makalah sosiologi pendidikan tuntutan st

 0  0  15  2018-09-16 23:07:21 Report infringing document

  TUNTUTAN STAKEHOLDER PENDIDIKAN TERHADAP PEMBAHARUAN DIMENSI SOSIAL PERSEKOLAHAN

  Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan Oleh:

  Roza Desrita Putri (15300600064) Santi Kurnia Putri (15300600067)

  Dosen: Gustina, M.Pd

  Jurusan Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negri (IAIN)

  Batusangkar 2015

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah sosiologi pendidikan tentang Tuntutan Stakeholder Pendidikan Terhadap Pembaharuan Dimensi Sosial Persekolahan. Dan kami juga berterima kasih kepada dosen mata kuliah yang telah memberikan masukan dan serta pihak-pihak yang mendukung sehingga makalah ini dapat di selesaikan.

  Kami berharap dengan membaca dan mempelajari makalah ini dapat memberi manfaat, dalam hal ini dapat menambah wawasan mengenai Tuntutan Stakeholder Pendidikan Terhadap Pembaharuan Dimensi Sosial Persekolahan. Memang makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, maka kami mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

  Batusangkar, 21 Maret 2016 Penulis

  

DAFTAR ISI

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

   Stakeholder pendidikan merupakan kelompok terpenting dalam kehidupan saat ini. Seiring berkembangnya zaman tuntutan akan pendidikan juga semakin tinggi.

  Sekolah harus tanggap dengan kebutuhan peserta didik akan pendidikan. Dalam proses pembelajaran, peserta didik tidak hanya menerima saja melainkan ikut aktif dalam menuntut ilmu.

  Sekolah dan masyarakat harus ikut mendukung jalannya pendidikan ini. Sekolah harus memiliki hubungan social yang baik demi majunya pendidikan. Sekolah harus mampu menjalin hubungan kelompok kepentingan yang akan menunjang keberhasilan pendidikan. Kelompok ini dinamakan stakeholders pendidikan, mereka menetapkan kebijakan yang meningkatkan kualitas pendidikan.

  Selain itu pendidikan saat ini tidak saja dianggap sebagai lembaga yang hanya berperan dalam meningkatkan kecerdasan peserta didik sehingga pihak lain tidak dapat mencampuri apalagi melakukan intervensi terhadap kebijakan persekolahan.Namun,saat ini pendidikan dan lembaga dapat di pengaruhi oleh pelanggan pendidikan.

  Hal tersebut di karenakan saat ini jua era globalisasi mulai menghampiri Indonesia dengan 3 ciri utamanya: kebebasan, keterbukaan, dan integrasi global. Dimana semua itu menyebabkan kemajuan teknologi informasi yang berkembang cepat berimplikasi terhadap perubahan segala bidang termasuk ke dalam bidang pendidikan.

  Perubahan tersebut menyebabkan permasalahan di sekolah sebagai bagian dari lingkungan pendidikan yang belum mampu merespon kebutuhan dan persoalan social. Sekolah di Indonesia yang seharusnya sebagai pengembangan ilmu, menanamkan nilai, dan agen perubahan belum bisa berkembang dan bersaing sebaik sekolah luar negri. Untuk itu maka di butuhkan upaya untuk mengatasi itu semua baik dari segi managemennya, live skill, dan sebagainya.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana cara memformulasikan akselarasi stakeholders pendidikan di persekolahan?

  2. Apa prinsip-prinsip managemen berbasis sekolah?

  3. Bagaimana konsep live skill?

  4. Bagaimana penguraian kontekstual teaching and learning?

  5. Bagaimana peran serta masyarakat dalam pendidikan?

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Memformulasikan Akselerasi stakeholders Pendidikan di Persekolahan

  Dalam buku Cutivating Peace, Ramizes mengidentifikasi berbagai stakeholders ini. Beberapa defenisi yang penting dikemukakan seperti Freeman ( 1984 ) yang mendefenisikan stakeholders sebagai kelompok atau individu yang dapat memengaruhi dan atau dipengaruhi oleh suatu tujuan tertentu. Sedangkan Biset(1998) secara singkat mendefinisikan stakeholders merupakan orang dengan suatu kepentingan atau perhatian pada permasalahan. Stakeholders ini sering diidentifikasi dengan suatu dasar tertentu sebagaimana dikemukakan Freeman(1984) yaitu dari segi kekuatan dan kepentingan relative stakeholders terhadap isu, Grimble and Wellard(1996) dari segi posisi penting dan pengaruh yang dimiliki mereka.

  Jadi dapat disimpulkan bahwa stakeholders adalah sekelompok atau segenap pihak yang berpengaruh dengan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan isu dan permasalahan yang diangkat.

  Stakeholders pendidikan merupakan kelompok kepentingan yang menentukan

  berbagai kebijakan disektor pendidikan. Pendidikan saat ini tidak saja dianggap sebagai lembaga yang hanya berperan dalam meningkatkan kecerdasan peserta didik, sehingga pihak lain tidak biasa mencampuri apalagi melakukan intervensi terhadap kebijakan persekolahan, tetapi pada saat ini pendidikan dan lembaga pendidikan telah dianggap sebagai lembaga yang dapat dipengaruhi bahkan di intervensi oleh pelaggaran pendidikan.

  Akselerasi stakeholders pendidikan pada dasarnya adalah untuk meningkatkan mutu layanan persekolahan terhadap masyarakat sebagai pengguna sekolah. Karena itu persekolahan dalam konteks tersebut tidak lagi sebagai lembaga yang dapat berdiri sendiri tanpa adanya pengruh dari pengguna persekolahan.

  Jika mengacu kepada konsep Total Quality Management (TQM), jelas sekali disebutkan bahwa persekolahan harus memastikan apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh pengguna jasa pendidikan. Kebijakan mengacu pada konsep TQM, maka kedudukan stakeholders pendidikan menjadi penting dan memiliki akselerasi tersebut bersifat terukur dan dapat dipertanggung jawabkan, sehingga tidak mempersulit persekolahan dalam beroperasi sehari-hari terutama dapat menjamin proses pembelajaran sebagaimana mestinya.

  Posisi stakeholders pendidikan tentu saja harus memperhatikan apa yang di butuhkan serta yang di inginkannya.Karena itu, persekolahan setiap saat di wajibkan mampu menjadi jembatan antara kepentingan stakeholders dengan kepentingan persekolahan tersebut. Bagaimanapun pendidikan adalah jasa dan dianggap sebagai penjual jasa yang setiap saat harus melakukan inovasi dalam penyelenggaraan

  

  Apalagi saat ini era globalisasi mengharuskan lulusan persekolahan dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan yang berdimensi local,regional, dan global.Jika tidak mengakibatkan persekolahan tidak mampu menempatkan lulusannya dalam pergaulan global.

  Menurt Tillar(1999:358), kondisi yang mencetuskan konsep-konsep inovasi yang dituntut dalam era globalisasi adalah:

  1. Didalam era globalisasi kita dapat berada dalam suatu masyarakat yang kopentif.Maksudnya pribadi dan masyarakat berada dalam kondisi untuk menghasilkan Sesutu yang terbaik dan berkualitas.

  2. Masyarakat di dalam globalisai menuntut kualitas yang tinggi,baik barang,jasa maupun investasi modal.

  3. Era globalisasi merupakan suatu era informasi dengan sarana-sarananya yang dikenal sebagai information superhighway.

  4. Era globalisasi merupakan era komunikasi yang sangat cepat dan canggih.

  5. Era globalisasi ditandai oleh maraknya kehidupan bisnis oleh oleh sebab itu kemampuan bisnis,manager merupakan tuntutan masyarakat masa depan.

  6. Era globalisasi merupakan era teknologi dan oleh sebab itu anggot-anggota

   1 masyarakatnya haruslah canggi 2 Muhyi Batubara,Sosiologi Pendidikan,(Jakarta:Ciputat Press,2004),h.85-86 Muhyi Batubara,Sosiologi Pendidikan,(Jakarta:Ciputat Press,2004),h.86-87 Konsep-konsep inovatif tersebut mau tidak mau mempengaruhi penyelenggaraan persekolahan pada saat ini.Karena itu stakeholders pendidikan diberi peluang dan kesempatan yang luas dalam menentukan kebijakan persekolahan secara terukur dan proporsional.

  Berikut adalah pembaharuan pendidikan yang berdimensi inovatif sebagai implikasi dari akselerasi tuntutan stakeholders pendidikan terhadap persekolahan,yaitu: 1. Manajemen Berbasis Sekolah.

  2. Life Skill.

  3. Contextual Teaching and Learning

2.2 Prinsip-Prinsip Managemen Berbasis Sekolah

  Untuk membentuk pendidikan yang bersifat responsive dan pro aktif terhadap tuntutan masyarakat maka di lakukanlah upaya yang dikenal dengan konsep managemen berbasis sekolah. Dalam operasionalnya di kenal juga dengan manajemen pendidikan berbasis sekolah.

  Managemen Berbasis Sekolah merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah serta berpotensi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, pemerataan, efisiensi, serta manajemen yang bertumpu di tingkat sekolah.

  Dalam managemen Berbasis Sekolah, pihak sekolah, masyarakat, dan pemerintah, mempunyai peran masing-masing yang saling mendukung dan sinergis antara satu dengan yang lainnya sehingga karakteristik dari konsep Managemen Berbasis Sekolah, antara lain: 1. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib.

  2. Sekolah memiliki misi dan target yang ingin di capai.

  3. Sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat.

  4. Adanya harapan yang tinggi dari personil sekolah untuk berprestasi.

  5. Adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK.

  6. Adanya pelaksanaan evaluasi terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan dan perbaikan mutu.

  7. Adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua siswa dan masyarakat

  

  Selain itu faktor keberhasilan Managemen Berbasis Sekolah di pengaruhi oleh:

  1. Tingkat kemampuan ekonomi masyarakat,

  2. Sosial, budaya, politik,

  3. Taraf pendidikan masyarakat,

  4. Kebijakan pemerintah,

  5. Organisasi dan kepemimpinan kepala sekolah,

  6. Strategi pembelajaran di kelas,

  7. Tata laksana sekolah,

  8. Profesionalisme guru, 9. Tenaga kependidikan.

  Untuk menerapkan Managemen Berbasis Sekolah ada persyaratan yang harus di penuhi sekolah, antara lain:

  1. Pemilihan kepala sekolah dan guru professional.

  2. Bentuk partisipasi orang tua.

  3. Motivasi dan kemauan orang tua.

  4. Kemampuan alokasi dana/keuangan.

  5. Kualitas pembelajaran dan hasil lulusan.

  6. Keterlibatan semua stakeholders pendidikan.

  Teori yang di gunakan Managemen Berbasis sekolah untuk mengelola sekolah di dasarkan kepada empat prinsip, yaitu: 3

  1. Prinsip Ekuifinalitas Muhyi Batubara, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta:Ciputat Press,2004),h.90.

  Prinsip ini di dasarkan pada teori managemen modern yang berasumsi bahwa terdapat beberapa cara yang berbeda-beda untuk menggapai tujuan.Sehingga Managemen Berbasis sekolah menekankan fleksibitas sehingga sekolah harus di kelola oleh warga sekolah menurut kondisi mereka masing-masing. Karena kompleksnya pekerjaan sekolah saat ini dan adanya perbedaan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya maka dalam pemecahan masalahpun sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing sekolah walaupun masalah sama.

  2. Prinsip Desentralisasi Prinsip Desentralisasi dilandasi oleh teori dasar bahwa pengelolaan sekolah dan aktifitas pengajaran tak dapat dielakkan dari kesulitan dan permasalahan.

  Sehinnga untuk memecahkan masalah tersebut, sekolah di berikan kekuasaan dan tanggung jawab untuk memecahkannya secara efektif dan tapat waktu.

  3. Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri Managemen Berbasis Sekolah tidak mengingkari bahwa sekolah perlu mencapai tujuan-tujuan suatu kebijakan yang telah di tetapkan,tetapi terdapat berbagai cara yang berbeda untuk mencapainya.Hal ini di sebabkan adanya pelimpahan wewenang dari birokrasi di atasnya ke tingkat sekolah. Dengan adanya kewenangan tersebut sekolah dapat melakukan system pengelolaan mandiri.

  4. Prinsip Inisiatif Manusia Prinsip ini mengakui bahwa manusia merupakan sumbar daya yang dinamis.

  Sehingga sumber daya manusiapun harus selalu digali, ditemukan dan di

  

2.3 Life Skill (Kecakapan Hidup)

  Secara umum pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup bertujuan memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi manusiawi peserta didik untuk menghadapi perannya dimasa datang. Secara khusus pendidikan yang berorientasi kepada kecakapan hidup bertujuan untuk:

  1. Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk 4 memecahkan problema yang dihadapi.

  Nurkolis,Manajemen Berbasis Sekolah,( Jakarta: Grasindo,2003),h.52-55. Tersedia: Http// books.google.co.id

  2. Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibbel,sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas,dan

  3. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekolah. Menyimak tujuan pendidikan yang berorientasi kecakapan hidup tersebut,secara tersirat menjelaskan bahwa lembaga pendidikan persekolahan diharuskan member peluang yang luas dan besar kepada peserta didik untuk mendapatkan pendidikan tambahan yang berdimensi kecakapan kepada peserta didik.Pendidikan tambahan tersebut bukan berarti menambah pelajaran,tetapi memberikan materi-materi yang dapat menggugah peserta didik untuk dapat secra responsivf dan proaktif menggeluti sebuah keterampilan sehingga ia mampu memanfaatkan keterampilan tersebut untuk kepentingan masa depannya.

  Kecakapan hidup dapat dipilah menjadi empat jenis yaitu:

  1. Kecakapan personal (personal skill), yang mencakup kecakapan mengenal diri (self awareness) seperti penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan yang maha Esa serta meningkatkan dirinya sebagai individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya dan kecakapan berfikir rasional (thinking skill) mencakup kecakapan menggali dan menemukan informasi, memecahkan masalah secara kreatif serta mengambil keputusan.

  2. Kecakapan social (social skill) mencakup kecakapan komunikasi dan kecakapan kerjasama

  3. Kecakapan akademik (academic skill) mencakup kecakapan melakukan identifikasi variabel dan menjelaskan hubungannya pada suatu fenomena tertentu,merumuskan hipotesis terhadap rangkaian yang terjadi serta melaksanakan penelitian untuk membuktikan suatu gagasan.

  4. Kecakapan vokasional (vocational skill) mencakup kecakapan yang dikaitkan

  

2.4 Contextual Teaching and Learning

  Untuk meningkatkan kemampuan anak didik terhadap fenomena lingkungannya, 5 dibutuhkan sebuah strategi pengajaran yang dapat memaksimalkan pemahaman anak

  Muhyi Batubara,Sosiologi Pendidikan,(Jakarta:Ciputat Press,2004),h.97 dengan lingkungannya tersebut. Karena itu, pembelajaran yang bersifat alamiah merupakan strategi penting agar anak didik lebih mengalami dari pada mengetahui.

  Salah satu strategi yang dianggap kontekstual dengan mendekatkan anak didik kepada proses alamiah pembelajaran disebut dengan pendekatan kontekstual (contextual teching and learning -CTL). Pendekatan CTL menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Lanjutan Pertama Depdiknas (2002:1), disebutkan bahwa yang dimaksud dengan contextual teaching and learning merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.Dengan konsep itu,hasil pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami,bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.

  Pola pembelajaran CTL diharapkan siswa memahami apa sebenarnya tujuan belajar , apa manfaat yang akan diperoleh dari proses dan hasil pembelajaran tersebut, dan tentu saja yang sangat diperlukan adalah bagaimana mereka mencapai pembelajaran tersebut secara maksimal dan optimal. Berikut berbagai alasan mengapa pendekatan kontekstual menjadi pilihan:

  1. Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapal.Kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan ,kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar.

  2. Melalui landasan filosofi konstruktivisme ,CTL dipromosikan menjadi alternative strategi baru. Melalui strategi CTL siswa diharapkan belajar melalui

  

  Berbagai alasan mengapa pendekatan kontekstual menjadi pilihan seperti yang dikemukakan di atas, menjadikan pendekatan kontekstual dianggap relevan dan faktual sebagai tuntunan proses pembelajaran oleh peserta didik. Peserta didik menuntut agar mereka memperoleh yang terbaik dari proses penyelenggaraan 6 pendidikan secara institusional. Tuntutan tersebut pada dasarnya tidak hanya bersifat

  Muhyi Batubara,Sosiologi Pendidikan,(Jakarta:Ciputat Press,2004),h.102-103 normatif semata, tetapi cenderung pada hak dasar setiap peserta didik untuk memperoleh sesuatu yang baru dan kebaruan tersebut akan memberikan nilai tambah yang tinggi bagi dirinya.

  Hal inilah yang membedakan pendekatan konstektual dengan pendekatan tradisional, seperti:

  1. Jika pendekatan CTL di laksanakan maka siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran, sedangkan dengan pendekatan tradisional siswa hanya sebagai penerima informasi secara pasif.

  2. Jika pendekatan CTL di laksanakan maka keterampilan di kembangkan atas dasar pemahaman sedangan pendekatan tradisional keterampilan di kembangkan atas dasar latihan.

  3. Jika pendekatan CTl di laksanakan maka hasil belajar di ukur dengan berbagai cara, seperti: proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, dan tes sedangkan pendekatan tradisional hasil belajar di ukur hanya dengan tes.

  Perbedaan antara pendekatan CTL dengan pendekatan tradisional dapat menjelaskan kepada kita bahwa pendekatan CTL lebih memberikan hasil karena system ini meminta siswa untuk bertindak dengan cara yang alami bagi manusia. Cara ini sesuai dengan fungsi otak, psikologi dasar manusia, dan dengan tiga prinsip yang menembus alam semesta yang ditemukan para fisikawan dan biologi modern. Prinsip- prinsip tersebut adalah kesaling-bergantungan, diferensiasi yang menyebabkan timbulnya kreatifitas dan pengaturan diri sendiri agar pendidik mendorong setiap

  

  CTL mendorong siswa melihat bahwa manusia sendiri memilikik kapasitas dan tanggung jawab untuk mempengaruhi dan membentuk sederetan konteks yang meliputi keluarga, kelas, masyarakat, hingga ekosistem.

  Sehingga dengan penerapan pendekatan CTL diharapkan menghasilkan manusia unggul yang dapat menyesuaiakan dirinya dengan lingkungan karena sudah terbiasa 7 melakukan interaksi dengan siapa saja.

  

Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning: what it is and why it’s here to

stay, Terj. Ibnu Setiawan, (Bandung: MLC, 2007), hlm.62.

2.5 Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan

  Ada bermacam-macam tingkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Peran serta tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dalam tujuh tingkatan. Tingkatan tersebut adalah:

  1. Peran serta menggunakan jasa yang tersedia.Jenis ini merupakan jenis paling umum.Masyarakat hanya memanfaatkan jasa sekolah dengan memasukkan anak kesekolah.

  2. Peran serta dengan memberi kontribusi dana,bahan dan tenaga.Masyarakat berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik sekolah dengan menyumbangkan bahan dan tenaga.

  3. Peran serta secara pasif artinya menyetujui dan menerima apa yang diputuskan oleh sekolah(komite sekolah)

  4. Peran serta adanya konsultasi, orang tua datang kesekolah untuk berkonsultasi tentang masalah pembelajaran yang dialami anaknya.

  5. Peran serta dalam pelayanan.Orang tua dan masyarakat terlibat dalam pelayanan sekolah.

  6. Peran serta sebagai pelaksana kegiatan yang di delegasikan atau dilimpahkan.

  7. Peran serta dalam mengambil keputusan , orang tua dan masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah pendidikan baik akademis maupun non akademis, dan ikut dalam pengambilan keputusan dalam rencana pengembangan sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

  Batubara, Muhyi. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta:Ciputat Press Elaine B. Johnson.2007. Contextual Teaching and Learning: what it is and why it’s here to

  stay, (Diterjemahkan oleh: Ibnu Setiawan), Bandung: MLC.Tersedia: Http//

  books.google.co.id Nurkolis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Grasindo. Tersedia: Http// books.google.co.id

Dokumen baru
Dokumen yang terkait
Tags

Makalah Sosiologi Ekonomi Makalah Pendidikan

Makalah Perbandingan Pendidikan Islam St

Perkembangan Sosiologi Ekonomi Makalah Pendidikan

Makalah Sosiologi 2 Makalah Sosiologi

Makalah Sosiologi Ekonomi Makalah

Panduan Dan Borang Tuntutan Perjalanan Sumber Pendidikan Panduan Tuntutan Tuntutan Masyarakat Terhadap Pendidikan Inklusi Sosiologi Pendidikan

Perkembangan Sosiologi Ekonomi Makalah Sosiologi

Rps Sosiologi Ekonomi Makalah Sosiologi

makalah sosiologi pendidikan tuntutan st

Gratis

Feedback