ISLAM FORMALIS VERSUS ISLAM LOKALIS: Studi Pribumisasi Islam Walisongo dan Kiai Ciganjur

Gratis

0
0
30
1 year ago
Preview
Full text

Islam Formalis Versus Islam Lokalis

  1, Februari 2016 ISLAM FORMALIS VERSUS ISLAM LOKALIS: Studi Pribumisasi Islam Walisongo dan Kiai Ciganjur Ubaidillah AchmadUIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah, Indonesiaubaidillahachmada@gmail.comAbstrak Dalam tulisan ini, penulis ingin menyampaikan studi atau keunikan tentang Walisongo dan Kiai Ciganjur di tengah diskursus antaradua gerakan Islam, yaitu paham Islam formalis dan paham Islam lokalis. Hasil kajian ini untuk menunjukkan visi peradaban Islam yang bersumber daritradisi nubuwah dan menunjukkan visi peradaban Islam yang Islam Formalis Versus Islam Lokalis telah terdistorsi oleh kepentingan komunal.

A. Pendahuluan

  Hasil kajian ini untuk menunjukkan visi peradaban Islam yang bersumber daritradisi nubuwah dan menunjukkan visi peradaban Islam yang Islam Formalis Versus Islam Lokalis telah terdistorsi oleh kepentingan komunal. Sebelum mengkaji keunikan Walisongo dan Kiai Ciganjur, penulis akan memaparkan peta perkembangan pemikiran Islam yang penulis klasifikasi menjadiIslam formalis dan Islam lokalis.

B. Pembahasan

1. Islam Formalis

  Islam mengajarkan kebaikan dan keutamaan hidup dan memerintahkan berjihad untuk berperang karena alasanberikut: mempertahankan keyakinan dan kepercayaan dari upaya pelarangan pihak-pihak yang lain dan mempertahankan harkatdan martabat kemanusiaan yang terkebiri dan terzalimi oleh kuasa tokoh agama dan kuasa tirani kekuasaan. Akhirnya para pengikut Islam formalis di satu sisi sangat teguh memegangajaran Islam yang terkait dengan gerakan komunal, namun di sisi yang lain mengabaikan ajaran yang menegaskan tentang perlunyamemberikan penghargaan terhadap perbedaan pemahaman dan keyakinan kepada yang lain.

2. Islam Lokalis

  Islam lokalis yang penulis maksudkan dalam sub judul ini adalah wajah gerakan Islam yang bersifat ramah terhadap kearifan5 lokal. Gerakankaum Nahdliyyin merupakan gerakan Islam yang lebih menunjukkan pandangan dan sikap berdasarkan pada prinsiptoleran terhadap pihak lain, baik dengan mereka yang seagama maupun yang berbeda agama.

3. Pribumisasi Islam Walisongo

  Islam Formalis Versus Islam Lokalis Allah); kedua, data shawala (seorang utusan yang menerima segala risiko perjuangan); ketiga, pada jayanya (yang sama-sama inginmengangkat harkat dan martabat kemanusiaan, keadilan, dan persamaan); keempat, maga batanga (semua rasul dan para nabidan umat manusia akan sama-sama memenuhi panggilannya). Di tengah kehidupan masyarakat, pesan dan titah perjuangan Walisongo telah dipercaya oleh masyarakat luas, baik mereka yang terus terang dengan mengikuti ibadah mahdah yang diajarkan Islam maupun mereka yang tertarik dengan prinsipkebatinan dan keutamaan pandangan dan sikap Walisongo.

4. Dinamisasi Islam Kiai Ciganjur

  Alasan Kiai Ciganjur tidak menggunakanmodel keberagamaan yang bersifat simbolik dan formalis, karena model keberagamaan yang seperti ini akan membuka peluangpihak yang lain untuk memanfaatkan legitimasi Islam menguatkan kepentingan ideologis dan politik. Kiai Ciganjur melakukan perluasan ide dan gerakan modernisasi dan dinamisasi melalui tradisi pesantren dan melaluimedia terbitan nasional dan beberapa jurnal ilmiah yang dikelola oleh para akademisi di lingkungan kampus perguruan tinggiumum di Indonesia.

5. Menjaga Kelangsungan Nilai Islam

  Fenomena perkembangan Islam formalis dan Islam lokalis telah menunjukkan makna pembelajaran berikut ini: Islam formal26 atau Islam yang bersifat normatif merupakan identifikasi gerakan pemahaman terhadap Islam yang tidak terlepas dari ajaran Islamsecara formal atau norma yang diajarkan dalam ajaran Islam. Model perlawanan terhadap ketidakadilan dankezaliman yang dicontohkan melalui pribumisasi Walisongo dan dinamisasi Islam Kiai Ciganjur berupa mempertahankan harkatdan martabat kemanusiaan, menguatkan keyakinan di tengah komunitas kaum musyrik dengan tanpa melakukan pertentanganyang mengakibatkan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, menguatkan nilai-nilai universal dan kearifan lokal, serta membela33 hak-hak minoritas dan masyarakat yang tertindas.

C. Simpulan

  Sehubungan dengan kedua paham yang berbeda ini, kehadiran Walisongo dan Kiai Ciganjur lebih menguatkan sistem kontekstualisasi Islam lokalis, bertujuan untuk memberikanpenghargaan pada nilai kemanusiaan, keadilan, dan persamaan. Banyak kasus gerakan radikal dan terorisme disebabkan45 Fenomena radikalisme oleh konflik ideologi komunal dan politik.agama merupakan bentuk kehendak kuasa ideologis dan politis, yang dengan mudah akan memanfaatkan simbol agama untuk46 kepentingan ideologi komunal dan kehendak kuasa.

DAFTAR PUSTAKA

  Hamim, Thoha, “Islam dan Civil Society: Tinjauan Tentang Prinsip Human Rights, Pluralism, dan Religious Tolerance ”,Makalah Seminar, Pusat Informasi dan Kajian Islam IAIN Sunan Ampel, 1999. ______, Dialog Keterbukaan: Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Sosio Politik Kontemporer , Jakarta: Paramadina, 1997.______, Islam, Doktrin, dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1992._______, Memberdayakan Masyarakat, Menuju Negeri yang Adil, Terbuka, dan Demokratis , Jakarta: Paramadina, 1996.

Dokumen baru

Tags

Islam Nusantara Upaya Pribumisasi Islam Menurut Nu Hukum Islam Versus Hukum Nasional Studi Sosialisme Dan Islam Versus Sosialisme Studi Islam Pemikiran Abdurrahman Wahid Tentang Pribumisasi Islam Metode Studi Islam Islam Historis Islam Versus Sosialisme Dalam Memandang Pribumisasi Islam Melalui Seni Budaya Jawa Makalah Studi Dan Islam Hukum Islam Pps Iain Walisongo Semarang
Show more

Dokumen yang terkait

Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
0
0
59
BAB VI STRATEGI, ARAH KEBIJAKAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH 6.1. Strategi dan Arah Kebijakan - BAB VI_STRATEGI_ARAH KEBIJAKAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH_PERUBAHAN RPJMD 2016-2021
0
0
23
Gambar 6.1 Posisi RPJMD Tahun 2018-2023 dalam RPJPD Tahun 2005-2025 dan Penjabarannya ke RKPD
0
0
33
Bab IV Permasalahan dan Isu-Isu Strategis Daerah - BAB IV PERMASALAHAN DAN ISU-ISU STRATEGIS DAERAH
0
1
45
BAB 6 - Strategi, Arah Kebijakan dan Program Pembangunan Daerah (19 Nov 2018)
0
2
101
BAB 7 - Kerangka Pendanaan Pembangunan dan Program Perangkat Daerah (19 Nov 2018)
0
1
106
B. Langkah-Langkah Update Aplikasi SIMAK BMN Versi 18.2 dan Referensi SIMAK BMN Versi 8.1 - Juknis SIMAK BMN 18.2
0
1
13
Modul 2 IP Address dan Subnetting
1
6
26
1. Wacana Narasi Narasi adalah cerita yang didasarka pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa. Narasi dapat berbentuk narasi ekspositoris dan narasi imajinatif. Unsur-unsur penting dalam sebuah narasi adalah kejadian, tokoh, konfik, alur/plot, serta
0
0
13
INTEGRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN DI PONDOK PESANTREN
0
1
13
MODERASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM IMAM SYAFI’I
0
0
22
PENEMUAN HUKUM OLEH HAKIM MAHKAMAH AGUNG DALAM PUTUSAN PERKARAKEWARISAN ISLAM DI INDONESIA PADA TAHUN 1995-2014
0
0
23
ANALISIS KRITIS IMPLEMENTASI TAKLID DALAM BERAGAMA DALAM TINJAUAN USHUL FIQH EMPAT MAZHAB DAN PENGARUHNYA TERHADAP NILAI-NILAI KEBANGSAAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) Alfa Syahriar Ahmad Fauzan Mubarok. Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepar
0
0
20
A. MUKADDIMAH - PENALARAN USHUL FIQH IBNU HAZM (Analisis Penolakan Illat dan Qiyas Sebagai Dalil Hukum Islam)
0
0
26
METODOLOGI QIYAS DALAM ISTINBATH HUKUM ISLAM Sakirman Institut Agama Islam Negeri Metro Lampung sakirman87gmail.com Abstract - METODOLOGI QIYAS DALAM ISTINBATHHUKUM ISLAM
0
1
19
Show more