, akan tetapi bersangkutan dengan konsep-konsep yang sifatnya umum, misalnya tentang manusia, tentang keadilan, tentang kebebasan, dan lainnya.

  2. Tidak faktual

  Kata lain dari tidak faktual ialah spekulatif, yang artinya filsafat membuat dugaan-dugaan yang masuk akal mengenai sesuatu dengan tidak berdasarkan pada bukti. Hal ini sebagai sesuatu hal yang melampaui tapal batas dari fakta- fakta pengetahuan ilmiah. Jawaban yang didapat dari dugaan-dugaan tersebut sifatnya juga spekulatif. Hal ini bukan berarti bahwa pemikiran filsafat tidak ilmiah, akan tetapi pemikiran filsafat tidak termasuk dalam lingkup kewenangan ilmu khusus.

  3. Bersangkutan dengan nilai

  C.J. Ducasse mengatakan bahwa filsafat merupakan usaha untuk mencari pengetahuan, berupa fakta-fakta, yang disebut penilaian. Yang dibicarakan dalam penilaian ialah tentang yang baik dan buruk, yang susila dan asusila dan akhirnya filsafat sebagai suatu usaha untuk mempertahankan nilai. Maka selanjutnya, dibentuklah sistem nilai, sehingga lahirlah apa yang disebutnya sebagai nilai sosial, nilai keagamaan, nilai budaya, dan lainnya.

  Sesuatu yang bernilai tentu di dalamnya penuh dengan arti. Agar para filosof dalam mengunkapkan ide-idenya sarat denga arti, para filosof harus dapat menciptakan kalimat-kalimat yang logis dan bahasa-bahasa yang tepat, semua itu berguna untuk menghindari adanya kesalahan/sesat pikir (fallacy).

5. Implikatif

  Pemikiran filsafat yang baik dan terpilih selalu mengandung implikasi (akibat baru sehingga akan terjadi proses pemikiran yang dinamis dari tesis ke anti tesis kemudian sintesis, dan seterusnya sehingga tidak ada habisnya. Pola pemikiran yang implikatif (dialektis) akan dapat menuburkan intelektual.

C. Misi Filsafat

  Tujuan dan Fungsi dari Filsafat adalah: Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom).

  Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran.

  S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya. Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun kebenaran.

  Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugas filsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan.

  Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya. Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan. Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran.

  H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat keaslian).

  Adapun tujuan lain dari Filsafat Yaitu :

  • Dengan berfikir filsafat seseorang bisa menjadi manusia, lebih mendidik dan membangun diri sendiri
  • Seseorang dapat menjadi orang yang dapat berfikir sendiri

  • Memberikan dasar-dasar pengetahuan, memberikan pandang an yang sintesis pula sehingga seluruh pengetahuan merupakan satu kesatuan
  • Hidup seseorang dipimpin oleh pengetahuan yang ia miliki. Sebab itu mengetahuai pengetahuan-pengetahuan terdasar berarti mengetahui dasar-dasar hidup diri sendiri. karena filsafatlah yang memberikan dasar-dasar dari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang mengenai manusia seperti misalnya ilmu mendidik.

  Tujuan aliran filsafat, bisa membentuk karakter manusia. Aliran realisme berpandangan bahwa hakikat realitas adalah fisik dan ruh, bersifat dualistis. Tujuan aliran filsafat, membentuk individu yang mampu menyesuaikan diri dalam masyarakat dan memiliki rasa tanggung jawab kepada masyarakat. Pragmatisme merupakan kreasi filsafat dari Amerika, dipengaruhi oleh empirisme, utilitarianisme, dan positivisme. Esensi ajarannya, hidup bukan untuk mencari kebenaran melainkan untuk menemukan arti atau kegunaan. Tujuan aliran filsafat, menggunakan pengalaman sebagai alat untuk menyelesaikan hal-hal baru dalam kehidupan priabdi dan masyarakat. Humanisme berpandangan bahwa pendidikan harus ditekankan pada kebutuhan anak. Tujuannya untuk aktualisasi diri, perkembangan efektif, dan pembentukan moral. Paham behaviorisme memandang perubahan perilaku setelah seseorang memperoleh stimulus dari luar merupakan hal yang sangat penting. Tujuan lain dari filsafat untuk menyiapkan pribadi-pribadi yang sesuai dengan kemampuannya, mempunyai rasa tanggung jawab dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan diperoleh melalui proses aktif individu mengkonstruksi arti dari suatu teks, pengalaman fisik, dialog, dan lain-lain melalui asimilasi pengalaman baru dengan pengertian yang telah dimiliki seseorang.

  Jadi, Filsafat mempunyai tujuan untuk membicarakan keberadaan yang membahas lapisan terakhir dari segala sesuatu atau membahas masalah-masalah yang paling dasar. Tujuan filsafat adalah mencari hakikat dari suatu objek/gejala secara mendalam.

D. Lapangan Filsafat

  Filsafat membahas tiga persoalan pokok, yaitu masalah wujud, masalah pengetahuan, dan masalah nilai. Immanuel Kant mengajukan empat pokok pertanyaan yang harus dijawab oleh filsafay, yaitu:

  1) Was darf ich hoffen ? : apa yang boleh saya harapkan ? 2) Was kann ich wissen ? : apa yang dapat saya ketahui ? 3) Was sol lich tun ? : apa yang harus perbuat ? 4) Was ist der mench ? : apakah manusia itu ?

  Menurut Kant, pertanyaan pertama dapat dijawab oleh metafisika, pertanyaan kedua oleh epistemology, pertanyaan ketiga dijawab oleh etika, dan pertanyaan keempat dijawab oleh filsafat antropologi.

  Sidi Gazali (1973) mengemukakan bidang permasalahan filsafat yang terdiri atas :

  1. Metafisika, dengan pokok-pokok maasalah : filsafat hakikat atau ontology, filsafat alam atau kosmologi, filsafat manusia, dan filsafat ketuhanan atau teodyce.

  2. Teori pengetahuan, yang mempersoalkan : hakikat pengetahuan, dari mana asal atau sumber pengetahuan, bagaimana membentuk pengetahuan yang tepat dan yang benar, apa yang dikatakan pengetahuan yang benar, mungkinkah manusia mencapai pengetahuan yang benar dan apakah dapat diketahui manusia, serta sampai dimana batas pengetahuan manusia.

  3. Filsafat nilai, yang membicarakan : hakikat nilai, dimana letak ilai, apakah pada bendanya, atau padaperbuatannya, atau pada manusia yang menilainya, mengapa terjadi perbedaan nilai antara seseorang dengan orang lain, siapakah yang menentkan nilai, mengapa perbedaan ruang dan waktu membawa perbedaan penilaian.

  Menurut Butler (1957) mengemukakan beberapa persoalan yang dibahas dlam filsafat, yaitu:

  2. Epistemology, membahas : hakikat pengetahuan, sumber pengetahuan dan metode pengetahuan.

  3. Aksiologi, membahas : etika dan estetika.

  Alat-alat yang digunakan dalam merumuskan dan mengklarifikasikan filsafat pendidika, adalah berkaitan dengan lapangan filsafat yan menjadi perhatian sentral

  1. Metafisika

  Secara etimologi, metafisika berasal dari bahasa Yunani Kuno yang terdiri dari dua kata, yaitu “meta” yang berarti sesudah, di belakang, atau melampaui dan “fisika” yang berarti alam nyata. Matafisika merupakan cabang filsafat yang mempersoalkan tentang hakikat yang tersimpul di belakang dunia fenomena. Metafisika melampaui pengalaman objeknya di laur hal yang dapat ditangkap pancaindera.

  Metafisika berhubungan dengan penjelasan hakekat dari realitas se-rasional dan se-komprehensif muungkin. Meafisika juga berhubungan dengan hakekat dari mahkluk dan mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan seperti, apakah yang dimaksud dengan ada? Apakah tempat manusia dlam skema benda-benda? Pernyataan- pertanyaan seperti ini adalah jantung dari filsafat pendidikan. Metafisika dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

  1.1 Ontology, mempersoalkan tentang esensi dari yang ada, hakikat dari segala wujud yang ada.

  1.2 Metafisika khusus, mempersoalkan teologi, kosmologi, dan antropologi.

  Metafisika membicarakan manusia (antropologi), tetapi pembahasannya berbeda sains, seperti sosiologi, psikologi, biologi. Metafisika mempelajari manusia melampaui atau di luar fisiknya dan di luar gejala-gejala yang dialami manusia. Metafisika mencoba untuk mengkaji secara mendalam : siapa manusia, dari mana asal manusia, apa yang dituju manusia, dan untuk apa hidup di dunia ini.

  2. Epistemologi

  Secara etimologi, epistemology berarti teori pengetauan. Epistemology merupakan cabang filsafat yang membahas filsafat yang membahas atau mengkaji

  Menurut Langeveld (1961), epistemology membicarakan hakikat pengetahuan, unsure-unsur dan susunan berbagai jenis pengetahua, pangkal tumpuannya yang fundamental, metode-metode dan batasan-batasannya.

2.1 Jenis-jenis pengetahuan

  Manusia memperoleh pengetahuan dan kebenaran atas dasar wahyu yang diberikan Tuhan kepada manusia. Wahyu adalah firman Tuhan dan kebenarannya adalah mutlak dan abadi. Pengetahuan wahyu bersifat eksternal, artinya pengetahuan tersebut berasal dari luar manusia.

  2.1.2 Pengetahuan intuitif (intuitive knowledge) Pengetahuan ini sebagai hasil penghayatan pribadi, sebagai hasil ekspresi dri keunikan dan individulitas seseorang, sehingga validitas pengetahuan ini sangat bersifat pribadi.

  Pengetahuan intuitif disusun dan diterima dengan kekuatan visi imaginative dalam pengalaman pribadi seseorang. Dalam pengertian secara umum, intuisi merupakan metode untuk memperoleh pengetahuan tidak berdasarkan penalaran rasio, pengalaman, dan pengamatan indera.

  Menurut kaum intuisionis, kita dapat menangkap kenyataan yang konkrit. Pengetahuan intuitif sulit dikembangkan karena validitasnya yang sangat pribadi, dan subjektif sehingga sulti mengetahui seseorang memilikinya atau tidak.

  2.1.3 Pengetahuan rasional (rational knowledge) Pengetahuan rasional merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan latihan rasio/akal tanpa disertai observasi terhadap kejadian-kejadian faktual. Prinsip logika formal dan matemaika murni merupakan paradigm pengetahuan rasional, dimana kebenarannya dapat ditunjukkan dengan pemikiran abstrak, dimana kebenarannya dapat ditunjukkan dengan pemikiran abstrak. Prinsip pengetahuan rasional dapat diterapka pada pengalaman indera, tetapi tidak dapat disimpulkan dengan pengalaman indera.

  Rasionalisme adalah aliran dalam filsafat yang mengutamakan rasio untuk memperoleh pengetahuan dan kebenaran. Rasionalisme berpandangan bahwa akal merupakan factor fundamental dalam pengetahuan. Akal manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui Menurut rasionalisme, pengalaman tidak mungkin dapat menguji kebenaran hukum “sebab-akibat”, karena peristiwa yang tidak terhingga dalam kejadian alam ini tidak mungkin dapat diobservasi.

  Rasionalisme memberi kritik terhadap empirisme, bahwa :

  a. Metode empiris tidak memberi kepastian, tetapi hanya sampai pada probabilitas yang tinggi.

  b. Metode empiris, baik dalam sains maupun dalam kehidupan sehari- hari, biasanya bersifat sepotong-sepotong.

  Menurut pengakuan kaum rasionalis, mereka mencari kepastian dalam kesempurnaan yang sistematis. Penelitian mereka dalam matematika, khususnya geometri, mencoba untuk tidak mempercayai pengalaman, melainkan penalara. Menurut mereka, penalaran dibutuhkan dalam menyusun aksioma dasar yang universal yang memungkinkan kita untuk mengambil kesimpulan khusus dari aksioma tersebut. Aksioma merupakan “self evident” dan dapat dipercaya, bebas dari pengalaman. Karen aitu pengalaman tidak akan membuktikan bahwa aksioma itu salah. Aksioma memberikan dasar pada semua pengetahuan dan kepercayaaan. Kesimpulannya bersifat mandiri, yaitu suatu kesatuan yang bersistem.

  2.1.4 Pengetahuan empiris (empirical knowledge) Pengetahuan empiris diperoleh atas bukti penginderaan, yaitu dengan pengelihatan, pendengaran, dan sentuan indera-indera lain. Sehingga kita memiliki konsep dunia disekitar kita. Paradigm pengetahuan empiris adalah sains, dimana hipotesis-hipotesis sains diuji dengan observasi atau dengan eksperimen.

  Aliran ini menjadikan pengalaman sebagai sumber pengatahuan. Empirisme beranggapan bahwa pengetahuan dapat diperoleh lewat pengalaman, atau observasi. Pengalaman adalah proses interaksi antara manusia dengan lingkungannya.

  Pengalaman bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan akal, melainkan, akal dilibatkan sebagai bagian integral dari pengalaman. dan berawal dari hipotesis. Oleh karena itu, yang diperoleh dari pengalaman akan selalu berubah, dan dapat diubah, sesuai dengan hasil temuan baru yang berdasarkan pengalaman juga.

  2.1.5 Pengetahuan otoritas (authorical knowledge) Pengetahuan ni kita terima bukan karena kita telah mengeceknya dari dunia luar, tetapi karena telah dijamin oleh pihak yang berwenang dilapangan. Kita menerima pendapat orang lain, karena ia adalah pakar dalam bidangnya.

2.2 Teori pengetahuan

  2.2.1 Teori korespondensi (correspondence theory) Menurut teori ini, kebenaran adalah kesesuaian antara fakta dan kejadian nyata. Kebenaran merupakan persesuaian antara pernyataan dalam pikiran dengan situasi lingkungan. Sama seperti ilmuwan yang selalu mengecek pikiran-pikirannya dengan data-data yang ada.

  2.2.2 Teori koherensi (coherence theory) Menurut teori ini, kebenaran merupakan kesesuaian harmonis antara pikiran kita dengan pengetahuan yang telah kita miliki. Teori ini biasanya diakui oleh golongan idealis.

  Persesuaian disini dapat diartikan dengan konsistensi yang merupakan ciri logis hubungan antara smua pikiran-pikiran yang kita miliki. Paling sederhana dari teori ini adalah konsistensi formal dituntut untuk benar, apabila jika dasar kebenaran dari system tersebut memiliki konsistensi dengan hukum-hukum formal berpikir tertentu.

  Golongan idealis cenderung memasukkan semua pengalaman yang bersifat konsisten kedalam dirinya. Berdasarkan prinsip-prinsip ini, kebenaran merupakan system dalil-dalil yang konsisten antar satu sama lain, dan setiap dalil mendapatkan kebanarannya dalam keseluruhan

  Ada beberapa kritik terhadap teori ini, diantaranya, teori ini tidak dapat membedakan kebenaran yang konsisten dengan kesalahan yang konsisten. Juga, teori ini bersifat rasionalistis dan intelektualistis, dan hanya mementingkan hubungan-hubungan logis antara dalil-dalil. Sehingga, teori ini gagal melengkapi pengujian yang memadai terhadap pikiran dan pengalaman sehari-hari.

  2.2.3 Teori pragmatisme (pragmatism theory) Menurut teori ini, kebenaran tidak bisa bersesuaian dengan kenyataan, karena kita hanya bisa mengetahui dari pengalaman kita saja. Pragmatism berpendirian bahwa mereka tidak mengatahui apapun (agnostik) tentang wujud, esensi, intelektualitas, dan rasionalitas. Menurut pragmatism, tidak ada kebenaran yang mutlak dan abadi. Kebenaran terbentuk dalam proses penyesuaian manusia.

  Menurut pragmatisme, kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak. Artinya, pernyataan dikatakan benar apabila memiliki kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.

  Para pendukung pragmatisme cenderung memberikan ktekanan pada 3 pendekatan, yaitu : a. Sesuatu dikatakan benar apabila memenuhi keinginan-keinginan manusia. Kepercayaan akan kebanaran bukan hanya memberi kepuasan pada seluruh sifat dasar manusia, melainkan juga memberi kepuasan selama jangka waktu tertentu. b. Sesuatu itu benar apabila dapat dikaji kebenarannya secara eksperimen. Ketika kebenaran atau ketidak benaran muncul, maka hendaknya kita mencoba mengadakan pembuktiannya.

  c. Sesuatu itu benar apabila membantu dalam perjuangan hidup bagi eksistensi manusia.

  Untuk mencari kebenaran, kaum pragmatis berpaling pada metode menafsirkan gejala-gejala alam.

3. Aksiologi

  Aksiologi meruapakan cabang filsafat yang mempelajari nilai. Dagobert Runes (1963 : 32) mengemukakan beberapa persoalan yang berkaitan dengan nilai yang mencangkup : a) hakikat nilai, b) tipe nilai, c) criteria nilai, d) status metafisika nilai.

  Tipe nilai dapat dibedajan antara nilai intrinsic dan nilai instrumental. Nilai intrinsic adalah nilai akhir yang menjadi tujuan, sedangkan nilai instrumental adalah sebagai alat untuk mencapai nilai intrinsic. Nilai intrinsic adalah sesuatu yang memiliki harkat atau harga dalam dirinya, dan merupakan tujuan sendiri.

  Yang dimaksud dengan criteria nilai adalah sesuatu yang menjadi ukuran dari nilai tersebut, bagaimana yang dikatakan nilai yang baik, dan bagaimana yang dikatakan nilai yang tidak baik.

  Yang dimaksud dengan satatus metafisik nilai adalah bagaiaman hubungan nilai-nilai tersebut dengan realitas. Dalam hal ini Dagobert Runes (1963 : 33) mengemukakan tiga jawaban :

  1. Subjectivisme : value is entirely dependent on and relative to human experience of it;

  2. Logical objectivisme : value are logical essences or subsistences, independent of their being known, yet not exsistensial status of action in reality;

3. Metaphysical objectivisme : values or norms or ideals are integral, objective, an active constituents of the metaphysical real.

  Menurut objektivisme, nilai itu berdiri sendir, namun bergantung dan berhubungan kehidupan yang logis tidak terkait pada kehidupan yang dikenalnya, namun tidak memiliki status dan gerak di dalam kenyataan. Menurut objektivisme metafisik, nilai adalah suatu yang lengkap, objektif, dan merupakan bagian aktif dari realitas metafisik.

E. Urgensi Filsafat

  Pentingnya filsafat dapat kita pahami pada penjelasan berikut :

  1. Dengan berfilsafat kita lebih menjadi manusia, lebih mendidik dan membangun

  diri sendiri

  2. Dari pelajaran filsafat kita diharapkan menjadi orang yang dapat berpikir sendiri

  3. Memberikan dasar-dasar pengetahuan kita, memberikan padangan yang sintesis

  pula sehingga seluruh pengetahuan kita merupakan kesatuan

  4. Hidup kita dipimpin oleh pengetahuan kita. Sebab itu mengetahuikebenaran-

  kebenaran yang terdasar berarti mengetahui dasar-dasar hidup kita sendiri

  5. Khususnya bagi seorang pendidik, filsafat mempunyai kepentingan istimewa

  

karena filsafatlah memberikan dasar-dasar dari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya

yang mengenai manusia seperti misalnya : ilmu mendidik, sosiologi, ilmu jiwa

dan sebagainya.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang

  merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Filsafat dicirikan sebagai Berfikir radikal, Berfikir rasional; tahu & paham dengan akal budi, Mencari asas, Mencari kebenaran dan Mencari kejelasan.

  Misi filsafat adalah memberikan kepada kita dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik dan bijaksana dengan mengkaji objek-objek material dan formal.

  Dengan mempelajari filsafat adalah Menambah ilmu pengetahuan sehingga dapat membantu menyelesaikan masalah dengan bijaksana, membuat manusia lebih hidup lebih tanggap (peka) terhadap diri dan lingkungannya, membantu manusia untuk mengetahui mana yang pantas ditolak dan mana yang pantas disetujui.

B. Saran

  Dalam pemaham tentang Filsafat memang tidak semudah pengaplikasiannya, seseorang dengan mudah dapat berfilsafat namun belum tentu dapat memahami dengan baik tentang Filsafat, namun kita juga jangan terpengaruh oleh Filsafat seseorang, untuk itu kita harus mempunyai pengangan yang kuat agar tidak mudah terpengaruh dan goyah begitu saja. Saran secara pribadi dari penyusun, sebelum kita ingin mengenal filsafat secara dalam maka alangkah baiknya kita kuatkan terlebih dahulu iman kita.

  Daftar Pustaka A.Wiramihardi,Sutardjo. 2006. Pengantar Filsafat. Bandung: Refika Aditama Fios,Frederikus. 2012. Pengantar Filsafat ILMU DAN LOGIKA. Jakarta: Salemba Humanika

  http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/06/persamaan-dan-perbedaan-filsafat-dan.html

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Tags

Pengertian Dan Ciri Ciri Remaja

Pengertian Fungsi Dan Ciri Ciri

Pengertian Dan Ciri Perkembangan

Korupsi Pengertian Ciri Ciri Dan Jenis

Pengertian Dan Ciri Ciri Perubahan Sosia

Pengertian Mea Dan Ciri Ciri Masyarakat

Lumut Pengertian Ciri Ciri Klasifikasi S

Pengertian Peradaban Dan Ciri Ciri Perad

Pengertian Dan Ciri Ciri Masyarakat Mada

Pengertian Budaya Politik Ciri Ciri Maca

Pengantar Filsafat Pengertian Ciri ciri

Gratis

Feedback