Kompetensi Guru Menurut Peraturan Pemeri

 0  0  15  2018-09-16 23:03:18 Report infringing document

Kompetensi Guru Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

  Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 atau yang lebih dikenal dengan Undang-undang Guru dan Dosen secara eksplisit menyebutkan bahwa guru wajib memiliki kualitas akademik, kompetensi, serifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kepemilikan kometensi hukumnya adalah wajib, artinya bagi guru yang tidak mampu memiliki kompetensi akan gugur keguruannya.

  Pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam penjelasan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagai berikut:

  1. Kompetensi Paedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: a) pemahaman wawasan atau landasaran kependidikan; b) pemahaman terhadap peserta didik; c) pengembngn kurikulum/silabus; d) perancangan pembelajaran;

  e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; f) evaluasi hasil belajar; g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

  2. Kompetensi Kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang; a) mantap; b) stabil; c) dewasa; d) arif dan bijaksana; e) berwibawa; f) berakhlak mulia; g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; h) mengewaluasi kinerja sendiri; i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.

  3. Kompetensi Sosial yaitu merupakan kompetensi pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk; a) berkomunikaasi lisan dan tulisan; b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; c) bergaul secara efektif dengan peserta didik; sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik; dan d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.

  4. Kompetensi Profesional yaitu kemmpuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam meliputi; a) konsep, struktur, dan medote keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah;

  c) hubungan konsep antar mata ajar yang terkait; d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan e) kompetensi secara profesional dalam konteks global dengan teap melestarikan nilai dan budaya nasional. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkat martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Cara Mengubah Orang Jahat Menjadi Orang Baik Hati

  godam64 Mengubah sikap perilaku seseorang adalah sesuatu hal yang gampang-gampang susah. Orang jahat yang di dalam hati kecilnya sudah ada keinginan untuk berubah menjadi orang yang tidak jahat lagi tentu akan lebih mudah untuk dibimbing untuk kembali ke jalan yang lurus daripada orang yang memiliki hati penjahat tulen. Pengubahan karakter seseorang dari yang negatif menjadi positif akan lebih mudah dilakukan melalui pendekatan agama Islam walaupun bisa juga dilakukan dengan metode lain yang lebih teoritis non agama.

  Tips Cara Menjadikan Orang Jahat Kembali Menjadi Orang Baik-Baik :

  1. Mengenalkan Kembali Tuhannya hingga Yakin

  Setiap orang memiliki tingkat keyakinan yang berbeda-beda terhadap Allah SWT. Ada yang sangat percaya dan mau menjalankan perintahNya dan ada pula yang sama sekali tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Orang jahat biasanya cenderung memiliki keimanan yang rendah terhadap Tuhannya atau bahkan tidak punya iman sama sekali terhadap Tuhan.

  Memperkenalkan kembali siapa Allah SWT adalah sesuatu hal yang penting. Dibutuhkan penjelasan yang baik namun tidak bertele-tele tentang keberadaanNya. Berikan logika-logika dasar yang membuktikan bahwa Allah SWT itu ada. Mulai dari memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi hingga menunjukkan keajaiban kitab suci Al-Qur'an. Jika dijelaskan dengan baik dan penuh dengan kesabaran Insya Allah orang yang tadinya lemah iman dapat kembali yakin tentang keberadaan AllahSWT.

  2. Menjelaskan Tujuan Manusia Hidup di Dunia

  Jika seseorang sudah bisa meyakini keberadaan Allah SWT maka selanjutnya adalah memberitahukan tentang tujuan hidup semua manusia yang ada di dunia ini. Tidak lain dan tidak bukan tujuan semua orang yang dilahirkan ke dunia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Setiap orang harus beribadah kepada Allah SWT dengan penuh ketaatan untuk mendapatkan Rahmat dan RidhoNya. Ibadah dilakukan dengan melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.

  3. Menjelaskan Konsep Nikmat Surga dan Siksa Neraka yang banyak berbuat kebaikan akan mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan akherat,

  4. Memaparkan Keunggulan Menjadi Orang Sholeh

  Tidaklah cukup apabila seseorang hanya dijelaskan reward punishment apa yang akan didapat oleh manusia dari Tuhannya setelah meninggal dunia. Kebaikan, kegunaan, manfaat, keunggulan, kehebatan dan berbagai sisi positif lainnya yang didapat di dunia dari beriman dan bertakwa kepada Allah SWT dengan yang sebenar-benarnya serta kaffah pun juga harus diinformasikan secara mendetail. Dengan demikian orang yang tadinya buta akan indahnya iman dan taqwa dapat mengetahui betapa indahnya hidup sebagai orang yang soleh dengan budi pekerti yang baik dan luhur.

  5. Menjelaskan Apa yang Harus Dilakukan

  Apabila seseorang sudah sangat tertarik untuk menjadi orang yang baik, maka janganlah ditunda- tunda. Jelaskan apa-apa yang mesti dikerjakan dalam kehidupannya sehari-hari. Usahakan untuk tidak menjelaskannya secara keseluruhan. Lakukan secara bertahap dengan mengutamakan hal-hal yang sangat penting terlebih dahulu seperti kewajiban sholat, puasa, zakat dan pergi hari ke Baitullah jika mampu. Tentu saja ada baiknya orang yang baru kembali menemukan imannya tersebut diajak untuk bersyahadat agar tidak ada keraguan lagi bahwa orang tersebut telah kembali ke jalan yang benar.

  6. Pemberian Bimbingan yang Kontinyu / Berkesinambungan

  Orang yang sudah insaf dan mendapat penjelasan tentang apa yang harus dilakukan dalam hidup ini tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian begitu saja. Harus ada bimbingan yang bersifat kontinyu agar tidak salah tafsir atau tidak mengikuti jalan yang sesat. Iman merupakan sesuatu hal yang bisa naik dan juga bisa turun tergantung berbagai faktor yang dapat mempengaruhi. Jika sudah bisa mandiri dan mapan dengan keimanan dan ketaqwaan yang mantap barulah bisa dilepas dan bahkan bisa dijadikan mentor atau pembimbing orang-orang yang belum kembali ke jalan yang benar. Dengan begitu akan ada banyak lagi orang yang bisa menikmati manisnya iman dan takwa kepada Allah SWT.

  • Semoga saja apa-apa yang kita lakukan selalu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Mudah- mudahan upaya kita dapat memberikan hasil yang sesuai harapan. Mengubah orang yang tidak baik menjadi baik adalah sesuatu hal yang tidak mudah. Namun segala bentuk niat dan usaha yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat kelak. Atas segala bentuk kekurangan dan kesalahan serta kekhilafan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih.

  6 Tips Menghadapi Orang Marah Dengan Cepat Dan Damai

  23/02/2013 • Category: Setiap orang pasti pernah mengalami konflik dengan orang-orang sekitarnya. Pertanyaannya bagaimana cara mengatasi masalah agar anda tetap bisa mempertahankan hak anda tanpa menciptakan suatu permasalahan baru? Berikut adalah tips untuk mengatasi konflik ala pickthebrain.com

  1. Tetap kalem Jika ada orang berteriak-teriak karena marah kepada anda, cobalah untuk tenang dan diam.

  Biasanya orang yang sedang marah tidak ingin mendapatkan tanggapan dari anda. Jika anda membalas maka tanggapan anda tersebut tidak akan didengar. Jadi anda akan rugi dua kali yang pertama emosi anda meledak dan energi anda habis dan yang kedua tanggapan anda tidak didengarkan.

  2. Biarkan orang lain untuk berbicara terlebih dahulu

  3. Tempatkan diri anda di pikiran orang yang marah Berusahalah untuk berpikiran positif dan tempatkanlah diri anda di keadaan orang yang marah.

  Mungkin orang yang marah memang sedang berada di keadaan yang sulit sehingga tekanan ini yang membuatnya marah. Dengan berpikiran seperti ini, anda tidak terpancing emosi dan bisa lebih tenang.

  4. Tenangkan orang yang marah

  Anda bisa menggunakan kata-kata “ya, saya mengerti yang anda maksud” atau “ya, saya akan berusaha lebih baik lagi”. Kata-kata ini menunjukkan bahwa anda mendengarkan keluhannya. Dengan menggunakan kata-kata yang menyetujui keadaannya, ada mulai memecah kemarahannya sehingga kemarahan bisa cepat reda. Jika keadaan sudah tenang, anda bisa kembali membahas ini dengan pikiran yang lebih tenang.

  5. Jika keadaan memburuk maka tinggalkan

  Jika keadaan semakin memburuk dan membahayakan anda, maka lebih baik anda meninggalkan ruangan tersebut dan katakan kepada orang yang marah “saya tahu anda sedang marah, dan anda tidak bermaksud untuk mengatakan apa yang anda katakan, karena itu saya akan biarkan anda untuk bertenang sebentar dan kita bisa membicarakan hal ini nanti”. Kemudian anda bisa meninggalkan ruangan. Jangan meninggalkan ruangan tanpa berpesan sedikitpun dengan orang yang marah.

  6. Jika anda salah, maka akuilah dan bertanggung jawablah

  Jangan malu untuk mengakui kesalahan anda. Anda bisa mengatakan “anda benar, saya salah, saya akan memperbaikinya”. Bahkan jika anda tidak salah, nada bisa mengatakan “saya mungkin salah, coba kita lihat ini bersama-sama”. Kata-kata ini adalah kata-kata mujarab dan sangat sulit untuk berdebat lagi dengan orang yang sudah mengatakan ini.

  Bekerjasama dengan orang yang pemarah memang tidaklah gampang. Tapi kita akan menjadi orang yang lebih kalah jika kita ikut terpancing marah. Kita juga bisa mengambil hikmah dari orang yang pemarah bahwa tidak ada satupun orang yang merasa nyaman untuk bekerjasama dengan orang pemarah. Hal ini bisa menjadi motivasi kita untuk tidak menjadi orang yang pemarah. slam adalah lentera yang menuntun kita untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat Semoga artikel-artikel yang ada di dalam blog ini bermanfaat bagi kita semua. Semua artikel dalam blog ini boleh di-copy dan disebarluaskan, tapi mohon untuk menyertakan link ke blog ini (www.lampuislam.blogspot.com).

  

  

  

  

  

   ips Mengendalikan Amarah dalam Islam

  Posted by Lampu Islam Jumat, 11 Oktober “Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya,

  

maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah

menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia

kehendaki.” (HR Ahmad).

  Begitu istimewanya imbalan yang diberikan bagi orang yang dapat mengendalikan amarahnya, sampai Allah pun mempersilahkan ia untuk memilih bidadari surga yang ia suka. Lalu, bagaimana caranya mengendalikan amarah?

  1. Jangan marah kecuali karena Allah SWT. Marah karena Allah merupakan sesuatu yang disukai dan mendapatkan pahala. Seorang Muslim yang marah karena hukum Allah diabaikan merupakan contoh marah karena Allah, misalnya marah ketika menyaksikan perbuatan haram.

  2. Berlemah lembut dan tak marah karena urusan dunia. Sesungguhnya semua kemarahan itu buruk, kecuali karena Allah SWT. Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada mengingatkan, kemarahan kerap berujung pada pertikaian dan perselisihan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar dan dapat pula memutuskan silaturahim.

  3. Mengingat keagungan dan kekuasaan Allah ketika marah. Ketika mengingat kebesaran Allah SWT, maka kemarahan bisa diredam. Bahkan, mungkin tak jadi marah sama sekali. Itulah adab paling bermanfaat yang dapat menolong seseorang untuk berlaku santun dan sabar.

  4. Menahan dan meredam amarah jika telah muncul. Allah SWT menyukai seseorang yang dapat menahan dan meredam amarahnya. Allah SWT berfirman, ” … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf

  orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran:134).

  5. Berlindung kepada Allah ketika marah. Nabi SAW bersabda, “Jika seseorang

  yang marah mengucapkan; ‘A’uudzu billah (aku berlindung kepada Allah SWT) niscaya akan reda kemarahannya.” (HR Ibu ‘Adi dalam al-Kaamil.)

  6. Diam. Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah, permudahlah, dan jangan

  menyusahkan. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR

  Ahmad). Terkadang orang yang sedang marah mengatakan sesuatu yang dapat merusak agamanya, menyalakan api perselisihan dan menambah kedengkian.

  7. Mengubah posisi ketika marah. Mengubah posisi ketika marah merupakan petunjuk dan perintah Nabi SAW. Nabi SAW bersabda, “Jika salah seorang di

  antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad).

  8. Berwudhu atau mandi. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah adalah api setan yang dapat mengakibatkan mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf.

  9. Memberi maaf dan bersabar. Orang yang marah sudah selayaknya memberikan ampunan kepada orang yang membuatnya marah. Allah SWT memuji para hamba-Nya “… dan jika mereka marah mereka memberi maaf.” (QS Asy- Syuura:37).

  Itulah kesembilan cara yang bisa kita lakukan untuk meredam kemarahan. Terlihat sulit tapi percayalah, jika kita berniat merubah diri kita untuk menjadi lebih baik, beberapa cara meredam kemarahan seperti yang disebutkan diatas patut dicoba. Insya Allah kita dapat termasuk ke dalam golongan seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad, yakni mendapat imbalan indah bertemu dengan bidadari surga dan dimuliakan-

Cara Mengontrol Emosi dalam Islam

  Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du, Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.

  Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai. Tentu saja, permsalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan karena marah. Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia tidak mudah terpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas, ةنجلا كلو بضغت

  “Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-

  Targhib no. 2749)

  

Allahu akbar, jaminan yang luar biasa. Surga..dihiasi dengan berbagai kenikmatan, bagi mereka

  yang mampu menahan amarah. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk tidak mudah terpancing emosi.

  

Dapatkan Buku 22 Kiat Mengatasi Stres, Syaikh M. Shalih Al-Munajjid, Harga Rp.16.000

Lebih lanjut KLIK GAMBAR Bagaimana Cara Mengendalikan Diri Ketika Sedang Emosi?

  Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Semoga bisa menjadi obat mujarab bagi kita ketika sedang marah.

  Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca

  ta’awudz: ِميجَرلا ِناطْيَشلا َنِم هاب ُذوعأ

  A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM

  Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah. Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  

Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang.

Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang.

  (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang

  marah, kemudian membaca: A-‘udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya akan reda.” (Hadis shahih – silsilah As-Shahihah, no. 1376) Kedua, DIAM dan jaga lisan

  Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  ْتُكْسَيْلَف ْمُكُدَحَأ َبِضَغ اَذِإ “Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

  Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai tabungan dosa bagi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, ِقِرْشَملا َنْيَب اَمِم ََدَعْبَأ ِراَنلا ِف اَهِب ّلِزَي ،اَهيِف َُنَيَبَتَي اَم ،ِةَمِلَكلاِب ُمَلَكَتَيَل َدْبَعلا َنِإ

  Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan

dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR.

  Bukhari dan Muslim) Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan anda ke dasar neraka.

  Ketiga, mengambil posisi lebih rendah

  Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.. dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya sepuasnya. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar

  radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

  Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu

marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad

  21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth). Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadis ini, melindungi dirinya ketika marah dengan mengubah posisi lebih rendah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari Abul Aswad Ad-Duali, beliau menceritakan kejadian yang dialami Abu Dzar, “Suatu hari Abu Dzar mengisi ember beliau. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin mengerjai Abu Dzar. ‘Siapa diantara kalian yang berani mendatangi Abu Dzar dan mengambil beberapa helai rambutnya?’ tanya salah seorang diantara mereka. “Saya.” Jawab kawannya. Majulah orang ini, mendekati Abu Dzar yang ketika itu berada di dekat embernya, dan menjitak kepala Abu Dzar untuk mendapatkan rambutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang berdiri. Beliaupun langsung duduk kemudian tidur. Melihat itu, orang banyak keheranan. ‘Wahai Abu Dzar, mengapa kamu duduk, kemudian tidur?’ tanya mereka keheranan.

  Abu Dzar kemudian menyampaikan hadis di atas. Subhanallah.., demikianlah semangat sahabat dalam mempraktekkan ajaran nabi mereka. Mengapa duduk dan tidur? Al-Khithabi menjelaskan, ِهْيَلَع ُا ىَلَص بنلا نوكي نأ هبشيف ،امهنم عونمم عجطضملاو ،ىنعملا اذه ف هيود دعاقلاو ،شطبلاو ةكرحلل ئيهتم مئاقلا

  ُدعب اميف اهيلع مدني ةرداب هدوعقو همايق لاح ف هنم ردبت لل دوعقلاب هرمأ اميإ َمَلَسَو Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Ma’alim As- Sunan, 4/108)

  Keempat, Ingatlah hadis ini ketika marah

  Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan

Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk

memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani) Subhanallah.., siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah di hadapan semua

  makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah ta’ala. Tahukah anda, pahala ini Allah berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa membalasnya dengan kebaikan.

  Mula Ali Qori mengatakan, ِهْيَلَع ِناَسْحِ ْلاِب َداَز ْوَأ ِهْيَلِإ ُوْفَعْلا َمَضْيا اَذِإ َفْيَكَف ِظْيَغْلا ِمْظَك ِدَرَجُم ىَلَع َبَتَرَت اَذِإ ُليِزَجْلا ُءاَزَجْلاَو ُليِمَجْلا ُءاَنَثلا اَذَهَو Pujian yang indah dan balasan yang besar ini diberikan karena sebatas menahan emosi.

  Bagaimana lagi jika ditambahkan dengan sikap memaafkan atau bahkan membalasnya dengan kebaikan. (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 6/140). Satu lagi, yang bisa anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi anda: Hadis dari Ibnu Umar, اضر ةمايقلا موي هبلق ا م هاضمأ هيضمي نأ ءاش ولو هظيغ مظك نمو هتروع ا رتس هبضغ فك نم Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani). Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa mengingat balasan yang Allah berikan bagi orang yang bisa menahan emosi. Siapakah kita dibandingkan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Sekalipun demikian, beliau terkadang lupa dengan ayat dan anjuran syariat, ketika sudah terbawa emosi. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa ada seseorang yang minta izin kepada Khalifah Umar untuk bicara. Umarpun mengizinkannya. Ternyata orang ini

  Mendengar ini, Umarpun marah, dan hendak memukul orang ini. Sampai akhirnya Al-Hur bin Qais (salah satu teman Umar) mengingatkan, ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi

  

wa sallam (yang artinya): ‘Berikanlah maaf, perintahkan yang baik, dan jangan hiraukan orang

  bodoh.’ dan orang ini termasuk orang bodoh.’ Demi Allah, Umar tidak jadi melampiaskan emosinya ketika mendengar ayat ini dibacakan. Dan dia adalah manusia yang paling tunduk terhadap kitab Allah. (HR. Bukhari 4642).

  Yang penting, anda jangan berputus asa, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat peringatan Allah, dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga anda minta bantuan orang di sekitar anda, suami, istri, anak anda, pegawai, dan orang di sekitar anda, agar mereka segera mengingatkan anda dengan janji-janji di atas, ketika anda sedang marah.

  Pada kasus sebaliknya, ada orang yang marah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaupun meminta salah satu sahabat untuk mengingatkannya, agar membaca ta’awudz, A-‘udzu billahi minas syaithanir rajim..

  بَهْذا ،اَيَأ ٌنوُن ْجَمَأ ، ٌسْأَب ِب ىَرُتَأ :َلاَقَف »ِناَطْيَشلا َنِم ِ َهاِب ْذَوَعَت» ةباحصلا دحأ هل :َلاَقَو “Salah satu temannya mengingatkan orang yang sedang marah ini: ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan!’ Dia malah berkomentar: ‘Apakah kalian sangka saya sedang sakit? Apa saya sudah gila? Pergi sana!’ (HR. Bukhari 6048).

  Kelima, Segera berwudhu atau mandi Marah dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air yang dingin.

  Terdapat hadis dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan, ْأَضَوَتَيْلَف ْمُكُدَحَأ َبِضَغ اَذِإَف ِءاَمْلاِب ُراَنلا ُأَفْطُت اَمَيِإَو ِراَنلا ْنِم َقِلُخ َناَطْيَشلا َنِإَو ِناَطْيَشلا ْنِم َبَضَغْلا َنِإ

  Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan

dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud

  4784) Dalam riwayat lain, dari Abu Muslim Al-Khoulani, beliau menceritakan, Bahwa Amirul Mukminin Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan masyarakat. Dan ketika itu, gaji pegawai belum diserahkan selama dua atau tiga bulan. Abu

  Mendengar ini, Muawiyah meminta hadirin untuk diam di tempat. Beliau turun dari mimbar, pulang dan mandi, kemudian kembali dan melanjutkan khutbahnya, ‘Wahai manusia, sesungguhnya Abu Muslim menyebutkan bahwa harta ini bukanlah milikku, bukan milik bapakku, bukan pula milik ibuku. Dan Abu Muslim benar. kemudian beliau menyebutkan hadis, لستغيلف مكدحأ بضغ اذإف ، رانلا ئفطي ءاملاو ، رانلا نم ناطيشلاو ، ناطيشلا نم بضغلا

  Marah itu dari setan, setan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah, mandilah.

  Lalu Muawiyah memerintahkan untuk menyerahkan gaji mereka. (HR. Abu Nuaim dalam Hilyah 2/130, dan Ibnu Asakir 16/365). Dua hadis ini dinilai lemah oleh para ulama. Hadis pertama dinilai lemah oleh An-Nawawi sebagaimana keterangan beliau dalam Al-Khulashah (1/122). Syuaib Al-Arnauth dalam ta’liq Musnad Ahmad menyebutkan sanadnya lemah. Demikian pula Al-Albani menilai sanadnya lemah dalam Silsilah Ad-Dhaifah no. 581.

  Hadis kedua juga statusnya tidak jauh beda. Ulama pakar hadis menilainya lemah. Karena ada perowi yang bernama Abdul Majid bin Abdul Aziz, yang disebut Ibnu Hibban sebagai perawi Matruk (ditinggalkan). Ada juga ulama yang belum memastikan kelemahan hadis ini. Diantaranya adalah Ibnul Mundzir. Beliau mengatakan, هنم ءوضولا بجوي ملعلا لهأ نم ادحأ ملعأ و ، بضغلا نكسيل ابدي هب رمعا اميإف يدحلا اذه تبث نإ Jika hadis ini shahih, perintah yang ada di dalamnya adalah perintah anjuran untuk meredam marah dan saya tidak mengetahui ada ulamayang mewajibkan wudhu ketika marah. (Al-Ausath, 1/189). Karena itulah, beberapa pakar tetap menganjurkan untuk berwudhu, tanpa diniatkan sebagai sunah. Terapi ini dilakukan hanya dalam rangka meredam panasnya emosi dan marah. Dr. Muhammad Najati mengatakan, ةلاح فيفخت ىلع دعاسي امك ، لاعفي ا نع ةلشانلا مدلا ةروف نم ئدهي درابلا ءاملاف ، ةفورعم ةيبط ةقيقح ىلإ يدحلا اذه ريشي سفنلا ا علا ف ضاملا ف مدختسي مامحتس ا ناك كلذلو ، بصعلاو لضعلا رتوتلا

  ِبَضَغلاَو اَضِرلا ِف ّقَحلا َةَمِلَك َكُلَأْسَي َمُهَللَا

  Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang) dan marah [Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalatnya – shahih Jami’ As-Shaghir no.

  3039]

  Ditulis oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina

  Artikel ini didukung oleh:

   Zahir Accounting.

  

   Ahliherbal.com. Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait
Tags
Standar Kompetensi Guru Kompetensi Guru

Standar Kompetensi Guru Standar Kompetensi Guru

Kompetensi Guru Bahasa Arab Artikel Peningkatan Kompetensi Guru Kompetensi Guru Pasal

Pengertian Kompetensi Guru Pengertian Kompetensi Guru

4 Kompetensi Guru 4 Kompetensi Guru

Kompetensi Kepribadian Guru Dalam Sudut

Kompetensi Guru 3 Id Ppt

Kompetensi Guru Dalam Mewujudkan Pendidi

Kompetensi Guru Menurut Peraturan Pemeri

Gratis

Feedback